Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 18 April 2018

Cersil Terbaru KPH Serial Si Raja Pedang 1

Cersil Terbaru KPH Serial Si Raja Pedang 1
baca juga

“Lima warna membutakan mata…!" Terdengar suara berat dan parau membaca doa.
“Lima warna membutakan mata…!" Menyusul suara nyaring tinggi, suara kanak-kanak yang berusaha keras
menirukan nada suara pertama.
“Lima bunyi menulikan telinga…!” Suara parau itu terdengar lagi.
“Lima bunyi menulikan telinga…!" Kembali suara anak kecil tadi mengulang kata-kata itu.
Suara saling susul yang diucapkan oleh suara parau dan kemudian ditiru suara anak kecil itu adalah ujar-ujar
dari kitab To-tek-keng yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut:
Lima warna membutakan mata
Lima bunyi menulikan telinga
Lima rasa merusak mulut
Mengejar kesenangan merusak pikiran,
Barang berharga membuat kelakuan menjadi curang
Inilah sebabnya orang budiman
Mengutamakan urusan perut
Tidak mempedulikan urusan mata
Ia pandai memilih ini membuang itu.
Apa bila suara-suara ini terdengar dari dalam sebuah kelenteng Agama To, hal itu tak perlu diperhatikan lagi
karena memang lumrah kalau seorang tosu memberi pelajaran-pelajaran dari kitab To-tek-keng kepada anakanak
muridnya. Atau seorang guru sastra mengajarkan ayat-ayat kitab itu kepada muridnya.
Akan tetapi anehnya, dua suara yang saling susul itu terdengar dari dalam sebuah hutan yang lebat, hutan
yang amat jarang didatangi manusia dan menjadi sarang dari harimau-harimau, ular-ular besar dan binatang
buas lainnya. Kalau pun ada manusianya, tentulah sebangsa manusia perampok.
Apa bila kita melihat ke dalam hutan itu untuk mengetahui siapa orangnya yang sedang mengajarkan ayat-ayat
kitab To-tek-keng itu kepada anak kecil tadi, maka kita akan merasa heran sekali. Ternyata bahwa yang
membacakan ayat-ayat kitab itu adalah seorang tosu berbaju kuning, dan di pungungnya tergantung sebatang
pedang.
Tosu ini tinggi kurus dan berkumis tipis, berusia kurang lebih lima puluh tahun. Rambutnya digelung ke atas
dan dia menunggang seekor kuda kurus yang berjalan seenaknya dan nampaknya sudah amat lelah.
Di belakang kuda ini berjalan seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun. Pakaiannya penuh tambalan,
rambutnya diikat ke belakang, mukanya putih agak pucat dan matanya besar. Anak ini pakaiannya amat miskin
sampai-sampai bersepatu pun tidak. Di dekat mata kaki kiri ada boroknya sebesar ibu jari kakinya sehingga
jalannya agak terpincang-pincang. Akan tetapi, meski keadaannya begitu miskin, anak itu tampaknya gembira
terus. Matanya menyinarkan cahaya gembira dan nakal.
Ayat-ayat yang dibacakan oleh Tosu di atas tadi adalah ayat ke dua belas. Kalau dihitung tosu itu membaca
dari ayat pertama dengan suara keras, tetapi lambat-lambat, sudah lama jugalah anak itu menirunya.
Pada ayat dua belas di mana terdapat kata-kata tentang orang budiman mengutamakan urusan perut, sesudah
selesai menirukan ayat ini sampai habis, anak laki-laki itu segera berkata. Suaranya lantang, nyaring dan
tinggi.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Totiang, benar sekali pikiran orang budiman itu. Aku pun mau menjadi orang budiman, mengutamakan urusan
perutku yang sudah amat lapar ini. Maka harap Totiang lekas-lekas memberi roti kering atau uang, aku tidak
mau pedulikan urusan lain lagi.”
Sambil berkata demikian, anak itu tidak lagi berjalan di belakang kuda, melainkan berlari mendampingi sambil
menarik-narik kaki kanan tosu itu. Akan tetapi tosu itu seperti tidak melihat bocah tadi, juga seperti tidak
merasa kakinya dibetot-betot. Ia membuka mulutnya lagi dan berteriak dengan suara keras.
“Ayat ke tiga belas berbunyi…”
“Aku tidak peduli apa bunyi ayat ke tiga belas atau ke tiga ribu!” Anak itu berteriak. “Perutku lapar dan Totiang
sudah berjanji akan memberi roti kering dan uang kepadaku!”
Tosu itu nampak tertegun, seakan-akan baru sekarang ia tahu bahwa suara yang tadinya menirunya sekarang
telah mengeluarkan suara lain. Ia menunda membaca kitabnya dan memandang kepada anak itu dengan mata
bersinar-sinar.
Tadi ia bertemu dengan anak itu di luar sebuah kampung dekat hutan ini. Pada waktu itu ia sedang beristirahat
dan makan roti kering. Kemudian anak yang dikenalnya ini datang mendekat, nampaknya ingin sekali roti itu
akan tetapi tidak mengeluarkan suara.
“Kau mau roti kering?”
Anak itu hanya mengangguk.
“Heh-heh-heh, roti keringku ini sudah habis di warung sana?” Ia bertanya lagi.
Kembali anak itu mengganguk. Tosu itu menjadi gemas juga.
“Gagukah engkau?”
“Tidak, Totiang, hanya sedang malas bicara.”
Jawaban ini membuat si tosu menjadi terheran-heran. Baru sekali ini ia bertemu dengan seorang anak kecil
yang bicara seenaknya sendiri saja seperti ini.
“Engkau mau roti kering dan uang?” Kembali ia bertanya sambil kembali menunggangi kudanya yang kurus.
Anak laki-laki itu kembali mengangguk.
“Baik, akan tetapi kau harus menirukan membaca isi kitab To-tek-keng sambil berjalan di belakang kudaku.”
Demikianlah, tosu itu mulai membaca kitab itu dari ayat pertama sampai ayat kedua belas. Tadinya anak ini
tertarik sekali karena anak ini sebetulnya adalah seorang anak luar biasa yang pernah membaca kitab-kitab
kuno bahkan hampir hafal banyak kitab dari agama Buddha, yaitu pada waktu ia bekerja sebagai pelayan dari
kelenteng Hok-thian-tong. Akan tetapi setelah mendengar mengenai ‘mengutamakan perut’, maka anak itu
teringat akan perutnya yang lapar dan menagih janji.
Siapakah anak yang bersikap aneh dan dalam keadaan terlantar itu? Namanya Beng San, demikian menurut
pengakuannya sendiri. Mengenai siapa nama keturunannya, ia sendiri tidak tahu.
Anak ini adalah korban bencana alam, yaitu banjir besar sungai Huang-ho yang sudah menghabiskan seluruh
isi kampungnya. Hampir seluruh isi kampung habis oleh banjir itu, rumah-rumah lenyap, sawah-sawah rusak,
bahkan manusia dan binatang hampir tewas dan hanyut semua.
Anak ini pun ikut hanyut, akan tetapi agaknya Tuhan masih melindunginya maka ia dapat tersangkut pada
reruntuhan rumah dan terbawa ke pinggir dalam kedaan pingsan. Hal ini terjadi ketika ia berusia lima enam
tahun.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pada saat siuman kembali, anak ini sudah berada di pinggir sebuah hutan di tepi sungai Huang-ho. Dia hanya
ingat bahwa namanya Beng San, bahwa ayah bundanya hanyut terbawa air bah, tetapi tidak ingat lagi apa
nama dusun tempat tinggalnya dan di mana letaknya.
Beng San terlunta-lunta dan nasib membawanya sampai ke depan kelenteng Hok-thian-tong di kota Shan-si. Ia
amat tertarik melihat kelenteng itu, amat suka melihat-lihat lukisan dan patung-patung yang dipahat indah.
Kemudian ketua kelenteng, seorang hwesio yang beribadah, merasa kasihan dan suka kepadanya dan mulai
saat itulah Beng San diterima sebagai seorang kacung atau pelayan.
Para hwesio di kelenteng itu rata-rata memiliki pribudi yang tinggi dan hampir semua tekun mempelajari ayatayat
suci. Para hwesio mendapat kenyataan bahwa anak yang menjadi pelayan di kelenteng itu selain rajin
juga sangat cerdas. Mereka lalu memberi pelajaran membaca serta menulis.
Dan demikianlah selama tiga tahun lebih Beng San di ‘jejali’ filsafat-filsafat dan ayat-ayat suci yang sangat
tinggi. Tentu saja dia hanya menghafal semua inti sarinya. Jangankan seorang anak kecil seperti dia, apa bila
mempelajari agama, manusia dewasa sekali pun jarang yang betul-betul dapat menangkap inti sarinya
sehingga mampu mengamalkan perbuatannya sesuai dengan ayat-ayat suci itu.
Setelah berusia sembilan tahun lebih, Beng San mulai tidak betah tinggal di kelenteng. Beberapa kali ia minta
berhenti, akan tetapi semua hwesio melarangnya dan mereka ini hendak menarik Beng San menjadi seorang
calon hwesio. Beng San tidak suka dan pada suatu malam anak ini lari minggat dan kelenteng itu.
Ia hidup terlunta-lunta, terlantar. Hanya bisa makan kalau ada yang menaruh kasihan dan memberi makanan
atau memberi sekedar pekerjaan kemudian diberi upah makanan atau uang.
Yang amat aneh pada anak ini, ia tidak pernah mau mengeluarkan perkataan minta-minta! Mungkin ia pun
terpengaruh oleh pelajaran para hwesio yang mengharapkan sedekah dari para dermawan, akan tetapi sekalikali
bukan mengemis. Demikian mengapa Beng San juga sama sekali tidak mau meminta ketika melihat tosu
itu makan roti kering, padahal perutnya lapar bukan main.
Dan siapa adanya tosu itu? Bukan sembarang orang, melainkan seorang bernama Siok Tin Cu. Dia adalah
tokoh dari perkumpulan Agama Ngo-lian To-kauw (Agama To Lima Teratai ) yang berpusat di Ki-lok. Sebagai
tosu tingkat tiga tentu saja ilmu kepandaiannya sudah tinggi sekali. Dan sebagai seorang tokoh Ngo-lian Tokauw
yang mementingkan pelajaran mistik (hoatsut), tentu saja ia terkenal sebagai seorang yang amat
berbahaya.
Siok Tin Cu mengajak atau memancing Beng San ke dalam hutan itu bukannya tanpa maksud tertentu. Begitu
melihat anak tadi, dia dapat menduga bahwa anak ini adalah seorang anak yatim piatu, lagi bertulang baik,
maka tepat sekali kalau hendak dijadikan bahan percobaaan ilmunya. Kalau sampai anak ini tewas sekali pun,
tidak ada orang tua kehilangan anaknya, tidak ada orang yang dirugikan, maka ia takkan menanggung dosa,
demikian jalan pikiran pedeta sesat ini.
Mari kita kembali lagi ke dalam hutan untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Di depan telah
diceritakan betapa Beng San tidak lagi menirukan teriakan Siok Tin Cu yang membaca ayat-ayat To-Tek-keng,
tetapi malah berteriak-teriak menagih janji tosu itu untuk memberi roti kering atau uang pembeli roti kepadanya.
Mereka sudah tiba di tengah hutan yang amat sunyi dan liar. Siok Tin Cu tersenyum dan melompat turun dari
atas kudanya. Gerakannya demikian ringan seakan-akan tubuhnya seringan bulu saja.
“Bocah, sejak kapan kau belum makan?” Pertanyaan ini diucapkan dengan sangat halus, seakan-akan orang
tua ini merasa kasihan dan hendak menolong.
“Semenjak dua hari yang lalu,” jawab Beng San singkat, tanpa mengundang suara minta dikasihani.
Tosu itu mengangkat alisnya, lalu tertawa bergelak nampak girang sekali! ”Bagus, bagus, kalau begitu perutmu
kosong sama sekali. Hal ini berarti membersihkan hawa di dalam tubuhmu dan memperkuat daya tahanmu
seperti seorang yang memiliki latihan siulian. Bagus, anak yang baik, nah, sekarang kau makanlah ini, hendak
dunia-kangouw.blogspot.com
kulihat sampai di mana kemanjurannya!” Tosu itu mengeluarkan sebuah pil berwarna kuning dan berbau
busuk, “Bukalah mulutmu.”
Tentu saja Beng San tidak sudi mentaati perintah ini. Ia mundur selangkah memandang marah dan berkata,
“Totiang, kau berjanji hendak memberi roti kering atau uang, kenapa sekarang menyuruh aku makan obat?
Aku tidak sakit dan tidak butuh obat!”
“Heh-heh-heh, kalau sudah makan tidak ada artinya lagi. Ehhh, bocah, aku Siok Tin Cu bukan seorang bodoh.
Ketahuilah, pil ini adalah buatanku sendiri atas petunjuk kauwcu (ketua agama). Belasan tahun kubuat dari sari
segala kebusukan yang mengandung hawa thai-yang dan khasiatnya hebat bukan main. Aku telah
membuatnya tiga buah akan tetapi sampai sekarang tidak berani menelannya. Harus lebih dulu kucobakan
pada orang lain, dan kau dengan perut kosongmu baik sekali untuk dijadikan kelinci percobaan! Kalau kau
mati, tidak ada orang yang kehilangan, kalau kau hidup… nah, barulah akan kuberi hadiah roti kering atau
uang, Heh-heh-heh!”
Sepasang mata anak itu yang lebar menjadi makin lebar, bukan karena takut melainkan karena marahnya.
“Tosu bau apa kau lupa akan ujar-ujar suci bahwa, siapa yang belum membersihkan diri dari perbuatan jahat,
serta siapa yang tidak mempedulikan kebajikan dan kebenaran, dia itu tidak patut memakai pakaian kuning?”
Siok Tin Cu mula-mula terkejut dan heran karena ujar-ujar ini adalah kata-kata suci dalam agama Buddha
(dalam kitab Dhammapada), akan tetapi ia segera tertawa. “Mau tidak mau kau harus menelan obat ini!”
“Tidak sudi…! Kau tosu bau!” Beng San mengambil dua buah batu kecil dari atas tanah dan menimpukkan dua
buah batu itu kepada Siok Tin Cu.
Akan tetapi Siok Tin Cu hanya tertawa dan sekali ia menggerakkan tangan kiri, ujung lengan bajunya ‘meniup’
pergi dua buah batu itu, membuat Beng San tak dapat bergerak lagi. Yang ‘mati’ ini adalah kedua pasang kaki
tangan anak itu, akan tetapi dari leher ke atas masih ‘hidup’. Anak itu masih dapat menggerakkan leher dan
semua anggota muka.
“Tosu jahat, tosu bau, kau mau apakan aku?” teriakannya berkali-kali.
“Tidak apa-apa, hanya ingin kau menelan obat ini.”
Pil kuning yang baunya busuk itu didekatkan pada hidung Beng San, membuat anak ini ingin muntah.
“Baunya busuk seperti engkau, aku tak sudi menelan itu!” ia menggeleng kepala ke kanan kiri menjauhi obat
itu.
“Heh-heh-heh, anak bandel. Terpaksa harus kubuka mulutmu.”
Tangan kiri tosu itu memegang dagu Beng San dan anak ini merasa betapa tenaga yang amat kuat memaksa
mulutnya terbuka. Ia pura-pura menurut, tetapi ketika tosu ini lengah hendak memasukkan obat ke dalam
mulut yang terbuka, Beng San menggerakkan kepala ke bawah dan menggigit tangan kiri tosu itu.
“Aduh…!” karena tidak menyangka sama sekali, jari kelingking tosu itu kena tergigit keras sampai
mengeluarkan darah.
“Plakkk!”
Dia menampar pipi Beng San. Demikian keras tamparan ini, demikian nyerinya sampai Beng San tanpa
sengaja membuka mulutnya melepaskan gigitannya.
“Plak! Plak! Plak! Plak! Plak!”
Berkali-kali tosu itu menampar muka Beng San dari kanan kiri, dan sungguh-sungguh Beng San tidak
mengeluh. Akan tetapi rasa sakit membuat matanya berair. Setelah anak itu hampir pingsan karena sakit dan
pening, barulah tosu itu menghentikan tamparannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Muka Beng San menjadi bengkak-bengkak dan kedua pipinya menjadi biru. Anehnya, hal ini tidak terasa oleh
tosu yang sedang marah itu, bahwa tidak sepatah kata pun anak itu mengaduh atau mengeluh. Benar-benar
menunjukkan watak bandel yang luar biasa, juga membayangkan nyali dan ketabahan yang mengagumkan.
“Hayo telan ini!” Siok Tin Cu memaksakan Beng San yang setengah pingsan itu membuka mulut, lalu
menjejalkan pil berbau busuk itu ke dalam mulut Beng San.
Biar pun sudah pening dan setengah pingsan, tetapi dalam kenekatannya anak ini hendak meludahkan keluar
pil itu. Akan tetapi Siok Tin Cu menutup mulutnya dan mendorong pil itu dengan telunjuknya sampai ke
tenggorokan Beng San. Akhirnya obat itu masuk juga ke dalam perut Beng San tanpa dapat dicegah lagi!
“He-he-he, hendak kulihat akibatnya…” Siok Tin Cu menggerakkan tangan membebaskan totokannya.
Beng San roboh terduduk di atas tanah. Dia menundukkan muka karena merasa masih pening dan nanar
kepalanya. Ia meramkan matanya yang menjadi sempit karena pipinya telah membengkak besar di kanan kiri.
Kasihan sekali anak ini, mukanya sampai menjadi seperti buah labu matang.
Tiba-tiba saja Beng San menggerak-gerakkan kaki tangannya, kulit badannya makin lama nampak makin
merah sampai bagai udang rebus. Makin merah kulitnya makin tak karuan pula tingkahnya, berkelojotan
seperti ular disiram air panas.
“Panas… panas…!”
Akhirnya tak tertahankan juga. Namun mulutnya yang tidak pernah mengeluh itu hanya bilang ‘panas…
panas…’ berkali-kali. Kulit badannya menjadi merah tua hampir hitam dan dari tubuhnya tampak uap tipis
seakan-akan seluruh air di tubuhnya sudah mendidih.
Tubuh Beng San melompat ke sana ke mari seperti orang gila. Dia menabrak pohon, lalu terjungkal, berdiri
lagi, terhuyung-huyung, kemudian merangkak-rangkak sampai kembali menabrak pohon lagi. Kemudian dia
melompat berdiri dan lari.
“Heh-heh-heh, hendak kulihat sampai berapa lama kau dapat bertahan.” Siok Tin Cu juga berlari mengikuti
anak yang sedang gila kepanasan itu, meninggalkan kudanya yang diikat pada sebatang pohon.
Tidak jauh Beng San berlari karena belum juga dua li, ia menabrak pohon lagi dan jatuh terguling. Anak ini
tidak dapat bangun lagi, hanya berkelojotan dan bergulingan.
Siok Tin Cu berlutut dan memeriksa dengan teliti. Diurut dan diperiksanya seluruh bagian tubuh Beng San
yang sudah tak berdaya lagi itu, mulutnya tiada hentinya memuji.
“Hemmm, tubuhnya penuh berisi hawa panas yang mukjijat. Inilah inti sari hawa yang apa bila dapat dipelihara
dan disalurkan dengan kekuatan Iweekang akan menjadi semacam yang-kang istimewa, kuat dan panas.
Bagus sekali! Hendak kulihat apa yang dirusaknya.” Ia memeriksa perut dan dada Beng San.
“Hemmm, hemmmmm… berbahaya sekali, isi perutnya melepuh semua, paru-paru penuh hawa panas
menguap, jantung mengeriput… Kalau anak ini tidak kosong perutnya, tidak penuh hawa murni tubuhnya dan
tidak bersih tulang-tulangnya, dia sudah akan mampus sejak tadi. Dengan Iweekang di tubuhku, apakah aku
akan dapat menahan hawa panas seperti ini…? Hemmm, berbahaya sekali…”
Saking asyiknya memeriksa, Tosu ini sampai tidak tahu dan tidak merasa bahwa kantong obatnya terlepas dan
terjatuh. Ketika tubuh Beng San bergerak-gerak, tanpa disengaja kantong obat itu tertindih oleh tubuh anak itu
dan tidak kelihatan dari atas.
“Hemmm…, berbahaya sekali akibatnya. Apa kiranya aku akan kuat?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Tosu itu berdiri dan termenung. Ia ngeri akan akibatnya kalau sampai dirinya kemasukan obat kuat itu tetapi
akhirnya tubuhnya tidak dapat menahan. Tanpa terasa digerayangnya pinggangnya dan ia kaget sekali karena
tidak mendapatkan kantong obat di situ.
Bingung ia mencari, tetapi sia-sia saja. Ia lalu mengingat-ngingat. Tidak salah lagi, tadi ia mengambil sebuah
pil dari kantong obat yang segera diikatkan kembali ke pinggangnya. Jangan-jangan ketinggalan di atas pelana
kuda, pikirnya.
Cepat dia berlari meninggalkan Beng San. Dia berlari kembali ke tempat di mana dia tadi meninggalkan
kudanya. Di sini dia mencari-cari ke sana kemari, membuka-buka rumput dan alang-alang di sekitarnya,
membongkar semua bekal dari atas sela kuda.
Sementara itu, Beng San masih juga berkelojotan.
“Panas… lapar… panas… lapar…,” katanya.
Tangannya menggerayang-gerayang. Ia mencoba membuka matanya, akan tetapi begitu dibuka, air matanya
bercucuran saking panas dan perihnya.
Tiba-tiba tangannya yang menggerayang itu berhasil menangkap sebuah kantong kecil. Kedua tangannya lalu
menarik, dan sekali tarik saja kantong itu hancur dan dua butir pil sudah dipegangnya. Karena pikiran Beng
San sudah hampir tidak dapat dipergunakan lagi saking hebatnya penderitaannya, dua butir pil itu segera dia
masukkan ke mulutnya terus ditelan habis!
Pada saat itu, terdengar orang bernyanyi-nyanyi kecil, nyanyian kanak-kanak. Ketika tiba di tempat itu, ternyata
bahwa yang bernyanyi adalah seorang lelaki bertubuh tinggi besar, tetapi mukanya yang hitam itu sama sekali
tidak berkumis atau berjenggot, licin seperti muka kanak-kanak.
Matanya juga bersinar bodoh dan jujur seperti mata kanak-kanak pula, biar pun usianya telah empat puluh
tahun. Yang lucu adalah pakaiannya, berkembang-kembang dan malah sepatunya juga sepatu berkembang
seperti yang biasa dipakai wanita. Pendeknya, dia adalah seorang aneh yang mempunyai sifat kanak-kanak,
berpakaian seperti perempuan dan pantasnya hanya orang edan saja yang berkeadaan seperti dia ini.
Ia berhenti menyanyi dan berdiri memandang Beng San yang masih bergulingan. Setelah Beng San menelan
pil yang dua butir itu, dia seperti cacing terkena abu panas. Berguling ke sana, menggelundung ke sini,
berkelojotan dan mulutnya berbusa.
“Ha-ha-ho-ho-hoh, kau main menjadi trenggiling?”
Orang yang baru datang itu dengan muka girang lalu turut rebah pula dan bergulingan, berkelojotan seperti
Beng San sambil tertawa-tawa senang sekali.
“Hayo kita balapan, siapa lebih cepat menggelinding!” katanya mengajak Beng San main balapan. Tentu saja
Beng San yang tidak sadar itu semua sekali tidak mempedulikan.
“Ehh, kau tidak mau balapan? Kurang ajar kau, diajak bicara diam saja!”
Orang itu melompat bangun dan mendekati Beng San. Ia melihat kedua mata Beng San yang sipit karena
mukanya berbusa.
“Ehh... ehh... ehh, setan, kau malah mengejek?” orang itu marah-marah, mengira bahwa Beng San yang
tengah sekarat itu mengejeknya. “Kutendang kau.”
Orang tua itu menendang perlahan. Tanpa disengaja ia menendang jalan darah thi-thait-to di punggung Beng
San.
dunia-kangouw.blogspot.com
Bocah yang sedang menderita ini, yang tubuhnya seakan-akan hendak meletus karena penuh dengan hawa
Yang, seakan-akan terbuka jalan darahnya akibat terkena tendangan itu. Mendadak saja ia melompat ke atas,
tinggi sekali dan tanpa disadarinya pula tangan kanannya menampar kepala orang itu.
“Plakkk!” sehabis menampar ia bergulingan pula.
Yang hebat adalah orang aneh yang kena ditampar itu. Tubuhnya terlempar dan roboh berguling-guling sambil
mengaduh-ngaduh. Ternyata orang itu lihai bukan main.
Tamparan yang dilakukan oleh anak tadi, meski pun tidak disengaja namun penuh dengan tenaga Yang dan
kiranya akan bisa menghancurkan kepala seorang biasa. Namun orang aneh itu hanya terguling-guling dan
cepat bangun lagi. Ia menjadi marah sekali.
“Ehh, Setan, Ehh Iblis, kau mengajak berkelahi? Datang-datang mengirim pukulan maut, ya? Berani kau mainmain
dengan Koai Atong!”
Cepat seperti orang bermain sulap, tahu-tahu di tangan kanan orang ini sudah terdapat sebuah panah
berwarna hijau. Ia lalu maju menubruk Beng San yang sedang bergulingan, tangan kanan menggunakan anak
panah tadi untuk menusuk, sedangkan tangan kirinya memukul dengan telapak tangan terbuka.
Dengan tepat sekali tangan kiri Koai Atong memukul dada Beng San, sedangkan ujung anak panah itu
menancap di pundaknya. Melihat lawannya sama sekali tidak mengelak atau menangkis, Koai Atong kaget
sekali dan dia cepat menarik kembali anak panahnya.
Hebat! Beng San yang terkena pukulan dan terluka oleh anak panah, seketika berhenti bergerak, hanya dari
mulutnya terdengar bunyi mendesis seperti seekor ular mengamuk. Mukanya yang tadi merah menghitam
perlahan-lahan berubah menjadi hijau, juga seluruh tubuhnya berubah menjadi kehijauan! Desis pada
mulutnya tak berlangsung lama, segera terhenti seperti bola kempis kehabisan angin.
“Mati…, celaka… aku membunuh orang yang tak melawan dengan pukulan Jing-tok-ciang (Tangan Racun
Hijau)!”
Sesudah berkata demikian, orang aneh itu cepat berlari meninggalkan tempat itu. Larinya bukan main
cepatnya, seperti terbang saja.
Orang aneh yang bernama Koai Atong ini sesungguhnya bukan orang biasa. Biar pun dia seperti kanak-kanak
dan pakaiannya seperti orang gila, tetapi justru karena keanehannya itu maka ia disebut Koai Atong (anak
setan). Dia ini adalah murid tunggal dari Ban-tok-sim (Hati Selaksa Racun) Giam Kong, seorang hwesio dari
barat yang berasal dari Tibet.
Nama besar Giam Kong ini terkenal di seluruh dunia kang-ouw sebagai seorang tokoh yang sangat ditakuti
orang. Juga nama murid tunggalnya ini cukup membikin mengkeret nyali banyak ahli silat karena
kehebatannya.
Yang paling ditakuti dari dua orang tokoh guru dan murid ini adalah ilmu pukulan mereka yang berdasarkan
tenaga Im yang disebut Jing-tok-ciang. Ilmu pukulan racun hijau ini dahsyat bukan main, mengandung sari
tenaga Im yang paling dalam sehingga jangankan pukulannya, baru hawa pukulannya saja sudah cukup
mendatangkan racun yang akan mematikan orang yang tersambar.
Sebagai seorang tokoh besar yang tinggi ilmu silatnya. Giam Kong telah berpesan kepada muridnya yang
ketolol-tololan itu agar tidak sembarangan mempergunakan Jing-tok-ciang, apa lagi mempergunakan senjata
anak panah yang ujungnya sudah dimasak dalam racun hijau, kalau tidak amat terpaksa atau menghadapi
musuh berat. Oleh karena itulah maka Koai Atong tadi ketakutan melihat akibat pukulannya.
Tusukan anak panah terhadap diri Beng San dan serangannya tadi hanya terdorong oleh kemarahan karena ia
dipukul secara hebat. Disangkanya bahwa Beng San anak kecil itu memiliki kepandaian tinggi, maka begitu
menyerang ia mempergunakan pukulan maut dan anak panahnya. Maklumlah, jalan pikiran Koai Atong
memang masih seperti kanak-kanak maka ia tidak berpikir panjang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Siok Tin Cu bingung sekali ketika dia mencari-cari di tempat dia meninggalkan kudanya tetap tidak dapat
menemukan kantong obatnya. Dia menuntun kudanya kembali ke tempat Beng San.
Alangkah kagetnya ketika dia melihat anak itu sudah tidak bergerak-gerak, terlentang di atas tanah dengan
muka dan tubuhnya berwarna hijau! Dia terheran-heran, melepaskan kudanya dan didekatinya anak itu.
Sesudah memeriksa sejenak ia mengeluarkan seruan keget!
“Ayaaaaa…..! Kenapa anak ini bisa mati seperti itu?!”
Ia benar-benar kaget sekali dan berkali-kali menggeleng-gelengkan kepalanya. Pengaruh obatnya adalah
tenaga Yang (panas), jadi andai kata anak ini mati karena obat itu tentu tubuhnya akan hangus, kenapa
sekarang tubuh anak ini seperti orang mati kedinginan?
Siok Tin Cu bergidik ngeri. Untung ia mencobakan obatnya itu kepada anak tidak dikenal ini. Kalau ia sendiri
yang menelannya, alangkah ngerinya.
“Aku telah keliru membuatnya…,” pikirnya, ”harus segera kulaporkan kepada kauwcu…”
Karena melihat akibat obatnya begini mengerikan ia tidak begitu kecewa lagi kehilangan dua butir pilnya. Kalau
yang sebuah begini berbahaya, dua yang lain juga tidak akan ada gunanya dipusingkan. Biarlah kalau
ditemukan orang lain dan ditelan, paling-paling orang yang menelannya akan mati seperti bocah ini.
Agak ngeri oleh akibat perbuatannya sendiri, tergesa-gesa tosu itu menaiki kudanya dan membalapkan kuda
kurus itu pergi dari situ, pergi meninggalkan tubuh Beng San yang menggeletak di tengah hutan begitu saja…..
********************
“Hong-ji, kau hati-hatilah. Hutan itu lebat, mungkin banyak harimaunya…!”
Jawabannya hanya suara ketawa nyaring seorang anak perempuan berusia delapan atau sembilan tahun yang
amat lincah berlari-lari cepat memasuki hutan lebat. Yang menegur juga tersenyum, senyum kecil yang untuk
sejenak menerangi wajahnya yang muram.
Dia seorang laki-laki yang berusia kurang lebih empat puluh tahun, berwajah tampan dan gagah, tetapi
wajahnya suram, tidak ada cahaya kegembiraan hidup. Wajah tampan ini menjadi gelap dan muram semenjak
dia ditinggal mati isterinya yang tercinta tiga tahun yang lalu, meninggalkan dia hidup berdua saja dengan anak
tunggalnya yang bernama Hong.
Kwa Tin Siong adalah seorang jago pedang murid tertua dari Hoa-san Ciang-bunjin (ketua Hoa-san-pai) Lian
Bu Tojin. Namanya di dunia kang-ouw cukup terkenal sebagai seorang paling tua dari Hoa-san Sie-eng (empat
pendekar Hoa-san). Tidak hanya terkenal karena memang empat orang pendekar Hoa-san ini berkepandaian
tinggi, namun lebih terkenal karena perbuatan mereka yang selalu menjunjung tinggi keadilan dan kegagahan.
Mereka terkenal sebagai pelindung rakyat dari penjahat-penjahat keji.
Lian Bu Tojin, tosu ketua Hoa-san pai sudah berusia enam puluh tahun lebih. Tosu ini biar pun memiliki banyak
anak murid, namun kepandaian istimewanya, yakin pedang Hoa-san Kiam-hoat, hanya diturunkan seluruhnya
kepada empat orang muridnya yang terkenal sebagai Hoa-san Sie-eng ini.
Yang tertua adalah Kwa Tin Siong bergelar Hoa-san It-kiam (Pedang Tunggal Hoa-san). Orang ke dua adalah
Thio Wan It berjuluk Bu-eng-kiam (Pedang Tanpa Bayangan), orang ketiga bernama Kui Keng berjuluk Toatbeng-
kiam (Pedang Pencabut Nyawa), sedangkan orang keempat adalah seorang gadis berusia dua puluh
tahun bernama Liam Sian Hwa dengan julukan Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang).
Kwa Tin Siong sudah berusia empat puluh tahun dan sudah menjadi duda. Dua orang sute-nya, yaitu Thio
Wan it berusia tiga puluh lima, sedangkan Kui Keng berusia tiga puluh tahun, keduanya sudah berkeluarga
pula. Hanya orang keempat dari Hoa-san Sie-eng, yaitu Liem Sian Hwa yang belum berkeluarga. Ia masih
dunia-kangouw.blogspot.com
gadis berusia dua puluh tahun, akan tetapi telah menjadi tunangan Kwee Sin, orang termuda dari tiga
pendekar Kun-lun.
Kwa Tin Siong amat dihormati dan disegani adik-adik seperguruannya karena mempunyai pandangan yang
luas serta sikapnya yang serius. Ia gagah, jujur, dan menjadi pengikut ajaran filsafat Khong-cu yang setia.
Anak perempuannya, Kwa Hong, merupakan matahari hidupnya. Hanya anak inilah yang kadang-kadang
dapat memancing senyum di wajahnya yang selalu muram dan sungguh-sungguh.
Kwa Tin Siong terpaksa mengeprak kudanya untuk berjalan lebih cepat memasuki hutan lebat itu. Tadinya
Kwa Hong membonceng di depannya, tetapi anak itu tiap kali merasa bosan naik kuda, pasti meloncat turun
dan berlari-larian cepat.
Kwa Tin Siong tidak merasa khawatir akan diri anaknya karena sungguh pun baru berusia delapan sembilan
tahun, Kwa Hong telah memiliki kepandaian silat yang lumayan. Sejak anak itu bisa berjalan, dia sudah
mendidiknya sehingga sekarang Kwa Hong mempunyai gerakan yang cepat dan lincah, juga memiliki ilmu bela
diri yang cukup kuat.
“Hong-ji (anak Hong), jangan terlalu cepat, kau nanti sesat jalan!”
Kembali anaknya berkelebat memasuki bagian yang gelap dari hutan besar itu. Kwa Tin Siong memajukan
kudanya dan tiba-tiba kuda itu mengeluarkan bunyi ringkik keras, lalu berdiri di atas kedua kaki belakangnya
dan hidungnya mendesis-desis, nampak ketakutan sekali.
Kwa Tin Siong berlaku waspada, maklum bahwa ada binatang buas di tempat itu. Karena sukar untuk
menenangkan kudanya, ia cepat meloncat turun dan mengikatkan kendali kuda pada sebatang pohon.
Tiba-tiba kudanya meronta keras, kendalinya putus dan kudanya lari tunggang langgang. Hampir bersamaan
pada saat itu terdengar bunyi berkeresekan dari atas dan seekor ular besar yang melilitkan ekornya pada
batang pohon di atas, menyambarkan kepalanya ke arah Tin Siong.
Tak percuma Kwa Tin Siong menjadi orang tertua dari Hoa-san Sie-eng. Biar pun matanya belum melihat,
telinganya telah dapat menangkap sambaran angin dari atas. Cepat sekali kakinya bergerak dan dia pun
sudah mengelak sambil mencabut pedangnya. Di lain saat pedangnya sudah berkelebat membacok ke atas.
Ular itu terluka oleh pedang, darahnya menetes. Ular itu kesakitan dan marah, cepat dia menyambar lagi
bagaikan menubruk ke arah calon mangsanya.
Tin Siong terkesiap kagum menyaksikan ular itu yang besar sekali dengan sisiknya yang nampak kuning
kehijauan berkembang indah. Hampir ia merasa sayang untuk membunuh ular ini, akan tetapi karena ia berada
dalam bahaya, terpaksa ia memapaki datangnya ular dengan sebuah tusukan ke arah leher sambil miringkan
tubuh.
“Cesss!”
Pedang yang ditusukkan dengan tenaga lweekang itu dapat menembus leher ular yang dilindungi kulit keras.
Sebelum ular itu sempat menyerang, pedang sudah dicabut kembali dan sebuah tebasan yang dilakukan
dengan tenaga sepenuhnya membuat leher itu putus! Kepalanya terlempar ke bawah sedangkan ekor yang
melilit dahan pohon perlahan-lahan terlepas sehingga akhirnya tubuh ular yang panjang dan besar itu jatuh
berdebuk di atas tanah pula.
Tin Siong menarik napas panjang merasa sayang bahwa ular yang seindah itu kulitnya terpaksa harus ia
bunuh, Ular kembang macam ini enak dagingnya dan kulitnya akan laku mahal kalau dijual di kota, pikirnya. Ia
ingat akan anaknya, dan teringat pula akan kudanya yang sudah melarikan diri. Tetapi anaknya harus dicari
lebih dahulu, dan dengan pikiran ini pendekar itu lalu lari mengejar ke arah bayangan Kwa Hong tadi
berkelebat.
Sementara itu, Kwa Hong yang berlari-larian gembira telah berada di bagian yang paling gelap di hutan itu.
Memang anak ini semenjak kecil paling senang kalau bermain-main di dalam hutan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Semenjak kecil ia berdiam bersama ayahnya di Hoa-san dan hutan besar boleh dibilang adalah tempat ia
bermain-main. Akhir-akhir ini ketika ayahnya mengajak ia turun gunung, ia sering kali rindu kepada hutanhutan
besar, rindu kepada binatang-binatang hutan yang amat disayanginya. Maka sekarang melihat hutan,
tentu saja ia bagaikan seekor burung, gembira sekali hatinya.
Saking gembiranya ia sampai lupa diri dan lupa pula bahwa ia sudah jauh meninggalkan ayahnya dan baru
terasa lelah kedua kakinya ketika dia duduk di bawah sebatang pohon besar. Sepasang matanya berseri dan
bersinar-sinar, mulutnya yang kecil tertawa-tawa ketika Kwa Hong memetik dua tangkai bunga merah yang
dipasangnya di atas kepala di kanan kiri, menghias rambutnya yang hitam panjang.
Tiba-tiba ia berseru kaget dan cepat-cepat meloncat ke samping, dan di lain saat tangan kanannya sudah
menghunus pedang pendek. Inilah gerakan Sin-coa Hiat-bwe (Ular Sakti Mengulur Ekornya), sebuah gerakan
ilmu pedang sebagai pembukaan kalau menghadapi lawan berat.
Gerakannya cepat sekali dan tangannya yang mencabut pedang hampir tidak terlihat, tahu-tahu pedang
pendek yang tadinya tergantung di punggungnya telah berada di tangan kanan, dipegang erat-erat gagangnya,
sedangkan badan pedangnya melintang di depan dada. Apa yang menyebabkan gadis cilik ini kaget?
Mukanya pucat dan ia berdiri seperti patung, lenyap semua seri gembira pada wajahnya. Bukan hanya dia,
andaikan di situ ada orang lain, orang yang segagah ayahnya sekali pun, tentu akan kaget setengah mati
melihat apa yang dilihat oleh Kwa Hong ini.
Semuanya ini bukan di dunia mimpi, memang nyata-nyata terlihat olehnya hal itu terjadi. Mula-mula ia tadi
berseru kaget karena melihat ada seekor ular besar di bawah pohon, kurang lebih dua puluh meter jauhnya di
sebelah sana. Dan sekarang… tahu-tahu ular itu ‘bangun’ berdiri dan berloncat-loncatan menghampirinya.
Hampir saja Kwa Hong lari tunggang langgang saking takut dan ngerinya kalau saja ia tidak mendengar suara
orang tertawa. Akan tetapi saat ia mendengar bahwa yang tertawa adalah ‘ular berdiri’ itu, kemudian timbul
jiwa ksatria yang diturunkan ayahnya kepadanya. Dengan pedang dipegang erat-erat di tangan ia membentak.
“Siluman dari mana berani menggangguku?!”
“Ha-ha-ha, lagaknya. Kakimu menggigil seperti orang sakit demam kok masih berlagak gagah. Ha-ha-ha!”
Ternyata ular itu setelah dekat tidak berkepala lagi dan... dari leher ular itu tersembullah kepala seorang anak
laki-laki, anak yang bermata lebar dan mukanya putih kehijauan. Anak ini bukan lain adalah Beng San.
Seperti telah kita ketahui Beng San menggeletak di bawah pohon dalam keadaan yang dianggap sudah tak
bernyawa lagi oleh Siok Tin Cu. Memang waktu itu anak ini sudah seperti mati. Mukanya hijau kebiruan, tidak
ada napasnya lagi dan bahkan tak ada detak jantungnya lagi.
Akan tetapi, ternyata Siok Tin Cu salah kira. Terjadi hal-hal yang mukjijat dalam diri anak yang bernasib
malang ini, atau lebih tepat bila kita katakan bukan bernasib malang, sebab secara kebetulan sekali ia
terhindar dari mala petaka yang akan mencabut nyawanya akibat dari ditelannya tiga butir pil obat beracun dari
Siok Tin Cu, tiga butir pil beracun yang mengandung hawa panas yang mukjijat, sari dari pada hawa thai-yang.
Pada waktu Beng San ditemukan oleh Koai Atong, memang nyawanya sudah di ambang kematian. Kemudian
secara kebetulan sekali Koai Atong yang berotak tidak beres itu telah memukulnya dengan tenaga Jing-tokciang,
malah melukainya dengan anak panah yang ujungnya sudah dilumuri racun hijau.
Hawa pukulan dan racun ini cepat sekali menjalar di seluruh tubuh melalui jalan darahnya. Terjadilah perang
tanding yang hebat antara hawa thai-yang dari tiga butir pil itu dengan tenaga Im-kang dari pukulan Jing-tokciang
dan racun hijau. Dalam keadaan kedua hawa yang bertentangan sedang bergulat itulah Siok Tin Cu
melihat Beng San bagaikan sudah mati.
dunia-kangouw.blogspot.com
Memang agaknya sudah dikehendaki Tuhan bahwa nyawa anak itu belum tiba saatnya kembali ke alam baka.
Semalam suntuk dua hawa mukjijat itu bertempur dalam tubuhnya dan seperti biasanya apa bila racun
bertemu dengan racun yang berlawanan, maka kedua racun itu menjadi saling memunahkan.
Bahkan sebaliknya, bukannya terancam nyawanya, tanpa disadari di bagian dalam tubuh Beng San
mengandung kedua hawa ini yang sudah dibikin normal oleh percampuran itu. Dan campuran dua hawa ini
mendatangkan kekuatan yang luar biasa.
Demikianlah, pada keesokan harinya Beng San sadar, seakan-akan ia baru bangun dari kematian. Ia merasa
tubuhnya dingin bukan main sampai giginya berketrukan. Ia teringat akan pengalamannya, ketika ia dijejali pil
oleh tosu yang mengaku bernama Siok Tin Cu.
Teringat akan ini ia menjadi marah dan meloncat bangun. Alangkah kagetnya dia, ketika tubuhnya mumbul
sampai satu meter lebih. Rasanya tubuhnya begitu ringan seperti bulu ayam!
Akan tetapi hal ini tidak diperhatikannya lagi karena segera ia terserang rasa dingin yang bukan main
hebatnya. Ia teringat bahwa ketika habis dijejali pil oleh tosu itu ia merasa tubuhnya seperti dibakar, kenapa
sekarang sebaliknya begini dingin? Beng San menggigil dan lari ke sana kemari mencari tempat berlindung.
Disangkanya bahwa hawa udara di hutan itu yang luar biasa dinginnya.
Kebetulan sekali ia melihat kulit ular atau selongsong kulit ular bergantungan di sebuah pohon besar. Tadinya
ia kaget, mengira bahwa itu adalah binatang ular. Tetapi sesudah da meilihat bahwa itu hanya selongsong
saja, ia segera memanjat pohon dan mengambil selongsong itu. Kiranya ada seekor ular besar sekali yang
telah berganti kulit di situ dan selongsongnya yang kering tergantung di situ.
Beng San seorang anak cerdik. Ia membutuhkan selimut dan selongsong kulit ular ini kiranya boleh juga
dipergunakan sebagai selimut darurat. Segera ia membungkus dirinya dengan selongsong kulit ular yang
panjang dan lebar itu. Dan benar saja, dia lalu merasa badannya menjadi hangat dan perasaan ini demikian
nyamannya membuat ia melupakan perut laparnya dan tertidur lagi terbungkus kulit ular.
Tentu saja ia tidak tahu bahwa kehangatan yang datang padanya itu adalah wajar saja. Pertama, karena hawa
pukulan Jing-tok-ciang itu mulai menghilang, bercampur dengan hawa thai-yang. Kedua kalinya, secara
kebetulan sekali pada kulit ular itu masih terdapat sisa hawa beracun dari ular yang berganti kulit, dan hawa
beracun ini mengandung hawa panas pula.
Itulah sebabnya mengapa Beng San bukan saja terhindar dari bahaya maut, sebaliknya ia bahkan mendapat
keuntungan yang luar biasa, yaitu tubuhnya terkandung hawa mukjijat akibat percampuran hawa Yang dan Im
yang kuat sekali, yang menyebabkan tubuhnya kadang-kadang terasa panas, tetapi kadang kala dingin sekali.
Itulah satu-satunya hal yang sampai saat itu masih sering kali bergantian menyerangnya, namun hal itu sudah
tidak begitu mengganggunya lagi karena tubuhnya menjadi biasa dan seperti kebal. Hanya kulitnya yang masih
belum dapat menahan sehingga tiap kali hawa panas menyerang, kulit tubuh, terutama kulit mukanya berubah
menjadi merah bagaikan udang direbus, tetapi setiap kali hawa dingin yang menyerang, mukanya berubah
menjadi hijau.
********************
Kita kembali pada pertemuan Beng San dan Kwa Hong. Lenyap kengerian dan ketakutan hati Kwa Hong
setelah mendapat kenyataan bahwa apa yang disangkanya siluman ular itu ternyata adalah seorang anak lakilaki
yang hanya lebih besar sedikit dari pada dirinya sendiri. Tadinya ia hendak tertawa saking geli hatinya,
akan tetapi mana bisa dia tertawa kalau begitu bicara anak laki-laki itu menghinanya?
Kakinya dikatakan menggigil seperti orang sakit demam, tapi masih berlagak gagah. Yang menggemaskan
kata-kata itu memang... betul. Memang tadi kedua kakinya menggigil dan tubuhnya gemetaran. Siapa
orangnya yang tidak akan takut jika mengira bertemu dengan siluman?
“Setan cilik, kenapa kau main-main dan menakut-nakuti orang? Kalau tidak mengira kau siluman, mana aku
takut pada orang semacam engkau?” Kwa Hong membentak, bibirnya cemberut.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan sikap menunjukkan bahwa kini dia sama sekali sudah tidak takut lagi, Kwa Hong menyimpan kembali
pedangnya di belakang punggung, kemudian menggerakkan kepala sehingga rambutnya yang panjang itu
berjuntai ke belakang.
Melihat sikap gagah-gagahan dan galak dari nona cilik ini, Beng San tertawa cekikikan dan tampaklah deretan
giginya yang kuat dan putih.
“Ehh, kenapa kau tertawa-tawa?” Kwa Hong penasaran dan marah, kedua tangan dikepal, matanya bersinarsinar
karena mengira bahwa dia telah ditertawakan.
Beng San tak menjawab, malah hatinya makin geli dan tertawanya makin keras. Biasanya dia melihat anak
perempuan sebagai makhluk-makhluk yang lemah-lembut, dan sekarang melihat lagak Kwa Hong yang
membawa-bawa pedang ia merasa lucu sekali.
“Hei, kepala keledai, kenapa kau cekikikan?” Kwa Hong membentak lagi, kini melangkah maju.
Beng San tidak menjawab pertanyaan dara cilik itu. Dengan mulut masih tersenyum lebar, dia balas bertanya,
“Aku tertawa atau menangis menggunakan mulut sendiri, kenapa kau ribut-ribut?” dan ia tertawa lagi, malah
sengaja ketawa keras-keras.
Kwa Hong terpukul dan hatinya semakin mendongkol. “Kau kira mukamu kebagusan, ya? Tertawa-tawa seperti
monyet. Mukamu jelek sekali, tahu?”
Beng San makin geli. Matanya bersinar-sinar biar pun masih nampak sipit karena kedua pipinya memang
masih bengkak-bengkak, membuat mukanya mirip dengan muka kodok. Pada saat itu, hawa dingin sudah
mulai meninggalkannya, terganti hawa panas sehingga membuat mukanya yang tadi kehijauan sekarang
berubah menjadi merah.
Melihat perubahan ini Kwa Hong tertawa geli, ketawanya bebas lepas. Anak ini nampak semakin cantik kalau
tertawa karena dari kedua pipinya tiba-tiba muncul lesung pipit yang manis.
“Hi-hi-hi, kau buruk sekali, mukamu berubah-ubah warnanya, hi-hi-hi, seperti bunglon..!”
Panas juga perut Beng San ditertawai seperti ini. Ia membalas dengan suara ketawa yang keras, mengalahkan
suara ketawa Kwa Hong.
“Ha-ha-ha, mukamu pun buruk bukan main seperti… seperti kuntilanak.”
Kwa Hong berhenti tertawa. “Kuntilanak? Apa itu?”
Seketika Beng San juga berhenti tertawa karena dia sendiri juga tidak pernah tahu apa macamnya kuntilanak!
“Kuntilanak ya kuntilanak…“
“Seperti apa?”
“Seperti... ahh, sudahlah, buruk sekali, seperti engkau inilah!”
“Bohong!” Kwa Hong membentak. “Aku cantik manis, semua orang bilang begitu, ayahku juga bilang begitu.”
Beng San tersenyum mengejek, “Cantik manis? Puuhhhh! Mungkin sekarang, akan tetapi dulu ketika baru lahir
kau ompong dan kisut, buruk sekali dah!”
Kwa Hong membanting-banting kakinya. Ia memang manja dan setiap orang yang melihat dirinya tentu akan
memuji kecantikan dan kemanisannya, masa sekarang ada orang yang memburuk-burukkannya seperti ini.
Mana dia mau menerimanya?
dunia-kangouw.blogspot.com
“Mulutmu berbau busuk! Aku cantik manis sekarang, dulu mau pun kelak, tetap cantik.”
“Cantik manis juga kalau galak dan berlagak sombong, siapa suka? Galak dan sombong seperti… seperti….”
“Seperti apa?” Kwa Hong menantang.
“Seperti... Kui-bo (kuntilanak)…”
“Kuntilanak lagi. Seperti apa sih kuntilanak itu?”
“Seperti kau inilah,” Beng San menjawab mengkal karena dia sendiri pun belum pernah melihat seperti apa
adanya setan betina yang sering kali orang sebut-sebut.
Kwa Hong marah. “Kau seperti bunglon!”
“Kau seperti Kui-bo!” Beng San membalas.
“Bunglon!”
“Kui-bo!”
“Bunglon, bunglon, bunglon!”
“Kui-bo, Kui-bo, Kui-bo!”
Seperti lazimnya semua anak-anak di dunia ini kalau cekcok, kedua orang anak-anak itu balas membalas
dengan poyokan. Kwa Hong kalah keras suaranya dan melihat Beng San memoyokinya sambil tertawa-tawa,
dia menjadi makin marah.
“Bunglon, katak, monyet! Kau bilang aku seperti kuntilanak, apa sih sebabnya?”
“Kau berlagak dan sombong sekali. Anak perempuan bernyali kecil tetapi masih pura-pura membawa pedang
ke mana-mana. Kurasa dengan pedang itu engkau tidak akan mampu menyembelih seekor katak sekali pun!
Huh, sombong.”
“Sraattt…!”
Tahu-tahu pedang sudah berada di tangan Kwa Hong yang memuncak kemarahannya. “Menyembelih katak?
Menyembelih bunglon macammu pun aku sanggup!”
Pedang pun digerakkan. “Syeettt... syeeettt!”
Dua kali pedang berkelebat dan… selongsong kulit ular yang membungkus tubuh Beng San terbelah dari atas
ke bawah dan jatuh ke bawah. Dalam sekejap mata saja Beng San berdiri... telanjang bulat di depan Kwa
Hong!
Memang ketika menggunakan selimut istimewa itu, Beng San menanggalkan pakaiannya yang basah oleh
peluh dan sekarang pakaian itu digantungkannya pada sebatang pohon. Pada masa itu, usia sembilan tahun
bagi seorang anak perempuan sudah cukup besar, cukup untuk membuat Kwa Hong menjerit serta
membalikkan tubuh dan membelakangi Beng San, sambil mulutnya memaki-maki.
“Kadal! Bunglon! Monyet... tak tahu malu kau…!”
Beng San juga terkejut dan malu sekali. Ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa dengan pedangnya
bocah itu mampu membelah selongsong ular sedemikian rupa hingga ujung pedang tadi hampir saja
menggurat kulit perutnya. Cepat-cepat dia lari menyambar pakaiannya dan segera memakainya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kau yang tak tahu malu, kaulah yang kurang ajar!” Beng San marah marah. “Main-main dengan pedang.
Kalau kena perutku tadi, apa aku tidak mati?”
“Mampus juga salahmu sendiri,” Kwa Hong menjawab sambil memutar tubuh. Sekarang ia melihat Beng San
dalam pakaian yang kotor, butut dan tambal-tambalan.
“Huh!” ia menjebi, “kiranya hanya pengemis.”
“Kuntilanak! Aku tak pernah mengemis apa-apa padamu.”
Pada saat itu, Kwa Tin Siong sudah berlari-lari sampai di tempat itu. Dia barusan sempat mendengar
percekcokan terakhir ini sehingga datang-datang ia menegur puterinya.
“Hong-ji, tak boleh kau menghina orang, tak boleh bercekcok. Pengemis adalah saudara kita.”
Datang-datang jago Hoa-san-pai yang pikirannya selalu penuh dengan ujar-ujar pelajaran Khong Cu telah
menasehati puterinya dengan sebuah ujar-ujar yang lengkapnya berbunyi: ‘Di seluruh penjuru lautan, semua
manusia adalah saudara’.
Beng San yang memang berwatak nakal dan berani, tertawa-tawa sambil bertepuk-tepuk tangan. “Bagus,
bagus! Puas, puas! Maka harus ingat selalu bahwa jika tidak mau dihina orang lain, janganlah menghina orang
lain.”
Seperti sudah diceritakan di bagian depan, semenjak kecilnya Beng San dijejali kitab-kitab kuno oleh para
hwesio di Kelenteng Hok-thian-tong, di antaranya juga kitab-kitab Su-si Ngo-keng yang pernah dihafalkannya,
maka dia pun masih banyak hafal akan ujar-ujar nabi Khong Cu. Yang dia ucapkan tadi pun merupakan
sebuah ujar-ujar yang lengkapnya berbunyi: ‘Jangan lakukan kepada orang lain apa yang kau tidak suka orang
lain melakukannya kepadamu’.
Melihat sikap Beng San, Kwa Tin Siong mengerutkan kening, kemudian terheran-heran. Apa lagi melihat
pakaian Beng San yang buruk dan melihat pula selongsong kulit ular di situ, ia mengira bahwa Beng San
tentulah murid seorang pandai. Ia sedang terburu-buru dan ada urusan besar, tidak baik kalau sampai terjadi
hal-hal tidak enak dengan tokoh lain. Maka ia lalu menarik tangan Kwa Hong dan berkata.
“Mari, Hong ji. Mari kita pergi. Aku tadi membunuh seekor ular besar, kita boleh makan dagingnya sebelum
melanjutkan perjalanan.”
Kwa Hong tidak berani membantah, hanya memandang kepada Beng San dengan mata berapi-api dan mulut
cemberut.
Kwa Tin Siong tersenyum, sebelum pergi menoleh ke arah Beng San yang berdiri dengan kedua kaki
terpentang lebar. Kembali Kwa Tin Siong terheran-heran melihat betapa kulit muka yang bengkak-bengkak itu
menjadi agak kehijauan, padahal tadinya merah sekali. Ia merasa heran dan karena tidak melihat hawa
beracun keluar dari tubuh pemuda cilik itu, maka ia tidak menduga bahwa anak ini telah mempelajari semacam
ilmu mukjijat yang memang pada waktu itu banyak dimiliki tokoh-tokoh kang-ouw.
Mendengar orang bicara tentang ‘daging’ dan tentang ‘makan’, seketika perut Beng San memberontak lagi.
Perutnya melilit-lilit dan ia tak dapat menahan lagi kedua kakinya yang berjalan mengikuti ayah dan anak itu
dari jauh.
Berindap-indap ia menghampiri ketika mencium bau asap yang sangat wangi dan gurih. Setelah dekat dia
melihat betapa Kwa Tin Siong dibantu oleh anak perempuan yang galak tadi sedang membakari potonganpotongan
daging ular. Ularnya kelihatan menggeletak tak jauh dari situ, ular besar sekali yang tentu banyak
dagingnya.
Beng San beberapa kali menelan ludahnya. Ketika ayah dan anak itu ramai-ramai makan panggang daging
ular, Beng San membalikkan tubuhnya, tak mau melihat.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ayah, lihat itu pengemis yang tadi datang lagi.” Tiba-tiba terdengar Kwa Hong berkata nyaring.
Dengan perut panas Beng San menoleh dan memandang dengan mata mendelik.
Kwa Tin Siong tersenyum dan berkata kepada Beng San, “Anak baik, apakah kau lapar?”
Beng San berwatak angkuh namun ia jujur. Ia mengangguk mendengar pertanyaan yang dikeluarkan dengan
sikap ramah dan halus itu.
“Kau mau mengemis daging ular?” Kwa Hong mengejek.
“Tidak!” Beng San membentak dan membalikkan mukanya lagi.
Kwa Tin Siong diam-diam merasa kagum juga melihat anak jembel yang berwatak angkuh itu. Itulah sikap
jantan yang jarang terdapat pada diri anak-anak, apa lagi anak jembel.
Dengan halus ia bertanya, “Anak baik, apakah kau mau minta daging ular?”
Beng San menoleh sebentar dan dengan mengeraskan hatinya ia menjawab halus, tidak membentak seperti
ketika menjawab Kwa Hong tadi. “Tidak, lopek (paman tua), aku tidak minta.”
Kembali Kwa Tin Siong tertegun. Jawaban kali ini adalah jawaban seorang anak baik-baik yang mengerti akan
tata susila dan kesopanan. Ia dapat menjenguk isi hati anak itu yang agaknya memiliki keangkuhan besar,
walau pun hampir kelaparan akan tetapi tidak mau minta-minta. Anak luar biasa, pikirnya.
“Anak baik, boleh aku mengetahui namamu?”
“Namaku Beng San, anak korban banjir, tiada orang tua, tidak tahu lagi she apa,” Beng San sekaligus
menjawab karena tidak suka kalau dihujani pertanyaan selanjutnya.
Kembali Kwa Tin Siong tertegun. Kasihan sekali anak ini, agaknya sejak kecil terpaksa harus hidup terluntalunta
seorang diri.
“Beng San, aku Kwa Tin Siong dan ini anakku Kwa Hong. Kau tidak minta makanan, akan tetapi aku memberi
kepadamu, kau mau, bukan ?”
Orang tua itu mengambil dua potong panggang daging ular dan memberikannya kepada Beng San. Anak itu
menerima tanpa menyatakan terima kasihnya karena ia melihat Kwa Hong memandang dengan senyum
mengejek. Begitu menerimanya ia mengembalikannya kepada Kwa Hong.
“Tak pernah aku menerima pemberian yang tak rela,” katanya singkat.
“Hong-ji!” Kwa Tin Siong membentak anaknya. “Jangan kau kurang ajar. Daging ini ayah yang dapat, bukan
kau!”
Kwa Tin Siong membujuk supaya Beng San suka menerimanya dan Kwa Hong tak berani lagi senyum-senyum
mengejek seperti tadi. Setelah yakin bahwa pemberian itu rela, Beng San segera makan daging ular itu.
Aduh lezatnya, sedapnya, gurihnya. Dengan lahap Beng San makan dan dalam sekejap mata saja habislah
dua potong daging itu. Kwa Tin Siong yang diam-diam melirik menjadi terharu. Ia tahu bahwa kalau ia memberi
terus menerus, maka kehormatan anak itu akan tersinggung. Sebab itu, karena ia dan Kwa Hong sudah
merasa kenyang, ia lalu berdiri dan berkata kepada Kwa Hong.
“Hong ji, mari kita melanjutkan perjalanan. Kita harus mencari kudaku yang tadi melarikan diri.” Kemudian
kepada Beng San ia pun berkata. “Beng San, karena kami sudah tidak lagi memerlukan daging ular, maka
kuberikan sisa daging ular ini kepadamu, juga sisa garam dan bumbu ini. Kau pangganglah sendiri. Nah,
selamat tinggal anak baik.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat sikap ini Beng San segera menjatuhkan diri berlutut. “Kwa Tin Siong lopek, kau benar-benar seorang
mulia. Aku Beng San tak akan mudah melupakan kau dan semoga saja kelak aku mendapatkan kesempatan
untuk membalas kebaikanmu ini.”
Sekali lagi Kwa Tin Siong terkesiap. Bukan main anak ini, mempunyai pribudi tinggi pula. Ia lalu mengangguk
angguk dan diam-diam ia mencatat nama Beng San di dalam hatinya. Dan sebelum mereka berpisah, antara
Beng San dan Kwa Hong kembali terjadi ‘adu sinar mata’. Pandang mata keduanya berapi dan gemas!
Setelah ayah dan anak itu pergi, Beng San segera berpesta pora. Ia memanggang daging ular sebanyaknya
dan selagi masih panas-panas dia sudah tak sabar menanti, terus saja dimakannya. Sambil makan ia
tersenyum-senyum kalau teringat akan kebaikan sikap Kwa Tin Siong, akan tetapi ia menggerutu kalau teringat
akan Kwa Hong.
“Kui-bo…!“ makinya keras-keras. “Kuntilanak…! Cantik manis, genit dan galak. Kui-bo, Kui-bo, Kui-bo! Nah,
kumaki kau sampai puas, mau apa sekarang, Kui-bo!”
Tiba-tiba dari atas puncak sebuah pohon besar terdengar suara orang perempuan tertawa mengikik, “Hi-hi-hihi!”
Beng San meloncat berdiri, menoleh ke kanan kiri. Disangkanya bahwa Kwa Hong datang kembali. Akan tetapi
ia tidak melihat bayangan orang. Ia menjadi gemas, dikiranya Kwa Hong datang lagi dan mengganggunya atau
bersembunyi.
“Kuntilanak kau! Kui-bo, perlu apa datang menggangguku?”
Kembali terdengar suara ketawa seperti tadi, kini tepat di atas kepala Beng San. Anak itu cepat-cepat
mendongak, memandang ke pepohonan di atasnya, di antara daun-daun dan cabang-cabang pohon. Akan
tetapi, seekor burung pun tak tampak dan suara ketawa itu masih terdengar di situ.
Tiba-tiba suara itu pindah ke lain pohon, juga terdengar di puncak sambung menyambung, “Hi-hi-hi-hi!”
Beng San adalah seorang anak pemberani. Akan tetapi setidaknya dia pernah tinggal di kelenteng dan pernah
mendengar cerita-cerita tahyul dari beberapa orang hwesio, maka sekarang ia mulai merasa bulu tengkuknya
meremang. Betapa pun juga, ia mengeraskan hatinya. Masa di siang hari terang benderang ada setan? Kata
seorang hwesio, kuntilanak hanya muncul di waktu malam!
“Hi-hi-hi-hi-hi!”
Dan kini Beng San benar-benar tersentak kaget karena tiba-tiba saja di depannya berdiri seorang perempuan
yang cantik. Wanita ini tertawa-tawa, nampak giginya yang putih rapi. Pakaiannya seperti pakaian gambar dewi
di tembok kelenteng, serba sutera dan indah. Ia memegang sebuah sapu tangan sutera yang panjang.
Mukanya manis dan matanya liar galak serta mengandung sinar yang aneh menyeramkan, seperti bukan mata
orang yang sehat otaknya. Inikah kuntilanak?
Wanita itu tertawa-tawa lagi, kemudian bertanya. “Anak bagus, kau suka kepada Kui-bo (kuntilanak)? Betulkah
katamu tadi bahwa Kui-bo cantik manis, genit dan galak?”
Suara wanita itu halus, tapi matanya betul-betul menyeramkan, membuat Beng San makin ketakutan. Anak ini
memberanikan hatinya dan bertanya.
“Kau… kau siapakah...?”
“He-he-he, anak bagus, dari tadi kau menyebut-nyebut Kui-bo. Akulah Kui-bo dan namaku ini.” Wanita itu
seperti seorang tukang sulap tahu-tahu sudah memegang setangkai bunga hitam di tangannya.
“Namamu… kembang hitam itu…?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Beng San melongo melihat wanita itu menancapkan tangkai bunga itu pada rambutnya. Karena bunga itu
hitam dan rambutnya juga hitam, maka hiasan rambut ini tidak begitu kentara.
“Ya, akulah Hek-hwa Kui-bo (Kuntilanak Bunga Hitam). Kau bilang dia si gadis cilik yang mungil itu seperti aku
? Hi-hi-hi-hi, kau baik sekali, anak bagus...” Wanita itu tertawa-tawa lagi, nampaknya girang sekali.
Sebaliknya Beng San terkejut. Bagaimana wanita ini bisa mengetahui semua ucapannya kepada Kwa Hong?
“Aku tidak percaya,” katanya. “Menurut kata orang, kuntilanak itu biar pun cantik tapi suka makan...” sampai di
sini Beng San menjadi pucat.
Mengapa ia begini goblok menyebut-nyebut tentang itu? Bagaimana kalau ini kuntilanak tulen dan dagingnya
akan dimakan?
“Tepat sekali, memang aku suka makan daging mentah, terutama daging ular...”
Sapu tangan sutera yang panjang itu lalu dikebutkan dan... ujung sapu tangan itu sudah menarik keluar
sepotong daging dari tubuh ular, dan langsung potongan daging ini ditarik dan diterima oleh mulutnya yang
berbibir merah, kemudian dikunyahnya dengan enak dan dimakan! Beng San sampai melotot ngeri
menyaksikan wanita itu makan daging ular yang masih mentah, bahkan masih ada darahnya.
“Kau percaya sekarang? Aku Hek-hwa Kui-bo, sama cantik dengan anak perempuan tadi, bukan? sama
baiknya...”
Beng San teringat akan Kwa Hong dan mulutnya cemberut. Anak perempuan itu tadi telah menghinanya.
“Kalau sama dengan dia aku tak suka,” katanya setengah melamun, “Anak itu galak dan menghinaku. Kalau
kau sama dengan dia, pergilah saja jangan dekat denganku.”
Sejenak wanita itu tertegun. Apa yang keluar dari mulut anak ini adalah kata-kata baru baginya, kata-kata yang
tidak biasa ia dengar. Biasanya setiap orang tidak ada yang bersikap kasar, apa lagi berkata kasar kepadanya,
semua selalu bermuka-muka, selalu bermanis-manis. Dan anak ini berani mengusirnya! Hal ini menggirangkan
hatinya, dan ia tertawa-tawa lagi.
“Kau dihina oleh anak itu? Biar kubawa dia ke sini agar kau boleh membalasnya!” tiba-tiba tubuh wanita itu
lenyap dari situ. Entah bagaimana caranya, tidak terlihat oleh Beng San.
Beng San semakin ketakutan, bulu tengkuknya berdiri semua. Sekarang dia baru mau percaya bahwa yang
dihadapinya tadi betul-betul seekor siluman kuntilanak.
“Aduh, celaka... jangan-jangan dia kembali...,“ demikian dia berkata seorang diri.
Rasa ketakutan ini membuat pengaruh racun hijau dan hawa Im di tubuhnya meningkat, membuat dia menjadi
kedinginan dan kehijauan mukanya. Rasa takut membuat Beng San segera lari tunggang langgang
meninggalkan tempat itu. Akan tetapi ke manakah ia harus pergi menyembunyikan diri? Hutan itu besar sekali,
di mana-mana pohon belaka. Ia tidak tahu ke mana jalan keluar. Tidak lama kemudian selagi berlari-lari,
kembali ia mendengar suara ketawa yang tadi.
“Hi-hi-hi-hi-hi!”
Beng San menelusup ke dalam semak-semak, bersembunyi. Akan tetapi percuma saja, tahu-tahu wanita yang
tadi sudah berada di depan semak-semak dan berkata,
“Anak bagus, hayo keluar. Ini orang yang menghinamu sudah kubawa ke sini.”
Beng San merangkak keluar dan... ia melihat Kwa Hong sudah berada di situ.
dunia-kangouw.blogspot.com
Anak perempuan itu kebingungan, kini memandang wanita tadi dan berkata gugup, “Ba… bagaimana kau bisa
membawaku ke sini?”
Wanita itu hanya tertawa, mengelus pipi Kwa Hong yang halus kemerahan. “Kau cantik, aku juga sama dengan
kau, kata anak bagus itu...”
Kwa Hong marah. Tadi ia sedang naik kuda bersama ayahnya dengan cepat. Tahu-tahu ada bayangan
berkelebat, terdengar ayahnya berteriak dan ia merasa matanya pedas dan tahu-tahu sekarang ia sudah
berada di dalam hutan berhadapan dengan seorang wanita cantik bersama Beng San.
Mengira bahwa tentu wanita ini guru Beng San yang hendak menuntut balas, Kwa Hong menunjukkan
keberaniannya. Cepat bagaikan kilat tangannya yang kecil sudah mencabut pedangnya dan menusuk ke arah
dada wanita itu! Anehnya, yang ditusuk tidak bergerak sedikit pun juga, hanya memandang sambil tersenyumsenyum.
“Krakkk!”
Tiba-tiba pedang di tangan Kwa Hong itu patah menjadi dua dan gadis kecil itu sendiri melepaskan gagang
pedang karena merasa telapak tangannya serasa hendak pecah. Ia meloncat mundur dan memandang
dengan mata terbelalak. Ia tadi melihat betul bahwa pedangnya belum juga menyentuh tubuh perempuan itu,
lalu kenapa tiba-tiba bisa patah sendiri?
“Kuntilanak dia, jangan dilawan, kau takkan menang melawan Kui-bo!” kata Beng San.
Kwa Hong marah bukan main. Ia mengira bahwa Beng San bicara kepada wanita itu dan memaki dia sebagai
kuntilanak lagi.
“Anak jembel! Kau mendatangkan siluman untuk membalas!” bentaknya.
Pada saat itu terdengar angin bertiup dan tubuh Kwa Tin Siong berkelebat. Orang gagah ini memegang
pedang telanjang di tangannya. Wajahnya yang muram nampak semakin muram dan penuh kekhawatiran. Ia
bernapas lega melihat anaknya masih selamat di situ, lalu ia memandang sekilas ke arah Beng San, baru
kemudian ia memperhatikan wanita itu.
Ia melihat seorang wanita cantik, sepasang matanya liar dan aneh, tangan kirinya sedang bermain-main
dengan sehelai sapu tangan sutera beraneka warna, indah serta panjang. Melihat sinar mata wanita ini, diamdiam
Kwa Tin Siong terkejut sekali. Bukan mata orang biasa.
Ia berlaku hati-hati, sekali lagi melirik ke arah Kwa Hong untuk melihat keadaan anaknya. Setelah mendapat
keyakinan bahwa anaknya tidak terluka hanya agak takut-takut, ia lalu menjura kepada perempuan itu.
“Toanio (nyonya) dengan aku Kwa Tin Siong tidak pernah saling mengenal dan karenanya tidak ada
permusuhan sesuatu, maka mohon tanya, ada maksud apa Toanio membawa anakku sampai ke sini?” Kwa
Tin Siong bersikap hormat sekali karena dari cara nyonya ini tadi merampas anaknya tanpa ia dapat berdaya
sama sekali sudah menunjukkan bahwa ia berhadapan dengan seorang yang memiliki kepandaian luar biasa
sekali.
Wanita itu tersenyum mengejek, memandang tak acuh. Ia tidak menjawab, bahkan lalu berkata kepada Beng
San. “Kau tadi dihina hayo balas!”
Akan tetapi mana Beng San mau membalas? Ia memang tidak merasa sakit hati kepada ayah dan anak itu.
Apa lagi Kwa Tin Siong sangat baik kepadanya, sedangkan terhadap Kwa Hong dia hanya mendongkol saja.
Maka dia menggeleng kepalanya tanpa berkata sesuatu.
Kwa Tin Siong mendongkol juga melihat lagak wanita ini yang seakan sama sekali tidak mempedulikannya,
jelas-jelas amat memandang rendah. Maka ia kembali berkata dengan hormat, “Toanio, aku Kwa Tin Siong
tidak mempunyai permusuhan, juga Hoa-san-pai tak mempunyai permusuhan.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwa Tin Siong sengaja menyebut nama Hoa-san-pai agar supaya perempuan ini tidak lagi memandang rendah
kepadanya dan mau bersikap selayaknya orang kang-ouw berurusan dengan sesama orang kang-ouw.
“Tosu bau Lian Bu tak kenal mampus, tidak mampu mengajar anak muridnya.” Wanita itu bicara seperti
kepada dirinya sendiri, akan tetapi cukup membuat Kwa Tin Siong bangkit kemarahannya.
Lian Bu Tojin adalah gurunya, juga adalah ketua Hoa-san-pai, seorang ciang-bunjin (ketua partai) yang amat
dihormati seluruh orang kang-ouw. Mana bisa perempuan ini menyebut namanya begitu saja ditambah
sebutan tosu bau segala? Pedang di tangannya gemetar.
Kwa Hong yang mengenal sikap ayahnya yang marah ini tiba-tiba saja memperingatkan. “Ayah, tadi aku tusuk
dia tapi pedangku patah sebelum menyentuhnya!”
Kwa Tin Siong kaget sekali. Ia tidak kaget karena pedang anaknya patah. Ia tahu bahwa kepandaian anaknya
belum seberapa, tentu saja kalau melawan seorang tokoh pandai tak akan ada artinya. Ia kaget akibat
mendengar pengakuan anaknya yang sudah menyerang wanita ini.
“Hong-ji, jangan kurang ajar kau. Mari sini!” Ia menyuruh anaknya mendekatinya supaya lebih mudah
melindungi kalau sampai terjadi pertempuran.
Akan tetapi, baru saja Kwa Hong hendak bergerak mendekati ayahnya, tampak wanita itu menggerakkan sapu
tangan suteranya ke arah Kwa Hong yang segera berdiri diam tak bergerak seperti patung.
Hampir Kwa Tin Siong tak dapat mempercayai matanya sendiri. Ujung sapu tangan yang halus itu tampaknya
tidak mengenai tubuh anaknya, tetapi... nyatanya anaknya telah kena ditotok jalan darahnya!
“Hi-hi-hi-hi-hi... Hoa-san-pai...” Wanita itu tertawa mengejek.
Sesabar-sabarnya manusia, kalau anaknya diganggu dan nama partainya diejek seperti itu, pasti tak akan
dapat menahan juga. Kwa Tin Siong lalu berseru. “Manusia sombong, bersiaplah kau menghadapi pedangku!”
Sebagai seorang laki-laki gagah tentu saja ia masih menahan diri, tidak mau menyerang seorang wanita yang
hanya memegang sehelai sapu tangan.
Akan tetapi wanita itu menjawab halus. “Pedangmu yang buruk dan ilmu silat Hoa-san-pai yang rendah mau
bisa apakah terhadapku?”
“Hemm, sombong amat. Kalau begitu lihat pedangku!”
Kwa Tin Siong memutar pedangnya dan langsung menyerang dengan gerak tipu yang lihai dari Hoa-san Kiamhoat,
yaitu gerakan Tian-mo Po-in (Payung Kilat Sapu Awan). Pedangnya berputar cepat sampai merupakan
payung yang berkilauan dan berkelebatan menyambar ke arah wanita itu.
“Hi-hi-hi-hi-hi, kiam-hoat (ilmu pedang) buruk!” Wanita itu dengan mudahnya memiringkan tubuh sambil
menundukkan kepala untuk menghindari sabetan pedang.
Tapi Kwa Tin Siong adalah seorang jago tangguh dari Hoa-san-pai. Gerakan-gerakannya amat mahir, sudah
masak dan cepat sekali. Melihat bahwa serangan pertamanya takkan berhasil, ia cepat sekali merubah
gerakannya tanpa menarik kembali pedangnya.
Kini pedangnya meluncur dengan gerakan yang disebut Kwan-kong Sia-ciok (Kwan Kong Memanah Batu).
Cepat sekali pedangnya sudah meluncur menusuk ke arah ulu hati sang lawan.
Kwa Tin Siong sudah mulai merasa kaget dan menyesal melihat agaknya lawannya tidak mampu mengelak.
Bukan maksudnya untuk membunuh orang, maka gerakannya ia tahan dan perlambat sedapatnya.
Akan tetapi sebelum ujung pedang itu menyentuh lawan, tepat seperti yang dikatakan oleh Kwa Hong tadi,
tiba-tiba menyambar sinar terang dari sapu tangan itu menyambar ke arah pedang dan tangan.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Krakkk!”
Semacam tenaga mukjijat menghantam patah pedang di tangan Kwa Tin Siong. Namun orang she Kwa ini
mempertahankan getaran hebat, dia tidak mau melepaskan pedangnya yang buntung. Akibatnya ia terpental
mundur lima langkah dan muntahkan darah segar.
“Hi-hi-hi-hi-hi..., Hoa-san-pai... belum kubalas menyerang kau sudah mundur, orang she Kwa. Sekarang
terimalah seranganku!”
Wanita itu melangkah maju dan menggerakkan sapu tangannya. Kwa Tin Siong merasa bahwa ia berhadapan
dengan orang yang sakti luar biasa atau sebangsa siluman, maka dia menerima nasib, tahu bahwa ia tak akan
kuat melawan.
“Hek-hwa Kui-bo, jangan ganggu mereka!” mendadak Beng San melompat dan menarik pakaian belakang
wanita itu.
Hek-hwa Kui-bo menoleh. Ia tersenyum dan mengejek, “Mereka itu apamu sih, kau bela mati-matian.”
“Jangan bunuh, jangan ganggu... kalau tidak, aku takkan suka lagi kepadamu!”
Ancaman ini agaknya berpengaruh juga, buktinya wanita itu menurunkan sapu tangannya. Yang kaget
setengah mati adalah Kwa Tin Siong ketika dia mendengar disebutnya nama Hek-hwa Kui-bo oleh Beng San
tadi. Hek-hwa Kui-bo merupakan nama seorang di antara empat orang tokoh terbesar di dunia persilatan!
Menurut cerita gurunya, yang bernama Hek-hwa Kui-bo ini adalah seorang wanita yang cantik luar biasa dan
usianya sudah lima puluh tahun lebih. Akan tetapi wanita ini, melihat bentuk tubuh dan wajahnya, kiranya tak
akan lebih dari tiga puluh tahun! Ia memandang lebih tegas dan melihat setangkai bunga hitam yang tadi tidak
dia lihat tertancap di rambut kepala wanita itu!
“Jangan bunuh, jangan bunuh...!” Hek-hwa Kui-bo mengulang. “Ahh, anak bagus, lain kali mereka mungkin
yang akan mengganggu dan membunuhmu. Hayo ikut!”
Mendadak wanita itu menggerakkan sapu tangannya yang meluncur ke arah Beng San. Tahu-tahu ujung sapu
tangan sudah melibat pergelangan tangan anak itu dan Beng San merasa tubuhnya melayang di udara. Ia
meramkan matanya dan mendengar suara angin mendesir-desir di pinggir kedua telinganya…..
********************
Kwa Tin Siong menarik napas panjang saat melihat perempuan itu berkelebat pergi sambil membawa Beng
San, lalu ia mulai menyalurkan pernapasan untuk memulihkan kekuatan dirinya. Baiknya tadi ia mengurangi
tenaga tusukannya. Apa bila dilakukan dengan sekuat tenaga, tentu sekarang dia sudah menggeletak dengan
jantung putus! Setelah lukanya yang tidak parah di dalam dada itu mendingan, barulah dia berdiri dan
membuka totokan pada diri anaknya.
“Ayah, siapakah perempuan siluman itu?”
“Hushhh, jangan kau sombong, Hong-ji. Dia adalah seorang tokoh kang-ouw yang malah lebih tinggi
kedudukannya dari pada sukong-mu (kakek gurumu). Hayo kita melanjutkan perjalanan dan jangan banyak
bertanya lagi.”
Pendekar yang amat gagah dan jarang menemui tandingan ini segera mengajak anaknya pergi, nampaknya
dia gelisah sekali. Memang dia merasa gelisah dan juga aneh. Kenapa seorang tokoh seperti Hek-hwa Kui-bo
yang sudah bertahun-tahun tidak pernah muncul di dunia kang-ouw itu sekarang tiba-tiba turun gunung dan
mengganggunya? Ia harus cepat-cepat kembali ke Hoa-san-pai dan menceritakan hal ini kepada suhu-nya.
Pada jaman itu, pemerintahan pusat yang dipegang oleh kerajaan Goan (Mongol) sedang dikacau oleh
pelbagai pemberontakan rakyat yang sudah tidak kuat lagi atas penindasan penjajah Mongol. Di mana-mana
dunia-kangouw.blogspot.com
muncul perkumpulan rahasia yang menghimpun banyak tenaga untuk melakukan pemberontakan dan
rongrongan terhadap pemerintah penjajah. Di antara puluhan macam perkumpulan rahasia ini, murid-murid
Hoa-san-pai termasuk pula anggota sebuah perkumpulan yang terbesar, yaitu Pek-lian-pai (perkumpulan
Teratai Putih) yang tujuannya merobohkan pemerintah Mongol.
Kwa Tin Siong yang mempelopori kegiatan adik-adik seperguruannya, ketika itu sedang pergi mencari sutesute
dan sumoi-sumoi-nya yang berpencaran di mana-mana. Bahkan dia sedang mencari dan mengumpulkan
tiga orang adik seperguruannya karena Hoa-san Sie-eng (Empat Pendekar Hoa-san) harus berkumpul di Hoasan
untuk membicarakan soal pemasukan menjadi anggota perkumpulan anti penjajah ini.
Saat tiba di hutan dan mengalami peristiwa hebat ini, Kwa Tin Siong baru saja pulang dari Kwi-nam-hu
bertemu dengan sute-nya, Thio Wan It, yang sudah berjanji akan menghadap ke Hoa-san bulan depan tanggal
lima. Juga dia sudah bertemu dengan Toat-beng-kiam Kui Teng, sute-nya yang ketiga, dan sudah mendapat
janji pula. Kini ia sedang menuju ke arah dusun Lam-bi-chung, tempat tinggal orang tua sumoi-nya (adik
seperguruan), yaitu Kiam-eng-cu Liem Sian Hwa.
Setelah mengalami peristiwa hebat ini, Kwa Tin Siong mempercepat perjalanannya untuk segera kembali ke
Hoa-san setelah memberi tahu sumoi-nya tentang pertemuan Hoa-san Sie-eng di Hoa-san.
Dalam waktu tiga hari saja Kwa Tin Siong dan anak perempuannya telah sampai di dusun Lam-bi-chung.
Namun apa yang mereka dapati di dusun tempat tinggal jago keempat dari Hoa-san Sie-eng ini? Mereka
dapatkan Liem Sian Hwa sedang berkabung atas kematian ayahnya yang dibunuh orang satu minggu yang
lalu. Begitu melihat kedatangan Kwa Tin Siong, gadis itu segera menubruk dan berlutut di depan twa-suheng
(kakak seperguruan tertua) ini dan menangis tersedu-sedu.
Seperti sudah disebutkan di bagian depan, Kwa Tin Siong merupakan jago pertama dari empat Hoa-san Sieeng
yang selama ini telah mengharumkan nama Hoa-san-pai sebagai pendekar-pendekar budiman.
Liem Sian Hwa adalah tokoh keempat dan yang termuda. Akan tetapi biar pun ia termuda, baru dua puluh
tahun usianya dan satu-satu wanita di antara empat pendekar Hoa-san-pai itu, kepandaiannya hanya kalah
setingkat oleh twa-suheng-nya ini. Ia seorang gadis yang cantik, manis, dan sederhana sekali. Maklumlah,
karena Sian Hwa adalah anak seorang miskin.
Ayahnya, Liem Ta, juga seorang guru silat yang semenjak mudanya menjadi penjual obat keliling sambil
mendemontrasikan ilmu silatnya hanya untuk menarik perhatian pembeli. Ilmu silatnya adalah warisan dari ilmu
silat Siauw-lim, akan tetapi tidak begitu tinggi, hanya sekedar untuk ilmu pembela diri belaka.
Bertahun-tahun Sian Hwa tinggal di Hoa-san setelah ia diantar oleh ayahnya dan diterima menjadi murid oleh
ketua Hoa-san-pai, Lian Bu Tojin yang melihat bahwa memang anak perempuan itu bertulang baik sekali,
bersemangat dan cerdik. Ayahnya tetap berkeliling obat karena sudah menjadi kebiasaan seorang yang suka
merantau, tentu takkan senang kalau harus berdiam di suatu tempat.
Memang benar bahwa Liem Ta sudah memiliki sebuah rumah kecil di dusun Lam-bi-chung tempat kelahiran
Sian Hwa. Namun, karena isteri Liem Ta sudah lama meninggal, ia tidak tahan hidup seorang diri dan sering
kali melakukan perjalanan merantau.
Ketika Sian Hwa berusia lima belas tahun, datanglah ketua Kun-lun-pai, yaitu Pek Gan Siansu, berkunjung ke
Hoa-san bersama muridnya yang bernama Kwee Sin, yang pada waktu itu berusia tujuh belas tahun.
Pertemuan antara dua orang ketua ini menghasilkan ikatan jodoh antara Sian Hwa dan Kwee Sin yang sudah
yatim piatu. Tentu saja Liem Ta diberi tahu dan duda perantau ini setelah melihat Kwee Sin yang tampan dan
gagah, apa lagi anak murid Kun-lun-pai, segera memberi persetujuannya.
Lima tahun kemudian mereka sudah tamat belajar. Sian Hwa menjadi seorang pendekar wanita yang gagah,
menjadi orang termuda dari Hoa-san Sie-eng yang terkenal di seluruh dunia kang-ouw. Ada pun Kwee Sin juga
menjadi seorang jago muda Kun-lun-pai yang tak kalah tersohornya. Ia adalah orang termuda pula dari Kunlun
Sam-hengte (Tiga Saudara dari Kun-lun), yaitu bersama dua orang suheng-nya yang bernama Bun Si Teng
dan Bu Si Liong.
dunia-kangouw.blogspot.com
Demikianlah sepintas lalu keadaan Sian Hwa. Dan sebagai pendekar-pendekar gagah, baik Sian Hwa mau
pun Kwee Sin tidak tergesa-gesa melangsungkan pernikahan, malah kedua tunangan ini bertemu muka pun
jarang sekali. Walau pun keduanya bertemu muka mungkin setengah tahun sekali, jalinan cinta kasih di antara
mereka makin erat.
Pada waktu cerita ini terjadi, Liem Sian Hwa sudah kembali ke rumahnya di Lam-bi-chung, sedangkan Kwee
Sin seperti biasanya sedang pergi merantau sebagai seorang pendekar muda yang memiliki cita-cita
melepaskan tanah air dan bangsa dari penindasan penjajah Mongol.
Pada suatu hari Liem Ta pulang dari merantaunya. Sekali ini dia tidak pergi terlalu jauh, maka dalam waktu
setengah bulan dia sudah pulang. Begitu datang ke rumah, dia sudah marah-marah dan memanggil Sian Hwa.
Gadis ini segera menghampiri ayahnya yang nampak tidak senang dan marah-marah itu, penuh keheranan
karena biasanya ayahnya sangat sayang kepadanya dan tidak pernah marah-marah seperti itu.
“Sian Hwa, mulai sekarang hubunganmu dengan manusia she Kwee itu putus saja sampai di sini! Biar besok
aku pergi naik Hoa-san untuk memberi tahu gurumu. Pertunanganmu dengan manusia she Kwee itu harus
putus!”
Kalau ada halilintar menyambarnya di saat itu, kiranya Sian Hwa tak akan sekaget ketika mendengar
perkataan ayahnya ini. Kedua pipinya yang biasanya kemerahan itu tiba-tiba menjadi pucat. Akan tetapi
sebagai seorang pendekar wanita yang gagah ia bersikap tenang ketika bertanya,
“Apakah sebabnya ayah menjadi marah-marah seperti ini? Tentu sudah terjadi sesuatu yang membuat ayah
menjadi marah.”
“Terjadi sesuatu?” Liem Ta membentak. “Sudah terlalu lama terjadinya, sudah terlalu lama orang itu menipu
kita, menipumu! Pantas saja sampai sekarang belum juga ada ketentuan tentang hari baikmu. Huh, kiranya
manusia itu bermain gila!”
Mulai khawatir hati Sian Hwa, sepasang alisnya yang hitam bergerak-gerak.
“Ayah, apakah sebenarnya yang telah terjadi?” Hatinya benar-benar mulai merasa tidak enak karena ia sudah
bisa menduga bahwa pasti terjadi sesuatu dengan diri tunangannya, Kwee Sin.
“Manusia she Kwee itu ternyata bukan orang baik-baik, Sian Hwa. Biar pun dia itu murid Kun-lun-pai, biar pun
dia seorang di antara Kun-lun Sam-hengte namun sekarang ia telah tersesat. Dia bergulung-gulung dengan
seorang wanita jahat, kalau tidak salah wanita itu seorang dari perkumpulan Ngo-lian-kauw yang terpimpin
iblis. Mataku sendiri melihat dia bermain gila secara tak tahu malu dengan wanita genit dan cabul itu.
Sudahlah, pendek kata aku tidak rela anakku menjadi isteri seorang laki-laki yang bergulung-gulung dengan
wanita cabul!”
Dapat dibayangkan betapa kaget dan sedihnya hati Sian Hwa. Akan tetapi ia masih tetap menahan-nahan
perasaan dan bertanya sambil lalu, “Aneh sekali mengapa orang bisa begitu tak tahu malu, ayah? Di manakah
ayah melihatnya... ehhh, mereka itu?”
“Di mana lagi kalau tidak di Telaga Pok-yang! Mereka bermain perahu, bernyanyi-nyanyi, minum-minum,
uhhh... pendeknya, terlalu!”
Ayah ini menyumpah-nyumpah dan kembali menyatakan besok akan berangkat naik ke Hoa-san untuk
meminta ketua Hoa-san membatalkan perjodohan Sian Hwa dengan Kwee Sin. Akan tetapi pada keesokan
harinya, Liem Ta membatalkan kepergiannya ke Hoa-san karena melihat bahwa anak gadisnya telah pergi
secara diam-diam malam hari itu.
“Ahhh…” pikirnya dengan hati duka, “kasihan kau, Sian Hwa, kau tentu pergi menyusul ke Pok-yang untuk
menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Lebih baik lagi, lebih baik kau menyaksikan sendiri agar tidak
penasaran hatimu...”
dunia-kangouw.blogspot.com
Dugaan Liem Ta memang benar. Karena tak dapat lagi menahan panasnya hati, gadis itu malam-malam pergi
dari rumahnya menuju ke Telaga Pok-yang yang letaknya tak berapa jauh dari dusunnya, hanya perjalanan
tiga hari.
Akan tetapi ketika ia sampai di telaga itu, tidak terdapat tunangannya itu di antara sekian banyaknya para
pelancong. Ia bertanya ke sana kemari dan selagi ia mencari keterangan, tiba-tiba seorang tukang perahu
yang berkumis panjang mendekatinya.
“Nona hendak mencari siapakah?”
Sian Hwa berterus terang. “Aku mencari seorang teman, wanita cantik yang berpesiar di sini bersama seorang
pemuda yang...” ia tak sudi menyebut tampan dan menambahkan, “…yang mukanya putih...”
Tiba-tiba tukang perahu itu nampak sungguh-sungguh dan berkata perlahan-lahan,
“Apakah wanitanya itu seorang anggota Pek-lian-pai (Partai Teratai putih)...?”
Sian Hwa terkejut. Pada masa itu, di mana negara sedang kacau dan banyak muncul perkumpulanperkumpulan
rahasia bertujuan merobohkan pemerintah, nama Pek-lian-pai amat terkenal sebagai
perkumpulan besar yang berpengaruh. Sebagai seorang pendekar tentu saja Sian Hwa menaruh simpati
terhadap perkumpulan Pek-lian-pai ini, maka dapat dibayangkan betapa kagetnya mendengar pertanyaan si
tukang perahu.
“Hemmm...,” ia meragu, “mungkin demikian. Apakah kau melihat mereka?”
“Yang laki-laki muda tampan bermuka putih, menggantung pedang di punggung seperti Nona sekarang ini,
bukan?”
“Ya...ya...”
Tukang perahu itu tertawa. “Ahhh, pengantin baru seperti mereka itu ke mana lagi kalau tidak berpesiar ke
tempat-tempat indah? Kebetulan sekali ketika mereka berpesiar di sini, mereka selalu menggunakan perahuku,
Nona. Ahhh, benar-benar pasangan yang cocok, mesra dan saling mencinta...”
“Ngaco!” Sian Hwa membentak marah hingga tukang perahu itu nampak amat ketakutan. “Katakan saja, di
mana mereka berada?”
“Nona yang memakai teratai putih di rambutnya itu... dan pemuda tampan itu… kemarin sudah pergi dari sini.
Menurut yang kudengar dari percakapan mereka, si pemuda hendak mengajak nona itu pergi ke dusun Lambi-
chung... dan...”
Sian Hwa tidak melanjutkan pendengarannya, ia berkelebat pergi dan lari cepat menyusul, kembali ke Lam-bichung
lagi. Ia tidak melihat betapa seperginya, tukang perahu berkumis panjang itu tertawa mengejek.
Alangkah mengkalnya hati Sian Hwa ketika ia tak dapat menyusul dua orang itu. Buktinya, sesudah ia sampai
di dusun Lam-bi-chung, ia tidak melihat dua orang itu.
Dan dapat dibayangkan betapa marah dan kagetnya ketika ia melihat ayahnya telah rebah dengan luka-luka
parah pada tubuhnya! Ia datang tepat di pagi hari dan ternyata ayahnya malam tadi diserang orang.
“Siapakah yang menyerangnya, sumoi? Dan apakah... apakah ayahmu meninggal akibat penyerangan itu?”
tanya Kwa Tin Siong yang sejak tadi mendengarkan penuturan adik seperguruannya itu dengan sabar. Kwa
Hong dia suruh main di luar rumah karena dia merasa kurang baik jika anak-anak mendengarkan urusan
besar.
Sian Hwa menyusuti air matanya. “Ayah hanya dapat bertahan sehari saja, twa-suheng. Luka-lukanya berat
dan... dan itulah yang membuat hatiku amat sakit. Ayah menderita tiga macam luka, yang pertama adalah
tusukan pedang dekat leher, kedua adalah luka karena sebatang paku berkepala bunga teratai putih...”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hemmm, Pek-lian-ting (Paku Teratai Putih)...,” diam-diam Kwa Tin Siong terheran-heran karena itulah paku
tanda rahasia anggota perkumpulan Pek-lian-pai!
“Dan luka yang ketiga?”
Tiba-tiba wajah Sian Hwa pucat sekali. “Yang ketiga adalah akibat pukulan Pek-lek-jiu... dari Kun-lun-pai...”
Kwa Tin Siong hampir melompat saking kagetnya. “Apa...?!”
Sian Hwa berkata dengan sungguh-sungguh. “Aku sudah memeriksa dengan teliti sekali, suheng. Tentu kau
masih ingat, dulu suhu pernah menuturkan secara jelas sekali tentang Pek-lek-jiu Kun-lun-pai itu, termasuk
tanda-tanda bekas pukulannya. Aku merasa yakin bahwa dada ayah telah dipukul orang dengan ilmu pukulan
Pek-lek-jiu (Pukulan Geledek) dari Kun-lun-pai…”
“Dan murid Kun-lun-pai yang paling pandai menggunakan Pek-lek-jiu adalah... Kwee Sin!” kata jago pertama
dari Hoa-san Sieeng ini sambil merenung.
“Betul, twa-suheng.” Liem Sian Hwa menangis lagi. “Aku harus membalas dendam…! Si keparat she Kwee,
kalau belum membalas kekejamanmu, aku Liem Sian Hwa takkan mau sudah...”
“Husshhh, nanti dulu, sumoi. Kau tenanglah. Tak baik bila menjatuhkan dakwaan kepada seseorang tanpa ada
bukti. Apa lagi saudara Kwee Sin sepanjang pendengaranku adalah seorang gagah. Sebagai seorang termuda
dari Kun-lun Sam-hengte, agaknya tak masuk akal kalau dia melakukan pembunuhan ini. Andai kata buktinya
kuat, habis apa alasannya dia mau melakukan hal ini?”
“Twa-suheng masa masih tidak dapat menduganya? Dia... manusia she Kwee keparat itu, setelah terlihat oleh
ayah di Telaga Pok-yang, agaknya merasa malu dan takut apa bila rahasianya disiar-siarkan oleh ayah. Dia
bersama... siluman dari Pek-lian-pai itu… tentu mengejar ke sini dan membunuh ayah...”
“Kenapa begitu yakin?”
“Ayah sendiri yang mengatakan demikian, twa-suheng. Ayah masih dapat menceritakan hal ini, meski amat
sukar dia bicara.” Sian Hwa menghapus air matanya yang bercucuran deras ketika ia bicara tentang ayahnya.
“Menurut ayah, malam itu ayah terkejut dan terbangun dari tidur karena suara keras pada jendela. Begitu ayah
melompat turun, dia roboh karena tusukan pedang yang mengarah lehernya, dan masih menyerempet ketika
dielakkan oleh ayah. Kemudian ia terpukul pada dadanya, keras sekali membuat ayah hampir pingsan.
Sebelum pingsan ayah mendengar suara ketawa seorang wanita dari luar jendela, kemudian terasa sakit pada
pinggangnya akibat tertusuk paku itu. Ayah masih sempat mendengar kata-kata seorang laki-laki yang
mengatakan bahwa ayah tak boleh sekali-sekali menghina seorang jagoan Kun-lun! Malah ayah mendengar
pula ejekan wanita itu yang menyatakan bahwa partai Pek-lian-pai tidak mau mengampuni orang-orang yang
sombong.”
Kwa Tin Siong makin terheran-heran. Bagaimana mungkin Kwee Sin melakukan hal yang securang itu? Apa
lagi dia, wanita yang katanya ialah anggota Pek-lian-pai yang tersohor sebagai perkumpulan orang-orang
gagah, patriot-patriot bangsa! Bahkan kini dia sendiri mencari tiga orang adik seperguruannya untuk diajak
berunding tentang memasuki partai itu dan membantu perjuangan.
“Apakah ayahmu melihat pula laki-laki dan wanita itu?” desaknya.
“Tidak, twa-suheng. Kamar ayah gelap sekali, tidak ada penerangan sama sekali. Hal ini pun menunjukkan
bahwa kedua orang yang datang menyerang ayah itu berkepandaian amat tinggi, dapat menyerang di tempat
gelap secara tepat.”
“Apakah ayahmu mengenal suara saudara Kwee Sin?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tentu tidak, suheng. Jarang sekali ayah bertemu dengan dia. Ahh, twa-suheng, mengapa kau masih raguragu?
Tak bisa salah lagi bahwa anjing Kwee Sin itulah yang membunuh ayah, dibantu seorang siluman dari
Pek-lian-pai. Twa-suheng, hanya para suhenglah yang sekiranya dapat membantu Siauw-moi untuk menuntut
balas atas kematian ayah secara penasaran ini...”
“Siapakah orangnya yang tidak akan ragu-ragu, sumoi. Dua hal yang amat berlawanan antara dugaan dan
pendengaran. Seorang jago muda Kun-lun... dan seorang lagi anggota Pek-lian-pai... ahhh, apa bila bukan kau
yang tertimpa hal ini, agaknya sukar untuk dapat kupercaya...”
Tiba-tiba mereka dikejutkan suara jeritan di luar rumah. “Tidak...! Pergi...!”
Itulah suara Kwa Hong!
Kwa Tin Siong mencelat dari kursinya keluar pintu, diikuti Sian Hwa yang juga meloncat dengan amat
lincahnya. Seperti terbang melayang keduanya meloncat keluar dan melihat sebuah Pek-lian-ting (paku teratai
putih) seperti yang dipergunakan orang untuk melukai ayah Sian Hwa sudah tertancap pada daun pintu depan!
Kwa Hong sudah tidak tampak lagi di situ. Hanya terdengar derap kaki kuda berlari cepat menjauhi tempat itu.
“Cepat, twa-suheng, kejar...!”
Kwa Tin Siong melompat ke atas kudanya dan Sian Hwa berlari-lari menuju ke halaman belakang rumahnya
untuk mengambil kudanya pula. Pada lain saat kedua kakak beradik seperguruan ini sudah melakukan
pengejaran. Sebentar saja Kwa Tin Siong tersusul oleh kuda tunggangan Sian Hwa, seekor kuda tunggang
yang amat baik dan pilihan.
Dua orang pendekar ini adalah jago tertua dan termuda dari Hoa-san Sie-eng. Selain ilmu silat mereka yang
tinggi, juga dalam hal menunggang kuda mereka adalah ahli-ahli yang jarang bandingannya. Apa lagi Sian
Hwa yang memang sejak kecil telah diajak merantau ayahnya dan semenjak kecilnya gadis ini sudah suka
sekali menunggang kuda.
Sesudah melewati kurang lebih lima li, akhirnya suara derap kuda yang mereka kejar itu semakin jelas
terdengar, tanda bahwa kuda itu tak jauh lagi terpisah.
“Sumoi, kau kejar terus, aku hendak mendahuluinya memotong jalan.”
Biar pun masih amat muda, baru dua puluh tahun, namun pengalaman Sian Hwa di dunia kang-ouw sudah
cukup luas. Maka sedikit kata-kata twa-suheng-nya ini cukup ia ketahui maksudnya.
Ia tahu bahwa untuk menangkap seorang penculik anak-anak lebih aman menggunakan siasat, yaitu disergap
dari belakang. Jika secara berterang, mungkin akan gagal karena si penculik bisa menggunakan anak yang
diculik untuk mengancam. Ia hanya mengangguk.
Kwa Tin Siong lantas membedal kudanya, mengambil jalan memutar hendak memotong jalan. Baiknya ia
sudah mengenal betul jalan di daerah tempat tinggal sumoi-nya ini, maka tanpa ragu-ragu, dia tahu ke mana
arah jalan yang diambil oleh si penjahat di depan itu. Jalan itu menikung ke kanan dan agak memutar, maka
kalau dia memotongnya melalui kebun dan hutan kecil, dia akan dapat mendahului si penjahat.
Tidak lama kemudian Sian Hwa sudah dapat melihat penculik itu. Kuda yang ditunggangi penculik itu bukan
kuda baik, nampak sudah lelah sekali, apa lagi ditunggangi dua orang, biar pun salah satunya adalah anak
kecil seperti Kwa Hong. Anak perempuan itu tampak lemas dan tidak bergerak atau bersuara lagi.
“Bangsat rendah, hendak lari ke mana kau!” Sian Hwa mencabut siang-kiam (sepasang pedang) tipis dan
mempercepat larinya kuda.
Penculik itu, seorang laki-laki berusia kurang lebih tiga puluh tahun bertubuh kecil bermata lebar, ketika
mendengar suara wanita lalu menoleh. Dia tercengang melihat bahwa yang mengejarnya hanya seorang gadis
cantik yang masih sangat muda. Tiba-tiba ia menahan kudanya dan tertawa sambil mencabut goloknya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aha, kiranya ada seorang nona manis ingin main-main dengan aku,” katanya dengan senyum mengejek.
Suaranya menunjukkan bahwa dia seorang dari utara.
Dengan gerakan yang gesit sekali orang itu meloncat turun dari kuda setelah menurunkan Kwa Hong yang dia
gulingkan ke atas tanah. Jalan darah gadis cilik itu agaknya tertotok, lemas seperti orang pingsan. Dengan
tenang orang itu lalu berdiri menghadang Sian Hwa yang datang membalapkan kudanya.
“Penculik hina, hari ini pedang nonamu akan mengantar nyawamu ke neraka,” Sian Hwa berseru.
Tiba-tiba tubuhnya melayang meninggalkan punggung kudanya yang masih berlari. Bagai seekor burung walet
nona ini sudah menggerakkan pedangnya dan langsung menyerang penculik itu dengan gerakan sepasang
pedang yang menyambar-nyambar!
Hebat benar sepak terjang nona Liem Sian Hwa yang berjuluk Kiam-eng-cu (Bayangan pedang) ini. Tidak
mengecewakan dia berjulukan demikian karena sepasang pedangnya betul-betul merupakan segunduk sinar
yang menutupi tubuhnya ketika ia melompat sambil menyerang.
“Bagus...!”
Laki-laki itu mau tak mau memuji melihat ketangkasan gerakan gadis ini. Cepat-cepat dia menangkis dengan
golok yang diputar seperti payung di depan tubuhnya.
“Trangg... trangg...!”
Bunga api muncrat ke sana ke mari ketika sepasang pedang itu bertemu dengan golok. Dari getaran pada
tangannya maklumlah Sian Hwa bahwa lawannya ini biar pun bertubuh kecil namun bertenaga besar juga.
Begitu kedua kakinya berada di tanah, nona ini lalu menggenjot tanah dan tubuhnya berkelebat ke sebelah kiri
orang itu, pedangnya kembali berkelebat.
Sian Hwa sudah sengaja menggunakan ginkang-nya untuk mengalahkan lawan dengan kecepatan
gerakannya. Akan tetapi siapa kira, orang ini pun ternyata cepat sekali dapat memutar tubuhnya sambil
membabatkan goloknya ke pinggang Sian Hwa. Terpaksa Sian Hwa menangkis dengan pedang kirinya,
sedangkan pedang kanan menusuk ke arah dada lawan dengan gerak tipu Kwan-kong Sia-ciok (Kwan Kong
Memanah Batu).
Sekarang kagetlah orang itu, tidak berani lagi dia tertawa-tawa. Ternyata nona muda ini sangat hebat ilmu
pedangnya. Cepat, gesit dan serangannya tidak terduga. Ia cepat-cepat menjengkangkan diri ke belakang
sambil berjungkir balik kemudian menghadapi lawannya dengan hati-hati. Pertempuran seru segera terjadi.
Pada saat itu muncullah Kwa Tin Siong dari belakang pohon-pohon. Girang hati pendekar ini melihat bahwa
anaknya hanya tertotok dan tidak mengalami kecelakaan. Maka dia pun cepat meloncat dan membebaskan
totokan pada tubuh anaknya lebih dahulu, karena dia melihat bahwa sepasang pedang sumoi-nya ternyata
dapat menahan gerakan golok yang aneh dan lihai dari penculik.
Setelah Kwa Hong dibebaskan dari totokan serta menyuruh anaknya ini duduk bersila dan mengatur napas
untuk membereskan kembali jalan darahnya, Kwa Tin Siong melompat ke medan pertempuran sambil berseru,
“Sumoi serahkan penjahat ini kepadaku!”
Sebetulnya Sian Hwa tidak pernah terdesak oleh lawannya. Akan tetapi maklum betapa twa-suheng-nya
marah karena orang ini telah menculik puterinya, ia meloncat keluar dan membiarkan twa-suheng-nya
menghadapi penculik itu.
“Tahan, sobat!”
Kwa Tin Siong mengulurkan pedang menahan golok lawan. Dia mengerahkan tenaganya sehingga golok
lawannya itu tertahan dan tak dapat bergerak lagi. Lawannya kaget sekali dan menatap tajam.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kau ini siapakah dan seingatku, di antara aku Kwa Tin Siong dan kau tidak pernah ada permusuhan apa-apa.
Mengapa kau datang dan menculik anakku?” tanya pendekar itu yang tidak mau menurutkan nafsu amarah.
Orang itu tertawa mengejek. “Aku... aku hanya ingin menguji sampai di mana nama besar Hoa-san Sie-eng!”
Kwa Tin Siong mengeryitkan keningnya. “Kau yang sudah mengenal nama kami tentulah seorang kang-ouw.
Kulihat engkau menggunakan Pek-lian-ting, apa hubunganmu dengan Pek-lian-pai? Sobat, harap engkau
jangan main-main dan mengakulah terus terang, apa sebetulnya kehendakmu dan siapa namamu yang besar.”
Tiba-tiba saja terdengar orang itu bersuit keras sekali dan goloknya berkelebat menyerang Kwa Tin Siong.
Tentu saja pedekar ini marah sekali. Tak pernah diduganya bahwa orang akan berlaku begini rendah, padahal
dia sudah cukup bersikap jujur dan menghormat.
“Bagus, kiranya kau hanya sebangsa pengecut curang!” serunya.
Dengan sekali tangkisan dia dapat membikin golok orang itu terpental, kemudian desakan pedangnya yang
sekaligus menyerang bertubi-tubi sampai empat lima jurus membuat orang itu mundur-mundur tak mampu
balas menyerang.
Memang hebat ilmu pedang Kwa Tin Siong dan tidak percuma dia menjadi orang pertama dari Hoa-san Sieeng.
Gerakan-gerakannya mantap dan matang, tenaga lweekang-nya juga sudah tinggi sehingga baru belasan
jurus saja si penculik itu sudah harus meloncat ke sana ke mari dan menangkis sedapatnya.
Kembali ia bersuit keras dan kali ini tiba-tiba dari arah timur hutan terdengar suitan-suitan semacam yang
agaknya menjawab suitan si penculik tadi.
Mendengar ini Kwa Tin Siong berseru, “Awas, sumoi, kawanan penculik datang!”
Sian Hwa memang sudah siap. Dia menyuruh Kwa Hong bersembunyi di balik sebatang pohon besar,
sedangkan ia sendiri lalu menjaga di situ dengan sepasang pedang di kedua tangan.
Terdengar seruan kesakitan dan penculik itu terhuyung ke belakang dengan pundak yang berdarah. Ternyata
pundaknya sudah kena disambar pedang sehingga terbabat kulit dan dagingnya. Namun ia masih sanggup
melawan sehingga Kwa Tin Siong masih belum juga dapat merobohkannya.
Pada waktu itu terdengar suara banyak orang menunggang kuda. Mereka adalah empat orang lelaki berusia
kurang lebih empat puluh tahun. Gerakan mereka tangkas dan begitu sampai di situ, keempatnya lalu
melompat turun dan mencabut golok mereka.
Tanpa banyak cakap lagi Sian Hwa menyambut mereka. Dua orang mengeroyoknya dan dua yang lainnya
sekarang sudah membantu si penculik tadi, mengeroyok Kwa Tin Siong. Diam-diam dua orang anak murid
Hoa-san-pai ini terkejut sekali. Ternyata empat orang yang baru datang ini malah memiliki kepandaian yang
lebih tinggi dari pada penculik. Ilmu golok mereka adalah ilmu golok utara. Keras dan bertenaga, gerakgeriknya
juga cepat.
Sian Hwa dan Tin Siong memang mewarisi Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-hoat yang ampuh. Keduanya patut
diberi julukan pendekar pedang Hoa-san dan mereka dalam pertempuran keroyokan ini telah memperlihatkan
ketangkasan.
Akan tetapi, lawan-lawan mereka yang mengeroyok juga bukan sembarangan orang, tapi memiliki kelihaian
yang tingkatnya dengan mereka hanya kalah sedikit. Namun, dengan pertempuran secara pengeroyokan itu
tentu saja mereka lebih unggul dan perlahan-lahan mulai mendesak.
Lima puluh jurus telah lewat. Kwa Tin Siong masih mampu bertahan dan dapat membalas serangan. Akan
tetapi Sian Hwa mulai lelah, mulai berkurang daya serangnya. Dia lebih banyak menangkis dan meloncat ke
sana-kemari.
dunia-kangouw.blogspot.com
Gadis itu hebat sekali. Kali ini benar-benar tepat julukannya Kiam-eng-cu karena tubuhnya lenyap terbungkus
sinar kedua pedangnya di antara dua batang golok lawan yang terus menyambar-nyambar mengitari dirinya.
Kwa Tin Siong mengeluh di dalam hatinya. “Celaka,” pikirnya. “Sekali ini aku dan sumoi menghadapi bencana.”
Hal ini masih belum hebat. Lebih celakanya, anaknya pun ikut menghadapi bencana yang hebat pula. Siapa
yang akan melindungi anaknya? Berpikir sampai di sini dia mencoba untuk menggunakan daya lain.
Tiba-tiba ia berseru keras. “Bukankah cuwi (tuan-tuan sekalian) ini anggota-anggota dari Pek-lian-pai?
Ketahuilah, siauwte Kwa Tin Siong dari Hoa-san-pai tidak ada permusuhan dengan Pek-lian-pai, malah tadinya
hendak menggabungkan diri.”
Akan tetapi tiga orang lawannya tertawa dan seorang di antara mereka berkata mengejek, “Anak murid Hoasan-
pai mana ada harga masuk Pek-lian-pai? Kalau mau mengaku kalah barulah kami melepaskan dan boleh
belajar lagi. Lihat kelak, kalau sudah pandai baru boleh masuk Pek-lian-pai!” tiga orang itu tertawa-tawa dan
menyerang.
Kwa Tin Siong adalah seorang pendekar sejati, mana dia sudi untuk menuruti kehendak tiga orang lawannya
itu? Pendirian seorang pendekar, lebih baik mati dari pada bertekuk lutut menerima hinaan. Dengan gemas ia
pun mempercepat gerakan-gerakan pedangnya sehingga lawan-lawannya terpaksa berlaku hati-hati dan
mundur, lalu dia berkata.
“Melihat sikap cuwi, tak patut menjadi patriot-patriot yang anti penjajah bangsa Mongol!”
Tiga orang itu hanya tertawa lagi, dan si penculik yang sudah dilukai pundaknya berkata, “Jangan banyak
cerewet mengenai urusan perjuangan. Hoa-san Sie-eng bernama besar, perlihatkan kebesaran itu. Ha-ha-ha!”
Sekarang Kwa Tin Siong betul-betul terdesak. Apa lagi setelah dia mendengar sumoi-nya berseru marah
karena pedang kirinya terlepas dan terlempar, ia makin gelisah. Sumoi-nya kini hanya melawan dengan
sebatang pedang, sedangkan dua orang lawannya itu makin mendesak sambil mengeluarkan ucapan-ucapan
kotor.
Memang Sian Hwa sedang terdesak hebat dan lebih lagi gadis ini merasa marah bukan main karena selain
pedangnya yang kiri terlepas, juga dua orang pengeroyoknya itu terus menggodanya dengan kata-kata yang
tidak sopan. Ia berlaku nekat dan mati-matian dan hal ini mendatangkan celaka baginya.
Karena terlalu bernafsu untuk menyerang, dia menjadi lengah dan pada suatu saat, lutut kanannya kena
ditendang seorang lawan. Sian Hwa menjerit dan roboh terduduk, namun dia masih terus memutar-mutar
pedangnya sambil duduk bersimpuh sehingga dua orang lawannya tidak mampu mendekatinya.
Kwa Tin Siong yang kaget mendengar jeritan sumoi-nya, juga menjadi lengah dan sebuah babatan golok ke
arah pinggangnya hampir saja membuat tubuhnya putus menjadi dua. Baiknya dia telah mengelak dan
meloncat sehingga hanya paha kirinya saja yang terluka, cukup parah namun tidak cukup untuk
merobohkannya.
Betapa pun juga, keadaan Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa sudah amat terancam dan sewaktu-waktu,
perlahan tetapi pasti, dapat dipastikan bahwa mereka tentu akan menjadi korban keganasan musuh-musuh
mereka ini.
Pada saat itu terdengar orang tertawa dan bernyanyi-nyanyi.
“Ha-ha-ha-ho-ho…” orang itu tertawa-tawa ketika tiba di dekat tempat pertempuran, “Ada anjing-anjing berebut
tulang! Anjing-anjing penjilat Mongol mengeroyok... heh-he-heh, aku tak dapat tinggal diam saja. Heiiii! Biarkan
aku ikut main-main, waah, gembira benar nih!”
Muncullah seorang lelaki tinggi besar yang pakaiannya tak karuan, berkembang-kembang seperti pakaian
wanita dengan potongan pakaian bocah. Sikapnya juga seperti seorang anak kecil, padahal wajahnya
dunia-kangouw.blogspot.com
menunjukkan bahwa usianya tentu sudah empat puluhan. Koai Atong, memang tokoh yang sudah kita kenal
inilah yang muncul.
Dengan anak panah di tangannya kemudian dia menyerbu pertempuran. Pertama-tama dia menyerbu dua
orang yang mengeroyok Sian Hwa. Begitu anak panah di tangannya ditangkis dua golok orang yang mencoba
untuk membabat patah pedang Sian Hwa, dua orang itu mengeluarkan seruan kaget karena hampir saja golok
mereka terlepas.
“He-he-he, terimalah pukulanku, kau dua hidung kerbau!” Tangan kirinya lalu diputar-putar secara aneh dan
mendorong ke depan.
Kedua orang itu merasa ada angin menyambar yang berbau seperti daun busuk. Mereka adalah orang-orang
yang sudah banyak pengalaman, maka segera mereka menghindar, namun tetap saja angin pukulan orang
aneh itu membuat mereka terhuyung ke belakang sampai empat lima langkah!
Tetapi Koai Atong tidak mendesak terus. Melihat dua orang lawannya itu mundur-mundur ketakutan, sambil
bernyanyi-nyanyi ia melangkah lebar menghampiri medan pertempuran Kwa Tin Siong.
Juga di sini dia memutar anak panahnya, beberapa kali menangkis golok ketiga orang itu, lalu tangan kirinya
mendorong-dorong dan robohlah salah seorang di antara mereka, yaitu si penculik tadi. Dua orang yang lain
terhuyung-huyung ke belakang dengan muka pucat karena merasa isi perut mereka hendak muntah keluar.
Melihat gelagat buruk ini, empat orang itu lalu menceplak kuda dan kabur dari situ sambil membawa tubuh si
penculik yang pingsan dengan mata mendelik dan muka kehijauan. Terdengar suara mereka dari jauh, “Koai
Atong...! Koai Atong…!”
Kwa Tin Siong menarik napas lega. Luka di pahanya tidak dipedulikannya. Ia terlampau tegang mendengar
nama ‘Koai Atong’ tadi. Nama ini sudah tentu saja pernah didengarnya sebagai nama seorang di antara iblis
dunia persilatan.
Dia segera menjura dengan hormat kepada orang aneh itu dan berkata, “Nama besar... Koai... enghiong...
sudah lama siauwte mendengarnya. Hari ini enghiong menolong nyawa siauwte berdua dengan sumoi dan
anakku, sungguh budi besar sekali...”
Kwa Tin Siong tidak berani menyebut orang itu Koai Atong yang berarti anak setan, maka diubahnya menjadi
Koai-enghiong (orang gagah Koai).
Akan tetapi Koai Atong yang diberi hormat itu longang-longong, memandang ke kanan kiri
dan berbalik dia bertanya. “Ehh, kau ini bicara kepada siapa?”
Kwa Tin Siong melengak. “Kepadamu, Koai-enghiong...”
“Namaku adalah Koai Atong, mana ada enghiong-enghiong segala, enghiong itu apa sih? Sayang, main-main
sedang ramai-ramainya, mereka pergi. Licik benar. Ehhh, dia apamu? Anakmukah?” Koai Atong menuding ke
arah Sian Hwa yang masih duduk bersimpuh dan sedang berusaha membetulkan sambungan lututnya yang
kena tendang tadi.
“Bukan, dia sumoi-ku, dan anakku...”
Tiba-tiba muncul Kwa Hong berlari-lari. Anak ini gembira sekali nampaknya.
“Akulah anaknya! Orang aneh, kau jempol sekali!” Kwa Hong memandang kagum sambil mengacungkan
jempol tangannya ke atas. “Hanya dengan memutar-mutar tangan kiri dan menggertak sudah dapat mengusir
anjing-anjing itu. Jempol!” Dia lalu meniru-niru gerakan tangan kiri Koai Atong tadi yang diputar-putar dan
dipakai mendorong-dorong.
“Ha-ha-ha-ha!” Koai Atong tertawa terpingkal-pingkal. “Kau pintar menari, ya? Bagus, ya?” Ia pun kemudian
menari-nari serta memutar-mutar tangannya sambil tersenyum-senyum dan melirik-lirik sehingga seperti
dunia-kangouw.blogspot.com
seorang yang sedang pandai melagak dan manja. Tentu saja ini hanya sikapnya dan melihat keadaannya dia
lebih pantas disebut orang gila yang segila-gilanya.
Melihat orang itu menari-nari lucu, Kwa Hong tertawa mengikik sambil menutupi mulutnya. Sian Hwa dan Kwa
Tin Siong tidak berani tertawa karena mereka maklum akan kelihaian dan keanehan orang kang-ouw ini.
Akhirnya Koai Atong pun berhenti menari.
“Orang aneh, kau benar-benar hebat. Engkau telah menolong Bibiku dan ayahku. Terima kasih, ya ?” kata Kwa
Hong.
“Aku tidak senang kepada mereka,” kata Koai Atong merengut. “Mereka itu anjing-anjing Mongol.”
“Koai enghiong...” bantah Kwa Tin Siong. “mereka itu adalah orang Pek-lian-pai, apa betul penjilat Mongol?”
“Tak peduli Pek-lian-pai atau Hek-lian-pai, aku tak suka penjilat-penjilat Mongol.”
“Koai Atong, kau betul!” Kwa Hong berseru girang. “Aku pun tidak suka kepada mereka.”
Koai Atong kelihatan girang sekali, bagai seorang anak-anak yang bertemu dengan kawan baik. “Bagus, kita
cocok. Mari ikut aku pergi bermain-main. Aku banyak mengenal tempat yang bagus-bagus!”
Koai Atong menyambar tangan Kwa Hong. Sebelum Kwa Tin Siong dan Sian Hwa sempat mencegah, orang
aneh itu sudah berlari cepat sekali dengan langkah-langkah yang lebar sambil menggandeng Kwa Hong.
“Koai enghiong, tunggu... ! Jangan bawa pergi anakku!” Kwa Tin Siong berseru sambil mengejar.
Juga Sian Hwa turut mengejar. Akan tetapi, karena paha Kwa Tin Siong sudah terluka sedangkan lutut Sian
Hwa masih membengkak, keduanya tidak mampu berlari cepat dan sebentar saja bayangan orang tinggi besar
itu bersama Kwa Hong sudah tidak kelihatan lagi.
“Celaka...!” Kwa Tin Siong membanting-banting kakinya dan nampak berduka sekali.
“Jangan berduka, twa-suheng. Biar pun amat aneh, kurasa orang itu takkan mengganggu Hong-ji. Dia seperti
seorang anak-anak mendapatkan teman dan ingin mengajak Hong-ji bermain-main. Dia lihai sekali, pasti
mampu menjaga Hong-ji baik-baik.”
Kwa Tin Siong menarik napas panjang. “Aku tidak khawatir dia mengganggu Hong-ji. Juga tentang penjagaan,
kiranya dia akan lebih baik dari padaku karena kepandaiannya lebih tinggi. Sudah banyak aku mendengar
tentang Ban-tok-sim Giam Kong dan muridnya itu, Koai Atong. Siapa yang tidak ngeri mendengar nama
mereka? Mereka itu memang bukan tergolong orang-orang jahat, akan tetapi watak mereka sangat aneh dan
kadang-kadang melakukan perbuatan yang tidak terduga-duga. Bagaimana hatiku tidak akan khawatir? Kapan
aku dapat bertemu kembali dengan anakku?” Ketika mengucapkan kalimat terakhir ini, wajah Kwa Tin Siong
nampak berduka sekali, membuat sumoi-nya terharu.
“Suheng, kalau begitu, mari kutemani kau mengejarnya. Mustahil takkan tersusul, dia kan sering kali berhenti
untuk bermain-main. Kalau kita tidak berhasil membujuknya, kita bisa menggunakan kekerasan.”
Kwa Tin Siong menggelengkan kepala. “Percuma, sumoi. Kita masih menderita luka. Lagi pula agaknya Hong
ji juga senang bermain-main dengan orang itu. Buktinya ketika dibawa pergi tadi ia diam saja. Sudahlah, biar
hitung-hitung menambah pengalaman anak itu. Kita mempunyai persoalan yang sangat penting sekarang. Aku
merasa ragu-ragu dan kecewa sekali menyaksikan sepak terjang orang-orang Pek-lian-pai.”
Sian Hwa yang tadi pikirannya penuh oleh keadaan Kwa Tin Siong, sekarang jadi kembali teringat akan
urusannya sendiri. Ia mengertak gigi.
“Memang betul, suheng. Baru saja kita sendiri pun hampir juga menjadi korban keganasan Pek-lian-pai.
Sekarang telah jelas bahwa Pek-lian-pai sengaja memusuhi aku dan suheng, pendeknya memusuhi Hoa-sanpai.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwa Tin Siong mengangguk-angguk. “Kupikir juga begitu. Tak mungkin secara kebetulan saja mereka
mengganggu kau dan aku. Hemmm, anehnya, mereka itu beranggota banyak sekali, memiliki banyak matamata,
apakah tidak tahu bahwa murid Hoa-san-pai tadinya bersimpati kepada mereka dan berniat membantu?
Sumoi, kita tidak boleh berlaku secara sembrono. Lebih baik kita berunding dengan dua orang suheng-mu
lebih dulu, kemudian kita minta nasehat suhu.”
Sian Hwa setuju. “Kalau begitu, mari kita kembali ke Hoa-san, suheng, aku pun tak betah tinggal di rumah,
ingin bertemu para suheng dan minta bantuan untuk membalaskan sakit hatiku.”
Kakak beradik seperguruan itu kemudian meninggalkan tempat tadi dan langsung mereka berdua melakukan
perjalanan ke Hoa-san. Andai kata mereka itu bukan kakak beradik seperguruan, juga tidak sedang berada
dalam keadaan berduka sehubungan dengan urusan masing-masing, tentu mereka akan merasa sungkan juga
melakukan perjalanan berdua saja.
Seorang laki-laki dan seorang gadis, biar pun yang pria sudah berusia empat puluh tahun sedangkan yang
wanita baru dua puluh tahun, namun si pria cukup tampan sehingga mereka merupakan pasangan yang cocok.
Tentu saja bagi mereka sendiri tidak apa-apa karena memang semenjak Sian Hwa masih kecil, baru berusia
sepuluh tahun, dia sudah menjadi adik seperguruan Kwa Tin Siong.
Mereka melakukan perjalanan cepat karena ingin segera sampai di Hoa-san…..
********************
“Aduh...! Aduh, berhenti... berhenti aku tidak bisa bernapas...! Kui-bo, berhenti...!”
Beng San berteriak-teriak dengan napas sengal-sengal. Bukan main cepatnya tubuhnya dibawa pergi sampai
angin menyesakkan pernapasannya dan tangannya yang terbelit ujung sapu tangan juga amat sakitnya.
Mendadak Hek-hwa Kui-bo berhenti dan begitu melepas sapu tangannya, ia menangkap tangan kanan Beng
San dan membentak. “Kau pernah belajar silat kepada siapa?”
Aneh sekali, kalau tadi ia bersikap manis dan genit di depan Beng San, kini dia berubah menjadi galak dan
suara serta pandang matanya penuh ancaman.
Beng San seorang bocah tabah dan ndugal (nakal) mana ia kenal takut? Ia mengerahkan tenaga dan
berusaha menarik tangannya, tetapi tidak berhasil, malah cekalan wanita itu makin erat.
“Aku tak pernah belajar silat,” jawab Beng San akhirnya karena tangannya yang dipegang terasa sakit.
“Bohong! Kalau tidak mengaku akan kupatahkan tanganmu!”
Ia memijat makin keras sehingga terdengar bunyi ‘Kretekk…’ pada tangan Beng San.
Anak itu meringis kesakitan. Baiknya wanita itu tidak sampai mematahkan tulang-tulang tangannya, akan tetapi
tangannya terasa sakit sekali. Anehnya wanita itu nampak sangat terheran-heran dan memandang tajam.
“Iblis cilik, kalau tak pernah belajar silat, kau tentu sudah mampus. Di tubuhmu ada hawa panas, dari mana
kau peroleh?”
Diam-diam Beng San terheran-heran. Wanita ini aneh sekali, juga kepandaiannya seperti iblis. Mungkin betulbetul
kuntilanak, bukan manusia. Kalau manusia, bagaimana agaknya bisa tahu segala hal?
“Aku pernah disiksa makan sebuah pil oleh seorang tosu bau bernama Siok Tin Cu…”
Wanita itu melepaskan pegangannya dan dengan terheran-heran ia menatap wajah Beng San, kemudian
kembali ia memegang tangan yang tadi dicengkeram dan kini tangan itu diperiksanya baik-baik.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aneh... aneh… kau dipaksa makan pil oleh Siok Tin Cu? Lalu bagaimana?”
“Badanku terasa panas seperti dibakar, selanjutnya aku pingsan dan ketika sadar kembali, aku merasa
tubuhku dingin sekali seperti direndam dalam es!”
“Bohong...!” Hek-hwa Kui-bo menampar dan Beng San terjungkal.
Akan tetapi anak itu bangun lagi, membuat Hek-hwa Kui-bo makin heran. Kenapa anak ini
memiliki daya tahan yang begini luar biasa?
“Kau bilang badanmu panas sampai pingsan, bagaimana setelah sadar menjadi dingin?”
Sekarang Beng San marah-marah. Perempuan atau siluman ini keterlaluan sekali. Sambil bertolak pinggang
dia berdiri dan membentak, “Kau ini jahat benar! Mau bertanya atau mau tak percaya? Kalau tidak percaya,
jangan bertanya. Pukul boleh pukul, mau bunuh boleh bunuh, mengapa membuat capai mulut? Buat apa
tanya-tanya segala, kalau tidak percaya?!”
Hek-hwa Kui-bo makin terheran dan kagum. Belum pernah ia bertemu dengan seorang bocah seaneh ini. Dia
sendiri seorang tokoh besar yang sering kali diherani dan dikagumi orang, akan tetapi sekarang ia malah heran
dan kagum kepada seorang bocah!
Hal ini memang ada sebab-sebabnya. Hek-hwa Kui-bo adalah seorang tokoh besar yang jarang mau
berurusan dengan dunia ramai, apa lagi mempedulikan seorang bocah seperti Beng San ini. Hanya saja,
ketika tadi melihat Beng San ia menyaksikan hawa kemerahan yang terang sekali terbit dari hawa Yang-kang
yang amat kuat dari tubuh bocah ini, maka ia pun mengerti bahwa anak ini adalah seorang ahli Yang-kang
atau setidaknya di dalam tubuh anak ini terkandung sesuatu yang mengeluarkan hawa itu.
Oleh karena sudah menjadi wataknya tidak suka melihat orang-orang lihai di dunia ini di samping dia sendiri
dan muridnya, maka timbul maksud hatinya untuk membunuh Beng San. Maka tadi ia sengaja membawa lari
Beng San dengan cepat untuk membunuhnya, karena pegangannya tadi mengandung saluran tenaga
mematikan.
Alangkah herannya ketika melihat Beng San hanya tersengal-sengal saja dan tidak mati. Lebih-lebih lagi
herannya ketika ia meremas tangan Beng San, ada daya tahan yang luar biasa yang mencegah tulang-tulang
anak itu remuk. Inilah luar biasa! Dia sendiri seorang ahli Yang-kang, masa tak dapat menguasai hawa di
tubuh anak ini? Demikianlah, maka Hek-hwa Kui-bo jadi ingin sekali mengetahui keadaan Beng San.
Di samping ini, ada juga rasa sukanya kepada bocah ini. Bocah aneh yang pemberani sekali, bahkan yang
suara cegahannya sudah membuat ia menurut, yaitu ketika ia hendak membunuh Kwa Tin Siong dan
puterinya. Ada pengaruh yang amat ganjil dalam suara anak ini ketika mencegahnya tadi.
“Anak baik, mau bunuh kau apa sukarnya? Akan tetapi aku ingin tahu lebih dulu, kau ini murid siapa?”
“Aku bukan murid siapa-siapa,” jawab Beng San tak acuh.
“Siapa namamu?”
“Beng San.”
“Siapa orang tuamu?”
“Orang tuaku...? Orang tuaku adalah... Huang-ho (sungai Kuning).”
Kembali Hek-hwa Kui-bo melengak. Siapa tak akan heran mendengar jawaban aneh ini. “Jangan main-main!
Di mana kedua orang tuamu? She apa?”
“Orang tuaku dimakan banjir Huang-ho, siapa she-nya aku tak tahu. Ehh, kuntilanak, mau apa kau main tanyatanya
terus? Pergilah!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Makin kagum Hek-hwa Kui-bo. Ia melihat muka Beng San kotor sekali sehingga agak sulit baginya untuk
melihat cahaya muka anak ini yang agak kehijauan dan agak kemerahan.
“Kau kotor sekali. Pergilah mencuci muka.”
“Tidak mau!”
Akan tetapi, kembali ujung sapu tangan panjang di tangan Hek-hwa Kui-bo bergerak dan tahu-tahu tubuh Beng
San terlempar jauh dan... jatuh ke dalam sebuah anak sungai tak jauh dari situ.
Beng San gelagapan dan meronta-ronta. Akan tetapi kemudian dia mendapat kenyataan bahwa air anak
sungai itu amat jernih, maka timbul kegembiraannya dan dia malah mandi tanpa membuka pakaian! Dia tidak
mempedulikan lagi kepada Hek-hwa Kui-bo.
Tak lama kemudian ia merasa tubuhnya dingin bukan main. Beng San menjadi ketakutan, khawatir kalau-kalau
penyakit kedinginan seperti kemarin menyerangnya lagi. Cepat-cepat dia merayap naik dari anak sungai itu.
Ternyata Kui-bo masih menunggu di situ sambil memandang kepadanya dengan mata tak berkedip.
Setelah muka dan tubuh Beng San bersih dari debu dan kotoran, apa lagi akibat dinginnya air membuat hawa
Im-kang menyerangnya kembali dan kulit mukanya menjadi kehijauan, Hek-hwa Kui-bo menjadi bingung.
Sama sekali itu bukan tanda bahwa di dalam tubuh anak ini terkandung hawa Yang, melainkan sebaliknya, kini
penuh hawa Im yang aneh! Bukan main, luar biasa sekali ini! Tanpa terasa Hek-hwa Kui-bo menggaruk-garuk
rambut di kepalanya.
Beng San masih merasa dongkol. Tubuhnya dingin betul dan pakaiannya semua basah kuyup. Semua ini
adalah karena perbuatan kuntilanak itu. Maka dia lalu menghampiri dan memaki.
“Kuntilanak galak, kau pun harus mandi!”
Merah muka Hek-hwa Kui-bo, merah karena malu! Memang orang aneh, disuruh mandi begitu saja timbul
pikiran bahwa alangkah memalukan kalau ia harus mandi di depan anak laki-laki ini.
“Kurang ajar, aku sudah cukup bersih. Tak perlu mandi.”
Tiba-tiba Beng San tertawa bergelak. Ia merasa mendapat kesempatan untuk membalas menghina orang atau
siluman ini. “Bersih katamu? Ha-ha-ha-ha! Rambutmu penuh kutu busuk, masih berani bilang bersih?”
Merupakan pantangan bagi Hek-hwa Kui-bo kalau dia dicela orang, apa lagi kalau yang dicela tentang
kebersihan atau kecantikannya. Entah sudah berapa banyaknya orang mati di tangannya hanya karena
kesalahan mulut menyatakan bahwa ia sudah tua, tidak cantik dan lain celaan lagi. Sekarang ia pun amat
marah, akan tetapi karena pribadi Beng San menimbulkan keheranan dan kekaguman, ia tidak segera turun
tangan, hanya bertanya dengan suara dingin.
“Kau bilang rambutku penuh kutu busuk? Apa buktinya?”
Beng San masih tertawa-tawa. “Kau tadi menggaruk-garuk kepalamu, itulah tanda bahwa rambutmu banyak
mengandung kutu busuk! Aku berani bertaruh bahwa di situ bersarang banyak kutu busuk dengan telurtelurnya...”
Sapu tangan di tangan Hek-hwa Kui-bo bergerak dan tahu-tahu ujungnya sudah melibat leher Beng San!
Baiknya wanita aneh ini hanya menakut-nakuti saja, jika ia menggunakan tenaga, dalam sedetik leher itu akan
putus!
Namun Beng San maklum bahwa nyawanya terancam, maka cepat dia pun mengerahkan tenaga dan berseru.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Membunuh anak kecil, huh, mana bisa dibilang gagah? Mengalahkan musuh tangguh baru bisa dibilang
gagah, akan tetapi mengalahkan diri sendiri lebih gagah lagi!” saking takutnya dia mengeluarkan ujar-ujar
Khong Hu Cu yang dicampur dengan kata-katanya sendiri.
Ujung sapu tangan itu mengendur dan Hek-hwa Kui-bo tertawa. “Siapa sudi mengambil nyawa tikusmu? Hayo
buktikan omonganmu, kau carilah kutu busuk itu di rambutku. Kalau tidak ada seekor pun, hidungmu akan
kupotong, tak perlu kuambil nyawamu!”
Bukan main kagetnya hati Beng San. Dipotong hidungnya lebih celaka dari pada diambil nyawanya. Apa nanti
jadinya apa bila dia seterusnya harus hidup tanpa hidung, menjadi manusia yang menakutkan dan
menjijikkan? Dan biar pun dia masih kecil, dia tahu bahwa wanita kuntilanak ini pasti akan membuktikan
omongannya.
“Hayo cepat!” Hek-hwa Kui-bo membentak sambil duduk di atas rumput.
Terpaksa Beng San lalu berlutut di belakangnya dan mulai mencari kutu busuk di antara rambut yang hitam,
halus dan bersih serta berbau harum kembang itu. Mana ada kutu busuk di antara rambut yang begitu
terpelihara rapi dan bersih?
“Enak saja,” ia menggerutu, “Taruhan yang tidak adil. Kalau tidak ada kutu busuknya, kau akan memotong
hidungku. Bagaimana jika ada kutu busuknya? Aku tidak punya apa-apa, hidungku adalah barang yang paling
kusayang, kalau itu kupertaruhkan, habis apa yang menjadi taruhanmu? Apakah kau juga mempertaruhkan
hidungmu?”
Hek-hwa Kui-bo tak terasa lagi meraba hidungnya yang mancung. Tak mungkin ia hendak mengorbankan
hidungnya. Ia berpikir-pikir, lalu berkata sambil tertawa mengejek, “Yang paling berharga padaku adalah
kepandaianku. Aku pertaruhkan kepandaianku. Setiap kali kau memperoleh kutu busuk, kuhadiahkan sebuah
ilmu silat kepadamu.”
“Hah, untuk apa ilmu silat?” Beng San berkata.
Perempuan aneh itu menengok dan matanya berapi. “Anak tolol! Kalau kau menerima satu macam saja ilmu
silatku, apa kau kira orang-orang macam ayah anak Hoa-san-pai itu mampu mengganggu dan menghinamu?”
Beng San memutar otaknya. Betul juga. Wanita ini lihai bukan main. Alangkah baiknya kalau dia bisa memiliki
kelihaian seperti wanita ini. Dia sebatang kara di dunia ini, sudah sering kali dihina orang. Jangan kata lagi
orang-orang kota yang sering kali mengusirnya seperti anjing, padahal dia tidak mengganggu mereka. Dan
bukti yang baru saja terjadi, tosu bau Siok Tin Cu itu menghinanya, kemudian Kwa Hong...
“Baik,” katanya, dan tidak lama kemudian jari-jari tangannya mencabut sesuatu di antara rambut Hek-hwa Kuibo.
“dapat seekor...!” katanya gembira setengah bersorak.
Hek-hwa Kui-bo tersentak kaget, cepat memutar tubuh. Ia melihat di antara jari telunjuk dan ibu jari tangan
Beng San terjepit seekor kutu hitam kemerahan yang amat menjijikan. Kakinya banyak dan jalannya miringmiring.
Meremang bulu tengkuk Hek-hwa Kui-bo.
Seorang perempuan seperti dia, yang sejak kecil jangan kata mempunyai kutu rambut, melihat pun belum,
mana bisa dia membedakan antara kutu rambut dan kutu baju? Sama sekali dia tidak pernah mimpi bahwa ia
kena ditipu oleh anak nakal ini.
Beng San yang tadi merasa tidak berdaya dan putus asa melihat rambut yang bersih itu, diam-diam
mendapatkan akal. Pada bajunya banyak terdapat kutu, hal ini dia tahu betul, dan dia tahu pula di mana kutukutu
itu paling senang bersembunyi. Oleh karena bajunya memang hanya sebuah, tak pernah dicuci, maka
banyak kutunya. Dan karena kebiasaan, dengan sangat mudahnya dia mengambil seekor kutu baju, lalu purapura
mengambil itu dari rambut Hek-hwa Kui-bo.
dunia-kangouw.blogspot.com
Walau pun perempuan ini adalah seorang yang sakti dalam ilmu silat, tetapi karena dia duduk membelakangi
Beng San dan tidak menduga sama sekali akan tipu muslihat ini, ia percaya penuh. Wajahnya agak pucat dan
matanya melebar ketika ia melihat kutu kecil itu dijepit jari tangan Beng San.
“Celaka, dari mana datangnya kutu busuk? Memalukan sekali. Hayo lekas bunuh dan cari lagi!”
Beng San tertawa dan memasukkan kutu busuk itu ke mulutnya. Ketika giginya menggigit terdengar suara,
“Tesss!” dan dia meludahkan bangkai kutu busuk itu.
Hek-hwa Kui-bo mengkirik penuh kengerian.
“Jahanam benar, dari mana dia bisa datang ke rambutku?” tiba-tiba ia merasa kepalanya gatal-gatal sekali dan
terpaksa ia menggaruk-garuk lagi, “Hayo cari terus, sampai bersih betul. Jahanam...”
“Ehhh, nanti dulu, jangan lupa taruhannya. Sudah dapat seekor.”
Hek-hwa Kui-bo melotot. “Siapa lupa? Cerewet benar. Aku hutang kepadamu sebuah ilmu silat. Hayo teruskan
sampai bersih rambutku. Nanti berapa dapatnya tinggal hitung berapa hutangku kepadamu.”
Beng San mencari lagi dan seperti tadi, dia mengambil kutu baju dan berseru girang lagi.
Hek-hwa Kui-bo makin mengkirik. “Bagaimana bisa begini banyak? Celaka, jangan-jangan sudah bertelur!”
Beng San tertawa. Anak cerdik ini cepat berkata. “Aku belum melihat telurnya, mungkin sudah menetas
semua. Sudah dua ekor, Kui-bo. Jangan lupa.”
“Siapa lupa? Hayo lekas cari lagi!”
“Kui-bo, aku tidak khawatir kau lupa, hanya khawatir kau melanggar janji. Ada yang bilang bahwa mengikat
kerbau adalah di hidungnya, akan tetapi manusia diikat pada bicaranya. Sekali mengeluarkan ludah tidak akan
dijilat kembali, sekali mengeluarkan sepatah kata, sampai mati tak akan dipungkiri. Itulah manusia gagah
dan…!”
“Cerewet! Bocah ingusan macammu mau memberi pelajaran padaku? Aku tak akan lupa, juga tak akan
melanggar janji. Hayo lekas habiskan kutu-kutu itu, gatal semua kepalaku!” Dan melihat kutu busuk kedua itu,
terasa makin gatal kepala Hek-hwa Kui-bo.
Tadinya Beng San hendak mengeluarkan kutu sebanyak-banyaknya. Akan tetapi ketika ia ingat bahwa belum
tentu ilmu-ilmu silat yang akan diajarkan padanya itu menyenangkan, dia berbalik khawatir kalau-kalau malah
akan menyusahkan saja.
Maka setelah mendapatkan tiga ekor kutu busuk, dia berhenti dan berkata. “Sudah habis, sudah bersih.
Sekarang aku berani mempertaruhkan kepalaku bahwa di rambutmu sama sekali tidak ada kutunya seekor
pun.”
Hek-hwa Kui-bo menarik napas lega, lalu membetulkan rambutnya yang tadi diawut-awut oleh anak itu.
Kemudian ia memandang kepada Beng San dan tiba-tiba tertawa mengikik. Beng San sudah khawatir kalaukalau
perempuan kuntilanak ini hendak menipunya.
“Hi-hi-hi-hi-hi, aku berhutang tiga ilmu silat kepadamu? Bocah siapa namamu tadi?”
“Namaku Beng San.”
“Bocah, aku akan mengajarkan tiga macam ilmu silat kepadamu dan andai kata kau dapat mewarisi tiga ilmu
silat ini, sepuluh orang anak murid Hoa-san-pai juga tak akan mampu menangkan kau. Ehhh, tadi kau bilang
kau dijejali obat oleh seorang tosu yang membuat tubuhmu panas semua? Apa betul kau belum pernah belajar
silat?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Belum pernah selama hidupku.”
“Coba kau pukul telapak tanganku ini, di waktu memukul meniupkan hawa dari mulut.”
Beng San menurut karena mengira bahwa demikian memang caranya belajar silat. Ia lalu memukul telapak
tangan wanita itu dengan tangan kanannya sambil meniupkan hawa dari mulutnya.
“Plakkk!”
Hek-hwa Kui-bo merasa telapak tangannya dijalari hawa panas. Terang yang keluar dari kepalan Beng San
adalah tenaga Yang-kang.
“Hemmm, sekarang kau pukul lagi dengan tangan kiri sambil menahan napas.”
Beng San menurut, memukulkan kepalan tangan kiri ke arah telapak tangan itu sambil dia menahan napas.
Hek-hwa Kui-bo merasa telapak tangannya menerima hawa dingin yang lebih kuat dari pada hawa panas tadi.
Diam-diam ia terheran-heran.
Bagaimana di dalam tubuh anak ini terdapat dua macam hawa Yang-kang dan Im-kang tanpa diketahui oleh
anak itu sendiri. Dan kenapa seorang anak yang tidak pernah belajar silat bisa mempunyai dua macam hawa
ini dan tidak mati karenanya? Hek-hwa Kui-bo semakin bingung.
Di dalam tubuh setiap orang manusia memang pada dasarnya sudah terdapat dua macam hawa yang
bertentangan itu, akan tetapi tidak sehebat ini.
“Dengarkan baik-baik. Kau akan kuberi pelajaran tiga macam ilmu silat. Akan tetapi ada syarat-syaratnya.
Pertama, kau tidak boleh mengaku Hek-hwa Kui-bo sebagai gurumu.”
Beng San merengut. “Siapa yang kepingin mengakui kau sebagai guru? Syarat ini cocok dengan pikiranku.”
“Kedua, kau harus berdiam terus di dalam hutan ini sebelum kau hafal benar tiga macam ilmu silat itu.
Tergantung kepada otakmu. Kalau kau berotak udang dan beku, dan sampai sepuluh tahun belum hafal, kau
tetap tidak boleh keluar. Begitu keluar akan kubunuh jika kau belum hafal.”
Beng San segera memprotes, “Aturan apa ini? Aku tak sudi. Kalau begitu, sudahlah, siapa yang kegilaan akan
ilmu silat? Aku tidak usah belajar saja.”
Hek-hwa Kui-bo tertawa mengejek dan sapu tangannya bergerak-gerak. “Kau boleh tidak belajar, akan tetapi
nyawamu kucabut. Kau kira aku seorang yang suka menjilat ludah sendiri? Aku sudah berjanji, kau harus
menerima tiga macam pelajaran ilmu silat dan kau harus pula memenuhi syarat-syarat itu atau... kau boleh
mampus.”
Beng San memang bocah yang nakal dan berani, akan tetapi dia pun cerdik bukan main. Sekarang sedikit
banyak ia telah mengenal watak kuntilanak ini yang selalu membuktikan omongannya, maka dia lalu berkata,
“Baiklah, mempelajari ilmu silatmu atau tidak adalah sama saja! Apa sih gunanya? Kukira ilmu silatmu itu pun
tidak akan ada artinya bagiku!”
Hek-hwa Kui-bo kena dibakar perutnya.
“Tarrr!!”
Sapu tangannya berkelebat menyambar, mengeluarkan suara keras. Ujungnya melewati kepala Beng San dan
menghantam sebuah batu di dekatnya. Alangkah kagetnya anak itu ketika melihat betapa pinggir batu itu
gompal dan remuk seperti dihantam palu besar yang kuat dengan keras sekali.
“Kau bilang tidak ada gunanya? Apa kepalamu lebih keras dari pada batu itu?” Hek-hwa Kui-bo berkata sambil
mendelik.
dunia-kangouw.blogspot.com
Beng San kagum sekali dan mulailah timbul keinginan dalam hatinya untuk dapat memiliki kepandaian seperti
ini. Akan tetapi dia memperlihatkan sikap acuh tak acuh menyaksikan kehebatan wanita itu. Dia malah menarik
napas panjang dan berkata,
“Apa artinya kelihaian ilmu silat kalau toh aku takkan mungkin dapat mempelajarinya? Aku tidak pernah belajar
silat, bagaimana sekarang bisa mempelajari ilmu silatmu kalau tidak kau pimpin sendiri?”
Hek-hwa Kui-bo tertawa mengikik, “Kau tentu bisa, pasti bisa. Aku memiliki tiga macam ilmu silat yang mudah
dipelajari, biar pun oleh seorang tolol seperti kau. Pertama, adalah ilmu siulian (semedhi) yang disebut Thaihwee
(api besar) untuk mendatangkan kekuatan tenaga dalam berdasarkan Yang-kang. Dalam menjalankan
ilmu ini tubuhmu akan terasa panas sekali seperti terbakar, kau harus dapat menahan ini. Dan yang kedua
adalah ilmu pernapasan yang disebut Siu-hwee (memelihara api) untuk membikin hawa Yang-kang di
badanmu memasuki semua pembuluh darah dan membikin badanmu kebal.”
“Apa artinya semua ini?” Beng San mencela. “Masa orang harus belajar supaya diri kuat dan tahan dipukul?
Apa selanjutnya aku hanya disuruh menjadi bahan pukulan? Aku ini kau ajari cara memukul batu seperti tadi.”
Hek-hwa Kui-bo tertawa, “Tolol kau. Dua macam pelajaran itu adalah pokok dari semua pelajaran silat. Yang
ketiga, adalah ilmu pukulan yang kusebut Ci-hwee (keluarkan api), terdiri dari tiga jurus pukulan yang
mengandung hawa Yang-kang. Nah, kau perhatikanlah sekarang semua petunjukku dan pelajari baik-baik. Aku
hanya sudi memberi kesempatan belajar sehari semalam saja, setelah itu kau harus belajar sendiri.”
Demikianlah, wanita aneh ini sengaja menurunkan cara semedhi dan latihan pernapasan yang semata-mata
hanya dapat untuk memperbesar daya Yang-kang di tubuh Beng San. Perbuatan ini sebetulnya amat licik dan
jahat. Bagi orang lain, mungkin sekali ilmu-ilmu ini akan mendatangkan tenaga dalam tubuh yang luar biasa.
Akan tetapi seperti telah diketahui, dalam tubuh Beng San pada saat itu sedang mengalir hawa panas yang
luar biasa akibat ditelannya tiga butir pil buatan tosu Siok Tin Cu. Hawa panas ini tentu akan menghanguskan
jantungnya, kalau saja dia tidak terkena pukulan Jing-tok-ciang dan terkena racun hijau akibat serangan Koai
Atong.
Hek-hwa Kui-bo tak tahu akan serangan Koai Atong ini. Akan tetapi wanita sakti ini cukup maklum bahwa tiga
butir pil Yang-tan itu secara aneh sekali sudah ditahan kekuatannya oleh semacam hawa Im yang berada di
tubuh Beng San. Melihat ini, walau pun dia tidak mampu memaksa Beng San mengaku, wanita ini mempunyai
dugaan bahwa tentulah Beng San ini murid seorang sakti lain.
Hal ini sangat tidak disukainya. Sudah menjadi watak Hek-hwa Kui-bo untuk tidak mau mengalah terhadap
orang lain. Siok Tin Cu adalah cucu muridnya, karena guru tosu itu, ketua Ngo-lian-kauw, yaitu yang bernama
Kim-thouw Thian-li (Dewi Kepala Emas) adalah murid tunggalnya.
Pada saat mendengar bahwa Yang-tan yang ditelan bocah ini tidak mematikannya, timbul perasaan benci dan
iri di hati Hek-hwa Kui-bo. Maka ia sekarang sengaja mengajarkan dua macam ilmu itu untuk memperbesar
dan memperkuat hawa Yang di tubuh anak ini agar pertahanan hawa Im di tubuhnya kalah.
Tentu saja Beng San yang tidak tahu apa-apa tidak mengandung hati curiga dan dengan penuh ketekunan dan
ketelitian ia memperhatikan segala petunjuk wanita itu. Dasar bocah ini berotak cerdas dan terang sekali,
menjelang senja hari, jadi baru saja setengah hari Hek-hwa Kui-bo memberi petunjuk, dia sudah mengerti baik
bagaimana harus melakukan latihan Thai-hwee, Siu-hwee, dan Ci-hwee.
Diam-diam Hek-hwa Kui-bo terkejut bukan main dan kagum sekali. Belum pernah dia melihat bocah secerdas
ini otaknya. Akan tetapi memang Hek-hwa Kui-bo yang aneh. Hal ini bukan menimbulkan rasa sayang
kepadanya, melainkan dia makin membenci dan iri hatinya. Dia sendiri dulu tidak memiliki kecerdasan seperti
ini.
“Nah, kau boleh tekun melatih diri dengan tiga macam ilmu ini. Jangan sekali-kali berani keluar dari hutan
kalau belum menguasai ilmu yang kuajarkan. Kalau kau melanggar, kau akan kubunuh!” Setelah berkata
demikian, sekali berkelebat wanita ini telah lenyap dari depan Beng San.
dunia-kangouw.blogspot.com
Anak ini berhati lega. Mungkin ia akan menjaga di luar hutan, pikirnya. Akan tetapi kalau sampai dua tiga hari,
apakah ia akan sabar menjaga terus? Pula hutan ini begini besar, kalau aku keluar dari lain jurusan,
bagaimana mungkin dia bisa tahu?
Dengan pikiran ini, dia enak-enak saja tidak mau melatih diri. Dia bahkan segera memilih tempat untuk tidur
yang aman dan enak, yaitu di atas sebatang pohon yang amat besar.
Pada keesokan harinya, dia juga tidak melatih diri, namun berjalan-jalan di dalam hutan, memilih tempat yang
banyak ditumbuhi pohon-pohon berbuah supaya tidak sukar lagi dia mencari apa bila perutnya terasa lapar.
Sampai dua hari Beng San hanya berkeliaran di dalam hutan, tidak mau melatih diri.
Pada malam ketiga, malam yang amat gelap, dia berjalan keluar dari hutan, mengambil jurusan yang
berlawanan agar tidak diketahui oleh Hek-hwa Kui-bo. Hutan itu amat lebat sehingga menjelang fajar dia baru
bisa keluar dari hutan.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba-tiba saja dia mendengar suara ketawa nyaring dan cekikikan, suara
tawa kuntilanak! Sebelum dia sempat melihat dari mana datangnya suara itu, tiba-tiba orangnya sendiri telah
berkelebat dan berdiri di depannya dengan sapu tangan panjang itu diputar-putar dengan sikap mengancam
sekali.
Beng San takut bukan main, akan tetapi dia cerdik. Cepat-cepat dia pun berkata “Hek-hwa Kui-bo, perutku
lapar sekali. Semalaman penuh aku putar-putar di dalam hutan mencari makanan, tetapi tidak ada. Aku
tersesat sampai sini...”
Hek-hwa Kui-bo memandang tajam, “Kau bukannya hendak lari?”
“Tiga macam ilmu itu belum kuhafal sempurna, bagaimana aku berani mati meninggalkan tempat ini? Seorang
laki-laki sudah berjanji...” Ia tidak melanjutkan kata-katanya karena memang tadinya dia bermaksud hendak
lari.
Hek-hwa Kui-bo tertawa ganjil, sepasang matanya bersinar-sinar. “Kau terus pelajari saja baik-baik, dalam
beberapa hari lagi tidak akan sukar bagimu menangkap binatang hutan untuk dimakan.”
Beng San memasuki hutan kembali dan dia mendengar dari jauh wanita itu menggerutu, “Anak tahan uji...”
Sekarang yakinlah hati Beng San bahwa tak mungkin dia dapat pergi tanpa diketahui oleh wanita sakti yang
aneh itu. Nyawanya terancam bahaya maut kalau dia berani pergi. Tidak ada lain pilihan lagi baginya, kecuali
mulai mempelajari tiga macam ilmu itu.
Mula-mula dia melakukan semedhi untuk meyakinkan ilmu Thai-hwee seperti yang sudah dia pelajari dari
wanita itu. Dan benar saja, baru setengah malam dia duduk semadhi, dia merasa ada hawa panas sekali
berkumpul di perutnya, makin lama makin panas sampai dia tak dapat menahan lagi dan akhirnya terguling
pingsan! Ketika dia siuman kembali, dia menderita hawa dingin yang luar biasa, membuat tubuhnya seakanakan
menjadi beku.
Teringatlah dia semua pengalamannya di dalam hutan ketika dia bertemu dengan Kwa Hong. Begini pula
penderitaannya. Mengapa setelah sekarang mulai melatih diri dengan ilmu yang dia pelajari dari Hek-hwa Kuibo,
agaknya penyakit aneh itu timbul kembali?
Beng San memiliki ketabahan dan kenekatan. Daya tahannya, lahir batin amat kuat. Biar pun dia menderita
banyak siksaan dari latihan pertama ini, dia lanjutkan terus. Tiga empat hari pertama, setiap kali siulian paling
lama satu malam dia tentu roboh pingsan.
Akan tetapi pada hari kelima dia tidak pingsan lagi. Dia tidak tahu bahwa akibatnya, kulit mukanya makin lama
menjadi semakin merah dan akhirnya menjadi hitam seperti pantat kwali. Namun dia yang tak pernah melihat
bayangan mukanya sendiri, tidak tahu akan hal ini!
dunia-kangouw.blogspot.com
Sebulan kemudian dia mulai dengan pelajaran kedua. Ketika ia mulai melatih pernapasan menurut ilmu Siuhwee
(simpan api), dia merasa bahwa hawa panas yang dia dapat dari ilmu pertama itu berkumpul di
pusarnya, lalu berpindah-pindah ke dadanya dan terasalah dada kirinya sakit seperti di tusuki jarum. Ia nekat
terus dan akhirnya rasa sakit hebat itu menghilang. Setelah satu bulan, dia hanya merasa seakan-akan dalam
dadanya tertekan sesuatu.
Bulan ketiga dia pergunakan untuk melatih diri dengan ilmu pukulan yang disebut Ci-hwee (Mengeluarkan Api).
Ilmu pukulan ini terdiri dari tiga jurus gerakan saja. Gerakan pertama menghantam kedua tangan dengan jarijari
terbuka ke arah tanah di depan kakinya, lalu gerakan kedua menghantam ke depan dan gerakan ketiga
menghantam ke atas. Semua gerakan ini dilakukan dengan pemindahan kaki kanan kiri, yang satu di depan
yang lain di belakang. Sederhana sekali akan tetapi ternyata amat sukar dilakukannya.
Baiknya Beng San sudah memperhatikan dengan teliti sekali dan akhirnya dia dapat juga melakukan gerakangerakan
ini dengan baik pula setelah selama satu bulan berlatih siang dan malam. Tiap kali dia melakukan
pukulan-pukulan dengan jari-jari tangan terbuka, dia merasa dadanya yang tertekan agak enakan, seakanakan
agak berkurang tekanannya.
Ia tidak tahu bahwa hal itu disebabkan karena adanya hawa Yang-kang yang keluar dari dalam tubuhnya.
Perginya sebagian hawa ini mengurangi tekanan hawa mukjijat yang kini berkumpul dan seolah terkurung di
dadanya sehingga mengancam pekerjaan isi dadanya.
Empat bulan lewat ketika Beng San memberanikan diri keluar dari hutan. Dia tidak tahu di mana batas
kesempurnaan mempelajari ilmu-ilmu itu, maka dia berlaku untung-untungan saja. Kalau nanti ketemu Hekhwa
Kui-bo dan dia diuji, dia akan mainkan sebaik-baiknya. Andai kata dinyatakan belum sempurna,
bagaimana nanti sajalah.
Selama empat bulan dia sudah merasa seperti terhukum. Tubuhnya tidak pernah terasa enak lagi, selalu dia
diserang hawa panas yang kadang-kadang membuatnya seperti gila. Dengan latihan-latihan itu, Hek-hwa Kuibo
sudah menambah hawa Yang-kang di dalam tubuhnya.
Kalau dulu tenaga Im-kang akibat serangan Koai Atong lebih kuat, sekarang setelah dia berlatih, di dalam
tubuhnya yang lebih kuat adalah tenaga Yang-kang. Maka dia tidak lagi terserang hawa dingin, tetapi selalu
kepanasan. Ia seperti seorang yang selalu menderita demam panas, akan tetapi bukan panas biasa,
melainkan panas yang takkan tertahankan orang biasa. Dia tentu sudah mati lebih dulu jika di badannya tidak
terkandung racun dari jing-tok yang mengandung hawa Im.
Agaknya memang nasib Beng San harus menderita hebat pada waktu kecilnya. Memang agak aneh apa yang
dia alami semua ini.
Tiga butir pil buatan Siok Tin Cu itu sebetulnya cukup untuk membunuh nyawa tiga orang, tapi kekuatan hawa
Yang-kang dari tiga butir pil itu bahkan semuanya kini terkandung di dalam tubuh Beng San. Seharusnya dia
mati karena ini, akan tetapi siapa kira secara kebetulan sekali dia diserang oleh Koai Atong yang berotak
miring sehingga tubuhnya kemasukan hawa Im-kang yang malah lebih kuat dari pada hawa Yang-kang itu.
Dan sekarang, Hek-hwa Kui-bo yang tidak tahu mengenai penyerangan Koai Atong dan bermaksud
membunuhnya dengan cara memperkuat hawa Yang dengan latihan-latihan itu, ternyata hanya menambah
hawa panas sehingga bisa mengimbangi hawa dingin dari racun hijau. Karena itu, walau pun mukanya menjadi
gosong hitam dan dadanya seperti terbakar, biar pun keselamatan nyawanya tetap terancam, namun Beng
San masih hidup dan dapat bertahan sampai sekian lamanya!
Alangkah girangnya hati Beng San ketika dia tidak melihat munculnya Hek-hwa Kui-bo. Sesudah keluar dari
hutan itu, hatinya berdebar saking girangnya. Benar-benar dia tidak melihat bayangan wanita itu. Akan tetapi,
di samping rasa gembiranya, dia pun merasa mendongkol sekali.
“Dasar siluman kuntilanak jahat,” gerutunya. “Aku sudah ditipunya. Disuruh mempelajari ilmu siluman selama
berbulan-bulan dan dia ternyata tidak menjaga di sini. Dasar bodoh, kalau tahu begini, siapa sudi berbulanbulan
menjadi monyet di dalam hutan?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Sambil memaki-maki Hek-hwa Kui-bo di dalam hatinya, Beng San melanjutkan perjalanan. Karena dia sedang
berada di daerah pegunungan dan di situ tidak terlihat adanya dusun atau orang lewat, dia lalu berjalan ke
mana saja tanpa tujuan tertentu.
Akan tetapi semua pengalamannya itu mendatangkan keinginan di dalam hatinya untuk mempelajari ilmu silat
yang betul-betul dan yang bermutu tinggi agar dia dapat mencegah orang lain melakukan penghinaan atas
dirinya. Apa bila teringat kepada Kwa Hong, dia masih merasa mendongkol sekali.
Pada hari ketiga, ketika dia merasa sangat haus dan dia minum air, dia menjadi terkejut setengah mati pada
saat melihat mukanya di dalam air. Aduh celaka, kenapa mukanya menjadi hitam seperti setan? Beng San
tidak percaya, lalu pindah ke air yang lebih jernih untuk melihat mukanya sendiri. Akan tetapi tetap saja,
nampak jelas bahwa mukanya memang hitam seperti pantat kwali.
“Celaka... ah, mukaku jadi begini...” tak terasa lagi anak ini menangis tanpa mengeluarkan suara, hanya air
matanya mengucur deras.
Setelah memutar otak, dia mencela diri sendiri. “Ah, kenapa aku harus menangis? Kenapa bersedih? Menilai
orang bukan melihat dari warna kulit mukanya, demikianlah kata para pujangga. Ada lagi yang bilang bahwa
roman muka tidak mencerminkan keadaan hati dan watak. Aku boleh buruk, aku boleh hitam, mengapa
pusing? Malu...? Malu kepada siapa? Huh...!”
Dan tiba-tiba dia mendengar suara cecowetan. Ketika dia memandang, dia melihat agak jauh, di atas pohon
terdapat dua ekor lutung hitam. Sepasang binatang itu sedang duduk dan saling mencumbu, kelihatan akur
dan saling mencinta.
Beng San tertawa, “Mukaku pun hitam seperti muka lutung. Siapa bilang mukaku jelek? Lihat itu, bagi mereka
akan jeleklah andai kata muka kawannya itu putih tidak hitam. Hitam atau putih apakah perbedaannya? Baik
dan buruk, di mana garis pemisahnya?”
Tanpa disengaja Beng San sudah mengeluarkan ujar-ujar dan filsafat-filsafat kuno yang pernah dibacanya di
dalam kelenteng Hok-thian-tong ketika dia masih menjadi kacung kelenteng. Akan tetapi, biar pun ujar-ujar itu
tentu saja belum dapat dimengerti oleh anak yang baru berusia sepuluh tahun ini, sedikitnya pada saat itu
menjadi hiburan baginya, melenyapkan rasa duka dan kecewanya melihat bayangan mukanya yang hitam
seperti muka lutung. Setelah puas minum dan mencuci muka, dia melanjutkan perjalanan lagi.
Pada suatu pagi dia tiba di lereng sebuah gunung yang hijau. Ketika dia sedang berjalan hati-hati sekali di
jalan kecil yang amat sunyi itu, tiba-tiba dia mendengar suara dua orang yang bercakap-cakap jelas di sebelah
depannya. Ia mengangkat muka, akan tetapi tidak melihat ada orang. Ia berjalan cepat dan tibalah dia di
sebuah jalan kecil.
Di kanan kiri jalan itu terdapat jurang yang panjang dan curam. Dan di tempat inilah dia mendengar suara dua
orang sedang bercakap-cakap dengan jelas sekali, akan tetapi tak kelihatan orangnya! Biar pun hari sudah
terang tanah, matahari sudah naik tinggi, namun bulu tengkuk Beng San berdiri juga saking seramnya.
Bagaimana ada dua orang bercakap-cakap di depannya, sepertinya di kanan kirinya, akan tetapi dia tidak
melihat orangnya! Ia berdiri seperti patung dan mendengarkan dua suara orang yang saling jawab di kanan
kirinya itu.
“Phoa Ti, kalau saja tidak keburu terjerumus di sini, sekali mengenal pukulanku ilmu silat Pat-hong-ciang (Ilmu
Silat Delapan Penjuru Angin), kau tentu mampus!” terdengar suara dari sebelah kiri Beng San, suara yang
terbawa angin dari kiri tanpa kelihatan orangnya.
Segera suara dari kanan menjawab. “Ha-ha-ha, orang she The, dari sini pun telah tercium mulutmu yang bau.
Kalau tadi aku berlaku hati-hati sedikit dan tidak sampai terjerumus ke sini, dengan ilmu silatku Khong-ji-ciang
(Ilmu Silat Hawa Kosong) yang belum sempat aku keluarkan, kau akan mampus lebih dulu.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Beng San bingung sekali. Suara dari kiri terdengar kecil melengking, sedangkan yang dari kanan besar dan
parau. Suara apa lagi kalau bukan suara setan atau iblis? Apa bila ada orangnya, masa tidak kelihatan
sedangkan suaranya begitu jelas terdengar olehnya.
Atau jangan-jangan semacam kuntilanak yang kejam itu, cuma kali ini pria. Beng San yang sudah mengalami
hal-hal tidak enak dengan Hek-hwa Kui-bo, menjadi ketakutan dan segera dia berlari pergi.
Tiba-tiba dari sebelah kanan terdengar suara yang parau tadi, “Ehh siapa di atas?”
Beng San mempercepat larinya. Mendadak dari sebelah kanannya menyambar semacam hawa yang amat
kuat dan tak tertahankan lagi tubuh Beng San tergelincir ke dalam jurang di sebelah kiri jalan!
Tubuh anak itu bergulingan ke bawah. Untung baginya tidak ada batu-batu di sana dan jurang itu ternyata
merupakan tanah lembek sehingga meski pun tubuhnya sakit-sakit, dia tidak menderita luka parah.
“Ha-ha-ha!” terdengar suara melengking tinggi tadi tertawa, kini dekat sekali. “Kau benar lihai, Phoa Ti, dalam
keadaan terluka parah masih mampu memukul roboh orang. Akan tetapi kau akan malu kalau melihat bahwa
yang kau robohkan hanya seorang anak kecil berusia sepuluh tahunan. Ha-ha-ha-ha!”
Beng San cepat menengok dan terlihatlah olehnya seorang yang bertubuh tinggi besar dan bermuka merah
sedang duduk bersimpuh di dasar jurang.
Benar-benar menggelikan melihat seorang bertubuh begini besar akan tetapi suaranya luar biasa tinggi dan
kecil seperti suara perempuan. Orang itu sudah tua sekali, mukanya penuh keriput dan agaknya terluka hebat,
buktinya sukar menggerakkan kedua kakinya.
Tiba-tiba terdengar suara yang jelas, suara parau tadi, tanpa kelihatan orangnya sehingga Beng San
melupakan sakit-sakit di tubuhnya dan mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Orang she The, tidak perlu kau mengejek. Kalau betul kau masih mempunyai ilmu silat cakar bebek yang
disebut Pat-hong-ciang itu, kau datanglah ke sini, biar aku melihatnya.”
Orang tinggi besar itu menjawab lantang, “Kau saja yang turun ke sini kalau memang masih memiliki ilmu silat
Khong-ji-ciang, siapa takut menghadapinya?”
Tidak terdengar jawabannya. Sampai lama tak ada suara lagi dan Beng San hanya duduk sambil menguruturut
kakinya yang terasa sakit ketika dia bergulingan tadi. Kemudian si tinggi besar itu berkata lagi.
“He, Phoa Ti, di mana kau?”
“Di sini!” terdengar jawaban parau.
“Kenapa tidak turun ke sini? Kau takut padaku?”
“Muka merah, tak perlu menjual omongan busuk. Kau saja yang ke sini, apakah kau tidak becus?”
Kali ini si tinggi besar yang duduk bersimpuh di dalam jurang itu tidak menjawab, sampai lama juga. Tiba-tiba
dia melambaikan tangannya kepada Beng San.
Anak itu segera menghampiri. Akan tetapi, alangkah kagetnya Beng San ketika tiba-tiba tangannya
dicengkeram oleh orang itu yang berbisik, “Kau lihat keadaannya bagaimana?”
Sebelum Beng San maklum apa maksudnya, tiba-tiba saja orang itu menggerakkan kedua tangannya sambil
berteriak, “He, Phoa Ti, kau terimalah anak yang kau pukul roboh tadi.”
Hampir Beng San menjerit kaget ketika tiba-tiba saja tubuhnya melayang ke atas seperti terbang cepatnya.
Ternyata dia sudah dilontarkan orang sedemikian kerasnya sehingga tubuhnya melewati jalan kecil di atas
dunia-kangouw.blogspot.com
jurang tadi dan langsung tubuhnya melayang turun ke jurang sebelah kanan jalan tanpa dia dapat
mencegahnya lagi.
Beng San menyangka bahwa tubuhnya tentu akan hancur, maka dia menutupkan kedua matanya, menerima
nasib. Akan tetapi, tiba-tiba tubuhnya berhenti melayang dan ketika dia membuka matanya, ternyata dia telah
ditahan oleh sebuah tangan yang amat kuat. Ia diturunkan dan pada saat dia memandang, ternyata bahwa
yang menahan jatuhnya tadi adalah seorang laki-laki tua sekali yang bertubuh tinggi kurus.
Seperti kakek besar tadi, kakek ini pun terluka hebat, buktinya tidak dapat menggerakkan kedua kakinya pula,
malah kakek ini hanya merebahkan diri saja di atas dasar jurang yang penuh rumput hijau. Sekarang
mengertilah Beng San bahwa kedua orang kakek aneh ini saling bicara dari tempat masing-masing, yaitu yang
seorang di dasar jurang sebelah kiri jalan sedangkan yang kedua di dasar jurang sebelah kanan jalan.
Benar-benar aneh bukan main, bagaimana dari tempat sejauh ini seseorang bisa saling bercakap-cakap
dengan orang lainnya di seberang sana? Apa lagi kalau mengingat akan pengalamannya tadi ketika dilempar
dari jurang sebelah dan diterima di jurang ini, dia lalu bergidik. Celaka, pikirnya, iblis-iblis ini kiranya tidak kalah
aneh dan hebatnya dari pada Hek-hwa Kui-bo.
Ketika kakek itu menggerakkan tangan kanannya yang menyangga tubuh Beng San, anak ini terguling ke atas
rumput. Beng San mulai memperhatikan kakek ini. Kakek yang amat tua, sedikitnya enam puluh tahun
usianya. Tubuhnya kurus seperti cecak kering, kedua kakinya tak dapat bergerak, malah tangan kirinya
buntung.
Si tangan buntung ini segera berbisik “Ehh, bocah sial. Bagaimana keadaan si tinggi besar itu?”
Diam-diam Beng San merasa mendongkol juga. Betapa pun lihainya dua orang aneh ini, dia merasa sudah
dipermainkan seperti sebuah bola, dilempar ke sana ke mari. Maka dia menjawab sambil merengut. “Tak lebih
buruk dari pada engkau. Dia duduk bersimpuh tak dapat berdiri.”
Tiba-tiba si tinggi kurus yang tangan kirinya buntung ini tertawa meledak dengan suaranya yang parau dan
keras sampai terngiang dalam telinga Beng San. “Ha-ha-ha-ha, The Bok Nam! Kiranya pukulanku tadi
membuat kau tak berdaya di dalam jurang situ. Ha-ha-ha!”
Dari seberang sana terdengar jawaban, “Tak usah banyak cerewet kalau anak itu sudah mengobrol yang
bukan-bukan. Kalau kau memang masih punya ilmu kepandaian, segera datanglah ke sini, aku tidak takut!”
Mendengar ini, si tinggi kurus yang bernama Phoa Ti itu terdiam. Tiba-tiba saja matanya bersinar-sinar aneh
ketika dia memandang Beng San.
“Bagus,” katanya perlahan, matanya tidak pernah lepas dari tubuh Beng San, “Tulang dan darahmu cukup
baik. Kau bisa menjadi penguji dan penentu kalah menang antara aku dan The Bok Nam.”
Setelah berkata demikian dia berteriak lagi. “He, orang she The. Seorang gagah tak perlu berpura-pura. Kau
terluka tak dapat keluar dari jurang, aku pun demikian. Akan tetapi kita masih seri, belum ada yang kalah atau
menang. Sekarang ada saksi bocah tolol ini. Mari kita adu kepandaian melalui bocah ini!”
Dari sana sampai lama baru terdengar jawaban yang merupakan pertanyaan, “Apa pula maksudmu?”
“Ha, kau tolol seperti bocah ini. Aku akan ajarkan dia beberapa jurus Khong-ji-ciang, lalu dia datang padamu,
menyerangmu dengan jurus itu, hendak kulihat apakah kau mampu memecahkannya. Demikian pula kau boleh
turunkan Pat-hong-ciang, ilmu cakar bebek itu kepadanya, untuk kupecahkan. Siapa yang tidak mampu
memecahkan sejurus serangan, dia boleh mengaku kalah disaksikan setan-setan jurang. Bagaimana?”
Terdengar sorak gembira dari sebelah sana.
“Bagus! Memang betul, burung yang mau mati suaranya paling indah. Engkau pun yang sudah hampir
mampus ternyata mampu mengeluarkan kata-kata bagus. Hayo lekas, kau turunkan ilmumu Khong-ji-ciang
cakar ayam itu.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Beng San yang mendengar ini pula tentu saja dapat menangkap maksud mereka. Dalam hatinya, sebetulnya
dia merasa girang juga karena hendak diajari dua macam ilmu yang pasti hebat ini. Akan tetapi karena
sebetulnya keinginannya belajar silat itu hanya karena marah kepada mereka yang sudah menghinanya, maka
keinginan itu tidak berapa besar.
Sekarang dalam keadaan marah kepada dua orang kakek yang tadi mempermainkannya seperti bola dan
sekarang hendak menggunakan dia untuk bertempur, dia menjadi makin dongkol. Beng San lalu berkata keras.
“Aku tidak sudi mempelajari ilmu cakar bebek dan cakar ayam!” setelah berkata demikian, dia hendak keluar
dari jurang itu, mendaki tebingnya yang licin oleh rumput basah.
Akan tetapi baru naik setinggi semeter lebih, dia merasa tubuhnya bagai ditarik orang dan tanpa dapat ditahan
lagi terpelantinglah dia ke bawah. Ia menoleh, tak melihat ada orang di dekatnya kecuali kakek buntung yang
masih rebah miring, namun jatuhnya empat lima meter dari tempatnya.
Ia mendaki lagi, tetapi kembali terpelanting dan bahkan lebih keras dari tadi. Tiga empat kali dia terpelanting
tanpa mengetahui sebabnya. Kakek itu tertawa mengejek dan makin panas hati Beng San.
Sekarang dia mendaki lagi, akan tetapi mukanya menoleh memandang ke arah kakek itu. Sampai hampir dua
meter dia memanjat dan terlihatlah kakek itu menggerakkan tangan kanannya ke arahnya dan... dia tertarik lalu
terpelanting ke bawah.
Bukan main marahnya Beng San. Dihampirinya kakek itu dan dibentaknya. “Kau orang tua menghina anakanak,
apa tidak malu? Punya kepandaian hanya untuk mengganggu anak kecil, apa ini bisa dibilang gagah?”
Tiba-tiba kakek itu mengulur tangannya dan tahu-tahu leher Beng San sudah dijepitnya. “Anak bodoh, anak
setan. Kalau kau tidak mau membantu kami mengadu ilmu, kau boleh tinggal di sini menemani aku mampus.”
Beng San anak yang cerdik akan tetapi dia pun bandel bukan main. Diancam mati anak ini tidak takut, malah
menantang, “Kakek bau, kau mau bikin mampus aku? Hemmmm, mau bunuh boleh bunuh, kalau kalian ini dua
orang kakek bau tidak takut mampus, apakah aku pun takut mati? Kau sudah tua tidak mencari jalan terang,
tua-tua mau memupuk dosa, rasakan saja nanti di neraka jahanam!”
Phoa Ti tercengang dan cengkeramannya pada leher anak itu mengendur. Dua matanya terbelalak kaget dan
heran. “Apa? Kau anak masih begini kecil tidak takut mati? Hemmm, agaknya lebih banyak kesengsaraan
yang kau derita dari pada kesenangan.”
“Senang apa? Hidupku hanya menjadi permainan orang, malah sekarang menjadi korban kegilaan dua orang
kakek yang sudah mau mati,” jawab Beng San.
Tiba-tiba Phoa Ti tertawa bergelak, suara ketawanya begitu keras sampai bergema di atas jurang.
“He, orang she Phoa. Kau malah tertawa-tawa dan tidak cepat-cepat mengirim anak itu ke sini memamerkan
ilmu cakar bebekmu, apa sudah miring otakmu?”
“Ha-ha-ha, The Bok Nam. Anak ini sama sekali tidak tolol atau gila, malah dia lebih gila dari pada yang gila.
Anak yang aneh sekali, dan kau tidak ada sepersepuluh anak ini… he-he-he-he!”
Beng San hanya melongo menyaksikan kelakuan yang aneh itu dan lebih lagi keherannya ketika ia melihat
kakek buntung itu tiba-tiba menangis! Di dasar hati Beng San terpendam sifat welas asih yang amat besar,
yang dulu dihidupkan oleh pelajaran-pelajaran di dalam kelenteng oleh para pendeta Buddha. Sekarang
melihat kakek itu menangis, tanpa terasa lagi matanya menjadi merah dan dia menyentuh lengan yang tinggal
sebelah itu.
“Orang tua, kenapa kau menangis sedih? Apa kau takut mati?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Sudah berani hidup kenapa takut mati? Yang kutakuti bukan matinya, akan tetapi… ahhh, di seberang
kematian yang penuh rahasia...”
Anak sekecil Beng San, mana tahu akan segala perasaan seperti ini? Dia hanya dapat merasa bahwa kakek
ini benar-benar amat gelisah dan berduka. Makin tebal rasa kasihan di hatinya.
“Kakek, apa yang dapat kulakukan untuk menolongmu? Katakanlah, barang kali aku dapat menolong...”
Akan tetapi Phoa Ti masih menangis terus. Beng San sudah berlutut sambil menghibur. Tiba-tiba kakek itu
menghentikan tangisnya dan wajahnya memperlihatkan harapan besar.
“Anak baik, kau bisa menolongku! Yang membuat aku takut menghadapi kematian adalah The Bok Nam. Dia
juga terluka dan mau mati. Aku tidak ada muka bertemu dengan dia di seberang kematian kalau aku belum
bisa mengalahkannya. Maka kau tolonglah aku, Nak, tolonglah supaya aku bisa menang dalam pertarungan ini
dan mendapat muka terang.”
Beng San terheran-heran. Akan tetapi melihat sinar mata yang penuh permohonan itu dia tidak tega menolak,
“Baiklah akan kucoba. Tapi bagaimana caranya?”
Seketika itu kakek itu bangkit semangatnya. Biar pun dia sudah tidak dapat bangun lagi, namun tangan
kanannya membuat gerakan-gerakan penuh gairah.
“Kau perhatikan baik-baik. Sekarang aku akan menurunkan tiga jurus lihai dari ilmu silatku Khong-ji-ciang.
Lihat ini, dua buah jariku ini adalah gerakan-gerakan kaki yang harus kau lakukan dalam jurus pertama.”
Kakek itu lalu menekuk tiga jari tangannya dan mendirikan jari telunjuk dan tengah seperti sepasang kaki.
Kedua jari itu, laksana sepasang kaki bergerak-gerak maju mundur secara teratur sekali.
“Nah, lebih dulu kau lakukan gerakan kaki ini, jurus pertama yang disebut jurus Khong-ji Khai-bun (Hawa
Kosong Membuka Pintu).”
Karena bersungguh-sungguh hendak menolong kakek ini, Beng San lalu memperhatikan dengan seksama,
kemudian dia berdiri dan meniru gerakan-gerakan itu. Mula-mula tentu saja kaku dan keliru, akan tetapi
dengan tekun dia mempelajari dengan petunjuk kakek itu.
Kemudian, setelah gerakan kakinya mulai benar, dia diberi tahu tentang gerakan tangan dan tubuhnya. Kakek
itu nampak bersemangat sekali, berkali-kali memuji, “Tulang bersih, bakat-bakat baik...”
Pujian ini memperbesar semangat Beng San dan membuat kakek itu tak mengenal lelah. Setelah dapat
melakukan jurus pertama dengan baik, dia mendapat petunjuk tentang cara bernapas dalam melakukan jurus
ini dan cara menyimpan hawa dalam tubuh.
Kemudian, dia diberi pelajaran jurus kedua yang disebut Khong-ji Twi-san (Hawa Kosong Mendorong Bukit).
Jurus ketiga disebut Khong-ji Lo-hai (Hawa Kosong Mengacau Lautan). Untuk mempelajari tiga jurus ini
dengan baik mereka telah berlatih sehari penuh.
“Phoa Ti, mana jago mudamu?” berkali-kali suara di seberang lain bertanya.
“Orang she Tek, ajalmu sudah dekat. Tunggulah sampai besok pagi, pasti kau beres oleh tiga jurusku dari
Khong-ji-ciang.”
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Beng San sudah diberi makan oleh Phoa Ti. Apa makannya? Hanya
tiga helai daun muda! Akan tetapi anehnya, begitu makan daun-daun itu, Beng San merasa perutnya langsung
kenyang dan tenaganya penuh, membuat dia semakin kagum. Ternyata kakek ini membawa bekal banyak
daun semacam ini.
“Anak baik, sekarang kau pergilah ke seberang sana dan kau boleh perlihatkan tiga jurus penyerangan ini. Jika
dia tidak mampu memecahkannya satu saja dari yang tiga jurus ini, berarti dia kalah.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Beng San mengangguk dan hendak memanjat tebing. Akan tetapi tiba-tiba saja kakek itu memegang
lengannya dan berkata.
“Terlalu lambat... terlalu lambat... bersiaplah!” sekali tangannya mendorong tubuh Beng San melayang
melewati jalan kecil dan meluncur ke dalam jurang di sebelah kiri.
“The Bok Nam, terimalah kedatangan penguji kita.”
Ketika Beng San merasa betapa tubuhnya ditahan dua buah tangan, dia mulai merasakan tubuhnya ringan
dan enak. Rasa panas di tubuhnya yang selalu mengganggunya selama ini agak berkurang. Maka dia menjadi
gembira dan begitu dia dilepaskan dan berdiri di depan kakek tinggi besar yang duduk bersimpuh itu, dia
berkata.
“Kakek yang baik, apa betul kata kakek Phoa Ti itu bahwa kau sudah hampir tewas?”
Kakek tinggi besar yang suaranya melengking itu mendelikkan matanya dan membentak, “Kalau betul begitu,
bukan aku sendiri yang mati, dia pun sudah hampir mati!”
“Kau betul, karena itu aku hendak mengajukan sebuah usul padamu?”
“Hemmm, apa maksudmu?”
“Kalau kalian berdua sudah mendekati mati, kenapa tidak melakukan perbuatan baik yang terakhir? Kakek
Phoa Ti itu menghendaki supaya kau mengaku kalah. Lakukanlah itu, kau mengalah saja, mengaku kalah dan
membiarkan aku keluar dan pergi dari sini. Bukankah dengan begitu sedikit banyak kau telah meringankan
dosamu?”
Memang aneh mendengar seorang anak berusia sepuluh tahun bicara seperti ini. Akan tetapi tidak aneh lagi
kalau diketahui bahwa dia besar di dalam kelenteng, dari usia lima sampai sembilan tahun.
Tentu saja kakek The Bok Nam yang tak mengetahui asal usul anak ini menjadi melongo mendengar ucapan
ini. Namun hanya sebentar dia tertegun, lalu dia tertawa melengking dan tahu-tahu dia telah mencengkeram
baju Beng San di bagian dada.
“Apa katamu? Jangan mencoba untuk membujuk dan menipuku. Aku masih belum mau mati sebelum
menundukkan kakek tua bangka she Phoa itu! Hayo cepat kau keluarkan tiga jurus ilmu cakar bebek itu,
hendak kulihat bagaimana buruknya!”
Mendongkol juga hati Beng San. Oleh karena kakek tinggi besar ini memperlihatkan sikap kasar, berbeda
dengan Phoa Ti yang menangis ketika minta bantuannya, sekaligus dia lalu berpihak kepada kakek Phoa Ti.
Dengan penuh semangat dia lalu mengeluarkan jurus-jurus itu satu demi satu dengan gerakan sebaik
mungkin. Anehnya, kali ini tiap kali bergerak dia merasa dadanya tidak begitu tertekan lagi oleh gangguan
hawa panas di tubuhnya yang timbul setelah dahulu dia melatih diri selama tiga bulan dengan ilmu silat yang
dia pelajari dari Hek-hwa Kui-bo. Maka dia menjadi makin bersemangat dan melanjutkan tiga jurus itu sampai
habis.
Setelah selesai mainkan tiga jurus yang dia latih sehari semalam itu, dia lalu berkata dengan wajah puas
karena melihat muka The Bok Nam nampak kaget dan kagum.
“Ha, mana bisa kau memecahkan tiga jurus serangan lihai dari kakek Phoa Ti. Sudahlah, lebih baik mengaku
kalah.”
Perlu diketahui bahwa gerakan tiga jurus ini memang hebat. Dan anehnya, ketika mainkan tiga jurus ilmu silat
ini, Beng San hanya menggunakan sebelah tangan saja, yaitu tangan kanan sedangkan tangan kirinya dia
selipkan di antara tali pinggangnya. Hal ini adalah karena yang mengajarkan ilmu ini hanya mempunyai
dunia-kangouw.blogspot.com
sebelah tangan kanan. Karena itu, ketika kemarin melatih ilmu silat ini Beng San selalu salah gerak dan
canggung karena tidak boleh menggunakan tangan kirinya.
Akan tetapi Phoa Ti yang memberi nasehat supaya dia menyelipkan tangan kirinya di ikat pinggangnya supaya
tidak menjadi pengganggu kesempurnaan gerakannya. Justru tidak adanya tangan kiri inilah yang menjadi inti
kelihaian ilmu silat Phoa Ti, karena orang atau lawan dibikin bingung oleh tangan kanan yang bergerak seperti
dua tangan, kadang kala seperti tangan kanan akan tetapi ada kalanya menggantikan kedudukan tangan kiri.
Dan ini pula mengapa diberi nama Khong-ji-ciang (ilmu silat hawa kosong), karena memang di dalam
‘kekosongan’ tangan kiri itulah terletak kelihaiannya.
Sampai beberapa lamanya The Bok Nam tak berkata apa-apa. Kedua matanya mendelik tanpa berkedip tetapi
otaknya diputar-putar. Dia terus mencari kelemahan dalam tiga jurus tadi. Akhirnya dia tertawa melengking.
“Ho-ho-ho, tua bangka Phoa Ti. Segala ilmu cakar bebek ini mana bisa digunakan untuk menggertakku?
Mudah cara memecahkannya. Nah, kau lihat baik-baik bocah tolol. Jurus pertama kuhancurkan dengan
gerakan ini!”
Kakek itu menggerakkan tangannya, tepat seperti menghadapi gerak serangan pertama dari Khong-ji-ciang,
malah sambil membalas dengan gerak memunahkan dan mematikan.
“Kau mengerti?”
Tentu saja Beng San tidak mengerti! Ia menggeleng dan matanya yang lebar itu menjadi makin lebar.
“Ahh, memang kau tolol. Hayo perhatikan baik-baik dan ikuti kedua tanganku.”
“Mana mungkin bisa sambil duduk bersimpuh menghadapi serangan orang hanya dengan menggerakgerakkan
kedua tangan?” Beng San membantah.
“Tolol!”
“Tolol, tolol, kau memaki siapa? Enak saja memaki anak orang!” Beng San marah-marah.
Mendadak kakek itu mencengkeram pundaknya. Beng San merasa seakan-akan tulang pundaknya hendak
remuk dan sakit menembus sampai ke jantungnya. Akan tetapi dia mempertahankan dan berkata mengejek.
“Sekali kau bunuh aku, berarti kau kalah oleh kakek Phoa Ti dan karena kalah maka kau bunuh aku.”
Cengkeraman itu dilepas lagi. “Memang kau tolol. Tentu saja disertai gerakan kedua kaki. Nah, lihat garis-garis
ini!”
Dengan telunjuknya The Bok Nam menggurat-gurat tanah sambil menerangkan letak dua kaki dan gerakangerakannya
dalam jurus itu.
“Jurus pertama untuk melawan jurus pertama dari ilmu silat cakar bebek ini namanya...”
“Jurus cakar ayam kurus!” sambung Beng San mengejek.
“Namanya jurus Nam-hong Jip-te (Angin Selatan Masuk Bumi),” kata The Bok Nam tanpa menghiraukan
ejekan itu. “Hayo kau pelajari baik-baik dan nanti perlihatkan kepada kakek mau mampus she Phoa, suruh dia
memecahkannya kembali.”
Demikianlah, terpaksa sekali dan dengan hati mendongkol Beng San mulai mempelajari jurus Nam-hong Jip-te
itu. Setelah hafal betul, dia lalu disuruh mempelajari dan melatih gerakan jurus kedua yang diberi nama Tunghong
Tong-hwa (Angin Timur Menggetarkan Bunga) dan jurus ketiga See-hong Cam-liong (Angin Barat
Membunuh Naga).
dunia-kangouw.blogspot.com
Satu hal yang membuat Beng San merasa gembira dan bersemangat adalah betapa gerakan-gerakan ini pun
membuat rasa sakit di dadanya berkurang banyak dan kini dia mendapat kenyataan betapa makin lama serasa
makin mudah melatih dengan jurus-jurus yang sukar ini. Seperti halnya Phoa Ti, kakek tinggi besar ini pun
kagum sekali melihat cara Beng San melatih diri.
“Bocah tolol, tulangmu bersih, bakatmu besar, sayang otakmu tolol!”
Tiga macam jurus yang memecahkan sekaligus membalas tiga jurus serangan Phoa Ti ini juga makan waktu
sehari penuh dan ditambah setengah malam barulah Beng San dapat menggerakkan dengan baik.
“Aku lapar!”
Menjelang tengah malam dia berhenti dan merebahkan diri di atas tanah, perutnya perih dan lapar. Dia tidak
minta makanan, seperti biasa dia tidak sudi minta-minta. Celakanya, tidak seperti kakek Phoa Ti, kakek tinggi
besar ini diam saja. Juga Beng San tidak melihat kakek ini makan apa-apa, maka dia pun diam saja menahan
lapar.
Pada keesokan harinya, yaitu pada hari ketiga, kembali dia dilemparkan keluar oleh The Bok Nam dan diterima
oleh kakek Phoa Ti.
“Bagaimana...?” Kakek kurus itu bertanya penuh gairah. “Bisakah dia memecahkan tiga seranganku?”
Beng San hanya mengangguk, tubuhnya lemas.
“Kenapa kau?”
“Lapar...,” jawab Beng San menelan ludahnya.
“Manusia tidak punya jantung si tua bangka itu!” Phoa Ti memaki. “Masa menyuruh anak berlatih silat tanpa
diberi makan?”
“Dia sendiri pun tidak makan,” Beng San membela, lalu menerima beberapa helai daun dan memakannya.
Setelah kenyang dia lalu berkata. “Kakek The Bok Nam itu melawan tiga jurusmu dengan tiga jurus pula yang
sekaligus memecahkan jurusmu dan berbalik menjadi serangan tiga kali.”
Phoa Ti mengerutkan kening. “Begitu cepat?” ia menggeleng-geleng kepala tidak percaya. “Coba kau mainkan
jurus-kurusnya.”
Beng San lalu menggerakkan tiga jurus yang baru dia pelajari itu dengan gerakan-gerakan yang sudah cepat
dan baik sekali, malah tiap kali dia melakukan gerakan-gerakan itu dia merasa tubuhnya ringan dan enak.
Sesudah dia selesai bersilat dan duduk di atas rumput, dia melihat Phoa Ti berkali-kali menarik napas panjang
dan menggeleng-geleng kepalanya.
“Hebat..., hebat tua bangka itu...”
Sampai matahari sudah naik tinggi, Phoa Ti masih duduk termenung saja dan berkali-kali menarik napas
panjang.
“Bagaimanakah? Apakah kau tidak bisa memecahkan tiga serangannya?” Beng San yang merasa kasihan
bertanya.
Melihat keadaan kakek ini seperti terdesak, timbul keinginannya hendak membantu, maka dia juga
mencurahkan pikiran dan ingatannya, menghafal lagi enam macam jurus yang dia pelajari dari dua orang
kakek itu. Namun, karena dia tidak mempunyai kepandaian dasar, tentu saja dia tidak melihat bagaimana tiga
jurus kakek Phoa Ti itu sampai dikalahkan oleh tiga jurus kakek The Bok Nam.
dunia-kangouw.blogspot.com
Menjelang senja, setelah berkali-kali terdengar pertanyaan penuh ejekan, barulah Phoa Ti sadar dari
lamunannya dan nampak harapan bersinar pada mukanya.
“Dapat…! Dapat olehku sekarang...!” katanya girang.
Cepat-cepat dia memberi pelajaran tiga jurus ilmu silat lagi kepada Beng San yang sudah siap menanti.
Bukan main girangnya hati Beng San dan kagumnya hati Phoa Ti ketika kali ini, hanya dalam waktu setengah
malam saja Beng San sudah dapat mainkan tiga jurus ini dengan baik! Anak ini ternyata memang memiliki
bakat luar biasa sehingga kaki tangannya lincah dan tepat sekali melakukan segala gerakan ilmu silat.
“Besok pagi-pagi kau sudah boleh mendatangi kakek The,” kata Phoa Ti girang.
“Nanti dulu, kakek Phoa Ti yang baik. Aku sudah berjanji membantumu, dan aku sudah menuruti segala
kehendak kalian dua orang kekek tua. Akan tetapi, sudah sepatutnya kalau aku mendengar pula apa sebabnya
maka kalian bermusuhan, bahkan di tepi lubang kubur masih bertanding ilmu?”
Kakek itu menarik napas panjang. “Lekas kau berlutut, hanya sebagai muridku kau boleh mendengar ini. Lekas
sebelum berubah lagi pendirianku.”
Karena merasa suka kepada kakek ini, Beng San tidak keberatan untuk menjadi murid, maka dia lalu memberi
hormat. “Teecu Beng San, mulai saat ini menjadi murid suhu Phoa Ti,” katanya.
Agaknya kakek itu tidak begitu menaruh perhatian, buktinya dia tidak heran mendengar anak ini tidak
menyebutkan she (nama keturunan). Lalu dia menceritakan keadaannya dan keadaan The Bok Nam yang
sampai mati tidak mau mengalah terhadapnya itu.
“Aku dan kakek The Bok Nam itu sebelumnya dahulu adalah dua sekawan yang sangat karib dan kami berdua
di dunia kang-ouw pada dua puluhan tahun yang lalu terkenal dengan julukan Thian-te Siang-hiap (Sepasang
Pendekar Langit dan Bumi),” demikian kakek Phoa Ti mulai dengan ceritanya. Lalu ia melanjutkan ceritanya
seperti berikut….
Dua orang sekawan ini memiliki kepandaian tinggi sekali dalam ilmu silat. The Bok Nam adalah seorang tokoh
dari selatan, sudah mempelajari segala macam ilmu silat selatan, sebaliknya Phoa Ti adalah ahli silat dari
utara yang juga sudah mempelajari seluruh ilmu silat utara.
Setelah keduanya bertemu dan menjadi sahabat yang amat karib, keduanya lalu bertukar ilmu silat, saling
mengajar sehingga keduanya akhirnya menjadi sepasang jago silat yang jarang tandingannya di dunia kangouw.
Karena kedua orang ini tukar menukar ilmu silat, maka dalam hal kepandaian mereka dapat dikatakan
setingkat.
Pada masa mereka masih jaya, di dunia kang-ouw tak ada orang yang berani menentang Thian-te Siang-hiap.
Tentu saja ada kecualinya, yaitu tokoh-tokoh besar ilmu silat yang jarang muncul di dunia kang-ouw yang pada
waktu itu sampai sekarang di kenal sebagai empat datuk persilatan dari barat, timur, utara dan selatan.
Mereka ini adalah Hek-hwa Kui-bo sebagai siluman dari daerah selatan. Dari utara adalah Siauw-ong-kwi
(Setan Raja Kecil) yang sangat jarang dilihat manusia lain. Jagoan nomor satu dari timur adalah Tai-lek-sin Swi
Lek Hosiang, yang seperti julukannya Tai-lek-sin (Malaikat Geledek) merupakan tokoh yang ditakuti. Ada pun
orang keempat sebagai raja tokoh barat adalah Song-bun-kwi (Setan Berkabung) yang seperti juga yang lain
kecuali Swi Lek Hosiang, tidak diketahui nama aslinya.
Empat orang ini semenjak puluhan tahun tidak pernah memasuki dunia ramai. Akan tetapi harus diakui bahwa
di antara tokoh-tokoh besar persilatan, belum pernah ada yang berani mengganggu mereka dan mereka selalu
masih dianggap sebagai empat tokoh besar yang tak terlawan.
Barulah pada dua puluh tahun yang lalu, empat orang tokoh besar ini keluar dari tempat pertapaan atau tempat
persembunyian mereka untuk memperebutkan sebuah kitab yang berisi pelajaran ilmu pedang peninggalan
dunia-kangouw.blogspot.com
dari guru besar Bu Pun Su (Tiada Kepandaian) Lu Kwan Cu, si pendekar sakti pada jaman lima ratus tahun
yang lalu.
Pendekar sakti Bu Pun Su ini adalah pewaris asli dari ilmu silat yang tiada bandingannya, yaitu kitab Im-yang
Bu-tek Cin-keng. Pada lima ratus tahun yang lalu, pendekar sakti ini sebelum meninggal dunia sudah
meninggalkan sebuah kitab ilmu pedang yang bernama Im-yang Sin-kiam-sut. Kitab ini tak pernah terjatuh ke
tangan orang lain karena disimpan di dalam sebuah goa dalam bukit yang tersembunyi.
Setelah bukit itu longsor pada dua puluhan tahun yang lalu, barulah batu-batu besar penutup goa itu ikut
runtuh ke bawah dan tampak goanya. Seorang penggembala domba memasuki goa itu dan mendapatkan kitab
Im-yang Bu-tek Cin-keng tadi tanpa mengerti apa isi kitab dan apa pula gunanya.
Akhirnya, secara kebetulan sekali seorang jago silat dari golongan penjahat mendapatkan kitab ini.
Kepandaiannya masih terlampau rendah untuk dapat mempelajari ilmu pedang sakti ini, akan tetapi Lui Kok,
jago silat yang sombong ini, membual dan memamerkan penemuannya itu di dunia kang-ouw. Hal ini sama
dengan mencari penyakit sendiri bagi Lui Kok.
Mulailah para jago silat memperebutkan kitab ini. Hal ini tidaklah aneh. Siapakah di antara para jago silat yang
tidak pernah mendengar nama besar pendekar sakti Bu Pun Su Lu Kwan Cu?
Bahkan empat tokoh besar dari timur, barat, utara dan selatan itu pun sampai keluar dari tempat
persembunyian mereka ketika mereka mendengar bahwa sudah ditemukan kitab pelajaran ilmu pedang dari
Bu Pun Su. Padahal urusan besar apa pun juga yang terjadi di dunia kang-ouw, tak mungkin akan menarik hati
empat tokoh besar itu.
Akan tetapi kedatangan empat besar ini terlambat. Kitab di tangan Lui Kok telah dirampas orang lain dan Lui
Kok sudah terbunuh. Tidak seorang pun tahu siapa pembunuh Lui Kok dan siapa yang merampas kitab itu.
Dengan kecewa empat besar itu kembali ke tempat masing-masing, tentu saja selama itu mereka selalu
mendengar-dengar kalau ada orang muncul dengan kitab yang ingin mereka miliki itu.
Siapakah pembunuh Lui Kok? Bukan lain orang adalah Thian-te Siang-hiap, dua sekawan itulah. Kitab itu
mereka rampas setelah Lui Kok mereka bunuh. Kebetulan sekali kitab itu terdiri dari dua jilid, yaitu bagian Imsin-
kiam dan bagian Yang-sin-kiam.
Karena tahu bahwa empat besar yang sangat mereka takuti itu juga sedang mencari-cari kitab peninggalan Bu
Pun Su, mereka lalu membagi kitab itu menjadi dua bagian, seorang memegang sejilid. Dan selama ini mereka
diam saja, tak pernah mengeluarkan kitab-kitab itu.
Memang sudah menjadi watak setiap orang manusia di dunia ini, selalu merasa berat dan sayang pada diri
sendiri, tidak mau kalah dan mengharapkan bahwa dirinya akan menjadi orang yang paling pandai, paling
mulia, dan sebagainya.
Demikian pula watak ini juga dimiliki oleh The Bok Nam dan Phoa Ti. Diam diam mereka mempelajari isi kitab,
The Bok Nam mempelajari bagian yang disimpannya yaitu bagian Yang-sin-kiam, sedangkan Phoa Ti
mempelajari Im-sin-kiam.
Sampai bertahun-tahun mereka mempelajari kitab masing-masing, akan tetapi alangkah kecewa mereka
bahwa di antara dua kitab itu ada hubungannya yang amat dekat. Hanya mengetahui Yang-sin-kiam saja tanpa
mempelajari Im-sin-kiam, tidak akan dapat mereka memperoleh inti sari dari pelajaran Im-yang Sin-kiam-sut
yang hebat itu.
Memang betul bahwa dari kitab-kitab itu masing-masing telah memperoleh kemajuan yang pesat sekali dalam
ilmu silat mereka. Akan tetapi, kepandaian Im-yang Sin-kiam sut yang mereka inginkan itu tidak dapat mereka
pelajari tanpa kitab yang satu lagi. Demikianlah, saat itu mulai timbul persaingan di antara mereka yang tadinya
menjadi sahabat karib.
Hal ini pun sudah menjadi watak manusia. Banyak sudah peristiwa dalam hidup terjadi, di mana dua orang
yang tadinya bersahabat karib, kemudian persahabatan mereka dapat menjadi retak oleh karena perebutan
dunia-kangouw.blogspot.com
harta, kedudukan, kepandaian mau pun cinta kasih. Padahal semua itu hanyalah merupakan akibat, akibat dari
sifat ingin senang sendiri dan ingin menang sendiri. Pendeknya sifat egoistis yang menempel pada diri setiap
manusia.
Mula-mula Phoa Ti yang mendatangi sahabatnya dan minta pinjam kitab. Akan tetapi The Bok Nam tidak mau
memberikan, hanya mau kalau kitab di tangan Phoa Ti itu diberikan dulu kepadanya untuk dipinjam, baru
sesudah itu dia akan meminjamkan kitabnya.
Phoa Ti mengusulkan agar kitab itu saling ditukar saja supaya keduanya bisa mempelajari bersama. Akan
tetapi The Bok Nam yang tidak ingin dikalahkan oleh sahabatnya itu tidak setuju. Akhirnya terjadilah
pertengkaran dan bahkan timbul persetujuan di antara mereka bahwa siapa yang lebih tinggi ilmunya, dialah
yang berhak membaca kedua kitab lebih dulu. Mulai saat itulah mereka sering kali mengadu ilmu, sampai
berhari-hari.
Akan tetapi tingkat mereka memang sama persis. Walau pun Phoa Ti sudah mempelajari Im-sin-kiam, akan
tetapi The Bok Nam juga sudah mempelajari Yang-sin-kiam sehingga kepandaian mereka sama-sama
memperoleh kemajuan yang hebat.
Hal ini terjadi sampai dua puluh tahun, sampai mereka sudah menjadi kakek-kakek tetap saja tidak ada yang
mau mengalah. Pada hari itu, mereka kembali mengadu kepandaian di atas jalan kecil yang diapit-apit oleh
dua jurang.
Akibatnya, saking hebatnya pertempuran mereka, keduanya terluka dan roboh terguling ke dalam jurang,
seorang di kanan seorang di kiri. Akhirnya Beng San datang dan anak ini kemudian mereka pergunakan untuk
melanjutkan ‘adu kepandaian’ itu.
“Demikianlah, Beng San, muridku,” Phoa Ti menutup ceritanya kepada muridnya yang baru dia angkat, yaitu
Beng San yang mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Baru sekarang aku merasa menyesal sekali mengapa sampai terjadi persaingan seperti ini. The Bok Nam
adalah seorang sahabat yang baik. Sayang, dia membiarkan keinginan timbul di hatinya, keinginan untuk
menjadi orang yang terpandai.”
“Suhu (guru), apakah selama ini tokoh-tokoh besar dari empat penjuru itu tidak pernah datang untuk
merampas kitab?” tanya Beng San.
“Tidak, kami sangat rapat menyimpan rahasia ini, karena kami tahu betul bahwa kalau sampai empat tokoh
besar itu muncul mengganggu kami, kami akan celaka. Hanya kalau kami atau seorang di antara kami sudah
dapat mempelajari Im-Yang Sin-kiam-sut, kiranya kami baru akan kuat menghadapi mereka.”
Beng San teringat akan Hek-hwa Kui-bo, maka dia lalu berkata, “Suhu, belum lama ini teecu (murid) bertemu
dengan Hek-hwa Kui-bo dan...”
Tiba-tiba pucatlah muka Phoa Ti mendengar ini. Dengan tangannya yang hanya sebelah itu dia memegang
pundak Beng San dengan erat, lalu katanya,
“Apa...? Dia...? Celaka... tentu dia sudah mendengar akan hal kitab itu. Kalau tidak, tak mungkin dia muncul...
coba kau ceritakan tentang pertemuan itu.”
Dengan singkat Beng San lalu menceritakan semua pengalamannya semenjak ia bekerja di dalam kelenteng
sampai dia bertemu dengan berbagai pengalaman pahit itu. Gurunya mendengarkan dengan hati tertarik,
kadang kala sambil menggeleng kepala. Kemudian dia berkata sambil menarik napas panjang.
“Tidak salah lagi, tentu setelah aku dan The Bok Nam mengeluarkan ilmu silat Im-sin-kiam dan Yang-sin-kiam
untuk mengadu kepandaian, kuntilanak itu tentu telah mendengar dan menduga bahwa kami berdua yang
menyimpan kitab Bu Pun Su thai-sucouw. Lekas, hari sudah akan pagi. Kau harus usahakan betul supaya
jurus-jurus yang kau pelajari itu dapat menangkan The Bok Nam agar dia suka memberikan kitab Yang-sindunia-
kangouw.blogspot.com
kiam itu kepadaku. Lekas jangan sampai terlambat. Kalau seorang di antara empat setan itu muncul, maka
celakalah...”
Demikianlah, Beng San melanjutkan tugasnya sebagai penguji kedua orang kakek itu.
The Bok Nam benar-benar hebat. Semua jurus yang dikeluarkan oleh Phoa Ti dia dapat memecahkannya,
padahal jurus dari ilmu silat Khong-ji-ciang itu adalah jurus-jurus yang diciptakan oleh Phoa Ti berdasarkan
kitab Im-sin-kiam.
Sebaliknya, Phoa Ti juga mampu memecahkan semua jurus yang dikeluarkan The Bok Nam, jurus-jurus ilmu
silat Pat-hong-ciang yang inti sarinya diambil oleh orang she The itu dari kitabnya, Yang-sin-kiam.
Beng San adalah seorang anak yang cerdik bukan main. Sampai sepuluh hari dia menjadi penguji dan selama
sepuluh hari itu dia sudah melatih diri dengan lima belas jurus dari Khong-ji-ciang serta lima belas jurus dari
Pat-hong-ciang! Dia melihat betapa makin hari kedua orang kakek itu makin lemah karena luka mereka dalam
pertempuran itu memang hebat sekali. Apa lagi sekarang dalam memberikan petunjuk kepada Beng San,
mereka harus mengerahkan tenaga Iweekang.
Yang membuat senang hati Beng San adalah karena untuk menjalankan semua pelajaran jurus-jurus yang
harus dia bawa ke sana ke mari ini mengandung hawa-hawa murni dari Yang-kang dan Im-kang, maka tentu
saja kedua macam hawa yang memenuhi dadanya itu makin kuat dan makin dapat diatur. Gerakan-gerakan
dalam melakukan jurus-jurus ilmu silat itu telah membuka jalan darahnya sehingga makin lama dia merasa
tubuhnya makin enak dan kuat, bahkan kekurangan tidur dan makan tidak mengganggunya sama sekali.
Pada hari kesebelas dia melihat suhu-nya sudah amat lemah, sampai jatuh pingsan ketika memberi petunjuk
kepadanya. Beng San bingung. Ia tidak suka kepada Phoa Ti seperti juga ketidak sukaannya kepada The Bok
Nam. Akan tetapi dia merasa kasihan kepada Phoa Ti yang sudah mengangkat dia sebagai murid, karena
memang sikap Phoa Ti lebih baik dan lebih lemah lembut dari pada sikap The Bok Nam.
Di samping tubuh suhu-nya yang masih pingsan itu, Beng San duduk termenung, memutar otaknya. Tanpa
sengaja dia mengingat-ingat kembali semua jurus yang sudah pernah dia pelajari dari kedua pihak dan tibatiba
dia melihat persamaan-persamaan tersembunyi di dalam jurus-jurus kedua pihak itu. Jika dipandang
sepintas lalu dan dimainkan, jurus-jurus ilmu silat itu nampaknya seperti saling bertentangan, namun
sebetulnya dapat disatukan dan dapat disesuaikan.
Phoa Ti siuman kembali menjelang fajar. Beng San segera mengemukakan pendapatnya. “Suhu, malam tadi
teecu teringat akan persamaan-persamaan yang aneh antara beberapa jurus ilmu silat suhu dan kakek The itu.
Contohnya jurus yang kemarin itu, betapa sama gerakannya, hanya dibalik saja. Jika jurus suhu menggunakan
tangan kanan, adalah jurus kakek itu menggunakan tangan kiri. Kalau dalam jurus suhu harus menyedot napas
pada waktu memukul, dalam jurus kakek itu sebaliknya, harus meniupkan napas. Bukankah ada
persamaannya yang tepat, hanya terbalik saja?”
Sejenak kakek yang sudah payah keadaannya itu termenung. Tiba-tiba dia mengeluarkan suara seperti jeritan
dan... dia memuntahkan darah segar dari mulut!
Beng San cepat-cepat mengurut punggung kakek itu. Setelah agak reda napasnya, kakek itu berkata lemah,
“Aduh... kau hebat... aduh, aku bodoh sekali, Beng San. Kau benar... kau benar... itulah sebabnya mengapa
sekaligus harus mempelajari kedua kitab itu, tidak boleh satu-satu. Bagus...! Sekarang kau pergilah ke sana,
gunakan jurus yang kau latih kemarin, hanya sejurus saja, tapi cukup... kau balikkan kedudukan tangan dan
tubuh, tapi kakimu kau ubah seperti yang pernah kau pelajari dari Hek-hwa Kui-bo, atau kau bikin kacau
sesuka hatimu. He-he-he... hendak kulihat apakah dia masih mampu memecahkan serangan dari jurusnya
sendiri yang dibikin rusak...”
“Andai kata dia tidak dapat memecahkan jurus ini, lalu bagaimana suhu?”
“Dia... uhhh... uhhh... dia harus menyerahkan kitabnya...” sukar sekali bagi Phoa Ti untuk mengeluarkan katakata
karena napasnya amat sesak. “Lekaslah kau pergi...”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kakek Phoa Ti hendak melontarkan tubuh Beng San ke jurang sebelah sana seperti yang sudah-sudah, akan
tetapi tenaganya sudah habis dan dia hanya dapat memberi isyarat dengan tangannya supaya Beng San
memanjat sendiri ke tempat kakek The Bok Nam.
Beng San lalu memanjat tebing jurang dan dengan girang dia mendapat kenyataan bahwa tubuhnya ringan
dan mudah saja baginya memanjat tebing itu. Ketika dia tiba di atas, di jalan kecil yang dulu dilaluinya, dia
telah bebas.----

Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil