Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 18 April 2018

Cersil Raja Pedang 5

Cersil Raja Pedang 5
baca juga

----
Dia semakin curiga akan dugaannya bahwa Beng San bukanlah anak sembarangan dan mungkin sekali dari
pihak musuh. Sekarang terbukti betapa Beng San merasa sedih atas jatuhnya dua orang Kun-lun-pai dan katakatanya
yang tidak karuan.
"Beng San, apa maksud kata-katamu barusan?" Kwa Tin Siong membentak sambil maju menghampiri dengan
pedang di tangan.
Beng San yang melihat bahwa dua orang Kun-lun-pai itu tak mungkin dapat tertolong lagi, segera bangkit
berdiri dengan tegak. Matanya bersinar tajam menakutkan dan mukanya menjadi merah kehitaman. la
membanting kaki ke atas tanah dan berkata.
"Hoa-san Sie-eng, apakah kalian tidak melihat bahwa kalian telah membunuh orang-orang tidak berdosa?
Kalian telah kena fitnah. Kwee Sin bukan orang yang berdosa, dia tidak membunuh ayah Nona Liem Sian
Hwa. Semua ini memang diatur oleh pemerintah Mongol dengan bantuan Ngo-lian-kauw! Kwee Sin hanya
punya sebuah kesalahan kecil, yaitu dia roboh oleh kecantikan ketua Ngo-lian-kauw. Akan tetapi yang
membunuh ayah Nona Liem adalah para kaki tangan Ngo-lian Kauwcu yang menyamar sebagai Kwee Sin dan
sebagai orang-orang Pek-lian-pai. Ahh, sayang orang-orang gagah sampai mudah tertipu!"
"Bohong! Kau anak kecil tahu apa? Kau berpihak kepada Pek-lian-pai dan Kun-lun!" Kwa Tin Siong
membentak marah.
Tiba-tiba Bun Si Teng dan Bun Si Liong bergerak. Bun Si Liong tertawa terbahak-bahak lalu... dia berhenti
bernapas, mukanya masih tersenyum. Bun Si Teng dengan napas yang terengah-engah mengulurkan tangan,
merangkul Beng San.
"Aku puas... kau benar anak... kau benar. Siapa namamu...?”
"Aku Beng San," kata Beng San yang sudah berlutut di dekat Bun Si Teng.
"Kau telah membersihkan nama Kwee-sute sekaligus Kun-lun-pai. Terima kasih. Alangkah bodohku... Ha-haha-
ha, bukan hanya Kun-lun Sam-hengte yang bodoh... malah Hoa-san Sie-eng juga goblok, hanya
menurutkan nafsu belaka... Beng San, anak baik, kau anak luar biasa... kau berjanjilah bahwa kelak kau akan
mengamat-amati putera tunggalku... Bun Lim... Kwi..." Orang gagah itu menjadi lemas dan rohnya menyusul
roh adiknya.
Hoa-san Sie-eng berdiri terlongong. Mereka masih terpukul oleh keterangan Beng San, walau pun merasa
ragu-ragu.
Pada saat itu tampak bayangan orang berkelebat dan Lian Bu Tojin sudah berdiri di situ. "Ahhh, dia hebat... tak
terkejar olehku..." Tiba-tiba kakek ini mengeluarkan seruan kaget ketika melihat tubuh Bun Si Teng dan Bun Si
Liong rebah mandi darah dalam keadaan tak bernyawa pula.
"Apa... apa yang telah terjadi...?" tanyanya, memandang kepada empat orang muridnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Hoa-san Sie-eng tidak dapat menjawab, masih bingung dan sangat khawatir kalau-kalau keterangan Beng San
tadi itu benar. Berarti mereka sudah membunuh orang-orang yang tidak berdosa!
"Beng San, kau lagi di sini? Apa yang kau lakukan di sini?" Lian Bu Tojin membentak lagi ketika melihat Beng
San berlutut di depan mayat kedua orang saudara Bun itu.
"Locianpwe, dua orang gagah dari Kun-lun-pai yang tidak berdosa ini telah dikeroyok dan dibunuh oleh muridmuridmu
yang gagah!" kata Beng San dengan suara keras.
Kemudian dia mengulangi lagi penuturannya yang tadi di depan ketua Hoa-san-pai. Kakek ini berubah air
mukanya mendengar keterangan itu, akan tetapi dengan bengis dia lalu bertanya.
"Bocah, dari mana kau tahu semua itu?"
"Saya bertemu dengan orang-orang Pek-lian-pai dan merekalah yang sudah menceritakan semua itu
kepadaku."
"Bohong kalau begitu. Orang-orang Pek-lian-pai itu jahat dan berbohong!" seru Kwa Tin Siong penuh harap.
Tentu saja dia tidak mengharapkan kebenaran keterangan Beng San, karena kalau benar terjadi hal demikian,
berarti pihak Hoa-san-pai telah melakukan perbuatan yang kurang patut terhadap Kun-lun-pai.
Lian Bu Tojin meraba-raba jenggotnya yang panjang. "Urusan ini sangat berbelit-belit dan amat penuh rahasia.
Keterangan bocah ini mungkin sekali benar, akan tetapi juga bukan mustahil dia dipergunakan oleh Pek-lianpai
untuk mengacau kita. Betapa pun juga, kalian telah terburu nafsu membunuh dua orang Kun-lun-pai ini.
Keadaan sudah terlanjur begini, sungguh tidak menyenangkan sekali. Pinto sendiri masih ragu-ragu siapakah
yang benar siapa yang salah. Kwee Sin ditolong dan dibawa pergi oleh seorang iblis wanita jahat, Hek-hwa
Kui-bo. Terang bahwa ada pihak yang bersekongkol dengan Kwee Sin, tapi..." Tiba-tiba kakek itu berseru, "He,
bocah, kau hendak lari ke mana?" Tubuhnya berkelebat ke depan dan di lain saat kakek ini sudah memegang
lengan tangan Beng San yang tadi hendak lari.
"Aku mau pergi saja. Selain Hoa-san-pai tidak baik karena membunuh orang tak berdosa, Hek-hwa Kui-bo
sudah datang, aku bisa celaka...," bantah Beng San.
"Kau dicari Hek-hwa Kui-bo?" Lian Bu Tojin bertanya heran.
"Semua orang jahat mencariku."
"Kenapa?" Ketua Hoa-san-pai ini sudah menduga bahwa pasti ada rahasia aneh pada diri anak yang
mencurigakan ini, maka dia takkan melepaskannya sebelum dapat mengetahui rahasianya.
Tentu saja Beng San tidak mau menceritakan tentang dirinya, apa lagi tentang Im-yang Sin-kiam-sut. Tapi dia
anak yang cerdik, dapat menghubung-hubungkan persoalan, maka dengan suara berbisik dia berkata.
"Tosu tua, apa kau lupa akan Lo-tong Souw Lee? Siapa yang tidak akan mencari tempat persembunyiannya?
Hek-hwa Kui-bo tentu akan senang sekali kalau mendengar bahwa aku dan Totiang mengetahui tempat tinggal
kakek tua she Souw itu!"
Lian Bu Tojin cepat melepaskan tangan yang dipegangnya. "Hushh, gila kau! Siapa yang tahu tempat
sembunyinya orang itu?"
Orang tua ini celingukan ke kanan kiri, nampaknya berkhawatir sekali. Siapa yang tidak khawatir kalau
dikatakan mengetahui tempat sembunyi Lo-tong Souw Lee? Semua orang jahat di dunia mencari-cari tempat
sembunyi pencuri pedang Liong-cu Siang-kiam itu, dan apa bila dia disangka mengetahui tempat
sembunyinya, bukan mustahil kalau dia akan dimusuhi semua tokoh kangouw!”
Beng San tersenyum. "Totiang, aku hanya membawakan suratnya kepada Totiang, dan kiranya tidak aneh
kalau orang yang sudah bersurat-suratan saling mengetahui tempat tinggalnya, bukan?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hush, jangan main gila kau! Pinto tidak tahu tempat sembunyinya!"
"Kalau begitu biarkanlah aku pergi mencarinya, Totiang. Aku sudah tidak suka tinggal di Hoa-san."
"Pergilah, pergilah cepat!" Kakek itu kini malah mendesak supaya supaya anak itu pergi, karena kalau
dibiarkan saja di situ bicara tentang Lo-tong Souw Lee, jangan-jangan dia bisa terbawa-bawa dalam urusan
perebutan Liong-cu Siang-kiam.
Beng San lalu menoleh ke arah anak-anak yang melihat semua itu dari jauh, kemudian dia melambaikan
tangan dan berkata, "Nona Hong, Nona Bwee, selamat tinggal!"
Beng San lalu membalikkan tubuh dan lari menuruni puncak Hoa-san-pai. Semua orang memandang
bayangan anak aneh ini sampai lenyap di belakang batu-batu besar.
Lian Bu Tojin menghela napas panjang. "Ah, sungguh celaka terjadi hal seperti ini. Lekas kalian kuburkan baikbaik
jenazah kedua orang murid Kun-lun-pai ini. Pinto harus berani mempertanggung jawabkannya terhadap
pertanyaan Pek Gan Siansu..."
la menarik napas panjang berkali-kali sambil menggeleng kepala, penasaran sekali bahwa dalam usia setua itu
dia masih harus menghadapi urusan pertumpahan darah yang terjadi antara murid-muridnya dan murid-murid
Kun-lun-pai.
Kemudian ia meninggalkan para muridnya, memasuki pondoknya untuk bersemedhi. Tapi begitu memasuki
pondok, dia mendapatkan kekecewaan lain dengan tidak adanya Beng San. Bocah itu begitu rajin dan amat
cerdik dalam mempelajari filsafat-filsafat To. Bocah yang aneh.
Sepak terjang bocah tadi diam-diam membangkitkan keheranan dan kekaguman hatinya. Seorang anak kecil
yang bekerja sebagai kacung, dahulu sudah berani mempertaruhkan nyawa untuk menolong Kwa Hong dan
Thio Bwee. Tadi telah berani mencela Hoa-san-pai dan mengeluarkan kata-kata yang gagah.
Kalau kelak anak itu menjadi seorang yang pandai, dia tak akan merasa heran…..
********************
Beng San berjalan cepat siang malam. Hanya kalau sudah hampir tidak kuat lagi saking lelahnya maka dia
baru mengaso. la bermaksud pergi ke Shan-si, untuk bersembunyi di Kelenteng Hok-thian-tong di mana dahulu
dia pernah bekerja sebagai kacung.
Dia harus dapat menyembunyikan dirinya untuk beberapa tahun lamanya, demikian kata pesan Lo-tong Souw
Lee. Sesudah tubuhnya kuat betul dan ilmu-ilmu silat itu sudah dia latih sebaiknya, baru dia boleh
memperlihatkan dirinya. Dan ucapan pesanan kakek buta itu sungguh tepat sekali. Buktinya setiap kali dia
memperlihatkan diri, pasti timbul hal-hal yang hebat.
Lebih baik dia kembali ke daerah Sungai Huang-ho dan untuk sementara bersembunyi di kelenteng Hok-thiantong.
Terbayang olehnya para hwesio di kelenteng itu yang rata-rata amat sabar dan baik.
Kurang lebih sebulan kemudian sampailah dia di tepi Sungai Huang-ho. Dari tepi sungai itu ke utara, kurang
lebih tiga puluh li lagi adalah Shan-si di mana terdapat kelenteng yang ditujunya. la sudah lelah sekali dan hari
sudah menjelang senja.
Beng San mencari tempat yang enak di tepi sungai, di bawah sebatang pohon. Ia lalu mengumpulkan daundaun
dan ranting-ranting kering untuk membuat api unggun malam nanti, apa bila hawa udara terasa dingin
dan jika banyak nyamuk akan mengganggunya. Sebagian dari daun-daun kering dia jadikan tilam tempat dia
tidur.
Perutnya yang lapar tidak dipedulikannya. Beng San sudah terlentang di bawah pohon, mengenangkan
pengalaman-pengalamannya selama dalam perjalanan ini. Ada hal yang amat berkesan di hatinya, yaitu ke
dunia-kangouw.blogspot.com
mana saja dia berjalan, dia selalu melihat para petani bersikap penuh semangat menentang pemerintah
Mongol yang sudah banyak membikin sengsara rakyat.
Beng San mulai mendengar nama besar pemimpin-pemimpin rakyat disebut-sebut orang. Yang paling terkenal
dan sering kali dia dengar adalah nama besar Ciu Goan Ciang yang menurut para petani itu mempunyai
kepandaian seperti dewa, malah memiliki kesaktian yang ajaib-ajaib.
Diam-diam Beng San mengenang semua itu dan mengingat-ingat kembali apa yang dia dengar dari Tan Hok,
lalu menghubung-hubungkan semua peristiwa antara Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai berhubung dengan
suasana pemberontakan terhadap pemerintah Mongol ini.
Beng San adalah seorang anak kecil yang sejak dahulu hanya mempelajari ilmu filsafat dan kebatinan, malah
akhir-akhir ini mempelajari ilmu silat. Akan tetapi tentang politik dia sama sekali tidak mengerti.
"Aku tak akan pusing-pusing dengan segala urusan itu kalau aku sudah berada di dalam bangunan Kelenteng
Hok-thian-tong yang luas," pikirnya.
Dia mengenang kembali masa dia kecil bekerja sebagai kacung di kelenteng itu. Suasana di dalam kelenteng
hanya tenteram, aman dan damai. Apa bila melihat orang luar, tentu hanya orang-orang yang datang hendak
bersembahyang, yaitu orang-orang yang datang dengan maksud baik, dengan hati bersih dan bermaksud
memohon belas kasihan Yang Maha Kuasa melalui para dewa yang dipuja masing-masing pendatang.
Alangkah senangnya, pikirnya. Hidupnya akan tenteram sehingga dia dapat meneruskan latihan-latihannya
dengan aman.
Saking lelah dan laparnya, begitu matahari terbenam Beng San sudah tidur pulas. Enak sekali dia tidur, tidak
tahu bahwa dia telah tidur setengah malaman, bahwa bulan hampir purnama sudah naik tinggi, dan bahwa tadi
dia lupa membuat api unggun. Tidak tahu dia betapa bahayanya kalau tertidur tanpa api unggun di tempat
terbuka seperti itu, di dekat Sungai Huang-ho lagi yang daerahnya masih liar dan dekat dengan hutan-hutan
besar.
Dia terbangun sambil menepuk pahanya. Di bagian celana yang robek, nyamuk menggigit pahanya dan
mengisap darah sepuasnya.
"Nyamuk keparat!"
Beng San bangun duduk ketika mendengar suara nyamuk berngiung-ngiung di sekeliling kepalanya. Dia kini
teringat bahwa dia belum membuat api unggun. Dia menoleh ke arah tumpukan kayu dan daun yang kelihatan
jelas di bawah terang sinar bulan purnama yang menerobos di antara celah-celah daun pohon.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika selain tumpukan kayu ini dia melihat barang lain lagi yang membuat
jantungnya serasa berhenti berdetak. Sepasang barang berkilauan seperti lampu. Sepasang mata... dan
segera terlihat olehnya bahwa mata yang mencorong itu adalah mata seekor binatang yang sebesar lembu
muda, berkulit loreng-loreng! Harimau yang besar sekali! Beng San menggigil.
Biar pun anak ini sudah memiliki kepandaian yang tinggi dalam tubuhnya, akan tetapi dia masih belum
menyadari betul akan hal ini. Tentu saja dengan kepandaiannya, dia takkan sukar melawan harimau ini atau
setidaknya, akan mudah dia menyelamatkan diri dengan meloncat ke atas pohon. Kepandaiannya
memungkinkan dia melakukan hal-hal ini.
Akan tetapi dia sudah lumpuh, ketenangannya lenyap. Dia tidak boleh terlalu disalahkan. Siapa orangnya tak
akan menggigil kebingungan dan ketakutan kalau begitu bangun dari tidur sudah menghadapi seekor harimau
sebesar ini yang berdiri hanya dalam jarak tiga meter di depannya!
Harimau itu memang sejak tadi sudah mengintainya. Kini melihat bocah itu bergerak, dia segera mengaum dan
meloncat, menerkam ke arah Beng San. Beng San terkesima dan tidak dapat bergerak, terpukau seperti kena
sihir. Hanya matanya yang lebar itu terbuka melotot memandang, merasa ngeri karena seakan-akan sudah
tampak olehnya gigi taring yang runcing serta kuku yang melengkung mengerikan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi tiba-tiba saja tubuh harimau itu terhenti di tengah udara, malah terjengkang ke belakang,
berkelojotan dan roboh mandi darah. Tepat pada dadanya tertancap sebatang kayu hampir tembus ke
punggungnya. Siapakah yang ‘menyate’ harimau ini?
Beng San menengok ke kanan kiri, ke belakang dan alangkah herannya ketika dia melihat munculnya
bayangan merah. Dara cilik berpakaian merah, si gagu bernama Bi Goat itu telah berada di depannya.
Beng San sampai bengong terlongong, akan tetapi dia segera tersenyum ramah. Tidak mungkin dia tidak akan
gembira kalau bertemu dengan bocah ini, dara cilik cantik manis yang gagu, yang menimbulkan rasa sayang,
rasa kasihan dan terharu, yang membuat dia timbul rasa hendak melindungi, hendak membelanya.
"Kau...?" tegurnya sambil berdiri.
Akan tetapi apa bila dahulu Bi Goat tersenyum-senyum gembira, kemudian mengajak dia bermain-main, kini
sikapnya jauh berbeda. Gadis cilik ini nampak penuh ketakutan dan kekhawatiran, wajahnya yang biasanya
hampir selalu kemerahan itu kini agak pucat. Dia menudingkan telunjuk kiri ke arah bangkai harimau, telunjuk
kanan ke arah belakangnya agak ke atas, kemudian menuding ke dada Beng San. Lalu dia meloncat dan
menendangi bangkai harimau yang sudah tewas itu.
Beng San memandang bingung, juga kagum betapa setiap kali kaki kecil itu menendang harimau, bangkai
harimau yang besar itu pasti tersepak maju ke depan. Sungguh dahsyat tenaga kaki kecil ini, pikirnya.
"Adik Bi Goat, kau hendak bilang apakah? Aku berterima kasih sekali atas pertolonganmu. Kau telah
membunuh harimau itu, hebat sekali kepandaianmu!"
Akan tetapi Bi Goat nampak tidak sabar karena Beng San tidak mengerti maksud gerak tangannya tadi. la
membanting-banting kakinya, memegang dengan tangan Beng San dan ditarik, diajak pergi.
"Ehh, ehh, malam-malam kau hendak mengajakku ke manakah?" Beng San terheran dan menolak.
Kembali Bi Goat menuding-nuding ke belakangnya dan pada waktu itu dari jauh terdengar suara melengking
tinggi bagaikan orang menangis. Seketika muka Beng San menjadi pucat. Celaka, kiranya Song-bun-kwi
berada dekat situ. Kiranya Bi Goat ini tadi memberi isyarat bahwa Song-bun-kwi berada dekat dan menyuruh
dia pergi bersembunyi.
Tentulah gadis cilik ini tadi hendak menyatakan bahwa karena suara auman harimau tadi, maka Song-bun-kwi
akan menyusul ke situ dan Beng San akan celaka. Sebelum Beng San meyakinkan dugaannya, Bi Goat sudah
menarik tangannya, diajak lari cepat sekali ke arah utara.
"Betul, ke utara. Tiga puluh li dari sini ada kelenteng besar, kita bisa sembunyi di sana," katanya sambil ikut
berlari cepat.
Akan tetapi tiba-tiba Bi Goat menyeretnya meloncat ke dalam... sungai. Gadis cilik itu tentu saja sudah hafal
akan gerak-gerik ayahnya yang luar biasa. Dia gagu, tetapi cerdik sekali. Setelah kedua orang anak itu terjun
ke dalam Sungai Huang-ho, baru Beng San tahu akan maksud hati Bi Goat.
Gadis ini mengajaknya bersembunyi di bawah alang-alang yang tumbuh di pinggir sungai itu. Untung sekali Bi
Goat tidak terlambat dalam tindakannya ini karena baru saja mereka bersembunyi di balik alang-alang dan
merendam diri ke dalam air sungai, di situ sudah berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu Song-bun-kwi
sudah berdiri bagaikan patung memandangi bangkai harimau dan bekas tempat tidur Beng San. Kakek sakti ini
terdengar menggerutu seorang diri.
"Hemmm, membunuh harimau dengan timpukan sia-san (panah gunung). Bagus, Bi Goat. Tapi kenapa lari
pergi? Hemmm, ada orang lain di sini, siapa...?" Dengan langkah lebar kakek itu lalu berjalan mengejar ke
utara, langkahnya lebar jalannya kelihatan perlahan saja akan tetapi sebentar saja lenyap dari situ.
dunia-kangouw.blogspot.com
Beng San hendak keluar dari belakang rumput alang-alang, akan tetapi mendadak leher bajunya ada yang
mencengkeram dan dia ditarik kembali ke balik alang-alang. Ternyata yang mencengkeramnya adalah Bi Goat.
Sebelum dia memprotes, telapak tangan yang kecil dari tangan kanan gadis itu sudah membungkam mulutnya.
Beng San terheran-heran, juga merasa geli. la merasa seperti anak kecil dihadapan gadis ini. Akan tetapi,
segera dia mendapat kenyataan betapa cerdiknya gadis ini dan betapa gegabah dan bodohnya dia sendiri.
Bagaikan seorang iblis, tahu-tahu Song-bun-kwi sudah datang lagi ke tempat tadi, berdiri seperti patung
memandangi harimau. Ia bergidik dan merasa bulu tengkuknya meremang! Seandainya dia mengeluarkan
suara dan mulutnya tidak dibungkam oleh tangan gadis gagu itu, ahh, tentu Si Iblis Berkabung itu sudah akan
mendapatkannya.
la menoleh untuk memandang Bi Goat dengan terima kasih. Akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika
dia sudah kehilangan gadis cilik itu. Entah ke mana perginya Bi Goat yang tadi berada di sebelahnya!
Selagi dia merasa kebingungan, mendadak sekali ada orang yang menarik pundaknya ke bawah sampai
kepalanya terbenam ke dalam air. la gelagapan, akan tetapi kembali ada tangan kecil yang menyusupkan
setangkai alang-alang yang berlubang ke mulutnya.
Baiknya Beng San juga tergolong anak yang cerdik, maka seketika dia dapat menangkap maksud perbuatan
aneh dari Bi Goat ini. Tentu dia disuruh bersembunyi dengan seluruh tubuhnya di dalam air dan tangkai alangalang
itu dapat dipergunakan untuk bernapas.
Maka dia pun mengisap hawa dari tangkai itu yang menyembul ke atas, bersembunyi di antara rumpun alangalang.
Dengan girang dan berterima kasih dia memegang tangan kiri Bi Goat. Dua orang anak itu sambil
berendam ke dalam air saling berpegang tangan, hati mereka berdebar penuh ketegangan dan kekhawatiran.
Di dalam air Beng San tidak tahu apa yang terjadi di atas, tapi andai kata tahu dia pasti akan bergidik
kengerian. Beberapa detik setelah kepalanya terbenam air, Iblis Berkabung itu menggunakan tangannya
mencengkeram remuk sebuah batu, lalu dia menyambitkan pecahan batu ini ke sekelilingnya, juga ke
permukaan air dan ke dalam alang-alang! Andai kata kepala dua orang anak tadi masih bersembunyi di dalam
alang-alang, tentu akan terkena sambitan pecahan batu yang cukup ampuh untuk menembus kulit kepala!
Setelah mereka berendam kurang lebih satu jam, barulah Bi Goat berani muncul kembali ke permukaan air.
Dia lalu memberl isyarat kepada Beng San untuk meloncat keluar dari air. Segera mereka berdiri di tepi sungai,
basah kuyup dan saling berpandangan.
Tiba-tiba nampak gadis cilik itu tersenyum lega. Bukan main manisnya setelah tersenyum. Hati Beng San
serasa diremas-remas. Ingin dia memeluk Bi Goat, ingin dia memondong gadis cilik itu, menggendongnya
seperti anak kecil. Gadis cilik gagu yang sudah menolong nyawanya, yang biar pun gagu tapi luar biasa
cerdiknya dan sekarang tersenyum-senyum begitu manisnya. Tiba-tiba dia melihat Bi Goat menggigil
kedinginan.
"Kasihan kau, Bi Goat. Kau dingin? Biar kubuatkan api unggun."
Bi Goat segera memegang lengannya dan mengguncang-guncangnya. Alisnya berkerut dan kepalanya
digeleng-gelengkan. Beng San teringat dan dia merasa malu sendiri. Ahhh, bagaimana dia sampai kalah oleh
anak perempuan yang jauh lebih muda ini dan gagu pula lagi? Kenapa dia begini kurang hati-hati?
Kalau dia membuat api unggun, sama saja seperti memberi tahukan tempatnya kepada Song-bun-kwi. Meski
pun kakek itu sudah jauh, ada tanda sedikit saja pasti cukup untuk memanggil kembali kakek yang lihai sekali
itu.
"Bagaimana baiknya? Kau kedinginan, Bi Goat."
Gadis cilik itu hanya menggeleng kepala, lalu memberi isyarat kepada Beng San untuk melanjutkan perjalanan
ke utara.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kau tentu ikut denganku, bukan? Bi Goat, kau ikut bersamaku, ya?"
Bi Goat mengangguk, meloncat ke dekat sungai yang ada pasirnya, lalu ujung sepatunya bergerak-gerak
seperti menari. Beng San memandang dan alangkah herannya ketika dia melihat huruf-huruf besar yang indah
dibuat oleh gerakan ujung sepatu itu. Huruf-huruf itu berbunyi: Harus sampai di kelenteng sebelum matahari
terbit.
Beng San memegang kedua pundak Bi Goat, dipandangnya wajah itu penuh kekaguman. "Kau hebat! Biar pun
gagu, kau pandai menulis dengan kaki malah! Hebat, Bi Goat, kau hebat...!"
Gadis cilik itu hanya tersenyum, lalu menggandeng tangan Beng San diajak lari cepat. Di waktu dua orang
anak ini berlari, Beng San merasa betapa dinginnya telapak tangan Bi Goat dan anak itu nampak kedinginan
betul. Hal ini tidak mengherankan karena pakaian gadis itu basah kuyup, ditambah berlari-larian di dalam
udara yang begitu dinginnya lewat tengah malam itu.
Beng San mendapat akal. Dia sendiri tidak bisa menderita dingin karena dengan hawa di tubuhnya dia bisa
menyalurkan hawa panas membuat tubuhnya hangat. Diam-diam dia mengerahkan tenaga dalamnya, melalui
telapak tangan Bi Goat dia menyalurkan hawa panas ke tubuh Bi Goat untuk mengusir hawa dingin.
Mendadak Bi Goat mengeluarkan suara. "Uhhh!"
Ia cepat melepaskan pegangannya, malah meloncat mundur dengan muka kaget. Melihat gerak kaki
tangannya, gadis cilik ini sudah siap menghadapi pertempuran, matanya yang bening menatap wajah Beng
San penuh kecurigaan.
Beng San maklum bahwa gadis cilik ini salah sangka. Diam-diam dia pun merasa kagum sekali. Ternyata
penyaluran hawa panas tadi terasa pula oleh Bi Goat. Ternyata bocah ini sudah mahir tentang hawa di dalam
tubuh, dapat merasakan serangan tenaga dalam!
"Bi Goat, aku tidak apa-apa, hanya ingin membantumu menghangatkan tubuh," Beng San berkata.
Bi Goat memandang terus, mengangguk-angguk dan nampaknya kagum sekali. Agaknya baru sekarang gadis
cilik ini mendapat kenyataan bahwa Beng San juga memiliki ilmu kepandaian. la lalu menggandeng tangan
Beng San lagi dan sama sekali tidak melawan ketika sambil berjalan pemuda itu menyalurkan hawa panas
yang diterimanya dengan gembira, karena tidak lama kemudian gadis cilik itu merasa tubuhnya hangat, sama
sekali tidak menderita kedinginan lagi.
Hari telah menjadi terang ketika dua orang anak ini sambil bergandengan tangan tiba di perbatasan Shan-si.
Kelenteng Hok-thian-tong berdiri di luar sebuah dusun, hanya dua li jauhnya dari Sungai Huang-ho. Dengan
gembira dan penuh harapan Beng San mengajak Bi Goat lari menuju ke tempat itu.
Betapa kagetnya ketika akhirnya sampai di tempat yang dituju, ia melihat bahwa apa yang dulunya merupakan
bangunan-bangunan kelenteng yang besar, tua dan kuat, kini hanya tinggal tumpukan puing-puing belaka.
Bangunan-bangunan itu ternyata telah menjadi abu, telah habis dimakan api! Sekelilingnya sunyi, tak kelihatan
seorang pun manusia. Melihat keadaan tempat itu, agaknya baru beberapa pekan saja Kelenteng Hok-thiantong
dilanda kebakaran. Beng San berdiri bengong.
Bi Goat yang sejak tadi sudah nampak gelisah karena belum juga mereka mendapatkan tempat berlindung,
kini memandang kepada Beng San yang kelihatan sedih. Dia segera menarik-narik tangan Beng San dan
menunjuk ke arah puing, seolah-olah bertanya.
"Celaka sekali, Bi Goat," kata Beng San perlahan. "Agaknya terjadi sesuatu yang hebat dengan Kelenteng
Hok-thian-tong. Ahhh, bagaimana nasibnya para hwesio dan ke mana perginya mereka itu?"
Dasar Beng San memang seorang yang memiliki hati penuh pribudi, maka sebentar saja dia sudah lupa akan
keadaan diri sendiri, lupa akan ancaman yang mengelilingi dirinya dan kini malah menaruh kasihan serta
memperhatikan nasib lain orang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan suara ah-ah-uh-uh-uh, Bi Goat menudingkan telunjuknya ke arah dada Beng San dan dada sendiri,
lalu menuding ke arah belakang. Jelas kelihatan dia memperingatkan Beng San akan bahaya yang
mengancam mereka.
Barulah dia sadar akan ancaman bahaya hebat berupa Song-bun-kwi yang setelah malam terganti pagi tentu
akan lebih memudahkan kakek itu mencari mereka. la ingat bahwa tak jauh dari kelenteng itu terdapat sebuah
dusun dan dia sudah kenal dengan beberapa orang tua di dusun itu, yaitu ketika dia dahulu menjadi kacung
Kelenteng Hok-thian-tong. Tentu mereka itu akan suka memberi tempat kepadanya untuk bersembunyi.
Setelah berpikir demikian Beng San lalu menarik tangan Bi Goat, diajak berlari menuju ke dusun itu. Hari
masih pagi dan dusun itu sunyi sekali. Hal ini mengherankan hati Beng San karena dahulu para petani di
dusun itu sudah pada bangun, malah sudah berangkat ke sawah sebelum matahari terbit. Sekarang kenapa
sebuah rumah pun belum membuka pintunya?
Sambil menggandeng tangan Bi Goat, Beng San berlari-lari di sepanjang jalan kampung yang sunyi itu.
Jangankan manusia, seekor anjing pun tidak tampak di situ. Keadaan sunyi menyeramkan. Beng San seperti
mendapat firasat bahwa tentu sudah terjadi hal-hal yang mengerikan di dusun ini, seperti yang telah menimpa
Kelenteng Hok-thian-tong.
Dia segera menuju ke rumah kakek Sam, pemilik warung kecil di sudut kampung yang sudah dikenalnya.
Kakek Sam seorang duda tua, amat peramah dan baik kepadanya. la dapat mempercayai penuh kakek itu dan
kiranya tidak ada tempat persembunyian yang lebih baik dan aman kecuali rumah kakek Sam itu.
Diketuknya pintu rumah yang masih tertutup itu. Biasanya pagi-pagi sekali kakek Sam sudah membuka
warungnya, sekarang pintu rumahnya pun masih tertutup. Beng San tak sabar lagi, ingin dia segera bertemu
dengan kakek Sam untuk minta keterangan tentang keadaan kampung yang sunyi ini, dan tentang kebakaran
Kelenteng Hok-thian-tong.
"Tok-tok-tok!"
Untuk ke empat kalinya dia mengetuk, kali ini agak keras. Belum juga ada jawaban dari dalam dan tiba-tiba
terdengar lengking tinggi dari jauh. Beng San menjadi pucat mukanya.
Bi Goat memegang tangannya dan cepat dia mendorong pergi Beng San sehingga anak ini terhuyung. Dengan
muka gelisah Bi Goat menuding-nudingkan jari telunjuknya seperti mengusir pergi Beng San dan pada saat itu
pintu rumah terbuka dan...
Beng San meloncat mundur dengan mata terbelalak. Ratusan ekor ular menyerbu keluar dari pintu rumah yang
baru terbuka itu!
"Celaka! Bi Goat, mundur...!" teriaknya sambil meloncat lagi menjauhkan diri.
Dahulu pengalaman dengan ular-ular ini pernah dia alami bersama Tan Hok. Dia masih bergidik bila
mengenangkannya. Sekarang kembali dia berhadapan dengan ratusan ekor ular yang menjijikkan.
Bi Goat membalikkan tubuh, sama sekali tidak kelihatan takut kepada barisan ular itu. la mengeluarkan suara
ah-uh-ah-uh dan menudingkan telunjuknya kepada Beng San, lalu ke arah belakangnya dari mana masih
terdengar lengking tangis sayup sampai.
Celaka betul, pikir Beng San. Dari belakang datang Song-bun-kwi mengejar, dan di depan menghadang
barisan ular ini. Bagaimana dia bisa lari lagi pergi meninggalkan Bi Goat? Mungkin Bi Goat tak akan diganggu
Song-bun-kwi, akan tetapi ular-ular ini?
Sekali lagi Bi Goat memberi isyarat supaya dia bersembunyi dan gadis ini mengeluarkan sesuatu dari balik
bajunya. Dengan benda yang baru diambilnya itu di tangan, Bi Goat melangkah maju dan... dengan enaknya ia
berjalan di antara barisan ular itu yang begitu gadis ini mendekat lalu diam tak bergerak, malah yang di depan
cepat-cepat menyingkir, agaknya merasa takut sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
Beng San terheran-heran dan dia hanya melihat sebuah benda mengkilap di tangan Bi Goat. Agaknya benda
itulah yang membikin takut barisan ular itu.
Suara lengking tinggi makin jelas terdengar dan kini Beng San tak perlu mengkhawatirkan diri Bi Goat lagi.
Selain gadis cilik itu memiliki benda yang melindunginya dari ular-ular itu, juga Bi Goat memiliki kepandaian
yang cukup tinggi sehingga tidak usah khawatir akan dapat dicelakai orang. Apa lagi Song-bun-kwi sudah
datang mendekat, siapa yang berani mengganggu anak ini?
Berpikir demikian, Beng San lalu berkata. "Bi Goat, selamat tinggal!"
Dan dia talu lari terus ke utara menjauhkan diri dari tempat itu. Setelah keluar dari dusun itu, dia melihat
beberapa orang serdadu Mongol di belakang rumah yang paling pinggir. Anehnya, serdadu itu segera
menyelinap dan menyembunyikan diri ketika melihat Beng San lari lewat.
Beng San tidak peduli dan lari terus sampai ke pinggir Sungai Huang-ho, kemudian lari di sepanjang tepi
sungai menuju ke barat. Setelah dia berlari belasan li jauhnya dan mulai mengendorkan larinya karena
mengira bahwa dia sudah selamat terhindar dari ancaman Song-bun-kwi, tiba-tiba dia mendengar lengking itu
sudah dekat di belakangnya!
Beng San menjadi kaget setengah mati dan dia lalu mempercepat lagi larinya. Napasnya sampai hampir putus
dan napasnya terengah-engah ketika di sebuah tikungan ia melihat iringan-iringan gerobak. Ada tujuh buah
gerobak banyaknya, gerobak yang mengangkut karung-karung gandum.
Iring-iringan gerobak gandum ini adalah gandum-gandum yang merupakan ‘pajak’ dari para petani, dan
dipungut oleh pembesar setempat untuk dikirimkan ke kota, disetorkan kepada pembesar atasan. Para petani
bisanya menangis apa bila melihat pawai gerobak ini sebab di situlah adanya hasil jerih payah mereka selama
setengah tahun, hasil cucuran keringat mereka setiap hari. Boleh dibilang mereka tidak ke bagian apa-apa lagi
kecuali sedikit yang mereka makan untuk menyambung hidup.
Beng San melihat belasan orang tentara Mongol mengawal tujuh gerobak gandum ini dan di setiap gerobak
terdapat seorang kusirnya. Karena lengking tangis di belakangnya telah makin keras tanda bahwa Song bunkwi
makin dekat, Beng San pun tidak berpikir panjang lagi.
Diam diam dia menyelinap di antara gerobak-gerobak itu. Tanpa diketahui para pengawal, dia lalu meloncat ke
dalam gerobak dan bersembunyi di antara karung-karung gandum yang hampir sebesar dia, penuh dengan
gandum yang baik dan bersih.
Dia mengintai dari dalam gerobak dan melihat bahwa gerobak itu dikusiri seorang bocah seumur dengannya,
yang memakai caping (topi tani) lebar menutupi mukanya. Bocah ini nampak melengut saking ngantuknya.
Memang mudah untuk mengusiri gerobaknya oleh karena gerobak yang dikusirinya ini adalah gerobak ke tiga
sehingga kuda yang menarik gerobak itu tak usah dikendalikan lagi, hanya tinggal mengikuti yang depan.
Setelah iring-iringan ini berjalan dua tiga li jauhnya, tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan di luar kemudian
gerobak-gerobak itu berhenti. Terdengar suara Song-bun-kwi yang galak berpengaruh.
"Aku mencari seorang anak laki-laki bermuka hitam, kadang-kadang putih, kadang-kadang hijau, Apakah dia
turut dengan kalian?"
Terdengar suara makian kotor sebagai jawaban dan seorang di antara para pengawal itu membentak, "Tua
bangka gila, hayo pergi jangan ganggu kami!"
Akan tetapi ucapan ini disusul dengan pekik mengerikan, disusul pekik ke dua dan ke tiga. Kemudian
terdengar orang-orang minta ampun disusul suara ketawa kakek Song-bun-kwi, ketawa yang seperti orang
menangis.
"Anjing-anjing Mongol berani kurang ajar terhadapku? Mau tahu siapa aku? Song-bun-kwi inilah aku!"
Kembali terdengar seruan-seruan ketakutan dan minta ampun.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ampun, Locianpwe, ampunkan kami... di sini tidak ada anak laki-laki yang Locianpwe maksudkan tadi..."
"Hah, siapa percaya mulut anjing Mongol? Biar kuperiksa sendiri!"
Song-bun-kwi menyingkap tenda gerobak satu demi satu, tapi tidak melihat adanya Beng San. Tujuh buah
gerobak itu hanya berisi gandum belaka, berkarung-karung banyaknya dan bertumpuk-tumpuk memenuhi
gerobak-gerobak itu. Dengan marah dan kecewa sekali Song-bun-kwi pergi dari situ sambil mengeluarkan
bunyi lengkingnya yang meninggi bagai orang menangis.
Buru-buru para pengawal gerobak-gerobak gandum ini menolong tiga orang teman-teman mereka yang mati
oleh pukulan Song-bun-kwi, dimasukkan ke dalam gerobak kemudian iring-iringan itu segera melanjutkan
perjalanannya.
Ke manakah perginya Beng San? Bagaimana Song-bun-kwi tidak dapat menemukannya? Kalau saja Songbun-
kwi tidak begitu tergesa-gesa, kiranya pada gerobak ke tiga dia akan melihat sebuah karung gandum yang
agak berbeda dari pada yang lain karena di dalam karung ini bukan berisi gandum, melainkan berisi seorang
manusia, Beng San!
Anak yang amat cerdik ini telah lebih dulu bersembunyi. Ia mendapatkan karung kosong di situ, maka segera
dimasukinya dan ditutup dari dalam. Di antara puluhan karung gandum itu sepintas lalu memang tak akan
dapat terlihat perbedaannya.
la bernapas lega ketika Song-bun-kwi sudah pergi dan gerobak-gerobak itu telah berjalan kembali. Akan tetapi
dia tidak berani segera meninggalkan rombongan ini, maklum bahwa watak Song-bun-kwi takkan putus asa
begitu saja. la segera mencari akal dan keluar dari karung gandum.
Benar saja dugaan Beng San. Belum juga tiga li gerobak-gerobak itu berjalan, mendadak terdengar lagi
lengking tangis, dan tak lama kemudian rombongan ini berhenti.
"Apa yang dapat kami lakukan untuk Locianpwe? Ada keperluan apa gerangan Locianpwe kembali?" terdengar
kepala penjaga bertanya dengan suara gemetar.
"Buka semua tenda gerobak, hendak kuperiksa lagi!"
Para pengawal sibuk membuka tenda gerobak. Song-bun-kwi lalu meneliti dengan penuh perhatian. Pada
gerobak ke tiga dia berhenti dan tiba-tiba dia menyambar sebuah karung gandum. Begitu dia mengangkat
karung gandum ini, jelas kelihatan bahwa yang di dalam karung bukanlah gandum, melainkan seorang
manusia yang bergerak-gerak!
"Ha-ha-ha-hi-hi! Beng San bocah setan, kau hendak lari ke mana?" Sambil tertawa-tawa gembira Song-bunkwi
menggendong karung berisi manusia itu dan berlari cepat sekali seperti terbang meninggalkan rombongan
itu.
Para pengawal ini saling pandang dengan heran. Bagaimana di antara berkarung-karung gandum itu terdapat
manusianya? Dengan tergesa-gesa mereka melanjutkan perjalanan dan sebentar-sebentar para pengawal
menengok ke belakang dengan perasaan ngeri dan takut. Nama besar Song-bun-kwi memang membikin takut
semua orang dari golongan mana pun juga.
Tiba-tiba gerobak ke tiga menyeleweng dari iring-iringan. Kudanya membelok ke kiri dan melintang di tengah
jalan.
"Keparat, kusirnya tertidur agaknya!" bentak kepala pengawal sambil berlari menghampiri dan menahan kuda
yang hendak binal ini.
Ketika dia memandang, dia kaget sekali melihat bahwa gerobak ke tiga ini memang tidak ada kusirnya! Ke
mana perginya kusir yang masih muda itu? Tadi dia masih nampak melengut, melindungi mukanya dari sinar
matahari.
dunia-kangouw.blogspot.com
Semua pengawal menjadi bingung dan bertanya-tanya, kemudian mereka menjadi pucat ketika kepala
pengawal berseru, "Celaka, jangan-jangan yang dibawa pergi Song-bun-kwi adalah dia!"
Kekhawatiran mereka segera terbukti. Pada saat itu terdengar lengking panjang. Sebelum mereka sempat
berunding apa yang harus mereka lakukan, Song-bun-kwi sudah datang membawa karung yang tadi,
dilemparkannya karung yang sekarang berisi mayat manusia itu ke arah para pengawal, kemudian tubuh
Song-bun-kwi berkelebatan ke sana ke mari.
Beberapa belas menit kemudian pada waktu kakek ini pergi, di situ sudah tidak ada lagi manusia hidup. Semua
pengawal dan kusir, bahkan semua kuda yang menarik gerobak, rebah tak bernyawa lagi. Beginilah kejamnya
hati Song-bun-kwi si Iblis Berkabung!
Apakah yang terjadi? Ke mana perginya Beng San? Kalau saja Beng San tahu apa lagi melihat apa yang
menjadi akibat dari perbuatannya, kiranya dia tak akan suka melakukan akalnya itu.
Tadi setelah selamat dan tidak dapat ditemukan Song-bun-kwi ketika dia bersembunyi di dalam karung
gandum, dia merasa pasti bahwa kakek iblis itu akan kembali. Maka cepat dia mengambil keputusan
menggunakan siasat ini. Dari dalam gerobak dia merayap ke depan dan sekali terkam dia dapat menangkap
kusir gerobak yang masih muda itu, lalu menyumpal mulutnya dan mengikat kaki tangannya.
Kemudian dia memasukkan kusir ini ke dalam karung dan dia sendiri duduk di tempat kusir, memakai topi
caping lebar menutupi mukanya. Dengan hati berdebar tidak karuan Beng San menyaksikan sendiri dari balik
topinya ketika Song-bun-kwi datang lagi dan membawa pergi karung gandum berisi kusir tadi.
la merasa beruntung sekali bahwa kakek iblis itu tidak membuka karung di tempat itu. Setelah kakek itu pergi,
cepat Beng San mencari kesempatan dan diam-diam menyelinap turun dari gerobak, lalu lari memasuki
sebuah hutan yang lebat dan liar di pinggir Sungai Huang-ho.
Karena takut kalau-kalau dapat dikejar dan ditangkap Song-bun-kwi, Beng San berlari terus menyusup-nyusup
hutan liar itu. Setelah hari menjadi sore, barulah dia berhenti. la telah sekali, lelah dan lapar. Agaknya mala
petaka masih banyak mengelilingi dirinya.
Baru saja dia terlelap hendak tidur, dia mendengar suara berisik dan ketika dia membuka matanya, dia telah
dikurung oleh belasan orang laki-laki tinggi besar yang kelihatan bengis dan jahat. Semua orang itu memegang
golok yang besar dan tajam berkilau!
"Eh, eh... ada apa... mau apa...?" Beng San berseru gagap dan merayap hendak bangun.
"He-he-heh!" Seorang di antara mereka yang bermulut lebar dan berkumis lebat, tertawa bergelak, dari
mulutnya menitik keluar air liur, menjijikkan sekali. "Kawan-kawan, daging bocah kurus ini kiranya lumayan
juga untuk teman gandum dan arak. He-heh-heh!"
"Apa...?!" Beng San meloncat ke belakang, mukanya pucat. "Kalian ini manusia hendak makan daging
manusia? Apakah kalian ini iblis?"
"Sekarang ini jamannya orang makan orang, He-he-heh, apa anehnya kalau kami hendak makan engkau,
bocah? Setiap hari baik di kota atau di dusun kau melihat orang makan orang, Ha-ha-ha, orang digerogoti
habis dagingnya oleh orang lain. He-heh-heh!"
Para pengurung yang wajahnya amat liar dan bengis-bengis itu merapat maju. Beng San menengok ke kanan
kiri dan mendapatkan dirinya sudah terkurung betul-betul, tidak ada jalan keluar atau lari lagi. la menjadi
bingung dan akhirnya timbul amarahnya. Masa dia harus menyerah mentah-mentah saja untuk dijadikan
mangsa orang-orang liar ini?
Tidak, dia harus melawan! Latihannya ilmu silat sudah banyak maju, setiap saat terluang tidak pernah dia lupa
untuk melatih diri. Kiranya sekarang inilah ujian baginya apakah dia selama ini melatih diri cukup keras atau
tidak.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendadak terdengar bentakan-bentakan keras. Sinar putih berkelebatan dari kanan kiri. Di antara orang-orang
liar itu ada beberapa orang terjungkal dan beberapa batang senjata rahasia menancap pada batang pohon.
"Ahh, Pek-lian-pai yang datang...! Kawan-kawan, lari...!" seru kepala gerombolan liar itu.
Mereka lari cerai-berai sambil menyeret teman-teman mereka yang tadi terjungkal roboh. Sebentar saja di
sana tidak kelihatan lagi seorang pun orang jahat, hanya di sana-sini kelihatan paku-paku yang kepalanya
berbentuk bunga teratai putih. Itulah Pek-lian-ting (Paku Teratai Putih), senjata rahasia dan tanda anggota
perkumpulan Pek-lian-pai.
Beng San girang sekali. Tentu Tan Hok dan teman-temannya yang datang menolongnya. la celingukan ke
kanan kiri, lalu memanggil.
"Tan-twako..., aku Beng San di sini...!"
Dari dalam hutan yang sudah mulai gelap itu bermunculan belasan orang. Ada laki-laki, ada pula wanita dan
pakaian mereka serba ringkas. Yang laki-laki kelihatan gagah, ada juga yang menakutkan. Tiga orang wanita
di antara mereka kelihatan cantik dan gagah, sudah setengah tua akan tetapi masih cantik dan gesit gerakgeriknya.
Mereka ini segera mendekati Beng San, seorang di antaranya bertanya ramah.
"Kau tadi memanggil Tan-twako, siapakah yang kau maksudkan?"
Beng San melihat bahwa penanyanya seorang laki-laki berusia empat puluh tahun, gagah dan keren.
"Aku maksudkan pemimpin rombongan Pek-lian-pai yang bernama Tan Hok, dia adalah sahabat baikku."
Terdengarlah seruan-seruan heran dan kaget di antara belasan orang Pek-lian-pai itu. Si pemimpin sendiri
segera mengeluarkan seruan girang.
"Aha, kiranya kau yang bernama Beng San? Tentu saja kami mengenal baik Tan Hok yang memimpin
rombongan Pek-lian-pai dari selatan itu. Sudah kuduga bahwa kau tentu Beng San seperti yang pernah
diceritakan oleh saudara Tan Hok, maka tadi kami tidak ragu-ragu untuk mengusir perampok-perampok
pemakan manusia itu.”
Beng San segera memberi hormat dan berkata, "Banyak terima kasih kuucapkan kepada kakak-kakak yang
gagah perkasa. Semakin yakinlah hatiku sekarang bahwa Pek-lian-pai memang perkumpulan orang-orang
gagah. Akan tetapi, Twako, kenapa kalian yang belum mengenalku telah menolongku dan begini baik
kepadaku?"
Beng San merasa sungkan bukan main karena beberapa orang Pek-lian-pai itu sudah mengeluarkan roti dan
air minum untuknya.
"Kau makanlah dahulu, nanti akan kami ceritakan sejelasnya. Bukan hanya karena kau adalah kenalan
saudara Tan Hok saja maka kami menolongmu, akan tetapi ada hal yang lebih penting lagi. Makanlah dulu,
Adik Beng San."
Karena perutnya memang lapar sekali, tanpa malu-malu lagi Beng San kemudian makan hidangan itu dengan
lahapnya. Setelah berada di tengah-tengah mereka ini, orang-orang gagah Pek-lian-pai, dia merasa aman dan
tidak takut akan ancaman Song-bun-kwi.
Akan tetapi setelah mengumpulkan paku-paku Pek-lian-pai dari tempat itu, para anggota Pek-lian-pai itu
seorang demi seorang lalu pergi dari tempat itu seperti setan-setan saja. Gerakan mereka cepat dan tidak
mengeluarkan suara sehingga rombongan seperti ini dalam pertempuran dapat melayani musuh yang jauh
lebih banyak jumlahnya. Kini hanya tinggal pemimpin pasukan yang tadi berbicara dengan Beng San, yang
masih duduk dan menghadapi anak itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ke mana perginya teman-teman tadi?" Beng San bertanya sehabis makan, oleh karena kesunyian tempat itu
betul-betul menyeramkan, apa lagi setelah keadaan menjadi makin gelap.
"Ahh, sudah menjadi kebiasaan klta tidak berkelompok, selalu siap untuk menggempur musuh, pasukanpasukan
Mongol yang lewat dekat daerah ini," pemimpin Pek-Lian-pai itu berkata.
Beng San mengangguk-angguk dan mengangsurkan kembali tempat air dan tempat roti yang sudah kosong.
"Sekali lagi terima kasih, Twako... ehh, siapakah nama Twako?"
"Namaku Ciu Tek," jawab orang itu singkat.
"She Ciu...? Kalau begitu Twako ini tentunya masih terhitung keluarga dengan pemimpin yang terkenal Ciu
Goan Ciang?"
Orang itu nampak gugup, akan tetapi karena keadaan gelap, sukar bagi Beng San untuk memperhatikan
mukanya.
"Aaahhh... orang seperti aku ini, mana bisa disejajarkan dengan Ciu Goan Ciang? Ehh, Adik Beng San, kau
sudah tahu akan Ciu Goan Ciang, apakah kau juga pernah bertemu dengannya dan di mana dia sekarang?"
"Semua orang, dari pedagang sampai petani, memuji-muji nama besar Ciu Goan Ciang. Tentu saja aku pernah
mendengar nama itu disebut-sebut orang. Akan tetapi aku belum pernah bertemu muka dengannya dan tentu
saja aku juga tidak tahu di mana tempatnya. Ciu-twako, kau tadi bilang bahwa ada hal yang amat penting yang
menjadi alasan kau dan teman-teman tadi menolongku. Hal apakah yang amat penting itu?"
"Amat penting bagimu, Adik Beng San. Akan tetapi sebelum aku memberi penjelasan, aku ingin mendapat
kepastian terlebih dahulu agar jangan mengecewakan dua orang sakti itu. Adikku yang baik, coba kau buka
baju atasmu, ingin aku melihat dada dan pundakmu,” kata Ciu Tek.
Beng San membiarkan saja pemimpin orang-orang Pek-lian-pai itu membantu ia melepas bajunya yang sudah
rombeng itu, yang dilakukannya karena dia ingin segera mendengar apa yang akan diceritakan oleh pemimpin
Pek-lian-pai itu.
Dengan sebatang obor yang baru dinyalakannya, Ciu Tek menerangi dada dan pundak Beng San. Tiba-tiba
dia nampak gembira, tertawa-tawa dan menudingkan telunjuknya ke arah pundak Beng San.
"Bagus, kaulah anak mereka! Ha-ha-ha, tak mungkin salah lagi sekarang. Tanda tahi lalat di pundakmu itu!
Betul, kaulah Beng San anak suami isteri yang sakti itu!"
Beng San menjadi bengong, lalu memakai kembali bajunya. "Ciu-twako, apa kau bilang? Aku anak siapa?
Harap kau jelaskan, jangan main-main."
Suara Beng San terdengar serak, hampir tak dapat dia mengeluarkan suara karena rasa keharuan yang besar.
Jantungnya berdetak tidak karuan mendengar bahwa dia adalah anak mereka! Mereka siapa?
"Adik Beng San, jawablah dulu. Bukankah kau seorang anak yang menjadi korban banjir Sungai Huang-ho dan
tidak tahu lagi siapa ayah bundamu?"
Beng San mengangguk, membasahi, bibirnya dengan lidah. "Aku... aku sudah lupa akan segala... aku
terdampar oleh ombak air bah, lalu berkeliaran dan bekerja di kelenteng... aku tidak ingat lagi siapa ayah
bundaku. Ciu-twako yang baik, lekas kau beri penjelasan, apa artinya semua ini?"
Ciu Tek memegang kedua pundak Beng San dan berkata gembira, "Adik Beng San, kionghi (selamat)! Kau
akan bertemu dengan ayah bundamu kembali. Mereka sudah lama mencari-carimu ke mana-mana. Tak nyana
aku yang menemukan kau di sini. Ahh, girang sekali hatiku!"
Beng San hampir pingsan saking kagetnya, heran, dan gembiranya. Terlalu hebat, terlalu baik berita ini,
sampai sukar untuk dapat dipercaya. Benarkah dia akan bertemu dengan ayah bundanya kembali?
dunia-kangouw.blogspot.com
Bagaimanakah wajah ayah bundanya itu? Ia sudah lupa sama sekali. Ingatannya disapu bersih oleh air bah
yang mengamuk. Bahkan she-nya sendiri saja dia sampai lupa.
"Ciu-twako... di mana... di mana... adanya mereka itu...?" Dengan sukar sekali Beng San mengajukan
pertaryaan ini, dengan suara terputus-putus dan mata berlinangan air mata.
"Sabarlah, Adik Beng San, mereka tidak jauh dari sini. Tunggu aku memberi kabar kepada mereka dan besok
pagi kau sudah akan bertemu dengan ayah bundamu itu."
Ciu Tek memberi isyarat dengan suitan. Muncullah seorang temannya, seorang anggota Pek-lian-pai wanita
yang sigap dan bermata sipit, di punggungnya membawa pedang.
"Kui-moi, kau antarkan suratku kepada Ouw-taihiap suami isteri, malam ini juga," kata Ciu Tek yang segera
mencorat-coret sehelai kertas dan memberikannya kepada wanita itu. Wanita itu hanya mengangguk
menerima surat dan tak lama kemudian dari jauh terdengar derap lari seekor kuda.
"Ciu-twako, jadi aku she... she Ouw? Ciu-twako, ceritakanlah tentang ayah bundaku, aku sudah lupa sama
sekali. Dan bagaimana aku sampai hanyut di Huang-ho? Ahhh, Twako yang baik, ceritakanlah, aku sudah
tidak sabar menanti." Seperti anak kecil Beng San mengguncang-guncang lengan Ciu Tek yang tersenyum
dan memandang terharu.
"Adikku yang baik, kau adalah putera tunggal sepasang suami isteri yang berkepandaian tinggi sekali. Orang
tuamu adalah sepasang pendekar yang sukar dicari bandingnya untuk jaman ini. Ayahmu bernama Ouw Kiu,
terkenal dengan julukannya Hui-sin-liong (Naga Sakti Terbang). Ibumu bernama Bhe Kit Nio berjuluk Bi-sinkiam
(Pedang Sakti Cantik)."
Beng San mendengarkan dengan hati berdebar bangga. Ah, kiranya orang tuanya adalah pendekar-pendekar
gagah, terkenal di kalangan Pek-lian-pai pula. Alangkah akan kaget dan herannya kalau kelak Tan-twako
mendengar akan hal ini, pikirnya.
Hemmm, orang tuanya tidak kalah terkenalnya oleh orang tua anak-anak Hoa-san-pai itu. Diam-diam Beng
San mengangkat dada terhadap Thio Ki, Kui Lok, dan dua orang gadis cilik, Thio Bwee dan Kwa Hong. la tak
merasa kalah oleh mereka itu!
"Ciu-twako," katanya dengan suara gemetar, "jika ayah bundaku begitu terkenal dan lihai, kenapa aku sampai
bisa hanyut terbawa air bah?"
"Ketika itu banjir besar sedang mengamuk di sepanjang Sungai Huang-ho, ayah bundamu sibuk menolong
para korban. Karena kesibukannya inilah mereka menjadi lalai dan kau yang masih kecil bermain-main di dekat
sungai lalu terseret banjir dan lenyap. Mereka tak dapat berbuat apa-apa karena tahu-tahu kau telah lenyap..."
Beng San termenung. Air matanya menitik turun. la sendiri tidak ingat sama sekali akan hal semua itu.
Seingatnya, dia telah menjadi kacung di Hok-thian-tong. Baginya, hidup ini dimulai dari lantai Hok-thian-tong
yang dia pel (cuci) setiap hari.
Ingatannya hanya bisa dia putar kembali sampai saat itu, ketika dia menjadi kacung di kelenteng dan
diperlakukan dengan amat baik oleh para hwesio di kelenteng itu. Ia tidak dapat mengingat lagi waktu sebelum
itu.
Dan sekarang kelenteng itu sudah habis di makan api, tak seorang pun hwesio dapat dia temukan sehingga
awal hidupnya yang dapat dia ingat juga habis tersapu dari kenyataan, kini bukan tersapu air, melainkan
tersapu habis oleh api! Tak disangka sama sekali bahwa di tempat ini dia akan bertemu dengan ayah
bundanya! Tak tertahankan lagi Beng San menutupi mukanya dan menangis tersedu-sedu.
"Tidurlah, Adik Beng San. Tidurlah yang nyenyak dan besok kau akan bertemu dengan ayah bundamu."
Akan tetapi mana Beng San mau tidur? la tidak mau tidur karena takut kalau-kalau dia akan bangun dari tidur
dan mendapatkan dirinya bahwa semua ini hanya mimpi belaka. Malah sekarang pun telah berkali-kali dia
dunia-kangouw.blogspot.com
mencubit kulit lengan sendiri untuk menyatakan bahwa dia tidak sedang tidur. Kadang-kadang dia hampir tak
dapat percaya.
Dia akan bertemu dengan ayah bundanya? Ahhh, terlalu baik, terlampau luar biasa baik nasibnya, sampaisampai
sukar untuk bisa mempercayainya. Tak sabar lagi dia menanti datangnya pagi dan baru kali ini selama
hidupnya Beng San tahu apa artinya menunggu. Malam itu terasa amat panjang olehnya.
Akhirnya fajar menyingsing. Suara-suara dalam hutan sudah berubah, bukan lagi suara burung malam,
jengkerik diseling meraungnya binatang-binatang buas, suara yang seram menambah kegelisahan hati Beng
San yang tak sabar, melainkan sudah berubah menjadi suara burung-burung pagi berkicau ramai indah,
menambah kegembiraan hati Beng San yang melihat bahwa apa yang dinanti-nantikan akhirnya menjelang
tiba.
Ciu Tek mengeluarkan sisa daging rusa yang masih disimpannya, lalu dipanggang dan memberi sebagian
kepada Beng San. Akan tetapi dengan halus Beng San menolaknya, menyatakan bahwa dia tidak lapar.
Memang, dia hanya lapar bertemu orang tuanya, yang lain-lain dia tidak peduli lagi.
Akhirnya, setelah matahari mulai menerobos cahayanya di antara daun-daun pohon, dari jauh terdengar derap
kaki kuda dan tidak lama kemudian muncullah dua orang. Seorang laki-laki tinggi tegap berusia empat puluh
tahun yang bermuka pucat, matanya sipit dan dengan kumis melintang meloncat turun dari kudanya, diturut
oleh seorang wanita cantik berpakaian indah, berusia kurang lebih tiga puluh tahun. Sambil tersenyum-senyum
dua orang ini menghampiri Beng San dan Ciu Tek.
Beng San segera bangkit berdiri, memandang bergantian pada dua orang itu. Lehernya terkancing, seakanakan
ada hawa menyesak dari dada memenuhi kerongkongannya.
"Adik Beng San, itulah mereka, ayah beserta ibumu. Sambutlah," berkata Ciu Tek sambil tersenyum. "Baikbaiklah
kau dengan ayah ibumu, aku harus pergi."
Ciu Tek segera meninggalkan tempat itu tanpa pernah mendapat jawaban Beng San yang seakan-akan tidak
mendengarnya, karena anak ini seperti terpukau berdiri memandang dua orang yang baru datang itu.
"Beng San, ahh... kau sudah begini besar... ahh, sampai pangling aku... hampir delapan tahun kau lenyap...
ahh, biarkan aku melihat tanda di pundakmu, Beng San. Betulkah kau Beng San anakku? Betulkah ada tahi
lalat di pundakmu?" kata wanita itu dengan suara terputus-putus. Sapu tangannya digosok-gosokkan di
matanya yang bercucuran air mata.
Laki-laki itu pun melangkah maju, suaranya besar parau. "Tak salah lagi, inilah anak kita. Biar kita buktikan
tandanya. Beng San, coba kau lepas bajumu..."
Gemetar seluruh tubuh Beng San. Entah apa yang dirasanya di saat itu, dia sendiri tidak tahu. Seperti dalam
mimpi tangannya membuka kancing bajunya hingga baju itu terbuka dan tampak dada beserta pundaknya.
Sebuah andeng-andeng (tahi lalat) kecil menghias pundak kirinya. Melihat ini wanita itu lalu menubruk dan
merangkulnya.
"Ahh, kau betul Beng San anakku...” Diciuminya pipi dan leher Beng San.
Anak ini merasa jengah dan malu. Seharusnya dia tidak usah merasa malu, bisik hati nuraninya, kan dia
ibuku? Tapi entah, tanpa disengaja dia menjauhkan mukanya dan dia memandang muka cantik yang berbedak
tebal serta beraroma harum minyak wangi itu, memandang sepasang mata yang bergerak liar dan genit, mulut
yang dilapisi cat merah, indah bentuknya dan selalu tersenyum akan tetapi agak terlampau lebar itu, giginya
yang kecil-kecil meruncing tampak ketika dia tersenyum.
"Beng San, anakku… mari sini, Nak... biarkan ibumu memelukmu..."
Beng San bergidik, akan tetapi dia memaksa diri melangkah maju dan membiarkan ibunya merangkul dan
mendekapnya. Ketika dia merasa betapa air mata yang hangat menjatuhi pipinya, hatinya menjadi terharu dan
tak terasa pula dia pun menangis terisak-isak.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ayah... Ibu...? Kenapa... kenapa…?" bibirnya berbisik, hatinya penuh keharuan ketika dia dipeluk ibunya dan
kepalanya dibelai kedua tangan ayahnya yang sudah mendekat pula.
"Kenapa…? Apa yang hendak kau tanyakan, Beng San...?" Ibunya bertanya.
Sebetulnya hati Beng San berteriak-teriak kecewa, kenapa ayahnya tidak segagah ayah Kwa Hong dan
kenapa ibunya begini... pesolek, sama sekali tidak kelihatan agung seperti yang dia gambar-gambarkan tadi
malam?
Akan tetapi mulutnya tentu saja tidak berani meneriakkan suara hatinya ini dan dia hanya berbisik. "Kenapa
Ayah dan Ibu membiarkan anak terlunta-lunta sampai sembilan tahun?"
"Membiarkan terlunta-lunta? Ahhh, kau tidak tahu, Beng San. Kami telah mencari-carimu setengah mati, malah
mengerahkan semua kawan Pek-lian-pai untuk mencarimu," kata ibunya yang bernama Bhe Kit Nio. "Ah,
pakaianmu begini kotor, sudah rombeng pula. Aku tadi membawa pakaian untukmu, anakku. Mari kugantikan
kau dengan pakaian baru." la berlari ke arah kudanya dan mengambil satu stel pakaian dari sutera indah
berwarna biru muda untuk Beng San.
Tanpa disengaja Beng San tersipu-sipu malu. "Biarlah, Ibu, biar kupakai sendiri."
Beng San menerima pakaian itu dan lari sembunyi ke belakang sebatang pohon besar. Cepat-cepat dia
memakai pakaian itu, akan tetapi tidak membuang pakaian lamanya. Dia hanya merangkapkan pakaian baru
itu di luar pakaiannya yang lama. Setelah dia muncul kembali, ibunya berkata.
"Ahh, coba lihat. Alangkah tampannya anak kita..." Sambil tertawa ibu muda ini berlari dan memeluk lagi leher
Beng San.
Beng San mendapat kenyataan betapa ayahnya semenjak tadi hanya diam saja. Agaknya ayahnya memang
pendiam dan tidak bisa banyak bicara. Dia merasa tidak enak kalau didiamkannya saja. Sejak tadi hanya
ibunya yang bicara terus. Ternyata ibunya memang pandai bicara.
Dia teringat akan Kwa Hong. Memang, kalau dibandingkan, Kwa Hong jauh lebih pandai bicara dari pada Kui
Lok atau Thio Ki. Bahkan Thio Bwee yang amat pendiam juga lebih pandai bicara. Apakah memang wanita
sudah semestinya lebih pandai bicara dari pada kaum laki-laki?
"Ayah, aku pernah bertemu dengan Tan-twako, pemimpin Pek-lian-pai. Kenapa dia tidak tahu bahwa aku
adalah anak Ayah dan Ibu?"
Ayahnya nampak bingung. "Tan-twako...? Siapa itu... ahh, ingat aku. Kau maksudkan Tan Hok?"
"Ketahuilah, Beng San," Ibunya menyambung cepat. "Tan Hok itu adalah pemimpin dari Pek-lian-pai cabang
selatan, jadi berpisahan dengan kami. Ayahmu dan aku mempunyai hubungan dengan Pek-lian-pai cabang
utara. Memang belum lama ini kami telah bertemu dengan Tan Hok dan dari dialah kami mengetahui tentang
kau dan timbul dugaan bahwa kau adalah putera kami. Dan ternyata benar, terima kasih kepada para sianli
(dewi) di kahyangan."
Hemmm, ibunya menyatakan terima kasih kepada dewi. Agaknya ibunya ini penyembah Kwan Im Pouwsat,
pikir Beng San. la masih belum biasa dengan keadaan ini, keadaan berayah ibu, maka dia merasa canggung
dan masih saja dia terasa dirinya asing.
”Sekarang ceritakanlah semua pengalamanmu semenjak kau terbawa hanyut oleh Sungai Huang-ho, anakku,”
Ibunya berkata sambil duduk di sebelahnya, memegangi tangannya dengan sikap yang penuh kasih sayang.
Terharu juga Beng San melihat sikap Ayahnya yang terus diam saja, hanya membuat api unggun dan
memanggang daging yang agaknya tadi sengaja dibawa. Hal yang amat kecil ini saja tidak terluput dari
perhatian Beng San.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mengapa justru ayahnya yang memanggang daging? Bukankah seharusnya ibunya yang melakukannya?
Kenapa ibunya agaknya tak mengacuhkan dan kenapa ayahnya kelihatan takut-takut kepada ibunya?
"Beng San, kenapa melamun? Aku minta kau ceritakan pengalamanmu."
Ketika hendak mulai bercerita, Beng San tiba-tiba teringat bahwa keadaan dirinya amat berbahaya. Dia lalu
teringat akan pesan Lo-tong Souw Lee. Karena dia mengerti tentang Im-yang Sin-kiam-sut dan tahu di mana
keberadaan Lo-tong Souw Lee, dirinya menjadi terancam, dicari oleh orang-orang sakti di dunia kang-ouw.
Kalau kini dia menceritakan semua itu kepada ayah bundanya, bukankah itu sama saja dengan menimpakan
semua bahaya ini ke pundak orang tuanya juga?
"Aku tidak tahu bagaimana asal mulanya, aku sudah tak ingat lagi," ia mulai menuturkan pengalamannya,
"tahu-tahu aku sudah berada di Kelenteng Hok-thian-tong dan menjadi kacung melayani para hwesio di sana."
la menarik napas panjang karena teringat lagi pada kelenteng yang terbakar itu. "Aku tidak ingat apa-apa lagi,
yang kuingat hanya bahwa aku hanyut oleh air bah Sungai Huang-ho dan bahwa namaku Beng San."
"Kasihan kau, anakku..." Bhe Kit Nio memeluknya dan kembali air matanya bercucuran.
Beng San merasa amat heran betapa mudahnya air mata mengucur dari sepasang mata ibunya.
"Lalu bagaimana lanjutannya, Nak?"
Sementara itu, Ouw Kiu sudah pula duduk di situ, mendengarkan cerita Beng San sambil memegang ujung
ranting yang dipergunakan untuk menusuk dan memanggang daging. Matanya yang bersinar suram itu lebih
banyak menatap daging di dalam api, jarang sekali menatap wajah Beng San, bahkan agaknya menghindari
pandang mata Beng San yang tajam luar biasa itu.
Beng San kemudian menuturkan dengan suara perlahan semua pengalamannya, bahkan menuturkan dengan
bangga bahwa dia telah diangkat sebagai murid dan ahli waris oleh mendiang Phoa Ti dan The Bok Nam yang
tewas di dalam jurang. Ketika dia bercerita sampai di sini, ayahnya nampak tenang saja, akan tetapi ibunya
berseru kaget.
"Apa?!" Kau diambil murid Thian-te Siang-hiap? Kalau begitu kau menjadi ahli warisnya dan mewarisi Im-yang
Sin-kiam-sut?" Sepasang mata ibunya terbelalak memandangnya, alisnya diangkat dan mulutnya terbuka.
Kembali Beng San merasa bahwa ibunya ini dalam segala gerak-geriknya nampak terlalu dibuat-buat. Dia
lebih bangga akan sikap ayahnya yang pendiam dan seakan-akan tidak peduli, patut menjadi sikap seorang
gagah perkasa, sungguh pun corak ayahnya ini lebih banyak menakutkan dari pada gagah. Betapa pun juga,
dia merasa bangga bahwa ibunya juga mengenal nama Thian-te Siang-hiap dan tahu akan Im-yang Sin-kiamsut.
"Ahh, aku hanya baru mempelajari teorinya saja, Ibu, prakteknya sih masih jauh dari pada sempurna. Aku
masih sedang melatihnya, baru pada tingkat permulaan."
"Bagus, anakku. Ahhh, kau anakku yang beruntung, anakku yang bernasib baik!" Ibunya memeluknya serta
mencium keningnya. Kembali Beng San merasa pipinya merah dan panas, hatinya malu dan jengah.
"Teruskanlah, Nak, teruskan penuturanmu."
"Ahh, Ibu, kau bilang aku beruntung dan bernasib baik. Sebaliknya dari pada itu, setelah menerima warisan
ilmu itu, hidupku seperti terkutuk. Aku dipakai rebutan oleh orang-orang jahat, malah sudah beberapa kali
hampir saja aku dibunuh karena warisan ini,” Beng San berkata menyesal.
"Ehhh...?? Siapa berani mengganggumu, siapa sih berani mau membunuhmu? Keparat, kuhancurkan
kepalanya nanti!" Nyonya muda itu mengepal tinjunya yang kiri sedangkan tangan kanannya meraba gagang
pedangnya. Sikapnya mengancam dan gagah sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
Untuk sejenak hati Beng San jadi terhibur. Bangga dia melihat sikap orang yang menjadi ibunya ini, yang
demikian ganas hendak membelanya.
"Ahh, Ibu... itulah celakanya... selama ini yang selalu mengejar-ngejarku dan mengancam keselamatanku
adalah orang-orang yang layak disebut iblis, tokoh besar yang amat sakti dan tinggi kepandaiannya, sukar
sekali dilawan..."
"Hemmm, siapa mereka? Katakan!" Ouw Kiu yang sejak tadi hanya diam saja tiba-tiba mengeluarkan suaranya
yang parau.
Kembali Beng San merasa bangga karena ayahnya ini pun agaknya marah mendengar bahwa dia hendak
diganggu orang. Baru kini dia merasa alangkah enak dan senangnya mempunyai ayah ibu, ada orang yang
melindungi dan membelanya!
"Pertama adalah Song-bun-kwi, ke dua Hek-hwa Kui-bo, dan masih banyak lagi, mungkin semua orang di
dunia kang-ouw hendak menangkapku karena mereka ingin merebutkan Im-yang Sin-kiam-sut."
Beng San memandang tajam ayah bundanya. Dia tak akan heran kalau melihat mereka kaget dan khawatir.
Akan tetapi alangkah herannya ketika dia melihat ayahnya bahkan hanya mengangguk-angguk dan ibunya
malah tertawa nyaring!
"Ha-ha-ha, Beng San. Cuma orang-orang macam Song-bun-kwi dan Hek-hwa Kui-bo saja kau anggap hebat?
Ahh, tadinya kukira iblis neraka yang mengganggumu. Kalau hanya mereka itu, andai kata ibumu ini tidak kuat
melawannya, pasti mereka akan diganyang mentah-mentah oleh ayahmu! Jangan khawatir, anakku. Kau
belum tahu bahwa ayah dan ibumu juga bukan orang lemah, apa lagi ayahmu. Hemmm, kiranya pasangan
kami tak kalah terkenalnya. Kebetulan sekali kau segera dapat kami temukan, kalau tidak, ahhh... sangat
berbahaya. Kau harus lekas beri tahukan Im-yang Sin-kiam-sut kepada kami. Di bawah pimpinan ayahmu, kau
akan dapat kemajuan pesat dan akan kuat membantu kami menghadapi musuh-musuhmu itu."
Namun Beng San masih ragu-ragu. Betulkah ayah bundanya akan mampu menghadapi Hek-hwa Kui-bo atau
Song-bun-kwi? la tak mau menyeret ayahnya atau ibunya sehingga jiwa mereka terancam pula.
la menggeleng kepala dan berkata, "Biarlah, Ibu. Biar aku sendiri saja yang mengerti ilmu sial itu, agar Ayah
jangan ikut terancam keselamatannya.”
“Hemmm, agaknya kau belum percaya akan kepandaian ayahmu. Biarlah lain waktu kau akan melihat sendiri
buktinya. Sekarang, kau lanjutkan dulu ceritamu."
Beng San lalu menceritakan pengalamannya ketika dia ditolong oleh Lo-tong Souw Lee dan kemudian
menerima latihan-latihan dari kakek buta itu serta mendapat penjelasan-penjelasan bagaimana dia selanjutnya
harus melatih diri agar dapat mempelajari Im-yang Sin-kiam-sut yang sudah dihafalnya di luar kepala itu.
"Ahhh... kau malah bertemu dengan dia juga? Apakah Liong-cu Siang-kiam masih ada padanya?" tanya
ibunya, nampak kaget dan terheran-heran.
"Masih ada. Bagaimana Ibu bisa tahu tentang Liong-cu Siang-kiam dan apakah Ibu juga mengenal Lo-tong
Souw Lee?"
"Hi-hi-hi, bocah bodoh. Siapa tidak tahu tentang Liong-cu Siang-kiam yang dicuri kakek itu dan menghebohkan
orang seluruh negara? Dan tentang Lo-tong Souw Lee sendiri... ahhh, dia itu adalah sahabat baik ayahmu!"
"Sahabat baik Ayah?" Beng San menengok kepada ayahnya yang kini telah memandang panggang dagingnya
dengan muka muram lagi. "Akan tetapi dia sudah sangat tua, dan malah sudah buta, sedangkan Ayah... Ayah
masih muda..."
"Dalam persahabatan orang tidak melihat perbedaan usia," ibunya membantah, "ayahmu sahabat baik Lo-tong
Souw Lee. Kalau bukan sahabat baik, apakah ayahmu tidak sudah pergi mencarinya untuk merampas kembali
Liong-cu Siang-kiam seperti tokoh-tokoh lain? Karena sahabat baik, ayahmu segan melakukan itu. Sekarang
dunia-kangouw.blogspot.com
kebetulan sekali, Beng San. Kalau Lo-tong Souw Lee sudah berlaku amat baik kepadamu, kepada anak kami,
sudah selayaknya kalau kami juga membelanya dari ancaman orang-orang kang-ouw. Aku usulkan supaya kita
bertiga pergi mengunjunginya, di sana kau boleh memperdalam Ilmu Im-yang Sin-kiam-sut di bawah asuhan
ayahmu sementara kita bersama menjaga keselamatan orang tua yang sudah buta itu." Ibunya lalu meraba
pundak ayahnya dan bertanya, "Ehh, bagaimana pendapatmu?"
Ouw Kiu menoleh dan tersenyum masam kepada isterinya. "Boleh... boleh..."
"Beng San, kau katakan di mana tempat sembunyinya kakek tua buta itu? Kita segera pergi mengunjunginya
sekarang juga."
Beng San ragu-ragu. Benarkah kedua orang tuanya akan dapat melindungi Lo-tong Souw Lee? Apa bila tidak
benar, berarti mengunjunginya sama dengan memancing datangnya bahaya untuk kakek yang sudah buta itu.
la harus melihat gelagat, jangan sampai malah membahayakan keselamatan Lo-tong Souw Lee dan juga
keselamatan ayah bundanya.
Tiba-tiba Beng San merasa terkejut sekali. Telinganya mendengar sesuatu, perasaannya tersentuh dan
tahulah dia bahwa ada orang pandai di dekat sana. Sebelum dia dapat bicara, tiba-tiba terdengar bentakan.
"Sin-siang-hiap (Sepasang Pendekar Sakti)! Serahkan anakmu kepadaku!"
Dan tiba-tiba saja di situ sudah muncul Hek-hwa Kui-bo dengan sikap mengancam sekali. Beng San
memandang dengan mata terbelalak kaget dan penuh kekhawatiran.
Ibunya segera melompat mendekatinya dan memeluknya. "Jangan takut, lihat saja bagai mana ayahmu
menggempurnya," bisiknya.
Ouw Kiu, ayah Beng San, berdiri dengan malas-malasan, memandang kepada Hek-hwa Kui-bo dan berkata.
"Hek-hwa Toanio, harap kau jangan mengganggu anakku." Sambil berkata demikian Ouw Kiu merangkapkan
kedua tangan memberi hormat.
Hek-hwa Kui-bo mengeluarkan suara menyindir. Tiba-tiba tubuhnya melayang dan kedua tangannya sudah
melakukan pukulan, mendorong ke arah dada Ouw Kiu.
Dengan tenang Ouw Kiu membuka kedua lengannya dan sepasang telapak tangannya menyambut serangan
nenek itu. Terdengar suara keras dan... tubuh nenek itu mencelat ke belakang lalu terhuyung-huyung,
mukanya berubah pucat. Sedangkan Ouw Kiu masih berdiri tegak sambil tersenyum tenang, seperti tak pernah
terjadi sesuatu.
Sambil mengeluarkan suara pekik yang mengerikan, tubuh Hek-hwa Kui-bo berkelebat dan lenyap dari situ.
Keadaan kembali sunyi dan Beng San memandang kepada ayahnya penuh kekaguman, matanya melotot dan
mulutnya melongo.
Demikian mudah ayahnya mengalahkan Hek-hwa Kui-bo. Padahal nenek itu amat ditakuti oleh seluruh dunia
kangouw. Dapat dibayangkan betapa tinggi ilmu kepandaian ayahnya. Saking girang, kagum dan bangganya,
dia lari menghampiri ayahnya, memeluk pinggang ayahnya sambil terisak-isak. Baru kali ini dia berpelukan
dengan ayahnya yang hanya mengelus-elus rambut kepalanya.
Sekarang Beng San tak ragu-ragu lagi untuk mengajak kedua orang tuanya mengunjungi Lo-tong Souw Lee.
Mereka bertiga melakukan perjalanan cepat melalui sepanjang Sungai Huang-ho sambil melihat-lihat
keindahan pemandangan.
Memang, lembah Sungai Huang-ho menjadi tamasya alam yang amat indahnya di waktu airnya tidak
mengamuk. Akan tetapi kalau musim hujan tiba dan sungai itu mengamuk, semua pemandangan indah akan
lenyap dan berubah menjadi keadaan yang mengerikan.
Dengan gembira ayah ibu dan anak ini melakukan perjalanan. Hati Beng San tenang dan tentram. Ayahnya
demikian lihai, tentu ibunya juga. la takut apa? Bahkan ketika mereka bertiga pada suatu hari, beberapa pekan
dunia-kangouw.blogspot.com
kemudian, tiba-tiba berhadapan muka dengan Song-bun-kwi, Beng San masih enak-enak dan malah
tersenyum mengejek.
"Ehh, Song-bun-kwi, kalau sekarang kau masih berani menggangguku, barulah kau boleh membanggakan diri
sebagai seorang jagoan. Hayo, kau lawanlah ini Ayahku dan Ibuku. Sin-siang-hiap!"
Ayah dan ibunya dijuluki Sin-siang-hiap atau Sepasang Pendekar Sakti, karena bukankah kedua-duanya
memakai julukan yang ada huruf saktinya? Ayahnya berjuluk Naga Sakti Terbang, ibunya berjuluk Pedang
Sakti Cantik, jadi keduanya mendapat julukan Sepasang Pendekar Sakti!
Song-bun-kwi berdiri bengong, seperti terheran-heran melihat anak yang selama ini selalu dicari-carinya akan
tetapi tak tersangka-sangka dapat bertemu dengannya di tepi Sungai Huang-ho. Dan anak ini begini enak-enak
dan tenang saja, tidak lari seperti dulu.
Sementara itu, Beng San menoleh kepada orang tuanya dan bukan main herannya ketika dia melihat orang
tuanya itu nampak pucat sekali saat berhadapan dengan Song-bun-kwi. Lebih-lebih lagi herannya ketika dia
melihat tubuh ayahnya menjadi gemetar, dua kakinya menggigil. Ibunya juga pucat dan hanya meraba gagang
pedang tanpa mencabutnya.
"Sin-siang-hiap? Ha-ha-ha, Sin-siang-hiap?" Song-bun-kwi mengeluarkan suara mengejek dan tubuhnya
berkelebat ke depan. Sekaligus dia telah mengirim dua serangan ke arah Ouw Kiu dan Bhe Kit Nio.
Kedua orang suami isteri ini cepat mengelak, akan tetapi tetap saja mereka keserempet angin pukulan Songbun-
kwi sampai terlempar beberapa meter dan bergulingan menjauh. Kiranya mereka memang sengaja
menggunakan Ilmu Trenggiling Turun Gunung itu, untuk menggelindingkan tubuhnya sampai jauh, kemudian
sama-sama meloncat bangun dan... melarikan diri!
Beng San merasa heran dan amat marah. Akan tetapi kemarahannya lebih besar lagi. Ia menerjang maju
sambil memaki, "Iblis tua, berani kau memukul ayah bundaku?!"
Song-bun-kwi mengelak dan hendak menangkap tangan Beng San, akan tetapi alangkah kagetnya pada saat
tangan itu menyelinap ke bawah dan tahu-tahu pahanya kena dipukul oleh Beng San! Ia merasa seakan-akan
tulang pahanya hendak patah dan terasa dingin seperti kemasukan es.
la kaget sekali, maklum bahwa dia kena pukulan Im-sin-kiam dari bocah itu. Bukan main keder hatinya. Andai
kata latihan anak itu sudah lebih matang, sangat boleh jadi pahanya akan patah! Hebat sekali, anak ini tak
boleh dibuat main-main, pikirnya.
la lalu mengamuk dengan pukulan-pukulan aneh kalang-kabut. Kasihan sekali Beng San. Benar bahwa dia
sudah mewarisi ilmu-ilmu yang tinggi sekali, akan tetapi justru karena terlalu tinggi ilmu itu, sebelum dia
melatihnya dengan sempurna, kepandaian silatnya jadi amat terbatas.
Menghadapi seorang tokoh besar seperti Song-bun-kwi, mana dia dapat menandinginya? Dalam beberapa
belas jurus saja dia sudah roboh tertotok jalan darahnya, tidak mampu bergerak lagi karena lumpuh kaki
tangannya!
Sambil tertawa-tawa Song-bun-kwi mengempit tubuh Beng San dan membawanya berlari pergi dari tempat itu,
terus berlari di sepanjang tepi Sungai Huang-ho sampai dia tiba di daerah tepi sungai yang bertebing tinggi dan
curam. Beng San masih tak dapat bergerak sedikit pun juga, akan tetapi diam-diam dia mengerahkan tenaga
dalamnya dan berusaha membebaskan diri dari totokan.
"Heh, bocah setan!" Song-bun-kwi berkata sambil tertawa-tawa. "Akhirnya kau terjatuh juga di tanganku. Hayo
sekarang lekas kau berikan Im-yang Sin-kiam-sut kepadaku dan beri tahu pula di mana tempat sembunyinya si
maling Lo-tong Souw Lee itu."
Beng San lumpuh hanya kaki tangannya, akan tetapi dia dapat mempergunakan panca inderanya, dapat pula
bicara. Akan tetapi terhadap Song-bun-kwi dia tidak sudi membuka mulut, maka dia hanya memandang lalu
menggelengkan kepalanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Bocah bandel, apakah kau lebih sayang Im-yang Sin-kiam-sut dan lebih sayang kakek buta mau mampus itu
dari pada nyawamu? Lihat ke bawah itu, air Sungai Huang-ho amat dalam dan deras di bawah itu. Kalau kau
tetap membandel aku akan melempar engkau ke sana!"
Dia memegang tubuh Beng San sedemikian rupa di atas tebing sehingga muka anak itu menghadap ke
bawah, langsung melihat air yang mengalir deras dan berombak-ombak mengerikan. Dari atas, air itu kelihatan
seperti air yang mendidih.
Tiba-tiba, entah dari mana datangnya perasaan ini, Beng San merasa ketakutan sekali melihat air itu. Baru
sekali ini selama hidupnya dia merasa ketakutan yang amat sangat menyesakkan dadanya. Semua bulu di
tubuhnya meremang dan mukanya menjadi pucat kehijauan.
la melihat air yang bergolak itu seperti ribuan muka iblis yang sangat menakutkan, yang akan menerkamnya,
akan menghanyutkannya. Saking takutnya dia sampai tak dapat lagi mendengar ancaman-ancaman serta
bujukan-bujukan Song-bun-kwi sehingga dia sama sekali tidak menjawab, hanya terbelalak memandang ke
arah air di bawah itu.
"Iblis cilik, kalau begitu kau harus mampus. Agar rohmu tidak menjadi setan penasaran yang menggangguku,
dengar apa sebabnya aku membunuhmu. Hal pertama karena kau tidak mau membuka rahasia Im-yang Sinkiam-
sut dan tempat sembunyi Lo-tong Souw Lee, dan kedua karena kau mengetahui rahasia Yang-sin-kiam
yang kumiliki. Nah, jadilah setan Sungai Huang-ho!" Song-bun-kwi lalu melempar tubuh Beng San ke bawah!
Beng San mengeluarkan pekik mengerikan saking takutnya. Dan pada saat itu terdengar pekik lain, pekik yang
melengking tinggi dari bayangan merah yang berkelebat cepat ke tempat itu. Di lain saat, bayangan merah
yang ternyata adalah Bi Goat si bocah gagu itu telah melemparkan segulung tambang ke bawah.
Dengan gerakan istimewa, tambang yang meluncur seperti ular ini berhasil menggulung tubuh Beng San pada
bagian ujungnya sehingga tubuh Beng San tergantung di udara, tidak terbanting ke air dan batu-batu karang.
Bukan hal kebetulan saja Bi Goat membawa tambang, karena tadinya memang Song-bun-kwi mengajaknya
berkeliaran di tepi sungai, di tebing-tebing tinggi itu untuk mencari sarang burung dan mereka memerlukan
tambang yang panjang untuk mencari sarang ini di tempat-tempat yang sukar.
"Bi Goat, kurang ajar kau!" Song-bun-kwi berteriak.
Sekali renggut dia sudah merampas ujung tambang itu, kemudian dengan sekali dorong tubuh Bi Goat telah
terjengkang. Song-bun-kwi lalu mengulur tambang itu sehingga tubuh Beng San sekarang terapung di air yang
mengamuk.
Beng San masih menjerit-jerit ketakutan, apa lagi sekarang setelah dia dipermainkan air yang berombakombak
itu. la meronta-ronta, tanpa disadari dia sudah bebas dari totokan dan sekarang dia mencoba untuk
berenang sambil menjerit-jerit. Akan tetapi tentu saja usahanya ini sia-sia karena tambang itu masih mengikat
pinggangnya dengan erat.
Pada saat dia melihat ke atas sambil terengah-engah, dia melihat Bi Goat berlutut sambil bergerak-gerak
seperti menangis di depan Song-bun-kwi, telunjuknya menuding-nuding ke arah bawah, ke air di mana Beng
San dipermainkan maut.
"Bi Goat... tolong...!" Beng San menjerit sekerasnya dan suaranya nyaring sekali.
Sekarang Bi Goat melompat berdiri, menjambak-jambak rambut dan membanting-banting kaki di depan Songbun-
kwi yang hanya tertawa dan menggelengkan kepala. Kemudian Song-bun-kwi menjenguk ke bawah dan
berteriak, suaranya dikerahkan dengan kekuatan khikang mengatasi suara air sehingga dapat terdengar oleh
Beng San.
"He, Beng San iblis cilik! Bagaimana apakah kau menyerah? Kalau kau mau memenuhi permintaanku tadi, kau
akan kunaikkan dan tidak jadi mampus ditelan air!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Beng San memang takut, takut bukan main, malah takut yang tidak sewajarnya, mungkin karena dahulu di
waktu kecil dia pernah mengalami pula ketakutan sehebat ini ketika dia hanyut oleh air bah Sungai Huang-ho.
Akan tetapi jiwa satria masih bersemayam dalam tubuhnya.
Dia tidak suka melanggar janjinya, janji terhadap Phoa Ti dan The Bok Nam yang sudah mati, bahwa dia akan
memegang teguh rahasia Im-yang Sin-kiam-sut, termasuk janjinya terhadap Lo-tong Souw Lee takkan
menceritakan tempat sembunyi kakek itu. Lebih baik mati dari pada melanggar janji sendiri.
Demikianlah pendirian seorang satria, seorang pendekar. Beng San tidak takut mati, akan tetapi sekarang dia
benar-benar takut. Setiap pucuk ombak air merupakan cakar iblis yang hendak mencekik dan
mencengkeramnya.
"Song-bun-kwi, kau boleh minta apa saja, tapi yang dua itu tidak mungkin!" jawabnya di antara suara air.
Song-bun-kwi marah. Ia mengangkat tambang dan melepaskannya kembali sampai tubuh Beng San
tenggelam ke dalam air, mengangkat lagi, melepaskan lagi. Berkali-kali tubuh Beng San timbul tenggelam di
antara deru suara air yang mengalir deras.
Beng San takut setengah mati, takut dan juga gelagapan sukar bernapas. Entah bagai mana, sekarang
baginya tidak ada Song-bun-kwi lagi, tidak ada siapa-siapa, yang teringat olehnya hanyalah air, air, air! la
merasa dihanyutkan air yang luar biasa kerasnya, merasa takut dan tiba-tiba dia teringat akan ayahnya, akan
ibunya, akan kakaknya!
"Ayahhhhh...!" la berteriak-teriak membayangkan wajah ayahnya.
"Ibuuuuu...!" Kembali dia berteriak-teriak ketika mendapat kesempatan, yaitu pada waktu Song-bun-kwi
menarik tambang ke atas.
"Kakak...! Kakak Kui...!” Ia menjerit lagi.
Pada saat itu Bi Goat juga berteriak-teriak menangis, berusaha mencegah Song-bun-kwi menyiksa Beng San.
Akan tetapi Song-bun-kwi malah memaki dan menendangnya.
Bi Goat berkali-kali menengok ke bawah. Ketika ia melihat betapa Beng San menjerit-jerit dengan muka
ketakutan setiap kali tubuhnya timbul di permukaan air, dia mengeluarkan teriakan melengking tinggi lalu... Bi
Goat melompat ke bawah. Air sungai muncrat tinggi ketika tubuh Bi Goat menimpanya dan tertelan air yang
mendidih itu.
Walau pun tadinya memaki-maki dan menendang Bi Goat, namun begitu melihat anak itu dengan nekat terjun
ke bawah, Song-bun-kwi menjadi sangat bingung dan terkejut sekali. Keselamatan anaknya berbahaya sekali,
terancam maut yang mengerikan.
Cepat dia menggerakkan tambang yang dipegangnya dan ujung yang melibat tubuh Beng San segera
terlepas. Kemudian dengan gerakan yang aneh tambang itu meluncur ke arah jatuhnya Bi Goat. Tepat setelah
tubuh anak baju merah ini timbul di permukaan air, tali itu melibat pinggangnya dan sekali sendal saja tubuh Bi
Goat melayang kembali ke darat!
Akan tetapi ketika Song-bun-kwi kembali menjenguk ke bawah, tubuh Beng San sudah lenyap. Tentu setelah
tidak terikat oleh tambang lagi, anak itu sudah terbawa hanyut oleh air yang begitu derasnya. Bi Goat
menangis, menggosok-gosok kedua matanya dengan punggung tangan, pakaiannya basah kuyup.
"Sudah, diamlah. Dia anak jahat, apa bila tidak dilenyapkan dari muka bumi kelak hanya akan menimbulkan
geger saja. Sakitkah badanmu? Apakah tidak terluka?"
Song-bun-kwi yang mendadak merasa kasihan kepada anaknya, mendekati Bi Goat lalu memondongnya,
merangkulnya. Bi Goat hanya menangis di pundak ayahnya yang aneh itu. Perlahan-lahan Song-bun-kwi yang
memondong anaknya pergi dari situ, seperti orang melamun. Ia merasa lega karena mengira bahwa Beng San,
dunia-kangouw.blogspot.com
anak yang menjadi orang ke dua setelah dia yang mengerti akan Ilmu Silat Yang-sin Kiam-sut, sekarang tentu
telah mati tenggelam di dasar Sungai Huang-ho.
Betulkah Beng San sudah mati seperti yang diharapkan dan diduga oleh Song-bun-kwi? Agaknya kakek yang
sakti ini lupa bahwa mati hidup seseorang tergantung sepenuhnya kepada kehendak Yang Maha Kuasa.
Apa bila Tuhan belum menghendaki kematian seseorang, jangankan baru dia terancam bahaya maut seperti
Beng San. Meski pun orang itu diancam bahaya maut dengan hujan api sekali pun, dia akan selamat dan
terluput dari bahaya maut yang mengancamnya itu. Sebaliknya, apa bila Tuhan sudah menghendaki kematian
seseorang, biar pun dia akan berlari ke ujung dunia atau berlindung ke dalam gedung baja, maut tetap akan
mencabut nyawanya tanpa dapat ditawar-tawar atau diperpanjang sedikit pun lagi.
Kelihatannya memang Beng San sudah tidak berdaya, dan memang anak ini juga sudah kehabisan akal.
Bagaikan seorang yang sudah berubah ingatannya, Beng San terbawa hanyut oleh air dan setiap kali
kepalanya tersembul di permukaan air, jauh dari tempat dia hanyut tadi, dia lalu memekik-mekik memanggil
ayahnya, ibunya, dan seorang yang dia panggil Kui-ko (kakak Kui).
Akhirnya saking lelah dan banyaknya minum air sungai, Beng San tidak ingat diri lagi dan tahu-tahu ketika
siuman kembali, dia mendapatkan dirinya sudah menggeletak di dalam sebuah perahu kecil. Tubuhnya sudah
terbaring di situ, telanjang bulat dan terbungkus dengan selimut hangat.
Ketika dia melirik, dia mendapatkan pakaian bututnya sedang dijemur di pinggiran perahu sedangkan di kepala
perahu kecil itu duduk berjongkok seorang laki-laki tua bertopi lebar. Laki-laki ini mukanya kurus, penuh guratgurat
hidup tanda banyak menderita.
Laki-laki itu duduk tak bergerak. Matanya sayu melamun ke permukaan air, melihat tali pancingnya yang
bergerak-gerak perlahan, terbawa aliran air yang tenang di bagian itu. Di dekatnya kelihatan tiga ekor ikan
sebesar betis yang sudah mati, tetapi masih segar.
Beng San diam saja, berusaha mengingat-ingat. Mula-mula dia teringat akan air besar yang menghanyutkan,
yang mengerikan dan sekaligus dia membayangkan kembali wajah seorang laki-laki tua yang berpakaian
sebagai petani, yang bermata tajam dan bermulut selalu tersenyum, wajah yang amat disayangnya, wajah
ayahnya.
Lalu menyusul wajah yang menimbulkan rasa mesra dalam hatinya, wajah seorang wanita yang agung,
berkulit hitam manis, berambut hitam panjang digelung di belakang leher. Wajah yang bermata sayu dan
lembut, yang selalu bicara halus penuh kasih sayang kepadanya, wajah ibunya!
Dan terakhir terbayang olehnya wajah seorang anak laki-laki yang nakal, yang sering kali menggodanya akan
tetapi yang menjadi temannya bermain sejak kecil, wajah kakaknya yang bernama Tan Beng Kui. Dan dia
sendiri bernama Tan Beng San!
Kini ia teringat semua, malah dusunnya ia ingat pula bentuk dan macamnya. Ada telaga kecil di dekat sungai,
telaga yang banyak ikannya, dan sering kali dia dan kakaknya diajak memancing ikan di telaga itu oleh
ayahnya. Hanya nama ayah ibunya dan nama dusun itu dia tidak tahu.
Berdebar hati Beng San teringat akan ini semua. la tidak tahu bahwa dulu dia kehilangan ingatan oleh air
Sungai Huang-ho dan sekarang dia mendapatkan kembali ingatannya, oleh air Sungai Huang-ho pula. Yang
membuat Beng San berdebar-debar adalah karena sekarang dia teringat pula akan Ouw Kiu dan Bhe Kit Nio
yang mengaku menjadi ayah bundanya!
Bagaimana bisa terjadi demikian? Apakah betul mereka itu adalah kedua orang tuanya? Ataukah bayangan
lelaki petani dan wanita berwajah agung itu adalah orang tuanya yang sesungguhnya? Dan Tan Beng Kui?
Beng San masih bingung, lalu kepalanya membayangkan Bi Goat. Gadis cilik yang gagu itu, yang menangis
dan berusaha menolongnya, yang kemudian secara nekat meloncat ke air untuk menolongnya tanpa
mempedulikan keselamatan diri sendiri.
dunia-kangouw.blogspot.com
Teringat akan ini, membayangkan wajah Bi Goat menangis untuk dirinya, berganti-ganti dengan wajah
ayahnya, wajah ibunya, dan wajah kakaknya, tanpa terasa lagi Beng San mengeluh dan dua titik air mata yang
panas mengalir keluar membasahi pipinya.
"He, kau sudah bangun?"
Tukang pancing itu mendengar keluhannya. Dia berdiri lalu menghampiri. Perahu kecil itu goyang-goyang
ketika si tukang pancing berjalan.
Ternyata dia seorang kakek yang berusia lima puluh tahunan, bertubuh kurus. Wajahnya kering terbakar
matahari dan penuh guratan, matanya sayu tetapi kadang-kadang lincah berseri. Mulutnya yang ompong
membayangkan ketenangan batin seorang yang sudah banyak makan asam garam dunia.
Beng San cepat bangkit dari tidurnya, mengusap air matanya kemudian menjatuhkan diri berlutut, "Kakek yang
baik, agaknya kau yang telah menolongku dari dalam air."
Kakek itu memegang pundak Beng San. "Tadi kukira kau ikan besar yang tersangkut di pancingku. Aku sudah
girang sekali, mengira mendapat ikan yang besar sekali, tapi ketika kutarik..."
"Kau kecewa karena hanya aku...” sambung Beng San tak dapat menahan kata-katanya ini karena melihat
sikap tukang pancing itu lucu dan jenaka.
"Ha-ha-ha, tidak demikian. Aku malah lebih gembira, pertama karena tanpa kusengaja aku dapat menolong
seseorang dari kematian, ke dua, aku bakal mendapatkan kawan baik untuk bekerja sama mencari ikan. Eh,
anak nakal, siapa namamu dan kenapa kau hendak menyaingi ikan-ikan di air, berkeliaran di dalam air Sungai
Huang-ho?"
Melihat sikap kakek itu dan mendengar kata-katanya yang jenaka, sebuah plkiran baik menyelinap ke dalam
otak Beng San. Mengapa tidak? Akan aman dia kalau berada di dekat kakek ini, menyamar sebagai tukang
ikan, setiap hari di perahu mencari ikan. la bisa menyembunyikan diri dari Song-bun-kwi dan yang lain-lain.
Tentu mereka itu tidak ada yang mengira bahwa Beng San, anak yang mewarisi Im-yang Sin-kiam dan yang
mengetahui tempat persembunyian Lo-tong Souw Lee telah menjadi nelayan.
"Kakek yang baik hati, namaku Siauw-kui (Setan Kecil), sebatang kara di dunia ini. Kalau kau mau mengambil
aku sebagai pembantumu, ahh, kakek yang baik, setiap malam aku akan bersembahyang kepada dewa-dewa
sungai supaya kau diberi umur panjang dan banyak rejeki."
Kakek itu tertawa bergelak, terlihat mulutnya yang tidak bergigi. "Ha-ha-ha, siapa butuh umur panjang?
Tentang rejeki, asal kau mau benar-benar membantuku, tentu banyak ikan dapat diangkat ke perahu."
Kakek itu adalah seorang nelayan tua bernama Gan Kai, seorang duda tua yang juga hidup sebatang kara,
malah tidak mempunyai rumah tinggal, rumahnya ya perahu kecil itulah! Maka sungguh tepat sekali bagi Beng
San untuk tinggal bersama kakek Gan ini, karena selain terjamin hidupnya, dia pun dapat bersembunyi dan
setiap saat dapat berlatih ilmu silat dengan amat tekunnya.
la mengambil keputusan untuk berlatih dengan giat. Setelah sempurna kepandaiannya, dia akan mengunjungi
Lo-tong Souw Lee, kemudian dia akan mencari ayah bundanya, dan juga kakaknya. la tidak tahu lagi nama
orang tuanya, juga dia tidak tahu lagi nama dusunnya, tetapi asal dia menjelajahi dusun-dusun di pinggir
sungai di sekitar Kelenteng Hok-thian-tong, masa tidak akan dapat dia temukan?
Otaknya berpikir, hatinya berharap, namun takdirlah yang menentukan…..
********************
Setiap orang yang mengingat-ingat masa lampau, mengenang kembali masa lampau beberapa tahun yang
lalu, akan mendapat kesan betapa cepatnya jalannya sang waktu. Penulis sendiri tiap kali mengenangkan
masa kanak-kanaknya yang sudah puluhan tahun yang lalu, selalu merasa seakan-akan masa itu baru terjadi
dunia-kangouw.blogspot.com
kemarin-kemarin ini, serasa masih membayang di pelupuk mata ketika bermain-main dengan anak-anak lain,
mencari ikan-ikan kecil di sungai, atau tiduran di punggung kerbau, atau bermain-main di bawah air hujan!
Memang waktu berlalu amat cepatnya, sampai-sampai tidak terasa oleh manusia di dunia. Begitu pula dengan
jalannya cerita ini. Baru saja kita mengikuti pengalaman-pengalaman Beng San, sebentar kita tinggalkan,
ehhh, tahu-tahu delapan tahun sudah lewat dengan amat pesatnya!
Selama itu, Tiongkok mengalami kekacauan terus-menerus. Bahkan kekacauan ini juga mempengaruhi
keadaan penghidupan dalam istana. Pangeran-pangeran yang berkuasa saling memperebutkan kekuasaan,
saling berkomplot dengan para pembesar bu (militer), saling jatuh-menjatuhkan sehingga dalam jangka waktu
kurang lebih dua puluh lima tahun (1307-1332) saja pemerintah Goan (Mongol) ini sudah berganti kaisar
sebanyak delapan kali!
Ketika cerita ini terjadi, raja terakhir yang menduduki tahta adalah Kaisar Sun Ti. Di bawah tekanan Kaisar Sun
Ti inilah penghidupan rakyat pribumi (Han) amat tertindas dan tidak tertahankan lagi. Mulailah timbul
pemberontakan di sana-sini, yang terbesar dan terkenal adalah Partai Teratai Putih (Pek-lian-pai) yang pada
awal mulanya hanyalah merupakan pemberontakan dari para petani di utara yang sudah tidak kuat lagi
menderita penindasan para hartawan dan bangsawan setempat. Lama kelamaan partai ini menjadi makin kuat,
bahkan lalu diikuti atau dimasuki pula oleh orang-orang gagah dunia kang-ouw sehingga merupakan kesatuan
yang amat ditakuti oleh bangsawan-bangsawan Mongol.
Pemberontakan-pemberontakan kecil pecah di sana sini, satu dihancurkan timbullah dua, sehingga semenjak
Kaisar Sun Ti naik tahta, kaisar ini tidak pernah mengenal apa yang disebut aman dan damai di Tiongkok.
Banyak pendekar-pendekar dan pahlawan-pahlawan tercatat namanya dengan tinta emas di lembaran sejarah,
misalnya Liu Hok Tung, Kok Ci Seng, Thio Se Cheng, Tan Yu Liang, dan masih banyak lagi orang-orang
gagah yang memimpin rakyat untuk menghalau kaum penjajah Mongol dari tanah air mereka.
Tiga puluh tahun lebih pemberontakan-pemberontakan ini berjalan, semakin hari semakin hebat sehingga
akhirnya, seperti tercatat dalam sejarah, pemberontakan-pemberontakan inilah yang akhirnya menumbangkan
kekuasaan Mongol yang menjajah daratan Tiongkok hampir seratus tahun lamanya.
Seperti telah disebutkan di atas, waktu delapan tahun berjalan dengan amat cepatnya dan saat itu keadaan
masih penuh dengan kekacauan yang diakibatkan oleh pemberontakan-pemberontakan terhadap pemerintah
Goan-tiauw…..
********************
Pada suatu pagi yarig cerah, di sebuah di antara puncak-puncak Pegunungan Cin-lin-san, di depan sebuah
goa yang dinamakan goa Ular, tampak seorang pemuda tengah berlutut di depan seorang kakek yang sudah
tua sekali.
Kalau baru melihat saja orang tentu mengira bahwa kakek ini bermata lebar, akan tetapi setelah lama
memandang dan melihat bahwa mata kakek itu melotot tak pernah berkedip, akan tahulah orang bahwa dia
adalah seorang kakek yang buta matanya. Rambutnya yang putih panjang riap-riapan di kedua pundaknya.
Muka dan tubuhnya hanya tinggal kulit membungkus tulang belaka. Ada pun pemuda yang berlutut itu
nampaknya terharu sekali.
"Mohon Locianpwe sudi memberikan maaf sebesarnya karena teecu telah meninggalkan Locianpwe bertahuntahun.
Ternyata Locianpwe masih berada di sini dan dalam keadaan menderita," terdengar pemuda itu berkata
sambil memandang tubuh yang kurus kering itu dengan perasaan kasihan.
Kakek itu bergoyang-goyang tubuhnya, seperti jerami kering yang tertiup angin. Mulutnya bergerak-gerak
beberapa lama, baru terdengar dia berkata perlahan. "Ahhh, anak baik, alangkah bahagia rasa hatiku akhirnya
dapat mendengar suaramu. Akhirnya kau datang juga, hampir aku tak kuat lagi menahan..."
Kakek itu kemudian duduk bersila dan meraba-raba pundak pemuda tadi. Beberapa kali meraba-raba
kemudian kakek itu berkata penuh kekaguman, "Hebat... dahulu aku pun tak sekuat engkau sekarang. Bukan
dunia-kangouw.blogspot.com
main…, ahhh, kalau saja aku mendapatkan kesempatan melihat... ehh, maksudku mendengar kau main Liongcu
Siang-kiam dalam Ilmu Pedang Im-yang Sin-kiam-sut, mati pun aku akan puas. Mainkanlah, mainkanlah
sekali ini saja, untuk mengantar perjalananku yang amat jauh...”
Kakek itu lalu mengeluarkan sepasang pedang yang berkilauan cahayanya, memberikan sepasang pedang itu
kepada pemuda tadi. Sepasang mata pemuda itu berkilat-kilat tajam ketika dia melihat sepasang pedang ini. la
menerima sepasang pedang itu, memeriksanya dengan teliti lalu bertanya,
"Locianpwe, betulkah sepasang pedang ini yang bernama Liong-cu Siang-kiam, sepasang pedang yang
selama puluhan tahun diperebutkan orang-orang gagah di dunia kang-ouw?"
Kakek buta itu tersenyum. "Beng San, apakah kau sudah lupa lagi? Bukankah dahulu kau pernah melihatnya,
bahkan pernah menggunakannya pada saat kau berhadapan dengan Song-bun-kwi dan Hek-hwa Kui-bo?
Inilah Liong-cu Siang-kiam, pedang peninggalkan sepasang pendekar yang sakti, yaitu pendekar sakti Sie Cin
Hai pada ratusan tahun yang lalu. Pedang ini asalnya dimiliki seorang pendekar yang terkenal sebagai seorang
raja pedang. Oleh karena itu, pada jaman sekarang ini hanya kaulah, Beng San, orang yang berhak
menggunakannya, sebab hanya kau yang menjadi ahli waris Im-yang Sin-kiam-sut. Hayo, berdirilah, dan kau
mainkan Im-yang Sin-kiam-sut untukku..!"
Kakek itu terengah-engah, nampaknya sangat tegang dan gembira sekali, perasaan yang memberi pukulan
hebat pada tubuhnya yang memang sudah amat lemah.
Orang muda itu setelah menimang-nimang kedua pedang tadi, yang panjang di tangan kanan sedangkan yang
pendek di tangan kiri, lalu bangkit berdiri, meloncat agak jauh ke tempat yang luas di depan goa itu, kemudian
dia bersilat dengan amat cepat dan sigap. Sepasang pedang itu berkelebat menyambar-nyambar ke kanan kiri,
depan belakang, dan atas bawah seperti dua ekor naga yang sedang bermain-main di angkasa!
Mendadak muka Lo-tong Souw Lee yang sangat kurus itu menjadi pucat pasi. Kedua lengannya
dikembangkan, kedua tangan seperti hendak mencengkeram ke depan dan dia berteriak, penuh kepahitan,
"Heeeiii, itu bukan Im-yang Sin-kiam... itu... itu... ahhh, kau bukan Beng San... aduhai celaka, kau bukan Beng
San...!"
Terdengar suara ketawa, angin sambaran pedang terhenti dan Lo-tong Souw Lee tidak mendengar apa-apa
lagi, tanda bahwa orang muda itu sudah pergi jauh.
"Beng San... sia-sia aku menanti sampai tahunan... aduh, mataku yang buta... celaka..."
Kakek ini terhuyung-huyung, wajahnya makin pucat, dia mendekap dadanya lalu roboh tertelungkup di depan
goa itu.
Dari puncak Cin-lin-san itu, bayangan pemuda tadi dengan amat cepatnya dan ringannya seperti melayanglayang
turun dari jurusan utara. Sepasang pedang tadi tidak kelihatan dia bawa lagi karena sudah dia
sembunyikan di balik jubah luarnya yang panjang.
Kurang lebih tiga jam berikutnya, seorang pemuda lain kelihatan mendaki puncak dengan tenang. Pakaiannya
sederhana, rambutnya yang panjang diikat ke atas. Mukanya putih sehingga alisnya yang hitam gompyok
berbentuk golok itu nampak lebih hitam lagi, dan sepasang matanya bersinar tajam melebihi sinar pedang dan
mempunyai wibawa yang aneh. Tubuhnya tegap dadanya bidang, sepatunya sudah bolong-bolong saking
tuanya.
Dari gerak kakinya yang tetap dan tak tergesa-gesa dapat diketahui bahwa pemuda yang baru datang mendaki
puncak Cin-ling-san ini adalah seorang yang memiliki ketenangan lahir batin. Dilihat sepintas lalu, dia seorang
pemuda biasa saja, tidak kelihatan membawa senjata tajam, jadi tidak seperti seorang pemuda kang-ouw, juga
tidak membawa kipas atau tanda lahir yang menunjukkan bahwa dia seorang pemuda ahli sastra. Lebih patut
dia disangka seorang pemuda tani.
Akhirnya, dengan langkah yang tidak pernah mengendur namun tidak pula tergesa-gesa, pemuda ini tiba di
depan goa Ular. Ketika pandang matanya bertemu dengan tubuh kakek yang menggeletak tertelungkup di
dunia-kangouw.blogspot.com
depan goa, kedua kakinya langsung bergerak sehingga tubuhnya berkelebat. Pada lain saat tahu-tahu dia
telah berlutut di dekat tubuh kakek itu lalu mengangkatnya, menyangga leher dan punggungnya di atas lengan
kiri sedangkan tangan kanannya membersihkan debu dan tanah dari muka yang pucat dan kurus itu.
"Kakek Souw... Kakek Souw... kau kenapakah?"
Kakek itu menggerak-gerakkan biji matanya yang melotot, bibirnya bergerak-gerak dan akhirnya dia berkata
dengan suara terisak, "Ahh... Beng San... sekarang benar kau Beng San... kenapa aku begini bodoh...?” Kakek
itu terisak-isak!
Beng San terkejut sekali. Pada saat tadi mengangkat tubuh kakek ini, dia melihat bahwa Lo-tong Souw Lee
tidak terluka. "Ada apakah, Kakek Souw? Apa yang telah terjadi...?"
"Ahh, Beng San. Aku bodoh... orang pengecut mempergunakan mataku yang buta untuk menipuku... pedang
Liong-Siang-kiam sudah diambil orang yang mengaku sebagai kau... dia juga memiliki ilmu tinggi... masih
muda... sayang aku tidak tahu bagaimana bentuknya, hanya ketika kupegang pundaknya... dia... dia memiliki
tenaga dalam yang hebat..."
Beng San mampu menguasai hatinya. ”Sudahlah, harap kau tenang dan jangan berduka, Kakek Souw. Apa sih
artinya sepasang pedang saja? Aku tidak begitu mengingininya..."
"Apa...?!" Mendadak kakek itu berkata keras. "Sepasang pedang itu adalah punyamu! Mengerti kau? Aku
sengaja bersembunyi bertahun-tahun, sengaja menahan-nahan nyawa yang sudah tak kerasan di tubuh tua
dan bobrok ini, sengaja menanti-nanti datangmu untuk menyerahkan sepasang pedang itu. Sekarang pedang
dicuri oleh orang dan kau... kau bilang tidak mengingininya? Lepaskan aku, lepaskan...!" Kakek itu merontaronta
dan terpaksa Beng San menurunkannya lagi ke atas tanah.
Beng San merasa menyesal sekali. Ia merasa sudah berbicara seenaknya dan lancang. "Aduh, ampunkan
aku, Kakek Souw. Sama sekali bukan maksudku untuk menyakiti hati dan perasaanmu. Maksudku tadi hendak
menghiburmu agar jangan terlalu berduka akibat kehilangan Liong-cu Siang-kiam."
Tapi kakek itu masih marah dan kecewa. Matanya yang terbelalak itu dipejam-pejamkan, hidungnya kembangkempis
dan mulutnya meringis seperti orang menangis. Menyedihkan sekali muka yang tua itu.
"Biarlah... biar aku mampus... aku tua bangka mampus karena sikap orang muda yang tak kenal kasih sayang
orang... biar aku mampus karena kau...”
Beng San cepat menjatuhkan diri berlutut. "Kakek Souw, ampunkanlah aku... ampunkan, aku sama sekali tak
bermaksud mengecewakan hatimu. Katakanlah, apa yang harus aku lakukan, aku bersumpah akan memenuhi
permintaanmu."
”Betul kata-katamu itu?" Kakek itu menegas dengan napas terengah-engah.
"Betul, Kakek Souw."
"Kau berani bersumpah?”
Tanpa ragu-ragu lagi Beng San bersumpah, "Aku bersumpah, disaksikan langit dan bumi, biarlah Thian
menghukum seberat-beratnya kepada aku apa bila aku tidak memenuhi permintaan Kakek Souw."
Kakek itu nampak lega sekali. Dia lalu bangun duduk dengan susah payah, dibantu oleh Beng San.
"Aku tidak akan minta kau berbuat yang melanggar kebenaran dan keadilan, anak baik. Pertama-tama, aku
minta agar kau berusaha mencari orang yang sudah mencuri pedang Liong-cu Siang-kiam. Setelah orang itu
dapat kau temukan, kalau dia laki-laki kau harus membunuhnya. Kalau dia wanita..." Kakek itu berhenti, batukbatuk
dan agaknya sungkan melanjutkan kata-katanya.
"Ya...? Kalau dia wanita bagaimana, Kakek Souw?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kalau dia itu wanita, kau harus menjadi suaminya."
"Apa...?!" Beng San melompat tinggi seperti orang yang tersentak kaget karena diserang ular. Sepasang
matanya terbelalak lebar dan dia merasa bulu tengkuknya berdiri. "Kakek Souw yang mulia, apa kau bicara
dengan pikiran waras?
”Tentu saja aku waras!" bentak kakek tua itu marah. "Kalau pencuri pedang itu pria, dia adalah orang jahat
yang berbahaya, karenanya perlu kau bunuh. Tapi jika dia itu wanita, tentu wanita yang memiliki kepandaian
tinggi, nah... tak patut seorang gagah seperti kau membunuh wanita, maka kupikir lebih baik kau kawin saja
dengannya supaya Liong-cu Siang-kiam tidak terjatuh kepada orang lain."
"Mana ada aturan begini?" Beng San membantah. "Kalau perampas pedang itu ternyata pria, tentu akan
kulihat dulu orang macam apa dia ini dan apa alasannya dia merampas pedang. Apa bila dia bukan orang
jahat, bagaimana aku akan dapat membunuhnya? Soal kedua, kalau dia itu wanita... dan seorang wanita tua,
atau sudah bersuami, atau juga seorang wanita yang aku tidak suka, bagaimana aku dapat mengawininya?
Ahh, Kakek Souw, aku hanya bisa memenuhi permintaanmu tadi, yaitu mencari sampai dapat kembali pedang
Liong-cu Siang-kiam."
"Jadi kau hendak melanggar sumpah?"
”Kakek Souw, aku takkan melanggar sumpah. Akan tetapi, aku juga tak bisa melakukan hal yang bertentangan
dengan peri kebenaran, yang bertentangan dengan suara hatiku. Apa bila penolakanku tentang membunuh
orang baik-baik dan mengawini wanita secara serampangan saja kau anggap salah dan melanggar janji, nah,
ini aku masih di sini. Aku menyerahkan nyawa dan raga untuk menebus pelanggaran sumpah!"
Tiba-tiba kakek itu tertawa bergelak, keadaannya yang tadi lemah itu mendadak seperti segar kembali.
"Begitulah seharusnya seorang laki-laki!" katanya gembira. "Rela mengorbankan nyawa sendiri dari pada
melakukan sesuatu yang tidak patut. Beng San, aku girang sekali telah memilih kau sebagai pewaris Liong-cu
Siangkiam!" kembali kakek itu tertawa-tawa.
Beng San diam saja akan tetapi dia tersenyum pahit. Menerima warisan saja warisan yang tercuri orang dan
harus dicari dulu. Dapat dibayangkan betapa sukarnya mencari seorang pencuri yang tidak diketahui laki-laki
atau wanita, tidak diketahui rupanya, hanya diketahui bahwa dia masih muda dan bertenaga dalam cukup lihai.
"Jangan kira aku sudah gila, Beng San. Tadi pun sudah kujelaskan bahwa aku tak akan meminta kau
melakukan hal-hal yang tidak baik. Kau pun tentu sudah dapat menyelami watakku, bila tidak demikian, mana
mungkin kau berani mengucapkan sumpah tadi? Nah, sekarang permintaanku ke dua. Kau harus
mempergunakan Liong-cu Siang-kiam untuk membantu pergerakan rakyat menumbangkan pemerintah
Mongol..." Kakek ini kembali kelihatan berduka dan menarik napas panjang. "Aku sendiri masih ada keturunan
darah Mongol, tetapi aku tidak suka melihat sepak terjang kaisar dan para pembesar bangsaku. Karena itu aku
mencuri pedang. Dan sekarang kembali kepada tugasmu. Kau harus ikut membantu perjuangan rakyat yang
hendak memperjuangkan kemerdekaannya, dengan syarat bahwa kau lakukan itu tidak untuk mencari
pangkat, harta, dan kemuliaan. Setelah berhasil perjuangan, kau harus meninggalkan kedudukan dan tidak
mencampurinya lagi. Bagaimaina?"
"Aku akan berusaha memenuhi permintaan ke dua ini, Kakek Souw. Memang aku sendiri merasa suka kalau
teringat akan orang-orang gagah seperti Tan-twako yang memimpin serombongan pejuang Pek-lian pai.”
"Sekarang permintaan ke tiga," kata kakek itu dengan suara seperti tergesa-gesa. ”Kau harus mempergunakan
Liong-cu Siang-kiam untuk memainkan Im-yang Sin-kiam-sut dan merebut sebutan Raja Pedang.”
Beng San tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh kakek itu, maka dia memandang heran. Kakek yang
napasnya sudah sengal-sengal itu menarik napas untuk menenangkan dadanya yang sesak, kemudian
memaksa diri berkata,
dunia-kangouw.blogspot.com
"Setiap dua puluh lima tahun sekali, di puncak Thai-san diadakan perebutan kejuaraan ilmu pedang yang
dihadiri oleh semua tokoh persilatan. Sudah dua kali aku berusaha merebut gelar Raja Pedang, tapi selalu
gagal. Itulah yang menjadi sebab kedua mengapa aku mencuri Liong-cu Siang-kiam. Kurang lebih dua tahun
lagi akan diadakan perebutan itu, tepat dua puluh lima tahun semenjak gelar Raja Pedang dimenangkan oleh
pendekar Cia Hui Gan dari selatan. Cia Hui Gan ini kabarnya masih keturunan dari pendekar wanita Ang-i
Niocu. Sejak itu ia mendapat julukan Bu-tek Kiam-ong (Raja Pedang Tiada Lawan). Sayang aku sudah terlalu
tua, tidak kuat menghadiri perebutan itu lagi... kau... kau harus mewakili aku, merebut gelar itu..."
Setelah menjelaskan demikian panjang, napas Souw Lee semakin tersengal-sengal, akan tetapi keadaan ini
tidak makan waktu terlalu lama. Akhirnya napas yang sengal-sengal itu menjadi tenang kembali, bahkan terlalu
tenang.
"Kakek Souw...!" Beng San merangkulnya akan tetapi ternyata napas kakek tua itu sudah berhenti!
Beng San terharu sekali, dia merebahkan tubuh yang sudah tak bernyawa lagi itu di atas tanah, berlutut dan
mulutnya bergerak dalam bisikan. "Kakek Souw, mengasolah dengan tenang. Aku bersumpah akan berusaha
memenuhi harapanmu, aku pasti akan melakukan semua pesanmu. Mudah-mudahan saja semua akan
terlaksana sebagaimana pesanmu yang terakhir."
Dengan sedih dan penuh hormat pemuda ini kemudian mengurus jenazah kakek Souw, menguburnya di bekas
tempat pertapaannya, di Ban-seng-kok yang terletak di puncak Cin-ling-san. Sesudah itu dia lalu turun dari
puncak, meninggaikan Cin-ling-san sebagai seorang pemuda sebatang kara yang memikul tugas yang
dipesankan oleh kakek Souw Lee, tugas yang amat berat. Akan tetapi dengan penuh kepercayaan kepada diri
sendiri bahwa dia pasti akan dapat memenuhi semua pesan kakek itu…..
********************
Manusia boleh berdaya upaya, namun Tuhan jualah yang berkuasa. Sudah menjadi hak, bahkan sudah
menjadi kewajiban manusia untuk berusaha dan berdaya upaya ke arah kemajuan, ke arah perbaikan dan ke
arah keadaan sebagaimana yang ia kehendaki dan inginkan. Namun tak dapat disangkal pula bahwa pada
akhirnya, kekuasaan Tuhan yang akan menentukan bagaimana jadinya dengan segala daya upaya itu.
Oleh karena itulah maka para bijaksana, para ahli pikir dan ahli filsafat menganjurkan agar dalam setiap gerak,
setiap langkah dan daya upaya, seyogyanya manusia menyerahkan penentuan terakhir kepada Yang Maha
Kuasa. Kalau hati sudah sungguh-sungguh dapat menyerah terhadap segala keputusan Tuhan Yang Maha
Kuasa, dan apa bila hati sudah betul-betul sadar penuh keyakinan bahwasanya segala apa ini, baik mau pun
buruk dalam penilaiannya, terjadi karena kehendak Yang Maha Penentu, maka kita tidak akan terlalu merasa
sengsara apa bila yang dikehendaki dan diinginkannya tidak terkabul.
Sebenarnya sudah terlalu banyak contoh-contoh untuk kebenaran di atas tadi terjadi di dunia sepanjang masa.
Tidak usah kita mencari contoh jauh-jauh, kita kenangkan kembali pengalaman hidup diri kita sendiri.
Sudah betapa seringkah terjadi di dalam hidup kita hal-hal yang sama sekali berlawanan dengan apa yang kita
inginkan? Berlawanan sama sekali dengan apa yang sebenarnya kita kehendaki? Padahal sudah mati-matian
kita berusaha untuk menjuruskan hal itu agar terjadi seperti keinginan kita! Tidakkah sudah terlalu sering kita
merasa kecewa?
Ini keliru! Ini salah! Kita harus dapat menerima segala kejadian sebagai hal yang sudah semestinya begitu,
betapa pun pahitnya bagi kita. Sedapat mungkin, kita harus menerima pahit getir sebagai gemblengan batin,
dan mencari-cari dalam diri sendiri kesalahan apa yang kita lakukan tanpa kita sadari sehingga hal yang tidak
kita kehendaki itu terjadi.
Karena, segala akibat itu pasti bersebab dan sebab-sebab ini kalau tidak terlihat di luar, harus kita cari
mendalam, mencari tak usah jauh-jauh, tapi dalam diri kita sendiri. Apa bila kita benar-benar sudah
menyerahkan diri sebulatnya kepada kekuasaan Yang Maha Esa, sudah dapat dipastikan bahwa kita akan
mampu mencari kesalahan sendiri itu, kesalahan yang dilakukan tanpa kita sendiri menyadari bahwa kita telah
bertindak salah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Semua manusia, baik dia itu orang biasa mau pun orang besar dalam arti kata besar kekuasaannya, tinggi
kedudukannya, tetap saja harus tunduk pada kekuasaan Tertinggi.
Kaisar Dinasti Goan yang terakhir, yaitu Kaisar Sun Ti, boleh saja menyombongkan diri sebagai manusia
besar, pewaris Kerajaan Goan yang dulu dibangun oleh Jenghis Khan, kerajaan yang meliputi seluruh
Tiongkok, bahkan makin meluas ke barat dan ke selatan. Akan tetapi, menghadapi keadaan yang memang
sudah ditentukan oleh Tuhan, dia dan bala tentaranya yang besar tak berdaya.
Pemberontakan tumbuh seperti cendawan di musim hujan. Tentu saja kelemahan Dinasti Goan ini pasti ada
sebabnya, seperti juga semua akibat tentu bersebab. Dinasti yang tadinya berkembang dan mencapai masa
jaya dan masa keemasannya di waktu Kaisar Kubilai Khan bertahta itu, mulai goyah kedudukan dan
keangkerannya setelah kaisar ini meninggal dunia.
Setelah Kubilai Khan meninggal dunia, mulailah terjadi perebutan kekuasaan di antara para raja muda dan
pangeran. Apa bila seorang raja muda atau pangeran dapat merebut singgasana, yang lain akan melakukan
pemberontakan dan merebut kekuasaan sehingga terjadi ganti-mengganti kaisar yang hanya menduduki tahta
selama beberapa tahun saja. Apa lagi di antara tahun 1307 sampai tahun 1333, H selama dua puluh enam
tahun ini terjadi penobatan kaisar sebanyak delapan kali!
Oleh karena selalu terjadi ribut-ribut di dalam istana kaisar, para pembesar menumpahkan perhatiannya akan
perebutan kursi, sedangkan para pejabat yang berada di luar istana mempergunakan kesempatan selagi
orang-orang besar itu tidak memperhatikan mereka, lalu berpesta pora mengeduk harta kekayaan untuk
mengisi gudangnya sendiri-sendiri.
Pemerasan terjadi di mana-mana dan akibatnya selalu rakyat yang tergencet. Semua ini masih ditambah lagi
dengan bencana musim kering yang menimbulkan kekurangan bahan makan sehingga tak dapat dicegah lagi
rakyat menderita bencana kelaparan yang hebat. Inilah yang menyebabkan terjadinya pemberontakanpemberontakan,
baik di daerah utara mau pun selatan.
Memang harus diakui bahwa pemerintah Mongol mulai menginsyafi akan adanya bahaya pemberontakan.
Mereka segera dapat menindih serta membasmi para pemberontak yang menentang di sana-sini secara kecilkecilan.
Akan tetapi mulai tahun 1351 kembali rakyat memberontak, malah kali ini sangat hebat karena mereka
mendapat pemimpin-pemimpin yang pandai.
Di antara para pemimpin pemberontak ini tentu saja yang paling terkenal adalah Cu Goan Ciang yang kelak
akan menjadi raja pertama dari Dinasti Beng. Ada pun perkumpulan rahasia dari para pemberontak yang
paling terkenal adalah perkumpulan Pek-lian-pai.
Belasan tahun telah lewat dan keadaan pemerintah Mongol menjadi makin lemah. Perang terjadi di manamana,
terutama sekali di sepanjang lembah Sungai Yang-ce-kiang, sungai Huai dan Sungai Huang-ho. Daerah
ini menjadi pusat para pemberontak.
Memang di antara para pemberontak ini terpecah menjadi banyak golongan yang bekerja sendiri-sendiri atau
tidak terikat satu kepada yang lain, akan tetapi di dalam menghadapi pemerintah penjajah, mereka ini dapat
bersatu dan saling membantu. Ada kalanya apa bila tidak sedang menghadapi barisan musuh, terjadi pula
bentrokan antara dua golongan pemberontak, akan tetapi begitu musuh datang menyerang, dua golongan
yang tadinya bentrok ini segera bersatu bahu membahu melawan serdadu-serdadu Mongol!
Demikianlah sedikit catatan mengenai keadaan Tiongkok pada masa Dinasti Goan yang dipimpin oleh Kaisar
Sun Ti, Kaisar Mongol yang terakhir. Keadaan di seluruh negeri amat kacau dan penduduk merasa selalu tidak
aman. Memang demikian yang selalu dirasakan rakyat apa bila negara dilanda perang.
Perubahan besar ini sangat dirasakan oleh Beng San yang selama delapan tahun lebih seakan-akan
mengasingkan diri. Selama delapan tahun ini, setiap hari Beng San hanya berhadapan dengan air sungai dan
ikan yang dipancing atau dijaringnya bersama kakek nelayan. Tidak pernah dia mendengar tentang keadaan di
lain tempat, hanya mendengar bahwa pemberontakan makin menghebat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Maka dapat dibayangkan betapa herannya melihat kesengsaraan rakyat jelata ketika dia turun dari
Pegunungan Cin-ling-san. Dia menyaksikan para petani yang tubuhnya sangat kurus dengan wajah penuh
kebencian berbondong-bondong menggabungkan diri dengan para pemberontak yang bersembunyi di hutanhutan.
Ketika memasuki sebuah dusun di mana justru sedang terjadi perang, dia menghadapi kesukaran pertama.
Puluhan orang serdadu Goan mengepung dan hendak menangkap dirinya karena dia dituduh anggota
pemberontak.
Beng San tidak mau melayani mereka. Dia hanya merobohkan beberapa orang tanpa membunuhnya, lalu lari
meninggalkan para serdadu yang melongo terheran-heran karena melihat betapa pemuda seperti petani yang
hendak mereka tangkap itu tahu-tahu sudah lenyap dari depan mata!
Semenjak mengalami hal ini, Beng San berlaku hati-hati. Dia selalu menjauhkan diri dari para serdadu Goan
yang berkeliaran di mana-mana dalam usaha mereka membasmi pemberontak.
Betapa pun juga, kesukaran ke dua segera menyusul setelah dia tiba di kota I-kiang yang terletak di pantai
Sungai Yang-ce di Propinsi Ho-pak. Kota ini masih ramai dan terjaga kuat oleh pasukan pemerintah.
Penjagaan ketat mengepung tembok kota dan di dalam kota sendiri, di antara para pedagang, para penduduk
dan pendatang, banyak berkeliaran mata-mata yang mengawasi gerak-gerik setiap orang secara rahasia.
Beng San tentu saja sama sekali tidak tahu akan hal ini. la memasuki kota I-kiang dan agak bergembira
melihat keadaan kota yang ramai yang sama sekali tidak menunjukkan bahwa keadaan di dalam negeri
sedang kacau balau akibat perang. la melihat adanya losmen-losmen besar kecil dan warung-warung arak
berikut nasi dan bakmi.
Akan tetapi karena selama hidupnya belum pernah dia bermalam di losmen atau makan di warung, ditambah
pula tidak ada sepeser pun uang di saku, dia hanya melihat-lihat dari luar saja. Kemudian baru terasa lapar
perutnya ketika hidungnya mencium bau masakan dan arak.
"Aku harus mencari tempat penginapan, hari sudah mulai gelap dan perutku amat lapar," pikirnya.
Seperti dulu di waktu dia masih kecil, setiap kali memasuki dusun atau kota dia mencari tempat penginapan di
dalam sebuah kelenteng, oleh karena itu sekarang dia juga mulai mencari-cari kelenteng untuk dijadikan
tempat beristirahat.
Akhirnya di pinggir kota dia mendapatkan sebuah kelenteng besar, akan tetapi kelenteng ini sudah kosong,
hanya tinggal bangunannya yang kokoh kuat dan tiang-tiangnya yang terukir. Meja sembahyang sudah tidak
tampak lagi, juga tidak ada toapekong-nya. Malah patung-patung yang menghias sekeliling kelenteng sudah
rusak semuanya dan tempat itu kotor sekali.
Tidak kelihatan seorang pun hwesio di situ. Sebagai gantinya, halaman depan kelenteng itu penuh dengan
orang-orang yang pakaiannya compang-comping, terang bahwa mereka adalah golongan jembel atau orang
minta-minta.
Tanpa ragu-ragu Beng San memasuki halaman itu dan dia segera disambut oleh pandang mata belasan orang
jembel yang duduk atau pun tiduran malang-melintang di tempat itu.
Seorang pengemis yang masih muda segera berkata kepadanya. "Kau pengungsi dari dusun? Ingin mencari
tempat menginap di sini? Silakan, di sini banyak tempat... banyak tempat. Belum makan? Marilah, bantu
habiskan hidangan raja ini."
Pengemis itu umurnya tidak akan lebih dari empat puluh tahun. Tubuhnya tinggi kurus, mukanya kotor,
cambangnya tidak terpelihara, dan pakaiannya dari kain tebal yang sudah kotor. Yang disebut ‘hidangan raja’
itu adalah beberapa potong roti kering yang kelihatan keras dan sudah lama, kekuning-kuningan.
Melihat keramahan orang, Beng San merasa tidak enak kalau menolak. Dan memang perutnya sudah lapar. la
lalu duduk di sebelah orang itu, di atas lantai kelenteng.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kau baik sekali, Saudara. Terima kasih."
"Hayo, jangan sungkan-sungkan. Makanlah."
Beng San mengambil sepotong roti kering dan memakannya. Memang keras dan apek, akan tetapi cukup asin
dan sesudah dikunyah enak juga rasanya. Agaknya, memang roti yang baik, sayang sudah terlalu lama. Orang
itu memandang sejenak, lalu mengeluarkan sebotol arak yang bercampur air tawar.
"Arak selatan ini baik sekali, sudah tua, hanya... ehh, terpaksa diperbanyak dengan air." la tersenyum dan
memberikan botol itu kepada Beng San.
Pemuda ini ikut tersenyum pula, lalu minum. la merasa tubuhnya segar kembali setelah perutnya diisi.
"Sekarang jaman sukar, sampai seorang petani lari ke kota bercampuran dengan kaum jembel..." Orang itu
menarik napas panjang dan memandang kepada Beng San.
Pemuda ini tidak menjawab, menoleh ke kanan kiri dan bertanya. "Kenapa kelenteng ini terlantar? Melihat
bangunannya, agaknya dahulu sebuah kelenteng yang besar juga."
"Betul dugaanmu itu," jawab pengemis, "memang kelenteng ini besar. Tapi sayang semua hwesio-nya telah
dibasmi habis, sebagian terbunuh, sebagian lagi dijebloskan penjara."
"Kenapa?" Beng San bertanya kaget. Baru sekarang dia mendengar ada hwesio-hwesio dibunuh dan
dipenjara.
"Mereka membantu pemberontak," kemudian pengemis itu bisik-bisik, "Sobat, kau adalah petani, mengapa kau
tidak ikut kawan-kawanmu? Apakah kedatanganmu ini pun hendak mengadakan pertemuan rahasia dengan
anggota pemberontak? Atau barang kali dengan anggota Pek-lian-pai?"
Beng San menggeleng kepala, termenung memikirkan nasib para hwesio yang celaka itu.
"Apa bila kau hendak mengadakan pertemuan dengan Pek-lian-pai, katakan terus terang saja, barang kali aku
dapat membantumu..." Kembali orang itu berbisik.
"Tidak... tidak... aku hanya pelancong yang kemalaman di kota ini. Terima kasih atas kebaikanmu dan terima
kasih atas pemberian roti dan arak."
Beng San bangkit berdiri dan mencari tempat untuk mengaso di sebelah dalam. la segera membersihkan lantai
di sudut yang sunyi, lalu duduk bersandar dinding. Pengemis tadi hanya tersenyum dan mengikuti gerakgeriknya
dengan pandang mata tajam, kemudian mengangkat bahu dan membaringkan tubuhnya di lantai.
Sambil duduk mengaso Beng San melamun, mengenangkan semua pengalamannya di masa lalu. Tanpa
disengaja, seperti sudah ribuan kali dia mengalami, dia lalu terbayang akan wajah-wajah orang yang pernah
dia kenal. Wajah orang-orang yang silih berganti terbayang di depan matanya, yang membuat dia kadangkadang
merasa marah, girang, terharu.
la tersenyum geli kalau mengenangkan wajah Kwa Hong, bocah yang galak dan cantik manis, yang selalu
memakinya bunglon itu. la menjadi gemas kalau mengenangkan wajah orang-orang yang pernah
mengganggunya, yang pernah berbuat jahat kepadanya.
Tetapi semua bayangan ini lenyap tak membekas apa bila muncul wajah seorang anak perempuan yang
berpakaian merah, yang memandang kepadanya dengan mulut mungil tersenyum-senyum, dengan sepasang
matanya yang lebar dan bening, dengan tangan bergerak-gerak memberi isyarat. Wajah Bi Goat, si bocah
gagu!
Segera ia menjadi termenung, matanya sayu memandang jauh, hatinya penuh keharuan. Di manakah dia
sekarang? Apakah masih ikut Song-bun-kwi si kakek iblis itu?
dunia-kangouw.blogspot.com
Beng San telah hampir pulas ketika tiba-tiba dia mendengar suara bisik-bisik yang cukup jelas dan
mencurigakan sekali. Segera dia membuka mata dan memasang pendengaran. Ternyata bahwa para
pengemis yang tadinya malang-melintang di halaman kelenteng itu hanya tinggal beberapa orang saja lagi.
Yang lain sudah tidak ada, termasuk orang yang tadi memberinya makan dan minum.
Ada pun suara-suara bisikan tadi terdengar dari sebelah dalam kelenteng, agak jauh dari tempat dia mengaso.
Namun berkat kepandaiannya, Beng San mampu menangkap suara bisik-bisik itu. Alangkah herannya ketika
dia mendengar suara pengemis yang baik hati tadi berbisik.
"Betulkah penyelidikanmu itu? Kalau begitu tak bisa salah lagi, mereka itu tentulah kaum Pek-lian-pai yang
akan mengadakan hubungan dengan hartawan Ong! Hayo siap semua, seorang melapor kepada Kui-ciangkun
supaya menyiapkan barisan mengepung gedung Ong-wangwe (hartawan Ong). Kau dan dua orang teman lagi
menjaga baik-baik di sini. Awas, pemuda tani yang tampan itu juga mencurigakan. Ringkus saja dia sebelum
dapat melakukan hal-hal yang tidak menguntungkan. Kalau dia melawan, bunuh saja!"
Suara kaki terdengar bergerak-gerak dan keadaan sunyi kembali. Beng San pun menanti dengan hati penuh
curiga, akan tetapi dia masih belum dapat menduga siapakah adanya pengemis yang aneh itu dan siapa pula
teman-temannya yang diajak berunding tadi.
Kemudian di dalam gelap dia melihat bayangan tiga orang yang pandai ilmu silat, malah memiliki ilmu
meringankan tubuh yang baik sekali. Dia masih belum yakin betul apakah yang dimaksudkan dengan ‘pemuda
tani yang tampan’ tadi dia orangnya. Baru dia merasa yakin setelah tiga orang itu di dalam gelap menubruk
dan meringkusnya!
"Ehh, ehh... mengapa kalian menangkap aku?" Beng San memprotes, penuh keheranan, akan tetapi juga
marah.
"Diam kau, petani busuk! Kau kaki tangan pemberontak!"
"Bohong! Aku bukan petani, juga bukan pemberontak."
"Semua petani adalah pemberontak, jangan melawan kaiau tidak ingin mampus!"
Seorang di antara mereka mengayun tangan ke arah muka Beng San. Biar pun di dalam gelap, pemuda ini
dapat mengetahui datangnya pukulan. Ia mengelak, kedua lengannya bergerak dan pada lain saat ketiga
orang peringkusnya itu sudah terlempar cerai-berai ke belakang. Dan ketika mereka bangun sambil
mengaduh-aduh, ternyata pemuda yang tadi mereka ringkus itu telah lenyap tak berbekas lagi!
Dengan penuh kegemasan Beng San meloncat keluar, terus naik ke atas genteng. Di dalam gelap dia masih
melihat sosok bayangan beberapa orang berlari menuju ke dalam kota. Cepat dia mengikuti setelah mendapat
kenyataan bahwa seorang di antara mereka adalah pengemis tinggi kurus yang ramah, yang tadi berbisik
menyuruh kawan-kawannya meringkusnya.
Dia mengikuti dengan diam-diam, ingin tahu apa yang hendak mereka lakukan. Di suatu tikungan jalan, para
pengemis ini bertemu dengan sepasukan tentara pemerintah. Segera mereka berbisik-bisik dan bergabung
menjadi satu, kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah gedung besar yang berdiri di tengah kota.
Dengan cepat tapi teratur sekali mereka yang terdiri dari tiga puluh orang lebih ini merayap dan mengurung
rumah gedung itu.
Beng San tetap mengikuti mereka dan dia dapat menduga bahwa ini tentulah gedung hartawan Ong seperti
yang dirundingkan oleh para pengemis tadi. Ia pun bersiap sedia menolong karena maklum bahwa keluarga
hartawan Ong itu pasti berada dalam ancaman mala petaka.
Akan tetapi para pengurung itu segera mendapat kenyataan bahwa mereka sudah keliru. Dengan tanda suitan
para pengurung menyerbu ke dalam dan... rumah gedung itu telah kosong! Tak seorang pun manusia tinggal
di situ, agaknya burung-burung yang hendak mereka tangkap sudah terbang jauh sebelumnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Untuk melampiaskan kemarahan dan kekecewaan mereka, para tentara dan mata-mata yang berpakaian
pengemis itu kemudian menggeledah gedung, tentu saja tidak lupa untuk mengantongi barang-barang
berharga yang kecil-kecil dan merusak yang besar karena tak dapat mereka bawa. Beng San menyaksikan ini
semua dan menarik napas panjang.
Baru pertama kali setelah dia turun gunung dia menyaksikan kelakuan para tentara pemerintah yang tidak ada
ubahnya seperti perampok-perampok itu. Dan diam-diam dia kagum kepada Pek-lian-pai yang sekali lagi telah
dapat menipu mereka.
Sambil tertawa kecil Beng San lalu teringat kepada Tan Hok. Orang tinggi besar seperti raksasa itu juga
pernah menipu pasukan pemerintah penjajah. Agaknya yang memimpin rombongan orang Pek-lian-pai di kota
ini juga bukan seorang bodoh.
Dengan hati puas melihat para kaki tangan pemerintah penjajah itu marah-marah dan tertipu, Beng San diamdiam
meninggalkan tempat pengintaiannya dan di dalam gelap dia melihat seorang pengemis tua terbongkokbongkok
dari depan menghampirinya.
"Kasihanilah orang tua kelaparan, Kongcu (Tuan Muda)...," pengemis tua itu mengeluh.
Beng San menghela napas panjang. "Maafkan, Lopek. Aku sendiri tidak punya apa-apa, uang sepeser pun
tidak punya, roti sekerat pun tidak ada. Apa yang harus aku berikan kepadamu?"
"Kasihan, orang muda sengsara. Kalau begitu akulah yang harus memberikan sesuatu kepadamu." la
mengulur tangan dan memberikan sebuah benda kecil kepada Beng San.
Sebelum hilang herannya, Beng San sudah menerima benda itu dan pengemis tua tadi sudah terbongkokbongkok
lagi pergi dari situ. Benda itu ternyata hanyalah selipat kertas. Dibawanya benda itu ke bawah lampu
penerangan di pojok sebuah rumah dan dibacanya tulisan di atas kertas.
Adik Beng San,
Aku dan kawan-kawan berada di perahu-perahu nelayan sebelah selatan kota. Datanglah, kami
mengharapkan bantuanmu.
Tertanda: TAN HOK
Tan Hok di sini? Beng San tersenyum girang. Pantas saja serdadu-serdadu itu tertipu, kiranya pemuda
raksasa yang kelihatan bodoh tapi ternyata cerdik sekali itu berada di sini memimpin para pejuang! Dia menjadi
semakin kagum akan kecerdikan Tan Hok bersama kawan-kawannya yang ternyata segera dapat
mengenalnya setelah berpisahan selama delapan tahun.
Surat itu diremasnya hancur, lalu dia menyelinap di antara kegelapan malam menuju ke arah selatan. Setelah
dia tiba di sebelah selatan kota yang sunyi, dia melihat banyak perahu nelayan di pinggir sungai dan tak
tampak seorang manusia pun.
Selagi dia kebingungan, tidak tahu di mana adanya Tan Hok dan kawan-kawannya, dia melihat bayangan
orang yang dengan cepatnya berkelebatan di dekat kumpulan perahu. Meski pun bayangan itu berkelebat
cepat luar biasa, namun mata Beng San yang tajam masih dapat melihat jelas bahwa bayangan itu adalah
tubuh seseorang yang langsing seperti tubuh seorang wanita, dan bahwa orang itu memiliki ilmu yang tinggi.
la segera berjalan seperti biasa supaya orang itu tidak akan tahu bahwa dia pun tadi mempergunakan ilmu lari
cepat. Di tempat seperti ini yang penuh rahasia, penuh dengan pertentangan dan dalam keadaan perang, dia
harus berlaku hati-hati agar jangan sampai menimbulkan kecurigaan, yang akibatnya tanpa disengaja akan
merugikan Tan Hok serta kawan-kawannya.
Dalam sekejap mata saja bayangan itu lenyap. Tidak lama kemudian, muncul bayangan orang bongkok dari
kumpulan perahu, yang berjalan menghampirinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kasihanilah orang tua kelaparan, Kongcu...," bayangan ini berkata.
Beng San berdebar jantungnya. Inilah pengemis tua yang tadi memberi surat kepadanya. Tanpa ragu-ragu lagi
mendekati, "Lopek, di mana Tan-twako?" ia bertanya langsung.
‘Kakek pengemis’ itu memberi isyarat dengan tangan supaya Beng San mengikutinya dan... ternyata kakek ini
sama sekali tidak bongkok, malah kini dapat berjalan cepat dan tangkas. Kakek itu tidak membawanya ke
tempat di mana perahu-perahu berkumpul, melainkan sebaliknya, menuju ke sebuah hutan kecil di tepi sungai!
Dan di tengah-tengah hutan itulah Tan Hok serta belasan orang temannya berkelompok, duduk bercakapcakap
dengan suara bisik-bisik.
Mereka bersikap sangat berhati-hati, bahkan api unggun saja mereka tidak berani bikin, padahal malam itu
dingin sekali dan di hutan itu banyak nyamuknya. Hanya sebuah lampu yang dikerodong kertas merah
dinyalakan orang, cukup menerangi wajah mereka yang duduk di dekat lampu. Di antara orang-orang itu, Beng
San melihat wajah Tan Hok. Masih seperti dulu, delapan tahun yang lalu. Masih tampan, gagah, dan tinggi
besar bagaikan raksasa. Tubuhnya yang tinggi besar itu menjulang satu kaki lebih di atas kepala semua
teman-temannya.
"Tan-twako...!" Beng San segera maju memberi hormat.
"Ha-ha-ha, Adik Beng San, kau sudah dewasa sekarang!"
Tan Hok melompat bangun dan memeluknya, menepuk-nepuk pundaknya. Dua pasang tangan saling
berpegang erat dan keduanya tersenyum girang.
"Tan-twako, harap kau dan teman-teman yang lain hati-hati. Tadi aku melihat bayangan orang menyelinap di
antara perahu-perahu," bisik Beng San.
Tan Hok menoleh kepada kakek yang tadi menyambut Beng San. "Betulkah itu Ciu-siok (Paman Ciu)?"
Kakek itu berkata dengan suara menghibur, "Aku hanya melihat kedatangan saudara Beng San seorang. Tidak
ada bayangan orang lain. Kalau pun ada dan aku sendiri tidak melihat, dia tak akan dapat terlepas dari
penjagaan teman-teman kita."
Tan Hok kembali menghadapi Beng San. "Jangan kau khawatir, Adik Beng San. Kami sudah menaruh
penjaga-penjaga di setiap sudut daerah ini. Apa bila betul ada orang yang mengintai tempat ini, pasti akan
diketahui oleh para penjaga kami itu." Ia tertawa lagi dan memandang kepada Beng San dengan kagum.
Diam-diam Beng San tak membenarkan pendapat ini. Gerak-gerik orang tadi terlalu cepat, mungkin sekali
takkan dapat terlihat oleh para penjaga pikirnya. Akan tetapi, tentu saja dia merasa tidak enak kalau
menyatakan pikiran ini dengan kata-kata, khawatir kalau-kalau disangka meremehkan para penjaga. Maka dia
diam saja.
"Adik Beng San. Perbuatanmu di dalam kelenteng tadi hebat. Ternyata kepandaianmu sudah maju pesat.
Sayang kau tidak sempat membalas anjing-anjing Mongol yang hendak menangkapmu itu dengan pukulan
mematikan."
Beng San kaget. Kiranya Tan Hok sudah memasang mata-mata di mana-mana sampai tahu pula tentang
kejadian di dalam kelenteng tua di mana dia hendak ditangkap oleh para serdadu Mongol yang menyamar
sebagai kaum jembel. Akan tetapi hatinya lega mendengar kata-kata Tan Hok yang menyatakan bahwa orang
raksasa ini masih belum tahu bahwa dia telah memiliki kepandaian yang tinggi.
"Ah, Tan-twako, kiranya kau sudah mengetahui pula hal itu. Aku hanya merasa kaget dan juga penasaran
kenapa aku yang tidak punya kesalahan hendak ditangkap. Maka setelah berhasil meloloskan diri, aku
kemudian lari pergi. Kau menyuruh orang memanggilku dan mengirim surat mengharapkan bantuanku,
sebetulnya bantuan apakah yang dapat aku lakukan untukmu?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Sebelum kau mendengar tentang bantuan yang dapat kau lakukan untuk kami, lebih dulu akan kujelaskan
kepadamu tentang keadaan-keadaan selama ini. Adik Beng San, selama bertahun-tahun ini, ke mana saja kau
pergi dan apakah kau sudah mengetahui tentang keadaan perjuangan?"
Beng San menggeleng kepala, wajahnya berubah sedikit karena dia merasa jengah dan malu. "Aku... aku
bekerja membantu seorang nelayan, dan baru saja aku memasuki dunia ramai, aku tidak tahu apa-apa,
Twako."
"Nah, kau dengar baik-baik penuturanku…."
Dengan panjang lebar Tan Hok lalu menceritakan keadaan pemberontakan yang makin lama semakin hebat
itu. Menceritakan pula betapa rakyat yang dipimpin oleh pendekar-pendekar besar melakukan perlawanan
terhadap pemerintah Mongol dan kini sedikit demi sedikit sudah memperoleh kemajuan dan kemenangan.
Tan Hok sendiri dengan teman-temannya, para anggota Pek-lian-pai yang dia pimpin ini, sekarang bekerja
langsung di bawah pemimpin besar para pemberontak, Ciu Goan Ciang! Malah pemuda raksasa ini mendapat
kepercayaan dari Ciu Goan Ciang dan melatihnya dengan beberapa macam ilmu silat tinggi. Kemudian Tan
Hok menceritakan mengenai keadaan para partai besar persilatan.
Ketika dia bercerita tentang Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai, Beng San mendengarkan penuh gairah. Di antara
para partai persilatan, hanya dua partai besar ini pernah dia ketahui, bahkan secara langsung dia pernah
berhubungan dengan kedua partai itu. la pernah berdiam di Hoa-san, mengenal ketuanya, mengenal pula
murid-muridnya, yaitu Hoa-san Sie-eng dan cucu-cucu muridnya, Kwa Hong, Thio Ki, Thio Bwee, dan Kui Lok.
Ada pun tentang Kun-lun-pai, biar dia tidak mempunyai hubungan langsung, namun dia pernah membela murid
Kun-lun yang bernama Pek-lek-jiu Kwee Sin. Pernah pula dia melihat dua orang Kun-lun, Bun Si Teng dan Bun
Si Liong, tewas di depan kakinya dan menerima pesan Bun Si Teng agar dia membela dan melindungi anak
jago Kun-lun ini yang bernama Bun Lim Kwi. Semua ini masih terbayang di depan matanya seakan-akan baru
terjadi kemarin hari. Maka, tidak aneh kalau sekarang dia mendengarkan penuturan Tan Hok dengan penuh
perhatian.
Tan Hok menarik napas panjang. ”Sayang…," dia melanjutkan ceritanya, “karena yang dilancarkan oleh orangorang
Ngo-lian-kauw siasat liclk dan penuh kecurangan dari ketua Ngo-lian-kauw, dua partai besar itu. Kunlun-
pai dan Hoa-san-pai, dapat diadu domba dan terpecah-belah, menjadi dua partai yang selalu bermusuhan.
Padahal kalau dua partai itu dapat ikut membantu perjuangan rakyat menumbangkan kekuasaan penjajah,
kedudukan para pejuang akan menjadi lebih kuat lagi. Semua ini adalah gara-gara kelemahan hati jago muda
Kwee Sin..." Kembali Tan Hok menarik napas panjang.
"Bagaimana dengan dia setelah dia dulu dilarikan oleh Hek-hwa Kui-bo?” Beng San tak sabar lagi bertanya.
"Kau tahu tentang itu?" Tan Hok bertanya heran, tapi lalu disambungnya, "Kau memang anak aneh, ini sudah
kuketahui sejak pertemuan kita yang pertama. Kau tanya tentang Kwee Sin? Justru dia itu yang menjadi biang
keladi semua pertentangan, karena hatinya yang lemah, mudah roboh menghadapi bujuk rayu dan kecantikan
ketua Ngo-lian-pai. Pek-lek-jiu Kwee Sin, jago muda yang berkepandaian tinggi itu setelah dilarikan oleh pihak
Ngo-lian-pai, menjadi makin binal dan tergila-gila kepada ketua Ngo-lian-pai yang berjuluk Kim-thouw Thian-li.
Hanya beberapa bulan setelah dua orang suheng-nya, yaitu dua saudara Bun tewas dalam pertempuran di
Hoa-san menghadapi murid-murid Hoa-san-pai, Kwee Sin bersama kekasihnya, ketua Ngo-lian-pai dan
beberapa orang tokoh lagi dari Ngo-lian-kauw, bahkan diam-diam juga dibantu oleh Hek-hwa Kui-bo,
menyerbu Hoa-san, berhasil melukai Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa, malah berhasil membunuh Thio Wan
It dan Kui Keng. Mereka meninggalkan yang luka-luka dan menyatakan bahwa mereka membunuh dua orang
tokoh Hoa-san itu untuk menebus kematian dua saudara Bun dari Kun-lun-pai."
Beng San membelalakkan matanya "Hebat...!"
Dan hatinya terasa perih penuh kasihan ketika dia teringat kepada Thio Ki, Thio Bwee, dan Kui Lok yang
kematian ayah mereka.
"Bagaimana dengan ketua Hoa-san-pai, apakah dia tidak membantu murid-muridnya?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Tentu saja Lian Bu Tojin turun tangan, akan tetapi dengan adanya Hek-hwa Kui-bo, dia tidak berdaya banyak.
Semenjak itu, permusuhan selalu terjadi antara Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai."
"Kenapa Kun-lun-pai juga terbawa-bawa dalam hal ini? Bukankah Kwee Sin menyerbu Hoa-san-pai atas
kehendaknya sendiri dan bersama orang-orang Ngo-lian-kauw, bukan atas kehendak Kun-lun-pai?"
"Hoa-san-pai rupa-rupanya tidak mau tahu akan hal ini, karena ke mana mereka harus mencari Kwee Sin?
Kwee Sin semenjak itu lenyap bersama Ngo-lian-kauw dan celakanya, secara rahasia Kwee Sin lalu ikut
membantu Ngo-lian-kauw memusuhi partai-partai yang membantu para pejuang! Apa bila dulu kedua partai
besar itu, baik Hoa-san-pai mau pun Kun-lun-pai, hidup tenang dan damai, sekarang keduanya mengumpulkan
bekas-bekas murid mereka dan membentuk kekuatan yang terdiri dari murid-murid yang pandai, selalu siap
untuk saling gempur."
Beng San mendengarkan dengan kening berkerut. "Ah, sayang sekali..." hanya demikian komentarnya.
Dia benar-benar merasa menyesal sekali, mengapa permusuhan yang terang-terangan disebabkan oleh Ngolian-
kauw itu bisa sampai demikian berlarut-larut. Akhirnya, karena rasa penasaran membuat dia berkata, "Jika
kedua partai sudah tahu bahwa permusuhan itu disebabkan oleh tipu muslihat ketua Ngo-lian-kauw, kenapa
mereka tidak memusuhi Ngo-lian-kauw saja?"
"Mereka pun kedua pihak sudah mulai melakukan permusuhan dengan Ngo-lian-kauw, akan tetapi dendam di
antara Hoa-san dan Kun-lun agaknya lebih parah dan mendalam."
Dengan panjang lebar Tan Hok lalu menuturkan semua kejadian yang diketahuinya dan diam-diam Beng San
girang sekali bahwa dia bertemu dengan raksasa ini karena ternyata pengetahuan Tan Hok tentang dunia
kang-ouw dan semua peristiwa yang terjadi, sangat luas. Kini menjadi jelas bagi Beng San apa yang telah
terjadi selagi dia pergi menyembunyikan diri sebagai nelayan.
Betapa pun luas pengetahuan Tan Hok tentang dunia kang-ouw, ketika ditanya tentang Song-bun-kwi, Hekhwa
Kui-bo dan lain-lain tokoh sakti itu, Tan Hok menggeleng-geleng kepalanya.
"Orang-orang seperti mereka itu bukan manusia biasa lagi. Tentu saja mereka tidak peduli tentang perjuangan,
oleh karena mereka termasuk orang-orang aneh yang selalu berbeda dengan manusia biasa. Bagaimana bisa
mengikuti jejak mereka? Andai kata mereka ikut mencampuri urusan perjuangan, baik yang membela pejuang
mau pun yang mendukung Kerajaan Goan, tentu mereka lakukan dengan sembunyi-sembunyi."
Agak kecewa hati Beng San karena maksud pertanyaannya tentang orang-orang sakti itu sebenarnya
ditujukan untuk mengetahui berita tentang seorang anak perempuan gagu!
"Twako, setelah kau menceritakan semua itu kepadaku, agaknya tidak ada sesuatu yang mendorong kau
membutuhkan bantuanku. Jika yang kau maksudkan dengan bantuan itu adalah permintaan seperti dulu agar
aku masuk menggabungkan diri dengan Pek-lian-pai, terpaksa aku tak dapat memenuhi permintaanmu. Aku
suka untuk membantu perjuangan Pek-lian-pai, akan tetapi tidak suka terikat oleh sesuatu perkumpulan
kemudian terlibat ke dalam permusuhan-permusuhan yang saling mendendam."
"Aku bisa mengerti pendirianmu, Beng San. Tidak, pertolongan yang kubutuhkan darimu ini lebih bersifat
pribadi. Ketahuilah, aku sudah diserahi tugas yang sangat penting oleh pemimpin kami, Ciu Goan Ciang
taihiap. Dan sekarang, selagi aku bingung bagaimana akan dapat melakukan tugas ini dengan sempurna, aku
bertemu dengan kau. Hatiku yakin bahwa hanya kau seoranglah yang tepat untuk melaksanakan tugas ini."
Berdebar-debar hati Beng San. Tugas dari pemimpin besar Ciu Goan Ciang? Bukan main! Dia merasa sangat
terhormat dan bangga sekali. Akan tetapi mukanya yang tampan tidak membayangkan sesuatu.
"Pendekar besar Ciu Goan Ciang amat menyesal dengan adanya gontok-gontokan antara Hoa-san-pai dan
Kun-lun-pai. la pun maklum apa yang menyebabkan permusuhan antara dua golongan itu, bukan lain adalah
karena siasat pemerintah Mongol yang menggunakan Ngo-lian-kauw. Bulan depan Hoa-san-pai mengadakan
pesta perayaan hari ulang tahun ke seratus dari Hoa-san pai. Tentu banyak sekali tokoh-tokoh besar dunia
dunia-kangouw.blogspot.com
kang-ouw hadir. Menurut penyelidikan Pek-lian-pai, pada kesempatan ini Kun-lun-pai akan datang kembali
untuk membuat perhitungan. Karena permusuhan itu telah berlarut-larut, maka muncullah sahabat-sahabat
dan musuh-musuh baru bagi kedua pihak. Ada golongan-golongan yang membantu Hoa-san-pai, sebaliknya
banyak pula yang pro kepada Kun-lun-pai. Karena itu dapat diramalkan bahwa akan terjadi sesuatu yang hebat
di puncak Hoa-san nanti. Nah, pemimpin kami tidak setuju dengan adanya perpecahan di kalangan kita sendiri,
maka dia mempercayakan kepadaku untuk berusaha mendamaikan mereka. Aku membawa surat bagi kedua
ketua perkumpulan Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai. Tetapi mudah saja diduga bahwa di dalam pertemuan besar
itu, pasti di sana akan penuh dengan orang-orang pihak Ngo-lian-kauw dan pihak pemerintah pasti akan
menyebar mata-matanya pula. Aku sedikit banyak telah dikenal di antara mereka, maka mereka pasti akan
menghalangiku sebelum aku sempat melakukan sesuatu untuk mendamaikan Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai.
Juga orang-orangku sebagian besar sudah dikenal. Oleh karena itu, Adik Beng San, engkaulah orangnya yang
paling tepat untuk mewakiliku melakukan tugas ini. Sanggupkah kau?"
Beng San mengangguk-angguk. Tugas itu adalah tugas mulia. Tugas untuk mencegah perpecahan antara
bangsa sendiri, antara kedua partai besar yang memiliki nama harum.
Apa lagi kalau diingat bahwa di dalam Hoa-san-pai terdapat orang-orang yang di waktu kecil sudah dia kenal
baik, terutama Kwa Hong. Ada pun di pihak Kun-lun-pai terdapat cucu murid yang harus dia bela, yaitu Bun
Lim Kwi putera mendiang Bun Si Teng yang sudah meninggalkan pesan terakhir kepadanya dan yang harus ia
hormati.
"Baiklah, Twako. Aku akan berusaha melakukan tugasmu itu sebaiknya."
Tan Hok nampak girang sekali. Akan tetapi tiba-tiba Beng San menggunakan dua kakinya menginjak lampu
merah yang diletakkan di tanah. Lampu seketika padam. Terdengar jerit kesakitan dan robohnya tubuh orangorang
tak jauh dari situ. Disusul pula mendesingnya senjata-senjata rahasia yang menghujani tempat
perundingan ini.
Tan Hok sudah cepat memberi aba-aba kepada kawan-kawannya. Senjata dicabut dan mereka melesat ke
kanan kiri, mencari jalan untuk melarikan diri. Akan tetapi kemudian berkelebat bayangan putih yang makin
lama semakin banyak sekali.
Kiranya tempat itu sudah dikurung, puluhan orang banyaknya yang mengurung. Beberapa orang anggota Peklian-
pai yang bertugas menjaga di luar tadi sudah dirobohkan musuh.
"Pemberontak-pemberontak Pek-lian-pai, lebih baik kalian menyerah!" terdengar bentakan kasar seorang yang
bertubuh tinggi besar.
Tan Hok melihat orang ini, lalu meloncat dari tempat persembunyiannya dan di lain saat dua orang yang
tubuhnya sama-sama tinggi besar ini sudah berperang tanding dengan hebatnya. Bunga api muncrat
berhamburan ketika pedang di tangan Tan Hok bertemu dengan golok lawannya itu. Agaknya keduanya
adalah ahli-ahli gwakang yang memiliki tenaga seperti kerbau jantan kuatnya. Nyaring bunyi pertemuan
senjata itu dan kedua orang raksasa ini merasa betapa telapak tangan mereka pedas dan sakit.
Beng San yang masih duduk di tempat tadi karena tiba-tiba semua anggota Pek-lian-pai sudah menghilang,
melihat empat orang lain maju dari belakang Tan Hok, siap dengan rantai-rantai besi. Rupa-rupanya mereka
ingin menawan Tan Hok dalam keadaan hidup. Sekali menggerakkan kakinya pemuda ini telah melesat ke
depan. Kaki tangannya bekerja laksana kilat, dan tanpa mengerti mengapa, empat orang itu tahu-tahu sudah
terlempar dan terjengkang ke belakang tanpa dapat bangun lagi karena kaki tangan mereka patah tulangnya!
Setelah melihat bahwa penyerang yang datang menyerbu itu adalah pengemis-pengemis yang dibantu oleh
serdadu Mongol, tahulah Beng San bahwa dia harus membantu para anggota Pek-lian-pai. Tubuhnya lalu
bergerak ke sana ke mari untuk membantu setiap temannya yang terdesak. Untuk sementara ia meninggalkan
Tan Hok karena dari gerakan raksasa itu menghadapi lawannya, dia maklum bahwa Tan Hok akan dapat
menang. la lebih mementingkan membantu mereka yang terdesak.
Akan tetapi segera dia mendapat kenyataan betapa sia-sia kalau melakukan perlawanan secara nekat. Jumlah
lawan sangat banyak, ada puluhan orang, malah mungkin tidak kurang dari seratus orang. Sedangkan di pihak
dunia-kangouw.blogspot.com
Pek-lian-pai hanya ada tujuh belas orang termasuk dia sendiri. Dan pertandingan dilakukan di dalam gelap,
kacau-balau! Memang dengan sangat mudahnya Beng San mampu merobohkan belasan orang lawan tanpa
membunuh mereka yang merupakan pantangan baginya, akan tetapi juga di antara para anggota Pek-lian-pai,
sedikitnya sudah roboh lima enam orang.
Sementara itu, tepat seperti yang diduga oleh Beng San, pelan-pelan Tan Hok dapat mendesak lawannya.
Pada suatu saat, ketika lawannya sudah terdesak hebat, perwira Mongol itu secara nekat tanpa mempedulikan
datangnya hantaman dari tangan kiri Tan Hok, membacok pundak Tan Hok sekuat tenaga dengan goloknya.
Andai kata Tan Hok melanjutkan pukulannya yang pasti mengenai dada lawan, tak dapat dicegah lagi golok itu
pasti akan membabat putus pundaknya. Tan Hok tentu saja tidak mau menukarkan pundaknya dengan sebuah
pukulannya. Cepat dia menarik tangan kiri dan menggerakkan pedang sekuat tenaga menangkis.
"Krakkk!"
Dua senjata itu bertemu, api berbunga berhamburan dan kedua senjata itu patah! Sambil menggeram marah
kedua orang yang bertubuh raksasa ini melempar gagang senjata ke bawah, lalu melanjutkan perkelahian
mereka mempergunakan sepasang kepalan tangan yang sebesar kepala orang berikut sepasang kaki yang
kokoh kuat.
Hebat luar biasa pertandingan ini. Terdengar suara bak-bik-buk ketika kepalan-kepalan itu mengenai sasaran.
Akan tetapi keduanya ternyata amat kuat tubuhnya, tidak roboh oleh pukulan, hanya terengah-engah dan
mendesis-desis, memaki-maki.
Akhirnya, dengan sebuah tendangan yang tepat mengenai lambung lawan, disusul dua kali pukulan pada leher
dan ulu hati, Tan Hok berhasil membuat lawannya roboh berdebuk seperti pohon tumbang.
Tiba-tiba berkelebat bayangan yang gesit sekali ke arah Tan Hok. Pemuda raksasa ini mengangkat tangan
kanan menangkis datangnya pukulan yang sangat kuat dan cepat, namun lebih cepat lagi pukulan itu ditarik
kembali dan sebuah pukulan lain secara gelap telah menghantamnya dari samping, tepat mengenai rusuknya.
Tan Hok mengeluh dan roboh tergelimpang, muntah-muntah darah!
Beng San mendengar keluhan Tan Hok, cepat melompat mendekati. Kaget dia melihat temannya itu sudah
roboh terlentang. Segera dia mengempit tubuh yang tinggi besar itu dengan tangan kirinya.
"Saudara-saudara, lari...!" serunya cepat dengan suara yang nyaring luar biasa sehingga mengagetkan kedua
pihak yang sedang bertempur.
Para anggota Pek-lian-pai yang hanya tinggal beberapa orang dan mempertahankan diri dengan gigih dan
nekat, melihat Tan Hok sudah roboh, menjadi kendor semangatnya. Apa lagi ketika mendengar seruan Beng
San, mereka lalu mencari kesempatan untuk mundur.
Beng San sendiri mengamuk. Dengan sebelah tangan menghadapi puluhan orang lawan, tangan kiri
mengempit tubuh Tan Hok, dia menahan serbuan orang-orang itu yang hendak mengejar larinya sisa anggota
Pek-lian-pai. Tak lama kemudian setelah melihat bahwa di situ tidak ada lagi anggota Pek-lian-pai, Beng San
lalu meloncat ke belakang dan dengan beberapa loncatan lagi dia sudah dapat meninggalkan semua
pengeroyoknya. Cepat dia berlari ke dalam hutan, menyelinap di antara pohon-pohon besar dan gelap.
Tiba-tiba dari balik pohon muncul bayangan orang yang bertubuh langsing. Tanpa berkata apa-apa orang itu
melayangkan pukulan ke arah Beng San. Pukulan yang dilakukan perlahan saja, namun memiliki kecepatan
dan kekuatan yang amat hebat.
Terkejut juga Beng San ketika merasa betapa angin pukulan ini tajam bagaikan mata pedang. Maka
maklumlah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang lawan tangguh.
Namun, dia merasa bukan waktunya untuk melakukan pertandingan. Luka Tan Hok harus diperiksa dan
diobati, apa lagi dengan mengempit tubuh Tan Hok. Meski dia tidak takut menghadapi lawan itu, akan tetapi
dunia-kangouw.blogspot.com
amat berbahaya bagi keselamatan Tan Hok sendiri. la mengerahkan tenaga di lengan kanan lalu menangkis
pukulan itu.
Penyerang itu mengeluarkan seruan kaget, demikian juga Beng San karena pemuda ini merasa betapa
lengannya bertemu dengan tenaga yang lunak halus dan mengandung hawa mukjijat, membuat lengannya
tergetar. Sementara itu, orang tadi sudah menyerang lagi dengan dua kali pukulan.
Kembali Beng San menangkis, kini dia menggabung tenaga Im dan Yang di tubuhnya sehingga keadaan
lengannya dijalari tenaga yang tiada bandingnya. Penyerangnya lantas terpental ke belakang, mengeluarkan
seruan tertahan lalu melesat pergi, lenyap ditelan kegelapan malam.
Beng San tidak peduli, hanya sedetik dia mengenal potongan tubuh orang itu. Tak salah lagi, penyerangnya
adalah orang yang dia lihat bayangannya malam tadi ketika sedang mencari tempat persembunyian Tan Hok.
Dan lengan itu begitu halus dan lunak. Hanya ada dua macam keterangan untuk ini, pertama, pemilik lengan
itu seorang laki-laki yang sudah memiliki Iweekang yang sangat tinggi, ke dua, pemilik lengan itu adalah
seorang wanita!
Menjelang fajar dia berhenti dan menurunkan tubuh Tan Hok di atas rumput. Ia memeriksa luka pada bagian
tulang rusuk setelah membuka baju pemuda raksasa itu. Beng San mengerutkan kening.
"Kejam..." katanya perlahan. Dua batang tulang rusuk patah dan kulitnya menghitam.
la maklum bahwa hawa pukulan yang melukai Tan Hok mengandung tenaga Yang. Cepat dia menempelkan
telapak tangan kirinya ke tulang rusuk yang sebelah lagi, mengerahkan tenaga Im di tubuhnya dan dengan
cara menyalurkan hawa di dalam tubuh, dia mengobati luka Tan Hok.
Tentu saja tidak dapat sekaligus sembuh, akan tetapi sejam kemudian dia merasa yakin bahwa Tan Hok
tertolong nyawanya. Racun hawa pukulan telah dia basmi dengan tenaga Im tadi.
Tan Hok mengeluh, membuka mata. Ketika melihat Beng San di sisinya, dia tersenyum. "Kau hebat, Adik Beng
San... sudah kuduga... kau lihai sekali..."
"Kau yang hebat, Twako. Dua tulang rusukmu patah, masih bisa tersenyum," kata Beng San, benar-benar
bangga dan kagum.
Bangga karena Tan Hok adalah seorang yang sama nama keturunannya dengan dia. Bukankah dia,
seingatnya, juga bernama keluarga Tan? Pantas saja dia dahulu begitu bertemu sudah merasa sangat suka
kepada Tan Hok dan sekarang dia merasa bangga mempunyai sahabat satu nama keturunan, yang demikian
gagahnya.
Sambil meringis menahan rasa nyeri Tan Hok menggerakkan tangannya merogoh saku, mengeluarkan dua
lipat kertas. "Inilah dua surat itu, satu untuk ketua Hoa-san-pai, satu untuk ketua Kun-lun-pai. Lekas, adikku,
pergilah kau ke Hoa-san, hadiri perayaan itu dan berikan ini kepada mereka. Jaga agar jangan sampai terjadi
pertandingan hebat..."
"Tapi kau..., Twako...?"
"Aku tidak apa-apa, kurasa tidak terluka sebelah dalam. Tidak merasa apa-apa, hanya tulang rusuk, itu
mudah... yang penting adalah kehadiranmu di sana dan surat-surat ini."
"Baiklah, Twako," berkata Beng San sambil menerima surat-surat itu dan menyimpannya, "jaga baik-baik
dirimu. Aku akan pergi ke Hoa-san, bukan sebagai seorang Pek-lian-pai, tapi..."
"Hal itu bukan soal yang penting asal kau bisa mencegah agar kedua partai itu tidak saling bermusuhan, dapat
insyaf dan kalau mungkin membantu perjuangan kita."
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah memesan banyak-banyak, kedua orang sahabat itu berpisah. Tan Hok yang gagah perkasa itu biar
pun menanggung nyeri hebat, masih dapat berjalan cepat untuk menjauhkan diri dari bahaya pengejaran
pasukan Mongol.
Ada pun Beng San juga cepat menuju ke Hoa-san. la ingin datang di Hoa-san sebelum perayaan hari ulang
tahun diadakan. Terus terang saja dia ingin sekali bertemu dengan ‘anak-anak’ itu, terutama sekali si
‘kuntilanak’…..
********************
Baru kurang lebih dua li Beng San berjalan di tengah hutan, menikmati keindahan suara burung-burung pagi
yang mulai bernyanyi-nyanyi di antara daun-daun pohon, tiba-tiba dia berhenti, memandang tajam ke kiri.
Serentak bermunculan lima orang dari balik batang pohon besar.
Kiranya mereka adalah sisa-sisa anggota Pek-lian-pai, nampak sedih dan lelah, dipimpin oleh ‘pengemis’ tua
yang dahulu menyambut Beng San. Kakek pengemis ini pun terluka lengannya, berdarah dan dibalut. Begitu
melihat Beng San mereka lalu maju mendekat.
"Di mana Tan-hiante?" tanya pengemis tua itu, sekarang tidak berpura-pura lagi minta sedekah seperti dulu.
"Dia selamat, minta kutinggalkan di tengah hutan, kurang lebih dua li dari sini. Harap kalian lekas menyusulnya
dan merawat lukanya. Dua buah tulang rusuknya patah-patah. Akan tetapi keselamatan nyawanya tidak
terancam," kata Beng San.
Kakek itu mengangguk-angguk dan melihat Beng San dengan kagum. "Kau masih muda, sudah begitu lihai.
Pantas Tan-hiante mempercayaimu. Kalau tidak ada kau, kiranya kami semua sudah tewas. Hanya kami
berlima, berenam dengan Tan-hiante yang masih hidup. Orang muda, dari Tan-hiante tentu kau sudah
menerima tugas pergi ke Hoa-san, bukan?"
Beng San mengangguk. Kakek itu lalu memandangnya dari kepala sampai ke kaki penuh perhatian.
"Tak baik..., pakaianmu itu. Seperti petani muda. Padahal setiap orang petani sekarang dicurigai. Kau bawa
bekal uang?"
Beng San kali ini menggeleng kepala.
"Lebih tidak baik lagi. Tanpa uang akan mudah dicap pemberontak. Orang muda yang gagah, kau terimalah
beberapa stel pakaian ini dan sedikit uang untuk bekal. Tak boleh kau tolak karena kau juga telah membantu
perjuangan kami."
Tak enak hati Beng San untuk menolak karena dia sudah mulai dapat menyelami watak orang-orang ini. Ia
menerima sebungkus besar pakaian dan sekantung uang perak, lalu menghaturkan terima kasih. Kemudian
mereka berpisah.
Setelah di situ sunyi, Beng San hendak mentaati pesan kakek pengemis yang dia percaya sudah luas
pengalamannya itu. Ia menanggalkan pakaiannya dan mengenakan satu stel pakaian pemberian mereka.
Ternyata pas benar dan dia kini berubah sebagai seorang muda yang tampan dan pantas, mirip seorang
pemuda terpelajar!
Memandangi pakaiannya, Beng San merasa malu sendiri. Baru bisa berpakaian pantas kalau sudah diberi
orang lain, pikirnya. Pemuda macam apa aku ini! Betapa pun juga, dengan pakaian bersih menutupi tubuhnya,
bahkan masih ada beberapa stel lagi yang digendong di punggungnya, mengantongi bekal yang lumayan pula,
dia merasa lebih lega.
“Semua ini akan melancarkan perjalananku,” pikirnya.
Dengan hati ringan dia lalu menyusuri tepi Sungai Yang-ce menuju ke Hoa-san.
dunia-kangouw.blogspot.com
Jalan yang dilaluinya makin sunyi. Bukan merupakan jalan umum lagi. Jalan setapak yang liar dan semakin
jauh ke utara makin sunyi. Apa lagi dia harus membuka jalan di antara tetumbuhan liar di pinggir sungai. la
harus menyeberang!
Alangkah sukarnya menyeberangi sungai yang luar biasa lebarnya ini tanpa perahu. Tidak mungkin itu. Ia
berhenti di pinggir sungai, memandang ke sana ke mari, mengharapkan adanya perahu agar dapat
menyeberangkannya ke depan.
Tiba-tiba saja telinganya mendengar suara orang bernyanyi. Suara wanita, tak salah lagi, merdu dan nyaring.
Makin lama suara itu makin jelas terdengar.
Beng San berdiri terkesima pada saat dia melihat seorang gadis berpakaian serba hijau mendayung perahu
kecil di tengah sungai. Gadis itu mendayung perlahan, tapi sengaja menimpakan dayung ke air sehingga
menimbulkan suara yang berirama, yang mengikuti irama lagunya. Merdu dan indah sekali bunyi dayung
menimpa air sehingga air memercik ke atas, mengikuti suara nyanyiannya, indah dan aneh.
Mulut yang kecil mungil dan berbibir merah itu bergerak-gerak menyanyi. Wajahnya amat manis, dengan
sepasang mata yang lebar serta hidung kecil mancung dan sepasang pipi kemerahan. Rambut yang dibiarkan
terurai kacau ke kanan kiri itu bahkan menambah kemanisannya.
Malam purnama sudah lalu,
bunga seruni sudah rontok,
aku yang merana seorang diri
kenapa belum mendapatkan yang kucari?
Hanya demikian kata-kata yang dinyanyikan, diulang-ulang lagi, tapi tidak membosankan. Beng San yang
mendengarkan dengan teliti dapat menangkap hal-hal yang mengharukan hatinya. Di dalam nyanyian itu dia
dapat membayangkan perasaan yang penuh harapan, penuh kemarahan, penuh sesal, penuh semangat dan
juga penuh rahasia.
Agaknya sudah cukup lama nona itu mencari sesuatu. Apakah sesuatu itu? Orangkah? Bendakah? Dia sudah
mulai merasa habis sabar dan jengkel, juga berduka. Namun, masih sangat mengharapkan untuk dapat
menemukan yang ia cari-cari.
Siapakah nona itu? Demikianlah Beng San berpikir. Siapa pun juga dia, bukankah dia memiliki perahu yang
akan dapat menolongku menyeberang? Boleh kucoba!
"Ehh, Nona yang berperahu...!” la memanggil.
Kalau saja Beng San menjadi dewasa di kota, tentu dia sekali-kali tidak berani memanggil seorang gadis yang
berperahu seorang diri seperti ini. la tidak pernah bergaul dengan wanita, tidak mengerti pula akan tata cara
kesopanan kota, maka sikapnya terbuka dan jujur, sama sekali tidak mengerti bahwa sikap ini bisa dianggap
kurang ajar atau ceriwis.
Nona berbaju hijau itu kaget mendengar teguran Beng San dan cepat-cepat menengok. Sepasang mata yang
bersorot tajam dan galak menatap wajah Beng San yang memaksa diri tersenyum, biar pun hanya merasa
tidak enak karena sikap nona itu seakan-akan hendak marah. la mengulangi kata-katanya.
"Nona berperahu yang baik hati. Tolonglah aku seorang pelancong menyeberang ke sana dengan perahu," la
mengatur kata-katanya supaya terdengar halus.
Sejenak nona baju hijau itu tidak menjawab, hanya sepasang matanya menatap tajam tak pernah berkedip
sehingga Beng San merasa makin tidak enak hatinya.
”Kuharap saja aku tidak terlalu mengganggumu dengan permintaan tolong ini," katanya lagi.
"Mengganggu katamu?" Bibir merah itu cemberut tapi tambah manisnya. "Kau laki-laki ceriwis! Laki-laki
lancang mulut!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Beng San menengok ke kanan kiri, mengira bahwa ada orang laki-laki lain yang bersikap kurang ajar berdiri di
situ dan dimaki oleh nona baju hijau ini. Tetapi setelah mendapat kenyataan bahwa yang berada di situ hanya
dia seorang bersama bayangannya, dia mulai percaya bahwa dialah yang dimaki.
"Ceriwis? Apa ceriwis itu? Bermulut lancang? Aku...?" la bertanya penuh keheranan.
"Ya, kau kurang ajar dan bermulut lancang! Berani memanggil-manggil seorang wanita yang tidak kau kenal!"
Beng San melengak, makin terheran. la memang ahli fiisafat, maka mendengar ucapan yang menyerangnya ini
segera dia tangkis dengan kata-kata filsafat yang sesungguhnya sifatnya berkelakar.
"Apa bila orang yang saling tidak mengenal semua berdiam diri tak berani memanggil, alangkah akan sunyinya
dunia ini! Kalau tadinya tidak saling mengenal, setelah dipanggil bukankah jadi kenal?"
"Kurang ajar kau.” Gadis baju hijau itu makin marah.
"Kenapa kurang ajar? Aku hanya minta tolong supaya diseberangkan ke sana. Aku butuh menyeberang, kau
memiliki perahu, bukankah itu sudah cocok?"
"Apa kau kira aku ini gadis tukang menyeberangkan orang? Kau kira aku mencari nafkah dengan
menyeberangkan segala orang?"
"Pakai biaya pun aku sanggup bayar, aku punya uang," jawab Beng San sejujurnya dan salah mengartikan
kata-kata orang.
Sepasang mata itu berkilat-kilat, malah bibir yang tadinya cemberut kini agak tersenyum, seakan-akan dia
mulai mengerti bahwa dia sedang berhadapan dengan seorang pemuda yang tolol. Atau setidaknya, wajah
yang tampan dan bentuk tubuh yang tegap itu sudah menimbulkan simpatinya sehingga menghapus cemberut
di bibirnya.
"Kau bawa uang banyak?"
"Banyak sih tidak, kiranya kalau hanya seratus tail perak ada."
Dara baju hijau itu mengeluarkan suara mendengus seperti mengejek, lalu dengan dua kali mendayung saja
perahunya meluncur seperti anak panah ke pinggir!
Beng San diam-diam terkejut sekali. Itulah gerakan tangan yang amat kuatnya, gerakan seorang ahli ilmu silat
tinggi. Apa lagi setelah Beng San melihat sebatang pedang dengan gagang dan sarungnya yang terukir indah
menggeletak di perahu, tahulah dia bahwa dara baju hijau itu bukanlah orang sembarangan.
"Kau mau menyeberang? Nah, kau loncatlah ke perahu!"
Jarak antara perahu itu dengan tanah yang diinjak Beng San masih ada sekitar satu meter jauhnya, sedangkan
tempat itu pun agak tinggi, ada dua meter dari perahu. Beng San hendak menyembunyikan kepandaiannya,
maka dia pura-pura tidak berani dan berkata.
"Tolong dekatkan perahu sampai ke sini, agar mudah aku turun. Meloncat dari sini dan setinggi ini, mana aku
berani?" la sengaja memperlihatkan muka ketakutan.
Gadis itu tertawa kecil. Deretan gigi yang putih mengkilap menyilaukan mata Beng San. Silau dia akan
kemanisan muka gadis ini.
"Hi-hi-hi, kau ini laki-laki atau perempuan?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Beng San mempunyai dasar watak nakal di waktu kecilnya. Biar pun dia sekarang sudah dewasa, kenakalan
kanak-kanak masih ada padanya. la mendongkol sekali mendengar kata-kata itu dan dengan suara merajuk
dia menjawab.
"Kau melihat sendiri bagaimana? Laki-laki atau perempuan?" Ia cemberut.
Dara baju hijau itu tertawa lagi, sekarang agak lebar sehingga dari atas terlihat dalam mulutnya yang merah
dan sepasang lesung pipit di kedua pipinya. Manis benar!
"Masa seorang laki-laki takut meloncat dari tempat itu ke sini? Seorang perempuan pun akan berani. Kau tak
patut menjadi laki-laki atau perempuan, kiraku kau banci."
Panas perut Beng San rasanya. Ia mengukur dengan pandang matanya dan akhirnya harus mengakui bahwa
permainan sandiwaranya memang agak keterlaluan. Setiap orang laki-laki yang tidak mengerti ilmu silat, asal
dia tidak terlalu penakut, tentu akan dapat meloncat ke perahu itu.
"Tentu saja aku laki-laki sejati!" katanya mendongkol. "Tidak seperti kau, perempuan yang tukang merengek,
hanya karena belum bisa mendapatkan yang dicari-cari, sudah mulai mengeluh panjang pendek. Tentu saja
aku berani meloncat ke situ!"
Dara itu seketika hilang senyumnya, kembali memandang tajam dan berkata, suaranya terdengar ganjil, "Kalau
begitu, kau loncatlah!"
Beng San beraksi seperti orang yang menghadapi pekerjaan berat. Kantong uang dia masukkan ke saku
bajunya yang lebar, sedangkan bungkusan pakaian dia ikatkan pada lengannya. Kemudian dia mengambil
posisi dan meloncat ke bawah.
Alangkah kagetnya ketika dia melihat gadis itu tiba-tiba mendayung perahunya ke depan sehingga perahu itu
seolah-olah telah mengelak dari loncatannya! Dengan kepandaiannya meringankan tubuh tentu saja Beng San
dengan mudah sekali akan bisa bersalto ke arah perahu itu, akan tetapi dia memang sudah mengambil
keputusan untuk menyembunyikan kepandaiannya.
Apa boleh buat, dia melanjutkan loncatannya dan tentu saja ke... air. Sebelum tubuhnya menimpa air dia
sempat memaki.
"Siauw-kwi (Setan cilik)...!" Ia hanya mendengar suara ketawa nyaring dan air muncrat tinggi, tubuhnya terus
tenggelam.
Meski pun berusaha menyembunyikan kepandaiannya, kiranya Beng San tak akan begitu sembrono untuk
membiarkan dirinya tenggelam dan terancam bahaya kalau saja dia tidak mempunyai kepandaian bermain di
dalam air. Baginya, permainan di dalam air bukanlah apa-apa lagi setelah delapan tahun dia bekerja sebagai
nelayan, dan setiap hari hanya bermain dengan ikan dan air.
la sengaja mengorbankan dirinya menjadi basah kuyup, tidak saja untuk menyembunyikan kepandaian, akan
tetapi juga ingin membalas kenakalan gadis itu. Dengan enak, seperti seekor ikan besar, dia menyelam terus
ke bawah perahu gadis tadi dengan maksud hendak menggulingkan perahu dari bawah agar gadis itu pun
menjadi basah kuyup.
Tiba-tiba dia melihat seekor ikan yang sepaha besarnya, ikan yang gemuk dan sebagai bekas nelayan dia
mengenal ikan ini sebagai ikan yang amat enak dagingnya, gemuk dan tidak berduri kecil. Cepat tangannya
meraih dan ikan itu sudah dia tangkap, kepalanya dia masukkan ke dalam bungkusan pakaian sehingga tak
dapat bergerak melepaskan diri lagi.
Kemudian dia hendak menangkap dasar perahu untuk digulingkan. Tapi gerakan ini dia tahan ketika dia
mendengar air di atas memercik dan sebuah benda kehijauan menyelam. Ternyata dara baju hijau itu telah
meloncat ke air dan menyelam dengan gerakan seorang ahli dalam air!
dunia-kangouw.blogspot.com
Beng San tersenyum nakal. Baiknya dia belum menggulingkan perahu, pikirnya. Kiranya bocah nakal ini masih
berhati emas, kini berusaha menolongnya.
Benar saja dugaannya. Ketika dia meronta-ronta dan beraksi seperti orang yang tidak pandai berenang,
tenggelam dan akan hanyut, tiba-tiba tangan gadis itu meraihnya dan rambutnya telah kena dijambak dan
ditarik ke atas! Mendongkol lagi hati Beng San yang tadinya sudah dingin. Ikatan rambutnya sampai terlepas
dan dengan rambut awut-awutan dia ditarik oleh dara itu seperti orang menarik ekor ikan besar.
"Laki-laki apa kau ini? Berenang pun tak pandai!" kata gadis itu mencemooh ketika sudah timbul ke permukaan
air. "Hayo lekas kau pegang pinggiran perahu dan naik," perintahnya sedangkan dia sendiri dengan loncatan
indah naik ke perahu.
"Aku... aku tidak bisa... tolonglah..." Beng San berpura-pura, kini perutnya sudah panas lagi dan otaknya
diputar untuk membalas dendam.
Gadis itu bersungut-sungut menghina, akan tetapi ia ulurkan tangan juga mencengkeram pundak Beng San,
kemudian menarik pemuda itu ke atas perahu.
Beng San terseret naik. Dengan canggungnya dia mencoba melompat, namun tubuhnya terhuyung-huyung
dan akan jatuh menubruk gadis itu. Bungkusan pakaiannya melayang ke depan dan otomatis ikan besar itu
pun turut melayang dengan ekornya yang panjang menampar pipi gadis baju hijau.
"liiiihhhhh... apa ini...?!" teriak gadis itu kaget sambil menangkis.
Pipinya memang tidak terkena tamparan ekor ikan, akan tetapi air dan lendir ikan dari ekor itu melayang dan
tak dapat dicegah lagi membasahi mukanya. Lendir ikan yang manis itu memasuki mulut dan hidungnya yang
mancung.
"Uiuhhhhh..."
Gadis itu hampir muntah dan meludah-ludah, kemudian cepat mencelupkan mukanya dan kepalanya ke dalam
air dari pinggiran perahu sehingga untuk ke dua kalinya kepalanya basah kuyup. Beng San menahan
ketawanya, perutnya terasa kaku saking geli hatinya.
Dara baju hijau itu menarik kembali kepalanya dari air, mengusap air dari muka. Mukanya basah kuyup,
pipinya makin kemerahan, rambutnya basah awut-awutan. Tapi aneh, makin manis saja dia! Matanya
memperlihatkan kemarahan ketika ia memandang ke arah ikan sebesar paha yang kepalanya berada dalam
bungkusan pakaian.
"Dari mana ikan itu?!" bentaknya.
"Tentu saja dari air, masa ikan dari gunung?" Beng San menggoda.
"Jangan main-main! Kau yang hampir mati tenggelam, bagaimana bisa mendapatkan ikan di air?" Gadis itu
memandang penuh curiga.
Ah, bodoh aku, celaka kali ini, pikir Beng San. Akan tetapi otaknya cepat bekerja. "Entah, aku tadi tenggelam,
dalam bingungku aku menggerak-gerakkan tangan dan tahu-tahu aku merasa bungkusan menjadi berat.
Agaknya ikan bodoh ini terjerat oleh tali bungkusan pakaianku dan tak dapat terlepas lagi."
Gadis itu memperhatikan muka Beng San yang berlagak bodoh, lalu dia berkata marah, "Memang ikan bodoh,
seperti kau, laki-laki goblok."
Beng San tunduk, agak lega hatinya. Untuk melenyapkan sama sekali kecurigaan gadis itu, dia mengangguk
dan berkata perlahan, "Memang dia bodoh seperti aku."
"Air ikan itu tadi mengotori mukaku, sekarang kau harus membayar. Nah, kau makan ikan ini mentah-mentah!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Beng San membelalakkan matanya. Seharusnya dia marah kepada gadis nakal ini, akan tetapi aneh, muka
yang manis ini tidak patut dimarahi. Sukar baginya untuk bisa marah, malah dia menganggap sikap gadis ini
lucu sekali. la sama sekali tidak dapat melihat sinar jahat dalam pandang mata yang bening itu.
"Ah, mana bisa ikan dimakan mentah? Ikan ini enak sekali dagingnya, kalau dipanggang. Aku sudah biasa
memanggang ikan seperti ini. Apa lagi daging di kepala dan ekornya, waaah, gurih dan sedap. Perutku lapar,
apakah kau tidak lapar? Kalau ada api di sini, aku bisa memanggang ikan ini, lumayan untuk kita berdua, bisa
melegakan perut lapar." Beng San terus saja bicara tentang kelezatan daging ikan itu.
Si gadis mendengarkan dan akhirnya tertarik juga. la mengangguk dan berkata, suaranya masih aja ketus,
"Kau boleh panggang, tapi awas, kalau kau bohong, kalau ikan itu tidak enak, kau harus makan sendiri sampai
habis dengan tulang-tulangnya. Tahu?"
Gadis itu lalu memasuki kepala perahu yang dipasangi bilik bambu. Tak lama kemudian ia sudah keluar lagi
dan alangkah mendongkol dan iri rasanya hati Beng San ketika melihat bahwa gadis itu sudah bertukar
pakaian baru yang kering dan enak! Juga pakaian yang dipakainya kini terbuat dari sutera hijau.
"Eh, kenapa kau masih belum memanggang ikan itu?" bentaknya melihat Beng San masih duduk terlongong.
"Bagaimana aku bisa memanggang ikan?" Beng San tak bisa menyembunyikan suaranya yang mendongkol
karena melihat gadis itu sudah bertukar pakaian kering sedangkan dia sendiri masih basah kuyup. "Kulihat ada
tempat api di perahu ini, tapi tidak ada apinya. Dan ikan ini harus dibuang sisiknya, harus dipotong-potong. Kau
kerjakanlah itu, nanti aku yang memanggang."
"Cih, tak bermalu! Kau bersihkan dan potong-potong sendiri."
"Biasanya yang mengerjakan adalah wanita. Tentu kau menyimpan pisau dapur. Kulihat kau menyediakan
tempat masak, biasanya tentu masak sendiri.”
"Aku tidak punya pisau. Hayolah, lekas kerjakan, jangan bikin aku habis sabar!"
Beng San makin merasa mendongkol. Gadis itu tadi memasuki kamar tanpa membawa pedangnya yang
menggeletak di perahu, hal itu saja sudah menandakan bahwa gadis ini amat memandang rendah kepadanya.
Tentu dipikirnya orang laki-laki selemah dia ini, biar pun ada pedang, akan bisa berbuat apakah terhadap dia?
Dengan bersungut-sungut dia lalu meraba pedang di lantai perahu itu. Bagaimana isinya? Apakah seindah
gagang dan sarungnya? Siapa tahu? Hatinya berdebar. Jangan-jangan sebuah di antara Liong-cu Siang-kiam!
Tapi sebelum dia dapat menyentuhnya, gadis itu sudah bergerak dan tahu-tahu pedang itu sudah di
tangannya, "Mau apa kau dengan pedang ini?" bentaknya.
"Pisau dapurmu memang aneh, terlalu panjang! Mau apa katamu? Tentu saja aku mau membersihkan ikan
dan memotong-motongnya."
"Edan! Mana ada orang membersihkan ikan memakai pedang?"
"Habis apa gunanya benda tajam ini di sini? Tentu kau pergunakan sebagai alat dapur, bukan?" Beng San
berpura-pura tolol.
"Bodoh! Agaknya matamu sudah dipenuhi dengan tinta dan huruf, sampai-sampai tidak mengerti gunanya
pedang."
Setelah berkata demikian gadis itu menggerakkan tangannya dan…
"Sratttt…!" sebatang pedang yang putih berkilauan saking tajamnya sudah tercabut dari sarungnya.
"Aduh tajamnya! Berbahaya sekali untuk pisau dapur, bisa-bisa makan jarimu yang kecil halus itu!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Ucapan tentang jari ini sama sekali bukan dia sengaja untuk memuji, akan tetapi tiba-tiba gadis itu menjadi
agak lunak sikapnya.
"Benarkah jari tanganku kecil dan halus?" la mengulur tangan kirinya kepada Beng San.
Beng San memegang tangan itu, membelai-belai jari tangannya seperti orang memeriksa dan menaksir.
"Memang kecil, halus, berkuku bagus, bersih, lunak dan hangat."
Mendadak wajah yang manis itu menjadi merah sekali dan perlahan-lahan dia menarik kembali tangannya.
"Cih, tidak tahu malu!" katanya, akan tetapi nada kata-kata ini sama sekali tidak marah, malahan bibir yang
manis itu tersenyum. "Nih, kau boleh pakai untuk memotong ikan, biar nanti aku yang memanggangnya."
Beng San menerima pedang itu dan dengan canggung sekali dia memegang gagangnya, lalu mengerik sisik
ikan dengan hati-hati, takut kalau-kalau jari tangannya terluka oleh pedang.
Dara baju hijau itu menonton saja sambil tertawa-tawa geli melihat kecanggungan Beng San. Kadang-kadang
gadis itu termenung dan menatap wajah Beng San yang tampan, seperti orang melamun.
Tanpa sengaja Beng San menengok, dua pasang mata lalu bertemu pandang. Mata gadis itu setengah
dikatupkan, bibirnya merekah dan baru dia sadar sehingga mukanya menjadi kemerah-merahan. Ketika sadar
bahwa sudah lama mereka bertemu pandang, gadis itu membuang muka dan pada sudut bibirnya
membayangkan senyum.
Beng San juga diam saja, tapi hatinya penuh keheranan. Tidak mengerti dia akan sikap wanita, sama sekali
dia tidak dapat menerka apa gerangan yang berkecamuk dalam lubuk hati gadis baju hijau ini.
"Ampun... ada orang begini canggungnya. Ke sinikan, biar aku yang membersihkan ikan!" Akhirnya gadis itu
berkata sambil menahan ketawanya.
Beng San memberikan ikan dan pedangnya. Dengan sangat cekatan gadis baju hijau itu mengerik sisik ikan,
memotong-motongnya dan membuang isi perutnya. Jari-jarinya yang kecil lentik itu cekatan sekali, membuat
Beng San yang kini mendapat giliran menonton menjadi kagum.
"Pakaianmu basah kuyup, tidak dinginkah? Kenapa kau tidak bertukar pakaian?" Sambil memotong ikan itu,
gadis baju hijau bertanya.
Beng San cemberut. "Semua pakaianku basah, bagaimana bisa bertukar? Sama saja, penggantinya juga
basah. Gara-gara kau...”
Gadis itu tertawa lagi, matanya berseri-seri ketika dia mengangkat muka memandang pemuda itu. "Kau kan
sudah membalas?"
Beng San tercengang, mengira bahwa perbuatannya menyerang dengan ekor ikan tadi diketahui. Tapi dia
pura-pura tidak tahu dan bertanya, "Membalas apa? Kau majukan perahu, aku tenggelam hampir mampus!"
"Kau tadi sudah memaki-maki aku sebagai setan cilik, bukankah itu sudah merupakan balasan? Bodoh,
pakaianmu basah, mengapa tidak diperas dan dijemur? Sebentar juga kering dan dapat dibuat pengganti."
Beng San baru sadar. Benar juga, matahari sudah mulai naik, pakaian dalam buntalan itu basah semua, kalau
tidak diperas dan dijemur, kapan keringnya? Tanpa menjawab, dia lalu membuka buntalan pakaiannya,
memeras pakaian itu satu per satu lalu menjemurnya di atas atap kamar perahu. Baru sekarang dia melihat
pakaiannya ini yang dia terima dari orang-orang Pek-lian-pai. Semua pakaian itu masih baik sekali, dari kain
sutera dengan warna biru dan kuning.
"Heee, aku yang mengganti kau memotong ikan, kenapa sekarang kau tidak membantu? Hayo buat api."
"Bagaimana? Mana batu apinya?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Gadis itu nampak gemas. "Benar-benar kau canggung. Lihat, pedangku tidak hanya dapat dipakai untuk
memotong ikan."
Sekali pedangnya terayun, ujungnya menyentuh sebuah batu yang sengaja diletakkan di pinggir perahu.
Bunga api berpijar besar dan menyambar daun yang telah diberi minyak, lalu menyala.
Beng San berseru girang dan kagum, lalu mengambil daun itu, ditaruh di dalam anglo (tempat perapian) dan
membuat api unggun dengan kayu ranting dan daun kering yang juga sudah tersedia di situ, dalam sebuah
keranjang.
Tak lama kemudian, bau daging ikan dipanggang menusuk hidung. Sedap dan gurih. Untungnya di situ
memang sudah tersedia bumbu-bumbu, maka mudah bagi Beng San untuk membuat ikan panggang yang
dibumbui lengkap. Hidung yang kecil mancung dari nona baju hijau itu berkembang-kempis.
"Aduh, bukan main sedap baunya..."
"Itu baru baunya, belum rasanya!" Beng San membanggakan. "Sekali kau mencicipi, aku khawatir tak akan
kebagian."
"Idih sombongnya!" Gadis itu sudah mulai jenaka.
Beng San girang sekali bahwa tafsirannya dalam hati tentang gadis ini ternyata cocok. la tadi sudah menduga
bahwa gadis seperti ini tentulah mempunyai hati yang baik, jenaka, gembira dan kadang-kadang saja galak.
Sedikit banyak dia sudah dapat menduga karena dia teringat akan watak dan sikap Kwa Hong dahulu.
Ketika panggang daging ikan matang, pakaian sutera tipis yang dijemur pun sudah kering. Beng San bingung.
"Aku hendak berganti pakaian, tapi di mana? Boleh aku memasuki kamarmu?"
"Jangan!" Gadis itu membentak. "Biar aku yang sembunyi di dalam dan kau bisa bertukar pakaian di sini."
Ketika gadis itu menyelinap masuk ke dalam kamarnya yang kecil di atas perahu, Beng San membelakangi
kamar itu, lalu menanggalkan pakaiannya yang juga sudah hampir kering itu, dan menukarnya dengan pakaian
pengganti yang sudah kering betul. Setelah menyimpan semua pakaian-pakaiannya, dibungkus lagi di dalam
buntalan, dia berjongkok memeriksa panggang ikannya yang sudah matang.
"Heee, Nona! Keluarlah, aku sudah selesai!" teriaknya.
Akan tetapi ketika dia menengok, dia merasa betapa tiada gunanya dia berteriak-teriak memanggil karena
nona itu sudah berdiri di belakangnya!
"Tak usah berteriak-teriak, aku sudah tahu!" jawab si nona.
"Bagaimana kau bisa tahu aku sudah selesai berpakaian?" tanya Beng San, pertanyaan sewajarnya dan tidak
mengandung maksud apa-apa.
Akan tetapi nona itu menjadi merah sekali mukanya dan ia memalingkan muka ke kiri. Tanpa memandang
pemuda itu ia berkata. "Lancang! Kau kira aku... mengintaimu?"
Beng San tertawa dan tiba-tiba mukanya sendiri menjadi merah saking jengah. "Ahh, aku sama sekali tidak
menyangka yang bukan-bukan, Nona. Daging ini sudah cukup matang, boleh dimakan. Silakan."
Nona baju hijau itu tanpa sungkan-sungkan lagi lalu duduk di atas lantai perahu menghadapi Beng San setelah
mengeluarkan sebuah guci terisi air teh dan keduanya lalu makan daging yang memang sedap dan gurih itu.
Selama makan ikan dan minum teh itu keduanya tidak berkata-kata, hanya kadang-kadang sinar mata mereka
saling sambar tanpa maksud tertentu. Kenyang juga perut mereka setelah daging ikan sebesar paha itu
amblas ke dalam perut, tinggal tulang-tulang ikan saja yang berserakan di lantai.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah mencuci bibir dan mulut, baru Beng San berkata.
"Kau baik sekali, Nona, sudah suka menolongku. Sayang kau mempunyai ganjalan hati, belum terdapat apa
yang kau cari-cari. Kalau saja kau suka memberi tahu kepadaku apa atau siapa yang kau cari, aku berjanji
akan membantumu."
Tiba-tiba gadis baju hijau itu membelalakkan kedua matanya yang bagus, dan di lain saat tangannya sudah
mencengkeram pundak Beng San. Cengkeraman yang amat kuat dan pemuda ini maklum bahwa seorang
pemuda biasa saja tentu tulang pundaknya akan remuk kalau gadis ini menggunakan tenaganya meremas. la
kagum dan juga makin kaget melihat sikap ini.
"Kau she (bernama keturunan) Bun?" Gadis itu membentak, matanya berapi.
"Bukan, aku she Tan."
"Sayang..."
Gadis itu melepaskan cekalannya pada pundak, meraba-raba gagang pedang kemudian memandang air di
pinggir perahu seperti orang melamun. Kekecewaan dan kemurungan kembali membayang di antara seri
wajahnya yang manis.
Beng San terheran, juga hatinya berdebar. Pada waktu gadis tadi menggerakkan tangan mencengkeram
pundaknya, dia teringat bahwa dia pernah melihat gerakan ini, pernah merasakan serangan seperti ini.
Tiba-tiba dia teringat bahwa bayangan yang langsing malam tadi, yang menyerangnya ketika dia membawa lari
Tan Hok, amat boleh jadi adalah gadis baju hijau inilah! Apakah dia tidak mengenalku? Akan tetapi dia tetap
bersikap tenang, mengambil keputusan untuk terus bersandiwara, berpura-pura bodoh.
”Andai kata aku orang she Bun, mengapa?" tanyanya ingin tahu.
Gadis itu tiba-tiba mencabut pedangnya dan…
"Srrrattt!"
Pedang sudah menyambar ke permukaan air dekat perahu dan... seekor ikan sebesar lengan yang tadi
berenang di pinggir perahu telah terpotong menjadi dua, tepat di antara kepala dan badan. Dua potong tubuh
ikan itu mengambang di air, perlahan-lahan hanyut terbawa aliran air.
"Kalau kau orang she Bun, kau akan menjadi seperti itulah..." Gadis itu berkata lagi tanpa menengok.
Beng San memandang ke arah ikan yang terbacok tadi. Bergidik. Gadis begini manis mengapa bisa begitu
kejam? Tentu mengandung penasaran yang mendalam, pikirnya. Memang aneh watak nona ini. Baik hati
karena mau membawanya ke perahu, akan tetapi kadang-kadang kejam seperti tadi ketika sengaja
menggerakkan perahu agar dia jatuh ke air. Tapi kembali berbaik hati karena terjun dan menyelam untuk
menolongnya.
Gadis yang jenaka, lucu, manis, galak dan kadang-kadang kejam. Ada titik persamaan antara gadis baju hijau
ini dengan Kwa Hong... ehh, ya. Bukankah dia sedang menuju ke Hoa-san? Kenapa sekarang mengobrol
dengan gadis baju hijau ini?
Beng San memandang ke depan dan kaget melihat bahwa tanpa dia sadar lagi perahu itu telah meluncur sejak
tadi, jauh meninggalkan tempat di mana dia hendak menyeberang.
la melirik gadis itu yang masih duduk termenung, kelihatan berduka dan bersunyi. Ia merasa kasihan. Tentu
gadis ini sudah lama sekali mencari orang she Bun yang agaknya musuh besarnya.
"Sayang aku bukan she Bun," dia mencoba menghibur.
dunia-kangouw.blogspot.com
Gadis itu menoleh kepadanya dan perlahan-lahan kemurungannya buyar.
"Kau maksudkan sayang bahwa kau orang yang ber-she Tan tidak pandai silat."
Beng San tidak mau orang bicara tentang dirinya yang sengaja hendak dia sembunyikan keadaannya, maka
dia segera berkata, "Ehh, kenapa perahu ini tidak menyeberang? Aku sampai lupa. Nona, tolong seberangkan
aku ke sana."
Dara berpakaian hijau itu tersenyum. "Aku pun lupa."
la segera mendayung perlahan, tapi perahu itu meluncur cepat seperti ikan hiu, sebentar saja dengan melawan
arus air sudah sampai ke seberang. la menancapkan dayung di tanah dan mengikat perahu dengan dayung itu
yang sekarang dipergunakan sebagai patok. Mereka saling pandang, merasa bahwa saat perpisahan telah
tiba.
Beng San menggendong buntalan pakaiannya, lalu menoleh kepada nona yang masih duduk di lantai perahu.
"Nona, aku berterima kasih sekali atas semua pertolonganmu. Pertolongan menyeberangkan aku dan terutama
sekali... pertolongan yang kau berikan ketika aku tenggelam. Nona, kini keadaan sedang kacau-balau, dalam
perjalananku aku melihat perang dan maut merajalela. Kau kenapa seorang diri di sini berperahu? Di mana
orang tuamu? Kurasa bagi seorang dara remaja seperti engkau ini, amat berbahaya hidup seorang diri di sini,
lebih baik kau pulang dan berdiam di rumah dengan ayah bundamu..." Ucapan yang keluar dari hati yang tulus
dari Beng San ini terdengar nyata, dengan suara yang mengandung penuh kejujuran seperti nasihat seorang
yang lebih tua kepada orang muda.
Mendengar ini, sesaat gadis itu bengong, memandang kepada Beng San dengan muka menengadah, sayu.
Kemudian tiba-tiba air matanya bercucuran dan dia mulai menangis terisak-isak, menelungkup di atas papan
perahu.
Beng San terkejut sekaii, tidak jadi melangkah keluar perahu, lalu berlutut di depan gadis itu. Suaranya tergetar
penuh keharuan ketika ia berhasil membuka mulut.
"Nona... kau kenapakah...? Janganlah menangis, ahhh... maafkan kalau tadi aku berkata lancang sehingga
menyinggung perasaanmu..."
Tangis dara itu makin menjadi-jadi, sampai bergoyang-goyang pundaknya, sedih sekali ia menangis tersedusedan.
Saking besarnya rasa haru dan kasihan, tanpa disadari lagi Beng San mengelus-elus kepala dara itu,
mengeluarkan kata-kata menghibur.
Gadis itu bangun duduk, dan di lain saat ia telah menjatuhkan diri di atas dada Beng San yang terpaksa
memeluknya dengan bingung.
"Tenanglah… diamlah... Nona, jangan menangis. Ahhh, kau membuat aku ikut bersedih..." Dia tidak dapat
melanjutkan kata-katanya, kerongkongannya serasa tersumbat. Memang pada dasarnya Beng San berwatak
mulia, mudah menaruh kasihan kepada lain orang.
Sambil menangis di atas dada Beng San, gadis itu berkata lirih, terputus-putus, "Ibuku sudah meninggal... ayah
terbunuh orang... aku yatim piatu, sebatang kara... tiada orang tiada tempat tinggal... selalu menerima hinaan
orang... baru kau... baru kau seorang yang baik kepadaku..."
"Hemmm, kasihan..." dan tiba-tiba Beng San menjadi begitu sedih sampai titik air mata membasahi pipinya
sendiri. la teringat akan keadaan diri sendiri, yang juga sebatang kara, tidak tahu di mana adanya orang
tuanya. "Sabarlah, Nona. Tidak hanya kau seorang di dunia ini yang bernasib seperti ini. Aku pun sebatang
kara, aku pun hidup seorang diri di dunia yang luas ini."
Keduanya saling peluk, gadis itu masih terisak-isak dan Beng San mengelus-elus rambut yang hitam halus dan
berbau harum itu. Hatinya tidak karuan rasanya. Baru kali ini dia mengalami keadaan seperti ini yang sangat
membingungkan, yang membuat jantungnya berloncatan tidak menentu.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kau baik sekali... kau baik sekali...," berkali-kali gadis itu berbisik.
"Kau pun orang yang baik, Nona. Kau baik dan patut dikasihani. Aku takkan melupakanmu selama hidupku.
Siapakah namamu, Nona? Biarlah nama itu akan selalu berada di dalam ingatanku dan aku berjanji akan
membantumu mencari orang she Bun itu asal kau suka memberi tahu nama lengkapnya dan bagaimana
orangnya."
Tiba-tiba gadis itu melepaskan pelukan Beng San, duduk menjauhi dan mengusap air matanya. Matanya yang
bagus itu menjadi kemerahan, pipinya lebih merah lagi.
"Aku tidak tanya namamu, kau pun tak usah tahu namaku..."
"Bagaimana ini? Kau tentu punya nama, bukan?"
"Panggil saja aku Eng... sudahlah, kau kenal aku sebagai dara baju hijau bernama Eng yang sengsara,
sebatang kara. Aku mengenal engkau sebagai orang she Tan yang baik hati, dan... alangkah sayangnya...
orang she Tan yang baik hati tapi yang lemah... ahh, kalau saja kau pandai silat... pergilah, pergilah tinggalkan
aku seorang diri..." la menangis lagi.
Beng San bangkit berdiri, lalu menarik napas panjang. "Baiklah, Nona Eng. Ataukah lebih tepat kusebut Adik
Eng? Nah, aku pergi, selamat tinggal dan mudah-mudahan kita akan bertemu kembali dalam keadaan yang
lebih baik."
la keluar dari perahu itu dan tak lama kemudian Beng San sudah berjalan pergi, tidak tahu betapa gadis baju
hijau itu sudah duduk memandangnya dari jauh dengan mata sayu.
Dengan bekal pakaian dan uang pemberian orang-orang Pek-lian-pai kepadanya, Beng San dapat melakukan
perjalanan sebagai seorang pelancong yang pantas. Benar saja, dengan berpakaian seperti seorang pemuda
terpelajar, dia sama sekali tidak mengalami gangguan-gangguan di tengah perjalanan.
Lima belas hari kemudian dia telah sampai di daerah Hoa-san dan beberapa hari mendaki pegunungan, dia
akhirnya tiba di puncak Hoa-san yang dijadikan pusat dari perkumpulan Hoa-san-pai. Hatinya berdebar pada
saat dia melihat tempat yang sudah dikenalnya baik ketika delapan tahun yang lalu itu.
Dari jauh dia melihat betapa tempat itu sudah mulai dihias. Banyak sekali tosu mendirikan bangunan darurat
yang besar. Ramai orang bekerja. Beng San sengaja mengambil jalan memutar. la hendak memasuki Hoasan-
pai dari belakang, menuju ke taman bunga di mana dahulu dia bermain-main dengan Kwa Hong, Thio Ki,
Thio Bwee, dan Kui Lok.
Apakah mereka berada pula di sini? Dan bagaimana dengan ketua Hoa-san-pai? Ah, di antara Hoa-san Sieeng,
hanya tinggal dua orang yang hidup, yaitu ayah Kwa Hong, Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa.
Bagaimana nanti sikap mereka jika mereka melihat aku? Bermacam pikiran dan dugaan berkecamuk dalam
pikiran Beng San, membuat hatinya berdebar tegang ketika dia mendekati taman bunga di belakang kelenteng
Hoa-san-pai.
Tiba-tiba Beng San melompat ke belakang pohon, lalu menyelinap menyembunyikan diri. Dengan gerakan
yang tanpa menimbulkan suara sama sekali dia pindah bersembunyi ke atas sebatang pohon besar yang
sangat lebat daunnya. Dia bukan seorang yang suka mengintai orang lain, akan tetapi apa yang terlihat oleh
matanya yang tajam luar biasa itu memaksa dia bersembunyi dan mengintai.
Di tengah taman yang sunyi dia melihat seorang gadis yang cantik sekali tengah duduk di atas bangku dekat
kolam ikan yang penuh teratai merah. Di depannya berdiri seorang pemuda tampan yang menundukkan
mukanya. Gadis itu kelihatan cerah sekali mukanya, bibirnya tersenyum akan tetapi sepasang matanya
bergerak-gerak setengah marah.
Pemandangan yang membuat Beng San terheran-heran dan cepat bersembunyi sambil berwaspada adalah
ketika matanya yang tajam dapat melihat adanya seorang gadis lain yang juga berada di taman itu. Akan tetapi
dunia-kangouw.blogspot.com
gadis ini kelakuannya sangat mencurigakan, yaitu ia sedang mengintai sepasang muda-mudi itu dari balik
rumpun kembang dan batu penghias taman!
Diam-diam Beng San memperhatikan tiga orang itu. Si pemuda adalah seorang pemuda yang wajahnya
tampan, matanya tajam dan mukanya membayangkan keangkuhan dan kegembiraan sekaligus. Pakaiannya
indah, akan tetapi serba putih seperti orang sedang berkabung. Bentuk tubuhnya sedang dan dia nampak
gagah dengan topi bulu di kepala serta sebatang pedang yang tergantung di pinggang.
Ada pun dara jelita yang dihadapinya itu adalah seorang dara yang memiliki bentuk tubuh langsing tinggi.
Gerakannya lemah gemulai tetapi mengandung kegesitan dan kekuatan yang tidak terlepas dari pandang mata
seorang ahli. Mukanya bulat telur, kulitnya putih sekali, putih kemerahan serta halus terpelihara. Sepasang
matanya seperti mata burung hong yang kadang-kadang dapat menyinarkan kemesraan dan kehalusan akan
tetapi kadang-kadang nampak tajam menusuk dan galak.
Pakaiannya berkembang indah, akan tetapi dasarnya merah sehingga mudah diduga bahwa dia memang
menyukai warna merah. Juga gadis cantik jelita ini membawa pedang yang dipasang di belakang
punggungnya sehingga di balik segala kecantik jelitaannya ini membayang keangkeran dan kegagahan.
Setelah melihat dengan teliti, hampir Beng San tak dapat menahan ketawanya. Mudah saja dia mengenal
pemuda itu yang bukan lain adalah Kui Lok. Telinganya yang lebar itu takkan dia lupakan. Dan gadis cantik
jelita yang nampak manja ini siapa lagi kalau bukan si kuntilanak? Kwa Hong, tak bisa lain orang. Mana ada
lain orang memiliki mata seperti itu?
Juga gadis ke dua yang bersembunyi sambil mengintai, yang tadinya menimbulkan rasa kecurigaan di hati
Beng San, setelah dia pandang dengan teliti, dia merasa yakin bahwa gadis ini tentulah Thio Bwee. Gadis ini
juga memiliki bentuk tubuh yang padat langsing, kulitnya halus dan tak seputih Kwa Hong, akan tetapi juga tak
dapat dikatakan hitam. Kulit berwarna kegelapan yang malah menambah kemanisannya.
Wajahnya juga cantik sekali, hidungnya membayangkan hati yang keras. Seperti Kui Lok, gadis ini juga
berpakaian serba putih, tapi tidak putih polos, melainkan putih berkembang. Di punggungnya, seperti juga Kwa
Hong, dia membawa sebatang pedang yang dironce putih pula.
"Hemmm, seperti menonton sandiwara wayang saja," pikir Beng San geli.
Apakah yang sedang terjadi dengan anak-anak yang dahulu nakal-nakal ini? Teringat dia bahwa dia sendiri
pun memperlihatkan kenakalannya, buktinya dia mengintai seperti yang dilakukan oleh Thio Bwee. Mengingat
ini, tak terasa lagi Beng San tertawa lebar tanpa mengeluarkan bunyi, sambil menekan perutnya.
Kui Lok mengangkat mukanya yang tampan. Mulutnya yang selalu tersenyum mengejek itu berkata, "Hongmoi,
sekali lagi kutegaskan bahwa sejak dulu aku selalu mencintamu, bukan sebagai saudara seperguruan,
bukan sebagai kakak beradik, akan tetapi sebagai seorang pria terhadap seorang wanita pujaan hatinya.
Hong-moi, aku cinta...”
"Sudahlah, Lok-ko, jangan kau ulang-ulang lagi," Kwa Hong berkata sambil memandang tajam, kemudian
mendadak matanya bersinar nakal ketika dia berkata, "Tak enak bicara cara begini, kau berdiri dan aku duduk.
Kau duduklah di rumput supaya aku tidak selalu berdongak kalau bicara denganmu."
Kui Lok memandang ke bawah. Tidak bersih tanah itu, biar pun ditumbuhi rumput hijau, tentu akan
mengotorkan pakaiannya. Akan tetapi tanpa ragu-ragu dia menjatuhkan diri duduk di depan Kwa Hong, di atas
tanah. Karena dara itu duduk di depannya dan dia duduk di tanah, kelihatan dia seperti berlutut di depan orang
yang lebih tinggi tingkatnya!
Wajah Kwa Hong yang jelita itu nampak berseri ketika memandang ke bawah, kepada muka yang tampan dan
penuh penyerahan, penuh harapan dan penuh ketaatan itu. Dan sebaliknya, Kui Lok yang sekarang harus
menengadah memandang wajah cantik jelita di sebelah atasnya.
"Lok-ko," kata Kwa Hong sambil tersenyum semanis-manisnya, "aku tak suka bila setiap kali bertemu kau
selalu menyatakan rasa cinta kasihmu. Aku jadi bosan mendengarnya. Sudah kukatakan kepadamu, sekarang
dunia-kangouw.blogspot.com
belum tiba saatnya bagiku untuk memikirkan soal itu. Kau bersabarlah karena aku belum dapat memastikan
siapa yang akan kupilih kelak. Kau sendiri tahu, ayahku bermaksud menjodohkan aku dengan Ki-ko, tapi itu
pun kutolak mentah-mentah. Aku akan memilih sendiri, tetapi kelak!"
"Baiklah, Moi-moi (Adinda), baiklah. Aku tak akan mengulang lagi, tapi perbolehkan aku memujamu... alangkah
cantik jelitanya engkau, Hong-moi. Kalau kupandang dari bawah, wajahmu mengalahkan kecemerlangan
matahari di waktu pagi atau bulan di waktu senja. Aku sudah akan merasa hidup ini bahagia kalau dapat
memandangi mukamu yang indah, mendengar suaramu yang merdu bagaikan..."
"Sssttttt... ada orang...!" Kwa Hong yang amat tajam pendengarannya itu bangkit berdiri dari duduknya.
Sebetulnya dalam hal ini Kui Lok takkan kalah olehnya, akan tetapi karena pemuda itu tadi baru mabuk
asmara, maka menjadi kurang hati-hati. Mereka berdua meloncat ke satu arah, yaitu arah gerombolan
kembang dan sempat melihat tubuh Thio Bwee berlari pergi sambil menutupkan kedua tangan di depan muka.
Keduanya berdiri bengong, dan keduanya memerah muka.
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil