Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Kamis, 26 April 2018

Naga Beracun 5 Tamat

--------
"Cin Cin, maafkan aku. Memang tidak kusangkal
bahwa aku pernah menyerang ibumu dan ayah
tirimu. Akan tetapi semua itu terjadi karena aku
salah duga. Aku mengira bahwa Lie Koan Tek
itulah yang telah membunuh ayahku dalam
penyerbuan ke Hek-houw-pang dahulu. Aku hanya
ingin membalas dendam atas kematian ayahku.
Aku sekarang menyadari bahwa bukan dia yang
membunuh ayahku, dan harap engkau suka
memaafkan aku."
"Enak saja minta maaf! Engkau sudah melukai
ibuku dan minta maaf begitu saja? Kalau pada
waktu engkau menyerang mereka aku tidak
muncul dan mencegahmu, mungkin sekarang
engkau telah membunuh ibuku dan ayah tiriku!"
"Itu hanya merupakan salah sangka. Maafkan
aku, Cin Cin. Atau kalau engkau masih penasaran
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan hendak membalaskan luka ibumu, nah,
kauboleh lukai aku, aku tidak akan membalas.
Ingat, kita masih sama-sama keluarga Hek-houwpang
dan kita sama-sama menderita karena
penyerangan kepada Hek-houw-pang itu."
Melihat kekasihnya marah-marah dan sikap
pemuda itu yang kini dia kenal sebagai The Siong
Ki yang pernah dikenalnya belasan tahun yang lalu
ketika dia ikut ayah ibunya ke Hek-houw-pang
nampak mengalah dan minta maaf, Thian Ki segera
melerai.
"Sudahlah, Cin Cin. Siong Ki benar, semua itu
terjadi karena salah sangka, dan dia sudah minta
maaf."
Melihat Thian Ki yang nampak akrab dengan Cin
Cin dan kini ikut pula bicara, bahkan menyebut
namanya begitu saja, timbul perasaan tidak senang
dalam hati Siong Ki. Timbul perasaan tinggi
hatinya dan dengan ketus dia bertanya. "Siapakah
engkau yang berani mencampuri urusan kami?"
Thian Ki merasa heran mendengar ucapan yang
bernada tinggi hati dan angkuh itu. Sungguh tidak
patut murid Naga Sakti Sungai Kuning bersikap
seperti itu, akan tetapi dia tersenyum dan
menghampiri Siong Ki. "Siong Ki, lupakah engkau
kepadaku? Aku senasib dengan engkau dan Cin
Cin, kehilangan ayah ketika Hek-houw-pang
diserbu. Aku Coa Thian Ki!"
Siong Ki melebarkan matanya. "Coa Thian Ki?
Kau putera Paman Coa Siang Lee itu?" Sekarang
Siong Ki bersikap ramah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Siong Ki........!"
Pemuda itu terkejut dan wajahnya berubah
pucat mendengar suara suhunya. Dia menoleh dan
cepat menjatuhkan diri di depan suhu dan
subonya yang telah berada di situ. Suami isteri
pendekar itu telah mendengar suara mereka dan
keduanya memasuki taman. Melihat sikap Cin Cin
yang marah, Si Han Beng segera menegur
muridnya.
"Siong Ki, apa yang telah kami dengar dari Cin
Cin itu? Engkau telah menyerang pendekar Lie
Koan Tek dan juga ibu Cin Cin, bahkan telah
melukainya? Lupakah engkau akan pesan kami
ketika engkau pergi, tidak boleh memusuhi
pendekar itu sebelum melakukan penyelidikan
dengan seksama dan tidak boleh mendendam
kepada siapapun?"
"Ampun, suhu, dan subo, teecu telah melakukan
kesalahan karena terburu nafsu dan diamuk duka
dan dendam atas kematian ayah. Teecu telah
bersalah dan teecu siap menerima hukuman dari
suhu berdua." kata Siong Ki dengan nada sedih.
Tadi ketika Thian Ki melerai, hati Cin Cin sudah
mulai dingin dan ia dapat memaafkan Siong Ki.
Kini, melihat kedua orang guru pemuda ini
nampak marah, Cin Cin semakin merasa kasihan
kepada Siong Ki. Bagaimanapun juga, yang
diserang Siong Ki bukanlah ibunya, melainkan Lie
Koan Tek dan ibunya membela suami, maka
sampai terluka. Dan penyerangan Siong Ki
terhadap Lie Koan Tek tidak dapat terlalu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
disalahkan karena pemuda itu mengira bahwa
ayah tirinya yang membunuh ayah pemuda itu.
"Siong Ki, kembalikan pedangku!" terdengar Bu
Giok Cu berkata dan suaranya juga tidak ramah.
Dengan muka pucat Siong Ki melepaskan tali
sarung pedangnya dan menyerahkan pedang Sengkang-
kiam (Pedang Baja Bintang) kepada subonya.
Bu Giok Cu tanpa berkata apa-apa, menerima
pedang itu dan mencabutnya dari sarung,
memeriksa pedang itu, kemudian memasukkannya
kembali dan memasangkan di punggungnya
sendiri.
"Hemm, pedangku kupinjamkan kepadamu
sebagal bekal agar engkau dapat melaksanakan
tugasmu dengan baik. Lalu, apa hasilnya selama
engkau pergi ini? Hanya untuk menyerang dan
melukai ibu Cin Cin dan ayah tirinya? Itu saja?"
Tentu saja Siong Ki tidak berani menyinggung
tentang pekerjaannya membantu pangeran yang
memberontak dan usahanya membunuh kaisar
namun gagal itu. Ia teringat akan tugas yang
diberikan gurunya kepadanya, yaitu mencari puteri
gurunya yang diculik orang belasan tahun yang
lalu. Bahkan ketika Si Hong Lan. puteri Suhunya
itu diculik oleh Kwa Bi Lan, dia yang semestinya
bertanggung jawab, karena ketika itu, dia yang
baru berusia enam tahun yang mengasuh Hong
Lan yang berusia dua tahun.
"Maaf. subo......"
"Lancang! Siapa memberi ijin engkau menyebut
subo kepadaku?" bentak Bu Giok Cu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Maaf...... maafkan saya. bibi....... saya sudah
berusaha semampu saya mencari jejak mereka,
akan tetapi belum berhasil."
"Sudahlah," kata Si Han Beng. "Engkau
beristirahatlah, atau boleh menemani Thian Ki dan
Cin Cin. Kami hendak melanjutkan bersamadhi di
kamar dan nanti kalian bertiga boleh makan
malam di ruangan makan, kami tidak ingin
diganggu sebelum hari menjadi gelap." Setelah
berkata demikian, Si Han Beng dan isterinya
meninggalkan taman dan masuk kembali ke dalam
rumah.
Karena ia sendiri sedang merasa berbahagia dan
hatinya senang karena baru saja ia dan Thian Ki
sudah saling membuka rahasia hati masingmasing
yang saling mencinta, maka hati Cin Cin
menjadi tak tega dan ia sudah dapat memaafkan
Siong Ki sepenuh hatinya. Apalagi melihat betapa
Siong Ki dimarahi oleh kedua orang gurunya,
iapun merasa kasihan.
"Tentu engkau disuruh mencari puteri paman Si
Han Beng yang diculik orang itu, bukan?" tanya
Cin Cin kepada Siong Ki.
Pemuda itu menjatuhkan diri di atas bangku
taman dan menghela napas panjang berulangulang.
Memang hatinya sedang kesal bukan main.
Usahanya di kota raja gagal, bahkan hampir saja
dia tidak dapat meloloskan diri dari istana. Dan
diapun belum berhasil mendapatkan puteri
gurunya yang hilang itu.
"Memang nasibku yang buruk. Dahulu, adik
Hong Lan diculik oleh Kwa Bi Lan ketika sedang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kuajak bermain-main di taman ini. Aku baru
berusia enam tahun dan tak berdaya, ditotok oleh
Kwa Bi Lan. Dan sekarang, suhu menugaskan aku
untuk mencari puterinya, akan tetapi aku sama
sekali tidak berhasil menemukan jejak Kwa Bi Lan.
Sudah kutanyakan ke seluruh penjuru, kepada
para tokoh kangouw, namun tidak ada yang dapat
memberitahu dimana adanya Kwa Bi Lan, seolah ia
lenyap ditelan bumi bersama anak yang
diculiknya."
"Aku yang akan dapat menemukannya, Siong Ki.
Aku dan Thian Ki akan membantu paman dan bibi
menemukan kembali anak mereka," kata Cin Cin.
"Cin Cin, engkau tahu di mana adanya Kwa Bi
Lan yang menculik puteri suhu?" tanya Siong Ki
heran.
"Aku juga belum tahu, akan tetapi dapat
kutanyakan kepada ayah tiriku. Kiranya dia
mengetahui atau dapat menduga di mana adanya
wanita itu kerena Kwa Bi Lan adalah keponakan
ayah tiriku."
"Ah, begitukah?" kata Siong Ki gembira "Kalau
begitu, aku yakin bahwa akhirnya engkau dan
Thian Ki yang akan mampu mengembalikan adik Si
Hong Lan kepada suhu!" Kini Siong Ki kelihatan
gembira sekali. Memang hatinya bergembira karena
lega. Biarpun kedua orang gurunya tidak puas
dengan kegagalannya menemukan Hong Lan, akan
tetapi mereka tidaklah terlalu marah kepadanya.
Dan kini ternyata Cin Cin telah memaafkannya.
Tidak ada sesuatu yang dapat dia khawatirkan lagi.
Peristiwa di istana kerajaan itu tentu tidak akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
diketahui gurunya, dan dia kini telah aman berada
di rumah gurunya. Karena gembira, maka dia lalu
mengajak Thian Ki dan Cin Cin bercakap-cakap,
saling menceritakan pengalaman masing-masing.
Akan tetapi tentu saja cerita mereka itu terbathas,
hanya yang seperlunya saja diceritakan. Siong Ki
tentu saja menyimpan rahasia, sedangkan Cin Cin
yang bagaimanapun juga tidak sepenuhnya
melupakan perbuatan Siong Ki, juga tidak mau
menceritakan semua keadaan dirinya. Demikian
pula dengan Thian Ki. Sikap Siong Ki yang tadi
terdengar angkuh itu saja sudah membuat dia
tidak menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada
pemuda ini.
Karena dia menghadapi pengobatan yang akan
dilakukan Si Han Beng dan Bu Giok Cu, Thian Ki
berpamit dari kedua orang itu untuk melakukan
samadhi di kamarnya, sebagai persiapan menerima
bantuan pengobatan dari suami isteri pendekar itu
dengan mengumpulkan hawa murni ke dalam
tubuhnya. Cin Cin yang memaklumi keadaan
kekasihnya dan mengharapkan Thian Ki sembuh
atau terbebas dari hawa beracun itu, menyetujui.
Iapun mengajak Siong Ki untuk bercakap-cakap di
dalam taman itu menanti lewatnya siang hari.
Siong Ki memang seorang yang pandai membawa
diri. Dia bersikap sopan dan ramah, bahkan akrab
sekali sehingga semakin menipis kesan buruk atas
diri pemuda itu dalam hati Cin Cin.
"Maafkan aku, Cin Cin, kalau pertanyaanku ini
menyinggung perasaanmu. Kalau engkau tidak
suka menjawab, anggap saja pertanyaanku ini
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tidak pernah ada." Dia menghentikan kata-katanya
sambil memandang wajah gadis itu untuk memberi
kesempatan kepada Cin Cin mengambil keputusan.
Cln Cin mengerutkan alisnya. Pemuda aneh,
akan tetapi juga ia merasa tertarik untuk
mengetahui pertanyaan apa gerangan yang akan
diajukan pemuda itu.
"Katakanlah, aku tidak akan tersinggung, asal
engkau tidak sengaja hendak menyinggung atau
menghinaku."
"Cin Cin, aku ingat benar sekarang ketika kita
masih sama-sama menjadi sahabat, bahkan
saudara seperguruan di Hek-houw-pang. Ketika
itu, aku ingat bahwa kedua tanganmu masih utuh.
Maaf kan aku.....tangan kirimu....."
Cin Cin tersenyum. Ia merasa heran sendiri
karena semenjak tangan kirinya buntung, setiap
kali ada orang menyinggung tentang tangan itu, ia
merasa jengkel dan marah, bahkan banyak orang
sudah ia buntungi tangannya hanya karena orang
itu menyinggung tentang cacatnya itu. Akan tetapi
sekarang, ia sama sekali tidak merasa tersinggung.
Ia tidak tahu bahwa hal itu terjadi karena
pengakuan cinta dari Thian Ki tadi. Kebencian dan
kemarahannya karena tangannya buntung adalah
kebencian yang timbul karena kekecewaan bahwa
pemuda yang dicintanya yang melakukannya. Kini,
tangannya yang buntung sama sekali tidak
membuat ia menyesal lagi!
"Tangan kiriku ini, Siong Ki?" tanyanya sambil
tersenyun dan ia mengangkat lengan kirinya yang
buntung sebatas pergelangan tangan. Ujung lengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu terbungkus sutera putih. "Ah, tangan kiriku
dipenggal pedang sehingga buntung...... "
"Ahh! Siapa jahanam yang melakukannya. Cin
Cin? Aku akan membantumu membalas dendam
atas perbuatannya yang kejam itu!"
Senyum di bibir Cin Cin mengembang. "Tidak
perlu, Siong Ki, karena orang yang membuntungi
tangan kiriku adalah Thian Ki sendiri."
"Ehh? Bagaimana pula ini? Kenapa Thian Ki
membuntungi tangan kirimu, padahal kulihat..."
Dia menghentikan ucapannya karena merasa
terlanjur bicara.
"Kami memang saling mencinta dan telah
bersepakat untuk menjadi suami isteri, Siong Ki.
Pembuntungan tanganku ini telah terjadi beberapa
waktu yang lalu."
"Tapi.....kenapa? Sungguh aneh kalau dia
mencintamu akan tetapi membuntungi tanganmu!"
"Justeru karena dia mencintaku maka dia
membuntungi tangan kiriku, Siong Ki. Karena
kalau dia tidak melakukan itu, tentu sekarang aku
sudah tidak berada di dunia lagi, sudah mati."
"Ehh? Kenapa begitu? Apa yang telah terjadi?"
Tentu saja Siong Ki menjadi semakin penasaran
dan heran.
"Panjang ceritanya, Siong Ki," Kata Cin Cin.
"Ketika itu, aku memenuhi permintaan guruku
untuk membunuh guru dan ayah tiri Thian Ki ......
"
"Maksudmu Cian Bu Ong?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Benar. Cian Bu Ong yang dimusuhi oleh
guruku. Thian Ki hendak melindungi ayah tirinya,
dan aku mencengkeram pundaknya, tidak tahu
bahwa dia seorang tok-jin (manusia beracun)
sehingga tangan kiriku yang mencengkeram itu
bahkan keracunan. Melihat itu Thian Ki cepat
membuntungi tangan kiriku karena kalau tidak,
racun akan menjalar naik dan nyawaku tidak akan
dapat diselamatkan lagi."
"Luar biasa sekali! Kalau tidak mendengar
sendiri darimu, bagaimana aku dapat percaya?
Engkau sudah dibuntungi tangan kirimu oleh
Thian Ki dan sekarang engkau bahkan memilihnya
menjadi calon suamimu!"
"Akan tetapi, dia melakukannya untuk
menyelamatkan nyawaku, dan akulah yang
mencengkeram pundaknya."
Siong Ki mengangguk-angguk. "Hemm, jadi
Thian Ki adalah seorang manusia beracun?
Mengerikan."
"Dia dijadikan tok-tong oleh mendiang neneknya,
ketika dia masih kecil. Hal itu bukan kehendaknya
dan kini justeru dia datang mencari paman Si Han
Beng dan isterinya untuk minta pertolongan
mereka agar suka membantunya membebaskan
dirinya dari pengaruh hawa beracun itu." Cin Cin
membela kekasihnya.
Siong Ki mengangguk-angguk. "Dan suhu sudah
menyanggupinya?"
"Sudah, paman dan bibi akan berusaha
mengobatinya malam nanti, sekarang paman dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bibi sedang melakukan siu-lian (samadhi) untuk
menghimpun kekuatan."
Siong Ki berdiam diri sampai lama, alisnya
berkerut. Betapa lihainya Coa Thian Ki. Tubuhnya
mengandung hawa beracun yang amat ampuh!
Bahkan Cin Cin yang demikian lihainya, setelah
mencengkeram Thian Ki, tangannya sendiri
keracunan hebat dan kalau tidak dibuntungi, akan
tewas! Kalau saja dia yang mempunyai tubuh
beracun seperti itu, alangkah senangnya! Tidak
akan ada yang mampu mengalahkannya, dan dia
akan dapat menjadi jagoan nomor satu di dunia
ini. Akan tetapi, Thian Ki berusaha keras hendak
melenyapkan pengaruh hawa beracun itu, agar
tubuhnya tidak beracun lagi! Sungguh gila!
Melihat pemuda itu termangu dan termenung,
Cin Cin tersenyum. "Siong Ki, apa yang kau
pikirkan?" tanyanya.
"Sungguh aku merasa heran bukan main, Cin
Cin. Thian Ki dapat menjadi tok-tong itu sungguh
luar biasa sekali! Belum tentu seorang anak dari
sejuta orang dapat seberuntung dia. Akan tetapi,
memiliki tubuh yang demikian lihainya, yang dapat
membuat dia menjadi seorang lawan yang sukar
dikalahkan dan amat berbahaya, sepatutnya dia
bahagia dan bangga. Akan tetapi kenapa dia malah
hendak membebaskan dirinya dari hawa beracun
di tubuhnya itu?"
Setelah bercakap-cakap dengan Siong Ki, Cin
Cin merasa akrab kembali dengan pemuda yang di
waktu kecilnya adalah teman bermainnya itu,
maka iapun tidak ragu lagi untuk berterus terang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Siong Ki, Thian Ki bukan seorang yang haus akan
kemenangan, tidak ingin menjadi jagoan yang
paling kuat di dunia persilatan. Dia ingin menjadi
manusia biasa, jatuh cinta dan dicinta, kemudian
menikah dan membentuk keluarga. Sedangkan
kalau tubuhnya masih beracun seperti sekarang
ini, dia tidak mungkin dapat menikah."
"Eh, kenapa begitu? Apa salahnya kalau dia
menikah?"
"Kalau dia menikah, isterinya akan tewas
keracunan," kata Cin Cin singkat. Hampir saja
Siong Ki mengeluarkan suara hatinya dalam katakata
bahwa dia tidak akan perduli apakah wanita
yang diperisterinya akan tewas, dia bahkan akan
dapat berganti-ganti isteri, dengan tubuhnya yang
demikian ampuh, apapun akan dapat diraihnya!
Biarpun Siong Ki dapat menahan diri dan tidak
mengucapkan suara hatinya, namun Cin Cin yang
hendak membela kekasihnya, seolah dapat
mendengar isi hati Siong Ki dan iapun berkata,
bukan tidak ada kebanggaan terkandung dalam
suaranya. "Sebetulnya, tanpa diobatipun, Thian Ki
akan dapat membebaskan dirinya dari pengaruh
racun itu kalau ia sudah memperisteri banyak
wanita dan menewaskan mereka. Akan tetapi
Thian Ki bukanlah seorang yang jahat seperti itu.
Dia tidak ingin menyebabkan kematian siapapun,
apalagi kematian seorang wanita yang menjadi
isterinya. Dia akan berupaya agar tubuhnya bebas
dari pengaruh hawa beracun, barulah dia mau
menikah. Kalau usahanya itu gagal, dia lebih
senang selama hidupnya tidak menikah dan tidak
menewaskan siapapun yang tidak berdosa."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Siong Ki hanya mengangguk-angguk, akan tetapi
di dalam hatinya dia mencela Thian Ki sebagai
seorang yang bodoh sekali. Cin Cin lalu
meninggalkan pemuda itu untuk pergi mandi
karena hari telah sore. Siong Ki ditinggalkan
seorang diri dalam lamunannya. Betapa jauh
perbedaannya sekarang setelah dia kembali ke
rumah gurunya. Dahulu, sebelum dia pergi, dia
merasa bahwa tempat itu seperti tempat tinggalnya
sendiri. Dia merasa betah dan senang tinggal di
situ, senang membantu kedua orang gurunya
bekerja di sawah ladang sebagai petani atau naik
perahu mencari ikan di sungai. Akan tetapi
sekarang, setelah mengalami banyak peristiwa
dalam perantauannya, dia merasa betapa tidak
menyenangkan hidup di dusun yang sunyi itu.
Tidak ada keramaian, tidak ada kemewahan, tidak
ada kesenangan sama sekali!
Terutama sekali setelah dia mengalami
kemesraan dengan mendiang Bi Tok Siocia Ouw
Ling, kini dia merasa kehilangan sesuatu dalam
hidupnya. Bagaikan seseorang yang mulai
ketagihan candu, dia merasa tidak sanggup hidup
bersunyi diri jauh dari seorang teman wanita!
Setiap kali dia membayangkan kemesraan
dengan Ouw Ling, timbul desakan gairah yang
membuat dia menderita sekali, bagaikan seorang
kelaparan dan mulailah timbul pikiran bermacammacam
untuk dapat melampiaskan dorongan
gairahnya yang berkobar. Hati akal pikiran
merupakan tempat yang amat penting bagi nafsu,
karenanya nafsu bersarang di sana. Hati akal
pikiran kita sudah bergelimang dengan nafsu, oleh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
karena itu apapun yang kita pikirkan, selalu
diboncengi nafsu yang selalu mendesak untuk
dipenuhi tujuannya, yaitu kesenangan. Segala
macam perasaan, senang susah, iri benci dengki
timbul melalui pikiran yang mengenang atau
membayangkan segala peristiwa yang lalu atau
yang akan datang. Batin tidak akan diguncang
gelombang perasaan itu kalau pikiran tidak
mengenang atau membayangkan. Segala macam
perasaan senang, susah, marah, benci dan
sebagainya itu tidak akan timbul ketika kita
sedang tidur atau pingsan, karena pikiran tidak
bekerja. Itulah sebabnya mengapa para arif
bijaksana sejak jaman dahulu mengatakan bahwa
musuh kita yang paling berbahaya adalah pikiran
sendiri, karena pikiran kita sendirilah sumber
segala kesengsaraan batin. Tak dapat disangkal.
Dari pikiran timbulnya segala macam perasaan itu,
akan tetapi pikiran pula merupakan alat kita yang
terpenting. Hati akal pikiran inilah yang membuat
kita menjadi manusia, berbeda dengan mahluk
lain. Kalau harimau mempertahankan hidupnya
dengan cakar dan taringnya, kita mempertahankan
hidup dengan hati akal pikiran kita.
Karena hati akal pikiran yang memegang
peranan utama dalam kehidupan kita. maka nafsu
menjadikan sebagai sarangnya. Kalau tadinya hati
akal pikiran disertakan kita untuk dipergunakan
memenuhi kebutuhan hidup kita, oleh nafsu
diubah menjadi alat untuk mengejar kesenangan.
Pengejaran kesenangan inilah yang menimbulkan
semua konflik, semua pertentangan, dimulai dari
pertentangan dalam batin sendiri, lalu tercurah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
keluar menjadi pertentangan antara manusia,
antara golongan, antara bangsa.
"Sungguh tolol Thian Ki!" Siong Ki memaki dalam
hatinya. Kalau saja dia yang menjadi tok-tong! Dan
ada jalan yang lebih menyenangkan untuk
membebaskan diri dari pengaruh hawa beracun,
walaupun keinginan inipun gila, kenapa memilih
cara yang lebih sukar dan tidak menyenangkan?
Kalau dia, tentu akan memilih cara yang
menyenangkan itu, membuang hawa beracun itu
melalui kesenangan menggauli wanita. Berapa
banyaknya wanita yang akan tewas menjadi
korban keracunan, apa salahnya? Bukan sengaja
membunuh, melainkan suatu cara pengobatan.
Siong Ki lalu memasuki kamarnya di samping.
Dia merasa berterima kasih juga bahwa suhunya
dan subonya tidak terlalu memarahinya, bahkan
kamarnyapun masih terawat bersih, juga tidak
diberikan kepada Thian Ki sebagai tamu yang
menempati kamar tamu di belakang, sedangkan
Cin Cin diberi kamar yang selalu dirawat akan
tetapi tidak pernah dipakai, yaitu kamar yang
dipersiapkan kalau-kalau puteri suhunya pulang.!
-ooo0dw0ooo-
Mereka semua makan malam bersama karena
ketika Si Han Beng dan Bu Giok Cu keluar dari
kamar, tiga orang muda itu belum makan, masih
menanti mereka. Wajah suami isteri pendekar itu
nampak kemerahan dan bercahaya, menunjukkan
bahwa saat itu tenaga sakti mereka terkumpul dan
mereka berada dalam keadaan yang amat kuat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mereka berlima makan malam tanpa banyak
cakap. Setelah selesai makan malam, kembali
suami isteri itu memasuki kamar mereka dan baru
beberapa jam kemudian mereka keluar dan
mengajak Thian Ki ke dalam ruangan kosong di
samping kiri rumah itu, sebuah ruangan yang juga
dipergunakan untuk berlatih silat. Ruangan itu
bersih dan udaranya segar karena terdapat banyak
jendela dan pintu angin yang menembus ke taman.
Siong Ki pamit kepada gurunya untuk
berkunjung kepada kenalan-kenalan di dusun itu,
dan Cin Cin ikut pula memasuki ruangan itu,
mempersiapkan diri kalau-kalau kedua suami
isteri itu dalam mengobati Thian Ki membutuhkan
bantuannya.
Si Han Beng menyuruh Thian Ki duduk bersila
di atas lantai. Dia sendiri duduk di depan pemuda
itu dan isterinya duduk bersila pula di belakang
Thian Ki.
"Thian Ki, apa saja yang telah kaupelajari dari
mendiang nenekmu untuk menguasai hawa
beracun dari tubuhmu itu. Ceritakan sejelasnya."
"Paman, sebelum nenek menggemblengku
selama hampir dua tahun, aku tidak dapat
menguasai hawa beracun yang liar, sehingga setiap
kali menggerakkan kaki tangan, tentu hawa
beracun itu bekerja dan aku bahkan tidak berani
berlatih silat dengan sumoi karena takut kalaukalau
hawa beracun bekerja mencelakainya.
Selama hampir dua tahun, mendiang nenek
melatihku cara untuk menguasai hawa beracun itu
dan akhirnya aku berhasil mengendalikannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tanpa pengerahan sin-kang tertentu, hawa
beracun itu tidak akan melukai orang. Akan tetapi,
paman, hal itu tidak berarti bahwa aku telah bebas
dari hawa beracun itu. Kalau ada yang
menyerangku dengan tangan kosong, secara
otomatis, diluar kemampuanku untuk
mencegahnya, hawa beracun itu bekerja, seperti
yang terjadi pada Cin Cin."
Si Han Beng mengangguk-angguk, lalu
menyuruh pemuda itu membuka bajunya. Kini
Thian Ki bertelanjang dada. "Sekarang coba
kerahkan sin-kang yang dapat menggerakkan hawa
beracun pada tubuhmu."
Thian Ki mengerutkan alisnya. "Harap paman
dan bibi jangan menyentuh tubuhku, apalagi
menekan," pesannya. Suami isteri itu agak
menjauh, kemudian Thian Ki mengerahkan sinkangnya.
Cin Cin terbelalak melihat betapa dari
tubuh Thian Ki mengepul uap hitam dan tiba-tiba
ia merasa kepalanya pening. Melihat Si Han Beng
dan Bu Giok Cu menyalurkan sin-kang, Cin Cin
juga cepat mengerahkan tenaga menyalurkan sinkang
untuk menolak pengaruh hawa beracun yang
seolah memenuhi ruangan itu.
"Cukup, Thian Ki." kata Si Han Beng.
Thian Ki menghentikan pengerahan sin-kangnya
dan uap hitam itupun makin menipis dan akhirnya
menghilang.
"Berbahaya sekali!" Bu Giok Cu berseru sambi
memandang kagum.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Mendiang nenekmu memang ahli racun yang
hebat dan ia telah berhasil membuat engkau
seperti yang dikehendakinya, Thian Ki. Aku telah
melihat ilmu silatmu ketika engkau menandingi
Tung-hai Mo-li, dan aku percaya bahwa dengan
hawa beracun di tubuhmu itu, kalau engkau
menghendaki dan mempergunakannya, kiranya
tidak ada seorangpun tokoh persilatan yang akan
mampu mengalahkanmu. Bahkan mereka
terancam maut keracunan."
"Maaf, paman dan bibi. Aku tidak ingin menjadi
manusia beracun seperti itu. Aku ingin menjadi
manusia biasa, berkeluarga, mempunyai
keturunan. Maka, aku mohon dengan sangat,
sudilah paman dan bibi menolongku."
"Kami akan berusaha, Thian Ki. Akan tetapi
kurasa tidak akan mudah, melihat betapa
hebatnya hawa beracun di tubuhmu tadi.
Sekarang, kami akan mencoba dulu dan ingin
mengetahui, racun macam bagaimana yang
membuatmu menjadi tok-tong. Aku dan bibimu
akan mempergunakan sin-kang untuk menepukmu
dari depan dan belakang. Engkau kendalikan hawa
beracun itu dan pergunakan kekuatan itu untuk
menolak...... "
"Tapi itu berbahaya sekali bagi paman dan bibi!
Tidak, aku tidak berani......"
"Thian Ki, jangan membantah pamanmu," kata
Bu Giok Cu dengan nada menegur. "Dan jangan
pandang rendah kepada kami. Kami akan
menggunakan sin-kang melindungi diri dari hawa
beracun."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Benar, Thian Ki, asal engkau tidak
mengerahkan seluruh hawa beracun itu, kami
tidak akan terancam bahaya. Kami hanya ingin
menguji dan mengetahui kekuatannya, baru akan
dapat menentukan dengan cara bagaimana
membantumu."
"Baiklah, paman.....akan tetapi, harap paman
dan bibi berhati-hati. Kalau sampai paman dan
bibi keracunan, selama hidup aku tidak akan
dapat memaafkan diriku sendiri."
Mendengar ini, Cin Cin tidak tahan untuk
tinggal diam saja. Kekasihnya perlu didukung dan
dibesarkan hatinya. "Thian Ki, kenapa engkau
masih banyak ragu? Paman Si Han Beng dan bibi
Bu Giok Cu yang memerintahkan, engkau hanya
tinggal menurut saja. Kalau terjadi apapun, siapa
yang akan menyalahkanmu? Juga, mereka adalah
sepasang pendekar yang berilmu tinggi, tidak dapat
disamakan dengan orang-orang yang pernah tewas
oleh hawa beracun di tubuhmu."
Mendengar ucapan kekasihnya itu, agak
berkurang kekhawatiran hati Thian Ki. "Baiklah,
paman dan bibi. Aku sudah siap."
Si Han Beng saling pandang dengan isterinya.
Memang mereka sudah membicarakan tentang
usaha penyembuhan itu dan sudah mengatur
sebelumnya sehingga kini keduanya sudah tahu
apa yang akan mereka lakukan. "Thian Ki,
sambutlah, kami menyerang kedua pundakmu
dengan tamparan ringan."
Suami isteri itu bergerak secara berbareng, Si
Han Beng yang berada di depan Thian Ki menepuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pundak kirinya dengan tangan kanan sambil
mengerahkan sinkang yang berhawa dingin,
sebaliknya isterinya, Bu Giok Cu, menampar
pundak kanan Thian Ki dengan tangan kanan
sambil mengerahkan sin-kang yang berhawa
panas. Gerakan mereka cepat dan dari telapak
tangan mereka sudah menyambar hawa yang
dingin dan panas ke arah kedua pundak Thian Ki.
Pemuda itu mengendalikan hawa beracun di
tubuhnya dan menyalurkannya ke pundak, namun
tentu saja dia berhati-hati dan hanya
mempergunakan sebagian kecil saja dari tenaganya
yang mematikan itu.
"Plak! Plak!" Thian Ki merasa betapa pundak
kirinya tergetar oleh hawa yang amat dingin,
sedangkan pundak kanannya diguncang hawa
panas. Ketika kedua tangan itu menampar
pundaknya, kedua tangan terpental oleh tenaga
dari hawa beracun dan suami isteri itu cepat sudah
menarik kembali tangan mereka. Thian Ki melihat
betapa telapak tangan kanan Si Han Beng
berwarna Hitam! Tanpa menengokpun dia dapat
menduga bahwa tentu tangan Bu Giok Cu sama
juga, keracunan.
"Paman.......! Bibi.......!" serunya kaget.
Akan tetapi, ketika dia dalam keadaan duduk
bersila itu meloncat ke samping, berdiri dan
memandang kepada dua orang suami isteri yang
kini duduk bersila saling berhadapan karena tidak
lagi terhalang dirinya, dia melihat mereka
memejamkan mata dan membuat gerakan "Satu
Tangan Menyangga Langit" dan dari telapak tangan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mereka itu mengepul uap hitam. Hanya beberapa
menit saja mereka mengerahkan sin-kang dan
semua warna hitam itu lenyap dari tangan mereka
tadi. Cin Cin memandang kagum bukan main, juga
Thian Ki tertegun dengan hati yang lega bukan
main. Tadi dia sudah terkejut dan khawatir bukan
main melihat betapa tangan suami isteri pendekar
itu menjadi hitam setelah menepuk pundaknya.
Akan tetapi ternyata mereka memiliki kekuatan
sin-kang yang dahsyat, yang mampu mengusir
hawa beracun itu dari tangan mereka. Giranglah
hatinya dan dia merasa yakin bahwa suami isteri
inilah yang akan mampu menolongnya,
membebaskan dirinya dari hawa beracun.
"Paman dan bibi sungguh hebat!" serunya dan
diapun bersila kembali di tengah antara suami
isteri itu.
Akan tetapi suami isteri itu saling pandang dan
Si Han Beng menghela napas. "Thian Ki, mendiang
nenekmu yang telah membuat engkau menjadi toktong
memang seorang yang amat lihai dalam hal
racun, dan tidak ada duanya di dunia kang-ouw.
Racun di tubuhmu amatlah hebatnya, bergerak
otomatis, mengimbangi keadaan sin-kang lawan
yang menyerangmu. Tadi aku mempergunakan sinkang
berhawa dingin, sedangkan bibimu
menggunakan sin-kang berhawa panas, akan
tetapi akibatnya sama saja, kami berdua
keracunan. Kami akan berusaha, akan tetapi
jangan terlalu memastikan bahwa kami akan
berhasil sepenuhnya. Nah, sekarang kendurkan
semua urat syarafmu, sedikitpun jangan melawan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tenaga kami. Kami akan membantumu mendorong
keluar hawa beracun dari tubuhmu."
"Baik, paman," kata Thian Ki dengan pasrah.
Kini suami isteri itu menjulurkan kedua tangan
ditempelkan ke dada dan punggung Thian Ki.
Mereka mengerahkan tenaga sin-kang, perlahanlahan,
makin lama semakin kuat. Thian Ki merasa
betapa hawa yang hangat menyusup ke dalam
tubuhnya. Perlahan-lahan, uap hitam mengepul
keluar dari tubuhnya, terutama dari mulut dan
hidungnya. Dia merasa pening dan ada dorongan
untuk menentang, untuk melawan dua tenaga
sakti yang menyusup ke dalam tubuhnya itu. Dia
maklum bahwa sekali dia menuruti dorongan ini,
suami isteri itu akan terancam bahaya maut. Oleh
karena itu, dia menekan dorongan itu yang
semakin kuat saja sehingga dia harus menggigit
giginya. Peluh membasahi seluruh tubuhnya yang
tergetar hebat karena ada perang dalam dirinya
sendiri. Kesadarannya menuntut agar dia tetap
mengendurkan seluruh urat syaraf di tubuhnya,
meniadakan bentuk perlawanan sedikitpun, akan
tetapi dilain pihak, ada suatu keinginan kuat yang
mendorongnya untuk melakukan perlawanan. Dia
merasa kepalanya pening, tubuhnya sebentar
panas sebentar dingin.
Cin Cin memandang dan tertegun, penuh
kekaguman, juga penuh kekhawatiran terhadap
kekasihnya dan kedua suami isteri itu. Ia maklum
bahwa cara pengobatan itu amat berbahaya, baik
bagi yang diobati maupun bagi yang mengobati.
Akan tetapi ia tidak berdaya mencampuri, dan
hanya dapat memandang dengan terpukau, seperti
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
patung, bernapaspun ditahannya agar jangan
banyak menimbulkan suara. Akan tetapi diamdiam
ia harus mengerahkan tenaganya pula karena
uap hitam yang keluar dari tubuh Thian Ki
membuatnya pening. Bahkan akhirnya ia tidak
tahan lagi dan keluar dari ruangan itu, hanya
menonton dari luar, dimana udaranya jernih.
Kurang lebih setengah jam suami isteri itu
mengerahkan sin-kang untuk membantu Thian Ki
terbebas dari hawa beracun. Akhirnya Bu Giok Cu
mengeluh dan melepaskan kedua tangannya,
disusul oleh suaminya. Suami isteri itu masih
bersila, memejamkan mata dan nampak lemas.
Mereka kini duduk diam dan menghimpun hawa
murni. Bukan hanya suami isteri itu yang
kehabisan tenaga, juga Thian Ki nampak pucat dan
lemas, seluruh tubuhnya penuh keringat. Diapun
masih duduk bersila dan tidak ada lagi uap hitam
mengepul dari tubuhnya! Dia juga harus
mengimpun hawa murni untuk memulihkan
tenaganya yang bagaikan tersedot keluar bersama
uap hitam tadi. Dia merasa lemah lunglai,
kepalanya tetap pening.
Melihat tidak ada uap hitam lagi mengepul dari
tubuh Thian Ki, Cin Cin berani memasuki ruangan
itu dan mendekati mereka. Hatinya berdebar girang
karena ia mengira bahwa tentu kekasihnya
sekarang telah terbebas dari hawa beracun itu.
Iapun memandang dengan penuh kagum dan
juga terharu kepada suami isteri yang gagah
perkasa itu. Mereka telah mempertaruhkan
keselamatan sendiri, bahkan kini kehabisan tenaga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
untuk menolong Thian Ki. Betapa mulia budi
suami isteri pendekar itu.
Si Han Beng membuka matanya dan menghela
napas panjang. Agaknya helaan napas itu
menyadarkan pula isterinya yang membuka mata.
Suami isteri itupun seperti Thian Ki, agak pucat
dan kelihatan lelah bukan main.
"Bukan main......!" Bu Giok Cu berkata sambil
menggeleng-geleng kepala kagum memandang
kepada Thian Ki yang masih bersila di depannya,
membelakanginya.
Thian Ki membuka matanya, kemudian
menggeser duduknya ke belakang, menghadapi
suami isteri itu dan dia berlutut kepada mereka.
"Terima kasih paman dan bibi. Budi paman dan
bibi takkan kulupakan selama hidupku."
"Aih, Thian Ki, jangan perkata begitu." kata Si
Han Beng. "Kami bahkan merasa menyesal bahwa
kami telah gagal membersihkan hawa beracun dari
tubuhmu, mungkin hanya beberapa bagian saja.
Hawa itu terlampau kuat."
Thian Ki maklum karena dia juga merasa bahwa
hawa beracun di tubuhnya belum bersih, baru
sebagian saja yang terusir pergi. Mungkin hanya
mengurangi keampuhannya saja sehingga kalau
tubuhnya dipukul orang, si pemukul itu hanya
terkena racun yang tidak begitu berbahaya lagi.
Namun, tetap saja tubuhnya masih mengandung
racun dan hal ini tidak memungkinkannya untuk
menikah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kurasa hawa beracun itu telah membuat
darahmu juga beracun, Thian Ki, harus ditemukan
obat untuk mencuci darahmu." kata Bu Giok Cu.
Karena pekerjaan itu amat melelahkan,
menguras habis tenaga suami isteri itu dan Thian
Ki, maka mereka bertiga lalu kembali ke kamarmasing
masing untuk beristirahat dan
menghimpun hawa murni untuk memulihkan
tenaga. Malam itu Cin Cin gelisah di dalam
kamarnya. Ia tak dapat tidur nyenyak karena
selalu teringat akan kekasihnya, Coa Thian Ki. Ia
maklum bahwa kekasihnya itu belum terbebas
sama sekali dari hawa beracun, seperti yang
didengarnya dari percakapan dengan suami isteri
tadi seusai pengobatan.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Cin Cin
sudah bangun, mencuci badan lalu memasuki
taman untuk mencari udara segar karena
tubuhnya terasa agak lesu karena kurang tidur.
Ternyata ia mendapatkan Thian Ki sudah berada di
taman, berlatih silat!
Pemuda itu nampak berlatih silat tangan kosong,
gerakannya gesit dan mantap sekali, pukulan
kedua tangannya mendatangkan angin. Memang
hebat ilmu tangan kosong pemuda ini. Dia telah
menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan oleh bekas
pangeran Cian Bu Ong, juga dia telah mewarisi
ilmu-ilmu yang diajarkan oleh ibunya dan
neneknya. Kini dia memainkan ilmu silat tangan
kosong yang diajarkan gurunya atau ayah tirinya,
yaitu Sin-liong-ciang-hoat (Ilmu Silat Naga Sakti).
Gerakannya gagah sekali, kedua tangan dibuka,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
jari-jari membentuk cakar naga. Agaknya tenaga
Thian Ki sudah pulih kembali. Ketika pemuda itu
mengakhiri ilmu silatnya, dia mengangkat kedua
tangan yang membentuk cakar naga itu ke atas,
mengerahkan tenaga saktinya dan kedua
tangannya berubah kehitaman sampai sebatas
pergelangan dan ada uap hitam mengepul dari jari
jari tangannya. Dia menghentikan gerakannya,
kedua lengannya tergantung lemas dan lunglai
seolah kehabisan tenaga dan dia menundukkan
mukanya yang nampak kecewa.
"Thian Ki.....!" Cin Cin menghampiri.
Thian Ki yang agaknya berada dalam keadaan
berduka itu sadar dari lamunannya dan dia
mengangkat mukanya, dan sebentar saja wajahnya
telah berseri kembali.
"Eh, sepagi ini engkau sudah bangun, Cin Cin?"
"Engkau malah sudah berlatih silat, Thian Ki.
Bagaimana dengan hawa beracun di tubuhmu?"
Cin Cin berpura-pura mengajukan pertanyaan ini,
padahal tadi ia melihat sendiri bahwa kedua
tangan itu masih berwarna hitam ketika Thian Ki
mengerahkan tenaga sin-kang.
Thian Ki tersenyum. "Berkat bantuan paman
dan bibi, sudah banyak berkurang hawa beracun
itu."
"Thian Ki, kepadaku engkau tidak perlu
menyembunyikan. Berterus-teranglah saja bahwa
hawa beracun itu belum hilang dan engkau belum
terbebas, bukan? Aku semalam sudah mendengar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ucapan Paman Si Han Beng, juga tadi aku melihat
kedua tanganmu berubah hitam."
Thian Ki menghela napas lalu duduk di atas
bangku. Cin Cin juga duduk di sampingnya.
"Engkau benar, Cin Cin. Memang sudah banyak
hawa beracun yang keluar, akan tetapi itu bukan
berarti bahwa aku telah bebas sama sekali.
Biasanya, kalau aku mengerahkan tenaga seperti
tadi, mengendalikan hawa beracun itu ke arah
lengan, tanganku menghitam dari jari tangan
sampai ke siku. Sekarang masih menghitam, akan
tetapi hanya sampai di pergelangan tangan saja
dan ini berarti bahwa biarpun sudah berkurang,
akan tetapi belum bersih betul. Benar seperti yang
dikatakan bibi Bu Giok Cu, hawa beracun telah
membuat darahku beracun, maka kalau hanya
dengan dorongan sin-kang saja, tidak mungkin
dapat dibersihkan. Darah yang beracun itu akan
menambah kekuatan hawa beracun lagi, maka
haruslah ditemukan obat yang dapat
membersihkan darahku dari racun. Cin Cin,
kebetulan sekali kita dapat bicara berdua. Setelah
aku melihat keadaan diriku, kurasa belum
terlambat bagimu untuk menjauhkan diri dariku,
Cin Cin." kalimat terakhir ini diucapkan dengan
suara gemetar.
Cin Cin terbelalak memandang wajah pemuda
itu. "Thian Ki, apa maksud ucapanmu ini?
Jelaskan!" Ia nampak marah.
Sejenak mereka saling pandang dan Thian Ki
yang lebih dulu menundukkan pandang matanya.
"Cin Cin, agaknya keadaan diriku ini tidak dapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dipulihkan, tidak dapat disembuhkan dan aku
akan menjadi orang beracun selamanya......"
"Aih, kenapa engkau mendadak menjadi begini
cengeng dan lemah, Thian Ki? Ini tidak pantas
bagimu. Engkau tidak boleh putus asa!" Kata Cin
Cin bersemangat.
"Aku tidak putus asa, Cin Cin, aku akan tetap
berusaha sampai aku berhasil menemukan
obatnya. Akan tetapi, aku tidak berhak
mengikatmu, Cin Cin. Kita memang saling
mencinta, akan tetapi dengan keadaanku seperti
ini, bagaimana mungkin? Aku tidak ingin melihat
engkau kelak kecewa dan sengsara karena aku
tidak berhasil sembuh. Maka, sebelum terlambat,
sebelum ikatan di antara kita semakin kuat,
sebaiknya kalau engkau meninggalkan aku.
Engkau berhak hidup berbahagia, dengan calon
jodoh lain yang normal, bukan manusia beracun
seperti aku."
Sejenak Cin Cin mengamati wajah pemuda itu
dengan kaget, heran dan tidak percaya, kemudian
ia menangis.
"Cin Cin, kenapa? Kenapa engkau
menangis........?"
Cin Cin mengusap air matanya, matanya
mencorong marah. "Thian Ki, engkau sungguh
kejam! Tega benar engkau menikam hatiku dengan
ucapanmu itu. Kaukira aku ini seorang wanita
macam apa, begitu dangkal cintanya, begitu palsu
dan mementingkan diri sendiri? Thian Ki, aku
mencintamu dengan setulus hatiku, apa dan
bagaimana keadaanmu, aku akan tetap
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mencintamu. Andaikata kita kelak tidak dapat
menikah, aku bersedia hidup sebagai sahabat
selamanya, dan aku akan tetap mencintamu.
Andaikata kelak kita menikah dan aku mati
keracunan, akupun tidak akan menyalahkanmu
dan aku rela, aku akan tetap mencintamu. Dan
engkau sekarang.........engkau menganjurkan agar
aku meninggalkanmu?" Gadis itu menangis lagi.
Thian Ki merasa terharu dan juga berbahagia
sekali. Ternyata cinta gadis ini kepadanya
membesarkan hatinya. Diapun memegang tangan
kanan gadis itu dan berkata dengan sungguhsungguh.
"Cin Cin, maafkan aku. Sungguh mati,
aku mengeluarkan kata-kata itu demi cintaku
kepadamu, karena aku tidak ingin melihat engkau
menderita. Biarlah aku sendiri yang menderita
akan tetapi jangan engkau, orang yang paling
kusayang di dunia ini, ikut pula menderita karena
keadaan tubuhku. Maafkan aku, Cin Cin, kini aku
semakin yakin bahwa dengan engkau
disampingku, aku akan menghadapi apapun juga
dengan tabah. Biarlah kita hadapi bersama, suka
sama dinikmati, duka sama ditanggung."
Cin Cin menghentikan tangisnya dan ketika
Thian Ki merangkulnya, ia berbisik di dekat telinga
pemuda itu. "Thian Ki, bagiku, penderitaan di
sampingmu merupakan suatu kebahagiaan,
sebaliknya, kebahagiaan tanpa engkau akan
merupakan penderitaan."
Thian Ki semakin terharu. Dengan lembut dia
memegang kedua pundak gadis itu, mendorongnya
untuk dapat melihat wajahnya dan sambil menatap
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
wajah itu dengan sinar mata yang penuh kasih
sayang, diapun berkata lirih. "Cin Cin, demi Tuhan
cinta kasihmu yang begini tulus dan mendalam
tidak akan sia-sia, tidak akan sia-sia......... "
"Aku tahu, Thian Ki, kita saling mengetahui isi
hati masing-masing dan semoga Tuhan melindungi
kita. Sekarang, apa yang akan kita lakukan
selanjutnya?"
"Aku ingin memenuhi pesan guruku, juga ayah
tiriku, yaitu mendapatkan pedang pusakanya yang
berada di gudang pusaka kerajaan. Aku harus
melakukan itu, dan harus berhasil, untuk
membalas segala budi kebaikannya kepadaku dan
kepada ibuku. Setelah berhasil, aku akan
memperkenalkan engkau kepada ibuku dan ayah
tiriku, dan mengakui kepada mereka bahwa
engkau adalah calon isteriku." Berkata sampai di
situ Thian Ki tertegun. Baru dia teringat bahwa
ayah tirinya telah menjodohkan dia dengan Cian
Kui Eng! Dan terkenang dia kepada sumoinya atau
juga adik tirinya itu bahwa Kui Eng juga
mencintanya, bukan sebagai adik kepada kakak,
melainkan sebagai seorang wanita kepada seorang
pria. Sejenak dia menjadi gelisah akan tetapi
segera terhapus kegelisahan itu begitu dia menatap
wajah kekasihnya.
"Engkau kenapa, Thian Ki?" tanya Cin Cin yang
melihat perubahan sejenak tadi pada wajah
kekasihnya.
"Tidak apa-apa, aku hanya teringat bahwa aku
mempunyai sebuah tugas lagi yang harus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kulakukan, demi membalas budi kebaikan paman
Si Han Beng dan bibi Bu Giok Cu."
"Aku tahu, mencari dan membawa kembali
puteri nereka, bukan?" Cin Cin memotong, "aku
akan membantumu sekuat tenagaku, Thian Ki."
Pada saat itu, terdengar suara ribut-ribut dari
depan rumah dan disusul suara beradunya senjata
tajam yang nyaring. Tentu saja Thian Ki dan Cin
Cin terkejut sekali dan mereka berloncatan dan
berlari keluar dari taman menuju ke pekarangan
luar. Dan di sana, mereka melihat dua orang
sedang berkelahi dengan seru dan mati-matian.
Setelah dekat, mereka mengenal Siong Ki yang
sedang berkelahi dengan seorang pemuda yang
bertubuh kecil, berwajah tampan sekali dan
gerakan pedangnya jelas menunjukkan bahwa
orang ini memiliki dasar ilmu silat Siauw-lim-pai.
Namun, sekali pandang saja tahulah Cin Cin dan
Thian Ki, bahwa pemuda tampan itu tidak akan
dapat menandingi Siong Ki yang jauh lebih unggul
ilmu pedangnya, sehingga kini pemuda itu terdesak
oleh sinar pedang yang dimainkan Siong Ki.
Namun, pemuda itu nampaknya bertekad untuk
menyerang mati-matian, sehingga Thian Ki
khawatir kalau-kalau Siong Ki akan lupa diri dan
membunuh orang.
"Tahan senjata......!!" teriaknya dan diapun
meloncat ke depan, ke tengah-tengah medan
pertandingan. Mendengar angin yang dahsyat
menyambar, pemuda itu terkejut dan melompat
mundur. Demikian pula Siong Ki juga menahan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pedangnya ketika melihat munculnya Thian Ki dan
Cin Cin.
"Sabarlah, Siong Ki dan engkau juga, sobat.
Kalau ada persoalan dapat dibicarakan dan
didamaikan. Kenapa kalian sepagi ini sudah saling
serang mati-matian seperti itu? Siong Ki, siapakah
sobat ini dan mengapa kalian bertanding matimatian?"
tanya Thian Ki.
Siong Ki mengamati pemuda di depannya itu
dengan alis berkerut dan sinar mata marah dan
penasaran. "Orang sinting ini datang ingin bertemu
dengan suhu dan subo dengan nada suara yang
merendahkan, ketika kuberitahu bahwa suhu dan
subo masih tidur, tiba-tiba saja ia menyerangku
dan hendak membunuhku."
"Jahanam keparat, memang aku akan
membunuhmu!" bentak pemuda itu dan dia sudah
hendak menyerang lagi. Dari cara dia bicara, dari
sikapnya, Thian Ki merasa bahwa pemuda ini
bukanlah orang kangouw biasa saja. Kata-katanya,
walaupun sedang marah dan merupakan makian,
tetap saja menggunakan kata-kata yang halus,
dengan pengucapan yang teratur, seperti seorang
bangsawan!
"Tahan dulu, sobat," katanya sambil memberi
hormat kepada pemuda itu dengan merangkapkan
kedua tangan depan dada. "Agaknya terjadi
kesalah pahaman di sini. Tahukah engkau siapa
pemuda ini?" Thian Ki menuding ke arah Siong Ki.
"Dia adalah The Siong Ki, murid dari paman Si Han
Beng yang berjuluk Huang-ho-Sin-liong (Naga Sakti
Sungai Kuning)..........."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kalau begitu, Huang-ho Sing-liong adalah
seorang jahat yang memiliki murid jahat!" pemuda
itu membentak marah.
"Orang gila!" Siong Ki sudah marah lagi, akan
tetapi sebelum dia melakukan sesuatu, terdengar
suara dari dalam rumah.
"Siapakah yang mengatakan bahwa kami jahat?"
Dan Si Han Beng bersama isterinya telah muncul
dari pintu depan. Suami isteri ini masih nampak
agak pucat dan lemah, tanda bahwa mereka belum
dapat memulihkan tenaga yang malam tadi
terkuras habis ketika mereka mencoba untuk
mengobati Thian Ki.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Bu Giok Cu
melihat muridnya berdiri dengan sebatang pedang
di tangan, berhadapan dengan seorang pemuda
tampan yang kelihatan marah-marah dan yang
juga memegang sebatang pedang di tangannya.
"Paman dan bibi, agaknya terjadi kesalah
pahaman antara Siong Ki dan tamu ini," kata
Thian Ki.
"Siong Ki, apa yang terjadi?" tanya Si Han Beng
dengan suara tegas karena guru ini masih merasa
kecewa melihat muridnya pulang tanpa hasil
mencari puterinya, bahkan telah melukai ibu Cin
Cin.
"Suhu, teecu sendiri tidak mengerti. Orang ini
tadi muncul di pekarangan dan teecu segera
menemuinya dan menanyakan maksud
kunjungannya. Dia hendak bertemu dengan suhu
dan subo, dan ucapannya terdengar kasar, bahkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tidak menghormati suhu dan subo. Teecu
menjawab bahwa suhu dan subo masih belum
bangun dari tidur dan menyuruh dia pergi agar
tidak mengganggu, karena sikap dan kata-katanya
yang tidak menghormat. Eh, tiba-tiba dia
mencabut pedang dan menyerang teecu, bukan
sekedar menguji kepandaian, melainkan dengan
sungguh-sungguh akan membunuh teecu."
Mendengar laporan muridnya itu, Si Han Beng
memandang penuh perhatian kepada tamunya,
dan Bu Giok Cu sudah tidak sabar lagi. "Orang
muda, engkau masih muda dan tampan, kenapa
begini pemarah? Setidaknya, jelaskan dulu kenapa
engkau hendak membunuhnya dan apa pula
keperluanmu mencari kami berdua."
Pemuda itu menatap wajah Si Han Beng dan Bu
Giok Cu bergantian, kemudian, dengan suara
mengandung kemarahan dia berkata, "Aku harus
membunuh jahanam busuk ini! Apalagi setelah
ternyata dia ini murid Huang-ho Sing-liong Si Han
Beng, dia harus mati di tanganku! Kalau kalian
suami isteri hendak membelanya, boleh! Biar aku
mendapat kenyataan bahwa nama besar Huang-ho
Sin-liong hanyalah nama kosong belaka, dia bukan
seorang pendekar budiman yang bijaksana,
melainkan seorang yang pengecut, tidak
bertanggung-jawab, juga mempunyai murid yang
jahat, pengkhianat dan pemberontak!"
-ooo0dw0oooTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
Jilid 30
Bu Giok Cu menjadi marah sekali. "Bocah
sombong kau.......!" Akan tetapi suaminya sudah
menyentuh lengannya menyabarkan. Suami isteri
itu sama sekali tidak tahu betapa wajah Siong Ki
berubah mendengar tuduhan bahwa dia jahat,
pengkhianat dan pemberontak itu. Orang ini telah
mengetahui rahasianya, pikirnya terkejut sekali.
"Engkau yang jahat! Engkau bohong dan
melakukan fitnah! Dia berbohong, suhu dan subo!"
kata Siong Ki. Dia tidak tahu bahwa sejak tadi
Thian Ki memperhatikan, sehingga Thian Ki
melihat pula betapa wajah Siong Ki tadi berubah
agak pucat dan nampak kaget dan gelisah.
Si Han Beng sendiri cukup waspada untuk
melihat sesuatu yang ganjil dan tidak beres dalam
pemunculan pemuda itu, dalam tuduhantuduhannya
terhadap muridnya.
"Nanti dulu, sobat muda!" kata Si Han Beng dan
suaranya berwibawa, sinar matanya mencorong
memandang wajah tampan itu. "Engkau menuduh
muridku jahat, pengkhianat dan pemberontak. Apa
alasanmu menuduhnya sekeji itu. Tanpa alasan
dan bukti yang kuat, bagaimana kami dapat
percaya bahwa murid kami melakukan seperti yang
kautuduhkan itu?"
"Alasannya? Buktinya? Hem, tanyakan saja
kepada muridmu yang brengsek itu, Huang-ho Sinliong.
Atau engkau juga telah mengajarkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepadanya bagaimana untuk menjadi pengecut,
tidak berani bertanggung jawab?"
"Jahanam, engkau menabur fitnah yang bukanbukan
kepadaku!" Siong Ki menggertak karena
tanpa ada buktinya, tak mungkin ada orang yang
mengetahui bahwa dia pernah berusaha
membunuh kaisar di istananya, bahwa dia adalah
kaki tangan Pangeran Li Seng Cun yang
memberontak.
"Fitnah? Hemm, kiranya engkau memang
seorang pengecut besar. Aku sendiri yang
mencegahmu dan Bi Tok Siocia Ouw Ling
menyerbu kamar kaisar dan hendak membunuh
Sribaginda Kaisar. Bahkan ibuku juga tewas di
tanganmu, karena tusukan pedangmu. Mana
pedangmu yang tumpul itu, itulah buktinya!"
Wajah suami isteri pendekar itu berubah
mendengar ucapan ini. Murid mereka bekerja sama
dengan wanita iblis Bi Tok Siocia menyerang
kaisar!? Juga Siong Ki terkejut bukan main dan
wajahnya menjadi pucat sekali. Sekarang dia ingat
bahwa ada dua orang wanita yang menghalangi dia
dan Ouw Ling ketika menyerang kaisar, dan
seorang di antara dua wanita itu adalah orang yang
kini berdiri di depannya, menyamar sebagai
seorang pemuda.!
"Bohong kau......... !!" Siong Ki membentak
nyaring dan diapun sudah menerjang ke depan,
membacokkan pedangnya ke arah pemuda itu. Kini
dia tidak seperti tadi yang hanya membela diri, kini
dia menyerang untuk membunuh, maka dia
mencerahkan seluruh tenaganya dan pedang itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyambar dahsyat ke arah kepala pemuda itu. Si
Han Beng dan Bu Giok Cu masih lemah, tenaga
mereka masih belum pulih, maka mereka tidak
berdaya mencegah. Sedangkan Thian Ki dan Cin
Cin masih bingung, tidak tahu harus berbuat apa.
Pemuda tampan itu menggerakkan pedangnya
menangkis.
"Tranggg.........!!" Pedang di tangan pemuda itu
terpental jauh, terlepas dari pegangannya dan
ujung kaki Siong Ki sudah menendang dan
membuatnya roboh terjengkang. Orang ini harus
mati, pikir Siong Ki karena rahasia tentang dirinya
akan dibuka. Kalau hal itu terjadi, bukan saja dia
akan berhadapan dengan kedua orang gurunya,
bahkan dengan pasukan keamanan pemerintah
yang tentu sedang memburunya!
"Siong Ki, jangan..........!!" bentak Bu Giok Cu
ketika melihat murid itu menerjang lagi untuk
memberi serangan mematikan kepada tubuh
pemuda yang sudah terjengkang itu. Akan tetapi,
nyonya yang menghadang ini terdorong oleh tangan
kiri Siong Ki dan Bu Giok Cu terhuyung ke
belakang. Si Han Beng yang juga tahu bahwa dia
sendiri tidak mempunyai tenaga, cepat berseru.
"Thian Ki cegah dia!"
Thian Ki maklum apa yang harus dia lakukan,
sekali melompat dia sudah menghadang dan dia
mendorong dengan kedua tangannya ke arah Siong
Ki. Bukan dengan tenaga dari hawa beracun,
melainkan dengan tenaga sinkangnya.
"Wuuuuuttt......dessss!" Siong Ki berseru kaget
dan terhuyung ke belakang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Siong Ki, perlahan dulu. Paman dan bibi
melarangmu membunuhnya!" kata Thian Ki.
Sementara itu, pemuda tampan tadi terjengkang
ke dekat Si Han Beng dan pendekar ini hendak
membantunya bangun, melihat pemuda itu terkena
tendangan dan menyeringai kesakitan. Akan tetapi
pemuda itu menepiskan tangannya yang hendak
membantunya bangkit.
"Hemm, aku sudah kalah. Huang-ho Sin-liong Si
Han Beng dan Bu Giok Cu, kalian sepasang
pendekar besar yang namanya terkenal di seluruh
dunia kangouw. Kalian bunuhlah aku agar
sebelum mati aku dapat menyaksikan sendiri,
betapa kalian yang bernama besar ini tiada lain
hanyalah dua orang pengecut besar, tidak
bertanggung jawab, bahkan kini membantu murid
kalian yang pemberontak.!"
"Sobat, berulang kali engkau memaki kami
pengecut tidak bertanggung jawab! Apa
maksudmu?" Si Han Beng merasa penasaran sekali
dan ingin mengetahui.
"Bagus, engkau masih berpura-pura, Huang-ho
Sin-liong? Engkau dan isterimu membiarkan anak
kalian diculik orang, tak pernah berusaha
merebutnya kembali, bukankah itu merupakan
sikap pengecut yang tak bertanggung jawab? Orang
macam apa itu? Dan sekarang, kalian mempunyai
murid yang jahat dan pengkhianat, membantu
pemberontakan Pangeran Li Seng Cun dan nyaris
membunuh kaisar, sehingga ibuku yang
melindungi kaisar tewas oleh pedang murid kalian
yang bagus ini!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Jahanam kau........!!" Siong Ki mengeluarkan
teriakan seperti binatang buas yang marah sekali
dan dia sudah menerjang maju, tidak
memperdulikan suhu dan subonya. Akan tetapi
sejak tadi Thian Ki waspada dan selalu
memperhatikan gerak-gerik Siong Ki, maka begitu
melihat pemuda itu meloncat dan menerjang,
diapun bergerak ke depan menyambut. Melihat ini,
Cin Cin juga melompat ke depan dengan
pedangnya menyambar pedang Siong Ki pada saat
Thian Ki mendorongnya dengan tenaga sinkangnya.
"Trangg” Pedang di tangan Siong Ki terpental.
Sebetulnya, kalau saja dia tidak didorong oleh
Thian Ki yang membuat tubuhnya terhuyung, tidak
semudah itu pedangnya dapat terpental oleh
pukulan pedang Cin Cin.
"Cin Cin, mundurlah," kata Thian Ki dan dia
menghampiri Siong Ki dengan sikap tenang dan
sabar. "Siong Ki, ingat, segala persoalan dapat
dibicarakan. Engkau tidak boleh menentang
kehendak gurumu. Mari kita bicara baik-baik........"
"Dia bohong! Bocah sinting itu bohong! Suhu
dan subo tidak semestinya percaya omongan
seorang tukang fitnah macam dia!" teriak Siong Ki
marah.
Sementara itu, Si Han Beng dan Bu Giok Cu
menjadi pucat wajah mereka mendengar kata-kata
pemuda itu. Mereka terbelalak, bahkan Bu Giok Cu
menekan dadanya dan terhuyung ke belakang,
seolah-olah ucapan pemuda itu menusuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
jantungnya.! Si Han Beng juga terbelalak
memandang kepada pemuda itu.
"Siapa......siapa.....ibumu........?"
"Ibuku bernama Kwa Bi Lan, wanita yang jauh
lebih baik terhadap diriku daripada orang tuaku
sendiri, walaupun ia telah menculik diriku dari
tangan ayah dan ibu kandungku yang tidak berani
bertanggung jawab, yang membiarkan saja aku
diculik orang......" Dan kini "pemuda" itu menangis
tersedu-sedu.
"Lan Lan......!!" Bu Giok Cu menjerit.
"Hong Lan........!" Si Han Beng juga berteriak.
Dengan bercucuran air mata, suami isteri
pendekar itu mengembangkan kedua lengan
hendak merangkul pemuda itu. Akan tetapi
pemuda itu yang bukan lain adalah Hong Lan yang
menyamar pria, meloncat ke belakang.
"Tidak........tidak ... sebelum kalian menjelaskan
kenapa kalian tidak merebut aku kembali dari
tangan penculik, jangan sentuh aku .........!"
Menyaksikan peristiwa hebat ini, Thian Ki dan
Cin Cin terbelalak, kaget dan heran, dan terharu.
Akan tetapi yang paling kaget adalah The Siong Ki.
Seperti disambar petir rasanya ketika ia melihat
kenyataan bahwa pemuda itu adalah seorang
gadis, dan puteri suhunya yang selama belasan
tahun ini hilang! Dan justeru puteri suhunya itu
yang mengetahui rahasianya. Celaka, pikirnya dan
dengan wajah pucat dia mengambil keputusan
nekat. Kalau dia tidak cepat bertindak, tentu gadis
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu akan membongkar segalanya dan dia tidak
mendapatkan alasan lagi untuk menyangkal.
"Jahanam bohong kau!!" bentaknya dan kini
dengan tangan kosong, dia sudah menerjang ke
arah Hong Lan yang kebetulan meloncat ke
belakang tadi dan berada dekat dengannya. Dia
meloncat bagaikan seekor harimau menerkam dan
kedua tangannya berubah merah! Ternyata dalam
kemarahan dan kenekatannya, pemuda ini telah
menggunakan ilmu Silat Hui-tiauw Sin-kun (Silat
Sakti Rajawali Terbang) dan mengerahkan tenaga
Ang-tok-ciang (Tangan Racun Merah) ke dalam
kedua tangannya yang mencengkeram. Sebetulnya,
ilmu Ang-tok-ciang ini adalah ilmu sesat dari
mendiang Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu yang pernah
menjadi guru Bu Giok Cu dan telah mengajarkan
ilmu sesat itu kepadanya. Bu Giok Cu sendiri,
mengajarkan Ang-tok-ciang kepada Siong Ki bukan
untuk dikuasai, melainkan untuk menambah
pengetahuan murid suaminya itu agar mengenal
ilmu sesat dari golongan hitam dan dapat menjaga
diri. Tidak tahunya, diam-diam Siong Ki melatih
dirinya dengan ilmu pukulan beracun itu dan kini
dia sengaja menggunakan ilmu itu agar sekali
cengkeram dapat membunuh Hong Lan. Dan dia
telah menguasai ilmu silat Rajawali Terbang
dengan baik, maka gerakannya itu hebat bukan
main, bagaikan seekor rajawali, dia menyambar
turun menyerang Hong Lan yang sedang lengah
karena marah dan bersedih, sedang menangis.
Pada saat yang amat gawat bagi keselamatan
Hong Lan itu, di mana ayah ibunya yang sakti
tidak berdaya karena mereka telah kehilangan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tenaga untuk mengobati Thian Ki dan belum pulih,
terdengar suara melengking nyaring dan tubuh
Thian Ki sudah meloncat ke atas, menghadang
serangan Siong Ki yang dahsyat sekali itu. Akan
tetapi, karena tadinya Thian Ki tidak menyangka
Siong Ki akan menyerang secara tiba-tiba kepada
Hong Lan, dia agak terlambat sehingga tidak dapat
menangkis atau membalas serangan itu, melainkan
hanya membuat tubuhnya sebagai penghalang
agar Siong Ki tidak dapat menyerang Hong Lan.
Melihat tubuh Thian Ki menghalang di udara,
Siong Ki menjadi marah bukan main. Semua
kekecewaan, kemarahan, dan ketakutan tertumpah
keluar kepada Thian Ki. Maka dengan gerengan
buas, kedua tangan yang merah itu mencengkeram
ke leher Thian Ki untuk mencekiknya! Kalau saja
yang kena cengkeram itu leher Thian Ki, agaknya
sukarlah baginya untuk menyelamatkan
nyawanya. Akan tetapi, dalam keadaan tersudut
itu, Thian Ki masih mampu menarik lehernya ke
belakang sehingga cengkeraman itu mengenai
pundak dan bahunya.
"Thian Ki.........!!" Cin Cin berseru dengan wajah
pucat dan dengan pedang di tangan ia siap
membantu kekasihnya. Matanya terbelalak melihat
betapa kini kedua orang pemuda itu terbanting
jatuh dan kedua tangan merah Siong Ki itu masih
mencengkeram pundak dan bahu Thian Ki. Jarijari
tangan itu bagaikan cakar harimau, telah
menancap dan masuk ke dalam kulit pundak dan
bahu, dan nampak Thian Ki menyeringai
kesakitan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tubuh mereka bergulingan di atas tanah, namun
tetap saja cengkeraman kedua tangan itu terus
menempel di tubuh Thian Ki. Cin Cin mengejar dan
siap untuk menyerang Siong Ki.
Akan tetapi, dua orang pemuda itu berhenti
bergulingan dan Thian Ki bangkit sambil
mengerang kesakitan, sementara itu, Siong Ki
menggeletak tak dapat bergerak lagi. Kedua
tangan, bahkan juga mukanya, berubah
menghitam dan ternyata dia telah tewas
keracunan! Kiranya ilmu pukulan beracun Angtok-
ciang yang dipergunakan mencengkeram itu
bahkan memperkuat hawa beracun di tubuh Thian
Ki, dan hal ini tidaklah aneh karena Ang-tok-ciang
adalah ilmu yang dirangkai oleh mendiang Ban-tok
Mo-li, jadi masih satu sumber dengan racun yang
mengeram di tubuh Thian Ki. Oleh karena itu,
biarpun hawa beracun di tubuh Thian Ki sudah
berkurang, namun dengan masuknya racun Angtok-
ciang melalui cengkeraman Siong Ki, hawa
beracun itu bertambah kuat. Thian Ki tidak
mengerahkan hawa beracun itu, akan tetapi ketika
tubuhnya dimasuki racun Ang-tok-ciang, dengan
sendirinya hawa beracun di tubuhnya bangkit dan
menyambut, sehingga Siong Ki keracunan
sedemikian hebatnya, sehingga dalam waktu
beberapa detik saja hawa beracun telah merenggut
nyawanya dan membuat mukanya menjadi hitam.
"Thian Ki........!" Cin Cin menghampiri
kekasihnya dan Thian Ki tersenyum, memandang
ke arah pundak kiri dan bahu kanannya yang luka
berdarah, lalu menoleh ke arah tubuh Siong Ki,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menghela napas dan berkata. "Aku tidak apa-apa,
Cin Cin, tapi dia......"
"Bukan salahmu, Thian Ki. Murid durhaka yang
telah menyimpang dari jalan kebenaran telah
menerima hukumannya," kata Si Han Beng.
Sementara itu, Bu Giok Cu dengan air mata
masih bercucuran mendekati Hong Lan.
"Kau....kau.... Hong Lan anakku....?"
Gadis berpakaian pria itupun menangis, akan
tetapi kembali ia melangkah mundur ketika ibu
kandungnya mendekatinya. "Nanti dulu, aku ingin
mendengar dulu kenapa seorang ayah dan ibu
kandung membiarkan saja anaknya diculik orang.
Kenapa ayah ibu kandung tidak menyayang
anaknya, bahkan si penculik amat sayang seperti
ibu sendiri. Kenapa?"
"Hong Lan, anakku. Marilah kita masuk ke
dalam rumah dan kami akan menceritakan
kepadamu...." kata Si Han Beng.
"Tidak!" jawab Hong Lan tegas. "Sebelum
mendengar sebabnya, aku tidak akan masuk ke
rumah kalian. Aku tentu akan membenci kalian
dan tidak akan mau mengakui ayah ibu yang
membiarkan anaknya diculik orang tanpa
mencarinya. Aku harus mendengar dulu apa
sebabnya, baru akan kupertimbangkan apakah
kalian pantas menjadi ayah ibuku atau tidak."
Si Han Beng menghampiri isterinya. "Kau....
ceritakanlah ..." katanya kepada isterinya. Akan
tetapi Bu Giok Cu hanya menangis. Ibu ini merasa
hatinya seperti diremas-remas, akan tetapi iapun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tidak dapat menyalahkan puterinya. Ia dapat
merasakan betapa sakit rasa hati puterinya itu
setelah mengetahui bahwa ayah ibunya sama
sekali tidak pernah mencari ia yang sejak kecil
diculik dan dilarikan orang.
Melihat keadaan mereka, Thian Ki berkedip pada
Cin Cin lalu berkata kepada Si Han Beng dan Bu
Giok Cu, "Paman dan bibi, sebaiknya kalau Cin Cin
dan aku lebih dulu membawa jenazah Siong Ki ke
dalam dan mengurusnya bersama para pembantu,
sedangkan paman dan bibi bicara di sini."
Si Han Beng mengangguk dan merasa kagum
akan kebijaksanaan pemuda itu. Tadipun, kalau
tidak ada Thian Ki yang mengorbankan diri,
mungkin puteri mereka telah tewas di tangan Siong
Ki! Thian Ki, dibantu oleh Cin Cin, lalu
mengangkat jenazah Siong Ki ke dalam rumah,
meninggalkan suami isteri itu bertiga saja dengan
Hong Lan.
Hong Lan masih berdiri dengan kedua pipi basah
air mata, akan tetapi sikapnya tegak dan
menentang, pandang matanya penuh rasa
penasaran, sehingga setiap kali bertemu pandang
dengan puterinya, Bu Giok Cu kembali tak dapat
menahan tangisnya. Diam-diam Si Han Beng
memperhatikan puterinya dan dia melihat bahwa
ada suatu ketinggian hati seperti sikap seorang
bangsawan tinggi pada puterinya. Pandang mata
itu, seperti pandang mata seorang puteri!
"Hong Lan, kami berdua memaklumi sikapmu
ini. Memang kalau dipandang sepintas lalu, kami
seperti bukan orang tua yang baik dan menyayang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
anak. Akan tetapi engkau perlu mengetahui sebabsebabnya.
Nah, dengarlah baik-baik. Enambelas
tahun yang lalu atau lebih, ketika itu engkau baru
berusia dua tahun dan diajak bermain-main oleh
Siong Ki, murid kami tadi, engkau diculik orang
dan Siong Ki ditotok sehingga tidak dapat bergerak.
Penculik itu adalah Kwa Bi Lan, masih terhitung
sumoiku sendiri." Si Han Beng lalu menceritakan
tentang hubungannya dengan Kwa Bi Lan,
mengapa Kwa Bi Lan menaruh sakit hati
kepadanya.
"Kwa Bi Lan telah menjadi isteri suhu Sin-tiauw
Liu Bhok Ki, juga gurunya sendiri. Setelah suhu
Liu Bhok Ki meninggal dunia, Kwa Bi Lan
mendendam kepadaku karena ia menganggap
bahwa akulah penyebab kematian suhu." Si Han
Beng menghela napas panjang. Sebetulnya, riwayat
itu tidak akan diceritakan kepada siapapun juga
dan akan dibawanya sampai mati, akan tetapi
sekali ini dia harus menceritakan segalanya
dengan gamblang kepada puterinya, kalau dia
menghendaki puterinya itu kembali kepadanya.
Sinar mata Hong Lan masih tetap keras dan penuh
rasa penasaran, akan tetapi ia tidak memotong
cerita pendekar itu.
"Sebetulnya, dahulu sebelum aku bertemu
dengan ibumu ini, suhu menghendaki agar aku
berjodoh dengan Kwa Bi Lan. Akan tetapi aku
bertemu dengan ibumu dan kami menikah.
Agaknya suhu marah sekali dan Kwa Bi Lan
kecewa. Kemudian, Kwa Bi Lan menjadi isteri suhu
yang sudah puluhan tahun menduda. Setelah
suhu meninggal dunia, Bi Lan pergi mencari kami
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ke sini. Ia marah-marah dan mengatakan bahwa
suhu meninggal dunia karena kecewa dan
menyesal kepadaku, yaitu karena aku tidak
menurut kehendak suhu dan menikah dengan
ibumu. Ketika ia datang berkunjung, engkau baru
berusia dua tahun. Akupun merasa menyesal
sekali dan berduka atas kematian suhu. Nah,
biarpun Kwa Bi Lan meninggalkan kami dengan
baik-baik, ternyata diam-diam ia masih
mendendam dan ia membawamu lari untuk
membalas dendamnya itu."
"Akan tetapi kalian yang berilmu tinggi kenapa
tidak mengejar dan merebutku kembali?" Hong Lan
masih penasaran karena justeru kenyataan inilah
yang membuat ia merasa penasaran sekali.
"Anakku, jangan engkau menyalahkan ayahmu.
Ketika Kwa Bi Lan menculikmu, ia meninggalkan
tulisan di atas tanah bahwa kalau kami melakukan
pengejaran dan berusaha merebutmu, ia akan
membunuhmu. Kami tidak berdaya......"
"Kami mengetahui bahwa Kwa Bi Lan bukan
seorang jahat. Akan tetapi, dendam sakit hati
dapat membuat seseorang menjadi mata gelap.
Kami tidak berani melakukan pengejaran karena
takut kalau-kalau ia melaksanakan ancamannya.
Justeru karena yakin ia bukan orang jahat itulah
yang membuat kami terpaksa merelakan engkau
dibawa pergi, dengan harapan sekali waktu ia akan
sadar dan mengembalikanmu kepada kami. Dan
kami didik Siong Ki agar setelah dewasa dia dapat
pergi mencarimu. Dia tidak akan dikenali Kwa Bi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lan. Bahkan baru-baru ini kami menyuruh dia
pergi untuk mencarimu."
Pandang mata Hong Lan mulai berubah lunak.
Ia mulai mengerti mengapa ayah dan ibu
kandungnya tidak melakukan pengejaran untuk
merampas ia kembali dari tangan penculiknya. Ia
kini mengerti. Kwa Bi Lan pernah mencinta ayah
kandungnya dan karena tidak dibalas cintanya,
bahkan ayah kandungnya yang sudah dijodohkan
dengannya itu memilih gadis lain menjadi isterinya,
maka Kwa Bi Lan mendendam. Apalagi setelah
suaminya, yaitu gurunya sendiri, meninggal dunia
karena kecewa terhadap Si Han Beng, dendam Kwa
Bi Lan makin mendalam. Kemudian, agaknya
setelah hilang dendamnya, Kwa Bi Lan sudah
terlanjur menyayangnya sebagai puteri sendiri,
maka tidak mau mengembalikannya. Bahkan Kwa
Bi Lan agaknya akan merahasiakan terus keadaan
dirinya itu kalau saja tidak menghadapi ajalnya.
"Hong Lan, anakku. Aku ibumu, aku yang
mengandungmu dalam perut selama sembilan
bulan, aku yang melahirkanmu dengan taruhan
nyawa, bagaimana mungkin aku tidak sayang
padamu, anakku? Semenjak engkau dilarikan Bi
Lan, setiap malam aku menangis, aku
bersembahyang, mohon kepada Tuhan agar
engkau diberi keselamatan dan kesehatan.
Kemudian, akhir-akhir ini, membayangkan engkau
telah dewasa, aku bersembahyang setiap akan
tidur, mohon agar engkau diberi
kebahagiaan........aku. . . aku tak pernah hentinya
menyayangmu, Hong Lan......."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bagaikan air bah yang lepas dari bendungan,
Hong Lan menjerit dan menubruk Bu Giok Cu.
"Ibu ........!" Mereka berdekapan sambil menangis
berciuman dan Bu Giok Cu menengadah,
memandang langit dengan air mata bercucuran
akan tetapi mulut tersenyum tebar, bibirnya
gemetar mengucapkan terima kasih kepada Tuhan.
"Terima kasih......terima kasih. Tuhan ...aku
telah menemukan kembali anakku........Hong
Lan........ah, Hong Lan anakku......." Dan ibu yang
terlalu bahagia ini tak dapat menahan lagi dirinya
yang memang sudah kehabisan tenaga sin-kang, ia
lemas dan pingsan dalam rangkulan Hong Lan.
"Ibu.......! Ibuuu............ !" Hong.Lan menengok
ke arah Si Han Beng yang masih berdiri sambil
mengusap air matanya sendiri dengan punggung
tangan. "Ayah.......! Ini ibu bagaimana.........?"
Si Han Beng menghampiri dan memegang
pergelangan tangan isterinya. "Ibumu terguncang
perasaannya, mari kita bawa ia masuk, Hong Lan."
"Ayah........!" Hong Lan membiarkan Si Han Beng
memondong isterinya, dan Hong Lan memegangi
lengan ayahnya, ikut masuk ke dalam rumah
dimana ia dilahirkan.
Tak lama kemudian mereka semua telah duduk
di ruangan dalam rumah itu. Jenazah Siong Ki
telah dikebumikan dengan bantuan para tetangga
secara sederhana. Hong Lan yang sudah bertukar
pakaian wanita, ikut pula berkabung karena iapun
terharu mendengar cerita ayah ibunya betapa dulu,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ketika ia masih kecil Siong Ki yang mengasuhnya,
menggendongnya dan mengajaknya bermain-main.
"Hong Lan, sekarang ceritakan tentarg dirimu,
sejak engkau dibawa pergi oleh Kwa Bi Lan, tanya
Bu Giok Cu sambil memegangi tangan puterinya
yang duduk di sebelahnya. Setelah kini berpakaian
wanita, Hong Lan nampak cantik jelita, mirip sekali
dengan ibunya. Di ruangan itu duduk pula Cin Cin
dan Thian Ki yang luka-luka di pundak dan
bahunya telah diobati. Hong Lan telah
diperkenalkan kepada Thian Ki dan Cin Cin, dan ia
merasa kagum sekali mendengar bahwa Thian Ki
adalah putera kakak angkat ayahnya dan memiliki
kepandaian yang lihai sekali. Bahkan tadipun
kalau tidak ada Thian Ki, mungkin ia telah tewas di
tangan Siong Ki. Juga ia kagum kepada Cin Cin
yang cantik manis, dan ikut gembira mendengar
bahwa kedua orang itu telah bersepakat untuk
menjadi suami isteri.
"Ceritanya panjang, ibu," kata Hong Lan dan
ketika ia memandang ibunya, terpancar sinar kasih
sayang dalam matanya yang membuat Bu Giok Cu
terharu sekali. Lalu ia menceritakan
pengalamannya ketika menjadi puteri Kwa Bi Lan.
Diceritakannya betapa kemudian Kwa Bi Lan
bertemu dengan Pangeran Li Si Bin dan ditarik
menjadi pengawal pribadi pangeran mahkota itu.
Betapa kemudian mereka saling jatuh cinta dan
Kwa Bi Lan menjadi isteri atau selir Pangeran Li Si
Bin sampai sekarang.
"Aihh, kalau begitu Kwa Bi Lan menjadi selir
Kaisar dan bagaimana dengan engkau?" tanya Bu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Giok Cu, kagum mendengar riwayat perjalanan
hidup Kwa Bi Lan yang aneh itu.
"Karena ia selalu menganggap aku sebagai
anaknya, maka dengan sendirinya akupun diakui
oleh Sribaginda Kaisar sebagai puterinya."
"Hebat.....!" Cin Cin yang sudah bergaul akrab
dengan Hong Lan berseru sambil memandang
kagum. "Kalau begitu engkau .... eh. paduka....
adalah seorang puteri istana, puteri Sribaginda
Kaisar?" Cin Cin tidak main-main, melainkan
bersungguh-sungguh.
Hong Lan memandang kepada Cin Cin dan
tersenyum anggun, maklum bahwa gadis yang
buntung tangan kirinya itu tidak mengejek atau
main-main, melainkan bersungguh-sungguh.
"Memang benar, selama belasan tahun ini aku
dikenal sebagai Puteri Li Hong Lan, puteri kaisar
yang oleh Sribaginda disayang dan dianggap puteri
sendiri, walaupun beliau tahu bahwa aku bukan
puterinya, bahkan tahu pula bahwa aku bukan
puteri mendiang ibu Kwa Bi Lan. Akan tetapi,
setelah aku mengetahui bahwa aku bukan puteri
kaisar, bukan pula puteri ibu Kwa Bi Lan, aku lalu
berpamit meninggalkan istana dan Sribaginda
memberi ijin dan restu. Sekarang, aku bukan lagi
puteri kaisar, enci Cin, melainkan Si Hong Lan
biasa saja puteri ayah dan ibuku."
"Ahh, kalau begitu, doaku selama ini setiap
malam kepada Tuhan dikabulkan!" seru Bu Giok
Cu. "Anakku bukan saja sehat dan selamat,
bahkan diangkat derajatnya menjadi puteri istana,
puteri kaisar!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Akupun ikut bangga dan bersyukur, Hong Lan,
tentu selama ini engkau hidup mulia, terhormat,
dan bahagia. Apalagi Kwa Bi Lan dan Sribaginda
kaisar menyayangmu."
Hong Lan menghela napas panjang. "Perkiraan
orang luar terhadap kehidupan puteri istana
sungguh jauh berbeda dengan kenyataannya,
ayah." Tanpa canggung-canggung lagi bekas puteri
istana itu menyebut ayah dan ibu kepada orang
tuanya, sebutan yang baru pertama kali ini ia
ucapkan terhadap orang tua kandungnya.
"Memang ketika masih kecil, aku berbahagia
karena hidup terhormat, segalanya tercukupi,
berenang kemewahan, hidup dibangunan yang
megah dan indah, mengenakan pakaian indah dan
perhiasan serba mahal, makanan yang
dihidangkan serba lezat. Akan tetapi semua itu
akhirnya membosankan, apalagi setelah aku mulai
mengerti, ayah. Di istana itu terdapat banyak
sekali persaingan, permusuhan, kepalsuan dan
perebutan kekuasaan. Ayahanda,.... eh, maksudku
Sribaginda Kaisar dikelilingi penjilat-penjllat, para
thai-kam yang mencari muka, para selir yang
terlalu banyak dan saling berlomba mengambil hati
kaisar, para pejabat yang saling bersaing untuk
menarik perhatian kaisar. Pendeknya, ibu.....
maksudku Bibi Kwa Bi Lan dan aku mulailah
merasa tidak berbahagia. Sudah lama aku
mendambakan kebebasan di luar istana, akan
tetapi sebagai puteri kaisar, tentu saja Sribaginda
tidak mengijinkan. Untung bahwa Sribaginda
sendiri adalah seorang ahli silat yang lihai, maka
beliau memperbolehkan aku belajar ilmu silat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akhir-akhir ini, bibi Kwa Bi Lan sering makan hati
karena ia benar-benar mencinta kaisar, akan tetapi
perhatian kaisar terlalu terpecah dan sibuk
sehingga kadang-kadang kaisar seperti lupa
kepada bibi Kwa Bi Lan."
Si Han Beng mengangguk-angguk. "Aku dapat
membayangkan semua itu. Memang tak dapat
disangkal bahwa tidak ada kesenangan tanpa
kesusahan. Apa yang tadinya menyenangkan,
dapat menjadi membosankan bahkan
menyusahkan. Seorang hartawan lambat laun
tidak lagi dapat merasakan kenikmatan hartanya,
melainkan menderita karena hartanya, takut
berkurang, takut lenyap, takut ditinggalkan. Aku
dapat mengerti, Hong Lan."
"Lalu bagaimana terjadinya pemberontakan yang
melibatkan Siong Ki itu? Kami ingin sekali
mendengarnya," kata Bu Giok Cu.
Sebelum melanjutkan kisahnya, Hong Lan
minum dulu air teh dari cangkir di atas meja.
Semua orang memandang kagum. Tanpa
disadarinya, agaknya bekas puteri istana ini masih
belum terbebas dari kebiasaan kehidupan di dalam
istana, ketika ia mengambil cangkir, ketika
mengangkatnya ke bibir, ketika meneguk air teh,
semua dilakukan dengan gerakan lengan, tangan
dan jari yang seolah-olah menari, begitu teratur
dan lembut! Hong Lan sendiri tidak menyadari ini.
"Yang melakukan pemberontakan adalah
Paman...eh. Pangeran Li Seng Cun, adik dari
Sribaginda Kaisar sendiri. Dia merencanakan
pemberontakan dengan jalan membunuh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sribaginda dan dia menyuruh The Siong Ki dan Bi
Tok Siocia yang melakukan usaha pembunuhan
itu. Untung aku mengetahui rencana itu ketika
kaki tangan mereka, seorang dayang dan seorang
thai-kam, mengadakan pembicaraan dan aku
memberitahu kepada Bibi Kwa Bi Lan. Kami
mengatur siasat melakukan penjagaan dengan
teliti pada malam yang ditentukan. Kemudian
muncullah dua orang berkedok kain hitam
menyerbu kamar Sribaginda Kaisar. Kami melawan
mereka akan tetapi ternyata mereka lihai bukan
main. Bibi Kwa Bi Lan bahkan terluka oleh pedang
di tangan The Siong Ki, akan tetapi dalam keadaan
terluka, ia masih terus mengejar Bi Tok Siocia yang
memasuki kamar Kaisar. Karena para pengawal
berdatangan, The Siong Ki yang dapat kusingkap
topengnya dengan pedangku, sehingga aku
mengenal wajahnya, melarikan diri. Aku tidak
mengejar, melainkan membantu ibu di dalam
kamar, di mana Bi Tok Siocia telah dikeroyok oleh
bibi Kwa Bi Lan dan oleh Sribaginda sendiri. Aku
membantu mereka dan akhirnya Bi Tok Siocia
tewas oleh pedang bibi Bi Lan. Akan tetapi bibi
Kwa Bi Lan juga roboh karena luka itu dan
sebelum tewas itulah ia membuka rahasia diriku,
bahwa aku bukan puteri kaisar, bukan pula
puterinya dan menyuruh aku bertanya kepada
Kaisar siapa orang tua kandungku. Kemudian,
Sribaginda Kaisar yang memberitahu bahwa aku
adalah puteri ayah dan ibu, akan tetapi beliau
tidak dapat menjelaskan kenapa aku diculik Bibi
Kwa Bi Lan dan mengapa pula ayah dan ibuku
yang dikabarkan sebagai pendekar-pendekar sakti
tidak mencari dan merebutku kembali. Hal ini
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membuat aku merasa penasaran dan sakit hati
sekali, maka aku lalu berpamit dari Sribaginda
kaisar dan datang ke sini dengan maksud untuk
menegur dan mencela ayah dan ibu karena hatiku
sakit sekali. Akan tetapi, tanpa kuduga di sini aku
bertemu dengan The Siong Ki yang mengaku murid
ayah dan ibu. Tentu saja aku menjadi semakin
kecewa karena ternyata penjahat yang hendak
membunuh Sribaginda kaisar itu adalah murid
ayah, karena itulah maka aku bersikap seperti
tadi. Harap ayah dan ibu suka memaafkan aku
yang kurang ajar dan tidak berbakti."
Bu Giok Cu merangkulnya. "Engkaulah yang
sepantasnya memaafkan kami, anakku. Semua
sudah berlalu, disesalpun tiada gunanya. Kami
sendiri sungguh tidak mengira bahwa Siong Ki
dapat tersesat seperti itu. Ketika dahulu dia berada
di sini, dia merupakan anak yang baik, rajin
bekerja dan taat. Siapa kira, setelah berada di luar
dia mau saja diperalat pemberontak."
Si Han Beng menggeleng-geleng kepalanya.
"Agaknya dia memang seorang yang lemah,
sehingga mudah saja dipengaruhi orang lain. Aku
yakin bahwa dia tentu dipengaruhi oleh Bi Tok
Siocia. Aku sudah mendengar tentang puteri datuk
sesat Ouw Kok Sian itu. Sudahlah, tidak baik
membicarakan orang-orang yang sudah meninggal
dunia. Semoga Tuhan memperingan hukuman atas
dosa-dosa mereka."
Kini Hong Lan memandang kepada Thian Ki.
Sejak peristiwa perkelahian yang menyebabkan
tewasnya Siong Ki itu, ingin sekali ia bertanya,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
akan tetapi kesempatan belum ada karena lebih
penting membicarakan tentang dirinya dan orang
tuanya yang baru bertemu. Kini kesempatan itu
terbuka setelah semua riwayat diceritakan.
"Ayah dan ibu, aku merasa heran sekali
bagaimana The Siong Ki dapat tewas secara
mengerikan? Padahal, aku melihat dia yang
menyerang dan mencengkeram pundak dan bahu
toa-ko Coa Thian-Ki ini." Dara ini menyebut Thian
Ki toa-ko(kakak) setelah diperkenalkan dan tahu
bahwa Thian Ki adalah putera kakak angkat ayah
kandungnya. "Sedangkan toako hanya terluka saja.
Ilmu hebat apakah yang dikuasai Coa-toako ini?"
"Bukan ilmu hebat, melainkan sebuah kutukan,
siauw-moi," kata Thian Ki sambil menarik napas
panjang.
"Ehh! Kutukan bagaimana?" Hong Lan kini
sudah menemukan kembali kelincahannya karena
ia merasa berbahagia dapat bersatu kembali
dengan ayahbundanya, dan iapun bertemu dengan
Thian Ki dan Cin Cin yang segera dapat menarik
perhatiannya dan telah menjadi akrab dengan
mereka.
"Ketahuilah, Hong Lan. Kakakmu Thian Ki ini
adalah seorang tok-tong, anak beracun yang
sekarang tentu saja menjadi manusia beracun. Di
dalam tubuhnya terdapat hawa beracun yang amat
dahsyat, sehingga banyak sudah orang-orang yang
lihai, baiknya mereka itu orang-orang jahat, yang
tewas ketika menyerangnya, sejak dia masih kecil,"
kata Bu Giok Cu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Adik Hong Lan, kau lihat tangan kiriku. Inipun
akibat hawa beracun di tubuh Thian Ki," kata Cin
Cin tertawa. Akhirnya, Hong Lan pasti sekali waktu
akan bertanya juga tentang tangannya, pikirnya.
Tiada salahnya sekarang saja menceritakan untuk
mengusir perasaan tidak enak, seolah merupakan
senda-gurau.
"Wahhh.......! Tunanganmu sendiri yang
membuat tanganmu buntung? Bagaimana pula
ini?"
Hong Lan bertanya heran dan keheranannya
demikian sungguh-sungguh, membuat ia nampak
manis seperti seorang anak kecil. Semua orang
tersenyum melihat sikapnya.
"Ketika itu, kami juga berkelahi dan belum
bertunangan. Aku mencengkeram pundaknya dan
tanganku menjadi hitam keracunan. Dan untuk
menyelamatkan nyawaku, terpaksa Thian Ki
membuntungi tangan kiriku dengan pedang. Kalau
dia tidak melakukannya, tentu aku sudah tewas
seperti halnya Siong Ki padi tadi."
"Bukan main! Kalian saling berkelahi sampai
seorang di antara kalian buntung tangan kirinya,
kemudian kalian bertunangan. Tentu cinta di hati
kalian benar-benar murni!" kata pula Hong Lan
dan ucapan ini saja menunjukkan bahwa gadis
bekas puteri bangsawan istana ini memang
berwatak lincah jenaka. "Akan tetapi, dengan
memiliki tubuh beracun seperti itu, berarti Coa
toako menjadi seorang pendekar yang hebat dan
sukar dikalahkan. Kenapa tadi toako mengatakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bahwa kelebihan itu merupakan sebuah kutukan?
Aku tidak mengerti."
Wajah Thian Ki menjadi muram. "Aku bahkan
datang menemui ayah ibumu untuk mohon
pertolongan mereka mengobatiku agar aku dapat
terbebas dari hawa beracun ini, siauw moi. Dan
malam tadi mereka telah melakukannya."
"Itulah sebabnya mengapa tadi paman dan bibi
tidak dapat melindungimu dari Siong Ki, adik Hong
Lan. Mereka semalam telah menghabiskan tenaga
sin-kang untuk mencoba mengobati Thian Ki," kata
Cin Cin.
Kini barulah Hong Lan mengerti. Tadi iapun
memang merasa heran melihat betapa ayah ibunya
yang dikenal sebagai sepasang pendekar sakti,
seperti tak berdaya ketika dirinya diancam oleh
serangan maut Siong Ki, murid mereka sendiri.
Kiranya ayah ibunya telah kehabisan tenaga
karena semalam mengobati Thian Ki.
"Ayah, Ibu, maafkan kalau aku menyangka yang
bukan-bukan," katanya dan pandang matanya
demikian lembut sehingga suami isteri itu
mendekati dan merangkulnya penuh kasih sayang.
"Kami memang telah berusaha, akan tetapi
hanya mampu mengusir sebagian saja dari hawa
beracun di tubuhnya. Kami tidak berhasil
membebaskannya. Hawa beracun itu dahsyat
bukan main," kata Si Han Beng.
"Akan tetapi, kenapa sih engkau berkeras untuk
melenyapkan hawa beracun itu dari tubuhmu,
toako? Bukankah hal itu bahkan menguntungkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekali? Apakah barangkali racun itu
membahayakan keselamatan dirimu sendiri?" Hong
Lan bertanya heran.
Thian Ki menghela napas dan melirik kepada
kekasihnya, Cin Cin yang menundukkan mukanya
mendengar pertanyaan bekas puteri kaisar itu.
"Membahayakan diriku sih tidak, hanya........."
Dia tidak mampu melanjutkan karena merasa
sungkan untuk bicara tentang itu.
"Hanya kenapa, toako?" Hong Lan mendesak.
Bu Giok Cu yang mengerti akan kesungkanan
Thian Ki berkata, "Hong Lan, kalau hawa beracun
itu tidak dapat dienyahkan dari dalam tubuhnya,
maka selamanya dia tidak dapat menikah. Wanita
yang menjadi isterinya tentu akan mati
keracunan."
"Aihh..........!" Hong Lan berseru kaget dan kini ia
memandang kepada Thian Ki dan Cin Cin dengan
sinar mata mengandung iba. "Kalau ayah dan ibu
gagal, lalu apakah tidak ada jalan lain untuk
menyembuhkan Coa-toako?"
Ayahnya menghela napas. "Racun itu amat
hebat, ditanamkan di tubuhnya sejak dia masih
kecil sekali, sehingga hawa beracun itu telah
menyusup ke dalam jalan darahnya, sehingga
darahnya juga mengandung racun. Berbahaya
sekali! Agaknya hanya kesaktian kedua orang
sukongmu (kakek gurumu) yang akan mampu
mengusir hawa beracun itu dengan sin-kang
mereka. Akan tetapi, kedua orang kakek gurumu
itu, Pek I Tojin dan Hek Bin Hwesio, telah lama
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menghilang dari dunia persilatan dan tak
seorangpun tahu di mana mereka berada. Mungkin
mereka berdua kini berada di pegunungan
Himalaya sebagai pertapa-pertapa. Atau kalau
mungkin terdapat obat penawar racun yang paling
langka di dunia ini dapat ditemukan..."
"Ayah! Pernah ayahanda.....eh, Sribaginda Kaisar
bercerita kepadaku tentang obat penawar segala
racun yang kini menjadi milik istana, menjadi satu
di antara benda pusaka. Bahkan menurut
Sribaginda Kaisar, tidak ada keracunan yang tidak
dapat dipunahkan oleh obat itu. Katanya obat itu
terbuat dari katak merah pemakan ular berbisa.
Sribaginda mendapatkannya dari seorang sakti
yang bernama Im Yang Seng-cu, yang kini menjadi
penasihat dan sahabat Sribaginda Kaisar."
Suami isteri itu saling pandang. Sebagai dua
orang kang-ouw yang berpengalaman, mereka
pernah mendengar tentang katak merah, seekor
binatang langka dan ajaib yang kabarnya menjadi
pemakan ular berbisa dan katak itu sendiri
mengandung bisa yang demikian kuat, sehingga
merabanya saja dapat membunuh seorang
manusia, akan tetapi racunnya itu dapat pula
memunahkan segala macam racun di dunia ini.
"Kami telah mendengar tentang katak ajaib itu,.
Hong Lan. Akan tetapi, obat itu menjadi pusaka
istana......" kata Bu Giok Cu.
"Mungkin obat itu dapat menyembuhkan Thian
Ki. Akan tetapi bagaimana......?" tanya pula Si Han
Beng.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hong Lan sudah meloncat kegirangan. "Wah,
mudah saja, ayah dan ibu. Telah kuceritakan tadi
bahwa ayahanda.....eh, Sribaginda Kaisar amat
sayang kepadaku dan beliau menganggap aku
sebagai puterinya sendiri. Bahkan ketika aku
memohon diri untuk meninggalkan istana dan
mencari ayah dan ibu, beliau menawarkan untuk
memberi hadiah kepadaku, dan apa saja yang
kuminta akan beliau berikan. Akan tetapi aku
hanya minta diberi tahu siapa ayah dan ibu
kandungku. Nah, kalau aku yang minta obat itu,
aku yakin beliau pasti akan memberikan
kepadaku."
"Tapi engkau baru saja tiba, bagaimana mungkin
aku dapat membiarkan engkau pergi lagi?" Bu Giok
Cu memprotes.
"Aku dapat memberi surat kepada Sribaginda
Kaisar, ibu. Aku mempunyai cap tersendiri dan
beliau akan mengenal tanda tangan dan capku
itu."
"Bagus! Kalau begitu, tulislah surat itu dan biar
Thian Ki sendiri yang pergi ke kota raja dan
menghadap Sribaginda, menyerahkan suratnya
dan menerima obat itu," kata Si Han Beng gembira.
"Baik, akan segera kulakukan ayah!" kata Hong
Lan gembira karena mendapat kesempatan untuk
membantu Thian Ki, pemuda yang ternyata
merupakan kakak angkatnya, bahkan yang baru
saja telah menyelamatkan nyawanya.
"Nanti dulu, siauw-moi!" kata Thian Ki dan
semua orang melihat betapa pemuda itu menjadi
muram wajahnya, tidak seperti yang lain, yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merasa gembira mendengar tentang obat yang
dapat memberi harapan menyembuhkan Thian Ki.
"Eh, kenapa, toako?"
"Siauw-moi, paman dan bibi, terima kasih atas
kebaikan kalian, dan juga Lan-moi yang ingin
memintakan obat ke istana untuk menolongku.
Akan tetapi, harap maafkan saja, aku ...tidak
mungkin dapat menerima pemberian dari
Sribaginda Kaisar."
Tentu saja semua orang merasa heran, bahkan
termasuk Cin Cin yang memandang kekasihnya
dengan sinar mata penuh pertanyaan. "Thian Ki,
kau sungguh aneh sekali. Kenapa engkau tidak
mau menerima pemberian dari Sribaginda Kaisar
?" tanya Si Han Beng.
"Maaf, paman, sebetulnya hal ini merupakan
rahasiaku, akan tetapi karena kalau aku tidak
membuat pengakuan tentu akan menimbulkan
dugaan yang bukan-bukan, biarlah aku akan
berterus terang. Paman dan bibi adalah orangorang
yang kuhormati, juga adik Hong Lan seperti
adikku sendiri yang kusayang, maka biar aku
berterus terang. Aku mempunyai sebuah tugas dari
suhu, yaitu agar aku mengambilkan pedang
pusaka yang dulu milik suhu, akan tetapi sekarang
telah terjatuh ke tangan pemerintah kerajaan dan
pedang pusaka itu kini menjadi pusaka istana
kerajaan. Maka, aku terpaksa harus pergi ke
kotaraja dan berusaha untuk mencuri pedang
pusaka istana, bagaimana mungkin aku menerima
pemberian dari Sribaginda Kaisar? Aku merasa
malu untuk menerimanya, paman."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Semua orang terdiam dan memandang kepada
Thian Ki penuh kagum. Sukar dicari orang yang
memiliki kejujuran seperti dia. Hong Lan yang lebih
dulu bicara dan bertanya. "Toako, apakah nama
pedang pusaka milik gurumu yang kini menjadi
pusaka istana itu?"
"Pedang itu disebut Liong-cu-kiam (Pedang
Mestika Naga)."
"Ah, aku tahu pedang itu! Bahkan pernah aku
meminjamnya untuk berlatih silat pedang. Jadi
itukah pedang pusaka milik suhumu? Siapa sih
suhumu itu, toako?"
"Suhuku adalah juga ayah tiriku, dahulu dialah
Pangeran Cian Bu Ong."
Hong Lan terbelalak. "Ahhh......! Pemberontak
itu?"
"Lan Lan, jangan katakan begitu," kata Bu Giok
Cu memperingatkan.
"Kenapa, ibu? Bukankah benar bahwa Pangeran
Cian Bu Ong, saudara dari mendiang Kaisar Yang
Ti dari dinasti Sui, pernah memimpin
pemberontakan dan sudah ditumpas oleh pasukan
pemerintah?"
Si Han Beng mengerutkan alisnya, khawatir
kalau Thian Ki tersinggung. Akan tetapi, pemuda
itu bahkan tersenyum menatap wajah adik
misannya. "Engkau memang benar, siauw-moi.
Bagi engkau yang sejak kecil menjadi puteri Kaisar
Kerajaan Tang, tentu saja mendengar dan
menganggap bahwa Cian Bu Ong seorang
pemberontak. Akan tetapi coba bayangkan bahwa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
engkau seorang puteri kerajaan Sui, pasti engkau
akan menganggap dia seorang patriot dan pejuang
yang mempertahankan kerajaannya, dan bahkan
Sribaginda kaisar yang sekaranglah yang kau
anggap pemberontak. Tidakkah begitu?"
Hong Lan tertegun. Ia seorang gadis yang
terpelajar dan cerdik, di istana selain ilmu silat
juga mempelajari ilmu sastra dan sudah membaca
banyak kitab sehingga ia maklum apa yang
dimaksudkan Thian Ki. Iapun mengangguk dan
menghela napas panjang. "Kerajaan memang
merupakan medan pertentangan dan menjadi
sumber perebutan kekuasaan. Yang menang
dipuja-puja, yang kalah dimaki-maki. Engkau
benar, toako dan maafkan ucapanku tadi. Jadi,
Liong-cu-kiam itu dahulu milik gurumu? Kalau
begitu, kiranya sudah sepantasnya kalau dia
menginginkannya kembali kepadanya. N ah, engkau
tidak perlu mencurinya, toako, sungguhpun
dengan kepandaianmu, aku yakin engkau akan
berhasil mencurinya."
"Kalau tidak mencuri, lalu bagaimana....."
"Jangan khawatir. Aku bukan hanya akan minta
obat bagimu dari Sribaginda Kaisar, akan tetapi
juga minta Liong-cu kiam itu. Aku yakin, ayahanda
... ah, sudah terbiasa aku menyebut beliau
ayahanda. Jadi selalu saja keliru......"
"Tidak apa engkau menyebut beliau begitu, Lan
Lan. Kami ikut bangga bahwa Sribaginda Kaisar
mau menganggap anak kami sebagai puterinya,"
kata Si Han Beng serius.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
'Aku yakin beliau akan memberikan obat dan
pedang itu kepadamu, toako. Tunggu, akan
kubuatkan surat itu." Gadis itu lalu berlari
memasuki kamarnya.
Demikianlah, pada keesokan harinya, pagi-pagi
sekali Thian Ki dan Cin Cin sudah berangkat
meninggalkan dusun Hong-cun, diantar oleh ayah
ibu dan anak itu sampai ke luar dusun. Thian Ki
dan kekasihnya, Cin Cin, melakukan perjalanan
menuju ke kota raja dengan hati lapang dan penuh
harapan, karena Thian Ki membawa surat dari
Hong Lan yang ditujukan kepada Kaisar sendiri.!
Sementara itu, Hong Lan yang baru saja bertemu
dengan orang tua kandungnya, menikmati
kebahagiaan hidup bersama mereka di dusun yang
tenteram itu, jauh dari kemewahan istana, jauh
pula dari semua persaingan dan permusuhan.
Terasa olehnya betapa tenang dan penuh damai
kehidupan di rumah orang tuanya di dusun itu,
dan kalau mengingat akan kehidupan di istana,
terasa betapa panas dan tegangnya kehidupan dan
lingkungan keluarga di istana itu. Apalagi ia kini
digembleng oleh ayah ibunya dengan ilmu silat
tinggi, membuat Hong Lan merasa berbahagia
sekali.
-ooo0dw0ooo-
Gadis penunggang kuda yang memasuki pintu
gerbang kota raja itu memang cantik jelita dan
menarik perhatian orang, terutama bagi para pria.
Kudanya juga merupakan kuda pilihan, tinggi
besar dan tentu amat mahal harganya. Gadis itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sendiri usianya sekitar duapuluh tahun, tubuhnya
semampai dengan pinggang yang ramping sekali.
Rambutnya agak keriting, digelung ke atas dan
diikat sutera merah. Pakaiannya dari sutera halus
menunjukkan bahwa ia seorang gadis yang kaya.
Sepasang matanya bersinar-sinar. Biarpun ia
cantik menarik, akan tetapi sinar matanya itu,
ditambah sebatang pedang yang berada di
punggung, membuat orang tidak berani
sembarangan mengganggunya.
Biarpun peristiwa pemberontakan Pangeran Li
Seng Cun telah lewat beberapa bulan lamanya,
namun akibatnya masih nampak, terutama di
pintu gerbang kota raja. Kini, pintu gerbang itu
dijaga ketat oleh belasan orang perajurit, dan
setiap orang yang keluar masuk diamati dengan
seksama. Terutama sekali mereka yang nampak
asing dan bukan penghuni kota raja, diamati dan
kalau perlu dihentikan dan diperiksa dengan teliti.
"Berhenti!" Empat orang penjaga telah berdiri
menghadang di depan kuda gadis itu,
memalangkan tombaknya sehingga kuda itu
terkejut dan meringkik, mengangkat kedua kaki
depan ke atas. Orang-orang yang berlalu lalang
memandang khawatir, takut kalau-kalau gadis
cantik itu akan terjatuh dari atas punggung
kudanya. Akan tetapi gadis itu masih berdiri tegak
dan menarik kendali untuk menenangkan
kudanya, dan ia memandang tajam kepada empat
orang penjaga itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kalian mau apa menghadang perjalananku?"
tanya gadis itu, suaranya merdu akan tetapi tajam
dan marah.
"Nona, turunlah. Kami ditugaskan untuk
memeriksa setiap orang asing yang masuk ke sini
dan mencurigakan, dan kami curiga terhadap
nona. Turunlah agar kami tidak perlu
menggunakan kekerasan!" kata seorang berpakaian
perwira yang baru keluar dari dalam gardu
penjagaan.
Orang ini bertubuh pendek bulat, perutnya
gendut dan usianya sekitar tigapuluh tahun, di
pinggangnya tergantung golok besar.
Karena maklum bahwa ia berada di kota raja
maka gadis itu yang bukan lain adalah Cian Kui
Eng, melompat turun dari atas punggung kudanya
lalu menuntun kudanya mengikuti perwira itu
menuju ke gardu penjagaan. Atas perintah perwira
itu dengan tenang dan sabar Kui Eng mengikatkan
kendali kuda di depan gardu penjagaan, kemudian
sambil menggendong buntalan pakaiannya, ia
mengikuti perwira gendut itu memasuki gardu. Ia
dipersilakan duduk di bangku, menghadapi meja
dan di seberang meja itu duduklah si perwira yang
memandang kepadanya dengan mata yang liar,
seperti hendak melahap tubuhnya. Kui Eng melihat
beberapa orang perajurit di luar gardu menjenguk
masuk dan mereka itu menyeringai dan cekikikan
kurang ajar.
Kui Eng menyabarkan hatinya. Ia meninggalkan
rumah karena merasa tidak betah tinggal di
rumah, karena seminggu setelah Thian Ki pergi,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ayah dan ibunya juga pergi ke Himalaya untuk
mencari Swe-hiat-ang-cio (Rumput Merah Pencuci
Darah) untuk mengobati Thian Ki. Di rumah
sendiri ia tidak tahan dan iapun pergi menyusul
Thian Ki ke kota raja. Akan tetapi, karena baru
sekarang ia mendapat kesempatan untuk
merantau seorang diri, perjalanan itu dilakukan
Kui Eng secara lambat dan ia berhenti di setiap
tempat yang dianggap menyenangkan. Pernah ia
melakukan perjalanan ketika mengikuti orang
tuanya dan Thian Ki pergi berkunjung ke kuil
tempat tinggal Lo-Nikouw. Akan tetapi perjalanan
bersama keluarga itu tidak begitu menggembirakan
seperti kalau melakukan perjalanan seorang diri, di
mana ia dapat menentukan apa saja yang akan
dilakukannya, merasa bebas.
Perjalanan sampai ke kota raja itu makan waktu
berbulan-bulan karena Kui Eng suka singgah di
mana-mana, bahkan ketika tiba di sebuah telaga
besar yang indah, ia tinggal di situ hampir sebulan
lamanya. Banyak pengalaman dijumpainya,
banyak pula gangguan, akan tetapi dengan mudah
ia dapat mengatasi semua gangguan itu
mengandalkan ilmu silatnya yang kini telah
mencapai tingkat tinggi sekali. Kalau hanya tokohtokoh
kang-ouw biasa saja, jangan harap akan
mampu menandingi puteri bekas Pangeran Cian
Bu Ong ini! Ditambah pula dia lincah, tabah dan
cerdik. Karena banyak mendapat gangguan dari
para pria di dalam perjalanan, maka sikap para
penjaga di pintu gerbang kota raja itu tidak
membuat ia serasa heran atau terlalu marah. Ia
tahu bahwa sebagian besar pria memang kurang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ajar dan kalau melihat wanita cantik lalu timbul
kegenitan mereka!
"Nah, aku sudah berada di sini. Apa yang
hendak kauperiksa?" tanya Kui Eng, agak jengkel
juga melihat perwira itu hanya menggerayangi
tubuhnya dengan pandang matanya yang
berminyak itu.
"Oh, heh-heh......" perwira gendut itu tersenyum
menyeringai memperlihatkan deretan gigi yang
malang melintang dan kacau berwarna hitam
kekuningan. "Nona, kami harus memeriksa
buntalan pakaianmu itu. Kami tidak ingin ada
pemberontak yang menyelundup ke dalam kota
raja. Semua pemberontak harus dibasmi!" katakata
terakhir ini dikeluarkan dengan penuh
semangat.
Kui Eng tersenyum mengejek. "Periksalah, aku
bukan pemberontak, aku seorang pelancong yang
ingin melihat kota raja."
"Sebelum aku memeriksa buntalanmu, lebih
dulu aku harus mencatat siapa nama nona dan
tinggal di mana, datang dari mana dan hendak
kemana."
"Namaku Cian Kui Eng," kata gadis itu singkat.
"Berapa usia nona tahun ini?"
"Apa perlunya menanyakan usia segala!" bentak
Kui Eng.
"Ah, harus itu!" kata si perwira gendut. "Untuk
melengkapi pendaftaran mereka yang dicurigai!
Kami hanya melaksanakan perintah atasan."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kui Eng menghela napas, menyabarkan dan
menenangkan hatinya. "Duapuluh tahun,"
jawabnya singkat dan perwira itu menuliskan
nama Kui Eng dan usianya di dalam buku
pendaftaran. Caranya menuliskanpun bergaya,
penuh aksi seolah dia seorang sastrawan sedang
menuliskan sajak indah!
"Tempat tinggal?"
"Di dusun Ke-cung, kaki bukit Kim-san lembah
Huang-ho."
Kembali perwira itu menuliskan alamat.
Kemudian dia mengangkat mukanya dan
menyeringai lagi. "Sudah bersuami?"
Wajah Kui Eng menjadi merah padam. "Huh,
apa-apaan ini bertanya sudah bersuami atau
belum? Tidak ada hubungannya sama sekali
dengan pemeriksaan!"
"Aih-aih, jangan marah dulu, nona. Kami tidak
ingin ada pembunuh yang menyelundup ke kota
raja seperti wanita yang berniat membunuh
Sribaginda itu. Untung ketahuan dan ia sudah
terbunuh. Kami harus teliti memeriksa setiap
orang yang mencurigakan, laki-laki maupun
wanita. Nah, sekarang jawab sejujurnya, apakah
engkau sudah bersuami dan kalau sudah, siapa
nama suamimu dan sekarang dia berada di mana?
Kenapa nona melakukan perjalanan seorang diri?"
"Aku belum bersuami!" jawab Kui Eng, kini agak
ketus.
"Hemm, sungguh aneh. Seorang gadis duapuluh
tahun, cantik jelita seperti nona, berharta pula
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melihat pakaian dan kuda nona, masih belum
bersuami? Sungguh sayang...... "
"Cukup! Aku tidak ingin mendengar
pendapatmu!" bentak Kui Eng. "Cepat selesaikan
pemeriksaan ini, aku sudah tidak sabar lagi!"
"Heh-heh, baik-baik nona. Sekarang aku hendak
memeriksa buntalanmu ini." Dia meraih buntalan
di atas meja yang tadi diletakkan oleh Kui Eng dan
membuka buntalan itu. Dia mengaduk-aduk
pakaian Kui Eng dan beberapa kali berkata lirih.
"Hemm, harum.... harum wangi........" sehingga
wajah gadis itu menjadi kemerahan. Kemudian, dia
menemukan peti hitam kecil dan membukanya.
Matanya terbelalak ketika dia melihat perhiasan
emas permata yang serba berkilauan dan amat
berharga, yang menjadi bekal perjalanan Kui Eng.
"Wah, nona membawa harta begini banyak! Dari
mana nona mendapatkan harta ini?" tanyanya liril
dan matanya dipicingkan.
"Apa perdulimu? Ini adalah perhiasan milikku
sendiri. Tidak bolehkah orang memiliki perhiasan
dan membawa ke manapun ia kehendaki?"
"Tentu saja, kalau sudah jelas miliknya. Akan
tetapi nona kami curigai, karena itu, kami tahan
dulu dan sekarang, kami harus memeriksa pakaian
di tubuh nona, siapa tahu nona masih
menyembunyikan sesuatu di balik baju nona!"
Berkata demikian, perwira gendut itu bangkit,
memutari meja dan kedua tangannya dijulurkan ke
depan, siap untuk menggerayangi tubuh Kui Eng
dengan alasan hendak menggeledahnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Plakk-plakk!" Kui Eng menggerakkan tangan
menangkis dan perwira itu mengeluh dan
terhuyung ke belakang, mengaduh kesakitan
karena kedua lengannya yang ditangkis oleh
tangan yang mungil itu seolah-olah akan patahpatah
tulangnya. Tentu saja dia menjadi marah.
"Ah, ternyata engkau memang benar
pemberontak!" berkata demikian, perwira itu kini
menerjang dan menubruk dengan kedua lengan
terbuka seperti seekor beruang hendak menerkam
mangsanya.
Kui Eng juga sudah marah. Perhiasan dan
kudanya hendak dirampas, dan tubuhnya hendak
digerayangi. Ia lupa diri, lupa bahwa ia berada di
gardu penjagaan pintu gerbang kota raja, lupa
bahwa kalau ia mengamuk, mungkin ia akan
ditangkap sebagai pemberontak. Kemarahan
membuat ia lupa segala dan melihat perwira
gendut itu menerkamnya secara kurang ajar, iapun
menggerakkan kedua tangannya, dengan jari
tangan terbuka, kedua tangan itu bergerak cepat
sekali.
"Krek-krek-prakkk!" Perwira itu terjengkang dan
mengaduh-aduh dengan suara lucu karena
mulutnya berdarah, giginya rontok semua dan
kedua tulang lengannya patah.
"Auh.....ahhh......pemberontak......ah.......aduuhh
........tangkap.............!!" teriaknya, mengaduh-aduh
dan bangkit berdiri mengejar Kui Eng yang
melangkah keluar, lengannya di ayun-ayun akan
tetapi tak dapat diangkat karena nyeri, dan
mulutnya berdarah. Melihat keadaan perwira itu,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
para penjaga cepat mengepung Kui Eng yang
sudah memanggul buntalan pakaiannya di
pundak. Mereka maklum bahwa gadis itu telah
menghajar perwira mereka, maka tanpa dikomando
lagi, belasan orang perajurit penjaga sudah
mengepung dan berlomba untuk menangkap gadis
cantik itu.
Dengan tangan kiri memanggul buntalan, tangan
kanan memegang cambuk kuda. Kui Eng
menghadapi pengepungan belasan orang perajurit
penjaga itu dengan sikap tenang, akan tetapi
sepasang matanya yang indah jeli itu mencorong
marah.
Tubuhnya tidak bergerak sedikitpun, kepalanya
tidak menoleh ke kanan atau kiri, hanya matanya
saja yang bergerak, mengerling ke kanan kiri
seperti mata seorang penari yang lincah. Begitu
para pengepungnya, belasan orang itu, mulai
bergerak, terdengar suara cambuknya meledakledak.
Akan tetapi cambuk kuda itu kini bukan
untuk melecuti kuda, melainkan melayang dan
menyambar-nyambar ke arah kepala belasan orang
itu. Segera terdengar suara para pengeroyok itu
mengaduh-aduh dan banyak di antara mereka
yang mukanya berdarah dan babak celur disayat
ujung cambuk.
Tentu saja belasan orang penjaga itu menjadi
terkejut dan marah sekali. Terutama pemimpin
regu itu, dengan suara pelo karena giginya rontok
semua dia berteriak-teriak. "Bunuh pemberontak
itu! Bunuh iblis betina itu!" Dan semua penjaga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sudah mencabut senjata masing-masing. Ada yang
memegang golok, pedang atau tombak.
"Tar-tar-tarrr.......!!" Cambuk itu meledak-ledak
dan banyak senjata tajam dan runcing beterbangan
terlepas dari tangan yang menggenggamnya.
Melihat para pengeroyok yang belum roboh
mundur dan memandang jerih. Kui Eng bertolak
pinggang. "Hemm, kalian ini perajurit pemerintah,
ataukah perampok-perampok?"
Pada saat itu terdengar derap kaki kuda dan
seorang penunggang kuda datang menguak para
penonton yang sudah semakin banyak berdiri di
dekat pintu gerbang. Dengan sigapnya,
penunggang kuda itu melompat turun dari atas
punggung kuda dan menerobos masuk kepungan
belasan orang perajurit yang sudah mulai kecil
nyalinya menghadapi Kui Eng itu.
"Heii, apa yang telah terjadi di sini!" bentak
menunggang kuda itu.
Melihat penunggang kuda yang baru tiba,
komandan regu yang giginya rontok itu menjadi
terkejut dan semua anak buahnya nampak
ketakutan.
"Maaf..........pangeran.....ini.....eh, gadis ini
seorang pemberontak!" kata komandan regu
dengan suara pelo. Penunggang kuda itu menengok
ke arah Kui Eng pada saat gadis itupun menengok
dan memandang kepadanya. Dua pasang mata
bertemu dan memandang penuh perhatian. Kui
Eng melihat bahwa penunggang kuda yang disebut
pangeran itu adalah seorang pria muda, berusia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kurang lebih duapuluhlima tahun, akan tetapi
wajahnya bersih, cerah dan penuh senyum,
terutama sepasang matanya yang bersinar-sinar
penuh semangat hidup. Wajah itu tampan dan
menyenangkan karena nampak tidak angkuh
seperti kebanyakan para bangsawan, dan biarpun
pakaian pangeran itu seperti pakaian seorang
terpelajar, longgar dan rapi, namun sebatang
pedang yang berada di punggungnya menunjukkan
bahwa pangeran ini juga suka akan ilmu silat.
Mendengar ucapan komandan regu itu, sang
pangeran yang bertubuh tinggi tegap itu
mengerutkan alisnya dan diapun bertanya kepada
Kui Eng. "Nona benarkah apa yang dikatakan
komandan regu tadi bahwa engkau seorang
pemberontak?"
Kui Eng meruncingkan mulutnya berjebi,
gerakan yang biasa ia lakukan tanpa disadari
kalau ia marah, dan gerakan mulut ini membuat ia
nampak manis menggemaskan. "Engkau seorang
pengeran? Sudah sepatutnya kalau engkau malu
mempunyai seregu perajurit seperti mereka itu.
Aku seorang pemberontak? Aku datang memasuki
kota raja sebagai seorang pelancong dan apa yang
mereka lakukan? Si kerbau gendut itu hendak
merampas perhiasanku, juga merampas kudaku.
Bukan itu saja dengan dalih melakukan
penggeledahan, dia hendak menggerayangi
tubuhku! Dia tidak kubunuhpun masih terlalu
ringan baginya!"
Wajah tampan itu berubah merah sekali dan Kui
Eng sudah siap untuk menyambut kemarahan
pangeran itu kepadanya. Akan tetapi ternyata
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kemarahan itu tidak ditujukan kepadanya. Mata
yang tadinya membayangkan keramahan dan
senyuman itu tiba-tiba kini mencorong penuh
wibawa ketika dia menoleh dan menghadapi seregu
penjaga yang menjadi ketakutan.
"Katakan, benarkah apa yang dituduhkan nona
ini? Jawab yang betul!" bentaknya kepada
komandan regu. Orang gendut itu menjadi pucat
dan matanya terbelalak, dia menggoyang tangan
kanan yang patah tulangnya itu, lalu menggeleng
kepala.
"Tldak.....tidak, pangeran.....!"
"Hemm, kalau tidak, lalu mengapa nona ini
menghajar kalian? Katakan, apa sebabnya?"
bentak pula pangeran itu, mendesak.
"Hamba......hamba tidak tahu.....ia pemberontak
........ tahu-tahu ia mengamuk...." jawaban ini tentu
saja ngawur saking takutnya.
"Hemm, aku belum gila, kalau tanpa hujan
tanpa angin datang-datang aku menghajar kalian!"
kata Kui Eng.
"Hayo jawab yang benar, jangan bohong!" bentak
pangeran itu. "Nona ini benar, tanpa sebab tidak
mungkin ia menghajar kalian! Aku akan suruh
siksa dulu kalian semua?"
Komandan regu itu dan anak buahnya segera
menjatuhkan diri berlutut. Mereka nampak
ketakutan sekali karena pangeran ini terkenal
dengan kekerasannya kalau menghadapi anak
buah yang bersalah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ampun, pangeran ..... kami ...... kami
mencurigainya dan hendak menahan untuk
sementara barang-barangnya, dan hendak
menggeledahnya, akan tetapi tiba-tiba ia
mengamuk ..... "
Kui Eng mengeluarkan kotak kecilnya dan
membuka di depan pangeran itu. Nampak
perhiasannya berkilauan. "Nah, inilah yang akan
mereka sita, juga kudaku di sana itu, kemudian si
gendut babi ini mencoba untuk menggerayangi
tubuhku. Salahkah aku kalau menghajarnya? Dia
lalu mengerahkan anak buahnya untuk
mengeroyokku."
"Keparat!" Pangeran itu membentak dan tubuh
belasan orang itu menggigil ketakutan. Ketika ada
seorang perwira lewat dan memberi hormat kepada
pangeran itu, sang pangeran berkata, "Cepat
panggil seregu penjaga pengganti dan jebloskan
mereka ini ke dalam tahanan. Laporkan kepada
panglima agar dia menemuiku. Orang-orang jahat
ini harus dihukum berat untuk menjadi contoh
para perajurit lainnya!"
Belasan orang yang berlutut itu minta-minta
ampun, akan tetapi pangeran itu tidak
menghiraukan mereka lagi. Dia membungkuk
kepada Kui Eng, "Nona, maafkanlah kami. Memang
kami kurang tertib, sehingga ada anak buah yang
menyeleweng seperti mereka. Akan tetapi, kami
pasti akan menghukum mereka. Nah, sekarang
nona boleh melanjutkan perjalanan tanpa
gangguan."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kui Eng diam-diam merasa kagum bukan main.
Ayahnya juga seorang bekas pangeran, dan
ayahnya juga berwatak keras. Akan tetapi, ayahnya
tidak selembut pangeran ini. Ayahnya masih
memandang rendah orang-orang bawahan, akan
tetapi pangeran ini sikapnya demikian sopan dan
lembut, walaupun wibawanya jelas nampak ketika
dia memarahi seregu penjaga itu. Iapun memberi
hormat dengan mengangkat kedua tangan depan
dada. "Pangeran, terima kasih atas kebaikanmu,
dan maafkan sikapku yang kasar tadi."
Pangeran itu mengangguk, dan mengikuti Kui
Eng dengan pandang matanya ketika gadis itu
menuntun kudanya yang bagus, memasuki pintu
gerbang. Kui Eng tidak tahu betapa pangeran itu
mengikutinya dengan pandang mata penuh
kekaguman.
Pangeran itu memang terkenal sebagai seorang
pangeran yang lembut hati dan ramah, tidak
congkak, namun dia dapat bersikap keras terhadap
anak buah atau para prajurit yang melakukan
penyelewengan. Diapun terkenal sebagai seorang
pangeran yang memiliki ilmu silat tinggi, namun
dia menolak ketika pamannya, yaitu Kaisar Tang
Tai Cung, memberi kedudukan kepadanya.
Pangeran ini bernama Pangeran Li Cu Kiat.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 31
Dia tidak ingin memegang jabatan atau
kedudukan karena dia melihat betapa kedudukan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
diperebutkan mati-matian oleh keluarga kaisar.
Dia sendiri adalah keponakan kaisar, putera
mendiang Pangeran Li Seng Tek, kakak dari Kaisar
Tang Tai Cung (Li Si Bin), dan sampai
meninggalnyapun mendiang ayahnya tidak pernah
ikut dalam perebutan kekuasaan Justeru karena
tidak ingin terlibat dalam perebutan, maka dia
dimusuhi oleh mereka yang berusaha merebut
kedudukan kaisar dan Pangeran Li Seng Tek tewas
keracunan tanpa ada yang mengetahui siapa yang
meracuninya. Peristiwa ini membuat Li Cu Kiat
semakin tidak senang dengan dudukan dan dia
lebih suka menjadi seorang yang bebas dari
tugas yang mengikat, namun dia selalu bertindak
kalau ada pejabat atau perajurit yang melakukan
penyelewengan. Karena dia tidak congkak, lihai
dan tidak memperebutkan kedudukan, tidak haus
balas jasa, maka semua pejabat di kota raja
maupun di daerah, segan dan takut kepadanya.
Kaisar Tang Tai Cung yang mengenal baik watak
ponakannya, amat suka kepadanya dan percaya
akan segala laporannya, maka biarpun tidak
nenduduki jabatan. Pangeran Li Cu Kiat
mempunyai kekuasaan besar, ditakuti oleh para
petugas. Itulah sebabnya maka dia berani
memanggil panglima untuk ditegur mengenai
perbuatan regu penjaga tadi,
Kui Eng berjalan menuntun kudanya. Karena
jalan raya di kota raja itu mulai ramai dengan
orang berlalu-lalang, maka ia tidak menunggangi
kudanya, melainkan dituntun dan ia berjalan-jalan
mengagumi keadaan kota raja yang ramai dan di
kiri jalan raya terdapat banyak toko. rumah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
makan, dan ada pula beberapa buah rumah
penginapan yang cukup besar. Karena ia tidak
ingin tinggal di ruman penginapan yang terlalu
ramai, Kui Eng lalu menuntun kudanya ke sudut
kota dan berhenti didepan sebuah rumah
penginapan yang berdiri agak menyendiri di sudut
kota. Rumah penginapan itu nampak tidak terlalu
bising, dan memiliki pekarangan yang besar.
Bahkan di sebelah kirinya terdapat sebuah rumah
makan yang agaknya menjadi satu dengan rumah
penginapan itu.
Ketika la menuntun kudanya memasuki
pekarangan, seorang pelayan tergopoh
menyambutnya, “Selamat pagi, nona. Apakah
nona mencari kamar yang bersih dan baik?"
Kui Eng mengangguk. "Sediakan sebuah kamar
yang bersih, beri makan dan minum kuda ini dan
rawat baik-baik, kemudian suruh pelayan
menyediakan air hangat untuk mandi."
"Baik, nona." Pelayan Itu menerima kendali kuda
dari Kui Eng, berteriak memanggil temannya dan
mempersilakan Kui Eng mengikuti pelayan yang
datang berlarian untuk diantar ke kamarnya dan
dilayani semua kebutuhannya.
Setelah mandi dan berganti pakaian, merasa
segar tubuhnya, Kui Eng lalu meninggalkan
kamarnya. Ia menaruh buntalan pakaiannya di
kamar, akan tetapi membawa kotak perhiasannya
karena ia tidak ingin kehilangan bekal itu, juga
membawa pedangnya dan iapun pergi ke rumah
makan di sebelah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kui Eng tidak tahu betapa seorang laki-laki
berusia kurang lebih empatpuluh tahun
mengamatinya dari luar rumah penginapan ketika
ia keluar dari pekarangan rumah penginapan itu
dan memasuki rumah makan. Laki-laki yang
tubuhnya pendek tegap itu kini juga memasuki
rumah makan dan duduk di sudut, dari mana dia
dapat memandang ke arah Kui Eng dari belakang.
Gadis itu tanpa menduga sesuatu, duduk
menghadapi meja dan memesan makanan dan air
teh. Kemudian ia makan minum dengan santai dan
tenang, tidak tahu betapa laki-laki tadi minum
arak dan selalu memperhatikannya walaupun
dengan sikap yang tidak menyolok
Sehabis makan, Kui Ing meninggalkan rumah
makan dan pergi berjalan-jalan. Ia tidak tahu ke
mana harus mencari Thian Ki. Ia hanya tahu
bahwa Thian Ki disuruh ayahnya untuk mencari
dan merampas kembali pedang Liong-cu kiam,
akan tetapi di samping tugas ini, juga Thian Ki
pergi mengunjungi Huang-ho Sin-liong Si Han
Beng di dusun Tang-cun untuk minta pertolongan
pendekar itu mengusir hawa beracun dari
tubuhnya. Ia tidak tahu apakah sekarang Thian Ki
telah tiba di kota raja ataukah belum. Karena ia
sekarang telah tiba di Kota raja, kenapa ia tidak
membantu kakak tiri atau juga suhengnya itu
untuk merampas kembali pedang Liong-cu-kiam
milik ayahnya? Dengan demikian , ia akan
meringankan tugas Thian Ki
Ia berjalan-jalan dan mengagumi kota raja. Ada
keharuan mendalam di lubuk hatinya. Kota raja ini
juga merupakan tempat kelahirannya? Dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ayahnya pernah menceritakan dan
menggambarkan keadaan kota raja ini, bahkan
memberi tahu di mana letak istana yang dahulu
ditinggali ayahnya ketika menjadi pangeran.
Mengingat betapa ayahnya dahulu seorang
pangeran di kota raja ini. dan ketika ia masih kecil,
iapun tinggal di sini, semacam keharuan
menyelinap di hatinya. Ia tidak dapat mengingat
tempat ini karena ketika terjadi perang, ketika
ayahnya membawa ia dan ibunya pergi mengungsi,
usianya baru kurang dari dua tahun.
Akan tetapi, ayahnya pernah membuat
gambaran tentang kota raja dan kini ia pergi
menuju istana yang dahulu pernah menjadi
tempat tinggal ayanya, pernah menjadi tempat ia
terlahir!
Jantungnya berdebar tegang ketika ia tiba di
jalan raya depan rumah gedung itu. Sebuah
gedung yang besar dan megah. Jantungnya terasa
terasa seperti diremas ketika ia teringat kepada
ayahnya. Ayahnya dahulu seorang pangeran dan
tinggal di dalam istana ini! Dan sekarang Ayahnya
tinggal di dusun sebagai seorang petani! Ibunya,
dan keluarga lain terbunuh. Kehidupan keluarga
ayahnya hancur lebur. Ingin sekali ia memasuki
istana itu, melihat-lihat di sebelah dalamnya,
melihat kamar ibunya di mana ia dahulu
dilahirkan! Akan tetapi, bagaimana mungkin?
Tempat itu kini tentu ditempati seorang pembesar
lainnya dan di depan rumah itu terdapat sebuah
gardu penjagaan di mana terdapat lima orang
perajurit penjaga. T'entu tempat tinggal orang
penting. Memasukinya tidak mungkin, karena ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tentu akan dihalangi oleh petugas jaga. Akan tetapi
malam nanti, ia dapat melaksanakan niatnya. Ia
dapat menggunakan kepandaiannya untuk
menyelinap masuk, sebagi pencuri akan tetapi
bukan untuk mencuri sesuatu. Ia hanya ingin
masuk ke istana itu, melihat-lihat di sebelah
dalamnya, melihat bekas kamar ibunya. Itu saja!.
Kui Eng berdiri di luar pekarangan istana itu
sampai lama, tidak tahu betapa laki-laki pendek
tegap itu mengikutinya sejak dari rumah makan
tadi. Kini Kui Eng berjalan lagi dan menuju ke
gedung istana yang terkurung pagar tembok yang
tinggi dan terjaga kuat. Memasuki daerah
terlarang ini merupakan pekerjaan yang lebih sulit
lagi. Kalau Thian Ki akan mengambil Liong-cu
kiam dari gedung pusaka, dia harus dapat
melewati pagar tembok dan para penjaga dan
setelah tiba di lingkungan istana, baru dapat
mencari gedung pusaka yang tentu terjaga ketat
pula. Kui Eng menghela napas. Betapa sukarnya
dan betapa bahayanya melaksanakan tugas
merampas Liong-cu-kiam itu. Bagaimanapun juga,
ia ingin membantu Thian Ki, melaksanakan
perintah ayahnya.
Ia tidak akan bertindak tergesa-gesa dan tanpa
perhitungan. Ia akan menyelidiki dulu keadaan
para penjaga, bagaimana pula sistim penjagaan itu
agar setelah mengenal keadaan ia akan dapat
memasuki lingkungan istana dan mencari pedang
pusaka milik ayahnya di gedung pusaka. Setelah
puas berjalan-jalan mengelilingi kota raja
menjelang sore Kui Eng kembali ke rumah
penginapan untuk beristirahat. Ia tidak tahu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bahwa laki-laki pendek tegap tadipun ternyata
menyewa sebuah kamar tepat di sebelah
kamarnya!
Malam itu bulan purnama muncul dengan
indahnya. Langit bersih sehingga bulan dapat
menerangi seluruh permukaan bumi,
mendatangkan suasana yang amat indah dan
sejuk. Kui Eng keluar dari kamarnya dan setelah
makan malam, ia kembali berjalan-jalan menikmati
keindahan malam di kota raja. Tidak lupa ia
kembali melewati bekas istana ayahnya, kemudian
juga melewati pintu gerbang kompleks istana.
Karena malam itu indah, maka sebagian besar
penduduk kota raja berada di luar rumah, tidak
ingin melewatkan keindahan malam bulan
purnama sia-sia belaka
Dengan hati gembira Kui Eng akhirnya kembali
ke rumah penginapan dan memasuki kamarnya. Ia
merasa lelah juga setelah sehari semalam berjalanjalan,
dan segera merebahkan diri di atas
pembaringan.
Sesosok bayangan yang berkelebat di luar
jendelanya, walaupun hanya sekejap mata, cukup
membuat Kui Eng merasa curiga. Ia teringat akan
pengalamannya di pintu gerbang kota raja pagi
tadi, maka begitu melihat bayangan berkelebat di
luar jendela kamarnya, iapun menjadi waspada.
Dengan hati-hati dipakainya kembali sepatunya,
dibereskannya rambut dan pakaiannya Kalau
bayangan tadi hanya seorang yang berjalan di luar
pintu kamarnya, tentu ia tidak akan curiga
karena tempat itu merupakan rumah penginapan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
umum di mana banyak tamu bermalam dan tentu
ada saja orang yang lewat di depan kamarnya.
Akan tetapi, gerak bayangan itu demikian cepat
dan hal ini saja menunjukkan bahwa yang tadi
lewat di luar jendelanya bukan orang berjalan,
melainkan orang yang bergerak cepat dan tidak
terdengarnya langkah kakinya membuktikan
bahwa bayangan itu adalah seorang yang
berkepandaian tinggi.
Setelah mengambil pedangnya dari atas meja,
tidak lupa mengikatkan kotak perhiasan di
pinggangnya, Kui Eng meniup padam lilin di atas
meja, lalu duduk di pembaringan, Ia mengerahkan
tenaga sin-kangnya, mencurahkan perhatian pada
pendengarannya dan tahulah ia bahwa di luar
jendelanya terdapat seseorang. Hai ini ia ketahui
dari pernapasan orang itu yang dapat ia tangkap
melalui pendengarannya.
Beberapa kali Kui Eng menguap dan sengaja
mengeluarkan suara agar terdengar dari luar,
kemudian perlahan-lahan ia mengeluarkan suara
pernapasan berat seperti orang yang mulai terti
dur. Setengah jam kemudian, ia bahkan
mengeluarkan dengkur halus.
Pancingannya berhasil. Terdengar suara jendela
berkeretek dan daun jendela ttupcn terbuka dari
luar. Sesosok bayangan meloncat bagaikan seekor
kucing ke dalam kamarnya. Semua ini dapat
dilihatnya karena dari luar kamarnya terdapat
sinar lampu gantung yang membentuk bayangan
orang itu. Orang itu menghampiri pembaringannya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan golok di tangan dan dia mengayun golok
membacok ke arah dirinya yang tidur telentang!
Trangggg .................!!"
Bayangan itu terkejut bukan main ketika
goloknya ditangkis oleh gadis yang disangkanya
sudah pulas itu. Dia meloncat k» belakang, lalu
meloncat keluar kamar melalui jendela yang
terbuka. Kui Cng tentu saja tidak mau
melepaskannya, tanpa mengeluarkan suara gaduh
agar tidak menarik perhatian orang dalam rumah
penginapan, iapun melompat dan melakukan
pengejaran. Orang itu sudah melompat ke dalam
taman di samping rumah penginapan, dan Kui
Eng mengejarnya.
Kalau saja malam Itu tidak terang bulan, akan
sukarlah bagi Kui Eng untuk mengejar orang itu.
Akan tetapi karena bulan terang, gadis perkasa ini
dengan mudah dapat melihat bayangan orang dan
iapun mengejar dengan cepat sekali. Orang itu
agaknya hafal benar dengan keadaan kota raja, lari
memasuki lorong-lorong sempit. Malam sudah
larut dan suasana sudah sepi.
Kui Eng terus membayangi orang itu yang
melarikan diri ke ujung kota raja, di mana
terdapat sebuah bukit kecil dan setelah
menyeberangi sebuah jembatan, bayangan itu lari
mendaki bukit kecil.
"Keparat, pengecut, hendak lari ke mana kau?"
Kui Eng mengerahkan tenaganya dan sebentar saja
telah dapat menyusulnya. Mereka kini berhadapan
karena yang dikejarnya berhenti dan dengan golok
besar di tangan menghadapi Kui Eng. Di bawah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sinar bulan purnama, Kui Eng dapat melihat
bahwa orang pendek tegap itu berusia kurang lebih
empatpuluh tahun, wajahnya bengis dan tubuhnya
kokoh.
"Siapa engkau dan apa maksudmu memasuki
kamarku dan hendak membunuhku?" bentak Kui
Eng marah karena tadi jelas bahwa orang ini
hendak membunuhnya.
Laki-laki pendek itu tersenyum. "Engkau
seorang pemberontak atau mata-mata musuh yang
berbahaya, karena itu aku harus membunuhmu!"
katanya tanpa memberi penjelasan lagi dia sudah
menyerang dengan goloknya. Gerakannya cepat
dan kuat dan golok besar yang berat iti
menyambardengan desir angin dan mengeluarkan
suara berdesing. Namun, dengan mudah Kui Eng
mengelak, lalu membalas dengan tusukan
pedangnya. Orang itu mengeluarkan seruan kaget
karena dalam segebrakan saja, pedang gadis itu
hampir saja memasuki lambungnya! Dia tadi
dengan kaget melempar tubuh kebelakang dan
setelah dia meloncat bangun lagi, dia menjadi agak
pucat karena maklum bahwa yang dihadapinya
adalah seorang gadis yang benar-benar amat lihai!
Tidak aneh kalau adiknya, komandan regu penjaga
pintu gerbang berikut belasan orang anak buahnya
dihajar oleh gadis ini! Tadi, mendengar peristiwa di
pintu gerbang yang mengakibatkan adiknya bukan
saja dihajar seorang gadis akan tetapi juga atas
perintah Pangeran Li Cu Kiat adiknya berikut
regunya dijatuhi hukuman dia menjadi marah
sekali. Marah terhadap gadis itu yang dianggap
telah mencelakai adiknya. Maka diapun mencari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
gadis itu untuk membalas dendam, membunuhnya
dan merampas harta yang dibawanya. Akan tetapi,
siapa kira, dia bertemu batunya.
"Haiiittt.......!!" Dengan nekat diapun
menggerakkan golok besarnya, menyerang kalang
kabut. Namun, tingkat kepandaiannya masih jauh
lebih rendah kalau dibandingkan tingkat
kepandaian Kui Eng. Gadis ini telah menguasai
ilmu-ilmu ayahnya dan telah menjadi seorang gadis
yang amat lihai. Dalam waktu belasan jurus saja,
si pendek telah terluka pangkal lengan kirinya dan
juga paha kanannya. Kui Fng memang sengaja
tidak hendak membunuhnya karena ia ingin sekali
mengetahui siapa orang ini dan mengapa pula
memusuhinya, padahal ia tidak mengenal orang itu
sama sekali. Ia hanya ingin merobohkannya dan
memaksanya mengaku.
Akan tetapi, orang pendek itu tiba-tiba saja
membalikkan tubuhnya dan melanjutkan larinya
sambil terpincang-pincang, menuju ke atas bukit.
Kui Eng mengejar dan membayanginya. Kalau
menghendaki, tentu dengan mudah ia dapat
menyusul dan merobohkannya. Akan tetapi ia
hanya membayangi karena ia merasa yakin bahwa
orang ini mungkin hanya nenjadi pesuruh saja,
ada orang lain yang menyuruhnya untuk
membunuhnya dan agaknya ia berada di puncak
bukit ke mana orang itu hendak melarikan diri.
Hatinya merasa tegang ketika melihat sebuah
pondok di puncak bukit itu. Pondok sunyi akan
tetapi terawat, menunjukkan bahwa memang benar
disitu terdapat penghuninya dan orang yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dikejarnya berlari memasuki pekarangan rumah
itul
“Suhu, toloooooooongggg......!." Si pendek itu
berseru ketika tiba di pekarangan rumah.
Mendengar ini, Kui Eng cepat meloncat dan tiba di
depan orang itu, maklum bahwa pondok itu adalah
tempat tinggal guru penyerangnya.
Ketika Kui Eng hendak menggerakkan pedang
menyerang. dari belakangnya terasa olehnya angin
menyambar. Ia terkejut dan menarik kembali
pedangnya lalu melompat ke samoing untuk
menghindarkan diri. Ternyata di sana telah berdiri
seorang laki-laki berpakaian tosu, berusia kurang
lebih enamuluh tahun, bertubuh tinggi kekar
mukanya merah, memiliki kumis dan jenggot
putih yang tipis dan di dada jubahnya terdapat
lukisan pat-kwa (segi delapan) dengan tanda imyang
ditengahnya. Tosu itu menarik kembali ujung
lengan bajunya yang lebar yang tadi dia
pergunakan untuk menyerang Kui Eng.
"Nona, perlahan dulu, jangan sembarangan
membunuh orang!" kata tosu itu, suaranya lembut
dan sikapnya berwibawa, wajahnya dingin namun
senyumnya menyelimuti kedinginan wajahnya
sehingga nampak ramah.
Kui Eng mencibir. "Hemm, musang berkedok
domba!" ejeknya. "Engkau menasihati orang agar
jangan sembarangan membunuh, akan tetapi
engkau menyuruh muridmu berusaha untuk
membunuhku secara pengecut!"
"Siancai.......!!" Tosu itu berseru dan melipat
kedua lengan di depan dada. "Apa maksudmu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
nona? Pinto (saya) tidak menyuruh siapapun
membunuh orang. Pinto adalah Im Yang Sengcu,
sahabatnya Kaisar. Sribaginda Kaisar saja percaya
kepada pinto, bagaimana mungkin pinto menyuruh
membunuh orang?"
Kembali Kui Eng tersenyum mengejek. "Totiang,
tidak perlu lagi berpura-pura. Dengar baik-baik.
Tadi, aku tidur di dalam kamarku di rumah
penginapan dan muridmu ini mencokel jendela,
melompat masuk dan menyerangku dengan
goloknya. Apa lagi artinya itu kalau bukan hendak
membunuhku. Masihkah engkau sebagai gurunya
masih berpu-pura lagi? Tentu engkau yang
menyuruhnya, dan aku yang ingin tahu mengapa
kalian hendak membunuhku yang tidak kalian
kenal sama sekali?"
Tosu itu memang Im Yang Seng-cu, tosu yang
menjadi sahabat Kaisar Tang Tai Cung. Kaisar pula
yang memberi ijin kepadanya untuk menguasai
bukit di sudut kota itu dan di situ didirikan
pondok untuk dia melakukan samadhi. Orang
pendek itu adalah seorang di antara muridmuridnya
atau pengikutnya, juga kaki tangannya,
yang bernama Phoa Gu. Phoa Gu ini kebetulan
sekali kakak dari komandan regu yang pagi tadi
dihajar oleh Kui Eng. Dia Ingin membalas dendam
dan hal ini adalah kehendaknya sendiri dan di luar
tahunya Yang Seng-cu, oleh karena itu mendengar
tuduhan Kui Eng. dia mengerutkan alisnya dan
kini dia memandang kepada murid atau anak
buahnya itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Phoa Gu, apa artinya ini? Benarkah engkau
hendak membunuh nona ini?" Kini Im Yang Sengcu
baru melihat hetapa muridnya itu telah
mengalami luka-luka berdarah pada pundak atau
pangkal lengan dan pahanya.
"Suhu, memang benar teecu (murid) ingin
membunuhnya akan tetapi iblis betina ini ternjata
lihai sekali."
"Phoa Gu. kenapa engkau hendak
membunuhnya?" Suara lm Yang Seng-cu terdengar
marah.
"Suhu. ia seorang iblis betina yang kejam. Bukan
saja ia telah menyiksa adik teecu yang bernama
Phoa Ci. akan tetapi la pula yang melapor kepada
Pangeran Li Cu Kiat sehingga adik teecu bersama
semua regunya mendapat hukuman berat. Teecu
hendak membalas dendam kepadanya dan harap
suhu membela teecu."
"Aih-aih, sekarang aku mengerti!" Kui Eng
berseru dan wataknya yang keras dan berani
membuat ia tidak perduli bahwa orang itu berada
bersama gurunya. "Kiranya engkau adalah kakak
dari babi gendut kurang ajar itu? Memang aku
telah menghajarnya dan aku pula yang
menyebabkan dia dlhukum oleh atasannya. Aku
masih bersikap murah karena adikmu itu
sesungguhnya pantas kalau kubunuh!”
"Coba lihat dan dengar, suhu! Perempuan ini
terlalu kejam dan sombong. Kalau tidak dibunuh,
ia akan menimbulkan kekacauan di kota raja.
Bahkan ia telah berhasil merayu Pangeran Li Cu
Kiat sehingga pangeran itu membelanya, membuat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ia menjadi semakin sombong! Mungkin wanita ini
yang oleh suhu disebut-sebut sebagai siluman
yang kelak akan menguasai istana."
"Hei, jahanam busuk, tutup mulutmu yang
menyebar fitnah busuk! Engkaulah yang patut
dibasmi!" bentak Kui Eng dan kini ia sudah
bergerak menyerang dengan tangan kosong kepada
si pendek bernama Phoa Gu itu. Phoa yang
mendadak bangkit semangatnya karena di situ
terdapat suhunya, menyambut serangan Kui Eng
dengan sambaran golok besarnya. Akan tetapi
sekali ini, Kui Eng tidak berniat untuk
mengampuninya, la sudah tahu mengapa si
pendek ini hendak membunuhnya tadi, maka
melihat golok menyambar, ia miringkan tubuh dan
sekali tangannya bergerak, terdengar suara "krek”
dan tulang lengan kanan Phoa Gu patah oleh
sabetan tangannya yang dimiringkan.
"Aduhhh..........J" Golok itu terlepas dan Phoa
Gu menyeringai kesakitan sambil memegan lengan
kanan yang patah tulangnya dengan tangan kiri.
Kui Eng sudah mengambil keputusan untuk
membunuh saja Phoa Gu yang curang dan palsu
itu. Ia melangkah maju dan tangannya menampar
ke arah kepala orang itu.
"Dukkk!!" Tangan Kui Eng bertemu dengan
ujung lengan baju yang mengandung tenaga kuat
sehingga Kui Eng terkejut dan memandang kepada
tosu yang menangkisnya dengan mata mencorong.
“Hemm. kiranya benar pepatah yang
mengatakan bahwa guru kencing berdiri, murid
kencing berlari!. Kalau gurunya sesat, tentu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
muridnya menjadi jahat. Totiang maju membantu
murid yang menyeleweng, berarti totiang juga
bukan orang baik.”
“Siancai......, mulutmu sungguh lancang, nona,
dan engkau masih muda akan tetapi engkau
sombong sekali. Katakanlah murid pinto bersalah,
akan tetapi pinto yang berhak menghukumnya.
Bagaimana mungkin pinto membiarkan saja orang
lain hendak membunuh murid pinto di depan
hidung pinto sendiri? Sudahlah, nona. Kita
habiskan urusan sampai di sini saja. Pinto tidak
ingin bermusuhan dengan seorang gadis yang
masih kekanak-kanakan sepertimu. Silakan pergi
menuruni bukit ini."
"Enak saja engkau bicara, totiang!" Kui Eng
mjadl marah dan penasaran sekali. "Tanpa
kesalahan apapun, ketika memasuki pintu gerbang
kota raja, babi gendut adik kerbau ini
menghinaku, hendak merampok harta dan
kudaku, bahkan kurang ajar sekali hendak
menggerayangi tubuhku. Aku menghajarnya,
berikut anak buahnya, kemudian muncul
pangeran yang menghukumnya Salahkah aku
dalam urusan itu? Kemudian, kerbau ini
memasuki kamarku seperti maling, menggunakan
goloknya membacok aku yang sedang tidur.
Untung aku dapat menangkisnya dan mengejarnya
sampai ke sini. Salahkah aku kalau sekarang aku
hendak membalas dan membunuhnya? Dan
engkau membelanya, melindunginya!"
Im Yang Sengcu juga menjadi marah juga. Dia
seorang yang terpandang, bahkan Kaisar Tang Tai
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Cung menghargainya sebagai seorang sahabat dan
penasihat. Semua orang di istana, bahkan di kota
raja menghormatinya Akan tetapi gadis ini bersikap
demikian tinggi hati, tidak menghormatinya sama
sekali, bahkan mengeluarkan kata-kata keras dan
mencelanya!
"Nona. pinto Im Yang Sengcu adalah sahabat
dan penasihat Kaisar! Engkau berani bersikap
seperti ini terhadap pinto? Kalau pinto tidak
mengalah, sebagal seorang tingkatan lebih tua
tehadap seorang gadis muda, apa kaukira sekarang
engkau masih dapat bernapas? Siapakah engkau
ini yang begini sombong?"
"Totiang, urusan antara manusia tidak
ditentukan oleh kedudukannya, melainkan oleh
benar dan salah. Totiang boleh jadi berkedudukan
tinggi, siapa perduli akan hal itu? Yang penting
adalah benar atau salah, bukan kedudukan tinggi
atau rendah. Namaku adalah Cian Kui Eng, dan
bagiku, siapapun dia kalau bersalah tentu akan
kutentang, tidak perduli pangkatnya!”
“Siancai .......... engkau she Cian? Hemmm,
mengingatkan pinto akan keluarga Kerajaan Sui
yang telah lenyap. Menurut perbintangan, istana
kerajaan Tang terancam oleh wanita dari marga
Cian keturunan keluarga Kerajaan Sui. Hemm,
nona Cian Kiri Eng, terpaksa pinto harus
menahanmu. Kalau kelak menurut pemeriksaan,
engkau tidak bersalah, pasti kami bebaskan.
Kemunculanmu di kota raja mendatangkan
keributan, memang engkau patut dicurigai."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tosu jahat! Engkau membela muridmu dan
hendak menangkap aku?" bentak Kui Eng.
"Engkau seorang pendeta, membela pembunuh dan
perampok?"
"Pinto tidak membela siapa-siapa, akan tetapi
demi keamanan kerajaan, pinto harus menangkap
engkau dan menyelidiki dulu, apa maksudmu
datang ke kota raja ini."
"Tosu busuk!" bentak Kui Eng dan iapun
menerjang tosu itu. Im Yang Seng-cu mengelak
karena maklum bahwa pukulan gadis itu sama
sekali tidak boleh dipandang ringan. Justeru
kelihaian gadis itu yang diketahuinya ketika dia
tadi menangkis serangan Kui Eng kepada
muridnya, yang membuat dia menjadi curiga.
Bukan semata membela muridnya kalau dia kini
ingin menangkap Kui Eng melainkan kecurigaan
itulah. Baru saja ada orang-orang berusaha
membunuh Kaisar, maka kehadiran seorang gadis
yang begini lihai di kota raja, apa lagi yang berani
menghajar para penjaga pintu gerbang, memang
patut dicurigai.
"Wuuuttt .....plakkk” ketika dia membalas
serangan gadis itu dengan sambaran ujung lengan
bajunya yang mengirim totokan ke arah dada, Kui
Eng menangkis dan keduanya terdorong ke
belakang. Im Yang Seng-cu terkejut bukan main,
dan Kui Eng juga menjadi semakin penasaran
melihat kehebatan lawan, iapun maju lagi dan
menyerang dengan ilmu silat Sin-liong-ciang-hoat
(Silat Naga Sakti) yang merupakan ilmu andalan
ayahnya. Memang hebat sekali ilmu silat ini.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Gerakannya bagaikan seekor naga bermain-main di
angkasa. Im Yang Sengcu juga seorang yang lihai
sekali, banyak pengalamannya. Kini, melihat ilmu
silat gadis itu, diam-diam dia terkejut. Ilmu silat
yang amat dahsyat, pikirnya. Karena merasa
bahwa kalau hanya mengandalkan ilmu silatnya
sendiri, akan sukar baginya untuk mengalahkan
gadis itu, maka begitu melihat para pembantu yang
juga menjadi muridnya berdatangan dari dalam
dan mengepung gadis itu, dia tidak melarang
mereka, bahkan Im Yang Seng-cu yang ingin
menangkap gadis yang baginya amat
mencurigakan itu lalu mulai mengeluarkan suara
bernyanyi! Itu merupakan tanda bagi para
muridnya yang kemudian sambil mengepung dan
bergerak mengeliling gadis yang masih saling
serang dengan Im Yang Seng-cu untuk mulai
bernyanyi pula. Suara nyanyian mereka aneh
karena suara mereka tidak senada, namun lagunya
sama. Lagu sama yang dinyanyikan oleh sembilan
orang yang nada suaranya berbeda-beda itu
mendatangkan kepeningan hebat di kepala Kui
Eng. Dia terkejut sekali, berusaha mengerahkan
sin-kang untuk melawan pengaruh nyanyian aneh
itu. Namun hanya menolong sedikit dan gerakan
tangannya mulai kacau. Kui Eng terkena tamparan
ujung lengan baju lawan, dan untung sin-kangnya
kuat sehingga totokan dengan lengan baju itu tidak
membuatnya roboh, hanya tergetar sedikit. Ia
terhuyung dan cepat ia meloncat ke belakang
sambil mencabut pedangnya! Kui Eng mengamuk,
memutar pedangnya dan para murid Im Yang
Seng-cu menjadi jerih dan mundur. Kesempatan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ini dipergunakan oleh Kui Eng untuk melarikan
diri dari puncak buktt itu
"Kejar! Tangkap.......!!" Im Yang Seng-cu berseru
dan bersama anak buahnya, dia melakukan
pengejaran. Sambil melakukan pengejaran,
sembilan orang itu tetap bernyanyi. Nyanyian ini
bukan sembarang nyanyian, melainkan nyanyian
yang mengandung kekuatan sihir dan suara inilah
yang menyiksa Kui Fng. Kalau ia tidak memiliki
sin-kang yang kuat, tentu ia sudah roboh karena
pusing oleh suara nyanyian itu, Suara itu seolah
terus mengejarnya, seolah mereka berada dekat
sekali di belakangnya. Padahal, mereka itu tidak
dapat terlalu dekat menyusulnya karena dalam hal
ilmu meringankan tubuh, para murid Im Yang
Seng-cu jauh ketinggalan dibandingkan Kui Eng.
Mungkin Im Yang Seng-cu sendiri akan dapat
menyusul Kui Eng. akan tetapi tosu ini maklum
akan kelihaian Kui Eng sehingga dia tidak berani
sembarangan menyusul seorang diri saja tanpa
bantuan para muridnya.
Kui Eng merasa bingung, la sudah tiba di kaki
bukit kecil itu akan tetapi mereka masih terus
mengejamya. Kembali ke rumah penginapan tiada
gunanya karena ia tahu bahwa tosu itu memiliki
pengaruh besar. Menurut pengakuannya, dia
adalah panasihat dan sahabat kaisar, tentu
kekuasaannya besar. Akan tetapi ke mana ia harus
melarikan diri? Keluar dari kota raja pada malam
hari begini tidak mungkin, tentu menimbulkan
kecurigaan dan ia akan dikeroyok oleh para
penjaga.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Entah bagaimana, kakinya membawanya lari
menuju ke istana bekas tempat tinggal ayahnya!
Ketika berada di belakang pagar tembok rumah itu,
ia melompat dan untung baginya bahwa ternyata
rumah itu hanya dijaga di bagian depan saja, tidak
ada penjaga meronda di sekelilingnya, la tiba di
taman bunga yang gelap dan sunyi, lalu ia cepat
menyelinap di antara pohon bunga, menghampiri
rumah besar itu. Teringatlah ia bahwa memang
mempunyai niat untuk mengunjungi bekas rumah
ayah ibunya ini dan menengok kamar ibunya di
mana ia dilahirkan! Kebetulan sekali la berlari dan
bersembunyi di situ. Akan tetapi ia harus berhatihati
karena siapa tahu, penghuni istana itu juga
akan memusuhinya.
Ketika ia herindap-indap menyelinap ke bagian
belakang istana, ia melihat penerangan menyorot
keluar dari sebuah kamar. Agaknya penghuni
kamar itu belum tidur dan lampu yang terang dari
dalam kamar itu menyorot keluar melalui celahcelah
jendela. Ia menghampiri jendela dan
mengintip. Jantungnya berdebar tegang, akan
tetapi juga lega ketika melihat bahwa yang duduk
membaca kitab di dalam kamar itu adalah seorang
pemuda tampan yang bukan lain adalah pangeran
yang pagi telah mrmbelanya ketika ia dikepung
penjaga di pintu gerbang! Ah, kiranya pangeran itu
yang kini penghuni bekas istana ayahnya!.
Tiba-tiba pangeran itu menoleh ke arah jendela
dan Kui Eng cepat menyelinap ke samping agar
jangan nampak bayangannya. Namun, sedikit
kelihatan di luar jendela itu sudah cukup bagi
pangeran Li Cu Kiat yang lihai untuk mengetahui
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bahwa di luar jendelanya terdapat orang yang
mengintainya.
"Siapa itu di luar jendela?" tegurnya halus.
"Kalau engkau musuh, tidak mungkin karena aku
tidak pernah mempunyai musuh. Kalau engkau
pencurl, engkau salah masuk karena rumah ini
biarpun besar, tidak mempunyai barang berharga
untuk dicuri. Kalau engkau sahabat, masuklah.
Plntu kamarku tidak dikunci dan aku siap
menerima kunjungan seorang sahabat setiap saat."
Mendengar urapan itu, Kui Eng berpikir, yakin
bahwa pangeran ini bukan orang jahat, bahkan
bukan orang sembarangan, gagah dan adil. Dan
dia seorang pangeran. Kalau ia membutuhkan
bantuan, kiranya hanya pangeran ini yang akan
membantunya karena tentu kekuasaannya tidak
kalah dibandingkan kekuasaan Im Yang Seng-cu.
Tidak ada salahnya untuk mencobanya, karena ia
tak tahu siapa lagi yang akan mampu menolong
dari ancaman tosu yang lihai itu Maka, dengan
jantung berdebar penuh ketegangan, ia lalu
menghampiri pintu kamar itu dan perlahan-lahan
mendorong daun pintunya terbuka, Ia melihat
pangeran itu masih duduk seperti tadi membaca
kitab dengan punggung membelakangi pintu. Kui
Eng memandang kagum. Betapa tenangnya!
Betapa tabahnya! dan penuh kepercayaan kepada
diri sendiri.
"Maafkan aku, pangeran."
Pangeran Li Cu Kiat tersentak kaget dan bangkit
berdiri sambil memutar tubuhnya. Matanya
terbelalak dan bersinar-sinar, wajahnya berseri
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ketika dia mengenal siapa yang membuka pintu
dan menegurnya. Sungguh sama sekali tidak
pernah disangkanya bahwa bayangan yang
nampak di luar jendela adalah gadis yang pagi tadi
menimbulkan kekagumannya di pintu gerbang
kota raja. Kalau yang muncul itu seorang raksasa
misalnya, dia tidak akan sekaget itu, namun
kejutan ini bukan tidak menyenangkan hatinya.
Dia dapat segera mengatasi kekagetannya dan
tersenyum ramah.
“Aih, kiranya engkau, nona? Selamat malam
dan silakan duduk. Angin apakah gerangan yang
meniupmu malam-malam begini datang
berkunjung melalui jendela?"
Wajah Kui Eng menjadi kemerahan. Tentu saja
ia merasa salah tingkah karena tersipu dan rikuh
sekali. Seorang gadis berkunjung ke kamar seorang
pemuda, malam-malam tanpa diundang seperti
maling. Bayangkan itu!
"Sekali lagi maaf. Pangeran. Saya ..... aku.....
terpaksa melakukan ini ..... aku .......dikejarkejar......."
Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat, Kui Eng
cepat membalikkan tubuh dan siap siaga
menghadapi serangan. Akan tetapi ia terbelalak
melihat bahwa yang berkelebat masuk itu seorang
nenek tua renta yang memegang sebatang tongkat
kepala naga. Nenek itu tentu sudah hampir
delapanpuluh tahun usianya, akan tetapi melihat
gerakannya ketika memasuki kamar itu, jelas
dapat diduga bahwa nenek ini memiliki kepandaian
tinggi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Cu Kiat, apa yang terjadi? Siapa nona ini. Tadi
aku melihat bayangan berkelebat di taman bunga,
kiranya nona ini yang masuk?" Nenek itu
mengerutkan alisnya dan kelihatan tidak senang
kali, memandang kepada pangeran itu dengan
pandang mata bengis.
"Nenek......aku..... aku......” Pangeran itu sendiri
nampak gugup melihat munculnya nenek galak itu
begitu tiba-tiba, padahal dia yakin bahwa
neneknya amat sayang kepadanya, bahkan
neneknya inilah yang memanjakannya dan
neneknya pula yang mengajarkan ilmu silat
kepadanya. Neneknya adalah seorang wanita yang
sakti. Dahulu ketika mudanya ia adalah seorang
pendekar wanita yang disegani orang. Bahkan
Kaisar Tang Tai Cung yang lihai itupun hormat dan
segan kepada bibinya ini.
Melihat sikap pangeran itu yang ketakutan, Kui
Eng segera berkata. "Nenek, semua ini bukan
kesalahan pangeran. Ia tidak tahu apa-apa, akulah
yang masuk ke sini tanpa ijin...... "
“Huh! Kalau begitu, tentu engkau bukan orang
baik-baik!" Berkata demikian, nenek itu
menggerakkan tongkatnya ke arah kepala Kui Eng.
Serangan itu sedemikian cepat dan kuatnya
sehingga mengejutkan hati Kui Eng, namun
dengan sigapnya ia dapat meloncat ke samping dan
menghindarkan diri dari hantaman tongkat
berkepala naga itu. Akan tetapi, biarpun
hantamannya luput, tongkat itu seperti hidup saja
telah membalik dan menotok ke arah dada Kui
Eng. Kembali gadis ini menghindar cepat sambil
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyabetkan tangannya menangkis. Tongkat itu
terpental, akan tetapi kembali melayang balik dan
kini menyambar dengan sapuan pada kedua kaki
Kui Eng. Gadis itu meloncat ke atas.
"Nenek, tahan dulu . .. !" Pangeran Li Cu Kiat
meloncat ke depan dan menghalangi neneknya
menyerang terus.
"Minggir kau. Cu Kiat! Ia mampu
menghindarkan diri dengan mudahnya dari
rangkaian jurusku Naga Menyusup Tiga Langit,
berarti ia seorang penjahat yang amat lihai dan
berbahaya!" kata nenek itu sambil melintangkan
tongkatnya di depan dada dan memasang kudakuda
yang kokoh kuat.
"Sabarlah, nek, harap nenek bersabar dan
dengarkan dulu keteranganku. Nona ini memang
lihai sekali, akan tetapi ia sama sekali bukan
penjahat!"
Nenek itu mengerutkan alisnya "Bukan
penjahat? Lalu kenapa malam-malam begini
masuk ke sini tanpa ijin seperti pencuri."
"Tadi ia telah minta maaf dan sedang
menceritakan mengapa ia datang malam-malam
begini. Karena terpaksa, katanya dikejar-kejar,
akan tetapi belum selesai bercerita, keburu nenek
muncul dan marah-marah. Sebaiknya kalau kita
dengark penjelasannya, nek. Duduklah, nek. dan
kau juga nona.” Pangeran itu lalu menutupkan
daun pintu kamarnya yang besar dan luas.
"Baik. aku dengarkan. Akan tetapi
penjelasanmu itu haruslah benar, kalau bohong,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
awas kau! Keluarga kami memang tidak suka
bermusuhan dengan siapapun, akan itu bukan
berarti bahwa kami takut menghadapi orang jahat!"
Nenek itu mengomel. Kui Eng tidak marah, bahkan
ia memandang kagum kepada nenek itu. Sudah
begitu tua namun masih gagah, dan sikapnya yang
keras itu tiada bedanya dengan sikap ayahnya.
Keras kepala, berani namun juga jujur dan tidak
suka mengakui kelemahan sendiri!
"Nah, sekarang ceritakan, nona. kenapa engkau
malam-malam begini datang ke sini?" tanya Pa ran
Li Cu Kiat dengan sikap yang lembut.
"Seperti kukatakan tadi. Pangeran, aku terpaksa
melakukan ini. Harap maafkan kelancanganku ini.
Kalau tidak terpaksa sekali, aku tidak berani ... ah,
sudahlah, aku bukan seorang cengeng yang suka
merengek-rengek meminta ampun. Aku sedang
dikejar-kejar oleh Im Yang Sengcu dan beberapa
orang anak buahnya."
Nenek dan cucunya itu terkejut, saling pandang,
kemudian mereka memandang wajah gadis itu
dengan penuh keheranan.
"Si dukun lepus itu?" nenek itu berseru dan
sebutan ini saja sudah menunjukkan bahwa nenek
ini tidak suka kepada Im Yang Sengcu. "Mau
tukang sihir itu mengejar-ngejarmu?"
“Dia hendak menangkapku."
"Akan tetapi kenapa dukun lepus itu hendak
menangkapmu?" nenek itu mengejar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Nek, sebaiknya kita membiarkan nona ini
bercerita dari awal agar semuanya terjawab," kata
pangeran itu dan neneknya mengangguk tak sabar.
“Pangeran, semua ini masih ada hubungann
dengan peristiwa pagi tadi di pintu gerbang”. Kui
Eng memulai dan nenek itu sudah menyambarnya
lagi.
"Peristiwa apa pagi tadi di pintu gerbang?”
Kui Eng tanu bahwa watak nenek yang keras ini
tidak daoat dibantah lagi dan ia harus
menceritakan semuanya dengan jelas. "Pagi tadi,
aku menunggang kuda memasuki pintu gerbang
kota raja,” Kui Eng mulai bercerita. "Tiba-tiba
komandan regu yang seperti babi dan belasan anak
buahnya menghadangku. Aku diajak masuk gardu
penjaga dan di situ, si babi hendak merampas
barang-barang perhiasanku dan merampas pula
kudaku. Bukan itu saja, dia hendak menggerayangi
tubuhku dengan alasan hendak menggeledah
karena mencurigai aku......"
"Jahanam keparat! Komandan regu macam itu
harus dihajar sampat rontok semua giginya!" teriak
nenek itu.
"Sudah kulakukan itu nek," kata Kui Eng.
"Apa .....?" Nenek itu terbelalak.
Kui Eng tersenyum. "Sudah kulakukan itu,
sudah kuhajar dia dan kurontokkan semua
giginya. juga kupatahkan kedua tulang lengannya
dan semua anak buannya kuhajar dengan cambuk
kuda.......”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bagus! Heh-heh-heh-heh, bagus sekali!" Nenek
bersorak gembira.
"Dalam keributan itu. muncul pangeran.....ini
dan dia menangkap si babi dan semua anak
buahnya dan menyuruh hukum mereka."
"Bagus! Ini baru cucu nenek namanya!" nenek
itu memuji dan mengetuk-ngetukkan tongkatnya
atas lantai.
"Harap kaulanjutkan, nona." kata Pangeran Li
Cu Kiat
Kui Eng lalu menceritakan tentang peristiwa
tadi, munculnya seorang bernama Phoa Gu yang
hendak membunuhnya dengan golok dengan
mencokel jendela kamarnya.
"Aku berhasil menangkis serangannya dan dia
melarikan diri. Kubayangi dia karena aku ingin
tahu siapa yang menyuruhnya. Dia lari ke bukit itu
dan tiba di depan tempat tinggal Im Yang Seng-cu.
Ketika aku hendak membunuh Phoa Gu, Im Yang
Sengcu mencegah dan ternyata Phoa Gu itu adalah
muridnya ....."
"Wah. dukun lepus tukang sihir itu! Sejak
semula aku memang sudah tldak suka dan tidak
percaya padanya. Akan tetapi, Sribaginda agaknya
telah kena disihir sehingga mempercayai dukun
lepus itu. Membuatkan obat panjang umur sampai
seribu tahun? Phuah, omong kosong. Jadi, dia
yang menyuruh muridnya untuk membunuhmu?"
“Agaknya bukan dia. Dari pembicaraan mereka,
aku mengetahui bahwa Phoa Gu itu adalah kakak
si komandan regu yang sengaja hendak membalas
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dendam kepadaku, bukan disuruh oleh gurunya.
Biarpun demikian, Im Yang Sengcu tetap
melindungi muridnya itu, bahkan kemudian
berkeras hendak menangkap aku dengan alasan
bahwa dia mencurigai aku sebagai mata-mata
musuh atau pemberontak. Kami bertanding.
Setelah dia tidak mampu mengalahkan aku, lalu
dia mengerahkan anak buahnya dan menggunakan
nyanyian sihir. Aku tidak tahan mendengar suara
itu dan terpaksa melarikan diri dan mereka
mengejar-ngejarku. Itulah sebabnya aku nekat
masuk ke sini dan menyembunyikan diri."
"Im Yang Sengcu tidak mampu
mengalahkanmu, nona? Bukan main, kalau begitu
engkau adalah seorang gadis yang lihai sekali !"
seru Pangeran Li Cu Kiat kagum.
"Hem. engkau memang seorang gadis pemberani.
Siapa namamu?" Nenek Itu bertanya. Sebelum Kui
Eng menjawab terdengar langkah kaki tergesa
menghampiri ruangan itu. Pangeran Li Cu Kiat
memberi isyarat kepada Kui Eng untuk berdiam
diri dan diapun menghampiri pintu yang tertutup.
"Siapa di luar?" tanyanya.
"Pangeran, maafkan kalau hamba mengganggu”.
kata suara seorang penjaga yang biasa bertugas
jaga di luar gedung bersama teman-temannya.
“Totiang Im Yang Seng-cu datang dan ingin
menghadap paduka. Dia dan rombongannya
hamba persilakan menunggu di ruangan tamu."
Pangeran itu memandang neneknya, lalu
berkata. "Baik, katakan aku akan menerimanya
dan suruh dia menunggu sebentar."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Baik, pangeran," kata penjaga itu yang segera
pergi keluar kembali.
Terdengar langkah kaki lembut menghampiri
ruangan itu dan Pangeran Li Cu Kiat yang sudah
hafal akan langkah itu, bergumam, "Ibu datang.”
Dia lalu membukakan pintu sebelum terketuk dan
masuklah seorang wanita cantik yang berusia
mendekati lima puluh tahun dengan sikap anggun.
Wanita cantik itu tidak heran melihat ibunya
berada dikamar puteranya, akan tetapi ia
terbelalak memandang kepada gadis cantik yang
berada di kamar pula.
"Cu Kiat. apa artinya Ini? Siapa gadis ini?”
Nenek itu berkata kepada cucunya, "Cu Kiat
pergilah menemui dukun lepus itu. Aku yang akan
menerangkan kepada ibumu, dan aku nanti
menyusul”
Cu Kiat mengangguk, kemudian diapun keluar
dari dalam kamar itu, langsung menuju ke
ruangan tamu. Nenek itu dengan singkat bercerita
kepada puterinya tentang Kui Eng dan seperti juga
puteranya dan ibunya, wanita itu segera
memperlihat sikap melindungi dan membela Kui
Eng.
"Tosu itu memang kurang ajar. Karena
mendapat angin dari adinda Kaisar, dia menjadi
besar kepala. Aku memang selalu curiga bahwa dia
tentu akan berusaha untuk memperbesar
kekuasaannya di istana. Sebaiknya kalau ibu
menemani Cu Kiat, biar aku yang membawa nona
ini bersembunyi di kamarku."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Nenek itu mengangguk, kemudian iapun keluar
dari kamar cucunya. Ketukan tongkatnya
berdetak-detak ketika ia menuju ke ruangan tamu
yang berada di bagian depan gedung itu.
Melihat munculnya Pangeran Li Cu Kiat, Im
Yang Sengcu lalu bangkit dari tempat duduknya
dan memberi hormat dengan merangkapkan kedua
tangan depan dada. tersenyum ramah dan berkata
dengan suara sopan. "Harap paduka suka
memaafkan pinto, pangeran, kalau pinto
mengganggu waktu paduka malam-malam begini
karena pinto mempunyai keperluan penting sekali
untuk dibicarakan dengan paduka."
Pangeran Li Cu Kiat membalas penghormatan
itu. memandang ke arah belasan orang anak buah
tosu itu yang juga membungkuk dengan hormat,
lalu dia berkata dengan suara yang mengandung
teguran "Totiang, untuk menghadap dan bicara
dengan aku perlukah totiang membawa anak buah
sebanyak ini?" Pangeran Itu memandang kepada
belasan orang pengikut Im Yang Sengcu dan
melanjutkan, "Atau barangkali belasan orang
inipun mempunyai keperluan penting untuk
dibicarakan dengan aku?"
Melibat sikap dan mendengar suara yang nada
penuh teguran itu, Im Yang Sengcu lalu memberi
isyarat kepada anak buahnya dan berkata, "Kalian
menunggu di luar saja!” Belasan orang itu memberi
hormat kepada Pangeran Li Cu Kiat lalu keluar dari
ruangan itu.
"Nah, sekarang ceritakan, keperluan penting
apakah itu yang hendak totiang bicarakan dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
aku? Setahuku, selama ini kami sekeluarga tidak
mempunyai urusan dengan totiang."
"Slancai, harap paduka pangeran suka
memaafkan kalau pinto mengganggu.
Sesungguhnya, demi keamanan dan keselamatan
paduka sekeluargalah maka pinto memberanikan
diri datang menghadap malam-malam begini.
Ketahuilah bahwa pinto dan para murid sedang
mengejar seorang wanita jahat, seorang yang kami
curigai sebagal mata-mata musuh atau
pemberontak."
Pangeran Li Cu Kiat mengerutkan alisnya.
"Totiang, apa hubungannya totiang mengejar
penjahat dengan keluarga kami?"
"Kami mengejar penjahat itu dari bukit kami dan
ia melarikan diri lalu masuk ke dalam pekarangan
istana paduka ini, dan lenyap disini”
"Hemm, totiang!" Li Cu Kiat berkata penasaran.
"Apakah totiang hendak mengatakan bahwa
penjahat itu tinggal di istana kami?"
“Ah, mana pinto berani menuduh seperti itu?
Pinto hanya mengatakan bahwa ia lari dan
menghilang di sini. Karena khawatir ia
mengganggu keselamatan keluarga paduka, maka
pinto memberanikan diri menghadap untuk
memberi tahu kepada paduka."
Pada saat itu terdengar bunyi ketukan tongkat
nenek pangeran itu dan orangnya muncul dari
pintu dalam. Melihat nenek ini, Im Yang Seng-cu
cepat bangkit berdiri dan memberi hormat. Baru
dua kali dia pernah bertemu dengan nenek itu dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dia tahu bahwa Kaisar sendiri menghormati
bibinya ini, maka diapun selalu menghormati
nenek yang agaknya meremehkan dirinya itu.
“Song-twanio (Nyonya Besar Song)? Selamat
malam. Maafkanlah pinto mengganggu ketenangan
istana twanio malam Ini."
Nenek Itu mendekat, memandang penuh
perhatian lalu berkata. "Aih. kiranya dukun lepus
ahli sihir Im Yang Sengcu yang datang. Apakah
engkau hendak meramalkan nasib cucuku? Cu
Kiat, serahkan saja nasib keluarga kita kepada
Tuhan dan jangan mempercayai omongan segala
macam tukang ramal dan tukang sulap!"
Mendengar ucapan yang nadanya mengejek dan
merendahkan dirinya itu, wajah Im Yang Seng-cu
menjadi merah dan hatinya mendongkol bukan
main. Kalau tidak ingat bahwa nenek ini adalah
bibi Kaisar dan selain itu juga lihai, tentu sudah
didampratnya nenek itu.
"Twanio, kedatangan pinto ke sini dengan
maksud baik, untuk menjaoa keamanan dan
keselamatan keluarga twanio. Hendaknya
diketahui bahwa pinto mengejar seorang penjahat
dan ia lari masuk dalam istana twanio ini."
"Apa katamu?, Penjahat masuk ke rumah kami?
Cu Kiat, kebohongan apa ini yang dikatakannya?”
"Nek, totiang ini mengatakan bahwa ia mengejar
seorang gadis yang katanya merupakan seorang
mata-mata musuh atau pemberontak."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Im Yang Seng-cu, jaga mulutmu baik-baik!”
Nenek itu marah dan mengamangkan tongkatnya.
"Kau mau bilang bahwa kami memberontak?”
"Ah, tidak sama sekali, twanio"' Im Yang Sengcu
berseru kaqet. "Pinto hanya mengatakan bahwa
pinto telah mengejar seorang gadis dan ia telah
melarikan diri. Ketika pinto mengejarnya untuk
menangkap dan menyeretnya ke pengadilan, ia
melarikan diri dan meloncati pagar tembok istana
ini. Karena khawatir ia melakukan kejahatan dan
mengganggu keluarga twanio, maka pinto
memberanikan diri menghadap untuk memberi
tahu."
"Engkau mengejar-ngejar seorang gadis dan
tidak mampu menangkapnya? Aneh! Dan
bagaimana pula engkau mengatakan bahwa gadis
itu jahat? Apa saja yang telah ia lakukan?" tanya
pula Nyonya Song, nenek itu. Nyonya Song ini
dahulunya seorang pendekar wanita. Puterinya
menikah dengan Pangeran Li Seng Tek kakak
Pangeran Li Si Bin yang kini menjadi kaisar dan
mempunyai seorang anak laki-laki, yaitu Pangeran
Li Cu Kiat.
"Gadis itu mencurigakan sekali, dan kejam,
twanio,” kata Im Yang Seng-cu. "la telah
mengamuk dan melukai banyak perajurit, bahkan
hampir saja ia membunuh murid pinto ......."
"Ah, kiranya engkau mengejar-ngejar gadis yang
dikeroyok oleh para penjaga pintu gerbang tadi
pagi, totiang?" Li Cu Kiat berseru. "Kalau begitu,
engkau keliru besar. Akulah yang menyebabkan
para penjaga itu dihukum, karena mereka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bertindak sebagai perampok, bukan sebagai
perajurit kerajaan."
"Hemm, kalau muridmu membela regu yang
bertindak seperti perampok, berarti muridmu itu
juga jahat, dan kalau sekarang engkau membela
muridmu itu, sungguh membuat kami curiga
bahwa engkau bukanlah orang baik-baik, Im Yang
Seng-cu!" kata pula si nenek.
Mendengar ini, Im Yang Sengcu bangkit berdiri
dan matanya mencorong marah. Berani sekail
nenek dan cucunya ini menghinanya! "Pangeran
dan Twanio, tidak ada gunanya lagi kita berdebat,
kalau benar ji-wi (kalian) tidak menyembunyikan
gadis pemberontak itu, buktikan dan biarkan
pinto dan para murid pinto melakukan pencarian
dan penggeledahan di dalam rumah ini!"
"Dukkk!!" Tongkat nenek itu dihentakkan di atas
lantai sehingga lantai itu berlubang. "Keparat kau
dukun lepus! Coba, hendak kami lihat apakah
engkau berani melakukan penggeledahan di rumah
kami! Kupukui kepalamu sampai lumat!"
Pangeran Li Cu Kiat juga berdiri menghadapl
tosu itu. "Im Yang Seng-cu siapapun termasuk
engkau tidak boleh bertindak sewenang-wenang
terhadap kami! Hanya Sribaginda Kaisar saja yang
boleh memerintahkan penggeledahan."
"Ananda Kaisar sekalipun akan berpikir dua kali
untuk menghinaku!" nenek Song berteriak "Dan
engkau, dukun lepus, tukang sulap dan sihir ini
berlagak di depanku? Hayo pergi kau, atau
kukemplang kepalamu sampai hancur
berentakan!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan muka sebentar merah sebentar pucat,
Im Yang Sengcu menahan kemarahan hatinya.
"Baik, akan pinto laporkan kepada Sribaginda
Kaisar bahwa rumah ini melindungi seorang
pemberontak!” katanya sebelum pergi.
“Laporkan, dan kami akan melaporkan bahwa
kau melindungi regu yang menyeleweng dan
bertindak sebagai perampok! Ingin kami lihat,
engkau atau kami yang akan didengarkan oleh
Pamanda Kaisar" kata Pangeran Li Cu kiat marah.
Im Yang Sengcu berdiri dengan muka merah dan
mata mencorong. Hampir saja dia tidak dapat nhan
kemarahannya. Ingin rasanya menerjang dan
membunuh orang-orang yang berani memandang
rendah dan menghinanya itu. Akan tetapi dia
maklum bahwa kalau dia melakukan hal itu. maka
bencana besar akan menimpanya. Belum tentu dia
akan mampu mengalahkan nenek dan cucunya
itu. Andaikata dapat mengalahkan dan membunuh
merekapun dia akan memikul tanggung-jawab
besar terhadap Kaisar. Dengan marah diapun
membalikkan tubuhnya pergi dari situ tanpa pamit
lagi. Di luar.dia memberi isyarat kepada para
muridnya untuk pergi.
Di sebelah dalam rumah gedung itu. Kini Kui
Eng duduk berhadapan dengan mereka bertiga,
Pangeran Li Cu Kiat, ibunya, dan neneknya.
Setelah mendengar bahwa Im Yang Sengcu telah
dapat diusir pergi, gadis itu cepat mengangkat
kedua tangan di depan dada. "Terima kasih banyak
atas pertolongan sam-wi (kalian bertiga) Tanpa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pertolongan itu, mungkin aku sudah tertawan
mereka."
"Hem, gadis muda. Engkau sungguh pemberani,
mengingatkan aku akan masa mudaku dahulu.
Engkau berani memasuki kota raja, melawan regu
penjaga, bahkan berani menentang Im Yang
Sengcu, dan berani pula memasuki rumah kami
untuk bersembunyi. Siapakah engkau sebenarnya?
Dan mengapa engkau datang ke kota raja?" Nenek
Song bettanya dan bersama puteri dan cucunya, ia
memandang tajam penuh selidik.
Kui Eng menghela napas panjang. Tidak pantas
kalau ia merahasiakan dirinya terhadap keluarga
yang telah menyelamatkannya ini. Mungkin
akibatnya akan tidak menguntungkan baginya
kalau ia mengaku, akan tetapi ia tidak akan
bersikap pengecut, yang hanya karena ingin
mengamankan diri sendiri harus bersikap pengecut
dan tidak jujur terhadap para penolongnya.
“Namaku Cian Kui Eng....."
“Marga Cian ......??"' Nenek Song berseru kaget
dan teringat akan ukiran huruf CIAN di dinding
bagian depan istana itu.
Nah, mulai sudah, pikir Kui Eng. Sudah
kepalang, ia harus melangkah terus. "Benar, aku
bermarga Cian, aku lahir di dalam gedung ini dan
ayahku adalah bekas Pangeran Cian Bu Ong."
"Ahhh.......!!" Seruan ini keluar dari tiga mulut
itu dan mereka bertiga memandang wajah Kui Eng
dengan mata terbelalak kaget.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Jadi kalau begitu ..... engkau ini benar-benar
pemberontak ..... atau anak pemberontak? Cian Bu
Ong adalah seorang pemberontak!" kata Nyonya
Janda Li Seng Tek, ibu Cu Kiat.
Kui Eng memandang nyonya itu dengan sikap
tenang namun sinar matanya mengandung
penasaran, "Maaf, bibi. Andaikata Kerajaan Tang
ini dijatuhkan orang luar, kemudian Pangeran Li
Cu Kiat putera bibi ini. melakukan perlawanan
untuk merebut dan mendirikan lagi Kerajaan Tang
yang jatuh, tentu kerajaan baru akan
menudingnya sebagai seorang pemberontak. Akan
tetapi, demi keadilan, benarkah dia seorang
pemberontak? Demikian pula dengan ayahku.
Ketika Kerajaan Sui jatuh, ayah bangkit dan
berusaha untuk mendirikan kembali kerajaan itu.
Jahatkah perbuatan ayah itu? Bagi Kerajaan Tang,
mungkin dia dianggap perusuh dan pemberontak,
akan tetapi bagi Kerajaan Sui, ayah dianggap
sebagai seorang patriot pejuang sejati!"
Pangeran Li Cu Kiat memandang kagum kepada
gadis itu. Gadis yang hebat, pikirnya. Dan
ucapannya itu mengandung kebenaran mutlak. Dia
sendiri muak dengan perebutan kekuasaan, di
istana.
"Akan tetapi, bagaimanapun juga, berarti
ayahmu itu memusuhi kami keluarga Tang!" seru
ibunya. "Dan kau...... kau puterinya, tentu engkau
memusuhi pula kami ....."
Kui Eng menggeleng kepalanya. "Sama sekali
tidak, bibi. Ayah telah menyadari bahwa Kerajaan
Sui telah jatuh dan musna, bahwa memang sudah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ditakdirkan bahwa tanah air dan bangsa dipimpin
oleh kerajaan baru, yaitu Kerajaan Tang. Ayah
telah menerima kenyataan ini dan buktinya,
sampai kini ayah tidak pernah membuat gerakan
lagi. Aku sendiri masih seorang anak kecil berusia
dua tahun ketika pergantian kekuasaan terjadi,
dan aku sama sekali tidak mencampuri urusan
itu.”
“Aih, jadi engkau ini puteri Cian Bu Ong? Aku
masih ingat. Ketika aku masih berkecimpung di
dunia persilatan, Cian Bu Ong merupakan seorang
pendekar muda yang gagah perkasa, di samping
kedudukannya sebagai seorang pangeran dan
panglima. Jadi dia sekarang telah dapat menerima
kenyataan yang ditakdirkan Tuhan? Bagus sekali!
Di mana dia sekarang?" tanya nenek Song.
“Ayah bersama ibu kini pergi merantau ke
Himalaya," jawab .Kui Eng.
"Nona, kami gembira sekali mendengar bahwa
engkau dan ayahmu tidak memusuhi keluarga
Kaisar Tang. Akan tetapi, kalau boleh kami
mengetahui, apakah engkau mempunyai
kepentingan khusus berkunjung ke kota raja ini?
Barangkali kami dapat membantumu?"
Tentu saja.Kui Eng tidak mau mengaku bahwa
ia hendak membantu Thian Ki untuk mencari dan
merampas Liong-cu-kiam dari gudang pusaka
kerajaan, "Aku sedang mencari suhengku."
"Ah, suhengmu juga berada di kota raja?
Siapakah namanya7 Siapa tahu aku akan dapat
membantumu mencarinya," kata Cu Kiat. Melihat
sikap dan perhatian puteranya terhadap gadis itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
nyonya Li dan nenek Song saling pandang dan
tersenyum. Sudah lama mereka berdua membujuk
Li Cu Kiat untuk segera menikah, akan tetapi
pangeran yang usianya sudah duapuluh lima
tahun ini sellu menolak dengan mengatakan bahwa
dia belum tertarik kepada wanita. Dan sekarang,
melihat sikapnya. jelas bagi kedua orang wanita itu
bahwa Pangeran Li Cu Kiat agaknya jatuh hati,
atau setidaknya amat kagum dan tertarik kepada
Cian Kui Eng.
"Suheng bernama Coa Thian Ki. Aku sendiri
tidak tahu apakah dia sekarang berada di kota raja
ataukah tidak, akan tetapi ketika pergi, dia
merencanakan untuk berkunjung ke kota raja.
Karena ayah dan ibu juga pergi merantau ke barat,
aku merasa kesepian di rumah sendiri lalu pergi
menyusul dan mencari suheng di sini. Tidak
kusangka bahwa di pintu gerbang aku diganggu
oleh para penjaga sehingga urusannya menjadi
berkepanjangan sehingga merepotkan pula kepada
keluarga di sini."
"Tidak sama sekali, nona. Kami adalah keluarga
yang selalu menjunjung tinggi kebenaran dan
keadilan. Kami sama sekali tidak merasa repot
dengan adanya peristiwa yang menyangkut
dirimu," kata Cu Kiat.
"Benar sekali, Kui Eng. Kami membelamu karena
engkau benar dan untuk sementara ini, sebaiknya
kalau engkau bersembunyi dulu di sini. Aku yakin
Im Yang Seng-cu tidak akan tinggal diam dan terus
mencarimu,” kata Li Hu-Jin (Nyonya Li)
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Dan selama tinggal di sini, jangan takut kalau
dukun lepus itu berani datang mengganggumu,
akan kukemplang kepalanya dengan tongkatku “.
kata pula nenek Song penuh semangat.
Kui Eng berterima kasih sekali. Tak disangkanya
bahwa penghuni baru bekas rumah keluarga
ayahnya merupakan keluarga bangsawan tinggi
yang begini baik terhadap dirinya.
"Terima kasih atas kebaikan bibi sekeluarga,"
katanya kepada Nyonya Li. "Akan tetapi, aku
sudah menyewa kamar di rumah penginapan ujung
kota, dan pakaianku juga masih tertinggal di sana."
"Jangan khawatir, nona. Aku akan menyuruh
seseorang mengambilnya. Kalau engkau
mengambilnya sendiri, aku khawatir Im Yang
Sengcu dan anak buahnya sudah menantimu di
sana."
"Benar, Kui Eng. Untuk sementara ini, engkau
sebaiknya bersembunyi dulu di sini dan jangan
keluar. Biar Cu Kiat yang mencarikan suheng mu,"
kata Nyonya Li.
“Aih, kenapa sih mesti takut kepada dukun
lepus itu? Kalau engkau ingin mengambil sendiri
pakaianmu di rumah penginapan, mari kutemani,
Kui Eng, dan hendak kulihat dukun lepus itu akan
berani berbuat apa!”' Nenek Song berkata dengan
penasaran.
“Ah, aku tidak berani merepotkan dan membuat
lelah nenek." kata Kui Eng.
"Jangan, nek. Sebaiknya kita tinggal diam dan
melihat perkembangannya, tidak perlu membuat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ribut dengan Im Yang Sengcu. Aku akan menyuruh
orang sekarang juga mengambil pakaian nona
Cian Kui Eng."
Akan tetapi, orang suruhan Pangeran Li Cu Kiat
itu kembali dan mengabarkan bahwa buntalan
pakaian Kui Eng telah dirampas oleh Im Yang Seng
dan pemilik rumah penginapan tentu saja tidak
berani menentang kehendak tosu sahahat kaisar
itu..
Nyonya Li segera menyuruh buatkan pakaian
untuk Kui Eng. Ketika gadis ini hendak mengganti
dengan uang, ibu pangeran itu menolak dengan
ramah. Tentu saja Kui Eng merasa semakin
terharu dan hutang budi kepada keluarga
bangsawan yang amat baik dan ramah kepadanya
itu. Bahkan nenek Song yang keras hati itupun
bersikap amat dan baik kepadanya. Terutama
sekali Pangeran Cu Kiat. Sikapnya demikian penuh
perhatian dan ramah, juga dari pandang mata
pangeran itu KuiEng dengan hati berdebar dapat
melihat sikap yang amat mesra. Mudah saja
menduga bahwa pangeran itu telah jatuh cinta
kepadanya!
oodowoo
Biarpun usianya baru empat puluh tahun lebih,
namun Kaisar Tang Tai Cung sudah nampak lebih
tua dari pada usianya yang sebenarnya. Dia
kelihatan seperti orang yang berusia lima puluh
tahun saja. Hal ini tidaklah mengherankan kalau
diingat betapa sejak muda sekali, dia adalah
pejuang yang gigih, yang menghadapi banyak
sekali masalah, bahkan terancam banyak bahaya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
maut. Kemudian, setelah berhasil menumbangkan
Kerajaan Sui dan mengangkat ayahnya, mendiang
Kaisar Tang Kao Cu menjadi Kaisar pertama dari
Kerajaan Tang, kembali sebagai Pangeran Li Si Bin
dia menghadapi banyak cobaan. Perebutan
kekuasaan antara saudara-saudaranya,
pemberontakan dan pengkhianatan, silih berganti
mengganggu kerajaan baru itu dan semuanya
mengandalkan dia seorang untuk
membersihkannya. Setelah dia menjadi Kaisar
Tang Tai Cung(627 - 649), diapun masih selalu
dirundung malang. Kalau dulu yang berebutan
kekuasaan adalah para saudaranya, kini para
puteranya mulai melanjutkan perebutan
kekuasaan di antara keluarga kaisar itu. Terpaksa
dia bahkan menghukum putera-puteranya sendiri
yang memperebutkan kedudukan pangeran
mahkota! Semua cobaan inilah yang membuat
Kaisar Tang Tai Cung nampak tua. Pada hal, dia
adalah seorang laki-laki perkasa yang memiliki,
ilmu silat dan ilmu perang hebat dan jarang
bandingannya.
Malam itu. Kaisar Tang Tai Cung menerima
sahabat dan panasihatnya. yaitu Im Yang Seng-cu
dan mereka berdua minum arak di dalam taman,di
sebuan pondok indah di taman itu. Mereka
berhadapan menghadapi meja yang penuh
makanan dan anggur, dan di depan mereka
terbentang kolam ikan yang besar di mana tumbuh
banyak bunga teratai merah dan ikan beraneka
warna berenang di permukaan air. Indah sekali!
Lampu-lampu dengan kap lampu warna-warni
menambah keindahan kolam itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bagaimana, totiang, sudah berhasilkah engkau
dengan pembuatan obat panjang usia yang
kupesan itu?" Sribaginda Kaisar Tang Tai Cung
bertanya setelah mereka minum beberapa cawan
anggur. "Dan bagaimana pula dengan janjimu
untuk mengajarkan aku cara membuat emas?"
Tosu itu mengangguk-angguk dan mengelus
jenggotnya yang tipis dan putih semua sambil
tersenyum. "Jangan khawatir, Sribaginda Hamba
dang membuat obat panjang usia itu sesuai
dengan ilmu rahasia yang dahulu diajarkan oleh
Tujuh Manusia Dewa Hutan Bambu. Akan tetapi,
pembuatan emas itu membutuhkan kesabaran dan
kematangan Sribaginda. Kalau saatnya sudah tiba
dan obat itu sudah sempurna, tentu akan hamba
serahkan kepada paduka, dan sekali paduka
menggunakan obat itu maka seperti yang ditulis
oleh Manusia Dewa Hutan Bambu, maka rambut
putih akan menjadi hitam, gigi ompong akan
tumbuh kembali, kekuatan tubuh akan kembali
besar. Yang menggunakan obat itu tidak akan
pernah tua, yang sudah tua akan menjadi muda
kembali dan dia akan hidup abadi dan tidak
pernah mati."
Sepasang mata Kaisar Tang Tai Sung bersinarsinar
penuh harapan. "Totiang, janji itu terlalu
muluk! Benar-benarkah ada obat yang khasiatnya
sehebat itu?"
Im Yang Sengcu mengerutkan alisnya.
"Sribaginda. syarat terpenting bagi seorang
manusia untuk membuat obat itu manjur adalah
kepercayaan! Obat seperti itulah yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dipergunakan para dewa dan malaikat sehingga
mereka tidak pernah tua, tidak pernah mati.
Bersabarlah dan tentu hamba akan menghaturkan
kepada paduka setelah obat itu selesai hamba
sempurnakan. Hamba harus berpuasa dan
bersamadhi selama beberapa pekan lagi supaya
obat itu dapat sempurna."
"Ah, terima kasih, totiang. Budi totiang besar
sekali dan kami akan memberi anugerah apa saja
yang totiang kehendaki. Dan bagaimana dengan
janji totiang untuk mengajarkan cara pembuatan
emas itu?
o)0o-dw-o0(o
Jilid 32
"Hamba sedang mengumpulkan bahan
bahannya, Sri baginda. Sekarang sudah hampir
lengkap. Kalau sudah lengkap, selain
memberitahukan semua bahan dan cara
pembuatannya, juga hamba akan
mendemonstrasikan cara pembuatannya kepada
paduka agar terbukti bahwa hamba bukan hanya
bohong semata. Sebagai murid keturunan Tujuh
Manusia Dewa Hutan Bambu, yang menjadi
pendiri dan guru besar golongan kami sejak
empatratus tahun lebih yang lalu, pantang bagi
hamba untuk berbohong. Paduka tentu percaya
kepada hamba, bukan?"
Kaisar Tang Tai Cung tertawa. “Tentu saja,
totiang. Kalau tidak percaya bagaimana mungkin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kita dapat berbincang-bincang di sini seperti dua
orang sahabat?"
"Terima kasih. Yang Mulia," kata Im Yang
Sengcu "Maafkan pertanyaan hamba ini. Hamba
sudah melihat melalui perbintangan bahwa ada
bayangan huruf Bu mengancam kerajaan paduka,
akan tetapi mengapa paduka belum juga bertindak
kalau paduka percaya kepada hamba."
Wajah kaisar itu berubah agak kemerahan dan
dia menghela napas panjang "Memang
pelaksanaannya sengaja kami tunda, totiang. Di
antara para pejabat kami, banyak yang bermarga
Bu, rasanya berat hati ini kalau harus menghukum
mereka tanpa dosa. Kami menghendaki keyakinan
lebih dahulu. Dan terutama sekali, Bu Mei Ling
menjadi selir yang setia, bagaimana kami dapat
menghukum seorang selir yang baru saja berjasa
menyelamatkan nyawa kami?"
Im Yang Sengcu menghela napas, "Paduka masih
kurang yakin dengan keterangan hamba? Kalau
begitu, sebaiknyi kalau paduka menyaksikannya
sendiri. Hamba mohon disediakan meja
sembahyang dan semua perlengkapannya."
Sri baginda Kaisar nampak gembira sekali dan
dia segera bertepuk tangan memberi tanda
memanggil pengawal. Atas perintah kaisar,
sebentar saja di pondok itu telah berdiri meja
sembahyang dengan semua perlengkapannya.
Kaisar Tang Tai Cung sudah beberapa kali
menyaksikan dan membuktikan sendiri ilmu yang
dikuasai tosu sahabatnya itu dan dia memang
sudah mempercayanya. Hanya karena dia merasa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berat melaksanakan hukuman tanpa dosa
terhadap seluruh marga Bu maka dia merasa tidak
yakin.
Im Yang Sengcu segera melakukan upacara
sembahyang yang aneh. Dia mengeluarkan
manteram yang terdengar aneh dan tidak
dimengerti oleh kaisar, akan tetapi doa
mantramnya itu mendatangkan getaran yang amat
kuat sehingga kaisar sendiri harus cepat
mengerahkan sin-kang untuk melindungi dirinya.
Seikat hio yang dipegang kedua angan Im Yang
Sengcu, tiba-tiba mengeluarkan asap tebal sekali.
"Yang Mulia, harap perhatikan dan lihat baik-baik
huruf apa yang akan nampak sebagai bukti bahwa
ada marga tertentu yang mengancam kerajaan
paduka!" terdengar suara tosu itu dan suaranya
terdengar aneh, parau dan lapat-lapat seolah tosu
itu berada di tempat yang jauh sekali. Kaisar
memandang ke arah asap bergulung-gulung itu
penuh perhatian dan perlahan-lahan, asap itu
benar-benar membentuk sebuah huruf yang besar
dan jelas, huruf BU! Dan huruf dari asap itu
perlahan-lahan bergerak ke arah kaisar, seolah
seekor binatang atau mahluk buas yang hendak
menyerangnya. Wajah Kaisar Tang Tai Cung
berubah agak pucat. Dia seorang pendekar yang
berilmu tinggi. Jarang ada orang mampu
menandinginya, akan tetapi kini dihampiri huruf
BU dari asap hitam itu sungguh merupakan hal
yang amat menyeramkan. Kaisar Tang Tai Cung
lalu mengerahkan tenaga sin-kang dan bangkit lalu
mendorong ke arah gumpalan asap itu sambil
berteriak melengking. Dari kedua telapak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tangannya menyambar hawa yang dahsyat ke arah
huruf BU dari asap itu dan asap itupun
membuyar, bentuk hurufnya terpecah-pecah dan
tidak berbentuk lagi.
"Siancai......!" Im Yang Seng-cu berseru.
"Demikianlah seharusnya yang paduka lakukan,
yaitu memukul hancur marga Bu sebelum mereka
benar-benar meru[akan ancaman bagi paduka!"
Kaisar mengangguk-angguk, wajahnya masih
agak pucat. "Engkau benar, Totiang. Biarpun
nampaknya kejam, akan tetapi hal ini perlu kami
lakukan demi keselamatan Kerajaan Tang!"
KembaIi kaisar memanggil pengawal dan
memerintakan agar pada saat itu juga pengawal
memanggil Panglima Ciu, kepala pasukan
keamanan kota raja. Akan tetapi, sebelum perintah
itu dilaksanakan, Im Yang Sengcu cepat berkata
mengingatkan.
"Maaf, Yang Mulia. Hamba kira urusan ini
sebaiknya dilaksanakan saat ini juga sebelum
beritanya bocor dan mereka melarikan diri.
Tidakkah lebih tepat kalau paduka menuliskan
perintah itu dan agar surat perintah itu
ditaksanakan sekarang juga oleh panglima?"
Kaisar Tang Tai Cung mengangguk-angguk, lalu
dia membuat surat perintah yang ditujukan
kepada Panglima Ciu agar malam itu juga panglima
membawa pasukan dan menangkapi lalu
menghukum mati semua orang yang bermarga Bu,
tidak perduli laki-laki maupun perempuan tua
renta maupun masih bayi! Pengawal cepat
membawa surat perintah itu dan mengantarnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepada Panglima Ciu yang terkejut setengah mati
menerima perintah itu. Akan tetapi, dia hanya
seorang bawahan yang harus patuh kepada kaisar.
Maka, terjadilah pembantaian! yang amat
mengerikan di malam hari itu. Malam celaka yang
sekaligus merupakan lembaran hitam dari riwayat
Kaisar Tang Tai Cung yang dikenal sebagai seorang
kaisar yang adil dan bijaksana. Perbuatan malam
hari itu dikutuk rakyat dan tercatat dalam sejarah
sebagi kelaliman seorang kaisar yang sewenangwenang
membunuhi orang-orang tak berdosa,
perbuatan yang amat kejam! Kaisar Tang Tai Cung
sendiri terpukul hebal oleh perbuatan ini. Semalam
suntuk dia tidak dapat pulas. Jiwa
kependekarannya berontak terhadap diri sendiri.
Namun apa artinya kesadaran pikiran kalau
berhadapan dengan meraja- lelanya nafsu?
Nafsu mementingkan diri sendiri membuat
manusia menjadi lupa daratan, hanya
mementingkan diri dan dalam mengejar
kepentingan dan keinginan diri, maka segala cara
akan ditempuhnya! Kalau kesadaran timbul bahwa
perbuatannya itu tidak benar dan jahat, lalu nafsu
yang sudah mencengkeram pikiran menggunakan
siasatnya yang teramat licik sehingga batin bahkan
mencari cara untuk membela perbuatan yang
dikendalikan nafsu itu. Pikiran akan membela
dengan segala cara pula. Seperti Kaisar Tang Tai
Cung Ketika kesadarannya timbul dan membuat
dia menyesali perbuatannya, batin yang sudah
diperalat nafsu segera menghiburnya dan membela
perbuatannya, membisikkan bahwa dia melakukan
semua itu karena terpaksa, karena kerajaannya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terancam, karena dia harus menyelamatkan
Kerajaan Tang, harus menyelamatkan keluarganya,
harus mencegah terjadinya pemberontakan yang
akan mengorbankan rakyat banyak, dan
selanjutnya lagi. Nafsu melalui pikiran akan
berdaya upaya agar keburukan perbuatannya itu
tertutup dan tidak nampak buruk lagi!
Demikianlah kerjanya nafsu yang teramat cerdik
mempermainkan kita.
Pagi-pagi sekali, selir baru kaisar, yaitu Bu Mei
Ling atau Bu Houw mendapat berita dari Jithaikam,
yaitu sida-sida yang menjadi-orang
kepercayaannya akan peristiwa pembantaian
orang-orang bermarga Bu. Wajah Bu Mei Ling
menjadi pucat sekali dan iapun bergegas
menghadap Kaisar Tang Tai Cung yang nampak
lesu dan lelah karena semalam suntuk tidak dapat
tidur barang sekejap matapun.
Begitu diperkenankan masuk menghadap kaisar
yang masih duduk di tepi pembaringan, selir cantik
itu lari sambiI menangis dan menjatuhkan diri
berlutut di depan kedua kaki kaisar.
"Yang Mulia........" Bu Mei Ling terisak. "Apakah
dosa marga Bu maka paduka menjatuhkan
hukuman mati kepada mereka semua?”.
Kaisar menghela napas panjang, pertanyaan
itu seperti ujung belati menusuk perasaannya yang
sudah gelisah, bimbang dan menyesal. "Mei Ling,
aku melakukan itu untuk menyelamatkan
kerajaan.. Marga Bu adalah marga pemberontak
yang akan menggulingkan kerajaan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ampun, Yang Mulia. Kalau ada yang terbukti
bersalah dan memberontak, tentu-sudah
sepantasnya kalau dihukum berat. Akan tetapi,
mungkinkah seluruh keluarga yang bermarga Bu
mememberontak? Dari kanak-kanak sampai kakek
nenek? Yang Mulia......"
"Sudahlah, cukup" Kaisar Tang Tai Cung
menutupi kedua telinganya degan telapak tangan.
"Jangan bicarakan lagi urusan itu!"
Selir itu tetap berlutut dan menghapus air
matanya. Ketika ia melihat betapa kaisar sudah
menurunkan kedua tangannya dan nampak
berduka sekali iapun berkata, "Yang Mulia, hamba
adalah adalah Bu Mei Ling, hamba juga dari marga
Bu. Kalau paduka menganggap bahwa hamba
hendak pula memberontak, hamba siap menerima
hukuman. Akan tetapi hamba tidak mau dibunuh
oleh orang lain. Hamba mohon agar dibunuh oleh
tangan paduka sendiri. Yang Mulia, hamba Bu Mei
Ling siap menerima kematian dibawah tangan
paduka!" Selir itu menengadahkan mukanya
kepada kaisar, memandang dengan penuh
kesedihan, siap menanti datangan pukulan maut.
Sejenak Kaisar' Tang Tai Cung menatap wajah
itu dan matanya mencorong lalu perlahan-lahan
dia mengangkat tangan kanannya ke atas, siap
memukul, "Engkau ..... engkau wanita she Bu........
engkau akan merampas tahta kerajaan dari anakanakku....."
Akan tetapi, ketika Bu Mei Ling
memejamkan mata, siap menanti maut, tangan itu
tak kunjung turun. Ia mendengar sedu sedan dan
ketika ia membuka matanya, ia melihat kaisar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menutupi mukanya dengan kedua tangan dan
tersedu seperti orang menangis.
"Yang Mulia.....!" Bu Mei Ling bangkit dan
merangkul.
"Mei Ling......!!" Kaisar mendekapnya dan sekali
ini kaisar benar-benar menangis di dadanya. "Mei
Ling, aku hanya ingin menyelamatkan kerajaan.
Aku bukan orang yang kejam, bukan kaisar
lalim...." Karena penyesalan yang mendalam,
karena duka, kaisar menemukan hiburan dalam
diri dan pelayanan Bu Mei Ling. Selir ini memang
merasa kagum sekali kepada kaisar, bahkan ada
juga api cinta membara dalam dadanya karena
Kaisar Tang Tai Cung adalah seorang pria yang
jantan dan perkasa, yang biasanya bersikap adil
dan bijaksana. Kini, ia merasa kasihan sekali dan
perasaan ini mendatangkan kemesraan yang pada
saat itu amat dibutuhkan kaisar yang sedang risau
itu.
Setelah Bu Mei Ling mengingatkan kaisar bahwa
saat persidangan para menteri akan dimulai,
barulah Kaisar Tang Tai Cung dengan bermalasmalasan
bangkit dari pembaringan dan berganti
pakaian dilayani oleh Mei Ling. Keadaan kaisar
tidaklah serisau tadi.
Seorang thai-kam mengetuk daun pintu mohon
melapor kaisar. Kaisar memberi isyarat dan Bu Mei
Ling membuka daun pintu. Thaikam itu sambil
berlutut melapor bahwa Im Yang Seng-cu mohon
menghadap. Kaisar menyuruh thai-kam
mempersilakan tosu itu memasuki ruangan depan
kamar, dan diapun keluar dari kamar memasuki
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ruangan diikuti Bu Mei Ling yang merasa hatinya
tegang mendengar munculnya tosu itu karena ia
sudah mendengar dari Ji-thaikam bahwa
pembantaian terhadap orang-orang bermarga Bu
adalah atas nasihat tosu itu.
Im Yang Sengcu cepat memberi hormat dengan
membungkuk kepada kaisar. ketika kaisar muncul
bersama Bu Mei Ling. Hati kaisar yang tadinya
risau dan agak terhibur oleh Mei Ling, kini menjadi
lebih tenang ketika dia bertemu Im Yang Sengcu
yang menghaturkan selamat pagi dan wajahnya
nampak berseri.
"Hamba menghaturkan selamat. Sribaginda.
Pembasmian rumput beracun telah dilaksanakan
dongan baik malam tadi.”
"Mudah-mudahan saja bahaya yang mengancam
kerajaan telah terhindar, totiang," kata kaisar.
“Ampunkan hamba, Sribaginda. Kalau boleh
hamba bicara terus terang demi keamanan dan
keselamatan kerajaan paduka....." Dia berhenti dan
melirik ke arah Bu Mei Ling yang hanya berdiri
mendengarkan saja.
"Tentu saja boleh, katakan, totiang," kata kaisar,
alisnya berkerut dan hatinya merasa tidak enak.
“Sri baginda, membasmi rumput liar beracun
haruslah dilakukan sampai bersih, tidak boleh
tertinggal sebatangpun, karena kalau yang
sebatang itu dibiarkan tumbuh, tak lama
kemudian tentu akan berkembang biak lagi."
Jelaslah bagi Kaisar Tang Tai Cung siapa yang
dimaksudkan oleh tosu itu karena kini tosu itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
langsung saja memandang ke arah Bu Mei Ling.
Diapun menjawab dengan sikap tenang, "Totiang
rumput yang satu ini akarnya tumbuh di dalam
hatiku. Bagaimana mungkin aku mencabutnya
tanpa melukai dan merusak hatiku sendiri? Kami
ingin minta pendapatmu bagaimana baiknya asal
jangan disuruh mencabutnya, totiang."
Tosu itu tersenyum dan mengangguk-angguk,
lalu melangkah hilir mudik di depan kaisar, akan
tetapi matanya sering mengerling ke arah Bu Mei
Ling. Selir ini mengerti akan maksud percakapan
itu dan iapun menanti dengan jantung berdebar,
bukan hanya karena tegang, melainkan terutama
sekali karena kemarahan yang ditahan-tahan.
"Ah, hamba telah mendapatkannya, Sribaginda!
Jawaban yang tepat telah hamba dengar dari
bisikan batin hamba. Selama paduka masih
menjadi kaisar, seorang wanita tidak akan dapat
melakukan suatu bahaya dan setelah paduka tidak
lagi berkenan memegang tahta kerajaan, maka
seorang wanita takkan mampu lagi berbuat
sesuatu yang merugikan kalau ia telah menjadi
seorang nikouw (biarawati). Keputusan ini
diumumkan dan disahkan sehingga kelak tidak
ada seorangpun yang akan berani mengubahnya.”
Mendengar kata-kata itu. Kaisar Tang Tai Cung
tertawa gembira, dan Bu Mei Ling sebaliknya
memandang kepada tosu itu dengan mata
terbelalak penuh kebencian. Kemudian, ia
menjatuhkan diri berlutut di depan kaki kaisar dan
berkata, "Yang Mulia, mohon pengampunan dan
jangan hendaknya hamba kelak dijadikan seorang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
biarawati. Hamba lebih senang kalau hamba mati
di tangan paduka.”
"Aih, nona Bu Mei Ling. Yang Mula telah
memberi ampun kepadamu dan membiarkan
engkau hidup, kenapa tidak cepat menghaturkan
terima kasih?" Im Yang Seng-cu mencela.
Kaisar Tang Tai Cung mengangkat bangun
selirnya. "Im Yang Sengcu berkata benar, Mei Ling.
Selama aku menjadi kaisar, engkau akan tetap
menjadi selirku tersayang. Kalau aku sudah tidak
njadi kaisar, apa salahnya engkau menjadi
biarawati dan setiap saat bersembahyang untuk
aku?"
Bu Mei Ling bangkit berdiri dan menghadapi Im
Yang Sengcu. "Totiang, yang jelas aku mengetahui
bahwa karena engkau maka banyak orang tak
berdosa terbunuh. Aku akan bersembahyang setiap
saat agar Tuhan Yang Maha Kuasa menghukummu
sesuai dengan dosa-dosamu!" Ucapan ini lembut
namun berupa kutukan dan diam-diam tosu itu
bergidik, akan tetapi dia menutup kengerian
hatinya dengan tawa menyeringai.
Pada saat itu, seorang thai-kam melapor bahwa
persidangan telah lengkap dihadiri para menteri
dan pangeran. "Marilah kita ke ruangan
persidangan, dan engkau juga ikut, Mei Ling. Aku
akan mengumumkan tentang keputusanku atas
dirimu. Dengan keputusan ini tak seorangpun
dapat mengganggumu lagi."
"Nanti dulu, Sribaginda. Hamba khawatir kalaukalau
ada kekuasaan gelap yang akan mengancam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
paduka, oleh karena itu, hamba harus menuliskan
hu (surat jimat) untuk melindungi paduka."
Kaisar tersenyum dan mengangguk. Tosu itu
mengeluarkan kertas dan alat tulis yang agaknya
telah disediakan di dalam saku jubahnya yang
lebar, kemudian menuliskan atau melukiskan
huruf jimat di atas sehelai kertas. Setelah selesai,
dia menempelkan hu atau jimat itu di atas pintu
kamar kaisar. Kaisar dan Bu Mei Ling memandang
dan melihat huruf jimat itu, sebuah huruf aneh
yang ditulis dengan tinta hitam di atas kertas
kuning yang bentuknya seperti ini :
"Hamba akan buatkan sebanyak mungkin hu
seperti ini, Sribaginda, agar ditempel di seluruh
pintu di istana. Dengan adanya hu ini, maka tidak
ada kekuatan gelap yang bagaimanapun berani
memasuki istana."
Kaisar mengangguk dan tersenyum. Dia sudah
sering kali menyaksikan keampuan tosu ini maka
dia percaya sepenuhnya, akan tetapi Bu Mei Ling
di diam-diam merasa menyesal menyaksikan
betapa kaisar yang dihormati, dicinta dan
dikaguminya itu ternyata adalah seorang yang
bodoh dan percaya akan tahyul.
Dalam persidangan itu, Kaisar Tang Tai Cung
menerima protes dan teguran para menteri tua
mengenai pembantaian yang dilakukan semalam,
karena di antara para pembesar terdapat pula yang
bermarga Bu dan mereka semua telah dibunuh.
Namun, dengan adanya Im Yang Sengcu di
sampingnya, kaisar tidak gentar menghadapi
protes itu, bahkan kaisar lalu memberi penjelasan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bahwa semua itu dilakukan demi keselamatan
kerajaan Tang yang terancam oleh marga Bu.
Kemudian, kaisar juga menjatuhkan keputusannya
terhadap selirnya, Bu Mei Ling, karena selirnya itu
juga bermarga Bu, bahwa kalau dia sudah tidal lagi
menjadi kaisar, selirnya itu harus menjadi
biarawati di kuil istana. Dengan demikian, maka
semua kemungkinan terjadinya ancaman marga
Bu itu dapat dihindarkan.
Bu Mei Ling menerima keputusan itu dengan
pasrah, la tidak memusingkan urusan masa depan.
Yang terpenting, sekarang ia masih menjadi
kekasih kaisar, dan itu saja sudah cukup baginya.
Diam-diam, wanita yang cerdik ini juga
memperhitungkan bahwa boleh mengandaIkan
Pangeran Mahkota yang masih mencintainya.
Kelak, kalau Kaisar Tang Tai Cung tidak lagi
menjadi kaisar, berarti Pangeran Li Ci atau Li Hong
yang menjadi kaisar dan tentu kaisar baru itu
tidak akan membiarkan kekasihnya tersiksa di
dalam kuil sebagai seorang biarawati!
Ketika kaisar dan Im Yang Sengcu berada
berdua saja, Im Yang Sengcu memberi tahu kepada
kaisar bahwa ada lagi seorang wanita bermarga Bu
yang dianggap amat berbahaya dan wanita itu
sudah sepatutnya kalau dilenyapkan dari muka
bumi ini, kalau kaisar menghendaki Kerajaan Tang
benar-benar aman dari ancaman marga Bu.
"Totiang, bukankah Bu Mei Ling sudah
terbelenggu dengan keputusan kami, dan iapun
hanya seorang wanita lemah. Apa yang dapat ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lakukan? Sekarang ia hidup di sampingku, dan
kelak ia menjadi biarawati."
"Bukan selir paduka yang hamba maksudkan.
Wanita ini jauh lebih berbahaya karena ia
memiliki ilmu silat yang amat tinggi, bahkan di
dunia kang-ouw, jarang ada jagoan yang akan
mampu menandingi dan mengalahkannya. lapun|
bermarga Bu dan kalau ia yang melakukan atau
memimpin gerakan itu, benar benar kerajaan
paduka terancam."
Kaisar Tang Tai Cung membusungkan dadanya.
"Hemm, siapakah ada wanita she Bu yang
demikian lihainya? Kurasa tidak ada pendekar
wanita yang akan mampu menandingi aku!"
"Sribaginda, ia bernama Bu Giok Cu dan
kelihaiannya dalam ilmu silat, biar hamba sendiri
bukanlah tandingannya.”
"Bu Giok Cu? Siapa ia dan di mana tinggaInya?"
"la tinggal di dusun Hong-cun di tepi sungai
Huang-ho, ia adalah isteri dari Huang-ho Singliong
Si Han Beng.”
"Ahh.....!!" Kaisar benar-benar terkejut
mendengar ini. "Isteri.......Naga Sakti Kuning? Tapi,
tapi ......." Kaisar Tang Tai Cung nampak tertegun
dan bingung. Dia teringat akan mendiang Kwa Bi
Lan, selirnya yang menjadi kekasihnya sejak dia
belum menjadi kaisar, selir terkasih dan juga amat
setia yang telah mengorbankan nyawa demi
membelanya ketika dia diserang oleh dua orang
pembunuh. Dan dia teringat kepada Hong Lan,
yang sejak kecil dianggap sebagai puterinya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sendiri, pada hal Hong Lan itu adalah Si Hong Lan,
puteri Naga Sakti Sungai Kuning! Dan kini, Im
Yang Sengcu memberi tahu bahwa ibu kandung Si
Hong Lan bernama Bu Giok Cu, seorang wanita
bermarga Bu yang diramalkan kelak akan
menjatuhkan Kerajaan Tang!
"Wanita itu berbahaya sekali Sribaginda. la
bermarga Bu, berilmu tinggi dan suaminya juga
seorang yang amat lihai. Apa lagi kalau diingat
bahwa Bu Giok Cu itu tentu tidak akan tinggal
diam mendengar paduka membasmi orang-orang
bermarga Bu. Oleh karen tu, dengan mengingat
bahwa membasmi rumput liar beracun haruslah
tidak tanggung-tanggung, maka akan bijaksanalah
kalau paduka memerintahkan panglima untuk
menangkap dan membunuh Bu Giok Cu itu. Kalau
suaminya membela, diapun harus dienyahkan!"
Kaisar bangkit berdiri dan sambiI menggendong
kedua tangan dia mondar-mandir di pondok dalam
taman itu, alisnya berkerut dan berulang kali dia
menggeleng kepala, Im Yang Sengcu membiarkan
saja dia dalam keadaan seperti itu sampai
beberapa saat, kemudian dia berkata, "Harap
paduka mengampuni hamba kalau hamba bicara
keliru."
Kaisar duduk kembali dan mengepal tangan
kanan yang dia letakkan di atas meja. "Tidak,
totiang. Engkau tidak keliru karena engkau hanya
memikirkan keselamatan kerajaan. Akan tetapi
bagaimana mungkin melakukan itu? Kau tahu Bu
Giok Cu. isteri Naga Sakti Sungai Kuning itu
adalah ibu kandung dari puteriku Hong Lan!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Im Yang Sengcu terbelalak. "Ahhh .? Apa .... apa
maksud paduka...?"
Terpaksa kaisar membuka rahasia Hong Lan
karena dia sudah terlanjur mengatakannya. pula
dia amat percaya kepada tosu ini “Kau tahu. Si
Hong Lan yang sejak kecil kuanggap sebagai
puteriku itu, sebetulnya bukan puteri kandungku.
juga bukan anak kandung mendiang Kwa Bi Lan
selirku, melainkan anak kandung Naga Sakti
Sungai Kuning dan isterinya!" Lalu dengan singkat
kaisar menceritakan tentang Hong Lan yang diculik
dan dilarikan Kwa Bi Lan dari tangan kedua orang
tua kandungnya.
"Ain, sungguh tidak terduga.......” Im Yang
Sengcu menggumam. "... dan sekarang Yang Mulia
Puteri....."
"Hong Lan sudah tahu akan keadaan dirinya dan
kini ia pergi untuk mencari ayah bundanya. Nah,
bagaimana mungkin aku mengirim pasukan untuk
membasmi keluarga Hong Lan yang kusayangi
sebagai puteriku sendiri?"
Kembali Im Yang Seng-cu mondar-mandir dan
alisnya berkerut. Sungguh tidak disangkanya sama
sekali bahwa ada hal yang demikian kebetulan.
Kiranya puteri Hong Lan adalah puteri kandung
Naga Sakti Sungai Kuning! Padahal, sudah lama
sekali dia menaruh dendam kepada suami isteri
pendekar itu. Dia ingin mempergunakan
kesempatan baik ini untuk membalas dendam
kepada mereka yang dahulu, ketika masih muda
pernah membasmi banyak rekannya di dunia
kangouw.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akhirnya dia berhenti melangkah dan
menghadapi Sri baginda Kaisar. "Hamba telah
mendapatkan jalan yang terbaik bagi paduka.
Karena mereka adalah orang tua Puteri Hong Lan,
maka tidak ada janggalnya kalau paduka
mengundang mereka datang ke Istana bersama
puteri mereka. Dalam pertemuan kekeluargaan itu
paduka dapat memancing dan bertanya kepada
Naga Sakti Sungai Kuning tentang ramalan
perbintangan yang jelas menyatakan bahwa marga
Bu, dan seorang wanita pula, merupakan ancaman
besar bagi Kerajaan Tang. Nah, karena isterinya
seorang wanita she Bu, maka paduka lihat saja
bagaimana tanggapan pendekar itu. Dan kalau
mereka sudah berada di sini, hamba akan
mendapatkan akal untuk menghadapi mereka."
Sri baginda kaisar mengerutkan alisnya. Dia
adalah seorang yang gagah perkasa, bahkan ketika
mudanya dia juga seorang pendekar yang membela
keadilan dan kebenaran. Namun, setelah kini
menjadi kaisar, berenang di dalam kemuliaan dan
kekuasaan, yang terpenting dalam hidupnya
adalah mempertahankan kekuasaannya itu!
Kekuasaannya sebagai kaisar menjamin
kemenangan, kebenaran, kemuliaan, kemewahan
dan segala macam kesenangan baginya, apapun
yang dikehendakinya dapat terlaksana! Nafsu
kesenangan sudah mencengkeramnya sampai
mendarah daging, dan mempertahankan
kesenangan ini merupakan tekad hidupnya.
Bahkan, dia ingin mengabadikan kekuasaannya
sehingga dia bersusah payah ingin mendapatkan
obat yang dapat membuat dia hidup seribu tahun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
atau selamanya! Kalaupun ini gagal, dia
menghendaki agar kekuasaan itu dapat diwarisi
dan dilanjutkan anak cucunya maka tentu saja
dia tidak rela mendengar bahwa ada kekuatan
baru, yaitu seorang wanita bermarga Bu, yang
kelak akan mengambil alih kekuasaan itu. Kalau
saja tidak demi mempertahankan kekuasaannya
itu, tentu dia akan berpikir seribu kali untuk
mengganggu sepasang suami isteri pendekar besar
seperti Naga Sakti Sungai Kuning dan isterinya.
"Baik, akan kami kirim utusan ke sana
mengundang mereka. Akan tetapi bagaimana
dengan obat panjang usia itu, totiang? Sudah
jadikah?"
"Kurang sedikit lagi, Sribaginda. Harua
sempurna benar baru hasilnya akan pasti dan
baik. Akan tetapi, unyuk cara pembuatan emas,
sudah hamba persiapkan dan sekarang juga dapat
paduka pelajeri."
"Bagusi Kami ingin sekali mempelajarinya!" kata
Kaisar Tang Tai Cung. Dia membayangkan bahwa
sekali ilmu membuat emas itu telah dikuasainya,
maka negaranya akan menjadi negara terkuat di
dunia ini. Dia akan dapat membuat emas
sebanyaknya dan dengan "senjata" berupa emas
ini, siapakah yang akan mampu melawannya?
Segala apapun dapat dibeli dan dikuasai di dunia
ini dengan logam mulia itu!
"Kalau begitu, Sr baginda, sebaiknya agar dijaga
jangan sampai ada orang lain yang dapat melihat
atau mendengarkan percakapan kita ini, dan lebih
tepat lagi kalau paduka sendiri yang mencatat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
semua bahan dan cara pembuatan emas. Kelak,
setelah paduka mempelajarinya dan sudah hafal,
baru kita mencoba untuk mempraktekkannya dan
membuatnya."
Dengan wajah berseri dan sinar mata
mencorong, Kaisar Tang Tai Cung lalu meneriaki
pengawal dan mcmerintahkan agar taman itu
dijaga dan tidak boleh ada seorangpun memasuki
taman, apa lagi mendekati pondok dengan
ancaman hukuman mati. Kemudian, dia
mempersiapkan kertas dan alat tulis, dan dengan
hati tegang penuh gairah dia sudah duduk dan
siap menulis. Im Yang Sencu nampak duduk
bersila dan memejamkan mata di atas dipan di
depan kaisar, seolah dia sedang bersamadhi dan
menghimpun kekuatan. Kemudian, dengan suara
lirih namun jelas, Im Yang Sengcu mengeluarkan
kata-kata yang dicatat dengan seksama oleh Kaisar
Tang Tai Cung.
"Rahasia ini ditulis oleh Manusia Dewa Ko Hung
dengan nama Poa Bu Cu, dan agar dilakukan
dengan penuh ketaatan agar berhasil membuat
emas. Bahan-bahannya dan cara pembuatannya
adalah seperti berikut, harap dicatat baik-balk."
Im Yang Sengcu lalu mengeluarka kata-kata
aneh seperti membaca mantram yang tidak
dimengerti oleh Kaisar Tang Tai Cung yang menjadi
tidak sabar. Akan tetapi, tosu itu lalu bicara lagi
dengan bahasa yang jelas.
"Pergunakan sebuah kuali (periuk) besi bergaris
tengah satu kaki dua inci dan tingginya juga satu
kaki dua inci, dan sebuah kuali besi kecil dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
garis tengah dan tinggi enam inci. Ambil satu kati
tanah Iiat merah yang lembut, satu kati (kurang
lebih satu ons) sendawa, satu kati gamping, satu
kati tepung besi dari Tai-couw (di propinsi Shansi),
setengah kati belerang, dan satu kati es. Tumbuk
semua ini menjadi satu sampai halus dan aduk
sampai rata. Kemudian, olesi bagian dalam dari
kuali besi kecil sampai setebal sepersepuluh inci
dengan satu kati air raksa, setengah kati cinnabar
(raksa kristal merah) dan setengah kati liang-fel."
"Apa itu liang-fei?" tanya kaisar yang menunda
tulisannya.
"Liang-fei dibuat dengan cara memanaskan
sepuluh kati timah dalam sebuah kuali besi di atas
perapian, sampai keluar tiga ons air raksa dari
timah yang mencair, dan ciduk ini dengan aebuah
senduk besi. Itulah yang dinamakan liang-fei."
"Hemm, begitukah? Lanjutkan, totiang," kata
kaisar penuh perhatian.
"Kemudian aduklah semua bahan tadi sampai
rahsanya tidak nampak. Lalu masukkan campuran
ini ke dalam kuali besi yang kecil, dan taburi
dengan gamping lalu tutup dengan penutup besi
dan letakkan kuali ke dalam kuali besar dan bakar
di atas api. Timah yang mencair itu akan
tenggelam ke dalam kuali besar. Kemudian dari
kuali yang kecil, ambillah bagian atas campuran
yang mencair itu setebal setengah inci bagian atas,
dan panaskan ini di atas api besar selama tiga hari
tiga malam. Ini akan menghasilkan apa yang sebut
bubuk merah. Kemudian ambil timah yang
sepuluh kati itu dan panaskan selama duapuluh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hari siang malam, lalu pindahkan ke dalam sebuah
kuali tembaga dan tambahkan bubuk merah tadi
ke dalam timah yang mencair. Aduklah dengan
sebuah senduk berukuran hati rnanusia yaitu satu
inci persegi dan campuran-timah dan bubuk
merah itu seketika akan berubah.menjadi emas!"
Setelah selesai menuliskan semua itu, berulangulang
Kaisar Tang Tai Cung membacanya dan
alisnya berkerut.
“Totiang, benarkah sepuluh kati timah itu akan
berubah menjadi emas?"
Im Yang Sengcu membuka matanya dan nampak
lelah sekali. Akan tetapi mendengar pertanyaan
kaisar.itu, dia mengerutkan alisnya. “Sribaginda,
syarat utama untuk membuat emas seperti yang
digambar oleh Manusia Dewa Ko Hung bergelar Pao
Bu Cu adalah kepercayaan. Kita harus percaya
agar kalau kita mencoba membuatnya, tidak akan
mengalami kegagalan."
"Kalau begitu, kita harus secepatnya mencoba
resep ini, totiang."
"Harap paduka suka bersabar dulu Sribaginda.
Hamba sedang memusatkan-perhatian hamba
kepada pembuatan obat panjang usia itu. Apa
artinya segunung emas kalau usia kita tidak
panjang?”
"Ah, engkau benar, totiang! Memang, sebaiknya
engkau cepat selesaikan pembuatan obat itu."
"Hamba membutuhkan ketenangan untuk
penyelesaiannya, Sri baginda. Akan tetapi akhirakhir
ini terlalu banyak persoalan yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengganggu ketenangan hamba. Bahkan belum
lama ini.:.....Pangeran Li Cu Kiat.......ahh, hamba
tidak berani....” Tosu itu berdiam diri dan
menundukkan mukanya yang nampak muram.
"Ehh? Ada apakah dengan keponaanku Li Cu
Kiat, totiang? Apa yang hendak kaukatakan
tentang dia? katakan saja, dan jangan takut."
"Baiklah, Sribaginda. Hamba akan menceritakan
sejujurnya, akan tetapi bukan maksud hamba
untuk mengadu. Beberapa hari yang lalu, ketika
.seorang wanita muda yang mencurigakan naik ke
bukit pondok hamba, Ia bentrok dengan murid
hamba dan melukai murid hamba itu. Ketika
hamba keluar la melarikan diri. Karena merasa
curiga, hamba mengajak murid-murid hamba
untuk melakukan pengejaran. Dan melihat ia
menghilang di dekat gedung Pangeran Li Cu Kiat,
ham-merasa khawatir sekali. Hamba teringat akan
wanita jahat yang pernah mencoba untuk
membunuh paduka. Maka, hamba lalu mohon
menghadap keluarga Pangeran Li Cu Kiat untuk
memperingatkan tentang lenyapnya gadis lihai itu
di dekat gedung mereka, demi keamanan mereka.
Akan tetapi.... ahh, hamba tidak berani
mengatakan, takut kalau dlsangka hamba
mengadu, Sribaginda."
"Totiang, katakanlah. Kalau memang ada yang
bersalah, kami wajib untuk memberi teguran. Apa
yang dilakukan oleh Cu Kiat kepadamu?"
"Pangeran Li Cu Kiat mengeluarkan kata-kata
menghina, Sribaginda, terutama sekali Nyonya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Song..... hamba dimaki sebagai dukun lepus,
peramal dan tukang sihir....."
"Hemm, anak itu perlu ditegur !" kata kaisar.
"Harap paduka jangan marah, pangeran itu
hanya perlu diberi tahu agar lain kali jangan
menghina orang tua lagi."
Dengan alasan hendak menyempurnakan
pembuatan obat panjang usia, Yang Sengcu
mengundurkan diri. Kai Tang Tai Cung termenung
memegangi catatan pembuatan emas. Akhirnya,
malam itu juga ia memanggil komandan pengawaI
dan menyuruh dia menyampaikan perintahnya
kepada panglima untuk mengiim seregu pasukan
mengundang Huang-Sin-liong Si Han Beng dan
isterinya juga Si Hong Lan untuk menghadap ke
istana. Juga dia memerintahkan seorang utusan
untuk besok pagi-pagi memanggil pangeran Li Cu
Kiat datang menghadap.
o)0o-dw-o0(o
Pada keesokan harinya, Pangeran Li Cu Kiat
yang dipanggil kaisar, datang menghadap dan
ditegur tentang sikapnya yang kurang hormat
terhadap Im Yang Sengcu.
"Cu Kiat, engkau tentu mengetahui bahwa Im
Yang Sengcu merupakan seorang pendeta dan
sahabat kami yang sudah banyak berjasa. Kenapa
engkau yang muda berani bersikap tidak hormat
kepanya? Bukankah dia malam-malam datang
kepadamu untuk menjaga keamanan keluarga
ibumu agar jangan sampai terancam oleh seorang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
wanita yang dicurigai?" demikian antara lain Kaisar
Tang Tai Cung menegur keponakannya.
"Mohon ampun, Pamanda Kaisar yang mulia.
Sesungguhnya, sikap hamba dan nenek hamba
hanya merupakan akibat saja dari pada sebab yang
ditimbulkan oleh Im Yang Sengcu sendiri. Dia
mencurigai keluarga kami menyembunyikan gadis
itu. Karena itu, nenek dan hamba mengeluarkan
kata-kata teguran kepadanya."
Kaisar mengangguk-angguk. "Hemm, kalau
begitu hanya terjadi kesalah pahaman saja.
Engkau harus dapat mempertimbangkan bahwa
dalam keadaan mengejar penjahat, tentu saja Im
Yang Seng-Cu mencurigai siapa saja, dan sebagai
orang muda, lain kali seyogianya kalau engkau
bersikap hormat terhadap orang tua agar kami
sebagai pamanmu tidak ikut merasa rikuh.
Mengerti?"
"Pesan dan perintah Pamanda akan hamba
taati," kata Li Cu Kiat, diam-diam merasa
mendongkol sekali kepada tosu itu yang agaknya
telah mengadu pada kaisar.
Setelah pulang ke rumahnya sendiri dengan hati
jengkel, Li Cu Kiat melihat Kui Eng berada di
taman dan diapun segera memasuki taman. Kui
Eng cepat bangkit dari bangku yang didudukinya
ketika melihat pangeran itu pulang. Tadi ia merasa
khawatir mendengar bahwa pemuda itu dipanggil
kaisar karena ia menduga bahwa panggilan itu
tentu ada hubungannya dengan peristiwa ketika ia
dikejar Im Yang Sengcu sampai ke gedung keluarga
itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Engkau sudah pulang, pangeran? Lalu
bagaimana kabarnya? Benarkah ke khwatiranku
bahwa panggilan itu ada hubungannya dengan
diriku?"
"Duduklah, nona, dan kuminta agar engkau
tidak lagi memanggilku pangeran. Engkau sendiri
pun puteri pangeran, kita sederajat kalau memang
engkau membedakan tingkat dan derajat. Dan
kami sekeluarga telah terlibat dengan dirimu
sedemikian rupa sehingga engkau kami anggap
seperti keluarga sendiri. Bagaimana kalau kita
berkakak adik saja? Kau memanggil aku kakak
dan aku memanggilmu adik?"
Kui Eng tersenyum. Sejak pertemuan pertama
kali, ia memang sudah merasa kagum dan suka
sekali kepada pangeran yang lembut hati dan
manis budi ini, juga gagah perkasa. "Baiklah,
twako . N ah, ceritakan, apa yang terjadi denganmu
di Istana?"
Mereka duduk di bangku taman itu, sejenak
saling pandang dan Cu Kiat menghela napas
panjang. Betapa anggunnya gadis ini, pikirnya.
Selama hidupnya, biar berulang kali didorongdorong
ibunya dan neneknya, belum pernah dia
bergaul dengan wanita, apa lagi jatuh cinta. Akan
tetapi sekali Ini, dia benar-benar telah jatuh cinta!
Dia siap melakukan pengorbanan apa saja untuk
gadis yang duduk di depannya ini.
"Eng-moi ....." sebutan ini terasa ringan di
bibirnya karena sejak pertemuan itu, setiap
malam seringkali dia menggunakan sebutan itu,
dalam renungan maupun di dalam mimpi. "Paman
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kaisar hanya menegurku karena aku telah
bersikap kasar terhadap Im Yang Sengcu."
"Apakah kaisar bertanya tentang diriku?"
"Tidak, Eng-moi. Pamanda Kaisar percaya
kepadaku dan tidak mencurigaiku, dia hanya
menegurku karena pengaduan Im Yang Sengcu."
Lalu dia mencerikan pertemuannya dengan kaisar.
Kui Eng menghela napas panjang "Aihhh,
pangeran...... eh, twako....sungguh aku merasa
tidak enak sekali. Engkau telah begitu baik
kepadaku, juga ibumu dan nenekmu, kalian telah
begitu baik menerimaku. Bagaimana mungkin
sekarang aku membiarkan diriku mendatangkan
hal-hal yang tidak enak bagimu? Engkau sudah
ditegur kaisar, engkau di curigai Im Yang Sengcu,
mungkin keluargamu akan menghadapi ancaman
yang lebih gawat lagi kalau aku tetap berada di
sini. Karena itu, twako, sebaiknya kalau aku pergi
saja meninggalkan gedung ini agar keluargamu
terbebas dari pada kesulitan-kesulitan,..."
"Eng-moi......!" Tiba-tiba pangeran itu
menjulurkan tangan dan memegang tangan kanan
Kui Eng dengan kedua tangannya. Gadis itu
terkejut, mukanya berubah merah akan tetapi ia
tidak melepaskan tangannya yang tergenggam
karena tidak ingin menyinggung perasaan
pangeran itu. "Eng-moi, kenapa engkau berkata
demikian? Kami......aku......rela melakukan semua
ini untukmu, bahan aku siap mengorbankan
nyawaku demi untuk membela dan
melindungimu..........."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Twako, apa yang kaukatakan ini? Sadarlah....!"
kata Kui Eng, perlahan menarlk tangannya
melepaskan dari genggaman tangan pangeran itu
dengan lembut..
Li Cu Kiat nampak tersipu. "Maaf ........ ah,
maafkan aku, Eng-moi, aku tadi terseret perasaan.
Akan tetapi aku bersungguh-sungguh. Jangan
engkau tinggalkan tempat ini begitu saja, bahaya
akan mengancammu di mana-mana. Tidak Engmoi,
engkau tidak boleh pergi. Aku tidak akan
pernah dapat memaafkan diriku sendiri kalau
sampai engkau tertimpa bencana. Tinggallah dulu
di sini sampai suasana menjadi aman bagimu.
Kini, Im Yang Sengcu sudah berhasil mengadu
kepada Pamanda Kaisar, maka kita harus lebih
berhati-hati. Engkau tinggallah dulu di sini untuk
sementara, dan aku akan mengerahkan semua
pembantu dan temanku untuk mencari suhengmu.
Kalau dia sudah berada di kota raja aku yakin kita
akan dapat menemukannya. Kalau sudah tiba
saatnya engkau harus keluar dari kota raja, aku
yang akan mengaturnya agar engkau dapat keluar
dengan selamat dan tidak diketahui Im Yang
Sengcu dan anak buahnya."
Karena dibujuk dengan alasan yang kuat,
akhirnya Kul Eng mengalah, “Baiklah, twako. Akan
tetapi, sungguh aku merasa semakin banyak
menerima limpahan budi yang bertumpuk-tumpuk
darimu. Twako, kita baru saja bertemu dan
kenalan, kenapa engkau, ibumu dan nenekmu
begini baik terhadap diriku?" gadis itu mengangkat
muka menatap wajah pangeran itu yang juga
menatapnya. Dua pasang mata itu berpandangan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan bertaut, kemudian melihat betapa ada
pancaran kasih sayang yang demikian jelas keluar
dari sepasang mata pangeran itu, Kui Eng
menundukkan mukanya yang terasa panas.
"Eng-moi, maafkan aku kalau aku berterus
terang dan mungkin menyinggung perasaanmu.
Entah mengapa, baru sekali ini selama hidupku
aku mengalami perasaan seperti yang kualami
sejak aku bertemu denganmu. Seolah selama ini
aku sudah mengenalmu, seolah selama ini
engkaulah orang yang selalu kunanti muncul
dalam kehidupanku, Eng-moi, terus terang saja,
aku mencintamu, dan aku tidak ingin berpisah
darimu untuk lamanya. Eng-moi, maafkan aku,
akan tetapi, sudikah engkau menerima cintaku?"
Wajah itu menjadi kemerahan pada saat itu,
terbayanglah wajah Thian Ki di depan matanya.
Kui Eng menunduk. "Twako, kita baru saja saling
jumpa dan berkenalan dalam beberapa hari......
rasanya masih terlalu pagi untuk bicara tentang
itu. Aku ...... aku tidak tahu.......”
"Maafkan aku, Eng-moi. Memang aku yang
tergesa-gesa, karena aku khawatir sekali
mendengar niatmu untuk pergi meninggalkan aku.
Aku ingin engkau tahu lebih dulu sebelum pergi
tentang isi hatiku. Nah, sekarang legalah hatiku
karena sudah kucurahkan isi hatiku Sekarang,
bagaimana, Eng-moi, maukah engkau untuk
sementara bersembunyi dulu di sini sambil
menanti hasil usahaku mencari suhengmu?"
Kui Eng mengangguk. Memang iapur tahu
bahwa tanpa bantuan pangeran ini, tidak akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mudah pergi dari kota raja dan kalau sampai Im
Yang Sengcu melihatnya, tentu ia akan terancam
bahaya besar.
Dari balik pintu belakang, Nyonya Li dan Nenek
Song mengintai dan mereka berdua tersenyum
gembira melihat Pangeran Li Cu Kiat duduk berdua
di atas bangku dalam taman bersama Kui Eng dan
mereka nampak begitu akrab, “mudah-mudahan
cucuku menemukan jodohnya....." bisik Nenek
Song dan puterinya hanya tersenyum.
Sementara itu, Kui Eng merasa cukup bicara
dengan Pangeran Li Cu Kiat dan ia bangkit berdiri
hendak kembali ke dalam rumah. Akan tetapi ia
tiba-tiba mengeluh dan menggunakan kedua
tangan memegangi kepalanya. Kepala itu terasa
nyeri bukan main, seperti ditusuki jarum dari
dalam.
"Ehh.....! Engkau kenapa, Eng-moi......?"
Pangeran Li Cu Kiat terkejut dan cepat
menghampiri.
Tubuh Kui Eng terhuyung dan tentu ia sudah
jatuh kalau tidak cepat dirangkul Li Cu Kiat.
"Aduh..... aughh ...kepalaku-... tertusuk-tusuk
rasanya... aduhhh.....aduhhh.....!" Kui Eng
menekan kepala dengan kedua tangannya "Engmoi.,
apa yang terjadi, Kenapa kepalamu....?" Li Cu
Kiat menjadi bingung dan khawatir sekali.
Nenek Song dan Nyonya Li juga melihat peristiwa
itu dan mereka berdua cepat berlari menghampiri.
"Apa yang terjadi? Kenapa Kui Eng?" tanya Nynya
Li dan iapun ikut merangkul gadis itu yang masih
menggeliat-geliat kesakitan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kalian mundur! Kui Eng, dengar baik-baik!
Cepat engkau bersila mengerahkan sin-kangmu
sekuat tenaga!! tiba-tiba Nenek Song berkata
setelah dia memegang pergelangan tangan gadis
itu. "Engkau tidak sakit, akan tetapi ada pengaruh
hitam yang menguasai dirimu!"
Mendengar suara nenek itu, Kui Eng teringat.
Tadi ia kaget bukan main dan menjadi panik
karena kepalanya seperti ditusuk-tusuk dari dalam
sehingga ia tidak tahu harus berbuat apa. Akan
tetapi begitu mendengar ucapan nenek itu, iapun
teringat, dan dengan menahan rasa nyeri yang
hebat, diapun cepat duduk bersila di atas rumput
dan mengerahkan seluruh kekuatan sin-kangnya
untuk menolak pengaruh asing dan aneh yang
membuat kepalanya seperti ditusuk-tusuk dari
dalam itu. Setelah mengerahkan sin-kangnya, rasa
nyeri itu berkurang banyak, walaupun masih
terasa tidak enak dan pening. Akan tetapi, lewat
beberapa menit kemudian, rasa nyeri semakin
berkurang dan akhirnya lenyap. la menarik napas
panjang dan bangkit, lalu dengan agak pening ia
membiarkan dirinya dituntun Li Cu Kiat dan
duduk kembali ke atas bangku tadi.
Setelah gadis itu nampak normal kembali, Cu
Kiat bertanya lembut. "Eng Moi, apa yang telah
terjadi? Kenapa engkau mendadak kesakitan
seperti itu?"
"Cu Kiat, apakah engkau tidak dapat menduga?
Kui Eng telah diserang secara gelap, diserang
dengan ilmu hitam, dengan sihir."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pangeran, itu terbelalak, lalu mengepal tinju.
"Jahanam busuk! Siapa ladi kalau bukan Im Yang
Sengcu yang melakukan ini?" bentaknya marah.
“Aku harus membuat perhitungan dengan dia!
Berani dia menyerang Eng-moi dengan ilmu
hitam!"
"Cu Kiat, tenanglah," kata nya halus. "Jangan
bertindak sembrono. Kita tidak mungkin dapat
menuduhnya tanpa adanya bukti. Sebaliknya dia
akan menuduhmu menjatuhkan fitnah kepadanya
dan tanpa bukti, engkau akan kalah."
"Ibumu benar, Cu Kiat. Memang akupun
menduga bahwa Im Yang Sengcu. yang melakukan
hal ini, akan tetapi, tanpa bukti, kita tidak
berdaya. Sementara ini, agaknya sin-kang di tubuh
Kui Eng cukup kuat untuk menyelamatkan
dirinya. Akan tetapi kita harus mencari seorang
ahli untuk menolak serangan ilmu hitam itu."
"Aih, aku hanya membikin repot keluarga yang
mulia ini saja," keluh Kui Eng, "aku percaya, kalau
suheng berada di sini, dia pasti akan dapat
menolak pengaruh iblis itu."
"Mari kita masuk ke dalam dan kita atur
bagaimana baiknya," kata Nenek Song. Mereka
semua masuk dan semenjak itu setiap hari Kui
Eng mendapat serangan dalam kepalanya sampai
beberapa kali. Biarpun dengan sin-kangnya ia
mampu bertahan dan menolak, namun tetap saja
ia menderita sekali dan hampir tidak dapat turun
dari pembaringan karena kepalanya terasa berat
dan pening. Setiap kali serangan datang di dalam
kepalanya seperti ditusuk-tusuk jarum dan ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hanya mampu menolak serangan itu dengan sinkangnya,
akan tetapi hal itu amat melelahkan
dirinya dan membuat ia rebah seperti dalam
keadaan sakit berat. Bahkan beberapa kali ia
roboh pingsan dan setelah pingsan, serangan
itupun lenyap, akan tetapi datang lagi kalau ia
siuman.
Beberapa orang ahli telah diundang oleh
keluarga itu, akan tetapi agaknya para hwesio dan
tosu yang dimintai tolong, tidak mempunyai tenaga
cukup kuat untuk menolak serangan ilmu hitam
itu. Pangeran Li Cu Kiat menjaga Kui Eng siang
malam, bahkan tidur di lantai bawah pembaringan
gadis itu. Biarpun nenek dan ibunya membujuk
agar dia beristirahat, dia menolak dan tetap
menjaga Kui Eng dengan penuh perhatian
melayani semua kebutuhan gadis itu membuat' Kui
Eng kalau sadar merasa terharu bukan main.
Sementara itu, Pangeran Li Cu Kiat juga
mengerahkan tenaga bantuan dari para komandan
yang dikenalnya baik, untuk menyebar orang dan
mencari. seorang pemuda bernama Coa Thian Ki
dengan ciri-ciri seperti yang digambarkan oleh Kui
Eng kepadanya.
o)0o-dw-o0(o
Berita tentang pembantaian semua orang
bermarga Bu di kota raja dan sekitarnya, terbawa
angin dengan cepatnya sehingga berita itu sampai
pula ke Hong-cun, dusun tempat tinggal Huang-ho
Sin-liong Si Han Beng dan isterinya. Bu Giok Cu.
Suami isterl ini sudah lama mengasingkan diri dan
tidak mencampuri urusan di dunia kangouw, akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tetapi ketika mereka mendengar berita itu, mereka
terkejut juga, terutama sekali karena isteri
pendekar itupun bermarga Bu!
Tanggapan Hong Lan lebih hebat lagi.
Mendengar berita itu, iapun menangis tersedusedu.
Suami isteri itu saling pandang dan Giok Cu
merangkul puterinya dengan penuh kasih sayang.
“Lan Lan, kenapa engkau menangis mendengar
berita mengerikan itu?"
"Ibu, betapa hatiku tidak akan sedih mendengar
pembantaian orang-orang yang tidak berdosa itu.
Aku tahu, semua ini tentu ulah Im Yang Sengcu,
tosu ahli sihir itu. Aku tidak percaya ayah sekejam
itu. Ayahanda kaisar adalah seorang laki-laki
gagah perkasa yang berwatak pendekar,
menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan.
Bagaimana mungkin dia melakukan kekejaman itu
kalau bukan karena ulah Im Yang Sengcu! Aku
harus ke kota raja, aku akan mengingatkan
ayahanda kaisar agar jangan menuruti bujukan
tosu siluman itu!”
“Hong Lan, tenanglah dulu dan kita harus
mempertimbangkan baik-baik kehendakmu itu.
Ingat, Hong Lan, sekarang kedudukanmu tidak lagi
seperti dulu ketika engkau masih menjadi puteri
kaisar. Bagaimana engkau akan kuat menentang
pengaruh tosu itu yang telah menjadi penasihat
kaisar seperti yang pernah kauceritakan kepada
kami? Dan ada suatu hal yang amat gawat sekali
yang harus kau pertimbangkan baik-baik sebelum
mengambil keputusan pergi ke kota raja."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Melihat suara ayahnya demikian serius, Hong
Lan memandang ayahnya! “Sesuatu apakah yang
begitu gawat, ayah?"
"Engkau lupa bahwa ibumu adalah seorang
bermarga Bu juga."
"Ahh....." Hong Lan terbelalak, baru teringat
bahwa ibu kandungnya bernama Bu Giok Cu.
"Kalau begitu, aku bahkan harus cepat ke sana
menemui kaisar, ayah. Tindakannya ini benarbenar
akan menghancurkan nama baiknya, dan ia
merasa berkewajiban untuk mengingatkannya,
terutama sekali mengingatkan beliau akan
bahayanya menurut bujukan seorang iblis seperti
Im Yang Sengcu."
'Kalau engkau berkeras hendak ke kotaraja,
kami tidak akan melepasmu begitu saja. Kami
akan menemanimu dan kita bertiga bersama pergi
ke sana," kata Si Han Beng.
"Akan tetapi, ayah!" Hong Lan memprotes. "Ibu
bermarga Bu, bagaimana mungkin ibu ikut ke
sana? Itu berbahaya sekali !"
"Lan Lan, engkau sendiri hendak ke sana. Kalau
engkau memiliki keberatan untuk pergi ke sana,
apa lagi ibu! Aku tidak takut akan ancaman, dari
manapun juga datangnya," kata Bu Giok Cu.
"Ibumu benar, Hong Lan. Orang yang tidak
merasa bersalah tidak perlu takut. Pula, kalau
engkau khawatir, kita dapat memasuki kota raja
dengan menyamar, ibumu ini memiliki ilmu
penyamaran yang hebat."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Benarkah itu, ibu?" Hong Lan sudah
mendapatkan kembali kegembiraannya. Memang
anak ini memiliki dasar lincah gembira.
"Kaulihat ibumu ini!" kata Bu Giok Cu dan iapun
membalikkan tubuh membelakangi puterinya,
hanya dalam beberapa menit dan ketika ia
membalikkan lagi tubuhnya menghadapi Hong Lan
gadis itu menahan jeritnya saking kaget dan
herannya. Ibunya telah berubah menjadi wanita
yang wajahnya berbeda sama sekali!
"Ihh...., ibu! Engkau harus mengajarkan ilmu
menyamar ini kepadaku kata Hong Lan sambil
tertawa dan merangkul ibunya.
Pada saat itu, nampak seorang laki setengah
tua, tetangga mereka berlari-larian mengetuk pintu
depan rumah pendekar itu. Ketika mereka bertiga
ke luar, laki-laki itu dengan napas terengah-engah
berkata, "Si-taihiap. Ada serombongan pasukan
kerajaan memasuki dusun kita dan bertanya-tanya
tentang rumah taihiap. Mereka sedang menuju ke
sini“ Setelah mengatakan laporan ini, tetangga itu
lalu pergi menyembunyikan diri dengan ketakutan.
Keluarga pendekar itu terkejut mendengar ada
seregu perajurit kerajaan mencari mereka, akan
tetapi mereka masih bersikap tenang. "Sebaiknya
kalian berdua berkemas dan dengarkan perca
kapanku dengan pimpinan regu. Kalau aku
mengatakan bahwa kalian tidak berada di rumah,
cepat pergi tinggalkan rumah dari pintu belakang
dan tunggu aku diluar dusun, di hutan kecil tepi
sungai tempat biasa mengail ikan."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ibu dan anak itu tidak perlu mendapat
penjelasan lagi. Mereka segera memasuki kamar
dan berkemas. Ketika rombongan pasukan
kerajaan itu memasuki pekarangan rumah, mereka
telah siap dengan buntalan pakaian di punggung
dan mereka berdua mengintai dari dalam.
Dengan sikap tenang Si Han Beng menyambut
rombongan perajurit itu. Mereka terdiri dari dua
losin orang, menunggang kuda dan kini mereka
semua meloncat dari punggung kuda, berdiri rapi
dan membiarkan komandan mereka, seorang
perwira tinggi, melangkah maju menghadapi Si
Han Beng "Si Han Beng katanya dengan suara
lantang dan berwibawa. "Sambutlah perintah dari
Sribaginda Kaisar!"
Mendengar ini dan melihat perwira itu
mengeluarkan segulung surat perintah kaisar, Han
Beng terkejut diapun berlutut sebagaimana
layaknya seorang rakyat menyambut perintah
kaisarnya.
"Hamba Si Han Beng mendengarkan perintah
Sribaginda Kaisar!" katanya.
Perwira itu lalu membentangkan gulungan surat
perintah, membacanya dengan suara lantang.
"Kami mengundang Huang-ho Sin-liong Si Han
Beng dan isterinya, Bu Giok Cu, dan puteri
mereka. Si Hong Lan, agar secepat mungkin datang
berkunjung ke istana. Tertanda Kaisar Tang Tai
Cung."
Komandan itu menggulung kembali surat
perintah dan menyerahkannya kepada Si Han Beng
yang menerimanya dengan kedua tangan, sambil
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berkata, "Kami harap agar Si-taihiap suka bersiap
sekarang karena kami mendapat perintah untuk
mengajak tai-hiap bertiga sekarang juga berangkat
ke kota raja." Si Han Beng bangkit berdiri setelah
gulungan surat itu diterimanya. Kini yang dia
hadapi hanyalah seorang perwira tinggi, seorang
utusan karena cara penyambutan perintah kaisar
secara resmi telah dilakukannya. "Harap ciangkun
kembali lebih dahulu ke kota raja. Kami akan
segera menyusul," katanya.
"Ah, hal itu tidak mungkin kami lakukan,
taihiap!" Kami telah menerima perintah atasan
kami bahwa kami harus mengajak taihiap
sekarang juga ke kota raja, maksud kami, tai-hiap
bertiga isteri dan puteri."
Han Beng mengerutkan alisnya dan mandang
tajam wajah perwira itu. Seorang panglima muda
yang usianya sekitar empatpuluh tahun dan
nampak gagah perkasa. "Ciangkun, Sribaginda
mengundang kami, akan tetapi kenapa ciangkun
seperti hendak memaksa kami ?"
"Tai-hiap, kami hanya melaksanakan perintah
atasan. Taihiap bertiga memang diundang ke
istana, akan tetapi harus sekarang bersama kami."
"Hemm, kalau kami tidak mau berangkat
sekarang bersamamu?"
"Maaf, terpaksa kami akan melaksanakan
perintah, yaitu kalau tidak dapat mengajak taihiap
bertiga sebagai tamu undangan, kami harus
membawa taihiap bertiga sebagai tawanan!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Begitukah perintah Sribaginda? Tidak kubaca
dalam surat undangan ini.”
"Ini merupakan perintah atasan kami!" panglima
itu berkeras.
"Aku hanya menaati perintah Sri baginda Kaisar,
bukan panglima yang manapun juga." Kata Si Han
Beng dengan suara lantang dengan maksud agar
terdengar oleh isteri dan anaknya. "Pula tidak
mungkin kami berangkat sekarang karena isteri
dan puteriku tidak berada di rumah saat ini!"
Ucapan ini tentu saja merupakan isyarat bagi Bu
Giok Cu dan Si Hong Lan untuk cepat
meninggalkan rumah melalui pintu belakang.
Panglima itu mengerutkan alisnya memandang
kepada pendekar itu dengan sinar mata tajam
penuh selidik.
“Si Han Beng, kami minta agar engkau tidak
berbohong kepada kami. Tadi kami sudah
mendapat keterangan bahwa engkau sekeluarga
berada di rumah, bagaimana sekarang tiba-tiba
saja isteri dan putrimu tidak berada di rumah?"
Dia lalu memerintahkan dua losin anak buahnya,
"Geledah rumah Ini dan cari mereka!”
Para perajurit itu berserabutan masuk ke dalam
rumah itu dan melakukan penggeledahan. Si Han
Beng hanya menonton saja dari luar rumah dan
menahan kesabarannya.
Tentu saja dua losin orang perajurit itu tidak
dapat menemukan Bn Giok Cu dan Si Hong Lan
dan mereka keluar lagi, melapor kepada panglima
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu bahwa yang mereka cari tidak dapat ditemukan
di dalam rumah itu.
"Si Han Beng, apakah engkau hendak
memberontak? Berani engkau membantah perintah
Sri baginda Kaisar? Engkau menyembunyikan
anak isterimu!" Bentak panglima itu.
Kini Si Han Beng tidak dapat menahan lagi
kemarahannya. "Ciangkun, aku percaya bahwa Sri
baginda Kaisar sendiri tidak akan berani bersikap
seperti ini kepadaku. Engkau hanya seorang
perwira, berani begini sombong melebihi
Sribaginda. Engkau patut dihajar!”
Mendengar ucapan ini, panglima itu menjadi
semakin marah dan dia memerintahkan anak
buahnya dengan suara lantang. "Tangkap
pemberontak ini!"
Dua losin anak buahnya itu serentak maju
mengepung, akan tetapi sekali menggerakkan kaki
tangannya. Si Han Beng membuat empat orang
perajurit terlempar dan diapun sekali meloncat sudah
berada di depan panglima itu. Sang panglima
yang sombong itu sudah menggerakkan pedangnya
untuk menyambut Han Beng dengan tusukan ke
arah dada. Si Han Beng membiarkan pedang itu
dekat, lalu tubuhnya miring dan sewaktu pedang
meluncur di sisi tubuhnya, tangannya bergerak ke
samping dan sekali tangkap, dia telah memegang
pergelangan tangan yang membawa pedang dan
terus diputar ke belakang. Karena lengan panglima
itu kini tertelikung ke belakang dan terus didorong,
maka tentu saja terasa nyeri hampir patah dan
pedangnya terlepas.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Pergilah!" bentak Si Han Beng dan panglima itu
terdorong ke depan dan jatuh tertelungkup
sehingga hidungnya berdarah. Akan tetapi,
panglima itu agaknya masih mengandalkan
keduduk-dan pasukannya.
"Tangkap pemberontak itu! Bunuh!" perintahnya
kepada anak buahnya sambil merangkak bangun.
"Hemm, agaknya engkau yang menjadi kaki
tangan pemberontak!" Han Beng berseru dengan
gemas dan sekali kakinya terayun, dagu panglima
itu telah ditendangnya dan kini panglima itupun
terpental dan jatuh pingsan. Han Beng 1alu
mengamuk dan enam orang perajurit yang berani
mencoba untuk mengeroyoknya, dirobohkan
dengan tamparan dan tendangan. Sisanya menjadi
jerih dan hanya berdiri saja, tidak berani
menyerang.
Han Beng tidak memperdulikan mereka, lalu
menutup semua daun pintu menyerahkan
rumahnya kepada dua orang pembantu, dan
diapun pergi membawa buntalan pakaiannya,
menyusul isteri dan puterinya. Tidak ada
seorangpun dari para perajurit yang berani
mengejarnya.
Bu Giok Cu dan Si Hong Lan sudah menanti
Han Beng di hutan kecil tepi sungai. Dengan
singkat Han Beng menceritakan apa yang terjadi
dan isterinya ikut merasa tak senang.
"Sungguh aneh," kata Hong Lan. "Ayahanda
Kaisar adalah seorang yang pandai menghargai
orang gagah dan kalau beliau mengundang kita,
kenapa komandan pasukan yang menjadi utusan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu bersikap kasar dan sombong? Ini aneh sekali,
dan biar nanti akan ku laporkan kepada ayahanda
kaisar."
Han Beng lalu menyamar pula. Setelah terjadi
peristiwa keributan dengan pasukan itu, berarti
ada seseorang, mungkin atasan komandan
pasukan itu, yang tidak senang kepada dia
sekeluarga, dan kalau mereka bertiga masuk
secara berterang di kotaraja, mungkin saja di sana
ada bahaya besar mengancam mereka. Keluarga
pendekar ini lalu melakukan perjalanan cepat
menuju kotaraja.
o)0o-dw-o0(o
Coa Thian Ki dan Kam Cin tiba di kota raja.
Mereka sengaja memasuki kota raja di waktu pagi
dan malam tadi mereka bermalam di sebuah
dusun di luar kota raja, dan begitu masuk kota
raja, merekapun langsung saja menuju ke istana
kaisar. Di gardu penjagaan depan lapangan luas
yang merupakan pekarangan istana, mereka
dihadang sepasukan pengawaI.
Seorang komandan yang bersikap ramah dan
hormat melihat sikap pemuda dan gadis itu yang
membayangkan kegagahan, segera bertanya, "Ada
keperluan apakah ji-wi (kalian berdua) hendak
memasuki daerah istana?"
o)0o-dw-o0(o
Jilid 33
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kami berdua ingin menghadap Sribaginda
kaisar," kata Thian Ki dengan sikap sederhana.
Ucapan ini memancing tawa dan senyum para
perajurlt pengawal. Begitu mudahnya pemuda ini
mengatakan hendak menghadap kaisar, seolah
menghadap kaisar sama dengan menghadap
seorang lurah saja!
"Maaf, tidak begitu mudah untuk dapat
diperkenankan menghadap Srlbaginda, sobat,"
kata komandan itu. "Ji-wl harus lebih dahulu
mendaftarkan diri, menulis nama dan alamat, dan
juga menuliskan maksud permohonan menghadap
beliau."
Thian Ki dapat mengerti peraturan ini, akan
tetapi Cin Cin agak cemberut. Untung bahwa
komandan jaga itu dan anak buahnya bersikap
sopan. Coba mereka itu bersikap congkak atau
berani kurang ajar, tentu dara ini sudah menghajar
mereka. Jengkel ia melihat betapa keinginan
menghadap kaisar saja dipersulit.
"Kami berdua datang membawa surat dari Puteri
Sri baginda yang bernama Hong Lan, apakah itu
belum cukup untuk membolehkan kami
menghadap Sribaginda sekarang juga?"
Mendengar disebutnya nama Hong Lan,
komandan itu bersikap lebih ramah lagi. "Ah, tentu
saja, nona. Tentu saja boleh menghadap Sri
baginda, akan tapi kami harus mematuhi
peraturan, kalau tidak, kalau kami membiarkan
saja ji-wi masuk tanpa didaftar, tanpa di laporkan
lebih dahulu, tentu kami yang akan menerima
hukuman berat!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Sudahlah, Cin-moi. Perwira ini benar. Mari,
ciangkun, kami akan mendaftarkan diri," kata
Thian Ki dan mereka berdua lalu memasuki gardu,
dipersilakan duduk dan disodori buku di mana
mereka harus mendaftarkan diri. Thian Ki yang
lebih dahulu menuliskan namanya dan begitu
komandan itu melihat nama Coa Thian Ki ditulis di
sana. dia terkejut..
"Ah, kiranya tai-hiap yang bernama Coa Thian
Ki?"
"Benar, kenapakah?" tanya Thian Ki.
"Sungguh kebetulan sekali! Saya beruntung
sekali hari ini bertugas jaga di sini sehingga tanpa
bersusah payah dapat dapat menemukan tai-hiap!
Sudah berhari-hari Pangeran Li Cu Kiat
mengerahkan banyak penyelidik untuk mencari
tai-hiap, siapa kira hari ini saya yang dapat
menemukan tai-hiap secara begini mudah!"
Komandan jaga itu nampak gembira bukan main
karena dia tentu akan menerima hadiah besar dari
Pangeran Li Cu Kiat.
"Pangeran Li Cu Kiat? Kenapa beliau mencaricariku?"
tanya Thian Ki heran karena dia belum
mengenal siapa Pangeran Li Cu Kiat itu.
"Pangeran Li Cu Kiat memesan agar kalau dapat
bertemu taihiap, memberitahu bahwa sumoi dari
taihiap sekarang sedang sakit parah dan berada di
Istana pangeran itu, agar taihiap suka cepat
datang berkunjung ke sana."
Tentu saja Thian Ki merasa heran dan juga
terkejut mendengar berita ini. Akan tetapi dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
masih meragukan berita itu, karena bagaimana
mungkin sumoinya yang dia tinggalkan di rumah
ayah tirinya itu kini dapat berada di kota raja dan
dalam keadaan sakit?
"Siapakah sumoiku itu?' Dia menyelidik.
"Kalau tidak salah, namanya Nona Cian Kui
Eng," kata komandan itu.
"Ah, kalau begitu benar!" kata Cin Cin dengan
hati khawatir. "Kita harus segera ke sana!"
“Marilah, Ji-wi kami antar ke istana Pangeran Li
Cu Kiat," kata komandan jaga itu.
Karena agaknya masih terlalu pagi untuk dapat
menghadap Sribaginda Kaisar, maka Thian Ki
mengangguk dan mereka berdua lalu diantar oleh
komandan itu pergi ke istana Pangeran Li Cu Kiat.
Ketika komandan itu melapor kedalam, segera
Pangeran Li Cu Kiat sendiri tergopoh keluar.
Melihat pangeran yang tampan dan anggun itu
menyambut mereka dengan sikap ramah dan sama
sekali tidak memperlihatkan keangkuhan, Thian Ki
dan Cin Cin merasa kagum.
"Saudara yang bernama Coa Thian Ki, suheng
dari Nona Cian Kui Eng?" tanya pangeran itu
dengan lembut, namun sinar matanya memandang
penuh selidik, juga dia memandang kepada Cin Cin
degan sinar mata penuh pertanyaan. Dia harus
yakin dulu bahwa pemuda yang nampak sederhana
ini benar-suheng dari Kui Eng yang amat lihai.
"Benar, Pangeran. Saya bernama Coa Thian Ki
dan nona ini adalah nona Kam Cin. Benarkah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bahwa sumoi Cian Kui Eng berada di sini dan
sedang menderita sakit? Sakit apakah, Pangeran
dan bolehkah kami bertemu dengan sumoi?"
"Mari, silakan. Nona Cian Kui Eng terserang
penyakit yang aneh dan tidak wajar."
Mendengar keterangan itu, tentu saja hati Thian
Ki merasa tidak enak dan khawatir sekali. Mereka
lalu di antar oleh Pangeran Li Cu Kiat menuju
sebuah kamar.
Kamar itu besar dan indah, dan Kui Eng rebah
telentang di atas pembaringan dari kayu berukir
yang indah. Segalanya indah dan bersih di kamar
itu, akan tetapi Kui Eng rebah dengan lesu dan
muka pucat.. Ketika pangeran dan dua orang
tamunya memasuki kamar, Nenek Song dan
Nyonya Li Seng Tek bangkit dari tempat duduk
mereka. Mereka tadi duduk di dekat pembaringan,
agaknya menjaga gadis yang sakit itu. Diam-diam
Thian Ki merasa heran. Mengapa keluarga
pangeran itu nampaknya amat akrab dan amat
sayang kepada Kui Eng ? Dia memberi hormat
kepada nenek dan wanita setengah tua itu ketika
sang pangeran memperkenalkan mereka sebagai
Ibu dan neneknya.
Tiba-tiba nenek itu menggerakkah tongkatnya
yang berbentuk kepala naga dan ujung tongkat itu
sudah mengancam di atas kepala Thian Ki,
membuat pemuda itu merasa heran.
"Benarkah engkau yang bernama Coa Thian Ki?"
Nenek itu bertanya, suaranya masih nyaring dan
galak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Benar sekali, nyonya."
"Jangan panggil aku nyonya, sebut saja nenek
kalau engkau benar suheng dari Kui Eng!" bentak
nenek itu. “Akan tetapi awas, kalau engkau
berbohong dan engkau ternyata bukan suhengnya
yang ia cari, tongkatku ini akan menghancurkan
kepalamu!"
Cin Cin adalah gadis yang pada dasarnya
memiliki watak lincah jenaka dan periang, juga
tabah dan pandai bicara. Kini, melihat watak
nenek itu, ia tidak dapat menahan senyumnya.
Hal ini dapat dilihat si nenek dan tiba-tiba
tongkatnya menyambar dan sudah beralih tempat,
mengancam kepala gadis bertangan kiri buntung
itu.
"Dan kau..... siapakah engkau?"
"Nama saya Kam Cin dan biasa disebut Cin Cin,
nenek yang baik."
"Dan kenapa kau senyum-senyum seperti bocah
nakal itu ?" bentak pula nenek Song dan matanya
yang tua itu masih mencorong tajam.
Cin Cin masih senyum-senyum, “ Nenek yang
baik, saya sungguh kagum melihatmu, sudah
begini tua namun masih penuh semangat! Ingin
saya seperti nenek kalau saya sudah tua kelak."
Sejenak mata tua itu terbelalak dan saling
pandang dengan Cin Cin, kemudian senyum Cin
Cin menular dan nenek itupun tertawa terkekehkekeh
dengan riangnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Heh-heh-heh-heh-heh! Bagus, engkau anak
baik, Cin Cin! Cu Kiat, aku hampir yakin bahwa
dua orang ini memang orang baik-baik, heh-heh!"
kata-kata ini disusul turunnya tongkatnya dan
iapun duduk kembali ke atas kursinya.
"Sumoi....," Thian Ki menghampiri pembaringan
dan membungkuk untuk memeriksa keadaan
sumoinya. Dia meraba nadi pergelangan tangan
Kui Eng dan setelah memperhatikan beberapa
lama, dia memandang kepada Cin Cin penuh
pertanyaan. Gadis ini pun menghampiri dan tanpa
diminta, iapun memeriksa dada Kui Eng dengan
rabaan ujung jarinya.
"Bagaimana pendapatmu, Cin-moi?" tanya Thian
Ki.
"Hemm, ia tidak apa-apa, Koko. Ia tidak.......
tidak sakit........." kata Cin Cin dan Thian Ki
mengangguk membenarkan.
"Heh-heh, tentu saja Kui Eng tidak sakit, akan
tetapi lihat saja nanti kalau ia kumat," kata Nenek
Song.
"Kumat? Thian Ki dan Cin Cin berseru, kaget
dan heran. Dan pada saat itu, terdengar Kui Eng
mengeluh. Thian Ki dan Cin Cin cepat memandang
dan gadis itu mengerutkan alisnya, seperti bangun
dari tidurnya akan tetapi belum buka mata dan
mengigau dengan kata-kata yang tidak jelas,
tubuhnya menggeliat-geliat seperti orang yang
kesakitan hebat.
Ketika Thian Ki meraba dahinya, dia terkejut.
Dahi yang tadi tidak apa-apa itu kini panas sekali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Cin-moi, cepat, kita bantu ia dengan sin-kang!"
kata Thian Ki. Tanpa ragu lagi Cin Cin dan Thian
Ki naik ke atas pembaringan bersila di kanan kiri
Kui Eng dan menempelkan telapak tangan
mereka, tangan Thian Ki di kedua pundak, dan
tangan Cin Cin di dada. Hanya sebentar saja kedua
orang muda yang memiliki sin-kang amat kuat ini
menyalurkan tenaga dan Kui Eng tidak mengeluh
lagi pernapasannya pulih dan ia seperti dalam
tidur biasa.
Thian Ki dan Cin Cin melompat turun dari atas
pembaringan, dan Kui Eng terbangun dari
tidurnya. Mula-mula terbelalak ketika melihat
suhengnya karena berbagai perasaan mengaduk
hatinya di saat ia melihat Thian Ki. Ada rasa heran,
gembira, terharu dan juga duka mengingat akan
keadaan dirinya dan tanpa disadarinya, kedua
matanya menjadi basah. Melihat ini, Thian Ki
menyentuh pundak sumoinya.
"Sumoi, jangan berkeciI hati aku akan berusaha
sekuat tenaga untuk menyembuhkanmu."
Kini pandang mata Kui Eng bertemu dengan Cin
Cin dan kembali ia terbelalak, akan tetapi sekali ini
pandang matanya penuh rasa kaget dan marah. Ia
berusaha untuk bangkit duduk, akan tetapi ia
rebah kembali. Setelah berhari-hari ia diserang
perasaan nyeri yang hebat, dan seringkali pingsan,
tubuhnya menjadi lemah dan kepalanya pening
setiap kali hendak bangkit.
Kui Eng tetap memandang kepada Cin Cin
dengan sinar mata bernyala. Cin Cin tersenyum,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Adik Kui Eng, sebaiknya engkau beristirahat saja,
tubuhmu masih lemah."
"Biarpun tubuhku lemah, aku tidak takut untuk
melawanmu, engkau iblis betina yang hendak
membunuh ayahku!"
Ucapan Kui Eng tentu saja amat mengejutkan
Pangeran Li Cu Kiat, ibunya dan neneknya. Thian
Ki menjadi salah tingkah dan tersipu, akan tetapi
Cin Cin bersikap tenang-tenang saja.
"Eng-moi, apa maksud ucapanmu tadi? Nona
Kam Cin ini hendak membunuh ayahmu? Apa
artinya semua ini?" tanya Pangeran Li Cu Kiat dan
dia sudah siap untuk menghadapi kemungkinan,
sedangkan Nenek Song juga sudah bangkit berdiri,
dan melintangkan Tongkat Naga tangannya.
"Ahh, apakah mataku sudah terlalu tua sehingga
aku salah menilai orang?" teriak nenek itu dan
tongkatnya diamang-amangkan dengan penuh
ancaman ke arah Cin Cin.
Thian Ki. menghela napas panjang dan berkata,
"Harap paduka memaafkan kami, Pangeran.
Sesungguhnya semua ini merupakan urusan
pribadi antara sumoi saya dan juga Cin-moi. Kalau
kami bertiga diperkenankan untuk bicara bertiga
saja, untuk membereskan urusan pribadi ini ......"
“Urusan pribadi bagaimana?” Nenek Song
membentak dengan suara lantang.
"Urusan yang menyangkut diri Kui Eng adalah
urusan keluarga kami pula, apapun yang akan
dibicarakan, harus kami dengar!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ketika Thian Ki memandang heran, pangeran
itu berkata, "Apa yang dikatakan nenekku benar,
Coa-toako. Kami semua menganggap Eng-moi
sebagai anggota keluarga sendiri dan kami ingin
mengetahui semua urusannya, tentu saja kalau ia
sendiri menyetujui." Pangeran itu menoleh ke arah
Kui Eng dengan sinar mata bertanya. Biarpun
tubuhnya lemah, namun kecerdikan Kui Eng tidak
berkurang, ia menghadapi urusan yang amat
penting bagi dirinya, yaitu betapa Pangeran Li Cu
Kiat amat mencintainya dan telah melimpahkan
banyak budi kebaikan dan kecintaan kepadanya.
Namun, hatinya masih melekat kepada Thian Ki
dan sekaranglah saatnya ia harus membiarkan
pangeran itu mengetahui segalanya, yaitu bahwa ia
mencinta suhengnya dan oleh ayahnya bahkan
telah direncanakan menjadi jodoh Coa Thian Ki.
Juga ia harus tahu tentang hubungan Thian Ki
dengan Kam Cin yang dianggapnya musuh besar
yang pernah hendak membunuh ayahnya itu. Kini,
mendengar percakapan mereka dan melihat betapa
Pangeran Li Cu Kiat memandang kepadanya
dengan sinar mata bertanya, iapun berkata kepada
Thian Ki.
"Suheng, aku setuju kalau keluarga Pangeran Li
Cu Kiat ikut mendengarkan urusan pribadiku.
Nah, sekarang katakanlah kenapa engkau kini
agaknya malah membela ia yang dahulu hendak
membunuh ayahku, atau juga guru dan ayah
tirimu sendiri. Kenapa?"
Thian Ki juga mengerti bahwa sekarang dia tidak
dapat merahasiakan hubungannya dengan Cin
Cin. Bagaimanapun juga, orang pertama yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
harus mengetahui adalah Kui Eng! Dia harus
memutuskan tali perjodohannya dengan Kui Eng.
Dia tidak mencinta gadis itu sebagai seorang
kekasih, bahkan rasanya tidak mungkin dia dapat
mencinta gadis yang sejak kecil disayangnya
seperti adik sendiri itu sebagai seorang pria
mencinta seorang wanita. Dan apa salahnya kalau
dia mengakui cintanya kepada Cin Cin di depan
keluarga pangeran ini? Orang sedunia boleh saja
mengetahuinya.
"Baiklah, sumoi, aku akan berterus terang saja
agar engkau mengetahui segalanya. Engkau tentu
masih mengenal Cin-moi, eh. adik Kam Cin ini,
bukan?"
"Tentu saja! Ia adalah murid Tung-hai Mo-li yang
pernah hendak membunuh ayahku!" jawab Kui
Eng marah, dan mukanya yang biasanya pucat itu
kini agak kemerahan karena marah.
''Dan engkau tentu sudah mendegar dahulu itu
bahwa usaha yang dilakukan adik Kam Cin
bukan saja gagal membunuh ayah kita, sebaliknya
ia malah kehilangan tangan kirinya karena
terpaksa aku membuntungi tangan itu untuk
menyelamatkan nyawanya, bukan?"
"Aku sudah mendengar dan aku merasa
menyesal kenapa hanya tangannya yang
kaubuntungi, bukan lehernyal"
"Heh-heh, benar sekali omonganmu, Kui Eng!
Orang yang sudah begitu jahat untuk membunuh
ayahmu, sudah sepatutnya kalau dibuntungi
lehernya!" tiba-tiba Nenek Song berkata dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pangeran Li Cu Kiat mengerutkan alisnya dan
cepat dia mengingatkan neneknya.
"Harap nenek ingat bahwa keluarga kita hanya
berhak mendengarkan, akan tetapi tidak
mencampuri urusan yang kita tidak tahu seluk
beluknya itu. Coa-toako, lanjutkan percakapan
kaIian."
Thian Ki tidak memperdulikan ucapan nenek itu,
dan Cin Cin juga hanya tersenyum. Gadis ini telah
berubah banyak sekali. Setelah ia mendapatkan
cintanya dengan Thian Ki, ia merasa hidupnya
penuh kebahagiaan dan penuh kedamaian, dan ia
mempercayakan selamanya kepada kekasihnya itu.
Coba dahulu ia mendengar ucapan seperti yang
dikeluarkan Kui Eng dan Nenek Song, tentu ia
sudah naik darah dan menantang mereka.
"Sumoi, ketahuilah bahwa adik Kam Cin hanya
menaati perintah gurunya. Ia tidak mempunyai
permusuhan pribadi dengan ayah kita, dan kini ia
telah menyadari bahwa gurunya itu yang bersalah,
bukan ayah kita."
"Hemm, dan karena ia telah menyadari, maka
engkau berbaik dengannya dan membelanya,
suheng?"
"Bukan hanya karena itu, sumoi melainkan,
terus terang saja karena sebenarnya kaulah orang
pertama yang berhak mengetahuinya, kami, yaitu
aku dan adik Kam Cin, kami saling mencinta dan
sudah mengambil keputusan untuk hidup bersama
selamanya sebagai suami isteri.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sepasang mata Kui Eng terbelalak. "Kau.....
kalian..... saling mencinta.......?" katanya lirih dan
tergagap. "...... tapi aku ..... kita .....bagaimana
dengan perjodohan antara kita yang ditentukan
ayah?"
Thian Ki merasa sungkan dan tidak enak sekali
karena percakapan pribadi itu didengarkan
keluarga pangeran itu. Akan tetapi, dari sikap
pangeran itu dan ibu serta neneknya terhadap Kui
Eng, dia dapat menduga bahwa pangeran itu
agaknya jatuh cinta kepada Kui Eng dan
keluarganya menyetujuinya. Sementara itu,
mendengar ucapan Kui Eng sebagai pertanyaan
yang diajukan kepada Thian Ki, Pangeran Li Cu
Kiat mengerutkan alisnya, demikian pula ibunya
dan neneknya saling pandang dengan alis
berkerut. Mereka terkejut dan juga kecewa
mendengar bahwa Kui Eng telah dijodohkan
dengan suhengnya. Kini pangeran itu mengerti
mengapa Kui Eng belum dapat menjawab ketika
dia menyatakan cintanya. Kiranya gadis itu telah
mempunyai tunangan, yaitu suhengnya sendiri dan
kini suhengnya itu menyatakan cinta pada gadis
lain!
"Sumoi. biarlah engkau mendengar baik-baik
dan disaksikan oleh keluarga yang terhormat ini,"
kata Thian Ki dengan lembut namun dengan penuh
ketegasan. "Kita berdua bukan saja suheng dan
sumoi, juga kita adalah saudara tiri. Sejak kecil
kita berkumpul dan bergaul sehingga aku selalu
mencintamu seperti adikku sendiri. Engkaupun
menyayangku sebagai kakakmu. Bagaimana
mungkin kita dapat mencinta sebagai suami isteri?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Aku saling mencinta dengan adik Kam Cin ini,
sumoi. Aku merasa bahwa sebaiknya kalau aku
berterus terang saja kepadamu, karena pernikahan
tanpi cinta yang dipaksakan, akan menghancurkan
kehidupan kita berdua. Aku menyayangmu sebagi
adik sendiri, sumoi, dan engkau tentu dapat
merasakan dan mengerti benar. Nah, aku sudah
mengeluarkan isi hatiku, mudah-mudahan saja
engkau akan mampu mempertimbangkan dan
mengerti."
Suasana menjadi hening sejenak, setelah Thian
Ki berhenti bicara. Keluarga pangeran itu adalah
keluarga bangsawan yang menjunjung tinggi
kegagahan, maka mendengar ucapan Thian Ki
yang jujur dan tegas itu, mereka merasa kagum.
Kui Eng sendiri terkejut, akan tetapi tidak merasa
heran karena sekarang iapun dapat merasakan
kebenaran ucapan Thian Ki. Mereka memang
saling menyayang sejak kecil, dan kesayangan
mereka satu sama lain adalah kesayangan antara
saudara. Sekarang baru ia dapat merasakannya.
Yang membuat ia bengong adalah melihat
kenyataan yang amat aneh itu. Thian Ki dan Kam
Cin saling mencinta setelah Thian Ki membuntungi
tangan kiri gadis itu!. Kalau mereka saling
mendendam, hal itu adalah wajar saja. Akan tetapi
saling mencinta?
Suheng, aku dapat menghargai keterusteranganmu
ini. Akan tetapi, kenapa engkau tidak
membantah dan menerima saja ketika ayah
mengusulkan perjodohan di antara kita?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Sumoi, bagaimana mungkin aku berani
menolaknya begitu saja? Aku tidak ingin
mengecewakan hatinya, dan sebagai murid, juga
sebagai anak tiri, aku harus mematuhinya.
Maksudku, aku diam saja dan perlahan-lahan,
akan kuberi tahu. Sekarang, aku bahkan mohon
kepadamu agar engkau membantu aku memberi
tahu kepada ayah kita."
"Dan bagaimana pula engkau dapat saling
mencinta dengan enci Kam Cin yang telah
kaubuntungi tangan kirinya ini? Enci Kam Cin,
sepatutnya engkai membenci dan mendendam
kepada suheng, akan tetapi kenapa......7"
Cin Cin tersenyum manis. "Adi Kui Eng, dia.
membuntungi tangan kiriku bukan karena
membenci, melainkan karena hendak
menyelamatkan nyawaku, dan aku kehilangan
tangan ini karena ulahku sendiri, karena salahku
sendiri mungkin ini merupakan hukuman bagiku
karena aku hendak membunuh ayahmu yang tidak
mempunyai kesalahan apapun terhadap diriku."
Tiba-tiba Kui Eng mengeluh dan sakitnya
kambuh. Matanya terpejam dan tubuhnya
menggeliat-geliat. Melihat ini cepat Thian Ki
memberi isyarat kepada Cin Cin dan seperti tadi,
mereka menempelkan telapak tangan ke pundak
dan dada Kui Eng dan sebentar saja, keadaan Kui
Eng sudah pulih kembali dan iapun sudah tenang
kembali. Akan tetapi, gadis itu menjadi semakin
lemah dan nampaknya tidur.
"Ibu. nenek, aku tidak mungkin dapat
mendiamkan saja! Aku akan mencari tosu itu!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tiba-tiba Pangeran Li Cu Kiat membentak marah
dan dia sudah mencabut pedangnya.
"Cu Kiat. sudah kukatakan bahwa tanpa bukti,
tidak boleh engkau bertindak. Ingat, dia adalah
sahabat Kaisar! Dan sungguh tidak baik kalau
engkau menggunakan kekerasan tanpa adanya
bukti. Bukankah Kaisar pernah menegurmu
karena sikapmu yang kasar terhadap tosu itu?
Nah, itu membuktikan bahwa tosu. itu mempunyai
pengaruh terhadap kaisar," kata Nenek Song.
Mendengar ini. Thian Ki segera berkata, "Mohon
maaf. akan tetapi siapakah tosu siluman yang
dimaksudkan pangeran? Dan apakah dia
mempunyai hubungan dengan sakitnya sumoi?"
"Tosu dukun lepus itu yang membuat Kui Eng
sakit dengan ilmu hitamnya!" Nenek Song berseru
sambil mengetuk-ngetukkan tongkatnya di atas
lantai karena marah.
Sepasang mata Cin Cin mencorong marah. "Biar
kami yang pergi menghajarnya. Pangeran. Tolong
beritahukan di mana kami dapat mencarinya."
"Benar. Pangeran. Kami berdua yang akan
menghentikan kejahatannya demi menyelamatkan
sumoi." kata pula Thian Ki .
"Bagus!" Nenek Song berseru "Kalau kalian dapat
membasmi tosu dukun lepus itu, barulah kami
percaya akan kesungguhan hati kalian terhadap
Kui Eng!” Mereka lalu memberitahu kepada Thian
Ki dan Cin Cin bahwa tosu yang dimaksudkan
berjuluk Im Yang Sengcu dan tinggal di kuil istana
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang berada di bukit buatan di lingkungan
belakang Istana.
"Akan tetapi harap Coa-twako berhati-hati." kata
Pangeran Li Cu Kiat. “Im Yang Sengcu itu lihai
sekali, juga dia memiliki murid-murid yang lihai."
"Imu silatnya sih tidak berapa hebat, akan tetapi
ilmu hitamnya amat jahat. Kalian harus berhatihati,"
kata pula Nenek Song.
Thian Ki memberi hormat kepada tiga orang itu
dan berkata dengan sikap dan suara serius kepada
Pangeran Li Cu Kiat, "Pangeran, harap jaga sumoi
baik-baik."
Mendengar ini. Nenek Song berseru, "Kaukira
siapa yang menjaganya siang malam dengan setia?
Cucuku ini sampai berhari-hari kurang makan
kurang tidur karena menjaga Kui Eng yang sakit!"
Thian Ki saling pandang dengan Cin Cin,
kemudian dia kembali menatap wajah pangeran itu
dan berkata lirih "Terima kasih. Pangeran.
Percayalah paduka tidak salah pilih." Setelah
berkata demikian, Thian Ki mengajak Cin Cin
meninggalkan gedung itu dan mereka segera pergi
menuju ke pintu gerbang istana. Ketika kepala jaga
melihat mereka dan menerima surat keterangan
dari Pangeran Li Cu Kiat bahwa Thian Ki dan Cin
Cin adalah utusannya untuk mengunjungi kuil dan
menemui Im Yang Sengcu, kepala jaga itu tidak
berani melarang dan dia bahkan menunjukkan di
mana letak kuil di bukit buatan itu. Tanpa
mengalami rintangan, kedua orang muda itu dapat
memasuki pomplek istana dan langsung saja
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengambil jalan melalui pekarangan dan taman
menuju ke kuil.
Kuil Itu nampak sunyi dan dengan
kepandaiannya yang tinggi. Thian Ki dan Cin Cin
dapat menyelinap ke arah belakang kuil. Beberapa
orang murid dan anak buah Im Yang Sengcu yang
nampak di sekitar kuil tidak dapat melihat gerakan
dua orang yang amat cepat itu dan yang nampak
hanya bayangan berkelebat.
Di Pondok kecil belakang kuil, tempat yang
biasanya dipergunakan untuk bersamadhi, bertapa
atau menyendiri itu lm Yang Sengcu berada
seorang diri. Semua pintu dan jendela pondok kecil
itu tertutup. Dia sedang bersila di depan meja
sembahyang dan ada asap mengepul dari seikat
dupa yang membara. Asap itu membubung ke atas
dengan lurus akan tetapi asap itu bergoyanggoyang
seolah mahluk hidup yang sedang
menderita kesakitan. Berulang kali tosu itu
mengeluarkan suara membaca mantram dan
kedua tangan yang tadinya bersilang depan dada,
kadang didorongkan ke arah asap itu.
Dia merasa penasaran sekali. Kenapa dia selalu
gagal dalam pengerahan tenaga ilmu hitamnya
untuk membunuh gadis yang dimusuhinya itu?
Setumpuk pakaian wanita berada di atas meja
sembahyang itu. Itulah pakaian Kui Eng yang
diambilnya dari kamar losmen dan pakaian bekas
dipakai gadis itu, yang belum sempat dicuci, itulah
yang dijadikan jembatan untuk menyerang gadis
itu dengan ilmu hitam. Dia telah berhasil membuat
gadis itu terserang penyakit aneh, namun dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
selalu gagal untuk membunuh mangsanya. Dia
merasa penasaran bukan main. Baru sekali ini dia
gagal !
Dengan hati yang penuh dendam dan
penasaran, Im Yang Sengcu lalu mengeIuarkan
sehelai kertas yang biasa dipakai untuk membuat
hu (surat jimat) lalu sambil berkemak-kemik
membaca doa dia menuliskan tiga buah huruf di
kertas itu, yaitu tiga huruf nama Cia Kui Eng!
Kemudian, dia menusuk kertas itu dengan
pedangnya, lalu mengangkat pedang yang sudah
menusuk kertas itu ke atas dan mengeluarkan
suara yang terdengar menggetar penuh kekuatan
sihir.
"Cian Kui Eng, engkau telah berada dalam
kekuasaanku dan sekarang engkau akan kubakar,
terbakar habislah seluruh perasaanmu, hangus
seluruh jasmanimu!" Dan dia menjulurkan pedang
yang ujungnya menusuk kertas itu ke arah lilin
besar di meja sembahyang. Tiba-tiba terdengar
suara berdesing dan sebuah benda kecil hitam
menghantam pedang itu.
"Tringgg.....!!" Pedang di tangan Im Yang Sengcu
tergetar hebat dan kertas yang tadi tertusuk di
ujung pedang itupun terlepas dan melayang. Sesosok
bayangan hitam berkelebat dan menyambar.
Im Yang Sengcu terkejut dan bangkit berdiri,
melihat dua orang telah berada di dalam
pondoknya. Seorang pemuda sederhana yang telah
memegang surat hu dengan nama Cian Kui Eng
yang ditulisnya tadi, dan seorang gadis yang
buntung tangan kirinya sebatas pergelangan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Siapakah kalian? Berani mati memasuki
pondok pinto tanpa ijin!" bentaknya sambil
menudingkan pedangnya, diam-diam mengerahkan
kekuatan sihirnya, memandang dengan mata
mencorong, berkemak-kemik lalu membentak,
"Hayo kalian berdua berlutut! Berlutut kataku!!"
Thian Ki memegang tangan kanan Cin Cin
dengan tangan kirinya, mengerahkan sin-kang dan
seperti biasa, otomatis didasari penyerahan kepada
kekuasaan Tuhan. Biarpun kedua orang ini
merasakan getaran aneh yang seolah hendak
memaksa mereka berlutut, namun kekuatan
getaran itu seperti angin lalu saja dan tidak
meninggalkan bekas.
Diam-diam Im Yang Sengcu terkejut bukan
main. Dua orang muda ini bukan hanya dapat
memasuki pondoknya tanpa diketahui anak
buahnya dan bukan hanya dapat merampas hu di
ujung pedangnya, juga kekuatan sihirnya tidak
mempan terhadap mereka!
Thian Ki membaca nama di atas kertas hu itu,
lalu memandang kepada tosu itu dengan sinar
mata tajam lalu menjawab, "Manusia sejahat iblis
yang berpakaian seperti tosu, tentu engkau yang
disebut Im Yang Sengcu! Engkau telah
mempergunakan ilmu iblis untuk menyerang
sumoiku Cian Kui Eng. Perkenalkanlah, aku Coa
Thian Ki dan aku datang untuk membasmi
pekerjaanmu yang terkutuk ini!"
“Koko, serahkan saja dukun iblis ini kepadaku!
Aku ingin sekali memenggal batang lehernya!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Diam-diam lm Yang Sengcu terkejut dan gentar.
Baru melawan Cian Kui Eng saja dia merasa
kewalahan, apa lagi kini muncul suhengnya dan
juga gadis yang tangan kirinya buntung ini jelas
memiliki ilmu kepandaian tinggi! Maklum bahwa
ilmu sihirnya tidak mempan terhadap dua orang
itu, tiba-tiba saja pedangnya berkelebat ke arah
meja sembahyang dan terdengar ledakan keras
disusul terbakarnya meja sembahyang itu dan
bayangan Im Yang'Sengcu berkelebat lenyap di
balik meja. Dia telah melarikan diri keluar dari
pondok melalui pintu di belakang meja.
"Cin-moi, cepat keluar!" bentak Thian Ki dan
keduanya lalu menerobos keluar dari pintu
pondok. Ternyata lm Yang Sengcu telah berada di
luar pondok dan dia telah mengerahkan limabelas
orang murid dan anak buahnya yang semua telah
memegang senjata! Begitu melihat Thian Ki dan
Cin Cin muncul dari pintu pondok, lm Yang
Sengcu menudingkan pedangnya dan berteriak
dengan suara lantang kepada para murid dan anak
buahnya.
"Tangkap mata-mata pemberontak itu! Kalau
melawan, bunuh mereka!"
Limabelas orang itu mengepung. Dengan sikap
tenang Thian Ki berkata kepada lm Yang Sengcu,
"Im Yang Sengcu kami bukan mata-mata
pemberontak, akan tetapi sesungguhnya
engkaulah yang menjadi jadi racun di istana,
engkau dukun lepus yang jahat, murid iblis yang
hanya mendatangkan kekacauan!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tangkap! Bunuh!!" lm Yang Sengcu berteriakteriak
dan 1imabelas orang itupun mengepung
semakin ketat sambil berteriak-teriak. Akan tetapi
pada saat itu terdengar bentakan nyaring.
"Hentikan semua ini!!'.'
Mendengar suara itu, lm Yang Sengcu dan anak
buahnya terkejut, menengok dan para anak buah
tosu itu segera menjatuhkan diri berlutut, dan tosu
itu sendiri memberi hormat dengan menjura
dalam-dalam. Kiranya yang muncul adalah Kaisar
Tang Tai Cung sendiri! Kaisar yang nampak gagah
perkasa ini ternyata datang berkunjung ke kuil itu
seorang diri saja tanpa pengawal dan mendengar
ribut-ribut di belakang kuil, dia segera berlari
menghampiri dan melihat dua orang muda
dikepung oleh murid dan anak buah Im Yang
Sengcu. Tentu saja kaisar merasa terheran-heran
dan membentak mereka agar menghentikan
keributan itu.
Thian Ki dan Cin Cin juga terkejut, apa lagi
ketika semua orang meneriakkan penghormatan
kepada kaisar dan mereka tahu bahwa yang
muncul adalah Kaisar sendiri. Keduanya juga cepat
memberi hormat dengan berlutut.
Sejenak Kaisar Tang Tai Cung menyapu semua
orang dengan pandang matanya. Alisnya berkerut
tanda kecewa. Tosu yang dikaguminya dan
dianggap sebagai seorang sahabatnya itu ternyata
melakukan perbuatan yang dianggapnya curang
dan memalukan. Mengerahkan limabelas orang
anak buah mengepung seorang pemuda sederhana
dan seorang gadis yang buntung tangan kirinya!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Padahal dia percaya bahwa Im Yang Sengcu adalah
seorang tosu yang sakti.
"To-tiang, apa yang terjadi disini, dan mengapa
tadi kami melihat engkau mengerahkan semua
orang ini untuk mengepung pemuda dan gadis
ini?” tanya Kaisar dengan suara mengandung
penasaran.
"Ampunkan hamba, Sribaginda," kata Im Yang
Sengcu dengan sikap hormat "Dua orang muda ini
adalah mata-mata pemberontak. Buktinya, mereka
memasuki pondok samadhi hamba dan menyerang
hamba. Karena mereka itu memiliki kepandaian
dan berbahaya, maka hamba mengerahkan muridmurid
untuk mengepung dan menangkap mereka."
Kaisar Tang Tai Cung mengerutkan alisnya dan
mengamati Thian Ki dan Cin Cin. Sungguh aneh
kalau ada dua orang mata-mata pemberontak
begitu berani, pagi-pagi sudah berani memasuki
lingkungan istana. Rasanya tidak mungkin. Kalau
mata-mata pemberontak yang memiliki niat buruk,
tentu masuknya seperti maling di malam hari,
tidak secara terbuka seperti mereka berdua itu.
Apalagi melihat mereka berdua itu berlutut dengan
sikap tenang dan berani, sedikitpun tidak nampak
ketakutan seperti layaknya mata-mata
pemberontak kalau tertangkap basah.
"Orang muda. siapakah kalian?" Tanya Sri
baginda Kaisar sambil mengamati Thian Ki dan Cin
Cin penuh perhatian.
"Hamba bernama Coa Thian Ki, Yang Mulia."
"Hamba bernama Kam Cin, Yang Mulia."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Mengapa kalian berdua berani menyelundup ke
sini dan benarkah kalian menyerang lm Yang
Sengcu tanpa sebab?"
"Sebelum hamba memberi keterangan,
perkenankan dulu hamba menyerahkan surat ini,
karena sesungguhnya, hamba berdua datang ke
kota raja dengan maksud menghadap paduka dan
menyerahkan surat ini." Thian Ki mengeluarkan
surat dari Hong Lan.
Melihat ini, Im Yang Sengcu khawatir dan
cepat-cepat dia mendekat "Sri baginda, harap
jangan menerima benda itu. Biarkan hamba yang
menerimanya dan memeriksanya lebih dulu, siapa
tahu dia hendak mencelakai paduka!"
"To-tiang," kata Kaisar dengan suara yang
nadanya tidak senang. "Begitu lemahkah kami
sehingga orang mampu mencelakai kami semudah
itu? Sejak kapan to-tiang menganggap kami
sebagai orang yang tak berdaya?"
"Ampun, Sri baginda, hamba hanya
mengkhawatirkan keselamatan paduka,” kata tosu
itu dengan muka kemerahan apa lagi melihat
Thian Ki dan Cin Cin tersenyum mengejek
kepadanya.
Kaisar Tang Tai Cung menerima surat itu dan
seketika wajahnya berseri gembira ketika dia
melihat bahwa surat itu datang dari Hong Lan.
puteri angkatnya yang disayangnya. Dia mengenal
tulisan Hong Lan. "Aha, kiranya kali merupakan
sahabat-sahabat baik puteri dan kini menjadi
utusannya?" katanya girang dan dia cepat
membaca tulisan puterinya. Mula-mula alisnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berkerut membaca bahwa puterinya mohon agar
dia suka menyerahkan dua macam benda yang
amat berharga kepada Coa Thian Ki, akan tetapi
ketika dia membaca penjelasannya. wajahnya
berseri kembali dan habis membaca, dia
memandang kepada Thian Ki dengan kagum.
Puterinya menceritakan dalam tulisannya bahwa
Coa Thian Ki adalah seorang pendekar yang sakti,
yang bahkan menjadi seorang manusia beracun
tubuhnya sehingga semua orang yang
memukulnya akan.mati keracunan, dan Hong Lan
mohon agar diberi obat penawar katak merah
kepada pemuda itu. Juga puterinya minta agar
Liong-cu-kiam diserahkan kepada Thian Ki yang
ternyata murid dari bekas Pangeran Cian Bu Ong
yang tentu saja dia kenal kelihaiannya!
Setelah membaca surat itu, Kaisar Tang Tai
Cung mengelus jenggotnya, biarpun dia seorang
kaisar, akan tetapi dia berjiwa pendekar dan dia
tahu bahwa Pangeran Cian Bu Ong bukan
penjahat, bukan pula pemberontak biasa,
melainkan seorang tokoh Kerajaan Sui yang
berusaha menegakkan kembali Kerajaan Sui yang
sudah jatuh. Karena pedang Liong-cu-kiam
merupakan pusaka pribadi bekas pangeran itu,
maka sudah sewajarnya kalau kini dia
mengembalikannya, apa lagi kalau diingat bahwa
bekas musuh itu kini tidak lagi berusaha untuk
memusuhi Kerajaan Tang.
"Coa Thian Ki dan Kam Cin, kami telah
membaca surat puteri kami. Akan tetapi, kami
ingin lebih dulu mengetahui mengapa kalian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
masuk ke kuil ini dan benarkah kalian menyerang
Im Yang Sengcu?"
Thian Ki lalu menceritakan kepada Kaisar apa
yang telah didengarnya dari Pangeran Li Cu Kiat.
Dia menceritakan betapa sumoinya yang bernama
Cian Kui Eng, puteri suhunya, juga adik tirinya,
ketika memasuki kota raja, di ganggu oleh kepala
jaga di pintu gerbang. Adiknya itu melawan
sehingga kepala jaga itu dihajar dan ketika adiknya
dikeroyok, muncul Pangeran Li Cu Kiat yang
melerainya. Setelah mendengar tentang duduknya
perkara, pangeran lalu bertindak, melaporkan
sikap kepala jaga itu kepada panglima sehingga dia
dihukum. Betapa kemudian, ketika adiknya
bermalam di rumah penginapan, muncul kakak
dari kepala jaga itu hendak membunuh Kui Eng.
Akan tetapi, Kui Eng mampu menangkis, bahkan
kemudian Kui Eng mengejar pembunuh itu.
"Pembunuh itu lari dan kemudian muncul lm
Yang Sengcu yang ternyata adalah guru pembunuh
itu, Yang Mulia, Demikianlah, Cian Kui Eng
dikeroyok oleh Im Yang Sengcu dan anak buahnya.
Ia melarikan diri dan secara kebetulan
bersembunyi di dalam istana Pangeran Li Cu Kiat
dan dilindungi oleh keluarga itu."
Sribaglnda melirik ke arah Im Yang Sengcu yang
mendengarkan dengan alis berkerut akan tetapi
tidak berani menyangkal, hanya menyusun akal
bagaimana harus menghadapi keadaan yang
memojokkan itu.
"Teruskan ceritamu." kala Sri baginda Kaisar
kepada Thian Ki .
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Thian Ki bercerita betapa dia dan Cin Cin
memasuki kota raja pagi itu dan tadinya mereka
hendak langsung menghadap Kaisar menyerahkan
surat. Akan tetapi dari penjaga di pintu gerbang
istana dia mendengar bahwa dia dicari oleh
adiknya yang sedang sakit dan berada di istana
Pangeran Li Cu Kiat. Dia dan Cin Cin segera pergi
kesana dan mendapatkan adiknya memang sedang
sakit parah.
"Cian Kui Eng bukan sakit biasa, Yang Mulia,
melainkan sakit karena pengaruh ilmu hitam.
Hamba mendengar dari Nyonya Song bahwa yang
melakukan penyerangan dengan ilmu hitam
mungkin sekali adalah Im Yang Sengcu. Hamba
dan nona Kam Cin segera melakukan penyelidikan
dan masuk ke sini......"
"Dan mereka menyerang hamba, Sri baginda!" Im
Yang Sengcu memotong.
Kaisar memberi isyarat agar dia diam. lalu
memandang Thian Ki dan berkata dengan suara
memerintah. "Lanjutkan ceritamu!"
"Hamba berdua melihat di daiam pondok itu lm
Yang Sengcu sedang melakukan penyerangan
dengan ilmu sihirnya terhadap Cian Kui Eng. Dia
menggunakan kertas hu yang ditulisi nama adik
hamba itu dan hendak dibakarnya, hamba berhasil
menghalangi dan merampasnya, inilah kertas hu
itu. Yang Mulia." Thian Ki membeberkan kertas hu
bertuliskan nama Kui Eng dan menyerahkannya
kepada Sribaginda yang melihatnya dengan alis
berkerut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hamba melihat pula pakaian adik Kui Eng di
atas meja sembahyang, maka hamba tidak
meragukan lagi bahwa memang tosu jahat ini yang
telah menggunakan ilmu hitam hendak mencelakai
adik hamba. Dia lalu menggunakan sihir,
membakar meja sembahyang dan lari ke luar.
Ketika hamba dan adik Kam Cin mengejar ke luar
pondok, ternyata dia telah mengerahkan anak
buahnya mengepung hamba berdua.”
"To-tiang, benarkah apa yang diceritakan
pemuda ini?" Sribaginda Kaisar menghadapi Im
Yang Sengcu.
"Tidak benar, Sribaginda! Dia berbohong dan
hendak melemparkan fitnah kepada pinto!" bantah
tosu itu dengan suara marah dan matanya
mencorong memandang kepada Thian Ki dan Cin
Cin.
"To-tiang, tulisan siapakah itu?" Sribaginda
Kaisar menunjuk ke arah kertas hu yang masih
terbentang.
"Tidak hamba sangkal, itu memang tulisan
hamba dan memang pinto berniat menghukum
gadis itu. Yang tidak benar adalah sebab-sebab
permusuhan ini, Sri baginda. Permusuhan antara
murid pinto yang bernama Phoa Gu dan nona Cian
Ku Eng merupakan urusan pribadi yang pinto
tidak ingin mencampurinya pula. Akan tetapi
melihat murid pinto dikejar-kejar oleh gadis itu,
tentu saja pinto melerai. Dan pinto menjadi curiga
melihat gadis itu memiliki nama keturunar Cian,
mengingatkan hamba akan keluarga kaisar
Kerajaan Sui. Pinto curiga bahwa ia tentulah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seorang mata-mata pemberontak, maka pinto
hendak menawannya, dan memeriksa teliti. Akan
tetapi ia melarikan diri dan dilindungi oleh keluarga
Pangeran Li Cu Kiat. Nah, karena tidak ada
jalan untuk menangkap gadis mata-mata
pemberontak itu, maka pinto menggunakan ilmu
sihir untuk dapat membunuhnya. Semua ini pinto
lakukan demi keselamatan kerajaan paduka, Sri
baginda."
Tosu itu tidak tahu betapa semalam Kaisar
dilayani selirnya terkasih. Bu Mei Ling. Dalam
kesempatan yang amat baik itu, ketika Kaisar
dibuai kemesraan yang dilimpahkan selir itu
kepadanya, merasakan betapa besar kasih sayang
Bu Mei Ling kepadanya, selir itu dengan hati-hati
dan halus, telah membuka kesadaran Kaisar akan
bahaya besar yang datang dari lm Yang Sengcu.
Dengan amat lembut dan cerdik sehingga tidak
mengejutkan, Bu Mei Ling menuntun Kaisar ke
dalam pemikiran yang membuat dia diam-diam
menaruh curiga kepada lm Yang Sengcu. Segala
perbuatan tosu itu yang lalu, dicatat dengan amat
cermat oleh Bu Mei Ling dan malam itu, semua
perbuatannya yang bersifat palsu dan buruk,
diungkapkan. Bahkan yang terakhir, betapa Im
Yang Sengcu seolah hendak menjauhkan
keakraban hubungan keluarga kaisar ketika
melaporkan tentang sikap Pangeran Li Cu Kiat
kepada Kaisar, mengatakan bahwa pangeran
menghina Im Yang Sengcu. Dengan cerdik Bu Mei
Ling mengingatkan kaisar betapa setianya keluarga
pangeran itu, tidak pernah mencampuri urusan
persaingan kekuasaan, bahkan keluarga yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
gagah perkasa itu dikenal sebagai keluarga yang
selalu menjunjung dan membela kebenaran dan
keadilan. Oleh karena pengaruh semalam masih
kuat melekat di hatinya, maka pagi itu Kaisar
datang ke kuil untuk sekali lagi memperhatikan
sikap dan tingkah tosu yang mulai mencurigakan
hatinya itu. Dan ternyatai dia melihat tosu itu
hendak melakukan kecurangan kepada orangorang
muda. Bahkan lebih dari itu, dia mendengar
bahwa Im Yang Sengcu mempergunakan ilmu
hitam untuk membunuh puteri bekas Pangeran
Cian Bu Ong yang dia kagumi kegagahannya.
Sekarang, tosu itu berdalih bahwa dia melakukan
perbuatan pengecut yang hanya patut dilakukan
oleh golongan hitam yang sesat itu adalah untuk
menjaga keselamatan Kerajaan! Diam-diam,
kegagahan di hati kaisar pendekar itu tersinggung
dan diapun mengambiI suatu keputusan tegas.
"Kiranya sudah cukup kami mendengar
keterangan ke dua pihak. Coa Thi-Ki, engkau
sudah yakin bahwa Im Yang Sengcu telah
melakukan kejahatan terhadap adikmu Cian Kui
Eng dan engkau berniat hendak menghukumnya?"
"Hamba sudah yakin. Yang Mulia. dan bukan
semata karena dia berbuat jahat terhadap adik
hamba saja maka hamba menentangnya,
melainkan karena sudah menjadi kewajiban hamba
untuk menentang kejahatan yang dilakukan oleh
siapapun terhadap siapapun,” jawab Thian Ki
penuh semangat.
Kaisar mengangguk dan diam-diam merasa
kagum. Dia sendiri juga bersikap seperti pemuda
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ini ketika dia masih muda dan malang melintang di
dunia kang-ouw. Lalu dia menghadapi Im Yang
Sengcu.
"lm Yang Sengcu, apakah engkaupun sudah
yakin bahwa pemuda ini seorang mata-mata
pemberontak yang harus ditangkap atau
dibunuh?"
Dengan cepat lm Yang Sengcu merangkap kedua
tangan depan dada. "Ooo, pinto yakin sekali,
Sribaginda. Menurut perhitungan pinto, kalau
kedua orang muda ini tidak dibasmi sekarang
kelak mereka akan menjadi ancaman besar bagi
kejayaan kerajaan paduka! Karena itu,
perkenankan hamba menangkap mereka dan ......"
"Nanti dulu, to-tiang. Rupanya ada perbedaan
pendapat yang amat besar di antara Coa Thian Ki
ini dan engkau. Kita semua adalah orang-orang
yang menghargai kegagahan dan kami jijik dengan
kepalsuan dan kecurangan. Oleh karena itu,
sekarang juga kami memutuskan agar di antara
kalian berdua membuktikan kebenaran masingmasing
dengan pertandingan satu lawan satu yang
adil. Kami tidak menghendaki kecurangan dan
pengeroyokan. Beranikah engkau kalau kami
perintahkan bertanding melawan Im Yang Sengcu
untuk mempertahankan kebenaranmu. Coa Thian
Ki?"
Thian Ki tersenyum tenang. "Tentu saja hamba
berani membela kebenaran dan keadilan dengan
taruhan nyawa hamba, Yang Mulia."
"Dan engkau bagaimana, Im Yang Sengcu.
Beranikah engkau bertanding satu lawan satu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan pemuda ini? Atau kami akan mendengar
sesuatu yang mustahil, yaitu bahwa Im Yang
Sengcu takut melawan seorang pemuda yang tak
terkenal? Agaknya kaisar sengaja mengeluarkan
ucapan seperti ini untuk mendesak atau
memojokkan tosu itu sehingga tidak dapat menolak
lagi.
"Tentu.... tentu saja.... pinto berani!" Tosu itu
berkata dengan gagap, akan tetapi karena diapun
bukan seorang lemah, bahkan memiliki ilmu silat
yang lihai dan ilmu sihir yang kuat, maka
kepercayaan kepada diri sendiri bangkit kembali.
Pada saat itu, terdengar Cin Cin berkata dengan
suara lantang.
“Yang Mulia, perkenankan hamba yang
menghadapi tosu siluman itu untuk membalaskan
apa yang telah dia lakukan terhadap adik Cia... Kui
Eng."
Mendengar ini, Kaisar Tang Cung memandang
kagum dan heran. Sebagai seorang bekas
pendekar, tentu saja dia mengetahui bahwa bukan
hanya kaum pria yang dapat menguasai ilmu silat
tinggi, juga banyak wanita yang perkasa Akan
tetapi gadis muda ini buntug tangan kirinya,
bagaimana ia berani menantang seorang tangguh
seperti Im Yang Sengcu?
Mendengar ucapan Cin Cin, Im Yang Sengcu
tentu saja tidak ingin lepaskan kesempatan baik
ini.
"Baik, pinto menerima tantangan nona ini untuk
bertanding!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mendengar ini, perasaan tidak senang terhadap
tosu itu makin menjadi, dalam hati Kaisar. Sikap
Im Yang Sengcu yang cepat-cepat menyambut
tantangan gadis bertangan buntung itu saja sudah
jelas memperlihatkan wataknya yang curang dan
licik. Kaisar Tang Tai Cung tersenyum dingin.
"Totiang, tantangan Coa Thian Ki belum juga
kausambut, bagaimana engkau sekarang hendak
menyambut tantangan nona ini?"
lm Yang Sengcu tidak dapat menjawab dan
mukanya berubah merah. Thian Ki segera berkata
kepada kaisar. “Ampun, Yang Mulia. Biar hamba
yang mewakili pula tantangan yang diucapkan
oleh adik Kam Cin ini"
Kaisar tersenyum. "Ha-ha, kalian berdua ini
aneh, seolah bersaing hendak menandingi Im Yang
Sengcu, dan agaknya ingin saling mewakili.
Bagaimana kami dapat mempertimbangkan
apakah kalian berhak untuk saling mewakili?"
"Tentu saja hamba berdua berhak, Yang Mulia,
karena hamba berdua adalah calon suami isteri,"
kata Thian Ki dengan sejujurnya karena dia tidak
ingin sekasihnya menghadapi tosu yang amat
berbahaya itu.
Kaisar Tang Tai Cung mengangguk-angguk dan
kekagumannya meningkat. Dua orang pendekar
muda ini bukan saja gagah perkasa dan berani,
akan tetapi juga jujur dan diam-diam dia merasa
girang karena puterinya ternyata tidak keliru
memilih sahabat. "Bagus, kalau begitu, terserah
kepada kalian berdua untuk menentukan siapa di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
antara kalian yang akan bertanding melawan Im
Yang Sengcu."
"Koko, kenapa engkau hendak mewakili aku
menghadapi tosu iblis ini? Apakah engkau masih
belum percaya akan kemampuanku?"
"Bukan begitu, Cin-moi, akan tetapi tosu ini
curang dan licik, biar aku saja yarg melawannya,"
bantah Thian Ki .
"Dengan adanya engkau di sini, apakah aku
perlu takut akan kecurangannya? Pula, kita sudah
mendengar akan kebijaksanaan Sribaginda Kaisar
yang gagah perkasa, aku yakin beliau tida akan
mengijinkan orang berbuat curang di hadapan
beliau. Koko, setidaknya, berilah kesempatan
kepadaku untuk memperlihatkan bahwa aku
bersungguh-sungguh hendak membela adik Kui
Eng untuk menghapus semua kesalah-pahaman
yang lalu."
Thian Ki dapat memaklumi apa yang terkandung
di dalam hati kekasihnya. Cin Cin merasa tidak
enak kepada Kui Eng, bukan saja karena dahulu
pernah ia hendak membunuh ayah kandung gadis
itu, juga sekarang, tanpa disengaja dan
disadarinya, ia telah merampas pula Thian Ki
darinya! Maka, Thian Ki hanya mengangguk
menyetujui, pula karena dia yakin akan
kemampuan Cin Cin yang pasti akan mampu
menandingi tosu itu. Cin Cin benar. Dia berada di
situ dan kaisar terkenal sebagai seorang yang
menjunjung kegagahan, sehingga tidak ada
kesempatan bagi Im Yang Sengcu untuk berbuat
curang mengandalkan ilmu hitamnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kaisar Tang Tai Cung sendiri ragu-ragu dan
sangsi apakah gadis yang tangan kirinya buntung
itu akan mampu menandingi lm Yang Sengcu,
maka dia lalu berkata, "Nona muda, sudah
kaupertimbangkan baik-baik keinginanmu
menantang Im Yang Sengcu? Ingat, pertandingan
ini haruslah jujur dan tidak boleh keroyokan, juga
kalau sampai ada yang tewas atau terluka parah
dalam pertandingan ini, tidak boleh menuntut atau
menyalahkan siapapun."
"Hamba mengerti, Sribaginda Yang Mulia, dan
hamba siap menanggung segala akibatnya," jawab
Cin Cin dengan gagah.
"Bagus, kalau begitu, kalian berdua mulailah
dan kami yang akan menjadi saksi dalam
pertandingan ini!"
Dengan hati tegang namun sikapnya tenang saja
Thian Ki mundur dan berdiri di pinggir. Juga para
anak buah lm Yang Sengcu tidak ada yang berani
mendekat. Kaisar Tang Tai Cung memberi isyarat
dengan tangan ke atas dan muncullah belasan
orang perajurit pengawal pribadinya. Kaisar ini
maklumi bahwa biarpun dia melakukan perjalanan
seorang diri dan tidak memerintahkan pasukan
pengawal untuk mengiringkannya, namun
pasukan pengawal pribadinya selalu siap tidak
jauh darinya sehingga sewaktu-waktu dia
membutuhkan mereka, maka hanya dengan
mengangkat tangan ke atas, mereka akan
bermunculan! Kaisar itu lalu memerintahkan agar
para perajurit pengawal itu mengambilkan sebuah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kursi untuknya dan menjaga tempat itu agar
jangan diganggu orang luar.
Setelah Kaisar duduk menjadi penonton, Cin Cin
dan Im Yang Sengcu sudah berdiri saling
berhadapan. Wajah Im Yang Sengcu nampak agak
pucat, namun Cin Cin nampak tenang-tenang saja.
Melihat betapa lawannya tidak membawa senjata
apapun, Im Yang Sengcu yang diam-diam merasa
jerih itu melihat keuntungan baik baginya dan
sekali kedua tangannya bergerak, tangan kirinya
sudah membawa sebuah kebutan, sedangkan
tangan kanannya memegang sebatang pedang yang
berkilauan. Melihat ini, Thian Ki lalu berkata
lantang.
"Cin-moi, terimalah pedang ini !" dan begitu dia
menggerakkan tangannya, sinar hitam menyambar
ke arah Cin Cin yang mengangkat tangan
kanannya dan ia sudah menerima sebatang pedang
hitam yang tadi terbang meluncur ke arahnya.
Sebatang pedang hitam yang mengeluarkan sinar
hitam yang aneh dan mengerikan. Itulah Cui-mo
Hek-kiam (Pedang hitam Pengejar Iblis), pedang
pusaka milik Thian Ki yang dia terima dari ibunya.
Melihat pedang hitam itu, lm Yang Sengcu semakin
gentar, akan tetapi dia menutupi dengan bentakan
nyaring dan dia sudah mulai bergerak menyerang
dengan pedangnya, disusul serangan kebutan di
tangan kiri.
Cin Cin maklum bahwa dia menghadapi lawan
tangguh, maka iapun segera mengeluarkan ilmu
pedangnya yang telah mengangkat nama gurunya
menjadi seorang di antara para datuk persilatan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yaitu Koai-1iong-kiam-sut (Ilmu Pedang Naga
Siluman)! Apa lagi kini ia mempergunakan Cui-mo
Hek-kiam, maka terdengarlah suara mengaungngaung
seolah-olah pedangnya telah berubah
menjadi seekor naga hitam yang buas. Menghadapi
serangan yang demikian ganasnya, Im Yang
Sengcu segera memutar sepasang senjatanya,
namun tetap saja gulungan hitam itu terlampau
kuat baginya dan dia segera terdesak hebat!
Melihat ini Kaisar Tang Tai Cung terkejut dan
kagum bukan main. Kini mengertilah dia mengapa
Thian Ki tenang-tenang saja membiarkan calon
isterinya menandingi tosu itu. Kiranya gadis
buntung tangan kirinya itu memang benar-benar
amat lihai. Setelah lewat tigapuluh jurus, nampak
jelas bahwa Im Yang Seng tidak akan menang Dia
hanya berlompatan ke sana sini, main mundur dan
sibuk sekali memutar kebutan dan pedangnya
untuk melindungi dirinya. Bulu kebutannya telah
terbabat putus sebagian dan ketika Cin Cin
mengeluarkan bentakan nyaring, pedang hitam
berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan dari
dalam gulungan sinar itu mencuat kilat hitam
menyambar leher, Im Yang Sengcu melempar
tubuh ke samping, namun tetap saja pundaknya
terobek pedang. Dia terhuyung dan agaknya dia
akan roboh tak lama Iagi.
Tiba-tiba terdengar ledakan dan tampak asap
hitam mengepul tebal. Thian Ki cepat melompat
dekat Kaisar untuk melindunginya dan berbisik.
"Yang Mulia, sebaiknya mundur, asap itu beracun!"
Kaisar Tang Tai Cung mengerutkan alisnya, tak
senang melihat tosu itu menggunakan senjata
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
rahasia seperti itu, dan diapun mundur diikuti
para pengawalnya. Thian Ki tidak khawatir
walaupun dia siap siaga melindungi kekasihnya.
Dan memang Cin Cin tidak perlu dikhawatirkan.
Asap itu adalah asap yang akan mencelakai orang
kalau sampai terhisap atau tersedot. Dan Im Yang
Sengcu menggunakan senjata peledak itupun
karena sudah tidak melihat jalan lain untuk
menyelamatkan dirinja sehingga dia sendiri
mempergunakan obat penawar. Dia tidak tahu
bahwa gadis yang menjadi lawannya itu adalah
seorang ahli bermain dalam air sehingga daya
tahan Cin Cin dalam menghentikan pernapasan
jauh lebih kuat dari pada orang lain. Gadis ini
mampu bertahan sampai puluhan menit di dalam
asap dengan menahan napas dan kini Cin Cin
mengurung dan mendesak lawannya di dalam
gumpalan asap hitam itu. Im Yang Sengcu tidak
dapat melarikan diri keluar dari gumpalan asap
dan mereka berdua bertanding seru di dalam
gumpalan asap beracun itu. lm Yang Sengcu
menjadi semakin panik melihat betapa gadis tu
tidak roboh oleh asap beracunnya, sedangkan dia
sendiri sudah hampir tidak kuat menahan nafas
lebih lama lagi. Dadanya serasa hampir meledak
dan menggembung karena dia menahan
pernapasannya. Karena siksaan dari dalam ini,
gerakannya menjadi lambat dan sebuah tendangan
kaki Cin Cin mengenai perutnya.
"Dess ..... hukkk ...!" Terpaksa Im Yang Sengcu
menghisap udara bercampur asap hitam dan
diapun terhuyung lalu roboh. Pedang dan
kebutannya terlempar. Melihat lawannya sudah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
roboh, Cin Cin juga cepat melompat keluar dari
gumpalan asap dan berlari mendekati Thian Ki,
lalu mulai menghirup udara segar dengan
perasaan lega. Tanpa kata ia mengembalikan
pedang hitam itu kepada kekasihnya.
Di antara gumpalan asap tadi Thian Ki dan
Kaisar masih dapat mengikuti pertandingan itu
dan mereka melihat Im Yang Sengcu roboh. Kaisar
semakin kagum.
"Engkau hebat, nona," kata Kaisar kepada Cin
Cin. "Katakan, siapakah gurumu?"
Dengan sejujurnya Cin Cin menjawab. "Hamba
pernah menjadi murid Tung hai Mo-1i Bhok Sui
Lan, Yang Mulia.”
Kaisar terbelalak. "Ahhh! Datuk di pantai timur
itu? Pantas saja kalau begitu, dan sekarang kami
mengerti mengapa engkau malah mendapat
kemenangan setelah Im Yang Sengcu
menggunakan asap beracun. Engkau seperti juga
gurumu, ahli bermain dalam air, bukan? Dan
karena itu engkau kuat sekali menahan napas."
Cin Cin mengangguk. "Benar sekali apa yang
Paduka katakan,. Yang Mulia."
Setelah asap membubung ke atas dan tidak
nampak lagi. Kaisar sendiri menghampiri tubuh
Im Yang Sengcu yang menggeletak. Mukanya
membiru tanda keracunan dan ketika Kaisar
meraba nadinya. dia menghela napas.
"Dia tewas karena ulahnya sendiri!".
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Thian Ki juga mendekat dan meraba leher tosu
yang rebah mati itu. Diapun yakin bahwa Im Yang
Sengcu telah tewas, bukan karena tendangan Cin
Cin tadi melainkan karena keracunan asap
beracunnya sendiri. Ternyata senjata makan tuan,
karena tidak menyangka bahwa lawannya kuat
sekali menahan napas, maka dialah yang menjadi
korban asap beracunnya.
Kaisar lalu memerintahkan para murid dan anak
buah Im Yang Sengcu untuk mengangkat dan
merawat jenasah lm Yang Sengcu sebagaimana
mestinya. Para anak buah itu dengan sikap hormat
lalu mengangkat jenasah itu dan dibawa masuk ke
kuil.
"Mari kalian ikut dengan kami ke istana
sehubungan dengan surat puteri kami Hong Lan
itu," kata Kaisar kepada Thian Ki dan Cin Cin. Dua
orang muda ini merasa gembira sekali. Mereka
mengikuti rombongan kaisar memasuki Istana dan
di ruangan besar, mereka berdua diterima
menghadap kaisar yang segera mengutus pejabat
yang berwenang mengambilkan dua macam
pusaka istana yang diminta puterinya, yaitu obat
penawar racun katak merah, dan pedang pusaka
Liong-cu-kiam.
Kepada mereka, setelah menyerahkan dua
macam pusaka itu, kaisar memesan agar
disampaikan kepada Hong Lan bahwa dia merasa
rindu kepada puteri angkatnya itu dan
mengharapkan puterinya suka berkunjung ke
istana bersama ayah ibunya. Setelah
menghaturkan terima kasih, Thian Ki dan Cin Cin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berpamit meninggalkan istana dan langsung
mereka pergi ke gedung tempat tinggal Pangeran Li
Cu Kiat.
o)0o-dw-o0(o
"Suheng..... ahhh.. suheng......" Kui Eng merintih
dan mengigau dengan kata-kata yang tidak jelas.
"Eng-moi, suhengmu sedang pergi untuk
menghajar tosu iblis itu. Aku berada di sini, Engmo'l....."
kata Pangeran Li Cu Kiat dengan hati
seperti diremas rasanya. Dia sejak tadi berjaga
dekat situ, akan tetapi gadis yang di jaganya,
dalam keadaan setengah sadar, memanggil-manggil
pemuda lain! Kini dia tahu mengapa Kui Eng ragu
menerima cintanya. Kiranya gadis ini sudah
ditunangkan dengan suhengnya sendiri oleh
ayahnya, akan tetapi ternyata bahwa suhengnya
itu tidak mencintanya, dan agaknya Kui Eng
mencinta suhengnya itu.
Kui Eng membuka mata, seperti mencari-cari
laiu pandang matanya bertemu dengan wajah
pangeran itu. "Ahhh, paduka, pangeran......"
"Hushh...., engkau masih saja memanggil
pangeran kepadaku, Eng-moi. Engkau mencari
suhengmu, Coa Thian Ki?” Dia memaksa bibirnya
tersenyum seolah pertanyaan itu tidak
menunjukkan perasaan yang tertusuk.
"Di mana mereka, pangeran....eh..... Kiat-koko?
Di mana suheng dan juga enci Kam Cin?
Bukankah tadi mereka berada di sini atau
mimpikah aku?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Mereka memang datang dan bahkan tadi
membantumu melawan pengaruh jahat yang
membuatmu sakit, Eng-moi. Dan sekarang mereka
berdua pergi untuk memberi hajaran kepada tosu
keparat yang membuatmu sakit itu."
Kui Eng teringat akan semua peristiwa tadi,
tentang percakapannya dengan Thian Ki, tentang
pengakuan Thian Ki bahwa Thian Ki saling
mencinta dengan Kam Cin, bahwa Thian Ki hanya
mencinta ia sebagai sumoi, sebagai adik dan
bahwa tidak mungkin bagi mereka untuk menjadi
suami isteri. Teringat akan semua itu, ditambah
ingatan bahwa semua percakapan itu didengarkan
olel Pangeran Li Cu Kiat dan ibu serta neneknya,
Kui Eng tak dapat menahan diri lagi, ia menangis!
Pangeran Li Cu Kiat memandang penuh iba,
tidak berani mengganggu, membiarkan saja gadis
itu menangis karena dia tahu bahwa itulah
pelepasan terbalik bagi gadis itu. Setelah tangisnya
mereda, Kui Eng mengangkat muka yang agak
pucat dan matanya yang kemerahan memandang
wajah sang pangeran.
"Pangeran..... Kiat-koko...... paduka .....engkau
tentu amat kecewa mengetahui semua
keadaanku....."
Kini pangeran itu baru berani mengulurkan
tangan dan memegang tangan gadis itu erat-erat.
"Sama sekali tidak kecewa, Eng-moi. Bahkan aku
bergembira. Engkau dan suhengmu dan nona Kam
Cin itu adalah pendekar-pendekar sejati yang jujur
dan suka berterus terang. Aku kini mengerti
semuanya, aku mengerti mengapa engkau tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dapat mengambil keputusan, ragu untuk
menerima cintaku. Kiranya engkau telah
dijodohkan dengan suhengmu sendiri. Dan
suhengmu begitu jujurnya! Dia mengakui bahwa
dia menyayangmu sebaqai kakak, akan tetapi dia
mencinta seorang gadis lain yang menjadi calon
isterinya, yaitu nona Kam Cin. Dan nona itupun
mencintainya walaupun tangannya dibuntungi oleh
suhengmu. Sungguh luar.biasa! Semuanya luar
biasa dan mengagumkan hatiku. Eng moi,
kurasa..... dan kuharap......benar seperti yang
dikatakan suhengmu bahwa cintamu terhadap
suhengmu itu sebenarnya juga merupakan
kesayangan seorang adik terhadap kakaknya.
Kuharap saja cintamu yang sesungguhnya akan
kau jatuhkan kepadaku....." Suara itu demikian
lembut dan mengharukan hati Kui Eng. Ia memang
kagum dan suka kepada pangeran ini dan
andaikata ia tadinya tidak berpikir bahwa ia adalah
calon isteri suhengnya, kiranya tidak akan sukar
menerima dan membalas cinta kasih seorang
pemuda seperti pangeran itu.
o)0o-dw-o0(o
Jilid 34
Kui Eng bangkit duduk dan membereskan
sanggul rambutnya yang terlepas dan terurai.
Ketika kedua tangannya di angkat ke atas
membereskan rambutnya, gerakan itu sungguh
penuh kelembutan, gerakan khas wanita dan sang
pangeran terpesona.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kiat-ko, engkau begini baik kepadaku.....
rasanya aku sebagai' seorang hina yang tidak
berharga sekali...., tidak berharga untuk menerima
cinta seorang pangeran sepertimu. Ah, betapa
kejamnya suheng .......!"
"Eng-moi, harap engkau jangan berpikir seperti
itu. Sesungguhnya, suhengmu itu sama sekali
bukan orang kejam, bahkan dia telah bertindak
bijaksana ketika bicara begitu terus terang dan
jujur. Bayangkan saja, Eng-moi, andaikata dia
tidak sejujur itu, andaikata dia tidak berani
melakukan pengakuan yang amat jujur dan
terdengar keras itu, dia akan merusak kehidupan
empat orang sekaligus!"
Kui Eng terbelalak. "Merusak kehidupan empat
orang? Siapa yang engkau maksudkan, koko? Dan
mengapa merusak kehidupan mereka?"
"Orang pertama yang akan rusak hidupnya
adalah engkau sendiri. Ingat perjodohan yang
membuat dua orang hidup bersama selamanya,
hanya akan membahagiakan kedua orang itu kalau
mereka saling mencinta. Kalau.hanya clnta sebelah
pihak, maka akhirnya perjodohan itu akan hancur
dan kalau kelak engkau mendapat kenyataan
bahwa suamimu tidak mencintamu, apakah hal itu
bukan berarti menghancurkan hatimu? Orang ke
dua tentu saja kehidupan suhengmu sendiri. Dia
akan hidup menderita batin karena dia harus
hidup sebagai suami dari seorang isteri yang tidak
diclnta ya sebagal Isteri, melainkan sebagal adik
dan dia harus berjauhan dengan wanita yang
sesungguhnya dia cinta. Orang ke tiga adalah nona
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kam Cin karena nona itu terpaksa harus berpisah
dari suhengmu, pria yang diclntanya. Orang ke
empat tentu saja aku sediri, karena hidupku akan
terasa rusak apa bila engkau menjadi isteri
suhengmu, berarti akan berpisah dariku. Nah,
indakan suhengmu itu sama sekali bukan suatu
kekejaman, melainkan suatu kebijaksanaan."
Kui Eng diam saja, menunduk dan dapat mulai
memahami kebenaran ucapan pangeran itu. Dan
iapun teringat betapa cinta kasih Cin Cln terhadap
suhengnya itu tentulah besar sekali sehingga
biarpun tangannya dibuntungi Thian Ki, gadis Itu
tetap mencintanya! Pada hal ia sendiri, baru
mendengar Thian Ki nencinta gadis lain saja sudah
marah-marah dan tidak senang, menganggap
Thian Ki kejam! Dan Thian Ki bukan benci
kepadanya, melainkan menyayangnya, sebagai
seorang kakak, ia tidak akan kehilangan Thian Ki
sebagai suheng dan sebagai kakaknya, dan ia
bahkan mendapatkan seorang lain yang juga amat
mencintanya, yaitu Pangeran Li Cu Kiat. Pangeran
itu telah membelanya, melindunginya,
merawatnya, bahkan tidak menjadi marah ketika
mengetahui bahwa pernah mencinta dan bahkan
bertunangan dengan suhengnyal
Melihat sikap Kui Eng yang diam saja dan kini
wajah gadis itu tidak murung seperti tadi, diamdiam
Pangeran Li Cu Kiat merasa lega. "Sudahlah,
Eng moi, jangan memikirkan hal itu lagi. Perlahanlahan
engkau akan mengerti dan engkau akan
dapat mempertimbangkan semua ucapanku tadi,
dan mudah-mudahan saja Tuhan telah
menentukan bahwa jodohku adalah engkau,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
karena hal itu akan membuat hidupku penuh
kebahagiaan Sekarang, sebaiknya engkau rebah
lagi dan beristirahat, engkau sudah duduk terlalu
lama....." Dan baru sekarang pangeran itu
menyadari bahwa gadis itu telah duduk terlalu
lama sekali, hal yang tidak wajar karena biasanya,
duduj sebentar saja sudah merasa pening. "Heii....!!
Aku tidak merasa pening lagi, koko! Dan tubuhku
terasa ringan dan nyaman. Rasa berat dan panas
di dalam dadaku lenyap ..... apakah ini
barangkali.....” Mereka saling pandang dan Kui Eng
meloncat turun dari atas pembaringan dan tentu
akan roboh kalau tidak cepat ditangkap dan
dirangkul pangeran itu.
Akan tetapi Kui Eng tidak pening, dan tertawa.
"Heii, tubuhku sungguh menjadi ringan seperti
tidak bertenaga, akan tetapi terasa nyaman." Ia
melepaskan rangkulan pangeran itu dan duduk di
tepi pembaringan. "Koko, aku sudah sembuh!"
Pangeran Li Cu Kiat memandang dengan wajah
berseri. "Tak salah lagi, tentu mereka telah berhasil
menemukan dan menghajar tosu iblis itu!" teriaknya,
dan pada saat itu, ibu dan neneknya
memasuki kamar.
"Kui Eng, kenapa engkau, duduklah istirahat
saja dulu----" kata Nyonya Li Seng Tek, ibu
pangeran itu.
"Ibu ! Nenek ! Eng-moi sudah sembuh, agaknya
Coa-toako dan nona Kam telah berhasil menghajar
tosu iblis itu!" teriak Pangeran Li Cu Kiai gembira.
"Sukurlah.....!" kata ibunya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bagus! Mudah-mudahan saja tosu dukun lepus
itu telah dibikin remuk kepalanya, dipenggal
batang lehernya dan sekarang sudah mampus!"
kata si nenek galak.
Kui Eng yang merasa sehat dan gembira, segera
berganti pakaian, mandi dan kemudian dengan
lahap ia makan hidangan yang disajikan, ditemani
oleh keluarga itu yang tertawa-tawa gembira
melihat betapa Kui Eng makan dengan lahapnya.
Setelah selesai makan, Kui Eng mengajak
Pangeran Li Cu Kiat untuk pergi menyusul
suhengnya, akan tetapi baru mereka berada di
beranda depan, muncullah Thian Ki dan Cin Cln.
Sebelum mereka bicara, kedua pihak sudah tahu
apa yang terjadi. Kui Eng yakin bahwa tentu
suhengnya telah berhasil menghajar Im Yang
Sengcu, Sebaliknya Thian Ki dan Cin Cin juga
sudah dapat menduga .bahwa Kui Eng telah
sembuh sama sekali.
"Bagaimana, suheng? Apakah engkau sudah
berhasil menghajar tosu siluman itu?” tanya Kui
Eng dan dengan sikap manja seperti biasa sejak
mereka masih kanak-kanak, ia menghampiri Thian
Ki dan memegang tangan pemuda itu.
Melihat sikap gadis ini, Thian Ki tersenyum
girang. Jelas bahwa gadis itu memperlihatkan
kasih sayang dan kemanjaan seorang adik, seperti
dahulu sebelum mereka dltunangkan oleh ayah
kandung gadis itu. Diapun mengelus rambut
adiknya itu dengan rasa sayang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Dan engkau tentu telah sernbuh bukan?
Ketahuilah, sumoi, Im Yang Sengcu telah terbunuh
dalam pertandingan melawan ......."
"Melawan engkau, siapa lagi?” Kui Eng
memotong. "Sayang, aku tidak dapat
menyaksikannya, suheng."
"Dugaanmu keliru, bukan aku yang bertanding
dengan dia."
"Ehh? Bukan engkau? Lalu siapa?”
Thian Ki menoleh kepada Cin Cin yang menjadi
kemerahan mukanya. "Cin moi inilah yang tak
dapat menahan kemarahannya dan mendahului
aku menantang tosu itu. Mereka bertanding,
disaksikan oleh Sri baginda Kaisar sendiri dan tosu
itu tentu saja kalah oleh Cin-moi yang Iihai."
“Ihh, engkau pandai memuji saja............ “ Cin
Cin tersipu.
“Enci Cin! Engkau yang membalaskan
dendamku?”
Cin Cin mengangguk dan menghampiri gadis itu.
"Aku tidak dapat menahan kemarahanku melihat
tosu siluman itu menggunakan ilmu sihir di meja
sembahyang untuk mencelakaimu, adik Eng.
Karena itu, ketika Sribaginda muncul dan
mengusulkan pertandingan satu lawan satu, aku
segera maju menantang tosu itu. Aku .... tidak
tahu cara lain untuk membuktikan padamu bahwa
aku tidak mempunyai perasaan permusuhan
denganmu, adik Eng."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Enci Cin ........!" Kui Eng merangkulnya dan
merekapun menjadi akrab. Meihat ini, Thian Ki
saling pandang dengan Pangeran Li Cu Kiat dan
keduanya merasa gembira sekali.
"Sribaglnda sendiri yang menjadi saksi dan
mengadu kalian dengan dukun lepus itu?" Nenek
Song bertanya. "Sungguh menarik sekali. Ceritakan
bagaimana peristiwa itu terjadi!'
"Aih nenek, mari kita semua masuk ke dalam
dan bicara di sana saja. Tidak baik bicara sambil
berdiri di beranda," kata Pangeran Li Cu Kiat yang
lalu menggandeng nereknya yang tertawa-tawa dan
merekapun semua masuk ke dalam dengan wajah
gembira.
Setelah mereka berada di ruangan sebelah
dalam, Thian Ki menceritakan pengalaman mereka
di kuil Thian-Sengcu, dan betapa Sri baginda
Kaisar sendiri yang menghendaki agar perselisihan
di antara mereka dan tosu itu diselesaikan melalui
pertandingan. Betapa kemudian Cin Cin berhasil
menewaskan tosu itu yang agaknya keracunan
oleh asap beracunnya sendiri dan diapun
menceritakan dengan gembira bahwa dia telah
berhasil mendapatkan pedang pusaka milik ayah
tiri dan juga gurunya, mendapatkan pula obat
penawar racun yang diberikan sendiri oleh Kaisar.
Mendengar ini, Kui Eng berseru gembira 'Aih,
kalau begitu, engkau akan sembuh dan dapat
menikah dengan enci Cin, suheng!!" Semua orang
terheran mendengar ini, akan tetapi Cin Cin ter
sipu dengan muka kemerahan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hemm, Kui Eng, apa artinya ucapanmu tadi?
Hayo ceritakan, jangan simpan rahasia-rahasiaan
dariku'" kata nenek Song tak sabar.
"Memang tadinya merupakan rahasia pribadi
suheng, Nenek, akan tetapi karena sekarang
suheng telah mendapatkan obat dari Sri baginda
Kaisar, maka tak perlu dirahasiakan lagi.
Suhengku ini adalah seorang tok-tong (anak
beracun) tubuhnya mengandung racun hebat dan
sudah banyak tokoh sesat yang lihai tewas sendiri
ketika memukulnya dan mereka keracunan sendiri.
Bahkan enci Cin ini pernah menyerang suheng dan
mencengkeram pundak suheng dan akibatnya, enci
Cin keracunan tangan kirinya dan jalan satusatunya
untuk mennyelamatkannya hanyalah
pemotongan tangan kirinya yang dilakukan pula
oleh suheng. Tidak ada obat yang dapat
memberslhkan hawa beracun dari tubuh suheng,
dan kalau dia tidak terbebas dari hawa beracun
itu, dia tidak akan dapat menikah, karena wanita
yang menjadi isterinya akan tewas keracunan.
Nah,sekarang dia telah menerima obat penawar
dari Sribaglnda, maka aku perlu menghaturkan
selamat kepada suheng dan enci Cin!"
Melihat Thian Ki dan Cin Cin tersipu malu,
semua orang bergembira, terutama sekali Pangeran
Li Cu Kiat merasa senang sekali karena sikap Kui
Eng itu jelas membuktikan bahwa gadis itu tidak
lagi menderita patah hati melihat suhengnya
berjodoh dengan gadis 1ain! Dan Thian Ki sendiri,
juga Cin Cin, merasa lega dan berbahagia melihat
sikap Kui Eng sepert itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kalau begitu, kami menghendaki agar engkau
mempergunakan obat penawar itu di sini, di rumah
kami agar kami dapat membantumu kalau
membutuhkan sesuatu, Thian Ki," kata Nenek
Song yang kini sudah bersikap akrab dengan Thian
Ki seolah-olah pemuda itu telah lama dikenalnya.
"Benar apa yang diminta oleh Nenek, suheng.
Obat pusaka seperti itu tentu manjur sekali dan
daya kerjanya juga keras. Di sini engkau akan
aman mempergunakannya, pula aku sendiri dapat
menjagamu kalau-kalau terjadi sesuatu setelah
engkau menggunakan obat itu," kata Kui Eng.
Juga Pangeran Li Cu Kiat membujuk dan ketika
Thian Ki menoleh kepada kekasihnya, Cin Cin juga
mengangguk menyetujui. Memang lebih aman
kalau kekasihnya itu mengobati dirinya di istana
pangeran yang aman itu, dikelilingi orang-orang
yang jelas akan membelanya kalau sewaktu-waktu
timbul bahaya.
"Baiklah, dan sebelumnya saya menghaturkan
banyak terima kasih kepada Pangeran dan
keluarga di sini. “ Thian Ki berulang-ulang menjura
dengan penuh hormat.
"Aihh, twako, tidak perlu sungkan. Kita berada
di antara keluarga sendiri, bukan?" kata pangeran
itu sambil memandang wajah Kui Eng dan gadis
inipun tersenyum manis.
Pada hari itu juga, dalam sebuah kamar yang
diperuntukkan Thian Ki, pemuda ini, dibantu Cin
Cin dan Kui Eng memasukkan obat yang
bentuknya seperti telur merah itu, yang
merupakan sari dari pada racun katak merah yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sudah dikeringkan, ke dalam sebuah panci tanah
dan menuangkan anggur merah sebanyak dua
cawan ke dalam panci, lalu meletakkan panci itu di
atas perapian yang kecil nyalanya. Obat itu
dibiarkan mencair ketika anggur mulai mendidih,
dan dibiarkan menguap sampai anggur itu tinggal
setengahnya. Tercium bau yang amis bercampur
bau harum anggur.
Setelah anggur itu tinggal setengahnya, diangkat
lalu campuran obat dan anggur itu dituangkan ke
dalam cawan arak, presis tinggal secawan penuh
dan dibiarkan agak mendingin. Karena maklum
bahwa yang akan diminumnya itu merupakan
racun katak merah yang amat berbahaya, maka
Thian Ki dipersilakan duduk bersila di atas
pembaringan oleh Cin Cin. Pemuda itu lalu
mengatur pernapasan dan menghimpun tenaga
sakti dalam tubuhnya sambil menanti obat itu
mendingin.
Setelah obat itu tidak begitu panas lagi, tinggal
hangat-hangat, Cin Cin mengambil cawan itu dan
menyerahkan kepada Thian Ki. Semua keluarga
dalam rumah itu menyaksikan pengobatan ini.
Thian Ki menerima cawan obat itu, memandang ke
sekeliling sambil tersenyum. Kalau sampai obat Itu
membunuhnya, dia ingin pandangan terakhir kali
bagi matanya wajah orang-orang yang di
sayangnya dan dihormatinya. Kemudian, dia
memejamkan mata, menyerahkan jiwa raganya
kepada Tuhan, lalu diminumnya obat itu dengan
sekali teguk. Cin Cin dan Kui Eng mengamati
semua gerakan Thian Ki dengan hati was-was, juga
Pangeran Li Cu Kiat, ibunya dan neneknya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memandang dengan hati tegang. Mereka semua
tahu bahwa obat penawar racun pemberian kaisar
itu merupakan obat yang amat keras. Mereka
semua sudah pernah mendengar bahwa katak
merah adalah sejenis katak langka yang suka
makan ular beracun dan bahwa sedikit saja bisa
katak itu cukup untuk menewaskan orang yang
bagaimana lihaipun. Akan tetapi mereka juga
mendengar bahwa bisa katak itu dapat
menawarkan segala macam racun yang paling
jahatpun.
Setelah mengembalikan cawan kosong kepada
Cin Cin, Thian Ki yang masih duduk bersila itu
memejamkan mata kembali, duduk diam menanti
bekerjanya racun Katak Merah di tubuhnya. Dan
dia menanti tidak terlalu lama. Perlahan-lahan
mukanya berubah kemerahan Warna kemerahan
ini menjalar terus sampai ke seluruh permukaan
tubuhnya dan semua orang merasa betapa ada
hawa panas keluar dari tubuh Thian Ki, terasa oleh
mereka semua. Dan perlahan-lahan, dari dalam
tubuh itu mengepul uap hitam.
“Panas,,,,,, panas..... semua menjauh......!”
terdengan suara Thian Ki lirih dan semua orang
menaati permintaannya karena mereka dapat
menduga bahwa uap hitam yang keluar dari tubuh
pemuda itu tentu mengandung racun yang amat
berbahaya. Mereka menjauh keluar kamar dan
hanya menjenguk dari. luar pintu saja.
Belasan menit kemudian, terjadi perubahan
pada tubuh Thian Ki yang tadinya tegang
kepanasan dan berwarna kemerahan, kini tubuh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu mulai menggigil dan warna merah berubah
menjadi putih pucat dan akhirnya tubuh itupun
menggigil keras.
"Dingin .....dingin....." kembali terdengar Thian Ki
merintih lirih akan tetapi dari tubuhnya tetap
saja mengepul uap kehitaman.
Di luar kamar, semua orang menonton dengan
hati tegang. Kui Eng dan Cin Cin gelisah dan Kui
Eng berbisik, "Suheng kedinginan, dia menderita
hebat apakah tidak lebih baik kalau kita
menyelimutinya ...:..?"
"Jangan, adik Eng. Hal itu berbahaya, dapat
menghambat keluarnya hawa beracun," bisik Cin
Cin kembali.
Hawa dingin yang menguasai tubuh Thian Ki
juga tidak lama, berubah lagi menjadi panas.
Setelah menjadi permaian dua macam hawa yang
berlawanan, sampai setengah hari lamanya,
akhirnya uap menghitam itu semakin menipis dan
akhirnya, setelah tidak ada lagi uap hitam
mengepul keluar, tubuh Thian Ki terkulai di atas
pembaringan. Cin Cin dan Kui Eng meloncat ke
dalam kamar dan menghampiri pembaringan,
diikuti oleh Pangeran Li Cu Kiat, sedangkan Ibu
dan nenek pangeran itu telah lama meninggalkan
tempat itu untuk beristirahat.
Cin Cin cepat memeriksa nadi tangan
kekasihnya dan hatinya lega. Thian Ki hanya
kelelahan dan pingsan.Ia lalu membetulkan letak
tubuh Thian Ki, dibiarkan rebah telentang di atas
pembaringan dan menyusut muka, leher dan dada
kekasihnya yang basah oleh keringat. Thian Ki
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seperti orang tidur saja, pernapasannya panjang
dan sehat.
Tak lama kemudian, masih dijaga leh tiga orang
itu, Thian Ki membuka kedua matanya. Melihat
mereka, dia tersenyum, kemudian dengan wajah
berseri berkata kepada Cin Cin, "Cinmoi......
kita...... kita berhasil......"
Bukan main lega rasa hati Cin Cin sehingga tak
dapat ditahannya la gi, kedua matanya menjadi
basah. "Ah, terima kasih kepada Tuhan......" dan
tangannya yang tinggal sebelah itu menangkap
tangan Thian Ki. Jari-jari tangan mereka saling
cengkeram dan pandang mata mereka bertemu dan
bertau penuh kebahagiaan. Melihat ini, perlahanlahan
Pangeran Li Cu Kiat memegang tangan Kui
Eng dan ditariknya gadis itu dengan lembut keluar
kamar, meninggalkan sepasang kekasih yang
sedang tenggelam dalam kebahagiaan itu.
Ketika tiba di luar kamar, Pangeran Li Cu Kiat
menghentikan langkahnya, memegang kedua
pundak Kui Eng dani menatap wajahnya. Dia
melihat sepasang mata Kui Eng juga basah air
mata.
"Eng-moi, engkau sungguh seorang yang berhati
mulia," bisiknya.
"Dan engkau, koko, engkau lebih mulia lagi....."
kata Kui Eng dan iapun memejamkan mata ketika
pangeran itu menarik dan mendekap mukanya di
dada pangeran itu. Mereka tidak bergerak, tidak
berkata-kata, seolah pada saat itu semua perasaan
dan hati mereka telah menjadi satu dalam dekapan
itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
o)0o-dw-o0(o
Bekas Pangeran Cian Bu Ong duduk di atas
kursi dengan mukanya yang biasanya kemerahan
itu kini menjadi lebih merah lagi seolah dia
kebanyakan minum arak. Jenggotnya yang panjang
itu seperti menjadi kaku dan jelas nampak bahwa
dia marah sekali. Di sebelah kirinya duduk
isterinya. Sim Lan Ci yang biarpun usianya sudah
mendekati limapuluh tahun, masih nampak
anggun dan segar. Nyonya ini mengerutkan alisnya
dan pandang matanya membayangkan
kekhawatiran melihat kemarahan suaminya.
Thian Ki dan Kui Eng nampak berlutut di depan
kedua orang tua ini, sedangkan Cin Cin dan
Pangeran Li Cu Kiat berdiri dengan menundukkan
muka, di belakang kedua orang muda yang berlutut
itu.
"Ucapan gila apakah yang kalian keluarkan
tadi?" Kakek yang usianya sudah enampuluh tujuh
tahun namun masih nampak kekar dan kuat itu
membentak.
Kalian membatalkan tali perjodohan di antara
kalian? Aku yang menjodohkan ka1ian, dan kalian
berani mengatakan bahwa kalian tidak setuju
dengan perjodohan itu? Hayo katakan, mengapa
kalian melakukan tindakan gila ini? Mengapa?!
Thian Ki maklum bahwa ayah tirinya, juga
gurunya, marah sekali. Akan tetapi dia dan Kui
Eng sudah mengambil keputusan tetap untuk
berterus terang, maka dengan suara tenang diapun
berkata, "Saya harap ayah sudi mengampuni saya.
Bukan sekali-kali saya hendak membantah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
perintah ayah, akan tetapi, kalau saya menaati
perintah ayah untuk berjodoh dengan Eng-moi,
maka hal itu hanya akan menyengsarakan hidup
kami berdua, ayah."
'"Setan! Kau hendak mengatakan bahwa engkau
terlalu berharga untuk anakku? Apakah Kui Eng
terlalu rendah bagimu? Begitu?"
"Sama sekali tidak, ayah! Akan tetapi, di antara
kami terdapat kasih sayang antara kakak dan adik,
bagaimana mungkin mengubah kasih-sayang
antara kakak beradik ini menjadi cinta kasih suami
isteri? Saya tidak akan pernah dapat melupakan
bahwa Kui Eng adalah adik saya, bukan hanya
sumoi. Ayah, bagaimana mungkin saya dapat
mengawini adik sendiri ?"
"la bukan adikmu! Gila kau! Dan engkau
bagaimana, Kui Eng? Apakah engkau merasa
terhina, merasa ditolak oleh Thian Ki? Katakan
saja, aku akan menghancurkan kepalanya kalau
dia berani menghinamu, berani menolakmu!"
"Tidak sama sekali, ayah. Aku setuju dengan
pikiran suheng. Dia sudah kuanggap sebagai
kakakku sendiri dan sayangku kepadanya juga
kesayangan seorang adik terhadap kakaknya.
Akupun tidak dapat menjadi isterinya, ayah. Aku
tidak mau menjadi isterinya, sama sekali bukan
karena suheng menolakku."
"Anak durhaka! Apakah engkau juga ikut-ikutan
seperti Thian Ki, hendak menentang kehendak
ayahmu sendiri?" bekas pangeran itu membentak
dan melotot.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ayah, sejak kecil aku sudah menganggap
suheng seperti kakak sendiri, juga ibu kuanggap
sebagai ibu kandungku. Bagaimana sekarang tibatiba
aku harus menganggap suheng sebagai suami
dan ibu sebagai ibu mertua?"
“Tidak aku tidak mau, ayah, dan pula. aku dan
suheng sudah menentukan pilihan hati kami
sendiri untuk menjadi jodoh kami.”
"Ahh......?? Apa pula ini? Thian Ki, benarkah
engkau telah menentukan pilihanmu sendiri, dan
siapa gadis yang kau pilih untuk menjadi calon
jodohmu itu?" Cian Bu Ong masih marah! dan
suaranya terdengar keras.
"Ampunkan saya, ayah. Memang semua yang
dikatakan Eng-moi tadi benar. Saya sudah saling
mencinta dan mengambil keputusan untuk
menjadi suami dari adik Kam Cin ini." Dia
menunjuk ke arah Cin Cin yang masih berdiri di
belakang.
Bekas pangeran itu terbelalak. Dia merasa
terheran-heran karena dia tahu benar bahwa gadis
murid Tung-hai Mo-li Bhok Sui Lan itu menjadi
buntung tangan kirinya karena keracunan ketika
nyerang Thian Ki dan pemuda itu pula yang
membuntungi tangan kirinya untuk
menyelamatkan nyawanya. Dan gadis itu masih
juga dapat jatuh cinta dan mau menjadi calon
jodoh Thian Ki? Teringat dia akan bekas
kekasihnya, Tung-hai Mo-li Bhok Sui Lan yang
agaknya juga amat setia dalam cintanya terhadap
dirinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Dan engkau, Kui Eng? Siapa pula pilihan
hatimu? Pemuda itukah? Siapa dia?" Matanya
mencorong memandang ke arah Pangeran Li Cu
Kiat.
'Benar, ayah. Aku telah saling jatuh cinta
dengan dia. Dia adalah Pangeran Li Cu Kiat,
keponakan Sribaginda Kaisar yang selama ini
membelaku, menolongku, melindungiku bahkan
menjagaku ketika aku jatuh sakit."
Pangeran Cian Bu Ong terbelalak memandang
kepada Pangeran Li Cu Kiat dan isterinya yang
duduk di sampingnya, yang sudah amat mengenal
watak suaminya, maklum bahwa kalau di biarkan
suaminya itu dapat melakukan hal-hal yang tidak
baik. Maka iapun bangkit berdiri dan menghalangi
di depan suaminya, berkata dengan suara lembut
namun tegas.
"Suamiku, kita harus merasa berbahagia sekali
dengan peristiwa ini Kita telah mendapatkan
kehormatan besar dengan peristiwa ini. Semenjak
engkau menjodohkan Thian Ki dengan Kui Eng,
hatiku juga merasa risau akan tetapi aku tidak
membantah keinginanmu karena tidak ingin
membuat engkau kecewa, apa lagi aku melihat
kedua orang anak kita itu tidak membantah. Akan
tetapi sekarang mereka berterus terang, bahkan
kembali dengan membawa pilihan hati masingmasing.
Thian Ki memilih Kam Cin. hal ini
sungguh membanggakan hatiku. Semenjak
peristiwa buntungnya tangan Kam Cin, Thian Ki
merasa hancur hatinya dan aku sudah menduga
bahwa dia mencinta Cin Cin. Sekarang, ternyata
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mereka saling mencinta dan peristiwa buntungnya
tangan itu tidak mendatangkan ganjalan dalam
hati mereka, pertanda bahwa cinta mereka tulus
dan aku yakin mereka akan dapat menjadi suami
isteri yang saling mencinta dan saling setia, hidup
berbahagia bersama membentuk keluarga. Dan
tentang anak kita Kui Eng. la saling mencinta
dengan pemuda itu, seorang pangeran! Pandang
pemuda itu baik-baik, suamiku. Dia tampan dan
gagah, dan dia seorang pangeran! Bukan karena
aku gila pangkat dan kedudukan, melainkan
justeru karena dia pangeran, keponakan Kaisar,
hal itu membuat aku yakin bahwa cintanya
terhadap anak kita pasti murni dan bersih. Kalau
tidak demikian, tentu dia tidak sudi jatuh cinta
kepada puterimu! Mengertikah engkau suamiku?"
Memang sejak tadi kemarahan Cian Bu Ong
sudah mereda satelah mendengar alasan-alasan
yang dikemukakan Thian Ki dan Kui Eng.
Sekarang, dia mernandang kepada Pangeran Li Cu
Kiat. Tadi memang terkiias dalam pikirannya
bahwa pangeran ini adalah keponakan dari musuh
besar Kerajaan Sui. Akan tetapi s« karang dia
menyadari kebenaran omongan isterinya. Hanya,
apakah pangeran ini sudah tahu bahwa Cian Kui
Eng adalah puterinya, bekas Pangeran Cian Bu
Ong yang pernah memberontak untuk
mempertahankan Kerajaan Sui?
"Hemm, engkau Pangeran Li Cu Kiat?" kini dia
bertanya kepada pemuda itu yang segera maju lalu
memberi hormat dengan anggun kepada kakek itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Benar, paman. Saya Li Cu Kiat. Ayah saya
adalah mendiang Pangeran Li Seng Tek."
"Apakah engkau tahu siapa gadls yang kaucinta
ini? Apakah engkau tahu anak siapa ia ini?" tanya
pula Cian Bu Ong sambil mengamati wajah tampan
itu dengan pandang mata menyelidik.
Kembali pangeran itu menjawab tegas, "Saya
tahu, paman, la bernama Cian Kui Eng, puteri
kandung paman yang dahulu adalah Pangeran
Cian Bu Ong dari Kerajaan Sui."
"Hemm, aku menuang Pangeran Cian Bu Ong
dari Kerajaan Sui, musuh besar Kerajaan Tang,
bahkan aku dianggap pemberontak dan buronan
pemerintah, dimusuhi pamanmu. Kaisar Tang Tai
Cung. Tentu dia tidak akan menyetujui kalau
engkau, keponakannya, menikah dengan
puteriku."
"Paman, ada dua hal yang saya kira perlu paman
ketahui benar. Pertama adalah bahwa saya tidak
memerlukan ijin persetujuan Paman Kaisar untuk
urusan perjodohan saya, karena itu adalah urusan
pribadi saya. Ibu dan nenek saya sudah
menyetujui, hal itu sudah lebih dari cukup, dan
saya kira Paman Kaisar juga tidak akan
mencampuri urusan itu. Adapun hal yang ke dua,
keluarga kami tidak pernah menganggap paman
sebagai pemberontak. Kami mengetahui dan
memaklumi kalau paman melakukan perlawanan
dan usaha untuk menegakkan kembali Kerajaan
Sui. Itu adalah persoalan perang, yang ada hanya
menang atau kaiah dan tidak dapat dipersoalkan
tentang benar atau salah."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ayah, dia berkata benar. Sribaginda Kaisar
tidak pernah mempunyai perasaan dendam
kebencian kepada ayah. Buktinya, pedang pusaka
Liong-cu-kiam milik ayah, dengan suka rela beliau
kembalikan."
"Ah, benarkah itu, Thian Ki?"
Thian Ki mengeluarkan pedang pusaka itu dari
buntalan pakaiannya dan menyerahkannya kepada
Cian Bu Ong. "Benar sekali, ayah. Sribaginda
Kaisar mengembalikan pusaka ini kepada ayah."
Cian Bu Ong menyambut pedang itu dan
menghunusnya, matanya bersinar-slnar, lalu
meredup. "Aihh, agaknya memang sudah
dikehendaki Tuhan bahwa Kerajaan Sui diganti
dan dilanjutkan oleh Kerajaan Tang. Li Cu Kiat,
bagaima kami tahu bahwa Ibumu dan nenekmu
menyetujui perjodohanmu dengan anak kami?"
"Ayah, Bibi Li dan Nenek Song amat baik. Apa
lagi Nenek Song yang juga memuji-muji ayah
sebagai seorang gagah. Nenek Song juga seorang
yang amat lihai, ayah dan mereka semua amat baik
kepadaku. Kalau tidak ada mereka, mungkin
sekarang aku telah tewas di tangan tosu iblis Im
Yang Sengcu," kata Kui Eng.
Pangeran Li Cu Kiat mengeluarkan sesampul
surat dan menyerahkannya kepada Cian Bu Ong.
"Paman, sebagai bukti bahwa ibu dan nenek
menyetujuinya, ini saya membawa surat dari nenek
untuk paman. Dan apa bila paman menyetujuinya,
kami akan mengirim utusan untuk mengajukan
pinangan secara resmi."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ayah, harap ayah tidak lagi menganggap
keluarga Kaisar Tang Tai Cung sebagai musuh,
karena selain mengembalikan pedang pusaka
Liong-cu-kiam milik ayah, juga Kaisar telah
berkenan memberi obat penawar racun katak
merah yang telah diminum oleh suheng sehingga
dia telah sembuh dari hawa beracun di tubuhnya,"
kata pula Kui Eng.
Mendenoar ini, Cian Bu Ong semakin gembira.
Ah, kami juga telah mendapatkan Rumput Merah
Pencuci Darah akan tetapi khasiatnya tidak akan
menandingi racun katak merah. Sukurlah engkau
telah sembuh, Thian Ki. Memang aku sudah
mendengar bahwa sebelum menjadi kaisar, ketika
masih menjadi Pangeran, bahkan sebelum itu. Li Si
Bin terkenal sebagai seorang yang gagah perkasa
dan berilmu, maka dia pandai menghargai orangorang
gagah. Baiklah! kalau memang engkau
sendiri menyetujui Kui Eng, dan juga Thian Ki
tidak berkeberatan, kami akan menerima pinangan
keluarga Pangeran Li Cu Kiat."
Mendengar Ini, langsung saja saking
gembiranya, Pangeran Li Cu Kiat menjatuhkan diri
berlutut dan memberi hormat kepada calon ayah
mertuanya. Melihat seorang pangeran Kerajaan
Tang berlutut di depan kakinya dan akan menjadi
mantunya, suatu hal yang sama sekali tidak
pernah dapat dia bayangkan, Cian Bu Ong
menerima penghormatan itu sambil tertawa
bergelak.
"Ayah, saya juga mohon doa restu dan
persetujuan ayah dan ibu untuk berjodoh dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Cin-moi!" tiba-tiba Thian Ki berkata, dan Kam Cin
masih berdiri sambil menundukkan mukanya,
merasa tegang dan risau, khawatir- kalau sampai
perjodohan itu tidak disetujui orang yang pernah
hendak dibunuhnya ketika ia menaati perintah
subonya, yaitu Tung-hai Mo-li Bhok Sui Lan.
Kini Cian Bu Ong memandang kepada isterinya.
"Engkau yang paling berhak menyatakan
pendapatmu tentang permintaan putera kita itu."
Sim Lan Ci balas memandang wajah suaminya
dengan sinar mata bersukur dan berterima kasih.
Suaminya ini selalu menghargai dan
menghormatinya, dan ini merupakan tanda cinta
kasih yang paling nyata, la mengangguk. "Cin Cin
masih sanak dekat dengan ayah kandung Thian Ki,
Ibunya sama-sama she Coa, keluarga pimpinan
Hek-bouw-pang.Kalau mereka berdua sudah saling
mencinta, akupun hanya dapat menyetujui , tentu
saja keputusannya terserah kepadamu sebagai
ayahnya." Dengan ucapan ini, Sim Lam Ci juga
membuktikan ketulusan hati dan
penghormatannya terhadap suaminya itu. la yakin
bahwa Cian Bu Ong amat menyayang Thian Ki
seperti anak sendiri, bahkan telah menurunkan
semua ilmunya kepada anak tiri itu.
Mendengar ucapan isterinya ini. Cian Bu Ong
kembali tertawa bergelak karena gembira. "Kalau
begitu, apa lagi yang perlu dipikirkan? Semua
sudah setuju, akupun hanya setuju saja. Sekaligus
aku mendapatkan dua orang mantu, Li Cu Kiat
dan Kam Cin, kedua-duanya merupakan pendekar
yang hebat. Dari sikap dan gerakanmu saja aku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dapat mengetahui bahwa engkaupun bukan
pemuda lemah, Li Cu Kiat. Dan engkau, Kam Cin,
ha-ha-ha, ingin aku melihat bagaimana sikap Bhok
Sui Lan kalau muridnya yang ia harapkan mau
membunuhku itu kini bahkan menjadi mantuku,
ha-ha-ha-ha! “
Cin Cin kini baru berani menjatuhkan diri
berlutut menghadap suami isteri yang menjadi
mertuanya itu dan saking gembira dan harunya,
tak dapat ia menahan tangisnya.
Kui Eng yang berlutut di dekatnya, segera
merangkul Cin Cin dan berbisik, "Enci Cin, engkau
semestinya bergembira, kenapa malah menangis?
Aneh sekali !"
Dalam tangisnya, Cin Cin memandang
kepadanya dan merangkul setelah mencoba untuk
tersenyum. "Aku menangis saking bahagia dan
terharu, adik Eng "
"Li Cu Kiat, engkau harus segera mengirim
utusan resmi untuk mengajukan pinangan
sebagaimana mestinya, dan kami akan
mengajukan pinangan atas diri Kam Cin kepada
ayah tirinya dan ibunya," kata Cian Bu Ong
gembira. Dia sudah tahu bahwa ayah tiri Kam Cin
adalah Lie Koan Tek, pendekar Siau-lim-pai yang
pernah menjadi pembantunya ketika dia mencoba
menegakkan kembali kerajaan Sui yang telah
jatuh.
Semua orang bergembira, apa lagi ketika Lie
Koan Tek dan Coa Liu Hwa ayah tiri dan ibu
kandung Cin Cin menyatakan persetujuan mereka
dan menerima pinangan Cian Bu Ong.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Demikianlah, tanpa suatupun rintangan,
pernikahan antara Coa Thian Ki dengan Kam Cin,
juga Cian Kui Eng dengan Li Cu Kiat, dirayakan
dengan meriah oleh keluarga Cian Bu Ong. Bukan
main bangganya rasa hati Cian Bu Ong ketika
perayaan itu dihadiri pula oleh Pandekar Naga
Sakti Sungai Kuning Si Han Beng dan isterlnya,
juga puteri mereka. Si Hong Lan yang bekas puteri
kaisar itu. Juga beberapa orang- pejabat tinggi dan
pangeran ikut hadir sebagai pengantar mantunya,
yaitu Pangeran Li Cu Kiat, dan Kaisar sendiri
mengirim hadiah sumbangan yang indah.
Semua orang bergembira ria, hanya ada sebuah
berita yang sempat membuat Thian Ki, Cin Cin, Li
Cu Kiat dan Kui Eng saling pandang dengan alis
berkerut, yaitu bahwa jenazah Im Yang Sengcu
yang telah diangkut oleh anak buahnya ke dalam
kuil, tahu-tahu dikabarkan lenyap tanpa
meninggalkan bekas!. Kiranya, tosu yang pandai
itu tidak mati seperti yang mereka kira, bahkan
Kaisar sendiri dapat dikelabui. Agaknya tosu itu
mempergunakan suatu racun yang dapat membuat
dia “mati” untuk sementara. Beberapa jam
kemudian, sebelum jenazahnya diperabukan, dia
bangkit dari "kematiannya" itu dan melarikan diri
tanpa diketahui siapapun!
Namun, hanya sejenak saja merteka terkejut.
Kebahagiaan dua pasang pengantin itu tidak
terganggu. Untuk sementara. Thian Ki dan
isterinya, Kam Cin, tinggal bersama Cian Bu Ong
di dusun Ke-cung tepi Sungai Kuning di kaki Kimsan,
sedangkan Cian Kui Eng ikut suaminya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tinggal di kota raja, di gedung tempat tinggal
keluarga Pangeran Li Cu Kiat.
Sampai di sini, selesailah sudah kisah SI NAGA
BERACUN ini, mudah-mudahan kisah ini ada
manfaatnya bagi para pembaca dan sampai jumpa
di kisah lain.
TAMAT
Solo, akhir April 1986.
o)0o-dw-o0(o

Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil