Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Selasa, 24 April 2018

Naga Sakti Sungai Kuning 1

-----
NAGA SAKTI SUNGAI KUNING
(Huang Ho Sin-liong)
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Ho,
Penerbit : CV. Gema Tahun 1992
ebook by : Kangzusi
djvu oleh syaugi_ar
Jilid 1
Laki-laki itu berusia kurang lebih lima puluh tahun.
Tubuhnya tinggi besar dan berotot, kokoh kekar
membayangkan kekuatan yang hebat. Kepalanya seperti
kepala harimau, rambutnya masih hitam kaku agak awutawutan
tersembul dari kain pengikat kepalanya. Mukanya
jantan dan galak. Alis tebal hitam melindungi sepasang mata
yang lebar dan tajam, bahkan kadang-kadang mencorong
penuh wibawa, hidungnya besar mancung dengan lengkungan
menonjol di tengah, mulutnya tertutup kumis yang dibiarkan
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
tumbuh liar, dan dagu yang membayangkan kekerasan itu
dihiasi jenggot pendek yang agaknya dipotong secara kasar.
Andaikata dia merawat muka itu baik-baik, mudah dilihat
bahwa wajah itu kelihatan menyeramkan. Pakaiannya
sederhana dari kain yang kasar dan tebal kuat, biar sederhana
sekali namun cukup bersih seperti juga rambut, jenggot dan
kumisnya yang tidak terawat itu nampak bersih dan sering
dicuci.
Dia duduk diatas sebuah bangku menghadapi meja,
sedang makan. Keadaan dalam pondok itupun amat
sederhana, seperti keadaan pemiliknya. Sebuah pondok kayu
yang kecil saja, tidak memeliki kamar, dengan dua jendela di
depan belakang, dan dua pintu di depan belakang pula. Di
dalam pondok terbuka begitu saja dan agaknya dia tidur,
makan dan melakukan segalanya di satu ruangan itu saja.
Ruangan itu hanya diisi meja dan sebuah bangku, ada pula
dipan kayu di sudut yang lain. Membayangkan kemiskinan,
bukan sekedar kesederhanaan.
Di dalam pondok kayu beratap daun kering itu hanya
mempunyai sebuah hiasan, atau mungkin juga tidak
dimaksudkan, sebagai hiasan. Di dekat dipan terdapat sebuah
rak senjta dan nampak beberapa macam senjata disitu.
Tombak, golok, ruyung yang kesemuanya mempunyai ukuran
besar dan berat.
Di tengah-tengah pondok, kini persis didepan mukanya
ketika dia duduk menghadapi meja tergantung sebuah benda
yang akan membuat orang lain bergidik ngeri. Benda itu
sebuah kepala ! Kepala yang mongering, akan tetapi masih
lengkap. Agaknya kepala itu direndam semacam obat yang
membuat kepala itu tidak menjadi busuk. Masih dapat dilihat
jelas bentuk muka itu. Sebuah muka laki-laki yang masih
muda, tidak lebih dari tahun usianya, tentu saja pucat seperti
muka mayat, dengan mata terbuka tanpa sinar sama sekali,
seperti mata boneka. Mulutnya juga agak terbuka menyeringai
seperti orang ketakutan atau kesakitan. Kepala itu tergantung
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
pada rambutnya yang hitam panjang seperti rambut wanita
dan tentu saja amat mengerikan. Setiap ada angin bersilir
masuk, kepala itu bergoyang-goyang seperti menengok ke
kanan kiri, mencari sesuatu.
Sunyi saja di dalam pondok itu. Pria itu makan tanpa
mengeluarkan bunyi. Melihat keadaan tubuhnya dan
kesederhanaannya, sungguh mengherankan melihat cara dia
makan. Biasanya, orang yang hidupnya sederhana dan kasar
seperti itu, kalau makan mengeluarkan bunyi, seperti
mengecap-ngecap makanan dalam mulut, menggerakgerakkan
sumpit di pinggiran mangkok. Akan tetapi, orang ini
makan seperti seorang terpelajar, orang yang biasa dengan
aturan dan tatasusila. Mulutnya mengunyah makanan dengan
bibir hampir terkatup, juga sepasang sumpitnya digerakkan
dengan hati-hati sehingga tidak menimbulkan bunyi. Diatas
meja itu terdapat dua piring masakan sayur dan daging,
sederhana saja karena dimasaknya sendiri dan semangkok
besar nasi.
Akan tetapi diatas meja dekat mangkok nasi itu terdapat
sebuah botol besar dan kalau orang melihat botol besar ini,
tentu dia akan menjadi terkejut, ngeri dan seram. Botol itu
berisi anggur merah yang merendam sebuah ……. Kepala pula.
Sebuah kepala seorang wanita. Masih nampak uth seolaholah
masih hidup. Kulit mukanya yang putih bersih, sebagian
leher yang mulus, rambut yang halus hitam panjang itu
sebagian berada di luar botol. Mata kepala wanita itupun
terbuka, mulutnya sedikit terbuka memperlihatkan deretan gigi
yang putih seperti mutiara. Namun bibir yang indah bentuknya
itu tidak merah lagi, melainkan membiru, mengerikan !
Pria itu mengambil botol dengan tangan kiri, menuangkan
anggur dari botol dengan hati-hati ke dalam sebuah cawan,
sambil memandang muka kepala wanita itu, meletakkan
kembali botol besar dengan muka itu menghadap padanya,
dan dia pun tersenyum. Makin jelas nampak ketampanan
wajah setengah tua itu ketika dia tersenyum. Lalu diminumnya
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
anggur dalam cawan itu, matanya ki ni tetap memandang
wajah kepala wanita dalam botol besar.
Ditaruhnya cawan kosong itu ke atas meja kembali. Dia
sudah selesai makan dan kini duduk termenung, memandang
wajah dalam botol, lalu terdengar dia bicara lirih seperti
kepada diri sendiri, akan tetapi jelas ditujukan kepada wajah
dalam botol itu.
“Hui Cu, pagi ini kau nampak semakin cantik saja ! Ah,
engkau mengingatkan aku akan malam pengantin kita …… ah,
betapa mesranya, betapa hangatnya, betapa manisnya ……”
Dia memejamkan mata sebentar, lalu membukanya kembali
dan memandang wajah kepala wanita itu, jari tangannya
bergerak mengelus rambut yang terjurai keluar dari botol
dengan gerakan tangan mesra.
“Ketika itu engkau berusia delapan belas tahun, dan aku
dua puluh lima tahun. Kita saling bersumpah untuk saling
mencinta sampai mati dan kita saling curahkan cinta kita.
Betapa mesranya, Hui Cu. Kemudian setiap malam, ya…
hampir setiap malam, kita bermalam pengantin seperti itu. Aku
semakin mencintaimu, aku tergila-gila kepadamu . akan tetapi
….. baru setahun, engkau mulai berubah ……”
Tiba-tiba dia menyambar sepasang sumpit didepannya,
tubuhnya tak bergerak dan matanya setengah terpejam. Dia
memusatkan perhatiannya kepada pendengarannya karena
telinganya yang terlatih menangkap suara yang tidak wajar.
Lalu dia bersikap biasa kembali, hanya saja tangan kanannya
masih memegangi sepasang sumpit. Dan dia sudah
melanjutkan “pembicaraannya” kepada wajah wanita dalam
botol.
“Dan ketika dia datang ……” Dia menengok kearah kepala
yang tergantung ke tengah ruangan dan yang kini kebetulan
berputar menghadap padanya dan agaknya menyeringai lebih
lebar dari biasanya, “…….dia si mulut manis, si perayu besar,
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
sahabatku yang tadinya amat kusayang, sahabat yang
ternyata berkhianat dan palsu, engkau pun jatuh! Ternyata
engkau lebih menyukai sikap yang bermanis muka, rayuanrayuan
sikap gombal daripada sikapku yang selalu terbuka
dan jujur. Bahkan, ketika aku mencoba kalian, sengaja aku
berpamit pergi untuk suatu keperluan, kalin sudah berani
mengkhianatiku, berzina didalam kamar kita, diatas ranjang
pengantin kita. Aku menahan kemarahan, menantang Kun
Tian keluar, untuk bertanding sebagai dua orang laki-laki,
memperebutkan engkau ….”
Tiba-tiba nampak sinar kecil berkelebat kearah pria itu.
Dengan sikap tenang sekali, pria itu menggerakkan tangan
kanannya dan dilain saat sepasang sumpit itu telah
menangkap atau menjepit sebatang senjata piauw beronce
merah yang ujungnya menghitam dan berbau amis, tanda
bahwa piauw itu beracun.
Seperti tidak pernah terjadi sesuatu, pria itu kini
melanjutkan kata-katanya yang ditujukan kepada wajah kepala
wanita dalam botol.
“Engkau menjadi saksi perkelahian kita yang adil. Aku
berhasil merobohkannya, akan tetapi betapa sakitnya hatiku
melihat engkau menubruk mayatnya dan menangisinya.
Engkau terang-terangan lebih memberatkan dia daripada aku,
suamimu yang sah. Hal ini tak dapat kutahan lagi, Hui Cu. Aku
memenggal lehermu, juga leher Kun Tian. Aku terlalu cinta
padamu, biarlah kepalamu selamanya dekat dengan aku,
biarlah setiap hari aku minum anggur yang merendam
kepalamu, dan biarlah kepala dia melihatnya dan merasa iri.
Ha-ha-ha!” tiba-tiba saja pria itu tertawa bergelak, seperti
orang mabuk dan kini dia memandang kepada muka kepala
laki-laki yang tergantung di tengah ruangan. Akan tetapi, kalau
mulutnya terbuka lebar tertawa bergelak, sepasang mata pria
itu basah oleh air mata. Dia menaangis sambil tertawa, tanpa
terisak. Sungguh dapat dibayangkan betapa besar
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
penderitaan batin pria ini, yang belum dapat melupakan
peristiwa yang terjadi lebih dari dua puluh tahun yang lalu.
Dan agaknya, bukan dia saja yang tidak melupakan
peristiwa itu. Pihak lawannya, yang kepalanya kini tergantung
ditengah ruangan pondoknya, agaknya juga tidak
melupakannya.
Orang yang bernama Coa Kun Tian itu adalah putera ketua
perkumpulan Hek-Houw-pang (Perkumpulan Harimau Hitam),
sebuah perkumpulan yang amat terkenal disepanjang lembah
Sungai Kuning. Putera ketua Hek-houw-pangini adalah
seorang pemuda berilmu tinggi yang tampan dan gagah
menjadi kebanggan perkumpulan Hek-houw-pang yang
memang terdiri dari orang-orang gagah. Hanya saying sekali,
ketampanan wajah dan kegagahan Coa Kun Tian ini dinodai
oleh wataknya yang mata keranjang dan hidung belang. Dia
mudah jatuh kalau berhadapan dengan wanita cantik, dan
sekali tertarik, dia suka mata gelap dan berusaha merayu
sedapatnya untuk merayu wanita itu, tidak peduli wanita itu
sudah ada yang punya ataukah belum. Dan biasanya, karena
dia gagah dan tampan, pandai merayu, maka jarang ada
rayuan-rayuannya yang gagal. Jarang ada wanita yang
mampu menolak rayuannya. Demikian pula Phang Hui Cu,
isteri pria tinggi besar yang berada di pondok itu, ia jatuh
menghadapi rayuan dan ketampanan Coa Kun Tian sehingga
dengan penuh gairah melayani hasrat laki-laki itu dan mereka
berzina didalam rumah dan kamar suami Hui Cu.
Setelah Coa Kun Tian tewas, gegerlah perkumpulan Hek-
Houw-pang. Apalagi setelah mendengar bahwa putera ketua
itu tewas di tangan Liu Bhok Ki, seorang pendekar yang
menjadi sahabat baik Coa Kun Tian, bahkan menjadi orang
yang dihormati oleh Hek-houw-pang ! Hek-houw-pang yang
dipimpin ketuanya, tidak tinggal diam saja. Coa Liong, ketua
Hek-houw-pang tidak membiarkan puteranya terbunuh tanpa
dibalas. Dia lalu mencari Liu Bhok Ki, pendekar yang tadinya
menjadi sahabatnya dan sahabat puteranya. Terjadi
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
perkelahian mati-matian dan akhirnya, para anak buah Hekhouw-
pang terpaksa membawa pulang jenazah ketua mereka
dengan hati penuh duka.
Liu Bhok Ki sendiri hancur hatinya semenjak peristiwa yang
menimpa keluarganyaa. Hatinya remuk, kebahaagiaan
hidupnya lenyap dan dia hidup seperti seorang setengah gila,
mengasingkan diri di Kui-san (Bukit Setan) yang berada di
Lembah Sungai Huang-ho yang paling sunyi. Disini dia
mendirikan pondok tinggal di situ bersama dua buah kepala.
Yang sebuah adalah kepala Coa Kun Tian dan setelah
direndamnya dengan ramuan yang membuat kepala itu tak
dapat membusuk, bahkan kini mongering seperti kayu, dan
digantungny di tengah pondok. Yang kedua adalah kepala
isterinya Phang Hui Cu yang cantik jelita, yang direndamnya
dalam anggur di botol besar dan kedua kepala inilah yang
selalu menemaninya di dalam pondok sunyi itu.
Selama dua puluh tahun lebih ini, pihak Hek-Houw-pang
tidak pernah diam untuk berusaha membalas dendam. Sudah
puluhan kali, bahkan hampir setiap tahun ada saja dari pihak
Hek-Houw-pang yang mencari Liu Bhok Ki untuk membalas
dendam. Namun, selama ini belum pernah ada yang berhasil.
Bahkan sebaliknya, ada saja pihak Hek-Houw-pang yang
roboh dan tewas. Oleh karena itu, dendam Hek-Houw-pang
terhadap Liu Bhok Ki menjadi semakin berlarut, semakin
mendalam. Hal ini sebenarnya membuat Liu Bhok Ki merasa
sedih juga. Akan tetapi apa hendak dikata, keadaan sudah
seperti itu. Dia tidak mungkin mundur kembali, dan dia selalu
siap membela diri kalau tiba serangan dari pihak Hek-Houwpang.
Bahkan pada pagi hari itu, selagi dia makan, datang
serangan gelap dalam bentuk sebatang piauw yang dapat
ditangkapnya dengan sepasang sumpitnya. Cara menghadapi
serangan gelap senjata piauw beracun itu saja sudah
menunjukkan betapa lihaynya pria setengah tua tinggi besar
ini. Memang sejak kecil dia suka mempelajari ilmu silat dan
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
namanya pernah besar sebagai seorang pendekar yang selalu
menentang para penjahat di sepanjang sungai Huang-ho.
Akan tetapi, semenjak peristiwa menyedihkan itu, dimana dia
terpaksa membunuh isteri tercinta dan sahabatnya terbaik,
namanya lenyap dari dunia kangouw dan dia mengasingkan
diri di pondok itu. Hanya kadang-kadang saja dia pergi ke
dusun terdekat untuk membeli kebutuhan sehari-hari, ditukar
dengan hasil dia bercocok tanam atau mencari ikan di sungai
Huang-ho yang berada di dekat pondoknya.
Peristiwa itu sungguh menghancurkan kehidupannya. Dia
seolah-olah telah mati, dan selalu terancam bahaya oleh pihak
Hek-Houw-pang. Maklum bahwa para musuhnya itu takkan
pernha berhenti berusaha untuk membalas dendam, diapun
tidak tinggal diam dan setiap hari, kalau tidak bekerja, Liu
Bhok Ki melatih diri, memperdalam ilmu-ilmunya, bahkan
dengan bakat dan kecerdikannya, dia telah menciptakan
beberapa macam ilmu silat yang hebat. Kini, dalam usia
kurang lebih lima puluh tahun, dia memiliki ilmu kepandaian
yng hebat, dan jarang ada orang yang akan mampu
menandinginya.
Kini Liu Bhok Ki sudah tidak “berbicara” lagi dengan wajah
kepala wanita di dalam botol, melainkan duduk termenung
memandangi piauw yang tadi ditangkap sepasang sumpitnya
dan kini dia letakkan diatas meja didepannya..
Sebatang piauw yang bentuknya segi tiga dan diujung
belakangnya dihiasi ronce-ronce merah. Piauw ini kecil dan
ringan sekali, akan tetapi runcing dan mengandung racun
yang amat berbahaya, hal ini dapat dikenalnya dari baunya
yang amis seperti bau ular. Dan melihat bentuk piauw yang
kecil ringan itu, apalagi melihat hiasan ronce merah, Liu Bhok
Ki dapat menduga bahwa yang mempergunakannya patutnya
seorang wanita. Sepasang alisnya berkerut. Selama dua puluh
tahun lebih ini, belum pernah Hek-Houw-pang mengirim
seorang murid wanita untuk mencoba membunuhnya. Rasa
gatal pada tangan kanannya membuat dia tiba-tiba seperti
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
orang terkejut dan cepat dia memeriksa tangan kanannya,
matanya terbelalak melihat betapa ada tanda menghitam pada
dua jarinya, di permukaan telunjuk dari jari tengah.
“Ahhh ……” serunya perlahan dan cepat mengambil sebuah
buntalan yang tergantung pada rak senjata.
“Sungguh tolol, memandang rendah lawan!” gumamnya
sambil membuka buntalan dan dia mengeluarkan sebuah
bungkusan kuning.
Dibukanya bungkusan itu dan ditaburkan sedikit bubukan
merah pada noda hitam di kedua permukaan jari tangan,
digosok-gosoknya dan noda itupun lenyap, rasa gatalnya
lenyap.
Bubuk merah itu adalah obat manjur sekali untuk melawan
racun. Kiranya, penyerang dengan piauw tadi agaknya
sengaja melontarkan piauw secara perlahan saja agar dia
dengan mudah dapat menangkapnya dengan tangan atau
sumpit. Dan biarpun ditangkap dengan sumpit, namun
agaknya ada bubuk atau hawa beracun dari piauw itu yang
mengenai jari tangannya seolah-olah racun itu mampu
menjalar melalui sumpit, mengenai dua jari tangan yang kalau
tidak cepat diobati akan berbahaya sekali baginya, dapat
membuatnya mati konyol!
Kini tahulah dia bahwa pelempar piauw itu merupakan
seorang lawan tangguh yang sama sekali tidak boleh
dipandang ringan !
Pada saat itu, muncullah belasan orang di depan pintu
pondok. Mereka itu rata-rata berusia empat puluh tahun,
mengiringkan seorang pemuda yang usianya kurang lebih dua
puluh tahun. Pemuda ini berwajah tampan dan begitu melihat
wajah pemuda itu, Liu Bhok Ki merasa jantungnya berdebar
tegang..
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Wajah itu! Persis wajah pria yang telah menggoda dan
menggauli isterinya. Persis wajah Coa Kun Tian yang
kepalanya kini tergantung di tengah ruangan pondok. Pemuda
itu kini berdiri memandang kepada kepala kering yang
tergantung itu, kepala yang bergoyang dan berputar. Ketika
kepala itu menghadap keluar kepadanya, tiba-tiba pemuda itu
menjatuhkan diri berlutut.
“Ayah ……!” Dan diapun sambil berlutut memberi hormat
delapan kali kearah kepala yang tergantung itu. Sejak tadi Liu
Bhok Ki sudah bangkit berdiri dan dia memandang bengong
kepada pemuda itu. Putera Coa Kun Tian ? rasanya tidak
mungkin! Bukankah Kun Tian ketika menzinai isterinya dahulu
itu belum menikah? Dia tahu benar akan hal ini karena dia
bersahabat karib dengan Kun Tian dan dia mengenal betul
keluarga ketua Hek-Houw-pang.
Bagaimana kini muncul seorang pemuda yang menyebut
ayah kepada mendiang Coa Kun Tian? Akan tetapi, kalau
bukan puteranya, lalu siapa dan mengapa mengaku anak?
Dan wajah itu! Dia tidak akan meragukan bahwa itu adalah
wajah Kun Tian, dan patut dipercaya bahwa pemuda ini
memang putera bekas sahabat yang dibunuhnya itu.
Setelah memberi hormat kepada kepala yang terayun-ayun
itu, si pemuda yang tampan berpakaian seba putih itu bangkit
berdiri memandang kepada Liu Bhok Ki dengan sinar mata
penuh kemarahan dan dendam. Pandang mata seperti ini
sudah biasa dirasakan oleh Bhok Ki dari para anggota Hek-
Houw-pang, maka diapun balas memandang dengan sikap
tenang saja.
Pemuda itu melangkah mundur, dan para anggota Hek-
Houw-pang yang berada dibelakangnya juga ikut mundur.
Sambil melangkah mundur tanpa melepaskan pandang
matanya dari laki-laki setengah tua di dalam pondok itu, si
pemuda lalu berkata, suaranya halus walaupun mengandung
kemarahan yang ditahannya.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Liu Bhok Ki, keluarlah dan mari kita selesaikan perhitungan
yang telah terpendam lama sekali ini!”
Liu Bhok Ki melangkah maju, mulutnya tersenyum dan
ketika dia berada diluar pondok, di udara terbuka, dia lalu
tertawa bergelak. Tubuhnya terguncang-guncang dan
wajahnya dilempar ke belakang, menengadah, seolah-olah dia
tertawa kepada langit diatas. “Ha-ha-ha!” Lalu dia menunduk
dan menatap pemuda didepannya itu penuh perhatian.
“orang muda, engkau telah mengenal namaku, akan tetapi
aku belum mengenalmu. Biasanya, tidak pernah aku
menanyakan nama orang-orang Hek-Houw-pang yang datang
dengan maksud membunuh aku. Entah sudah berapa banyak,
mungkin lebih dari enam puluh orang Hek-Houw-pang yang
tewas dalam usaha mereka membunuhku. Akan tetapi engkau
lain. Sikapmu menarik hatiku, terutama ketika engkau tadi
berlutut dan menyebut ayah kepada Coa Kun Tian. Benarkah
engkau putera Kun Tian dan siapa namamu?”
Sikap pemuda itu tenang dan cukup gagah, nampak
ketabahan luar biasa pada sinar matanya.
“Namaku Coa Siang Lee dan memang mendiang Coa Kun
Tian adalah ayah kandungku. Sebagai putera kandungnya,
tentu engkau cukup maklum apa yang menjadi maksud
kunjunganku ini. Bersiaplah untuk mengadu nyawa denganku,
Liu Bhok Ki!”
Liu Bhok Ki memandang ragu dan penuh selidik. Biarpun
wajah pemuda pakaian putih itu memang serupa dengan
mendiang Kun Tian, akan tetap bagaimana mungkin Kun Tian
yang masih belum menikah itu kini tiba-tiba mempunyai anak?
“Hemmmm, ketahuilah bahwa Kun Tian tadinya adalah
sahabat karibku dan aku tahu benar bahwa dia belum pernah
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
menikah. Bagaimana kini tiba-tiba saja muncul engkau yang
mengaku sebagai puteranya?”
Mendengar ucapan ini, wajah yang tampan itu berubah
merah, dan tiga belas orang anggota Hek-Houw-pang, yang
dapat dikenal dengan lukisan harimau hitam kecil di dada
sebelah kiri baju mereka, saling pandang dan merekapun
kelihatan rikuh. Memang, pemuda bernama Coa Siang Lee ini
adalah keturunan aseli dari Coa Kun Tian, putera kandung
yang kinimenjadi jago mereka yang diharapkan, akan mampu
menandingi dan merobohkan musuh besar mereka. Akan
tetapi kelahiran Coa Siang Lee ini tidak sah, karena ibunya
mengandung sebagai hasil hubungan gelap dengan mendiang
Coa Kun Tian. Setelah Kun Tian meninggal barulah diketahui
bahwa gadis yang digaulinya itu telah mengandung!
“Liu Bhok Ki, aku datang bukan untuk menceritakan
riwayatku kepadamu. Bagaimana duduknya perkara aku
menjadi putera ayahku, bukan urusanmu. Cukup kau ketahui
bahwa aku adalah putera kandungnya dan aku datang untuk
menuntut balas atas kematian ayahku di tanganmu!”
Liu Bhok ki menarik napas panjang. Dia tidak pernah
merasa gembira, setiap kali diserbu orang-orang Hek-Houwpang.
Dia melayani mereka hanya karena terpaksa, untuk
membela diri dank arena mereka itu selalu menyerangnya
mati-matian maka tidak dapat dihindarkan lagi setiap kali jatuh
korban diantara mereka.
Apalagi kini yang maju adalah putera kandung Coa Kun
Tian. Sebetulnya, dia dahulu amat saying kepada shabatnya
itu. Bahkan sekarangpun, setiap kali memandang wajah
kepala sahabatnya itu, timbul rasa saying, akan tetapi
perasaan itu selalu diusirnya dengan membayangkan kembali
perbuatan sahabatnya itu dengan isterinya yang membuat
hatinya menjadi panas kembali. Tentu saja dia tidak membenci
putera Kun Tian yang wajahnya tampan mirip sekali ayahnya
itu.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Coa Siang Lee, tahukah engkau mengapa ayahmu sampai
tewas di tanganku?” tanyanya, dan para anggota Hek-Houwpang
mendengar betapa dalam suara itu terdapat keraguan,
agaknya si jago tua yang menggiriskan itu merasa gentar
menghadapi jago muda mereka yang kelihatan amat tabah
dan gagah itu.
“Aku tidak perduli! Yang jelas, engkau telah membunuh
ayahku, bahkan telah berbuat sedemikian keji dan kejam,
menyiksa dan mempermainkan kepala ayahku seperti itu.
Sungguh perbuatan yang terkutuk! Pendeknya, aku datang
untuk menuntut balas kepadamu, sebagai amal bakti kepada
ayah kandungku! Aku akan membunuhmu dan membawa
pulang kepala ayahku itu untuk dimakamkan dengan baik dan
terhormat.”
Liu Bhok Ki kembali menarik napas panjang sehingga
mengherankan para anggota Hek-Houw-pang. Mereka pernah
beberapa kali ikut menyerbu musuh besar itu dalam belum
pernah mereka melihat Liu Bhok Ki meragu seperti sekarang
ini.
“Orang muda, kalau engkau hendak berbakti kepada
ayahmu, semestinya engkau bukan datang kesini dan ingin
membunuhku. Seharusnya engkau membuat jasa-jasa baik,
melakukan perbuatan-perbuatan baik untuk menbus dosadosa
ayahmu itu agar hukumannya lebih ringan di neraka
sana.”
Pemuda itu mengerutkan alisnya dan kini suaranya
meninggi, tanda bahwa dia marah sekali.
“Liu Bhok Ki, tidak perlu engkau menasehati aku dan
memburuk-burukkan ayahku! Tengok dirimu sendiri! Aku
sudah tahu bahwa engkau membunuh ayahku karena ayahku
bermain cinta dengan isterimu. Bukankah begitu? Kalau benar
demikian, engkaulah yang tidak tahu malu! Seharusnya
engkau tahu bahwa kalau isterimu suka kepada pria lain, itu
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
berarti bahwa ia tidak cinta lagi kepadamu, bahwa pria yang
dipilihnya itu lebih baik daripadamu! Mendiang ayahku tidak
memperkosa dan kalau dia tidak dilayani dengan senang hati
oleh isterimu tentu tidak akan terjadi hubungan itu! Sepatutnya
engkau bercermin diri dan kalau benar laki-laki, harus tahu diri
ditolak isteri sendiri yang memilih pria lain! Huh, sungguh tak
tahu malu!”
Wajah Liu Bhok Ki berubah merah sekali, lalu pucat dan
merah kembali.
Ucapan pemuda itu sungguh merupakan mata pedang
yang tajam meruncing menusuk perasaan hatinya. Dia melihat
kebenarannya, akan tetapi juga menjadi marah karena
pemuda itu menghinanya.
Memang sesungguhnya, apa gunanya dia dulu menjadi
seperti gila karena cemburu? Cinta antara pria dan wanita
tidak mungkin hanya bertepuk sebelah tangan. Kalau isterinya
sudah tidak cinta kepadanya, dengan bukti bahwa ia
menyerahkan diri kepada pria lain, tidak ada gunanya
walaupun dipaksa juga.
Akan tetapi, bantah suara dikepalanya. Mereka telah
menghinaku, menodai nama dan kehormatanku! Sudah
sepatutnya mereka dibunuh, dihukum, bahkan hukuman yang
dia berikan masih kurang memadai, masih kurang berat
dibandingkan dengan penghinaan yang dia derita.
“Coa Siang Lee, sudah menjadi hakmu untuk membela
ayahmu walaupun dalam pembelaanmu itu engkau seperti
buta tidak melihat kejahatan ayahmu yang menghancurkan
ketentraman rumah tanggaku, menghancurkan kebahagiaan
hidupku, mendatangkan aib dan penghinaan kepadaku. Akan
tetapi aku pun berhak mempertahankan kehormatanku di
waktu itu dan sekarang akupun berhak untuk membela diri
kalau ada yang mengncam keselamatan diriku. Nah, sekarang
engkau mau apa.”
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Pertanyaan ini mengandung tantangan. Kedua tangan
pemuda itu bergerak dan nampak dua sinar terang berkelebat
ketika dia mencabut Siang-kiam (Sepasang pedang) yang tadi
tergantung di punggungnya. Dia menyilangkan kedua pedang
di depan dada, matanya mencorong memandang kearah Liu
Bhok Ki.
“Liu Bhok Ki, bersiaplah engkau untuk mati di ujung
pedangku!” bentak pemuda itu dan tiba-tiba saja pedangnya
mencuat berubah menjadi sinar terang menusuk kearah dada
pria setengah tua itu.
Liu bhok ki bersikap tenang saja. Dengan gerakan mantap
dia mengelak ke bukan belakang melainkan kesamping
bahkan memajukan kakinya dan tangan kirinya menampar dari
samping kearah kepala lawan.
Ketika CoaSiang Lee merasa betapa ada angina pukulan
yang amat kuat mendahului tangan lawan, cepat dia
menggerakkan pedang kedua di tangan kanan untuk
menangkis dan sekalian membabat lengan lawan.
Liu Bhok Ki menarik kembali tangannya dan kini kakinya
menendang dengan tendangan kilat kedepan. Tendangan ini
mengandung tenaga sakti yang amat kuat dan diapun
terpaksa meloncat ke belakang sambil memutar kedua pedang
melindungi dirinya. Liu Bhok Ki tidak memberi kesempatan
kepada lawan untuk menyusun serangan baru. Dia cepat
melangkah maju dan menyusulkan serangan bertubi-tubi
dengan kedua tangan dan kakinya.
Pemuda itu semakin kaget dan diapun mempergunakan
kelincahan tubuhnya untuk mengelak kesana-sini dan kadangkadang
menggunakan kedua pedangnya untuk membendung
banjir serangan lawan itu. Dia terdesak hebat.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Melihat betapa jago
muda mereka terdesak
walaupun mempergunakan
sepasang pedang
sedangkan Liu Bhok Ki
bertangan kosong, tiga
belas orang anggota Hek-
Houw-pang tingkat tinggi itu
lalu menyerbu dan
mengepung Liu Bhok Ki.
Itulah Cap-sha-tin (Barisan
Tiga Belas) yang diciptakan
oleh perguruan Hek-Houwpang
dan dilatih selama
setahun ini untuk
dipergunakan menghadapi Liu Bhok Ki. Tadinya, mereka
mengharapkan Sian Lee akan mampu menandingi musuh
besar itu.
Coa Siang Lee memang putera kandung mendiang Coa
Kun Tian. Kun Tian ketika masih hidup terkenal sebagai
seorang laki-laki perayu wanita. Banyak sudah korban
berjatuhan akibat rayuannya. Akan tetapi hanya ada seorang
gadis yang mengandung akibat perbuatannya itu dan
kemudian lahirlah Coa Siang Lee. Gadis itu menghadap ketua
Hek-Houw-pang setelah mendengar akan kematian Coa Kun
Tian, membawa anak laki-laki itu. Coa Siong, pangcu (ketua)
Hek-Houw-pang menerima cucunya yang tidak sah itu dan
Coa Siang Lee lalu digembleng, bukan hanya oleh kakeknya,
bahkan oleh kakeknya dikirim kepada beberapa sahabat,
tokoh-toh kangouw yang lihai, untuk memperdalam ilmu
silatnya. Kini, dalam usia dua puluh dua tahun lebih, Siang Lee
pulang dan telah memiliki tingkat kepandaian yang melebihi
tingkat kakeknya sendiri. Dia memang sejak kecil sudah
mendengar kisah kematian ayahnya. Maka dia lalu dijadikan
jago Hek-Houw-pang dan diharapkan akan dapat membalas
dendam kepada musuh besar itu.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Cap-sha-tin dari Hek-Houw-pang segera maju setelah
melihat kenyataan betapa Siang Lee terdesak oleh Liu Bhok
Kid an kini barisan itu mengepung pria tinggi besar yang
gagah perkasa itu dan pedang mereka menyerang secara
bertubi-tubi dan teratur sekali. Setiap kali Liu Bhok Ki
mengelak dari suatu sambaran pedang, sudah ada pedang
lain yang menyambutnya dengan tusukan atau bacokan.
Semua bergerak secara otomatis dan kemana pun dia
mengelak, selalu disambut serangan pedang lain. Dan setiap
kali dia hendak membalas, sudah ada dua tiga batang pedang
lain menyerangnya dari kanan kiri dan belakang, membuat dia
sama sekali tidak sempat untuk balas menyerang lawan!
Tiba-tiba, tiga belas buah mulut mengeluarkan suara
melengking panjang, sambung menyambung dan karena
mereka itu mengerahkan khi-kang, maka tenaga yang
tergabung ini menjadi kuat sekali, disusul gerakan pedang
mereka menyerang secara berbareng dari semua jurusan! Liu
Bhok Ki terkejut.
Harus diakuinya bahwa Cap-sha-tin ini hebat dan
berbahaya. Dia cepat mengenjot tubuh keatas untuk
menghindarkan diri dari serangan tiga belas batang pedang
itu. Akan tetapi dua sinar terang meluncur dan menyerangnya
selagi tubuhnya masih meloncat keatas.
Itulah sepasang pedang di tangan Siang Lee yang kini
membantu Cap-sha-tin. Pemuda itu meloncat dan tubuhnya
meluncur seperti terbang saja, didahului dua batang
pedangnya yang lihay.
“Ahhh ….!” Liu Bhok Ki terkejut dan mengeluarkan bentakan
ini, tangannya diputar untuk menangkis sinar pedang.
Lengannya menangkis pedang. Namun sebatang pedang
yang menyeleweng pundak kiri Liu Bhok Ki sehingga bajunya
terobek dan kulitnya terluka mengeluarkan darah!
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Liu Bhok Ki berjungkir balik dan tubuhnya dapat turun diluar
kepungan Cap-sha-tin ! kini barisan itu sudah berlari-larian
mengepungnya lagi, dari jarak agak jauh, sedangkan Siang
Lee yang paling lihay diantara mereka, kini berada di bagian
kepala seolah-olah barisan itu membentuk seekor ular yang
melingkari tempat itu dengan Liu Bhok Ki di tengah, dan Coa
Siang Lee memimpin atau menjadi kepala ular.
Liu Bhok Ki berdiri tegak, kedua kakinya dipentang lebar,
tubuhnya tidak bergerak, hanya matanya yang melirik kke
kanan kiri pemperhatikan gerakan barisan itu.
Perlahan-lahan dia melolos sabuknya ketika barisan yang
mengepung sambil berlari mengitarinya itu mempersempit
lingkaran. Melihat ini, seorang diantara murid-murid Hek-
Houw-pang mengeluarkan isarat kawan-kawannya, terutama
kepada Siang Lee agar berhati-hati karena dia tahu betapa
lihainya Liu Bhok Ki dengan senjata sabuk kain tebal yang
kelihatan sederhana itu.
Pernah Liu Bhok Ki dikeroyok puluhan orang murid Hek-
Houw-pang yang kesemuanya bersenjata pedang tau golok,
namun sabuk itu membuat para pengeroyok tidak berdaya,
bahkan banyak diantara mereka yang mengalami luka-luka
berat, dan ada pula yang tewas.
Siang Lee adalah seorang pemuda yang sudah tinggi ilmu
silatnya. Mendengar suara isarat ini, dia pun berhati-hati. Dia
tidak berani memandang ringan kepada lawan ini, karena tadi,
ketika berkelahi satu lawan satu, dia sudah merasakan
kehebatan ilmu silat Liu Bhok Ki. Kini diapun mengerti
mengapa banyak sekali murid dan anak buah Hek-Houw-pang
tewas ditangan musuh besar ini.
Dan memang sesungguhnya Liu Bhok Ki amat berbahaya
kalau sudah mempergunakan sabuknya sebagai senjata. Dia
seorang ahli senjata apapun, dan permainan pedangnya juga
hebat. Akan tetapi, untuk menghadapi pengeroyokan banyak
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
lawan yang menggunakan pedang, senjata sabuk kain tebal
itu sungguh amat tepat. Kain itu bersifat lemas shingga tepat
sekali untuk menghadapi senjata pedang atau golok yang
keras dan sabuk itu dapat dipergunakan dari jarak dekat
maupun jauh karena dapat diulur panjang. Ditangan ahli
seperti Liu Bhok Ki, kain yang lemas itu dapat pula dibuat
kaku, dapat berubah lemas kembali, untuk melibat dan
membelit senjata lawan tanpa merusak sabuk.
Liu Bhok Ki maklum bahwa pemuda itu lihai, dan Cap-shatin
juga berbahaya sekali. Maka dia pun tidak menunggu dan
membiarkan dirinya didesak, begitu pengepungan itu
mengetat dan di berhadapan dengan mereka yang
melingkarainya dalam jarak dua meter, dia menggerakkan
sabuknya dan mengamuk!
Sabuk itu lenyap bentuknya dan nampak hanya gulungan
sinar hitam yang panjang, menyambar-nyambar seperti seekor
naga hitam yang bemain diantara awan di angkasa.
Barisan itu berusaha membendung gerakan sinar
bergulung-gulung itu dengan meningkatkan kerjasama
mereka. Namun, belasan pedang itu tetap saja tidak mampu
membendung daya serang dari sabuk panjang di tangan Liu
Bhok Ki.
Terdengar bunyi berdesing-desing dan angina menyambar
bagaikan angina puyuh, disusul teriakan-teriakan para
anggota Hek-Houw-pang. Betapun mereka itu
mempertahankan diri dan saling Bantu, tetap saja mereka
dilanda oleh gulungan sinar hitam seperti naga mengamuk itu
dan susunan barisan mereka pun cerai berai dan kacau balau.
Liu Bhok Ki menambah Sin-kang pada gerakan sabuknya
dan terdengar teriakan susul-menyusul diikuti robohnya para
pengeroyok seorang demi seorang. Para anggota Hek-Houwpang
masih melawan terus sekuat tenaga, dipelopori oleh Coa
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Siang Lee yang memaninkan siang-kiamnya dengan cepat
dan kuat.
Namun, mereka itu bagaikan semut-semut yang
mengeroyok seekor jangkerik. Tubuh mereka berpelantingan,
dan akhirnya yang masih dapat bertahan hanyalah Coa Siang
Lee seorang. Pemuda ini masih memainkan sepasang
pedangnya melakukan perlawanan mati-matian, sedangkan
tiga belas orang anggota Hek-Houw-pang itu telah tewas
semua.
Tentu saja Coa Siang Lee tidak tahu bahwa andaikata Liu
Bhok Ki menghendaki, diapun tentu sudah roboh dan tewas.
Ada sesuatu yang aneh terjadi di dalam perasaan hati
pendekar tinggi besar yang sedang mengamuk itu. Melihat
betapa Coa Siang Lee demikian mirip wajahnya dengan Coa
Kun Tian dan melihat keberanian pemuda itu, besarnya
semangatnya untuk membalas dendam atas kematian
ayahnya, timbul suatu perasaan saying dan iba kepada
pemuda itu. Kalau sampai saat itu CoaSiang Lee masih belum
roboh, bahkan terluka, hal itu adalah karena perasaan ini yang
mengganjal di hati Liu Bhok Ki.
Gerakan gulungan sinar sabuknya tadi menggulung Capsha-
tin. Seluruh daya serangnya ditujukan untuk merobohkan
tiga belas murid Hek-Houw-pang itu, sedangkan terhadap Coa
Siang Lee, dia hanya menangkis dan membendung serangan
sepasang pedang itu.
Kini terjadi perkelahian yang seru namun berat sebelah
antara Liu Bhok Kid an Coa Siang Lee. Seru karena pemuda
itu dengan nekad masih terus menyerang mati-matian, namun
semua serangannya gagal dan kemanapun sianr sepasang
pedangnya menyambar, selalu bertemu dengan ujung sabuk
dan terpental kembali. Perkelahian itu terjadi mati-matian
diantara tiga belas sosok mayat yang berserakan.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Coa Siang Lee, sudahlah. Tiada gunanya engkau nekat.
Engkau masih muda, saying kalau mati konyol. Apakah engku
tidak mau menghentikan permusuhan gila ini? Pulanglah dan
engkau boleh …. Membawa kepala ayahmu.”
Sungguh luar biasa sekali mendengar ucapan Liu Bhok Ki
ini. Biasanya dia amat keras hati dank eras kepala, ingin
“menyiksa” kepala orang yang menzinai isterinya itu selama
dia masih hidup. Akan tetapi kini dia yang jelas menguasai
pemuda itu dengan mudah akan mampu merobohkannya,
mendadak menawarkan perdamaian dan membolehkan
pemuda itu membawa pergi kepala ayahnya.
“Liu Bhok Ki, tak usah banyak cakap hari ini engkau atau
aku yang mati!” Coa Siang Lee mendesak dengan sepasang
pedangnya.
Pemuda ini memang lihai dan ilmu sepsang pedang itu pun
berbahaya sekali. Sekarang, setelah tidak ada murid Hek-
Houw-pang yang membantu, dia bahkan dapat mencurahkan
seluruh tenaga dan kepandaiannya dan terasalah oleh Liu
Bhok Ki bahwa pemuda ini memang cukup tangguh.
Diapun memutar sabuknya dan kini terjadilah perkelahian
yang lebih hebat lagi., karena Liu Bhok Ki tentu saja tidak
menjadi korban sepasang pedang yangganas itu dan dia mulai
membalas dengan serangan-serangannya. Biarpun dia
mampu mendesak pemuda itu, namun pendekar tinggi besar
ini maklum bahwa tidak mau menerima usulnya berdamai itu
membutuhkan lebih banyak waktu dan tenaga.
Pada sat itu terdengar bentakan nyaring, “Liu Bhok Ki
memang seorang laki-laki pengecut dan jahat!” dan begitu
bentakan itu terhenti, terdengar suara berdesing-desing dan
ada tiga sinar kecil berkelebat menyambar kearah tubuh Liu
Bhok Ki.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Itulah tiga batang senjata rahasia piauw beronce merah
yang mengandung racun.
Liu Bhok Ki mengeluarkan bentakan nyaring dan sabuknya
diputar melindungi tubuhnya. Tiga batang piauw itu terpukul
dan terlempar jauh, dan Liu Bhok Ki meloncat jauh
kebelakang.
“tahan senjata!” bentaknya dan suaranya mengandung
kekuatan khikang yang demikian hebatnya sehingga Coa
Siang Lee dan orang yang baru muncul itu berhenti dan
memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kebencian.
Ketika dia memandang gadis yang baru saja muncul dan
yang menyerangnya dengan senjata rahasia piauw itu, hampir
Liu Bhok Ki mengeluarkan teriakan kaget. Dia melihat wajah
isterinya yang telah tiada.
Gadis itu mirip sekali dengan isterinya. Muka yang bulat
telur dengan kulit muka putih kemerahan, rambut yang hitam
halus dan panjang, mata yang bersinar-sinar seperti sepasang
bintang kejora, mulut yang bibirnya merah basah dan
menantang itu.
“Kau ….. kau siapakah ………..?” akhirnya dia dapat
mengeluarkan suara yang agak bergetar.
“Sebetulnya, tidak pantas seorang macam engkau
mengenal namaku, Liu Bhok Ki!” kata gadis itu dan Liu Bhok Ki
terbelalak heran.
Suaranya juga persis suara isterinya.
”Akan tetapi agar engakau tidak mati penasaran, ketahuilah
bahwa namaku Sim lan Ci, dan aku datang untuk
membunuhmu!”
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Tapi ……… tapi ……….” Suara pendekaryang biasanya tenang
dan tabah itu masih gagap karena jantungnya masih
terguncang hebat melihat seolah-olah isterinya hidup kembali.
Apalagi kini gadis itu berdiri didekat Coa Siang Lee, seolaholah
dia melihat isterinya berdiri berdampingan dengan Coa
Kun Tian, bersama-sama hendak menghadapinya dan
membunuhnya.
Kepala Kun Tian itu masih tergantung disana, dan botl
besar itupun masih diatas meja!
“Mengapa engkau hendak membunuhku, dan engkau ini
…….. puteri siapakah …..?” Bergidik dia membayangkan bahwa
gadis itu, seperti juga Siang Lee yang mengaku sebagai
putera Kun Tian, akan mengaku pula sebagai puteri Hui Cu,
isterinya.
Akan tetapi tidak, gadis itu tidak mengaku demikian, dan
memang hal itu tidak mungkin. Isterinya masih perawan ketika
menikah dengan dia, dan isterinya mati dalam usia masih
muda, tidak mungkin meninggalkan keturunan, seperti halnya
Kun Tian.
“Buka telingamu baik-baik, Liu Bhok Ki. Aku hendak
membunuhmu untuk menuntut balas atas kematian bibiku
Phang Hui Cu, yang bukan saja kau bunuh secara keji, akan
tetapi juga kepalanya kaunasukkan dalam botol besar dank au
rendam dalam anggur, kau jadikan minuman. Sungguh hal itu
tidak dapat kubiarkan begitu saja!”
Liu Bhok Ki mengerutkan alisnya. Dia teringat bahwa
isterinya, Phang Hui Cu mempunyai seorang kakak
perempuan yang bernama Phang Bi Cu dan menurut cerita
isterinya, kakak perempuan itu sejak kecil sekali diculik orang
dan tidak pernah ada kabar ceritanya. Apakah gadis itu puteri
Phang Bi Cu? Kalau kakak perempuan isterinya itu wajahnya
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
mirip dengan isterinya memang bukan tak mungkin wajah
sang keponakan serupa benar dengan wajah bibinya.
“Kau …… puteri dari ….. Phang Bi Cu …..?” tanyanya, masih
ragu dan masih terpengaruh wajah gadis yang sama benar
dengan wajah isterinya itu.
Gadis itu tersenyum mengejek, “Agaknya engkau masih
belum kehilangan ingatanmu! Benar sekali, aku puteri
tunggalnya. Aku mendengar akan apa yang kau lakukan
terhadap mendiang bibi Phang Hui Cu, maka aku datang untuk
mencabut nyawamu dan untuk minta kepala bibi agar dapat
kumakamkan dengan baik.”
“Tidak!” Tiba-tiba kekerasan hati Liu Bhok Ki datang
kembali begitu dia teringat akan perbuatan isterinya dan Coa
Kun Tian. Dua orang muda didepannya ini, yang mirip sekali
dengan isterinya dan kekasih gelap isterinya, mengingat akan
dia dan semua yang terjadi dua puluh tahun lebih itu, dan
mendatangkan pula kemarahan dan kekerasan hatinya.
“Mereka berdua itu patut dihuku selama aku masih hidup.
Mereka telah menghancurkan kehidupanku, menghancurkan
kebahagianku!”
“Kalau begitu mampuslah!” teriakan ini disusul
berkelebatnya sinar hitam yang selain cepat dan dasyat, juga
membawa bau amis tanda bahwa pedang itu, yang berwarna
hitam, seperti senjata rahasia piauw tadi, mengandung racun
yang berbahaya. Pedang itu membuat gerakan memutar,
berkelebat dan tiba-tiba menusuk kearah muka Liu Bhok Kid
an begitu pendekar ini mengelak ke kiri, pedang yang luput
menusuk muka itupun berkelebat mengejar ke kiri dan
membacok kearah leher.
Cepat sekali gerakan gadis yang berpakaian serba hitam
itu, dan bau amis dari pedangnya membuat lawan merasa
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
muak dan pusing. Namun, Liu Bhok Ki yang maklum akan
berbahayanya pedang hitam itu, cepat mengerahkan sinkangnya
untuk menahan serangan bau amis, dan begitu
melihat pedang membacok, diapun menggerakkan ujung
sabuk di tangan kiri untuk menangkis dan melibat agar dia
dapat merampas pedang itu.
Akan tetapi, gadis itu ternyata lihai sekali karena begitu
pedangnya ditempel sabuk sebelum sabuk itu melibat, ia
sudah menarik kembali pedangnya, memutar tubuh, dan kini
pedangnya membuat gerakan panjang menyapu kearah kedua
kaki lawan.
“Hmmmmm!” Liu Bhok Ki meloncat keatas dan dari atas,
ujung sabuknya menyambar kearah kepala gadis itu. Gadis
bernama Sim Lan Ci pun dapat mengelak dengan gerakan
yang cepat dan pada saat itu Coa Siang Lee sudah menerjang
kedepan dan menyerang dengan Siang-kiam di kedua
tangannya.
Kini Liu Bhok Ki dikeroyok dua dan terasalah oleh pendekar
ini betapa sepasang muda ini memang memiliki ilmu
kepandaian yang hebat. Tingkat kepandaian gadis itu bahkan
tidak kalah dibandingkan dengan tingkat kepandaian putera
Coa Kun Tian itu, dan terutama pedang gadis itu dan pukulan
tangan kirinya, sungguh berbahaya bukan main. Tahulah Liu
Bhok Ki bahwa Lan Ci ini selain memiliki senjata-senjata
beraun, juga mahir menggunakan pukulan beracun.
Perkelahian itu terjadi lebih seru dibandingkan dengan
ketika Liu Bhok Ki dikeroyok oleh Cap-sha-tin tadi. Karena
kedua orang muda itu sama-sama menggunakan pedang, dan
tempat perkelahian menjadi luas dengan hanya adanya
mereka berdua yang mengeroyok, mereka dapat bersilat
dengan leluasa, mengerahkan semua tenaga dan kepandaian.
Beberapa kali Liu Bhok Ki mencoba untuk merampas
pedang kedua orang muda itu, namun selalu gagal. Kiranya
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
selain memiliki tenaga sin-kang yang cukup kuat, kedua orang
muda itu pun cerdik sekali dan tidak pernah terlambat untuk
menarik kembali pedang mereka sebelum terlibat. Sebetulnya,
kalau dibuat ukuran, tingkat kepandaian kedua orang muda itu
masih belum mampu menandingi tingkat kepandaian Liu Bhok
Ki yang sudah matang, apalagi karena selama ini, biarpun
mengasingkan diri, Liu Bhok Ki tak pernah lalai untuk melatih
diri, bahkan memperdalam ilmu silatnya. Namun kedua orang
muda itu silatnya hebat, dan terutama sekali hawa beracun
yang keluar dari pedang dan tamparan tangan kiri Lan Ci amat
berbahaya. Dan lebih daripada itu, entah bagaimana setiap
kali sabuknya mendesak kearah Lan Ci, melihat wajah yang
mirip sekali dengan wajah mendiang isterinya itu, hati Liu Bhok
Ki menjadi lemas dan dia merasa tidak tega untuk melukai
atau membunuh gadis itu.
Inilah yang membuat dia lengah bahkan lemah
pertahanannya dan pada suatu saat, ketika kembali dia
terpesona oleh wajah gadis itu, Lan Cid an Siang Lee
mengeluarkan pekik yang melengking panjang hampir
berbareng. Sepasang pedang siang lee membuat serangan
kilat yang luar biasa cepatnya dan pada saat Liu Bhok Ki
meloncat kebelakang, dia sudah menusukkan pedangnya dari
samping.
Liu bhok Ki menangkis dengan sabuknya, namun dia
terlambat sehingga pedang itu meleset dan masih menancap
di pundak kirinya, kurang lebih satu dim dalamnya.
“Uhhh…..!” Liu Bhok Ki mendengus dan tiba-tiba dia
mengeluarkan suara kerengan hebat, tubuhnya mencelat
keatas dan dari atas, tubuhnya itu bagaikan seekor burung
rajawali menyambar, meluncur kebawah dan kedua ujung
sabuknya menyambar-nyambar kearah kepala kedua orang
lawannya.
Siang Lee dan lan Ci terkejut bukan main. Mereka tidak
tahu bahwa ilmu Hui-tiauw Sin-kun (Silat Sakti Rajawali
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Terbang), sebuah ilmu yang baru diciptakan oleh Liu Bhok Ki
di tempat pengasingannya.
Hebat sekali gerakan loncatan ini, bagaikan seekor burung
rajawali terbang, cepat namun juga mengandung kekuatan
yang amat dasyat. Kalau dia tidak memegang senjata sabuk,
serangan itu dilanjutkan cengan cengkeraman kedua tangan
ke bawah, karena dia memegang senjata ampuhnya itu, dia
menggunakan sabuk untuk menyerang kebawah dan tentu
saja serangan ini lebih cepat daripada kalau menggunakan
kedua tangan, karena sabuk itu lebih panjang.
Dua orang muda itu sama sekali tidak menduga bahwa
lawan yang sudah tertusuk pedang itu akan mampu berbuat
seperti itu.
Mereka terkejut dan karenanya terlambat menghindarkan
diri. Kedua ujung sabuk itu menotok pundak dan mereka
berdua roboh tak sadarkan diri.
Melihat kedua orang lawannya yang tangguh itu roboh
pingsan, Liu Bhok Ki yang sudah turun keatas tanah, berdiri
tegak dengan kedua kaki terpentang lebar. Napasnya agak
memburu dan dia memejamkan kedua matanya, merasa
betapa kenyerian yang amat hebt menusuk-nusuk dari pundak
kedalam tubuh, bahkan menjalar ke seluruh tubuhnya.
Maklumlah dia bahwa dia tertusuk oleh pedang yang
mengandung racun amat jahatnya. Terhuyung-huyung dia
memasuki pondoknya, membuka buntalan simpanan obat dan
segera minum tiga pel kuning, lalu menempelkan obat yang
berwarna merah kepada luka di pundaknya setelah itu
merobek bajunya bagian pundak.
Dia mengimpun hawa murni untuk mengusir hawa beracun
dari lukanya, namun betapa kagetnya ketika dia mendapat
kenyataan bahwa racun itu memang hebat luar biasa dan tidak
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
dapat disembuhkannya dengan obat dan pengerahan tenaga
sakti. Dia hanya mampu menahan rasa nyeri dan
menghentikan racun itu menjalar lebih lanjut ke hantungnya,
namun dia tidak berhasil mengeluarkan racun itu dari
tubuhnya.
Ini berarti bahwa ia terancam bahaya maut, kalau saja dia
tidak menemukan obat penawarnya. Maka, diapun cepat
berlari keluar lagi.
Dua orang muda itu masih rebah tidak pingsan lagi, akan
tetapi belum mampu bergerak karena pengaruh totokan yang
lihai dari ujung sabuk di tangan Liu Bhok Ki.
Melihat pria setengah tua tinggi besar itu sama sekali tidak
memperlihatkan ketakutan, bahkan memandang kepadanya
dengan mata melotoot penuh kemarahan dan kebencian.
“Sim Lan Ci,” katanya kepada gadis itu
“Engkau tahu bahwa sekali menggerakkan tangan,
nyawamu akan melayang menyusul nyawa bibimu. Akan tetapi
aku tidak membunuhmu, bahkan aku suka membebaskanmu
dan membiarkan engkau membawa pergi kepala bibimu. Akan
tetapi, engkau harus menebusnya dengan obat penawar racun
pedangmu.”
Biarpun kaki tangannya tidak mampu bergerak, Lan Ci
masih dapat bicara walaupun lirih. Namun bicara dengan
penuh semangat dan sepasang matanya memancarkan
kebencian.
“Aku sudah kalah, mau bunuh bunuhlah, siapa takut
mampus. Engkau pun akan mampus karena racun pedangku
dan kita sama-sama menghadap arwah bibi Hui Cu.”
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Liu Bhok Ki adalah seorang yang cerdik. Dia mengenal
gadis yang berhati keras, maka membujuk takkan ada
manfatnya. Maka dia lalu memancing untuk mengetahui
macam racun yang dideritanya.
“Hemmmmm, engkau anak kecil yang sombong. Kaukira
akan mudah membunuh aku begitu saja. Sudah puluhan kali
aku terkena racun, akan tetapi selalu dapat kusembuhkan.
Racun piauw darimu tadi pun dapat kuhilangkan pengaruhnya.
Racun pedangmu ini pun tentu akan dapat kuobti sampai
sembuh dalam waktu dekat.”
Pancingnya mengena. Gadis itu tersenyum mengejek.
“Boleh kaucoba Obat penawar racun pedang Cui-mo Hek
Kiam (Pedang hitam Pengejar Iblis) ini hanya ada pada ibuku.
Kau tahu siapa ibuku? Ia berjuluk ban-tok Mo-li (Iblis Betina
Selaksa racun).”
Mendengar julukan ini diam-diam Liu Bhok Ki terkejut
bukan main. Tak disangkanya bahwa enci (kakak perempuan)
dari mendiang isterinya itu, yang dikabarkan lenyap diculik
orang ketika masih kecil, adalah datuk sesat berjuluk Ban-tok
mo-li itu.
Tentu saja dia pernah mendengar nama itu, yang terkenal
sebagai seorang ahli racun yang amat berbahaya dan jahat.
Akan tetapi dia tetap bersikap tenang, bahkan tersenyum
mengejek :
“Hemmmm, biar racun itu datang dari ban-to Mo-li atau
siapapun saja, sudah pasti akan dapat kusembuhkan. Tak
mungkin ada racun yang tidak ada obat penawarnya di dunia
ini.”
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Sim Lan Ci masih terlalu muda untuk dapat menduga
bahwa sikap lawannya itu adalah untuk memancing
keterangan tentang racun itu. Ia menjadi penasaran dan
berkata.
“Engkau akan mampus, takkan mungkin sembuh. Obat
penawarnya hanya ditangan ibuku. Kecuali kalau engkau
dapat menemukan raja-mustika di kepala naga …..”
Sim lan Ci bukan berbohong atau sekedar mengulang
dongeng kuno yang mengatakan bahwa mustika di kepala
naga merupakan obat paling mujarab di dunia, dapat
menawarkan segala macam racun, bahkan dapat memperkuat
tubuh. Memang ia pernah mendengr dari ibunya itu bahwa
satu diantara obat yang akan mampu mengobati luka bercun
karena pedang Cui-mo Hek-kiam. Ia sengaja mengatakan ini,
bukan berbohong, melainkan untuk mengejek karena tidak
akan mungkin Liu Bhok Ki bisa mendapatkan mustika di
kepala naga.
“Engkau bohong.”
“Huh, Perlu apa aku bohong? Engkau akan mampus dan
kalau engkau hendak membunuhku, silakan! Kau kira dengan
Sin-kang akan dapat mengusir racun dari pedangku? Tidak
mungkin. Paling-paling dengan obat dan sin-kang engkau
hanya akan dapat mengurangi rasa nyeri, akan tetapi racun itu
tetap akan mengeram dalam tubuhmu. Memang dapat
kauperlambat menjalarnya ke Jantung, akan tetapi lambat
laun, akan sampai juga. Melihat betapa pedangku sudah
melukai pundakmu tidak berapa jauh dari jantung, dalam
waktu paling lama tiga bulan engaku tentu akan mati dalam
keadaan yang sangat menderita.”
Liu Bhok Ki menjadi terkejut sekali mendengar ini. Memang
cocok apa yang dikatakan gadis itu, berarti ia tidak berbohong.
Dia menjadi marah sekali tangannya diangkat keatas untuk
menghantam kearah kepala gadis itu.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Gadis itu sama sekali tidak berkedip memandang
kepadanya dengan mata yang tajam dan indah, mata isterinya.
Tangannya tertahan dan dia menggeleng kepala keras-keras,
lalu menoleh kea rah Coa Siang Lee yang sudah siuman akan
tetapi tidak mampu bergerak. Dia mendapatkan gagasan yang
luar biasa untuk melampiaskan hatinya.
“Tidak, aku tidak akan membunuhmu! Bahkan aku tidak
akan membunuh dia. Biar kalian menggantikan Kun Tian dan
Hui Cu untuk merasakan apa yang pernah kurasakan.”
Berkata demikian, dua kali tangannya bergerak dan dia
sudah menepuk leher kedua orang muda itu yang seketika
menjadi pingsan kembali.
Siang Lee siuman daro pingsannya dan merasa betapa
tubuhnya panas, bukan panas yang menganggu, melainkan
panas yang hangat dan nyaman. Kepalanya agak pening,
akan tetapi bukan kepeningan yang tidak enak, seperti
peningnya orang mabuk! Telinganya seperti mendengar suara
merdu. Dia membuka mata dan silau ketika matanya bertemu
dengan sinar matahari yang masuk melalui jendela yang
terbuka. Jendela ? dia merasa seperti dalam mimpi, akan
tetapi mimpi yang indah sekali, yang membuat jantungnya
berdenyut dan gairahnya memuncak.
Ketika dia mendengar suara disebelahnya, napas orang,
dia cepat menengok kekanan dan disitu, dekat sekali dengan
dia, dia melihat seorang gadis yang amat cantik jelita,
tubuhnya mulus karena tubuh itu tidak tertutup apa-apa.
Gadis itu juga seperti orang bangun tidur, memandang
kepadanya dengan heran, akan tetapi sepasang mata itu
meredup dan sayu seperti mata orang mengantuk, dan mulut
yang setengah terbuka itu membentuk senyum menantang,
Siang Lee mendapat kenyataan bahwa bukan hanya wanita
muda itu yang telanjang bulat, juga dia sendiri tidak
berpakaian. Dan mereka berdua dalam keadaan tanpa
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
pakaian, berada di dalam pondok yang jendelanya terbuka,
dari mana sinar matahari masuk dengan indah dan hangatnya,
dan mereka berdua rebah diatas sebuah pembaringan kayu
yang kokoh kuat.
Keduanya saling pandang dan gairah berahi mereka
memuncak, tak mungkin dapat ditahan lagi, dan tanpa bicara
keduanya lalu saling rangkul, saling dekap dengan mesra dan
panas. Tak ada kekuatan di dunia ini yang akan mampu
mencegah apa yang terjadi diantara mereka.
Keduanya seperti dikuasai nfsu berahi yang berkobar, tak
mampu mempergunakan akal budi lagi, ingatan mereka
seperti terapung di atas samudera luas yang indah
menghanyutkan, seperti terbang melayang diantara awanawan
dia nagkasa dan mereka pun hanyut, tidak dapat
mempertahankan diri karena tidak ada lagi yang dapat
diingatnya kecuali melaksanakan hasrat yang berkobar.
Mereka seperti dua orang kehausan di padang pasir, yang
sudah hampir mati kehausan, lalu tiba-tiba mendapatkan air
yang jernih dan sejuk. Mereka minum dan meneguk air sejuk
itu tanpa mengenal puas, sampai akhirnya keduanya
terhempas dan terengah-engah diatas pembaringan itu, lalu
tertidur pulas seperti pingsan, tubuh penuh keringat.
Tak kurang dari tig jam Siang Lee dan Lan Ci tidur
tertelentang, sebelah menyebelah, tanpa pakaian sama sekali,
tidur nyenyak seperti pingsan. Mereka sama sekali tidak tahu
betapa ada byangan orang masuk dan melemparkan pakaian
mereka keatas pembaringan dekat tubuh mereka, lalu
bayangan itu menghilang lagi.
Mereka terbangun hampir berbarengan. Siang Lee yang
lebih dulu bangun dan mengeluh karena kini dia merasa
kepalanya pening, kepeningan yang menyakitkan, dan
tubuhnya terasa lelah sekali.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Keluhannya ini seperti menggugah Lan Cid an gadis ini pun
terbangun. Seperti Siang Lee, ia pun merasa pening dan
matanya berkunang. Akan tetapi, mereka dapat mengetahui
kehadiran masing-masing, dan ketika membuka mata melihat
betapa mereka telanjang bulat, bersama berada di dalam
pondok diatas senbuah pembaringan, keduanya terkejut
bukan main.
Lan Ci mengeluarkan jeritan tertahan, seperti kilat cepatnya
menyambar pakaiannya yang ada didekatnya dan menutupi
dada dan pahanya, matanya mengeluarkan kilat yang
menyambar kearah Siang Lee yang juga berusaha menutupi
perutnya dengan pakaiannya.
Keduanya saling pandang, terbelalak dan ketika Lan Ci
melihat noda-noda merah diatas pembaringan, tahulah ia pa
yang terjadi dengan dirinya. Ia mengeluarkan jerit tertahan,
dan tangannya menyambar kedepan, kearah kepala Siang Lee
yang juga terkejut dan terheran setengah mati, sudah dapat
melempar tubuh ke bawah pembaringan sambil membawa
pakaiannya dan dengan beberapa loncatan dia sudah keluar
dari pondok itu.
Dengan tergesa-gesa dia mengenakan pakaiannya,
memeras otak untuk mengingat apa yang telah terjadi
dengannya dan dengan gadis itu.
Bagaimana mereka tahu-tahu berada di dalam pondok,
diatas pembaringan dalam keadaan bugil dan telah terjadi
hubungan diluar kesadaran mereka? Diapun samara-samar
teringat betapa telah terjadi kemesraan antara dia dan Lan Ci,
terjadi hubungan badan yang amat mesra dan semua kejadian
itu seperti dalam mimpi saja.
“Wuuuuuutttttt……….” Kini Lan Ci meloncat keluar, dalam
keadaan sudah berpakaian. Kedua pipinya basah air mata dan
mukanya pucat, matanya mencorong ketika ia memandang
kepada Siang Lee.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Lalu ia menuding pemuda itu dengan telunjuknya dan
membentak.
“Jahanam, keparat engakau. Engkau ………. Engkau harus
menebus dengan nyawamu!”
Akan tetapi Siang Lee sudah merenungkan peristiwa itu.
dia memang terkejut dan batinya terguncang namun tidaklah
sehebat guncangan batin yang diderita oleh Sim Lan Ci maka
pemuda ini dapat lebih dahulu menenangkan batinya dan
dapat merenungkan dan mengingat-ingat peristiwa yang telah
terjadi itu.
“Nanti dulu, nona. Harap nona suka bersabar dulu sebelum
menyerang aku, dan marilah kita bicara dengan kepala dingin.
Percayalah, aku bersumpah bahwa aku tidak melakukan
seperti apa yang kau sangka. Kita sama-sama berada dalam
keadaan tidak sadar dan seperti dalam mimpi kita bersama
melakukan hal itu, kita telah masuk perangkap musuh, Nona.”
Lan Ci mengerutkan alisnya dan menghapus air mata
dengan punggung tangan kirinya.
“Apa ……….. apa maksudmu ……..?” tanyanya, heran dan
samar-samar ia teringat akan “mimpi” itu, betapa pemuda itu
sama sekali tidak memperkosanya, melainkan betapa
keduanya melakukan hubungan dengan mesra, dengan suka
rela.
“Harap kau suka bersikap tenang, Nona. Sekali lagi,
percayalah bahwa aku tidak melakukan hal keji seperti yang
kau sangka. Nah, mari kita ingat-ingat, kita berdua telah roboh
tertotok oleh musuh besar kita, Liu Bhok Ki? Kita tidak berdaya
dan aku sudah menduga bahwa kita tentu akan dibunuh,
setidaknya aku aku akan dibunuh, seperti yang terjadi pada
tiga belas orang suheng-suhengku. Kemudian, ketika jahanam
itu mengetuk leherku aku tidak ingat apa-apa lagi. Dan tahuKANGZUSI
WEBSITE http://kangzusi.com/
tahu aku terbangun, aku merasa seperti dalam mimpi, di
dalam pondok diatas pembaringan itu, dalam keadaan ……..
tanpa pakaian ………. Dan kau ……..pun disana ………… dalam
keadaan yang sama lalu kita ………… kita …….. ah, seperti dalam
mimpi saja, nona. Kemudian, tadi aku terbangun, sadar dan
kepalaku pening dan ………. Kudapati engkau lalu engkau
menyerangku! Nah, aku berani bersumpah bahwa seperti
itulah kejadiannya.”
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Jilid 2
Sim lan Ci, yang mukanya berubah merah sekali karena
teringat betapa ia telah menyerahkan diri bulat-bulat dan
dengan suka rela kepada pemuda ini, betapa ia dirangsang
oleh gairah yang memuncak, kini juga mengingat-ingat dan
ternyata bahwa apa yang dialaminya persis seperti yang
diceritakan pemuda itu kepadanya. Sampai lama ia
termenung, kemudian ia mengangguk.
“Aku ……. Aku ………….. percaya kepadamu.” Ia pun menjadi
bersedih sekali karena ia telah kehilangan kehormatannya,
kehilangan keperawanannya dan hal ini bagi seorang wanita
gagah sperti ia, lebih hebat daripada kematian.
“Ah, si jahanam Liu Bhok Ki!” Siang Lee berseru sambil
mengepal tinju dan menghadap kearah pondok itu.
“Jelaslah sekarang, ini adalah perbuatannya. Dia
merobohkan kita, membuat kita pingsan dan dalam keadaan
pingsan itu, dia agaknya membawa kita kedalam pondok,
diatas dipan kayu itu, dan agaknya dia menanggalkan pakaian
kita dan meminumkan obat perangsang yang membuat kita
berdua lupa segala. Tidak salah lagi Nona, itulah yang terjadi!”
“Jahanam Liu Bhok Ki!” Sim Lan Ci memaki dan ia pun
mengepal tinju, percaya penuh bahwa memang demikianlah
tentu yang telah terjadi dengan mereka.”
“Dia atau kita yang mati!” Tiba-tiba Siang Lee berseru dan
dia pun sudah meloncat ke dalam pondok untuk mencari
musuhnya, diikuti oleh Lan Ci yang sudah marah sekali.
Akan tetapi, mereka tidak menemukan Liu Bhok Ki dalam
pondok itu, bahkan kepala Coa Kun Tian yang tadinya
tergantung di tengah ruangan, dan kepala Phang Hui Cu yang
terendam anggur dalam botol, tidak terdapat disitu. Yang
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
mereka temukan adalah pedang-pedang mereka yang berada
diatas meja. Mereka segera mengambil pedang masingmasing
akan tetapi untuk apa? Musuh mereka rsudah pergi.
Sim Lan Ci dengan pedang ditangan, berdiri didepan
pembaringan dan menilhat noda merah tanda hilangnya
kehormatannya sebagai seorang gadis, membuat ia tidak
dapat menahan dirinya lagi dan menangislah Lan Ci
sesunggukan. Melihat keadaan gadis itu, Siang Lee berdiri
bengong. Dia merasa kasihan, dan dia pun harus mengakui
bahwa ia amat tertarik kepada gadis itu, apalagi
membayangkan apa yang telah terjadi diantara mereka,
membayangkan kemesraan sikap gadis itu, kemanisan dan
kehangatannya. Dia merasa suka dan takkan malu untuk
mengaku bahwa dia telah jatuh cinta seperti yang belum
pernah dialaminya.
“Nona ………… maaf ……….. mengapa engkau ………… menangis?”
katanya lirih sambil menghampiri. Tangannya digerakkan,
ingin rasanya untuk menyentuh, untuk memeluk dan
menghibur hati gadis yang sedang berduka itu, namun dia
tidak berani.
Mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba Lan Ci membalikkan
tubuh menghadapinya dengan air mata mengalir sepanjang
kedua pipinya. “Mengapa? Engkau bisa Tanya mengapa?
Aaahhh, bagimu seorang pria, peristiwa itu agaknya tidak
berbekas apa-apa. Akan tetapi bagi aku dunia rasanya hancur.
Aku telah ternoda, aku tertimpa aib, aku kehilangan
kehormatan …….. dan engkau masih bertanya mengapa? Uhuhu-
huuuuh………”
Siang Lee memandang bingung dan merasa semakin iba
kepada gadis yang kini menangis tersedu-sedu sambil
menutupi muka dengan kedua tangan itu. gadis itu gagah
perkasa, berilmu tinggi akan tetapi sekarang menangis seperti
anak kecil.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Nona, dengarlah baik-baik. Aku Coa Siang Lee, cucu ketua
Hek-houw-pang sejak kecil sudah mendapat didikan agar
menjadi orang gagah yang bertanggungjawab. Biarpun apa
yang terjadi diantara kita tadi bukan merupakan perbuatanku
yang kusengaja atau kusadari, biarpun hal itu terjadi karena
kita berdua terjebak perangkap musuh, namun Coa Siang Lee
bukan orang yang tidak bertanggungjawab.
Aku mempertanggungjawabkan perbuatanku, nona. Dan
kalau sekiranya engkau setuju…….. aku ……… aku ingin
mengambilmu sebagai isteriku. Nah, dengan demikian, aib itu
akan lenyap dari dirimu, Nona.”
Mendengar ucapan ini, lan Ci menurunkan kedua
tangannya dan untuk sesaat melihat wajah pemuda itu dengan
jelas, ia mengusap kedua matanya. Berapa kali,
mengeringkan air matanya. Ia ingin melihat apakah ucapan itu
keluar dari hati sanubari pemuda yang tampan dan gagah!
Biarpun hal itu belum cukup untuk membuat ia jatuh cinta,
akan tetapi setelah apa yang terjadi antara mereka tadi, tidak
ada jalan lain yang lebih baik daripada kalau mereka menjadi
suami isteri yang sah! Iapun samara-samar teringat akan
kemesraan diantara mereka tadi, dan wajahnya kembali
menjadi semakin merah.
“Kau ………….. kau ingin menjadi suamiku hanya karena
kasihan dan ingin menghindakan aku dari aib? Kalau begitu,
perjodohan antara kita hanya seperti permainan sandiwara
saja?” tanyanya mengambil jalan lain untuk menjenguk isi hati
pemuda itu.
“Ah, tidak, nona. Terus terang saja aku telah amat tertarik
dan kagum kepadamu sejak kemunculanmu tadi, dan …….
Setelah apa yang terjadi antara kita dan diluar kesadaran kita,
aku ……….. aku suka dan aku cinta kepadamu. Tentu saja kalau
tidak terjadi peristiwa itu, aku tidak akan berani begitu lancing
mengakui hal itu.”
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Wajah lan Ci semakin merah dan jantungnya berdegup
karena girang. Bukan saja ia akan mendapat jalan keluar
untuk terhindar dari aib, akan tetapi juga ia mendapatkan
seorang calon suami yang mencintainya.
“Be……..benarkah ……….. kata-katamu itu…..?” katanya,
suaranya agak gemetar dan ia menundukkan muka, tidak
berani menentang pandang mata pemuda itu.
Terdorong oleh perasaan hatinya, Siang Lee melangkah
maju mendekati, kemudian dengan hati-hati dia menyentuh
pundak gadis itu. tidak ada penolakan dan dilain saat dia telah
merangkul dan memeluk tubuh gadis itu, mendekap kepala
gadis itu, kedadanya. “Perlukah aku bersumpah?” bisiknya.
Lan Ci tidak menjawab melainkan menekan mukanya pada
dada pemuda itu sambil membayangkan kemesraan tadi dan
hatinya terasa girang bukan main.
“Aku, aku percaya kepadamu. Tapi ……… kita belum saling
berkenalan……..”
Mendengar ucapan ini, Siang Lee tertawa dan Lan Ci juga
tertawa. Keduanya tertawa gelid an rngkulan mereka menjadi
semakin erat.
“Ha-ha, sungguh lucu sekali. Kita belum saling berkenalan,
belum saling mengenal nama, akan tetapi sudah …….. sudah
………..”
“Sudah apa?” Lan Ci bertanya sambil mencubit.
“Sudah …… seperti suami isteri. Dewiku yang tercinta,
perkenalkanlah, aku bernama Coa Siang Lee. Ayahku Coa
Kun Tian dibunuh oleh Liu Bhok Ki, ketika aku masih berada
dalam kandungan ibuku, dan ayahku adalah putera ketua Hek-
Houw-pang. Kini ibuku dan kakekku di Hek-houw-pang yang
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
berada di dusun Ta-bun-cung, di sebelah selatan kota Poyang,
di lembah sungai kuning. Usiaku dua puluh satu tahun.
Nah, sekarang bagianmu, moi-moi.”
Tanpa melepaskan mukanya yang bersandar pada dada
pemuda itu, Lan Ci memperkenalkan diri.
“Namaku Sim lan Ci, usiaku delapan belas tahun. Ibuku
seorang janda bernama Phang Bi Cu, didunia persilatan
dikenal dengan julukan Ban-to Mo-li. Kami tinggal di Cenghouw,
di propinsi Shantung, aku datang untuk membunuh Liu
Bhok Ki karena dia telah membunuh bibiku, adik ibuku yang
bernama Phang Hui Cu, yang dahulu adalah isterinya.”
“Ah, maksudmu…………. Yang kepalanya berada dalam botol
anggur itu?’ Tanya Siang Lee.
“Benar, dan bukankah yang tergantung di tengah itu kepala
ayah kandungmu?” Tanya pula Lan Ci.
Siang Lee mengangguk. Keduanya diam. Mereka samasama
tahu bahwa kedua orang itu dibunuh karena telah
berzina.
Tanpa melepaskan pelukannya, Siang Lee berkata,
“Agaknya …….. Ayah kandungku itu dan bibimu …….. mereka
saling mencinta.”
Lan Ci memepererat dekapannya. “Agaknya begitu. Dan
kulihat muka ayahmu itu sama benar dengan wajahmu …….
Koko ……..!”
Disebut koko dengan suara demikian mesra, Siang Lee
gembira bukan main. Dia memegang dagu dari muka yang
bersandar pada dadanya itu, diangkatnya dan dia pun
mencium mulut gadis itu, disambut oleh Lan Ci dengan mesra.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Dan aku melihat bahwa bibimu itu persis wajahmu, sama
cantik jelita dan manis.”
Lan Ci tersenyum. “Kalau begitu pantas kalau mereka itu
saling jatuh cinta !”
Mereka berciuman lagi dan sambil bergandengan tangan,
mereka lalu keluar dari dalam pondok.
“Lee-koko, sekarang marilah kau ikut bersama aku untuk
menghadap ibuku, akan kuperkenalkan kepada ibu, sebagai
calon mantunya.”
“Nanti dulu, Ci-moi. Karena tempatku lebih dekat, tidakkah
sebaiknya kalau kita pergi menghadap ibuku dan kakekku
lebih dulu? Akan kuperkenalkan engkau kepada mereka dan
akan kuberitahukan mereka tentang keadaan kita, setelah itu,
baru aku minta kakek dan ibuku mengajukan pinangan kepada
ibumu secara resmi dan kita pergi menghadap ibumu.”
“Baiklah, koko. Dan setelah itu baru kita berdua pergi
mencari musuh besar kita itu. kita berdua akan
membunuhnya.”
“Benar, hanya melihat kelihaian Liu Bhok Ki, sebaiknya
kalau kita minta bantuan orng-orang yang lebih pandai.”
“Aku akan mencoba membangkitkan kemarahan ibuku agar
ia suka pergi menghadapi Liu Bhok Ki. Agaknya ibu akan
mampu menandinginya dan mengalahkannya.”
Sambil bergandengan tangan, kedua orang muda itu
meninggalkan pondok sunyi di lembah sungai Huang-ho itu.
setelah membakarnya sebagai pelampiasan kemarahan
mereka, dan Siang Lee menggali sebuah lubang besar dibantu
oleh Lan Ci untuk mengubur jenazah tiga belas orang murid
Hek-houw-pang.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Setelah mereka pergi, menjelang malam barulah Liu Bhok
Ki keluar dari tempat sembunyinya. Dia tersenyum dan
mengangguk-angguk gembira. Semua rencananya berjalan
dengan baik sekali. Mereka berdua akan menjadi suami isteri.
Bagus pikirnya. Dengan demikian, maka akan ada
kesempatan baginya untuk membalas dendam secara
memuaskan kelak. Dan dia pun tidak peduli melihat
pondoknya dibakar orang dan dia pun pergi meninggalkan
tempat itu, membawa buntalan yang terisi pakaian, juga dua
buah kepala berada dalam buntalan itu.
Kepala Coa Kun Tian yang telah kering dan kepala Phang
Hui Cu yang masih terendam anggur dalam botol besar!.
oooOOooo
Pada waktu itu, yang menguasai Tiongkok sebelah utara
dan sebagian besar daerah tengah adalah Kerajaan Sui (581-
681). Setelah zaman Sam Kok (221-265), Tiongkok dilanda
perang saudara yang tiada henti-hentinya. Negara itu
terpecah-belah. Setiap orang gubernur atau jenderal yang
berkuasa di suatu daerah, membentuk wangsa-wangsa
sendiri, mendirikan kerajaan-kerajaan kecil yang saling
gempur, maka terjadilah perang saudara yang kacau balau,
memperebutkan wilayah dan kekuasaan.
Keadan ini membuka kesempatan bagi bangsa-bangsa
asing dari utara dan barat untuk menyerbu ke pedalaman
Tiongkok. Mereka adalah bangsa Sui-nu, Turki, Tibet dan
bangsa Toba. Masih banyak lagi bangsa-bangsa nomad yang
kecil-kecil menyerbu masuk dan menduduki wilayah kecilkecil.
Rakyatlah yang menjadi korban perebutan kekuasaan
diantara para pembesar itu. kekacauan dan keadaan perang
saudara seperti ini terjadi sampai berabad-abad lamanya
sehingga catatan sejarah pun lenyap dalam kekacauan itu.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Pada tahun 581, seorang penguasa bernama Yang Cian
berhasil mempersatukan para raja kecil yang saling berebut
kekuasaan itu dan berdirilah wangsa baru, dinasti baru yang
diberi nama dinasti atau kerajaan Sui. Mulailah Kaisar Yang
Cian ini menyusun kekuatan dan berhasil mengamankan
seluruh daerah dan rakyat mulai dapat hidup teratur dan
tentram setelah selama beberapa generasi menderita terusmenerus
sebagai akibat perang saudara yang tiada hentinya.
Kaisar Yang Cian adalah seorang kaisar yang bijaksana
dan pendai. Dia menghapuskan beban rakyat berupa pajakpajak
yang tadinya secara semena-mena ditetapkan oleh
penguasa setempat untuk menggendutkan perut sendiri,
menggantikan dengan aturan pajak yang adil bahkan cukup
ringan bagi rakyat.
Hokum Negara pun diadakan dan dijalankan dengan baik.
Bahkan kaisar yang bijaksana ini mementingkan kebutuhan
rakyat petani, maka dia pun memelopori usaha penggalian
terusan-terusan yang menghubungkan Sungai Kuning (Huangho)
dengan Sungai Yang-ce. Bukan hanya ini saja usaha
Kaisar Yang Cian, bahkan dia pun memperkuat Negara dan
mengembalikan kedaulatan Negara dengan menundukkan
kembali daerah-daerah yang tadinya dirampas oleh bangsabangsa
asing. Diantaranya, dia mengirim pasukan besar dan
menundukkan kembali daerah Tongkin dan An-nam di selatan.
Karena itu, sekali lagi Tiongkok menjadi sebuah Negara besar
yang wilayahnya luas.
Kaisar Yang Cian meninggal dunia dalam tahun 604, dan
pemerintahan dilanjutkan oleh puteranya yang bernama Yang
Ti. Kaisar baru ini melanjutkan usaha yang dirintis ayahnya,
bahkan lebih aktif lagi daipada ayahnya. Dia memperluas
penggalian terusan-terusan anatara Huang-ho dan Yang-ce,
bahkan diteruskan sampai ke Hang-couw. Bukan ini saja,
bahkan dalam hal memperluas wilayah dan merebut kembali
wilayah-wilayah di pinggiran yang tadinya dikuasai bangsa
asing diapun amat aktif. Dia seringkalai memimpin sendiri
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
pasukan-pasukan besar, memerangi bagsa Toba, Turki dan
Mingol.
Kaisar Yang Ti terkenal sebagai seorang kaisar yang gagah
perkasa dan mencintai rakyatnya. Dia berpendapat bahwa
sebuah pemerintahan tiada bedanya dengan sebatang pohon.
Kekuatan dasar pohon itu terletak pada akar-akarnya yang
harus dengan kokoh kuat tertanam didalam tanah samapai
dalam. Demikian pula dengan pemerintahan, kekuatannya
terletak pada rakyat jelata. Pemerintah yang mencintai dan
dicintai rakyat, yang mempunyai hubungan mendalam dengan
rakyat, pastilah menjadi pemerintah yang kuat. Kekuatan ini
yang akan menyuburkan pohon melalui akar-akarnya. Dan
kalau pohonya subur, tentu ranting-rantingnya juga subur, dan
akan menghasilkan bunga dan buah yang amat baik.
Demikian pula, kalau pemerintahan kuat, kalau pemimpinnya
yang tertinggi bijaksana dan dicinta rakyat, tentu akan muncul
pejabat-pejabat yang bijaksana dan baik pula, dan
pemerintahan itu akan menjadi sehat, subur dan menghasilkan
kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyat.
Saying bahwa kadang-kadang manusia lupa akan dirinya
kalau sudah mabuk kekuasaan. Bukan hanya arak yang
memabukkan, akan tetapi juga semua hal yang mendatangkan
kesenangan dapat memabukkan seseorang. Harta, nama,
kekuasaan dapat membuat orang menjadi mabuk dan lupa
diri. Demikian pula halnya dengan Kaisar Yang Ti. Saking
semangatnya, saking senangnya melihat kemajuan-kemajuan
dan hasil-hasil yang diperolehnya, dia lupa diri dan mulailah
terjadi tindakan yang berlebihan. Untuk membangun terusanterusan
yang merupakan pekerjaan besar, berat dan sukar,
demi melihat segera tercapainya hasil baik, dia melakukn
tekanan kepada bawahannya sehingga para bawahan itu pun
mulai menekan kebawah lagi.
Akibatnya, banyak rakyat dipaksa bekerja berat untuk
membangun pembangunan terusan. Semacam kerja paksa
atau kerja rodi ! tentu saja hal ini tidak diketahui oleh kaisar
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
yang selalu sibuk itu. dan mulailah terdapatgolongan yang
tidak setuju, bahkan mulai membenci pemerintah, terutama di
kalangan para pendekar yang selalu memperhatikan keadaan
rakyat jelata.
Memang benar bahwa terusan itu dibangun demi
kepentingan pertanian, akan tetapi caranya membangun itu
yang tidak menyenangkan hati para pendekar karena banyak
rakyat yang ditekan, bahkan banyak pula yang menjadi korban
dan tewas dalam pembangunan yang amat besar itu.
Dan timbullaah semacam dongeng diantara rakyat bahwa
tentu akan ada anak naga yang keluar dari sungai Kuning.
Biasanya, kalau terjadi sesuatu yang besar, tentu akan muncul
seekor anak naga di bagian sungai itu yang dinamakan
Pusaran naga! Tempat itu merupakan sebuah kedung, bagian
yang dalam dari sungai itu, di sebuah tikungan dan disitu
terdapat pusaran yang amat kuat arusnya.
Para nelayan tidak ada yang berani melintasi arus pusaran
ini apabila sedang pasang, dan dalam keadaan biasa pun
nelayan selalu menjauhi pusaran yang berada di tengahtengah
sungai yang membelok itu.
Ada yang mendongengkan bahwa pusaran ini menembus
sampai kelaut timur. Entah sudah berapa banyak perahu yang
tiba-tiba diserang air berpusing itu dan lenyap bersama para
penumpangnya, tersedot kedalam pusaran dan terus kebawah
entah kemana. Dan ditempat itulah dikabarkan munculnya
anak naga selama beberapa puluh tahun sekali, atau kalau
ada terjadi hal-hal besar yang menggegerkan rakyat. Dan
setiap kali tanda-tandanya, yaitu bahwa pusaran itu pasang
dan sedang keras-kerasnya sehingga air berpusing keras di
tempat itu.
Tentu saja ada sebab-sebab yang tidak diketahui rakyat
mengapa terjadi pusingan air yang demikian kerasnya pada
waktu-waktu tertentu pula. Mungkin sekali ada hubungannya
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
dengan perubahan musim, dengan bergantinya musim hujan
dengan musim kering, atau bergantinya musim dingin yang
digantikan musim panas. Mungkin ada pula terjadi pergerakan
di bawah tanh, tepat di bawah air berpusing di Sungai Kuning
itu.
Yang jelas, berita bahwa pada tahun itu akan muncul anak
naga, segera terdengar oleh dunia kang-ouw dan tentu saja
orang-orang yang paling tertarik oleh berita ini adalah para
tokoh dunia persilatan. Hanya orang-orang dunia persilatan
yang memiliki ilmu silat yang tinggi, ilmu kepandaian yang
hebat saja merasa tertarik dan berani mendatangi tempat itu.
dan hanya orang-orang dunia persilatan saja yang
berkepentingan dengan munculnya anak naga itu, untuk
diperebutkan karena anak naga itu dianggap memiliki khasiat
yang mukjijat bagi orang-orang dunia persilatan itu.
Bagi rakyat jelata, mendengar adanya berita tentang anak
nagaa itu saja sudah mendatangkan rasa takut. Apalagi
semua orang tahu belaka betapa berbahaya pusaran air di
Sungai Kuning itu yang mereka sebut Pusaran Maut. Lebih
lagi dengan berkumpulnya banyak tokoh dunia persilatan,
tentu saja diantara mereka banyak pula tokoh kaum sesat
disamping kaum pendekar, rakyat jelata semakin tidak berani
mendekati. Biasanya, kalau terjadi pertemuan antara kedua
pihak itu, ada atau tidak adanya anak naga, tentu akan terjadi
perkelahian besar-besaran dan rakyat merasa lebih aman
kalau menjauhi tempat seperti itu.
Memang mirip dongeng, akan tetapi nyata karena pada
suatu hari, kedua tepi sungai besar itu nampak sibuk dengan
banyak orang berdatangan dan hilir-mudik, lalu mereka semua
itu menuju ketepi dimana terdapat pusaran air yang
dihebohkan itu.
Besok malam adalah malam bulan purnama, sat dimana
anak naga akan muncul, demikian menurut cerita dari mulut ke
mulut dan turun temurun. Akan tetapi sehari sebelumnya,
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
sudah banyak orang berkeliaran di sekitar tempat itu! dan
bermacam-macam orang yang bermunculan disitu. Banyak
diantara mereka yang kelihatan menyeramkan, baik mukanya
maupun pakaiannya yang aneh-aneh dan nyentrik. Ada pula
yang berpakaian pengemis, pendeta, ada yang berpakaian
sastrawan. Akan tetapi, mudah diduga bahwa mereka ini
bukanlah pendeta, pengemis atau sastrawan biasa, karena
biasanya siapa yang berani datang ke tempat itu, sudah pasti
orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi atau
setidaknya yang merasa memiliki kelihaian.
Diantara para toh kang-ouw yang aneh-aneh yang nampak
berkeliaran di tempat itu, terdapat seorang laki-laki setengah
tua yang tinggi besar dan gagah perkasa, namun berpakaian
sederhana sekali. Tidak seperti orang-orang lain, laki-laki
tinggi besar ini sejak muncul hanya duduk saja di tepi sungai
dan selain sebuah buntalan besar yang diturunkan dari
punggung dan diletakkan diatas tanah di dekatnya, dia pun
membawa dua buah papan tebal.
Dia duduk bersila dan matanya dipejamkan, kadangkadang
dibuka untuk memandang kearah sungai dimana mulai
terdapat orang-orang berperahu, akan tetapi selalu menjaga
agar perahu mereka tidak memasuki daerah pusaran yang
amat berbahaya itu, yang berada di tengah Sungai.
Laki-laki itu bukan lain adalah Liu Bhok Ki. Seperti kita
ketahui, dia terluka oleh pedang Cui-mo Hek-kiam ditangan
Sim Lan Ci, dan racun pedang ini jahat bukan main.
Pengobatan biasa ditambah pengerahan sinkangnya tidak
mampu mengusir hawa racun yang mengeram di pundaknya,
dan karena menurut ucapan Sim Lan Ci, selain obat penawar
yang ada pada ibunya, Ban-tok Mo-li, juga mustika di kepala
naga akan dapat menyembuhkannya, maka Liu Bhok Ki
segera pergi ke Pusaran Maut untuk ikut memperebutkan anak
naga.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Kebetulan sekali kemunculan anak naga yang diharapharapkan
itu akan terjadi, hanya beberapa hari setelah dia
terluka dan tempat tinggalnya tidak begitu jauh dari Pusaran
Maut itu, hanya perjalan tiga hari saja. Diapun mengharapkan
bahwa berita tentang anak naga itu akan menarik pula wanita
yang berjuluk Ban-tok Mo-li ke tempat itu.
Dengan demikian, maka ada dua kemungkinan baginya
untuk menyembuhkan lukanya. Pertama, merebut anak naga
kalau benar muncul, dan kedua mencari Ban-tok Mo-li dan
minta obat penawarnya! Dia pun sudah siap dengan sebuah
perahu kecil yang disewanya dari seorang nelayan, diikatnya
di sebuah patok dan dia akan mempergunakannya kalau perlu.
Karena sudah dua puluh tahun lebih Liu Bhok Ki tidak
pernah muncul di dunia kang-ouw, maka tidak ada orang yang
mengetahuinya. Dia sendiri masih mengenal beberapa orang
yang kebetulan lewat disitu, antaranya Kiu-bwe-houw
(Harimau kor Sembilan) Gan Lok, seorang jagoan dari Taigoan,
aliran utara yang dulu pernah bentrok dengan dia hanya
dengan susah payah dia dapat mengalahkannya.
Ada pula Kim-kauwpang Paouw In Tiang, ahli tongkat emas
yang lihai ilmu tongkatnya, jagoan dari Luliang-san. Kedua
orng ini usianya sekitar lima puluh dua sampai lima puluh lima
tahun, tidak banyak selisihnya dengan usianya sendiri, namun
karena sudah dua puluh tahun lebih tidak pernah bertemu,
maka mereka itu agaknya sudah lupa padanya.
Dia dulu adalah seorang pemuda yang ganteng dan
berpakaian rapi, tidak seperti sekarang, seorang laki-laki
setengah tua yang berpakaian sederhana, mendekati pakaian
jembel. Diapun mengenal Tung-hai Cin-jin, seorang tosu
perantau dari pantai timur yang bertubuh pendek kecil itu. Dia
masih ingat betapa lihainya tosu ini yang sekarang sudah
berusia tujuh puluh tahun dan masih nampak gesit dan sehat.
Ada lagi seorang yang amat mudah dikenalnya. Orang ini
berusia enam puluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
pakaiannya pengemis. Akan tetapi Liu Bhok Ki tahu bahwa
orang itu bukanlah jembel sembarangan, melainkan berjuluk
Sin-Ciang Kai-ong (Raja Jembel Bertangan Sakti), seorang
datuk dari Hok-kian yang lihai sekali ilmu tangan kosongnya.
Masih banyak yang dapat dikenalnya di tempat itu dan diamdiam
dia merasa ikut gembira. Akan ramai sekali nanti kalau
benar-benar ada anak naga yang muncul di permukaan air
yang berbahaya itu.
Tiba-tiba dia melihat serombongan orang yang alisnya
berkerut. Sialan, pikirnya karena dari jauh dia sudah mengenal
bahwa rombongan Hek-houw-pang. Dia mengenal gambar
harimau hitam didada baju mereka. Dia tidak ingin terjadi
keributan selagi dia mencurahkan seluruh perhatiannya pada
kemunculan anak naga, maka diapun cepat memanggul
buntalan dan papan, dibawanya ke perahu, melepaskan ikatan
perahu dan tak lama kemudian diapun mendayung perahunya
ke tengah, akan tetapi tentu saja diapun menjauhi daerah
Pusaran Maut karena biarpun seorang yang berkepandaian
tinggi, menghadapi pusaran maut di hanya akan menjadi
permaian yang tidak ada artinya.
Liu Bhok Ki mencari tepi sungai yang sunyi untuk dipakai
tempat melewatkan malam. Besok malam baru bulan purnama
akan muncul dan kabarnya, anak naga itu akan muncul
apabila bulan sedang purnama, tepat ditengah malam, dan
kemunculannya pun hanya beberapa jam saja, lalu lenyap
kembali kedalam pusaran maut.
Makin banyak orang berdatangan pada keesokan harinya.
Liu Bhok Ki tetap menjauhkan diri dari keramaian. Dan jelas
nampak betapa para tokoh kangouw yang brkeliaran di tempat
itu, kini untuk mempersiapkan diri. Makin dekat malam bulan
purnama itu, makin tegang suasananya. Menjelang senja,
banyak sudah perahu-perahu berseliweran akan tetapi selalu
menjauhi daerah pusaran maut. Menurut dongeng, anak naga
itu akan keluar dai pusaran maut dan akan berenang keluar
dari daerah pusaran air, bermain-main dan mencari ikan,
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
setelah kenyang makan ikan, baru akan kembali ke Pusaran
Maut.
Diantara perahu-perahu itu, terdapat dua buah perahu dan
penumpang lain! Semua perahu ditumpangi oleh tokoh-tokoh
kang-ouw, mereka yang sengaja mencoba peruntungan
mereka, barangkali “Berjodoh” dengan anak naga yang
diperebutkan. Setidaknya, mereka datang untuk melihat
keadan dan bertemu dengan tokoh-tokoh besar dunia
persilatan. Akan tetapi, dua buah perahu itu ditumpangi oleh
dua keluarga dari dusun yang berlainan. Hanya kebetulan saja
perahu mereka bertemu di dalam pelayaran dan mereka saling
berkenalan lalu melanjutkan pelayaran bersama-sama dalam
dua perahu agar lebih aman.
Sebuah diantaranya ditumpangi dari dusun Hon-cu. Si Kian
berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun. Karena dia ditekan
oleh pejabat daerahnya untuk ditarik sebagai pekerja paksa
dan dikirim ke tempat pembangunan terusan sungai, dia nekat
melarikan diri bersama isterinya dan seorang puteranya yang
bernama Si Han Beng yang berusia dua belas tahun. Dia
mendayung sendiri perahunya dibantu oleh Si Han Beng.
Ayah dan anak ini tinggal di Lembah Sungai Juning, maka
mereka tidak asing dengan pekerjaan mendayung perahu.
Akan tetapi karena tempat tinggal mereka jauh dari Pusaran
Maut, mereka tidak pernah mendengar tentang tempat
berbahaya itu. dia terpaksa melarikan diri karena sudah
mendengar betapa banyak orang dusun yang tadinya dibujuk
untuk bekerja di terusan, tidak dapat kembali ke dusunnya,
bahkan banyk yang kabarnya mati di tempat pekerjaan
mereka.
Adapun keluarga kedua adalah keluarga Bu Hok Gi.
Berbeda dengan si Kian, Bu Hok Gi seorang pejabat melarkan
diri karena ditekan oleh atasannya, dipaksa untuk dapat
mengumpulkan sedikitnya dua puluh lima orang laki-laki dari
dusunnya dijadikan pekerja paksa dengan ancaman dia akan
ditangkap dan dihukum kalau tidak berhasil mendapatkan
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
jumlah itu. Bu Hok Gi teringat akan kakaknya seorang pejabat
tinggi dan dia melarikan diri hendak mengunjungi kakaknya
dan minta bantuan kakaknya agar dia terlepas dari ancaman
atasannya.
Kedua keluarga ini, yang masih tinggal di satu daerah
karena dusun mereka bertetangga, bertemu di dalam
pelayaran ketika keduanya berhenti melewatkan malam di
sebuah dusun tepi sungai. Setelah mereka salaing
memperkenalkan diri dan tahu bahwa keduanya menjadi
korban peraturan kerja paksa, kedua pihak merasa senasib
dan mereka pun bersahabat. Keluarga Bu pergi melarikan diri
karena takut atasan, sedangkan keluarga Si Takut kepada
kepala dusun yang mengharuskan Si Kian menjadi pekerja
paksa. Bu Hok Kian pergi bersama seorang isteri dan seorang
anak perempuan yang bernama Bu Giok Cu dan berusia
sepuluh tahun. Masih ada lagi seorang pembantu yang
bertugas mengantar dan mendayung perahu.
Demikianlah, pada sore hari itu, mereka tiba di daerah yang
amat ramai diluar pusaran Maut. Tentu saja kedua keluarga ini
merasa heran melihat keramaian di tempat itu, betapa banyak
perahu berseliweran. Karena tidak ingin mencampuri urusan
orang lain, dan mereka dua keluarga sedang melarikan diri
sehingga takut kalau-kalau dikenal orang walaupun tempat itu
jauh sekali dari dusun mereka dan mereka sudah melakukan
pelayaran selama setengah bulan lebih, maka kedua keluarga
itu bersepakat untuk meminggirkan perahu mereka ke tempat
yang agak jauh.
Hari sudah mulai gelap dan mereka ingin melewatkan
malam di tepi sungai yang sepi. Juga perbekalan makan
mereka sudah menipis dan mereka ingin mencari bekal makan
tambahan dengan membeli di pedusunan tepi sungai.
Bu Hok Gi dan Si Kian segera meninggalkan keluarga
mereka setelah perahu mereka didaratkan dan mereka
memesan kepada keluarga masing-masing agar berkumpul di
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
tepi sungai yang sunyi itu dan jangan pergi kemana-mana,
menanti sampai mereka berdua kembali. Mereka berdua
berlalu pergi ke perkampungan di tepi sungai sebelah bawah
yang menjadi pusat keramaian orang-orang yang berkumpul di
tempat itu.
Ketika mereka tiba di perkampungan itu, mereka melihat
ramai-ramai diantara perahu-perahu yang hilir mudik di bagian
pinggir. Karena tertarik, mereka pun ikut meonton dan berdiri
diantara banyak orang di tepi sungai. Cuacana masih belum
gelap benar sehingga mereka pun dapat melihat apa yang
sedang terjadi.
Seorang laki-laki setengah tua yang berperahu seorang diri,
nampak dikejutkan dan dikurung oleh empat buah perahu
yang masing-masing ditumpangi empat orang! Dan jelas
nampak betapa enam belas orang itu mengancam pria
setengah tua yang perahunya kini terkurung di tengah-tengah.
Belasan orang itu sudah mengeluarkan senjata dan perahu
mereka bergerak semakin dekat. Ada gambar harimau kecil di
baju enam belas orang itu, di bagian dada. Mereka adalah
orang-orang Hek-houw-pang yang datang ke tempat itu karena
tertarik pula akan berita kemungkinan munculnya anak naga di
permukaan Pusaran Maut.
Tak mereka sangka, sebelum tengah malam bulan
purnama tiba, mereka melihat musuh besar mereka, Liu Bhok
Ki, berada disitu, naik perahu seorang diri! Tentu saja begitu
melihat musuh besar ini, belasan orang itu pun segera
mengepung dengan perahu mereka.
Diwajah mereka terbayang penuh kegeraman dan
kebencian, dan mereka merasa gembira karena kini
mengharapkan akan dapat membunuh musuh besar itu. kalau
di daratan, beberapa kali usaha Hek-houw-pang gagal dan
jatuh korban banyak diantara para murid Hek-houw-pang.
Akan tetapi kini mereka berada di permukaan sungai, diatas
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
perahu dan mereka mengharapkan musuh besar itu tidak akan
mampu meloloskan diri pembalasan mereka.
Tentu saja para tokoh kang-ouw, para tokoh dunia
persilatan yang berada disitu tahu akan sikap orang-orang
Hek-houw-pang itu yang mengepung laki-laki setengah tua
yang tidak dikenal itu. mereka semua tertarik, merasa tegang
dan maklum bahwa akan terjadi perkelahian yang menarik.
Maka, perahu-perahu segera minggir dan nonton dari jauh,
sedangkan orang-orang yang berada di daratan, segera
berkumpul di tepi sungai untuk menonton pertunjukan yang
amat menarik bagi mereka itu. tidak ada pertunjukan yang
lebih menarik daripada perkelahian bagi orang-orang dunia
persilatan itu.
Liu Bhok Ki tentu saja tahu bahwa perahunya dikepung
oleh empat buah perahu orang-orang Hek-houw-pang, akan
tetapi dia bersikap tenang saja, bahkan mendayung
perahunya ke tengah, mendekati daerah pusaran maut. Makin
dekat daerah itu, airpun mulai beriak dan terdengar suara
angin besar. Dia mendayung dan duduk ditengah perahu,
kelihatan tenang seolah-olah tidak ada bahaya mengancam.
Buntalan besar berada diatas punggungnya.
Setelah empat buah perahu itu mengepung dalam jarak
dekat, tiba-tiba Liu Bhok Ki bangkit berdiri diatas perahunya,
berdiri tegak dan dayung itu masih berada ditangannya.
Agaknya gerakan ini menjadi isyarat bagi enam belas anggota
hek-houw-pang untuk bergerak menerjang setelah perahu
mereka yang masih meluncur itu dekat benar dengan musuh.
Akan tetapi, pada saat belasan orang itu melakukan gerakan
menyerang dari empat penjuru, tiba-tiba tubuh Liu Bhok Ki
meloncat keatas meninggalkan perahunya dan dia melompati
kepala orang-orang dalam perahu di depannya dan urun di
sebelah belakang mereka. Ternyata kedua kaki Liu Bhok Ki
telah dipasangi papan yang ditalikan dengan betisnya, dan
ketika tubuhnya turun keatas air, tubuh itu tidak tenggelam
melainkan berdiri diartas kedua lembar papan it! Hal ini tidak
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
nampak oleh para anggota Hek-houw-pang karena selain
gerakan Liu Bhok Ki amat cepat juga cuaca sudah mulai
gelap. Mereka terbelalak dan mulut mereka ternganga melihat
betapa musuh besar itu dapat berjalan diatas air!
Akan tetapi, keheranan mereka berubah menjadi kekagetan
dan kepanikan ketika tiba-tiba tubuh Liu Bhok Ki melayang
diatas permukaan air kea rah mereka, dan pendekar ini sudah
mengayun dayung di tangannya, menyerang mereka!
Repotlah belasan orang itu ketika diserang secara tiba-tiba.
Mereka tidak mengira Liu Bhok Ki dapat “berjalan” diatas air
dan serangan orang tinggi besar itu memang hebat sekali.
Biarpun anggota hek-houw-pang mencoba untuk
menangkis dengan pedang dan golok mereka, tetap saja
mereka terpukul atau terdorong dari atas perahu mereka, jatuh
terlempar kedalam air! Dan karena sudah berada di daerah
Pusaran air, maka tubuh mereka segera terseret oleh arus air
yang dasyat.
Tubuh Liu Bhok Ki terus melayang dari perahu ke perahu
dan dalam waktu sebentar saja, tubuh enam belas orang itu
telah terpelanting semua ke dalam air dan mereka terbawa
arus air kearah pusat pusaran. Enam belas orang itu matimatian
berenang untuk membebaskan diri dari arus, namun
sia-sia belaka. Tubuh mereka terseret semakin cepat dan arus
itu kuat sekali. Mereka berteriak-teriak, menjerit dan melolong,
namun sia-sia belaka karena arus itu lebih kuat. Bukan hanya
tubuh enam belas orang itu yang hanyut oleh arus air pusaran,
juga empat perahu mereka mulai terseret!
Setelah melihat betapa semua lawannya terseret arus, Liu
Bhok Ki meloncat kembali kedalam perahunya, menggunakan
dayungnya dengan kekuatan sepenuhnya dan akhirnya dia
berhasil membawa perahunya terbebas dari arus pusaran air
dan menjauhkan diri dari tempat itu agar tidak menjadi pusat
perhatian orang yang sejak tadi menonton dengan penuh
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
kagum, bahkan mereka bertanya-tanya siapa adanya laki-laki
setengah tua yang demikian lihaynya! Sukar dipercaya bahwa
enam belas orang anggota Hek-houw-pang yang terkenal
gagah perkasa itu akan menemui maut sedemikian cepatnya
ketika mengeroyok orang itu!
Sementara itu, kalau orang-orang kang-ouw itu gembira
nonton perkelahian tadi, Si Kian dan Bu Hok Gi saling
pandang dengan muka pucat. Tak mereka sangka bahwa di
tempat itu akan terjadi perkelahian dan pembunuhan demikian
banyaknya orang, tanpa seorangpun menolong mereka yang
hanyut tadi. Diam-diam mereka lalu meninggalkan pantai,
menuju ke darat untuk mencari kebutuhan mereka akan bekal
makanan.
Dua orang dari dusun yang masih berdebar-debar penuh
ketegangan dari ketakutan itu, menuju ke sebuah kedai yang
mulai memasang lampunya. Agak sunyi disitu karena
sebagian besar orang masih berkumpul di tepi sungai.
Mereka tiba di depan kedai yang agaknya menjual
makanan dan minuman itu, keduanya berhenti dan merasa
ragu-ragu untuk masuk karena mereka melihat beberaapa
orang berada di ruangan depan kedai itu.
Ada seorang wanita cantik duduk diatas bangku, mengipasi
tubuhnya dengan sebuah kipas yang indah sekali. Wanita itu
sukar ditaksir berapa usianya, mungkin sudah empat puluh
tahun, akan tetapi mungkin pula baru tiga puluh tahun.
Wajahnya cantik dan pesolek, pakaiannya indah pula, akan
tetapi kecantikannya itu sama sekali tidak cerah, bahkan
menyeramkan karena ada sikap yang dingin sekali, dingin dan
angkuh. Hal ini nampak dari pandangan matanya yang acuh,
dan mulutya tersenyum mengejek atau memandang rendah
itu.
Dan pada saat itu, ia agaknya memandang rendah kepada
lima orang laki-laki yang berdiri mengelilinginya dan agaknya
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
lima orang laki-laki yang usianya antara tiga puluh sampai
empat puluh tahun ini memang hendak iseng atau
menggodanya! Lima orang laki-laki ini pun baru datang dari
nonton perkelahian di sungai tadi.
“Ah, Enci ini datang bukan untuk nonton perkelahian,” kata
orang kedua.
“Habis, mau apa?” kata yang ketiga
“Agaknya hendak mencari anak naga Sakti Sungai Huangho!”
kata yang ke empat nadanya mengejek.
“Kalau tidak ada naga sakti, kamipun merupakan lima ekor
naga yang cukup dasyat!” kata orang kelima dan mereka
tertawa-tawa.
Wanita cantik itu memperlebar senyumnya, akan tetapi dari
sepasang matanya muncul sinar mencorong bagaikan kilat
menyambar.
“Kalian ini anak-anak anjing jelek pergilah. Sebelum mati
konyol!” katanya
Suaranya lirih saja, namun mengandung ancaman yang
sebenarnya amat mengerikan. Akan tetapi, lima orang itu
bukanlah orang-orang biasa. Mereka memang berjuluk Lima
naga Bukit Hijau. Nama Jeng-san Ng0-liong memang sudah
terkenal sebagai jagoan-jagoan yang berkepandaian tinggi.
Sebetulnya, mereka bukanlah segolongan laki-laki rendah
yang suka menggoda wanita, akan tetapi sekali ini mereka
iseng karena melihat keadaan wanita itu yang juga luar biasa.
Mereka sudah dapat menduga bahwa wanita ini bukan wanita
sembarangan, dan memiliki kecantikan yang aneh, juga
kemunculannya di situ seorang diri, maka hati mereka tertarik
dan mereka mendekati untuk berkenalan dan sekedar iseng
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
sambil menanti datangnya saat yang menegangkan dan
mendebarkan hati itu.
Kini, wanita itu memaki mereka sebagai anak-anak anjing
jelek dan mengusir mereka begitu saja! Hal ini membuat wajah
mereka berubah merah dan seorang tertua diantara mereka,
yang kepalanya botak sampai hampir gundul, membentak.
“Heh, perempuan tak tahu diri! Tahukah kau siapa kami?
Kami adalah Jeng-San Ngo-liong dan kami menegurmu
secara baik-baik. Bagaimana engkau berani mencaci dan
menghina kami? Apakah nyawamu sudah rangkap lima?”
Wanita itu mempercepat kebutan kipasnya pada leher,
seolah-olah ia semakin gerah.
“Sekali lagi bicara, engkau akan mampus!” katanya dan
suaranya mengandung desis seperti desis ular.
Melihat sikap wanita itu, empat orang diantara Jeng-san
Ngo-Liong agaknya menjadi gentar juga. Mereka adalah
orang-orang dunia persilatan dan mereka tahu bahwa di dunia
persilatan ada suatu hal yang harus mereka perhatikan, yaitu
bahwa mereka harus berhati-hati, apabila berhadapan dengan
orang yang kelihatannya lemah. Misalnya berhadapan dengan
pendeta, sastrawan, pengemis dan wanita. Karena yang
nampaknya lemah ini juteru amat berbahaya. Kalau mereka ini
sudah berani berkeliaran di dunia kag-ouw, berarti bahwa
mereka tentu sudah memiliki tingkat tinggi dalam ilmu silat.
“Sudahlah, mari kita pergi saja,” ajak empat orang itu
kepada toa-suheng (sudara tertua) mereka.
Akan tetapi si Botak itu masih penasaran. Dia dihina di
depan adik-adiknya, bahkan diluar kedai itu sudah berkumpul
banyak orang yang ikut pula mendengar ketika dia diancam
tadi. Sekali lagi bicara, dia akan mampus.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Tidak!” dengusnya ketika empat saudaranya membujuknya
untuk pergi.
“Ia telah menghinaku! Wanita ini harus berlutut minta maaf,
atau setidaknya ia harus mau memberi ciuman satu kali
kepadaku, baru aku mau membebaskn dan memaafkannya!”
Wanita itu menghentikan gerakan kipasnya, dan kini ia tidak
lagi melirik, melainkan memandang langsung kepada si botak,
dan ia pun tersenyum. Wajahnya nampak lebih muda lagi,
deretan gigi putih seperti mutiara nampak dan jilatan lidah
jambon pada bibir merah mengisaratkan tantangan yang
panas.
“Aku lebih suka mencium daripada minta maaf,” katanya
dengan suara lembut, mulut tersenyum akan tetapi matanya
mengeluarkan sinar dingin.
Empat orang sute itu menjadi bengong. Mereka tadinya
sudah mengkuatrkan kalau-kalau wanita itu akan melakukan
penyerangan kepada suheng mereka, tidak tahunya wanita itu
malah menyatakan bersedia untuk mencium toa-suheng itu!
tentu saja saling pandang dan menyeringai.
Si botak tersenyum bangga. Dia rasa menang dan mengira
bahwa wanita cantik itu gentar menghadapinya, maka untuk
menyombongkan kemenangannya diapun lalu menghampiri
wanita itu.
“Marilah, manis, beri ciuman sekali kepadku dan engkau
akan kami anggap sahabat baik!”
Wanita itu tidak menjawab, melainkan mengembangkan
kedua lengannya dan bangkit, lalu melangkah maju
menyambut pria botak itu. mereka saling rangkul dan didepan
banyak orang yang nonton dengan gembira, ada yang
cekikikan ada pula yang menahan ketawanya, wanita cantik itu
lalu mencium mulut si botak dengan mulutnya. Ciuman itu
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
mesra dan mengeluarkan bunyi, bahkan si pria botak merasa
betapa wanita itu menjulurkan lidahnya, seperti lidah ular
memasuki mulutnya. Akan tetapi, suara cekikikan dan ketawa
para penonton seketika terhenti ketika wanita itu melepaskan
rangkulanya dan melangkah mundur. Pria botak itu terhuyung
sambil berkata lirih, “Aduh ….. aduh ……..”
Orang-orang yang berada disitu masih ragu-ragu akan arti
keluhan mengaduh ini, karena suara keluhan ini berarti sakit
akan tetapi orangpun mengaduh kalau merasakan nikmat!
Akan tetapi, pria itu terhuyung lalu terpelanting roboh
tertelentang dan semua orang terkejut melihat betapa pria
botak itu telah mati dengan mata melotot dan muka
menghitam, bahkan kedua bibirnya membengkak besar!
Kalau orang-orang lain terkejut dan ngeri, empat orang sute
dari si botak menjadi terkejut dan marah bukan main melihat
toa-suheng mereka tewas setelah berciuman dengan wanita
itu. mereka sudah mencabut pedang dan kini mereka
menyerbu wanita yang masih berdiri sambil tersenyum
mengejek itu.
“Siluman betina mampuslah!” bentak mereka.
Akan tetapi, kini wanita cantik itu menyambut serbuan
mereka dengan gerakan kedua lengannya yang cepat
meluncur seprti dua batang anak panah terlepas dari
busurnya, juga lengan itu seperti dua ekor ular. Tubuh wanita
itu berkelebat diantara sambaran empat batang pedang dan
terdengarlah teriakan-teriakan kesakitan disusul robohnya
empat orang itu secara berturut-turut. Sukar diikuti dengan
pandang mata dan sukar pula mengetahui mengapa empat
orang itu roboh. Akan tetapi mereka roboh untuk tidak bangkit
kembali, dengan muka berubah menghitam dan membengkak,
dan ternyata mereka berempat itu sudah tewas semua!
Setelah membunuh lima orang itu, dengan tenang sekali
wanita cantik ini melemparkan mata uang keatas meja, lalu
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
meninggalkan kedai itu dengan langkah tenang, lenggangnya
menarik sekali, membuat kedua pinggulnya menari-nari di
balik celana sutera yang ketat.
Semua orang cepat minggir memberi jalan kepada wanita
itu dan ketika ia lewat, terciumlah bau harum yang menyengat
hidung, harum bercampur amis, seperti bau ular. Seorang
diantara para penonton, seorang tokoh kang-ouw yang
berpengalaman, berbisik kepada temannya.
“Ia adalah Ban-to Mo-li …….!” Nama ini terdengar oleh
penonton lain dan mereka pun bergidik.
Siapa yang belum pernah mendengar Ban-to Mo-li?
Andaikata belum pernah bertemu dengan orangnya, namanya
tentu sudah pernah didengar karena nama ini terkenal di dunia
kang-ouw. Ban-to Mo-li (Iblis Betina Selasa Racun) adalah
seorang datuk sesat yang amat terkenal karena kelihaiannya,
juga karena kekejamannya. Terbukti kekejamannya ketika
dengan mudah saja ia membunuh Jeng-San Ngo-liong hanya
karena ia digoda.
Si Kian dan Bu Hok Gi yang tadinya hendak membeli
makanan di kedai itu dan menjadi penonton, tentu saja terkejut
dan muka mereka pucat sekali.
Baru tadi mereka menyaksikan perkelahian diatas perahuperahu
itu dan melihat maut menyeret belasan orang, dan kini
di depan mata mereka, demikian dekatnya, mereka melihat
lima orang tewas dengan muka menghitam dan membengkak,
mata melotot, dibunuh oleh seorang wanaita cantik! Tentu saja
nyali mereka seperti terbang melayang dan tapa banyak cakap
lagi keduanya meninggalkan tempat itu dengan muka pucat
dan kedua kai gemetaran.
Mereka kembali ke tepi sungai dimana mereka
meninggalkan keluarga mereka tadi tanpa membawa
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
sedikitpun makanan karena mereka sudah ketakutan untuk
tinggal lebih lama lagi di perkampungan itu.
“Kita harus cepat meninggalkan tempat ini, melanjutkan
perjalan kita,” kata Bu Hok Gi yang masih ketakutan.
“Memang benar, Bu-toako,” kata Si Kian. “Akan tetapi kita
harus berhati-hati. Sekarang, didepan sana masih banyaknya
mereka sekali perahu berseliweran dan agaknya mereka
adalah orang-orang jahat yang mudah membunuh orang.
Sebaiknya kita menanti sampai malam menjadi sunyi, diamdiam
kita melanjutkan perjalanan dan lolos dari daerah yang
berbahaya ini.”
Bu Hok Gi membenarkan pendapat Si Kian dan mereka pun
menanti sampai malam menjadi larut. Karena ayah mereka
tidak membawa makanan, Si han Beng dan Bu Giok Cu, dua
orang anak dua keluarga itu, segera mencoba untuk
memancing ikan. Bu Giok Cu sejak tadi mengomel terus
karena perutnya terasa lapar dan ayahnya yang sejak tadi
dinanti-nanti, datang tanpa membawa makanan. Dan lebih sial
lagi, sejak tadi ia mengail, tidak ada ikan yang menyambar
umpannya.
Bu Giok Cu yang baru berusia sepuluh tahun itu sudah
memperlihatkan tanda yang jelas bahwa kelak ia akan menjadi
seorang wanita yang cantik jelita. Akan tetapi, sebagai puteri
tunggal seorang kepala dusun, ia amat manja. Biarpun manja,
Giok Cu adalah seorang anak yang tidak malas dan cerdik,
juga nakal. Berbeda dengan Giok Cu, Si han Beng lebih
pendiam dan biarpun usianya baru dua belas tahun, Han Beng
tidak kekanak-kanakan, bahkan seperti seorang yang sudah
dewasa saja. Hal ini adalah karena sejak kecil dia hidup dalam
keluarga yang tidak mampu, memaksanya sejak kecil ikut
bekerja membantu ayahnya, baik mencari ikan sebagai
nelayan atau bekerja di sawah lading sebagai petani.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Tubuhnya juga tinggi besar dan kuat karena sudah terbiasa
bekerja berat sejak kecil. Wajahnya tampan, mewarisi wajah
ibunya yang termasuk wanaita cantik walaupun orang dusun.
Suasana di daerah Pusaran Maut itu makin malam menjadi
semakin sunyi. Agaknya, ketegangan terasa diantara para
tokoh kang-ouw yang hendak memperebutkan anak nag.
Ketegangan menanti munculnya anak naga, ditambah dengan
ketegangan karena terjadinya perkelahian dan pembunuhan
besar-besaran yang terjadi sore tadi, mencekam hati semua
orang dan banyak diantara mereka yang kini bersiap-siap saja
di tepi sungai.
Mereka percaya akan berita atau dongeng bahwa anak
naga itu muncul pada tengah malam, maka mereka pada siap
di tepi sungai dengan perahu mereka, menanti datangnya
malam.
Bulan sudah muncul, bulan purnama yang membuat
permukaan air sungai nampak keemasan. Malam telah larut
biarpun tengah malam masih dua tiga jam lagi, sudah mulai
ada perahu yang bersiliweran di luar daerah Pusaran maut.
Menurut dongeng, anak naga akan muncul di tengah pusaran
itu dan berenang keluar dari arus pusaran, karena anak naga
itu ingin mencari ikan di air yang tenang. Ikan tidak terdapat di
air yang terseret arus pusaran. Karena tidak dapat
menentukan, di bagian mana dari luar pusaran yang akan
didatangi oleh anak naga, maka perahu-perahu itu hanya
berseliweran di sekitar daerah pusaran.
Bulan purnama sudah naik tinggi ketika nampak dua buah
perahu di dayung perlahan-lahan dan dengan hati-hati sekali,
dengan tenang meluncur di luar daerah pusaran berbahaya.
Itu adalah perahu yang ditumpangi kega Si Kian dan Keluarga
Bu Hok Gi. Perahu Si Kian didayung oleh Si Kian sendiri,
dibantu oleh Han Beng, sedangkan perahu Bu Hok Gi
didayung oleh seorang pembantunya dan oleh Bu Hok Gi
sendiri.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Mereka mendayung perahu perlahan-lahan sambil mata
mereka memandang kea rah beberapa buah perahu yang
berseliweran di daerah itu dengan mata takut-takut.
Bulan purnama cukup terang sehingga para penumpang
dua buah perahu ini dapat melihat betapa daerah ini dikelilingi
oleh banyak sekali perahu. Akan tetapi perahu-perahu itu
hanya diam saja, seperti menanti sesuatu, dan hanya sedikit
yang berseliweran.
Tiba-tiba terdengar suara rebut dan banyak perahu yang
tadinya diam itu bergerak semua. Hal ini mengejutkan dan
menakutkan Si Kian dan Bu Hok Gi. Mereka menghentikan
perahu mereka yang dibiarkan berhimpitan, takut kalau
sampai ketahuan perahu-perahu lain dan terlibat dalam
keributan itu. sejak tadi Bu Giok Cu masih enak-enakan
memancing ikan, tidak peduli akan semua itu dan
mencurahkan perhatiannya ke ujung tangkai pancingnya.
Keributan terjadi di dekat daerah pusaran ketika seorang
diantara para tokoh kang-ouw melihat adanya benda yang
mengeluarkan cahaya di permukaan air. Cahaya itu berkilau
seperti beberapa ekor binatang laut kalau muncul di tengah
malam dan mengeluarkan semacam sinar dari tubuhnya,
seperti udang dan beberapa macam ikan lainnya.
Dan tokoh kang-ouw itu kemudian melihat jelas bahwa
yang sedang berenang melawan arus air pusaran itu adalah
eekor binatang seperti ular atau belut warnanya kehitaman,
sebesar lengan orang dewasa dan panjangnya kurang lebih
satu setengah meter.
“Anak ……… anak naga …………!” teriaknya di luar kesadarannya
saking kaget, girang dan tegangnya. Kalau saja dia tidak
panic, tentu dia diam saja agar jangan ada orang lain
mendengarnya dan akan diam-diam berusaha menangkap
binatang yang ditunggu-tunggu itu.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Dia mendayung perahunya, meluncur dekat binatang yang
seperti ular itu. akan tetapi ketika dia menjulurkan tangan
hendak menangkapnya, binatang itu mengelak dan berenang
kembali ke pusaran. Tokoh kang-ouw itu mengejar dengan
perahunya, tidak sadar bahwa binatang it uterus berenang ke
tengah. Dia baru tahu ketika tiba-tiba perahunya terseret oleh
arus yang amat kuat dan binatang itu lenyap. Dia terbelalak
melihat perahunya meluncur cepat tanpa dapat dikuasainya
lagi. Dia mencoba untuk mendayung sekuat tenaga, namun
tetap saja tenaganya tidak mampu menahan kekuatan arus
yang menyeret perahunya. Mulailah dia panic.
“Tolooooooooong …………..!” Tanpa malu-malu dia berteriak
ketika perahunya terseret pusaran air, dibawa berpusing oleh
pusaran air, makin lamaa makin cepat dan makin menyempit
garis lingkarannya. Saking takutnya, diapun melompat dari
perahunya, mencoba untuk berenang. Akan tetapi sia-sia
sajaa, tubuhnya terseret dan beberapa kali terdengar dia
menjerit minta tolong, juga perahunya, disedot oleh pusat
pusaran air!
Akan tetapi teriakannya tentang anak naga tadi sudah
menarik perhatian semua tokoh. Mereka ini sama sekali tidak
peduli akan nasib orang yang tersedot pusaran air itu.
perhatian mereka seluruhnya ditujukan kepada benda berkilau
yang tadi berenang dan kemudian lenyap.
Tiba-tiba, dua buah perahu yang ditumpangi oleh delapan
orang gagah, para anggota perkumpulan Jit-Seng-pang
(Perkumpulan Tujuh Bintang) di Cin-an nampak sibuk. Dua
orang diantara mereka mempergunakan jala yang bergagang
bamboo panjang dan mereka agaknya telah berhasil menjala
anak naga yang dihebohkan itu. di dalam jala mereka itu
nampak benda panjang yang mengeluarkan sinar berkeliuan
bergerak-gerak hendak lepas.
Melihat betapa delapan orng anggota Jit-seng-pang itu
agaknya berhasil menangkap “Anak Naga”, banyak perahu
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
meluncur mendekati mereka. Melihat ini, para anggota Jitseng-
pang siap dengan senjata mereka, dan kepala
rombongan mereka berseru :
“Kami dari Jit-seng-pang dan ular naga kecil ini sudah kami
tangkap. Kami yang berhak memilikinya, harap para sahabat
yang gagah tidak mengganggu kami!”
Akan tetapi, nampak seorang laki-laki tinggi gemuk
bermuka hitam meloncat dari perahunya, ketas perahu orangorang
Jit-seng-pang. Dua orang anggota Jit-seng-pang yang
menyambutnya dengan bacokan golok, dibuat terjungkal dari
perahunya oleh tendangan laki-laki gemuk itu dan sekali dia
menyambar, jala itu telah dirampasnya. Dengan kecepatan
luar biasa, dia sudah meloncat ke perahunya sendiri. Akan
tetapi ketika dia hendak melarikan diri dengan perahunya,
membawa jala yang membungkus ular berkilauan itu
terdengar bentakan halus.
“Tinggalkan anak naga itu padaku dan sinar hitam meluncur
cepat sekali kerah laki-laki gemuk bermuka hitam. Laki-laki
yang amat lihai itu hendak menangkis, akan tetapi ternyata
ada sianr kedua menyambar dan mengenai pundaknya. Dia
roboh dalam perahunya, jala itu terlepas dari tangannya
kedalam air. Laki-laki yang roboh di dalam perahunya itu tidak
dapat bergerak lagi, mukanya berubah membiru dan dia tewa
seketika terkena senjata rahasia jarum yang tadi dilepaskan
oleh Bn-to Mo-li, wanita cantik yang tadi membunuh Ceng-san
Ngo-liong di kedai!
Sebelum Ban-to Mo-li dapat menangkap ular dalam jala
yang terlempar agak jauh dari perahunya, sebuah perahu lain
meluncur dekat dan seorang laki-laki tinggi kurus menyambar
jala itu dan dia cepat mengeluaarkan ular dari dalam jalan.
Tiba-tiba dia memekik, ular itu telah mengigit pangkal
lengannya dan begitu kena digigit, dia berkelonjotn dan ular itu
melesat kedalam air dan menghilang!
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Orang tinggi kurus itu hanya sebentar berkelonkotan karena
dia sudah tewas dalam perahunya dengan tubuh membengkak
seluruhnya, seperti balon yang ditiup. Ternyata racun gigitan
ular atau anak naga itu tidak kalah hebatnya dibandingkan
racun yang terkandung dalam jarum yang dilemparkan Ban-to
Mo-li.
Keadaan menjadi makin kacau karena anak naga itu lenyap
lagi. Perahu-perahu berseliweran dan semua mata mengamati
air dan mencari-cari anak naga yang tadi terlepas dan
menyelam. Karena semua orang tenggelam dalam perhatian
mereka untuk mencari “anak naga” itu, keadaan menjadi sunyi
sekali.
Perahu-perahu semua diam dan tak seorangpun
mengeluarkan suara seolah-olah takut kalau ada suara gaduh,
anak naga yang tadi sudah memeperlihatkan diri akan tetapi
tidak berani muncul muncul kembali.
Dari ketegangan memuncak karena semua orang maklum
bahwa untuk memperebutkan anak naga itu, para tokoh kangouw
tidak segan-segan untuk merampas dan membunuh,
seperti dilakukan oleh si Muka Hitam, kemudian Ban-to Mo-li.
Keadan yang sunyi itulah yang menyebabkan suara anak
perempuan itu terdengar nya.
“Heiiiii! Umpan pancingku disambar ikan!” teriakan ini
mengandung kegembiraan besar dan Bu Giok Cu yang sejak
tadi memancing dan tidak pedulikan keadan sekitarnya,
nampak bersusah payah menahan pancingnya sehingga
tangkai pancingnya melengkung dan Giok Cu harus
mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menahan diri.
“Wah, ikannya besar dan kuat sekali ………!” katanya dan di
lain saat tubuhnya terjatuh kedalam air karena terbawa oleh
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
tarikan ikan pada pancingnya yang amat kuat dan ia tidak mau
melepaskan gagang pancingnya.
“Byuuuuurrrrr…….!”
Dua keluarga itu terkejut bukan main. Akan tetapi yang
lebih dulu bergerak adalh si Han Beng. Melihat betapa kawan
barunya itu terjatuh kedalam air, diapun tanpa membuang
waktu lagi segera melepaskan dayung ditangannya dan
melompat kedalam air. Sebagai seorang anak nelayan, Han
Beng pandai berenang, demikian pula Giok Cu yang dusunnya
terletak di tepi sungai.
“Iiiiihhh…….! Ular ………. Ular ………….” Giok Cu menjerit dan ia
berenang menjauh. Akan tetapi ular yang ternyata menjadi
korban pancingannya itu agaknya marah. Karena anak
perempuan itu lupa melepas gagang pancingnya, maka ular
itu pun terseret dan ular itu menggunakan tubuhnya yang
panjang untuk membelit tubuh Giok Cu! Anak perempuan itu
menjerit karena merasa jijik dan takut.
Pada saat itu, Han Beng sudah berenang dekat. Melihat
anak perempuan itu dibelit ular yang besarnya selengan orang
tua dan panjangnya satu setengah meter, membuat anak
perempuan itu tidak dapat berenang lagi dan gelgapan, Han
Beng lalu merasa kuatir dan menjadi nekat. Dia memegang
leher ular itu menarik-narik lilitannya agar terlepas dari tubuh
Giok Cu! Ular itu memang melepas lilitannya pada tubuh Giok
Cu, akan tetapi kini dengan marah menggerakkan kepalanya
dan mulutnya tahu-tahu sudah mengigit pundak Han Beng!
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Jilid 3
Rasa nyeri yang amat hebat membuat tubuhnya seperti
kejang dan panas dan juga seolah-olah ada ribuan semut
berapi yang mengigit seluruh tubuhnya. Pundaknya terasa
seperti dibakar. Han Beng Tiba-tiba menjadi marah sekali
pada ular itu. kepala ular itu masih menempel di pundaknya
dan tubuh ular itu mulai membelit dada dan lehernya.
Dia menjadi nekatdan dengan mengerahkan sepenuh
tenaganya, dia menangkap tubuh ular itu, menariknya ke dekat
tubuh ular itu, menariknya kedekat mulutnya dan diapun
menggigit tubuh ular itu dibagian leher.
Begitu dia mengigit dengan sekuat tenaga sehingga
menembus kulit ular yang licin dan amis itu, dia merasakan
sesuatu yang manis dan juga amis membasahi mulutnya.
Itulah darah ualar! Diapun teringat bahwa ular itu masih
menggigitnya, pundaknya nyeri bukan main, maka dalam
kemarahannya, untuk membalas kepada ular itu, diapun
menggigit semakin kuat dan menghisap darah ular itu,
ditelannya sampai berteguk-teguk!
Aneh sekali, begitu dia menelan darah ular itu, hatinya
merasa senang! Rasakan kamu, pikirnya. Kalau perlu, kita
mati berbareng! Dia menghisap terus tanpa mengendurkan
gigitannya sedikitpun juga.
Sementara itu, melihat kawannya digigit ular pada
pundaknya dan tubuh ular itu membelit tubuh Han Beng, Giok
Cu tidak tinggal diam. Ia tadi ditolong oleh Han Beng sehingga
belitan ulr pada tubuhnya terlepas. Kini iapun tidak mau tinggal
diam, dan ia pun meniru perbuatan Han Beng yang mengigit
leher ualar.
Giok Cu tidak dapat membantu karena ia tidak memegang
senjata, maka satu-satunyA senjatanya hanyalah gigi dan
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
iapun mengigit ekor ular itu sekuat tenaga! Dan seperti Han
Beng, ia merasakan darah ular manis dan amis, akan tetapi ia
tidak melepaskan gigitannya dan bahkan menghisap sehingga
sedikit darah ular memasuki perutnya!
Tadinya, para tokoh kang-ouw mengerutkan alis dan marah
melihat dan mendengar kegaduhan yang dibikin seorang anak
perempuan, akan tetapi ketika mereka melihat bahwa yang
kena pancing itu anak naga yang dijadikan rebutan, semua
orang terkejut dan perahu-perahu itu meluncur datang. Karena
banyaknya perahu, terjadi kekacauan dan ada perahu-perahu
yang bertabrakan!
Hal ini membuat mereka agak lambat mendekati Han Beng
dan Giok Cu yang bergulat dengan ular yang oleh para tokoh
kang-ouw disebut anak naga itu.
Han Beng terus menggigit leher ular dan menghisap darah
ular sekuatnya. Demikian pula Giok Cu yang juga menghisap
darah ular yang dirasakan manis dan amis itu. akan tetapi
karena anak perempuan itu menggigit baagian ekor ular atau
“Anak Naga” itu, darahnya dihisapnya tidaklah sebanyak yang
dihisap Han Beng.
Han beng yang tadinya merasa pundaknya yang digigit itu
amat nyeri dan panas, bahkan tubuhnya seperti ditusuki ribuan
jarum di dalam, kini merasa betapa ada hawa panas yang
berputaran di seluruh tubuhnya dan rasa nyeri di pundak itu
pun lenyap.
Kini terganti oleh hawa panas yang seolah-olah membakar
tubuhnya didalam. Karena siksaan hawa panas itu di menjadi
nekat dan menggigit semakin kuat. Kini gigitan ular pada
pundaknya terlepas dan ular itu menjadi lemas gerakannya
tidak sekuat tadi.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Pada saat itu, sebuah perahu sudah datang paling dekat
dan seorang kakek tua berperut gendut dengan muka selalu
berseri, mulut yang selalu menyeringai, telah menggerakkan
tangannya dan di lain saat, kakek itu telah menyambar
tengkuk Han Beng dan ditariknya anak itu naik keAtas
perahunya.
Han beng yang sudah berkunang matanya, pening
kepalanya dan hawa panas seperti membakar seluruh isi perut
dan kepala, seperti tidak sadar bahwa ia diangkat orang naik
ke perahu. Dia masih terus menggigit leher ular dan
menghisap daraahnya, dan ketika dia ditarik ketas perahu, ular
itu pun ikut pula tertarik.
Dan di ujung ularitu, Giok Cu yang menggigit ekor dan
menghisap darah, ikut pula tertarik! Anak perempuan ini pun
mulai merasa pening dan tubuhnya terasa panas seperti
dibakar.
Biarpun ia tidak sehebat Han Beng terasa oleh hawa panas
karena darah ular yang dihisapnya tidak sebanyak yang
dihisap Han Beng, namun ternyata hawa panas dalam
tubuhnya hampir tak tertahankan dan anak perempuan ini pun
dalam keadaan tidak begitu sadar ketika tubuhnya tertarik ke
atas perahu kakek gendut.
Kakek gendut yang kepalanya bulat seperti bal itu terkekeh
girang melihat anak naga yang masih menggeliat-geliat lemah.
“Ha-ha, anak naga terdapat olehku ha-ha!”
Dia menangkap tubuh ular itu dan terdengar dia berteriak
kaget
“Wah, celaka! Anak naga ini hampir mati, darahnya hampir
habis! Wah, kiranya kau hisap darahnya, anak setan!”
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Kakek gendut berkepala bulat itu adalah seorang tokoh
kong-ouw kenamaan bernama Ci Kai Liat, seorang bajak
sungai yang terkenal lihai sekali dan ditakuti banyak orang.
Biarpun mukanya selalu berseri dan mulutnya selalu
menyeringai lebar, nampaknya seperti orang yang selalu riang
dan ramah, namanya sesungguhnya dia memiliki watak yang
amat kejam dan berdarah dingin.
Dia dapat membunuh atau menyiksa orang sambil tertawatawa,
dan melihat penderitaan orang lain seperti sebuah hal
yang amat menggembirakan dan lucu.
Ci Kiat Liat marah sekali melihat bahwa “Anak Ular” itu
sudah hampir habis darahnya, dihisap oleh anak laki-laki dan
anak perempuan itu, akan tetapi sebelum dia menentukan apa
yang harus dilakukannya, tiba-tiba nampak bayangan hitam
meluncur datang. Sebuah perahu yang didayung oleh Liu
Bhok Ki sudah tiba dan kakek perkasa ini membentak dengan
suaraa keren.
“Bajak Hina Ci Kai Liat, berikan anak naga itu kepadaku!”
Berkata demikian, Liu Bhok Ki meloncat keatas perahu
bajak itu. ci Kai Hiat sudah mengenal pria perkasa itu, maka
dia melepaskan ular yang sudah lemas dan masih digigit oleh
Han Beng dan Giok Cu, lalu menyambut tubuh Liu Bhok Ki
dengan hantaman dayungnya yang terbuat dari pada baja!
Dihantamkan sekuat tenaga kearah kepala orang yang
melompat ke perahu itu.
“Dukkkk!” Liu Bhok Ki menangkis dengan lengannya dank
arena tubuhnya masih berada di udara, pertemuan tenaga itu
membuat tubuhnya melayang kembali ke atas perahunya
sendiri, sedangkan Ci Kai Hiat terjengkang di dalam
perahunya karena hebatnya benturan lengan Liu Bhok Ki
ketika menangkis dayungnya.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Dari kenyataan ini saja dapat diketahui bahwa dalam hal
tenga sin-kang bajak ini bukanlah lawan Liu Bhok Ki yang lihai.
“Hayo, lepaskan anak naga ini!” Ci Kai Hiat membentak dan
dia menendang tubuh Giok Cu. Anak perempuan yang sudah
merasa pening ini terkena tendangan, gigitannya pada ekor
ular terlepas dan ia pun terjatuh ke dalam air!
Melihat ini, han Beng marah sekali. Dia merasa bahwa
darah ular itu telah habis dan ular itu agaknya sudah tidak
mampu bergerak lagi. Akan tetapi dia tidak sudi menyerahkan
ular kepada si Gendut yang dengan kejam menendang Giok
Cu, maka dia segera melemparkan tubuh ular yang sudah
lemas itu kearah perahu yang di tumpangi Liu Bhok Ki!
Orang gagah ini segera menangkap “anak naga” itu dan
tanpa ragu-ragu lagi, dia lalu menggigit kepala naga sampai
pecah, dan didalam kepala itu terdapat sebuah benda kuning,
seperti kuning telur. Cepat benda ini dimasukkan ke dalam
mulut dan ditelannya!
Tiba-tiba wajah Liu Bhok Ki menjadi pucat, kerut merut dan
dia menggigit bibirnya. Terasa betapa perutnya seperti
diremas-remas dari dalam, nyeri bukan main dan akhirnya,
orang gagah perkasa itu roboh pingsan di dalam perahunya!
Sementara itu, Han beng sudah meloncat ke dalam air
untuk menolong Giok Cu kalau-kalau anak perempuan itu
terancam bahaya. Namun, dia merasa lega melihat Giok Cu
berenang dan dalam keadaan selamat.
“Giok Cu ……!” Han Beng berseru
“Mari kita kembali ke perahu kita!”
“Han Beng, aku….. aku pening sekali……” Anak perempuan
itu terengah-engah. Han beng juga merasa pening sekali, dan
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
tubuhnya seperti sebuah balon yang penuh dengan hawa
panas, seperti akan meledak setiap saat. Namun dia tidak mau
menyatakan hal ini, melainkan menangkap lengan Giok Cu da
menariknya.
“Hayo kita cari perahu kita……..”Akan tetapi, biarpun bulan
purnama menerangi permukaan air, tetap saja sukar untuk
mencari perahu keluarga mereka diantara banyak perahu
berseliweran itu.
“Ha-ha, kau hendak pergi ke mana.’ Tiba-tiba ada suara
terdengar di dekat mereka. Kiranya kakek gendut berkepala
bulat tadi sudah berada di dekat mereka sambil menyeringai.
“Anak naga tidakdapat, akan tetapi darah naga bisa kuperoleh
dari tubuh kalian. Ha-ha-ha! Mari ikut dengan aku, ana-anak
manis!” Orang itu adalah Ci Kai Liat. Setelah melihat betapa
anak naga itu tadi terjatuh ke tangan Liu Bhok Ki, Ci Kai Liat
merasa terkejut, menyesal dan penasaran. Namun, dia
teringat betapa dua orang anak itu telah menghisap darah
anak naga sampai hampir habis. Dengan demikian, darah
kedua orang anak itu amat bermanfaat, mengandung darah
naga! Demikian dia mendengar dongeng tentang naga. Maka,
kini timbul niatnya untuk menangkap dua orang anak yang
telah minum habis darah naga, dan dia akan mengambil darah
kedua orang anak itu.
“Tidak, tidak sudi ikut denganmu” Han Beng membentak.
Anak ini memang memiliki ketabahan luar biasa disamping
keuletan dan tahan uji. Tubuhnya seperti dibakar dari dalam,
kepalanya pening berdenyut-denyut, namun, dia masih tabah
menghadapi kakek gendut yang menyeringai menyeramkan
itu. Bahkan, ketika kakek itu mengulurkan tangan hendak
menangkapnya, Han Beng mengelak dengan menyelam. Akan
tetapi, dia tidak tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang
bajak sungai yang tentu saja mempunyai keahlian di dalam air
selain ilmu silat yang tinggi. Dia tidak mungkin dapat
meloloskan diri hanya dengan menyelam terhadap pengejaran
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
kakek ini. Tahu-tahu Han Beng sudah tertangkap lengannya
dicengkeram kakek itu. Melihat Han Beng meronta-ronta
hendak melepaskan diri dari pegangan kakek itu Giok Cu
menjadi marah. Ia tidak rela melihat temannya ditangkap,
maka anak perempuan yang pandai renang ini pun meluncur
maju dan memukul tangan kanannya kea rah punggung kakek
itu.
“Lepaskan dia! Lepaskan!”
“Dukkk!” Pukulan kepalan kecil ke arah punggung itu
mengejutkan Ci Kai Liat karena terasa kuat dan menimbulkan
nyeri pada punggungnya! Tak disangkanya anak perempuan
kecil itu memiliki tenaga sebesar itu. Punggung seperti dipukul
palu besi dengan keras. Untung dia memiliki kekebalan. Dia
pun membalik dan menangkap pula lengan Giok Cu dan
menyeret kedua orang anak itu dan membuat mereka lumpuh
tak mampu bergerak lagi. Dengan mudah dia melemparkan
tubuh kedua anak itu ke atas perahunya dan dia sendiri
menyusul naik.
“Heh-heh-heh, mari ikut dengan aku, anak-anak manis!”
katanya sambil mulai mendayung perahunya.
Han Beng yang tetotok tadi, seketika menjadi lumpuh kaki
tangannya. Akan tetapi hanya sebentar saja karena hawa
panas itu membuat tubuhnya pulih kembali dan dia mampu
bergerak lagi. Dia bangkit duduk dan membentak.
“Kakek jahat! Mau apa engkau membawa kami berdua?
Kami ingin kembali kepada keluarga kami”
“Ehhh……??!” Ci Kai Liat terkejut sekali melihat Han Beng
telah dapat Bergerak lagi. Bagaimana mungkin ini?
Totokannya amat kuat. Dan dia melihat anak perempuan itu
pun mulai menggerak-gerakkan kakinya! Dia pun teringat!
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Aha, kalian sudah menghabiskan darah naga, di tubuh
kalian ada darah naga! Kalian harus ikut bersamaku!” dan lalu
menubruk Han Beng dan sebelum pemuda itu mampu
meronta, dia sudah menotoknya lagi dan dalam keadaan
lumpuh sementara itu, Han Beng diikat kaki tangannya. Juga
Giok Cu diikat kaki tangannya oleh kakek gendut.
“Hem, bajak rendah, berikan kedua orang anak itu
kepadaku!” tiba-tiba terdengar bentakan halus dan nampak
sebuah perahu meluncur cepat sekali, tahu-tahu perahu itu
sudah dekat dan penumpangnya hanya seorang wanita cantik
yang berpakaian mewah, sikapnya dingin dan angkuh. Melihat
wanita ini, wajah Ci kai Hiat berubah pucat. Tentu saja dia
mengenal Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu.
“Ban-tok Mo-li, engkau carilah anak naga, aku tidak akan
mencarinya lagi, aku …… aku suka kepada dua orang anak ini,
hendak kuajak pulang, karena aku tidak mempunyai anak,
tidak mempunyai murid. Harap jangan halangi aku, Mo-li ………”
katanya dengan suara jelas mengandung rasa takut
menghadapi wanita cantik itu.
“Berani engkau hendak membohongi aku?” wanita itu
membentak.
Tiba-tiba tubuhnya seperti terbang melayang dan tahu-tahu
ia sudah berada diatas perahu Ci Kai Liat yang menjadi
semakin pucat. Bau harum yang aneh menyengat hidung dan
Ci kai Liat yang biasanya merupakan seorang bajak yang amat
kejam dan tidak mengenal takut, sekarang nampak menggigil.
Sungguh mengherankan sekali betapa seorang bajak yang
diikuti banyak orang itu kini menggigil berhadapan dengan
seorang wanita cantik.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Hayo terangkan mengapa engkau hendak mengambil
darah kedua orang bocah ini!” Ia mengacungkan jari
telunjuknya yang berkuku panjang dan kini Ci Kai Liat bergidik.
“Maaf, Mo-li. Aku tidak ingin berbohong. Kedua orang anak
ini …… entah bagaimana tadi dibelit dan digigit …….. anak naga!
Dan kedua orang bocah ini juga menggigit, bahkan menghisap
darah anak naga sampai kedalam tubuh mereka. Oleh karena
itu ……….”
“Pergi kau! Dua orang anak ini untuk aku!” tiba-tiba kaki
wanita itu bergerak.
Cepat sekali tendangannya itu dan tahu-tahu tubuh Ci Kai
Liat yang gendut telah terlempar kedalam air!
“Byuuuur ………!” air muncrat dan Ci kai Liat menyelam, tidak
berani muncul ke permukaan air sebelum jauh dari perahunya
yang kini dirampas wanita itu berikut dua orang anak kecil. Dia
menyumpah-nyumpah, namun tetap saja tidak berani berbuat
sesuatu. Ci kai Liat sudah mengenal benar siapa adanya Bantok
Mo-li Phang Bi Cu, bahkan pernah dia hampir tewas di
tangan iblis betina itu. maka kini, begitu bertemu dia seperti
tikus bertemu seekor kucing.
Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu mendekati dua orang anak yang
terikat itu, tidak tahu bahwa Ci kai Hiat yang penasaran,
melampiaskan rasa penasarannya dengan mengabarkan
tentang dua orang anak yang menghisap habis darah anak
naga itu kepada para tokoh kang-ouw yang berputar-putar di
sekitar tempat itu.
Kini semua tokoh sudah tahu belaka bahwa naka ulat telah
hilang, darahnya telah disedot habis oleh dua orang anak kecil
laki-laki dan perempuan yang kini tertawan oleh ban-tok Mo-li.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Ketika Ban-tok Mo-li meraba tubuh Han Beng dan Giok Cu,
ia terkejut dan menarik kembali tangannya. Wajahnya berseri
dan matanya berkilat. Tubuh dua orang anak kecil itu panas
seperti api!
“Bagus,” katanya mengangguk-angguk
“Kalian harus ikut denganku!” Ia pun mempergunakan dayung
untuk mengerakkan perahu meninggalkan tempat itu.
Tiga buah perahu, masing-masing ditumpangi dua orang,
menghadangnya. Mereka adalah enam orang tokoh kang-ouw
yang juga mendengar berita yang disebar luaskan oleh Ci Kai
Hiat, maka kini mereka menghadang perahu Ban-tok Mo-li
dengan senjata terhunus. Dua orang memegang golok, dua
orang lagi memegang pedang, dan dua orang yang lain
memegang trisula. Wajah mereka garang dan agaknya enam
orang itu walaupun bukan dari satu kelompok, karena jerih
kalau harus menghadapi Ban-tok Mo-li sendiri saja, sudah
sepakat untuk mengeroyok iblis betina ini.
“Hemmmm, kalian ini enam ekor tikus mau apa
menghadang perahuku!” Ban-tok Mo-li berkata dengan suara
dingin.
Seorang berkumis tebal yang memegang trisula, mewakili
teman-temannya menjawab :
“Ban-to Mo-li, kami berenam mohon agar engaku suka
menyerahkan seorang diantara dua orang anak itu kepada
kami.”
Wanita cantik itu tersenyum. Senyuman yang membuat
wajahnya manis sekali, akan tetapi juga penuh ejekan.
“Huh, enak saja berbicara. Tak seorangpun boleh
menjamah dua orang anak yang menjadi milikku ini!”
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Aih, Mo-li, harap berlaku adil dan jangan tamak. Seorang
pun lebih dari cukup untukmu. Berilah yang seorang kepadaku
agar dapat kami bagi berenam.”
“Tikus-tikus busuk, pergilah dan jangan ganggu aku!
Ataukah kalian sudah bosan hidup barangkali?”
Karena mengandalkan banyak teman, enam orang ini tidak
mau menyingkir bahkan mendekatkan perahu mereka, dengan
senjata terangkat dan sikap mengancam mereka menyerbu.
“Berikan seorang kepada kami atau kami terpaksa akan
merampas keduanya!” bentak pula si kumis tebal.
“Kiranya kalian sudah bosan hidup!” bentak Ban-tok Mo-li
dan tanpa memperdulikan enam orang dalam tiga perahu itu,
ia mendayung terus ke depan. Sebuah perahu menghadang
didepan, yang du buah lagi menyerang dari kanan kiri. Enam
orang itudengan nekat, berlompatan dari perahu mereka
keatas perahu Ban-to Mo-li sambil menggerakkan senjata
masing-masing!
Namun, ban-tok Mo-li Phang Bi Cu dengan sikap tenang
saja menyambut serbuan enam orang itu dengan kipas
ditangan kiri mengebut-ngebut lehernya seperti orang
kepanasan, sedangkan tangan kanan tetap mendayung
perahu. Melihat enam orang itu berloncatan, tiba-tiba ia
menggerakkan kipasnya kekiri kanan dan depan. Terdengar
suara berciut bersama dengan menyambarnya sinar hitam
ketiga penjuru dan lima orang yang sedang berloncatan
menyerbu itu mengeluaran teriakan dan tubuh mereka runtuk
keatas air yang bergelombang.
Seorang diantara mereka berhasil menghindarkan diri dari
sambaran jarum yang keluar dari gagang kipas dengan
memutar pedangnya, dan dia berhasil turun keatas perahu
didepan Ban-tok Mo-li.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Melihat lima orang temannya tewas semua, dia menjadi
marah dan mengangkat pedangnya lalu menerjang Ban-to Moli
yang masih duduk dengan tenang. Wanita itu tersenyum, lalu
meludah kearah orang yang menyerangnya dengan pedang.
Air ludah meluncur keluar dari mulut yang manis itu, tepat
mengenai muka si penyerang. Orang itu terkejut, lalu
berteriak-teriak kesakitan sambil mencakari muka sendiri.
Pedangnya terlempar dan dia pun roboh jatuh ke air sambil
masih mencakari mukanya dan berteriak-teriak!
Han Beng dan Giok Cu yang dalam keadaan tertotok dan
terbelunggu kaki tangan mereka itu menyaksikan ini semua
dan keduanya terbelalak dengan muka pucat. Wanita cantik ini
sungguh lihai bukan main, dalam sekejap mata lelaki yang
berkepandaian tinggi. Han beng ngeri dan takut, akan tetapi
juga kagum bukan main.
Kembali ada banyak perahu menghadang, bahkan kini
mengepung. Tidak kurang dari lima belas buah perahu
mengepung Perahu yang ditumpangi Ban-tok Mo-li, Han beng
dan Giok Cu. Semua tokoh kini tahu belaka bahwa mereka
tidak lagi memperbutkan anak naga, melainkan
memperebutkan dua orang bucah yang kabarnya menghisap
habis darah anak naga sehinggadua aorang bocah itu kini
memiliki darah yang mengandung darah naga.
oooOOooo
Melihat betapa perahunya dihadang dan dikepung banyak
orang, Ban-to Mo-li menjadi marah bukan main. Ia berhenti
mendayung dan kini ia bangkit berdiri tegak di tengah
perahunya, pedang telanjang di tangan kanan dan kipas di
tangan kiri, sikapnya ganas dan penuh ancaman. Teriakanteriakan
banyak orang yang minta agar seorang diantara dua
anak yang berada dalam perahunya diserahkan kepada
mereka membuat Ban-to Mo-li mengerti bahwa mereka itu
sudah tahu tentang dua orang bocah yang telah menghisap
habis darah anak naga.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Tahulah ia bahwa ia harus mempertahankan anak itu matimatian
dan banyak bicara tidak ada gunanya lagi. Perebutan
anak naga itu kini berubah menjadi perebutan dua orang anak
ini.
“Kalian ini tikus-tikus yang sudah bosan hidup!” teriaknya
dan kipasnya dikebutkan kedepan, kanan dan kiri
berhamburan jarum-jarum beracun yang amat berbahaya.
Senjata-rahasia ini amat kecil, berwarna hitam pula dan
ketika meluncur keluar dari ujung gagang kipasnya amatlah
cepatnya. Dalam cuaca yang hanya diterangi sinar bulan
purnama, pula dengan adanya kebisingan mereka, bagaimana
mungkin dapat melihat atau mendengar datangnya jarumjarum
pembawa maut itu?
Segera terdengar teriakan-teriakan kesakitan disusul
robohnya banyak orang yang terjungkal dari perahu mereka
kedalam air. Tubuh mereka diseret air yang mulai deras
arusnya karena mereka semakin dekat dengan tepi pusaran
air sudah mulai bergolak.
Terjadilah perkelahian hebat diatas permukaan air itu ketika
ban-tok Mo-li di keroyok. Perahunya dikepung dan wanita itu
dengan pedang di tangan ditangan kanan, kipas di tangan kiri,
berkelabat dan berloncatan dari perahu ke perahu. Hebat
mukan main gerakan wanita ini. Pedangnya menjadi gulungan
sinar yang menyambar-nyambar mendahului tubuhnya yang
berkelebat dan kemanaa pun tubuhnya melayang, tentu ada
seorang dua orang yang terjungkal keluar dari perahunya.
Akan tetapi, tiba-tiba pengeroyokan terhadap Ban-tok Mo-li
terhenti dan sisa orang yang mengeroyoknya, kini mendayung
perahunya mengejar ke suatu jurusan. Ban-tok Mo-li
memandang dan ia terkejut. Kiranya, perahunya yang ia
tinggalkan ketika mengamuk dan berloncatan dari perahu
yang satu ke perahu yang lain, perahunya yang ditumpangi
dua orang bocah yang masih dalam keadan tertotok lumpuh
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
dan terikat kaki tangannya, kini meluncur kedepan, didayung
oleh dua orang bocah itu yang entah bagaimana telah dapat
bergerak kembali dan tidak terikat kaki tangan mereka! Ia tidak
tahu bahwa telah terjadi keanehan pada diri Han Beng dan
Giok Cu.
Dua orang bocah ini telah menghisap darah ular yang aneh,
yang membuat tubuh mereka panas seperti dibakar dan
menimbulkan kekuatan dasyat sekali. Hal ini tadipun sudah
nampak ketika dua orang anak itu tertotok oleh Ci kai Liat.
Totokan itu buyar dengan sendirinya dilanda hawa pasas yang
berputar-putar di seluruh tubuh mereka.
Ketika Ban-tok Mo-li tadi dikeroyok orang dan perahu itu
ditinggalkan, Han Beng dan Giok Cu yang tersiksa oleh hawa
panas, berusaha untuk menggerakkan kaki tangan mereka.
Dan ………. Begitu Han Beng menggerakkan kaki tangannya,
maka tali ikatan kaki tangan yang amat kuat itupun putus!
Dia melihat Giok Cu meronta dan mencoba melepaskan
kaki tangannya, lalu dibantunya anak perempuan itu dan
dengan mudah saja dia dapat membikin putus tali pengikat
kaki tangan Giok Cu. Tali itu seolah-olah rambut bertemu api
saja ketika tersentuholeh tangannya! Mereka merasa semakin
tersiksa oleh hawa panas yang kini membuat mereka seperti
hendak melayang-layang, kepala seperti membengkak dan
akan meledak.
“Hayo kita lari ……..!” kata Han Beng dan dia pun mengambil
dayung dalam perahu itu. Giok Cu mengambil dayung kedua
dan mereka pun mendayung perahu untuk melarikan diri.
Anehnya, begitu mereka mendayung, maka gerakan mereka
mengandung tenaga yang amat kuat sehingga perahu
meluncur cepat sekali.
Melihat betapa dua orang anak yang diperebutkan itu
melarikan diri mereka yang mengeroyok Ban-tok Mo-li segera
meninggalkan iblis betina itu dan melakukan pengejaran.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Ban-tok Mo-li mengeluarkan teriakan marah. Tubuhnya
berkelebat dan dua orang penumpang perahu terlempar
keluar. Ia lalu dengan cepatnya melakukan pengejaran pula.
Terjadilah kejar-kejaran yang hiruk-pikuk dan mengangkan.
Perahu yang didayung oleh dua orang anak kecil itu ternyata
dapat melaju dengan amat cepatnya sehingga membikin
banyak orang menjadi heran dan juga bingung. Perahu itu
menyelinap diantara perahu-perahu yang menghadang,
mengepung dan mengejar dan sampai lama tidak dapat orang
menangkap mereka. Akan tetapi, Han Beng dan Giok Cu jadi
bingung karena mereka tidak dapat menemukan dua buah
perahu keluarga mereka.
Mereka berputar-putar dan pandang mata mereka semakin
berkunang, kepala semikin pening dan tubuh semakin panas.
Tiba-tiba ada benda hitam menyambar dar atas dan tahu-tahu
selembar jala hitam telah jatuh menimpa tubuh Han Beng dan
Giok Cu. Dua orang anak ini terkejut, akan tetapi karena sudah
pening, ketika jala itu menyelimuti mereka dan kemudian
ditarik, mereka pun jatuh ke air, di dalam jala yang amt kuat
itu.
Mereka meronta, namun tidak berdaya dan mereka terseret
kedalam air oleh tiga orang yang memegangi tali dan ujung
jala. Bagaikan tiga ekor ikan saja, tiga orang ini menyelam dan
menyeret jala yang terisi dua orang anak itu.
Han beng dan Giok Cu gelagapan, namun karena mereka
sudah biasa bermain di dalam air, mereka segera menahan
napas dan membiarkan diri mereka diseret.
“Huang-ho Saam-ki (Tiga setan Huang-ho) telah menawan
anak-anak itu!” terdengar teriakan dan keadaan kacau. Mereka
semua mengejar siapa adanya Huang-ho Sam-kwi.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Mereka semua mengenal siapa adanya Huang-ho Sam-kwi,
tiga orang tokoh sesat yang amat terkenal di sepanjang sungai
Huang-ho. Ilmu silat tiga orang ini tidaklah amat tinggi, akan
tetapi mereka memiliki ilmu di dalam air yang membuat semua
orang merasa jerih kalau harus melawan mereka di air.
Mereka tiada ubahnya ikan-ikan saja. Dan kini mereka
menawan dua orang bocah yang dijadikan rebutan itu dan
membawa dua orang aanak-anak itu menyelam kedalam air.
Hal ini sungguh membuat tidak tahu kemana dua orang itu
dibawa oleh tiga orang Huang-ho Sam-kwi. Perahu-perahu
hilir mudik mencari-cari dan mengharapkan melihat tiga setan
itu muncul di permukaan air membawa dua orang tawanannya
agar mereka dapat menyerang dan merampas dua orang anak
itu.
Betapun pandainya Huang-ho Sam-kwi bermain di air,
mereka tetap saja manusia biasa dan bukan ikan. Mereka
harus keluar untuk menghirup udara sgar dan tidak mungkin
mereka bersembunyi terus di dalam air.
Mereka segera berenang di dalam air, menyeret dua orang
tawanan mereka, menuju ke tepi sungai sebelah selatan.
Sebagai tiga setan Huang-ho, mereka agaknya hafal akan
keadaan sungai itu, bahkan ketika berada di dalam air, mereka
dapat mengira-ngira ke tepi bagaian mana mereka dapat
mendarat tanpa diketahui orang lain. Mereka memilih tepi
yang sunyi, tepi yang merupakan bagian dari hutan lebat.
Akhirnya, Huang-ho sam-kwi mendarat di tepi yang landai
dan yang bersambung dengan padang rumput di tepi jalan itu.
mereka mendarat dan menyeret jala yang berisi Han Beng dan
Giok Cu. Dua orang anak itu kini pingsan dengan perut agak
kembung kemasukan air ketika mereka diseret di bawah
permukaan air. Dua orang anak itu masih berada di dalam jala
dan tidak bergerak seperti dua ekor ikan besar terjala.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Begitu tiga orang pria yang bertubuh tinggi kurus dan
berpakaian serba hitam itu mendarat dan menyeret jala
termuat dua orang bocah itu, tiba-tiba berkelebat bayangan
dua orang dari kanan kiri.
“Serahkan seorang anak kepadaku!” bentak orang yang
datang dari kiri. Dia adalah Kiu-bwe-houw Gan Lok yang
bertubuh tinggi kurus dan di tangan kanannya nampak
sebatang pecut berekor sembilan. Senjata inilah yang
membuat dia dijuluki Kiu-bwe-houw (Harimau ekor sembilan)
dan di dunia kang-ouw namanya cukup terkenal.
“Yang seorang lagi serahkan kepadaku!” bentak orang yang
datang dari kanan dan dia ini adalah Kim-kauw-pang Pouw In
Tiang, pendekar dari Luliangsan yang berperut gendut dan
tubuhnya pendek itu. sebatang tongkat berada di tangannya
dan dia bertolak pinggang dengan sikap angkuh.
Tiga orang Huang-ho Sam-kwi terkejut mereka memandang
kepada dua orang itu. di bawah sinar bulan purnama mereka
dapat mengenal kedua orang itu yang merupakan tokoh-tokoh
persilatan yang tangguh. Orang pertama dari Huang-ho samkwi,
yang dahinya terdapat beks luka memanjang, segera
memberi hormat kepada mereka berdua.
“Harap Ji-wi Eng-hiong (kalian berdua orang gagah) tidak
mengganggu kami. Dua ekor ikan ini adalah hasil jala kami
dan menjadi hak kami.”
Kim-kauw-pang Pouw In Tiang menggoyangkan tongkatnya
yang berselaput emas itu sambil tersenyum mengejek.
“Huang-ho Sam-kwi, kita semua tahu bahwa dua orang
anak ini menjadi perebutan diantara kita semua. Siapa yang
unggul ilmunya, dialah yang berhak mendapatkan mereka!”
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Biarpun tiga orang setan Sungai Kuning itu maklum akan
kelihaian dua orang ini, namun karena mereka sudah merasa
berhasil mendapatkan dua orang abak itu, tentu saja mereka
tidak menyerahkan korban itu begitu saja kepada orang lain.
Mereka segera mencabut pedang masing-masing yang
tergantung dipunggung, siap melakukan perlawanan.
Dua orang jagoan itu pun menggerakkan senjata masingmasing
menyerbu kedepan, disambut oleh Huang-ho Sam-kwi
dan terjadilah perkelahian mati-matian di tepi sungai yang
sunyi itu.
Sementara itu, Han Beng lebih dulu siuman dari
pingsannya. Dia merasa betapa tubuhnya masih panas
terbakar dari dalam, akan tetapi perutnya kembung penuh air.
Aneh sekali, ketika dia menggunakan tangan menekan
perutnya ada hawa panas yang kuat mendesak perut itu dan
Han Beng membuka mulutnya, memuntahkan air dari dalam
perut seperti pancuran. Dan air itu pun panas, mengeluarkan
uap! Akana tetapi sebentar saja perutnya mengempis dan
tidak terasa kembung lagi.
Pada saat itu, Giok Cu juga mengeluh dan bergerak. Han
Beng membantu anak perempuan itu melepaskan diri dari
libatan tali jala dan ketika Giok Cu mengeluh tentang perutnya
yang membesar kembung, Han Beng teringat akan keadaan
dirinya.
“tekan perutmu itu dengan tangan agar airnya keluar lagi
melalui mulutmu!” Giok Cu menurut dan menekan-nekan
perutnya, akan tetapi tidak berhasil.
“Mari kubantu,” kata han Beng dan tanpa ragu-ragu diapun
ikut menekan perut kembung anak perempuan itu dengan
telapak tangannya. Dan seketika ada hawa panas yang kuat
menekan perut dan mendesak keluar air dari perut kembung
itu. giok Cu muntah-muntah dan air dari dalam perutnya
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
memancur keluar. Air ini pun panas, namun tidak sepanas air
yang keluar dari perut han Beng.
Biarpun kepala mereka masih pening dan tubuh panas
sekali namun kedua orang anak ini masih dapat melihat
betapa tiga orang yang menjala mereka dan menyeret mereka
ke dalam air tadi kini berkelahi melawan dua orang laki-laki
yang usianya sudah lima puluh tahun lebih.
Melihat betapa tiga orang yang tadi menangkap dia dan
Giok Cu berkelahi melawan dua orang yang kelihatan gagah,
Han Beng mengambil kesimpulan bahwa tentu dua orang
gagah itu yang berusaha menolong dia dan Giok Cu. Dia
memandang dengan hati kuatir, lalu memegang tangan Giok
Cu dan berbisik “Giok Cu, mari kita cepat lari!”
Akan tetapi anak perempuan itu mengeluh.
“Aku ……… aku merasa panas sekali, Han Beng …………
rasanya mual dan hendak muntah …….. ah, perutku panas
sekali ………!”
Memang terdapat perbedaan antara Han Beng dan Giok Cu
sebagai akibat mereka menghisap darah ualar yang disebut
anak naga oleh para tokoh kang-ouw tadi. Han Beng
menghisap darah jauh lebih banyak dari Giok Cu dan
andaikata dia tidak tergigit oleh ular itu tentu dia sudah tidak
kuat bertahan dia sudah tewas. Akan tetapi, Han beng digigit
ular pundaknya, dan racun ular itu menyerangnya. Perlu
diketahui bahwa ular itu memang merupakan semacam ular
yang langka, ular yang kalau malam mengeluarkan cahaya di
bagian kepalanya dan di dalam kepalanya itu terdapat
semacam benda yang dianggap mustika oleh para tokoh kangouw,
benda yang amat langka dan juga ampuh. Akan tetapi,
gigitan ular ini mengandung racun yang mematikan! Dan Han
Beng tentu sudah sejak tadi tewas kalau saja dia tidak
menghisap darah ular itu.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Darah itu yang sekaligus menjadi obat penawar racun,
bahkan pencampuran dua benda beracun, yang satu melalui
gigitan dan yang kedua melalui darah ular, mendatangkan
kekuatan luar biasa di dalam tubuhnya. Namun, tetap saja Han
Beng terancam maut karena racun yang memasuki tubuhnya
itu sungguh amat ampuh. Adapun Giok Cu hanya menghisap
darah ular, tidak tergigit. Namun darah ular itu pun
memabukkan dan mengandung racun yang dasyat disamping
mengandung kekuatan yang aneh pula. Seperti juga Han
Beng, Giok Cu juga terancam maut dengan adanya darah ular
dalam tubuhnya, darah yang dihisapnya dari ekor ular untuk
menolong temannya tadi.
Perkelahian itu berjalan dengan seru. Sebetulnya, tingkat
kepandaian Huang-ho Sam-kwi masih kalah dibandingkan
dengan Kiu-bwe-houw Gan Lok ataupun Kim-kauw-pang
Pouw In Tiang. Akan tetapi, kiranya kedua orang jagian itu
tidak bekerjasama. Agaknya mereka berdua yang juga tadinya
memperebutkan anak naga, kebetulan saja menghadang
Huang-ho Sam-kwi di pantai sunyi itu secara berbareng.
Setelah terjadi perkelahian, mereka berdua maju sendirisendiri
dan tidak saling Bantu. Hal ini menguntungkan Huangho
Sam-kwi yang maju bertiga.
Seorang diantara mereka dapat membantu teman kanan
kiri untuk mengeroyok dua orang lawan itu. bagaimanapun
juga, permainan pecut ekor sembilan dari Kiu-bwe-houw dan
permainan tongkat sakti dari Kim-kauw-pang memang hebat
dan membuat tiga orang Huang-ho Sam-kwi itu kocar-kacir
dan permainan pedang mereka menjadi kacau balau.
Melihat ini, orang pertama dari Huang-ho Sam-kwi merasa
kuatir lalu berseru kepada adiknya yang ketiga.
“Cepat larikan dua orang bocah itu, kami akan menahan
mereka!”
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Orang ketiga dari Huang-ho Sam-kwi yang tinggi dan kurus
sekali sampai seperti ikan layur, maklum akan maksud
kakaknya. Satu-satunya jalan bagi mereka adalah melarikan
diri lewat dalam air! Dan sebelum melarikan diri tentu saja
lebih dulu dua orang anak itu harus disingkirkan agar jangan
terjatuh ke tangan orang lain.
Kalau mereka bertiga melawan terus akhirnya akan roboh,
dua orang anak dengan darah naga sakti itu tentu akan
terampas, bahkan keselamatan nyawa mereka terancam.
Maka dia lalu menubruk Han Beng dan Giok Cu. Kedua
tangannya hendak mencengkeram dan menangkap dua orang
anak itu untuk dibawa loncat kedalam air.
Han Beng dan Giok Cu mampu menghindarkan diri dan
lengan kiri Han beng sudah tertangkap, juga lengan kanan
Giok Cu. Keduanya meronta dan tiba-tiba Han-beng
mengangkat tangan kiri, dikepalnya tangan itu dan memukul
kearah perut orang termuda Huang-ho Sam-kwi.
“Desssss……….!”
Hebat bukan main akibat pukulan anak laki-laki berusaha
dua belas tahunan itu. tubuh tinggi kurus itu terjungkang
terbanting keatas tanah dan dia bergulingan mengaduh-aduh
sambil memegangi perutnya.
”Aduhhh ………… panas ………… panas ………. !” Dan dia pun
berkelonjotan tak mampu mengeluh lagi! Tentu saja dua orang
saudaranya terkejut. Melihat keadaan tidak menguntungkan
itu, mereka lalu meloncat kebelakang, menyambar tubuh
saudara yang terluka, lalu membawanya loncat ke dalam air,
lalu menyelam lenyap.
Kiu-bwe-houw gan Lok dan Kim-kauw-pang Pouw In Tiang
daling pandang dengan mata terbelalak. Mereka terkejut dan
merasa heran sekali melihat peristiwa tadi. Seorang diantara
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Huang-ho Sam-kwi sekali pukul oleh bocah berusia dua belas
tahun itu! bagaimana mungkin ini! Mereka berdua tahu benar
betapa lihainya Huang-ho Sam-kwi, walaupun tingkat masingmasing
anggota Tiga Setan Sungai Kuning masih kalah oleh
mereka namun selisihnya hanya sedikit dan tidak sembarang
orang akan mampu mengalahkan mereka.
Dan kini, sekali pukul saja anak itu dapat merobohkan
seorang diantara mereka yang mengaduh-aduh mengatakan
bahwa perut yang dipukul itu terasa panas! Mereka berdua
adalah tokoh kang-ouw yang berpengalaman dan cerdik,
maka mereka sudah dapat menduga bahwa tentu kehebatan
bocah itu adalah akibat dari minum darah anak naga tadi!
Makin gembira dan bersemangat hati mereka untuk dapat
memiliki dua orang anak kecil itu dan mereka lalu
menghampiri Han Beng dan Giok Cu.
Han Beng masih bergandeng tangan dengan Giok Cu dan
kini dia berkata kepada dua orang gagah itu.
“Terima kasih atas pertolongan paman berdua. Sekarang
orang-orang jahat itu telah tidak ada, kami hendak pergi
mencari keluarga kami.” Dan dia hendak menarik lengan Giok
Cu, diajak pergi dari situ, kedua anak itu berjalan terhuyunghuyung
seperti mabuk.
“Nanti dulu, anak-anak baik ?” dua orang jagoan itu
melompat menghadang di depan dua orang anak itu Kim-bwehouw
Gan Lok menyentuh lengan Han Beng dan Kim-kauwpang
Pouw In Tiang menyentuh lengan Giok Cu.
Keduanya mengeluarkan seruan kaget dan meloncat
mundur karena ketika mereka menyentuh lengan kedua orang
anak itu terasa amat panas seolah-olah mereka menyentuh
besi membara! Diam-diam mereka merasa semakin gembira.
Dua orang ini telah menjadi anak yang luar biasa!
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Anak baik, jangan dikira bahwa kalian terlepas dari orangorang
jahat. Ketahuilah, hampir semua orang di permukaan air
sungai itu sedang mencari untuk menangkap kalian. Marilah
kalian ikut bersama kami, dan kami akan mencarikan keluarga
kalian,” kata Kiu-bwe-houw.
“Benar,” sambung Kim-kauw-pang. Jangan kalian pergi
sendiri mencari mereka. Kalian sedang sakit, lihat, jalan darah
pun terhuyung. Biarlah kami yang akan mengkabari keluarga
kalian dengan berpencar.”
Giok Cu mengangguk dan ia melepaskan tangan Han
Beng, menghampiri Kim-kauw-pang Pouw In Tiang dan
hendak memegang tangan orang ini. Akan tetapi, Kim-kauwpang
mengelak.
“Jangan ………… jangan pegang tanganku. Tanganmu panas
sekali. Kita berjalan berdampingan saja,” kata jagoan itu.
Akan tetapi, sebelum mereka pergi tiba-tiba bermunculan
belasan orang di tempat itu. mereka berloncatan dan sudah
mengepung tempat itu. terkejut sekali hati dua orang jagoan
itu ketika mereka melihat bahwa belasan orang itu adalah
orang-orang kang-ouw yang agaknya sudah dapat mencari
mereka dan tiba di tempat ini, siap memperebutkan dua orang
bocah yang sudah terjatuh ke tangan mereka.
Ini pun hasil perbuatan Hiuang-ho Sam-Kwi!
Setelah mereka dikalahkan karena seorang diantara
mereka terluka parah oleh pukulan Han Beng mereka
melarikan diri dengan hati menyesal, kecewa dan penuh
penasaran. Maka, mereka lalu memberitahukan kepada para
tokoh kang-ouw yang masih berseliweran di atas perahu
mereka bahwa dua orang bocah itu telah terjatuh ke tangan
Kiu-bwe-houw dan Kim-kauw-pang yang berada di tepi sungai
dalam hutan yang sunyi itu.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Mendengar keterangan ini tentu saja para tokoh kang-ouw
berbondong-bondong pergi ke tempat itu dan sebelum dua
orang jagoan itu sempat membawa dua orng bocah itu, para
tokoh kang-ouw sudah berdatangan dan mengepung tempat
itu.
“Kiu-bwe-houw perlahan dulu! Anak laki-laki itu harus
diserahkan kepadaku!” kata seorang laki-laki tinggi besar
muka hitam yang sudah memalangkan toyanya dengan sikap
bengis.
“Kim-kauw-pang, anak perempuan itu bagianku!” kata pula
seorang laki-laki tua yang berpakaian seperti sastrawan sambil
melintangkan sepasang pedang di depan dadanya.
Juga banyak orang lain yang mengambil sikap mengancam
dan siap untuk menyerang siapa saja demi memperebutkan
dua orang anak yang mereka percaya mempunyai darah yang
ajaib dan yang akan banyak sekali manfaatnya bagi mereka.
Tentu saja Kiu-bwe-houw dan Kim-kauw-pang yang tadi
telah menguasai dua orang anak yang diperebutkan, andaikan
orang makan daging sudah dipegang dan dibawa ke depan
mulut, tinggal telan saja, tidak rela menyerahkan anak itu
kepada siapapun juga. Mereka pun menggerakkan senjata
dan tak dapat dicegah lagi terjadilaha perkelahian kacaubalau.
Tidak ada kawan tertentu atau lawan tertentu.
Setiap orang lain menjadi musuh dan diserang karena
mereka semua beranggapan bahwa siapa yang keluar
menjadi pemenang tunggal dialah yang akan menguasai dua
orang anak itu!
Suasana menjadi rebut dan ramai bukan main, seperti
terjadi perang campuh saja dan beberapa orang sudah
nampak roboh menjadi korban. Darah mulai mengalir dan
nyawa melayang.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring sekali, suaranya
membawa getaran yang terasa oleh semua orang.
“Haiiiiiii! Semua saudara, hentikan perkelahian gila ini ……….!”
Di dalam suara itu terkandung tenaga khi-kang yang amat
kuat, dan semua orang merasa betapa jantung mereka
tergetar hebat. Mereka terkejut dan otomatis semua orang
menghentikan perkelahian dan menengok kearah orang yang
mengeluarkan teriakan itu. mereka melihat seorang laki-laki
berusia lima puluh tahun lebih, bertubuh tinggi besar dan
gagah perkasa, dengan mata mencorong penuh wibawa,
pakainnya sederhana sekali mendekati miskin, namun
sikapnya anggun dan jelas bahwa dia bukan orang
sembarangan. Akan tetapi, para tokoh kang-ouw itu tidak
mengenalnya dan semua orang memandang heran.
“Siapakah engkau dan perlu apa menghentikan perkelahian
kami?” Tanya Kiu-bwe-houw Gan Lok dengan suara heran.
“Tidak penting mengetahui siapa adanya aku,” jawab pria
itu yang bukan lain adalah Liu Bhok Ki.
Seperti kita ketahui, orang gagah ini berhasil mendapatkan
tubuh ular yang dijadikan perebutan sebagai anak naga itu,
menggigit kepalanya dan menelan “mustika” yang terdapat di
dalam kepala ular, lalu roboh pingsan di dalam perahunya.
Karena dia pingsan, tidak ada orang lain yang tahu apa yang
telah terjadi dan mengira bahwa anak naga itu lenyap setelah
darahnya dihisap oleh dua orang anak itu. Lama juga Liu Bhok
Ki jatuh pingsan. Setelah sadar, dia merasa girang sekali
mendapat kenyataan bahwa luka akibat pedang di tangan Sim
Lan Ci, luka oleh pedang Cui-mo Hek-kiam yang mengandung
raun jahat itu ternyata telah bersih dari racun.
Tidak lagi ada tanda menghitam, dan tidak ada perasaan
nyeri. Ternyata “mustika” naga itu benar-benar ampuh dan
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
telah menyembuhkannya! Dia merasa bersukur sekali, akan
tetapi juga kuatirkan nasib dua orang anak kecil yang tadi
digigit oleh anak naga.
Dia lalu bangkit duduk mendayung perahunya sampai dia
mendengar bahwa dua orang anak yang dikabarkan telah
menghisap darah anak naga itu, kini terjatuh ke dalam tangan
Kiu-bwe-houw dan Kim-kauw-pang di sebuah tepi sungai.
Cepat diapun melakukan pengejaran kesana bersama-sama
oraorang lain dan ketika para tokoh kang-ouw itu berkelahi
untuk memperebutkan dua orang anak itu, dia lalu turun
tangan dan berteriak menyuruh mereka semua berhenti
berkelahi.
“Kalian semua tahu bahwa mereka bukanlah binatang
seperti anak naga, bukan pula benda seperti mustika naga
yang boleh dipakai perebutan begitu saja. Mereka adalah dua
orng anak manusia, oleh karena itu sungguh tidak patut kalau
kalian memperebutkan mereka dan hendak memaksa mereka
dengan maksud buruk! Sebagian dar kalian adalah pendekar
yang gagah, bagaimana mempunyai niat buruk untuk
membunuh mereka dan mengambil darah mereka?”
Mendengarucapan ini, Han Beng dan Giok Cu terkejut
bukan main. Kiranya mereka diperebutkan untuk dibunuh dan
diambil darah mereka! Han Beng kini memandang kepada
mereka semua dengan mata terbelalak dan muka yang panas
itu kini menjadi marah sekali. Dia marah! Kemarahan luar
biasa yang belum pernah dialami selama hidupnya.
Kemarahan yang seolah terdorong oleh hawa panas di tubuh
dan dalam perutnya itu.
Sementara itu, para tokoh pendekar merasa rikuh
mendengar ucapan Liu Bhok Ki. Dua orng diantara para tokoh
itu, segera melangkah maju mendekati Han Beng dan Giok
Cu. Mereka tersenyum dan seorang diantara mereka berkata
kepada Han Beng.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Anak baik, memang seharusnya engkau diajak secara
baik-baik. Marilah engkau ikut bersamaku. Kau akan hidup
berkecukupan, minta apapun akan kubelikan dan kalu ingin
belajar silat akan kuajari ilmu silat tinggi sehingga kelak
engkau akan menjadi seorang gagah perkasa!”
“Dan engkau ikut dengan aku, anak manis. Kau akan
kuanggap seperti anakku sendiri,” kata orang kedua kepada
Giok Cu.
Han Beng sejak tadi sudah marah bukan main. Hawa panas
di dalam tubuhnya seperti berpusing di dalam tubuhnya,
membuat kepalanya semakin pening dan pandang matanya
berkunang. Sepasang matanya mencorong seperti mata
harimau dan wajahnya menjadi ganas sekali.
Kini melihat dua orang itu membujuk dia dan Giok Cu,
teringat dia akan ucapan laki-laki gagah tadi bahwa mereka
semua itu hendak membunuh dia dan Giok Cu dan mengambil
darah mereka berdua. Teringat ini, kemarahannya berkobar
dan dia pun menerjang maju, menghantam dengan tangan
terbuka, beruntun kepada dua orang itu. Dua orang kang-ouw
itu adalah orang-orang pandai, tentu saja tidak mempedulikan
serangan Han Beng, seorang anak kecil berusia dua belas
tahun.
“Desss! Dessss!! Dua tubuh orang itu terlempar sepeerti
daun-daun kering tertiup angina, terhuyung kemudian roboh
dan tidak bangkit kembali. Dari mulut, hidung, mata dan
telinganya keluar darah dan jelas bahwa dua orang itu tidak
dapat diselamatkan lagi!
Keadaan menjadi gempar!
Semua orang kini hendak menangkap Han Beng karena
mereka semua semakin yakin bahwa anak itu benar- benar
menjadi kuat berkat minum darah anak naga! Dan kini Han
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Beng mengamuk. Dia kini sudah seperti mabuk, terhuyunghuyung
dan memejamkan mata, mulutnya mengeluarkan
suara tidak karuan. Dia merasa betapa tubuhnya ringan dan
seperti hendak terbang keatas, seluruh tubuh yang panas itu
berdenyut-denyut tidak karuan, seolah-olah setiap saat dada,
kepala dan perutnya akan meledak!
Dan setiap kali ada tangan menyentuhnya, dia
menghantam. Juga telinganya dapat menangkap setiap
gerakan orang, maka tanpa membuka matanya dia
mengetahui bahwa ada orang mendekatinya dari belakang,
depan kanan atau kiri dan setiap kali tanganya menghantam,
tentu bertemu tubuh orang.
Dia tidak tahu betapa setiap pukulannya membuat seorang
jagoan terlempar dan terbanting, ada yang tewas seketika, ada
pula yang terluka parah atau ringan, tergantung dari tingkat
kepandaian orang itu.
Nampaklah pemandangan yang luar biasa sekali, lucu dan
aneh. Orang-orang yang terkenal sebagai orang-orang gagah
di dunia persilatan, yang bertubuh tinggi besar, bersikap
garang dan bertenaga besar, seperti mengeroyok seorang
anak kecil dan anak itu mngamuk, memukul sana-sini tanpa
gerakan silat sama sekali, melainkan gerakan ngawur dan
memukul biasa saja terdorong kemarah. Seperti seorang anak
yang nekat. Akan tetapi hebatnya, setiap kali pukulannya
mengenai sasaran, yang dipukul tentu roboh terlempar dan
terbanting keras, seperti ditumbuk oleh kekuatan yang amat
dasyat!
Tentu saja org-orang itu tadinya tidak bermaksud
mengeroyok, melainkan hendak menangkapnya, akan tetapi
kini juga menyerang untuk merobohkan anak itu agar dapat
mereka paksa dan mereka bawa pergi. Kembali han Beng
menjadi perebutan.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Giok Cu adalah seorang anak perempuan yang lincah dan
memang bagi anak perempuan tergolong berani dan nakal. Ia
pun pening dan mabuk, akan tetapi ternyata ia memiliki
perasan setiakawan yang tinggi.
Biarpun perasaan tubuhnya tidak karuan, begitu melihat
Han Beng dikeroyok, iapun menjadi marah dan ia ikut pula
memukul-mukul! Dan hebatnya, biarpun pukulannya tidak
sekuat han Bng, namun pukulan tangannya mengandung
hawa panas yang membuat orang yang terpukul cukup
menderita nyeri dan kepanasan dan mereka pun terhuyung
kebelakang. Akan tetapi, Giok Cu tidak sekuat han Beng
karena sebuah tendangan membuat ia jatuh tersungkur. Akan
tetapi begitu ada tangan hendak menangkap anak perempuan
yang terjatuh itu, han Beng menerjang kedepan dan pukulan
tangannya yang menampar mengenai pundak orang yang
hendak menangkap Giok Cu.
“Auhhh ………. !” orang itu terjungkal dan berguling menjauh
sambil mengaduh-aduh.
Han Beng mengamuk terus. Biarpun kepalanya pening,
namun agaknya mengenai sasaran dan berhasil menghalau
orang-orang yang hendak menangkap dia dan Giok Cu. Maka,
anak itu kini bukan hanya membela diri, bahkan memukul
siapa saja yang berani mendekat tanpa menanti untuk
ditangkap lagi.
Dan akibatnya memang hebat. Orang-orang kang-ouw itu
terheran-heran karena bocah ini memang memiliki tenaga
yang dasyat sekali, selain kuat, juga gerakan kedua tangannya
yang memukul dengan ngawur itu mengandung hawa panas
yang luar biasa.
Beberapa orang yang mencoba untuk menangkis pukulan
anak itu, ketika lengan mereka bertemu dengan lengan kecil
Han Beng, mereka mengaduh dan terpelanting keras. Bahkan
ada yang tulang lengannya patah, dan setidaknya mereka
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
tentu merasa betapa lengan mereka itu nyeri dan panas
seperti bertemu dengan besi panas!
Liu Bhok Ki yang tadinya muncul dan hendak melindungi
dua orang bocah yang telah berjasa kepadanya karena anak
laki-laki itu tadi melemparkan anak naga kepadanya, kini
memandang dengan bengong.
Tidak mungkin bocah sekecil itu memiliki kepandaian tinggi.
Apalagi melihat gerakan bocah itu ketika memukul, sama
sekali tidak menggunakan gerakan ilmu silat. Namun,
pukulannya amat ampuh! Bahkan ketika ada beberapa orang
yang menyerang bocah itu dan dia melihat betapa pukulan
tangan mereka itu mengenai tubuh anak yang mengamuk,
pemukul itu menarik kembali tangannya dan seperti dibakar
rasanya, dan anak yang terpukul sama sekali tidak bergoyang!
Liu Bhok Ki juga amat cerdik.
Tentu ini akibat darah anak naga, pikirnya. Kalau begitu
memang anak-anak telah menghisap darah anak naga sampai
habis. Ketika dia menerima tubuh anak naga itu, binatang
ajaib itu sudah lemas dan kehilangan darah, bahkan ketika dia
menggigit pecah kepala anak naga itu, hampir tidak ada darah
keluar. Agaknya, setelah menghisap darah binatang ajaib itu,
kedua anak itu, terutama anak laki-laki itu, memiliki tenaga
yang bukan main dasyatnya!
Semua orang terkejut dan heran, apalagi kini mendengar
han Beng mengeluh dan mengerang seperti kesakitan sambil
terus menyerang ke kanan kiri secara kalang kabut. Memang
terjadi keanehan pada tubuh Han Beng. Begitu ketika
menggerakkan kaki tangan memukul dan menyerang, seperti
ada tenaga dasyat dan panas menguasainya sepenuhnya, dan
tenaga itu tidak mau berdiam lagi, terus berpusing di dalam
tubuhnya sehingga dia pun tidak dapat lagi menghentikan
gerakan kai tangannya!
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Rasa nyeri makin menghebat terutama di dada dan bawah
pusar, sedangkan kedua pasang kai tangannya setiap kali
digerakkan mengeluarkan bunyi berkerotokan! Ini
menandakan bahwa tenaga mukjijat itu, hawa sakti yang
panas itu, muli menyusup kedalam tulang-tulangnya!
Orang-orang kang-ouw itu menjadi gentar setelah belasan
orang roboh malang melintang oleh pukulan-pukulan Han
Beng dan kini mereka mundur mengatr jarak menjauhkan diri.
Han Beng memukul-mukul terus sambil melangkah maju
dan terhuyung-huyung, kedua matanya terpejam. Dari kedua
tangan anak yang memukul-mukul secara ngawur itu keluar
hawa pukulan yang mengeluarkan uap panas! Sementara itu,
Giok Cu sudah terjatuh terduduk, tidak kuat menahan
kepeningannya dan anak perempuan itu pun hanya
menundukkan muka sambil memejamkan kedua matanya.
Sejak tadi Liu Bhok Ki memandang dengan penuh kagum
dan heran melihat sepak terjang anak laki-laki itu. akan tetapi,
kini dia menjadi kuatir sekali. Dilihatnya betapa wajah anak
yang kerut-merut menahan nyeri itu makin lama berubah
semakin merah sehingga kini kehitaman!
Celaka, pikirnya karena dia tahu bahwa anak itu ternyata
keracunan hebat. Agaknya gogitan dan darah anak naga itu
terlampau kuat dan menimbulkan racun yang amat dasyat
yang menguasai tubuh anak itu akan kuat bertahan. Dan anak
perempuan itu pun agaknya sudah hampir tidak kuat lagi,
sudah duduk dengan lemas.
Liu Bho Ki sudah siap hendak meloncat ke depan ketika
han Beng yang terus melangkah maju itu kini tiba didekat banto
Mo-li Phang Bi Cu yang agaknya baru muncul.
Mendengar ada langkah kaki ringan di sebelah kanannya,
Han Beng lalu menyerang ke kanan, memukul dengan kepalan
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
tangan kanannya. Pukulan itu mengeluarkan angina pukulan
yang mengandung hawa panas sekali. Ban-to Mo-li meringkan
tubuh mengelak dari sambaran hawa panas itu dan dari
samping ia menampar kearah leher Han Beng.
“Plakkkk” tubuh Han Beng terpelanting dan anak itu pun tak
mampu bangkit kembali.
Tamparan ban-tok Mo-li itu mengandung racun, dan
memang disengajanya ia memukul anak itu terjatuh ke tangan
orang lain, anak itu atau darahnya tidak dapat dipergunakan
lagi karena mengandung racun maut! Sebaliknya, ia tentu saja
akan mampu melenyapkan pengaruh racun dari tubuh anak itu
karena ia memiliki obat penawarnya!
Han Beng yang tadinya sudah pening, kini mendadak
merasa betapa tubuhnya lumpuh. Dia berusaha
menggerakkan kaki tangannya, namun gagal dan dia
membuka matanya, memandang kepada wanita cantik itu
tanpa mampu bergerak lagi. Ada terjadi keanehan di dalam
tubuhnya. Kalau tadinya, tubuh itu seperti menggembung
rasanya, seolah-olah kemasukan angina panas dan akan
meledak, kini perlahan-lahan hawa panas itu berkurang
seolah-olah tubuhnya mulai mengempis dan hawa panas yang
berputaran cepat sekali ditubuhnya itu kini mulai agak tenang,
ketika dia membuka kedua matanya, pandangannya tidak
berkunang dan tidak kelihatan berputaran lagi.
Rasa mual di perutnya juga hilang dan dia bahkan mulai
merasakan suatu kenyamanan yang aneh, seolah-olah orang
yang tadinya dipanggang terik matahari kini berteduh di bawah
pohon yang rindang, dan menghirup hawa yang sejuk sekali.
Akan tetapi, dia masih belum mampu menggerakkan kaki
tangannya yang seperti lumpuh. Ada rasa dingin yang hebat
masuk ke tubuhnya melalui leher dan agaknya hawa dingin
inilah yang membuat rasa panas di tubuhnya bekurang. Dan
memang sesungguhnya demikianlah. Telah terjadi sesuatu
kebetulan yang berulang pada diri Han Beng. Anak ini
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
mestinya sudah tewas oleh gigitan ular Sungai Huang-ho
karena gigitan itu mengandung racun yang amat kuat.
Akan tetapi, hawa panas dasyat yang amat kuat itu yang
membuat setiap pukulan Han Beng tidak dapat ditahan oleh
seorang jagoan silat, juga mendatangkan bencana dan
ancaman maut lain lagi.
Tubuhnya yang tidak terlatih itu, biarpun masih bersih, tidak
kuat menahan kekuatan dasyat di dalamnya dan Han Beng
terancam maut untuk kedua kalinya. Hal ini nampak ketika
wajahnya berubah semakin merah lalu menghitam. Akan
tetapi, pada saat itu “Kebetulan” sekali ban-to Mo-li
diserangnya dan wanita iblis ini hendak menguasai dirinya
dengan memberi tmparan beracun pada lehernya.
Sama sekali diluar dugaan Ban-to Mo-li sendiri bahwa
racun dari kukunya yang amat kuat itu, yang mengandung
hawa dingin, ternyata malah menyelamatkan nyawa Han
Beng!
Racun dingin inilah yang mengurangi tekanan hawa panas
di tubuh Han Beng sehingga keadaan dalam tubuh anak itu
menjadi seimbang. Dan sebaliknya, racun dingin ini pun
kehilangan daya serangnya yang berbahaya karena bertemu
dengan hawa panas itu.
Memang racun bertemu racun yang bertentangan itu
kehilangan daya serangnya yang mematikan, bahkan
sebaliknya dapat menjadi obat yang amat ampuh!
Melihat han Beng roboh dan lemas, para tokoh kang-ouw
menjadi girang dan mereka pun kini kembali berebut maju
untuk dapat lebih dulu menangkap dan melarikan anak itu. ada
pula sebagian yang lari untuk menubruk dan melarikan Giok
Cu. Akan tetapi, Liu Bhok Ki sudah meloncat kedepan dan
tangan kakinya bergerak cepat dan menyerang mereka yang
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
hendak memperebutkan Han Beng. Empat orang terlempar ke
belakang terkena tendangan kaki Liu Bhok Ki yang sudah
marah sekali.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Jilid 4
“Manusia-manusia buas seperti iblis!” Liu Bhok Ki
membentak.
“Kalian menjadi kejam dan jahat oleh dorongan nafsu ingin
memperoleh darah anak naga! Tidakkah kalian melihat betapa
anak ini menderita dan keracunan hebat?”
Tiba-tiba terdengar suara ketawa merdu, yaitu suara
ketawa ban-tok Mo-li.
“Hi-hi-hik, Liu Bhok Ki ! jangan berlagak menjadi pendekar
budiman! Engkau sendiripun memperebutkan anak naga dan
tentu engkau menginginkan pula darah anak itu!”
Semua orang terkejut. Baru sekarang mereka tahu bahwa
orang tinggi besar yang melindungi Han Beng itu adalah
pendekar Liu Bhok Ki yang namanaya pernah mengemparkan
dunia persilatan puluhan tahun yang lalu!
Liu Bhok Ki juga mengenal wanita cantik itu. teringat dia
akan mendiang isterinya. Memang terdapat banyak
persamaan baik bentuk tubuh maupun wajah antara isterinya
dan wanita itu bukan lain adalah enci dari isterinya.
“Phang Bi Cu,” katanya halus dan menyebut nama wanita
itu karena dia tidak mau menyebutkan julukannya yang
mengerikan itu.
“Aku sama sekali tidak menginginkan darah anak ini,
melainkan hendak melindunginya karena dikeroyok oleh
jagoan-jagoan dunia persilatan yang tidak tahu malu!”
“Bohong!” kata ban-to Mo-li sambil melirik kepada semua
tokoh yang mengepung tempat itu.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Siapa tidak tahu bahwa tadi engkau telah pula menelan
mustika naga?”
Liu Bhok Ki terkejut. Tak disangkanya bahwa wanita ini
sungguh cerdik dan dapat mengetahui hal iyu.
“Benar, akan tetapi aku hanya ingin melindungi anak ini
karena dialah yang tadi memberikan anak naga itu kepadaku.”
Mendengar ini, para tokoh kang-ouw sudah menrjang lagi
dan disambut oleh Liu Bhok Ki. Kini pendekar inilah yang
dikeroyok, akan tetapi dia memang hebat bukan main, ilmu
silatnya tinggi dan tenaga sin-kangnya sukar dilawan sehingga
banyak diantara para apengeroyok itu roboh oleh pukulan atau
tendangan kakinya.
Seorang tosu yang sudah tua, usianya kurang lebih tujuh
puluh tahun, bertubuh pendek kate dan jubahnya berwarna
kuning, di punggungnya terdapat sebuah pedang yanag
panjang, meloncat kea rah Giok Cu dan cepat sekali
tangannya menyambar tubuh anak itu dan dibawanya lari!
Melihat ini, Ban-tok Mo-li berseru marah.
“Tosu keparat, kembalikan bocah itu kepadaku!” dengan
gerakan tubuhnya yang ringan bagaikan seekor burung wallet,
Ban-tok Mo-li sudah berlari mengejar. Ia melihat Han Beng
masih lumpuh sedangkan Liu Bhok Ki dikeroyok banyk orang.
Untuk sementara waktu tidak akan ada yang mampu
melarikan Han Beng, maka lenih dulu ia harus merampas anak
itu lebih dajulu ia harus merampaskan anak perempuan itu. ia
tidak akan membiarkan siapapun melarikan dua oran anak itu
yang akan dibawanya semua.
Tosu yang melarikan Giok Cu itu pun memiliki ilmu lari
cepat yang cukup hebat. Dia adalah Tung-hai Cin-jin, seorang
tosu perantau yang namanya terkenal sekali di daerah pentai
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
timur. Ilmu silatnya tinggi, terutama sekali ilmu pedang
samurainya yang panjang, dan ilmu tendangan yang disebut
Tendngan terbang.
Sebagai seorang tokoh kang-ouw, tentu saja Tung-hai Cinjin
juga ingin mendapatkan anak naga. Dia membutuhkan
mustika dan darah naga karena menurut dongeng, satu
diantara khasiat darah naga dan mustika naga itu adalah
memperpanjang usia! Dia sudah berusia tujuh puluh tahun dan
merasa betapa usia tua menggerogoti tubuhnya dan
kkuatannya. Karena itu, dia ingin sekali mempermuda dirinya
dan memperpanjang usianya!
Memang kalau dilihat kenyataan ini amatlah aneh. Semua
manusia merasakan betapa kehidupan ini bergelimang,
kekecewaab, penyesalan, duka, rasa takut, permusuhan,
apalagi kalau usia tua sudah mencengkeram diri, maka
banyak penderitaan dialami, terutama sekali penderitaan
jasmani yang sudah mulaia lemah dan berpenyakitan. Akan
tetapi anehnya, semua orang ingin berusia panjang!
Dua orang itu terlalu tangguh untuknya. Maka, begitu
melihat Ban-tok Mo-li turun tangan, juga Liu Bhok Ki
melindungi anak laki-laki, dia melihat betapa perhatian orang
semua ditujukan kepada anak laki-laki dan seakan melupakan
anak perempuan yang hampir roboh karena lemas itu. maka,
dia pun berpikir bahwa kalau tidak bisa mendapatkan
keduanya, memperoleh anak perempuan itu pun sudah cukup
berharga.
Dia lalu mempergunakan Gin-kang nya, melompat,
menyambar tubuh Giok Cu dan melarikan anak perempuan itu.
dia merasa betapa ketika dia menyentuh tubuh anak itu, terasa
amat panas dan hawa panas yang luar biasa menyerangnya.
Namun, dia cukup pandai dan memiliki sin-kang yang kuat
untuk melindungi dirinya dari serangan hawa panas itu. dia
berhasil memondong lalu mengempit tubuh anak perempuan
itu dan dibawanya lari secepat terbang.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Akan tetapi, belum ada lima ratus meter dia lari, tiba-tiba
berkelebat bayangan yang cepat sekali melewatinya dan ada
angina menyambar kearah kepalanya.
Tung-hai Cin-jin mengelak kesamping dan ketika dia
memandang, ternyata ban-tok Mo-li telah berada
dihadapannya!
Peristiwa sejak perebutan anak naga di permukaan sungai
tadi sudah berjalan dengan cepatnya dan tanpa terasa, kini
malam telah mulai terusir kegelapaannya dan terganti cuaca
pagi yang remang-remang. Namun Tung-hai Cin-jin mengenal
baik siapa wanita di depannya maka tanpa banyak cakap lagi
dia lalu mencabut pedang samurainya dan melintangkan
pedang panjang itu didepan dada.
“Tosu tua bangka tak tahu diri! Apakah engkau lebih
mementingkan anak perempuan itu daripada nyawamu? Hayo
berikan anak itu atau terpaksa kuambil nyawamu lebih dulu!”
bentak ban-tok Mo-li dengan siakap garang.
“Sian-cai ………, Ban-tok Mo-li, pinto (saya) amat
membutuhkan anak ini, disana masih ada anak laki-laki itu
yang akan lebih berguna bagimu daripada anak ini.dengan
siakap garang.
“Sian-cai ………, Ban-tok Mo-li, pinto (saya) amat
membutuhkan anak ini, disana masih ada anak laki-laki itu
yang akan lebih berguna bagimu daripada anak ini. Berilah
kesempatan kepada pinto, Phang-toanio (Nyonya besar
Phang), dan pin-to tidak akan melupakan budimu ini.”
“Persetan denganmu!” bentak ban-tok Mo-li. “Serahkan
anak itu!”
Tung-hai Cin-jin menggeleng kepalanya. “Tidak, Toanio,
pin-to membutuhkannya!”
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Keparat, mampuslah!” Ban-tok Mo-li sudah menggerakkan
tangannya dan tahu-tahu ada sinar kilat menyambar kearah
leher tosu itu. kiranya wanita cantik itu telah mencabut pedang
dan sambil terus melakukan serangan kilat.
Demikian cepatnya gerakan wanita ini sehingga
mengejutkan hati Tung-hai Cin-jin! Cepat dia memutar pedang
samurai di tangan kanannya dengan pengerahan tenaga.
Pedang itu besar dan berat dia menangkis dengan sekuatnya
dengan maksud membuat pedang wanita itu terpental dan
terlepas.
Akan tetapi, ban-to Mo-li adalah seorang datuk sesat yang
selain amat lihai ilmu silatnya, juga cerdik bukan main. Ia tidak
mau mengadu tenaga dengana lawan kakek pendek ini,
apalagi pedang di tangan lawan itu berat dan besar. Biarpun ia
tidak takut kalau sin-kangnya kalah kuat, setidaknya ia kuatir
kalau-kalau pedangnya akan rusak.
Cepat ia mengelebatkan pedangnya menghindarkan
pertemuan dengan samurai lawan dan tangan kirinya sudah
menggerakkan kipas. Kipas itu menutup dan gagangnya
menotonk kearah pundak kanan Tung-hai Cin-jin.
Kakek kate ini terkejut bukan main, namun dia masih dapat
melempar tubuh kebelakang dan berjungkir balik sampai lima
kali membuat salto. Gerakannya cepat dan indah sehingga
Ban-tok Mo-li kagum juga. Kakek yang sudah amat tua itu
ternyata masih gesit bukan main.
Sementara itu, ketika dibawa jungkir balik, Giok Cu yang
sudah lemas dan hampir pingsan itu, tiba-tiba menjadi sadar
kembali.
Begitu sadar dan melihat dirinya dikempit oleh seorang
kakek kate dan wanita cantik itu menyerang penawannya,
iapun berpendapat bahwa lebih baik terjatuh ke tangan wanita
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
cantik itu daripada ke tangan kakek pendek yang tua dan bau
pakaiannya apak itu. maka, ia pun lalu memukul dengan
tangan kanannya dan kepalanya berada di belakang, dengan
sekuatnya anak perempuan ini memukul kearah punggung
Tung-hai Cin-jin.
“Dukkk………….!”
“Aduhhh………. Ahhh, panas ………..!” kakek pendek itu
terpaksa melepaskan kembali kempitannya dan dia
terpelanting, lalu cepat berguling sambil memutar pedang
melindungi tubuhnya. Ketika dia melihat bahwa Ban-tok Mo-li
tidak mengejarnya, kakek it uterus berguling menjauh,
kemudian meloncat bangun dan melarikan dir dengan muka
kecewa sekali.
Dia gagal memperoleh obat awet muda, bahkan sebaliknya
menerima pukulan dai punggungnya yang walaupun tidak
mendatangkan luka parah, namun hawa panas itu
mengacaukan jalan darah di punggungnya dan mungkin akan
membuat dia menderita penyakit encok yang berat di
punggung!
Ban-to Mo-li menghampiri Giok Cu yang tadi terlempar
ketika kakek itu melepaskannya dan memandang anak
perempuan itu penuh perhatian. Seorang anak perempuan
yang amat cantik, pikirnya. Bentuk hidungnya, mulutnya,
terutama sepasang matanya amat indah dan kelak menjadi
seorang wanita yang cantik sekali.
“Hemmm, siapakah namamu?” tanyanya mendekati.
Giok Cu sudah bangkit berdiri, dan biarpun tubuhnya lemas
dan kepalanya masih pening, namun aneh, setelah ia
melakukan pukulan tadi, kini keadaannya mendingan. Ia tidak
tahu bahwa kalau ia mempergunakan tenaganya, maka hawa
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
panas yang ditimbulkan oleh darah ular tadi sebagaian akan
keluar sehingga dirinya tidak begitu tertekan.
Dengan tabah ia memandang wanita itu dan Giok Cu juga
merasa suka karena wanita itu memang cantik sekali dan
pakaiannya indah, juga mulutnya tersenyum manis.
“Namaku Bu Giok Cu,” jawabnya singkat.
“Giok Cu (batu kemala)? Wah, namamu indah. Giok Cu,
kenapa kau tadi memukul kakek itu?”
“Karena aku tidak suka padanya, bajunya berbau apak dan dia
tentu tidak akan bersikap baik kepadaku.”
“Hemmmm, apakah engkau tidak tahu bahwa aku pun akan
membawamu?” ia berhenti sebentar melihat sepasang mata
yang memandangnya dengan terbuka lebar tanpa sedikitpun
perasaan takut terbayang di dalamnya itu.
Seorang anak yang baik sekali, pikirnya. Kelak tentu
menjadi seorang gadis yang selain cantik jelita, juga
pemberani. Akan tetapi darah naga ditubuhnya itu! ia amat
membutuhkannya.
“Apakah engkau memilih aku daripada dia?”
Giok Cu mengangguk.
“Aku memilih engkau. Engkau cantik dan ramah.”
“Baiklah, kalau begitu mari ikut aku. Aku akan mengajak
pula anak laki-laki itu.”
“Han Beng? Ah, sungguh hatiku senang sekali kalau begitu,
bibi. Kau tolonglah dia!” Dan Giok Cu sedikit pun tidak
membantah, bahkan ikut berlari disamping wanita itu yang
menggandeng tangannya.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Melihat betapa anak perempuan itu dapat berlari ringan dan
cepat, Ban-tok Mo-li merasa heran dan ia mempercepat
larinya. Aneh sekali! Giok Cu dapat mengimbangi larinya
tanpa banyak kesukaran! Dan tanpa diketahui oleh Giok Cu,
ketika ia berlari, berarti ia mempergunakan tenaga dan hawa
panas di tubuhnya itu pun menerobos keluar an membuat
keadaan tubuhnya menjadi lebih baik lagi!
Diam-diam wanita iblis itu kagum dan girang. Ia tahu bahwa
anak ini tidak pernah mempelajari ilmu berlari cepat, akan
tetapi secara tiba-tiba saja menguasai tenaga yang amat
hebat. Tentu berkat darah anak naga, pikirnya!
Mereka tiba ditempat tadi, dimana Liu Bhok Ki masih
dikeroyok banyak orang. Pria perkasa itu mengamuk dan
biarpun para tokoh kang-ouw mulai mengeroyoknya dengan
senjata di tangan, Liu Bhok Ki melawan hanya untuk menjaga
diri dan melindungi Han Beng saja. Dengan sabuknya, dia
menghalau semua senjata, merobohkan beberapa orang
tanpa bermaksud membunuh mereka.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa merdu.
“Hi-hi-hik, kalian ini semua adalah orang-orang kang-ouw
yang tolol! Lihat baik-baik, anak laki-laki itu telah terluka oleh
kuku tanganku! Dia sudah keracunan dan siapa pun yang
mendapatkan dia, hanya akan melihat dia mati dengana
daging dan darah yang membusuk! Darahnya tidak ada
gunanya lagi bagi siapapun juga. Hanya aku yang dapat
mengobatinya. Untuk pa kalian masih memperebutkan dia?”
Mendengar ini, semua orang tertegun dan menahan senjata
mereka. Kalau benar apa yang dikatakan wanita iblis itu, maka
memang tidak ada gunanya memiliki bocah itu, dan mereka
tadi pun sudah melihat Han Beng ditampar oleh wanita iblis
itu. Juga Liu Bhok Ki menjadi tertegun, lalu dia menghampiri
Han Beng.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Dilihatnya betapa ada bekas tapak tangan menghitam di
leher anak itu, dan ada guratan kuku yang lebih hitam lagi,
wanita iblis itu tidak berbohong! Akan tetapi, dia merasa
semakin kasihan kepada Han Beng dan bermaksud untuk
menolongnya, dan untuk berusaha mencarikan obatnya kalau
benar anak itu terancam racun maut. Maka, dia lalu
mengangkat tubuh Han Beng keatas punggungnya. Bocah itu
membuka mata dan Liu Bhok Ki Berbisik kepadanya.
“Jangan takut, rangkul leherku kuat-kuat dan aku akan
melindungimu dari mereka.”
Han beng memang sudah menaruh kepercayaan
sepenuhnya kepada Liu Bhok Ki semenjak dia melihat pria
gagah perkasa ini diatas perahu. Tadi dia melihat betapa
kakek itu membelanya mati-matian maka dia pun menurut saja
dan dia merangkul pundak dan leher kakek itu. liu Bhok Ki
sambil memutar sabuknya hendak melarikan Han Beng, akan
tetapi para tokoh kang-ouw tidak membiarkan dia lolos begitu
saja.
Mereka ini menghadang dan mengepung sehingga kembali
terjadi perkelahian sambil menggendong tubuh han Beng.
Bocah ini tidak tinggal diam. Biarpun dia digendong, kedua
tangannya tidak mau tinggal diam dan setiap kali ada lawan
yang dekat, dia berusaha memukul dengan kedua tangannya
yang masih mengeluarkan hawa panas!
Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa bergelak.
“Ha-ha-ha! Sungguh lucu sekali! Aku tidak lagi dapat
membedakan mana pendekar dan orang kang-ouw, dan mana
anjing-anjing kelaparan yang memperebutkan tulang! Dan
agaknya orang-orang dunia persilatan sudah kehilangan
kegagahan mereka, karena nafsu yang menyala-nyala lupa
akan kegagahan sehingga main keroyok seperti ini! Sungguh
tidak tahu malu dan aku tidak boleh membiarkan begitu saja!”
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Lenyaplah suara ini digantikan munculnya seorang laki-laki
tua yang pakaiannya penuh tambalan, bertubuh tinggi kurus
seperti orang kurang makan, namun wajahnya selalu gembira
dan tangananya memegang sebatang tongkat butut.
Begitu dia muncul, dia mengobat-abaitkan tongkat
bututnya, menghantam sana-sini dan orang-orang yang
mengeroyok Liu Bhok Ki menjadi kacau balau!
Tongkat butut ini lihai bukan main. Ke mana pun
menyambar, sukar dielakkan atau ditangkis karena
gerakannya memukul dan biarpun ditangkap, tongkat itu dapat
menyelinap, luput dari tangkisan lawan namun tetap saja
mengenai sasaran. Terdengar suara bak-bik-buk karena ada
saja punggung, pinggul atau kaki orang yang kena gebuk!
Melihat munculnya kakek berpakaian pengemis ini, Liu
Bhok Ki menjadi senang.
“Sin-Ciang kai-ong, terima kasih atas bantuanmu!” katanya
sambil memutar sabuknya semakin cepat untuk mencari jalan
keluar.
“Ha-ha-ha-ha-ha, Sin-tiauw (Rajawali Sakti), begitu muncul
engkau menggegerkan dunia persilatan! Engkau tahu, tidak
ada pohon tak berbunga, tidak ada perbuatan tanpa pamrih!
Ha-ha-ha!”
Sambil menangkisi senjata para pengeroyok dengan
sabuknya, Liu Bhok Ki mengerutkan alisnya. Betapa bodohnya
dia mengira bahwa Raja Pengemis ini mau membantunya
tanpa pamrih!
“Apa kehendakmu, Kai-ong?”
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Aku mengagumi bocah itu. Berjanjilah untuk membiarkan
dia menjadi muridku selama lima tahun setelah dia menjadi
muridmu lima tahun!”
Liu Bhok Ki mengenal baik Raja Pengemis itu. seorang
gagah perkasa yang amat terkenal karena dia berhasil merajai
semua perkumpulan pengemis dan dapat mencegah para
apengemis menjadi penjahat-penjahat, sebaliknya memberi
bimbingan kepada para jembel sehingga banyak diantara
mereka itu yang dapat kembali ke masyarakat sebagai orangorang
berguna. Bahkan semenjak dia menjadi Kai-ong (Raja
pengemis), bermunculanlah pengemis-pengemis yang lihai
dan berjiwa pendekar!
Orang seperti Sin-ciang Kai-ong (Raja Pengemis Tangan
Sakti) ini tidak mungkin akan berbohong dan tidak akan sudi
membunuh anak ini untuk diambil darahnya! Dan tidak aneh
kalau Sin-Ciang Kai-ong ingin mengambil anak ini menjadi
murid karena tertarik melihat sepak terjang Han Beng tadi.
“Baiklah, aku berjanji!” kata Liu Bhok Ki,
“Ha-ha-ha, janji seorang Liu Bhok Ki takkan berubah
walaupun langit runtuh dan bumi kiamat! Nah, bawalah pergi
anak itu, biar aku yang menghadapi mereka ini!”
Melihat majunya Sin-Ciang Kai-ong yang membantu Liu
Bhok Ki, orang kang-ouw menjadi jerih dan mereka pun tidak
mempunyai harapan lagi untuk merampas han Beng, apalagi
mendengar ucapan ban-tok Mo-li bahw darah anak itu telah
keracunan hebat oleh kuku tangan iblis betina itu. mereka
mundur, bahkan sebagian besar lalu pergi, ada pula yang
merawat teman yang terluka dalam pertempuran tadi.
Akan tetapi ban-tok Mo-li Phang Bi Cu masih merasa
penasaran. Sambil memondong Giok Cu, ia melompat dan
hendak mengejar Liu Bhok Ki.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Hendak lari kemana kau? Serahkan dulu bocah itu
kepadaku!” bentaknya, dan begitu kipasnya mengebut, ada
belasan batang jarum hitam beracun menyambar kea rah Liu
Bhok Kid an Sin-ciang kai-ong.
Liu Bhok Ki cepat memutar sabuknya dan melompat ke
samping, sedangkan Sin-Ciang kai-ong terkekeh dan tongkat
bututnya memukul kesana-sini meruntuhkan semua jarum
hitam.
“Heh-heh-heh, ban-tok Mo-li kini semakin cantik akan tetapi
juga semakin beracun dan kejam! Heh-heh, orang lain hanya
berambut pada kepala dan beberapa tempat lagi di luar tubuh,
akan tetapi agaknya engkau lain, di dalam hatimu juga
berbulu, berambut. Engkau membunuhi orang seperti
membunuh semut saja.”
“Jembel busuk, engkau pun akan kubunuh!” bentak ban-to
Mo-li Phang Bi Cu marah.
Ia mengenal raja pengemis ini yang selalu bersikap ugalugalan
dan memandang rendah orang lain walaupun juga
amat lihai, maka kini ia menyerang dengan hebat,
mengerahkan seluruh tenaganya. Pedangnya menyambar
dasyat dan ketika Sin-ciang kai-ong meloncat jauh
kebelakang, dari kipasnya menyambar sinar hitam dengan
cepat sekali.
Sin-ciang Kai-ong memutar tongkat butut dan mengelak,
akan tetapi tiba-tiba ia mengeluh dan tubuhnya terguling, jatuh
miring di atas tanah! Agaknya ada satu dua batang jarum
beracun yang mengenai tubuhnya dank arena jarum beracun
itu mengandung racun yang berbahaya, maka dia pun tak
mampu bangkit kembali.
“Huh!” Ban-tok Mo-li mendengus dan mencibir. Kiranya
hanya sekian saja kelihaian orang yang disebut Raja
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Pengemis itu. sambil memondong tubuh Giok Cu yang kini
juga berada di punggungnya digendong seperti halnya han
Beng digendong Liu Bhok Ki, wanita ini mengerahkan tenaga
dan lari mengejar, karena Liu Bhok Ki sudah melarikan diri
sambil mengendong han Beng.
Ketika Ban-tok Mo-li meloncati tubuh kai-ong, tiba-tiba ia
mengeluarkan seruan kaget dan hampir saja ia jatuh terguling
karena tiba-tiba sebatang tongkat butut telah menjegal kakinya
dan ketika ia meloncat untuk menghindar, ujung tongkat itu
menotok kearah kedua kututnya, dan yang ke tiga kalinya
menotot lebih keatas lagi di antara kedua pahanya!
Tentu saja iblis betina itu mengeluarkan suara kaget dan
nyeri, namun ia memang lihai bukan main. Tubuhnya yang
meloncat lebih tinggi lagi, lalu menukik dan kepalanya ke
bawah, pedangnya diputar untuk menyerang Sin-Ciang Kaiong
yang ternyata tadi hanya pura-pura jatuh saja!
Raja pengemis itu bergulingan dan meloncat berdiri sambil
menyeringai lebar, lagaknya mengejek sekalai, bahkan dia
menjulur lidahnya kepada Ban-tok Mo-li seperti ejekan
diantara kanak-kanak.
“Ha-ha, ban-to Mo-li. Kaukira aku begitu mudah jatuh oleh
jarum-jarummu yang kotor itu?” dia mengebutkan bajunya dan
beberapa batanag jarum runtuh keatas tanah.
“Sayang, lain kali kirimilah aku jarum-jarum yang bersih
untuk menjahit dan menambal pakaianku, Mo-li.”
Sin-ciang Kai-ong sengaja mengejek dan menggoda untuk
memancing kemarahan Ban-to Mo-li dan dia berhasil
mengalihkan perhatian iblis betina itu sehingga tidak dapat
mengejar Liu Bhok Ki yang sudah berlari jauh. Wanita itu
marah sekali.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Sin-ciang Kai-ong! Selama ini, diantara kita tidak ada
urusan dan kita tidak saling mengganggu. Akan tetapi
sekarang, agaknya engkau mencari mampus!” Berkata
demikian, ban-to Mo-li Phang Bi Cu menggerakkan pedang
dan kipasnya, melakukan serangan dengan dasyat. Kebutan
kipasnya mengandung angina dan pedangnya membentuk
gulungan sinar yang mengeluarkan bau amis dan harum aneh
karena mengandung racun yang amat jahat.
“Heiiiiiiiit ……!” Dengan gerakana lucu Sin_ciang kai-ong
mengelak sambil menggerakkan tongkat bututnya.
“Tok-takkk-trangggg………..!” Berulang kali tongkat butut itu,
dengan gerakan yang aneh dan lucu, dapat menangkis kipas
dan pedang. Gerakan kai-ong memang aneh sekali, dan
kadang-kadang kelihatan kaku dan tidak teraatur, namun
setiap kali tubuhnya terancam pedang atau gagang kipas,
selalu tongkat itu sudah datang menolongnya dan menangkis
senjata lawan dengan amat kuatnya mengandung tenaga
yang dasyat sehingga Ban-tok Mo-li merasa betapa tangannya
tergetar hebat ban-to Mo-li terkejut.
Ia sudah banyak mendengar tentang kelihaian Raja
Pengemis ini, akan tetapi baru sekarang ia mengadu
kepandaian. Kai-ong adalah seorang ahli permaianan tongkat
yang beraneka macam. Yang dimainkan ini mungkin yang
dinamakan Ilmu Tongkat Setan Arak (Ciu-kwi Tung-hoat),
kelihatan seperti orang mabuk mengobat-abit tongkat secara
ngawur, akan tetapi hebatnya, kemana pun pedang dan kipas
Ban-to Mo-li menyambar, selalu kedua senjata itu bertemu
dengan ujung tongkat yang menangkis dengan kuatnya.
Dan serangan balasan dari ujung tongkat yang lain
menyambar secara tidak terduga-dua sehingga beberapa kali
Mo-li terkejut dan terpaksa harus meloncat tinggi ke belakang
untuk menghindarkan diri.
Setelah mereka bertanding selama belasan jurus, tahulah
ban-to Mo-li bahwa tingkat kepandaian lawannya ini memang
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
tinggi dan tidak boleh dibuat main-main. Ia baru mengerti
mengapa orang ini dapat menjadi Raja Pengemis dan
kekuasaannya diakui oleh semua kai-pang (perkumpulan
pengemis) di empat penjuru dunia! Setidaknya, tingkat Raja
Pengemis ini tidak berada dibawahnya, dan dalam keadaan
menggendong Giok Cu, sungguh tidak mudah bagi ban-to Moli
untuk mengalahkan Sin_ciang kai-ong.
“Ha-ha-ha, Ban-to Mo-li, kiranya selain makin cantik,
engkau pun semakin lihai saja! Akan tetapi, bocah di
punggungmu itu mengganggu gerakanmu. Bagaimana kalau
bocah itu kau titipkan dulu kepadaku? Biarlah aku yang
mengendong dan melawanmu. Kalau begitu baru seru. Dan
aku pun tidak menolak kalau menjadi guru anak perempuan
itu!”
Diejek demikian, ban Tok Mo-li menjadi semakin marah,
akan tetapi ia juga merasa kuatir. Kalau sampai si jembel ini
benar-benar hendak merampas Giok Cu, repot juga ini!
Apalagi kalau Bhok Ki muncul dan membantu jembel itu, ia
akan celaka. Maka, ia pun menuding pedangnya kepada
jembel tua itu dan membentak.
“Sin-ciang kai-ong, hari ini aku tidak sempat melayanimu,
biarlah lain hari aku ingin menguji sampai dimana
kepandaianmu. Hendak kulihat apakau engkau mempunyai
tiga buah kepala!”
“Ha-ha-ha!” Sin-ciang kai-ong meraba-raba muka dan
kepalanya dengan gaya lucu mempermainkan.
“Sebuah kepala saja sudah repot mengurus cuci muka,
rambut, kumis, jenggot dan menggosok gigi, apalagi tiga buah
kepala. Wah repotnya! Tapi kau tentu senang mempunyai
kekasih dengan tiga buah kepala, Mo-li. Tentu dia pandai
merayu dan bercinta, heh-heh!”
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Keparat!” Wanita itu memaki dan kedua tangannya
bergerak cepat. Berhamburanlah jarum dan paku kearah tubuh
Sin-ciang kai-ong, puluhan batang banyaknya! Tentu saja Sinciang
Kai-ong tidak berani main-main lagi menghadapi
serangan senjata rahasia dari seorang Ban-to Mo-li.
Repotlah dia memutar tongkat bututnya dan berloncatan ke
sana-sini untuk menghindarkan diri dari serangan senjatasenjata
rahasia kecil yang amat berbahaya karena
kesemuanya mengandung racun yang mematikan itu. dan
ketika dia berhenti bergerak lalu mengangkat muka
memandang, ternyata wanita itu telah lenyap!
Sin-ciang Kai-ong menghentikan senyumnya dan dia
menarik napas panjang.
“Huiiiii! Sungguh berbahaya sekali wanita itu ……….!” Diapun
segera meninggalkan tempat itu yang kini menjadi sunyi
kembali karena para tokoh kang-ouw sudah sejak tadi pergi
meninggalkan tempat itu setelah mereka melihat munculnya
orang-orang sakti seperti Ban-to Mo-li, Liu Bhok Ki, dan Sinciang
Kai-ong.
Mereka maklum bahwa tidak ada harapan lagi bagi mereka
untuk membawa pulang seorang di antara dua orang anak
yang minum darah anak naga itu, apalagi setelah mengetahui
bahwa anak laki-laki itu telah terluka oleh pukulan beracun
Ban-tok Mo-li sehingga darahnya pun tentu telah beracaun.
Tempat di tepi pantai Sungai Kuning itu kembali sunyi
seperti sebelum terganggu oleh kehadiran banyak tokoh kangouw
tadi. Dan matahari sudah naik tinggi.
oooOOooo
Gedung itu besar dan Indah, juga dalamnya mewah dengan
perabot rumah yang serba mahal. Akan tetapi rumah di luar
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
kota Ceng-touw itu jauh dari tetangga dan mempunyai kebun
yang luas di sekelilingnya.
Rumah terpencil dan bukan hanya terpencil, akan tetapi
juga dijauhi oleh semua orang yang tinggal di sekitar kota
Ceng-touw di Propinsi Shan-tung.
Rumah itu terkenal oleh semua penduduk sebagai rumah
Phang Toa-nio (Nyonya Besar Phang) yang tinggal bersama
puterinya yang dikenal dengan sebutan Phang Siocia (Nona
Phang) bersama belasan orang pelayan wanita.
Yang membuat orang segan dan menjauhi rumah itu
adalah karena keluarga Phang yang hanya terdiri dari ibu dan
anak serta belasan orang pelayan wanita itu terkenal sebagai
keluarga yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi, bahkan
mereka itu ringan tangan, sedikit-sedikit memukul orang,
bahkan kalau ada yang berani melawan, tentu akan tewas
dalam keadaan mengerikan.
Bagi orang kang-ouw, keluarga itu, terutama ibunya, lebih
dikenal lagi dengan perasaan takut karena nyonya rumah itu
bukan lain adalah Phang Bi Cu yang berjuluk Ban-tok Mo-li.
Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu adalah seorang janda yang
mempunyai seorang saja anak, seorang anak perempuan
yang diberi nama Sim Lan Ci. Memang Ban-to Mo-li seorang
yang amat aneh. Sejak menjadi pengantin baru, dua tahun
saja ia sudah tidak cocok dengan suaminya. Dan ia
mempunyai seorang kekasih baru seorang pemuda she Sim.
Ketika suaminya menyeleweng dengan wanita lain suami
itu dibunuhnya! Dan ketika hubungannya dengan pemuda she
Sim itu berlarut sampai beberapa tahun dan ia kemudian
mengandung karena perhubungan mereka, ia pun membunuh
pemuda she Sim itu!
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Ketika anaknya terlahir perempuan ia meberinya nama Lan
Cid an memakai she (nama keluarga ) Sim! Memang seorang
wanita yang aneh dan juga kejam sepeti iblis! Seperti kita
ketahui, Phang Bi Cu adalah kakak perempuan dari Phang Hui
Cu yang telah meninggal dunia, dahulu isteri dari Liu Bhok Ki.
Ban-to Mo-li Phang Bi cu mengembleng puterinya sehingga
Sim lan Ci memiliki kepandaian yang tinggi walaupun belum
dapat menyamai tingkat ibunya.
Phang Bi Cu mendengar bahwa adik kandungnya, yaitu
Ohang Hui Cu dibunuh oleh suaminya sendiri, akan tetapi ia
tidak mempedulikan hal ini. Ia sendiri juga membunuh
suaminya, juga kekasihnya, maka perbuatan Liu Bhok Ki yang
membunuh isterinya, yaitu adik kandungnya, dianggapnya hal
yang lumrah dan ia tidak mau mencampurinya. Akan tetapi
tidak demikian dengan Sim Lan Ci. Dari ibunya, ia mendengar
akan nasib bibinya yang tewas di tangn Liu Bhok Ki itu. maka,
Sim Lan Ci lalu meninggalkan rumah ibunya dan pergi mencari
Liu Bhok Ki yang berjuluk Sin-tiauw (Rajawali Sakti) di Kuisan.
Dan seperti kita ketahui di bagian pertama dari kisah ini,
Sim Lan Ci bukan hanya gagal membunuh bekas suami
bibinya itu, bahkan ia sendiri diberi obat perangsang sehingga
melakukan hubungan badan dengan Coa Siang Lee. Karena
mereka saling tertarik dan saling jatuh cinta, maka peristiwa
yang terjadi diluar kesadaran mereka karena keduanya diberi
oabat perangsang oleh Liu Bhok Ki ketika mereka berdua
tertawan dan pingsan, keduanya segera mengambil jalan
terbaik, yaitu akan menjadi suami isteri.
Demikianlah, Sim lan Cid an Coa Siang Lee lalu pergi
menghadap ibu kandung dan kakek pemuda itu di Hek-houwpang.
Ketua Hek-houw-pang, yaitu Coa Song yang telah berusia
enam puluh lima tahun, hanya menarik napas panjang ketika
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
cucunya tidak berhasil membunuh musuh besar itu, bahkan
Liu Bhok Ki telah menewaskan para murid Hek-houw-pang.
Ketika dia mendengar betapa cucunya itu bersama gadis
Sim Lan Ci bahkan tertawan oleh Liu Bhok Ki akan tetapi tidak
dibunuh melainkan diberi obat perangsang ketika pingsan
sehingga keduanya melakukan hubungan badan dan kini
mereka menghadap untuk minta izin agar mereka berdua
menikah, Coa Song menarik napas panjang dan ibu kandung
Coa Siang Lee menangis.
“Hemmm, sungguh keparat jahanam Liu Bhok Ki itu! Dia
tidak membunuhmu akan tetapi melakukan penghinaan dan
melemparkan aib yang lebih hebat daripada maut! Hemmm,
apa boleh buat, memang tidak ada jalan lain untuk
membersihkan nama keluarga dari aib itu kecuali menikah
dengan gadis ini. Pernikahan yang terpaksa! Hemmm,
siapakah sebetulnya gadis ini dan mengapa pula ia
bermusuhan dengan Liu Bhok Ki sehingga tertawan pula?”
“Namanya Sim lan Ci, Kong-kong, dan ia pun mencari Liu
Bhok Ki untuk membalas dendam atas kematian bibinya, yaitu
mendiang Phang Hui Cu.”
“Ah, isteri Liu Bhok Ki yang menjadi gara-gara itu!” Coa
Song mengerutkan alisnya dan memandang tajam penuh
perhatian kepada Sim Lan Ci. Seorang gadis yang canti
menarik, dengan pakaian serba hitam yang membuat kulit
muka, leher dan tangannya nampak putih mulus.
“Benar, kong-kong. Lan Ci adalah keponakannya, ia adalah
putrid tunggal dari enci mendiang Phang Hui Cu yang
bernama Phang Bi Cu dan tinggal di Ceng-touw …….”
“Apa? Kau maksudkan Phang Bi Cu dari Ceng-touw yang
berjuluk Ban-tok Mo-li ….??” Coa Song bertanya dengan suara
kaget, setengah berteriak.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Nona, benarkah engakau puteri Ban-tok Mo-li?” Kini Coa
Song bertanya dengan sikap tenang kepada Lan Ci. Gadis itu
dengan sikap tenang membalas pandang mata kakek itu dan
mengangguk.
“Benar, saya adalah puteri tunggal dari ibu yang berjuluk
Ban-to Mo-li.”
Wajah Coa Song berubah agak pucat dan matanya
terbelalak, kemudian dia berkata kepada cucunya, “Siang Lee
apakah engkau tidak tahu siapa adanya ban-tok Mo-li? Ia
adalah seorang datuk sesat yang amat jahat, kejam seperti
iblis! Tidak mungkin keluarg kita menerima ia sebagai anggota
keluarga!”
Siang Lee mengerutkan alisnya.
“Kong-kong, aku tidak menikah dengan Ban-to Mo-li,
melainkan dengan puterinya!”
“Apa bedanya? Bagaimana mungkin kami harus berbesan
dengan Ban-tok Mo-li? Apa akan kata orang di dunia
persilatan kalau Hek-houw-pang yang selama ini menegakkan
nama baiknya tiba-tiba berbesan dengan seorang datuk sesat
seperti ban-to Mo-li?’
“Akan tetapi, Kong-kong. Lan Ci bukan seorang gadis jahat,
dan kami sudah saling mencinta. Selain itu, kami berdua telah
terkena aib, dan jalan satu-satunya adalah menjadi suami
isteri.”
“Siang Lee, engkau masih muda dan tidak mengerti urusan!
Ketahuilah bahwa kalau pernikahan itu kau lakukn berarti
engkau menghindari Lumpur dengan masuk ke pencomberan!
Aib yang telah kau derita karena perbuatan si Jahanam Liu
Bhok Ki, tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan aib
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
yang menimpa kalau kita berbesan dengan Ban-tok Mo-li!
Seluruh Hek-houw-pang akan terseret.
“Kong-kong, bagaimanapun juga aku akan menikah dengan
Sim lan Ci!” pemuda itu berseru dengan penasaran. Ibunya
mulai menangis dan membujuk agar mentaati kakeknya.
“Tidak bisa, Ibu! Ini menyangkut kehidupan dan
kebahagiaan sendiri. Perjodohan adalah urusan pribadi yang
tidak boleh dicampuri oleh siapapun juga. Kong-kong, aku
tetap akan menikah dengan Sim Lan Ci.”
“Kalau begitu, kami tidak akan turut campur, aku dan ibumu
tidak akan merestui dan pernikahan itu tidak kami anggap!”
bentak kakek Coa Song marah sekali.
Tiba-tiba Sim Lan Ci bangkit berdiri dan berkata kepada
Siang Lee.
“Aku akan pergi! Aku pun tidak ingin sekali menjadi mantu
Hek-houw-pang!” berkata demikian, gadis itu lalu melangkah
keluar dengan alis berkerut.
“Lan Ci …….! Moi-moi, tunggu ………!” teriak Siang Lee.
“Siang lee, kalau engkau nekat, kami tidak mengakuimu
lagi sebagai keturunan kami dan anggota Hek-houw-pang!”
teriak pula kekek Coa Song dengan marah sekali.
Perlahan-lahan Siang Lee bangkit berdiri.
“Apa boleh buat, kong-kong, ibu, aku harus menuruti suara
hatiku. Bukan hanya karena aku sudah mencinta Lan Ci, juga
karena kami bernasib sama, berduanya tertimpa aib. Aku
harus membersihkan aib dari namanya, seperti hanya ia akan
membersihkan namaku kalau-kalau menjadi isteriku. Selamat
tinggal Kong-kong dan ibu, dan maafkan aku!”
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Setelah berkata demikian, Siang lee meloncat keluar
mengejar Sim Lan Ci. Ibunya berteriak memanggil dan
menangis, namun pemuda itu tidak mau kembali, maklum
bahwa kakeknya adalah seorang yang keras hati dan tidak
akan mau mengubah keputusannya.
Tentu saja Lan Ci merasa girang sekali melihat Siang Lee
menyusulnya, dan sambil bergandeng tangan kedua orang
muda itu lalu pergi menuju ke Ceng-touw untuk menghadap
ibu kandung gadis itu, ialah Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu.
Mereka sudah saling mencinta dan sudah mengambil
keputusan nekat untuk tetap bersatu, apa pun yang akan
terjadi. Karena itu, dalam perjalanan yang cukup jauh ini pun
mereka sudah hidup sebagai suami isteri saja sehingga cinta
kasih mereka menjadi semakin kuat.
Ban-tok Mo-li menerima dua orang muda itu dengan mata
berkilat dan alis berkerut. Ia memang selamanya bukan
merupakan seorang ibu yang penuh kasih saying kepada
puterinya, hasil perhubungan gelapa dengan pria lain ketika ia
masih mempunyai seorang suami. Memang ia mengembleng
Lan Ci dengan ilmu-ilmu silat yang tinggi, akan tetapi hal itu
bukan terjadi karena ia ingin saying kepada Lan Ci, melinkan
karena ia ingin mendapatkan seorang pembantu yang
tangguh.
Bagi wanita ini, Lan Ci hanya seorang gadis saja, yang
boleh diharapkan akan membantunya dengan setia. Bahkan
kadang-kadang timbul rasa iri dalam hatinya melihat betapa
Lan Ci makin besar menjadi semakin cantik. Ia kuatir kalau
Lan Ci akan mengalahkannya dalam hal kecantikan sehingga
sinar kecantikannya akan meredup! Kadang-kadang timbul
rasa benci dan iri dalam hatinya terhadap Lan Ci, gadis yang
dulu dikandung dan dilahirkannya sendiri!
Ban-tok Mo-li mendengarkan cerita Lan Tentang
kegagalannya membalas Sakit hati kepada Liu Bhok Ki,
tentang tertawannya gadis itu dan kemudian bahkan oleh
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
perbuatan Liu Bhok Ki, gadis itu melakukan hubungan badan
dengan Coa Siang Lee yang juga tertawan oleh Liu Bhok Ki. Ia
mendengar pula bahwa Coa Siang Lee adalah putera
mendiang Coa Kun Tian, putera ketua Hek-houw-pang yang
menjadi kekasih gelap Phang Hui Cu sehingga mengakibatkan
mereka terbunuh oleh Liu Bhok Ki. Marahlah Ban-tok Mo-li
walaupun mulutnya masih tersenyum dingin.
“Bagus! Sungguh tidak tahu malu engkau Lan Ci! Engkau
tidak ada bedanya dengan Phang Hui Cu, bibimu itu!” Tak tahu
malu! Hui Cu berpacaran dengan Coa Kun Tian, seharusnya
mereka berdualah yang dapat membunuh Liu Bhok Ki yang
menjadi penghalang. Akan tetapi tidak, mereka malah
terbunuh oleh Liu Bhok Ki.
Menyebalkan!
Dan sekarang riwayatnya berulang. Engkau menyerahkan
diri pada pemuda ini dan kalian tidak mampu membunuh Liu
Bhok Ki malah dipermainkan dan dihina.
Huh, tak tahu malu!
“Engkau boleh menjadi isteri pemuda ini kalau dia mampu
ngalahkan aku!” berkata demikian, tiba-tiba tubuh Ban-to Mo-li
sudah melayang kearah Siang Lee dan tapa banyak cakap lagi
ia sudah menyerang pemuda yang tadinya duduk bersila
diatas lantai disebelah Lan Ci itu.
Jari tangan wanita itu menotok kearah ubun-ubun
kepalanya. Serangan maut yang amat keji! Dia pun cepat
melempar tubuh ke belakang lalu berguling keluar dari
ruangan itu, tiba di luar ruangan yang lebih luas.
Namun, Ban-to Mo-li agaknya bertekad untuk
membunuhnya karena wanita itu sudah meloncat mengejar
dan menghujankan serangan kilat dari jurus-jurus ilmu silat
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Ban-to Hwa-kun yang ampuh, silat tangan kosong yang amat
indah seperti tarian saja. Akan tetapi, sesuai dengan
namanya, indah seperti bunga namun berbahaya
mengandung racun, dibalik keindahan gerakan ilmu silat ini
terkandung ancaman maut. Setiap totokan, tamparan, pukulan
atau guratan kuku saja mengandung racun yang amat
berbahaya.
Untung bagi Siang Lee bahwa ketika dia melakukan
perjalanan dengan Lan Ci, di sepanjang perjalanan
kekasihnya itu memberi keterangan dengan jelas tentang ilmuilmu
ini, juga tentang bahayanya kuku jari tangan Ban-tok Moli.
Maka, mendapat serangan bertubi-tubi yang amat hebat itu,
Siang Lee tidak mau mengadu tangan, hanya mengelak saja
ke sana-sini mengandalkan kelincahan gerakan tubuhnya.
Dan kalau terpaksa menangkis, dia selalu menangkis dari
pergelangan tangan ke atas, melihat betapa beberapa
serangannya yang bertubi tidak berhasil dan pemuda itu
agaknya tahu akan rahasia tangannya yang berbahaya, Bantok
Mo-li menjadi makin marah. Ia sama sekali bukan hendak
menguji kepandaian Siang Lee, melainkan untuk
membunuhnya! Maka, melihat betapa pemuda itu cukup gesit
dan lincah sehingga dapat menghindarkan serangannya yang
bertubi-tubi, hal ini dianggap menghinanya dan
merendahkannya, maka ia pun mengeluarkan bentakan
nyaring dan tahu-tahu ia sudah mencabut pedang dan
kipasnya!
Dengan geram ia menerjang dan Siang lee terkejut bukan
main. Serangan pedang itu memang hebat, lebih berbahaya
lagi karena disusul serangan kipas yang melakukan tiga
totokan maut bertubi-tubi. Terpaksa dia membuang tubuhnya
ke belakang, berjungkir balik dan terhuyung karena didesak
terus.
Selagi dia terhuyung, pedang Ban-to Mo-li menyambar kea
rah lehernya, dan agaknya sukar bagi Siang Lee untuk
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
meloloskan diri dari serangan yang dilakukan sepat sekali
selagi tubuhnya terhuyung itu.
“Trangggg…….. !” sebatang pedang menangkis pedang di
tangan Ban-to Mo-li dan nampak bunga api berpijar. Kiranya
Lan Ci yang menangkis peang ibunya itu dengan pedangnya
sendiri.
“Ibu, Coa Siang Lee telah menjadi suamiku dalam arti yang
sebenarnya! Bahkan dalam perjalanan kami ke sini, kami telah
menjadi suami isteri yang selalu tidur sekamar! Kalau ibu
membunuh suamiku dan aku sebagai isterinya tentu saja tidak
rela!”
Lan Ci berdiri tegak dengan pedang di tangan, agaknya ia
siap untuk melawan ibunya sendiri demi membela orang yang
dicintainya. Siang Lee juga melompat di samping Lan Cid an
biarpun dia belum mengeluarkan senjata namun jelas bahwa
sikapnya juga siap untuk membantu kekasihnya yang sudah
dianggap isterinya.
“Kau …….. kau ………..” Ban-to Mo-li menjadi agak pucat
mukanya. Ia menghadapi persoalan yang sulit. Haruskah ia
membunuh anak sendiri? Andaikata hal ini ia lakukan, ia harus
menghadapi mereka berdua dan agaknya, mereka itu amat
tangguh. Bagaimna kalau sampai ia tidak mampu menangkan
mereka?
“Kau …… pergilah! Kalian pergi dari sini dan selamanya aku
tidak mau melihat muka kalian lagi! Sekali melihat, pasti akan
kubunuh kalian!” bentaknya marah sambil menudingkan
pedangnya kea rah pintu pekarangan depan.
Sim Lan Ci mengenal betul watak ibunya, maka mendengar
ucapan ibunya itu, hatinya girang bukan main. Baru saja ia dan
kekasihnya terhindar dari ancaman maut yang mengerikan. Ia
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
pun lalu menarik pemuda itu untuk melarikan diri sambil
berkata, “Terima kasih, ibu!”
“Aku bukan ibumu lagi!” bentak Ban-to Mo-li dan ketika dua
orang muda itu pergi, diam-diam Ban-to Mo-li menghapus dua
butir air mata yang membasahi pelupuk matanya. Ia
mengeluarkan air mata bukankarena sedih ditinggal pergi
puterinya, melainkan karena kecewa dan menyesal bahwa
puterinya berani membangkang terhadap perintahnya. Ia
kehilangan seorang murid dan pembantu yang boleh
diandalkan.
Demikianlah keadaan Ban-to Mo-li dan seperti telah kita
ketahui, iblis betina ini hadir pula di tepi sungai Huang-ho
untuk ikut memperebutkan anak naga yang menurut
perhitungan akan muncul di permukaan sungai kuning di
daerah pusaran maut itu. kemudian, perebutan dua orang
anak kecil yang menghisp darah anak naga itu. Ban-tok Mo-li
berhasil membawa Giok Cu, seorang di antara dua orang anak
yang diperebutkan itu dan membawanya pulang ke Cengtouw.
“Bibi, aku ingin bertemu ayah dan ibuku!” kata Giok Cu
ketika Ban-to Mo-li membawanya pergi dari tepi sungai itu.
mendengar ini, Ban-tok Mo-li yang tadinya menggendong anak
itu, lalu memenurunkannya, memandang dengan alis berkerut
dan mata berkilat marah.
“Jangan banyak lagak, Giok Cu! Engkau harus ikut dengan
aku.”
Akan tetapi Giok Cu menentang pandangan mata wanita
iblis itu tanpa rasa takut sedikitpun lalu menjawab :
“Aku memang suka ikut denganmu, bibi, akan tetapi aku
harus berpamitan dulu darih dan ibuku!”
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Sejenak kedua orang itu saling pandang, sama-sama keras
hati, dan akhirnya Ban-to Mo-li tersenyum. Anak ini memiliki
kekerasan hati yang tidak kalah olehnya, dan sudah pasti lebih
keras hati dan lebih berani dibandingkan Sim Lan Ci, puter
yang telah diusir dan tidak diakuinya lagi itu! timbul rasa
saying dihatinya, peasaan saying yang belum pernah
dirasakan sebelumnya, baik terhadap anak kandungnya
sekalipun.
“Siapakah orang tuamu dan di mana mereka?” Tiba-tiba ia
bertanya, senyumnya dingin dan akan mendirikan bulu roma
orang-orang kang-ouw gagah mana pun kalau melihatnya
karena senyum seperti itu mengandung kekejian yang luar
biasa.
“Ayahku bernama Bu Hok Gi, seorang pejabat lurah di
dusun Liong-cung dan kami sekeluarga, ayah, ibu, aku dan
beberapa pembantu, sedang melarikan diri mengungsi karena
ayah tidak mau melaksanakan kerja rodi kepada penduduk
dusun. Kami seperahu, bersama keluarga Si Han Beng
seperahu pula. Keluarga Si juga melarikan diri dari kerja paksa
dan kami berkenalan di jalan. Kini ayah dan ibuku berada di
perahu. Aku berpisah dari mereka ketika pancingku
mendapatkan ular itu.”
Ban-to Mo-li mengangguk-angguk.
“Mari kuajak engkau mencari ayah dan ibumu!” katanya dan
ia pun memondong Giok Cu lalu berlari secepat terbang
menuju ke tepi sungai dimana semalam menjadi ramai oleh
para tokoh kang-ouw yang berebutan anak naga.
Mula-mula Giok Cu terkejut dan ngeri juga ketika melihat
dirinya dibawa lari seperti terbang, akan tetapi lama-lama ia
merasa gembira. Tubuhnya sudah tidak begitu panas lagi dan
tidak lagi disiksa oleh mual di perutnya.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Memang tubuhnya kuat, dan darah ular itu biarpun amat
kuat, tidak sampi membahayakan keselamatannya karena
yang diminumnya tidaklah sebanyak yang dihisap han Beng.
Bagaimanapun juga, masih ada rasa pening di kepalanya
namun tidak begitu dirasakannya karena kegembiraan hatinya
hendak ………. Bertemu kembali dengan ayah ibunya.
Ketika mereka tiba di pantai yang semalam, keadaan si situ
sudah sunyi sekali. Hanya nampak beberapa buah perahu
nelayan yang ditumpangi para nelayan yang masih nampak
takut-takut karena semalam terjadi peristiwa hebat dimana
terdapat banyak korban.
Para nelayan itu menemukan mayat-mayat terapung
hampir sepuluh orang banyaknya, belum dihitung mayatmayat
yang lenyap ditelan pusaran. Ada pula mayat beberapa
orang menggeletak di pantai, agaknya mayat mereka tadinya
terluka dan terjatuh ke air lalu berhasil berenang ke tepi akan
tetapi tewas di tepi karena luka-luka yang diderita.
Setelah tidak berhasil mendapatkan orang tuanya di tepi
sungai, Giok Cu minta kepada Ban-tok Mo-li agar mereka
mencari di antara perahu-perahu nelayan di tengah sungai.
Ban-to Mo-li menggunakan sebuah perahu dan mulai mencari.
Tak lama kemudian, biarpun masih jauh jaraknya, Giok Cu
menunjuk ke tengah sungai dan berseru.
“Itu mereka! Itu perahu ayah dan perahu keluarga Si!”
Ban-to Mo-li yang berpenglihatan tajam itu melihat ada dua
buah perahu yang digandeng dengan tali, akan tetapi yang
berada di sebuah perahu hanya tiga orang. Seorang
memegang dayung dan yang dua orang nampak rebah di
perahu. Sedangkan perahu kedua kosong. Cepat ia
mendayung perahunya mendekat sampai menempel pada dua
buah perahu itu.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Ayah ………! Ibu …….” Giok Cu berseru memanggil ketika
mengenal dua orang yang rebah di perahu itu adalah ayah
ibunya.
“Nona datang ……” teriak pelayan yang mendayung dengan
girang sekali. Agaknya dia telah kelelahan mendayung terus
berputar-putar mencari Giok Cu yang semalam terjatuh ke
dalam air dan dibelit ular.
Bu Hok Gi dan isterinya bangkit duduk dan wajah mereka
itu pucat seperti orang sakit. Namun, begitu melihat Giok Cu
mereka berdua segera merangkulnya dan bertangisan.
Diantara tangis mereka, Bu Hok Gi dan isterinya menceritakan
kepada Giok Cu bahwa Si Kian dan isterinya menjadi korban,
tewas oleh yang menyerang membabi buta.
“Kami sendiripun diserang, aku dan ibumu terluka, dan dua
orang pembantu jatuh ke air. Hanya seorng pembantu
selamat. Tadi pun muncul si Han Beng dan seorang kakek.
Kami sudah ceritakan tentang tewasnya ayah ibunya, dan
kakek itu, dia mengobati kami yang terluka.”
Tiba-tiba Ban-tok Mo-li berseri.
“Wah, celaka! Kalian telah terkena racun hebat. Tentu Liu
Bhok Ki itu yang meracuni kalian, membunuh kalian dengan
dalih mengobatinya!”
Tanpa diketahui mata orang lain saking cepatnya gerakan
tangannya, Ban-to Mo-li telah menjentik dua batang jarum
dengan jari tangannya dan dua batang jarum itu melesat dan
masuk kedalam dada Bu Hok Gi dan isterinya.
“Lihat, muka mereka berubah menghitam …….!”
Bu Hok Gi dan isterinya mengeluarkan keluhan lirih dan
mereka terkulai, rebah lagi diatas perahu. Tentu saja Giok Cu
terkejut bukan main dan hendak menubruk ayah ibunya.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Ayah! Ibu …..” Akan tetapi Ban-to Mo-li memegang
lengannya.
“Jangan sentuh mereka! Kalau kau sentuh, engkau pun
akan terkena racun hebat yang akan membunuhmu!”
Giok Cu terbelalak, hendak nekat menubruk, akan tetapi
ditahan Ban-to Mo-li dan anak ini melihat betapa ayah dan
ibunya berkelonjotan sebentar, muka dan tubuh mereka
berubah menghitam dan akhirnya kejang-kejang tubuh mereka
terhenti dan mereka tewas dalam keadaan mengerikan!
“Ayah …..! Ibuuuuu…….!” Dan Giok Cu terkulai pingsan dalam
pelukan Ban-tok Mo-li. Pembantu itu tentu saja menjadi
terkejut dan bingung, hanya mampu menangis.
“Sudahlah, mereka sudah mati dan kita bawa mereka ke
tepi untuk dikuburkan,” kata Ban-tok Mo-li
“Semalam di sini terjadi pertempuran antara orang-orang
sakti. Racun-racun masih berkeliaran di tempat ini. Mungkin
baru saja mereka merasakan pengaruh racun. Engkau pun,
kalau tidak cepat pergi dari sini, bisa saja setiap saat terkena
racun dan mati!”
Mendengar ini, orang itu cepat menggerakkan dayung dan
dibantu oleh Ban-to Mo-li, mereka mendayung perahu itu ke
tepi dan dengan wajah ketakutan pembantu keluarga Bu itu
lalu menggali lubang besar dan mereka menguburan jenazah
Bu Hok Gi dan isterinya. Giok Cu siuman dari pingsannya dan
anak perempuan itu menangis sejadi-jadinya, berlutut di depan
makam ayah dan ibunya.
Setelah selesai mengubur dua jenazah itu, Ban-tok Mo-li
mengambil beberapa potong uang perak dan memberikan
kepada pembantu keluarga Bu itu sambil berkata, “kulihat
engkau pun terpengaruh hawa beracun. Cepat pergi dan cari
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
tabib untuk mengobati dirimu. Nih, ambil uang ini dan
pergilah!”
Tangan Ban-to Mo-li yang menyerahkan beberapa potong
uang itu bergerak dan kuku jarinya menggores telapak tangan
orang itu.
Orang itu tidak merasakan apa-apa, menerima uang lalu
berpamit meninggalkan tempat itu. giok Cu yang menangisi
makam ayah ibunya, tidak mempedulikan kepergian pembantu
itu. ia tidak tahu bahwa dalam waktu dua hari, pembantu itu
pun akan tewas tanpa dapat diobati lagi karena dia telah
terkena goresan kuku beracun dari jari tangan Ban-to Mo-li.
Agaknya iblis betina ini ingin melenyapkan semua orang yang
berhubungan dengan Giok Cu.
“Bibi, apakah yang telah terjadi dengan Ayah ibu? Siapa
yang membunuh mereka?”
“Mulai sekarang, jangan sebut aku Bibi, melainkan Su-bo
(ibu Guru). Bukankah engkau ingin menjadi muridku,
mempelajari ilmu silat agar kelak dapat kau pergunakan untuk
membalas kematian Ayah ibumu?”
Giok Cu seorang anak yang cerdik. Ayah ibunya telah
tewas dan ia tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini.
Dan jelas bahwa ayah ibunya tewas tidak sewajarnya,
melainkan ada yang membunuh mereka. Dan wanita di
depannya ini, biarpun kejam, namun memiliki ilmu kepandaian
tinggi, sehingga kalau ia akan mampu mencari pembunuh
ayah ibunya dan membalaskan kematian mereka. Maka,
mendengar ucapan wanita cantik itu, ia pun segera
menjatuhkan diri berlutut.
“Subo, harap kasihani kepada teecu. Siapakah yang telah
membunuh ayah ibu?”
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Siapa lagi kalau bukan Liu Bhok Ki? Engkau mendengar
sendiri keterangan pembantu ayahmu itu. Liu Bhok Kid an
anak laki-laki itu datang, dan Liu Bhok Ki katanya mengobati
ayah ibumu. Nah, kesempatan itulah dipergunakannya untuk
membuat ayah ibumu terkena pukulan maut sehingga mereka
tewas tadi.”
“Tapi, mengapa, Subo? Mengapa dia membunuh Ayah
Ibuku? Dan siapakah Liu Bhok Ki itu?”
“Hemmm, siapa dapat menyelami hati Liu Bhok Ki? Dia
orang aneh, dan jahat sekali. Isterinya sendiri dibunuhnya dan
kepala isterinya itu direndam arak dan setiap hari dia minum
arak rendaman kepala isterinya itu! kau bayangkan saja
betapa jahatnya dia! Mungkin dia tidak ingin orang tuamu
melihat dia membawa pergi anak laki-laki yang menghisap
darah naga itu.”
“Si han Beng ……..” kata Giok Cu.
“Hemmmmm, bahkan bukan aneh kalau yang membunh
ayah ibu Si Han Beng adalah dia juga.”
Giok Cu mengerutkan alisnya.
“Ah, betapa jahatnya Liu Bhok Ki itu! Dia itu orang macam
apa, Subo?” Lalu ia bangkit duduk.
“Subo, maukah subo Menolong teecu? Mari kita cari Liu
Bhok Ki itu dan Subo bunuh dia untuk membalaskan sakit hati
teecu.”
“Hemmm, enak saja kau bicara, Giok Cu. Ketahuilah, Liu
Bhok Ki itu berjuluk Sin-tiauw dan dia amat sakti. Aku sendiri
belum tentu akan mampu mengalahkannya. Akan tetapi kelak,
kalau engkau sudah dewasa dan engkau mempelajari ilmu
silat dengan tekun, mungkin engkau akan mampu
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
mengalahkannya. Eh, bukankah engkau juga menghisap
darah anak naga?”
“Darah anak naga? Apa yang subo maksudkan?” Giok Cu
bertanya heran, sama sekali tidak mengerti.
“Anak bodoh! Bukankah malam tadi engkau dibelit anak
naga dan bersama Si Han Beng anak laki-laki itu kalian
melawan anak naga dan menggigitnya, menghisap
darahnya?”
Kini baru Giok Cu mengerti dan biarpun kepalanya masih
pening, ia tertawa mendengar ini.
“Anak naga? Heh-heh, Subo ini aneh-aneh saja. Semalam
ketika aku mengail ikan di perahu, umpanku disambar seekor
ular dan aku terseret ke dalam air. Ular itu membelitku dan
untung ada Han Beng menolongku. Dia anak baik sekali, subo.
Ular itu lalu menyerang Han Beng, bahkan aku melihat betapa
ular itu menggigit pundak Han Beng. Juga kulihat Han Beng
membalas dan menggigit leher ular. Karena aku ingin
membantu han Beng, aku pun lalu menggigit ekor ular itu!”
“Dan kau hisap dan minum darah anak naga itu?”
“Subo, apakah ular itu benar-benar anak naga?”
“Ular atau anak naga, apakah engkau menghisap dan
minum darahnya?”
Giok Cu tersenyum malu-malu.
“Ketika aku menggigit sekuat tenaga, aku merasakan darah
itu, hangat, agak asin dan manis dan amis membuat aku ingin
muntah. Akan tetapi karena ingin menolong han Beng, aku
menggigit terus dan ya, aku menghisap dan menelan
darahnya.”
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Banyak?” Ban-tok Mo-li bertanya penuh gairah.
“Entah, Subo. Mungkin beberapa teguk, dan kuliht han
Beng menggigit leher ular itu.”
“Hemmmm, tentu dia minum lebih banyak. Coba, kulihat
tanganmu!” wanita itu memegang tangan Giok Cu,
menggunakan kuku jari kelingking kiri, satu-satunya kuku yang
putih bersih dan tidak mengandung racun, menorah kulit
lengan bagian dalam.
Darah menetes keluar dan Ban-to Mo-li cepat membawa
lengan anak itu ke mulut, dihisapnya darah yang keluar. Dan ia
pun kecewa. Sebagai seorang ahli, ia pun dapat merasakan
bahwa darah anak ini memang telah kemasukan hawa mukjijat
darah anak naga, akan tetapi sedikit sekali. Tidak ada artinya
dan tidak ada manfaatny bagi orang lain, paling-paling darah
anak perempuan ini hanya dapat menjadi obat penguat tubuh
yang dapat ia peroleh dari akar bahar atau rempah-rempah
yang lain. Akan tetapi bagi gadis itu sendiri, mungkin
mendatangkan kekuatan yang lain.
“Giok Cu, coba kerahkan tenagamu dan pukul telapak
tanganku ini.”
Giok Cu mentaati perintah gurunya. Dikepalnya tangan
kanannya dan dipukulnya telapak tangan kiri wanita itu sekuat
tenaga.
“Plakkkk…...!” Ban-tok Mo-li terkejut. Bukan main, pikirnya.
Anak perempuan ini, tanpa setahunya, karena khasiat darah
anak naga, kini memiliki pukulan yang luar biasa, kuat dan
panas!
Jago silat kebanyakan saja mungkin takkan kuat
menahanpukulan tadi! Lengannya sendiri sampai tergetar.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Dan ini dilakukan oleh Giok Cu tanpa disadarinya akan
kekuatan yang tersembunyi di tubuhnya. Kalau anak itu sudah
dapat mengendalikan tenaga mukjijat itu, tentu ia akan
menjadi seorang yang amat tangguh! Dan anak ini akan
menjadi muridnya! Biarpun ia tidak dapat mempergunakan
darah di tubuh anak ini untuk kepentingannya sendiri, namun
setidaknya ia akan mendapatkan seorang murid yang
istimewa, pengganti puterinya dan ia pun mempunyai
perasaan suka kepada Giok Cu.
Ban-tok Mo-li mengajal Giok Cu pulang ke Ceng-touw.
Anak perempuan ini merasa kagum dan gembira sekali
mendapat kenyataan bahwa gurunya tinggal di rumah yang
besar dan mewah, dilayani oleh belasan orang pelayan
wanita. Tak disangkanya bahwa gurunya ini ternyata amat
kaya raya! Dan gurunya demikian saying kepadanya.
Semenjak itu, mulailah Giok Cu dilatih dasar-dasar ilmu
silat oleh Ban-to Mo-li. Anak itu cerdas sekali, rajin dan juga
lincah jenaka sehingga makin menyenangkan hati Ban-to Moli.
Akan tetapi diam-diam Ban-to Mo-li merasa kuatir setiap kali
ia teringat kepada puterinya.
Giok Cu begini cantik jelita, manis sekali dan wataknya
demikian lincah jenaka, gembira. Anak perempuan seperti ini
amat romantis dan satu-satunya hal yang mungkin jadi
kelemahannya adalah kalau ia tergoda pleh seorang pria yang
menawan hatinya. Jangan-janganakan terulang kembali
peristiwa seperti dialami oleh Lan Cid an ia pun merasa kuatir
sekali.
Dipanggilnya Giok Cu.
“Muridku yang baik, mulai sekarang engkau harus tekun,
rajin dan mentaati semua perintahku.”
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Tentu saja, Subo. Siapa lagi kalau bukan Subo yang
kutaati. Aku tidak mempunyai orang lain kecuali Subo di dunia
ini!” jawab Giok Cu gembira sambil memandang kepada
gurunya dengan matanya yang indah, penuh kepercayaan. Ia
samara-samar masih teringat betapa kejamnya guru yang
cantik ini terhadap musuh-musuhnya, akan tetapi gurunya ini
lihai sekali dan saying kepadanya.
“Nah, kini bersiaplah untuk menahan nyeri sedikit. Aku akan
memberi suatu tanda kepadamu, demi kebaikanmu sendiri di
kemudian hari. Luruskan lengankirimu!”
Tanpa rasa takut sedikit pun dan dengan pandang mata
penuh kepercayaan kepada gurunya, Giok Cu meluruskan
lengan kirinya. Ketika gurunya menyuruhnya, tanpa ragu ia
pun menggulung lengan bajunya sehingga lengan kecil
berkulit putih mulus itu nampak dari atas siku sampai ke
tangan.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Jilid 5
BAN-TOK MO-LI mengeluarkan sebuah kantong kuning
yang sudah dipersiapkan, membuka kantong itu dan
mengambil sebuah jarum emas yang dibungkus kain sutera
putih. Jarum emas itu ujungnya kelihatan merah sekali dan
memang jarum itu sudah diberi semacam racun merah di
ujungnya.
“Sekarang siaplah menderita sedikit nyeri pada lenganmu,
Giok Cu. Tidak takutkah engkau?”
Anak itu menggeleng kepala dan matanya bersinar-sinar.
“Apa yang harus kutakutkan, subo? Aku yakin bahwa subo
akan melakukan segala hal yang baik bagiku.”
Diam-diam wanita iblis itu merasa girang. Anak ini memang
menyenangkan sekali. Terbuka, jujur, polos, keras hati,
pemberani dan anak seperti ini tentu kesetiaan yang boleh
dipercaya.
“aku akan menusuk lenganmu dengan jarum ini!” katanya.
Setelah meneliti lengan itu, ia pun menusukkan jarum emas itu
pada bagian lengan Giok Cu sebelah dalam, sedikit di bawah
siku.
Giok Cu merasa betapa lengan yang ditusuk itu nyeri
sekali, perih dan panas, juga gatal. Namun, ia tidak
mengeluarkan keluhan sedikit pun juga, bahkan menggigit
bibirnya agar jangan sampai mengeluh. Ketika rasa nyeri itu
menjalar sampai ke seluruh lengan, Giok Cu memejamkan
mata dan memusatkan kekuatan hatinya untuk menahan. Tak
lama kemudian, jarum itu dicabut kembali.
“Duduklah bersila, biarkan rasa nyeri itu menyebar ke
seluruh tubuhmu, sampai akhirnya melemah dan lenyap.” Kata
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Ban-tok Mo-li, Giok Cu mentaati perintah ini. Ia duduk bersila
dan masih memejamkan mata, dan ia merasa betapa rasa
panas, perih dan gatal yang menimbulkan nyeri hebat itu
benar saja menjalr ke seluruh tubuhnya. Dan masih juga
belum pernah ia mengeluh. Akhirnya, rasa nyeri itu makin
berkurang dan akhirnya lenyap. Barulah ia membuka matanya,
memandang kepada gurunya dengan senang.
“Benar saja, subo tentu tidak akan mencelakai aku. Akan
tetapi, bolehkah aku mengetahui apa artinya tusukan jarum
dan rasa nyeri ini, subo?”
“Lihatlah lenganmu di bagian yang kutusuk tadi.”
Giok Cu melihat lengannya. Disitu, di bawah siku di sebelah
dalam lengannya, terdapat bintik merah seperti tahi lalat kecil.
Tidak buruk, bahkan menjadi pemanis seperti hiasan pada
kulit lengannya yang putih mulus itu.
“Apa ini, Subo?” Ia menggosok-gosok dengan jari tangan
kananya untuk mencoba apakah tahi lalat merah itu dapat
dilenyapkan oleh gosokan.
“takkan dapat kau lenyapkan, biar dicuci dengan apa pun,
Giok Cu. Tanda merah itu hanya akan lenyap kalau engkau
kehilangan keperawanmu! Tanda merah itu tanda
keperawananmu dan sekali engkau berhubungan dengan pr
Sepasang mata kecil itu terbelalak memandang gurunya,
mengandung keheranan dan ketidakpercayaan.
“Aih, Subo, haraap jangan main-main dan menakut-nakuti
aku!”
“Anak bodoh! Siapa main-main denganmu?”
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Tapi…… tapi ………. “ Gadis itu bingung. Ia masih terlalu kecil,
usianya baru sepuluh tahun, untuk mengerti tentang
keperawanan segala macam, akan tetapi karena ia seorang
anak yang cerdik, ia dapat menduga bahwa gurunya
menanamkan semacam racun di tubuhnya yang merupakan
semacam Hukuman atas dilanggarnya suatu larangan.
“Mengapa Subo melakukan ini kepadaku?”
“Ketahuilah, muridku. Bagi seorang wanita, betapun tinggi
ilmu kepandaiannya, ada suatu bahaya yang amat berbahaya
dan besar sekali, yaitu pria! Pria adalah makhluk yang jahat,
pandai merayu dan berpalsu-palsu untuk menjatuhkan hati
seorang wanita. Semua rayuan itu hanya dipergunakan
sebagai alat menjebak, dan celakalah seorang gadis yang
lemah dan terbius oleh rayuan itu, karena ia akan kehilangan
keperawananya, kehilangan kehormatan dan masa depannya,
satu-satunya pantangan adalah kehilangan keperawanan.
Oleh karena itu, terpaksa aku memberi tanda tahi lalat merah
ini kepadamu, tanda keperawanan agar engkau selalu ingat
bahwa engkau tidak boleh terbujuk rayuan pria. Kalau sekali
waktu engkau tertarik, kemudian melihat tanda tahi lalat merah
ini, engkau tentu akan sadar kembali. Ingat baik-baik. Kalau
tanda ini lenyap, berarti engkau bukan perawan lagi, ilmu-ilmu
yang kau pelajari dan belum sempurna akan rusak dan engkau
akan mati dalam waktu satu bulan sesudah itu.”
Diam-diam Giok Cu bergidik. Ia tidak kuatir karena sedikit
pun belum terbayang olehnya akan rayuan pria dan akan
bahayanya terbius rayuan lalu kehilangan keperawananya.
“Tapi, subo. Apakah tanda ini akan selamanya berada di
lenganku? Mengapa subo sendiri tidak memiliki tanda seperti
ini di lengan subo?” anak itu memang cerdik. Ia tidak
memperlihatkan keraguan atau ketidakpercayaan melainkan
keheranan karena tidak mengerti.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Tentu saja tidak selamanya, Giok Cu. Kalau engkau
menjadi murid yang baik, tidak melanggar pantangan sehingga
tanda merah itu tetap ada padamu, tentu akan tiba saatnya
aku melenyapkannya. Hanya aku seoranglah yang akan
mampu menghilangkan tanda itu, tanpa harus menghilangkan
keperawananmu.”
Giok Cu mengangguk maklum dan tidak banyak bertanya
lagi. Biarpun masih kecil, namun ia dapat menduga bahwa
perbuatan subonya ini merupakan suatu tekanan baginya,
merupakan suatu ancaman bahwa ia harus selalu mentaati
guruya dan tidaka melanggar semua perintah dan
larangannya. Ia tidak tahu bahwa wanita iblis itu melakukan
hal ini kepadanya karena pernah dikecewakan puteri
kandungnya sendiri yang meyerahkan keperawanannya
kepada cucu ketua Hek-houw-pang itu.
Demikianlah, mulai hari itu, Giok Cu berlatih semakin tekun
dan memang Bn-tok Mo-li tidak keliru memilih murid. Giok Cu
merupakan seorang murid yang selain cerdas, juga amat rajin
dan tahan uji. Apalagi dengan modal tenaga sakti dari darah
ular di tubuhnya, anak ini segera dapat menghimpun sin-kang
dan mengendalikannya secara baik sekali. Kelak kalau ia
dewasa, ia tentu memiliki kekuatan sin-kang yang jauh
melampaui tingkat gurunya sendiri!
oooOOooo
Kita ikuti perjalanan Sin-tiauw (Rajawali Sakti) Liu Bhok Ki
yang membawa lari Si Han Beng. Pendekar perkasa ini
merasa berterima kasih sekali kepada Sin-Cing Kai-ong yanag
telah menolongnya, karena tanpa pengemis ini, agaknya akan
sukarlah baginya untuk dapat meloloskaan diri membawa Han
Beng dari kepungan para pendekar dan tokoh kang-ouw,
apalagi di situ terdapat Ban-to Mo-li yang lihai. Dia akan selalu
ingat janjinya seperti yang diminta Sin-ciang Kai-ong, yaitu
bahwa kelak, setelah Han Beng menjadi muridnya selama lima
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
tahun, anak itu harus menjadi murid Raja Pengemis itu selama
lima tahun pula.
Sambil memondong tubuh han Beng pergi menjauhi tempat
berbahaya itu, Liu Bhok Ki teringat akan janji itu dan di pun
berpikir apakah semua itu kelak akan dapat dipenuhi.
Keselamatan anak itu sendiri sampai sekarang masih menjadi
pertanyaan besar baginya. Dia tahu bahwa anak itu keracunan
hebat, terkena pukulan tangan Ban-tok Mo-li, ada goresan
kuku di kulit leher Han Beng. Tadi, ketika dia memondong han
Beng, dia sudah melihat betapa leher itu melepuh seperti
terbakar, bengkak dan kehitaman amat mengerikan.
Setelah berlari cukup jauh dan memasuki sebuah hutan
yang besar yang penuh pohon liar, Liu Bhok Ki berhenti
sebentar, mencurahkan perhatian kea rah belakang untuk
melihat apakah ada orang yang melakukan pengejaran.
Sepuluh menit kemudian, yakinlah dia bahwa tidak ada orang
mengejarnya, maka dia pun menurunkan Han Beng dari
pondongannya ke atas rumput. Anak laki-laki itu dalam
keadaan pingsan dan ketika dia direbahkan diatas rumput,
tidak seperti orang yang sudah tidak bernyawa lagi. Wajahnya
pucat dan napasnya seperti gelombang air laut yang sedang
pasang.
Dengan hati-hati Liu Bhok Ki memeriksa leher yang tadinya
terkena pukulan dan goresan kuku beracun dari ban-tok Mo-li
dan dia hampir mengeluarkan seruan kaget dan heran, juga
girang melihat betapa leher itu sudah normal kembali! Tidak
ada warna hitam, tidak ada bengkak! Bahkan luka bekas
goresan kuku yang tadi mengeluarkan darah hitam, kini sudah
kering.
Dirabanya leher itu dan tidak terasa panas! Juga bagaian
tubuh lain dari anak ini yang tadinya amat panas, kini sudah
tidak panas lagi, hangat biasa saja. Dipegangnya pergelangan
tangan anak itu. darahnya pun berjalan dengan baiknya.
Hanya napas anak itu yang bergelora, seolah-olah ada
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
kekuatan di dalam tubuhnya yang masih agak liar. Akan tetapi
segala bagian tubuh anak itu sehat sama sekali, tidak ada
gangguan, apalagi pengaruh racun!
Liu Bhok Ki adalah seorang pendekar yang sudah lama
berkecimpung di dunia kang-ouw. Biarpun dia bukan seorang
ahli pengobatan yang pandai, namun pengalamannya amat
banyak dan dia tahu akan cara pengobatan orang terkena
racun, asalakan jangan racun sehebat racun tangan Ban-tok
Mo-li. Dia memandang anak yang masih rebah seperti orang
tidur itu dan mengerutkan alisnya. Dia memutar otaknya dan
akhirnya dia mengangguk-angguk dengan senyum gembira.
“Thian Maha Adil……” pujinya dengan hati penuh kelegaan.
Dia dapat menduga apa yang telah terjadi dalam diri anak
itu. gigitan ular yang disebut anak naga di pusaran maut
Sungai Huang-ho itu, juga darah binatang aneh itu yang
dihisap oleh Han Beng, tentu membuat anak ini kecarunan
hebat. Tanda keracunan itu mudah dilihat, yaitu membuat
anak itu kepanasan dan memiliki kekuatan dasyat sehingga
ketika anak itu mengamuk, banyak tokoh kang-ouw yang
berkepandaian tinggi roboh oleh pukulan anak yang tidak tahu
ilmu silat itu.
Racun anak naga itu hebat sekali, dan mungkin Han Beng
takkan kuat bertahan, mungkin akan dapat tewas karena
kehebatan darah anak naga itu akan menghapuskan semua
jaringan otot dan syarafnya. Akan tetapi, sungguh suatu
kemukjijatan terjadi. Ketika anak itu terkena pukulan beracun
dan goresan kuku Ban-to Mo-li maka ada semacam racun lain
yang memasuki tubuhnya dan justru racun dari tangan ban-tok
Mo-li inilah yang merupakan penyembuhan ketika dua macam
racun yang berlawanan itu bertemu dan saling melumpuhkan!
Inilah kiranya yang terjadi, demikian, piker Liu Bhok Ki.
Dengan hati-hati Liu Bhok Ki lalau mengurut tengkuk dan
punggung Han Beng. Baru saja beberapa kali dia mengurut
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
untuk membuka kesadaran anak itu, tiba-tiba Han Beng
mengeluh, membuka matanya dan dia pun meloncat bangun.
Matanya terbelalak dan kaki tangannya tidak mau diam,
bergerak-gerak seperti bukan atas kehendak sendiri, dan kaki
tangan itu mengeluarkan bunyi berkerotokan. Ketika Liu Bhok
Ki mendekat dan dan hendak memegang lengan anak itu,
tangan kiri Han Beng menyambar dan ada hawa pukulan
demikian kuatnya mendahului tangan itu sehingga Liu Bhok Ki
terkejut dan menangkis.
“Dukkkk!” Tangkisan ini membuat tubuh Liu Bhok Ki
terdorong dan hampir terhuyung.
“Ahhhhh…………!” Pendekar itu berseru penuh kagum. Dia
melangkah mundur dan melihat betapa anak itu masih
menggerak-gerakkan kaki tangannya, dan ada hawa pukulan
menyambar-nyambar dari kaki tangan itu. akan tetapi sinar
mata anak itu waras, hanya kini Han Beng menjadi bingung
sendiri.
“Lo-cian-pwe ……. Tolong ………… tolonglah aku ………. Kaki
tanganku taak dapat kuhentikan bergerak sendiri, dan ada
sesuatu dalam perutku bergerak-gerak ………, seperti ………..
seperti ada ularnya!”
Memang aneh. Bukan hanya kaki tangan anak itu yang
bergerak-gerak, akan tetapi ada tonjolan yang aneh bergerakgerak
di tubuhnya, kadang-kadang nampak tonjolan sebesar
tikus bergerak di kedua pundaknya, di dadanya, di leher,
bahkan di kepalanya! Seolah-olah di dalam tubuhnya itu ada
seekor tikus yang ingin keluar akan tetapi terhalang oleh kuli!
Liu Bhok Ki bersikap tenang.
“Abak baik, tenanglah. Pusatkan perhatianmu dan kerahkan
seluruh kekuatan kemauanmu untuk menguasai dirimu sendiri.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Nah, kauc ontohlah aku, duduklah bersila di atas tanah, seperti
ini!”
Han Beng sudah percaya sepenuhnya kepada kakek yang
telah menyelamatkannya dari tangan orang-orang aneh yang
jahat, yang memperebutkan dirinya. Maka, mendengar suara
yang penuh wibawa itu, dia pun mengerahkan kemauannya
untuk menguasai dirinya dan biarpun dengan susah payah
akhirnya dia dapat pula memaksa tubuhnya untuk
menjatuhkan diri duduk di atas tanah, lalu menekuk kedua
kakinya, bersila.
“Tegakkan tubuhnmu, luruskan leher dan kepala, pusatkan
perhatianmu ke tengah anatara kedua alismu, nah, begitu ……….
Dan sekarang tarik napas panjang, hitung sampai delapan,
tahan ……… sekarang keluarkan dari hidung perlahan-lahan. Itu
kedua lengan, letakkan diatas pangkuan, begini ………..”
Liu Bhok Ki mulai mengajar anak itu untuk menenangkan
diri, pelajaran permulaan Samadhi, dan dengan perlahan dia
membimbing Han Beng untuk menguasai dirinya sendiri dan
menguasai pula kekuatan dasyat yang terdapat dalam dirinya.
Setelah anak itu mulai tenang dan mulai dapat mengendalikan
tenaga dasyat itu, Liu Bhok Ki mengajak melanjutkan
Perjalanan.
Sin-tiauw (Rajawali Sakti) Liu Bhok Ki mengajak Han Beng
yang menjadi muridnya itu ke sebuah bukit di lembah Huangho,
bukit yang dikenal dengan nama Kim-hong-san (Bukit
Burung Hong Emas). Bukit ini kecil saja dan mereka membuat
sebuah pondok di puncaknya dan dari puncak ini mereka
dapat melihat sungai Huang-ho mengalir di kaki bukit.
Pemandangan di bukit itu indah sekali, sebuah bukit yang
dipenuhi hutan belukar dan dusun terdekat terletak di akai
bukit, di pantai sungai Huang-ho. Bukit itu sendiri sunyi, tidak
di tempatai manusia karena memang merupakan hutan
belukar yang liar.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Begitu tiba di puncak Kim-hong-san, Liu Bhok Ki dibantu
oleh Han Beng menebang pohon dan bamboo, membuat
pondok darurat untuk mereka. Setelah selesai, Liu Bhok Ki
memanggil han Beng yang berlutut dia ats lantai tanah kering,
menghadap kakek yang duduk di atas bangku kayu buatan
sendiri itu.
:Han Beng, engkau sudah menceritakan semua riwayatmu
dan sekarang engkau adalah seorang anak yatim piatu yang
tidak mempunyai orang tua dan keluarga lagi. Sudah bulatkah
hatimu untuk berguru kepadaku?”
Han beng ad alah seorang anak yang tabah. Ketika dia
bersama gurunya itu mencari perahu orang tuanya di sekitar
pusaran maut, dia hanya menemukan ayah ibu Giok Cu yang
terluka. Dari keluarga Bu ini dia mendengar bahwa ayah
ibunya tewas dalam keributan ketika orang-orang kang-ouw
memperebutkan anak naga kemudian memperebutkan dia dan
Giok Cu. Hanya sebentar dia menangis, dan setelah itu, dia
tidak pernah menangis lagi, maklum betapa sia-sia saja
menangis dan berduka. Sekarang pun, diingatkan oleh
gurunya bahwa dia anak yatim piatu yang tiada keluarga lagi,
hatinya seperti di remas, akan tetapi dia tidak mau hanyut oleh
kedukaan dan keharuan.
“Suhu, teecu sudah bertekad untuk menjadi murid suhu,
dan teecu akan mentaati semua perintah dan petunjuk suhu.”
“Benarkah itu? Engkau berjanji akan memenuhi semua
permintaanku sebagai syarat berguru kepadaku?”
“Teecu bukan hanya berjanji, bahkan teecu bersumpah
untuk mentaati semua perintah suhu dengan taruhan nyawa
teecu. Suhu bukan hanya guru teecu, akan tetapi juga suhu
penolong dan penyelamat nyawa teecu.”
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Bagus! Kalau begitu dengar baik-baik pesanku. Engkau
akan belajar ilmu silat dariku selama lima tahun. Setelah lima
tahun, engkau akan kuserahkan kepada Sin-ciang kai-ong.
Dialah gurumu yang yang kedua dan aku sudah berjanji
kepadanya selama lima tahun engkau menjadi muridku. Dialah
yang melindungi kita, menyelamatkan kita dan memberikan
kita kesempatan untuk terbebas dari kepungan mereka yang
hendak merampasmu. Sanggupkah engkau untuk menjadi
murid Sin-ciang Kai-ong selama lima tahun setelah engkau
menjadi muridku selama lima tahun pula?”
“Teecu sanggup!”
“Sekarang yang kedua, dan mungkin ini akan terasa berat
olehmu. Ketahuilah bahwa aku juga kehilangan keluargaku
secara menyedihkan sekali, dan sampai selamanya aku tidak
akan dapat melupakan sakit hati karena kehilangan keluarga
itu …..” Liu Bhok Ki melirik kea rah kepala yang berada di
dalam botol besar terisi arak.
Ketika membawa pergi Han Beng, dia lebih dulu mengambil
dua buah kepala ini yang disembunyikan di sebuah tempat
dekat sungai, lalu membawa dua buah kepala itu ke puncak
Kim-hong-san. Ketika han Beng melihat dua buah kepala itu
untuk pertama kalinya, dia terkejut dan merasa ngeri, akan
tetapi tidak berani bertanya, melihat betapa gurunya amat
berhati-hati merawat dua buah kepala itu dan kelihatan tidak
senang kalau dia mencoba mendekati dua buah benda
mengerikan itu. kini melihat betapa gurunya bicara tentang
dendam sakit hati dan melirik kea rah dua buah kepala, Han
Beng tidak dapat menahan keinginan tahunya.
“Suhu, apakah sakait hati suhu itu ada hubungan dengan
dua buah kepala itu?”
Liu Bhok Ki adalah seorang pendekar yang berhati keras
dan berwatak kasar, jujur namun juga angkuh. Kalau saja
hatinya tidak sudah bulat menerima Han Beng sebagai
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
muridnya dan dia sudah mengenal watak muridnya yang juga
gagah perkasa dan tabah, tentu dia akan tersinggung dan
marah karena ada orang berani menyinggung soal dua buah
kepala itu.
Kini, sejenak matanya mengeluarkan sinar mencorong,
akan tetapi dia lalu menarik napas panjang dan mengangguk.
Lalu dia mengambil botol anggur diatas meja dimana
tersimpan sebuah kepala wanita yang cantik dan pucat, lalu
dia menempelkan bibirnya di botol itu, seolah-olah hendak
mencium bibir kepala wanita dalam botol itu yang menyeringai
seperti menahan sakit.
“Ini ……. Ini kepala isteriku tercinta ……..”
Han Beng terbelalak dan dia melihat betapa kedua mata
gurunya itu berlinang air mata! Diam-diam dia bergidik.
Kenapa isteri suhunya tewas dan kenapa pula kepalanya
disimpan oleh suhunya di dalam botol arak itu ? suhunya
kelihatan demikian mencinta isterinya, akan tetapi mengapa
kecintaan itu diperlihatkan dengan cara yang amat kejam dan
di luar batas perikemanusiaan?
Agaknya Liu Bhok Ki dapat membaca pertanyaan yang tak
terucapkan oleh muridnya itu, dan dia melanjutkan.
“Dan yang tergantung itu adalah kepala kekasih iateriku!”
Han Beng merasa semakin terkejut dan dia memandang
kepada kepala yang tergantung itu. lebih mengerikan lagi
kepala ini, kepala seorang pria muda yang tampan dan juga
amat pucat. Kalau kepala wanita cantik di dalam botol itu
hanya menyeringai dan tidak bergerak, kepala yang
tergantung ini dapat bergerak dan berputar-putar di ujung tali
kecil yang tergantung. Mata kepala ini melotot seperti orang
marah dan mulutnya setengah terbuka.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Kemudian Han Beng melihat hal yang baru pertama kali
dilihatnya dan yang membuatnya menjadi semakin ngeri.
Gurunya menuangkan anggur dari botol berisi kepala itu ke
dalam cawan, lalu mengangkat cawan diacungkan kepada
kepala yang tergantung seolah-oalh menawarkan minuman
kepada mereka, lalu dia minum arak itu dari cawan dan
nampaknya nikmat sekali! Han Beng bergidik! Di dalam
benaknya yang belum banyak pengalaman itu terjadi
dugaandugaan yang mengerikan, yang dibantahnya sendiri
dalam hatinya. Gurunya adalah seorang pendekar besar yang
gagah perkasa yang untuk menolongnya sudah menempuh
bahaya maut menghadapi para orang-orang kang-ouw yang
lihai. Mungkikah suhunya melakukan hal yang begini kejam?
“Tapi ……. Tapi mengapa suhu melakukan itu ……?”
“Mereka adalah isteriku dan sahabatku, mereka telah
menghianatiku, menghancurkan kebahagiaan hidupku dengan
berzina! Aku bunuh mereka dan menyimpan kepala mereka,
agar mereka melihat betapa mereka telah menghancurkan
kebahagiaan hidupku!”
“Ahhhhh………..!” Han Beng menundukkan mukanya, hatinya
memberontak, dia tidak setuju sekali dan ingin dia mencela
gurunya, akan tetapi dia tidak berani karena diam-diam dia
pun merasa kasihan kepada gurunya yang entah sudah
berapa puluh tahun menderita kesengsaraan batin yang amat
hebat. Dua buah kepala itu masih muda, maka tentu peristiwa
itu terjadi ketika suhunya masih muda, tentu sudah puluhan
tahun lamanyaa hal itu terjadi dan selama itu, suhunya tak
pernah merasa bahagia hidupnya.
“Sekarang dengar, han Beng. Sakit hatiku tak pernah dapat
tertebus sampai kini, dank arena aku tidak dapat lagi
menghukum kekasih isteriku, maka aku ingin membalas sakit
hati ini kepada puteranya yang masih hidup!” berkata
demikian, pendekar itu mengepal tinju kanannya dan
terdengar bunyi tulang-tulangnya berkerotokan.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Akan tetapi …….., bukankah suhu sudah membalas sakit
hati itu dengan membunuhnya?”
“Tidak! Aku keliru! Dia membuat aku menderita selama
ahidupku, dan aku hanya membunuhnya begitu saja,
membuat dia mati dan tidak lagi merasakan penderitaan
hidup! Tidak, sekarang anaknya yang harus merasakan
penderitaan hidup seperti yang telah kutanggung selama ini.
Terlalu enak dia. Biar kepalanya kugantung, tetap saja di tidak
dapat melihat dan tidak dapat merasakan! Aku telah
melakukan kesalahan dengan membunuh mereka dan
sekarang aku harus membetulkan kesalahan itu dan
menghukum puteranya!”
Han Beng bergidik. Suhunya yang demikian gagah
perkasa, yang dihormatinya sebagai seorang pendekar sakti
yang budiman, penentang segala kejahatan, kini diracun
dendam dan menjadi iblis sendiri!
“Suhu, apa ……… apa yang harus teecu lakukan?” tanyanya
dengan suara lirih dan jantung berdebar tegang.
“Aku ingin anaknya merasakan penderitaan seperti yang
kurasakan Selma berpuluh tahun ini! Dengar baik-baik,
muidku. Laki-laki yang kepalanya tergantung disana itu
bernama Coa Kun Tian, putera ketua Hek-houw-pang di dusun
Tai-bun-cung dekat Po-yang, dan isteriku bernama Phang Bi
Cu, adik kandung dari ban-to Mo-li Phang Bi Cu. Engkau
masih ingat nenek cantik pesolek yang memperebutkanmu di
sungai itu dan yang kemudian melarikan teman perempuanmu
itu? nah, ia itulah ban-tok Mo-li atau dulu pernah menjadi enci
dari isteriku. Coa Kun Tian dan Phang Bi Cu sudah mati
kubunuh, akan tetapi ternyata Coa Kun Tian mempunyai
seorang putera! Dan akulah yang mengawinkan puteranya itu!
puteranya bernama Coa Siang Lee, tampan dan mukanya
mirip ayahnya. Lihat baik-baik muka kepala itu!
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Coa Siang Lee telah kuperdaya sehingga dia menikah
dengan seorang gadis yang menjadi puteri ban-to Mo-li,
keponakan isteriku yang wajahnya mirip wajah isteriku yang
kepalanya berada di dalam botol ini. Nama gadis itu Sim Lan
Ci. Nah, kepada kedua orang itulah aku ingin engkau
mebalaskan sakit hatiku, Han Beng. Sanggupkah engkau?”
“Suhu, pembalasan yang bagaimanakah harus teecu
lakukan?” tanpa mejawab pertanyaan gurunya, Han Beng
bertanya karena dia merasa bingung sekali, juga ngeri melihat
gurunya yang gagah perkasa itu ternyata mabuk oleh dendam
yang amat mendalam.
“Mereka telah menjadi suami isteri, han Beng. Mereka mirip
benar denganisteriku dan kekasihnya, seolah-olah isteriku dan
kekasihku hidup kembali berbahagia dan saling mencinta.
Nah, aku ingin engkau menghancurkan kebahagiaan mereka
itu, Han Beng, seperti mereka dahulu menghancurkan
kebahagiaanku!”
“Bagaimana ………caranya, suhu? Sungguh teecu tidak
mengerti ……..”
“Kelak engkau tentu menjadi seorng pria yang gagah
perkasa dan tampan. Engkau harus merayu dan menjatuhkan
hati SIm Lan Ci, seperti dulu isteriku dirayu dan dijatuhkan
hatinya, engkau dapat menggunakan akal apa saja, dengan
obat kalau perlu dan aku akan mengajarkan semua itu, sampa
Si Lan Ci terjungkal dalam rayuanmu dan engkau harus
menggaulinya, menodaianya agar suaminya, putera Coa Kun
Tian, melihatnya dan kebahagiaan hidupnya akan lenyap
karena isterinya telah menghianatinya seperti isteriku
menghianatiku.
Nah, biarkan suami isteri itu merana dan saling membenci,
dan noda penuh aib itu akan terus mengejar mereka samapai
mati. Engkau tidak perlu membunuh kebahagiaan mereka
seperti orang tua mereka pernah membunuh kebahagiaanku!”
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Han Beng tertegun, mukanya menjadi merah. Dia masih
belum dewasa akan tetapi dia sudah dapat mengerti apa yang
dimaksudkan gurunya dan dia merasa ngeri membayangkan
tugasnya itu. akan tetapi, dia sudah berjanji, bahkan
bersumpah untuk mentaati perintah gurunya!
“bagaimana, Han Beng. Sanggupkah engkau?” Liu Bhok Ki
mendesak sambil menatap tajam wajah muridnya yang
menunduk.
“Teecu ………. Sanggup,” kata Han Beng yang tidak
mempunyai pilihan lain. Betapun juga, tadinya dia mengira
bahwa dia ditugaskan membunuh orang dan hal ini sungguh
amat tidak disukainya, akan tetapi ternyata perintah gurunya
itu bukan untuk membunuh, melainkan untuk menjatuhkan hati
seorang wanita, hal yang sama sekali asing baginya, bahkan
membayangkan bagaimana saja dia pun tidak mampu.
Girang sekali Liu Bhok Ki mendengar ini. Amat girang
sehingga dia merangkul anak itu dengan air mata basah.
“Han Beng, muridku yang baik, ketahuilah bahwa itu
merupakan satu-satunya harapanku dalam hidup ini. Kalau
aku melihat mereka menderita seperti yang pernah kurasakan,
maka biar mati pun aku akan dapat memejamkan mata
dengan hati tenang. Aku akan mewariskan seluruh ilmu
kepandaianku kepadamu, muridku, sebagai balas jasa atas
usahamu menghancurkan mereka kelak.”
Demikianlah, mulai hari itu, Han Beng menerima
gemblengan dari Liu Bhok Ki. Anak ini memang telah memiliki
tenaga dasyat sebagai akibat minum darah ular itu, dan
dengan bimbingan yang amat bijaksana dan ahli dari Liu Bhok
Ki, dia akhirnya mampu menguasai tenaga dasyat itu dan
mengendalikaannya sehingga kalau dia mengerahkan tenaga
itu, ketika dia berusia lima belas tahun, gurunya sendiri tidak
mampu menandingi kekuatan sin-kang (tenaga sakti) yang
terkandung dalam tubuhnya!
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Cemburu merupakan satu di antara nafsu-nafsu yang dapat
menghancurkan manusia itu sendiri dan orang-orang lain.
Cemburu merupakan akibat daripada penonjolan si-aku
merasa dirugikan, dihina, miliknya, yaitu orang yang
dicintainya, diambil oran-orang yang dicintainya, berpaling
kepada orang lain. Si-aku merasa diabaikan, merasa
dikecilkan dan diremehkan maka timbullah cemburu yang
disusul dengan kemarahan dan dendam kebencian!
Api cemburu bisa bernyala besar sekali dan membakar
segalanya. Api cemburu dapat mendatangkan kebakaran
dalam batin, dan kalu cemburu sudah beranakkan dendam
kebencian, maka mata akan menjadi buta dan segala
pertmbangan akan lumpuh. Yang ada hanya nafsu membalas,
membikin sengsara orang yang dibencinya itu. kalau sudah
begini, muncullah perbuatan-perbuatan yang kejam dan tidak
berprikemanusian, perbuatan yang hanya merupakan
pelampiasan nafsu amarah dan dendam kebencian.
Kepandaian, kekayaan besar, kedudukan tinggi, tidak akan
melindungi manusia daripada nafsu-nafsu ini, bahkan
seringkali kelebihan-kelebihan itu memperbesar nyala nafsu.
Satu-satunya pemadam nafsu apa pun hanyalah kesadaran,
kewaspadaan yang akan memungkinkan datangnya sinar
cinta kasih dan kebijaksanaan.
Sadar dan waspada akan segala hal yang terjadi di dalam
dan di luar lahir batin, waspada akan semua gerak-gerik lahir
batin, gerakan jasmani, gerakan panca indera, gerakan hati
dan pikiran. Tidak lengah sebentar pun sehingga apabila
pikiran berceloteh lalu menghidupkan si-aku yang semakin
menjadi-jadi dan merajalela sehingga membangkitkan nafsunafsu,
maka hal ini pun akan berada dalm pengamatan yang
penuh kesadaran dan kewaspadaan.
oooOOooo
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Pembuatan terusan besar yang menyambung dua sungai
besar Huang-ho dan Yang-ce, makin lama semakin terasa
berat bagi rakyat jelata.. Karena pekerja¬an besar itu
membutuhkan tenaga manusia yang sebanyak-banyaknya dan
juga membutuhkan biaya besar yang keluar dari kantung
pemerintah, maka timbulah hal-hal yang meresahkan rakyat,
mana ada banyak uang yang dipermainkan, tentu timbul
kecurangan-kecurangan.
Para pembesar yang mendapat tugas mencari tenaga baru
dan membayar tenaga itu setelah melihat kesempatan lalu
timbul kecurangan mereka dan banyak sekali uang yang
sebetulnya diperuntukkan para tenaga pembuat terusan
masuk ke kantung para pembesar. Rak yat yang takut
terhadap pemerint mudah digertak. Hanya sebagian saja upah
yang menjadi hak mereka itu di terima oleh para pekerja. Upah
ya sudah dikebiri oleh para pejabat, dan yang kecil sampai
yang besar.
Pembesar yang kecil mencatut sedikit, yang besar
mencatut semakin banyak dan rakyat pekerja hanya menerima
sisanya saja. Bahkan banyak pula yang tidak dibayar seperti
kerja rodi. Namun, mereka it hanya dapat menangis dan
mengelu tidak berani melawan. Mula-mula, yang menjadi
pekerja paksa tanpa dibayar adalah orang-orang hukuman
yang di¬manfaatkan tenaganya. Akan tetapi, me¬lihat lubang
ini, para pembesar dan pengurus pekerjaan besar itu lalu
mempergunakan akal mereka yang busuk, memperlakukan
rakyat seperti orang hu¬kuman, memaksa rakyat bekerja
tanpa ijihayar, dan uangnya masuk ke dalam kantung mereka
sendiri.
Ratapan rakyat ini tidak terdengar oleh pemerintah, akan
tetapi terdengar oleh para pendekar. Dan pada waktu Itu, para
pendekar adalah mereka yang memiliki ilmu silat tinggi dan
watak yang bersih, jujur, adil dan pemberani. Dan pusat dari
ilmu silat, sebagian besar terletak di dalam biara-biara dan
tempat-tempat pertapaan. Terutama sekali di kuil Siauw-lim-si
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
yang menjadi pusat dari Siauw-Lim-pai, sumber para ahli silat
tingkat tinggi. Seringkali pa¬ra murid Siauw-lim-pai yang
sudah menjadi pendekar di luar kuil, datang ber¬kumpul untuk
berunding dengan para tokoh Siauw-lim-pai, membicarakan
tentang kesengsaraan rakyat yang timbul karena adanya
pembuatan terusan yang mempergunakan tenaga ratusan ribu
orang itu.
Pusat dari perkumpulan Siauw-li pai ini berada di kuil
Siauw-lim-si yang besar, selain menjadi pusat perguruan silat
tinggi, juga menjadi pusat penyebaran Agama Buddha. Kuil
Siauw-li atau Siauw-lim-si ini berdiri di Sion san sebuah
gunung yang tanahnya subur yang juga dikenal dengan nama
Cong san. Siong- -san bukanlah gunung ya besar dan bukan
pula pegunungan yang luas seperti Min-san, Cin-ling-san,
Kun-lun-san dan masih banyak lagi. Akan tetapi biarpun tidak
berapa besar, nama Siong-san menjadi amat terkenal karena
adanya vihara atau kuil Siauw-lim yang besar itu. Terutama
sekali di dunia per silatan, nama Siauw-lim-si amat
terkenal,disegani dan ditakuti karena di situ menjadi sumber
ahli-ahli silat yang me jadi pendekar-pendekar kenamaan.
Kuil yang megah itu dibangun ol seorang pendeta Buddha
yang datang datang dari India untuk menyebar pelajaran
Agama Buddha, dan pada mulanya hanya merupakan vihara
di mana orang-orang belajar keagamaan. Para calon pendeta,
.calon penyebar pelajaran agama, dididik di dalam vihara ini.
Oleh karena pada zaman itu (sekitar tahun 500) merupakain
jaman yang belum teratur, apalagi dengan adanya perang
saudara yang tiada henti-hentinya sejak jaman Sam-Kok (T
iga Negara) (Tahun 221 - 265), maka perkembangan Agama
Buddha pun menglami gangguan dalam suasana yang ser¬ba
kacau ini.
Kemudian, sekitar tahun 520, muncullah seorang pendeta
dari India pula yang memiliki kesaktian tinggi. Berbeda dengan
pendeta Pa To yang menjadi pendiri vihara Siauw-lim dan
yang hanya seorang ahli tentang agama, Tat-mo Couw-su,
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
pendeta dari India yang baru ditang ini, memiliki kesaktian
yang hebat.
Apalagi ketika dalam perantauan¬nya dari See-thian (India)
ke Tiongkok dia banyak mengembara di Himalaya, bertemu
dengan para per tapa yang tinggi ilmunya dan dia senantiasa
memperdalam ilmu-ilmunya, maka ketika tiba di vihara Siauwlim,
dia merupakan seorang pendeta Buddha yang amat tinggi
ilmu kesaktiannya. Banyak sekali kisah yang aneh-aneh
diceritakan orang turun temurun, terutama yang datang dari
para hwesio (pendeta Buddha) di kuil Siau lim tentang tokoh
Tat-mo Couw-su ini.
Ada yang mengatakan bahwa ketika berada di vihara
Siauw-lim itu. Tat-Couw-su pernah menggali sumur dengan
hanya menggunakan kedua tangannya sampai ada air
muncrat keluar! Ada pula yang mengatakan bahwa dia
membuat ukir-ukiran di atas dinding batu mengunakan jari
tangannya melukiskan rakan orang bersilat dalam berbagai
jurus. Bahkan ada cerita bahwa dia bertapa di kuil itu selama
sembilan tahun untuk memperdalam ilmu-ilmunya. dan
tubuhnya tercetak di atas batu tempat dia duduk, juga
punggungnya tercetak di dinding batu yang menjadi
sandarannya. Pendeknya, banyak sekali dongeng tentang Tatmo
Couw-su ini yang mencereritakan tentang kesaktiannya
yang seperti dewa!
Bagaimanapun juga, harus diakui berdasarkan sejarah
yang ada bahwa Tat-mo- Couw-su inilah yang menjadi pelopor
adanya ilmu silat di dalam kuil Siauw-lim, yang kemudian
menjadi terkenal sekali, bahkan menjadi sumber banyak
macam ilmu silat yang ada di daratan Tiongkok.
Pada waktu sebelum Tat-mo Couw-su datang ke kuil
Siauw-lim, tentu saja tidak ada murid atau pendeta kuil Itu
yang mempelajari ilmu silat. Mereka belalah penganutpenganut
agama yang Imtuh dan Agama Buddha mengajarkan
cinta kasih, menjauhi pertentangan, per¬musuhan, apalagi
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
kekerasaan. Sedangkan Ilmu silat adalah ilmu berkelahi! Tentu
taja tidak ada hwesio yang mau mem¬belajari ilmu untuk
memukul orang itu!
Akan tetapi pada suatu hari, Tat-mo Couw-su melihat
betapa para pendeta dan murid di kuil Siauw-lim itu bertubuh
lemah dan karena kelemahan tubuh ini mereka menjadi malas
dan tidak betah duduk bersamadhi, lebih suka bermalasmalasan
dan tidur. Karena tubuh yang lemah ini banyak pula
diantara mereka yang terkena penyakit, selain itu, juga pada
jaman itu banyak terjadi kerusuhan dan para penjahat itu
agaknya tidak memandang bulu ketika melakukan kejahatan
yang mengandalkan kekerasan. Bahkan beberapa kali ki
diserbu dan dirampok, para hwesio dianiaya, bahkan ada pula
yang sampai dibunuh. Dua hal ini menggerakkan hati Tat-mo,
yaitu nama pendeta ini yang kemudian ditambah sebutan
Couw-(Guru Besar), untuk memberi latihan kepada para
pendeta dan murid Siau lim agar tubuh mereka menjadi sehat
dan kuat.
Mula-mula pendeta yang sakti menciptakan semacam ilmu
olah raga yang kalau dilatih dapat menyehatkan tubuh, bahkan
memperkuat batin. Ilmu ini yang kemudian terkenal dengan
sebutan it-kin-keng, ilmu gerakan yang melenturkan otot-otot,
membersikan darah dan memperkuat tulang-tulang. It-kinkeng
dibagi menjadi delapan belas gerakan pokok. Manfaat
ilmu ini setingkat atau bahkan lebih tinggi dari gerakan dalam
Yoga. Selain ilmu It-kin-keng, Juga Tat-mo Couw-su
menciptakan ilmu silat untuk para hwesio yang ber¬tugas jaga
untuk menjaga kuil dari gangguan orang-orang jahat. Ilmu silat
ini diberi nama Cap-pwe Lo-han-kun, juga terdiri dari delapan
belas jurus. Lo-han-kun atau Silat Arhad ini memang
di¬peruntukkan para hwesio, selain untuk memperkuat tubuh
juga untuk dapat di pakai membela diri dan melindungi
keamanan Kuil.
Itulah permulaan ilmu silat yang di¬ajarkan kepada para
hwesio di kuil Siauw-lim. Kemudian, melihat kegunaan dar
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
ilmu-ilmu itu, maka para cerdik pandai tokoh-tokoh keagamaan
Buddha memperkembangkan ilmu silat itu dan mulailah ilmu
silat Siauw-lim memegang peran penting di dunia persilatan.
Latihan-latihan yang dilakukan para murid di kuil Siauw-lim
terkenal amat berat, na¬mun justeru latihan berat inilah yang
membuat ilmu silat Siauw-lim terkenal sebagai ilmu yang
kokoh kuat, dan murid yang lulus dari perguruan ini miliki ilmu
silat yang sudah matang dengan tenaga yang boleh
diandalkan. Banyak tokoh bermunculan dan ilmu silat siauwlim
terus berkembang, semakin banyak macamnya dan para
cerdik pandai tiada hentinya mengerahkan segala bakat dan
kepandaian mereka untuk menciptakan jurus-jurus baru.
Pada Pada jaman pemerintah Kaisar Li Wu Ti (502-549),
seorang Kaisar dinasti Liang yang menjadi penganut Agama
Buddha yang patuh, mempunyai hubungan dekat dengan
Siauw-lim-si. lagi ketika terjadi banyak kerusuhan
pemberontakan di sana-sini, kaisar ini minta bantuan para ahli
silat dari Siau lim-pai. Pada waktu itu, sudah banyak pendekar
lihai yang menjadi murid Siauw-lim-pai, dan para pendekar ini
berhasil baik sekali dalam penumpasan para perusuh. Kaisar
Liang Wu Ti merasa gembira dan berterima kasih, maka kaisar
itu lalu memperluas bangunan vihaha Siauw-lim. Makin
majulah vihara itu dan semakin banyak muridnya. Usaha
menyebarkan Agama Buddha juga berkembng dengan baik
dan memperoleh kemajuan pesat seperti juga pengembangan
pelajaran ilmu silatnya. Semua ini karena dukungan Kaisar
Liang Wu Ti yang juga beragama Buddha.
Akan tetapi, pemberontakan besar meletus ketika wangsa
Sui, dipimpin oleh yang Cien, menyerbu dan utara dan
menghancurkan kekuasaan dinasti Liang. dalam perang ini,
pihak Siauw-lim-pai membantu Kaisar Liang Wu Ti. Oleh
karena itu, ketika Dinasti Liang kalah, Dinasti Baru dari
Wangsa Sui membasmi semua Vihara agama Buddha, juga
Siauw-lim-Si ikut dimusnahkan Para murid dan pendekar
Siauw-lim-pai yang berhasil meloloskan diri, lari cerai berai
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
dan para liwesio lari bersembunyi atau bertapa di puncakpuncak
gunung dan di tempat-tempat sunyi.
Akan tetapi karena para pendekar siauw-lim-pai itu di
mana-mana telah menyebar perbuatan yang gagah perkasa
dan baik, akhirnya Kaisar Yang Cien mau mengampuni
mereka dan bahkan memperkenankan kembali vihara Sia limsi
dibangun.
Sampai Kaisar Yang Cien diganti oleh puteranya, yaitu
Kaisar Yang Ti, keadaan Siauw-lim-si tetap baik walaupun
Kaisar Yang Ti lebih condong medekat para to-su (pendeta)
dari Agama To (Taoism) daripada Agama Buddha.
Sudah sejak lama terjadi semacam permusuhan antara
para tokoh Agama Buddha dan para tokoh Agama To. ini
terjadi karena adanya semacam persaingan dan iri hati. Kalau
kaisar pemerintahnya mendekati Agama Budda maka pihak
para to-su merasa iri hati sebaliknya kalau kaisar mendekati
pa to-su, maka para hwesio yang merasa iri hati dan tidak
senang. Iri hati ada suatu penyakit batin yang timbul dan
penonjolan dan pementingan si -aku pula. . Pikiran ini
membentuk si-aku dibesar-besarkan, dipentingkan sedemikian
rupa sehingga kalau diabaikan timbul perasaan iri hati dan
kecewa. Ki ta sudah sedemikian egois, setiap saat selalu
mementingkan diri pribadi se¬hingga segala hal-hal yang
menyenang¬kan dan baik hendak kita monopoli, sedapat
mungkin segalanya itu diperuntuk¬kan diri sendiri. Bahkan
Tuhan Yang Maha Adil pun, ingin kita monopoli agar keadilan-
Nya hanya untuk kita, demi ke¬pentingan dan kesenangan
kita, demi¬kian pula kasih sayang dari Yang Maha Kasih ingin
kita monopoli. Karena se¬tiap perorangan memiliki sikap
memen¬tingkan diri sendiri masing-masing, maka tidaklah
mengherankan apabila dunia im penuh dengan permusuhan
pribadi, permusuhan antara keluarga, antara go¬longan, antar
suku dan antar bangsa. Bertabrakanlah kepentingan masingmasing
dan menimbulkan konflik.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Permusuhan selalu mendatangkan den¬dam. Ketika
Siauw-Lim-si dimusuhi kaisar dan pemerintah, bukan hanya
jagoan-jagoan istana dan para panglima saja yang menyerbu
Siauw-lim-si, akan tetapi di antara mereka terdapat pula tokohtokoh
dari kalangan Agama To, yaitu para to-su yang
membantu pemerintah.
Oleh karena itu, ketika pemerintah condong mendekati para
hwesio, giliran to-su yang dimusuhi! Dendam mendendam
yang tiada habisnya agaknya sudah menjadi pakaian manusia.
Hanya kita sendiri yang mampu menanggalkannya dari diri kita
masing-masing.
Kini keadaan kembali berubah, lihat betapa pelaksanaan
pembuatan terusan itu mengorbankan banyak rakyat jelata,
membikin sengsara rakyat dengan adanya kerja-paksa yang
dilakukan oleh pembesar-pembesar daerah, dengan penjilatan
ke atas atau korupsi, banyak pendekar Siauw-lim-pai menjadi
penasaran. Mulailah terjadi penentang penentangan dari pihak
Siauw-lim-si. Para pendekar Siauw-lim-pai bentrok dengan
pelaksana pengumpul tenaga rakyat. Di mana-mana terjadi
perkelahian antara para pelaksana yang mempunyai jagoanjagoan
dengan para pendekar Siauw-lim-pai. Tentu saja hal ini
terdengar oleh para pejabat dan mulai timbul perasaan tidak
senang kepada Siauw-Lim-si.
Inilah kesempatan yang amat baik bagi saingan para
hwesio, yaitu para tosu. Para tosu yang tadinya merasa
tersisih melihat akrabnya hubungan antara pa¬ra hwesio dan
pemerintah, kini melihat kesempatan baik sekali untuk maju ke
depan. Mereka berusaha untuk mem¬perlebar jurang pemisah
antara pemerintah dan pihak Siauw-lim-si, ada yang
menghasut dan banyak yang membantu pemerintah dalam
menghadapi para pen¬dakar Siauw-lim-pai. Campur-tangan
dari para tosu ini tentu saja memperhebat pertentangan para
para hwesio dan pendekar Siauw-Lim -pai dengan pihak
pemerintah sehingga seringkah terjadi perkelahian besarbesaran
yang menjatuhkan korban cukup banyak, terutama di
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
pihak pasukan pemerintah. Hal ini terdengar oleh pihak
atasan, Kaisar yang mendengar oleh berita laporan bahwa
orang-orang Siauw-lim-pai menentang kebijaksanaan
pemerintah untuk membangun terusan besar, bahkan
menyerang para pelaksana pekerjaan besar itu, tentu saja
menjadi marah dan Kaisar Yang Ti memerintahkan untuk
menghukum Siauw-lim-pai, membasmi mereka yang
memberontak dan mcmusnahkan vihara besar Siauw-lim-si
yang dulu dibangun dengan bantuan istana juga.
Pihak Siauw-lim-pai maklum akan keadaan yang amat
gawat itu dan pada pagi hari itu, para pimpinan Siauw-lim-pai
berkumpul di vihara. Pagi yang sunyi dan penuh ketegangan
karena para pendekar murid-murid Siauw-lim-pai yang
berdatangan membawa berita yang tidak menggembirakan,
Vihara Siauw-lim itu memang luas sekali.Dikelilingi pagar
tembok yang tebal dan tinggi seperti benteng. Pintu gerbang
depan besar dan tebal, selalu dijaga oleh murid-murid vihara.
Di bagian dalamnya yang luas terdapat bermacam bangunan,
dan cukup banyak Pada waktu itu, para pendekar murid
Siauw-lim-pai yang sudah hidup di bagian kuil dan
berdatangan ke situ, berduyun- duyun naik ke bukit kecil di
dalam kompleks vihara. Bukit kecil itu tidak berapa tinggi, akan
tetapi di puncaknya terdapat sebuah bangunan mungil.
Disinilah tinggalnya pimpinan tertinggi dari kuil Siauw-lim-si,
bahkan menjadi tokoh tertinggi dari perguruan Siauw-lim-pai
pada umumnya.
Pondok mungil itu ternyata tidak berkamar, merupakan
ruangan yang luas dan terbuka. Dua orang hwesio tua nampak
duduk di atas dipan bundar, bersila dan berhadapan. Mereka
itu sudah tua. sedikitnya tentu sudah tujuh puluh tahun usia
mereka. Yang seorang bertubuh tinggi kurus dengan jubah
kuning, mukanya bersih seperti kepalanya, tanpa ada rambut
sedikit pun. Wajahnya pun dan matanya banyak menunduk,
akan tetapi terbayang- ketegasan dalam sinar mata dan dalam
tarikan garis-garis di tepi mulut, di dagu dan di tepi kedua
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
matanya. Dia adalah ketua Siauw-Im-pai pada waktu itu,
seorang hwesio yang sudah pernah mempelajari keagamaan
di India, dan di samping itu juga telah mewarisi ilmu-ilmu silai
dari siauw-lim-pai. Julukannya adalah Thian¬-cu Hwesio, dan
dia terkenal sebagai seorang pemimpin yang jujur, adil, dan
tegas maka disegani oleh semua murld Siauw-lim-pai. Karena
sudah merasa tua dan lebih suka bersamadhi, maka selama
hampir dua tahun ini Thian-cu Hweslo hampir tidak pernah
mencampuri urusan di luar kuil. Dia hanya bersamadhi di
dalam kamarnya dan baru keluar dari kamar kalau dia merasa
perlu untuk member i penerangan tentang pelajar agama
kepada para muridnya, atau adakalanya kalau hatinya sedang
gembira dia mengamati para murid yang berlatih silat di lianbu-
thia (ruangan berlatih silat) dan memberi petunjuk kepada
beberapa orang murid yang melakukan gerakan yang kurang
sempurna.
Akan tetapi, selama beberapa hari ini, Thian-cu Hwesio
kedatangan seorang tamu, yaitu seorang hwesio yang sebaya
dengan dia. Hwesio ini adalah kakak seperguruannya, juga
seorang pendeta Buddha yang banyak melakuka perantauan
untuk kepentingan penyebaran Agama Buddha. Hwesio ini,
karena terlalu banyak hidup di luar, kulitnya sampai berubah
menghitam dan julukannya berubah Hek-bin Hwesio (Pendeta
Muka Hitam) karena mukanya memang hitam sekali terbakar
sinar matahari ketika merantau sampai bertahun-tahun di
padang pasir di utara. Puluhan tahun lamanya dia
memperdalam ilmu-ilmunya di India, Nepal dan di Himalaya,
dan di tempat terakhir itulah dia bertemu dengan Thian-Cu
Hwesio dan sama-sama belajar dan seorang pertapa yang
sakti sehingga Hek-bin Hwesio terhitung su-heng (kakak
seperguruan) dari ketua Siauw-lim-pai itu.
Bukan main gembira rasa hati Thian-Cu Hwesio menerima
kunjungan suhengnya ini dan beberapa hari lamanya mereka
bercakap-cakap, bukan saja tentang perkembangan Agama
Buddha, melainkan juga tentang kekacauan di antara rakyat
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
sehubungan dengan adanya paksaan terhadap rakyat untuk
bekerja menggali terusan.
“Bagaimana hati pin-ceng tidak akan merasa resah,
Suheng. Biarpun sudah lama pinceng tidak pernah keluar dari
kuil, akan tetapi banyak laporan para murid yang menceritakan
tentang kesengsaraan rakyat jelata dengan adanya usaha
pemerintah menggali terusan besar antara Sungai Huang-ho
dan Ya-ce itu. Mau tidak mau, para murid Siauw-Lim-pai harus
melindungi rakyat jelata dan karenanya seringkali terjadi
bentrokan dengan para petugas pemerintah yang
melaksanakan pengumpulan tenaga rakyat itu. Bukan
bentrokan kecil-kecilan, bahkan sampai terjadi pertempuran
yang menjatuhkan korban di kedua pihak. Sungguh hal ini
memprihatinkan hati pin-ceng, Suheng," kata Thian Hwesio
yang mengeluh karena ada pertentangan itu.
Hwesio tamu itu bertubuh gendut dengan perut besar bulat,
kepalanya yang gundul itu pun bundar dan licin, mulutnya
selalu tersenyum lebar seperti orang yang selalu gembira,
sepasang matanya juga lembut dan ramah, akan tetapi
sesuatu yang mencorong di dalam yang menunjukkan bahwa
di balik muka yang kekanak-kanakan penuh senyum. Tubuh
yang gendut seperti patung Ji-Lai-hud itu tersembunyi sesuatu
yang dasyat dan amat kuat. Memang Hek-Bin Hwesio yang
mukanya hitam seperti pantat kuali ini seorang yang selalu
ra¬mah dan penuh senyum tawa, memandang dunia dan
kehidupan manusia dari segi yang menggembirakan saja.
Akan tetapi jangan dipandang rendah semua keramahan dan
kelembutan itu karena hwesio tua ini sesungguhnya memiliki
kesaktian yang lebih tinggi dan lebih hebat dibanding¬kan
dengan sutenya yang menjadi ketua Siauw-lim-pai.
Mendengar keluhan sute¬nya, Hek-bin Hwesio tertawa, lalu
membelalakkan matanya yang bundar itu, me¬mandang
sutenya.
"Sute, sebagai ketua Siauw-lim-pai, mengapa engkau
membiarkan murid-muridmu menentang pemerintah?
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Bukan¬lah pemerintah pula yang telah bersikap baik dan
murah hati kepada Siauw-lim-Si, membangun vihara ini dan
bahkan memberi tanah yang luas?"
"Omitohud ....... tentu saja pin-ceng tidak akan melupakan
itu ..... justeru karena itulah maka pin-ceng merasa prihatin
dan hati menjadi resah suheng.
Kami tidak menentang pemerintah, sama sekali tidak
memusuhi pemerintah, kami cukup mengerti bahwa rencana
pemerintah itu baik sekali. Menggali itu membangun terusan
besar antara sungai Huang-ho dan Yang-ce memang amat
besar manfaatnya, melancarkan lalu lintas perdagangan. Akan
tetapi.... pelaksanaannya itulah, Suheng!
Pelaksanaannya menyimpang dari tujuannya yang baik.
Bayangkan saja. Rakyat diperas tenaganya, dipaksa bekerja
tanpa dibayar, bahkan menerima ransum yang sedikit sekali,
tidak ada pengobatan dan tidak ada pertolongan kalau ada
yang sa¬kit. Entah berapa banyaknya rakyat yang mati, belum
lagi keluarganya yang menjadi terlantar karena terpaksa
ditinggalkan. Kami menentang perlakuan tidak adil itu, yang
kami tentang adalah para pelaksana itu, orang-orang yang
korup dan yang mempergunakan kesem¬patan itu untuk
mengeruk keuntungan sebesarnya, menari di atas mayat
rakyat jelata, beruntung di atas ratap tangis rakyat! Bagaimana
menurut pendapat Suheng?"
Senyum di wajah hitam itu melebar
“Sute sendiri tentu sudah tahu sejelasnya bahwa segala
macam bentuk kekerasanlah tidak benar. Pelaksanaan
kekerasan, dalam bentuk apa pun, tidak akan mungkin
mendatangkan hasil yang penuh kedamaian. Sute sendiri tahu
bahwa betapapun baiknya tujuan, kalau pelaksanaannya tidak
benar maka jadinya pun pasti tidak benar. Nah, kalau
sekarang tujuan Sute yang baik itu mendatangkan sejahtera
dan damai dari kehidupan rakyat, dilaksanakan dengan
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
kekerasan, dengan perkelahian, bagaima mungkin hasilnya
akan baik?”
"Omitohud......apa yang dikatakan Suheng memang benar
dan pinceng dapat melihat kebenaran itu. Akan tetapi, apakah
kita harus tinggal diam saja melihat rakyat ditindas, ditekan,
diperas dan dibunuh?"
"Siancai Siancai Siancai..... Masih perlu berheran-herankah
kita melihat semua peristiwa itu, Sute? Ti¬dak ada yang perlu
diherankan, tidak ada yang patut disesalkan, walaupun bukan
berarti bahwa kita akan tinggal berpang¬ku tangan dan
bermasa bodoh saja. Ma¬nusia wajib berikhtiar, Sute, namun
segala pelaksanaan dan ikhtiar itu sen¬diri harus berada di
jalan benar, bukan dengan kekerasan dan permusuhan.
Ti¬dakkah sebaiknya kalau misalnya Sute mengajukan
pelaporan kepada Istana agar Kaisar sendiri mengetahui
betapa para pelaksana pekerjaan besar itu melakukan
penyelewengan?*'
Thian-cu Hwesio menggeleng kepala¬nya dan menarik
napas panjang.
"Belum kami coba, Suheng. akan tetapi kiranya akan
percuma saja. Pertama, tidak mung¬kin membuat laporan
langsung kepada Kaisar tanpa melalui para pembesar dan
Menteri, dan melalui mereka tentu akan sia-sia belaka dan
tidak akan sampai ke telinga Kaisar. Ke dua, andaikata da¬pat
sampai kepada Kaisar sekalipun, apakah Kaisar tidak lebih
percaya ke¬pada laporan para pembesar daripada laporan
kita? Sudahlah, Suheng. Kurasa sepak terjang para murid
kami tidak keliru, yaitu secara langsung membela rakyat dari
penindasan para petug yang korup itu. Sekarang, ada hal lain
yang lebih memprihatinkan hati pin-ceng."
"Omitohud...... Sute, kenapa engkau mengisi hidupmu
dengan keluh kesah dan keprihatinan belaka? Lihatlah baikbaik
Sute, bukankah segala hal itu telah terjadi karena
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
kehendak Yang Maha Kuasa. Kenapa harus dibuat
penasaran? Kita mengetahui bahwa segala sesuatu di
permukaan dunia ini tidak akan terlepas daripada lingkaran
roda Karma. Kewajiban kita bukanlah mengubah kenyataan
melainkan menyadarkan manusia agar masing-masing dapat
memperbaiki jalan hidupnya, karena hanya diri sendiri yang
akan mampu memperbaiki karma masing masing. Diri sendiri
yang menanam diri sendiri yang memelihara, dan diri sendiri
yang akan menuainya kelak.. Sudahlah, semuanya itu sudah
Sute ketahui, tidak perlu kuulang lagi. Sekarang coba
ceritakan apakah hal lain yang lebih memprihatinkan hatimu
itu, Su¬te?"
Kembali ketua Siauw-lim-pai itu me¬narik napas panjang.
Tentu saja, sebagai seorang tokoh besar, baik dalam ilmu silat
maupun dalam ilmu keagamaan se¬mua yang diucapkan
suhengnya itu sudah dimengertinya dengan baik. Namun, dia
pun tahu bahwa bagaimanapun juga, dia tidak akan dapat
membebaskan diri dari semua kerepotan batin seperti halnya
suhengnya. Suhengnya hidup sebatangkara,
bebas lepas di udara seperti seekor burung, tidak ada
ikatan sama sekali, baik lahir maupun batin. Maka, lebih
mudah bagi suhengnya untuk bebas dalam arti yang
sebenarnya. Akan tetapi
dia?
Dia menjadi ketua Siauw-lim-pai biarpun dia
mengusahakan agar batinnya bebas, bagaimana' dia dapat
terbebas dari kewajiban sebagai ketua?
Bagaimana mungkin dia diam saja mendengar laporan para
muridnya? Tidak, dia adalah manusia biasa yang masih penuh
ikatan! Dan dia tahu, selama ada ikatan, maka aku-nya masih
merajalela karena aku itulah yang terikat dan suka
mengikatkan diri, dan selama ada ikatan ini pasti hidupnya
akan selalu penuh dengan konflik, dengan kekhawatiran,
kekecewaan,kekerasan dan kedukaan. Kembali dia menghela
napas panjang. Nasib Ini juga karmanya?
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Tidak lain adalah pertentangan ya makin menjadi dengan
para penganut Agama To, Suheng.”
"Omitohud......, itu penyakit Iama kambuh kembali
namanya! Sungguh ini lebih aneh lagi. Jelas bahwa kita
adalah orang-orang beragama yang selalu menjauhi
kekerasan, permusuhan dan menghapus kebencian. Demikian
pula para penganut Agama To, pin-ceng yakin bahwa mereka
pun adalah manusia-manusia yang mencari jalan terang
melalui agamanya, ingin memperbaiki diri sendiri dan orang
lain agar menjadi manusia yang berbudi. Akan tetapi,
bagaimana sekarang antara mereka dan kita dua kelompok
beragama yang gandrung akan kedamaian dan kesejahteraan
hidup manusia, kini bahkan bermusuhan dan mengobarkan
pertentangan dan permusuhan antara mereka sendiri?"
"Sekali ini mereka keterlaluan sekali, Suheng. Melihat
betapa pihak kita menentang para pelaksana penggalian
terusan dan menentang kesewenang-wenangan para petugas
korup itu, mereka sengaja membantu para petugas itu dan
menentang kita, bahkan merekalah yang nengatakan bahwa
kita memberontak terhadap pemerintah.
Mereka itu agaknya sengaja mempergunakan
pertentang¬an antara pihak Siauw-lim-pai dan para tugas
pemerintah, untuk mengadu Domba dan memburukkan nama
Siauw-lun-pai kepada pemerintah. Bukankah hal itu berbahaya
sekali bagi kita?”
Pada saat itu, tiba-tiba terdengar Tiga orang berkelebat
memasuki ruangan itu. Mereka adalah tiga orang laki-laki yang
gagah perkasa, murid-murid Siauw-lim-pai dan begitu tiba di
ruang¬an pondok di mana dua orang hwesio tua itu bercakapcakap,
mereka segera menjatuhkan diri berlutut.
"Harap Suhu dan Supek (Uwa Guru) memaafkan teecu
bertiga kalau teecu mengganggu Ji-wi Suhu."
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Thian-cu Hwesio memandang kepada tiga orang muridnya
itu dengan alis berkerut, lalu memandang ke luar.
"Kenapa kalian sudah datang menghadap? Bukankah
pertemuan akan dimulai setelah tengah hari? Sekarang masih
terlalu pagi dan kalau para murid sudah datang berkumpul
semua, silakan mereka menununggu di ruang pertemuan.
Nanti tengah hari pinceng akan ke sana."
"Memang para Suheng sudah datang berkumpul, Suhu,
dan mereka pun sudah menanti, akan tetapi mereka tahu
bahwa Suhu baru datang membuka pertemuan setelah tengah
hari. Akan tetapi teecu bertiga memberanikan diri menghadap
bukan karena itu, melainkan untuk laporkan bahwa di bawah
bukit terjadi bentrokan besar antara banyak Suheng yang
dipimpin oleh Susiok, menghadapi sekelompok to-su. Mulamula
hanya merupakan perkelahian antara dua orang saja,
akan tetapi kawan-kawan mereka berdatangan sehingga
akhirnya Susiok sendiri bersama beberapa orang Suheng
pergi ke sana. Karena khawatir, maka teecu, setelah
berunding dengan para suheng yang masih berada di sini,
segera menghadap Suhu untuk memberi laporan."
"Omitohud .........! Tosu-tosu itu sungguh tidak tahu diri!"
kata Thian-cu Hwesio dengan marah dan dia mengepal tinju,
melihat sikap sutenya ini. Hek-bin Hwesio tersenyum.
“Sute, tenanglah dan sebaiknya kalau sute membuka saja
persidangan dengan para murid Siauw-lim-pai itu dan biar pinceng
yang akan turun dan melihat apa yang terjadi di sana."
Thian-cu Hwesio mengangguk dengan hati lega. Kalau
suhengnya itu yang maju, dia tidak khawatir lagi. Suhengnya
itu ir memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi darinya, dan
dia tahu bahwa para to-su itu bukan orang-orang yang boleh
dipandang ringan.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Baiklah, Suheng. Harap Suheng dapat mengatasi keadaan
di sana."
Hek-bin Hwesio lalu keluar dari pondok tempat tinggal
ketua Siauw-lim itu dan setelah memperoleh keterangan di
bagian mana para tosu itu bertempur melawan para murid
Siauw-lim-pai, lalu berkelebat dan lenyap dari depan para
murid Siauw-lim-pai yang memandang kagum.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Jilid 6
Dengan cepat sekali Hek-bin Hwesio berlari turun dari
Siong-san (Gunung Siong) sebelah selatan. Bagaikan terbang
saja dia menuruni bukit itu sehingga tidak lama kemudian dia
sudah sampai di kaki bukit, di mana dia melihat terjadi
pertempuran yang sengit antara belasan orang murid Siauwlim-
pai melawan belasan orang tosu. Para murid Siauw-Iim-pai
itu dipimpin oleh seorang Hwesio tua tinggi besar yang
dikenalnya sebagai Thian Gi Hwesio, yaitu sute dari Thian-cu
Hwesio yang menjadi wakil ketua Siauw-lim-pai. Biarpun
antara Hek-bin- Hwesio dan Thian-cu Hwesio, ada hubungan
persaudaraan seperguruan, namun dengan Thian Gi Hwesio,
hwesio bermuka hitam itu tidak ada hubungan perguruan
karena kalau dia satu perguruan dengan Thian-cu Hwesio
ketika menjadi murid pertapa sakti di Himalaya, sebaliknya
Thian Ci Hwesio men jadi saudara seperguruan dari Thia
Hwesio dalam perguruan Siauw-lim Karena itu, Thian Gi
Hwesio adalah orang yang ahli dalam ilmu silat Si-lim-pai dan
terutama sekali, dia ahli bermain toya dalam ilmu silat Lo-kun.
Pertempuran yang terjadi di bukit itu memang tadinya
disebab oleh perkelahian perorangan antara seorang murid
Siauw-Lim-pai melawan seorang tosu yang lewat di tempat itu.
Karena memang sudah ada permusuhan antara kedua pihak,
maka terjadilah saling mengejek yang berakhir dengan
perkelahian. Akan tetapi, teman-teman to-su itu berdatangan
dan mengeroyok. Hal ini diketahui oleh murid-murid Siauw-limpai
yang segera membantu saudara mereka, dan terjadilah
pertempuran hebat yang melibatkan belasan orang Siauw- limpai
melawan belasan orang to-su.
Karena para murid Siauw-lim-pai yang terlibat dalam
pertempuran itu adalah murid-murid kelas satu dan dipimpin
sendiri oleh Thian-Gi Hwesio, sedangkan para tosu itu pun
orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi, maka
per¬tempuran itu seru bukan main dan sung¬guhpun ketika
Hek-bin Hwesio tiba disitu belum ada yang terluka parah,
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
na¬mun kakek ini maklum bahwa kalau di¬lanjutkan tentu
kedua pihak akan menderita hebat dan jatuhnya banyak
korban di kedua pihak takkan dapat dihindarkan lagi. Dia juga
melihat betapa Thian-Gi Hwesio yang amat lihai itu
memperoleh seorang lawan yang juga amat lihai, yaitu
seorang tosu berjenggot panjang yang memainkan sepasang
pedang dengan amat baiknya. Tongkat atau toya di ta¬ngan
Thian Gi Hwesio yang digerakkan amat cepat berubah
menjadi gulungan sinar yang lebar itu saling desak dengan
gulungan sinar pedang di tangan kanannya.
Pertempuran itu sudah mem¬pergunakan senjata dan
sewaktu-waktu Musti jatuh korban kalau dia tidak se¬gera
turun tangan, pikir Hek-bin Hwesio. Dan satu-satunya usaha
terbaik untuk melerai dan mendamaikan dua pihak yang
bertentangan adalah mengundurkan pihaknya sendiri lebih
dahulu.
"Saudara-saudaraku dari Siauw-lim-pai, kuminta kepada
kalian, mundurlah dan hentikan perkelahian!" Berkata
demikian, Hek-bin Hwesio melompat ke medan pertempuran
dan menggunakan kedua tangannya untuk melakukan
dorongan-dorongan ke arah Thian-Gi Hwcsio dan para murid
Siauw-lim-pai. Dari kedua tangannya menyambar hawa yang
lembut namun amat kuatnya, membuat para murid Siauw-limpai
terkejut da terdorong mundur!
Pada saat itu, terdengar suara lembut.
"Siancai ........ , orang-orang penganut To tidak akan
menggunakan kekerasan menentang kekuasaan Alam atas
diri manusia, mundurlah kalian, Saudara-saudaraku!" Dan
sesosok bayangan pakaian putih berkelebat, seperti yang
dilakukan Hek-bin Hwesio, bayang putih ini pun mendorong ke
arah para tosu sehingga mereka terpaksa mundur. Maka,
berhentilah pertempuran mati-matian itu.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Thian Gi Hwesio dan para murid Siauw-lim-pai yang tadinya
merasa pena¬saran melihat ada orang menghalangi mereka,
ketika melihat bahwa yang menghalangi adalah hwesio tua
bermuka hitam, mereka terkejut. Biarpun baru dua kali mereka
bertemu dengan Hek-bin Hwesio, mereka semua telah
mengenalnya sebagai suheng dari ketua mereka dan memiliki
ilmu kepandaian yang amat tinggi, lebih lihai daripada ketua
mereka. Maka kemarahan Thian Gi Hwesio lenyap, berubah
menjadi keheranan dan juga penasaran mengapa suheng dari
ketua Siauwlim-
pai ini, yang biarpun bukan anggauta Siauw-lim, akan
tetapi juga seorang pendeta Buddha, melerai perkelahian itu
dan tidak membantu para murid Siauwlim-
pai!
Sementara itu, para tosu juga ter¬kejut melihat bayangan
putih yang me¬larai dan mengundurkan mereka, akan tapi
ketika mereka mengenal tosu ber¬jenggot panjang dan
berjubah putih itu, mereka pun terkejut dan segera memberi
hormat. Tosu itu memang terkenal sekali di antara para
penganut Agama To, terutama sekali di kalangan para tokoh
besarnya karena tosu itu meru¬pakan seorang datuk Agama
To yang berilmu tinggi. Nama julukannya adalah Pek I Tojin
(Penganut To Berbaju Putih). Dia amat sederhana, bahkan
julukannya hanya memakai Tojin (Penganut To) dan jelas
julukan itu hanya menunjuk pakai¬annya yang putih sebagai
identitasnya. Dia seorang pertapa di puncak Gunung Thai-san,
dan kadang-kadang merantau mengunjungi kuil-kuil Agama To
untuk bertemu dengan para ketuanya, memberi¬kan
pengarahan dalam Agama To, dan juga memberi petunjuk
dalam ilmu silat. Baik ilmu silatnya maupun ilmu
penge¬tahuannya dalam Agama To, amat luas.
Setelah kedua pihak menghentikan pertempuran, bahkan
mundur berkelompok di tempat masing-masing, dua orang
kakek itu kini saling berhadapan dalam jarak hanya dua meter.
Mereka saling pandang, keduanya tersenyum dan Hek-bin
Hwesio yang lebih dulu tertawa.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
“Ha-ha-ha......,” sungguh menyenangkan telah bertemu
dengan seorang bijaksana, apakah pin-ceng berhadapan
dengan Pek-I-Tojin."
Pek-I Tojin mengelus jenggotnya dan perlebar senyumnya.
"Sian cai ........ sudah lama mendengar nama besar Hek-bin
Hwesio dan sungguh bahagia rasa pin-to hari ini dapat
berhadapan demgan dia."
Keduanya tertawa gembira dan dua jika yang tadi saling
berkelahi dan kini berkelompok, hanya mendengarkan tanpa
mengeluarkan kata-kata. Mereka masing-masing
mengharapkan agar orang sakti-sakti itu membantu pihak
masing-masing.
"Omitohud Pek I Tojin benar-benar mengenakan pakaian
putih sesuai dengan ita julukannya!"
"Benar, dan Hek-bin Hwesio juga mempunyai muka hitam
sesuai dengan jukannya!" Kembali keduanya tertawa.
"Ha-ha-ha, kalau engkau tidak mengenakan pakaian putih,
mungkin julukanmu bukan lagi Pek I Tojin, akan tetapi, engkau
akan tetap engkau!"
"Siancai, benar sekali! Kalau rnukamu tidak hitam, mungkin
julukanmu bukan Hek-bin Hwesio, akan tetapi tentu pun
engkau tetap engkau!"
Keduanya tertawa lagi, melangkah maju dan saling
berpegang kedua tangan dengan sikap yang penuh damai!
Kata-kata yang keluar dari mulut dua orang sakti itu seperti
kelakar saja, namun sesungguhnya mengandung pernyataan
yang membuka kebenaran. Mereka itu hendak mengatakan
bahwa segala bentuk lahir belaka dan sama sekali tidak
hubungannya dengan dirinya. Boleh saja muka diubah-ubah,
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
pakaian diganti-ganti dan nama diganti-ganti pula, namun
orangnya tetap itu-itu juga, manusia yang hidup di dunia tanpa
dikehendakinya sendiri! Mereka kini saling berpegangan
tangan sambil tertawa.
"Siancai, Hek-bin Hwesio, engkau aku tiada bedanya!"
"Memang, engkau dan aku sama juga Karena itu, sungguh
menyedihkan melihat saudara-saudara kita saling hantam,
saling benci dan berusaha untuk saling bunuh. Mari kita
bicarakan baik-baik, Pek I Tojin!"
"Engkau benar sekali, Hek-bin Hwesio, mari kita duduk dan
bicara."
Keduanya lalu duduk bersila di atas tanah, saling
berhadapan dan melihat ini, kedua kelompok yang sejak tadi
berdiri melihat dan mendengarkan, ikut pula duduk di atas
tanah.
“Hek-bin Hwesio, sekarang selagi kita mempunyai
keberuntungan untuk saling bertemu, pinto harap engkau tidak
pelit dan suka memberi penerangan kepada kami para tosu
yang bodoh. Mengapa antara para penganut Agama Buddha
dan para pemeluk Agama To terdapat permusuhan?"
"Omitohud , semoga Sang Buddha mnuntun kita semua ke
jalan terang, saudaraku yang baik, Pek I Tojin, kalau menurut
apa yang pinceng lihat, segala bentuk permusuhan timbul
karena •kebodohan! Kalau permusuhan timbul antara kedua
kelompok yang beragama, .jika hal itu tentu dikarenakan
kefanatikan dan kefanatikan adalah kebodohan!
Apakah maksud kita memasuki suatu agama? Bukan lain
untuk meninggal segala macam kejahatan dan mengambil
jalan bersih dalam hidup kita. Kita dapat memulai hidup
baru,mengalami jalan kehidupan yang bersih kalau
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
meninggalkan semua kotoran dari perbuatan kita di masa lalu!
Perbuatan kotor itu termasuk perbuatan yang dasari nafsu,
termasuk kebencian, sekarang, dua kelompok orang
beragama saling bermusuhan dan saling membenci.
Bukankah ini berarti bahwa kita tidak meninggalkan jalan
kotor, melainkan meninggalkan jalan baru yang bersih kembali
ke jalan kotor? Mungkin tidak menyadari akan hal ini,
mengingat bahwa apa yang kita lakukan ini benar dengan
alasan-alasan dan pembelaan pun juga untuk membenarkan
yang salah ini, untuk membersihkan yang kotor ini. Namun,
jelas bahwa kebencian dan permusuhan adalah jalan kotor
yang salah. Kita, dalam bakaran nafsu pementingan diri
sendiri yang meluas menjadi kentingan kelompok, agama dan
lain-lain, menjadi buta dan lupa bahwa inti ajaran agama kita
masing-masing adalah mencari kedamaian dan meninggalkan
segala bentuk pertentangan! Dan kita, dengan nafsu kita,
bahkan menyeret aga¬ma ke dalam kebencian dan
permusuhan. Hal inilah yang perlu kita sadari, kita harus
membuka mata melihat kenyataan dan berani melihat
kesalahan dalam diri sendiri, bukan selalu membuka mata
melihat kesalahan orang lain, mencari-cari kesalahan orang
lain. Bagaimana Pendapat mu, Pek 1 Tojin?"
"Siancai ! Saudara-saudaraku penganut Agama To, apakah
kalian sudah mendengar semua kebenaran yang keluar dari
mulut Hek-bin Hwesio tadi?”
Kalau sudah mendengar dan mengerti,kerjakanlah! Buang
semua pertikaian dan permusuhan, lenyapkan kebencian dari
daam batin, dan kalau ada persoalan dengan pihak lain,
rundingkanlah dengan
damai, dengan musyawarah seperti yang sepatutnya
dilakukan orang-orang beragama yang taat kepada ajaran
agamanya!"
Setelah berkata demikian kepada para tosu di belakangnya,
Pek I Tojin lalu menghadap hwesio muka hitam itu lagi dan
berkata, "Hek-bin Hwesio, semua penjelasanmu tentang
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
kefanatikan yang bodoh itu memang tepat sekali. Pinto juga
melihat akan kebenaran ini Sayangnya bahwa kita mempunyai
suatu penyakit lain, yaitu selain kefanatikan juga kemunafikan.
Kita adalah oran-orang munafik! Ini pun suatu kebodohan
besar karena kita tidak sadar bahwa kita adalah orang-orang
munafik, selalu berpura-pura, tidak ada kesatuan antara
ucapan, pikiran, dan perbuatan! Kita menutupi kekotoran diri
dengan bermacam cara. Kekotoran badan kita tertutup dengan
pakaian bersih, perbuatan kalau kita ditutupi dengan alasanalasan
bersih, demi ini dan demi itu. Seorang bijaksana tidak
akan membiarkan kepicikan pikiran menguasai dirinya, tidak
membiarkan si-aku merajalela karena selagi si-aku merajalela,
maka segala perbuatan pasti berpamrih demi kepentingan
aku. Si-aku ini dapat membesar menjadi milikku, keluargaku,
kelompokku, bangsaku, agamaku dan selanjutnya. Seorang
bijaksana akan selalu waspada akan si-aku dalam dirinya
karena pikiran dan nafsu yang mencipta si-aku itulah satusatunya
musuh berbahaya selama hidupnya. Bukankah
demikian keadaannya, sahabatku Hek-bin Hwesio?"
"Omitohud......!” mendengar engkau bicara seperti
mendengar hati nurani k.ita sendiri yang bicara, sahabatku
Pek I tojin.'
Kakek bermuka hitam itu lalu menoleh kepada para murid
Siauw-Iim-pai.
“Saudara-saudaraku dari Siauw-Iim-pai, indahkah kalian
mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Pek I Tojin tadi?
Kita harus menyadari bahwa selama kita membiarkan si-aku
merajalela, maka hidup kita akan penuh keinginan. Kalau
Keinginan-keinginan si-aku dari diri kita masing-masing itu kita
kejar dalam pelaksanaan, maka akan terjadi bentrokan antara
keinginan-keinginan yang saling bertentangan. Dan bentrokan
ini menimbulkan permusuhan, dendam dan kebenci¬an.
Apakah kalian sebagai penganut Agama Buddha yang
menuntun kita arah jalan terang dan kasih sayang, mau
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
membiarkan diri kita bcrlepotan kotoran berupa benci, dendam
dan permushhan?"
Thian Gi Hwesio dan para mu Siauw-lim-pai terkejut dan
mereka pun menggeleng kepala. Percakapan antara kedua
orang sakti itu menggugah kesadaran mereka yang selama ini
dibutakan oleh nafsu kemarahan dan dendam.
"Lo-cian-pwe berdua menggugah kesadaran kami,"
demikian Thian Gi Hw sio berkata, suaranya lantang dan
tegas, sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar.
"Kami menyadari kesalahan kami dan mulai detik ini akan
berusaha kembali ke jalan benar yang terang. Akan tetapi,
hendaknya ji-wi Lo-cian-pwe melihat kenyataan bahwa para
murid Siauw-lim-pai menuruti bisikan jiwa untuk membela
rakyat jelata yang tertindas oleh adanya kerja-paksa sehingga
banyak jatuh korban. Apakah menurut Ji wi Lo-cian-pwe (Dua
Orang Tua Gagah) kita harus tinggal diam saja melihat betapa
rakyat jelata yang sudah serba kekurangan hidupnya itu kini
diperas, ditekan dan dijadikan korban kekejaman para
petugas? Melihat orang lain menderita dan kita diam
berpangku tangan saja bukankah itu merupakan suatu dosa
yang besar pula? Apalagi bagi seorang pendekar, pantaskah
dia disebut pendekar kalau tidak turun tangan menolong?"
Mendengar ucapan wakil ketua Siauw-iim- pai itu, para
murid Siauw-lim-pai mengangguk tanda setuju karena mereka
pun menjadi bingung dan sangsi karena ada¬nya kenyataan
itu. Tiba-tiba tosu jenggot panjang yang pandai menggunakan
pedang dan yang tadi menjadi lawan tangguh Thian Gi
Hwesio, berseru dengan lantang pula.
"Siancai ,bukan maksud pin-to untuk membantah siapa
pun. Pinto dan para murid juga mengerti akan kebenarkebenaran
yang tadi diucapkan oleh dua orang Lo-cian-pwe,
akan tetapi, ada kenyataan lain yang membuat kami merasa
bingung. Bagaimanapun juga, kita semua adalah orang-orang
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
yang berne¬gara, dan negara mempunyai pemerintah yang
patut dipatuhi dan dibela karena tanda adanya pemerintah,
kehidupan rakyat jelata akan menjadi kacau balau rusak,
tanpa ada ketertiban lagi. Dan kita melihat betapa usaha
pemerintah menggali terusan yang menghubungi Huang-ho
dan Yang-ce-kiang adalah suatu usaha yang amat baik,
walaupun merupakan pekerjaan besar yang amat sukar dan
berat. Kalau usaha itu sudah jadi, maka rakyat pulalah yang
akan menikmati hasilnya. Kemudian, kita melihat betapa ada
golongan yang menentang kebijaksanaan pemerintah itu.
Kami sebagai rakyat yang baik, tentu tidak mendiamkan hal ini
terjadi kami bangkit untuk membantu pemeritah, menentang
mereka yang hendak menghalangi pekerjaan besar itu.
Nah,demikianlah keadaannya sehingga timbul bentrokanbentrokan,
maka bagaimaa baiknya, harap Ji-wi Lo-cian-pwe
sudi memberi petunjuk kepada kami."
Hek-bin Hwesio dan Pek I Tojin saling pandang, kemudian
tiba-tiba keduanya tertawa bergelak.
"Pek I Tojin, apakah engkau melihat kelucuan ini?" tanya
Hek-bin Hwesio.
Tosu tua itu mengangguk.
"Ya, aku melihatnya. Sama, tapi tidak serupa, serupa, tapi
tidak sama!"
"Ha-ha-ha, memang lucu. Beginilah jadinya kalau orang
menjadi buta oleh berkilauannya tujuan. Semua tujuan itu baik,
semua cita-cita itu baik, tentu saja. Mana ada cita-cita yang
buruk? ikan tetapi orang terlalu memperhatikan dan
mementingkan tujuannya sehingga tidak melihat lagi apakah
pelaksanaan untuk mencapai tujuan itu benar atau tidak!
Para hwesio mempunyai tujuan untuk melindungi rakyat,
sebaliknya para to-su juga ingin membela pemerintah demi
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
kebaikan rakyat! Keduanya jelas mempunyai tujuan yang baik.
Akan tetapi mengapa mereka sampai bermusuhan walaupun
mempunyai tujuan yang sama, yaitu demi kebaikan rakyat?
Karena cara Mereka untuk melaksanakan tujuan itu yang
berbeda, bahkan bertentangan! Kali nn lupa bahwa yang
terpenting bukanlah tujuannya, melainkan caranya,
pelaksanaannya!
Pelaksanaan inilah perbuatan, inilah kehidupan, sedangkan
cita-cita dan tujuan itu hanyalah khayalan belaka. Yang harus
diperhatikan justeru pelaksan ini, justeru cara yang melahirkan
perbuatan ini. Apapun tujuannya betapa luhur cita-citanya,
kalau dilaksanakan dengan cara yang tidak benar, akhirnya
akan melahirkan hal yang tidak benar pula! Nah, sekarang
kalian sudah melihat bahwa tujuan kalian sama, mengapa
tidak mencari persamaan pula dalam cara melaksanakannya?"
Kedua pihak yang mendengarkan menjadi tertarik dan
semakin tergugah kesadaran mereka.
"Siancai ....., memang Hek-bin Hwesio hanya mukanya
saja, hanya kulitnya saja yang hitam! Akan tetapi isinya
alangkah putih bersihnya! Nah, kalian semua sudah
mendengar dan pinto akan merasa heran kalau belum juga
terbuka mata batin kalian. Mata batin baru dapat terbuka kalau
batin itu sendiri bebas 'dari segala bentuk kotoran, dan batin
bersih dan bebas kalau di situ sudah tidak ada lagi penonjolan
si-aku dengan segala dendam kebenciannya, iri hatinya,
kecewaannya, harapan-harapannya kekuasaannya, dan
segala macam kepentingan diri sendiri. Nah, marilah mulai
detik ini kita buang jauh-jauh segala rasa dendam dan
kebencian, seolah-olah semua itu telah mati dan kita hidup ba
ru dengan segala kebersihan dan kebebas-batin!"
Kini semua orang dari kedua pihak itu bangkit dan saling
menghampiri, tanpa diberi contoh lagi, dengan spontan
mereka saling memberi hormat, saling memberi maaf dan
saling mengaku salah, dipelopori oleh Thian Gi Hwesio dan
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
tosu berjenggot yang tadi menjadi lawannya. Melihat ini, Pek I
Tojin dan Hek-bin Hwesio menjadi girang sekali dan mereka
berdua lalu saling bergantian memberi wejangan-wejangan
kepada lebih dari tiga puluh orang itu.
Hidup adalah belajar. Belajar adalah hidup. Mempelajari isi
kehidupan ini tidak seperti mempelajari suatu ilmu
pe¬ngetahuan yang harus dihafaldan ulang-ulang. Hidup
bukanlah suatu perulangan sehari-hari. Hidup seperti sungai
mengalir, seperti awan berger diangkasa, setiap saat berubah,
setiap detik berbeda. Tidak mungkin mengambarkan
kehidupan sebagai sesuatu yang mati, sesuatu yang mandek.
Mempelajari hidup berlaku selama hidup sendiri. Dengan
membuka mata. Dengan pengamatan yang penuh
kewaspadaan, penuh perhatian. Bukan dengan menjiplak
pelajaran yang sudah ada, karena penjiplakan adalah
pemaksaan dan karenanya palsu, betapapun baik nampaknya.
Dan yang palsu itu, betapapun indah kelihatannya, tetap saja
palsu dan karenanya tidak wajar lagi, tidak bersih lagi
Kebaikan tidak mungkin dapat dipelajari, tidak mungkin dapat
dihafalkan. Kebaikan yang dipelajari dan dihafalkan, hanyalah
suatu kemunafikan suatu kepalsuan karena kebaikan perti itu
pasti berpamrih.Dan pamrih ingin baik, dan kalau yang ingin
baik itu si-aku, sudah pasti karena si-aku melihat suatu
keuntungan dalam kebaikan itu! Si-aku ini tidak mungkin dapat
bernuat tanpa pamrih demi keuntungan diri sendiri, betapapun
kadang-kadang pamrih itu diselundupkan, disusupkan,
disembunyikan dan diberi pakaian dan sebutan macammacam.
Tetap saja pamrih, tetap saja akhirnya demi
kepen¬ingan si-aku. Amat cerdiklah si-aku ini sengga kadangkadang
Sang pamrih dapat disulap sedemikian rupa sehingga
titak nampak sebagai pamrih lagi. Akan rapi, disulap
bagaimanapun juga, tetap perbuatan yang didorong oleh sia
¬ku, sudah pasti berpamrih. Perbuatan baru bebas dari siaku,
bersih dari pamrih, kalau perbuatan itu didasari cinta
kasih, didorong bukan oleh nafsu, pikiran atau si-aku,
melainkan terdorong oleh getaran perasaan yang tersentuh,
oleh iba hati, oleh keharuan dan cinta kasih, dan cinta kasih
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
bukan lagi cinta kalau sudah ada si-aku bercokol di situ,
karena yang disangka cinta kasih itu hanyalah cinta kasih
birahi semata, cinta nafsu yang selalu mengharapkan balas
jasa demi kepentingan, kebaikan kesenangan diri sendiri pada
akhirnya.
Waktu berjalan cepat sekali kalau tidak diperhatikan.
Mereka yang sedang mendengarkan uraian kata-kata penuh
wejangan penting dari dua orang sakti itu pun lupa akan
waktu.
Matahari mulai condong ke barat ketika tiba-tiba muncul
seorang murid Siauw-lim-pai berlari-larian.
"Su-siok celaka .......! Siauw-lim-pai diserbu pasukan
pemerintah!" demikian kata mereka kepada Thian Gi Hwesio.
Tentu Thian Gi Hwesio dan para murid Sia lim-pai terkejut
sekali dan mereka baru ingat bahwa pada tengah hari, Siauw-
Iim-si akan diadakan pertempuran antara para murid Siauwlim-
pai untuk membicarakan tentang penderitaan rakyat jelata
berhubung dengan digali terusan itu. Dan mereka semua
begitu tertarik oleh wejangan kedua orang kek sakti itu
sehingga lupa waktu kini tiba-tiba dikejutkan dengan berita
bahwa Siauw-lim-si diserbu oleh pas pemerintah!
"Ji-wi Lo-cian-pwe, maafkan kami!" kata Thian Gi Hwesio
dan dia cepat bangkit dan meloncat lari mendaki bu¬kit, diikuti
oleh belasan orang murid Siauw-lim-pai.
"Siancai ! Kita harus membantu para sahabat dari Siauwlim-
si kalau mere¬ka terancam bahaya!" kata tosu berjenggot
panjang dan dia pun meloncat dan lari diikuti belasan orang
tosu lainnya.
Melihat ini, Pek I Tojin dan Hek-I n Hwesio menarik napas
panjang dan saling pandang, kemudian Hek-bin Hwe-i
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
berkata, "Omitohud, segala sesuatu telah digariskan menurut
Karma, dan manusia takkan dapat terlepas dari kar¬manya."
"Yang penting adalah saat ini. Kemairin sudah berlalu dan
biarkan ber¬lalu. Esok hanyalah bayangan dan biarkan esok
datang seperti apa adanya. Saat Ini yang penting, dan apa pun
yang ter¬jadi saat ini, itulah yang harus kita hadapi dengan
penuh kewaspadaan yang akan menimbulkan kebijaksanaan,"
kata Pek I Tojin.
"Benar sekali, To-tiang. Mari kita lihat apa yang terjadi di
sana." Katanya lalu bangkit dan mendaki bukit itu. Ketika
mereka melihat asap mengepul puncak bukit, keduanya
berhenti memandang dengan alis berkerut.
"Hemmm, terjadi kebakaran di sana kata Pek I Tojin.
"Omitohud haruskah sampai begitu?" Hek-bin Hwesio
berkata seperti bertanya kepada diri sendiri. Mereka lalu
berlari dengan cepat mend bukit menuju ke Siauw-hm-si.
Apakah yang telah terjadi di Sia lim-si, di vihara yang
megah dan biasanya amat sunyi penuh kedamaian itu, Seperti
kita ketahui, Thian-cu Hwesl ketua Siauw-lim-pai pada saat itu
dangan mempersiapkan pertemuan dengan para murid Siauwlim-
pai yang tinggal luar kuil, satu dan lain untuk
membicarakan tentang pertentangan antara para murid Siauwlim-
pai dan petugas pengumpulan tenaga untuk bekerja
proyek besar penggalian terusan.
Thian-cu Hwesio adalah seorang yang berwatak keras
berdisiplin. Memang watak seperti ini dibutuhkan seorang
ketua yang memimpin banyak murid. Tanpa disiplin, maka
tidak akan ada ketertiban, walaupun disiplin ini mengandung
kerasaan pula. Disiplin yang dipaksa-ii pihak lain, apalagi
disiplin yang me¬lindung ancaman hukuman, pasti
mendatangkan konflik. Berbeda dengan dsisiplin diri, disiplin
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
yang timbul karena kebijaksanaan, karena pengertian
mendalam dari kewaspadaan. Disiplin diri memang perlu,
mutlak perlu bagi kehidupan bermasyarakat dan berkeluarga.
Ketika mendengar laporan dari para idnya tentang
kekejaman para petugas terhadap rakyat jelata, betapa nyak
rakyat harus melarikan diri mengungsi agar jangan sampai
diambil secara paksa oleh para petugas yang diperkuat oleh
pasukan pemerintah, betapa isteri dan anak-anak ditinggal
suami, orang-orang tua yang membutuhkan pelayanan
ditinggal putera-putera mereka, betapa para pekerja disuruh
bekerja siang-malam, diperlakukan sebagai para hukuman
yang melaksanakan kerja-paksa, mendengar semua ini,
Thian-cu Hwesio merjadi marah.
Akan tetapi, selagi mendengar laporan seorang demi
seorang dari banyak murid itu, tiba-tiba masuk seorang murid
penjaga yang dengan muka pucat melaporkan bahwa ada
pasukan pemerint datang menuju ke Siauw-lim-si!
Men¬dengar ini, para murid Siauw-lim-pai menjadi kaget dan
bersiap-siap, akan tetapi Thian-cu Hwesio memperingatkan
mereka agar jangan melakukan kekerasan.
"Ingat, tanpa perintahku, tidak boleh ada yang melawan
pasukan pemerintah, demikian katanya. "Pinceng sendiri ak
menemui komandan pasukan dan bica ra dengan dia.
Bagaimanapun juga, kita membela rakyat sebagai pendekar,
bukan sebagai pemberontak. Kita buka pemberontak, karena
itu, jangan ada yang menyerang pasukan itu kalau mer ka
datang ke sini!"
Biarpun merasa khawatir sekali, para pendekar Siauw-limpai
itu menyatatakan taat kepada pemimpin mereka. "Dan
ingat, mereka yang pernah bentrok degan para petugas dan
dikenal, sebaik-bersembunyi di dalam saja dan jangan
memperlihatkan diri agar tidak menimbulkan keributan." pesan
pula Thian-cu Hwesio sebelum dia keluar dari ruangan
pertemuan itu, menuju ke ruangan depan.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Ternyata laporan murid itu benar, sebuah pasukan yang
terdiri dari kurang lebih lima ratus orang telah menge¬pung
vihara Siauw-lim, dan kini rombongan perwira yang memimpin
pasukan sudah turun dari atas punggung kuda mereka dan
menuju ke pintu gerbang, Yang mengepalai mereka adalah
seorang panglima berusia lima puluhan tahun, pakaian gagah
gemerlapan, bersikap acuuh dan dengan pedang tergantung
di pinggang dia melangkah menuju ke pintu gerbang, diikuti
oleh belasan orang perwira pembantu. Beberapa orang
pengawalnya memegang bendera dan tanda ngkatnya.
Panglima ini bukan orang asing ba gi para murid Siauw-lim
pai. Dia adalah Ciong Hak Ki, seorang panglima yang sudah
seringkah berkunjung ke Siauw- lim-si, baik sebagai utusan
pemerintah atau sebagai tamu dari ketua Siauw-lim-pai. Akan
tetapi sekarang sikapnya tidak seperti seorang sahabat atau
seorang tamu yang baik. Dia kelihatan marah, congkak,
bahkan ketika para penjaga pintu gerbang memberi hormat,
dia dak menanggapi, melainkan dengan angkuhnya terus
melangkah masuk mela pintu gerbang yang sudah dibuka,
diiringi belasan orang pembantunya yaitu rata-rata memasang
wajah yang kaku dan keras.
Ketika rombongan perwira ini tiba serambi depan, mereka
berhenti karena melihat Thian-cu Hwesio yang mengenakan
pakaian ketua Siauw-lim-pai lengkap, dengan jubah berwarna
kuning berkotak-kotak merah, dan tongkat ketua di tangan,
telah berdiri menyambut di ruangan depan itu ditemani para
hwesio pembantunya dan murid-murid kepala yang sebagian
besar adalah para hwesio yan sudah tinggi ilmunya. Para
murid yang berdatangan dari luar vihara, ti¬dak
memperlihatkan diri. Jumlah para Hwesio, dari para pimpinan
sampai dengan para petugas rendahan, semua ada kurang
lebih lima puluh orang. Akan tapi, yang kini berada diluar kuil
bersama Thian-cu Hwesio untuk meng¬hadapi para tosu ada
belasan orang sehingga yang berada di kuil tinggal tiga puluh
orang lebih. Para murid yang berdatangan dari luar kuil
berjumlah dua puluh orang lebih sehingga pada saat itu,
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
jumlah murid Siauw-lim-pai yang berada di kuil kurang lebih
enam puluh orang.
Melihat ketua Siauw-lim-pai sudah berdiri menyambutnya,
bersama murid-murid Siauw-lim-pai, Ciong Hap Ki atau Ciong
Ciangkun (Perwira Ciong), me¬mandang tajam. Matanya
mengerling kekanan kiri mencari-cari, seolah-olah dia hendak
mencari orang-orang yang bersembunyi di dalam kuil.
Sementara itu, Thian-cu Hwesio dapat melihat betapa sikap
Ciong Ciangkun tidak bersahabat, maka dia pun mendahului
dengan angkat kedua tangan memberi hormat dan berkata,
suaranya halus.
"Omitohud selamat datang, Ciong Ciangkun. Kunjungan
Ciangkun sekali ini mengejutkan, tiba-tiba dan membawa
pasukan. Ada urusan apakah gerangan, Ciangkun?"
Ciong Hap Ki adalah panglima sudah terkenal pandai
dalam ilmu pe rang dan ilmu silat. Karena dia seorang ahli silat
yang pandai, maka dia bersahabat dengan ketua Siauw-lim.
Akan tetapi dia pun seorang yang berwatak keras, sesuai
dengan kedudukannya sebagai panglima perang yang selalu
dihadapkan kekerasan. Karena dia sudah berprasangka buruk
dan memandangi Siauw-lim-pai pada saat itu sebagai lawan
dan musuh, sikapnya pun nampak keras. Lenyap semua
keramahannya yang terhadap sahabatnya itu.
"Lo-suhu," katanya, suaranya lantang dan mengandung
kekerasan. "Pelukah lagi berpura-pura? Sudah berbulanbulan
lamanya Siauw lim-si memperlihatkan sikap
bermusuhan, bahkan akhir-akhir ini para murid Siauw-lim-pai
bertindak sebagai musuh! Apakah Lo-suhu hendak
menyangkal dan kini berpu-pura tanya lagi apa maksud
kedatanganku dengan pasukan?"
"Omitohud, Ciong Ciangkun. Belum pernah-pihak Siauwlim-
pai mempunyai sedikit pun maksud untuk melawan
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
pemerintah. Harap Ciangkun jelaskan, dalam hal bagaimana
Ciangkun menganggap kami bertindak sebagai musuh?"
“Thian-cu Hwesio!" Ciong Ciang membentak, suaranya
menggelegar,
"Engkau telah membiarkan murid-murid menentang
pemerintah, bahkan menggunakan kekerasan membunuh
banyak pasukan pengawal para petugas y ang melaksanakan
pekerjaan galian terusan. Apakah engkau hendak menyangkal
itu? Siauw-lim-pai hendak memberontakl Betapa rendahnya
budi orang-orang yang tidak ingat akan kebaikan orang.
Bukankah vihara Siauw-lim-pai dibangun karena bantuan
pemerintah pula? sekarang, Siauw-lim-pai hendak menentang
pemerintah, hendak memberontak?"
"Omitohud .... harap Ciangkun suka bersikap sabar dan
tenang. Ciangkun sudah cukup mengenal kami, apakah kami
orang-orang yang berjiwa pemberontak terhadap pemerintah?
Sama sekali tidak Mungkin. Kami tidak memberontak, tidak
menentang pemerintah.Yang dilakukan oleh anak murid
Siauw-lim-pai hanyalah suatu kewajaran saja, melihat rakyat
yang ditekan dan dipaksa harus kerja tanpa perhitungan,
tanpa perikemanusiaan. Siauw-lim-pai menentang dasan,
bukan menentang pemerintah!”
"Akan tetapi melawan para petugas pemerintah berarti
melawan pemerintah! Itulah," tidak perlu banyak cakap lagi.
Kami tahu bahwa para pemberontak itu, yang telah menentang
pemerintah dan lakukan pembunuhan terhadap banyak tugas
pemerintah, kini bersembunyi di kuil! Thian-cu Hwesio, kami
masih memandang muka para pimpinan Siauw-lim-si yang
tidak berdosa. Keluarkan semua pemberontak yang
bersembunyi itu untuk kami tangkap, dan para anggauta
Siauw-Iim-pai yang lain akan dibiar tinggal di vihara seperti
biasa, tidak akan kami ganggu. Kami hanya akan menangkap
mereka yang menentang pemerintah!"
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Thian-cu Hwesio mengerutkan alisnya. Dia tahu siapa yang
dimaksudkan oleh panglima itu. Tentu para murid Siauw-limpai
yang berdatangan tadi. Agaknya panglima itu telah
mempunyai mata-mata yang melapor akan kedatangan para
murid Siauw-lim-pai dari itu.
"Ciong Ciangkun, pinceng tidak lihat adanya seorang pun
pemberontak kuil ini. Ciangkun mendapatkan keterangan
palsu. Tidak ada pemberontak di dalam kuil kami!"
"Bohong! Harap engkau tidak membela para pemberontak
itu, Lo-suhu kalau kau ingin melihat vihara ini selamat!"
"Pinceng tidak berbohong, Ciangkun Memang tidak ada
seorang pun pemberontak di dalam kuil ini!"
Ciong Ciangkun terbelalak. Hwesio tua itu tidak mungkin
berbohong, pikirnya. Dia mengenal benar Thian-cu Hwesio
dan yakin bahwa ketua Siauw-lim-pai itu tidak mungkin bicara
bohong, maka dia pun menoleh kepada seseorang yang ikut
dengan rombongan perwira masuk. Orang ini bukan seorang
perwira, melainkan seorang yang berpakaian seper¬ti
pendeta, seorang tosu! Ketika melihat perwira tinggi itu
memandang ke¬nanya, orang itu lalu maju ke depan suaranya
lantang ketika telunjuknya menuding kearah Thian-cu Hwesio.
"Thian-cu Hwesio, sungguh tidak pantas sekali engkau,
sebagai seorang ketua yang berkedudukan tinggi, masih
hendak melindungi kaum pemberontak dan bicara bohong!
Pinto melihat dengan mata kepala sendiri bahwa para
pemberontak itu memasuki kuil sejak pagi tadi, dan engkau
berani mengatakan bahwa di dalam kuil tidak ada
pemberontak?”
Thian-cu Hwesio memandang kepada Tosu itu dan sinar
matanya seperti mencorong. "Omitohud....... , kiranya ada
ularnya di bawah rumput! To-tiang, siapapun juga adanya
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
engkau, pinceng jelaskan sekali lagi bahwa di dalam kuil ini
tidak pemberontak dan tidak ada penjilat!"
Wajah tosu itu berubah merah ka na dia merasa disindir
dengan sebutan penjilat. "Siancai .....! Sungguh seorang
Hwesio yang sudah tua akan tetapi , pandai berdusta. Thiancu
Hwesio, kalau memang engkau tidak berbohong, beranikah
engkau bersumpah bahwa di dalam kuil ini tidak ada
pemberontak bersembunyi?"
"Ucapan seorang hwesio tidak pernah berbohong.Tidak
perlu bersumpah akan tetapi pinceng menyatakan sekali lagi
bahwa di dalam kuil ini tidak seorang pun pemberontak!"
"Thian-cu Hwesio!" Tosu itu kini berseru marah. "Siauw-limpai
sungguh dak mengenal budi! Dibaiki oleh pemerintah
malah kini menentang pemerintah. Begitukah pelajaran
agamamu? Tidak mengenal budi orang?"
“Totiang, dengarlah baik-baik.Dalam pelajaran kami, tidak
ada sebutan hutang budi! Kalau ada murid kami yang
menentang, jelas bahwa yang ditentangnya itu adalah orangorang
yang tidak benar! Siapa pun dia, biar yang pernah
melepas budi sekalipun, kalau bertindak jahat tentu akan
ditentang oleh murid-murid kami. Seorang yang berhutang
budi lalu membantu penolongnya itu melakukan kejahatan,
jelas bukan orang baik, hanya seorang penjilat yang
berbahaya. Kami tidak biasa begitu! Kami tidak ingin
melibatkan diri dalam karma dengan hutang piutang budi dan
dendam!"
"Ciong Ciangkun, sudahlah, tidak perlu ¬banyak cakap lagi
dengan pendeta tua yang pandai berbohong ini. Lebih baik
lakukan penggeledahan ke dalam kuil. Pinto yakin mereka
berada di dalam. Kalau sampai pinto berbohong dan mereka
berada di dalam, kepala pinto menjadi penggantinya!"
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Mendengar ucapan tosu itu, Ciong Ciangkun kembali
bersemangat. Dia pun melangkah maju dan dengan nada
meng¬ancam dia berkata kepada Thian-cu Hwesio, "Lo-suhu,
sekali lagi kuperingatkan kepadamu agar menyerahkan para
pemberontak itu baik-baik kepadaku. Engkau dengarlah, Losuhu.
Lihat ini, datang atas nama pemerintah, atas nama
Kaisar!
Aku telah mendapat perint untuk menangkap para
pemberontak! Aku datang bukan atas namaku sendi
melainkan sebagai wakil pemerintah, wakil yang menjunjung
perintah Kaisar sendiri!" Dia memperlihatkan leng-ho (bendera
perintah kaisar) kepada Thian-cu Hwesio yang diam-diam
menjadi tekejut sekali. Kalau kaisar yang memberi perintah,
berarti hancurlah Siauw-lim-si! Akan tetapi, bagaimana
mungkin menyerahkan para murid Siauw-lim sebagai
pemberontak? Dan dia tidak pernah berbohong. Dalam
pandangan para murid itu bukan pemberontak! Mereka
menentang para petugas yang menindas rakyat, bukan berarti
memberontak kepada pemerintah untuk menggulingkan Kaisar
dan merampas kedudukan!
Biarpun wajahnya berubah pucat dan dia cepat memberi
hormat kepada bendera tanda kekuasaan yang diberikan
Kaisar itu, dia menggeleng kepala.
"Maaf, Ciong Ciangkun, di dalam ku¬il ini tidak ada
pemberontaknya, tidak ada seorang pun pemberontak di
antara kami!"
Tosu itu tiba-tiba berteriak. "Hwesoi tua, jangan
mengelabuhi kami! Pa¬ra pemberontak itu adalah murid-murid
Siauw-lim-pai yang datang pagi hari ta¬li dan kini berada di
dalam kuil! Hayo katakan bahwa tidak ada murid-murid Siauwlim-
pai yang bukan hwesio di da¬lam kuil!" Tosu ini memang
cerdik dan dia mengerti mengapa ketua Siauw-lim-pai yang
tidak pernah berbohong itu berani berkukuh mengatakan
bahwa tidak ada pemberontak di dalam kuil. Tentu saja, ketua
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
itu tidak menganggap para murridnya pemberontak maka dia
berani berkata demikian.
Kini Thian-cu Hwesio yang menundukkan mukanya.
"Omitohud......., tentu saja ada murid-murid kami di dalam kuil,
akan te¬pi mereka bukan pemberontak."
Ciong Ciangkun juga baru menyadari, maka dia pun
melangkah maju lagi makin dekat. "Losuhu, minggirlah biarkan
kami masuk untuk melakui penggeledahan dan penangkapan!"
Dan memberi isarat ke belakang dan masuklah pasukannya ke
dalam sehingga memenuhi pekarangan depan dan bagian
depan serambi itu, mereka siap dengan senjata mereka.
Tahulah Thian-cu Hwesio bahwa saat terakhir telah tiba di
mana dia harus mengambil keputusan, yaitu meryerahkan
para muridnya untuk ditangkap sebagai pemberontak, atau
mempertahankan kehormatan Siauw-lim-pai yang hendak
dilanggar. Kini Ciong Ciangkun para pembantunya sudah
bergerak melangkah maju, agaknya hendak memaksa
memasuki kuil.
"Tahan !" bentak Thian-cu Hwesio'
"Ciong Ciangkun menghentikan langkahnya, lalu
membentak,
"Thian-cu Hj sio, apakah engkau hendak melawan utusan
Kaisar dan menjadi pemberontak pula?”
Wajah Thian-cu Hwesio kini menjadi merah sekali, matanya
mencorong ketika dia berkata, "Ciong Ciangkun, engkau tentu
tahu bahwa pinceng dan seluruh murid Siauw-lim-pai bukanlah
pemberontak. Kalau andaikata ada di antara Mur id pinceng
yang melawan petugas pemerintah, itu bukan berarti melawan
pemerintah, melainkan karena Si petugas ng bertindak
sewenang-wenang ter¬hadap rakyat dengan mengandalkan
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
kekuasaan yang ada padanya! Memang ada murid-murid
Siauw-lim-pai yang berada dalam kuil, akan tetapi sama sekali
bukan pemberontak. Vihara kami adalah tempat ibadah yang
suci, tidak dapat di masuki sembarang orang saja. Oleh
karena itu, sesuai dengan peraturan vihara pinceng melarang
siapapun juga untuk memasukinya."
"Thian-cu Hwesio, ingat, kami adalah petugas yang
mewakili pemerintah, membawa perintah Kaisar! Kami akan
menggeledah ke dalam kuil!"
“Maaf, pinceng melarangnya!" kata Thian-cu Hwesio.
"Bagus! Itu namanya pemberontak. Kalau kami memaksa
masuk, engkau akan menyerang kami?"
Para murid Siauw-lim-pai sudah loncatan dan berbaris
melintang, menutup jalan masuk dan sikap mereka sudah
jelas. Mereka akan mempertahankan vihara mereka matimatian,
kalau perlu dengan pertumpahan darah, tetapi Thiancu
Hwesio membentak 5 muridnya.
"Kalian mundur!"
Mendegar bentakan ini, para murid terkejut terpaksa
mereka mundur, walaupun mereka merasa penasaran
mengapa ketua mereka menahan mereka dan menyatakan
mundur. Bukankah sudah jelas bahwa panglima kerajaan itu
mempunyai buruk terhadap Siauw-lim-pai?
Dengan sikap tenang, Thian-cu Hwesio menghadapi para
perwira itu, lalu berkata kepada seorang murid dibelakang
"Ambilkan seguci minyak bakar!"
Biarpun murid itu merasa heran tidak mengerti, namun dia
cepat mentaati perintah gurunya dan tak lama kemudian,
Thian-cu Hwesio menerima guci minyak itu. Tanpa ragu lagi,
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
dia menyiramkan minyak ke atas kepalanya sehingga minyak
membasahi seluruh tubuhnya dari kepala sampai ke kaki.
"Ciong Ciangkun, pin-ceng bukan pemberontak, juga
semua murid Siauw-lim-Si bukan pemberontak. Biarpun
pemerintah telah membantu kami dengan pemnangunan kuil
ini, namun seluruh vihara ini adalah milik kami dan menjadi
hak kami. Oleh karena itu, sekali lagi pin-ceng minta agar
Ciangkun dan semua pasukan meninggalkan tempat ini, dan
Pin-ceng akan menghadap Sribaginda Kaisar di kotaraja untuk
menerima keputusan beliau. Akan tetapi kalau Ciangkun
berkeras hendak melanggar hak kami dan memasuki vihara,
apalagi menangkap murid-murid Siauw-lim-pai, terpaksa kami
melarangnya."
"Kami membawa surat perintah, membawa kekuasaan dari
Kaisar! Biarpun kalian melarang, kami akan tetap masuk dan
menangkapi para pemberontak!" kata Ciong Ciangkun.
"Kalau begitu, pinceng akan membakar diri untuk
memprotes tindakan Ciangkun, dan untuk menyatakan bahwa
kami sungguh bukan pemberontak."
"Ha, silakan!" kata Ciong Ciangkun sudah marah karena dia
merasa yakinbahwa orang-orang Siauw-lim-pai
itupemberontak dan menentang kebijaksai pemerintah
membuat terusan yang me rupakan pekerjaan besar dan
penting itu.
Thian-cu Hwesio berseru lirih, "Omitohud........ " lalu
mulutnya berkemak-kemik membaca doa dan tongkatnya dia
pukulkan dengan kerasnya ke atas lantai depan kakinya.
Pukulan itu sedemikian kerasnya sehingga mengeluarkan bara
api yang menyambar kaki pendeta yangbasah oleh minyak
bakar. Seketika api bernyala dan dengan cepatnya lidah api
menjilat ke atas dan berkobar-kobar.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Suhuuuuu !" Beberapa orang mirid kepala Siauw-lim-pai
terkejut dan berloncatan ke depan untuk menyelamatkan guru
mereka, akan tetapi Thian Hwesio yang masih berdiri tegak
berseru dengan suara nyaring.
"Berhenti! Biarkan pinceng menjadi korban demi kebersihan
nama Siauw-Lim-Si. Akan tetapi ingat pesan pinceng. Para
Murid Siauw-lim-pai selamanya bukanlah pemberontakpemberontak,
melainkan para Pendekar yang selalu
menentang kejahatan menjadi pelindung rakyat tertindas!"
“Setelah berkata demikian, Thian-cu Hwehio roboh dan
tubuhnya terus terbakar sampai hangus. Sementara itu,Ciong
Ciangkun sudah memberi aba-aba Kepada pasukannya untuk
menyerbu ke dalam. Melihat ini,para murid Siauw-Lim-pai
berloncatan menghadang.
"Ha, jadi kalianbenar hendak me¬lawandan
memberontak?" bentak perwira itu.
“Tidak, kami mempertahankan hak kami!"
Ciong Ciangkun memberi isarat dan pasukannya lalu
menyerang, disambut oleh para murid Siauw-lim-pai sehingga
terjadilah pertempuran yang hebat di ruangan depan vihara
Siauw-lim-si. Disaksikan api yang masih bernyala-nyala
membakar tubuh Thian-cu Hwesio, para murid Siauw-lim-pai
mengamuk. Juga murid bukan pendeta yang tadi bersembunyi
di dalam, ketika mendengar bahwa guru mereka membakar
diri' kini pasukan menyerbu dan bertempur melawan para
saudara mereka yang ada diluar, kini berlarian keluar terjun
kedalam medan pertempuran sehingga pertempuran menjadi
semakin sengit.
Seorang di antara para murid kepala yang bukan hwesio itu
bernama Lie Koan-Tek, seorang pendekar gagah perkasa
berasal dari Hok-kian. Dia memiliki pandaian tinggi karena
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
sudah menguasai semua ilmu dari Siauw-lim-pai dan
merupakan seorang di antara para pendekar yang membela
rakyat yang di paksa untuk bekerja rodi di proyek penggalian
terusan, bahkan oleh para murid Siauw-lim-pai lainnya dia
dianggap seorang suheng yang dipercaya kepemimpinannya.
Sejak tadi, Lie Koan Tek yang usianya sudah mendekati
empat puluh tahun itu mengintai ke luar dan dia lihat semua
yang telah terjadi. Karena itu, begitu dia dan teman-temannya
menyerbu keluar, dia lalu menerjang orang yang agaknya
menjadi mata-mata pasukan pemerintah. Dengan geramnya
dia menyerang tosu itu dengan senjatanya yang, tadinya
melilit pinggangnya, yaitu sebatang rantai baja.
Tosu kurus kering yang giginya ompongg di bagian
depannya itu adalah Cun-bin Tosu, seorang tosu yang
memang di¬gunakan oleh para tosu yang memu¬suhi Siauwlim-
si untuk menjadi mata-mata Ciong Ciangkun. Melihat
seorang pria gagah perkasa menyerangnya dengan rantai
baja, Cun Bin Tosu yang juga memiliki kepandaian tinggi itu
menyambut dengan pedangnya.
"Tranggg !" Bunga api berpijar ketika rantai bertemu
pedang, dan keduanya merasa betapa lengan tangan mereka
tergetar hebat. Namun Lie Koan Tek menyerang terus dengan
semakin dahsyat sehingga terpaksa tosu itu pun memutar
pedang melindungi diri dan balas menyerang. Terjadilah
perkelahian yang sangat sengit antara kedua orang ini.
Ciong Ciangkun sendiri sudah memimpin para perwira
pembantunya yang rata-rata memiliki ilmu silat tinggi, untuk
menyerang para murid Siauw-li pai, dibantu oleh pasukan
mereka sehingga tempat itu menjadi hiruk pik uk oleh
pertempuran, sementara api masih bernyala membakar tubuh
Thian-cu Hw sio..
Para murid Siauw-lim-pai adalah pendekar-pendekar yang
amat lihai, ol eh karena itu, Ciong Ciangkun dan kawankawannya
merasa kewalahan. Apala karena mereka tidak
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
mungkin dapat mengerahkan seluruh pasukan mereka y ang
masih berada di luar. Tempat di serambi depan itu terlalu
sempit untuk suatu pertempuran terbuka di mana lima ra tus
orang pasukan itu dapat terjun semua. Kini,. yang terjun dalam
pertempuran itu tidak lebih dari dua ratus orang pasukan saja,
menghadapi kurang lebih enam puluh orang murid Sia lim-pai.
Murid-murid Siauw-lim-ini, lihai, apalagi barisan Lo-handengan
toya ditangan mereka merupakan barisan silat yang
amat tangguh Mulailah anggauta pasukan berjatuhan terluka
atau tewas oleh senjata di tangan para murid Siauw-lim-pai.
Perkelahian antara Lie Koan Tek melawan Cun Bin Tosu
berjalan amat seru. Tidak ada anggauta pasukan yang
membantu tosu itu. Hal ini tidaklah aneh. Para anggauta
pasukan tentu saja t hanya membantu para perwira, dan tosu
itu tidak mereka kenal, maka mereka tidak mau membantunya.
Maka, perkelahian antara Lie Koan Tek dan Cun Bin Tosu
berjalan seru tanpa pengeroyokan, satu lawan satu. Cun Bin
Tosu terdesak hebat dan biarpun dia sudah mengerahkan
seluruh tenaganya dan mengeluarkan semua jurus ilmu
pedangnya, tetap saja gulungan sinar rantai baja di tangan Lie
Koan Tek mendesak dan menghimpitnya sehingga tosu itu
terpaksa main mundur dan hanya dapat memutar pedang
untuk menangkis dan berloncatan ke sana-sini untuk
menghindarkan diri dari sambaran kedua ujung rantai baja di
tangan lawannya.
"Singgggg !" Tosu itu mencoba untuk membalas ketika
mendapatkan kesempatan. Pedangnya meluncur dan
menyambar kearah tenggorokan lawan dengan tusukan kilat
yang kuat dan cepat Lie Koan Tek miringkan tubuh menggeser
kaki menjauh, rantai bajanya menyambar seperti ular ke arah
pedang dan berhasil melibat pedang itu dengan ujung Rantai.
Cun Bin Tosu terkejut dan barusaha menarik kembali
pedangnya Akan tetapi kesempatan itu dipergunakan oleh Lie
Koan Tek untuk menendang kakinya ke arah lutut kaki kiri
lawan.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Dukkk!" Tubuh tosu itu terjungkal. Dia terpaksa
melepaskan pedangnya masih dilihat ujung rantai, lalu
bergelingan menjauh Akan tetapi, sekali menggerakkan
tangan, rantai itu melepaskan pedang dari libatannya dan
pedang meluncur ke arah tubuh yang bergulingan.
"Ceppp!" Pedang menancap, memasuki lambung sampai
hampir tembus, tewaslah Cun Bin Tosu.
Melihat betapa pasukannya tidak mampu mendesak lawan,
dan banyak anggauta pasukan yang roboh, sedangkan para
pembantunya juga terdesak dan ada yang menderita lukaluka,
terpaksa Ciong Ciangkun memberi aba-aba agar
pasukannya mundur. Dia sendiri mengajak para pembantunya
untuk melarikan diri ke luar dari pekarangan vihara itu, masuk
ke dalam pasukan yang masih menjadi di luar.
Para Murid Siauw-lim-pai tidak berani mengejar karena
jumlah pasukan yang berada di luar banyak sekali, sedangkan
jumlah mereka yang kurang lebih enam puluh orang itu kini
sudah berkurang, karena ada beberapa orang murid yang
terluka, bahkan ada yang tewas, dalam pertempuran itu,
walaupun jumlah lawan yang luka atau tewas lebih banyak
lagi. Mereka lalu mengurus jenazah Thian-cu Hwesio yang
sudah menjadi arang, juga mengurus suadara-saudara yang
tewas, dan merawat mereka yang terluka sambil bersiap-siap.
Ciong Ciangkun tidak tinggal diam. Dia mundur hanya untuk
mengatur siasat, Dia tahu betapa lihainya orang-orang Siauwlim-
pai. Kalau dia menyerbu dalam, akan sukar dapat
mengalahkan para pendekar itu. Bertempur secara kucingkucingan
begitu tidak akan menang, karena dia tidak dapat
mengerahkan pasukan untuk mengeroyok seperti kalau
bertempur di tempat terbuka, Jalan satu-satunya adalah
memancing murid Siauw-lim-pai itu keluar dari Vihara mereka,
atau memaksa mereka keluar! Dan hal itu hanya dapat
dilakukan dengan api!
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Siapkan barisan panah berapi!" teriaknya. Para
pembantunya segera mereka persiapkan barisan panah
berapi. Setelah mengatur pasukannya, Ciong Ciangkun yang
merupakan seorang ahli siasat perang itu lalu mengadakan
penyerbuan Sekali ini, yang menyerbu vihara adalah anakanak
panah dan diantaranya banyak anak panah berapi,
Sementara itu, pasukannya mengepung vihara luar.
Siasatnya itu berhasil dengan baik. Sebentar saja vihara itu
terbakar! Tentu saja para murid Siauw-lim-pai tidak mungkin
dapat tinggal terus di dalam vihara. Mereka juga berusaha
memadamkan kebakaran-kebakaran itu, namun mereka kalah
cepat oleh api yang mulai berkobar besar di segala jurusan.
Para murid itu menjadi kacau balau dan terpaksa berlarian
keluar untuk menyelamatkan diri. Setiba mereka di luar,
mereka disambut oleh pasukan pemerintah yang mengeroyok
mereka!
Kini terjadilah pertempuran mati-Mian. Para murid Siauwlim-
pai itu kini membela diri untuk mempertahankan hidup
mereka. Akan tetapi jumlah Musuhterlalu banyak, dan hati
para murid Siauw-lim-pai ini sudah terlampau jeri sehingga
kebanyakan di antara mereka menjadi nekat untuk bertempur
sampai mati!
Ketika Hek-bin Hwesio dan Pek I Lojin yang mendahului
para hwesio dan tosu yang berlarian ke kuil Siauw-lim-mereka
berdua bertemu dengan Lie Koan Tek dan lima orang sutenya.
Enam orang murid utama Siauw-lim-pai ini keadaan luka-luka
dan mereka segera menjatuhkandiri berlutut ketika mereka
melihat Hek-bin Hwesio yang mereka tahu adalah suheng dan
juga sahabat dari mendiang Thian-cu Hwesio.
"Lo-cian-pwe, malapetaka menimpa Siauw-lim-si" kata Lie
Koan Tek dengan keringat bercucuran bercampur mata
dandarah dari luka di lehernya.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Hek-bin Hwesio mengangkat muka memandang ke puncak
bukit. Api berkobar besar di puncak sana dan dia dapat
menduga apa yang terjadi.
"Omitohud , vihara Siauw-li terbakar? Apa yang telah
terjadi?"
"Vihara diserbu pasukan pemerintah yang besar jumlahnya,
dikepalai Ciong Ciangkun yang ditemani seorang tosu yang
melaporkan bahwa kami adalah pemberontak-pemberontak!"
Bekata demikian, Lie Koan Tek memandang kepada Pek I
Tojin dengan mata melotot penuh kemarahan
"Siancai.......siancai..........!” Pek Ilojin hanya merangkap kedua
tangan didepan dada.
Melihat sikap murid utama Sia-lim--pai itu, Hek-bin Hwesio
segera berkata, "Jangan membenci para tosu, orang muda
yang gagah. Baru saja pertikaian antara para hwesio dan para
tosu sudah dapat dilerai dan didamaikan, berkat
Kebijaksanaan Pek I Tojin ini. Segala permusuhan antara
keduapihak mulai sekarang harus dilenyapkan...........”
“Akan tetapi, Lo-cian-pwe, kebakaran Siauw-lim-pai akibat
serbuan pasukan pemerintah adalah karena hasutan mereka
itu......"
"Andaikata benar demikian, kalian tidak bolehlalu
memusuhi semua tosu! kesalahan seseorang tidak boleh
dijadikan alasan untuk membenci semua golongannya. Itu
tidak adil namanya. Ke¬salahan seseorang adalah tanggung
jawab g itu sendiri, bukan tanggung jawab anya, atau
golongannya, atau sukunya, atau bangsanya.Kaulihat, itu
pa¬ra sudaramu dan Susiokmu datang bersama denganpara
tosu yang hendak membantu Vihantu Siauw-lim-si!"
Rombongan Thian Gi Hwesio bersama para muridnya dan
para tosu yang tadinya menjadi musuh, datang ke tempat itu.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Lie Koan Tek, apa yang terjadi Kenapa vihara kita terbakar
dan di mana Suheng Thian-cu Hwesio?" tanya Th'tfi G i
Hwesio dengan muka pucat.
"Celaka, Susiok " Lie Koan Tek dan lima orang sutenya
menangis. "Vihar dibakar, kami diserbu pasukan yang dipimpin
Ciong Ciangkun, dan Suhu..........Suhu telah tewas membakar
diri........... ....”
Lie Koan Tek dengan suara sedih lalu menceritakan semua
yang terjadi, dan m nutup ceritanya dengan suara lirih, “
................... hanya teecu berenam yang sempat lolos agaknya
semua ................ semua saudara telah tewas ......................"
"Omitohud !'• Thian Gi Hwesio tebelalak, mukanya pucat
sekali dan dia pun roboh pingsan!
Setelah Thian Gi Hwesio sadar, Lie Koan Tek lalu
menceritakan tentang pingsan terakhir Thian-cu Hwesio
bahwa semua murid Siauw-lim-pai tidak boleh memberontak,
karena mereka adalah pendekar-pendekar yang menentang
kejahaatan dan membela rakyat jelata yang terrtindas.
"Omitohud , betapa bijaksana mendiang Thian-cu Hwesio.
Pinceng girang mendengar kebijaksanaannya itu di sa¬at
terakhir hidupnya. Sesungguhnyalah, bahwa segala sesuatu
sudah ada yang mengatur, sudah ditentukan oleh Yang Maha
Kuasa. Dan apa pun yang terjadi, semua itu sudah menurut
garisnya yang benar,baik dan sempurna, walaupun akal budi
kadang-kadang mengherankan semua itu. Jalan pikiran dan
akal budi kita sama sekali tidak mampu untuk menjenguk inti
dari arti yang paling men¬eluri dari setiap persoalan. Kita haya
melihat kulitnya saja, luarnya saja dan kadang-kadang merasa
betapa jangal dan tidak adilnya peristiwa yang terjadi. Kalau
kita mampu menerima segala sesuatu, mengembalikan
kepada kebijaksanaan dan kekuasaan Yang Maha Kuasa,
maka tidak ada permasalahan apa pun juga," kata Hek-bin
Hwesio.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Siancai " Apa yang dikatakan oleh sahabatku Hek-bin
Hwesio memang tepat sekali.
Kewajiban kita manusia hidup hanyalah berusaha sebaik
mungkin untuk menghilangkan kekotoran dari diri lahir batin,
namun segala keputusan berada di tangan Yang Maha Kuasa.
Yang sudah mati biarlah mati, akan tetapi yang hidup
berkewajiban untuk melanjutkan hidup ini melalui jalan benar.
Vihara yang sudah musnah dapat saja sekali waktu dibangun
kembali, permusuhan yang pernah terjadi dapat saja
dilenyapkan dan diganti perdamaian. Tidak perlu ada dendam
yang hanya akan meracuni batin kita dan mendatangkan
kekeruhan saja,” kata Pek I Tojin.
Apa yang diucapkan kedua orang sakti ini memang benar.
Jalan kehidupan kita ini penuh liku-liku, penuh perubahan dan
kadang-kadang terjadi hal-hal yang menimpa diri kita yang
kelihatan amat janggal, amat sukar dimengerti sebabsebabnya.
Jalan yang ditempuh oleh Tuhan sungguh penuh
rahasia, gaib, kadang-kadang begitu jauhnya tak terjangkau
oleh alam pikiran dan akal kita. Ada kalanya terjadi peristiwa
yang menurut pertimbangan dan perhitungan akal kita,
nampak janggal, bahkan nampak tidak adil! Akal pikiran kita
melihat betapa seseorang yang kita anggap jahat dan patut
dikutuk, bahkan hidup penuh kemuliaan, berkedudukan tinggi,
terhormat, kaya raya, sehat dan selamat.
Sebaliknya, akal pikiran kita melihat betapa seseorang
seseorang yang kita anggap baik dan patut dipuji, hidupnya
serba kekurangan dan sengsara, tertindas, terhina, miskin dan
papa! Kita me¬lihat pembesar yang hidupnya penuh ko¬rupsi,
makmur dan nampak senang, se¬baliknya pembesar yang
hidupnya jujur dan adil, nampak hidup serba kekurang¬an dan
sama sekali tidak makmur. Kita melihat orang yang kita nilai
baik hidup berpenyakitan sebaliknya orang yang kita lihat dan
kita nilai buruk dan kotor, hidup sehat! Apalagi biasanya kita
menilai diri kita ini sudah cukup baiik, sudah cukup mentaati
hukum agama, sudah cukup berusaha menjadi orang yang
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
baik, akan tetapi kita merasa be¬tapa hidup kita selalu
sengsara! ini menimbulkan kekecewaan dan penasaran!
Kita lupa bahwa jalan pikiran hanyalah mendasarkan
semua itu dengan nilai kebendaan, nilai kesenangan nafsu
badani yang hanya sementara sifatnya. Kita tidak tahu bahwa
di dalam batin orang yang kelihatan kaya raya dan senang,
belum tentu berbahaya sebaliknya di dalam batin seorang
petani miskin, belum tentu sengsara. Pikiran kita hanya
merupakan gudang pengetahuan dan pengalaman. Pikiran
akalnya tidak mungkin dapat menjangkau dan mengerti jalan
yang diambil Tuhan. Kita tidak mempunyai kekuasaan apa pun
atas diri kita sendiri sekalipun. Jalan satu-satunya hanyalah
menyerahkan segalanya kepada-Nya. Apa pun yang
kehendaki-Nya, pasti baik dan benar, walaupun bagi akal
pikiran kita kadang-kadang dianggap buruk dan salah. Hanya
orang yang mampu menerima segala suatu sebagai kehendak
Tuhan, menerima segala apa sebagai suatu kenyataan yang
wajar, sebagai apa adanya, tanpa keluhan, tanpa protes,
tanpa penasaran atau kekecewaan, hanya orang seperti inlah
yang dapat tersentuh sinar Kasih, dan dapat merasakan apa
yang kita sebut-sebut sebagai kebahagiaan!
Sisa-sisa murid Siauw-lim-pai terpaksa melarikan diri ceralberai,
menyadari hidup masing-masing. Siauw-lim-telah
terbakar habis, rata dengan tanah,namun semangat
kependekaran para muridnya masih tetap utuh dan dimana
pun mereka berada, mereka selalu mengulurkan tangan untuk
membela kaum lemah tertindas, dan menentang perbuatan
jahat dalam bentuk apa pun dan dilakukan oleh siapapun.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Jilid 7
Seorang kakek berusia lima puluh tujuh tahun, berdiri di
bawah pohon menyilangkan kedua tangan di atas dada dan
pandangan matanya tak pernah berkedip, mengikuti semua
gerakan pemuuda itu. Kakek ini pun tinggi besar dan gagah
perkasa, dan ada kelembutan ketika dia tersenyum gembira
sambil mengangguk-anggukkan kepala, nampak puas sekali
melihat gerakan silat pemuda itu. Angin pukulan pemuda itu
menyambar-nyambar, menggerakkan pakaian dan rambut Si
Kakek, juga membuat ujung ranting pohon dengan daundaunnya
bergoyang-goyang, membuat daun-daun kuning
rontok.
Mereka adalah Sin-tiauw Liu Bhok Ki muridnya, Si Han
Beng. Seperti kita ketahui, Si Rajawali Sakti Liu Bhok Ki itu
membawa muridnya ke puncak Kim-hong-san di lembah
Sungai Huang-ho, dimana dia menggembleng muridnya
dengan penuh ketekunan. Kalau saja Han Beng seorang anak
biasa, tentu tidak mungkin dalam waktu lima tahun akan
mampu menguasai ilmu-ilmu silat tinggi gurunya itu dengan
baik. Akan tetapi, setelah minum darah "anak naga", Han
Beng bukan lagi seorang anak biasa. Di dalam tubuhnya
mengalir tenaga sakti yang amat hebat, bahkan pada
dasarnya jauh lebih kuat daripada tenaga sakti gurunya
sendiri! Percampuran antara racun darah ular itu dan racun
dari pukulan dan goresan kuku Ban-tok Mo-Ii telah
menciptakan suatu kekuatan yang amat dahsyat di dalam diri
dan dengan bekal ini, di samping, cerdikan dan bakatnya,
maka tidak sukar bagi Han Beng untuk menyerap dan
menguasai ilmu-ilmu dari Liu Bhok Ki, Si Rajawali Sakti. Dan
apa yang di latihnya di pagi hari itu adalah ilmu simpanan dari
gurunya, yaitu silat Hun-tiauw Sin-kun (Silat Sakti Rajawali
terbang) yang mengangkat tinggi nama besar Liu Bhok Ki
sebagai Sin tiauw (Rajawali Sakti). Selain ilmu silat pa¬ling
hebat dari Liu Bhok Ki ini, juga Han Beng telah mewarisi ilmuilmu
silat lainnya, termasuk ilmu memainkan sabuk atau ikat
pinggang sebagai senjata.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Setelah selesai berlatih Hui tiauw Sin-kun, Han Beng lalu
berhenti mengdap suhunya. Dia duduk di atas tanah,
sedangkan gurunya kini duduk di atas sebuah batu besar di
bawah pohon itu dan kakek itu kelihatan gembira sekali.
"Bagus, Han Beng muridku. Sungguh latihanmu tadi amat
baik, tiada cacatnya sedikitpun. Itulah Hui tiauw Sin-kun yang
kau mainkan dengan sempurna. Dan ketahuilah bahwa
dengan ilmu silat itu aku dijuluki orang Sin-tiauw. Akan tetapi,
engkau lebih pantas berjuluk Sin-Iiong (Naga Sakti),
mengingat bahwa di tubuhmu mengalir darah naga."
"Semua hasil yang teecu capai ini berrkat bimbingan Suhu.
Terima kasih atas semua kebaikan Suhu kepada teecu."
"Bagus! Kalau engkau ingat budi berarti engkau tentu tidak
akan melupakan janjimu sebagai syarat menjadi muridku
dahulu. Masih ingatkah engkau siapa yang harus kaucari dan
kau hancurkan hidupnya untuk membalaskan dendam gurumu
ini?"
"Masih Suhu. Mereka adalah Coa Siang Lee, keturunan
ketua Hek-houw-pang di Ta-bun-cung dekat Poyang di utara
Sungai Huang-ho, dan istennya yang bernama Sim Lan Ci."
"Bagus sekali, muridku. Dengan demikian tidak akan sia-sia
aku meendidikmu selama lima tahun ini. Akan tetapi kini telah
lima tahun engkau menjadi muridku dan seluruh ilmu yang
kumi telah kuberikan kepadamu, bukan hanya ilmu silat, juga
ilmu pengobatan cara untuk menjatuhkan Sim Lan dengan
pengaruh obat, kalau engkau gagal menggunakan cara yang
wajar. Dan sudah tiba janjiku kepada Sin-ciang Kai-ong untuk
menyerahkan engkau kepadanya agar engkau menerima
didikan dari nya selama lima tahun pula."
Han Beng memberi hormat. "Teecu mentaati semua
perintah Suhu. Akan tetapi sebelum berpisah, teecu
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
mempunyai sebuah permintaan kepada Suhu, dan teecu
harap Suhu suka meluluskan permintaan teecu ini."
Liu Bhok K i tersenyum dan mengangguk-angguk. "Engkau
mempunyai permintaan? Apakah itu, muridku? Terus terang
saja, aku tidak mempunyai pusaka apa pun. Sabukku ini pun
sabuk biasa, dan pusakaku hanyalah ilmu-ilmu yang sudah
kuberikan kepadamu. Aku tidak melihat............"
"Ada pusaka yang amat teecu inginan dari Suhu."
"Eh? Pusaka, yang mana itu? Katakanlah, tentu akan
kuberikan kepadamu, -muridku."
"Benarkah? Apa yang teecu minta han Suhu berikan
kepada teecu?"
"Tentu saja! Engkau satu-satunya yang terdekat dengan
aku, Han Beng, dan terus terang saja, aku merasa puas
mempunyai murid seperti engkau. Katakan, pusaka apakah itu
yang kau maksudkan?"
"'Dua buah kepala itu, Suhu."
Sepasang mata pendekar itu terbelalak. "Hahhhhh........ ?
Dua dua buah kepala itu? Kepala Coa Kun Tian dan Phang
Hui Cu? Mau .......... mau apa engkau dengan dua buah kepala
itu? Untuk apa kauminta?"
"Untuk teecu kuburkan, Suhu."
"Ahhh " Liu Bhok Ki meloncat turun dari atas batu, tubuhnya
menggiggil, mukanya merah dan dia mengepal kedua
tangannya, memandang kepada Han Ben
"Si Han Beng! Apa maksudmu dengan itu? Engkau hendak
menguburkan di buah kepala itu? Engkau hendak membuat
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
aku melupakan dendamku? Dengan demikian, berarti bahwa
engkau telah melupakan janjimu, tidak akan melaksanakan
pembalasan sakit hatiku terhadap Coa Siang Lee dan Sim Lan
Ci?"
Han Beng memberi hormat, sikapnya tetap tenang, tanda
bahwa pemuda remaja berusia tujuh belas tahun ini tentu
mempunyai batin yang kuat, mampu menahan perasaan
sehingga dia selalu bersikap tenang, tidak dipengaruhi
perasaan.
"Harap Suhu jangan salah sangka. Apa yang telah teecu
janjikan kepada Suhu, pasti teecu penuhi, hanya berhasil atau
tidak kita sama melihat saja nanti. Teecu ingin agar dua buah
kepala itu dikubur, karena sungguh tidak tepat sekali apa yang
Suhu lakukan selama ini terhadap dua buah kepala itu. Suhu
menyiksa diri sendiri dan menyiksa dua buah kepala yang
tidak berdosa.
"Aku menyiksa diri? Bodoh kau! jusru aku membalas
dendam sakit hati, aku merasa puas melihat mereka itu! Dan
kaubilang dua buah kepala itu tidak berdosa? Mereka telah
menghancurkan kehahagiaan hidupku, dan kau masih
mengatakan mereka tidak berdosa?"
"Harap Suhu tenang agar dapat berpikir secara luas dan
mendalam, Suhu. Teecu melihat betapa Suhu menyiksa diri
sendiri dengan adanya dua buah kepala itu. Dengan adanya
mereka, Suhu akan setiap saat teringat dan menderita sakit
hati. Di dunia ini, tidak ada kedukaan yang tidak akan lenyap
dihapus waktu, Suhu. Akan tetapi Suhu selalu meghadapi dua
buah kepala itu sehingga setiap saat teringat dan berduka,
bukankah itu berarti Suhu menyiksa diri sendiri? Dan tentang
dosa kedua buah kepala itu, benarkah dua buah kepala itu
yang berdosa? Bukankah perbuatan itu dimulai dari pikiran
dan hati, sedangkan badan hanya melakukan saja keinginan
batin? Jelas bahwa dua buah kepala itu hanya sebagian saja
dari badan, maka tidak berdosa setelah mati Suhu. Mengapa
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Suhu menyiksa dan menghukum badan yang tidak bersalah
apa-apa? Badan yang sudah mati sama dengan tanah, disiksa
bagaimanapun tidak akan merasakan apa-apa lagi. Hati teecu
merasa penasaran sekali karena apa yang dilakukan Suhu ini
sungguh kejam, sungguh tidak berperikemanusiaan seningga
tidak selayaknya dilakukan seorang pendekar gagah perkasa
seperti Suhu."
Wajah yang tadinya merah itu kini berubah pucat, matanya
terbelalak, tapi dia masih marah sekali. "Kau ........ kau bilang
aku kejam dan tidak berprikemanusiaan? Andaikata benar
begitu, itu hanya sebagai hukuman saja terhadap mereka
berdua. Apakah mereka berdua itu tidak kejam dan tak
mengenal perikemanusiaan dengan perbuat zina mereka yang
menghancurkan kebahagiaan hidupku?"
"Suhu, kalau orang lain mengganggu ta dengan kekejaman,
apakah kita pun harus membalasnya dengan kekejaman?
Kalau sudah begitu, lalu siapa yang kejam dan siapa yang
tidak? Siapa yang jahat dan siapa pula yang baik? Siapa
penjahat dan siapa pula pendekar?"
Liu Bhok Ki yang tadinya marah besar,seketika merasa
tubuhnya lemas dan dia pun menjatuhkan diri terduduk di atas
batu, termenung dengan muka pucat seperti patung. Dia
merasa seperti lolosi seluruh otot dan urat di tubuhnya.
Han Beng sambil berlutut memberi tinat. "Suhu, maafkan
teecu, bukan teecu kurang ajar dan ingin melawan dan
membantah Suhu, melainkan karena perasaan cinta dan.
hormat teccu unuk menghentikan perbuatan Suhu yang tidak
layak ini. Teecu yakin Suhu seorang yang berjiwa pendekar
dan gagah perkasa bukan seorang yang berjiwa rendah,
kejam dan tidak berperikemanusiaan."
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Sudahlah......... sudahlah........... kauambil dua buah kepala
itu dan kaukubur mereka ............, sudah, jangan bicara lagi"
Han Beng memberi hormat sekali lagi, "Terima kasih,
Suhu." Dia lalu bangkit dan memasuki pondok, sejenak
mengamati dua buah kepala itu, yang satu berada di dalam
botol arak dan yang sebuah lagi tergantung dan terayun-ayun
di tengah ruangan. Melihat betapa dua buah kepala itu
mulutnya seperti tersenyum akan tetapi matanya tanpa cahaya
memandang jauh seperti pandang orang berduka, dia bergidik.
Cepat turunkannya kepala Coa KunTian itu dan
dikeluarkannya kepala Phang Hui kemudian dia membungkus
dua buah pala itu menjadi satu dalam sehelai kain putih, dan
membawanya keluar. Dia memang sudah merencanakan
untuk mengubur dua buah kepala itu di bawah kohon cemara
di puncak Pegunungan Kin-hong-san, maka kini dia membawa
Dua buah kepala itu ke sana. Digalinya sebuah lubang yang
dalamnya satu setengah meter, di antara dua batang pohin
delima di bawah naungan cemara yang tinggi. Kemudian,
dengan hati-hatti dan penuh hormat dia meletakkan buntalan
dua buah kepala itu ke dalam lubang dan mulutnya berbisik,
"Harap Ji-wi kini dapat mengaso dengan tenang dan
maafkanlah apa yang diperkuat oleh guruku selama ini."
Pada saat itu, Liu Bhok Ki menangis ketika dari balik
sebuah batu besar dia mengintai dan melihat muridnya
mengubur kedua buah kepala itu. Dia merasa kehilangan dan
merasa betapa kini dia tidak memiliki apa-apa lagi.Kini baru
terasa olehnya betapa dua buah kepala itu menjadi milik satusatunya
baginya, bahkan dua buah kepala itu yang membuat
dia masih berani menghapi hidup, merasakan suka dan duka
dari kehidupan ini melalui kedua buah kepala itu. Dari dua
buah kepala itu" dapat merasakan kepuasan dan kemanisan
balas dendam, juga merasakan kedukaan karena putus cinta,
merasai cemburu yang menggerogoti hatinya kemudian
manisnya pembalasan terha mereka. Dan kini, dua buah
kepala yang seolah-olah menangisi hidupnya siang malam itu
telah diambil darinya dikuburkan. Dan dia merasa seolah-olah
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
baru sekarang dia kematian isteri tercinta, seolah-olah melihat
jenazah isterinya dikubur dan bahwa selamanya dia akan
kehilangan isterinya itu! Maka tak tertahankan lagi, dia
menangis sampai air matanya bercucuran membanjiri kedua
pipinya. Dia menahan diri agar tangisnya tidak sampai
terdengar oleh muridnya, dan cepat-cepat dia pergi dari situ,
kemudian sesenggukan di dalam pondoknya.
Setelah selesai mengubur dua buah kepala itu,
menguruknya dengan tanah dan menaruh sebongkah batu
besar depan kuburan, Han Beng lalu kembali ke pondok untuk
berkemas. Dia melihat suhunya duduk bersila di tengah
ruangan pondok itu sambil memejamkan dua matanya. Melihat
ini, dia tidak berani mengganggu dan dia lalu memasuki
kamarnya, mengumpulkan pakaian dan membungkusnya
menjadi sebuah buntalan. Diikatnya buntalan itu di
punggungnya, kemudian dia pun keluar dari dalam kamar.
Suhunya masih duduk bersila seperti tadi, kedua mata
terpejam. Han Beng tetap tidak berani mengganggu dan dia
pun menjatuhkan diri berlutut didepan suhunya, menanti
sampai orang tua itu sadar dari samadhinya.
Lebih dari tiga jam Han Beng berlutut di depan gurunya,
dengan penuh kesabaran dia menanti sampai suhunya
bangun dari samadhinya. Sedikit pun dia tidak merasa gelisah
atau kehilangan kesabaran. Kalau suhunya tidak sadar sampai
sehari semalam pun, dia akan tetap menunggu, karena dia
harus berpamit dari gurunya sebelum meninggalkan tempat
itu. Gurunya selama ini amat dikasihinya, dan menjadi
pengganti orang tuanya. Sin-tiauw Lin Bhok Ki bagi Han Beng
merupakan guru, orang tua, juga sahabat. Di dalam dunia ini,
hanya orang tua itulah satu-satunya manusia yang dekat
dengannya. Karena itu, bagaima mungkin dia meninggalkan
gurunya ini tanpa pamit?
Akhirnya, terdengar gurunya berkata
"Han Beng "
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Han Beng cepat mengangkat mukanya, memandang
kepada suhunya yang sudah membuka mata dan tersenyum
kepadanya. Han Beng mengamati wajah gurunya dan dia pun
merasa jantungnya seperti ditusuk karena terharu, Wajah itu
membayangkan kedukaan mendalam, bahkan nampak jauh
lebih tua dibandingkan kemarin! Seolah-olah ada awan
kedukaan hebat yang menyelubungi wajah itu, namun mulut
itu tersenyum kepadanya! Dia merasakan adanya suatu
pertentangan di dalam batin gurunya, dan dia berpikir bahwa
hal itu tentu muncul karena ulahnya meminta dua buah kepala
dan yang telah dikuburkannya. Diam-diam dia merasa dosa
kepada gurunya.
"Han Beng, tahukah engkau betapa permintaanmu yang
telah kululuskan tapi seolah-olah mencabut semangat
hidupku? Aku merasa betapa hidupku menjadi kosong tak
berarti, seolah-olah dua buah kepala itu pergi membawa
seluruh semangatku."
Han Beng semakin terharu dan dia daipun memberi hormat
sambil berlutut.
"Suhu, ampunkan teecu karena sesungguhnya bukan
demikian maksud teecu, melainkan untuk menolong Suhu
terbebas daripada penderitaan batin."
Gurunya tersenyum, senyum yang amat mengharukan
karena senyum itu amatlah pahitnya. "Tidak mengapa, Han
Beng. Salahku sendiri. Ketahuilah bahwa tanpa kusadari, aku
telah terikat secara batiniah kepada dua buah kepala ftu,
seolah-olah dua buah kepala itu tirnjadi pengganti isteriku
yang tercinta. Dan sekarang setelah berpisah, aku merasa
kehilangan sekali. Akan tetapi biarlah, mungkin engkau benar,
setelah aku mengalami kepahitan yang sedemikian hebat ini,
mungkin lambat laun Sang Waktu akan menjadi penyembuh
yang mujizat. Hanya pesanku kepadamu, Han Beng, karena
engkau masih muda, hati-hatilah, terutama terhadap wanita.
Jangan mudah menyerahkan hati cintamu, dan andaikata
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
engkau tidak dapat mengelak lagi dan jatuh cinta jangan
engkau mengikatkan batinmu padanya agar kalau sekali waktu
ia meninggalkanmu, kalau ia melakukan penyelewengan
dengan pria lain, hatmu tidak akan hancur binasa! Kalau
batinmu tidak terikat oleh seorang wanita sewaktu ia
menyeleweng dengan pria lain, engkau akan menerimanya
den penuh kesadaran dan keikhlasan, sadar bahwa cinta
antara pria dan wanita dak dapat bertepuk tangan sebelah, lau
ia jatuh cinta kepada pria lain, arti cintanya padamu sudah
luntur engkau tidak mungkin dapat memaksanya untuk tetap
mencintaimu dan jangan menoleh kepada pria lain."
Han Beng yangbaru berusia tujuh belas tahun itu sudah
dapat menangkap apa yang dimaksudkan suhunya, dan dia
pun maklum bahwa suhunya sedang menderita goncangan
hebat dalam batinnya sehingga ucapannya itu condong ke
arah pelampiasan duka dan penghiburan diri ndiri. Betapapun
juga, dia dapat merasakan kebenaran. Memang, ikatan
mendatangkan derita sengsara batin karena tidak ada yang
abadi di dunia ini. Setiap pertemuan pasti berakhir dengan
per¬lahan dan kalau hati terikat, maka perpisahan itu akan
mendatangkan rasa sengsara dan duka.
Han Beng lalu berpamit kepada gurunya yang merasakan
keharuan karena dia harus berpisah dari murid yang
disayangnya ini. Baru saja dia kehilang dua buah kepala yang
menjadi pengganti isterinya, kini dia harus berpisah lagi dari
muridnya yang tersayang. Namun, dia melihat kenyataan
bahwa perpisahan itu memang tidak dapat dihindarkan lagi.
“Pergilah, Han Beng. Masih ingat engkau ke mana harus
mencari gurumu yang baru, yaitu Sin-ciang Kai-ong Jangan
lupa, carilah dia di daerah Propinsi Hok-kian. Di sana dia
menjadi raja jembel dan siapapun tentu akan mengenalnya
dan dapat menunjukkan mana engkau dapat menemuinya.
Sam kan salamku kepadanya!"
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Han Beng lalu berangkat, mengendong buntalan
pakaiannya di punggung dan melangkah dengan tegap dan
ringan menuruni bukit Kim-hong-san. Ketika dia tiba di lereng
yang berhutan, tiba-tiba muncul seorang yang memakai kedok
mukanya, berpakaian serba hitam tanpa banyak cakap lagi
orang ini dah menyerangnya dengan membabi-buta, Melihat
gerakan orang itu, Han Beng terkejut karena selain
gerakannya ringandan gesit sekali, juga pukulan-pukulannya
mendatangkan angin pukulan yang amat dahsyat! Dia pun
cepat mengelak. Setelah beberapa kali mengelak dan
menangkis dia mendapat kenyataan bahwa orang itu memang
memiliki sin-kang yang amat kuat. Dia meloncat jauh
belakang.
"Heiiiii, berhenti dulu, Sobat! Mengapa engkau
menyerangku dan apakah kesaahanku padamu?"
Sebagai jawaban, orang itu hanya meloncat dan
menyerangnya lagi, kini lebih hebat lagi. Pukulannya
merupakan serangan maut karena tangan yang menyambar
ke arah kepalanya itu mengandung tenaga sin-kang yang akan
dapat menghancurkan batu karang, apalagi kepala manusia!
Dia pun mulai merasa asaran oan segera di tangkisnya pukul
itu dengan lengannya sambil mengerahkan sin-kang di
tubuhnya.
"Dukkk!" Penyerang itu terdorong mundur dan giranglah
hati Han Beng melihat kenyataan bahwa dalam hal tenaga sinkang,
dia masih lebih unggul sedikit. Hal ini membesarkan
hatinya dan dia pun mulai balas menyerang! Akan tetapi,
betapa gesitnya gerakan orang itu dan agaknya, semua jurus
seranganan tidak membuat orang itu menjadi gugup dan
bahkan dapat mengimbanginya dengan serangan-serangan
balasan yang tak kalah hebatnya!
Mereka berkelahi dengan sungg sungguh, dan Han Beng
sudah mengeluarkan ilmu-ilmu silat yang dipelajarinya selama
lima tahun itu, namun tidak ada yang dapat menembus
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
benteng pertahanan lawannya itu. Dia merasa penasaran
sekali dan sambil mengeluarkan suara melengking nyaring,
Han Beng lalu mengeluarkan jurus simpanannya, ya ituilmu
silat Hui-tiauw Sin-kun. Akan tetapi, kembali dia tertegun
karena orang itu agaknya mengenal pula ilmu silatnya ini dan
dengan mudah dapat mengelak dengan tepat sekali. Padahal
ilmu silat Hui-tiauw Sin-kun ini gerakan amat cepat dan tidak
terduga-duga. Bagaimana mungkin orang ini dapat mengelak
sedemikian mudahnya? Tentu sudah mengenal ilmu silatnya
ini. Sudah mengenal! Hanya gurunya yang mengenalnya. Han
Beng meloncat ke samping untuk mengelak dari sambaran
sebuah tendangan dan dia mengamati orang itu
Perawakannya, tinggi besar! Ah, siapa lagi kalau bukan
gurunya? Biarpun memakai topeng dan mengenakan pakaian
hitam, namun bentuk tubuh itu bentuk tubuh gurunya, dan
lebih meyakinkan lagi, orang itu mengenal semua ilmu ulatnya!
Tahulah dia bahwa gurunya sendiri yang agaknya hendak
mengujinya, maka dia pun ingin menyenangkan hati gurunya
dan menyerang dengan sungguh-sungguh, mengerahkan
seluruh tenaganya dan memainkan Hui-tiauw Sin-kun dengan
sebaik mungkin!
Didesak sehebat itu, orang bertopeng itu pun mulai
memainkan ilmu silat yang sama. Terjadilah serangmenyerang
yang amat seru, dan dalam pertandingan ini, Han
Beng merasa betapa biarpun dia menang sedikit dalam hal
tenaga sakti, namun dia kalah matang dalam gerakan silatnya.
"Plak-plak!" Dua kali kedua tangan mereka bertemu dan
tubuh orang bertopeng itu terdorong ke samping, akan tetapi
tangannya sempat meluncur dan tahu-tahu buntalan pakaian
Han Beng dapat direnggutnya lepas dari punggung pemuda
itu!
Han Beng menjatuhkan dirinya berlutut. "Suhu, tcccu
mengaku kalah!"
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Orang itu berhenti, merenggut topengnya dan ternyata Liu
Bhok Ki. Dilemparnya buntalan itu kepada Han Beng dan dia
mengusap keringatnya yang membasahi muka dan leher, lalu
menarik napas panjang.
"Siapa bilang kau kalah? Aku hanya menang sedikit dalam
hal kematanj ilmu silat kita, akan tetapi kalau engkau berkelahi
sungguh-sungguh, aku takkan kuat bertahan. Lihat, tubuhku
sudah berkeringat. Han Beng, engkau hati-hatilah di dalam
perjalananmu, jangan sembarangan mempergunakan Huitiauw
Sin-kun kalau tidak terdesak sekali. Juga jangan engkau
terlalu ringan, tangan melukai, apalagi membunuh orang.
"Semua petunjuk dan nasihat Suhu sudah tertanam dalam
ingatan teecu dan tentu teecu akan mentaatinya."
"Nah, pergilah cepat, muridku, pergilah sebelum kedukaan
sempat menyentuh hatiku karena perpisahan ini!" si Liu Bhok
K i terdengar keras. Han Beng maklum akan kepedihan hati
gurunya, maka dia pun segera bangkit berdiri, memberi hormat
sekali lagi lalu pergi dari situ dengan langkah lebar memasuki
hutan agar cepat lenyap dari pandang mata gurunya.
ooooOOOOoooo
Sinar matahari pagi mulai mengusiri ibut-kabut yang
menyelubungi dusun Ki-hyan-tung.Burung-burung dan ayam
jantan menyambut sinar matahari dengan kicau dan kokok
mereka saling berrsahutan dan penuh keriangan.Lampulampu
yang tergantung di depan rumah-rumah kecil di dusun
itu sudah mu¬tu dipadamkan, dan sebagai gantinya, nampak
asap mengepul dari dapur. Para ibu sudah mulai memasak air,
siap membuatkan minuman hangat dan sarapan untuk
keluarganya. Di sana-sini terdengar teriakan ibu-ibu yang tidak
sabar kepada anak-anaknya, tangis anak kecil dan teriakan
anak-anak yang nyaring, gerutu para ayah dengan suara
parau. Sinar matahari mulai menghidupkan dusun it bukan
saja menggugah para penduduknya untuk mulai bekerja, dan
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
burung-burung juga segala macam binatang, akan tetapi juga
menggugah pohon-pohon besar kecil setelah mereka ini
terlelap dan dingin. Para petani mulai mempersiapkan diri
untuk bekerja di sawah ladang menanti sarapan sekedarnya,
setiddkn minuman untuk menghangatkan perut, yang sudah
berpuasa semalam suntuk.
Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan sekelompok orang
yang berpakaian perajurit seragam masuk ke dalam
perkampungan itu di atas kuda mereka. Jumlah mereka ada
lima puluh orang dikepalai seorang komandandan bersama
dua orang pembantunya. Begitu memasuki dusun, mereka
mengambil sikap mengurung, menjaga di semua penjuru,
terutama di empat pintu dusun.
Mendengar derap kaki banyak kuda memasuki
perkampungan mereka, para petani saling pandang dengan
muka berubah. Entah siapa yang membisikkah lebih dahulu,
akan tetapi kini mereka semua berbisik dengan muka
ketakutan.
"Hek-i-wi.............!"
Hek-i-wi (Pasukan Pakaian Hitam) sudah amat terkenal dan
amat ditakuti oleh orang-orang di pedusunan. Hek-i-wi adalah
pasukan yang perajuritnya berpakaian serba hitam dan tugas
mereka Adalah mencari dan mengumpulkan tenaga-tenaga
dari rakyat jelata untuk di jadikan tenaga pekerja membangun
terusan Besar. Karena pasukan Hek-i-ki menduduki tempat
yang tinggi dan kekuasaan yang mutlak, bahkan para
komandannya diberi hak untuk bertindak terhadap rakyat yang
membangkang, maka tentu saja mereka amat ditakuti,
kekuasaan memang merupakan sesuatu yang amat
berbahaya bagi manusia. Sekali memegang kekuasaan, orang
akan lupa diri dan meremehkan orang lain.
Dari kekuasaan ini timbul bermacam perbuatan yang buruk
dan jahat. Orang-orang yang merasa khawatir kalau-kaiau dia
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
akan diambil dan dijadikan pekerja paksa, tidak segan-segan
untuk melakukan penyuapan atau penyogokan kepada para
komandan dan perajurit pasukan Hek-i-wi ! Bukan hanya
menyogok dengan harta milik, bahkan ada pula yang
menyerahkan anak gadisnya kalau mereka melihat betapa
komandan pasukan atau para perwiranya tertarik kepada anak
gadisnya itu. Biarpun pemerintah sediri mengambil
kebijaksanaan untuk mengaji para pekerja, namun dalam
pelaksanaannya, gaji-gaji itu tertahan dilenyap entah di tangan
yang mana antara ribuan petugas itu,dan para pekerja itu
bekerja tanpa digaji, bahkan ransum mereka pun dikurangi
sehingaa banyak di antara mereka yang mati kelelahan atau
kelaparan. Hal ini makin menakutkan rakyat sehingga biar
yang miskin sekalipun, selalu ingin menghindarkan diri agar
jangan sampai diambil dan dipaksa untuk bekerja di Terusan
itu.
Begitu nama Hek-i-wi dibisikan, para penduduk dusun Kihyan-
tung jadi geger! Para ibu menangis, anak-anak
bersembunyi di kolong-kolong di kakus-kakus dengan tubuh
menggigil para gadis yang bersembunyi karena mereka
mendengar betapa perajurit Hek-i-Wi itu kasar dan mata
keranjang, tak pernah melewatkan dan membiarkan saja
seorang gadis dusun tanpa diganggunya. Dan para pria dusun
itu berserabutan lari keluar dari rumah dengan maksud
melarikan diri keluar dari dusun agar tidak ketahuan dan tidak
tertangkap. Akan tetapi, alangkah kaget hati mereka melihat
betapa dusun itu telah dikepung dan mereka yang mencoba
melarikan diri bertemu dengan cambuk-cambuk yang melecut
dan tendangan kaki bersepatu yang kuat dan membuat
mereka roboh terrguling! Suasana menjadi semakin gempar.
"Semua penduduk dusun ini keluar dan berkumpul di sini!"
berkali-kali beberapa orang perwira berseru dengan suara
lantang.
"Yang melarikan diri atau melawan akan dibunuh!"
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Laki-laki di sini dan semua perempuan dan kanak-kanak di
sebelah sana!"
Dengan muka pucat dan tubuh menggigil ketakutan, semua
penghuni terpaksa keluar dari rumah dan tempat
persembunyian mereka. Mereka sudah medengar betapa
beberapa buah dusun dibakar oleh Hek-i-wi hanya untuk
memaksa para penghuninya keluar dari tempat
persembunyian mereka!
Setelah semua orang berkumpul, yang pria berkelompok
dikiri, yang wanita bersama anak-anak berkelompok di kanan,
komandan pasukan itu berseru, "Kalian jangan takut! Kami
melaksana tugas dari pemerintah untuk memberi pekerjaan
kepada kalian. Kalian akan digaji dan diberi makan cukup!
Juga para wanita yang terpilih akan mendapat pekerjaan dan
hidup yang menyenangkan!!
Kini para pembantu komandan ini melakukan pemilihan.
Pria-pria muda dan kuat, segera dipisahkan dan kedua tangan
mereka dipasang borgol dengan rantai panjang. Dan segera
lima puluh orang lebih pria diborgol dengan rantai yang
sambung menyambung, dan ada lima belas wanita muda, baik
gadis maupun sudah menikah, dipilih pula dan mereka ini
dipaksa untuk memisahkan diri, lalu disuruh naik ke dalam
sebuah gerobak yang sudah dipersiapkan. Para wanita
menangis, baik mereka yang dibawa maupun mereka yang
ditinggalkan. Para gadis dan wanita muda itu sudah
Mendengar bahwa mereka yang terpilih itu akan mendapatkan
pekerjaan, akan tetapi pekerjaan yang hina dan mereka akan
dipaksa melayani para perajurit seperti pelacur! Dan mereka
yang sudah dibawa pergi, belum pernah ada yang kembali ke
dusun mereka. Juga jarang sekali ada pria yang kembali ke
dusun telah mereka terpilih untuk bekerja di terusan.
Dengan diiringi jerit tangis, baik dari mereka yang menjadi
tawanan maupun dari mereka yang ditinggal, pasukan Hek-iwi
itu menggiring para ta¬wanan keluar dari dusun itu. Bunyi
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
cambuk mereka meledak-ledak untuk menakut nakuti mereka,
dan untuk memaksa mereka yang hendak mogok untuk terus
berjalan. Bagaikan sekumpulan hewan ternak yang baru dibeli,
lima puluh orang laki-laki dusun itu digiring keluar dari dusun
mereka, meninggalkan keluarga, rumah dan dusun mereka,
mungkinuntuk selamanya.
Menurut peraturan pemerintah pada waktu itu, tidak ada
kerja paksa, ya ada ialah kerja wajib di mana rakyat dikenakan
wajib bekerja membuat Terusan itu selama seratus hari, dan
ini pun diberi gaji dan makan. Ada pula diterima wanita yang
bekerja dan digaji, namun secara suka rela, untuk bekerja di
dapur umum pembuatan Terusan. Akan tetapi, sudah menjadi
penyakit umum bahwa pelaksanaan suatu perintah lalu
menyimpang daripada asalperitah itu sendiri. Kerja wajib
menjadi keja paksa, gaji dikebiri bahkan dihilangkan sama
sekali, wanita-wanita dikumpulkan dan dipaksa bekerja, bukan
dengan pembuatan Terusan melainkan demi pemuasan nafsu
binatang mereka!
Tak dapat disangkal bahwa di antara para petugas terdapat
pula orang -orang bersih dan yang benar-benar melaksanakan
tugasnya sebagaimana mestinya. Akan tetapi apakah artinya
susu secangkir kalau dimasukkan ke dalam kolam yang penuh
dengan air kotoran? Takkan nampak keputihan dan
kebersihan susu, bahkan akan ikut menjadi kotor! Yang sedikit
itu akan lenyap terselimuti yang banyak.
Komandan pasukan Hek-i-wi yang memasuki dusun Kinyan-
tung ini bernama Bak Lok Sek, seorang laki-laki berusia
empat puluh tahun yang bertubuh imggi besar dan gagah
perkasa, bertelinga gajah dan dia memiliki ilmu silat liang-to
(sepasang golok) yang amat dahsyat sehingga ditakuti banyak
orang. Juga dua orang perwira yang membantuya merupakan
orang-orang pilihan dengan ilmu silat tinggi. Bahkan pasukan
yang dipimpin oleh Ban Lok Sek ini merupakan pasukan
pilihan, terdiri dari Prajunt-perajurit yang pandai ilmu silat.
Dengan pasukan istimewanya ini, Ban lok Sek seolah-olah
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
menjadi raja kecil yang dapat memaksakan kehendaknya
sesuka hatinya, tanpa ada yang berani menentangnya. Karena
terbukti babhwa pasukan pimpinan Ban Lok Sek ini yg selalu
berhasil membawa banyak tenaga baru yang patuh, maka
atasannya tidak terlalu memusingkan tentang berita bahwa
Ban Lok Sek dan pasukannya yang kejam terhadap rakyat.
Orang-orang dusun yang dijadikan seperti tawanan itu
terhuyung-huyung berjalan di bawah ancaman cambukcambuk
yang kadang-kadang menyentuh kulit dan menggigit,
debu mengepul bawah kaki kuda-kuda yang ditungg pasukan
itu, dan di tengah-tengah pasukan itu terdengar isak tangis
para wanita yang berhimpitan di dalam gerobak yang ditarik
dua ekor kuda. Mereka yang ditinggalkan, yaitu kakek-kakek,
nenek-nenak, wanita yang tidak terpilih, kanak-kanak,
berkelompok di dalam dusun dan mereka itu menangis dan
ratap, menangisi anak, suami, ayah, isteri atau puteri mereka
yang dijadikan tawanan.
Ketika rombongan pasukan berkuda tiba di luar dusun, tibatiba
terjadi kekacauan di barisan depan. Semua perajurit
segera memacu kuda untuk melihat apa yang terjadi, dan
mereka itu terkejut dan marah sekali melihat berapa orang
kawan mereka sudah terjungkal dari atas kuda, dan kelihatan
ada lima orang laki-laki gagah perkasa mengutik dengan
pedang mereka. Agaknya amukan lima orang pria perkasa
itulah yang membuat terjungkalnya lima orang prajurit
terdepan. Mereka adalah jago-jagoan dari Siauw-lim-pai!
Seperti kita ketahui, kuil Siauw hm-si dibakar dan banyak
pendekar Siauw-lim-pai yang tewas dalam pertempuran besar
ketika Siauw-lim-si diserbu oleh pasukan pemerintah. Para
murid Siauw-lim-pai melakukan perlawanan dengan hati duka
karena ketua mereka telah membakar diri sampai tewas untuk
memprotes tindakan pemerintah itu, dan hanya ada enam
orang di antara mereka yang dapat meloloskan diri dalam
keadaan luka-luka. mereka lalu bergabung dengan para murid
Siauw-lim-pai yang kebetulan berada di luar kuil dan Tidak ikut
terbasmi. Para murid yang berhasil lolos itu dipimpin oleh Lie
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Koan Tek, pendeta Siauw-lim-pai yang gagah perkasa,
semenjak terjadi pembakaran kuil itu, Para pendekar Siauw
lim pai hidup seorang buruan, berpencar dan Thian Hwesio
sendiri, sute dari ketua Siauw-lim -pai yang membakar diri,
bersembunyi di daerah selatan.
Lima orang laki-laki yang kini menyerbu pasukan yang
menawan penduduk dusun Ki-nyan-tung, adalah para
pendekar Siauw-lim-pai yang kebetulan lewat di dekat dusun
itu. Mereka melihat apa yang terjadi dan marahlah para
pendekar ini, lalu mereka mencabut pedang dan menyerang
pasukan pemerintah yang bertindak sewenang-wenang itu.
Biar para pendekar ini telah kehilangan kuil dan pusat asrama
mereka, namun mereka sama sekali tidak kehilangan watak
kependekaran mereka,, dan dengan penuh semangat mereka
menyerang pasukan untuk membela para penduduk dusun
yang dijadikan tawanan itu. Tentu perwira perajurit menjadi
marah melihat betapa beberapa orang kawan mereka roboh
dengan luka berat, bahkan ada yang tewas. Mereka lalu
menyerbu dan mengepung, mengeroyok lima orang pendekar
itu dengan senjata golok dan teriak mereka, juga komandan
Ban Lok Sek bersama dua orang perwira pembantunya yang
lihai, sudah terjun ke dalam pertempuran itu. Lima orang
pendekar Siauw-lim-pai itu terkejut ketika melihat Gerakan
sepasang golok di tangan komandan itu! Mereka mengenal
ilmu golok pasangan dari Siauw-lim-pai!
"Engkau murid Siauw-lim-pai!" bentak seorang di antara
para pendekar Siau-lim-pai! Bentak seorang diantara para
pendekar.
Ban Lok Sek tertawa dan mendengus dengan penuh
ejekan. "Huh, siapa murid Siaw-lin pai yang memberontak?
Memang pernah aku mempelajari ilmu golok dari Siauw-limpai,
akan tetapi itu bukan berarti bahwa aku murid Siauw limpai!"
berkata demikian, dia mendesak orang yang menjadi
lawannya. Juga dua orang perwira pembantunya
menggerakkan golok mereka dan dibantu oleh pulahan orang
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
perajurit, betapapun lihainya lima orang pendekar Siauw-Iimpai
itu, mereka mulai terdesak hebat! Namun, dengan gigih
mereka melakukan perlawanan, memutar pedang mereka
untuk melindungi tubuh dari ancaman puluhan batang senjata
yang menyambar-nyambar ganas. Karena banyaknya
pengeroyok lima orang pendekar itu sukar untuk dapat
membalas. Mereka tidak memperoleh kesempatan lagi, dan
terpak hanya membela diri saja tanpa tanpa membalas.
Mereka berlima akhirnya te kena bacokan-bacokan dan mulai
menderita luka-luka, walaupun luka ringan karena mereka
memang memiliki tubuh yang kuat terlindung kekebalan,
gerakan lincah dan juga putaran pedang mereka dapat
melindungi diri mereka dari serangan maut.
Bagaimanapun juga, kalau dilanjutkan tak lama lagi tentu
lima orang pendekar itu akan roboh dan tewas di bawah
pengeroyokan demikian banyaknya lawan. Mereka maklum
akan hal ini, namun mereka tidak merasa gentar. Jiwa
kependekaran mereka membuat mereka pantang mundur
dalam menghadapi kejahatan dan penindasan. Mereka
hendak menolong orang-orang dusun itu dengan taruhan
nyawa mereka sendiri.
Dalam keadaan yang amat berbahaya itu, tiba-tiba muncul
seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar. Pemuda ini
bukan lain adalah Han Beng. Dari jauh sudahdia tertarik oleh
suara hiruk pikuk yang bertempur. Biarpun dia sudah
menerima pesan suhunya agar tidak mencampuri urusan
orang lain, namun hatinya tertarik dan dia cepat berlari menuju
ke arah suara keributan itu. Dan dia melihat puluhan orang
dusun yang dibelenggu dan diikat dengan rantai panjang,
melihat pula belasan orang wanita muda yang berhimpitan di
dalam gerobak, dan lima orang gagah yang keroyok oleh
puluhan orang perajurit dan lima orang itu telah menderita
luka-luka. Melihat ini, Han Beng yang cerdik segera dapat
menduga apa yang telah terjadi. Dia sendiri ketika masih kecil,
lima tahun yang lalu, terpaksa harus lari mengungsi bersama
ayah ibunya, karena ayahnya takut dijadikan pekerja paksa
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
oleh pasuka pemerintah. Kini, lihat betapa puluhan orang
petani belenggu, dan wanita-wanita muda ditawan, dia dapat
menduga bahwa tentu para petani itu akan dijadikan pekerja
paksa. Dan lima orang gagah itu tentulah orang-orang berhati
pendekar yang hendak membela puluhan orang petani itu.
"Berhenti ...! Harap hentikan perkelahian ini!" Han Beng
membentak sambil mengerahkan khi-kangnya. Suaranya
melengking nyaring, mengejut semua orang dan lima orang
pendekar Siauw lim pai itu mendapatkan kesempatan untuk
berloncatan mundur karena para pengeroyok mereka terkejut
dan menahan senjata.
"Ciang-kun, kenapakah orang-orang itu diborgol dan
wanita-wanita itu tawan? Hendak dibawa ke manakah mereka,
dan apa kesalahan mereka?" tanya Han Beng kepada Ban Lok
Sek yang berpakaian perwira walaupun juga seragamnya itu
berwarna hitam.
"Mereka ditangkap untuk dijadikan pekerja paksa membuat
Terusan, dan wanita-wanita itu akan mereka perkosa, dan
kami berlima mencoba untuk menolong para tawanan!"
seorang pendekar Siauw lim pai cepat memberi keterangan
agar pihak pasukan tidak sempat berbohong. Mendengar ini,
Ban lok Sek yang sudah marah sekali karena ada orang berani
mencampuri, menggerakkan sepasang goloknya dan
menudingkan golok kanan ke arah muka Han Beng.
"Bocah sombong, jangan mencampuri Urusan pemerintah!
Mereka itu akan diberi pekerjaan sebagai wajib kerja dan Lima
orang penjahat ini hendak memberontak dan menentang
pemerintah! Apakah engkau juga hendak memberontak
berhadap kami pasukan pemerintah?"
"Hemmm, kalau hendak memberi pekerjaan kepada para
petani, bukan demikian caranya. Bukan seperti hewan digiring
ke pejagalan! Dan wanita-wanita itu, mereka menangis, berarti
mereka pergi karena kalian paksa ........."
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Bunuh pemberontak ini!" bentak Ban Lok Sek marah.
Seorang perwira pembantunya yang lihai dalam pcrmainan
silat pedang, sudah menerjang Han Beng dengan tusukan
pedang kearah pemuda remaja itu. Dia memandang rendah
kepada Han Beng karena biarpun pemuda itu bertubuh tinggi
besar, namun wajahnya masih menunjukkan bahwa dia masih
remaja. Tusukan pedang itu cerpat sekali, hanya nampak sinar
pedang kelebatan ke depan, menyambar kearah dada Han
Beng.
Han Beng melihat berkelebatnya sinar pedang ke arah
dada. Dengan tenang dia miringkan tubuhnya sehingga sinar
pedang itu meluncur ke sisi tubuhnya dan sekali melangkah ke
belakang, telah menjauhkan diri. Akan tetapi, luputnya
serangan pertama itu membuat Perwira menjadi penasaran
dan dia pun membalikkan pedangnya, kini pedang berubah
menjadi sinar yang membabat arah leher Han Beng! Tahulah
Han Beng bahwa orang ini memang bersungguh-sungguh
menyerangnya untuk membunuhnya. Dia sudah merendahkan
tubuh, membiarkan pedang itu lewat di atas kepalanya dan
begitu pedang lewat, tangannya mendorong ke depan. Tangan
itu tidak mencapai dada lawan, namun perwira itu rasa betapa
ada tenaga yang hebat disertai angin mendorong dadanya
sehigga dia hampir terjengkang, terhuyung-huyung ke
belakang! Terkejutlah perwira itu dan dia pun sebagai seorang
ahli silat tingkat tinggi mengenal orang lihai. Dia tidak lagi
berani memandang rendah dan sambil mengeluarkan seruan
dahsyat dia menyerang lagi ke depan sambil memutar
pedangnya. Namun, Han Beng menyambutnya dengan
memutar tangan dan sebelum pedang dapat menyentuhnya,
lebih dulu Han Beng sudah mengetuk lengan yang memegang
pedang dari samping. Pedang itu terlepas dan tangan Han
Beng meluncur terus penampar ke arah pundak kanan lawan.
"Plakkk!" Perwira itu terjungkal dan tidak bangkit kembali
karena roboh pingsan.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Melihat ini, Ban Lok Sek terkejut juga marah. Dia lalu
berteriak kepada perwira pembantu yang ke dua, lalu dia
sendiri menggerakkan sepasang goloknya menerjang dan
menyerang Han Beng dibantu oleh perwira ke dua yang
memegang sebatang ruyung, masih dibantu lagi oleh
beberapa orang perajurit.
Lima orang pendekar Siauw-lim menjadi gembira dan
semangat mereka bangkit kembali melihat betapa permuda
yang baru datang ini ternyata lihai sekali. Mereka yang sudah
luka-luka kembali memutar pedang mereka mengamuk.
Karena kini Ban Lok Sek pembantu ke dua sedang
mengeroyok Han Beng sedangkan pembantu pertama masih
pingsan, maka para pendekar Siauw-lim pai itu tidak
menemukan lawan berarti dan biarpun dikeroyok oleh puluhan
orang perajurit, mereka itu dapat membabat mereka sehingga
banyak di antara para perajurit yang roboh. Melihat betapa
lima orang pendekar itu mengamuk Han Beng segera berseru,
"Saudara-saudara harap membebaskan para tawanan dan
melindungi mereka!"
Melihat betapa pemuda remaja yang amat lihai itu sama
sekali tidak kelihatan terdesak oleh para pengeroyoknya
bahkan masih sempat mengingatkan mereka, lima orang
pendekar Siauw-lim-pai itu lalu meninggalkan pasukan yang
sudah mulai gentar itu, dan membebaskan para tawanan pria
dan wanita, lalu mengawal mereka kembali ke dalam dusun.
Sementara itu, Han Beng dikeroyok oleh puluhan orang
perajurit, dipimpin oleh Ban Lok Sek sendiri bersama seorang
perwira pembantunya. Han Beng mengamuk membagi-bagi
tamparan dan tendangan dan para pengeroyok itu s¬perti
sekawanan semut mengeroyok seekor jengkerik. Banyak
pengeroyok yang terlempar ke sana-sini, ada yang mengerang
kesakitan, ada yang pingsan, ada pula yang mampu bangkit
dan mengeroyok kembali. Akan tetapi tidak seorang pun yang
tewas. Han Beng tidak biasa membunuh orang. Biarpun
gurunya seorang yang keras hati dan bertangan besi, namun
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Han Beng tidak mewarisi watak gurunya itu. Dia tidak
mengenal para pengeroyok ini, bertemu pun satu kali,
bagaimana mungkin dia begitu mudah membunuh orang?
Biarpun mereka ini bertindak kejam terhadap rakyat dusun itu,
namun mereka ini bagaimanapun juga hanyalah petugas
pelaksana saja.Yang menjadi biang keladi adalah atasan
mereka, dan dalam hal tindakan setempat itu, tentu panglima
dan perwira yang memimpin mereka ini yang tidak benar!
Tiba-tiba Han Beng mengeluar suara melengking dan
tubuhnya mencelat ke atas seperti terbang saja dan dari atas,
tubuhnya menukik turun dan luncur ke arah kepala Ban Lok
Sek perwira pembantunya! Perwira pembantu yang
memegang ruyung itu terkejut, menghantamkan ruyungnya ke
atas mengararah kepala pemuda yang meluncur dari atas
bagaikan seekor burung rajawali marah itu. Memang, Han
Beng yang dikeroyok banyak orang itu dan tidak ingin
membunuh para pengeroyok dan hanya ingin menghajar dua
orang pimpinan itu, telah menggunakan satu jurus dari Hui-
Tiauw Sin-kun yang membuat tubuhnya melayang seperti
seekor burung rajawali terbang dan ketika tubuhnya meluncur
bawah, dia melihat datangnya serangan ruyung dari bawah.
Disambutnya ruyung itu dengan telapak tangan dan membalik,
menghantam ke arah kepala perwira itu sendiri! Perwira itu
terkejut, berteriak dan cepat miringkan kepalanya.
”Desssss!" Pundaknya masih terkena hantaman ruyungnya
sendiri dan dia pun roboh pingsan dengan tulang pundak
retak!
Melihat ini, Ban Lok Sek marah bukan main dan sepasang
goloknya sudah putar cepat menyerang Han Beng sambil
mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan jurusjurusnya
yang paling ampuh. Han Beng mengelak sambil
berloncatan ke sana-sini, kedua tangannya menangkis dari
kanan kiri pula, sikapnya seperti seekor burung rajawali yang
menggunakan kelincahan gerakannya dan kedua sayap untuk
menampar dari kanan kiri. Tiba-tiba, dengan kecepatan kilat,
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Han Beng berhasil menendang tangan kiri pimpinan pasukan
itu dan golok yang dipegangnya terlepas karena tangannya
seperti remuk terkena tendangan. Tangan Han Beng
menyambut dan memukul ke arah golok yang terlepas dan.
golok itu meluncur bagaikan anak panah menuju ke tubuh Ban
Lok Sek.
"Cappp!" Tanpa dapat dihindarkan lagi, golok itu sudah
menembus dada Ban Lok Sek yang mengeluarkan teriakan
parau dan tubuhnya roboh mandi darah oleh goloknya sendiri.
Han Beng agak bergidik. Baru sekali ini dia membunuh orang
dan dia terbelalak memandang. Pada saat itu, sebatang
tombak menusuknya dari belakang, meluncur ke arah
lambungnya. Karena Han Beng masih memandang kepada
mayat Ban Lok Sek dengan bengong, kewaspadaannya
lenyap dan dia tidak tahu bahwa ada bahaya maut
mengancamnya. Baru setelah ujung tombak itu merobek baju
dan sedikit kulitnya, dia terkejut dan dongan gerkan otomatis
dia miringkan tubuh sambil mengerahkan tenaganya untuk
melindungi lambung yang tertusuk.
Biarpun tombak itu menjadi menyeleweng namun kulit
lambungnya berikut sedikit daging di bawah kulit telah robek
dan darah pun membasahi bajunya. Han Beng menendang
dan pemegang tombak itu terlempar sampai lima meter
terbanting keras, tak mampu bangkit kembali.
Melihat betapa pemuda remaja yang lihai itu telah terluka
dan darah membasahi bajunya, para perajurit menjadi
bersemangat seperti gerombolan ikan mencium darah. Mereka
berteriak-teriak dan menghujankan senjata pada tubuh Han
Beng. Betapapun lihainya, dikeroyok oleh puluhan orang yang
haus darah ini, Han Beng yang tidak ingin membunuh mereka,
menjadi repot juga!
Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa. "Ha-ha-ha, anjinganjing
hina sungguh tak tahu malu, mengeroyok orang
pemuda yang tidak ingin membunuh mereka!" Dan muncullah
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
seorang kakek yang pakaiannya tambal tambalan dan
berkembang-kembang akan tetapi bersih, usianya kurang
lebih enam puluh lima tahun, memegang sebatang tongkat
butut! Dengan gaya seperti seorang memukuli segerombolan
anjing dengan tongkat, pengemis tua itu mengamuk,
tongkatnya menggebuk sana-sini dan setiap kali tongkatnya
bergerak, pasti ada pingsan yang kena hantam, atau
punggung, semua senjata yang mencoba untuk menangkis,
terpental beterbangan dan sebentar saja para perajurit itu
menjadi kacau balau, banyak yang mengusap punggung atau
pinggul sambil berteriak-teriak kesakitan! Melihat munculnya
kakek yang lihai itu, Han Beng merasa gembira bukan main.
Dia segera mengenal pakaian dan tongkat itu, dia segera
menggerakkan kaki tangan menendang dan menampar
merobohkan beberapa orang mengeroyok.
"Suhu !" teriaknya.
"Ehhh?" Gembel tua itu menghentikan gerakan tongkatnya
dan menoleh.Kesempatan ini dipergunakan oleh dua orang
perajurit untuk membacokkan golok mereka, yang seorang
membacok kepala yang kedua membacok pinggang. Kakek itu
agaknya tidak melihat datangnya dua serangan ini. Setelah
golok itu menyambar dekat sekali, baru dia menggerakkan
tangan kirinya menyambut golok yang membacok pinggang,
menerima golok itu dengan tangan kosong, sedangkan yang
menyambar kepalanya dibiarkannya saja!
"Takkk!" Golok itu tepat mengenai kepala, akan tetapi
terpental dan bakkan terlepas dan tangan Si pemegng;
sedangkan kakek itu hanya mengususap kepalanya seperti
yang kegatalan. Adapun golok yang disambut tangan kirinya,
seperti terjepit baja dan pemilik golok mencoba untuk
membetot dan menariknya, namun sia-sia. Ketika kakek tibatiba
melepaskan golok itu sambil mendorongnya, tentu saja
pemilik golok itu terjengkang dan kepalanya terbentur batu
sehingga dia pingsan ketika.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Heiii, jangan ngawur! Aku tidak mempunyai murid seperti
engkau! Muridku berada bersama Sin-tiauw Liu Bhok Ki, di
puncak Kim-hong-san!"
"Anak itu adalah teceu sendiri, Suhu! Teecu adalah Sie Han
Neng, murid Suhu Sin-tiauw Liu Bhok Ki yang sedang mencari
Suhu untuk memenuhi janji antara Suhu berdua!"
"Heh? Benarkah? Aku pun sedang mencarimu! Dan kita
bertemu di sini, ha-ha-ha-ha! Mari kita hajar anjing-anjing ini!"
Han Beng semakin gembira dan bersama gurunya yang
baru itu dia mengamuk, dan makin banyak pula perajurit yang
roboh. Belasan orang sisa perajurit yang melihat ini, menjadi
gentar dan mereka pun melarikan diri, meninggalkan temanteman
yang terluka dan pingsan.
Kakek itu memang Sin-ciang Kai-ong. Hatinya girang bukan
main melihat calon muridnya yang kini telah menjadi seorang
pendekar muda remaja yang hebat! Setelah semua perajurit
melarikan diri, meninggalkan mereka yang luka atau pingsan,
dia lalu mengajak murid itu memasuki dusun Ki-nyan-tung.
Lima orang pendekar Siauw-lim-pai segera memberi
hormat kepada Sin-cia Kai-ong dan Han Beng,
memperkenalkan diri mereka sebagai murid-murid Siauw-limpai
yang membela rakyat yang hendak dijadikan pekerja
paksa. Sin-cia Kai-ong mengangguk-angguk dan
mengacungkan jempol tangan kanannya.
"Hebat! Aku sudah mendengar tentang dibakarnya Siauwlim-
si oleh pasukan pemerintah. Sungguh pemerinta seperti
dipimpin orang-orang buta, ti dak tahu bahwa Siauw-lim-pai
adalah perkumpulan yang amat baik dan besar dan dapat
bermanfaat sekali bagi kemajuan pemerintah. Hemmm,
biarpun Siauw-lim-si telah terbakar, namun murid-muridnya tak
pernah kehilangan kegagahannya! Han Beng, kaulihat baikKANGZUSI
WEBSITE http://kangzusi.com/
baik dan contohlah para pendekar Siauw lim-pai ini. Biarpun
mengalami kepahit an bahkan pusat mereka dihancurka
pemerintah, mereka tidak pernah kehilangan semangat dan
jiwa kependekaran mereka!"
Setelah berunding, lima orang pendekar Siauw-lim-pai itu
lalu mengatur agar seluruh penghuni Ki-nyan-tung itu
mengungsi dan berpencaran, pindah ke lain dusun-dusun agar
terhindar dari balas dendam pasukan pemerintah kelak.
Sedangkan Sin-ciang Kai-ong lalu mengajak Han Beng
meninggalkan tempat itu Dan mulai hari itu, Raja Jembel ini
mulai menggembleng Han Beng sebagai muridnya yang
disayangnya.
oooOOooo
Gadis berusia lima belas tahun itu cantik mungil. Wajahnya
yang berdagu runcing itu amat manisnya, dengan ku¬lit yang
putih kemerahan, hanya memakai bedak tipis, dan merah
pipinya bukan karena gincu melainkan karena sehat bagaikan
setangkai bunga yang belum mekar. Bibirnya juga merah
basah tanpa pemerah bibir. Alisnya seperti dilukis,
melengkung indah melindungi sepasang mata yang bersinar
terang lincah, sepasang mata yang memandang dunia ini
dengan penuh gairah, mata yang bening jeli bagaikan
sepasang bintang. Pakaiannya indah, bahkan mewah dari
sutera mahal, berkembang kuning dengan dasar merah muda,
warna kesukaan gadis remaja itu.
Gadis yang memiliki bentuk tu ramping dengan pinggang
kecil, tubuh yang belum matang benar, sedang tumbuh namun
sudah menjanjikan tubuh yang indah padat berisi dengan kulit
putih mulus, ia bukan lain adalah Giok Cu! Seperti telah
diceritakan bagian depan, Giok Cu dibawa pergi oleh .Ban-tok
Mo-li Phang Bi Cu ke tempat tinggal iblis betina itu di tepi
kotaCe touw di Propinsi Shantung, hidup sama wanita itu dan
belasan orang pelayan wanita yang rata-rata memiliki ilmu silat
yang tinggi.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Karena Giok Cu seorang anak perempuan yang cantik
manis, cerdik dan bocah jenaka, nakal manja, juga berbakat
sekali dalam ilmu silat, pandai ketika diajar ilmu surat, maka
gurunya semakin lama semakin sayang padanya, apalagi
karena Ban-tok Mo-li Phang Bi cu telah kehilangan puteri
tunggalnya, yaitu Sim Lan Ci, yang tidak menurut dan nekat
menikah dengan Coa Siang Lee putera ketua Hek-houw-pang,
Ban-Tok Mo-li melihat Giok Cu sebagai pengganti puterinya, la
bukan hanya menganggap Giok Cu sebagai murid, melainkan
seperti puteri kandungnya sendiri! Karena ia takut kehilangan
Giok Cu seperti ia kehilangan Lan Ci, maka begitu menjadi
muridnya, Giok Cu telah dipasangi racun dengan tusukan
jarum di lengan kirinya, di bawah siku. Tusukan jarum yang
sudah diberi obat beracun itu meninggalkan bekas titik merah
seperti tahi lalat kecil di bawah siku lengan kiri, dan tanda
merah itu akan lenyap kalau Giok Cu kehilangan
keperawanannya, dan akibatnya dalam satu bulan Gadis itu
pun akan kehilangan nyawanya Bila! Ban-tok Mo-li sengaja
memasang racun ini pada diri muridnya agar muridnya itu
tidak berdekatan dan tidak menikah dengan pria sehingga
selama akan berada didekatnyal la tidak rela kalau muridnya
itu menjadi milik orang lain. Memang, jalan pikiran seorang
iblis betina seperti Ban-tok Mo-li memang aneh dan tidak
lumrah manusia biasa. Cinta kasihnya penuh dengan nafsu
mementingkan diri sendiri, penuh dengan keakuan. Orang
yang cintanya hari menjadi alat untuk memuaskan dan
menyenangkan dirinya.
Ketika dipasangi racun titik merah itu, Giok Cu baru berusia
sepuluh tahun. Ia tidak tahu apa-apa, maka pemasangan itu
tidak dipedulikan benar. Bahkan ketika ia mulai remaja,
sampai berlima belas tahun, ia masih belum memusingkan
tanda tahi lalat merah itu. tetap lincah jenaka dan rajin belai
sehingga seusia itu, ia telah pandai menulis sajak dan tentang
ilmu silatnya bukan hanya semua pelayan wanita rumah
gurunya itu tidak ada yang mampu menandinginya, bahkan di
antara kawan-kawan gurunya, yaitu orang-orang kang-ouw,
tidak ada yang berani memandang rendah dan mengenal ia
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
sebagai seorang gadis remaja yang ganas dan kedua tangan
yang mungil itu dapat menyebar maut dengan mudah!
Giok Cu bagaikan setangkai bunga yang hidup di rawarawa
yang kotor dan beracun. Gurunya, yang menganggapnya
seperti puteri sendiri, amat memanjakannya. Akan tetapi,
pergaulan gurunya adalah dengan orang-orang kang-ouw,
orang-orang kasar dan kejam, palsu dan bahaya. Gurunya
tidak pernah mau bergaul dengan rakyat jelata yang
dipandangnya amat rendah. Banyak tokoh sesat berdatangan
ke rumah gurunya, berkunjung dan mereka itu kadang-kadang
berpesta pora melampaui batas!
Bahkan gurunya yang biasanya nampak angkuh dan dingin
itu, kalau sudah bertemu seorang rekan yang menyenangkan
hati, sikap tidak tahu malu, bahkan tidak segan-segan untuk
bercumbu di depan siapapun, bahkan di depan Giok Cu!
Karena semua ini, kadang-kadang di dalam hati Giok Cu
timbul rasa benci dan muak! Bagaikan setangkai bunga, Giok
Cu seperti bunga teratai, biarpun hidup di rawa berlumpur,
tetap bersih berseri! Hal ini adalah karena ketika ikut dengan
Ban tok Mo-li, ia telah berusia sepulu tahun dan ia sudah diajar
kesusilaan oleh mendiang ayahnya, seorang lurah di Kongcung.
Pelajaran yang diterima dari ayah ibunya itu telah
mengakar dibatinnya sehingga kini, walaupun pergaulannya
dengan orang-orang kang-ouw yang kasar dan kadangkadang
cabul, ia tidak sampai ketularan penyakit itu.
Pada waktu itu, Ban-tok Mo-li sedang menjamu kunjungan
belasan orang rekannya, yaitu tokoh-tokoh dunia sesat. Di
antara para tokoh sesat itu terdapat beberapa orang tokoh
muda yang pandang matanya membuat Giok Cu merasa
muak. Mata mereka itu seolah-olah hendak menelannya bulatbulat
kalau memandang kepadanya,bahkan ada yang seperti
menelusuri dan meraba-raba dengan pandang mata mereka!
Mula-mud Giok Cu memang merasa bangga dari sengaja ia
menggoda dengan sikapnya yang lincah Jenaka sehingga
mereka menjadi semakin terpesona. Giok Cu sengaja
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
menggerak-gerakkan tubuhnya, meliak-liuk dan menonjolkan
dadanya yang sudah mulai membusung, mengobral
senyumnya yang amat manis sehingga para tokoh sesat muda
itu seperti tergila-gila. Akan tetapi, lama-kelamaan Giok Cu
menjadi bosan juga dan siang hari itu ia meninggalkan rumah
gurunya, meninggalkan para tamu yang sedang dijamu itu
untuk pergi ke tepi laut yang berada tak jauh dari kota itu.
Ceng-touw memang terletak di tepi laut, menghadapi
Lautan Kuning. Bahkan selama lima tahun ini, Giok Cu
berkenalan dengan seorang kakek nelayan yang pandai sekali
berenang. Kakek itu saling kepadanya dan ia mengajarkan
ilmu bermain di dalam air kepada Giok Cu. Kini Giok Cu juga
pandai sekali berenang, menyelam ke dalam air bahkan
pandai menangkap ikan begitu saja di dalam air, menyambar
dengan kedua tangannya! Kini kakek itu telah meninggal
dunia, setahun yang lalu dan Giok Cu meerasa kehilangan.
Namun, ia telah mewarisi ilmu di dalam air yang diajarkan
kakek nelayan itu dan seringkali para nelayan sendiri merasa
kagum kalau melihat Giok Cu berenang, menyelam di
menangkap ikan! Tidak ada seorangpun di antara para
nelayan itu, yang sejak kecil berkecimpung di lautan, dapat
mengatasi Giok Cu dalam hal bermain dalam air.
Pantai itu sunyi sekali, tidak nampak seorang pun. Para
nelayan sudah berangkat sejak pagi tadi, layar mereka ada
yang nampak dari pantai itu, merupakan titik-titik hitam kecil.
Kala para nelayan sedang berada di tengah lautan, pantai itu
memang sunyi. Kalau para nelayan pulang, barulah ramai
pantai itu menjadi seperti pasar di mana orang-orang dari kota
berdatangan untuk membeli ikan yang masih segar.
Giok Cu duduk di atas pasir yang lembut putih kekuningan.
Angin laut bertiup kencang, membuat rambutnya awut-awutan.
Bau air laut segar dan melegakan dada. Giok Cu menghirup
udara dalam-dalam, merasa dadanya mekar dan hawa sejuk
hangat memasuki paru-parunya. Ia bangkit berdiri dan
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
mengatur pernapasan seperti diajarkan oleh mendiang kakek
nelayan.
la berdiri tegak, kedua kaki agak terpentang, lalu ia
mengembangkan kedua tangan dari depan ke atas sambil
menarik napas sebanyaknya sampai kedua paru-parunya
penuh sesak, dadanya mengembang besar. Setelah paruparunya
tidak dapat menampung lagi, dengan kedua tangan
tetap di atas, ia menahan napas, kemudian mengerahkan
tenaga untuk menekan dada dan mengembangkan perutnya.
Dadanya mengempis dan perutnya mengembang, seolah-olah
hawa yang berada di dadanya itu turun ke perut! Ia lakukan ini
beberapa kali, kemudian ia mengempiskan perut
mengembangkan dada kembali dan mengeluarkan napas
perlahan-lahan sampai habis sama sekali, sampai kedua paruparunya
kempis sama sekali. Diulangnya beberapa kali, lalu ia
mengambil napas dengan cara yang sebaliknya. Ketika
menarik napas, ia bukan mengembangkan dada melainkan
mengembangkan perutnya, seolah-olah hawa itu disedotnya
ke dalam perut sampai sepenuhnya. Kemudian, ia menarik
napas dan "mengoper" hawa di perut itu naik ke dada, turun
lagi dan akhirnya pun membuang napas perlahan-lahan
seperti tadi, dari perut.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Jilid 8
Melihat kanan kiri tidak ada orang, timbul keinginannya
untuk bermain-main di pantai itu. Dari rumah memang ia
sudah membawa ganti pakaian. Pakaian pengganti itu ia
letakkan di atas pantai yang tidak tersentuh air, ditindih
dengan batu agar tidak terbawa kabur angin, kemudian
melepas sepatunya, melepas tusuk konde dan hiasan rambut,
dan berlarilah ia hanya mengenakan pakaian dalam yang
ringkas berwarna merah muda, dan di lain saat ia telah
meloncat ke dalam air yang bergelombang!
Terdengar gadis remaja itu tertawa-tawa riang seorang diri
ketika bermain-main dengan ombak. Kalau ada ombak datang
bergulung-gulung, ia meloncat dan menyambut gelombang itu,
menyelam ke bawah gelombang, kemudian muncul
dibelakangnya.Rasanya seperti bermain-main dengan kawankawan
yang akrab, yang merangkulnya, menggelitiknya, dan
mengajaknya bermain-main dengan gembira sekali. Air yang
dingin sejuk itu sungguh nyaman terasa membungkus kulitnya.
Ia juga kuat sekali menyelam. Bahkan jauh lebih kuat
daripada mendiang kakek nelayan yang menjadi gurunya. Hal
ini adalah karena Giok Cu telah menerima gemblengan dari
Ban-tok Mo-li dan telah menghimpun tenaga sakt Sinkangnya
membuat ia mampu menahan napas sampai jauh lebih lama
daripada guru renangnya sendiri, apalagi dibandingkan orang
lain. Orang akan berdebar tegang dan khawatir kalau melihat
gadis remaja ini menyelam dan mengejar ikan di dalam air.
Rasanya seperti berjam-jam walaupun sesungguhnya hanya
kurang lebih sepuluh menit saja. Akan tetap sepuluh menit ini
sudah merupakan hal yang hebat dan jarang ada orang
mampu melakukannya. Dan gadis ini memang cerdik sekali,
pandai mencari akal? la "menciptakan" sendiri alat untuk
bernapas di dalam air, yaitu sebatang jerami panjang yang
tengahnya berlubang, ujung batang itudipasangi kayu kering
sehingga terapung terus, dan ujung yang lain dimasukkan ke
dalam mulutnya. Dengan alat ini, ia mampu menyelam sampai
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
lama sekali karena ia dapat menghirup udara lewat batang
jerami itu!
Sampai sejam lebih lamanya Giok Cu bermain di lautan itu.
Akhirnya ia merasa cukup puas dan berenang ke tepi. Akan
tetapi, alangkah kaget dan dongkolnya ketika ia melihat
seorang pemuda duduk di dekat tempat ia menaruh pakaian
penggantinya tadi. Dan yang lebih menjengkelkan hatinya lagi,
pemuda itu dikenalnya sebagai pemuda yang paling genit dan
ceriwis di antara semua orang muda yang kini menjadi tamu
gurunya selama beberapa hari ini. bahkan ia tahu pula bahwa
pemuda itu bernama Siangkoan Tek, putera dari Si-gkoan Bok
yang merupakan to-cu (majikan pulau) dari Pulau Hiu, seorang
yang kabarnya kaya raya dan berpengaruh, ia mempunyai
banyak anak buah dan menjadi bajak laut yang amat disegani
dan ditakuti? Siangkoan Tek itu seorang pemuda berusia dua
puluh tahun yang mata keranjang, tinggi kurus namun tampan
dan pesolek. Pemuda itu ceriwis dan genit juga cabul dan
sudah seringka menggodanya, bahkan pernah bebera kali
didampratnya! Namun gurunya adalah sahabat baik ayah
pemuda itu, bahkan sikap gurunya terhadap pemuda tampan
ini pun kadang memuakkan hati Giok Cu Mau apa pemuda itu
berada di pantai dan mendekati pakaian penggantinya yang
ditindih batu di atas pasir itu?
Giok Cu keluar dari dalam air dan berjalan di atas pasir
menuju ke tempat pemuda itu duduk di atas pasir. Akan tetapi
ia teringat akan pakaiannya yang basah, pakaian dalam lagi di
dalam keadaan basah itu pakaiannya melekat dan mencetak
tubuhnya, membuat tubuhnya membayang dan nampak lekuk
lengkungnya. Perasaan rikuh dan malu membuat wajah Giok
Cu kemerahan apalagi melihat pemuda itu memandang
kepadanya dengan mata melotot seolah-olah biji kedua
matanya hampir rnelompat keluar dan mulutnya ternganga.
Pandang mata itu menyapu dan seperti mencengkeram
beberapa bagian tubuhnya sehingga bagian-bagian tertentu itu
terasa seperti digelitik.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Kenapa engkau memandang seperti itu, sampai biji
matamu mau copot!" bentaknya marah.
Yang dibentak malah tersenyum,|alu menarik napas
panjang, seolah-olah baru sadar dari mimpi yang amat indah.
“'Aduhai…….. Adik Giok Cu………., engkau sungguh cantik jelita
tubuhmu itu…… ah, aku bisa gila kalau tidak kau beri cium satu
kali saja pada mulutmu……….!"
Sepasang mata yang jeli dan bening itu seperti
memancarkan sinar berapi.
"Siangkoan Tek, mulutmu sungguh busuk!"
"Eiiit, eiiit, engkau baru berusia lima belas tahun dan aku
sudah dua puluh tahun, Nona Manis, sepatutnya engkau
menyebut aku toako seperti yang sudah-sudah. Bukankah
gurumu sendiri menyuruh engkau menyebut toako kepadaku?"
"Toako hidungmu! Siapa sudi menyebutmu toako? Engkau
berhati kotor, mata keranjang, hidung belang, genit dan
ceriwis! Hayo cepat kau pergi dari situ dan tinggalkan aku
sendirian. Aku mau berganti pakaian kering!"
Kembali sepasang mata yang nakal itu menjelajahi tubuh
Giok Cu, membuat gadis itu ingin sekali menutupi tubuhnya
bagian depan dengan tangan atau pakaian kering.
"Aduh, bukan main indahnya tubuhmu,"pemuda itu terangterangan
menelan ludah. "Bagaimana kalau aku yang
menggantikan pakaianmu?" Dia mengambil pakaian kering itu
dari bawah tindihan batu.
"Berikan pakaianku, engkau keparat!" Giok Cu sudah
marah sekali dan memaki.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Aduh, bukan main! Kalau marah mulutmu cemberut
matamu terbelak semakin cantik saja. Siauw-moi, aku cinta
padamu, dan aku akan minta pada Ayahku untuk
meminangmu menjadi isteriku. Siauw-moi, berilah aku sebuah
ciuman saja dan aku akan pergi tidak mengganggumu lagi."
"Ngaco! Siangkoan Tek, sekali lagi, berikan pakaianku dan
pergi dari sini!"
"Pakaian ini?" Dia mendekatkan pakaian itu ke depan
mukanya dan menyedotnya. "Aih, wangiiiiii……. ! Kau mau
pakaian ini? Boleh, ditukar dulu dengan ciuman satu kali!"
"Jahanam busuk, engkau mau menghinaku?" bentak Giok
Cu, kini tak dapat lagi ia menahan kemarahannya, dan dengan
cepat ia sudah menerjang dengan tangan kanan memukul ke
arah muka Siangkoan Tek, sedangkan tangan kirinya
mencengkeram ke arah pakaian yang dibawa pemuda itu.
"Wuuuuuttttt! Siuuuuuttttt !" Kedua tangan gadis remaja itu
mengandung tenaga pukulan yang cukup dahsyat karena
selama lima tahun ini ia telah banyak mempelajari ilmu-ilmu
silat dari gurunya, dan sudah berhasil menghimpun sin-kang
yang kuat, apalagi karena ia pernah minum darah "anak naga"
itu walaupun tidak begitu banyak.
Namun, Siangkoan Tek adalah seorang pemuda yang
tingkat ilmu silatnya sudah cukup tinggi, masih setingkat lebih
tinggi dibandingkan Giok Cu, apalagi dia sudah mempunyai
banyak pengalaman berkelahi ketika dia memimpin anak buah
ayahnya membajak kapal dan perahu di tengah lautan dan
bertempur melawan pemilik kapal yang dibajak.
"Eiiiiittttt…….., heeeiiiii….. sayang tidak kena, Nona Manis!"
Dengan cekatan, Siangkoan Tek melompat ke samping untuk
menghindarkan diri, dan mengangkat pakaian itu tinggi-tinggi
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
di atas kepalanya. "Hayo tukar pakaian ini dengan ciuman di
mulutmu. Satu kali saja
"Jahanam busuk, kubunuh engkau Giok Cu membentak
dan ia terus menyerang lagi dengan lebih ganas. Namun
kembali pemuda itu dapat mengelak dengan berlompatan, dia
pun sudah berapa kali mengelak dari terkaman terjangan
gadis itu. Kemudian, melihat betapa gadis itu cukup lincah dan
merupakan lawan yang cukup berbahaya, lalu menyelipkan
pakaian Giok Cu itu di ikat pinggangnya, dan dia melayani
Giok Cu dengan kedua tangannya. Kini dia bukan hanya
mengelak, melainkan ka¬dang-kadang menangkis dan setiap
kali menangkis, dia sengaja mengusap lengan gadis itu.
"Aduh halusnya, mulusnya, hangat lagi……..!"
Giok Cu semakin marah. Tiba-tiba dia Mencengkeram
dengan lengan kirinya ke arah muka Siangkoan Tek,
sedangkan tangan kanannya, dengan kecepatan kilat
menonjok ke arah lambung. Serangan ini hebat sekali, namun
agaknya Siangkoan Tek sudah dapat menduganya. Dia
menangkis cengkeraman ke mukanya, lalu menangkap tangan
yang menonjok, di¬tariknya tangan itu dan diciumnya sam¬pai
berbunyi "ngok"!
"Jahanam busuk, anjing kau, buaya kau, monyet kau!" Giok
Cu memaki-maki sambil sibuk mengusapi tangan yang dicium
tadi dengan ujung pakaiannya yang basah. Melihat ulah gadis
itu, Siangkoan Tek tertawa geli.
"Aih, baru tangannya sudah sedap sekali dicium, apalagi
bibirnya!"
Biarpun ia marah sekali, Giok bukan anak bodoh dan ia
tahu bahwa pemuda ini memiliki ilmu silat yang tinggi dan
agaknya tidak akan mudah baginya untuk dapat merampas
pakaiannya itu.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Siangkoan Tek, awas kau! Kalau kau lanjutkan
kekurangajaranmu, kalau tidak segera kau kembalikan
pakaian itu, aku akan lapor kepada guruku engkau akan
disiksa dan dibunuhnya!"
Akan tetapi, mendengar ancaman ini, pemuda itu malah
tertawa. "Ibu gurumu? Ha-ha-ha, ia akan mentertawakanmu,
Siauw-moi. Aku sudah sejak beberapa hari yang lalu saling
berciuman dengan gurumu. Kalau aku boleh menciumnya,
mengapa aku tidak boleh menciummu? Dan aku percaya ia
akan lebih senang kalau aku yang mengajarimu cinta,
daripada pria lain. Gurumu tentu akan senang sekali
mempunyai mantu aku, dengan demikian aku akan selalu
dekat pula dengannya!"
Giok Cu tidak berapa mengerti apa yang dimaksudkan oleh
pemuda itu dengan ucapan tadi, akan tetapi mendengar
bahwa gurunya membiarkan dirinya dimaklumi pemuda ini,
mukanya berubah merah dan hatinya merasa muak sekali.
"Sudahlah, kalau engkau menghendaki pakaian itu, boleh
kaurampas. Memang engkau anak bajak laut, biasanya
ha¬nya merampok. Aku akan mencari pakaian lain!" Berkata
demikian, Giok Cu melompat hendak pergi meninggalkan
pemuda itu. Akan tetapi ada bayangan berkelebat di
sampingnya dan tahu-tahu pemuda itu sudah menghadang.
Jelas bahwa dalam gin-kang ia juga masih kalah jauh!
"Siangkoan Tek, mau apa engkau menghadangku? Aku
mau pergi, jangan menghadangku!"
"Tidak boleh, Nona Manis. Belum boleh pergi. Engkau
masih hutang ciuman yang harus kaubayar. Marilah, mari beri
aku ciuman dan aku akan membantumu berganti pakaian
kering, kemudian kita bersama menghadap gurumu dan
Ayahku untuk membicarakan urusan perjodohan kita. Aku
cinta padamu, Siau moi."
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Sialan!" Giok Cu membentak dan pun terpaksa menyerang
lagi. Akan tetapi sekali ini, Siangkoan Tek bukan hanya
mengelak dan menangkis, melainkan membalas dengan
serangan berupa colekan, cubitan dan rabaan! Biar bukan
merupakan serangan pukulan berbahaya, namun bahkan
membuat gadis repot sekali karena tentu saja ia tidak sudi
dicolek, dicubit atau diraba secara demikian kurang ajarnya!
Hampir ia menangis saking marah dan jengkelnya karena
setelah lewat belasan jurus, belum juga ia mampu memukul
pemuda itu sedangkan beberapa kali dada dan pinggangnya
kena dicolek dan diraba!
Tiba-tiba, gadis itu mengeluarkan suara melengking
nyaring, kedua tanggannya melakukan serangan dorongan
den telapak tangan terbuka ke arah lawan. Itulah jurus dari
ilmu silat tok Hwa-kun (Silat Kembang Selai Racun) ciptaan
Ban-tok Mo-li yang amat hebat dan dahsyat! Sebetulnya, ilmu
silat Ini merupakan ilmu simpanan dan tidak boleh dikeluarkan
secara sembarangan saja. Kalau kini Giok Cu
mempergunakannya, hal itu membuktikan bahwa ia memang
sudah marah sekali terhadap pemuda itu. Serangan ini adalah
serangan maut, karena pukulan dengan kedua ta¬ngan
terbuka itu mengandung hawa beracun. Biarpun Giok Cu
belum menguasai ilmu ini sepenuhnya, namun pukulannya itu
tidak boleh dipandang ringan dan cukup berbahaya untuk
membunuh lawan!
Siangkoan Tek mengenal pukulan ampuh. Dia
mengeluarkan seruan kaget, akan tetapi dengan kecepatan
luar biasa dia sudah melempar tubuhnya ke samping sehingga
dorongan kedua tangan Giok Cu itu luput. Kaki pemuda itu
mencuat dan menyentuh lutut Giok Cu. Kini gadis itu yang
mengeluarkan seruan kaget dan sebelah kakinya jatuh
berlutut. Tiba-tiba kedua lengan pemuda itu sudah
memeluknya dan muka pemuda itu mendekat, mulut
diruncingkan siap untuk mengecupup mulutnya! Giok Cu
menarik tubuh atas ke belakang, menjauh dan kedua matanya
terbelalak penuh rasa jijik dan ngeri, akan tetapi mulutnya
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
diruncingkan itu terus mengikuti mukanya dan mengejar untuk
mencium, sedangkan pelukan kedua lengan itu erat sekali,
membuat ia tidak mampu menggerakkan kedua lengannya
yang ikut pula dilingkari lengan Siangkoan Tek. Kini muka itu
sudah dekat sekali, bahka napas yang panas pemuda itu
sudah terasa menghembus di pipinya, membuat Giok Cu
merasa tengkuknya meremang saking ngerinya.
"Cuhhh! Cuhhhhh!!" Dua kali Giok meludah ke arah muka
yang dekat itu. Muka Siangkoan Tek basah semua d siram
ludah! Pertama mengenai mulut dan hidungnya, yang ke dua
kalinya mengenai antara kedua matanya sehing kedua
matanya terpaksa dipejamkan. Saat itu dipergunakan oleh
Giok Cu untuk memukul dengan kepalan tangan ke arah perut
pemuda itu.
"Ngekkkkk!" Pukulan itu tidak dapat dilakukan terlalu keras
karena jaraknya yang amat dekat, namun cukup membuat
Siangkoan Tek menjadi mulas dan rangkulannya terlepas.
Giok Cu meloncat ke belakang. Siangkoan Tek mem¬bungkuk
memegangi perutnya, lalu mengangkat muka dan matanya
yang memandang Giok Cu menjadi beringas.
"Hemmm, ludahmu manis rasanya, Akan tetapi pukulanmu
memulaskan perutku. Untuk itu, engkau harus mengobatinya
dengan lima kali ciuman!" Tiba-tiba dia menubruk maju,
gerakannya demikian cepat sehingga hampir saja pundak
Giok Cu kena dicengkeram. Gadis tu menggerakkan tubuh
mengelak sehingga cengkeraman itu hanya menyerempet
pakaian saja.
"Brettttt……..!" Baju di bagian pundak itu robek dan karena
baju itu adalah baju dalam, maka di sebelah dalamnya tidak
ada pakaian lain sehingga begitu robek, nampaklah kulit
pundak dan bagian kulit dada yang membukit, halus dan
mulus! Giok Cu meloncat dan melarikan diri, akan tetapi
karena ia berada di tepi laut, larinya bahkan menuju ke laut.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Duhai ……. Indahnya pundak dan dadamu, Siauw-moi!" kata
pemuda itu sambil mengejar. Giok Cu berlari terus ke lautan,
ditertawai oleh Siangkoa Tek.
"Hendak lari ke mana kau? Ke laut Ha-ha-ha, mana
mungkin engkau akan berdiam terus di lautan? Kesinilah
manis dan mari kita bersenang-senang!"
Akan tetapi Giok Cu tidak peduli dan melihat betapa
pemuda itu terus mengejarnya, ia pun lalu melarikan diri terus
ke laut yang semakin dalam lalu ia pun berenang dan
menyelam!
Sebagai seorang putera to-cu ( Majikan pulau) dan ia pun
hidup di atas sebuah pulau, tentu saja Siangkoan Tek juga
pandai berenang. Akan tetapi kepandaiannya dalam hal
renang ini bias biasa saja, seperti orang biasa. Dibandingkan
dengan Giok Cu, tentu saja dia kalah jauh. Akan tetapi dia
tidak tahu bahwa gadis itu adalah seorang ahli bermain dalam
air yang amat pandai. Dia hanya tertawa dan menghadang di
lautan yang agak pinggir, yang dalamnya hanya sebatas
pinggangnya.
Setelah Giok Cu muncul kembali, pemuda itu tertawa
bergelak. "Ha-ha, hendak kulihat sampai berapa lama engkau
dapat bertahan di situ. Eh, Siauw-moi, tahukah engkau bahwa
kalau air laut pasang begini, ikan-ikan hiu biasanya suka
bermain-main ke tepi pantai? Awas, jangan-jangan kakimu
yang mungil itu akan lenyap sebuah dicaplok hiu, kan sayang!"
Berdebar rasa jantung di dada Giok Cu. Sebagai seorang
murid mendiang kakek nelayan yang pandai, pernah ia
mendengar dari gurunya itu bahwa ucapan pemuda itu bukan
sekedar menakut-nakutinya saja. Kalau sampai benar terjadi
ada ikan-ikan hiu bermain-main di situ, celakalah ia! Ia pun
mencari akal untuk mengalahkan pemuda yang nakal dan lihai
itu, dan tiba-tiba ia menjerit.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Aduhhhhh ……, kakiku…… ah, kakiku yang kanan kejang….. !"
Ia menyelam, muncul kembali dan terengah-engah, wajahnya
menunjukkan kesakitan. Tadinya, Siangkoan Tek hanya
mentertawakannya saja, mengira gadis itu berpura-pura. Akan
tetapi melihat betapa gadis itu gelagapan minum air laut, dan
mukanya terbelalak ketakutan, tenggelam timbul, dia menjadi
khawatir. Tentu ja dia tahu bahwa kejang kaki di waktu
berenang di laut amatlah berbahaya. Apalagi kalau
kekejangan itu menjalar ke perut. Dia melemparkan pakaian
kering yang dipegangnya dan tanpa mebuka sepatunya atau
jubahnya lagi, pemuda yang mengkhawatirkan gadis yang
dicintainya itu tenggelam, lalu berlari ke depan dan meloncat
ke dalam gulungan ombak dan berenang secepatnya menuju
ke arah gadis yang mulai hanya agak ke tengah itu.
"Siauw-moi…….! Pertahankan dengan kedua lenganmu agar
tubuhmu tidak sampai tenggelam!" teriaknya. "Tekuk
pergelangan kakimu ke atas sekuat tenaga….., jangan
khawatir, aku datang menolongmu!"
"Toako ……. Cepat ..... ah, aku tidak kuat lag " terdengar
suara gadis itu memohon. Besarlah rasa hati Siangkoan Tek
mendengar gadis itu menyebutnya toako. Hem, sudah
terbayangkan olehnya betapa nanti kalau gadis itu sudah
ditolongnya dan didukungnya ke pantai, gadis itu akan
bersukur dan berterima kasih sekali dan tentang ciuman yang
dia harapkan, tidak perlu lagi dia minta apalagi dia paksakan.
Tentu dengan suka rela gadis itu akan memberinya ciuman
seratus kali! Dengan penuh semangat Siangkoan Tek
mempercepat renangnya menuju ke arah gadis yang
tenggelam timbul itu.
Ketika dia sudah tiba dekat, tangannya menjangkau untuk
menangkap lengan Giok Cu. Akan tetapi tiba-tiba saja tubuh
Giok Cu tenggelam dan lenyap! Tentu saja Siangkoan Tek
menjadi gugup dan dia pun cepat menyelam untuk mencari
gadis itu. Dan pada saat itu, dia merasa betapa kakinya ada
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
yang menangkap dan tubuhnya ditarik dengan kuat sekali ke
bawah.
Di dalam air, Siangkoan Tek hanya melihat bayangan yang
panjang. Jantungnya berdebar tegang. Jangan-jangan ada
ikan hiu yang menggigit kedua kakinya. Akan tetapi tidak ada
rasa nyeri dan dia berusaha melepaskan tangkapan itu
dengan mengguncang-guncang kedua kakinya. Sia-sia
belaka, tangkapan atau gigitan yang tidak nyeri itu tidak
terlepas dan biarpun dia berusaha untuk menggunakan kedua
lengan agar tubuhnya timbul kembali ke atas, usahanya juga
gagal. Apa pun yang telah menangk kedua kakinya itu ternyata
amat kuat dan tubuhnya terus ditahan sehingga tidak dapat
naik ke atas. Siangkoan Tek mengangguk-angguk. Dia dapat
menduga Sungguh anak itu nakal dan manja sekali pikirnya
sambil menahan senyum. Siapa lagi kalau bukan Giok Cu
yang Bermain-main dengan dia? Gadis itu tadi tentu hanya
pura-pura dan menjebaknya. Kini gadis itu memegangi kedua
kakinya dan menahannya di bawah air! Tenaga orang
memang dapat menjadi besar sekali dalam air, hal itu adalah
karena tubuhnya sendiri menjadi ringan di dalam air maka
pegangan gadis itu amat kuatnya sehingga tidak dapat dia
melepaskannya. Akan tetapi dia tidak khawatir. Kalau dia
harus menahan napas di dalam air, gadis itu pun sama saja!
Dan tentu ia akan lebih kuat bertahan dibandingkan gadis itu!
Bukankah gadis itu yang tadi lebih dulu menyelam? Dia pun
menahan napasnya, mengharapkan gadis itu akan cepat
melepaskan kakinya karena tentu gadis itu tidak kuat bertahan
terlalu lama dan akan melepaskan kakinya ntuk muncul
kepermukaan air dan bernapas.
Akan tetapi sekali ini, perhitungan Siangkoan Tek meleset!
Sampai lama sekali gadis itu belum juga mau melepaskan
kakinya! Dia sudah menahan napas sampai dadanya terasa
hampir meledak! Dia tidak kuat lagi menahan dan saking
takutnya mati kehabisan na¬pas di dalam air, dia meronta
sepenuh tenaga. Rontaannya ini berhasil. Sebelah kakinya
lepas dan dia pun menendang dengan kaki yang bebas itu ke
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
arah tangan yang masih memegangi kaki yang ke dua.
Akhirnya, pada saat terakhir di mana dia sudah terpaksa
menelan air, kedua kakinya terlepas dan dia pun meluncur
atas. Begitu kepalanya tersembul kelu dari permukaan air,
dalam keadaan hampir pingsan Siangkoan Tek menghirup
napas terengah-engah, dadanya nyeri. Dia tidak tahu bahwa
Giok Cu juga menyembulkan kepala di belakangnya. Gadis itu
menghirup napas, tidak terengah-engah seper dia, dan Giok
Cu menyelam kembali. Wajahnya tersenyum, matanya
berkilat-kilat.
"Ehhh, auuuppp……..!" Tubuh Siangkoan Tek kembali
terbetot ke dalam air. Dia meronta sekuat tenaga, kakinya
terlepas dari pegangan Giok Cu, mukanya tersembul lagi dan
dia gelagapan, bernapas dan tak dapat dihindarkan lagi ada
laut memasuki perutnya.
"Eh, jangan Siauw-moi……….!" Dia berteriak akan tetapi
kembali tubuhnya diseret ke bawah! Terjadilah pergulatan di
air. Siangkoan Tek berusaha muncul kembali, Giok Cu
berusaha menyeretnya ke bawah!.Siangkoan Tek gelagapan,
beberapa kali minum air laut dan berusaha untuk melawan.
Namun gadis itu sungguh lincah sekali di dalam air, seperti
seekor ikan saja!
Tenaga Siangkoan Tek makin lama semakin lemah
akhirnya dia pun pingsan! Giok Cu masih teringat kepada
gurunya. Kalau dibiarkan pemuda ini mati, tentu gurunya akan
marah sekali padanya. Dan kemarahan gurunya dapat saja
berarti ia akan dibunuh atau disiksa! Sudah seringkah ia
melihat gurunya marah dan menyiksa atau membunuh orang,
dan diam-diam Giok Cu menggigil ngeri. Pula, ia pun tidak
ingin membunuh Siangkoan Tek ini. Memang dia kurang ajar,
akan tetapi bukankah dia hanya menyatakan cintanya dan tadi
hanya ingin mencium? Pula bukankah ketika ia berpura-pura
kejang tadi, Siangkoan Tek berusaha menolongnya, tanpa
melepas jubah dan sepatu? Hal ini saja menunjukkan bahwa
Siangkoan Tek yang genit dan ceriwis mata keranjang dan
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
cabul itu memang benar mencintanya. Tidak, ia tidak akan
membiarkan pemuda itu mampus!
Diseretnya tubuh pemuda yang pingsa itu ke tepi. Diseret
dengan menjambak rambutnya dan membiarkan muka
pemuda itu terapung menengadah. Setelah tiba di pantai,
diseretnya pemuda itu pada rambutnya sampai berada di atas
pasir pantai lalu ditelungkupkan dan diinjak punggung bagian
perut. Banyak air keluar dari mulut dan hidung pemuda itu
sehingga perutnya yang tadinya menggembung menjadi
kempis kembali. Giok Cu mengamati sebentar. Pemuda itu
bernapas, biarpun terengah-engah. Dia tidak akan mati, pikir
Giok Cu dengan hati lega dan puas. Lega karena ia telah
berhasil lolos dari gangguan pemuda itu, dan puas karena ia
telah mampu membalas dan memberi hajaran tanpa harus
membunuh pemuda ini. la segera mengambil pakaian
keringnya dandi belakang sebongkah batu besar, ia bergan
pakaian. Ketika melihat bajunya yang robek di bagian dada
dan karena pergulatan di lautan tadi robeknya menjadi
semakin lebar sehingga nampak sebagian dadanya, wajahnya
berubah merah dan ia menjadi marah kembali kepada
Siangkoan Tek. Pemuda itu sungguh kurang ajar, pikirnya.
Setelah ia berganti pakaian kering, teringat akan perbuatan
pemuda itu yang hampir menelanjanginya, ia lalu menghampiri
pemuda yang masih belum sadar be¬ul itu, dan beberapa kali
ia mencengkeram ke arah pakaian lalu merenggutnya,
kemudian meninggalkan Siangkoan Tek dalam keadaan
hampir telanjang dan tengah pingsan di tempat itu!
Ketika Giok Cu pulang menuju ke kota Ceng-touw, ia harus
melalui sebuah jalan yang sunyi berbukit. Tempat sunyi ini
biasanya menjadi tempat berkumpul para nelayan untuk
membetulkan jala dan menjemur jala. Di situ hanya ada
beberapa buah buk, akan tetapi pada saat itu, tidak nampak
seorang pun di tempat itu.
Giok Cu berjalan dengan hati gembira. Pemuda itu pasti
tidak akan berani lagi mengganggu dirinya! Pengalaman pahit
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
itu tentu membuat Siangkoan Tek menjadi jera. Ia tidak tahu
bahwa semenjak di pantai tadi, ada empat pasang mata yang
menyaksikan semua yang terjadi, bahkan ketika ia berganti
pakaian di belakang batu besar, empat pasang mata itu
mengintainya dengan pandang mata penuh nafsu iblis.
Selagi Giok Cu berjalan santai di tempat yang sunyi itu,
tiba-tiba nampak empat orang pemuda berloncatan dari balik
sebuah gubuk, Giok Cu meng¬rutkan alisnya ketika ia
mengenal empat orang pemuda yang seperti juga Singkoan
Tek, menjadi tamu dari gurunya. Tidak seperti Siangkoan Tek
yang datang bersama ayahnya, empat orang pemuda ini
adalah murid-murid dari dua orang tokoh kang-ouw yang juga
terkenal dan menjadi rekan gurunya. Ia malah sudah
diperkenalkan dengan mereka dengan guru-guru mereka.
Pemuda yang kurus kering dengan muka pucat berusia dua
puluh tahun itu bernama Ban To, dan pemuda yang mukanya
tampan akan tetapi bopeng (cacat bekas cacar) itu bernama
Gak Su. Mereka adalah suheng dan sute, murid dari Kok Sian,
seorang tokoh kang-ouw yang amat terkenal pula. Ouw Kok
Sian seolah-olah menjadi raja kecil, raja kaum sesat dan
berkuasa di daerah Pegunungan Liong-san, di mana dia hidup
sebagai seorang yang berkuasa dan kaya raya, dengan rumah
gedung yang didirikannya di puncak sebuah bukit di
pegunungan itu. Ouw Kok Sian ini berusia kurang lebih lima
puluh tahun, tubuhnya tinggi besar seperti raksasa, dengan
mata lebar mulut besar dan mukanya berbentuk segi e¬pat.
Dua orang pemuda yang lain bernama Siok Boan, yang
bertubuh gendut dengan muka seperti kanak-kanak, dan Poa
Kian So yang pendek dengan hidung pendek pesek pula.
Mereka ini suheng dan sute, murid dari Lui Seng Cu yang
berjuluk Hok-houw Toa-to (Golok Besar Penakluk Harimau),
seorang berusia lima puluh tahun dan terkenal sebagai
seorang perampok tunggal yang ditakuti. Akan tetapi dia kini
telah mengundurkan diri dan menjadi seorang di antara
pimpinan suatu aliran kepercayaan baru yaitu para
penyembah Thian-te Kwi-ong (Raja Setan Langit Bumi), yang
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
katanya dapat membuat orang menjadi kaya raya, sakti dan
panjang umur!
Demikianlah, melihat empat orang pemuda ini tiba-tiba
muncul dan menghadangnya, Giok Cu mengerutkan alisnya.
Seperti juga Siangkoan Tek, empat orang pemuda yang
menjadi tamu gurunya ini bersikap amat manis kepadanya,
terlalu manis bahkan menjilat-jilat dan jelas merayu, kadangkadang
kurang ajar. Mengingat akan pengalamannya yang
baru saja mengancam keselamatannya, Giok Cu yang tidak
ingin pula mengalami hal tidak enak di tempat sunyi itu, lalu
tersenyum manis dan menegur mereka lebih dulu.
"Selamat pagi! Cu-wi Toa-ko (ParaKakak) hendak pergi ke
manakah?"
Empat orang pemuda itu memandang kagum dan mata
mereka mengandung nafsu berahi. Hal ini adalah karena
mereka tadi melihat pergulatan Giok Cu dan Siangkoan Tek,
kemudian mereka, melihat pula betapa Giok Cu berganti
pakaian di belakang batu, lalu betapi gadis itu menelanjangi
Siangkoan Tek Kini, gadis yang memang membuat mereka
tergila-gila itu berdiri di depan mereka sambil tersenyum
manis. Dalam pandangan mata empat orang pemuda ini,
mereka yang masih teringat akan penglihatan tadi seolah-olah
gadis itu berdiri di depan mereka tanpa pakaian!
"Siauwmoi-moi Giok Cu, engkau tampak segar dan cantik
jelita, juga rambutmu masih basah. Dari manakah engkau?"
tanya Siok Boan sambil terseyum simpul.
Biarpun hatinya mendongkol oleh puji-pujian yang sifatnya
merayu ini, namun Giok Cu menahan sabar dan ia pun
menjawab, suaranya masih lincah dan manja. Digerakkannya
kepalanya agar rambut yang terurai basah itu pindah ke atas
pundak bagian depan, terjuntai panjang sampai ke perutnya,
kemudian jari-jari tangannya mempermainkan ujung rambut
yang halus itu.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Aku baru pulang dari mandi di laut. kalian hendak ke
manakah?"
"Mandi di laut? Dengan siapakah, nona Manis?" tanya Ji
Ban To yang kurus kering dan mukanya pucat seperti orang
berpenyakitan, bahkan kakinya melangkah maju mendekat.
Melihat ini Giok Cu melangkah mundur, seolah tak disengaja.
"Dengan siapa? Tentu saja seorang diri, dengan siapa
lagi?" jawab Giok Cu. Empat orang itu tertawa bersanma dan
Giok Cu memandang dengan alis semakin berkerut. "Kenapa
kalian tertawa?" tanyanya, mulai marah.
"Ha-ha-ha!" Gak Su yang tampan akan tetapi bopeng itu
kini tertawa. "Engkau mandi sendiri saja, Siauw-moi? bagus,
lalu siapa itu pemuda yang bergelut denganmu di lautan
sampai hampir mampus, dan siapa pula pria yang
kautelanjangi tadi? Sesudah engkau……. eh, berganti pakaian
di belakang batu besar?" Wajah Giok Cu berubah dan ia
mandang mereka dengan mata terbelalak.
"Kalian………. kalian melihat itu muanya?" Tentu saja mereka
melihatnya pikirnya cepat, kalau tidak, mana mungkin Si
Bopeng ini dapat bercerita seperti itu? "Salahnya sendiri!
Siangkoan Tek sungguh tak tahu diri dan hendak kurang ajar
kepadaku, maka aku telah menghajarnya! Sudahlah, urusan
itu tidak ada sangkut pautnya dengan kalian, harap jangan
mencampurinya!" berkata demikian, Giok Cu lalu meloncat
dan melarikan diri untuk pulang ke rumah gurunya. Empat
orang itu tertawa.
"Heiii, Siauw-moi, aku pun ingin engkau telanjangi seperti
Siangkoan Tek! Kapan engkau mau menelanjangi aku? Haha-
ha!" Ji Ban to yang kurus kering dan pucat itu berteriak.
Giok Cu pura-pura tidak mendengar saja dan ia terus saja
berlari. Hatinya merasa tidak enak. Mereka telah melihatnya
tadi. Dan orang-orang macam mereka itu tentu tidak akan
tinggal diam. Siapa tahu mereka akan melaporkan hal itu
kepada subonya dan kepada ayah Siangkoan Tek, dan ia tidak
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
dapat membayangkan apa yang akan terjadi kalau kedua
orang tua itu mendengar akan apa yang dilakukannya pada
Siangkoan Tek. Ia merasa yakin bahwa Siangkoan Tek sendiri
tidak akan mau bercerita kepada siapapun juga. Pemuda itu
angkuh dan tinggi hati, dan di antara para pemuda yang saat
itu menjadi tamu subonya, boleh dibilang SiangkoanTek yang
paling menonjol, paling tampan dan bahkan paling kaya, juga
dapat diduga memiliki ilmu kepandaian paling tinggi.
Bagaimana mungkin dia akan bercerita bahwa dia telah
dipermainkan dan dihajar, bahkan dihina oleh seorang gadis
remaja?
Empat orang pemuda itu sambil tertawa-tawa
meninggalkan tempat itu,bahkan kini mereka mempergunakan
ilmu berlari cepat keluar dari kota menuju ke utara. Menjelang
senja, empat orang pemuda itu telah kembali ke Ceng-touw
dan dua orang di antara mereka, yaitu Siok Boan dan Pao
Kian So, murid-murid Hok-houw Toa-to Seng Cu, kini
memanggul sebuah karung, sedangkan dua orang kawan
mereka, yaitu Ji Ban To dan Gak su, dua orang murid Ouw
Kok Sian, mengikuti saja dari belakang.
Ketika mereka tiba di hutan terakhir, dekat dengan kota
Ceng-touw, hutan yang kecil saja namun sunyi, terdengar lagi
suara Ji Ban To yang merengek sejak tadi.
"Saudara Siok Boan, "harap engkau! jangan bersikap pelit
seperti itu, dan kekanak-kanakan. Gadis ini tidak urung akan
dikorbankan, mengapa tidak boleh kami pinjam sebentar
saja?"
"Benar sekali! Sayang ia dikorbankan! begitu saja, biarkan
kami berdua menikmatinya kalau kalian berdua tidak
mau.Ingat, tadi kami pun telah membantu kalian menangkap
dua orang ini! Gak Su yang mukanya bopeng mendukung
suhengnya. Dua orang murid dari Ouw Kok Sian ini merasa
penasaran sekal karena sejak tadi permintaan mereka ditolak
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
olehdua orang rekan itu. Padahal ketika menculik pemuda dan
gadis dari dusun itu, mereka berdua telah membantu.
"Sudah kukatakan sejak tadi, yang ini sama sekali tidak
boleh diganggu, pemuda yang dikorbankan harus perjaka
tulen seperti juga gadisnya harus perawan tulen. Kalau Suhu
mengetahui bahwa gadis itu tidak perawan lagi, tentu kami
berdua yang akan menerima hukuman dan kemarahan Suhu,"
bantah Siok Boan tegas.
"Bagaimana gurumu akan dapat mengetahuinya? Kita
serahkan keduanya dalam keadaan mulus. Percayalah, kami
berdua akan berlaku hati-hati sekali. Berikan ia sebentar
kepada kami, dan tak lama kemudian akan kami kembalikan ia
dalam keadaan utuh!" desak Ji Ban To.
"Benar sekali kata Suheng! Sayang gadis semanis itu
dibiarkan lewat begitu saja tanpa dinikmati. Serahkan ia
kepada kami, Saudara Siok Boan!" Gak Su juga mendesak.
Kini Poa Kian So, murid ke dua dari Hok-houw Toa-to Lui
Seng Cu, melangkah maju dengan muka merah. Dia
memanggul karung ke dua dan kini dengan sikap marah dia
berkata kepada dua rang pemuda itu. "Kalian ini sungguh
nekat! Apakah kalian belum pernah berdekatan dengan wanita
maka demikian dekat seperti kelaparan? Masih banyak gadis
lain yang dapat kalian tangkap bukan yang ini! Apa sih
hebatnya perawan dusun ini? Dibandingkan dengan Nona
Giok Cu, tentu bukan apa-apanya!"
Siok Boan membujuk dua orang temannya itu. "Sudahlah,
kalian harus tahu bahwa kita membawa tugas penting dan
sekarang kita tentu telah dinanti-nanti oleh para Lo-cianpwe.
Apakah kalian ingin tugas kita ini gagal hanya karena kalian
haus akan gadis ini? Sute benar, masih banyak gadis lain di
dunia ini, jangan kalian mengacaukan upacara suci malam ini."
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Ji Ban To dan sutenya, Gak Su saling pandang dan biarpun
mereka merasa kecewa sekali, namun mereka tidak berani
memaksa. Kalau mereka memaksa mereka bukan takut untuk
bentrok dengan Siok Boan dan Poa Kian So, aka tetapi semua
tokoh yang menanti dirumah Ban-tok Mo-li tentu akan
menyalahkan mereka berdua. Bahkan suhu mereka pun akan
marah kepada mereka. Akan tetapi, penolakan kedua orang
murid Hok-houw Toa-to yang bertindak sebagai pimpinan
upacara pengorbanan kepada Raja Setan itu membuat
mereka menjadi semakin bergairah kalau mengingat Giok Cu.
Memang, dibandingkan dengan Giok Cu, perawan desa itu
tidak ada artinya! Mereka berempat lalu melanjutkan
perjalanan dan hari telah menjadi senja ketika mereka tiba di
rumah besar dan mewah itu.
Ternyata para lo-cian-pwe telah menanti mereka. Mereka
semua telah berkumpul di ruangan berlatih silat yang berada
di bagian belakang rumah itu, dengan semua jendela dibuka
dan nampak mereka semua telah duduk bersila di atas lantai
yang bertilamkan permadani. Ban-tok Mo-li sebagai nyonya
rumah duduk bersanding dengan Hok-houw Toa-to Lui Seng
Cu yang bertindak sebagai pimpinan upacara. Nampak pula
Ouw Kok Sian, "raja" Pegunungan Liong-san yang bertubuh
tinggi besar seperti seorang raksasa, duduk tak jauh dari
nyonya rumah, di sebelah kirinya. Adapun di sebelah kanan
Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu, duduk Siangkoan Bok, majikan
Pulau Hiu, disamping puteranya, Siangkoa Tek. Selain tiga
orang tokoh sesat yan merupakan tamu kehormatan dari Ba
tok Mo-li, masih ada belasan tokoh sesat lainnya yang sengaja
diundang untuk meramaikan upacara itu dan mereka semua
duduk bersila di ruangan silat yang luas itu, membentuk
lingkaran punggung mereka dekat dengan dinding.
Di tengah ruangan itu terdapat meja sembahyang yang
sudah dipasangi lilin dan bermacam masakan, juga buahbuahan
dan bunga-bunga, dan di belakang meja sembahyang
itu terdapat sebuah meja lain yang panjangnya dua meter
lebarnya satu setengah meter. Meja itu ditilami kain putih dan
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
di kepala meja itu terdapat dua buah bantal putih! Meja itu
agaknya menjadi semacam pembaringan! Hiasan bungabunga
dan mengepulnya dupa harum, ditambah penerangan
yang suram karena hanya penerangan lilin saja sedangkan di
luar sudah mulai gelap membuat suasana menjadi
menyeramkan. Apalagi ketika Hok-ho Toa-to Lui Seng Cu
bangkit dari tempat duduknya. Orang tinggi tegap ini
mengenakan pakaian serba hitam dengan kat pinggang putih
dan ikat kepala putih pula, tidak bersepatu dan rambutnya
ibiarkan riap-riapan sehingga dia kelihatan menyeramkan
seperti setan! Lui Seng Cu yang bertugas sebagai pimpinan
upacara itu menambah dupa harum sehingga asap harum
mengepul semakin tebal. Di antara para tokoh sesat itu ada
yang diikuti oleh para murid atau anak buah yang jumlahnya
semua ada dua puluh orang lebih, dan mereka ini duduk
bersila pula di belakang guru atau pimpinan mereka.
Sejak tadi Giok Cu mengamati semua itu. Ia melihat betapa
Siangkoan Tek sering melirik kepadanya. Ia pun melirik dan
sungguh aneh sekali. Pemuda yang tadi pagi hampir mati ia
seret ke dalam air lautan itu kini nampak tersenyum-senyum
kalau memandang kedadanya, sama sekali tidak kelihatan
marah atau mendongkol. Juga ayah pemuda itu kelihatan
tenang saja sehingga hati Giok Cu merasa lega. Jelas bahwa
pemuda itu tentu tidak menceritakan peristiwa pagi tadi
kepada siapapun juga seperti telah diduganya.
Bahkan ketika pandang mata merek; saling bertemu,
Siangkoan Tek menjuri dengan tubuh agak dibongkokkan lali
tersenyum dan tangannya mengelus perutnya, seolah-olah
hendak menceritakan betapa perutnya menjadi tidak enak
karena menelan banyak air laut! Giok Cu yang berwatak lincah
jenaka itu tidak dapat menahan geli hatinya dan ia pun
menutupi mulut untuk menyembunyikai tawanya, akan tetapi
justeru penutupi mulut dengan tangan itu menunjukkan bahwa
ia merasa geli dan tersenyum Bagaimana juga, pemuda yang
genit mata keranjang dan kurang ajar itu, mempunyai watak
yang tidak terlalu buruk dan agaknya tidak pendendam.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Ataukah karena sedang tergila-gila kepadanya? Atau memang
pemuda itu amat mencintanya Wajah Giok Cu terasa panas
dan ia tahu bahwa wajahnya tentu menjadi merah maka ia
menundukkan muka.
Sebenarnya, apakah yang sedang di lakukan oleh para
tokoh sesat di dalam Iian-bu-thia dari rumah Ban-tok Mo-li itu?
Tadi Giok Cu sudah pula bertanya kepada subonya, akan
tetapi subonya menjawab singkat bahwa akan diadakan suatu
upacara penting yang akan dipimpin oleh Hok-houw Toa-to Lui
Seng Cu, dan bahwa ia tidak perlu banyak bertanya, hanya
boleh nonton saja.
"Dan ingat engkau, Giok Cu, apa pun yang terjadi di sini,
engkau hanya boleh nonton dan sama sekali tidak boleh
mencampuri!" Hati Giok Cu sudah menjadi kecut mendengar
pesan ini. Biasanya, kalau gurunya berpesan seperti itu, tentu
akan terjadi hal-hal yang mengerikan. Dulu pernah gurunya itu
membunuhi belasan orang yang dianggap musuh dan ia pun
sebelumnya sudah dipesan agar jangan mencampuri. Pernah
pula gurunya menawan tiga orang dan disiksanya sampai
mati, juga ia dipesan agar jangan mencampuri. Bahkan kalau
gurunya menawan dan mengeram pemuda-pemuda tampan,
ia pun dihardik dan tidak boleh bertanya-tanya! Maka kini ia
pun hanya duduk di belakang gurunya nonton saja dengan hati
tegang.
Kiranya, baik Ban-tok Mo-li mau pun para tokoh sesat
lainnya terbujuk dan tertarik kepada aliran kepercayaan baru
yang dianut oleh Hok-hou; Toa-to Lui Seng Cu. Menurut
penuturan Lui Seng Cu kepada para rekannya aliran
kepercayaan baru ini berpusat disumber atau pusat dari
Huang-ho (Sungai Kuning), yaitu di lereng Pegunungan
Bayan-san di bagian selatan Propinsi Cing-hai. Di pegunungan
itulah munculnya aliran kepercayaan baru ini, dipimpin oleh
pendeta-pendeta pertapa yang sakti. Dan aliran kepercayaan
baru ini dinamakan Thian-te-kauw (Agama Langit Bumi) dan
yang disembah adalah yang disebut Thian-te Kwi-ong (Raja
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Setar Langit Bumi)! Menurut keterangan Lui Seng Cu, biarpun
yang disembah itu hanya sebuah yang dibentuk sebagai
sebuah arca, namun roh yang disembah itu sudah sering
muncul di depan para penyembahnya. Bahkan pemuja yang
sunguh-sungguh dapat berhubungan dengan Thian-te Kwi-ong
dan mendapatkan pelajaran langsung! Amat banyak orang
tertarik kepada kepercayaan baru ini karena imbalan yang
dijanjikan, yaitu selain pemuja dapat menjadi kaya-raya secara
aneh, juga dapat menjadi lebih sakti, dan terutama sekali, ini
yang banyak menarik orang untuk menjadi pemuja, yaitu
orang dapat menjadi panjang umur.
Agaknya janji paling akhir ini pula yang menarik hati Bantok
Mo-li! la tidak menginginkan kekayaan karena sudah kaya,
juga dalam hal kesaktian, ia sudah cukup sakti sehingga
jarang menemui tanding, akan tetapi, melihat betapa usianya
menjadi semakin bertambah, betapa usia tua merayap datang
tanpa dapat dihindarkan lagi, ingin ia memiliki ilmu umur
panjang! Dan untuk memperoleh satu di antara ketiga
keuntungan ini, harta benda, kesaktian atau umur panjang,
orang tidak segan-segan untuk menyerahkan korban dalam
bentuk apa pun juga.
Dan pada malam hari ini, tepat dengan waktu bulan
purnama, Ban-tok Mo-Ii, dengan perantaraan Lui Seng Cu,
masuk menjadi anggauta atau pemuja baru. Untuk itu, akan
diadakan sembahyangan dan tentu saja untuk meyakinkan
kepada Thian-te Kwi-ong bahwa niatnya itu beri sungguhsungguh,
ia pun diharuskan mempersembahkan korban dan
untuk itu, Lui Seng Cu mau membantunya dengan mengutus
dua orang muridnya untuk mencari korban itu. Dua orang
muridnya sudah terlatih untuk ini, dan selain dua orang
muridnya, juga dua orang murid Ouw Kok Sian diminta
membantunya. Ouw Kok Sian sendiri, majikan Pegunungan
Liong-san, juga amat tertarik dan ingin pula dia mempunyai
umur panjang. Akan tetapi dia masih agak ragu-ragu maka ia
ingin menyaksikan dulu betapa Ban-tok Mo-Ii melakukan
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
upacara itu. Kalau keraguannya sudah hilang, tentu dia pun
akan masuk menjadi anggauta aliran kepercayaan baru itu.
Saat yang ditunggu-tunggu tiba ketika terdengar langkahlangkah
kaki dari luar ruangan itu. Setelah dua orang pelayan
wanita melaporkan kepada Ban-tok Mo-li, muncullah empat
orang pemuda itu, yaitu dua orang murid Hok-houw Toa-to
yang masing-masing memanggul sebuah karung, dan dua
orang murid Ouw Kok Sian yang mengikuti mereka dari
belakang.
Melihat dua orang muridnya yang datang memanggul dua
buah karung itu, Lui Seng Cu memandang dengan wajah
berseri. "Aha, kalian sudah pulang dan berhasil? Baiklah,
letakkan mereka itu di atas meja korban, yang pria di kiri yang
wanita di kanan."
Siok Boan dan Poa Kian So menurunkan dua buah karung
yang mereka panggul, kemudian dengan dibantu Ji Ban To
dan Cak Su yang agaknya tidak mau kalah memperlihatkan
jasa mereka, empat orang pemuda itu mengeluarkan dua
sosok tubuh dari dalam karung! Kira¬ya karung-karung itu
berisi seorang pemuda dan seorang gadis remaja. Keduanya
berusia kurang lebih lima belas tahun, dan biarpun pakaian
mereka seperti orang-orang dusun, namun baik pemuda
maupun wanita itu berkulit bersih dan wajah mereka tampan
dan manis.
"Buang pakaian mereka yang kotor, aku sendiri yang akan
membersihkan mereka dan mengenakan pakaian kebesaran!"
kata pula Lui Seng Cu dengan suara bangga penuh
kewibawaan seorang yang "lebih tahu" daripada yang lain.
Dua orang murid itu menurut dan mulai menanggalkan
pakaian pemuda dari gadis yang telah mereka telentangkan
berjajar di atas pembaringan itu. Ternyata dua orang itu tidak
mampu bergerak karena jalan darah mereka telah tertotok. Si
Pemuda nampak ketakutan dan gadis itu terbelalak dengan air
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
mata bercucuran, namun mereka tidak mampu menggerakkan
kaki tangan. Ji Ban To dan Gak Su tidak mau ketinggalan dan
mereka berdua membantu pula penanggalan pakaian itu.
Tidak mengherankan kalau dua orang pemuda yang memang
sudah "haus darah" itu sibuk dengan penanggalan pakaian Si
Gadis bukan Si Pemuda dan mereka memperggunakan
kesempatan ini untuk meraba, mencolek, mengelus.
"Jangan kotori tubuh suci itu dengan colekan-colekan!" tibatiba
Lui Seng Cu membentak.
Ji Ban To dan Gak Su tersipu malu, wajah mereka menjadi
kemerahan, apalagi ketika para hadirin menahan tawa dan
tersenyum simpul melihat kegenitan mereka tadi. Lebih
mendongkol lagi ketika dengan tangannya, Lui Seng Cu
menyuruh mereka berempat pergi meninggalkan pemuda dan
gadis yang kini telentang di atas pembaringan dengan
telanjang bulat itu.
Lui Seng Cu menghampiri dua orang calon korban,
memeriksa di bawah penerangan lilin dan dia menganggukangguk.
"Bagus, pilihan dua orang muridku memang tepat.
Mereka mulus dan bersih, masih suci. Akan tetapi, tubuh
mereka perlu disucikan dan dibersihkan lengan air bunga suci,
baru mereka akan diterima dengan gembira oleh yang mulia
Thian-te Kwi-ong!"
Kini Lui Seng Cu lalu membakar seikat dupa biting, lalu
melakukan sembahyangan di depan meja sembahyang mana
terdapat sebuah arca batu yang menyeramkan. Arca itu
melukiskan si orang pria yang wajahnya seperti singa,
matanya melotot dan mulutnya menyeringai, tubuhnya kokoh
kuat. Tinggi arca itu hanya dua kaki, namun nampak
menyeramkan sekali. Setelah bersembahyang, Lui Seng Cu
membawa seikat dupa biting itu ke dekat pembaringan,
menghembus asap yang keluar dari dupa itu ke arah muka
dan tubuh kedua orang muda yang telentang di atas
pembaringan. Dia lalu menancapkan seikat dupa it di atas
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
meja dan ruangan itu pun kin penuh dengan asap yang
baunya harum akan tetapi juga mengerikan. Agaknya dupa itu
pun bukan dupa harum biasa, melainkan dupa istimewa dan
khas dibuat untuk upacara ini. Kemudian d ambilnya sebuah
tempayan air dan kembang-kembang bermacam-macam,
kemudian dengan sikap seperti orang suci, Lui Seng Cu
mendekati pembaringan dan mulai mencuci tubuh perjaka dan
perawan itu dengan air kembang. Para pemuda yang berada
di situ, kecuali Siangkoan Tek, memandang dengan jakun naik
turun melihat betapa tangan kanan Hok-houw Toa-to itu
mencuci dan mengusap seperti membelai tubuh dara itul Akan
tetapi, Lui Seng Cu sebagai seorang pemuja yang sudah lama
dan percaya, sama sekali tidak terangsang ketika melakukan
pemandian itu.
Setelah pemandian selesai dilakukan, dua orang yang akan
menjadi korban itu bergerak, bahkan gadis itu mengeluarkan
jerit tertahan dan menangis. Melihat ini, teringatlah Lui Seng
Cu bahwa mereka tentu sudah terbebas dari pengaruh
totokan, maka cepat dia pun menghampiri mereka dan dua kali
tangannya bergerak, perjaka dan perawan itu sudah lumpuh
kembali.
Kemudian, dengan lagak dan sikap seperti seorang
pendeta agung Lui Seng Cu berdiri tegak, lalu mengambil
ikatan dupa yang masih membara, dan menggerakkannya di
atas mukanya yang tengadah. Abu yang berada di ujung
ikatan hio itu terjatuh ke atas mukanya. Ketika dia
mengembalikan ikatan hio itu, mukanya kini menjadi coreng
moreng dengan abu hio, dan dengan tangan kirinya dia
mengusap mukanya, bukan untuk menghapus abu, melainkan
untuk meratakannya!
Tiba-tiba tubuhnya terhuyung lalu dia jatuh terduduk, tubuh
itu menggelepar seperti ayam disembelih, kaki tangannya
kejang-kejang dan menggelepar, matanya mendelik lidahnya
keluar. Dua orang muridnya nampak tenang saja maka para
tamu yang hadir juga diam saja hanya mengamati dengan bulu
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
tengkuk meremang. Mereka tadi telah diberitahu oleh Lui Seng
Cu bahwa dari upacara itu, akan ada "setan pembantu” dari
Thian-te Kwi-ong memasuki dirinya dan kalau dia melakukan
hal-hal yang aneh, diharapkan para hadirin tidak menjadi
kaget karena yang melakukan itu adalah roh atau setan
pembantu yang memasuki dirinya. Kini semua orang
mengamatinya, ada yang percaya dan ada pula yang
setengah-setengah, ada pun yang belum percaya sehingga
mereka ini tersenyum mengejek, menganggap bahwa Lui
Seng Cu hanya berpura-pura dan berlagak saja untuk
mendatangkan kesan. Akan tetapi, Ban-tok Mo-Ii sudah
percaya betul karena sebelum ini, Hok-houw Toa-to sudah
membuktikan bahwa dia memang memiliki kekuatan gaib yang
didapatnya dari Thian-te Kwi-ong! Sebelum menyatakan diri
ingin masuk menjadi anggauta atau anak buah atau murid
Thian-te Kwi-ong, lebih dahulu Ban-tok Mo-Ii menguji Lui Seng
Cu.
Di dalam ruangan ini pula, beberapa hari lalu, mereka
berdua duduk berhadapan dalam jarak empat meter. Ban-tok
Mo-Ii yakin bahwa ilmu silatnya, ilmu gin-kang maupun
kekuatan sin-kang-nya, masih lebih tinggi dan lebih kuat
dibandingkan Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu. Akan tetapi
ketika ia menguji orang itu, yang lebih dulu membiarkan
dirinya "kemasukan" Thian-te Kwi-ong, sebelum menyentuh
tubuh Lui Seng Cu, ia berkali-kali terpelanting, kemudian
bahkan ia tidak mampu bergerak dari tempat duduknya! Lui
Seng Cu lalu memberitahu bahwa itu hanya satu di antara
kesaktian Thian-te Kwi-ong! Murid yang tekun akan menjadi
sakti, kaya raya, dan juga panjang umur sampai lebih seratus
tahun! Inilah sebabnya, ketika melihat Lui Seng Cu
menggelepar di depan meja sembahyang, Ban-tok Mo-li tidak
merasa heran, juga ia percaya sepenuhnya bahwa orang itu
sedang mulai kemasukan roh halus atau setan pembantu
seperti yang telah diceritakan sebelumnya.
Kini Lui Seng Cu tidak menggelepar lagi, menjadi tenang
dan berlutut di depan meja sembahyang, menghadap ke arca
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Thian-te Kwi-ong dan menyembah sampai tiga belas kali,
mengeluarkan suara mengaum seperti harimau. Kemudian
bangkit berdiri, mukanya masih coreng moreng terkena abu,
matanya mendelik dan berdirinya tegak lurus dan nampak
seolah-olah tubuhnya lebih jangkung daripada tadi. Lalu dia
memutar tubuh menghadap ke arah Ban-tok Mo-li, lalu
terdengar suaranya lantang sekali, terdengar bergetar biarpun
agak parau.
"Phang Bi Cu, Ong-ya memanggil engkau untuk
menghadap ke sini, sekarang juga!"
Semua orang terkejut. Nama besar Ban-tok Mo-li, siapakah
yang tidak tahu? Akan tetapi nama kecilnya, Phang Bi Cu
jarang ada yang tahu dan mereka yang tahu pun tidak berani
mempergunakannya. Kini, Lui Seng Cu yang kemasukan iblis
itu menyebut nama kecilnya begitu saja seolah-olah
memanggil seorang pelayan atau seorang anak kecil! Kalau
orang lain berani memanggilnya seperti itu, tentu sekali
menggerakkan tangannya, Ban-tok Mo-li akan membunuhnya!
Akan tetapi sekali ini, Ban-tok Mo-li sama sekali tidak menjadi
marah, bahkan ia lalu bangkit dari tempat duduknya.
"Ong-ya, saya datang menghadap!" Dan wanita yang
dikenal sebagai Iblis Betina itu melangkah dengan lambat,
lengan lenggang lemah gemulai penuh gairah, menuju ke
meja sembahyang lalu nenjatuhkan diri berlutut di depan meja
sembahyang, menghadap patung Thian-te Kwi-ong.
"Phang Bi Cu, kami mewakili Thian-te Kwi-ong bertanya
kepadamu agar kamu menjawab dengan sejujurnya!" kembali
terdengar suara parau Lui Seng Cu yang masih berdiri tegak.
"Dengarkan baik-baik!"
"Saya mendengarkan dan akan menjawab sejujurnya," kata
Ban-tok Mo-li dengan perasaan aneh karena selama hidupnya
belum pernah ia berjanji untuk menjawab dengan jujur!
Selama ini kejujuran dianggapnya suatu kelemahan dan
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
kebodohan, tanda dari hati yang takut Akan tetapi sekali ini ia
berjanji untuk menjawab dengan jujur. Mungkin karena takut di
dalam hatinya terhadap kekuasaan Thian-te Kwi-ong, atau
karena ada harapan di lubuk hatinya agar mendapatkan
berkah, terutama sekali umur panjang?
"Phang Bi Cu, benarkah engkau ingin menghambakan diri
kepada Thian-te Kw ong-ya?"
"Benar."
"Dan engkau siap untuk menghaturkan korban suci kepada
Ong-ya?"
"Saya sanggup dengan senang hati."
"Apakah korban sudah disediakan?"
"Sudah disediakan dan siap dikorbankan."
"Bagus, permohonanmu diterima, Phang Bi Cu, dan
sebagai anugerah Ong-ya melalui kami, anggur darah remaja
akan membuat engkau menjadi awet muda seperti remaja!"
"Terima kasih, Ong-ya," kata Ban-tok Mo-li dengan girang
dan wanita yang terkenal sebagai Iblis Betina yang biasanya
amat angkuh ini, yang tidak pernah mau tunduk kepada
siapapun juga, kini menyembah sambil berlutut, menyembah
sebanyak tiga belas kali seperti yang diberitahukan kepadanya
oleh Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu. Cara penyembahan dan
penyerahan diri kepada Thian-te Kwi-ong!
Tiba-tiba Lui Seng Cu jatuh terduduk dan menggelepar
kembali, hanya sebentar dan dia pun sudah bangkit lagi dan
kini sikapnya biasa, seolah-olah setan yang memasuki
tubuhnya sudah menghilang dan dia menjadi Lui Seng Cu
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
kembali. Kini dihapusnya abu yang coreng moreng pada
mukanya, kemudiandia berkata kepada Ban-tok Mo-li.
"Upacara tingkat pertama telah selesai. Kini tinggal menanti
masuknya sinar bulan. Kalau sinar bulan sudah menimpa
tubuh kedua orang korban itu, barulah upacara terpenting,
yaitu persembahan, boleh dilakukan. Sementara ini, sambil
menanti naiknya bulan, Toanio (Nyonya) boleh menjamu para
tamu dan saksi, bergembira karena Toa-nio telah diterima
menjadi murid dari Thian te Kwi-ong!"
Dengan wajahnya yang cantik pesolek itu berseri, Ban-tok
Mo-li lalu bangkit dan dengan isarat tangannya, belasan orang
pelayannya yang semua terdiri dari wanita yang masih muda,
cantik dan gesit, mengeluarkan hidangan dan mengatur
hidangan itu di atas lantai di depan para hadirin yang duduk
bersila di ruangan itu. Cara pesta yang aneh karena mereka
semua duduk bersila di atas lantai, bukan di kursi menghadapi
meja. Akan tetapi, hidangan yang disuguhkan merupakan
masakan istimewa, mahal dan lezat, masih mengepul panas
lagi, maka gembiralah hati para tamu. Semenjak beberapa
hari menjadi tamu Ban-tok Mo-li, memang mereka sudah
menjadi tamu-tamu terhormat yang dimanja dan disambut
dengan baik sekali, akan tetapi malam ini sungguh merupakan
pesta yang mewah!
Semua orang makan minum dengan gembira setelah Lui
Seng Cu menyuguhkan arak dan beberapa mangkok masakan
panas ke atas meja sembahyang, dan seorang pun agaknya
tidak ada yang teringat atau mempedulikan dua orang calon
korban yang masih menggeletak telentang di atas
pembaringan dalam keadaan tidak mampu bergerak dan
telanjang bulat itu. Tidak ada seorang pun kecuali Giok Cu!
Dara remaja ini sejak tadi mengamati semua yang terjadi dan
ketika semua orang makan minum berpesta pora, ia tidak ikut
makan! la selalu memandang ke arah pembaringan di mana
dua orang itu rebah telentang. Hatinya memberontak! Biarpun
ia tidak peduli melihat gurunya masuk menjadi anggauta atau
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
murid kepercayaan baru itu, penyembah setan yang disebut
Raja Setan Langit Bumi, namun melihat dua orang calon
korban itu, ia merasa tidak senang sama sekali! Ia tidak tahu
apa yang akan terjadi pada dua orang caloon korban itu, akan
tetapi menduga bahwa tentu akan terjadi hal yang
mengerikan. Mungkin dua orang itu akan dibunuh! Hatinya
meronta dan ia sama sekali tidak mampu makan minum. Ia
memang tidak pernah diajar lain kecual. ilmu silat dan sedikit
baca tulis oleh gurunya, tidak pernah belajar tentang akhlak.
Akan tetapi, lima tahun yang lalu ia telah mengerti tentang
baik-buruk tentang susila dan akhlak yang diterimanya dari
pendidikan ayah ibu kandungnya.
"Siauw-moi Giok Cu, kenapa kau tidak makan?" Tiba-tiba
Siangkoan Tek bertanya. Sejak tadi pemuda ini memang
selalu memperhatikan Giok Cu, dan pandang matanya kini
bertambah dengan pandang mata kagum. Memang, sejak
pertemuan pertama, Siangkoan Tek tergila-gila kepada gadis
remaja ini, dan pengalaman pagi tadi di lautan membuat dia
semakin kagum. Gadis remaja itu bukan saja cantik jelita,
manis dan pandai ilmu silat, akan tetapi juga amat cerdik dan
pandai ilmu bermain di air pula. Dan, yang lebih
menyenangkan hatinya, ketika ia dalam keadaan pingsan,
ternyata gadis itu tidak membunuhnya, bahkan
menelanjanginya! Apalagi artinya perbuatan ini kalau bukan
cinta, pikirnya. Gadis remaja itu bagaimanapun juga
mencintanya!
Mendengar teguran halus itu, Giok Cu hanya menunduk,
akan tetapi gurunya menoleh dan menegur pula, "Benar,
mengapa engkau tidak ikut makan minum, Giok Cu?" Gurunya
amat sayang kepadanya, dan hal ini terasa benar oleh Giok
Cu, akan tetapi alangkah bedanya rasa sayang gurunya itu
dengan rasa sayang yang pernah dirasakannya dari ayah
ibunya.
"Aku ……. aku tidak ada nafsu makan Subo. Aku masih
kenyang," jawabnya pendek. Gurunya pun tidak peduli lagi
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
karena hati Iblis Betina itu sedang gembira bukan main, mana
ia mau peduli tentang muridnya makan atau tidak?
Selain Siangkoan Tek, juga ada dua pasang mata sejak
tadi melirik ke arah Giok Cu, yaitu mata Ji Ban To dan Gak Su.
Suheng dan sute itu, semenjak tadi memang menderita
kekecewaan beberapa kali. Pertama ketika permintaan
mereka kepada dua orang murid Hoki houw Toa-to untuk
mempermainkan gadis calon korban mereka tolak. Kemudian
ketika tadi Hok-houw Toa-to di depan orang banyak
menghardik mereka karena mereka berdua membantu Siok
Boan dari Poa Kian So untuk melepaskan pakaian dua orang
calon korban itu dan mereka mencoba untuk meraba dan
membela tubuh gadis calon korban! Mereka berdua kini
merasa kecewa sekali dan biarpun mereka ikut pula makan
minum, mereka selalu melirik ke arah Giok Cu. Apalagi setelah
mereka menuangkan banyak arak ke dalam perut mereka
keduanya semakin sering melirik ke arah Giok Cu. Tidak
salah, pikir mereka. Dara calon korban itu, kalau dibandingkan
dengan Giok Cu, memang bukan apa-apanya! Mereka pun
beruntung sekali pernah melihat Giok Cu menanggalkan
pakaian ketika dara itu berganti pakaian kering di pantai. Ah,
sungguh menggairahkan sekali, dan kini mata mereka seperti
berubah hijau ketika mengerling ke arah Giok Cu.
Pikiran, badan dan perasaan melalui lima indera
merupakan persekutuan yang selalu menyeret kita ke arah
kemaksiatan atau perbuatan yang tidak sehat, bahkan kadang
kala perbuatan jahat yang merugikan orang lain. Gairah nafsu
bukan datang dari luar, melainkan dari dalam. Sebagai
contohnya, gairah nafsu berahi. Mata melihat wanita cantik.
Kalau pikiran tidak mencampuri dan mengotori, maka tidak
akan terjadi sesuatu. Namun, biasanya, pikiran mencampuri,
si-aku membayangkan kalau wanita itu menjadi miliknya, kalau
wanita itu, dikuasainya, dan sebagainya, maka, timbullah
gairah nafsu birahi. Pikir yang membayangkan ini merupakan
cermin dari pengalaman melalui badan pula dengan
perantaraan lima indera, perasaa nikmat dan enak
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
mendatangkan mgata dan bayangan.Kalau nafsu sudah
menguasai batin, maka kita melakukan segalanya untuk
memuaskan tuntutan nafsu dan kadang-kadang kita menjadi
sedemikian buta sehingga tidak segan melakukan perbuatan
yang kotor, seperti melacur, berjina, atau bahkan
memperkosa!
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Jilid 9
Kita lupa bahwa kita, manusia ini, pribadi-pribadi ini,
bukanlah binatang! Kita bukanlah tubuh ini! Kita bukan pula
pikiran ini, bukan perasaan panca indera ini, bahkan bukan
kesadaran ini! Semua ini, tubuh, pikiran, perasaan, kesadaran
ini hanya merupakan hal-hal yang sementara saja, yang
akhirnya akan hancur lenyap begitu "rumah" ini menjadi tua
atau rusak dan tidak tepakai lagi! Seperti juga rumah
membutuhkan perlengkapan, perapian, penerangan dan
sebagainya, tubuh juga membutuhkan perlengkapan, seperti
pikiran,
perasaan,
kesadaran.
Kalau tubuh ini
tertidur, atau
pingsan, maka
semua itu pun
berhenti
berfungsi.
Pikiran,
perasaan,
kesadaran,
kesemuanya itu
pun berhenti
bekerja. Seperti
tubuh, mereka
itu pun nya alat!
Jelaslah bahwa
kita ini bukan
mereka! Namun,
sudah menjadi
kebiasaan kita
tidak waspada
akan kenyataan
ini. Kita terlalu
terikat kepada darah daging (tubuh) kita ini, terlalu mencandu
kepada panca-indera, hati akan kenikmatan dan keenakan,
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
terlalu bergantung kepada pikiran sehingga kita lupa akan
keadaan kita yang sesungguhnya! Kalau semua ikatan itu
sudah dapa kita hancurkan, kalau si-aku sudah berhenti
merajalela sehingga hidup kita bukan sepenuhnya merupakan
penghambaan kepada nafsu-nafsu belaka, hanya mengejar
kenikmatan, kesenangan dan keenakan saja, barulah mungkin
terdapat suatu keadaan yang sama sekali berbeda.
Berhentinya pikiran mendatangkan keheningan dan di dalam
keheningan inilah mungkin sekali kita akan memasuki dimensi
lain dari kehidupan inil menyentuh lingkaran cahaya Illahi yang
tak pernah sedetikpun meninggaik kita. Tanpa adanya
cengkeraman pikiran perasaan dan kesadaran panca indera
maka si-aku pun runtuh dan tanpa adanya si-aku yang penuh
keinginan ini, maka kita akan mengenal apa arti cinta kasih.
Bukan cinta kasih antara aku dan engkau yang saling
mengharapkan imbalan demi kesenangan diri pribadi, bukan
cinta kasih jual belidi pasar, tak pernah mengharapkan
imbalan, tak pernah berpamrih. Membiarkan diri penuh
dengan cinta kasih ini, berarti membiarkan diri dipenuhi
cahaya Illahi, membiarkan diri bersatu dengan Tuhan!
Kini sinar bulan mulai memasuki ruangan itu melalui
jendela yang dibiarkan terbuka di sebelah timur. Sinar bulan
yang mula-mula menyinari dinding lalu merayap ke meja
sembahyang, dan perlahan-lahan akan tetapi pasti sinar bulan
yang lembut dari bulan purnama itu mulai merangkak ke arah
pembaringan di mana dua orang remaja itu masih rebah
telentang.
Lui Seng Cu kini bangkit berdiri, mencuci kedua tangannya,
lalu mengambil kain putih yang sudah dipersiapkan di bawah
meja sembahyang. Setelah memberi sembah tiga belas kali ke
arah patung Thian-te Kwi-ong, dia lalu membawa dua potong
kain sutera panjang itu ke arah pembaringan. Dua orang
remaja itu masih telentang, yang pria wajahnya pucat dan
ketakutan, yang wanita masih menangis tanpa suara. Lalu dia
mengenakan pakaian itu kepada mereka sekedar menutupi
ketelanjangan mereka dengan menyelimutkan sutera putih itu
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
dan membelitkan ke tubuh mereka. Kemudian, dia mengambil
pula sebatang pisau belati dari bawah meja, meletakkan pisau
itu ke atas meja sembahyang. Pisau itu amat tajam, agaknya
diasa sampai mengkilap dan Giok Cu merasa betapa bulu
tengkuknya berdiri. Seperti yang diduganya, tentu dua orang
korban itu akan dibunuh!
"Toanio, bersiaplah untuk menghaturkan korban kepada
Ong-ya! Sinar bulan sudah mendekati mereka, beberapa saat
lagi sinar bulan akan menyentuh dada mereka dan itulah
saatnya untuk.........”
"Tidaaaaaakkk! Mereka tidak boleh dibunuh!" Tiba-tiba Giok
Cu berteriak dan tubuhnya sudah meloncat ke arah
pembaringan itu, maksudnya tentu saja hendak membebaskan
mereka!
“Jangan melanggar kedaulatan Ong-ya!" Lui Seng Cu
membentak dan dia pun menyambut dengan dorongan kedua
tangannya. Akibatnya, tubuh Giok Cu terlempar dan
terjengkang, jatuh ke belakang dan bergulingan. Hebat sekali
dorongan Lui Seng Cu tadi, akan tetapi karena dia tahu bahwa
gadis itu adalah murid tersayang dari Ban-tok Mo-li, maka
dorongannya hanya mengandung angin yang kuat dan yang
telah membuat gadis itu terjengkang dan bergulingan, akan
tetapi tidak melukainya! Semua orang terkejut, mengira bahwa
tentu Ban-tok Mo-li akan marah sekali melihat muridnya yang
terkasih itu dirobohkan orang. Akan tetapi, wanita itu bersikap
tenang saja, bahkan mengerutkan alisnya. Ketika ia melihat
muridnya bangkit. berdiri dan sama sekali tidak terluka, ia pun
berkata dengan sikap marah.
"Giok Cu, apa yang kaulakukan ini? Hayo keluar kau!"
Giok Cu berdiri dengan mata terbelalak memandang ke
arah pembaringan itu, ia marah sekali dan juga ingin sekali
membebaskan dua orang remaja itu. Akan tetapi ia tahu
bahwa tenaganya tidak cukup untuk menentang Lui Sen Cu,
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
apalagi gurunya sendiri mengusirnya keluar. Dengan gemas
dan membantin kaki kirinya beberapa kali, Giok Cu lalu
membalikkan tubuhnya dengan cepat, dan sekali meloncat ia
sudah lenyap dari ruangan itu, berlari keluar.
Ketika Giok Cu tiba di luar, ia melangkah pergi di bawah
sinar bulan purnama. Tiba-tiba ia mendengar jerit dua kali. Ia
berhenti melangkah dan memejamkan mata. Akan tetapi tetap
saja ia dapat membayangkan betapa pisau belati itu
menancap di dada dua orang korban yang mungkin
dibebaskan dulu dari totokan ketika hendak ditusuk dadanya,
la menggunakan kedua tangan menutupi telinganya, lalu ia
berlari menuj ke luar kota, ke pantai lautan!
Ia tidak melihat betapa apa yang dibayangkan itu masih
jauh daripada kenyataan yang amat mengerikan sekali bagi
orang awam. Setelah sinar bulan tiba di atas dada kedua
orang muda itu Ban-tok Mo-li yang sudah siap dengan pisau
belati di tangan, lalu membebaskan totokan mereka, akan
tetapi secepat kliat pisaunya menyambar ke arah dada,
sedemikian cepatnya sehingga kelihatannya seperti dua
batang pisau bekerja dalam waktu yang sama. Dua orang
remaja itu hanya mengeluarkan jeritan masing-masing satu
kali menggelepar dan tewas seketika karena jantungnya telah
ditarik keluar oleh Ban-lok Mo-li seperti diharuskan dalam
upacara itu! Bagi orang lain, perbuatan seperti ini tentu saja
amat mengerikan. Akan tetap bagi seorang datuk sesat seperti
Ban-tok Mo-li, pekerjaan itu biasa saja! Dalam waktu beberapa
detik saja, tangan kirinya sudah mengambil jantung manusia
yang masih bergerak-gerak, dan meletakkan dua buah jantung
itu ke atas baki perak yang lebar yang dipegang oleh Lui Seng
Cu. Dua buah jantung itu masih bergerak-gerak seperti hidup,
akan tetapi hanya sebentar saja dan Ban-tok Mo-li sudah
membersihkan tangannya dari darah menggunakan kain
sutera yang menyelimuti tubuh dua orang remaja itu! Sikapnya
tenang saja, bahkan mulutnya tersenyum. Dan mereka yang
hadir itu adalah tokoh-tokoh sesat yang berhati kejam. Melihat
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
pertunjukkan itu, mereka tidak merasa ngeri, hanya tegang
dan kagum!
Kini Ban-tok Mo-li, dipimpin oleh Lui Seng Cu,
bersembahyang didepan meja sembahyang di mana dua buah
jantung itu dihidangkan. Banyak dupa dibakar dan mereka
menyembah sambil berlutut. Kemudian, Lui Seng Cu
mengambil sebuah guci terisi anggur. Mulut guci itu lebar dan
dia memasukkan dijantung manusia itu ke dalam guci. Di
kocoknya anggur dalam guci bersama dua buah jantung itu,
kemudian dia menuangkan anggur itu ke dalam sebuah
cawan, lalu disiramkan dari atas patung, sehingga patung itu
menjadi basah oleh anggur. Tiga kali patung itu disiram
anggur bercampur jantung manusia itu. Kemudian, Lui Seng
Cu menuangkan anggur ke dalam cawan dan menyerahkan
kepada Ban-tok Mo-li yang segera meminumnya! Setelah itu,
mulailah mereka pesta minum anggur yang bercampur jantung
manusia yang masih segar! Dan agaknya, mereka semua
minum tanpa jijik sedikit pun, bahkan merasa seolah-olah
mereka minum obat kuat yang ampuh!
Belasan orang pelayan Ban-tok Mo-li sudah cepat
menyingkirkan dua mayat yang masih hangat itu,
membawanya jauh ke belakang, ke dalam kebun yang luas di
mana siang tadi mereka telah menggali sebuah lubang besar,
melempar dua mayat itu ke dalam lubang dan menguruk
lubang dengan tanah tanpa banyak peraturan lagi! Dua mayat
manusia itu dikubur seperti orang mengubur bangkai binatang
saja!
Adakah yang lebih kejam daripada manusia? Manusia,
kalau sudah dilanda rasa takut, kalau sudah dikuasai nafsu
mengejar sesuatu, menjadi jauh lebih kejam daripada binatang
yang bagaimana buas sekalipun! Binatang, betapapun liar dan
buasnya, tidak mempunyai pikiran jahat. Kebuasan dan
keliaran mereka hanya naluri untuk melindungi dirinya. Kalau
ada binatang buas membunuh binatang lain, hal itu dilakukan
tanpa benci, melainkan karena dia harus melakukannya untuk
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
mempertahankan hidupnya, mengisi perutnya, atau membela
dirinya. Akan tetapi manusia membunuh demi menyenangkan
dirinya, atau demi mencapai sesuatu yang dianggap akan
mendatangkan kesenangan bagi dirinya.
Upacara selesai akan tetapi pesta itu masih belum selesai!
Mereka minum-minum dan terdengar gelak tawa, bahkan ada
pula di antara para tamu yang menarik pinggang seorang
pelayan wanita. Ada wanita yang mengelak dan menolak, dan
tamu itu pun tidak berani memaksa, karena mereka
menghormati dan segan kepada Ban-tok Mo-li. Akan tetapi
ada pula pelayan wanita yang mau melayani sehingga mereka
itu bercumbu rayu begitu saja, di depan orang banyak di
depan Ban-tok Mo-li sendiri yang hanya tertawa. Akun tetapi
kalau sampai ada tamu yang berani memaksa seorang
pelayannya tentu tamu itu akan sukar keluar dari situ dalam
keadaan hidup! Memang aneh sekali cara hidup para Datuk
sesat ini. Agaknya, mereka sudah tidak mengenal hukum dan
peraturan lagi, baik hukum agama, hukum tradisi, hukum
masyarakat maupun hukum negara. Yang ada hanyalah
tindakan semau-gua, seenak perutnya sendiri, apa yang
disukai itulah yang dilakukan, dan satu-satunya hukum adalah
hukum rimba. Yang kuat dia menang, yang menang dia kuasa,
yang kuasa dia benar! Tidak ada susila lagi. Tidak ada akhlak
lagi, tidak ada rikuh lagi, yang ada hanya demi senang,
senang, senang!
oooOOooo
Giok Cu menjatuhkan diri di atas pasir pantai dan ia
menangis! Menangis tersedu-sedu, bahkan sampai
sesenggukan. Agaknya seluruh rasa penasaran yang selama
ini tertimbun di dalam batinnya, melihat hal-hal yang bertolak
belakang dengan suara hatinya terjadi di depannya tanpa ia
dapat menentangnya, juga semua perasaan duka yang
dirasakannya semenjak ia kematian ayah ibunya perasaan
dendam karena kematian ayah ibunya adalah perbuatan Sintiauw
Li Bhok Ki, dan semua hal yang buruk buruk dan yang
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
terpendam di dalam hatinya kini terungkap keluar sehingga ia
menangis sampai mengguguk!
Selama lima tahun ini, ia seolah-olah digembleng untuk
memiliki watak yang tahan uji? Namun, ternyata kini ia dapat
menangis seperti itu, tanda dari kelemahan hati. Hatinya
seperti diremas-remas, melihat dua orang remaja dibunuh
begitu saja tanpa dosa, dan ia tidak mampu menolong mereka!
Apa gunanya selama lima tahun ia mempelajari ilmu silat, ilmu
kesaktian kalau kini ia tidak berdaya sama sekali menghadapi
seorang Lui Seng Cu yang demikian jahat dan kejam?
Giok Cu menangis tanpa merasa khawatir dilihat atau
didengar orang. Siapa yang akan datang di pantai yang amat
sunyi di malam hari itu? Dan siapa dapat mendengar suara
tangisnya yang ditelan suara ombak yang menggelegar?
Tangis merupakan suatu penyaluran rasa duka. Duka yang
tadinya membeku di dalam batinnya, seolah-olah mencair dan
sedikit demi sedikit mengalir keluar dari dalam hatinya, hanyut
melalui air mata.
Setelah menangis selama satu jam, ikhirnya tidak ada lagi
air mata yang keluar, dan Giok Cu merasa betapa dadanya
lega dan ringan sekali. Pikirannya pun lelah dan kosong, dan
akhirnya, dendang suara air lautan ditambah semilirnya angin,
sinar bulan yang sejuk, membuat ia tidak dapat lagi menahan
kantuknya dan bagaikan orang yang kehilangan kesadaran,
tahu-tahu ia telah jatuh pulas, telentang di atas pasir pantai.
Langit amat bersih dan bulan purnama seperti tersenyum
kepada dara itu, bintang-bintang yang agak suram juga
melambaikan cahayanya kepada dara itu.
Suasana yang amat indah di pantai itu tidak meramalkan
keindahan dan kedamaian. Sebaliknya malah. Di balik
keheningan malam itu, bersembunyi bahaya yang amat
mengerikan bagi diri Giok Cu. Ketika ia lari meninggalkai
tempat pesta itu, diam-diam ada dua orang pemuda yang juga
pergi meninggalkan pesta. Hal ini tidak kentara karena
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
memang pesta sudah mulai kacau dan orang-orang bergerak
ke sana-sini dengan bebas, bahkan ada yang menarik seorang
pelayan wanita yang mau melayani ke tempat gelap tanpa
dipedulikan yang lain. Dua orang muda itu bukan lain adalah Ji
Ban To dan Gak Su dua orang pcmuaa yang sejak tadi sudah
dibakar nafsu berahi, pertama kali ketika melihat Giok Cu di
pantai bersama Siangkoan Tek, kemudian melihat gadis yang
dijadikan korban. Melihat peristiwa keributan di pesta, di mana
Giok Cu hendak melepaskan dua orang korban kemudian
dirobohkan Lui Seng Cu dan dimarahi gurunya, kemudian
melihat betapa gadis itu lari meninggalkan ruangan pesta, dua
orang pemuda ini pun diam-diam keluar dan mencari Giok Cu.
Ketika Giok Cu yang kelelahan itu tertidur di atas pasir,
telentang dalam keadaan pulas, dua sosok bayangan orang
menghampirinya dengan hati-hati sekali. Kaki mereka
melangkah perlahan-lahan, sedikit pun tidak menimbulkan
suara sehingga gadis remaja yang sedang pulas itu sama
sekali tidak mendengar apa-apa dan masih enak saja tidur
nyenyak dengan napas lembut dan panjang.
Akan tetapi, seorang gadis remaja seperti Giok Cu itu
memiliki kepekaan yang melebihi orang-orang dewasa atau
orang-orang tua. Bahaya besar yang mengancam dirinya itu
seolah-olah menggerakkan sesuatu di dalam tubuhnya yang
menyembunyikan tanda bahaya sehingga tiba-tiba saja Giok
Cu seperti orang tergugah dan terkejut, membuka matanya.
Namun, terlambat sudah. Sebuah totokan membuat tubuhnya
menjadi lemas dan tenaganya hilang. Ia hanya mampu
terbelalak saja ketika mengenal dua buah wajah di bawah
sinar bulan purnama. Wajah Ji Ban To dan Gak Su, dua orang
murid majikan Pegunung Liong-san yang menjadi tamu
subonya Dan dua buah wajah itu kini dalam penglihatan Giok
Cu amat menakutkan. Di buah mulut itu menyeringai lebar di
nafsu mereka mendengus panas, mata mereka juga beringas
seperti mata bintang buas kelaparan! Giok Cu yang belum
berpengalaman itu tidak dapat menduga apa yang mereka
kehendaki, namun naluri kewanitaannya mengisaratkan
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
ancaman bahaya besar bagi dirinya, membuat ia
mengerahkan seluruh kekuatan dalam tubuhnya untuk
membebaskan diri. Namun percuma saja. Totokan yang di
lakukan oleh Ji Ban To itu membuat kaki tangannya seperti
lumpuh. Tingkat kepandaian dan tenaga dari dua orang
pemuda itu tidak banyak selisihnya dengan tingkat
kepandaiannya sendiri. Andaikata ia tidak dicurangi, ditotok
selagi tidur, tentu ia mampu melawan dua orang ini dan ia
tidak gentar walaupun dikeroyok dua.
"Jahanam kalian!" Ia hanya mampu memaki dan bahkan
suaranya pun kekurangan tenaga. "Apa yang kalian lakukan
ini? Bebaskan aku!"
Pemuda kurus kering yang bermuka pucat itu, Ji Ban To,
mendekatkan mulutnya, menyeringai dan hidungnya hampir
menyentuh pipi Giok Cu sehingga gadis remaja ini sedapat
mungkin memutar lehernya menjauhkan mukanya dan dengan
jijik ia merasa betapa napas pemuda itu meniup kelehernya.
"Apa yang kami lakukan? Heh-heh, Giok Cu yang manis,
engkau tentu mengerti sendiri. Jangan hanya memperhatikan
Siangkoan Tek seorang. Kami pun dua orang pemuda yang
gagah perkasa, murid seorang datuk, penguasa Pegunungan
Liong-san."
"Benar sekali kata Suheng!" kata Gak Su dan muka yang
tampan akan tetapi bopeng itu pun mendekat dan tangannya
mulai merenggut lepas pakaian yang menutupi tubuh Giok Cu.
"Mari kita bertiga bersenang-senang di pantai ini, di atas pasir,
di bawah sinar bulan purnama. Alangkah indahnya, alangkah
asyik dan nikmatnya!"
Kini jantung dalam dada Giok Cl berdegup penuh rasa ngeri
dan ketakutan. Baru sekali ini ia benar-benar merasa takut
membayangkan apa yang akan terjadi dengan dirinya. Dua
orang itu seperti berlumba merenggut lepas semua
pakaiannya! Ia meronta, memberontak, memekik, menjerit,
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
akan tetapi hanya dalam batin saja karena kaki tangannya
tetap tidak mampu digerakkan dan suaranya hanya keluar
dengan lemah saja.
"Kalian jahanam busuk! Anjing keparat.Lepaskan aku……….!
Jangan ……., jangan ganggu aku…….!" Akan tetapi, mulutnya
sudah ditutup dengan ciuman mereka berganti-ganti. Giok Cu
merasa muak dan jijik mau muntah rasanya. Akan tetapi rasa
takut mengatasi semua rasa jijik ini matanya terbelalak,
jiwanya meronta, tahu bahwa ia sama sekali tidak berdaya dan
sebentar lagi tentu ia akan diperkosa, Membayangkan ini, ia
hampir pingsan Tidak, ia tidak boleh pingsan. Ia tidak boleh
membiarkan mereka memperkosanya! Ia harus mencari akal.
Dua orang pemuda itu seperti dua ekor ikan menperebutkan
makanan, menciumi muka dan mulut Giok Cu dan tangan
mereka meraba dan membelai.
"Ji Ban To dan Gak Su, nanti dulu……… nanti dulu, dengarkan
omonganku…… “ Giok Cu berkata sedapat mungkin diantara
ciuman-ciuman mereka yang semakin panas. Ia pun mulai
merasa ngeri mengingat akan tanda tahi lalat merah kecil di
bawah siku lengan kirinya. Bukankah subonya pernah
memberitahu kepadanya bahwa kalau keperawanannya hilang
tanda itu akan lenyap dan dalam waktu sebulan ia akan mati?
Ia akan diperkosa kehilangan kehormatannya secara hina
sekali, kemudian ia akan mati!
"Nanti dulu, dengarkan aku………." kata-katanya membujuk.
Dua orang pemuda itu sambil menyeringai menghentikan
ciuman dan rabaan mereka. "Hem, Manis, engkau sungguh
cantik dan panas! Engkau mau bicara apa, sayang?"
Giok Cu tersenyum, senyum yang manis sekali! Dua orang
pemuda itu terpesona dan merasa girang.Gadis itu tersenyum
kepada mereka! Agaknya, ciuman dan belaian mereka tadi
membuat gadis itu pun mulai menikmati permainan cinta
mereka.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Kalian ini sungguh dua orang laki laki yang bodoh sekali.
Bagaimana kita dapat menikmati permainan cinta kalau aku
tertotok seperti ini? Kalian sama saja bermain cinta dengan
sesosok mayat dan aku……. aku merasa tidak leluasa dan tidak
dapat menikmati cinta kalian dalam keadaan tidak mampu
bergerak begini. Kalau kalian membebaskan totokan ini, tentu
kita akan dapat bermain cinta lebih asyik lagi……."
Dua orang pemuda itu saling pandang dan tertawa
gembira. "Ha-ha-ha, ia benar sekali, Suheng! Kita bebaskan
totokannya dan kita bergiliran "
Akan tetapi, biarpun sudah diamuk nafsunya sendiri, Ji Ban
To ternyata, lebih cerdik daripada sutenya. "Nanti dulu, Sute.
Kita harus yakin benar bahwa ia tidak menipu kita. Ikat dulu
kaki dua lengannya dengan ikat pinggangnya itu." Mereka lalu
menelikung kedua tangan Giok Cu ke belakang, lalu mengikat
kedua pergelangan tangannya dengan kuat-kuat,
menggunakan ikat pinggang Giok Cu sendiri yang tadi mereka
renggut lepas. Biarpun mendongkol sekali, Giok Cu
menyembunyikan rasa dongkol itu dari mukanya. Ketika dua
orang itu membebaskan totokan dari tubuhnya dan ia
merasakan darahnya mengalir kembali dengan normal, Giok
Cu tidak tergesa-gesa bergerak, membiarkan jalan darahnya
pulih kembali dan ia pun mandah saja ketika mereka kembali
mulai membelai dan menciuminya.
Akan tetapi begitu jalan darahnya sudah pulih kembali,
diam-diam ia mengerahkan tenaganya, digerakkannya dengan
tiba-tiba kepalanya menghantam muka Ji Ban To, melompat
berdiri dan kakinya menendang dada Gak Su. Dua orang
pemuda yang sedang dimabuk nafsu mereka sendiri itu seperti
orang terlena, menjadi lengah dan tak mampu menghindarkan
diri dari serangan tiba-tiba itu.
"Duk! Desssss " Ji Ban To berteriak kesakitan karena
hidungnya bocor, mengucurkan darah ketika dihantam kepala
Giok Cu, sedangkan Gak Su terbanting dan terjengkang keras,
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
dadanya terasa sesak dan napasnya terengah-engah. Juga
dia mengaduh-aduh.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Giok Cu untuk meloncat
dan melarikan diri. Yang masih menempel di tubuhnya yang
telanjang bulat itu hanya tinggal sepasang sepatunya saja!
Hanya sejenak saja dua orang pemuda itu tertegun dan
kesakitan. Melihat gadis itu melarikan diri, mereka pun la
berloncatan dan cepat melakukan pengejaran. Biarpun Giok
Cu memiliki kegesitan dan keringanan tubuh, akan tetapi ia
berlari dengan kedua lengan terikat di belakang. Tentu saja
hal ini membuat ia tidak leluasa lari dan kecepatannya berlari
berkurang banyak. Maka tak lama kemudian, dua orang
pemuda itu mampu menyusulnya dan mereka menubruk dari
belakang sambil meloncat.Tubuh Giok Cu terbanting keatas
pasir dan ditindih oleh mereka berdua! Giok Cu meronta-ronta,
menendang, menggigit dan meludah sehingga dua orang
pemuda itu harus menjambaknya, memegangi kedua kakinya,
bahkan menamparinya. Akhirnya mereka dapat mengikat
kedua pergetangan kaki Giok Cu dengan ikat pinggang Ji Ban
To dan gadis itu untuk kedua kalinya tak mampu
menggerakkan tangan dan kakinya. Kalau karena tertotok, kini
karena kaki tangannya terbelenggu. Akan tetapi kini ia masih
mampu membalikkan tubuhnya menelungkup, memutar leher
dan memandang kepada dua orang muda yang terengahengah
kelelahan itu dengan mata melotot penuh kebencian.
"Suheng, cepat kerjai gadis liar ini, biar tahu rasa! Aku akan
berjaga kalau ada orang datang dan menunggu giliranku!" kata
Gak Su yang mendendam kepada Giok Cu karena dadanya
tadi tertendang cukup keras dan masih terasa nyeri sampai
sekarang.
Ji Ban To yang sudah melepaskan ikat pinggangnya untuk
membelenggu kaki Giok Cu, mendekati gadis itu dengan
wajah menyeringai buas. Akan tetapi sebelum tangannya
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
mampu menyentuh Giok Cu tiba-tiba terdengar suara halus,
"Kalian mencari mampus!"
Dua orang muda itu terkejut dan cepat menengok. Wajah
mereka seketika berubah pucat dan mata mereka terbelalak
ketika mereka mengenal siap wanita yang menegur mereka
itu. Ban-tok Mo-li! Wanita iblis ini tadi setelah muridnya lari
keluar, diam-diam merasa kecewa dan tidak enak. Ia merasa
sayang kepada muridnya itu, seorang murid yang baik dan
berbakat. Heran ia mengapa muridnya begitu berkeras hendak
menolong dua orang korban itu padahal dua orang korban itu
amat diperlukan sebagai "tebusan" ia masuk menjadi
anggauta pemuja Thian-te Kw ong! Biarpun tadi ia merasa
marah, setelah muridnya pergi, ia pun merasa menyesal dan
ingin ia memanggil muridnya kembali untuk diajak berpesta, ia
sedang bergembira karena diterima menjadi anggauta baru
penyembah Thia te-kauw, maka ia tidak ingin ada gangguan
berupa kekecewaan dan penyesalan terhadap muridnya yang
disayangnya itu. Ketika dilihatnya tidak nampak bayangan
Giok Cu di luar ruangan itu, ia pun lalu meninggalkan ruangan
itu untuk mencarinya.
Ketika ia tidak dapat menemukan Giok Cu di dalam
kamarnya, ia dapat menduga kemana perginya muridnya itu.
Muridnya itu suka sekali bermain-main di Pantai lautan dan
mungkin sekarang, dalam keadaan marah dan kecewa, Giok
Cu juga pergi ke sana. Apalagi di pantai itu amat indah kalau
terang bulan dan dapat menyejukkan dan menenangkan hatti.
Dengan cepat Ban-tok Mo-li lalu mempergunakan ilmunya
berlari cepat menuju ke pantai.
Mula-mula ia menemukan pakaian muridnya berserakan di
pantai. Pakaian luar dan pakaian dalam! Dalam keadaan
robek-robek. Akan tetapi muridnya tidak ada! Tentu
bertelanjang bulat, la pun mengambil pakaian itu dan
menyelipkannya di ikat pinggang. Kemudian berrlari lagi dan
melihat bahwa tidak jauh dari situ nampak bayangan dua
orang atas pasir. Cepat ia menghampiri dan dapat
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
dibayangkan betapa hatinya seperti dibakar ketika ia melihat
muridnya dalam keadaan telanjang bulat menelungkup di atas
pasir dengan kaki tangan terikat, dan dua orang pemuda yang
bukan lain adalah Ji Ban To dan Cak Su berada di dekat
muridnya. Tidak sukar diduga, apa yang akan dilakukan dua
orang pemuda itu, maka ia pun lalu menegur mereka.
Melihat bahwa iblis betina itu muncul, dua orang pemuda itu
sejenak seperti berubah menjadi patung. Kemudian, maklum
betapa lihai dan galaknya wanita itu, keduanya lalu meloncat
dan seperti dikomando, mereka melarikan diri!
Ban-tok Mo-h adalah seorang datuk sesat yang ditakuti
banyak orang, ia sendiri tidak takut kepada siapapun juga, dan
ia terkenal memiliki keberanian dan kekejaman yang luar
biasa, tak pernah mau mengampuni musuh-musuhnya atau
orang yang menyakiti hatinya. Melihat betapa muridnya hampir
saja diperkosa dua orang pemuda itu, mengalami penghinaan,
ia tidak lagi mempedulikan bahwa dua orang pemuda itu
adalah tamu-tamunya, murid dari Ouw Kok Sian, seorang di
antara tamu-tamunya yang terhormat. Dengan beberapa
loncatan saja, ia sudah dapat menyusul mereka. Bagaikan
seekor harimau menerkam seekor domba dari belakang,
kedua tangannya mencengkeram dan mencekik leher Gak Su
dari belakang, Jari-jari kedua tangannya yang berkuku
panjang dan runcing itu mencekik dan menembus kulit dan
daging leher.
Cak Su mengeluarkan suara aneh, kedua tangannya
berusaha melepaskan cengkeraman, akan tetapi kedua
tangannya itu lalu merentang kaku, matanya melotot, mukanya
berubah hitam dan ketika cekikan dilepaskan, dia pun terkulai
dan roboh tanpa nyawa lagi dengan muka hitam dan mata
melotot lidah terjulur keluar. Sejak Gak Su dicekik dari
belakang,
Ji Ban To sudah merasa tubuhnya menggigil dan kakinya
seperti lumpuh.Dia menjatuhkan diri ke atas tanah dan
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
berlutut, menyembah-nyembah meminta ampun sambil
memandang kepada sutenya yang mengalami nasib
mengerikan itu!
"Ampun, Lo-cian-pwe………. ampunkan saya……!" ratapnya
ketika dia melihat sutenya roboh dan tewas, dan wanita; yang
menakutkan itu berdiri sambil bertolak pinggang di depannya.
Wajah yang cantik itu tersenyum manis, akan tetapi matanya
yang mencorong itu membuat hati Di Ban To menjadi semaki
ketakutan. Dia melihat maut membayang pada mata itu dan
walaupun ingin dia melarikan diri, namun tubuhnya mengigil
dan kedua kakinya lumpuh, membuat dia hanya dapat
mendekam di depan wanita itu.
“Ji Ban To, apa yang kaulakuka bersama Sutemu terhadap
muridku itu?"
"Saya……… saya ……… tidak melakukan apa-apa, hanya……..
hanya………" Dia begitu ketakutan sehingga untuk bicara amat
sukar.
"Kalian telah memperkosanya?" bentak Ban-tok Mo-li.
Muncul sedikit harapan dalam hati Ji ban To ketika
mendengar pertanyaan ini. Agaknya itulah yang menyebabkan
kemarahan Ban-tok Mo-li, mengira bahwa muridnya telah
mereka perkosa! Dan kenyataannya, dia belum
memperkosanya!
"Tidak………! Tidak sama sekali, Lo-Cian-pwe! Saya
……belum………. eh, tidak memperkosanya, sama sekali tidak!"
"Hemmm, lalu kenapa engkau menelanjanginya dan
mengikat kaki tangannya?"
"Eh…….. ohhh ………yang menelanjangi dan membelenggu,
hanya Sute…….. itu ……, lo-cian-pwe!" jelas nampak sifat
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
pengecut dari pemuda itu yang begitu menghadapi ancaman
lalu hendak menimpakan semua kesalahan kepada sutenya
yang telah tewas.
Ban-tok Mo-li kembali tersenyum. Wanita yang sudah
kenyang akan pengalaman di dunia ini tentu saja tidak mudah
dibohongi begitu saja. "Bagus, dia yang menelanjangi dan
membelenggu, dan engkau yang akan memperkosanya?"
"Tidak, tidak……….. !"
"Lalu apa yang kaulakukan? Hanya menonton?"
Ji Ban To tahu bahwa hal ini tidak mungkin. Dia harus
mengakui kesalahan, akan tetapi kesalahan yang paling kecil.
"Saya……….. saya tadi hanya …….. meciuminya beberapa kali,
Lo-cian-pwe."
"Hemmm, menciumnya beberapa kali, ya? Agaknya engkau
suka sekali menciumi perempuan. Nah, bangkitlah!"
Dengan tubuh menggigil, Ji Ban tidak berani membantah
dan dia pun berdiri.Sejenak Ban-tok Mo-li mengamati pemuda
ini dari kepala sampai ke kaki Seorang pemuda yang cukup
tampan walaupun agak kurus dan mukanya pucat.
"J i Ban To aku ingin merasakan bagaimana engkau
menciumi muridku tadi Hayo kau cium aku!"
Wajah yang pucat itu menjadi semakin pucat. "Mana
saya…….. berani.........?”
"Kau berani membantahku? Apak engkau ingin mampus
seperti Sutemu tadi?"
"Tidak, tidak……….. !"
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Kalau begitu kau ciumi aku seperti engkau menciumi
muridku tadi. Hayo cepat!"
Ji Ban To ketakutan setengah mati. Dengan tubuh
menggigil, terpaksa dia memberanikan diri merangkul pundak
wanita cantik itu dan mendekap mukanya, lalu mencium mulut
yang tersenyum menggairahkan itu. Dasar dia pemuda yang
sudah menjadi hamba nafsu. Biarpun tadinya ketakutan,
begitu dia mencium dan merasa betapa mulut wanita cantik
yang diciumnya itu membalas dengan mesra, dia pun
mencium penuh nafsu. Akan tetapi ketika dia hendak
melepaskan ciumannya untuk bernapas, mulutnya melekat
pada mulut itu dan merah mulutnya terasa seperti dibakar,
rasa panas yang terus menyerang dirinya melalui mulut,
masuk ke kerongkongan dan ke dada. Ciuman beracun! Dua
lengannya yang tadi memeluk, kini meregang, matanya
terbelalak dan suara aneh keluar dari kerongkongannya.
Ketika Ban-tok Mo li melepaskan ciumannya, tubuh pemuda
itu terkulai dan seluruh bibirnya nampak membiru! Akan tetapi,
kematian agaknya tidak datang tiba-tiba seperti yang dialami
Cak Su dan hal ini agaknya memang disengaja oleh Ban-tok
Mo-li. Melihat pemuda itu menggeliat-geliat Ban-tok Mo-li
menggerakkan tangan menotok ke arah tengkuknya dan
pemuda itu pun tak bergerak lagi karena telah tertotok. Bantok
Mo-li berkelebat lenyap dari tempat itu.
"Subooo ……. !" Giok Cu memanggil ketika melihat bayangan
subonya, akan tetapi subonya tidak menjawab. Ia mecoba
untuk melepaskan belenggu kaki tangannya, namun ikatan itu
kuat sekali dan tubuhnya juga amat lelah.
Giok Cu tak lama menunggu. Nampak dua bayangan
berkelebat dan ternyata mereka adalah subonya bersama
Ouw Kok Sian, tamu tinggi besar, majikan dari Pegunungan
Liong-san, guru dari dua orang pemuda yang tadi hampir
memperkosanya.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Mereka berhenti di dekatnya dan terdengar subonya
berkata, "Nah, kau lihat sendiri keadaan muridku. Merekalah
yang melakukannya!" Suara gurunya terdengar kaku dan
marah.
"Keparat! Di mana mereka yang memalukan itu?"
"Mereka lari dan kukejar. Mari kita lihat, di sana mereka!"
Keduanya berkelebat lenyap dan sebentar saja, Ban-tok
Mo-li dan Ouw Kok Sian telah berdiri di dekat tubuh Gak Su
yang lagi sudah tidak bernyawa dan tubuh Ji Ban To yang
tidak bergerak, akan tetapi masih hidup. Melihat gurunya, Ji
Ban To mengeluh dan merintih. Melihat gurunya datang
bersama Ban-tok Mo-li, tahulah dia bahwa gurunya tidak akan
membelanya. "Suhu………, ampunkan teecu...." katanya
memelas.
Dengan alis berkerut dan pandang mata marah, Ouw Kok
Sian membentak,
"Benarkah engkau dan Sutemu yang melakukan
penghinaan terhadap murid Ban-tok Mo-li?"
"Suhu, kami berdua………tergila-gila olehnya…… akan
tetapi……… Giok Cu menolak dan memukuli kami, terpaksa kami
mengikatnya……. tapi teecu……. Teecu tidak memperkosanya,
hanya menciumnya …….. " kata Ji Ban To dengan suara yang
tidak jelas karena mulutnya membengkak dan menghitam.
"Ampunkan teecu, Suhu……"
Ouw Kok Sian menarik napas panjang. Bagaimanapun
juga, Ji Ban To adalah muridnya, murid pertama. Dia menoleh
kepada Ban-tok Mo-li. engkau telah membunuh muridku Gak
Su sebaga hukuman. Apakah engkau tidak dapat mengampuni
muridku yang satu ini? Dia pun telah mendapatkan hukuman,
apakah itu belum memuaskan hatimu?"
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Ouw Kok Sian, engkau dan dua orang muridmu adalah
tamu-tamu yang ku sambut dengan hormat dan dengan baikbaik.
Akan tetapi dua orang muridmu telah menghina muridku.
Aku telah membunuh seorang muridmu dan melukai muridmu
yang ini, bagaimana pendapatmu? Apakah engkau tidak
terima dan hendak menuntut balas?" Dalam ucapan itu
terkandung kemarahan dan tantangan.
Ouw Kok Sian menarik napas panjang. "Aku sudah tahu
akan kelihaianmu, Ban-tok Mo-li, akan tetapi bukan berarti aku
takut padamu kalau kukatakan bahwa aku tidak ingin menuntut
balas, aku mengerti sepenuhnya akan kemarahanmu dan aku
mengakui kesalahan murid-muridku, maka aku mintakan maaf
untuk mereka, dan kalau mungkin, ampunkanlah muridku Ji
Ban To ini."
Wajah yang tadinya nampak marah itu melunak. Kalau
gurunya sudah mengikut kesalahannya, maka itu pun
cukuplah. Pula, rasa penasaran karena hinaan yang menimpa
muridnya itu telah ditebus dengan nyawa seorang murid, dan
murid yang lain juga akan mampus kalau ia tidak
mengampuninya.
"Baiklah, melihat mukamu, biar aku mengampuni muridmu
ini, Ouw Kok Sian. berikan obat ini kepadanya, minumkan dan
sebagian untuk mengobati mulutnya, dan kau dapat mengusir
hawa beracun dengan sin-kangmu." la mengelua kan
sebungkus obat bubuk kuning dari saku bajunya,
menyerahkan bungkusan obat itu kepada Ouw Kok Sian. Si
Tinggi Besar ini menerimanya tanpa malu-malu lagi. Dia pun
seorang tokoh dunia kang-ouw yang berpengalaman. Kalau
hanya mengobati luka-luka biasa saja atau luka beracun yang
tidak terlalu hebat, dia masih sanggup. Akan tetapi dunia ini,
siapa mampu mengobati luka beracun akibat pukulan Ban-tok
Mo-li?
Ban-tok Mo-li lalu meninggalkan tamunya yang mulai
mengobati Ji BanTo lalu ia lari menghampiri muridnya,
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
membuka ikatan kaki tangannya, dan membantu muridnya
mengenakan pakaian Kemudian mereka berdua pun pulang
dandi dalam perjalanan itu, Ban-tok M li mengomeli muridnya.
"Sikapmu di ruangan sembahyang tadi sungguh tidak
menyenangkan hatiku, Giok Cu. Engkau bahkan nyaris
membikin malu hatiku, sungguh aku kecewa sekali padamu."
"Maaf, Subo. Akan tetapi hatiku tidak tahan melihat dua
orang yang tidak berdosa itu akan dibunuh begitu saja!"
"Hemmm, engkau tahu bahwa mereka tu dijadikan
korban.Gurumu ini beraba untuk mendapatkan berkah usia
panjang, tentu saja dengan jalan menyerahkan korban. Kalau
yang dijadikan syarat itu korban berupa binatang apa pun,
tentu akan kupenuhi. Syaratnya ialah sepasang manusia,
maka harus la dipenuhi. Engkau seperti anak kecil saja. Dan
kulihat, perbuatanmu itu ternyata dikutuk oleh Thian-te Kwiong
sendiri. Buktinya, begitu engkau mengacaukan upacara
penyerahan korban, engkau hampir tertimpa malapetaka di
pantai itu tadi. Kalau aku tidak kebetulan sedang mencarimu,
apakah engkau akan dapat menyelamatkan diri? Engkau tentu
sudah menjadi korban perkosaan dan sebulan kemudian
engkau mati tersiksa!"
Giok Cu mengepal tinju. Akan tetapi ia menjawab lirih.
"Terima kasih, Subo. Tentu mereka telah Subo bunuh,
bukan?"
"Yang seorang telah kubunuh karena dia melarikan diri.
Seorang lagi yang bernama Ji Ban To tidak kubunuh, hanya
kuberi hajaran keras karena memandang muka gurunya dan
dia sudah meminta ampun."
"Hemmm, mana mungkin mengampuni perbuatan mereka
yang amat keji tadi. Biar kelak aku aku sendiri yang akan
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
membunuhnya!" kata Giok Cu dengan suara mengandung
kemarahan.
"Tidak ada untungnya menanam permusuhan dengan para
murid Ouw Kok Sian. Apalagi dia tadi telah kuberi hajaran dan
dalam keadaan setengah mati akan tetapi kutinggalkan obat
penyembuhnya kepada gurunya. Lebih baik melupakan saja
urusan itu, bukan engkau belum diperkosanya?"
"Tapi aku malu, Subo, aku merasa dihina bukan main.
Biarlah kelak akan kucari jalan agar dia bermusuhan dengan
aku sehingga ada alasan bagiku untuk membunuhnya!"
Ban-tok Mo-li yang mendengar hanya tersenyum saja,
senyum acuh karena ia sendiri seorang yang tak pernah
menghargai nyawa orang lain. Semenjak peristiwa malam itu,
Giok Cu berlatih silat semakin tekun karena ia ingin agar
memperoleh kemajuan pesat dan mengalahkan orang-orang
seperti Siangkoan Tek dan Ji Ban To yang sudah diangapnya
sebagai musuh besarnya itu. Dan hanya ilmu-ilmu silat dari
Ban-tok Mo-li saja yang dipelajarinya dengan tekun, termasuk
ilmu-ilmu pukulan beracun, Adapun mengenai cara hidup
gurunya itu, sama sekali ia tidak merasa cocok, bahkan
kadang-kadang ia muak melihat hal-hal yang dianggapnya
memalukan yang dilakukan gurunya, seperti menculik orangorang
muda, memaksanya menuruti kehendaknya
memuaskan nafsu-nafsunya, bergaul erat dengan tokoh-tokoh
sesat dan lain kejahatan lagi. Ia selalu menolak kalau diajak
atau disuruh melakukan kejahatan oleh teman-teman gurunya.
Agaknya Ban-tok Mo-li sendiri mengenal watak muridnya,
maka ia pun tidak pernah memberi tugas kepada muridnya itu
untuk melakukan hal yang berlawanan dengan watak
muridnya itu.
Watak Giok Cu yang keras, tak mengenal takut, gagah
bahkan liar dan ganas terhadap musuhnya, membuat Ban-tok
Mo-li merasa kagum. Apalagi karena dari suaranya, pandang
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
matanya dan sikapnya jelas bahwa murid itu juga mempunyai
perasaan sayang kepadanya!
Kadang-kadang memang amat mengherankan kalau kita
menemui seorang yang hidup sebagai seorang penjahat
besar, yang sudah terbiasa melakuku segala macam
kekejaman, dapat mempunyai perasaan sayang yang amat
besar terhadap seseorang. Perasaan sayang yang amat
mengharukan karena sungguh bertolak belakang dengan
wataknya. Seorang perampok besar yang biasanya
membunuh orang lain dengan mata tanpa berkedip, dapat saja
memiliki kasih sayang yang amat besar terhadap isterinya
atau anaknya atau orang lain sehingga untuk orang itu dia
mau berkorban apa pun juga, terhadap orang itu dia bersikap
amat lembut dan mengalah. Ini membuktikan bahwa didalam
diri setiap manusia itu terdapat dua sifat, yaitu sifat baik dan
sifat buruk. Diri manusia merupakan sumber daripada
kebaikan dan keburukan yang bermunculan silih berganti dan
seperti berlumba menguasai batin manusia yang melahirkan
perbuatan-perbuatan baik maupun buruk. Padahal,
sesungguhnya dasar dari semua ciptaan Tuhan adalah
sempurna, karena Tuhan adalah Maha Sempurna, tidak ada
seorang pun bayi yang jahat! Pandang mata dan senyum tawa
seorang bayi, bahkan tangisnya, adalah suci. Baru setelah
pengertian pikiran menguasainya, akal budi dan pikiran ini
yang memberi pupuk kepada si-akunya dan mulailah muncul
sifat-sifat yang buruk itu. Hanya seorang manusia yang
mengenal benar semua sifat jahatnya ini, yang secara
seketika membersihkan diri dari semua sifat yang buruk, dia
seolah-olah membersihkan kaca-kaca jendela yang kotor
berdebu dan yang menghalangi masuknya sinar matahari, dan
barulah dia menjadi pulih kembali seperti seorang bayi, bersih,
wajar dan suci. Selama tindakan pembersihan diri ini tidak
dilakukan secara seketika, maka segala usaha lain takkan ada
gunanya. Menutup-nutupi kekotoran tidak akan mendatangkan
kejernihan, satu-satunya jalan hanyalah membuang kotorankotoran
itu seketika.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
oooOOOooo
Pengemis atau orang yang berpakaian seperti pengemis
penuh tambal-tambalan itu masih muda, kurang lebih dua
puluh tahun usianya. Kalau melihat keadaan tubuhnya,
sungguh tidak pantas dia mengenakan pakaian pengemis,
atau pakaian yang butut penuh tambalan itu. Tubuhnya tinggi
besar, wajahnya tampan dan gagah, sikapnya juga sopan,
kepalanya selalu menunduk dan pendiam, langkahnya sopan
dan gagah, tidak nanpak sikap rendah diri, matanya tajam
cerdik, wajahnya cerah
Akan tetapi kenyataannya ketika berhenti di depan sebuah
toko obat pemuda ini mengemis! Biarpun sikap dan katakatanya
tidak seperti pengemis sembarangan yang memelas,
namun tetap saja dia mohon pertolongan orang. Kepada
pemilik toko obat di kota raja itu, sebuah toko obat yang besar,
dia memberi hormat dan berkata dengan sikap yang hormat
tanpa malu-malu.
"Harap Lo-ya (Tuan Tua) suka memaafkan saya kalau saya
mengganggu. Saya mohon pertolongan Lo-ya untuk memberi
sedekah
berupa obat
untuk orang
yang sudah
lanjut usia,
obat panas
dan batuk.
Mohon
kebaikan budi
Lo-ya untuk
menolong
saya."
Pemilik
toko obat yang
usianya sudah
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
ada enam puluh tahun, berperut gendut sekali seperti
sebagian besar orang kaya di kota raja, memandang dengan
alis berkerut. Pengemis ini tentu pengemis baru atau asing,
pikirnya karena belum pernah dia melihat sebelumnya. Timbul
rasa tidak sukanya melihat tubuh pengemis yang demikian
sehat dan gagah, jauh lebih gagah daripada putera-puteranya.
"Hemmrn, sungguh engkau ini orang pemuda yang tidak
tahu malu sama sekali Dia berkata sambil mengelus
jenggotnya. "Engkau masih begini muda, kenapa tidak mau
bekerja dan menjadi pengemis ? Hayo pergi, aku tidak mau
menolong orang malas! Pergi atau kupanggilkan penjaga
keamanan agar engkau ditangkap!"
Pengemis muda itu menahan senyumnya. Sedikitpun dia
tidak menjadi merah muka atau marah. Agaknya, cemooh dan
makian seperti itu sudah terlalu sering dia terima sehingga dia
sudah merasa kebal. Dia membungkuk lalu pergi seenaknya.
Pengemis muda itu adalah Si Han Beng! Seperti kita
ketahui, lima tahun yang lalu dia bertemu dengan gurun yang
ke dua, yaitu Sin-ciang Kai-ong Si Raja Pengemis Bertangan
Sakti dan menjadi muridnya. Karena gurunya ini hidup
berkelana sebagai seorang pengemis maka Han Beng juga
harus menyesuaikan diri dengan keadaan gurunya berpakaian
sebagai pengemis, bahkan juga minta-minta untuk makan
mereka sehari-hari. Pernah Han Beng mengajukan rasa
pesaran dalam hatinya mengapa gurunya hidup sebagai
pengemis.
"Suhu adalah seorang di antara tokoh-lokoh sakti yang
memiliki ilmu kepandaian tinggi di jaman ini. Kalau Suhu
kehendakinya, dengan kepandaian itu, suhu dapat
memperoleh kedudukan tinggi dalam pemerintahan, atau
dapat menjadi usahawan yang berhasil, bahkan kalau Suhu
memerlukan harta benda, apa sukarnya? Akan tetapi
mengapa Suhu bahkan menjadi seorang pengemis? Maaf,
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
suuhu, bukankah masyarakat umum memandang pengemis
itu sebagai orang yang yang rendah, hina dan pemalas?"
Sin-ciang Kai-ong sama sekali tidak marah, bahkan tertawa
bergelak mendengar pertanyaan muridnya itu, "Uwah, ha-haha!
Han Beng, muridku yang baik, apakah engkau sungguhsungguh
tidak melihat betapa mulianya pengemis dan betapa
besar jasa-jasanya, asalkan dia.menjadi pengemis seperti kita
ini, bukan karena malas?"
Han Beng maklum bahwa gurunya adalah seorang yang
memiliki watak aneh, akan tetapi dia percaya penuh akan
kesaktian dan kebijaksanaan kakek berpakaian jembel itu.
Mendengar ucapan itu dia memandang heran.
"Mulia dan berjasa besar? Teecu sungguh tidak mengerti
apa yang Suhu maksudkan."
"Dengarlah baik-baik, muridku." Wajah yang biasanya suka
tertawa dan cerah itu kini memandang serius, dan suaranya
yang biasanya suka berkelakar itu kini terdengar bersungguhsungguh.
"Aku adalah seorang kelana yang tidak mempunyai
tempat tinggal tetap, tidak lebih dari satu dua hari berada di
suat tempat. Ini menyebabkan tidak mungkin aku bekerja
mencari sesuap nasi Orang tentu takkan mau
mempergunakan tenaga orang yang tinggalnya tidak tetap dan
hanya untuk sehari dua hari saja. Bukan karena malas,
melainkan terpaksa aku mengemis untuk mengisi perut
mempertahankan hidup. Bukankah lebih baik mengemis
daripada mencuri atau merampok? Sekarang mengapa
kukatakan mulia? Karena pekerjaan ini merupakan latihan
yang amat baiknya bagi kita, bagi engkau terutama, Han Beng.
Dengan mengemis, engkau belajar untuk rendah hati! Latihan
ini menghilangkan kesombongan diri, menghilangkan
pandangan terlalu tinggi kepada diri yang hanya memperbesar
perasaan si-aku yang serba hebat! Dan mengapa berjasa?
Karena, hrngemis setidaknya membangkitkan rasa
perikemanusiaan dalam hati orang baik, menyentuh perasaan
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
mereka untuk menaruh iba kepada sesama hidup yang
sedang menderita kesusahan."
Demikianlah, semenjak memperoleh keterangan dari
gurunya, Han Beng tidak merasa malu-malu atau ragu-ragu
lagi untuk mengemis! Bahkan dia menganggap hal ini sebagai
suatu latihan batin yang baik sekali. Dia kini dapat melihat
sikap orang yang menghinanya, mencemoohkannya, tanpa
perasaan marah atau sakit hati sedikit pun, bahkan diam-diam
mentertawakan mereka, dan dari sikap mereka itu dia dapat
mempelajari banyak watak manusia. Latihan ini amat baik
untuk memupuk kesabaran, pandangan yang luas dan
perasaan rendah hati yang mendalam.
Demikianlah, ketika dia diusir oleh majikan toko obat yang
perutnya gendut, dia pergi tanpa merasa sakit hati. Hanya
hatinya merasa agak gelisah. Dia tidak membohong ketika
mengemis obat. Gurunya jatuh sakit! Gurunya terserang
penyakit demam panas dan batuk! Heran juga dia bagaimana
seorang sakti seperti gurunya dapat terserang penyakit. Hal ini
mengingatkan dia akan kcnyataan bahwa betapapun tinggi
kepandaian seseorang, namun badan manusia ini perlu
dirawat sebaiknya, menjaga kesehat harus dilakukan dengan
sungguh sungguh, kebersihan harus dijaga. Kepandaian silat
membuat orang pandai melindungi dirinya terhadap serangan
dari luar memperbesar tenaga dan kecepatan. Akan tetapi
terhadap penyakit yang menyerang entah dari mana, yang
tidak nampak seorang pesilat yang betapa pandai pun takkan
mungkin dapat mengelak atau menangkis! Dan tubuh ini
takkan bebas dari penyakit, usia tua dan kematian. Biarpun
gurunya menerima datangnya penyakit itu dengan tenang dan
sabar, namun Han Bcng merasa gelisah dan dia merasa iba
kepada suhunya. Demikianlah kalau orang hidup sebatangkara,
tiada keluarga dan tiada rumah. Kalau sakit, tidak ada
yang merawat, tidak ada yang mempedulikan.
Sudah sejak pagi sekali tadi dia mengemis obat, namun
hasilnya selalu berupa penghinaan, makian dan cemoohan.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Ingin rasanya sekali ini dia melanggar pantangan suhunya.
Betapa mudahnya meloncat naik ke atas genteng rumah atau
toko obat itu, melalui genteng masuk ke dalam dan mencuri
obat apa saja yang dia butuhkan! Takkan ada yang tahu.
Andaikata ada yang tahu juga, dia dapat menyelamatkan diri
dengan amat mudahnya!
Terjadi perang dalam batinnya antara yang mendorong dia
untuk mencuri saja dan yang menentangnya. Pada saat itu,
dia melihat sebuah toko obat lain lagi di depan. Tempat itu
agak ramai, dekat dengan pasar dan dalam batinnya Han
Beng mengambil keputusan bahwa kalau sekali lagi dia gagal
mendapatk obat dengan jalan mengemis, dia akan mencuri
saja! Untuk satu kali saja, karena dia amat membutuhkan obat.
Toko obat di depan itu tidak sebesar toko obat yang baru saja
mengusirnya, akan tetapi dia melangkah tanpa ragu ke depan
pintu toko itu. Dia melihat bahwa penjaga toko itu seorang
gadis berusia delapan belas tahunan, dibantu oleh orang
pegawai pria yang usianya sudah setengah tua.
Gadis dan dua orang pegawainya itu memandang kepada
Han Beng, dan terutama sekali kepada pakaiannya yang
tambal-tambalan.Dua orang pegawai mengerutkan alisnya,
jelas kelihatan tidak senang hati mereka. Seorang diantara
mereka bahkan segera menegur.
"Engkau datang ke sini mau apa? sini menjual obat, bukan
menjual makanan. Kalau engkau hendak minta-minta………."
"Kulihat tidak ada sabuk merah pinggangmu! Kami tidak
dapat memberi sedekah kepadamu……"
"Paman!" tiba-tiba gadis itu menegur dengan suara yang
keras kepada dua orang pegawainya. "Kalian tidak boleh sikap
seperti itu!" Dua orang pegawai itu menundukkan muka dan
kelihatan sungkan dan patuh kepada nona mereka. Kini gadis
itu bangkit berdiri dan menghadapi Han Beng, hanya terhalang
lemari tempat obat. Sejenak mereka saling pandang penuh
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
perhatian. Biarpun tidak secara langsung, Han Beng
mengamati gadis itu.
Seorang gadis berusia delapan belas tahun, bertubuh
ramping dan agak tinggi kalau dibandingkan dengan wanita
pada umumnya, wajahnya manis dan anggun, dengan mata
yang jernih dan mulut yang ramah. Gadis itu pun
membayangkan keraguan dan keheranan dalam pandang
matanya ketika ia mengamati Han Beng penuh selidik.
Seorang pemuda yang begini gagah, juga tubuhnya terawat
baik dan bersih, biarpun mengenakai. pakaian tambaltambalan,
agaknya tentu bukan seorang peminta-minta! la pun
memperlihatkan senyumnya yang manis dan ramah sebelum
bicara dengan suara halus.
"Harap Saudara memaafkan sikap dua orang pegawai
kami. Maklumlah mereka seringkali diganggu oleh para
peminta-minta sehingga sikap mereka agak kaku. Dapatkah
kami membantu Saudara. Di sini kami mempunyai persediaan
lengkap."
Ini merupakan pengalaman baru bagi Han Beng yang
membuat wajahnya agak kemerahan! Dia biasanya diterima
dengan pandang mata iba atau cemooh, akan tetapi baru
sekali orang menghadapinya sebagai bukan jembel, sebagai
seorang pembeli biasa! Menghadapi pengalaman baru ini, Han
Beng agak tertegun dan betapa dia mengharapkan saat itu
ada uang cukup di sakunya agar dia dapat benar-benar
membeli obat yang di butuhkan. Apalagi pandang mata gadis
itu demikian penuh kepercayaan, sedikit pun tidak ada
bayangan mengejek atau menghina dalam pandang mata itu.
Akan tetapi dia harus menyadari kenyataan dan dengan
"menebalkan" muka, dia pun berkata, suaranya lembut.
"Saya memang membutuhkan obat, Nona. Guruku sakit,
terserang demam panas dan batuk, sudah dua minggu…….. "
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Demam panas dan batuk? Ah, tentu ada obat untuk itu!
Gurumu itu, apakah usianya?"
"Sekitar enam puluh lima tahun, Nona.”
"Baiklah, kautunggu sebentar, biar diambilkan obatnya.
Paman Ji, tolong berikan obat untuk penyakit demam panas
dan batuk yang diderita seorang tua. Oya, berapa bungkuskah
yang Saudara kehendaki? Sebungkus untuk sekali masak dan
diulang sampai dua kali,' Air dua mangkok tinggalkan
setengah mangkok."
"Secukupnya sampai sembuh, Nona."
"Kukira tiga bungkus pun sudah cukup. Sediakan tiga
bungkus, Paman Ji!" pembantunya itu segera mengumpulkan
obat rempah-rempah dan menimbanginya, dipersiapkan di
atas kertas pembungkus sebagai tiga helai.
"Maafkan saya, Nona. Saya memang membutuhkan obat
untuk guruku yang sakit, akan tetapi …….. saya ………. Maksud
saya……. , hendak mohon bantuan Nona untuk memberikan
obat kepada saya. Saya tidak mempunyai uang untuk
membelinya……….."
Gadis itu nampak tercengang. Kiranya benar juga dua
orang pembantun tadi. Pemuda itu mengemis! Sungguh luar
biasa. Sama sekali tidak pantas menjadi pengemis.
"Nah………… nahhh ………., betul tidak dugaan kami, Nona? Dia
tentu hanya datang untuk mengemis! Sungguh tidak tahu
malu, masih muda dan kuat lagi, dan bukan anggauta Ang-kin
Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Sabuk Merah). Pergilah
kau dari sini!"
"Sssttt, Paman Ji! Diam kau, biar aku yang mengurus
persoalan ini!" bentak gadis itu. Kemudian ia menghadap Han
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Beng dan suaranya halus ketika berkata, "Saudara, tahukah
gurumu bahwa engkau pergi mencarikan obat untuknya
dengan jalan minta-minta?"
"Tentu saja dia mengetahuinya." ,
Gadis itu membelalakkan matanya yang indah. "Dan dia
tidak melarang muridnya melakukan hal yang merendahkan
namanya itu?"
Han Beng tersenyum dan membayangkan betapa suhunya
akan tertawa terpingkal-pingkal mendengar ini. Suhunya yang
berjuluk Raja Pengemis, melarang muridnya mengemis?
Alangkah lucunya pertanyaan gadis itu.
"Guruku sendiri juga suka mengemis mengapa dia harus
melarang saya?"
Seorang pembantu gadis itu yang masih merasa penasaran
lalu berkata "Mungkin gurunya seorang pengemis dan yang
diajarkan adalah ilmu mengemis!"
Gadis itu menoleh dan melotot pada pembantunya, akan
tetapi Han Beng yang sudah terbiasa dengan kata-kata seperti
itu, cepat berkata, "Benar sekali memang guruku seorang
pengemis dan yang diajarkan kepadaku adalah ilmu
mengemis. Nona, maukah Nona menolongku, ataukah tidak?
Kalau tidak saya akan mengemis ke toko lain………"
"Ah, boleh, boleh …… tentu saja akan kuberi, bukankah
sudah dibungkuskan obat itu?" Gadis itu lalu mengambil tiga
bungkus obat dan hendak diserahkan kepada Han Beng, akan
tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Tidak boleh! Tidak boleh memberi apa pun juga kepada
pengemis busuk yang lancang ini!"
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Ketika semua orang menoleh, ternyata telah muncul tiga
orang laki-laki usia empat puluh tahun dan lucunya, yang
melarang orang memberi bantuan pada Han Beng yang dimaki
sebagai seorang pengemis busuk itu ……. adalah juga orang
berpakaian pengemis pula! seperti juga Han Beng, tiga orang
pendatang ini mengenakan pakaian tambal-tambalan, akan
tetapi kainnya masih baru, agaknya memang sengaja dibuat
tambal-tambalan dari kain-kain berwarna-warni dan
berkembang. Di pinggang mereka terdapat sabuk merah. Ini
menandakan bahwa mereka adalah tiga orang anggota Angkin
Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Sabuk Merah) yang
amat terkenal di kota raja. Seluruh pengemis kota raja adalah
anggauta Ang-kin Kai-pang dan mereka semua mengenal
sabuk merah sebagai tanda bahwa mereka adalah anggauta
perkumpulan itu. Ang-kin Kai-pang menganggap bahkan
merekalah yang berhak menguasai seluruh kota raja dan
daerahnya, dan setiap orang pengemis bukan anggauta, baik
dari dalam maupun luar kota, tidak diperbolehkan mengemis di
kota raja daerahnya tanpa seijin mereka! Dan untuk
menertibkan ini, jagoan-jagoan Ang-kin Kai-pang setiap hari
mengada perondaan dan kini, yang muncul depan toko obat
melarang pemilik toko obat memberi sedekah kepada Han
Beng adalah tiga orang tukang pukul Ang-Kai-pang.
Perkumpulan ini memang berpengaruh sekali dan ditakuti
orang, mereka bukan saja menghimpun para penjahat untuk
bergabung dan menjadi tukang-tukang pukul, akan tetapi
bahkan mereka sanggup mendekati para pembesar dan
dengan jalan memberi suapan-suapan besar-besaran
perkumpulan ini menjadi "sahabat" para pembesar tinggi.
Orang tentu akan merasa heran bagaimana perkumpulan
pengemis mampu menyewa tukang-tukang pukul bahkan
menyuap para pembesar? Hasil mereka itu besar bukan main!
Setiap orang anggauta diwajibkan untuk menyerahkan
sepuluh prosen dari hasil mereka mengemis kepada
perkumpulan itu. Perkumpulan ini, dari ribuan bahkan puluhan
ribu pengemis di kota raja dan daerahnya, tentu saja
merupakan harta yang amat besar jum¬lahnya. Dan
perkumpulan itu pun dipimpin oleh orang-orang yang pandai,
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
bahkan kabarnya yang duduk paling atas adalah seorang
datuk sesat yang sakti!
Han Beng yang sudah kegirangan mendapatkan obat yang
dibutuhkannya, ketika siap menerima tiga bungkus obat itu
dengan pandang mata bersukur, tentu saja mendongkol juga
melihat sikap tiga orang ini. Mereka itu pun pengemispengemis,
seperti dia, bagaimana kini mengganggu sesama
"rekan"? Belum pernah dia menjumpai kekurangajaran seperti
itu!
"Kawan-kawan," katanya tenang namun tegas. "Mengapa
kalian datang-datang melarang orang memberi pertolongan
kepadaku dan mengapa pula kalian memaki aku?"
Seorang di antara mereka, yang kepalanya besar dan
hidungnya merah sekali, besar dan merah seperti jambu
masak, menepuk-nepuk perutnya yang gendut. "Bocah
lancang! Apakah matamu sudah buta dan engkau tidak
melihatl sabuk merah ini? Kami adalah tokoh-tokoh Ang-kin
Kai-pang, dan engkau pengemis busuk ini berani bertanya lagi
mengapa kami melarang engkau pengemis di sini? Apakah
engkau sudah mendapatikan ijin dari pimpinan kami?"
Han Beng tertawa, di dalam hatinya dia bahkan tertawa
bergelak. Minta-minta saja harus mendapat ijin! Ijin mengemis!
"Tidak, aku tidak pernah mendapatkan ijin, bahkan tidak
pernah meminta ijin. Aku hanya lewat saja di kota raja ini,
bukan untuk menetap dan melakukan, pekerjaan mengemis."
"Pengemis tetap maupun mengemis sementara harus
mendapat ijin lebih dulu dari pimpinan kami Pendeknya,
engkau harus cepat pergi dari sini!"
"Aku pergi...... aku pergi.....!" kata Han Beng, tidak mau
mencari keributan di tempat orang.
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Nanti dulu, kau terimalah obat-obat untuk gurumu yang
sakit," kata gadis itu. la menyerahkan obat itu sambil keluar
dari tokonya, menghampiri Han Beng. Han Beng juga
menjulurkan lengan untuk menerimanya. Akan tetapi, tiba-tiba
pengemis perut gendut itu menggerakkan tangannya
menampar ke arah bungkusan obat yang akan
diserahterimakan itu.
"Plakkkkk" Bungkusan-bungkusan itu terlepas dari tangan
Si Gadis dan terlempar ke atas tanah! Kini gadis itu
membalikkan tubuh menghadapi Si Gendut, mukanya marah
sekali, alisnya berkerut dan sepasang matanya mencorong.
Pengemis gendut itu menyeringai, dan agaknya merasa gugup
juga melihat betapa gadis itu kini menghadapi dengan penuh
kemarahan.
"Nona, jangan memberikan apa-kepadanya. Kalau
diberikan juga, tak urung kami akan merampas barang itu dari
tangannya, bahkan dia akan kami pukul setengah mati."
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Jilid 10
Gadis itu sejak tadi diam saja, akan tetapi sinar matanya
seperti hendak membakar wajah orang. Tiba-tiba, tangan
kirinya bertolak pinggang, tangan kanannya menuding ke arah
tiga buah bungkusan yang berserakan di atas tanah, lalu dia
berkata kepada pengemis perut gendut dengan suara
memerintah.
"Ambil !!"
Pengemis
gendut itu
terbelalak,
memandang
ke arah
bungkusanbungkusan
itu
lalu kepada Si
Nona yang
bersikap
galak. Tentu
saja dia tidak
sudi
melaksanakan
perintah yang
dianggapnya
menghina itu.
Dia adalah
seorang di
antara tokoh Ang-kin Kai-pang yang terkenal, ditakuti dan
biarpun dia berpakaian pengemis, namun sabuk yang terlilit
dipingangnya berwarna merah cerah, bukan merah muda
sehingga tingkatnya lebih tinggi daripada para anggauta
lainnya. Dia biasa memerintah, bukan diperintah, kecuali tentu
saja oleh para pimpinan Kai-pang yang lebih tinggi
kedudukannya, atau atasannya
KANGZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Ambil, kataku! Apakah engkau tuli?" bentak gadis itu
dengan suara semakin lantang.
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil