Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Jumat, 20 April 2018

Pendekar Penyebar Maut Lanjutan Darah Pendekar Karya Sriwidjono

------
baca juga
Pendekar Penyebar Maut
Lanjutan Darah Pendekar
Karya : Sriwidjono
Sumber djvu : Dimhader
Ebook oleh : Hendra & Dewi KZ
TIRAIKASIH WEBSITE
http://kangzusi.com/ & http://dewi-kz.info/
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Daftar Isi
Pendekar Penyebar Maut
Daftar Isi
Jilid 1
Jilid 2
Jilid 3
Jilid 4
Jilid 5
Jilid 6
Jilid 7
Jilid 8
Jilid 9
Jilid 10
Jilid 11
Jilid 12
Jilid 13
Jilid 14
Jilid 15
Jilid 16
Jilid 17
Jilid 18
Jilid 19
Jilid 20
Jilid 21
Jilid 22
Jilid 23
Jilid 24
Jilid 25
Jilid 26
Jilid 27
Jilid 28
Jilid 29
Jilid 30
Jilid 31
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jilid 32
Jilid 33
Jilid 34
Jilid 35
Jilid 36
Jilid 37
Jilid 38
Jilid 39
Jilid 40
Jilid 41
Jilid 42
Jilid 43
Jilid 44
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jilid 1
MALAM telah sangat larut, bulan yang pucat dan tinggal
sepotong itu sudah jauh pula condong kearah barat. Titik-titik
embun sudah bertebaran pula turun ke bumi. Menebar seperti
gumpalan awan yang melayang-layang dari langit, mengendap
perlahan-lahan ke bawah, menjadi kabut yang menyelimuti
segala makhluk serta benda yang berada di atas bumi,
sehingga segalanya menjadi kabur dan kelihatan samarsamar.
Dinginnya bukan alang-kepalang!
Dingin dan sunyi.
Apalagi jika sekali datang angin berhembus. Biar sangat
lemah sekali pun, ternyata sudah cukup untuk menggerakkan
beberapa pucuk daun cemara yang paling tinggi. Sehingga
beberapa di antaranya terpaksa melepaskan butiran-butiran
air embun yang telah terkumpul pada setiap ujungnya.
Berjatuhan ke bawah, menimpa pucuk pucuk daun yang lain,
menyebabkan pucuk-pucuk yang lain itu tak kuasa pula
menahan muatan mereka sendiri.
Dan untuk beberapa saat bagaikan runtuhnya gunung
mutiara yang digoyang gempa, ribuan butir embun itu jatuh
bertaburan ke bawah. Dingin gemerlapan. Memercik, kesanakemari.
Sebagian membasahi rumput, sebagian lagi langsung
berjatuhan ke bumi dan lenyap terhisap oleh tanah yang
basah.
Suasana malam itu memang benar-benar dingin dan sunyi.
Terlebih-lebih suasana di dalam hutan lebat yang tumbuh di
sebelah utara kota Tie-kwan itu. Tak sebuah makhlukpun yang
tampak hidup di tempat itu. Biar seekor binatang malam yang
paling kecil sekalipun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hutan itu tumbuh dengan lebat di lereng lereng Bukit Ular.
Yaitu sebuah rangkaian dari beberapa buah bukit yang
letaknya membujur sepanjang sepuluh lie di tepi Sungai
Huang-ho, persis di sebelah utara kota Tie-kwan, di Propinsi
Shan-tung. Selain lebat hutan tersebut tumbuh di atas tanah
yang terjal serta berbukit-bukit, sehingga tempat tersebut
sangat licin dan berbahaya sekali. Maka dari itu biarpun
letaknya berada di tepi arus lalu lintas sungai serta berada
tidak jauh dari perkampungan penduduk, tidak seorangpun
selama ini yang pernah menginjakkan kakinya di tempat
tersebut. Apalagi dalam suasana malam yang dingin seperti
itu.
Tetapi ...............
Tetapi ternyata suasana malam itu agak lain dari biasanya.
Dalam pekatnya kabul yang dingin mencekam itu, samarsamar
terlihat beberapa sosok tubuh yang berdiri tegak tak
bergerak di antara gelapnya bayang-bayang pohon. Semuanya
diam tak bergerak. Sehingga sekilas pandang bagaikan
sekumpulan hantu yang sedang bangkit dari kuburnya.
Senyap dan mengerikan!
Mereka berjumlah empatbelas orang, berdiri berkumpul
ditempat yang sedikit lapang dan rata. Berdiri mengelilingi
empat buah tandu yang berisi wanita dan anak-anak. Dan
dilihat dari gerak-gerik mereka dengan mudah dapat diduga
bahwa mereka terdiri dari satu rombongan.
Delapan orang di antaranya, yang agaknya juga bertugas
merangkap sebagai pemikul tandu, tampak berdiri tegak di
sekitar barang bawaan mereka itu. Dua orang yang lain, yang
bertampang lebih garang, berdiri agak terpisah dari kedelapan
orang itu.
Di bawah pohon siong itu yang tumbuh tidak jauh dari
tempat tersebut berdiri seorang laki-laki separuh baya.
Usianya sekitar empat puluh lima tahun. Berpakaian bersih
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan rapi. Jenggot serta kumisnya yang lebat itu juga terawat
rapi. Matanya bersinar tajam dan selalu waspada melirik ke
kanan dan ke kiri, seperti mata harimau betina yang sedang
menjaga anak-anaknya. Tangannya yang tertutup oleh lengan
baju yang longgar itu tampak selalu siap di atas gagang golok
besar yang tergantung di pinggangnya. Dan dilihat dari
sikapnya yang berwibawa, bisa diduga bahwa dialah yang
memimpin rombongan kecil tersebut.
Di belakang orang itu, tampak seorang yang berwajah
sangat mirip dengan dia. berdiri bersandar pada pohon siong
tersebut. Umurnya sekitar lima tahun lebih muda. Mukanya
dicukur bersih, sehingga tampak lebih tampan. Sebuah golok
besar juga tergantung diatas pinggangnya.
Beberapa langkah dari pohon tersebut, yaitu di atas pohon
pek yang telah tumbang, terlihat dua orang lagi dari anggauta
rombongan itu. Seorang pemuda yang bertubuh tinggi kurus,
berusia delapanbelas tahun dan seorang kakek tua yang
kelihatan sedang menderita sakit.
Hawa malam yang kelewat dingin itu agaknya membuat
kakek tersebut semakin menderita. Berkali-kali tangannya
mengurut dada dan tenggorokannya yang terasa gatal dan
nyeri. Kadang-kadang tampak dengan susah payah ia
menahan diri agar mulutnya tidak mengeluarkan batuk. la
kelihatan takut apabila suara batuknya akan menggangggu
suasana tegang yang kini sedang berlangsung di tempat itu.
"Twako, embun pagi telah menyelimuti kita semua. Kenapa
utusan yang kita kirim itu belum juga kembali? Hampir
semalam penuh kita menunggu dia."
Orang berjenggot lebat itu menggeram mendengar
perkataan adiknya, yaitu laki-laki yang berwajah mirip dia itu.
la tak menjawab sepatahpun! Tampak tangannya mengepalngepal
dengan tegang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu pemuda tinggi kurus yang sedari tadi selalu
memperhatikan kakek tua yang sedang sakit itu, merasa
kasihan dan khawatir sekali.
"Apakah engkau merasa kedinginan, kek?" pemuda itu
berbisik pelan sekali.
Orang tua yang tampak semakin sukar menahan rasa nyeri
dan gatal pada tenggorokannya dan menggeleng dengan
cepat. Tetapi tiba-tiba batuknya tak bisa ditahan lagi.
Suaranya melengking memecahkan kesunyian malam.
Membuat kaget orang orang yang berada di tempat itu. Dan
sekali telah terbatuk, batuk itu tidak bisa dibendung lagi.
Suaranya sambung-menyambung tak habis-habisnya.
“Diam! Hentikan suara itu!"
Laki-laki berjenggot lebat itu menghardik dengan suara
berat.
Kakek tua itu dengan ketakutan cepat membungkam
mulutnya erat-erat, sehingga suara batuk itu berhenti dengan
mendadak. Tetapi akibatnya, muka yang semula pucat itu kini
menjadi merah membara. Matanya melotot kemerahan
menahan sakit. Pundaknya berguncang dengan keras karena
menahan batuk. Peluhnya bercucuran membasahi dahi dan
lehernya.
Pemuda yang berada di sampingnya itu cepat
mencengkeram pundaknya.
"Kek, apakah engkau sakit? Apakah penyakit dadamu
kambuh lagi?”
Tetapi kakek itu tak bisa menjawab. Ia masih sibuk
mendekap mulutnya dengan ketakutan. Oleh karena itu si
pemuda tidak bertanya lebih lanjut. Cepat ia merogoh kantong
orang tua itu dan mengeluarkan sebuah pipa tembakau
beserta bumbu-bumbunya. Dengan cekatan pemuda itu
meracik beberapa macam serbuk obat lalu memasukkannya ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dalam pipa bersama tembakaunya. Agaknya ia telah terbiasa
dan hafal betul, apa yang harus diperbuat untuk mengobati
orang tua itu apabila penyakitnya kambuh.
Tetapi begitu pemuda tersebut menyalakan api,
"Yang ji! Padamkan api itu!”
Pemuda yang dipanggil dengan nama "Yang" itu menoleh
ke arah laki-laki berjenggot yang berada dibawah pohon siong
itu. Alisnya berkerut, mulutnya terkatup rapat. Matanya
menatap dengan bingung dan penasaran.
"Ayah? Aku ..........Kenapa aku tidak boleh mengobatinya?
Kenapa engkau melarang aku merawatnya? Bukankah selama
ini aku selalu dirawat olehnya? Kenapa.......?”
"Jangan banyak bicara! Sekali kukatakan tidak boleh
menyalakan api, ya tidak boleh! Apakah engkau ingin
memberitahukan tempat kita ini kepada para musuh kita?
Apakah engkau ingin agar mereka datang ke sini untuk
menumpas keluarga kita?"
"Tapi siapakah musuh kita itu? Ayah tak pernah
mengatakannya kepadaku! Kenapa kita yang selama ini selalu
hidup tenteram mengasingkan diri mesti dimusuhi? Kalau toh
kita akan ditumpas, kenapa tidak kita hadapi saja secara
jantan? Kenapa kita mesti melarikan diri sampai sedemikian
jauhnya seperti sekawanan orang pengecut?"
"Apa katamu? Kau berani membantah? Apakah kau mau
melawan ayahmu?"
Oreng tua itu berdiri tegak dengan marahnya. Tetapi
pemuda itu juga tak mau mengalah. Agaknya ia benar-benar
merasa penasaran atas sikap ayahnya kali ini.
Dengan sinar mata penuh rasa penasaran pemuda itu juga
berdiri tegak menghadapi ayahnya. Tentu saja sikapnya itu
semakin membuat ayahnya bertambah marah. Untunglah lakiTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
laki yang sedari tadi berdiri di belakang sang ayah cepat
menengahi mereka.
"Sabarlah, twa-ko! Puteramu masih sangat muda. Dia
belum menyadari sepenuhnya apa yang terjadi. Biarlah aku
yang menasehati dia!"
"Tuan muda, oh……. tuan muda! Apakah yang telah
terjadi? Kenapa tuan muda berani bersikap demikian terhadap
ayahandamu?” tiba-tiba kakek tua yang sakit itupun berseru
sambil menarik lengan si pemuda. Agaknya penyakit yang
dideritanya telah sedikit mereda.
Pemuda itu cepat menoleh. Tangannya meraih lengan
orang tua itu. Begitu melihat kakek tersebut tidak kurang
suatu apa, hatinya tampak lega bukan main. Biarpun di dalam
hati ia masih juga merasa penasaran atas sikap ayahnya,
tetapi ia tidak ingin berbantah lebih lanjut.
Maka dari itu ketika terdengar suara langkah kaki orang
yang menghampiri tempatnya, ia segera menundukkan
mukanya. Ia tahu pamannya yang sedari tadi berada di
belakang ayahnya, kini telah berada didepannya. Ia juga tahu
bahwa semua orang tentu sedang mengawasi dirinya.
Termasuk juga Siang-hui-houw (Sepasang Harimau Terbang)
kepercayaan ayahnya, yang hadir berdampingan di dekat para
pemikul tandu itu.
"Yang Kun! Kau tidak boleh bersikap demikian kepada
ayahmu. Kau belum memahami benar masalah besar yang kini
sedang dihadapi oleh ayahmu dan oleh seluruh keluarga kita.
Ayahmu sebagai saudara tertua sudah tentu harus
bertanggung jawab atas keselamatan kita semua. Beliau tentu
sudah berpikir dengan matang tentang apa-apa yang
dirasakan baik buat kita. Soalnya masalah besar yang kita
hadapi ini tidak boleh kita hadapi dengan hati panas dan
pikiran pendek, apalagi dengan membabi buta tanpa
pemikiran yang matang. Kita harus memperhitungkan untung
ruginya. Kita harus memperhitungkan segala sesuatunya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan cermat sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya, agar
hal yang kita anggap kecil itu tidak sampai merugikan rencana
kita nantinya."
"Tapi......... aku tidak mengerti, paman. Masalah berarti
apakah sebenarnya yang kini sedang kita hadapi? Masalah
apakah itu sehingga ayah sampai membawa kita semua
melarikan diri meninggalkan rumah, harta benda serta milik
kita ? Sehingga aku sangat kecewa karenanya? Lalu apa
gunanya kita berlatih silat setiap hari, jikalau setiap ada
musuh datang kita lari menyembunyikan diri. Bukankah ayah
dan paman selalu mengatakan kepadaku bagaimana menjadi
seorang ksatria dan pendekar?"
Pemuda itu diam sejenak setelah memuntahkan rasa
penasaran serta kekecewaan hatinya di hadapan sang paman.
Ia menatap dengan penuh harap, agar pamannya tersebut
memberi keterangan yang jelas, sehingga hatinya menjadi
lega.
Orang tua yang telah banyak makan asam garam
kehidupan itu mengelus pundak keponakannya. Wajahnya
tampak berseri-seri.
"Yang Kun, maafkan pamanmu. Aku kini belum bisa
membeberkan masalah besar itu kepadamu. Pada saatnya,
kau tentu akan mengetahuinya sendiri nanti. Adapun tentang
musuh yang kita hadapi saat ini, pamanmu juga belum dapat
menyebutkannya. Selain musuh keluarga kita itu sangat
banyak, kita juga belum tahu dengan pasti siapakah yang kini
datang memusuhi kita........”.
“........... tetapi kami benar-benar sangat gembira melihat
semangatmu yang besar. Engkau memang menjadi tumpuan
harapan kita di masa mendatang, apabila ternyata kami
orang-orang tua ini tidak bisa melanjutkan cita-cita kita. Itulah
sebabnya dengan tidak mengenal lelah kami menggembleng
dirimu siang dan malam. Dan kukira jerih payah kami itu
tidaklah sia-sia. Engkau telah dapat menguasai dengan baik
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
semua ilmu silat keluarga kita. Tetapi meskipun begitu,
engkau tidak boleh terlalu membanggakan dirimu. Apalagi
menjadi sombong. Seperti yang telah kita ketahui bersama,
ternyata musuh yang datang juga bukan orang sembarangan
pula. Terbukti dengan terbunuhnya pamanmu yang bungsu,
orang terlihai di antara keluarga kita."
"Tetapi musuh paman bungsu itu tentu tidak hanya
seorang. Mereka tentu secara beramai-ramai mengeroyok
paman bungsu. Tak seorangpun di dunia ini yang mampu
melawan beban sendirian saja." Yang Kun membela mendiang
pamannya. Orang yang paling banyak memberi pelajaran silat
kepadanya!
Orang tua itu tersenyum penuh arti. Dengan menggelenggelengkan
kepalanya ia memandang ke arah Siang-hui-houw
yang berdiri diam tak bergerak sejak tadi.
"Tuan muda Yang Kun ini memang sangat membanggakan
paman bungsunya," kata salah seorang di antara mereka.
Sang paman itu mengangguk, ia sendiri juga sangat
bangga terhadap mendiang adik bungsunya itu. Sayang
umurnya terlalu pendek. Untunglah keponakannya ini agaknya
telah mewarisi bakat serta kepandaian adiknya tersebut.
"Yang Kun sudahlah! Mungkin juga pamanmu itu memang
dikeroyok oleh banyak orang seperti dugaanmu, tetapi
mungkin juga tidak. Soalnya tak seorangpun yang
menyaksikan ketika dia melawan musuhnya. Dan pada saat
tubuhnya yang terluka itu kita temukan, dia hanya sempat
mengeluarkan dua buah perkataan saja. Yaitu perkataan
“larilah” dan perkataan “benda itu!"
"Lalu.......... apakah maksud perkataan beliau itu?” Yang
Kun mendesak.
Orang tua itu menatap keponakannya dengan tajam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Itulah! Biarpun hanya dua buah perkataan saja tetapi
kamu bisa menduga apa yang dimaksudkannya ! Yaitu yang
berhubungan dengan masalah besar yang sedang kita hadapi!
Itulah sebabnya, biarpun kita kehilangan seorang keluarga
yang kita cintai, kita harus tetap berpikiran dingin. Kita tidak
boleh menurutkan hati dan perasaan. Kita harus mengingat
kepentingan keluarga kita yang lebih besar."
Lagi-lagi masalah besar dan kepentingan keluarga, Yang
Kun menggerutu di dalam hati. Ia sungguh merasa sangat
penasaran sekali.
"Lalu...... kenapa kita mesti berlari-lari serta bersembunyi?"
Orang tua itu menghela napas panjang.
"Hmmm ......... sudah kukatakan sejak tadi bahwa pada
saatnya nanti engkau akan mengerti dan memaklumi sendiri
masalah ini. Yang terang, apabila seorang pendekar besar
seperti paman bungsumu saja menganjurkan kita lari,
persoalannya tentulah tidak main-main."
Sekali lagi orang tua itu mengawasi dengan tajam. Sepintas
lalu dapat ia rasakan betapa keponakannya tersebut belum
merasa puas hatinya. Tetapi agar persoalan itu tidak menjadi
berkepanjangan, ia segera memotong saja pembicaraannya.
"Sudahlah, nak! Kaurawatlah dahulu kakek pengasuhmu
itu. Jangan terlalu kau risaukan masalah ini, biarlah kami
orang-orang tua saja yang menyelesaikannya.”
Kemudian setelah sekali lagi menepuk pundak
keponakannya, orang tua itu melangkah kembali ke tempat
semula, di samping kakaknya.
“Twa-ko! Sungguh aneh, kenapa Hek-mou-sai (Singa
Berbulu Hitam) hingga sekarang belum juga kembali? Dia
sendiri yang memberi batas waktu sampai tengah malam.
Padahal kini sudah fajar..........”
"Entahlah! Aku juga hampir gila memikirkan dia."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku khawatir kalau-kalau dia mendapatkan kesukaran di
jalan. Seperti ada firasat yang tidak baik. .."
"Aku juga mempunyai firasat demikian. Lalu apa sebaiknya
yang akan kita lakukan ?"
“Terserah twa-ko saja! Aku selalu menurut perintahmu!”
“Baiklah! Karena Hek-mou-sai sendiri yang berkata bahwa
dia akan kembali sebelum tengah malam, maka kita bebas
untuk berlalu sekarang juga."
"Tetapi bagaimana kalau dia nanti kembali kesini?”
“Biarlah Siang hui-houw memberi suatu tanda di tempat ini,
yang menyatakan bahwa kita telah berangkat.” Kata kakaknya
sambil memberi tanda ke arah Siang-hui-houw agar
mendekat.
"Tuan memanggil kami berdua?” kedua harimau itu
bertanya.
"Kita akan berangkat sekarang. Berilah tanda di ditempat
ini, agar Hek-mou-sai mengetahui kalau kita telah berangkat.
Kemudian ajaklah para pemikul tandu untuk membawa para
wanita itu turun dari bukit ini. Kita menuju ke pinggir Sungai
Huang-ho!”
"Baik, tuan."
Kedua jagoan pengawal itu mengangguk hormat, lalu
kembali ke tempat semula. Mereka menyiapkan tanda yang
akan mereka tinggalkan untuk teman seperjalanan mereka
yang bertugas sebagai penyelidik, yang sampai saat itu belum
kembali. Hek-mou-sai bertugas menyelidiki jalan-jalan yang
akan dilalui oleh rombongan kecil tersebut.
“Apakah kita akan berangkat sekarang?” salah seorang
pemikul tandu bertanya kepada mereka.
“Benar! Ajaklah teman-teman kita yang lain untuk bersiapsiap
! Tuan Chin memberi perintah agar berangkat sekarang.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kabut dingin makin tebal menyelimuti mereka. Dinginnya
sampai mengigit tulang. Membuat para pemikul tandu
tersebut sebenarnya sangat enggan untuk bergerak dan
tempatnya. Tapi apa boleh buat, tuan Chin, majikan mereka,
memerintahkan mereka untuk berangkat sekarang juga.
Terpaksa dengan perasaan enggan mereka mengangkat
tangkai tandu masing-masing.
Sementara itu melihat ayah dan pamannya telah berkemaskemas
pula untuk berangkat, Yang Kun membuka baju
luarnya yang lebar dan memberikan kepada kakek
pengasuhnya.
"Kita akan berjalan lagi, kek. Kaupakailah bajuku ini biar
tubuhmu merasa lebih hangat."
"Terima kasih, Tuan muda.. Tuan muda baik sekali.......
aku..........”.
Belum juga kakek itu selesai berbicara, tiba-tiba mereka
dikagetkan oleh suara teriakan seorang pemikul tandu yang
diikuti oleh pemikul tandu yang lain.
“Hah ?!?”
“Ohh ?!?”
“Ehh !?!”
Semua orang cepat menoleh ke arah para pemikul tandu
dan .... untuk beberapa saat lamanya mereka berdiri
mematung! Di hadapan mereka, didepan para pemikul tandu,
tampak beberapa sosok tubuh wanita dan anak-anak,
tersungkur mencium tanah yang becek berlumut. Agaknya
mereka tadi terjatuh, ketika para pemikul tandu tersebut mulai
mengangkat tangkai tandu yang mereka tumpangi.
Dan sekejap kemudian, seperti mendapatkan suatu
komando saja, ketiga orang ayah, paman dan anak itu
meloncat bagai terbang cepatnya kearah keluarga mereka
tersebut. Ketiga-tiganya sampai di tempat dalam waktu yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hampir bersamaan. Dengan gaya dan jurus yang bersamaan
pula, yaitu jurus burung walet Terbang ke Sarang!
Ayah Yang Kun, yang terdahulu sampai di tempat itu
segera mengulurkan tangan ke arah ibu Yang Kun, wanita
cantik yang tergolek dengan separuh badan masih berada di
dalam tandu.
"Twa-ko!! Jangan sentuh dia!" adiknya berteriak
memperingatkan.
"Ibuuuu,......!" Yang Kun yang berada di belakang kedua
orang tua itu bergegas mau menubruk tubuh ibunya tetapi
pamannya cepat menahan lengannya dengan erat.
"Lepaskan! Lepaskan, paman! Aku akan melihat ibuku!"
Yang Kun berteriak sambil berusaha melepaskan pegangan
tangan pamannya. Tetapi sedikitpun tak mau sang paman itu
mengendorkan pegangannya. Beberapa kali pemuda itu
berusaha membebaskan lengannya dengan berbagai macam
cara, tetapi karena tenaga dalamnya masih berada dibawah
tenaga dalam pamannya, maka usahanya selalu sia-sia.
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara teriakan ayahnya
yang mengerikan. Otomatis keduanya menghentikan
pergulatan mereka. Dengan mata melotot Yang Kun melihat
ayahnya mundur terhuyung-huyung menjauhi tubuh ibunya.
Darah segar tampak menyembur-nyembur dari lengan
kanannya yang buntung. Buntung sebatas siku.!
"Ayahhhh............ ?!"
"Twa-ko.. ? Kau......... kau kenapa?''
Paman Yang Kun bergegas menyambut tubuh kakaknya
yang terhuyung-huyung. Kemudian dengan cekatan ia
menotok beberapa kali di sekitar bahu dan pundak, sehingga
darah yang mengucur keluar itu berhenti dengan segera.
Salah seorang dari Siang-hui houw cepat membentangkan
selembar kain untuk membaringkannya di tanah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kalian semua jangan terlalu dekat dengan............"
“Aduuuhh...........”
Belum juga paman Yang Kun selesai berteriak untuk
memperingatkan mereka, salah seorang pemikul tandu telah
mengaduh dan terjerembab di samping tandunya.
"Awas racun ganas! Wanita dan anak-anak itu telah mati!
Aku terlambat menyadari peringatanmu tadi. Untung aku
cepat memotong lenganku ka........ kalau tidak, nyawaku tentu
sudah melayang mengikuti mereka." ayah Yang Kun yang
berada di dalam pelukan adiknya itu merintih lemah karena
banyak kehilangan darah.
"Jauhilah tandu itu! Cepat!" paman Yang Kun sekali lagi
berteriak.
Tetapi terlambat sudah! Para pemikul tandu yang lainpun
satu persatu jatuh ke tanah, terkulai mati tanpa mereka
menyadari apa yang telah terjadi.
Kejadian yang mengerikan itu berlangsung secara berturutturut
di depan Yang Kun dengan cepatnya. Sejak tergulingnya
para wanita dan anak-anak dari tandu mereka sampai
terbuntungnya lengan ayahnya lalu yang terakhir adalah
meninggalnya para pemikul tandu, semua terjadi dalam
sekejap mata. Dia terpaku bagaikan sebuah patung batu. Dia
hampir tak percaya atas apa yang terjadi di depan matanya
tersebut. Tetapi begitu terpandang sekali lagi mayat ibunya, ia
berteriak kaget bagai terbangun dari sebuah mimpi buruk.
"Ibuuuu..............!"
Yang Kun menghambur ke arah tubuh ibunya yang tergolek
di depan tandunya. Untunglah sang paman selalu waspada.
Melihat keponakannya lari mendekati mayat ibunya, la cepat
meloncat menyambar lengan si pemuda dan menariknya
kembali. Pemuda itu meronta dengan hebat tetapi pamannya
juga tidak mau melepaskan pegangannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Yang Kun, sadarlah! Apakah engkau ingin bunuh diri?
Lihatlah! Semua mati terkena racun hanya karena mereka
menyentuh tandu saja. Apakah engkau ingin menyusul
mereka? Cobalah engkau berpikir dengan baik, jangan kau
turutkan perasaanmu yang sedang kacau itu!"
Yang Kun tertegun mendengar perkataan pamannya
tersebut. Sama sekali ia memang tidak menduga bahwa
orang-orang itu, ibunya, bibi serta adik-adiknya telah mati,
apalagi mati karena terkena racun! Tadi sore ibunya masih
mengajak bicara dengan dia. Malahan ketika dia makan
malam bersama yang lain, ibunyalah yang mengambilkan nasi
buat dia. Sedangkan adik-adik sepupunya seakan juga baru
saja bergurau dengan dia sebelum berangkat tidur tadi.
Perlahan-lahan Yang Kun melepaskan diri dari pegangan
sang paman dan menoleh ke arah tubuh ibunya yang
terbaring diam itu. Wajah yang biarpun sudah mulai berkerut
tetapi masih kelihatan cantik itu seperti tersenyum kepadanya.
Di dalam keremangan sinar bulan yang pucat tak terlihat
sedikitpun bahwa tubuh itu telah menjadi mayat. Dengan
susah payah Yang Kung menahan sedu-sedan yang
menyesakkan isi dadanya.
"Paman, bagaimana dengan ibuku? Siapakah orang yang
telah berbuat begitu kejam?" ujarnya lemah setelah bisa
sedikit menguasai perasaannya.
"Entahlah, nak. Aku juga belum dapat menduganya.
Marilah kita periksa bersama-sama." Orang tua itu menjadi
lega melihat Yang Kun sudah dapat menguasai hatinya
kembali. Sebenarnyalah bahwa dia sendiripun tidak kalah
sedihnya. lsteri serta kedua puteranya yang masih kecil-kecil,
turut pula menjadi korban di antara mereka! Hanya karena
usianya yang telah tua dan jiwanya yang telah matanglah dia
bisa menguasainya. Tetapi begitu suasana telah dapat diatasi,
iapun teringat kembali kepada keluarganya sendiri.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bagaimanapun ia adalah seorang ayah yang sangat mencintai
anak-anaknya!
"Siang-hui houw! Berilah bubuk obat luka pada lengan tuan
Chin, lalu balutlah agar darahnya lekas mengering," orang tua
itu berusaha mengalihkan kedukaan hatinya. Lalu ia
menggandeng lengan keponakannya.
"Marilah kita periksa korban-korban itu, tetapi jangan
mengurangi kewaspadaan! Racun apakah yang mempunyai
sifat begitu ganas?"
Mereka menyulut obor agar bisa melihat pada korban lebih
jelas lagi. Mereka tidak peduli apabila musuh menemukan
tempat tersebut. Toh korban telah berjatuhan! Siapa tahu
pihak musuh justeru telah berada di sekeliling mereka? Maka
lebih baik menghadapi musuh di tempat terang daripada harus
bertempur dengan banyak lawan di tempat gelap.
Dengan sebuah ranting kayu paman Yang Kun
membalikkan tubuh kakak iparnya serta yang lain-lainnya.
Semuanya telah mati! Mati dalam keadaan yang aneh! Wajah
dari pada para korban itu berwarna kehijau-hijauan dan
semuanya dalam keadaan tersenyum simpul sehingga dilihat
sepintas lalu mayat-mayat itu seperti masih bernyawa. Tentu
saja hal itu membuat Yang Kun serta pamannya tadi tertegun
keheranan. Untuk sekejap Yang Kun seperti hampir tidak bisa
mengendalikan perasaannya kembali, tetapi sebuah tepukan
halus sang paman di pundaknya memperkuat hatinya lagi.
"Racun apakah itu, paman? Kenapa mempunyai pengaruh
sedemikian anehnya? Dan ........... siapakah menurut pendapat
paman yang melakukannya?”
Orang tua itu tidak segera menjawab. Dengan tajam
matanya menebar ke sekeliling tempat itu kemudian
menunduk lagi ke arah mayat-mayat itu dengan ragu-ragu.
Ada sedikit tersimpul perasaan kuatir dan ngeri pada
mukanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Paman menemukan sesuatu?" Yang Kun bertanya.
Pamannya tidak menjawab, tetapi orang tua itu justru
berdiri tegak dengan kepala tengadah Tangannya siap di atas
gagang golok yang tergantung pada pinggangnya.
“Jika saudara masih berada di sini, silahkan keluar untuk
menemui kami," orang tua itu pun berkata perlahan. Tetapi
karena didorong oleh khi-kang yang tinggi, suaranya
berkumandang jelas. Menembus rimbunnya daun-daun di
sekitar tempat tersebut.
Beberapa saat telah berlalu, tetapi tak seorang yang
muncul atau menjawab perkataannya. Yang Kun menjadi
tegang melihat sikap pamannya, Agaknya sang paman itu
mengira bahwa musuh masih berada di sekitar tempat itu.
Beberapa kali orang tua itu mengulangi tantangannya, tapi
suasana tetap sepi, sehingga Siang-hui-houw yang berdiri
tegang di samping ayah Yang Kun yang terluka menjadi tidak
sabar pula. Tetapi sebelum keduanya turut ambil suara,
pamannya, Yang Kun sudah duduk kembali.
"Agaknya mereka telah meninggalkan tempat ini,” katanya.
"Siapakah mereka paman? Kenapa mereka tidak
menampakkan diri jika mereka memang sedang mencari kita?"
Yang Kun bertanya.
“Adik Kong, apakah ada orang di sekitar kita ini?" ayah
Yang Kun yang masih terbaring itu juga bertanya lemah.
“Tidak Twa-ko, adikmu hanya menduga-duga saja.
Mungkin orang yang meracuni para wanita dan anak-anak itu
masih berada di sekitar tempat ini. Ternyata tidak. Melihat
keadaan para korban itu, agaknya mereka telah meninggal
pada waktu sore sebelum kita sampai di sini kemarin. Hanya
karena keteledoran kitalah sampai hal tersebut tidak kita
ketahui sejak semula. Mungkin pihak lawan bergerak tanpa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kita ketahui pada saat para wanita dan anak-anak itu
berangkat tidur.”
“Ya......... benar! Seharusnya aku sudah curiga pada
keadaan kakak iparmu ketika dia diam saja melihat aku
berbantah dengan Yang Kun tadi. Dia selalu menegur atau
menyabarkan aku apabila aku sedang marah."
"Lalu siapakah menurut pendapat paman musuh yang
berbuat sekeji ini? Kenapa mereka cuma membunuh keluarga
kita saja? Kenapa tidak kita para laki-laki ini sekalian, jikalau
mereka itu memang ingin membunuhi kita semua?" Yang Kun
menyela dengan tidak sabar.
“Hal ini............”
“Hai! Nyonya besar ini seperti menggenggam sesuatu!”
kakek tua pengasuh Yang Kun yang turut meneliti sejak tadi
tiba-tiba berseru kaget.
Yang Kun beserta pamannya cepat mengikuti arah telunjuk
kakek tua itu. Tampak oleh mereka telapak tangan kanan ibu
pemuda itu menggenggam secarik kertas kecil. Dengan hatihati
paman Yang Kun menotok pergelangan tangan mayat itu
agak keras, sehingga untuk sesaat jari-jari itu mengembang.
Tapi yang sesaat itu sudah cukup bagi orang tua itu untuk
menggerakkan ranting yang ia pakai untuk menotok tadi
secara kilat mengambil kertas tersebut.
Dengan hati tegang tapi tanpa mengurangi kewaspadaan,
paman Yang Kun membentangkan gulungan kertas tersebut
dengan ranting yang dibawanya diatas tanah. Semua orang
yang tinggal yaitu paman Yang Kun, Yang Kun dan kakek
pengasuhnya serta Siang-hui-houw yang menggandeng tuan
Chin, berkumpul mengelilingi.
Ternyata kertas itu hanya berisi beberapa huruf saja. Tanpa
alamat maupun nama si pengirim dan isinya merupakan
sebuah peringatan :
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Turunlah kalian dari bukit ini kearah sungai, kemudian,
berbeloklah ke arah kanan melalui jalan setapak di tepi sungai
itu sejauh satu lie! Di sana akan kalian dapati sebuah gubuk
kecil beratapkan daun ilalang dan .............. tinggalkan BENDA
itu disana! Jika kalian membangkang seperti keluarga kalian,
inilah akibatnya!”
Tulisan tersebut ditulis dengan huruf yang pencangpenceng,
menandakan bahwa penulisnya adalah seorang yang
tidak begitu mahir di dalam hal kesusasteraan.
“Kurang ajar! Pengecut yang hanya dapat membokong
orang dengan racun!” Yang Kun memaki dengan marah.
“Keluarlah dan hadapi kami secara jantan!”
Pemuda itu bertolak pinggang sambil memandang dengan
mata melotot ke segala penjuru. Hatinya yang pepat dan sedih
karena kematian ibunya yang sangat ia cintai itu membuat dia
ingin mengamuk serta menghadapi semua musuh
keluarganya. Tetapi seperti yang terjadi pada beberapa saat
yang lalu, tak seorangpun yang menjawab tantangannya,
apalagi keluar menemui dia.
“Yang Kun, sudahlah! Tak ada gunanya engkau marahmarah
dengan seseorang yang sudah pergi. Marilah urus
jenazah ibu serta bibimu. Siang-hui-houw, lekaslah kalian
membuat liang untuk mengubur mereka!”
Tanpa mengeluarkan perkataan sepatahpun Yang Kun ikut
mengubur ibu serta keluarganya yang lain. Ia sudah tidak
menangis lagi, tetapi ada terjadi sesuatu perubahan pada raut
wajah serta sinar matanya apabila dibandingkan dengan
beberapa saat yang lalu. Tampangnya yang semula kelihatan
bersinar, mencerminkan hati yang keras, namun tenang itu
kini berubah menjadi pucat dingin menakutkan! Sinar matanya
yang semula bening penuh rasa belas kasih itu kini berubah
menjadi ganas dan mengandung sinar dendam yang tiada
tara!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Paman,” katanya kaku setelah semua upacara penguburan
itu selesai, “Siapakah sebenarnya musuh kita? Siapakah orang
yang meracuni keluarga kita ini? Siapakah yang mengeroyok
dan membunuh paman bungsu? Kenapa kita tidak
menghadapinya saja secara jantan? Benda apakah yang
mereka kehendaki itu? Kenapa aku agaknya tidak boleh
mengetahui? Aku kini benar-benar sangat penasaran paman?
Kalau selama ini aku selalu menurut serta mengikuti kehendak
ayah dan paman di dalam perjalanan ini hanyalah disebabkan
oleh rasa segan dan hormatku kepada ibu. Sekarang ibu
sudah tidak ada lagi, maka aku juga tidak mengikuti
perjalanan ini. Aku akan pergi mencari orang-orang yang
mengeroyok paman bungsu dan yang meracuni ibuku!”
Pemuda itu diam sebentar menanti reaksi ayah dan
pamannya, tetapi ketika kedua orang tua itu juga diam saja,
tidak berusaha untuk menanggapi perkataannya, pemuda itu
segera beranjak untuk pergi meninggalkan tempat tersebut.
“Baiklah! Agaknya aku memang harus mencari langsung
kepada para pembunuh itu!” katanya tegas.
Tentu saja ayah serta pamannya menjadi kelabakan.
Keluarga Chin tinggal mereka bertiga saja, itupun salah
seorang di antaranya telah cacat, sehingga hanya pada si
pemuda itulah tumpuan harapan mereka.
"Yang Kun, tunggu!" ayahnya berseru, tetapi agaknya
pemuda itu sudah tidak bisa ditahan lagi, sudah bulat
maksudnya untuk mencari musuh-musuhnya.
“Siang-hui houw! Tahan anak itu!” akhirnya orang tua itu
memberi perintah kepada pengawal kepercayaannya.
Bagai terbang cepatnya kedua harimau itu meluncur ke
hadapan si pemuda. Gesit bukan main. Tak heran, kalau
mereka mendapat julukan seperti itu !
"Tuan muda, harap berhenti dahulu! Ayahmu ingin
berbicara sebentar!" mereka berseru sambil menjura di depan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Yang Kun. Kedua orang itu berdiri berjajar berdampingan,
menutupi jalan yang akan dilalui oleh pemuda itu. Tetapi Yang
Kun sudah tidak mau lagi untuk berhenti, apalagi kembali
kehadapan ayahnya. Dengan mengerahkan tenaga ia terus
menerjang ke depan, mendorong kedua harimau itu ke
samping. la mengerahkan lebih dari separuh kekuatannya
karena ia maklum bahwa kedua orang kepercayaan ayahnya
itu mempunyai kepandaian yang tidak lebih rendah daripada
dirinya, apalagi ilmu silat gabungan mereka.
Melihat tuan muda mereka tidak mau berhenti tapi malahan
menyerang mereka berdua, kedua orang itu juga tidak mau
menyingkir untuk memberi jalan. Setelah saling memberi
isyarat, keduanya mengulurkan kedua belah lengan mereka
untuk memapak ke depan, sehingga ketiga pasang lengan itu
bertemu di udara, menimbulkan suara berdentam yang hebat.
Yang Kun terdorong ke belakang beberapa langkah
sementara kedua harimau itupun tergempur kuda-kuda
mereka. Agaknya kedua orang pengawal kepercayaan
ayahnya tersebut juga tidak mau mengeluarkan seluruh
tenaga mereka.
“Yang Kun! Jangan pergi!" sekali lagi ayahnya berteriak.
Tapi pemuda itu sudah tidak peduli lagi. Sudah bulat benar
tekadnya untuk mencari para pembunuh keluarganya.
Dikerahkan seluruh tenaga dalamnya dan bersiap-siap untuk
menerjang kembali. Kali ini dengan seluruh kekuatannya!
"Harap paman berdua menyingkir dan jangan halangi aku!
Atau aku akan terpaksa mengadu nyawa dengan paman
berdua!" geram pemuda yang sedang diliputi dendam itu
kepada Siang hui-houw. Buku buku tangannya gemeretak
dengan keras saking kuatnya ia mengepalkan jari-jari tangan
yang telah disaluri oleh tenaga dalamnya yang hebat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Yang Kun ......... kau.......... kau kembalilah!" ayahnya
tertatih-tatih menghampiri sambil mendekap sebelah
lengannya yang buntung.
"Yang Kun!!” paman pemuda itupun akhirnya ikut campur
pula. Tubuhnya yang kokoh kuat itu melesat ke hadapan Yang
Kun, seperti burung walet menukik ke atas batu karang. "Kau
tidak boleh gegabah menurutkan isi hatimu tanpa
mempergunakan akal pikiran yang sehat! Kau mengira mereka
hanyalah para penjahat kecil yang mudah ditundukkan dengan
satu dua pukulan? Begitukah?”
Yang Kun mundur selangkah, tetapi bukan mau
mengurungkan maksudnya untuk pergi dari tempat itu!
Dengan tangkas tangannya mencabut golok pusaka, tapi
bukan untuk menghadapi sang paman yang terkejut melihat
perbuatannya tersebut, tetapi justru ditempelkan pada
lehernya sendiri.
"Maaf. Paman! Kali ini keponakanmu terpaksa tidak mau
menuruti nasehatmu! Sudah bulat kemauanku untuk pergi
mencari mereka, apapun yang akan terjadi. Lebih baik aku
mati sekarang juga apabila paman tetap memaksa aku untuk
mengurungkannya! Aku........ Berhenti!!" Tiba tiba pemuda itu
berteriak keras ketika dilihatnya sang paman mau melangkah
ke depan. Mata golok yang menempel di lehernya sedikit ia
tekan sehingga tiba-tiba darah merembes keluar membasahi
golok yang putih mengkilap itu!
"Kong-te (adik Kong)! Jangan .........." ayah Yang Kun
berteriak ke arah adiknya. Bagaimanapun juga ayah Yang Kun
tak ingin putera satu-satunya tersebut mati membunuh diri
karena dipaksa untuk mengurungkan niatnya!
“Biarlah ia pergi !"
"Tapi itu juga sama dengan membunuh diri."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Biarlah! Biarlah nasib yang akan menentukannya! Kalau
toh ia akan mati di tangan musuh, itupun lebih baik dari pada
ia mati membunuh diri di sini.”
Yang Kun mengangguk kaku ke arah ayahnya, pelan pelan
ia bergeser surut serta melepaskan mata golok dari lehernya.
Tampak luka yang memanjang dan agak lebar, melintang
pada lehernya! Darah segar makin deras merembes keluar
sehingga membasahi baju yang menempel di dadanya. Lalu
sekali ia menghentakkan kakinya ke atas tanah, tubuhnya
melesat turun dari bukit itu dengan cepat sekali!
“Tuan Mudaaaaaa........,” kakek pengasuhnya yang tua itu
berseru, tapi si pemuda telah lenyap masuk hutan.
ooOOoo
Fajar telah menyingsing. Di ufuk timur matahari
memancarkan sinarnya yang hangat dan berwarna kemerahmerahan.
Sinarnya menerobos rimbunnya daun dan ranting
yang berselimutkan kabut tebal, seakan ingin menjenguk
setiap lorong yang gelap dan tersembunyi di dalam hutan itu.
Sehingga terciptalah pemandangan yang sangat indah
mempesonakan!
Sinar hangat yang menerobos di sela-sela daun tersebut
terlihat seperti berpuluh puluh sinar lampu yang menyorot di
tempat gelap, menciptakan garis-garis lurus yang menerjang
pekatnya kabut serta tetesan-tetesan air embun yang
berjatuhan dari atas. Cahaya gemerlapan di antara kepulan
asap tipis yang berwarna-warni itu membuat isi hutan itu
bagaikan sebuah taman dewata!
Tetapi suasana pagi yang indah segar itu ternyata tidak
menarik sama sekali bagi Yang Kun, pada saat itu ia lebih suka
merenung sambil berjalan di jalan setapak yang membujur di
sepanjang sungai besar itu. Setiap kali matanya dengan liar
mengawasi keadaan di sekitarnya, seakan mencari sesuatu di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
antara bongkahan batu dan daun ilalang yang memadati
tepian sungai itu.
"Dalam surat itu dikatakan bahwa aku harus melalui jalan
setapak ini untuk mencapai gubug yang mereka maksudkan,”
pemuda itu bergumam di antara langkahnya. “............ dan
pembunuh-pembunuh itu tentu telah menanti di sana. Tapi
aku tidak takut!"
Pemuda itu menjadi tegang begitu terlihat sebuah gubug
kecil di kelokan sungai. Gubug yang dibangun di pinggir
sungai dengan atap daun ilalang serta dinding dari papan. Dari
jauh tempak sepi dan tak terawat. Beberapa bagian dari
atapnya telah hilang, begitu pula dindingnya.
Yang Kun melangkah mendekat dengan hati-hati. la tahu
bahwa pembunuh-pembunuh itu bukan orang sembarangan,
maka ia benar-benar mengerahkan seluruh kepandaian yang
ia miliki agar tidak terjatuh di tangan mereka. Beberapa
langkah dari bangunan tersebut ia berhenti lalu meloloskan
golok pusaka pemberian paman bungsunya.
"Aku datang mewakili seluruh keluarga Chin. Nah, cepatlah
kalian keluar menemui aku!'' katanya lantang. Suaranya
nyaring menggetarkan udara pagi karena ditunjang oleh
tenaga dalam yang kuat, sehingga mengejutkan beberapa
ekor burung yang pada saat itu sedang sibuk mencari makan
di tempat itu.
Karena beberapa kali pemuda itu berseru tidak seorangpun
menjawab, maka dengan nekad ia masuk ke dalam bangunan
rusak tersebut, la tidak memperdulikan lagi apakah musuh
memasang jebakan atau tidak di dalamnya. Dengan golok
yang selalu siap di depan dada ia menendang daun pintu
sehingga ambruk. Matanya nanar mencari ke segala sudut, di
manakah gerangan musuhnya itu berada.
Yang Kun melihat sebuah bayangan berkelebat di kamar
sebelah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Berhenti!"
Sambil berteriak pemuda itu mengayunkan tanganya. Tiga
buah peluru dari baja berbentuk bulat meluncur menghantam
ke arah bayangan itu. Satu menuju ke arah kepala, sedangkan
yang dua lagi menyerang ke arah pinggang. Tampak olehnya
bayangan itu meliukkan tubuh dengan amat manis untuk
menghindari serangannya, tetapi oleh karena tidak disokong
dengan tenaga yarg kuat ternyata gerakan menghindar dari
bayangan itu tidak secepat peluru-peluru yang datang!
Terdengar suara mengeluh pelahan ketika dua di antara ketiga
peluru tersebut menyerempet pinggang orang itu.
Bayangan itu jatuh menggelepar di atas lantai dan sebelum
ia tegak kembali, Yang Kun telah memburunya dengan golok
terhunus! Pemuda itu tidak mau kehilangan waktu atau
kesempatan karena ia tahu bahwa musuhnya sangat banyak
serta berkepandaian tinggi pula. Sebelum ia sendiri jatuh ia
harus telah membunuh lawan sebanyak-banyaknya!
Golaknya berkelebat ke bawah dalam jurus Menatap Lantai
Menyembah Raja, jurus ke sebelas dari ilmu silat keluarga
Chin yang hebat! Dalam keadaan terbanting tentu saja sangat
sukar bagi orang itu untuk mengelakkannya. Tetapi sekali lagi
Yang Kun dibuat kagum oleh gerakan Iawan yang tampak
olehnya kaki orang itu bergantian menjejak lantai seperti
layaknya kaki seekor angsa berenang dan tubuh yang sedang
terlentang itu bergeser ke samping dengan manisnya. Lalu
bersamaan dengan jatuhnya golok yang menghantam lantai,
orang itu telah meloncat berdiri kembali. Tetapi Yang Kun
menjadi heran ketika orang itu seperti tidak bisa menguasai
gerakan tubuhnya dengan baik. Orang itu seperti seorang
yang menguasai ilmu silat tinggi tetapi tidak mempunyai
tenaga yang cukup untuk mengatur gerakannya! Loncatan
orang itu seperti kekurangan tenaga, sehingga biarpun bisa
berdiri kembali tetapi tubuhnya tampak bergoyang-goyang
mau jatuh.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hmm, mungkin ia sudah terluka peluru bajaku tadi." pikir
Yang Kun " ...... aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan
ini!"
Maka pemuda itu cepat membalik dan menyerang kembali
dengan lebih ganas. Jurus-jurus sakti dari ilmu silat
keluarganya yang jarang terlihat di dunia dunia persilatan ia
keluarkan dengan sangat bernafsu. Goloknya berkelebat
seperti sinar perak yang menyambar di sekeliling lawannya.
Tapi lagi-lagi pemuda itu dikejutkan oleh gaya dan gerak-gerik
lawan yang aneh dan membingungkan!
Orang itu tampak kerepotan serta kalang kabut melayani
gempuran Yang Kun yang hebat. Apalagi kelihatannya orang
itu tidak berani menangkisnya ataupun adu tenaga dengan si
pemuda. Kalau toh sesekali tangan mereka saling
bersentuhan, tampak orang itu seperti terpelanting menahan
sakit. Tapi oleh karena orang itu mempunyai ilmu silat yang
yang aneh serta menakjubkan, maka biarpun telah berapa kali
ujung golok Yang Kun melukai kulitnya, orang itu masih selalu
bisa menyelamatkan diri, sehingga tentu saja membuat si
pemuda makin penasaran!
Belasan jurus telah berlalu dan Yang Kun semakin terheranheran
dalam menghadapi lawannya. Ternyata perkelahian
antara mereka itu benar-benar suatu pertempuran yang
sangat aneh! Jika dibuat perbandingan, sebenarnya orang itu
mempunyai ilmu silat yang hebat serta lebih tinggi dari
daripada ilmu silatnya. Tetapi anehnya, ilmu silat yang hebat
itu ternyata tidak disertai atau ditunjang oleh Iweekang yang
hebat pula, sehingga seperti seekor singa ompong saja,
perbawanya sangat menakutkan tapi ternyata tidak berbahaya
sama sekali! Beberapa kali orang itu berada diatas angin,
tetapi karena keadaannya itu tentu saja kemenangan tersebut
tidak ada gunanya! Beberapa kali pukulannya mengenai Yang
Kun, tetapi tidak ada pengaruhnya sama sekali. Justeru dia
sendiri yang terpelanting karena pengaruh tenaga dalam si
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pemuda. Malahan orang sendirilah yang akhirnya menjadi
repot dan kewalahan menahan serangan Yang Kun! Pakaian
yang dikenakannya telah hancur compang camping, tubuhnya
telah arang keranjang penuh luka pula. Untunglah luka
tersebut cuma luka diatas kulit saja, karena dengan ilmu
silatnya yang tinggi, pukulan maupun goresan golok Yang Kun
tidak pernah dengan telak mengenai tubuhnya. Tetapi hal itu
tentu saja tidak akan bertahan lama, lama kelamaan akhirnya
dia akan lengah juga. Dan keadaan ini tampaknya disadari
oleh Yang Kun, maka pemuda itu semakin bernafsu untuk
segera menyelesaikan pertempuran tersebut, sebelum yang
lainnya datang.
Yang kun menyerang semakin hebat, ia sudah tidak
memperdulikan pertahanan dirinya lagi, toh pukulan lawan tak
membahayakan tubuhnya. Tentu saja orang itu semakin repot
dan terpojok.
Ketika untuk kesekian kalinya si pemuda mengayunkan
goloknya mendatar dalam jurus panglima yi po mengatur
barisan, yaitu jurus tujuh belas dari ilmu silat keluarganya.
Lawannya sudah tidak mungkin bisa mengelak lagi! Sabetan
mendatar kearah kaki selagi lawan meloncat turun itu benarbenar
sangat sukar untuk dielakkan, jalan satu-satunya yang
terbaik hanyalah menangkis atau mengadu tenaga ! Padahal
itu terang tidak mungkin sebab selain orang itu tidak
bersenjata tenaga dalamnya pun sangat lemah sekali. Maka
untuk kali ini orang tersebut tentu akan termakan oleh jurus
yang kun yang hebat itu.
Tetapi yang kun menjadi melongo ketika goloknya yang
hampir menebas kaki lawannya itu tiba-tiba menemui tempat
kosong! Ternyata di dalam keadaan terpepet, yang bagi orang
lain tentu sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain
mengadu jiwa itu ternyata tidak berlaku buat orang aneh
seperti lawan si pemuda tersebut. Orang itu menekuk kakinya
keatas, lalu menggeliatkan badannya sehingga sepintas lalu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seperti orang yang terlentang di udara. Dengan gerakannya
tersebut berarti untuk waktu sedetik orang itu seperti
menunda daya luncur tubuhnya! Tetapi waktu yang cuma satu
detik itu ternyata telah menyelamatkan nyawanya dari tebasan
golok si pemuda ! Maka sekali lagi orang itu membuktikan
betapa hebat sebenarnya ilmu silatnya.
Hanya sekejap saja Yang Kun dibuat terpana oleh gerakan
lawan yang manis itu, tetapi ketika tubuh lawannya
berdentum jatuh kesampingnya ia tersadar kembali. Dan ia
tidak menyia-nyiakan kesempatan itu! Tetapi karena tak
sempat lagi untuk mempergunakan goloknya, Yang Kun
menghantamkan siku tangan kanannya yang memegang golok
ke bawah ke arah ulu hati! Orang itu berusaha menghindar
tetapi sudah tidak keburu lagi, ia cuma bisa menggeser sedikit
arah serangan si pemuda.
Dukkk!!
Siku tangan Yang Kun tidak jadi mengenai ulu hati tetapi
justru tepat mengenai jalan darah ang lu-hiat di dekat pundak,
akibatnya separuh badan orang itu menjadi lumpuh! Dengan
gembira Yang Kun menyusuli serangannya dengan sabetan
golok ke arah leher lawan yang sudah tidak berdaya lagi.
Tetapi sekali lagi mata si pemuda menjadi melotot!
Goloknya menghantam lantai dan ....... orang itu telah berdiri
dengan kaki sebelah didepannya. Kaki serta tangan kanannya
yang lumpuh itu tampak bergantung disamping tubuhnya.
Anehnya, orang itu berdiri dalam sikap tempur dan sikap
kuda-kuda yang sangat aneh! Hati Yang Kun mulai tergetar!
Agaknya ia bertempur dengan hantu, bukan dengan manusia
biasa!
Ketika orang itu meloncat ke belakang, Yang Kun memburu
lagi dengan goloknya sehingga pertempuran yang aneh itu
berlangsung lagi dengan serunya! Dan sebuah ilmu silat yang
aneh dan belum pernah dilihat oleh Yang Kun kembali
diperagakan oleh orang itu di depannya. Separuh dari anggota
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
badannya yang lumpuh itu ternyata sedikitpun tidak
menghalang-halangi gerakannya. Gerakan tubuhnya masih
tetap aneh dan luwes! Kaki dan tangannya yang lumpuh
tampak bergelantungan ke sana ke mari apabila sedang
bergerak, tetapi sedikitpun tidak tampak jelek atau kaku.
Justru sepintas lalu bagaikan sebuah alat untuk keseimbangan
gerak dari anggota tubuhnya yang normal. Dan yang
membuat Yang Kun penasaran adalah bahwa ternyata
kelumpuhan orang itu menjadi berkurang! Orang tersebut
masih tetap sangat sukar ditundukkan!
Sambil bertempur Yang Kun berpikir dengan keras, jalan
apakah yang harus ia kerjakan agar supaya lawan cepat bisa
ia tundukkan. Tiba-tiba ia teringat peluru bajanya! Pada
serangannya yang pertama tadi ternyata mampu melukai
lawannya, kenapa sekarang tidak ia coba lagi? Maka tangan
kirinya merogoh kantong dan mempersiapkan tiga buah
peluru.
Begitu orang tersebut meloncat ke kiri untuk menghindari
sabetan goloknya, Yang Kun memapakinya dengan taburan
peluru bajanya. Orang itu berusaha mengelak tetapi karena
kurang gesit sebuah di antaranya tetap masih mengenai
tengkuknya! Tubuh lawan yang tinggi besar itu jatuh
berdebam ke lantai dalam keadaan pingsan. Agaknya peluru si
pemuda tepat mengenai jalan darah terpenting di sekitar
tulang punggungnya.
Yang Kun sekali lagi mengayunkan goloknya untuk
menabas leher lawannya. Tetapi belum ada separuh gerakan
tiba-tiba ia berubah pikiran! Sekian lama mereka berdua
bertempur, kenapa yang lain tidak juga keluar? Mungkinkah
lawan yang datang kali ini cuma seorang ini saja? Mungkinkah
pihak lawan sudah percaya sepenuhnya bahwa orang ini tentu
akan dapat membereskan segalanya? Apabila demikian halnya
orang ini tentu merupakan orang penting di dalam kelompok
penjahat-penjahat yang memusuhi keluarganya!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Maka goloknya yang hampir menebas leher itu ia hentikan
dengan mendadak, hanya satu dim saja dari sasarannya! Ia
tidak ingin membunuh orang itu sekarang, lebih baik ia
membawa orang ini kehadapan ayah dan pamannya untuk
mengorek keterangan dari mulutnya mengenai kawankawannya
yang lain.
Dengan kakinya Yang Kun membalikkan tubuh lawan yang
tertelungkup di atas lantai dan di pandanginya dengan
seksama wajah yang tampan gagah itu untuk beberapa lama.
Ia benar-benar tidak menyangka bahwa lawannya begini
gagah dan tampan, biarpun dilihat dari garis-garis wajahnya
umurnya tentu telah lebih dari pada tiga puluh tahun.
Walaupun belum setua mendiang paman bungsunya yang
berusia tigapuluh tahun itu.
Sambil mengeluarkan gulungan tali Yang Kun
mengkerotokan giginya kuat-kuat. Bagaimana pun juga orang
ini adalah salah satu dari para pembunuh keluarganya, ia tidak
sudi memberi ampun apalagi memanggul atau menggendong
orang itu ke hadapan ayahnya. Maka setelah menotok di
beberapa tempat, dengan kasar ia mengikat tubuh orang itu
serta menyeretnya begitu saja di atas tanah! Kembali ke arah
huma, melalui jalan setapak yang dilaluinya tadi.
Jalan yang berbatu-batu dan banyak akar-akar yang
menonjol itu membuat orang itu siuman dari pingsannya,
tetapi oleh karena badannya terikat dengan kuat, apalagi jalan
darahnya telah ditotok di beberapa tempat, maka sedikitpun ia
tidak bisa berkutik. Pakaian yang dikenakannya semakin
menjadi compang-camping tersangkut akar-akar pohon.
Tempat dimana keluarganya berkemah semalam kini telah
kosong. Ayah dan pamannya telah meninggalkan tempat itu.
Disana tinggal bekas-bekasnya saja, yaitu tandu-tandu
beracun serta gundukan tanah dimana ibu dan bibinya
dikuburkan. Melihat kuburan itu hati Yang Kun seperti menyala
kembali. Disentakkannya tali yang mengikat tawanannya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan keras sehingga orang itu terlempar menabrak pohon.
Hampir saja pemuda itu membunuhnya, untunglah ia teringat
bahwa orang tersebut sangat berguna bagi penyelidikannya.
Matahari sudah naik semakin tinggi. Sinarnya yang panas
telah mulai menyengat punggung. Yang Kun menyeret
kembali tawanannya turun ke arah lereng yang lain. Ia
teringat bahwa ayah beserta pamannya bermaksud menuju ke
Kota Tie-Kwan untuk menghindari kejaran para musuhnya.
Semakin mendekati kaki bukit pohon-pohon pun semakin
jarang. Dan begitu keduanya keluar dari hutan, ternyata tanah
datar yang ditumbuhi perdu serta ilalang telah membentang di
hadapan mereka. Yang kun menyeret tawanannya ke tanah
yang agak tinggi untuk melepaskan lelah sejenak. Ia tidak
peduli atas penderitaan tawanannya yang ia seret di
sepanjang jalan tadi.
Kira-kira satu Lie dari tempat mereka beristirahat, Yang Kun
melihat sepetak rumah dengan genting merah, terpencil
sendirian di tengah-tengah padang yang luas tersebut.
Agaknya dihuni oleh seorang pencari kayu hutan atau seorang
pemburu yang senang menyendiri di tempat sepi.
"Ayoh berangkat!"
Yang Kun untuk pertama kali sejak mereka berkelahi
mengajak bicara dengan lawannya, biarpun sebenarnya lebih
tepat dikatakan sebagai bentakan dari pada ajakan untuk
bicara. Dendam yang berkobar-kobar di dalam dadanya
agaknya membuat dia tak sudi berbicara sedikitpun dengan
musuhnya. Sebaliknya musuhnya itu ternyata juga seorang
yang tidak banyak bicara. Hal ini terbukti bahwa sejak mereka
bertempur sehingga ia diseret dan ditawan oleh si pemuda,
sedikitpun ia tidak mengeluh maupun berbicara, apa lagi
mengeluarkan perkataan yang panjang lebar.
Pintu depan rumah itu tertutup rapat. Yang Kun
mengetuknya beberapa kali, lalu berdiri menanti. Matanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengawasi halaman rumah bersih dan terawat rapi itu.
Pemilik rumah itu tentu seorang yang rajin dan suka akan
kebersihan, pikirnya. Dia akan menanyakan apakah
rombongan ayahnya tadi lewat di tempat ini atau tidak.
Ataukah mereka justru masih berada di tempat ini ?
Tetapi pintu itu tidak juga dibuka orang. Di dalam rumah
tetap sepi, sedikitpun tidak terdengar gerakan manusia.
Pemuda itu menjadi berdebar-debar. Hatinya merasakan
adanya sesuatu yang aneh dan tidak wajar. Maka dengan
waspada dan hati-hati ia mendorong pintu itu pelan-pelan
sehingga terbuka. Tiba tiba matanya terbelalak, mulutnya
ternganga .............
Di halaman depan ia melihat beberapa buah mayat
menggeletak dengan darah yang membeku berceceran
dimana-mana. Berbagai macam senjata pedang, golok,
tombak, tampak berserakan pula diantara mereka. Agaknya
telah terjadi pertempuran sengit di tempat ini beberapa saat
yang lalu. Tetapi semua itu sebenarnya belum begitu
mengagetkan Yang Kun!
Yang membikin mata pemuda itu terbelalak diatas tangga
pendapa rumah, karena mayat itu adalah mayat .............
Siang-hui-houw! Dada serta punggung mereka tampak
hangus, sedangkan pakaian mereka tampak seperti habis
dimakan api.
Yang Kun berlari meninggalkan tawanannya. Matanya
nanar mencari ayah dan pamannya diantara mayat-mayat itu.
Hatinya sedikit lega ketika tubuh mereka tidak terdapat
diantara gelimpangan mayat tersebut. Tetapi hatinya belum
lega. Mungkin mereka berada di dalam rumah! Bagaikan
dikejar setan pemuda itu berlari meloncati tangga dan masuk
ke dalam rumah. Disana ada beberapa sosok mayat lagi.
Mayat wanita dan anak-anak! Agaknya mereka korban
kebiadaban dari orang-orang yang saling bertempur ini.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pemuda itu berlari ke ruangan samping. Di mana dari sana
terdapat lorong menuju ke belakang. Jantungnya yang
bergemuruh seperti berhenti berdetak secara tiba-tiba ketika
dilihatnya mayat pamannya yang ia hormati itu tertelungkup di
atas lantai lorong tersebut. Darah kental mengalir membasahi
lantai di sekitarnya.
Sekejap Yang Kun hanya berjongkok saja di samping mayat
pamannya, tak tahu apa yang harus ia kerjakan. Lalu dengan
beralaskan selembar saputangan ia membalik tubuh sang
paman hingga telentang. Tapi untuk yang kedua kalinya ia
menjadi terkejut sekali ketika melihat wajah pamannya
tersebut telah remuk dan tidak dapat dikenali lagi. Ususnya
telah terburai keluar! Betapa mengerikan!
Mungkin kalau pada saat itu ada musuh yang
menyerangnya, sedikitpun pemuda itu tentu tidak dapat
mengerakkan kaki tangannya untuk membela diri lagi. Otot
dan urat-urat di tubuhnya seperti lumpuh dan tak berdaya
sama sekali. Peristiwa itu seperti menggoncang dan
merontokkan segala kekuatannya.
Baru setelah ingat akan ayahnya, pemuda itu seperti
tersadar dari keadaannya. Bagai terbang ia meninggalkan
tempat itu untuk mencari sang ayah. Ia menerobos halaman
tengah, menuju ke arah kamar-kamar yang berderet-deret di
samping. Hatinya semakin rusuh ketika ia melihat ceceran
darah menuju ke halaman belakang. Sambil lewat Yang Kun
menjenguk setiap kamar dengan hati penuh was-was.
Pintu yang menghubungkan ruangan tengah dan ruangan
belakang ia tendang sehingga jebol dan ......... sesuatu yang
sangat dikhawatirkannya sejak semula ternyata kini benarbenar
terjadi. Ayahnya tampak terkulai berlumuran darah,
bersandar di tiang pendapa belakang. Beberapa buah luka
tampak menganga pada tubuhnya!
“Ayahhhhhhh ..............!” Yang Kun berteriak memilukan.
Betapapun tidak sukanya dia kepada orang tua itu tetapi toh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ia tetap ayahnya, yang mengasuh dan membesarkan dia
selama ini.
Pemuda itu menubruk mayat ayahnya tanpa menghiraukan
apakah tubuh ayahnya beracun atau tidak. Dipeluknya dada
yang bidang tapi penuh berlumuran darah itu dengan erat,
sehingga muka serta bajunya yang semula telah kotor oleh
darahnya sendiri ketika ia akan membunuh diri itu kini
semakin kotor oleh lepotan darah sang ayah.
Tiba tiba telinga Yang Kun yang menempel di dada sang
ayah itu seperti mendengar suatu gerakan yang lemah pada
tubuh yang dipeluknya itu. Sepercik harapan tumbuh di dada
Yang Kun. maka diguncangnya tubuh itu dengan
bersemangat.
"Ayah! Ayah! Lihatlah anakmu telah datang! Lihatlah!”
Tetapi tubuh itu tetap diam tak bergerak, sehingga pemuda
itu semakin penasaran dan mengguncangnya terlebih keras.
Baru setelah pemuda itu berhenti karena telah putus harapan,
mayat itu tampak dengan susah payah membuka matanya.
Girang bukan main hati Yang Kun malihat hal itu.
"Ayah! Ayah, inilah aku! Anakmu Yang Kun yang datang!"
katanya penuh semangat.
Mata ayahnya yang redup itu tampak mengecil, seperti
biasanya kalau dia selama ini berusaha mengingat-ingat
sesuatu. Lalu mata itu tampak bersinar sekejap.
“.......Yang ............ Kun .......... Anakku. Ya, Tuhan
............ Engkau benar .......... benar ............. bermurah hati.
Kau kirim .......... anak ............. ku kemari ........... te ....... pat
pada waktunya ........” bibir yang pucat dan berlepotan darah
itu menggumam menyebut nama Tuhan.
Yang Kun menggenggam lengan ayahnya yang tinggal
sebuah itu dengan erat, seakan mau membantu memberi
kekuatan kepada ayahnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kuatkanlah sedikit, ayah! Akan kubawa ke kota untuk
mencari tabib. Biarlah luka-luka ini mendapat
pengobatan................."
Tetapi kepala itu menggeleng dengan keras.
"Ti............ dak perlu, Nak! Sudah tak ada guna lagi...........
Aku sudah merasa.... .....bahwa hari kematianku telah
tiba............. Kaudekatkan telingamu kesini. Akan kuceritakan
tentang masalah besar kepadamu. ....... Su ..... dah tiba
masanya engkau.......... engkau mengetahuinya pula. Hanya
engkaulah satu-satunya keturunan keluarga Chin yang.......
yang masih hidup!" dengan tersendat-sendat orang tua itu
berkata.
Bukan main pedihnya perasaan pemuda itu. Bagaimanapun
bengis dan keras sang ayah itu padanya, tetapi menghadapi
saat-saat terakhir orang yang selama ini selalu mengasuhnya,
batinnya merasa pilu juga!
"Sudahlah, yah ..........! Anakmu sudah tidak ingin
mengganggumu lagi mengenai urusan itu. Maafkan aku kalau
selama ini selalu membuatmu marah ............,” Yang Kun
memotong perkataan ayahnya dengan mata berkaca-kaca.
Tetapi tangan orang tua itu justru mencengkeram tangan
anaknya dengan kuat, alisnya tampak berkerut.
“Tidak ........ tidak ! Yang Kun ...... Kini justru engkau ........
engkau harus ............. mengetahuinya! Engkau tidak boleh
lari dari masalah ini ............! Justru engkaulah ....... orang
satu-satunya yang ......... yang harus meneruskan cita-cita ini
.......... Nah ......... oleh karena itu cepatlah ......... tempelkan
telingamu kesini ........ ayah akan bercerita sedapat-dapatnya
......... sebelum kekuatanku habis .............”
Dan ketika dilihatnya anak itu masih mau membantah,
orang tua itu segera menarik lengan puteranya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Ce .......... cepatlah ......... kau ja ........... jangan
membantah ...........!”
Terpaksa dengan hati berat pemuda itu menuruti
permintaan ayahnya. Telinga kanannya ia tempelkan pada
bibir ayahnya yang pucat gemetar itu.
“Anakku ......... mungkin aku hanya akan bercerita .........
yang ........ yang penting-penting sa .......... saja ........ ka
........ kalau kau ingin lebih jelas la ........ lagi, kau ........... kau
selidiki sendiri ......... nanti!”
“Baiklah, Ayah ! Sebenarnya ..........”
“Diamlah! Kau dengarkan saja ........ kata-kataku! Kita
keluarga Chin langsung dari .......... kaisar lama, yaitu Kaisar
Chin Si Hong-te! Sedangkan mendiang kaisar muda, yang
digulingkan oleh kaisar Han yang bertahta sekarang ini yang
dahulu ......... Cuma ........ Cuma bertahta selama ........ empat
puluh hari menggantikan ......... mendiang ayah baginda kaisar
...... kaisar Chin Si Hong-te, adalah .......... adalah kakak
......... ku!” orang tua itu berhenti sebentar untuk
mengumpulkan kekuatannya kembali. Beberapa saat
kemudian ia meneruskan kisahnya lagi.
"Kakakku itu terbunuh oleh sa......... salah seorang teman
... . teman dari kaisar Han yang bernama Souw Thian Hai!
Sebelum terbunuh beliau meninggalkan pesan ke........
kepadaku ........... bah ........ bahwa mempunyai ...........
bahwa beliau mempunyai ........... pusaka warisan yang...........
yang harus dijaga dengan baik apabila beliau meninggal
nanti.......! Pusaka dapat dipergunakan un ....... untuk ...........
meraih singgasana kembali! Dan benda inilah yang ..........
yang sedang di ...... diincar oleh pembunuh-pembunuh itu
......... Tapi......... tapi nak, sebenarnyalah ......... aku tidak
tahu di mana ben........... da.......... benda itu disimpan
Kakakku hanya ........... hanya berpesan bahwa harus............
harus berdoa di dalam goa harimau tepat di waktu tengah
malam pada saat bulan purnama berada di atas kepala
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
............. begitulah pesan ......... pesannya ............. apabi
.......... la aku ingin menda ........... patkan ben ........... benda
itu!” Orang itu berhenti lagi, tetapi ketika sampai beberapa
lama dia tidak berbicara lagi Yang Kun menjadi curiga.
Ternyata ketika pemuda tersebut memeriksa lebih lanjut,
orang tua itu sudah tidak bernyawa lagi!
Hampir saja Yang Kun menangis sejadi-jadinya. Tetapi
peristiwa yang beberapa kali menimpa dirinya selama ini
ternyata telah membuat pemuda itu lebih dewasa serta tidak
mudah hanyut oleh perasaannya. Cepat ia mengurus mayat
ayah dan pamannya dan menguburnya di halaman belakang
dari rumah itu. Tanpa adanya air mata yang mengalir dari
pelupuk matanya!
Baru sesudah semuanya telah selesai. Yang Kun menyesali
keadaannya. Biarpun telah mendapat sedikit keterangan
tentang masalah yang dihadapi keluarganya tetapi keterangan
yang ia dapatkan itu belumlah memuaskan hatinya. Yang ia
butuhkan sekarang sebenarnya hanyalah keterangan
mengenai siapa sebenarnya yang menumpas seluruh
keluarganya itu? Segalanya masih gelap baginya! Siapakah
yang membunuh paman bungsunya? Siapakah yang meracuni
ibu serta keluarganya yang lain-lain itu? Siapakah yang
membantai ayah dan pamannya di tempat ini?
Tiba-tiba bagai disengat lebah Yang Kun melompat dari
tempatnya. Cepat ia berlari ke depan! Baru teringat dia
sekarang, bukankah salah seorang diantara pembunuh itu kini
telah ia tangkap?
Yang Kun berlari melewati ruang tengah pendapa lalu turun
melangkahi mayat-mayat yang masih bergelimpangan di
halaman depan, menerobos pintu depan yang masih terbuka
lebar-lebar itu. Matanya nyalang ke arah di mana dia tadi
meninggalkan tawanannya, tapi betapa kagetnya hatinya
ketika tempat tersebut telah kosong ......... Orang itu telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lenyap! Tinggal tali bekas untuk mengikat orang itu yang
tertinggal di sana.
"Bangsat!" Yang Kun berlari sambil mengumpat-umpat ke
arah kota, untuk mencari tawanannya yang lolos. Orang itu
tentu menuju ke Kota untuk mengobati luka-lukanya.
Sementara itu sepeninggal Yang Kun, tiba-tiba salah
sebuah mayat yang bergelimpangan di halaman depan tadi
tampak bergerak, lalu perlahan-lahan duduk. Baju lebar yang
ia pakai untuk menyamar ia buka dan jadilah orang itu sebagai
tawanan yang dicari oleh si pemuda tadi. Tertatih-tatih orang
itu berdiri dan keluar dari tempat tersebut ke arah hutan untuk
menghindari Yang Kun yang pergi ke arah kota.
“Hmmm, Souw Thian Hai ........ Souw Thian hai. Engkau
benar-benar sial dalam beberapa hari ini. Hampir saja engkau
yang telah terkenal dan disegani orang ini mati secara
mengecewakan di tangan seorang bocah ingusan yang baru
lepas dari pelukan ibunya .........!” orang itu bergumam
kepada diri sendiri.
Tempat itu sepi kembali. Sepi yang mengerikan, karena
tempat yang semula bersih dan rapih itu kini penuh dengan
mayat yang berserakan!
ooOOoo
Siapakah orang yang bernama Souw Thian hai itu? Yang
oleh ayah si pemuda juga disebut pula sebagai pembunuh dari
kaisar muda pengganti kaisar tua Chin Si Hong te itu? Orang
yang secara kebetulan tanpa disadari oleh Yang Kun sendiri
telah ia ikat dan ia seret kesana kemari itu? Bagi Para
pembaca yang telah mengikuti cerita Darah Pendekar karya
Asmaraman S. Kho Ping Hoo, tentu telah mengenalnya
dengan baik.
Dia adalah seorang pendekar muda yang pernah menderita
sakit ingatan, yang menyebabkan ia lupa akan dirinya sendiri.
Padahal ia mempunyai kesaktian yang tidak terlawan oleh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
siapapun juga. Kesaktiannya itu pernah pula dimanfaatkan
oleh Kaisar Han yang bertahta sekarang ini, semasa baginda
memimpin barisan para pendekar dalam merobohkan
kekuasaan Kaisar Chin.
Tetapi apabila lelaki gagah itu memang benar-benar
Pendekar Souw Thian Hai yang maha Sakti, kenapa demikian
mudahnya dikalahkan oleh pemuda yang belum
berpengalaman seperti Chin Yang Kun? Apalagi sampai
sedemikian tidak berdaya sehingga tubuhnya diikat, diseret
dan dihina seperti itu? Benarkah dia Pendekar Souw Thian Hai
yang asli, yang tidak terkalahkan yang mampu membunuh
Kaisar Chin terakhir padahal kaisar tersebut ternyata adalah
juga seorang jago silat maha sakti pula?
Baiklah, untuk sementara kita tinggalkan dahulu “misteri”
tentang lelaki yang mengaku pendekar sakti Souw Thian Hai
ini. Marilah kita mengikuti terlebih dahulu perjalanan Chin
Yang Kun yang sedang menuju ke kota Tie-kwan untuk
mencari tawanannya yang ia duga telah membunuh
keluarganya!
ooOOoo
Pemuda itu berlari bagai dikejar setan, melintasi padang
ilalang, menuju ke arah kotaTie-kwan. Ia tak sempat
memikirkan keadaan tubuhnya yang “aneh”. Pakaian kolor
penuh bercak-bercak darah ayahnya, yang menempel ketika ia
memeluk tubuh orang tua itu, wajah dan rambut yang kusut
itu seperti seekor jago yang habis berlaga di arena sabung
ayam!
Maka tidaklah heran ketika berpapasan dengan tiga orang
lelaki, mereka menjadi curiga dan menghentikan langkah
pemuda itu.
“Berhenti!"
Yang Kun terpaksa berhenti karena ketiga orang itu
menghadang serta berdiri menghadang jalannya. Dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
penuh kewaspadaan pemuda memperhatikan para
penghadang tersebut. Salah seorang di antaranya, yang
berdiri di tengah, tampak membawa sebuah buntalan di
tangannya. Sedangkan yang lain tampak menjaga di samping
kiri dan kanannya. Mereka berusia antara tigapuluh lima
sampai empatpuluh tahun, dengan wajah yang kasar dan
kejam!
“Sute anak ini sangat mencurigakan! Dia datang dari arah
rumah pendekar Lim yang kita cari. Tubuh serta pakaian anak
ini kelihaian kusut dan penuh noda darah, agaknya ada
sesuatu yang tidak beres di rumah itu. Coba kautengok
sebentar tempat itu. biar aku dan Pang-sute menahannya
disini.” orang yang membawa buntalan itu menengok ke arah
adik seperguruannya yang bercambang lebat sambil menunjuk
ke rumah maut yang baru saja ditinggalkan oleh Yang Kun.
"Baik !" Adik seperguruannya mengangguk lalu badannya
melesat ke depan meninggalkan tempat itu dengan cepat
sekali, menuju ke rumah pendekar Lim yang masih kelihatan
dari tempat tersebut.
Gin-kang orang itu sangat hebat! Tentu yang lainpun tidak
boleh dipandang enteng, pikir Yang Kun di dalam hati. Aku
tidak boleh lengah sedikitpun, siapa tahu mereka ini juga
termasuk salah seorang dari pada para pembunuh yang
menumpas keluarganya!
Teringat kembali akan nasib keluarganya, pemuda itu
menjadi beringas lagi, melotot ke arah lawannya.
“Siapakah kalian? Kenapa menghadang serta menghalanghalangi
jalanku''" tanyanya kasar, ia pikir tak ada gunanya
bermanis muka atau berlaku sopan terhadap orang-orang
kasar seperti mereka.
Orang yang membawa buntalan itu mencibirkan mulutnya
yang ditumbuhi kumis dan jenggot pendek kaku secara sangat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menghina sekali. Agaknya dia tak memandang sebelah mata
terhadap seorang bocah ingusan seperti Yang Kun itu.
“Huh! Kurang ajar benar! Pang-sute, lihatlah anak ini
benar-benar tidak tahu bahaya sama sekali. Berani berlaku tak
sopan dihadapan kita!”
"Haha............. Mo suheng harap jangan marah dahulu!
Lihatlah keadaannya! Siapa tahu dia kurang waras pikirannya
sehingga dia tidak mengenal kita dan telah lari terbirit-birit
sejak tadi. Di daarah pantai Timur siapa yang belum pernah
mendengar nama Tung Hai Sam-mo? Kecuali kalau anak ini
memang telah bosan hidup tentunya .........” adik
seperguruannya yang dipanggil dengan nama Pang-Sute itu
menjawab dengan nada takabur.
"Manusia sombong! lekas minggir! Jangan salahkan aku
kalau aku sampai membunuh orang!” teriak Yang Kun sambil
memukul ke depan. Hatinya yang telah menjadi buram karena
diliputi dendam itu tak dapat dikendalikan lagi melihat
kesombongan mereka.
Kedua orang itu meloncat ke samping menghindarkan diri,
sehingga angin pukulan Yang Kun yang kuat itu hanya
menyerempet baju mereka. Suaranya tajam bersuitan!
“Mo Suheng, bocah ini agaknya punya isi juga, biarlah aku
memberi pelajaran kepadanya!”
“Baiklah, tetapi hati-hatilah! Engkau nanti jangan sampai
salah tangan membunuhnya, siapa tahu anak ini memang
gila? Beri saja beberapa pukulan pada mulutnya biar tahu
sedikit sopan-santun, sementara kita menunggu kedatangan
Lim sute!”
Yang Kun semakin tidak bisa mengendalikan dirinya. Katakata
mereka amat menyakitkan hati dan terlalu memandang
rendah dirinya. Maka ia tidak mau sungkan-sungkan lagi, ilmu
silat keluarga Chin yang selama ini sangat dibanggakannya ia
keluarkan dengan sepenuh tenaga! Suara angin yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengikuti gerakan tangan dan kakinya terdengar bersuitan
seperti suara topan yang bertiup diantara celah-celah
perbukitan!
Kedua orang itu, terutama Pang-Sute yang kini sedang
berhadapan langsung dengan pemuda tersebut, menjadi kaget
setengah mati! Mereka tidak menyangka sama sekali bahwa
bocah ingusan itu mempunyai ilmu demikian hebatnya.
Mereka menjadi sibuk menduga-duga, siapakah sebenarnya
anak muda yang kini sedang berada di hadapan mereka itu?
Kalau apa yang dikatakan oleh mendiang ayah Yang Kun
beberapa saat sebelum meninggal itu adalah benar, yaitu
bahwa keluarga mereka adalah keturunan langsung dari kaisar
Chin, maka tidaklah mengherankan kalau ilmu silat pemuda itu
begitu hebatnya. Dalam sejarah juga disebutkan bahwa rajaraja
Chin yang bertakhta, turun-temurun dari awal sampai
kaisar Chin yang terakhir (yang telah digulingkan oleh kaisar
Han yang bertakhta saat ini), adalah merupakan jago-jago
silat yang tangguh pula! Secara turun-temurun pula mereka
mempelajari ilmu silat keluarga Chin, yang diciptakan oleh
Raja Chin yang pertama yaitu seorang raja yang sangat sakti
dan dikenal sebagai manusia setengah dewa pada zamannya.
Sepuluh jurus telah berlalu dan kedua orang itu masih
bertempur dengan sengitnya. Tetapi semakin lama makin
kelihatan betapa orang she Pang itu mulai kerepotan. Setiap
pertemuan tangan tampak ia tergetar mundur dan meringis
kesakitan. Malahan ketika Yang Kun dengan telapak tangan
mau miring menebas ke arah lehernya dalam jurus Panglima
Yi Po mengatur barisan (jurus yang seharusnya dilakukan
dengan memegang golok), dia tidak dapat mengelak lagi.
Terpaksa ia mengerahkan tenaga, menangkis serangan itu.
Akibatnya kedua tangannya terasa lumpuh! Sehingga ketika
sekali lagi pemuda itu menyerang di dalam jurus Raja Chin
Miu mematahkan kimpai, yang tertuju ke arah mukanya, ia tak
bisa mengelak maupun menangkis lagi. Dengan telak pukulan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pemuda itu mengenai mulutnya sehingga dua buah giginya
tanggal. Sakitnya bukan main!
“Nah, kalian lihat sekarang! Siapa yang otaknya miring,
sehingga perlu mendapat sedikit pelajaran sopan-santun
dengan beberapa buah pukulan pada mulutnya?” Yang Kun
berteriak mengejek.
“Bangsat! Jahanam! Anjing?” orang she Pang itu
menyumpah-nyumpah,” ...... kubunuh engkau!”
Orang itu mengerahkan tenaga untuk menghilangkan rasa
kaku pada lengannya, lalu mencabut sebilah pedang yang
bergerigi pada kedua belah sisinya sehingga menyerupai
moncong ikan cucut!
Dengan mata berapi-api ia mengayunkan pedangnya yang
aneh ke arah leher si pemuda. Ia mengerahkan seluruh
tenaganya agar bisa menebas leher itu sekali tebasan. Ia
segera ingin menebus rasa malunya dengan cara menjatuhkan
lawannya tersebut dan mencincangnya sampai lumat.
Tapi Yang Kun tak ingin kehilangan kesempatan pula.
Tangannya menarik golok yang tergantung diatas
pinggangnya dengan cepat dan melambaikannya beberapa
kali di depan tubuhnya dalam jurus Mengayun Tangkai
Bendera Menghadapi Panah Lo Biauw! Yaitu jurus yang
diciptakan oleh salah seorang Raja Chin pada zaman dahulu
ketika berperang menghadapi raja dari suku Biaw di daerah
selatan.
Bunga api memercik ketika kedua buah senjata tersebut
beradu di udara. Yang kun merasakan getaran yang kuat pada
lengannya, sementara lawannya tampak terdorong mundur
dua langkah ke belakang. Masing-masing memeriksa senjata
yang dibawanya. Yang kun tersenyum puas melihat goloknya
tak kurang suatu apa. Sebaliknya orang she pang itu nampak
berubah air mukanya demi melihat pedang cucutnya
mengalami kerusakan pada beberapa giginya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Orang she mo, orang tertua dari tung hai sam-mo
melangkah ke depan, memegang bahu adik seperguruannya
yang telah bersiap-siap untuk menyerang lawannya. Buntalan
kecil yang sejak tadi tidak pernah berpisah dari tubuhnya
diserahkan kepada adik seperguruannya tersebut.
"Pang-sute, kauperiksa sebentar. Apakah sute telah
kelihatan datang? lama benar dia. Biarlah bocah ini
kauserahkan dahulu kepadaku, nanti kukembalikan
kepadamu!” katanya menolong muka adik seperguruannya
yang kerepotan itu. Ia tidak menginginkan nama tung Hai
sam-mo yang besar dan disegani di daerah pantai Timur
selama ini jatuh di tangan seorang “bocah” yang tidak punya
nama, hanya karena salah seorang di antara mereka telah
dikalahkan oleh anak ini.
Biarpun dadanya hampir meledak karena kemarahannya
yang meluap-luap, orang she pang ternyata tahu diri juga,
oleh karena itu dalam hati ia sangat berterima kasih atas
majunya sang kakak tersebut. Kali ini ternyata ia salah menilai
orang. Ternyata dalam hal tenaga dan ilmu silat, pemuda itu
mempunyai kemampuan yang lebih dari pada dia. Hanya
dalam hal pengalaman mungkin ia masih menang. Tetapi
tentu saja kemenangan di dalam hal pengalaman ini tidak
berarti banyak apabila selisih kepandaian ternyata sangat
banyak!
Sambil pura-pura bersungut-sungut orang she Pang itu
mengiyakan perintah kakak seperguruannya, tangannya
menyambar buntalan yang diberikan oleh sang kakak, lalu
pergi meninggalkan tempat tersebut untuk menengok apakah
kakak seperguruannya yang lain telah datang.
Sementara itu Yang Kun yang kini harus bertempur
melayani orang tertua dari tung-hai sam-mo, ternyata kini
harus lebih memeras tenaganya pula! sebagai saudara tertua
dari tiga serangkai itu, ternyata ilmu silatnya juga lebih hebat
dari saudara-saudaranya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebaliknya orang she mo itu menjadi berdebar-debar pula
hatinya, ia tidak menyangka bahwa anak muda ini mempunyai
kemampuan yang jauh di luar dugaannya. Justru dialah yang
setiap kali harus berhati-hati apabila mereka terpaksa beradu
tenaga tenaga dalam. Bocah itu ternyata selapis lebih kuat
dari pada tenaga dalamnya sendiri sehingga akhirnya secara
perlahan lahan iapun menjadi terdesak seperti adik
seperguruannya tadi.
“gila! Setan mana yang masuk di dalam tubuhmu!"
umpatnya sambil berusaha sekuat tenaga menahan desakan
lawannya.
"jangan mengumpat-umpat terus, tidak baik untuk
kesehatanmu! Lebih baik engkau cepat-cepat mengeluarkan
kemahiranmu uniuk memberi sedikit pelajaran sopan-santun
kepadaku, seperti yang tadi kau perintahkan kepada temanmu
yang lari ke hutan itu !" yang kun yang merasa di atas angin
selalu membakar hati musuhnya.
"gilaaa! sungguh gilaa............!!"
"haha............. Engkau memang sudah gila. Sekarang
engkau baru mengakui sendiri bahwa engkau tidak waras,
sehingga tidak mengenal bahaya yang berada di hadapanmu!”
Jilid 2
"TUTUP mulutmu, anak setaaannn...........!"
"Mo-suheng! Mo-Suheng! Awas, jangan sampai terlepas!
Dia telah membantai seluruh keluarga pendekar Li. Ringkus
saja bocah ingusan itu!” tiba-tiba dari jauh berkelebat datang
dua orang saudara seperguruannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bocah ingusan...........nenekmu!! Huh!! Kalian betul-betul
buta! Ayoh..........kita tangkap bocah ini bersama-sama!"
teriak suhengnya di antara desah napasnya yang memburu.
Sejenak kedua orang yang baru tiba itu tampak bingung
dan heran melihat keadaan suhengnya yang terdesak oleh
serangan si anak ingusan tersebut! Tetapi serentak mereka
melihat suheng mereka hampir saja terkelupas kulit kepalanya
akibat sambaran golok lawannya, mereka segera menyadari
apa yang telah terjadi. Mereka mencabut pedang cucut
mereka masing-masing dan seperti yang diperintahkan oleh
kakak seperguruan mereka segera menerjunkan diri
mengeroyok Yang Kun.
Sekarang keadaan menjadi berbalik. Yang Kun yang semula
berada di atas angin kini harus melawan tiga buah pedang
cucut sekaligus. Apalagi mereka bertiga agaknya telah biasa
bermain pedang secara berpasangan, sehingga pemuda itu
terpaksa harus mengerahkan seluruh kepandaiannya.
Untunglah, ilmu silat keluarga Chin yang terdiri dari tiga
puluh enam jurus itu benar-benar hebat dan sukar diduga
perkembangannya. Kelihatannya sangat sederhana, tetapi
ternyata mengandung berbagai macam variasi yang sulit
ditebak oleh lawan. Sehingga biarpun pada permulaannya
pemuda tersebut bisa didesak oleh ketiga lawannya, tetapi
lambat laun akhirnya dapat juga mengimbangi permainan
mereka.
Hal itu tentu saja membuat Tung-hai Sam-mo menjadi
heran dan tak habis mengerti. Anak muda yang semula
mereka anggap sebagai bocah ingusan yang belum hilang bau
pupuknya itu, ternyata mampu mengimbangi Tung hai Sam
mo, tokoh yang telah ternama dan ditakuti orang. Dan
sedikitpun mereka tidak bisa menebak dari aliran manakah
atau murid siapakah anak muda ini?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Oleh karena itu setelah sekian lamanya mereka tidak dapat
menundukkan pemuda itu, akhirnya orang she mo itu
memberi isyarat kepada dua orang sutenya agar mundur.
"Sute, siapkan ang-cin lu-tin (barisan cucut merah)!”
“Baik!” kedua orang sutenya menjawab berbareng.
Yang kun melihat ketiga lawannya tersebut berdiri berderet
seperti anak kecil main sepur-sepuran, orang she mo sebagai
saudara tertua berdiri di depan, lalu diikuti dua orang
saudaranya yang lain. Masing-masing masih tetap memegang
pedang cucutnya, cuma bedanya kini orang she lim yang
berdiri di tengah tampak mengeluarkan lagi sebuah pedang,
yang dipegang dengan tangan kirinya.
"Hah!"
Orang tertua dari Tung-hai Sam-mo membentak sambil
meloncat menyerang lawannya dan seperti lengket saja,
kedua saudaranya mengikuti di belakangnya.
"Traang!"
Yang Kun menangkis dengan goloknya dan sungguh heran
kini goloknya terdorong mundur dengan kuatnya. Padahal ia
tahu bahwa tenaga dalam dari orang pertama Tung-hai Sam
mo tersebut masih di bawah dirinya! Dan kekagetan pemuda
ini atas kejadian tersebut benar-benar dimanfaatkan oleh
ketiga orang lawannya. Sebelum ia sempat memperbaiki
kedudukan kakinya yang tergoyah, tiba-tiba orang ketiga dari
Tung-hai Sam-mo yang berdiri di belakang kedua kakaknya
tampak membalikkan tubuh serta menyerang dia dengan
pedang cucutnya.
Dalam gugupnya Yang Kun mengangkat goloknya ke atas
untuk menangkis ujung pedang lawan, tetapi lagi-lagi ia
terkecoh! Serangan itu ternyata berhenti di tengah jalan dan
sebagai gantinya pedang si orang she Mo kembali menebas ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
depan, ke arah perutnya. Kelihatannya serangan ini sukar
untuk dielakkan lagi.
Maka dari itu secara untung-untungan Yang Kun melempar
tubuhnya ke belakang dalam posisi terlentang, sebuah
gerakan yang sangat sulit dari jurus Jendral Yin Tu Terjatuh
dari Punggung Hung-ma. Jurus ini amat sukar dipelajari dan
Yang Kun hampir tak pernah mempergunakannya!
Tubuh pemuda tersebut jatuh ke atas tanah dengan
punggung lebih dahulu, lalu dengan cepat berguling ke kiri.
Gerakan itu dilakukan dengan manis dan cepat, tapi toh masih
terasa sebuah goresan yang pedih pada kulit perutnya! Dan
ketika ia meloncat berdiri serta memeriksa perutnya, tampak
ditempat itu dua lapis bajunya telah menganga bagai diiris
pisau tajam. Darah juga kelihatan menetes dari kulit perutnya
yang turut tergores!
Mereka berdiri berhadapan kembali. Masing-masing tak
berani memandang rendah lagi. Yang Kun tidak berani pula
mengejek seperti tadi, apa lagi ia masih dikejutkan oleh
kenyataan tentang menjadi berlipatgandanya kekuatan
masing-masing orang itu setelah memainkan Ang-cio hi tin !
Pertempuran selanjutnya adalah pertempuran yang sangat
berat bagi Yang Kun. Dia yang miskin akan pengalaman
bertempur itu dibuat bingung dan tak berkutik oleh cara
bertempur mereka yang aneh tapi ampuh tersebut! Secara
perseorangan sebenarnya ia jauh lebih kuat dari pada
kepandaian setiap orang dari mereka itu, tetapi setelah
mereka memainkan ilmu silat berpasangan mereka, dia benarbenar
repot dan mati kutu! Darah mulai mengalir dari lukaluka
yang diakibatkan oleh pedang cucut mereka! Celakanya
luka tersebut semakin lama semakin terasa gatal sehingga
mengganggu gerakannya. Beberapa kali ia kepingin
menggaruknya !
"Ha-ha-ha........... anak muda, agaknya engkau belum
mengenal keistimewaan pedang kami ini. Ketahuilah, pedang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kami ini memang sengaja kami olesi racun dan lendir uburubur
laut yang hidup di daerah kami. Racun itu memang
bukan racun yang mematikan, tetapi akibatnya dapat kau
rasakan nanti seumur hidupmu, ha-haa.............." sekarang
ganti mereka yang mengejek Yang Kun.
"Penjahat kejam!"
"Kejam? Ha-ha ........... jangan asal omong. Siapa yang
lebih kejam di antara kita? Engkau atau kami? Siapa yang
membantai seluruh keluarga pendekar Li di sana itu?" orang
ke dua dari Tung hai Sam-mo turut berbicara.
"Aku tidak membunuh mereka!" teriak pemuda itu sambil
menghindari serangan lawan yang tertuju ke arah lututnya.
"Ho-ho, mana ada seorang pencuri mengakui
perbuatannya............"
"Bangsat kurang ajar. ........ aduhhh!" tiba-tiba Yang Kun
memekik kesakitan. Pedang bergerigi dari orang she Mo
menancap dalam pada paha kirinya dan darah mengalir
dengan deras dari luka yang semakin melebar akibat ulah
pedang yang seperti gergaji itu. Rasanya juga gatal sekali!
Tentu saja keadaan itu membuat Yang Kun semakin lemah
daya perlawanannya, sehingga akhirnya sebuah tusukan lagi
pada kakinya yang lain membuat pemuda tersebut jatuh
terduduk tak berdaya. Dan beberapa buah luka lagi pada
tubuhnya membuat pemuda itu hanya bisa melotot marah
kepada lawannya.
"Jangan dibunuh ..............!” seru orang she Mo kepada
sutenya yang termuda, ketika yang terakhir ini mau
mengayunkan pedangnya ke arah leher Yang Kun. "Kita bawa
dia ke rumah pendekar Li kembali ............... Kita adili dia di
sana!"
"Wah, bagaimana cara kita membawa dia? Aku tak mau
kalau harus memanggulnya." kata sutenya bersungut-sungut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hmm, kenapa repot-repot, seret saja habis
perkara...........!”
Langit biru bersih, hampir tak ada segumpal awanpun yang
tampak lewat, sehingga matahari yang telah mulai bergulir ke
arah barat itu dengan hebat melemparkan panasnya yang
terik ke tempat tersebut. Semuanya telah berangkat menuju
ke rumah pendekar Li, di mana telah terjadi pembantaian
yang mengerikan oleh orang orang yang belum diketahui oleh
mereka.
Perjalanan ke tempat itu sebenarnya tidak begitu jauh,
tetapi bagi Yang Kun yang diseret dalam keadaan terluka agak
parah serta mengalami siksaan rasa gatal yang tak
tertahankan tersebut, memang merupakan suatu penderitaan
yang hebat sekali. Apalagi ketika beberapa kali tubuhnya
membentur batu ataupun tongguk-tonggak pohon yang
runcing, rasa-rasanya luka-luka itu semakin bertambah parah
saja. Dalam hati ia mengumpat-umpat ketiga orang yang
berbuat kejam kepadanya itu. Tetapi sekilas ia teringat akan
perbuatannya sendiri yang juga menyeret seseorang dari
pinggir Sungai Huang-ho ke tempat tersebut pagi hari tadi.
Tidakkah perbuatannya itu juga sangat kejam? Tapi kenapa
sedikitpun ia tidak merasakannya pada saat itu? Padahal
orang yang diseretnya pagi tadi tubuhnya juga penuh luka
akibat goresan-goresan goloknya! Tapi orang itu layak
menerima perlakuan seperti itu, karena dia adalah salah satu
dari para pembunuh ibunya, ia membela dirinya.
Itulah manusia. Jarang yang dapat melihat noda-noda pada
dirinya sendiri, apalagi mengakuinya dengan sportip. Kalau toh
kadangkala merasakannya juga, tentulah akan cepat-cepat
mencari seribu satu macam alasan untuk menghapus atau
menguranginya.
Mereka tiba di rumah bergenting merah tersebut tidak lama
kemudian. Belasan ekor burung pemakan bangkai tampak
terbang berputar-putar di atas genting, menanti saat yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tepat untuk berpesta pora di antara bangkai yang berserakan
di bawahnya.
Yang Kun diseret masuk melalui pintu halaman yang
terbuka, lalu dilemparkan begitu saja di dekat pintu. Tubuhnya
membentur patung singa-singaan dan jatuh tertelungkup di
atas kaki salah sebuah mayat yang berada di sana. Karena
masih dalam keadaan tertotok maka ia tidak bisa berkutik
sama sekali. Jangankan untuk bergeser dari mayat yang
dihadapannya, sedang untuk menggaruk siksaan rasa gatal
pada tubuhnya saja ia tidak mampu. Maka dengan sangat
terpaksa ia menahan rasa mual pada perutnya akibat bau
mayat yang sudah mulai membusuk tersebut.
Sementara itu sebelum melemparkan Yang Kun di dekat
pintu, Tung-hai Sam-mo bergegas menaiki tangga pendapa
dengan hati-hati.
"Apakah engkau tadi telah masuk dan menyelidiki keadaan
di dalam sana?” tanya orang she Mo kepada adik
seperguruannya yang ke dua.
"Sudah. Tapi aku tidak menyelidikinya dengan teliti di
semua tempat. Aku khawatir suheng menungguku terlalu
lama."
"Baiklah, mari kita sekarang menyelidikinya bersama-sama!
Tapi apakah semua mayat íni adalah keluarga pendekar Li
semuanya? Kudengar keluarganya cuma terdiri dari sepuluh
orang saja, kenapa sedemikian banyaknya mayat yang
bergelimpangan di sini?"
"Mungkin beberapa di antaranya adalah mayat pihak lawan
yáng mati terbunuh disini,” adik seperguruannya menjawab
lagi.
"Atau orang yang mati ini sebenarnya dipersiapkan oleh
pendekar Li untuk menghadapi pertemuannya dengan kita ?”
sutenya yang termuda ikut berbicara.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“..... dan mereka ternyata telah dibantai oleh pihak ke tiga
sebelum kita keburu datang, begitukah maksudmu?"
Suhengnya meneruskan.
"Benar! Dan pihak ke tiga itu mungkin telah merampas peta
wasiat yang selama ini dibawa oleh pendekar Li."
"Kau benar! Kalau begitu mari kita geledah anak itu terlebih
dahulu!" bergegas suhengnya turun kembali ke halaman
diikuti kedua orang sutenya menuju ke tempat di mana Yang
Kun tergeletak.
Tetapi ....................
“Hah ??? Di mana anak itu?” orang itu berteriak hampir
berbareng.
Tempat itu telah kosong. Pemuda itu telah lenyap.
Bagai kilat ketiga orang itu meloncat menerobos pintu
keluar lalu berpencar mencari di sekitar tempat itu. Tetapi
sampai bosan mereka berputar-putar, pemuda itu tetap tidak
mereka ketemukan. Sambil menyumpah-nyumpah ketiga
orang itu kembali memasuki halaman rumah.
"Bangsat! Anak setan! Kenapa kita sampai terkecoh
olehnya? Seharusnya kita tidak boleh terlalu meremehkan
dia!"
Mereka menaiki tangga pendapa kembali.
"Apa yang mesti kita kerjakan sekarang suheng? Kita
kehilangan jejak tentang separuh dari peta itu lagi." orang
termuda dari ketiga bersaudara seperguruan itu mengeluh.
“Jangan cepat berputus asa. Bagaimanapun juga separuh
peta itu telah ada pada kita, maka siapapun yang telah
merampas separuh peta yang lainnya tentu akan mencari kita
pula akhirnya," kata suhengnya sambil menepuk-nepuk
buntalan yang sedari tadi selalu dibawanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Lalu apa yang harus kita kerjakan sekarang? Tetap
menunggu di sini ataukah kita cari lagi bocah setan itu?" tanya
adiknya lagi.
"Kita jangan sembrono lagi sekarang. Kita harus teliti dalam
segala hal agar tidak mengalami peristiwa-peristiwa yang
membuat kita menyesal seperti tadi. Sekarang kita geledah
seluruh rumah ini, siapa tahu peta yang separuh itu masih
tersembunyi di sini! Cari mayat pendekar Li dan para anggauta
keluarganya! Geledah tubuhnya, siapa tahu bocah itu juga
belum mendapatkannya."
"Baik, suheng!"
Mulailah ketiga iblis dari laut timur itu mengobrak-abrik
tempat tersebut untuk mencari separuh dari peta wasiat yang
semula berada di tangan orang yang mereka sebut sebagai
pendekar Li. Semua mayat yang berada di tempat itu mereka
bolak-balik dan mereka geledah seluruh tubuhnya. Mereka
bekerja sampai matahari mau terbenam tanpa mengenal
Ielah, tetapi benda yang mereka cari tetap tidak ketemu.
"Hei, kenapa kita tidak menemukan mayat dari pendekar Li!
Adakah ia masih hidup dan lolos dari tempat ini?" orang
pertama dari tiga sekawan itu keheranan. “Wah, repot juga
kalau benar demikian." tambahnya lagi.
“Memang repot juga," adik seperguruannya yang ke dua
menyambung, “......... paling tidak kita harus mencari pula
orang itu disamping tugas kita mencari bocah setan itu."
“Twa suheng! Ji-suheng! Di halaman belakang ada
beberapa buah gunduk tanah bekas galian baru! Agaknya baru
saja untuk menanam sesuatu?" tiba-tiba dari tanah belakang
rumah terdengar seruan dari saudara mereka yang termuda.
"Tunggu!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bergegas kedua orang itu berlari ke belakang menghampiri
saudara mereka yang berjongkok di antara beberapa buah
gundukan tanah di bawah rumpun pohon bambu.
“'Hemm, seperti sebuah kuburan baru."
"Aku juga berpikir demikian. Suheng, apakah kita perlu
.........."
"Tentu. Kita tidak boleh teledor. Kalau kita pergi dari sini,
itu berarti bahwa kita sudah yakin benda tersebut memang
sudah dibawa pergi dari tempat ini. Nah, bongkar saja
kuburan ini!"
Dengan harapan untuk memperoleh barang yang mereka
cari selama ini, mereka menggali gundukan tanah tersebut
dengan cepat.
"Heh! Benar-benar sebuah kuburan!" mereka berdesah
begitu pacul mereka mengenai tubuh mayat yang masih baru.
"Keluarkan mayat-mayat itu!” orang pertama dari Tung-hai
sam-mo memberi perintah kepada adik seperguruannya.
“Hai ............., suheng! Benar! Mayat pendekar Li ada
disini! Tapi tak ada apa-apa di tubuhnya! Eh. ......... kenapa
wajahnya menjadi hancur begini?”
“Uh, ususnya telah keluar pula dari perutnya!" tiba tiba iblis
yang termuda berseru sehingga kedua kakaknya buru buru
menghampiri.
"He ........... pendekar Li? Benarkah? Ah.........., bukan !
Benarkah mayat itu mayat dari pendekar Li? Badan serta
potongan tubuhnya memang seperti pendekar Li, tapi........
bukankah kepala dari pendekar Li telah dipenuhi uban ?
Kenapa rambut ini masih hitam ?"
"Ah ...... suheng, bukankah kabarnya pendekar Li sudah
kawin lagi dengan seorang gadis yang masih muda ? Siapa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tahu rambutnya sudah dicat lagi menjadi hitam agar supaya
kelihatan lebih muda ? haahaa ......................"
Kakak seperguruannya tersenyum. "Engkau ini ada-ada
saja. Kenapa dia mesti repot-repot bersolek kalau cuma ingin
mempersunting seorang gadis saja? Tapi bukan itu yang aku
maksudkan. Maksudku, jikalau mayat ini benar mayat dari
pendekar Li, lalu siapakah yang menguburkannya disini ?
Kenapa dia dikubur sendirian di sini sementara anggauta
keluarganya yang lain tetap dibiarkan bergelimpangan di
sana? Dan ketiga mayat lainnya ini mayat siapa? Kenapa
justru mayat-mayat yang bukan keluarganya ini yang turut
dikuburkan di sini ? Bukankah hal ini sangat aneh ?"
Kedua saudara seperguruannya mengangguk-angguk
membenarkan. Baru terbuka pikiran mereka sekarang, betapa
aneh sebenarnya keadaan tersebut bagi mereka !
"Benar ! Memang sungguh aneh! Kenapa hanya empat
buah mayat saja di antara belasan mayat itu yang dikuburkan
di sini ? Siapakah sebenarnya orang yang menguburkannya ?”
iblis yang termuda berkata perlahan.
'"Mungkinkah anak muda itu yang menguburkannya? Dia
tentu datang ke tempat ini bersama-sama dengan temantemannya
untuk merampas peta wasiat itu dari tangan
pendekar Li. Kebetulan justru pendekar Li sedang bersiap-siap
pula menghadapi kita. Nah, kedua kekuatan itu tentu
bertempur dengan sengit, di mana akhirnya pihak pendekar Li
kalah dan terbunuh semua, termasuk para wanita dan anakanak.
Sementara di pihak anak muda itu hanya tinggal dia
sendiri yang hidup. Jadi kuburan itu adalah kuburan temantemannya!"
orang ke dua dari ketiga iblis itu mengutarakan
pendapatnya.
“Tapi kenapa anak muda tersebut bersusah-susah
mengubur pendekar Li pula apabila mereka baru saja saling
membunuh?" kakaknya keberatan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Oh..........,, iya! Lalu siapakah menurut pendapat suheng?”
"Entahlah, akupun menjadi bingung pula. Bila keduaduanya
bukan yang mengubur mereka, lalu siapa lagi? Apakah
ada orang luar yang lewat dan tidak tega melihat mayat
bergelimpangan di sini ? Tapi kenapa hanya empat sosok
mayat saja yang dikuburkannya? Kenapa tidak semuanya?"
Ketiga orang itu berusaha memeras otaknya, tetapi mereka
tetap tidak dapat menebak apa yang telah terjadi di tempat itu
beberapa saat yang lalu. Mereka hanya dapat menduga bahwa
di tempat itu telah terjadi bentrokan hebat antara dua buah
kekuatan besar yang sama kuat sehingga kedua-duanya
mengalami kehancuran. Hanya mereka bertiga tidak bisa
menduga kekuatan dari manakah yang datang menyerang ke
tempat pendekar Li ini. Satu-satunya orang yang mereka duga
sebagai salah seorang anggauta dari pihak penyerang tersebut
kini telah lepas dan tangan mereka.
Ketiga iblis dari laut timur itu berdiri dengan lesu. Jerih
payah mereka selama bertahun-tahun untuk mendapatkan
separuh bagian dari peta wasiat itu kini menjadi musnah
kembali. Sejak merampas sebuah peta wasiat dari seorang
kepala perampok, mereka mengembara dari barat sampai ke
timur, naik turun gunung, mencari separuh bagian lainnya dari
peta wasiat hasil rampasannya tersebut. Akhirnya jerih payah
mereka itu berbuah juga. Beberapa hari yang lalu mereka
memperoleh kabar bahwa separuh dari peta wasiat itu kini
telah jatuh ke tangan seorang pendekar dari Gunung Bu-tong
yang telah mengasingkan diri di dekat kota Tie-kwan ! Maka
dengan gembira mereka menghubungi pendekar itu dengan
diam-diam serta mengajaknya untuk bekerjasama dalam
mengambil isi dari peta wasiat itu. Hari ini adalah hari yang
mereka tentukan bagi mereka untuk saling bertemu dan
berunding. Tapi ternyata keadaan telah berubah. Ada lagi
pihak ke tiga yang agaknya telah turut campur dengan
merampas peta yang berada di tangan Pendekar Li.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Celakanya, siapa yang telah datang dan merampas benda
tersebut dari tangan pendekar Li, mereka bertiga tidak dapat
menduganya, sehingga otomatis urusan tentang peta wasiat
tersebut menjadi gelap bagi mereka. Sebuah perjalanan yang
panjang dan lama kembali terbayang di depan mata mereka.
"Satu-satunya kemungkinan untuk mendapatkan peta yang
hilang itu adalah bila kita dapat menangkap kembali bocah
setan itu. Aku yakin anak muda itu tentu tahu di mana adanya
peta tersebut,” orang tertua dari ketiga iblis itu berkata pelan.
"Tapi untuk mencari bocah itu kembali kurasa juga bukan hal
yang mudah............."
Langit sudah semakin menjadi gelap. Satu dua buah
bintang sudah mulai kelihatan di atas langit. Ketiga orang itu
telah pergi meninggalkan tempat yang mengerikan tersebut.
Mereka biarkan begitu saja mayat-mayat yang telah mereka
gali tadi, sehingga suasana di tempat itu benar-benar amat
mengerikan !
ooOOoo
Kemanakah Yang Kun sebenarnya? Benarkah ia dapat
meloloskan diri dari tempat itu ? Lalu di mana ia sekarang ?
Sesungguhnyalah, pemuda itu memang mempunyai bakat
serta tulang yang baik untuk belajar ilmu silat. Maka tidaklah
mengherankan kalau di antara keturunan keluarga Chin
selama ini, hanya dialah satu-satunya orang yang mampu
mempelajari ilmu silat keluarga mereka dengan sempurna
dalam usia yang masih sangat muda. Padahal rata-rata para
kakek dan neneknya, termasuk pula ayah serta para
pamannya, baru dapat memahami ilmu silat tersebut dalam
usia pertengahan. Mungkin hanya dalam hal tenaga dalam
saja pemuda itu harus banyak berlatih, sebab untuk mencapai
tingkat kesempurnaan dalam ilmu itu harus secara bertahap.
Mengenai soal bertulang baik dan berbakat di dalam ilmu
silat, pemuda itu pernah diberi tahu oleh paman bungsunya,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bahwa selama keluarga Chin berkuasa, dari dahulu hingga
sekarang, telah ada dua orang yang mempunyai bakat serta
bertulang baik seperti dia. Yang pertama adalah Chin Hoa,
hidup pada zaman Raja Chin Bun, lebih kurang seratus tahun
yang lalu. Orang ini dapat mempelajari ilmu silat keluarganya
secara sempurna dalam usia limabelas tahun. Sayang ketika
terjadi malapetaka gempa bumi yang melanda di seluruh
negeri, orang itu tewas terkubur di ruang semadhinya.
Yang ke dua ternyata masih terhitung keluarga dekat
dengan Yang Kun sendiri, karena orang itu adalah kakak
kandung dari ayah serta paman bungsunya. Orang inilah yang
disebut-sebut sebagai kaisar terakhir dari Dinasti Chin oleh
mendiang ayah Yang Kun. Orang itu menjabat sebagai kaisar
hanya dalam waktu sampai empat puluh hari saja, karena
pemberontak yang dipimpin oleh Liu Pang (kaisar sekarang)
keburu masuk ke kota raja dan memaksanya untuk
meninggalkan singgasana kerajaan. Orang ini pulalah yang
memberi pesan wasiat kepada ayah Yang Kun agar
menyimpan benda yang diperebutkan itu secara baik-baik.
Tetapi, apabila benar apa yang dikatakan oleh paman Yang
Kun bahwa pada usianya yang baru delapan belas tahun
tersebut Yang Kun telah mampu meyakinkan ilmu silat
keluarganya dengan sempurna, mengapa anak muda itu harus
mengalami kekalahan ketika melawan Tung hai Sam-mo?
Apakah yang menyebabkannya? Apakah karena mutu ilmu
silat keluarga Chin tersebut masih di bawah mutu ilmu silat
keluarga ketiga iblis itu? Sehingga biarpun sudah
mempelajarinya secara sempurna toh tetap masih kalah kuat ?
Sebenarnya tidaklah demikian halnya. Bagaimanapun juga
ilmu silat keluarga Chin tersebut adalah ciptaan dari Raja Chin
yang pertama, yang hidup pada zaman purba dahulu. Yaitu
sebuah zaman, di mana hanya seorang yang benar-benar kuat
dan sakti sajalah yang mampu bertahta di singgasana
kerajaan untuk memimpin negara dan rakyat yang berjuta juta
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
banyaknya! Oleh sebab itu, apabila dalam penampilannya
yang pertama itu Yang Kun mengalami kekalahan, hal
tersebut bukannya disebabkan karena mutu ilmu silat
keluarganya yang terlalu rendah, akan tetapi karena
disebabkan oleh kosongnya pengalaman pemuda itu sendiri di
dalam hal menghadapi keanehan dari ilmu silat golongan lain.
Coba kalau pemuda itu mendapat kesempatan sedikit saja
untuk berpikir tentang keanehan dari ilmu silat lawan yang
diberi nama Ang-cio hi-tin itu, tidak mustahil kalau ia bisa
menguasai lawan-lawannya pula.
Hal itu sebenarnya telah terbukti ketika pemuda tersebut
ditotok dan diseret ke rumah pendekar Li oleh lawan-lawannya
itu. Kekerasan hatinya membuat ia seperti tidak merasakan
rasa sakit dan penderitaannya ketika diseret oleh lawannya
tetapi pikirannya justru disibukkan oleh rasa penasaran di
hatinya karena dikalahkan oleh ketiga orang itu. Padahal ia
merasa dengan pasti bahwa ilmu silatnya jauh lebih unggul
dari pada ilmu silat mereka.
Sebentar saja otaknya yang encer dan cerdas itu segera
dapat meraba rahasia ilmu silat berpasangan mereka tersebut.
Ketiga orang yang berdiri berderet seperti orang main sepursepuran
itu tentu bermaksud membentuk diri mereka sebagai
seekor ikan cucut besar. Di mana orang she Mo sebagai
saudara tertua berada di depan sendiri dan bertindak sebagai
kepala ikan. Pedang bergerigi yang dibawanya merupakan
ujung tombak dari ikan cucut tersebut. Sedang orang she Lim,
adik seperguruannya yang ke dua, yang berdiri di tengah,
bertindak sebagai tubuh ikan itu. Kedua bilah pedang yang
dipegangnya, ia mainkan sebagai sirip dari ikan cucut
tersebut. Sementara adik seperguruan mereka yang termuda,
berdiri paling belakang sebagai ekor ikan cucut. Pedang yang
dibawanya ia mainkan sebagai sirip dari ikan tersebut yang
terkenal tajam dan berbahaya!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seperti halnya ikan cucut asli, di mana moncong dan sirip
ekornya adalah bagian yang sangat berbahaya bagi lawan,
begitu pula Ang-cio-hi-tin tersebut! Orang pertama serta orang
ketigalah yang bertugas sebagai pihak penyerang, sementara
orang ke dua hanya bertindak sebagai benteng pertahanan
saja bagi keselamatan dari ikan cucut itu. Dan karena mereka
itu bergabung sehingga seolah-olah menjadi satu ekor ikan
besar, maka otomatis tenaga merekapun selalu bergabung
menjadi satu kekuatan pula! Itulah sebabnya kenapa tenaga
mereka seolah-olah menjadi bertambah besar.
Dan seperti menghadapi ikan cucut yang hidup bebas di
lautan, maka sangatlah berbahaya pula menghadapi Ang ciohi-
tin tersebut dari arah depan ataupun belakang. Tempat
satu-satunya yang paling aman adalah di samping tubuh ikan,
persis di dekat siripnya. Maka asal pihak lawan selalu bisa
berusaha berdiri di tempat itu bagaimanapun ikan tersebut
menggerakkan tubuhnya, lalu menyerangnya dan tempat itu
pula, niscaya ilmu silat tersebut akan mati kutu. Biarpun
takkan mudah pula untuk berbuat seperti itu.
Betapa gembiranya Yang Kun bisa memecahkan rahasia
ilmu silat lawan itu. Semangatnya menjadi meluap-luap, ingin
rasanya ia melepaskan diri dari ikatan yang membelit
tubuhnya dan menantang mereka kembali untuk bertanding
silat. Tapi karena tubuhnya tertotok maka niat itu belum dapat
ia laksanakan.
Maka ketika tubuhnya dibanting di atas mayat orang
setelah mereka tiba di rumah pendekar Li, pemuda itu mulai
berusaha memunahkan pengaruh totokan lawan terlebih
dahulu. Apalagi ketika ketiga iblis itu pergi meninggalkan dia
di halaman, kesempatan yang diperolehnya menjadi
bertambah besar.
Cepat pemuda itu memusatkan pikirannya untuk
berkonsentrasi, lalu disedotnya udara sebanyak-banyaknya
melalui hidung. Semuanya ia kumpulkan di pusarnya (tanTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
tian). Baru setelah itu ia pecah menjadi dua bagian. Setelah
berputar-putar sejenak, bagian pertama dia dorong ke bawah
melalui wa pu hiat terus ke si kang-hiat dan menerobos lu-poh
tung-hiat di bawah lutut. Setelah berputar-putar sebentar di
ujung jempol (Ibu jari) kaki, hawa murni itu didorong kembali
ke atas melalui tung-to hiat, go-lo hiat dan Khong ho-hiat,
terus kembali ke tan tian. Semuanya berjalan lancar, tak
sebuahpun jalan darah dilaluinya mengalami hambatan
sehingga sebentar kemudian kedua buah kakinya dapat ia
gerakkan kembali.
Sementara itu hawa-murni yang sebagian lagi ia tekan ke
atas melalui thia-wu-hiat di atas pusar, lalu berhenti sebentar
di thinu su-hiat, terus meluncur ke atas melalui sam-le-hiat di
atas dada. Tetapi ketika akan menerobos pang-wa-hiat yang
berada di bawah leher, hawa murni tersebut mengalami
kesukaran. Seperti ada sebuah tonjolan yang menekan jalan
darah tersebut dari luar. Betapapun Yang Kun mengerahkan
tenaganya, jalan darah itu tetap tak tertembus.
"Kurang ajar! Benda apa yang berada di balik baju mayat
ini? Kenapa persis benar menekan pada jalan darah di
dadaku?” pemuda itu mengumpat.
Oleh karena tubuh atasnya masih belum dapat digerakkan,
Yang Kun berusaha untuk beringsut dari posisinya dengan
jalan menjejakkan kakinya. Dan usahanya berhasil, sehingga
penyaluran tenaga murninya dapat ia lanjutkan lagi tanpa
hambatan.
Begitu terbebas dari pengaruh totokan lawan, pemuda itu
tidak langsung berdiri, tetapi dengan penasaran ia merogoh
saku mayat yang berisì barang menonjol tadi. Dengan heran
pemuda itu mengeluarkan sebuah potongan emas yang
berkilauan dari balik baju tersebut. Emas itu berbentuk bulat
panjang, sebesar ibu jari kaki, dengan panjang kira-kira satu
dim.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hampir saja Yang Kun mengembalikan benda itu ke
tempatnya semula, sebab ia tak ingin mencuri apalagi
mengambil kepunyaan orang yang telah mati. Tetapi ketika
matanya melihat goresan-goresan yang menyerupai sebuah
peta pada emas tersebut, cepat keinginan itu ia batalkan.
Siapa tahu benda tersebut akan berguna baginya kelak?
Perasaannya mengatakan bahwa ada sesuatu yang aneh dan
rahasia pada benda itu. Maka dengan hati-hati potongan emas
tersebut ia masukkan ke dalam saku bajunya sendiri.
Pemuda itu bermaksud bangkit dari tempat itu ketika tibatiba
lukanya terasa gatal dan sakit bukan main.
"Kurang ajar! Luka ini benar-benar sangat mengganggu.
Aku tidak boleh tergesa-gesa melawan mereka. Luka-luka ini
harus kuobati dahulu sehingga sembuh, baru aku mencari
pembunuh ayah ibuku dan mengadakan perhitungan dengan
mereka."
Sedikit demi sedikit Yang Kun beringsut ke arah pintu
halaman. Kedua belah pahanya yang terluka itu sungguh
sangat mengganggu jalannya. Sampai di luar pintu rasa sakit
itu semakin menghebat sehingga kaki tersebut rasa-rasanya
sukar untuk dipakai berjalan lagi.
"Kurang ajar! Kemana aku harus menyembunyikan diri
untuk sementara waktu? Hah, bangsat benar senjata Iblis itu!
Awas, sekali waktu akan kubuat mereka menderita dengan
senjata mereka sendiri!"
Berdesir dada Yang Kun ketika tiba-tiba dilihatnya sebuah
bayangan berlari dengan cepat mendatangi tempat itu. Betapa
ringan dan cepat langkah kakinya sehingga sekejap kemudian
orang itu telah berada di depan mukanya.
"Ohh ....... tuan muda!" tiba-tiba orang itu berseru.
Matanya memancarkan sinar aneh, kaget dan seperti tidak
percaya pada apa yang telah dilihatnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebaliknya pemuda itu juga tidak kalah pula rasa
terkejutnya. Tak terpikir sedikitpun di dalam benaknya bahwa
ia akan menjumpai orang itu di tempat ini. Tersembul sedikit
harapan di dalam hatinya untuk bisa lolos dari tempat
tersebut.
"Paman Hek-mou-Sai.................!”
"Tuan muda kau? Kau masih ............. eh, kenapa tuan
muda berada di sini? Di mana yang lainnya?”
"Paman, lukaku sangat parah. Bawalah dulu aku pergi dari
sini secepatnya, nanti akan kuceritakan semuanya! Di di dalam
ada Tung-hai-Sam-mo!" pemuda itu berbisik.
"Hah ? Tung-hai Sam-mo berada di sini ?" Hek-mou sai
terkejut pula.
"Benar, paman!”
"Baik, mari kita pergi! Ketiga Iblis itu memang sangat
berbahaya, apalagi gurunya ! Teman-temannyapun sangat
banyak!”
Maka ketika beberapa saat kemudian Tung-hai Sam mo
mencarinya, Yang Kun telah tiada lagi di tempat semula. Dia
telah dibawa pergi oleh Hek-Mou-Sai, salah seorang pengawal
kepercayaan mendiang ayahnya.
ooOOoo
“Demikianlah paman, semuanya terjadi dengan cepat serta
di luar dugaan begitu paman meninggalkan kami di tengahtengah
hutan itu. Hampir-hampir aku tidak mempercayainya
bahwa semua itu telah terjadi pada keluargaku.” pemuda itu
menutup kisahnya.
"Sudahlah, tuan muda. Betapapun kita masih harus
berterima kasih kepada Tuhan bahwasanya Dia masih
melindungi jiwa tuan muda, sehingga tuan muda dapat
meneruskan semua cita-cita tuan Chin yang belum terlaksana.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tuan muda, tidakkah ayahmu memberi sesuatu wasiat atau
petanya kepadamu ?" Hek-mou-sai menghibur.
Hampir saja pemuda itu mengatakan semua pesan ayahnya
pada saat mau menghembuskan nafasnya yang terakhir itu,
tetapi tiba-tiba diurungkannya, biarlah rahasia keluarganya itu
ia simpan sendiri di dalam hati, orang luar tak perlu
mengetahuinya. Semua urusan tersebut akan ia selesaikan
sendiri !
Hek-mou-sai merasakan keragu-raguan pemuda putera
majikannya itu, tetapi iapun tak enak pula untuk terlalu
mendesaknya, biarpun hatinya menjadi sangat kecewa
sebenarnya.
"Maafkan aku, paman. Bukannya aku tak mempercayai
engkau yang telah banyak berjasa kepada keluarga kami itu,
tetapi sebenarnyalah bahwa pesan ayahku itu hanya
diperuntukkan bagiku saja. Pesan seorang ayah kepada
anaknya." Yang Kun berusaha menerangkan.
""Permisi, tuan ........!" tiba-tiba terdengar sebuah suara di
luar pintu memutus pembicaraan mereka.
“Siapakah yang datang, paman?" Yang Kun mengerutkan
keningnya dengan curiga, Hatinya yang telah dipenuhi
perasaan dendam permusuhan itu kini ternyata tidak pernah
merasa tenang.
Hek-mou-sai tersenyum. "Tenanglah tuan muda. Aku telah
memanggil seorang tabib untuk mengobati luka-Iakamu itu,
terutama untuk menghilangkan perasaan gatal yang kadangkadang
datang! Kurasa tabib yang kupanggil itulah yang
datang,” katanya seraya membuka pintu.
"Maaf tuan, Aku terlambat datang. Jalan sudah penuh
dengan orang, sehingga saya harus berputar-putar melalui
jalan kecil.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ah, tak apalah. Kami juga tak tergesa-gesa sekali. Marilah
masuk, sinshe (tabib)!” Hek-mou-sai mempersilakan orang itu
untuk memasuki kamar mereka.
"Terima kasih !”
Yang Kun memandang orang yang baru datang itu dengan
hati yang semakin tidak enak. Nalurinya mengatakan bahwa
tabib tua yang berperawakan kecil dengan bola mata
kemerah-merahan itu tentulah bukan orang baik-baik. Apalagi
ketika orang itu memandang ke arah dirinya dengan senyum
yang aneh, ia merasa seperti menghadapi seorang iblis yang
siap untuk mencekik lehernya. Tetapi ketika ia berusaha untuk
beranjak dari tempat ia berbaring, Hek-mou-Sai menahannya.
"Sudahlah, tuan muda. Engkau jangan terlalu banyak
bergerak. Biarlah Ang-sinshe mengobatimu. Dia adalah
seorang tabib yang paling tersohor di daerah Shan-tung ini.
Percayalah !"
Terpaksa dangan hati berat Yang Kun menuruti anjuran
Hek-mou-sai tersebut. Ia percayakan sepenuhnya nasib
dirinya kepada pengawal kepercayaan ayahnya itu. Oleh
karena itu ia tetap berdiam diri ketika tabib itu memeriksa
luka-lukanya.
"Wah, berat..........! Racun yang masuk di dalam luka-luka
itu sungguh sangat keji sekali. Sebenarnya racun itu sendiri
memang bukan semacam racun yang mematikan, tetapi akibat
yang ditimbulkan akan justru lebih kejam malah......... ! Sebab
apabila rasa gatal itu semakin sering datang dan semakin
terasa menghebat, alamat kelumpuhan akan segera tiba. Dan
penyakit seperti ini kurasa belum ada obatnya di dunia ini!”
Tabib itu memandang Hek-mou-sai sambil mengelenggelengkan
kepalanya.
“Tidaaaak ..........!! Mesti ada obatnya ! Oh, aku tidak boleh
lumpuh! Aku tidak boleh lumpuuuuh!" Yang Kun berteriak
seperti orang gila. "Aku harus sembuh kembali! Masih banyak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang harus akan kukerjakan ! Aku masih harus membalaskan
seluruh dendam kesumat keluargaku !"
“Tuan muda, tenanglah ! Jangan berteriak begitu, nanti
semua penghuni penginapan ini akan keluar dan menuju
kemari.” Hek-mou-sai cepat memegang lengan Yang Kun dan
menenangkannya.
Benarlah, tampak beberapa orang mendatangi kamar
mereka dengan curiga, tapi Hek-mou-sai cepat keluar
menemui mereka.
"Maafkan kami! Mungkin suara anakku yang sedang sakit
itu mengagetkan tuan semua. Dia baru saja terjatuh dari
punggung kuda dan sekarang sedang diobati oleh tabib.
Anakku memang seorang yang tak biasa menahan sakit."
Orang-orang itu kembali ke kamar mereka masing-masing
dengan menggerutu. Tapi dua orang wanita yang wajahnya
sangat mirip satu sama lain tampak tersenyum ketika melihat
tabib tua itu.
"Aha........ tapi tuan tidak usah merasa khawatir! Di mana
di situ ada Ang-sinshe, di situ pula semua penyakit akan
hilang! Di dunia ini tak ada seorangpun tabib yang mampu
melebihi dia," kata salah seorang di antaranya. Lalu setelah
mengangguk ke arah Hek-mou-sai kedua orang itu berlalu
pula dari tempat itu.
"Tapi........... aku tidak mau menjadi lumpuh, paman!" Yang
Kun berkata lagi setelah suasana telah menjadi sepi kembali.
"Harap tuan muda jangan khawatir lebih dahulu. Angsinshe
tentu tidak akan kekurangan akal, bukankah begitu,
Ang-sinshe?"
"Entahlah, tuan. Akan kupelajari dahulu daya serang dari
racun itu di rumah, setelah itu baru akan kuusahakan untuk
mendapatkan obat pemunahnya. Sementara ini akan
kuberikan obat untuk menghentikan daya kerja dari racun itu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
jawab orang tua itu sambil mengeluarkan bubuk putih dari
kantong obatnya.
Rasa perih dan panas yang tak terkatakan hebatnya
menyerang tubuh pemuda itu ketika obat bubuk berwarna
putih tersebut ditaburkan di atas luka-lukanya. Begitu
hebatnya rasa sakit tersebut mencekam tubuhnya sehingga
Yang Kun tak kuat lagi menahannya. Pembaringan yang
semula tersusun rapi itu kini menjadi berantakan ke sana
kemari karena desakan kaki tangannya yang menggeliat-geliat
menahan sakit.
Bayangan Hek-mou-sai dan tabib tua itu seperti saling
berkelebatan di depan matanya bercampur dengan bendabenda
di dalam kamarnya yang melayang-layang pula ke sana
ke mari. Akhirnya sebelum ia jatuh pingsan, lapat-lapat ia
seperti mendengar suara nyanyian dan gelak ketawa tabib
serta Hek-mou-sai yang keras.
Entah berapa lama ia dalam keadaan pingsan, hanya ketika
pemuda itu telah menjadi siuman kembali, ia mendapatkan
dirinya seperti berada di dalam ruangan sempit yang selalu
bergoyang-goyang. Agaknya sebuah kereta atau gerobak yang
sedang berjalan di jalan umum. Terdengar suara orang berlalu
lalang di sekitar ruangan sempit dan gelap tersebut.
Betapa terkejutnya pemuda itu ketika tangannya seperti
menyentuh tubuh seseorang yang berbaring di sampingnya.
Tubuh yang gemuk besar serta banyak ditumbuhi bulu yang
lebat. Tubuh Hek mou-sai!
"Ah ! Uh !"
Gila, Yang Kun mengumpat di dalam hati. Urat gagunya
ternyata telah ditotok orang. Begitu juga kaki dan tangannya !
Sedikitpun tak bisa digerakkan, sehingga maksudnya untuk
menyapa atau membangunkan orang yang berbaring di
sebelahnya tersebut menjadi gagal. Yang Kun berusaha
memunahkan totokan itu, tetapi gagal pula! Arus tenaga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dalam yang dikerahkannya selalu membalik begitu sampai di
urat darah yang tertotok, sehingga hal tersebut justru
mengakibatkan badannya sakit bukan main. Seluruh urat
darahnya seperti ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum !
Sebuah tiam-hoat (ilmu totok jalan darah) dari golongan
sesat, pemuda itu berpikir di dalam hati. Ilmu ini tentu ada
rahasianya tersendiri dan tidak mungkin lain orang dapat
memunahkannya. Maka dari itu tak ada gunanya membuangbuang
tenaga secara percuma. Lebih baik berdiam diri dan
menghimpun kekuatan, biarlah semuanya ia pasrahkan
kepada nasib, pikir pemuda itu selanjutnya !
Yang Kun lama-kelamaan terbiasa oleh kegelapan yang
melingkupi ruangan sempit tersebut, sehingga akhirnya dia
bisa melihat tubuh Hek-mou-sai yang terbaring di sisinya
dengan jelas. Tampak olehnya tubuh itu terikat dengan tali
yang sangat kuat. Tak mungkin pula untuk membebaskan diri.
Ternyata firasatnya tentang tabib itu adalah benar. Orang
itu memang benar bukan orang baik-baik. Dan mereka berdua
telah tertipu dan terjebak ! Mungkin orang tersebut justru
ialah seorang dari kelompok para pembunuh keluarganya yang
menyamar sebagai tabib.
Kurang ajar, Yang Kun menggeretakkan giginya. Dan orang
seperti itu telah ia biarkan dengan sesuka hati untuk menyakiti
dirinya. Menaburkan bubuk putih yang dikatakan sebagai obat
penawar racun untuk menyiksa dirinya sehingga pingsan. Dan
selama ia pingsan orang itu telah merampok semua miliknya
pula !
""Binatang ! Tabib keparat !” tiba-tiba Hek-mou-sai yang
telah siuman dari pingsannya mengumpat dengan keras. Lalu
nampak orang yang belum terbiasa dengan suasana gelap itu
berusaha dengan keras memutuskan ikatannya. Berguling ke
sana kemari sehingga akhirnya tubuhnya menimpa tubuh
Yang Kun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Heh ? Siapa kau ?”
Dengan cepat tubuhnya berguling menjauhi tubuh Yang
Kun. Kemudian matanya terbuka lebar-lebar berusaha
menembus kegelapan yang menyelubungi ruangan itu.
Akhirnya lapat-lapat ia mengenali wajah Yang Kun.
"Oh tuan muda ! Kau.......... ! Hah, bangsat benar tabib itu!
Aku kena ditipunya. Seseorang memperkenalkan dia
kepadaku. Dia mengaku bahwa dialah yang disebut orang
sebagai Ang-sinshe. Seorang tabib yang ............. eh, tuan
muda ! Kau ?"
Hek-mou-sai berhenti bicara. Matanya yang kini telah
terbiasa di tempat gelap itu dengan heran mengawasi Yang
Kun. Agaknya baru maklum kalau pemuda di depannya
tersebut ternyata dalam keadaan lemas tertotok jalan
darahnya. Akhirnya iapun berbaring diam di tempatnya sambil
menghela napas berkali-kali.
“Baiklah, kita memang tinggal menunggu nasib. Tuan muda
sedang terluka parah dan kini tertotok pula. Sedangkan aku
biarpun bisa bergerak tetapi ternyata tidak mampu
melepaskan diri dari belenggu ini. Hemmm.......... agaknya
kita memang ditakdirkan untuk musnah semuanya ........."
Terasa oleh mereka kereta itu berbelok ke arah kiri.
Jalannya halus dan nyaman, tidak berguncang seperti tadi.
Cuma jalannya kini agak sedikit lambat. Terdengar pula olah
telinga mereka suara gema percakapan orang banyak yang
menyerupai kawanan lebah di sekitar kereta mereka. Sesekali
diselingi suara ledakan petasan dan suara gembreng ditabuh.
Agaknya kini mereka sedang melalui sebuah jalan besar di
tengah-tengah kota, di antara keramaian orang yang baru
berpesta pora !
"huh ! Mereka tentu telah mulai dengan pesta perayaan
itu," Hek-mou-sai bergumam lagi. "Sungguh menyebalkan !”
Dan ketika tampak olehnya wajah Yang Kun yang memandang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ke arahnya dengan penuh tanda tanya, Hek-mou-sai cepat
memberi keterangan.
"Hari ini adalah hari peringatan bagi para perampok itu
untuk merayakan keberhasilan mereka dalam menduduki
singgasana kerajaan. Mereka merampok singgasana itu dari
tangan nenek moyang tuan muda dan mendudukinya ! Setiap
tahun mereka memperingatinya secara besar-besaran di
seluruh negeri. Dan hari ini merupakan peringatan yang
kelima kalinya. Celakanya, perampok-perampok itu sangat
pandai mengelabui mata rakyat, sehingga mereka
memperoleh banyak dukungan dan pengikut!"
Yang Kun mendengarkan keterangan Hek-mou-sai yang
panjang lebar itu dengan dahi berkerut. Memang selama ini ia
tak pernah mengikuti perkembangan negaranya. Sejak
jatuhnya Dinasti Chin lima tahun yang lalu dia beserta seluruh
keluarganya buru-buru menyembunyikan diri mereka di suatu
tempat yang terpencil dan tak diketahui orang.
Kereta itu semakin lama semakin terasa lambat jalannya
dan suara ramai serta ribut di sekitarnya semakin terdengar
dengan nyata pula. Agaknya kereta tersebut kini semakin
mendekati tempat yang menjadi pusat keramaian.
Beberapa saat kemudian terasa oleh Yang Kun kereta itu
berbelok lagi ke arah kanan, lalu berhenti. Sinar obor
menerobos masuk ke dalam kereta dan menyilaukan mata
mereka ketika pintu kereta tersebut dibuka orang. Beberapa
saat lamanya mereka berdua justru tidak dapat melihat apaapa.
"Bawa kedua orang ini ke ruang belakang! Tutup mereka di
dalam sebuah kamar dan jagalah dengan ketat ! Jangan
sampai terlepas ! Aku akan menghadap Ong-ya (pangeran)
lebih dahulu," terdengar sebuah suara kecil nyaring. Suara
dari orang yang menyamar sebagai tabib itu!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mereka masing-masing digotong oleh dua orang yang
berpakaian ringkas, masuk ke dalam gedung besar yang
sangat megah dari pintu samping. Mereka langsung dibawa ke
ruangan belakang dan ditutup di sebuah kamar yang kokoh
kuat. Beberapa orang yang rata rata mempunyai kepandaian
cukup menjaga di sekitar mereka. Hek-mou sai selalu
mengumpat-umpat dan menantang untuk berkelahi, tetapi tak
seorangpun meladeninya. Mereka semua diam seperti bonekaboneka
penjaga yang sangat seram !
Satu jam kemudian datang seorang penjaga lagi yang
membawa perintah dari Ong-ya agar kedua tawanan itu
dibawa menghadap ke ruang tengah. Yang Kun digotong
kembali oleh orang-orang itu bersama-sama Hek-mou-sai
melalui sebuah petamanan yang luas. Naik turun jembatan
kayu berukir yang sangat indah, berkelok-kelok menyeberangi
kolam luas yang penuh dengan bunga teratai dan menerobos
lorong-lorong yang penuh bergantungan lampu-lampu minyak
beraneka warna !
Kedua orang itu dibawa masuk ke sebuah ruangan yang
lebar dan luas. Di sana telah berdiri dua - tigapuluh orang,
berkelompok-kelompok di pinggir mengelilingi bagian tengah
yang telah dikosongkan. Yang Kun dan Hek-mou-sai mereka
diletakkan pada tempat yang kosong tersebut, di bawah
pengawasan puluhan pasang mata yang mengelilinginya.
Ternyata Hek-mou-sai tidak rewel dan mengumpat-umpat
lagi. Suasana serta pemandangan yang selalu besar dan
megah, apalagi kini berada di tengah-tengah puluhan pasang
seram dan aneh membuat hatinya menjadi kuncup dan kecil.
Beberapa lampu minyak yang ditaruh di sana tidak cukup
untuk menerangi ruangan tersebut, sehingga suasana menjadi
remang-remang. Remang dan sunyi! Tak sebuah suarapun
terdengar. Mereka bagaikan sekelompok hantu yang berada di
sebuah gedung tua yang angker.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ong-ya datang!” Tiba-tiba suasana yang lengang itu
dikejutkan oleh suara penjaga yang nyaring. Orang-orang
yang berada di ruangan itu tampak bergerak sekarang.
Mereka menghadap ke arah pintu masuk dengan khidmat.
Menghormat kepada seorang laki laki jangkung yang baru saja
memasuki ruangan bersama beberapa orang pengawalnya.
Laki-laki itu mengenakan baju longgar dari kain sutera yang
putih bersih berenda-renda, sehingga di tempat gelap benarbenar
terasa menyolok dan mengesankan. Dia mengangguk
sedikit untuk membalas penghormatan orang, lalu berjalan
menuju ke ujung ruangan di mana telah tersedia kursi
kehormatan. Tetapi ternyata ia tidak langsung duduk di
tempat yang telah disediakan itu. la hanya berdiri saja di
bawahnya dan menyuruh semua orang untuk mengambil
tempat duduk mereka di kursi masing-masing.
"Maaf, saudara-saudara, karena harus menyelesaikan
sebuah urusan yang sangat penting maka kali ini Ong-ya akan
terlambat datang menemui saudara! Tetapi beliau telah
berkuasa mengirim aku kemari untuk mewakili beliau selama
beliau belum datang."
Terdengar oleh Yang Kun orang-orang yang berada di
sekitarnya berdesah pelahan sambil mengambil tempat duduk
masing-masing. Sekelebatan terlihat olehnya orang yang
menyamar sebagai tabib itu berada di sebelah kanan bersamasama
dengan dua orang wanita. Mereka duduk di tempat yang
agak tinggi di dekat kursi kehormatan. Agaknya mereka
termasuk orang-orang yang berkedudukan penting di dalam
pertemuan tersebut.
Yang Kun mengedarkan pandangannya ke tempat yang
lain. Biarpun tidak begitu jelas, tetapi ia ingin mengingat
sedapat-dapatnya wajah-wajah mereka satu persatu. Siapa
tahu dugaannya benar, bahwa mereka adalah komplotan yang
telah membantai seluruh keluarganya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Saudara-saudara semua, sebelum Ong-ya datang nanti,
beliau menugaskan aku yang rendah untuk mengurus sesuatu
hal di sini. Beliau baru saja memperoleh laporan bahwa Teetok-
ci locianpwe (Tikus Tanah Beracun) telah berhasih
menangkap anak muda yang bernama Chin Yang Kun itu.
Benarkah begitu locianpwe ?"
Yang Kun terkejut mendengar kata-kata orang berbaju
putih tersebut. Terkejut tetapi juga terselip perasaan gembira
di dalam hatinya. Betapa tidak? Kesengsaraan dan
penderitaan yang telah disandangnya sejak dia beserta
keluarganya meninggalkan tempat persembunyian mereka,
sekarang agaknya telah membawa hasil. Berhari-hari,
berbulan-bulan. ia dan seluruh keluarganya harus berlari-lari
menyembunyikan diri dari teror dan kejaran musuh yang tak
mereka ketahui orangnya. Satu-persatu keluarganya terbunuh.
Mulai dari paman bungsunya, lalu para wanita dan anak-anak,
dan paling akhir adalah ayahnya sendiri. Semuanya mati
dengan bermacam-macam cara tanpa mereka ketahui siapa
pembunuhnya !
Maka tidaklah mengherankan jikalau pemuda itu sangat
gembira begitu mendengar perkataan orang berbaju putih
tersebut. Menilik dari perkataan yang baru saja dikeluarkan
tadi, dapat diduga bahwa Yang Kun memang telah lama dicari
dan dibutuhkan oleh mereka, terutama oleh orang yang
mereka sebut sebagai Ong-ya itu. Padahal selama ini pemuda
tersebut bersama keluarganya tidak pernah berhubungan
dengan orang luar, apa lagi orang orang dari kalangan
persilatan. Jadi apabila ada orang yang mencari dia atau
keluarganya, tidak boleh tidak tentu berhubungan dengan
"benda warisan keluarga" yang diperebutkan itu. Dan apabila
memang benar begitu keadaannya, jelaslah sudah, merekalah
para pembunuh keluarganya itu ! Maka tidaklah heran kalau
Yang Kun sangat gembira di dalam hatinya, karena kegelapan
yang selama ini menyelubungi dirinya agaknya telah mulai
terbuka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kwa-sicu, laporan yang telah ditampilkan kepada Ong-ya
tersebut adalah benar. Lihatlah ! Pemuda itu telah saya
tangkap bersama seorang pengawalnya." Orang yang
menyamar sebagai tabib itu menjawab pertanyaan laki-laki
berbaju putih tadi.
"Terima kasih ! Jasa locianpwe sungguh amat besar kali ini
! Ong-ya akan bergembira sekali Apakah lo-cianpwe telah
memeriksa dan menanyai pemuda itu ?"
"Belum. Silahkan Kwa-sicu memeriksanya sendiri ! Tetapi
ketika lo-hu (aku orang tua) menggeledah badannya. lo-hu
mendapatkan potongan emas ini." orang yang bergelar Teetok-
ci itu menyerahkan benda tersebut kepada laki-laki
berbaju putih itu.
Laki-laki itu menimang-nimang potongan emas itu di dalam
tangannya.
"Inikah benda yang dimaksudkan oleh Ong-ya itu? Kenapa
seperti ini ?" gumamnya dengan ragu-ragu. "Baiklah, akan
kuperiksa sendiri. Pengawal bawa kemari pemuda itu!”
Pengawal-pengawal itu dengan tangkas menyeret tubuh
Yang Kun dan Hek mou-sai ke hadapan laki-laki tersebut, lalu
dengan gesit pula mereka kembali berdiri di belakang tuannya.
Orang berbaju putih itu maju selangkah mendekati Yang
Kun. Wajahnya yang putih pucat itu tersembunyi di balik
gumpalan rambut yang sengaja dibiarkan terurai lepas, hingga
sukar bagi orang lain untuk melihat jelas wajahnya. Selelah
meneliti sebentar kedua tawanannya orang itu lalu memberi
isyarat kepada Tee-tok Ci untuk memunahkan totokannya.
Dengan tertatih-tatih Yang Kun bangkit dari lantai tempat ia
menggeletak. Luka-luka yang ia derita pada kedua buah
pahanya masih terasa sakit sekali, sehingga serasa masih
sukar untuk berdiri tegak. Meskipun demikian matanya dengan
tajam menatap tak berkedip kepada laki-laki berbaju putih
yang berdiri tak jauh di hadapannya. Jelas terpancar di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dalamnya sebuah perasaan dendam yang tiada taranya.
Tetapi laki-laki pucat berbaju putih itupun ternyata balas
memandang dengan tidak kalah pula tajamnya. Justru
kelihatan lebih seram malah !
"Apakah engkau yang bernama Chin Yang Kun?"
Pemuda itu mengangguk. Matanya tetap menyala
memandang ke arah lawannya. Sukar untuk mengatakan apa
yang tersirat di dalam hati kecilnya pada saat itu. Mungkin
suatu perasaan sedih, gembira, marah, penasaran, yang
semuanya bergolak menjadi satu di dalam dadanya. Bila
dilihat dari sorot matanya, bisa diduga betapa inginnya
pemuda itu mengamuk dan membunuh seluruh orang yang
berada di tempat tersebut. Tetapi bila dibaca dari sikapnya
yang diam itu, bisa diduga pula bahwa pemuda tersebut telah
dapat mempergunakan otaknya untuk mengekang perasaan
hatinya. Apakah faedahnya melawan mereka yang sekian
banyaknya itu dengan tubuh yang terluka parah seperti ini ?
"Dimanakah benda itu disimpan oleh keluargamu?" laki laki
berbaju putih itu bertanya lagi.
“Nah, apalah kataku.” Yang Kun membatin. Mereka semua
inilah yang selama ini telah mengincar benda pusaka itu dan
dia semakin yakin pula bahwa orang ini pulalah yang telah
membantai keluarganya.
"Benda apakah yang kaumaksudkan ? Sedikitpun aku tidak
memahami pertanyaanmu. Kalau yang kaumaksudkan benda
tersebut adalah potongan emas itu, kurasa kini kau telah
memegangnya. ..........." Yang Kun berusaha mengekang
perasaannya.
“Hah! jangan berpura-pura ! Tak ada gunanya berdusta di
tempat seperti ini. Kaulihat di sekelilingmu, semua ini adalah
tokoh-tokoh kang-ouw yang biasa menyiksa orang! Tak
terasakan hal itu olehmu? Mereka ini semuanya mempunyai
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seribu macam cara untuk dapat membuka mulutmu, tahu?
Perlukah semua itu dicoba terlebih dahulu kepadamu?"
"Tetapi apa yang mesti kukatakan kalau aku memang
benar-benar tak paham apa yang kau maksudkan? Kau siksa
sampai sejuta kalipun aku tetap tidak tahu apa yang kau
kehendaki itu. Paling hebat aku akan mati. Nah, coba katakan
kepadaku ! Benda apakah yang kau maksudkan itu ?" dengan
tenang Yang Kun menghadapi orang itu. Benar-benar dengan
hati yang sangat tenang! Yang Kun sendiri sampai heran
memikirkan sikapnya yang sangat tenang tersebut. Padahal
kondisi tubuhnya demikian jelek, berada di mulut singa pula !
Ah, inilah agaknya sikap jago silat sejati seperti yang selalu
didengung-dengungkan serta selalu ditanamkan oleh paman
bungsu kepadanya !
“Sebuah CAP KERAJAAN! Nah, di mana benda itu
sekarang?" laki-laki itu berkata tandas. Tampak oleh semua
orang betapa marah sebenarnya laki-laki tersebut.
"Cap kerajaan? Wah, apa pula itu ? Baru kali ini aku
mendengarnya. Sebenarnyalah kalau kukatakan bahwa aku
benar-benar tidak mengetahuinya. Kurasa seluruh keluargaku
juga belum pernah mendengar apalagi sampai memilikinya
............” Yang Kun mengerutkan dahinya.
Memang pemuda itu berkata yang sebenarnya.
Sesungguhnyalah, sampai saat meninggalnya, ayah dan
pamannya belum mengetahui, apa wujud dari benda pusaka
yang diwariskan kepada keluarganya itu. Malah baru saat
inilah ia mendengar tentang wujud dari benda pusaka
tersebut, justru dari mulut orang lain!
"Anak bodoh! Masih berbelit-belit juga! Kau memang perlu
mendapat sedikit siksaan. Tee-tok-cianpwe, tolong siksa dia
agar mengaku!"
"Jangan! Jangan kalian siksa dia ! Dia memang benar-benar
tidak tahu-menahu tentang cap itu! Tak ada gunanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyiksa dia, kalau kalian ingin menyiksa orang.......... nah,
siksalah saja aku!” tiba-tiba Hek mou-sai yang masih terikat
erat itu berteriak.
Laki-laki itu mengibaskan ujung bajunya yang putih bersih
tersebut ke samping, lalu dengan lagak yang angkuh ia
mendongak ke arah langit langit rumah.
"Siapakah dia?" katanya dingin.
Terdengar suara tertawa yang nyaring dari tempat di mana
Tee-tok-ci duduk. Suara seorang wanita yang telah mencapai
tingkat tertinggi dalam ilmu Iweekang.
"Dia adalah Wan It, bergelar Hek-mou-sai ! Dahulu
merupakan salah seorang dari pengawal rahasia Kaisar Chin.
Kepandaiannya memang tidak boleh dipandang rendah,
terutama sepuluh jari-jari tangannya. Dia mampu membunuh
lawan dari jarak sepuluh langkah !"
"Jeng bin Siang kwi (Sepasang Iblis Berwajah seribu)
terima kasih!"Laki-laki berbaju putih itu menoleh, lalu ia
menatap kearah wajah Yang Kun dengan tajam.
"Kau sungguh tidak kecewa mempunyai pembantu seperti
dia," katanya "Tetapi aku tetap pada pendirianku. Nah, sekali
lagi, katakan di mana cap itu disimpan oleh keluargamu?"
Yang Kun diam tak menjawab.
"Kalian semua ini benar-benar keterlaluan sekali. Memaksa
seseorang anak mengatakan apa yang tidak diketahuinya
............ " Hek-mou-sai berteriak kembali.
"Diam! Tee tok-ci locianpwe, silakan kau mulai !"
Orang tua yang bergelar Tee-tok-ci itu melangkah ke
depan. Satu langkah saja! Tapi biarpun hanya melangkah saja,
ternyata tubuhnya yang kecil itu telah berada di depan Yang
Kun. Padahal jarak antara tempat duduknya dengan tempat di
mana Yang Kun berdiri, lebih dari pada tujuh meter! Hal itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menunjukkan betapa hebat ilmu kepandaian orang bertubuh
kecil itu sebenarnya.
“Heh-heh, .......... anak muda, kau sungguh sangat sial
pada hari ini. Dua kali engkau jatuh ke tangan Tee-tok-ci.
Pertemuan pertama engkau telah merasakan Ji hoan Tatbeng-
soa (Bubuk Pasir Pencabut Nyawa Dalam Dua Langkah)
kepunyaanku. Khasiat dari bubuk beracun itu terbagi dalam
dua tingkat. Tingkat pertama telah kau rasakan tapi sayang
engkau keburu pingsan. Tingkat yang ke dua akan terjadi
selang enam jam kemudian. Pada saat itu engkau akan
merasakan kesakitan yang maha hebat, sehingga engkau tidak
akan kuat menanggungnya dan....... mati ! Tetapi agaknya hal
seperti itu tidak keburu terlaksana, karena saat ini aku akan
menyiksa engkau dengan cara yang lain lagi. Dan penyiksaan
yang akan kupersembahkan kepadamu kali ini akan berakhir
dengan kematian! Hihihi ............. lihatlah!"
Hampir saja Yang Kun mengerahkan tenaga untuk
menghajar muka orang itu, apapun yang akan terjadi. Tetapi
kembali otak sehatnya melarang, dia harus bersabar sampai
saat yang terakhir. Siapa tahu ada jalan yang terlebih baik
nanti, dari pada harus berjibaku seperti itu?
Orang itu mengeluarkan sebuah alat kecil terbuat dari kulit
bambu. Alat seperti itu sering dibuat oleh para penggembala
di kala senggang untuk bermain tiup-tiupan, sebab alat itu
akan mengeluarkan bunyi melengking apabila ditiup. Benarlah,
tak lama kemudian terdengarlah suara tinggi melengking
seperti suara ribuan nyamuk yang terbang bersama-sama.
Makin lama makin tinggi, sehingga akhirnya membuat telinga
merasa riuh dan sakit. Beberapa orang tampak mulai tidak
tahan dan menutup telinga mereka dengan tangannya.
Suara itu mengalun panjang pendek, bergetar-getar,
sehingga membentuk sebuah irama yang aneh. Seperti suara
sepasang nyamuk yang sedang bercanda di malam sunyi.
Seram dan ngeri. Apalagi suara itu didorong dengan IweeTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
kang yang amat kuat, sehingga selain terasa aneh, seram,
ngeri, juga sangat berbahaya. Tampak beberapa orang
penjaga terpaksa keluar dari ruangan itu, sebab biarpun
telinga mereka telah ditutup dengan tangan, suara itu masih
saja menyakitkan gendang telinga mereka.
Semula Yang Kun merasakan juga pengaruh suara ini di
telinganya, tapi begitu ia mengerahkan Iwee-kang, tubuhnya
menjadi nyaman dan pengaruh dari suara itu menjadi lenyap
Malah sekarang ia bisa menikmati irama yang dihasilkan oleh
alat tiup sederhana itu.
Tiba-tiba suara itu berhenti dengan mendadak ! "Nah,
permainan ini benar-benar akan saya mulai. Lihat !”
Semua orang menjadi lega kembali, karena suara yang
menyakitkan itu telah hilang. Tetapi mendengar suara Teetok-
ci yang mengatakan bahwa permainan justru baru hendak
dimulai mereka menjadi berdebar-debar kembali. Sama sekali
mereka tidak mengira bahwa irama melengking tadi ternyata
cuma dipakai sebagai pembukaan saja dari penyiksaan yang
sebenarnya.
Mendadak............ ya ............. mendadak saja semua
orang mendengar suara mencicit sambung- menyambung dari
segala penjuru. Makin lama makin riuh dan akhirnya mereka
dikejutkan oleh datangnya berpuluh-puluh, bahkan beratusratus
ekor tikus ke dalam ruangan itu. Beberapa orang
menjadi terkejut sehingga mereka terpaksa memukul atau
menginjaknya. Tetapi tikus-tikus itu tetap datang dengan
tertib dan berkumpul di sekeliling tubuh Teo-tok-ci. Mereka
saling bertumpang tindih saking banyaknya yang datang dan
juga saking kepinginnya mereka berada terlebih dekat dengan
orang tua itu. Sehingga otomatis orang-orang yang berada di
dekatnya, seperti Chin Yang Kun, Hek-mou-sai dan laki-laki
berbaju putih itu, semuanya menjadi ikut terkepung di tengahtengah
kawanan tikus tersebut. Tetapi binatang itu benarbenar
sangat tertib. Biarpun saling berdesakan di sekitar kaki
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mereka, tetapi tak seekorpun yang mengganggu atau
berusaha untuk menyerang mereka. Dan tentu saja ketiga
orang itu juga tak mau dikatakan sebagai orang penakut,
sehingga biarpun merasa risih mereka tetap berdiri di
tempatnya masing-masing.
“Aha, ternyata banyak juga tikus-tikus di sekitar tempat
ini.” orang tua itu berkata dengan gembira. “Nah, anak muda !
Lihatlah ! Tikus-tikus ini dapat menjadi buas dan bisa
kuperintah untuk apa saja. Lihat contohnya !" katanya pula
dengan bengis ke arah Yang Kun.
Orang tua itu kembali meniup alatnya tadi dan tiba-tiba
kawanan tikus itu berubah menjadi buas dan sekonyongkonyong…..
menyerang Hek-mou sai! Terdengar suara jeritan
yang disertai tenaga khikang, sehingga gedung itu seakan
menjadi bergetar mau roboh, bahkan puluhan ekor tikus yang
semula menempel di tubuh Hek-mou-sai tampak terpental
pergi dalam keadaan hangus.
Tapi agaknya binatang itu telah menjadi gila karena tiupan
kulit bambu tersebut. Begitu mati sepuluh, datang lagi
duapuluh. Mati lagi seratus, datang lagi duaratus. Begitu
seterusnya, sehingga akhirnya pada jeritan yang ke enam dan
ke tujuh, tak seekor tikuspun yang terpental mati ! Dan kini
jeritan yang keluar dari mulut Hek-mou-sai bukanlah jeritan
yang mengandung khikang tetapi benar-benar suatu jeritan
ketakutan.
"Haha, Sai-Cu Ho-kangnya (Tenaga Sakti Singa Mengaum)
sungguh hebat ! Sayang kaki tangannya terikat, sehingga tak
leluasa dia mengeluarkannya !” Tee tok ci tertawa sadis.
Beberapa saat lamanya Yang Kun seperti terpesona oleh
kejadian tersebut, tapi begitu terdengar suara jeritan Hekmou-
sai berubah menjadi jeritan ketakutan, ia segera menjadi
sadar kembali. Kemarahan yang sejak semula selalu ditahantahannya
kini terlepas tak terkendalikan lagi. Tanpa
menghiraukan kedua belah pahanya yang sakit, ia meloncat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyerbu ke arah tubuh pengawalnya yang telah lenyap
dirubung oleh kawanan tikus gila itu.
Kerumunan tikus itu tersibak ke samping, bahkan beberapa
di antaranya terlempar hancur dilanggar oleh arus tenaga
yang tersalur dari kedua lengan pemuda itu. Dan sebelum
semuanya menyadari apa yang telah diperbuat oleh anak
muda itu, anak muda itu sendiri telah berhasil mencengkeram
ikat pinggang temannya dan mengangkatnya di atas
kepalanya. Disertai dengan sebuah geraman yang dasyat
tubuh itu diputar-putar bagaikan sebuah baling-baling. Dan
suasana di dalam ruangan itu menjadi kalang kabut, ketika
puluhan bahkan ratusan ekor tikus yang semula menempel
pada tubuh Hek-mou-sai itu terlempar menyebar bagai hujan
ke segala penjuru.
Keadaan itu membuat Tee-tok-ci menjadi marah sekali.
Sekali tubuhnya berkelebat, ia telah berada di belakang tubuh
Chin Yang Kun. Dan sebelum pemuda itu sempat mengelak,
jalan darah poh-ki-hiat yang berada di bawah pinggang telah
kena ditotoknya hingga lumpuh. Kontan saja pemuda itu
roboh menimpa tikus-tikus yang berkerumun di bawah
kakinya. Sedang tubuh Hek-mou-sai yang semula
dipegangnya, terlempar jatuh mengenai meja dan kursi di
pinggir ruangan. Dan tubuh yang gemuk itu benar-benar
sangat mengerikan keadaannya. Biarpun belum terlanjur habis
dimakan tikus tetapi tubuh itu telah penuh berselimutkan
cairan darah segar. Pakaian serta rambut yang semula
menempel di badannya kini sudah habis tandas tercabik-cabik
taring kawanan tikus yang sangat tajam. Malah beberapa
buah jari kakinya tampak ikut lenyap pula dilahap binatangbinatang
menjijikkan tersebut. Hanya yang sangat
mengherankan adalah keadaan tali pengikat dari tubuh Hek
Mou sai tersebut. Tali itu tetap utuh seperti semula, seakan
tidak mempan oleh gigitan binatang yang bergigi tajam itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Melihat suasana demikian. Tee-tok-ci cepat meniup alatnya
yang aneh tadi. Dan sungguh menakjubkan. Kawanan tikus
yang semula telah menjadi gila itu mendadak berubah menjadi
jinak kembali, dengan patuh mereka berkumpul kembali di
sekitar orang tua itu dan seakan-akan menanti perintah
selanjutnya.
"Nah, anak muda! Sekali lagi kuberi waktu untuk berterus
terang. Jawab sejujurnya pertanyaan yang telah kuajukan
kepadamu tadi! Lihatlah! Apakah engkau ingin dikeroyok tikus
seperti temanmu itu? Apakah engkau ingin mati dengan cara
dicabik-cabik hingga tinggal tulang-tulang saja?" laki laki
berbaju putih itu kembali menggertak Yang Kun.
"Pembunuh-pembunuh kejam! Lakukanlah ancamanancamanmu
itu segera, kenapa mesti ditunda-tunda juga?
Sekali kukatakan tidak tahu tetap tidak tahu!" pemuda itu
menjawab tegas.
"Anak tolol! Baiklah! Nah, silakan kaulanjutkan Tee-tok-ci
locianpwe!"
"Hihihi .......... baiklah !” orang tua itu mengangguk
kesenangan.
Ketika alat tiup yang aneh itu telah ditempelkan pada
mulutnya, itba-tiba dari atas genting meluncur sesosok
bayangan yang menerjang ke arah orang tua itu.
Gerakannya cepat bukan main, sehingga hampir tak
seorangpun yang mengetahuinya.
"Tahan!"
Tee-tok-ci berusaha mengelak, tetapi karena sama sekali
tidak mengira, apalagi gerakan orang itu memang cepat
sekali, maka alat tiup yang telah berada di atas bibirnya itu
dapat disambar oleh bayangan itu dengan mudah. Tentu saja
Tee-tok-ci menjadi marah sekali. Begitu juga semua orang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang saat itu berkumpul di tempat tersebut. Mereka bersiap
siaga menghadapi pendatang baru itu.
Setelah berhasil menyambar alat tiup itu, bayangan yang
mempunyai gerakan seperti kilat tersebut melayang ke arah
kursi kehormatan. Tentu saja laki-laki berbaju putih itu tidak
tinggal begitu saja. Entah dari mana ia mengambilnya, tahutahu
tangannya telah memegang sebatang hio (dupa) yang
telah terbakar ujungnya. Tapi begitu ia bermaksud membidik
bayangan yang datang ke arah kursi kehormatan itu tiba-tiba
telinganya mendengar sebuah bisikan halus.
“Kwa-heng (saudara Kwa), akulah yang datang!"
“Ong-Ya!” teriak orang berbaju putih itu dengan kaget.
Semuanya tertegun di tempat masing-masing. Apalagi
ketika melihat bayangan itu duduk di kursi kehormatan.
Wajahnya teraling oleh kain sutera tipis yang dipasang pada
topinya yang lebar, membuat dia tampak asing dan aneh.
Suasana menjadi sunyi. Barulah semua tersadar ketika orang
berbaju putih itu berlutut.
"Ong ya !” semuanya ikut berlutut.
"Terima kasih ! Silahkan cuwi duduk kembali ! Tee-tok-Ci
Lo heng, maafkan kekasaranku tadi. Soalnya aku tak
mempunyai jalan yang lain lagi untuk menahan agar benda itu
tidak terlanjur Lo-heng bunyikan."
"Ah. Ong-ya jangan terlalu sungkan." Tee-tok-ci menjawab
dengan tergesa-gesa. "Aku memang terlalu suka bermainmain."
"Sekali lagi terima kasih, Tee-tok-ci Lo-heng, inilah alat
tiupan yang hebat itu, silahkan kau bubarkan saja tikus-tikus
ini. Biarlah aku sendiri yang menyelesaikannya. Hai penjaga !
Bersihkan lagi tempat ini!"
Binatang-binatang itu serentak pergi meninggalkan tempat
itu, begitu Tee-tok-ci meniup alatnya sehingga dengan mudah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
para penjaga membersihkan dan mengatur kembali ruangan
tersebut. Mereka menggotong tubuh Hek-mou-sai yang
terluka parah itu ke tengah ruangan kembali dan menutupi
tubuhnya yang berdarah dengan sebuah mantel lebar.
"Ong-ya, Tee-tok-ci lo-cianpwe telah menemukan sebuah
barang aneh di saku baju Chin Yang Kun. Sebuah potongan
emas yang mempunyai guratan-guratan menyerupai sebuah
peta," orang berbaja putih itu melapor.
"Hah? Mana barang itu?"
"Inilah, Ong-ya."
Orang yang disebut Ong-ya itu menimang-nimang
potongan emas tersebut untuk beberapa lamanya, kemudian
tampak kepalanya yang tertutup topi berkain sutera tipis itu
menggeleng-geleng.
"Apakah benda itu ada hubungannya dengan barang yang
sedang kita cari selama ini?" pembantunya yang berbaju putih
itu menegaskan.
"Entahlah. Kwa-heng. Aku juga tidak mengerti. Aku belum
pernah mendengar atau melihatnya pula. Tapi baiklah kita
simpan saja dia. Siapa tahu ada gunanya nanti ! Bagaimana
dengan pengakuan pemuda itu sendiri?"
"Itulah sebabnya saya menyuruh Tee-tok-ci locianpwe
untuk menyiksanya. Pemuda itu selalu mengatakan bahwa dia
tidak tahu menahu soal cap yang disimpan oleh
keluarganya........”
"Sudahlah, bawa dia bersama pengawalnya itu ke ruang
bawah tanah ! Biarlah mereka berdua mati di sana.”
"Lalu bagaimana dengan keterangan yang kita butuhkan
itu, Ong-ya? Bukankah Ong-ya pernah mengatakan kepada
kita bahwa benda itu disimpan oleh keluarga Chin? Padahal
keluarga Chin tinggal dia saja di dunia ini."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kwa-heng, sudahlah! Serahkan semua itu kepadaku ! Aku
sudah mendapatkan sebuah jalan yang lebih baik ! Marilah
kita merundingkan sesuatu yang lain, yang lebih penting dari
pada urusan ini!"
Orang berbaju putih itu masih ragu-ragu, tapi akhirnya ia
mengangguk.
"Terserah Ong-ya kalau demikian."
Chin Yang Kun dan Hek-mou-sai digotong keluar oleh para
penjaga. Kali ini langsung dibawa ke ruang bawah tanah, yaitu
sebuah ruangan yang khusus dibuat untuk memenjarakan
para penjahat berbahaya. Keduanya diletakkan begitu saja di
atas lantai yang kotor dan berlumut. Padahal mereka tidak
bisa bergerak sama sekali ! Yang Kun masih lumpuh akibat
totokan Tee-tok-ci tadi, sedangkan Hek-mou-sai kini lebih
parah lagi keadaannya.
Sementara itu sepeninggal Yang Kun dan Hek-mou-sai,
mereka melanjutkan perundingan mereka. Ong ya itu
memanggil pembantunya, yaitu laki-laki berbaju putih, dan
yang lain-lain untuk datang lebih dekat ke tempat duduknya.
"Kwa-heng, di manakah Si-ciangkun sekarang?"
"Si-ciangkun berada di gedung kepala daerah saat ini. Dia
mendapat undangan untuk menghadiri perayaan yang
diadakan di sana. Apakah Ong-ya memerlukan dia sekarang?
Biarlah Siauw-te pergi ke sana untuk memanggilnya."
"Tak usah ! Biarlah dia tetap di sana. Itu justru lebih baik
buat dia kalau kita bergerak nanti. Tak seorangpun yang akan
mencurigainya ! Sementara kita dapat mempergunakan
rumahnya sebagai tempat perlindungan yang aman."
"Bergerak ? Apakah kita akan bergerak sekarang, Ong-ya ?
Apakah kekuatan kita telah cukup?" salah seorang dari Jeng
bin Siang-kwi ikut menyela pembicaraan itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Oh, tidak. Kita belum akan memulainya sekarang. Kita
harus mempunyai beberapa ribu orang perajurit, jadi belum
saatnya kita memulai gerakan kita."
"Kalau begitu apa maksud Ong-ya dengan gerakan itu?"
beberapa orang bertanya.
"Sabarlah ! Nanti akan kujelaskan juga. Tetapi Iebih dulu
saya íngin mengetahui perihal beberapa buah urusan yang
pernah aku mintakan tolong kepada saudara-saudara untuk
menyelesaikannya ............ Eh. Kwa-heng! Kwa-heng tadi
berkata bahwa keluarga Chin kini hanya tinggal Chin Yang Kun
seorang, benarkah itu?"
''Begini, Ong-ya. Sejak Ong-ya memberikan tugas itu
kepada siauw-te, siauw-te telah berusaha dengan sekuat
tenaga bersama beberapa orang teman untuk
mendapatkannya. Tetapi hingga saat ini benda itu tetap belum
siauw-te peroleh. Padahal kami juga telah mengusahakannya
dengan berbagai macam cara, termasuk pula pesan Ong-ya
bahwa kami diperbolehkan menyiksa, membunuh,
memusnahkan semua keluarga itu asal benda itu kita
peroleh."
"Lalu ........?" Ong-ya itu mendesak.
"Ketika kami mendatangi tempat persembunyian keluarga
Chín, ternyata kedatangan kami sudah terlambat. Seluruh
keluarga itu telah pergi melarikan diri. Kami hanya
menemukan mayat Chin Bu, orang termuda dari Chin
bersaudara. Meskipun demikian kami tetap mengobrak-abrik
tempat itu guna mendapatkan benda tersebut." Tee-tok-ci ikut
memberi keterangan.
"Tentu saja benda itu takkan ditinggalkan oleh
mereka........." Ong-ya itu menyela lagi.
"Benar. Kami tak dapat menemukannya. Oleh karena itu
kami berusaha mengejar mereka. Setelah itu agar supaya
kami dapat mengetahui dengan pasti di mana sebenarnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
benda itu berada, siauw-te telah menangkap beberapa orang
pengawal mereka serta menyiksanya. Tetapi tak seorangpun
dari pengawal itu yang mengetahuinya. Cuma dari hasil
penyiksaan tersebut kami dapat menarik kesimpulan bahwa
benda itu tidak mereka bawa tetapi telah disimpan entah di
mana," laki laki berbaju putih itu meneruskan keterangan
temannya.
"Oleh sebab itu Kwa-heng bersama para saudara yang lain
akhirnya berketetapan hati untuk berhadapan langsung
dengan Chin bersaudara. Hidup atau mati. Dan begitu kedua
bersaudara itu tetap tidak mau mengaku, Kwa-heng lalu
membunuhnya. Begitukah..........?” Ong-ya itu mengutarakan
dugaannya.
"Ah, tidak demikian.........” Tee-tok-ci cepat menyanggah
dugaan itu.
Orang berbaju putih itu memberi isyarat kepada Tee-tok-ci
agar sedikit bersabar. Lalu dengan tenang ia meneruskan
keterangannya.
"Maksud kami memang begitu. Kami akan membunuh
mereka semuanya apabila mereka tetap tidak mau mengaku.
Tetapi sebelum rencana itu kami jalankan, tiba-tiba muncul
sebuah tembok penghalang di hadapan kami.........,.."
"Hei, tembok penghalang? Apakah itu ?"
"Benar. Ong-ya." Tee-tok-ci menyahut lagi. “Kemarin
malam ketika kami mulai memasuki hutan di Bukit Ular. Tiba
tiba kami berhadapan dengan beberapa orang yang berjalan
mengendap-endap pula seperti kami. Ternyata mereka juga
sedang memata-matai buronan kita. Agaknya orang-orang itu
juga menginginkan benda pusaka itu pula. Oleh karena saling
berebut mangsa, akhirnya di dalam kegelapan bayang-bayang
pohon kita saling bertempur dengan seru........."
"Tapi agar kami tidak kehilangan jejak dari keluarga Chin,
maka saudara Kwa telah meminta adik kami yang ke lima,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yaitu Ceng ya-kang (Si kelabang Hijau ) untuk berangkat lebih
dahulu," salah seorang dari Jeng-bin Siang-kwi menambahkan.
"Ternyata lawan kami bertempur itu benar-benar sangat
tangguh. Mereka adalah jago-jago silat kelas satu. Buktinya
biar hampir setengah malaman kita bertempur secara kucingkucingan,
diantara lebatnya pohon dan rimbunnya daun di
hutan itu, kami tidak dapat mengalahkan mereka. Sayang
demi kerahasiaan tugas itu kami tidak diperbolehkan
mengeluarkan ilmu racun kita secara sembarangan. Coba
..........." yang lain juga turut menceriterakan pengalamannya.
Suasana di dalam ruangan itu menjadi sunyi. Masingmasing
sibuk dengan angan-angan mereka sendiri. Ong-ya itu
juga kelihatan termangu-mangu. Tak disangkanya suasana
telah berkembang begitu pesat. Kini ternyata mereka tidak
sendiri lagi dalam usaha mencari cap kerajaan itu. Beberapa
orang telah tampak turut pula memperebutkannya.
"Apakah saudara bisa menduga, dari golongan manakah
orang-orang itu ?" tanya orang berkerudung itu.
"Sukar, Ong-ya. Selain hutan tersebut sangat gelap dan
lebat, merekapun agaknya selalu menjaga kerahasiaan diri
mereka," laki-laki berbaju putih itu menerangkan.
"Kalau begitu .......... kini semakin sukar pula maksud kita
untuk memiliki cap itu. Sekarang ternyata ada satu orang lagi
yang juga menginginkannya.........." Ong-ya menghela napas
panjang.
"Ah, tak hanya satu orang, Ong-ya!" Jeng-bin Siang-kwi
cepat memotong perkataan itu. "Ngo-sute (adik kami yang ke
lima) juga menjumpai kelompok yang lain ketika dia
mendahului kami .. ........."
"Kelompok yang lain lagi? Apakah bukan anggauta
kelompok yang pertama itu pula? Mungkin mereka memang
menyebar .......... ," Ong-ya itu semakin kaget.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Bukan, Ong-ya! Orang-orang yang terlihat oleh ngo-sute
itu terang bukan berasal dari satu golongan dengan orang
yang sedang bertempur melawan kami itu. Sebab kebetulan
ngo-sute sudah mengenal pimpinan mereka."
"Siapa........ ?”
"Yap Tai-ciangkun (Panglima Yap)! Seorang panglima besar
kepercayaan Kaisar Han." Jeng-bin Siang-kwi menjawab
dengan mantap. "Kata ngo-sute panglima itu hanya dikawal
oleh dua orang jagoan istana, seorang laki-laki dan seorang
wanita."
Orang berkerudung yang selalu disebut Ong-ya oleh anak
buahnya itu berdiri dengan tegang. Mantel hitam yang lebar
menutupi pundaknya itu ia sibakkan ke punggung, sehingga
pakaiannya yang berwarna kuning emas itu kelihatan
menyolok di dalam keremangan sinar lampu.
"Yap Tai-ciangkun? Gila! Jadi kaisar sendiri juga telah ikut
memperebutkan benda keramat itu?" geramnya keras-keras.
Membuat semua pembantunya terdiam dan tak berani
bersuara "Jadi itukah sebabnya kenapa Kaisar Han berada di
kota ini sekarang?"
Jilid 3
KINI ganti para pembantunya yang menjadi terkejut!
"Kaisar berada di sini?" mereka berseru hampir berbareng.
"Benar ! Inilah soal penting yang akan saya rundingkan
dengan saudara-saudara pada saat ini. Bukankah tadi telah
saya katakan bahwa saya mempunyai sebuah persoalan yang
lebih penting untuk kita rundingkan? Tapi........ baiklah,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sebelum persoalan ini kita rundingkan, saya ingin
mendengarkan laporan saudara-saudara terlebih dahulu
sehingga selesai. Nah, Kwa-heng, bagaimana akhir dan
pertempuran saudara dengan kelompok pertama tersebut?”
"Begini, Ong-ya. Setelah kami pikirkan lebih lanjut, akhirnya
kami merasa bahwa pertempuran itu sungguh tidak
bermanfaat sebenarnya bagi kami. Oleh karena kekuatan kita
seimbang, maka biar semalaman kita berkelahi keadaan tentu
tidak akan berubah. Tidak akan ada yang menang ataupun
kalah. Salah-salah kita justru akan kehilangan jejak buruan
kita malah. Maka akhirnya kami mengalah dan pergi dari
tempat itu. Kami berusaha mengejar Cong-ya-kang melalui
tanda-tanda yang telah ditinggalkannya. Tetap ketika kami
sampai di suatu tempat yang agak lapang, kami hanya
mendapatkan puing-puing bekas tandu mereka serta sebuah
kuburan besar.
“........ dan bekas-bekas racun kelabang hijau milik ngosute!"
Tee-tok-ci menambahkan. "Tetapi di sana tidak ada
seorangpun yang tinggal. Maka dengan perasaan khawatir
kami membongkar kuburan itu. Jangan-jangan ngo-sute
menjadi tidak sabaran dan menyerang mereka seorang diri,
sehingga akhirnya kedua belah pihak sama-sama hancur.
Tetapi hati kami menjadi lega ketika kuburan tersebut hanya
berisi wanita, anak-anak dan para pemikul tandu saja.”
“Kemudian kami berputar-putar di hutan yang lebat dan
sukar ditempuh tersebut untuk mencari ngo-sute dan sisa-sisa
keluarga Chin yang masih hidup!" Jong-bin Siang kwi ikut pula
menambahkan. “Tetapi kami tidak dapat menemukan mereka,
sehingga kami terpaksa kembali menuju ke kota ini sesuai
dengan perintah Ong ya. .............. "
"Tetapi kami benar-benar tidak menyangka sama sekali
kalau di tengah perjalanan itu kami justru dapat menemukan
buron kita yang hilang." Laki-laki berbaju putih itu
melanjutkan kisahnya. "Mula mula Tee-tok ci Lo-cianpwe
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melihat sebuah rumah bergenting merah di tengah-tengah
padang ilalang. Kami menjadi curiga melihatnya, sehingga
kami bersepakat untuk pergi menengoknya. Astaga! Begitu
kami memasuki pintu halaman kami menyaksikan tumpukan
mayat yang masih baru, bergelimpangan di mana mana. Dan
beberapa di antaranya adalah mayat dari keluarga Chin,
buronan kita yang hilang itu. Kami segera memeriksanya
dengan teliti tapi cap kerajaan itu tidak ada pada tubuhnya
........”
“........ dan kami menjadi bingung sekali pada saat itu."
Tee-tok ci menyambung kisah itu. "Selain kami tidak bertemu
dengan ngo-sute yang kami tugaskan memata-matai mereka,
kami juga tidak bisa menduga apa yang sebenarnya terjadi di
tempat tersebut beberapa saat yang lalu.”
"Dengan perasaan lesu kami meninggalkan tempat itu.
Tugas yang dibebankan di atas pundak kami ternyata telah
gagal sama sekali. Keluarga Chin telah musnah seluruhnya
dan kami belum bisa mendapatkan benda yang disimpannya
itu. Maka kami bermaksud menghadap Ong-ya untuk
menerima hukuman............" laki laki berbaju putih itu berkata
lemah.
"Benar ! Kami bermaksud menghadap Ong-ya ketika tiba
tiba muncul ngo-sute di hadapan kami.” Jeng bin Siang-kwi
mengiyakan kata-kata yang diucapkan temannya tersebut.
"Ngo-sute lancang menceritakan semua pengalamannya
setelah pergi meninggalkan kami. Dia berpendapat bahwa
untuk memperoleh cap kerajaan itu kita harus bertindak lebih
cepat, sebab sekarang terbukti bahwa tidak hanya kita saja
yang menginginkan benda tersebut. Maka tanpa menanti
persetujuan dari kami dia telah bertindak lebih lanjut dengan
membuat surat ancaman kepada keluarga Chin. Dan untuk
lebih mengokohkan serta lebih menguatkan bahwa surat
ancaman itu tidak main-main ngo-sute telah membunuh
semua wanita dan anak-anak dengan racun kelabangnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Nah, pada saat dia menantikan hasil dari surat ancamannya
itulah dia melihat Yap Tai-Ciangkun bersama dua orang
rekannya melewati hutan tersebut ............"
"Haha ........ melihat bekas teman akrabnya lewat, ngo-sute
kontan mengikutinya," Tee-tok ci meneruskan sambil tertawa.
"Benar teman akrabnya?" Ong-ya itu menegaskan.
"Benar, Ong-ya! Dahulu, ketika masih berpetualang di
dalam dunia persilatan Yap Tai-ciangkun memang pernah
bersahabat dan merantau bersama-sama dengan ngo-sute
kami. Tapi persahabatan itu akhirnya putus akibat ulah ngosute
yang suka membunuh orang!"
"Ah ........ lalu apa yang terjadi setelah Ceng-ya kang Loheng
mengikuti Yap Tai-ciangkun ............?” orang
berkerudung itu menjadi tidak sabar.
Laki-laki berbaju putih itu cepat-cepat menyelesaikan
laporannya.
"Akhirnya Ceng-ya-kang Lo heng kehilangan jejak mereka.
Begitu pula ketika ia kembali ke tempat semula, keluarga Chin
telah pergi dari tempat itu! Ceng-ya-kang Lo-heng bergegas
pergi menuju ke tepi Sungai Huang-ho, sesuai dengan isi dan
surat ancaman yang telah dibuatnya sendiri. Tapi sampai di
tempat tujuan Ceng-ya-kang Lo-heng menjadi terkejut sekali.
Ternyata dugaannya salah. Ternyata Ceng-ya-kang Lo-heng
tidak menjumpai keluarga Chin yang datang ke tempat itu
untuk memenuhi surat ancamannya, tapi Ceng-ya-kang Loheng
justru bertemu dengan Hong-gi hiap Souw Thian Hai
(Pendekar Gila) yang berada di sana !"
"Hong gi-Hiap Souw Thian Hai juga berkeliaran di daerah
itu ?" Ong-ya itu bertanya dengan suara tinggi.
Orang-orang yang berkumpul di dalam ruangan itu
semuanya memandang ke arah pimpinan mereka dengan
perasaan ragu-ragu. Ragu-ragu akan kemampuan pemimpin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mereka itu apabila akan berhadapan dengan Hong-gi-hiap
Souw Thian Hai. Soalnya nama itu memang sangat terkenal, ia
menjulang tinggi di dunia persilatan. Apalagi sejak pendekar
itu dapat membunuh Bit-Bo-Ong (Raja Kelelawar) pada lima
tahun yang lalu. Padahal Bit-Bo-Ong tersebut adalah seorang
raja di raja dari kaum sesat! Kesaktiannya tak terlawan oleh
pendekar manapun, termasuk pula pendekar-pendekar
angkatan tua yang biasanya sangat disegani orang.
"Menurut penuturan Ceng-ya-kang Lo-heng memang benar
demikian.......... " laki-laki berbaju putih itu menjawab
pertanyaan pemimpinnya.
"Lalu bagaimana kelanjutan dan perjumpaan mereka yang
tak disangka sangka itu ? Apakah mereka berdua lalu
bertempur?"
"Ah, tidak Ong-ya !" Jeng-bin Siang-kwi cepat menyela,
“Ngo-sute adalah orang yang sangat cerdik. Biarpun ia tidak
takut. Tapi ia juga merasa bahwa dirinya bukanlah tandingan
pendekar besar tersebut. Oleh karena itu ngo-sute lalu segera
menghindar dari tempat tersebut dan mencari buronannya di
tempat lain. Hampir seharian penuh ngo-sute berputar-putar
di hutan yang lebat itu, tapi tak seorangpun dapat
dijumpainya. Akhirnya menjadi putus asa dan kembali ke kota
ini seperti kami. Sehingga bertemu dengan kami di tengah
jalan."
“ .......... dan surat tadi ........... saudara-saudara sekalian,
telah menerima surat pemberitahuan dari seseorang yang tak
mau dikenal wajahnya, bukan ? Isi surat tersebut mengatakan
bahwa Chin Yang Kun, satu-satunya ahli waris dari keluarga
Chin yang masih hidup, saat itu sedang menuju ke kota
bersama-sama dengan salah seorang pengawalnya yang
bernama Hek-mou-sai. Dalam surat itu juga dikatakan bahwa
Chin Yang Kun dalam keadaan terluka parah dan Saudarasaudara
dipersilakan untuk mempersiapkan sebuah jebakan
guna menangkapnya. Bukankah begitu?” orang berkerudung
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu melanjutkan sendiri kisah yang diceritakan oleh anak
buahnya tersebut.
"Hei ?” semuanya saling berpandangan.
"Ong-ya sudah tahu? Oh, surat itu tentu Ong-ya sendiri
yang mengirimkan," Tee-tok ci berseru gembira. "Jadi orang
yang tak mau dikenal tersebut adalah Ong-ya sendiri !”
“Bukan ! Tee-tok ci Lo-heng salah menduga kali ini. Bukan
aku tapi dia adalah salah seorang anggauta kita yang baru.
Baru dalam arti jika dipertemukan dengan saudara semua
tetapi sebenarnya dia justru merupakan anggauta
perkumpulan kita yang paling lama ........... !"
"Eh! Siapakah dia, Ong-ya?” orang berbaju putih yang
merasa paling lama menjadi pembantu Ong-ya tersebut
mengerutkan dahinya.
“Kwa-heng harap bersabar dulu! Pada saatnya nanti, yaitu
setelah tugas rahasia yang dilakukannya telah selesai, dia
tentu akan datang dengan sendirinya di hadapan saudarasaudara
untuk memperkenalkan dirinya. Nah, sekarang
marilah kita membicarakan persoalan kita yang lain...........”
“Ong-ya, maafkan kami. Ternyata, kami semua benarbenar
orang yang tidak berguna, sehingga selalu membuat
kekecewaan di hati Ong-ya. Tugas yang demikian ringannya
ternyata tidak dapat kami selesaikan dengan baik," orang
berbaju putih itu menyatakan penyesalannya.
“Benar, Ong-ya! Seperti niat kami semula, kami siap untuk
diberi hukuman," Jeng-bin Siang-kwi ikut pula menyatakan
perasaan menyesalnya.
“Dan kami juga minta maaf atas kelakuan ngo-sute kami
yang teledor dan .......... " Tee-tok ci menundukkan kepalanya.
"Ong-ya, maafkan siauw-te terlambat datang!" Tiba-tiba
terdengar suara Ceng-ya-kang dari balik pintu. “Tee-tok-ci
suheng, biarlah aku sendiri yang menerima hukuman itu!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pintu terbuka dan muncullah seorang laki-laki gemuk
gundul memasuki ruangan itu. la memakai pakaian berwarna
hijau tua, sehingga sangat sesuai dengan warna kulitnya yang
putih pucat kehijau-hijauan itu. Dia mengangguk ke arah lakilaki
berbaju putih sebentar lalu maju ke depan untuk
menghadap orang berkerudung tersebut.
"Ong-ya. siauwte datang terlambat sebab ..........”
"Sudahlah. Ceng-ya-kang Lo-heng. Lo-heng tak perlu
meminta maaf kepadaku. Jika Lo heng sampai terlambat
datang, itu tentu disebabkan oleh sesuatu hal yang sangat
penting. Nah, silakan Lo-heng mengatakannya kepadaku !”
Ong-ya itu cepat memotong perkataan Ceng-ya-Kang.
“Terima kasih, Ong-ya. Sebenarnyalah bahwa
keterlambatan siauw-te ini memang disebabkan oleh sesuatu
hal yang amat penting bagi kita semua.” Orang gundul itu
menerangkan. "Begini, Ong-ya, Ketika sore tadi siauw-te
keluar dari penginapan dan bermaksud datang ke sini, secara
kebetulan siauw-te melihat Yap Tai-ciangkun lagi di antara
kerumunan orang yang sedang bergembira di jalan.”
sambungnya sambil melihat ke arah Jeng-bin Siang-kwi.
"Kami telah melaporkan semua keterangan yang telah kau
ceritakan kepada kami itu di hadapan Ong-ya." kedua wanita
kembar itu memberi keterangan.
“Biarpun dia menyamar sebagai perajurit peronda siauw-te
tetap mengenalnya. Seperti juga ketika siauw-te melihat dia di
hutan itu, kali ini siauw-te juga mengikutinya dari belakang. Di
setiap tempat dia menemui orang-orangnya yang menyamar
di antara penduduk. Berkali-kali ia berbuat demikian sehingga
akhirnya siauw-te merasa kuatir terhadap keselamatan
saudara-saudara kita. Orang-orangnya Yap Tai-ciangkun
sangat banyak dan dipasang di mana-mana, seakan-akan kota
ini sudah diawasinya dengan ketat. Ong-ya, ketika Yap Taiciangkun
menyelinap melalui sebuah gang kecil dan masuk ke
gedung kepala daerah dari pintu belakang, siauw-te tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berani terlalu mendekatinya. Setelah beberapa saat kemudian,
siauw-te baru berani mendekat dan rnengintip gedung itu.
Siauwte melihat di halaman belakang berkumpul kira-kira
tigapuluh orang perajurit berpakaian biasa seperti kita, tetapi
dilihat sepintas lalu bisa diduga bahwa mereka rata-rata
adalah seorang jago silat kelas satu! Ong-ya, siauw-te menjadi
sangat khawatir sekali ! Jangan-jangan Kaisar Han telah
mencium jejak kita dan kini kaisar mengirim Yap Tai-ciangkun
bersama perajurit-perajurit pilihannya ke sini untuk
menangkap kita. Oleh karena itu siauw-te lekas-lekas kembali
ke sini untuk melaporkan hal itu. " Ceng-Ya-kang menutup
laporannya.
Suasana ruangan itu menjadi berisik. Semuanya
terpengaruh oleh kekhawatiran itu. Masing-masing
menyatakan pendapatnya. Orang berkerudung itu akhirnya
mengangkat lengannya ke atas dan menenangkan mereka.
“Saudara-saudara sekalian, harap jangan tergesa-gesa
mengambil keputusan dahulu! Kita bicarakan dan kita
rundingkan laporan Ceng-Ya-kang Lo-Heng itu secara matang
terlebih dahulu, baru kita menentukan apa yang sebaiknya
kita lakukan nanti. Kemungkinan apa yang dikhawatirkan oleh
Ceng-ya-Kang Lo-Heng tersebut benar juga tetapi mungkin
juga tidak benar! Seperti yang saya katakan sejak tadi, bahwa
Kaisar Han saat ini berada di kota ini tanpa diketahui siapapun
juga. Artinya, kaisar itu telah datang ke kota Tie-Kwan ini
secara rahasia. Dan apabila hal itu memang benar, maka kita
tak usah heran kalau penjagaan di kota ini menjadi diperketat.
Tapi untuk mendapatkan keterangan yang lebih jelas, marilah
kita tunggu kembalinya Si Ciangkun dari rumah kepala daerah
..........!”
Belum juga kata-kata yang diucapkan oleh Ong-ya itu
selesai, tiba-tiba terdengar ramai suara langkah kaki di luar.
"Ong-ya ! Ong-ya!" dari luar pintu menerobos seorang
perwira muda dengan terburu-buru, sehingga semua orang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang berada di dalam ruangan itu menjadi kaget sekali.
Apalagi ketika mereka tahu bahwa perwira muda tersebut
adalah pengawal kepercayaan dari Si-Ciangkun !
"Liok Cian-bu (kapten Liok), ada apa?” Orang berbaju putih
itu cepat menahannya.
“Kwa-Sicu ........... ah Ong-Ya! Anu ........ anu .........
semuanya lekaslah pergi dari sini! Si ........ Si Ciangkun telah
ditangkap oleh Yap Tai-Ciangkun atas perintah dari Kaisar!”
teriaknya.
Suasana di dalam ruangan itu menjadi ribut seketika !
“Saudara-saudara sekalian, dengarlah ........!” orang
berkerudung itu membentak. Tidak begitu keras tetapi
semuanya menjadi terdiam pula seketika. Rasa-rasanya
seperti ada halilintar yang meletus di dalam gendang telinga
mereka! Semuanya berdiri diam termangu-mangu, heran,
kagum, takut dan juga sedikit harapan melihat kemampuan
Ong-ya mereka yang hebat itu.
"Saudara semua harap tenang ! Jangan terburu nafsu
untuk lekas-lekas pergi dari tempat ini karena dengan terburu
nafsu dan tanpa mampergunakan otak, lawan dengan mudah
akan membunuhi atau menangkap kita ! marilah kita atur dulu
cara-cara kita untuk meloloskan diri !”
Benarlah, melihat ketenangan pemimpin mereka itu,
semuanya menjadi terpengaruh pula. Mereka lalu bersiap-siap
membenahi pakaian serta senjata masing-masing.
"Pertama-tama, silakan saudara menutup wajah masingmasing
dengan saputangan ! Setelah itu kita membagi diri kita
menjadi empat kelompok. Tiap kelompok masing-masing akan
dipimpin oleh Kwa-heng Tee-tok ci, Jeng-bin Siang-kwi dan
Ceng-ya-kang. Masing-masing kelompok nanti harus berlari
menuju ke arah yang berlainan, yaitu utara, selatan, timur dan
barat ! Jangan berpencar dari kelompok masing-masing dan
jangan bertempur sendiri-sendiri ! Usahakanlah mendobrak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
setiap penghalang secara bersama-sama dalam kelompok !
Musuh tentu tidak akan mengira dan dengan mudah kepungan
akan bobol ! Kemudian berusahalah berlari ke arah
kerumunan penduduk yang sedang berpesta ria di jalanan,
lalu berbaurlah bersama mereka ! Berbuatlah agar penduduk
itu menjadi panik dan ketakutan, sehingga suasana akan
menjadi kacau-balau!” Ong-ya itu mengambil napas sejenak.
“Kulihat di muka dan dibelakang gedung ini adalah jalan
besar. Disana tentu banyak penduduk yang bersukaria,
sehingga dengan cepat kita akan dapat membaurkan diri
dengan mereka. Tetapi pintu depan dan pintu belakang tentu
akan dijaga dengan lebih kuat pula sedangkan di kanan kiri
gedung ini merupakan perumahan penduduk. Selain
medannya sukar, juga banyak waktu untuk mencapai jalan
raya. Maka kelompok yang berjalan ke arah ini harus
mempunyai ginkang dengan baik. Masing-masing pemimpin
kelompok harus bertanggungjawab terhadap anggauta
kelompoknya. Dia harus membantu sekuat tenaga agar semua
anggauta kelompoknya dapat meloloskan diri semuanya ! Nah,
sekarang silakan memecah diri menjadi empat kelompok !
Cepat ! Ingat, yang merasa mempunyai ginkang lebih baik
silakan berkumpul di belakang Tee tok ci dan Jeng-Bin Siang-
Kwi untuk berlari ke arah perumahan penduduk!” kembali
Ong-ya itu menghela sebentar. Lalu seperti layaknya seorang
Jenderal perang yang berpengalaman ia kembali mengatur
anak buahnya.
“Liok Cian-bu! Saudara masih sangat diperlukan bagi kita
semua, terutama setelah Si Ciangkun yang menjadi andalan
kita disini telah ditangkap kaisar. Oleh karena itu untuk
mengelabui mereka, biarlah saudara saya lukai sedikit dan
kami masukkan di ruang penjara belakang !”
Untuk beberapa saat orang-orang yang berada di dalam
ruangan itu menjadi kagum atas siasat yang telah diberikan
oleh Ong-ya mereka. Semula mereka memang hanya
mengagumi ketokohan dan kepemimpinannya, sehingga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
orang-orang aneh seperti Tee-tok-ci dan adik-adik
seperguruannya dan Ban kwi-to itu menjadi tunduk serta mau
diajak bekerjasama. Kini melihat pemimpin mereka itu juga
mahir ilmu Siasat perang pula, otomatis mereka semakin
menjadi kagum dan takluk lahir batin ! Maka dengan hati yang
semakin santai mereka melaksanakan semua perintah
tersebut.
Dan mulailah mereka satu-persatu keluar dari ruangan itu.
Mereka mengendap-endap melalui lorong-lorong kamar, yang
berbelit-belit menuju ke arah masing-masing. Sementara itu
Ong-ya tersebut membawa Liok Cian-bu ke penjara belakang
setelah pundaknya ia tusuk dengan jari-jarinya yang ampuh !
Benarlah ! Seperti yang telah diduga oleh orang
berkerudung tadi, gedung itu telah dikepung oleh pasukan Yap
Tai-ciangkun. Mereka telah berjejer-jejer dengan garangnya di
sekeliling rumah tersebut.
Agaknya Yap-Tai ciangkun juga telah mempersiapkan
pasukannya agar pertempuran itu tidak merembet ke tempat
lain. Beberapa orang prajurit tampak memegang obor besar
untuk menerangkan halaman yang amat luas. Yap Taiciangkun
berdiri tampak berada di halaman depan, duduk
dengan gagah diatas punggung kudanya. Di bawahnya berdiri
seorang prajurit yang berdiri tenang dengan pedang telanjang
di tangannya.
Orang she Kwa yang kebetulan membawa kelompoknya ke
arah depan tampak mempersiapkan diri untuk menerjang ke
halaman. Kelompok mereka hanya memerlukan jarak lima
puluh meter untuk mencapai jalan raya. Sebuah jarak yang
tidak begitu jauh tetapi harus mereka lalui dengan taruhan
nyawa.
Di bagian belakang, kelompok Ceng ya kang telah dicegat
lawan di taman bunga. Mereka harus melawan kira-kira
tigapuluh orang perajurit yang dipimpin oleh seorang perwira
bergolok besar. Ceng-Ya-kang membawa teman-temannya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bertempur sembari berlari-lari mengelilingi taman. Mereka
menerobos rumpun bunga, berputar-putar di pinggir kolam
dan bersembunyi di dalam gardu-gardu yang banyak terdapat
di sana, sehingga perajurit-prajurit itu menjadi kalang kabut.
Apalagi lampu minyak yang ada di di tempat tersebut terasa
kurang sekali daya sinarnya. Maka dalam waktu yang tidak
terlalu lama mereka segera dapat mencapai pintu belakang.
Tinggal selangkah lagi mereka akan dapat lolos dari tempat
itu. Di Luar Tembok telah terdengar sorak-sorak penduduk
yang merayakan hari besar tersebut.
Tee tok ci yang memimpin teman-temannya menuju ke
arah barat tampak membuat ulah yang aneh-aneh untuk
menolong anggota kelompok. Sekali lagi ia mendorongkan
pasukan tikusnya sehingga di dalam keremangan cahaya obor
pihak lawan dibuat kalang kabut oleh teman-teman yang
merayap ke dalam baju-baju perang mereka. Tentu saja
kesempatan itu segera dipergunakan oleh teman-teman Teetok-
ci untuk meloloskan diri. Mereka meloncati tembok
halaman yang tidak begitu tinggi dan menyusup di antara
perumahan penduduk yang padat.
Pertempuran di halaman sebelah Timur tampak lebih seru
dan sadis, lebih kurang tigapuluh orang perajurit yang berjaga
di sana tampak memperlengkapi diri mereka dengan busur
dan anak panah. Begitu Jeng-bin Siang-kwi memimpin temantemannya
turun ke halaman, mereka disambut dengan hujan
anak panah. Terpaksa kedua orang kembar itu memerintahkan
teman-temannya untuk berlindung kembali kedalam gedung.
"Gila! harus melayani anak-anak panah mereka kita bisa
ketinggalan oleh teman-teman kita yang lain .......... “ Jeng-
Bin Sam-nio berkata pada adiknya Jeng-bin Su-nio.“ Lalu apa
akal kita?"
“Cici, kita terpaksa mempergunakan bedak-bedak beracun
kita. Kalian tidak, kita akan terlalu banyak kehilangan waktu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Baiklah, apa boleh buat. Nah, Saudara semua kumpulkan
anak panah yang berada di luar itu dan berikan kepada kami!”
Perintah Jeng-Bin-Sam-nio kepada yang lain.
“Cici akan mengikatkan sebuah kembang api pada setiap
kepala anak panah ini, bukan?” tanya Jeng Bin Su-nio setelah
mereka dapat mengumpulkan puluhan anak panah.
“Benar! Nah, kau bantulah aku untuk memegangnya!”
Sepasang saudara kembar itu kemudian sibuk
mengeluarkan seikat kembang api serta memasangnya
sekalian.
“Kita pancing sekali lagi agar mereka melepaskan anak
panah. Dan sementara mereka belum sempat memasang anak
panah yang lain, kita harus cepat-cepat melemparkan anak
panah itu ke tempat mereka. Mengerti?” Jeng bin Su-nio
memberitahu teman-temannya. Lalu dengan cekatan ia
membagi anak panah tersebut dengan adil.
Mereka meloncat ke halaman bersama-sama begitu hujan
anak panah berhamburan di udara mereka segera berlindung
kembali. Tetapi begitu semua anak panah itu mengenai
tembok gedung, mereka serentak keluar untuk melemparkan
anak panah yang mereka bawa.
Biarpun tanpa memakai busur, tetapi oleh karena mereka
itu rata-rata adalah seorang ahli silat berkepandaian tinggi,
maka daya luncur daripada anak panah tersebut justru lebih
pesat daripada bidikan para prajurit itu. Suaranya berdesing
memenuhi udara, sehingga mengagetkan para prajurit itu
sendiri. Di antara berkelipnya bintang di langit mereka melihat
berpuluh puluh batang anak panah melesat ke arah mereka.
Para perajurit itu menjadi panik.
"Mundur! Cepat........!” komandan mereka berteriak.
Terlambat. Mereka tidak menyangka sejak semula bahwa
mereka akan dibalas dengan batang anak panah mereka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sendiri, sehingga keadaan malah membuat mereka tercenung
tak tahu apa yang harus mereka perbuat. Maka bersamaan
dengan jeritan beberapa orang perajurit yang tertembus
panah, Jeng-bin Siang Kwi meloncat ke depan bersama
teman-temannya untuk melewati penjagaan yang kacau balau
itu.
Prajurit-prajurit yang lain yang terhindar dari ujung anak
panah bergegas membidikkan panahnya ke arah lawan yang
berlari mendatangi. Tetapi belum juga busur itu terpentang
lebar, mereka dikagetkan sekali lagi dengan suara letusan
beruntun di sekitar mereka berdiri, lalu tampak sinar
gemerlapan memancar ke sana kemari di sela-sela tubuh
mereka. Bau belerang bercampur dengan wangi yang sangat
lembut menyelimuti udara dimana mereka berdiri. Dan
belasan perajurit tampak roboh pula ke tanah, menimpa
teman-teman mereka yang terkena anak panah.
“Awas! Gas beracun ! Jangan bernapas dulu!" komandan
perajurit itu berteriak memperingatkan teman-temannya.
Tetapi sekali lagi mereka telah terlambat. Lebih dari
separuh perajurit itu sudah terlanjur menghisapnya, sehingga
tak lama kemudian merekapun ikut roboh ke tanah. Suasana
benar-benar menjadi kacau balau ! Beberapa orang perajurit
yang masih dapat bertahan terhadap gas beracun itupun
ternyata tidak dapat menyelamatkan diri pula. Lawan yang
telah sampai di tempat itu segera membantai mereka dengan
senjata yang dibawanya.
Keributan yang terjadi di halaman timur tersebut terdengar
pula oleh orang berbaju putih dan rombongannya. Teriakan
kemenangan dari kawan-kawan mereka itu ternyata
menggugah semangat mereka.
"Kwa-sicu, kenapa ragu-ragu ? Marilah kita menerobos
kepungan itu, jangan sampai kita menjadi orang terakhir yang
meninggalkan gedung ini,” salah seorang kawannya berkata
dengan tak sabar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Baiklah! Tapi saudara-saudara harap berhati-hati !
Usahakan jangan sampai bentrok dengan prajurit yang berdiri
di samping kuda Yap Tai-Ciangkun itu !” pesan orang she Kwa
kepada teman-temannya. Dan ketika semuanya memandang
kepadanya dengan pandang mata bertanya- tanya, Orang
berbaju putih itu segera menerangkan. "Saya curiga kepada
perajurit itu. Serasa pernah aku melihatnya, tapi sayang aku
lupa mengingatnya. Tapi yang terang dia tentu bukan orang
sembarangan ! Dialah sebetulnya yang lebih berbahaya dari
pada Yap Tai-ciangkun sendiri. Hehh, marilah kita keluar
sekarang !”
Mereka menghambur keluar pintu. Dengan senjata yang
teracung ke depan mereka berlari melintasi halaman, ke arah
lawan yang berlari menyongsong mereka pula. Para perajurit
tersebut langsung mengepung ketujuh orang yang bermaksud
melarikan diri itu. Denting suara senjata mereka yang beradu
sama lain terdengar berkumandang memenuhi halaman yang
luas itu.
Walaupun mereka itu adalah perajurit-prajurit yang sangat
terlatih serta pandai silat pula, tetapi menghadapi ketujuh
orang kang-ouw yang rata-rata berkepandaian tinggi itu
akhirnya menjadi kocar-kacir juga. Kepungan itu makin lama
semakin melebar.
“'Kepung dengan tombak !” tiba-tiba Yap Tai ciangkun
berteriak dari luar kepungan. “Desak mereka kembali !"
Duapuluh orang perajurit bertombak berlari ke depan,
menggantikan teman-teman mereka. Dengan mata tombak
yang teracung ke depan mereka mendesak ketujuh orang itu
kembali ke tempat semula. Orang berbaju putih dan temantemannya
berusaha menggempur bersama-sama, tetapi
mereka menghadapi puluhan ujung tombak yang
menahannya. Sehingga akhirnya mereka sendirilah yang kini
terombang-ambing di ujung tombak lawan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Orang berbaju putih itu menggeram, dia bersama
rombongannya kini berada dalam bahaya. Beberapa kali ia
harus menyelamatkan teman-temannya yang tergencet oleh
kepungan lawan beberapa kali pula ia harus mengeluarkan
jurus simpanan dari perguruannya.
"Ilmu silat yang hebat !”' Lagi-lagi terdengar suara dari luar
kepungan.
Ketika mendadak salah seorang kawannya jatuh tertusuk
tombak lawan, orang berbaju putih tak bisa mengendalikan
diri lagi. Apalagi kawan yang roboh itu justru kawan yang
bersemangat tadi. Maka dari itu, sambil berteriak keras orang
itu meloncat tinggi-tinggi ke udara. Lalu entah dari mana ia
mengambilnya tapi tahu-tahu pada dua belah telapak
tangannya telah tergenggam sebongkok hio (dupa) yang telah
menyala di setiap ujungnya. Dan ketika kedua belah tangan
itu terayun ke bawah, maka seperti juga derasnya tetes hujan
yang menimpa bumi, batang-batang hio itupun tampak
berhamburan ke bawah menimpa kepala para pengepungnya.
Terdengar jeritan-jeritan kesakitan ketika belasan orang
yang tertembus batang hio itu roboh berkelojotan di tanah.
Otomatis kepungan itu menjadi berantakan dengan sendirinya.
Dan kesempatan ini langsung di pergunakan oleh orang
berbaju putih bersama teman-temannya untuk meloloskan
diri.
"Berhenti !"
Terdengar suara geram di belakangnya ketika orang
berbaju putih itu menunggu temannya yang terakhir
melompati pagar tembok. Belum sempat pula orang berbaju
putih itu menoleh ke arah musuhnya, serangkum angin
pukulan yang sangat kuat telah menerjang punggungnya. Tak
ada kesempatan untuk mengelak lagi. Maka sambil
membalikkan badan, orang berbaju putih itu mengerahkan
tenaga dalamnya ke arah lengan untuk membentur kekuatan
lawan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dukkkk !
Dua buah tenaga dalam yang berlainan sifatnya telah saling
membentur dengan hebatnya. Orang berbaju putih itu jatuh
terduduk di tanah, sementara penyerangnya yang ternyata
adalah Yap Tai-ciangkun sendiri itu terlempar jauh menimpa
anak buahnya. Keduanya cepat berdiri kembali dan masingmasing
mengusap darah yang menetes dan sudut bibirnya.
Ternyata dalam benturan keduanya sama-sama terluka,
biarpun agaknya luka yang di derita oleh Yap Tai-ciangkun
sedikit lebih parah daripada luka lawannya. Hal itu dapat
menjadi bukti bahwa Iwee-kang orang berbaju putih tersebut
sedikit lebih kuat daripada tenaga dalam Yap Tai-ciangkun.
Sekilas orang berbaju putih itu menoleh ke arah pagar
tembok yang berada di dekatnya. Tempat itu telah kosong.
Orang terakhir dari anggauta kelompoknya telah berhasil
meloncat keluar pula kini hanya tinggal dirinya sendiri saja
yang harus berusaha untuk meloloskan diri dan tempat itu.
Untuk sesaat tampak hatinya menjadi lega. Tetapi begitu
melihat Yap Tai-ciangkun dan para perajuritnya telah
mengepung dirinya kembali, ia menjadi marah dan
mengumpat-umpat di dalam hati.
Apa boleh buat, orang itu mengeluh di dalam hatinya.
Darah telah terlanjur tumpah membasahi tangan mereka, tak
mungkin mereka akan berdamai kembali. Satu satunya
kesempatan hanyalah bertempur mati-matian melawan
mereka.
"Saudara, kami tahu bahwa saudara tak mungkin mau
menyerah begitu saja kepada kami. Saudara tentu akan
melawan sampai titik darah penghabisan sebagai seorang lakilaki
sejati. Nah, marilah kita mulai !” Yap Tai ciangkun
menantang.
Ternyata panglima yang bernama besar itu tidak sungkansungkan
lagi. Pedangnya terjulur lurus kearah dada lawan
dalam jurus Wan-Ong Kai-ko (Raja Kera mempersembahkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Buah). Jurus ini sebenarnya adalah sebuah jurus yang
sederhana, tetapi dimainkan oleh Yap Tai-ciangkun ternyata
menjadi sangat ampuh dan hebat! Ujung Pedang itu tampak
bergetar menjadi beberapa buah banyaknya, sehingga
sepintas lalu sangat sukar untuk menduga arah tujuannya.
Tapi orang berbaju putih itu juga bukan orang
sembarangan pula. Hanya dengan bergeser sedikit ke samping
ternyata serangan itu telah hilang keampuhannya. Setelah itu
tangannya melolos ikat pinggang yang dikenakannya dan
diayun ke depan dengan keras. Tapi ternyata panglima itu
sangat cerdik, bukannya mundur tapi justru melingkar maju
malah. Sehingga serangan orang berbaju putih itu menjadi
sia-sia.
Mereka berdiri berhadapan kembali. Sebentar kemudian
kedua orang itu telah terlihat dalam pertempuran yang sangat
seru. Mereka sama-sama muda, sama-sama berkepandaian
tinggi dan sama-sama bersemangat besar. Sepuluh jurus,
duapuluh jurus telah berlalu tapi mereka masih tetap
seimbang. Masing-masing masih menyimpan ilmu andalan
mereka. Meskipun begitu, para prajurit yang berada di sekitar
mereka telah dibuat kagum oleh kegesitan mereka.
Akhirnya orang berbaju putih itu menjadi tidak sabar lagi.
Dia telah kehilangan banyak waktu dan hal ini tidak boleh
berlarut-larut. Mungkin kawan-kawannya dari kelompok lain
telah dapat meloloskan diri semuanya. Oleh karena itu dengan
berseru keras ia mengubah cara bertempurnya.
Para prajurit yang mengepung tempat itu tiba-tiba
merasakan sesuatu yang asing dan aneh. Hawa malam itu
tiba-tiba saja seperti bertambah dingin dan semakin dingin,
sehingga prajurit yang berdiri di deret paling depan tampak
menggigil kedinginan. Langit yang semula tampak bersih
bertaburkan bintang itu lama kelamaan seperti berubah
menjadi kelam dan semakin kelam juga, sehingga akhirnya
udara di sekitar merekapun rasa-rasanya berubah menjadi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
gelap pula. Suara ribut dan ramai yang tadi terdengar oleh
telinga mereka tiba-tiba saja juga lenyap, sehingga suasana di
sekitar mereka kini seperti berubah pula menjadi sunyi sepi!
Tapi suasana itu belum begitu menggetarkan perasaan
mereka. Yang lebih menggetarkan hati mereka justru
perubahan yang terjadi di arena pertempuran di depan
mereka. Tampak oleh mereka semua, suatu pemandangan
yang aneh tapi juga terasa mengerikan! Orang berbaju putih
itu tampak bersilat dengan cara yang sangat aneh dan
mengerikan. Belum pernah selama hidup mereka menyaksikan
sebuah ilmu silat sedemikian asing dan aneh seperti itu.
Biasanya gerakan kaki dan tangan merupakan unsur yang
terpenting serta amat dibutuhkan di dalam setiap ilmu silat.
Tak sebuah ilmu silatpun di dunia ini yang tak
mempergunakan tangan serta kaki sebagai gerakan pokoknya.
Tetapi sungguh lain halnya dengan ilmu silat yang kini sedang
mereka saksikan!
Orang berbaju putih itu bersilat dengan cara yang amat
mustahil. Kaki dan tangannya hampir tak pernah
dipergunakan. Tubuh berdiri tegak dengan kaki dan tulang
punggung yang lurus kaku. Kedua belah lengannya selalu
tampak bersilang di depan dadanya. Sehingga sepintas lalu
sikapnya itu tak ubahnya dengan sikap sesosok mayat yang
telah siap untuk dikebumikan.
Tidak hanya bentuk dan sikapnya yang aneh tapi ternyata
gerakan yang dilakukannyapun sangat aneh pula. Badan yang
lurus kaku seperti mayat itu selalu berdiri bergoyang-goyang
pada ujung jari kakinya. Bergoyang-goyang ke kanan dan ke
kiri, ke muka dan ke belakang, seperti sebatang tonggak yang
mau roboh. Kadang-kadang berloncatan seperti sesosok
mayat yang berjalan.
Anehnya tak sebuahpun serangan yang dilontarkan oleh
Yap Tai ciangkun dapat mengenai sasarannya, biarpun
panglima itu telah mengerahkan seluruh kekuatannya pula.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Malah beberapa saat kemudian ketika mayat itu sudah mulai
melakukan serangan balasan, tampak Yap Tai ciangkun mulai
mengalami kerepotan. Beberapa kali panglima itu harus
berloncatan kesana kemari untuk menghindari serangan
lawannya.
“Ilmu hitam…..heh….ilmu apakah ini?” serunya.
“Inilah ilmu silat Mayat Mabuk yang baru saja selesai
kupelajari. Beruntunglah engkau dapat melihatnya,” orang
berbaju putih itu menjawab.
“sengaja ilmu ini kukeluarkan di hadapanmu karena dengan
demikian tak seorangpun dapat mengenali diriku. Lain halnya
jika aku harus mengeluarkan ilmu perguruanku yang lain…..”
para prajurit yang telah dicekam kengerian itu hampir saja
menjerit ketika sekali lagi tampak oleh mereka serangan
mayat itu hampir saja mengenai dada panglima mereka.
Terlihat oleh mereka serpihan baju perang dan kain baju
panglima mereka bertebaran tertiup angin. Ternyata kedua
tangan mayat itu berhasil menerobos pertahanan Yap Tai
ciangkun dan hampir saja melukainya.
Sedang panglima itu seperti terkejut melihat kehebatan
ilmu silat lawan. Begitu pula seluruh prajurit yang berada di
sekitar mereka. Mereka seperti tertegun memandang ke arah
panglima mereka yang nyaris terkena serangan lawannya. Dan
waktu yang hanya sesaat itu ternyata tidak dilewatkan begitu
saja oleh mayat tersebut! Dengan teriakan yang mendirikan
bulu roma, mayat tersebut meluncur menerjang kepungan
para prajurit.
Bagaikan sebuah bendungan yang dihantam oleh
gelundungan batru besar, kepungan itu menjadi jebol dan
roboh berantakan. Tapi sebelum mayat itu sempat mencapai
tembok, tampak seorang prajurit meluncur pula dengan
tangkas menghadangnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Jangan tergesa-gesa melarikan diri! Tunggu dulu,
pertempuran belum selesai ! Yap Tai-ciangkun juga belum
mengeluarkan ilmu simpanannya !" teriak perajurit itu sambil
memukul ke depan. Terdengar suara gemuruh seperti badai
ketika pukulan itu melanda ke arah mayat di depannya.
Sejak semula orang berbaju putih itu memang selalu
berjaga-jaga terhadap perajurit yang dicurigainya itu. Dan kini
ternyata dugaannya memang benar. Dari suaranya yang
bergemuruh itu diduga bahwa pukulan tersebut tentu
mengandung tenaga dalam yang telah sampai pada
puncaknya. Ia bermaksud meloncat mundur untuk
menghindari pukulan itu. Tetapi bila diingat bahwa dengan
berbuat begitu sama saja dengan menyerahkan dirinya
kembali untuk dikepung para perajurit itu, ia menjadi berubah
pikiran! Apa boleh buat, akhirnya ia toh harus
mempergunakan salah satu dari ilmu simpanannya. Kalau
tidak ia akan mati oleh pukulan lawan secara sia-sia.
Hanya beberapa detik saja orang berbaju putih telah
mampu menghimpun tenaga sakti Hio-Yen Sin-kang (Tenaga
Sakti Asap Hio) dari perguruannya! Lalu dengan disertai
bentakan yang keras tangannya terulur ke depan untuk
memapaki pukulan lawan yang menderu-deru itu. Bau asap
hio tersebar dari tubuhnya.
Bhlaaaaar !
Bagaikan layang-layang putus tubuh orang berbaju putih
itu terpental balik dengan luka dalam yang cukup parah. Tapi
sebelum tubuhnya menyentuh tanah, tiba-tiba terasa
tubuhnya telah disanggah oleh sepasang lengan yang sangat
kuat.
“Kwa-heng, jangan terlalu sembrono! Belum saatnya
saudara menandingi pukulan Thian-Lui-gong-ciang (Pukulan
Tangan Kosong Halilintar) orang itu. Marilah kau pegang
tanganku, kita keluar dari tempat ini!” terdengar suara
pemimpinnya dengan jelas.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Terima kasih, Ong-ya !”
Dan suatu pemandangan yang menakjubkan kembali
tampak di depan mata para prajurit itu. Orang yang datang
seperti setan saking cepat gerakannya, yang kemudian
menolong orang berbaju putih itu, kini melambung tinggi ke
udara dengan tangan menggandeng temannya. Ginkang yang
diperlihatkannya benar-benar hebat dan sempurna sehingga
tubuh itu seperti melayang-layang tanpa menggerakkan kaki
dan tangan sedikitpun.
“Bu-eng Hwe-teng (Loncat Terbang Tanpa bayangan) !”
prajurit yang mempunyai pukulan Thian –lui-gong-ciang tadi
berteriak tak terasa. Tubuhnya yang tegap itu tampak
bersandar pada tembok. Ternyata iapun menderita luka dalam
akibat mereka beradu pukulan tadi, biarpun tubuhnya tidak
begitu parah seperti lawannya. Tetapi untuk mengerahkan
tenaga lagi, rasa-rasanya harus membutuhkan waktu istirahat
sejenak. Maka ketika dilihatnya iblis berkerudung itu terbang
ke atas tembok membawa orang berbaju putih, ia tak mampu
berbuat apa-apa. Sebenarnya bisa saja ia nekad menyerang,
tetapi melihat kemampuan lawan yang begitu hebat ia merasa
bahwa hal itu tidak akan ada gunanya. Salah-salah apabila
orang itu malah berbalik menyerang dirinya, mungkin ia yang
masih belum bersiap diri itu justru akan mengalami kesukaran.
“Lempar dia dengan tombakkkkkk.........!” tiba-tiba
terdengar aba-aba dari Yap Tai-ciangkun mengatasi kepanikan
itu.
Puluhan batang tombak meluncur dengan deras kearah
punggung kedua orang itu. Tapi orang berkerudung itu
sedikitpun tidak mengacuhkannya, ia malah merangkul
kawannya yang terluka sehingga mantel hitamnya yang lebar
itu menutup keduanya. Terdengar suara benda patah ketika
puluhan tombak itu mengenai tubuh yang tertutup mantel
tersebut. Orang yang melihatnya menjadi melongo tak habis
mengerti. Kedua orang itu lenyap dibalik tembok tanpa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menderita luka sedikitpun ! para prajurit itu justru
mendapatkan senjata tombaknya dalam keadaan patah-patah.
“Lagi-lagi sebuah ilmu iblis!” mereka bergumam dalam hati.
“Bukan ilmu iblis !” perajurit yang mahir pukulan Thian luigong-
ciang itu menjelaskan. "Itulah mantel pusaka yang tak
mempan senjata, milik seorang iblis yang hidup pada kira-kira
delapan puluh tahun yang lalu. Ahh, agaknya sejarah akan
berulang kembali........... "
"Suheng, apakah engkau terluka?" Yap Tai-Ciangkun
menghampiri perajurit yang terluka itu.
"Jangan khawatir, aku hanya luka ringan saja. Perintahkan
saja perajurit-perajuritmu untuk mengurus teman-temannya
yang terluka ! Kita pergi dulu untuk melihat bagian yang lain
......... !” jawab kakak seperguruan Yap Tai - ciangkun yang
menyamar sebagai perajurit biasa itu.
Bukan main kagetnya mereka berdua ketika melihat
keadaan para perajurit yang berjaga di sebelah barat dan
timur gedung. Ternyata keadaan di situ lebih parah daripada
di tempat mereka sendiri. Keduanya bergegas menuju ke
bagian belakang, dimana penjagaan lebih diperkuat seperti
mereka lakukan di bagian depan.
Perwira yang bertugas ditempat itu cepat menyongsong
mereka dengan ketakutan. Wajahnya pucat pasi. Keadaan di
bagian belakang ternyata tidak lebih baik dari pada di bagian
lain tampak belasan perajurit terkapar berserakan di tanah.
Seorang laki-laki brewok (berjanggut lebat) kelihatan sedang
memeriksa seorang perajurit yang terluka dibantu oleh
seorang gadis yang berparas cantik sekali.
Yap Tai Ciangkun menjura kepada orang berjanggut itu tapi
orang tersebut cepat mencegahnya dengan menaruh jari
telunjuk di bibirnya! Maka panglima itu segera berpaling
kembali ke arah perwira yang ketakutan tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Apa yang telah terjadi di sini ? Katakan!"
"Tai-ciangkun, penjahat itu tidak lebih dari pada tujuh
delapan orang sebenarnya. Tapi mereka benar-benar berilmu
tinggi dan berbahaya. Taman ini sungguh sangat gelap dan
mereka itu pandai bermain kucing-kucingan, sehingga tanpa
kami ketahui mereka telah berada di tembok belakang ini.
Untunglah datang nona Ho bersama gurunya menghadang
mereka. Kami semua bertempur serta membantu nona Ho
melawan penjahat itu. Dua orang di antara penjahat itu
akhirnya dapat dibunuh oleh Ho-siocia! Tapi agaknya hal itu
membuat kepala penjahat tersebut menjadi sangat marah.
Ketika orang itu mula-mula meludah kesana kemari, kami
hanya beranggapan bahwa hal itu dilakukan oleh orang
tersebut saking tak kuat menahan kemarahannya. Tak kami
sangka akhirnya sungguh amat mengerikan ! Siapapun yang
telah terkena percikan ludah itu tidak berapa lama kemudian
jatuh ke tanah dan tewas. Akhirnya Nona Ho menyuruh kami
mundur, sehingga nona Ho bersama gurunya menghadapi
mereka hanya berdua saja ..........”
“Bodoh ! Kenapa kau biarkan ....... eh .......... nona Ho
melawan mereka sendirian? Apakah engkau tidak tahu kalau
nona Ho itu adalah murid kesayangan dari baginda kaisar?
Apa jawabmu jikalau dia sampai terluka? Apakah engkau
berani berhadapan dengan kaisar?"
"Hamba tidak berani........ .. hamba tidak berani!" sahut
perwira itu gemetar.
"Yap Tai-ciangkun, maafkanlah kami. Kami harap paduka
tidak memarahi perwira ini. Kalau dipikir kamilah sebenarnya
yang bersalah. Coba kami tidak turut campur dengan
menghadang penjahat-penjahat itu, kami kira takkan ada
korban seperti ini. Padahal akhirnya kamipun terpaksa
melepaskan juga........," nona cantik itu berusaha menolong si
perwira.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tetapi bagaimana kami harus bertanggung jawab kepada
baginda nanti?" Yap Tai-ciangkun berkata seraya menoleh ke
arah laki-laki brewok yaag masih sibuk memeriksa
perajuritnya.
'"Yap Tai-ciangkun, kukira paduka tak usah merasa resah di
dalam hati. Baginda tentu akan memaklumi pula keadaan ini.
Tapi agaknya paduka telah salah menilai lawan sebelumnya,
sehingga mengakibatkan banyak korban di antara perajuritprajurit
paduka serta para penduduk......... " laki-laki brewok
itu berkata hormat.
“Oh ?! Ada korban di antara penduduk.... .....?” panglima
itu tersentak kaget.
"Silakan paduka lihat di jalan itu ..... ! Penjahat-penjahat itu
banyak membunuh penduduk yang sedang bersuka-ria untuk
mengacaukan suasana. Sehingga para penjaga yang secara
diam diam paduka taruh di segala tempat juga tidak mampu
menanggulanginya."
"Lo-heng benar ! Agaknya aku memang tidak berbakat
untuk menjadi panglima perajurit. Aku kurang mahir dalam
ilmu siasat perang, aku hanya pandai berkelahi saja, Baiklah,
aku lebih baik menghadap baginda kaisar untuk
mengembalikan kedudukanku ini." panglima itu tampak
menyesal bukan main.
"Ah ! Kenapa Yap Tai-ciangkun berubah menjadi cengeng
begini? Di manakah kegarangan paduka seperti yang selalu
paduka tunjukkan di tengah medan pertempuran dahulu?
Lupakan saja pengalaman pahit ini, lebih baik sekarang
paduka memeriksa keadaan di dalam gedung Si Ciangkun ini
!" guru nona Ho itu memberi saran.
"Kim Sute marilah.......!" kakak seperguruan dari panglima
itu juga berkata. "Kau tak perlu terlalu menyesalinya!"
Dengan diiringi suheng dan kedua orang itu, Yap Taiciangkun
memasuki gedung tersebut. Mereka manemukan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bukti-bukti bahwa Si Ciangkun memang telah berkhianat dan
bersekutu dengan seseorang untuk membentuk sebuah
pasukan pemberontak. Sayang mereka tidak menemukan
daftar dari siapa saja yang telah menjadi anggauta pasukan
pemberontak itu.
ooOOoo
Bagaimana dengan keadaan Chin Yang Kun dan Hek-mousai
yang pada saat itu berada di ruang penjara di bawah
tanah? Apakah mereka dapat mengatasi kesulitan dan
penderitaan mereka ? Agaknya mereka berdua memang
tinggal menunggu saja nasib yang akan mendatangi mereka !
Keadaan tubuh kedua orang itu memang sudah sangat
payah. Yang Kun selain telah terluka parah kedua kakinya, ia
juga telah terkena racun yang cukup ganas. Dua macam racun
telah memasuki tubuhnya, yaitu racun dan lendir ubur-ubur
laut dan racun tikus laut! Racun pertama masuk ke dalam
badannya melalui pedang Tung hai Sam-mo dan racun yang
ke dua masuk ke dalam badannya melalui bubuk putih yang
diberikan oleh tabib palsu itu.
Sedangkan keadaan Hek-mou-sai juga sangat
mengenaskan. Tubuhnya masih tetap terikat kencang,
sementara kulit badannya hampir semuanya terkelupas
bersama-sama dengan pakaian yang dikenakannya. Tetapi
biarpun kelihatan lebih mengerikan. sebenarnya keadaan
tubuh Hek-mou-sai tidak begitu membahayakan bagi jiwanya.
Dia cuma menderita luka-luka luar yang biasa saja !
Saat itu selagi di luar gedung sedang terjadi pertempuran
berdarah antara pasukan Yap Tai-ciangkun dengan para
pemberontak, di dalam tubuh Chin Yang Kun sendiri juga
sedang terjadi pergolakan antara mati dan hidup. Sebenarnya,
seperti yang telah dikatakan oleh Tee-tok-ci bahwa racun
bubuk putih yang terbuat dan hati tikus laut itu, akan mulai
bekerja dan merenggut nyawanya selang enam jam
kemudian. Tapi oleh karena keadaan tubuh pemuda itu sudah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sangat jelek, maka baru berselang tiga jam, racun dari bubuk
putih tersebut ternyata sudah mulai bekerja.
Mula-mula bekas luka pada kedua belah pahanya itu terasa
amat gatal. Begitu gatalnya sehingga rasa-rasanya ia ingin
memotong saja kaki itu. Sukurlah ia dalam keadaan tertotok
lumpuh kaki tangannya. Coba tidak, mungkin ia sudah
mengorek luka itu dan menggaruknya hingga hancur.
Lama kelamaan rasa gatal itu disertai rasa panas yang
makin lama juga semakin menggila, sehingga rasa-rasanya
pada lubang luka yang menembus dari atas ke bawah itu telah
dijejal dengan sebungkah arang menyala. Begitu panas
rasanya sehingga hampir-hampir tak kuasa lagi menahannya.
Apalagi ketika rasa panas itu menjalar ke seluruh badannya.
Rasa panas itu merembet sedikit-demi sedikit bersama-sama
dengan cairan darah yang terasa bagaikan telah mendidih ke
seluruh tubuh dan seakan telah menghanguskan semua tulang
serta daging yang dilewatinya. Inilah agaknya saat yang
pernah dikatakan iblis itu, bahwa pada saat serangan kedua
telah datang maka hidupnyapun tinggal sebentar lagi.
Samar-samar ia melihat Hek-mou-sai telah siuman. Lalu
dengan amat sukar orang yang telah banyak jasanya itu
berusaha mendekati dirinya. Tampak beberapa butir air
matanya meleleh ke pipi, ketika orang itu melihat
penderitaannya.
“Tuan Muda ......... bagaimanakah keadaanmu?” sapanya
lirih.
“Paman ......... mungkin aku sudah tak kuat lagi ....... hehheh
....... seperti kata tabib palsu itu ....... aku tentu mati !
Paman ...... kalau aku mati nanti, tolong aku carikan benda
pusaka itu ! Lalu letakkan benda tersebut di makam ayahku,
biar arwah beliau dapat tentram ....... Mau ............ maukah
kau, paman ........... ?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Tentu ! Tentu ! Aku tentu akan mentaati semua
permintaanmu, tuan muda !”
“Nah, menurut a .... ayah benda .... a i..... itu .........
terletak di ........ di Goa Harimau ! Dan mengambilnya harus te
...... tepat di tengah malam ......... s .... saat bulan sedang p
....... purnama !”
Hek-mou-sai terbelalak matanya.
“Di manakah goa itu berada, Tuan muda ?”
“Entahlah, aku ....... aku juga tidak t.......tahu. Ayah hanya
memberi p.......pesan ke....kepadaku .........” pemuda itu
meregang sebentar. “Paman aku meminta tolong.......juga
ke......kepadamu.......... B-BUNUHLAH SEMUA MUSUHKU !"
Terasa berdiri seluruh bulu roma Hek mou-sai mendengar
perkataan yang paling akhir itu. Seakan seluruh dendam
kesumat pemuda itu telah tersirat di dalam kata-kata yang
mengerikan tersebut.
"Ba-baik, tuan muda !”
"Terima ka..............." Dan mata itu telah tertutup !
Tiba-tiba terdengar, suara langkah kaki menuruni tangga.
Dan di depan sel tersebut telah berdiri empat orang laki-laki
dan seorang gadis.
"Liok Cianbu, tawanan inikah yang kaumaksudkan ?" salah
seorang yang berpakaian panglima bertanya kepada seorang
perwira bawahannya, sementara yang lain berusaha untuk
membuka pintu sel tersebut.
"Suhu, pemuda ini terkena racun yang ganas!” tiba-tiba
gadis itu berteriak ke arah orang tua berjanggut lebat. "
Agaknya sudah tak tertolong lagi.”
Orang tua itu cepat memeriksa urat nadi Yang Kun, lalu
mengerutkan keningnya rapat-rapat. Terasa ada sesuatu yang
aneh pada tubuh anak muda itu, tapi karena ia bukan seorang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ahli pengobatan maka ia tak mengetahui dengan pasti, apakah
yang telah terjadi di dalam tubuh anak muda itu. Yang terang
pemuda itu menderita luka-luka di beberapa tempat dan
agaknya luka-luka tersebut mengandung racun terutama luka
yang terdapat di kedua pahanya!
Sementara itu Hek-mou-sai yang terbaring di dekatnya
tampak menatap kelima orang yang baru datang itu dengan
curiga. Meskipun badannya dalam keadaan terikat serta penuh
luka tetapi pikirannya masih tetap jernih, sehingga dengan
terang orang itu masih dapat berpikir dan mengurai semua
peristiwa yang terjadi di depan matanya.
Sedikitpun Hek-mou-sai tidak mengenal kelima orang yang
kini berada di depan hidungnya. Melihatpun juga belum
pernah. Tapi meskipun begitu perasaannya dapat menebak
dengan pasti bahwa kelima orang ini tentu tidak segolongan
dengan orang-orang yang menawannya, biarpun orang-orang
yang menawan mereka itu beberapa orang di antaranya juga
mengenakan seragam perajurit ini. Sekilas Hek-mou-sai
menatap ke salah seorang di antara ketiga pendatang itu,
yaitu yang menggunakan seragam perwira, yang tadi telah
dipanggil dengan nama Liok Cianbu oleh kawannya. Tiba-tiba
Hek-mou-sai seperti melihat orang tersebut berkedip matanya.
Sekali saja tapi bagi Hek-mou-sai hal itu sudah merupakan
sebuah isyarat. Biarpun baginya sementara itu masih sangat
meragukan karena diapun juga tidak mengenal orang itu.
“Yap Tai-Ciangkun, bolehkah siauw-te mengatakan sesuatu
kepada paduka?” laki-laki brewok itu menghadap ke arah
orang yang mengenakan pakaian seragam panglima.
Tergopoh-gopoh panglima itu menunduk dan hal ini tentu
saja sangat mengherankan apalagi bagi Liok Cianbu dan Hekmou-
sai ! Seorang laki-laki biasa kenapa begitu dihormati oleh
seorang panglima besar kerajaan?
"Oh, Liu-suhu, Tentu saja boleh! Silakan ! Silahkan !"
panglima itu menyahut dengan cepat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Begini Tai-ciangkun, menurut pendapat lo-hu (aku orang
tua) dan mungkin juga pendapat orang umum yang tidak
begitu paham tentang ilmu pengobatan, pemuda ini terang
sudah meninggal dunia. Tak ada lagi detak jantungnya. Tak
ada denyut nadinya. Lenyap juga semua hawa murni. Tetapi
....... tetapi ada sesuatu yang membuat siauw-te merasa
ngeri........... ! Ada getaran-getaran aneh sebelah dalam dari
tubuh pemuda ini! Maka dari itu siauw-te ingin memohon
kepada paduka satu hal saja, yaitu biarlah mayat pemuda ini
aku bawa ke pondokku saja bersama nona Ho. Kebetulan
rumah nona Ho ada tamu kenalan lama yang sangat mahir
tentang pengobatan. Biarlah orang itu memeriksanya !"
"Ah, silakan Liu-Suhu! Silakan ! Hanya kau mohon kalau
ada keterangan apa apa pemuda ini, kamipun ingin pula
mengetahui. Soalnya kami juga ingin mengetahui, kenapa
orang ini sampai ditangkap oleh gerombolan itu.” Yap Taiciangkun
meminta.
Orang tua itu menyatakan rasa terima kasihnya. Dan ia
beringsut ke samping untuk memeriksa tubuh Hek-mou-sai.
Nona Ho memalingkan mukanya, karena tubuh tersebut
hampir tidak berpakaian sama sekali. Setelah melepaskan tali
yang dipakai untuk mengikat tubuh itu, orang tua tersebut
mengambil bubuk obat dan mengobati luka-luka itu.
“Terima kasih, tuan !” Hek mou sai mengangguk. Lalu
mengambil baju yang ditinggalkan oleh para penawannya dan
dikenakan pada tubuhnya yang telah diobati.
“Kalau kami boleh bertanya siapakah sebenarnya cu-wi
(saudara) ini ? Apakah yang menyebabkan sehingga cu-wi
ditangkap dan disiksa seperti ini?” orang yang disebut dengan
nama Liu-suhu bertanya kepada Hek-mou-sai.
Hek-mou-sai terdiam, tak tahu harus menjawab
bagaimana. Dia tak ingin mengatakan kepada siapapun
tentang diri mereka, tetapi oleh karena pertanyaan itu
datangnya secara tiba-tiba maka dia belum mempersiapkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sebuah jawaban yang baik untuk tidak menimbulkan
kecurigaan mereka. Tiba-tiba nampak olehnya perwira yang
bernama Liok Cianbu memberi isyarat sekali lagi dengan sudut
matanya.
"In-kong (tuan penolong), jelek-jelek siauw-te juga seorang
guru silat, biarpun cuma seorang guru silat dari desa. Sedang
pemuda ini adalah murid siauw-te, putera kepala desa kami
sendiri. Kami berdua sedang merantau bersama-sama untuk
memperoleh pengalaman, sebab pemuda ini telah tamat
belajar dalam ilmu silat.......” Hek mou-sai menjawab setelah
beberapa saat memikirkan suatu jawaban yang bagus.
“Ah, kalau begitu tentu ada kesalahpahaman ........ “
perwira she Liok tersebut cepat menyela. "Yap Tai ciangkun
jika diperbolehkan biarlah saudara ini Tai ciangkun serahkan
saja kepada kami untuk kami periksa. Mungkin sejak mulai
berkhianat Si Ciangkun selalu tidak tenteram dan selalu
mencurigai orang, sehingga akhirnya terjadi suatu
kesalahpahaman seperti ini. Saya memang memperoleh
laporan bahwa Si Ciangkun kemarin telah menangkap dua
orang mata-mata yang dicurigai karena telah memasuki
halaman rumahnya.”
"Benar, tuan. Kami ditangkap ketika kami sedang
melepaskan lelah di gardu penjaga yang terletak di halaman
depan itu. Padahal kami hanya ingin beristirahat sebentar
sebelum menonton perayaan besar ini. Kami berdua baru saja
menempuh perjalanan jauh dan tak ada tempat lagi untuk
menginap di kota ini. Jalan-jalan juga telah penuh manusia,
sehingga iseng-iseng kami diam di gardu penjaga tersebut.
Toh tidak ada salah apabila kami, salah seorang rakyat jelata,
turut mengaso sebentar di halaman seorang pemimpin rakyat
seperti juga yang sering kami lakukan di desa kami apabila
ada tamu yang kemalaman di jalan ........" Hek mou-sai
kembali bersandiwara sebagai orang yang benar-benar tidak
tahu menahu tentang keadaannya. Padahal orang ini
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sebenarnya mulai menangkap maksud dari perwira she Liok
itu.
Yap Tai-ciangkun tampak berpikir sebentar, kemudian
menoleh kearah suhu dan nona Ho. “Bagaimana pendapat Liusuhu
?”' panglima itu bertanya.
“Siauw-te kira memang lebih baik paduka serahkan saudara
ini kepada Liok-Cianbu agar Paduka tinggal menerima
laporannya saja nanti ......... “ Liu suhu itu memberikan
sarannya. “Tetapi mayat pemuda itu biarlah tetap kami
bawa.......”
“Terima kasih Liu-suhu.........!" Liok-Cianbu itu menjadi
sangat hormat pula kepada orang itu seperti yang dilakukan
oleh atasannya.
Mereka semua kembali ke gedung kepala daerah setelah
urusan di tempat itu telah selesai. Di jalan-jalan mereka
melihat para penduduk telah bersukaria kembali, meskipun
untuk sesaat mereka dihentikan oleh kekacauan itu.
Tai-ciangkun sibuk memeriksa dan mengatur seluruh
perajurit-prajuritnya yang berada di kota dibantu oleh
suhengnya yang menyamar sebagai perajurit biasa tersebut.
Sementara itu mayat Chin Yang Kun telah dibawa pergi Liusuhu
dan nona Ho ke pondok mereka. Sebuah pondok kecil
dipinggir kota, yang biasa dipakai oleh kepala daerah untuk
melukis dan membaca buku di kala senggang.
Mereka memasuki pondok itu melalui empang-empang ikan
yang penuh dengan tanaman bunga beraneka warna. Dan di
setiap tempat terlihat beberapa orang perajurit sedang
berjaga-jaga. Mereka mengangguk penuh hormat setiap nona
Ho dan gurunya lewat di dekat mereka. Sepasang pemuda
dan pemudi keluar menyongsong mereka. Pemudanya
bertubuh jangkung serta tampan, sedang gadisnya
berperawakan langsing kecil tetapi cantik sekali. Mereka
nampak heran melihat Liu - suhu memanggul orang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Hong siang (baginda)! Nona Ho !” keduanya menyapa
dengan hormat dan ramah.
"Nona Kwa ..... saudara Chu ! Kalian belum tidur malammalam
begini?" Kaisar Han yang menyamar sebagai Liu-Suhu
itu menjawab (Baginda sebelum menjadi kaisar bernama Liu
Pang, seorang pendekar pedang dari kalangan petani).
"Ah, bukankah belum lewat tengah malam. Hong-Siang
juga belum berangkat ke peraduan pula. Tidak enak bagi kami
untuk mendahuluinya........" pemuda she Chu itu berkata
merendahkan diri.
“Heh, inilah sebenarnya yang tidak aku sukai....... ! segala
peradatan yang rnembuat aku tidak enak makan dan enak
tidur. Semua orang itu bersikap sungkan kepadaku, sehingga
aku tidak merasa bebas dan bahagia seperti dahulu ketika aku
masih menjadi seorang petani atau ketika aku masih suka
berkelana di Kang-ouw bersama-sama kawan. “ Kaisar itu
berkata menyesali diri. Tubuh pemuda yang dipanggulnya itu
ia letakkan di atas pembaringan kamar depan, lalu memberi
isyarat agar kedua orang tamunya itu mendekat.
“Saudara Chu., nona Kwa, ingin sebenarnya aku kembali
menjadi petani seperti dulu lagi dan melepaskan semua
kedudukan ini yang sangat mengikat serta membosankan ini..
.." kaisar itu melanjutkan keluhannya.
“Tetapi orang seperti baginda ini masih sangat diperlukan
oleh rakyat jelata. Semua orang telah mempercayakan nasib
negara dan diri mereka kepada baginda. Mereka semua
beranggapan bahwa hanya baginda seoranglah yang mampu
memimpin perahu mengatur negeri kita ini. Apabila hal ini
sebenarnya tidak menyenangkan hati baginda.......... yah
.......... anggap saja sebagai suatu pengorbanan baginda
terhadap negara.......” nona Kwa yang cantik itu berkata pula
dengan lemah lembut.
Kaisar itu menghela napas berat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Yah......... tetapi aku telah berjanji pada diriku sendiri.
Kalau pada suatu saat nanti telah ada penggantiku yang juga
disukai oleh mereka, atau negeri ini telah kembali aman dan
tenteram, aku akan pulang kembali ke kampungku untuk
bercocok tanam lagi ...........”
Beberapa saat mereka terdiam semua sehingga suasana
menjadi sunyi sepi.
“Eh, aku menjadi terlupa akan sesuatu,” baginda tiba-tiba
tersentak dari lamunannya. “Anu ......... Saudara Chu, aku
membawa mayat seseorang yang rasa-rasanya sangat aneh
keadaannya. Dikatakan sudah mati......... kok terasa ada
getaran yang aneh di dalam tubuhnya, tapi kalau dikatakan
masih hidup kenapa sudah hilang detak dan denyut nadinya
....... Coba kau periksa dia! Sebagai cucu murid dari Bu-eng
Sin-yok-ong (Raja Tabib Sakti Tanpa bayangan) kukira tak ada
lagi didunia ini yang menyamai kepandaian saudara Chu di
dalam hal seperti ini.”
“Ah, Hong-siang ini bisa saja........” pemuda itu menjadi
malu.
Tubuh Chin Yang Kun sudah menjadi dingin pada saat itu.
Dingin sekali, tapi belum menjadi kaku. Ketika jari-jari pemuda
she Chu itu telah mulai menyelusuri setiap jalan darah di
tubuh Yang Kun, semua orang menjadi tegang menanti.
Mereka tahu bahwa pemuda she Chu tersebut sedang
mengerahkan segala kepandaiannya untuk mengetahui
keadaan yang sebenarnya dari ‘mayat’ itu.
Peluh telah mulai tampak pada dahi pemuda ahli
pengobatan itu. Apalagi ketika pemuda tersebut sudah mulai
pula mempergunakan jarum-jarum peraknya. Tapi beberapa
saat kemudian ternyata semua peralatan itu ia letakkan
kembali di atas meja. Sebatang jarum perak yang kini
berwarna kebiru-biruan dibawanya ke dekat lampu dan
diamat-amatinya dengan teliti.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“tak mengherankan jikalau hong-siang merasakan sesuatu
yang aneh pada pemuda ini,” katanya perlahan. “hambapun
baru sekali ini pula memergoki peristiwa yang aneh seperti ini.
Dalam tumpukan buku pengobatan serta buku catatan
mengenai peristiwa penting warisan leluhur hamba, hamba
juga belum pernah menemukan atau membaca tentang
peristiwa yang aneh seperti ini…..”
“Ah, saudara Chu masih juga berteka-teki….! Ayolah lekas
ceritakan apa yang telah terjadi di dalam tubuh pemuda ini!
Kami telah terlalu lama menderita ketegangan hati menunggu
hasil penyelidikan saudara….!” Nona Ho berseloroh.
“Baiklah! Baiklah! Tetapi sebelumnya siauw-te memohon
maaf terlebih dahulu. Soalnya peristiwa seperti ini juga masih
asing bagi siauw-te. Jadi siauw-te juga belum berani
memastikan, apakah hasil penyelidikan yang akan siauw-te
katakan ini sudah betul….”
“Ya! Ya! Ya! Lalu….?”
“Tunggu sebentar….!” Pemuda she Chu itu masih menahan
keterangannya. “Hong-siang, sebelum hamba katakan apa
yang hamba ketahui, bolehkah hamba mengetahui siapakah
sebenarnya pemuda ini? Kenapa hong-siang begitu bersusah
payah membawa dia kemari? Hong-siang, hamba mohon maaf
jikalau pertanyaan hamba ini tidak berkenan di hati…..”
“Haha…..tak apalah! Tak apalah! Saudara Chu ini memang
pintar sekali membikin orang menjadi tak sabaran. Saudara
Chu, terus terang aku tidak tahu dan tidak mengenal anak
muda ini. Aku menemukan dia di ruang penjara Si Ciangkun.
Aku juga tidak tahu kenapa aku menjadi sangat tertarik
kepadanya. Semula aku hanya merasa penasaran melihat
keadaan tubuh anak muda ini yang sangat aneh. Dan
kebetulan pula aku menjadi teringat bahwa saudara Chu
sedang berada di pondokku. Itu saja, lain tidak!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Nah, suhu telah mengatakannya. Cepatlah….!” Nona Ho
menjadi tidak sabar.
“Baiklah! Tetapi….”
“Ah, brengsek amat! Aku bisa menjadi gila kalau terusterusan
menunggu….”
“Hihihi…..kau ini memang suka mengganggu orang sih!”
nona Kwa itu menegur kawannya sambil tertawa.
Ahli pengobatan yang masih sangat muda itu tertawa pula.
Tapi suara tertawa itu tiba-tiba berhenti secara mendadak dan
secara tiba-tiba pula wajah yang tampan itu berubah menjadi
muram.
“Benar! Aku memang sudah lama tidak mengganggu dan
menggoda orang sejak adikku Bwe Hong pergi…..”
“Hei, ada apa lagi dengan enci Bwe Hong? Ini saja belum
selesai sudah ada kabar yang menegangkan lagi……ayoh,
saudara Chu! Lekas ceritakan semuanya! Ya…..tentang
penyakit pemuda ini, ya …..tentang enci Bwe Hong! Biarlah
tidak tidur sampai pagi juga tidak apa!” nona Ho mencakmencak.
Kaisar Han tersenyum melihat tingkah muridnya. Mereka
semua memang merupakan teman akrab sejak dari dahulu,
sehingga kunjungan kedua muda-mudi itu di pondok mereka
membuat muridnya gembira bukan main.
“Kalau begitu aku juga akan ikut pula bergabung sampai
pagi untuk mendengarkan cerita dari saudara Chu,” kaisar Han
juga ikut terseret kegembiraan anak-anak muda itu. “Hei,
pengawal! Bawa ke sini makanan dan arak wangi untuk tamutamuku!”
“Ah, baginda membuat kami merasa kikuk saja…..” nona
Kwa tampak malu-malu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Wah, sudahlah! Anggap saja hal ini merupakan sebuah
pesta kecil untuk merayakan pertemuan antara para sahabat
lama…..” kaisar Han tersenyum.
“……..dan pesta kecil untuk merayakan hari penobatan
hong-siang yang kelima!” nona Kwa melanjutkan.
“Hm, boleh juga…. Tapi aku sebenarnya tidak menyukai
hal-hal seperti itu…. Nah, saudara Chu.. aku juga telah siap
untuk mendengarkan uraianmu.” Maka pemuda itupun mulai
dengan penuturannya.
“Dugaan hong-siang tadi memang benar bahwa pemuda ini
telah terkena racun. Dan racun yang masuk ke dalam
tubuhnya ternyata tidak hanya sebuah saja tetapi dua buah
racun. Kebetulan pula bahwa kedua buah racun tersebut
sama-sama termasuk dalam satu golongan, yaitu golongan
racun yang bersifat dingin. Artinya apabila salah satu dari
racun tersebut menyerang manusia atau binatang, maka
sebagai akibatnya manusia atau binatang itu akan menderita
kedinginan dan menggigil badannya.”
“Lalu bagaimana dengan anak muda yang terkena dua
buah racun sekaligus ini?” baginda bertanya.
“Hong-siang, di dalam hal pengetahuan tentang dunia
racun, nenek moyang kita sejak dahulu telah mencatat
beberapa keanehan dari sifat racun itu sendiri. Misalnya
beberapa buah di antara keanehan-keanehan itu ialah apabila
racun-racun tersebut satu sama lain saling bercampur. Dua
buah racun yang mempunyai sifat dingin bila saling bercampur
akan berubah sifat mereka menjadi panas, sehingga penderita
keracunan itu akan merasa seperti terbakar tubuhnya. Begitu
juga sebaliknya, dan sebuah racun yang mempunyai sifat
panas apabila saling bercampur satu sama lain akan cepat
berubah pula menjadi dingin….”
“Kalau dua buah racun yang bercampur satu sama lain
tersebut terdiri dari dua buah racun yang berbeda sifatnya?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Misalnya racun yang satu dari golongan racun yang bersifat
panas sedang racun yang lain dari golongan racun yang
bersifat dingin, bagaimana?” nona Ho bertanya.
“Aha, nona Ho agaknya mempunyai minat terhadap
pengetahuan ini?” orang she Chu itu tertawa.
“Memang akan terdapat lagi sebuah keanehan apabila
kedua buah racun yang berlainan sifatnya tersebut saling
bercampur. Jikalau kedua buah racun tersebut saling
bercampur satu sama lain maka kedua buah racun itu justru
akan hilang lenyap sifat maupun pengaruhnya!”
“Menjadi tawar? Begitukah maksud saudara Chu?” kaisar
Han menegaskan.
“Benar, hong-siang…”
“Wah, menarik juga ya….pengetahuan tentang racun itu?
Lalu kalau dua buah racun yang saling bercampur tersebut
terdiri dari golongan racun yang bersifat sama? Yaitu seperti
yang kini sedang terjadi pada anak muda ini? Bagaimana?”
baginda bertanya lagi.
“Wah, suhu ini bagaimana! Tentu saja karena mereka
sejenis, maka mereka akan bergabung menjadi satu dan
kekuatannya akan menjadi berlipat ganda, bukankah demikian
saudara Chu?” nona Ho mencela gurunya, kaisar Han!
“Nona Ho benar sekali…..!” pemuda itu mengacungkan
jempolnya.
“Hah? Kalau begitu anak muda ini benar-benar sudah mati
dan tak mungkin tertolong lagi?” baginda terkejut.
Pemuda she Chu itu memperbaiki letak duduknya.
“Hong-siang, ternyata apa yang sekarang sedang terjadi di
dalam tubuh anak muda ini juga merupakan salah satu dari
pada keanehan-keanehan yang sering terjadi di dalam dunia
racun seperti yang hamba ceritakan tadi. Hamba tadi telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memberikan keterangan secara panjang lebar bahwa di dunia
racun kami mengenal dua macam racun, yaitu racun yang
bersifat dingin dan racun yang bersifat panas. Biasanya racun
yang bersifat dingin itu sebagian terbesar bisa didapatkan dari
binatang atau tumbuh-tumbuhan yang hidup di dalam air.
Sedangkan racun yang bersifat panas bisa didapatkan dari
binatang atau tumbuh-tumbuhan yang hidup di tempat
kering….”
“Ooo….begitukah?” nona Ho mengangguk-angguk dengan
mantap saking tertariknya pada uraian itu. “Lalu keanehan
apakah yang sekarang sedang terjadi pada tubuh pemuda ini?
Bukankah menurut keterangan saudara Chu tadi apabila dua
macam racun yang sejenis bercampur satu sama lain, maka
mereka akan bergabung menjadi satu dan menjadi berlipat
ganda kekuatannya? Dan karena dua macam racun tersebut
termasuk dalam golongan racun yang bersifat dingin, maka
gabungan itu akan mengubah mereka menjadi panas? Itu
saja, bukan? Apa lagi keanehannya?”
“Nona, keanehan-keanehan yang saya ceritakan tadi
hanyalah merupakan sebagian kecil saja dari keanehankeanehan
yang sering terjadi di dalam dunia ilmu racun.
Beberapa keanehan yang saya sebutkan itu hanyalah
merupakan suatu keanehan yang terjadi apabila hanya
dipandang dari sudut kalau beberapa racun bercampur
menjadi satu, itu saja. Padahal masih banyak keanehankeanehan
yang lain, misalnya keanehan yang ditimbulkan oleh
dua macam racun yang satu sama lain memang tidak bisa
bercampur menjadi satu, biar dua macam racun itu
ditempatkan di dalam satu wadah sekalipun. Dan masih
banyak sekali keanehan yang tidak dapat kami sebutkan di sini
satu persatu…….” Pemuda she Chu itu menerangkan.
“lalu keanehan apakah yang kini sedang terjadi di dalam
tubuh pemuda ini?” nona Ho bertanya agak bingung.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Keanehan yang terjadi di dalam tubuh pemuda ini adalah
keanehan yang ditimbulkan oleh suatu unsur kebetulan yang
tidak mungkin didapatkan oleh lain orang. Ada dua macam
racun yang memasuki tubuh anak muda ini….” Pemuda itu
menarik napas sebentar. “Racun pertama yang memasuki
tubuhnya adalah racun ubur-ubur yang hidup di pantai-pantai
karang. Sedang racun yang kedua adalah racun tikus laut
yang juga hidup di batu-batu karang pula. Kedua binatang itu
selalu hidup berdampingan selama ini. Ubur-ubur itu hidup
dari kotoran-kotoran yang dikeluarkan oleh tikus laut,
sementara tikus laut itu selalu membuat sarangnya diantara
kumpulan ubur-ubur laut. Kedua binatang tersebut
sebenarnya adalah binatang yang sangat beracun, tapi karena
selalu hidup berdampingan maka pengaruh dari racun mereka
masing-masing sudah tidak berarti apa-apa lagi bagi yang
lainnya.”
“Jadi maksud saudara Chu, oleh karena kedua macam
racun yang masuk ke dalam tubuh anak muda ini sudah
bersahabat sejak semula, maka biarpun kedua racun itu
sangat berbahaya tapi tidak akan membahayakan lagi pada
tubuh anak muda ini, begitukah?” baginda menegaskan lagi
dugaannya.
“benar! Karena sudah bersahabat, maka kedua buah racun
itu sudah tidak lagi berbahaya bagi anak muda ini.” Pemuda
she Chu itu mengangguk.
“Lalu……kalau racun-racun itu sudah tak membahayakan
lagi, kenapa dia masih tetap meninggal dunia juga?”
“Secara umum anak muda ini memang telah dianggap mati,
tetapi dipandang dari sudut ilmu ketabiban, keadaan seperti
yang terjadi pada tubuh anak muda ini belumlah dianggap
mati. Jantungnya belum berhenti sama sekali. Hanya karena
denyut itu sudah sangat lemah sekali, maka orang sudah tidak
merasakannya lagi. Padahal jantung itu masih bergetar dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
getaran yang amat lemah inilah yang hong-siang rasakan
sebagai getaran-getaran aneh itu.”
“Jadi menurut pendapat saudara Chu anak muda ini belum
mati, bukan? Tetapi yang sangat kuherankan ialah apa yang
menyebabkan hawa murninya menjadi hilang lenyap? Padahal
yang aku ketahui hawa murni itu hanya dapat hilang apabila
orang itu sudah mati!”
“Iya…..ya. bagaimana sih sebenarnya hal ini? Sudah mati
dikatakan belum mati, dikatakan masih hidup hawa murninya
khok sudah lenyap….. jadi yang mana yang benar?” nona Ho
tampak sangat penasaran.
“Hong-siang, hawa murni yang asli dari anak muda ini
masih tetap ada di dalam tubuhnya, karena hawa murni
tersebut merupakan dasar daripada kekuatan hidup manusia
pada umumnya. Tapi apabila hawa murni yang hong-siang
maksudkan itu adalah hawa murni yang diperoleh anak muda
ini sejak ia berlatih silat, maka dugaan dari hong-siang bahwa
hawa murninya telah lenyap adalah benar. Hawa murni atau
tenaga murni yang diperoleh anak muda ini sejak ia mulai
berlatih silat telah lenyap bersamaan dengan hilangnya denyut
nadi serta berhentinya aliran darahnya. Hal itu disebabkan
karena hawa murni yang didapatkan orang ketika berlatih ilmu
silat disimpan di dalam aliran darahnya, supaya hawa murni
tersebut dapat bergerak terus berputar-putar di seluruh tubuh.
Maka ketika jantung dari anak muda ini sudah tidak mampu
lagi mengalirkan darahnya, otomatis hawa murni yang
terkandung di dalamnya merembes dan bergerak keluar
hingga habis.”
“Wah, kalau begitu percuma juga, ya….buat dia! Walau
dapat hidup kembali seperti semula, tetapi sudah hilang
lenyap semua tenaga murninya. Percuma saja ia belajar silat
selama ini,” nona Ho turut menyesal, apalagi bila teringat
kembali pada penuturan guru dari anak muda ini. Pemuda ini
baru saja menamatkan pelajaran silatnya dan bermaksud
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merantau untuk menambah pengalaman sebanyak-banyaknya.
Tidak tahunya malah mendapatkan kerugian bagi hidupnya!”
“Benar. Anak muda ini harus mulai berlatih serta
menghimpun lagi tenaga murninya sejak dari awal kembali,
jika ingin pulih kembali seperti sediakala. Dan hal itu
membutuhkan waktu bertahun-tahun pula untuk dapat
mencapai tingkatan seperti yang ia capai sekarang…..”
pemuda she Chu itu menegaskan pendapat nona Ho.
“Lalu kapan anak muda ini menjadi sembuh dan hidup
kembali?” nona Kwa yang sedari tadi hanya diam saja itu
bertanya.
“Tunggu saja hingga besok pagi…..!” orang she Chu itu
menjawab.
“Ha……kalau begitu sambil menanti dia hidup kembali,
harap saudara Chu bercerita tentang enci Bwe Hong…..!
bagaimana khabarnya bidadari itu?” nona Ho menagih janji.
Pemuda she Chu itu menunduk sambil menghela napas
berulang-ulang, sehingga teman gadisnya yang cantik itu
menghibur dengan lemah lembut.
“In-kong (tuan penolong), ceritakanlah semuanya!
Bukankah kita sampai kemari juga ingin menanyakan kepada
mereka, kalau-kalau mereka pernah melihat adik Bwe Hong?”
“Eh…..ada apa sebenarnya dengan enci Bwe Hong?
Apa….apakah dia telah…..ooh!” nona Ho menjadi khawatir
juga melihat tingkah kedua kawan akrabnya itu.
“Hong-siang, maafkan hamba kalau kesedihan hamba ini
membuat pesta kecil ini menjadi agak terganggu
kegembiraannya….” Pemuda itu meminta maaf kepada Kaisar
Han.
"Tenanglah, saudara Chu ! Baiklah kauceritakan saja
semuanya kepada kami ! Siapa tahu aku dapat memberi
bantuan kepada kalian," baginda bersabda.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Terima kasih, Hong-siang.”
Maka berceriteralah pemuda itu dengan jelas apa yang
telah terjadi di dalam keluarga mereka selama beberapa tahun
ini.
Setelah Kaisar Chin jatuh dan Kaisar Han naik takhta pada
lima tahun yang lalu, mereka berdua, pemuda itu dan adik
perempuannya yang bernama Chu Bwe Hong, kembali ke
rumah mendiang orang tua angkat mereka, yang mengasuh
mereka semenjak masih kecil. Sebenarnya mereka berdua
masih mempunyai seorang ayah, yang kini menjabat sebagai
pendeta agung, di kuil istana sejak Kaisar Chin masih
berkuasa. Tetapi mereka lebih suka menyendiri di tempat
yang terpencil itu untuk merawat makam ayah ibu angkat
mereka yang tercinta. Mereka berdua menolak dengan halus
tawaran Kaisar Han yang kini berada di hadapan pemuda itu
untuk menduduki sebuah jabatan di kalangan pemerintahan.
Ibu dari kedua kakak beradik tersebut adalah keturunan
langsung dari salah seorang datuk persilatan, yang hidup pada
kira-kira delapan puluhan tahun yang lalu. Kakek mereka
tersebut bergelar Bu eng Sin-yok-Ong (Raja Tabib Sakti Tanpa
Bayangan), yaitu salah seorang dari Empat Datuk Besar
Persilatan yang hidup pada jaman itu ! Maka dari itu biarpun
mereka berdua kakak beradik berdiam di tempat yang
terpencil, ternyata setiap harinya banyak orang berdatangan
ke rumah mereka untuk berobat. Mereka berdua sudah
terkenal sebagai ahli waris dari kakek mereka yang mahir ilmu
pengobatan itu.
Bertahun-tahun kedua kakak beradik itu hidup berbahagia
di tempat itu. Apa lagi ketika selang dua tahun kemudian sang
kakak telah meresmikan peminangannya dengan Kwa Siok
Eng, seorang gadis yang pernah ditolong oleh pemuda itu dari
penyakit lumpuh yang menyerang seluruh anggota badannya.
Padahal gadis itu adalah putri dari seorang tokoh ilmu sesat
yang sangat sakti, bernama Kwa Eng Ki, yang kini menjabat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sebagai ketua Tai Hong-pai (Partai Silat Kuburan Besar).
Sebuah partai silat yang didirikan oleh salah seorang dari
Empat Datuk Besar Persilatan juga !
Kwa Siok Eng sering datang dan menginap di rumah itu
untuk beberapa hari sehingga mereka bertiga benar-benar
kelihatan berbahagia. Sang kakak juga tidak ingin lekas-lekas
meresmikan perkawinannya, karena pemuda tersebut
bermaksud untuk mengawinkan adik perempuannya terlebih
dulu. Ternyata suasana berbahagia di rumah itu tidak dapai
bertahan lama. Kwa Siok Eng yang sering datang ke tempat
itu merasakan adanya suatu perubahan pada calon adik
iparnya yang cantik bagai bidadari itu. Terasa gadis ayu itu
semakin kelihatan kurus dan menderita batinnya. Ketika hal itu
disampaikan oleh Kwa Siok Eng kepada Chu Seng Kun calon
suaminya, pemuda itu juga sangat heran sekali. Beberapa kali
dia juga memergoki adik perempuannya tersebut yang
melamun sendirian di tempat sepi. Akhirnya datanglah
malapetaka itu !
Jilid 4
Pada suatu hari Chu Bwe Hong pergi berbelanja ke kota
yang terdekat seperti yang dia lakukan selama ini, sedangkan
Chu Seng Kun berada di rumah melayani tamu-tamu yang
datang berobat kepada mereka. Tetapi hingga larut malam
hari Chu Bwe Hong belum juga pulang. Tentu saja Chu Seng
Kun menjadi gelisah main ! Maka itu begitu orang-orang yang
datang berobat kepadanya habis, malam itu juga Chu Seng
Kun menyusul adiknya ke kota.
Semua toko dan warung telah menutup pintu mereka.
Waktu telah menunjukkan jam 10 malam. Jalan telah menjadi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sepi, hanya sebuah warung minum saja yang masih kelihatan
terbuka pintunya. Belasan orang tamu tampak memenuhi
tempat itu. Suara mereka terdengar sampai ke jalan,
memecahkan kesunyian malam.
Chu Seng Kun lebih dahulu menanyakan ke toko langganan
mereka, tetapi pemilik toko yang telah menutup pintu itu
mengatakan bahwa nona Chu Bwe Hong telah pulang sejak
siang tadi. Tentu saja keterangan itu membuat Chu Seng Kun
semakin merasa khawatir dalam hatinya. Khawatir terhadap
keselamatan adiknya, biarpun dia tahu bahwa adiknya
bukanlah seorang gadis yang lemah. Sebagai ahli waris dari
salah seorang Datuk Besar Persilatan yang berkepandaian
sangat tinggi. Tetapi Chu Seng Kun juga menyadari betapa
banyaknya orang sakti di dunia ini.
Chu Bwe Hong adalah seorang gadis yang cantik. Luar
biasa cantik malah ! Hal itulah yang membuat kakaknya
semakin mengkhawatirkan keselamatan adiknya tersebut. Chu
Seng Kun tahu betapa banyaknya hidung belang di dunia ini.
Padahal biarpun telah berusia 23 tahun. Chu Bwe Hong masih
merupakan seorang gadis yang hijau dalam pengalaman,
terutama dalam hubungan laki-laki dan wanita. Apalagi
menghadapi kelicikan manusia !
Chu Seng Kun berusaha menanyakan kepada setiap
kenalan mereka di kota itu. Tapi setiap kali ia mengetuk pintu,
jawaban mereka selalu sama. Mereka tidak tahu. Malam
semakin larut. Akhirnya Chu Seng Kun pergi ke warung yang
masih terbuka pintunya tadi. Ia ingin sekedar mengurangi
ketegangan dan beban pikirannya dengan sedikit minum arak
di tempat itu.
Tak seorangpun dari sekian banyaknya orang yang sedang
duduk-duduk di dalam warung itu memperhatikan
kedatangannya, selain pemilik warung yang telah dikenal baik
oleh pemuda itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Oh, Chu siauw-sinshe ! Mari ! Mari ! Wah….. tumben
malam-malam begini pergi ke kota. Ada keperluan yang
penting agaknya…..!” dengan tersenyum lebar pemilik warung
itu mempersilahkan Seng Kun masuk.
Chu Seng Kun tersenyum pula sambil mengangguk.
Diambilnya kursi yang terletak di dekat pintu yang kebetulan
sedang kosong. Dari tempat itu ia dapat mengawasi seluruh
ruangan tanpa terlihat oleh siapapun. Lalu ia mengamit
pemilik warung itu agak mendekat.
“Paman Ciu, engkau kebanjiran langganan rupanya. Alamat
banyak untung, nih !” Chu Seng Kun membuka pembicaraan.
“Iya…. Siauw-sinshe (tabib muda). Dari pagi belum
beristirahat, hampir patah rasanya tulang-tulangku yang tua
ini… Minum apakah Chu siauw-sinshe ?”
“Arakmu saja bawa ke sini ! Aku mau minum sebanyakbanyaknya
malam ini !”
“Hei ? Sungguh ? Tumben benar ! Baru kali ini Chu siauwsinshe
kulihat minum arak !” pemilik warung itu terbelalak
keheranan. “Sedang resah hati agaknya !”
“Benar, paman Ciu. Aku sedang kehilangan adikku. Sejak
pagi tadi ke kota ini dan sekarang belum pulang !”
“Ah, siang tadi nona Chu juga lewat di depan warungku ini.
Setiap orang saya kira mengetahuinya juga.”
“ Ya… tapi sampai sekarang dia belum pulang juga,” Chu
Seng Kun mengeluh.
“ Ahh.. Chu siau-sinshe jangan putus asa dahulu. Siapa
tahu nona Chu mengambil jalan memutar dan kini sudah ada
di rumah malah. Atau… mungkin nona Chu telah berjumpa
dengan kawan lama dan … hei ! Tadi siang nona Chu memang
berjalan dengan seorang teman…”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Hah ? Benarkah ? Ke mana perginya ? Macam apakah
temannya itu ?” Seng Kun lupa diri sehingga pundak pemilik
warung itu ia cengkram serta diguncang-guncang dengan
keras. “Ohh.. paman Chu, maafkan aku !” katanya meminta
maaf begitu menyadari tindakannya yang kasar itu.
“Aduh… Chu Siauw-sinshe hampir saja meremukkan tulang
pundakku…” pemilik warung itu meringis kesakitan. Tapi orang
itu lantas menyadari isi hati pemuda yang berdiri di
hadapannya, sehingga dengan cepat iapun tersenyum
kembali. Lalu dibimbingnya Chu Seng Kun ke tempat
duduknya lagi.
“Tenanglah, Chu siauw-sinshe ! Memang siapa yang takkan
bingung kalau salah seorang keluarganya sampai hilang tak
tentu rimbanya. Apalagi dia seorang gadis yang telah dewasa.
Nah, Chu sauw-sinshe… kulihat tadi siang nona Chu berjalan
bersama-sama dengan seorang laki-laki muda berperawakan
tinggi kurus, berpakaian secara orang terpelajar. Mereka
berdua berjalan ke arah utara. Orang itu… “
“Terima kasih, paman Ciu !” Seng kun berbisik dan sekejap
kemudian tubuhnya berkelebat lenyap dari depan pemilik
warung itu.
“Bukan main…!” orang she Ciu itu menggeleng-gelengkan
kepala saking kagumnya.
“Siapa dia ? Diakah yang digelari orang Keh-sim Siauw-hiap
(Pendekar Patah Hati) ?” Tiba-tiba pemilik warung itu merasa
tangannya dipelintir orang dari belakang. Sakitnya bukan main
!
“Bu-bukan…! D-dia bukan…, bukan…, eh siapa yang kau
sebut tadi ?” pemilik warung itu menjawab dengan gagap dan
lucu.
“Dia bukan Keh-sim Siauw-hiap maksudmu ?” orang yang
memelintir tangan pemilik warung itu menggertak lagi,
“Jangan membohong ! Kupatahkan lenganmu nanti !”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Jangan ! Jangan kaupatahkan lenganku ! aku tidak
membohong…, Pemuda itu bukanlah Keh-sim Siauw-hiap !
Pemuda itu bernama Chu Seng Kun …. dia …dia adalah
seorang tabib ter .. aduuh !” Orang itu kembali ke tempat
duduknya setelah mendorong tubuh pemilik warung tersebut
hingga membentur tembok.
“Heh… lama benar kau keluar ? Apakah twa-suheng sudah
datang ?” Enam orang kawannya yang duduk di meja itu
bertanya. Tak seorangpun dari mereka yang mengetahui
peristiwa di depan pintu warung itu.
“Huh, twa-suheng belum kelihatan datang. Sebenarnya aku
tak sabar lagi. Kenapa untuk menghadapi satu orang saja,
suhu memerintahkan kita semua berangkat ? Kenapa tidak
salah seorang saja dari kita yang disuruh berangkat
menghadapi bangsat itu ?” orang yang baru datang itu
bersungut-sungut.
“Jit-te ( adik seperguruan ke 7) ! Tahan kata-katamu ! Kita
tidak boleh terlalu memandang rendah Keh-sim Siauw-hiap !”
Salah seorang dari mereka membentak orang yang baru
datang itu.
Tiba-tiba dari meja yang berada di dekat mereka berdiri
seorang laki-laki berbadan kekar memberi hormat ke arah
mereka. “Ah, agaknya cuwi sekalian juga berurusan dengan
Keh-sim Siauw-hiap seperti kami …”
Orang yang membentak adik seperguruannya tadi cepat
pula berdiri membalas penghormatan itu untuk mewakili adikadik
seperguruannya. “Benar ! Kami memang mempunyai
sebuah urusan yang harus kami selesaikan bersama. Antara
kami dan Keh-sim Siauw-hiap ! Maaf, apakah cu-wi mengenal
dia pula ?” jawabnya berhati-hati.
“Ahaa, kalau begitu kita mempunyai tujuan yang sama.
Kami juga mempunyai sebuah urusan yang harus kami
selesaikan dengan dia ! Ah, maaf kami belum
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memperkenalkan diri. Kami empat orang ini adalah pembantupembantu
Song-tie-koan (pembesar Song) dari kota Tie-an.
Orang memanggil kami berempat dengan Tiat-I Su-jin (Empat
Orang Berbaju Besi). Sekarang bolehkah kami mengenal nama
besar dari cu-wi sekalian ?” kata orang berbadan kekar itu
sambil memperkenalkan diri mereka. Tiga orang yang duduk
satu meja dengan orang itu segera berdiri pula untuk memberi
hormat kepada ke-7 orang itu dengan penghormatan pula.
Mereka tidak ingin berbuat sembrono dihadapan petugaspetugas
Negara, meskipun di dalam hati mereka tidak begitu
menyukainya. Soalnya setiap mereka melakukan tugas
pekerjaan mereka, mereka harus selalu berhubungan dengan
para petugas Negara.
“Oh, kami ber-7 benar-benar tidak mengira dapat berjumpa
dengan Tiat-i Su-jin di tempat ini. Kami semua adalah
pengawal Kim-liong Piauw-kiok (Perusahaan Pengangkutan
Naga Mas) yang berkedudukan di kota Sin-yang.”
“Kim-liong Piaw-kiok ? Wah, kalau begitu kita masih
merupakan sahabat lama sebenarnya. Kami telah sering
bertemu dengan saudara Thio Lung, pemimpin Kim-liong
Piaw-kiok. Saudara Thio Lung sering berkunjung ke tempat
tinggal Song-tie-koan. Haha… kalau begitu mari kita duduk
dalam satu meja saja. Kita rayakan pertemuan malam ini
dengan arak !” ajak orang bertubuh kekar tersebut dengan
sangat gembira. Mereka lalu makan minum sepuas-puasnya.
“Thio Lung adalah twa-suheng kami (kakak seperguruan
yang tertua). Karena sedang mengurus sesuatu urusan maka
twa-suheng kami itu akan datang kesini agak terlambat… Tapi
sebentar lagi tentu akan tiba,” kata orang yang membentak
adik seperguruannya tadi.
“Ji-sute…! Ini aku sudah datang !” Tiba-tiba terdengar
suara di luar pintu. Dan sebelum gema suara itu lenyap,
orangnya telah berada di antara mereka. Pertemuan itu
menjadi semakin meriah. Orang yang bernama Thio Lung itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
benar-benar seorang yang ramah dan pandai bicara. Sesuai
benar dengan jabatannya sebagai pemimpin perusahaan
pengangkutan yang selalu berhubungan dengan para
langganan. Itulah agaknya menjadi sebab mengapa suhunya
mempercayakan perusahaan Kim-liong Piaw-kiok itu
kepadanya.
“Saudara Thio…! Lama sungguh kita tidak pernah
berjumpa….!” Mendadak pula terdengar sebuah suara dari
pojok ruangan. Seorang laki-laki berusia sekitar 40 tahun
dengan kumis dan jenggot lebat tampak berdiri menghadap ke
arah mereka.
“Hei….. Li-taihiap rupanya (pendekar Li) !” Thio Lung
tersentak keheranan. “Angin apakah kiranya yang meniup Litaihiap,
sehingga jauh-jauh dari kota Tie-kwan di lembah
Sungai Huang-ho, sampai di kota kecil ini ?”
“ha – ha …. Agaknya sama juga persoalannya dengan cuwi
semua. Aku juga ada sedikit urusan dengan Keh-sim Siauwhiap,”
kata orang yang disebut dengan nama Pendekar Li itu
sambil mengambil tempat duduk di antara mereka pula. Thio
Lung memperkenalkan pendekar itu kepada teman-temannya
yang lain.
“Inilah Li-taihiap yang ternama itu. Beliau menjadi sangat
ternama tidak hanya disebabkan oleh Jit-seng Kiam-hoat (Ilmu
Pedang Tujuh Bintang) beliau yang hebat, tetapi juga
disebabkan karena harta benda beliau yang berlimpah-limpah.
Beliaulah ahli waris satu-satunya dari mendiang Perdana
Menteri Li Su …” katanya. (Li Su adalah perdana menteri dari
Kaisar Chin yang lama).
“ Ah, saudara Thio ini…. Kenapa mesti mengungkit-ungkit
nama seseorang yang telah tiada…” sahut Pendekar Li kurang
senang.
“Maafkan siauw-te kalau begitu. Sebenarnya siauw-te
hanya ingin meyakinkan kepada semua orang bahwa Li-taihiap
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bukanlah seorang pendekar sembarangan seperti kami semua
ini.”
“Ya… tapi justru karena khabar seperti itulah yang
menyebabkan Keh-sim Siauw-hiap mengirim orang-orangnya
untuk merampok semua isi rumahku. Sehingga aku terpaksa
pergi ke tempat ini untuk mengambil kembali barangbarangku
itu,” kata Pendekar Li dengan geram.
“Oh… jadi hal itukah yang menyebabkan Li-taihiap jauhjauh
datang ke sini ? Kalau begitu memang hampir sama juga
persoalannya dengan urusan kami orang-orang Kim-liong
Piauw-kiok. Hanya bedanya barang-barang yang mereka
rampok dari kami itu bukan barang-barang kami sendiri tapi
barang-barang yang dititipkan orang kepada kami,” kata Thio
Lung dengan menggeram pula.
“Wah, agaknya Keh-sim Siauw-hiap itu memang seorang
manusia yang serakah dan suka mengganggu orang lain.”
Tiat-I Su-jin ikut berbicara. “Beberapa orang tahanan yang
berada di bawah pengawasan kami juga mereka ambil dan
mereka lepaskan begitu saja. Maka kami terpaksa mencari
pula orang itu untuk mempertanggungjawakan perbuatan
yang dilakukan oleh para anak buahnya tersebut.”
Sementara itu selagi orang-orang tersebut
memperbincangkan urusan mereka masing-masing. Chu Seng
Kun tampak mendatangi tempat itu kembali. Wajahnya
kelihatan kusut dan lelah. Ia telah jauh berlari-lari ke arah
utara untuk mencari adiknya tanpa hasil. Ia malah bertemu
dengan rombongan gadis-gadis cantik yang sangat
mencurigakan. Gadis-gadis itu menanyakan letak warung
minum milik orang she Ciu itu, sehingga hampir saja Chu Seng
Kun yang sedang berhati kusut itu bentrok dengan mereka.
Dan ternyata di dalam warung itupun Chu Seng Kun hampir
bentrok pula dengan orang-orang tersebut. Roman mukanya
yang muram, lesu dan tak bergairah hidup itu membuat
orang-orang yang sedang mencari Keh-sim Siauw-hiap
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tersebut menjadi salah duga terhadap dirinya. Wajahnya yang
tampan, usia yang masih muda dan roman mukanya yang
seperti orang patah hati itu membuat orang-orang tersebut
menyangka dirinya Keh-sim Siauw-hiap ! Pemilik warung yang
sekali lagi memberi keterangan tentang siapa sebenarnya
pemuda itu ternyata juga tidak dipercaya oleh mereka. Apalagi
kedatangan Chu Seng Kun saat itu tepat tengah malam seperti
saat yang dijanjikan oleh Keh-sim Siauw-hiap kepada mereka.
Baru setelah rombongan gadis yang pernah dijumpai Chu
Seng Kun di luar kota itu memasuki warung tersebut,
kesalahpahaman itu menjadi jelas. Orang-orang itu baru
menyadari akan kesalahan mereka. Ternyata gadis-gadis
tersebut adalah anak buah Keh-sim Siauw-hiap yang
diperintahkan untuk menjemput mereka semua.
Akhirnya orang-orang itu meninggalkan warung tersebut
bersama-sama dengan gadis-gadis cantik itu. Chu Seng Kun
dengan lesu duduk kembali di atas kursi ditemani pemilik
warung itu.
“Chu siauw-sinshe, bagaimanakah…? Kenapa tadi terus
berlari begitu saja ? Tidak bertemu dengan nona Chu, bukan ?
Tentu saja tidak ! Bukankah nona Chu telah berangkat siang
tadi ? Sekarang sudah tengah malam. Paling tidak nona Chu
telah menempuh jarak 100 lie lebih…. Eh, Chu Siauw-sinshe !
Kata-kataku tadi sebenarnya belum habis. Aku menyimpan
sebuah barang kepunyaan orang yang pergi bersama-sama
dengan nona Chu tapi…”
“Heh ? Benar ? Benda apakah itu ?” Chu Seng Kun
terlompat dari tempat duduknya. “Cepat perlihatkan
kepadaku, paman ! Apa…. Apakah orang itu menginap di sini
?”
Pemilik warung itu mengangguk lalu bergegas masuk ke
dalam diikuti oleh Chu Seng Kun. Dari dalam almari
penyimpanan arak orang itu mengambil sebuah topi lebar
dengan kain sutera tipis sebagai penutup pinggirannya. Benda
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu diperlihatkan kepada Chu Seng Kun yang lalu mengamatamati
benda tersebut dengan teliti.
“Sudah pernah mengenal topi ini, Chu siauw-sinshe ?”
“Belum pernah !” Chu Seng Kun menjawab lemah.
“Nah, siauw-sinshe. Sekarang pulang beristirahatlah !”
“Tidak ! Aku mau pulang malam ini juga. Siapa tahu Chu
Bwe Hong telah berada di rumah…”
Tapi rumahnya tetap sepi. Ia menanti lagi sampai pagi,
siang, sore… adiknya tetap tidak kembali. Beberapa hari ia
menanti, kadang-kadang ia pergi ke kota untuk menanyakan
tentang Chu Bwe Hong, tetapi adiknya tetap juga belum
kembali. Akhirnya ia meninggalkan rumahnya untuk mencari
Chu Bwe Hong !
Satu bulan telah berlalu, berita tentang Chu Bwe Hong
belum juga terdengar. Dua bulan tiga bulan telah berlalu pula.
Chu Seng Kun pergi pula ke tempat calon mertuanya dan
mengajak tunangannya untuk turut mencari adiknya. Sehingga
kini enam bulan telah terlewatkan pula tanpa hasil. Akhirnya
pada hari ulang tahun penobatan Kaisar Han ini mereka
teringat untuk mengunjungi baginda. Untunglah dari salah
seorang perwira yang mengiringkan baginda ke kota ini
mereka diberi tahu tentang kunjungan baginda di sini,
sehingga sekarang mereka bisa berhadapan dengan
junjungannya itu.
Demikianlah pemuda itu mengakhiri kisahnya, sementara
hari ternyata juga telah menjelang pagi. Terdengar suara
kokok ayam di sekitar pondok itu. Para prajurit penjaga telah
mulai sibuk dengan tugasnya masing-masing.
“Ooh…. Jadi sampai sekarang enci Bwe Hong belum juga
terdengar kabar beritanya ? Ah, enci Bwe Hong…. Enci Bwe
Hong !” Nona Ho mengeluh sedih. Teringatlah gadis itu akan
pengalamannya bersama-sama Chu Bwe Hong beberapa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tahun yang lalu tatkala mereka berkelana bersama,
berpetualang bersama, mengalami pahit getir bersama.
Terbayang pula di depan mukanya saat mereka berdua
diombang-ambingkan gelombang laut yang sangat luas.
“Enci… enci !” keluhnya lagi. Hatinya seakan-akan juga
mengetahui apa sebenarnya yang menjadi beban pikiran gadis
ayu itu.
Kaisar Han yang biasanya berhati keras itupun tampak
menghela napas berulang-ulang. Baginda telah mengenal baik
gadis itu sebelum baginda menduduki singgasana, karena
kedua kakak beradik tersebut juga turut berjuang bersamanya
dalam menumbangkan kekuasaan Kaisar Chin yang kejam itu.
“Sudahlah…! Kita tidak boleh hanya merenung dan
menyesalinya saja. Kita harus berusaha untuk menemukan
nona Chu kembali secepatnya ! Nah, aku juga akan membantu
saudara Chu dalam hal ini.” Kaisar Han berkata dengan penuh
semangat.
“Penjaga ! Panggillah Yap Tai-ciangkun ke sini sekarang
juga ! Bawa kim-pai (tanda perintah) ini ! Lekas !” Kaisar Han
memanggil penjaga pintu dan menyuruhnya memanggil Yap
Tai-ciangkun yang sedang berada di gedung kepala daerah.
“Baik hong-siang !” penjaga itu berdatang sembah. Lalu
dengan gemetar diterimanya ‘kim-pai’ itu di atas kepalanya.
“Hong-siang… maaf, apakah yang akan hong-siang lakukan
dengan memanggil Yap Tai-ciangkun kemari ?” Chu Seng Kun
bertanya dengan perasaan tidak enak.
“Saudara Chu, kau tenang-tenang sajalah di sini ! Aku akan
berusaha menolong pula untuk mencari nona Chu … Soalnya
… hei, lihat ! Anak muda ini telah membuka matanya !”
mendadak Kaisar Han menunding ke arah di mana Chin Yang
Kun dibaringkan.
Tampak pemuda yang hampir saja mati terkena racun itu
berusaha membuka pelupuk matanya yang terpejam. Dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
beberapa saat kemudian tampak mata yang telah terbuka
termangu-mangu seakan tidak mempercayai kalau dirinya
masih tetap hidup. Tetapi begitu mata itu memandang
berkeliling dan melihat wajah-wajah keempat orang yang
mengerumuni dirinya, kontan mata itu menjadi beringas.
Agaknya ia telah teringat kembali akan dirinya yang berada di
penjara bawah tanah. Tiba-tiba pemuda itu melompat dari
tempat tidurnya. Tetapi karena luka-lukanya yang parah pada
kedua belah pahanya serta habisnya lwee-kang yang ia
pelajari selama ini, maka tubuh itu jatuh terduduk di atas
lantai dan terguling pingsan kembali. Chu Seng Kun dan Kaisar
Han bergegas mengangkatnya kembali ke atas pembaringan.
“Kelihatannya anak muda ini telah mengetahui tadi bahwa
tenaga dalamnya telah musnah…” Kaisar Han berguman
pelan.
“Tetapi hamba kira hal itu justru kebetulan sekali, terutama
demi keselamatan umum dan kaum persilatan…” Chu Seng
Kun bergumam pula.
“Apa maksud saudara Chu ?” Kaisar Han bertanya kaget.
“Hong-siang, di dalam darah anak muda ini telah mengalir
sebuah campuran racun yang kekuatannya telah berlipat
ganda. Racun itu telah bersenyawa menjadi satu dengan
cairan darah sehingga tidak mungkin terpisahkan lagi. Pada
hal sifat racun itu adalah hidup, artinya mereka akan
berkembang biak menjadi berlipat ganda banyaknya, sejalan
dengan bertambahnya cairan darah di dalam tubuh manusia.
Nah… tanpa kepandaian apa-apapun anak muda ini sudah
menjadi orang yang sangat berbahaya bagi lingkungannya.
Apalagi kalau sampai dia memiliki tenaga dalam yang mampu
mengantar keistimewaan tubuhnya yang mengandung racun
itu untuk melukai atau menyerang orang…. Wah, dunia
persilatan tentu akan menjadi geger !” Chu Seng Kun
menerangkan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Tetapi bukankah sudah banyak tokoh-tokoh persilatan
yang mempunyai pukulan-pukulan beracun ?” nona Ho
membantah.
“Benar, tetapi lain sifatnya. Orang yang mempelajari ilmu
pukulan beracun biasanya merendam lengannya di dalam
cairan racun, sehingga sedikit demi sedikit cairan racun itu
akan melekat pada kulit lengannya tanpa membahayakan
jiwanya. Jadi selain mempelajari ilmu silat, orang itu juga
melatih daya tahan tubuhnya terhadap racun itu. Maka
seseorang yang berlatih ilmu pukulan racun hanya bagian kulit
lengan saja yang mengandung racun. Cairan darahnya tetap
bersih ! Lain halnya dengan anak muda ini… Darahnya benarbenar
beracun sehingga boleh dikata ia menjadi seorang
manusia beracun, tidak ada bedanya dengan binatang uburubur
atau tikus laut itu sendiri !” Chu Seng Kun menghentikan
kata-katanya sebentar, kemudian melanjutkannya lagi. “Maka
dari itu semakin tinggi anak muda ini berlatih lwee-kang
semakin berbahaya pula dia bagi orang-orang yang berada di
selilingnya. Sebab, berbeda dengan seseorang yang berlatih
ilmu pukulan beracun, di mana letak kemanjuran dari
racunnya baru terbukti apabila lengan itu sudah berhasil
menyentuh tubuh lawannya, maka bagi manusia beracun
seperti anak muda ini sentuhan terhadap tubuh lawan itu
sudah tidak diperlukan lagi ! Karena setiap anak muda ini
mengerahkan lwee-kangnya maka otomatis tenaga dalam itu
telah mengandung racun yang telah mengalir di dalam
darahnya.”
“Hong-siang, hamba Yap Kim telah datang menghadap !”
tiba-tiba di luar pintu terdengar suara orang mengetuk pintu.
“Yap Tai-ciangkun, silahkan masuk ! lihat teman-teman
lamamu berada di sini !”
Seorang laki-laki yang masih sangat muda tetapi memakai
seragam panglima perang yang paling tinggi di dalam
kalangan keperajuritan, tampak memasuki ruangan itu. Untuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
beberapa saat Chu Seng Kun hampir tidak mengenali wajah
itu. Wajah seorang pemuda yang tegas, gagah dan
berwibawa. Padahal dahulu wajah itu sempat membuat ayah
ibunya dan kakaknya menjadi kalang-kabut karena ulahnya
yang badung serta nakal.
“Hong-siang … ada keperluan apakah pagi-pagi begini telah
mengirim seorang utusan untuk memanggil hamba ?”
panglima itu berlutut di depan Kaisar Han.
“Yap Tai-ciangkun, coba lihat orang-orang yang kini sedang
duduk bersamaku ini ! Kau mengenal mereka tidak ?”
“Oh… Saudara Chu ! Nona Kwa…!” panglima muda itu
terkejut. Kemudian dengan tersenyum ramah panglima itu
menyalami mereka. “Aha, akhirnya kita dapat berjumpa pula.
Tadi malam Hong-siang memang telah mengatakannya
kepadaku…”
“Yap Tai-ciangkun, bagaimana dengan orang-orangmu
yang tergabung dalam barisan Sha-cap-mi-wi (30 Orang
Pengawal Rahasia Kaisar)?” baginda memanggil panglima
muda itu.
“Mereka selalu bersiap diri siang malam untuk menjadi
pagar bernyawa bagi keselamatan hong-siang !” panglima itu
menjawab tegas.
“Bagus ! Sekarang aku ingin meminta pertolongan mereka
untuk mencari nona Chu yang hilang!”
“Hong-siang ….!” Chu Seng Kung berseru untuk mencegah
maksud baginda itu. Bagaimanapun juga pemuda itu menjadi
tak enak hati kalau dalam mencari adiknya ini harus
melibatkan pasukan yang hebat itu. Ia telah mendengar
khabar angin bahwa untuk dapat menjadi anggota pasukan
pengawal ini harus melalui pendadaran yang sangat berat
lebih dahulu. Sehingga setiap anggota pasukan itu tentulah
merupakan seorang jago silat berkepandaian tinggi dan telah
lulus dari perguruan mereka masing-masing.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Yap Tai-ciangkun memandang Kaisar Han dengan sinar
mata kaget. Sedikitpun ia tidak mengetahui maksud baginda
itu. Barulah ia menjadi maklum akan maksud junjungannya itu
setelah baginda sendiri yang menerangkan apa yang telah
terjadi. Meskipun demikian, sebetulnya ia tidak begitu cocok
dengan maksud dan keinginan baginda itu. Bagaimanapun
pentingnya masalah tersebut, tak perlu sebenarnya harus
mempergunakan pasukan yang hebat itu, sehingga baginda
sampai melupakan kepentingannya sendiri pula. Tapi tentu
saja keputusan baginda tersebut sudah tidak bisa diganggu
gugat lagi.
“Yap Tai-ciangkun, sebarlah seluruh anggota Sha-cap-mi-wi
ke seluruh negeri ! Suruh mereka berangkat besok pagi
setelah kau beri keterangan yang lengkap tentang keadaan
nona Chu. Beri juga batas waktunya, yaitu ketemu atau tidak
ketemu harap sudah tiba kembali di istana pada tanggal 10
bulan depan. Nah, Yap Tai-ciangkun, silahkanlah kau kembali
mempersiapkannya sekarang juga !”
“Akan hamba kerjakan, hong-siang !” Yap Tai-ciangkun
minta diri.
Kaisar Han berjalan ke jendela dan membukanya lebarlebar.
Sang sinar matahari pagi masuk menerangi ruangan itu.
Burung-burung kecil tampak beterbangan di antara pohonpohon
bunga dan cemara yang ditanam di halaman. Anginpun
meniup perlahan menyegarkan suasana.
“Besok pagi aku juga akan kembali ke kota raja. Anak
muda yang terluka parah ini biarlah kubawa serta pula.
Saudara Chu…. Kalian berdua lebih baik juga pergi bersamaku.
Kalian dapat menanti khabar dari orang-orangku itu di sana
sekalian beristirahat….” Baginda berkata perlahan.
“Hong-siang…. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya
apabila kami terpaksa menolak ajakan hong-siang ini. Selain
kami memang ingin berusaha dengan sekuat tenaga kami.
Kami merasa tak enak pula di dalam hati apabila hanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berpangku tangan saja di rumah, sementara Hong-siang telah
bersusah payah mengerahkan Sha-cap-mi-wi ke seluruh
pelosok negeri. Maka dari itu besok pagi kami juga ingin
mohon diri untuk meneruskan perjalanan kami…. Sedangkan
pada tanggal 10 bulan depan kami juga akan menghadap
Hong-siang untuk mengetahui hasil dari perjalanan para
anggota Sha-cap-mi-wi ini….” Nona Kwa berkata dengan halus
mewakili calon suaminya.
“….. dan hamba menghaturkan banyak terima kasih atas
perhatian Hong-siang pada masalah yang hamba derita ini.”
Chu Seng Kun menambahkan.
“Baiklah ! Aku tahu perasaan kalian. Sekarang kalian
beristirahatlah, nanti sore aku ingin bertukar pikiran dengan
kalian lagi !”
“Terima kasih, Hong-siang !”
Sepeninggal sepasang merpati itu dari ruangan tersebut
nona Ho segera mendekati Kaisar Han.
“Suhu, aku ingin sekali mengikuti mereka untuk mencari
enci Bwe Hong. Selain itu aku juga ingin menemui temanteman
lama yang sudah bertahun-tahun tak kujumpai.
Boleh…… ya, suhu ? Bosan juga disuruh menjadi puteri
pingitan di istana terus-menerus.” Rengeknya.
Kaisar Han menatap wajah muridnya yang disayanginya.
“Baiklah, kau boleh ikut mereka apabila mereka
memperbolehkan… Haha, biar aku larangpun engkau tentu
akan tetap pergi juga !” Kaisar Han tersenyum.
“Terima kasih, suhu !” teriak nona Ho sambil berlari keluar.
Hatinya tampak senang bukan main.
Gadis itu segera berlari menemui kedua temannya itu serta
mengatakan maksudnya untuk ikut dengan mereka mencari
Chu Bwe Hong. Tentu saja Kwa Siok Eng juga merasa senang
sekali mendapat teman seperjalanan seperti Ho Pek Lian.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu Kaisar Han kembali berdiri di samping
pembaringan Chin Yang Kun. Baginda memandang wajah
yang agak kurus tapi tampan sampai lamaa… sekali. Entah
kenapa baginda sendiri tidak tahu. Sejak baginda melihat
untuk pertama kalinya di dalam penjara bawah tanah itu, di
mana anak muda itu terkapar terluka parah badannya,
baginda seperti tersentuh perasaan simpatinya. Baginda
secara tidak sadar sampai memanggul sendiri tubuh anak
muda ini, Padahal di sana terdapat beberapa orang hamba
sahayanya. Baginda sampai lupa juga akan kedudukannya
ketika baginda memanggul anak muda itu ke pondok ini,
sehingga para pengawal dan para prajurit yang telah
mengenal penyamaran baginda menjadi sangat heran
dibuatnya. Para prajurit itu seakan-akan melihat junjungan
mereka memanggul salah seorang putera baginda sendiri saja.
Padahal mereka semua tahu bahwa biarpun telah berusia 40
tahun lebih, junjungan mereka itu masih tetap belum
berkeluarga, apalagi mempunyai seorang putera.
Ketika tubuh itu mulai bergerak baginda segera memegang
lengannya, dan sebelum pemuda itu sempat berpikir yang
bukan-bukan baginda cepat pula menerangkan duduk
perkaranya, mengapa anak muda itu sampai di tempat
tersebut, sehingga akhirnya pemuda itu menjadi tenang
kembali.
“Tenanglah, anak muda ! Kini engkau telah terbebas dari
mereka, engkau telah berada di tempatku yang aman. Aku
adalah seorang perwira kerajaan yang membebaskan engkau
dari tangan penjahat-penjahat itu. Biarlah setelah engkau
dapat berjalan kembali seperti sedia kala, terserah kepadamu
untuk pergi ke mana saja. Nah, aku akan beristirahat dahulu.
Kalau membutuhkan sesuatu, kaupanggil sajalah penjaga
yang berada di luar pintu itu !” baginda berkata sedikit
berbohong agar tidak mengagetkan anak muda itu, kemudian
baginda keluar dari ruangan tersebut setelah lebih dahulu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membisiki para penjaga agar berusaha membantu
penyamaran baginda itu.
Sampai lama Yang kun masih tetap berdiam diri saja di
tempatnya. Pikirannya melayang jauh mengenangkan semua
peristiwa yang baru saja dia alami. Bermula dari
keberangkatan keluarganya yang masih utuh sampai
musnahnya mereka satu persatu di dalam perjalanan.
Sehingga pada akhirnya tinggal dia sendirilah yang masih
hidup. Itu pun kalau tidak ditolong oleh perwira itu tadi
niscaya nyawanya akan melayang seperti yang lainnya.
Sebenarnya Yang Kun tak menyangka sama sekali bahwa
dirinya masih dapat diselamatkan dari kematian oleh para
penolongnya itu. Maka secara diam-diam tumbuh di dalam
hatinya suatu perasaan terima kasih yang tak terhingga
terhadap mereka itu. Hanya ada sedikit rasa kecewa di hatinya
ketika pemuda itu menyadari betapa himpunan tenaga dalam
yang telah dikumpulkannya selama ini telah hilang lenyap dari
tubuhnya.
Pada sore hari ketika perwira yang menolongnya itu datang
kembali bersama-sama dengan kawan-kawannya, Yang Kun
menyambutnya dengan senyuman terima kasih. Perwira itu
memperkenalkan kawan-kawannya itu kepada Yang Kun.
“Hian-te (saudara kecil), mari kuperkenalkan engkau
dengan kawan-kawanku ini. Mereka semua ini yang bersamasama
dengan aku menyelamatkan engkau dari penjara bawah
tanah itu. Pertama-tama kenalkanlah pemuda jangkung ini.
Dia bernama Chu Seng Kun, seorang ahli pengobatan yang
menyelamatkan dirimu dari kematian.”
Yang Kun dengan susah payah berusaha untuk duduk di
atas pembaringannya.
“Terima kasih, in kong !” katanya perlahan.
Kemudian Kaisar Han itu memperkenalkan Yap Taiciangkun
juga, meskipun panglima itu hanya diperkenalkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sebagai salah seorang bawahannya saja. Begitu juga ketika
baginda itu memperkenalkan nona Ho dan nona Kwa, kedua
gadis itu hanya diperkenalkan sebagai kawan dari Chu Seng
Kun saja. Pokoknya baginda tidak ingin dia berserta para
pengawalnya dikenal orang sebagai seorang kaisar dan
prajurit-prajuritnya.
“Nah… kau beristirahatlah sebanyak mungkin agar supaya
cepat sembuh ! Kami akan berbincang-bincang sebentar di
ruangan lain.” Kaisar Han minta diri.
“Terima kasih, tuan !” Yang Kun mengangguk dalamdalam.
“Oh, iya…” Tiba-tiba kaisar Han membalikkan tubuh ketika
mereka telah berada di ambang pintu. “Bolehkan kami
mengetahui namamu, hian-te ? Siapa tahu kita akan sering
bertemu di jalan nanti?”
Chin Yang Kun tampak gelagapan. Tak ingin sebenarnya ia
dikenal orang, tapi tak enak pula hatinya kalau harus
membohong terhadap orang yang telah menyelamatkan
nyawanya.
“Siauw-te bernama….. Yang Kun !”
“Bagus ! Yang hian-te, gurumu telah dibebaskan oleh Liok
Cianbu pagi-pagi tadi. Mungkin dia telah berangkat lebih
dahulu ke kampungmu, sehingga kau tak usah mencarinya
lagi.”
Sekali lagi pemuda itu gelagapan hatinya. Dia tak mengerti
dan tidak tahu apa yang dimaksud oleh perwira itu. Tapi
ketika berkelebat bayangan Hek-mou-sai di otaknya, segera ia
menangkap siapa yang dimaksud oleh perwira itu. Agaknya
Hek-mou-sai telah membohongi mereka dengan mengatakan
bahwa mereka berdua adalah dua orang guru dan murid.
“Terima kasih, tuan !”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kelima orang itu pergi meninggalkan Chin Yang Kun
seorang diri lagi. Mereka turun ke halaman dan berjalan
menuju sebuah bangunan kecil yang berada di tengah-tengah
kolam ikan. Ternyata di sana telah menunggu para pembesar
kepala daerah, para perwira dan para penasehat kaisar yang
telah dibawa oleh baginda dari kota raja.
Chu Seng Kun dan nona Kwa menjadi terkejut di dalam
hati. Tak mereka sangka baginda mengajak mereka ke sebuah
pertemuan di antara para pembesar Negara. Mereka menjadi
canggung dan tak tahu apa yang mesti mereka perbuat.
“Hong-siang, lebih baik hamba menanti saja di tempat
saudara Yang Kun tadi. Hamba tidak berani menganggu
apabila hong-siang sedang berkenan untuk mengadakan
pertemuan di sini.” pemuda itu berkata kepada Kaisar Han.
“Hah ? Tak apa-apa …… ayolah ! Aku memang bermaksud
mengajak kalian dalam pertemuan kali ini. Ada sesuatu yang
ingin kukatakan juga kepada kalian sebelum kalian berangkat
besok pagi.” Baginda menyahut.
Semuanya menjatuhkan diri berlutut ketika Kaisar Han
memasuki bangunan kecil itu dan baru bangun kembali ketika
baginda telah duduk di kursinya. Mereka juga mengambil
tempat duduk mereka masing-masing.
“Yap Tai-ciangkun !” langsung saja baginda memulai
pertemuan itu tanpa melalui basa-basi. “Siapakah yang kau
tunjuk sebagai pengganti dari Si Ciangkun di sini?”
“Belum ada, Hong-siang. Sementara waktu kedudukan itu
hamba berikan kepada Liok Cianbu. Tetapi hamba bermaksud
menarik separuh dari prajurit hamba yang berada di sini untuk
hamba tempatkan di kota lain.”
“Bagus…. begitupun juga baik. Dan lebih baik lagi kalau
prajurit-prajurit yang kautarik itu kau tempatkan saja di kotakota
kecil di pantai timur sana agar dapat menghadapi para
perampok yang sering menganggu kota-kota itu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Akan hamba kerjakan, Hong-siang !”
“Baik ! Kini tinggal kepala daerah yang harus
membersihkan sisa-sisanya dan memperbaiki daerahnya !”
baginda meneruskan.
“Akan hamba kerjakan semua titah hong-siang !” Kepala
daerah itu menyanggupi.
“……. Sementara itu aku juga tidak akan berhenti sampai di
sini saja. Akan kukirimkan beberapa orang petugas khusus
untuk menyelidiki hal ini sampai tuntas !”
“Ampunkan hamba, hong-siang ! Hamba juga telah
berusaha melacak jejak-jejak orang luar yang ikut tersangkut
dalam usaha pengkhianatan terhadap negara ini,” panglima
yang masih muda itu memberi laporan.
“Orang luar ? Benarkah ada pihak lain yang turut campur
dalam peristiwa ini ?”
“Benar ….. hong-siang ! Agaknya Si Ciangkun telah
mempergunakan orang-orang kang-ouw sebagai tulang
punggung kekuatannya. Hal ini terbukti ketika tadi malam
hamba menggerebeg rumahnya, pasukan hamba telah
dikagetkan dengan munculnya belasan tokoh kang-ouw yang
mempunyai kepandaian sangat tinggi, sehingga maksud
hamba untuk mengepung rumah itu menjadi berantakan
malah. Salah seorang di antara orang-orang itu sudah
berhadapan pula dengan hamba,” Dengan agak ragu-ragu Yap
Tai-ciangkun memberi keterangan kepada Kaisar Han.
Keraguan ini disebabkan oleh karena laporan tersebut
sebenarnya tidak perlu lagi disampaikan kepada baginda
dalam pertemuan ini, sebab dengan menyamar sebagai Liu
suhu baginda telah melihat sendiri pertempuran tadi malam.
Justru baginda sendiri juga telah bertempur dengan salah
seorang di antaranya.
“Lalu apakah yang telah kaulakukan untuk melacak orangorang
kang-ouw yang ikut terlibat itu !” Kaisar Han bertanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kakak hamba sendiri telah menyanggupkan diri untuk
melacak mereka….”
“Aha….. Hong-lui-kun Yap Kiong Lee sendiri yang berangkat
? Ha-ha-ha… inilah baru dapat dikatakan sebuah langkah yang
benar. Kukira selain orang seperti Hong-lui-kun (Si Tinju Petir
dan Badai) Yap Kiong Lee sendiri yang berangkat takkan ada
lagi orang-orang kita yang mampu menghadapi mereka.”
Kaisar Han berkata dengan lega dan gembira. Telah sejak
lama Kaisar Han berusaha membujuk kakak Yap Tai-ciangkun
itu agar mau menjadi pembantunya, tetapi pendekar sakti itu
dengan halus selalu menolaknya. Pemuda itu hanya
mempunyai suatu keinginan di dalam hidupnya, yaitu
membalas budi gurunya yang telah mendidik dan merawat dia
sejak kecil. Dan salah satu jalan untuk berbuat seperti itu ialah
dengan mengawasi dan melindungi Yap Kim (Yap Taiciangkun),
putera satu-satunya dari gurunya itu.
“Terima kasih atas kepercayaan hong-siang terhadap kakak
hamba.”
“Sudahlah ! Sekarang aku mempunyai sebuah persoalan
lain yang kita akan bicarakan.” Kaisar Han mengalihkan
pembicaraannya. Dengan tersenyum baginda menoleh ke arah
tempat duduk Chu Seng Kun dan nona Kwa. “…. dan khusus
dalam persoalan ini nanti, aku mengharapkan pertolongan
sepasang tamu kita ini.”
Kedua muda-mudi itu segera berdiri menghormat kepada
Kaisar Han.
“Silahkan hong-siang mengatakannya, hamba berdua akan
selalu siap untuk melaksanakannya,” mereka berkata.
“Terima kasih ! Begini cu-wi semua….”
Kemudian Kaisar Han bercerita tentang sebuah benda kuno
yang sejak jaman purbakala selalu menjadi rebutan para rajaraja.
Benda itu berwujud sebagai “cap” terbuat dari batu giok
berwarna kuning dan berbentuk persegi empat. Di bagian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bawah terukir sebuah huruf ‘TIONG’ yang memenuhi seluruh
permukaannya. (Tiong berarti : Tengah).
Konon khabarnya benda itu dibuat oleh dewa yang turun ke
tengah bumi untuk mendidik manusia agar lebih mengenal
peradaban. Dewa itu mengumpulkan orang-orang yang masih
hidup di dalam goa-goa untuk diberi pelajaran hidup
bermasyarakat serta mendirikan sebuah dusun dan kota. Oleh
manusia-manusia purba tersebut sang dewa itu lalu diangkat
sebagai raja mereka.
Begitulah, setelah dewa itu mempunyai seorang putera
yang nantinya dapat menggantikan dirinya sebagai raja, maka
dewa tersebut lalu kembali lagi ke kahyangan. Tetapi sebelum
kembali dewa itu membuatkan sebuah mainan dari batu giok
untuk anaknya yang ia beri nama TIONG itu. Benda mainan
itu oleh sang dewa diberi tuah agar menjadi pelindung bagi
keselamatan anaknya yang masih kecil itu. Tenyata benda
mainan yang sederhana itu benar-benar sangat bertuah sekali.
Begitu anak kecil tersebut memegang benda mainan itu maka
seakan-akan ia mempunyai perbawa dan pengaruh yang
menakutkan, seakan-akan sedang berhadapan dengan sang
dewa itu sendiri, sehingga segala binatang buaspun tunduk
kepadanya.
Demikianlah, benda itu akhirnya menjadi sebuah benda
pusaka yang diberikan turun-temurun kepada raja-raja
pengantinya, sehingga akhirnya beberapa ribu tahun
kemudian benda pusaka yang sangat bertuah itu menjadi
rebutan bagi raja-raja lain yang menginginkan keselamatan,
seperti halnya si anak dewa tersebut.
Sampai sekarangpun benda itu masih tetap diperebutkan
oleh orang yang menginginkan dirinya agar dapat menjadi raja
di Negara TIONG yaitu negara yang dikuasai oleh anak dewa
itu. (Tiongkok sekarang).
“Menurut catatan yang tertulis di dalam perbendaharaan
buku istana, benda pusaka itu hilang dari istana kira-kira 90
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tahun yang lalu, yaitu pada masa permulaan pemerintahan
Raja Chin Lu. Raja ini masih berusia belasan tahun ketika
menggantikan ayahnya, Raja Chin Bun, yang wafat karena
musibah gempa bumi. Benda itu dicuri oleh Bit-bo-ong asli
yang hidup pada jaman itu…!”
Semua orang yang berada di tempat itu menjadi termangumangu
ketika mendengarkan dongeng baginda tersebut.
Sebagian dari mereka memang sudah pernah mendengar
cerita itu dari nenek moyang mereka masing-masing.
“Ternyata lima tahun yang lalu benda pusaka itu telah
muncul lagi di istana, biarpun hanya untuk beberapa hari saja.
Benda pusaka itu telah dibawa masuk lagi ke istana oleh
mendiang ‘duplikat Bit-bo-ong’ yang sempat menikmati
singgasana kerajaan selama 40 hari ! Tetapi dengan
runtuhnya dia dari istana maka benda itu ternyata juga lenyap
kembali…. hingga sekarang.” Kaisar Han meneruskan
dongengnya.
Chu Seng Kun saling berpandang dengan nona Kwa.
Meskipun tidak saling mengutarakan pendapatnya tapi
keduanya telah menduga apa yang akan dimaksudkan oleh
baginda tentang permintaan tolong kepada mereka itu.
“Selama 5 tahun ini aku telah memerintahkan Yap Taiciangkun
untuk menyelidikinya, di mana sebenarnya benda
pusaka itu disimpan oleh duplikat Bit-bo-ong almarhum.
Akhirnya sebulan yang lalu Yap Tai-ciangkun mencium jejak
dari keluarga duplikat Bit-bo-ong itu. Mereka tenyata
bersembunyi di suatu tempat yang terpencil. Keluarga itu
terdiri dari tiga orang kakak beradik berserta keluarga masingmasing
yaitu Chin Yang, Chin Kong dan Chin Bu ! Tetapi ketika
aku memerintahkan Yap Tai-ciangkun untuk menggerebeg
tempat tersebut ternyata telah terlambat. Tempat itu telah
menjadi puing-puing berserakan, sehingga kami kehilangan
jejak dari pada benda pusaka itu lagi.” Kaisar Han
menghentikan ceritanya lagi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kemudian Yap Tai-ciangkun menyebar lagi orangorangnya
guna mendapatkan tempat persembunyian mereka
itu, tapi belum lagi ketemu dengan mereka, Yap Tai-ciangkun
justru menemukan bukti-bukti bahwa salah seorang perwira
tingginya yang berada di kota Tie-kwan telah berhianat !
Itulah sebabnya hari ini aku dan Yap Tai-Ciangkun berada di
sini….”
Kaisar Han turun dari kursi lalu berjalan perlahan ke tengah
ruangan. Ujung pedangnya yang panjang terseret di atas
lantai. Dengan penuh kewibawaan baginda menyilangkan
tangannya di depan dadanya.
“Menurut penyelidikan yang terakhir, keluarga Chin itu
menuju ke arah pantai timur. Oleh karena itu aku minta
laporan pertolongan cuwi sekalian apabila melaporkan kepada
kami apabila melihat atau mendengar tentang mereka. Cuwi
sekalian saya kumpulkan di tempat ini karena cuwi adalah
penguasa-penguasa di daerah ini. Siapa tahu mereka lewat di
daerah cuwi….” Kaisar Han menutup keterangannya.
Kemudian Kaisar Han berjalan mendekati Chu Seng Kun
dan nona Kwa.
“Chu-hian-te…. aku juga minta pertolongan kalian dalam
persoalan ini. Aku menginginkan agar benda pusaka ini berada
kembali di dalam perbendaharaan istana. Kalian tentu
mengerti maksudku yang sebenarnya dalam hal ini. Aku tidak
ingin benda itu menjadi penyebab dari arena pertempuran
berdarah di antara rakyat karena masing-masing orang ingin
memilikinya. Kalian tentu tidak akan menuduhku sebagai
seorang yang serakah yang ingin berkuasa sebagai dewa dan
menginginkan ditakuti oleh binatang-binatang buas….. Karena
seperti yang pernah kukatakan kepada kalian, kalau toh aku
diperbolehkan memilih di antara dua pilihan, raja atau
petani…. aku akan memilih sebagai petani saja !”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Hong-siang hamba berdua akan berusaha untuk
membantu hong-siang dalam hal ini.” Chu Seng Kun
menjawab.
Kaisar Han mengucapkan rasa terima kasihnya berulangulang.
Kemudian perlahan-lahan baginda mendekati tempat
duduk Yap Tai-ciangkun.
“Yap Tai-ciangkun ! Perintahkan kepada seluruh anggota
Sha-cap-mi-wi yang akan berangkat besok pagi agar melacak
juga tempat persembunyian dari keluarga Chin !”
“Akan hamba kerjakan, hong-siang !”
“Nah, kukira apa yang ingin kubicarakan di dalam
pertemuan ini telah aku keluarkan semua. Maka siapa yang
mempunyai suatu pendapat atau persoalan yang lain silahkan
berbicara…!” Kaisar Han menutup ucapannya.
Karena tak seorangpun yang mau berbicara maka Kaisar
Han menutup pertemuan itu. Dengan diantar Yap Taiciangkun
baginda kembali ke kamarnya.
Keesokan harinya, di tempat itu terjadi kesibukan yang luar
biasa. Belum juga matahari pagi menampakkan sinarnya,
berbondong-bondong beberapa kelompok orang meninggalkan
tempat itu. Mereka tersebar ke segala arah. Kelompok yang
paling sedikit adalah rombongan Chu Seng Kun dan kedua
gadis itu. Mereka menuju arah timur, ke arah kota-kota yang
berada di pinggir pantai.
Rombongan yang terakhir adalah rombongan Kaisar Han
sendiri yang akan pulang kembali ke kota raja. Rombongan itu
terdiri dari 4 kereta dan 1 pasukan prajurit terlatih. Dengan
diantar oleh Kepala Daerah Tie-kwan sampai di perbatasan
rombongan ini berangkat tanpa menimbulkan kecurigaan
penduduk. Penduduk tetap menyangka bahwa prajurit-prajurit
itu adalah pasukan yang diperbantukan untuk menjaga
keamanan selama berlangsungnya pesta perayaan itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sedikitpun mereka tidak menyangka kalau kaisar junjungan
mereka hari itu berada di antara mereka.
Hampir sebulan lamanya. Yang Kun terbaring saja di atas
pembaringannya. Tabib yang setiap hari datang
menjenguknya ternyata bukan Chu Seng Kun yang menolong
dirinya itu. Tabib yang kini selalu mengobati luka-lukanya
adalah seorang tabib tua yang suka berkelakar dan sangat
sabar. Yang kun tidak diperbolehkan pergi ke mana-mana,
takut kaki yang terluka parah itu akan menjadi lumpuh. Tabib
itu berkata bahwa luka itu sebenarnya tidaklah begitu
membahayakan, tetapi pengaruh racun yang terlanjur
bercampur dengan darahnya itulah yang justru sangat
berbahaya bagi tubuhnya. Kalau kaki yang terluka itu dipaksa
untuk berjalan juga sebelum sembuh, maka kemungkinan
untuk menjadi lumpuh semakin besar pula. Oleh karena itu
Yang Kun menjadi sangat patuh sekali, tak sekejappun selama
sebulan itu dia turun dari tempat pembaringannya. Ternyata
setelah lolos dari kematian yang hampir saja merenggut
nyawanya itu, semangatnya untuk hidup dan sembuh kembali
seperti sedia kala menjadi sangat berkobar-kobar. Maka
biarpun di dalam minggu terakhir ini kakinya telah terasa
normal kembali, pemuda itu masih tetap tidak berani
mendahului perintah tabibnya.
Padahal semuanya itu hanya merupakan sebuah taktik dari
Kaisar Han agar pemuda yang dibawanya ke dalam istana itu
tidak berkeliaran keluar dari kamarnya, sehingga akan
mengetahui bahwa dia sedang berada di dalam istana.
Baginda tetap menginginkan agar anak muda yang bernama
Yang Kun ini masih beranggapan bahwa dirinya sedang
berada di rumah seorang “perwira”, yang tentu saja
mempunyai rumah besar dan indah serta dijaga oleh para
pengawal pula.
Setiap dua tiga hari sekali Kaisar Han dengan pakaian
sederhana menjenguk pemuda itu di dalam kamarnya,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sehingga hal itu membuat semua orang yang tinggal di istana
menjadi terheran-heran dibuatnya. Sungguhpun sebagai
seorang jago silat yang berkepandaian tinggi, kaisar junjungan
mereka itu memang seringkali berbuat yang aneh-aneh. Dan
selama sebulan itu memang terjadi suatu persahabatan yang
tulus antara dua orang manusia yang berwatak aneh, yaitu
persahabatan antara seorang “perwira” dan seorang anak
kepala desa yang baru saja lulus dari belajar silat !
“Yang Hian-te, beberapa hari lagi mungkin engkau sudah
diperbolehkan turun dari tempat tidurmu ini. Engkau bisa
berjalan-jalan dan berlari-lari kembali tanpa merasa khawatir
kakimu akan menjadi lumpuh….” Perwira itu menghibur hati
Yang Kun.
“Hmm…. tapi selama sebulan ini engkau tentu sangat
menderita bukan ?”
“Memang ! Apalagi kalau malam telah tiba, di mana aku
sudah ditinggalkan seorang diri di kamar yang luas ini…. Wah,
rasa-rasanya aku justru lebih tersiksa dengan rasa sepi itu dari
pada dengan rasa sakitku ini. Selama sebulan berbaring saja
di atas pembaringan ini membuat diriku seolah-olah akan
menjadi sinting. Setiap malam di mana kegelapan telah
menyelubungi kamar ini, maka otakku mulai berkhayal yang
bukan-bukan. Aku merasa seperti tidak lagi berada seorang
diri di kamar ini. Apabila malam telah larut, seakan-akan ada
suara seruling yang ditiup perlahan… sekali di samping telinga
saya. Sesekali apabila malam benar-benar sunyi malah
terdengar pula suara nyanyian wanita di pojok sana itu…” kata
pemuda itu sambil menunjuk ke arah sudut kamarnya.
“Hahaha….. Yang hian-te, jangan katakan kepadaku bahwa
engkau adalah seorang yang takut hantu, hahaa…”
“Hehe… tidak, Liu toako ! Aku bukan seorang penakut ! Jika
aku takut, aku tentu tidak akan tetap tinggal di atas
pembaringan ini, aku tentu telah lari keluar biar kakiku akan
menjadi lumpuh sekalipun….! Liu toako, aku justru malah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mendengarkan dengan seksama, sehingga lama-kelamaan aku
bisa menangkap seluruh isi lagunya.”
“Benarkah ? Hahaha…. hebat benar hantu itu, dapat
memberi pelajaran menyanyi kepada seorang manusia,
haha…. Wah, macam apa pula, ya… lagunya ? Tentunya tidak
seperti nada-nada lagu pada musik buatan manusia macam
kita ini, yaa…?” Perwira itu tertawa terpingkal-pingkal. Mereka
berdua benar-benar sudah sangat akrab sekali sehingga biar
baru satu bulan mereka bergaul, mereka berbicara seperti
seorang kakak beradik saja, tanpa khawatir merasa
tersinggung satu sama lainnya.
“Toako, kau tentu tidak mempercayainya, bukan ? Kau
tentu menganggap bahwa aku telah menjadi gila karena
racun-racun itu, bukan ?”
“Benar, haha… Kun-te, kakakmu ini selama hidup belum
pernah melihat hantu maka sedikitpun juga tidak percaya
kalau di dunia ini ada hantu. Apalagi hantu yang mengajari
manusia menyanyi…. Kalau menurut pendapatku, apa yang
telah terjadi kepadamu itu hanya disebabkan oleh daya
khayalmu saja, saking lamanya engkau berbaring di sini.
Padahal suara itu cuma suara angin bertiup atau suara
binatang malam…”
“Tetapi, toako…”
“Haha, Kun-te, sudahlah….! Aku dulu juga pernah
mengalami peristiwa seperti yang kaualami ini…. Tapi
percayalah semua itu tidak benar, hanya khayalan kita sendiri
saja !”
“He ? Liu toako juga pernah mendengar hantu bernyanyi ?”
“Ah…. Tidak hanya bernyanyi… tapi seolah-olah juga berdiri
di hadapan saya…. Hei, kenapa kita hanya berbicara soal
hantu saja? Ayoh, kita berbincang mengenai soal yang lainnya
….!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Tunggu dulu….! Toako, kau berceritalah dahulu tentang
hantu yang mengganggu dirimu itu, baru kita berbicara
tentang soal-soal yang lain !”
“Wah, engkau ini ada-ada saja. Aku sudah hampir
melupakannya. Peristiwa itu terjadi ketika aku masih muda
sekali, ah… kenapa kau tanyakan juga hal ini ?”
“alaaa…. Toako kenapa pelit amat ? Ayolah ceritakan dulu,
aku senang dengan cerita-cerita tentang hantu !”
“Hmm, baiklah ! Begini…. 20 tahun yang lalu, aku adalah
seorang anak petani di dusunku. Biarpun tidak kaya tetapi aku
sekeluarga juga tidak kekurangan. Kami mempunyai kepala
desa yang sangat kaya raya. Dia mempunyai seorang gadis
yang luar biasa cantiknya. Aku… aku dan gadis itu bersumpah
untuk menjadi suami istri, apapun akibatnya… Tapi kepala
desa itu ternyata tidak menyukai aku. Puterinya ditunangkan
dengan seorang bangsawan dari kota raja. Sebelum
perkawinan mereka dilangsungkan, kekasihku itu aku larikan
dari rumahnya. Tentu saja calon suaminya mengejar bersamasama
dengan pasukan yang dibawanya. Kami tertangkap
setelah melarikan diri selama 2 hari di tanah perbukitan. Aku
disiksa sampai hampir mati… Kun-te, lihatlah ! Luka-luka itu
masih membekas hingga sekarang ! Wajahku yang semula
tampan juga menjadi codat-cedet di sana-sini, sehingga aku
terpaksa memelihara kumis dan jenggot lebat untuk
menutupinya.”
“Ah, Liu toako… lambat benar, mana hantunya ?” Yang kun
memotong. Tak sabar hatinya mendengarkan penuturan
sahabatnya yang berbelit-belit tak kunjung sampai di tujuan
itu.
“Katanya mau mendengar ceritaku…., bagaimana ini ? Jadi
tidak ?” perwira itu tersenyum.
“Iya…! Tapi mana hantunya ? Masa dari tadi tidak munculmuncul
juga ?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Wah…. Ya belum sampai di situ ceritanya ! Nanti kalau
sudah sampai di situ, hantu itu tentu akan muncul juga.”
“Yaa.. tapi kenapa berputar-putar begitu. Sampai tua aku
mendengarkan tak muncul-muncul juga nantinya….”
“Habis, bagaimana aku harus menceritakan kisah hantu ini
kepadamu ?”
“Langsung ke sasarannya, dong ! Tanpa embel-embel ini
itu, terus bercerita tentang kedatangan hantu itu.”
“Wah, baiklah ! Sekarang aku langsung saja bercerita
tentang hantu itu. Dengarkanlah baik-baik ! ... Tiba-tiba hantu
tersebut menyanyi di depan pembaringanku…”
“Lhoh ! Kenapa terus begitu ? Haha… repot … repot ! Masa
menuturkan suatu kisah demikian caranya, mana orang lain
dapat mengerti maksudnya ?”
“Habis pendengarnya juga merepotkan benar ! Begini salah
begitu salah, Lalu harus bagaimana ? Orang bercerita kan
harus dari permulaan, tidak dipenggal-penggal. Kalau
dipenggal-penggal, mana bisa dimengerti orang ? Aneh benar
kau ini !”
“Baiklah… baiklah ! Maafkan aku, aku memang tidak
sabaran….. hehe… tapi jangan marah, lho !”
Kaisar Han menjadi heran pula hatinya. Kenapa hari ini ia
begitu gembira seperti anak kecil saja ? Kenapa senang benar
bersahabat dengan anak muda ini ? Ah, dunia ini memang
sangat aneh ! Dan baginda tidak tahu apa yang menyebabkan
hal itu semua….
“Kun-te, bagaimana ini ? Jadi bercerita tidak aku ini ?”
Yang Kun tertawa. “Haha… tak usahlah ! Liu toako, aku
kasihan melihatmu ! Hahaha….!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kaisar Han juga tertawa terbahak-bahak, sehingga para
pengawal yang berdiri di luar semakin merasa heran. Tidak
biasanya baginda itu tertawa demikian kerasnya.
Tiba tiba Yang Kun mengerutkan dahinya.
“Liu toako…. Tapi aku tidak main-main dengan suara
seruling yang aku ceritakan tadi. Sungguh ! Aku benar-benar
mendengarnya. Kau dapat membuktikannya nanti malam….”
katanya bersungguh-sungguh, sehingga Kaisar Han tidak mau
berkelakar lagi.
“Baiklah, aku nanti malam akan membuktikannya…”
Malam harinya….
Sejak matahari terbenam Yang Kun telah menjadi gelisah di
dalam kamarnya. Ia ingin membuktikan bahwa ceritanya
adalah benar, tapi ia takut jangan-jangan malam ini hantu itu
tak mau meniup serulingnya lagi, apalagi mau bernyanyi
seperti biasanya.
Sahabatnya baru datang ketika menjelang tengah malam.
Langsung saja sahabatnya berkemas-kemas membenahi
tempat tidur yang satunya, lalu berbaring di atasnya.
“Kun-te, kau bangunkan aku nanti kalau hantu yang
kaukatakan itu muncul di kamar ini ! Sekarang aku mau tidur
saja.”
Yang Kun hanya mengangguk, pikirannya tetap tegang
menanti datangnya suara seruling itu. Akan dia tunjukkan
kepada sahabatnya itu bahwa suara yang didengarnya itu
benar-benar suara seruling, bukan suara angin malam yang
bertiup seperti yang dikatakannya itu.
Malam semakin larut. Suara yang dinanti-nantikan itu
belum juga terdengar. Suasana benar-benar telah menjadi
sangat sunyi, sehingga suara angin malam yang bertiup
menerpa genting di atas kamar itu terdengar sangat nyata
sekali. Ruangan kamar itu menjadi agak gelap karena lampu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
besar yang semula dipasang di atas meja telah diambil oleh
penjaga, sehingga kini tinggal sebuah lampu teng kecil yang
diletakkan di atas lantai di depan pintu masuk. Nyala apinya
yang bergoyang-goyang gelap di dalam ruangan tersebut juga
ikut berayun-ayun.
Yang Kun telah memusatkan seluruh perasaan hatinya
kepada suasana di sekelilingnya, seperti yang selalu ia lakukan
setiap hari apabila ia mendengarkan suara seruling itu. Karena
hanya perasaan hatinyalah yang dulu pertama-tama dapat
membedakan suara seruling itu dari suara-suara lembut yang
lain. Baru setelah dalam beberapa hari ia telah terbiasa
dengan suara itu, ia berusaha mendengarkannya dengan
seksama seluruh irama dan pantunnya. Dan ternyata ia telah
berhasil menangkap keseluruhan dari lagu itu.
Ternyata sama sekali tidak disadari oleh Yang Kun bahwa
dia telah mempelajari sebuah ilmu silat tingkat tertinggi yang
biasanya hanya didapatkan pada orang-orang yang telah
mencapai tingkat kesempurnaan saja, yaitu ilmu yang biasa
disebut orang dengan nama Lin-cui Sui-hoat (Ilmu Tidur di
Atas Permukaan Air). Sebuah ilmu yang didasarkan pada
ketajaman perasaan dan kesempurnaan panca-indera
manusia, sehingga apabila hal itu telah dipelajari dengan
sempurna akan mengakibatkan seseorang bisa mengetahui
apa yang akan terjadi pada dirinya.
Yang Kun semakin tenggelam di dalam pemusatan pikiran
dan perasaannya, sehingga tubuhnya yang terbaring lurus
dengan mata tertutup itu tampak seperti mayat saja. Tetapi
apa yang terjadi pada diri Yang Kun pada saat itu benar-benar
suatu yang sangat mentakjubkan, apalagi untuk orang yang
seumur dia ! Ternyata dengan apa yang kini sedang dilakukan
olehnya, Yang Kun sudah mampu membedakan sebuah suara,
betapapun lembutnya, di antara riuhnya suara-suara lembut
yang lain. Yang Kun sudah dapat membedakan antara suara
desir angin lembut yang menghembus di atas genting dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
suara desir angin yang menerobos celah-celah lubang angin di
atas pembaringannya. Yang Kun juga sudah mampu
membedakan suara masing-masing nyamuk yang pada malam
itu banyak beterbangan mengerumuni dirinya. Malah pada
akhirnya pemuda itu sudah mampu membedakan suara
nyamuk jantan dan suara nyamuk betina. Lebih hebat lagi
ketika pemuda itu dengan ketajaman perasaannya mampu
melihat tanpa membuka kelopak matanya, bahwa perwira
sahabatnya itu sedang memperhatikan dirinya dari tempat
pembaringannya.
Tiba-tiba Yang Kun merasa ada sebuah desiran suara yang
lembut, yang sangat dikenalnya, diantara desiran lembut
angin lalu. Suara itu mengalun tinggi rendah membentuk
sebuah sebuah irama lagu yang amat dikenalnya pula. Tak
terasa bibirnya bergumam mengikuti lagu tersebut dengan
pantun yang telah dihapalnya pula di luar kepala.
Sinar Bulan di antara bintang,
Membasahi padang di antara ilalang,
Hamparan perak luas membentang,
Alas tidur menentang awan.
“Kun-te… kau… kau berkata apa ?” perwira itu terbangun
dari pembaringannya.
Yang Kun cepat menempelkan jari telunjuk pada bibirnya.
“Toa-ko….. dengarlah ! Suara seruling itu sudah
terdengar…. Coba kaudengar dengan seksama, bukanlah
suara itu ada di dalam kamar ini ?”
Kaisar Han yang kini mengaku sebagai perwira itu berusaha
mendengarkan pula, tapi meski sampai lelah ia menyaringnyaring
semua suara yang terdengar oleh telinganya, toh
suara seruling yang dikatakan sahabatnya itu tak kunjung
kedengaran juga. Kedua belah telinganya hanya mampu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mendengar suara denging nyamuk-nyamuk yang beterbangan
di dalam kamar itu.
“Ha-ha… Kun-te, aku benar-benar tidak dapat mendengar
apa-apa,” akhirnya Kaisar Han menyerah. Seakan-akan
menyerah padahal dalam hati kaisar itu semakin tidak
mempercayai omongan Yang Kun. Tetapi karena ia tidak ingin
menyakiti hati sahabat yang disukainya itu maka ia tidak mau
memperpanjang persoalan itu.
“Ah…. Toako ini bagaimana. Nah sekarang suara itu
berhenti. Biasanya tak lama lagi suara nyanyiannya akan
terdengar de… ha, dia sudah mulai menyanyi …! Sinar bulan
di antara bintang… Membasahi padang di antara ilalang…”
pemuda itu bergumam mengikuti nyanyian itu.
Kaisar Han memandang dengan sinar mata penuh rasa
kasihan kepada sahabat mudanya itu. Agaknya pengaruh
racun yang memasuki tubuh sahabatnya itu masih belum
hilang juga.
“Sudahlah, Kun-te, tak ada gunanya juga engkau
menerangkan apa yang kau dengar itu karena aku tetap tidak
dapat mendengarnya sendiri….”
“Suara itu mulai hilang…. Liu-toako tolong kaulihat pojok
kamar itu ! Suara itu lari ke sana …!” Yang kun asyik dengan
pikirannya sendiri, sehingga ia tak memperdulikan ucapan
Kaisar Han yang baru saja.
Dengan agak berat Kaisar Han meloncat turun dari atas
pembaringannya dan melangkah ke sudut. Tangannya
mengambil lampu minyak yang berada di atas almari dan
menyalakannya sekalian.
“Kun-te, lihatlah, tidak ada apa-apa, bukan ?” kata baginda
sambil menerangi tempat itu dengan lampu yang dibawanya.
“Cuma ada sebuah tembok yang kosong dan lantai batu yang
sedikit merekah saking tuanya…., haha…. Jangan kaukatakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bahwa hantu itu masuk ke dalam tanah melalui celah ini….!”
Kaisar Han bergurau.
“Celah… celah apakah itu ? Hei, kenapa rumahmu yang
bagus ini sudah mulai retak ?”
Kaisar Han menjawab dengan hati-hati, karena setiap
pertanyaan yang menyinggung persoalan pribadi, baginda
harus mengingat penyamarannya.
“Kun-te, rumah ini bukan rumahku. Oleh karena aku belum
berkeluarga, maka baginda kaisar belum berkenan memberi
aku sebuah rumah. Aku hanya diperkenankan menempati
salah sebuah ruangan di kompleks istana ini. Itupun hanya
khusus untuk diriku saja, karena aku adalah perwira pengawal
kepercayaan kaisar. Jadi ruangan ini adalah sebagian dari
bangunan istana yang sudah berumur hampir seratus tahun,
sehingga seperti yang kaulihat, lantai ini telah merekah saking
tuanya. Selain itu, konon menurut para ahli, tepat di bawah
bangunan istana ini mengalir sebuah sungai di bawah tanah,
sehingga hal ini pula yang menyebabkan bangunan di dalam
istana ini mudah retak.”
“Hei ?!?... Jadi bangunan ini adalah bangunan istana kaisar
di kota raja itu ?” pemuda itu kaget sekali. “Kenapa aku dulu
tidak melihat pintu gerbangnya ketika kita memasuki halaman
istana ini?”
“Kita lewat pintu samping pada saat itu. Tapi meskipun
lewat pintu gerbang depan, kau juga tidak mengetahuinya,
karena kau selalu berbaring saja di dalam kereta. Lagi pula
lewat pintu samping lebih dekat dari pada lewat pintu gerbang
depan atau belakang.”
“Pintu gerbang belakang ? Adakah pintu gerbang belakang
itu ?”
“Dahulu memang tidak ada. Di tempat itu hanya ada
sebuah pintu kecil untuk lewat para pengawal seperti halnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dua buah pintu kecil yang dibangun pada kedua belah tembok
sampingnya. Tapi sejak dibangun kembali dari keruntuhan
akibat adanya gempa bumi besar pada kira-kira seratus tahun
yang lalu, pintu belakang tersebut dibuat menjadi besar dan
megah seperti yang terdapat di bagian depan. Pembaharuan
seperti yang terdapat di bagian depan. Pembaharuan ini
dimaksudkan agar supaya baginda lebih mudah menemui
tamunya apabila kebetulan baginda sedang berada di istana
bagian belakang. Sebab dengan terjadinya gempa itu
mengakibatkan suatu tanah retak yang membelah istana
bagian tengah dan istana bagian belakang. Tanah retak yang
memisahkan kedua buah bagian istana itu sedemikian lebar
dan dalamnya sehingga tidak bisa dibangun sebuah jembatan
di atasnya…”
“Lalu bagaimana harus menyeberanginya ?” Yang Kun
bertanya. Pemuda ini memang seorang keturunan bangsawan,
justru keturunan Kaisar Chin sendiri malah. Tetapi karena
mendiang ayahnya cuma seorang keturunan dari selir, maka
beliau hampir tak pernah berada di dalam lingkungan istana.
Apalagi pemuda itu sendiri, sejak kecil selalu berada bersama
ibunya di desa.
“Memakai perahu !” Kaisar Han menjawab. “Celah yang
lebar dan dalam itu digenangi air di bawahnya. Sehingga …
wah, Kun-te… lebih baik kuantar saja engkau melihatnya
besok. Percayalah, suasananya malah menjadi lebih indah
bukan main !”
“Terima kasih, Liu toako ! Aku memang ingin sekali
melihatnya.”
“Nah, marilah kita tidur sekarang ! Lupakan saja hantumu
itu !” Kaisar Han berkata.
“Liu toako, Tunggu….! Engkau tentu masih menganggap
aku berbohong dan berkhayal tentang suara nyanyian itu….
Benar, bukan ? Tapi percayalah ‘toako’ aku tidak berbohong,
aku bersungguh-sungguh ! Nah, sekarang dengarlah ! Aku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mendengar seseorang berlari melintasi halaman. Gin-kangnya
sangat tinggi dan gerakannya sangat gesit sehingga tidak
seorangpun penjaga yang melihatnya….”
“Kun-te, apa katamu ? ada orang berlari melintasi halaman
? Kenapa aku tidak mendengarnya ?” Kaisar Han beranjak dari
pembaringannya, lalu berusaha mendekati Yang Kun. Dengan
bersungguh-sungguh baginda berusaha mendengarkan suara
tersebut, tapi ternyata sedikitpun beliau tidak mendengarkan
sama sekali. Wah, dia tentu kumat lagi, pikir Kaisar Han.
“Liu toako, cepatlah kau keluar ! Orang itu kini
bersembunyi di balik rumpun bambu kuning di depan istana ini
!” Yang Kun berbisik dengan tegang.
Kaisar Han terpaksa keluar pula dengan hati-hati, agar
tidak terlalu menyakiti hati sahabatnya. Sambil lalu dia
melemparkan sepatunya ke arah rumpun bambu itu. Tapi
betapa terkejutnya baginda ketika sepatu itu tiba-tiba
membalik ke arahnya kembali dengan kecepatan yang bukan
main hebatnya. Otomatis baginda mengelak ke samping
sehingga tubuh baginda menabrak daun pintu. Sepatu
tersebut meluncur lewat hanya satu dim dari pipi baginda dan
menghantam tembok hingga melesak ke dalam. Untuk sekejap
Kaisar melihat sesosok bayangan melayang meninggalkan
rumpun bambu itu menuju ke gedung sebelahnya, gerakannya
cepat sekali. Kaisar Han bersuit nyaring untuk memanggil para
penjaga, lalu sambil mencabut pedang baginda mengejar
bayangan mencurigakan tersebut.
Gedung itu adalah gedung perpustakaan tempat baginda
biasa membaca dan menulis, maka tentu saja baginda sangat
hapal seluruh keadaan di tempat itu. Dengan hati-hati baginda
membuka pintu samping yang menembus ke ruangan
belakang tempat menyimpan buku. Dari tempat itu baginda
akan dapat mengawasi ke seluruh ruangan yang ada di dalam
gedung tersebut melalui kisi-kisi yang terdapat di atas deretan
almari buku.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu para penjaga yang mendengar suitan
baginda berbondong-bondong datang ke tempat itu. Mereka
cepat mengepung gedung itu dengan ketat sehingga tak
mungkin seorang dapat lolos dari tempat tersebut tanpa
mereka ketahui. Kepala penjaga yang bertugas memimpin
pengepungan itu mengajak beberapa orang penjaga untuk
memasuki gedung tersebut melalui pintu depan.
Yang Kun yang belum berani meninggalkan tempat
pembaringannya hanya dapat menunggu saja di kamarnya. Ia
cuma dapat menerka-nerka saja apa yang terjadi di luar
kamarnya sekarang. Agaknya ada seorang tokoh sakti datang
ke tempat ini untuk berbuat jahat, buktinya orang itu datang
dengan cara sembunyi-sembunyi serta pada waktu tengah
malam pula.
Beberapa saat telah berlalu, tapi belum juga ada khabar
tentang orang yang mencurigakan itu. Di luar masih terdengar
ramai suara para penjaga yang mengepung tempat itu. Sinar
obor mereka yang terang benderang tampak menerobos
lubang angin dan lubang pintu yang jebol akibat senggolan
perwira Liu tadi, sehingga kamar yang dihuni oleh pemuda itu
ikut menjadi terang benderang pula.
Beberapa waktu lagi telah berlalu pula. Yang Kun menjadi
tegang pula hatinya. Rasa-rasanya ia ingin meloncat keluar
juga untuk menyaksikannya. Tapi bila diingat kaki itu sudah
hampir sembuh, pemuda itu terpaksa mengurungkan pula
niatnya. Akhirnya Yang Kun memusatkan seluruh perasaan
dan pikirannya kembali. Biarpun tidak dapat melihat keadaan
di luar secara langsung dengan kedua buah matanya, pemuda
itu ingin pula mengetahuinya melalui ketajaman rasa dan
panca indera yang lain, seperti yang biasa ia lakukan apabila
ia mendengarkan suara “hantu” itu.
Mula-mula Yang Kun mendengar berpuluh-puluh suara
langkah kaki dikamarnya. Menurut suara langkah kaki mereka
yang meskipun hilir mudik tapi tidak pernah meninggalkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tempat itu, dapat diduga bahwa mereka sedang berjaga di
tempat masing-masing. Dan apabila hal itu dihubungkan
dengan peristiwa yang kini sedang terjadi, maka tidak salah
lagi bahwa mereka kini sedang mengepung suatu tempat
tertentu.
Kemudian terdengar langkah beberapa orang di antara
mereka menuju ke arah kanan. Lalu terdengar suara pintu
dibuka secara perlahan. Agaknya beberapa orang dari para
pengepung itu telah membuka sebuah pintu ruangan yang
diperkirakan berisi penjahat itu. Tetapi beberapa saat
kemudian terdengar lagi langkah mereka itu keluar dari
tempat tersebut. Kini terdengar langkah mereka telah
bertambah dengan satu orang lagi, dan Yang Kun telah
mengenal langkah orang tersebut dengan baik.
Orang yang telah dikenal langkahnya dengan baik oleh
Yang Kun itu terus menuju ke kamarnya dan tak lama
kemudian muncullah “perwira” sahabatnya itu di hadapannya.
“Engkau tidak menemukan orang itu, Liu toako ?” tanya
Yang Kun kepada sahabatnya itu.
Kaisar Han menggelengkan kepalanya.
“Heran ! Tempat itu telah dikepung oleh seratus orang
penjaga. Tidak mungkin rasanya apabila orang itu dapat
meloloskan diri. Tapi orang itu benar-benar hilang lenyap tak
ada bekasnya !”
“Apakah sudah diperiksa semua tempat dengan teliti ?
Siapa tahu ada tempat rahasia di sana?” pemuda itu bertanya
lagi.
“Sudah ! Sudah kuperintahkan untuk memeriksa di segala
sudut-sudutnya, tapi orang itu tetap tidak dapat diketemukan.
Dan rasa-rasanya juga tak ada jalan rahasia di tempat itu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Benar-benar mengherankan kalau begitu…… Masakan di
dunia ini ada manusia yang dapat menghilang dari pandangan
mata ?”
“Kun-te, kau tidurlah saja dahulu ! Masih ada cukup waktu
untuk meneruskan istirahatmu. Aku akan kembali ke tempatku
untuk mengurus persoalan ini… Dan…” Kaisar Han
menghentikan kata-katanya sebentar, lalu lanjutnya,” ……
maafkan toakomu ini ! Sekarang aku mulai percaya pada katakatamu
tentang hantu itu. Agaknya memang telingaku yang
tidak mampu mendengarkan suara-suara itu. Buktinya engkau
dapat mendengar kedatangan penjahat itu, tapi aku yang
telah kauberi tahu terlebih dulu juga tetap tidak dapat
menangkap suara langkahnya.”
Tetapi hingga fajar mulai menyingsing Yang Kun tetap tidak
dapat tidur. Banyak sekali persoalan yang memberati
pikirannya. Baik mengenai persoalan tentang keluarganya
serta tugas-tugas yang dibebankan oleh mendiang ayahnya
maupun persoalan yang menimpa dirinya sendiri.
“Haha…. Sudah bangun rupanya. Bagaimana keadaan
kakimu, Yang hian-te !” tiba-tiba terdengar suara tabib yang
setiap pagi menjenguknya. “Hei kenapa matamu merah sekali
? Ahh…. Tentu tak bisa tidur akibat gangguan penjahat yang
tadi malam tadi, bukan ?”
Yang Kun terkejut.
“Sinshe sudah mengetahui peristiwa yang terjadi di sini tadi
malam ?”
“Haha…. tentu saja sudah, karena aku singgah di tempat
Liu Ciangkun sebelum kemari tadi.”
“Benarkah ? Lalu bagaimana akhirnya ? siapakah penjahat
yang datang itu ? Dan apa pula maksud kedatangannya ke
dalam istana ini ?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tabib itu meletakkan tas tempat peralatannya di bawah
pembaringan Yang Kun, lalu tangannya meraih kedua kaki
pemuda itu untuk melihat luka-lukanya yang telah mengering.
“Liu ciangkun tetap belum mengetahui, siapakah
sebenarnya tamu malam itu. Yang terang ilmu kepandaiannya
benar-benar sangat tinggi. Menurut Liu Ciangkun tiada
seorangpun jagoan istana yang akan mampu menghadapi
orang itu seandainya dia mau berkelahi dengan para penjaga.
Liu Ciangkun juga berkata kepadaku bahwa orang itu
bermaksud membunuh Kaisar Han. Dengan kepandaiannya
yang sangat tinggi orang itu mampu meloloskan diri dari
pengawasan penjaga istana, sehingga tanpa mendapatkan
kesukaran orang itu dapat memasuki kamar tidur baginda.
Untunglah malam ini baginda tidak tidur di kamarnya.”
“Orang itu bermaksud membunuh kaisar ?” Yang Kun
terkejut.
Berani betul orang itu, pemuda itu membatin. Seorang diri
memasuki gua macan ! Padahal setiap orang mengetahui
betul bahwa istana kaisar merupakan tempat berkumpulnya
orang-orang sakti dari seluruh pelosok negara.
Tabib itu telah selesai memeriksa kedua kaki Yang Kun.
“Besok pagi Yang hiante telah dapat pulang ke desa,
karena luka-luka ini telah sembuh seperti sedia kala,” tabib itu
memberi tahu.
“Hah ? Benarkah….?” Yang Kun berteriak gembira. “Sinshe,
aku……aku…..”
“Sudahlah, aku tahu Yang hiante tentu akan mengucapkan
rasa terima kasih kepadaku. Lupakanlah itu ! Tapi Liu
Ciangkun telah memberi pesan kepadaku tadi, bahwa nanti
malam dia akan mengajakmu berjalan-jalan di istana ini. Dia
ingin menunjukkan seluruh keindahan istana ini kepada
sahabatnya yang akan meninggalkan dia untuk selamalamanya….!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Untuk selama-lamanya….? Ah, tidak demikian, sinshe !
Aku bukan seorang yang mudah melupakan budi seseorang,
apalagi orang tersebut adalah sahabatku…..! Aku tentu akan
sering mengunjunginya setiap saat !”
“Nah, justru itulah yang sulit. Dalam keadaan biasa Yang
hiante akan sangat sulit untuk menemui Liu Ciangkun, sebab
selain Liu Ciangkun itu merupakan seorang yang sangat
penting di sini, Liu Ciangkun itu juga jarang berada di istana.
Dia sering mendapat tugas dari Kaisar Han untuk mengurus
sesuatu di luar istana.”
“Benarkah….? Ah, kalau begitu pertemuanku nanti malam
adalah pertemuanku dengan dia yang terakhir ?” Yang Kun
berdesah perlahan, tampak kedua buah matanya berkacakaca.
Pemuda itu merasa bahwa ia telah diselamatkan jiwanya
oleh sahabatnya itu. Tanpa inisiatif Liu Ciangkun untuk
membawa dirinya kepada Chu Seng Kun yang ahli pengobatan
itu niscaya dirinya telah mati di dalam penjara di bawah tanah
tersebut. Maka di dalam kegembiraan hatinya saat ini ternyata
ada terselip juga rasa sedih karena harus berpisah dengan
sahabatnya.
“Yang hiante, aku akan kembali dahulu. Mungkin aku tidak
dapat mengantarkanmu besok pagi. Kali ini kau harus lebih
hati-hati di dalam petualanganmu selanjutnya ! Selamat jalan
!” tabib itu tersenyum sambil menenteng tasnya.
“Terima kasih, sinshe !”
Pemuda itu mengawasi punggung tabib tersebut sehingga
lenyap di balik pintu, kemudian dengan menghela nafas
panjang pemuda tersebut menatap ke arah langit-langit
kamarnya kembali. Pikirannya melayang jauh meliwati atap
kamarnya itu. Hmm, ternyata banyak juga orang yang
mempunyai budi baik di samping para pembunuh yang
membantai keluarganya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sampai matahari hampir terbenam Yang Kun telah
berusaha melatih kedua buah kakinya untuk berjalan-jalan di
dalam kamar itu. Kadang-kadang ia
Hal 63-64 hilang
Jilid 5
Mereka berdua kemudian keluar bersama-sama dari kamar
itu, sebuah kamar yang selama sebulan menjadi tempat
pemondokan bagi Yang Kun. Di luar Yang Kun seakan-akan
telah disongsong pula dengan meriah oleh taburan sinar
cemerlang dari bulan purnama, yang saat itu dengan
gencarnya sedang menerangi seluruh alam di sekitar mereka.
Hati dan perasaan Yang Kunpun seakan-akan menjadi lapang
pula, sehingga ingin rasanya dia menghirup udara sepuaspuasnya.
“Ooh….. toako, begitu indah rasanya dunia ini setelah aku
keluar dari kungkungan kamarmu yang pengap itu !” serunya
lega.
“Kun-te, kau benar ….! Coba kau lihatlah daun-daun yang
bergoyang-goyang disentuh angin itu, kau lihat juga dahan
dahan dan ranting-rantingnya yang mencuat ke sana ke mari
di tempat yang tinggi itu, lalu kau pandanglah juga atap-atap
bangunan yang menjulang ke langit itu….! Semuanya seakanakan
berlapiskan perak yang putih mengkilap ditimpa sinar
purnama, bukan ? Indah sekali…..! Inipun belum seberapa
indahnya. Kau akan lebih terpesona lagi apabila kau nanti
melihat jurang yang tergenang air di taman sebelah belakang
istana ini.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mereka berjalan dengan perlahan-lahan mengitari halaman
istana yang luas itu. Mereka melihat gedung perpustakaan,
gedung tempat senjata, gedung tempat menjamu tamu,
gedung tempat para puteri istana, gedung tempat kesenian
dipertunjukkan dan gedung-gedung yang lain, yang semuanya
adalah bangunan yang berukir-ukir sangat indah sekali. Dan
agaknya perwira Liu sahabatnya tersebut memang orang yang
sangat dihormati di istana itu, buktinya pemuda itu selalu
melihat para penjaga, pengawal dan para dayang yang
berpapasan dengan mereka tentu berdiri membungkuk
dengan hormat sekali.
“Toako, kau benar-benar sangat dihormati di istana ini.
Agaknya kau benar-benar orang yang penting seperti yang
dikatakan oleh sinshe itu.” Yang Kun tersenyum.
Kaisar Han tentu saja ikut tersenyum pula.
“Apakah dengan demikian kau lalu tidak mau mengenalku
lagi ?” baginda bertanya sambil merangkul pundak Yang Kun.
“Ah, tentu saja tidak ! Apapun kedudukan Liu toako di sini
tidak akan merubah pandangan maupun penghargaanku
kepadamu. Biar engkau hanya seorang tukang sapu ataupun
seorang kaisar sekalipun, engkau tetap seorang yang pernah
melepas budi kepadaku. Liu toako tetap seorang yang
menyelamatkan aku dari elmaut !”
“Eh, Kun-te….. benarkah kata-katamu itu ? Bagaimana
kalau pada suatu saat nanti kakakmu benar-benar menjadi
kaisar seperti kata-katamu tadi? Engkau juga masih tetap mau
kenal denganku ?” Kaisar Han bergurau, tetapi di dalam hati
sebenarnya merasa berdebar-debar. Baginda merasa takut
kalau kenyataan seperti itu akan merubah pandangan sahabat
kecil yang telah disukainya seperti anak kandung sendiri itu.
“Ha-ha-ha…. Awas kau ! Di sini bukan tempat bergurau
seperti itu. Salah-salah engkau akan ditangkap dan
dijebloskan ke penjara oleh kaki tangan Kaisar Han nanti !”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Yang Kun tertawa mendengar kelakar Kaisar Han yang
menyamar sebagai perwira she Liu itu.
Tetapi dengan roman muka bersungguh-sungguh Kaisar
Han menatap wajah Yang Kun.
“Kun-te, aku tidak bergurau ! Aku ingin mengetahui
pendapatmu ! Bagaimana seandainya seperti yang kukatakan
itu benar-benar terjadi ?”
“Ah, Liu toako….apakah engkau ingin memberontak kepada
Kaisar Han ?” Yang Kun berbisik kaget. Lalu dengan dahi
berkerut karena merasa heran atas tingkah laku sahabatnya
itu, Yang Kun menjawab pertanyaan tersebut perlahan-lahan.
Tetapi jawaban pemuda itu benar-benar bagai petir di siang
hari bolong bagi telinga Kaisar Han.
“Liu toako, terus terang engkau tak cocok untuk menjadi
kaisar. Seorang kaisar tulen haruslah seorang yang berhati
keras dan kejam, selain kecakapan dan kebijaksanaan
tentunya. Dan engkau adalah seorang yang berhati lemah
lembut dan penuh kasih sayang, maka mana cocok kedudukan
itu bagimu ? Engkau takkan tega menghukum atau menyiksa
lawan-lawanmu yang setiap saat tentu akan mengusik
singgasana yang kaududuki ! Tetapi meskipun demikian
apabila engkau tetap juga ingin mengetahui pendapatku, jika
pada suatu saat engkau benar-benar menjadi kaisar seperti
yang kau katakan itu, aku hanya akan selalu berdoa agar
engkau cepat-cepat jatuh dari tempat singgasanamu dan
kembali menjadi rakyat biasa bersama aku untuk menggarap
sawah serta ladang di desaku !”
“Kun-te….! Oh, cocok benar isi hatimu dengan apa yang
kuinginkan selama ini ! Hahaha… orang she Liu….orang she
Liu ! Kau benar-benar menemukan seorang sahabat yang
sungguh-sungguh cocok dengan isi hatimu…. hahaha....! Kunte,
aku sangat setuju pada apa yang baru saja kau katakan
itu. Pada suatu saat apabila aku menjadi kaisar dan pada
suatu hari tiba-tiba engkau datang mengajakku ke desamu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
untuk bertani dan menggarap sawah …hahaha…. kedudukan
sebagai kaisar itu kontan aku tinggalkan ! Sungguh !
hahaha….!” Kaisar Han tertawa terbahak-bahak saking
senangnya, sehingga Yang Kun yang tidak mengetahui apaapa
itu menjadi ketakutan apabila sampai terdengar oleh para
pengawal Kaisar Han yang berada di sekitar tempat itu.
“Kun-te…. jangan takut ! Bukankah aku orang penting di
sini ?” kata sahabatnya itu. “Aku akan selalu melindungimu
dari siapapun juga, hahaha…. Marilah kini kita pergi ke taman
istana yang berada di bagian belakang sana….!”
Ketika mereka lewat di samping gedung lian-bu-thia
(ruangan untuk berlatih silat), Yang Kun mendengar suara
denting senjata beradu. Otomatis mereka berhenti. Yang Kun
menoleh ke arah pintu ruangan yang terbuka daun pintunya.
Sekilas pandang ia melihat beberapa orang prajurit sedang
berlatih silat dengan mempergunakan senjata.
“Ah, mereka cuma pengawal-pengawal tingkat
pertengahan. Kepandaian silatnya belum dapat dibanggakan.
Lain halnya dengan jagoan-jagoan istana yang tergabung
dalam Sha-cap-mi-wi, mereka rata-rata punya kesaktian
setinggi ketua sebuah cabang persilatan !” Kaisar Han
menerangkan.
“Benarkah…..? Hebat betul kalau begitu !”
“Tentu saja aku mengatakan yang sebenarnya kepadamu.
Coba pada waktu penggerebegan di rumah Si Ciangkun
terhadap penjahat-penjahat yang berkepandaian tinggi itu kita
langsung menurunkan jago-jago dari Sha-cap-mi-wi itu…..
hehe, kukira tak seorangpun dari para penjahat tersebut yang
mampu untuk meloloskan diri !”
“Kalau begitu kenapa kemarin malam tak seorangpun dari
anggota Sha-cap-mi-wi itu yang keluar untuk membekuk
penjahat yang lenyap menghilang itu ?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Soalnya pada saat ini tak ada seorangpun dari pasukan itu
yang sedang berada di istana. Mereka tengah melaksanakan
sebuah tugas yang diperintahkan oleh Kaisar Han.”
“Liu toako, bolehkah aku melihat latihan mereka itu
sebentar saja ?”
“Kenapa tidak boleh ? Marilah…..!”
Mereka berdua memasuki lian-bu-thia itu. Beberapa orang
yang berada di tepat itu tampak terkejut, sehingga dua orang
yang sedang berlatihpun terpaksa menghentikan latihan
mereka. Tetapi sebelum mereka berbuat sesuatu yang lain,
perwira she Liu itu cepat menghardik mereka dengan suara
nyaring berwibawa.
“Jangan hiraukan aku ! Teruskan latihan kalian, aku akan
melihatnya !”
Dengan agak takut mereka meneruskan latihan mereka
kembali, sehingga Yang Kun benar-benar menjadi heran
sekali, sahabatnya ini sungguh mempunyai wibawa yang
hebat di dalam istana ini. Dua orang yang tadi berlatih
berpasangan mempergunakan senjata pedang kini tampak
saling berhadapan kembali. Keduanya saling serang
menyerang dengan ilmu silat yang mereka peroleh dari
perguruan mereka masing-masing sebelum mereka masuk
menjadi pengawal istana.
Yang bertubuh agak gemuk tampak bersilat dengan gaya
Hok-kian, sementara lawannya yang bertubuh jangkung
agaknya datang dari daerah Se-hek di Sin-kiang. Keduanya
mempunyai gaya silat yang sangat berlainan sekali. Agaknya
mereka memang bermaksud untuk saling bertukar pikiran
tentang ilmu silat masing-masing. Biarpun bertubuh agak
gemuk ternyata orang yang datang dari Hok-kian tersebut
bersilat dengan gerakan yang sangat cepat dan tangkas,
ginkangnyapun sangat lumayan. Dia berputar-putar pergi
datang mengelilingi lawannya yang selalu berusaha
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mendekatinya. Memang, seperti kebiasaan ilmu silat dari
daerah barat yang dipengaruhi oleh gaya gulat, ilmu pedang
dari orang Se-hek itupun dititikberatkan pada pertempuran
dalam jarak dekat. Itulah sebabnya mengapa pedang yang
dipegangnya juga tidak sepanjang pedang lawannya yang
datang dari Hok-kian tersebut.
“Kun-te, bagaimana menurut penilaianmu tentang ilmu silat
kedua orang ini ?” baginda bertanya kepada Yang Kun. Kaisar
Han ingin menjajaki ilmu kepandaian sahabat mudanya yang
ia dengar hanya seorang murid dari guru silat desa saja itu.
Baginya juga ingin mengetahui keadaan yang sesungguhnya,
benarkah seorang pemuda yang mampu mengalahkan dirinya
dalam hal ketajaman panca-indera itu, benar-benar hanya
seorang murid dari guru silat desa saja ?
“Ah, Liu-toako….., bukankah engkau sendiri yang
mengatakan kepadaku bahwa akibat dari kedua buah racun
yang menyerang diriku itu, aku kini sudah tidak berguna lagi ?
Lwee-kangku sudah lenyap sama sekali, mana ada muka lagi
bagiku untuk berbicara tentang ilmu silat ?"
“Benar, … tetapi bukankah hanya lweekangmu saja yang
hilang ? Bukankah ilmu silatmu masih engkau kuasai dengan
baik ? Engkau masih dapat bersilat dengan tangkas seperti
semula, biarpun hanya berdasarkan pada tenaga gwa-kang
saja. Jadi asal tidak menghadapi seorang ahli lweekeh saja
engkau masih bisa mendapatkan kemenangan !” Kaisar Han
menerangkan.
Yang Kun termenung mengawasi pertempuran kedua orang
prajurit pengawal itu. Memang, meskipun ia tidak punya
lweekang lagi, tapi ia masih dapat melihat dengan jelas mutu
ilmu silat kedua orang tersebut. Dan iapun tahu setelah sekian
lama ia melihatnya bahwa meskipun orang Hok-kian itu
kelihatan lebih gesit dan tangkas dari pada lawannya tetapi
pertahannya ternyata tidak begitu kuat. Berbeda dengan Sehek
tersebut, biarpun kelihatan lamban dan pasif tapi ilmunya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
benar-benar ulet dan tangguh. Sehingga di dalam
pertempuran yang bersungguh-sungguh orang Hok-kian itu
tentu akan kalah.
Ketika Yang Kun dengan perlahan-lahan mengutarakan
pendapatnya tentang kedua macam ilmu silat mereka itu,
Kaisar Han cepat menepuk-nepuk pundak si pemuda dengan
gembira sekali.
“Bagus ! Bagus ! Kau ternyata bermata awas sekali. Akupun
berpendapat begitu. Kun-te ternyata kau benar-benar lihai
sekali !” kata baginda keras-keras. Lalu tangannya cepat
menghentikan pertempuran mereka.” Pengawal ! Mumpung
Yang hian-te sahabatku, ada di tempat ini, ayoh…. kalian
mintalah pelajaran kepadanya !”
Yang Kun menjadi kaget setengah mati. Tapi sebelum ia
mampu berkata-kata para prajurit pengawal tersebut telah
menjura kepadanya.
“Yang siauw-ya, perkenankanlah kami belajar satu-dua
jurus gerakan dari tuan.”
Yang Kun memandang sahabatnya dengan bengong, tapi
baginda sendiri seakan-akan tidak mengetahui. Baginda justru
melangkah ke tepi untuk memberi tempat kepada mereka.
“Kun-te, kasihanilah mereka ! Berilah sedikit pelajaran agar
mereka mereka puas di dalam hatinya !”
Terpaksa pemuda itu menghadapi kedua orang pengawal
itu. Hatinya menjadi ragu-ragu, bagaimana ia harus melayani
mereka itu ? Dapatkah ia hanya mengandalkan jurus-jurus
ilmu silatnya saja, tanpa dilandasi dengan lweekang sama
sekali ? Masakan ia mampu mengelak saja terus-terusan tanpa
sekali-sekali mengadu kepalan atau lengan, yang berarti ia
harus mengadu tenaga ?
Tetapi Yang Kun tidak mempunyai waktu lagi untuk
melamun. Kedua orang itu telah meletakkan senjata mereka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan kini telah bersiap-siap di hadapannya. Maka agar jangan
mengecewakan mereka, Yang Kun cepat memasang kudakuda.
Dengan berteriak keras kedua orang itu menyerang dari
kanan dan kiri. Semuanya mengarah ke pinggang Yang Kun.
Dalam keadaan masih mempunyai lweekang, Yang Kun tentu
memilih untuk menangkis serangan itu, sehingga ia akan lebih
mudah untuk menyerang mereka kembali. Tapi karena ia tak
berani beradu tenaga, terpaksa pemuda itu meloncat
kebelakang. Dan dari tempat itu baru dia menyerang balik
kedua lawannya dengan tendangan berantainya.
Sekarang ganti kedua orang pengawal itulah yang meloncat
mundur. Tetapi mereka meloncat ke belakang sambil
memisahkan diri ke kiri dan ke kanan, sehingga akhirnya Yang
Kun menjadi terkepung di antara mereka berdua. Untuk
sesaat mereka bertiga hanya berdiri diam saling mengukur
kekuatan lawan. Tetapi beberapa saat kemudian mereka telah
terlihat lagi di dalam tertempuran yang seru.
Yang Kun yang telah kehilangan seluruh kekuatan lweekangnya
ternyata masih mampu juga bergerak dengan
tangkas melayani kedua orang lawannya, biarpun setiap kali ia
harus menghindari adu tenaga dengan mereka. Yang kun
dengan gesit menyerang pada bagian-bagian yang berbahaya
dari kedua orang lawannya, karena hanya dengan berbuat
begitu ia akan mampu merobohkan lawannya. Maka dengan
sangat hati-hati Yang Kun memainkan Hok-te Ciang-hoat
(Ilmu Pukulan Menaklukkan Bumi), yaitu ilmu silat tangan
kosong andalan keluarga Chin di samping Hok-te To-Hoat
(Ilmu Golok Menaklukkan Bumi).
Hok-te Ciang-hoat diciptakan oleh cikal bakal raja-raja Chin
dan terdiri dari 36 jurus. Setiap jurusnya terdiri pula dari
beberapa gerakan rahasia yang sukar diduga oleh lawan.
Seperti juga pada Ilmu Golok Hok-te To-Hoat, llmu Pukulan
Hok-Te Ciang-Hoat ini berdasarkan pada kegesitan kaki dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kekuatan lengan. Semua jurus serangan yang ada di dalam
Hok-te Ciang-hoat ini selalu mengarah ke bagian-bagian tubuh
lawan yang berbahaya.
Pengawal yang berasal dari Hok-kian itu bergerak semakin
gesit tetapi ternyata gerakan kaki Yang Kun masih tetap lebih
cepat dari padanya, sehingga setiap usahanya untuk mencecar
dan merangsak Yang Kun selalu gagal karena pemuda itu
tentu melejit dengan cepat menghindarkan diri. Akhirnya
justru dia sendirilah yang mengalami kesukaran ketika Yang
Kun ganti membalas serangannya. Yang Kun yang mengetahui
titik kelemahan lawan dalam pertahanannya, selalu
mempergunakan setiap kesempatan yang diperolehnya.
Untunglah prajurit pengawal yang ke dua, yang berasal dari
Se-hek, selalu menolong temannya yang kerepotan itu. Tetapi
dengan berbuat demikian lambat-laun kedua orang itu
akhirnya jatuh di bawah angin.
Kaisar Han yang memperhatikan cara bersilat Yang Kun
sejak permulaan tetap belum dapat menebak dari aliran mana
sahabatnya itu berasal. Melihat gerakan kakinya yang cepat
dan gesit seperti orang menari mengingatkan baginda pada
gerakan seorang ahli silat pedang, tetapi bila melihat gerakan
tangannya yang selalu bertumpu pada gerakan pinggang,
mengingatkan baginda pada gerakan seorang ahli silat tombak
yang biarpun agak lamban tetapi terlihat kokoh dan kuat itu,
Tetapi apabila dilihat dari gaya pukulan tangan dan jarijarinya,
baginda menjadi teringat kepada seorang ahli kin-najiu
(ilmu menangkap dan membanting). Sehingga akhirnya
baginda menjadi pusing dan bingung sendiri.
Sementara itu pertempuran di antara ketiga orang itu telah
hampir berakhir. Pemuda itu berhasil mengurung kedua orang
lawannya. Beberapa kali serangannya berhasil menembus
pertahanan lawan. Hanya karena serangan tersebut tidak
disertai Lwee-kang yang kuat maka kedua lawannya masih
bisa bertahan. Coba Yang Kun masih memiliki tenaga dalam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seperti semula, mungkin kedua pengawal itu hanya dapat
bertahan dalam beberapa jurus saja.
“Tahan !” tiba-tiba Kaisar Han berseru.
Yang Kun yang pada saat itu berhasil memasukkan sebuah
serangan lagi ke dalam benteng pertahanan lawan, sehingga
kedua ujung jari kanannya dapat menjepit tenggorokan salah
seorang di antaranya, terpaksa melepaskan tangannya. Kedua
orang lawannya itu juga segera meloncat mundur, lalu
menjura kepada Yang Kun dan mengaku kalah.
“Bagus ! Bagus ! Kun-te, engkau sungguh hebat sekali !
Sekalipun tanpa lweekang ternyata engkau masih mampu
mengalahkan kedua orang kepala pengawal Tu-shu-koan
(Gedung Perpustakaan). Agaknya suhumu itu memang bukan
orang sembarangan, sayang ketika bertemu dengan suhumu
di ruang penjara bawah tanah itu aku tidak sekalian
mengundangnya kemari.” Kaisar Han berkata.
Tiba-tiba seorang pengawal yang sedari tadi berada di
pinggir arena tampak melangkah maju. Setelah berlutut di
depan Kaisar Han, pengawal itu berdiri menjura ke arah Yang
Kun.
“Apabila diperkenankan siauw-te juga ingin sekali meminta
satu dua jurus pelajaran ilmu silat guna menambah
pengetahuan siauw-te di bidang permainan senjata.”
Yang Kun sekali lagi menjadi termangu-mangu. Kakinya
baru saja sembuh dan dia tak ingin berkelahi sebenarnya. Tapi
ketika ia menoleh ke arah sahabatnya, lagi-lagi sahabatnya itu
seperti tak ambil peduli pada keadaan itu. Sahabatnya
tersebut justru memberi peluang kepada mereka untuk
melaksanakan niatnya itu.
“Hahaha…. Tio shao-ping rupanya (Pengawal Tio)!
Bagus….. engkau agaknya juga ingin mencoba kepandaian
Yang Siauw-ya dalam hal bermain senjata. Tapi Tio shao-ping
harus berhati-hati ! Sahabatku ini bukan tandinganmu,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
senjata… ehh Kun-te, apakah senjata yang biasa kau pakai ?”
Kaisar Han bertanya kepada Yang Kun.
“Liu toako, aku….. aku sebenarnya .......”
“Ah, Kun-te…… kau tidak usah terlalu merendahkan dirimu.
Kasihanilah mereka itu. Mereka ingin minta petunjuk dari
sahabat pemimpinnya. Nah, apakah senjata yang biasa kau
pakai ?”
“Aku……Aku ….. yah, baiklah ! Tapi hanya satu kali ini saja
lagi. Sebenarnya aku tidak ada nafsu untuk berkelahi pada
saat ini. Liu toako, aku dapat mempergunakan segala macam
senjata, tapi senjata yang biasa aku bawa adalah sebuah
golok.”
“haha…. Kun-te, begitulah seharusnya engkau bersikap.
Nah, pengawal … berilah Yang siauw-ya ini sebuah golok !”
Kaisar Han berteriak ke arah para pengawal. “Nah, Kun-te….
kau pun harus mengetahui, siapakah sebenarnya Tio shaoping
ini. Dia adalah kepala regu pengawal Wu-chi-koan
(Gudang Senjata)! Kedudukannya lebih tinggi dari pada kedua
pengawal tadi. Kepandaiannya bermain tombakpun juga lebih
membahayakan pula.”
Salah seorang pengawal menyerahkan sebuah golok besar
kepada Yang Kun, sementar Tio shao-ping telah bersiap-siap
pula dengan tombak pendeknya. Kedua orang itu kemudian
saling berhadapan. Tio shao-ping sekali lagi memberi hormat
kepada Yang Kun sebagai tanda bahwa ia sudah akan
memulai serangannya ! Lalu dengan sigap kepala pengawal
Wu-chi-koan itu mendongakkan ujung tombaknya ke arah
dada Yang Kun.
“Hiyaaaat …….!!”
Bagaikan seekor ular berbisa, ujung tombak orang she Tio
itu meluncur ke depan dengan cepat ke arah tenggorakan
Yang Kun dalam jurus Sin-coa-chao-cu (Ular Sakti Mencari
Mustika). Yang Kun terkejut juga ! Ujung tombak orang itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tampak bergetar dengan dashyat, sebagai tanda bahwa
serangan itu dibantu dengan dorongan lweekang yang kuat
pula. Maka Yang Kun tidak berani main-main. Dalam keadaan
biasa mungkin ia tidak perlu takut akan tenaga dalam lawan
itu, tapi dalam keadaannya seperti sekarang ia memang harus
selalu berhati-hati.
Satu-satunya jalan untuk menghindari serangan itu tanpa
resiko mengadu tenaga hanyalah dengan cara meloncat
mundur, sebab untuk menghindari ujung tombak yang
bergetar seperti itu sama berbahayanya dengan menghindari
patukan seekor ular berbisa. Dengan cepat ujung tombak itu
dapat berubah arah, ke kiri atau ke kanan ! Oleh karena itu
meskipun telah melangkah ke belakang, Yang Kun tetap
mengibaskan goloknya ke depan dadanya dalam jurus
Mengayun Tangkai Bendera Menghalau Lo Biauw.
Begitu serangannya gagal, orang she Tio itu menyusuli lagi
dengan Shao-in-kan-goat (menyapu Awan Melihat Bulan) ke
arah muka lawan. Dan belum lagi serangan itu tiba, Yang Kun
telah merasakan kibasan angin yang menyertainya seperti
sebuah angin taufan yang menampar-nampar wajahnya. Tapi
pemuda itu tidak ingin melangkah mundur lagi. Dengan tubuh
membungkuk Yang Kun melangkah ke depan malah, lalu
diangkatnya goloknya tinggi ke arah tangan lawan yang
memegang tangkai tombak, dalam jurus Mengangkat Obor
Menerangi Langit.
Tentu saja pegawal itu tidak mau lengannya tergores ujung
golok lawan, sehingga dengan tergesa-gesa pengawal
tersebut menarik pula tombaknya ke belakang ! Malah kini
tampak olehnya Yang Kun mengayunkan goloknya secara
mendatar ke arah lehernya dalam jurus Panglima Yi Po
Mengatur Barisan.
Orang she Tio itu terkejut juga melihat kegesitan lawan.
Dengan perasaan berat terpaksa ia meloncat ke belakang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
untuk menghindarkan diri sehingga keadaan telah menjadi
seimbang kembali. Sama-sama telah mundur selangkah !
Yang Kun juga tidak berusaha untuk mengejar lawannya.
Ia berdiri tegak kembali dengan golok di depan dadanya. Baru
setelah lawan berdiri dengan tegak ia ganti menyerang
dengan sabetan goloknya. Maka terjadilah suatu pertarungan
seru di antara mereka. Tapi seperti pertempuran pertama, kali
ini Yang Kun juga harus selalu menghindari pertemuan di
antara kedua senjata mereka, karena dengan bertemunya
kedua senjata mereka berarti harus mengadu tenaga pula.
Padahal lweekang lawannya kali ini justru lebih tinggi dari
pada kedua lawannya yang pertama. Dan kelemahan ini tidak
disia-siakan oleh orang she Tio itu. Orang itu dengan nekat
dan berani menyerbu ke arah Yang Kun sambil mengobatabitkan
tangkai tombaknya dengan maksud agar sekali tempo
dapat beradu dengan tenaga lawannya.
Baginda tersenyum melihat cara bertempur pengawalnya
itu. Biarpun cara bertempur seperti itu dapat dikatakan licik
tapi hal itu juga dapat menjadi tanda bahwa pengawal
tersebut bertempur dengan memakai otak pula. Agaknya Yang
Kun menyadari pula akan hal ini.
Beberapa kali pemuda itu terpaksa harus meloncat ke sana
ke mari untuk menghindari serbuan lawannya dan beberapa
kali pula ia harus menangkis tombak lawannya. Hal itu
terpaksa ia lakukan karena tiada jalan lagi selain menangkis,
padahal setiap senjata mereka beradu setiap kali pula ia
meringis kesakitan karena tenaga gwakangnya ternyata tidak
mampu menahan tenaga dalam lawannya, sehingga lambat
laun telapak tangannya terasa perih bagai terkelupas kulitnya.
Baginda mengerutkan keningnya. Ilmu golok sahabatnya
itu hebat bukan main. Entah dari perguruan mana baginda
juga tidak tahu, tetapi agaknya ilmu itu sedikit dipengaruhi
ilmu toya dan ilmu pedang. Beberapa kali baginda melihat
sahabatnya itu menusukkan ujung pedang. Kadang-kadang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
baginda melihat golok itu diayun oleh sahabatnya seperti
orang mengayun toya, keras sekali, dan tidak memakai tenaga
bahu tetapi dengan tenaga pinggangnya ! Baginda percaya,
bila sahabatnya tidak kehilangan lweekangnya, paling-paling
Tio shao-ping itu hanya dapat bertahan selama 20 jurus saja.
Tapi karena keadaannya itu pula yang mengakibatkan
sahabatnya itu kini menjadi terdesak malah.
Yang Kun semakin repot menahan serbuan lawannya.
Kedua buah telapak tangannya telah mulai mengalirkan darah,
sehingga rasa-rasanya sudah tak dapat lagi untuk memegang
tangkai golok. Tetapi untuk mundur dan mengaku kalah
hatinya sungguh berat dan penasaran. Ia tahu dengan pasti
bahwa ilmu tombak lawannya benar-benar bukan tandingan
Hok-te To-hoatnya yang hebat, maka jika harus mengaku
kalah terhadap ilmu tombak seperti itu ia sungguh merasa
sangat penasaran sekali.
Tetapi keadaan Yang Kun memang sangat runyam.
Melawan senjata lawan yang lebih panjang serta berkelahi
seperti kerbau gila itu benar-benar membuat dia tidak bisa
berkutik, sehingga ketika sekali lagi dia terpaksa harus
menangkis pukulan gagang tombak lawannya, goloknya sudah
tak bisa dipertahankan lagi. Dengan suara nyaring golok itu
terpental lepas dari tangannya ! Padahal ujung tombak lawan
masih tetap meluncur ke arah pusarnya. Sedangkan Yang Kun
sudah tidak mempunyai kesempatan lagi untuk menghindar !
Sementara itu saking bernafsunya, orang she Tio itupun sudah
tidak keburu lagi untuk menahan daya luncur senjatanya.
Semua mata terbelalak kaget ! Kaisar Han juga terkejut
setengah mati melihat perubahan suasana yang begitu
cepatnya. Baginda juga tidak dapat berbuat apa-apa !
Yang Kun juga sudah tidak mempunyai harapan lagi.
Dengan berteriak keras dia menampar ke arah muka lawan
dengan jurus andalannya, Raja Chin Miu Mematahkan Kim-pai
! Dengan harapan meskipun ia mati tertembus tombak, tapi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pihak lawan juga tidak dapat menikmati kemenangan itu
dengan tubuh segar bugar, paling tidak tentu rontok semua
gigi-giginya.
“Dessss !”
“Krakkkang !”
Kedua-duanya terlempar ke belakang dengan keras. Semua
orang yang berada di tempat itu serentak meloncat ke depan
untuk menolong. Para pengawal itu merubung dan menolong
Tio shao-ping sementara Kaisar Han cepat memeluk Yang Kun
yang terkapar di atas lantai. Tampak kain baju yang menutup
perut pemuda itu basah oleh darah !
“Kun-te…… Kun-te ! Kau….?!?”
Baginda berdiri kembali, matanya menatap tubuh
sahabatnya yang terkapar di samping kakinya. Terpancar
suatu perasaan menyesal yang dalam pada pandang mata
baginda, sehingga wajah yang tertutup kumis dan jenggot
tebal itu tampak memucat. Dan lambat laun dari pucat wajah
itu berubah menjadi merah membara, sejalan dengan
terbakarnya hati baginda mengingat akan kecerobohan hamba
pengawalnya yang kurang hati-hati sehingga membunuh
sahabatnya. Tetapi sebelum baginda meledak dengan
kemarahannya……
“Aduhhh…… wadouhhh….. gatal sekali ! wadouhhh…..
mukaku gatal sekali ! Oh….. Oh……. ooooohhh…… panasnya !”
Tiba-tiba terdengar suara Tio shao-ping yang berteriakteriak
kesakitan. Dan ketika baginda menoleh, tampak tubuh
pengawal itu meronta-ronta di dalam pegangan kawankawannya.
Kulit mukanya yang semula berwarna kuning itu
kini tampak membengkak kehitam-hitaman, sementara pada
pipinya sebelah kanan ada bekas telapak tangan Yang Kun
yang berwarna kemerah-merahan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sekali lagi baginda terkejut setengah mati. Terang kalau
hambanya itu mengalami keracunan hebat. Segera terngiangngiang
di dalam telinga baginda akan kata-kata Chu Seng Kun
sebulan yang lalu, ketika tabib muda itu selesai mengobati
tubuh Yang Kun, “Hong-siang, di dalam darah anak muda ini
telah mengalir sebuah campuran racun yang kekuatannya
telah berlipat ganda. Racun itu telah bersenyawa menjadi satu
dengan cairan darah sehingga tidak mungkin terpisahkan
lagi…… Tanpa kepandaian apa-apapun anak muda ini sudah
menjadi orang yang sangat berbahaya….”
Untuk beberapa saat baginda masih melihat hambanya itu
berteriak-teriak dan meronta-ronta, tetapi ketika baginda
melangkah untuk mendekati tiba-tiba kepala orang itu telah
terkulai, napasnya berhenti, nyawanya telah meninggalkan
tubuhnya.
Baginda berdiri termangu-mangu, begitu juga para
pengawal yang lain, mereka hampir tak mempercayai segala
kejadian yang baru saja berlalu itu. Baginda menghela napas
berat. Akhirnya terbukti pula semua perkataan Chu Seng Kun
itu.
“Liu-toako………”
Semuanya dengan serentak menoleh. Mereka hampir tidak
percaya ketika tubuh pemuda yang tadi tertembus tombak itu
kini tampak duduk memandang ke arah mereka. Baginda
cepat berlari menghampiri, lalu dengan perasaan tak percaya
baginda mengawasi muka sahabatnya.
“Kun-te …… kau masih hidup ? Engkau tidak apa-apa ?
Bagaimana dengan luka di perutmu ?” baginda bertanya
sambil mengawasi perut sahabatnya itu. Tangannya yang
terulur ditariknya kembali begitu teringat kata-kata Chu Seng
Kun.
“Aku…… aku hanya tergores pada kulit perutku. Agaknya
timang perak yang toako berikan kepadaku untuk hiasan ikat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pinggang itu telah menyelamatkan jiwaku.” Yang Kun
menjawab sambil menoleh ke arah pecahan perak yang
berkeping-keping di dekatnya.” …….. dan bagimana dengan
Tio shao-ping itu ? Kenapa dia juga terbaring di sana ? Apakah
tamparanku terlalu menyakitkan dia ?”
Baginda terdiam untuk beberapa saat, kemudian memberi
isyarat kepada para pengawal untuk menyingkirkan tubuh Tio
shao-ping dari tempat itu.
“Awas ! Jangan sampai racun itu menular ke pada tubuh
kalian !” baginda memperingatkan.
Tentu saja Yang Kun heran sekali mendengar kata
peringatan sahabatnya itu. Apalagi ketika dilihatnya semua
orang berwajah pucat. Tanpa bersuara mereka menggotong
tubuh Tio shao-ping keluar dari ruangan itu.
“Liu-toako ! Apa yang terjadi ? Kenapa Tio shao-ping itu ?”
pemuda itu berteriak.
“Kun-te…… sudahlah ! Lihat dahulu lukamu, baru kita
pikirkan yang lain !”
“lihat ! Perutku benar-benar hanya tergores sedikit saja !
Aku sungguh tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedikit mual
dan pusing akibat hentakan tombak Tio shao-ping yang
menghantam perutku tadi.” Yang Kun berkata sambil
memperlihatkan perutnya yang terluka.
“Sukurlah !” baginda merasa lega. “Ketahuilah, Kun-te, Tio
shao-ping telah meninggal dunia terkena tamparan tanganmu
tadi ……!”
“Hah ? Mati ? Bagaimana mungkin ? Bukankah tamparan
itu hanya sebuah tamparan biasa saja tanpa dilandasi
lweekang ?”
“Benar, tapi ketahuilah bahwa telapak tanganmu telah
lecet-lecet berdarah sebelum menampar Tio shao-ping tadi.
Padahal seperti yang telah kuceritakan kepadamu dahulu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bahwa darahmu telah mengandung racun dahsyat, yang dapat
membunuh orang…….”
“Oooohh……!”
“sudahlah, Kun-te, engkau tidak usah menyesalinya. Hal ini
memang tidak kau sengaja. Hanya mulai saat ini kau harus
hati-hati dengan darah yang keluar dari tubuhmu, sebab darah
itu mengandung racun yang dapat membunuh orang selain
dirimu sendiri. Marilah kita keluar…….!”
“Baik, Liu toako……….”
Hari semakin malam, udara juga semakin terasa dingin.
Bulan purnama juga telah mendaki semakin tinggi pula. Kaisar
Han mengajak Yang Kun ke halaman istana bagian tengah di
mana bangunan-bangunan indah didirikan, yaitu beberapa
bangunan besar yang dikelilingi tembok tinggi tempat kaisar
dan seluruh anggota keluarganya bertempat tinggal. Di sana
penjagaan lebih ketat dan keras dari pada bagian istana yang
lain.
“Kita tidak usah masuk ke dalam. Soalnya harus ada ijin
khusus selain keluarga kaisar yang ingin masuk ke tempat itu.”
Kaisar Han berkata. “Kita lewat melalui jalan di luar
temboknya saja.”
“Liu toako, apakah pengaruhmu tidak sampai di dalam
tembok itu ?”
“Haha… tentu saja kakakmu ini mempunyai juga pengaruh
di sana. Tetapi punya pengaruh atau tidak punya pengaruh
tetap sama saja kalau akan memasuki daerah terlarang itu.
Tetap harus mempunyai ijin khusus dari kaisar !”
Akhirnya mereka sampai di halaman istana bagian tengah
di mana terdapat sebuah bangunan yang besar dan megah. Di
depan pintu masuknya yang besar dan indah tampak
berderet-deret belasan buah patung manusia setinggi dua
meter, terbuat dari batu pualam putih. Halamannya sangat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
luas dan ditanami pohon-pohon cemara sehingga terasa sejuk
dan agung. Di sebelah belakang dari bangunan itu berdiri
sebuah pagoda besar yang bertingkat tujuh menjulang ke
angkasa. Beberapa orang pendeta tampak hilir mudik di
dalamnya.
“Inilah kuil agung tempat para bangsawan istana
bersembahyang.” baginda memberi keterangan kepada Yang
Kun. “Kepala kuilnya adalah ayah saudara Chu yang
mengobati engkau dahulu itu. Bangunan ini telah berdiri kirakira
200 tahun yang lalu….. dan satu-satunya bangunan di
dalam istana ini yang lolos dari gempa.”
“Bolehkah aku melihat ke dalam ?”
“Tentu saja…….”
Yang Kun kagum sekali pada gaya bangunan yang sangat
megah itu. Semua kayu-kayunya diukir dengan indah sekali.
Lantainya juga terbuat dari batu pualam putih. Ruangan
depan yang luas itu dihiasi dengan beberapa patung dewadewi
di bagian tepinya, sementara altar tempat
bersembahyang yang terletak di tengah-tengah ruangan itu
terbuat dari batu pualam bening seperti kaca setebal satu
jengkal lengan manusia. Persis di atas altar tersebut, yaitu
pada atap di gentingnya dibuat sebuah lubang seluas altar itu
pula, sehingga sinar matahari maupun bulan dengan bebas
dapat masuk menerangi altar kaca itu.
Beberapa orang pendeta menyambut kedatangan mereka,
tetapi Kaisar Han cepat memberi keterangan bahwa mereka
hanya ingin melihat-lihat saja keindahan dari kuil itu, sehingga
pendeta-pendeta tersebut kembali lagi ke dalam setelah
mempersilahkan mereka untuk melihat-lihat sepuas-puasnya.
“Liu toako, lihatlah ! Altar itu sungguh menggetarkan hati !
Altar bening yang tertimpa sinar bulan purnama itu seakanakan
mempunyai perbawa yang hebat pada diri orang yang
melihatnya.” Yang Kun berbisik kepada sahabatnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Benar. Aku juga merasakan sesuatu pengaruh yang
membuat diriku merasa segan dan takut untuk berbuat
sesuatu yang jelek di tempat ini…….”
“Toako…… aku tiba-tiba jadi kepingin sembahyang di
tempat ini….” Yang Kun berbisik lagi. Kaisar Han tercengang !
Tapi serentak dilihatnya pemuda itu tampak bersungguhsungguh
dan tidak hanya sekedar bergurau dengan dia,
baginda segera mempersilahkannya.
“Silahkan, Kun-te ! Aku akan menunggu di luar saja.”
Sebenarnyalah, memang secara tiba-tiba hati pemuda itu
ingin sekali berdoa dan bersyukur di atas altar yang
menyilaukan itu. Ia ingin bersyukur atas keselamatan dirinya
dari kematian ataupun dari luka-lukanya yag berbahaya itu, Ia
ingin mengucapkan terima kasihnya kepada Thian atas semua
itu dan ia juga secara tiba-tiba ingin menyembahyangkan
semua arwah keluarganya yang sampai saat ini belum pernah
ia lakukan. Mumpung sekarang berada di tempat yang begini
agung dan mengesankan hatinya, siapa tahu ia takkan sempat
lagi melakukan di tempat lain ?
Yang Kun mencopot sepatunya kemudian membersihkan
kedua belah kakinya sebelum naik ke atas altar. Pertama-tama
ia menyembahyangkan arwah ibu yang sangat dicintainya,
baru setelah itu ia menyembahyangkan arwah ayah dan
paman-paman yang lain. Sinar bulan purnama yang menyorot
cemerlang tepat di atas kepalanya itu semakin menambah
perbawa yang menakjubkan pada altar bening yang kini
berada di bawah kakinya. Bayangan langit, mega, bulan dan
bintang seakan terpantul di sana, sehingga pemuda itu
merasa berada di atas mega yang tinggi bersama-sama
dengan mereka !
Yang Kun merasa seakan bayangan bulan yang terpantul di
bawah kakinya itu sedang tersenyum kepadanya. Tersenyum
bangga, karena dialah yang menjadi ratu pada malam ini.
Tanpa kehadirannya, semuanya akan menjadi gelap dan tak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berarti lagi. Tetapi tiba-tiba Yang Kun terkejut ! Rasa-rasanya
ia melihat dua buah bulan sedang tersenyum kepadanya di
dalam altar itu. Yang ke dua justru lebih cemerlang dari pada
bulan yang pertama, sehingga rasa-rasanya altar tersebut
semakin terasa menyilaukan pandangannya.
Ketika pemuda itu memandang lebih teliti lagi, ternyata ia
melihat lubang kecil sebesar kepalan tangannya di bawah altar
itu. Dan jauh di dasar lubang tersebut Yang Kun melihat
benda berwarna kuning mengkilat cemerlang terkena sinar
bulan yang memasuki lubang kecil itu. Dari tempat itulah sinar
bulan yang kedua datang.
Yang Kun cepat-cepat turun dari atas altar tersebut dengan
maksud memberi tahu tentang penemuannya itu kepada
sahabatnya. Tapi di luar kuil Yang Kun tidak melihat
sahabatnya. Halaman depan kosong, begitu pula halaman
samping. Pemuda itu berlari masuk kembali ke dalam kuil, tapi
ia tetap tidak menemukan sahabatnya itu.
Seperti orang sinting Yang Kun berlari kembali ke atas
altar. Tapi betapa kagetnya ketika lubang yang berisi benda
kuning itu telah lenyap dan tiada lagi di sana, seakan hilang
bersama gerakan bulan yang telah sedikit mendoyong ke arah
barat.
“Liu toako…… Liu toako ! Dimanakah engkau ?” pemuda itu
berseru.
Beberapa orang pendeta tampak keluar dari dalam kuil dan
dengan tergesa-gesa menghampiri Yang Kun.
“Siauw-sicu, kau mencari siapakah ?” salah seorang
pendeta yang berusia paling tua di antara mereka bertanya.
“Oh, siauw-te sedang mencari kawan siauw-te yang tadi
datang ke sini bersama siauw-te….” pemuda itu menjawab.
“Apakah si-cu adalah teman…….”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kun-te……!” tiba-tiba terdengar suara orang memanggil
dari jauh.
Yang kun bergegas meloncat keluar pintu, diikuti oleh para
pendeta itu. Tampak oleh mereka di atas pagoda dua orang
sedang bertempur dengan seru. Salah seorang di antara
mereka dikenal oleh Yang Kun sebagai Liu toako, sahabat
yang sedang dicarinya itu. Mereka berlari-lari menghampiri
tempat itu. Dari bawah terlihat dengan nyata, kedua orang
yang sedang berkelahi di tingkat ke tiga itu adalah seorang
laki-laki dan seorang wanita. Yang Kun mengenal bahwa yang
laki-laki adalah Liu toako , sahabatnya, tapi yang lain pemuda
itu tidak mengenalnya. Kedua orang tersebut bertempur
dengan seru. Masing-masing ternyata mempunyai kepandaian
yang sangat tinggi, apalagi wanita itu. Pukulan mereka yang
dilandasi oleh tenaga dalam tingkat tinggi terdengar bersiutan
dari bawah, sehingga pagoda itu seperti bergetar dilanda
angin pukulan mereka.
Kaisar Han yang sebelum menjadi kaisar adalah seorang
pendekar besar yang sangat terkenal di dunia persilatan tentu
saja mempunyai kesaktian yang bukan main hebatnya, sebab
tanpa mempunyai kesaktian yang hebat tidak mungkin dia
bisa memimpin barisan para pendekar yang rata-rata juga
merupakan seorang pendekar yang sudah punya nama pula di
dunia persilatan. Meskipun demikian dalam pertempuran
seorang lawan seorang dengan wanita itu ternyata baginda
berada di bawah angin.
Wanita yang sekarang sedang bertempur dengan baginda
adalah seorang wanita yang telah berumur sekitar 60-an, tapi
meskipun begitu ternyata gerakannya masih tetap gesit dan
tangkas. Dengan langkah-langkah kaki yang cepat serta
lweekang yang tinggi, ia mengurung Kaisar Han yang selalu
terdesak mundur. Beberapa kali wanita itu memaksa baginda
untuk saling beradu kepalan atau lengan dan setiap kali pula
baginda harus mengakui kehebatan tenaga dalam lawannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Meskipun hanya seorang wanita apalagi sudah tua ternyata
kekuatannya masih berada di atas kekuatan baginda.
Baginda semakin terpepet di pagar kayu yang berada di
tingkat tiga tersebut. Anehnya sampai saat itu tak seorang
pengawalpun yang datang ke tempat itu untuk menolong
baginda. Agaknya para pengawal istana yang berada di sekitar
tempat itu telah dilumpuhkan oleh wanita tersebut. Sedangkan
para pendeta yang berada di dalam kuil itu tak seorang pun
yang mengerti ilmu silat selain kepala kuilnya yang bernama
Chu Sin, ayah Chu Seng Kun ! Tapi sampai saat itu Chu Sin
pun belum kelihatan di tempat tersebut.
Akhirnya Yang Kun tidak tega melihat keadaan sahabatnya.
Tapi sebelum ia berlari menyusul ke atas, tiba-tiba terdengar
suara berdentam yang keras disertai ambrolnya pagar kayu
yang melingkari teras di tingkat ke tiga. Tampak oleh Yang
Kun sahabatnya terlempar ke bawah akibat beradu tenaga
dengan lawannya.
Yang Kun berusaha menyanggah tubuh sahabatnya. Tetapi
oleh karena lweekangnya telah tiada, apalagi Kaisar Han
ternyata juga telah terluka dalam akibat pukulan lawan, maka
keduanya justru jatuh terguling-guling di atas rumput. Tapi hal
itu juga sudah merupakan sebuah keuntungan pula bagi
Kaisar Han. Tanpa disanggah oleh Yang Kun, meskipun
baginda juga telah mengerahkan ginkangnya, jatuh dari
tempat yang begitu tinggi niscaya akan berbahaya pula bagi
tulang-tulang kakinya.
Yang Kun menolong sahabatnya untuk bangkit dari rumput.
Tampak oleh pemuda itu darah segar mengalir dari mulut
sahabatnya, menandakan bahwa sahabatnya itu mendapat
luka dalam yang tidak ringan. Tapi sebelum mereka berdiri
tegak, mereka dikejutkan oleh hembusan tenaga dalam yang
dilontarkan dari atas kepala mereka. Ketika mereka
mendongakkan kepala mereka, tampak bayangan wanita itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
meluncur turun ke arah mereka, dengan kedua belah
lengannya menghantam ke depan.
Kedua orang sahabat itu merasa seperti dihimpit oleh
tenaga yang amat berat, sehingga untuk mengambil napas
saja sukar sekali rasanya. Apalagi untuk dapat menghindar
dari tempat itu. Terpaksa secara bahu-membahu kedua
sahabat itu bersama-sama memapaki pukulan lawan yang saat
itu sedang meluncur tiba.
“Buuummm…….!”
Debu tampak mengepul tinggi. Rumput-rumput bagai
tercabut dari akar-akarnya. Kerikil dan pasir berhamburan ke
mana-mana. Kedua sahabat itu seakan lenyap tertutup oleh
semuanya itu. Sedangkan wanita yang terjun dari tingkat ke
tiga itu kelihatan mendarat dengan ringan tak jauh dari sana.
Daya perlawanan kedua orang itu justru sangat
menguntungkan bagi wanita tersebut, sebab dengan
mendapatkan perlawanan itu membuat laju tubuhnya menjadi
tertahan untuk sesaat.
Bersama dengan makin menipisnya debu yang menutupi
tempat itu terdengar pula suara-suara tanda bahaya yang
dipukul memenuhi angkasa. Wanita itu tampak kaget, sekilas
dilihatnya kedua orang korban pukulannya itu masih
tergeletak pingsan di tempatnya. Tapi sebelum ia beranjak
pergi untuk meninggalkan tempat itu, telinganya yang sangat
tajam mendengar derap kaki orang dari segala penjuru. Dan
sebelum ia memutuskan apa yang mesti diperbuatnya untuk
dapat meninggalkan tempat tersebut tampak puluhan bahkan
ratusan prajurit pengawal tampak memenuhi halaman kuil itu
!
Wanita itu terdengar menggeram dengan marah. Agaknya
kedatangannya kali ini telah diperhitungkan oleh lawannya,
buktinya ia melihat beberapa orang prajurit serta perwira
pasukan kerajaan di antara para pengawal istana itu. Tetapi
meskipun demikian kedatangannya kali ini untuk membunuh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kaisar Han ternyata justru memperoleh keberhasilan. Secara
tak terduga wanita itu dapat bertemu dengan kaisar di tempat
tersebut, padahal kemarin malam ia telah berputar-putar
hampir di segala sudut istana tanpa membawa hasil. Sekali
lagi wanita itu menoleh ke arah Kaisar Han dan Chin Yang Kun
yang masih pingsan dan tiba-tiba saja ia memperoleh jalan
keluar untuk meloloskan diri dari kepungan para prajurit itu.
Wanita itu meloncat dengan cepat dan di lain saat kedua
tubuh Kaisar Han dan Yang Kun telah berada dalam
genggaman tangannya. Dengan kedua sosok tubuh di
tangannya wanita itu berusaha membobol kepungan tersebut.
Tubuh Yang Kun dan tubuh Kaisar Han diayun ke sana ke mari
untuk menghantam ke arah mereka. Tentu saja para perwira
yang memimpin pengepungan itu menjadi kalang kabut
mengatur anak buahnya agar tidak salah tangan membunuh
raja mereka sendiri. Pasukan anak panah yang datang juga ke
tempat itu tidak dapat berkutik pula di menghadapi keadaan
seperti itu. Sehingga akhirnya pasukan pengepung yang
beratus-ratus jumlahnya itu hanya bisa mengikuti saja ke
mana wanita itu membawa korbannya. Mereka berteriak-teriak
dan memaki-maki wanita tersebut dari kejauhan.
Kaisar Han dan Yang Kun dibawa lari ke arah halaman
istana bagian belakang. Di tengah-tengah taman istana wanita
itu telah dihadang pula oleh sejumlah perwira yang
berkepandaian tinggi. Mereka inilah yang akhirnya dapat
sedikit menghambat langkah kaki orang yang akan menculik
dan membawa pergi junjungannya. Dengan kepandaian
mereka yang tinggi mereka dapat memilih sasaran-sasaran
yang mereka kehendaki, biarpun untuk berbuat begitu juga
tidak mudah, karena orang yang mereka hadapi kali ini juga
bukan orang sembarangan. Alhasil para perwira itu tetap tidak
dapat menangkap musuh yang menawan kaisarnya, tetapi
penculik yang berusaha membunuh kaisar itupun juga
mengalami kesukaran untuk meloloskan diri dari istana itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pertempuran itu makin lama makin bergeser ke arah
belakang sehingga akhirnya mencapai celah lebar bekas
gempa yang pernah diceritakan oleh Kaisar Han itu. Tempat
itu kini malah menjadi tempat bercengkrama yang indah bagi
keluarga kaisar, karena celah yang panjang dan lebar itu
entah dari mana datangnya telah dipenuhi dengan air yang
sangat bening, sehingga dasar celah yang terdiri dari lapisan
batu kapur yang sangat keras dan terdiri dari bermacammacam
warna itu memantul ke atas bagaikan warna pelangi
yang berkilau-kilau di atas permukaan air.
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil