Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Minggu, 22 April 2018

Pendekar Penyebar Maut 7

-----
"Hmmm, inikah Kim-liong Lo-jin itu ?" Chin Yang Kun
berkata di dalam hatinya.
"Tapi....... kenapa tidak kelihatan sedikitpun kalau ia
sedang sakit?"
Perlahan-lahan kakek itu menuruni tangga pendapa. Dan
orang-orang Kim-liong Piauw-kiok itu segera menyibak begitu
kaki kakek jangkung tersebut menginjak halaman. Otomatis
Chin Yang Kun dan kakek itu lalu saling berhadapan dalam
jarak enam atau tujuh tombak. Keduanya saling menatap
seperti ayam jago di dalam kalangan.
"Ada apa di sini ? Mengapa kalian ribut-ribut dalam suasana
berkabung begini!" kakek itu tiba-tiba memalingkan mukanya
dan bertanya ke arah orang-orang Kim-liong Piauw-kiok itu.
Lelaki yang bertindak sebagai tuan rumah tadi bergegas
keluar dari barisan. “Pemuda itu adalah pembunuh Thio-suhu,
Lo-enghiong....!” lapornya seraya membungkuk.
"Kurang ajar! Apa katamu.......?”
Chin Yang Kun berteriak marah. Tubuhnya tiba-tiba melesat
ke arah laki-laki itu dan dari telapak tangannya menghembus
udara yang kuat luar biasa. Dan sekejap kemudian........
Bhlaaaar!
Gerakan pemuda itu mendadak tertahan di udara, lalu
tubuhnya tertolak ke belakang dan..... terbanting ke atas
tanah! Semua kejadian itu, yaitu dari serangan Chin Yang Kun
yang dilakukan sambil melompat tadi, kemudian adanya
sebuah tenaga yang menahan gerakan tersebut, dan akhirnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang membuat pemuda itu terbanting ke atas tanah,
semuanya hanya berlangsung dalam waktu yang sangat
pendek!
Chin Yang Kun bangkit kembali dengan cepat, dan dari
mulutnya tampak menetes darah segar. Matanya mencorong
dingin menakutkan. Setapak demi setapak pemuda itu
melangkah mendekati kakek jangkung tersebut. Dan
langkahnya baru berhenti ketika jarak di antara mereka tinggal
satu setengah tombak saja.
"Kau....? Kau siapakah? Mengapa kau ikut campur dan
membokong aku?" dengan suara bergetar karena menahan
kemarahannya Chin Yang Kun menuding muka kakek itu.
Kakek itu menanggapi kemarahan Chin Yang Kun tersebut
dengan sikap acuh tak acuh. Dengan tenang kedua lengannya
justru dilipat di depan dadanya.
"Siapakah yang membokongmu, anak muda? Jangan
menuduh orang sembarangan saja. Aku tadi hanya mencoba
memapaki seranganmu dengan pukulan jarak jauh pula. Dan
aku melakukannya dari depan, bukan dari arah
belakang........”
"Tapi kau melakukannya tanpa memberi tahu aku lebih
dahulu. Padahal di antara kita tidak ada perselisihan."
Kakek itu mengelus jenggotnya. “Hmmm, anak muda........
kau jangan hanya mau menang sendiri saja! Bukankah
kedatanganmu kemari sehingga terjadi pertempuran itu sudah
menunjukkan perselisihan di antara kita? Dan....... apakah kau
tadi juga memperingatkan lebih dulu ketika menyerang lelaki
itu ?"
Chin Yang Kun diam tak bisa menjawab. Tapi sejalan
dengan itu di dalam tubuhnya telah bergolak kemarahan yang
membuat seluruh tenaga sakti Liong cu-i-kangnya bangkit dari
tan-tian dan........ tak bisa dibendung lagi!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kulit tubuhnya berubah menjadi gelap kekuning-kuningan
dan udara atau hawa yang sangat dingin terasa menghembus
melalui jalan pernapasannya. Begitu tajam dan kuatnya
pengaruh hawa dingin tersebut sehingga kakek jangkung itu
merasakannya juga.
"Hah?!" kakek itu mengangkat wajahnya dengan kaget.
"Baiklah, orang tua....... Agaknya semua orang di tempat ini
telah menuduh aku sebagai pembunuh Thio Lung. Dan
kelihatannya semua sanggahan atau kata-kataku sudah tidak
akan dipercaya lagi. Kini semua orang hanya mempunyai satu
niat, yaitu........ membunuh aku ! Kalau demikian halnya …….
apa boleh buat, aku akan mempertahankan nyawaku sedapatdapatnya
! Marilah.......!!"
Chin Yang Kun merendahkan tubuhnya dan dari mulutnya
terdengar suara mendesis yang amat keras. Kemudian kedua
tangannya yang terkepal di samping pinggangnya itu tiba-tiba
meluncur ke depan dengan kekuatan penuh, menghantam ke
arah dada kakek jangkung tersebut. Whuuuuussss........!
Kakek itu cepat memasang kuda-kuda pula. Sepasang
lengannya terulur pula dengan cepat ke depan, menyongsong
pukulan Chin Yang Kun ! Melihat tenaga yang dikeluarkan oleh
pemuda tersebut terasa hebat luar biasa, maka kakek itupun
juga tidak berani bermain-main lagi. Meskipun demikian kakek
itu yang merasa kepandaian dan ilmunya lebih tinggi dari pada
ilmu dan kepandaian lawannya, hanya mengerahkan tiga
perempat bagian saja dari seluruh tenaga saktinya. Tapi
biarpun cuma tiga perempat bagian saja, ternyata perbawanya
sungguh telah menggiriskan hati para penonton di sekitarnya.
Semuanya segera menyingkir ketika tiba-tiba muncul pusaran
angin yang bergemuruh dari tubuh kakek itu!
Bhlaaaaar.......!!!
Dua pasang lengan berbenturan di udara, menimbulkan
suara nyaring di telinga para pendengarnya ! Tapi benturan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
antara dua tenaga sakti itu menimbulkan perbawa lain di hati
para penonton di halaman tersebut ! Benturan itu seolah-olah
menimbulkan getaran keras yang menghantam rongga dada
mereka, sehingga mereka merasa seperti ada suara
menggelegar di dalam jantung mereka! Belasan orang menjadi
sempoyongan karena tergoncang keseimbangannya!
Dan….. akibat dari benturan tersebut ternyata juga
mengejutkan para pelakunya sendiri! Keduanya ternyata juga
tidak menyangka bahwa lawan yang mereka hadapi
mempunyai kesaktian demikian hebatnya! Terutama bagi
kakek jangkung itu !
Kakek jangkung itu yang dengan mengerahkan tiga
perempat bagian sinkangnya merasa sudah terlalu cukup
untuk menggempur lawannya, ternyata terkejut sekali ketika
kuda-kudanya terguncang dan kemudian malah…. terbanting
jatuh ke atas tanah seperti yang dialami oleh lawannya tadi !
Darah menetes pula dari sudut bibirnya, membasahi kumis
dan jenggotnya yang putih! Kakek itu bangun kembali dengan
cepat. Mukanya pucat karena malu, sementara matanya
melotot seolah-olah tak percaya apa yang telah dialaminya.
“Bo-bocah kurang ajar…..!" kakek itu mengumpat dengan
suara tertahan di dalam kerongkongannya. Kemudian dengan
kemarahan yang meluap ia mengerahkan seluruh
kekuatannya. ''Terimalah pukulanku.....!" geramnya.
Dan sekejap kemudian tubuh Chin Yang Kun bagai hendak
dihempas oleh pusaran angin ribut yang lebih dahsyat dari
pada tadi. Gemuruh suaranya !
Tetapi Chin Yang Kun cepat merendahkan tubuhnya.
Badannya yang penuh terisi tenaga sakti Liong-cu-I-kang itu
menerjang pusaran angin selangkah demi selangkah ke
depan, seperti seekor naga yang merayap dalam derasnya
gelombang Sungai Huang-ho. Dan begitu sudah berhadapan
langsung dengan lawan, pemuda itu segera menyerang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan jurus Kai-chuang-kan-seng (Membuka Jendela Melihat
Bintang) ke arah lutut kakek itu.
Di dalam kekagetannya, karena Chin Yang Kun ternyata
mampu menerjang hembusan angin pukulannya, kakek
jangkung itu meloncat ke samping menghindari cengkeraman
tangan Chin Yang Kun yang mengarah ke lututnya. Lalu dari
arah samping kakek itu membalas pula dengan pukulan lurus
dari atas ke bawah ke arah ubun-ubun Chin Yang Kun.
Gerakan tersebut disebut jurus Menancap Tiang di Puncak
Gunung !
Chin Yang Kun melangkah mundur kembali, sehingga
pukulan kakek itu lewat di depan mukanya. Kemudian pemuda
itu menerjang ke depan Iagi dengan dua buah kepalannya.
Tapi dengan mudah kakek itu juga dapat mengelakkannya.
Selanjutnya kedua orang itu lalu bertarung dengan
dahsyatnya. Masing-masing mencoba dengan segala
kemampuannya untuk mengalahkan lawannya. Para penonton
semakin lama semakin menjauhi arena, sebab perbawa yang
dikeluarkan oleh kedua orang itu semakin lama juga semakin
membahayakan orang-orang di dekat mereka. Angin pukulan
mereka saja ternyata mampu meledakkan dan
menghancurkan benda-benda yang berada jauh dari tempat
mereka bertempur !
Semakin hebat dan seru mereka bertempur kakek jangkung
itu semakin heran dan penasaran menyaksikan kedahsyatan
ilmu Chin Yang Kun ! Pemuda belasan tahun yang patut
menjadi cucu atau anaknya dapat mengimbangi seluruh
kemampuan dan pengalamannya selama berpuluh-puluh
tahun ! Dan yang benar-benar sangat mentakjubkan dan
mengherankan hati kakek itu adalah kesempurnaan Iweekang
pemuda remaja tersebut. Lweekang pemuda itu demikian
sempurna dan hebatnya, sehingga Iweekang tersebut seakanakan
telah dihimpun dan dipelajari oleh pemuda itu selama
berpuluh-puluh atau bahkan lebih dari seratus tahun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebaliknya, Chin Yang Kun sendiri juga tidak kalah takjub
dan herannya menyaksikan kehebatan dan kedahsyatan ilmu
kepandaian orang tua itu. Rasa-rasanya pemuda itu belum
pernah melihat ilmu silat yang bisa menimbulkan badai angin
yang bergemuruh seperti itu. Dan pemuda itu semakin takjub
lagi apabila kakek tua itu kadang-kadang mengeluarkan
pukulan jarak jauhnya yang meledak-ledak bagai petir
menyambar! Maka di dalam hatinya pemuda itu lantas
bertanya-tanya, siapakah sebenarnya kakek tua itu? Yang
jelas baginya adalah kakek tersebut tentu bukan Kim Liong Lojin,
karena selain Kim-liong Lo-jin sedang menderita sakit,
orang-orang Kim-liong Piauw-kiok tadi tidak menyebutnya Sucouw
tetapi Lo-enghiong!
"Kalau begitu........ orang tua ini tentulah yang mereka
katakan sebagai kawan akrab Kim-liong Lo-jin tadi." pemuda
itu berkata di dalam hatinya.
Demikianlah, seratus jurus telah lewat dan pertempuran
mereka belum juga bisa menunjukkan siapa yang kalah dan
siapa yang menang. Padahal keduanya benar-benar telah
berusaha dengan sekuat tenaga mereka, biarpun keduanya
memang belum merasa perlu untuk mengeluarkan ilmu
simpanan mereka masing-masing.
Tapi sejenak kemudian merekapun lantas menjadi sadar
bahwa yang mereka hadapi kali ini memang bukanlah lawan
sembarangan. Masing-masing lalu berpikir untuk
mempergunakan ilmu simpanan mereka.
Kakek itulah yang mula-mula meloncat mundur menjauhi
lawannya. Dengan kedua kaki terpentang lebar kakek itu
memasang kuda-kuda rendah sekali. Kedua telapak tangannya
bertemu di depan dada seperti orang yang hendak
bersemedhi, sementara punggung dan kepalanya tampak
tegak ke depan ke arah Chin Yang kun.
Chin Yang Kun diam pula tak bergerak. Pemuda itu juga
tidak mengejar ketika lawannya meloncat mundur, karena
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pemuda itupun sudah memutuskan untuk mengeluarkan Kimcoa-
ih-hoatnya. Maka begitu lawannya tadi meloncat mundur,
pemuda itu buru-buru mempersiapkan dirinya pula.
Terdengar suara berkerotokan di dalam tubuh Chin Yang
Kun, seolah-olah semua tulang-tulangnya saling berbenah diri,
agar tidak mengecewakan dalam memainkan ilmu Kim-coa-ihhoat
nanti. Kemudian tenaga sakti Liong-cu-I-kangnya ia
kumpulkan sepenuhnya di tan-tian, agar setiap saat bisa ia
kerahkan ke seluruh tubuh !
Kakek itu menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya
satu sama Iain, lalu sekejap kemudian telapak tangan
kanannya tiba-tiba meluncur ke depan dengan disertai suara
yang bergemuruh. Dan hawa yang sangat panas mendadak
menyengat kulit dada Chin Yang Kun !
Chin Yang Kun cepat menggeser kakinya ke samping, lalu
tangan kirinya menepis ke depan dalam jurus Panglima Yi Po
Mengatur Barisan, yaitu jurus ke tujuh belas dari ilmu silat
keluarganya. Hanya bedanya tepisan tangan itu sekarang
dilandasi dengan Liong-cu-i-kang, bukan Iweekang ajaran
paman bungsunya!
Thanggg!
Kedua telapak tangan yang masing-masing penuh dengan
tenaga dalam itu saling berbenturan di udara! Suaranya
mengiang nyaring seperti suara dua batang tongkat besi yang
diadu satu sama lain!
Chin Yang Kun kaget bukan main! Biarpun lengan lawan
yang keras bagai besi baja itu dapat ia tepiskan, tapi sengatan
hawa panas itu ternyata masih tetap menerjangnya juga.
Tiba-tiba tubuh bagian kirinya terasa pedih sekali ! Dan…..
bukan main terkejutnya pemuda itu ketika menyaksikan
lengan bajunya sebelah kiri hancur berserpihan ditiup angin !
Dan matanya semakin melotot tatkala melihat kulit di bawah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
baju itu tampak terbakar kemerah-merahan seperti bekas kulit
yang tersiram air panas !
Dari kaget pemuda itu menjadi marah bukan kepalang !
Dan kemarahan itu tidak cuma karena kulitnya yang terbakar,
tapi sebagian besar disebabkan karena rusaknya baju buatan
Souw Lian Cu yang kini dipakainya itu !
Dengan suara desisnya yang khas pemuda itu menggeliat
ke depan bagai ular naga yang sedang marah. Lalu tangan
kanannya secara mendadak menyambar ke arah pinggang
kakek jangkung itu dalam jurus Merentang Tali Meniti
Jembatan, yaitu salah sebuah jurus dari Kim-coa-ih-hoat ! Kaki
kanan dan kiri berdiri sejajar dalam satu garis, dengan tubuh
atas mendoyong ke depan, sementara kedua lengannya juga
terpentang lurus ke muka dan ke belakang!
Hembusan angin yang luar biasa dinginnya mendahului
sambaran tangan Chin Yang Kun, sehingga kakek itu cepat
menyadari bahaya yang hendak menerkamnya. Otomatis
kakek itu bergeser menjauh seraya menghantamkan sikunya
ke bawah untuk mematahkan pergelangan tangan Chin Yang
Kun. Dan sesudah itu kakek jangkung tersebut bermaksud
menghajar kepala lawannya dengan pukulannya yang bersifat
panas itu lagi.
Tapi maksudnya itu ternyata tidak dapat ia laksanakan !
Malahan sebaliknya kakek itu sendirilah yang jatuh bangun
dikocok serangan Chin Yang Kun sebelum dapat
melaksanakan niatnya tersebut.
Ternyata sambaran tangan Chin Yang Kun tadi tidak
berhenti begitu saja ketika berhasil dielakkan oleh kakek
jangkung itu. Lengan pemuda itu segera memanjang lagi
ketika korbannya bergeser dan berusaha menjauhkan diri,
sehingga pinggang kakek itu tetap terancam juga oleh
cengkeraman jari-jari Chin Yang Kun !
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan secara otomatis pula lagi kakek itu semakin
menjauhkan dirinya. Tapi bagaikan seutas tali saja, lengan itu
juga terentang semakin panjang pula. Kakek itu mulai panik !
Siku tangannya yang sedianya akan menghantam pergelangan
tangan Chin Yang Kun menjadi gagal pula. Bagaimana
mungkin ia meneruskan hantaman sikunya itu kalau jari-jari
tangan Chin Yang Kun akan datang lebih dulu di pinggangnya?
Tubuhnya akan menjadi lumpuh dan hantaman tersebut sudah
tidak ada gunanya lagi !
Kakek itu secara mati-matian menjejakkan kakinya ke
samping seraya memutar tubuh sebisa-bisanya dan ternyata
gerakannya itu untuk sesaat bisa membebaskan dirinya dari
kejaran lengan Chin Yang Kun! Kemudian dengan terburuburu
kakek itu mengirimkan pukulan tangan kirinya yang sejak
tadi tergantung bebas di sisi tubuhnya!
Kembali terdengar suara gemuruh melanda Chin Yang Kun
! Dan hawa panaspun lalu tersebar ke segala penjuru !
Tapi dengan tangkas Chin Yang Kun menjatuhkan dirinya
ke tanah. Tiba-tiba tubuhnya mengkerut dengan cepat,
sehingga pukulan kakek itu tidak mengenai sasarannya.
Akibatnya tanah di samping Chin Yang Kun meledak dengan
dahsyatnya ! Tanah dan debu berhamburan kemana-mana!
Demikianlah Chin Yang Kun dan kakek jangkung itu lalu
bertempur kembali. Dan pertempuran mereka kali ini benarbenar
lebih dahsyat dari pada pertempuran mereka tadi.
Kesaktian mereka yang tidak lumrah manusia itu sungguh
membuat takjub para penonton yang berada di halaman
tersebut.
Kakek jangkung itu meskipun sudah tua ternyata
kemampuan dan kekuatannya justru semakin menjadi-jadi
malah! Seluruh gerakan kaki dan tangannya selalu
menimbulkan badai atau pusaran angin yang maha hebat,
sementara pukulan tangannya selalu meledak-ledak laksana
petir menyambar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebaliknya, meskipun masih muda belia, ternyata ilmu
kesaktian Chin Yang Kun juga tidak kalah dahsyatnya.
Tubuhnya yang juga tinggi jangkung itu bagaikan sebuah
boneka karet, yang bisa memanjang-memendek, dan bisa
ditekuk kesana kemari sesuka hatinya! Sepintas lalu tubuhnya
yang panjang jangkung itu seperti tubuh ular yang
berlenggak-lenggok lemas dalam setiap gerakannya. Tetapi
meskipun gerakannya lemas dan halus, ternyata tenaga yang
ia keluarkan benar-benar hebat luar biasa. Pukulan petir si
kakek yang berhawa panas itu ternyata menjadi hilang
pengaruhnya bila membentur pertahanannya. Malah beberapa
saat kemudian kakek itulah yang menjadi bingung dan repot
karena terkecoh dan tertipu oleh ilmu silatnya yang aneh !
Sehingga akhirnya kakek itu tidak berani bertempur terlalu
dekat dengannya.
Limapuluh jurus telah berlalu pula. Meskipun demikian
pertempuran itu belum juga menunjukan tanda-tanda akan
selesai. Sepintas lalu kakek itu memang tampak lebih repot
dibandingkan Chin Yang Kun, tapi hal itu juga belum dapat
dijadikan ukuran bahwa Chin Yang Kun akan bisa
menundukkan lawannya nanti. Kenyataannya, biarpun repot
ternyata kakek itu selalu bisa melayani ilmu silat Chin Yang
Kun yang aneh dan menggiriskan itu. Padahal sejak keluar
dari gua di dalam tanah itu Chin Yang Kun belum pernah
menjumpai lawan yang bisa bertahan menghadapi Kim-coa-ihhoat
! Malahan kalau dilihat dengan teliti, bukan Kim-coa ih
hoat itu yang membuat repot si kakek jangkung, melainkan
tenaga sakti Liong-cu-i-kang itulah !
Dan para penontonpun semakin takjub melihat
pertempuran tingkat tinggi itu. Rasa-rasanya pertempuran
yang mereka saksikan itu bukan lagi dilakukan oleh dua orang
manusia biasa, tetapi dilakukan oleh dua malaikat atau dewa
yang sedang turun di dunia. Begitu hebatnya, sehingga para
penonton itu terpaku diam di tempat masing-masing !
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu selagi semua orang sedang dicekam oleh
rasa takjub melihat pertempuran tersebut, dari ruang dalam
gedung itu muncul seorang kakek tua lagi, berjalan keluar
pendapa dipapah oleh dua anak murid Kim-liong piauw-kiok.
"Ohhh..... hentikan! Oooh.......! Yap beng-yu (Sahabat
Yap), kau........ kau berhentilah bertempur!” begitu menginjak
halaman kakek tua itu berteriak dengan suaranya yang serak.
Dan suara kakek itu ternyata sangat mengejutkan kakek
jangkung yang sedang bertempur dengan Chin Yang Kun itu.
"Hei........ Lo-jin ! Mengapa kau keluar juga? Bagaimana
dengan sakitmu?" kakek jangkung yang tidak lain adalah Yap
Cu Kiat itu cepat melompat keluar dari arena pertempuran.
Bergegas orang tua itu mendekati Kim-liong Lo-jin,
sahabatnya, "Yap Lo-heng, kau berkelahi dengan siapa.......?
Mengapa ramai dan ribut benar?" Kim-liong Lo-jin bertanya.
Yap Cu Kiat menghela napas panjang. "Lo-jin, kau tak perlu
turun tangan sendiri! Biarlah Lo-hu (aku) membantu
menangkap orang yang telah membunuh muridmu itu."
"Siapa? Pembunuh Thio Lung? Mana dia....?" Kim-liong Lojin
berteriak, lalu dengan tergesa-gesa kakinya melangkah
sehingga dua orang yang memapahnya terpaksa
menyangganya kuat-kuat agar tidak terjatuh.
"Mana dia.....?" Kim-liong Lo-jin berteriak lagi sambil
mencengkeram lengan Yap Cu Kiat.
“Itu dia........!" Yap Cu Kiat menunjuk ke arah Chin Yang
Kun yang menatap buas kepadanya.
"Dia.....?" Kim-liong Lo-jin berdesah perlahan. Matanya
menatap wajah Chin Yang Kun tajam-tajam. Beberapa kali
keningnya berkerut, seolah-olah ia tak percaya atau raguragu.
Sementara itu melihat kedatangan Kim-liong Lo-jin yang
dicarinya Chin Yang Kun segera melangkah maju. “Hmm, KimTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
liong Lo-jin…..akhirnya kau keluar juga. Nah, sekarang lihatlah
baik-baik rupa dan wajahku! Benarkah orang yang membunuh
Thio Lung itu wajahnya seperti aku?”
Kim-liong Lo-jin tampak kaget sekali. Dilepaskannya lengan
Yap Cu Kiat seraya melangkah mundur. Matanya menatap
wajah Chin Yang Kun seperti orang yang sangat kecewa.
“Bukan…..! bukan dia! Yap Lo-heng……kalian telah salah
menuduh orang!” gumamnya perlahan.
“Apa? Bukan dia…..? lalu…….eh, bagaimana ini?” Yap Cu
Kiat berseru seraya berpaling ke arah penonton, mencari anak
murid Kim-liong Piauw-kiok yang melapor kepadanya tadi.
Dan lelaki yang melapor tadi cepat keluar pula dari
kerumunan para penonton. Dengan air muka ketakutan lakilaki
itu segera berlutut di depan Kim-liong Lo-jin dan Yap Cu
Kiat.
“Su-sucouw, maafkanlah siauw-te……tadi……..tapi memang
dia……dialah yang bernama Yang Kun, pemuda yang dahulu
pernah menolong orang-orang kita di tempat pengungsian !
Siauw-te tidak....... tidak berbohong...” lelaki itu berkata
dengan suara gagap karena takut.
“Benarkah.......?" Kim-liong Lo-jin menegaskan dengan
muka tak percaya. Lalu dengan rasa ingin tahu ketua Kimliong
Piauw-kiok itu berpaling kepada Chin Yang Kun.
“Saudara, benarkah namamu Yang Kun?”
“Benar! Aku memang Yang Kun, orang yang dahulu pernah
menolong murid-muridmu ketika bentrok dengan para
pengemis dari Tiat-tung Kai-pang! Ada apa? Apakah kau
masih menuduh aku yang membunuh muridmu?” Chin Yang
Kun menjawab keras, sedikitpun tidak merasa takut dikepung
dan dikelilingi sedemikian banyak orang.
Ketua Kim-liong Piauw-kiok itu tampak kebingungan.
“Anu……eh, begini saudara……kau……kau memang bukan si
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pembunuh itu! Tapi…..tapi pembunuh itu juga mengaku
bernama Yang Kun,” katanya terputus-putus.
Chin Yang Kun dan Yap Cu Kiat mengerutkan dahi.
“Pembunuh itu mengaku bernama Yang Kun?” Chin Yang
Kun berseru tak percaya.
“Eh, Lo-jin……bagaimanakah bentuk wajah dan potongan si
pembunuh itu?” Yap Cu Kiat ikut bertanya pula kepada
sahabatnya.
"Ah..... kalau tak salah orang itu berusia kira-kira
empatpuluh atau lebih sedikit. Memakai kumis tipis dan
bersenjata pedang. Dan kedatangannya kemari membawa dua
orang teman, lelaki dan perempuan..........."
"Hei ! Apakah pedang yang dibawanya itu dihiasi dengan
batu-batu permata yang gemerlapan? Dan...... apakah teman
lelaki yang dibawanya itu berwajah tampan serta necis
dandanannya?" tiba-tiba Chin Yang Kun memotong perkataan
Kim-liong Lo-jin.
"Ya-ya, benar ! Pedang itu memang tampak gemerlapan
kena sorot lampu ! Dan teman laki-lakinya itu memang
tampan dan kelihatannya juga necis dan suka berdandan,..."
dengan bersemangat Kim liong Lo-jin menjawab seraya
mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Bangsat kurang ajar ! Jadi...... bangsat-bangsat pengecut
itu telah mendahului datang kemari untuk melenyapkan saksi
yang masih hidup," Chin Yang Kun menggeram dan
mengumpat-umpat.
Yap Cu Kiat, Kim-liong Lo-jin dan semua orang yang berada
di halaman itu memandang Chin Yang Kun dengan wajah
bingung dan tak mengerti.
"Hmmm, tampaknya saudara mencurigai seseorang........”
Yap Cu Kiat bertanya kepada Chin Yang Kun. Kakek ini sudah
tidak menunjukkan rasa permusuhannya lagi kepada Chin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Yang Kun. Malah dari nada suaranya, kakek jangkung itu
kelihatan menyesal telah ikut-ikutan menuduh Chin Yang Kun
tadi.
Chin Yang Kun menatap bekas lawannya yang lihai luar
biasa itu beberapa saat lamanya. Lalu dengan tenang namun
tegas pemuda itu mengangguk. "Ya ! Aku memang mencurigai
Pendekar Li dan kawan-kawannya, yaitu Jai-hwa Toat-bengkwi
dan Pek-pi Siau-kwi ! Orang-orang itu mempunyai sebuah
urusan pribadi dengan aku. Dan tidak seorangpun di dunia ini
yang mengetahui urusan pribadi itu selain kami dan...... Thio
Lung!"
"Ahh ! Jadi........?" Yap Cu Kiat mendesak sambil
mengerutkan keningnya.
"Yaah...... tampaknya orang-orang itu memang membunuh
Thio Lung untuk melenyapkan saksi dari urusan pribadi kami
itu !" Chin Yang Kun menggeram dengan wajah mendongkol.
"Sungguh keji…..!" Kim-liong Lo-jin menggeram pula
dengan suara serak.
Sekejap orang-orang di halaman itu menjadi ribut. Mereka
berteriak-teriak serta mengumpat-umpat Pendekar Li dan
kawan-kawannya.
Sementara itu, selagi orang-orang Kim-liong Piauw-kiok
pada ribut dan berteriak-teriak, sebuah kereta barang tampak
memasuki halaman tersebut. Kereta itu lalu berhenti di dekat
kerumunan mereka membuat orang-orang itu menjadi kaget
melihatnya. Kemudian tampak dua orang lelaki turun dari
kereta, memapah seseorang yang kelihatannya sedang
menderita sakit.
"Eh........ Tuan Hua!" orang-orang Kim-Iiong Piauw-kiok itu
berdesah hampir berbareng, dan keributan itu pun lalu
berhenti dengan tiba-tiba. Semuanya memandang Tuan Hua,
satu-satunya kawan mereka yang hidup ketika rombongannya
dihadang perampok di dekat kota Poh-yang itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tuan Hua mengangguk ke arah kawan-kawannya,
kemudian dengan dibantu dua orang kawannya tadi ia
melangkah ke tempat Kim-liong Lo-jin berdiri. Lelaki itu
bermaksud memberi penjelasan dan laporan mengenai
bencana yang ia terima di luar kota Poh-yang kemarin siang.
Tapi baru tiga langkah ia berjalan, tiba-tiba matanya
melihat Chin Yang Kun yang berdiri tegak di tengah-tengah
halaman. Sekejap Tuan Hua tak percaya. Tapi serentak yakin
bahwa pemuda itu memang benar-benar Chin Yang Kun,
penolongnya, Tuan Hua bergegas menghampirinya.
"Saudara Yang Kun,...... ! Kau sudah sampai di sini ? Kapan
kau datang ?" Tuan Hua menyapa Chin Yang Kun dengan
hangat. Meskipun lukanya belum sembuh tapi wajahnya
tampak gembira berseri-seri melihat pemuda itu. "Suhu........!
Inilah saudara Yang Kun, pemuda yang pernah kuceritakan
itu!" sambil berpaling ke arah Kim-liong Lo-jin laki-laki itu
menjelaskan.
Orang-orang yang berada di halaman itu semakin yakin
bahwa Chin Yang Kun memang bukan pembunuh Thio Lung.
Oleh karena itu mereka lantas meminta maaf kepada pemuda
itu, termasuk pula kakek jangkung Yap Cu Kiat. Malah selain
meminta maaf kakek tersebut juga memuji dan mengagumi
ilmu silat Chin Yang Kun yang hebat luar biasa itu.
“Sudahlah! Marilah kita sekarang masuk dan berbicara di
dalam! Nanti kita usut dan kita bicarakan urusan ini sambil
duduk ! Dan.......ayoh, kalian semua kembali ke tempat tugas
masing-masing!" akhirnya Kim-liong Lo-jin mengajak temantemannya
ke pendapa, serta sekalian memerintahkan pada
anak muridnya agar kembali ke tugasnya masing-masing.
Tapi dengan cepat Chin Yang Kun menolaknya.
"Maaf, Lo-jin...... Sebetulnya aku bergembira sekali dapat
berkenalan dengan semua tokoh di sini. Sejak bertemu dan
berkenalan dengan murid-murid Lo-jin di tempat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
penampungan para pengungsi itu, aku sudah berniat untuk
berkunjung kemari. Tetapi sayang sekali aku tak dapat
mewujudkan niatku itu sekarang, karena malam ini aku masih
harus menyelesaikan beberapa urusan lagi. Aku sungguh
menyesal sekali........" pemuda itu menjura sambil meminta
diri.
"Ohhh ......"
Kim-liong Lo-jin dan murid-muridnya tampak kecewa sekali.
Tapi mereka tak bisa mencegah maksud pemuda itu. "Baiklah!
Bagaimanapun juga kami memang tak bisa menahanmu kalau
kau ingin pergi. Hanya sekali lagi kami mengucapkan terima
kasih atas keteranganmu tentang para pembunuh Thio Lung
itu," Kim-liong Lo-jin berkata seraya membalas penghormatan
Chin Yang Kun.
"Memang sayang sekali. Sebenarnya lo-hu juga ingin sekali
mengenal lebih banyak tentang Saudara Yang Kun ini." Yap Cu
Kiat ikut menyatakan kekecewaannya pula. "Eh, sebenarnya….
siapakah Saudara Yang ini? Maksudku...... maksudku, Saudara
Yang ini dari perguruan mana dan siapakah gurunya?"
Chin Yang Kun yang sudah terlanjur membalikkan tubuhnya
itu menoleh. Otomatis langkahnya terhenti. "Ah....... Locianpwe,
apa perlunya kita mengetahui asal-usul kita masingmasing?
Akupun juga tak tahu asal-usul dan nama Locianpwe.
Yang penting bagi kita sekarang adalah bahwa kita
sudah saling mengenal dan bersahabat. Kukira hal itu sudah
cukup banyak bagi kita,......!” pemuda itu berkata sambil
meneruskan langkahnya.
"Eh! Tapi......., nama juga perlu buat orang yang
bersahabat. Bagaimana kau akan menyebut nama sahabatmu
kalau kau tak tahu namanya? Hmm, tapi........baiklah kalau
memang itu yang kauinginkan."
Yap Cu Kiat saling memandang dengan Kim-Iiong Lo-jin.
Sambil menghela napas kakek jangkung itu berkata, "Sungguh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
aneh sekali wataknya! Tampaknya ia mempunyai sejarah yang
suram tentang hidupnya. Tapi lepas dari semua itu ........
kepandaiannya benar-benar hebat luar biasa ! Setua ini
umurku, belum pernah rasanya aku bertemu dengan anak
muda sehebat dia........!"
"Lo-heng benar.......! Akupun tadi juga merasa heran
melihat anak itu mampu bertempur denganmu," Kim-Iiong Lojin
mengangguk-angguk.
"Tidak hanya mampu malah! Justru akulah yang menjadi
repot!" Yap Cu Kiat mengakui tanpa malu-malu. "Tapi zaman
memang sudah berubah, dan kita orang tua ini benar-benar
sudah ketinggalan dengan yang muda-muda."
"Katamu memang betul, Lo-heng. Anak sekarang memang
hebat-hebat. Lihat! Tak usah jauh-jauh! Puteramu si Kiong Lee
itu juga hebat bukan main ! Mungkin kau sendiri juga tidak
bisa mengalahkannya lagi sekarang....."
Diingatkan kepada puteranya kakek jangkung itu justru
menjadi muram malah. Wajahnya tertunduk. "Anak itu
memang anak yang baik…..” desahnya pelan.
"Ah, maafkan aku.... Yap Lo-heng ! Aku tak bermaksud
membuatmu sedih.......” Kim-liong Lo-jin menyesali katakatanya.
“Sudahlah! Marilah kita ke dalam!"
Kedua kakek yang bersahabat erat itu lalu masuk ke dalam,
diikuti oleh Tuan Hua dan dua pengawalnya. Mereka tidak jadi
duduk di ruang depan yang sedang dibersihkan dan dirapihkan
kembali oleh para anggota Kim-liong Piauw-kiok, tapi mereka
terus langsung saja ke belakang, yaitu ke kamar Kim-liong Lojin.
Sambil minum teh panas, karena kesehatan Kim-liong Lojin
tidak memungkinkan untuk meminum minuman keras,
mereka saling berbicara tentang keadaan mereka masingmasing.
Mula-mula Tuan Hua dulu yang bercerita tentang
tugasnya yang kandas di tengah jalan akibat dirampok orang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bagaimana dia dan rombongannya melawan si perampok
muda yang lihai luar biasa yang hanya dengan bersenjatakan
busur dan anak panah, bisa membunuh seluruh anggota
rombongannya, termasuk murid-murid langsung Kim-liong Lojin
sendiri, yang pada waktu itu juga ikut mengawal barang
hantaran tersebut, kecuali dia ! Lalu Tuan Hua juga bercerita
tentang bagaimana Yang Kun memberi pertolongan kepada
dirinya, sehingga pemuda itu dapat membunuh perampok lihai
tersebut. Kemudian Tuan Hua juga menyinggung tentang
keterlibatan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai dalam peristiwa itu,
yaitu sebagai pengawal si perampok muda sehingga hampir
saja pendekar yang terkenal itu berhadapan dengan Yang
Kun.
Cerita Tuan Hua itu ternyata sangat mengejutkan Yap Cu
Kiat!
"Jadi........ jadi Pangeran Muda itu sudah mati di tangan
Yang Kun? Oooooh........!” kakek sakti itu berdesah sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tentu saja Tuan Hua dan Kim-liong Lo-jin yang tidak
mengerti persoalannya menjadi heran mendengar kata-kata
Yap Cu Kiat tersebut. Apalagi orang tua itu menyebut
Pangeran Muda segala.
"Tenanglah, Lo-heng...! Kau kenapa ? Mengapa kau
kelihatan begitu kaget ?" Kim-liong Lo-jin cepat memegang
lengan sahabatnya itu.
Muka Yap Cu Kiat semakin tampak tua. Beberapa kali
tangannya mengelus-elus jenggotnya yang putih. "Sungguh
nelangsa sekali hidupnya. Seorang pangeran pewaris
mahkota........ mati sebagai perampok?"
Kemudian agar sahabatnya itu tidak menjadi bingung
menyaksikan sikapnya tadi, Yap Cu Kiat lalu bercerita pula
serba sedikit tentang Putera Mahkota Chin yang berusaha
untuk merampas kembali singgasana yang direbut oleh Liu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pang, tapi gagal. Dan bagaimana dia dan isterinya sampai
berselisih paham dengan kedua orang puteranya, karena
mereka berempat saling berselisih paham. Kedua orang
puteranya itu memihak Liu Pang, sementara dia dan isterinya
tetap membantu keturunan mendiang Kaisar Chin Si.
"Dan kalau benar apa yang diceritakan oleh Tuan Hua tadi,
maka tak salah lagi perampok tersebut adalah Pangeran
Muda, putera dari Putera Mahkota. Oooh....... bila demikian
halnya akupun juga ikut bersalah kepada kalian semua,
karena........ aku juga pernah ikut pula memberi pelajaran silat
kepadanya barang sedikit." kakek Yap itu menutup
perkataannya.
"Yap Lo-heng......” Kim-liong Lo-jin yang telah kehilangan
semua muridnya itu berdesah pula dengan sedihnya.
Meskipun demikian kakek itu tetap juga menghibur
sahabatnya.
“Sudahlah, Lo-heng...... kita berdua orang tua ini
tampaknya memang bernasib sama, sama-sama menderita di
hari tua. Kau berselisih jalan dengan anakmu, sedangkan aku
kehilangan semua murid dan perusahaanku."
"Aku tidak cuma berselisih jalan dengan kedua anakku saja,
ibunyapun sekarang telah berselisih jalan denganku......."
"Kau......... berselisih jalan dengan isterimu ? Eh,
bagaimana ini ? Bukankah kau tadi mengatakan bahwa kalian
berdua ikut membantu perjuangan Putera Mahkota ?" Kimliong
Lo-jin bertanya dengan wajah bingung.
Yap Cu Kiat bangkit berdiri sambil menghela napas
panjang. Matanya memandang redup ke depan. "Lo-jin....!
Semula aku memang membantu Putera Mahkota. Tidak hanya
aku malah. Beng Tian Goan-swe yang terkenal itupun ikut
membantu pula. Tapi setelah semuanya kupikirkan benarbenar,
aku menjadi sadar bahwa tindakanku itu salah. Kedua
anakku itulah yang benar. Seperti juga kita semua ini,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
zamanpun juga telah berubah. Yang dulu benar dan betul,
belum tentu sekarang juga benar dan betul pula. Tiada
sesuatupun yang abadi di dunia ini. Dahulu Dinasti Chin
memang memerintah dengan baik dan dicintai rakyatnya. Tapi
sejak Kaisar Chin Si bertakhta di Singgasana suasana menjadi
berubah. Biarpun negeri tampak lebih besar dan ternama, tapi
rakyat sudah tak senang lagi kepada kaisarnya. Apalagi
dengan tindakan Kaisar Chin Si yang sewenang-wenang dalam
mendirikan Tembok Besar serta perlakuannya yang lain, yaitu
memusuhi kaum beragama ! Maka aku kira rakyat yang
dipimpin oleh Liu Pang itu juga tidak salah! Agaknya memang
sudah saatnya negeri ini berubah. Dan kita tidak boleh tetap
bermimpi tentang masa lampau, apalagi sampai menghalanghalangi
jalannya perubahan itu.......”
Semuanya berdiam mendengarkan perkataan Yap Cu Kiat
yang panjang lebar itu. Mereka mengangguk-angguk seakanakan
membenarkan semua ucapan Yap Cu Kiat itu.
"Maka........ akupun lalu pergi meninggalkan Putera
Mahkota. Ternyata Beng Tian goan-swe juga sependapat
dengan aku, sehingga diapun ikut pula meninggalkan Putera
Mahkota. Tinggal isteriku saja yang kini masih tetap bertahan
untuk membantu Putera Mahkota. Tapi itupun bisa
kumaklumi, karena isteriku itu memang masih kerabat dari
Keluarga Chin….." Yap Cu Kiat mengakhiri kata-katanya seraya
duduk kembali.
Mereka lalu berdiam diri kembali. Masing-masing sibuk
dengan pikiran mereka sendiri-sendiri. Baru beberapa saat
kemudian Kim-liong Lo-jin sebagai tuan rumah membuka
percakapan itu kembali, yaitu dengan cerita tentang kematian
Thio Lung kemarin malam.
"Semula aku tak menyangka bahwa ketiga orang yang
masuk ke kamar Thio Lung itu hendak berbual jahat. Dari
kamarku kudengar mereka bercakap-cakap seperti halnya
kawan lama yang baru saja berjumpa. Maka akupun tak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bercuriga terhadap mereka. Baru setelah kudengar teriakan
Thio Lung aku menjadi sadar bahwa tentu telah terjadi apaapa
dengan murid sulungku itu. Dalam keadaan lemah dan
sakit aku terpaksa keluar kamar. Tapi hanya dengan sekali
sabet saja pedang orang itu telah melukaiku. Mereka Iantas
berlari keluar, dan sebelum hilang di balik tembok mereka
menyebutkan nama....... Yang Kun !"
"Hei! Jadi......Thio suheng juga dibunuh orang?" tiba-tiba
Tuan Hua menjerit, lalu bergegas keluar kamar dibantu oleh
dua orang pengawalnya. Memang sejak tadi lelaki itu tak
mengetahui bahwa di antara mayat-mayat yang tergeletak di
ruang dalam tersebut terdapat pula mayat Thio Lung, tokoh
nomer dua dari Kim-liong Piauw-kiok.
Kamar itu lalu menjadi sunyi kembali. Dua orang kakek itu
tampak merenung diam di atas kursi masing-masing.
"Lo-jin.......aku sudah memutuskan untuk kembali saja ke
tempat pertapaanku di tengah-tengah telaga itu. Aku
bermaksud mengasingkan diri selama hidupku di sana. Aku
masih meninggalkan seorang murid yang menjaga tempat itu.
Biarlah dia yang merawatku nanti......." tiba-tiba Yap Cu Kiat
memecahkan kesunyian mereka dengan mengatakan
rencananya untuk masa depan.
Kim-liong Lo-jin menundukkan kepalanya. "Kau lebih
beruntung dari pada aku, Lo-heng. Meskipun telah berselisih
jalan, tapi kau masih tetap mempunyai sebuah keluarga dan
murid yang akan merawatmu apabila kau membutuhkan nanti.
Lain halnya dengan aku ini. Perusahaan jatuh, kini kedelapan
orang muridkupun telah mati semua. Padahal aku sakitsakitan
begini. Lalu apa yang hendak kuharapkan lagi ?
Memang masih ada Tuan Hua di sini. Tapi dia hanya
pembantuku dalam urusan piauw-kiok, bukan muridku,
biarpun selama ini kami membiarkan dia ikut berlatih bila aku
mengajar silat kepada murid-muridku......”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jilid 35
YAP CU KIAT menatap sahabatnya itu dengan perasaan
kasihan. Apalagi jika ia mengingat sahabatnya itu tidak
mempunyai keluarga sama sekali.
"Lo-jin, kalau kau suka, marilah kita pergi bersama-sama ke
pertapaanku itu ! Maukah kau.......?” akhirnya kakek jangkung
itu berkata.
"Sungguhkah ajakanmu ini, Lo-heng ?" Wajah yang pucat
itu mendadak menjadi merah berseri-seri kembali.
"Tentu saja, kenapa tidak ? Bukankah aku menjadi tidak
kesepian lagi dalam masa-masa yang suram itu ?”
Kedua kakek itu lalu berpelukan.
"Tapi biarlah kita tunggu kesembuhanmu dahulu. Selain
kita harus menyelesaikan semua urusan di sini, perjalanan itu
juga amat jauh….." Yap Cu Kiat menggenggam tangan
sahabatnya.
Demikianlah, ternyata ada juga secuil perasaan manis
dalam kepahitan yang mereka reguk di hari tua mereka itu.
Dan perasaan itu sungguh sangat membahagiakan hati
mereka, sehingga segala macam kesuraman yang menyelimuti
hati dan pikiran mereka menjadi hilang, tersapu bersih oleh
kegembiraan dan kegairahan mereka dalam menghadapi masa
depan.
Sementara itu begitu keluar dari halaman gedung Kim-liong
Piauw-kiok, Chin Yang Kun segera dikagetkan oleh kedatangan
seseorang yang tak disangka-sangkanya. Orang itu muncul
begitu saja dari kerumunan orang yang bubaran dari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menonton peristiwa di halaman gedung Kim-liong Piauw-kiok
tadi. Topi bambunya yang lebar dan menutupi hampir seluruh
kepalanya itu cepat mengingatkan pemuda tersebut kepada si
pemakainya. Apalagi caranya membawa tongkat besi yang
hanya diseret begitu saja di atas jalan itu!
"Ah...... Kakek peramal! Mengapa kau juga telah sampai di
sini pula ?" Chin Yang Kun menyapa lebih dahulu.
"Oh........ cuma kebetulan saja. Saya memang selalu
berputar-putar untuk mencari Iangganan. Dan saya segera
tertarik ketika terjadi ribut-ribut di sini tadi. Wah…. saya
benar-benar tak mengira kalau tuan muda mempunyai
kesaktian demikian hebatnya! Padahal lawan tuan muda tadi
adaIah Yap Cu Kiat, jago tua keturunan Sin-kun Bu-tek yang
hidup pada zaman seratus tahun lalu.....”
"Yap Cu Kiat…….? Maksudmu Yap Lo-cianpwe...... ayah dari
Hong-lui-kun Yap Kiong Lee itu ?” Chin Yang Kun berseru
dengan kagetnya.
"Benar! Eh, apakah tuan muda tidak mengetahuinya ?”
Pemuda itu cepat menggelengkan kepalanya. “Tidak ! Aku
sama sekali tidak peduli dengan siapa aku berkelahi tadi,
sehingga aku tidak tahu siapa dia. Aku hanya mengagumi ilmu
silatnya yang hebat luar biasa."
Mereka bercakap-cakap sambil berjalan ketika tiba-tiba......
"Hei, kek........ kudaku! Aku lupa membawanya kembali !”
Chin Yang Kun berseru.
Tapi ketika pemuda itu hendak berbalik kembali, tangannya
segera ditahan oleh kakek peramal itu.
"Tak usah repot-repot ! Sebentar juga kuda itu akan datang
sendiri....!” kakek itu berkata sambil tersenyum.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ahh, kakek ini... Masakan kuda itu bisa lepas dari kandang
dan mencari aku ke sini?" Chin Yang Kun membantah sambil
membalikkan tubuhnya, untuk mengambil kudanya kembali.
"Eee....... tuan muda tidak percaya kepadaku ?”
“Sudahlah, kek. Kau tunggu saja aku di sini, sebentar aku
akan kembali mengambiI kudaku dahulu ! Kuda itu
dimasukkan ke dalam kandang dan penjaganya tidak tahu
kalau aku pulang, padahal semua orang yang berada di dalam
gedung itu sedang sibuk dengan urusan mereka sendirisendiri.
Tak seorang pun yang akan memperhatikan kudaku
itu !"
Tapi baru selangkah pemuda itu berjalan, dari arah gedung
Kim-liong Piauw-kiok berderap seekor kuda mendatangi.
Bulunya yang hitam legam itu tampak mengkilap kebiru-biruan
terkena sorot Iampu jalanan. Dan kuda itu segera meringkik
panjang ketika melihat Chin Yang Kun. Kaki-kakinya yang
ramping panjang itu cepat berhenti begitu tiba di samping
pemuda itu.
Seorang Iaki-laki yang dikenal oleh Chin Yang Kun sebagai
penjaga yang tadi mengurus kudanya segera turun dari
punggung kuda itu.
"Tuan Yang….! Tuan lupa membawa kuda ini kembali.
Hampir saja dia mengamuk di kandang kuda tadi....." penjaga
itu melapor seraya menyerahkan kendali kuda itu kepada Chin
Yang Kun.
"Terima kasih ! Aku memang lupa dan bermaksud kembali
kesana tadi," pemuda itu menyatakan perasaan terima
kasihnya.
Setelah penjaga itu kembali, Chin Yang Kun memeriksa
buntalan yang ia taruh di atas pelananya. Semuanya masih
utuh, baik pakaian maupun uang pemberian Liu-twakonya.
Dan pemuda itu lalu mengeluarkan baju luarnya yang panjang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan lebar, kemudian dikenakannya di atas bajunya yang sobek
agar tidak kelihatan dari luar.
"Mengapa tidak tuan lepaskan saja baju yang robek itu,
tuan muda?" Kakek Peramal itu bertanya.
Chin Yang Kun kaget. Wajahnya mendadak menjadi merah.
Pertanyaan itu sungguh tak terduga, tapi benar-benar
membuat pemuda itu tersipu-sipu malu.
"Ah,,,,..,. ini…... ini ....... aku cuma tak enak hati untuk
berganti pakaian di jalan raya begini," jawab pemuda itu
terbata-bata.
"Ohh..... benar. Bodoh benar aku !” kakek itu berkata
sambil mengetuk-ngetuk dahinya sendiri.
Belum juga mereka berjalan, dari gang kecil di dekat
mereka berderap dua ekor kuda dengan kencangnya, keluar
menuju jalan raya. Begitu mendadak kedatangan mereka
sehingga mengagetkan Si Cahaya Biru. Kuda mustika itu
meloncat mundur kemudian menyepakkan kaki belakangnya
keras-keras ke samping, persis ke arah para pejalan kaki yang
kebetulan lewat di dekatnya.
Tentu saja peristiwa yang sangat mendadak itu benarbenar
mengejutkan Chin Yang Kun dan Kakek Peramal itu.
Dengan sekuat tenaga mereka mencoba menghentikan ulah Si
Cahaya Biru, terutama Chin Yang Kun yang merasa menjadi
pemilik kuda tersebut. Pemuda itu melesat cepat menyambar
kendali kuda itu, sementara Kakek Peramal melesat ke tengah
jaIan untuk menjaga segala sesuatunya.
Tapi sebelum kudanya berhasil melaksanakan niatnya atau
rencananya itu, tiba-tiba kuda tersebut melambung tinggi ke
udara bagai dihempaskan oleh badai atau topan secara
mendadak ! Dan kuda itu kemudian jatuh ke arah ... dua
orang penunggang kuda yang baru keluar dari gang kecil tadi
!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Semua orang yang kebetulan menyaksikan kejadian itu
menjerit kaget, tidak terkecuali Chin Yang Kun dan Kakek
Peramal! Mereka tidak tahu apa yang menyebabkan kuda itu
tiba-tiba terlempar ke udara. Sekilas mereka hanya melihat
seorang kakek tua mengibas-ngibaskan lengan bajunya, persis
di tempat dimana kuda itu tadi menyepak dan terlempar ke
udara! Beberapa orang pejalan kaki tampak menggeletak
kaget di sekitar tempat kakek tersebut berdiri !
Chin Yang Kun melongo, begitu pula halnya dengan si
Kakek Peramal ! Kejadian tersebut berlangsung demikian
mendadak dan mengagetkan sekali, sehingga tak ada
kesempatan sama sekali bagi mereka untuk menyelamatkan
kuda itu atau si Penunggang Kuda itu. Sekilas mereka
mendengar ringkik ketakutan Si Cahaya Biru!
Tetapi selagi semua orang berputus asa melihat kejadian
itu, kedua orang penunggang kuda yang hendak tertimpa
bencana tersebut tiba-tiba membuat sebuah kejutan besar
yang mengundang kekaguman semua orang !
Secara serentak mereka melejit dari punggung kuda
masing-masing, menyongsong kedatangan si Cahaya Biru
dengan keempat tangan mereka, lalu membawanya turun ke
tanah perlahan-lahan. Begitu indahnya gerakan mereka dan
begitu hebatnya kekuatan tenaga mereka, sehingga semua
kejadian itu bagaikan sebuah pertunjukan akrobat yang telah
dipersiapkan sebelumnya.
Semua kejadian yang diceritakan secara panjang lebar itu
sebenarnya hanya berlangsung dalam sekejap mata atau
beberapa detik saja ! Dan ketika semuanya telah selesai,
orang-orang yang melihatpun masih termangu-mangu bagai
patung di tempat masing-masing…..!
Barulah semuanya menjadi sadar tatkala terdengar umpat
dan caci-maki kakek tua yang sedang mengebut-ngebutkan
lengan bajunya itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bangsat! Binatang goblok tak tahu aturan! Masakan
seenaknya saja mau menaruh kaki di dahiku! Huh, keparat !
Apa kiranya aku ini bininya ? Kurang ajar....!”
Semuanya memandang orang tua yang sedang marahmarah
itu.
"Put-ceng-li Lo-jin…..!” tiba-tiba kedua orang penunggang
kuda itu menyapa orang tua tersebut dengan suara kaget.
Dan orang tua yang baru saja melemparkan si Cahaya Biru
ke udara itu mengerutkan keningnya. Badannya yang agak
bungkuk itu sedikit mendoyong ke depan, sementara
kepalanya yang berambut putih itu sedikit miring ke samping
karena melirik ke arah dua orang penunggang kuda itu.
Matanya yang sudah berkeriput dan sangat sipit itu tampak
berkedip-kedip, seakan-akan sedang berpikir dengan keras.
Tiba-tiba orang tua yang tidak lain adalah Put-ceng-li Lo-jin
itu tersenyum geli.
“Bangsat, kukira siapa….. hehehe! Tak tahunya Siang Kau
Tai Shih (Dua utusan Agama) dari Aliran Mo-kauw." orang tua
itu menjawab seenaknya.
"Benar, Lo-jin........ kamilah yang datang." kedua orang
penunggang kuda itu mengangguk. Lalu keduanya menoleh ke
arah Kakek Peramal yang kini telah berdiri di dekat Chin Yang
Kun. "Dan….. selamat bertemu lagi, Toat beng-jin !”
Chin Yang Kun terperanjat. Sedetik pemuda itu menjadi
bingung, serta mengira dua orang itu sedang berkelakar atau
memperolok-olokkannya. Tapi sekejap kemudian wajahnya
menjadi merah ketika Kakek Peramal itu membuka topi
lebarnya.
"Selamat bertemu dan selamat datang Bhong Tai-shih,
Leng Tai-shih dan... Put-ceng-li Lo-jin !" Kakek Peramal yang
tidak lain adalah Toat-beng-jin dari Aliran Im-yang-kauw itu
menyapa orang-orang itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hei........ Toat-beng-jin!" Chin Yang Kun tertegun pula.
"Hahah........ benar, Yang-hiante. Maaf……aku telah
membuatmu bingung untuk beberapa saat lamanya."
Chin Yang Kun tersenyum kecut, teringat akan
perjumpaannya yang pertama kali dengan kakek itu. Dahulu
kakek itu juga menyamar sebagai kakek pikun yang bodoh
dan menangis kalau dibentak-bentak.
Dan kakek itu kemudian membungkukkan tubuhnya.
"Marilah cu-wi semua…..! Saya memang mendapat tugas
untuk melihat-lihat kedatangan cu-wi. Sekarang marilah saya
antar ke gedung kami, Tai-si-ong sudah menantikannya sejak
tadi sore........"
"Ahh........ jadi surat yang kami kirimkan itu sudah sampai
di Gedung Pusat Im-yang-kauw?" Bhong Kim Cu melangkah ke
depan Toat-beng-jin dengan air muka berseri-seri.
Orang tua yang pintar meramal itu tersenyum. "Tentu saja.
Kalau belum....... masakan saya diberi tugas menyongsong
kedatangan saudara Bhong di sini?"
"Tapi.......tak enak juga rasanya hati kami mengirimkan
surat itu. Kami takut sahabat-sahabat kami dari Im-yang-kauw
tidak setuju dengan maksud kami itu,...... padahal kami juga
sudah telanjur mengundang Put-ceng-li Lo-jin segala."
"Hahah....... kenapa mesti sungkan-sungkan pula?” tibatiba
Put-ceng-li Lo-jin tertawa dan menyahut perkataan Bhong
Kim Cu. “Asal semuanya itu cocok dengan hati kita..... hmm,
peduli amat dengan pendapat orang! Seperti juga dengan aku
sekarang ini. Karena kurasakan maksud Bhong Lo-heng untuk
mempertemukan kita itu sangat baik, maka akupun lantas
datang. Habis perkara !"
Semuanya tersenyum memandang ketua Aliran Bing-kauw
yang terkenal karena tidak mengindahkan tata cara itu. Tapi
tak seorangpun menyahut ucapan Put-ceng-li Lo-jin tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bagaimanapun kurang sopannya orang tua itu dalam setiap
penampilannya, semuanya sudah maklum dan mengerti,
sehingga seperti yang selalu terjadi merekapun cuma tertawa
dan tak mempedulikannya lagi.
"Betul sekali ucapan Bing Kauw-cu itu. Seluruh warga Imyang-
kauw benar-benar amat gembira dan menghargai sekali
maksud Bhong Lo-heng itu. Malah kami merasa bangga dan
berterima kasih karena Bhong Lo-heng telah menunjuk tempat
kami sebagai ajang dari pertemuan itu. Nah.... apalagi yang
perlu diragukan ?” Toat-beng-jin memberi keterangan.
Kemudian katanya lagi. "Malah sekarang akan saya
perkenalkan kepada saudara-saudara sekalian, seorang
sahabatku kami, yang.memang sengaja kami undang untuk
menyaksikan jalannya pertemuan kita nanti. Nah,
perkenalkanlah…. Saudara Yang Kun! Seorang pendekar muda
yang kelak atau sebentar lagi tentu akan menggeser
ketenaran orang-orang tua tidak berguna seperti kita ini!"
Bhong Kim Cu, Leng Siau dan Put-ceng-li Lo-jin menatap
Chin Yang Kun dengan dahi berkerut. Mereka melihat pemuda
tinggi jangkung berparas tampan itu dengan perasaan ragu
dan kurang percaya pada kata-kata Toat beng-jin. Beberapa
saat lamanya mereka tidak menjawab ucapan tokoh lm-yang
kauw tersebut. Mereka masih sangsi, apakah orang tua itu
berkata sebenarnya ataukah hanya ingin berolok-olok saja
dengan mereka?
Sementara itu kata-kata yang diucapkan oleh Toat-beng-jin
tadi benar-benar sangat mengejutkan Chin Yang Kun. Belum
juga hatinya yang baru saja didera oleh "kejutan" bertubi-tubi
itu menjadi tenang kembali, kini sudah dihantam lagi dengan
kejutan lain yang dibuat oleh Toat-beng jin, yaitu undangan
untuk menyaksikan atau menjadi saksi pertemuan besar tiga
golongan aliran kepercayaan ternama di saat itu.
“Lo-cianpwe, kau…. kau jangan bergurau! Siauw-te masih
banyak urusan, masakan siauw-te dapat…..eh……berani
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menjadi saksi pertemuan antara tokoh-tokoh persilatan tingkat
tinggi seperti....... seperti Lo-cianpwe semua ini? Masakan
siauw-te sudah demikian tak tahu diri dan demikian
gilanya.......?" pemuda itu berseru dengan suara gagap dan
penasaran.
Kerut merut di dahi Bhong Kim Cu dan Leng Siau semakin
rapat dan banyak, berkali-kali kedua tokoh Mo-kauw itu
menatap Toat-beng-jin dan Chin Yang Kun berganti-ganti. Di
dalam hatinya kedua tokoh Mo-kauw itu semakin bingung dan
tak mengerti apa yang sebenarnya hendak dilakukan oleh
Toat-beng-jin tersebut.
Dan Toat-beng-jin sendiri memang mempunyai keperluan
atau rencana khusus terhadap Chin Yang Kun. Tokoh lm-yang
kauw ini tak mungkin melepaskan kesempatan bagus tersebut.
Yaitu kesempatan untuk membawa Chin Yang Kun ke Gedung
Pusat Aliran Im-yang-kauw.
Seperti telah diketahui bahwa beberapa orang tokoh Imyang-
kauw telah mendapatkan semacam "wangsit" atau
isyarat tentang masa depan dari aliran kepercayaan mereka.
lm-yang kauw diramalkan akan menjadi besar dan ternama
bila dapat menarik seorang pemuda yang mempunyai ciri-ciri
tertentu. Dan orang yang memperoleh tugas untuk mencari
pemuda tersebut adalah Toat-beng-jin. Kemudian ternyata
pemuda yang mempunyai ciri-ciri tertentu itu mereka temukan
dalam diri Chin Yang Kun. Tapi ternyata tidak mudah untuk
membawa Chin Yang Kun ke Gedung Pusat mereka.
Maka setelah kini secara kebetulan Toat-beng-jin dapat
menemukan Chin Yang Kun di kota itu tak mungkin rasanya
dia menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dengan segala
macam cara pemuda itu harus dapat dibawa ke Gedung Pusat
Im-yang-kauw.
Oleh karena itu dengan tutur kata yang halus dan menarik
Toat-beng-jin berusaha membujuk Chin Yang Kun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Yang Hiante, kau jangan buru-buru marah dahulu.......!
Sama sekali aku tak bermaksud untuk bergurau denganmu,
apalagi mencoba menghalang-halangi urusan dan
kesibukanmu. Aku orang tua ini benar-benar tidak berani.
Sungguh! Aku bermaksud baik kepadamu. Mumpung kau
berada disini, aku ingin mengundangmu ke tempatku, itu
saja!”
“Tapi…….mana aku berani menjadi saksi segala?” Chin
Yang Kun masih berusaha untuk mengelak.
“Hei……..?!? Apa salahnya untuk menjadi saksi? Bukankah
saksi itu merupakan jabatan yang baik? Kalau Toat-beng-jin
tadi ingin mengangkatmu sebagai saksi dalam pertemuan kita
ini, hal itu karena dia sangat menghormatimu. Maka kau tak
usah berbelit-belit. Mau tidak kau dihormati Toat-beng-jin?
Kalau tidak mau……ya, silahkan pergi! Habis perkara!” tibatiba
Put-ceng-li Lo-jin menyahut dengan suara agak
penasaran. Orang tua ini memang paling tidak suka sesuatu
yang berbau sungkan-sungkan.
“Wah........ ini.……ini.......” pemuda itu tak bisa menjawab
atau berdalih lagi.
“Sudahlah, kita tak usah berdebat lebih lanjut. Marilah kita
sekarang berangkat saja ke gedung pertemuan itu.…..!
Silahkan, Yang hiante.......!" Toat-beng-jin cepat menengahi.
Demikianlah, Chin Yang Kun terpaksa tidak dapat menolak
lagi. Dengan perasaan yang kurang enak dia mengikuti
langkah jago-jago silat dari ketiga aliran kepercayaan itu.
Meskipun merasa kepandaiannya tidak akan kalah oleh
mereka, tapi sebagai seorang pemuda yang belum mempunyai
banyak pengalaman, yang secara tiba-tiba harus berkumpul
dengan tokoh-tokoh angkatan tua yang sakti dan ternama,
apalagi mereka sangat dihormati serta mempunyai kedudukan
tinggi di dunia persilatan, Chin Yang Kun merasa kecil juga di
hadapan mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Maka pemuda itu tak bersuara sedikitpun ketika mengikuti
tokoh-tokoh sakti tersebut. Seperti halnya Bhong Kim Cu dan
Leng Siau yang menuntun kudanya, pemuda itu juga berjalan
saja sambil memegang kendali si Cahaya Biru. Cuma kalau
kedua tokoh Mo-kauw tersebut berjalan sambil asyik
bercakap-cakap, Chin Yang Kun hanya diam saja di belakang
sendiri. Semuanya tidak mempedulikan orang-orang yang
menoleh atau memperhatikan kedatangan mereka.
Setelah berbelok-belok beberapa kali mereka sampai di
sebuah gedung besar berhalaman luas. Gedung itu didirikan
agak jauh menjorok ke dalam, sehingga halaman depannya
yang sangat luas itu bagaikan sebuah lapangan untuk bermain
kuda. Meskipun malam halaman tersebut kelihatan terang
benderang karena setiap tiga tombak dipasangi lampu minyak
berukuran besar-besar. Maka dari itu kedatangan mereka
segera diketahui oleh para penjaga yang berada di dalam
pendapa.
Para penjaga itu bergegas turun menyambut kedatangan
mereka.
"Lo-jin-ong…….!” orang-orang itu menyapa seraya
membungkukkan tubuh mereka.
Toat-beng-jin mengangguk, lalu memberi perintah agar
melaporkan kedatangan para tamu yang dibawanya itu
kepada Tai-si-ong dan para pimpinan Im-yang-kauw lainnya.
Tapi belum juga orang yang diperintah tersebut beranjak dari
tempatnya, Tai-si-ong telah lebih dahulu muncul di atas
pendapa. Kepala Kuil Agung itu diiringkan oleh Pang Cu-si
Song Kang dan Kau Cu-si Tong Ciak, sementara di belakang
mereka tampak beberapa orang tokoh Im-yang-kauw yang
lain.
“Hmm……selamat datang! Selamat bertemu kembali Bing
Kaucu dan Siang Kau Tai-shih dari Mo-kauw!” dari atas
pendapa Tai-si-ong cepat menjura untuk menyambut
kedatangan tamu-tamunya itu. “Mari……silahkan duduk!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Chin Yang Kun memberikan kudanya kepada seorang
penjaga, lalu ikut pula naik ke atas pendapa. Dengan perasaan
kagum matanya memandang bangunan yang luas, anggun
dan sangat indah itu. Di mana-mana dipasang gambar-gambar
dan hiasan yang sangat indah dan menarik, sementara di
tengah-tengah ruangan berdiri sebuah patung besar dari batu
pualam yang dikelilingi oleh patung-patung kecil dalam sikap
menyembah. Dan dari lantai pendapa, kumpulan patung
tersebut dibatasi oleh kolam kecil dengan air yang sangat
jernih. Puluhan ikan emas tampak berenang kian ke mari di
dalamnya.
“Hei! Yang Hiante rupanya......! Selamat bertemu kembali!”
Kau Cu-si Tong Ciak berseru nyaring begitu melihat Chin Yang
Kun.
“Hahaha……..kau tidak menyangkanya, bukan?” Toat-bengjin
tertawa gembira melihat kekagetan Kau Cu-si Tong Ciak.
Kemudian setelah semua tamu disambut dan dipersilakan
duduk oleh Tai-si-ong dengan baik, Toat-beng-jin bergegas
memperkenalkan Chin Yang Kun kepada teman-temannya.
Dengan bangga orang tua itu menunjukkan kepada Tai-si-ong
dan Pang Cu-si Song Kang, siapakah sebenarnya pemuda
yang kini ikut bersamanya itu.
"Ah....... Saudara Yang, sungguh gembira sekali kami
semua dapat berkenalan denganmu ! Sudah lama Lo-jin-ong
bercerita tentang engkau. Hahaha....... silahkan duduk !
Maafkanlah kalau penyambutan kami kurang berkenan di
hatimu." Tai-si-ong cepat berdiri kembali untuk memberi
penghormatan kepada Chin Yang Kun.
Tentu saja sambutan Kepala Kuil Agung yang tak disangkasangkanya
itu semakin tidak mengenakkan hati Chin Yang
Kun. Pemuda itu benar-benar tidak mengira kalau dirinya yang
kecil dan tak punya nama itu akan memperoleh perhatian dan
sambutan yang ramah dari tokoh-tokoh ternama dan
terhormat seperti Tai-si-ong dan yang lain-lainnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Terima kasih! Terima kasih.....!" pemuda itu berkata
seraya menjura dalam-dalam. Saking canggungnya pemuda
itu malah tak bisa berkata apa-apa selain menyatakan rasa
terima kasihnya.
Sebaliknya penghormatan dan perhatian yang terlalu
berlebih-lebihan itu benar-benar sangat mengherankan para
tamu yang lain. Bhong Kim Cu saling memandang dengan
kawannya, Leng Siau, sementara Put-ceng-li Lo-jin yang selalu
acuh tak acuh itu hanya melongo menyaksikan kejadian itu.
“Hei ...hei! Tai-si-ong...! Bagaimana? Jadi berlangsung atau
tidak pertemuan kita ini?" Put-ceng-li Lo-jin tiba-tiba berteriak.
"Kalau tidak jadi……. aku mau pulang saja!"
"Ohh, Bing Kauw-cu..... maafkanlah kami ! Hahaha…….
Silahkan duduk ! Silahkan duduk !" Toat-beng-jin cepat
menahan orang tua ini.
Semuanya tersenyum melihat adegan itu. Tidak terkecuali
Bhong Kim Cu dan Leng Siau. Kedua tokoh Mo-kauw itu purapura
mengelus kumis dan jenggotnya untuk menutupi senyum
mereka. Sebagai sesama tokoh angkatan tua mereka takut
dianggap bersikap kurang sopan terhadap Put-ceng-li Lo-jin.
Tetapi orang yang bersangkutan ternyata tidak ambil
pusing kepada orang-orang di sekitarnya. Sambil duduk
kembali di kursinya orang tua itu masih mengomel juga.
"Habis, sedari tadi cuma omong saja. Minumanpun juga tak
kunjung keluar. Bagaimana tamu menjadi kerasan di sini ?"
“Wah....... Kauw-cu benar ! Sungguh pikun benar aku ini,
hahaha.....! Hei, penjaga ! Suruh pelayan cepat-cepat
menghidangkan minuman dan makanan! Cepat…….!” Pang
Cu-si Song Kang menoleh dan berteriak ke arah penjaga yang
berdiri di belakang kursinya.
Penjaga itu berlari masuk dan sekejap kemudian beberapa
orang pelayan telah keluar membawa nampan berisi makanan
dan minuman. Dengan cekatan mereka menaruh isi nampan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mereka tersebut di atas meja. Dan tanpa malu-malu atau
sungkan-sungkan lagi Put-ceng-li Lo-jin segera menyambar
poci arak yang ada di depannya, terus meminumnya sampai
habis.
"Hahaha……beginilah seharusnya tuan yang baik." kata
orang tua itu gembira. Lalu tanpa mempedulikan tanggapan
atau komentar dari orang-orang yang berada di sekelilingnya
orang tua itu menyambar lagi poci arak yang berada di depan
Leng Siau.
Yang lain hanya tersenyum maklum memandang ulah
Ketua Bing kauw yang urakan dan ugal-ugalan itu. Mereka tak
bisa marah atau merasa tersinggung, karena memang
demikianlah watak dan sifat Put-ceng-li Lo-jin.
"Bhong Tai-shih ! Leng Tai-shih dan……Yang-sicu ! Silahkan
minum…….!” untuk menyingkirkan rasa kikuk mereka Tai-siong
segera mempersilahkan tamu-tamunya yang lain untuk
menikmati sajian di atas meja. Di depan Leng Siau segera
diletakkan sebuah poci arak yang baru.
Demikianlah, mereka makan dan minum dengan gembira
dan meriah. Semuanya seperti sudah melupakan pertikaian
yang terjadi diantara para anggota aliran mereka. Mereka
saling berbicara satu sama lain baik tentang hal-hal yang
terjadi di dunia kang-ouw maupun tentang perselisihanperselisihan
diantara mereka secara bebas dan terbuka.
"Keparat...... perutku sudah penuh sekarang. Dan sebentar
lagi mataku tentu akan segera mengantuk pula. Hei, Tai-siong......!
Lekaslah kaubuka saja pertemuan ini ! Aku takut
mataku ini takkan bisa bertahun lagi nanti...” mendadak Putceng-
li Lo-jin membuat ulah lagi.
"Ah, benar…… Hari memang semakin bertambah malam.
Kita memang harus segera menyelesaikan pokok persoalan
kita." Pang Cu-si Song Kang dan Kau Cu-si Tong Ciak
menyambut perkataan Put-ceng-li Lo-jin itu hampir berbareng.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ya!" Toat-beng-jin juga mengangguk. “Tai-si-ong, silahkan
kau buka saja pembicaraan kita ini sekarang…...!" katanya lagi
seraya menoleh ke arah Kepala Kuil Agung yang duduk di
sisinya.
Ta-si-ong mengangguk, lalu berdiri. Dengan merangkapkan
kedua belah telapak tangannya di depan dada, Tai-si-ong
membungkuk kepada Bhong Kim Cu dan Leng Siau.
"Bhong Tai-shih! Lheng Tai-shih! Kalian berdualah
sebenarnya yang mempunyai maksud mengadakan pertemuan
ini. Kalianlah yang telah mengirim surat undangan itu. Kami
cuma menyediakan tempat saja di sini.......”
“Ucapan Tai-si-ong itu benar. Nah, Lo-heng....... cepatlah !
Kaulah yang mengirim surat kepadaku. Dan ... dalam surat itu
kau mengatakan bahwa kau telah menemukan sumber
pertikaian diantara ketiga aliran kita. Di dalam surat itu kau
malah menyebutkan pula bahwa perselisihan itu memang
sengaja dibuat oIeh seseorang untuk mengeruhkan suasana di
dunia kang-ouw. Nah, kata-kata yang kau tulis itu sungguh
membuatku penasaran. Hatiku lantas tergelitik untuk
membuktikan kata-katamu itu. Dan...... itulah sebabnya
sekarang aku berada di sini! Bhong Lo-heng, ayo…. lekaslah
engkau memulainya! Aku sudah tidak sabar lagi !” Put-ceng-li
Lo-jin bangkit pula dari tempat duduknya.
Hening sejenak. Semua mata tertuju ke arah Bhong Kim Cu
dan Leng Siau. Dengan perasaan tegang mereka menunggu
reaksi dua tokoh Mo-kauw tersebut. Dan sementara itu diamdiam
Chin Yang Kun ikut menjadi tegang pula di tempat
duduknya. Apalagi pemuda itu serba sedikit juga mengetahui
masalah yang mereka perbincangkan.
Akhirnya Bhong Kim Cu bangkit pula dari kursinya.
"Terima kasih! Terima kasih, Tai-si-ong……! Lo-hu sendiri
sebenarnya juga ingin lekas-lekas memulainya, tapi tak enak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
rasanya kalau harus menghentikan perjamuan yang meriah ini
begitu saja …..."
"Hei ! Lihat.......! Semuanya sudah selesai sekarang ! Tak
ada yang makan atau minum lagi! Ayoh, lekaslah.......!” Putceng-
li Lo-jin memotong dengan suara keras.
Bhong Kim Cu tersenyum. "Baiklah ! Tapi... lebih dulu kami
mohon maaf karena ketua kami tidak dapat datang di dalam
pertemuan penting ini. Beliau tidak sempat kami undang atau
kami beritahu tentang rencana pertemuan kita ini. Kukira
semuanya sudah tahu kalau pertemuan ini kita adakan dengan
sangat tergesa-gesa sekali. Coba kalau pagi tadi secara
kebetulan kami tidak melihat Put-ceng-li Lo-jin di kota ini,
kukira pertemuan ini takkan bisa terlaksana." tokoh Mo-kauw
itu membuka pembicaraannya.
Tai-si-ong dan Put-ceng-li Lo-jin tampak menganggukanggukkan
kepalanya. Keduanya mendengarkan dengan
sungguh-sungguh semua perkataan Bhong Kim Cu tadi.
"Sudah berbulan-bulan aku dan Leng Tai-shih mendapat
tugas dari Mo-cu (Ketua Aliran Mo) untuk menyelidiki
perselisihan yang timbul diantara ketiga aliran kepercayaan
kita. Kami berdua telah mencoba dengan segala cara untuk
mencari sebab musabab dari semua pertengkaranpertengkaran
yang timbul diantara anak buah kita. Kami
berdua juga sudah menemui atau menghubungi beberapa
orang tokoh yang kira-kira bisa kami ajak berdamai untuk
menyelesaikan perkara ini. Diantaranya kami berdua juga
telah menjumpai Toat-beng-jin dan Kau Cu-si Tong Ciak dari
Im-yang kauw, lalu kami menemui pula Put-chien-kang Cin-jin
dan Put-sim-sian dari Bing-kauw……..”
“Hei? Kalian sudah menemui su-hengku pula?” Put-ceng-li
Lo-jin berseru.
Bhong Kim Cu mengangguk sambil tersenyum.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Habis, rasanya sulit benar mencari Bing Kauw-cu………”
Leng Siau menjawab.
“Wah……..akupun juga selalu berkeliling untuk menyelidiki
peristiwa ini seperti kalian….” Put-ceng-li Lo-jin menjelaskan.
“Nah……..dari pembicaraan-pembicaraan kami itu serta dari
penyelidikan-penyelidikan yang telah kami lakukan, kami
dapat menyimpulkan bahwa memang ada seseorang yang
bermaksud untuk mengadu domba ketiga aliran kita. Orang itu
bermaksud untuk menciptakan kerusuhan, keributan dan
kekeruhan di dunia persilatan, agar dengan mudah ia
melaksanakan niatnya…….” Bhong Kim Cu melanjutkan
keterangannya.
“Melaksanakan niatnya......? Niat apa itu……..?" Tai-si-ong
menyela.
"Memberontak kepada pemerintah yang dipimpin oleh
Kaisar Han ! Dengan berlindung pada kerusuhan-kerusuhan
yang terjadi di dunia kang-ouw, mereka bebas dari perhatian
Kaisar Han, sehingga dengan mudah mereka menyusun
kekuatan.”
“Ohh...... bangsat ! Keparat ! Licik besar !” Put-ceng-li Lojin
mengumpat-umpat.
“Lalu…….apakah Bhong Tai-shih sudah bisa mengetahui
sekarang, siapa orang yang licik dan kurang ajar itu?” Song
Kang yang sedari tadi hanya diam saja itu tiba-tiba ikut
bertanya pula.
Lagi-lagi Bhong Kim Cu mengangguk sambil tersenyum.
"Tentu saja. Kalau aku belum yakin benar akan kebenaran
berita itu, masakan kami berdua berani meminjam tempat
untuk keperluan pertemuan ini? Dan kalau kami belum benarbenar
siap, masakan kami berani mengundang Put-ceng-li Lojin
pula ? Hahaha...... Song Cu-si, ternyata jerih payah kami
berdua selama berbulan-bulan itu memperoleh hasil juga……”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bhong Kim Cu menghentikan keterangannya sebentar untuk
mengambil napas. Lalu. "Nah, setelah kami memperoleh datadata
tentang siapa orangnya yang mengadu domba kita, kami
lalu mencarinya ke mana-mana. Dan……beruntunglah kami
ketika tanpa sengaja melihat orang itu di kota Ko-tien kemarin
sore. Malahan secara kebetulan kami melihat juga Put-ceng-li
Lo-jin di sana."
"He? Kalian melihat aku di Ko-tien kemarin ? Eh, mengapa
aku tak melihat juga pada kalian dan orang itu ?” Put-ceng li
Lo-jin memotong cerita Bhong Kim Cu dengan suara kaget.
"Ahhh........selama ini Lo-jin tak pernah mempedulikan
orang ataupun diri sendiri. Jangankan dengan orang yang
jarang sekali berjumpa atau bahkan malah belum pernah
mengenal seperti kami atau orang itu, sedangkan dengan
keluarga atau kerabat sendiri saja Lo-jin hampir tak pernah
peduli. Mana Lo-jin dapat melihat kami……?” Leng Siau
tertawa sambil menjawab pertanyaan ketua Bing-kauw
tersebut.
“Yaaa……..itulah sifatku yang paling kubenci setengah mati!
Tapi rasanya sulit benar untuk mengubahnya! Bangsat…….!”
Dengan enaknya orang tua itu memaki-maki dirinya sendiri.
Tak terasa semuanya tertawa melihat kelakuan Put-ceng-li
Lo-jin yang konyol dan menggelikan itu. Tapi yang
ditertawakan tetap saja acuh tak acuh.
“Kami berdua secara diam-diam lalu mengikuti orang
itu……” Bhong Kim Cu meneruskan ceritanya. “Eh…….ternyata
orang itu memasuki rumah seorang pembesar tinggi dari kota
Ko-tien. Di dalam ruangan yang tersembunyi orang itu
mengadakan pembicaraan dengan seorang Iaki-laki yang
dipanggil dengan nama Liok Cian-bu. Semua pembicaraan
mereka dapat kami dengarkan semuanya, sehingga kami
berdua semakin menjadi yakin bahwa memang orang itulah
yang kami cari !"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Eh.... Bhong Lo-heng! Boleh...... bolehkah kami turut
mengetahui juga...... isi dari pembicaraan orang itu? Terus
terang kami juga menjadi penasaran. Kami ingin mengetahui,
apa saja yang direncanakan orang itu untuk mengadu domba
kita……..?” Tai-si-ong menyela.
“Yaa....... ya ! Akupun ingin tahu juga, apa saja yang
dikatakan oleh bedebah licik itu ?” Put-ceng-li Lo-jin
menggeram pula.
Bhong Kim Cu tampak berdiam diri sebentar. Agaknya
tokoh Mo-kauw itu sedang berpikir atau sedang mengingatingat
kembali semua pembicaraan yang didengarnya dari
mulut orang yang dicurigainya itu.
"Baiklah......!" akhirnya tokoh Mo-kauw itu berkata. “Mulamula
orang itu bertanya tentang pasukan yang mereka
pusatkan di sekitar kota Tie-kwan di lembah Sungai Huang-ho
kepada orang yang bernama Liok Cian-bu itu. Dan Liok Cianbu
itu menjawab, bahwa semua pasukan yang berada di
bawah pengawasannya dalam keadaan baik, hanya saja
mereka sudah tak sabar lagi untuk menunggu terlalu lama.
Mereka ingin lekas-lekas bergerak ke kota raja........."
"Hmm....... sungguh gawat! Masakan Hong-siang belum
mencium gerakan mereka?” Tai-si-ong berdesah dengan
keadaan khawatir.
"Saya dengar Hong-siang sudah mencium pula gerakan
mereka.” Toat-beng-jin menjawab. "Kabarnya Hong-siang
malah sudah mengirim beberapa orang kepercayaannya untuk
menyelidiki hal ini, termasuk pula Hong-lui-kun Yap Kiong
Lee."
"Ohh...... sukurlah!" Tai-si-ong bernapas lega. "Lalu......
bagaimana kelanjutannya, Bhong Lo-heng.........?" katanya
kemudian sambil menoleh ke arah tamunya.
Bhong Kim Cu mengambil napas panjang. "Tai-si-ong......
sejak semula kami berdua menyangka bahwa orang itu adalah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
otak dan biang-keladi dari semua peristiwa ini. Tapi dugaan
kami tersebut ternyata keliru! Kedua orang itu ternyata masih
mempunyai seseorang pemimpin lagi.”
“Pemimpin.…..?” Put-ceng-Ii Lo-jin menyela.
"Benar. Dalam perundingan mereka itu mereka membagi
tugas. Orang itu mau menghubungi semua pasukan yang
sudah dapat mereka bentuk dan orang yang dipanggil Liok
Cian-bu itu pergi ke pantai Laut Timur untuk menghubungi
pemimpin mereka. Tampaknya mereka sudah siap untuk
menyelesaikan niat mereka."
"Wah…... gawat! Sungguh gawat !” Put-ceng li Lo-jin
menggeram dengan suara gelisah. Bagaimanapun konyolnya
orang tua ini adalah pemimpin dari sebuah aliran yang besar,
sehingga sedikit banyak ia juga memikirkan para anggotanya
bila terjadi peperangan.
"Demikianlah, aku dan Leng Tai-shih lalu memutuskan
untuk menangkap saja orang itu, sementara kawannya akan
kami biarkan lolos……" Bhong Kim Cu melanjutkan lagi.
“Hei! Mengapa dibiarkan lolos? Mengapa tak hendak
ditangkap sekalian ?" lagi-lagi Put-ceng-li Lo-jin memotong
cerita Bhong Kim Cu.
"Wah.... Liok Cian-bu itu berseragam perajurit, bagaimana
mungkin kami dapat menangkapnya? Salah-salah kita akan
mendapat kesukaran malah!” Leng Siau menjawab pertanyaan
Put-ceng-li Lo-jin.
“Hmh! Peduli amat! Biar perajurit kalau musuh…….sikat
saja!”
semuanya memandang Put-ceng-li Lo-jin dengan
tersenyum kecut. Tak ada gunanya berdebat dengan orang
tua konyol itu.
"Eeee....... Bhong Tai-shih ! Masakan hal yang
diperbincangkan oleh kedua orang itu cuma urusan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pemberontakan dan pembagian tugas saja? Ayo.......
ceritakanlah semuanya!! Biarlah kami tahu, apa saja yang
dikatakan orang licik itu tentang kita.......” tiba-tiba Kau Cu-si
Tong Ciak berseru.
"Ya, benar. Bhong Lo-heng, ceritakanlah semuanya !
Jangan dipotong-potong begitu…..!” Toat-beng-jin ikut pula
mendesak.
"Lhoh! Aku tidak memotong-motongnya ! Memang
demikianlah ceritanya......! Masakanku aku harus
menceritakannya sampai yang sekecil-kecilnya?'' Bhong Kim
Cu membantah sambil tersenyum.
"Yaa…… tapi kami memang ingin mengetahui pula semua
hal yang dikatakan oleh orang itu,” Tong Ciak tetap juga
mendesak.
"Hmmm.......!”
Bhong Kim Cu menunduk sambil mengerutkan keningnya.
"Baiklah…… akan kucoba. Hanya saja aku mungkin sudah
tidak dapat mengingat semuanya. Hmmm………kalau tak salah
orang yang kami curigai itu juga bercerita
tentang…….pertemuan di bukit sebelah timur kota Poh-yang.”
“Pertemuan di bukit sebelah timur kota Poh-yang?” tak
terasa Chin Yang Kun bergumam perlahan. “Hmmmm……siapa
dia?”
“Yang hian-te, kau bilang apa?” Toat-beng-jin yang duduk
di dekatnya menegaskan.
“Oh, tidak apa-apa……..” pemuda itu menjawab tersipusipu.
Toat-beng-jin mengerutkan keningnya, tapi ia tak bertanya
lebih lanjut. Orang tua itu segera memandang ke arah Bhong
Kim Cu yang sudah meneruskan lagi ceritanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Orang itu……..berkata kepada Liok Cian-bu, bahwa
pertemua yang mereka adakan di puncak bukit di luar kota
Poh-yang mengalami kegagalan. Bahkan kekuatan yang ada di
tempat itu hancur bercerai-berai karena serangan bajak laut
Tung-hai-tiau. Malahan katanya orang itu hampir saja mati di
tangan Tung-hai-tiau dan anak buahnya. Untunglah dia dapat
meloloskan diri melalui jalan rahasia……”
“Jalan rahasia……?” Chin Yang Kun bertanya di dalam
hatinya. “Kalau begitu……orang yang dimaksudkan Bhong Taishih
ini tentu Song-bun-kwi Kwa Sun Tek, sebab Cuma dia
yang tahu jalan rahasia di bawah tanah itu.”
Tapi pemuda itu tetap berdiam diri dan tak berkata apaapa.
Dibiarkannya saja tokoh Mo-kauw itu melanjutkan
ceriteranya.
"Setelah bisa meloloskan diri dari kepungan para bajak laut,
orang itu melarikan diri ke kota Yu-tai. Tapi di tengah jalan dia
bertemu dengan Hong-lui-kun Yap Kiong Lee dan mereka
segera terlibat dalam pertempuran yang sangat seru. Ternyata
orang itu kalah sehingga ia terpaksa melarikan diri lagi. Honglui-
kun tak mau melepaskannya, sehingga terjadilah kejarmengejar
yang seru. Saking bingung dan putus asa karena tak
bisa melepaskan diri dari libatan Hong-lui-kun Yap Kiong Lee,
orang itu nekad menerjunkan diri ke dalam jurang yang
dalam.”
“Hei? Terjun ke dalam jurang?” Tong Ciak bertanya kaget.
“Ya, begitulah orang itu bercerita kepada Liok Cian-bu…….”
Bhong Kim Cu mengangguk. “Tapi…. Orang itu ternyata masih
bernasib baik. Dengan kepandaiannya yang tinggi orang itu
dapat bergantung pada sebuah akar pohon sehingga selamat.
Kemudian perlahan-lahan orang itu naik ke atas kembali dan
pergi ke kota Ko-tien. Di sana ia menemui Liok Cian-bu dan
………terlihat oleh kami berdua,” Bhong Kim Cu mengakhiri
ceritanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Diam sesaat. Semuanya masih menantikan kelanjutan
cerita itu. Tapi tampaknya Bhong Kim Cu memang telah
menyelesaikan ceritanya.
“Demikianlah……..”
“Hei! Nanti dulu! Manakah kata-kata orang licik itu yang
menyinggung tentang kita? Ayolah Bhong Lo-heng……jangan
membikin penasaran hati orang! Itu dosa!” Tong Ciak cepatcepat
menyela dengan mulut meringis karena mendongkol.
"Benar. Manakah cerita itu? Wah, Bhong Lo-heng ini
memang pintar menggoda hati orang!” Toat-beng-jin ikut
menuntut pula.
“Bhong Tai-shih……! Saya kira tuntutan rekan-rekan kita ini
memang benar,” Tai-si-ong berkata pula dengan suara halus
untuk menengahi mereka. “Ceritakan saja semua pembicaraan
kedua orang itu kepada kami. Terutama yang menyangkut
tentang aliran kita masing-masing. Jangan hanya disingkat
dengan mengatakan bahwa…..Bhong Tai-shih semakin yakin
akan keterlibatan mereka, setelah mendengar pembicaraan
kedua orang itu….! Tolonglah ceritakan juga pada kami, apa
saja yang mereka katakan, sehingga kami juga bisa
mengambil kesimpulan seperti Bhong Tai-shih berdua!”
“Waduh……baiklah! Begini…….” Bhong Kim Cu terpaksa
mengalah mendengar tuntutan tuan rumah itu. “………dalam
pembicaraan mereka orang itu juga menegaskan bahwa
gerakan mereka harus cepat-cepat dimulai sebab kalau tidak
lekas-lekas dimulai, gerakan yang telah mereka persiapkan
dengan matang itu tentu akan kandas di tengah jalan.
Kemudian orang itu bercerita tentang usaha-usaha yang telah
ditempuhnya selama ini. Mulai dari pembentukanpembentukan
pasukan di beberapa daerah, sampai dengan
menghubungi pejabat-pejabat kerajaan yang sekiranya setuju
dengan gerakan mereka. Termasuk diantaranya adalah Liok
Cian-bu sendiri. Kemudian orang itu juga menyebutkan
beberapa usaha lainnya, yaitu antara lain mencari Cap
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kerajaan yang hilang, mencari harta karun mendiang Perdana
Menteri Li Su di pantai Laut Timur dan yang terakhir
adalah……mengadu domba ketiga aliran kita! Mereka ingin
menciptakan ketegangan, keributan dan kekeruhan di dunia
persilatan, sehingga mereka dapat dengan leluasa
menjalankan rencana mereka…..”
“Nah…….hal itulah yang ingin kami dengarkan, Bhong Taishih,”
Tong Ciak menyela dengan suara gembira.
Sementara itu Chin Yang Kun menjadi berdebar-debar
hatinya mendengar tokoh Mo-kauw tersebut menyebut pusaka
keIuarganya, yaitu Cap Kerajaan! Hampir saja dia bertanya
tentang peranan orang yang diceritakan oleh Bhong Kim Cu
tersebut dalam peristiwa pembantaian keluarganya. Tapi
karena ragu-ragu pemuda itu tak jadi mengatakannya.
Dan sementara pemuda itu menjadi ragu-ragu, Bhong Kim
Cu telah meneruskan ceritanya.
"Yang mendapatkan giliran pertama diadu domba oleh
orang itu adalah Aliran Bing-kauw dan…. Mo-kauw. Dengan
menyamar sebagai anggota aliran kami, orang itu bersama
dengan kawannya yang bernama Wan It, menyelinap ke
Rumah Suci Aliran Bing-kauw. Mereka berusaha menculik isteri
Put-ceng-li Lo-jin ......."
"Hei....... benarkah ? Bangsat! Keparat ! lblis busuk tak
tahu malu........! Huh........ jadi orang itulah yang masuk ke
Rumah Suci dan mau menculik isteriku? Sungguh licik sekali !
Di depan murid-muridku mereka mengaku sebagai anggota
dari Aliran Mo-kauw........! Kurang ajaaar.......!" Put-ceng-li Lojin
mengumpat tiada habis-habisnya.
Dan sekali lagi Chin Yang Kan dibuat kaget oleh nama yang
disebutkan Bhong Kim Cu.
“Wan It......? Jadi...... jadi paman Hek-mou-sai Wan It itu
memang benar-benar berkomplot dengan Song-bun-kwi Kwa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sun Tek? Oooooh……!” pemuda itu berdesah lemas, wajahnya
pun menjadi pucat.
Perubahan wajah Chin Yang Kun ternyata dapat dilihat oleh
Toat-beng-jin. Dengan berbisik orang tua itu mendekatkan
mulutnya ke arah Chin Yang Kun. "Yang Hiante ... kau
kenapakah? Mengapa wajahmu tiba-tiba memucat?”
Tapi Chin Yang Kun cepat-cepat menggeleng. "Ah........ aku
tidak apa-apa ! Sungguh, aku tidak apa-apa ! Aku cuma lelah
sekali......." katanya membohong.
Toat-beng-jin menatap tajam-tajam, hatinya sedikit curiga.
Tetapi karena tamunya tak mau berterus terang, maka dia tak
bisa berkata apa-apa lagi.
Sementara itu Bhong Kim Cu masih terdengar meneruskan
ceritanya.
"Setelah berhasil mengadu domba Aliran Mo-kauw dan
Bing-kauw, orang itu lalu ganti mengadu domba Aliran Mokauw
dan Im-yang-kauw……! Dengan menyamar sebagai Han
Su Sing, yaitu kepala kuil Im-yang-kauw di Bukit Delapan
Dewa, orang itu datang ke gedung kami dan membunuh
beberapa orang anggota Mo-kauw……”
“Dan……..masalah itu menjadi semakin meruncing dengan
terbunuhnya Han Su Sing di tangan Put-gi-ho dan Put-chihto,”
Toat-beng-jin menambahkan seraya menoleh ke arah Putceng-
li Lo-jin.
“Ya…….dengan demikian komplitlah sudah rencana orang
itu. Mula-mula Mo-kauw dengan Bing-kauw, kemudian Mokauw
dengan Im-yang-kauw, lalu yang terakhir Bing-kauw
dengan Im-yang-kauw…..!” Bhong Kim Cu mengangguk.
Dan ruangan itu kemudian menjadi sunyi untuk beberapa
saat lamanya. Semuanya duduk terpekur di tempat masingmasing.
Sinar kelegaan tampak membersit di wajah mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Udara persahabatan terasa menghembus kembali di hati
mereka.
"Hmmm........ beruntunglah kita karena Bhong Tai-shih
dapat segera membongkar niat licik itu, sehingga suasana
menjadi jernih kembali. Tapi…….bagaimana dengan kelanjutan
cerita itu tadi, Bhong Lo-heng? Dapatkah Bhong Lo-heng
menangkap orang itu?” Tai-si-ong atau Kepala Kuil Agung
Aliran Im-yang-kauw tiba-tiba memecahkan kesunyian
mereka.
“Hei, benar…….! Bagaimana kelanjutannya, Bhong Taishih?
Cepatlah…..!” Put-ceng-li Lo-jin berseru pula.
Bhong Kim Cu membetulkan letak duduknya. “Setelah
orang itu keluar dari rumah pejabat itu, kami berdua lantas
mengikutinya. Dan tampaknya orang itu tahu kalau kami ikuti.
Dia berlari secepat kilat keluar kota. Terpaksa kami
mengejarnya……” Bhong Kim Cu melanjutkan ceritanya.
“Dan……..dengan mudah Bhong Lo-heng menangkapnya !
Hahaha! Siapa yang berani melawan gin-kang Bhong Lo-heng
berdua?” Toat-beng-jin memotong dengan tertawa.
“Ah…….siapa bilang kami dapat menangkap dia dengan
mudahnya? Kami berdua justru hampir kewalahan
menghadapinya !” Leng Siau menjawab cepat.
“Benar! Hampir saja kami berdua tak kuasa membendung
Ilmu Silat Mayat Mabuknya !” Bhong Kim Cu menegaskan
ucapan rekannya.
“Hei? Apaaa………? Bangsat! Keparat! Bhong Taishih……
sudah sekian lamanya kau bercerita, ternyata kau
belum sekalipun menyebutnya nama orang itu! Kurang
ajar……siapakah orang yang mahir Ilmu Silat Mayat Mabuk
itu? Kwa Eng Ki……?” Put-ceng-li Lo-jin tiba-tiba bangkit
berdiri seraya mencengkeram pinggiran meja.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Disebutnya Ilmu Silat Mayat Mabuk oleh Bhong Kim Cu itu
benar-benar mengejutkan semua orang! Pikiran mereka lantas
tertuju kepada pemilik ilmu yang maha dahsyat tersebut, yaitu
kaum Tai-bong-pai yang diketuai oleh Kwa Eng Ki. Otomatis
semuanya menjadi gelisah dan berdebar-debar. Tai-bong-pai
bukanlah sebuah perkumpulan sembarangan. Perkumpulan itu
menyimpan banyak tokoh sakti yang mempunyai ilmu
menggiriskan hati. Dan apabila untuk menebus perdamaian
mereka ini, mereka harus bermusuhan dengan Tai-bong-pai,
hal itu memang sungguh berat.
Bhong Kim Cu menundukkan kepalanya.
“Maafkanlah aku, karena aku sengaja menyimpan nama
orang yang mengadu domba kita itu. Hal ini memang
kusengaja agar cu-wi tidak lekas-lekas terbakar dan
menanggapi ceritaku tadi. Aku ingin agar cu-wi mendengarkan
dan menanggapi ceritaku tadi secara wajar, tanpa dibayangbayangi
perasaan segan, marah ataupun……takut!” jago Aliran
Mo-kauw itu menjelaskan. Lalu lanjutnya lagi, “Sekarang akan
saya katakan, siapa sebenarnya orang yang saya ceritakan
tadi. Orang itu memang datang dari Tai-bong-pai…….”
“Hah……..?!?”
"Yaa...... tapi dia bukanlah Kwa Eng Ki ! Dia adalah Songbun-
kwi Kwa Sun Tek, putera Kwa Eng Ki yang telah diusir
oleh perguruannya........."
"Ohh…… lalu bagaimana dengan kelanjutan dari
pertempuran Bhong Lo-heng berdua itu ? Dapatkah Bhong Loheng
berdua mengatasinya ?” Tai-si-ong bertanya dengan
suara tegang.
Bhong Kim Cu dan Leng Siau tersenyum melihat
ketegangan rekan-rekannya itu. Keduanya tidak segera
menjawab pertanyaan itu. Tampaknya mereka memang
sengaja menggoda orang-orang itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Bagaimana menurut pendapat Tai-si-ong dan rekan-rekan
semua? Mungkinkah kami bisa mengatasi Song-bun-kwi yang
berkepandaian tinggi itu?” tanya mereka malah.
“Lhoh……mana kami tahu? Bangsat……Bhong Tai-shih, kau
jangan menggoda kami, ya…….? Salah-salah bisa berkelahi
kita nanti!” Put-ceng-li Lo-jin melotot penasaran.
“Wah…….kami Cuma ingin tahu pendapat cu-wi saja, tidak
ada maksud-maksud yang lain! Bukankah pertemuan ini
bertujuan untuk kedamaian kita? Ayoh, jangan marah, Bing
kauw-cu! Tebak saja dulu teka-teki tadi…..!” Bhong Kim Cu
tertawa. Diam-diam ternyata tokoh Mo-kauw ini suka
berkelakar pula.
"Wah...... ini.......” Put-ceng-li Lo-jin menggerutu dengan
wajah merah padam.
"Hmm….. bagaimana, ya?" Tai-si-ong ikut-ikutan
menggaruk-garuk kepalanya.
"A-nu..... eh !" Song Kang tiba-tiba berdesah sambil
menoleh ke arah Toat-beng-jin yang mahir Lin-cui-sui-hoat itu.
Tapi orang tua yang pandai meramal itu pura-pura tidak
tahu. Justru pemuda yang duduk di samping orang tua itulah
yang mendadak membuka suara malah !
“Tentu saja Bhong Tai-shih dan Leng Tai-shih dapat
menundukkan orang itu! Malahan tidak Cuma menundukkan
saja, tapi……membunuhnya malah!”
“Ehhh !”
“Oh………!”
Semuanya memandang Chin Yang Kun dengan dahi
berkerut. Tidak terkecuali Bhong Kim Cu dan Leng Siau
sendiri. Kedua tokoh Mo-kauw itu menatap Chin Yang Kun
dengan pandang mata kaget.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Eh…….saudara Yang! Apakah kau menyaksikan sendiri
pertempuran kami kemarin itu?” Bhong Kim Cu bertanya
dengan pandang mata menyelidik.
“Tidak!” pemuda itu menjawab tegas.
“Lalu…..bagaimana Saudara Yang tahu?” Leng Siau
mengejar.
Chin Yang Kun menatap Leng Siau dan Bhong Kim Cu
beberapa saat lamanya, membuat kedua tokoh Aliran Mokauw
berkepandaian tinggi itu sedikit bergetar hatinya. Mata
itu mencorong menyilaukan seperti mata seekor naga dalam
kegelapan !
"Siauw-te hanya menebak saja…….” akhirnya pemuda itu
memberikan jawabannya.
Sementara itu semuanya menjadi kaget mendengar
pengakuan Bhong Kim Cu tentang terbunuhnya tokoh Taibong-
pai tersebut. Semuanya mengawasi Bhong Kim Cu, Leng
Siau dan Chin Yang Kun berganti-ganti.
“Jadi... orang itu telah terbunuh di tangan Bhong Tai-shih
berdua ?" Tai-si-ong bertanya.
"Benar ! Tapi....... sebentar!" Bhong Kim Cu menjawab,
"Eh, Saudara Yang ! Coba tebak lagi ! Bagaimana kira-kira
orang itu dapat kami tundukkan ?"
Chin Yang Kun melirik ke arah Toat-beng-jin, lalu
menundukkan mukanya. Sambil menghela napas ia
menjawab, "Bhong Tai-shih, siauw-te sudah beberapa kali
bertemu dengan Song-bun-kwi itu. Malahan yang terakhir
siauw-te melihat pertempurannya melawan Tung-hai-tiau dan
Tung-hai Nung-jin di bukit sebelah timur Poh-yang itu...."
"Ohh...... jadi Saudara Yang juga berada di bukit yang
diceritakannya itu ?” Leng Siau memotong.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Chin Yang Kun mengangguk. "Benar. Oleh sebab itu siauwte
benar-benar tahu sampai di mana kesaktian iblis Tai-bongpai
itu. Ilmunya bermacam-macam dan hebat-hebat, sampai
tokoh-tokoh ternama seperti Tung-hai-tiau dan Tung-hai
Nung-jin itupun tak kuasa berbuat apa-apa terhadapnya,
padahal mereka mengeroyoknya.”
Semuanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Semuanya
mengakui kebenaran kata-kata yang diucapkan oleh pemuda
itu. Meskipun beberapa orang di antara mereka belum pernah
bertemu dengan orang itu, tapi nama dan gelar Song-bun-kwi
Kwa Sun Tek telah lama mereka dengar.
"Kalau demikian halnya, mengapa saudara Yang masih juga
menebak bahwa kami berdua dapat membunuhnya ? Apakah
saudara Yang beranggapan bahwa kepandaian kami ini jauh
lebih tinggi dari pada kepandaian Tung-hai-tiau dan Tung-hai
Nung-jin?" Leng Siau bertanya sedikit penasaran.
“Ahh…. itu cuma karena kebetulan saja. Pagi tadi siauw-te
melihat dua orang anak buah Song-bun-kwi di rumah makan.
Dari pembicaraan mereka siauw-te mendengar berita bahwa
Song-bun-kwi telah mati. Hanya sayang mereka tidak
menyebutkan, bagaimana orang itu mati dan siapakah
pembunuhnya. Semula siauw-te menyangka Tung-hai-tiau dan
Tung-hai Nung-jin itulah yang membunuhnya. Tapi
mendengar cerita Bhong Tai-shih tadi, bahwa Song-bun-kwi
dapat meloloskan diri melalui pintu rahasia, siauw-te segera
menyadari bahwa dugaan tersebut ternyata salah. Maka
begitu Bhong Tai-shih mengatakan mau menangkap Songbun-
kwi Kwa Sun Tek, siauw-te segera menduga-duga bahwa
Bhong Tai-shih berdualah yang telah membunuh orang itu…..”
"Eh, kenapa begitu.......?” Bhong Kim Cu mendesak.
"Sulit sekali kalau orang mau menangkap Song-bun-kwi,
karena selain berilmu silat tinggi orang itu mengenakan.......
Kim-pouw-san! Satu-satunya jalan cuma membunuhnya!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hei........ saudara Yang tahu tentang baju mustika itu?"
Bhong Kim Cu dan Leng Siau kini benar-benar terperanjat.
Tampaknya kedua tokoh Mo-kauw itu memang bermaksud
untuk merahasiakan penemuan mereka itu. Itulah sebabnya
mereka selalu mendesak sambil menyelidiki, sampai di mana
pengetahuan Chin Yang Kun perihal kematian Song-bun-kwi.
Tak mereka sangka pemuda itu tahu belaka tentang baju
mustika tersebut.
"Ah....... baju itu sebenarnya adalah kepunyaan Tung-haitiau
yang diberikan kepada puterinya, Tiau Li Ing. Tapi dengan
segala kelicikannya Song-bun-kwi berhasil merampasnya......."
Chin Yang Kun menerangkan.
"Ya.......ya, be-benar.......! Baju itu sekarang memang kami
simpan. Akan kami serahkan nanti kepada Mo-cu kami."
akhirnya Bhong Kim Cu berdesah perlahan.
Put-ceng-li Lo-jin, Tai-si-ong dan yang lain-lain terdiam saja
bagai patung di tempat masing-masing. Mereka menatap
Bhong Kim Cu, Leng Siau dan Chin Yang Kun berganti-ganti
sambil mendengarkan percakapan tokoh Mo-kauw tersebut
dengan Chin Yang Kun. Mereka baru sadar akan
ketermanguan mereka tatkala melihat percakapan itu
berhenti.
Tong Ciak yang duduk di sebelah Bhong Kim Cu terdengar
menghela napas. "Lalu apa yang kau perbuat dengan mayat
Song-bun-kwi itu, Bhong Lo-heng?" tanyanya perlahan.
"Kami menguburkannya di pinggir hutan.” Bhong Kim Cu
menjawab. Lalu katanya Iagi. “Setelah itu kami berdua
kembali ke Ko-tien. Kami bermaksud menemui Put-ceng-li Lojin
untuk cepat-cepat membicarakan persoalan ini, tapi sayang
sekali Put-ceng-li Lo-jin telah pergi meninggalkan kota itu.
Kami lalu bergegas mencarinya ke kota Yu-tai. Tapi kami juga
tak menjumpainya di sana......."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku memang langsung ke kota ini dan tak singgah
kemana-mana........." Put-ceng-li Lo-jin menyahut.
“Yaa....... dan hal itu justru sangat kebetulan bagi kami.
Kota Sin-yang merupakan pusat Aliran lm-yang-kauw sehingga
dengan demikian kami malahan bisa mengadakan pertemuan
diantara ketiga aliran sekaligus. Demikianlah, kami lalu
menghubungi Tai-si-ong dan Put-ceng-li Lo-jin melalui surat.
Kami paparkan semua maksud dan rencana kami untuk
mengadakan pertemuan di antara ketiga aliran kita, agar
perselisihan yang terjadi cepat-cepat dapat diselamatkan dan
tidak berlarut-larut ….."
"Dan maksud Bhong Lo-heng ini ternyata benar-benar
berhasil. Malam ini semua telah berkumpul dalam kedamaian.
Perselisihan telah terhapus dengan terbongkarnya siasat adu
domba Song-bun-kwi Kwa Sun Tek itu…..." Tai-si-ong cepatcepat
memberi komentar.
"Hanya saja, kita masing-masing harus lekas-lekas memberi
tahu kepada anggota kita tentang hal ini, agar pertumpahan
darah segera dihentikan." Pang Cu-si Song Kang
menambahkan.
"Benar, hahaha........ Tapi sebelum kita berpisah, marilah
kita berpesta lagi menghabiskan hidangan ini! Kita rayakan
persahabatan kita.......!" Put-ceng-li Lo-jin berseru pula
dengan suara gembira.
"Baik! Tapi hidangan ini harus ditambah lagi! Hei, penjaga !
Panggil pelayan, supaya menambah lagi hidangan sebanyakbanyaknya.....!"
Toat-beng-jin berteriak ke arah penjaga.
“Baik, Lo-jin-ong .......!" penjaga itu mengangguk lalu
berlari ke dalam. Demikianlah, sebentar kemudian ruangan itu
menjadi riuh oleh gelak tertawa mereka. Mereka benar-benar
merayakan perdamaian mereka kembali. Semuanya
mengacungkan jempol dan menyatakan perasaan kagum
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mereka terhadap usaha Bhong Kim Cu dan Leng Siau demi
terciptanya perdamaian di antara mereka.
Sementara semuanya bergembira dengan makan dan
minum, tiba-tiba penjaga yang diperintah oleh Toat-beng-jin
tadi berbisik kepada orang tua itu. "Lo-jin-ong…..! Tampaknya
ada suatu kejadian yang menggegerkan para prajurit
pendatang dari kota raja itu. Mereka kelihatan sibuk sekali.
Semuanya berlarian dan berkumpul di Rumah Penginapan itu
dengan persenjataan lengkap......”
“Apa......? Para perajurit itu…...eh, kau tahu apa
sebabnya?" Toat-beng-jin menjadi kaget juga. Orang tua itu
khawatir pemberontak telah memasuki kota.
“Katanya…….katanya pemimpin mereka telah tertangkap
oleh pasukan pemberontak yang bersembunyi di bukit sebelah
utara kota ini.”
“Hah…….?!? Apa……..?” tiba-tiba Chin Yang Kun yang
berada di sebelah Toat-beng-jin melompat kaget. Otomatis
tangan pemuda itu menyambar leher baju penjaga tersebut
dan mencengkeramnya.
“Hhkkh…….!” Penjaga itu tercekik.
“Apa yang kaukatakan tadi? Liu Ciangkun tertangkap
pemberontak?”
“Hkk! Sa….saya tak tahu. Yang
ku….kudengar…..hek…..Cuma pemimpinnya. Saya tak……tak
tahu namanya……..” penjaga itu menjawab ketakutan.
“Itu sama saja! Pemimpin mereka memang Liu Ciangkun!”
Chin Yang Kun berteriak sambil melepaskan pegangannya,
sehingga penjaga itu hampir jatuh.
Tentu saja semuanya menjadi kaget melihat peristiwa yang
sangat mendadak itu. Dengan pandang mata penuh
pertanyaan mereka menatap Chin Yang Kun yang mukanya
putih pucat itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Yang hiante, kau tenanglah…..! kenapa kau ini
sebenarnya?” Toat-beng-jin cepat merangkul pundak Chin
Yang Kun dan berkata halus.
Dengan gelisah pemuda itu melepaskan diri dari pelukan
Toat-beng-jin.
“Maaf, Lo-cianpwe…..siauw-te harus cepat-cepat kembali!
Tolong perintahkan kepada penjaga agar supaya
mengambilkan kudaku, sebab siauw-te ingin segera
membuktikan kebenaran berita ini,” pemuda itu berkata
terengah-engah.
Toat-beng-jin mengangguk dan memberi isyarat kepada
penjaga yang dicengkeram lehernya oleh Chin Yang Kun tadi
agar melaksanakan perintah pemuda tersebut. Lalu dengan
hati-hati orang tua itu bertanya kepada Chin Yang Kun. “Yang
hian-te…..! sementara penjaga itu mengeluarkan kudamu,
bolehkah aku bertanya sedikit padamu?”
Chin Yang Kun menatap Toat-beng-jin dengan sikap raguragu,
lalu mengangguk.
“Silahkan…..!” katanya seret.
“Begini, Yang hian-te…..mengapa kau lantas kelihatan
gelisah dan khawatir begitu mendengar berita tertangkapnya
pemimpin para perajurit pendatang dari kota raja itu? Apakah
engkau mempunyai hubungan keluarga atau persahabatan
dengan orang itu?” orang tua itu bertanya dengan hati-hati.
“Benar, Lo-cianpwe….” Chin Yang Kun cepat-cepat
mengiyakan. “Pemimpin para perajurit yang datang dari kota
raja itu adalah Liu Ciangkun atau Liu twa-ko, kakak
angkatku…..”
“Ohoo…..begitu. Nah, itu dia kudamu!” Toat-beng-jin
menunjuk ke arah halaman. “Silahkanlah! Kami tak bisa
menahan lagi kalau begini. Sebenarnya kami ingin berbicara
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
panjang lebar denganmu, tapi…..tak apalah. Besok masih
banyak kesempatan lagi.”
“Terima kasih! Sekali lagi terima kasih atas perjamuan ini,
siauw-te mohon diri.”
Setelah berpamitan kepada semua orang, Chin Yang Kun
melompat ke atas punggung si Cahaya Biru dan selanjutnya
berlari keluar dari Gedung Pusat Aliran Im-yang-kauw itu. Di
jalan-jalan ia masih melihat adanya kesibukan luar biasa dari
para perajurit itu. Banyak diantaranya yang masih berjalan
atau berlari-lari dengan tergesa-gesa menuju ke rumah makan
itu. Dan dari jauh juga masih terdengar suara terompet sayupsayup
ditiup orang.
Chin Yang Kun terperanjat ketika melihat jalan besar di
depan rumah makan itu telah penuh dengan perajurit. Mereka
telah berbaris rapi dan siap untuk berangkat ke medan laga.
Belasan orang perajurit tampak membawa obor-obor besar
untuk menerangi tempat itu. Sementara itu para perwiranya
juga telah siap siaga di atas punggung kuda mereka masingmasing.
Chin Yang Kun cepat menerobos kumpulan perajurit itu dan
mencari Siangkoan Ciangkun di halaman Rumah Penginapan.
Dan begitu melihat perwira itu turun dari tangga depan, Chin
Yang Kun segera menyongsongnya.
"Siangkoan Ciangkun……!" teriaknya memanggil.
Perwira itu terkejut. "Hai ! Saudara Yang…..!” sambutnya
dengan keras pula.
Chin Yang Kun bergegas melompat turun, lalu berlari
menghampiri perwira itu.
“Siangkoan Ciangkun, apakah yang terjadi?" pemuda itu
segera mendesak dengan pertanyaannya, sehingga Siangkoan
Ciangkun menjadi gugup pula jadinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Saudara Yang…. anu....Hong-siang tertangkap,eh…...
maksudku Liu….Liu Ciangkun, ahh !" perwira itu menjadi
gagap.
“Hei? Siangkoan Ciangkun, katakan yang benar….. Hongsiang
atau Liu twako?" Chin Yang Kun berteriak tegang seraya
memegangi tangan Siangkoan Ciang-kun erat-erat.
“Anu….. eh…... keduanya ! Ya…..ya, keduanya tertangkap
pasukan pemberontak !" saking gugupnya perwira itu
menjawab saja sekenanya.
"Ooooh.…..," pemuda itu menjadi lemas tubuhnya.
“Siangkoan Ciang-kun, seluruh pasukan telah siap untuk
diberangkatkan !" tiba-tiba seorang perwira muda melapor
kepada Siangkoan Ciang-kun.
"Bagus ! Matikan obor-obor itu ! Kita berjalan tanpa
penerangan lampu….." Siangkoan ciang-kun menjawab sambil
melambaikan tangannya.
"Ciang-kun, kau…… kau mau berangkat ke mana ?" Chin
Yang Kun mengangkat kepalanya dengan kaget.
"Menolong Hong-siang!" Siangkoan Ciangkun menjawab
seraya melompat ke punggung kudanya. "Ayoh, kita
berangkat.......!"
"Hei ! Siangkoan Ciang-kun……. saya ikut. Akupun juga
harus menolong Liu twa-ko!” Chin Yang Kun berteriak,
kemudian melompat pula ke punggung Cahaya Biru.
Beberapa orang perajurit pengawal berusaha menghalanghalangi
ketika pemuda dengan kudanya hendak mendekati
Siangkoan Ciang-kun. Tapi perwira tinggi itu segera melarang
mereka. "Biarkan pemuda itu berada bersamaku.......!"
bentaknya.
Demikianlah, hanya dengan penerangan sinar bintangbintang
di langit, pasukan itu merayap perlahan meninggalkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kota Sin-yang. Derap langkah mereka gemuruh mengecutkan
hati para penduduk yang mereka Iewati. Pasukan itu keluar
dari pintu kota sebelah utara, kemudian menerobos kegelapan
malam, menuju ke perbukitan yang menjulang tinggi di utara.
"Ciang-kun, bagaimanakah peristiwanya sehingga Hongsiang
dan Liu twa-ko sampai tertangkap oleh pasukan
pemberontak itu ? Bukankah Hong-siang dan Liu twa-ko itu
membawa pasukan yang sangat kuat ?” Chin Yang Kun
mendekatkan kudanya ke arah Siangkoan Ciang-kun, lalu
bertanya perlahan.
"Entahlah, Saudara Yang.....!" perwira itu menggelengkan
kepalanya. "Tiba-tiba saja tadi ada seorang perwira yang
pulang ke kota sendirian dan melapor kepadaku perihal
keadaan Hong-siang. Katanya Hong-siang dan seluruh
pasukannya terjebak di sebuah jurang paling dalam sehingga
Hong-siang........ Hong-siang tertangkap !"
“Ohh .... lalu…… Ialu bagaimana dengan Liu twa-ko?”
“Entah ! Kukira……..kukira dia juga tertangkap pula seperti
Hong-siang."
“Hmmmh!” Chin Yang Kun menggeram. Dua telapak
tangannya terkepal erat-erat.
Sementara itu malam semakin larut juga. Dinginnya bukan
kepalang. Tapi biarpun begitu keringat masih juga mengalir di
setiap tubuh para perajurit itu. Dengan semangat meluap
mereka terus berjalan, mendaki daerah perbukitan yang
jarang diinjak oleh manusia itu. Mereka berderap menuju ke
jurang, di mana Hong-siang dan seluruh pasukannya
terperangkap.
Dan para perajurit itu semakin menjadi tidak sabar pula
ketika sayup-sayup mulai terdengar suara pertempuran di
kejauhan. Selangkah demi selangkah mereka mulai berlari-lari
kecil menuruni lereng-lereng bukit yang berliku-liku itu. Dari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kejauhan mereka seperti barisan semut yang melingkar-lingkar
menuju ke liangnya.
"Awaaaas! Jangan keluar dari barisan…..!" para perwira
berteriak mengatur anak buah mereka sendiri-sendiri.
Chin Yang Kun menjadi tegang pula hatinya. Tak terasa
makin lama kudanya berlari semakin cepat sehingga
meninggalkan kuda Siangkoan Ciang-kun.
"Saudara Yang, hati-hati.......! Kau jangan keluar dari iringiringan
ini! Salah-salah kau dikira musuh nanti !" Siangkoan
Ciang-kun berteriak.
Tapi pemuda itu sudah tidak mempedulikan seruan
tersebut. Kekhawatirannya terhadap Liu twa-konya membuat
pemuda itu sudah tidak sabar lagi untuk segera tiba di jurang
itu.
“Siangkoan Ciang-kun…..! maaf, aku pergi mendahului……!”
Begitulah, pemuda itu segera memacu si Cahaya Biru.
Beberapa orang perwira menoleh dan mengerutkan keningnya
ketika pemuda itu berderap melewati mereka. Meskipun
demikian mereka tak berbicara apa-apa, karena mereka tahu
bahwa pemuda itu adalah sahabat Siangkoan Ciang-kun,
komandan mereka.
Dengan pedoman suara pertempuran yang sayup-sayup
terdengar oleh telinganya, Chin Yang Kun menuju ke jurang
yang dimaksudkan itu. Beberapa kali kudanya hampir
terperosok ke dalam lobang atau jurang-jurang kecil yang
tertutup oleh semak-semak perdu di atasnya. Untunglah si
Cahaya Biru itu benar-benar kuda mustika yang jarang
terdapat di dunia. Selain mempunyai firasat dan perasaan
yang sangat peka, kuda itu juga mempunyai mata yang tajam
dan awas luar biasa. Hampir seperti tidak pernah diperintah
lagi, kuda itu mencari jalan sendiri menuju ke tempat
pertempuran itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Cahaya Biru, kau benar-benar kuda yang sangat hebat!
Aku sungguh bangga sekali kepadamu……!” Chin Yang Kun
merangkul leher kuda itu sambil memuji dengan suara manis.
Cahaya Biru mendongakkan kepalanya tinggi-tinggi ke
udara dan meringkik gembira. Kuda itu lalu bergerak semakin
lincah dan gesit. Ia seperti tahu akan pujian yang diterimanya,
sehingga celah-celah parit yang lebarpun dilompatinya pula.
“Hei! Hei! Tenanglah…..Cahaya Biru! Berhati-hatilah! Kita
tak perlu terlalu tergesa-gesa!” akhirnya malah Chin Yang Kun
yang menjadi ketakutan karena keberanian kuda itu.
Suara pertempuran itu semakin riuh dan nyaring terdengar
oleh telinga Chin Yang Kun. Dan beberapa saat kemudian
debu tampak mengepul di kejauhan, dan hal itu berarti bahwa
medan pertempuran telah berada di depan mata.
Chin Yang Kun segera mencari tempat yang baik dan
terlindung untuk melihat pertempuran itu. Dipanjatnya sebuah
dataran yang agak tinggi untuk mendekati tempat tersebut.
Dan selanjutnya, apa yang dilihat kemudian oleh pemuda itu
benar-benar sangat menggetarkan hatinya. Di bawah tebing
yang diinjaknya itu ternyata menganga sebuah jurang yang
kira-kira ada duapuluhan tombak dalamnya. Sebuah jurang
buntu, dimana seluruh sisi-sisinya adalah tebing terjal yang
sangat tinggi dan tak mungkin didaki oleh manusia biasa.
Hanya ada satu jalan keluar, yaitu sebuah celah sempit
selebar dua atau tiga tombak.
Tapi bukan jurang buntu itu yang menggetarkan hati Chin
Yang Kun, melainkan pertempuran seru yang terjadi di
dalamnyalah yang membuatnya tegang bukan main. Tampak
dengan jelas oleh pemuda itu sebuah pertempuran brutal dan
kasar dalam jumlah yang sangat besar. Kedua belah pihak
sudah berbaur menjadi satu, sehingga dalam keremangan
malam sungguh sukar membedakan lawan dan kawan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Meskipun demikian, dari tempatnya berdiri Chin Yang Kun
dapat dengan jelas melihat mereka. Dengan mudah pemuda
itu membedakan antara pasukan kerajaan dan pasukan
pemberontak. Pasukan kerajaan yang tadi sore dilihatnya
menyeberang jalan raya, kini kelihatan tinggal separuhnya
saja. Meskipun begitu mereka tetap bertempur dengan
semangat tinggi. Mereka tetap mempertahankan bendera dan
panji-panji yang mereka bawa. Desakan musuh yang tiga kali
lipat jumlahnya itu benar-benar tidak mempengaruhi
keberanian mereka. Mereka tetap bertahan biarpun korban
semakin banyak berjatuhan di pihaknya.
Sebaliknya, pasukan pemberontak yang ternyata terdiri dari
suku-suku liar itu bertempur dengan kasar dan kejam. Mereka
bertempur dan berkelahi seperti orang gila yang mengamuk di
tengah-tengah pasar. Ganas, keji dan sadis luar biasa !
Pasukan kerajaan itu benar-benar dalam keadaan yang
sangat mengkhawatirkan. Tampaknya saat kehancuran
mereka hanya tinggal menunggu waktu saja. Sementara itu
bala bantuan yang dibawa oleh Siangkoan Ciangkun belum
juga terdengar kedatangannya !
Chin Yang Kun menjadi gelisah dan tegang bukan main.
Dengan gugup pemuda itu mencari-cari Liu twa-konya di
antara ribuan orang yang bertempur mengadu jiwa tersebut.
Tapi pekerjaan itu sungguh sulit bukan kepalang, rasa-rasanya
seperti mencari sebatang jarum di antara tumpukan jerami
yang berserakan.
"Bagaimana ini ? Adakah yang harus kulakukan?
Apakah.…..apakah aku harus terjun pula ke dalam peperangan
itu? Tapi....... rasanya akan Iebih sulit lagi mencari seseorang
di dalam suasana yang ribut seperti itu ! Hmm…. Eh, apakah
itu ?"
Tiba-tiba Chin Yang Kun melihat sesuatu yang aneh akan
sesuatu yang lebih dalam arena pertempuran itu. Di bagian
belakang dari arena pertempuran itu, yaitu persis di bawah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tebing yang diinjaknya, pemuda itu melihat bendera Hongthian-
Iiong-cu berkibar di atas kereta perang. Dan kereta itu
sudah tidak ada kudanya lagi. Meskipun demikian kereta itu
tampak dijaga dan dipertahankan oleh tigapuluh atau
empatpuluh perajurit pengawal secara mati-matian. Mereka
membentuk semacam perisai bersap-sap di sekeliling kereta
itu.
"Ouh ...... kalau tak salah itu adalah kereta Hong siang.
Tampaknya kaisar itu belum tertangkap seperti yang
dikabarkan oleh perwira yang dapat meloloskan diri dari
kepungan itu. Hmm, kalau begitu Liu twa-ko tentu juga masih
selamat pula. Sebagai seorang perwira tinggi yang
bertanggung jawab dia tentu tak pernah lepas dari sisi
Baginda........”
Berpikir tentang kemungkinan dan harapan seperti itu, Chin
Yang Kun menjadi semakin tegang dan gelisah sekali. Sekali
lagi dijenguknya tebing curam di bawahnya.
"Wah....... tebing ini luar biasa terjal dan tingginya ! Sayang
aku tak mempunyai ilmu Cecak Merayap, sehingga aku tak
bisa merayap seperti cecak ke bawah. Dengan Liong-cu-Ikang,
jari-jariku memang bisa melubangi dinding-dinding batu
keras itu, tapi kalau harus menggendong Liu twa-ko ke atas
nanti…..rasa-rasanya aku takkan sanggup lagi ! …...
bagaimana ini?"
Di dalam kebingungannya tiba-tiba pemuda itu teringat
bahwa sebagai kuda perang Si Cahaya Biru itu juga
diperlengkapi dengan gulungan tali pula di peIananya.
"Ah…… benar! Mengapa aku tak ingat lagi ?" desahnya
gembira.
Lalu dengan cekatan pemuda itu mengambilnya. Dicarinya
sebatang pohon yang sekiranya kuat menahan berat
badannya nanti, kemudian tali itu diikatkannya ke sana.
Setelah itu tanpa membuang-buang waktu lagi Chin Yang Kun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melorot turun dengan cepat. Sesekali pemuda itu
mencengkeram dinding batu dengan Liong-cu-I-kangnya,
untuk menahan agar tubuhnya yang bergantung itu tidak
berputar-putar dan terayun-ayun kesana kemari.
Saking gelisah dan tegangnya melihat keadaan yang
semakin memburuk di pihak para perajurit yang melindungi
kereta itu, Chin Yang Kun meluncur turun bagai anak panah
cepatnya ! Pemuda itu tidak menyadari kalau ujung tali yang
dipegangnya itu ternyata tidak cukup untuk mencapai dasar
jurang! Dan pemuda itu baru menyadari kecerobohannya
ketika secara mendadak tubuhnya melayang turun tanpa
pegangan lagi !
Chin Yang Kun menjadi gugup! Otomatis tubuhnya bersiapsiaga
dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Dan
untung juga bagi pemuda itu, karena dasar jurang itu hanya
tinggal beberapa tombak saja lagi. Meskipun demikian, ketika
kaki pemuda itu meluncur menghantam atap kereta, kereta itu
berderak hancur berkeping-keping !
Brraaaaak !
Untuk sekejap pertempuran di sekitar kereta itu berhenti
dengan mendadak ! Terjunnya Chin Yang Kun dari atas, yang
kemudian menyebabkan hancurnya kereta perang yang
dipertahankan secara mati-matian oleh para perajurit itu
sungguh sangat mengagetkan dan mengejutkan semua orang
!
Jilid 36
TAPI Chin Yang Kun sendiri ternyata juga tidak kalah
kagetnya dibandingkan dengan orang-orang itu. Begitu atap
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kereta itu hancur tertimpa tubuhnya, sekilas pemuda itu
melihat tubuh Liu twa-konya terbujur kesakitan di dalam
kereta tersebut!
"Liu twa-ko......!" pemuda itu menjerit keras sekali.
Lalu seperti kilat cepatnya pemuda itu menyambar tubuh
yang terbaring diam di dalam kereta tersebut. Dan hanya
sekejap saja, selagi semua orang terpaku diam menyaksikan
kejadian yang mendadak itu, Chin Yang Kun telah melesat
tinggi ke udara, membawa tubuh Liu twakonya ke atas
dinding, untuk mencapai tali yang tergantung itu.
Barulah orang-orang itu, baik dari pasukan kerajaan
maupun pasukan pemberontak, menjadi sadar kembali dari
kekagetan mereka, ketika Chin Yang Kun telah mencapai tali
yang tergantung dari atas itu.
"Hai ! Orang itu telah menculik Hong-siang…….!”
"Hong siang diculik orang.......!"
"Lepaskan panahhh........!”
"Hah ! Jangan.....! Nanti mengenai tubuh Hong-siang !
Goblog !”
"Bangsat ! Kaisar itu lepas dari kepungan kita !”
Tempat itu lalu menjadi riuh oleh teriakan dan umpatan.
Para perajurit berteriak-teriak khawatir atas keselamatan
Hong-siang, sementara para pemberontak mengumpat-umpat
marah karena korban yang telah berada di depan mulut itu
kini dirampas orang.
Sementara itu Chin Yang Kun telah dapat menggapai
talinya kembali. Dan selagi orang-orang yang berada di
bawahnya itu masih kebingungan dan tak tahu apa yang mesti
mereka lakukan, pemuda itu telah bergerak naik dengan
cepatnya. Tali kecil dari urat kerbau itu bergetar hebat karena
harus menahan beban berat dua orang sekaligus !
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dan sesaat kemudian orang-orang yang berada di bawah
tebing itu bertempur pula kembali dengan hebatnya ketika
para perajurit kerajaan berusaha menghalang-halangi para
pemberontak melepaskan anak panah mereka.
Begitu dahsyatnya pertempuran mereka sehingga mereka
tak ada waktu lagi untuk mengurus Chin Yang Kun.
Dan kesempatan tersebut benar-benar dipergunakan oleh
Chin Yang Kun. Dengan mengerahkan segala kemampuannya
pemuda itu merangkak naik bagaikan seekor monyet yang
menggendong anaknya.
"Liu twa-ko... bertahanlah! Kita akan selamat !
Percayalah….!" Chin Yang Kun menghibur ketika terdengar
suara desah kesakitan Liu twa-konya.
"Kau...... kaukah itu, adik Yang ?" Hong-siang mengerang.
"Benar, twa-ko……! Adikmu datang menolongmu ! Jangan
khawatir, kita akan selamat ! Mereka tak mungkin bisa
mengejar kita…….!”
"Hahahaha….. siapa bilang kalian akan selamat ? Sekali
kuputuskan tali ini, kalian berdua akan segera menghadap
Giam-lo-ong (Raja Akhirat), hahahaha……..!”
Tiba-tiba tali tempat Chin Yang Kun dan Liu twa-konya
bergantung itu bergoyang-goyang dengan hebat ! Dan ketika
dengan perasaan kaget pemuda itu menengadahkan
kepalanya, wajahnya menjadi pucat seketika ! Di atas tebing,
yaitu di tempat mana ia menambatkan tali itu, tampak berdiri
beberapa orang lelaki dan seorang perempuan tua menantikan
kedatangannya !
"Gila….!" Chin Yang Kun mengumpat.
Pemuda itu berusaha berpegangan atau mencengkeram
dinding tebing, tapi tak bisa. Tali itu bergoyang dan berputarputar
dengan hebat sehingga otomatis Chin Yang Kun juga
terayun dan berputar-putar pula dengan cepatnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hayo, anak muda kau lepaskan tidak kaisar busuk itu?
Hahaha…! Lepaskanlah saja, nanti kami akan
mempertimbangkan, apakah kau juga akan kami bunuh atau
tidak, hahaha...!" terdengar lagi suara tawa orang yang
berada di atas tebing itu.
"Benar ! Kami akan menghitung sampai sepuluh!
Pikirkanlah baik-baik ! Kau ingin mati bersama kaisar busuk itu
atau mau mendapatkan kesempatan untuk hidup?" yang Iain
ikut mengancam pula.
"Nah, kami akan mulai menghitung…..! Satu!" terdengar
suara wanita melanjutkan kata-kata itu.
Peluh bercucuran di tubuh Chin Yang Kun dan
kekhawatirannya semakin memuncak! Ada sedikit perasaan
takut menyelinap ke dalam hati pemuda itu. Tapi bukan
khawatir terhadap keselamatannya sendiri, melainkan
khawatir terhadap keselamatan Liu twa-konya ! Selain itu,
pemuda itu dibuat bingung dengan teriakan-teriakan atau
ancaman-ancaman lawannya, tentang "kaisar busuk" yang
dibawanya. Beberapa kali orang yang berada di atas tebing itu
selalu menyebut Liu twa-ko sebagai..... Kaisar Busuk! Apakah
orang-orang itu telah salah melihat? Jangan-jangan orangorang
itu menyangka Liu twa-konya sebagai Kaisar Han,
karena Liu twa-konya itu berada di kereta Hong-siang?
Tiba-tiba pemuda itu seperti melihat secercah harapan di
hadapannya. Bukankah orang-orang itu tampaknya hanya
menginginkan jiwa Kaisar Han? Nah, kalau ia bisa
menunjukkan kepada mereka, bahwa Liu twa-konya itu sama
sekali bukan Kaisar Han, bukankah ia dan Liu twa-konya akan
dilepaskan oleh mereka?
"Hei.....! Siapa yang berteriak-teriak tentang Kaisar Busuk ?
Jangan ngawur! Lihatlah baik-baik! Orang yang kugendong ini
adalah Liu Ciangkun, seorang perwira kepercayaan Kaisar
Han! Dia bukan ….. Kaisar Han ! Tahu?" Chin Yang Kun
berseru kuat-kuat untuk meyakinkan orang-orang itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hah….? Apa? Huuah-hah-hah-hahahaha…..! Bocah goblog
! Bocah sinting ! Kau mau mengelabuhi kami, yaa…..?
Hahahaha….. tidak bisa ! Kau kira kami belum pernah
mengenal dan melihat Kaisar Han atau Kaisar Busuk itu, hah?
Kaulah yang ngawur! Kami semua ini telah mengenal Kaisar
Busuk itu seperti kami mengenal orang tua kami sendiri,
hahahah…..! Ayoh, cepat lepaskan!"
"Benar! Kami tidak bisa kau tipu dengan akal bulusmu,
anak muda! Nah... dua! Tiga…! Empat ...,! Lima....!” suara
wanita tadi menyahut pula, lalu meneruskan hitungannya.
"Kurang ajar ! Kau... eh, kalian tidak percaya kepadaku?
Kubunuh….."
Chin Yang Kun berteriak marah-marah. Tapi tiba-tiba
lengannya dicengkeram oleh Liu twa-konya.......!
"Adik Yang.......! Kau tak perlu berteriak-teriak lagi ! Mereka
takkan bisa kau kelabuhi lagi! Mereka benar-benar telah
mengenal aku ......" Hong-siang berbisik perlahan di telinga
Chin Yang Kun.
"Liu twa-ko, mereka ingin membunuh Kaisar Han! Bukan
kau.......!"
Hong-siang mencengkeram lengan Chin Yang Kun lebih
erat lagi dan mulutnya tersenyum pahit.
"Adik Yang, maafkanlah aku......! Selama ini kakakmu telah
membohongimu….. Mereka memang benar. Aku adalah.......
Kaisar Han ! Adik, maafkanlah …...!"
"Ohh !”
Pukulan itu benar-benar mengejutkan Chin Yang Kun!
Saking kagetnya hampir saja pegangan tangan pemuda itu
lepas dari tali yang digantunginya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Liu...... Liu twa-ko, mengapa kau berbuat itu? Padahal…..
padahal aku sudah terlanjur menyayangimu…...
menghormatimu, karena kau telah menolong jiwaku.”
"Itulah pula yang menjadi sebabnya, adikku. Entah
mengapa akupun lantas merasa tertarik pula kepadamu,
seolah-olah aku ini…… bertemu dengan adik atau keluargaku
sendiri. Itulah pula yang menyebabkan aku lalu berbohong
kepadamu. Aku ingin bersahabat atau mengangkat saudara
denganmu. Dan hal itu hanya dapat aku lakukan dengan wajar
bila kau tahu bahwa aku bukan seorang raja atau kaisar.......”
"Twa-ko…….”
Sementara itu wanita tua yang berada di atas tebing itu
telah menghitung sampai hitungan ke sepuluh!
“Anak bandel! Kalian tampaknya memang ingin mati
bersama. Baik. Silahkan ........!” terdengar suara keras dan
kasar dari lelaki yang pertama tadi.
Tiba-tiba tali tersebut putus ! Otomatis tubuh Chin Yang
Kun dan Kaisar Han tersentak jatuh ke bawah.
"Adik Yang, ternyata kita berdua akan mati bersama.......!”
sambil berteriak Kaisar Han merangkul Chin Yang Kun lebih
erat.
"Tidaaaak .......! Aku belum mau mati !” pemuda itu
menjerit.
Mendadak dengan kekuatan penuh, kedua tangan Chin
Yang Kun mencengkeram ke arah dinding tebing! Dalam
keputus-asaannya, tenaga sakti Liong-cu-i-kang pemuda itu
ternyata menjadi berlipat ganda besarnya !
Krrrrrrr .....! Secara tiba-tiba kedua lengan pemuda itu
bertambah panjang dua atau tiga kali lipat panjangnya,
sehingga jari-jarinya dapat mencapai dinding tebing dengan
kerasnya!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Crrrept! Crept !"
Dinding batu yang keras bukan kepalang itu ternyata
dengan mudah dicengkeram oleh jari-jari tangan Chin Yang
Kun! Begitu mudahnya seolah-olah dinding batu itu cuma
terbuat dari tepung atau agar-agar saja ! Dan jari-jari itu
kemudian mencengkeram dengan kuatnya untuk menahan
agar tubuh itu tidak terus meluncur ke dalam jurang !
Sekejap kedua lengan Chin Yang Kun, yang menahan
beban berat itu, memanjang lagi seperti karet, lalu setelah
daya luncur itu habis, secara pelan-pelan kemudian kembali
lagi ke ukuran semula. Dan..... pemuda itu bersama Liu twakonya,
selamat dari kehancuran di dasar jurang.
Dan semua yang dilakukan oleh pemuda itu diikuti dengan
mata terbelalak oleh Kaisar Han!
"Sungguh mentakjubkan ! Adik Yang..... apa yang telah
kaukerjakan tadi?” Kaisar Han berseru hampir tak percaya.
Saking kagum dan takjubnya, kaisar itu sampai melupakan
rasa takut yang mencekam hatinya ketika terjatuh tadi.
Tapi Chin Yang Kun tidak menjawab pertanyaan Kaisar Han
tersebut. Dengan cekatan pemuda itu justru mengambil tali
yang masih membelit tubuhnya. Dan hanya dengan satu
tangan bergantung di dinding tebing pemuda itu mengikat
tubuh Kaisar Han.
"Twa-ko, maaf... kau terpaksa kuikat dulu pada lubang
yang kubuat ini. Nanti setelah aku membereskan orang-orang
yang berada di atas itu, akan menarikmu ke atas tebing.”
pemuda itu berkata kepada Kaisar Han atau Liu twa-konya.
Kaisar Han mengangguk-anggukkan kepalanya serta
menatap Chin Yang Kun dengan sinar mata penuh
kepercayaan. "Baik, adik Yang..... kau berhati-hatilah !
Terutama kau harus berhati-hati dengan wanita tua itu. Dialah
yang pertama kali melukai aku. Yang lain tidak perlu
kaukhawatirkan. Mereka cuma kepala-kepala suku liar yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hanya mengandalkan otot belaka. Diantara mereka cuma satu
yang harus sedikit kauawasi, yaitu lelaki yang berteriak
dengan suara kasar tadi. Dia mahir pukulan beracun!"
Chin Yang Kun mendengarkan pesan itu sambil
menyelesaikan ikatan Hong-siang sebaik-baiknya, agar supaya
tidak terjatuh atau merasa sakit bila terlalu lama ia tinggalkan
nanti. Setelah itu Chin Yang Kun menggerakkan segala
kemampuannya kembali untuk merayap ke atas tebing. Jarijarinya
yang penuh tenaga sakti Liong-cu-I-kang itu melubangi
dinding batu bagaikan melobangi tanah yang lunak saja,
sehingga beberapa saat kemudian dia telah berada di bibir
tebing tanpa kesuIitan.
Dan kemunculan Chin Yang Kun yang tak terduga itu
sungguh sangat mengejutkan orang-orang tadi. Mereka benar
kaget karena mereka sedang membujuk dan mengagumi kuda
yang ditinggalkan oleh Chin Yang Kun. Dan kuda itu tampak
melawan !
"Awas……! Anak muda itu datang memanjat tebing!” lelaki
bersuara kasar itu berteriak sambil menunjuk ke arah Chin
Yang Kun.
Orang-orang itu yang ternyata terdiri dari tiga orang lelaki
dan satu orang wanita tua, segera bersiap-siaga menghadapi
Chin Yang Kun. Dan pemuda itu sendiri juga kaget sekali
ketika mengenali wanita tua itu.
"Huh...... Siang-houw Nio-nio !” pemuda itu menggeram
begitu ingat kepada wanita tua yang dulu pernah bertempur
dan menenggelamkan dirinya di telaga belakang istana itu.
Sebaliknya wanita tua yang tidak lain adalah Siang houw
Nio-nio itu ternyata sudah tidak mengenal Chin Yang Kun Iagi.
"Benar, akulah yang datang…..!" teriaknya seraya menyerang
Chin Yang Kun.
Kedua tangan wanita itu berputar ke depan, seperti orang
mau menyerahkan nampan berisi makanan, setelah itu lalu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyodok lagi ke depan seraya melangkahkan kaki kanan ke
muka. Dan tiba-tiba saja ujung jari kiri itu telah mengancam
ulu hati Chin Yang Kun! Tampaknya gerakan itu sangat
sederhana, tetapi ternyata pengaruhnya bukan main hebatnya
! Dari ujung jari-jari itu seolah-olah meluncur hawa tajam
yang mampu mengiris atau membelah benda-benda yang
dilaluinya. Ssrrrt.......!
“Terimalah jurus menyusupkan Benang ke Lobang Jarum
ini .....!” Siang-houw Nio-nio membentak keras.
Chin Yang Kun cepat memiringkan tubuhnya lalu dengan
ujung lengan bajunya pemuda itu menangkis telapak tangan
itu. Taas......!
Telapak tangan wanita tua itu terpental ke samping dengan
kuatnya, sehingga tubuh wanita tua itu sampai terhuyunghuyung
mau jatuh. Tapi sebaliknya pemuda itu sendiri juga
terperanjat sekali begitu melihat ujung lengan bajunya
terpotong, bagai kena gunting atau pisau cukur yang tajam !
"Jahanam! Ternyata kau memiliki ilmu juga kiranya…."
dalam kemarahannya Siang-houw Nio-nio mengumpat-umpat.
"Ah, kaupun semakin tua ternyata juga semakin berbahaya
........" Chin Yang Kun menjawab pula.
"Hei........ Nio-nio! Mari kita cincang saja anak ini bersamasama,
biar menghemat waktu !" lelaki bersuara kasar itu
datang memasuki arena pula.
"Benar juga apa yang telah dikatakan oleh Saudara Kosang
itu, Nio-nio.......! Mari kita lumpuhkan saja anak ini bersamasama,
agar lebih cepat selesai!" seorang kepala suku yang lain
ikut menyetujui pendapat lelaki bersuara kasar itu.
"Betul ! Akupun sepakat pula denganmu. Saudara Wei! Mari
kita sikat dia!" lelaki ketiga, yang berkulit hitam dan
mengenakan pakaian model Bangsa Uighur, berteriak pula
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sambil menyerang Chin Yang Kun dengan pedang
bengkoknya.
Demikianlah, Siang-houw Nio-nio terpaksa tidak bisa
menolak bala bantuan para kepala Suku Bangsa Mongol, Wei
dan Uighur itu. Mereka adalah orang-orang kasar yang sangat
besar sekali rasa setia kawannya. Dan mereka justru akan
tersinggung dan menjadi marah apabila maksud baiknya itu
ditentang.
Kepala Suku Mongol yang bernama Kosang itu
bersenjatakan sebuah penggada besar, sementara kedua
kawannya memegang pedang. Cuma bedanya pedang yang
dipegang oleh orang Uighur itu badannya bengkok, seperti
pedang bangsa Parsi atau Persia. Mereka bertiga membantu
Siang-houw Nio-nio, menyerang Chin Yang Kun !
Sebenarnya kepandaian ketiga kepala suku bangsa liar itu
tidaklah berbahaya. Tapi oleh karena yang dihadapi Chin Yang
Kun tersebut adalah Siang houw Nio-nio, maka kehadiran
mereka itu cukup mengganggu pula. Malahan beberapa kali
serangan mereka itu membuat pemuda itu salah langkah,
sehingga serangan-serangan Siang-houw Nio-nio yang
berbahaya itu hampir-hampir mencelakakan pemuda itu.
Akhirnya Chin Yang Kun menjadi marah pula. Apalagi jika
pemuda itu mengingat bahwa Liu twa-konya masih tergantung
di bawah tebing, dan lekas-lekas memerlukan bantuannya.
Maka tidak boleh tidak pemuda itu lalu mengerahkan Kim-coaih-
hoatnya! Mulutnya berdesis, sementara kulitnya secara
perlahan-lahan berubah kekuning-kuningan.
Dan Siang-houw Nio-nio segera mencium bahaya itu.
"Awaaaas! Hati-hati........!" wanita tua itu memperingatkan
kawan-kawannya.
Tapi orang-orang yang memperoleh peringatan itu tidak
mempedulikannya. Orang-orang yang di dalam suku
bangsanya merupakan orang terkuat dan tidak terkalahkan itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terlalu percaya kepada kehebatannya sendiri, sehingga
mereka tidak percaya atau mengabaikan peringatan itu. Sama
sekali mereka tidak percaya kalau pemuda kurus itu akan bisa
membahayakan jagoan-jagoan terkenal dari suku bangsa liar
seperti mereka. Apalagi kini mereka bertiga !
Maka pertempuran satu lawan empat itu Ialu berlangsung
kembali dengan serunya. Masing-masing berusaha dengan
sekuat tenaga mereka untuk cepat-cepat membereskan Iawan
mereka. Cuma sekarang keempat lawan Chin Yang Kun ini
menjadi tercengang dan sibuk menyaksikan perubahan ilmu
silat pemuda itu. Sebuah ilmu silat yang menakutkan serta
mengerikan!
Dengan ilmu silat yang sedang dimainkannya itu Chin Yang
Kun seperti berubah menjadi seorang manusia tak berbentuk !
Enak saja pemuda itu memutar lehernya sehingga kepalanya
menghadap ke belakang, atau kadang-kadang pemuda itu
melangkah ke belakang dengan gesit dan tangkasnya seperti
orang yang sedang bergerak ke depan saja! Maka tidaklah
heran kalau lawan-lawannya itu semakin lama semakin
bingung menghadapi pemuda itu! Lambat laun orang-orang
itu tidak bisa membedakan mana bagian muka dan mana
bagian belakang dari Chin Yang Kun !
Mulailah kepala-kepala suku yang semula tak mempunyai
perasaan takut itu menjadi ketakutan dan merasa ngeri ! Dan
ketakutan mereka semakin menjadi-jadi ketika menyaksikan
lengan dan kaki pemuda itu dapat memanjang dan memendek
sesuka hatinya !
"Ini........ ini.... ooh, gila! Masakan ju…..jurang ini ada
hantunya?" Kosang yang kasar dan berangasan itu meloncat
mundur dengan mata terbelalak.
Dan kawan-kawannya pun ikut berloncatan mundur pula.
Semuanya tampak menggeletar tubuhnya. Apalagi angin
malam tiba-tiba meniup dengan kencangnya !
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bukan! Dia bukan hantu! Dia seorang manusia biasa! Dia
memang mempunyai ilmu seperti hantu, tapi bukan
hantu……!” Siang-houw Nio-nio berteriak.
"Tetapi........" Kosang membantah dengan suara ragu.
"Sudahlah, hilangkan saja ketakutan kalian itu ! Yang
penting kita harus lekas-lekas membereskan dia ! Bukankah
kalian tadi ... ?"
Siang-houw Nio-nio yang sedang berusaha meyakinkan
teman-temannya itu tiba-tiba menghentikan perkataannya.
Dengan wajah pucat wanita tua itu memasang telinganya.
Sayup-sayup terdengar sorak-sorai yang bergemuruh di
bawah jurang itu, yang makin lama makin jelas dan keras.
Wanita tua itu cepat meninggalkan Chin Yang Kun dan
pergi ke bibir tebing. Dengan hati berdebar wanita itu
menjenguk ke bawah. Dan tiba-tiba wajahnya berubah
menjadi gembira dan berseri-seri.
"Hihihi...... bagus ! Semua berjalan sesuai dengan
rencana,hihihi…….!” Wanita itu tertawa terkekeh-kekeh.
"Nio-nio, apa yang telah terjadi di bawah sana?” Kosang
bertanya tanpa berani memalingkan mukanya dari Chin Yang
Kun.
“Ya ! Apa yang terjadi ?” kepala suku Wei turut pula
mendesak.
"Sudah ! Tinggalkan saja bocah itu ! Biarlah ia tetap hidup !
Semuanya telah selesai...”
"Jadi….. ?" Kosang yang berwatak kasar itu tetap belum
mengerti juga.
"Pasukan Siangkoan Ciangkun telah tiba!” Siang-houw Nionio
menjelaskan dengan suara gembira. "Marilah kita ke
sana.......!"
"Baiklah, mari......!" serempak kawan-kawannya menjawab.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Anak muda...... kau benar-benar beruntung hari ini,”
sebelum meninggalkan tempat tersebut Siang houw Nio-nio
berkata kepada Chin Yang Kun.
Chin Yang Kun membiarkan saja mereka pergi. Bagi
pemuda itu semakin cepat mereka pergi semakin baik, karena
ia dapat lekas-lekas menolong Liu-twakonya pula. Maka begitu
keempat orang itu sudah tidak kelihatan lagi, ia bergegas
menjenguk ke bawah. Dilihatnya tali itu masih terikat baik
seperti ketika ia tinggalkan tadi.
Kemudian dengan sangat hati-hati sekali Chin Yang Kun
turun. Perasaan pemuda itu menjadi lega sekali begitu melihat
Liu-twakonya tidak kurang suatu apa. Perlahan-lahan pemuda
itu membawa Liu twa-konya ke atas, kemudian
membaringkannya di atas rumput.
"Twa-ko, engkau selamat sekarang. Marilah kubawa kau ke
kota, agar lukamu cepat mendapatkan pengobatan !"
Kaisar Han membuka matanya. Perlahan-lahan kepalanya
menggeleng.
"Adik Yang, bawalah aku sejauh-jauhnya dari tempat ini !
Sukurlah kalau kau mau membawaku ke muara Sungai Huangho….."
"Twa-ko..... kau gila ! Tempat itu sangat jauh dari sini, dan
kau sedang menderita luka dalam........ Mengapa kau tidak ke
kota raja? Di sana ada Siangkoan Ciangkun dan pasukannya
yang akan melindungimu."
"Apa ? Bangsat bermuka dua itu ? Hmmh!” Kaisar Han
mendengus marah.
"Hei ! Twa-ko.........ada apa dengan perwiramu itu ?"
"Sudahlah ! Panjang ceritanya. Nanti kuceritakan
kepadamu. Sekarang bawalah aku cepat-cepat pergi dari sini
!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Baik ! Baiklah.......!” meskipun masih bingung Chin Yang
Kun cepat mengiyakan.
Sebentar kemudian keduanya telah menerobos kegelapan
malam, meninggalkan tempat itu. Karena tidak mengenal
jalan, maka sekali lagi Chin Yang Kun mempercayakan jiwanya
kepada Si Cahaya Biru.
“Sebaiknya kita kembali saja ke kota. Bagaimana, twa-ko ?"
Yang Kun mencoba bertanya kepada Kaisar Han.
"Hah? Jangan.......!" Hong-siang menjawab cepat.
"Lhoh....... kenapa ? Bukankah pasukanmu kaupusatkan di
sana?” pemuda itu bertanya tak mengerti.
"Kita mengambil jalan ke selatan saja, lalu berbelok ke
timur. Kita menuju ke muara Sungai Huang-ho malam ini.
Besok pagi kita akan bisa menemui Yap Tai-ciangkun dan
pasukannya di sana. Itu lebih aman…….” Hong-siang
menjawab sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya, baiklah......! Tapi...... tolong katakan kepadaku,
mengapa twa-ko tak ingin kembali ke Sin-yang?" Chin Yang
Kun mendesak Kaisar Han.
Kaisar Han termenung sebentar. Wajahnya yang pucat itu
tampak sedih dan penasaran. Lalu jawabnya seraya menghela
napas panjang. "Pasukan yang berada di Sin-yang itu ternyata
tidak bisa kuharapkan Iagi. Pasukan itu telah banyak
kemasukan penghianat yang ingin menumbangkan
kekuasaanku........”
"Ohh......! Siangkoan Ciang-kun.....?"
"Dialah dalang atau biangkeladinya! Dia telah bersekongkol
dengan bekas Putera Mahkota Wangsa Chin, yang beberapa
bulan lalu menyerang kota raja. Siangkoan Ciangkun itulah
yang merencanakan perangkap di jurang itu. Dia dan bekas
Putera Mahkota itu ingin menjebak dan membunuhku di
tempat tersebut.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hmm........ tapi tampaknya dia.......” Chin Yang Kun
mencoba mengingat sikap dan tingkah laku perwira berkumis
lebat itu ketika menjamunya.
"Tampaknya rapi sekali, bukan? Memang benar, akupun
telah terkecoh dan terpedaya pula olehnya. Padahal orang itu
telah menjadi pengawalku sejak aku naik tahta.”
"Ahhh........” Chin Yang Kun berdesah.
Pemuda itu lalu teringat kepada Tung-hai Sam-mo. Semula
dia memang heran sekali melihat penjahat itu dapat menjadi
perajurit Kerajaan. Padahal selain bekas penjahat yang
terkenal, iblis-iblis itu pernah dilihatnya sebagai pengawal Siau
Ong-ya, di dusun Hok-cung beberapa pekan yang lalu. Kini
semuanya menjadi terang sudah baginya, bahwa antara Tunghai
Sam-mo dan para perwira itu memang sudah terjalin
semacam persekutuan yang tersembunyi.
"Makanya Siangkoan Ciangkun itu enak saja melihat Hongsiang
tidak pulang-pulang sampai larut malam. Tak tahunya
semuanya memang telah direncanakan........” pemuda itu
menghela napas dan bergumam di dalam hatinya.
Hening sejenak. Mereka berdua berkuda menyusuri
perbukitan itu ke arah selatan. Chin Yang Kun duduk di
depan mengendarai Si Cahaya Biru, sementara Kaisar Han
yang sedang sakit itu berada di belakang berpegangan Chin
Yang Kun.
"Adik Yang......." tiba-tiba Kaisar Han memanggil.
"Ya, twa-ko.....?"
"Aku tadi benar-benar khawatir dan ketakutan setelah
mengatakan kepadamu siapa aku ini sebenarnya...,..."
“Takut? Kenapa.......?"
"Aku takut kau lantas berubah sikap begitu mendengar aku
ini adalah Kaisar Han. Tapi ketakutanku itu ternyata tak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
beralasan sama sekali. Kau tetap bersikap biasa dan masih
menganggapku sebagai kakak......”
“Hmm…….”
"Eh, mengapa kau diam saja? Adik Yang, bagaimana
pendapatmu ?”
Chin Yang Kun tertunduk diam dan tidak lekas-lekas
menjawab. Baru beberapa saat kemudian pemuda itu
menyahut, "Untunglah twa-ko mengatakannya sekarang. Coba
kalau hal itu kaukatakan kemarin atau kemarin dulu, di mana
hatiku belum dingin dan mengendap seperti sekarang, kukira
tanggapanku akan lain sama sekali. Mungkin akupun juga
akan marah serta memusuhimu pula seperti orang-orang itu
tadi. Malahan kemungkinan juga aku akan membunuhmu.
Tapi sekarang semuanya sudah berubah. Api yang berkobar di
dalam dadaku telah padam. Tumpukan dendam yang
mengganjal di dalam jantungku telah larut sementara nafsuku
untuk berkuasa telah lama sirna pula.........."
“Adik Yang, kau.......!" Kaisar Han mencengkeram lengan
Chin Yang Kun dengan tubuh bergetar.
"Ketahuilah, twa-ko...... aku ini sebenarnya cucu Kaisar
Chin Si. Namaku Yang Kun, lengkapnya Chin Yang Kun !
Ayahku adalah Chin Yang, putera ketiga dari Kaisar Chin Si
Hong-te. Lihatlah...!" Chin Yang Kun menjelaskan seraya
menunjukkan guratan huruf "CHIN" di atas pundaknya.
"CHIN YANG……..?” tiba-tiba kaisar Han menjerit dengan
suara tertahan. "Oh, Tuhan…. terjawablah sudah teka-teki
yang selama ini selalu mengganggu hatiku? Kiranya.....kiranya
anak ini adalah puteranya. Ahh..... Makanya begitu melihatnya
aku Iantas menyukainya…..."
Kaisar Han mendongakkan kepalanya ke langit. Tampak
keharuan membelit hatinya, sehingga beberapa tetes air mata
kelihatan menitik di sudut matanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Twa-ko ? Apa katamu? Haah? Kau sudah kenal ayahku ?"
sekarang ganti Chin Yang Kun yang terkejut melihat sikap
Kaisar Han. Diguncangnya tubuh kaisar itu kuat-kuat sehingga
kaisar itu meringis kesakitan.
"Tidak ! Oh, tidak.....! Aku tidak mengenalnya, aku hanya
pernah mendengar namanya saja….." Kaisar Han berbohong
agar supaya pemuda itu tidak mendesak terus dengan
pertanyaannya.
Chin Yang Kun merasakan Liu-twakonya itu
menyembunyikan sesuatu hal kepadanya. Tapi karena Liutwakonya
itu tak mau mengatakannya, maka diapun juga tak
bisa memaksa untuk mengatakannya.
Mereka Ialu berdiam diri lagi. Dibiarkannya saja Si Cahaya
Biru memilih sendiri jalannya. Pokoknya mereka menuju ke
arah selatan. Dan jalan mulai melintasi hutan-hutan yang
besar-besar, suatu tanda bahwa mereka sudah mendekati
daerah perairan Sungai Huang-ho.
“Twa-ko .....! Omong-omong, bagaimana kau bisa
mengetahui kalau Siangkoan Ciangkun itu telah
mengkhianatimu?" Chin Yang Kun bertanya.
Kaisar Han menggeram perlahan. "Sama sekali aku tak
mengetahuinya. Aku baru sadar kalau orang itu mengkhianati
aku setelah dia dan komplotannya berhasil menjebak aku di
jurang tadi. Coba tadi kau tak datang menolong aku,
kesadaranku itu sudah tidak ada gunanya lagi. Aku tentu
sudah menjadi mayat di bawah jurang tadi."
"Ohh.......?”
"Seharusnya aku sudah mencurigainya ketika dalam
beberapa hari terakhir ini ia selalu menambah jumlah
perajuritnya dengan mengambil siapa saja yang mau menjadi
perajurit. Dan seharusnya aku juga sudah mencurigainya
ketika dia memilih sendiri para perwira yang akan turut dalam
perjalananku ini. Tapi........ternyata aku tidak mencurigainya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Malah ketika dia menyarankan agar aku pergi sendiri ke jurang
itu, akupun tidak mencurigainya pula. Aku baru sadar tatkala
pasukan pemberontak yang terdiri dan suku-suku liar
menyerbu rombonganku. Dan aku semakin sadar akan
terjadinya pengkhianatan itu ketika separuh dari pasukan yang
kubawa berbalik menyerangku."
"Lalu ....... siapakah yang telah melukaimu, twa-ko?"
“Aku dikeroyok banyak orang, diantaranya adalah Sianghouw
Nio-nio dan kepala-kepala suku liar itu. Sebenarnya aku
dapat melumpuhkan beberapa orang diantara mereka, tapi
karena jumlah mereka sangat banyak, maka akhirnya aku tak
bisa bertahan pula. Aku terluka dan hampir saja dapat mereka
bunuh. Untunglah para pengawal yang masih setia kepadaku
cepat menyelamatkan aku. Mereka berusaha mati-matian
membawa tubuhku ke kereta, kemudian mempertahankan
kereta tersebut......., sampai kau datang menolongku!”
“Hmmm!”
Keduanya lalu berdiam diri lagi. Masing-masing sibuk
dengan jalan pikiran mereka sendiri-sendiri. Dan sementara itu
kabut pagi mulai turun dengan pekatnya, sehingga udara
menjadi semakin dingin menusuk tulang. Apa lagi mereka
telah mulai memasuki daerah perairan Sungai Huang-ho yang
lembab dan basah.
Mereka berbelok ke timur menyusuri aliran Sungai Huangho,
dan semakin ke timur udara laut semakin terasa tajam
menghembus tubuh mereka. Dan tanah yang mereka lalui
juga bertambah sukar karena di tepi sungai itu hutannya
semakin rapat dan lebat. Si Cahaya Biru terpaksa berputar dan
menerobos ke sana ke mari untuk mencari jalan yang dapat
dilalui.
Beberapa saat kemudian sinar fajar mulai membayang di
ufuk timur, dan hutan belukar yang mereka lalui juga semakin
menjadi jarang, malahan akhirnya hanya semak-semak perdu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
saja yang mereka temukan. Tapi semak-semak itu begitu
lebatnya sehingga mereka terpaksa harus menjauhi aliran
sungai.
Bersamaan dengan terbitnya matahari di langit, mereka
tiba pula di dusun dekat muara Sungai Huang-ho itu. Dan
dengan petunjuk dari Kaisar Han, Chin Yang Kun membawa
kudanya ke desa tempat pasukan Yap Tai ciangkun itu
berkumpul. Dan di sana mereka segera disongsong oleh para
perajurit yang dengan cepat mengenal wajah junjungannya.
Malahan sesaat kemudian dengan tergopoh-gopoh Yap Taiciangkun
dan Gui-goanswe ke luar pula menjemput mereka.
Kaisar Han yang mengalami luka itu segera dibawa ke dalam
kamar untuk diperiksa.
"Haa! Kalian tidak perlu khawatir! Aku tidak apa-apa, cuma
luka ringan saja. Sebentar juga akan sembuh dengan
sendirinya…… Hei, Yap Tai ciangkun..... bagaimana dengan
tugasmu ?"
Semuanya sangat mengkhawatirkan luka sri baginda, tapi
baginda sendiri ternyata malah tidak mempedulikannya. Yang
ditanyakan justru tugas yang dia berikan kepada Yap Tai
ciangkun.
"Sebagian besar dari para pemimpinnya dapat kami
binasakan, Hong-siang. Cuma ada beberapa orang yang dapat
lolos, termasuk pemimpin utama dan pembantunya." Yap Tai
ciangkun menjawab.
"Sukurlah………!”
Demikianlah, setelah mengurus tempat dan keadaan
baginda, Yap Tai-ciangkun segera keluar untuk menemui
kakaknya, Hong-lui-kun Yap Kiong Lee. Bersama-sama dengan
kakaknya itu Yap Tai ciangkun pergi ke kamar Chu Seng Kun
untuk minta tolong, agar pemuda ahli pengobatan itu mau
mengobati baginda.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dan Chu Seng Kun yang baru saja mengobati dan
mendengarkan kisah adiknya itu segera bergegas ke tempat
Kaisar Han. Sebenarnya belum hilang rasa rindu pemuda itu
kepada adik perempuannya, tapi karena tenaganya sedang
dibutuhkan orang, maka terpaksa perasaannya itu ia pendam
dulu dalam hati.
Selesai memeriksa dan mengobati luka Kaisar Han, Chu
Seng Kun lalu mengajak Yap Kiong Lee dan Chin Yang Kun ke
kamarnya untuk meramu obat yang dia janjikan kepada
baginda. Setelah obat itu siap, obat itu lalu dibawa Yap Kiong
Lee keluar.
"Awas.......jangan sampai keliru ! Obat itu cuma digosokkan
saja di tempat yang terluka.......” sambil tersenyum Chu Seng
Kun berseru di belakang pintu.
Yap Kiong Lee menoleh dan tersenyum pula, tapi ia tak
menjawab sepatah katapun.
Chu Seng Kun menutup pintu, lalu menemui Chin Yang Kun
kembali.
“Adik Yang Kun, bagaimana khabarmu selama ini ? Ke
mana saja kau sejak di desa Hok-cung itu? Aku tak bisa
mengejarmu ketika itu." Chu Seng Kun segera memberondong
Chin Yang Kun dengan pertanyaannya begitu mereka hanya
tinggal berdua saja.
Chin Yang Kun berdesah. "Wah, panjang kalau
diceritakan....." pemuda itu menjawab, lalu serba sedikit
diceritakannya juga apa yang telah dialaminya.
"Ah..... jadi kau belum juga menemukan pembunuh
keluargamu? Lalu bagaimana dengan pembantu ayahmu yang
bernama Hek-mou-sai Wan It itu? Apakah kau belum
menemukannya pula ?"
Sekali lagi Chin Yang Kun berdesah dan menghela napas
panjang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tentu saja Chu Seng kun menjadi heran atas sikap
kawannya itu. "Eh, apakah yang telah terjadi? Mengapa kau
diam saja, adik Yang........?” tanyanya mendesak.
"Aku memang sudah menemukan pembantu ayahku itu,
tapi......."
"Tapi....... apa ?”
"Tapi aku menjadi kecewa melihatnya."
"Kecewa……? Ayoh! Cepatlah kau bercerita, jangan
disimpan saja !"
Chin Yang Kun menundukkan kepalanya. "Begini, Chu twako
...... Kelihatannya apa yang kukhawatirkan selama ini
memang benar juga. Dulu, ketika Chu twa-ko bercerita
tentang Hek-eng-cu, yang mempunyai seorang pembantu
tinggi besar berbulu lebat itu, aku sudah curiga di dalam hati.
Jangan-jangan orang yang Chu twako lihat itu adalah paman
Hek-mou-sai Wan It, orang yang kucari itu. Hmm ......
ternyata dua hari yang lalu aku benar-benar melihat dia
bersama Song-bun-kwi Kwa Sun Tek! Dan... mereka berdua
kelihatan akrab sekali. Ohhhh…….!"
"Hei.......?? Benarkah......?”
"Wah! Padahal tadi malam dia baru saja di sini bersama
Hek-eng-cu…." Chu Seng Kun berkata. Kemudian secara
singkat tabib muda itu bercerita tentang pertempuran yang
terjadi di Pantai Karang tadi malam.
"Ah, kalau begitu aku telah terlambat datang……..” Chin
Yang Kun bergumam dengan kecewa.
Keduanya lalu diam.
"Kalau begitu Chu twa-ko juga sudah bertemu dengan adik
Chu twa-ko yang hilang itu ?” tiba-tiba Chin Yang Kun
menengadahkan kepalanya dan bertanya kepada Chu Seng
Kun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Yah…….!" dengan lesu tabib muda itu menjawab dan
menganggukkan kepalanya.
Sekarang giliran Chin Yang Kun yang menjadi heran
melihat perubahan sikap kawannya itu. Tampaknya tabib
muda itu juga tidak bergembira setelah bisa menemukan
adiknya.
“Lhoh! Twa-ko, apa yang terjadi? Mengapa engkau malah
kelihatan bersedih? Bukankah Twa-ko seharusnya bergembira
karena adikmu telah kembali ?"
Chu Seng Kun tidak menjawab, tapi secara perlahan-lahan
diceritakannya tentang keadaan adiknya sekarang. Bagaimana
adiknya itu telah terpaksa kawin dengan Put-ceng-li Lo-jin
untuk menutupi aibnya. Dengan terus terang pemuda itu juga
menceritakan kebiadaban iblis yang bernama Hek-eng-cu
terhadap adiknya. Bagaimana dua tahun yang lalu iblis itu
menculik adiknya, lalu membawanya ke kediaman Hong-gihiap
Souw Thian Hai untuk memeras peti pusaka warisan Bitbo-
ong asli yang disimpan oleh pendekar sakti itu.
"Kurang ajar! Orang itu memang benar-benar iblis, bukan
manusia !" Chin Yang Kun menggeram mendengar kelicikan
dan kekejian orang berkerudung itu.
"Benar! Dan kini kepandaiannya benar-benar hebat bukan
main. Dulu, kalau tidak dengan akalnya yang licik, tak
mungkin dia bisa menculik adikku. Tetapi sekarang, setelah
mempelajari ilmu-ilmu peninggalan Bit-bo-ong, akupun bukan
lawannya lagi! Hmm........ sungguh penasaran sekali!” Chu
Seng Kun juga menggeram dengan wajah merah padam.
Matanya menatap ke depan dengan sinar kebencian dan
penuh rasa dendam kesumat.
"Jangan khawatir, Chu twa-ko. Aku akan membantu
menghadapi iblis itu. Biarkanlah aku dengan ilmu yang tidak
seberapa tinggi ini ikut membantu orang yang pernah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyelamatkan jiwaku........." Chin Yang Kun berkata dengan
tegas.
"Terima kasih, adik Yang Kun.….." Chu Seng Kun menyahut
dengan terharu.
Mereka lalu berdiam diri kembali.
"LaIu......dimanakah adikmu itu sekarang? Apakah dia telah
kembali ke Bing-kauw lagi?" Chin Yang Kun membuka
mulutnya.
“Belum. Dia masih di sini sekarang. Dia pergi ke halaman
belakang untuk menemui Put-ceng-li Lo-jin," Chu Seng Kun
menjawab lirih hampir tak terdengar.
"Eh... orang tua itu juga sudah sampai di sini pula? Tadi
malam aku masih melihat dia di Gedung Pusat Im-yang-kauw
di kota Sin-yang. Hmmm.... cepat benar! Kalau begitu dia
segera bertolak kemari seusai pertemuan itu…….”
Chu Seng Kun menatap Chin Yang Kun dengan tajamnya.
Dahinya yang lebar itu kelihatan berkerut-kerut.
"Jadi....... adik Yang Kun sudah kenal dengan ketua Aliran
Bing-kauw itu? Apakah…..eh....... apakah kedatangannya pagi
tadi juga bersamamu ?" tanya tabib muda itu sedikit curiga.
"Ah, tidak……! Aku dan orang tua itu cuma bertemu dan
berkenalan di sebuah pertemuan yang diadakan di Gedung
Pusat Aliran Im-yang-kauw di kota Sin-yang tadi malam….."
Chin Yang Kun lekas-lekas menjawab. Lalu untuk
menghilangkan kecurigaan temannya, pemuda ini bercerita
serba sedikit tentang pertemuannya dengan tokoh-tokoh
ketiga aliran kepercayaan itu di kota Sin-yang. Lalu serba
sedikit pemuda ini juga bercerita tentang bagaimana dirinya
menolong Kaisar Han dari pengkhianatan para perwiranya.
“Ooo....... begitukah? Hmm….. jadi adik Yang Kun sekarang
sudah tahu kalau Liu twa-komu itu tidak lain adalah Kaisar
Han juga?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Chin Yang Kun mengangguk. “Ya. Kalian semua memang
pandai bersandiwara……."
"Maafkanlah! Akupun tidak berani membocorkan rahasia
Hong-siang itu seperti yang lain pula." Chu Seng Kun cepatcepat
membela diri.
"Eee..... twa-ko, omong-omong....... apa rencanamu
selanjutnya, setelah kau dapat menemukan kembali adikmu
yang hilang itu ?" Chin Yang Kun segera membelokkan
pembicaraan yang tak mengenakkan hatinya itu.
“Tentu saja aku akan tetap mencari Hek-eng-cu ! Dia harus
mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.
Dan…..bagaimana dengan kau, adik Yang Kun? Apakah kau
juga akan terus mencari para pembunuh keluargamu itu ?"
"Tentu saja ! Bagaimanapun juga aku akan mengusutnya
sampai selesai !"
Chin Yang Kun lalu berdiri. Perlahan-lahan pemuda itu
melangkah ke pintu dan membukanya. Seraya melangkahkan
kakinya ke luar pemuda itu menoleh, "Chu twa-ko, aku akan
beristirahat dulu. Sudah tiga malam ini aku tak tidur barang
sekejabpun. Nanti kita omong-omong Iagi......." katanya
sambil tersenyum.
"Beristirahatlah saja di sini ! Mau ke mana kau....."
"Terima kasih. Aku akan beristirahat di luar saja, udaranya
segar. Maaf, Chu twa-ko.....aku pergi dulu," Chin Yang Kun
menjawab seraya menutup pintu.
"Hmmm ... pemuda aneh," Chu Seng Kun, menghela napas
panjang sekali, kemudian merebahkan badannya di atas
pembaringan.
Tiba-tiba pintu itu terbuka kembali dan kepala Chin Yang
Kun tersembul diantara kedua daun pintunya. Pemuda itu
seperti mau mengatakan sesuatu, tapi melihat Chu Seng Kun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
telah berbaring di tempat tidurnya, pemuda itu tak jadi
mengeluarkannya.
“Ahhh..... kau sudah tid....... tidur, Chu twa-ko ?" katanya
sedikit gugup sambil menutup pintu itu kembali.
Chu Seng Kun cepat meloncat ke pintu dan membukanya.
Dilihatnya kawannya yang aneh itu telah melangkah pergi.
"Eeee…... adik Yang Kun ! Aku belum tidur. Ada keperluan
apa…..?" tabib muda itu berseru dengan kening berkerut.
Heran.
Chin Yang Kun menoleh sekejap, tapi tidak berhenti. Sekilas
tampak oleh Chu Seng Kun wajah kawannya itu menjadi
merah sekali seperti udang direbus.
"Ah.....tidak apa-apa ! permisi dulu, Chu twa-ko....” Chin
Yang Kun menjawab singkat. lalu menghilang di balik pintu
ruang tengah.
Chu Seng Kun menundukkan kepalanya dengan amat heran
sekali. Dahinya berkerut-kerut memikirkan sikap temannya
yang sangat aneh itu. Tiba-tiba berkelebat dalam pikiran tabib
muda itu sesuatu yang sangat mengkhawatirkannya.
"Hei ! Pemuda itu seperti sedang menderita....... menderita
keracunan. Tapi….. tapi seingatku tubuhnya sudah kebal
terhadap racun, sebab ia sendiri adalah seorang manusia
beracun. Hanya saja..... kenapa mukanya.….. eh !"
Karena khawatir Chu Seng Kun bergegas mengejar Chin
Yang Kun. Tapi ketika tabib muda itu keluar dari rumah itu,
bayangan Chin Yang Kun sudah tidak kelihatan lagi. Yang
terlihat di halaman depan hanya perajurit-perajurit penjaga
yang sedang menunaikan tugasnya.
Seorang penjaga yang berada di dekat Chu Seng Kun
segera mendekati pemuda yang sedang kebingungan mencari
kawannya tersebut. "Tuan mencari Yang Siau-ya (Tuan Muda
Yang)........?" tanyanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Benar. Kau melihatnya?"
"Yang Siau-ya berlari ke arah sungai dengan cepat sekali.
Mungkin.... eh... mungkin... hehe…. hendak buang anu…….
habis mukanya merah sekali !" perajurit itu menjawab sambil
menahan rasa geli.
Tapi Chu Seng Kun tidak mempedulikan sikap perajurit itu.
Bagai kilat cepatnya pemuda itu berlari ke arah sungai. Saking
cepatnya, perajurit itu sampai tidak bisa melihat, ke mana Chu
Seng Kun pergi. Pemuda itu seperti lenyap begitu saja dari
depan perajurit tersebut.
“Eh....... ada setan !” perajurit itu berteriak.
Sementara itu dengan cepat Chu Seng Kun telah berada di
pinggir sungai. Mata pemuda itu dengan nyalang mencari
bayangan Chin Yang Kun diantara perahu dan sampan yang
banyak tertambat di sana. Tapi pemuda yang dikejarnya itu
sudah tidak kelihatan pula di tempat itu. Yang tampak di sana
hanya para nelayan, yang berdiri bergerombol-gerombol di
tepian, dengan mata menatap jauh ke seberang, seolah-olah
ada sesuatu yang aneh dan menarik di sana.
Otomatis Chu Seng Kun mengikuti arah pandangan mata
orang-orang itu dan........tiba-tiba jantungnya terasa berdegup
lebih kencang!
Jauh di tengah-tengah sungai atau muara yang amat lebar
itu terlihat sebuah pemandangan yang sangat mentakjubkan
dan mendebarkan hati! Entah dengan maksud apa, Chin Yang
Kun yang sedang dicari oleh Chu Seng Kun itu sedang
berloncatan di atas permukaan air dengan cara yang sangat
mentakjubkan ! Tanpa alas kaki atau landasan berpijak
pemuda sakti itu berloncatan di atas gelombang air bagaikan
seekor capung atau burung camar yang sedang mandi atau
bermain-main dalam kehangatan sinar mentari pagi !
Setiap tubuh pemuda itu meluncur turun ke permukaan air,
kedua belah telapak tangannya yang terbuka itu menghantam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ke bawah dengan kekuatan Iwee-kang sepenuhnya, sehingga
permukaan air itu berdebur dengan dahsyatnya, seolah-olah di
bawah air tersebut ada sebuah gunung yang sedang meletus.
Dan di lain saat tubuh pemuda itu melenting ke atas kembali,
bagaikan sebongkah batu kecil yang dilontarkan oleh
dahsyatnya letusan gunung di bawah air tersebut !
“Bukan main! Sungguh sebuah pertunjukan tentang
kekuatan Iwee-kang yang susah diukur karena
kesempurnaannya! Tapi..... apa maksudnya adik Yang
mengobral tenaga seperti itu? Perbuatan itu hanya akan
membuatnya lemas dan kelelahan saja!" Chu Seng Kun
bergumam perlahan.
Benar juga perkataan Chu Seng Kun itu. Makin lama, yaitu
semakin mendekati tanah seberang, ledakan air yang
diakibatkan oleh pukulan tenaga sakti Chin Yang Kun semakin
mengecil pula, sehingga daya lontar yang diperoleh pemuda
itu juga semakin lemah. Maka tak heran kalau pemuda itu
harus lebih sering mengerahkan tenaganya, agar supaya
tubuhnya tidak terjun ke dalam air. Malah pada pukulan yang
terakhir, permukaan air itu Cuma bergelombang sedikit saja,
sehingga daya lontarnya juga tak ada sama sekali. Akibatnya
tubuh Chin Yang Kun tidak bisa melenting ke atas lagi dan
langsung ke dalam air.
Untunglah tepian sungai tinggal dua atau tiga meter lagi,
sehingga dengan sisa-sisa tenaganya pemuda itu dapat
berenang ke pinggir. Dengan tubuh lemas dan hampir tidak
bertenaga lagi, pemuda itu melangkah terseok-seok menjauhi
pinggiran sungai. Rasanya seluruh tenaga pemuda itu sudah
diperas habis, sehingga semua otot-otot tubuhnya bagai tak
punya kekuatan lagi. Maka tidaklah mengherankan kalau
beberapa saat kemudian pemuda itu rubuh ke tanah dan tak
bisa bangun kembali. Dan secara kebetulan sekali pemuda itu
jatuh tersungkur di dekat sebuah perapian darurat, di mana
seseorang sedang asyik membakar kelinci.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Hei….. Saudara Yang! Kaukah itu? Kenapa kau........?"
orang itu berseru kaget dan bergegas menolong Chin Yang
Kun.
"Aku........ aku lelah........ lelah sekali…..” Chin Yang Kun
berbisik.
"Eh! Bajumu basah semua. Apakah kau tadi tenggelam di
dalam muara itu?”
"Ooouughhh....." Chin Yang Kun membuka mulutnya, tetapi
cuma suara keluhan saja yang keluar dari sana.
"Baiklah! Mari kutolong kau lebih dahulu," orang itu
berkata, lalu membuka baju dan celana Chin Yang Kun yang
basah.
Melihat goresan luka pada tubuh Chin Yang Kun, yaitu luka
yang diperoleh pemuda itu ketika bertempur dengan Yap Cu
Kiat tadi malam, orang yang menolong Chin Yang Kun itu
mengerutkan dahinya.
"Hmmm, tampaknya dia baru saja berkelahi dengan lawan
yang berkepandaian tinggi. Dan kelihatannya pemuda ini telah
kehabisan tenaga karenanya. Baiklah, aku akan
menyelamatkannya. Tapi....... hari ini aku tak ingin berselisih
atau berurusan dengan orang lain, oleh karena itu aku akan
membawanya ke tempat lain saja......." orang itu berkata
kepada dirinya sendiri. Kemudian setelah selesai mengganti
pakaian pemuda itu dengan pakaian yang dibawanya, orang
itu menggendong tubuh Chin Yang Kun dan membawanya
pergi dari tempat itu. Itulah sebabnya ketika Chu Seng Kun
datang dengan perahunya, tabib muda itu sudah tidak bisa
menemukan Chin Yang Kun lagi.
Ketika Chin Yang Kun telah menjadi sadar kembali, maka
yang mula-mula terdengar dalam telinganya adalah suara
debur ombak yang bergemuruh di dekatnya. Tapi ketika
pemuda itu membuka matanya, yang mula-mula tampak di
depannya adalah langit-langit gua yang lembab dan basah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pemuda itu lalu bangkit dengan cepat. Tubuhnya sudah terasa
segar kembali.
"Saudara Yang........" sebuah suara tiba-tiba mengagetkan
pemuda itu.
“Hah? Souw Tai-hiap?" Chin Yang Kun menoleh dengan
cepat, dan berdesah kaget begitu melihat Hong-gi-hiap Souw
Thian Hai berada tak jauh darinya.
"Ya ! Aku membawamu kemari, karena aku sedang tak
ingin berurusan dengan orang lain. Eh, apakah engkau sudah
menjadi segar kembali?"
"Eh-uh......sudah. Terima kasih.” Chin Yang Kun
mengangguk dengan agak malu.
"Saudara Yang, apakah kau baru saja berkelahi dengan
seseorang ? Kulihat ada goresan luka pada tubuhmu......."
Chin Yang Kun tersentak kaget, "Tidak ! Aku tidak berkelahi
dengan siapa-siapa. Aku……eh, maksudku...aku tidak
berkelahi dengan siapapun hari ini," kilahnya.
"Tapi...... luka itu?" Souw Thian Hai mendesak.
"Ah, luka itu kudapatkan ketika bertempur dengan Yap Locianpwe
tadi malam," Chin Yang Kun menjawab cepat.
"Yap Lo-cianpwe ? Maksudmu........ ayah dari saudara Yap
Kiong Lee?” Chin Yang Kun mengangguk.
“Hmm......... kau memang hebat dan aneh ! Lalu kenapa
kau kehabisan tenaga tadi?"
"Anu...... oh….eh !"
Secara mengherankan tiba-tiba wajah Chin Yang Kun
berubah menjadi merah kemalu-maluan. Sikap pemuda itupun
mendadak juga berubah kikuk dan canggung. Tentu saja
perubahan yang sangat mendadak itu benar-benar amat
mengherankan Souw Thian Hai!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Saudara Yang, kau kenapa.......? Apakah pertanyaanku
tadi salah?” pendekar sakti itu berseru keheranan.
"Ah..... tidak ! Tidak ! Aku…….eh…….aku tidak apa-apa
....." Chin Yang Kun lekas-lekas menjawab dengan gugup.
Sikap pemuda itu semakin kacau dan canggung.
Souw Thian Hai menghela napas panjang dan tidak
mendesak lagi. Pendekar itu merasakan sesuatu yang tidak
beres pada sikap pemuda di hadapannya itu. Tapi karena
pemuda itu tampaknya tak mau mengatakan hal yang tidak
beres itu kepadanya, maka pendekar itu juga tak mau
mendesak pula lagi. Pendekar sakti itu justru bangkit dari
tempat duduknya dan melangkah keluar gua.
Angin senja menerpa tubuhnya yang tinggi tegap di mulut
gua, sehingga rambutnya yang hitam panjang itu berkibaran
ke belakang. Di dalam keremangan cahaya matahari pendekar
sakti itu kelihatan gagah perkasa, sehingga diam-diam Chin
Yang Kun mengaguminya di dalam hati.
"Aku akan menyeberang ke Pulau Mimpi besok pagi,”
pendekar sakti itu berkata seperti kepada dirinya sendiri.
Mendengar kata-kata itu Chin Yang Kun cepat berdiri, lalu
bergegas melangkah mendekati Souw Thian Hai. "Tai-hiap,
kau belum berjumpa dengan puterimu ?" tanyanya.
Souw Thian Hai menoleh. "Aku datang di pantai ini baru
kemarin sore. Sebenarnya pagi tadi aku bermaksud mencari
perahu untuk menyeberang ke Meng-to, tapi.... aku tak tega
meninggaIkanmu sendirian di sini. Sekarang matahari sudah
mau tenggelam pula lagi. Tak berani aku berlayar ke tengah
lautan.,.”
"Heh? Matahari sudah mau tenggelam?" Chin Yang Kun
berseru kaget.
Cekatan pemuda itu melompat ke mulut gua. Tapi.......
hampir saja pemuda itu terjerumus ke bawah! Di depannya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
atau di bawahnya, ternyata terbentang laut luas yang
bergelombang ganas! Ombak berdebur memecah tebing di
mana mulut gua itu berada.
Chin Yang Kun melihat sinar lembayung menyelubungi
gumpalan-gumpalan awan yang berarak di atas langit. Dan
haI itu berarti bahwa senja memang telah datang dan
malampun segera menjelang.
"Kalau begitu….. kalau begitu saya tadi tertidur hampir
seharian penuh? Mengapa Tai-hiap tidak membangunkan
aku?" Chin Yang Kun bertanya hampir tak percaya.
“Benar, kau betul-betul kehabisan tenaga pagi tadi. Maka
begitu kau dapat kesempatan untuk mengendorkan uraturatmu
kaupun Iantas jatuh tertidur sampai sehari penuh. Dan
aku tak tega untuk meninggalkanmu……..”
“Dan hal itu sungguh kebetulan sekali malah!" Yang Kun
cepat-cepat menyahut.
Souw Thian Hai mengerutkan keningnya. Matanya yang
tajam menatap Chin Yang Kun dengan pandangan bingung
dan tak mengerti.
"Kebetulan? Apa maksudmu?" tukasnya.
Chin Yang Kun tersenyum. Entah mengapa pemuda itu
merasa bergembira sekali bisa mempertemukan pendekar
yang dikaguminya itu dengan puterinya.
"Nona Souw Lian Cu…. tidak berada di Meng-to sekarang.
Dia kini sedang berkumpul dengan kawan-kawannya di desa di
tepi muara itu." katanya bersemangat.
Untuk pertama kalinya Chin Yang Kun melihat pendekar
yang selalu bersikap tenang dan berwibawa itu gemetaran
tubuhnya. Wajah yang biasanya selalu menampilkan sikap
yang tenang dan percaya diri itu kini tampak pucat seperti
orang yang sedang kehilangan pengamatan diri. Ternyata,
bagaimanapun hebat dan tinggi ilmunya, pendekar itu masih
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seorang manusia yang mempunyai jiwa dan perasaan juga
seperti yang lain. Kenyataan bahwa anak yang disayanginya
itu sudah berada di ujung hidungnya, perasaan rindu yang
ditahan-tahannya selama bertahun-tahun itu hampir tak bisa
dikuasainya lagi.
“A-apa.....? Dia a-ada di desa yang penuh dengan perajurit
itu? Ohh, jadi...... kau juga datang dari sana pula? Bagaimana
de-dengan puteriku ? Dia…dia sehat-sehat saja, bukan?"
pendekar sakti itu memberondong Chin Yang Kun dengan
pertanyaan-pertanyaannya.
"Tenanglah, Souw Tai-hiap.......Puterimu tidak apa-apa. Dia
sehat."
"Bagus! Kalau begitu....... tunggulah di sini ! Aku akan
menjemputnya." Souw Thian Hai berseru kegirangan, lalu
meloncat keluar gua dan memanjat dinding tebing itu dengan
tangkasnya.
"Heh? Tai-hiap, aku ikut....!" Chin Yang Kun berteriak pula.
Lalu pemuda itu melompat keluar juga dari dalam gua itu.
Lagi-lagi pemuda itu lupa bahwa mulut gua itu berada di
dinding tebing laut yang tinggi, sehingga pemuda itu nyaris
terjun ke laut yang bergelora. Untunglah pada saat-saat
terakhir pemuda itu dapat menghentikan langkahnya.
Ketika pemuda itu menengadahkan mukanya, ia melihat
Souw Thian Hai memanjat tebing terjal itu seperti seekor kera.
Melompat kesana kemari dengan tangkasnya dan hanya
berpegangan pada batu batu karang yang menonjol.
Sedikitpun tak kelihatan kalau pendekar itu takut, padahal
jauh di bawahnya terbentang laut ganas yang siap
menerkamnya, bila ia lengah.
Sekejap Chin Yang Kun menjadi berdebar-debar hatinya.
"Gila ! Bagaimana dia bisa membawaku ke sini tadi pagi ?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tapi pemuda itu tak punya banyak waktu untuk
memikirkannya. Souw Thian Hai sudah hampir mencapai
puncak tebing. Maka pemuda itu lalu mengerahkan seluruh
gin-kang dan lwee-kangnya, kemudian memanjat tebing itu
pula seperti Souw Thian Hai tadi.
Sampai di atas pemuda itu sudah tidak melihat Souw Thian
Hai lagi. "Bukan main! Cepat benar.....!” bisiknya kagum.
Pemuda itu lalu berlari menyusuri muara sungai, dengan
harapan bahwa ia masih akan mampu mengejar Souw Thian
Hai. Tapi ketika pemuda itu sampai di tempat di mana ia
menyeberang pagi tadi, ia melihat Souw Thian Hai telah
berada di tengah sungai naik sebatang pohon yang telah
diambil cabang dan ranting-rantingnya.
Chin Yang Kun berhenti melangkah. Mulutnya melongo
memandang ke tengah-tengah sungai. Matanya memancarkan
sinar kekaguman yang tiada tara.
"Hanya beberapa detik saja ia di depanku tapi langkahnya
tetap tak bisa kukejar juga. Padahal ia harus merobohkan
sebatang pohon pula untuk menyeberang. Sungguh gila
kepandaiannya……!”
Terpaksa Chin Yang Kun berbuat serupa pula dengan Souw
Thian Hai. Dirobohkannya sebuah pohon yang cukup besar
kemudian dipatahkannya dahan dan ranting-rantingnya. Dan
ketika pohon itu sudah siap dan ia ceburkan ke dalam air,
udara telah menjadi gelap. Malam telah benar-benar turun
menyelimuti bumi.
Chin Yang Kun sudah tidak bisa melihat Souw Thian Hai
lagi. Pendekar sakti itu seolah-olah sudah hilang tertutup
kabut di tengah-tengah sungai. Maka Chin Yang Kun lalu
mengayuh batang pohon itu sekuat tenaganya.
Sementara itu Souw Thian Hai ternyata tak mudah
menyeberangi muara sungai yang lebar dan luas itu. Batang
pohon itu ternyata sangat berat untuk memotong atau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melawan arus sungai yang ganas. Di tengah-tengah muara itu
arus ternyata tidak setenang dan sejinak di tepian. Di tengahtengah,
gelombang air ternyata sangat liar dan ganas. Arus air
berputar-putar dan melaju dengan cepatnya. Begitu batang
pohon itu terseret ke dalamnya maka Souw Thian Hai sudah
tak bisa menguasainya Iagi. Kayu yang besar dan berat itu
segera timbul tenggelam terbawa oleh ganasnya pusaran air.
Souw Thian Hai berpegangan pada batang pohon itu kuatkuat.
Pendekar sakti itu berusaha agar dirinya tidak terlempar
ke dalam arus sungai yang hitam kelam itu. Dengan
mengerahkan seluruh kesaktiannya, pendekar ternama itu
berusaha membawa batang kayu itu ke pinggir atau ke
seberang.
Sedikit demi sedikit pendekar sakti itu dapat melepaskan
diri dari libatan arus yang berputar-putar di tengah-tengah
muara sungai itu. Namun demikian belum berarti bahwa
pendekar itu sudah terbebas dari bahaya arus sungai tersebut.
Arus air yang ganas berputar-putar itu memang hanya
terdapat di tengah muara saja, tapi hal itu bukan berarti
bahwa arus yang mengalir di daerah pinggiran tidak
berbahaya pula.
Justru arus yang tampaknya tenang dan jinak itulah yang
kadang-kadang membawa korban di antara para nelayan yang
sering mencari ikan di sana. Arus itu memang tidak seganas
dan seberbahaya arus air yang mengalir di tengah-tengah
sungai tetapi kekuatan yang ditimbulkannya sebenarnya juga
tidak kalah dahsyatnya dengan arus air yang berputar-putar
itu. Arus yang tampaknya tenang itu kadang-kadang mampu
menyeret sebuah perahu besar ke tengah, untuk kemudian
menghempaskan ke arus berputar di tengah sungai yang
sangat ganas itu.
Tetapi dengan tenaga dalamnya yang sudah mencapai
kesempurnaan itu, Souw Thian Hai dapat juga melewati
daerah yang cukup berbahaya tersebut. Dengan pakaian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
basah kuyup pendekar itu dapat mencapai seberang dengan
selamat. Hanya saja tempat pendaratannya ternyata tidak di
desa yang ia maksudkan tetapi karena terseret arus air,
pendekar itu mendarat jauh di mulut muara.
Souw Thian Hai meloncat ke daratan. Di tempat itu hanya
ada batu-batu karang besar yang berserakan di mana-mana.
Di dalam keremangan malam, batu-batu besar itu seperti
sebuah perkampungan manusia-manusia raksasa yang sangat
menyeramkan. Apalagi angin laut bertiup dengan sangat
kencangnya sehingga menimbulkan suara-suara aneh yang
mendirikan bulu roma.
Tapi Souw Thian Hai tak mempedulikan semua itu.
Ketegangan hatinya yang ingin Iekas-Iekas melihat wajah
anaknya itu membuat pendekar sakti tersebut tidak sempat
memikirkan yang lain-lain. Dengan perasaan tak sabar lagi
pendekar itu melangkah cepat melintasi hutan batu karang
tersebut. Pikirannya hanya penuh dengan bayangan dan
angan-angan tentang puterinya, Souw Lian Cu saja!
Tiba-tiba Souw Thian Hai tersentak dari lamunannya. Di
dalam ketergesaannya pendekar itu seperti melihat bayangan
berkelebat di depannya. Bayangan itu seperti melesat dari
balik batu karang yang berada tiga meter di depannya,
menuju ke batu karang hitam di sebelah kirinya.
Untuk menjaga segala kemungkinan, Souw Thian Hai cepat
berlindung di bawah bayang-bayang batu karang. Untunglah
pendekar itu mengenakan pakaian berwarna gelap, sehingga
tubuhnya seakan-akan lenyap ditelan kegelapan bayangbayang
batu karang tersebut. Kemudian perlahan-lahan
pendekar itu bergeser ke kiri untuk mencari bayangan yang
dilihatnya tadi. Sambil selalu berlindung di dalam kegelapan
Souw Thian Hai mengelilingi batu karang yang ia perkirakan
sebagai tempat persembunyian "bayangan" tadi.
Tapi tempat itu benar-benar kosong. Tak seorangpun
bersembunyi di sana.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Heh? Mengapa tidak ada? Masakan mataku telah salah
lihat tadi? Rasa-rasanya aku melihat bayangan seorang wanita
melintas beberapa tombak di hadapanku.......” Souw Thian Hai
berkata di dalam hatinya.
Pendekar itu merasa penasaran. Dipanjatnya sebongkah
batu karang besar yang ada di dekatnya. Lalu dari atas
matanya memandang berkeliling. Dicarinya dengan teliti,
kalau-kalau ada sesuatu yang bergerak atau mencurigakan di
sekitar tempat tersebut.
Tiba-tiba mata Souw Thian Hai terbelaIak lagi. Kira-kira
lima atau enam tombak jauhnya dari tempatnya mengintai,
pendekar itu melihat seorang kakek melangkah terbungkukbungkuk
di antara rimbunnya batu-batu karang yang
menonjol. Bayangan kakek itu sebentar kelihatan sebentar
lenyap, tertutup oleh bayangan batu karang.
“Hmm, ada orang lagi ... Heran, kenapa tempat yang sunyi
menyeramkan ini mendadak dikunjungi oleh banyak orang?"
Souw Thian Hai bertanya-tanya di dalam hatinya.
Perlahan-lahan Souw Thian Hai turun, lalu dengan hati-hati
melangkah menuju ke tempat kakek tadi berada. Tapi sekali
lagi, meskipun sudah berputar-putar mencarinya, kakek tadi
ternyata tak kunjung diketemukannya juga. Bayangan kakek
itu seolah-olah lenyap dihisap bumi.
Akhirnya Souw Thian Hai menjadi jengkel juga. “Kurang
ajar ! Goblog benar aku ! Mengapa aku mesti payah-payah
mengurusi hantu-hantu itu ? Bukankah aku mempunyai
urusan sendiri ? Hah!" geramnya penasaran.
Pendekar itu lalu bergegas meninggalkan tempatnya
berdiri. Dengan langkah lebar ia menelusup kesana kemari
agar bisa cepat keluar dari rimba batu itu. la sama sekali tidak
peduli lagi pada sekelilingnya.
Tetapi sekali Iagi pendekar itu tersentak kaget sekali ketika
tubuhnya hampir bertabrakan dengan seseorang!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Otomatis pendekar itu mengelak ke samping sehingga
tubuhnya menghantam batu karang besar di sampingnya.
Dhuuug! Batu besar itu bergetar hebat saking kuatnya
pendekar itu menabrak. Debu dan kerikil berhamburan ke
bawah !
Dalam keadaan gelap, karena tempat tersebut penuh
dengan batu-batu raksasa yang rebah silang-menyilang,
sekilas Souw Thian Hai melihat bayangan kecil langsing
melesat menjauh dengan gesitnya. Tampak dengan jelas oleh
Souw Thian Hai, lengan baju sebelah kiri orang itu melambailambai
tertiup angin !
"Kurang ajar......!" dengan suaranya yang nyaring orang itu
mengumpat. Setelah itu seperti orang yang sedang dikejar
waktu, orang itu melesat pergi dengan tergesa-gesa.
Sekejap Souw Thian Hai berdiri mematung! Air mukanya
berubah hebat ! Mulutnya ternganga, seakan-akan mau
meneriakkan sesuatu tapi tak bisa.
"Lian Cuuu......." akhirnya keluar juga suara dari mulutnya.
Tapi suara itu ternyata begitu lemahnya sehingga telinganya
sendiri tak dapat mendengarnya.
Seperti orang kesurupan Souw Thian Hai lalu berkelebat
cepat mengejar bayangan wanita itu. Pendekar itu merasa
yakin betul bahwa matanya tadi tidak salah lihat. Dan
pendekar itu juga yakin benar, bahwa telinganya tadi juga
tidak akan salah dengar. Suara itu tadi adalah suara Souw
Lian Cu, puterinya. Dan perawakan orang itu tadi juga
perawakan Souw Lian Cu ! Apalagi dengan jelas dilihatnya
lengan baju bagian kiri tadi kosong melambai-lambai!
"GiIa! Di manakah dia......? Mengapa tidak bisa
kuketemukan ?” Souw Thian Hai menggeram seperti orang
gila.
Pendekar itu menerobos dan berputar-putar di dalam rimba
batu tersebut, tapi bayangan Souw Lian Cu tetap juga tak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dijumpainya. Saking tegang, penasaran dan kesalnya,
pendekar itu lalu mengerahkan seluruh Iwee-kangnya, dan
kemudian berteriak kuat-kuat !
"Liaaan Cuuuuuuuu......!"
Demikian dahsyatnya suara teriakan itu sehingga tempat
itu seolah-olah bergetar karenanya. Dan suara itu bergema
pantul-memantul di dalam rimba batu itu untuk beberapa saat
lamanya, membuat binatang-binatang malam terdiam
ketakutan di tempat mereka masing-masing. Binatangbinatang
melata segera berlarian ke liangnya, sementara
burung-burung malam beterbangan pergi menjauhi tempat
itu.
Souw Thian Hai menantikan akibat dari teriakannya.
Dipanjatnya lagi sebuah batu karang tinggi untuk mengintai
daerah di sekitarnya. Tapi tempat itu tetap sunyi dan sepi.
Jangankan Lian Cu, kedua bayangan yang dijumpainya
pertama kali tadipun juga tidak menampakkan batang
hidungnya. Padahal menurut aturan, kedua orang itupun tentu
mendengar teriakannya pula.
Angin laut meniup dengan kencangnya.
Meskipun demikian keringat mengalir dengan derasnya di
badan Souw Thian Hai. Perasaan takut akan kehilangan lagi
jejak puterinya membuat pendekar itu menjadi tegang dan
gelisah luar biasa. Pikiran serasa menjadi kacau dan bingung
sekali.
Tiba-tiba pendekar itu melihat lagi sesosok bayangan
berkelebat di kejauhan. Sekejap bayangan itu berkelebat di
tempat terbuka kemudian hilang lagi di kegelapan. Tapi yang
terang bayangan itu berlari ke arah pantai.
Souw Thian Hai tersentak, lalu dengan cepat mengejar
bayangan itu. Karena tak ingin kehilangan arah, maka
pendekar itu lalu mengerahkan gin-kangnya dan kemudian
melesat berloncatan di atas batu-batu raksasa itu. Pendekar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu tak sabar lagi kalau harus berlari-lari, berputar-putar dan
menerobos kesana kemari diantara rimba batu itu.
Meskipun demikian, ketika rimba batu itu telah habis
terlewati, bayangan tersebut tetap juga tak kelihatan.
Bayangan itu menghilang lagi entah ke mana. Padahal di
depan pendekar itu kini terbentang dataran pasir yang sangat
luas, dimana di seberang sana sudah terlihat buih-buih ombak
yang memecah pantai. Tak sebuah bayanganpun yang tampak
melintas di tempat terbuka itu.
"Ough, di manakah dia ? Masakan begitu cepatnya dia
menghilang ? Apakah.....apakah aku telah salah lihat tadi?
Oooh ......mungkin ....... mungkin aku memang telah salah
lihat tadi. Kukira hanya hantu saja yang mampu meloloskan
diri dari kejaranku tadi. Ohhh........ jangan-jangan selama ini
aku memang hanya tertipu oleh bayangan atau angananganku
sendiri saja. Begitu hebat rasa rinduku kepada Lian
Cu, sehingga aku.... aku seperti telah melihat bayangannya,
padahal .... padahal sebenarnya dia tidak ada! Ohhh.... Tuhan
!"
Souw Thian Hai menjatuhkan dirinya di atas pasir. Dengan
bertumpu pada lututnya pendekar itu menengadahkan
kepalanya. Kedua lengannya tergantung lemas di sisi
tubuhnya. Tak ada bintang, tak ada bulan. Seluruhnya gelap,
segelap hati Souw Thian Hai saat itu.
"Oh, Tuhan........berilah aku semangat dan kekuatan agar
bisa bertemu kembali dengan anakku," pendekar sakti itu
akhirnya berdoa.
Tiba-tiba angin bertiup dengan kuatnya, seakan-akan
menjawab doa itu. Awan tebal di atas pantai itu mendadak
juga bergerak perlahan-lahan. Dan kemudian..... satu persatu
bintangpun mulai bermunculan di atas Iangit. Alampun seolaholah
mulai tersenyum pula. Dan beberapa saat kemudian
langitpun menjadi terang benderang. Ternyata bulan yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
masih muda itupun telah terbebas juga dari kurungan awan
gelap tadi.
Souw Thian Hai kemudian menundukkan kepalanya.
Dipandangnya buih ombak yang kini tampak jelas berkejaran
di tepi pantai itu. Lalu dikaguminya percikan-percikan air yang
muncrat ke atas ketika ombak tersebut menghantam karang.
Dari jauh butiran-butiran air itu bagaikan taburan permata
dalam terangnya sinar rembulan.
"Hah.....?!?" mendadak pendekar itu tersedak karena kaget
!
Diantara percikan-percikan air itu tiba-tiba tersembul
bayangan seorang wanita ! Tampaknya wanita itu tadi
berjongkok di tepi air, sehingga tidak kelihatan dari kejauhan.
Maka begitu wanita itu bangkit berdiri, tubuhnya seakan-akan
lalu muncul begitu saja diantara buih-buih ombak.
"Lian Cu........!” Souw Thian Hai berseru perlahan.
Beberapa kali pendekar itu mengejap-ngejapkan matanya,
takut kalau-kalau ia tergoda lagi oleh angan-angannya sendiri.
Tapi sampai lelah ia berkejap, bayangan wanita tersebut
masih tetap juga kelihatan.
"Ah.......!" Souw Thian Hai berdesah tegang lagi.
Kemudian dengan tubuh yang semakin basah oleh keringat,
Souw Thian Hai merangkak, mendekati bayangan puterinya
itu. Seperti seorang pemburu yang takut kalau-kalau binatang
buruannya akan kaget dan melarikan diri, Souw Thian Hai
merunduk dengan hati-hati sekali. Demikian takutnya
pendekar itu, sehingga bernapaspun rasa-rasanya dia tidak
berani lagi.
Ketika secara mendadak bayangan itu mengangkat kedua
Iengannya ke atas, Souw Thian Hai bergegas menghentikan
langkahnya pula. Jarak mereka tinggal belasan meter saja.
Dan dari tempat itu telah dapat dilihat dengan jelas
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
perawakan dan dandanan wanita itu. Tetapi karena wanita itu
menghadap ke arah laut, maka Souw Thian Hai tidak bisa
melihat wajah puterinya.
Mendadak wanita itu meloncat dan berlari ke arah ombak
yang datang !
"Lian Cuuu.......!" Souw Thian Hai berteriak keras sekali.
"Ci-ciii....!” tiba-tiba terdengar pula suara teriakan lain.
Bagai terbang cepatnya Souw Thian Hai melompat dari
tempatnya. Dan hanya dengan tiga kali lompatan saja
pendekar itu sudah sampai di tempat wanita itu berusaha
mengakhiri hidupnya. Benar-benar suatu pekerjaan yang
dalam keadaan normal tak mungkin bisa dilakukan oleh
pendekar itu. Apalagi pada lompatan yang terakhir pendekar
itu harus pula menyambar tubuh wanita itu, kemudian dengan
pukulan udara kosongnya harus menghantam deburan ombak
untuk dapat melenting balik kembali.
"Ahh......bukan main!" seorang kakek yang sudah bersiap
sedia pula untuk menolong wanita itu berseru tertahan.
Tubuhnya yang sudah terlanjur keluar dari balik karang itu
bergegas menyelinap ke dalam persembunyiannya lagi. Jarak
persembunyiannya dengan wanita itu sebenarnya cuma ada
beberapa meter saja, tapi gerakannya tadi ternyata masih
kalah cepat dengan gerakan Souw Thian Hai.
Sementara itu dengan meminjam daya tolak dari ombak
yang dipukulnya, Souw Thian Hai membawa tubuh wanita itu
melenting balik ke daratan kembali. Dengan beberapa kali
berjumpalitan di udara, pendekar itu lalu turun di atas pasir
yang basah.
Tapi kedua kaki pendekar sakti itu hampir saja
menghantam sesosok bayangan yang secara tiba-tiba
menyongsong kedatangannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ci-ciiii......!" bayangan yang datang itu menjerit seraya
mengelakkan diri.
"Heh.......???" Souw Thian Hai terpekik pula dengan
kagetnya.
Pendekar itu berdiri terbelalak mengawasi bayangan yang
hampir saja terinjak oleh kakinya itu. Lutut pendekar itu terasa
gemetaran, sehingga tubuh wanita yang berada di dalam
pondongannya itu hampir saja melorot jatuh.
"Lian Cu..... anakku!"
Dengan wajah pucat, bibir Souw Thian Hai bergetar
menyebut nama bayangan yang dating, yang tadi hampir saja
terinjak oleh kakinya. Lalu dengan cepat pendekar itu
menunduk mengawasi wajah wanita yang berada didalam
pelukannya, yang sejak semula ia kira sebagai Souw Lian Cu,
puterinya.
“Uhh........ Hong-moi! Kau.......?” bisik pendekar itu terbatabata.
Ternyata, tubuh wanita yang berada di dalam pondongan
pendekar itu adalah Chu Bwee Hong, kekasihnya sendiri yang
kini telah menjadi isteri Put-ceng-li Lo-jin !
Jilid 37
SOUW THIAN HAI cepat menatap Souw Lian Cu kembali,
yang kini berdiri di depannya dengan mata yang juga terbuka
lebar serta wajah yang pucat pasi pula seperti dirinya. Dan
Souw Thian Hai yang sangat takut bila ia harus kehilangan
puteri yang amat disayanginya itu cepat-cepat menurunkan
tubuh Chu Bwee Hong ke atas pasir. Bagaikan seorang anak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kecil yang menjadi ketakutan di hadapan ibunya karena
ketahuan telah berbuat suatu kesalahan, pendekar itu
memandang Souw Lian Cu.
“Anak-ku........kaukah itu ?" pendekar yang mempunyai
nama besar itu berdesah dengan suara haru.
“Ayaaaaah.........!” Souw Lian Cu memekik, kemudian
menghambur ke dalam pelukan Souw Thian Hai.
Dan dua orang ayah dan anak itupun lalu saling berpelukan
dengan kencangnya. Lian Cu yang di dalam hatinya telah lama
timbul rasa sesal dan berdosa terhadap ayahnya itu tampak
menangis tersedu-sedu. Sebaliknya pendekar yang selama ini
juga tidak pernah menangis meski derita selalu datang bertubi
itu, kini ternyata juga tidak bisa menahan air matanya.
"Ayah, maafkanlah anakmu yang tidak berbakti ini. Karena
sifatku yang cengeng, kekanak-kanakan dan mau menang
sendiri......telah membuat ayah menderita selama bertahuntahun.
Ternyata selama ini aku telah salah sangka terhadap
ayah. Ternyata ayah sangat mulia dan rela menderita demi
aku. Padahal antara ayah dan ci-ci Bwee Hong....... Oh,
ayah....!”
"Terima kasih, anakku.......! Kau........ah, aku sungguh
gembira sekali kau telah mengerti sekarang. Sudahlah, kau
jangan menangis......” Souw Thian Hai membujuk dan
menenangkan hati anaknya, tapi dia sendiri juga menyeka air
matanya.
Mendadak Souw Lian Cu merenggutkan diri dari pelukan
Souw Thian Hai. Bergegas gadis itu menghampiri tubuh Chu
Bwee Hong yang tergeletak pingsan di atas pasir, sehingga
Souw Thian Hai menjadi berdebar-debar lagi hatinya.
Pendekar itu tahu kalau anaknya sangat membenci Chu Bwee
Hong.
"Ayah.......???" Souw Lian Cu berdesah khawatir seraya
menatap ayahnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku... eh, aku dan dia....... baru sekali ini berjumpa. Dia
tadi....... hendak bunuh diri. Dia.......dia tadi kukira engkau.
Sungguh !” Souw Thian Hai cepat-cepat memberi penjelasan
dengan suara gelagapan karena mengira Souw Lian Cu telah
salah sangka lagi terhadapnya.
Souw Lian Cu mengerutkan keningnya. Tapi begitu dapat
menduga apa yang sedang berkecamuk di dalam hati
ayahnya, gadis itu memandang wajah ayahnya dengan
perasaan kasihan.
"Ayah, kau jangan berpikir yang bukan-bukan. Aku tidak
apa-apa. Anakmu sudah dewasa sekarang. Aku tadi hanya
ingin mengatakan bahwa ci-ci Bwee Hong pingsan dan apa
yang harus kita lakukan terhadapnya.........?"
"lni.......ini.....eh, ini.......sebaiknya kita bawa saja dia ke
dusun itu, agar.....agar bisa cepat-cepat memperoleh
perawatan." Souw Thian Hai yang belum juga merasa yakin
akan sikap Souw Lian Cu itu masih berusaha untuk mengambil
jarak antara dirinya dengan Chu Bwee Hong, agar supaya
tidak membuat marah anaknya.
Tetapi Souw Lian Cu yang memang sengaja ingin
menjodohkan Chu Bwee Hong dengan ayahnya itu menjadi
penasaran mendengar jawaban ayahnya itu.
"Membawanya ke dusun ? Mengapa mesti harus dibawa ke
sana? Kenapa tidak ayah saja yang merawatnya?” gadis itu
bertanya tak senang.
Souw Thian Hai menghela napas murung. "Ah, anakku.......
Ternyata kau belum benar-benar mengerti sikap ayahmu.
Sebenarnyalah bahwa ayahmu tak ingin merusak dan melukai
hati dan perasaanmu, Chu Bwee Hong, maupun..... Put-ceng-li
Lo-jin !"
"Eh! Mengapa ayah berkata demikian?" Souw Lian Cu
bertanya tak mengerti.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sekali lagi pendekar itu menghela napas. Dan kali ini
semakin terasa sedih.
“Lian Cu........ Aku tahu kau tidak menyukai Chu Bwee
Hong. Maka demi kau, aku tak akan mendekati Chu Bwee
Hong lagi. Sementara itu aku juga tak ingin membuka luka
lama di dalam hati Chu Bwee Hong dengan kehadiranku
kembali. Dia telah membina sebuah keluarga yang berbahagia
sekarang. Maka aku tak ingin mengganggunya lagi. Selain dari
pada itu, sebagai seorang laki-laki sejati, aku tak ingin
menghina atau menginjak-injak kehormatan dan harga diri
suaminya.......Bukannya aku takut! Tapi sebagai seorang
jantan aku tak ingin disebut sebagai pengganggu isteri orang!
Mengertikah kau...?” dengan panjang lebar Souw Thian Hai
menjelaskan sikapnya itu kepada anaknya.
"Tapi........ayah, dia.......?” dengan nada getir Souw Lian Cu
berusaha menjelaskan juga sikap yang telah diambilnya, serta
sikap Chu Bwee Hong sendiri terhadap ayahnya selama ini.
"Sudahlah! Keputusanku telah bulat. Marilah sekarang kita
bawa saja dia ke dusun itu, lalu kita tinggalkan dia di
sana......!" Souw Thian Hai berkata pula dengan tidak kalah
getirnya. Mulutnya berkata demikian, tetapi di dalam hati
bukan main pedihnya !
"Tidak........! Aku tidak mau pergi ! Aku akan tinggal
bersama-sama dengan ci-ci Bwee Hong. Silakan ayah pergi
sendiri! Oohh...." tiba-tiba Souw Lian Cu menjerit, lalu
menangis kembali dengan sedihnya.
Tentu saja perkembangan yang sangat mendadak itu
benar-benar sangat mengagetkan Souw Thian Hai. Dengan
suara khawatir pendekar itu menyentuh lengan anaknya.
"Lian Cu, kau....... kau kenapa?”
Dengan cepat Souw Lian Cu menghindar dari sentuhan
tangan ayahnya. Matanya masih bercucuran ketika menatap
wajah ayahnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ayah sungguh kejam terhadap ci-ci Bwee Hong. Dia
sangat menderita dan selalu mendambakan kehadiran ayah,
tapi ayah sendiri ternyata Iebih mementingkan kehormatan
dan harga diri ayah sendiri. Ayah tak mau tahu perasaan dan
penderitaan orang lain, padahal ci-ci Bwee Hong demikian baik
dan mulianya. Aku sekarang sudah sadar, betapa kelirunya
aku dulu menilai dia......." dengan berani dan dengan suara
serak Souw Lian Cu berkata kepada ayahnya.
"Lian Cu, kau.......? Mengapa kau bersikap demikian?
Marilah.......! Kita jangan berselisih lagi!" Souw Thian Hai
memandang sedih kepada anaknya.
"Tidak! Ayah boleh pergi! Aku akan ikut ci-ci Bwee Hong
saja......"
"Oh, Tuhan.......! Apakah yang harus aku lakukan?" Souw
Thian Hai berbisik dengan hati yang tak keruan rasanya.
Tak heran kalau Souw Thian Hai menjadi sangat bingung
dan sedih. Bertahun-tahun pendekar itu hidup di dalam
kesedihan dan penderitaan. Dengan rela ia menerima
semuanya itu demi Souw Lian Cu, puterinya. Ia tekan semua
keinginan dan kepentingan dirinya sendiri, serta ia buang
semua angan-angan tentang kebahagiaan yang telah ia
rencanakan bersama Chu Bwee Hong, demi anaknya, Souw
Lian Cu! Tapi setelah semuanya itu sudah ia pertaruhkan, kini
secara mendadak anak itu berbalik haluan. Puterinya itu kini
justru malah menghendaki ia kembali dengan Chu Bwee Hong.
Padahal, seperti yang telah lama ia dengar, Chu Bwee Hong
telah menjadi isteri ketua Bing-kauw sekarang. Lalu, apa kata
orang nanti, kalau Hong-gi-hiap atau Pendekar Gila Yang
Berbudi itu ternyata suka merebut isteri orang ?
"Uhhh......Lian Cu! Kau..... kau tidak boleh membantah
perkataan ayahmu..........” tiba-tiba keduanya dikejutkan oleh
suara Chu Bwee Hong yang "pingsan" itu.
"Ci-ciii......." Souw Lian Cu menjerit lirih.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hong-moi......kau........?" Souw Thian Hai berdesah pula
dengan kagetnya.
Lalu seperti berlomba ayah dan anak itu bergegas
menghampiri Chu Bwee Hong yang telah siuman dari
pingsannya itu. Dengan wajah tegang dan gelisah keduanya
duduk berjongkok di dekat Chu Bwee Hong. Tapi sekejap
kemudian Souw Thian Hai bangkit berdiri kembali. Pendekar
sakti itu seperti tak tahan atau merasa ketakutan melihat
sepasang mata indah namun penuh air mata itu menatap pilu
kepadanya. Serasa ada semacam tuntutan dalam pandangan
tersebut.
Selain dari pada itu Souw Thian Hai sendiri juga hampir
tidak bisa menguasai perasaannya pula. Oleh karena itu dia
cepat-cepat berdiri dan menjauhkan diri, dengan maksud agar
Chu Bwee Hong atau Souw Lian Cu tidak tahu, betapa
gemetar tubuhnya, betapa perih hatinya dan betapa deras
darah yang mengalir di dalam jantungnya. Dan semuanya itu
membuat dirinya seolah melayang ke alam yang lain.
"Oh, Tuhan........ dia........ dia ternyata tidak berubah sama
sekaIi ! Hatinya masih tetap seperti dulu juga. Aku....... tak
tahan melihatnya ! Oh, Tuhan........ betapa berat cobaan yang
Kauberikan kepada kami !" pendekar itu merintih di dalam
hatinya.
Tetapi sikap Souw Thian Hai tersebut ternyata diartikan lain
oleh Souw Lian Cu. Di mata Souw Lian Cu, sikap ayahnya itu
hanya menunjukkan bahwa ayahnya masih mementingkan
kepentingan sendiri saja. Ayahnya masih saja bertahan pada
kehormatan dan harga dirinya yang berlebih-lebihan. Sama
sekali ayahnya tidak menaruh rasa kasihan kepada orang lain,
meskipun orang lain itu adalah kekasihnya sendiri. Dan yang
membuat hati Souw Lian Cu semakin penasaran terhadap
ayahnya adalah kenyataan bahwa korban dari sikap ayahnya
yang sangat menjengkelkan tersebut adalah Chu Bwee Hong,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seorang wanita yang dia ketahui sangat mulia dan baik budi
perilakunya.
Dengan tajam gadis itu menatap ayahnya. Mulutnya tidak
berkata sepatahpun. Tapi melihat sikap yang dia perlihatkan,
orang akan segera dapat menduga bahwa gadis itu siap untuk
melawan perintah ayahnya.
Ternyata sikap Souw Lian Cu itu dilihat pula oleh Chu Bwee
Hong.
"Lian Cu....... kau tidak boleh memandang ayahmu seperti
itu. Apa yang dikatakan ayahmu tadi memang benar sekali.
Meskipun kami saling mencinta, dan kukira sampai kapanpun
hal itu takkan berubah, tapi keadaan kami sekarang sudah
tidak sama lagi dengan dahulu. Ayahmu seorang lelaki sejati,
oleh karena itu ia takkan mau mengganggu isteri orang,
meskipun orang itu adalah bekas kekasihnya. Begitu pula
dengan aku. Biarpun aku tak mencintai suamiku, tapi aku
telah bersedia menjadi isterinya. Maka dalam hal ini akupun
tak ingin mengkhianati kata-kataku sendiri. Apalagi suamiku
itu seorang yang sangat baik dan telah banyak melepas budi
kepadaku. Oleh karena itu, apapun yang akan terjadi aku
takkan meninggalkan suamiku. Kecuali bila suamiku itu sudah
tidak membutuhkan aku lagi........." sambil masih bertiduran di
atas pasir, Chu Bwee Hong berbicara panjang lebar.
"Ci-ci, kau sungguh mulia sekali. Kau tak pernah mau
menyalahkan ayahku, dan kaupun juga tak pernah
menyalahkan aku pula. Kau selalu menerima cobaan dan
penderitaan seorang diri........" Souw Lian Cu menubruk Chu
Bwee Hong dan menangis di atas dadanya !
"Lian Cu, janganlah menangis.......! Pergilah ! Ikutilah
ayahmu! Tinggalkan saja aku.....! Tempatmu adalah di dekat
ayahmu."
"Tidak! Aku tidak mau ! Lalu bagaimana dengan kau nanti
?” Souw Lian Cu menjerit.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Chu Bwee Hong mengusap rambut Souw Lian Cu. "Tentu
saja aku akan kembali ke suamiku Iagi. Bukankah aku
mempunyai seorang suami?" wanita ayu itu membujuk
perlahan.
"Ci-ci, aku ikut denganmu. Aku akan menebus dosa-dosaku
dengan mengabdi kepadamu. Aku akan melayani engkau
seperti seharusnya aku melayani ibuku yang tak pernah
kulihat dan kukenal. Biarlah ayahku pulang sendiri..........”
Souw Lian Cu tetap membandel.
"Lian Cu! Ohhh........!" Souw Thian Hai dan Chu Bwee
Hong berdesah kaget.
Kedua orang itu, Souw Thian Hai dan Chu Bwee Hong,
sungguh tidak menyangka bahwa Souw Lian Cu akan berkata
seperti itu. Dan perkataan itu diucapkan dengan suara tegas
dan kaku oleh gadis tersebut, suatu tanda bahwa kemauan
atau keinginannya sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Apalagi
bagi Souw Thian Hai, ayahnya, yang sudah sangat mengenal
akan sifat dan watak anaknya !
Diam-diam suasana menjadi tegang ! Dan anginpun bertiup
pula dengan kuatnya, sehingga menerbangkan pasir-pasir
halus itu ke udara. Untuk sesaat udara di atas pantai tersebut
menjadi gelap, dan yang terdengar hanya suara debur ombak
yang semakin kuat menghantam pantai. Tiba-tiba........
"Huah-haha-hahaha.........! Kagum.......sungguh-sungguh
kagum benar aku ! Baru sekali ini aku Si Put-ceng-li Lo-jin
dibuat kagum oleh sikap pribadi seseorang! Huah-haha .......
babi, monyet, keparat.......!"
Tiba-tiba deru angin dan debur ombak yang bergemuruh
keras itu tertindih oleh suara tertawa Put-ceng-li Lo-jin yang
lantang bagaikan suara genta berkumandang ! Dan sekejap
kemudian orang tua itu lalu muncul dari balik sebuah batu
karang besar yang hanya berjarak tiga atau empat meter dari
tempat mereka berada. Tentu saja kedatangan Ketua Aliran
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bing-kauw yang amat mendadak itu benar-benar sangat
mengagetkan mereka bertiga!
"Put-ceng-li Lo-jin.......!” Souw Thian Hai berdesah dengan
suara serak.
"Lo jin.......!" Chu Bwee Hong menyebut pula nama
suaminya.
Bergegas wanita ayu itu bangkit duduk, kemudian berdiri,
seolah-olah mau menjemput atau menyongsong kedatangan
suaminya. Wajahnya yang pucat dan murung tadi dengan
cepat dihapusnya. Ia menatap wajah suaminya dengan
senyum yang dipaksakan.
"Bwee Hong....." ketua Bing-kauw itu memanggil dan
menghampiri isterinya, tapi matanya dengan liar mengawasi
Souw Thian Hai dan Souw Lian Cu.
Chu Bwee Hong yang merasa khawatir melihat sinar mata
suaminya itu segera melangkah ke depan menyambut
kedatangan Put-ceng-li Lo-jin. Jari-jarinya yang lentik dan
halus itu cepat-cepat menangkap Iengan kakek tua itu. "Lo
jin, apakah kau mencari aku ?” sapanya dengan suara
bergetar.
Selama ini, kedua suami isteri itu memang tidak pernah
saling memanggil seperti kebanyakan suami isteri lainnya.
Sejak mereka kawin Chu Bwee Hong selalu menyebut Lo-jin
terhadap suaminya, sementara Put-ceng-li Lo jin juga hanya
menyebut nama isterinya begitu saja.
“Benar!" Put-ceng-li Lo-jin mengangguk, tetapi matanya
tetap tak lepas dari wajah Souw Thian Hai yang pucat itu.
“Bukankah aku tadi sudah meminta ijin kepadamu untuk
keluar sebentar? Aku mau menenteramkan hatiku di pantai ini
barang sejenak, karena pertemuanku dengan kakakku itu
membuatku bersedih. Apakah engkau mencurigai aku?" Chu
Bwee Hong yang semakin merasa gelisah dengan sikap
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
suaminya terhadap Souw Thian Hai itu, berusaha mengalihkan
perhatian suaminya tersebut.
Put-ceng-li Lo jin memandang wajah Chu Bwee Hong. "Ya
...... aku curiga kepadamu. Dan kecurigaanku itu ternyata
benar. Bukankah kau hendak mengakhiri hidupmu sendiri
tadi?"
“Aku... aku........" Chu Bwee Hong tak bisa menjawab.
Kepalanya tertunduk.
“Aku tahu. pertemuanmu dengan kakakmu itu membuatmu
sedih, pepat dan bingung. Luka hatimu yang selama ini telah
dapat kau atasi, sekarang menjadi terbuka kembali. Dan aku
langsung dapat melihatnya. Keadaanmu sekarang tidak jauh
bedanya dengan keadaanmu ketika kau kutemukan dahulu.
Maka aku lantas menjadi curiga ketika kau meminta ijin tadi.
Kau lalu kuikuti. Tapi ternyata aku kalah cepat dengan
saudara ini. Ehh.......hmm!" Put-ceng-li Lo-jin menghentikan
kata-katanya seraya menoleh kembali ke arah Souw Thian
Hai. Matanya tampak meliar kembali.
Chu Bwee Hong menjadi ketakutan. Hati yang semula
merasa tenang mendengar ucapan suaminya yang panjang
lebar itu, suatu hal yang belum pernah ia lihat sebelumnya
mendadak kini menjadi gelisah kembali melihat pandang mata
suaminya yang liar dan ganas itu.
"Lo-jin........." cegahnya.
"Sebentar ! Ehm...... jadi inikah pemuda yang selalu
kauceritakan itu ?"
Put-ceng-li Lo-jin tak memperdulikan kekhawatiran serta
cegahan isterinya. Meskipun tangan Chu Bwee Hong selalu
bergantung pada lengannya, kakek itu tetap melangkah
mendekati Souw Thian Hai. Souw Lian Cu dengan wajah
tegang terpaksa menyingkir.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah berada empat langkah di depan Souw Thian Hai,
orang tua itu berhenti.
"Anak muda! Benarkah engkau yang bernama Souw Thian
Hai dan bergelar Hong-gi-hiap itu?" Kakek itu bertanya.
Ternyata Souw Thian Hai juga telah bisa menenangkan
kemelut yang melanda hati dan perasaannya tadi. Dengan
tenang pendekar sakti itu menghela napas panjang. Matanya
yang tajam luar biasa itu balas menatap Put-ceng-li Lo-jin.
"Ya....... siauw-te adalah Souw Thian Hai." jawabnya
perlahan namun tegas.
"Hmm....... aku telah melihat dan mendengar semua yang
terjadi di sini tadi. Sebenarnya aku sangat kagum sekali
kepadamu. Kau benar-benar seorang pendekar tulen dan
seorang ksatria sejati pula. Tak heran kalau orang persilatan
memberi julukan Hong-gi-hiap kepadamu. Tetapi..... meskipun
demikian aku tetap merasa kecewa kepadamu !"
Setelah mengatakan apa yang terkandung di dalam
hatinya, ketua aliran Bing-kauw itu berdiam diri. Orang tua itu
sengaja memberi tekanan pada kalimatnya yang terakhir,
untuk memancing kemarahan Souw Thian Hai. Orang tua
yang sangat suka berkelahi itu bermaksud menjajagi kalau
bisa sedikit memberi pelajaran kepada Souw Thian Hai, bila
pancingan itu berhasil nanti. Ternyata selain merasa gatal
tangannya karena berjumpa dengan lawan berat, Put-ceng-li
Lo-jin juga ingin membalaskan sakit hati isterinya pula.
Menurut pendapat Put-ceng-li Lo-jin, sumber dari semua
penderitaan Chu Bwee Hong itu adalah akibat tidak
bertanggungjawabnya Souw Thian Hai. Coba pendekar muda
itu menepati janjinya, semua peristiwa yang menyedihkan itu
tentu tidak akan terjadi.
Tetapi pancingan tersebut ternyata gagal. Souw Thian Hai
yang sejak semula memang telah menyadari kesalahannya itu,
ternyata tidak menjadi marah atau tersinggung oleh sindiran
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Put-ceng-li Lo-jin tadi. Sebaliknya dengan menghela napas
dalam-dalam pendekar muda itu malah merendahkan dirinya.
"Memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Aku
sendiripun kadang-kadang juga merasa kecewa kepada diriku
sendiri. Tentang gelar Hong-gi-hiap yang diberikan orang
kepadaku itu.....hmm, akupun kadang-kadang juga merasa
risih pula. Aku merasa bahwa orang-orang itu selama ini juga
telah menilai salah terhadapku. Mereka demikian menyanjung
dan menghormati aku, padahal kenyataannya aku bukanlah
manusia istimewa seperti yang mereka bayangkan itu. Akupun
hanya seorang manusia biasa pula, yang bisa juga berbuat
salah dan dosa seperti yang lain.......”
Hening sejenak. Put-ceng-li Lo-jin terdiam.
Ternyata jawaban Souw Thian Hai itu benar-benar sangat
mengena di hati Put-ceng-li Lo-jin. Kakek sederhana yang juga
tidak pernah merasa tinggi ataupun hebat, meski ia seorang
ketua aliran yang besar dan ternama itu semakin merasa
cocok dan kagum dengan pribadi Souw Thian Hai itu. Dan di
dalam hatinya, kakek itu semakin membenarkan pilihan hati
Chu Bwee Hong. Pemuda itu demikian tampan, gagah,
ternama dan baik pula budi pekertinya. Maka gadis atau
wanita mana yang takkan jatuh hati kepada pemuda itu?
Oleh karena itu, tidak dapat dipersalahkan juga kiranya,
kalau Chu Bwee Hong sampai rela menanggung derita dan
sengsara sedemikian hebatnya demi pemuda itu.
Put-ceng-li Lo-jin menghela napas. Mendadak timbul
perasaan kasihan di dalam hati orang tua itu kepada sepasang
kekasih yang gagal tersebut. Demikian mendalamnya cinta
kasih mereka, dan demikian hebatnya pula cobaan yang
mereka terima, namun demikian semuanya itu ternyata tak
bisa menggoyahkan iman, kepribadian, maupun kemuliaan
hati mereka berdua. Dengan sangat rela mereka
mengesampingkan kepentingan diri mereka sendiri, demi
menghormati hak dan kehormatan orang lain. Keduanya rela
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berpisah dan menanggung derita di dalam hati masingmasing,
karena salah seorang diantara mereka ternyata telah
menjadi milik orang lain. Adakah manusia di dunia ini yang
mampu berbuat seperti mereka berdua?
Timbul maksud di hati Put-ceng-li Lo-jin untuk
mempersatukan mereka kembali.
"Sejak pertama kali aku menemukan gadis itu, aku telah
berjanji di dalam hatiku, bahwa aku akan mengembalikan
kegembiraan dan kebahagiaan gadis itu sekuat
kemampuanku. Dan untuk mewujudkan janjiku itu aku telah
berbuat apa saja, dan demi gadis itu aku telah berani
menghadapi ejekan dan caci-maki masyarakat di sekelilingku.
Namun demikian selama ini aku tetap tak bisa mengembalikan
kegembiraannya. Hmmmm........mengapa pada saat yang
amat baik ini aku tak hendak mempersatukan saja mereka?”
Put-ceng-li Lo-jin berkata di dalam hatinya.
Setelah memperoleh keputusan seperti itu Put-ceng-li Lo-jin
menjadi lapang hatinya. Kakek itu lalu bersiap-siap untuk
melaksanakan keputusannya tersebut. Meskipun demikian,
sebagai seorang jantan dan lelaki sejati, ketua Bing-kauw itu
hendak menyelesaikannya dengan cara seorang ksatria pula.
Kakek itu akan menantang Souw Thian Hai untuk berperang
tanding, dan yang menang akan mendapatkan Chu Bwee
Hong!
Maka kakek itu lalu menatap Souw Thian Hai dengan
tajamnya.
“Saudara Souw......! telah kukatakan tadi, bahwa
sebenarnya aku amat kagum kepadamu. Tetapi kekagumanku
itu ternyata juga bercampur dengan sedikit kekecewaan pula.
Kau memang seorang ksatria dan pendekar sejati. Hanya saja
sebagai seorang lelaki kau terlalu lemah dan kurang bijaksana.
Kau terlalu tinggi hati dan tidak bertanggung jawab......!” Putceng-
li Lo-jin membuka mulutnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dan kali ini ternyata api yang disulutkan oleh Put-ceng-li
Lo-jin telah mengenai sasarannya. Sekilas tampak mata Souw
Thian Hai berkilat-kilat dalam kegelapan.
“Apa maksudmu......?” pendekar sakti itu menggeram
perlahan.
Put-ceng-li Lo-jin tersenyum.
“Bangsat! Belum tahu maksudku? Hehehe.......maksudku,
sebagai laki-laki engkau berani berbuat tetapi tidak berani
bertanggung jawab. Engkau telah berani memikat hati Chu
Bwee Hong, tapi setelah kena kau lantas melarikan diri.......”
“Apa.......?" Souw Thian Hai memotong dengan suara
gemetar. Tapi Put-ceng-li Lojin tak peduli dan tetap
meneruskan perkataannya. “Nah, apakah perbuatan seperti itu
perbuatan yang bijaksana? Hmmh! Dan kini, setelah sekian
lamanya kau melarikan diri, serta melihat korbanmu telah ada
yang menolong, kau lalu datang kembali. Kau pura-pura masih
bersedih, padahal di dalam hati kau bergembira bukan main.
Kau sangat bergembira karena Chu Bwee Hong tidak
membunuh diri, tapi malah mendapatkan seorang suami yang
bisa melindunginya. Kini kau merasa seolah-olah sudah
terbebas dari beban dosa yang berat. Malah untuk
menyempurnakan sandiwaramu, kau lalu datang seperti
seorang ksatria yang bersedih, tapi tak ingin mengusik
kebahagiaan bekas kekasihmu. Kau berpura-pura menjadi
ksatria sejati yang tak ingin mengusik atau mengganggu isteri
orang.......”
Wajah Souw Thian Hai yang pucat itu perlahan-lahan
berubah menjadi merah padam. Sinar kemarahan tampak
semakin menyala dalam bola matanya.
“Omongan seorang gila! Hmm, Put-ceng-li Lo-jin! Kau
jangan berbelit-belit! Lekas katakan, apa sebenarnya
maksudmu......?” Souw Thian Hai menggeram marah.
Put-ceng-li Lo-jin tertawa terbahak-bahak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hohoho........ kau ingin tahu maksudku? Baik! Dengarlah!
Aku ingin agar kau berbuat sesuatu untuk menghapus rasa
kecewa yang mengotori perasaan kagumku kepadamu tadi.
Nah, kau sanggup tidak?”
Souw Thian Hai mengerutkan dahinya, tetapi ia tetap
bingung dan tak tahu apa yang dimaksudkan oleh ketua Aliran
Bing-kauw tersebut.
“Kurang ajar! Sudah kuminta agar kau jangan berbelit-belit,
tetapi kau tetap membandel! Apakah kau ingin aku marah?”
untuk pertama kalinya Souw Lian Cu melihat ayahnya
berteriak marah-marah.
“Bodoh! Goblok! Otak udang.......!” Put-ceng-li Lo-jin
memaki-maki, seperti orang yang tak mengenal bahaya pula.
“mengapa kau tidak dapat juga menafsirkan perkataanku itu?
Dengarlah baik-baik! Aku ingin kau menghapus rasa kecewaku
itu, agar supaya perasaan kagumku itu menjadi sempurna.
Aku ingin agar kau benar-benar menjadi seorang lelaki sejati.
Jantan tulen. Sesuai dengan gelar Hong-gi-hiap yang
kauterima itu. Kau adalah seorang pendekar ternama, karena
itu.......hilangkan kelemahan hatimu!”
“Menghilangkan kelemahan hatiku? Apa......apa
maksudmu?”
“Bangsat! Keparat! Kau ini benar-benar tidak tahu atau
pura-pura tolol? Apakah kau tidak pernah membaca dan
mendengar, bagaimana seorang ksatria mengambil
jodohnya?” Put-ceng-li Lo-jin berteriak jengkel.
"Aku tidak tahu apa yang kaumaksudkan! Kakek gila,
mengapa kau masih tetap berteka-teki juga? Lekaslah
kaujelaskan, atau......kita berkelahi saja!” Souw Thian Hai
membentak pula tidak kalah kerasnya.
"Babi kotor ! Dengar ! Rebutlah Chu Bwee Hong dari
tanganku! Nah, sudahkah kau dengar kata-kataku ini?
Rebutlah Chu Bwee Hong! Dimanapun juga para ksatria
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengambil jodohnya dengan perisai dan pedang!” saking
jengkelnya Put-ceng-li Lo-jin berteriak setinggi langit.
“Lo-jin.......!” Chu Bwee Hong menjerit dan menubruk Putceng-
li Lo-jin. “Kau.....mengapa kau berkata begitu?
Apakah......apakah aku telah bersalah kepadamu? Mengapa
aku hendak kauberikan kepada orang lain? Apakah kau telah
tidak mau lagi kuikuti.....?”
Chu Bwee Hong menangis di dada kakek tua itu.
Tapi Put-ceng-li Lo-jin cepat membujuknya. “Bwee Hong,
anak yang baik......! kita tak perlu lagi meneruskan semua
sandiwara kita ini. Sudah tiba saatnya semuanya itu kita buka
sekarang. Di tempat ini. Bukankah kau masih ingat rencanaku
dulu?”
“Tapi........Lo-jin?” Chu Bwee Hong menengadahkan
mukanya dan memandang wajah suaminya dengan air mata
bercucuran.
“Anak baik, sudahlah......! kita memang tak pernah menjadi
suami isteri dalam arti yang sesungguhnya. Semuanya itu
hanya demi kau saja, anakku.....lain tidak! Kau masih ingat
semua rencana kita dahulu, bukan?”
Chu Bwee Hong mengangguk-angguk dengan air mata
yang masih bercucuran pula.
“Bagus! Sandiwara kita ini berakhir karena pemuda yang
kauimpi-impikan itu telah berada di depan mata kita. Sekarang
tinggal caranya saja untuk menyelesaikannya.”
“tapi, Lo-jin.......aku telah.......oh! mana dia mau lagi
denganku?” Chu Bwee Hong melirik Souw Thian Hai dan
menangis lagi tersedu-sedu, ingat akan keadaannya.
Put-ceng-li Lo-jin menghela napas panjang.
Dibelainya rambut Chu Bwee Hong perlahan-lahan.
“Anakku, hal itulah yang akan kuujikan kepadanya. Kalau dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memang lelaki baik dan bijaksana seperti yang selalu
kauceritakan, dia tentu masih akan tetap menerimamu.
Apapun yang telah terjadi! Tapi kalau ia menolakmu karena
kau dianggapnya telah kotor, maka dia adalah seorang yang
picik dan kerdil! Nah, apa gunanya kamu memikirkan pemuda
seperti itu?”
“tapi mengapa kau menyuruh dia merebut aku dari
tanganmu? Bukankah dengan demikian suasana akan menjadi
bertambah kalut?” Chu Bwee Hong berkata di antara isak
tangisnya.
“Sssst! Diamlah! Kau tak perlu khawatir! Percayalah saja
kepadaku! Justru inilah jalan yang terbaik bagi kita.......” Putceng-
li Lo-jin berbisik.
“Jalan yang terbaik?” Chu Bwee Hong berdesah tak
mengerti.
“Ya! Kalau dia memang masih mengharapkanmu serta
mencintaimu, dia tentu menerima tantanganku itu. Sebab
tantangan ini merupakan kesempatan bagi seorang jantan
untuk memperoleh haknya secara terhormat. Tapi kalau dia
memang tidak...... mencintaimu lagi, hmm....... dia tentu akan
mencari berbagai macam alasan untuk menghindarinya! Nah,
bukankah ini merupakan jalan yang terbaik untuk menguji
hatinya kepadamu? Dan yang kedua, aku ingin mendudukkan
dirimu di tempat yang semestinya."
Put-ceng-li Lo-jin berhenti sebentar untuk mengambil
napas, lalu dengan wajah bersungguh-sungguh ia meneruskan
lagi keterangannya. "Kau adalah anak yang baik. Sangat baik
sekali malah ! Hanya karena nasib saja kau bertemu dengan
iblis berkerudung yang sangat keji itu. Tapi lepas dari semua
itu, kau benar-benar seorang gadis pilihan. Wajahmu ayu,
hatimu bersih, budimu luhur dan mulia. Nah, adakah wanita
lain yang seperti engkau ini?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sekali lagi Put-ceng-li Lo-jin menghentikan kata-katanya.
Dipandangnya wajah yang berurai air mata itu dengan
tersenyum, senyum seorang kakek atau ayah kepada cucu
atau anaknya sendiri.
"Nah, oleh karena itu pemuda yang hendak mempersunting
dirimu harus berjuang. Berjuang dengan seluruh keringat dan
darahnya! Kau bukanlah wanita murahan yang dengan mudah
diperoleh oleh setiap orang! Kau adalah seorang puteri pilihan
yang pantas direbut dengan cucuran darah dan nyawa oleh
para ksatria.......!”
Chu Bwee Hong memandang kakek itu dengan wajah
terharu, lalu tanpa terasa lengannya kembali memeluk tubuh
bongkok yang baik budi itu. “Lo-jin.......” mulutnya merintih,
menyebut nama penolongnya, yang oleh sebagian orang
dianggap urakan dan tak mengenal aturan itu.
“Hmm, anak baik, sekarang kau sudah tahu maksudku,
bukan?”
Chu Bwee Hong mengangguk.
“Bagus! Sekarang kau minggirlah, biar aku
menyelesaikannya......!” Put-ceng-li Lo-jin berkata seraya
melepaskan pelukan Chu Bwee Hong.
“Tapi.....bagaimana dengan kau nanti? Bagaimana kalau
kau tak bisa melayaninya? Oh, Lo-jin......dia.....dia lihai sekali!”
Chu Bwee Hong memandang Put-ceng-li Lo-jin dengan
perasaan khawatir.
“Eh, anak bodoh! Bagaimana kau ini? Bukankah itu lebih
baik? Bagaimana jadinya.....kalau aku yang menang nanti?
Malah menjadi repot, bukan?” Put-ceng-li Lo-jin berbisik, lalu
tertawa.
Chu Bwee Hong tersipu-sipu diantara air matanya yang
mulai mengering.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tapi aku tak ingin kau terluka atau sakit karena
pertempuran itu......." Chu Bwee Hong berbisik pula.
"Bangsat ! Aku adalah ketua Aliran Bing-kauw. Masakan
begitu mudahnya aku dilukai orang?" kakek itu berseloroh.
"Sudah, minggirlah sana.......!”
Chu Bwee Hong melirik sekali lagi ke arah Souw Thian Hai
yang mukanya merah padam itu, lalu melangkah minggir
mendekati Souw Lian Cu. Dan gadis itupun lalu menyongsong
Chu Bwee Hong dengan pelukan haru.
Sementara itu Put-ceng-li Lo-jin telah berhadapan dengan
Souw Thian Hai kembali!
"Nah! Kau tentu sudah mendengar pula barang sedikit
percakapanku dengan Chu Bwee Hong tadi, bukan ? Aku dan
dia bukanlah suami isteri dalam arti yang sebenarnya.
Meskipun begitu, aku tak hendak menyerahkannya begitu saja
kepada orang lain. Orang itu harus menyabung nyawa terlebih
dahulu denganku untuk bisa memilikinya.
Hmmh.......bagaimana? kau terima tantanganku?” kakek itu
berteriak menggeledek, mengalahkan deru angin yang bertiup
di atas pantai tersebut.
Souw Thian Hai tidak segera menjawab. Wajahnya tampak
pucat dan merah berganti-ganti. Kadang-kadang tampak pula
sinar gembira dan kelegaan di matanya mendengar Chu Bwee
Hong bukan isteri Put-ceng-li Lo-jin. Tapi perkembangan yang
sangat mendadak itu masih juga membingungkannya.
“kalian......kalian bukan suami isteri dalam arti yang
sesungguhnya? Tapi.....tapi kudengar kalian mempunyai
seorang......eh.....seorang bayi.......” akhirnya pendekar itu
berkata. Suaranya gemetar dan matanya beberapa kali
memandang ke arah Chu Bwee Hong.
Put-ceng-li Lo-jin menggeram dengan mata menyala.
Tangan kirinya bertolak pinggang, sedangkan tangan
kanannya menuding ke arah Souw Thian Hai.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Huh! Jadi kau belum tahu tentang anak itu? Bangsat!
Dengarlah......! anak itu lahir di dunia ini akibat dari
kelalaianmu, kelemahanmu dan keragu-raguanmu! Tahu?
Masih ingatkah kau peristiwa di rumahmu, ketika orang
berkerudung hitam yang kini terkenal dengan nama Hek-engcu
itu, membawa Chu Bwee Hong untuk memeras peti
pusakamu?” kakek itu berteriak marah.
“Ya........ya, aku ingat! Lalu........lalu mengapa aku yang
salah?”
Souw Thian Hai memandang Put-ceng-li Lo-jin dengan
penasaran. Sementara itu Chu Bwee Hong mulai menangis
lagi. Wanita ayu itu teringat akan penderitaannya kembali.
“Sudah kuduga, kau tentu tidak merasa bahwa kau punya
andil juga dalam kemelut ini. Benar-benar lelaki bangsat! Huh!
Apakah kau tidak merasa, bahwa karena kelalaianmu dan
keragu-raguanmu itu membuat sengsara hati Chu Bwee Hong?
Dan karena ulahmu itu pula yang membuat Chu Bwee Hong
dengan mudah dijebak oleh iblis Hek-eng-cu itu. Nah, siapa
yang salah kalau akhirnya Chu Bwee Hong menjadi korban
iblis keparat itu?”
"Ooooh.......!" Chu Bwee Hong menjerit dan menangis
terisak-isak kembali di dalam pelukan Souw Lian Cu.
Bukan main terkejutnya Souw Thian Hai.
"Apa........???” pendekar itu berteriak.
Otomatis jari-jari pendekar itu menyambar lengan Putceng-
li Lo-jin. Tapi dengan cepat ketua Bing-kauw itu
mengelak, lalu dengan cepat pula membalas serangan itu.
"Dhieees.......!"
Tubuh Souw Thian Hai terpental dan jatuh terguling-guling
di atas pasir. Pendekar yang sejak semula memang tidak
berjaga-jaga karena memang tidak bermaksud untuk
menyerang Put-ceng-li Lo-jin itu, segera bangkit kembali
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan tangkasnya. Matanya terbelalak memandang Putceng-
li Lo-jin dan Chu Bwee Hong berganti-ganti.
"Jadi ? Jadi anak itu adalah hasil kebiadaban Hek-eng-cu ?
Kurang ajar.......! Iblis keji!" pendekar sakti itu mengumpat
dengan gigi berkerot. Jari-jarinya mengepal dengan eratnya.
Tampak benar, betapa marahnya pendekar itu kali ini.
Kemarahan yang ditunjang oleh rasa penyesalan yang dalam !
Tiba-tiba Put-ceng-li Lo-jin tertawa. "Hahaha....... terlambat
sudah ! Tak ada gunanya lagi kemarahan dan penyesalan itu
sekarang ! Apalagi kemarahan dan penyesalan tersebut
datangnya dari seorang lelaki pengecut dan tak bertanggung
jawab! Semua itu cuma sandiwara belaka.....!"
"Gila ! Tutup mulutmu......!!" Souw Thian Hai menjerit
saking marahnya.
Mendadak tangan kanan Souw Thian Hai terayun ke depan,
ke arah dada Put-ceng-li Lo-jin ! Dan....... selarik sinar
kemerahan tiba-tiba melesat dari telapak tangan itu.
Dengan tergesa-gesa Put-ceng-li Lo-jin menghindarinya.
"Dhuaaaar........!!!”
Gundukan pasir yang berada di belakang Put-ceng-li Lo-jin
tiba-tiba meledak dengan dahsyatnya ! Debu pasir
berhamburan bagai hujan ! Terpaksa semuanya menyingkir
dari tempat itu, termasuk juga Souw Lian Cu yang
menggandeng tangan Chu Bwee Hong!
Put-ceng-li Lo-jin mendaratkan kakinya tidak jauh dari
tempat tersebut. Sambil bertolak pinggang, kakek itu
menggeleng-gelengkan kepalanya, hatinya kagum sekali.
"Hei! Apakah kau menerima tantanganku tadi ? Kau
bersedia merebut Chu Bwee Hong dari tanganku ?" dengan
enaknya dan tanpa merasa takut sedikitpun melihat pameran
kekuatan Souw Thian Hai tadi, Put-ceng-li Lo-jin berteriakteriak
kembali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"jangan membuka mulut saja! Lihat seranganku.......!"
Souw Thian Hai menggeram dan kembali menyerang dengan
kedua belah tangannya.
Sekali lagi seleret sinar kemerahan meluncur dari telapak
tangan Souw Thian Hai, menerangi gundukan pasir yang
berada diantara mereka. Dan sedetik kemudian kilatan sinar
merah itu menjilat ke arah dada Put-ceng-li Lo-jin, bagaikan
jilatan api yang menyengat udara sekelilingnya.
“Gila !"
Put-ceng-li Lo-jin mengumpat seraya melenting ke atas
cepat sekali. Kemudian dari atas kakek itu meluncur ke
samping kiri seperti kilat cepatnya. Sambil meluncur kakek itu
menyabetkan lututnya ke kepala Souw Thian Hai. Begitu
cepatnya gerakan kakek itu, sehingga Souw Thian Hai tidak
mempunyai kesempatan untuk mengelak lagi.
Tapi senyum yang sudah mulai merekah di bibir ketua
Bing-kauw itu cepat menghilang lagi. Souw Thian Hai itu
memang tidak bisa mengelak lagi, tapi secara mendadak
pendekar itu memalingkan mukanya, dan tiba-tiba dari
mulutnya berembus kabut putih yang menerpa atau
menyongsong datangnya lutut itu.
Dan sekejap kemudian hembusan udara dingin terasa
menghantam lutut Put-ceng-li Lo-jin, sehingga tiba-tiba saja
kaki ketua Bing-kauw itu terasa kaku dan lututnya membeku!
Maka sambil memaki dan mengumpat tiada habisnya, kakek
tersebut berusaha melemparkan kakinya yang tidak bisa
digerakkan itu ke atas. Lalu dengan meminjam daya
lemparannya tersebut, Put-ceng-li Lo-jin melesat pergi
menjauhkan diri.
"Monyet! Anjing ! Babi........! Hei........ilmu apa ini?" ketua
Bing-kauw itu berseru dengan kaki terpincang-pincang.
Segores luka tampak menganga di atas lututnya. Luka seperti
sayatan pedang yang tidak ia ketahui dari mana datangnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dan anehnya, untuk beberapa saat luka itu tidak
mengeluarkan darah. Baru setelah kakek itu mengerahkan
lwee-kang untuk menghilangkan kebekuan tersebut, luka itu
lalu mengalirkan darah.
Chu Bwee Hong yang berpegangan tangan dengan Souw
Lian Cu itu, tampak menatap Put-ceng-li Lo-jin dengan
pandang mata khawatir.
“Ilmu apakah yang telah dikeluarkan ayahmu itu?” wanita
ayu itu bertanya kepada Souw Lian Cu. “Kulihat ia tak
membawa apa-apa, tapi mengapa bisa melukai orang?”
“Tai-lek Pek-khong-ciang dan Tai-kek Sin-ciang!” Souw Lian
Cu menjawab bangga.
“Ohh........? Tai-lek Pek-khong-ciang dan Tai-kek Sinciang?”
Chu Bwee Hong menegas dengan suara kaget.
“Ya! Kedua buah ilmu itu adalah andalan keluarga Souw,
dan ayahku telah mempelajarinya dengan sempurna sekali.
Dan yang melukai Put-ceng-li Lo-jin itu adalah pukulan Tai-lek
Pek-khong-ciang, semacam ilmu totokan (tiam-hoat) dari jauh.
Hawa pukulan dari tiam-hoat itu dapat melukai sasaran seperti
layaknya ujung pedang atau ujung tongkat, tergantung oleh
besar kecilnya tenaga sakti yang dipergunakan.......”
“Ah, kalau begitu kau juga bisa, Lian Cu.....?”
gadis itu mengangguk. “Tapi baru permulaan, karena aku
lantas pergi dari rumah......” katanya menyesal. “.......jadi
belum dapat dipakai untuk melukai sasaran dari jarak jauh.
Paling-paling hanya untuk menotok atau melumpuhkan orang
dari jarak satu tombak saja......”
“Tapi......itupun sudah hebat, dan kau masih bisa belajar
lagi nanti.” Chu Bwee Hong membujuk.
Tiba-tiba Souw Lian Cu meremas jari-jari tangan Chu Bwee
Hong dengan wajah gembira. “Jadi......jadi ci-ci bersedia ikut
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ayahku pulang? Ooooh......ibu, aku senang sekali!” Souw Lian
Cu memeluk wanita ayu itu.
“Eh! Eh......nanti dulu! Siapa bilang aku akan mengikuti
ayahmu?”
Souw Lian Cu cepat melepaskan pelukannya. Bibirnya tidak
tersenyum lagi. Matanya yang bulat besar itu menatap Chu
Bwee Hong lekat-lekat.
“Hei, Lian Cu.....ada apa?” dengan cepat Chu Bwee Hong
memegang lengan gadis itu.
Tapi dengan cepat pula Souw Lian Cu mengelak. “Tidak
apa-apa! Kalau begitu, lupakan saja ilmu Tai-lek Pek-khongciang
itu!”
“Lhoh......mengapa demikian?” Chu Bwee Hong berseru
kaget.
Souw Lian Cu membalikkan tubuhnya dengan cepat.
Dipandangnya pertempuran seru antara ayahnya melawan
Put-ceng-li Lo-jin itu.
“Aku juga tak mau ikut dengan ayah!” gadis itu berkata
kaku.
“Ahhh......Lian Cu!” Chu Bwee Hong berdesah, lalu
memeluk gadis itu dari belakang. Matanya berkaca-kaca
kembali.
Sementara itu pertempuran antara Souw Thian Hai dengan
Put-ceng-li Lo-jin berlangsung semakin dahsyat! Kini, setelah
menyadari betapa tingginya ilmu kepandaian lawannya, Putceng-
li Lo-jin tak mau berlaku sembrono lagi. Ketua Bing-kauw
itu benar-benar mengerahkan seluruh kepandaiannya, agar
supaya tidak terjebak dalam perangkap ilmu Souw Thian Hai
yang menggiriskan hati itu.
Kilatan-kilatan sinar berwarna merah dan putih, yang keluar
dari telapak tangan Souw Thian Hai itu semakin sering
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyambar tubuh Put-ceng-li Lo-jin, sehingga udara di sekitar
merekapun menjadi berubah-ubah pula karena terpengaruh
oleh ilmu yang mendebarkan hati tersebut. Bila sinar merah
yang meluncur, maka udara di sekitar tubuh ketua Bing-kauw
itupun lantas bagaikan dibakar oleh lidah api yang bersumber
dari tangan Souw Thian Hai. Sebaliknya kalau yang berpijar
dari tapak tangan itu berwarna putih terang, maka Put-ceng-li
Lo-jin seolah-olah telah dicampakkan pula ke dalam lautan es
yang dingin bukan kepalang!
Dan dilihat sepintas lalu, pertempuran itu tampaknya
memang dirasakan terlalu berat bagi Put-ceng-li Lo-jin.
Meskipun dengan Cap-sha-cui-min (Tigabelas Pintu Masuk),
yaitu bagian pertama dari Chu-mo-ciang, ketua Bing-kauw itu
selalu dapat mengelak dan menghindar, tapi perubahan hawa
yang setiap detik selalu berganti itu sungguh sangat
melelahkan kekuatan tubuhnya yang telah tua tersebut. Sebab
untuk menyesuaikan diri atau bertahan terhadap perubahanperubahan
hawa itu Put-ceng-li Lo-jin terpaksa harus
mengerahkan seluruh kekuatan lwee-kangnya. Maka
akibatnya, orang tua itu lalu cepat sekali menjadi lelah,
sehingga otomatis tidak bisa mengembangkan daya
perlawanannya. Jangankan untuk menyerang lawan dengan
Koai-jin-kun (Seribu Gerakan Aneh)-nya yang konyol dan
mengerikan itu, kini untuk tetap bisa bertahan memainkan
Cap-sha-cui-min saja ia semakin merasa kesulitan pula.
''Bangsat! Keparat! Setan busuk bau kotoran.......! Aduuh !
Baru sekali ini aku dibuat jatuh bangun oleh.......... anjing,
monyet.....! Oh, babi kau !" ketua Bing-kauw yang gemar
mengumpat-umpat itu berteriak-teriak.
Tapi Souw Thian Hai tidak mempedulikan cacian dan
umpatan orang tua itu. Semakin lama pendekar itu semakin
menambah kekuatan ilmunya, sehingga arena pertempuran itu
semakin tercekam pula oleh kedahsyatan ilmu tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Chu Bwee Hong dan Souw Lian Cu terpaksa menyingkir
semakin jauh pula dari arena pertempuran itu. Percikan atau
taburan pasir yang telah menjadi panas atau dingin itu benarbenar
dapat membahayakan kulit mereka.
"Lian Cu, kelihatannya Put-ceng-li Lo-jin sedang berada di
dalam keadaan yang sulit sekarang........." Chu Bwee Hong
berkata dengan nada khawatir.
Souw Lian Cu menghela napas, tapi tak menjawab.
"Lian Cu, mengapa kau diam saja ?" Chu Bwee Hong
bertanya.
“Apa yang mesti kukatakan lagi? Siapapun yang menang
diantara mereka tiada bedanya bagiku. Paling-paling hanya
kesedihan saja yang kuperoleh........” Souw Lian Cu menjawab
datar tanpa perasaan.
"Ah, mengapa demikian......?"
"Habis, ci-ci tidak mau kawin dengan ayahku ! Lalu, apa
gunanya mereka itu bertanding ?"
Chu Bwee Hong tersenyum pahit, lalu dengan penuh kasih
sayang dibelainya gadis itu perlahan. "Lian Cu.........kau
jangan berkata begitu !” bisiknya lembut.
“Ohh, ci-ci.....!" Souw Lian Cu menjerit kecil, lalu
menyembunyikan mukanya di dada Chu Bwee Hong. "Ci-ci,
mengapa kau tak mau menjadi isteri ayahku ?"
“Ahh......,bocah manja ! Kau ini ada-ada saja. Sebenarnya
akulah yang harus bertanya kepadamu. Adakah ayahmu itu
masih mau mengawini seorang wanita kotor seperti aku ini?”
Chu Bwee Hong balik bertanya.
"Apa? Siapa yang berani mengatakan ci-ci seorang wanita
kotor? Huh! Aku tidak terima. Akan kutantang orang itu!
Dan........ apabila ayahku yang mengatakannya........ hmmh,
aku tidak akan menganggapnya sebagai ayah lagi !” Souw
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lian Cu melepaskan diri dari pelukan Chu Bwee Hong dan
berseru marah.
"Hei........ kau jangan berkata seperti itu. Itu berdosa.......”
dengan halus Chu Bwee Hong menarik lengan gadis itu
kembali.
"Tapi ayahpun juga berdosa pula jika mengatakan seperti
itu!"
"Aaa....... sudahlah! Mengapa mesti marah-marah terus
begitu?"
"Tapi bagaimana dengan ci-ci? Mau tidak dengan ayahku?”
Souw Lian Cu masih terus mendesak dengan penasaran.
Chu Bwee Hong memalingkan mukanya seraya menghela
napas dalam-dalam. Berat juga rasanya bagi wanita ayu itu
untuk mengatakan apa yang tersembunyi di dalam hatinya,
meskipun hanya kepada Souw Lian Cu yang telah
dianggapnya sebagai anaknya pula.
“Bagaimana, ci-ci?” Souw Lian Cu yang masih tetap
penasaran itu mendesak lagi.
Chu Bwee Hong menatap Souw Lian Cu kembali. "Baiklah!
Semuanya terserah kepada ayahmu..........” akhirnya wanita
ayu itu mengalah.
"Horeee.........!" seperti anak kecil Souw Lian Cu
menghambur ke dalam pelukan Chu Bwee Hong.
“Lian Cu, lihatlah! Kau jangan buru-buru bergembira dulu !
Sekarang ayahmu yang dalam kesulitan!" Chu Bwee Hong
tiba-tiba menunjuk ke arah pertempuran.
“Ohhh !”
"Hei! Put-ceng-li Lo-jin memainkan ilmu Bidadari
Bersedih....." Chu Bwee Hong berteriak lagi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ternyata keadaan di dalam pertempuran itu memang telah
berubah. Souw Thian Hai yang semula mendesak Put-ceng-li
Lo-jin dengan pukulan-pukulan merah-putihnya, kini tampak
mundur terus menghadapi ilmu silat Put-ceng-li Lo-jin!
Ternyata ketua Aliran Bing-kauw itu kini mengubah cara
bersilatnya. Kalau tadi kakek itu bergerak dengan cepat, kasar
dan aneh, sekarang kakek itu bergerak dengan halus dan
lemah lembut bagaikan seorang bidadari menari. Tentu saja
gerakannya itu membuat dirinya menjadi lucu dan
menggelikan. Meskipun demikian jurus-jurus yang ia keluarkan
ternyata sangat mengejutkan Souw Thian Hai!
Bagaikan seorang bidadari yang benar-benar lagi bersedih,
Put-ceng-li Lo-jin membuat gerakan-gerakan yang
mencerminkan kesedihan dan kepiluan hatinya. Demikian
sempurnanya kakek itu menghayati ilmu itu sehingga dari
mulut dan hidungnyapun kadang-kadang terdengar suara isak
dan sedu-sedan perlahan. Malahan seringkali secara tak
terduga kakek tersebut menangis menjerit-jerit.
Pada suatu saat Put-ceng-li Lo-jin menyerang Souw Thian
Hai dengan jurusnya Mengusap Air Mata Membanting Cermin.
Tapi tak terduga Souw Thian Hai yang telah terpaksa itu justru
menyongsong serangan itu dengan pukulan gandanya. Maka
gerakan membanting cermin itu menjadi urung dilakukan, dan
sebaliknya seperti seorang bidadari yang sungguh-sungguh
sedang bersedih, Put-ceng-li Lo-jin membuat gerakan seorang
wanita yang sedang berputus asa. Dengan gerakan yang tak
terduga pula kakek itu menubruk ke arah pukulan Souw Thian
Hai malah!
Tentu saja Souw Thian Hai menjadi kaget, bingung dan
sekaligus bercuriga pula! Jangan-jangan semua itu cuma
gertakan atau jebakan untuknya. Oleh karena itu secara tidak
sadar Souw Thian Hai lalu menahan pukulannya.
Tapi waktu yang hanya sedetik itu ternyata benar-benar
dimanfaatkan oleh Put-ceng-li Lo-jin, atau memang inilah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
keistimewaan Ilmu Silat Bidadari Bersedih itu. Secara tak
terduga dan dalam tempo yang sangat mendadak, tiba-tiba
kakek yang hendak bunuh diri itu menggeliatkan badannya,
tahu-tahu pergelangan tangan Souw Thian Hai telah
dipegangnya. Dan sebelum Souw Thian Hai menyadari
keadaannya, tahu-tahu tubuhnya yang tinggi besar itu telah
jatuh berdebam di atas pasir.
Cepat pendekar sakti itu mengerahkan lwee-kang ke
lengannya, berjaga-jaga untuk menangkis serangan
berikutnya. Tapi lagi-lagi pendekar itu terkecoh. Lawannya
yang seharusnya memanfaatkan keadaannya yang sulit,
karena tak punya kesempatan untuk mengelak itu justru
membalikkan tubuh dan bersiap untuk pergi malah! Sekali lagi
Souw Thian Hai menjadi bingung. Sedetik ia ternganga.
Tapi waktu yang sedetik itu lagi-lagi dimanfaatkan oleh Putceng-
li Lo-jin dengan telak! Secara tak terduga ketua Bingkauw
itu menjatuhkan diri dan tumitnya mengait ke belakang!
Bressss! Souw Thian Hai terlempar ke belakang dengan
lengan kanan lumpuh!
“Gila! Ilmu apa ini..........?” pendekar itu berdesah menahan
sakit.
Put-ceng-li Lo-jin tertawa. “Nah, kedua lenganmu yang
berbahaya itu telah lumpuh salah satu, hahaha........!
Ketahuilah! Ilmu ini adalah Ilmu Silat Bidadari Bersedih !
Dan.....jurus yang baru kulakukan itu adalah jurus Selir Kui
Hui Bermain Sandiwara. Bagus tidak.....?" kakek itu berkata
genit seperti wanita.
Sementara itu dengan hati berdebar-debar Souw Lian Cu
mencengkeram pergelangan tangan Chu Bwee Hong.
"Ci-ci, aku takut kalau ayahku kalah......semuanya bisa
hancur nanti ! Ahh, ternyata aku telah salah menduga orang.
Ketua Bing-kauw itu ternyata lihai sekali."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aaaah.......!" Chu Bwee Hong berdesah puIa tak kaIah
tegangnya.
Karena sama-sama gelisah dan tegangnya, maka kedua
perempuan itu saling beremas tangan tanpa terasa.
Sekali lagi terdengar Put-ceng-li Lo-jin tertawa gembira.
Kakek yang suka sekali berkelahi itu seperti mendapatkan
hiburan dan kegembiraan dari pertempurannya tersebut.
Suatu kenyataan, dimana dari kalah lalu menang itu benarbenar
sangat memuaskannya. Rasa-rasanya kalau nanti
menjadi kalah lagipun ia takkan merasa kecewa.
"Ayoh ... Souw Thian Hai ! Kerahkan semua kepandaianmu!
Kalahkan ketua Bing-kauw ini! Rebutlah calon isterimu ini dari
tanganku, hehehe......!”
"Hmmh !”
Souw Thian Hai menggeram. Tangan kirinya sibuk
membersihkan pasir yang melekat pada bajunya, sementara
tangan kanannya tergantung lumpuh di sisi badannya.
"Hmm, kau jangan buru-buru bergirang hati dahulu !
Meskipun untuk sementara tangan kananku lumpuh, tapi itu
tidak berarti aku akan kalah denganmu. Lihatlah........!"
pendekar itu membentak.
Beberapa saat kemudian mata Put-ceng-li Lo-jin terbelalak.
Dengan sangat heran kakek itu melihat lawannya mulai
bersilat hanya dengan separuh badan saja. Dengan sangat
gesit dan lincah Souw Thian Hai menggerakkan tubuh bagian
kirinya seperti orang kidal saja. Tangan kanan dan kaki
kanannya ia biarkan saja terayun kesana kemari mengikuti
gerakannya. Dan pendekar sakti itu sedikitpun tidak merasa
terganggu oleh kaki tangan itu.
Dan Put-ceng-Ii Lo-jin buru-buru meloncat mundur ketika
secara tiba-tiba tangan Souw Thian Hai tersebut menyambar
ke arah mukanya. Dan hembusan udara panas terasa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyengat kulit, sehingga kakek itu merasa seperti ada bau
rambutnya yang terbakar.
“Bangsat! Kau memang hebat! Tapi, bagaimanapun juga
kau takkan menang melawan aku. Sebab dengan anggauta
badan lengkap saja kau tak mampu, apalagi sekarang kau
hanya melawan dengan separuh badan. Oh-ho-ho .... sungguh
malang benar nasibmu !" ketua Bing kauw itu mengejek.
Tapi Souw Thian Hai tak mengacuhkannya. Pendekar itu
justru bergerak semakin lincah dan cepat. Kaki kirinya
bergerak, bergeser dan berloncatan dengan tangkasnya,
seolah-olah sejak lahir pendekar itu memang hanya berkaki
satu. Sedangkan tangan kirinya tampak berkelebatan pula tak
kalah gesitnya. Menotok, memukul, menabas dan
mencengkeram ke tempat-tempat yang berbahaya dengan
ganasnya. Sementara dari dalam tangan itu keluar hawa
panas dan dingin silih berganti.
"Demit ! Setan ! Iblissss ....!" Put-ceng-li Lo-jin mengumpat
tiada habisnya, begitu mendapat kenyataan bahwa lawannya
tidak bertambah lemah, tapi justru menjadi berlipat ganda
kekuatannya. Tampaknya, dengan hanya mempergunakan
separuh badan, pendekar sakti itu malah bisa memusatkan
seluruh kemampuannya ke satu arah saja, sehingga kekuatan
yang dia hasilkan juga bertambah besar pula.
Oleh karena itu pertempuran merekapun tidak menjadi
susut, tapi 'semakin berkembang menjadi dahsyat malah !
Souw Thian Hai dengan ilmu silat separuh badannya justru
semakin bertambah hebat dan mendebarkan hati, sementara
lawannya, dengan Ilmu Silat Bidadari Bersedihnya ternyata
juga mampu mengecoh dan membingungkan Souw Thian Hai
pula. Sehingga alhasil untuk sementara waktu belum dapat
dipastikan, siapa yang kalah atau menang nantinya. Apalagi
setelah mempunyai kesempatan, ketua aliran Bing-kauw itu
dapat pula menyisipkan Koai-jing-kun dalam setiap
serangannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu, di tepi muara Sungai Huang-ho, Chin Yang
Kun telah dapat mendarat pula dengan selamat. meskipun
tempat pendaratannya jauh lebih ke hilir dari tempat
pendaratan Souw Thian Hai tadi. Dengan pakaian basahkuyup
pemuda itu mencari jalan menuju ke dusun tempat
bermukim para perajurit itu.
Tapi ketika sampai di rimba batu raksasa itu, tiba-tiba Chin
Yang Kun mendengar suara Souw Thian Hai memanggil
puterinya. Suara itu keras sekali dan datang dari arah pantai !
Chin Yang Kun membalikkan badannya lalu dengan
tergesa-gesa berlari ke arah suara itu. Tapi ketika tiba di
dataran pasir luas itu, tiba-tiba Chin Yang Kun melihat
berkelebatnya beberapa sosok bayangan, melintas di tempat
terbuka itu pula. Di dalam kegelapan, beberapa sosok
bayangan itu tampak menyelinap di antara batu-batu karang
hitam, untuk kemudian tak kelihatan Iagi.
"Eh........ siapakah mereka itu tadi ? Ilmu meringankan
tubuh mereka rata-rata sangat tinggi. Mereka tentu bukan
tokoh-tokoh sembarangan."
Karena belum mengetahui siapa mereka itu, maka Chin
Yang Kun juga tak ingin diketahui pula oleh mereka. Dengan
jalan mengendap-endap pemuda itu merangkak di antara
batu-batu karang yang bertonjolan di atas hamparan pasir
hitam tersebut. Di antara gemuruhnya angin dan deburan
ombak, pemuda itu mendengar suara orang bercakap-cakap di
tepi pantai.
"Suara siapakah itu ? Mungkinkah suara itu suara Hong-gihiap
Souw Thian Hai ? Tapi dengan siapa ia bercakap-cakap?
Apakah dengan salah seorang dari bayangan yang kulihat tadi
?"
Tiba-tiba suara percakapan itu berhenti. Tapi sekejap
kemudian terdengar suara yang lain. Suara pertempuran.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Suara pertempuran ? Siapa........?" Chin Yang Kun
terkejut.
Sambil menundukkan tubuhnya, Chin Yang Kun berlari
diantara batu-batu karang itu. Pemuda itu sengaja mengambil
jalan memutar yang lebih aman, dari pada lewat di atas
hamparan pasir yang terbuka itu. Makin dekat ke bibir laut,
suara itu semakin jelas dan keras. Malahan sayup-sayup telah
terdengar suara makian dan umpatan pula.
"Ah, rasa-rasanya aku pernah mendengar suara seperti
itu...,..” Chin Yang Kun berdesah dan berlari semakin tak
sabar.
Karena tegangnya pemuda itu melompat begitu saja ketika
di depannya menghalang sebuah batu karang besar. Tapi
pemuda itu terkejut bukan kepalang ketika kakinya hampir
saja menginjak sesosok tubuh manusia yang sedang
bersembunyi di balik batu karang tersebut. Dan pemuda itu
semakin menjadi kelabakan tatkala orang yang mau diinjaknya
itu menyerangnya! Sebilah pisau pendek tampak berkelebat ke
arah perutnya.
"Heit.......!" terdengar suara nyaring seorang wanita.
Chin Yang Kun menarik kakinya, kemudian memutar
badannya ke samping, setelah itu baru menjatuhkan tubuhnya
ke pasir. Tapi dengan meminjam daya tolaknya, tubuh
pemuda itu dapat melenting ke atas kembali. Lalu dengan
manis, kakinya hinggap di atas batu karang besar tersebut.
"Bagus !" wanita itu berseru kagum dan siap untuk
menyerang lagi.
"Hah? Kau lagi.......!" Chin Yang Kun yang lolos dari maut
itu berseru perlahan begitu mengenali orang yang baru saja
menyerangnya itu.
"Huh, kau juga !" wanita yang tak Iain dan tak bukan
adalah Siau Put-sia atau Put-sia Nio-cu itu cemberut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dan keduanya tak jadi meneruskan perkelahian mereka.
Chin Yang Kun melompat turun sambil menghela napas
lega. Matanya yang tajam luar biasa itu menatap wajah Siau
Put-sia yang cantik bagaikan bulan purnama itu. Wajah yang
cantik itu tampak kemerah-merahan karena marah.
"Hmm........ kau ini suka benar main sembunyi-sembunyian.
Apa yang hendak kaulakukan di tempat ini?" Chin Yang Kun
bertanya dengan bibir tersenyum, ingat akan pertemuannya
dengan gadis itu di Kuil Delapan Dewa dulu.
Tapi mulut yang indah itu semakin cemberut. Matanya yang
lebar tampak berkilat-kilat di dalam kegelapan.
"Aku bersembunyi di sini atau di mana saja, apa pedulimu ?
Kaupun juga ada di sini, lalu apa pula yang hendak
kaukerjakan? Mau mengintip aku? Kaukira malam-malam
begini aku mau mandi di Iaut, ya.......?" Siau Put-sia
menjawab dengan kata-katanya yang pedas.
Kulit muka Chin Yang Kun merah seketika ! Lidahnyapun
menjadi kaku pula dengan mendadak. Kata-kata gadis itu
memang keterlaluan sekali.
"Kurang ajar, lidahmu tajam benar! Tak seharusnya katakata
atau ucapan seperti itu keluar dari mulut seorang gadis
sopan.........” Chin Yang Kun yang merasa tersinggung itu
menggeram.
Tapi melihat lawannya menjadi marah, gadis itu justru
tertawa sekarang. Dan ketika tertawa gadis itu sama sekali tak
berusaha untuk menutup mulutnya. Mulutnya terbuka lepas,
sehingga suaranyapun sampai terdengar nyaring dan keras.
"Hihihi-haha.....gadis sopan? Apa itu? Hihi-haha.....! Kau
tahu siapa aku ini? Namaku Put-sia Nio-cu, yang artinya
adalah Gadis Yang Tak Tahu Adat ! Dan guruku adalah Putceng-
li Lo-jin atau Orang Tua Yang Tahu Aturan! Nah .......
apa artinya sebutan gadis sopan itu bagiku ?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Chin Yang Kun terdiam, mulutnya meringis. Pemuda itu
menjadi salah tingkah. Tersenyum salah, tidak tersenyumpun
juga salah. Menghadapi Siau Put-sia ternyata Chin Yang Kun
selalu dibuat tak berdaya. Oleh karena itu Chin Yang Kun lalu
beranjak dari tempatnya dan tak mau berdebat lagi.
Tapi dengan cepat Siau Put-sia melompat menghalanghalanginya.
Sambil bertolak pinggang gadis itu menudingkan
jari telunjuknya.
"Hei ! Enak saja mau pergi setelah tiba-tiba mau
membunuh orang........." gadis itu membentak.
"Mau membunuh orang? Siapa yang mau membunuh
orang? Kurang ajar! Kau jangan bicara sembarangan !” Chin
Yang Kun berseru marah.
"Huh........ kaulah yang bicara sembarangan! Lelaki macam
apa itu? Berani berbuat tidak berani bertanggung jawab !
Coba, siapakah yang mau menginjak punggungku tadi? Ayo
jawab!"
"Ya, benar......memang aku ! Tapi........bukankah aku tidak
sengaja ?"
"Sengaja atau tidak sengaja....... mana aku tahu? Yang
terang, kalau kakimu tadi benar-benar menginjak
punggungku, bukankah tulang punggungku bisa patah? Nah,
kalau tulang itu patah, masakan aku bisa hidup lagi? Bukankah
dengan demikian sama saja engkau membunuh aku?"
"Tapi.....ah, sudahlah! Aku tak mau berdebat lagi
denganmu ! Membuang-buang waktu saja. Aku akan pergi
sekarang......." Chin Yang Kun menggeram lalu membalikkan
tubuhnya, terus melompat pergi.
Pemuda itu sengaja mengerahkan gin-kangnya, sehingga
sekejap kemudian tubuhnya telah lenyap ditelan oleh
kegelapan malam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Huh ! Awas kau........! Akan kucincang sampai lumat kalau
kuketemukan nanti!" Siau Put-sia yang telah kehilangan jejak
Chin Yang Kun itu mengancam.
Lega hati Chin Yang Kun setelah dapat melepaskan diri dari
libatan gadis liar itu. Dengan sangat hati-hati pemuda itu lalu
meneruskan langkahnya. Suara pertempuran itu semakin jelas
terdengar ke telinganya. Dan suara-suara ucapan itu juga
semakin jelas nada dan kata-katanya.
"Ahh....... suara Put-ceng-li Lo-jin ?” pemuda itu bergumam
di dalam hatinya.
Benarlah. Begitu tiba di tepi laut, Chin Yang Kun melihat
ketua Bing-kauw itu sedang bertempur dengan Hong-gi-hiap
Souw Thian Hai. Dan tidak jauh dari arena pertempuran itu,
tampak dua orang wanita sambil berpelukan, menonton
dengan wajah tegang dan gelisah.
Chin Yang Kun cepat bersembunyi di balik batu karang lagi.
Hatinya berdebar. Salah seorang dari wanita itu adalah Souw
Lian Cu, gadis yang selama ini selalu menggoda dan
menggelisahkan hatinya.
“Oh....... jadi ayah dan anak itu telah saling bertemu.
Tapi....... siapakah wanita di samping Souw Lian Cu itu?
Dan.....kenapa Souw Tai-hiap sampai bertempur dengan Putceng-
li Lo-jin?" pemuda itu membatin.
Otak Chin Yang Kun cepat berputar. Pemuda itu segera
menghubung-hubungkan semua hal yang pernah didengarnya
selama ini. Tiba-tiba pemuda itu ikut menjadi tegang pula.
"Hei ! Wanita yang berada di samping Souw Lian Cu itu
tentu adik Chu twa-ko yang menjadi isteri Put-ceng-li Lo-jin itu
! Ah.......benar. Kalau begitu, aku tahu sekarang, kenapa
ketua Bing-kauw itu bertempur dengan Souw Tai-hiap." Chin
Yang Kun berkata di dalam hatinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Karena merasa terlalu jauh dan kurang jelas, maka pemuda
itu lalu berusaha mencari tempat yang lebih dekat lagi.
Dengan sangat hati-hati ia merangkak dan merayap kedepan,
menuju ke sebuah tumpukan batu-batu karang besar, tidak
jauh dari arena pertempuran.
Tapi kedatangan Chin Yang Kun di sana segera disambut
oleh sesosok bayangan lain, yang ternyata telah lebih dahulu
berada di tempat tersebut. Mula-mula pemuda itu menyangka
bahwa orang itu adalah Put-sia Nio-cu, karena bayangan itu
juga bertubuh kecil langsing seperti layaknya seorang
perempuan pula. Tapi setelah orang itu berbalik dan
menyerang dengan pedang panjangnya, maka Chin Yang Kun
segera melihat perbedaannya. Wanita ini agak lebih tinggi,
lebih masak dan lebih dewasa bentuk tubuhnya. Ditambah lagi
gerak-gerik dan cara bersilatnyapun ternyata juga berbeda
sekali.
Pedang panjang itu meliuk dari bawah ke atas, menuju ke
arah ulu hati Chin Yang Kun, dengan cepat sekali dan seolaholah
tidak mengeluarkan suara atau angin sama sekali. Tahutahu
ujung pedang panjang itu sudah tinggal sejengkal saja
lagi dari dada Chin Yang Kun.
Sedetik lamanya pemuda itu terhenyak di tempatnya. Lagilagi
seorang yang berkepandaian tinggi telah menyerangnya !
Dan....... Iagi-Iagi ia tak mempunyai kesempatan untuk
mengelakkannya. Rasa-rasanya semua kegesitan dan
kelincahan geraknya selama ini selalu terasa lamban bila
berhadapan dengan jago silat kelas satu. Untunglah
Iweekangnya sangat tinggi, sehingga setiap kali dipaksa untuk
adu tenaga, ia selalu menang.
"Ah, benar juga ucapan Put-pai siu Hong-jin itu. Aku ini
diumpamakan seekor naga yang kuat dan bertenaga besar,
tapi sangat lamban gerakannya........" Chin Yang Kun berkata
seraya menabas ujung pedang itu dengan sisi tangannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebenarnya tangkisan seperti itu sangat berbahaya bagi
Chin Yang Kun. Jika tenaga dalam yang ia salurkan ke
tangannya itu tidak jauh lebih besar dari tenaga dalam
lawannya, maka pedang itu dengan mudah akan melukai atau
bahkan bisa memotong tangannya sendiri malah.
Tapi memang cuma itulah satu-satunya jalan yang dapat
dilakukan oleh Chin Yang Kun. Selain sudah tidak bisa
mengelak lagi, pemuda itu juga tidak membawa senjata pula!
Maka sebuah benturan yang hebatpun tak bisa dielakkan lagi,
yaitu antara sisi tangan Chin Yang Kun melawan ujung pedang
lawannya ! Untunglah, sisi tangan itu dengan tepat
menghantam badan pedang, tidak pada sisi tajamnya !
"Taaaaas !"
Ujung pedang itu berdencing patah dan terlempar jauh
entah kemana. Meski begitu Chin Yang Kun tidak seratus
persen lolos dari serangan tersebut. Ujung pedang yang telah
patah itu ternyata masih juga menggores ke arah pundaknya !
"Aaah......!” Chin Yang Kun terpekik.
"Ahhh........!” wanita itu terpekik pula melihat ujung
pedangnya yang patah.
Keduanya lalu berdiri berhadapan dan.....
"Oh....... Nona Ho Pek Lian !" Chin Yang Kun berseru
perlahan.
“.... Saudara Yang Kun........ !" Ho Pek Lian menjerit kecil
pula.
Mereka lalu terdiam seperti orang-orang yang kehilangan
akal. Tapi serentak terdengar suara umpatan Put-ceng-li Lojin,
keduanya lalu menjadi sadar kembali bahwa mereka
sekarang sedang mengintip pertempuran antara Hong-gi-hiap
Souw Thian Hai dan Put-ceng-li Lo-jin !
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Eit....... tampak pertempuran mereka telah sampai pada
saat-saat penentuan !” Ho Pek Lian berseru, kemudian
membalikkan tubuh dan kembali ke tempatnya semula.
Otomatis Chin Yang Kun turut mengintai juga di samping
gadis itu. Sekarang dengan jelas pemuda itu dapat melihat
pertempuran dahsyat itu. Sungguh sebuah pertempuran yang
sangat luar biasa dan belum pernah disaksikan sebelumnya
oleh pemuda itu.
"Sudah lama mereka berkelahi ?" Chin Yang Kun membuka
percakapan.
Ho Pek Lian mengangguk. "Sudah....,,," jawabnya perlahan.
"Bukan main! Kepandaian mereka benar-benar hebat
sekali.......!" Chin Yang Kun berdesah kagum seraya
menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ho Pek Lian menoleh. "Saudara Yang, kau pun hebat sekali
! Tadi hampir saja aku tak percaya bahwa kau dapat
mematahkan ujung pedangku hanya dengan sisi tanganmu
saja...."
"Ah........itu cuma kebetulan saja!" Chin Yang Kun berkata
dengan malu-malu.
"Tidak! Itu tadi bukan kebetulan ! Kau tadi memang tak
punya pilihan lain selain menepiskan pedangku. Kau sudah tak
ada kesempatan untuk mengelak lagi ......."
"Wah......!"
"Eh, Saudara Yang..... Kudengar kau membawa Hong-siang
pagi tadi. Terima kasih. Untunglah ada kau, kalau tidak,
wah...... kita bisa kehilangan Hong-siang kemarin malam," Ho
Pek Lian tiba-tiba berkata sambil menjura kepada Chin Yang
Kun.
"Ah....... jangan terlalu dibesar-besarkan! Aku malah
menjadi malu. Bukankah aku dulu juga pernah ditolong oleh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Liu ......eh, Kaisar Han?" Chin Yang Kun cepat-cepat
memotong sambil menggoyang-goyangkan telapak tangannya.
"Tapi........"
Tapi percakapan kedua orang itu terhenti dengan
mendadak, tatkala dari arena pertempuran terdengar suara
jeritan Chu Bwee Hong dan Souw Lian Cu. Otomatis mata Ho
Pek Lian dan Chin Yang Kun memandang ke arah
pertempuran. Dan keduanya segera terbelalak.
Tampak jelas oleh kedua orang itu, tubuh Souw Thian Hai
dan Put-ceng-li Lo-jin tergeletak di atas pasir. Dan masingmasing
dengan segera telah ditolong dan dirubung oleh orang
banyak, yang secara mendadak telah memenuhi tempat itu !
"Eh....... bagaimana ini? Apa yang telah terjadi ?” Ho Pek
Lian berseru kaget, lalu meloncat keluar pula dari
persembunyiannya.
Chin Yang Kun cepat keluar pula. Pemuda itu masih tampak
bingung melihat demikian banyaknya orang yang tiba-tiba
muncul di tempat itu. Dan pemuda itu semakin merasa heran
melihat beberapa orang diantaranya ternyata adalah orangorang
yang telah dikenalnya dengan baik. Orang-orang itu
antara lain adalah Hong-lui-kun Yap Kiong Lee, Yap Tai
ciangkun, Chu Seng Kun, Kwa Siok Eng dan Put-sia Nio-cu.
Sedangkan beberapa orang lainnya, seperti seorang tua
berjenggot putih dan berambut putih, serta dua orang lelaki
yang sedang menolong Put-ceng li Lo-jin belum dikenalnya
sama sekali.
Sementara itu Souw Thian Hai yang tergeletak di atas pasir
itu telah ditolong oleh Chu Bwee Hong dan Souw Lian Cu.
Pendekar sakti itu tampak pucat sekali, meskipun demikian ia
telah dapat bangkit dan duduk di atas pasir. Beberapa kali jari
telunjuknya menotok di sana-sini untuk mengobati luka
dalamnya, sementara Chu Bwee Hong yang lebih pandai
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dalam hal pengobatan itu malah cuma terlongong-longong
saja saking bingungnya.
Di pihak lain, Put-ceng-li Lo-jin juga telah ditolong oleh
murid-muridnya, yaitu Put swi-kui, Put-ming-mo dan Put-sia
Nio-cu. Malah sebentar kemudian orang tua berambut dan
berjenggot putih itupun ikut juga berjongkok di samping tubuh
Put-ceng-li Lo-jin. Tangannya dengan cekatan ikut pula
mengurut dan menotok dada ketua Bing-kauw itu.
Apakah yang telah terjadi sebenarnya ? Bagaimana halnya
sampai mereka berdua dapat terluka dalam bersama-sama ?
Souw Thian Hai dan Put-ceng-li Lo-jin adalah dua orang
tokoh persilatan yang sangat terkenal dan berkepandaian
tinggi. Put-ceng-li Lo-jin adalah ketua sebuah aliran
kepercayaan yang besar dan ternama, sementara Souw Thian
Hai yang masih muda itu juga bukan tokoh baru di dalam
dunia persilatan. Pendekar muda itu mulai menanjak namanya
ketika dalam keadaan "hilang ingatan" dia terjun ke dunia
kang-ouw, yang pada waktu itu sedang bergolak karena
sedang berkecamuknya pemberontakan Liu Pang dan Chu
Siang Yu melawan kekuasaan Kaisar Chin Si. Dan nama
pendekar muda itu semakin membubung tinggi tatkala bisa
membunuh duplikat Bit-bo-ong yang maha sakti itu.
Maka sungguh tidak mengherankan kalau pertempuran
atau pertandingan di antara keduanya benar-benar dahsyat
tiada terkira. Masing-masing hampir telah mencapai
kesempurnaan di dalam mendalami ilmu perguruannya,
sehingga benturan di antara ilmu-ilmu mereka benar-benar
merupakan sebuah peristiwa yang jarang terjadi di dunia
persilatan. Ilmu-ilmu kesaktian mereka hampir-hampir tak
dapat dipercaya oleh mata orang-orang yang belum matang
dalam dunia persilatan.
Meskipun demikian, makin lama mereka bertempur, orang
makin dapat melihat bahwa Tai-kek Sin-ciang dan Tai-lek Pekkhong-
ciang dari pendekar muda Souw Thian Hai itu semakin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dapat menguasai keadaan. Secara perlahan-lahan Ilmu Silat
Bidadari Bersedih dan Chuo-mo-ciang dari Put-ceng-li Lo-jin
itu dapat ditindih dan dibuat tak berdaya oleh kekuatan dan
kehalusan ilmu Souw Thian Hai yang hebat itu.
Tetapi beberapa saat kemudian, orang-orang yang secara
sembunyi-sembunyi menonton pertandingan itupun lantas
menjadi terheran-heran Souw Thian Hai yang secara pasti dan
meyakinkan dapat menguasai lawannya itu tiba-tiba seperti
menjadi kehilangan arah kembali. Gerakan-gerakannya selalu
macet dan tampak ragu-ragu bila hendak mengenai
sasarannya.
Dan sebelum semua orang mengetahui sebab-sebabnya,
tiba-tiba terjadilah peristiwa itu. Souw Thian Hai dan Put-cengli
Lo-jin saling bertukar pukulan dan tendangan, sehingga
keduanya terlempar jatuh bergulingan di atas pasir! Keduaduanya
sama-sama mendapat luka di dalam tubuhnya!
Demikianlah, akhir dari pertandingan tersebut ternyata
malah membingungkan dan membuat penasaran orang yang
melihatnya. Dan orang yang paling penasaran dan tidak mau
menerima kenyataan itu adalah murid-murid Put-ceng-li Lo-jin
sendiri, yang secara diam-diam ternyata juga turut menonton
pertandingan itu pula.
Dengan kemarahan yang meluap-luap, karena melihat
gurunya terluka parah, Put-swi-kui dan Put-ming-m o cepat
meninggalkan gurunya yang telah ditolong oleh Pek-i Liongong
atau orang tua berambut putih itu. Keduanya meloncat ke
depan Souw Thian Hai yang sekarang sudah dapat berdiri
kembali di atas kedua kakinya.
“Binatang menjijikkan! Senang hatimu karena bisa melukai
guruku, ya........? Ha, tapi nanti dulu.......! kau jangan buruburu
bergembira dulu karena bisa merebut subo-ku itu! Kau
harus dapat mengalahkan kami pula.......” Put-swi-kui atau
Hantu Tak Berdosa itu menggeram.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Benar ! Kau harus mengalahkan kami lebih
dahulu............!" Put-ming mo atau Setan Tak Bernyawa itu
ikut pula membentak.
"Put-swi kui, kau ja........ jangan............” Chu Bwee Hong
berusaha mencegah kemarahan murid Put-ceng-li Lo-jin itu.
"Su-bo, kau tak perlu ikut campur ! Kami berdua akan
menghukumnya, karena dia telah berani melukai suhu,” Putswi-
kui yang marah itu cepat memotong perkataan Chu Bwee
Hong, yang selama ini selalu dihormatinya.
Melihat ketegangan itu, Souw Lian Cu segera melesat pula
ke depan ayahnya. Dengan muka merah gadis itu siap untuk
melindungi keselamatan ayahnya. Tapi sebelum gadis itu
bertindak lebih lanjut, tiba-tiba terdengar suara bentakan Putceng-
li Lo-jin yang keras menggeledek.
"Siau Kui (Hantu Kecil) ! Siau Mo (Setan Kecil).......! Jangan
sembrono ! Ayo, kembali ! Bangsat! Keparat.......!"
Dengan wajah takut namun juga penasaran, kedua orang
itu membalikkan badannya.
Langkahnya tampak ragu-ragu ketika mendekat ke arah
gurunya.
"Su-hu........? Mengapa.......?” Put-swi kui mencoba
membantah kata-kata gurunya.
"Diam ! Ini adalah perang tanding antara dua orang lelaki !
Tahu.........? Dan semua ini sudah kami atur dan kami sepakati
bersama. Oleh karena itu tidak ada dendam atau balasmembalas.”
"Suhu......." Put-sia Nio-cu yang sedari tadi selalu berada di
dekat gurunya mencoba untuk mendinginkan kemarahan
orang tua tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jilid 38
DAN orang tua yang masih tergeletak, karena terlalu parah
lukanya itu, melirik kepada murid perempuannya. Namun
hanya sekejap. Sesaat kemudian orang tua itu sudah menatap
kedua orang murid laki-lakinya lagi.
“Dan......apakah mata kalian tidak melihat tadi? Betapa
besar jiwa Hong-gi-hiap Souw Thian Hai di dalam perang
tanding ini tadi? Hmm, seharusnya gurumu ini sudah kalah
dan mati sejak tadi, tahu? Tapi demi menjaga nama dan
kehormatanku, dia berbuat seolah-olah kami berimbang dan
sama-sama terluka parah! padahal kalau dia mau........"
"Lo-jin........" tiba-tiba Souw Thian Hai menghentikan
perkataan ketua Bing-kauw itu. “...... Siapa yang mengatakan
aku menang ? Aku juga terluka oleh pukulanmu. Lukaku juga
tidak ringan. Lihatlah.......!"
Put-ceng-li Lo-jin tertawa.
"Bangsat ! Hahaha........! Aku benar-benar puas dapat
menyerahkan Chu Bwee Hong kepadamu, saudara
Souw........Kau tak perlu merendahkan dirimu lagi ! Aku telah
kalah! Oleh karena itu Chu Bwee Hong kuserahkan kepadamu
sekarang. Terimalah !"
"Lo jin.......!” Chu Bwee Hong menjerit dan berlari
menubruk dada ketua Bing-kauw itu.
"Su-hu..........!" Put-sia Nio-cu yang sudah terlanjur suka
dan sayang pada Chu Bwee Hong itu juga menangis
disamping gurunya.
"Lo-jin........ ini.......ini........" Souw Thian Hai yang
mendengar pernyataan atau ucapan bekas "suami" Chu Bwee
Hong itu menjadi gagap dan bingung malah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Melihat sikap Souw Thian Hai itu Put-ceng-li Lo-jin
mengerutkan dahinya. Sambil merangkul kepala Chu Bwee
Hong, orang tua itu bertanya, "Ada apa, saudara Souw ?"
Beberapa saat lamanya pendekar itu tidak bisa menjawab.
Beberapa kali dia hanya bisa menghela napas.
"Apakah kau mempunyai kesulitan, Saudara Souw?
Lekaslah katakan !" Put-ceng-li Lo-jin mendesak.
Dengan ragu-ragu Souw Thian Hai memandang wajah
"lawannya", lalu menoleh ke sekitarnya, yaitu ke arah orangorang
yang secara mendadak bermunculan di tempat itu.
"Bing Kauw-cu.....” akhirnya pendekar itu bisa juga
mengeluarkan isi hatinya. "Aku sungguh sangat berterima
kasih sekali kepadamu. Aku memaklumi semua maksud
baikmu yang kautujukan kepadaku atau kepada ..... Chu Bwee
Hong ini. Kau sungguh mulia dan baik sekali. Aku dan Chu
Bwee Hong benar-benar berhutang budi kepadamu.
Sebenarnya aku amat gembira sekali menerima penyerahan
Chu Bwee Hong ini. Tapi......”
Souw Thian Hai tidak meneruskan kata-katanya. Sebaliknya
pendekar itu menghela napas lagi dalam-dalam. Tampaknya
ada sesuatu yang masih memberatkan hatinya.
"Saudara Souw ! Kenapa tidak kaulanjutkan kata-katamu ?
Ayoh ! Lekaslah kaukeluarkan isi hatimu ! Jangan kaupendam
saja di dalam dada, sehingga kami ikut menjadi penasaran
melihatnya......!" Put-ceng-li Lo-jin berseru tak sabar.
"Begini, Bing Kauw-cu....... Rasa-rasanya masih ada sedikit
ganjalan atau keberatan di dalam hatiku dalam menerima
kembali Chu Bwee Hong itu. Soalnya, selama ini orang-orang
sudah mengetahui bahwa Chu Bwee Hong adalah isterimu,
Lalu...... kalau sekarang secara tiba-tiba isterimu itu ikut aku
dan menjadi isteriku, apa kata orang-orang itu nanti ?
Bukankah mereka akan berprasangka jelek kepadaku atau
kepada Chu Bwee Hong?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiba-tiba Put-ceng-li Lo-jin tertawa terbahak-bahak.
"Bangsaaaat ! Hahaha.......! Kukira kau tadi hendak
berbicara tentang apa, ehh....... ternyata cuma soal itu!
Hahahah........monyet!"
"Bing Kauw-cu, apa....... apa yang kau tertawakan ?" Souw
Thian Hai bertanya penasaran.
"Hah..... kau ini seorang pendekar besar, tapi sikapmu
canggung benar. Mengapa kau masih juga memikirkan
pendapat-pendapat yang tak benar seperti itu? Yang penting
adalah kenyataannya. Jika apa yang kita lakukan itu memang
benar-benar baik dan bersih akhirnya orang-orang itupun akan
tahu juga. Mengapa mesti takut dan khawatir terhadap
prasangka-prasangka demikian? Biarkan saja kalau ada orang
yang berprasangka jelek kepada kalian berdua. Kalian tak
perlu menanggapi atau mengacuhkannya. Sebaliknya, kau
tunjukkanlah saja kepada mereka dengan sikap dan perbuatan
kalian, bahwa kalian berdua bukanlah orang-orang jelek
seperti yang mereka sangka."
“Ahh......... Bing Kauw-cu benar."
Souw Thian Hai mengangguk-angguk. Lega hatinya
sekarang. Kata-kata Put-ceng-li Lo-jin yang panjang lebar itu
sungguh-sungguh telah membuka hatinya, bahwa
kekhawatirannya itu benar-benar tak beralasan sama sekali.
Yang penting memang kenyataannya. Kalau sekarang
memang masih ada juga yang belum mengerti akan keadaan
mereka, hal itu tak perlu menjadi penghalang yang akan
menggagalkan maksud baiknya. Suatu saat mereka akan
mengerti juga akhirnya.
"Apalagi perang tanding dan penyerahan ini telah
disaksikan dari mula sampai akhir oleh beberapa tokoh
persilatan ternama. Masakan kau masih takut dengan
gunjingan orang? Lihatlah, di lain waktu kau tak mungkin
memperoleh saksi-saksi sedemikian lengkapnya!" Put-ceng-li
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lo-jin melanjutkan perkataannya seraya menoleh ke
sekelilingnya.
Tiba-tiba Pek-i Liong-ong berdiri. Kakek ketua Aliran Mokauw
itu menjura kepada Souw Thian Hai. "Lo-hu bersedia
menjadi saksi......" katanya halus. Lalu sambil menoleh ke
arah Put-ceng-li Lo-jin, kakek itu berdesah. "Lo-jin, tak
kusangka hatimu demikian luhur dan mulianya. Lo-hu sungguh
malu ikut-ikutan menyebutmu Put-ceng-li (Tidak Tahu Aturan)
selama ini. Ternyata dibalik sikapmu yang aneh, urakan, dan
kadang-kadang sangat ugal-ugalan itu, sebenarnya
tersembunyi hati yang suci dan luhur. Dan selama bertahuntahun
ini, ternyata kami semua telah salah menilai
terhadapmu......."
"Hahaha........ Monyet Tua ! Apakah yang kaukatakan itu ?"
Put-ceng-li Lo-jin berteriak-teriak dan memaki-maki malah.
"Dan.........akupun bersedia juga untuk menjadi saksi."
Hong-lui-kun dengan air muka berseri-seri, tiba-tiba maju pula
ke samping Pek-i Liong-ong. "Saudara Souw, terimalah ucapan
selamatku !" katanya mantap.
"Aku juga, Saudara Souw, selamat berbahagia....... !" Yap
Tai-ciangkun menyahut pula lalu dengan cepat kakinya
melangkah ke samping Pek-i Liong-ong.
Kemudian berturut-turut Ho Pek Lian, Kwa Siok Eng, Chin
Yang Kun dan..... Chu Seng Kun, maju pula ke depan untuk
menyatakan kesanggupan mereka menjadi saksi. Malahan Chu
Seng Kun, sebagai kakak Chu Bwee Hong, hampir tidak bisa
membendung keharuan hatinya. Sambil merangkul pundak
Souw Thian Hai yang bidang, tabib muda itu tidak kuasa
menahan air matanya.
"Saudara Thian Hai, hatiku benar-benar lega sekarang.
Sudah lama aku menunggu saat-saat seperti ini. Aku sungguh
sangat gembira sekali........” katanya tersendat-sendat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Chu Seng Kun lalu melepaskan pelukannya. Dan kemudian
dengan senyum bahagia matanya melirik ke arah adiknya,
yang masih terisak-isak di dada Put-ceng-li Lo-jin.
"Bwee Hong, kemarilah kau.....!" panggilnya dengan suara
gembira.
Tapi Chu Bwee Hong seperti tak mendengar suara
panggilan tersebut. Wanita ayu itu masih dicekam oleh
keharuan hatinya yang sangat mendalam. Mulutnya masih
terisak-isak diatas dada Put-ceng-Ii Lo-jin, sehingga orang tua
itu terpaksa menepuk-nepuk pundaknya. "Anak baik,
diamlah........! Mengapa kau masih menangis juga ? Bukankah
semuanya telah berlangsung seperti yang kita harapkan? Nah,
dengarlah......! Seseorang telah memanggilmu. Agaknya dia
adalah kakakmu. Pergilah ke sana ! Ayoh !" ketua Aliran Bingkauw
itu berkata dengan suara halus. Untuk sesaat hilang
kesan kasar dan ugal-ugalan pada wajah orang tua itu. Wajah
itu kini tampak lembut dan welas asih, bagaikan wajah
seorang ayah yang sedang membujuk anak kesayangannya.
Chu Bwee Hong mengangkat mukanya. Matanya merah
dan air matanya mengalir membasahi pipinya.
“Lo-jin, kau........ kau sungguh baik sekali kepadaku......"
"Ah, sudahlah........ ! Ayoh, pergilah cepat ke sana !" Putceng-
li Lo-jin berseru sedikit keras untuk mengusir keharuan
yang tiba-tiba juga membelit di hatinya. Tapi tak urung sebutir
air mata tetap juga menetes di sudut matanya.
Chu Bwee Hong melepaskan rangkulannya, kemudian
menghapus air matanya, lalu perlahan-lahan mundur dan
berlutut di samping Put-ceng-li Lo-jin yang tergolek di atas
pasir itu. Sambil menahan sedu sedannya wanita ayu itu
menyatakan rasa terima kasihnya.
"Lo-jin, kutitipkan anak haram itu kepadamu. Aku tak
berani membawanya. Aku takut menjadi mata gelap dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membunuhnya karena aku masih sangat benci kepada
ayahnya............”
"Hahaha...... tentu saja. Anak itu sudah kuanggap sebagai
anakku sendiri. Dia akan kudidik dengan baik. Dan aku
percaya dia akan menjadi anak yang baik kelak."
"Terima kasih.”
Lalu perlahan-lahan Chu Bwee Hong melangkah menuju ke
tempat kakaknya. Mukanya tertunduk. Rambutnya kusut. Mata
dan pipinya masih tampak kotor dan merah pula. Namun
demikian semuanya itu ternyata tidak bisa menyembunyikan
kecantikannya yang gilang-gemilang.
"Ko-ko.........” jeritnya lirih seraya menubruk dada
kakaknya.
Chu Seng Kun memeluk pula dengan mata berkaca-kaca.
"Bwee Hong....... Apa kataku kemarin ? Semuanya benar,
bukan ? Kau tak perlu berputus-asa dan terlalu menyalahkan
nasib yang selalu merundung dirimu. Itu semua hanyalah
cobaan belaka. Wah...... bagaimana sekarang? Kebahagiaan
telah datang kepadamu, bukan? Dan percayalah, kebahagiaan
yang kaureguk ini akan berkali-kali lebih nikmat kaurasakan,
sebab kebahagiaanmu ini kauperoleh setelah kauhabiskan
semua kepahitannya......."
“Ko-ko..........”
“Ayoh! Sekarang marilah kautemui kekasihmu itu ! Sebagai
pengganti orang tua, secara resmi aku akan menyerahkan
engkau kepadanya. Marilah !"
Chu Seng Kun lalu menuntun adiknya ke depan Souw Thian
Hai. Kemudian dengan suara terputus-putus tabib muda itu
menyerahkan Chu Bwee Hong kepada Souw Thian Hai, yang
diterima oleh pendekar sakti itu dengan perasaan terharu
pula.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Nah, semoga kalian berdua bisa mengambil pelajaran dari
pengalaman buruk yang kalian alami selama ini, sehingga
kalian bisa lebih berhati-hati di kemudian hari. Adapun tentang
hari perkawinan kalian, dapat kita rundingkan lagi di lain hari,"
tabib muda itu menutup kata-katanya.
Setelah menyerahkan adiknya, Chu Seng Kun lalu berbalik
menghampiri Put-ceng-li Lo-jin. Begitu berada di depan orang
tua itu, Chu Seng Kun segera berlutut, sampai dahinya
menyentuh pasir di bawahnya.
“Bing Kauw-cu........ Siauw-te adalah Chu Seng Kun, kakak
dari Chu Bwee Hong. Siauw-te mengucapkan rasa terima kasih
yang sedalam-dalamnya kepada Kauw-cu, karena Kauw-cu
telah sudi menyelamatkan dan menolong adikku. Kami berdua
benar-benar berhutang budi dan nyawa kepada Kauw-cu......"
"Hahahaha........ anak muda, aku sudah sering mendengar
cerita tentang dirimu dari Chu Bwee Hong. Katanya, kau
adalah seorang tabib muda yang tiada duanya di dunia ini.
Dan aku percaya saja selama ini. Tapi....... setelah aku kini
melihatmu, hmm..........aku malah menjadi ragu-ragu
sekarang. Masakan dalam usiamu yang masih sangat muda
ini, kau sudah benar-benar dapat menghisap seluruh ilmu
pengobatan mendiang Bu-eng Sin yok-ong itu?" Put-ceng-li
Lo-jin tidak menanggapi kata-kata Chu Seng Kun, tetapi ketua
Aliran Bing kauw itu justru berbicara tentang ilmu pengobatan
Chu Seng Kun malah.
Chu Seng Kun tersenyum. "Ah, Bing Kauwcu....... kau
memang benar. Adikku itulah yang terlalu membesar-besarkan
kemampuanku. Maklumlah, siauw-te ini adalah kakaknya,
sekaligus satu-satunya keluarga yang masih dipunyainya."
tabib muda itu merendahkan diri.
"Tapi....... meskipun demikian aku juga ingin
membuktikannya........" ketua Aliran Bing-kauw itu tetap
melanjutkan perkataannya, seolah-olah tak mendengar
bantahan atau sanggahan Chu Seng Kun tadi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Maksud Bing Kauwcu ?"
"Coba, kautolong mengobati luka-lukaku ini. Kalau engkau
bisa menyembuhkannya, aku baru percaya pada
kehebatanmu. Bagaimana ? Bersediakah kau ?”
Senyum kelihatan mengembang di bibir Chu Seng Kun.
"Ahh, tentu saja siauw-te bersedia, Bing Kauw-cu. Cuma
siauw-te minta, Bing Kauw-cu jangan terlalu mengharapkan,
bahwa siauw-te mesti bisa menyembuhkannya. Siauw-te ini
hanya manusia biasa dan bukan malaikat yang bisa
menghidupkan orang. Siauw-te ini hanya beruntung bisa
memperoleh kesempatan mempelajari ilmu peninggalan kakek
guruku........."
"Wah...... kau sungguh pandai sekali merendahkan dirimu.
Ayoh, lekaslah! Aku buru-buru ingin menyaksikan caramu
mengobati lukaku yang parah ini. Nah!" Put-ceng-li Lo-jin yang
tidak sabaran itu cepat mendesak.
"Baiklah......" Chu Seng Kun menjawab, lalu bergegas maju
selangkah.
Put-swi-kui, Put-ming-mo dan Put-sia Nio-cu mundur untuk
memberi tempat kepada Chu Seng Kun. Sebaliknya tabib
muda itu juga balas mengangguk kepada mereka, sebelum
mulai dengan pengobatannya.
Lebih dahulu Chu Seng Kun memeriksa urat nadi dan
denyut jantung Put-ceng-li Lo-jin, setelah itu baru jalan
pernapasannya. Kemudian setelah merasa yakin apa yang
harus dilakukannya, maka Chu Seng Kun lalu menotok dan
mengurut beberapa buah jalan darah di sana sini. Sebentar
saja peluh mulai menetes di atas dahi Chu Seng Kun yang
lebar.
Perlahan-lahan wajah ketua Aliran Bing-kauw itu menjadi
kemerah-merahan kembali. Jalan pernapasannyapun secara
berangsur-angsur juga semakin teratur pula. Dan kemudian
keadaan yang sangat menggembirakan itu semakin bertambah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
baik lagi tatkala Chu Seng Kun sudah mulai pula
mempergunakan jarum-jarum ajaibnya.
Semuanya memandang kagum kepada Chu Seng Kun. Di
dalam hati mereka sekarang benar-benar sudah mengakui,
betapa tingginya ilmu kepandaian pemuda itu di dalam ilmu
pengobatan.
"Nah ! Sekarang Bing Kauw-cu sudah sembuh dan baik
kembali. Untuk selanjutnya Bing Kauw-cu tinggal beristirahat
saja sebanyak-banyaknya, agar tenaga Bing Kauw-cu lekas
pulih kembali seperti sedia-kala. Marilah! Bing Kauwcu sudah
bisa bangkit lagi sekarang.........." Chu Seng Kun berkata
seraya mengusap peluh yang mengalir di atas dahi dan
lehernya.
“Hei? Aku sudah bisa berdiri? Masa begitu cepatnya?" Putceng-
li Lo-jin berseru tak percaya.
Lebih dulu orang tua itu menggerak-gerakan lengan dan
kakinya. Setelah semuanya benar-benar bisa ia gerakkan
dengan baik dan tidak terasa kaku atau sakit lagi, orang tua
itu kemudian mencoba duduk, lalu bangkit berdiri perlahanlahan.
Dan ketika dengan mudahnya ia dapat berdiri, ketua
Aliran Bing-kauw itu justeru berteriak-teriak dan mengumpatumpat
saking kagumnya.
"Bangsaaat ! Keparaaat! Wah ! Wah ! Monyet busuk! Kau
betul-betul hebat sekali ! Huahahahaha....... heran dan takjub
benar aku ! Bangsaaat..........!”
Orang tua itu lalu melompat-lompat saking senangnya, lalu
menghampiri Chu Seng Kun dan menyalaminya dengan
hangat.
"Hahaha..... aku sekarang benar-benar percaya kepadamu,
anak muda! Kau sungguh-sungguh hebat, lebih hebat dari
tabib manapun di dunia ini !"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tapi Chu Seng Kun cepat memegang lengan Put-ceng-li Lojin
dan menahannya agar tidak bergerak lagi.
"Eh, perlahan Bing Kauw-cu. Kau jangan terlalu banyak
bergerak dahulu ! Nanti luka dalammu terbuka lagi," cegah
Chu Seng Kun.
Demikianlah, semua yang melihat adegan itu tersenyum
gembira, sehingga suasana yang semula sangat tegang
menggelisahkan itu, kini berubah menjadi semarak
menggembirakan. Semua orang tersenyum dan menghela
napas lega.
“Hei ! Lihat ! Malam telah semakin larut. Dan embun pagi
pun telah mulai menetes membasahi pakaian kita. Mengapa
kita masih saja bercakap-cakap enak-enakan di sini ?” tiba-tiba
terdengar seruan Pek-i Liong-ong, memecahkan keheningan di
antara mereka.
"Ah, benar juga. Monyet! Kalau begitu, marilah kita kembali
ke dusun itu, untuk menemukan kegembiraan ini ! Setuju
tidak, Liong-ong?" Put-ceng-li Lo-jin berseru pula ke arah
ketua Aliran Mo-kauw itu.
"Setuju.......!” hampir semuanya menjawab, kecuali Souw
Thian Hai, Chu Bwee Hong dan Souw Lian Cu.
Ketiga orang itu kelihatan berunding satu sama lain. Dan
beberapa saat kemudian tampak Souw Thian Hai melangkah
maju mewakili yang lain.
"Maaf, cu-wi semua......! Kami bertiga terpaksa tidak bisa
pergi bersama cu-wi ke dusun itu. Salah seorang di antara
kami, yaitu puteriku, ternyata masih punya urusan penting
yang harus diselesaikan. Dia harus berada di Pulau Meng-to
besok pagi, untuk membantu Keh-sim Siauw-hiap dalam
penyambutan tamu-tamunya yang telah mulai berdatangan ke
pulaunya."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hah....... benar juga. Tiga hari lagi adalah tanggal lima,
saat Keh-sim Siauw-hiap biasa mengundang lawan-lawannya
di dunia kang-ouw," Put-ceng-li Lo-jin berseru kaget.
"Oh? Lalu........?” Chu Seng Kun buru-buru bertanya kepada
Souw Thian Hai.
"Begini, Chu twa-ko. Karena salah seorang dari kami harus
pergi, maka aku dan Bwee Hong memutuskan untuk pergi
pula kesana menyertainya......." Souw Thian Hai menjawab.
"Ahhh.......!" semuanya berdesah kecewa.
Sebenarnya semuanya ingin menahan ketiga orang itu.
Namun merekapun maklum, bahwa sepasang kekasih yang
baru saja bertemu itu lebih senang berduaan saja dari pada
bersama-sama dengan mereka. Oleh karena itu semuanya
juga lantas membiarkan saja ketiga orang itu pergi.
Chu Bwee Hong lalu berpeluk-pelukan dengan Ho Pek Lian,
Kwa Siok Eng dan Put-sia Nio-cu. Malah dengan murid bekas
suaminya ini Chu Bwee Hong sempat pula bertangis-tangisan.
Keduanya telah terlanjur akrab selama ini. Terpaksa Put-cengli
Lo-jin turun tangan memisahkannya.
"Ah…... mengapa harus saling bersedih? Besok kita akan
berjumpa pula," ketua Aliran Bing-kauw itu menenangkan hati
mereka.
"Maksud su-hu ?" Put-sia Nio-Cu bertanya sambil
menghapus air matanya.
"Akupun besok akan pergi juga ke sana. Aku ingin
menyaksikan bagaimana wajah pendekar yang sangat terkenal
itu."
"Benarkah ? Oh, su-hu........aku ikut." Put-sia Nio-cu
berjingkrak kegirangan, lupa kalau ia baru saja menangis.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ho Pek Lian menarik lengan Kwa Siok Eng. "Kami berdua
juga akan pergi ke sana pula besok pagi. Bukankah begitu, cici
Siok Eng?" Ho Pek Lian berkata.
"Ya ! Kami juga akan pergi ke pulau itu. Kami berdua telah
berhutang nyawa kepada pendekar ternama itu. Kami akan
menyatakan rasa terima kasih kami kepadanya. Sekalian
membantu apabila tenaga kami diperlukan nanti," Siok Eng
memberi keterangan.
"Ahh!" Chu Seng Kun yang masih merasa berat untuk
berpisah dengan adiknya itu tiba-tiba berdesah lega.
Sementara itu Chin Yang Kun yang sedari tadi hanya diam
saja di pinggir, tampak tersentak kaget mendengar ucapanucapan
mereka. Pemuda itu seperti diingatkan kembali pada
janjinya, untuk pergi ke Pulau Meng-to pada tanggal lima ini.
Oleh karena itu secara otomatis pemuda itu melirik ke arah
Souw Lian Cu, gadis yang dahulu telah melemparkan
undangan atau tantangan kepadanya.
Ternyata pada saat yang bersamaan, Souw Lian Cu juga
sedang memandang ke arah Chin Yang Kun pula, sehingga tak
bisa dielakkan lagi kedua pasang mata mereka saling bertaut
atau berpapasan satu sama lain. Dan sekilas seperti ada sinar
kegembiraan di dalam pandangan itu tapi entah apa
sebabnya, tiba-tiba masing-masing segera membuang muka
dengan wajah merah padam.
Tapi sekejap kemudian Chin Yang Kun segera berpaling
kembali. Pemuda itu kelihatan penasaran melihat sikap Souw
Lian Cu tadi. Matanya menatap kembali ke arah Souw Lian Cu
dengan tajamnya.
Gadis itu masih memalingkan mukanya, sehingga Chin
Yang Kun hanya bisa memandangnya dari arah samping.
Tetapi dengan demikian pemuda itu justru dapat melihat jelas
garis-garis kecantikannya. Raut muka yang oleh pemuda itu
dianggap sangat serasi serta sempurna ukurannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Chin Yang Kun malahan terpaku seperti orang yang
kehilangan akal melihatnya. Hati yang semula penasaran itu
mendadak larut hilang tak berbekas. Kini sorot matanya justru
menampilkan sinar kekaguman yang tiada taranya. Gadis itu
memang cantik bukan main.
"Ahhhh......!" Chin Yang Kun berdesah sambil
menundukkan kepalanya.
Pemuda itu merasa sedih dengan tiba-tiba. Entah mengapa,
kebencian gadis itu kepada dirinya, membuat pemuda itu
merasa sedih dan kecewa. Dunia ini rasanya menjadi sepi dan
membosankan.
"Saudara Yang.......!" tiba-tiba terdengar sebuah suara di
depannya.
Chin Yang Kun tersentak kaget. Dengan gugup pemuda itu
menengadahkan kepalanya. Dan detak jantung pemuda itu
semakin keras menghentak dinding dadanya, ketika dilihatnya
gadis yang sedang memenuhi benaknya tersebut telah berdiri
tegak di depannya. Gadis itu tampak digandeng oleh ayahnya.
"Ah-uh....... ah-uh......" Chin Yang Kun berusaha menjawab
panggilan pendekar Souw Thian Hai itu, tapi yang keluar dari
mulutnya hanyalah suara ah-uh ah-uh yang tak jelas.
Tentu saja Souw Thian Hai merasa heran, apalagi ketika
melihat wajah Chin Yang Kun itu sangat pucat. Tapi
keheranan pendekar itu ternyata belum seberapa bila
dibandingkan dengan kenyataan lain yang dilihatnya. Ternyata
tidak hanya Chin Yang Kun yang keadaannya seperti itu.
Ternyata puterinya sendiri, Souw Lian Cu. juga bersikap
demikian pula. Gadis itu juga tampak gelisah dan tegang di
hadapan Chin Yang Kun.
"Hmmh...... ada apa dengan kedua anak ini? Apakah
mereka bermusuhan ? Ataukah ada 'apa-apa' di antara
mereka?" pendekar sakti itu berkata di dalam hatinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tetapi Souw Thian Hai tak mau atau tidak tega untuk
menanyakan kepada mereka. Pendekar sakti itu takut
pertanyaannya nanti akan menyinggung perasaan mereka,
meskipun salah seorang diantaranya adalah puterinya sendiri.
Oleh karena itu Souw Thian Hai justru pura-pura tidak tahu
malah !
"Lian Cu, lihatlah....! Inilah Saudara Yang yang telah
berjasa kepada kita itu. Karena dia kita bisa berkumpul
kembali………” pendekar itu berkata kepada puterinya.
“A-ayah……..” Souw Lian Cu memotong perkataan ayahnya.
Souw Thian Hai mengerutkan keningnya. "Kenapa?
Bukankah kalian sudah saling mengenal ? Ayoh, ucapkanlah
terima kasih kepadanya.............!"
"Tapi......." gadis itu mau membantah, tapi tak jadi.
Kemudian dengan mengeraskan hatinya gadis itu tampak
melangkah ke depan. Dengan pandang mata tajam serta gigi
terkatup rapat, gadis itu membungkukkan tubuhnya di depan
Chin Yang Kun.
"Terima kasih," ucapnya singkat, lalu kembali lagi ke
tempat semula.
“Lian Cu !” Souw Thian Hai menegur puterinya. Kemudian,
“Saudara Yang, maafkanlah puteriku. Dia ......”
"Ah....... tidak apa-apa, Souw Tai-hiap. Dari mula siauw-te
memang tidak ada niat untuk membantu ataupun membuat
jasa di dalam pertemuan ini. Maka ucapan terima kasih Souw
Tai-hiap dan puterimu tadi, sebenarnya sudah terlalu
berlebihan buatku…….” Chin Yang Kun menjawab tawar.
Entah mengapa perasaan Chin Yang Kun tiba-tiba menjadi
hampa dan getir. Sikap yang diperlihatkan oleh Souw Lian Cu
setiap kali bertemu dengan dirinya itu kini seolah olah telah
membukakan mata dan hatinya bahwa gadis itu memang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sungguh-sungguh membencinya. Dan kenyataan itu benarbenar
membuat hati pemuda itu hampa luar biasa.
Chin Yang Kun mendongakkan kepalanya. Dipandangnya
bintang-bintang yang gemerlapan di atas langit yang biru
gelap. Lalu dipandangnya pula laut luas yang tak bertepi itu.
Semuanya tampak sunyi-sepi.
"Ahhh......." pemuda itu menghela napas, lalu membalikkan
tubuhnya, kemudian meninggalkan tempat itu perlahan lahan,
mendahului yang lain-lain.
Tentu saja semua orang menjadi heran, lebih-lebih Souw
Thian Hai. Pendekar sakti itu seperti merasakan sesuatu yang
aneh antara puterinya dan pemuda perkasa itu. Tapi oleh
karena sebentar kemudian puterinya juga mulai melangkah
pergi meninggalkan tempat tersebut, maka iapun segera
mengajak Chu Bwee Hong untuk mengikuti puterinya itu pula.
Dan semua orangpun segera beranjak pula dari tempatnya.
"Hmm........ ada apa dengan anak itu?" Pek-i Liong-ong
seolah-olah bergumam kepada dirinya sendiri.
Hong-lui-kun Yap Kiong Lee dan Yap Tai ciangkun, yang
berada di dekat orang tua itu menoleh, tapi tak mengeluarkan
perkataan sepatahpun. Mereka hanya mengernyitkan alisnya,
tanda bahwa mereka berdua juga merasa heran serta tak
mengerti pula.
Cuma Chu Seng Kun saja yang agaknya bisa "membaca"
atau menangkap keganjilan tersebut. Hubungan yang sudah
sedikit akrab dengan Chin Yang Kun, membuat tabib muda itu
sedikit banyak mengetahui masalah-masalah yang pernah
dihadapi pemuda itu, sehingga sedikit banyak dia juga bisa
menduga apa yang sebenarnya berkecamuk di dalam dada
pemuda perkasa itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Oleh karena itu secara diam-diam Chu Seng Kun
menyelinap ke dalam kegelapan untuk mencari atau menemui
pemuda itu.
"Saudara Yang........" panggilnya ketika ia dapat
menemukan pemuda itu di antara reruntuhan batu-batu
karang.
"Hah ???” Chin Yang Kun yang baru saja meletakkan
pantatnya itu tersentak kaget dan berdiri kembali. Tapi begitu
mengetahui siapa yang datang, pemuda itu segera tersenyum.
Meskipun senyumnya kelihatan hampa dan getir.
"Ah...... Chu twa-ko benar-benar mengagetkan aku. Kukira
siapa tadi?" pemuda itu membuka mulutnya.
"Hmm...... apakah kaukira aku nona Souw Lian Cu?” Chu
Seng Kun dengan berani mencoba "memancing" reaksi atau
tanggapan Chin Yang Kun.
Benar juga. Tiba-tiba muka Chin Yang Kun yang pucat itu
tampak merah padam. Matanya tampak berkilat-kilat menatap
Chu Seng Kun.
"A-apa........ maksud Chu Twa-ko?" Tanya pemuda itu
dengan suara gemetar.
Dan Chu Seng Kun pura-pura terkejut pula. "Apa? Aku.....?
Eh, aku tak bermaksud apa-apa. Memang ada apa sebenarnya
?" tabib muda itu balik bertanya dengan kening dikerutkan,
seolah-olah dia memang benar-benar tak tahu masalahnya.
"Ooh !" Chin Yang Kun berdesah dan mengendorkan
ketegangannya.
"Hmm....... aku tahu sekarang." Chu Seng Kun yang sedang
bersandiwara itu tersenyum seraya mendekati Chin Yang Kun,
kemudian memegang lengannya. "Tampaknya ada sesuatu
yang tidak enak antara Saudara Yang dengan nona Souw itu,
sehingga kalian berdua seperti orang yang sedang
bermusuhan. Benarkah.......?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Chin Yang Kun tersentak. Matanya menatap Chu Seng Kun
untuk beberapa saat lamanya. Tapi sebentar kemudian
pemuda itupun lalu menundukkan kepalanya lagi dengan
wajah bersemu merah.
"Chu twa-ko tidak salah," jawab pemuda itu kemudian.
"Gadis itu sangat membenci aku. Cuma apa yang
menyebabkannya sehingga dia sangat membenci aku itu, aku
sama sekali tidak tahu......."
"Hah? Aneh benar ! Masakan kau tidak tahu sebabsebabnya
?" Chu Seng Kun benar-benar kaget sekarang.
Chin Yang Kun menghela napas, lalu katanya seperti
kepada dirinya sendiri. "Mula-mula aku dan dia secara
kebetulan hanya berdiri berseberangan dalam perselisihan
kaum Tiat-tung Kai-pang melawan Kim-liong Piauw-kiok.
Kemudian pada pertemuan kami yang kedua, yaitu di Kuil
Delapan Dewa, kami tidur bersebelahan kamar. Dan karena
keteledoranku, pada suatu malam aku telah salah memasuki
kamarnya. Gadis itu menjadi marah bukan main. Mungkin.......
mungkin inilah yang menyebabkan kemarahannya........"
"Hmmm........"
Chu Seng Kun mengangguk-angguk. Lalu, "Mungkin juga.
Tapi mungkin juga bukan. Hati wanita memang sukar diduga.
Sikap yang diperlihatkan itu kadang-kadang bukanlah cermin
dari hati dan perasaannya. Tidak jarang sikap dan
perbuatannya justru malah bertolak belakang dengan yang
ada di dalam hati dan perasaannya.......”
"Heh? Maksud Chu twa-ko.......?”
Chu Seng Kun tersenyum. "Ah ....... ini hanya pikiran atau
dugaanku saja. Dan semuanya itu belum tentu benar.
Hmm........ kadang-kadang wanita itu berpura-pura benci,
padahal sebenarnya hatinya kagum dan senang sekali kepada
seorang lelaki !"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Chin Yang Kun tersentak. Matanya menatap tabib muda itu
dengan tajamnya. Tetapi sekejap kemudian mukanya
tertunduk kembali dengan tiba-tiba. Wajahnya yang tampan
itu perlahan-lahan menjadi merah. Entah mengapa, kata-kata
Chu Seng Kun tadi amat mengena, sehingga hatinya menjadi
gembira dan sedikit terhibur. Siapa tahu perkataan tabib muda
tersebut benar adanya?
"Ahh....... Chu twa-ko ini ada-ada saja!" bisiknya kemalumaluan
seraya meletakkan pantatnya kembali di atas batu
karang di sampingnya.
"Ah....... itu hanya dugaanku saja. Siapa tahu memang
demikian halnya?” Chu Seng Kun tersenyum sambil duduk
pula di samping Chin Yang Kun. Diam-diam tabib muda ini
semakin dapat membaca masalah yang sedang melibat kedua
remaja itu.
Untuk beberapa saat lamanya mereka berdiam diri. Masingmasing
sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Chin Yang Kun
menundukkan kepalanya, mengawasi pasir hitam yang
terhampar di bawah telapak kakinya, sementara Chu Seng
Kun mengedarkan pandangannya ke sekeliIingnya, melihat
gugusan batu karang yang terdampar berserakan di tepi
pantai itu.
Tiba-tiba tabib muda itu membelalakkan matanya. Rasarasanya
seperti melihat sesosok bayangan hitam muncul dari
dalam air dan melangkah terhuyung-huyung ke daratan. Tapi
ketika sekali lagi ia ingin memastikan, apa yang dilihatnya itu,
benda atau bayangan tersebut telah lenyap digulung buih
ombak yang datang memecah pantai.
Dan kekagetan Chu Seng Kun itu dilihat pula oleh Chin
Yang Kun.
"Ada apa Twa-ko ?”
"Anu.......... ah, tidak apa-apa........! Kesunyian dan
kegelapan pantai ini telah menimbulkan bermacam-macam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pikiran kepadaku rupanya. Baru saja aku seperti melihat
sesosok bayangan muncul dari dalam air. Tapi....ah........ itu
tentu hanya sebongkah batu karang yang tersiram ombak
saja.” Dengan tersipu-sipu Chu Seng Kun menjawab.
Chin Yang Kun mengernyitkan alisnya, lalu menatap ke
arah pantai. Tapi ia juga tidak melihat apa-apa selain batubatu
karang yang tersembul diantara buih-buih ombak yang
datang. Oleh karena itu Chin Yang Kun lalu menundukkan
kepalanya lagi, sehingga mereka saling berdiam diri kembali.
"Saudara Yang, sudahlah...! Kau tak perlu terlalu
memikirkan gadis itu. Kalau kalian berdua memang berjodoh
kelak, tentu akan jernih juga persoalannya. Percayalah !" Chu
Seng Kun yang sudah dapat meraba atau menebak gejolak
hati Chin Yang Kun itu tiba-tiba membuka mulutnya. Dan katakatanya
itu tentu saja semakin membuat Chin Yang Kun lebih
tersipu-sipu lagi.
"Ahh.....mana aku berani...... memikirkan hal itu ? Aku.....
aku........!" dengan suara gemetar Chin Yang Kun menjawab.
Mendadak pemuda itu teringat akan wanita genit isteri pemilik
penginapan itu, sehingga harapan yang semula muncul di
dalam hatinya menjadi punah kembali. Bagaimana dirinya bisa
kawin, kalau setiap wanita yang dinikahi akan mati seperti
halnya wanita genit itu ?
Chin Yang Kun merasa hampa di dalam hatinya.
Semangatnya patah. Wajahnya tampak lesu dan sedih. Dan
perubahan sikapnya ini dengan cepat dilihat oleh Chu Seng
Kun.
"Saudara Yang, ada apa......? Mengapa kau tiba-tiba
menjadi sedih? Apakah ada sesuatu hal yang mengganggu
hatimu ?”
Chin Yang Kun tidak segera menjawab. Pemuda itu
menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Terjadi perang batin di dalam hati pemuda itu, yaitu antara
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
perasaan malu dan keinginannya untuk berterus terang
kepada tabib muda itu.
Akhirnya Chin Yang Kun merasa bahwa hanya tabib yang
pernah menolong jiwanya itu sajalah yang kiranya bisa
membantu penderitaannya. Oleh karena itu dengan
mengesampingkan perasaan malunya pemuda itu
menceritakan seluruh persoalannya, yaitu dari mula ia merasa
tertarik kepada Souw Lian Cu sampai ke perubahan aneh yang
timbul di dalam tubuhnya. Dan dengan suara yang terputusputus
pemuda itu juga menceritakan tentang musibah
memalukan akibat perubahan aneh yang terjadi di dalam
tubuhnya tersebut.
''Wanita genit itu mati keracunan setelah......setelah
berhubungan dengan........ denganku. Ohhhhhh........ dosa
apa sebenarnya yang kuderita ini ?" Chin Yang Kun mengakhiri
kata-katanya dengan menjambak-jambak rambutnya sendiri.
"Lalu.....dengan keadaanku yang begitu itu apakah aku masih
bisa mengharapkan seorang gadis untuk kujadikan sebagai
isteriku ?" pemuda itu melanjutkan dengan setengah
berteriak.
Chu Seng Kun terpaku diam di tempatnya. Tabib muda itu
benar-benar tidak menduga atau menyangka bahwa keadaan
Chin Yang Kun akan menjadi demikian halnya.
"Oh....... jadi kau berlari-lari seperti dikejar setan dan
menyeberangi muara dengan cara yang mentakjubkan itu
disebabkan karena kau ingin menghilangkan pengaruh aneh
yang menyerang di dalam tubuhmu?” Akhirnya Chu Seng Kun
bertanya.
"Be-benar, Chu twa-ko.......!"
"Dan pengaruh aneh itu benar-benar dapat hilang setelah
kau kehabisan tenaga ?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ya-ya......!" Chin Yang Kun menjawab dengan
bersemangat, seakan-akan memperoleh harapan akan bisa
sembuh kembali seperti sedia kala.
"Ohhh !” Chu Seng Kun bernapas lega seperti sudah dapat
menentukan jawaban dari penyakit yang diderita oleh Chin
Yang Kun tersebut.
"Bagaimana, Chu twa-ko.......?" Chin Yang Kun yang
melihat kawannya itu diam saja lalu mendesak. "Apa... apakah
pengaruh aneh itu disebabkan oleh racun yang mengalir di
dalam darahku? Kalau benar, lalu bagaimana cara
menghilangkannya ?"
"Sebentar, kupikirnya lebih dulu ....!" Chu Seng Kun
menjawab seraya berdiri. Tabib muda itu lalu melangkah
perlahan-lahan mengitari batu tempat mereka duduk. Lengan
kirinya berada di belakang tubuhnya sementara tangan
kanannya memegang dagunya sendiri. Wajahnya tengadah,
memandang bintang-bintang di langit. Sebentar-sebentar ia
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata ia sedang
mengerahkan segala ingatannya untuk mengorek kembali
semua pengetahuan yang pernah didapatnya dari buku ilmu
pengobatan yang pernah dipelajarinya selama ini.
"Ba-bagaimana, Chu.... Chu twa-ko?" Chin Yang Kun
bertanya tak sabar.
"Sebentar.......!" sekali lagi tabib muda itu menjawab tanpa
menoleh maupun menghentikan langkahnya.
Tiba-tiba tabib muda itu malahan merogoh saku bajunya
dan mengeluarkan sebuah buku tebal berwarna kekuningkuningan
saking tuanya. Lalu dengan ketajaman matanya
tabib muda tersebut membalik-balikkan halaman buku itu di
dalam keremangan malam.
"Hei...!" mendadak tabib muda itu berseru, lalu meloncat
menghampiri Chin Yang Kun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan cekatan pula tabib muda itu lalu memeriksa tubuh
Chin Yang Kun, jari-jarinya memencet dan mengurut di
berbagai jalan darah di seluruh tubuh Chin Yang Kun. Dan
karena sudah percaya seratus persen kepada tabib muda itu
Chin Yang Kun menurut saja segala perintahnya.
"Saudara Yang, kau berbaringlah di atas pasir!
Cepat........!" Chu Seng Kun memberi perintah.
Chin Yang Kun menurut pula. Lalu dengan tergesa-gesa
Chu Seng Kun mengeluarkan jarum-jarumnya. Berkali-kali
tabib muda itu menusukkan jarumnya di bawah pusar dan
pelipis Chin Yang Kun, sehingga di bagian itu tampak mencuat
berpuluh-puluh jarum besar-kecil seperti bulu landak. Dan
yang terakhir tabib muda itu lalu menggoreskan sebuah jarum
besar di atas tengkuk Chin Yang Kun, sehingga darah merah
segera mengalir dari luka tersebut.
"Saudara Yang, sekarang coba kaukerahkan sin-kangmu!
Aku akan melihat pengaruhnya ...." dengan tegang Chu Seng
Kun memberi perintah lagi.
Chin Yang Kun mengangguk, lalu bangkit berdiri. Setelah
mengambil napas pemuda itu lalu mengerahkan Liong-cu-ikangnya.
"Aduuuh!"
Tiba-tiba Chin Yang Kun berteriak kesakitan. Otomatis
kedua tangan pemuda itu mencengkeram kepalanya yang
berdenyut-denyut seperti mau pecah. Dan sejalan dengan itu
mendadak pemuda itu merasa sebuah pengaruh aneh
menyusup ke dalam pikirannya. Rasa-rasanya nafsu berahinya
seperti bergolak secara perlahan-lahan di dalam badannya.
Dan semakin lama api berbahaya itu semakin bergejolak
memenuhi otaknya, sehingga pemuda itu tak kuat bertahan
lagi.
"Chu twa-ko, ini........ini.....oh, aku tak ta-tahan lagi! hehheh-
heh...... tolonglah!” desah pemuda itu terengah-engah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sekilas tampak senyum gembira di bibir Chu Seng Kun, tapi
di lain saat dengan sangat cekatan tabib muda itu segera
mencabut jarum-jarum yang ia benamkan di dalam daging
Chin Yang Kun tadi. Lalu dengan cekatan pula jarum-jarum
tersebut ia masukkan ke dalam cupu kecil (seperti tempat
bedak) berwarna hijau, yang terbuat dari batu giok. Cupu itu
berisi cairan kuning, yang segera berasap begitu jarum-jarum
tersebut terbenam di dalamnya.
Sementara itu napas Chin Yang Kun semakin tersengalsengal.
Matanya liar dan berwarna merah darah. Malah dari
sudut mata itu telah mengalir air mata, bagaikan mata
binatang buas yang sedang menderita kelaparan. Sedang
tubuh pemuda itu kelihatan gemetar hebat, seolah-olah tubuh
itu sedang membawa beban yang amat berat.
"Chu twa-ko, tolonglah aku! Cepat! Aku .......aku
sedang....... eh, anu........ pengaruh aneh itu kini sedang
menyerang aku lagi!" Chin Yang Kun mengertakkan giginya
dan mengepalkan tangannya erat-erat.
“Kau........ kau jangan bingung ! Aku akan mengobatimu !
Lekaslah kau berbaring kembali.......!" Chu Seng Kun
menjawab dengan tak kalah tegangnya.
Kemudian Chu Seng Kun mengeluarkan sebilah pisau kecil
dari perak. Dengan ujungnya yang runcing tabib muda itu
menyayat beberapa kali pada kulit leher, dahi dan pelipis Chin
Yang Kun. Darah yang kehitaman merembes keluar.
"Kau jangan tegang ! Lemaskanlah semua otot-ototmu, lalu
tengkuraplah!" tabib muda itu memberi perintah lagi.
Setelah perintahnya dituruti oleh Chin Yang Kun, Chu Seng
Kun segera berseru lagi, "Awas! Sekarang bersiap-siaplah! Aku
akan melakukan gerakan pengobatan yang terakhir! Kali ini
agak sakit, karena aku akan menusuk bagian pinggangmu di
bawah punggung .........”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Selesai berkata Chu Seng Kun lalu mengarahkan ujung
pisaunya ke jalan darah siang-pie-kut-hiat di atas pinggang
Chin Yang Kun, yaitu di sebelah-menyebelah tulang
punggungnya. Lalu dengan pengerahan tenaga yang telah
diperhitungkan, pisau tersebut dihunjamkan secara
bergantian. Tidak terlalu dalam. Mungkin cuma sebagian kecil
saja dari ujungnya yang runcing, tapi sakitnya ternyata hebat
bukan main, sehingga Chin Yang Kun yang sudah berjaga-jaga
itupun masih berteriak kesakitan juga.
"Arrghhh........!"
Dari luka bekas tusukan pisau itu mengalir darah
kehitaman, yaitu ciri khas darah Chin Yang Kun yang beracun.
Dan bersamaan dengan itu, keringat dingin bagaikan
disemburkan dari setiap pori- pori kulit Chin Yang Kun. Begitu
banyaknya sehingga baju dan celana pemuda itu menjadi
basah, bagaikan tersiram air saja. Dan juga bersamaan
dengan itu pula seluruh otot-otot pemuda itu menjadi lemas
bagaikan lumpuh mendadak.
"Ohhhh.......!" Chin Yang Kun berdesah panjang.
Perlahan-lahan wajah yang merah tadi berubah menjadi
normal kembali. Napas yang semula terengah-engah dan
tersengal-sengal juga kembali normal pula Iagi. Dan
perubahan tersebut sungguh amat menggembirakan hati Chu
Seng Kun, si tabib muda itu. Hanya tinggal rasa lemas itu saja
yang masih diderita oleh Chin Yang Kun.
Dan tabib muda itu segera menghapus keringat yang
membasahi lehernya. Gerakan-gerakan yang dilakukannya tadi
ternyata juga hampir menghabiskan seluruh tenaganya.
"Ahh…… sungguh berbahaya sekali !" desah tabib muda itu
seraya duduk melepaskan Ielah.
"Oooooh.......!?!" Chin Yang Kun menggeliat, lalu bangkit
perlahan-lahan. Badannya tampak lemas, sehingga beberapa
kali hampir gagal untuk mengangkat tubuhnya. "Chu twa-ko,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tubuhku lemas sekali, rasa-rasanya aku seperti tak kuasa lagi
untuk bergerak...... ooh! A..... apa sebenarnya yang telah
terjadi?"
Chu Seng Kun tersenyum mengawasi Chin Yang Kun, tapi
ia tak beranjak dari tempat duduknya. Badannya juga tampak
lemas dan lelah sekali.
"Aku tadi telah berusaha mencari tahu jenis penyakit yang
bersarang di dalam tubuhmu. Dan sungguh beruntung sekali,
aku bisa berhasil menemukannya......." tabib muda itu
menjawab dengan suara bersyukur.
"Oh.......... jadi?” desah Chin Yang Kun dengan nada
gembira.
Tapi kegembiraan pemuda itu segera terhenti tatkala
melihat wajah penolongnya menjadi murung secara
mendadak. Pikirnya lantas menjadi kacau, apa lagi ketika
menyaksikan tabib muda itu memandangnya dengan sinar
mata sedih.
''Chu twa-ko........ kenapa ? Apa....... apakah ada sesuatu
yang salah? Ka-katakanlah….!" Chin Yang Kun berbisik. Chu
Seng Kun menggeleng. "Tidak, Saudara Yang…… tidak ada
salah. Aku cuma merasa bersyukur, tapi sebaliknya aku juga
merasa bersedih melihat sinar kegembiraan di dalam wajahmu
tadi. Karena.........."
"Twako, lekas katakan! Apakah penyakitku itu tak bisa
disembuhkan lagi?"
Chu Seng Kun tidak segera menjawab. Sebaliknya tabib
muda itu lalu menghela napas dan menghampiri Chin Yang
Kun. "Saudara Yang.......! Setelah kuperiksa serta kuadakan
percobaan tadi, aku dapat menemukan sebab-sebab atau jenis
dari penyakit aneh yang sering mengganggumu itu.
Sebenarnya itu bukan penyakit, tetapi hanya merupakan
akibat sampingan dari racun dahsyat yang mengalir di dalam
darahmu saja. Kadar racun itu ternyata telah merembes ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dalam susunan otakmu dan mempengaruhi simpul syarafmu
terlemah, yaitu simpul syaraf yang berhubungan dengan nafsu
berahimu. Gangguan racun itu mengakibatkan simpul syarat
tersebut tidak bekerja secara normal lagi. Sentuhan atau
rangsangan terhadap jaringan-jaringan syaraf tersebut akan
mengakibatkan simpul syaraf itu cepat menegang dan bekerja
dengan kekuatan penuh, sehingga simpul-simpul syaraf yang
lain tak mampu lagi menahan atau mengendalikannya.
Akibatnya, setiap syaraf tersebut terangsang, kau tak bisa
menguasainya lagi......"
"Twa-ko........lalu...... oh, lalu bagaimana cara
menyembuhkannya ? Bukanlah hal itu sangat membahayakan
orang lain? Terutama.....terutama terhadap gadis-gadis atau
wanita-wanita yang kujumpai ?"
Chu Seng Kun menghela napas. Dengan sedih ia
memandang pemuda sakti yang bernasib malang itu.
"Memang benar. Kau memang menjadi sangat berbahaya
sekali bagi orang lain, terutama bagi wanita. Kepandaianmu
luar biasa tingginya, sehingga kalau penyakit itu datang,
jarang yang bisa menahanmu, apalagi mengalahkanmu.
Padahal penyakit itu semakin hari semakin berat dan ganas
mempengaruhi susunan otakmu. Saat sekarang dengan
kesadaranmu kau masih bisa mengalihkan keganasan
pengaruh aneh itu dengan mengobral seluruh tenaga
dalammu, sehingga kau kehabisan tenaga dan tak bisa
berbuat apa-apa lagi. Tapi dalam beberapa waktu lagi engkau
sudah tidak bisa berbuat demikian. Pengaruh racun itu sudah
demikian besarnya sehingga kau tak ada kesempatan untuk
mengendalikannya lagi......"
"Twa-ko.......???" Chin Yang Kun berdesah serak.
Tabib muda itu memandang Chin Yang Kun dengan
perasaan menyesal dan sedih.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Satu-satunya jalan hanyalah berusaha menghilangkan
racun yang mengalir di dalam darahmu. Tapi aku belum dapat
menemukan jalan atau caranya. Racun itu sudah menyatu dan
bersenyawa dengan darahmu. Rasanya sulit untuk
memisahkannya lagi.”
“Jadi....... jadi aku tak........ tak bisa ditolong lagi?" Chin
Yang Kun bertanya gugup.
Chu Seng Kun menundukkan kepalanya. Perlahan-lahan
kepala itu menggeleng, "Entahlah........! Tapi kau jangan
putus-asa. Aku akan berusaha keras untuk mencari obatnya."
“Ooh......Ialu........ lalu apa yang mesti kulakukan sebelum
obat itu diketemukan ?"
"Tentu saja kau harus berhati-hati dalam menjaga diri.
Jangan sampai kau terangsang oleh wanita. Syukur kalau kau
mau pergi mengasingkan diri di tempat sepi, sehingga kau
tidak bertemu dengan perempuan.”
"Tapi........tapi masih banyak urusan keluargaku yang harus
kuselesaikan. Bagaimana aku bisa meninggalkannya untuk
mengasingkan diri?"
"Itulah repotnya! Dalam keadaan normal kau adalah
seorang pemuda atau pendekar yang baik. Tapi jikalau
penyakit itu datang menyerang, kau akan berubah menjadi
seorang iblis penyebar maut yang menakutkan. Terutama
untuk para wanita atau orang-orang yang berusaha
menghalangi niatmu. Maka kalau kau masih berpetualang di
dunia ramai, kau harus menjaga dirimu sebaik-baiknya."
"Ooooh!” Chin Yang Kun lemas tak berdaya.
Keduanya lalu terdiam lesu di tempat masing-masing. Chu
Seng Kun yang masih lelah kehabisan tenaga itu sibuk berpikir
tentang penyakit Chin Yang Kun yang aneh itu. sementara
Chin Yang Kun sendiri juga sedang meratapi nasibnya yang
malang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Begitu asyiknya mereka dengan lamunan mereka masingmasing,
sehingga mereka berdua tidak menyadari kalau
sepasang mata bersinar hijau yang sangat mengerikan sedang
mengawasi mereka. Mereka menjadi kaget setengah mati
ketika tiba-tiba saja makhluk mengerikan itu meloncat ke
hadapan mereka!
"Bhrrrrh.......!" makhluk itu menggeram.
Chu Seng Kun segera meloncat berdiri, tapi segera
terhuyung-huyung mau jatuh. Tubuhnya yang masih lelah
karena baru saja menguras tenaga secara berlebihan itu
ternyata belum pulih kembali seperti sedia kala. Sedangkan
Chin Yang Kun yang juga telah kehabisan tenaga itu lebih
parah lagi keadaannya. Beberapa kali pemuda itu berusaha
bangkit, tapi selalu gagal. Badan yang lemas tak bertenaga itu
tetap saja tergeletak di atas pasir.
Sementara itu sebuah makhluk mengerikan telah berdiri di
depan mereka. Bentuknya seperti manusia, gemuk bulat
berkepala gundul. Kulitnya berwarna hijau gemerlapan ditimpa
sinar bintang. Yang sangat mengerikan dan menjijikkan adalah
lendir kental yang menempel pada kulit yang berwarna hijau
tersebut. Begitu banyaknya lendir tersebut sehingga makhluk
itu bagaikan dibungkus oleh larutan bubur perekat di sekujur
tubuhnya. Malahan saking banyaknya, lendir kental itu tampak
meleleh dan berjatuhan ketika makhluk itu berjalan. Baunya
jangan ditanya lagi. Busuk bukan main! Busuk dan amis!
Saking kagetnya Chu Seng Kun dan Chin Yang Kun justru
terdiam tak bisa berkata sepatahpun. Keduanya menatap
makhluk mengerikan itu dengan mulut ternganga dan mata
terbelalak !
Beberapa kali makhluk itu berusaha mengusap atau
membuang lendir kental yang menutupi mulut dan hidungnya.
Tapi lendir yang meleleh demikian banyaknya sehingga
tempat itu segera tertutup kembali seperti semula.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bhhrrrr....... sungguh bhrr........ beruntung sekali aku
bhrr.....b-b-bisa bhertemu dengan tabbhhrrr....... dengan tabib
pandai seperti kau ini, hahahaha...... bhrr!" tiba-tiba makhluk
mengerikan itu berkata.
"Hah.....?” Chu Seng Kun berseru seraya melangkah
mundur setindak. "Kau siapa?”
"Hahaha....... bbrrrr........ aku sudah lama mengintaimu di
sini, yaitu sejak kau mmbhrr-berusaha mengobati anak muda
ini. Sekarang kalian berdua sama-sama tak
bhherrr.....hhrrr........ tak berdaya dan kehabisan tenaga.
Maka dari itu ka.......ka...bherrr ... kalian tak perlu
melawan........." makhluk itu berkata lagi, sama sekali tak
mengacuhkan pertanyaan Chu Seng Kun. Sebentar-sebentar
tangannya mengusap lendir yang menghalangi gerak mulut
dan bibirnya.
"Apa......maksudmu?” Chu Seng Kun bertanya lagi.
Tabib muda itu mundur selangkah lagi. Tetapi bukan
karena takut, sebab sebagai seorang yang telah biasa
berpetualang ia telah bisa menenteramkan dan menenangkan
hatinya kembali. Apalagi setelah ia perhatikan benar-benar,
makhluk tersebut ternyata bukanlah hantu atau iblis yang
patut ditakutkan. Makhluk mengerikan itu tak lain adalah
manusia juga seperti dirinya. Cuma yang membuat orang itu
menjadi sangat mengerikan adalah kulit dan lendirnya yang
aneh dan menjijikkan itu.
"Bbhrrrrr.......! Terus terang aku minta tol... tolhong.......
bhrrrr. SembuhkanIah aku dari penyakitku yang.......yang
aneh ini !"
"Penyakit? Ada apa dengan tubuhmu itu?"
Orang yang berselimutkan lendir itu menundukkan kepala
dan tampak ragu-ragu untuk berterus terang. Tapi beberapa
saat kemudian kepala itu kembali tengadah. Tangannya lalu
sibuk membuang lendir yang menutupi mulutnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bbhhrrr..... baiklah, aku akan berterus terang kepadamu.
Aku..….aku sesungguhnya tidak menderita penyakit apa-apa.
Dan aku juga tidak merasa sakit atau disakiti orang. Aku
hanya menjadi....... menjadi korban dari ilmuku sendiri !"
"Menjadi korban dari ilmumu sendiri ?” Chu Seng Kun
menegaskan.
"Bhhrrrr........ benar! Aku sejak muda selalu bergulat
dengan racun, terutama racun kelabang hijau! Racun yang
amat ganas dan berbahaya itu berhasil aku taklukkan dan aku
kuasai, sehingga dapat kupakai sebagai senjata dan dasar dari
ilmu yang kupelajari. Sedikit demi sedikit setiap hari racun itu
kumasukkan dan kuresapkan ke dalam tubuhku, sehingga
racun itu akhirnya dapat merasuk dan menyatu dengan darah
dagingku. Dan untuk tetap dapat mmm.......mbbrrrr.....
menguasai serta mmm….mbbbrrrr....... mengendalikannya,
setiap hari atau setiap waktu tertentu aku meminum ramuan
yang telah kubuat sendiri. Tapi karena sesuatu hal dalam dua
hari ini aku tak melakukannya. Dan celakanya lagi, bhrrrr........
dalam dua hari dua malam itu tubuhku terendam di dalam air
asin, air yang selama ini selalu kujauhi dan menjadi pantangan
dari ilmu yang kupelajari. Maka akibatnya........ oh,
bhrrrr....tubuhku menjadi seperti ini."
Selesai berkata orang itu lalu mengawasi Chu Seng Kun. Di
dalam tatapan matanya, terkandung permohonan dan harapan
agar tabib muda itu mau mengobatinya. Hanya saja di dalam
permohonannya itu ada tersirat juga nada paksaan, bahkan
ancaman, apabila permintaannya tersebut tidak dikabulkan
oleh Chu Seng Kun.
Chu Seng Kun tidak segera memberi jawaban. Sejak orang
itu menyebutkan jenis racun yang dipelajarinya, serta apa
yang telah terjadi selama dua hari ini, ia segera menjadi
curiga. Apalagi setelah ia perhatikan lebih teliti lagi, ternyata ia
segera mengenal orang itu. Orang itu tak lain adalah Si
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kelabang Hijau Ceng-ya-kang, yang mencebur ke laut dua hari
yang lalu!
Otomatis Chu Seng Kun menoleh ke arah kawannya,
seolah-olah ingin memberitahukan bahwa orang yang
dicarinya selama ini ada di depannya. Tapi betapa terkejutnya
dia ketika melihat Chin Yang Kun masih saja terbaring di
tempatnya. Pemuda itu belum dapat bangun karena belum
pulih kembali kekuatannya.
"Wah....... gawat nih ! Saudara Yang masih lumpuh,
sedangkan aku juga masih lemas pula. Kalau iblis berbahaya
ini memaksakan kehendaknya dan mengamuk, aku dan
Saudara Yang terang belum bisa menghadapinya. Padahal aku
belum tentu bisa mengobatinya pula. Bagaimana kalau iblis
yang licik dan keji ini nanti marah ?" tabib muda itu berpikir di
dalam hati. "Hmmm, satu-satunya jalan hanyalah mengulur
waktu. Siapa tahu Saudara Yang sudah bisa memulihkan
tenaganya?"
Setelah memperoleh keputusan demikian, Chu Seng Kun
lalu menarik napas dalam-dalam. Dengan tenang ia
menghadapi Ceng-ya-kang yang kini keadaannya sangat
mengerikan itu.
"Hmmm........ terus terang aku tadi tidak mengenalmu
sama sekali. Tapi begitu mendengar ceritamu, aku lantas ingat
siapa kau ini sebenarnya......." akhirnya Chu Seng Kun
membuka muIutnya.
"Hei........ kau mengenal....bbrrrr......mengenalku ?" orang
yang tidak lain memang Ceng-ya-kang itu tersentak kaget.
"Ya. Bukankah kau adalah Si Kelabang Hijau Ceng-ya-kang?
Siapa lagi di dunia ini yang sering bermain-main racun
Kelabang Hijau selain Ceng-ya-kang ?"
Tiba-tiba Ceng-ya-kang meloncat maju, sehingga lendirlendirnya
banyak yang terlepas berjatuhan ke tanah. Baunya
jangan ditanya lagi ! Amis dan busuk memuakkan !
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Nah, kalau aku memang benar Ceng-ya-kang, kau mau
apa..... heh? Bhrrrrrr...... !"
Chu Seng Kun cepat-cepat melompat ke samping, tapi lagilagi
tabib muda itu terhuyung-huyung mau jatuh.
"Bersabarlah........!" teriaknya.
"Heheh... bhrrrr.... hati-hati kau! Aku tahu kau baru saja
menghamburkan tenaga sakti untuk mengobati pemuda itu.
Badanmu masih lemah, begitu pula dengan pemuda ganteng
itu, bhrrrrrr....... heheh ! Oleh karena itu kau jangan cobacoba
melawan aku. Lebih baik kauturuti saja permintaanku,
jika tidak......bhrrrr..... aku akan membunuh kalian berdua !"
"Bersabarlah! Aku akan mengobatimu….”
"Nah... begitu lebih baik. Tapi jangan coba-coba
mengelabuhi aku. Lihatlah di sekeliling kalian ! Tempat ini
telah penuh dengan racun-racunku. Dan tanpa kalian sadari,
kalian juga sudah kemasukan racunku pula. Kalau tak percaya,
hehe... bhrrrr........ silakan periksa pernapasan kalian! Oleh
karena itu…. bhrrr ...... jangan coba-coba menipu aku ! Sekali
aku mencurigai gerak-gerik kalian, kalian tentu kubunuh !”
Chu Seng Kun lagi-lagi terperanjat, apalagi ketika ia benarbenar
memeriksa pernapasannya! Dadanya terasa sakit! Gila,
ternyata akibat penghamburan tenaganya tadi membuat
kewaspadaannyapun menjadi berkurang. Tanpa ia sadari
tubuhnya telah kemasukan racun yang ditebarkan oleh Cengya-
kang.
Ketika tabib muda itu melirik ke arah Chin Yang Kun,
hatinya semakin menjadi kecut. Pemuda itu tampak tersengalsengal
pernapasannya. Air mukanya kelihatan membiru,
sementara matanya tampak melotot mengawasi Ceng-ya-kang
! Agaknya pemuda itu juga sudah kemasukan racun Ceng-yakang
pula !
Memang benar juga dugaan Chu Seng Kun itu, Chin Yang
Kun memang telah terkena racun yang disebar oleh Ceng-yaTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
kang sebelum muncul di hadapan mereka. Tetapi seperti telah
diketahui, tubuh pemuda itupun telah sarat dengan racun
pula. Maka sedikit racun yang ditebarkan oleh Ceng-ya-kang
itu sebenarnya tidak berpengaruh apa-apa terhadap tubuhnya.
Malahan bila dihitung-hitung, racun yang mengalir di dalam
tubuh Chin Yang Kun sendiri justru sepuluh kali lipat lebih
hebat dan lebih ganas dari pada racun tersebut.
Yang membuat napas pemuda itu tersengal-sengal serta air
mukanya pucat membiru itu adalah ketegangan hati pemuda
itu sendiri. Kenyataan yang demikian mendadak, di mana
secara tiba-tiba dia berhadapan muka dengan orang yang
dicarinya, padahal keadaan tubuhnya sedang lumpuh dan
kehabisan tenaga, membuat pemuda itu menjadi gelisah,
tegang dan penasaran ! Rasa-rasanya pemuda itu ingin
menerkam serta mencekik iblis tersebut, untuk menanyakan
peristiwa di hutan Bukit Ular setahun yang lalu. Sayang sekali
badannya yang lemas dan lumpuh itu telah menghalanghalanginya.
Oleh karena itu yang dapat dilakukannya hanyalah
menggeram dan melotot saja kepada Ceng-ya-kang !
"Bhrrrr…... bagaimana? Kau mau mengobati aku atau
tidak?" tiba-tiba Ceng-ya-kang membentak.
"Ba-baiklah........ tapi biarlah aku menyelesaikan
pengobatan terhadap temanku itu dahulu. Bagaimana ?” Chu
Seng Kun mencoba mencari kesempatan untuk berbicara
dengan Chin Yang Kun, agar bisa merundingkan cara untuk
menghadapi iblis dari Ban-kwi-to itu.
"A-a.....brrrh........? Hah....... kau jangan mencoba
mengakali aku, ya.......?" Ceng-ya-kang segera mencegah.
Tapi Chu Seng Kun cepat berbalik dan menghadapi iblis itu
dengan bertolak pinggang. Dengan lantang ia berkata,
"Hmm...... kedatanganku di tempat ini hanya untuk mengobati
temanku itu. Kalau akhirnya aku tak bisa menyelesaikan
pengobatan itu, padahal hanya tinggal menusukkan tiga
batang jarum saja, lalu di mana nanti aku hendak menaruhkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mukaku? Lalu apa gunanya aku jauh-jauh datang ke sini? Dan
apa gunanya aku mempertahankan nama besarku sebagai ahli
pengobatan selama ini? Hmm, kalau demikian halnya, lebih
baik semuanya mati saja ! Kau bunuhlah aku ! Biarlah aku
mati, sehingga kau dan temanku itu juga mampus pula
bersama aku…!”
Ceng-ya-kang justru mundur selangkah ketika Chu Seng
Kun mendesak maju. Iblis itu tampak bimbang. Siasat Chu
Seng Kun yang cerdik itu malah membuatnya bimbang!
Sekejap iblis itu termangu-mangu di tempatnya, sebab
bagaimanapun juga dia ingin disembuhkan pula dari
penderitaannya itu. Dan kini secara kebetulan dia berjumpa
dengan seorang tabib pandai. Dan kesempatan seperti ini
akan sulit ia dapatkan di kemudian hari.
"Ayoh! Kenapa kau menjadi ragu-ragu ? Bunuhlah aku…..!”
Chu Seng Kun yang melihat kebimbangan Ceng-ya-kang itu
segera mendesak lagi.
"Ba.......hhrr........ baiklah ! Kau benar-benar tinggal
menusukkan tiga batang jarum saja lagi, bukan ? Ka-kalau
begitu....... lakukanlah! Tapi bhrrr....... kau jangan coba-coba
menipuku, karena untuk melindungi jiwaku…. hhrr....... aku
tak segan-segan membunuhmu !”
"Hmmh!"
Chu Seng Kun mendengus, kemudian tubuhnya berbalik
dan melangkah ke tempat Chin Yang Kun. Dan begitu
berhadapan dengan Chin Yang Kun, tabib muda itu segera
memberi isyarat dengan matanya.
"Perhatikan jarumku.........!” bisik tabib muda itu lemah,
sebelum iblis Ban-kwi-to itu ikut pula duduk di dekatnya.
Chin Yang Kun mengerutkan keningnya. Mula-mula ia
menjadi gugup dan bingung melihat kawannya itu memberi
isyarat kepadanya. Tapi sesaat kemudian ia segera
menangkap maksud kawannya itu. Maka ketika ia disuruh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tengkurap di atas pasir, maka iapun tak membantah. Ia
menanti saja apa yang hendak dilakukan oleh tabib muda itu
kepadanya. Dan untuk sementara ia berusaha
mengesampingkan kegeraman hatinya kepada iblis Ban-kwi-to
itu.
"Perhatikan jarum-jarumku......!" Pemuda itu mengulang
kata-kata Chu Seng Kun di dalam hatinya. "Apa maksudmu
......... ?"
Tiba-tiba kulit punggungnya terasa dicoret-coret dengan
ujung jarum oleh Chu Seng Kun. Beberapa coretan lalu
berhenti. Kemudian coretan itu diulangi lagi, persis dengan
yang tadi. Lalu berhenti lagi. Dan beberapa saat kemudian
coretan tersebut diulangi lagi oleh Chu Seng Kun, sehingga
akhirnya Chin Yang Kun tahu apa yang dikehendaki kawannya.
Tampaknya tabib muda itu bermaksud menulis pesan dengan
goresan-goresan jarum pada punggungnya, agar Ceng-yakang
yang buta huruf itu tidak menyadari kalau sedang
diakali.
"Ayoh........ bhrrrr ! Mengapa jarum itu tidak lekas-lekas
kautusukkan ? Mengapa cuma kauputar-putarkan saja di atas
punggungnya ? Kau ingin mengulur-ulur waktu, ya ?
Bbrrrr...... jangan harap! Cepat !" iblis Ban-kwi-to itu
menggertak.
"Baiklah, Chu twa-ko ! Lekaslah........!” Chin Yang Kun
berseru kepada Chu Seng Kun pula, sebagai isyarat bahwa ia
juga sudah mengerti apa yang dimaksudkan oleh kawannya
itu.
"Baik!" Chu Seng Kun juga berseru dengan gembira, begitu
maksudnya telah diketahui oleh Chin Yang Kun. "Tapi kau
jangan tergesa-gesa pula. Meskipun hanya menusukkan
jarum, tapi pekerjaan itu juga tidak mudah. Harus menurut
aturan dan cara-cara yang telah ditentukan."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Begitulah, sambil menyelipkan pesan-pesan dengan
coretan-coretannya Chu Seng Kun menusukkan ketiga
jarumnya di tempat yang dikehendakinya.
Tiga batang jarum ini kugunakan untuk memacu dan
membantu urat-urat penting di dalam tubuhmu, agar urat
syaraf serta peredaran darahmu dapat segera pulih seperti
sedia kala. Setelah itu terserah kepadamu untuk menghadapi
iblis ini.
"Nah, aku sudah selesai dengan pengobatanku sekarang.
Bagaimana ? Apakah kau sudah siap pula?" Chu Seng Kun
menoleh ke arah Ceng-ya-kang dan bertanya.
Iblis itu bangkit berdiri. "Bhrrrr..... bagus! Aku juga sudah
siap. Tapi sekali lagi kuperingatkan, jangan sekali-sekali kalian
berbuat yang mencurigakan atau berbuat curang. Sebab sekali
saja aku mengetahui atau melihatnya, kalian........ atau kita
semua akan mati di tempat ini. Kalian tahu mengapa aku
berkata demikian ? Bhrrr.....lihat.......lihatlah pasir di bawah
kaki kalian itu!"
Chu Seng Kun menarik napas panjang, lalu menundukkan
kepalanya. Begitu juga dengan Chin Yang Kun. Pemuda itu
secara otomatis juga memandang pasir yang ditindihnya.
Dan secara berbareng keduanya membelalakkan matanya.
Keduanya seperti orang yang sedang ketakutan !
Pasir itu ternyata telah berubah warnanya menjadi hijau
gelap. Dan itu berarti bahwa pasir tersebut telah mengandung
racun pula. Malah lapat-lapat kedua pemuda itu melihat asap
tipis atau kabut tipis dari dalam pasir tersebut. Kabut tipis itu
perlahan-lahan mengepul ke atas, seakan-akan hendak
menyelimuti tubuh mereka bertiga.
"Nah .....bhrrr......... sudah kalian lihat itu ? Hahaha........
bhrrr........ hal itu berarti bahwa kalian berdua juga sudah
terkena racunku pula. Dan hal itu juga berarti bahwa mati
hidup kalian telah berada di tanganku. Maka dari itu, asal
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kalian tidak berlaku curang dan bisa menyembuhkan
penyakitku, aku juga akan memberi obat penawar racunku....
kepada kalian. Ba-ba…. bherrrr........ bagaimana pendapat
kalian ? Bu-bukankah tukar-menukar ini adil juga?"
"Sudahlah! Kau tak usah menakut-nakuti kami! Bersiaplah,
aku akan mulai mengobati penyakitmu!” Chu Seng Kun cepat
memotong perkataan Ceng-ya-kang.
"Bhhrrr …..aku sudah siap. Apa yang harus kukerjakan?"
“Berguling-gulinglah dahulu di atas pasir biar lendir-Iendir
itu hilang dari badanmu ! Setelah itu mandilah dalam air laut
agar supaya pasir-pasir yang menempel di tubuhmu menjadi
bersih !" Chu Seng Kun memberi perintah.
"Bhhrrrr….. kurang ajar ! Kau mau mengolok-olok aku? Kukubunuh
kau!" tiba-tiba Ceng-ya-kang naik pitam.
Iblis itu berdesis, lalu menerkam Chu Seng Kun. Dengan
susah payah tabib muda itu mengelak, kemudian berteriak,
“Tunggu ! Kau jangan Iekas marah ! Aku tidak bermaksud
menghinamu! Dengarlah........I Bagaimana aku bisa melihat
dan memilih urat-urat serta jalan darahmu kalau kulitmu
tertutup lendir-lendir kental begitu ? Bagaimana kalau aku
salah menusukkan jarumku nanti?”
Ceng-ya-kang menggeram dan menunda serangannya.
Kata-kata Chu Seng Kun itu memang masuk akal. "Hmm.......
jadi.......jadi aku harus bergulung-gulung di atas pasir ini
dahulu? Bhhrrrrr.....” akhirnya Iblis itu berkata.
"Benar ! Atau kalau kau keberatan, aku akan ngawur saja
dalam menusukkan jarumku. Bagaimana......?”
“Ba-baik....... bherrrrr….. baiklah, aku akan berguling-guling
di pasir ini ! Tapi awas kalau kau mempermainkan aku !"
Dengan agak sedikit malas iblis itu lalu berguling-guling di
atas pasir. Mula-mula hanya perlahan-lahan saja, tetapi makin
lama akhirnya makin cepat juga. Setelah lendir-lendir kental
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu hilang dari tubuhnya, iblis itu lalu berlari ke pantai.
Tubuhnya yang sekarang penuh dengan pasir itu
dimasukkannya ke dalam air, kemudian digosok-gosoknya
hingga bersih.
Kesempatan itu dipergunakan oleh Chu Seng Kun untuk
menengok Chin Yang Kun.
“Bagaimana Saudara Yang? Apakah tenaga saktimu telah
bisa pulih kembali ?”
"Belum. Sebentar lagi. Tolong kau ulur lagi waktunya !"
Chin Yang Kun menjawab perlahan, takut didengar Ceng-yakang.
"Hei........ kalian bicara apa ?" Ceng-ya-kang tiba-tiba
meloncat keluar dari dalam air dan berdiri di depan mereka.
"Kalian berunding untuk menjebak aku, he......?"
"Aku hanya menanyakan hasil dari pengobatanku tadi.
Apakah itu tidak boIeh ?" Chu Seng Kun membantah dengan
berani.
"Tidak boleh ! Sekali lagi kalian berbicara satu sama lain,
pemuda ganteng itu akan kubunuh !" Ceng-ya kang yang kini
sudah bersih dari lendir itu menggeram.
"Hmmh!" Chu Seng Kun mendengus.
"Aku sudah bersih sekarang. Apa yang mesti kukerjakan
lagi? Tapi....... awas ! Sekali kau melakukan kecurangan,
racun-racunku akan segera bekerja. Satu persatu ruas-ruas
tulangmu akan terlepas seperti orang yang terkena penyakit
kusta. Dan kalian jangan harap bisa sembuh tanpa meminum
obat penawarku !”
Tabib muda itu tergetar hatinya. Tampaknya iblis itu tidak
hanya sekedar mengancam saja. Kelihatannya iblis itu
memang berkata sebenarnya. Racun Kelabang Hijau memang
bukan racun sembarangan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Agaknya aku memang tidak boleh sembrono menghadapi
orang ini. Racun itu mungkin memang takkan bisa kutahan
atau kuobati sendiri tanpa pertolongan obat penawarnya. Oleh
karena itu aku harus berhati-hati dan pandai mengambil
hatinya, agar obat penawar itu diberikan kepadaku dengan
baik-baik," Chu Seng Kun berkata di dalam hatinya.
Tabib muda itu lalu melangkah ke depan. “Jangan banyak
bicara! Kau tinggal percaya atau tidak kepadaku? Kalau masih
percaya, ya..... syukur. Kalau tidak, ya…….silakan pergi saja !
Habis perkara!" katanya lantang.
"Hmmh !” Ceng-ya-kang menggeram. Lalu, "Baiklah ! Apa
yang harus kulakukan Iagi?"
"Kau duduklah bersila di atas pasir! Kendorkanlah semua
urat dan otot-ototmu, aku akan memeriksa dulu penyakitmu!"
Chu Seng Kun berkata tegas.
Sementara itu Chin Yang Kun sudah mulai bisa
menghimpun kembali kekuatannya. Tusukan tiga batang
jarum yang dilakukan oleh Chu Seng Kun tadi benar-benar
membantu dan mempercepat proses pemulihan tenaganya.
Kini hanya tinggal beberapa buah jalan darah saja yang belum
pulih seperti semula.
Demikianlah, Chin Yang Kun seperti sedang berlomba
dengan waktu, sementara Chu Seng Kun membantunya
dengan mengulur ulur waktunya. Tetapi meskipun demikian,
tabib muda itu juga tidak berani main-main dengan iblis
tersebut. Selain mengulur waktu, tabib muda itu juga
berusaha dengan sekuat tenaganya untuk mengetahui jenis
penyakit lawannya.
Sementara itu tubuh Ceng-ya-kang yang sudah bersih itu
mulai dilapisi dengan lendir yang keluar lagi dari dalam
tubuhnya. Lendir itu mengucur keluar dari pori-pori kulit
bersama-sama dengan keringat. Semakin lama lendir tersebut
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
semakin banyak juga sehingga akhirnya mengganggu
pekerjaan Chu Seng Kun.
"Wah....... lendirmu sudah menutupi kulitmu lagi! Maukah
kau membersihkannya lagi?" tabib muda itu mengeluh.
"Bangsat! Lendir gila ! Makin lama keluarnya semakin deras
juga ! Huh !” iblis itu mengumpat-umpat. Lalu, "Apakah kau
sudah menemukan cara untuk mengatasinya ?”
"Sudah ! Tapi aku harus memeriksanya kembali, apakah
cara yang akan kulakukan itu tidak membahayakan kau. Aku
harus berhati-hati menanganinya, karena aku belum pernah
menjumpai penyakit seperti ini sebelumnya," Chu Seng Kun
menjawab.
"Kurang ajar! Huh, baiklah,,,,,., aku akan berguling-guling
di pasir dan mandi di laut lagi ! Kaunantikanlah di sini !"
dengan perasaan mendongkol Ceng-ya-kang bersungutsungut.
Begitu iblis itu membenamkan dirinya di laut, Chu Seng Kun
bergegas menghampiri Chin Yang Kun kembali.
"Saudara Yang, bagaimana......? Sudah pulih kembali?"
bisiknya kepada pemuda berkepandaian tinggi itu.
"Tinggal sedikit lagi ! Lalu apa yang harus kulakukan
seteIah tenagaku pulih nanti? Menggempur dia?”
"Jangan! Biarlah aku meminta obat penawarnya dahulu,
selelah itu baru terserah kepadamu....." Chu Seng Kun cepatcepat
mencegah. "Eh, dia sudah selesai mandi. Berhatihatilah!"
Chu Seng Kun bergegas menjauhi Chin Yang Kun lagi.
"Ayoh..... cepatlah ! Tubuhku sudah bersih kembali !”
Ceng-ya kang berseru.
"Bagus! Bersilalah Iagi di atas.......!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Iblis itu memandang Chu Seng Kun dengan tajamnya,
setelah itu perlahan-lahan matanya menoleh ke arah tubuh
Chin Yang Kun, yang masih tergolek di atas pasir.
"Sekali lagi kau mengajaknya bicara, aku langsung akan
membunuhnya! Dan aku tidak akan peduli lagi, apa yang akan
terjadi nanti !" Iblis itu menggeram seraya bersila di muka Chu
Seng Kun.
Tergetar juga hati tabib muda itu. la tak menduga kalau
iblis itu mengetahui juga gerak-geriknya tadi. Maka untuk
sesaat, ia menjadi ragu-ragu untuk melanjutkan
pengobatannya. Ia khawatir iblis keji yang sukar diduga
pikirannya itu akan berbalik pikiran dan mengamuk !
"Ayoh, lekas! Kenapa kau diam saja di situ? Mau mengulur
waktu agar tenagamu pulih kembali? Dan kemudian kau mau
mencoba melawan aku? Huh........ jangan bermimpi ! Sekali
saja kau mengerahkan separuh dari tenaga saktimu, maka
racunku akan segera bekerja ! Dan dalam waktu singkat
seluruh anggota badanmu akan terlepas satu persatu dari
tubuhmu, bagaikan sebatang pohon yang berguguran
daunnya di musim gugur…”
"Aaaah........!" Chu Seng Kun berdesah.
"Ayoh ! Apa yang kautunggu lagi?" Ceng-ya-kang
mendesak.
Chu Seng Kun tersentak. Tapi bersamaan dengan itu tibatiba
timbul akal di dalam pikiran tabib muda tersebut.
"Ooughhh!" desisnya seperti orang yang sedang menahan
sakit, lalu tubuhnya terhuyung-huyung mau jatuh. Tapi ia
segera berpura-pura bertahan sekuat tenaganya.
"Hei? Kau kenapa.......?" dengan kaget Ceng-ya-kang
berseru.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Chu Seng Kun mengambil napas sambil mendekap
dadanya, “Tidak apa-apa ! Hanya gangguan kecil saja. Dadaku
terasa sakit...."
"Dadamu terasa sakit ? Apakah........ apakah lenganmu
juga terasa kesemutan?"
Chu Seng Kun melirik, diam-diam ia tersenyum melihat
kekhawatiran iblis itu.
"Be-benar.....! Malah tidak cuma lenganku saja yang
kesemutan, tapi juga kedua kakiku," tabib muda itu
berbohong.
"Kurang ajar ! Kau tentu tidak mengindahkan peringatanku
tadi! Kau tentu mengerahkan sinkangmu........" Ceng-ya-kang
mengumpat.
"Hah?" Chu Seng Kun pura-pura kaget.
"Aku ...... aku memang telah mengerahkan sinkangku.
Tapi.......tapi.....,,.itu akan kugunakan untuk mengobatimu.
Untuk mengurut, menotok dan menusukkan jarum, aku harus
mempergunakan sinkang........." Chu Seng Kun meneruskan
sandiwaranya.
Chu Seng Kun laIu berpura-pura jatuh. Tentu saja Ceng-yakang
yang sedang membutuhkan pertolongan tabib muda itu
menjadi kelabakan. Iblis tersebut mengira lawannya benarbenar
sedang menderita akibat serangan racunnya.
"Gila! Kau tadi tidak mengatakan bahwa cara
pengobatanmu itu harus mempergunakan sin-kang! Tahu
begitu, aku tentu akan memberimu dulu obat penawarnya!
Hmh ! Nih….. kauisaplah dulu darahku, lalu telanlah !” Iblis itu
membentak marah.
Ceng-ya-kang lalu melukai ujung jarinya, sehingga
darahnya segera merembes keluar. Tapi ketika jari itu dia
acungkan ke mulut Chu Seng Kun, tabib muda itu tidak mau
mengisapnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Iblis itu semakin menjadi marah.
"Kau ingin sembuh tidak…?" teriaknya. "Hanya darahku ini
saja yang bisa mengobatimu ! Inilah obat penawarnya itu !
Ayoh, cepat isaplah !"
Beberapa saat lamanya Chu Seng Kun masih ragu-ragu.
Selain merasa jijik, tabib muda itu juga masih menimbangnimbang
di dalam hati, adakah kata-kata iblis itu bisa
dipercaya atau tidak.
"Tapi........iblis ini sekarang membutuhkan sekali
pertolonganku. Jadi rasa-rasanya tak mungkin ia berbohong,
atau mau membunuh aku. Dan di dalam ilmu pengobatan,
kata-katanya itu memang masuk akal. Aku pernah membaca
di dalam buku peninggalan su-couw, bahwa seorang yang
digigit ular akan sembuh bila meminum darah ular itu sendiri.
Hmm, baiklah...... aku akan meminum darah iblis ini!" Chu
Seng Kun menimbang-nimbang di dalam hati.
Demikianlah, seperti dipaksakan Chu Seng Kun mengisap
darah yang menetes dari ujung jari Ceng-ya-kang. Baunya
amis dan anyir, sehingga tabib muda itu hampir muntah
karenanya.
"Sekarang kaukerahkan tenaga saktimu secara perlahanlahan
! Kemudian kumpulkan semuanya di dada, lalu desaklah
rasa sakit yang menyerangmu tadi keluar dari dalam tubuhmu
!" Ceng-ya-kang memberi perintah.
Jilid 39
PERLAHAN-LAHAN Chu Seng Kun mengerahkan sinkangnya
seperti yang diperintahkan oleh iblis dari Ban-kwi-to itu. Dan
secara perlahan-lahan juga tubuh tabib muda itu menjadi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
panas, sehingga akhirnya terlihat asap tipis mengepul dari
tubuh tersebut. Asap itu semakin lama semakin tebal,
berwarna kehijau-hijauan dan berbau busuk serta amis!
"Nah, kau sudah bebas dari racunku sekarang. Kini ganti
kau yang menyembuhkan penyakitku. Aku..........?"
Tiba-tiba Ceng-ya-kang tidak meneruskan ucapannya. Iblis
itu baru sadar kalau dirinya terkecoh. Karena terlalu khawatir
pada penyakitnya, ia sampai lupa memberi obat penawar
kepada lawannya. Bagaimana kalau lawannya itu tiba-tiba
berbalik pikiran?
Benar saja. Iblis itu menjadi pucat wajahnya. Perlahanlahan
ia melihat Chu Seng Kun bertolak pinggang di
hadapannya. Tabib muda itu tersenyum penuh kemenangan.
"Manusia busuk ......! sungguh pintar mengelabuhi aku !
Tapi jangan buru-buru bergembira dahulu! Aku tahu kau
belum pulih seluruhnya ! Kau tidak akan menang melawan aku
! Kini akan kubunuh kauuuu.......!!!" iblis itu berteriak
penasaran.
“Cuh! Cuh! Cuh!"
Ceng-ya-kang meloncat seraya mengobral ludahnya. Tapi
dengan cepat Chu Seng Kun mengelak, kemudian melompat
menjauhi lawannya. Gerakannya masih lemah, sehingga
ludah-ludah itu hampir saja mengenai badannya.
iblis gundul itu cepat mengejar, lalu melancarkan serangan
lagi secara bertubi-tubi. Tentu saja Chu Seng Kun yang belum
pulih kembali itu menjadi kalang kabut ! Beberapa kali pukulan
Ceng-ya-kang hampir mengenai badannya.
Mendadak terdengar desis ular yang sangat keras. Begitu
kerasnya sehingga kedua orang yang sedang bertempur itu
merasa kaget sekali. Keduanya melompat mundur seraya
bersiap-siaga penuh. Mereka membayangkan, tentu ada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seekor ular raksasa yang keluar dari dalam laut, mau
menyerang mereka !
"Ssssssss!”
“Hah?"
"Heh ! Ooh, kau ....... Saudara Yang !”
Ternyata mereka salah sangka ! Yang berdesis di belakang
mereka tadi ternyata bukan seekor ular raksasa,
Tetapi.......Chin Yang Kun !
Pemuda itu ternyata telah selesai memulihkan tenaganya,
dan kini tampak berdiri tegak memandang Ceng-ya-kang!
Matanya mencorong penuh kemarahan !
Entah mengapa, Ceng ya kang yang biasa ditakuti orang itu
tiba tiba merasa ngeri melihat pandang mata Chin Yang Kun
yang penuh ancaman itu. Bulu kuduknya terasa meremang,
apalagi ditambah dengan hembusan udara dingin yang
meniup dari tubuh Chin Yang Kun.
"Kau........ kau........? Mengapa kau tidak terpengaruh oleh
racunku ?" dengan suara gemetar iblis itu menyapa Chin Yang
Kun. "Siapakah kau se........ sebenarnya?"
"Hmm ........ tampaknya kau mulai ingat kembali kepadaku,
iblis keji ! Ayoh, kalau begitu mari kita selesaikan sekarang
utang-piutang kita itu !" Chin Yang Kun menggeram.
Ceng-ya-kang mengerutkan dahinya, lalu meloncat
selangkah ke belakang. “Tunggu dulu! Huh ....... utang
piutang katamu ? Kurang ajar ! Utang piutang apa itu?"
"Setan gundul ! Kau jangan berpura-pura lupa kepadaku!
Ingat peristiwa di hutan lebat di lereng Bukit Ular setahun
yang lalu? Peristiwa terbantainya seluruh Keluarga Chin di
tengah malam buta itu?" Chin Yang Kun menggeram lagi
dengan hebat.
Tiba-tiba Ceng-ya-kang tertawa gelak-gelak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ooo.... itu ! Hahahaha.........! Aku ingat kepadamu
sekarang ! Huh........ jadi kau ini pemuda she Chin itu ?"
"Keluarga Chin......?” Chu Seng Kun bergumam perlahan,
seraya mengawasi Chin Yang Kun, sahabatnya.
Sementara itu Chu Yang Kun tampak semakin tegang dan
geram. "Benar, Ceng-ya-kang ! Kini sudah kau ingat lagi,
bukan ? Itulah utang-piutang kita yang harus kauselesaikan
sekarang! Tapi........sebelum kita mengadakan perhitungan,
aku akan bertanya dulu kepadamu. Siapakah yang memberi
perintah kepadamu untuk membantai keluarga Chin? Apakah
orang berkerudung hitam yang bergelar Hek-eng-cu itu ?”
"Tak ada yang memberi perintah. Aku membunuh wanita
dan anak-anak itu karena mereka tidak mau memberitahukan
tempat penyimpanan Cap Kerajaan. Aku kesal....... mereka
tidak........"
"Tunggu! Kau jangan coba-coba mengurangi dosamu, ya?
Kau membantai seluruh Keluarga Chin, laki perempuan, bukan
hanya wanita dan anak-anak ! Tahu ?" dengan kemarahan
yang meluap-luap Chin Yang Kun memotong perkataan Cengya-
kang.
"Bangsat! Mengapa aku mesti harus mengurangi dosadosaku?
Kaukira aku takut kepadamu ? Akulah yang meracun
wanita dan anak-anak itu! Dan.... akulah yang menulis surat
ancaman itu ! Nah, kau mau apa? Cuh!"
"Lalu bagaimana dengan ayah dan pamanku itu ? Siapa
yang membunuh mereka di rumah Pendekar Li itu?" Chin Yang
Kun berteriak penasaran.
"Aku tidak tahu !! Kenapa kautanyakan itu kepadaku ?
Biarkan saja ayah dan pamanmu itu masuk neraka!!!” Cengya-
kang berteriak pula tak kalah kerasnya.
"Kurang ajar ! Kubunuh kau!" Chin Yang Kun menjerit
marah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan ganas pemuda itu menerkam Ceng-ya-kang !
Kedua buah tinjunya melayang ke depan, menghantam ke
arah kepala dan dada Iawannya. Dan untuk kedua kalinya
terdengar suara desis yang keras dari mulut pemuda tersebut.
Iblis dari Ban kwi-to itu cepat merendahkan tubuhnya,
kemudian sambil melangkah ke kiri Iblis itu melancarkan
serangan ludahnya. Cuh ! Chuh ! Chuh !
Kedua buah pukulan Chin Yang Kun tadi menemui tempat
kosong. Sebaliknya dari lawannya ia menerima serangan ludah
beracun. Oleh karena itu dengan menggeliatkan badannya
pemuda itu berputar ke arah kanan, sehingga ludah-ludah itu
melesat di samping tubuhnya.
Demikianlah kedua orang itu lalu terlibat dalam
pertempuran yang seru. Masing-masing berusaha keras untuk
menundukkan lawannya. Iblis gundul itu dengan Ludah Inti
Racunnya berusaha mendesak Chin Yang Kun, sementara
pemuda itu dengan lincahnya mengelak kesana kemari.
Tampak benar bahwa pemuda tersebut merasa jijik oleh
semburan-semburan ludah lawannya, sehingga akibatnya ia
selalu didesak dan dicecar kemanapun ia pergi. Celakanya
ludah itu bagaikan mata air yang tiada habis-habisnya keluar
dari mulut Ceng-ya-kang. Maka tidaklah heran kalau akhirnya
pemuda itu menjadi repot menghadapinya.
"Kurang ajar, kalau aku tidak lekas-lekas membungkam
mulutnya aku bisa mendapat malu nanti ! Baiklah, akan aku
lawan dia dengan pukulan-pukulan jarak jauh saja!” pemuda
itu berkata di dalam hatinya.
Chin Yang Kun lalu mengerahkan sin-kangnya ke arah
lengan, kemudian dengan pukulan-pukulan jarak jauhnya,
yang dahulu pernah membuat tercengang Keh-sim Siau-hiap
di rumah Pendekar Li, dia menghalau semburan-semburan
ludah itu. Dan ternyata apa yang ia lakukan tersebut benarbenar
sangat jitu. Semburan-semburan ludah itu segera
tersapu balik dan pecah berhamburan begitu terlanda angin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pukulannya. Malah tidak cuma itu saja. Tubuh Ceng-ya-kang
yang gemuk bulat itupun ternyata ikut pula terhempas ke
belakang jatuh tunggang langgang di atas pasir.
"Setan keparat ! Hantu mana yang masuk ke dalam tubuh
anak ini ?” Ceng-ya-kang menggeram seraya bangkit berdiri.
Iblis dari Ban-kwi-to itu mengusap cairan darah yang
meleleh dari sudut bibirnya. Dadanya terasa sakit. Ternyata
pukulan Chin Yang Kun tadi telah melukai bagian dalam
tubuhnya. Dan untuk pertama kalinya iblis itu merasa ngeri
melihat kemampuan Iawannya yang masih muda itu.
"Hei, kenapa termangu-mangu saja di situ. Mulai takut?"
Chin Yang Kun mengejek lawannya.
Ceng ya kang menggeram bagai harimau luka. "Keparaaaat
! Lihat, aku belum kalah !" teriaknya seraya menubruk ke
depan.
Sekali lagi Chin Yang Kun menyambut lawannya dengan
pukulan jarak jauhnya.
"Whuuuuuusss !"
Tapi sekali ini Chin Yang Kun dibuat kaget oleh gerakan
lawannya. Pukulannya yang ampuh itu ternyata dengan
mudah dielakkan oleh Ceng-ya kang. Dengan gerak langkah
kakinya yang aneh, serta gerak tubuhnya yang menggeliat
dan meliuk kesana kemari, iblis dari Ban-kwi-to itu ternyata
bisa menerobos di sela-sela angin pukulannya. Dan kemudian
dengan gaya pukulannya yang cepat, beruntun, serta sambil
meliuk kesana kemari, iblis itu mendesaknya.
"Gila ! Ilmu apa lagi ini? Tampaknya.......seperti gerakan
seekor kelabang!" Chin Yang Kun mengumpat di dalam hati.
Dan selanjutnya Chin Yang Kun dipaksa untuk mundur
terus. Ceng-ya-kang mendesak terus dengan serangannya
yang beruntun dan bertubi-tubi, sehingga pemuda itu hampir
tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk membalasnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kalau toh kadang-kadang ada juga sedikit kesempatan untuk
balas menyerang, iblis itu dengan gerak langkahnya yang
aneh namun cepat bukan main, segera meliuk-liuk
melepaskan diri, untuk kemudian melanjutkan lagi desakannya
yang cepat dan ganas itu. Malah beberapa saat kemudian
semburan-semburan ludahnya yang menjijikkan itu mulai
beraksi lagi.
Akibatnya Chin Yang Kun harus berloncatan lagi kesana
kemari untuk mengelakkan serangan-serangan itu. Dan karena
semburan-semburab ludah semakin lama semakin deras dan
membabi buta, maka akhirnya pemuda itupun semakin
terpojok dan jatuh dalam kesulitan lagi.
Sementara itu di luar arena, Chu Seng Kun masih kelihatan
berdiri termangu-mangu di tempatnya. Di dalam kepala tabib
muda itu masih bergelut pikiran tentang sahabatnya, Chin
Yang Kun. Ucapan-ucapan yang dikeluarkan oleh Ceng-ya
kang tadi telah membukakan tabir rahasia yang selama ini
selalu disembunyikan dan ditutupi oleh sahabatnya itu. Katakata
Ceng-ya-kang yang menyebutkan tentang Keluarga Chin
dan Cap Kerajaan tadi, segera mengingatkan dia kepada
keluarga bekas kaisar lama, yaitu Kaisar Chin yang dahulu
bertakhta di singgasana kekaisaran negeri Tiongkok. Cap
Kerajaan itu sampai sekarang belum diketemukan, sehingga
memancing banyak orang untuk mencarinya. Oleh karena
sejak dahulu telah timbul anggapan bahwasanya siapa saja
yang memegang atau memiliki benda pusaka tersebut tentu
akan menjadi raja atau penguasa negeri Tiongkok, maka
kancah perburuan Cap Kerajaan itupun akhirnya menjadi
ganas dan keras. Pertumpahan darah tak dapat dielakkan lagi.
Dan yang menjadi sasaran utama adalah keturunan bekas
kaisar lama. Semua orang menganggap bahwa salah seorang
dari keluarga Chin itulah yang menyimpan atau
menyembunyikannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kalau begitu Saudara Yang ini adalah keturunan langsung
dari mendiang Kaisar Chin Si Hong-te. Wah........ kalau
demikian halnya urusan ini akan menjadi ramai sekali nanti !
Heh........?!?"
Tiba-tiba Chu Seng Kun tersentak dari lamunannya.
Dilihatnya kawannya itu sedang berada di dalam kesulitan.
Ceng-ya kang dengan semangat yang meluap-luap tampak
sedang mendesak kawannya itu dengan ilmu silatnya yang
cepat dan ganas. Mula-mula dia menjadi heran, tapi setelah ia
melihat temannya itu tampak jijik menghadapi ludah yang
beterbangan itu, ia lantas maklum apa yang telah terjadi.
"Ilmu silat dan tenaga dalam Saudara Yang sebenarnya
sangat berlebihan kalau cuma untuk melayani iblis dari Bankwi-
to itu. Tapi sungguh mengherankan sekali, mengapa dia
justru terdesak dan berada di bawah angin? Mengapa dia tidak
segera mencari jalan untuk mengatasi semburan ludah
lawannya yang beterbangan itu? Ahh, tampaknya Saudara
Yang ini masih memerlukan pengalaman bertempur yang lebih
banyak di dunia persilatan, agar supaya ilmunya yang dahsyat
itu mampu ia kembangkan dan ia pahami untuk menghadapi
ilmu-ilmu lain yang banyak ragamnya itu........” Chu Seng Kun
bergumam menilai ilmu silat kawannya.
Sementara itu Chin Yang Kun semakin terdesak oleh gaya
permainan lawannya. Tapi ketika Ceng-ya-kang semakin
bernafsu untuk menyelesaikan pertempuran itu, tiba-tiba Chin
Yang Kun merubah gaya perlawanannya. Kini pemuda itu
selalu mengelak dari serangan beruntun lawannya dengan
loncatan-loncatan panjang. Dengan gerakan-gerakannya itu
otomatis lawannya yang lebih rendah gin-kangnya itu menjadi
selalu ketinggalan langkah untuk mengejarnya.
Satu-satunya jalan bagi Ceng-ya-kang untuk menutupi
kekurangannya itu hanyalah semburan ludahnya. Sambil
mengejar iblis itu menyerang dengan lontaran-lontaran
ludahnya. Sayang sekali, dengan jarak yang cukup jauh itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sangat mudah bagi Chin Yang Kun untuk meruntuhkannya.
Dan kemudian dengan pukulan jarak jauhnya pemuda itu kini
ganti mendesak iblis itu.
“Bagus! Itulah cara yang seharusnya ditempuh oleh
Saudara Yang sejak tadi!” Chu Seng Kun bersorak di dalam
hati melihat keberhasilan kawannya.
Sekarang ganti Ceng-ya-kang yang jatuh bangun didesak
oleh Chin Yang Kun. Semburan ludahnya dan ilmu silatnya
yang cepat dan ganas itu sudah tidak berarti lagi terhadap
lawannya. Sementara pukulan-pukulan jarak jauh Chin Yang
Kun yang ampuh itu kini selalu mengejarnya kemanapun ia
pergi.
“Bangsat licik! Ayoh.......majulah! kita bertempur beradu
dada! Jangan Cuma berlari-lari begitu......aduuuuh !”
Ceng-ya-kang terlempar jatuh berdebam di atas pasir.
Pukulan Chin Yang Kun yang bertubi-tubi itu akhirnya tak bisa
dielakkan lagi oleh Ceng-ya-kang. Sebuah pukulan dengan
telak mengenai punggungnya sehingga iblis itu terjerembab
tak bisa bangun lagi. Darah mengalir dari mulut dan
hidungnya.
“Anak setaannn......! anak iblisssss.......!” sebelum menutup
mata iblis itu masih sempat mengumpat dan memaki.
Tubuh yang gemuk berkulit pucat kehijau-hijauan itu
tampak meregang sebentar, kemudian diam tak bergerak.
Perlahan-lahan kulitnya berubah kehitam-hitaman, sesuai
dengan warna darah Chin Yang Kun yang beracun.
Diam-diam Chin Yang Kun menghela napas. Di dalam hati
pemuda itu menjadi ngeri sendiri melihat korban pukulan
beracunnya. Ceng-ya-kang adalah tokoh ahli racun terkemuka.
Tubuhnya telah biasa bergelut dengan segala macam racun
yang ganas-ganas. Meskipun demikian iblis itu tetap juga tidak
kuasa menahan keampuhan pukulan beracunnya!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Dia telah mati......” terdengar suara Chu Seng Kun lega.
“Kau telah berhasil membalaskan dendam keluargamu.”
Chin Yang Kun menoleh, lalu menghela napas lagi.
Wajahnya kelihatan lesu dan tak bergairah meskipun sudah
bisa membunuh musuh besarnya. Tentu saja Chu Seng Kun
merasa heran sekali.
“Eh, Saudara Yang.....mengapa kau tidak bergembira?
Bukankah kau telah berhasil membunuh orang yang
membantai keluargamu? Apa yang membebani hatimu lagi!”
Chin Yang Kun menundukkan kepalanya, suaranya tampak
kecewa sekali ketika menjawab. “Chu twa-ko.....! orang
terakhir yang diharapkan menjadi kunci terbukanya rahasia
pembunuh keluargaku ini ternyata juga tak tahu apa-apa.
Orang ini hanya membunuh ibu dan adik-adikku. Dia tidak
membunuh ibu dan adik-adikku. Dia tidak membunuh ayah
dan pamanku. Ahhh....lalu siapa sebenarnya yang membantai
ayah dan pamanku itu?”
“Saudara Yang.......” Chu Seng Kun berbisik seraya
menyentuh lengan sahabatnya itu.
"Semua orang yang kucurigai, yang kira-kira terlibat di
dalam peristiwa itu, telah kutemui semuanya. Tapi tak
seorangpun dari mereka yang terbukti membunuh keluargaku
..." Chin Yang Kun mengeluh lagi dengan sedihnya. "Chu twako
..... lalu apa yang harus kuperbuat sekarang?"
"Saudara Yang, sudahlah....... kau tenangkanlah dahulu
hatimu! Marilah kita ke dusun itu dan berkumpul dengan
kawan-kawan! Nanti kita pikirkan lagi persoalanmu itu
bersama-sama. Siapa tahu Hong-siang dan para pembantunya
bisa membantumu?”
"Tidak ! Aku tidak mau membuat ribut orang lain. Persoalan
ini adalah persoalanku sendiri. Biarlah aku mencoba
mengusutnya lagi dari semula."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Maksudmu?”
"Mungkin kegagalanku ini disebabkan karena kurangnya
ketelitianku dalam melacak jejak-jejak pembunuh itu. Oleh
karena itu aku akan mencoba mengusutnya lagi dari depan.
Aku akan kembali ke rumahku, di mana aku sekeluarga
mengasingkan diri selama ini.......”
"Jadi........?”
"Aku akan mengambil kudaku secara diam-diam, lalu pergi
meninggalkan tempat ini......” Chin Yang Kun berkata tegas.
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil