Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Selasa, 24 April 2018

Pendekar Pedang Pelangi 6 Tamat Full Komplit Baca Online Disini

------
"A Liong...!??" Souw Hong Lam yang berada di
dekat pemuda itu berteriak kaget. Bergegas ia
melongok ke bawah.
"Bagaimana...?" Liu Wan ikut melongok ke bawah
pula.
"Heran. Tidak terdengar suara dia tercebur air."
"Ciok Sin-she, aku di sini! Jangan khawatir, aku
tidak apa-apa..." Tiba-tiba terdengar suara A Liong di
buritan. Pemuda itu baru saja mengangkat kakinya
dari pagar perahu.
"Kau...?!?" Tiau Hek Hoa memekik dan siap
menyerang kembali.
"Aduh, tahaaaan! Kenapa sebenarnya kalian ini?"
Liu Wan cepat melerai di tengah-tengah mereka.
"Ciok Locianpwe, menyingkirlah! Akan kubunuh
kerbau dungu ini!" Tiau Hek Hoa menggeram.
Sebaliknya A Liong tetap bersikap tenang. "Aku
sudah dua kali bersikap sabar kepadamu. Tapi
kesabaran orang tentu ada batasnya. Terserah
kepadamu. Yang jelas aku tidak takut pada wajah
hitammu itu. Dan harap kauketahui juga, bahwa kau
tidak akan mudah mengalahkan aku. Sebaliknya, aku
justru mempunyai kesempatanku lebih banyak untuk
mengalahkanmu. Mau coba?"
999
"Kau menantang aku?" Wajah hitam itu semakin
kelam.
"Sudahlah! Kalian ini mau melanjutkan perjalanan
kita atau tidak? Kalau tidak, silakan turun dari perahu!
Lo-hu dan Saudara Souw akan berangkat sendiri!
Marilah, Saudara Souw... kita turunkan mereka ke
pinggir! Kita berdua saja!" Liu Wan berseru marah.
"Baik, Locianpwe...." Souw Hong Lam
mengangguk.
Tiba-tiba A Liong mengangkat tangannya. "Maaf,
Ciok Sin-she. Aku mengaku salah. Tak kusangka tadi
membuat marah Nona Tiau. Biarlah aku meminta
maaf kepadanya."
Dan pemuda pendekar itu benar-benar
membungkuk di depan lawannya. Liu Wan dan Souw
Hong Lam tercengang. Bagi mereka A Liong
sebenarnya tidak bersalah. Justru Tiau Hek Hoa yang
mereka anggap keterlaluan. Gadis itu yang seharusnya
meminta maaf kepada A Liong.
Tiau Hek Hoa membuang muka. Tapi keinginan
untuk berkelahi sudah tidak ada. Ternyata pada saat
yang tepat pikiran sehatnya telah muncul kembali. Dia
ingat tugas yang diberikan oleh ayahnya. Bersama Mo
Hou, dia ditugaskan untuk mengawasi gerakan para
tokoh persilatan di daerah Tiong-goan.
Kebetulan dalam perjalanan mereka di Tai-bongsui,
mereka mencium berita tentang pertemuan para
pendekar persilatan daerah utara. Dan secara
kebetulan pula mereka mendengar rencana
1000
pembebasan Panglima Yap Kim. Mereka lalu
membagi tugas. Mo Goat menyusup di antara para
pendekar sebagai Tiau Hek Hoa, sementara Mo Hou
melindunginya dari kejauhan.
Panglima Yap Kim memang sangat disegani Mo
Tan. Beberapa kali raja suku bangsa Hun itu menelan
kekalahan bila berperang melawan pasukan Yap Kim.
Oleh karena itu Mo Hou bersama Mo Goat harus
dapat menggagalkan rencana pembebasan itu. Bahkan
kalau dapat, mereka harus bisa melenyapkan panglima
perang yang tersohor itu.
Semakin ke timur, suasana perang semakin terasa
panas. Pasukan Mo Tan yang dipimpin oleh Panglima
Yeh Sui, tampaknya sudah tidak main kucingkucingan
lagi. Kelihatannya pasukan itu sudah mulai
menyerang dengan terang-terangan. Dan
kemungkinan besar pasukan itu sudah bertemu
dengan pasukan Ciang Kwan Sit, sehingga pasukan
Au-yang Goanswe yang sedianya akan menangkap
Pangeran Liu Wan Ti itu berhadapan dengan mereka.
Pertempuran dahsyat tak bisa dielakkan lagi.
Korban berjatuhan. Pasukan Han sebenarnya lebih
banyak dan lebih lengkap peralatannya, tapi semangat
tempur mereka ternyata tidak setinggi pasukan Mo
Tan. Pasukan Ciang Kwan Sit yang telah terbiasa
hidup enak itu segera kocar-kacir dilanda pasukan
Yeh Sui.
Akibatnya dapat diduga. Kekalahan itu membuat
penduduk di sekitar daerah pertempuran menjadi
1001
kalang-kabut. Mereka menerima perlakuan kasar dari
pasukan Mo Tan. Seperti halnya negeri yang kalah
perang, tempat itu dijarah rayah oleh pemenangnya.
Benar juga. Berita tentang pertempuran itu segera
mereka dengar dari para pengungsi. Bahkan
diberitakan pula bahwa Panglima Ciang Kwan Sit
terbunuh dalam pertempuran itu.
"Celaka! Sekarang di kota raja tidak ada panglima
perang yang pandai. Semua jendral yang setia kepada
Panglima Yap Kim telah dibuang atau dipenjarakan.
Bagaimana mungkin negeri ini dapat
mempertahankan diri? Ah! Mo Tan sungguh pintar
dan licik! Bertahun-tahun dia telah mempersiapkan
penyerangan ini...." Liu Wan bergumam perlahan.
Suaranya gemetar mencerminkan kegelisahan hati.
-- o0d-w0o --
SEMENTARA itu Chin Tong Sia yang terkurung
di ruang bawah tanah, terkejut sekali ketika siuman
dari pingsannya. Sepasang kaki dan tangannya terikat
rantai besi. Dan dia tidak tahu di mana dia berada.
Ruangan luas itu hanya diterangi oleh sebuah
lampu minyak di pojok ruangan. Dan sinarnya yang
lemah hanya mampu menggapai meja kecil tempat ia
diletakkan.
"Anak muda...? Engkau siapa? Apakah kau juga
ditangkap oleh Liok-kui-tin?" Tiba-tiba terdengar
suara berat dari pojok ruangan.
1002
Chin Tong Sia berpaling kaget. Tapi sinar lampu
terlalu lemah untuk mencapai tempat itu, sehingga
matanya tak mampu melihat siapa yang berbicara.
Matanya hanya mampu menangkap dua sosok
bayangan kehitaman.
"Aku... eh, kau.... siapa?" Pemuda itu balik
bertanya. Otomatis kaki tangannya bersiaga.
"Aku bernama Souw Thian Hai. Ini isieriku....
Kami berdua juga ditawan oleh pengawal Raja Mo
Tan itu."
"Hong-gi-hiap Souw Thian Hai?"
Terdengar gemerincing suara rantai ketika pendekar
ternama itu mendekati Chin Tong Sia. Dan sesaat
kemudian terlihatlah bayangannya di keremangan
lampu. Pendekar itu datang bersama Chu Bwe Hong,
isterinya. Mereka masih tampak kuat dan bersemangat
walaupun rambutnya telah memutih.
Meski sudah sering melihat dan mendengar
namanya, tapi baru sekali inilah Chin Tong Sia
berhadapan langsung dengan Souw Thian Hai dan
isterinya.
"Locianpwe, seorang pemuda yang katanya masih
keluarga dekat sedang mencarimu. Namanya Souw
Hong Lam. Sekarang dia juga ada di kota ini. Kami
bersama beberapa teman bermaksud pergi ke suatu
tempat. Sayang aku terperangkap di sini...."
Souw Thian Hai memandang Chu Bwe Hong.
Dahinya berkerut.
1003
"Souw Hong Lam...? Siapakah dia? Rasanya tak
ada nama itu di keluarga Souw kami. Berapakah
usianya?" Chu Bwe Hong berbisik sambil tetap
mengawasi suaminya.
"Masih muda. Mungkin empat atau lima tahun
lebih muda dariku. Tinggi langsing dan ganteng."
Souw Thian Hai menggeleng lemah."Sudahlah,
nanti kalau sempat bertemu, tentu akan saling
mengenal. Sekarang kita pikirkan dulu keadaan kita.
Emmm, kau tadi belum menyebutkan namamu."
"Namaku Put-tong-sia, dari Beng-kau...."
Terdengar jerit lirih dari bibir Chu Bwe Hong.
Wanita tua yang masih tampak cantik itu menatap
wajah Chin Tong Sia seperti melihat hantu.
"Kau... kau putera Put-ceng-li Lo-jin?" Souw Thian
Hai bertanya pula dengan suara sedikit gemetar.
Sekejap Chin Tong Sia menjadi gugup. Sikap
suami-isteri ternama itu tiba-tiba terasa aneh. Mereka
kelihatan kaget sekali ketika mendengar namanya.
"Benar, Locianpwe. Aku memang putera mendiang
Put-ceng-li Lo-jin. Mengapa Locianpwe kelihatan
kaget?"
Souw Thian Hai memandang isterinya, dan tibatiba
wanita cantik itu menubruk serta menangis di
dadanya. Tentu saja Chin Tong Sia semakin bingung.
Sambil mengelus rambut isterinya, Souw Thian Hai
berpaling kepada Chin Tong Sia.
1004
"Tapi, maaf... kami... kami tidak pernah tahu kalau
Put-ceng-li Lo-jin sudah pernah menikah. Sejak kami
saling mengenal, orang tua itu selalu sendirian."
Chin Tong Sia menghela napas panjang. Wajahnya
kelihatan sedih. "Menurut penuturan Ayah, Ibu
meninggal pada saat melahirkan aku. Dan Ayah tidak
pernah kawin lagi...."
Tak terduga Chu Bwe Hong semakin terisak-isak.
"Jadi kau belum pernah melihat wajah Ibumu?
Apakah Put-ceng-li Lo-jin juga tidak pernah bercerita
tentang Ibumu?" Souw Thian Hai bertanya seolah tak
percaya.
Chin Tong Sia menatap wajah pendekar ternama itu
lekat-lekat. Ada perasaan tidak enak di hatinya. Orang
tua itu menanyakan hal-hal yang terlalu pribadi
baginya. Dan kebetulan pula mengenai masalah yang
kurang begitu disukainya.
Tapi wajah pendekar tua itu kelihatan bersungguhsungguh.
Bahkan kulit mukanya tampak pucat dan
serba salah.
Chin Tong Sia menggelengkan kepalanya.
"Apakah... Locianpwe mengenal Ibuku?"
Souw Thian Hai menepuk punggung isterinya.
"Sudahlah, Put-ceng-li Lo-jin memang seorang lelaki
sejati. Meskipun pembawaannya seperti orang yang
tidak beradab, tetapi ia seorang yang tahu memegang
janji dan sumpahnya. Sekarang semuanya tergantung
kepadamu. Apakah engkau sudah dapat menghapus
kebencian itu?"
1005
"Aku... aku, oh... entahlah."
Chin Tong Sia semakin tak mengerti. Kelakuan
sepasang pendekar ternama itu terasa sangat aneh
baginya. Mula-mula mereka kaget ketika mendengar
nama dan asalnya. Lalu isteri pendekar tua itu
menangis terisak-isak setelah ia bercerita tentang
ayah-ibunya.
"Locianpwe, apakah sebenarnya yang terjadi?
Tampaknya Locianpwe berdua sangat mengenal
Ayah-ibuku...."
Chu Bwe Hong semakin kuat tangisnya, sehingga
Souw Thian Hai terpaksa membujuknya.
"Baiklah.... Kau tidak usah memikir-kannnya lagi
kalau memang belum dapat melupakan peristiwa itu.
Tapi kuminta kau jangan menyakiti hatinya.
Bagaimanapun dia tidak bersalah. Dia tidak tahu apaapa...."
Akhirnya Souw Thian Hai menghibur
isterinya.
"Maaf, Locianpwe... aku menjadi bingung. Apa
yang telah terjadi sebenarnya? ' Apakah ada sesuatu
yang Locianpwe ketahui tentang kedua orang tuaku?"
Souw Thian Hai melepaskan pelukan isterinya
melangkah mendekati Chin Tong Sia. Pendekar itu
lalu mengangkat tangannya dan menepuk pundak
Chin Tong Sia, sehingga rantai besi yang terikat di
pergelangan tangannya saling bergesekan dan
menimbulkan suara gemerincing nyaring.
"Kau tidak perlu bingung. Kami berdua memang
mempunyai sebuah rahasia besar tentang orang
1006
tuamu. Tapi sekarang belum saatnya rahasia itu
dibeberkan. Aku berjanji, suatu saat kami berdua tentu
akan memberitahukannya kepadamu. Kau tidak usah
khawatir...." Souw Thian Hai berkata perlahan.
Chin Tong Sia mengerutkan keningnya. Wajahnya
kelihatan kecewa. Tapi dia memang tidak dapat
memaksa.
"Tong Sia bagaimana ceritanya sehingga kau
berada di sini? Apakah orang-orang Mo Tan itu
bermusuhan denganmu?" Souw Thian Hai
mengalihkan pembicaraan.
"Benar, Locianpwe. Semula aku tidak menyangka
kalau mereka orang Hun. Tapi setelah pemuda yang
berhadapan dengan aku itu menyebut dirinya putera
Raja Mo Tan, baru aku sadar bahwa aku berhadapan
dengan pasukan asing. Sayang jumlah mereka sangat
banyak sehingga aku tak berdaya melawannya."
Souw Thian Hai mengangguk-anggukkan
kepalanya. "Tak kusangka semuanya berubah dengan
cepat sekali. Semenjak pengkhianatan Auyang
Goanswe itu berkuasa dan berhasil mempengaruhi Ibu
Suri negeri ini benar-benar kacau."
Chin Tong Sia mengangkat wajahnya. "Kudengar
Locianpwe pergi ke Pondok Pelangi dalam lima tahun
ini. Benarkah?"
Pendekar itu menatap Chin Tong Sia kemudian
mengangguk. Lengannya yang masih kelihatan kokoh
disilangkan di depan dadanya.
1007
"Sebenarnya aku belum sampat, di sana. Sulit
sekali mencapai tempat itu. Utusan Pondok Pelangi
yang membawa aku dan isteriku, ternyata juga tidak
mampu pulang ke tempat tinggalnya. Mereka tak
mampu mengatasi keganasan laut utara. Kami
terdampar di sebuah pulau kecil yang hampir selalu
diselumuti es."
"Khabarnya Kwe Taihiap dari Pulau Meng-to juga
pergi ke Pondok Pelangi. Locianpwe bertemu dengan
dia?"
"Tidak. Aku justru mengetahui hal itu setelah
pulang dan sana. Mungkin utusan Pondok Pelangi
yang membawa Kwe Taihiap justru dapat
membawanya ke Pondok Pelangi. Aku belum sempat
bertemu dengan Kwe Taihiap."
"Em, Locianpwe... kudengar Utusan Pondok
Pelangi itu sangat sakti. Benarkah?"
Souw Thian Hai menghela napas panjang. Terasa
nada kecewa dalam suaranya. "Benar. Selama
hidupku baru sekali itu aku dikalahkan orang dengan
amat mudahnya. Ilmu silat yang kupelajari selama ini
bagaikan permainan anak kecil saja bagi mereka.
Sungguh mentakjubkan...."
"Akh!" Chin Tong Sia berdesah hampir tak
percaya. Jago-jago silat ternama seperti Hong-gi-hiap
Souw Thian Hai dikalahkan orang dengan mudah?
"Untunglah mereka bukan orang-orang jahat.
Setelah bertahun-tahun tidak mampu kembali ke
Pondok Pelangi, kami berdua diperbolehkan pulang.
1008
Bahkan selama lima tahun itu mereka telah
memberikan tambahan penjelasan tentang ilmu silat
secara panjang lebar."
"Begitu sulitkah mencari jalan ke Pondok Pelangi?
Rasanya sangat aneh kalau orang tak mampu mencari
jalan pulang ke rumah sendiri."
Souw Thian Hai tersenyum. "Anak muda, kau
memang belum menyaksikan sendiri kedahsyatan
Laut Utara. Apabila kau sudah pernah ke tempat itu,
kau baru akan percaya kata-kataku. Jadi bukannya
mereka tak mampu mencari jalan pulang, tapi
kedahsyatan alamlah yang menghalangi mereka untuk
mencapai tempat tersebut."
"Oooh... ?.!?" Chin Tong Sia menarik napas
panjang.
-- o0d-w0o --
JILID XXIV
ENING sejenak. Terdengar suara
jengkerik di pojok ruangan.
"Ah, tampaknya hari sudah malam.
Hong-moi, kau istirahatlah. Kita perlu
banyak menyimpan tenaga untuk dapat
keluar dari tempat ini." Pendekar tua itu
berkata kepada isterinya.
H
1009
Chu Bwe Hong beringsut dan duduk kembali di
dekat lampu. Chin Tong Sia benar-benar kagum
melihatnya. Nenek itu tentu telah berusia lebih dari
setengah abad, tapi wajah dan penampilannya masih
kelihatan cantik dan anggun. Coba kalau rambutnya
yang putih itu dicat kembali dengan warna hitam,
niscaya orang akan mengira kalau dia masih muda.
"Kudengar kesaktian suami-isteri ini sangat
disegani di dunia persilatan. Bagaimana mungkin
mereka dikalahkan oleh Mo Hou dan para
pengawalnya itu?" Chin Tong Sia berkata di dalam
hatinya.
Seperti tahu apa yang dipikirkan Chin Tong Sia,
pendekar itu bergumam perlahan.
"Sejak mendengarkan penjelasan tentang ilmu silat
dari Utusan Pondok Pelangi, aku merasa ilmu silatku
sudah jauh lebih baik lagi. Tapi dugaanku meleset.
Ternyata ilmu silat orang lain pun dapat bertambah
tinggi pula. Buktinya ilmu silat para pengawal Raja
Mo Tan itu juga bertambah hebat pula dibandingkan
dulu. Dua puluhan tahun yang lalu pernah
kukalahkan. Kini ketika ilmuku sudah bertambah,
mereka justru dapat mengalahkan aku."
"Tetapi... mereka menang karena kau belum pulih
dari lukamu. Coba kalau luka dalam akibat sabetan
ekor ikan paus itu sudah sembuh, mungkin kau tidak
akan dikalahkan oleh mereka." Chu Bwe Hong
menghibur suaminya.
1010
Chin Tong Sia terkesiap. "Apakah yang Locianpwe
maksudkan itu... Lok-kui-tin, pengawal Mo Hou?"
"Benar, selain sebagai pengawal keluarga raja,
enam hantu itu sebenarnya adalah murid Ulan Kili,
Pendeta Agung suku bangsa Hun. Sebelum menjadi
Pendeta Agung, Ulan Kili bernama Bok Siang Ki,
jago silat nomor dua di seluruh negeri ini. Seperempat
abad yang lalu ia kabur keluar Tembok Besar, karena
dikalahkan oleh Pangeran Liu Yang Kun. Maka kau
jangan kaget kalau melihat murid-muridnya sangat
lihai."
"Locianpwe benar. Kepandaian Lok-kui-tin
memang benar-benar hebat. Saya juga tidak berdaya
melawan mereka, walaupun dalam perkelahian tadi
dapat kurobohkan tiga orang diantaranya!"
Souw Thian Hai terkejut. "Kau dapat merobohkan
tiga orang di antara mereka? Benarkah? Wah, ilmu
silatmu tentu hebat sekali! Sungguh tidak kusangka
Put-ceng-li Lo-jin dapat mewariskan ilmunya
kepadamu."
Tiba-tiba Chin Tong Sia menundukkan mukanya.
Pujian itu justru menyadarkannya. Tidak seharusnya
ia mengatakan seperti itu. Bagaimanapun juga
robohnya ketiga orang itu lebih disebabkan oleh
keberuntungannya, bukan karena ilmu silatnya yang
lebih baik. Coba kalau sejak semula lawannya itu
tidak memandang rendah kepadanya, dan
melawannya dengan hati-hati, mungkin kesudahannya
akan menjadi lain.
1011
Chin Tong Sia menengadahkan kepalanya kembali.
Namun ketika mulutnya hendak mengatakan hal
tersebut, di luar kamar terdengar suara langkah orang
mendatangi. Souw Thian Hai bergegas mendekati
isterinya. Matanya mengawasi pintu yang terbuat dari
besi itu dengan penuh kewaspadaan.
"Silakan makan malam...! Baru besok pagi Kongcu
dapat menemui kalian." Terdengar suara penjaga di
luar pintu.
Lobang kecil di bagian bawah pintu terbuka.
Sebuah nampan berisi makanan dan minuman
disorongkan masuk.
"Koko, jangan diambil! Makanan itu beracun." Chu
Bwe Hong memperingatkan suaminya.
"Tenanglah...! Kau tidak perlu kuatir. Mereka
belum bermaksud membunuh kita. Mereka masih
menginginkan sesuatu dari kita. Kalau mereka
menghendaki, mereka tidak perlu menggunakan
segala macam racun. Tanpa diberi racun pun kita akan
mati kelaparan di ruang pengap ini."
"Locianpwe benar. Kalau mereka menginginkan
nyawa kita, mereka tak perlu menyekap kita di sini.
Mereka akan segera membunuh lawan yang tidak
mereka butuhkan." Chin Tong Sia sependapat.
"Lalu... apa yang akan kita kerjakan?" Chu Bwe
Hong akhirnya dapat menerima alasan Chin Tong Sia
dan suaminya.
"Biarlah saya mengambil makanan itu, Nyonya.
Saya akan mencobanya lebih dahulu. Mati dan hidup
1012
tidak ada bedanya bagiku. Tak seorang pun di dunia
ini yang peduli akan kehidupan atau kematianku.
Sekarang yang penting adalah memanfaatkan apa saja
yang perlu bagi kesehatan tubuh kita. Siapa tahu kita
dapat meloloskan diri dari penjara ini?"
Chin Tong Sia bangkit, kemudian menyeret rantai
yang mengikat, kedua kakinya. Diambilnya nampan
berisi makanan itu dan dia letakkan di atas meja di
depan Chu Bwe Hong. Tanpa rasa gamang sedikit pun
ia mengambil sebagian dari makanan itu dan
menelannya. Kemudian dengan tenang pula ia
menyambar cangkir teh dan meminumnya.
"Nah, Nyonya Souw... silakan!"
Wanita cantik itu menatap wajah Chin Tong Sia
seperti menatap wajah hantu. Matanya yang telah
mulai berkeriput itu terbelalak bagaikan mata burung
hantu yang menyimpan berbagai macam perasaan.
Tak terasa mata itu kembali berair.
"Sudahlah, mari kita makan!" Souw Thian Hai
merangkul istrinya dan membagi makanan itu menjadi
tiga bagian.
Chin Tong Sia juga tidak segan-segan lagi. Pemuda
itu menyingsingkan lengan bajunya, sehingga tahi
lalat lebar di bawah sikunya terlihat jelas oleh Souw
Thian Hai suami-isten.
Tubuh Chu Bwe Hong kembali bergetar. Tak terasa
tangannya juga meraba siku kirinya pula.
"Kita memang tidak dapat mengelakkannya, Moimoi.
Thian telah memberikan tanda yang tak bisa
1013
dipungkiri lagi. Pertemuan yang tidak diduga-duga ini
pun merupakan petunjuk dari Thian. Tapi, sudahlah...
kalau kau belum siap menerima... tak perlu memaksa
diri. Marilah, kau makanlah...!"
Mereka lalu makan tanpa bicara lagi. Chin Tong
Sia yang sejak kecil biasa bersikap acuh tak acuh itu
segera makan dengan lahapnya, sementara Souw
Thian Hai dan isterinya sebentar-sebentar tampak
melirik kepadanya.
Malam itu mereka benar-benar istirahat. Mereka
duduk bersamadhi sambil berusaha mengumpulkan
seluruh tenaga sakti mereka. Walaupun rantai besi
membuat gerakan mereka terganggu, tapi mereka
tetap berusaha sekuatnya.
Asap tipis berwarna merah dan putih mengepul
keluar dari kepala Souw Thian Hai, sementara Chu
Bwe Hong duduk tegak di sebelahnya. Butit-butir
keringat tampak mengalir membasahi kening dan
lehernya.
Chin Tong Sia berada di pojok ruangan. Caranya
bersemadhi memang lain dari pada yang lain. Ia
berjungkir balik dengan kepala sebagai alas tubuhnya.
Kedua kakinya tegak lurus ke atas, sementara kedua
lengannya dilipat di depan dada. Rantai yang
mengikat kaki dan tangannya seperti tidak
mengganggunya.
Dan malam itu berlalu tanpa terjadi peristiwa apaapa.
Cuma, pagi harinya Chin Tong Sia sedikit
terkejut ketika tiba-tiba Souw Thian Hai dan isterinya
1014
telah berada di depannya. Pemuda itu buru-buru
melompat dan berdiri kembali di atas kakinya.
"Wah, aku terlambat bangun rupanya." Chin Tong
Sia menyapa mereka.
"Anak muda, kita harus berusaha keluar dari tempat
ini. Malam tadi aku sempat menguping pembicaraan
para penjaga. Mereka mengatakan bahwa pimpinan
mereka sedang meninggalkan tempat ini untuk
sesuatu urusan. Berarti saat ini kita mempunyai
kesempatan untuk melepaskan diri. Hmm, apakah kau
punya usul yang baik?" Souw Thian Hai berkata
perlahan.
Chin Tong Sia memandang pintu besi yang kokoh
kuat itu. Keningnya berkerut.
"Entahlah. Saya belum memikirkannya. Bagaimana
dengan Locianpwe sendiri?"
"Mungkin gabungan dari kekuatan kita bertiga
dapat merobohkan pintu besi itu. Tapi... kalau gagal,
keadaan kita justru akan semakin sulit."
"Benar, Koko. Aku juga sangsi. Tak mungkin
mereka mengumpulkan kita di sini, kalau kekuatan
gabungan kita akan dapat merobohkan pintu itu." Chu
Bwe Hong tidak sependapat dengan usul suaminya.
"Kau punya pendapat lain?"
Chu Bwe Hong menggelengkan kepalanya. "Aku
juga belum mendapatkannya. Sebentar aku
pikirkan..."
Chin Tong Sia menyeret kakinya mendekati pintu.
Sambil melangkah ia mencoba mencari akal untuk
1015
keluar dari tempat itu. Dia lalu memperhatikan pintu
besi itu lekat-lekat, kalau-kalau ada bagian yang dapat
dipergunakan untuk meloloskan diri.
Pemuda itu berjongkok di depan lubang kecil,
tempat menyodorkan makanan kemarin. Lubang itu
hanya pas untuk lewat makanan. Kepala manusia pun
tak mungkin dapat memasukinya.
"Makanan datang...!" Tiba-tiba terdengar suara
penjaga mendatangi.
Raut muka Chin Tong Sia menjadi tegang. Apalagi
ketika lobang kecil itu terbuka dan makanan
disorongkan masuk.
"Ambil makanan ini! Lalu kembalikan bekas
tempat makanan kemarin ke sini! Cepat...!" Penjaga
itu berteriak dari luar pintu.
Chin Tong Sia mengambil makanan itu, kemudian
menyodorkan bekas tempat makanan mereka kemarin.
Tapi bersamaan dengan bergesernya nampan tersebut,
tangan Chin Tong Sia juga ikut bergeser keluar di
bawah nampan. Begitu tangan penjaga itu terulur
untuk memungut nampan, cepat bagai kilat tangan
Chin Tong Sia menyambar.
Wuuus... sst! Pergelangan tangan penjaga itu
berhasil dicengkeram. Selanjutnya lengan itu ditarik
dengan paksa sehingga penjaga itu terjungkal
mencium lantai. Di lain saat jari telunjuk Chin Tong
Sia telah menekan urat gagunya.
"Berikan kunci pintu ini atau... kau tak ingin
melihat isteri dan anakmu lagi?" Pemuda itu
1016
mengancam sambil menekan jarinya sehingga
menimbulkan sakit yang luar biasa.
"Uh-uh-uh...!" Penjaga itu kesakitan namun tak bisa
bersuara karena urat gagunya telah ditotok Chin Tong
Sia.
"Cepat! Aku .tahu kau tidak bisa menjawab! Tapi
aku tak peduli! Sekali lagi kuminta kau tak
memberikannya, jariku akan mencoblos tengkorakmu!
Nah, berikan!" Sekali lagi pemuda itu menghardik.
Suaranya terdengar sungguh-sungguh.
Tiba-tiba terdengar suara gemerincing. Tangan kiri
penjaga itu melemparkan seuntai kunci melalui
lobang tersebut.
"Locianpwe, bukalah...!" Chin Tong Sia
memberikan kunci itu kepada Souw Thian Hai,
sementara tangannya yang lain tetap mencengkeram
lengan lawannya.
Souw Thian Hai mencoba kunci tersebut satu
persatu, sehingga akhirnya pintu itu terbuka.
Selanjutnya pendekar itu mencoba pula kunci-kunci
yang lain untuk membuka rantai di tubuh mereka.
Semua itu berlangsung dengan cepat, seolah-olah
rencana pembebasan tersebut telah mereka atur secara
rapi.
"Bagus...! Benar-benar rencana yang hebat! Tapi...
bagaimana kau bisa tahu penjaga itu membawa
kunci?" Souw Thian Hai berdesah dengan suara
gembira.
1017
Sambil melepaskan tubuh penjaga yang lemas itu
Chin Tong Sia mengebut-ngebutkan lengan bajunya.
"Rencana itu juga timbul dengan mendadak saat
mendengar suara gemerincing di antara suara
langkahnya. Sebenarnya saya juga tidak yakin kalau
dia membawa kunci itu. Semuanya hanya untunguntungan
saja...." Chin Tong Sia menjelaskan.
Suara ribut-ribut itu terdengar pula oleh penjaga
yang lain. Sebentar saja tempat itu telah dipenuhi para
pengawal.
Pertempuran
pun tidak dapat
dielakkan lagi.
Tapi mana
mungkin para
pengawal itu
dapat menahan
Souw Thian
Hai bertiga?
Sekejap saja
mereka telah
bergelimpangan
di lantai.
Semuanya
tertotok lemas
tanpa bisa
bangun lagi.
Souw Thian Hai menggandeng isterinya untuk
menaiki tangga. Sementara Chin Tong Sia mengikut
1018
di belakang mereka sambil menyeret rantai yang tadi
mengikat lengannya.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di
atas tangga. Sekejap mata mereka menjadi silau oleh
sinar matahari yang menyorot ke dalam ruangan itu.
"Serang...!" Sekonyong-konyong terdengar aba-aba
di sekeliling mereka.
Belasan anak panah meluncur ke arah mereka
bertiga. Bahkan panah berikutnya telah menyusul pula
sebelum yang pertama sampai di tujuan.
"Cepat bertiarap di lantai!" Souw Thian Hai berseru
sambil melepaskan baju luarnya. Baju itu diputarputar
di sekeliling tubuhnya dan tubuh isterinya.
Chin Tong Sia juga memutar rantai besi di
tangannya. Panah berjatuhan di sekitar mereka. Tetapi
lawan terus saja melepaskan panah, sehingga Souw
Thian Hai dan Chin Tong Sia juga tidak berani pula
menghentikan gerakan mereka. Keduanya tetap saja
memutar-mutar senjata mereka seperti baling-baling.
Akhirnya Chin Tong Sia menjadi marah. Hujan
anak panah itu segera diterjangnya dengan berani.
Sambil memutar rantainya dia melepaskan pukulanpukulan
jarak jauhnya. Beberapa anak panah yang
lolos dari sabetan rantainya, ternyata juga tidak dapat
melukai tubuhnya. Anak panah itu hanya mampu
menggores kulit dan merobek pakaiannya.
Traaaang! Traaaaang....! Braaak! Braaaakk!
Dalam kemarahannya Chin Tong Sia tidak lagi
memilih-milih sasaran. Rantai besi itu menyapu apa
1019
saja yang menghalang di depannya. Tembok, jendela
dan pintu ruangan itu hancur bertaburan terkena
sabetan rantainya. Para pemanah yang bersembunyi di
sana segera berlari menyelamatkan diri. "Awaaaas...!
Lari!"
Mereka berteriak dan berhamburan seperti kawanan
lebah yang dihancurkan sarangnya. Namun demikian
beberapa orang diantara mereka tidak sempat
meninggalkan tempatnya. Mereka tewas terkena
sambaran rantai Chin Tong Sia.
Kesempatan itu dipergunakan pula oleh Souw
Thian Hai dan isterinya. Keduanya bangkit berdiri dan
mengamuk pula. Ternyata kepalan tangan mereka
justru lebih berbahaya daripada senjata tajam.
Sesekali tampak sinar putih atau kemerahan
melesat dari ujung jari Souw Thian Hai. Dan sinar itu
melesat bagaikan mata pedang yang mampu merusak
segala macam benda penghalangnya. Tembok, kayu,
perabotan rumah, semuanya hancur terkena kilatan
sinar tersebut. Bahkan barang-barang yang terbuat
dari besi pun menjadi rusak terkena sambaran sinar
yang keluar dari ujung jari pendekar itu.
Pertunjukan kesaktian itu benar-benar mengecutkan
hati para pengawal Mo Hou. Mereka segera lari
berserabutan meninggalkan tempat itu.
"Gila! Mengapa kalian lari! Lawan terus!" Ho Bing
dan kawan-kawannya tiba-tiba muncul dari ruang
dalam. Pengemis berpakaian rapi itu berteriak marah.
1020
"Bagus, kita ketemu lagi!" Chin Tong Sia berseru
gembira.
Sesaat pertempuran itu berhenti. Mereka saling
berhadapan. Ho Bing dibantu Tiat-tou dan Siangkiam-
eng, berhadapan dengan Chin Tong Sia beserta
Souw Thian Hai suami-isteri. Sementara itu para
pengawal rumah itu menjadi besar lagi hatinya
menyaksikan Ho Bing telah berada diantara mereka.
Mereka segera bersiap lagi mengepung tempat
tersebut.
"Kalian bertiga... menyerahlah! Tempat ini penuh
dengan jebakan! Kalian tidak mungkin dapat
meninggalkan tempat ini! Sekali aku memberi
perintah, maka jebakan demi jebakan akan
menghalangi langkah kalian!" Ho Bing berseru
dengan penuh keyakinan.
Souw Thian Hai, Chu Bwee Hong dan Chin Tong
Sia saling memandang satu sama lain. Ancaman itu
membuat mereka menjadi was-was juga.
"Sudahlah! Apa pun yang terjadi kita wajib
berusaha. Kita tidak boleh menyerah begitu saja.
Siapa tahu Thian memberi jalan kepada kita?" Souw
Thian Hai berbisik kepada Chin Tong Sia.
Chin Tong Sia tersenyum dan menganggukkan
kepalanya. Di dalam benaknya juga tidak ada katakata
untuk menyerah. Sambil menggeram rantai di
tangannya kembali berkelebat menyerang lawannya.
"Jangan banyak bicara! Lakukanlah kalau kau
mampu!"
1021
Siiiiing! Rantai itu melesat ke depan dengan
cepatnya. Ujungnya mematuk ke arah dada Ho Bing.
"Baiklah. Kau memang perlu diberi pelajaran!
Pengawal, semprotkan bubuk pelemas...!" Ho Bing
mengelak sambil berseru memberi perintah.
Tiba-tiba dari langit-langit ruangan itu bertaburan
bubuk putih ke bawah. Dalam sekejap ruangan itu
bagaikan dilanda hujan abu.
"Hong-moi, awaaaas...! Tahan napasmu! Cepat
keluar dari tempat ini!" Souw Thian Hai
memperingatkan isterinya.
Ruangan itu menjadi gelap, penuh dengan taburan
bubuk putih yang berhamburan dari atap ruangan
tersebut. Meskipun tidak berani membuka mata, tapi
Souw Thian Hai dapat mengenali gerakan lawannya.
"Ha-ha-ha, jangan harap bisa lolos! Pengawal,
siapkan jaring-jaring perangkap!" Terdengar suara
teriakan Ho Bing diantara kelamnya kabut putih itu.
Chin Tong Sia terpaksa kembali untuk menolong
Souw Thian Hai dan isterinya. Pemuda itu telah
menutupi wajah dan seluruh kepalanya dengan
sobekan kain bajunya.
"Locianpwe, tutuplah kepala dengan sobekan kain
apa saja! Walau tidak dapat menangkal sepenuhnya,
tetapi paling tidak dapat mengurangi pengaruh racun
bubuk putih ini!" Pemuda itu berbisik di telinga Souw
Thian Hai.
"Benar. Tapi kita tidak dapat melihat jaring yang
mereka siapkan! Apa yang harus kita perbuat?"
1022
"Kita terjang saja jaring-jaring itu! Locianpwe
dapat merusaknya dengan Tai-kek-sin-ciang tadi!"
Chin Tong Sia berdesah dengan nada geram.
"Wah, sayang sekali! Tai-kek-sin-ciang justru tidak
berguna bila berhadapan dengan benda lentur.
Kekuatannya akan hilang, bahkan bisa memantul
balik." Pendekar itu menerangkan.
"Lepaskan jaring perangkap....!" Ruangan itu
kembali bergema oleh suara perintah Ho Bing.
Souw Thian Hai dan Chin Tong Sia benar-benar
kaget ketika melihat jaring besar jatuh dari atap
ruangan. Otomatis tangan mereka bergerak. Souw
Thian Hai melepaskan totokan ujung jarinya,
sedangkan Chin Tong Sia segera mengayunkan
rantainya. Masing-masing berusaha merusakkan
perangkap itu.
Wuuut! Wuut! Dhugg!
Benar juga. Tai-kek-sin-ciang yang ampuh itu sama
sekali tidak berdaya menghadapi kelenturan jaring
perangkap. Tali jaring terbuat dari kulit kerbau itu
hanya mental terkena sambaran Tai-kek-sin-ciang.
Bahkan rantai di tangan Chin Tong Sia pun tak
mampu merusakkannya.
"Celaka! Locianpwe, apa yang harus kita perbuat?"
Pemuda itu berteriak cemas.
"Kita kembali ke ruang bawah tanah! Cepat! Hongmoi,
ikut aku!" Souw Thian Hai berseru pula.
1023
Hampir saja jaring itu menggulung mereka.
Untunglah dengan lincah mereka lebih dulu masuk ke
lubang tangga ruang bawah tanah.
"Nah, apa kataku? Kalian tidak akan dapat .keluar
dari tempat ini! Akhirnya kalian kembali juga ke
dalam penjara! Ha-ha-ha-ha! Hei Penjaga...! Tutup
pintunya!"
Pintu rahasia ke ruang bawah tanah itu segera
ditutup, dan lorong sempit menuju ke bawah itu
menjadi gelap. Hanya ada satu lampu minyak di
tempat itu.
"Hai-ko, kita benar-benar terperangkap sekarang."
Chu Bwe Hong berdesah.
"Sssst, dengar...! Ada keributan di luar! Seperti
suara perkelahian...." Tiba-tiba Souw Thian Hai
meletakkan jarinya di atas bibir.
"Benar. Rasanya aku mendengar suara Ho Bing
mengumpat dan memaki-maki!" Chin Tong Sia
berkata pula.
"Ho Bing? Siapa itu... Ho Bing?"
"Pengemis bermuka kelimis yang berada di antara
penjaga tadi. Dia telah berkhianat dan menjadi kaki
tangan Raja Mo Tan. Beberapa hari yang lalu, dia
berusaha membunuh utusan Kong-sun Goanswe di
kota Lu-feng! Untung aku dapat menggagalkan
rencananya dan menyelamatkan utusan itu." Chin
Tong Sia menjelaskan.
"Ooh...?!" Souw Thian Hai mengangguk-angguk.
1024
Chin Tong Sia lalu menempelkan telinganya di atas
pintu. Lapat-lapat terdengar jeritan perempuan di
antara umpatan Ho Bing.
"Tiau Hek Hoa...?" Chin Tong Sia menduga-duga.
"Bagaimana...?" Souw Thian Hai bertanya pelan.
Chin Tong Sia menggeleng kepalanya. "Benar.
Memang ada suara pertempuran di luar. Tapi... kita
tak mungkin dapat keluar dari sini. Pintu ini terbuat
dari besi tebal."
"Kalau begitu... kita cari jalan keluar yang lain!"
"Air! Air...!" Chu Bwe Hong yang sudah berada di
bawah tangga itu tiba-tiba menjerit.
Souw Thian Hai melompat turun dengan tergesagesa.
Dan kakinya segera menginjak genangan air
yang entah dari mana datangnya. Ternyata tempat itu
telah dibanjiri air setinggi mata kaki.
"Wah, tampaknya mereka ingin membenamkan kita
di sini!" Pendekar tua itu menggeram.
"Ular! Hai-ko, ulaaaar...! Lihat! Banyak sekali!"
Sekali lagi Chu Bwe Hong menjerit keras sekali.
Chin Tong Sia melongok ke bawah. Di antara
kelap-kelipnya lampu minyak, terlihat banyak sekali
ular berenang di dalam air itu. Sungguh menjijikkan
dan sekaligus juga menakutkan!
"Locianpwe! Naiklah ke atas tangga!"
Akan tetapi permukaan air itu juga bertambah naik
pula. Dan beberapa ekor ular mulai menaiki tangga.
Souw Thian Hai segera menghalaunya.
1025
"Wah kita terpaksa harus menjebol pintu! Mari kita
coba!" Souw Thian Hai berkata agak cemas. Tapi
bukan mencemaskan keselamatannya sendiri. Dia
lebih memikirkan keselamatan isterinya.
Mereka lalu menghimpun tenaga bersama-sama,
kemudian mendorong pintu itu. Sekejap lempengan
besi tebal itu bergetar dengan hebat. Namun sampai di
puncak kekuatan mereka, ternyata pintu itu tetap tak
bergeming.
"Pintu ini kuat bukan main!" Chin Tong Sia
terengah-engah.
"Oh! Air sudah
mencapai tangga!
Hai-ko, lihat! Ularular
itu juga
berebut naik pula!"
Chu Bwe Hong
berseru tertahan.
Cuuus! Cuuuus!
Cus...!
Cahaya putih
kemerahan
meluncur dari
ujung jari Souw
Thian Hai,
menerjang
gerombolan ular
yang sedang
berebut naik tangga. Binatang melata itu terpental
1026
kembali ke dalam air. Tubuh mereka terpotong
menjadi beberapa bagian, bagai direjam oleh pisau
tajam.
Diam-diam Chin Tong Sia tergetar juga. Pendekar
itu benar-benar hebat sekali. Tampaknya sulit sekali
bagi orang lain untuk menghindar dari sinar
berbahaya itu.
"Tapi setinggi apa pun ilmu silat seseorang tentu
ada titik kelemahannya. Tak terkecuali Tai-kek-sinciang
ini, tentu ada titik kelemahan juga. Hmm, bila
Su-heng Put-pai-siu Hong-jin ada di sini, tentu dia
dapat menemukan titik kelemahan itu."
Semakin lama air di dalam lorong itu semakin naik
pula. Souw Thian Hai dan Chin Tong Sia semakin
sibuk melayani ular-ular yang naik ke atas tangga.
Darah ular yang terbunuh membuat ruangan itu
menjadi amis sekali.
"Hai-ko, bagaimana ini...?" Chu Bwe Hong
berdesah cemas. Wajahnya pucat.
Akhirnya permukaan air mulai menyentuh sepatu.
Dan mereka tidak mungkin dapat naik lagi. Punggung
mereka sudah menempel pada pintu besi.
Ular-ular itu seperti tidak mati pula. Meski banyak
yang mati, namun mereka tetap saja menyerang.
Justru Chu Bwe Hong yang akhirnya menjadi
ketakutan. Wanita tua yang masih tetap cantik itu
hampir pingsan menyaksikan kenekatan binatangbinatang
menjijikkan tersebut. Sambil menjerit-jerit
tangannya memukuli pintu.
1027
"Naiklah ke punggungku, Hong-moi!" Souw Thian
Hai berseru.
"Locianpwe, mari kita coba mendorong pintu ini
sekali lagi. Mumpung air belum menenggelamkan
tubuh kita!" Chin Tong Sia berteriak pula.
Mereka lalu mengerahkan tenaga dalam lagi.
Bahkan semua yang ada pada mereka. Kemudian
mendorong pintu besi itu sekali lagi! Hup! Pintu besi
itu kembali tergetar dengan hebat, sehingga debu dan
pasir berjatuhan mengotori tubuh mereka.
Namun pintu tetap tak tergoyahkan. Kekuatan
gabungan mereka sama sekali tak berdaya untuk
menggerakkannya.
"Aduh...!" Tiba-tiba Souw Thian Hai menjerit
kecil. Tangannya menyambar ke bawah, dan dua ekor
ular loreng terpental remuk menghajar diding.
Chu Bwe Hong berdesah kaget. "Hai-ko? Ular itu
mematuk kakimu...?"
Pendekar tua itu mengangguk sambil menotok
beberapa jalan darah di kakinya. Dalam keadaan
terpojok seperti itu Souw Thian Hai masih tetap
berusaha bersikap tenang
"Locianpwe, aku punya obat! Silakan makan!
Jangan sampai terlambat!" Chin Tong Sia merogoh
sakunya dan memberikan sebotol obat kepada
pendekar tua itu.
Air semakin tinggi. Kaki dan perut mereka mulai
tenggelam pula. Diam-diam Chu Bwe Hong mulai
1028
putus asa. Meski tidak bersuara, tapi air matanya
mengucur semakin lama menjadi semakin deras.
"Hai-ko...!" Ia berbisik pelan sambil memeluk
suaminya.
Souw Thian Hai tidak tahan pula. Pendekar tua
yang sudah kenyang menikmati asam garam
kehidupan itu balas memeluk isterinya. Keduanya
berpelukan seolah tak ingin berpisah lagi.
Hanya Chin Tong Sia yang masih kelihatan tenang.
Pemuda itu benar-benar seperti tidak peduli akan
hidupnya. Pemuda itu tetap waspada terhadap ularular
yang berseliweran di sekitar mereka.
"Lihatlah, Hong-moi! Apakah dalam keadaan
seperti ini, kau masih belum mau berterus terang juga
kepadanya? Apakah akan kita pendam terus rahasia
ini sampai mati?" Souw Thian Hai berbisik di telinga
Chu Bwe Hong seraya melirik Chin Tong Sia.
Chu Bwe Hong menangis tersedu-sedu. Air mulai
membasahi dagunya, dan sekejap lagi dia tidak akan
dapat bernapas lagi.
"Hai-ko, aku... aku...."
Braaaaak! Tiba-tiba pintu besi itu terbuka dengan
keras. Sinar matahari menerobos masuk dan
menyilaukan pandangan mereka.
"Pintu terbuka! Locianpwe, kita keluar!" Chin Tong
Sia berteriak gembira, lalu melompat keluar.
Sambil memeluk pinggang isterinya Souw Thian
Hai meloncat keluar pula. Mereka bertiga segera
bersiap-siaga menghadapi segala kemungkinan.
1029
Ho Bing dan kawan-kawannya tidak terlihat lagi di
tempat itu. Sebaliknya mereka melihat . seorang gadis
cantik bertubuh kecil bertolak pinggang di depan
mereka. Kedua tangannya memegang sepasang
pedang pendek. Gadis itu sedang mengawasi para
penjaga yang tergeletak di sekitarnya.
Chin Tong Sia mengusap-usap matanya. Dia seperti
tak percaya akan penglihatannya sendiri. Beberapa
kali ia mengawasi gadis cantik itu.
"Kau... kau...? Ah!" Pemuda itu berdesah gugup
seperti layaknya jejaka yang tiba-tiba bertemu dengan
gadisnya.
Ternyata tidak hanya Chin Tong Sia yang kaget.
Gadis itu bahkan lebih kaget daripada Chin Tong Sia.
"K-k-kau...?"
Gadis yang tidak lain adalah Tio Siau In itu
menjerit. Kulit mukanya berubah merah seketika.
Peristiwa memalukan yang terjadi di pinggiran kota
Hang-ciu lima tahun lalu, kembali terbayang di
matanya.
"Bagus! Ternyata... kau yang berada di ruang
bawah tanah itu! Hmmh! Lihat pedangku...!" Tio Siau
in memekik sambil mengayunkan pedangnya.
Souw Thian Hai dan Chu Bwe Hong terkejut.
Tusukan pedang itu sangat cepat dan mematikan.
Namun demikian Chin Tong Sia sama sekali tak
bereaksi! tiba-tiba saja pemuda itu seperti orang
kehilangan akal.
Criiiiiing!
1030
Ujung pedang Siau In tiba-tiba tergetar ke samping!
Dalam situasi yang sangat gawat itu, ternyata Souw
Thian Hai tidak dapat tinggal diam! Seleret sinar putih
terlepas dari ujung jarinya dan menghantam pedang
Siau In! Demikian kuatnya sehingga pedang itu
hampir terlepas dari tangan Siau In.
"Hong-gi-hiap...? Benarkah Locianpwe ini...?" Tio
Siau In tergagap. Pedangnya cepat ia sarungkan
kembali. Ilmu dahsyat yang baru saja menghantam
pedangnya itu hanya dimiliki keluarga Souw, keluarga
gurunya.
"Nona, bersabarlah...! Kita bicarakan dulu segala
sesuatunya dengan baik. Engkau telah menyelamatkan
jiwa kami. Tentu saja kami bertiga sangat berterima
kasih sekali. Lo-hu, Souw Thian Hai, mewakili
isteriku dan temanku ini, mengucapkan rasa terima
kasih yang tak terhingga kepadamu."
"Oh, Souw Locianpwe... terimalah hormatku!
Siauw-te... tidak bermaksud kurang ajar di
hadapanmu, Siauw-te sebenarnya... ehm... sudahlah.
Biarlah lain kali saja aku menagih hutang kepada
bocah ini!"
Tio Siau In yang biasanya bersikap liar dan berani
itu, tiba-tiba menjadi kikuk dan salah tingkah. Dia
telah diberi tahu oleh Souw Lian Cu dan Han Tui Lan,
siapakah sebenarnya Hong-gi-hiap Souw Thian Hai
itu.
Selama ini Siau In, Yok Ting Ting dan Souw Giok
Hong, tinggal bersama Souw Lian Cu dan Han Tui
1031
Lan. Mereka belajar silat dengan tekun, sehingga
kepandaian Giok Hong, Siau In dan Ting Ting maju
dengan pesat. Masing-masing belajar menurut
alirannya sendiri.
Sebagai bekas murid pendeta Im-yang-kauw, Han
Tui Lan menurunkan semua ilmu Aliran Im-yang-kau
kepada Tio Siau In. Bahkan wanita sakti itu juga
menurunkan ilmunya yang lain, yang dulu pernah ia
pelajari bersama Liu Yang Kun.
Sedang Yok Ting Ting, karena bukan anak murid
Im-yang-kau, hanya diberikan ilmu-ilmu Han Tui Lan
yang lain.
"Cici In, orang-orang itu sudah pergi semua!" tibatiba
seorang gadis cantik, berkulit pucat dan agak
kurus, berlari masuk ke dalam ruangan itu.
"Ting Ting, jangan kurang ajar di depan Souw
Locianpwe!" Tio Siau In menegur.
Gadis kurus itu terbelalak mengawasi Souw Thian
Hai dan isterinya. Dia baru tergagap dan memberi
hormat kepada Souw Thian Hai ketika Tio Siau In
menepuk pundaknya.
Souw Thian Hai dan Chu Bwe Hong telah terbiasa
menerima perlakuan seperti itu. Sebagai tokoh
persilatan ternama, mereka berdua sangat dikenal dan
selalu dihormati orang.
Namun demikian melihat gadis-gadis ini, Souw
Thian Hai seperti merasakan sesuatu yang aneh. Tidak
terasa kakinya melangkah ke depan.
1032
"Siapakah kalian berdua ini? Tampaknya kalian
telah mengenal kami dengan baik...."
Sekonyong-konyong Tio Siau In dan Yok Ting
Ting saling berpelukan dengan wajah gembira sekali.
Dengan berdiri berendeng mereka sekali lagi memberi
hormat.
"Souw Locianpwe, terimalah hormat kami
berdua...!"
Souw Thian Hai dan Chu Bwe Hong tertegun.
Jantung mereka berdebar dengan cepat. Jelas kedua
gadis itu mempunyai maksud tertentu kepadanya.
Siapa sebenarnya mereka?
"Kalian...?" Chu Bwe Hong berdesah bingung.
Tio Siau In biasanya memang berwatak liar dan
suka mengganggu orang. Namun sekali ini ia tak
berani kurang ajar. Souw Thian Hai adalah ayah Souw
Lian Cu, wanita yang selama ini dia anggap sebagai
pengganti gurunya. Oleh karena itu dengan jujur dia
bercerita apa adanya. Betapa mereka selama ini
mencari Souw Thian Hai.
Bukan main gembiranya hati pendekar itu. Bahkan
kegembiraan itu benar-benar terasa lengkap dan utuh.
Sudah lama mereka berusaha menemukan Souw Lian
Cu. Malahan ketika pulang dari Laut Utara, mereka
tidak terus pulang ke rumah, tapi tetap meneruskan
pengembaraan mereka, mencari puteri mereka itu.
Chu Bwe Hong menangis di dada suaminya. Berita
itu sangat membahagiakan hatinya pula. Walaupun
Souw Lian Cu bukan puteri kandungnya, tapi ia telah
1033
menganggapnya sebagai puteri sendiri. Apalagi
ternyata Souw Giok Hong, puteri kandungnya, juga
dalam keadaan baik-baik bersama Souw Lian Cu.
Souw Thian Hai menarik napas panjang. Diamdiam
ia bersyukur di dalam hati. Ternyata semua yang
ia yakini selama ini benar-benar membuahkan hasil.
Souw Lian Cu masih hidup.
Di dalam keharuannya itu tak terasa mata Souw
Thian Hai melirik ke arah Chin Tong Sia. Pemuda itu
masih tampak bingung menyaksikan pertemuan
tersebut.
Sebenarnya, kebahagiaan itu benar-benar lengkap
bagi Chu Bwe Hong. Selain dapat menemukan
kembali Souw Lian Cu dan Souw Giok Hong,
sebenarnya Chu Bwe Hong juga menemukan seorang
anaknya yang lain, yang selama ini tak pernah
dipikirkannya.
Chin Tong Sia yang sejak kecil dipelihara dan
diasuh oleh Put-ceng-li Lojin, sesungguhnya adalah
puteranya pula. Namun karena anak itu lahir dari
seorang penjahat yang amat dibencinya, maka Chu
Bwe Hong tak pernah mengakuinya.
Dahulu, sebelum menjadi isteri Souw Thian Hai,
Chu Bwe Hong mendapat musibah yang amat
mengerikan. Dia diculik dan dibawa lari Hek-eng-cu,
seorang Datuk Kejahatan, sehingga dia hamil dan
melahirkan Chin Tong Sia. Karena sangat membenci
penjahat itu, maka Chu Bwe Hong tidak mau
mengurusi bocah itu. Anak tak berdosa itu diasuh oleh
1034
Put-ceng-li Lo-jin dan diakui sebagai anaknya. (Baca
: Memburu Iblis)
Kini secara tak terduga anak itu muncul di depan
mereka. Maka tidak mengherankan bila terjadi perang
batin di hati Chu Bwe Hong. Dia sama sekali tidak
menginginkan anak itu. Namun di sisi lain, dia juga
tidak dapat mengingkari pula bahwa anak itu adalah
darah dagingnya.
"Biarlah Chu Bwe Hong sendiri yang memutuskan.
Tampaknya rahasia itu benar-benar dijaga oleh Bengkau,
sehingga anak ini juga tidak mengetahui tentang
dirinya." Souw Thian Hai berkata di dalam hatinya.
Demikianlah mereka lalu keluar dari rumah itu.
Ternyata matahari mulai naik ke atas kepala. Entah
mengapa, Chin Tong Sia masih merasa takut
berdekatan dengan Siau In. Peristiwa lima tahun lalu
masih membekas di hatinya. Bahkan kenangan itu tak
pernah lepas dari pikirannya.
Sebenarnya Chin Tong Sia tak pernah melupakan
wajah Siau In. Selama ini wajah gadis itu selalu
mengganggu hatinya. Entah sudah berapa ratus kali
dalam lima tahun ini Chin Tong Sia berkeliaran di
daerah pantai timur Tiongkok, dengan harapan dapat
berjumpa kembali dengan Siau In. Tetapi secara tak
terduga gadis itu justru ia temukan di tempat ini, jauh
dari daerah wilayah kekuasaan Giam Pit Seng.
Maka tidak mengherankan bila ia sampai bingung
begitu melihat Siau In.
1035
Bahkan ia sama sekali tak mau mengelak ketika
pedang gadis itu menyambarnya. Untunglah Souw
Thian Hai menyelamatkannya.
"Saudara Chin, bagaimana sekarang? Lo-hu hendak
mencari puteriku bersama gadis-gadis ini. Mau ke
mana kau sekarang?" Mendadak terdengar suara
Souw Thian Hai bertanya.
Chin Tong Sia menjadi gugup. Dia tak ingin
kehilangan Siau In lagi. Tapi, bagaimana caranya?
Tiba-tiba Chin Tong Sia menepuk jidatnya. "Ah,
Locianpwe. Bagaimana dengan temanku yang
bernama Souw Hong Lam itu? Apakah Locianpwe tak
ingin melihatnya? Siapa tahu dia dapat menunjukkan
tempat puteri Locianpwe itu?"
"Ah, benar. Di mana sekarang dia berada?"
Chin Tong Sia mengajak rombongan itu ke rumah
makan, tempat pemuda itu bersama rombongannya
kemarin berhenti. Tapi pemilik rumah makan itu
mengatakan bahwa rombongan Chin Tong Sia sudah
berangkat lebih dahulu dengan naik kuda.
"Locianpwe, bagaimana sebaiknya? Pemuda yang
bernama Souw Hong Lam itu telah berangkat ke
Sungai Huang-ho. Apakah Locianpwe akan mengejar
dia? Kalau memang demikian, kita dapat bersamasama
mengejarnya."
Souw Thian Hai memandang Tio Siau In. "Eh, Siau
In... apakah kau mengenal pemuda bernama Souw
Hong Lam? Mungkin dia pernah mengunjungi Souw
Lian Cu?"
1036
"Souw Hong Lam? Maaf, kami belum
mengenalnya, Locianpwe."
"Baik kita kejar saja mereka. Ehm, apakah ada
sesuatu yang akan dikerjakan oleh teman-temanmu di
perairan Sungai Huang-ho itu?" Pendekar tua itu
bertanya kepada Chin Tong Sia.
Chin Tong Sia mengangguk, tapi tak mau
mengatakan tujuannya.
"Baiklah. Lo-hu takkan ikut campur urusan kalian.
Lo-hu hanya ingin melihat wajah Souw Hong Lam,
yang mengaku keluarga kami dan sedang mencari aku
itu."
Siang itu juga mereka berlima mencari kuda dan
berangkat menuju ke Sungai Huang-ho. Seperti
halnya rombongan Liu Wan, mereka menerobos hutan
dan perkampungan penduduk. Di sepanjang jalan
mereka juga melihat banyak desa yang telah
ditinggalkan penduduknya.
"Ah... perang lagi! Mengapa orang tak bosanbosannya
berperang?" Pendekar tua itu berdesah
sedih.
Karena bulan bersinar dengan terang, maka mereka
berjalan terus tanpa berhenti. Menjelang tengah
malam mereka tiba di pinggir Sungai Huang-ho. Chin
Tong Sia segera mencari tahu tentang temantemannya
di tempat persewaan perahu. Dia
mendapatkan berita tentang mereka.
1037
"Mereka itu temanmu? Wah, mereka telah
berangkat pagi tadi. Mungkin mereka sudah sampai di
tujuan." Pemilik perahu itu menerangkan.
"Locianpwe, mereka telah berangkat ke selatan
dengan perahu. Apakah Locianpwe tetap ingin
melanjutkan juga perjalanan ini?"
Souw Thian Hai terdiam.. Hari telah larut malam,
namun pinggiran sungai itu masih banyak terlihat
kesibukan.
"Bagaimana Hong-moi? Rasanya aku sangat
penasaran dengan pemuda bernama Hong Lam ini.
Kita teruskan perjalanan ini?"
Chu Bwe Hong tersenyum, lalu mengangguk.
Walaupun lelah wanita tua itu masih tampak cantik
dan anggun.
"Bagaimana dengan gadis-gadis ini? Apakah
mereka tidak kelelahan?" Chu Bwe Hong balik
bertanya pula.
"Ah, kami juga sudah terbiasa berjalan jauh.
Apalagi di atas perahu kami dapat beritirahat." Yok
Ting Ting menyahut dengan cepat.
Demikianlah, Souw Thian Hai lalu menyewa
perahu yang agak besar. Karena tak seorang pun di
antara mereka yang dapat mengemudikan perahu,
maka pendekar tua itu minta kepada pemilik perahu
untuk memberinya seorang tukang perahu.
"Cu-wi mau berangkat malam ini juga?"
"Benar. Tidak bisa?" Chin Tong Sia memotong
dengan tergesa-gesa.
1038
"Bukan itu maksudku. Justru kebetulan sekali,
karena ada seorang anak buahku yang ingin lekaslekas
kembali ke hilir."
"Bagus sekali...." Souw Thian Hai berseru gembira.
Setelah mengisi perut dan menyiapkan bekal
secukupnya, malam itu juga mereka berangkat.
Tukang perahu yang kebetulan hendak pulang ke hilir
itu masih tampak muda, walau usianya telah mencapai
empat puluhan tahun. Badannya masih kekar dan
kuat.
Souw Thian Hai dan Chu Bwe Hong duduk di
belakang bersama tukang perahu, sementara Tio Siau
In dan Yok Ting Ting menikmati cerahnya sinar
rembulan di ujung depan. Semuanya kelihatan
gembira dan bersemangat, kecuali Chin Tong Sia.
Pemuda itu duduk lesu di bawah atap perahu.
Matanya menatap jauh ke langit, di antara
gemerlapnya sinar bintang di angkasa. Sesekali
matanya yang redup itu mencuri pandang ke arah Siau
In. Tak jarang bibirnya berdesah panjang sekali.
Sesungguhnya bahwa hati Chin Tong Sia sedang
gundah. Kemunculan Tio Siau In yang tak terduga itu
benar-benar seperti mengoyakkan luka lama. Sejak
pertemuan mereka yang pertama di Hang-ciu lima
tahun lalu, Chin Tong Sia tak pernah, melupakan
gadis itu. Bagi Chin Tong Sia, awal pertemuan
mereka benar-benar seperti impian. Impian yang
belum pernah dia rasakan selama hidupnya.
1039
Kemulusan tubuh Siau In pada saat berganti
pakaian di tengah semak belukar itu, benar-benar
membuat Chin Tong Sia terpesona. Baru sekali itulah
Chin Tong Sia melihat bentuk seorang wanita.
Sungguh suatu pemandangan yang mendebarkan.
Begitu hebatnya pengaruh impian itu di hati Chin
Tong Sia, sehingga pemuda itu bagaikan jatuh cinta
pada pandangan pertama. Beberapa waktu lamanya
pemuda itu tidak dapat melupakan peristiwa itu.
Akhirnya seperti orang sinting, Chin Tong Sia
berkeliaran mengelilingi Propinsi Tse-kiang dan
Kiang-su, hanya untuk mencari Tio Siau In.
Tapi sampai berbulan-bulan, bahkan bertahuntahun,
Chin Tong Sia tidak pernah dapat menemukan
Tio Siau In. Malah sekarang, setelah pemuda itu putus
asa dan tidak punya pengharapan lagi, tiba-tiba Tio
Siau In muncul di depannya.
Begitulah, sementara Chin Tong Sia duduk
melamun memikirkan Tio Siau In, ternyata di ujung
perahu, gadis itu justru sedang terlibat dalam
percakapan yang menggembirakan dengan Yok Ting
Ting. Mereka sangat senang sekali dapat bertemu
Souw Thian Hai. Kini mereka berharap dapat segera
mempertemukan pendekar tua itu dengan Souw Lian
Cu dan Souw Giok Hong.
"Sayang sekali Cici Giok Hong memisahkan diri.
Kalau tidak, dia sudah dapat bertemu orang tuanya."
Yok Ting Ting menyesali kepergian Souw Giok
Hong.
1040
Setelah lima tahun tinggal bersama di balik air
terjun itu, ternyata hubungan mereka bertiga seperti
layaknya saudara kandung. Bagi Tio Siau In,
keberadaan Souw Giok Hong bagaikan pengganti
kakaknya. Sementara bagi Souw Giok Hong dan Yok
Ting Ting sendiri, keberadaan yang lain merupakan
tambahan kebahagiaan bagi diri mereka yang selama
ini selalu sendiri.
Dan ternyata kebahagiaan mereka itu juga membuat
cerah pula suasana di tempat tersebut. Suasana gua
yang semula terasa sedih dan dingin, akhirnya
berubah menjadi ceria dan bersemangat.
Kebahagiaan itu pula yang akhirnya membuat hati
Souw Lian Cu dan Han Tui Lan mencair. Kedua
wanita sakti itu kembali menemukan semangat untuk
mengarungi kehidupan mereka.
Mula-mula Souw Giok Hong membujuk Souw Lian
Cu untuk mencari ayah mereka. Gadis itu mengatakan
bahwa ayah-ibunya belum kembali semenjak pergi
dengan Utusan Pondok Pelangi.
Tak terduga permintaan itu diluluskan oleh Souw
Lian Cu, karena wanita itu ternyata telah berembug
dengan Han Tui Lan, dan sudah memutuskan untuk
kembali lagi ke dunia ramai.
Agar tidak terlalu menyolok, serta lebih cepat dapat
menemukan Souw Thian Hai, mereka lalu berpencar
menjadi dua rombongan. Rombongan pertama, Souw
Lian Cu dan Han Tui Lan, menuju ke arah utara.
Sementara rombongan ke dua, Souw Giok Hong
1041
bersama Tio Siau In dan Yok Ting Ting, berangkat ke
arah barat.
Sayang sekali, di tengah jalan Souw Giok Hong
memisahkan diri, karena gadis ayu itu hendak
berkunjung dulu ke Gunung Hoa-san.
Jadilah Tio Siau In mengembara berdua saja
dengan Yok Ting Ting. Mereka berjalan terus ke arah
barat sambil selalu mencari berita tentang Souw Thian
Hai. Dan ternyata jerih payah mereka memperoleh
hasil. Secara tidak sengaja Tio Siau In melihat Lokkui-
tin membawa kereta tawanan.
Tio Siau In masih ingat akan peristiwa di tepi
pantai Hang-ciu lima tahun lalu. Enam hantu dari luar
Tembok Besar itu telah membantai prajurit-prajurit
Han. Bahkan hampir membunuh gurunya, Giam Pit
Seng.
Tio Siau In tidak tahu siapa tawanan itu, tetapi ia
telah berketetapan hati untuk menolongnya. Namun
demikian ia harus berhati-hati, karena Lok-kui-tin
sangat lihai.
Demikianlah setelah seharian mengikuti kereta itu,
akhirnya mereka sampai di rumah besar itu. Tio Siau
In dan Yok Ting Ting semakin waspada ketika
melihat Mo Hou dan seorang gadis berkulit hitam di
tempat itu. Mereka bersembunyi di halaman belakang.
Tio Siau In maupun Yok Ting Ting tidak melihat
kedatangan Chin Tong Sia. Mereka tetap bersembunyi
dan menanti kesempatan untuk membuka pintu ruang
bawah tanah itu. Mereka juga tidak tahu kalau Chin
1042
Tong Sia dikeroyok dan dijebloskan ke dalam penjara
tersebut. Bahkan keduanya menunggu kesempatan itu
semalam penuh.
Keesokan harinya Tio Siau In dan Yok Ting Ting
baru berani bergerak ketika melihat Mo Hou dan
seluruh anak buahnya meninggalkan tempat tersebut.
Tapi di ruang belakang mereka dihadang oleh anak
buah Ho Bing. Dan perkelahian pun berlangsung
dengan seru.
Sementara itu Chin Tong Sia dan Souw Thian Hai
suami isteri juga dapat meloloskan diri mereka dari
penjara. Di ruang tengah mereka dihadang pula oleh
anak buah Ho Bing. Maka terjadilah pertarungan
hebat di seluruh rumah itu.
Selanjutnya, seperti telah diceritakan di bagian
depan, Souw Thian Hai dan Chin Tong Sia kembali
terkurung di Ruang Bawah Tanah. Untunglah Tio
Siau In dan Yok Ting Ting dapat mengalahkan Ho
Bing dan anak buahnya.
"Cici, ternyata justru kita berdua yang dapat
menemukan Souw Locianpwe. Ah, betapa senangnya
mereka nanti." Yok Ting Ting meremas tangan Tio
Siau In.
"Benar. Tapi... di mana kita harus mencari Bibi
Lian Cu?"
Yok Ting Ting terdiam. "Bagaimana kalau Souw
Locianpwe itu kita ajak saja ke gua kita?" Ucapnya
kemudian dengan ragu.
1043
Tio Siau In menoleh ke belakang. Tetapi matanya
justru bentrok dengan mata Chin Tong Sia. Otomatis
kulit mukanya menjadi merah.
"Cici, eh... omong-omong, pemuda itukah yang
kauceritakan dulu?" Yok Ting Ting yang melihat
keadaan itu berbisik sambil mengedipkan matanya.
Siau In mengangguk. Wajahnya berubah menjadi
keruh.
"Benar. Suatu saat akan kubunuh dia. Sekarang biar
saja dia bersenang-senang di depan Souw Tai-hiap."
"Ah, sayang sekali. Wajahnya cukup tampan." Ting
Ting tersenyum menggoda.
Siau In melotot. "Ngaco! Kubunuh kau...."
"Tapi kau pernah mengatakan bahwa ilmu silatnya
sangat tinggi. Bagaimana Cici dapat mengalahkan dia
nanti? Jangan-jangan Cici akan kalah lagi."
"Apa katamu? Kau menyangsikan kemampuanku?"
"Sabar, Cici. Bukan itu maksudku. Aku hanya ingin
mengingatkan agar kau berhati-hati. Tentu saja aku
tidak akan tinggal diam. Aku akan membantumu."
"Huh, lihat saja nanti. Selesai mempertemukan
Souw Taihiap dengan Bibi Lian Cu, aku akan
menantang dia!" Tio Siau In menggeram.
Ketika melewati tikungan berbahaya, tukang
perahu memperingatkan mereka untuk berpegangan
dengan kuat. Orang itu sama sekali tidak menyadari
bahwa penumpangnya adalah jago-jago silat
berkepandaian tinggi.
1044
Perahu besar itu berkelak-kelok mengikuti arus air.
Demikian besarnya ombak yang menghempas dinding
perahu itu, sehinga mereka berlima seperti sedang
berlayar di lautan lepas. Beruntung sekali perahu itu
di bawah tangan seorang ahli. Demikian lihainya
tukang perahu itu membawa kemudinya sehingga
perahu tersebut selalu terhindar dari kesulitan.
"Untunglah kita membawa dia. Heemm, coba kalau
kita berangkat sendiri. Mungkin perahu ini sudah
kandas menghantam batu." Souw Thian Hai berkata
kepada isterinya.
"Ah, paling-paling kita berenang lagi seperti di
Laut Utara itu." Chu Bwe Hong menyahut.
Souw Thian Hai tersenyum dan merangkul pundak
isterinya. Pengalaman mereka di laut ganas itu
memang jauh lebih mengerikan.
"Benar. Tapi kalau kita tidak berjumpa dengan
pemuda perkasa itu, hem... mungkin kita sudah
dimakan hiu dan takkan bertemu dengan Lian Cu...."
"Benar, suamiku. Aku juga kagum sekali kepada
bocah itu. Umurnya masih sangat muda, jauh lebih
muda dari Giok Hong, tapi kepandaiannya benarbenar
mentakjubkan. Dan bicara sejujurnya, eh....
rasanya kepandaian kita belum dapat menyamainya,
bukan?"
Souw Thian Hai menganggukkan kepalanya.
"Kau benar isteriku. Rasanya tokoh semacam Bok
Siang Ki pun belum tentu dapat menandinginya.
Tenaga dalamnya benar-benar tidak terbatas. Hem,
1045
mungkin hanya Pangeran Liu Yang Kun yang mampu
menandingi dia."
"Ah, kau teringat lagi pada menantu kita."
Pendekar tua itu menghela napas panjang. Sinar
matanya meredup. Setiap kali teringat Pangeran Liu
Yang Kun, perasaannya sangat sedih. Dia langsung
ingat akan cucu-cucunya yang telah tiada.
"Aaaaah... di mana dia sekarang berada? Dua puluh
tahun lamanya dia menghilang. Mungkinkah dia
sudah benar-benar tiada? Aaaah...!"
"Yah, mungkin memang sudah tiada."
Malam semakin larut. Embun mulai turun
membasahi pakaian mereka. Demikian dinginnya
sehingga mereka tidak merasa bahwa aliran sungai
mulai berbelok ke arah selatan. Sungai besar itu mulai
lewat di tengah-tengah tanah perkampungan
penduduk yang padat.
Namun yang sangat mengherankan mereka,
perumahan padat di tepian sungai itu tampak lengang
dan sepi. Tidak secercahah sinar lampu pun yang
menyorot keluar dari lubang dinding mereka.
Kampung itu seperti tak berpenghuni lagi. Satusatunya
suara yang terdengar cuma lolongan anjing
lapar di kejauhan.
"Gila! Tampaknya Mo Tan telah sampai di daerah
ini." Souw Thian Hai tiba-tiba menggeram sambil
mengepalkan tangannya.
"Benar, Tuan. Pasukan Hun memang sudah
menyusup sampai di kota Sing-yun. Itulah sebabnya
1046
aku ingin segera pulang, karena kota itu hanya seratus
lie dari kampungku. Aku harus cepat-cepat
mengungsikan anak isteriku." Tukang perahu itu
memotong perkataan Souw Thian Hai.
"Benarkah? Cepat sekali...! Setengah bulan yang
lalu kota itu masih aman dan tenang. Bahkan Lo-hu
sempat menyaksikan pesta perkawinan di sana."
"Pasukan Hun memang seperti siluman. Pasukan
perbatasan dibawah pimpinan Kong-sun Goanswe
tidak berdaya menahan mereka. Pasukan Jendral
Ciang Kwan Sit, yang dikirim dari kota raja juga
mereka hancurkan dengan mudah. Bahkan Jendral
Ciang Kwan Sit sendiri juga terbunuh dalam
pertempuran itu."
Souw Thian Hai mengerutkan keningnya. Tukang
perahu itu tahu banyak sekali tentang medan
pertempuran.
"Oh, lihat...! Ada pertempuran di sana!"
Sekonyong-konyong Yok Ting Ting berseru sambil
mengangkat jari telunjuknya ke depan.
Dua buah perahu besar penuh prajurit kerajaan
tampak dikepung oleh pasukan asing yang
menggunakan sampan-sampan kecil. Anak panah
beterbangan di udara, sementara beberapa buah
sampan kecil berusaha mendekati perahu besar itu.
Balasan orang tak berseragam berebut naik ke atas,
sehingga pertempuran sengit segera berlangsung
dengan hebatnya. Suara pedang dan tombak
berdentang memecah kesunyian.
1047
Traaaang! Trang! Traaaaang...!
Souw Thian Hai dan Chu Bwe Hong melompat ke
depan, diikuti pula oleh Chin Tong Sia. Mereka
menyaksikan pertempuran itu dengan perasaan
tegang. Demikian tegangnya hingga Tio Siau In-lupa
bahwa di tempat itu dia terpaksa berdesakan dengan
Chin Tong Sia.
"Melihat seragamnya... mereka seperti pasukan
kerajaan! Tapi siapa lawan mereka?" Souw Thian Hai
bergumam pelan.
"Marilah kita mendekat!" Chu Bwe Hong berseru.
"Tapi... tapi aku tidak berani, Tuan. Kita kembali
saja." Tukang perahu itu berseru gemetar.
"Tidak apa-apa. Berbaringlah di bilik perahu."
Souw Thian Hai memberi perintah.
Perahu itu mereka bawa ke tempat pertempuran.
Chin Tong Sia terpaksa mengemudikannya. Dan
kedatangan mereka segera menarik perhatian orangorang
itu. Tampaknya masing-masing mencurigai
mereka.
"Benar, Locianpwe. Mereka memang prajurit Han.
Dan segerombolan orang tak berseragam itu adalah
kaki tangan Raja Mo Tan. Lihat, mereka mengenakan
rompi dari kulit binatang!" Chin Tong Sia berseru
lantang.
Pertempuran di atas perahu besar itu semakin
tampak brutal dan mengerikan. Masing-masing
berusaha untuk membunuh lawan sebanyakbanyaknya.
Namun karena jumlah pasukan
1048
berseragam itu lebih kecil maka lambat laun mereka
terdesak. Apalagi ketika orang-orang di atas perahu
kecil itu memanggil bala bantuan dengan panah
apinya.
Sekonyong-konyong dari dalam perkampungan
sepi di pinggir sungai itu muncul ratusan obor
menyambut kilatan panah berapi tadi. Terdengar jerit
penyerbuan ketika para pembawa obor itu berlari ke
sungai dan menyiapkan sampan-sampan mereka.
Tukang
perahu yang
ditumpangi
Souw Thian
Hai menjadi
pucat pasi
wajahnya.
Seluruh
badannya
gemetar dan
akhirnya jatuh
pingsan di
bawah bangku.
"Bagaimana,
Locianpwe?
Kita menolong
para prajurit
itu?" Chin Tong
Sia meminta
pendapat Souw Thian Hai.
1049
"Benar, anak muda. Pergilah bersama nona-nona ini
ke perahu besar itu dan selamatkan prajurit yang
tersisa! Aku akan mencegah bala bantuan yang datang
itu!" Bagai panglima perang pendekar itu membagi
tugas.
"Aku bagaimana, Hai-ko?" Chu Bwe Hong
mengerutkan dahinya.
"Kau tetap di perahu ini! Dan... jangan terlampau
dekat dengan pertempuran! Perahu ini akan sangat
penting bila kebakaran terjadi! Lihat mereka mulai
melepaskan panah-panah api!"
"Tapi...?"
"Sudahlah, Hong-moi. Ikutilah kata-kataku!"
Selesai berkata pendekar sakti itu mencabut dua
potong kayu penahan atap, kemudian mengikatnya di
bawah sepatu. Kemudian tanpa membuang waktu lagi
pendekar tua itu telah meloncat ke dalam air.
Bagaikan seekor capung orang tua itu meluncur di
atas permukaan sungai.
Chin Tong Sia juga tidak mau kalah. Dia
mengambil bangku tempat duduk, lalu
mematahkannya menjadi beberapa bagian. Ia
mengambil dua potong dan sisanya ia berikan kepada
Yok Ting Ting.
"Hati-hati...!" Tak terasa bibir Chu Bwe Hong
berdesah pelan.
Demikianlah anak-anak muda itu seperti berlomba
dengan ilmu meringankan tubuh mereka. Siau In dan
Ting Ting yang mendapatkan pelajaran ilmu
1050
meringankan tubuh Bu-eng Hwe-teng (Loncat
Terbang Tanpa Bayangan) dari Tui Lian, berloncatan
di atas permukaan air seperti burung camar yang
beterbangan mencari ikan. Potongan kayu yang
mereka ikat di bawah sepatu merupakan landasan
untuk tidak tenggelam ke dalam sungai.
Gerakan Chin Tong Sia memang tidak sebagus
gadis-gadis itu. Ilmu meringankan tubuh Aliran Bengkau
lebih bertumpu pada kekuatan tenaga dalamnya.
Dengan perhitungan yang tepat, antara kelincahan
gerak dan pengerahan tenaga dalam, maka Ilmu
Meringankan Tubuh dari Aliran Beng-kau sangat sulit
dicari tandingannya.
Mereka hampir berbareng tiba di perahu besar itu.
Mereka segera berhadapan dengan pasukan Mo Tan
yang menyamar seperti rakyat biasa. Mereka kelihatan
beringas sekali. Senjata mereka telah berlepotan darah
para prajurit Han, yang di atas perahu itu kini tinggal
beberapa orang saja lagi.
Seorang perajurit Han berpangkat Cian-bu masih
tampak tegar memimpin kawan-kawannya. Dia
sendiri sedang berhadapan dengan empat orang
pengeroyok. Goloknya terayun ke sana ke mari
mencari mangsa. Dan beberapa orang lawan segera
tergores kulitnya.
Karena tidak ingin dekat dengan Chin Tong Sia,
maka Tio Siau In mengajak Yok Ting Ting ke bagian
belakang. Di sana mereka menyaksikan pertempuran
yang lain. Sepuluh orang perajurit Han berhadapan
1051
dengan belasan anak buah Mo Tan. Mereka bertempur
dengan kacau. Mereka tidak memilih lawan lagi.
Musuh yang berada di dekat mereka adalah lawan
yang harus dibunuh.
Tio Siau In melihat seorang lelaki pendek kekar,
bersandar di pagar perahu. Lengannya panjang sekali.
Lebih panjang dari kebanyakan orang.
"Hati-hati, Ting-moi. Orang yang berdiri di pagar
perahu itu tentu sangat berbahaya." Tio Siau In
berbisik.
Sementara itu para penyerbu mulai melepaskan
panah api dari sampan mereka. Beberapa anak panah
menancap di geladak dan mulai membakar kayu-kayu
kering.
"Ting-moi, mari kita padamkan dulu api-api itu!"
-- o0d-w0o --
JILID XXV
ING MOI, mari kita padamkan dulu apiapi
itu!"
Tio Siau In dan Yok Ting Ting berusaha
memadamkan api yang mulai berkobar di
atas geladak. Keduanya bergerak dengan
cepat, walaupun mereka selalu dirintangi T
1052
oleh orang-orang yang menyerang perahu itu. Tapi
pukulan dan tendangan mereka membuat orang-orang
itu terlempar ke dalam sungai.
Kehebatan Tio Siau In dan Yok Ting Ting segera
menarik perhatian lelaki pendek kekar itu. Orang itu
bergeser dari tempatnya, kemudian menyerang Yok
Ting Ting dari samping. Lengannya yang panjang
menyambar ke arah pinggang Yok Ting Ting.
Hembusan angin tajam mengejutkan Yok Ting
Ting. Gadis itu sadar akan bahaya. Dengan tangkas
dia menarik tubuhnya ke belakang, kemudian
meloncat tinggi ke udara. Sambil berjumpalitan gadis
itu ganti menyerang dengan sisi tangannya.
Gerakannya sungguh lincah dan gesit, seperti seekor
tupai meloncat di atas pohon. Sementara dari kedua
belah telapak tangannya terhembus angin dingin ke
segala penjuru.
Lelaki pendek itu terkejut. Sekejap udara di
sekelilingnya terasa berat dan sulit untuk bernapas.
Otomatis gerakannya terganggu. Untunglah dengan
mengerahkan tenaga sepenuhnya, ia masih mampu
menghindar dari pukulan Yok Ting Ting. Namun
demikian jantungnya terasa berdegup dengan keras.
"Siapa kau...? Apa hubunganmu dengan partai Soahu-
pai?" Lelaki pendek itu berseru kaget.
Yok Ting Ting memang menggunakan ilmu
meringankan tubuh ajaran Han Tui Lan, yang
bersumber pada ilmu warisan Bit-bo-ong (Raja
Kelelawar) almarhum. Ilmu tersebut diberi nama Bu1053
eng Hwe-teng (Loncat Terbang Tanpa Bayangan),
yang merupakan salah satu dari tiga ilmu silat ciptaan
Bit-bo-ong.
Bit-bo-ong hidup hampir setengah abad yang lalu.
Sebenarnya ia adalah anak murid Soa-hu-pai, yang
membelot dan memusuhi perguruannya sendiri. Dia
mampu menemukan rahasia ilmu perguruannya,
sehingga mampu menciptakan ilmu silat yang tiada
taranya. Dengan ilmu ciptaannya itu ia malangmelintang
sebagai raja iblis di dunia persilatan. Tak
seorang pun mampu menandinginya. Bahkan datukdatuk
persilatan yang hidup pada zaman itu,
kewalahan pula menghadapinya. (Baca: Pendekar
Penyebar Maut dan Memburu Iblis)
Ilmu ciptaan Bit-bo-ong yang menggegerkan
persilatan itu adalah Pat-hong-sin-ciang (Telapak
Sakti Delapan Penjuru), Kim-liong-sin-kun (Pukulan
Sakti Naga Emas) dan Bu-eng Hwe-teng (Loncat
Terbang Tanpa Bayangan). Karena tokoh itu memang
bekas murid Soa-hu-pai maka tidak mengherankan
kalau ilmu ciptaannya juga tidak jauh berbeda dengan
ilmu silat Soa-hu-pai. Seperti halnya ilmu silat Soahu-
pai, maka ilmu ciptaannya juga mengandung
kekuatan sihir. Bahkan bisa dikatakan kalau ilmu
ciptaannya itu bertumpu pada kekuatan sihirnya.
Sehingga makin tinggi dan makin dalam ilmu tersebut
dipelajari, maka akan semakin kuat pula cengkeraman
ilmu sihirnya.
1054
Dan takdir telah menentukan, bahwa ilmu ciptaan
Bit-bo-ong itu secara tidak sengaja jatuh ke tangan
Han Tui Lan dan Pangeran Liu Yang Kun. Keduanya
mempelajari ilmu tersebut, walau akhirnya Han Tui
Lan tidak berani meneruskannya.
Selain amat dahsyat, ternyata ilmu itu juga dapat
mempengaruhi jiwa pemiliknya. Ilmu yang diciptakan
dengan semangat dan nafsu tamak, serakah, kejam
dan tak mengenal belas kasih itu, ternyata juga
menyeret jiwa dan pikiran pemiliknya ke jalan yang
kelam.
Hanya Pangeran Liu Yang Kun yang mampu
mempelajari ilmu-ilmu tersebut sampai tuntas.
Walaupun semasa mudanya pangeran itu juga pernah
menapak di jalan kelam, namun dengan kekuatan
tenaga dalamnya yang dahsyat, dia dapat menjinakkan
pengaruh buruk dari ilmu tersebut.
Oleh karena itu Han Tui Lan juga tidak berani
menurunkan ilmu silat tersebut kepada Yok Ting Ting
maupun Tio Siau In. Dia hanya berani mengajarkan
ilmu meringankan tubuhnya saja, yakni Bu-eng Hweteng.
Dan salah satu geraknya telah dilakukan oleh
Yok Ting Ting tadi.
Siapa sangka lelaki pendek itu ternyata sangat
awas. Sekalipun hanya sekilas, ternyata orang itu
dapat menebak asal-usul gerakan Yok Ting Ting.
Namun karena selama ini Yok Ting Ting juga tidak
pernah diberitahu oleh Han Tui Lan, maka gadis itu
juga tidak dapat menjawab pertanyaan lawannya.
1055
"Aku tidak memiliki hubungan sedikit pun dengan
Partai Soa-hu-pai. Apabila ilmu silatku hampir sama
dengan mereka, hemm... mungkin cuma kebetulan
saja. Sudahlah, kau sendiri siapa? Mengapa kau dan
orang-orangmu ini menyerang prajurit-prajurit
pemerintah? Apakah kau mau berontak?"
"Hohoho...! Berontak? Kaukira siapa kami ini, heh?
Kami bukan orang Han. Kami datang dari utara untuk
menaklukkan negeri ini! Dan... akulah pemimpin
pasukan ini. Namaku... Yuen Ka, pembantu terpecaya
Panglima Yeh Sui."
Yok Ting Ting tidak kaget mendengar perkataan
lawannya. Khabar tentang pasukan Mo Tan yang
menyerbu ke selatan, memang sudah banyak ia dengar
dalam perjalanan.
"Bagus. Kalau begitu biarlah kubunuh kau lebih
dulu, agar kawan-kawanmu segera menyerah!"
Begitulah, mereka segera terlibat dalam perkelahian
seru. Yok Ting Ting yang kini telah tumbuh menjadi
seorang gadis lihai, berhadapan dengan Yuen Ka,
seorang pembantu dekat Panglima Yeh Sui. Yuen Ka
memiliki ilmu silat dari utara. Turun-temurun
keluarganya mengabdi pada keluarga Mo Tan.
Sementara itu panah berapi semakin banyak
beterbangan di atas perahu. Chin Tong Sia yang
berada di bagian depan juga sibuk menghadapi
keroyokan gerombolan penyerang itu. Dan ternyata
jumlah mereka semakin lama semakin banyak.
Mereka berebut naik ke atas perahu dan menyerang
1056
para prajurit Han dengan ganasnya. Mereka
menyerang seperti kawanan lebah yang tidak takut
mati.
Di beberapa tempat api tidak bisa dipadamkan lagi.
Api berkobar dan membakar apa saja di dekatnya,
sehingga perahu itu mulai miring. Beberapa orang
mulai terjun ke dalam sungai. Mereka tidak ingin
terpanggang dalam panasnya api. Suasana menjadi
kacau-balau.
Tidak berapa jauh dari perahu itu Souw Thian Hai
masih mencoba menghalangi para penyerang yang
lain. Pendekar sakti itu menyongsong kedatangan
mereka dan menenggelamkan sampan yang mereka
tumpangi. Kekuatan dan kesaktian pendekar itu benarbenar
menggiriskan hati.
Namun demikian usaha untuk menolong prajuritprajurit
kerajaan itu tetap sia-sia. Begitu banyaknya
gerombolan yang menyerang, sehingga prajuritprajurit
itu tidak mampu bertahan lagi. Satu-persatu
mereka mati di tangan gerombolan penyerang.
Bahkan perahu besar itu akhirnya mulai tenggelam
pula.
"Tong Sia! Siau In! Ting Ting! Kita tinggalkan
tempat ini! Cepat...!" Tiba-tiba terdengar teriakan
Souw Thian Hai, mengatasi suara hiruk-pikuk di atas
air tersebut.
1057
Sementara itu Chu Bwe Hong telah membawa
perahunya jauh ke hilir. Wanita tua yang masih amat
cantik itu tetap mentaati perintah suaminya. Dia
menghindar dari
arena
pertempuran, dan
membawa
perahunya terus
ke hilir. Panah
dan api yang
nyasar ke
perahunya,
dihalaunya
dengan dayung.
Yok Ting Ting
dan Tio Siau In
juga mendengar
perintah Souw
Thian Hai.
Mereka segera
bersiap untuk pergi. Sambil menghindari serangan
Yuen Ka, Yok Ting Ting berteriak ke arah Tio Siau
In.
"Cici! Ayoh, kita pergi dari tempat ini!"
Tapi dengan wajah beringas Yuen Ka mencoba
menghalang-halanginya.
"Hoho, jangan harap bisa lolos...!" Yuen Ka
mengejek sambil menghadang langkah Yok Ting
Ting.
1058
Namun belum juga hilang gema suaranya, lelaki
pendek kekar itu tiba-tiba menjerit kesakitan! Tio Siau
In yang sejak tadi berada di dekatnya, sekonyongkonyong
berbalik dan menyerang dengan pedang
pendek! Cresss...! Pedang itu menyerempet
pinggangnya! Maka tiada ampun lagi dia terdorong
mundur dan jatuh keluar perahu! Byuuurr!
"Ayolah, Ting-moi! Kita jangan sampai kehilangan,
Souw Taihiap! Marilah...!"
Tio Siau In dan Yok Ting Ting segera mencari
sampan kosong dan bergegas pergi dari tempat itu.
Beberapa orang yang berusaha menghalangi mereka
langsung saja mereka bereskan.
Sementara itu di bagian depan, Chin Tong Sia
masih berkutet dengan para pengeroyoknya. Pemuda
itu berusaha menolong perwira kerajaan yang pada
akhirnya harus berjuang sendirian melawan
gerombolan penyerang itu.
Chin Tong Sia tidak ingin ditinggalkan Tio Siau In
maupun Souw Thian Hai. Tetapi pemuda itu juga tak
ingin meninggalkan perwira tersebut. Oleh karena itu
tiada jalan lain baginya selain mengeluarkan ilmu
pamungkasnya, Cuo-mo-ciang! Perwira itu harus
segera dibawa pergi!
Hanya sesaat saja pemuda itu bersiap, maka seluruh
tenaga saktinya telah berkumpul di dalam perutnya.
Ketika kemudian ia berteriak dan menerjang
kepungan lawan, maka hasilnya benar-benar
menggiriskan! Wuuuuus!
1059
Tujuh orang penyerang yang mengeroyok perwira
itu tiba-tiba terpental pergi, bagai dilanda angin
puting-beliung. Tubuh mereka terlempar tinggi ke
udara dan jatuh di luar perahu.
"Cian-bu! Tinggalkan saja perahu ini! Tidak ada
harapan untuk mempertahankannya lagi! Semua
prajuritmu telah habis dan perahu ini juga akan
tenggelam! Ayoh, ikutlah aku!" Pemuda itu
menyambar lengan perwira itu dan mengajaknya
turun ke sebuah sampan kecil yang tiada penghuninya
lagi.
Chin Tong Sia lalu mendayung sampan tersebut ke
daratan. Puluhan anak panah bertaburan bagai hujan
ke arah mereka, namun dengan mudah mereka
menangkisnya. Beberapa orang yang mencoba
menghalang di depan mereka, mereka singkirkan
pula. Ilmu silat Chin Tong Sia memang menakutkan.
Selain sangat ganas juga aneh luar biasa.
Mereka mendarat di tepi sungai hampir berbareng
dengan sampan Tio Siau In. Souw Thian Hai yang
telah tiba lebih dahulu, segera mengajak mereka pergi
meninggalkan tempat itu. Mereka berlalu menyusuri
sungai ke arah hilir.
"Marilah! Isteriku tentu sudah tidak sabar lagi
menantikan kita!"
Perahu Chu Bwe Hong memang belum terlalu jauh,
sehingga mereka segera dapat bergabung kembali.
Souw Thian Hai memerintahkan Tukang Perahu yang
1060
telah siuman, untuk memacu perahu mereka. Souw
Thian Hai tidak ingin terkejar lawan.
Sementara itu cahaya kemerahan mulai mengintip
di balik pepohonan. Dan beberapa saat kemudian
gelombang air yang bergulung di sekitar perahu
mereka pun tampak dengan jelas. Apalagi setelan
kehangatan matahari mulai menepis kabut yang ada.
Rasa lega tampak di wajah rombongan itu.
Perasaan tegang serasa hilang bersamaan dengan
hilangnya kabut itu. Kini semuanya dapat saling
bertatap muka. Dan semua mata tertuju ke arah
perwira itu.
"CianBu...! Apa sebenarnya yang telah terjadi?
Mengapa pasukanmu sampai bentrok dengan pasukan
asing itu?" Souw Thian Hai bertanya pelan.
Perwira itu menarik napas panjang. Rasa sesal
tampak sekali di matanya.
"Terima kasih atas pertolongan Tai-hiap. Terus
terang aku tidak mengenal Saudara-saudara, tetapi aku
percaya bahwa Saudara semua adalah pendekarpendekar
yang mencintai negeri ini. Aku Li Ku Si,
perwira pada pasukan Jenderal Ciang Kwan Sit.
Pasukan kami digempur habis-habisan oleh pasukan
Mo Tan yang dipimpin oleh Panglima Yeh Sui. Kami
tercerai berai dan berusaha mencari keselamatan
sendiri-sendiri. Aku terpaksa membawa sisa
pasukanku ke selatan, menyusuri sungai ini. Tapi di
sini pasukanku tetap saja dihancurkan lawan. Tak
1061
seorang pun lolos dari tangan Mo Tan. Aku benarbenar
sangat menyesal...."
"Sudahlah, Li Cianbu. Tidak seorang pun
menyalahkanmu. Mereka memang lebih kuat.
Sekarang Li Cianbu harus cepat-cepat melaporkan
keadaan ini. Apabila terlambat, maka negeri ini akan
benar-benar dikuasai Mo Tan. Kami akan membantu,
meskipun hanya sebatas tenaga saja, karena soal
tatacara atau siasat perang kami tidak mengerti."
Tak terduga wajah Li Kui Si semakin kusam.
"Justru hal tersebut yang memprihatinkan kami.
Sebenarnya dilihat dari jumlah prajurit dan
perlengkapannya, kami sama sekali tidak kalah.
Keadaan kami malah lebih baik dari mereka. Tapi
perang bukan hanya mengandalkan jumlah dan
perlengkapan saja. Taktik dan siasat perang justru
memegang peranan yang lebih penting. Mereka
dipimpin oleh jago-jago perang yang hebat, sementara
kami hanya mengandalkan kekuatan dan
perlengkapan saja. Bagaimana mungkin bisa
menang?"
Souw Thian Hai terbelalak. "Bagaimana hal itu bisa
terjadi? Di mana jendral-jendral perang yang dulu kita
banggakan?"
Li Ku Si berdesah pendek. "Aku tidak berani
mengatakannya."
Souw Thian Hai mengangguk-angguk. Dia
memang sudah banyak mendengar tentang keadaan di
1062
kota raja. Oleh karena itu dia dapat mengerti ucapan
Li Ku Si.
Tapi tidak demikian dengan Chin Tong Sia.
Pemuda itu menjadi marah. Ucapan Li Ku Si benarbenar
membuatnya penasaran. Serentak dia berdiri
dan berseru keras sekali.
"Suasana di kota raja sekarang memang tidak sehat.
Manusia-manusia tamak dan bodoh, yang cuma
mengandalkan mulut manis dan kata-kata busuk,
dibiarkan memimpin negara. Sebaliknya pahlawanpahlawan
kebanggaan rakyat justru dibuang dan
dijebloskan ke dalam penjara. Mana mungkin negeri
ini bisa bertahan?"
"Saudara Chin...!" Souw Thian Hai berbisik.
"Biarlah, Taihiap. Kesal rasanya kalau perasaanku
ini tidak aku keluarkan. Biarlah semua orang tahu.
Biarlah mereka mengerti. Negeri ini dalam bahaya.
Kita harus bangkit. Kita harus menyelamatkannya.
Kalau perlu kita singkirkan orang-orang bodoh dan
tamak itu! Kita kembalikan pahlawan-pahlawan yang
masih ada! Mumpung musuh belum menduduki
negeri ini!" Suara Chin Tong Sia makin bersemangat.
"Saudara Chin, tenanglah...! Dinginkan hatimu!
Kau berbicara di depan petugas kerajaan. Apakah kau
tidak takut dituduh sebagai pemberontak?" Souw
Thian Hai membujuk.
"Biarlah, Souw Taihiap. Aku tidak takut. Biarlah
Au-yang Goanswe dan para begundalnya memburu
aku. Yang penting, negeri ini harus diselamatkan!"
1063
Li Ku Si menatap Souw Thian Hai dengan mata
terbelalak. "Jadi Tuan ini .... Hong-gi-hiap Souw
Thian Hai yang terkenal itu?"
"Benar, Cianbu. Perkenalkan ini... isteriku. Dan
anak-anak muda ini adalah teman puteriku.
Maafkanlah mereka. Usia mereka masih terlalu muda
untuk mengerti urusan negara."
"Ah, tidak apa... Souw Taihiap. Apa yang
diucapkan anak muda ini memang benar. Kalau boleh
memilih, sungguh menyenangkan sekali di bawah
pimpinan Yap Tai-ciangkun dulu. Sayang beliau
dianggap bersalah terhadap negara, sehingga harus
menjalani hukuman di Benteng Langit. Coba kalau
beliau masih berkuasa, hem... tidak mungkin Mo Tan
berani menyerang negeri ini!"
"Bagus. Ternyata Cianbu masih memiliki kecintaan
terhadap tanah ini. Namun demikian kecintaan itu
tidaklah lengkap tanpa diikuti dengan semangat
berkorban." Chin Tong Sia kembali berseru.
"Anak muda, apa maksudmu?" Li Ku Si
mengerutkan keningnya.
"Melihat dan menyadari kekeliruan, tetapi tidak
berani bertindak, sama saja dengan pengecut. Nah,
kalau keadaan negeri sudah begini, mengapa kita
tidak berusaha menyelamatkannya.
"Saudara Chin, katakan yang jelas! Apa
maksudmu? Kami belum bisa mencerna katakatamu...."
Souw Thian Hai berdesah.
1064
Chin Tong Sia menatap semua orang yang ada di
perahu itu. Tatapan matanya yang dingin dan keras itu
menggetarkan juga hati Li Ku Si maupun yang lain.
"Li Cian-bu, Souw-taihiap...! Hanya seorang saja di
negeri ini yang sangat disegani Mo Tan! Dia adalah...
Panglima Yap Kim! Nah, mengapa tidak kita
keluarkan saja panglima itu dari penjara? Kita minta
beliau untuk memimpin para pejuang!"
Kata-kata yang keluar dari mulut Chin Tong Sia itu
benar-benar mengejutkan mereka. Ucapan itu terlalu
berani, karena ucapan seperti itu sudah cukup untuk
menuduhnya sebagai pemberontak.
Akhirnya Souw Thian Hai maju ke depan. Dengan
sareh ia berkata.
"Saudara Chin, sadarlah. Kami paham perasaanmu.
Tapi hati-hatilah berbicara. Ucapan itu sangat
membahayakan jiwamu. Kau... hem... lebih baik kau
segera meminta maaf kepada Li Cian-bu." Souw
Thian Hai berkata tegas.
Tidak terduga Li Ku Si maju ke depan dan
memegang lengan Souw Thian Hai. Ucapan yang
keluar dari mulutnya justru lebih mengagetkan dari
pada perkataan Chin Tong Sia.
"Souw Tai-hiap, biarlah. Kurasa apa yang
dikatakan anak muda ini memang benar semua.
Dalam situasi seperti ini pikiranku justru terbuka. Kita
memang harus berani berkorban demi negeri ini.
Berapalah harganya jiwa ini kalau dibandingkan
dengan kepentingan negara? Mengapa kita harus takut
1065
mati? Mengapa kita harus takut sengsara dan
menderita? Hmmh... aku setuju untuk mengeluarkan
Yap Tai-ciangkun dari Benteng Langit!"
Semuanya terdiam. Ucapan perwira kerajaan itu
bagaikan petir yang menyambar lubuk hati mereka.
Kesadaran mereka timbul. Terutama Hong-gi-hiap
Souw Thian Hai. Di waktu muda pendekar itu pernah
berjuang bersama Panglima Yap Kim menegakkan
negeri ini. Sekarang setelah semuanya menjadi baik,
seorang pengkhianat justru menjebloskan pahlawan
itu ke dalam penjara.
"Baik! Aku juga setuju! Mari kita buat rencana
untuk membebaskan dia!" Tiba-tiba pendekar tua itu
berkata tegas.
"Hai-ko...?" Chu Bwe Hong menyentuh lengan
suaminya.
Souw Thian Hai merangkul pundak isterinya. "Aku
tahu bahwa usiaku sudah tua, Hong-moi. Tapi bila
kuingat saat-saat kita berjuang bersama Saudara Yap,
hatiku kembali terbakar. Sungguh tidak adil. Seorang
pahlawan dan pejuang besar, yang ikut menegakkan
negeri ini malah dikurung di dalam penjara! Sungguh
tidak adil! Almarhum Kaisar Liu Pang tentu tidak
akan menerima perlakuan ini. Kita harus berbuat
sesuatu!"
"Jadi....?" Chu Bwe Hong menatap wajah
suaminya.
"Benar apa yang dikatakan Saudara Chin. Kita
harus berani berkorban. Kalau anak muda seusia dia
1066
saja berani mengngorbankan nyawanya, apalagi kita
yang sudah mau masuk liang kubur ini!"
"Baiklah, Hai-ko. Aku juga setuju pada niatmu.
Kita berangkat bersama! Kita tunda dulu urusan anak
kita."
Wajah Chin Tong Sia yang dingin itu menjadi lega
dan gembira sekali. Tanpa harus membujuk atau
memberi alasan macam-macam, mereka telah
memutuskan sendiri untuk pergi ke Benteng Langit!
Kini tinggal Tio Siau In dan Yok Ting Ting yang
belum bicara.
"Bagaimana dengan Ji-wi Li-hiap?" Pemuda itu
bertanya dengan suara kaku.
Tio Siau In dan Yok Ting Ting saling pandang.
Keduanya memang belum mengenal Panglima Yap
Kim. Tapi melihat Souw Thian Hai yang terkenal itu
ingin pergi ke Benteng Langit, mereka merasa tertarik
pula. Tak terasa keduanya mengangguk.
"Bagus. Kalau begitu sekarang juga kita ke sana...!"
Chin Tong Sia berseru lega. Lalu sambil berjalan
pemuda itu menjelaskan apa yang hendak dia kerjakan
di Benteng itu bersama teman-temannya.
"Jadi... itukah yang hendak kau kerjakan bersama
teman-temanmu? Ah, Lo-hu semakin menjadi tidak
sabar untuk melihat Souw Hong Lam. Siapa
sebenarnya anak itu?" Souw Thian Hai berdesah
dengan suara gemetar.
"Tai-hiap dapat menemuinya nanti. Tapi yang jelas
kita harus segera menemui mereka. Kita harus
1067
memberitahu bahwa salah seorang dari mereka adalah
penyelundup."
"Benar. Sementara itu aku bisa mengumpulkan
sisa-sisa pasukan Jendral Ciang Kwan Sit yang kita
temui. Siapa tahu mereka dapat membantu rencana
ini?" Li Ku Si berseru pula dengan wajah gembira.
Demikianlah mereka lalu mempercepat jalan
perahu mereka. Benteng Langit tinggal setengah hari
perjalanan lagi. Sambil melaju mereka juga melihatlihat,
kalau ada sisa-sisa prajurit Jendral Ciang Kwan
Sit yang dapat mereka kumpulkan.
SEKARANG kita ikuti kembali rombongan Liu
Wan yang telah tiba lebih dulu di Benteng Langit.
Rombongan itu tiba tepat pada waktu tengah malam,
di saat rombongan Chin Tong Sia bertempur melawan
pasukan Yuen Ka.
Seperti yang pernah mereka dengar sebelumnya,
benteng itu didirikan Kaisar Chin di atas tanah karang
luas. di tengah-tengah pertemuan dua aliran sungai
besar, yaitu Sungai Huang-ho dan Sungai Huai. Tanah
berkarang terjal itu menjulang tinggi di atas
permukaan air, sehingga sulit dijangkau dari daratan.
Dan tempat itu sangat berbahaya bagi perahuperahu
yang lewat. Selain gelombangnya besar, di
tempat itu juga banyak pusaran air akibat pertemuan
dua aliran sungai.
Untuk memasuki benteng juga hanya satu jalan,
yaitu dari pintu gerbang depan. Di bagian ini
1068
dibangun anak tangga menuju gerbang. Sementara
bagian samping dan belakang hanya terdiri dari
bangunan tembok tinggi di atas karang terjal.
Meskipun demikian tadi malam Liu Wan dan
rombongannya telah berhasil memasuki benteng.
Mereka merayap seperti cecak di atas dinding terjal
itu. Kenyataan di mana selama ini tidak pernah
seorang pun berani memasuki benteng itu, membuat
penjaganya lengah, tidak seorang pun menyadari
bahwa benteng mereka dimasuki orang.
Akan tetapi Liu Wan dan kawan-kawannya menjadi
bingung setelah berada di dalam benteng. Tempat itu
demikian luas dan rumit. Puluhan gedung atau
bangunan tersebar di mana-mana. Ratusan kamar dan
ruangan terdapat di dalamnya. Mereka tidak tahu, di
mana Panglima Yap Kim disekap.
Semalam mereka mondar-mandir. Dengan
kesaktian mereka, tidak seorang penjaga pun mampu
melihat mereka. Namun demikian mereka tetap tidak
dapat menemukan Panglima Yap Kim. Sampai
matahari terbit usaha mereka belum membawa hasil.
Terpaksa mereka mencari tempat bersembunyi.
Akhirnya mereka menyelinap di gudang bawah tanah.
"Wah! Sama sekali tidak terbayangkan olehku,
bahwa benteng ini demikian luasnya. Bagaimana kita
dapat menemukan ruang itu, tanpa petunjuk dari
orang-orang dalam benteng ini sendiri...?" A Liong
yang belum pernah melihat benteng itu bersungutsungut.
1069
"Kau benar. Kita memang harus menangkap
seorang dari penjaga itu. Kita paksa dia menunjukkan
tempatnya. Benar, cuma itu yang dapat kita tempuh!"
Tiau Hek Hoa tersentak lega, seakan dapat
menemukan sebuah benda berharga.
Liu Wan mengangguk-angguk. "Baik. Kita coba
setelah hari menjadi gelap nanti. Sekarang sangat
berbahaya. Lebih baik kita beristirahat dan menyusun
tenaga. Rencana kita ini harus berhasil. Apabila gagal,
maka Panglima Yap Kim akan mereka sembunyikan
di tempat yang
lebih sulit lagi!"
Mereka lalu
mencari tempat
sendiri-sendiri
yang mereka
anggap nyaman
untuk
beristirahat.
Gudang itu
sangat luas dan
kurang terawat.
Rongsokan
senjata atau
bekas peralatan
bangunan banyak
berserakan di
tempat itu.
1070
A Liong mendapatkan tempat tersembunyi di
bawah tangga. Badannya yang besar seperti kerbau
jantan itu segera tergeletak di atas papan kayu.
"Awas! Kalau sampai mendengkur, kubunuh kau!"
Terdengar suara ancaman Tiau Hek Hoa di
belakangnya.
A Liong menoleh. Dilihatnya gadis berkulit hitam
itu melotot di pojok ruangan, tidak jauh dari
tempatnya. Tidak terasa bibir A Liong tersenyum.
"Apakah kau tega membunuh aku? Lihatlah baikbaik!
Betapa tampannya aku! Sayang, bukan?"
Pemuda itu meledek dengan suara tertahan.
Srettt! Gadis bermuka hitam itu tiba-tiba melompat
dan menyerang A Liong! Tangannya telah
menggenggam kipas baja!
"Kerbau jelek! Lebih baik kubunuh saja kau
sekarang!"
A Liong mengelak. Pemuda itu telah bersiap sejak
tadi. Dua kali dibokong Tiau Hek Hoa, membuat A
Liong selalu waspada terhadap gadis itu. Ternyata
benar juga kekhawatirannya, gadis berkulit hitam itu
telah membokongnya lagi.
"Ssst! Jangan berisik, atau... kita akan
menggagalkan tugas ini!" A Liong menggeram. Kali
ini suaranya berubah tegas dan bersungguh-sungguh.
Tiau Hek Hoa menahan tangannya. Matanya
melirik. Sekilas ia melihat rasa kesal dan marah di
wajah Tabib Ciok dan Souw Hong Lam. Otomatis
tangannya menurun.
1071
"Baik. Kita tunda dulu urusan kita. Tapi setelah
tugas ini selesai, hemm... jangan harap bisa lolos dari
tanganku!" Tiau Hek Hoa tetap mengancam.
A Liong tersenyum geli. Sambil merebahkan
tubuhnya kembali, ia menjawab seenaknya.
"Ah, peduli amat! Kalau nasibku memang akan
mati, orang lain pun bisa membunuhku. Tidak perlu
harus menggunakan tanganmu. Hehehehe...! Apa
bedanya mati di tangan gadis ayu atau nenek-nenek
jelek?"
"Apa katamu...?" Tiau Hek Hoa hampir kehilangan
kendali lagi.
"Tiau Li-hiap...! Saudara A Liong!" Liu Wan
berdesah pendek. "Kuharap kalian dapat saling
menahan diri."
Souw Hong Lam menggeleng-gelengkan
kepalanya. "Seperti anjing dan kucing saja...."
Hari itu terasa panjang sekali. Tiau Hek Hoa selalu
bersungut-sungut dan mondar-mandir mengelilingi
ruangan itu. Gadis yang biasanya bergerak bebas dan
berbuat apa saja itu benar-benar merasa tersiksa harus
menunggu. Ingin benar rasanya dia mendobrak pintu
ruangan dan mengamuk di luar sana.
Untunglah Liu Wan selalu membujuknya. Sambil
bermain "petak kerikil", pemuda itu berusaha
mendinginkan hati Tiau Hek Hoa.
"Waduh, perutku mulai lapar...! Sialan!" Tiba-tiba
A Liong bangkit dari tidurnya dan menggerutu.
1072
Liu Wan dan Souw Hong Lam tersenyum.
"Badanmu terlalu besar sehingga cepat lelah dan
lapar." Liu Wan menggoda.
Pemuda itu tidak meladeni kelakar Liu Wan.
Perlahan-lahan dia melangkah-ke pintu samping.
"Hai, Saudara A Liong... mau ke mana kau? Di luar
banyak prajurit berjaga."
"Ciok Sinshe, jangan khawatir. Aku cuma ingin
mengintip saja. Siapa tahu di luar ada makanan. Bisa
melihat pun sudah cukup bagiku...."
"Silakan saja, asal tidak keluar!"
"Beres, deh!" A Liong menjawab santai sambil
tetap melangkah melintasi ruangan itu.
Mula-mula pemuda itu memang hanya mengintip
saja dari celah-celah daun pintu. Tapi begitu melihat
di luar kelihatan sepi dan kosong, dia segera
menyelinap keluar dengan mengendap-endap. Seluruh
uratnya menegang, suatu tanda bahwa dia dalam
keadaan siap-siaga penuh.
Ternyata lorong di luar pintu itu menembus ke
bangunan belakang. Bau asap yang terbawa oleh
angin menunjukkan bahwa bangunan tersebut adalah
dapur. Diam-diam A Liong gembira. Sungguh sangat
kebetulan baginya.
Beberapa saat lamanya A Liong berdiam diri di
mulut lorong. Matanya beredar ke segala penjuru.
Setelah yakin tidak ada orang, baru dia menyelinap ke
luar. Dalam sekejap tubuhnya telah melesat ke atas
bangunan.
1073
Dari atas A Liong dapat melihat beberapa orang
petugas sedang menanak nasi dan membuat bubur
panas.
"Nasi itu tentu untuk para penjaga, sedangkan
buburnya untuk para tawanan." A Liong berkata
dalam hati.
Ilmu meringankan tubuh A Liong sungguh hebat
sekali. Meskipun bertubuh besar, namun A Liong
mampu bergerak cepat dan lincah. Pemuda itu
berloncatan di atas penglari rumah, seperti seekor
tupai berkejaran. Demikian ringan dan gesit
gerakannya, sehingga petugas dapur itu tidak ada
yang tahu.
A Liong cepat berlindung di balik kayu ketika
seorang prajurit masuk ke dalam ruangan. Prajurit itu
duduk di atas bangku sambil mengeluh.
"Uh, gila! Semalaman aku tak bisa tidur! Kini harus
berkumpul pula! Huh! A-sam, berilah aku semangkuk
bubur dulu! Lapar sekali perutku...."
"Berkumpul? Bukankah sekarang belum waktunya
untuk berganti pasukan?" Seorang tukang masak
mendekat sambil membawakan bubur panas.
Demikian gemuk badannya, sehingga langkahnya
terasa berat sekali.
"Bukan itu sebabnya. Katanya tadi malam ada
utusan dari kota raja masuk ke dalam benteng ini.
Utusan itu memperingatkan kita, agar bersiap-siaga
menerima kedatangan musuh."
1074
"Hei...???" Semua orang yang berada di dalam
ruangan itu tersentak kaget.
Prajurit itu tidak peduli. Sambil menikmati
buburnya, dia melanjutkan ceritanya.
"Katanya... pasukan Raja Mo Tan telah merembes
ke selatan. Kemarin telah terjadi pertempuran di hulusungai,
antara sisa-sisa pasukan Jendral Ciang Kwan
Sit melawan pasukan Mo Tan. Dan sisa-sisa pasukan
itu dibabat habis oleh mereka. Sekarang pasukan Mo
Tan dalam perjalanan ke daerah ini. Diperkirakan
mereka akan sampai di sini besok lusa."
"Aduh, celaka! Bagaimana mereka dapat
menyeberangi Tembok Besar? Bukankah di sana ada
bala tentara Jendral Kongsun yang kuat dan besar
jumlahnya?"
"Ah, piciknya pengetahuanmu! Pasukan Raja Mo
Tan juga banyak sekali jumlahnya. Panglimapanglima
mereka juga terkenal gagah berani. Kau
pernah mendengar nama... Panglima Solinga?
Panglima Yeh Sui? Atau... Panglima Huang Yin?
Huh, mereka itu tidak kalah hebatnya dengan bekas
Panglima Yap Kim!"
A Liong kaget juga mendengar cerita itu. Ternyata
keadaan telah berubah dengan cepat. Pasukan Mo Tan
benar-benar bergerak sangat cepat. Belum ada
sepekan khabar tentang gerakan pasukan itu, kini
sebagian dari mereka telah menyeberangi Propinsi
Syan-si.
1075
"Panglima Solinga yang terkenal kejam itu? Tentu
saja semua orang mengenalnya. Memang hanya
Panglima Yap Kim yang dapat menandingi dia!"
Salah seorang dari tukang masak itu kelepasan bicara.
"Sssst! Berani benar kau omong seperti itu?"
Kawannya cepat menyodok pinggangnya.
"Tapi... tapi aku hanya mengikuti omongan dia!"
Tukang Masak itu menunjuk ke arah prajurit yang
sedang makan bubur.
"Sudahlah. Tidak apa-apa. Kita cuma berbicara
tentang kehebatan bekas panglima itu. Kita tidak
berbuat hal-hal yang menyalahi aturan. Bekas
panglima itu memang hebat dan sangat pandai ilmu
perang. Tidak salah, bukan?" Prajurit itu tersenyum
santai.
Tukang Masak itu menjadi lega. Sambil
mengambilkan semangkuk bubur lagi, dia duduk di
sebelah prajurit itu.
"Eh! Omong-omong tentang bekas panglima itu,
emm... bagaimana khabarnya sekarang? Apakah dia
baik-baik saja?"
Sambil menyambar bubur yang disodorkan
kepadanya, prajurit itu mendengus. "Tentu saja
keadaannya tetap baik. Sebagai bekas panglima, ia
tetap diperlakukan secara khusus. Ruangannya selalu
bersih. Makanannya pun selalu teratur."
"Ah! Baik sekali kalau begitu. Bagaimanapun juga
dia pernah ikut berjasa mendirikan negeri ini. Ehm,
lalu... apakah ruangnya masih tetap di atas Ruang
1076
Penyiksaan itu? Tidak dipindah-pindahkan lagi?"
Tukang Masak yang gemuk itu bertanya lagi dengan
suaranya yang nyaring.
"Dulu memang harus selalu dipindah pindah untuk
mengelabuhi kawan dan para pendukungnya. Tapi
sekarang? Sudah bertahun-tahun tidak ada orang yang
datang kemari. Mereka telah bosan. Kekuatan mereka
telah habis. Sekarang kita tak perlu khawatir lagi."
A Liong beringsut. Tiba-tiba muncul sebuah
rencana di dalam benaknya. Prajurit itu dapat
dipergunakan sebagai penunjuk jalan menuju ruang
penjara.
Selesai menghabiskan dua mangkuk bubur, prajurit
itu menguap. Sambil mengelus-elus perutnya, ia
melangkah ke luar menuju baraknya. Di luar pintu ia
berpapasan dengan petugas pengambil air, seorang
lelaki tua berambut putih. Orang tua itu memikul dua
gentong besar tanpa kesulitan.
"Persediaan air di sini masih cukup banyak, Lo Liu.
Kau tidak perlu menambahnya lagi." Prajurit itu
menegur sambil menghadang di depan Tukang Air.
Tukang Air itu berhenti. Tanpa meletakkan
pikulannya dia memasang telinga, sementara matanya
justru terpejam.
"Ah, Prajurit Go rupanya. Maaf. Air di dapur ini
memang masih banyak. Tapi aku ingin menambahnya
lagi barang sepikul...."
1077
"Hohoho, ternyata ingatan dan pendengaranmu
hebat sekali. Hanya dengan mendengar suaraku, kau
langsung bisa menebak namaku."
"Prajurit Go, orang buta seperti aku harus dapat
menggunakan panca indera yang lain sebaik-baiknya."
"Baiklah, silakan...."
A Liong tertegun. Tukang air itu ternyata buta.
Namun demikian langkahnya amat mantap dan tegas.
Sama sekali tidak canggung atau ragu. Gerakannya
seperti orang waras saja.
Ketika lewat di bawah penglari di mana A Liong
bertengger, tukang air bernama Lo Liu itu berhenti
sebentar. Mulutnya terbatuk-batuk, kemudian berjalan
lagi.
A Liong berdebar-debar. Dia merasa orang itu tahu
akan kehadirannya.
"Wah, kalau orang itu benar-benar pekerja beteng
ini, aku harus berhati-hati. Firasatku mengatakan
kalau dia memiliki kepandaian sangat tinggi."
Ketika orang-orang itu mulai bekerja lagi, A Liong
lalu beringsut keluar. Dilihatnya prajurit Go itu masih
berjalan santai menuju baraknya. Sebuah barak
panjang di dekat kandang kuda. Dan di depan barak
itu berkumpul belasan prajurit lainnya.
A Liong melihat seorang Tukang Kuda melintas di
dekat gudang penyimpan jerami. Dan kesempatan itu
tidak disia-siakannya. Wus! Sekejap saja ia telah
berada di belakang orang itu. Tukk! Tukk! Tukang
Kuda itu roboh pingsan terkena totokannya.
1078
Sebelum ada yang tahu, orang itu telah diseret A
Liong ke dalam gudang jerami. Bergegas celana dan
bajunya dia ambil dan dipakai. A Liong tidak peduli
meskipun agak kekecilan.
Setelah menyembunyikan tubuh Tukang Kuda itu
di balik tumpukan jerami, A Liong keluar sambil
menggendong seikat jerami.
"Prajurit Go...!" A Liong memanggil prajurit yang
sedang melangkah ke barak itu.
Prajurit itu menoleh. "Ada apa...? Hmm, kau
Tukang Kuda baru, ya?" Kata prajurit itu kemudian
sambil melangkah kembali mendekati A Liong.
A Liong melirik ke sekelilingnya. Perasaannya
menjadi lega ketika para prajurit di depan barak itu
tidak melihat ke arahnya.
"Prajurit Go, di dalam gudang jerami ada... kantung
emas. Lihatlah!" Setelah berhadapan A Liong
berbisik.
Mendengar perkataan "emas", prajurit itu segera
kehilangan kewaspadaannya. Dengan wajah kaget
prajurit itu segera: masuk ke dalam gudang.
"Mana....?"
Tapi belum juga habis perkataannya, jari A Liong
telah menotok pangkal lehernya. Bruuug! Prajurit itu
terpuruk di atas jerami.
"Bagus. Sekarang tinggal memikirkan, bagaimana
caranya membawa dia ke gudang bawah tanah." A
Liong berpikir.
1079
Belasan orang petugas telah mulai membawa nasi
dan bubur dari dapur ke beberapa tempat. Dalam
kesibukan seperti itu A Liong menyelinap keluar
dengan sebongkok besar jerami di atas kepalanya. Dia
sengaja mengambil jalan memutar, melewati semaksemak
perdu yang banyak terdapat di antara kandang
kuda dan dapur.
Seorang petugas dapur melihatnya, tetapi dia
menyangka A Liong sedang memindahkan jerami ke
bangunan belakang.
"Hei, apakah gudang jeramimu sudah penuh?"
Tanpa mengendorkan langkahnya A Liong
mengiyakan. Tapi demikian lolos dari penglihatan
semua orang, pemuda itu segera masuk ke dalam
lorong bawah tanah.
Dan tentu saja kedatangannya sangat mengagetkan
kawan-kawannya. Apalagi setelah dari gulungan
jerami yang dibawanya itu muncul tubuh Prajurit Go
tadi.
"Saudara A Liong, dari mana kau dapatkan orang
ini...?" Liu Wan bertanya dengan suara tegang.
"Benar, kemana saja kau ini...?" Souw Hong Lam
mendesak pula.
"Dia seorang prajurit penjaga benteng ini. Aku
membawanya kemari karena dia mengetahui tempat
Panglima Yap Kim disembunyikan. Dia dapat
menunjukkan tempat itu." Dengan tenang A Liong
menjelaskan.
1080
Begitu siuman, prajurit itu terkejut sekali. Dia
segera bangkit, namun segera jatuh kembali di atas
lantai. Tiau Hek Hoa menghantam tengkuknya dengan
gagang kipasnya.
"Kau tidak boleh pergi. Kau harus menunjukkan
tempat di mana Panglima Yap Kim dikurung." Gadis
itu mengancam.
"Kalian siapa? Kalian mau menyerang benteng
ini?" Dalam keadaan terdesak prajurit itu mencoba
menggertak.
"Jangan banyak bicara! Pilih saja salah satu!
Mengantar kami ke tempat Panglima Yap Kim nanti
malam, atau ...kubunuh saja kau sekarang!" Tiau Hek
Hoa yang kejam itu menghardik.
"Nona Tiau, jangan terlalu keras...!" Liu Wan
berdesah pendek.
Prajurit itu melirik Liu Wan, lalu ia menggeram.
"Bagaimana kalau aku tidak bersedia?"
Tiba-tiba tangan kiri Tiau Hek Hoa mencengkeram
rambut prajurit itu, sementara tangan kanannya
mengeluarkan sebutir pel merah dari kantungnya.
Sebelum yang lain dapat mencegah, pel itu telah
dijejalkan ke mulut Prajurit Go.
"Nah! Dengarlah...! Tanpa obat pemunah dari aku,
jangan harap kau bisa hidup! Lihatlah....!"
Sekali lagi gadis itu bergerak. Kali ini dia
menyambar cecak yang sedang merayap di atas
dinding. Binatang itu lalu diletakkan di depan Prajurit
Go. Cecak itu lalu dijejali dengan pel yang sama.
1081
Hanya kali ini tidak diberikan seluruhnya, tapi hanya
sepotong kecil saja.
"Nih, lihatlah...!" Gadis itu lalu meletakkan
binatang tersebut di atas lantai.
Baik A Liong maupun Liu Wan hanya saling
pandang sambil mengerutkan dahi mereka. Seperti
halnya Souw Hong Lam, mereka juga belum
memahami maksud Tiau Hek Hoa.
"Nona Tiau, kasihan cecak ini. Kembalikan dia
ke...."
Belum habis kata-katanya, mata Liu Wan
terbelalak. Tubuh cecak yang menggeliat-geliat di atas
lantai itu tiba-tiba mencair. Mula-mula dari
kepalanya, kemudian merata ke seluruh badannya.
Sebentar saja binatang itu telah berubah menjadi
cairan kuning kehijauan!
"Oooh...!" Prajurit Go memekik ketakutan.
Tapi bukan hanya prajurit itu yang merasa ngeri
melihat keganasan pel Tiau Hek Hoa. Ternyata A
Liong, Liu Wan, dan Souw Hong Lam pun diam-diam
merasa ngeri juga.
"Gadis ini sungguh berbahaya...." Masing-masing
berkata di dalam hati.
Sekarang Prajurit Go benar-benar ketakutan
setengah mati. Dia tak ingin dagingnya mencair
seperti cecak itu.
"Li-hiap, to-tolonglah...! Jangan bunuh aku! Akan
aku tunjukkan tempat itu! Percayalah! Tapi... t-tapi...
berilah aku obat pemunahnya dulu! Tolonglah!"
1082
Tiau Hek Hoa mencibirkan bibirnya. "Huh, aku
tidak sebodoh yang kau kira. Obat pemunah itu baru
akan kuberikan kepadamu setelah kau menunjukkan
tempat Panglima Yap Kim. Untuk sementara kamu
tak usah takut pada Pel Pemusnah Dagingku. Aku
hanya memberimu sebutir pel saja. Berarti tubuhmu
masih dapat bertahan sampai besok pagi. Percayalah!"
"Jadi... jadi....??"
"Sudahlah. Kita tunggu saja sampai matahari
terbenam. Setelah kautunjukkan ruang Panglima Yap
Kim, pel pemunahnya akan kuberikan padamu."
Gadis itu sekali lagi mencibirkan bibirnya.
Liu Wan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Meskipun gertakan itu sangat jitu, namun rasanya
terlalu keji dan semena-mena.
"Tapi... Li-hiap, bagaimana kalau racun pel itu
terlanjur merusak isi perutku? Li-hiap, kumohon...
berikan obat pemunahnya sekarang! Aku bersumpah
tidak akan ingkar janji! Kasihanilah aku...." Prajurit
itu merintih dan mengiba-iba di depan Tiau Hek Hoa.
"Diam kau! Sekali kukatakan nanti... ya nanti!
Keputusanku tidak dapat diubah-ubah lagi!" Tiau Hek
Hoa membentak.
A Liong merasa kasihan. Bagaimanapun juga
dialah yang membawa prajurit itu ke sini.
"Ah! Mengapa kita harus takut padanya? Berikan
saja pel pemunahmu itu! Aku tanggung dia takkan
berani melarikan diri!"
1083
Mata Tiau Hek Hoa mendelik. Suaranya terdengar
kaku dan ketus ketika menjawab perkataan A Liong.
"Huh! Tampaknya kau memang tidak tahan lagi!
Kau ingin bertarung dengan aku sekarang juga! Baik!
Akan kulayani sampai salah seorang diantara kita
mampus di tempat ini!"
A Liong berdiri tegak. Tampaknya pemuda itu juga
tidak mau mengalah lagi. Wajahnya tampak keruh dan
kesal. Sorot matanya juga kelihatan seram dan
menakutkan. Dari kedua belah tangannya yang
terkepal terdengar suara berkerotokan.
"Kau memang perempuan tak tahu diri. Orang
sudah mau mengalah, kau tetap saja menindas dan
memojokkan! Hmh, kaukira orang lain juga tidak
dapat berbuat gila sepertimu? Baik! Kalau kau
memang ingin bermain gila-gilaan, bermain menangmenangan,
kau akan mendapatkannya! Kau akan
mendapat lawan main yang cocok! Aku dapat berbuat
lebih edan dan lebih menyeramkan dari pada kamu!"
Sebagai manusia yang sudah kenyang dengan
segala macam pengalaman buruk, maka A Liong
memang dapat berbuat apa saja. Dia pernah
diperlakukan orang seperti anjing, seperti benda mati,
seperti kotoran! Sebagai pengemis hidupnya memang
penuh penghinaan dan kesengsaraan!
Ternyata sikap pemuda itu cukup menggetarkan
hati Tiau Hek Hoa. Wajahnya yang galak sedikit
meredup. Namun sebelum mereka benar-benar
bertarung, Liu Wan sudah lebih dulu melerainya.
1084
"Hentikan! Kalian mau berhenti atau tidak?"
Pemuda yang sedang menyamar sebagai tabib tua itu
berteriak tertahan.
Dua orang yang siap berlaga itu menggeram.
Keduanya tampak marah dan penasaran.
"Baiklah, Ciok Sinshe. Maafkanlah aku." Akhirnya
A Liong mengendorkan tangannya.
"Terima kasih, Saudara A Liong. Dan ...kau, Lihiap!
Kuharap kau pun dapat menahan diri. Kita
semua sedang melaksanakan tugas berat. Kita harus
menggalang kekuatan kita. Singkirkan dulu segala
macam pertengkaran dan perbedaan kita!
Bagaimana...? Emm, baiklah... sekarang kuminta Tiau
Li-hiap mau memberikan obat pemunah racunnya!
Berikan kepada orang ini supaya dia dapat
menunjukkan tempat itu dengan hati tenang!"
Mata yang menyala itu perlahan-lahan meredup.
"Baiklah, aku turuti katamu. Kau yang paling tua.
Dan... kau pula yang memimpin tugas ini. Tapi
setelah tugas ini selesai, jangan harap kau dapat
melarangku lagi. Kerbau dungu ini tetap akan
kubunuh!"
"Terserah...! Lohu memang tidak berhak untuk
mencampuri urusan kalian."
A Liong tidak mau berbicara lagi. Setelah gadis itu
memberikan pel pemunah racunnya, dia segera
kembali pula ke tempatnya. Souw Hong Lam yang
jarang berbicara itu datang mendekatinya.
1085
"Saudara A Liong, bersabarlah! Kami tahu bahwa
kau sudah banyak mengalah kepadanya. Tapi demi
keberhasilan tugas kita, kuharap kau lebih banyak
mengalah lagi. Rasanya kau lebih dapat berpikir
jernih daripada dia. Nah, sekarang beristirahatlah....!"
A Liong tersenyum. "Jangan khawatir, Saudara
Souw. Aku bukan macam orang suka berkelahi.
Bahkan sejak kecil aku sudah terbiasa hidup
bergotong-royong dengan orang lain. Aku bekas
gelandangan, yang tumbuh diantara kawanan
pengemis. Rasanya aku lebih banyak memiliki rasa
perdamaian daripada permusuhan."
"Gelandangan...? Kau bekas gelandangan? Ah, aku
tidak percaya. Tubuhmu besar dan kuat!"
Sekali lagi A Liong tersenyum. "Saudara Souw!
Aku berkata sebenarnya. Aku benar-benar tidak
mempunyai sanak-keluarga seperti engkau. Sejak
kecil aku selalu berkelana dari kota ke kota. Kawanku
banyak sekali. Kalau akhirnya badanku bisa tumbuh
seperti ini, aku sendiri juga tidak tahu. Mungkin
karena nafsu makanku besar sekali. Sekali makan aku
bisa menghabiskan sebakul nasi."
"Ah, kau bisa saja....!"
Ternyata pada saat yang sama, Tiau Hek Hoa juga
sedang mendekati Prajurit Go. Dengan suara geram
bibir tipis itu berbisik di telinga prajurit itu. Perlahan
saja, tapi sangat mengejutkan pendengarnya!
"Awas! Jangan macam-macam kau! Obat yang
kuberikan itu obat palsu, bukan obat pemunah
1086
racunku! Obat pemunah yang asli baru akan
kuberikan setelah tugasmu selesai! Tahu....?"
Demikianlah, malam itu mereka mulai bergerak
setelah lonceng berdentang sembilan kali. Prajurit Go
yang tidak mau mati konyol membawa mereka
menyelinap melalui tempat-tempat yang aman.
Mereka melewati lorong-lorong rahasia, yang tidak
mungkin mereka ketahui tanpa bantuan Prajurit Go.
Setelah naik-turun tangga dan berputar-putar
melewati puluhan lorong rahasia, mereka muncul di
tempat terbuka. Prajurit Go berhenti. Kulit mukanya
tampak pucat.
"Nah! Mulai dari tempat ini kita tidak dapat melalui
jalan rahasia lagi. Kita harus menyeberang halaman
ini dan masuk ke pintu gerbang di tengah-tengah
bangunan itu. Tapi hal itu tidak mungkin kita lakukan
tanpa diketahui penjaga. Di sekeliling halaman ini
banyak pos-pos penjagaan yang dihuni oleh pasukan
prajurit pilinan. Lihatlah lampu-lampu minyak itu...!
Itulah pos-pos penjagaan!"
Liu Wan termangu-mangu. Prajurit itu tentu tidak
berbohong. Memang sulit melintas di halaman luas itu
tanpa terlihat oleh penjaga. Apalagi bulan bersinar
dengan cerahnya.
"Bagaimana pendapatmu, Saudara Souw? Kau
jarang sekali berbicara. Mungkin kau dapat
menemukan jalan yang terbaik?"
Pemuda ganteng itu tidak segera menjawab.
Matanya menatap ke ujung halaman tanpa berkedip.
1087
Tiba-tiba ia melihat kesibukan di setiap pos penjagaan
itu.
"Ciok Sinshe, lihat...! Prajurit-prajurit itu keluar
dari pos masing-masing! Mereka menyusun barisan
dengan tergesa-gesa! Tampaknya telah terjadi sesuatu
dalam benteng ini....!"
Tangan Tiau Hek Hoa dengan cepat menyambar
lengan Prajurit Go.
"Cepat katakan! Apakah mereka tahu kedatangan
kita?" Gadis itu menggeram marah.
"Aku... aku tidak tahu! Benar! Aku tidak tahu!
Bukankah seharian penuh aku bersama kalian? Mana
sempat aku berbuat yang bukan-bukan?" Prajurit itu
mendesis kesakitan.
"Kalau begitu... mengapa mereka bersiap-siaga
seperti itu?" A Liong cepat-cepat menengahi.
"Sungguh! Aku tidak tahu! Oh, ya... mungkin...
mungkin pasukan Mo Tan itu benar-benar sudah
datang! Jadi... jadi mereka bersiap untuk
mempertahankan benteng ini. Pertempuran besar akan
segera berlangsung....!"
"Pasukan Mo Tan? Oh? Begitu cepatnya mereka
datang?"
Sekejap kemudian suasana di dalam benteng itu
menjadi sibuk luar biasa. Ratusan prajurit yang
sedang berada di dalam benteng itu segera menyebar
ke segala penjuru. Mereka menempati pos masingmasing.
Segala macam perlengkapan tempur mereka
siapkan.
1088
Mereka mengeluarkan gerobag-gerobag senjata,
kereta berisi batu-batu peluncur, dan segala macam
peralatan perang lainnya. Semua itu mereka lakukan
tanpa banyak menimbulkan suara. Mereka bekerja
seperti kawanan hantu.
"Bagus! Keributan ini justru membantu kita! Ayoh,
sekarang kita menyeberang ke pintu gerbang itu!" Liu
Wan berbisik sambil mencengkeram lengan Prajurit
Go.
"Nanti dulu! Bagaimana kalau ada yang melihat
kita...?" Souw Hong Lam mencegah niat itu.
Semuanya tertegun. Ucapan itu memang
mengandung kebenaran. Walaupun suasana sedang
ribut, tapi hanya mereka sendiri yang tidak
mengenakan seragam.
"Hei, dimana Kerbau Dungu itu?" Tiba-tiba Tiau
Hek Hoa berseru lirih ketika matanya tidak melihat A
Liong.
Liu Wan dan Souw Hong Lam terkejut. Tapi
mereka segera menghela napas lega. Pemuda tinggi
besar itu melangkah dari tempat gelap. Kedua
tangannya memeluk tumpukan seragam prajurit.
"Maaf, aku baru saja mencari seragam prajurit!
Nih! Silakan pakai! Pilihlah yang cocok! Kita
pergunakan untuk menyamar seperti mereka!"
Liu Wan saling pandang dengan Souw Hong Lam.
Mereka benar-benar kagum atas kecekatan pemuda
itu. Hanya Tiau Hek Hoa yang semakin masam
mukanya. Hampir saja ia tak mau memakainya.
1089
Dalam situasi kalut seperti itu, maka seragam
mereka benar-benar membantu. Apalagi disamping
mereka ada Prajurit Go yang mengenal baik isyarat
atau kode-kode di dalam benteng itu.
Namun demikian ketika hendak masuk ke dalam
pintu gerbang, Prajurit Go sempat gemetar juga. Pintu
gerbang itu dijaga ketat oleh pasukan khusus, yang
terdiri dari tiga puluh enam orang. Pasukan itu dibagi
menjadi empat kelompok, yang bergantian
menjaganya. j
Tapi A Liong tidak takut. Pemuda itu tetap
melangkah dengan tenang, seperti layaknya seorang
prajurit jaga. Di tengah pintu dia berhenti. Kepalanya
menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia tak melihat seorang
penjaga pun di tempat itu.
A Liong justru menjadi curiga. Jangan-jangan para
penjaga itu telah mengetahui kedatangan mereka dan
memasang jebakan.
"Tidak ada penjaga di sini. Hei, Prajurit Go...
benarkah pintu ini tidak ada penjaganya?" Katanya
perlahan.
"Hemm! Ada yang tidak beres di sini! Biasanya
tempat ini dijaga ketat, karena gerbang ini merupakan
pintu penghubung menuju ke benteng dalam. Di
sanalah tempat Panglima Yap Kim dipenjara!"
Prajurit Go menerangkan.
"Ssssst!" Tiba-tiba Souw Hong Lam
memperingatkan.
1090
Sesosok bayangan tampak berkelebat dalam gelap.
Bayangan itu melesat ke atas genting dan hilang di
balik bubungan.
"Benar! Memang ada orang yang mendahului kita!"
Liu Wan berdesis pendek.
"Inilah mereka! Penjaga-penjaga itu dibuang ke
sini!" Tiba-tiba Tiau Hek Hoa berseru pula.
Kepalanya melongok ke balik gardu jaga.
Liu Wan menghela napas panjang. Hatinya
berdebar. Siapa orang itu? Kawan atau lawan?
"Sudahlah! Kita masuk saja! Kita hadapi bersama
semua rintangan! Nah, Prajurit Go...! Di mana... ruang
Panglima Yap Kim?" A Liong bertanya kepada
Prajurit Go.
"Di dalam bangunan itu! Di ruang belakang! Tapi...
hati-hatilah! Tempat ini penuh dengan jebakan! Setiap
lorong pasti ada jebakannya! Aku... hei!!"
Belum juga habis dia berkata, sekonyong-konyong
terdengar suara ledakan keras di bagian belakang
bangunan itu. Bahkan berbareng dengan itu, di luar
benteng juga terdengar suara terompet dan genderang
memecah kesunyian malam!
"Ada musuh menyerang benteng ini ...!" Prajurit
Go berkata dengan suara gemetar.
"Tapi... ledakan di dalam bangunan itu?" A Liong
berkata pula dengan suara ragu.
"Jebakan...! Orang yang masuk tadi telah
melanggar salah satu dari jebakan itu!" Prajurit Go
menjelaskan.
1091
Sekejap kemudian halaman kecil itu menjadi ramai
sekali! Penjaga berlarian keluar. Mereka berlari ke
tempat di mana telah terjadi ledakan tadi. Beberapa
orang membawa obor sambil berteriak-teriak.
"Musuh menyerang benteng!"
"Awas! Ada penyelundup yang masuk ke dalam
bangunan ini! Kita cari dia....!"
"Musuh datang menggempur benteng....!"
"Tutup semua pintu! Cepat....!"
Liu Wan menarik tangan Prajurit Go ke jurusan
lain. Tiau Hek Hoa, Souw Hong Lam dan A Liong
mengikuti di belakangnya. Mereka langsung masuk ke
dalam gedung dan menyelinap ke pintu belakang.
Setiap kali bertemu penjaga mereka menghindar. Tapi
dalam keadaan terpojok, Tiau Hek Hoa tidak segansegan
menggunakan senjatanya!
"Li-hiap, hindari pembunuhan!" Liu Wan
memperingatkan.
Mereka tiba di ruang tengah. Belasan prajurit
tampak berjaga di sana. Mereka seperti tidak
terpengaruh oleh keadaan di sekeliling mereka.
Demikian berhadapan dengan Liu Wan dan Prajurit
Go, salah seorang diantara mereka segera menggertak
sambil mengacungkan tombaknya.
"Berhenti! Prajurit dari kesatuan mana kalian ini,
heh? Mengapa datang ke mari? Jawab!"
Liu Wan menekan tangan Prajurit Go agar
menjawab pertanyaan itu. Tapi terlambat. Samaran
mereka segera terbaca oleh penjaga-penjaga itu!
1092
Rambut Tiau Hek Hoa yang panjang itu terjulur
keluar dari seragamnya!
"Awaaaas, penyelundup! Ringkus mereka!"
Belasan penjaga itu segera menghambur datang.
Mereka menyerang tanpa memberi kesempatan lagi.
Tombak dan panah segera beterbangan ke arah Liu
Wan dan kawan-kawannya.
Dalam keadaan gawat seperti itu semuanya tidak
dapat mengekang diri lagi. Masing-masing segera
mengeluarkan kesaktiannya. Apalagi mendengar
keributan itu, penjaga yang berada di bagian lain
segera datang mengalir ke tempat itu.
"Perajurit Go! Di mana kamar itu? Lekas katakan!"
Sambil menangkis panah-panah itu Liu Wan
berteriak.
"T-t-t-tapi... bagaimana dengan obat pemunah itu?"
Prajurit itu berseru ketakutan.
"Apa... maksudmu? Obat apa?" Liu Wan bertanya
heran.
"Nona itu... belum memberikan obatnya! Sebentar
lagi dagingku akan mencair...!" Prajurit itu menjerit
dengan air mata bercucuran.
Mata Liu Wan bagaikan menyala saking marahnya.
Dengan suara kasar ia berteriak kepada Tiau Hek Hoa.
"Mengapa tidak kauberikan juga obat itu? Di pihak
mana sebenarnya kau ini...? Tugas ini tinggal
selangkah saja lagi! Lihat! Apakah kau benar-benar
ingin menggagalkannya?"
1093
Belasan orang penjaga kembali menyerang dengan
tombaknya. Semuanya menyerang Liu Wan dan
Prajurit Go. Karena sedang marah Liu Wan tidak
dapat mengendalikan diri lagi. Pemuda itu dengan
cepat menggeser ke depan. Kedua tangannya terayun
tanpa disadari.
Thuuaaaas....! Terdengar suara letupan kecil seperti
tepukan tangan! Tapi akibatnya sungguh hebat!
Separuh dari prajurit itu terpental jatuh tanpa dapat
bangun kembali!
Sekejap Mo Goat yang menyamar sebagai Tiau
Hek Hoa itu terkejut. Rasanya dia pernah melihat
pukulan itu!
"Kau... kau, eh... baik! Baik! Inilah obatnya!"
Dalam keadaan gugup gadis itu menyerahkan
obatnya.
Sementara itu beberapa langkah di dekat mereka,
Souw Hong Lam dan A Liong juga dipaksa untuk
bertempur pula. Kehebatan pukulan Liu Wan sama
sekali tidak mempengaruhi daya tempur prajuritprajurit
pilihan itu. Tanpa ragu-ragu mereka
menerjang Souw Hong Lam dan A Liong, sehingga
keduanya terpaksa harus bekerja keras untuk menahan
mereka.
Souw Hong Lam mengerahkan gin-kangnya dan
berloncatan di antara kepala lawan-lawannya.
Badannya yang jangkung itu melayang-layang seperti
burung rajawali di antara kawanan serigala.
Sementara tangannya menyambar ke sana ke mari,
1094
bagaikan tangan malaikat mencabut nyawa! Setiap
kali tangan itu menyambar, seorang prajurit pasti
terpelanting tak berdaya.
-- o0d-w0o --
JILID XXVI
API setiap kali ada prajurit terjatuh,
prajurit yang lain segera datang
menggantikan. Mereka mengalir seperti
semut yang tidak ada habisnya. Melihat
kesibukan kawannya, A Liong tidak dapat
tinggal diam. Dia turun tangan membantu.
Tapi karena pada dasarnya memang tidak ingin
melukai orang, maka pemuda itu hanya berusaha
untuk melumpuhkan perlawanan lawannya.
Namun demikian apa yang dilakukan A Liong
cukup membuat lawan-lawannya terkejut. Tanpa
membawa senjata pemuda itu menyongsong serbuan
mereka. Dan hanya dengan mengandalkan lengan dan
kakinya, pemuda itu menangkis hujan senjata yang
datang menghantam dirinya. Tapi apa yang terjadi
selanjutnya, sungguh membuat lawan-lawannya
ternganga. Ternyata bukan tangan atau kaki pemuda
itu yang patah atau terpotong, sebaliknya justru
pedang dan golok mereka sendiri yang patah atau
rusak! Pemuda itu seolah-olah telah berubah menjadi
T
1095
patung besi, yang mampu menahan sabetan golok dan
pedang!
Bahkan sambil melayani para perajurit itu, A Liong
masih sempat berteriak ke arah Liu Wan.
"Ciok Sin-she! Kita jalan ke mana...?"
"Pintu sebelah kanan!" Prajurit Go yang sudah
mendapatkan obat pemunah itu menjawab dengan
keras.
"Baik! Kalau begitu biar aku yang membuka jalan!
Kalian semua mengikut di belakangku!" A Liong
kembali berteriak.
Lalu tanpa menanti jawaban lagi pemuda itu benarbenar
membuka jalan. Dengan kekebalan tubuhnya
dia terus menerjang ke pintu sebelah kanan. Siapapun
yang berusaha menghalang di depannya, segera
terlempar bersama senjata mereka.
Liu Wan cepat menyeret Prajurit Go di belakang A
Liong. Souw Hong Lam dan Tiau Hek Hoa juga
mengikuti di belakang mereka. Mereka berlari menuju
pintu yang ditunjuk oleh Prajurit Go.
Mereka masuk ke dalam ruangan yang lebih luas.
Namun kedatangan mereka di sana sudah dinantikan
oleh kelompok penjaga lain. Begitu datang mereka
segera dikepung pula. Bahkan penjaga di tempat itu
kelihatan lebih ganas dan lebih terlatih daripada tadi.
"Tangkap mereka...!" Seorang perwira tinggi
dengan seragam gemerlapan, tampak berdiri di tengah
ruangan. Suaranya bergetar penuh kekuatan.
1096
A Liong tetap menerjang ke depan. Barisan penjaga
itu segera tersibak dan berjatuhan begitu berhadapan
dengan A Liong. Mulai dari lapisan terdepan sampai
ke lapisan yang ke empat langsung terpental ke kanan
dan ke kiri. Tetapi karena A Liong tidak berusaha
melukai mereka, maka mereka pun segera berdiri
kembali dan menyerang dari kanan dan kiri.
Sambil menghalau prajurit-prajurit itu A Liong
melihat ke sekitarnya. Ia melihat belasan buah pintu
keluar di dalam ruangan itu.
"Ciok sin-she, lihatlah! Banyak sekali pintu di sini!
Pintu mana yang harus kita lalui?" Pemuda itu berseru
sambil menoleh ke arah teman-temannya yang selalu
mengikut di belakangnya.
Liu Wan menggenggam lengan Prajurit Go.
"Katakan...!" Di mana ruangan itu?"
"Pintu hijau! Pintu itu menuju ke lorong bawah,
tempat Panglima Yap Kim dikurung!"
"Baik! Kita menuju ke sana!" A Liong kembali
berteriak seraya menerjang ke depan.
Bagaikan kawanan serigala yang tidak takut mati
barisan penjaga itu tetap menyerang dan menghalangi
langkah A Liong. Walaupun mereka harus berjatuhan
setiap kali bentrok dengan lengan pemuda itu, tapi
mereka tetap saja merangsek ke depan. Mereka sama
sekali tidak takut menyaksikan kehebatan A Liong.
Mereka benar-benar memiliki disiplin prajurit yang
tinggi.
1097
Melihat kehebatan A Liong, akhirnya perwira
tinggi itu terjun pula ke dalam arena. Dengan golok di
tangan perwira itu menyerang A Liong. Demikian
kuat ayunan goloknya sehingga terdengar suara
desing yang mengerikan.
A Liong tidak berani menangkis golok itu. Ia
menghindar ke samping sambil menghantam
pinggang lawannya. Tapi dengan tangkas perwira itu
menggeliat ke samping pula. Goloknya yang gagal
mengenai A Liong, berputar ke belakang dan kembali
menebas ke depan.
A Liong cepat membungkukkan badannya,
sehingga golok itu nyelonong ke belakang, ke arah
Tiau Hek Floa!
Traaaang! Bunga api berhamburan ketika golok itu
bertemu dengan kipas baja Tiau Hek Hoa.
"Aduh...!" Perwira itu menjerit sambil melepaskan
goloknya. Kekuatan gadis bermuka hitam itu
membuat kulit tangannya seperti terkelupas.
Namun ketika gadis itu kembali mengayunkan
kipasnya ke depan, A Liong cepat-cepat menepisnya
ke samping! Dalam keadaan terluka perwira itu tak
mungkin dapat mengelakkan serangan tersebut. Dan
A Liong tidak tega melihat perwira itu mati.
"Gila! Kenapa kau... halangi aku? Bukankah dia
ingin membunuh kita?" Tiau Hek Hoa menjerit
penasaran.
Namun gadis itu tidak dapat melanjutkan
kemarahannya. Belasan prajurit lainnya segera datang
1098
menolong perwira itu. Mereka menyerbu seperti lebah
yang keluar dari sarangnya.
Hal itu membuat Tiau Hek Hoa marah bukan main.
Sambil menjerit kesal ia menyebar paku beracunnya!
Maka tiada ampun lagi kawanan prajurit itu
berjatuhan ke lantai!
Liu Wan tertegun. Kipas baja dan paku-paku
beracun itu mengingatkan dia pada gadis cantik yang
ditemuinya lima tahun lalu.
"Dia...?"
Tapi belum sempat menyebut nama gadis itu, dari
Pintu Hijau tiba-tiba keluar belasan prajurit yang
ketakutan! Mereka berlari seperti dikejar setan!
"Ada apa pula ini...?" Perwira yang selamat dari
tangan Tiau Hek Hoa tadi berseru mengatasi keributan
tersebut.
"Panglima Yap Kim lolos dari penjara! Dua orang
penyelundup telah membebaskan dia!" Seorang
perwira yang ikut berlari di antara prajurit-prajurit itu
berkata gugup. Seragamnya telah basah dengan darah.
"Panglima Yap Kim lolos? Kemana dia sekarang?"
"Aku ada di sini!"
Tiba-tiba prajurit yang ada di dekat pintu hijau itu
menyibak. Seorang kakek berperawakan sedang,
berusia sekitar enam puluh lima tahun, dengan rambut
berwarna kelabu, keluar dengan langkah gagah.
Sambil mengelus kumis dan jenggotnya yang tertata
rapi orang tua itu menatap dengan penuh wibawa. Dan
1099
tak seorang pun dari para prajurit di ruangan itu yang
berani menentang matanya.
"P-p-p-panglima...?" Perwira yang garang tadi
ternyata menjadi gentar juga berhadapan dengan
bekas panglima itu.
Sementara itu di pihak lain, wajah Tiau Hek Hoa
kelihatan berubah ketika melihat Panglima Yap Kim.
Matanya berkilat penuh nafsu membunuh. Namun
ketika gadis itu melangkahkan kakinya ke depan, Liu
Wan segera mengejarnya. Pemuda itu merasa curiga.
"Li-hiap, kau mau ke mana? Kita tidak boleh
bertindak sendiri-sendiri. Panglima Yap Kim telah
bebas. Seseorang telah mengeluarkannya dari penjara.
Sekarang tugas kita untuk melindungi dan
membawanya keluar dari tempat ini."
Tiau Hek Hoa tertegun. Sesaat timbul keraguan di
hatinya. Tapi keraguan itu segera lenyap. Perintah
ayahnya lebih penting dari segalanya. Dan sekarang
adalah waktu yang paling tepat untuk melaksanakan
perintah itu. Mantan panglima yang sangat
berpengaruh itu harus dibunuhnya sekarang. Apabila
orang tua itu sampai lolos dan terlanjur dikelilingi
para pengikutnya, maka akan sulit sekali untuk
mendekatinya.
Mulut Tiau Hek Hoa menggeram.
Tiba-tiba ia membalikkan badannya. Tangannya
terangkat dan mendorong dengan kekuatan penuh,
menyongsong kedatangan Liu Wan.
1100
"Aku memang hendak melindungi Panglima Yap
Kim. Minggirlah!" Gadis itu menggeram.
Angin dingin tiba-tiba menyerang Liu Wan.
Pemuda itu gelagapan. Sesaat timbul rasa tak percaya
bahwa gadis itu menyerang dirinya. Tapi kenyataan
memang demikian. Gadis itu benar-benar hendak
membunuhnya.
Dalam keadaan terpojok, tiada jalan lain selain
membela diri. Otomatis kedua tangan Liu Wan
menyongsong ke depan pula. Hong-lui-kang tersalur
sepenuhnya. Whhuuuuus...!
Tetapi sekali lagi Liu Wan menjadi gelagapan.
Tangannya yang terulur penuh tenaga itu sama sekali
tidak membentur tangan Tiau Hek Hoa. Pukulannya
menggapai tempat kosong.
Ternyata dalam waktu singkat, Tiau Hek Hoa sudah
mengubah serangannya. Gadis itu bergeser ke
samping. Bahkan sambil bergeser ia mengerahkan
ilmu pamungkasnya. Tubuhnya yang ramping kecil
itu mendadak berubah menjadi delapan orang. Bentuk
dan wajahnya sama. Bahkan pakaiannya pun juga
sama pula. Semuanya bergerak menuju ke arah
Panglima Yap Kim.
Tentu saja kejadian itu mengejutkan semua orang.
Tidak terkecuali Panglima Yap Kim sendiri. Malah Aliong
juga kaget pula melihatnya.
"Awas! Tahan Dia!" Liu Wan menjerit kuat-kuat.
Souw Hong Lam yang kebetulan berada paling
dekat dengan gadis itu segera menusukkan jarinya ke
1101
depan! Srrrt! Seleret sinar kemerahan menyerang
salah seorang dari delapan Tiau Hek Hoa itu. Persis
pada punggungnya.
Cuuus! Sinar itu dengan tepat mengenai
sasarannya.
"Haaah...?!?" ;
Souw Hong Lam ternganga kaget. Punggung itu
jelas kena, malah sampai bolong! Tapi gadis itu
seolah-olah tak merasakannya. ' Bahkan luka bolong
itu sama sekali tidak mengucurkan darah!
"Ilmu sihir...?" A-liong berdesah.
"Tangkap dia! Dia orang Hun, anak buah Mo Tan!"
Liu Wan sekonyong-konyong berteriak begitu ingat
siapa gadis itu.
Tapi Mo Goat atau Tiau Hek Hoa sudah tidak
memikirkan jiwanya lagi. Sejak kecil dia sudah
dididik dengan keras oleh ayahnya. Seorang warga
Hun selalu siap mengobankan nyawa untuk negerinya.
Apalagi dia adalah puteri Raja Hun yang sangat
dijunjung tinggi oleh rakyatnya.
Sesaat kemudian kedelapan orang itu kembali
bergerak. Mereka berpencar, lalu menerobos
kepungan prajurit yang mengelilingi Panglima Yap
Kim. Masing-masing bergerak seolah-olah mereka
memang hidup sendiri-sendiri.
Namun teriakan Liu Wan tadi sudah cukup untuk
membuka kedok Mo Goat. Sehingga A Liong dan
Souw Hong Lam seperti mendapatkan komando untuk
meghentikan gadis itu. Hampir berbareng keduanya
1102
melompat tinggi ke udara, melewati kepala prajurit
yang mengepungnya! Mereka berusaha secepatnya
mendahului lawan agar dapat lebih dulu tiba di dekat
Panglima Yap Kim. Mereka harus melindungi bekas
panglima itu.
A Liong benar-benar mengeluarkan segala
kemampuannya, sehingga tubuh kekar itu benar-benar
melesat seperti anak panah yang terlepas dari
busurnya. Dan sekejap saja pemuda itu telah berada di
dekat Panglima Yap Kim. Jauh mendahului Souw
Hong Lam, Liu Wan, maupun kedelapan bentuk Mo
Goat itu sendiri!
Tetapi kedatangannya segera disambut dengan
tusukan pedang. Sedangkan lelaki gemuk berpakaian
pelayan dapur menyerangnya.
Traaaang! A Liong menepis pedang itu dengan
ujung sepatunya.
"Ughhh!" Pelayan dapur itu mengeluh pendek.
Tubuhnya yang gemuk terhuyung, sementara pedang
pendeknya hampir terlepas dari genggamar
"Hah...?" A Liong sendiri juga tersentak kaget pula.
Ternyata lelaki gemuk itu adalah pelayan dapur yang
dilihatnya pagi tadi.
Sesaat mereka saling pandang dengan rasa kagum.
Dan keduanya baru sadar ketika rombongan manusia
Mo Goat itu datang menyerbu. Tanpa direncanakan
lebih dulu mereka berdiri berdampingan menghadapi
"delapan bayangan" I Mo Goat tersebut.
1103
Dan selanjutnya pertempuran sengit tidak bisa
dihindarkan lagi. Para prajurit di dalam ruangan itu
.segera bergabung pula dengan Mo Goat. Mereka
beramai-ramai menyerang rombongan Liu Wan yang
berusaha melindungi Panglima Yap Kim.
Melihat pelayan dapur itu juga melindungi
Panglima Yap Kim, maka A Liong segera tahu di
mana lawannya berpijak.
"Apakah... Saudara yang membebaskan Panglima
Yap Kim? Ah, maaf! Kami semua telah salah sangka.
Kukira Saudara penghuni benteng ini...." A Liong
menjelaskan.
Pelayan dapur itu tidak menanggapi omongan A
Liong. Matanya justru mengawasi Liu Wan yang
bertempur di dekat mereka.
"Bukankah dia itu... Tabib Ciok?" Katanya seperti
tak percaya.
"Siapa? Oh, kawanku itu? Benar! Dia memang
Ciok-sinshe."
"Ough? Jadi benar dia itu Tabib Ciok?" Pelayan
dapur itu kelihatan gembira sekali!
Tapi kegembiraannya segera terputus oleh desakan
para prajurit yang mengepungnya. Mereka menyerang
seperti air bah yang tumpah dari bendungan.
Gempuran mereka membuat A Liong dan pelayan
dapur tidak sempat lagi untuk saling berbicara.
Masing-masing harus melayani belasan prajurit, yang
menyerang tanpa rasa takut. Suasana benar-benar
ruwet dan campur aduk tidak karuan.
1104
Tentu saja Liu Wan menjadi cemas sekali.
Pertempuran brutal seperti itu sangat membahayakan
jiwa Panglima Yap Kim. Tanpa pelindung atau
pengawal, mantan Panglima itu dapat dibokong oleh
lawan-lawannya.
"A Liong! Lindungi Panglima Yap Kim! Cepat...!"
Liu Wan berteriak keras mengatasi kegaduhan itu.
Tanpa diperintah dua kali, A Liong segera
menerjang lawan yang menghalangi dirinya. Begitu
dahsyat tenaganya, sehingga prajurit yang
menghalang di depannya terlempar ke kanan dan ke
kiri.
"Panglima aku akan mengawalmu keluar...."
Pemuda itu berseru kepada Yap Kim.
Orang tua itu menoleh. Sikapnya masih sangat
tenang, walaupun empat sosok bayangan Mo Goat
dan belasan orang prajurit mengepungnya. Ia selalu
dapat menghindari serangan lawan. Bahkan sekalisekali
dari telapak tangannya meluncur pukulan jarak
jauh yang perbawanya sampai menggetarkan udara di
ruangan itu.
Bagaimanapun juga Yap Kim adalah ahli waris
keluarga Yap, keluarga pendekar yang sangat terkenal
di dunia persilatan. Selain ilmu silatnya sangat hebat,
dia juga pernah menjabat sebagai Panglima Perang di
jaman Kaisar Liu Pang. Bahkan kakaknya, Yap Kiong
Lee, adalah jago silat nomer satu di kota raja.
1105
"Anak muda, ilmu silatmu sangat tinggi. Engkau
murid siapakah?" Orang tua itu bertanya seolah tidak
terjadi apa-apa.
"Ah, Guruku sama sekali tak dikenal orang. Beliau
belum pernah menginjakkan kakinya di daratan
Tiongkok, karena beliau tinggal di sebuah pulau kecil
di Laut Utara. Beliau bernama Soat Bun Ong dan Bok
Kek Ong...."
Benar juga. Panglima itu mengerutkan keningnya.
Nama-ama yang disebutkan A Liong itu sama sekali
belum pernah didengarnya. Tapi sebelum dia bertanya
lagi, salah seorang dari bentuk Mo Goat itu kembali
menyerang dirinya. Yap Kim tidak tahu, orang itu Mo
Goat asli atau palsu. Yang jelas serangan itu
menebarkan hawa dingin!
Serangan gadis itu memang hebat. Selain kuat dan
cepat, ternyata waktunya sangat tepat. Kedua tangan
Yap Kim baru saja menepis pedang dan golok yang
menyerangnya dari kanan dan kiri, sehingga dadanya
otomatis terbuka.
Sesaat orang tua itu menjadi bimbang. Kalau dia
menghindar, maka korban akan berjatuhan. Kipas itu
tentu akan menyelonong dan mengenai prajuritprajurit
di dekatnya. Tapi kalau dia tidak menghindar,
berarti nyawanya yang akan melayang.
"Ah...!?" Orang tua itu berdesah bingung.
A Liong melihat kesulitan itu. Tiba-tiba kakinya
melangkah dan berputar beberapa kali. Dan dalam
sekejap saja ia telah berada di samping Panglima Yap
1106
Kim. Ketika tangannya terayun ke depan, maka
tangan itu telah menggengam sebilah pedang kecil
mirip belati. Dan dari ujung belati itu melesat cahaya
berwarna-warni. Semuanya tertuju ke arah kipas Mo
Goat!
Criiing! Cring! Criiiing! Kipas itu terdorong ke
belakang, seolah-olah membentur dinding baja!
"Panglima, marilah kita keluar dari ruangan ini!"
Pemuda itu berseru sambil mengayunkan kembali
pedang kecil yang dapat mengeluarkan cahaya pelangi
itu.
Seleret cahaya berwarna-warni kembali meliuk-liuk
seperti naga terbang. Benda apa pun yang membentur
cahaya itu tentu terpental bagaikan membentur
benteng yang amat kuat.
"Oh! Ilmu pedang apa itu?!" Dalam keadaan
terdesak orang tua itu masih saja tergagap keheranan.
Ternyata cahaya pelangi itu benar-benar ampuh. Ke
manapun cahaya itu bergerak, korban segera
berjatuhan. Tidak terkecuali bentuk-bentuk Mo Goat
berjumlah delapan buah itu. Walaupun setiap saat
selalu dapat berdiri dan hidup kembali, namun
bentuk-bentuk Mo Goat itu tidak dapat menahan
setiap kali diterjang cahaya pelangi!
Tiba-tiba terdengar bunyi menggelegar, diikuti
sorak-sorai setinggi langit! Sesaat para perajurit di
dalam ruangan itu terkejut! Wajah mereka tampak
pias!
1107
Beberapa saat kemudian di luar gerbang terdengar
suara terompet dan tambur bertalu-talu. Beberapa
orang prajurit berbegas meninggalkan ruangan itu.
"Pasukan musuh berhasil membobol benteng! Kita
harus keluar menghadapi mereka!" Prajurit itu
berteriak dan berlari keluar.
Ternyata langkah mereka diikuti pula oleh prajurit
yang lain. Berbondong-bondong mereka berlari keluar
untuk menyongsong pasukan musuh. Tambur dan
terompet tadi merupakan aba-aba buat mereka.
Akhirnya Mo Goat terpaksa harus bertempur
sendirian. Meskipun dengan ilmunya Pat-sian-ih-hoat,
ia dapat berubah menjadi delapan orang, tapi dia tidak
dapat menghadapi Liu Wan dan kawan-kawannya.
Mereka terlalu kuat untuk dilawan seorang diri.
Terutama A Liong, pemuda yang memiliki ilmu
pedang aneh itu.
Mo Goat benar-benar menjadi repot. Cahaya
pelangi yang muncul dan pedang A Liong mempunyai
gerakan yang sulit diduga. Cahaya itu meliuk-liuk di
atas kepala, seperti naga yang terbang di atas langit.
Ilmu silat Pat-sian-ih-hoat miliknya, yang selama ini
belum pernah menemukan tandingan, ternyata dibuat
tak berkutik oleh permainan pedang kecil tersebut.
Oleh karena itu Mo Goat tidak bisa berbuat apa-apa
ketika Panglima Yap Kim dibawa keluar dari gedung
itu. Dia justru ikut menyelinap keluar pula setelah
melepas Pat-sian-ih-hoatnya. Dia berbaur dalam arena
pertempuran.
1108
Sementara itu suasana di dalam benteng benarbenar
kacau-balau. Pintu gerbang utama sudah
terbuka lebar dan pasukan penyerbu yang terdiri dari
para pendekar persilatan menyebar di mana-mana.
Mereka mencari ruang penjara Panglima Yap Kim.
Seorang pemuda tampan dengan pedang di tangan,
tampak mengamuk di dekat jembatan gantung.
Pemuda itu bertempur bersama-sama dengan seorang
gadis manis, yang selalu mengekor di belakangnya.
Walaupun dikepung oleh belasan prajurit bertombak,
mereka sama sekali tidak mengalami kesulitan.
"Saudara Kwe, Ayahmu sudah datang, pula! Beliau
berada di bagian utara...!" Seorang pengemis tua
berteriak dari atas tangga.
"Bagus!" Pemuda itu berseru gembira. "Jeng-bin
Lo-kai, silakan membawa orang-orangmu ke dalam
pula! Carilah Panglima Yap Kim sampai ketemu!"
"Apakah kita tidak ikut masuk ke dalam, Toasuheng...?"
Gadis manis yang tidak lain adalah Song
Li Cu itu berseru.
"Tentu saja! Tapi aku ingin memastikan dulu,
apakah semua kawan kita sudah masuk ke dalam
benteng?" Kwe Tek Hun menjawab sambil
menggempur para pengeroyoknya.
Sementara itu Jeng-bin Lo-kai telah pergi dengan
para pengawalnya. Mereka menerobos barisan prajurit
yang berada di bagian barat. Di sana bertempur
rombongan pendekar dari Im-yang-kau, yang
bergabung dan bercampur dengan pendekar-pendekar
1109
dari perguruan lain. Bahkan Chin Tong Sia yang
terpisah dari rombongan Souw Thian Hai pada saat
memasuki benteng itu, tampak berloncatan di antara
para perajurit. Seperti biasanya pemuda itu berkelahi
sambil mengoceh tidak karuan. Namun demikian
setiap kali tangannya bergerak, dua atau tiga
lawannya pasti tersungkur mencium tanah.
Giam Pit Seng yang berada tidak jauh dari tempat
itu hanya dapat berdesah sambil menggelenggelengkan
kepalanya. Meski umurnya lebih tua, tapi
kepandaiannya tidak mungkin dapat menyamai
pemuda dari Aliran Beng-kau itu.
"Murid mendiang Put-ceng-li Lojin ini memang
hebat. Dan biasanya anak ini selalu diikuti oleh
suhengnya yang jauh lebih gila lagi!" Katanya sambil
mengedarkan matanya.
Pertempuran semakin dahsyat. Para prajurit di
dalam benteng bertempur dengan gagah berani.
Sebagai perajurit pilihan mereka sama sekali tidak
gentar melihat ribuan musuh berhasil menjebol
benteng mereka. Meskipun korban berjatuhan, tetapi
mereka tetap bertahan. Bahkan para perwiranya
bertempur di antara prajurit dengan semangat
menyala-nyala. Mereka bertempur di garis terdepan
bagaikan banteng terluka.
Apabila dibuat perbandingan, sebenarnya kekuatan
kedua belah pihak boleh dikatakan berimbang. Para
pendekar persilatan itu memiliki jumlah yang lebih
banyak, dan secara perorangan mereka juga memiliki
1110
kepandaian silat yang lebih baik. Tetapi prajurit yang
bertugas di dalam benteng itu mempunyai
pengalaman tempur yang lebih terlatih. Mereka juga
hebat dalam pertempuran berkelompok. Mereka juga
amat terlatih menggunakan siasat dalam ilmu perang.
Apalagi mereka juga bertempur di dalam benteng
mereka sendiri.
Alhasil pertempuran itu masih belum dapat
diramalkan kesudahannya. Kalau pun pada
permulaannya para penyerang dapat menjebol
benteng, hal itu disebabkan oleh karena kelengahan
para perajurit itu sendiri. Mereka menjadi lengah
karena sudah terlalu lama dalam suasana tenang dan
damai. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau
akhirnya ada kekuatan yang berani menentang
kekuatan benteng itu.
Demikianlah, ketika bulan semakin turun ke barat
dan cahaya terang mulai meremang di ufuk timur,
maka suara dentang senjata dan sumpah serapah
mereka juga mulai reda. Meskipun pertempuran masih
tetap berlangsung, tetapi tenaga dan semangat tempur
mereka juga mulai menyusut.
Api berkobar di mana-mana. Jilatan apinya
menerangi mayat-mayat yang bergelimpangan di
segala tempat. Benteng itu benar-benar berubah
menjadi padang pembantaian yang sangat
mengerikan. Mayat berserakan, terinjak-injak oleh
pasukan yang masih tetap bertempur untuk
menentukan pemenangnya.
1111
Mo Goat yang menyelinap di antara pertempuran
itu membunuh siapa saja yang dijumpainya. Gadis itu
tidak peduli lagi siapa yang dibunuhnya. Baginya
semua orang Han adalah musuh. Tidak peduli mereka
itu perajurit kerajaan pendekar persilatan.
Selain kecewa atas kegagalannya, Mo Goat juga
mendongkol karena bantuan yang dijanjikan kakaknya
belum juga datang. Seharusnya kakak dan pasukannya
telah tiba di benteng itu, sesuai rencana yang mereka
susun sebelumnya.
Ketika melintasi parit perlindungan, kaki Mo Goat
hampir tersandung oleh mayat yang terbaring di atas
tanah.
Karena kaget Mo Goat menjadi marah. Mayat itu
ditendangnya dengan sekuat tenaga. Mayat itu harus
"menyingkir" dari jalannya!
Wuuuut!
"Eiiit...?!" Tiba-tiba Mo Goat menjerit. Kakinya
menyambar tempat kosong.
Mayat itu bergeser dari tempatnya. Cara
bergesernya pun sangat aneh dan mengejutkan. Sama
sekali tidak terlihat gerakannya. Mayat itu bergeser
begitu saja, seolah-olah berpindah tempat dengan
sendirinya.
Mo Goat terbelalak. Hatinya berdebar-debar.
Bahkan jantungnya juga bergetar dengan kuat.
Ternyata "Mayat" itu hanyalah seorang kakek tua
berwajah sangat buruk. Selain kurus kering, tubuh itu
juga kelihatan tidak sehat.
1112
Orang itu berpakaian seadanya. Itu pun tidak
dikenakan dengan rapi. Kakinya juga tidak bersepatu.
Bahkan kepalanya yang nyaris gundul itu juga tidak
mengenakan penutup sama sekali.
"Kau... siapa? Menyingkirlah!" Mo Goat
membentak.
Sambil berkata Mo Goat kembali menyerang
dengan kipasnya. Tapi serangannya menjadi batal,
karena tiba-tiba muncul beberapa orang prajurit yang
menyerbu ke arah dirinya. Kipas itu ber-balik arah,
menyongsong kedatangan prajurit-prajurit tersebut.
Trang! Trang! Trang!
Prajurit-prajurit itu terpental bersama senjata
mereka. Namun beberapa di antara mereka segera
bangkit kembali. Tanpa rasa takut mereka kembali
menerjang Mo Goat.
Mo Goat semakin marah. Sekali lagi ia
mengayunkan kipasnya. Ia sama sekali tak mau
menghindar dari terjangan lawan.
Crees! Cres! Cressss...! Daun kipas itu memotong
tubuh lawan bagaikan memotong pohon pisang!
Prajurit itu segera bergelimpangan seperti potongan
kayu di atas tanah.
"Huh!" Mo Goat berdesis puas.
Tapi matanya segera terbelalak ketika melihat
orang tua jelek tadi sudah tidak ada di tempatnya lagi.
Mayat itu sudah lenyap. Namun lapat-lapat telinganya
masih mendengar suara orang menggerutu di balik
dinding halaman.
1113
"Wah, sial...! Mau tidur saja tidak bisa! Belumbelum
sudah bertemu Tukang Sihir!"
"Kurang ajar! Tua Bangka jelek! Keluar kau!" Mo
Goat mengumpat dan memaki.
Tak ada jawaban. Mo Goat melayang ke atas
tembok. Belasan anak panah justru melesat ke
arahnya. Wusss! Wusss! Mo Goat mengibaskan
kipasnya sehingga panah-panah itu jatuh berpatahan!
Mo Goat menggeram. Di bawah tembok dia
melihat seorang pemuda tampan telah siap untuk
melepaskan anak panahnya lagi.
"Sin Lun, awas...!" Tiba-tiba terdengar suara orang
memberi peringatan kepada pemuda itu.
Benar saja. Belum juga gaung suara orang itu
lenyap, tubuh Mo Goat yang kecil itu telah
menyambar ke bawah. Kipasnya menyambar dari atas
ke bawah dalam Jurus Membelah Gunung Menyibak
Lautan!
Pemuda yang tidak lain adalah Tan Sin Lun itu
terkejut sekali. Tak ada waktu lagi untuk mengelak.
Terpaksa dia menangkis dengan busurnya. Dan pada
saat yang sama, sepasang senjata berbentuk pena ikut
menangkis kipas tersebut.
Traaaang...!
Akibatnya sungguh hebat! Kipas itu bergetar di
tangan Mo Goat. Tapi sebaliknya busur dan pena itu
terpental patah dari tangan pemegangnya!
Mereka berdiri berhadapan. Mo Goat di satu pihak,
dan Tan Sin Lun bersama Giam Pit Seng di pihak lain.
1114
Mo Goat kelihatan marah sekali, sementara Tan Sin
Lun dan Giam Pit Seng mengerutkan dahinya.
Keduanya tampak kesakitan. Bahkan dari telapak
tangan Tan Sin Lun menetes darah segar.
Tiba-tiba terdengar sorak-sorai menggelegar dari
luar benteng. Sebuah pasukan besar datang menyerbu
benteng itu. Kekuatan mereka jauh lebih besar
daripada kekuatan pendekar persilatan. Begitu masuk
benteng, pasukan itu segera menggempur siapa saja
yang mereka jumpai. Baik pasukan kerajaan maupun
pasukan para pendekar.
"Apakah kakakku telah datang?" Mo Goat
bergumam di dalam hati.
Empat orang pendekar, terdiri dari seorang lelaki
tua dan tiga orang wanita, mendekati tempat itu.
Begitu dekat, seorang dari ketiga wanita itu tiba-tiba
berlutut di depan Giam Pit Seng.
"Suhu...!" Wanita yang tidak lain adalah Tio Siau
In itu berdesah haru.
"Siau In, kau!"
Giam Pit Seng mengelus kepala Siau In, sementara
di belakangnya Tan Sin Lun hanya terlongonglongong
saja seperti tak percaya. Pendekar dari Imyang
kau itu lalu menoleh ke kiri dan ke kanan. Dia
mencari Tio Ciu In.
Tetapi Tio Ciu In tidak ada. Dia justru melihat
Souw Thian Hai dan isterinya. Pendekar ternama itu
datang bersama Tio Siau In.
1115
"Souw-taihiap? Souw-hujin? Apakah selama ini
muridku bersamamu?" Giam Pit Seng menyapa
dengan terbata-bata.
Tio Siau In cepat bangkit dan memperkenalkan
gurunya kepada Souw Thian Hai, sekalian
menjelaskan kepada gurunya itu ke mana ia selama ini
berada.
"Ohh, lalu... Ciu In ke mana? Dia juga tidak pulang
selama ini. Kukira dia pergi bersamamu." Giam Pit
Seng tertunduk.
Siau In kaget. Dia sendiri juga tidak menyangka
kalau kakaknya tidak, pulang.
Sementara itu Mo Goat sudah tidak sabar lagi
melihat percakapan itu. Walaupun ia pernah
mendengar nama Souw Thian Hai, tapi ia tidak takut.
Kata Ulan Kili, gurunya, dia tak perlu takut dengan
siapa pun di Tiong-goan. Tidak seorang pun yang
akan dapat menandingi ilmu silatnya.
"Hmm, jadi inikah pendekar tua yang sangat
tersohor namanya itu? Hong-gi-hiap Souw Thian Hai!
Huh!"
Souw Thian Hai mengerutkan keningnya. Tentu
saja dia tak mengenal gadis berwajah hitam itu.
"Siapakah kau, gadis muda? Apakah aku
mengenalmu?"
Mo Goat mencibirkan bibirnya. "Kau tentu tidak
mengenalku, karena baru sekali ini kita berjumpa.
Tapi Guruku pernah bercerita tentang engkau.
Katanya kau seorang pendekar silat yang sangat
1116
tersohor di daerah Tiong-goan. Dulu kau menempati
urutan ke lima dalam daftar Urutan Jago Silat
Terkemuka di Dunia Persilatan!"
Souw Thian Hai tertawa panjang. "Semua itu
bohong, Gadis Muda. Siapakah gurumu itu? Dia salah
menilai kalau menganggapku nomer lima di dunia
persilatan. Dunia begini luasnya. Bagaimana mungkin
aku berani mendudukkan diri di nomer lima? Ha-haha-
ha!"
"Tapi Guruku memang mengatakan demikian.
Bahwa dengan sudah meninggalnya beberapa orang di
antara tokoh-tokoh persilatan itu, kau sekarang dapat
menjadi tokoh yang nomer dua atau tiga."
Souw Thian Hai menghentikan tawanya. Dengan
suara keren dia berkata kepada Mo Goat.
"Nona, katakan kepadaku! Siapa nama Gurumu?"
Tak terduga Mo Goat yang liar dan tak punya rasa
takut itu balas membentak.
"Guruku adalah Pendeta Agung Ulan Kili. Ayahku
adalah Raja Mo Tan yang gagah perkasa."
Pengakuan gadis itu memang mengejutkan semua
orang. Tak terkecuali Giam Pit Seng yang baru saja
merasakan kesaktian gadis itu.
Matahari benar-benar muncul dari balik
cakrawala." Suasana menjadi terang, sehingga
masing-masing dapat melihat dengan jelas wajah
lawannya. Perang berkecamuk di sekitar mereka. Dan
kedatangan pasukan baru tadi membuat keadaan
semakin kisruh.
1117
Suara terompet yang dibunyikan oleh pasukan baru
itu sangat melegakan hati Mo Goat. Jelas bahwa suara
itu adalah "tengara" yang biasa digunakan oleh
pasukan ayahnya. Kakaknya benar-benar datang
menggempur benteng itu.
"Hou-ko, aku di sini...!" Tiba-tiba Mo Goat berseru
dengan khikangnya yang tinggi. Suaranya melengking
tajam, menyusup di antara kegaduhan di sekitarnya.
Dari tangannya melesat bola api yang kemudian
meledak di angkasa.
Beberapa orang datang menghampiri tempat itu.
Mereka adalah pasukan Mo Hou yang baru saja tiba.
Seorang lelaki tinggi besar dengan tombak di tangan
mendekati Mo Goat. Di belakangnya tampak
pasukannya bergerak dalam kelompok-kelompok
yang teratur. Beberapa orang jago silat seperti Ho
Bing, Tiat-tou, dan Siang-kiam-eng berada di antara
mereka.
"Apakah aku berhadapan dengan Pu-teri?" Lelaki
lelaki besar itu memberi hormat.
Mo Goat menoleh sambil memperlihatkan cincin di
jari manisnya ia mengeram. "Berapa orang yang
dibawa kakakku ke sini, Bayan Tanu?"
Sungguh mengherankan. Panglima pasukan yang
tampak perkasa itu kelihatan gugup.
"Maaf, Puteri. Aku tidak mengenali samaranmu.
Anu, eh... Kongcu membawa empat ribu lima ratus
prajurit untuk menaklukkan benteng ini! Tapi
sebagian besar masih berada di luar benteng."
1118
"Bagus! Sekarang bunuh orang-orang ini! Tapi
awas! Mereka adalah tokoh persilatan berkepandaian
tinggi. Terutama orang tua itu. Gunakan barisan untuk
melawan mereka! Nah, aku akan menemui Kakakku
dulu. Di mana dia sekarang?"
"Kongcu berada di bagian timur. Kami dapat berita
kalau Kongcu dapat menemukan bekas panglima itu.
Katanya bekas panglima itu dapat lolos dari penjara
dan berusaha kabur melalui pintu timur. Kabarnya
beberapa orang tokoh persilatan . melindunginya...."
Bayan Tanu menjawab.
"Aku tahu. Aku juga baru saja dari tempat itu. Nah,
cepat bereskan orang-orang ini! Aku akan ke sana!"
Mo Goat melesat pergi meninggalkan tempat itu.
Dia kembali ke halaman dalam. Sambil berlari ia
dapat menyaksikan pasukan kakaknya sudah
bertebaran di mana-mana. Pasukan itu menggempur
siapa saja yang mereka jumpai. Mereka tidak peduli,
apakah lawan itu pasukan Kerajaan Han atau pasukan
para pendekar persilatan.
Ketika melewati lorong yang penuh dengan
prajurit, Mo Goat segera beraksi. Dia menerobos
dengan mengerahkan seluruh kemampuanya. Setiap
tangan dan kakinya mengibas, maka lawan yang
menghalang di depannya segera terbang seperti
diguncang prahara.
"Menyingkir...!" Berkali-kali bibirnya melengking.
Siapa pun yang melihat keganasan gadis itu
menjadi giris. Bagi mereka yang sempat menghindar
1119
segera menyingkir menyelamatkan diri. Tapi bagi
yang tidak sempat, terpaksa harus menjadi korban
keganasan Mo Goat. Dhuuuug!
Tiba-tiba langkah gadis itu tertahan! Seorang kakek
yang tidak sempat menyingkir ternyata mampu
menahan kibasan tangan Mo Goat. Dan hal ini sudah
cukup untuk membuat Mo Goat menjadi marah sekali.
"Menyingkir kau, Kakek Tua!" Gadis itu berteriak
seraya mengibaskan kipasnya. Segumpal angin dingin
menghembus ke arah kakek itu.
"Wwaduh...! Lo-hu menjadi bingung! Sun Tek
bilang, katanya dia dikalahkan oleh seorang gadis
cantik bersenjata kipas baja di kota Hang-ciu lima
tahun lalu. Sekarang lo-hu melihat, kau juga
membawa kipas baja seperti yang dikatakannya. Tapi
kulihat wajahmu tidak mirip dengan ceritanya. Hmm,
apakah kau mempunyai hubungan dengan gadis
cantik itu?"
Sambil menghindar kakek tua itu berbicara tanpa
henti. Meskipun demikian serangan Mo Goat tak
pernah dapat mengenainya. Langkah kakinya sangat
aneh. dan mentakjubkan. Seperti orang bermain petak,
tubuhnya selalu berpindah setiap kali kakinya
bergerak.
"Bagus! Aku tahu siapa kau! Kau tentu pendekar
dari Pulau Meng-to, yang disebut orang Keh-sim Taihiap
itu! Nah, tampaknya anakmu yang jelek itu telah
melapor kepadamu. Hu-hu-hu, sekarang ia akan
1120
menyadari bahwa ayahnya juga tidak mampu
melawanku!"
Sambil tertawa Mo Goat melepas alat
penyamarannya. Baju luarnya ia tanggalkan, sehingga
pakaian dalamnya yang gemerlapan dapat terlihat oleh
semua orang. Kulitnya yang hitam dia gosok dengan
saputangan. Walau belum bersih benar, tapi kulitnya
yang putih mulai kelihatan bersinar di cahaya mentari.
"Huurraa! Hidup Puteri! Hiduup Puteri...!" Pasukan
Hun yang berada di tempat itu segera bersorak-sorai.
"Hah! Benar! Ternyata engkau yang dimaksud Tek
Hun!" Pendekar tua dari Pulau Meng-to itu berdesah
waspada.
"Keh-sim Tai-hiap, di mana anakmu itu? Beruntung
dia ditolong oleh Pendekar Buta. Kalau tidak,
nyawanya sudah melayang lima tahun lalu...."
Keh-sim Tai-hiap menghela napas panjang. Kwe
Tek Hun memang sudah bercerita tentang hal itu.
Ketika pulang ke Meng-to bersama Utusan Pondok
Pelangi, Kwe Tek Hun bercerita tentang orang-orang
dari suku bangsa Hun, yang berkeliaran di pesisir
timur Propinsi Kiang-su dan Se-kiang.
Teringat akan Utusan Pondok Pelangi yang datang
bersama puteranya, otomatis Keh-sim Tai-hiap
teringat pula akan kehebatan ilmu silat mereka.
Ternyata pasangan suami isteri dari Pondok Pelangi
itu memiliki ilmu silat yang maha dahsyat. Sebuah
ilmu silat yang ternyata merupakan kelengkapan dari
ilmu silat Ban-seng-po Lian-hoan, miliknya.
1121
Utusan itu datang ke Meng-to untuk melacak
"pedang pusaka" milik Partai Pondok Pelangi, yang
ratusan tahun lalu dibawa oleh leluhur mereka ke
daratan Tiongkok. Karena ilmu silat Kwe Tek Hun
menyerupai ilmu silat mereka, maka kedua utusan itu
mengira kalau Keluarga Kwe mempunyai hubungan
dengan mendiang leluhur mereka.
Tentu saja Keh-sim Tai-hiap tidak tahu tentang
pedang pusaka itu menjawab pula apa adanya. Utusan
dari Pondok Pelangi itu merasa tidak puas, sehingga
akhirnya mereka bertempur. Tetapi seperti halnya
Kwe Tek Hun, Keh-sim Tai-hiap juga tidak mampu
menghadapi kedua utusan tersebut.
Selain kedua utusan itu memiliki kesaktian yang
maha dahsyat, ternyata mereka juga dapat memainkan
Ban-seng-po Lian-hoan dalam bentuk yang lebih
lengkap. Bahkan mereka juga mampu memainkan
ilmu silat Keluarga Souw dengan lebih hebat pula.
Ketika hal tersebut ditanyakan kepada mereka,
kedua utusan itu menjadi sangat gembira. Mereka
membawa Keh-sim Tai-hiap ke Gunung Hoa-san,
tempat tinggal keluarga Souw. Dan selanjutnya,
seperti halnya ceritera yang telah berkembang di
dunia persilatan selama ini, Keh-sim Tai-hiap dilepas
oleh kedua utusan itu. Sebaliknya Thian Hai suami
isteri dibawa pergi ke Laut Utara.
"Hei! Jawab pertanyaanku! Mengapa diam saja?"
Tiba-tiba terdengar suara Mo Goat membentak keras
sekali.
1122
Keh-sim Tai-hiap tersentak dari lamunannya.
"Ah, entahlah! Tek Hun tidak pernah berada di
rumah. Dia selalu berkelana ke mana-mana. Mungkin
sekarang pun dia berada di tempat ini pula. Mana Lohu
tahu?"
"Bagus! Mudah-mudahan begitu. Biar dia tahu
bahwa ayahnya mati di benteng ini! Nah,
bersiaplah...!"
Pengalaman Keh-sim Tai-hiap sangat banyak. Dia
sadar bahwa gadis muda itu memiliki ilmu silat yang
amat tinggi. Kalau lima tahun lalu Kwe Tek Hun
dapat ditaklukkan dengan mudah, maka sekarang pun
rasanya dia juga tidak mampu melawannya. Ilmu
silatnya tidak berbeda jauh dengan puteranya. Apalagi
gadis itu tentu sudah bertambah pula tingkat ilmunya.
Tapi tentu saja pantang bagi Keh-sim Tai-hiap
untuk menyerah begitu saja. Paling tidak ia tentu
dapat bertahan dengan langkah Ban-seng-po Lianhoan.
Maka pertempuran antara dua jago silat tingkat
tinggi itu berlangsung dengan hebatnya. Otomatis
semua orang yang berada di tempat itu menyibak
menjauhkan diri. Pukulan dan tendangan mereka
sangat berbahaya bagi siapapun juga.
Sementara itu kehadiran pasukan Hun telah
mengubah situasi pertempuran. Jumlah pasukan Hun
yang dibawa Mo Hou sangat banyak, melebihi jumlah
pasukan kerajaan dan pasukan para pendekar.
Peralatan perang yang mereka bawapun juga jauh
1123
lebih lengkap pula. Tak heran kalau akhirnya kedua
pasukan yang sudah babak belur itu terdesak ke
dalam.
Walaupun para pendekar itu memiliki ilmu silat
yang cukup, namun menghadapi pasukan Hun yang
terlatih dan bersenjata lengkap, mereka sungguh tidak
dapat berbuat banyak. Sedikit demi sedikit mereka
terdesak ke dalam. Bahkan beberapa kelompok
pasukan penjaga benteng juga telah menyerah.
Mereka meletakkan senjata masing-masing.
Puluhan pendekar persilatan telah tertawan pula.
Pasukan Hun yang dipimpin oleh para panglima
perangnya, benar-benar seperti "kereta penggilas"
yang mampu meluluh-lantakkan siapa saja yang
menghadang di depannya. Terompet kemenangan
bergaung semakin keras di angkasa, membuat
pasukan asing itu bertambah garang.
"Munduuuuur...! Munduuuur...!" Terdengar suara
nyaring membelah udara.
Pasukan penjaga benteng dan pasukan para
pendekar yang masih tersisa berusaha mundur
kebagian dalam benteng. Tapi pasukan Hun berusaha
memotong jalan mereka. Pertempuran menjadi
semakin seru. Jeritan, teriakan, sumpah serapah,
berbaur menjadi satu dengan suara dentang senjata.
Mayat dan darah berserakan di mana-mana.
Di bagian lain pasukan Bayan Tanu yang mendapat
perintah untuk membereskan rombongan Souw Thian
Hai, ternyata mengalami sedikit kesulitan. Souw
1124
Thian Hai dan Chu Bwe Hong adalah tokoh persilatan
terkemuka. Seribu orang prajurit pun belum tentu
dapat mengalahkan mereka. Apalagi suami isteri itu
dibantu oleh Tio Siau In dan Yok Ting Ting.
Namun demikian Bayan Tanu tidak putus asa.
Bersama pasukan khususnya dia terus mengepung dan
menggempur lawan-lawannya. Anak buahnya
memang telah dipersiapkan untuk menghadapi jagojago
silat berkepandaian tinggi. Selain dilatih untuk
selalu bertempur dalam kelompok atau barisan,
pasukannya juga dilengkapi dengan senjata-senjata
khusus. Maka tidak mengherankan bila perlawanan
mereka membuat sibuk Souw Thian Hai dan
rombongannya. Apalagi di antara mereka terdapat Ho
Bing, Tiat-tou dan Siang-kiam-eng, tiga jago silat
yang berkepandaian cukup tinggi. Walau tidak sehebat
Souw Thian Hai, namun keberadaan mereka
bertiga tetap menyulitkan lawan-lawannya.
Souw Thian Hai dengan Tai-lek Pek-khong-ciang
dan Tai-kek Sin-ciangnya memang sangat
menggiriskan. Tapi menghadapi pasukan Bayan Tanu
yang terlatih itu ternyata tidak dapat berbuat banyak.
Seperti telah dipersiapkan sebelumnya, pasukan
Bayan Tanu melengkapi diri mereka dengan perisai
baja tahan senjata. Kilatan-kilatan sinar Tai-lek Pekkhong-
ciang ternyata tidak mampu menembus perisai
tersebut. Sementara itu Tio Siau In dan Yok Ting
Ting juga tidak dapat berkutik pula. Mereka berdua
dikepung oleh barisan yang kuat dan berlapis-lapis.
1125
Satu-satunya kelebihan yang dapat diandalkan oleh
Souw Thian Hai dan rombongannya hanyalah
kelincahan gerak mereka. Walau terdesak, namun
mereka selalu dapat menyelamatkan diri. Bagaikan
belut mereka selalu lepas dari bahaya kematian.
Tapi memang sulit bagi mereka berempat untuk
meloloskan diri. Ke mana pun mereka pergi, Bayan
Tanu dan pasukannya selalu mengejar. Bagaikan
kerumunan lebah pasukan terlatih itu selalu merubung
mereka.
"Wah! Di mana Chin Tong Sia tadi?
Pada saat dibutuhkan anak itu justru
menghilang...!" Souw Thian Hai menggerutu.
Bayan Tanu, Ho Bing, Tiat-tou dan Siang-kiam-eng
memang bukan lawan yang setimpal dibandingkan
dengan Tio Siau In dan Yok Ting Ting. Apalagi
dibandingkan dengan Souw Thian Hai. Namun
dengan dukungan pasukan khusus tersebut, Bayan
Tanu benar-benar sulit dikalahkan.
Setiap kali rombongan Souw Thian Hai dapat
melepaskan diri dari kepungan, Ho Bing dan
temannya selalu dapat mengejar dan menghentikan
mereka. Memang hanya sesaat, tapi sudah cukup
untuk membuat pasukan itu datang mengepung lagi.
Sementara itu di benteng bagian timur pertempuran
juga tidak kalah serunya. Panglima Yap Kim yang
dikawal oleh rombongan A Liong berusaha lolos dari
pintu timur. Namun kenyataannya mereka justru
terjebak dalam kepungan pasukan Mo Hou.
1126
Sekali ini tampaknya Mo Hou benar benar
mengerahkan semua kekuatannya. Hampir semua
pembantu-pembantunya ikut dalam pasukan ini.
Bahkan Lok-kui-tin yang sangat lihai itu juga berada
di dekatnya.
Pada bentrokan pertama hampir saja Liu Wan
mendapat celaka. Melihat Mo Hou dan pasukannya
memburu Panglima Yap Kim, langsung ia memotong
dan menyerang. Namun ternyata bukan Mo Hou yang
menangkis pukulannya, tapi seorang lelaki tua
berseragam merah. Hanya dengan mengibaskan
lengannya lelaki tua yang tidak lain adalah Ang-kui
itu membuat Liu Wan terpelanting. Untunglah A
Liong segera datang menolongnya! Kalau tidak, maka
serangan Ang-kui selanjutnya tentu sudah
membunuhnya.
Dhieesss!
Pukulan Ang-kui yang ditujukan kepada Liu Wan
berhasil ditangkis oleh A Liong! Tidak banyak tenaga
yang dikeluarkan oleh pemuda itu, namun sudah
cukup menggetarkan lengan Hantu Merah!
Anggota Lok-kui tin yang lain segera tahu kalau
saudaranya membentur lawan berat.
"Ang-kui! Kau tidak apa-apa?" Hek-kui yang
berada di dekatnya berbisik perlahan.
"Awas... Badai Pasir!" Ang-kui menggeleng sambil
memperingatkan saudara-saudaranya.
1127
Sementara itu Mo Hou telah berdiri di depan
Panglima Yap Kim. Sambil mengepalkan tangannya
pemuda itu menggeram.
"Hmm, jadi inikah panglima yang terkenal itu?
Bukan main!"
Yap Kim tetap tenang. Sikapnya benar-benar
mencerminkan wibawa seorang panglima. Dan sikap
itu amat sangat melegakan hati Liu Wan dan A Liong.
Bersama-sama dengan Si Pelayan Dapur mereka
bertiga segera mengelilinginya.
"Ahh, waktu benar-benar cepat sekali berlalu.
Rasanya baru kemarin aku bertempur dengan Raja Mo
Tan. Ternyata hari ini aku harus berhadapan pula
dengan anaknya." Yap Kim bergumam perlahan.
Mo Hou mendengus. "Ayahku sering bercerita
tentang kehebatanmu! Katanya ilmu perangmu tiada
duanya di dunia ini. Pasukanmu tidak pernah kalah
dalam setiap pertempuran."
Pemuda sakti itu berhenti sejenak. Lalu
sambungnya lagi dengan gigi gemeretak. "Tapi semua
itu sudah berlalu. Kini keadaanmu sudah jauh
berbeda. Kau tidak memiliki pasukan lagi. Dan
nasibmu akan segera berakhir di tempat ini. Kau akan
hancur-luluh diterjang Pasukan Hun yang dulu selalu
kau kalahkan."
"Aaaah...!" Yap Kim menghela napas panjang.
Liu Wan cepat menyentuh lengan bekas panglima
itu. "Ciangkun, jangan kauhiraukan ucapannya. Dia
hanya ingin mempengaruhi perasaanmu. Meskipun
1128
kau tidak memiliki pasukan, tetapi banyak pendekar
yang siap menerima perintahmu. Lihatlah orang-orang
yang datang menyerbu benteng ini! Mereka datang
untuk membebaskanmu! Mereka siap mati dibawah
pimpinanmu!"
Yap Kim menoleh. Dahinya berkerut ketika
menatap Liu Wan.
"Kau siapa...? Rasanya aku pernah mengenal
suaramu."
Liu Wan yang menyamar sebagai Tabib Ciok itu
tersentak mundur. "Ciang-kun, aku... aku hanyalah
seorang tabib. Namaku... Tabib Ciok. Mungkin
Ciangkun memang pernah berjumpa denganku."
"Apakah... kau yang memimpin para pendekar ini?"
"Bukan! Bukan! Tapi aku mengenal mereka
semua....!"
Yap Kim mengangguk, lalu berkata tegas, "Baik.
Kita enyahkan dulu pasukan asing ini! Nanti kita
bicara lagi!"-
"Kalian memang kelinci yang tidak tahu diri!
Kematian sudah di depan mata, masih saja
bemimpi...!" Mo Hou menggeram.
Tapi Yap Kim tidak mempedulikan ancaman itu.
Sambil mengatupkan tangannya di depan mulut ia
berseru dengan suara tinggi.
"Para pendekar semua...! Dengarlah! Aku... adalah
Yap Kim! Marilah kita enyahkan pasukan asing ini!"
Suaranya menggema di atas benteng.
1129
Melingkar-lingkar, bagaikan suara genderang yang
bergaung di tengah medan pertempuran. Beberapa
kali seruan itu diteriakkan oleh Yap Kim, agar semua
orang tahu bahwa dia telah bebas.
Tapi suaranya selalu tenggelam dalam hirukpikuknya
pertempuran. Hanya orang-orang di sekitar
mereka saja yang memperhatikan seruannya.
"Hun, percuma saja kau berteriak setinggi langit!
Mereka tak akan peduli." Mo Hou mengejek.
Melihat hal itu A Liong menjadi tidak sabar lagi.
Dengan mengerahkan seluruh tenaga saktinya dia
meloncat ke atas tembok, lalu berteriak sekeraskerasnya.
Namun pada saat yang sama, Mo Hou juga mulai
menyerang Yap Kim. Pemuda itu juga tidak sabaran
pula.
"Haiii...! Panglima Yap Kim sudah bebas! Beliau
ada di sini! Beliau mengajak kita mengenyahkan
pasukan musuh ini!" A Liong berseru sekuat-kuatnya.
Teriakan A Liong bagaikan suara petir yang
menggelegar di angkasa. Demikian dahsyatnya
sehingga udara di dalam benteng itu seperti ikut
bergetar pula. Bahkan getarannya sampai menyusup
ke dalam dada dan mempengaruhi keseimbangan
pendengarnya. Otomatis semua orang menahan diri.
Mereka berusaha untuk melawan pengaruh suara itu.
Mo Hou pun tidak terkecuali pula. Pada saat
tubuhnya melayang ke depan, maka getaran suara A
Liong menghentak isi dadanya. Otomatis ia menarik
1130
lagi tenaganya. Sebagian ia pergunakan untuk
bertahan, dan sebagian lagi untuk meneruskan
serangannya.
Terdengar suara gemuruh ketika tangan itu
menyambar ke depan bergantian. Walaupun hanya
sebagian, tapi tenaga yang keluar dari tangan itu
benar-benar dahsyat.
Liu Wan dan Si Pelayan Dapur segera bersiap
dengan seluruh tenaga mereka pula. Bertiga dengan
Yap Kim mereka menyongsong gempuran Mo Hou.
Masing-masing mengerahkan seluruh kemampuan
mereka.
"Huh! Jangan harap kalian dapat menahan
pukulanku!" Mo Hou menjerit marah.
Dhuuuaaar...! Dua buah kekuatan yang maha
dahsyat bertemu di udara! Dan akibatnya sungguh
mengejutkan! Tubuh Liu Wan dan Yap Kim
terpelanting jatuh ke tanah, sementara Si Pelayan
Dapur terhuyung ke belakang.
Demikianlah, dalam gebrakan pertama itu masingmasing
telah menguji tingkat ilmu mereka. Dan
ternyata tingkatan ilmu silat Mo Hou masih jauh di
atas kepandaian Yap Kim, Liu Wan, maupun Si
Pelayan Gemuk. Buktinya pemuda itu sama sekali tak
bergeming melawan tenaga gabungan mereka.
Kenyataan itu benar-benar sangat mengejutkan Yap
Kim. Dia adalah ahli waris keluarga Yap, yang pada
zaman ayahnya merupakan salah satu Datuk
Persilatan ternama. Namun sekarang, menghadapi
1131
seorang pemuda saja dia tak mampu. Padahal ia telah
melepaskan seluruh tenaga sakti Hong-lui-kangnya
yang hebat!
Dan rasa heran itu semakin bertambah lagi, ketika
ia menyadari bahwa kawan-kawannya juga
mengerahkan ternaga sakti yang tidak kalah hebat
dengan miliknya. Bahkan orang tua yang mengaku
sebagai Tabib Ciok itu mengerahkan tenaga sakti
Hong-lui-sin-kang seperti dirinya. Namun demikian
tenaga gabungan mereka itu tetap tidak berdaya
menghadapi kekuatan Mo Hou!
Sementara itu pertempuran di dalam benteng
semakin bertambah sengit. Ternyata seruan A Liong
tadi benar-benar manjur. Para pendekar persilatan
yang mendengar berita itu segera berteriak gembira.
Mereka menjadi sangat bersemangat. Mereka lalu
bertempur seperti orang kesurupan. Mereka bertempur
sambil bersorak-sorai.
"Hidup Panglima Yap Kim! Hidup Panglima Yap
Kim...! Mari kita usir pasukan asing ini....!"
Ternyata berita lepasnya Panglima Yap Kim itu
berpengaruh pula pada prajurit penjaga benteng.
Sebagian besar dari prajurit itu tiba-tiba ikut bersorak
pula. Mereka berteriak sambil mengacung-acungkan
senjata mereka. Mereka ikut bergabung dengan para
pendekar untuk menghadapi pasukan Hun.
Bagaimanapun juga banyak diantara mereka yang
masih mencintai Panglima Yap Kim.
1132
Yap Kim dan Liu Wan bangkit berdiri. Kedua mata
mereka masih berkunang-kunang. Tulang-tulang
mereka pun masih terasa linu pula. Namun demikian
bekas panglima itu masih juga penasaran melihat ilmu
silat Liu Wan.
"Kau... menggunakan Hong-lui Kun-hoat! Siapa
sebenarnya dirimu?" Bekas panglima itu bertanya
kepada Liu Wan.
Liu Wan gelagapan. Dia tidak mampu menjawab.
Untunglah serangan Mo Hou kembali datang
mengempur mereka. Dan kali ini pemuda itu tidak
mau mengulur-ulur waktu lagi. Tangannya
menggenggam senjata kipasnya!
Melihat tuannya menghadapi banyak orang, Lokkui-
tin bergegas mendekati. Tapi Mo Hou segera
membentak, "Jangan ikut campur! Kalian bunuh saja
pemuda di atas tembok itu! Jangan sembrono!
Hadapilah dia bersama-sama!"
"Baik, Kongcu."
Demikianlah, Yap Kim bertiga terpaksa harus
menghadapi Mo Hou. Walaupun mereka kalah, tapi
mereka tetap bertahan sekuat tenaga. Mereka berusaha
untuk mengulur waktu. Mereka menunggu
kedatangan A Liong, meski mereka harus berjuang
mati-matian.
Sambil bertempur mata Yap Kim masih saja
melirik ke arah Liu Wan. Diam-diam hatinya semakin
penasaran melihat tabib tua itu benar-benar
menggunakan ilmu yang sama dengan dirinya.
1133
Dan ketika perhatiannya beralih kepada Si Pelayan
Dapur, panglima itu semakin tidak habis mengerti
pula. Pelayan gemuk itu ternyata bergerak dengan
amat lincahnya. Nyaris selincah Mo Hou. Bahkan
semakin lama gerakan pelayan itu semakin aneh dan
mengerikan.
"Aaah! Siapa sebenarnya mereka? Sungguh
mencurigakan."
Tapi bekas panglima itu tidak mempunyai banyak
waktu utuk berpikir. Mo Hou tidak pernah berhenti
menyerang. Kipasnya menyambar ke sana kemari,
bagaikan burung elang yang terus memburu nyawa
mereka. Bahkan sesekali dari telapak tangan pemuda
itu melesat belasan paku beracun.
Ternyata dalam menghadapi senjata rahasia, ilmu
silat Si Pelayan Dapur justru paling hebat. Dengan
kebutan lengan bajunya yang longgar dia mampu
meredam keganasan paku-paku beracun itu.
Gerakannya sangat aneh. Setiap kali kedua lengannya
selalu bergerak menyilang. Dari bawah ke atas, dari
kanan-kiri, atau sebaliknya. Gerakannya sangat kuat,
namun berkesan berat, seperti gerakan penari topeng
yang menari dengan seragamnya yang berlapis-lapis.
Namun demikian setiap kali lengan itu bergerak,
maka terasa semburan hawa dingin yang menyebar ke
segala penjuru.
"Kim-liong Sin-kun (Kepalan Sakti Naga Emas)...."
Tiba-tiba Yap Kim berdesah kaget menyaksikan
gerakan-gerakan itu.
1134
Kim-liong Sin-kun merupakan salah satu ilmu
warisan Bit-bo-ong. Seharusnya ilmu itu dilengkapi
dengan jubah atau mantel sakti tahan senjata, yang
dahulu selalu dipakai oleh mendiang Bit-bo-ong. Tapi
mantel pusaka itu khabarnya telah kembali ke tangan
pendek, ir sakti Souw Thian Hai, yang memang
berhak atas benda tersebut.
"Kurang ajar...! Kalian memang sudah bosan
hidup!" Mo Hou benar-benar tidak sabar lagi.
Tiba-tiba saja tubuh pemuda itu pecah menjadi
enam orang. Bentuk, rupa dan pakaiannya semua
sama. Semuanya persis Mo Hou. Dan semuanya juga
memegang kipas baja. Mereka segera berpencar dan
mengepung Yap Kim bertiga.
"Awaaas! Dia menggunakan ilmu sihir! Kita harus
berhati-hati!" Yap Kim berseru ke arah Liu Wan dan
Si Pelayan Dapur.
"Benar, Ciangkun. Kita memang harus hati-hati,"
Liu Wan menyahut dengan suara gemetar.
"Ya-yaa, aku juga pernah melihatnya di kota Hangciu
lima tahun lalu..." Pelayan Dapur itu tiba-tiba
menyahut.
"Kau pernah melihatnya di Hang-ciu?" Liu Wan
tersentak.
Sementara itu pertempuran berkobar semakin
hebat. Berita bebasnya Panglima Yap Kim sangat
mempengaruhi semangat para pendekar. Bersamasama
dengan para prajurit yang membelot, pasukan
para pendekar itu menyongsong gempuran lawannya.
1135
Rombongan Souw Thian Hai, yang terdiri dari Chu
Bwe Hong, Tio Siau In dan Yok Ting Ting, tetap
belum bisa membebaskan diri dari kepungan pasukan
Bayan Tanu. Mereka benar-benar terkepung oleh
pasukan khusus yang sangat terlatih itu. Ilmu silat
Souw Thian Hai sama sekali tidak berdaya melawan
kepungan prajurit-prajurit khusus itu. Selain
mempergunakan perisai baja, pasukan yang amat
terlatih itu selalu menghindar dari tusukan jari Souw
Thian Hai.
"Wah, kemana Put-tong-sia tadi?" Souw Thian Hai
berseru.
"Entahlah. Pada waktu masuk ke dalam benteng
tadi, dia masih berada di belakang kita." Chu Bwe
Hong menyahut.
"Jangan-jangan dia terluka....-"
"Aaaah, tidak...!" Tak terasa Chu Bwe Hong
berdesah pendek. Wajahnya pucat.
Semua orang yang berada di arena itu juga
dikagetkan oleh suara A Liong. Selain berita itu amat
menggembirakan mereka, mereka juga dipaksa untuk
bertahan atas getaran suara itu.
"Bukan main! Siapakah orang yang dapat
mengeluarkan suara seperti ini?"
Demikianlah, dalam arena itu Tio Siau In dan Yok
Ting Ting berhadapan dengan Ho Bing dan kawankawannya,
sementara Souw Thian Hai dan isterinya
tetap melawan Bayan Tanu dan pasukan khususnya.
Walaupun ditekan dan didesak terus, tapi rombongan
1136
itu memberikan perlawanan hebat. Hanya karena
mereka semua memiliki ilmu silat tinggi, maka Bayan
Tanu dan pasukannya masih sulit untuk mengalahkan
mereka.
Ho Bing dan kawan-kawannya, yang kebetulan
menghadapi Tio Siau In dan Yok Ting, juga dapat
mendesak kedua gadis remaja itu. Tongkat Bocornya
melayang-layang, mengurung Tio Siau In dan Yok
Ting Ting. Untunglah kedua gadis itu sudah
menerima pelajaran dari Han Tui Lan dan Souw Lian
Cu. Walaupun terdesak, mereka masih tetap dapat
bertahan.
Di bagian-bagian lain keadaannya sama saja.
Pasukan para pendekar itu tetap tidak mampu
menghadapi gempuran pasukan Hun. Walaupun
mereka dibantu oleh pasukan penjaga benteng, tapi
jumlah mereka masih tetap kalah banyak.
Pasukan Hun memang benar-benar pasukan perang
yang telah dipersiapkan dengan matang. Walaupun
mereka berhadapan dengan para pendekar yang ratarata
memiliki ilmu silat tinggi, tetapi mereka selalu
bergerak dalam barisan yang teratur. Mereka
bertempur dalam kelompok-kelompok yang saling
menunjang satu sama lain. Mereka bergerak di dalam
strategi perang yang teratur. Kekuatan lawan selalu
mereka hadapi secara kelompok atau barisan. Tidak
ada perang tanding satu lawan satu. Mereka selalu
bergerak dalam barisan. Kekuatan mereka selalu
bergabung menjadi satu. Maka tidak mengherankan
1137
kalau lawan mereka menjadi mati kutu. Para pendekar
yang lihai-lihai itu benar-benar tidak berdaya.
Para pendekar itu memang kuat dan banyak sekali
jumlahnya. Tapi mereka bertempur secara perorangan,
mengandalkan kemampuan mereka masing-masing.
Mereka bertempur dengan semangat tinggi, tapi tidak
saling menunjang satu sama lain. Mereka bertempur
hanya dengan tujuan membunuh lawan sebanyakbanyaknya.
Mereka bertempur sendiri-sendiri.
-- o0d-w0o --
JILID XXVII
EBERINGASAN mereka justru
dimanfaatkan oleh pasukan Hun. Para
komandan pasukan Hun yang cerdik itu
segera mengatur siasat. Mereka
menggiring pendekar-pendekar itu ke
dalam jebakan, sehingga banyak diantara
pendekar itu yang jatuh ke dalam perangkap. Mereka
terpisah dari kawan-kawannya dan terkurung dalam
kepungan. Dan mereka segera dikeroyok dan
dicincang seperti binatang buruan.
Korban semakin banyak. Baik di pihak para
pendekar, maupun di pihak pasukan Hun. Namun
karena jumlah pasukan Hun lebih banyak, maka
pasukan para pendekar itu semakin terdesak.
K
1138
Matahari naik semakin tinggi. Panasnya mulai
membakar arena. Bau darah dan keringat bercampur
dengan kepulan asap dan debu. Pertempuran sudah
berlangsung hampir setengah hari.
Diam-diam Liu Wan menjadi khawatir. Walaupun
tidak dapat melihat seluruhnya, tapi ia merasa
kesulitan berada di pihaknya.
"Eh? Mengapa Souw Hong Lam belum juga
muncul? Kemana dia?"
Tampaknya kekhawatiran Liu Wan itu dirasakan
pula oleh Yap Kim. Bekas panglima yang mahir ilmu
perang itu sadar pula bahwa mereka dalam kesulitan.
Dari suara terompet dan genderang yang terdengar,
sudah dapat ditebak apa yang terjadi.
Tapi mereka bertiga tidak dapat berbuat banyak.
Keenam bentuk Mo Hou itu hampir tidak pernah
memberi kesempatan untuk berpikir. Mereka benarbenar
dalam kesulitan. Bahkan berkali-kali mereka
harus jatuh bangun untuk menghindari serangan Mo
Hou..
Baik Liu Wan maupun Si Pelayan Dapur sudah
tidak dapat lagi melindungi alat penyamaran mereka.
Satu persatu alat penyamaran mereka terlepas.
"Saudara A Liong...!?" Liu Wan mencoba
memanggil A Liong yang bertempur dengan barisan
Lok-kui-tin.
"Aku di sini, Locianpwe!"
Pemuda itu hanya mampu menjawab, tapi tidak
dapat berbuat apa-apa. Dia sendiri sedang berjuang
1139
menghadapi barisan Liok-kui-tin. Mereka bertempur
di atas tembok dan genting. Mereka bergerak cepat
sekali. Berputar-putar bagaikan kelompok hantu yang
berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Begitu
kuatnya angin pukulan mereka, sehingga debu dan
daun beterbangan ke segala penjuru. Membuat orangorang
pada menyingkir dan menjauhi tempat itu.
Sementara itu keenam bayangan Mo Hou sudah
dapat menguasai Yap Kim bertiga. Keenam buah
kipas baja itu melayang-layang di sekitar lawannya.
Pemuda sakti itu masih menunggu saat yang tepat
untuk memilih mangsanya. Dan hal itu memang
segera ia lakukan. "Aduuuh!"
Kipas Mo Hou menyerempet punggung dan kepala
Si Pelayan Dapur kemudian menghajar dada Liu Wan.
Begitu kuatnya sehingga Liu Wan memuntahkan
darah segar.
Yap Kim bergegas melepaskan pukulan petirnya
untuk menahan serangan berikutnya. Dia benar-benar
melepaskan seluruh kemampuannya dan tidak
memperhitungkan lagi kesehatannya. Dia tidak peduli
lagi kalau kekuatannya akan terkuras habis.
Dhuuuuar....!
Pukulan itu memang dapat mendorong bayangan
Mo Hou ke belakang. Tapi bersamaan dengan itu
tubuh Liu Wan dan Si Pelayan Dapur juga jatuh ke
tanah.
Topi dan baju tebal Si Pelayan Dapur terkoyak dan
terlepas. Begitu pula dengan bantal dan jenggot Liu
1140
Wan. Alat penyamaran kedua orang itu sudah tidak
berfungsi lagi.
"Heiii???" Mo Hou dan Yap Kim berseru kaget.
Otomatis Mo Hou dan kelima kembarannya melompat
mundur.
Yap Kim ternganga menyaksikan wajah Liu Wan
dan Si Pelayan Dapur. Tiba-tiba saja mereka berdua
berubah menjadi seorang pemuda tampan dan seorang
gadis cantik. Dan wajah pemuda itu segera dikenal
oleh Yap Kim.
"Pangeran Liu Wan Ti....?"
"Apa? Pangeran?" Seruan Yap Kim itu segera
diikuti pula, oleh jeritan gadis cantik Si Pelayan
Dapur yang tidak lain adalah Tio Ciu In itu.
Segumpal darah segar tiba-tiba menyembur lagi
dari mulut Liu Wan atau Pangeran Liu Wan Ti.
Pangeran Mahkota yang telah menghilang hampir
sepuluh tahun itu tampak pucat sekali. Pukulan
gagang kipas itu telah melukai isi dadanya. Meskipun
demikian .pemuda itu masih dapat juga tersenyum
kepada Tio Ciu In.
"Nona Tio...? Aaaah!" '
"Liu Toako? Kau benar-benar Pangeran Liu Wan
Ti?"
Tak terduga Mo Hou tertawa gembira. Karena
kelima kembarannya juga ikut tertawa, maka suaranya
menjadi riuh sekali.
"Hahaha... aku benar-benar tidak menyangka kalau
Pangeran Mahkota yang dicari-cari itu ada di sini!
1141
Sungguh kebetulan sekali! Sekali tepuk kudapatkan
dua harimau sekaligus! Hmmmh!"
Munculnya Pangeran Liu Wan Ti di tempat itu
memang mengejutkan semua orang. Lima tahun
lamanya pangeran itu dicari dan ditunggu-tunggu
kedatangannya. Tak terduga pangeran itu muncul
dalam situasi yang sulit seperti itu.
Keenam bayangan Mo Hou itu kembali bergabung
menjadi satu lagi. Dengan wajah puas pemuda itu
memandang ketiga lawannya. Mereka sudah tak
berdaya lagi. Pangeran Liu Wan Ti terluka dalam. Tio
Ciu In terluka punggungnya. Sedangkan Yap Kim
berdiri lemah di tempatnya. Bekas panglima itu benarbenar
kehabisan tenaga setelah melepaskan pukulan
petirnya.
"Nah! Kuberi waktu untuk berunding! Siapa
diantara kalian yang ingin kupenggal kepalanya lebih
dahulu? Panglima Yap Kim? Atau... Pangeran Liu
Wan Ti?"
"Jangan sombong! Aku belum menyerah! Lihat
pukulan...!" Tiba-tiba Tio Ciu In melompat sambil
menyerang Mo Hou.
Mo Hou berputar sambil melangkahkan kakinya ke
belakang. Tubuhnya lalu meliuk ke samping sambil
menyambar pinggang gadis itu.
Tentu saja Tio Ciu In tidak ingin celaka. Dengan
gesit ia menggeliat ke samping. Di lain saat tangannya
telah memegang sepasang pedang pendek, dan
1142
langsung menyerang Mo Hou lagi. Lagi-lagi terasa
udara menjadi padat sehingga Mo Hou sulit bernapas.
"Gila! Tampaknya kau mempunyai hubungan
perguruan dengan mendiang Bit-bo-ong!" Pemuda itu
menggeram marah.
"Yah, benar! Gadis itu memang menggunakan ilmu
silat Bit-bo-ong! Tadi bocah itu menggunakan Kimliong
Sin-kun, sekarang Pat-hong-sin-ciang! Apakah
dia murid iblis itu?" Walaupun dalam keadaan lemah
Yap Kim masih juga berpikir tentang Tio Ciu In.
Mo Hou menghentakkan tenaganya. Sekejap
tekanan udara itu mengendor. Dan kesempatan itu
segera ia gunakan sebaik-baiknya. Ia melompat ke kiri
sambil menebaskan kipasnya ke tangan Tio Ciu In.
Wuuuus! Daun kipas yang tajam luar biasa itu
nyaris memotong pergelangan tangan Tio Ciu In.
Untung dengan sisa-sisa tenaganya gadis itu berhasil
mengelak. Gerakannya cepat bukan main.
Tio Cu In tidak mau memberi kesempatan pada
lawannya. Walau punggungnya terasa sakit, tapi dia
berusaha mati-matian untuk menahannya. Dia tak
ingin pemuda itu membunuh Panglima Yap Kim dan
Pangeran Liu Wan Ti.
Darah mulai merembes membasahi punggung Tio
Cu In. Luka akibat goresan kipas itu mulai
mengeluarkan darah. Untunglah dalam
penyamarannya tadi dia mengenakan pakaian
berlapis-lapis, hingga sabetan kipas lawan lebih
banyak mengiris pakaian daripada kulit punggungnya!
1143
Selama tinggal di dalam gua Tio Ciu In mendapat
banyak pelajaran dari Si Pendekar Buta. Pendekar
berambut panjang itu benar-benar memiliki ilmu silat
yang sangat tinggi. Bahkan menurut Tio Ciu In, ilmu
silat Pendekar Buta itu masih berada di atas Toatbeng-
jin atau Lo-jin-ong!
Kini ilmu silat Tio Ciu In memang sudah
melampaui Liu Wan. Tapi ilmu yang dia dapatkan itu
ternyata masih jauh dari cukup untuk melawan Mo
Hou. Putera Raja Mo Tan itu memang benar-benar
hebat sekali.
Beberapa kali gadis itu terdorong mundur bila harus
beradu tenaga dengan lawannya. Pedang pendeknya
selalu bergetar bila beradu dengan kipas Mo Hou. Dan
rasanya ia semakin sulit mempertahankan pedang itu.
"Lihatlah! Aku tak perlu memanggil enam orang
kembaranku untuk meringkusmu! Bahkan sebenarnya
aku juga tidak perlu menggunakan kipas ini untuk
mengalahkanmu! Satu tangan kosong saja sudah
cukup untuk membunuhmu!"
Tio Ciu In diam tak menjawab. Pemuda itu
memang sangat sombong. Tapi kenyataannya
memang benar. Dalam keadaan terluka seperti
sekarang, ia memang tak lebih dari seekor anak ayam
yang berusaha keras untuk melawan induknya.
"Aduuuh!"
Sekali lagi Tio Ciu In memekik. Kipas Mo Hou
menyambar lengan kanannya dan hampir saja
memutuskan urat nadinya. Darah merembes keluar
1144
bersamaan dengan terlepasnya pedang yang
tergenggam di dalam tangan itu.
Lengan itu terasa nyeri dan sulit digerakkan.
Sementara luka di punggungnya juga semakin banyak
mengeluarkan darah.
"Berdoalah! Tampaknya... engkaulah yang pertama
akan mati oleh kipasku!" Mo Hou menggeram sambil
mengangkat kipasnya tinggi-tinggi.
Kipas terbuat dari baja tipis itu berkelebat!
Terdengar suara mendesing saat kipas itu menyambar
leher Tio Ciu In! Dan kali ini gadis itu memang tidak
bisa berbuat banyak. Walaupun masih ada pedang di
tangan kirinya, tetapi luka di tangan dan punggungnya
membuat dia tidak leluasa menyalurkan tenaga dalamnya.
Satu-satunya jalan yang dapat dilakukan oleh Tio
Ciu In hanya mengelak. Itu pun hanya dapat
dilakukan dengan cara melemparkan dirinya ke
belakang. Dan ketika hal itu benar-benar
dilakukannya, maka sabetan kipas itu memang luput
mengenai lehernya.
Namun cara menghindar itu juga membuat posisi
Tio Ciu In menjadi semakin sulit. Tubuh Tio Ciu In
terlentang di atas tanah. Dengan demikian
pertahanannya menjadi terbuka. Dan otomatis dia tak
bisa berbuat apa-apa menghadapi serangan Mo Hou
berikutnya.
"Liu Toako...!" Tak terasa bibir gadis itu bergetar.
1145
"Nona Tio!" Liu Wan mencoba bangkit, tapi segera
jatuh kembali. Wajahnya semakin pucat.
Mo Hou benar-benar membuktikan ancamannya.
Sekali lagi kipasnya menyambar ke leher Tio Ciu In!
Wuuus! Dan sekejab saja kipas itu sudah menempel di
leher Tio Ciu In!
Namun pada saat yang sama seleret sinar merah
tiba-tiba membentur daun kipas itu. Duk! Demikian
kuatnya tenaga yang terkandung dalam sinar merah
itu, sehingga kipas tersebut melenceng dan hampir
terlepas dari genggaman Mo Hou!
Mo Hou terkejut sekali. Terkejut dan marah. Dan
dalam kemarahannya kekuatan ilmu sihir pemuda itu
muncul dengan sendirinya! Wussss! Tiba-tiba saja
pemuda gagah itu berubah menjadi mahluk yang
sangat mengerikan!
Tubuh Mo Hou berkembang menjadi dua kali lipat
besarnya. Sementara wajahnya yang tampan itu
berubah menjadi kasar dan berbulu lebat. Bahkan dari
sela-sela giginya yang berubah menjadi tonggos itu
menetes darah segar!
"Ooooh....???"
Tidak seorang pun yang tidak kaget menyaksikan
pemandangan itu. Tidak terkecuali Souw Hong Lam,
orang yang baru saja datang dan menyelamatkan jiwa
Tio Ciu In. Pemuda dari keluarga Souw itu sama
sekali tidak menduga kalau totokan sinar merahnya
membuat Mo Hou berubah menjadi raksasa.
1146
"Souw-heng, awas...! Itu hanya ilmu sihir!" Liu
Wan memberi peringatan.
Mo Hou yang telah berubah bentuk menjadi
seorang raksasa itu menggeram. Matanya melotot
seolah-olah mau keluar dari lobangnya.
"Siapakah kau? Sungguh berani sekali kau
mengganggu dan melawanku!"
Suara itu terasa menggelegar di telinga Souw Hong
Lam. Membuat pemuda itu tiba-tiba tertegun dan
merasa ngeri tanpa sebab. Rasanya wajah itu sangat
menyeramkan sekali. Demikian menakutkan sehingga
Souw Hong Lam tidak ingin melihatnya.
"Kau... kau...?" Souw Hong Lam terbata-bata.
Lehernya bagai tercekik.
Sementara itu Mo Hou telah mengangkat kipasnya.
Perlahan-lahan kipas itu terayun ke bawah, siap untuk
membelah tubuh Souw Hong Lam.
"Saudara Souw....!"
A Liong yang masih sibuk dengan keroyokan Lokhui-
tin itu tiba-tiba berteriak. Suaranya bergetar penuh
tenaga. Demikian kuatnya sehingga pengaruh sihir
yang mencekam hati Souw Hong Lam menjadi goyah.
Kesempatan itu segera dimanfaatkan oleh Souw
Hong Lam. Dengan menghentakkan seluruh
kekuatannya pemuda itu mengibaskan pengaruh sihir
yang mencengkeram pikirannya. Dan begitu pengaruh
sihir itu hilang, dia cepat-cepat melompat ke depan
untuk menyelamatkan Tio Ciu In dan membawanya
ke tempat aman.
1147
Namun bantuan itu justru berakibat buruk terhadap
A Liong sendiri. Begitu perhatiannya terpecah, maka
pukulan Lok-kui-tin menerobos pertahanannya dan
menggempur bertubi-tubi. Keenam Hantu itu memang
benar-benar tokoh berkepandaian tinggi.
Buk! Buk! A Liong terlempar ke bawah. Demikian
cepatnya pukulan Enam Hantu itu sehingga A Liong
tak mampu lagi menghindar.
Tapi dengan cepat A Liong bangkit kembali.
Wajahnya menjadi merah. Pukulan itu sangat
menyakitinya, meskipun tidak sampai melukai
kulitnya.
"Ah, kalian sungguh pandai menggunakan
kesempatan. Kalau begitu aku juga tidak akan segansegan
lagi. Awas, aku akan menggunakan senjata
untuk menyelesaikan perkelahian ini."
Keenam Hantu itu benar-benar kaget.
Pukulan mereka ternyata tidak mampu membunuh
pemuda itu. Pukulan berganda yang dapat
meremukkan seekor gajah itu ternyata tidak berarti
apa-apa bagi A Liong. Ternyata pemuda itu hanya
terlempar dari tempatnya.
Ang-kui yang paling berangasan di-antara Lok-kuitin
tampak bengong, sementara saudara-saudaranya
yang lain juga saling pandang dengan dahi berkerut.
"Bocah itu mempunyai tenaga tersembunyi yang
sangat hebat dalam tubuhnya. Kita... kita harus
berhati-hati menghadapinya," Hek-kui berdesah
perlahan.
1148
Ketika akhirnya A Liong menghunus pedang
anehnya, maka keenam hantu itu melangkah mundur.
Pedang atau pisau panjang berbentuk aneh itu
memantulkan sinar beraneka-warna, seperti pancaran
sinar pelangi yang merebak dan membungkus mata
pedang itu.
"Hati-hati! Pedang kecil itu memiliki perbawa
aneh! Kita tidak boleh melawannya dengan tangan
kosong! Kita harus melawan dengan pisau kita pula!"
Pek-kui memperingatkan saudara-saudaranya.
A Liong menimang-nimang pedang pemberian
gurunya, Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong. Pedang itu
memang bukan pedang biasa seperti kebanyakan
pedang di daerah Tiong-goan. Pedang itu lebih
menyerupai pisau panjang yang melengkung setengah
lingkaran. Mata pisaunya yang mengkilat bersih itu
memantulkan sinar beraneka-warna.
"Kalian memang beruntung! Pedang ini jarang
sekali kupergunakan. Hanya dalam keadaan sulit aku
memakainya. Kini dia terpaksa kukeluarkan untuk
melawan kalian. Nah, berhati-hatilah! Biasanya
lawanku tidak ada yang tahan menghadapinya!
Ayoh....!"
"Sungguh sombong sekali! Tampaknya engkau
juga belum pernah mengenal kami, sehingga kau
menjadi takabur. Ketahuilah... sekarang kau
berhadapan dengan Lok-kui-tin dari Gurun Go-bi!"
Hek-kui berkata penuh geram.
1149
"Sayang sekali. Aku memang belum mengenal
kalian, karena aku hanya seorang pemuda
gelandangan bernama A Liong, yang tidak
mempunyai tempat tinggal dan sanak keluarga.
Hehehe....!"
Wajah Ang-kui menjadi merah. "Tutup mulutmu!"
Teriaknya keras sambil mendahului menyerang. Pisau
lebarnya terayun ganas ke ulu hati A Liong. Dan
kelima saudaranya segera mengikuti pula langkahnya.
Mereka menyerang dari segala jurusan.
Siiing! Siiing! Siiing! Trang! Trang!
Sekilas nampak sinar pelangi berkelebatan di arena
itu, kemudian lenyap setelah terjadi benturan beberapa
kali.
Apa yang terjadi benar-benar mengecutkan hati
Lok-kui-tin! Dalam, gebrakan pertama itu mereka
dikejutkan oleh kehebatan ilmu pedang A Liong. Baru
kali ini mereka berenam menyaksikan ilmu pedang
sekuat dan sehebat itu.
Memang dapat dimaklumi kalau Lok-kui-tin
terkesima melihat ilmu pedang A Liong. Sudah
puluhan tahun mereka malang melintang di dunia
persilatan, baik di luar maupun di dalam Tembok
Besar. Dan selama itu pula mereka menyaksikan
berbagai macam ilmu silat yang aneh-aneh. Namun
ternyata baru sekarang ini mereka menemukan ilmu
pedang seperti kepunyaan A Liong. Ilmu pedang anak
muda itu sama sekali tidak mengandalkan ketajaman
1150
pedangnya, tapi justru memanfaatkan pengaruh dari
kilatan sinar pedang tersebut.
Ternyata A Liong mampu membuat pedang itu
seperti terbakar dan selanjutnya mengeluarkan kilatan
sinar beraneka warna. Dan kilatan sinar itu lalu
meluncur dan memburu Lok-kui-tin berenam.
Anehnya sinar itu mampu melukai kulit daging
mereka. Bahkan pisau Lok-kui-tin tidak kuasa
menghadapi sinar itu. Pisau mereka menjadi rusak
ketika menangkis sinar itu.
"Aaah! Sungguh berbahaya!" Pek-kui menyeringai
kecut.
"Kita gunakan Barisan Lok-kui-tin!" Hek-kui
memberi aba-aba.
"Benar! Sinar itu jangan dilawan dengan kekerasan.
.Harus kita hindari atau kita pantulkan dengan badan
pisau kita! Hanya dengan cara itu kita dapat meredam
kekuatannya!" Ui-kui menanggapi ucapan
saudaranya.
"Tetapi sinar yang memantul itu masih berbahaya
buat kita. Salah-salah bisa mengenai kawan sendiri."
Ang-kui berkata dengan suara bergetar.
"Kalau begitu kita arahkan pantulannya ke atas!
Jangan sampai mengarah ke samping atau ke bawah!"
"Baiklah! Mari kita lakukan!" Pek-kui
mengangguk.
A Liong membiarkan lawan-lawannya berbicara.
Dia tetap tenang saja di tempatnya. Bibirnya justru
tersenyum.
1151
"Sudah selesai berunding? Ayolah...!"
Sikap pemuda itu benar-benar membakar hati Lokkui-
tin. Mereka segera menyusun barisan dan
menyatukan kekuatan mereka. Mereka harus melawan
tenaga A Liong secara bersama-sama. Mereka harus
melawan pemuda itu sebagai kesatuan, bukan sebagai
orang perorang.
"Kalian benar-benar cerdik. Begitu melihat kalian
segera tahu kelemahan dan jalan keluarnya. Bagus
sekali. Tampaknya pertempuran ini memang akan
berlangsung lama. Tapi akan kita lihat, siapa di antara
kita yang lebih dulu membuat kesalahan."
Selesai bicara A Liong menyabetkan pisaunya.
Seleret sinar putih melecut seperti cambuk ke arah
lawan-lawannya. Siiing...! Lok-kui-tin merunduk
berbareng sambil bersama-sama menyilangkan senjata
mereka di atas kepala. Gerakan mereka begitu
serempak dan indah sehingga senjata itu membentuk
deretan tangga yang panjang.
Traaaaang!
Sinar putih itu mengenai deretan pisau-yang
disusun oleh Lok-kui-tin dan memantul ke samping.
Celakanya, pantulan sinar itu menyambar dan
mengenai beberapa pendekar persilatan di dekat
mereka. Orang-orang itu menjerit kesakitan, sebelum
akhirnya jatuh dengan kulit terkelupas bagai dibelah
senjata tajam.
A Liong terkejut. Dia tak menduga kalau
serangannya akan melukai kawan sendiri.
1152
"Ah! Mereka memang cerdik sekali! Aku benarbenar
ceroboh! Aku terlalu meremehkan mereka." A
Liong menyesal.
Lok-kui-tin benar-benar puas. Mereka dapat
menjinakkan ilmu pedang A Liong yang aneh.
Bahkan mereka dapat memanfaatkannya pula.
Sekarang justru mereka berenam yang balik
menguasai arena.
Sambil bertahan A Liong mencari jalan untuk
menghadapi lawannya. Serangan Lok-kui-tin yang
bertubi-tubi hanya ia hindari dan ia punahkan sebelum
mengenai tubuhnya. Namun karena serangan itu
datang tanpa henti, maka sekali dua kali terpaksa
harus ditahan dengan kekuatan pula. Dan akibatnya
memang mengejutkan.
Karena tenaga yang dilontarkan oleh Lok-kui-tin
itu merupakan tenaga gabungan, maka kekuatannya
pun bukan main hebatnya. Berbenturan dengan tenaga
A Liong ternyata membuat kedua belah pihak
merasakan akibatnya. Masing-masing tergetar mundur
ke belakang.
Hek-kui dan Pek-kui terlongong~longong di
tempatnya. Keduanya hampir tidak percaya melihat
hasil benturan itu.
"Gila! Tenaga dalam pemuda itu masih selapis
lebih tinggi dibandingkan tenaga gabungan kita!
Benar-benar tidak masuk akal."
Demikianlah, Lok-kui-tin semakin berhati-hati
menghadapi A Liong. Sebaliknya A Liong sendiri
1153
juga tidak berani berlaku ceroboh terhadap mereka.
Masing-masing tak ingin mencelakai kawan sendiri.
Sementara itu Souw Hong Lam telah meletakkan
tubuh Tio Ciu In di dekat Yap Kim dan Liu Wan Ti.
Tio Ciu In semakin kelihatan lemah dan menderita.
Punggungnya telah basah oleh darah yang terus
mengalir dari lukanya.
"Saudara Souw...? Tolong, ambilkan obat luka di
dalam bungkusanku! Berikan kepada Nona Tio agar
darahnya segera berhenti mengalir." Tabib Ciok atau
Liu Wan atau Pangeran Liu Wan Ti itu berkata
kepada Souw Hong Lam.
"Aku? Nona Tio...?" Pemuda ganteng itu
mengerutkan dahinya seraya mengawasi Tio Ciu In
dan Pangeran Liu Wan Ti berganti-ganti. Wajahnya
kelihatan bingung.
Tio Ciu In tersenyum dan mengangguk. "Benar apa
yang dikatakan Pangeran Liu Wan Ti. Aku yang
rendah bernama Tio Ciu In. Terima kasih atas
pertolongan Souw Tai-hiap."
"Haaah...? Pangeran Liu Wan Ti? Siapa yang...
lhoh, kau...? Kenapa kumis dan jenggotmu, Ciok Lo...
eh!"
Souw Hong Lam kelihatan bingung sekali. Semula
dia mengira berhadapan dengan Tabib Ciok, tetapi
ternyata bukan. Orang yang berdandan seperti Tabib
Ciok itu ternyata tidak memiliki kumis dan jenggot.
Wajahnya juga tidak tua dan keriput seperti biasanya.
Wajah itu masih kelihatan muda dan tampan.
1154
"Dia memang Pangeran Mahkota Liu Wan Ti yang
hilang hampir sepuluh tahun lalu, Anak Muda. Nah,
kini lakukan dulu perintahnya! Ambilkan obat yang
ada di dalam bungkusan itu."
"Yayaya, Tai-ciangkun!" Souw Hong Lam
memandang Panglima Yap Kim yang terduduk lemah
tak berdaya.
Namun sebelum pemuda itu bergerak,
Mo Hou sudah berdiri di depannya. "Tak perlu
bersusah-susah lagi! Bersiap sajalah untuk mati!"
Hardik pemuda itu sambil mengayunkan kipasnya.
Souw Hong Lam terbelalak. Namun dia tidak
segera menghindar. Dia hanya memutar atau
membalikkan tubuhnya saja, sehingga kipas itu
menghunjam telak ke arah punggungnya.
"Mampus... kau!" Mo Hou menggeram.
"Souw-heng...!" Pangeran Liu Wan Ti berdesah
khawatir.
Duuk! Ujung kipas itu menghantam punggung
Souw Hong Lam dan melemparkannya ke tanah.
Kebetulan pemuda itu jatuh di dekat bungkusan Liu
Wan Ti, sehingga kesempatan tersebut dia pergunakan
sebaik-baiknya. Obat yang dimaksud segera ia
keluarkan dan ia lemparkan kepada Tio Ciu In.
Mo Hou terkesiap. Ujung kipasnya seperti
menggores benda keras. Dan lawannya sama sekali
tidak mati atau terluka seperti kehendaknya. Pemuda
ganteng itu hanya tersungkur. Bahkan masih dapat
1155
bergerak dengan lincah seolah-olah tidak terjadi
sesuatu.
"Hmm, kau...? Kau dapat menahan tajamnya
kipasku?"
"Kenapa tidak? Kukira kipasmu tidak setajam mata
pedang!" Souw Hong Lam menjawab sambil
mengebutkan debu yang mengotori jubah panjangnya.
Tiba-tiba Mo Hou menyeringai. "Ah, aku tahu. Kau
keturunan Keluarga Souw dan kini mengenakan
mantel hitam panjang. Kau tentu mengenakan mantel
pusaka warisan Bit-bo-ong itu, bukan?"
Souw Hong Lam tidak menjawab. Kedua
tangannya bersilang di, depan dada, siap untuk
menyerang Mo Hou. Asap putih dan merah tampak
mengepul di atas kepalanya.
Mo Hou tersenyum. Sama sekali tidak ada kesan
khawatir atau takut di wajahnya. Baginya, Souw Hong
Lam bukan lawan yang perlu diperhitungkan. Dari
rumah ia telah dibekali berbagai macam kiat untuk
mengalahkan ilmu silat Tiong-goan. Termasuk juga
ilmu silat Keluarga Souw. Jangankan cuma Souw
Hong Lam, melawan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai
pun dia tidak takut.
Ketika asap di atas kepala Souw Hong Lam itu
semakin tebal, Mo Hou tidak dapat menahan
kesabarannya lagi. Kipas itu justru ia masukkan ke
dalam saku, kemudian dengan tangan kosong dia
menerjang ke depan. Kedua tangannya mencakar
wajah Souw Hong Lam.
1156
Souw Hong Lam tidak berani beradu tangan. Dia
sadar bahwa lwe-kangnya masih kalah jauh
dibandingkan lawannya. Dari pukulan kipas di
punggungnya tadi dia sudah dapat menyelami
kekuatan lawan. Dia memilih jalan lain, yaitu
mengelak ke samping sambil memukul pinggang Mo
Hou. Dan pukulan tersebut hanya pancingan saja,
karena pukulan sebenarnya akan ia susulkan
kemudian.
Tapi Mo Hou adalah seorang jago silat yang cerdik
dan berbakat sekali. Dalam hal tipu muslihat dan
kelicikan, rasanya tidak ada orang lain yang mampu
melebihi dia. Pukulan pancingan itu ternyata ia
biarkan saja mengenai pinggangnya, sehingga Souw
Hong Lam justru menjadi bingung sendiri.
"Anak Muda, awas...!" Yap Kim yang sudah tidak
berdaya itu berteriak lemah.
Souw Hong Lam berusaha menarik kembali
pukulannya. Kakinya melangkah ke samping, lalu
berputar menjauhi lawannya. Sambil bergerak jari
telunjuk kirinya terayun ke depan! Cus! Seleret sinar
merah menusuk ke arah punggung Mo Hou!
Bless! Sinar itu menghunjam telak ke punggung
Mo Hou! Begitu kuatnya sehingga sinar itu tembus
melewati dada.
Tapi sungguh mengherankan. Luka itu sama sekali
tidak mengeluarkan darah. Bahkan tubuh itu sama
sekali tidak ambruk atau kesakitan. Sebaliknya putera
Raja Mo Tan itu justru tertawa gembira. Suaranya
1157
terdengar dimana-mana, karena suara itu tidak cuma
keluar dari mulutnya, tapi juga keluar dari mulut tujuh
Mo Hou yang lain, yang tiba-tiba telah berdiri di
sekitar arena.
Yap Kim, Lu Wan Ti, dan Tio Ciu In mengeluh.
Mereka tidak mempunyai harapan lagi. Melawan satu
orang Mo Hou saja sudah sulit, apalagi harus
melawan delapan orang sekaligus.
Benar juga. Baru beberapa jurus saja Souw Hong
Lam sudah kebingungan menghadapi lawannya.
Totokan Tai-kek Sin-ciangnya benar-benar tidak
berguna menghadapi bayangan-bayangan semu itu.
Beberapa kali totokan jarinya mengenai bayangan Mo
Hou palsu, sehingga tenaganya banyak terbuang siasia.
"Hmmm, sebentar lagi tenagamu habis. Kau tidak
akan dapat berbuat apa-apa lagi kepadaku." Mo Hou
mengejek.
Beberapa buah pukulan mendarat di tubuh Souw
Hong Lam, membuat pemuda itu jatuh bangun di atas
tanah. Membuat pakaian pemuda ganteng itu menjadi
lepas dan kedodoran. Bahkan debu dan tanah
membuat wajahnya yang ganteng itu berlepotan tidak
keruan.
Akhirnya ketika topi yang melekat di kepala Souw
Hong Lam itu copot diterjang angin pukulan Mo Hou,
semua orang yang melihatnya terkejut. Rambut yang
hitam panjang tiba-tiba terurai lepas menutupi
sebagian pundak dan punggung pemuda ganteng itu.
1158
"Eh, Saudara Souw... jadi kau ini?" Liu Wan Ti
berdesah perlahan. Matanya terbelalak.
Souw Hong Lam palsu yang tidak lain adalah Souw
Giok Hong, puteri Hong-gi-hiap Souw Thian Hai,
menjadi merah mukanya. Sambil tersenyum malu
gadis itu membersihkan alis buatan dan semua
kotoran yang menempel di wajahnya. Dan beberapa
saat kemudian wajahnya yang cantik bak bidadari itu
membuat terpesona semua orang.
"Aah!" Tak terasa Pangeran Liu Wan Ti menelan
ludahnya.
"Bukan main! Sungguh tak kusangka hari ini aku
dapat bertemu dengan banyak anak muda
berkepandaian tinggi! Aku benar-benar sudah
ketinggalan zaman." Panglima Yap Kim berdesah
panjang.
Orang yang tidak peduli akan perubahan itu hanya
Mo Hou. Delapan sosok bayangan kembarnya masih
tetap bersiaga penuh di sekitar mereka. Wajahnya
tampak puas dan berseri ketika melihat pasukan Hun
dapat menguasai seluruh arena.
"Nona! Kalau kau benar-benar dari keluarga Souw,
kau tentu puteri kedua Hong-gi-hiap Souw Thian
Hai." Yap Kim berkata.
"Benar, Yap Tai-ciangkun. Aku memang Souw
Giok Hong, puteri kedua Souw Thian Hai."
"Dimana ayahmu sekarang? Apakah dia juga
datang kemari?"
1159
Wajah cantik itu tertunduk sebentar. Ketika
kemudian wajah itu terangkat kembali dan siap untuk
menjawab, tiba-tiba terdengar suara Mo Hou
membentak,
"Diam! Kubunuh kalian semua....!"
Dua diantara delapan bayangan kembar itu segera
meloncat dan menyerang Souw Giok Hong.
Sementara empat bayangan lainnya mendekati
Pangeran Liu Wan Ti, Tio Cu In, dan Panglima Yap
Kim. Sisanya, dua bayangan, masih tetap berdiri tegak
mengawasi keadaan.
Situasi memang sangat gawat bagi pasukan para
pendekar dan bekas Panglima Yap Kim. Lawan
mereka kali ini memang sangat kuat. Selain kalah
banyak, pasukan asing yang dipimpin oleh Mo Hou
itu memang lebih berpengalaman dalam perang besar.
Tampaknya keinginan para pendekar untuk
membebaskan Panglima Yap Kim gagal total. Bahkan
mereka sendiri sekarang berada dalam kesulitan besar.
Ternyata ilmu silat tinggi saja tidak dapat menjamin
untuk menang perang.
Rombongan Kwe Tek Hun dengan para pengemis
Tiat-tung Kai-pang, sudah tercerai-berai. Korban
sudah tidak terhitung lagi. Para pendekar persilatan
yang lain juga sama saja keadaannya. Bersama-sama
dengan para prajurit penjaga benteng yang membelot,
mereka mencoba bertahan sedapat mungkin. Mereka
memanfaatkan lorong-lorong bangunan yang lebih
mereka kenal untuk main petak-umpet.
1160
Api berkobar dimana-mana. Pasukan Hun telah
membakar apa saja untuk memburu lawannya.
Mereka benar-benar menjadi brutal setelah merasa
menang. Watak asli mereka sebagai bangsa barbar tak
dapat dikendalikan lagi. Benteng itu benar-benar
menjadi tempat pembantaian sadis.
Rombongan Souw Thian Hai, Kwe Tiong Li, serta
para jago silat ternama lainnya, masih tetap
mengamuk di arena masing-masing. Kesaktian
mereka memang membuat pasukan Hun kewalahan.
Tetapi dalam perang besar seperti itu mereka tetap
tidak bisa berbuat apa-apa untuk memenangkan
pertempuran. Mereka hanyalah beberapa tetes air diantara
api yang berkobar di medan pertempuran.
Matahari mulai membakar atap benteng itu.
Panasnya menambah gerah hati manusia-manusia
haus darah, yang kini saling bunuh diantara mereka
sendiri. Perang memang membuat manusia
kehilangan harkat hidupnya sebagai manusia. Perang
menghilangkan peradaban manusia sendiri.
Sementara itu Panglima Yap Kim dan
rombongannya tinggal menantikan saat-saat kematian
mereka pula. Mereka tidak mungkin lagi
menyelamatkan diri. Apalagi sekarang tinggal Souw
Giok Hong sendiri yang mampu melawan.
Tapi mana mungkin Souw Giok Hong melawan
ilmu sihir Mo Hou? Tai-kek Sin-ciang dan Tai-lek
Pek-kong-ciang andalan keluarga Souw, hampir tak
ada gunanya melawan bentuk-bentuk semu itu.
1161
Bayangan itu sama sekali tidak dapat disentuh,
apalagi diserang. Tapi sebaliknya bayangan itu
mampu menyerang dan melukai Souw Giok Hong.
"Rahasianya hanya pada bentuk asli orang ini.
Kalau aku bisa menyerang yang asli, dia pasti dapat
kukalahkan. Tapi bagaimana aku dapat memilih,
mana diantara mereka yang asli? Semuanya tampak
sama, bahkan seperti hidup sendiri-sendiri." Souw
Giok Hong berkata hampir putus asa.
Mo Hou memang pemuda pilihan. Bertulang baik.
Dalam usia yang masih amat muda ia telah memiliki
ilmu silat sangat tinggi. Bakat dan kemampuannya
lebih baik daripada kebanyakan orang. Bahkan lebih
baik dari Pangeran Liu Wan Ti, Kwe Tek Hun, Souw
Giok Hong, Tio Ciu In atau lainnya. Selain itu ia
masih juga beruntung mendapatkan guru yang baik.
Kalau diperbandingkan, mungkin cuma A Liong
atau Chin Tong Sia yang setara dengan bakat Mo
Hou. Hanya saja, karena ilmu yang mereka pelajari
tidak sama, maka hasil yang mereka dapatkan juga
tidak sama pula. Mereka memiliki kelebihan dan
keistimewaan sendiri. Selain itu, dalam perjalanan
hidup mereka, masing-masing juga memiliki suratan
nasib serta keberuntungan yang berbeda pula,
sehingga akhirnya ilmu yang mereka miliki juga tidak
sama pula tingginya.
A Liong sejak kecil mempunyai benjolan aneh di
bawah pusarnya. Benjolan yang entah berisi apa, dan
dari mana datangnya, namun yang jelas benjolan
1162
sebesar telor ayam itu mempunyai khasiat
menguatkan tubuh dan melipatgandakan tenaga
dalam. Dan keberuntungan seperti itu jelas tidak
diperoleh Mo Hou maupun Chin Tong Sia.
Sedangkan Mo Hou, meskipun tidak seberuntung A
Liong, tapi dia mendapatkan seorang guru yang
memiliki ilmu silat sangat langka. Selain perguruan
Soa-hu-pai itu sudah berusia ribuan tahun, ilmu
silatnya juga berakar pada ilmu sihir. Oleh karena itu
dapat dimaklumi kalau Soa-hu-pai memiliki beberapa
kelebihan dibandingkan Beng-kau atau aliran silat
lainnya.
Sementara itu ilmu silat Beng-kau adalah ilmu silat
murni dan usianya belum setua Soa-hu-pai. Kelebihan
Soa-hu-pai hanya terletak pada ilmu sihirnya.
Oleh karena itu untuk menghadapi ilmu silat Soahu-
pai, orang harus bisa mengatasi ilmu sihirnya dulu.
Sebelum kekuatan sihir itu hilang, maka pertempuran
dengan orang Soa-hu-pai boleh dikatakan berat
sebelah.
Maka dapat dimaklumi kalau akhirnya pertempuran
antara Souw Giok Hong melawan Mo Hou itu
dimenangkan oleh Mo Hou. Seperti halnya ilmu silat
aliran Beng-kau, ilmu silat keluarga Souw adalah ilmu
silat murni. Dan celakanya, tingkat kepandaian Souw
Giok Hong sekarang juga belum mencapai tingkat
yang tertinggi, sehingga dia juga belum tahu cara
yang baik untuk mengatasi ilmu sihir tersebut.
1163
Dua sosok bayangan Mo Hou itu mengurung dan
mendesak Souw Giok Hong. Karena bayangan itu
hanya bentuk semu, maka tidak dapat disentuh
maupun dilukai. Sebaliknya, dengan kehebatan tenaga
dalam pemiliknya, dua sosok bayangan itu dapat
menyerang dan melukai Souw Giok Hong.
Sementara itu empat bayangan Mo Hou lainnya,
terus melangkah mendekati Yap Kim bertiga. Bentukbentuk
semu itu siap menghabisi mereka.
"Pangeran...! Tampaknya kita tidak dapat mengelak
lagi! Sebaiknya kita gabungkan kekuatan kita untuk
menyongsong mereka. Lebih baik mati sebagai
kesatria, daripada mati seperti binatang yang akan
disembelih!" Yap Kim berbisik.
"Be-benar, Ciangkun...."
Keempat bayangan itu mengangkat tangannya.
Terdengar suara gemeretak tulang dan otot mereka.
Namun sebelum tangan itu melayang, tiba-tiba
terdengar suara teriakan Chin Tong Sia
"Tunggu....!"
Pemuda itu melenting dan berjungkir balik di atas
kepala para prajurit, kemudian berdiri di depan
mereka. Dan air muka pemuda itu segera berubah
melihat lawan yang ada di depannya. Selain sudah
mengenal wajahnya, dia melihat wajah itu tidak hanya
satu, tapi empat sekaligus.
"Gila...!" Chin Tong Sia mengumpat.
1164
"Saudara Chin, awas... dia itu putera Raja Mo Tan.
Dia mahir ilmu sihir." Pangeran Liu Wan Ti memberi
peringatan.
Chin Tong Sia menoleh. Air mukanya semakin
keruh menyaksikan dandanan Pangeran Liu Wan Ti.
Dia mengenal suara dan dandanan itu, tapi tidak
mengenal orangnya.
Pangeran Liu Wan Ti menyeringai menahan sakit.
"Ah, Saudara Chin, maafkan aku. Aku... Tabib Ciok.
Maksudku, aku menyamar sebagai tabib. Aku
menyamar untuk . mencari Panglima Yap Kim! Dan
aku... aku telah menemukan orang yang kucari itu.
Lihat, dia ada di sini!"
Chin Tong Sia tertegun, kemudian memandang
bekas panglima yang sangat ia hormati itu. Kepalanya
mengangguk, namun mulutnya masih terkunci.
Tiba-tiba Panglima Yap Kim beringsut ke depan.
Tubuhnya masih sangat lemah. Sambil menunjuk Liu
Wan Ti ia berbisik,
"Anak muda, ketahuilah...! Dia ini sebenarnya
adalah Pangeran-Mahkota Liu Wan Ti!"
Sekali lagi Chin Tong Sia terkejut. "Pangeran Liu
Wan Ti? Tapi kata orang Pangeran Liu Wan Ti berada
di perbatasan? Beliau berada di Benteng Kongsun
Goanswe. Kurasa... Ciok Lo-cianpwe sendiri yang
mengatakan hal itu."
Liu Wan Ti menghela napas. "Saudara Chin,
panjang ceritanya. Akan kuceritakan nanti."
1165
Pembicaraan mereka terhenti, karena empat sosok
Mo Hou itu tiba-tiba membentak Chin Tong Sia,
"Jadi kau dapat meloloskan diri dari penjara bawah
tanah itu, heh? Siapa yang menolongmu? Hong-gihiap
Souw Thian Hai....?"
"Benar. Tunggulah sebentar lagi. Pendekar itu akan
sampai di sini. Dia sedang membersihkan orangorangmu
yang berusaha merintangi jalannya."
"Bagus. Kalau begitu aku tidak perlu mencarinya!"
Keempat bayangan Mo Hou itu lalu menerjang
Chin Tong Sia. Masing-masing menyerang dari arah
berbeda, seakan-akan mereka itu memang hidup
sendiri-sendiri. Dan seperti dugaan Chin Tong Sia,
tenaga dalam Mo Hou memang selapis lebih tinggi
daripada tenaga dalamnya, sehingga dia harus berhatihati.
Chin Tong Sia lalu melompat ke samping. Dari
tempatnya berdiri ia melihat pertempuran lain di
dekatnya. Dan ia benar-benar kaget ketika melihat
beberapa orang Mo Hou lain di arena itu. Beberapa
orang Mo Hou lain itu sedang mendesak gadis
berwajah ayu.
Otak cerdas Chin Tong Sia segera melihat dan
meyimpulkan keanehan itu. Untuk mengalahkan
semua bentuk semu itu, dia harus tahu dulu mana
yang asli. Dan untuk mencari yang asli, semua bentuk
semu itu harus dikumpulkan dan tidak boleh ada yang
bersembunyi.
1166
Demikianlah, karena ingin , memilih sosok Mo
Hou yang asli, maka Chin Tong Sia segera bergeser
mendekati arena pertempuran gadis ayu itu. Dan
seperti yang ia inginkan, empat bayangan itu terus
memburunya pula. Maka di lain saat mereka telah
berbaur dalam arena pertempuran Souw Giok Hong.
Chin Tong Sia berdiri di sebelah Souw Giok Hong,
sementara delapan sosok bayangan Mo Hou itu
menebar di sekeliling mereka.
"Hei, Saudara Chin! Akhirnya kau datang juga....!"
Souw Giok Hong menyapa dengan lega begitu
melihat Chin Tong Sia.
Tentu saja Chin Tong Sia bingung. Dia tak
mengenal wajah Souw Giok Hong. Dia tak tahu kalau
Souw Giok Hong adalah Souw Hong Lam.
Souw Giok Hong segera menyadari kekeliruannya.
Sambil bertempur dia lalu bercerita tentang dirinya.
"Ah, jadi kau ini puteri Souw Tai-hiap. Kalau
begitu malah kebetulan sekali. Sebentar lagi Souw
Tai-hiap dan isterinya akan datang. Dia ingin
berjumpa dengan Souw Hong Lam."
"Ayah-ibuku juga datang?" Gadis itu tidak dapat
menyembunyikan kegembiraannya.
Demikianlah, Souw Giok Hong lalu bertempur
berpasangan dengan Chin Tong Sia, sehingga delapan
bayangan Mo Hou itu harus bekerja keras menghadapi
mereka.
Chin Tong Sia bergeser mendekati Souw Giok
Hong, lalu berbisik, "Nona Souw. Suhengku pernah
1167
mengatakan bahwa manusia-manusia tiruan ini
dikendalikan oleh yang asli. Semakin tinggi tenaga
dalam pemiliknya, maka semakin dahsyat pula
kekuatan mereka. Untuk mengalahkan mereka, kita
harus dapat mengetahui yang asli."
Souw Giok Hong memandang Chin Tong Sia, lalu
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjawab
dengan suara lirih pula,
"Aku tahu. Tapi bagaimana caranya?" "Sebenarnya
mudah, tapi sulit melakukannya. Pertama-tama kita
harus dapat melacak sumber tenaga yang
menggerakkan boneka-boneka ini. Caranya, setiap
kali mereka bergerak dan menyalurkan tenaga, kita
lihat dan kita rasakan. Kita lihat, siapa diantara
mereka itu yang menjadi sumbernya, yang
menyalurkan tenaganya kepada yang lain. Getaran
tenaga itu yang harus kita lacak. Memang sulit, karena
orang itu akan selalu berusaha mengacaukan indera
kita."
"Suhengmu benar. Memang sulit melakukannya.
Apalagi mereka berjumlah delapan, sementara kita
hanya berdua. Kita bertahan saja sudah sulit, apalagi
harus melacak sumber tenaga mereka. Belum sampai
ketemu, kita sudah mati duluan."
"Ah, jangan patah semangat dulu. Kita belum
mencobanya. Ayoh, sekarang lindungi saja aku.
Akulah yang akan melacak sumbernya."
"Baiklah," Souw Giok Hong menarik napas
panjang.
1168
Keduanya lalu berdiri berendeng. Ketika salah satu
dari Mo Hou itu menyerang, Souw Giok Hong cepat
melangkah ke depan melindungi Chin Tong Sia.
Dibiarkannya pemuda itu mencari Mo Hou asli.
Tapi delapan orang Mo Hou itu terus saja bergerak
ke sana kemari. Bagai kawanan burung elang yang
mengincar anak ayam, mereka menyambar-nyambar
dari segala jurusan. Souw Giok Hong terpaksa jatuh
bangun melindungi Chin Tong Sia.
"Bagaimana, Saudara Chin? Belum kau dapatkan?"
"Wah, sulit sekali! Setiap kali kutemukan, mereka
cepat bergeser .dan berbaur lagi."
Ternyata Mo Hou mengetahui maksud Chin Tong
Sia dan Souw Giok Hong. Buktinya pemuda itu lalu
meningkatkan serangannya. Delapan sosok
bayangannya menyerang habis-habisan, sehingga
Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong menjadi kalangkabut
mempertahankan diri. Keinginan Chin Tong Sia
untuk mencari Mo Hou asli, tidak dapat terlaksana.
Pat-sian-ih-hoat memang terlalu sulit untuk
dilawan. Ilmu silat bercampur ilmu sihir itu tidak
mungkin dihadapi dengan ilmu silat biasa. Untunglah
Souw Giok Hong mengenakan mantel pusaka dan
Chin Tong Sia mahir Cuo-mo-ciang. Walaupun kalah,
tapi setiap kali terjepit masih dapat meloloskan diri.
"Sayang sekali suhengku tidak ada di sini. Kalau
ada dia... hm, orang ini sudah lari terbirit-birit sejak
tadi." Chin Tong Sia bergumam dengan suara
dongkol.
1169
Begitu ingat suhengnya, gerak-gerik Chin Tong Sia
tiba-tiba berubah linglung. Mulutnya melantunkan
pantun sekenanya. Suaranya sumbang dan sama sekali
tidak enak untuk didengar.
Kalau saja burung gagak itu datang padaku,
Matahari pun terpaksa sembunyi.
"Saudara Chin, kau...?" Souw Giok Hong kaget.
Tapi Chin Tong Sia tidak peduli. Sambil bergumam
tak jelas pemuda itu menyerang lawan yang berada di
depannya. Wajahnya kelihatan. keras dan kaku.
Pukulannya juga kuat mengejutkan!
Demikianlah, walau terdesak dan tak bisa berbuat
apa-apa lagi, tapi Chin Tong Sia dan Souw Giok
Hong tetap melawan dengan gigih. Mereka mencoba
bertahan dengan berpasangan. Masing-masing saling
membantu dan saling melindungi.
Tapi bagaimanapun juga delapan bayangan Mo
Hou itu terlalu berat bagi mereka. Seorang Mo Hou
saja sudah sulit dilawan, apalagi sampai delapan
orang. Maka dapat dimaklumi kalau akhirnya mereka
menjadi bulan-bulanan serangan Mo Hou.
Karena marah dan kesal Chin Tong Sia mengumpat
dan memaki sambil bernyanyi. Gerakannya juga
semakin ngawur ternyata pemuda itu justru semakin
berbahaya. Tampaknya saja ngawur, tapi ternyata
gerakannya semakin sulit diduga. Seringkali
pertahanannya juga terbuka dan tak terjaga. Namun
1170
anehnya, pukulan lawan justru sulit sekali
mengenainya.
Babi, monyet, kerbau sialan....!
Tahu ada ekor, tetap saja mencari
Dasar binatang bodoh!
Tentu saja Souw Giok Hong yang belum tahu adat
kebiasaan Chin Tong Sia menjadi bingung dan risih.
Bingung karena mendadak Chin Tong Sia berlagak
seperti orang tidak waras. Risih, karena pemuda itu
mengucapkan kata-kata kasar di depannya.
Tapi seperti halnya Chin Tong Sia, Souw Giok
Hong tidak punya banyak waktu untuk berpikir.
Gempuran Mo Hou benar-benar membuatnya putus
asa. Beberapa kali pukulan dan tendangan Mo Hou
mengenai tubuhnya. Untung saja mantel pusaka itu
melindunginya. Walau sakit, tapi tidak sampai
melukai bagian dalam tubuhnya.
Sebuah tendangan juga tidak bisa dihindari Chin
Tong Sia. Begitu kerasnya sehingga Chin Tong Sia
terlempar menabrak tembok bangunan. Rasanya
seluruh bangunan itu ikut bergoyang.
"Aduh! Monyet gundul menampung air,
Sahabat dekat menggali kubur,
Monyet tua sialan....!"
1171
Sambil berteriak kesakitan Chin Tong Sia
berpantun. Sebuah pantun konyol yang diteriakkan
sesukanya.
Tapi dalam keributan itu tiba-tiba terdengar suara
pantun lain. Serangkai pantun yang dinyanyikan
dengan suara lebih sumbang dan lebih jelek, tapi
dengan dorongan kekuatan tenaga dalam yang
menggetarkan hati.
"Monyet mati belum tentu jadi mayat.
Apa gunanya menampung air?
Bila sahabat tidak putus asa.
Apa gunanya menggali kubur?"
Ketika orang berpantun itu tiba-tiba muncul di
arena, Mo Hou benar-benar kaget setengah mati.
Penyanyi bersuara jelek itu tidak lain adalah Put-paisiu
Hong-jin, manusia bertampang jelek yang dulu
melukainya.
"Kau lagi...!" Pemuda itu menggeram marah.
Seperti orang tidak bersalah Put-pai-siu Hong-jin
tertawa terkekeh-kekeh. Entah apa sebabnya, kali ini
dia datang tanpa baju, sehingga tulang-tulangnya yang
kurus itu menonjol kesana-kemari. Wajahnya yang
buruk itu sangat mengerikan, sehingga Souw Giok
Hong tidak berani menatapnya lama-lama.
Sebaliknya Chin Tong Sia kelihatan gembira dan
berseri-seri. "Nona Souw, inilah... suhengku. Dia
benar-benar datang!"
1172
Souw Giok Hong berusaha tersenyum. Namun
senyumnya segera hilang dan berubah kecut ketika
Put-pai-siu Hong-jin tertawa kepadanya. Lobang
mulut yang lebar itu sama sekali tidak ada giginya.
Kosong melompong.
"Waduh, temanmu cantik sekali....!"
"Suheng, jangan macam-macam!" Chin Tong Sia
membentak.
"Baiklah. Aku tidak akan mengganggunya.
Sekarang pergilah kau membantu teman-temanmu itu!
Serahkan saja anak penyihir ini kepadaku. Akan
kuajak dia main sihir-sihiran, heh-heh-heh."
Chin Tong Sia mengerutkan dahinya. "Suheng, kau
juga mempunyai ilmu sihir?"
Put-pai-siu Hong-jin tertawa terkekeh-kekeh.
"Konyol kau! Siapa bilang aku bisa ilmu sihir? Ilmu
bohong-bohongan itu tidak ada gunanya untuk
dipelajari."
Mo Hou benar-benar marah sekali, begitu
geramnya dia, sehingga semua bentuk kembarannya
berteriak bersama-sama, lalu menerjang Put-pai-siu
Hong-jin.
"Monyet ompong! Kubunuh kau!"
Delapan orang Mo Hou itu menggempur Put-paisiu
Hong-jin dari empat penjuru. Tidak sesosok
bayangan pun yang peduli pada Chin Tong Sia dan
Souw Giok Hong lagi. Sehingga kesempatan itu
dipergunakan pula oleh mereka untuk meloloskan diri
dari tempat itu.
1173
Mereka menyelinap kembali ke tempat Pangeran
Liu Wan Ti berada. Namun baru beberapa langkah
mereka berjalan, sesosok bayangan telah berdiri
bertolak pinggang di depan mereka. Seorang gadis
cantik bermata liar dan ganas yang tidak lain adalah
Mo Goat atau Tiau Hek Hoa!
"Saudara Chin, awaaas... dia Tiau Hek Hoa!
Pengkhianat itu!" Souw Giok Hong yang amat
mengenal Tiau Hek Hoa itu menjerit.
"Jadi kau gadis bermuka hitam itu, heh?" Chin
Tong Sia yang telah dikhianati oleh Mo Goat itu
membentak marah.
"Bocah bodoh...! Memang benar aku! Mau apa?"
"Huh! Sudah kuduga bahwa kau seorang
pengkhianat! Menjebloskan aku ke dalam perangkap!
Lalu kembali ke rombongan dan membohongi
mereka! Sungguh licik!" Chin Tong Sia berseru
marah.
"Biar saja! Aku adalah puteri Raja Mo Tan, yang
mendapat tugas untuk mencari dan membunuh bekas
Panglima Yap Kim! Aku melakukan apa saja untuk
melaksanakan tugas itu. Dan ternyata aku berhasil
mendapatkan buruanku itu. Nah, kalian mau apa?
Mau menghalangi aku? Huh! Jangan harap! Lihat saja
sekelilingmu! Pasukanku telah menguasai benteng
ini!"
Selesai bicara gadis itu mengerahkan tenaga
dalamnya, kemudian memecah diri menjadi empat
bayangan. Dan bayangan itu segera bergeser ke
1174
samping untuk mengepung Chin Tong Sia dan Souw
Giok Hong.
"Saudara Chin, hati-hati dengan senjata gelapnya!
Gadis itu suka menggunakan racun!" Liu Wan Ti
memberi peringatan.
Mo Goat menoleh. Dia segera mengenal wajah Liu
Wan yang pernah berkelahi dengan dia di kota Hangciu
lima tahun lalu.
"Bagus. Sebenarnya aku sudah curiga padamu,
karena aku pernah melihat ilmu pukulanmu. Kau
bukan seorang tabib. Tapi aku tak menyangka kalau
kau masih begini muda...."
"Adik Goat! Jangan lepaskan orang itu! Dia itu Liu
Wan Ti! Putera Mahkota Han yang kita cari selama
ini!" Tiba-tiba Mo Hou berteriak dari tempatnya
begitu melihat kedatangan adiknya.
"Putera Mahkota? Wah, aku benar-benar terkecoh
dalam beberapa hari ini!
Aku sama sekali tidak mengenalnya walau sudah
berkumpul berhari-hari!"
Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong saling
pandang. Ternyata terlepas dari mulut singa, mereka
jatuh ke taring serigala pula. Puteri Raja Mo Tan itu
tidak kalah berbahayanya daripada Mo Hou.
Tio Ciu In yang duduk di sebelah Liu Wan Ti
menjadi cemas pula. Dia teringat peristiwa lima tahun
lalu, pada saat Mo Goat melukai Ku Jing San
sehingga pemuda itu harus dipotong kakinya.
"Liu Toako, eh... Pangeran Liu? Bagaimana ini?"
1175
"Bagaimana dengan lukamu sendiri? Sudah lebih
baik?" Pangeran Mahkota itu balik bertanya.
. "Lumayan. Tapi aku belum berani mengerahkan
tenaga dalam. Aku khawatir darahnya akan keluar
lagi."
Panglima Yap Kim menghela napas panjang.
"Jangan dipaksa. Istirahat sajalah barang sebentar lagi.
Aku juga sedang berusaha mengembalikan tenagaku.
Aku sebenarnya tidak terluka. Aku hanya kehilangan
tenaga karena tadi terlalu memaksa diri."
Pangeran Liu Wan Ti mengangguk-angguk, lalu
menatap Tio Ciu In kembali. Kenangan masa lalu
kembali terbayang di depan matanya. Sungguh tidak
diduga ia masih bisa berjumpa dengan gadis yang
pernah merampas hatinya itu.
"Nona Tio, dimana saja kau selama ini? Aku benarbenar
tidak mengira bahwa kita bisa bertemu lagi.
Pada waktu itu aku dan para tokoh Im-yang-kau
melihat sendiri gua yang runtuh itu. Kami semua
berpendapat bahwa kau telah terkubur di gua itu.
Apalagi kami menemukan sepatu dan ikat
pinggangmu..." Liu Wan Ti berbisik perlahan.
Tio Ciu In tertunduk dalam-dalam. "Pendekar Buta
itu menyelamatkan aku. Aku dibawa ke tempat
tinggalnya dan diambil sebagai murid."
Selesai berkata gadis itu tiba-tiba tersentak. Dia
ingat gurunya Si Pendekar Buta, yang juga datang ke
benteng ini bersamanya.
1176
"Lalu dimana Pendekar Buta itu sekarang, Nona
Tio?"
"Eh, dia... dia juga berada di benteng ini! Aku tidak
tahu, dimana dia sekarang. Mungkin masih di dapur
atau... di gudang penyimpanan kayu bakar."
"Dia? Dia ada di sini....?"
Sementara itu rombongan Souw Thian Hai masih
berkutat dengan pasukan Bayan Tanu yang
mengeroyok mereka. Walaupun pasukan pilihan itu
tidak dapat mendekati mereka, namun Souw Thian
Hai dan rombongannya juga tidak bisa mengalahkan
barisan pengepung itu. Mereka bertempur sambil terus
bergeser mendekati arena pertempuran Mo Hou dan
Put-pai-siu Hong-jin.
Souw Thian Hai berpasangan dengan isterinya, Chu
Bwe Hong. Tio Siau In berpasangan dengan Yok Ting
Ting. Sedangkan Giam Pit Seng berpasangan dengan
muridnya, Tan Sin Lun. Mereka berenam selalu
menjaga jarak agar pasangan mereka tidak terpisah
satu sama lain. Hanya dengan berpasangan mereka
mampu bertahan dari kurungan lawan.
Dua kelompok pasukan pilihan itu dipimpin oleh
Bayan Tanu. Dibantu Ho Bing, Siang-kim-eng, Tiattou
dan lain-lain. Dilihat dari segi ilmu silat, mereka
itu memang bukan lawan Souw Thian Hai dan Tio
Siau In. Namun karena mereka dibantu oleh pasukan
pilihan yang sudah dipersiapkan untuk menghadapi
jago silat tinggi, maka mereka sangat sulit dikalahkan.
1177
Setiap kali terdesak atau mendapat bahaya, mereka
selalu dilindungi barisannya.
Ketika pertempuran itu terus bergeser maju dan
akhirnya sampai di tempat Pangeran Liu Wan Ti
berada, tiba-tiba Panglima Yap Kim bangkit berdiri.
Bekas panglima itu segera mengenal Souw Thian Hai
dan isterinya!
"Saudara Souw...! Souw Hujin! Selamat bertemu!"
Ternyata tidak hanya bekas panglima itu saja yang
gembira melihat kedatangan rombongan itu. Ternyata
Tio Ciu In dan Souw Giok Hong juga gembira sekali.
"Suhu...! Siau In!"
"Ayah! Ibu...,!"
Panggilan atau seruan itu benar-benar mengejutkan
rombongan pendekar Souw Thian Hai. Bahkan Souw
Thian Hai sendiri sampai lupa bahwa dia sedang
berkelahi dengan Bayan Tanu. Dan kelengahan itu
benar-benar dimanfaatkan oleh Bayan Tanu. Tombak
rantainya menerobos pertahanan lawan dan melukai
paha Souw Thian Hai.
"Souw Tai-hiap, awas...!" Giam Pit Seng berteriak.
Tapi mata tombak itu sudah terlanjur mengenai
sasarannya. Darah memancar dari luka itu, membuat
Souw Thian Hai menyeringai kesakitan. Sekejap kaki
kanan itu seperti lumpuh karena mata tombak itu tepat
mengenai urat pokok.
"Aduuuh...!" Giam Pit Seng yang baru saja
memberi peringatan itu tiba-tiba menjerit pula.
1178
Ternyata pedang Siang-kim-eng juga menerobos
pertahanan Giam Pit Seng dan menyambar lengan
pendekar itu. Sebuah goresan yang panjang dan dalam
membuat lengan itu tidak bisa digerakkan lagi.
Otomatis senjata pit yang dipegangnya terlepas.
Seperti berlumba Chu Bwe Hong dan Tang Sin Lun
memberi pertolongan. Chu Bwe Hong menolong
suaminya, sedangkan Tan Sin Lun menolong gurunya.
Walau kaget mendengar suara panggilan kakaknya,
namun Tio Siau In tidak mengurangi
kewaspadaannya, sehingga rasa kaget itu tidak sampai
mencelakakannya. Sambil berseru girang ia meloncat
keluar arena. Dia berlari menuju ke arah Tio Ciu In.
Tapi jeritan Giam Pit Seng mengejutkan Tio Siu In.
Sekejap pikirannya bingung. Siapa yang harus dia
lihat lebih dulu? Gurunya yang berada dalam bahaya
atau kakaknya yang sudah lima tahun berpisah?
Akhirnya Tio Siau In berbalik kembali. Dia tidak
bisa meninggalkan gurunya. Dengan pedang
pendeknya dia menerjang Siang-kiam-eng.
"Cici, maaf! Aku akan menolong Suhu dulu!"
Di pihak lain Souw Giok Hong tak dapat berbuat
apa-apa melihat bahaya yang mengancam ayahnya.
Dia dan Chin Tong Sia benar-benar tak berkutik
menghadapi delapan bayangan Mo Hou. Dia hanya
bisa melihat, bagaimana sibuknya ibunya bersama
Yok Ting Ting menolong ayahnya.
Demikianlah situasi benar-benar buruk bagi pihak
Pangeran Liu Wan Ti. Pasukan para pendekar yang
1179
bergabung dengan perajurit benteng itu tidak mampu
bertahan lagi. Banyak diantara mereka yang tewas
atau terluka. Bahkan banyak pula diantara mereka
yang tertawan. Terompet kemenangan telah ditiup di
segala tempat.
Matahari tepat di atas kepala. Akhirnya
pertempuran usai juga. Panas matahari tidak
menghalangi kegembiraan pasukan Hun. Mereka
bersorak sambil membunyikan terompet dan
tamburnya. Benteng itu telah mereka taklukkan dan
mereka kuasai.
Kalaupun masih ada pertempuran, maka
pertempuran itu hanya pertempuran kecil, yaitu
pertempuran beberapa tokoh persilatan yang dikepung
prajurit Hun. Walau tidak memiliki kawan lagi, tapi
tokoh seperti Kwe Tiong Li, Kwe Tek Hun, Jing-bin
Lo-kai, dan lainnya lagi, masih tetap bertempur sekuat
tenaga. Seperti halnya rombongan Souw Thian Hai,
mereka tetap tidak mau menyerah.
Pangeran Liu Wan Ti merasa sangat sedih.
Walaupun serangan ke dalam benteng itu bukan
rencananya, tapi kekalahan para pendekar persilatan
tersebut benar-benar menyakitkan hatinya. Rasanya ia
ikut bersalah atas kejadian itu.
Panglima Yap Kim juga menyesal sekali. Semua itu
hanya karena dia. Dua kekuatan besar yang samasama
menginginkan dirinya. Yang satu ingin
membebaskan dia, sementara yang lain ingin
membunuh dirinya. Dan ternyata kekuatan yang
1180
menginginkan kematiannya itu telah mengalahkan
kekuatan yang hendak membebaskan dia.
Yap Kim benar-benar sedih dan menyesal sekali.
Ratusan korban telah jatuh di kalangan pendekar
persilatan. Mereka mati hanya karena mau
membebaskan dirinya. Benar-benar suatu
pengorbanan besar, pengorbanan yang sangat
menyentuh jiwa dan semangatnya.
Perasaan seperti itu menghinggapi pula hati
Pangeran Liu Wan Ti. Pangeran itu tak kuasa
menyembunyikan rasa sedihnya. Berkali-kali dia
berdesah panjang.
"Ciangkun, apa yang harus kita lakukan sekarang?
Para pendekar itu telah dikalahkan. Tinggal tokohtokohnya
saja yang masih bertahan. Dan mereka juga
akan tergilas oleh pasukan Hun," Pangeran Liu Wan
Ti mengeluh sedih.
Yap Kim tidak menjawab. Matanya menatap ke
sekelilingnya. Dilihatnya A Liong, Souw Thian Hai,
Giam Pit Seng, Put-pai-siu Hong-jin, Chin Tong Sia,
dan yang lain lagi. Semuanya bertempur dengan susah
payah. Lawan mereka memang hebat. Pasukan dan
jago yang dibawa Mo Hou memang benar-benar
pilihan.
Karena tempat itu lebih tinggi dari tempat lain,
maka Yap Kim juga dapat menyaksikan sisa-sisa
pertempuran di sekitarnya. Ia masih melihat para
tokoh Tiat-tung Kai-pang yang mati-matian bertahan
dari kurungan pasukan Hun.
1181
Bahkan dengan ketajaman matanya ia juga dapat
melihat sahabat lamanya, Kwe Tiong Li dan
puteranya, berkelahi dengan gagah perkasa. Keadaan
mereka tidak kalah sulitnya dibandingkan tokoh-tokoh
Tiat-tung Kai-pang. Barisan yang mengepung mereka
terdiri dari empat lapis, yang secara bergantian
menyerang mereka dari empat jurusan.
Ketika pandangan Yap Kim bergeser ke selatan,
tiba-tiba matanya terbelalak. Lebih kurang seratus
tombak jauhnya dari tempat itu, dia melihat keributan
kecil diantara kerumunan pasukan Hun. Belasan orang
prajurit Hun tampak beterbangan, terlempar ke kanan
dan ke kiri, seolah-olah ada gajah mengamuk di
tengah-tengah mereka.
Namun ketika kerumunan itu menyibak, bukan
gajah yang muncul, tapi seorang lelaki berpakaian
tukang kebun dengan topi lusuh di kepalanya. Orang
itu melangkah perlahan, sambil sebentar-sebentar
memasang telinganya. Wajahnya tidak dapat terlihat
dengan jelas, karena rambut putih di bawah topi lusuh
itu dibiarkan terurai lepas menutupi mukanya.
"Siapa dia...?" Tak terasa bibir Yap Kim itu
bergumam.
"Ada apa, Panglima?" Pangeran Liu Wan Ti dan
Tio Ciu In bertanya kaget.
"Ah, tidak. Aku... aku hanya sedih sekali. Begitu
tulus perjuangan para pendekar itu, sehingga mereka
lebih rela mati daripada menyerah kepada musuh.
Lihatlah! Masih banyak pendekar yang tidak mau
1182
meninggalkan benteng ini walau perang sudah usai.
Mereka memilih gugur daripada pulang menanggung
malu." Yap Kim menjawab hampir tidak terdengar.
-- o0d-w0o --
JILID XXVIII
O HOU dan pengikut-pengikutnya
memang tidak bisa ditahan lagi. Walau
dia dan Liok-kui-tin belum bisa
menaklukkan lawan masing-masing,
tetapi Mo Goat dan yang lain sudah
dapat menguasai keadaan. Bahkan Tan
Sin Lun dan Giam Pit Seng sudah terkapar di atas
tanah. Ketlatangan Tio Siau In untuk menolong
mereka sudah tidak keburu lagi. Siang-kim-eng
bersama Tiat-tou telah mengakhiri perlawanan
mereka. Sabetan golok dan tusukan pedang membuat
guru dan murid itu jatuh terluka parah.
"Suhu...!" Tio Siau In menjerit, namun tak bisa
menolong karena pasukan Ho Bing segera
mencegatnya.
Sebaliknya, pendekar Souw Thian Hai masih dapat
diselamatkan oleh isterinya. Karena keduanya selalu
berdampingan, maka kesulitan Souw Thian Hai segera
dapat ditolong oleh Chu Bwe Hong. Bahkan pada
M
1183
waktu menolong tadi, pedang Chu Bwe Hong nyaris
menebas leher Bayan Tanu.
Namun demikian luka di paha Souw Thian Hai itu
benar-benar mengganggu sepak-terjangnya. Kaki
yang luka itu menjadi sulit digerakkan, sehingga
Souw Thian Hai menjadi lamban dan kurang
bersemangat. Pendekar itu lebih banyak diam di
tempatnya, dan bersama Chu Bwe Hong mencoba
bertahan sekuat tenaga.
Yok Ting Ting yang berhadapan langsung dengan
Ho Bing juga tidak mampu berbuat apa-apa.
Meskipun ilmu silat gadis itu jauh lebih tinggi
daripada lawannya, tapi Ho Bing mendapat dukungan
pasukan khususnya. Pasukan khusus yang sudah
dilatih dan dipersiapkan untuk melayani jago silat
berkepandaian tinggi. Mereka bergerak dalam
kelompok atau barisan, seperti layaknya kawanan
semut yang selalu bekerja bersama-sama. Melawan
satu dari mereka, berarti harus menghadapi
seluruhnya.
A Liong sendiri masih terus berupaya menekan
lawannya. Dengan habisnya perlawanan para
pendekar, maka arena pertempuran itu menjadi
longgar. A Liong tidak merasa takut lagi
mengeluarkan ilmu pedang pelanginya. Kilatankilatan
cahaya segera memancar dari pedang
bengkoknya. Berkelebatan kesana-kemari, memburu
dan mengurung anggota Lok-kui-tin.
1184
Lok-kui-tin dengan Barisan Enam Hantunya
memang dapat melayani kedahsyatan sinar pelangi
tersebut. Dengan cara mempersatukan tenaga dan
pikiran mereka, Lok-kui-tin selalu berusaha
memantulkan cahaya yang menyerang mereka. Dan
sebagai balasannya, mereka ganti , menyerang dengan
segala macam senjata rahasia mereka.
"Baiklah. Akan kulihat sampai di mana kalian bisa
bertahan. Bagaimana kalau senjata rahasia itu habis?"
A Liong mengejek.
Lok-kui-tin menggeram. Mereka benar-benar
menjadi gemas dan penasaran.
Baru sekarang mereka menemukan lawan
setangguh A Liong. Biasanya mereka tidak pernah
bertempur sesulit ini. Satu atau dua orang diantara
mereka, biasanya cukup untuk menyelesaikan
masalah mereka.
"Marilah! Menang atau hancur!" Hek-kui berseru
keras.
Demikianlah walau sangat sulit, A Liong mampu
mengimbangi keuletan Lok-kui-tin. Bahkan pemuda
itu selalu berada di atas angin. Celakanya, A Liong
yang kurang pengalaman itu belum mampu menilai
keadaan. Pikirannya hanya tertumpah pada
pertempurannya sendiri. Dia hanya berpikir,
bagaimana mengalahkan Lok-kui-tin. Sama sekali
tidak terpikir olehnya akan hasil akhir dari
pertempuran itu.
1185
Sementara itu Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong
masih juga bertahan terhadap kurungan Mo Goat.
Sebenarnya ilmu silat mereka berdua tidak kalah
hebatnya dengan ilmu silat Mo Goat. Namun karena
mereka berdua tidak mampu mencari Mo Goat asli
diantara enam bayangan itu, mereka segera jatuh di
bawah angin. Bagaimanapun juga dahsyatnya ilmu
silat mereka, tapi bayangan-bayangan itu tidak dapat
diserang atau dilukai dengan pukulan atau senjata
mereka.
Sebaliknya seperti yang dikhawatirkan Liu Wan Ti,
bayangan Mo Goat itu mulai melepaskan senjata
rahasianya. Senjata rahasia yang amat berbahaya
karena mengandung racun.
Tapi Chin Tong Sia yang cerdik itu ternyata
berpendapat lain.
"Bagus! Walau lebih berbahaya, tapi aku justru
dapat mengetahui aslinya! Hanya yang asli yang
melepaskan senjata rahasia, karena yang lain tidak
mungkin melepas senjata betulan! Nah, Nona Souw...
lindungi aku! Akan kucekik dia!" Chin Tong Sia
berbisik kepada Souw Giok Hong dengan ilmu Coanim-
ji-bit, yaitu ilmu mengirim gelombang suara.
"Baik. Mari kita lakukan!" Souw Giok Hong
mengangguk.
Dengan mantel pusakanya Souw Giok Hong
memang tidak dapat dilukai oleh senjata rahasia Mo
Goat. Sebaliknya, setiap kali senjata rahasia itu
meluncur dari tangan Mo Goat, maka Chin Tong Sia
1186
segera menyerang lawannya. Beberapa kali pukulan
Chin Tong Sia yang amat mematikan itu nyaris
mengenai tubuh Mo Goat asli, sehingga gadis itu
segera menyadari kesalahannya. Ternyata maksudnya
untuk segera mengakhiri pertempuran itu justru
membahayakan dirinya.
"Kau benar-benar cerdik...!" Gadis itu berseru.
Mo Goat menarik kembali niatnya untuk
mempergunakan senjata rahasia. Dia kembali
mengurung Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong
dengan ilmu silat Pat-sian-ih-hoatnya. Karena
tingkatan ilmu silat Mo Goat sekarang sudah lebih
tinggi, maka dia sudah dapat mengubah dirinya
menjadi enam sosok bayangan kembar. Dan semua itu
amat merepotkan lawan-lawannya.
Sementara itu arena pertempuran di dekat mereka
juga berlangsung tidak kalah sengitnya. Mo Hou
dengan Pat sian-ih-hoatnya melawan Put-pai-siu
Hong-jin dengan Cuo-mo-ciangnya!
Tapi kali ini Mo Hou benar-benar ketemu batunya.
Pat-sian-ih-hoat yang ia bangga-banggakan itu
ternyata tidak mampu mengelabuhi mata Put-pai-siu
Hong-jin. Seperti memiliki mata malaikat kakek tua
jelek rupa itu dapat memilih Mo Hou asli diantara
delapan sosok kembarannya. Walau orang tua itu
harus menerobos kesana-kemari menghindari lima
bayangan Mo Hou palsu, namun dia terus saja
memburu Mo Hou asli. Pukulan dan tendangan
1187
kakinya yang berbahaya itu hampir tidak pernah
keliru memilih sasaran.
"Monyet buruk!" Mo Hou mengumpat tidak
habisnya.
"Sudahlah, menyerah sajalah! Kau tidak bisa
mengakali aku dengan bentuk-bentuk palsumu itu.
Meskipun hidungku ini bengkok dan jelek, tapi daya
ciumnya tajam sekali. Aku dapat membedakan bau
keringatku dan bau keringatmu. Sementara semua
bentuk palsumu itu tidak berkeringat, bukan? Hehheh-
heh!"
"Kurang ajar!" Mo Hou terkejut melihat kecerdikan
lawannya.
Put-pai-siu Hong-jin tertawa puas. Saking
senangnya mulutnya segera berdendang. Dendang
yang tidak keruan lagunya.
"Bersampan di atas telaga,
Airnya bening bagai kaca.
Melihat rambut beralih rupa,
Serasa mimpi jadi bayangan."
Karena bibirnya tebal dan lebar, sementara giginya
juga sudah ompong, maka suara dendang yang keluar
dari mulut kakek jelek itu lebih menyerupai omelan
daripada nyanyian. Namun demikian, apa yang terjadi
sungguh diluar dugaan. Semakin panjang dan semakin
getol kakek itu mengomel, semakin hebat pula jurusjurus
yang dia keluarkan. Benturan-benturan tenaga
1188
yang terjadi, semakin lama semakin menggoyahkan
kuda-kuda Mo Hou.
"Monyet tua! Monyet gila!"
Tiba-tiba gerakan Mo Hou berubah.
Satu persatu kembarannya menghilang. Put-pai-siu
Hong-jin tidak mau terkecoh. Setelah kini tinggal
satu, Mo Hou justru bergerak lebih cepat. Demikian
cepatnya sehingga tubuh pemuda itu kadang-kadang
menghilang dari pandangannya.
"Heh-heh-heh! Ilmu apa lagi yang kau keluarkan?"
Put-pai-siu Hong-jin terkekeh-kekeh.
Sungguh mendebarkan. Mo Hou mulai menapak ke
tingkat akhir dari Pat-sian-ih-hoat, yaitu membuat
tubuhnya menghilang. Dengan tenaga dalamnya yang
tinggi, disertai dengan kemampuan sihirnya yang
hebat, pemuda itu mulai mengecoh pandangan Putpai-
siu Hong-jin.
Semakin cepat gerakan Mo Hou, maka semakin
sering pula Put-pai-siu Hong-jin kehilangan
lawannya. Ketika akhirnya pemuda itu mengerahkan
segala kemampuannya, maka Put-pai-siu Hong-jin
tidak dapat melihat lawannya lagi. Pemuda itu hanya
kelihatan bila sedang mengambil napas.
"Ah! Bocah itu benar-benar hebat dan
menakjubkan!" Yap Kim yang tidak pernah
melepaskan matanya dari pertempuran itu memuji
kedahsyatan ilmu silat Mo Hou.
Sekarang Put-pai-siu Hong-jin kebingungan.
Dengan ketajaman indera dan perasaannya,
1189
sebenarnya dia dapat melacak keberadaan Mo Hou.
Tapi karena situasi di arena itu sangat riuh, dan
gerakan Mo Hou juga sangat cepat, maka langkahnya
selalu lebih lambat dari lawannya. Akibatnya
serangan Mo Hou yang datang bertubi-tubi
membuatnya kalang-kabut.
"Tikus busuk memakan cacing!
Cacing kurus kepanasan
Perubahan yang sangat mendadak itu sungguh
mengejutkan Pangeran Liu Wan Ti. Sungguh tidak
terduga keadaan menjadi berbalik seperti itu.
Tampaknya semua orang memang akan dikalahkan
oleh pasukan Hun.
Satu persatu tokoh Tiat-tung Kai-pang jatuh ke
tanah. Demikian pula dengan tokoh persilatan lainnya,
hingga akhirnya tinggal rombongan pendekar Pulau
Meng-to saja yang masih bertahan. Namun demikian
mereka juga sudah kepayahan, sementara pasukan
Hun terus mendesak dan memburu mereka. Akhirnya
rombongan itu sampai juga di tempat Pangeran Liu
Wan Ti berada.
Demikianlah, akhirnya seluruh pasukan Hun
mengepung tempat itu. Mereka bersorak sambil
meniup terompet dan menabuh tambur perang.
Suasana benar-benar ramai dan hingar-bingar.
Panglima Yap Kim dan Pangeran Liu Wan Ti mulai
putus asa. Seluruh kekuatan di pihak mereka sudah
1190
kalah. Tiada lagi yang dapat mereka andalkan.
Tinggal A Liong yang masih berada di atas angin.
Tapi apa gunanya kemenangan A Liong itu kalau
seluruh kekuatan lainnya kalah?
Oleh karena itu pertempuran selanjutnya boleh
dikatakan cuma menunggu waktu saja. Menunggu
saat jatuhnya para pendekar itu seorang demi seorang.
Dan semuanya memang tak bisa dihindarkan lagi.
Dengan dukungan pasukan khususnya, Ho Bing
dan para pembantunya mulai mendesak Tio Siau In
dan Yok Ting Ting. Tongkat Ho Bing mulai
menyentuh kulit Tio Siau In dan Yok Ting Ting. Tapi
sentuhan itu belum sampai membahayakan jiwa
mereka. Namun ketika akhirnya tongkat itu sering
menyentuh tubuh mereka, otomatis perlawanan
mereka menjadi terganggu. Apalagi ketika pasukan
yang mengepung mereka itu semakin kuat mendesak
mereka.
Tio Ciu In benar-benar sedih melihat kesulitan
adiknya. Matanya berkaca-kaca. Lima tahun mereka
berpisah. Kini mereka bertemu justru dalam situasi
yang tidak menyenangkan. Dan celakanya dia sendiri
juga terluka parah, sehingga tidak bisa menolong
adiknya.
"Tak kusangka nasib kami sangat menyedihkan.
Tidak ada orang tua, tidak ada kebahagiaan. Ada guru
yang membesarkan kami, tapi sekarang guru juga
menjadi korban keganasan perang. Aaah...."
1191
Dalam kesedihannya tiba-tiba terlintas wajah
Pendekar Buta, gurunya yang lain. Meski buta
pendekar itu memiliki kesaktian yang hebat.
"Ah, di mana Guru sekarang? Apakah dia juga
menjadi korban perang besar ini? Mengapa dia tidak
muncul-muncul?"
Saking tegangnya bibir Tio Ciu In bergetar
menyanyikan lagu kesukaan Pendekar Buta. Mulanya
hanya perlahan, tapi semakin lama semakin keras,
sehingga akhirnya suara itu melengking tinggi penuh
getaran tenaga dalam.
"Apabila di malam yang gelap gulita,
Tiba-tiba muncul bulan purnama,
Alam pun tersentak dari tidurnya,
Untuk menyambut kehangatan Sang Pelita Malam.
Kekasihku......!
Aku selalu mengharapkan kehadiranmu !"
Pangeran Liu Wan Ti dan Panglima Yap Kim
kaget. Bekas panglima itu memandang Tio Ciu In
dengan bingung. Sekilas ia menyangka gadis itu
menjadi gila. Namun dugaan itu segera
dihapuskannya.
Sebaliknya Pangeran Liu Wan Ti menjadi
berdebar-debar hatinya. Masih teringat di benaknya
peristiwa lima tahun lalu di kota Hang-ciu. Kala itu
Tio Ciu In juga bernyanyi seperti sekarang, dan tiba1192
tiba muncul seorang pendekar sakti bermata buta
menolong mereka.
"Apakah Nona Tio hendak meminta pertolongan
pendekar buta itu lagi?"
Ternyata nyanyian itu sampai ke telinga Kwe Tek
Hun pula. Pemuda yang sedang bertempur di samping
ayahnya itu mempunyai pendapat yang sama dengan
Pangeran Liu Wan Ti. Ia juga teringat peristiwa
mengerikan di kota Hang-ciu itu. Peristiwa yang
membuat Ku Jing San kehilangan salah satu kakinya.
Belum juga lagu itu habis dinyanyikan oleh Tio Ciu
In, tiba-tiba terdengar suara gemuruh mendekati
tempat itu. Suara itu seperti suara angin atau badai
yang menerjang pepohonan.
"In-ji...!" Aku datang! Bertahanlah!"
Bersamaan dengan hilangnya suara gemuruh itu,
seorang lelaki separuh baya telah berdiri di depan Tio
Ciu In. Wajahnya sama sekali tidak kelihatan karena
tertutup oleh rambut putih yang terurai lepas di
mukanya.
"Auuh...!" Pada saat yang sama Chin Tong Sia
justru mengeluh karena pundaknya tergores kipas Mo
Goat.
Souw Giok Hong terkejut. "Saudara Chin, kau
terluka....?"
Walau tidak parah, tetapi kipas itu mengandung
racun, sehingga bahu Chin Tong Sia terasa linu sekali.
Untung pemuda itu selalu membawa obat pemunah
1193
racun di sakunya. Walau tidak segera sembuh, tapi
racunnya tidak berbahaya lagi.
"Nona Souw, berhati-hatilah! Kipas itu
mengandung racun!"
Sementara itu Pendekar Buta telah memegang
lengan Tio Ciu In. Tubuhnya tiba-tiba bergetar begitu
mengetahui keadaan gadis itu.
"Siapa yang melukaimu? Siapa? Katakan!" Katanya
kaku.
Tio Ciu In tak kuasa lagi membendung air matanya.
"Suhu, tolonglah mereka! Mereka itu para pendekar
persilatan yang ingin membebaskan Panglima Yap
Kim. Sekarang mereka dalam kesulitan. Pasukan Hun
telah mengepung tempat ini. Tidak ada jalan untuk
meloloskan diri."
"Apakah panglima itu sudah dapat dibebaskan?"
"Sudah, Suhu. Beliau juga ada di sini sekarang.
Beliau berada di sebelah kananmu."
Wajah tertutup rambut itu kelihatan kaget sekali.
"Baiklah, aku akan mencoba menolong mereka."
Ucapnya kemudian dengan terburu-buru.
Tapi ketika Pendekar Buta hendak berlalu, Tio Ciu
In cepat meraih lengannya.
"Suhu! Di sini juga ada Pangeran Liu Wan Ti."
"A-apa...?" Sekali lagi Pendekar Buta itu terkejut.
"Benar, Suhu. Beliau duduk di dekat Panglima Yap
Kim. Mereka berdua terluka parah seperti aku."
Pendekar itu menundukkan mukanya dalam-dalam.
Sejenak tubuhnya seperti bergoyang-goyang mau
1194
jatuh. Tentu saja Tio Ciu In menjadi kaget sekali.
"Suhu! Suhu! Kau kenapa....?" Wajah itu tengadah
kembali. Sambil menghela napas ia berkata, "Tidak
apa-apa. Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir. Emmm,
In-ji. Coba katakan! Siapa saja pendekar persilatan
yang ada di tempat ini? Sebutkan satu persatu!"
Tio Ciu In menjadi lega kembali. Lalu disebutnya
pendekar yang berada di arena itu satu persatu.
Pendekar yang belum pernah dia kenal, hanya ia
sebutkan ciri-cirinya. Disamping itu Tio Ciu In juga
menyebutkan lawan yang mereka hadapi.
Pendekar itu tertegun ketika Tio Ciu In
menyebutkan nama Hong-gi-hiap Souw Thian Hai.
Tapi ia segera mengalihkan perhatiannya.
"Jadi mereka itu benar-benar... pasukan Hun?
Baiklah, In-ji. Aku akan mencoba menolong Panglima
Yap Kim keluar dari benteng ini. Tapi kau jangan
pergi ke mana-mana. Tetaplah di tempat ini.
Berteriaklah kalau ada yang mengganggumu."
Sementara itu Panglima Yap Kim hampir tidak
berkedip memandang pendekar itu. Ternyata orang itu
adalah orang yang dilihatnya melempar-lemparkan
prajurit Hun tadi. Dan setelah dekat, serasa ada
sesuatu yang dikenalnya pada pendekar itu.
Di lain pihak, Pendekar Buta telah berjalan
mendekati pertempuran, yaitu pertempuran antara Mo
Goat dengan Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong.
Semua orang melihat ada enam orang Mo Goat
yang mengurung Chin Tong Sia. Tetapi bagi orang
1195
buta seperti Pendekar Buta, yang mengamati
pertempuran itu dari indera tubuhnya yang lain,
pertempuran di depannya itu hanya berlangsung
antara seorang melawan dua orang saja.
Memang menurut pengamatan Pendekar Buta,
orang dikeroyok itu memiliki ilmu silat yang sangat
aneh. Orang itu mampu memecah tenaganya menjadi
beberapa bagian, dan setiap bagian dapat digunakan
untuk menyerang lawan dari berbagai arah.
Sementara itu munculnya Pendekar Buta di arena
itu benar-benar mengejutkan Mo Goat. Walau sudah
lima tahun, tapi gadis itu tidak pernah melupakan
orang yang pernah mengalahkan ilmu silatnya.
"Hou-ko! Kau ingat orang yang kuceritakan itu?
Dia berada di sini...!" Gadis itu berteriak kepada Mo
Hou.
Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong terkejut, tapi
tidak tahu apa yang dimaksudkan lawannya. Mereka
berdua hanya melihat seorang lelaki mengenakan
pakaian tukang kebun, datang menghampiri mereka.
Lelaki separuh baya itu kelihatan sedang
mengerahkan tenaga saktinya.
Terdengar suara desis dari sela-sela bibir Pendekar
Buta, seperti suara desis ribuan ular berbisa yang
keluar dari liangnya. Dan berbareng dengan itu
tercium pula bau amis yang menyengat hidung.
"Dia... dia...!" Panglima Yap Kim gelagapan.
Sekonyong-konyong tubuh Pendekar Buta itu
mencelat ke depan. Demikian cepatnya, sehingga
1196
orang hanya melihat hembusan asap yang meluncur
ke arena pertempuran. Gulungan asap itu menyambar
salah seorang dari enam orang Mo Goat itu.
Mo Goat menghindar secepatnya, kemudian
berbaur dengan Mo Goat yang lain. Tetapi Pendekar
Buta itu terus saja memburunya, seolah-olah tidak ada
Mo Goat lain di arena itu. Dia hanya mengelak atau
menangkis bila Mo Goat yang lain itu menyerangnya.
Kesempatan itu dipergunakan oleh Chin Tong Sia
dan Souw Giok Hong untuk keluar dari arena. Mereka
segera menghambur ke arena Hong-gi-hiap Souw
Thian Hai dan Tio Siau In.
Kedatangan Souw Giok Hong segera disambut
ayah-ibunya dengan penuh kegembiraan. Begitu
berjumpa gadis ayu itu segera melapor.
"Ayah! Ibu! Aku sudah menemukan Cici Lian
Cu....!"
Sebaliknya, Chin Tong Sia yang memilih arena Tio
Siau In, juga berkata keras,
"Souw Tai-hiap! Itu dia yang bernama Souw Hong
Lam!"
"Apaaaa...??" Souw Thian Hai dan Chu Bwe Hong
berteriak bersama-sama. Begitu kerasnya teriakan
mereka, sehingga Bayan Tanu menjadi kaget pula.
"Nanti aku ceritakan...!" Souw Giok Hong berseru
gembira. Lupa bahwa mereka dalam kepungan
musuh.
Tapi kedatangan Chin Tong Sia di arena Tio Siau
In, disambut dengan bentak kemarahan oleh gadis itu.
1197
Marah, karena tongkat Ho Bing mulai menyakiti
tubuhnya.
"Mau apa kau ke sini? Mau ikut mengeroyok aku?
Majulah!"
Chin Tong Sia gelagapan tak dapat menjawab,
sehingga Yok Ting Ting menjadi kasihan melihatnya.
Sebenarnya gadis remaja ini amat senang dengan
bantuan Chin Tong Sia. Dia dan Tio Siau In memang
berada dalam kesulitan.
"Sudahlah, Cici. Dia hanya ingin membantu kita.
Biarkan saja. Urusan lain bisa dilesaikan nanti."
Bahu Chin Tong Sia masih terasa sakit, namun
tidak sesakit bentakan Siau In di hatinya. Tapi ketika
dia bermaksud meninggalkan tempat itu, Tiat-tou
menyerangnya dari belakang. Wuuuus!
Chin Tong Sia segera menghindar. Otomatis
tangannya menyambar lengan Tiat-tou. Thaaaas!
Kedua lengan mereka bentrok satu sama lain.
Akibatnya Si Kepala Besi itu terdorong mundur
beberapa langkah. Untung pasukannya segera
menolong. Mereka menyerbu Chin Tong Sia dari
segala jurusan.
Chin Tong Sia tidak bisa mundur lagi. Dia terpaksa
bertempur melawan pasukan khusus itu bersama-sama
Tio Siau In dan Yok Ting Ting. Dan kedatangannya
itu memang sangat membantu gadis itu. Paling tidak
mengurangi lawan Tio Siau In.
Di lain pihak kedatangan Pendekar Buta benarbenar
menjadi neraka buat Mo Goat. Walaupun sudah
1198
berusaha sekuat tenaga, tapi gadis itu tetap tak bisa
menghindar dari kejaran Pendekar Buta. Celakanya,
setiap kali menangkis atau membentur tenaga
Pendekar Buta, gadis itu tentu terlempar ke tanah.
Akhirnya, satu persatu kembaran Mo Goat itu
menghilang. Dan selanjutnya hanya tinggal Mo Goat
asli yang bertempur dengan Pendekar Buta.
"Kurang ajar! Kubunuh kau, orang buta....!"
Namun Mo Goat memang bukan lawan yang
setimpal buat Pendekar Buta. Ilmu silat dan tenaga
dalam gadis itu sama sekali belum apa-apa bila
dibandingkan dengan Pendekar Buta. Selain pendekar
itu mampu bergerak dua kali lebih cepat dari gerakan
Mo Goat, tenaga dalamnya juga jauh di atas tenaga
dalam gadis itu. Itulah sebabnya setiap kali
membentur tangan Pendekar Buta, tubuh Mo Goat
terlempar ke atas tanah. Untung saja orang tua itu
tidak ingin membunuhnya.
Tetapi ketika prajurit-prajurit Hun yang mengepung
tempat itu berteriak dan menabuh genderangnya,
Pendekar Buta menjadi cemas. Dalam keributan atau
pertempuran yang hingar-bingar dia tak mungkin bisa
menolong Panglima Yap Kim. Oleh karena itu dia
harus segera meringkus gadis itu sebagai sandera.
Pendekar Buta lalu mengerahkan ilmu silatnya
yang lain, yang jarang sekali ia keluarkan. Terdengar
tulang dan urat-uratnya saling membelit dan beradu
satu sama lain.
1199
Ketika akhirnya Mo Goat yang marah itu
menyerang dengan jarum-jarum beracunnya, kedua
tangan Pendekar Buta itu segera menyambar ke
depan. Taburan jarum beracun itu tersapu habis oleh
kibasan tangan kirinya, sementara tangan kanannya
tetap melaju ke depan, menuju ke arah muka Mo
Goat.
Mo Goat cepat menarik kepalanya ke belakang.
Tapi mulutnya menjerit keras sekali, ketika tangan itu
tetap saja memburunya. Mati-matian gadis itu
membanting tubuhnya ke belakang.
Namun sekali lagi gadis itu berteriak ngeri. Lengan
Pendekar Buta itu terus saja bertambah panjang,
sehingga tangan itu tidak bisa dicegah lagi saat
mencengkeram pundak Mo Goat. Di lain saat gadis itu
telah ditangkap oleh Pendekar Buta.
"Hou-ko! Tolong...!" Mo Goat menjerit keras.
Mo Hou terperanjat. Tanpa berpikir lagi pemuda itu
melompat meninggalkan Put-pai-siu Hong-jin. Karena
saat itu dia sedang mengerahkan Pat-sian-ih-hoat pada
lapis yang teratas, maka gerakannya sama sekali tidak
terlihat oleh semua orang. Tahu-tahu dia telah berdiri
di depan Pendekar Buta.
Put-pai-siu Hong-jin yang ditinggalkan, termangumangu
di tempatnya. Kakek buruk rupa itu tidak
segera tahu kalau lawannya telah pergi.
"Tikus kecil! Dimana kau....?"
1200
"Suheng, mengapa kau memaki aku? Apa kau tidak
mempunyai lawan lagi?" Tak terduga Chin Tong Sia
menjawab umpatan Put-pai-siu Hong-jin.
Dasar manusia sinting, kakek itu sudah melupakan
keinginannya untuk mencari Mo Hou. Suara Chin
Tong Sia telah merubah jalan pikirannya. Tiba-tiba
saja ia ingin menggoda pemuda itu.
"Hei, Bocah Gendeng. Mengapa kau bersama gadis
itu lagi? Apa gigimu ingin dipatahkan lagi?"
"Suheng, kemarilah! Bantu aku! Jangan berdiri
diam saja."
"Hohoho, baik. Aku senang sekali. Di situ banyak
musuhnya."
Lalu tanpa berbasa-basi lagi kakek buruk rupa itu
segera menghambur ke dalam pertempuran. Gayanya
yang kocak dan seenaknya sendiri itu membikin
gemas dan marah lawan-lawannya. Apalagi begitu
masuk kakek itu sudah mengobral pukulan dan
tendangan yang sulit dihindarkan.
Sementara itu para prajurit Hun yang mengepung
tempat tersebut menjadi beringas. Mereka menjadi
marah karena Mo Goat tertangkap musuh. Hampir
saja mereka menyerbu ke dalam arena pertempuran,
kalau Mo Hou tidak segera menghentikan mereka. Mo
Hou sangat mengkhawatirkan keadaan adiknya. Dia
takut orang buta itu akan membunuh Mo Goat
"Bagus. Tampaknya kau yang memimpin pasukan
ini. Siapakah namamu, Anak Muda? Apakah kau
salah seorang dari panglima Raja Mo Tan?" Sambil
1201
tetap mencengkeram punggung Mo Goat, Pendekar
Buta bertanya kepada Mo Hou.
Mo Hou menggeram menahan marah. "Namaku
Mo Hou, putera Raja Mo Tan. Memang aku yang
memimpin pasukan ini. Nah, lepaskan adikku! Kalau
tidak, pasukanku akan segera membunuh temantemanmu!"
Pendekar Buta mengangkat mukanya. Suaranya
terdengar kaku ketika menjawab ucapan Mo Hou,
"Kalau benar-benar putera Raja Mo Tan, engkau
tentu mengenal Bok Siang Ki, ketua partai Soa-hupai."
"Beliau adalah guruku, beliau telah diangkat
menjadi Pendeta Agung Ulan Kili oleh ayahku."
"Pendeta Agung? Apakah dia telah menyelesaikan
tingkat terakhir dari Pat-sian-ih-hoat? Dia sudah
mahir menghilang?"
Bukan main kagetnya Mo Hou. Orang buta di
depannya itu seperti mengetahui segala hal tentang
gurunya. Siapa dia?
"Kau... kau mengenal guruku? Siapakah kau?"
"Sudahlah. Lebih baik kautanyakan sendiri kepada
gurumu. Yang jelas gurumu tentu akan
memperingatkan, agar kau tidak terlalu dekat dengan
aku. Apalagi sampai melawan aku."
"Sombong sekali!"
Pendekar Buta menghela napas panjang. "Sudahlah,
perintahkan saja prajurit-prajuritmu menyingkir.
Biarkan kami membawa Panglima Yap Kim keluar
1202
dari benteng ini. Di luar nanti akan kulepaskan
adikmu."
"Tidak bisa! Lepaskan adikku, atau...
kuperintahkan pasukanku membunuh kalian semua!"
Mo Hou berseru marah.
"Begitukah? Baik! Majulah! Akan kuremukkan
dulu kepala gadis ini, baru kita berkelahi!" Pendekar
Buta berseru pula. Tangannya diangkat ke atas, siap
untuk menghajar kepala Mo Goat.
Pasukan Hun menjadi beringas lagi. Mereka
mengacung-acungkan senjata mereka dan siap untuk
menerjang ke arena.
Sebaliknya Mo Hou menjadi bimbang. Wajahnya
bertambah kusut.
"Pengecut! Kalau berani, lawanlah aku! Jangan
berlindung di balik nyawa perempuan! Bertempurlah
dengan aku! Satu lawan satu!" Akhirnya Mou Hou
menjerit marah.
Pendekar Buta tertegun. "Kau menantang aku?
Wah, kau akan benar-benar dimarahi gurumu nanti."
"Diam! Lihat pukulanku!"
Mo Hou tidak dapat mengekang diri lagi. Tubuhnya
melesat ke depan sambil mengayunkan kipasnya.
Begitu bergerak dia sudah menggunakan tingkat akhir
dari Pat-sian-ih-hoatnya. Tak seorang pun dari sekian
ratus orang yang mengurung tempat itu, yang dapat
melihat dirinya. Semuanya mengira kalau tubuhnya
hilang begitu saja. Kali ini Mo Hou memang ingin
menunjukkan kesaktiannya.
1203
Semua orang memang melihat bahwa Mo Hou
menghilang Tapi tidak demikian halnya dengan
Pendekar Buta. Sebagai orang buta yang biasa
mengandalkan perasaan dan indera tubuh selain
matanya, ia tetap dapat merasakan hembusan angin
yang datang menerpa dirinya. Dan sentuhan angin
lembut itu sudah cukup memberitahukan dia, bahwa
ada orang yang mendekat dan menyerang tubuhnya.
Tanpa melepaskan tubuh Mo Goat, Pendekar Buta
mengelak ke samping, lalu membalas dengan
menyodokkan siku kanannya ke belakang. Mo Hou
yang tidak terlihat oleh mata itu terperanjat, dan
cepat-cepat melenting menjauhkan diri. Sesaat
pemuda itu merasa heran melihat lawannya tidak
terpengaruh oleh ilmunya. Namun sebentar kemudian
ia menjadi sadar pula akan kebodohannya. Lawannya
buta, sehingga tidak ada bedanya, dirinya kelihatan
atau tidak.
Mo Hou lalu berputar sambil menotok bahu kanan
Pendekar Buta. Wusss! Kipasnya yang tergulung itu
menyambar bahu lawannya. Sengaja dia menyerang
sambil berputar untuk mengurangi getaran udara yang
keluar dari kipasnya.
Sambil mengempit tubuh Mo Goat di ketiaknya,
Pendekar Buta merendahkan tubuhnya. Betapapun
kecil getaran itu, ternyata Pendekar Buta masih dapat
menciumnya. Bahkan sambil merendah pendekar itu
masih sempat menyabetkan rambut panjangnya ke
1204
leher Mo Hou. Taaaar! Ujung rambut itu melecut di
udara, karena Mo Hou keburu mengelak ke samping.
Demikianlah mereka bertempur semakin lama
semakin sengit. Dan pertempuran itu sama sekali
tidak dimengerti oleh orang lain. Bagi mereka
Pendekar Buta itu bermain silat sendirian. Kalaupun
sekali-sekali tubuh Mo Hou itu kelihatan, mereka juga
tidak dapat melihatnya dengan jelas.
Namun bagi Panglima Yap Kim dan Pangeran Liu
Wan Ti, pertempuran itu benar-benar mentakjubkan.
Mereka memang tidak dapat melihat Mo Hou, tapi
mereka yakin bahwa Pendekar Buta itu sedang
bertempur dengan Mo Hou. Oleh karena itu bagi
mereka kesaktian Pendekar Buta sungguh amat hebat.
Betapa tidak? Ilmu sihir aneh yang sempat
membingungkan Put-pai-siu Hong-jin itu ternyata
tidak berpengaruh apa-apa terhadap Pendekar Buta.
Padahal pendekar itu masih membawa tubuh Mo Goat
pula.
Sementara itu situasi pertempuran di arena yang
lain tetap belum berubah. Souw Thian Hai dan anakisterinya
tetap dikepung Bayan Tanu bersama pasukan
pilihannya. Pasukan khusus yang berkelompok dan
berlapis-lapis sehingga sulit sekali ditembus.
Demikian pula dengan keadaan Tio Siau In dan
Yok Ting Ting. Walaupun sudah dibantu Chin Tong
Sia dan Put-pai-siu Hong-jin, mereka tetap belum bisa
keluar dari kepungan. Memang, kedatangan Put-paisiu
Hong-jin dan Chin Tong Sia sangat menolong
1205
mereka. Tetapi pasukan khusus itu memang kuat
sekali. Untunglah dengan gaya bertempur Put-pai-siu
Hong-jin yang angin-anginan itu, pasukan pilihan itu
tidak berani terlalu mendesak.
Hanya pertempuran A Liong yang mulai
menampakkan hasilnya. Walau seorang diri harus
menghadapi enam jago pilihan dari Raja Mo Tan, tapi
akhirnya pemuda itu dapat menguasai lawannya. Ilmu
Pedang Pelangi yang belum pernah terlihat di dunia
persilatan itu ternyata dapat menggempur Barisan
Enam Hantu. Satu persatu Barisan Enam Hantu yang
sangat ditakuti orang itu terlepas dari kelompoknya.
Mula-mula Ang-kui atau Si Hantu Merah, hantu
paling muda dalam kelompok itu, terpental keluar dari
barisannya. Hantu Merah itu tergores pedang pelangi
pada betisnya, yaitu pada saat dia dan saudaranya
gagal menangkis pedang A Liong.
Barisan Enam Hantu itu semakin kacau. Hek-kui
segera berteriak mengatur barisan mereka. Ui-kui
yang terluka lengannya segera menempatkan diri di
belakang barisan. Sedangkan Ang-kui yang terluka
betisnya, tidak mampu bangkit lagi. Darah mengalir
deras dari luka itu.
"Kalian tetap belum mau menyerah. Baik! Akan
kupotong kaki kalian satu persatu!" A Liong
mengancam.
Benar juga. Belum habis pemuda itu mengucapkan
ancamannya, pedang bengkoknya telah terlepas dari
tangan, dan terbang berputar-putar di udara. Ketika
1206
kemudian A Liong mengalihkan perhatian mereka
dengan pukulan jarak jauhnya, tiba-tiba pedang itu
menukik kembali dan menyambar Ui-kui di belakang
barisan.
"Aduh...!" Hantu Kuning itu menjerit kesakitan.
Ui-kui jatuh ke tanah sambil memegangi lengan
kirinya. Kini kedua lengannya tidak dapat digunakan
lagi. Pisaunya juga hilang entah ke mana.
Kini tinggal empat orang saja diantara Lok-kui-tin
yang masih dapat bertempur. Hek-kui saling pandang
dengan saudara-saudaranya. Mereka mulai berpikir
untuk mengerahkan pasukan khusus.
Namun sebelum Hek-kui memberi perintah, tibatiba
terdengar suara jeritan Mo Hou! Ketika Lok-kuitin
memandang ke arena itu, mereka menyaksikan dua
majikan mudanya telah berada dalam genggaman
Pendekar Buta!
"Apa... a-apa yang terjadi?" Hek-kui memekik
bingung.
A Liong juga melihat ke tempat itu. Dia melihat
seorang lelaki berpakaian tukang kebun
mencengkeram punggung Mo Hou dan Mo Goat. A
Liong juga diam saja ketika sisa-sisa Lok-kui-tin itu
menghampiri Pendekar Buta.
Mo Hou tidak berkutik di tangan Pendekar Buta.
Dia sama sekali tidak menduga kalau lawannya
memiliki ilmu silat aneh, yang dapat mengecoh
dirinya, sehingga dia terjebak pula seperti adiknya.
1207
Ternyata Pendekar Buta itu dapat membuat tangan
atau kakinya lebih panjang daripada semestinya.
Bahkan yang lebih mengerikan lagi, Pendekar Buta
itu dapat melepas engsel sendinya, sehingga lengan
dan kakinya dapat ditekuk dan digerakkan ke segala
arah.
Mo Hou juga terjebak ketika suatu saat berada di
belakang Pendekar Buta. Sama sekali dia tak
menyangka ketika tiba-tiba tangan pendekar itu
menghantam ke belakang seperti layaknya kalau
tangan itu menghantam sasaran di mukanya. Ketika
dia mencoba menghindar, ternyata lengan itu
bertambah panjang, sehingga dengan mudah menotok
urat di lehernya.
"Nah! Kau kalah, Anak Muda. Kau bukan
tandinganku. Mungkin hanya gurumu yang dapat
melayani aku. Itu pun kalau ilmunya sudah lebih baik
daripada dulu." Pendekar Buta berkata ketus.
"Apa maumu sekarang?" Mo Hou berseru kesal.
Pendekar Buta membawa kedua tawanannya itu ke
depan Tio Ciu In. Ketika Hek-kui bersama tiga
saudaranya mengejar dan mengurung, Pendekar Buta
menghardik mereka.
"Semuanya berhenti bertempur! Lihat...! Nyawa
pimpinan kalian berada dalam genggamanku! Apakah
kalian menginginkan kematian mereka?"
Suara Pendekar Buta itu benar-benar mengejutkan
prajurit Hun. Semuanya berhenti bertempur.
1208
Termasuk juga Bayan Tanu, Ho Bing, dan seluruh
pasukan khusus mereka.
Para tokoh persilatan yang tersisa segera berkumpul
di dekat Pangeran Liu Wan Ti. Mereka menunggu
perintah Pendekar Buta.
"Suhu! Para pendekar telah berkumpul di sini. Apa
yang harus kami lakukan?" Tio Ciu In bertanya
kepada gurunya.
Pendekar Buta mengangguk, kemudian membentak
Hek-kui dan Pek-kui yang berdiri di depannya.
"Bagus! Nah, kalian dengar itu? Sekarang
perintahkan kepada pasukan kalian untuk mundur!
Aku tidak main-main! Kedua orang ini menjadi
jaminannya!"
"Hek-kui...! Kau...!" Mo Hou membuka mulutnya.
Tapi belum juga habis ucapan itu keluar dari
mulutnya, Pendekar Buta sudah lebih dulu menotok
urat gagunya.
Hek-kui bertukar pandang dengan Pek-kui. Mereka
merupakan pimpinan tertinggi setelah Mo Hou dan
Mo Goat. Dengan tertangkapnya kedua pimpinan
mereka itu, otomatis kini mereka berdua yang harus
menentukan jalan pertempuran selanjutnya.
"Cepat lakukan! Atau kalian ingin gadis ini yang
kubunuh lebih dahulu?
Baik...!" Pendekar Buta menggertak sambil
mengangkat Mo Goat di atas kepalanya.
1209
Pendekar Buta sengaja mencengkeram jalan darah
pao-si-hiat di dekat tulang punggung Mo Goat,
sehingga gadis itu meringis kesakitan.
Hek-kui gemetar. Pikirannya menjadi bingung. Dia
dan saudara-saudaranya tak mungkin bisa hidup bila
kedua putera Raja Mo Tan itu mati. Tapi kalau
mereka melepaskan Panglima Yap Kim dan Pangeran
Liu Wan Ti, mereka akan mendapat marah pula.
"Baiklah! Akan kami lakukan!" Tiba-tiba Pek-kui
berseru.
"Pek-kui...?" Hek-kui berbisik pelan.
"Apa boleh buat. Masih ada waktu lain untuk
membunuh mereka. Tapi tak ada kesempatan kedua
bila dua junjungan kita itu mati. Bagaimana
pendapatmu, Hek-kui?" Pek-kui menarik napas pedih.
Hek-kui mengangguk-anggukkan kepalanya. Tapi
bibirnya tetap terkatup rapat.
Pendekar Buta bernapas lega. Tangannya turun
kembali.
"Kalau begitu lekas kalian perintahkan mereka
untuk memberi jalan kepada kami! Siapkan pula dua
perahu besar dan satu sampan kecil untuk kami!"
"Suhu...?" Tio Ciu In mendekati gurunya.
"In-ji! Kumpulkan teman-temanmu! Minta kepada
mereka untuk mengikut di belakangku!"
Pek-kui dan Hek-kui terpaksa menuruti perintah
Pendekar Buta. Mereka menyibakkan prajurit Hun
yang memenuhi tempat itu. Mereka juga harus
menghalangi serta membujuk keberingasan prajurit
1210
Hun. Mereka benar-benar tidak menginginkan orang
buta itu membunuh Mo Hou dan Mo Goat.
Dalam perjalanan ke pintu gerbang itulah Tio Siau
In bertemu dengan A Liong. Betapa gembiranya gadis
itu, sehingga Chin Tong Sia menjadi iri melihatnya.
Sebaliknya pertemuan antara Kwe Tek Hun dengan
Pangeran Liu Wan Ti dan Tio Ciu In terasa kaku dan
kikuk, karena Liu Wan yang mereka kenal dulu
ternyata adalah Pangeran Liu Wan Ti.
Ketika melewati kumpulan tawanan yang masih
hidup, A Liong berteriak, "Locianpwe! Bagaimana
dengan teman-teman kita yang tertawan itu?"
"Bawa mereka!" Pendekar Buta berseru tegas.
"Baik!"
A Liong melesat pergi, diikuti Chin Tong Sia dan
Kwee Tek Hun. Bertiga mereka mengurus para
pendekar persilatan yang tertawan itu dan membawa
mereka pergi. Para pendekar yang terluka dipapah
atau digendong pendekar lainnya.
Akhirnya rombongan itu menjadi banyak sekali.
Mungkin lebih dari tiga puluh orang. Mereka
berbondong-bondong pergi ke pintu gerbang benteng.
Setiap kali melewati mayat-mayat para pendekar yang
tewas mereka berdesah sedih.
Matahari mulai bergulir ke barat. Panasnya benarbenar
menyengat ubun-ubun. Di depan pintu gerbang,
di bawah tangga, telah disiapkan dua perahu besar dan
satu sampan kecil. Tampak belasan prajurit Hun
berjaga-jaga di sekitar perahu tersebut.
1211
"Aku mendengar suara air. In-ji, apakah kita telah
sampai di pintu gerbang benteng? Apakah mereka
telah menyiapkan perahu untuk kita?"
"Sudah, Suhu. Ada belasan prajurit yang menjaga
perahu itu."
"Suruh mereka pergi!"
Hek-kui memberi isyarat kepada prajurit-prajurit itu
agar pergi meninggalkan perahu. A Liong dan Chin
Tong Sia segera meloncat ke depan mendahului yang
lain. Mereka memeriksa perahu tersebut lebih dahulu.
"Bagaimana, Saudara Chin?' Baik dan aman?"
Souw Giok Hong berseru kepada Chin Tong Sia.
"Marilah! Semuanya beres!" A Liong menjawab
seruan itu.
"Nanti dulu...!" Pek-kui berseru dan melompat ke
depan Pendekar' Buta. "Bagaimana dengan kedua
pimpinan kami itu? Kami telah menuruti
permintaanmu. Sekarang kau harus menepati janji
pula. Bebaskan mereka!"
Pendekar Buta menggeram. "Jangan takut. Aku
tentu akan membebaskan mereka. Tapi aku juga tidak
sebodoh yang kau kira. Kami baru melepas mereka
setelah semuanya pergi."
"Suhu...? Engkau tidak pergi bersama-sama kami?"
Tio Ciu In memegangi lengan gurunya.
"Jagalah dirimu baik-baik, In-ji. Aku tentu
mencarimu nanti. Nih! Ambil saputangan ini! Berikan
kepada Pangeran Liu Wan Ti dan Panglima Yap Kim
setelah semuanya aman! Mengerti....?"
1212
"Tapi, Suhu...."
"Sudahlah. Ikuti saja perintahku."
A Liong maju ke depan. "Locianpwe, biarlah aku
menemanimu. Siapa tahu mereka berlaku curang?"
"Tidak usah, Anak Muda. Kau pergi saja bersama
yang lain."
Para pendekar itu- mengikuti Panglima Yap Kim
dan Pangeran Liu Wan Ti ke dalam perahu. Mereka
dibagi menjadi dua bagian, dan masing-masing
mendapat satu perahu. Panglima Yap Kim dan
Pangeran Liu Wan Ti berada dalam satu perahu,
sementara Souw Thian Hai dan keluarganya di perahu
lainnya. Mereka segera berangkat setelah
mengucapkan terima kasih kepada Pendekar Buta.
Beberapa waktu kemudian dua perahu besar itu
telah menghilang dari pandangan. Kini tinggal
Pendekar Buta yang masih tinggal di tempat itu. Dia
tinggal sendirian, dikelilingi Hek-kui dan saudarasaudaranya.
Bahkan ribuan prajurit Hun yang ada di
dalam benteng itu ikut mengepung pula.
Perlahan-lahan Pendekar Buta membawa Mo Hou
dan Mo Goat menuruni tangga. Hek-kui dan saudarasaudaranya
mengikuti dari belakang. Sementara itu
Bayan Tanu dan pasukannya tetap mengawasi dari
kejauhan. Semuanya siap untuk menyerang Pendekar
Buta.
Sampai di bawah Pendekar Buta memasang
telinganya. Suara kecipak air menjilat kayu, memberi
1213
petunjuk dimana sampan kecil itu berada. Dan
pendekar itu segera melompat ke dalam sampan.
"Nih, terimalah!" Pendekar itu berseru sambil
melemparkan tubuh Mo Hou dan Mo Goat ke atas
tangga.
Selesai mengembalikan tawanan pendekar itu
menepukkan tangannya ke dalam air. Plak! Plak!
Plak! Tiba-tiba sampan kecil itu terbang ke tengah
sungai. Ratusan anak panah segera bertaburan dari
atas tembok, memburu sampan itu. Ternyata para
prajurit Hun yang berada di atas tembok telah
menyiapkan serangan anak panah.
Pendekar Buta segera melepas bajunya dan
menangkis hujan anak panah itu. Cuma sebentar,
karena hujan panah itu segera berhenti. Sampan itu
telah berada diluar jangkauan anak panah.
Sementara itu perahu yang ditumpangi Panglima
Yap Kim dan Pangeran Liu Wan Ti melaju terus tanpa
berhenti. Semuanya lupa lapar, lupa haus, dan lupa
lelah. Yang mereka pikirkan hanya menyingkir jauhjauh
dari benteng itu.
Akhirnya mereka mendarat di sebuah dusun di
tepian sungai. Penduduknya menyebut dusun itu Uikang-
cung.
Kepala dusun Ui-kang-cung segera menyongsong
dan menjamu mereka. Apalagi ketika dia tahu bahwa
yang datang adalah Pangeran Liu Wan Ti dan bekas
Panglima Yap Kim. Daerah itu memang daerah para
pengagum Panglima Yap Kim.
1214
"Pangeran...! Kedatangan Pangeran di dusun ini
sungguh suatu keberuntungan yang tidak kami sangka
sebelumnya. Bagaimana tidak? Kebetulan sekali
dusun ini menjadi ajang perjuangan para pendekar
yang ingin menumbangkan kekuasaan Ouyang
Goanswe." Kepala Dusun itu melapor kepada Liu
Wan Ti.
"Menjadi ajang perjuangan para pendekar...?"
Pangeran Liu Wan Ti mengerutkan keningnya.
"Benar, Pangeran. Akan hamba tunjukkan tempat
mereka bila Pangeran menghendaki."
Pangeran Liu Wan Ti mengawasi Panglima Yap
Kim untuk meminta pendapat. Dan panglima itu
segera menganggukkan kepalanya.
"Lebih baik kita melihatnya, Pangeran."
Demikianlah, Kepala Dusun itu lalu membawa
mereka ke suatu tempat di pinggiran sungai. Di sana
tampak ribuan tenda memenuhi tepian Sungai Huangho.
"Gila! Ini benar-benar kekuatan yang maha
dahsyat!" Panglima Yap Kim berdesah sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Siapa yang memimpin para pejuang ini?"
Pangeran Liu Wan Ti bertanya kepada Kepala Dusun
Ui-kang-cung.
"Jenderal Yo Keng, Pangeran."
Pangeran Liu Wan Ti terkejut. "Kaumaksudkan...
Jenderal Yo Keng dari perbatasan itu?"
1215
"Benar, Pangeran. Dulu beliau diutus Kongsun
Goanswe ke kota raja untuk menemui Menteri Kui
Hua Sin. Tapi sampai di istana beliau malah hampir
dibunuh oleh Auyang Goanswe. Akhirnya Jenderal
Yo Keng pulang, dan di sepanjang jalan beliau
mengumpulkan para pejuang yang ingin
menumbangkan kekuasaan Auyang Goanswe.
Sekarang pejuang yang bergabung dengan Jenderal
Yo Keng telah mencapai ribuan."
Demikianlah, malam itu juga Panglima Yap Kim
dan Pangeran Liu Wan Ti menemui Jenderal Yo
Keng. Bukan main gembiranya jenderal itu karena
sejak dulu ia sangat mengagumi Panglima Yap Kim
maupun Pangeran Liu Wan Ti. Bahkan
kedatangannya ke kota raja dulu juga untuk
memberitahukan munculnya Pangeran Liu Wan Ti di
perbatasan.
Ketika berita kedatangan Panglima Yap Kim dan
Pangeran Liu Wan Ti itu diumumkan kepada para
pejuang, mereka menyambut dengan gegap gempita.
Dan jadilah malam itu mereka berpesta-pora
menyambut kehadiran Panglima Yap Kim dan Putera
Mahkota.
Kebetulan malam itu bulan muncul dengan
terangnya. Maka dengan disaksikan oleh gemerlapnya
bintang di langit, Panglima Yap Kim dikukuhkan
sebagai pimpinan dari para pejuang itu. Sementara
para pendekar yang lain, seperti Hong-gi-hiap Souw
Thian Hai, Kwe Tai-hiap, Put-pai-siu Hong-jin, A
1216
Liong, Tio Ciu In dan lain-lainnya, ikut membantu
pula dari belakang.
Para pendekar itu lalu berkumpul di tepian sungai.
Mereka bergerombol sambil menikmati aliran sungai
di atas bebatuan.
"Sayang sekali Pendekar Buta tidak ikut hadir di
tengah-tengah kita. Di mana dia sekarang?" Panglima
Yap Kim bergumam perlahan.
"Benar, Saudara Yap. Kita banyak berhutang budi
kepadanya. Tanpa pertolongannya, kita semua sudah
mati di dalam benteng itu. Ilmu silatnya benar-benar
hebat..." Souw Thian Hai berkata pula.
"Tapi omong-omong... rasanya aku pernah
mengenal gaya ilmu silatnya. Tapi aku benar-benar
sudah lupa. Apakah Souw Tai-hiap juga berpikir
demikian?"
"Entahlah. Semuanya serba cepat, dan aku sendiri
sedang repot menghadapi lawan, sehingga tidak
memperhatikan ilmu silatnya."
"Hai...!" Tiba-tiba Panglima Yap Kim tersentak
kaget. "Aku ingat sekarang! Ilmu silat itu... ilmu silat
itu...? Ah, dia... Pangeran Liu Yang Kun!"
"Pangeran... Liu Yang Kun?" Semuanya berseru
kaget.
"Benar, Souw Tai-hiap. Sekarang aku ingat ilmu
silat yang digunakan untuk menangkap putera Raja
Mo Tan itu. Namanya... Kim-coa-ih-hoat (Baju Ular
Emas)! Yah, benar... namanya Kim-coa-ih-hoat!
1217
Hanya Pangeran Liu Yang Kun saja di dunia ini yang
memiliki ilmu silat itu."
"Benarkah? Jadi... dia masih hidup?"
"Wah, sungguh menyenangkan kalau dia masih
hidup. Kita dapat mempertemukan Enci Lian Cu
dengan suaminya." Sekonyong-konyong Souw Giok
Hong bersorak gembira sambil memeluk ibunya.
"Eh, aku lupa membawa titipan saputangan dari
guruku!" Tio Ciu In ikut-ikutan berteriak.
Gadis itu merogoh sakunya dan mengeluarkan
saputangan putih. Saputangan itu lalu diserahkan
kepada Pangeran Liu Wan Ti.
"Maaf, Pangeran. Aku benar-benar lupa. Guruku
berpesan untuk memberikan saputangan ini kepadamu
atau kepada Panglima Yap Kim."
Pangeran Liu Wan Ti menerima saputangan itu
dengan perasaan heran. Tapi jantungnya segera
berdegup keras ketika melihat tulisan di atas
saputangan itu.
Adikku,
Kau yang berbakat mengurus negara.
Kuserahkan segalanya kepadamu.
Kakakmu,
"Benar. Dia... dia memang Pangeran Liu Yang
Kun!" Panglima Yap Kim berdesah panjang.
Sejenak pertemuan itu menjadi sunyi, masingmasing
memikirkan sepak terjang pangeran yang amat
1218
sakti itu. Hanya golongan muda seperti A Liong yang
tidak tahu cerita tentang Pangeran Liu Yang Kun.
"Wah, tampaknya ilmu silat Pangeran itu tinggi
sekali, ya?" A Liong yang duduk di dekat Tio Siau In
itu berkata perlahan.
"Tentu saja. Bagaimana mungkin dia bisa
menyelamatkan kita kalau ilmu silatnya biasa-biasa
saja. Lalu... bagaimana dengan keinginanmu dulu?
Katanya kau ingin mendaki Gunung Hoa-san?
Bagaimana? Jadi tidak?" Tio Siau In tersenyum
menggoda.
"Wah, Cici. Kau ini baru bertemu sudah mengajak
berantem."
Demikianlah, mulai malam itu Pangeran Liu Wan
Ti dan Panglima Yap Kim bersumpah untuk melawan
kekuasaan Auyang Goanswe. Mereka bahu-membahu
memimpin para pejuang demi menegakkan keadilan
di negeri mereka.
SEKIAN
Yogyakarta, 31 Maret 1995.
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil