Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 25 April 2018

Cersil Komik Naga Beracun 2

----
Di lain pihak, Lan Ci juga merasakan
kebahagiaan yang mendalam. Suaminya yang
sekarang jauh bedanya dengan suami pertamanya.
Suaminya yang sekarang adalah seorang yang
jantan, yang matang dalam pengalaman. Sehingga
di samping sebagai suami yang mencinta, juga dari
suaminya ini ia menerima bimbingan. Sehingga
kadang ia menganggap suaminya ini juga gurunya
yang amat pandai dalam segala hal. Ilmu silat yang
dikuasai nyonya muda ini meningkat dengan
cepatnya.
-ooo0dw0ooo-
Perahu kecil itu meluncur dengan cepatnya di
sepanjang tepi Sungai Huang-ho dan berhenti di
luar dusun Hong-cun. Gadis yang naik perahu
seorang diri ini dapat mendayung dan
mengendalikan perahu dengan gerakan tangkas,
tanda bahwa ia sudah terbiasa mengemudikan
perahu.
Setelah perahu itu menepi di pantai, iapun
melangkah keluar dan menarik perahu itu ke
darat. Cara ia menarik tali perahu dan berhasil
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membuat perahu itu naik, padahal pantai itu tidak
terlalu landai, membuktikan bahwa biarpun ia
seorang wanita muda yang cantik dan nampak
lembut, ternyata ia miliki tenaga yang kuat.
Wanita itu masih muda, usianya sekitar
duapuluh satu tahun lebih, berwajah bulat dan
berkulit putih kemerahan. Hidungnya mancung
dan matanya tajam. Wajah yang cantik dan manis.
Di punggungnya menempel dua batang pedang
bersilang, dan di atas pedang itu terdapat buntalan
kain sutera kuning. Dandanannya juga sederhana
dan ringkas, semua ini menunjukkan bahwa ia
seorang wanita kangouw yang suka melakukan
perjalanan seorang diri dan mengandalkan ilmu
kepandaian silat untuk melindung dirinya sendiri.
Biarpun usianya paling banyak baru duapuluh
dua tahun, akan tetapi wanita itu bukan gadis lagi,
melainkan seorang janda! Ia adalah Kwa Bi Lan,
yang baru saja ditinggal mati suaminya yang juga
menjadi gurunya, yaitu Sin-tiauw Liu Bhok Ki, Si
Rajawali Sakti! Biarpun suaminya itu jauh lebih
tua darinya, ketika ia menjadi isteri Liu Bhok Ki,
suaminya yang juga gurunya itu sudah berusia
enampuluh lima tahun dan ia sendiri baru
sembianbelas tahun, namun Kwa Bi Lan amat
mencinta suaminya. Baginya, suaminya
merupakan orang terbaik di dunia ini. Dahulunya
ia adalah murid Si Rajawali Sakti, dan bahkan oleh
gurunya itu ia dicalonkan jadi isteri murid gurunya
yang pertama, yaitu Si Han Beng yang kini dijuluki
Huang-ho Sin liong (Naga Sakti Sungai Kuning).
Akan tetapi Si Han Beng memilih wanita lain dan
menikah dengan wanita lain itu. Hal itu membuat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
gurunya marah, dan seolah hendak menebus
kesalahan ini, melihat betapa Bi Lan hancur
hatinya dan patah semangat, Liu Bhok Ki lalu
mengambil murid itu sebagai isterinya. Dia sendiri
sudah menduda sejak puluhan tahun. Dan Bi Lan
menerima pinangan gurunya, bukan karena
terpaksa, melainkan karena ia merasa kagum,
kasihan dan juga mencinta suhunya sebagai satusatunya
orang di dunia ini yang menyayanginya.
Tentu saja hal ini didorong pula oleh kepatahan
hatinya karena Si Han Beng mengingkari janji dan
menikah dengan gadis lain.
Sin-tiauw Liu Bhok Ki merasa marah dan sakit
hati bukan main karena Si Han Beng tidak
memenuhi pesannya itu. Biarpun dia sudah
menjadi suami Bi Lan namun hatinya masih tetap
tertusuk dan batinnya terhimpit kemarahan
terhadap Si Han Beng. Dia menjadi sakit-sakitan
dan akhirnya, dalam rangkulan Bi Lan, dia
menghembuskan napas terakhir sambil menyebut
nama Si Han Beng dengan penuh kemarahan dan
penyesalan.
Setelah suaminya yang juga gurunya meninggal
dunia, perasaan hati Kwa Bi Lan dipenuhi dendam
terhadap Si Han Beng. Pria itu yang membuat
hidupnya menderita! Kalau Si Han Beng tidak
mengingkari janjinya dan menikah dengannya,
tentu Liu Bhok Ki tidak mati, demikian pikirnya.
Dan iapun tidak harus mengalami derita batin
seperti ini, hidup sebatangkara ditinggal orang
yang paling dicintanya. Mula-mula ia menderita
patah hati karena calon suaminya itu menikah
dengan wanita lain. Kemudian ia menderita
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kehancuran hati karena guru dan juga suaminya
meninggal dunia. Dan semua deritanya ini karena
ulah Si Han Beng!
Ketika ia mendarat di tepi Sungai Kuning, di luar
dusun Hong-cun, Bi Lan merasa hatinya tegang
juga. Setelah lama ragu-ragu dan lama pula
mencari-cari, akhirnya tiba juga ia di kampung
tempat tinggal bekas tunangan yang kini dianggap
sebagai musuh besarnya itu.
Ketika la berjalan memasuki dusun, ia melihat
seorang laki-laki setengah tua memanggul cangkul,
agaknya hendak pergi ke ladang. Laki-laki itu
memandang kepadanya dengan kagum dan heran,
karena tidak biasa ada wanita kota yang cantik
memasuki dusun yang aman tenteram itu. Bi Lan
menghampirinya dan tersenyum ramah.
"Maaf, paman. Dapatkah paman menunjukkan
di mana rumah keluarga Si Han Beng?"
Pria itu terbelalak, heran bukan main melihat
seorang wanita muda menyebut nama pendekar
saktu itu begitu saja.
"Nona.....maksudkan........ rumah keluarga Si
Tai-hiap (Pendekar Besar Si) yang berjuluk Huangho
Sin-liong?"
Dengan girang Bi Lan mengangguk, akan tetapi
juga hatinya berdebar. Ia tahu bahwa orang yang
dicarinya adalah seorang pendekar yang berilmu
tinggi, bahkan tingkat kepandaiannya, menurut
mendiang suaminya, lebih tinggi dari pada tingkat
suaminya yang juga menjadi gurunya. Kalau
mendiang suaminya saja kalah pandai, apa lagi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dia! Akan tetapi ia sudah bertekat untuk
membunuh Si Han Beng atau dibunuh olehnya.
"Benar, paman. Di mana rumahnya."
Pria itu menunjuk ke kiri. "Di ujung jalan ini,
yang mempunyai taman di depan rumah dan
kebun di kanan kiri dan belakang. Cat pintu dan
jendelanya hijau."
"Terima kasih, paman." Bi Lan memutar tubuh
dan cepat menyusuri jalan itu. Terbayang betapa ia
akan bertemu dengan isteri Si Han Beng yang
sudah ia ketahui bernama Bu Giok Cu dan yang
memiliki ilmu kepandaian tinggi pula.
Hatinya terasa panas, entah karena iri atau
cemburu. Akan tetapi ia sama sekali tidak takut.
Memang ia sudah bertekad untuk mengadu nyawa.
Untuk apa hidup lebih lama lagi kalau ia sudah
tidak mempunyai apa-apa di dunia ini, bahkan
tidak ada seorangpun yang mencintanya?
Hidupnya tiada gunanya lagi, lebih baik menyusul
suaminya yang sayang kepadanya.
Tak lama kemudian wanita perkasa ini sudah
menyelinap di balik pohon dan mengintai ke arah
dua orang anak yang sedang berada di kebun
samping.
Seorang anak laki-laki berusia enam tahun
sedang mengasuh seorang anak perempuan yang
usianya baru dua tahun lebih. Anak laki-laki itu
tampan dan bertubuh tinggi tegap. Sedangkan
anak perempuan itu, yang masih kecil, kelihatan
lincah mungil dan manis sekali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Anak laki-laki itu patut menjadi putera Si Han
Beng, pikir Bi Lan sambil mengenang kembali
wajah bekas tunangan yang kini dibencinya itu.
Akan tetapi tidak mungkin, bantahnya. Si Han
Beng menikah dengan gadis lain belum ada empat
tahun dan anak laki-laki itu sedikitnya berusia
enam tahun. Kalau anak perempuan itu lebih
pantas menjadi anak Si Han Beng.
Dua orang anak itu memang The Siong Ki dan Si
Hong Lan. Seperti kita ketahui, Siong Ki berhasil
tiba di tempat tinggal pendekar sakti Si Han Beng
dan diterima menjadi murid pendekar itu. Siong Ki
pandai membawa diri, pandai menyenangkan hati
keluarga Si, bahkan dengan sabar dia mengasuh Si
Hong Lan puteri gurunya. Diapun rajin bekerja,
membersihkan rumah dan pekarangan dan
melakukan segala macam pekerjaan membantu
para pelayan sehingga para pelayanpun suka
kepadanya. Melihat kegiatan pemuda cilik ini,
timbul perasaan suka pula di hati Si Han Beng dan
diapun mulai melatih Siong Ki dengan dasar-dasar
ilmu silat.
Pagi hari itu, setelah selesai menyapu
pekarangan dan mengisi semua bak dengan air,
Siong Ki sudah mengajak Hong Lan bermain-main
di dalam kebun. Matahari sudah naik tinggi. Dia
selalu diajar ilmu silat kalau matahari sudah mulai
condong ke barat, setiap sore hari. Dari pagi
sampai siang, dia bekerja, kalau tidak mengasuh
Hong Lan, tentu membantu pekerjaan rumah atau
ladang. Hong Lan juga suka sekali kepadanya,
karena Siong Ki pandai menyenangkan hati anak
itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Saat itu, Siong Ki memberi mainan sempritan
yang dia buat dari daun bambu muda. Hong Lan
ikut meniup-niup sempritan sederhana itu dan
kalau sempritan itu dapat ditiupnya sampai
mengelukan bunyi, anak itu tertawa-tawa dan
berteriak-teriak gembira.
"Suheng baik. ... suheng baik......"berulang-ulang
anak perempuan itu berseru.
"Engkau juga baik dan manis sekali, sumoi,
tidak rewel." kata Siong Ki dan dari percakapan
antara dua orang anak itu Bi Lan dapat menduga
bahwa anak laki-laki itu tentulah murid Si Han
Beng dan anak perempuan itu tentu anaknya.
"Tidak mungkin kalau Han Beng mempunyai
seorang murid yang usianya baru dua tahun." Dan
melihat wajah anak perempuan yang manis dan
mungil itu, tiba-tiba menyelinap suatu keinginan di
hati Bi Lan. Mengapa tidak? Kalau ia membalas
dendam kepada Si Han Beng, kiranya tidak
mungkin ia akan mampu mengalahkan pendekar
itu dan isterinya, dan akhirnya ia yang akan mati
konyol. Walaupun ia sudah bertekad dan tidak
takut mati, akan tetapi apa artinya kalau ia mati
konyol? Hanya akan membuat Si Han Beng dan
isterinya menjadi semakin bebas dan senang saja,
tidak lagi mengkhawatirkan pembalasan. Dan ia
seorang yang akan menderita. Tidak, ia harus
mengikuti pikiran yang menyelinap dalam
benaknya tadi. Ia harus membuat Si Han Beng dan
isterinya menderita, setidaknya menderita batin.
Akan tetapi, sebelum itu, ia ingin melihat
bagaimana sikap bekas tunangan itu kalau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mendengar tentang kematian suhunya, atau
suaminya!
Kwa Bi Lan bukanlah seorang wanita jahat,
bahkan ia dahulu murid Siauw lim-pai yang
berjiwa pendekar. Apa lagi setelah menjadi murid
dan isteri Rajawali Sakti Liu Bhok Ki, ia menjadi
seorang wanita gagah. Kalau ia membenci Han
Beng dan ingin membunuhnya, hal itu terdorong
oleh sakit hati dan duka, bukan watak yang jahat.
Maka, begitu melihat Hong Lan, anak yang manis
dan lincah itu, seketika api dendam yang membuat
ia ingin membunuh orang itu padam dengan
sendirinya, bagaimana mungkin ia dapat
membunuh orang tua anak kecil yang mungil itu?
Bukankah kalau ia membunuh orang tuanya, anak
itu akan menjadi terlantar dan menderita? Itulah
sebabnya, maka pikiran lain menyelinap ke dalam
benaknya yang sama sekali mengubah niat hatinya
semula.
Siong Ki tidak terkejut melihat munculnya
seorang wanita cantik yang tidak dikenalnya dari
balik pohon, melainkan heran dan dia memandang
lengan sinar mata penuh pertanyaan.
Bi Lan tersenyum manis. "Anak yang baik,
apakah engkau murid Huang-ho Sin Liong Si Han
Beng? Dan anak perempuan yang mungil ini
puterinya?"
Siong Ki adalah seorang anak yang cerdik. Dia
tidak mengenal siapa wanita ini, tidak tahu apakah
ini sahabat ataukah musuh gurunya. Oleh karena
itu dia bersikap hati-hati walaupun sopan.
"Maafkan saya, enci. Akan tetapi siapakah enci?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku adalah sahabat baik dari Si Han Beng,
namaku Kwa Bi Lan. Benarkah dugaanku tadi
bahwa engkau murid dan ini anaknya?"
Karena wanita itu mengaku sahabat gurunya,
dan telah memperkenalkan diri, Siong Ki merasa
tidak enak kalau tidak memperkenalkan diri. Dia
mengangguk dan berkata dengan hormat. "Maaf
kalau saya bersikap kurang hormat karena tidak
tahu bahwa enci adalah sahabat baik suhu.
Memang benar saya Siong Ki adalah murid suhu
dan sumoi Si Hong Lan ini adalah puterinya."
Pada saat itu, muncullah Si Han Beng dan Bu
Giok Cu dari pintu samping rumah mereka.
Mereka memang sedang mencari puteri mereka
dan Siong Ki. Melihat seorang wanita muda yang
cantik berada pula di kebun mereka, suami isteri
ini segera menghampiri dan memandang dengan
heran.
"Siong Ki, siapakah nona ini...." tanya Han Beng
sambil memandang Bi Lan dengan penuh selidik.
Sementara itu Bu Giok Cu juga sudah memondong
puterinya dan ikut mengamati Bi Lan dengan
heran.
Sejak tadi Bi Lan memandang kepada suami
isteri itu dan jantungnya berdebar tegang, hatinya
terasa panas. Si Han Beng masih nampak gagah
perkasa seperti dahulu, bertubuh tinggi besar dan
wajahnya membayangkan kejantanan, sedangkan
Bu Giok Cu juga masih nampak cantik jelita dan
lincah seperti yang pernah dilihatnya dahulu ketika
Giok Cu bersama Han Beng datang berkunjung ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
rumah gurunya, mendiang Liu Bhok Ki sebelum ia
menjadi isteri gurunya itu.
Entah kenapa, setelah bertemu dengan mereka.
Ia tidak mampu mengeluarkan kata-kata dan
hanya memandang dengan hati dipenuhi iri.
Mereka demikian berbahagia. Menjadi suami isteri
dan sudah mempunyai seorang anak. Begitu
berbahagia, sedangkan ia ...... !
Han Beng segera menyadari bahwa sebagai tuan
rumah dia harus menyambut orang asing sebagai
tamunya dengan sikap hormat. Maka diapun
mengangkat dua tangan ke depan dada memberi
hormat dan bertanya, "Siapakah nona dan ada
keperluan apakah berkunjung ke rumah kami?"
Bi Lan tersenyum, senyum yang getir. Bahkan
wajahnyapun tidak diingat lagi oleh laki-laki yang
pernah ditunangkan dengannya itu! Dengan suara
yang pahit iapun berkata, "Lupa kepada adik
seperguruan masih tidak mengapa, akan tetapi
kalau sudah melupakan guru, itu sungguh
keterlaluan."
"Nona, apa maksud ucapan nona itu?" Han Beng
bertanya, memandang tajam penuh selidik dan
sikapnya serius. Juga Bu Giok Cu memandang
tajam dan mulai bercuriga melihat sikap gadis
cantik yang tidak dikenalnya itu.
"Suheng, benar-benarkah suheng sudah lupa
kepadaku, dan kepada suhu kita?" Sekali ini suara
Bi Lan mengandung getaran isak tertahan, karena
ia merasa sangat berduka dan kecewa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ahhh! Bukankah engkau Kwa Bi Lan murid
locian-pwe Liu Bok Ki itu?" tiba-tiba Bu Giok Cu
berseru.
Bi Lan memandang kepada wanita yang tadinya
dianggap telah merampas calon suaminya itu.
"Kiranya enci Bu Giok Cu masih teringat
kepadaku."
"Sumoi Kwa Bi Lan .....! Ah, kiranya engkaukah
ini? Kita dahulu hanya sempat bertemu sebentar
saja, sumoi, hingga aku lupa lagi kepadamu.
Maafkan aku."
Bi Lan mengerutkan alisnya. "Perkenalan antara
kita memang singkat, akan tetapi hubungan antara
kita bukan tidak penting, suheng......"
"Aih, tentu saja. Kita saudara seperguruan....."
kata Han Beng, belum ingat akan hubungan jodoh
yang pernah dipesankan gurunya yang pertama
itu. Bu Giok Cu ingat akan hal itu, maka ia pun
cepat berkata.
"Adik Kwa Bi Lan tentu datang membawa kabar
penting. Tidak pantas kalau kita menyambutnya di
kebun begini. Mari, adik Bi Lan, kita bicara di
dalam."
"Ah, benar. Mari silakan, sumoi. Kita bicara di
dalam. Siong Ki, kau ajak lagi sumoimu bermainmain
di sini sebentar," kata Han Beng dan Giok Cu
lalu menyerahkan lagi Hong Lan kepada Siong Ki.
Suami isteri itu mempersilakan tamunya
memasuki rumah dan mereka lalu duduk di dalam
ruangan tamu yang sederhana namun cukup luas.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sejenak mereka duduk berhadapan dan saling
berpandangan.
Sebetulnya, Bi Lan tidak terlalu menyesal bahwa
ia tidak menjadi isteri Han Beng. Belum ada rasa
cinta dalam hatinya terhadap pria ini, dahulupun
yang ada hanya kekaguman. Cintanya bahkan
tertuju kepada gurunya, mendiang Liu Bhok Ki. Ia
tidak putus cinta, melainkan merasa terhina dan
diremehkan, di samping pendekar ini menjadi
biang keladi kesedihan Liu Bhok Ki sehingga
suaminya itu meninggal dunia dalam keadaan
penasaran dan berduka.
"Nah, adik Kwa Bi Lan. Setelah kami
mengucapkan selamat datang, sekarang
katakanlah, apa maksud kunjunganmu ini?
Apakah membawa suatu kepentingan tertentu,
ataukah hanya hendak berkunjung saja?" tanya Bu
Giok Cu karena di dalam hatinya, wanita ini sudah
merasa tidak enak. Ia sudah mendengar dari
suaminya bahwa dahulu, suaminya pernah
dipesan oleh Sin-tiauw Liu Bhok Ki agar kelak
menjadi jodoh Kwa Bi Lan, sumoi dari suaminya
sendiri. Akan tetapi kemudian Hek-bin Hwesio
yang menjadi gurunya, dan Pek I Tojin guru
suaminya menjodohkan ia dan suaminya. Ia
bahkan pernah mengingatkan suaminya agar
mengabari Liu Bhok Ki, akan tetapi suaminya tidak
mau karena merasa tidak enak harus menentang
usul perjodohan guru pertamanya itu. Kini, gadis
yang dulu dijodohkan dengan suaminya itu tibatiba
muncul! Tentu saja ia merasa tidak enak
sekali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mendengar pertanyaan Giok Cu, Bi Lan
menghela napas panjang. Kalau menurut apa yang
dibayangkan sebelum ia bertemu dengan puteri
mereka tadi, begitu bertemu Han Beng, ia akan
memaki-makinya dan menantangnya, bahkan
langsung saja menyerangnya untuk mengadu
nyawa. Akan tetapi sekarang, ia tidak bernapsu
untuk mengadu nyawa, untuk mati, karena ia pasti
mati kalau bertanding melawan mereka ini. Ia ingin
hidup untuk dapat mendengar dan melihat Han
Beng menderita!
"Benar, sumoi. Katakanlah, apa yang menjadi
maksud kedatanganmu ini? Apakah hanya
berkunjung ataukah diutus oleh suhu?"
Hampir saja Bi Lan berteriak bahwa ia diutus
oleh suhu mereka untuk mencabut nyawa Han
Beng! Akan tetapi ia menahan kemarahannya,
memandang kepada pria itu dan berkata lirih,
"Suheng kedatanganku ini hanya mempunyai satu
maksud, yaitu aku ingin bercerita tentang suhu
kepadamu."
Wajah Han Beng menjadi cerah berseri. "Ah,
akupun ingin sekali mendengar tentang suhu.
Ceritakanlah, sumoi, kuharap suhu dalam keadaan
sehat dan baik-baik saja! Ceritakanlah."
Setelah menghela nafas beberapa kali, Bi Lan
mulai bercerita. "Suheng suhu telah mendengar
akan pernikahanmu dengan enci Bu Giok Cu dan
suheng sama sekali tidak memberi tahu suhu, apa
lagi mengundangnya."
"Sudah kudesak agar dia mengundang locianpwe
Liu Bhok Ki, akan tetapi dia tidak mau!" Bu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Giok Cu berkata sambil memandang suaminya
penuh teguran.
"Bukan tidak mau, akan tetapi tidak berani,"
kata Han Beng, akan tetapi tiba-tiba dia
menghentikan kata-katanya seperti orang yang
merasa telah terlalu banyak bicara.
"Kenapa, suheng?" Bi Lan mendesak cepat.
"Kenapa suheng tidak berani memberitahu kepada
suhu tentang pernikahan suheng?"
Han Beng tidak menjawab, hanya menoleh ke
arah isterinya. Tentu saja dia merasa sukar untuk
menjawab pertanyaan itu, merasa sungkan
terhadap Bi Lan untuk menyebutkan alasannya.
Melihat keraguan Han Beng, Bi Lan berkata,
"Suheng, kalau Suheng ingin aku bicara sejujurnya
tentang suhu, maka sebaiknya kalau suheng juga
bersikap terbuka dan jujur. Kalau suheng tidak
berani bersikap terbuka, akupun tidak ingin
bercerita apa-apa lagi."
Bu Giok Cu memandang kepada suaminya.
"Sebaiknya engkau bicara terus terang saja untuk
menebus kesalahan sikapmu terhadap gurumu.
Tidak perlu sungkan lagi."
Han Beng mengangguk dan menarik napas
panjang. Dia merasa menyesal sekali mengapa
dahulu dia tidak berterus terang saja kepada
gurunya bahwa dia mencintai Giok Cu dan tidak
mau dijodohkan dengan gadis lain. Akibatnya
ketika dia menikah dengan Giok Cu, dia tidak
berani mengabari gurunya, dan sekarangpun dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merasa sungkan untuk mengaku terus terang
kepada Bi Lan.
"'Baiklah, aku bicara terus terang dan kuharap
engkau tidak merasa tersinggung, sumoi.
Sebelumnya, maafkan aku kalau ceritaku
menyinggung perasaanmu."
"Kalau engkau berterus terang, mengapa aku
mesti tersinggung, suheng? Ceritakanlah."
"Aku tidak berani mengabari suhu, tidak berani
mengundangnya, karena aku merasa bersalah
kepada suhu. Dahulu, ketika aku bersama Giok Cu
berkunjung ke tempat kediaman suhu, dan bahkan
bertemu dengan engkau di sana, ketika itu suhu
bicara empat mata denganku dan suhu dalam
kesempatan itu telah menjodohkan aku dengan
engkau, sumoi. Dia berpesan agar kelak aku
berjodoh denganmu. Nah, karena aku saling
mencinta dengan Bu Giok Cu dan kemudian atas
usul guru kami masing-masing, yaitu Hok-bin
Hwesio dan Pek I Tojin, kami menikah dan teringat
akan pesan suhu Liu Bhok Ki, aku merasa
sungkan dan tidak berani memberi kabar. Aku
telah bicara terus terang, sumoi."
Bi Lan tidak heran mendengar keterangan itu,
tentu saja ia sudah tahu semuanya dan dapat
menduganya. Ia tidak merasa sakit hati karena ia
ditolak oleh suhengnya yang mencinta gadis lain.
Ia sendiripun mencinta pria lain, yaitu gurunya
sendiri.
Yang membuat ia menyesal adalah karena ulah
suhengnya, maka gurunya yang juga suaminya itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menderita tekanan bathin sampai sakit-sakitan
dan meninggal dunia dalam keadaan berduka.
"Bagus sekali, engkau telah berterus terang,
suheng. Nah, akupun hendak bercerita sejujurnya
kepadamu. Seperti kukatakan tadi, suhu telah
mendengar pernikahanmu dengan enci Giok Cu
tanpa mengundangnya, dan sejak itu, suhu sakitsakitan
karena merasa penasaran, menyesal dan
berduka. Aku tahu akan semua itu karena suhu
berterus terang kepadaku. Suhu marah dan
menyesal, suhu merasa sakit hati kepadamu,
suheng!"
"Aih, suhu, teecu memang berdosa besar. Sumoi,
tolonglah, kalau engkau pulang dan bertemu suhu,
mintakan ampun adanya untukku .... ah, tidak,
aku sendiri yang akan ke sana. Aku harus cepat
pergi menghadap suhu dengan isteri dan anakku
untuk mohon ampun."
"Tidak ada gunanya, suheng. Lebih baik suheng
mendengarkan kelanjutan ceritaku. Melihat suhu
demikian menderita, hatiku hancur dan aku
merasa amat kasihan kepada suhu. Suhu telah
kehilangan segalanya, demikian pula aku. Kami
berdua tidak memiliki apa-apa lagi, tidak ada lagi
seorangpun di dunia ini yang menyayangi kami.
Timbul perasaan kasihan dan sayang dalam
hatiku, dan akupun mengambil keputusan untuk
menyerahkan diriku, hidupku, segalanya, untuk
membahagiakan hati suhu. Dengan suka rela,
bahkan dengan desakanku, kami menikah menjadi
suami isteri....."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Suami isteri itu saling pandang nampak terkejut
bukan main. "Sungguh suatu pengorbanan yang
besar......" kata Giok Cu lirih.
"Sumoi, betapa mulia hatimu. Engkau begitu
berbakti kepada suhu, sedang aku ..."
"Tidak ada pengorbanan! Tidak ada kemuliaan
hati dan kebaktian. Aku menikah dengan suhu
karena memang aku cinta kepadanya, dan dia
cinta padaku. Kami menjadi suami isteri karena
kami saling mencintai.!" Bi Lan berkata dengan
suara nyaring, setengah membentak sehingga
mengejutkan suami isteri itu.
"Kalau begitu, biarlah kami mengucapkan
selamat kepadamu atas pernikahan dengan
suhu...!"
"Tunda dulu ucapan selamat itu sampai aku
selesai menceritakan keadaan suhumu, suheng.
Biarpun kami sudah menikah dan aku berusaha
sekuat tenaga untuk menghiburnya dan mengusir
kedukaan suamiku, akan tetapi usahaku sia-sia
belaka. Guru dan suamiku itu masih tak mampu
melupakanmu, dan sakit hatinya tak pernah
mereda. Api sakit hati membakarnya, membuat dia
sakit-sakitan dan akhirnya, dia tak kuat bertahan
lagi setelah berbulan-bulan rebah dan menderlta
sakit lahir batin, suamiku itu meninggal
dunia......... "
"Ahh.....!" Giok Cu mengeluh..
"Suhuuu.....!" Han Beng menutupi muka dengan
kedua tangan dan dia terisak, tubuhnya
terguncang dan dari celah-celah jari tangannya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengalir keluar air matanya. "Aih, suhu, teecu
berdosa besar kepada suhu..........teecu .. .berdosa
besar................"
Sebuah tangan dengan lembut menyentuh
pundak Han Beng. "Sudahlah, semua itu telah
lewat, gurumu telah tiada. Tidak ada gunanya
disesali dan ditangisi. Kelak engkau dapat saja
pergi mengunjungi makam gurumu dan mohon
ampun di depan makamnya kalau engkau merasa
bersalah kepadanya."
Hiburan dari isterinya ini menyadarkan Han
Beng dan diapun menghapus air matanya. Dengan
dua mata merah dia memandang kepada Bi Lan
dan melihat wanita muda itupun kini menunduk,
tidak mengeluarkan suara tangisan, akan tetapi
kedua pundak bergoyang dan air mata menetesnetes
turun dari kedua pipinya.
"Aku .... aku dapat merasakan penderitaanmu,
aku ikut berduka cita ...sumoi .... ataukah subo
(ibu guru)..." kata Han Beng dengan terharu.
Bi Lan menghapus air matanya dan menggeleng
kepala, masih menunduk. "Aku bukan apa-apamu
lagi, bukan apa-apa. Bukan tunangan karena
engkau sudah memilih wanita lain. Bukan sumoi
karena telah menikah dengan guru kita. Bukan
pula subo karena suamiku telah tiada.
Aku........aku hanya seorang yang sebatangkara,
tidak mempunyai apa-apa dan siapa-siapa lagi.. "
Giok Cu merasa kasihan sekali. "Sungguh buruk
nasibmu, sungguh kasihan sekali engkau, adik Bi
Lan Aku tahu bagaimana perasaanmu. Kalau saja
kami dapat melakukan sesuatu untukmu. Katakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
saja, apa yang dapat kami lakukan untuk
membantumu, mengurangi penderitaanmu?"
Bi Lan menggeleng kepala. "Terima kasih, tidak
ada yang dapat kalian lakukan untukku. Biarkan
aku sendiri. Di dunia ini, tidak ada lagi orang yang
dapat kucinta atau mencintaku, tidak ada siapasiapa
lagi. Aku hanya menanti datangnya saat aku
menyusul suamiku. Dialah satu-satunya orang
yang mencintaiku........" Setelah berkata demikian,
Bi Lan bangkit dari duduknya, kemudian tanpa
pamit lagi ia melangkah keluar dari ruangan itu,
terus menuju keluar rumah.
Han Beng hendak mengejar, akan tetapi
lengannya dipegang isterinya. Dia menoleh dan
memandang isterinya. Giok Cu menggeleng kepala
perlahan dan berbisik, "I a benar. Tidak dapat kita
melakukan apapun untuknya. Biarkan ia
sendiri......"
Han Beng memejamkan matanya. "Suhuuu ..!"
keluhnya dan dia tentu roboh kalau saja tidak
cepat dirangkul oleh isterinya dan dia kembali
menangis di pundak isterinya.
Malam itu, Han Beng dan Giok Cu tidak dapat
tidur. Hal ini terutama sekali karena Han Beng
tenggelam dalam duka dan penyesalan, dan
akhirnya baru Han Beng terhibur ketika isterinya
menyetujui untuk mereka berdua bersama anak
mereka pergi mengunjungi makam Si Rajawali
Sakti, di mana Han Beng ingin bersembahyang
bersama anak isterinya dan mohon ampun kepada
guru pertamanya itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mereka akan berangkat tiga hari lagi dan pada
keesokan harinya, mereka telah membuat
persiapan. Karena waktu itu sedang musim panen,
maka suami isteri itu hendak menyelesaikan dulu
sisa panenan yang tinggal satu dua hari lagi, baru
mereka akan berangkat.
Pada keesokan harinya, sejak pagi Han Beng dan
Giok Cu sudah pergi meninggalkan rumah, pergi ke
sawah untuk mengepalai dan mengatur mereka
yang membantu panen. Seperti biasa, Siong Ki
setelah bekerja pagi, lalu mengasuh Hong Lan
bermain-main di taman.
Keadaan sunyi di taman. Semua orang dewasa
pergi ke sawah ladang karena musim panen. Siong
Ki menurunkan Hong Lan duduk di atas rumput,
dan dia sendiri duduk di dekat anak itu sambil
menganyam rumput, membuatkan mainan untuk
sumoinya. Ketika Kwa Bi Lan muncul seperti
kemarin, diapun tidak terkejut dan tidak merasa
heran lagi. Dari suhunya dia mendengar bahwa
wanita muda yang cantik itu memang sahabat
gurunya yang datang berkunjung. Dia bahkan
tersenyum dan memberi hormat. "Selamat pagi,
enci."
Akan tetapi Bi Lan tidak memperdulikan Siong
Ki. Ia menghampiri Hong Lan dan mengelus kepala
anak itu dengan lembut dan mesra, dan pandang
matanya yang ditujukan mengamati wajah anak
perempuan itu penuh rasa kagum dan sayang.
Suaranyapun terdengar halus ketika ia bertanya,
"Anak manis, siapakah namamu?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Semua anak kecil mempunyai kepekaan yang
tidak lagi dipunyai orang dewasa. Kepekaan atau
naluri ini adalah pembawaan jiwa yang masih
belum terselubung nafsu. Pada saat dilahirkan,
anak manusia memiliki naluri ini, memiliki
kepekaan karena jiwanya masih murni, bagaikan
sinar pelita yang belum terselubung kotoran
sehingga masih memancar keluar melalui panca
indranya. Kelak, kalau anak itu sudah mulai
mempergunakan hati dan akal pikirannya, dan
nafsu yang menjadi alat kebutuhan jasmaninya
mulai mengambil alih kekuasaan atas diri
manusia, maka kepekaan itu pudar. Sinar pelita
dari jiwa tertutup nafsu dan orang hidup lebih
mengandalkan hati akal pikirannya yang
bergelimang nafsu menciptakan segala macam
dosa dan kekacauan dalam kehidupan ini. Makin
pandai orang mempergunakan hati akal
pikirannya, semakin keruh keadaan dunia, karena
manusia dikendalikan nafsu yang sifatnya hanya
mengejar kesenangan diri pribadi, sehingga
terjadilah tumbukan-tumbukan dan tabrakan
kepentingan yang menimbulkan pertikaian,
permusuhan, bahkan perang!
Pada saat membelai dan bicara kepada Hong
Lan, maka anak itupun memandang kepada Bi Lan
sambil tersenyum cerah menjawab dengan
suaranya yang nyaring dan lucu.
"Namaku Si Hong Lan, bibi."
"Nama yang bagus, cocok dengan wajahmu yang
manis. Hong Lan, mari kupondong dan kuberi
mainan yang indah."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hong Lan tidak membantah ketika digendong.
"Mainan apa, bibi?"
"Nanti kupetikkan bunga merah, kutangkapkan
kupu-kupu kuning."
"Bibi baik, bibi baik sekali, suheng” Hong Lan
bersorak, akan tetapi Siong Ki mengerutkan
alisnya. Dia belum mengenal benar siapa wanita
cantik itu, karena merasa khawatir kalau Hong Lan
diajak pergi bermain-main.
"Maaf, bibi. Sumoi Hong Lan belum kuberi
sarapan pagi. Mari, sumoi, kita makan dulu ..."
Siong Ki menjulurkan kedua tangannya untuk
mengambil sumoinya dari pondongan Bi Lan. Akan
tetapi sekali Bi Lan menggerakkan tangan kirinya
menotok. Siong Ki tak mampu bergerak dalam
posisi berdiri dengan kedua tangan terjulur. Bi Lan
lalu berjongkok, tangan kiri memondong Hong Lan,
dan tangan kanan dengan jari telunjuk terjulur
mencoret-coret di atas tanah di depan Siong Ki.
Kemudian, sambil memondong Hong Lan, ia
berkelebat lenyap dari tempat itu, meninggalkan
Siong Ki yang masih berdiri kaku seperti arca!
Tak lama kemudian, seorang pelayan keluar dan
dia terheran-heran melihat Siong Ki yang berdiri
dengan tangan terjulur seperti patung, tak
bergerak-gerak.
"Eh, engkau kenapa ?” tanyanya.
Siong Ki tidak mampu menengok, akan tetapi dia
masih dapat bicara walaupun, dengan kaku dan
sukar, "Cepat .... beritahu suhu .... cepat.... sumoi
diculik orang...”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebagai pelayan suami isteri pendekar, pelayan
itupun sudah tanggap dan dia segera lari mencari
majikannya yang sedang sibuk mengatur orangorang
yang sedang panen. Dapat dibayangkan
betapa kagetnya hati Si Han Beng dan Bu Giok Cu
ketika mendengar laporan pelayan itu bahwa Siong
Ki berdiri seperti patung tak mampu bergerak dan
mengatakan bahwa Hong Lan diculik orang.
Mereka lalu berlari cepat, seperti berlomba
pulang ke rumah. Semua petani terkejut dan
kagum bukan main melihat suami isteri yang
mereka kenal sebagai sepasang pendekar namun
yang tak pernah mereka lihat kepandaiannya itu,
kini berlari seperti terbang saja meninggalkan
sawah. Baru sekarang mereka menyaksikan suami
isteri itu memperlihatkan kepandaiannya yang luar
biasa.
Suami isteri itu tiba di pekarangan rumah
mereka dan setelah Han Beng membebaskan
totokan yang membuat muridnya tak mampu
bergerak, Siong Ki cepat menunjuk ke bawah, di
depannya. "Ia meninggalkan tulisan di situ....."
Han Beng dan Giok Cu cepat membaca tulisan
itu. Huruf-hurufnya jelas karena jari yang
mencoret-coret di atas tanah itu menggunakan
tenaga sin-kang, sehingga tanah itu seperti dicoret
dengan pensil baja saja.
Suheng Si Han Beng. Engkau telah membuat aku
berpisah selamanya dari orang yang kucinta. Aku
akan membuat engkau berpisah sementara dari
anak yang kau sayang. Aku berhak menyayang dan
disayang. Aku sayang Hong Lan dan ingin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menikmati hidup bersamanya. Setelah beberapa
tahun, aku akan mengembalikannya kepadamu.
Suheng, jangan kejar kami, karena terpaksa aku
akan membunuh Hong Lan, lalu membunuh diri
sendiri, Kwa Bi Lan.
"Aih, anakku........!" Giok Cu menjadi pucat
wajahnya setelah selesai membaca coretan tulisan
di tanah itu. "Aku harus mengejar iblis betina itu.
..!" Ia hendak meloncat, akan tetapi tangannya
dipegang suaminya.
"Tunggu dulu......apakah kau ingin ia
membunuh anak kita? Aku yakin ia tidak
menggertak kosong belaka," kata Han Beng sambil
menunjuk ke arah kalimat terakhir itu. Giok Cu
membacanya lagi, "Suheng, jangan kejar kami,
karena terpaksa aku akan membunuh Hong Lan,
lalu membunuh diri sendiri."
"Ahhh .... tapi.... tapi.... bagaimana dengan anak
kita ....?" Suara wanita perkasa itu mengandung
tangis karena ia merasa khawatir bukan main.
Han Beng merangkul isterinya. Wajahnya sendiri
juga pucat dan diam-diam ia merasa menyesal
bukan main, akan tetapi dia tidak bingung seperti
isterinya.
"Giok Cu, aku yakin bahwa ia tidak akan
mencelakai anak kita, akan tetapi kalau kita
mengejarnya, pasti ia akan nekat. Ia seorang yang
sudah putus asa, dapat melakukan apa saja."
"Tapi .... tapi .... kenapa ia melakukan ini?
Kenapa ia culik anakku?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Han Beng menarik nafas panjang. "Aku dapat
memakluminya. Pertama, ia masih merasa bahwa
akulah yang membuat ia sengsara, aku yang
menyebabkan kematian suhu, orang yang
dicintanya. Karena itu ia ingin membalas dendam,
ingin membuatku merasakan penderitaan
kehilangan orang yang kucinta, walaupun tidak
selamanya seperti yang dijanjikannya, hanya untuk
sementara. Dan selain itu, iapun haus kasih
sayang. Ingin menyayang dan disayang. Dan
agaknya da suka sekali pada anak kita, ia ingin
mencurahkan kasih sayangnya kepada anak kita,
karena itu, jangan khawatir..”
"Jangan khawatir, kau bilang? Aku ibu Hong
Lan! Anakku diculik orang, mungkin seorang iblis
betina, dan kau bilang aku jangan khawatir?"
"Giok Cu, aku tahu siapa Kwa Bi Lan. Sebelum
menjadi murid suhu Liu Bhok Ki, ia adalah murid
Siauw-lim-pai. Kemudian digembleng oleh suhu Liu
Bhok Ki bahkan menjadi isterinya. Ia bukan iblis
betina, ia seorang wanita berjiwa pendekar. Aku
yakin ia akan memegang janji dan akan
mengembalikan anak kita dalam keadaan selamat."
Giok Cu memandang suaminya dengan alis
berkerut. "Enak saja engkau bicara membelanya! Ia
menculik anak kita, ingat? Aku diharuskan
berpisah dari anakku untuk beberapa tahun, dan
aku harus tinggal diam saja? Aih, apakah engkau
tidak dapat merasakan bagaimana penderitaan
seorang ibu kalau dipisahkan dari anaknya yang
baru berusia dua tahun lebih.!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Han Beng menarik napas panjang dan
menundukkan mukanya yang pucat. "Aku
mengaku bersalah, isteriku. Akulah yang
menyebabkan semua ini, aku biang keladinya dan
aku siap menerima hukuman apapun...."
Melihat suaminya begitu bersedih dan menyesal,
meredalah kemarahan Giok Cu dan iapun
merangkul pundak suaminya dan menangis di
pundak orang yang dicintainya itu.
"Lalu .... apa ... yang harus kita lakukan ....?"
Rintihnya memelas.
"Tidak ada yang dapat kita lakukan sementara
ini kecuali .... menunggu dan pasrah kepada
Tuhan. Kelak, kalau keadaan sudah mereda, kalau
ia sudah tidak mengira kita akan mencarinya lagi,
barulah aku akan berusaha menyelidiki di mana ia
membawa anak kita, dan akan kuusahakan untuk
merebutnya kembali tanpa membahayakan anak
kita. Sementara ini, maafkan aku. Akulah yang
menyebabkan engkau menderita batin...."
Akan tetapi. Giok Cu sudah terhibur dan dapat
mengerti kebenaran ucapan suaminya. Memang
berbahaya sekali kalau sekarang ia melakukan
pengejaran.Wanita yang sudah putus asa itu tentu
tidak akan ragu-ragu untuk membunuh Hong Lan
lalu membunuh diri sendiri sebelum sempat
merebut kembali anak itu! Kalau sekarang ia
dibiarkan pergi, setelah beberapa lama tentu
wanita itu akan mengira bahwa mereka tidak lagi
melakukan pengejaran dan akan menjadi lengah.
Nah, itulah saatnya mereka berusaha merebut
kembali anak mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Melihat kedukaan gurunya, Siong Ki lalu
menjatuhkan diri berlutut di depan Han Beng.
"Suhu, teecu yang bersalah tak mampu menjaga
sumoi dengan baik. Kalau suhu mengijinkan, teecu
akan pergi mencari sumoi sampai dapat dan
membawanya kembali kepada suhu."
"Bangkitlah dan bekerjalah sepert biasa. Juga
yang rajin berlatih silat. Jangan bicarakan dengan
siapapun urusan hilangnya sumoimu. Engkau
tidak bersalah, Siong Ki," kata Han Beng dan
diapun menggandeng isterinya, diajak masuk ke
dalam rumah.
Sejak hari itu, suami isteri pendekar ini merasa
hidup mereka tidak lengkap lagi. Mereka telah
berusaha setelah lewat beberapa bulan untuk
mencari anak mereka yang dilarikan Bi Lan,
namun tidak berhasil. Bi Lan menghilang tanpa
meninggalkan jejak. Tentu saja Bu Giok Cu
menderita batin yang cukup hebat, merasa gelisah
selalu. Lebih-lebih Han Beng karena pendekar ini
merasa bahwa ialah yang bersalah, dan dia
menganggap hal ini sebagai hukuman dari
mendiang gurunya.
Seringkali dia duduk melamun dan mengeluh.
Kenapa selama hidupnya gurunya itu, Sin-tiauw
Liu Bhok Ki Si Rajawali Sakti, mengisi hidupnya
dengan dendam dan pembalasan? Mula-mula
selama puluhan tahun, gurunya itu membalas
dendamnya secara keji sekali terhadap isterinya
dan kekasih isterinya karena penyelewengan
isterinya. Biarpun dirinya sudah membunuh
mereka, dendamnya belum juga hilang dan dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
masih "menyiksa" isteri dan kekasih isterinya itu
dengan membiarkan kepala mereka selalu
bersamanya! Kini, gurunya yang sudah mati
itupun melampiaskan dendamnya kepadanya
karena kesalahannya tidak mentaati perintahnya
menikah dengan Kwa Bi Lan. Dan pembalasan
dendam ini dilakukan mendiang suhunya melalui
Bi Lan! Mungkinkah Kwa Bi Lan setelah menjadi
murid dan isteri Liu Bhok Ki, mewarisi pula watak
pendendam yang hebat itu?
Karena tidak adanya Hong Lan, Han Beng
menggembleng The Siong Ki dengan sungguhsungguh.
Dan anak ini memang berbakat baik
sekali sehingga memperoleh kemajuan pesat.
-ooo0dw0ooo-
Ke manakah perginya Kwa Bi Lan yang
membawa lari Si Hong Lan sehingga setelah lewat
beberapa bulan, suami isteri perkasa dari Hongcun
itu tidak berhasil menemukan jejaknya?
Mari kita ikut jejak Bi Lan setelah ia
meninggalkan dusun Hong-cun sambil memondong
Hong Lan.
Biarpun Kwa Bi Lan bersikap manis kepada
Hong Lan, menghiburnya sepanjang jalan, bahkan
membelikan pakaian dan mainan di toko, tetap
saja Hong Lan mulai rewel ketika ia teringat akan
ayah bundanya dan merindukan mereka, juga
merindukan Siong Ki. Berulang kali ia rewel,
menangis dan minta pulang. Bi Lan yang tidak
mempunyai pengalaman dengan anak-anak,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berusaha semampunya untuk menghibur, namun
Hong Lan tetap menangis. Saking jengkel dan
sedihnya, ketika pada suatu malam Hong Lan
menangis terus di dalam kamar sebuah rumah
penginapan, Bi Lan juga ikut menangis! Dan
sungguh aneh, begitu Bi Lan menangis, Hong Lan
berhenti menangis! Anak itu memandang Bi Lan
yang menangis dengan kedua mata merah. Sinar
matanya penuh keheranan, bahkan mengandung
iba.
"Bibi .... kenapa menangis ?” Sungguh aneh,
begitu mendengar anak itu berhenti menangis dan
bertanya kepadanya mengapa ia menangis, Bi Lan
makin mengguguk menangis, merangkul anak itu
dan tangisnya menjadi tersedu-sedu! Sudah terlalu
lama ia tidak menangis, terlalu lama memendam
duka yang disembunyikan saja di dalam hatinya,
tidak pernah mendapat kesempatan mengeluarkan
duka nestapa yang menekan hatinya. Kini ditanya
mengapa ia menangis oleh suara kanak-kanak itu,
ia menjadi demikian sedih, demikian terharu
sehingga ia terguguk seperti anak kecil!
Hong Lan semakin kasihan kepada wanita yang
selama ini amat manis dan baik kepadanya, yang
agaknya bahkan lebih baik dan lebih sayang
padanya daripada ibunya sendiri. Maka, melihat
wanita ini mengguguk, iapun merangkul dan
mencium pipi yang basah itu.
"Bibi, jangan menangis .... bibi, jangan
menangis....." Ia merengek, agak ketakutan melihat
wanita itu menangis begitu sedihnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mendengar ini, Bi Lan mengerahkan tenaganya
untuk menahan dan menghentikan tangisnya. Ia
mengangkat mukanya yang masih basah, dan ia
memaksa tersenyum sambil memandang wajah
anak itu yang juga masih basah. "Tidak, aku tidak
menangis, Hong Lan sayang, aku tidak
menangis......lihat, aku sudah tertawa."
Hong Lan menatap wajah itu. Wajah yang
memelas sekali, nampaknya saja mulut itu
tersenyum ramah, akan tetapi dua matanya merah
dan pipinya basah mata. Tangis campur tawa yang
mengharukan. Namun, anak itu agaknya lega
begitu Bi Lan tidak mengguguk lagi.
Dengan jari tangannya yang kecil-kecil, Hong
Lan mengusap bawah kedua mata Bi Lan. "Bibi,
kenapa tadi menangis?"
Hong Lan menciumnya penuh kasih sayang. Ia
dapat merasakan kehangatan kasih sayang anak
itu kepadanya dan lebih dari pada itu, kehangatan
rasa cinta kasihnya kepada anak itu! Alangkah
melegakan dan membahagiakan, dapat
mencurahkan kasih sayang kepada seseorang, apa
lagi kalau dibalasnya! Dibalas atau tidak,
mencurahkan kasih sayang ke seseorang
merupakan kebahagiaan yang sejak kematian
suaminya tak pernah ia rasakan lagi! Dan kini,
seluruh kerinduannya akan kasih sayang, baik
memberi atau menerima, ia curahkan kepada Hong
Lan!
"Anakku yang baik. aku menangis karena
melihat engkau menangis, aku bersedih kalau
engkau menangis, Hong Lan."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku tidak akan menangis lagi, bibi...."
Bi Lan menciumnya dan mendekap muka anak
itu ke dadanya. "Anakku .... kau anakku yang
manis, kenapa kau tidak menyebut ibu kepadaku?
Sebut aku ibu, Hong Lan ..."
"Tapi... engkau bukan ibuku ......"
Hong Lan memandang ragu. Bi Lan kembali
menciumnya penuh kasih sayang.
"Anakku, mulai sekarang, aku jadi pengganti
ibumu, juga pengganti ayahmu, pengganti
suhengmu, pengganti segalanyanya. Sebut aku ibu
dan engkau membuat aku senang sekali, Lan Lan!"
Hong Lan terbelalak girang mendengar sebutan
itu. "Ibu juga memanggilku Lan Lan!"
Bi Lan tersenyum. "Tentu saja, dan akupun
sekarang menjadi ibumu dan memanggilmu Lan
Lan. Nah, kau mau bukan menjadi anakku dan
menyebutku ibu?"
Lan Lan tersenyum dan mencium pipi wanita
itu, " Aku senang sekali, ibu."
Bi Lan mendekap anak itu dan merasa
berbahagia bukan main. Dan sejak malam itu,
benar saja Lan Lan tidak pernah rewel lagi. Bahkan
karena pandainya Bi Lan menghiburnya, dan
mengajaknya melihat-lihat kota-kota yang ramai,
pemandangan yang indah-indah, lambat laun Lan
Lan mulai melupakan ayah, ibu dan suhengnya.
Mereka itu makin kabur seperti merupakan
bayang-bayang dalam mimpi saja.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebulan setelah Bi Lan melarikan Lan Lan dari
rumahnya, pada suatu siang jalanannya melalui
sebuah hutan di tepi sungai. Ia memang menuju ke
barat untuk pulang ke Kim-hong-san, tempat
tinggal mendiang suaminya, untuk hidup di sana
berdua dengan Lan Lan. Karena berjalan ke barat
melawan arus air Sungai Huang ho, maka ia
melakukan perjalanan lewat darat, menyusuri
sepanjang pantai sungai yang amat lebar itu. Dan
siang itu, sambil memondong Lan Lan yang kini
tidak rewel lagi, Bi Lan berjalan memasuki hutan
di pantai sungai.
Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya karena
pendengarannya menangkap gerakan orang di
belakangnya. Ia menengok dengan cepat dan
melihat bayangan orang berkelebat cepat sekali,
menyelinap lenyap di antara pohon-pohon. Ia tidak
dapat melihat jelas karena gerakan orang itu cepat
sekali, hanya tahu bahwa orang itu tentu seorang
pria yang berpakaian serba biru. Karena sampai
beberapa lamanya ia menanti, tidak ada gerakan
yang mencurigakan, iapun melanjutkan
perjalanan.
Baru puluhan langkah ia berjalan, ia berhenti
lagi karena terdengar tiupan suling yang amat
merdu. Suara suling itu meliuk-liuk, turun naik
dengan getaran halus. Bi Lan memejamkan kedua
matanya. Suara suling itu demikian indah,
melengking halus dan seperti menarik-narik
jantungnya, dan tak terasa lagi dua titik air mata
tergenang di pelupuk matanya. Tiupan suling itu
demikian merdu, demikian indah, akan tetapi juga
mengharukan seperti tangis sebuah hati yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merana. Sepantasnya orang yang meniup suling
seperti itu adalah seorang yang sedang dilanda
duka, pikirnya. Akan tetapi, sungguh
mengherankan. Siapa pula yang pandai meniup
suling seperti itu di tengah hutan lebat yang sunyi
ini?
Bi Lan melihat pula betapa Lan Lan juga
memperhatikan suara itu. "Ibu, suara apakah itu?"
"Itu suara suling, Lan Lan. Suara suling yang
ditiup oleh seorang ahli, amat indahnya."
"Seperti ada yang menangis, ibu," kata anak itu.
Betapa tajam dan peka perasaan anakku ini,
pikir Bi Lan dengan bangga. Memang tak salah
lagi, peniup suling itu dilanda kesedihan dan
tangis dari hatinya keluar melalui tiupan
sulingnya.
Maka, iapun mempergunakan kepandaiann dan
berlari cepat ke arah suara itu dan melihat si
penyuling! Jantungnya berdebar. Seorang pemuda
yang tampan berpakaian seperti seorang pelajar
atau sastrawan, sedang duduk di bawah pohon
dan meniup sulingnya. Yang membuat ia berdebar
bukan karena pemuda itu tampan sekali, wajahnya
yang dilindungi caping lebar itu memiliki hidung
yang besar mancung, dan bibir yang nampak sayu.
Yang membuat Bi Lan terkejut adalah pakaian
sasterawan muda itu. Serba biru! Ia teringat akan
orang yang tadi berkelebat di belakangnya.
Bagaimana kini tahu-tahu orang itu telah berada
jauh di depannya dan meniup suling? Ia tidak
melihat orang berlari melewatinya! Kalau benar
peniup suling ini orang yang tadi berkelebat di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
belakangnya, alangkah cepatnya orang itu dapat
berada di situ.
Biarpun hatinya tertarik, akan tetapi karena ia
tidak mengenal orang itu, tidak sepantasnya kalau
ia terlalu lama memperhatikan seorang laki-laki
asing, maka iapun berjalan terus meninggalkan
tempat itu sambil memondong Lan Lan yang terus
memandang ke arah si peniup suling yang agaknya
juga tidak memperdulikan mereka, melainkan
asyik meniup suling sambil menundukkan
mukanya.
Sambil berjalan terus meninggalkan pemuda itu
sampai suara sulingnya tidak terdengar lagi, mau
tidak mau Bi Lan masih terkenang kepada si
peniup suling. Harus diakuinya bahwa pria muda
itu tampan sekali, dan nampaknya seperti seorang
sasterawan muda yang lemah. Akan tetapi, iapun
tahu bahwa di dunia kang-ouw terdapat banyak
orang yang nampaknya lemah akan tetapi
sesungguhnya memiliki kepandaian tinggi.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 9
Mendiang gurunya yang juga suaminya pernah
memesan agar dia berhati-hati dan tidak
memandang rendah kepada empat macam orang,
yaitu pertama wanita yang tampaknya lemah
walaupun memiliki ilmu yang tinggi, ke dua kaum
pendeta yang juga kelihatan lemah lembut, ke tiga
pengemis yang nampaknya saja lemah dan
sengsara, dan ke empat sastrawan, karena mereka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ini kadang-kadang menyembunyikan ilmu yang
tinggi dan merupakan lawan yang amat berbahaya.
Yang amat mengesankan hatinya bukan ke
tampanan pria itu, melainkan tiupan sulingnya.
Biarpun kini sudah tidak terdengar lagi suara
sulingnya, namun masih terngiang di telinganya
suara yang meliuk-liuk merdu dan mengharukan
itu.
Lamunan Bi Lan dan kantuk Lan Lan dalam
pondongannya terganggu ketika mendadak muncul
sepuluh orang yang berloncatan dari balik batang
pohon-pohon di kanan kiri jalan setapak itu.
Begitu melihat, Bi Lan mengerti bahwa ia
berhadapan denagn gerombolan penjahat! Sikap
mereka saja sudah jelas menunjukkan bahwa
mereka bukan orang baik-baik dan termasuk
gerombolan yang suka memaksakan kehendak
mengandalkan kekerasan. Juga mereka semua itu
menyeringai menjemukan dengan sepasang mata
yang membayangkan kecabulan. Seorang di antara
mereka yang gendut dan segala-galanya bundar,
kepalanya, hidungnya, matanya , bentuk
mulutnya, perutnya, semua bundar, melangkah
maju. Sebatang golok besar tergantung di
pinggangnya dan sejenak dia mengamati wajah dan
tubuh Bi Lan, kemudian tertawa bergelak dengan
girang.
"Ha-ha-ha, inilah orangnya yang pantas menjadi
isteriku! Kawan-kawan, bagaimana pendapat
kalian? Sudah patutkah perempuan ini kalau
duduk bersanding denganku sebagai isteriku?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sembilan orang anak buahnya juga tertawa-tawa
dan menyengir-nyengir dengan sikap ceriwis sekali.
"Sudah cocok sekali, toako! Akan tetapi hati-hati,
ia membawa anak dan di punggungnya ada
sepasang pedang!"
"Ha-ha-ha, anak inipun mungil sekali. Kalau
anaknya, anak ini menjadi anak isteriku yang
manis. Kalau adiknya, kebetulan! Dan tentang
sepasang pedangnya, ha-ha-ha, itu hanya untuk
menakut-nakuti orang saja. Bukankah begitu,
manis?"
Dapat dibayangkan betapa marahnya Bi Lan
melihat sikap dan mendengar ucapan yang amat
menghina itu. Kalau saja ia tidak sedang
memondong Lan Lan, tentu ia sudah mengamuk
dan membunuh semua orang itu. Akan tetapi, ia
memondong Lan Lan yang kini sudah terbangun
dari kantuknya. Ia harus berhati-hati dan
melindungi anak itu. Maka ia menahan sabar,
karena kemarahan hanya akan merugikan dirinya,
mengurangi kewaspadaannya.
"Kalian adalah sepuluh laki-laki, kenapa begitu
rendah menghadang dan mengganggu seorang
wanita yang sedang melakukan perjalanan?
Minggirlah, aku tidak ingin mencari keributan."
Katanya dengan nada suara yang dibikin setenang
mungkin.
"Ha-ha-ha, manis. Siapa yang akan
mengganggumu? Aku bahkan meminangmu. Aku
ingin melamarmu menjadi isteriku, sayang. Marilah
ikut baik-baik denganku dan kita merayakan hari
perkawinan kita. Anakmu itu akan menjadi anakku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
juga," kata si gendut dengan keramahan yang
dibuat-buat.
"Aku tidak mau menikah denganmu atau dengan
siapapun. Minggirlah!" kini dalam suara Bi Lan
terdengar bentakan.
"Nona manis, aku harus menjadi suamimu.
Engkau mau atau tidak, harus menjadi isteriku.
Nah, tinggal kaupilih saja. Engkau menurut
dengan baik-baik atau ingin dipaksa?" kini si
gendut mengancam.
"Sudah kuduga. Kalian tentu segerombolan
anjing yang suka mempergunakan kekerasan
melakukan kejahatan! Majulah kalau engkau
minta mati!" bentak Bi Lan dan ia menggunakan
sabuk suteranya untuk menggendong Lan Lan di
punggung setelah melolos sepasang pedangnya dan
menggantungnya di pinggang. Anak itu duduk di
atas buntalan pakaian dan diikat dengan sabuk
sutera yang biasanya menjadi senjata pula bagi Bi
Lan.
Kini, kedua tangan wanita itu bebas, walaupun
gerakannya tentu saja kurang leluasa dengan
adanya Lan Lan di punggungnya. Yang
membuatnya kagum, anak itu tidak menangis,
tidak kelihatan takut walaupun menghadapi
sepuluh orang laki-laki yang kelihatan beringas
dan Kejam. Pantas memang Lan Lan menjadi
puteri suami isteri pendekar besar.
"Ho-ho-ha-ha-ha! Perempuan ini bernyali juga!
Aku makin tergila-gila kepadanya!" kata si gendut.
"Aku paling jemu dengan kuda betina yang jinak,
aku ingin yang liar seperti ini, ha-ha-ha!" Dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
masih tertawa ketika tubuhnya tiba-tiba menyerbu
ke depan.
Sungguh merupakan serangan yang amat
curang, menggunakan kesempatan selagi dia
masih tertawa sehingga lawan akan menjadi
lengah. Akan tetapi, Bi Lan sama sekali tidak
lengah. Tidak percuma menjadi murid dan isteri Si
Rajawali Sakti. Dari suaminya itu ia telah
mendapatkan ilmu silat yang tangguh dan kokoh
kuat. Begitu si gendut menubruk dengan kedua
lengan berkembang, seperti seekor beruang
menyerang, tubuh Bi Lan sudah mengelak ke kiri
dan kaki kanannya melakukan tendangan ke arah
perut gendut itu. Demikian cepat geraka Bi Lan
sehingga tendangan itu tidak mungkin dapat
dielakkan atau ditangkis lagi oleh si gendut.
"Bukk...... ! Duuuuuuttt......!" perut itu ternyata
kebal, akan tetapi karena tendangannya
mengandung sin-kang yang kuat, tidak urung isi
perutnya terguncang dan tak tertahankan lagi si
gendut kelepasan membuang gas dengan bunyi
kentut yang nyaring.
Mendengar suara kentut itu, Lan Lan berseru.
"Ihhhh......kentut bau ...!" dan dengan lucunya,
bukan pura-pura Lan Lan memijat hidungnya
dengan tangan kiri. Mau tidak mau, kawanan
perampok itu tertawa geli, dan baru mereka
berhenti tertawa ketika pimpinan mereka yang
merasa perutnya agak mulas itu membentak
mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Apa tertawa! Hayo tangkap perempuan ini.!
Awas, jangan lukai, aku tidak ingin pengantinan
dengan mempelai yang luka-luka!"
Sembilan orang anak buah itu menerima
perintah ini dengan gembira. Siapa yang tidak
ingin menangkap wanita cantik itu? Biarpun
akhirnya diserahkan kepada pimpinan mereka,
setidaknya yang menangkapnya mempunyai
kesempatan untuk merangkul, memeluk dan
setidaknya mencolek tubuh yang montok itu!
Mereka maju dengan cepat seperti sekumpulan
anjing memperebutkan tulang, berlomba untuk
dapat menangkap Bi Lan. Akan tetapi,
kegembiraan mereka segera berubah menjadi
teriakan-teriakan kesakitan ketika Bi Lan
membagi-bagi tamparan dan tendangan dengan
cepat sebelum ada tangan yang mampu
menyentuhnya.
Para pengeroyok itu berpelantingan terhuyung
dan biarpun tidak ada yang roboh dan terluka
parah, namun sedikitnya mereka menjadi gentar.
Ada yang pipinya bengkak membiru, bibirnya
pecah atau perutnya mulas seketika karena usus
buntunya tercium ujung sepatu Bi Lan. Ada yang
terpincang-pincang karena sambungan lututnya
terkena gajulan yang cukup kuat.
Melihat betapa sembilan orang anak buahnya
mundur semua, si gendut menjadi marah. Dia lupa
bahwa dia sendiri pun tadi terkena tendangan
sampai terkentut-kentut walaupun perut
gendutnya yang kebal membuat dia tidak jatuh dan
memaki-maki anak buahnya. "Kalian ini gentongTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
gentong kosong melompong yang tiada gunanya!"
Akan tetapi agaknya dia menyadari bahwa wanita
itu ternyata bukan makanan empuk, maka dia
menambahkan, "Hayo keroyok, robohkan dengan
senjata! Aku tidak perduli berpengantinan dengan
mempelai luka!"
Para anak buahnya yang juga marah mencabut
senjata mereka. Ada yang bersenjata golok, ada
yang memegang pedang, tombak dan lain-lain. Dan
mereka mengepung Bi Lan.
Bi Lan merasa khawatir. Kalau ia tidak
menggendong Lan Lan, tentu pengerokan orangorang
kasar itu tidak membuat ia gentar. Kini ia
khawatir akan keselamatan Lan Lan.
"Lan Lan, rangkul leher ibu kuat-kuat!"
teriaknya sambil mencabut sepasang pedang yang
tergantung di pinggang. Anak itu memang tabah
bukan main. Melihat "ibunya" berkelahi, ia tidak
takut sama sekali dan mendengar perintah ibunya,
iapun cepat merangkulkan kedua lengannya yang
kecil ke leher Bi Lan.
Sepuluh orang perampok itu menyerang dan Bi
Lan memutar kedua pedangnya. Gerakan
pedangnya cepat dan juga mengandung tenaga sinkang
yang membuat setiap senjata lawan yang
bertemu pedangnya terpental.
Semua perampok terkejut dan mereka
mengepung dan mengeroyok dengan hati-hati,
maklum bahwa wanita cantik ini benar-benar amat
lihai. Namun, dengan adanya Lan Lan di
gendongannya, tentu saja Bi Lan menjadi kurang
leluasa dan ia lebih mengutamakan perlindungan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terhadap anak itu sehingga daya serangnya
berkurang.
Si perut gendut melihat hal ini dan diapun
berteriak kepada teman-temannya, "Serang anak di
gendongan itu!"
Bi Lan terkejut. Kini para pengeroyok
menujukan serangan mereka ke arah
punggungnya! Tentu saja ia hanya dapat memutar
sepasang pedang untuk membentuk benteng sinar
yang menjadi perisai dan melindungi punggungnya
dari sambaran senjata para pengeroyok! Karena ia
hanya bertahan, tidak berani lengah untuk balas
menyerang, ia segera terdesak!
Pada saat itu, terdengar suara halus namun
lantang berwibawa, "Nona, lemparkan anak itu
kepadaku. Biar aku yang sementara menjaganya
untukmu!"
Bi Lan melirik dan melihat bahwa yang berteriak
itu adalah seorang pemuda tampan berpakaian
biru bercaping lebar. Pemuda peniup suling tadi!
Entah mengapa, ia percaya sepenuhnya kepada
pemuda itu, dan memang Lan Lan terancam
bahaya, maka iapun memutar pedang kanannya,
menggunakan tangan kiri untuk menurunkan Lan
Lan dari gendongan.
"Lan Lan, engkau ikut paman itu dulu!" katanya
dan sekali ia menggerakkan tangan kiri, anak itu
dilemparkan ke arah pemuda peniup suling. Dan
hatinya lega melihat betapa sigapnya pemuda itu
menyambut Lan Lan yang mendarat dengan empuk
dalam pondongannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Nah, di sini lebih enak, kan? Kita nonton
pertempuran!" kata pemuda itu sambil
menurunkan Lan Lan dan berdiri di situ,
menggandeng tangan Lan Lan. Biarpun tadi ia
dilempar, Lan Lan tetap tabah dan sama sekali
tidak berteriak, apa lagi menangis.
Setelah melihat Lan Lan berada dengan pemuda
itu dan ia tidak lagi dibebani tugas melindungi Lan
Lan, Bi Lan mengamuk. Pedangnya menyambarnyambar
dahsyat dan dalam beberapa gebrakan
saja, robohlah dua orang pengeroyok dengan
pundak dan paha terluka parah.
"Aih, jangan bunuh mereka, nona..!" Pemuda itu
berkata dan tiba-tiba dia memondong tubuh Lan
Lan. Dia sendiri, dengan Lan Lan di pondongan,
bergerak ke depan, kedua kakinya menyambarnyambar
dan setiap kali kakinya menyambar,
seorang pengeroyok roboh! Bi Lan merobohkan dua
orang lagi, dan selebihnya, yang enam orang, roboh
oleh tendangan kaki pemuda itu!
Bi Lan yang marah sekali, menggerakkan
sepasang pedangnya hendak mengirim serangan
maut membunuh sepuluh orang itu, akan tetapi
pemuda itu sekali berkelebat sudah berdiri di
depannya.
"Nona, jangan membunuh mereka!"
Bi Lan memandang tajam penuh selidik. "Hem,
kenapa? Bukankah mereka itu orang-orang jahat
yang hanya membahayakan kehidupan orangorang
lain? Kalau tidak dibunuh, mereka tentu aka
mencelakai orang lain."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pemuda itu menarik napas panjang lalu
menurunkan Lan Lan. Anak itupun menghampiri
Bi Lan dan memegang tangan Bi Lan yang masih
memegang pedang. "Nona, kalau setiap orang yang
melakukan kejahatan di dunia ini kaubunuh,
kiraku tidak akan ada yang tinggal hidup. Adakah
manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan
dalam hidupnya? Adakah manusia yang tidak
berdosa?"
Bi Lan mengerutkan alisnya. "Akan tetapi, tidak
semua orang menjadi perampok, pengganggu
wanita dan pembunuh!"
"Nona, manusia itu lemah lahir batin. Bukan
hanya lahirnya saja, tubuhnya saja yang lemah
dan suka diserang penyakit. Juga batinnya lemah
dan suka sakit. Semua orang mengalami penyakit
batin ini, hanya kadarnya saja yang berbeda, ada
yang ringan dan ada yang berat. Orang yang
menyeleweng dari kebenaran, yang menjadi
penjahat, sebenarnya hanyalah orang yang sedang
sakit batinnya. Orang yang sakit harus kita tolong,
kita obati, yaitu kalau yang sakit badannya. Kalau
yang sakit batinnya, kitapun harus menolong
dengan obat berupa nasihat, atau kalau perlu
ancaman. Akan tetapi, bukan lalu membunuhnya.
Ingat, nona, orang sakit dapat sembuh, dan yang
sehat dapat jatuh sakit. Orang yang berbuat jahat
dapat sembuh, dan yang sekarang kelihatan baikbaik
saja, sekali waktu dapat jatuh dan berbuat
jahat. Semua orang pernah sakit, nona. Termasuk
aku sendiri. Sakitku amat berat, dan mudahmudahan
sekarang telah sembuh."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ucapan itu berkesan di hati Bi Lan. Bahkan
gurunya yang juga suaminya pernah mengakui
bahwa gurunya itu dahulu juga pernah "sakit"
parah, yaitu menderita sakit batin karena dendam.!
Ucapan pemuda berpakaian biru itu sungguh
berkesan di hati dan tanpa cakap lagi ia lalu
menyimpan kembali sepasang pedangnya,
memondong Lan Lan dan membungkuk kepada
pemuda itu.
"Mengingat bahwa engkau telah membantuku,
biarlah aku menuruti nasihatmu dan tidak
membasmi mereka. Terima kasih atas bantuanmu
dan selamat tinggal." Setelah berkata demikian, Bi
Lan pergi meninggalkan tempat itu.
Pemuda itu masih berdiri seperti patung,
tersenyum-senyum seorang diri, dan dia seperti
tidak melihat atau tidak perduli ketika sepuluh
orang perampok itu tertatih-tatih meninggalkan
tempat itu dengan hati gentar.
Sampai lama pemuda itu berdiri, bahkan lalu
menjatuhkan diri duduk di atas batu, termenung
dan kadang menengok ke arah perginya Bi Lan.
Pemuda itu bukan orang sembarangan. Dia
memiliki ilmu kepandaian yang amat lihai karena
dia bukan lain adalah Hong San! Putera mendiang
Cui-beng Sai kong datuk besar dunia hitam itu,
seperti kita ketahui, tadinya membantu
pemberontakan Pangeran Cian Bu Ong. Akan
tetapi karena semua gerakan bekas pangeran itu
gagal, Cian Bu Ong membubarkan para
pembantunya dan Can Hong San juga pergi
meninggalkan bekas pangeran itu, merantau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seorang diri membawa bekal banyak emas yang
diterimanya sebagai hadiah dari Pangeran Cian Bu
Ong.
Berbulan lamanya Can Hong San berdiam di
puncak bukit merenungi keadaan hidupnya. Segala
usaha yang dilakukannya gagal belaka! Hanya
kepahitan dan kekalahan yang dideritanya.
Mulailah dia melihat bahwa jalan yang
ditempuhnya selama ini tidak menguntungkan,
menuruti nafsu-nafsunya, hanya menyeretnya ke
lembah kegagalan belaka. Timbul niatnya untuk
mengubah jalan hidupnya untuk meninggalkan
jalan sesat dan memilih jalan kebenaran. Mungkin
sebagai seorang pendekar, dia akan dapat
memanfaatkan kepandaiannya dan mendapatkan
nama besar yang harum!
Kalau kita mau membuka mata melihat
kenyataan tanpa menilai, akan tampaklah dengan
jelas bagaimana lihai, licin dan liciknya hati akal
pikiran bekerja, hati akal pikiran yang sudah
diperalat oleh nafsu-nafsu daya rendah.
Bagaimanapun pikiran berkiprah, selalu tujuannya
untuk mencari kesenangan dan menjauhi
ketidaksenangan. Keputusan apapun yang diambil
oleh pikiran, selalu pasti mempunyai pamrih, yaitu
demi kepentingan dan kesenangan diri sendiri. Can
Hong San sejak muda hidup bergelimang dosa,
mengambil jalan sesat dan menjadi seorang yang
terbiasa melakukan segala macam bentuk
kejahatan.
Semua ini hasil dari ulah hati akal pikiran yang
bergelimang nafsu, yang sudah dicengkeram oleh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
nafsu daya rendah yang selalu mengejar
kesenangan sehingga dalam pengejaran itu, Hong
San tidak memperdulikan lagi caranya. Cara
apapun akan ditempuhnya demi tercapainya
kesenangan yang dikejarnya. Itulah pekerjaan
nafsu daya rendah! Kemudian, pikiran melihat
betapa semua perbuatan jahatnya tidak
menguntungkan, bahkan merugikan! Maka,
pikiran yang sudah bergelimang nafsu lalu mencari
jalan lain. Untuk menghindarkan akibat yang tidak
menguntungkan, untuk dapat mencapai
kesenangan melalui jalan dan cara lain, kini
pikiran Hong San membujuknya untuk mengambil
jalan yang berlawanan menjadi seorang pendekar!
Menjadi orang yang melakukan kebaikan,
menentang kejahatan, yang tentu saja dengan
pamrih agar mencapai kesenangan dan
keuntungan!
Jelaslah bahwa kebaikan yang disengaja, diatur
dan direncanakan, bukanlah kebaikan lagi
namanya. Itu hanya hasil dari pikiran bergelimang
nafsu. Yang dinamakan perbuatan baik hanya
dijadikan cara untuk mendapatkan kesenangan
belaka. Kebaikan yang direncanakan pikiran
adalah kebaikan palsu, pura-pura. Kalau ada
orang yang "ingin menjadi orang baik", pada
hakekatnya dia hanya ingin mendapatkan balas
jasa atas kebaikannya itu.
Kebaikan atau kebajikan adalah suatu sifat dari
perbuatan yang tidak 1agi terdorong nafsu daya
rendah. Perbuatan yang tidak didorong oleh
pemikiran yang matang, melainkan perbuatan yang
spontan, seketika karena terdorong kekuasaan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang murni dan suci, karena terdorong oleh kasih
sayang! Kasih sayang bekerja selama pikiran
sebagai si aku tidak muncul merajalela. Kasih
sayang berubah menjadi nafsu menyenangkan diri
sendiri begitu si aku masuk dan campur tangan.
Aku ingin senang, aku ingin untung, aku tidak
mau susah, aku tidak mau rugi, aku ingin.... aku
ingin......aku ingin......demikianlah sifat nafsu dari
daya-daya rendah yang mencengkeram dan
mempengaruhi hati akal pikiran.
Oleh karena itu, keinginan hati akal pikiran
untuk mengubah diri menjadi "orang baik" hanya
tipuan belaka, bukan menjadi "orang baik"
melainkan menjadi "orang senang melalui
perbuatan baik" yang pada hakekatnya hanya
membuat kita menjadi munafik! Hati akal pikiran
yang bergelimang nafsu tidak mungkin
membersihkan diri sendiri!
Satu-satunya harapan hanyalah menyerah
kepada Tuhan Maha Kasih! Hanya kekuasaan
Tuhan sajalah yang akan mampu mengubah
seseorang, membersihkan batin seseorang,
mengembalikannya ke jalan benar. Kita hanya
dapat mohon ampun, .. mohon bimbingan, dan
menyerah dengan sabar, ikhlas, dan tawakal
kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Can Hong San tersenyum gembira. Wajahnya
cerah karena dia merasa memperoleh jalan yang
baik. Setelah mengambil keputusan untuk
mengubah cara hidupnya, dia turun gunung dan
kebetulan bertemu dengan Kwa Bi Lan yang
menggendong seorang anak perempuan yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mungil. Begitu bertemu, hati Hong San berdebar
dan tertarik sekali. Bukan tertarik yang
menimbulkan nafsu berahi seperti yang sudahsudah.
Wanita yang dijumpainya ini lain! Memang
cantik jelita dan menggairahkan, akan tetapi dia
tertarik bukan hanya karena itu. Bukan gejolak
berahi yang timbul di hatinya, melainkan
kekaguman yang penuh pesona. Menurut
pandangannya, belum pernah selama hidupnya dia
berjumpa dengan wanita yang dapat menarik dan
mengguncang perasaan hatinya seperti wanita
yang mukanya bulat, berkulit putih mulus,
berhidung mancung dan bermata tajam itu.
Diam-diam Hong San mengikuti, bahkan lalu
mendahuluinya dan sengaja meniup suling untuk
menarik perhatian gadis itu. Juga untuk menguji
bagaimana sikap gadis itu. Akan tetapi, gadis itu
hanya melihat sebentar lalu melanjutkan
perjalanan, acuh saja. Hal ini membuat dia
semakin kagum. Gadis yang alim, pikirnya, bertata
susila dan menjaga martabat dan kehormatan. Dia
membayangi lagi dari jauh.
Ketika dia melihat gadis yang menimbulkan rasa
kagum luar biasa di hatinya itu dikeroyok sepuluh
orang perampok, dia menjadi semakin kagum.
Kiranya gadis itu bukan saja cantik jelita dan
memiliki harga diri yang tinggi, akan tetapi juga
gagah perkasa dan memiliki ilmu silat yang cukup
hebat! Dia segera turun tangan membantu ketika
melihat anak dalam gendongan itu terancam
bahaya, dan ketika dia melihat gadis itu hendak
membunuh semua perampok, iapun cepat turun
tangan mencegahnya dengan merobohkan para
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
perampok dan membujuk gadis itu agar tidak
membunuh mereka.
Semua ini dia lakukan dengan perhitungan,
bukan karena dia merasa kasihan kepada sepuluh
orang perampok rendah itu, melainkan karena dia
ingin menjadi seorang "pendekar" dan ingin
kelihatan baik budi di mata gadis yang
dikaguminya itu. Mulailah hati akal pikiran dengan
cerdik dan liciknya membujuk Hong San menjadi
seorang munafik!
Setelah Bi Lan pergi bersama Lan Lan, Hong San
termenung. Gadis hebat! Dia betul-betul baru
sekali ini merasa jatuh cinta, bukan jatuh berahi,
melainkan jatuh cinta sungguh-sungguh. Kalau
saja dia dapat berdampingan selamanya dengan
gadis itu, dapat menjadi suami isteri, membentuk
rumah tangga berkeluarga! Alangkah akan
bahagianya.!
"Ihh, khayal!" Hong San mencela diri sendiri dan
dia teringat bahwa sudah terlalu lama dia
membiarkan gadis pujaan hatinya itu pergi. Dia
harus cepat mengejar kalau tidak mau kehilangan.
Sambil berlari Hong San merasa heran sendiri
terhadap perasaan hatinya.
Dia merasa seperti pernah bertemu dengan gadis
itu, atau setidaknya pernah melihatnya! Akan
tetapi dia lupa lagi entah di mana. Sudah terlalu
banyak dia bertemu gadis atau wanita muda yang
cantik, maka dia tidak ingat lagi di mana dia
bertemu dengan gadis itu. Akan tetapi, yang
membuat dia merasa pernah bertemu terutama
sekali adanya permainan sepasang pedang itu!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bi Lan melanjutkan perjalanan dengan cepat
sambil menggendong Lan Lan yang tertidur. Hari
telah menjelang senja dan ia harus mendapatkan
sebuah rumah penginapan, di kota, atau mondok
di rumah penduduk dusun. Juga keributan tadi
membuat ia tidak dapat memberi makan kepada
Lan Lan, maka sore hari ini mereka harus mencari
makanan.
Ia merasa jengkel terhadap diri sendiri mengapa
belum juga bayangan pemuda itu lenyap dari
depan matanya. Masih terus terbayang wajahnya,
terngiang suaranya. Heran, ia merasa pernah
melihat pemuda itu, entah di mana dan kapan. Bi
Lan dan juga Hong San lupa bahwa mereka bukan
saja pernah saling berjumpa bahkan pernah saling
serang! Ketika Hong San berkelahi menghadapi
pengeroyokan Lie Koan Tek dan Poa Liu Hwa,
muncul Bi Lan yang membantu Lie Koan Tek,
pamannya itu. Memang hanya merupakan
perkelahian singkat, karena Hong San tidak mau
melayani pengeroyokan mereka bertiga dan segera
melarikan diri begitu Bi Lan muncul dan
membantu dua orang yang mengeroyoknya.
Matahari telah condong ke barat ketika Bi Lan
memasuki kota Peng-lu di pantai selatan Huangho.
Kota di pantai Sungai Kuning ini cukup besar
dan ramai, dan dengan mudah Bi Lan
mendapatkan sebuah kamar di hotel yang cukup
bersih.
Ia sudah membelikan pakaian untuk Lan Lan di
kota yang dilewatinya beberapa hari yang lalu.
Setelah memandikan Lan Lan dan mengganti
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pakaian anak itu, dan ia sendiripun sudah mandi
dan bertukar pakaian bersih, ia mengajak Lan Lan
keluar dari rumah penginapan dan mencari rumah
makan. Kebetulan sekali tak jauh dari rumah
penginupan itu terdapat sebuah rumah makan
yang tidak begitu penuh tamu. Bi Lan memondong
Lan Lan memasuki rumah makan itu disambut
oleh seorang pelayan tua dengan ramah.
Bi Lan memilih di sudut yang kosong dan
memesan makanan, nasi sayur dan minuman teh.
Tak lama kemudian, ia sudah menyuapi Lan Lan
yang makan dengan lahapnya karena anak ini
memang lapar, sejak pagi tadi belum makan.
Sambil menyuapi Lan Lan, Bi Lan juga makan.
Karena asyik makan sambil menyuapi Lan Lan, Bi
Lan tidak tahu bahwa sejak tadi ada beberapa
pasang mata memperhatikannya. Tiga pasang mata
mengamatinya secara langsung dari sebuah meja
terbesar di rumah makan itu, mata dari tiga orang
yang berpakaian seperti perwira yang gagah dan
gemerlapan. Ada pula sepasang mata
mengamatinya dari tempat gelap di luar rumah
makan, yaitu mata dari Can Hong San. Pemuda ini
tidak mau memasuki rumah makan karena dia
tidak ingin dianggap membayangi gadis itu.
Baginya asal dapat melihat dan tahu di mana gadis
itu berada sudah cukup. Akan tetapi, Hong San
juga tahu bahwa tiga orang berpakaian perwira
tinggi itu mengamati si gadis dengan sinar mata
seperti singa kelaparan. Diapun memperhatikan
mereka. Seorang di antara mereka berusia kurang
lebih limapuluh tahun, pakaian perwiranya dihias
benang emas gemerlapan dan sarung pedang yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tergantung di pinggangnya amat indah, seperti
emas pula dan terukir, dengan gagang yang diukir
kepala burung dan ada ronce-ronce benang sutera
merah. Dua orang lainnya berusia kurang lebih
empatpuluh tahun, dan agaknya merupakan
perwira-perwira yang pangkatnya lebih rendah.
Sikap merekapun merendah terhadap perwira
tinggi yang lebih tua.
Hong San memperhatikan perwira tinggi yang
berusia limapuluh tahun itu.
Dari sikap dan pandang matanya saja diapun
dapat menduga bahwa perwira itu seorang yang
cerdik dan agaknya memiliki ilmu kepandaian
tinggi, sedangkan dua orang pembantunya juga
orang-orang yang berpakaian rapi dan bersikap
gagah. Perwira tinggi itu bertubuh tinggi, agak
kurus dengan tulang pipi menonjol di bawah kanan
kiri mata, hidungnya tinggi dan mulutnya yang
lebar dengan bibir tebal membayangkan gairah
yang besar. Mulut itu sebagian tertutup kumis
tebal yang berjuntai ke bawah di kanan kiri
mulutnya. Jenggotnya terpelihara rapi, digunting
pendek. Kepalanya memakai topi perwira yang
dihias sulaman benang emas pula.
Tiga orang perwira itu sudah berada di dalam
rumah makan ketika Bi Lan dan Lan Lan masuk ke
situ, dan begitu wanita muda itu masuk, mereka
sudah memandang dengan penuh perhatian.
Karena pimpinan mereka nampak tertarik sekali,
maka dua orang perwira pembantu itupun tertarik
dan mereka membicarakan Bi Lan sambil berbisikbisik.
Mereka adalah tiga orang perwira yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
datang dari Lok-yang Mereka merupakan perwiraperwira
tinggi yang bertugas melakukan inspeksi
ke daerah-daerah, dan ketika tiba di kota Peng-lu,
mereka kemalaman, bermalam di rumah kepala
daerah dan malamnya mereka keluar untuk jalan
jalan dan membeli makanan. Andaikata mereka
memasuki rumah makan itu bersama kepala
daerah, tentu para karyawan rumah makan itu
akan menyambut mereka dengan cara lain. Akan
tetapi, biarpun pangkat mereka lebih tinggi dari
pada kepala daerah Peng-lu, akan tetapi tidak ada
yang mengenal mereka, maka mereka dianggap
seperti tamu saja dan hanya diberi meja besar di
rumah makan itu karena penampilan mereka yang
mewah dan berwibawa.
Perwira tinggi itu adalah seorang panglima
bernama Su Ki Seng, terkenal dengan sebutan Suciangkun
(perwira Su) dan dia memang terkenal
sebagai seorang panglima yang pandai dan juga
lihai. Seluruh kepala daerah di wilayah Propinsi
He-nan takut belaka kepadanya. Panglima ini
pandai menemukan kesalahan-kesalahan para
kepala daerah dan karena dia berkuasa dan
berpengaruh di kota raja, maka para kepala daerah
tunduk kepadanya. Mereka selalu menyambut
kunjungannya dengan berbagai hadiah untuk
menyenangkan hati panglima itu sehingga dia
tidak akan mengganggu mereka dan menutup mata
saja kalau terdapat kejanggalan atau kesalahan.
Keadaan seperti itu membuat Su-ciangkun menjadi
kaya raya. dan dia hidup sebagai bangsawan yang
kaya raya di Lok-yang, dengan rumah gedung
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
besar dan indah megah seperti istana, mempunyai
seorang isteri dan belasan orang selir dan dayang.
Namun, seperti kebiasaan para pejabat yang
suka melakukan tugas keliling ke luar kota dan
luar daerah pada masa itu, Su-ciangkun yang
biasanya hanya dikawal beberapa orang
pembantunya dan tidak membawa keluarganya,
dia selalu seperti seekor kucing kelaparan. Harta
benda dia sudah punya lebih dari cukup, dan
semua hadiah dan sumbangan yang diterimanya
dari para pejabat daerah, akan diurus oleh para
pembantunya. Akan tetapi yang membuat dia
kehausan adalah wanita! Su-ciangkun seorang pria
yang mata keranjang dan tidak pernah puas
dengan isteri dan belasan orang selirnya. Kalau dia
sedang melakukan perjalanan ke luar kota Lokyang,
dia selalu mencari sasaran dan korban untuk
memuaskan hasrat dan gairahnya. Wataknya
inipun diketahui oleh para kepala daerah dan
setiap kali dia datang, tentu para kepala daerah
yang ingin menyenangkan hatinya, menyediakan
wanita hiburan untuknya!
Akan tetapi, sekali ini Su-ciangkun merasa
bosan dengan wanita hiburan. Dia mengajak dua
orang pembantunya yang juga merupakan
pengawal dan pesuruhnya, untuk keluar dari
rumah kepala daerah, makan di restoran dan tentu
saja mencari kesempatan kalau kalau dapat
bertemu dengan wanita yang menarik hatinya. Dan
kebetulan sekali, ketika mereka makan di rumah
makan, Bi Lan masuk dan segera perwira ynng
mata keranjang itu terbetot semangatnya! Matanya
yang berminyak tak pernah melepaskan Bi Lan,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
diamatinya wanita itu, wajahnya dan seluruh
tubuhnya. Makin diamati, makin tergila-gila.
Bahkan ketika Bi Lan makanpun, nampak begitu
menggairahkan bagi Su-ciangkun.
"Apakah tai-ciangkun suka padanya?" bisik
seorang pembantunya yang bermuka hitam dan
dikenal dengan sebutan Lu-ciangkun.
"Agaknya dia wanita baik-baik, harus dilakukan
pendekatan dengan halus," kata pula Ji-ciangkun,
pembantu lain yang matanya sipit.
Su-ciangkun mengangguk-angguk dan meraba
jenggotnya. "Hebat, ia sungguh menarik. Aku akan
berbahagia sekali kalau malam ini dapat
membawanya ke kamarku."
"Apa sukarnya?" kata pembantu yang mukanya
hitam. "Beritahu saja kepala daerah, tentu dia
akan dapat memaksa wanita ini menemani taiciangkun."
"Hussh, aku tidak mau ramai-ramai," cela Suciangkun.
"Memalukan kalau sampai terdengar
umum kita membuat keributan di sini."
"Memang sebaiknya kita membuat pendekatan.
Kita undang ia ke sini atau kita yang mendatangi
mejanya untuk belajar kenal. Kalau kita sudah
mengetahui keadaannya, baru dilakukan
penjajagan apakah kiranya ia dapat dibawa dengan
cara halus tanpa paksaan," kata Ji-clangkun si
mata sipit.
Su-ciangkun mengangguk setuju dengan cara
itu. "Sebaiknya engkau yang pergi mendekatinya
dan bicara dengannya secara halus," kata SuTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
ciangkun kepada pembantunya yang bermata sipit
itu. Pembantunya ini memang pandai bicara, tidak
main kasar seperti rekannya yang bermuka hitam.
Ji-ciangkun mengangguk, lalu bangkit dan
menghampiri meja Bi Lan yang kebetulan sudah
selesai makan. Melihat ada orang menghampirinya,
Bi Lan mengangkat muka memandang dan alisnya
berkerut ketika melibat bahwa yang
menghampirinya adalah seorang yang berpakaian
perwira. Akan tetapi, perwira yang bermata sipit itu
bersikap hormat, mengangkat kedua tangan ke
depan dada dan berkata dengan sikap yang sopan.
"Maafkan saya kalau mengganggu, nona.
Bolehkah saya bicara sebentar?" Bi Lan adalah
seorang gadis kangouw yang tidak pemalu seperti
gadis pingitan. Ia sudah berpengalaman dan tabah,
maka biarpun ada laki-laki yang tidak dikenalnya
mendekat dan mengajak bicara, ia sama sekali
tidak merasa sungkan atau kehilangan akal. Ia
mengangguk.
"Silakan, apa yang akan dibicarakan?" tanyanya.
Ji-ciangkun merasa mendapat hati. Iapun
melihat sepasang pedang yang berada di atas meja,
dan dia menduga bahwa dia berhadapan dengan
wanita kangouw. Hal ini akan lebih memudahkan,
jauh lebih mudah daripada kalau berhadapan
dengan wanita yang pemalu.
Maka, dia lalu duduk di depan Bi Lan, terhalang
meja.
"Perkenalkan, nona. Nama saya Ji Kun. Saya
pembantu dari panglima yang duduk di sana itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Beliau adalah Su-tai-ciangkun yang berkedudukan
tinggi di kota raja, kaya raya dan bangsawan besar.
Yang bermuka hitam itu adalah rekan saya, Luciangkun.
Kami bertiga bertugas ke luar kota raja
dan sekarang menjadi tamu-tamu kehormatan dari
kepala daerah di Peng-lu ini."
Kerut di antara kedua alis Bi Lan semakin
dalam. Biarpun suaranya halus, namun
mengandung teguran. "Ji-ciangkun, apa artinya
semua ini? Mengapa ciang-kun menceritakan
semua itu kepadaku? Semua itu tidak ada
hubungannya sedikitpun dengan aku. Katakan,
apa maksud ciangkun menghampiriku dan bicara
denganku? Apa yang perlu dibicarakan?"
Sikap tegas ini, walaupun dikeluarkan dengan
suara lembut, membuat Ji-ciangkun agak gugup
juga. Tadinya dia mengira bahwa wanita yang
dihadapi nya akan bersikap dua macam, pertama,
menerimanya dengan malu-malu kucing dan kedua
dengan keras menolak. Akan tetapi wanita ini
demikian tenang dan tegas, sama sekali tidak
merasa rendah diri walaupun berhadapan dengan
seorang perwira tinggi!
"Maaf, nona. Bolehkah kami mengetahui nama
nona yang terhormat?"
Pertanyaan itu tidak pada tempatnya. Seorang
laki-laki asing menanyakan nama gadis yang baru
dijumpainya dan yang tidak dikenalnya. Akan
tetapi karena pertanyaan itu diajukan dengan katakata
yang sopan, dan karena Bi Lan tidak begitu
terikat oleh sopan santun palsu, maka hal ini tidak
menyinggung hatinya dan dengan tenang iapun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memperkenalkan diri, apalagi mengingat bahwa
orang itu telah memperkenalkan diri, bahkan juga
nama dua orang temannya.
"Namaku Kwa Bi Lan. Kenapa ciangkun ingin
tahu namaku?"
Ji-ciangkun tersenyum lebar. "Nona Kwa,
bukankah sudah jamak kalau orang-orang yang
saling berkenalan saling bertanya nama? Terus
terang saja, nona, aku diutus oleh atasanku, yaitu
Su ciangkun yang duduk di sana itu bahwa beliau
amat kagum kepadamu. Beliau ingin sekali
berkenalan dan kalau nona tidak berkeberatan,
nona dipersilakan datang dan duduk semeja
dengan beliau, atau beliau yang akan datang ke
sini.''
Bi Lan sudah merasa betapa dadanya mekar dan
panas. Dengan cara yang sopan bagaimanapun
juga, jelas bahwa undangan itu bermaksud
mesum. Mukanya mulai merah dan alisnya
berkerut. Melihat gelagat ini, Ji-ciangkun yang
cukup berpengalaman segera melanjutkan katakatanya.
"Harap nona jangan salah mengerti. Atasan kami
itu, Su-ciangkun, selain menjadi panglima tinggi
yang berkedudukan tinggi dan berkuasa besar,
juga merupakan seorang jagoan istana, seorang
ahli silat yang suka sekali berkenalan dengan
orang-orang kang-ouw yang berilmu tinggi. Maka,
melihat nona tadi masuk sambil membawa siangkiam
(sepasang pedang), beliau sudah tertarik
sekali dan ingin berbincang-bincang dengan nona
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengenai dunia kangouw dan ilmu silat, terutama
ilmu pedang karena beliau juga ahli silat pedang."
Memang cerdik sekali Ji-ciangkun itu. Dengan
ucapan seperti itu, tentu saja tidak ada alasan
berniat kurang ajar, melainkan seorang ahli silat
yang tertarik kepadanya karena ia membawa
pedang, bukan laki-laki kurang ajar tertarik
kepada kecantikan wanita dan berniat mesum!
"Ah, begitukah? Su-ciangkun terlalu
merendahkan diri. Aku hanya orang yang pernah
belajar sedikit ilmu pedang, tidak ada apa-apa yang
patut dibicarakan."
"Tapi, Kwa-lihiap (pendekar wanita Kwa).
Kuharap li-hiap tidak menolak undangan Su-taiciangkun,
karena menolak berarti memandang
rendah kepada beliau. Kalau lihiap merasa
sungkan, biarlah kami yang datang ke meja li-hiap.
Bersediakah lihiap menerima kunjungan Su-taiciangkun
ke sini?"
Bi Lan tersudut dan tidak mampu menolak lagi.
Pula, timbul keinginan hatinya untuk mengetahui,
apa yang akan dikatakan seorang panglima besar
kepadanya! Ia mengangguk dan berkata lirih,
"Silakan!" Dan iapun duduk memangku Lan Lan
yang bermain-main dengan sepasang sumpit
bersih.
Ji-ciangkun menghampiri atasannya dengan
wajah berseri, lalu berbisik lirih. "Kwa-lihiap sudah
setuju untuk menerima paduka di mejanya.
Silakan, tai ciangkun!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Su-ciangkun girang bukan main. Dia
menggunakan tangan kirinya untuk mengusap
bibir, kumis dan jenggot agar nampak bersih, lalu
menggosok-gosok kedua tangan. Dari ucapan
pembantunya tadi saja dia tahu bahwa gadis yang
amat menarik hatinya itu adalah seorang wanita
kangouw, maka disebut lihiap oleh Ji-ciangkun.!
Dia bangkit dan menghampiri meja Bi Lan di
sudut, diikuti oleh kedua orang pembantunya.
Su-ciangkun yang sudah berpengalaman itu
mengangkat kedua tangan di dada sebagai
penghormatan. "Kwa-lihiap maafkan kalau kami
mengganggu."
"Su-ciangkun, silakan duduk dan jangan
menyebut lihiap kepadaku karena aku belum tepat
untuk disebut pendekar."
"Aih, lihiap merendahkan diri. Dari gerak-gerik
lihiap saja aku sudah dapat menduga bahwa lihiap
tentu lihai sekali memainkan siang-kiam ini." Dia
duduk dan menunjuk ke arah sepasang pedang di
atas meja.
"Siang-kiam ini hanya untuk penjagaan kalaukalau
di tengah perjalanan aku bertemu dengan
srigala atau harimau yang ganas, ciangkun."
"Kalau boleh aku mengetahui, lihiap dari
perguruan manakah? Dan siapakah gurumu?" Suciangkun
pura-pura bicara tentang ilmu silat,
padahal di dalam hatinya dia tentu saja
memandang rendah kepandaian seorang muda
seperti Bi Lan yang usianya baru duapuluh tahun
lebih itu, dan dia mendapatkan kesempatan untuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengagumi kecantikan dan kemontokan tubuh
wanita itu tanpa mendatangkan kesan kurang ajar.
Sebetulnya, Bi Lan tidak suka bicara tentang
dirinya, dan dia tidak suka pula berbincangbincang
dengan perwira yang tidak dikenalnya ini.
Akan tetapi karena tiga orang itu bersikap sopan,
apalagi mereka bicara sebagai orang-orang dari
dunia persilatan, ia merasa tidak enak juga kalau
tidak menanggapi.
Terlebih lagi, ia tidak suka menyebut nama
mendiang gurunya yang juga suaminya, maka
dengan sederhana dan sambil lalu iapun
menjawab, "Aku pernah mempelajari sedikit ilmu
silat dari seorang murid Siauw lim-pai......"
"Ah, kiranya seorang murid Siauw-lim pai yang
gagah!" Su-ciangkun berseru, pura-pura kaget dan
diapun bangkit berdiri, "Maafkan kalau kami
bersikap kurang hormat, Kwa-lihiap.!"
Bi Lan juga bergegas membalas penghormatan
itu. "Su-ciangkun terlalu memuji. Aku hanya murid
tingkat rendahan saja, mana bisa disamakan
dengan ahli-ahli silat yang lihai dari Siauw-lim
pai?"
"Harap Kwa-lihiap tidak terlalu merendah, dan
tidak pula terlalu pelit untuk memberi petunjuk
tentang ilmu pedang kepadaku. Kupersilakan
lihiap untuk singgah di tempat kediaman kami dan
memberi petunjuk ilmu pedang, dan untuk itu
sebelumnya aku menghaturkan banyak terima
kasih."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bi Lan terkejut. Orang ini terlalu jauh
melangkah, pikirnya. "Tapi aku... aku
dan......anakku ini ingin beristirahat, besok pagi
akan melanjutkan perjalanan......"
"Kami jemput dan antar dengan kereta, lihiap.
Jangan khawatir, karena beliau ini tamu
kehormatan dari kepala daerah," kata Ji-ciangkun
membujuk.
"Kwa-lihiap tentu tidak akan tega menolak
ajakan Su-tai-ciangkun, mengingat bahwa kita
sama-sama dari dunia persilatan yang selalu
menghargai orang lain yang ingin menguji ilmu
silat." Lu-ciangkun ikut pula membujuk.
Bi Lan.menjadi serba salah. Melihat keraguan
wanita itu, Su-ciangkun lalu membujuk lagi,
"Nona........eh, nyonya tidak perlu ragu-ragu.
Kami mengundang lihiap dengan hormat, pula,
lihiap berkunjung ke tempat kami bersama puteri
lihiap yang mungil ini. Bagi kita orang-orang
kangouw, hal ini sudah wajar, bukan?"
Ji-ciangkun sudah berlari keluar
mempersiapkan kereta dan akhirnya Bi Lan tidak
dapat menolak lagi. Bagaimanapun juga, perwira
itu mengundang dengan sikap hormat, dan iapun
tidak takut. Mereka ini bukan perampok, bukan
penjahat, melainkan orang-orang berpangkat,
orang-orang bangsawan yang terhormat. Tidak
mungkin mereka akan melakukan hal-hal yang
tidak patut.
"Baiklah, akan tetapi sebentar saja, hanya untuk
menguji ilmu pedang sebentar, karena aku harus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
segera kenbali ke kamar hotel untuk menidurkan
anakku," katanya dan iapun memondong Lan Lan,
membawa pedang dan mengikuti Su-ciangkun dan
dua orang pembantunya keluar dari rumah makan,
naik ke kereta yang sudah disiapkan di depan, lalu
pergi ke rumah kepala daerah.
Makin lega rasa hati Bi Lan ketika melihat
betapa di rumah kepala daerah kota Peng-lu, Suciangkun
dan dua orang pembantunya benar-benar
disambut dengan segala kehormatan. Dan sebagai
tamu agung, agaknya Su-ciangkun tidak begitu
mengindahkan kepala daerah yang menyambutnya
dengan tubuh membungkuk-bungkuk! Bahkan Suciangkun
menyatakan bahwa dia tidak ingin
diganggu karena dia hendak menjamu tamunya,
yaitu Kwa lihiap!
Langsung saja Su-ciangkun bersama dua orang
pembantunya memasuki bangunan sebelah kanan
yang memang dikosongkan dan disediakan untuk
tamu-tamu agung itu. Ketika Su-ciangkun
memerintahkan pelayan untuk mengeluarkan
hidangan, Bi Lan mengerutkan alisnya dan
menolak halus. "Ciangkun sendiri melihat bahwa
aku dan anakku baru saja makan di rumah makan
itu, bagaimana mungkin kami dapat menerima
hidangan makanan lagi?"
"Bukan hidangan makanan berat, lihiap, hanya
makanan ringan dan terutama sekali anggur yang
sedap dan lezat. Kepala daerah kota ini menyimpan
anggur yang sudah tua dan enak sekali," kata Suciangkun
dan Bi Lan tidak membantah lagi. Ia
tidak begitu suka minum arak, akan tetapi kalau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
anggur itu tidak terlalu keras, boleh juga ia minum
beberapa cawan.
Ji-ciangkun dan Lu ciangkun menyuruh pelayan
menyingkirkan meja kursi di ruangan belakang
yang luas itu, karena tempat itu akan dijadikan
tempat mengadu ilmu pedang. Ketika anggur
dikeluarkan, benar saja anggur itu manis dan tidak
terlalu keras, namun halus dan tidak mencekik
leher. Bi Lan membatasi diri, hanya minum dua
cawan.
"Sudah cukup, ciangkun. Sebaiknya mari kita
cepat menguji ilmu pedang karena sungguh aku
tidak dapat berlama-lama di sini. Anakku sudah
kelihatan mengantuk." Bi Lan memandang Lan Lan
yang ia dudukkan di bangku panjang. Anak itu
bermain-main dengan sebuah boneka puteri yang
dipakai sebagai hiasan di ruangan itu.
Su-ciangkun tertawa. "Ha-ha, lihiap tergesa-gesa
saja. Dan sungguh mati, lihiap, tadinya kami tidak
mengira sama sekali bahwa anak yang manis ini
adalah puteri lihiap. Agaknya.....maaf lihiap belum
cocok untuk menjadi seorang ibu. Sekali lagi
maaf......"
Ucapan itu agak melanggar susila, akan tetapi
karena berkali-kali perwira itu minta maaf, maka
Bi Lan tersenyum. "Tidak apa, ciangkun. Mari kita
mulai. Lan Lan, kau duduk dulu di sini, ya ? Ibu
ingin latihan sebentar."
Lan Lan yang sudah mengantuk itu mengangkat
muka memandang ibunya, lalu bertanya, "Ibu akan
berlatih pedang?" Lan Lan sudah biasa melihat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
orang bersilat, dan ia paling senang kalau ayah
atau ibunya berlatih silat pedang.
"Ha-ha-ha, ibunya pendekar wanita, anaknya
yang masih sekecil ini sudah mengerti ilmu
pedang. Tentu kepandaian lihiap hebat sekali!" Suciangkun
memuji, walaupun dalam hatinya tetap
memandang rendah. Semua ini dia lakukan hanya
untuk beramah-tamah dan basa-basi saja, karena
pada dasarnya, yang dia inginkan adalah tidur
dengan wanita muda itu!
Bi Lan yang tidak ingin berlama-lama di tempat
itu, sudah meloncat ke tengah ruangan yang telah
dibersihkan itu, menjura ke arah tuan rumah dan
berkata, "Marilah, ciangkun, kita berlatih sebentar
seperti yang ciangkun kehendaki agar aku tidak
kemalaman membawa anakku ke rumah
penginapan."
"Mengapa lihiap tergesa-gesa? Bermalam di
sinipun ada tempatnya, bahkan lebih bersih dan
nyaman dibandingkan rumah penginapan. Akan
tetapi baiklah, aku ingin sekali mendapat petunjuk
ilmu pedang darimu." Setelah berkata demikian,
sekali menggerakkan tubuh, Su-ciangkun telah
meloncat dan berada di depan wanita itu.
Gerakannya cukup lincah, tanda bahwa dia
memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang
cukup baik.
Tanpa basa-basi lagi, Bi Lan mencabut sepasang
pedangnya dan melihat cara wanita itu mencabut
pedang saja tahulah Su-ciangkun bahwa wanita itu
menggunakan pedang bukan sekedar untuk
pamer. Memang cara mencabut pedang itu saja
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sudah menunjukkan keahlian. Maka diapun
mencabut pedangnya yang berkilauan karena
pedang itu adalah pemberian kaisar, merupakan
sebatang pedang yang terbuat dari baja yang baik
sekali.
"Silakan, ciangkun."
"Aku adalah tuan rumah dan engkau tamuku,
lihiap. Silakan lihiap menyerang lebih dulu."
"Maafkan aku, ciangkun. Lihat pedang.!" Bi Lan
membuka serangan dengan pedang kirinya yang
meluncur ke depan menusuk dada, disusul pedang
kanan menyambar dari atas membacok kepala
dengan jurus Angin bertiup kilat menyambar yang
gerakannya cepat dan mengandung tenaga lembut
namun kuat.
"Bagus!" Su Ki Seng yang mahir ilmu pedang
campuran Butong-pai dan Kunlun pai, cepat
mengelak dengan loncatan mundur sambil
menangkis yang membacok dari atas. Terdengar
suara nyaring dan perwira itu terkejut. Ketika
pedangnya bertemu dengan pedang kanan wanita
itu, dia merasa betapa lengannya tergetar!
Kekagetannya disusul kekaguman ketika Bi Lan
memainkan sepasang pedangnya, wanita itu bukan
saja memiliki sinkang yang kuat, akan tetapi juga
ilmu pedangnya amat hebat! Kalau tadinya Suciangkun
kagum akan kecantikannya dan
merindukan wanita ini karena berahi, kini terjadi
perubahan besar dalam hatinya. Dia adalah
seorang bangsawan yang selalu bisa mendapatkan
apa saja yang dia inginkan. Kini, melihat bahwa
wanita yang cantik ini memiliki ilmu silat yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
amat lihai, diapun membayangkan betapa akan
senangnya kalau wanita seperti ini dapat menjadi
pengawal pribadinya! Bukan lagi ingin
memanfaatkan kecantikannya, melainkan
kepandaiannya. Kalau yang pertama untuk
memuaskan gairah berahinya, yang terakhir ini
untuk menjamin keamanan pribadinya.
"Trang- trang-singg........!" Bunga api berpijarpijar
ketika Su-ciangkun memutar pedangnya
menangkis sepasang pedang yang mendesaknya
bagaikan dua ekor kumbang yang melayang-layang
dan siap untuk menyengatnya itu.
"Bukan main! Ilmu pedang yang hebat.....!" Dia
berseru dan seruan ini merupakan isyarat kepada
dua orang pembantunya. Mereka memang sudah
siap dan sejak tadi, mereka menonton
pertandingan itu sambil mendekati Lan Lan.
Bi Lan ingin cepat menyudahi pertandingan itu,
maka sengaja ia mengeluarkan seluruh kepandaian
dan mengerahkan semua tenaga untuk
mengalahkan perwira itu agar ia dapat segera pergi
bersama Lan Lan meninggalkan tempat itu. Akan
tetapi, Su-ciangkun ternyata bukan orang lemah
dan dapat menjaga diri dengan baik sehingga
setelah lewat limapuluh jurus, ia hanya mampu
mendesak dan tidak memberi kesempatan kepada
lawan untuk membalas.
Tiba-tiba Su-ciangkun meloncat jauh ke
belakang sambil berseru, "Kwa-lihiap, tahan dulu!"
Bi Lan menghentikan gerakan pedangnya, berdiri
tegak dan memandang kepada perwira itu sambil
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tersenyum. Tentu perwira itu mengaku kalah dan
ia akan segera pergi dari situ.
"Kwa-lihiap, ilmu pedangmu sungguh hebat. Aku
kagum sekali dan terimalah hormatku!" kata
perwira itu dengan suara sungguh-sungguh,
bahkan dia lalu mengangkat kedua tangan ke
depan dada memberi hormat.
"Ah, Su-ciangkun terlalu merendah. Ilmu
pedangmu juga hebat dan terima kasih bahwa
engkau telah mengalah," kata Bi Lan,
menggunakan sikap dan bicara yang merendah
dari para ahli persilatan yang saling menguji ilmu.
"Sekarang terpaksa aku berpamit, akan kembali ke
kamar hotel bersama anakku, karena ia harus
segera mengaso dan tidur."
"Kwa-lihiap, sekarang aku ingin berterus terang
kepadamu. Kuharap engkau dan puterimu suka
bermalam saja di rumah kepala daerah ini, dan
aku akan mengutus orang untuk mengambil
barang-barangmu dari kamar hotel. Besok akan
kuantar engkau ke kotaraja."
Bi Lan terbelalak, lalu alisnya berkerut.
"Ciangkun, apa artinya ini? Apa maksudmu?"
"Kami membutuhkan seorang yang memiliki
kepandaian sepertimu, lihiap. Percayalah, kalau
engkau ikut dengan aku, engkau akan memperoleh
kedudukan dan kemuliaan. Untuk langkah
pertama, engkau menjadi pengawal pribadiku di
gedungku, kemudian lambat laun aku akan
memperkenalkan engkau kepada Pangeran
Mahkota yang membutuhkan orang-orang
pandai......."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tidak, aku tidak mau! Aku akan pergi dengan
Lan Lan sekarang juga!" kata Bi Lan dan ia
menengok ke arah Lan Lan., Wajahnya berubah
dan ia marah sekali. Dua orang perwira pembantu
tadi telah berdiri di kanan kiri Lan Lan dengan
pedang di tangan dan sikap mereka mengancam!
"Kwa-lihiap, ini merupakan perintah seorang
petugas negara!" kata Ji-ciangkun membujuk.
"Lihiap boleh memberitahu di mana suami lihiap,
dan kami akan mengundangnya pula. Keluargamu
akan memperoleh kedudukan yang baik di istana."
Wajah Bi Lan menjadi merah mendengar
suaminya disebut-sebut. "Tidak, aku tidak ingin
bekerja di kota raja!"
"Engkau tidak ada pilihan lain, lihiap. Ini
perintah petugas negara!" kata Su-ciangkun dan
pada saat itu, muncullah puluhan orang perajurit
mengepung tempat itu dengan senjata lengkap.
Kiranya dua orang pembantu Su-ciangkun tadi
diam-diam telah mengatur dan minta bantuan
pasukan keamanan dari kepala daerah.
Bi Lan menjadi marah bukan main, "Hemm,
kalian menggunakan cara gerombolan penjahat
saja! Kalau aku tidak mau, kalian mau apa?"
Su-ciangkun tersenyum. "Ini siasat pasukan,
bukan siasat gerombolan, lihiap. Kalau engkau
tetap menolak, terpaksa kami tangkap engkau dan
puterimu dan memaksamu menghadap yang
berwenang di kota raja."
Pada saat itu, terdengar suara suling
melengking. Semua orang terkejut, dan Bi Lan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengangkat muda dengan girang karena ia tahu
bahwa kembali si peniup suling datang
membantunya. Ia sedang tersudut dan tidak
berdaya, sungguh amat membutuhkan bantuan.
"Minta seseorang bekerja tidak boleh
menggunakan paksaan!" terdengar suara orang
setelah lengking suling itu berhenti dan muncullah
Can Hong San. Begitu bayangannya berkelebat,
tahu-tahu dia telah melayang ke arah Lan Lan dan
dua orang perwira Lu dan Ji yang memegang
pedang, siap menyambutnya dengan serangan.
Akan tetapi, demikian cepatnya gerakan suling di
tangan Hong San sehingga tahu-tahu dua orang
itu-pun roboh terkulai, tertotok sulingnya dan di
lain saat, Hong San telah memondong Lan Lan!
"Nona, mari kita pergi saja dari sini!" katanya.
"Akan tetapi ingat, jangan membunuh orang!"
Bi Lan tersenyum. Bukan main lega rasa
hatinya. Ia sendiri tidak takut menghadapi
pengepungan dan pengeroyokan itu, akan tetapi ia
tadi sungguh tidak berdaya melihat Lan Lan
ditodong dua orang perwira pembantu. Ia tahu
bahwa tidak mungkin dalam keadaan dikepung itu
ia akan mampu membebaskan Lan Lan. Dan
ternyata pemuda itu telah menyelamatkan Lan
Lan, karena selain gerakannya amat cepat, juga
orang tidak menduga bahwa pemuda itu datangdatang
merampas Lan Lan dari todongan dua
orang perwira. Ia tersenyum karena pemuda itu
masih sempat mengingatkannya agar tidak
membunuh orang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ketika melihat pemuda itu sudah membuka
jalan dengan tendangan kakinya dan gerakan
sulingnya, iapun segera meloncat ke dekat pemuda
itu dan membantunya membuka jalan keluar dari
gedung itu.
Hong San yang memondong Lan Lan sambil
memainkan sulingnya, diam-diam merasa kagum
sekali kepada Bi Lan. Juga kagum kepada
puterinya, yaitu anak perempuan mungil yang
berada di pondongannya itu, yang disangkanya
tentulah anak wanita cantik perkasa itu. Betapa
dia tidak akan kagum melihat Lan Lan yang baru
berusia dua tahun lebih itu, sama sekali tidak
nampak ketakutan. Juga tidak menangis walaupun
berada dalam pondongan orang yang tidak
dikenalnya dan pemondongnya itu dikeroyok
banyak orang! Dan diapun kagum melihat ibu anak
itu benar-benar tidak membunuh orang, hanya
menggunakan pedangnya untuk membuat para
pengeroyok melepaskan senjata, dan menendang
atau menampar dengan tangan kiri, merobohkan
para pengeroyok yang menghalang di depan akan
tetapi sama sekali tidak membunuh orang, seperti
yang dipesankan tadi.
Karena ilmu kepandaian mereka memang tinggi,
maka tidak sukar bagi mereka berdua untuk lolos
dari kepungan, melarikan diri keluar dari rumah
gedung kepala daerah. Mereka tanpa banyak cakap
lagi lari ke tempat penginapan dan setelah Bi Lan
mengambil buntalan pakaiannya dan membayar
sewa kamar, ia dan Hong San segera keluar kota
Peng-lu atas ajakan Hong San.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Setelah peristiwa tadi, sungguh tidak aman bagi
kita untuk tinggal di dalam kota ini," demikian
pemuda itu berkata. "Mereka adalah perwiraperwira
dari kota raja, dan menjadi tamu kepala
daerah. Mereka tidak akan mau sudah begitu saja
dan pasukan tentu akan mencari kita di seluruh
kota."
"Malam hampir tiba, lalu kami harus bermalam
di mana? Lan Lan juga sudah mulai mengantuk,"
kata Bi Lan yang menggendong buntalan pakaian
di punggung dan memondong Lan Lan yang sudah
melenggut karena kelelahan dan mengantuk.
"Di luar kota Peng-lu ini terdapat sebuah dusun
dan aku pernah bermalam di rumah seorang petani
miskin yang baik hati. Malam ini kita bermalam di
sana dan besok pagi-pagi kita melanjutkan
perjalanan menjauhi kota Peng-lu. Aku akan
mencarikan kereta dan kuda untukmu, nona."
Mereka sudah berada di luar kota dan berjalan
perlahan-lahan karena malam mulai tiba dan
cuaca menjadi gelap hanya diterangi bintangbintang
yang bertaburan di angkasa.
Tiba-tiba Bi Lan berhenti melangkah.
"Kenapa, nona?" Hong San bertanya, juga
berhenti. Mereka berdiri di jalan raya yang diapit
persawahan yang luas. Sunyi sekali di tempat itu,
dan yang terdengar hanyalah bunyi katak di sawah
yang riuh rendah saling sahut seperti paduan
suara yang kacau kalau diperhatikan, namun
serasi dan 'hidup' kalau tidak diperhatikan.
"Kenapa berhenti, nona?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kenapa engkau begini memperhatikan kami,
begini baik kepada kami?" Pertanyaan Bi Lan itu
lembut, namun suaranya mengandung tuntutan
dan kecurigaan. Baru saja timbul dalam pikiran Bi
Lan betapa baiknya orang ini kepadanya. Mengapa
begitu baiknya? Padahal mereka belum
berkenalan. Kalau hanya menolongnya dari
kepungan penjahat, hal itu tidaklah aneh karena
setiap pendekar tentu akan melakukannya. Akan
tetapi kebaikan orang ini sudah berlebihan, bukan
saja menyelamatkannya dan mengajaknya
melarikan diri dari kota Peng-lu, akan tetapi
bahkan hendak menyediakan kuda dan kereta.! Ini
sudah melampaui batas dan menimbulkan
kecurigaan.
Sejenak Hong San tertegun karena kaget
mendengar pertanyaan yang dirasakannya seperti
suatu serangan kilat itu. Untung bahwa malam
gelap menyembunyikan wajahnya. Dia segera
dapat menenangkan hatinya yang tadi khawatir
kalau-kalau gadis ini mengetahui latar belakang
kehidupannya. Dia tertawa kecil dan berkata
dengan suara halus.
"Aih, benar juga engkau, nona. Kita belum
berkenalan, dan tentu saja nona curiga kepadaku.
Nah, perkenalkan, aku Can Hong San......." Dia
berhenti lagi dan mencoba untuk menatap wajah
cantik itu melalui kegelapan malam untuk melihat
reaksi wanita itu ketika dia memperkenalkan
namanya. Akan tetapi sunyi saja dan tidak ada
tanda bahwa wanita itu mengenal namanya, maka
diapun melanjutkan dengan hati lega.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku hidup sebatangkara di dunia ini bebas
lepas seperti seekor burung di udara. Kebetulan
saja di dalam perjalanan, aku bertemu denganmu,
nona. Aku tertarik dan kasihan ketika melihat
engkau dikeroyok perampok. Dan kebetulan pula
di Peng-lu aku melihat nona memasuki rumah
makan itu. Kemudian melihat nona pergi bersama
para perwira naik kereta. Aku merasa curiga dan
membayangi, kemudian turun tangan
membantumu. Nah, demikianlah, nona. Dan
tentang memperhatikanmu dan baik kepada
kalian, ehh.......kenapa? Bukankah sudah
seharusnya hidup ini saling tolong?"
"Tapi.......tapi.......kalau engkau hidup
sebatangkara, bagaimana engkau demikian royal,
hendak membeli kuda dan kereta untuk kami
seperti seorang hartawan besar saja?" Bi Lan
menatap tajam, akan tetapi karena cuaca hanya
remang-remang, tentu saja ia tidak dapat melihat
wajah pemuda itu dengan jelas.
"Oooooh, itukah?" Hong San tertawa, "Pantas,
saja engkau curiga, nona. Aku bukan seorang
hartawan, bahkan rumahpun aku tidak punya.
Akan tetapi sebulan yang lalu, aku menyelamatkan
rombongan saudagar kaya dari serbuan para
perampok. Mereka membawa barang dagangan
yang banyak dan berharga sekali. Karena
senangnya, mereka memaksaku menerima
sekantung emas permata walaupun aku menolak
dan tidak mengharapkan apa-apa. Melihat
kerelaan dan kesungguhan hati mereka, agar tidak
mengecewakan, aku menerimanya. Tadinya aku
bingung, untuk apa harta itu bagiku, akan tetapi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekarang aku girang dapat menggunakan sebagian
dari itu untuk membantumu. Engkau membawa
anakmu yang masih kecil, maka sebaiknya kalau
menggunakan kereta."
Lega rasa hati Bi Lan. Memang ia tidak
mencurigai orang yang telah dua kali
menyelamatkannya dari ancaman bahaya, akan
tetapi karena ia belum mengenal pemuda ini, ia
harus berhati-hati.
"Kalau begitu, maafkanlah aku, tai hiap
(pendekar besar), dan mari kita lanjutkan
perjalanan ke dusun itu."
"Ehhhh? Engkau belum memperkenalkan
dirimu, nona....." kata Hong San sambil mengejar
ke depan.
"Nanti saja kita bicara lagi kalau sudah tiba di
sana. Anak ini sudah tertidur."
Mereka melangkah, menuju ke dusun yang
sudah kelihatan lampu-lampunya berkelap-kelip di
kejauhan. Melihat wanita itu diam saja, Hong San
merasa khawatir.
"Maaf, nona. Mungkin aku tadi keliru menyebut
anak ini sebagai anakmu, mungkin ini adikmu
atau keponakanmu.. "
Dalam kegelapan itu Bi Lan tersenyum. "Ini
anakku, namanya Lan Lan." katanya singkat.
"Ah, maaf, kalau begini anda seorang nyonya,
bukan nona.....! Kenapa nyonya melakukan
perjalanan seorang diri bersama anak nyonya?"
"Sudahlah, nanti saja kita bicara."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hong San maklum bahwa dia berhadapan
dengan seorang wanita yang pendiam dan mungkin
keras hati. Maka diapun tidak mau banyak bicara
lagi dan menjadi penunjuk jalan memasuki dusun
itu dan menghampiri sebuah rumah kecil yang
berdiri di ujung jalan dusun itu. Dia mengetuk
daun pintu sambil memanggil.
"Paman Gu, buka pintu, ini aku yang datang!"
Daun pintu dibuka dari dalam dan seorang lakilaki
berusia limapuluhan tahun, berpakaian petani
sederhana, menyambut mereka. Begitu melihat
Hong San, dia tersenyum ramah. "Aih, kiranya
Can-kongcu (tuan muda Can) yang datang!
Bersama siapakah nona ini? Dan dari mana
malam-malam begini..........?"
"Paman Gu, ini adikku dan puterinya. Aku akan
menyewa kamar itu, bekas kamar anakmu itu,
untuk adikku dan keponakanku ini tidur. Aku
sendiri dapat tidur bersama paman di kamar
paman."
"Ah, baiklah, kongcu. Hemm, anak ini sudah
pulas, sebaiknya cepat ditidurkan saja. Mari,
nyonya muda, inilah bekas kamar anakku yang
kini ikut suaminya. Tidurlah di sini bersama
anakmu......" Petani itu membukakan pintu sebuah
kamar sederhana yang cukup bersih.
-ooo0dw0oooTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
Jilid 10
"Aku pernah menyewa kamar ini selama
seminggu. Tidurkanlah anakmu, di sini tenang."
kata Hong San.
Dengan hati lega dan berterima kasih Bi Lan lalu
memasuki kamar itu, menidurkan Lan Lan di atas
pembaringan dan melepaskan buntalannya,
meletakkannya di atas meja. Setelah menyalakan
sebatang lilin lagi untuk menambah penerangan di
kamar itu, iapun keluar dari dalam kamar.
"Baik, kongcu, aku akan berusaha mendapatkan
apa yang kaucari itu. Nah, aku akan pergi
sekarang juga. Nyonya, beristirahatlah, saya
hendak pergi dulu mencarikan kuda dan kereta
yang dipesan kongcu." Petani itu menjura ke arah
Bi Lan, lalu keluar dari pondok, menutupkan daun
pintunya dengan hati-hati dari luar.
Bi Lan kini duduk menghadapi meja bersama
Hong San setelah pemuda itu mempersilakannya
duduk. Mereka saling berpandangan, dan
keduanya kagum. Di bawah sinar lampu yang
remang-remang mereka saling mengagumi wajah
masing-masing. Hong San melihat betapa wajah
yang bulat itu berkulit putih mulus, juga leher dan
tangan itu. Putih mulus yang wajar. Hidung yang
mancung kecil itu mungil dan mata itu bagaikan
sepasang bintang, gemerlapan tajam. Di lain pihak,
Bi Lan juga kagum. Pemuda yang usianya sekitar
duapuluh tujuh tahun itu memang tampan dan
gagah. Pakaiannya seperti seorang sastrawan,
sederhna namun bersih. Caping lebar yang tadi
dipergunakannya, kini tergantung di dinding.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Wajah itu jantan. Hidungnya mancung dan besar,
matanya tajam agak terlalu hitam, dan bibirnya
kemerahan seperti bibir wanita, akan tetapi lebih
besar dan penuh gairah. Kulitnya agak coklat dan
wajah itu membayangkan ketampanan orang dari
daerah barat. Hal ini tidak aneh karena Can Hong
San memang berdarah Nepal. Ibu kandungnya
seorang puteri Nepal!
"Nah, sekarang kuharap engkau suka
memperkenalkan dirimu, nyonya, tentu saja kalau
engkau percaya kepadaku."
Bi Lan menarik napas panjang. "Tentu saja aku
percaya kepadamu, tai-hiap.. !"
"Nanti dulu, nyonya!" Hong San menghentikan
dengan mengangkat tangan kanan ke atas. "Harap
engkau tidak menyebut aku tai-hiap, sungguh
hanya membuat aku merasa malu dan canggung!"
Lalu ia menatap tajam wajah yang manis itu.
"Maukah engkau menyebut aku toako (kakak)
saja? Namaku Hong San dan aku sama sekali tidak
suka disebut tai-hiap (pendekar besar), apa lagi
oleh seorang wanita perkasa seperti nyonya."
Bi Lan tersenyum. "Hemm, engkau melarangku
menyebutmu tai-hiap, akan tetapi engkau sendiri
menyebut aku nyonya! Seharusnya aku menyebut
tuan kepadamu, akan tetapi engkau ingin aku
menyebut toako. Kalau aku menyebut kakak, apa
sebutan seorang kakak terhadap adiknya?"
Hong San tertawa gembira. Biarpun tidak
banyak bicara, ternyata wanita ini dapat diajak
berkelakar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Baiklah, aku akan menyebutmu moi-moi (adik
perempuan). Aneh, seorang kakak tidak tahu nama
adiknya!"
"Toako, namaku Bi Lan, Kwa Bi Lan." "Hemmm,
nama yang indah sekali!"
"Kiranya selain gagah perkasa, engkau juga
seorang perayu, toako. Namaku biasa saja engkau
katakan indah."
"Maaf, Lan-moi. Aku bukan bermaksud merayu,
hanya........ah, sudahlah, aku hanya berkelakar,
lanjutkan bicaramu."
"Bicara apa lagi? Sudah kuperkenalkan namaku.
Aku Kwa Bi Lan dan anakku itu, namanya Lan
Lan."
"Dan siapa nama suamimu? Di mana tempat
tinggalmu dan kenapa engkau melakukan
perjalanan berdua saja dengan anakmu yang
masih kecil? Darimana dan hendak ke manakah
engkau pergi, Lan-moi?"
Bi Lan melirik ke arah wajah pemuda itu,
tersenyum sedih. Orang ini demikian
memperhatikan dirinya dan pertanyaannya datang
seperti banjir saja.
"Toako, engkau ingin tnhu segalanya, akan
tetapi engkau tidak mau menceritakan segalanya
tentang dirimu sendiri. Engkau hanya
memperkenalkan namamu, dan akupun sudah
membalas dengan memperkenalkan nama kami.
Kalau ingin mendengar tentang keadaan dan
keluargaku, tidakkah sepatutnya kalau seorang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
laki-laki lebih dahulu menceritakan tentang
dirinya?"
"Ha-ha-ha, engkau tidak mau kalah, itu
tandanya engkau belum percaya benar kepadaku.
Baiklah, akan kuceritakan semua tentang diriku,
akan tetapi tidak ada yang menarik tentang diriku.
Aku berusia duapuluh tujuh tahun, aku hidup
sebatangkara, belum pernah menikah, yatim piatu
dan tidak mempunyai keluarga seorangpun. Aku
tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap.
Seorang kelana yang tidak mempunyai apa-apa.
Guruku adalah ayahku sendiri yang sudah
meninggal dunia, bernama Can Siok. Selama ini
aku hanya mengembara, kemana saja hati dan
kaki ini membawaku. Nah, hanya inilah cerita
tentang diriku, Lan-moi. Sama sekali tidak
menarik, bukan?"
Bi Lan mendengarkan dengan heran. Seorang
pemuda yang begini tampan gagah, berilmu tinggi,
usianya sudah sangat dewasa, kenapa hidup
seorang diri saja dan tidak menikah? Tentu
seorang pendekar petualang ynng selalu ingin
hidup bebas.!
"Eh? Kenapa engkau diam saja, Lan-moi? Aku
sudah siap mendengarkan cerita tentang dirimu!"
Bi Lan menghela napas panjang. "Kalau engkau
mengatakan bahwa riwayatmu tidak menarik,
sebaliknya riwayatku lebih buruk lagi, malah
hanya menyedihkan saja."
"Yang sudah lalu hanya menjadi kenangan, Lanmoi,
tidak ada gunanya disedihkan lagi. Nah,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ceritakanlah, aku ingin sekali mendengar agar
perkenalan antara kita menjadi lebih akrab."
"Akupun hidup berdua saja dengan anakku Lan
Lan. Sekarang inipun aku masih belum
mempunyai tempat tinggal yang tetap." Bi Lan
berhenti seolah-olah cerita tentang dirinya habis
sekian saja.
"Tapi, suamimu.........?" Hong San mendesak.
"Dan siapa pula gurumu, orang tuamu?"
"Kedua orang tuaku sudah lama meninggal
dunia. Dan suamiku, dia juga guruku sendiri, dia
sudah meninggal dunia........."
Mendengar suara yang mengandung duka itu,
Hong San menarik napas panjang dan diam-diam
dia menekan perasaan girangnya mendengar
bahwa wanita ini adalah seorang janda!
"Aih, maafkan pertanyaanku tadi, Lan-moi.
Siapa kira, semuda ini engkau telah ditinggal mati
suami dan hidup berdua saja dengan seorang
puteri. Kalau boleh aku bertanya, siapakah nama
mendiang suamimu? Kalau dia menjadi gurumu,
tentu dia lihai sekali."
"Nama mendiang suami dan juga guruku adalah
Liu Bhok Ki..........."
Hong San terbelalak dan dia demikian terkejut
sehingga bangkit berdiri dari kursinya. "Dia......?
Kau maksudkan Sin-tiauw (Si Rajawali Sakti) Liu
Bhok Ki?"
Melihat kekagetan pemuda itu, Bi Lan tidak
merasa heran. Nama besar mendiang suaminya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memang amat terkenal di dunia persilatan. Iapun
mengangguk bangga.
"Aihhhh, pantas kalau begitu," kata Hong San
sambil duduk kembali dan memandang kagum.
"Pantas kalau engkau memiliki ilmu silat yang
lihai. Kiranya murid dan juga isteri Si Rajawali
Sakti. Akan tetapi, maaf Lan-moi. Kulihat tadi
dalam gerakan silatmu ada dasar ilmu silat Siauwlim-
pai."
"Penglihatanmu tajam sekali, toako dan ini
membuktikan bahwa ilmu kepandaianmu sudah
sangat tinggi. Memang, sebelum aku menjadi
murid suamiku, aku pernah mempelajari ilmu silat
Siau-lim-pai."
"Hebat ...! Murid Siauw-lim-pai yang kemudian
menjadi murid Si Rajawali Sakti! Aku girang sekali
dapat bertemu dan berkenalan denganmu, Lanmoi!
Lalu kemana engkau hendak pergi?"
Sampai lama Bi Lan berdiam diri.
Ia sendiri tidak dapat menjawab karena memang
ia tidak tahu kemana ia akan pergi! Ia telah
menculik Lan Lan dan ia tidak berani kembali ke
rumah suaminya di Kim-hong-san, karena tentu Si
Han Beng dan Bu Giok Cu akan mencari anak
mereka dan mengejarnya kesana!
Dan ia pasti tidak akan mampu
mempertahankan kalau mereka itu merampas Lan
Lan. Ilmu kepandaian mereka terlampau tinggi
baginya. Melawan Bu Giok Cu saja ia tidak akan
menang, apalagi melawan Si Han Beng dan lebihlebih
menghadapi mereka berdua! Dan ia sudah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
jatuh cinta kepada anak itu yang kini menyebut
ibu kepadanya. Ia tidak mempunyai suatu tempat
untuk pergi, maka pertanyaaan Hong San
membuat ia bingung, tidak tahu bagaimana harus
menjawab.
Kemudian ia teringat kepada pamannya Lie Koan
Tek. Daripada tidak dapat menjawab, dia lalu
berkata.
"Aku masih mempunyai seorang paman, saudara
dari mendiang ibuku. Aku akan mencari pamanku
itu, toako."
"Siapakah pamanmu itu?"
"Dia seorang tokoh Siauw-lim-pai namanya Lie
Koan Tek."
"Lie Koan Tek.......?" Hong San terbelalak.
Terbayanglah kini ketika dia bertempur melawan
Lie Koan Tek, dikeroyok oleh Poa Liu Hwa isteri
mendiang Kam Seng Hin ketua Hek-houw-pang,
kemudian muncul seorang gadis perkasa
dan...........Hong San terbelalak.
"Ahhhhh........!!" Dia meloncat dari tempat
duduknya, bangkit berdiri dan memandang kepada
Bi Lan dengan kaget. Inilah gadis yang dulu
membantu Lie Koan Tek dan Poa Liu Hwa!
"Ada apakah, toako? Engkau kelihatan terkejut
sekali."
Hong Sen cepat mengerahkan tenaga untuk
menenangkan hatinya dan wajahnya yang tadi
berubah agak pucat itu menjadi merah kembali.
Dia bukan terkejut mendengar nama Lie Koan Tek,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melainkan terkejut ketika teringat bahwa gadis
inilah yang dulu pernah membantu Lio Koan Tek
mengeroyoknya. Tak dapat dia membayangkan
bagaimana akan sikap wanita ini kalau
mengenalnya!
"Aku memang terkejut mendengar nama
pamanmu. Tentu saja aku mengenal nama itu.
Yang mengejutkan adalah karena engkau hendak
mencarinya. Padahal menurut pendengaranku,
pamanmu adalah seorang pelarian dan buruan
pemerintah! Kabarnya dia telah melarikan diri dari
penjara, bahkan membantu gerakan pemberontak.
Bagaimana engkau akan mencari pamanmu yang
sedang diburu pemerintah?"
Bi Lan menarik napas panjang. Tentu saja ia
tahu akan hal itu dan kalau tadi ia mengatakan
hendak mencari pamannya, hal itu dilakukan
hanya agar dapat menjawab pertanyaan Hong San
saja.
"Aku tahu akan hal itu, toako. Akan
tetapi......aku tidak tahu lain tempat lagi yang
dapat kuharapkan menjadi tempat tinggalku. Aku
akan berkelana saja......." katanya sedih.
Hong San tersenyum. Dia sudah mampu
menguasai dirinya lagi. Jelas bahwa Bi Lan tidak
ingat kepadanya. Pertemuan antara mereka hanya
terjadi sebentar saja, dan itupun dalam
pertempuran, sehingga wanita ini tidak mengenal
dan tidak mengingatnya sama sekali. Betapapun
juga, dia harus berhati-hati dan ada sesuatu yang
tidak nyaman rasanya di hati setelah dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengetahui siapa wanita ini. Kalau sampai Bi Lan
mengenalnya.!
"Lan-moi, kalau engkau hidup seorang diri,
kiranya tiada salahnya menjadi seorang pengelana
seperti aku ini. Akan tetapi ingat, engkau
mempunyai seorang puteri yang masih kecil. Tidak
mungkin akan mengajaknya berkelana tanpa
tujuan? Tidak baik bagi pendidikan puterimu."
"Aku mengerti, toako. Akan tetapi apa dayaku?
Aku tidak tahu ke mana harus pergi."
Hening sejenak. Hong San tidak mau tergesagesa.
Dia harus mengakui bahwa setelah kini
wanita itu duduk di depannya, dekat dan di bawah
sinar lampu sehingga dia dapat mengamati wajah
itu dengan jelas. Setelah wanita itu bicara, apalagi
setelah mendengar bahwa wanita itu seorang janda
muda yang hidup sebatangkara, hatinya semakin
tertarik dan dia tahu bahwa sekali ini dia jatuh
cinta!
Belum pernah perasaan seperti ini menguasai
hatinya. Biasanya terhadap wanita cantik, hanya
berahinya yang timbul. Akan tetapi sekali ini lain.
Dia ingin memiliki Bi Lan seluruhnya dan
sepenuhnya, untuk selamanya. Dia ingin
menyenangkan hati wanita ini,
membahagiakannya, dan dia ingin berdampingan
selamanya! Dia ingin membuat wajah yang manis
ini selalu tersenyum dan cerah berseri. Akan tetapi
dia harus berhati-hati. Kalau janda ini sampai
dapat menjenguk dan mengetahui latar belakang
kehidupannya! Dia ngeri membayangkan
akibatnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiba-tiba dia seperti dipaksa oleh sesuatu
mengangkat mukanya menatap wanita itu. Dan
ternyata wanita itupun sedang memandang
kepadanya. Agaknya pandang mata wanita itulah
yang tadi menyentuh perasaannya dan
membuatnya mengangkat muka memandang. Dua
pasang mata bertaut sejenak, lalu Bi Lan
menundukkan mukanya.
"Lan-moi, apakah engkau percaya kepadaku?"
tiba-tiba Hong San bertanya.
"Eh? Kenapa, toako? Tentu saja aku percaya
padamu. Engkau adalah penolongku."
'Kita baru saja bertemu, engkau belum mengenal
benar siapa diriku, dan orang macam apa adanya
aku. Mungkin saja aku ini seorang penipu, seorang
penjahat...... "
"Aih, jangan mengada-ada, toako. Aku yakin
bahwa engkau seorang yang baik budi, gagah
perkasa, dan........."
"Belum tentu, Lan-moi. Di dunia ini, di mana
ada manusia sempurna tanpa salah? Akupun,
sebagai manusia biasa, pernah melakukan
kesalahan, pernah tersesat dan berdosa........"
"Sudahlah, toako. Apa sebetulnya yang hendak
kaukatakan maka engkau bertanya apakah aku
percaya kepadamu? Aku percaya.! Nah, lalu apa?"
Hong San menelan ludah. Baru sekarang dia
merasa begini gugup dan tegang! "Begini, Lan-moi..
Biarpun kita baru saja saling bertemu secara
kebetulan dan saling berkenalan, namun rasanya
bagiku engkau seorang sahabat lama dan kita
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
saling percaya. Engkau dan puterimu hidup
sebatangkara, dan akupun demikian. Maukah
engkau kalau aku mencarikan sebuah tempat
tinggal untuk engkau dan anakmu di mana engkau
akan hidup dengan tenang dan tenteram?"
Sejenak Bi Lan hanya memandang wajah
pemuda itu. Sungguh luar biasa kalau ada kenalan
baru hendak menolongnya seperti itu.! Ia merasa
terharu, akan tetapi juga heran.
"Can-toako, kita baru saja berkenalan dan
engkau sudah bersikap begini baik kepada kami.
Seorang anggota keluarga sendiri belum tentu
sebaik engkau! Kenapa engkau begini baik kepada
kami dan ingin mencarikan tempat tinggal untuk
kami? Kenapa, toako?"
Menghadapi sepasang mata yang bersinar tajam,
yang memandangnya penuh selidik ini, Hong San
tidak tahan menentang terlalu lama. Dia khawatir
kalau sinar mata itu akan mampu menjenguk dan
melihat latar belakang kehidupannya yang lalu! Dia
lalu menunduk, menghela napas panjang beberapa
kali sebelum menjawab dengun sukar.
"Kenapa aku ingin menolongmu? Ah kenapa, ya?
Mungkin karena aku merasa kasihan sekali
kepadamu dan kepada puterimu, Lan-moi. Sejak
kita saling jumpa ketika engkau dikeroyok
perampok itu sudah timbul perasaan yang luar
biasa dalam hatiku. Aku tidak berani
mengatakan.......eh, cinta, itu akan terlalu lancang
karena kita baru saja berkenalan. Akan tetapi, aku
merasa kasihan dan ingin menolongmu,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membantumu, membahagiakan engkau dan
anakmu, Lan-moi. Maafkan kelancanganku ini......"
Sejenak Bi Lan berdiam diri, menundukkan
mukanya yang menjadi merah sekali. Ia meneliti
perasaan sendiri, merasa kagum kepada laki-laki
ini, kagum dan berterima kasih. Akan tetapi lakilaki
ini menyinggung soal cinta dan untuk itu, ia
harus menjenguk lebih dalam dan ini
membutuhkan waktu untuk dapat menentukan.
"Toako, tidak perlu meminta maaf. Orang-orang
seperti kita memang sebaiknya kalau berterus
terang secara jujur," katanya.
"Terima kasih, Lan-moi. Memang sebaiknya
begitu, aku tadi hanya takut kalau sampai
menyinggung perasaanmu. Aku tidak berani
mengatakan cinta karena selama ini aku belum
pernah jatuh cinta kepada seorang wanitapun.
Banyak wanita yang menarik, akan tetapi belum
pernah aku merasakan jatuh cinta. Akan tetapi
yang jelas, aku merasa kasihan dan sayang
kepadamu. Terimalah uluran tanganku untuk
membantumu, Lan-moi. Tentu saja, kalau engkau
percaya kepadaku. Kalau engkau tidak percaya dan
menyangka ada maksud tertentu yang buruk
dalam hatiku terhadap dirimu, tentu aku tidak
akan berani memaksamu."
Kalaupun ada keraguan di hati Bi Lan, maka
keraguan itu tentu akan lenyap setelah mendengar
ucapan pemuda itu yang demikian "jujur" dan
meyakinkan.
"Bagaimana aku berani menolak niat baikmu,
toako? Apa lagi engkau tadi sudah menyuruh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pemilik rumah ini mencarikan kuda dan kereta.
Aku berterima kasih dan menerima uluran
tanganmu, akan tetapi dengan satu syarat, yaitu
bahwa kalau kelak aku merasa tidak cocok dengan
tempat itu atau denganmu, aku akan membawa
anakku pergi mengambil jalanku sendiri, dan
harap engkau tidak menuduh aku tidak mengenal
budi."
Hong San tertawa dengan gembira, wajahnya
berseri. "Tentu saja, Lan-moi. Tentu saja engkau
bebas untuk menentukan langkahmu sendiri. Aku
sudah merasa cukup bangga dan puas bahwa kau
dapat mempercayaiku!"
Pemilik rumah itu datang memberi laporan
bahwa ada seorang penduduk dusun yang mau
menjual kudanya, adapun keretanya dapat dibeli di
kota Peng-lu. Karena pembelian mendadak dan
tergesa-gesa, tentu saja Hong San harus membayar
hampir dua kali lipat harga umum.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali sebuah
kereta meninggalkan dusun itu, dikusiri oleh Hong
San. Bi Lan dan Lan Lan duduk di dalam kereta
yang dilarikan dengan cepat. Mereka menuju ke
kota raja!
-ooo0dw0ooo-
"Akan tetapi, kenapa ke kota raja? Apakah
engkau mempunyai keluarga di sana, toako?
Ataukah sahabat?" Bi Lan bertanya ketika malam
itu mereka berhenti di sebuah dusun di luar kota
raja Tiang-an.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Di kota raja yang ramai kita dapat dengan
mudah mencari rumah tinggal yang baik, Lan-moi.
Juga daerah paling aman sekarang ini adalah di
kota raja. Selain itu, di kota besar ini kita akan
dapat mencari penghasilan dengan mudah. Aku
sendiri dapat berdagang, atau juga mencoba untuk
mendapatkan kedudukan."
Bi Lan diam saja. Ia tidak dapat banyak memilih
dan menyerahkan saja pada pemuda ini. Sikap
yang selalu sopan dan ramah dari pemuda ini
memang membuat ia percaya sepenuhnya. Akan
tetapi ia masih ragu-ragu apakah ia dapat
membalas kasih sayang pemuda itu kepadanya.
Ada sesuatu yang membuatnya ragu. Pemuda ini
seperti menyimpan suatu rahasia, dan kadang
sikapnya aneh dan tidak wajar. Juga, sepasang
mata yang terlalu hitam dari pemuda itu kadangkadang
membuatnya merasa ngeri. Kadang-kadang
ia seperti melihat sinar yang aneh, penuh
kekejaman. Kadang sinar yang dingin dan acuh,
akan tetapi segera berubah lagi menjadi ramah,
memancar dari sepasang mata itu.
"Lan-moi, sebelum kita memasuki kota raja, ada
sesuatu yang perlu kau tahui dan aku memerlukan
bantuanmu."
Setelah mereka agak lama berdiam diri Hong
San bicara dengan suara halus dan lirih, seolah dia
tidak ingin ada orang lain mendengar ucapannya.
Bi Lan mengerutkan alisnya dan mengangkat
muka, memandang kepada pemuda itu. Sinar mata
pemuda itu nampak mengandung kecerdikan, akan
tetapi juga kekhawatiran.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ada apakah, toako? Katakanlah, dan tentu saja
aku siap membantumu."
"Ketahuilah, Lan-moi, bahwa kerajaan Tang yang
sekarang ini, yang baru tiga empat tahun berdiri,
dahulunya merupakan pemberontak-pemberontak
terhadap Kerajaan Sui."
"Tentu saja," kata Bi Lan. "Setiap kerajaan atau
pemerintahan baru yang merebut pemerintahan
lama tadinya adalah pemberontak."
"Nah, ketika Panglima Li Si Bin memimpin
pasukan pemberontak, aku pernah membantu
pasukan Kerajaan Sui untuk menentang
pemberontak. Akan tetapi pasukan pemerintah
gagal dan kalah. Kaisar Yang Ti melarikan diri dan
akupun meninggalkan pasukan pemerintah."
Bi Lan tidak merasa heran. Dalam suasana
perang saudara seperti itu, banyak orang terlibat,
dan diapun tahu bahwa banyak pendekar yang
dahulu membantu Kerajaan Sui untuk melawan
pemberontak yang kemudian memperoleh
kemenangan dan kini menjadi Kerajaan Tang yang
baru."
"Lalu mengapa, toako? Hal itu adalah wajar
saja."
"Akan tetapi, namaku telah dikenal oleh mereka,
Lan-moi. Karena kini mereka yang berkuasa, maka
tentu akan ditangkap sebagai sisa pengikut kaisar
lama, kalau mereka mengetahui bahwa aku berada
di kota raja."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bi Lan mengerutkan alisnya. "Kalau sudah
begitu, kenapa engkau malah mengajakku ke kota
raja, toako?"
"Kurasa Panglima Li Si Bin dan ayahnya yang
kini menjadi Kaisar Tang Kao Cu, hanya mengenal
namaku saja, tidak pernah melihat orangnya.
Kalau aku berganti nama, kiraku tidak akan ada
yang tahu bahwa aku dahulu membantu kerajaan
Sui untuk menentang mereka. Karena itu, aku
mengharapkan bantuanmu Lan-moi, agar engkau
memaklumi pergantian namaku. Aku akan
menggunakan nama Siauw Can saja sehingga
engkau masih tetap menyebutku Can-toako."
Bi Lan tersenyum. "Baik, toako. Nama baru itu
sebetulnya tidak baru. Siauw Can berarti Can
Muda, jadi engkau masih tetap mempergunakan
nama keturunmu, hanya nama kecil Hong San saja
yang tidak kaupergunakan."
"Engkau benar, Lan-moi. Akan tetapi dengan
menggunakan nama Siauw Can, orang akan
menganggap bahwa nama keturunanku adalah
Siauw, dan nama kecilku Can. Dengan demikian,
akan aman, bukan?"
Demikianlah, pada keesokan harinya, pagi-pagi
mereka meninggalkan dusun itu. Seperti biasa,
Hong San atau sekarang kita sebut saja Siauw Can
menjadi kusir. Bi Lan dan Lan Lan berada di dalam
kereta. Sengaja Bi Lan membuka tirai pintu agar
dia dan Lan Lan dapat melihat keadaan di
sepanjang jalan.
Makin mendekati pintu gerbang kota raja,
semakin ramailah jalan raya itu. Agaknya para
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
penduduk dusun banyak yang membawa barang
dagangan mereka, hasil sawah ladang dan hasil
sungai ke pasar di kota raja. Para petani yang
memikul barang dagangan mereka atau yang
mendorong dengan kereta, berbondong-bondong
memasuki pintu gerbang selatan. Banyak pula
wanita dusun yang membawa barang dagangan,
ada yang memikul, ada yang membawa keranjang.
Siauw Can menjalankan keretanya perlahanlahan.
Jalan raya menuju ke kota raja itu cukup
lebar, akan tetapi karena banyaknya orang yang
lalu lalang berbondong-bondong, dia harus
menjalankan keretanya dengan hati-hati.
Tiba-tiba nampak betapa orang-orang itu
mempercepat jalan mereka, bahkan nampak
tergesa-gesa dan wajah mereka membayangkan
ketakutan. Melihat hal ini, Bi Lan berkata dari
dalam kereta.
"Can-toako, apakah yang terjadi? Orang-orang
itu nampak ketakutan!"
Siauw Can membawa keretanya ke tepi jalan dan
berhenti. "Akupun tidak tahu mengapa, Lan-moi.
Biar kutanyakan kepada mereka."
Dari atas keretanya Siauw Can lalu bertanya
kepada seorang petani yang memikul ketelanya.
"Paman, apakah yang terjadi? Kenapa kalian
kelihatan ketakutan?"
Petani itu menengok, akan tetapi tidak
menjawab, melainkan dengan telunjuk kirinya dia
menuding ke arah depan dan melanjutkan
perjalanannya dengan tergesa-gesa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Siauw Can dan Bi Lan memandang ke arah yang
ditunjuk. Mereka kini melihat serombongan orang,
tujuh orang jumlahnya, berjalan melenggang
sambil tertawa-tawa. Mereka itu bukan orang Han,
karena pakaian mereka berbeda. Berjubah panjang
dengan sepatu kulit yang tinggi, dan kepala
merekapun tertutup topi bulu. Mereka adalah
orang-orang Turki! Di pinggang mereka tergantung
golok melengkung. Rata-rata mereka berwajah
tampan dengan kumis melintang, usia antara
tigapuluh sampai empat puluh tahun. Seorang di
antara mereka yang berusia empatpuluhan tahun,
dengan codet atau bekas luka di pipi kanan,
memegang sebatang cambuk hitam.
Agaknya mereka inilah yang menimbulkan
suasana ketakutan karena semua orang yang
menuju ke kota raja dan berpapasan dengan tujuh
orang ini, semua lalu minggir dan bahkan
menyeberang untuk mengambil sisi lain agar
jangan sampai berpapasan dekat dengan tujuh
orang itu.
Seorang petani yang membawa sepikul kentang,
berhenti di dekat kereta. Dia sudah tua, usianya
sudah enampuluh tahun lebih. Dia berhenti untuk
menghapus keringatnya. Seluruh tubuh atas yang
tidak berbaju itu penuh keringat, juga wajah petani
itu nampak gelisah. Kesempatan ini dipergunakan
oleh Siauw Can untuk turun dari atas kereta
mendekati petani itu.
"Paman, kami bukan orang sini. Tolong beri tahu
kenapa semua orang ketakutan melihat tujuh
orang asing itu?" tanyanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan wajah ketakutan petani itu memandang
kepada Siauw Can, kemudian menjenguk ke dalam
kereta. "Kalau begitu, sebaiknya kongcu cepat pergi
dari sini, membawa kereta ini jauh-jauh. Mereka
itu orang orang Turki yang sering membikin ribut,
apalagi urusan wanita cantik!" Dengan tergesa-gesa
diapun cepat memikul dagangannya, menyeberang
dan melanjutkan perjalanannya.
"Tar-tar-tarrr......" terdengar bunyi cambuk
meledak-ledak, disusul jerit suara wanita.
Siauw Can dan Bi Lan cepat mengangkat muka
memandang. Kiranya si codet pemegang cambuk
tadi telah menggerakkan cambuk secara luar biasa
sekali. Cambuk itu menyambar-nyambar ke arah
seorang wanita dusun, masih muda, antara
duapuluh lima tahun usianya, dengan wajah
sederhana. Cambuk itu menyambar-nyambar
tanpa melukai wanita itu, akan tetapi merobekrobek
baju atasnya sehingga kini wanita itu
menjerit-jerit dengan tubuh atas telanjang bulat!
Tentu saja ia menggunakan kedua lengan untuk
memeluk dadanya, berlari ketakutan sambil
menangis. Tujuh orang itu tertawa bergelak
melihat hal itu, seolah-olah melihat sesuatu yang
lucu.
"Bedebah......!" Bi Lan menyumpah dengan muka
berubah merah sekali. Kini mengertilah ia mengapa
semua orang ketakutan melihat tujuh orang asing
itu. Kiranya mereka adalah orang-orang yang suka
bertindak sewenang-wenang tanpa ada yang berani
menentang.! Iapun menduga bahwa wanita tadi
memang hanya dihina saja, dibuat lelucon.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Andaikata wanita itu cantik, tentu akan lain
jadinya dan ngeri ia membayangkan apa yang
pernah dilakukan tujuh orang ini terhadap wanita
dusun yang cantik.
Bi Lan memaki sambil meloncat turun dari
kereta. Suaranya terdengar oleh tujuh orang itu
dan mereka menengok. Sejenak mereka itu
tertegun, tak mengira di tempat itu akan melihat
seorang wanita muda secantik itu turun dari
kereta. Kemudian, mereka bicara dan tertawatawa.
Entah apa yang mereka bicarakan, Bi Lan
tidak mengerti karena mereka mempergunakan
Bahasa Turki. Sambil tertawa-tawa tujuh orang itu
menghampiri Bi Lan yang memondong Lan Lan.
Si codet, yang agaknya menjadi pemimpin
rombongan orang Turki itu, kini menghadapi Bi
Lan dan matanya yang bulat dan hitam itu seperti
hendak menelan wanita di depannya bulat-bulat.
Agaknya mereka juga melihat bahwa wanita cantik
itu bukan keluarga pejabat karena selain kereta itu
kereta biasa, juga tidak ada pengawal, dan
kusirnya seorang pemuda berpakaian biasa. Kalau
terhadap keluarga pejabat, tentu mereka tidak
akan berani bertindak sembarangan.
"Nona manis, dari mana dan hendak ke mana?
Marilah kami menjadi pengantar dan pengawal
nona!" katanya dengan logat yang aneh dan lucu.
"Heh-heh, nona boleh pilih di antara kami, siapa
yang berkenan di hati nona? Pilih saja aku yang
paling jantan di antara kami, ha-ha-hal" kata orang
ke dua. Orang ini memang nampak jantan, dengan
kumis yang indah dan jenggot yang terpelihara
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
rapi, tumbuh dari bawah telinga dengan lebat
sekali!
"Kalian ini orang-orang biadab! Kalian tadi
menghina seorang wanita, dan sekarang berani
mengganggu aku? Agaknya kalian memang sudah
bosan hidup, ya? Anjing-anjing liar, pergilah
sebelum aku menghajar kalian!" Bi Lan masih
menahan kesabarannya karena Siauw Can
berkedip kepadanya minta agar ia bersabar.
Tentu saja ucapan Bi Lan membuat tujuh orang
itu terbelalak. Belum pernah ada orang, apa lagi
wanita, berani menghina mereka, memaki mereka
seperti itu!
Si codet memberi kesempatan kepada si brewok
tadi dalam bahasa mereka, dan sambil
menyeringai, memperlihatkan gigi yang putih
berkilat si brewok melangkah maju mendekati Bi
Lan. Wanita ini maklum bahwa tentu tujuh orang
itu akan membuat ribut, maka ia lalu
menyerahkan Lan Lan kepada Siauw Can.
"Can toako, tolong kau pondong dulu Lan Lan,
aku akan menghajar anjing-anjing keparat ini!"
Melihat betapa wajah Bi Lan sudah menjadi
merah sekali dan sinar matanya mencorong, Siauw
Can khawatir kalau-kalau Bi Lan melakukan
pembunuhan sehingga akan menggegerkan kota
raja. Dia menerima Lan Lan dan berkata, "Jangan
lupa diri sampai membunuh, Lan-moi."
Bi Lan tersenyum. Biarpun ia marah sekali,
akan tetapi iapun maklum bahwa melakukan
pembunuhan di tempat umum dekat kota raja
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tentu akan mendatangkan keributan. Ia tidak ingin
menjadi pengacau dan dimusuhi petugas
keamanan kota raja. Ia menggeleng. "Jangan
khawatir, toako."
Si brewok kini sudah makin mendekat. "Nona
manis, aku akan memaafkan kelancangan
mulutmu tadi asal engkau mau menciumku."
"Enak saja!" tiba-tiba si codet membentak. "Ia
harus mencium kita bertujuh bergantian, baru kita
mau memaafkannya.!"
Si brewok tertawa. "Nah, kau dengar sendiri,
manis. Memang sudah untungmu hari ini, akan
diciumi tujuh orang laki-laki jantan perkasa, ha ha
ha! Nah, aku akan menciummu lebih dahulu!" Si
brewok mengembangkan kedua lengannya yang
panjang, dan dari kanan kiri, kedua tangannya
menyambar hendak merangkul tubuh Bi Lan.
"Wuuuuuttt.....!" Si brewok merangkul dan
rangkulan itu hanya mengenai tempat kosong
karena Bi Lan dengan kecepatan luar biasa telah
dapat mengelak. Si brewok membalik dan hendak
menubruk lagi, akan tetapi Bi Lan mendahuluinya
dengan loncatan ke depan dan kakinya
menyambar.
"Ciumlah sepatuku ini........plokk!"
Ujung sepatu kiri Bi Lan menendang tepat
mengenal hidung yang panjang besar dan
melengkung itu. Si brewok terjengkang dan ketika
dia bangkit kembali dia memegangi hidungnya
yang bocor berdarah! Si brewok ini menjadi korban
kelancangannya sendiri. Karena terlalu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memandang rendah Bi Lan yang disangkanya
seorang wanita lemah yang hanya galak saja, maka
hidungnya hampir pecah oleh tendangan wanita
perkasa itu.
Tentu saja kawan-kawannya menjadi marah dan
merekapun berteriak-teriak untuk berlomba untuk
menangkap Bi Lan. Hanya si codet yang masih
berdiri saja dengan pecut diputar-putar dan
matanya mengamati kawan-kawannya yang
berlomba untuk menangkap Bi Lan. Kalau wanita
itu tertangkap, akan diikat dengan cambuknya dan
dilarikan ke tempat tinggal mereka.
Wanita itu harus dihukum karena telah berani
menghina bahkan melukai si brewok. Akan tetapi,
ia terbelalak dan baru menyadari bahwa Bi Lan
bukan wanita biasa. Biarpun dikeroyok lima orang
yang rata-rata bertubuh tinggi besar, dapat
bergerak cepat dan bertenaga besar pula, namun
wanita itu memiliki gerakan seperti seekor burung
walet saja cepatnya, berkelebatan di antara lima
orang pengeroyoknya. Sambil mengelak
mengandalkan kegesitan tubuhnya, Bi Lan yang
marah kepada orang-orang kasar itu membagi-bagi
tamparan dan tendangan. Lima orang Turki itu
sebetulnya bukanlah orang-orang lemah. Mereka
adalah anggota pasukan Turki, pasukan pedang
bengkok yang ganas dan kuat dalam perang.
Namun, mereka terlalu memandang rendah Bi Lan,
dan juga sekali ini mereka bertemu dengan seorang
lawan ahli silat tingkat tinggi yang lihai sekali.
Maka, dalam beberapa gebrakan saja merekapun
terkena tamparan atau tendangan, sehingga satu
demi satu terpelanting.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tar-tar-tarrrr......!!" Si codet yang marah sekali
melihat anak buahnya dikalahkan seorang wanita
muda, menggerakkan cambuk panjangnya.
Cambuk hitam itu terbuat dari kulit dan selain
panjang, juga lemas dan kuat sekali. Cambuk ini
tadi telah mencabik-cabik baju seorang wanita
dusun tanpa melukai kulitnya. Hal itu
menunjukkan bahwa si codet ini memang ahli
dalam memainkan cambuk.
Bi Lan bersikap tenang. Ketika ujung cambuk
menyambar ke arah dadanya, ia menggeser kaki ke
samping sehingga ujung cambuk itu luput. Si codet
menjadi semakin beringas. Tangannya bergerak
lebih kuat dan cepat. Cambuknya kini menyambarnyambar
bagaikan seekor ular panjang yang hidup.
Bi Lan tetap mengandalkan kelincahan gerakan
tubuhnya untuk berloncatan ke sana sini mengelak
sambil memperhatikan gerakan cambuk. Setelah ia
melihat perubahan gerakan cambuk ketika
menyusulkan serangan baru, dengan gerakan
melengkung ke atas, ia lalu mengelak lagi dan pada
saat cambuk itu melengkung ke atas untuk
menyambung serangan yang luput, ia telah
mendahului dan menggunakan tangan kanan
menangkap ujung cambuk!
Bi Lan mengerahkan tenaga mempertahankan
ketika si codet menarik cambuknya. Dengan
kekuatan sin kang. ujung cambuk itu seperti
melekat pada tangannya dan dengan perhitungan
yang tepat, tiba-tiba Bi Lan melepaskan
cambuknya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Wuuutttt......tarr.......! Aduhhh...!" Si codet
berteriak kesakitan karena dagunya dicium ujung
cambuknya sendiri dengan kuatnya sehingga
terluka dan berdarah!
Melihat ini, enam orang anak buahnya mencabut
pedang bengkok mereka dan bersama si codet yang
semakin marah mereka hendak mengeroyok Bi Lan
dengan senjata di tangan.
"Serang, bunuh perempuan jahat ini!" Si codet
memberi aba-aba dan ia sendiripun sudah
memutar cambuknya dengan kemarahan meluapluap.
Luka di dagunya tidak ada artinya
dibandingk luka di hatinya, karena dia merasa
terhina dan malu sekali dikalahkan seorang wanita
muda, di depan umum pula.
Bi Lan sudah siap siaga. Akan tetapi ketika
tujuh orang itu mulai bergerak, tiba-tiba nampak
bayangan berkelebat, didahului sinar menyilaukan
mata. Terdengar suara senjata beradu, berdeting
dan enam batang pedang bengkok itupun terpental
dan terlepas dari tangan pemiliknya, sedangkan
cambuk itupun terlepas. Tujuh orang itu
terhuyung ke belakang sambil memegangi tangan
kanan yang terasa nyeri karena sambaran sinar
suling di tangan Siauw Can!
Pemuda ini tidak melukai mereka hanya
menotok dengan ujung sulingnya, ke arah tangan
kanan mereka sehingga mereka terpaksa
melepaskan senjata mereka dan terhuyung ke
belakang dengan mata terbelalak kaget. Lebih-lebih
rasa kaget dan heran mereka ketika melihat bahwa
yang membuat senjata mereka terlepas tadi adalah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
si kusir kereta, pemuda tampan itu yang tangan
kirinya memondong anak perempuan kecil
sedangkan tangan kanannya memegang sebatang
suling!
Hanya dengan sulingnya, dan sambil
memondong anak kecil, pemuda itu mampu
membuat senjata mereka bertujuh terlepas! Hal ini
saja sudah membayangkan betapa lihainya
pemuda ini.
Akan tetapi, tujuh orang Turki itu bukan hanya
mengandalkan kekerasan dan kepandaian saja
untuk memaksakan kemenangan, melainkan
terutama mengandalkan kedudukan mereka!
Biarpun mereka maklum bahwa mereka tidak akan
mampu menang kalau berkelahi melawan wanita
muda dan pemuda kusir yang lihai ini, namun
mereka masih berani membentak.
"Kalian berani melawan kami, para anggota
Pasukan Pedang Bengkok?" teriak si codet.
Pada saat itu, dari kelompok penonton yang
memenuhi tempat itu, muncul seorang pria berusia
limapuluhan tahun, berpakaian bangsawan. Pria
ini sejak tadi ikut pula menonton dengan kagum
dari atas kudanya dan kini dia meloncat turun,
membiarkan kudanya dipegangi kendalinya oleh
seorang pengawal dan diapun maju menghampiri
tujuh orang itu.
"Kalian ini selalu mendatangkan keributan!"
tegurnya. Ketika si codet dan kawan-kawannya
melihat bangsawan itu, mereka memberi hormat
dengan membungkukkan tubuh.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Poa-taijin (pembesar Poa)......!” kata si codet
sambil memberi hormat ditiru semua anak
buahnya.
Pembesar yang bermata sipit itu berkata dengan
suara mengandung teguran.
"Kalian sungguh ceroboh, berani sekali
mengganggu tai-hiap dan li-hiap ini! Tahukah
kalian? Mereka ini adalah sanak keluarga dari
Pangeran Tua Li yang baru tiba dari dusun!"
Tujuh orang Turki itu terbelalak dan muka
mereka berubah pucat. Si codet cepat memberi
hormat kepada Siauw Can dan Bi Lan, kembali
diikuti oleh keenam orang anak buahnya. "Mohon
ji-wi (kalian) sudi memaafkan kami yang tidak
mengenal ji-wi maka bersikap kurang hormat."
Setelah berkata demikian, mereka bertujuh
cepat memungut senjata mereka dan pergi dari situ
dengan langkah lebar dan muka ditundukkan.
Melihat pembesar itu kini memandang kepada
mereka sambil tersenyum ramah Siauw Can cepat
memberi hormat dan berkata, "Maafkan kami, taijin,
akan tetapi kami tidak mengerti.."
Pembesar itu membuat gerakan dengan tangan
menghentikan ucapan Siauw Can, lalu dia menoleh
ke arah orang-orang yang masih berkerumun
menonton di situ sambil membicarakan
perkelahian tadi, memuji-muji Bi Lan dan Siauw
Can.
"Hei, kalian menonton apa? Kami bukan
tontonan, hayo pergi melanjutkan perjalanan dan
pekerjaan kalian masing-masing!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mendengar bentakan seorang pembesar yang
berpakaian mewah, para penonton itu menjadi
takut dan merekapun bubar. Keadaan menjadi
sunyi kembali dan pembesar itu mendekati Siauw
Can.
"Tai-hiap, kalau kami tidak mencampuri, kalian
tentu akan dikeroyok oleh ratusan orang anggota
pasukan Turki itu. Akan tetapi di sini bukan
tempat kita bicara. Marilah ikut dengan kami
menghadap Pangeran Tua. Kalian tentu akan
mendapatkan kedudukan yang pantas kalau suka
membantu beliau."
Siauw Can saling pandang dengan Bi Lan.
Sungguh merupakan peristiwa yang amat
kebetulan dan amat menguntungkan mereka.
Tanpa dicari, pekerjaan datang sendiri, bahkan
mereka akan dihadapkan kepada seorang
pangeran! Dan Siauw Can sudah tahu siapa
Pangeran Tua! Adik kaisar! Tentu mereka akan
dapat memperoleh kedudukan yang amat baik!
"Ingat, demi keselamatan kalian! Kalau kalian
menolak dan melihat bahwa kalian bukan orangorang
Pangeran Tua, tentu orang-orang Turki itu
tidak akan membiarkan kalian bebas dan kalian
akan terancam bahaya besar." kata pembesar itu
ketika melihat keraguan pada wajah si wanita
cantik.
Siauw Can cepat memberi hormat. "Tai-jin, terus
terang saja kami berdua hendak pergi ke kota raja
memang untuk mencari pekerjaan yang sesuai
dengan kemampuan kami."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bagus! Kalau begitu cocok sekali. Kalian
mencari pekerjaan dan Pangeran Tua memang
sedang mencari orang-orang yang memiliki
kepandaian silat tinggi seperti kalian. Marilah ikut
dengan kami. Namaku Poa Kiu dan aku orang
kepercayaan Pangeran Tua Li Siu Ti."
"Tai-jin maksudkan adik dari Sri Baginda
Kaisar?" tanya Siauw Can dengan girang.
"Siapa lagi kalau bukan beliau yang disebut
Pangeran Tua? Nah, mari kalian ikuti
rombonganku memasuki kota raja, pasti aman."
Poa Tai-jin yang bernama Poa Kiu itu lalu
menunggang kudanya, diikuti oleh enam orang
pengawal dan Siauw Can cepat mengikuti dari
belakang dengan keretanya.
Dari dalam kereta, Bi Lan bertanya kepada
Siauw Can, "Can-toako , siapa sih orang-orang
asing itu? Kenapa mereka merajalela di kota raja
dan kenapa pula Poa Tai-jin mendiamkan saja
mereka, hanya menegur dan tidak mengambil
tindakan?"
"Alh, kiranya engkau belum tahu duduknya
persoalan, Lan-moi," jawab Siauw Can lirih agar
jangan terdengar orang lain. "Pasukan Turki
merupakan rekan dari pasukan yang digerakkan
oleh Panglima atau Pangeran Mahkota Li Si Bin,
sehingga berhasil menggulingkan Kerajaan Sui dan
mendirikan Kerajaan Tang. Oleh karena itu, tentu
saja orang-orang Turki itu menjadi besar kepala
dan berani merajalela di sini. Mereka merasa telah
berjasa pada pendirian Kerajaan Tang. Bahkan di
antara tokoh-tokoh mereka banyak yang diangkat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menjadi panglima dan pembesar-pembesar tinggi
oleh Sribaginda Kaisar.”
"Tapi......mengapa begitu? Mengapa para pendiri
Kerajaan Tang itu bersekutu dengan orang-orang
Turki?"
"Hal itu tidaklah aneh. Ketahuilah bahwa
pemimpin pemberontak yang menggulingkan
Kerajaan Sui adalah Li Si Bin yang kini menjadi
panglima besar dan pangeran mahkota. Dan dia
adalah seorang peranakan Turki. Ayahnya, yang
sekarang menjadi Kaisar Tang Kao Cu adalah
seorang Han, akan tetapi ibunya adalah seorang
wanita Turki, yang kini menduduki jabatan
Permaisuri Muda. Nah sebagai seorang peranakan
Turki, tentu saja hubungannya dengan bangsa
Turki amat baik dan dia memang membutuhkan
bantuan pasukan Turki untuk memenangkan
perjuangannya menggulingkan Kerajaan Sui.
Setelah berhasil, tentu saja bangsa Turki itu
mendapat angin dan berani merajalela di sini."
Dengan singkat, di sepanjang perjalanan ke kota
raja. Siauw Can menceritakan keadaan keluarga
kaisar yang diketahuinya dengan baik. Dia
menceritakan betapa yang paling berkuasa di kota
raja adalah Panglima atau Putera Mahkota Li Si
Bin, yang sebetulnya merupakan orang yang
menjadi pemimpin besar dalam menggulingkan
Kerajaan Sui. Karena dia masih harus melakukan
penertiban dan pembersihan, maka dia
mengangkat ayahnya menjadi kaisar pertama
Kerajaan Tang, yaitu kaisar yang sekarang berjuluk
Kaisar Tang Kao Cu. Adapun Putra Mahkota Li Si
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bin sendiri menjadi Panglima besar dan dialah
yang berhasil menundukkan semua pemberontak,
melakukan penertiban di mana-mana.
Setelah Li Si Bin berhasil, tentu saja otomatis
keluarga Li mendapat anugerah, menjadi keluarga
kaisar! Juga Li Si Bin tidak melupakan keluarga
ibunya dari Turki dan banyak orang pandai dari
Turki diberinya kedudukan untuk membantu
lancarnya pemerintahan Tang yang baru.
Di antara para keluarga Li, yang paling menonjol
kedudukannya adalah adik kandung kaisar sendiri,
atau paman dari Li Si Bin yang bernama Li Siu Ti.
Paman inipun sudah berjasa membantu
perjuangannya, maka setelah mereka berhasil
mendirikan Kerajaan Tang, Li Siu Ti menjadi
Pangeran Tua yang menjadi penasihat kaisar,
bahkan mengepalai para pangeran sebagai wakil
kaisar.
"Demikianlah, Lan-moi. Sekarang kita diundang
ke sana! Kalau kita dapat bekerja kepada Pangeran
Tua Li Siu Ti, berarti bintang kita sedang terang!
Dia merupakan orang yang paling berkuasa di
istana, tentu saja sesudah kaisar dan putera
mahkota!"
Bi Lan ikut merasa gembira. Iapun ingin
mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan
kemampuannya agar ia mendapatkan tempat
tinggal yang baik, serba bercukupan sehingga ia
akan dapat mendidik Lan Lan dengan baik. Ia
sudah hampir lupa bahwa Lan Lan adalah puteri Si
Han Beng dan Bu Giok Cu. Ia merasa bahwa Lan
Lan adalah anaknya sendiri dan segala yang ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lakukan adalah demi kepentingan Lan Lan yang
amat disayangnya.
-ooo0dw0ooo-
Gedung itu besar dan indah. Mungkin hanya
kalah megahnya dengan istana kaisar saja. Hal ini
saja membuktikan kebesaran penghuninya. Dan
semua orang tahu belaka bahwa pemilik istana itu
Pangeran Tua Li Siu Ti, adalah orang yang paling
berkuasa sesudah kaisar dan putera mahkota atau
panglima besar.
Pangeran Li Siu Ti, biarpun disebut Pangeran
Tua sebagai tanda bahwa dia bukan putera kaisar,
melainkan adiknya, belumlah tua benar. Usianya
sekitar empatpuluh lima tahun. Tubuhnya tinggi
besar dan gagah, matanya membayangkan
kecerdikan dan kadang-kadang mulutnya memiliki
senyum yang penuh rahasia. Sejak dia kebagian
kemuliaan menjadi Pangeran Tua dan diangkat
menjadi penasihat kakaknya yang menjadi kaisar,
Pangeran Li Siu Ti telah membuat banyak jasa. Dia
memang cerdik dan nasihatnya kepada kaisar
selalu tepat. Banyak membantu kelancaran
jalannya roda pemerintahan dari Kerajaan Tang
yang baru itu.
Pangeran Li Siu Ti mempunyai seorang isteri dan
lima orang selir. Akan tetapi, hanya dari selir ke
dua saja dia mempunyai keturunan, yaitu seorang
anak perempuan yang pada waktu itu teluh
menjadi seorang gadis remaja berusia tujuhbelas
tahun, bernama Li Ai Tin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Puteri ini berwajah cantik, apalagi karena ia
pandai dan suka bersolek. Bentuk tubuhnya yang
ramping padat juga menggairahkan, sehingga
banyak pemuda di kalangan bangsawan tergila-gila
kepadanya.
Ketika rombongan Poa Kiu yang mengantar
Siauw Can dan Bi Lan memasuki pekarangan yang
luas dari gedung tempat tinggal Pangeran Tua,
kedua orang ini melihat bahwa tempat itu terjaga
oleh pasukan keamanan. Akan tetapi karena yang
mengawal kereta adalah Poa Kiu yang dikenal oleh
semua pengawal, maka kereta itu tidak ditahan
dan dapat dijalankan sampai di bawah anak tangga
beranda depan gedung itu.
Siauw Can dan Bi Lan diam-diam
memperhatikan keadaaan tempat itu dan melihat
bahwa di antara para anggota pasukan penjaga
tidak nampak seorangpun bangsa Turki. Kepada
kepala pengawal, Poa Kiu minta agar dikabarkan
kepada Pangeran Tua bahwa dia mohon
menghadap bersama dua orang tamu yang amat
penting, guna dihadapkan kepada pangeran.
Kepala pengawal tahu bahwa Poa Kiu adalah orang
kepercayaan dan tangan kanan sang pangeran,
maka tanpa banyak tanya lagi dia lalu langsung
saja masuk ke dalam untuk memberi laporan
kepada majikannya.
Tak lama kemudian, kepala pengawal itu muncul
kembali dan mempersilakan Poa Kiu dan dua orang
tamu itu langsung saja memasuki ruangan tamu di
bagian kanan bangunan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kalau tadi Bi Lan dan Siauw Can mengagumi
pekarangan depan yang mempunyai taman amat
indahnya, dan beranda depan yang luas dan dihias
arca-arca singa dan naga, kini mereka menjadi
makin kagum ketika memasuki lorong menuju ke
ruangan tamu, didahului oleh kepala pengawal dan
Poa Tai-jin.
Gedung itu memang indah sekali. Pot-pot
tanaman bunga yang terukir indah, dengan
tanaman bunga yang langka didapat. Guci-guci
besar menghias sudut-sudut di sepanjang lorong,
tempat-tempat lampu yang beraneka bentuk dan
warna. Pilar-pilar yang terukir, tirai-tirai sutera,
permadani dan pada dinding tergantung lukisanlukisan
dan tulisan huruf indah yang tak ternilai
harganya.
Ketika mereka memasuki kamar tamu, Pangeran
Tua Li Siu Ti sudah duduk di situ, di atas sebuah
kursi yang berwarna merah. Di kanan kiri dan
belakangnya berdiri selosin pengawal pribadi.
Kepala pengawal itu menjatuhkan diri berlutut
dengan kaki kiri dan memberi hormat. Poa Kiu juga
memberi hormat kepada atasannya dengan
menjura dan membungkuk. Melihat ini, Siauw Can
dan Bi Lan juga mengangkat kedua tangan di
depan dada dan membungkuk untuk memberi
hormat.
Dengan tangannya. Pangeran Li Siu Ti
menyuruh kepala pengawal mundur, kemudian dia
memandang kepada pembantu utamanya. "Poa
Kiu, siapakah dua orang muda ini dan kenapa
engkau membawa mereka menghadapku?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam pertanyaan ini terkandung teguran
karena agaknya sang pangeran kecewa. Tadi
kepala pengawal melaporkan bahwa Poa Kiu
mohon menghadap bersama dua orang penting.!
Tidak tahunya hanya seorang pemuda sederhana
dan seorang wanita muda yang memondong
seorang anak perempuan!
"Ampun, pangeran," kata Poa Kiu. "Sekali ini
saya membawa berita amat menggembirakan.
Tanpa disengaja di tengah perjalanan, saya telah
bertemu dengan dua orang pendekar ini yang tentu
akan amat berguna bagi paduka. Mereka inilah
orang-orang yang selama ini paduka cari, yang
paduka butuhkan. Mereka berdua memiliki ilmu
kepandain silat yang hebat."
Lalu Poa Kiu menceritakan kepada sang
pangeran tentang sepak terjang Bi Lan dan Siauw
Can ketika diganggu oleh tujuh orang Turki di
jalan tadi. Sang pangeran mendengarkan dengan
penuh perhatian, akan tetapi dia mengerutkan alis
mengamati dua orang itu. Agaknya, sukar baginya
untuk dapat mempercayai cerita itu. Dua orang
muda itu sama sekali tidak mengesankan sebagai
orang-orang berilmu tingggi, apalagi wanita itu,
yang masih muda, cantik dan kelihatan lemah
lembut.
Bagaimana mungkin dengan tangan kosong
mampu mengalahkan tujuh orang Turki yang kuatkuat
itu? Dan pemuda itu dengan sebatang suling
saja mampu melucuti senjata tujuh orang Turki
itu? Tak masuk akal!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akan tetapi pada saat itu, kepala pengawal
datang menghadap dan melaporkan bahwa Raja
Muda Baducin datang bertamu! Mendengar nama
ini, wajah Pangeran Li Siu Ti berseri dan dia
mengerling ke arah Poa Kiu.
"Bagus! Agaknya ini ada hubungannya dengnn
dua orang muda ini. Poa Kiu engkau ajak mereka
keluar dari sini, tunggu di ruangan sebelah. Nanti
kalau aku memberi isyarat memanggil, kalian
masuklah ke sini." Kemudian pangeran itu
memerintahkan kepala pengawal untuk
mempersilakan Raja Muda Baducin untuk
memasuki ruangan tamu. Poa Kiu maklum akan
apa yang dimaksudkan majikannya, maka diapun
mengajak Siauw Can dan Bi Lan keluar melalui
pintu samping dan menunggu di ruangan sebelah.
Tak lama kemudian, masuklah tiga orang ke
dalam ruangan tamu itu. Yang menjadi tamu
kehormatan adalah Raja Muda Baducin, seorang
laki-laki bangsa Turki berusia limapuluhan tahun,
bertubuh tinggi kurus. Matanya lebar dan tajam
sekali, hidungnya seperti paruh kakaktua, kumis
dan jenggotnya terpelihara rapi dan kulitnya coklat
mengarah hitam. Pakaiannya mewah dan
kepalanya tertutup sorban putih dari sutera, orang
yang menemaninya selalu berada di belakangnya
arah kanan kiri dan sekali pandang saja orang
akan mengetahui bahwa mereka adalah dua orang
saudara kembar. Wajah mereka, bentuk tubuh
mereka, bahkan pakaian mereka, serupa dan
sukarlah membedakan yang satu dengan yang lain.
Usia mereka sekitar empat puluh tahun, pakaian
mereka seperti pakaian perwira perang, dan di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pinggang mereka tergantung pedang bengkok yang
ujung dan gagangnya terhias emas permata.
Kumis mereka melintang panjang, melengkung
ke atas, dan jenggot mereka dipotong agak pendek,
membuat mereka tampak jantan dan kokoh kuat.
Apalagi keduanya memang bertubuh tinggi besar
seperti raksasa, sehingga baru bertemu saja, orang
akan merasa gentar.
Setelah saling bersalaman dan mempersilakan
tamunya duduk; Raja Muda Baducin duduk di atas
kursi dan dua orang kembar itu tetap saja berdiri
di belakangnya, seperti juga selosin pengawal
pribadi yang tetap berdiri di belakang Pangeran Li
Siu Ti, Pangeran itu lalu berkata kepada kepala
pengawal.
"Engkau boleh keluar dan sediakan minuman
untuk pasukan pengawal Raja Muda!"
"Baik, Yang Mulia Pangeran!" kata kepala
pengawal itu lalu keluar dari situ. Seperti biasa,
kepala para orang Turki itu tentu saja datang
dengan sepasukan pengawal yang tadi menanti di
luar, sedangkan yang masuk hanya dia bersama
dua orang pengawal pribadi yang setia.
Kalau saja orang melihat keadaan kedua "orang
besar" ini beberapa tahun yang lalu, tentu apa
yang dilihatnya sekarang ini mirip dengan
pertunjukan panggung sandiwara saja. Baru
beberapa tahun yang lalu, Pangeran Tua Li Siu Ti
yang kini disebut yang mulia dan paduka yang
mulia, hanyalah orang biasa saja, bahkan dari
keluarga petani. Akan tetapi begitu sekarang
keluarganya berhasil meraih tahta kerajaan, dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menjadi seorang bangsawan tinggi yang dimuliakan
orang. Juga orang yang kini disebut Raja Muda
Baducin, tadinya adalah seorang kepala
gerombolan orang Turki yang termasuk golongan
hitam atau sesat yang di negerinya dimusuhi
sendiri oleh pemerintahnya. Baducin dapat
bersekutu dengan Li Si Bin dan membantu gerakan
perwira muda itu sehingga berhasil menggulingkan
Kerajaan Sui. Maka, sebagai balas jasa, setelah Li
Si Bin berhasil, Baducin menerima anugerah, yaitu
sebutan "raja muda" dan kedudukan yang mulia!
Dan kini dua orang yang berasal dari rakyat
jelata ini, sekarang saling berhadapan seperti dua
orang bangsawan tinggi, lengkap dengan semua
peralatan dan peraturannya.
Setelah gadis-gadis pelayan yang cantik datang
menyuguhkan makanan dan minuman kepada
tamu kehormatan itu, dan mereka berdua makan
minum dengan gembira sambil memberi hormat
dengan minum arak, barulah Pangeran Li Siu Ti
menanyakan maksud kunjungan raja muda itu.
"Kunjungan paduka Raja Muda Baducin
merupakan suatu kehormatan besar bagi kami,
akan tetapi kunjungan yang mendadak ini agaknya
membawa urusan penting. Atau hanya merupakan
kunjungan iseng belaka untuk melepas rindu?"
tanya sang pangeran dengan ramah.
Raja Muda Baducin tertawa bergelak sambil
mengelus jenggotnya yang rapi. "Ha-ha-ha, tepat
sekali apa yang diduga oleh Paduka Pangeran Tua.
Orang yang selalu sibuk seperti kami ini mana ada
kesempatan untuk membuang waktu hanya untuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
iseng? Sesungguhnya kunjungan kami ini untuk
mohon keterangan dari paduka tentang peristiwa
yang amat tidak menyenangkan hati kami."
"Hemm, peristiwa apakah itu? Harap paduka
segera menceritakan kepada kami."
"Begini, pangeran. Pagi tadi, tujuh orang anggota
Pasukan Pedang Bengkok sedang mengadakan
patroli di luar pintu gerbang kota raja. Mereka
melihat sebuah kereta dan karena curiga mereka
menghentikan kereta itu untuk melakukan
pemeriksaan. Akan tetapi penumpang kereta itu,
seorang pemuda dan seorang wanita muda,
membantah dan terjadi percekcokan dan
perkelahian. Akan tetapi, ketika anak buah kami
hendak memberi hukuman kepada orang-orang
yang menghina itu, muncul pembantu paduka,
yaitu Poa Kiu. Dia mencegah anak buah kami
bertindak dengan mengatakan bahwa dua orang
itu adalah sanak keluarga paduka yang datang dari
dusun. Dan tadi, mata-mata kami mengetahui
bahwa dua orang itu memang datang ke gedung
ini! Nah, setelah mendapatkan laporan itu, kami
bergegas datang berkunjung untuk mohon
penjelasan agar tidak sampai terjadi kesalah
pahaman di antara kita."
Pangeran Li Siu Ti mengangguk-angguk dan
tersenyum. Biarpun cerita yang didengarnya dari
raja muda ini berbeda dengan yang didengarnya
dari Poa Kiu, tentu saja dia lebih percaya
kebenaran cerita pembantunya yang setia. Dan
diapun maklum bahwa tentu orang-orang Turki itu
tidak berterus terang kepada pimpinan mereka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bahwa mereka telah dikalahkan pemuda dan
wanita muda itu!
"Memang benar apa yang paduka dengar itu,
karena memang mereka adalah masih sanak
keluarga dengan kami, walaupun masih jauh.
Mereka datang berkunjung untuk membantu
pekerjaan kami. Menurut cerita mereka, memang
terjadi kesalah-pahaman dengan tujuh orang anak
buah paduka. Akan tetapi, keributan itu tidak
sampai berakibat jauh, tidak ada pihak yang
terluka parah atau tewas. Maka, kami harap
paduka menghabiskan saja urusan di antara anak
buah kita itu."
Raja Muda Baducin itu tertawa, "Ha-ha-ha,
kalau memang mereka itu sanak keluarga paduka,
tentu saja kami yang mohon maaf atas
kelancangan anak buah kami. Hanya yang
membuat kami merasa penasaran. Kabarnya kedua
orang muda itu memiliki ilmu kepandaian yang
tinggi sekali sehingga anak buah kami menjadi
permainan mereka."
Pangeran Li Siu Ti tersenyum bangga. "Memang
kedua orang sanak jauh itu merupakan dua orang
pendekar yang memiliki ilmu kepandaian silat yang
tinggi!"
"Bagus, kalau begitu, ingin sekali kami bertemu
dan berkenalan dengan mereka, dan dapat melihat
dengan mata kepala sendiri dua orang muda,
seorang pemuda dan seorang gadis, yang telah
mampu mengalahkan tujuh orang anak buah
pasukan Pedang Bengkok! Kalau mereka berada di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sini, dapatkah kami bertemu dengan mereka,
pangeran?"
"Tentu saja boleh! Bahkan mereka berduapun
berada di sini, akan tetapi untuk menghormati
paduka, kami memerintahkan mereka menyingkir
ke ruangan lain. " Pangeran Li Siu Ti bertepuk
tangan dan muncullah Poa Kiu diiringi Siauw Can
dan Kwa Bi Lan yang memondong Lan Lan. Anak
itu sedang makan kembang gula dengan asyiknya.
Pangeran Tua segera memperkenalkan tamunya
kepada dua orang muda itu, sedangkan Poa Kiu
sudah menjura dengan sikap hormat. "Tamu
terhormat kita ini adalah Raja Muda Baducin yang
mengepalai semua pasukan Turki yang berada di
sini, dan beliau ingin berkenalan dengan kalian
berdua."
Bi Lan sendiri meragu, dan andaikata tidak ada
Siauw Can di situ, belum tentu dia mau memberi
hormat kepada orang itu. Biarpun raja muda, ia
adalah seorang Turki dan tadi pagi orang-orang
Turki bersikap amat kasar dan menghina
kepadanya. Bagaimana ia dapat memberi hormat?
Akan tetapi, Siauw Can mendahuluinya dan
pemuda ini member hormat dengan menjura, yang
diturut pula oleh Bi Lan.
Sementara itu, melihat bahwa dua orang yang
telah mengalahkan tujuh orang anak buahnya itu
hanya seorang pemuda kerempeng dan seorang
wanita muda cantik yang lemah lembut, hati Raja
Muda Baducin menjadi semakin penasaran.
"Aha, kiranya dua orang ini masih amat muda!
Pantas saja lancang dan berani menghina tujuh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
orang anggota Pasukan Pedang Bengkok kami!"
katanya.
Mendengar ini, Siauw Can cepat menjawab.
"Paduka mendapat keterangan yang keliru. Kami
berdua sama sekali tidak pernah menghina tujuh
orang itu."
"Ho-ho-ho, kalian mengalahkan tujuh orang
anggota Pedang Bengkok di jalan raya, disaksikan
banyak orang kalian telah melucuti senjata pedang
mereka dan memandang rendah mereka,
bukankah itu penghinaan besar namanya! Kalau
tidak muncul Poa Tai-jin, tentu telah terjadi
perkelahian mati-matian!"
"Maafkan kami," kata pula Siauw Can mengalah.
"Ha-ha-ha, kalau kami tidak memaafkan, apa
kami mau berkunjung ke sini? Kami justru kagum
kepada kalian dan kami ingin menyaksikan sendiri
sampai di mana kelihaian kalian berdua! Nah, di
sini ada dua orang pengawalku. Kalau kalian
berdua mampu mengalahkan dua orang
pengawalku ini, aku akan memberi selamat kepada
Pangeran Tua yang beruntung sekali mendapatkan
pembantu-pembantu yang amat lihai!"
Itu merupakan tantangan terbuka! Bi Lan sudah
menjadi merah wajahnya, akan tetapi Siauw Can
yang cerdik member hormat ke arah Pangeran Li
Siu Ti yang sejak tadi hanya mendengarkan saja.
"Kami berdua telah bekerja di sini maka kami
tidak dapat melakukan apapun tanpa perintah dari
Paduka Pangeran Tua! Kami berdua menanti
perintah!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pangeran Li Siu Ti tersenyum lebar. Inilah
kesempatan baginya untuk menguji kedua orang
itu. Akan tetapi Poa Kiu merasa khawatir. Tentu
saja dia sudah mengenal siapa dua orang pengawal
pribadi Raja Muda Baducin ini. Dua orang raksasa
kembar itu merupakan orang-orang yang paling
kuat dan paling lihai di antara semua orang Turki
yang berada di kota raja.
Nama mereka Gondulam dan Gondalu, dua
orang saudara kembar yang selain bertenaga gajah
juga pandai ilmu gulat, pandai silat bahkan
memiliki kekuatan sihir!
-ooo0dw0ooo-
Jilid 11
"Maaf, Paduka Raja Muda Baducin! Saya kira,
urusan anak buah adalah urusan kecil, apa
perlunya dibesarkan lagi? Biarlah lain hari kami
akan mengirim obat kepada tujuh orang anggota
pasukan Pedang Bengkok itu disertai maaf kedua
orang muda ini."
"Aih, Poa Kiu, kenapa begitu? Kami yakin bahwa
Raja Muda Baducin tidak mempunyai niat buruk.
Beliau memang kagum kepada orang-orang lihai
seperti juga kami. Oleh karena itu, pertandingan
adu kepandaian ini menarik sekali."
Lalu dia menoleh kepada Siauw Can. "Orang
muda, beranikah kalian berdua menandingi kedua
orang pengawal pribadi Raja Muda Baducin itu?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kami hanya menanti perintah paduka," Jawab
Siauw Can.
"Bagus! Kami perintahkan kepada kalian berdua
untuk menandingi dua orang raksasa kembar itu
mengadu ilmu kepandaian." Kepada seorang di
antara pengawalnya dia berkata, "Cepat engkau ke
ruangan berlatih dan persiapkan tempat untuk
mengadu kepandaian!"
Sambil tertawa-tawa akan tetapi hati mereka
sebetulnya panas, dua orang bangsawan itu
berjalan berdampingan menuju ke ruangan latihan
yang luas di sebelah belakang bangunan itu.
Mereka diikuti Poa Kiu, kemudian dua orang
pengawal pribadi Bangsa Turki, lalu Siauw Can
dan Bi Lan, baru duabelas orang pengawal
pangeran itu mengawal bagian paling belakang.
Sebetulnya jarang sekali dua orang bangsawan
itu saling berkunjung, bahkan tidak pernah.
Semua orang tahu belaka bahwa Pangeran Tua Li
Siu Ti merupakan bangsawan yang tidak suka
kepada orang Turki, seperti banyak pula pejabat
dan bangsawan yang seperti dia. Akan tetapi
karena pasukan Turki itu merupakan rekan dari
pasukan yang dipimpin Panglima besar Li Si Bin,
tentu saja dia tidak berani berterang menyatakan
rasa tidak sukanya kepada Bangsa Turki. Hanya di
dalam hatinya saja dan dia tidak pernah bergaul
dengan mereka, kecuali dalam pertemuan resmi.
Hal ini diketahui pula oleh Raja Muda Baducin,
maka kalau dia bersikap ramah, ini hanyalah basa
basi belaka. Di dalam hatinya, tentu saja dia juga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
amat tidak suka kepada adik kaisar yang anti
Turki ini.
Mereka kini memasuki ruangan latihan yang
luas itu. Di sini bukan hanya untuk latihan para
pengawal, akan tetapi j|uga kadang-kadang kalau
sang pangeran mengadakan rapat rahasia dengan
orang yang dipercayanya saja, tempat ini
dipergunakan. Tempat ini aman, tertutup dan
terjaga ketat oleh para pengawal sehingga orang
luar jangan harap akan dapat mengintai, apa lagi
masuk.
Setelah tiba di situ sang pangeran dan sang raja
muda segera duduk di kursi yang sudah
disediakan, sedangkan para pengawal berjajar di
belakang pangeran. Juga di pintu terdapat prajurit
yang berjaga. Dua orang raksasa kembar itu
agaknya sudah siap dan mereka menyeringai
sambil memandang ke arah Siauw Can dan Bi Lan,
calon lawan mereka. Siauw Can segera memberi
hormat kepada Pangeran Tua Li Siu Ti.
"Mohon maaf, pangeran. Saya mohon agar
pertandingan ini diadakan satu lawan satu dan
bergiliran, karena seorang di antara kami harus
menjaga Lan Lan, anak kecil ini." Mendengar
ucapan Siauw Can itu, Bi Lan mengangguk setuju
dan ia merasa girang sekali. Memang, adanya Lan
Lan merupakan kelemahan bagi pihaknya. Ia
belum tahu watak lawan. Siapa tahu mereka
menggunakan akal untuk mencapai kemenangan,
misalnya dengan menangkap Lan Lan, seperti yang
pernah dilakukan tiga orang perwira di kota Penglu
itu. Permohonan Siauw Can kepada pangeran
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu memang penting sekali, karena dengan cara
bergantian, maka Lan Lan terjaga dengan aman.
Pangeran Tua tersenyum dan mengangguk.
"Tentu saja, di sini tidak ada istilah keroyokan.
Kamipun ingin menikmati adu kepandaian ini,
kalau satu lawani satu akan dapat kita ikuti
dengan baik. Siapa di antara kalian yang akan
maju lebih dahulu?"
Bi Lan menyerahkan Lan Lan kepada Siauw
Can. Anak ini sudah biasa dengan Siauw Can,
maka iapun mau saja dipangku pemuda itu dan Bi
Lan lalu bangkit menghampiri pangeran. "Saya
yang akan maju lebih dulu, pangeran."
Pangeran Tua Li Si u Ti tersenyum kagum. Dia
belum percaya betul bahwa wanita muda cantik
yang mempunyai seorang anak ini memiliki ilmu
kepandaian hebat dan akan mampu menandingi
seorang di antara dua raksasa kembar itu.
Akan tetapi sikap wanita yang demikian tenang
dan berani saja sudah mengundang
kekagumannya. Bagaimanapun juga, dalam hal
keberanian, wanita ini jarang tandingannya,
pikirnya. Diapun mengangguk dan menoleh kepada
Raja Muda Baducin.
"Nah, jago kami sudah maju. Paduka akan
mengajukan jago yang mana?"
Sebetulnya, tingkat kepandaian dua orang
saudara kembar itu sama dan kelihaian mereka
justru kalau mereka maju berdua. Biarpun
mempunyai dua badan, namun saudara kembar
itu dapat bergerak seperti dikemudikan satu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pikiran dan satu perasaan saja, dan hal ini yang
membuat mereka sukar dikalahkan kalau maju
berdua. Namun, biarpun seorang diri, masingmasing
juga merupakan lawan yang amat kuat.
Hanya bedanya, kalau Gondulam hanya suka akan
kemuliaan, adik kembarnya, Gondalu, adalah
seorang mata keranjang. Maka, begitu melihat yang
maju Bi Lan, wanita yang cantik manis itu,
Gondalu mendahului saudara kembarnya dan
melangkah maju memberi hormat kepada Raja
Muda Baducin sambil berkata. "Kalau paduka
mengijinkan, hamba yang akan maju menandingi
perempuan ini. Yang Mulia!"
Tentu saja Baducin mengenal watak Gondalu,
maka dia tersenyum dan mengelus kumisnya
sambil mengangguk-angguk, ”bersenang-senanglah
engkau, Gondalu!" katanya.
Gondalu melangkah maju menghampiri Bi Lan
yang sudah siap berdiri di tengah ruangan yang
luas itu. Ia bersikap waspada, berdiri dengan
santai, akan tetapi seluruh syaraf di tubuhnya
dalam keadaan siap siaga. Ia tadi sengaja
menanggalkan sepasang pedangnya dan
menyerahkannya kepada Siauw Can sehingga
melihat ini, sebelum melangkah maju Gondalu juga
menanggalkan pedang bengkoknya dan
menitipkannya kepada saudara kembarnya. Hal ini
atas isyarat Siauw Can yang tidak ingin kehadiran
mereka yang pertama itu akan membuat lawan
roboh terluka atau tewas sehingga akan terjadi
permusuhan antara dua orang besar itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Gondalu yang juga tidak ingin membunuh
lawan, senang-melihat wanita itu maju dengan
tangan kosong. Dengan bertanding tanpa senjata,
lebih mudah baginya untuk menelikung dan
menangkap wanita cantik itu, mengalahkannya
tanpa melukai, akan tetapi dia akan dapat
sepuasnya memegang-megang dan mengusapusap!
Bagi orang biasa, melihat kedua orang yang
akan bertanding itu berhadapan, tentu akan
merasa cemas terhadap Bi Lan. Sungguh tidak
sepadan lawa itu, amat berat sebelah! Gondalu
adalah seorang laki-laki raksasa yang tubuhnya
berotot dan kokoh kekar seperti tugu batu!
Sedangkan Bi Lan seorang wanita muda yang
tubuhnya ramping padat dan nampak lemah
lembut, tubuh yang membayangkan kehangatan
dan kelembutan yang sepatutnya hanya
menandingi kemesraan dan belaian, bukan
kekerasan dan pukulan!
Mereka berdiri berhadapan dalam jarak dua
meter. Raksasa itu berdiri dengan punggung agak
melengkung ke depan, lebar dan tinggi, seperti
seekor beruang. Kedua lengannya yang panjang itu
tergantung lepas sampai hampir mencapai lutut,
dengan jari-jari tangan yang besar. Ibu jari raksasa
itu tentu tidak kalah besar dibandingkan
pergelangan tangan Bi Lan!
Agaknya, sekali terkena cengkeraman jari-jari
tangan itu tulang-tulang Bi Lan akan remukremuk.
Bi Lan hanya setinggi bawah pundak
Gondalu dan biarpun mereka berdiri dalam jarak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dua meter, hidung Bi Lan masih dapat menangkap
bau yang apek dan mengingatkan ia akan bau di
kandang kerbau!
"Heh-heh heh, sudah siapkah engkau, nona?"
Gondalu bertanya sambil menyeringai, katakatanya
terdengar kaku dengan logat asingnya.
"Kalau sudah, seranglah dan perlihatkan
kepandaianmu!"
"Pihakmu yang menantang, maka kamulah yang
harus menyerang lebih dulu. Aku sudah siap!"
jawab Bi Lan, sikapnya masih tenang saja dan
santai, akan tetapi matanya tak pernah berkedip,
mengikuti gerakan tubuh orang, terutama kedua
pundaknya karena semua gerakan penyerangan
kedua tangan selalu didahului oleh gerakan
pundak. Juga pendengarannya dikerahkan agar
dapat ia menangkap semua sambaran kaki lawan
kalau melakukan penyerangan. Hal ini penting
sekali karena kadang-kadang, pendengaran
mendahului penglihatan dalam mengikuti gerakan
lawan.
"Heh-heh-heh, kau sambut ini, nona manis!" dan
Gondalu sudah menerjang ke depan, kedua
lengannya yang panjang itu bergerak, yang kanan
meluncur ke depan mencengkeram ke arah dada Bi
Lan dan yang kiri menyambar dari atas untuk
menjambak rambut wanita itu. Jelas bahwa orang
Turki ini tidak lagi bersikap sungkan, walaupun
menghadapi lawan wanita, begitu menyerang, dia
langsung mencengkeram ke arah dada, hal yang
tidak akan dilakukan oleh seorang yang menjaga
kesopanan terhadap wanita. Namun, Bi Lan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menghadapinya dengan tenang. Ia memang tidak
pernah mengharapkan orang seperti raksasa ini
akan mengenal sopan santun, maka
serangannyapun tidak membuat ia terkejut atau
marah. Dengan lembut dan tidak tergesa-gesa ia
melangkah mundur dan serangan kedua lengan
panjang itupun luput, akan tetapi Gondalu sudah
melangkah maju.
Kalau Bi Lan melangkah mundur tiga langkah,
maka raksasa ini dengan satu langkah saja sudah
mendekati Bi Lan dan sekali ini, kedua tangannya
yang kasar dengan jari-jari tangan terbuka, sudah
menyambar dari kanan kiri untuk menangkap
pinggang Bi Lan.
Kembali Bi Lan mengelak dengan lompatan ke
kiri. Ia belum berani lancang membalas karena ia
harus mencari dulu kelemahan dari lawan, dan ia
dapat menduga bahwa lawan belum benar-benar
menyerangnya, hanya mengira ila seorang wanita
lemah dan hendak mempermainkan saja.
Setelah dua kali tubrukannya luput, Gondalu
mulai merasa penasaran. Dia melihat gerakan
wanita itu ketika mengelak, demikian ringan dan
cepat, maka sebagai seorang yang banyak
pengalaman berkelahi, dia dapat menduga bahwa
wanita ini memiliki kegesitan yang membuat dia
akan selalu gagal kalau menyerang dengan lemah
dan berusaha menangkap saja. Maka, setelah lima
kali menubruk dan gagal, kini mulailah Gondalu
melakukan penyerangan dengan sungguhsungguh.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dia mengeluarkan suara gerengan nyaring dan
lengan kirinya bergerak, mencengkeram dari kiri
atas ke arah kepala lawan, sedangkan tangan
kanannya mendorong dengan telapak tangan ke
arah perut. Serangan ini hebat sekali dan dari
sambaran anginnya, tahulah Bi Lan bahwa lawan
mulai bersungguh-sungguh!
"Plak! Plakk!" Ia sengaja mundur sambil
menangkis dengan kedua lengannya untuk
mengukur tenaga lawan. Bi Lan merasa tubuhnya
terguncang! Benarlah dugaannya bahwa mengadu
tenaga dengan lawan seperti ini amat berbahaya.
Ketika tangan itu menyambar selagi ia terguncang,
ia sudah melompat ke atas dan kakinya mencuat,
menendang ke arah muka lawan.!
Gerakan ini amat cepat karena dilakukan ketika
tubuh mencelat ke atas, seperti serangan kaki
seekor burung rajawali!
"Uhhhh.........!" Gondalu terkejut dan cepat dia
menarik tubuh atas ke belakang. Nyaris mukanya
tercium sepatu! Dan kini Bi Lan berjungkir balik
tiga kali, turun ke atas lantai di belakang lawan.
Akan tetapi Gondalu sudah membalik sambil
melakukan tendangan. Kakinya yang panjang dan
besar itu menyambar seperti sebuah balok yang
besar, mendatangkan angin bersiut. Bi Lan
kembali melompat dan mengelak sehingga
tendangan itu hanya mengenai tempat kosong.
Marahlah Gondalu. Lupa dia bahwa lawannya
seorang wanita yang cantik molek. Lenyap semua
keinginannya merangkul, memeluk, meraba dan
mencolek. Dengan beringas dia menyerang dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ternyata raksasa ini memiliki gerakan silat yang
amat ganas, dan tenaganya memang dahsyat.
Namun, tidak percuma beberapa tahun Bi Lan
digembleng ilmu oleh guru yang kemudian menjadi
suaminya, yaitu mendiang Sin-tiauw (Rajawali
Sakti) Liu Bhok Ki! Tubuhnya berkelebatan
bagaikan seekor burung rajawali, mengelak sambil
membalas dengan serangan yang cepat sekali, dari
kanan kiri, dari depan dan terutama sekali dari
atas.
Ia pasti membalas dengan serangan dari atas
yang membuat Gondalu terkejut dan berkali-kali
dia nyaris terkena tamparan atau tendangan
lawan.
Kini Raja Muda Baducin memandang bengong.
Pertandingan itu jelas memperlihatkan bahwa
jagonya sama sekali tidak mampu mendesak
lawan, dan pertandingan itu hebat sekali. Bagaikan
sekor beruang besar melawan seekor burung
rajawali! Beruang itu mencoba untuk menangkap
dan menyerang dari bawah dan rajawali
menyambar-nyambar dari atas. Bukan main
hebatnya wanita itu dan sekarang dia mengerti
mengapa tujuh orang anggota pasukan Pedang
Bengkok tidak mampu mengalahkan wanita itu.
Memang hebat! Juga Gondulam menonton dengan
penuh perhatian. Dia melihat betapa saudara
kembarnya itu tidak kalah dalam hal tenaga dan
memiliki daya serang yang lebih dahsyat dan
ganas, akan tetapi saudaranya itu tidak berdaya
karena lawan terlampau gesit, terlampau cepat
gerakannya dengan keringanan tubuh yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengagumkan. Sukar memang menangkap atau
menyerang lawan segesit itu, dan saudaranya itu
berada dalam bahaya kalau dia tidak hati-hati.
Sementara itu, Pangeran Tua Li Siu Ti juga
memandang bengong, akan tetapi bengong dan
kagum di samping perasaan gembiranya. Berulang
kali dia memandang kepada Poa Kiu sambil
mengangguk-angguk senang. Memang pilihan
orang kepercayaannya itu benar sekali! Wanita ini
hebat! Kalau dia mempunyai pengawal keluarga
seperti ini, tentu aman! Dan puterinya, anak
tunggalnya, Li Ai Yin yang akhir-akhir ini rewel
ingin belajar silat, dapat berguru kepada wanita
yang lihai ini!
Tiba-tiba dia melihat puterinya itu muncul di
ambang pintu ruangan itu. Para penjaga memberi
hormat, akan tetapi gadis itu tidak
memperhatikan, dan ia melangkah masuk, lalu
berdiri bengong memandang ke arah pertandingan
yang tengah berlangsung. Li Ai Yin adalah seorang
dara berusia tujuhbelas tahun yang cantik,
berkulit putih mulus dengan dandanan seorang
puteri, serba indah dan mewah pakaiannya.
Rambut digelung tinggi di atas kepala, dihiasi emas
permata. Juga telinga, leher, lengan dan jari
tangannya berhiaskan emas permata gemerlapan.
Gadis itu memiliki mata dan mulut yang manis dan
genit menantang. Kerling matanya tajam,
senyumnya menantang dan ia memang memiliki
daya tarik yang mempesona. Karena pertandingan
sedang berlangsung dan semua orang
memperhatikan pertandingan itu. Pangeran Tua Li
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Siu Ti juga diam saja tidak menegur puterinya yang
nampak tertegun dan berdiri di dekat pintu.
Pertandingan itu kini sudah mencapai
puncaknya. Tigapuluh jurus telah lewat dan belum
pernah satu kalipun Bi Lan terjamah jari tangan
Gondalu atau ujung kakinya. Gerakan wanita
muda ini terlalu cepat bagi Gondalu dan kini Bi
Lan yakin bahwa kelemahan lawannya adalah pada
gerakannya yang terlalu lamban, karena berat
badan dan karena kekakuan otot-otot yang dilatih
terlalu keras itu. Gondalu memang berhasil
memiliki tenaga otot sebesar gajah, akan tetapi hal
ini membuat gerakannya menjadi kaku dan
lamban. Ia tahu pula bahwa lawan ini memiliki
kekebalan, bahkan pernah ia menotok dengan jari
tangan dan mengenai leher dan pundak, akan
tetapi raksasa itu tidak banyak terpengaruh, hanya
tergetar sedikit akan tetapi tidak roboh! Sukar
agaknya merobohkan raksasa ini kalau tidak
menggunakan akal, pikirnya. Dari gurunya ia telah
mendapat banyak petunjuk bagaimana
menghadapi lawan yang tangguh, kebal dan sukar
dilukai.
Bi Lan mempercepat gerakannya dalam ilmu
silat Hui-tiauw-sin kun (Silat Sakti Rajawali
Terbang) sehingga Gondalu terpaksa harus ikut
berputar karena lawannya seperti terbang
berputaran. Gondalu menjadi pening juga karena
gerakan lawan terlampau cepat. Tiba-tiba dia
melihat bayangan lawan meloncat ke atas dan
ketika wanita itu menukik turun, kedua tangannya
menyambar ke arah ubun-ubun kepala dan
matanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Huhh.......!! " Gondalu menggereng dan kedua
lengannya diputar di depan kepala dan muka
untuk melindungi bagian ini. Dia memang kebal,
akan tetapi matanya jelas tidak kebal, dan ubunubun
kepalanya merupakan bagian yang amat
berbahaya walaupun sudah dilindungi dengan
kekebalan. Jangankan terluka, baru tergetar keras
atau terguncang saja sudah berbahaya.
Akan tetapi, secepat kilat Bi Lan mengurungkan
serangannya dan tubuhnya meluncur ke bawah,
memutar dan dari belakang, kedua kakinya
menghantam ke arah kedua kaki lawan, tepat di
belakang lutut!
"Bressss.........!!" Betapapun kuat dan kebalnya
tubuh Gondalu, akan tetapi dihantam dengan
tendangan mengandung sin-kang dan tepat
mengenai belakang lutut, tentu saja dia tidak
mampu bertahan untuk berdiri lagi. Kedua
lututnya tertekuk dan diapun sudah jongkok dan
bertekuk lutut. Biarpun dia tidak roboh, akan
tetapi sudah jatuh berlutut seperti itu sungguh
merupakan bukti bahwa dia telah kalah! Kalau
lawan menghendaki, ketika dia jatuh berlutut itu,
tentu lawan dapat menghabisinya dengan serangan
maut ke arah kepalanya.
Bi Lan cepat memberi hormat kepada Pangeran
Tua Li Siu Ti dan pangeran itu tersenyum gembira
bukan main. Tiba-tiba terdengar tepuk tangan
yang nyaring. Semua orang menengok ke pintu dan
melihat betapa yang bertepuk tangan adalah puteri
sang pangeran, semua orang, termasuk para
perajurit yang berjaga, ikut pula bertepuk tangan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tepuk tangan Ai Yin dan ayahnya yang paling
keras dan kedua orang inilah yang membuat
semua orang berani ikut-ikut bertepuk tangan,
kecuali tentu saja Raja Muda Baducin dan dua
orang pengawal pribadinya itu.
Gondalu merasa penasaran sekali dan beberapa
kali dia memprotes, mengatakan dalam bahasanya
sendiri kepada Raja Muda Baducin bahwa dia
belum kalah karena belum roboh. Akan tetapi
agaknya Baducin tahu diri. Dia tadi melihat betapa
jagoannya memang tidak mampu berbuat banyak.
Wanita muda itu terlalu cepat gerakannya sehingga
jagoannya belum pernah berhasil menampar atau
memukul lawan satu kalipun, sedangkan wanita
itu sudah beberapa kali memukul dan menendang
dengan tepat, walaupun tidak dapat merobohkan
Gondalu yang kebal. Maka diapun membentak
Gondalu disuruh mundur. Gondalu, dengan muka
merah, lalu berdiri di belakang raja muda itu.
"Ayah, siapakah enci yang amat lihai ini? Ia
hebat sekali!" Ai Yin menghampiri ayahnya. Ketika
melihat Siauw Can memondong anak perempuan
kecil dan Bi Lan yang dikagumi itu menghampiri
pemuda itu dan kini menggantikan memondong
Lan Lan, Ai Yin mengerutkan alisnya sambil
memandang kepada Siauw Can dengan penuh
perhatian.
"Dan dia ini siapa, ayah? Apakah suami dari enci
ini dan anak itu puteri mereka ?"
"Ha-ha ha, wanita ini adalah pengawal keluarga
kita yang baru, Ai Yin. Sudahlah, nanti saja kita
bicara dan berkenalan dengan mereka. Sekarang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
masih ada sebuah pertandingan lagi. Duduklah di
sini, kita nonton pertandingan yang tentu akan
lebih menarik lagi," kata sang pangeran.
Ai Yin menghampiri ayahnya dan Siauw Can
yang diam-diam memperhatikan, menelan ludah.
Tak disangkanya bahwa Pangeran Li Siu Ti
mempunyai seorang puteri yang demikian cantik
jelitanya, dan ketika melangkah, dia menelan
ludah. Langkah dara itu mengandung lenggang
yang menggairahkan dan memikat dan sebagai
seorang laki-laki yang berpengalaman, tahulah dia
bahwa dara itu memiliki watak yang menantang
dan genit. Langkah itu buatan, dan memang hebat,
lemah gemulai dan menonjolkan lekuk-lengkung
tubuhnya, dengan pinggul yang menari-nari di
balik bayangan pakaiannya! Dan dengan sikap
amat manja Ai Yin duduk di samping ayahnya,
tersenyum-senyum anggun dan bangga karena ia
yakin bahwa penampilannya, gaya dan lenggang
tadi tentu akan membuat semua pria yang
memandangnya menjadi mabok kepayang! Apalagi
pemuda yang tampan gagah itu!
Siauw Can kini maju dan memberi hormat
kepada sang pangeran, otomatis juga kepada Ai Yin
karena dara ini duduk di samping ayahnya.
Dengan memasang senyumnya yang paling
menarik, dengan sepasang mata yang bersinarsinar
dengan sikap yang dibuat paling gagah, dia
memberi hormat dan berkata, "Kalau paduka
mengijinkan, saya akan menghadapi tantangan
jagoan raksasa ke dua dari Raja Muda Baducin."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Perlihatkan kemampuanmu kalau kau ingin
kami beri kedudukan yang tinggi," kata sang
pangeran.
Siauw Can mengangguk dan ketika dengan sikap
gagah dia membalik untuk menghampiri lawan, Ai
Yin berseru, "Heiiii! Ambilkan perhiasan di sorban
lawanmu itu untukku!"
Sang pangeran terkejut, akan tetapi karena
puterinya sudah terlanjur bicara, diapun tak dapat
berbuat sesuatu. Mendengar ini, Siauw Can
membalik memandang kepada puteri itu dengan
mata bersinar dan wajah berseri, bibirnya
tersenyum dan diapun menjura dengan dalam.
"Saya akan mentaati perintah paduka!" katanya
dan tentu saja Ai Yin yang manja itu menjadi
girang, tersenyum dan mengangguk. Melihat ini,
diam-diam Bi Lan merasa tidak enak. Ia sama
sekali tidak merasa cemburu, akan tetapii
menganggap bahwa sikap Siauw Can berlebihan.
Pemuda itu akan menemui banyak kesukaran
kalau bersikap seperti itu terhadap puteri
pangeran! Balum juga memperoleh kedudukan,
sudah bersikap seperti itu, sikap yang jelas sekali
menunjukkan bahwa pemuda itu tergila-gila oleh
kecantikan sang puteri. Atau mungkin juga oleh
kedudukan puteri itu, karena kalau hanya tertarik
oleh kecantikannya, tidak mungkin. Gadis itu
masih terlalu muda, dan mempunyai sifat genit
dan manja, dan mengenai kecantikannya, tidaklah
terlalu hebatt sehingga kiranya tidak akan cukup
untuk membuat seorang seperti Siauw Can tergilagila.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Siauw Can sudah berhadapan dengan
Gondulam. Tentu saja jagoan ke dua lebih berhatihati
dari pada saudaranya setelah melihat apa
yang dialami oleh Gondalu. Dia sama sekali tidak,
memandang rendah kepada lawannya, walaupun
pemuda itu kelihatan kecil saja baginya.
Dia sudah tahu bahwa orang Han banyak yang
memiliki ilmu silat aneh dan sama sekali tidak
terduga-duga, penuh rahasia. Maka, sebelum maju
dia telah mengerahkan kekuatan sihirnya, dibantu
oleh saudara kembarnya, sehingga ketika dia
melangkah maju, selain kedua lengannya terisi
kekuata sihir, juga bagi lawannya dia akan
nampak mengerikan dan dahsyat! Selain itu juga
dia menggosok-gosok kedua telapak tangannya dan
telapak kedua tangan itu mengeluarkan uap panas!
Begitu memandang wajah lawan dan melihat
wajah itu menggiriskan Siauw Can maklum apa
yang terjadi! Akan tetapi, dalam hatinya dia
tertawa.
Ia sendiri adalah putera dan murid mendiang
Cui-beng Sai-kong (Kakek Muka Singa Pengejar
Arwah), seorang yang ahli dalam hal ilmu hitam
dan sihir. Maka, biarpun tahu bahwa lawannya
mengeluarkan ilmu sihir sehingga membuat
wajahnya nampak menyeramkan. Dia
memejamkan kedua mata, berkemak-kemik lalu
menggosok kedua matanya dengan telapak
tangannya sendiri dan ketika dia membuka
kembali matanya, wajah Gondulam nampak biasa
saja!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Melihat kedua telapak tangan lawan
mengeluarkan uap, Siauw Can segera menghimpun
sin-kang dan menyalurkannya ke arah kedua
tangannya. "Sobat, tidak perlu menggunakan ilmu
setan menakut-nakuti anak kecil. Aku sudah siap.
Nah, majulah!" tantang Siauw Can sambil
tersenyum manis karena dia menghadap ke arah
sang puteri agar dara itu dapat melihat
senyumnya. Dan Ai Yin memang melihat semua
lagak pemuda itu. Ia berbisik kepada ayahnya.
"Ayah, orang itu hebat, ya?"
"Hemmm......" Pangeran Tua Li Siu Ti mengerling
kepadanya dengan alis berkerut. Di lubuk hatinya
dia merasa tidak senang kalau puterinya tertarik
kepada pemuda pendekar itu atau kepada
siapapun juga. Baginya, hanya ada calon tunggal
untuk puterinya, yaitu ponakannya sendiri, sang
putera mahkota atau panglima besar, Li Si Bin! Dia
tahu bahwa mereka masih saudara sepupu, samasama
bermarga Li. Akan tetapi pantangan menikah
antara marga yang sama hanya berlaku untuk
rakyat jelata. Keluarga kaisar boleh melakukan apa
saja tanpa ada pantangan, karena bukankah yang
membuat peraturan dan hukum adalah keluarga
kaisar pula? Yang penting, Li Ai Yin, anak
tunggalnya, harus menjadi isteri Li Si Bin dan
kelak menjadi permaisuri, itu merupakan satu di
antara cita-citanya!
Gondulam diam-diam terkejut melihat sikap
pemuda itu. Jelas bahwa pemuda itu tidak
terpengaruh kekuatan sihirnya dan ini saja
menunjukkan bahwa pemuda itu merupakan
lawan yang tangguh.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Huahhh.......!!" Dia mengeluarkan teriakan
parau dan tanpa membuang waktu lagi, Gondulam
sudah melakukan serangan kilat. Dia tidak mau
meniru saudaranya yang tadi gagal. Begitu
menyerang, dia menggunakan gerakan cepat
sambil mengerahkan seluruh tenaga. Menyerang
dengan dahsyat sekali sehingga tulang-tulangnya
mengeluarkan bunyi berkerotokan ketika kedua
tangannya mencakar-cakar seperti kaki harimau.
Siauw Can juga maklum akan kehebatan lawan.
Akan tetapi, tingkat kepandaian Siauw Can jauh
lebih tinggi daripada tingkat lawannya, Juga jauh
lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Bi Lan.
Maka, dengan berani dia menyambut dengan
kedua tangannya pula.
"Dukk! Dess.........!" Dua pasang tangan bertemu.
Sepasang lengan yang kokoh kuat dan besar dari
Gondulam bertemu dengan lengan Siauw Can yang
biasa saja besarnya, dan akibatnya, tubuh
Gondulam terhuyung ke belakang, sedangkan
Siauw Can tetap tegak dan tersenyum mengejek.
"Mana tenagamu? Keluarkan semua tenaga dan
kepandaianmu," kata Siauw mengejek. Ai Yin
bertepuk tangan, tepuk tangan tunggal di ruangan
itu, akan tetapi dara itu tidak merasa janggal atau
sungkan. Dan diam-diam sang pangeran juga
kagum kepada Siauw Can. Pemuda itu dalam
segebrakan saja membuat lawannya terhuyung.
Semua orang merasa heran, termasuk Raja Muda
Baducin. Hanya Bi Lan yang tidak merasa heran,
karena biarpun belum dapat mengukur sampai di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mana kehebatan Siauw Can, namun ia tahu bahwa
pemuda itu memang lihai bukan main.
Gondulam menjadi marah sekali ketika diejek.
Dia mengeluarkan suara menggereng seperti
binatang buas, lalu menyerang bertubi-tubi,
mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Kedua
tangannya itu kalau sampai dapat menangkap
bagian tubuh Siauw Can, tentu akan segera
menggunakan ilmu gulatnya dan jangan harap
Siauw Can akan mampu melepaskan dirinya lagi
sebelum seluruh tulangnya patah-patah! Akan
tetapi, pemuda inipun bukan seorang bodoh.
Selain memiliki pengalaman bertumpuk, pernah
menghadapi lawan-lawan yang jauh lebih lihai dan
berbahaya dibandingkan raksasa itu. Apa lagi
sekarang dia sedang berlagak untuk memancing
pujian dan kekaguman dari puteri jelita itu! Dia
sengaja hendak mempermainkan lawannya!
Dengan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang
tinggi, dia sengaja mengelak dengan langkahlangkah
aneh dan loncatan-loncatan gesit dan
lucu. Beberapa kali sengaja membiarkan tangan
lawan menyentuhnya, akan tetapi segera dia
mengelak sambil beberapa kali mencolek dan
mendorong tubuh lawan. Kalau dia mau, sejak tadi
dia akan mampu merobohkan lawan. Akan tetapi
dia memang sengaja membuat pertandingan itu
nampak seru! Padahal, Gondulam sendiri tahu
bahwa dia kalah jauh, akan tetapi karena pemuda
itu mempermainkannya. Ia menjadi marah sekali
dan menyerang dengan dahsyat dan mati-matian,
bahkan membabi buta.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Brettt...........!" Siauw Can merobek baju lawan
ketika dia mencengkeram baju itu dari belakang,
sehingga tubuh bagian atas lawan menjadi
telanjang.
Kalau saja di situ tidak ada Bi Lan dan puteri
pangeran itu, tentu akan direnggutnya lepas pula
celana lawan.
Kembali terdengar tepuk tangan dari puteri itu
yang bertepuk tangan gembira. Melihat ini, Bi Lan
menjadi semakin khawatir. Ia tahu bawa Siauw
Can menjual lagak, dan tahu pula bahwa gadis itu
adalah seorang dara remaja yang masih hijau dan
memang berpenampilan genit. Menghadapi seorang
pemuda tampan gagah dan berpengalaman seperti
Siauw Can, dara ingusan ini tentu amat mudah
jatuh!
"Ambilkan perhiasan itu untukku!" kata pula Ai
Yin di antara tepukannya.
"Baik, tuan puteri!" biarpun dihujani serangan
dari lawan yang semakin marah, Siauw Can masih
mampu menjawab. "Heiii, gajah bengkak! Tuan
puteri minta perhiasan sorbanmu, tidak cepat kau
serahkan?" katanya dan tiba-tiba tangan kirinya
dengan jari-jari terpentang menusuk ke arah mata
Gondulam.
Gerakan ini cepat dan tiba-tiba, membuat
Gondulam terkejut. Tentu saja dia tidak ingin
matanya menjadi buta tertusuk jari-jari tangan itu.
Dia cepat menangkis, bahkan mencoba untuk
menangkap tangan yang menusuk ke arah mata
itu, sambil menarik tubuh atas ke belakang. Akan
tetapi, pada saat itu Siauw Can sudah meloncat ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
atas, berjungkir balik dan tangannya menyambar
ke arah sorban di kepala lawan. Sebelum
Gondulam dapat mengelak atau menangkis,
perhiasan di sorbannya telah dapat dicabut oleh
Siauw Can dan dengan membuat salto beberapa
kali, tubuhnya sudah meluncur ke arah pangeran
dan puterinya.
Siauw Can turun dan memberi hormat kepada Ai
Yin sambil menyodorkan perhiasan itu kepada
sang puteri.
"Terima kasih, engkau hebat!" kata Ai Yin sambil
tertawa. Siauw Can sudah meloncat lagi ke depan
Gondulam yang kini berdiri dengan mata melotot
dan muka berubah merah sekali.
"Srattt!" Dia sudah mencabut pedang
bengkoknya dan nampak sinar menyilaukan mata
saking tajamnya pedang itu.
"Pemuda sombong, lawanlah pedangku kalau
engkau berani!" tantangnya.
"Heiii, bagaimana ini, Raja Baducin? Bukankah
paduka datang untuk menguji ilmu, bukan untuk
menyuruh pengawal paduka membunuh orang?
Kenapa menggunakan pedang?"
Sejak tadi wajah Raja Muda Baducin sudah
muram dan marah. Gondalu tadi telah kalah oleh
Bi Lan, hal itu saja sudah membuat dia kehilangan
muka, membuat dia bermuram wajah. Kini, jelas
nampak pula betapa Gondulam menjadi permainan
pemuda itu. Sekali ini benar-benar dia menderita
malu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Yang Mulia," katanya dengan kata-kata tanpa
senyum lagi. "Gondulam hanya menantang untuk
mengadu ilmu senjata. Kalau jagoan paduka itu
takut, biarlah tidak perlu dilanjutkan."
Mendengar ini, Siauw Can yang ingin mencari
muka, segera memberi hormat kepada sang
pangeran. "Maaf, Yang Mulia! Kalau raksasa ini
menantang saya untuk mengadu senjata, biarlah
akan saya layani dan paduka harap tidak merasa
khawatir. Dia dan pedangnya bagi saya hanya
seorang anak-anak yang memegang pisau mainan
saja!"
Mendengar ini, Ai Yin bersorak. "Horreee.....!
Bagus sekali! Layani raksasa itu, orang gagah!"
Mendengar teriakan puterinya, Pangeran Li Siu
Ti merasa tidak enak terhadap tamunya. Maka
diapun memesan, "Baiklah, akan tetapi jangan
sekali-kali membunuh orang!"
"Harap paduka jangan khawatir. Raksasa ini
tidak akan mati, juga tidak mengeluarkan
setetespun darah yang akan mengotori ruangan ini.
Akan tetapi kalau sekedar benjol-benjol di kepala
dan memar di badan, boleh, bukan?"
Semua orang tersenyum mendengar ini,
pertanyaan yang lucu akan tetapi juga
mengandung ejekan. Raja Muda Baducin berkata
kepada Gondulam dalam bahasa mereka sendiri,
"Gondulam, jangan membikin malu. Kerahkan
semua kemampuanmu!"
Melihat pemuda itu berdiri dengan tangan
kosong di depan Gondulam yang sudah mencabut
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pedang, tiba-tiba Ai Yin turun dari tempat
duduknya dan dengan tangan diangkat ke atas ia
berteriak. "Berhenti! Ini tidak adil! Raksasa itu
berpedang, kenapa jagoan tidak?"
Pangeran Li Siu Ti baru menyadari akan hal ini.
Tadi dia terlalu kagum dan girang melihat bahwa
tanpa disangka-sangka dia telah mendapatkan dua
tenaga yang hebat itu.
"Benar, dia harus menggunakan senjata!"
teriaknya.
"Harap paduka jangan khawatir, saya sudah
memiliki senjata. Inilah senjata saya!" kata Siauw
Can dan dia mencabut sulingnya, lalu
mendekatkan suling di mulut dan meniup sebuah
lagu rakyat yang indah! Tentu saja semua orang
kembali tertawa. Bagaimana orang menghadapi
raksasa yang memiliki pedang bengkok yang
setajam itu, menggunakan sebatang suling dan
bahkan meniup suling itu dalam sebuah lagu?
Tentu saja Gondulam semakin marah . Pemuda
itu sungguh amat meremehkan dia. ''Bocah
sombong, kaulihat pedangku!" bentaknya dan
diapun sudah menerjang ke arah Siauw Can
sambil menggerakkan peang bengkoknya
membacok. Pemuda itu masih enak-enak
melanjutkan lagunya, seolah-olah tidak melihat
ada pedang membacok ke arah lehernya!
"Iiihhhhh........!!" Ai Yin menjerit saking ngerinya
melihat pedang tajam itu mengeluarkan sinar dan
menyambar ke arah leher pria yang dikaguminya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akan tetapi, begitu pedang menyambar dekat
leher, Siauw Can meloncat dan bacokan itu luput,
akan tetapi dia masih melanjutkan tiupan
sulingnya, karena lagu tadi belum habis. Hal ini
buat Gondulam semakin marah. Seolah-olah
keluar uap dari hidung dan mulutnya ketika dia
menyerang tadi, membacok dan menusuk bertubitubi.
Makin lama semakin ganas karena
kemarahannya semakin menyala. Siauw Can
berloncatan ke sana sini, terus memainkan lagu
dengan sulingnya sampai lagu itu selesai.
"Singggg........!" Pedang menyambar dekat sekali
dengan pahanya. Akan tetapi berbareng dengan
habisnya lagu, suling itu bergerak menjadi sinar
putih dan menangkis pedang itu.
"Tranggggg........!!" Nampak bunga api berpijar
dan Gondulam terkejut setengah mati karena
hampir saja pedang bengkoknya terlepas dari
pegangan ketika bertemu suling. Dan kini dia yang
repot mengelak dan memutar pedang melindungi
tubuhnya karena suling telah berubah menjadi
gulungan sinar yang mengelilingi tubuhnya,
membuat matanya berkunang karena dia tidak
tahu lagi ke arah mana ujung suling itu menotok.!
Dan semua tangkisannya tidak ada yang dapat
menyentuh suling.
"Takkk!" Tiba-tiba kepalanya terpukul oleh
suling. Biarpun dia kebal dan kepalanya masih
terlindung sorban, namun rasa nyeri menyengat
kepalanya sampai menembus ke ulu hati! Dia
menjadi nekat dan mencoba untuk balas
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyerang dengan pedangnya, menusuk sampai
tiga kali.
"Trang-trang-trangg.......tokkk!"
Kembali kepalanya terkena pukulan, kini di
dekat tengkuk, membuat matanya berkunang.
Sambil menggereng, Gondulam menyerang lagi
membabi-buta, tidak lagi memperdulikan
keselamatan diri.
"Tak-tok-tokk!" Berturut-turut terdengar bunyi
nyaring ini dan ujung suling sudah menghantam
kepalanya, menotok tubuhnya di sana sini dan
paling akhir, suling itu mencongkel sorbannya
sehingga terlepas dari kepalanya yang ternyata
botak hampir gundul.
Dan sebelum Gondulam tahu apa yang terjadi,
tiba-tiba saja tubuhnya lemas dan diapun jatuh
terduduk seolah kedua kakinya menjadi lumpuh.
Kiranya dia telah terkena totokan yang ampuh,
yang menembus kekebalannya sehingga biarpun
hanya untuk sebentar, tetap dia tidak mampu
mempertahankan diri dan jatuh terduduk.!
Siauw Can sudah melompat menjauhinya,
menghadap sang pangeran dan puterinya, memberi
hormat dan Ai Yin menyambutnya dengan tepuk
tangan yang diikuti para pengawal sehingga riuh
rendah.
Biarpun mukanya menjadi pucat saking
marahnya, Gondulam harus mengakui
kekalahannya. Sorbannya terlepas, kepalanya yang
botak itu jelas memperlihatkan benjolan-benjolan
sebesar telur dan dia tadi telah jatuh.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Raja Muda Baducin bangkit dari tempat
duduknya, wajahnya sebentar pucat sebentar
merah. Kalau saja peristiwa ini terjadi bukan
dengan Pangeran Li Siu Ti, dia tentu dapat
menerima kekalahan dua orang jagoannya. Akan
tapi di depan pangeran yang dia tahu tidak suka
kepada orang Turki itu!
"Sudahlah, sekali ini aku mengaku kalah!
Pangeran, kami mohon diri, terima kasih atas
pelajaran yang kami terima di sini."
Pangeran Tua Li Siu Ti merasa tidak enak. Kalau
raja muda ini mengadu kepada kaisar, tentu dia
akan menerima teguran dari kakaknya, Kaisar
Tang Kao Cu. Maka diapun cepat bangkit berdiri.
"Raja Muda Baducin, harap paduka maafkan
kami dan pengawal kami. Marilah kita makan
minum dan beri kesempatan kepada kami untuk
menghaturkan maaf dalam perjamuan."
'Terima kasih, pangeran. Kami masih
mempunyai banyak urusan. Biarlah lain kali saja."
Raja Muda Baducin diikuti dua orang raksasa
kembar lalu keluar dari gedung itu, diantarkan
oleh Pangeran Tua Li Siu Ti sampai ke pekarangan
depan. Raja Muda itu lalu menaiki keretanya dan
diikuti rombongan pengawalnya, dia lalu
meninggalkan tempat itu dengan hati yang panas!
Pangeran Li Siu Ti memanggil Siauw Can dan Bi
Lan ke ruangan dalam dan mereka berkumpul
semua di sana. Pangeran Siu Ti, Poa Kiu, Li Ai Yin,
Siauw Can dan Bi Lan ynng memangku Lan Lan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Wajah pangeran itu berseri "Bagus! Bagus!
Sekarang baru aku yakin dan kami menerima
kalian bekerja di sini! Akan tetapi, coba
perkenalkan diri kalian kepadaku dan ceritakan
riwayat kalian.
"Apakah kalian ini suami isteri dan ini anak
kalian?" Ai Yin bertanya sambil mengamati wajah
Siauw Can dengan penuh kagum.
Siauw Can menggeleng kepala, "Bukan, tuan
puteri......"
"Ihh, aku bukan puteri raja! Jangan sebut tuan
puteri, sebut saja nona, dan namaku Ai Yin, Li Ai
Yin!"
"Maaf, siocia (nona). Begini, pangeran. Saya
bernama Siauw Can dan ia bernama Kwa Bi Lan.
Kami masih saudara misan. Saya hidup
sebatangkara, tiada orang tua tiada saudara,
Sedangkan adik misan Kwa Bi Lan inipun ditinggal
mati suaminya. Ia seorang janda yang mempunyai
seorang anak, yaitu Lan Lan ini."
"Hemm, anak yang manis. Siapa nama
keluarganya?" tanya sang pangeran sambil
memandang kepada ibu dan anak itu. Karena
Siauw Can sendiri tidak berani lancang
memperkenalkan bahwa Bi Lan adalah isteri
mendiang Sin-tiauw Liu Bhok Ki, maka diapun
tidak mau menjawab dan membiarkan wanita itu
sendiri yang menjawab.
"Nama keluarganya Liu, pangeran," kata Bi Lan.
Memang ia sudah mengambil keputusan untuk
merahasiakan bahwa Lan Lan sebenarnya adalah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
puteri pendekar Si Han Beng dan bernama Si Hong
Lan. Ia menganggap Lan Lan anaknya sendiri,
maka ia mengakui nama keluarganya sebagai Liu.
Pangeran Tua Li Siu Ti gembira sekali setelah
mereka memperkenalkan diri. "Kami senang sekali
menerima kalian sebagai pengawal-pengawal di
sini. Engkau, Siauw Can, engkau menjadi
pengawal pribadiku dan aku akan menyerahkan
tugas-tugas yang terpenting kepadamu. Engkau
boleh minta nasihat dari Poa Kiu dalam segala hal
karena dialah tangan kananku, orang
kepercayaanku. Selain dia, engkau tidak boleh
mengadakan perundingan dengan orang lain."
"Terima kasih, Pangeran!" kata Siauw Can
sambil memberi hormat dengan berlutut sebelah
kaki.
"Bukan pengawalmu saja, ayah! Kalau aku
sedang bepergian, akupun minta dikawal oleh
Siauw Can, agar aku merasa aman!" Li Ai Yin
berkata dan matanya bersinar-sinar memandang
kepada pemuda tampan dan gagah itu. Siauw Can
tahu diri dan pandai beraksi, dia hanya menunduk
seperti seorang pemuda yang alim!
"Ai Yin, selain dia ada Kwa Bi Lan di sini. Bi Lan,
engkau kami terima sebagai pengawal keluarga
kami, engkau tinggal di sini bersama puterimu,
menjaga keamanan di rumah ini, mengawal
keluarga kami kalau bepergian, dan juga kuangkat
menjadi guru dari Ai Yin. Ai Yin, bukankah engkau
selalu ribut ingin mencari guru silat yang pandai.!
Nah, engkau boleh belajar dari Bi Lan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ai Yin memandang kepada Bi Lan, lalu menoleh
ke arah Siauw Can, wajahnya berseri. "Akan tetapi,
akupun boleh minta petunjuk dari Siauw Can,
bukan? Kulihat dia lebih lihai dari Bi Lan!"
Sementara itu Bi Lan memberi hormat kepada
pangeran itu dan berterima kasih. Demikianlah,
mulai hari itu Kwa Bi Lan dan Lan Lan
mendapatkan sebuah kamar di bagian belakang
istana itu, tempat keputren. Ia dihadapkan kepada
isteri dan para selir pangeran, dan tentu saja ia
diterima dengan gembira oleh keluarga pangeran
yang merasa tenteram dengan adanya seorang
pengawal wanita yang berilmu tinggi di tengahtengah
mereka. Mereka akan dapat tidur lebih
nyenyak sekarang. Dan Lan Lan yang mungil dan
lincah itupun, segera dapat menarik perasaan suka
di antara para keluarga itu, apalagi karena
Pangeran Tua Li Siu Ti tidak mempunyai anak lain
kecuali Li Ai Yin yang kini sudah dewasa dan yang
berwatak keras terhadap keluarga ayahnya.
Adapun Siauw Can juga mendapatkan sebuah
kamar di bagian samping depan, di mana tinggal
pula para perwira pasukan pengawal yang kini
harus memandang Siauw Can sebagai atasan
mereka! Selain keluarga pangeran, semua pelayan
dan pengawal menyebut Siauw Can dengan
sebutan Siauw-taihiap (Pendekar besar Siauw) dan
Bi Lan disebut li-hiap (pendekar wanita).
Diam diam Siauw Can merasa girang bukan
main akan nasibnya yang amat baik. Tanpa
disangka-sangka, dengan mudah saja dia diangkat
menjadi pengawal pribadi dan kepala pengawal dari
Pangeran Tua! Sungguh merupakan kedudukan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang amat tinggi dan memberi harapan dan masa
depan yang amat cerah, karena dia tahu bahwa
pangeran itu merupakan orang yang kekuasaannya
besar, merupakan orang ke tiga setelah kaisar dan
putera mahkota. Dan di istana pangeran itu
terdapat Li Ai Yin yang jelas merupakan wanita
yang akan mudah dia dekati! Siapa tahu, melalui
gadis itu dia akan mendapatkan kedudukan yang
lebih tinggi lagi dari pada sekarang.
Bi Lan sendiri juga girang dengan keadaannya.
Ia hidup serba kecukupan. Juga Lan Lan berada di
antara keluarga yang baik. Keluarga pangeran itu
rata-rata ramah dan berpendidikan. Ia sendiri
tidak mempunyai banyak pekerjaan kecuali hanya
bersikap waspada menjaga keamanan keluarga itu.
Isteri dan para selir pangeran semua bersikap
manis kepadanya dan kepada Lan Lan. Hanya satu
hal yang membuat Bi Lan merasa tidak senang,
yaitu sikap Li Ai Yin. Memang, diakuinya bahwa
gadis yang lincah dan genit itu bersikap cukup
baik dan bersahabat dengannya, bahkan harus
diakui bahwa gadis itu memiliki bakat yang cukup
baik dalam ilmu silat. Akan tetapi, gadis itu terlalu
genit dan secara terbuka sering membicarakan
Siauw Can dengannya. Gadis itu jelas amat tertarik
dan kagum kepada Siauw Can! Gadis seperti ini
akan mudah tergelincir dan ia melihat bahaya
mengancam gadis remaja yang amat genit ini. Dan
ia merasa menjadi tugas kewajibannya untuk
mengamati gadis ini agar jangan sampai
terjerumus, walaupun ia belum menganggap Siauw
Can seorang pria yang berwatak buruk. Hanya
saja, pernah ia melihat sinar mata Siauw Can
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyala aneh ketika pemuda itu memandang Ai
Yin, dan iapun merasa khawatir.
-ooo0dw0ooo-
Beberapa hari kemudian, ketika Siauw Can
duduk di pos penjagaan depan istana, mengobrol
dengan dua orang perwira pasukan pengawal, tibatiba
terdengar derap kaki kuda dan seekor kuda
besar dibalapkan penunggangnya memasuki
halaman istana itu. Tentu saja hal ini merupakan
larangan dan semua penjaga sudah berloncatan,
termasuk dua orang perwira yang sedang asyik
mengobrol dan memberi keterangan tentang
keadaan dan tugas-tugas di situ kepada Siauw
Can. Siauw Can sendiri mengangkat muka dan
bersikap waspada. Siapa tahu penunggang kuda
itu akan membuat kerusuhan dan dia harus siap
siaga.
Akan tetapi, betapa herannya ketika dia melihat
para penjaga itu tiba-tiba menjatuhkan diri
berlutut menghadap si penunggang kuda yang
sudah menghentikan kudanya di pekarangan.
Bahkan dua orang perwira yang tadi bicara dengan
dia, juga berlutut kepada penunggang kuda itu.
Siapakah penunggang kuda yang dihormati seperti
itu oleh para penjaga? Siauw Can mengamati
penuh perhatian tanpa keluar dari pos penjaga.
Penunggang kuda itu adalah seorang laki-laki
muda. Usianya paling banyak duapuluh tiga
tahun, akan tetapi dia bersikap anggun dan gagah,
juga amat berwibawa. Pakaiannya seperti seorang
bangsawan muda, akan tetapi sederhana kalau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dibandingkan dengan para pemuda bangsawan
lainnya, dan biarpun pakaiannyya lebih mirip
seorang pelajar, namun jelas bahwa gerakannya
mengandung kekuatan besar. Terutama sekali
sepasang matanya, mencorong dan penuh wibawa,
seperti mata naga saja!
"Selamat datang, Yang Mulia Pangeran!" kata
kedua orang perwira itu sambil berlutut. Pemuda
itu memandang kepada dua orang perwira yang
berlutut itu sambil mengerutkan alisnya. "Kalian
perwira komandan pasukan pengawal di rumah
paman pangeran ini?" Suaranya tegas dan lantang.
"Benar, yang mulia!"
"Hemm, apakah kalian belum mendengar bahwa
aku paling tidak suka melihat kelemahan para
perajuritku? Setiap orang perajurit, termasuk
kalian, kalau bertemu denganku, harus
menghormat seperti perajurit menghormati
atasannya, panglimanya!"
Mendengar ini dua orang perwira dan anak buah
mereka cepat bangkit dan kini berlutut dengan
sebelah kaki, melintangkan lengan ke depan dada
dan menghormat secara militer! "Selamat datang,
Panglima Besar!" teriak mereka serentak. Wajah
yang gagah itu kehilangan kekerasannya dan
bibirnya tersenyum, mengangguk sedikit.
Melihat dan mendengar semua in Siauw Can
merasa betapa kedua kakinya gemetar. Kiranya
pemuda itu adalah Sang Putera Mahkota, juga
Panglima Besar Li Si Bin.! Inilah orangnya yang
telah berhasil menggulingkan Kerajaan Sui, dan
kemudian mengangkat ayahnya menjadi Kaisar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tang Kao Cu, sedangkan dia sendiri menjadi
putera mahkota dan juga panglima besar! Semua
itu sudah didengarnya akan tetapi tidak pernah dia
melihat tokoh ini, karena ketika kerajaan Sui
jatuh, dia berada di penjara, kemudian dikeluarkan
oleh Pangeran Cian Bu Ong dan menjadi pembantu
pangeran Kerajaan Sui itu yang mencoba untuk
melakukan pemberontakan terhadap kerajaan
Tang yang baru namun gagal, Setelah mengetahui
bahwa pemuda itu adalah Pangeran Li Si Bin,
Siauw Can cepat keluar dari dalam pos penjagaan,
langsung dia menghadap pangeran itu dan berlutut
dengan sebelah kaki seperti para perwira, memberi
hormat dengan sigapnya.
"Panglima Besar!" serunya dengan sikap hormat
dan siap.
Pangeran Li Si Bin memandang kepadanya dan
sejenak Siauw Can merasa seolah-olah seluruh
tubuhnya digerayangi sinar mata itu, membuat dia
merasa ngeri dan bulu tengkuknya meremang.
Belum pernah dia berjumpa dengan orang yang
memiliki wibawa sebesar ini!
"Hemm, engkau berpakaian seperti pelajar akan
tetapi memberi hormat seperti seorang perwira
militer! Engkaukah yang bernama Siauw Can dan
menjadi pengawal pribadi baru dari Paman
Pangeran Tua?"
Diam-diam Siauw Can terkejut dan dia mencatat
di dalam hatinya, bahwa selain wibawa yang amat
besar, juga putera mahkota ini memiliki kecerdikan
yang mungkin akan dapat membahayakan dirinya.
"Benar sekali, Yang mulia!" jawabnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Perwira, rawat kudaku ini, beri rumput yang
segar!" kata sang pangeran sambil menyerahkan
kendali kuda ke perwira yang cepat meloncat
berdiri dan menerima tugas itu.
"Minggirlah, jangan menghalangi jalan!" kata
pangeran Li Si Bin dan dengan gerakan wajar,
ketika dia melangkah maju hendak menuju ke
beranda depan, dia mendorong ke arah Siauw Can
yang masih berlutut dengan sebelah kaki. Dan
betapa kagetnya hati Siauw Can karena dari
tangan pangeran itu menyambar hawa pukulan
yang amat dahsyat, tanda bahwa pangeran
mahkota ini memiliki kekuatan sin-kang yang
hebat!
Dia menjadi serba salah. Dia tahu bahwa putera
mahkota itu tidak bermaksud menyerangnya,
melainkan mungkin sekali hanya ingin
mengujinya. Dia tidak boleh menangkis sehingga
membuat pangeran itu kesakitan, juga kalau dia
mengelak begitu saja dan dorongan itu luput,
berarti dia melakukan perlawanan. Maka dia
berpura-pura tidak tahu bahwa pangeran itu
mendorongnya dengan kekuatan sin-kang. Dia
bahkan mengerahkan tenaga membuat tubuhnya
kaku dan ketika terdorong, tubuhnya terlempar
dalam keadaan setengah berlutut dan turun lagi
sampai tiga meter di belakangnya, dalam keadaan
berlutut seperti tadi, seolah-olah dia adalah sebuah
arca yang dipindahkan Sedikitpun dia tidak
terguncang, dan keadaannya sama seperti tidak
berubah! Kalau pangeran itu telah memperlihatkan
kekuatan yang dahsyat, sebaliknya Siauw Can
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memperlihatkan ilmu meringankan tubuh yang
luar biasa pula!
Pangeran Li Si Bin memandang dan sinar kagum
memancar sebentar saja dari matanya. Dia
mengangguk dua kali lalu melanjutkan langkahnya
menuju beranda depan, dan meloncat masuk
istana itu begitu saja seperti memasuki rumah
sendiri. Hal ini tidaklah aneh. Pangeran Tua Li Siu
Ti adalah adik kaisar, jadi pamannya sendiri dan
dia sudah biasa keluar masuk ke rumah pamannya
itu secara kekeluargaan. Para penjaga pintu yang
melihatnya, segera memberi hormat. Mereka
melihat betapa pangeran mahkota tadi menegur
para perwira, maka merekapun tahu diri dan cepat
berlutut dengan sebelah kaki dan memberi hormat
secara militer!
Siauw Can menarik napas panjang ketika ia
bangkit berdiri. Kagum bukan main. Dengan hawa
pukulannya, pangeran mahkota itu telah dapat
membuat dia terlempar sampai tiga meter! Jelas
bahwa pangeran ini diam-diam memiliki tenaga
sin-kang yang amat kuat, dan mungkin memiliki
ilmu kepandaian silat yang hebat pula, jauh lebih
hebat dibandingkan dua orang raksasa kembar
pengawal pribadi Raja Muda Baducin! Dia harus
berhati-hati terhadap pangeran ini yang selain
berkuasa besar, juga lihai dan cerdik bukan main.
Dia mulai merasa khawatir karena darimana
pangeran mahkota itu mengenalnya kalau tidak
mendengar dari orang-orang Turki itu?
Keheranannya berkurang ketika dia ingat bahwa
putera mahkota tadi, sejak mudanya telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memimpin pasukan besar yang berhasil
menumbangkan Kerajaan Sui.
Seorang panglima besar seperti itu, sudah pasti
memiliki ilmu kepandaian tinggi. Seorang perwira
yang melihat betapa tubuh Siauw Can tadi
terlempar sampai tiga meter, hanya menduga
bahwa pengawal baru ini telah dikalahkan oleh
sang pangeran, maka dia menghampiri Siauw Can
dan berkata. "Taihiap, kepandaian Yang Mulia
Panglima Besar memang seperti dewa saja!"
Ucapannya mengandung kebanggaan seolah
hendak mengatakan bahwa bagaimanapun juga,
pemuda ini masih kalah oleh junjungannya! Siauw
Can hanya tersenyum, mengangguk dan diapun
melangkah memasuki istana dengan kepada
menunduk.
Sementara itu, di dalam taman bunga di sebelah
belakang istana, taman bunga yang indah, di dekat
kolam ikan emas, Ai Yin sedang berlatih ilmu silat,
di bawah pimpinan Kwa Bi Lan. Bi Lan memberi
pelajaran dasar-dasar ilmu silat yang diambilnya
dari ilmu silat Siauw-lim-pai, yaitu ilmu silat para
pendeta yang semula diajarkan hanya untuk
memperkuat dan menyehatkan badan, namun
kemudian oleh para murid bukan pendeta,
dikembangkan menjadi ilmu bela diri yang kokoh
dan tangguh. Ai Yin memang berbakat, dan
tubuhnya lentur. Apa lagi ditambah orangnya
memang genit, maka gerakan-gerakannya juga
penuh gairah!
"Bhe-si (Kuda-kuda) itu kurang sempurna,
siocia," kata Kwa Bi Lan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Eh, Bukankah punggung harus lurus ke atas,
kepala dikedikkan dengan pandang mata menatap
ke depan lurus. Kedua tangan santai di kedua
pinggang dengan kepala menelentang, dan kedua
kaki ditekuk bersiku lurus dan kekuatan
dipusatkan di tengah-tengah?" bantah Ai Yin. Ia
sedang membuat kuda-kuda yang disebut
"menunggang kuda" dengan kedua kaki ditekuk
menjadi siku, dipentang seperti orang menunggang
kuda. Ia sudah melatih kuda-kuda ini berhari-hari
lamanya, seperti anjuran Bi Lan bahwa ilmu silat
yang baik memiliki dasar kuda kuda yang kuat
karena ibarat membuat bangunan, kuda-kuda
merupakan tiangnya, maka harus kokoh kuat dan
tidak boleh bosan berlatih. Pada hari-hari pertama,
seluruh tubuh Ai Yin terasa nyeri, terutama sekali
di bagian betis dan belakang paha. Untuk jongkok
saja rasanya kaku dan nyeri. Akan tetapi kini rasa
nyeri sudah banyak berkurang dan mendengar
kuda-kuda itu masih dikatakan kurang sempurna
tentu saja ia menjadi kecewa dan membantah.
"Memang sudah tepat, siocia, hanya sedikit
kesalahannya."
"Di bagian mana yang salah?"
Kwa Bi Lan tersenyum geli. "Di pinggul itu,
terlalu menonjol ke belakang!"
Sang puteri berdiri dan cemberut. "Ihh! Tentu
saja! Memang bukit pinggulku besar menonjol.
Bagus, ya?" Ia mengusap-usap pinggulnya dengan
bangga. Melihat ini, Bi Lan makin geli. Memang
pinggul puteri itu indah dan montok membusung,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
akan tetapi ketika memasang kuda-kuda tadi,
terlalu ditonjolkan belakang!
"Memang indah, siocia. Akan tetapi dalam
memasang kuda-kuda, haruslah punggung lurus
benar. Dari tengkuk sampai ke pinggul, jangan
ditonjolkan pinggul itu terlalu ke belakang."
Ai Yin memasang kuda-kuda lagi, kini menarik
sedikit tonjolan pinggulnya sehingga menjadi siku
benar.
"Nah, bagus begitu. Kalau terlalu ditonjolkan ke
belakang, perubahan gerakan kakimu bisa kaku
dan terlambat. Sekarang tirukan gerakanku. Ini
merupakan jurus baru, siocia."
Dengan penuh perhatian Ai Yin meniru gerakan
silat Bi Lan, sedangkan Lan Lan bermain-main
dengan daun-daun kering yang rontok terlanda
angin. Dengan tekun kedua orang wanita cantik ini
berlatih silat sampai Ai Yin berkeringat, dan
napasnya agak memburu sehingga ia
menghentikan gerakannya. Ia telah pandai
memainkan belasan jurus ilmu silat yang indah
dan tangguh.
"Bagus sekali!" terdengar seruan disusul tepuk
tangan.
Ai Yin dan Bi Lan cepat membalikkan tubuh dan
Bi Lan mengerutkan alisnya ketika melihat seorang
pria muda telah berdiri di situ. Muncul dari balik
sebatang pohon dan kini bertepuk tangan memuji.
Betapa kurang ajarnya laki-laki ini, pikirnya dan ia
memandang dengan curiga, dan siap
menghadapinya kalau orang ini hendak membuat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
keributan. Akan tetapi, kalau tadinya ia mengira
sang puteri akan marah-marah, sebaliknya begitu
melihat laki-laki yang bertepuk tangan memuji itu,
Ai Yin tersenyum girang dan lari menghampiri.
"Aih, kiranya paduka yang datang, pangeran.!
Kenapa tidak memberitahu lebih dulu agar kami
dapat menyambut." Dan Ai Yin cepat memberi
hormat dengan setengah berlutut.
Pemuda itu menyentuh pundak Ai Yin dan
berkata, "Bangkitlah, Ai Yin. Kita ini keluarga
sendiri, mengapa harus memberi kabar lebih dulu?
Dan aku girang sekali tadi tidak memberi kabar
sehingga dapat melihat engkau berlatih silat.
Engkau hebat! Kelak tentu akan menjadi seorang
wanita sakti. Ha-ha-ha kelak suamimu harus
berhati-hati, jangan sampai membuat kesalahan
padamu, bisa remuk kepalanya, ha-ha..!"
Ai Yin juga tertawa gembira. Bi Lan tertegun.
Inikah putera mahkota yang juga menjadi panglima
besar itu? Inikah putera kaisar yang pernah ia
dengar dari Siauw Can? Bukan main! Masih begini
muda sudah dapat memimpin rakyat dan
menggulingkan pemerintah Kerajaan Sui! Bahkan
mendiang suaminya pernah bicara tentang Li Si
Bin sebagai seorang pemuda yang menerima
petunjuk Tuhan sehingga mampu menggerakkan
peran rakyat jelata! Namanya berada di ujung bibir
setiap orang yang memuji dan memujanya. Inikah
orangnya?
Pangeran itu sudah menggandeng tangan Ai Yin
dan menghampirinya. Melihat Kwa Bi Lan hanya
berdiri tertegun, Ai Yin segera berseru, "Heii, enci
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bi Lan. Cepat beri hormat. Ini adalah kakak
sepupuku, yang mulia Pangeran Mahkota Li Si Bin,
panglima besar yang namanya sudah
menggetarkan seluruh kolong langit!"
Bi Lan cepat memberi hormat kepada pangeran
itu, kemudian ia memondong Lan Lan dan berdiri
dengan kepala tertunduk, karena pangeran itu
mengamatinya dengan pandang mata tajam penuh
silidik. Mata itu! Mencorong seperti mata naga,
pikirnya dengan jerih. Wibawanya luar biasa,
membuat ia merasa dirinya menjadi kecil sekali.
"Engkaukah yang bernama Kwa Bi Lan dan kini
menjadi pengawal keluarga di rumah pamanku?"
tanya Pangeran Li Si Bin.
"Benar, pangeran," jawab Bi Lan lirih, diam-diam
merasa heran bahwa pangeran ini sudah
mendengar pula tentang dia.
"Bukan hanya pengawal keluarga, pangeran.
Akan tetapi juga menjadi guruku. Akan tetapi aku
tidak mau menyebutnya subo (ibu guru). Lihat ia
masih begitu muda dan cantik, bagaimana aku
dapat menyebutnya subo? Enci Bi Lan, kau belum
memberitahu, berapa sih usiamu?"
Bi Lan merasa canggung dan sungkan sekali.
Kalau mereka berada berdua saja, tentu semua
pertanyaan pribadi dari Ai Yin akan dijawabnya
dengan senang hati. Akan tetapi kini pertanyaan
tentang umur ditanyakan di depan seorang pria,
walaupun pria itu adalah putera mahkota dan
panglima besar! Betapapun juga, ia tidak berani
untuk tidak menjawab, maklum akan kekerasan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hati Ai Yin yang mudah tertawa, mudah menangis
dan mudah marah-marah itu.
"Duapuluh empat tahun, siocia," jawabnya lirih
sambil menundukkan mukanya. "Sungguh
membuat orang kagum.!" Kata pangeran itu
dengan suara lirih dan sungguh-sungguh, tidak
bernada mengeluarkan pujian kosong atau merayu
belaka.
"Seorang wanita semuda ini sudah dapat
memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan mampu
mengalahkan seorang jagoan seperti Gondalu!
Sungguh paman pangeran beruntung sekali
mendapatkan seorang pengawal keluarga seperti
nyonya muda ini. Akan tetapi, sungguh
menyedihkan dan mengharukan, wanita semuda
ini telah menjadi seorang janda dengan seorang
anak."
Berdebar rasa jantung dalam dada Bi Lan.
Ucapan itu begitu jujur dan sempat membuat ia
terharu, akan tetapi ia tetap menunduk dan tidak
menjawab, hanya mendekap Lan Lan ke dadanya.
"Pangeran belum melihat kakak sepupunya yang
bernama Siauw Can. Dia lebih lihai lagi dan
sekarang menjadi pengawal pribadi ayah!" kata Ai
Yin.
"Aku sudah bertemu dengan dia di luar tadi,"
kata Pangeran Li Si Bin, lalu dia kembali
memandang kepada Bi Lan yang menunduk saja.
"Kwa Bi Lan, kulihat tadi engkau mengajarkan
kuda-kuda dan jurus-jurus ilmu silat Siauw-limpai.
Apakah engkau murid Siauw-lim-pai?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bi Lan terkejut. Kiranya pangeran ini
berpemandangan tajam dan pasti pandai ilmu silat
maka dapat mengenal jurus-jurus Siauw-lim-pai.
Tanpa mengangkat muka ia mengangguk. "Benar,
pangeran...... "
-ooo0dw0ooo-
Jilid 12
"Bi Lan, angkat mukamu dan pandanglah aku
kalau bicara denganku. Aku tidak suka bicara
dengan orang yang selalu menundukkan mukanya
seperti orang yang menyembunyikan kesalahan."
Ucapan itupun bukan kata-kata yang mengandung
kemarahan, akan tetapi mengandung perintah
yang mutlak dan tidak mungkin dapat dibantah
atau tidak ditaati.
Bi Lan mengangkat muka memandang.
"Hamba pernah menjadi murid Siauw-lim-pai,
pangeran...." katanya lirih, hamper tidak kuat
menahan sinar mata mencorong seperti naga itu,
yang memandang kepadanya dengan bersih dan
jujur akan tetapi seperti hendak mengukur
kedalaman isi hatinya.
"Hemm, sekarang ini jarang ada pendekar
Siauw-lim-pai yang benar-benar memiliki
kepandaian tinggi. Sungguh sayang. Kelaliman
Kerajaan Sui telah menghancurkan Siauw-lim-pai,
sehingga ketuanya membakar diri! Sekarang aku
bertemu murid Siauw-lim-pai yang pandai. Bi Lan,
coba kau perlihatkan ilmu silatmu dengan
melayaniku beberapa jurus."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah berkata demikian, Pangeran Li Si Bin
sudah menuju ke tempat tadi kedua orang wanita
itu berlatih silat, yaitu di lapangan rumput yang
luas dekat kolam ikan.
Bi Lan menunduk lagi. "Hamba.......hamba tidak
berani, pangeran......"
Pangeran Li Si Bin mengerutkan alisnya. "Ini
perintah, Kwa Bi Lan!"
Ai Yin segera berkata. "Enci Bi lan, ayah sendiri
tidak akan membangkang terhadap perintah
pangeran Mahkota, apalagi engkau!" ia lalu
menghampiri Bi Lan dan memondong Lan Lan,
"Kupangku dulu Lan Lan, kau layani pangeran!"
Bi Lan terkejut. Hampir ia lupa bahwa pangeran
yang berada di depannya ini merupakan orang
yang paling berkuasa di kerajaan Tang! Bahkan
menurut Siauw Can, kaisar sendiri, ayah pangeran
ini, masih kalah besar kekuasaannya!
Maka ia cepat memberi hormat lalu bangkit dan
menghampiri pangeran yang sudah berada
dilapangan rumput.
Pangeran itu tersenyum senang.
"Nah, begitu sebaiknya, Bi Lan. Aku ingin
melihat apakah engkau tepat untuk melatih
pasukan pengawal wanita di istana yang sedang
kupersiapkan! Bah, kau maju dan seranglah aku,
dan jangan sungkan atau takut. Keluarkan
kepandaianmu agar aku dapat menilainya."
Tepat dugaannya. Pangeran ini hendak menguji
kepandaiannya dan mendengar bahwa pangeran
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ini ingin agar ia melatih pasukan pengawal di
istana, jantungnya berdebar penuh ketegangan. Ia
akan menjadi pelatih di istana Kaisar! Bukan main!
Tak pernah ia bermimpi untuk dapat memasuki
istana Kaisar, apalagi menjadi pelatih di sana.
Ia melihat betapa pangeran itu sudah memasang
kuda-kuda yang kokoh. Kuda-kuda yang
dikenalnya sebagai kuda-kuda ilmu silat aliran
Kun-lun-pai, maka iapun cepat menyalurkan sinkang
ke arah kedua tangannya, kemudian
menggeser kakinya maju, mengangkat kedua
tangan ke depan dada sebagai penghormatan,
kemudian berkata lembut, "Maafkan hamba!"
"Mulailah!" Pangeran Li SI Bin tampak gembira
sekali melihat gerakan kaki dan tangan wanita itu
yang biarpun nampak lembut dan indah, namun
mengandung tenaga sin-kang yang membuat setiap
gerakan itu Nampak mantap berisi.
Bi Lan tidak ragu-ragu lagi setelah melihat
betapa pangeran itu memang seorang ahli silat. Ia
menerjang maju dengan pukulan tangan terbuka,
dan mempergunakan jurus-jurus ilmu silat Siauwlim-
pai yang pernah dipelajarinya sebelum ia
menjadi murid Sin-tiauw Liu Bhok Ki. Tentu saja ia
memilih jurus-jurus terampuh, dan karena ia telah
memperoleh kemajuan dalam hal sin-kang dan ginkang
setelah belajar kepada Sin-Tiauw Liu Bhok Ki,
tentu saja gerakannya jauh lebih hebat
dibandingkan sebelumnya. Gerakannya cepat dan
setiap serangannya mengandung tenaga yang kuat
sekali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bi Lan menjadi kagum. Kiranya pangeran itu
benar lihai sekali, melampaui dugaannya. Setiap
serangannya dapat dielakkan atau ditangkis oleh
pangeran itu, dan setiap kali lengan mereka
bertemu, ia merasa betapa lengannya tergetar
hebat!
Agaknya Pangeran Li Si Bin tidak main-main
dalam menguji wanita itu. Ia memang
membutuhkan seorang pelatih yang baik untuk
regu pengawalnya yang baru dibentuknya. Dia
sedang membentuk sebuah regu pengawal wanita,
terdiri dari para dayang, gadis-gadis muda pilihan
untuk menjaga keamanan keluarga di dalam
istana, sehingga tidak perlu menggunakan
pengawal thai-kam (orang kebiri). Memang banyak
jagoan silat di istana, akan tetapi kalau dia
menyuruh seorang jagoan untuk melatih dan
menggebleng regu pengawal wanita itu, tentu akan
terjadi hal-hal yang tidak enak. Dia tidak dapat
menyalahkan para jagoan itu. Siapa dapat
bertahan diri menghadapi seregu dayang yang
muda dan cantik-cantik itu? Maka, sebaiknya
mencari pelatih seorang wanita pula dan kalau
Kwa Bi Lan ini mempunyai kepandaian tinggi
seperti yang didengarnya, dia akan minta agar
wanita ini menggembleng regunya itu.
Karena dia ingin mengukur Bi Lan, maka
Pangeran Li Si Bin segera membalas serangan Bi
Lan dengan serangan yang tak kalah hebatnya!
Bi Lan cepat mengelak dan mengandalkan
kecapatan gerakannya untuk menghindarkan diri.
Akan tetapi pangeran itupun dapat begerak cepat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengimbangi kecepatannya, sehingga sejenak Bi
Lan terdesak dan main mundur sambil mengelak
dan menangkis! Karena pangeran itu terus
mendesak, tiba-tiba Bi Lan mengubah gerakannya
dan tubuhnya mencelat ke udara lalu ia menukik
dan menyambar bagaikan seekor burung rajawali.
Ia telah memainkan ilmu silat Hui-tiauw Sin-kun (
Silat sakti Rajawali terbang ), yang dipelajarinya
dari mendiang suaminya!
Begitu ia menyerang dengan ilmu silat ini,
keadaannya menjadi terbalik! Kini pangeran itu
terdesak dan berulang-ulang dia berseru kaget dan
kagum. Dengan serangan yang menyambarnyambar
seperti itu, pangeran Li Si Bin nampak
bingung dan beberapa kali hampir saja tangan Bi
Lan mengenai pundak dan dadanya.
Akan tetapi tentu saja wanita itu tidak berani
melanjutkan serangannya dan selalu menarik
kembali serangannya, apabila serangannya hampir
mengenai sasaran.
"Cukup....!" Pangeran Li Si Bin berseru dan Bi
Lan meloncat mundur, merangkap kedua tangan
memberi hormat.
"Harap paduka memaafkan hamba....."
"Wah, engkau memang hebat!" Pangeran itu
berseru, "Akan tetapi, ilmu silatmu yang terakhir
tadi tentu bukan dari Siauw-lim-pai!"
"Maafkan hamba, karena paduka tadi mendesak,
terpaksa hamba mempergunakan ilmu simpanan
itu yang memang bukan dari Siauw-lim-pai."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pangeran Li Si Bin mengerutkan alisnya. Dia
merasa penasaran karena sudah banyak dia
mengenal ilmu silat, akan tetapi ilmu silat yang
menyambar-nyambar dan membingungkannya
seperti tadi belum pernah dilihatnya.
"Ilmu silat apakah itu?"
"Namanya Hui-tiauw Sin-kun."
"Hemm, memang pantas. Engkau menyambarnyambar
bagaikan burung rajawali saja. Dari siapa
engkau mempelajari ilmu hebat itu, Bi Lan?"
"Dari.... mendiang suami hamba pangeran."
"Siapakah mendiang suamimu yang lihai itu?"
"Namanya Liu Bhok Ki...."
"Si Rajawali Sakti? Aih, pantas. Kiranya engkau
isteri seorang pendekar besar. Hemm, jadi engkau
ini isterinya dan dia sudah meninggal dunia?
Engkau janda pendekar itu dan itu......anakmu?"
Pangeran Li Si Bin menunjuk kepada Lan Lan.
"Benar, pangeran ."
Pada saat itu muncul Pangeran Tua Li Siu Ti
sambil tertawa-tawa. Biarpun dia paman dari
pangeran muda ini, namun karena kedudukannya
kalah tinggi, Pangeran Li Siu Ti lebih dulu member
hormat kepada keponakannya.
"Pangeran, sudah lamakah dating berkunjung?
Ai Yin, kenapa tidak member tahu kepadaku?"
"Kanda pangeran menguji kepandaian enci Bi
Lan, ayah," kata Ai Yin gembira dan bangga karena
gurunya membuat pangeran itu kagum.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Maaf, paman," kata pangeran Li Si Bin. "Saya
mendengar tentang dua orang anda yang menjadi
pengawal di sini. Saya kagum sekali setelah
menguji kepandaian Kwa Bi Lan. Paman memang
beruntung sekali mendapatkan dua orang muda
itu sebagai pengawal pribadi. Setelah menguji Kwa
Bi Lan, saya ingin mengajukan sebuah permintaan
kepada paman, harap paman suka
mengabulkannya."
Diam-diam pangeran Tua Li Siu Ti merasa
khawatir. Mungkinkah putera mahkota ini tertarik
kepada Bi Lan dan ingin mengambilnya untuk
tinggal dalam istananya sendiri? Kalau demikian
halnya, dia akan kehilangan sekali. Sukar mencari
pengganti seorang wanita perkasa seperti Bi Lan.
Tentu saja dia tidak berani menyatakan
kekhawatirannya ini.
Tidak demikian dengan Ai Yin. Biarpun dia
selalu bersikap ramah dan sopan penuh hormat
kepada putera mahkota yang ia tahu memiliki
kekuasaan tertinggi, akan tetapi gadis ini lebih
berani dan terbuka, tidak seperti ayahnya.
Maka iapun segera berkata, "Aihh, kanda
pangeran, apakah paduka akan membawa enci Bi
Lan pindah dari sini ke istana paduka? Lalu
bagaimana dengan saya?"
Pangeran Li Si Bin tersenyum. "Tidak, Ai Yin,
aku hanya ingin agar ia suka melatih pasukan
dayang pengawal khusus di istana, setiap hari
beberapa jam saja. Tentu saja kalau paman
pangeran membolehkan dan terutama sekali kalau
Bi Lan yang bersangkutan tidak berkeberatan."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bi Lan terbelalak. Pangeran ini yang
kekuasaannya demikian besar, ternyata masih
bersikap demikian lunak! Kalau ia tidak
berkeberatan? Sungguh sikap yang sama sekali
tidak pernah disangkanya, dan sikap pangeran ini
membuat Bi Lan semakin kagum dan suka sekali
kepada pangeran muda yang rendah hati dan tidak
sewenang-wenang itu.
"Aih, tentu saja saya setuju, pangeran!" kata
Pangeran Tua Li Siu Ti dengan ramah.
"Bagus! Terima kasih, paman. Dan bagaimana
dengan engkau Bi Lan? Maukah engkau
membantuku melatih pasukan dayang agar mereka
dapat menjadi pengawal yang dapat diandalkan?
Setiap hari tiga atau empat jam saja dan untuk
jerih payahmu itu, tentu saja kami akan memberi
imbalan."
"Hamba akan mentaati perintah paduka,
pangeran." Kata Bi Lan dengan wajah berseri.
Entah bagaimana, ia merasa senang dapat bekerja
kepada seorang pangeran seperti ini.!
"Baik, terima kasih. Mulai besok pagi, aku akan
menyuruh jemput dengan kereta, setelah selesai
melatih, engkau akan diantar kembali kesini
dengan kereta. Kalau anakmu itu tidak dapat
berpisah darimu, boleh kau ajak ke istana." Setelah
berkata demikian, Pangeran Li Si Bin berpamit dari
rumah pamannya dan iapun melangkah keluar,
diantar oleh Pangeran tua Li Siu Ti sampai di
depan istananya.
00000ooooo000
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Betapa indahnya taman itu, seperti taman sorga
dalam dongeng. Matahari senja Nampak bulat
merah redup, seperti sebuah lampu gantung yang
besar dan bulat. Matahari sudah hamper
menyelesaikan tugasnya sehari penuh dan biarpun
nampaknya tidak berkuasa dan bersinar lagi,
namun bekas kekuasaannya masih nampak
membakar langit. Langit kebakaran, merah kuning
dan ada garis-garis biru putih di sana-sini, adapula
warna seperti lautan perak dihias awan putih
lembut begumpal-gumpal seperti sekawanan
domba putih sedang berangkat pulang ke kandang.
Keindahan alam yang membuat hati terasa
nyaman, membuat orang ingin bersenandung. Dan
sesosok bayangan seorang pria menghampiri. Bi
Lan tersenyum dan perasaan hangat mesar
menyelubungi hatinya. Betapa besar cinta
kasihnya kepada suaminya! Suaminya, Sin-tiauw
Liu Bhok Ki menghampirinya dengan langkahnya
yang tegap, dengan wajahnya yang jantan, dengan
sinar matanya yang penuh kasih dan penuh
kebijaksanaan, dengan senyumnya yang
menenangkan hati.
Ketika suaminya mendekat sambil
mengembangkan kedua lengan, iapun membiarkan
dirinya tenggelam dalam pelukan mesra.
Bibir itu mengecup lehernya, panas. Terasa
betapa lehernya digigit dengan dengus penuh
nafsu. Suaminya tidak pernah berbuat hal seperti
ini. Suaminya selalu tenang dan tidak pernah
dilanda gairah nafsu yang menggelora seperti ini.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
'Thhh...!" ia merenggut dirinya lepas. Bukan
suaminya! Dan ia tidak berada di dalam taman, di
senja yang indah. Ia berada di dalam kamarnya, di
atas pembaringan dan yang tadinya muncul
sebagai suaminya dalam mimpi, ternyata adalah
Siauw Can atau Can Hong San! Ia tadi bermimpi!
Dan kenyataannya, Can Hong San telah memasuki
kamarnya seperti maling dan tadi telah
memeluknya dan mengecup, menggigit lehernya
dengan penuh nafsu.
"Kau.....!" bentaknya dengan lirih dan kini ia
sudah meloncat turun dari atas pembaringan.
Wajahnya menjadi merah dan terasa panas
sekali ketika melihat betapa kancing bajunya
bagian atas terlepas sebagian. Jari-jari tangannya
cepat mengancingkan kembali baju itu dan
matanya mencorong menatap wajah pemuda itu.
"Bi Lan ..Lan-moi.. ..engkau tahu betapa aku
mencintaimu, Lan-moi..! Aku cinta padamu dan
tidak tahan lagi,..Kuharap engkau tidak membuat
aku terpaksa menggunakan paksaan...."
Bi Lan teringat bahwa kepandaian pemuda ini
jauh lebih tinggi darinya dan kalau pemuda ini
menggunakan paksaan, mungkin ia tidak akan
mampu menghindarkan diri dari penghinaan, dari
perkosaan.
Cepat ia meloncat dan di lain saat, ia telah
berada di dekat pembaringan kecil di sudut, di
mana Lan Lan tertidur, dan sekali sambar, ia telah
memondong anaknya yang masih tidur itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kalau engkau tidak segera pergi, aku akan
berteriak dan melawan mati-matian, aku akan
melaporkan kepada Pangeran Tua dan Pangeran
Mahkota. Akan hancur semua pekerjaan kita
selama ini!"
"Lan-moi, kenapa....? Bukankah selama ini aku
baik kepadamu, selalu membantumu? Aku cinta
padamu, dan aku percaya bahwa engkaupun cinta
padaku."
"Cukup, pergilah atau aku akan berteriak!"
kembali Bi Lan mengancam. Hal ini sungguh tidak
disangka sama sekali Can Hong San atau yang
sekarang dikenal sebagai Siauw Can. Tadinya dia
merasa yakin bahwa kalau dia melakukan
pendekatan, janda muda itu tentu akan
menyambutnya dengan hangat. Dari sikap janda
itu, sinar matanya kalau memandangnya,
senyumnya, semuanya menunjukkan bahwa janda
itu kagum dan suka kepadanya. Apalagi kalau
diingat bahwa sejak pertemuan pertama, dia selalu
menolong janda itu, bukan saja
menyelamatkannya, juga selanjutnya
membimbingnya sehingga mereka berdua dapat
memperoleh kedudukan yang menyenangkan dan
mulia di rumah Pangeran Tua, bahkan janda itu
kini ditugaskan melatih pasukan dayang di istana!
Dia tahu betapa Bi Lan merasa berhutang budi
kepadanya, oleh karena itu, kalau dia melakukan
pendekatan, tentu Bi Lan akan menyambutnya
dengan mesra. Ketika tadi dia memperoleh
kesempatan, berhasil menyelinap memasuki kamar
janda itu, lalu merangkul, membelai dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengecupnya, dalam keadaan setengah sadar Bi
Lan menyambutnya dengan hangat. Akan tetapi,
kenapa sekarang keadaannya berubah sama
sekali? Tentu saja dia merasa kecewa bukan main,
kecewa, mendongkol dan menyesal. Sia-sia saja
semua kebaikan yang dilakukannya selama ini
terhadap Bi Lan.!
"Lan-moi, benarkah engkau menolak cintaku?
Engkau mengusirku?"
"Sudahlah, pergi cepat! Aku bukan menggertak
saja!" Bi Lan mencabut sepasang pedangnya yang
tergantung di dinding.
"Baik, aku pergi. Tak kusangka bahwa engkau
adalah seorang perempuan yang tidak mengenal
budi!"
"Dan aku tidak menyangka bahwa engkau
hanyalah seekor binatang buas berbulu domba!"
balas Bi Lan.
"Uhh!" Siauw Can keluar dari dalam kamar itu
melalui daun jendela, sepeti masuknya tadi. Bi Lan
menutupkan daun jendela, merebahkan kembali
Lan Lan, kemudian ia terhuyung dan menjatuhkan
diri di atas pembaringannya. Seluruh tubuhnya
gemetar dan lemas, dan iapun tak dapat menahan
diri lagi, menangis tanpa suara!
Betapa mengerikan bahaya yang tadi
mengancam dirinya. Kalau saja ia tidak bermimpi
bertemu mendiang suaminya, kalau saja ia tidak
sadar, betapa akan mudahnya terjeblos, betapa
akan mudahnya menyeleweng dan menyerahkan
dirinya kepada pemuda yang sesungguhnya amat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dikagumi dan disukainya! Dan kini ia menangis
bukan karena marah, melainkan karena
penyesalan melihat kenyataan yang amat pahit itu.
Siauw Can bukanlah pria seperti yang
dibayangkannya semula! Dan inilah yang
membuatnya kini menangis. Ia merasa kehilangan
seorang sahabat baik, seorang yang selama ini
dianggapnya seperti kakak sendiri. Bahkan ia
harus mengakui bahwa besar sekali
kemungkinannya kelak ia akan menerima cinta
kasih pemuda itu dengan hangat, dengan penuh
harapan. Akan tetapi kini semua telah musnah!
Semua telah hancur, karena perbuatan Siauw Can
malam itu. Ia kini merasa hidup seorang diri, dan
tidak dapat mengandalkan siapapun. Sementara
itu, Siauw Can memasuki kamarnya dengan wajah
muram. Berulang kali dia mengenal tinju dan
menyumpah-sumpah dalam hatinya. Dia telah
gagal sama sekali! Kegagalan yang sama sekali
tidak pernah dia bayangkan. Dia memang sengaja
hendak merayu Bi Lan, bahkan kalau perlu
menggunakan paksaan untuk menggauli janda itu.
Sekali
Bi Lan telah menyerahkan dirinya, dia tidak
akan kehilangan janda yang sesungguhnya telah
menjatuhkan hatinya itu. Dia mencintai Bi Lan.
Inilah yang memusingkan dirinya. Kalau tidak
demikian halnya, tentu dia tidak akan sekecewa
ini. Banyak wanita yang lebih cantik daripada Bi
Lan bias dia dapatkan. Akan tetapi dia mencintai
Bi Lan dan tidak ingin kehilangan Bi Lan. Tadinya,
usahanya malam ini adalah untuk mengikat agar
Bi Lan tidak akan terlepas lagi dari tangannya. Dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merencanakan hal yang lebih besar. Dia ingin
mendekati Li Ai Yin! Kalau dia berhasil
mendapatkan dara bangsawan itu, membuatnya
tergila-gila, dan berhasil menjadi mantu Pangeran
Tua, tentu dia memperoleh kemajuan yang hebat!
Dan biarpun hal itu tetjadi, kalau Bi Lan sudah
berhasil dikuasainya, tentu Bi Lan tidak dapat
berbuat sesuatu! Kelak dia menikah dengan Ai Yin,
dan Bi Lan menjadi selirnya. Betapa akan
membahagiakan hatinya. Wanita yang akan
mengangkat derajatnya menjadi isterinya dan
wanita yang dicintanya menjadi selirnya!
Akan tetapi, dia telah gagal sama sekali! Bi Lan
menolaknya, dan ancaman Bi Lan bisa berbahaya.
Tidak, selama dia tidak mengganggu lagi, Bi Lan
juga tidak akan begitu bodoh untuk melaporkan
apa-apa kepada Pangeran Tua maupun Putera
Mahkota. Laporan yang tidak ada buktinya! Pula,
kalau melaporkan peristiwa semalam, kedua orang
bangsawan itupun tidak akan mencampuri, dan
andaikata kedua bangsawan itu tidak suka
kepadanya, tentu Bi Lan akan terbawa pula.
Siauw Can merebahkan diri tanpa melepas
sepatunya, rebah terlentang di atas
pembaringannya sambil melamun.
Kini dia telah tahu akan segala rahasia Pangeran
Tua. Pangeran itu merupakan orang yang
berambisi besar dan seorang pembenci Turki. Dan
dia sendiri telah menjadi orang kepercayaan
Pangeran Tua Li Siu Ti, disamping Poa Kiu. Baru
kemarin dia menerima tugas yang amat berat, akan
tetapi juga amat rahasia. Tugas itu saja
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menunjukkan betapa Pangeran Li Siu Ti percaya
sepenuhnya kepadanya. Dan jantungnya masih
berdebar tegang kalau dia mengenang kembali
tugasnya itu, yang dilaksanakan dengan baiknya
malam kemarin.
Sebelumnya dia sudah melakukan penyelidikan
sehubungan dengan tugas rahasia itu dan dia tahu
bahwa Gala Sing, putera Raja Baducin, pemuda
berusia tigapuluh tahun yang tukang pelesir dan
mata keranjang itu, malam itu berada di pondok
indahnya di luar kota raja. Seperti biasa, Gala Sing
bersenang-senang di pondoknya itu, dijaga oleh
seregu anak buahnya, tukang-tukang pukulnya.
Setelah membuat rencana dengan masak,
seorang diri dia menyusup ke dalam istana bagian
puteri dan tidak terlalu sukar baginya untuk
menangkap seorang selir kaisar, menotoknya
sehingga tidak dapat bergerak dan tak mampu
bersuara lagi. Dengan kepandaiannya yang tinggi,
Siauw Can berhasil memanggul selir yang
dimasukkannya ke dalam kantung kain besar itu
keluar dari tembok istana, bahkan membawanya
keluar dari kotaraja, menuju ke pondok indah
milik Gala Sing di lereng sebuah bukit kecil.
Gegerlah istana di malam hari itu.!
Beberapa orang dayang yang melayani selir itu,
hanya melihat bayangan hitam berkelebat,
berkedok dan selir itu diculik si bayangan hitam.
Mereka menjerit dan para pengawal segera
mencoba melakukan pencarian, namun sia-sia.
Bayangan itu telah menghilang bersama selir
kaisar. Mendengar ini, kaisar menjadi marah dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
malam itu juga, kaisar memerintahkan pasukan
keamanan untuk melakukan penggeledahan dan
pencarian di seluruh kota raja. Namun sia-sia saja
hasilnya.
Dan pada keesokan harinya, yaitu pagi-pagi tadi,
terjadi kejadian yang lebih menghebohkan lagi.
Para pengawal Gala Sing, pagi itu menemukan
majikan mereka, Gala Sing, sudah menggeletak di
atas pembaringan dalam keadaan telanjang bulat
dan mati! Dadanya terluka bekas tusukan pisau
yang menembus jantungnya! Dan di sampingnya,
Nampak selir kaisar yang sudah mati dengan
tangan kanan masih memegang pisau yang
menancap di dadanya sendiri.
Seperti keadaan Gala Sing, selir inipun mati
dalam keadaan telanjang bulat. Selain mereka
berdua, di lantai juga terdapat mayat lain, mayat
seorang gadis penari yang malam itu dipanggil oleh
Gala Sing untuk menemaninya bersenang-senang.
Juga penari ini tewas dengan tusukan di dada dan
leher.
Para penyelidik dari kota raja segera
berdatangan dan menurut pemeriksaan mereka,
selir itu telah diperkosa. Mudah saja diambil
kesimpulan melihat keadaan di kamar itu. Tentu
selir itu diculik orang, dan dibawa ke kamar itu,
diperkosa oleh Gala Sing. Kemudian selir itu
mendapat kesempatan untuk menyambar pisau,
menusuk Gala Sing, juga membunuh penari yang
mungkin membantu Gala Sing, kemudian untuk
mencuci aib, membunuh diri sendiri. Tidak ada
kemungkian lain lagi, kecuali kesimpulan itu!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Siauw Can tersenyum sendiri. Dia telah
bertindak cerdik sekali. Tugas rahasia itu adalah
agar Gala Sing dibunuh dan agar diatur supaya
terjadi bentrok antara pihak kaisar dan pihak Raja
Muda Baducin. Hanya itu tugasnya dan dia sendiri
yang mengatur siasatnya. Tentu saja dia yang
menculik selir itu dan tanpa setahu para penjaga di
luar pondok indah itu, dia berhasil membawa selir
itu masuk. Dia membunuh Gala Sing dan penari
itu. Dia pula yang memperkosa selir itu kemudian
membunuhnya, akan tetapi semua itu diatur
sedemikian rupa sehingga menimbulkan
kesimpulan di atas tadi!
Dan benar saja. Terjadi geger dan keadaan
menjadi gawat. Raja Muda Baducin marah-marah
dan berduka sekali karena putera tersayang tewas.
Juga kaisar mencak-mencak karena selirnya
diculik, diperkosa dan membunuh diri. Hal itu
dianggap suatu penghinaan besar sekali. Dan
Pangeran Tua Li Siu Ti merangkul pundaknya
dengan girang bukan main.
"Tidak percuma engkau menjadi tangan
kananku!" bisik pangeran itu setelah mendengar
berita yang menghebohkan itu. Dan sore tadi,
Pangeran Li Siu Ti dipanggil oleh kaisar. Tentu
diadakan rapat atau perundingan yang serius
sekali sehubungan dengan peristiwa itu sehingga
sampai malam pangeran Tua belum juga kembali.
Dan kesempatan itu dia pergunakan untuk
mendekati Bi Lan. Namun sekali ini dia gagal!
Tidak mengapa, dia menghibur diri sendiri. Bi
Lan tentu tidak akan berani menceritakan kepada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
siapapun juga. Andaikan diceritakanpun, apa
salahnya kalau dia menyatakan cintanya kepada
seorang janda, walaupun janda itu diakuinya
sebagai saudara misan? Tentu Bi Lan akan
ditertawakan orang dan hal itu bahkan
mendatangkan aib bagi dirinya sebagai janda
muda! Tidak, Bi Lan tidak akan membuka mulut.
Biarlah malam ini gagal, kelak masih banyak
kesempatan dan masih banyak cara untuk
membuat usahanya berhasil. Sekarang dia harus
mengatur langkah berikutnya, yaitu pendekatan
terhadap Li Ai Yin!
Siauw Can atau Can Hong San pernah menyesali
semua pernuatannya yang sesat, dan ketika dia
bertemu dengan Bi Lan, dia sedang berusaha
untuk menjadi orang baik! Dia ingin belajar
menjadi orang baik.
Kebaikan adalah suatu keadaan batin, keadaan
batin yang bersih dari pada pengaruh nafsu daya
rendah. Keadaan batin, yaitu akal pikiran yang
sepenuhnya digerakkan oleh jiwa, dibimbing
kekuasaan Tuhan Yang Maha Kasih! Belajar baik
atau melatih kebaikan hanya akan membuahkan
kemunafikan, karena kebaikan itu timbul dari
keinginan. Ingin Baik! Dan keinginan baik ini tentu
timbul pula ari keadaan. Seperti Hong San. Setelah
dia hidup bergelimang kejahatan, dia mendapat
kenyataan bahwa hidup secara itu tidak
mendatangkan keuntungan, bahkan membuat dia
selalu gagal dan sengsara. Kegagalan hidup dan
kesengsaraan yang diakibatkan oleh perbuatan
jahatnya itulah yang menimbulkan keinginan di
dalam hatinya, ingin menjadi orang baik!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tentu saja pamrihnya adalah agar akibat
perbuatan baik itu membuat dia berhasil dan
senang dalam hidupnya. Jadi, kebaikan itu
bukanlah sasaran mutlak, melainkan hanya akan
dipergunakan sebagai suatu cara untuk mencapai
tujuannya, yaitu kesenangan. Sasaran dari nafsu
hanyalah satu, yaitu kesenangan.!
Usaha seperti itu, yaitu belajar menjadi baik,
berlatih menjadi baik, jelas masih merupakan hasil
karya nafsu, karena sasarannya adalah
kesenangan sebagai akibat kebaikannya. Kalaupun
orang menjadi baik karena itu, maka kebaikannya
hanya merupakan kemunafikan belaka. Kebaikan
seperti itu hanya polesan, mudah luntur. Karena
yang diutamakan sasarannya, yaitu kesenangan,
maka kebaikan yang hanya menjadi cadar itu
dapat saja dengan mudah diganti dengan
kebalikannya, yaitu kejahatan, asalkan sasarannya
lebih cepat dapat dicapai, yaitu kesenangan.
Apakah kalau begitu kita tidak perlu belajar
menjadi orang baik? Siapa sesungguhnya yang
mengajukan pertanyaan seperti itu? Siapa yang
ingin belajar menajdi orang baik? Tentu saja
pikiaran, dan pikiran kita telah bergelimang nafsu,
telah dicengkeram oleh nafsu daya rendah. Dengan
keadaan seperti itu, apapun yang diusahakan
pikiran selalu hanya demi kepentingan diri pribadi.
Dan ini memang menjadi tugas dari pikiaran.
Pikiran merupakan satu di antara alat yang
membantu manusia agar hidupnya di dunia dapat
dipertahankan dpat diatur. Demikian pula dengan
daya-daya rendah yang menyertai jiwa dalam
kehidupannya sebagai manusia di dunia ini. DayaTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
daya rendah itu memang disertakan kepada kita
sebagai alat, sebagai pembantu.
Tanpa adanya nafsu-nafsu itu, kita tidak akan
hidup sebagai manusia. Akan tetapi, kalau sampai
nafsu-nafsu yang semula ditugaskan menjadi
pembantu kita itu dibiarkan meliar dan menjadi
majikan, mencengkeram dan menguasai hati dan
akal pikiran, maka kita akan diseret dan yang kita
kejar hanyalah kesenangan-kesenangan duniawi
yang membuat kita mabok dan tidak pantang
melakukan hal-hal yang amat buruk. Lalu
bagaimana daya kita? Kita hidup membutuhkan
nafsu, akan tetapi nafsu juga yang menyeret kita
ke dalam kegelapan. Kitapun tidak dapat
mengendalikan nafsu, karena kita yang ingin
mengendalikan inipun dikemudikan nafsu!
Tidak ada kekuasaan di dunia ini yang akan
dapat menguasai nafsu kecuali kekuasaan Sang
Maha Pencipta. Tuhan yang mencipta semua itu,
dan hanya Tuhan pula yang akan dapat mengatur
dan membereskan keadaan yang menyimpang dari
kebenaran itu. Kini manusia hanya tinggal
menyerah! Kita menyerah sepenuhnya dengan
tawakal dan ikhlas kepada Tuhan Yang Maha
Kuas, batin dan lahir. Batinnya menyerah kepada
Tuhan sebagai dasar yang kokoh, lahirnya kita
berusaha dan berikhtiar agar selalu melalui jalan
hidup yang benar. Dengan demikian terdapat
keseimbangan lahir dan batin. Doa dan kerja! Yang
dua ini harus selalu jalan bersama. Hidup
bagaikan naik perahu. Doa merupakan kemudinya,
kerja merupakan pendayungnya. Tanpa kemudi
perahu akan tersesat. Tanpa pendayung, perahu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
takkan maju. Tanpa kerjasama antara keduanya,
perahu akan ditelan ombak.
-ooo0dw0ooo-
"Sialan, semua siasat kita telah gagal akibat ulah
Pangeran Li Si Bin keparat itu!" Pangeran Tua Li
Siu Ti berjalan mondar-mandir di ruangan
rumahnya yang luas itu, wajahnya muram alisnya
berkerut dan kedua tangannya dikepal. Dia marah
sekali.
Yang menjadi saksi ulahnya ini hanya dua orang
saja, dua orang kepercayaannya, yaitu Poa Kiu dan
Siauw Can! Tentu saja kalau orang lain mendengar
ucapannya tadi, orang itu akan terkejut dan heran
bukan main mendengar pembesar itu berani
memaki Pangeran Li Si Bin! Kemudian tiba-tiba
pangeran tua itu menjatuhkan diri duduk di atas
kursinya berhadapan dengan dua orang
kepercayaannya dan berkata dengan tegas, "Kalian
berdualah yang kupercaya. Kalian harus
menemukan cara bagiku, dan harus berhasil! Poa
Kiu, pergunakan kecerdikanmu dan engkau Siauw
Can, pergunakan kepandaian silatmu!"
Siauw Can saling pandang dengan Poa Kiu.
Siauw Can atau Can Hong San diam-diam merasa
heran mengapa majikannya itu membenci benar
orang-orang Turki dan mengapa pula hendak
mengadu domba antara orang-orang Turki dengan
kaisar.
"Harap paduka ceritakan dulu, kenapa paduka
marah-marah? Bukankah tugas saya telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terlaksana dengan baik?" Tanya Siauw Can,
penasaran.
"Poa Kiu, kauceritakan kepadanya." Kata
Pangeran Tua Li Siu Ti. "Kauceritakan segalanya,
kemudian kalian berunding dan nanti sampaikan
usul-usul kalian kepadaku!" Setelah berkata
demikian, Li Siu Ti bangkit dan meninggalkan dua
orang kepercayaannya itu berbicara berdua saja di
ruangan tertutup itu.
"Sungguh heran, mengapa dia marah-marah?"
Tanya Siauw Can setelah pembesar itu pergi.
"Bukankah tugasku sudah kulaksanakan dengan
berhasil baik? Kenapa dia mengatakan siasat kita
gagal karena ulah Pangeran Li Si Bin? Apa artinya
itu?"
Poa Kiu menghela napas panjang. Pangeran Tua
Li Siu Ti sudah menceritakan segalanya kepadanya
dan dia tahu bahwa Siauw Can dapat dipercaya.
Bukankah tadi pangeran tua itu menyuruh dia
menceritakan segalanya kepada pemuda perkasa
itu?
"Tugas yang kaulaksanakan dengan baik itu
bertujuan mengadu domba antara orang-orang
Turki dan Kaisar memang hamper berhasil. Kaisar
marah-marah karena selirnya diculik dan
diperkosa dan dibunuh, dan raja Muda Baducin
juga marah-marah karena puteranya, Gala Sing,
terbunuh. Memang keduanya sudah siap untuk
saling menyalahkan dan kemungkinan besar
terjadi bentrokan dan permusuhan di antara
mereka. Akan tetapi muncullah Pangeran Li Si Bin
dan pangeran ini melerai, mengakurkan kembali
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Baducin dan Kaisar. Dia mengatakan bahwa
urusan pribadi tidak semestinya berkembang
menjadi urusan Negara. Dan dia menghibur kedua
belah pihak, mengatakan bahwa penculik dan
pemerkosa selir kaisar sudah terhukum dan
terbunuh, sebaliknya pembunuh Gala Sing juga
sudah membunuh diri. Keduanya sudah mati,
semua dendam sudah terbalas. Nah, turun
tangannya Pangeran Li Si Bin itulah yang membuat
keributan mereda, dan baik Baducin maupun
Kaisar sudah dapat menerima kenyataan dan tidak
marah-marah lagi."
Siauw Can mengangguk-angguk. Pantas saja
Pangeran Li Siu Ti marah-marah karena memang
semua jeruh payahnya itu sia-sia saja, tidak ada
hasilnya.
Sudah sejak dia diterima menjadi pembantu
pangeran Li Siu Ti, dia merasa heran mengapa
majikannya yang adik kaisar itu nampaknya tidak
suka kepada kaisar dan membenci orang Turki.
Kesempatan baik ini harus dia pergunakan untuk
mengetahui dasar pemikiran dan perasaan
majikannya, apalagi karena dia bercita-cita untuk
dapat menjadi mantunya!
"Paman Poa," kini sebagai rekan dia menyebut
paman kepada pembesar itu, "kalau boleh aku
mengetahui, kenapa Pangeran Li Siu Ti membenci
orang-orang Turki dan mengapa pula nampaknya
tidak suka kepada Pangeran Li Si Bin?"
Poa Kiu mengangguk-angguk. "Memang
sebaiknya kalau engkau mengetahui semuanya,
Siauw Can, dan pangeran juga sudah memberi ijin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepadaku untuk menceritakannya kepadamu."
Pembesar itu lalu menceritakan semua keadaan
dengan terus terang kepada Siauw Can.
Pangeran Tua Li Siu Ti merasa ikut berjasa
ketika terjadi gerakan menggulingkan Kerajaan
Sui. Ketika kakaknya, Li Goan, diangkat menjadi
kaisar pertama Kerajaan Tang sebagai Kaisar Tang
Kao Cu, Pangeran Li Siu Ti tentu saja
mengharapkan agar kelak dia menjadi pengganti
kakaknya, mengingat bahwa kakanya tidak
mempunyai anak laki-laki dari permaisuri. Akan
tetapi, ketika Li SI Bin menjadi putera mahkota,
mulailah dia merasa iri dan marah. Li Si Bin
hanyalah anak dari selir bangsa Turki! Perasaan iri
hati ini membuat ia membenci orang-orang Turki
yang membantu Li Si Bin.
"Demikianlah Siauw Can. Pangeran Tua Li Siu Ti
merasa bahwa dialah keturunan keluarga Li yang
asli setelah kakaknya, dan Pangeran Li Si Bin
hanyalah seorang berdarah Turki yang tidak
pantas menjadi putera mahkota dan kelak
menggantikan kedudukan kaisar. Karena orangorang
Turki itu mendukung Pangeran Li Si Bin,
maka mereka perlu disingkirkan, dan untuk itulah
engkau bertugas mengadu domba itu. AKan tetapi
ternyata siasat itu gagal, maka kita harus mencari
siasat baru."
Siauw Can menganggu-angguk. "Ah, kalau saja
tahu lebih dahulu, tentu aku tidak menyetujui
siasat mengadu domba itu. Bagaimana mungkin
mereka diadu domba kalau Pangeran Li Si Bin
berdarah Turki pula? Tentu dia akan selalu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menentang perpecahan di antara mereka.!
Sebaiknya diatur agar kedudukan pemerintahan
menjadi lemah dengan jalan membujuk Kaisar dan
Putera Mahkota agar tenggelam ke dalam
kesenangan dan kurang memperhatikan
pemerintahan. Dengan jalan demikian, para
pejabat tinggi dan rakyat akan merasa tidak suka
kepada kaisar. Kalau sudah begitu, baru ada
kemungkinan menjatuhkan mereka. Sementara
itu, Pangeran Li SIu Ti harus dapat mengangkat
namanya agar popular di kalangan rakyat. Juga
perlu mengumpulkan orang-orang pandai untuk
membantu."
"Hemm, kiranya di samping lihai ilmu silatmu,
juga engkau memiliki kecerdikan, Siauw Can.
Engkau telah dapat melihat cita-cita menjatuhkan
kaisar dan putera mahkota, agar kedudukan kaisar
dapat beliau kuasai. Dan kalau kita membantu
sekuat tenaga, kita akan dapat menikmati
hasilnya."
Siauw Can mengangguk-angguk. Dalam keadaan
seperti itu, dia harus menempel orang kurus
bungkuk ini! "Baik, paman Poa Kiu. Aku akan
membantumu sekuat tenagaku. Bahkan semua
usulku tadi anggap saja sebagai buah pikiranmu
sendiri terhadap pangeran. Engkauolah yang
mengatur semuanya, aku yang melaksanakan.
Engkau menjadi otak pangeran, aku yang menjadi
kaki tangannya. Tentu kita harus saling bantu,
bukan?"
Poa Kiu amat cerdik. Dia tahu bahwa ada udang
di balik batu, maka dia harus mengetahui udang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
macam apa itu. "Siauw Can, aku terima uluran
tanganmu. Nah, jangan ragu, katakan bantuan apa
yang dapat kuberikan padamu."
Siauw Can juga tidak kalah cerdiknya. Dia dapat
menjenguk isi hati orang itu, maka diapun tidak
merasa ragu lagi untuk membuka rahasia hatinya.
"Paman tentu mengerti bahwa seorang laki-laki
harus dapat memperhitungkan dan menyesuaikan
jalan pikiran dan perasaan hatinya. Nah. Terus
terang saja, hatiku tertarik oleh puteri Li Ai Yin,
dan aku jatuh cinta kepadanya. Aku yakin bahwa
tidak sukar menjatuhkan hati puteri itu. Kalau
saja aku dapat menjadi suaminya, maka seiringlah
jalannya perasaan dan pikiranku. Aku
mendapatkan isteri yang tercinta, juga aku
mendapatkan mertua yang kita bantu agar kelak
menjadi kaisar. Dengan demikian maka ikatan
hubungan di antara kita dapat lebih erat lagi.
Bukankah begitu, paman?"
Poa Kiu memandang kepada pemuda itu dengan
kagum. Pemuda ini memang hebat. Tinggi ilmu
silatnya, cerdik dan mempunyai ambisi yang besar!
Dia menagangguk dan mengelus jenggotnya yang
jarang. "Semua itu memang baik sekali, Siauw
Can. Akan tetapi dalam hubungan asmara ini,
bagaimana aku dapat membantumu?"
Siauw Can tersenyum. "Urusanku dengan Ai Yin,
tentu tidak perlu dibantu, karena itu tergantung
dari diriku sendiri. Akan tetapi setidaknya paman
dapat membantu agar aku nampak berharga di
mata pangeran, agar kelak tidak timbul tentangan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
darinya kalau tiba saatnya aku melamar
puterinya."
"Ahhh, baiklah. Itu mudah sekali, Siauw Can.
Tentu saja engkaupun harus memperlihatkan jasajasa
yang lebih banyak lagi."
"Kalau kita berkerja sama, pasti kita berdua
akan dapat membuat jasa, paman."
"Akan tetapi, bagaimana dengan nyonya muda
Kwa Bi Lan, adik misanmu itu? Apakah ia akan
suka bekerja sama dengan kita?"
"Ia adalah seorang wanita dan ia belum tahu
akan kerjasama ini, ia belum tahu pula akan citacita
pangeran. Menghadapi wanita haruslah
berhati-hati dan tidak tergesa-gesa. Biarlah semua
ini kita rahasiakan dulu darinya dan perlahanlahan
aku akan membujuknya agar ia suka
membantu kita. Serahkan saja ia kepadaku, aku
akan berusaha untuk menundukkannya."
"Baik kalau begitu. Aku merasa agak khawatir.
Pertama, ia seorang wanita yang lihai dan kedua,
dan ini yang paling berbahaya, ia telah ditarik oleh
Pangeran Li Si Bin untuk melatih pasukan dayang
setiap hari. Ini berarti ia dekat dengan putera
mahkota dan bisa berbahaya sekali..."
"Atau bisa menguntungkan sekali!" kata Siauw
Can tersenyum. "Kalau aku berhasil
menundukkannya, bukankah kedekatannya
dengan putera mahkota itu mendatangkan
keuntungan besar? Ia dapat kita jadikan matamata
yang dapat selalu mengamati gerak-gerik
kaisar dan putera mahkota."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Poa Kiu tertawa girang. "Ah, engkau benar dan
engkau cerdik, Siauw Can. Engkau harus dapat
menundukkan adik misanmu yang cantik dan
janda itu!" Dalam ucapan ini jelas terkandung
dorongan yang sejalan dengan pikiran Siauw Can,
yaitu bahwa dia harus dapat menundukkan Bi Lan
lahir batin, yaitu lahirnya wanita itu harus jatuh ke
dalam pelukannya, sehingga batinnya akan selalu
taat akan semua kehendak dan perintahnya! Dan
pemuda yang cerdik ini sudah dapat menemukan
cara yang amat baik dan yang pasti akan berhasil!
Akan tetapi dia tidak boleh tergesa-gesa. Baru saja
dia gagal mendekati Bi Land an membuat janda
muda itu marah. Dia harus pandai membawa diri,
memperlihatkan penyesalannya agar kemarahan Bi
Lan mereda dan wanita itu tidak menaruh
kecurigaan kepadanya.
Setelah Pangeran Tua Li Siu Ti memasuki
kembali ruangan itu, mereka bertiga lalu berbisikbisik
mengatur siasat. Sebuah siasat yang diajukan
Poa Kiu dan Siauw Can amat mengejutkan hati
Pangeran Li Siu Ti. Siasat itu adalah membunuh
Putera Mahkota, Pangeran Li Si Bin.!
Wajah Pangeran Tua Li Siu Ti seketika menjadi
pucat dan matanya terbelalak memandang kepada
dua orang kepercayaannya. "Alangkah baiknya
kalau dapat terjadi! Akan tetapi mana mungkin! Li
Si Bin seorang yang memiliki kepandaian tinggi,
dia tangguh dan sukar dikalahkan! Selain itu,
diapun mempunyai banyak pengawal pandai, dan
selalu terjaga. Di belakangnya ada balatentara
seluruh kerajaan, ratusan ribu orang yang setiap
saat siap melaksanakan perintahnya! Bagaimana
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mungkin menyingkirkannya? Kalau gagal dan
ketahuan, ah, ngeri aku membayangkan akibatnya!
Tentu seluruh anggota keluarga kita, sampai ke
para pelayan dan binatang peliharaan, akan
dibasmi habis!"
"Harap paduka tidak khawatir," kata Poa Kiu.
"Hamba berdua Siauw Can telah merencanakan
siasat yang baik dan halus. Siauw Can akan
mempergunakan kepandaiannya dan kalau sampai
berhasil siasat itu, maka Pangeran Li Si Bin akan
tewas tanpa ada yang tahu siapa pembunuhnya."
Mereka bertiga lalu berbisik-bisik dan
nampaknya Pangeran Tua Li Siu Ti girang sekali.
Dia nampak mengangguk-angguk dan tersnyumsenyum
mengelus jenggotnya dan berulang kali
mulutnya berkata, "Bagus........., bagus sekali...!"
Saking girang rasa hatinya, pangeran itu lalu
menutup pembicaraan itu dengan sebuah pesta
yang meriah, pesta antara mereka bertiga yang
dihadiri pula oleh isteri dan lima orang selir
pangeran itu, dan anak tunggalnya, yaitu Li Ai Yin,
gadis cantik genit dan manja yang tidak malu-malu
lagi memperlihatkan kekagumannya kepada Siauw
Can.
Mereka makan minum sampai jauh malam
dengan penuh kegembiraan dan peristiwa ini saja
sudah membesarkan hati Siauw Can, karena dari
Poa Kiu dia mendengar bahwa diajak makan
bersama seluruh keluarga pangeran berarti bahwa
dia telah dipercaya sepenuhnya, seperti halnya Poa
Kiu sendiri.
o-ooo0dw0ooo-o
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan penuh kesungguhan hati, Kwa Bi Lan
mengajarkan ilmu silat kepada para dayang. Para
dayang ini merupakan gadis-gadis pilihan, bukan
saja muda dan cantik, akan tetapi rata-rata
memiliki kecerdikan dan tubuh yang sehat. Mereka
itu pandai dengan segala macam bentuk kesenian,
pandai menari, bernyanyi, memainkan alat musik,
membaca sajak. Oleh karena itu tidak sukar bagi
Bi Lan untuk mengajarkan ilmu silat kepada
tigapuluh orang dayang-dayang istana itu. Ia
mengajarkan dasar-dasar ilmu silat Siauw-lim-pai,
kemudian, atas petunjuk Pangeran Li Si Bin, ia
mengajarkan ilmu silat menggunakan senjata
sabuk yang diambil dari Ilmu Hui-tiauw Sin-kun (
Silat sakti rajawali terbang ).
Dengan ilmu silat sabuk itu, dibentuklah Angkin-
tin ( Barisan sabuk merah). Ang-kin-tin ini
bukan saja dapat memainkan sabuk sebagai
senjata ampuh, akan tetapi mereka juga
menggabungkan gerak silat itu dengan ilmu tarian
yang mereka kuasai, sehingga kalau tidak
dipergunakan untuk berkelahi, mereka itu dapat
menggunakan sabuk merah mereka untuk menarinari
dengan indahnya.
Sabuk sutera merah panjang di tangan mereka
dapat digerakkan membentuk bermacam-macam
bunga bahkan huruf!
Pangeran Li Si Bin merasa girang bukan main
melihat kemajuan para dayang, dan tugas Bi Lan
melatih para dayang di istana itu memberi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kesempatan kepada mereka berdua untuk saling
jumpa.
Pangeran Mahkota itu semakin kagum kepada Bi
Lan, sebaliknya Bi Lan juga sangat kagum kepada
pangeran yang tampan gagah perkasa dan manis
budi ini. Ia mendapatkan segala sifat jantan pada
diri putera mahkota ini. Pangeran itu dapat
bersikap lemah lembut, ramah dan manis budi,
akan tetapi kalau perlu, dia dapat pula bersikap
keras dan tangan besi, sehingga selain disayang
oleh semua orang, diapun disegani dan dihormati.
Kalau ada kesempatan kedua orang itu
bercakap-cakap, dari percakapan ini saja tahulah
Bi Lan bahwa pangeran itu seorang yang berjiwa
pendekar, juga amat mencinta tanah air dan
bangsa, mencintai rakyat dan ingin melakukan
segalanya demi kebaikan rakyat. Juga pangeran ini
memiliki pengetahuan luas, bahkan dekat dan
mengenal tokoh-tokoh kang-ouw dan datuk-datuk
dunia persilatan.
Semenjak peristiwa yang amat mengecewakan
hatinya malam itu, ketika Siauw Can berusaha
untuk berbuat tidak senonoh kepadanya, lenyaplah
semua perasaan suka dan kagum terhadap
pemuda itu. Dan kini semua perasaan suka dan
kagum itu beralih kepada Pangeran Li Si Bin!
Tentu saja ia tahu diri dan hanya tinggal
mengagumi saja, tidak berani mengharapkan yang
lebih daripada hubungan di antara mereka seperti
sekarang. Ia hanya seorang pekerja dan petugas,
tiada bedanya dengan ratusan orang lain yang
bekerja di lingkungan istana itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebelum terjadi peristiwa di malam itu, ia
memang pernah merasa suka dan kagum kepada
Siauw Can, bahkan ia akan menerima dengan hati
dan tangan terbuka, seandainya pemuda itu
mengajaknya hidup bersama sebagai suami isteri.
Akan tetapi, semua harapan itu telah hancur oleh
perbuatan Siauw Can. Kalau bukan Siauw Can
yang melakukan perbuatan itu terhadap dirinya, ia
tentu tidak akan mau sudah sebelum membunuh
laki-laki itu. Akan tetapi ia telah menganggap
Siauw Can sebagai sahabat baik, dan pemuda itu
telah minta maaf. Ia mau melupakan peristiwa itu,
akan tetapi tentu saja semua perasaan sukanya
terhadap pemuda itu lenyap sudah. Ia tahu bahwa
Siauw Can mencintainya, akan tetapi pemuda itu
menodai cintanya dengan perbuatan yang tidak
senonoh.
Pagi itu, seperti biasa, Bi Lan melatih para
dayang bersilat dengan sabuk sutera merah
mereka. Gerakan mereka sudah cukup baik dan
tangkas, hanya masih kurang tenaga. Dengan teliti
Bi Lan mengamati mereka dan dengan tekun
member petunjuk-petunjuknya. Dan pagi itu,
pangeran Li Si Bin berkenan hadir dan dengan
wajah berseri pangeran itu menonton. Hatinya
senang karena dia melihat kemajuan pesat pada
para dayang, dan dia semakin kagum karena
ketika Bi Lan memberi contoh kepada para dayang
dengan bersilat sabuk sutera merah, janda muda
itu nampak seperti seorang dewi yang turun dari
kahyangan dan menari-nari!
Setelah Bi Lan selesai memberi contoh dan kini
para dayang berlatih dengan giat, Pangeran Li Si
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bin menggapai dan memberi isyarat kepada Bi Lan
untuk mendekat. Bi Lan menghampiri dan
memberi hormat dengan setengah berlutut.
"Bangkit dan duduklah di sini," kata pangeran
itu dengan ramah sambil menunjuk kea rah
sebuah bangku. Bi Lan duduk di depan pangeran
itu sambil menundukkan muka. Biarpun mereka
sudah sering bercakap dan berjumpa, tetap saja Bi
Lan tidak sanggup berpandangan terlalu lama
dengan sepasang mata yang memiliki wibawa
sedemikian kuatnya. Ia selalu merasa seperti
seorang anak kecil berhadapan dengan gurunya,
dengan perasaan bersalah.
"Bi Lan, kalau engkau melatih pasukan dayang
di sini, lalu bagaimana dengan anakmu?"
Diam-diam Bi Lan terkejut karena sama sekali
tidak pernah menyangka akan mendapat
pertanyaan seperti itu. Pangeran Li Si Bin
menanyakan anaknya!
Segera terbayanglah wajah Hong Lan. Kalau ia
bertugas di istana, dititipkannya Hong Lan kepada
Cu-ma, pelayan wanita setengah tua tukang masak
yang menjadi sahabat baiknya di istana pangeran
Tua Li Siu Ti. Cu-ma ini dahulunya pengasuh Ai
Yin di waktu gadis ini masih kecil, dan sekarang
menjadi tukang masak gadis itu untuk keperluankeperluan
kecil.
"Lan Lan hamba tinggalkan di istana Pangeran
Tua dalam asuhan Cu-ma, pangeran," jawabnya.
"Lan Lan? Hemm, bagus sekali nama panggilan
itu. Siapa nama anakmu?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Namanya Hong Lan."
"Kalau begitu nama lengkapnya tentu Liu Hong
Lan, bukan? Mendiang suamimu yang berjuluk Si
Rajawali Sakti itu bernama Liu Bhok Ki."
Bi Lan mengangguk membenarkan. Apapun yang
terjadi, ia akan tetap mengakui Lan Lan sebagai
anaknya, dan tentu saja nama keluarganya Liu,
menurut nama keluarga mendiang suaminya.
"Bi Lan, kami merasa senang sekali dengan hasil
tugasmu melatih para dayang. Untuk menyatakan
terima kasih kami, maka kami harap siang ini
sebelum engkau kembali ke rumah paman Li Siu
Ti, engkau suka kami ajak makan siang bersama
kami. Nanti kalau makan siang sudah siap, engkau
akan diberi tahu."
Bi Lan merasa betapa jantungnya berdebar
tegang. Diajak makan siang bersama Pangeran
Mahkota! Sungguh merupakan suatu kehormatan
yang amat luar biasa. Tentu saja ia merasa
canggung dan sungkan, akan tetapi untuk
menolak, ia tidak berani. Itu akan merupakan
suatu penghinaan terhadap pangeran itu.
"Baik, Pangeran." Katanya.
Setelah Pangeran Li Si Bin meninggalkan
ruangan belajar silat itu, Bi Lan melamun dan
akhirnya ia membubarkan para muridnya, karena
ia tidak dapat memusatkan lagi perhatiannya. Ia
lalu pergi ke taman bunga yang amat luas di
bagian belakang istana. Karena mendapat
kepercayaan Putera Mahkota, apalagi karena
semua petugas mengenalnya sebagai guru dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pelatih para dayang, Bi Lan sudah biasa berjalanjalan
di taman dan tidak ada seorangpun petugas
yang melarangnya.
Perasaan hatinya terguncang oleh undangan
makan siang Pangeran Li Si Bin. Sampai lama dia
termenung, duduk di tepi kolam ikan emans, agak
terlindung dan tersembunyi di balik semak
berbunga.
Tiba-tiba ia melihat berkelebatnya bayangan
orang. Sebagai seorang ahli silat yang sudah
bertualang di dunia persilatan, sudah terbiasa
menghadapi bahaya, Bi Lan sudah waspada dan
cepat ia menyelinap di balik semak dan mengintai.
Bayangan itu mencurigakan sekali. Kalau orang itu
seorang tukang kebun atau petugas istana, tentu
gerakannya tidak seperti itu. Orang itu berloncatan
dari pohon ke pohon, bersembunyi, kadang
berjongkok di balik semak, menuju ke dapur yang
terletak di bagian belakang bangunan yang menjadi
ruangan makan. Dari dapur, para petugas, yaitu
para dayang dan para thai-kam (laki-laki kebiri)
yang bertugas membawa hidangan ke kamar
makan, akan melalui lorong pendek dari dapur ke
ruangan makan yang jendelanya menghadap ke
taman itu.
Melihat bayangan itu menyelinap masuk ke
dalam dapur melalui jendela dengan gerakan
ringan, Bi Lan semakin curiga. Ia lalu mengintai ke
dalam dapur melalui jendela. Agaknya hidangan
sudah dikeluarkan dan dapur itu nampak sunyi. Ia
melihat orang tadi berdiri di dekat pintu. Ia tidak
mengenal laki-laki itu yang bertubuh gendut
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pendek, usianya kurang lebih tigapuluh tahun,
wajahnya tampan dan kulit mukanya halus tanpa
kumis dan jenggot. Tak lama kemudian, dari pintu
dapur masuklah seorang thai-kam yang biasa
bertugas membawa hidangan dari dapur ke
ruangan makan. Ketika thai-kam itu melihat lakilaki
itu, dia kelihatan terkejut. Akan tetapi, si
gendut itu sudah menangkap pergelangan tangan
thai-kam itu dan bertanya dengan suara mendesis,
"Sudah kau hidangkan guci arak itu?"
"Sudah, akan tetapi kenapa engkau memaksa
aku untuk menghidangkan guci arak yang itu? Aku
tidak mengerti dan....................." Pada saat itu, si
gendut sudah menggerakkan tangannya dan
sebatang pisau menancap ke dada thai-kam itu
dan sebelum dia sempat mengeluarkan suara, si
gendut sudah menotok lehernya, sehingga dia
terkulai roboh tanpa dapat bersuara lagi.
"Heiiii, apa yang kau lakukan itu?" bentak Bi
Lan sambil membuka daun jendela. Akan tetapi,
orang gendut itu tidak menjawab, bahkan cepat
melompat bagaikan seekor rusa, melarikan diri
keluar dari dapur itu ke dalam taman.
Melihat ini, Bi Lan segera lari mengejar dan
dengan mudah saja ia dapat menyusul. Orang
gendut itu tiba-tiba membalik dan di tangannya
sudah terdapat dua batang pisau seperti yang tadi
dia pakai membunuh thai-kam di dapur. Diapun
cepat menggerakkan kedua pisau itu menyerang Bi
Lan! Akan tetapi betapa kuat dan cepat gerakan
serangan kedua pisau itu, bagi Bi Lan masih
terlalu lambat, sehingga dengan amat mudahnya ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengelak mundur dan ketika sepasang pisau itu
menyambar lewat dari kanan dan kiri, kakinya
mencuat dan menendang kea rah lutut kiri
penyerangnya. Akan tetapi, ternyata penyerangnya
itupun bukan orang lemah.
Dia mampu meloncat ke samping sehingga
tendangan itu luput, dan kembali dia menubruk ke
depan, menggerakkan sepasang pisaunya dengan
ganas. Orang itu menyerang untuk membunuh,
serangan orang yang nekat dan yang melihat
bahwa jalan satu-satunya baginya untuk dapat
meloloskan diri hanya membunuh siapa saja yang
menghalanginya.
"Pembunuh keparat!" Bi Lan berseru marah dan
tiba-tiba tubuhnya melayang ke atas dan bagaikan
seekor burung rajawali menyambar, tubuhnya
meluncur kea rah lawan dengan kedua tangan
mencakar dan menampar. Orang gendut itu
berusaha untuk menyambut dengan sepasang
pisaunya, akan tetapi kedua pundaknya sudah
lebih dahulu kena dicakar dan ditampar sehingga
sepasang senjata itu terlepas jatuh. Ketika orang
itu hendak melarikan diri, kembali tangan bi Lan
bergerak, sekali ini kearah tengkuk dan orang
itupun jatuh tersungkur!
Bi Lan menginjak punggungnya dan membentak,
"Hayo katakan, kenapa engkau membunuh thaikam
itu!" Akan tetapi, tangan kiri si gendut itu
memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya sendiri
dan diapun terkulai. Ketika Bi Lan memeriksanya,
ternyata dia telah mati dengan muka berubah
menghitam. Racun!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Teringat akan ini, berubah wajah Bi Lan. Racun!
Dan si gendut ini agaknya menyuruh dengan paksa
thai-kam tadi menghidangkan guci arak kepada
Pangeran Mahkota!
Ketika para pengawal lari berdatangan
mendengar keributan itu, Bi Lan berkata, "Jaga
mayat pembunuh ini!" Dan diapun sudah
melompat dan bagaikan terbang secepatnya ia
memasuki ruangan makan, dimana ia harus hadir
atas undangan Pangeran Li Si Bin. Akan tetapi saat
itu ia sama sekali tidak teringat akan undangan
makan siang itu, dan ia memasuki ruangan itu
bukan untuk memenuhi undangan makan.
Begitu tiba di ambang pintu, dimana terdapat
sebuah meja yang menjadi tempat persediaan
cadangan mangkok dan sumpit, ia melihat
pangeran itu yang dilayani para dayang,sedang
mengangkat cawan arak ke mulutnya.
Celaka, pikir Bi Lan dan wajahnya pucat sekali.
Tidak ada waktu lagi untuk mencegah hal amat
dikhawatirkannya, maka tangannya menyambar
sebatang sumpit dari atas meja dan sekali tangan
itu bergerak, sumpit melayang seperti anak panah
ke arah pangeran.
"Sing.....trang....!"
Cawan yang bibirnya sudah menempel di bibir
Pangeran Li Si Bin itu terlempar dan isinya
tumpah, muncrat ke mana-mana.
Akan tetapi pangeran bersikap tenang. Dia
menoleh ke arah Bi Lan, melihat betapa wajah
wanita itu pucat sekali. Sepasang mata pangeran
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu mencorong, dan dia berkata dengan suara yang
lembut, namun berwibawa sekali sehingga terasa
oleh Bi Lan seperti pedang yang menembus
jantungnya.
"Bi Lan, engkau kuundang makan siang dan aku
sudah menantimu. Akan tetapi, engkau datang dan
melakukan ini? Apa maksudmu?" Tentu saja
pangeran yang juga memiliki ilmu kepandaian silat
tinggi itu dapat mengenal serangan untuk
membunuhnya atau serangan untuk mencegahnya
minum arak dari cawan tadi. Kalau wanita itu
menghendaki, tentu bukan sumpit yang
disambitkan, melainkan senjata rahasia yang
ampuh, dan bukan cawan di tangannya yang
dijadikan sasaran, melainkan anggota tubuhnya
yang mematikan. Akan tetapi kalau demikian
halnya, tentu diapun sudah mengelak atau
menangkis.
Saking tegang, gelisah dan juga sungkan, Bi Lan
menjatuhkan dirinya berlutut kepada pangeran itu.
Biasanya ia memberi hormat dengan membungkuk
atau hanya berlutut dengan sebelah kaki saja.
"Ampunkan hamba, pangeran. Akan
tetapi........arak itu.....arak itu mungkin sekali
mengandung racun.!" Katanya agak gagap karena
tentu saja ia sendiri belum yakin akan hal itu,
hanya baru dugaan saja.
Sepasang mata yang mencorong itu terbelalak.
Tanpa banyak cakap lagi Pangeran Li Si Bin yang
sejak muda sudah bergaul dengan dunia kangouw
dan mempunyai banyak pengalaman, lalu
mengambil guci arak darimana tadi dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menuangkan arak ke dalam cawannya,
menciumnya, lalu mengeluarkan sebuah mainan
batu giok putih yang tergantung di leher,
mencelupkan batu kemala itu ke dalam arak. Tak
lama kemudian dia mengangkat lagi batu giok itu
dan ternyata warna putih itu berubah menjadi
kehijauan.!
"Hemm, engkau benar Bi Lan. Kalau kuminum
arak dalam cawan tadi, mungkin aku sudah mati.
Racun ini kehijauan, tidak berbau dan tidak ada
rasanya, amat berbahaya. Akan tetapi, bagaimana
engkau bisa mengetahui bahwa arak yang akan
kuminum itu mengandung racun? Bangkitlah, dan
duduklah, ceritakan semuanya, Bi Lan."
Para dayang, tujuh orang banyaknya yang
ditugaskan melayani pangeran yang akan makan
siang dengan Bi Lan, saling pandang dengan wajah
pucat sekali. Mereka ketakutan dan terkejut bukan
main ketika melihat bahwa arak yang hamper saja
diminum pangeran itu beracun! Andaikan
pangeran itu tadi meminumnya dan tewas, mereka
tentu akan terseret dan takkan diampuni lagi
walaupun mereka sama sekali tidak tahu menahu
akan arak beracun itu. Merekapun nyaris tewas
dan baru saja lolos dari cengkeraman maut
bersama pangeran Mahkota!
Bi Lan bangkit dan dengan langkah tenang
menghampiri meja, lalu duduk menghadapi meja,
berhadapan dengan pangeran itu yang menatapnya
dengan penuh perhatian, akan tetapi dengan alis
berkerut, karena dia belum tahu atau menduga
apa yang sesungguhnya telah terjadi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Pangeran, tadi ketika hamba berjalan-jalan di
taman, hamba melihat bayangan orang bergerak
cepat memasuki dapur. Hamba merasa curiga dan
membayanginya. Dia seorang laki-laki gendut dan
di dapur, dia berbicara dengan seorang thai-kam.
Thai-kam itu berkata mengapa dia harus
menghidangkan guci arak itu kepada paduka. Tibatiba
si gendut itu membunuh si thai-kam. Hamba
terkejut dan melompat masuk. Si gendut melarikan
diri ke dalam taman dan hamba berhasil
mengejarnya. Dia menyerang hamba dan hamba
berhasil merobohkannya dan hendak menawannya.
Akan tetapi dia membunuh diri dengan menelan
racu. Lalu hamba teringat akan ucapan thai-kam
tadi, tentang guci arak yang dihidangkan pada
paduka. Melihat si gendut itu ahli racun, hamba
lalu menjadi curiga dan cepat hamba lari ke sini
dan terpaksa hamba melemparkan sumpit untuk
mencegah paduka minum arak itu."
Kini pangeran itu mengangguk-angguk dan
matanya mengeluarkan sinar kagum. "Bi Lan,
engkau sungguh hebat sekali, bukan saja engkau
lihai dan cantik, akan tetapi engkau juga amat
cerdik dan setia. Hanya kecerdikanmu yang tadi
telah menyelamatkan nyawaku. Sungguh aku
berhutang budi dan nyawa kepadamu, Bi Lan.
Bagaimana kau dapat membalasnya? Terima kasih,
Bi Lan."
Kalau tadi wajah Bi Lan pucat sekali karena
tegang, cemas dan juga sungkan, kini wajah itu
berubah kemerahan sehingga wajahnya menjadi
semakin manis, dan dia tidak berani menentang
pandang mata pangeran itu yang kini bersinarTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
sinar penuh kagum. Melihat wanita yang
dikaguminya itu menunduk dengan kedua pipi
kemerahan, Pangeran Li Si Bin yang jarang tertarik
wajah cantik itu, kini tersenyum dan hatinya
tertarik sekali. Dia tahu bahwa tidak mudah
mendapatkan seorang wanita seperti Bi Lan ini.
Cantik jelita, masih muda, berkepandaian silat
tinggi, cerdik dan setia! Biarpun wanita ini telah
menjadi janda dengan seorang anak, namun ia
jauh lebih menarik daripada gadis yang manapun!
Mungkin karena merasa berhutang budi dan
nyawa, saat itu sang pangeran telah jatuh hati
kepada Kwa Bi Lan!
"Mengapa pangeran berkata demikian? Hamba
hanyalah melaksanakan tugas hamba, dan tidak
ada yang perlu dipuji," kata Bi Lan lirih tanpa
berani mengangkat mukanya.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 13
Pangeran Li Si Bin tertawa lalu berkata kepada
para dayang. "Kalian melihat sendiri. Contohlah
wanita ini! Nah. kalian singkirkan guci arak ini,
tutup dan simpan untuk penyelidikan nanti. Ambil
arak lain yang tidak terlalu keras, dan anggur
untuk Kwa lihiap (Pendekar Wanita Kwa). Bi Lan,
mari kita makan siang, jangan sampai peristiwa
tadi mengganggu makan siang kita."
Bi Lan mengangkat mukanya, memandang
wajah pangeran itu, lalu matanya mengamati
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hidangan yang berada di atas meja, matanya
membayangkan keraguan.
"Jangan khawatir, aku mempunyai batu kemala
yang dapat kita pergunakan untuk menguji apakah
ada masakan yang mengandung racun," kata
pangeran itu dan iapun mempergunakan batu
kemala tadi, setelah membersihkannya, untuk
menguji semua masakan. Ternyata hanya arak
dalam guci sajalah yang mengandung racun, maka
mereka lalu makan minum dengan hati tenang.
Sambil makan dan minum, yang di layani oleh para
dayang yang kini menjadi gembira sekali, dan
ditemani Bi Lan yang sudah tidak sungkan atau
canggung lagi, Pangeran Li Si Bin mengajak wanita
itu bercakap-cakap. Akan tetapi, tiba-tiba kepala
pengawal, yaitu Siok-ciangkun mohon menghadap.
Maklum bahwa hal itu tentu ada hubungannya
dengan yang diceritakan Bi Lan tadi, Pangeran Li
Si Bin menyuruh panglima itu masuk.
Siok-ciangkun memberi hormat dengan berlutut
sebelah kaki, melaporkan bahwa seorang thai-kam
terbunuh di dapur istana, dan seorang laki-laki
gendut yang ternyata seorang bekas thai-kam
istana yang dikeluarkan, kedapatan mati terbunuh
pula di taman.
"Hemm, kami sudah tahu, ciangkun. Thai-kam
itu dibunuh oleh laki-laki gendut, dan laki-laki itu
membunuh diri menelan racun ketika ditangkap
oleh Kwa-lihiap ini. Jangan perkenankan orang
keluar masuk istana hari ini. Aku sendiri yang
akan memeriksa seluruh pelayan, thai-kam dan
pengawal dalam istana. Kumpulkan mereka dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tak seorangpun boleh meninggalkan istana hari
ini."
Setelah berkata demikian. Pangeran Li Si Bin
memberi isyarat kepada Siok-ciangkun untuk
meninggalkan ruangan makan. Dengan sikap
tenang, dia lalu melanjutkan makan minum dan
bercakap-cakap. Sikap pangeran ini menambah
kekaguman dalam hati Bi Lan. Sungguh bukan
sikap seorang pembesar yang sewenang-wenang
ataupun cengeng, melainkan sikap seorang
pendekar!
"Bi Lan, dahulu pernah aku mendengar nama
besar Pendekar Rajawali Sakti yang kukagumi. Dia
seorang pendekar yang terkenal dan sungguh
merupakan suatu keberuntungan bahwa kini isteri
pendekar itu mau membantu kami. Kalau boleh
kami ketahui, bagaimana semuda ini engkau
sudah menjadi janda? Apa yang menyebabkan
kematian suamimu?"
Bi Lan tahu bahwa berhadapan dengan
pangeran ini, tidak perlu menyembunyikan
keadaan nya. Juga beberapa orang dayang itu
merupakan orang-orang kepercayaan, maka tidak
ada salahnya kalau mereka hadir pula dalam
percakapan ini, walaupun kini mereka nampak
tidak mendengarkan percakapan itu.
"Suami hamba meninggal dunia karena sakit
tua. pangeran," jawabnya singkat. "Karena tidak
betah lagi tinggal di rumah, hamba lalu mengajak
Lan Lan untuk pergi mengembara."
"Dan bagaimana dengan Siauw Can yang datang
bersamamu di kota raja?" pangeran itu bertanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seperti sambil lalu, namun pandang matanya
menyelidik.
Diam-diam Bi Lan terkejut dan semakin kagum.
Pangeran ini tentu mempunyai banyak mata-mata
yang tersebar di seluruh kota raja, sehingga tidak
aneh kalau dia sudah tahu pula tentang Siauw
Can!
Jantungnya berdebar. Tahu pulakah pangeran
ini bahwa Siauw Can sesungguhnya adalah Can
Hong San dan dahulu pernah membela Kerajaan
Sui ketika digulingkan oleh pangeran ini dan
pasukannya? Bagaimanapun juga, ia dan Siauw
Can telah memperkenalkan diri sebagai saudara
misan kepada Pangeran Tua Li Siu Ti, maka iapun
harus tetap berpegang kepada pengakuan itu.
"Dia adalah kakak misan hamba pangeran.
Diapun ingin mencari pekerjaan, dan kami
mengadakan perjalanan bersama ke kota raja."
jawabnya singkat.
Kini pandang mata pangeran itu semakin tajam
penuh selidik sehingga kembali Bi Lan harus
menundukkan mukanya. "Bi Lan, apakah hanya
itu hubunganmu dengan Siauw Can? Hanya
saudara misan dan tidak ada hubungan lainnya?"
Bi Lan tidak berani mengangkat mukanya, dan
kedua pipinya terasa panas. Terbayanglah
peristiwa malam itu, di mana ulah Siauw Can
menghapus semua perasaan suka dan kagumnya
terhadap pemuda itu. Ia tidak berbohong kalau
sekarang, ia menggelengkan kepala dengan tegas
dan mengangkat muka menentang tatapan mata
pangeran itu dengan berani dan berkata, "Kami
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hanya datang bersama ke kota raja. Selain
hubungan misan, tidak ada hubungan apapun di
antara kami. Kenapa paduka bertanya demikian,
pangeran?"
"Aku ingin memperoleh kepastian tentang
dirimu, Bi Lan. Aku merasa kagum dan juga
kasihan kepadamu, Bi Lan. Engkau hidup sebagai
seorang janda, dan harus menjaga seorang anak,
dan engkau masih begini muda,......."
Bi Lan tersenyum. Hampir lupa ia bahwa
berhadapan dengan seorang pangeran, bahkan
putra mahkota, calon kaisar, dan bahkan orang
yang paling besar kekuasaannya di seluruh negeri,
lebih besar dari pada kaisar sendiri. Ucapan
pangeran itu demikian wajar dan biasa, seperti
ucapan seorang laki-laki biasa saja. Ia menjadi
semakin kagum.
"Maaf, pangeran, hamba yakin bahwa hamba
lebih tua dari paduka. Usia hamba sudah
duapuluh empat tahun........"
Pangeran Li Si Bin tertawa, bebas dan bergelak
sehingga wajahnya yang tampan dan gagah itu
nampak kekanak-kanakan. "Ha-ha-ha,
bagaimanapun juga, aku merasa jauh lebih tua
darimu, Bi Lan..!"
Mereka tidak bercakap-cakap lagi atau lebih
tepat, pangeran itu tidak bicara lagi, maka Bi Lan
juga tidak berani berkata apapun. Mereka
melanjutkan makan minum sampai selesai dan
wajah pangeran itu cerah berseri. Dia lalu bangkit
berdiri. "Aku harus mengadakan pemeriksaan
sendiri dan melakukan pembersihan. Siapa tahu,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
di antara para pelayan dan pengawal di istana
telah dikuasai pihak yang memusuhi kami."
Bi Lan bangkit dan memberi hormat sambil
menghaturkan terima kasih, berdiri menanti
sampai sang pangeran meninggalkan ruangan
makan itu sambil melemparkan senyum ramah
kepadanya.
Seorang pangeran yang gagah perkasa, tampan,
agung dan sopan, pikir wanita itu, terbuai
lamunan muluk ketika ia meninggalkan istana,
kembali ke istana Pangeran Tua Li Siu Ti dengan
sebuah kereta yang telah dipersiapkan untuk
keperluannya setiap hari.
Begitu tiba di Istana Pangeran Tua, baru ia
turun dari kereta, bukan hanya Lan Lan dalam
pondongan pengasuh Cu-ma, akan tetapi juga
nampak Siauw Can menyambutnya. Wajah
pemuda itu nampak tegang dan ketika Bi Lan
memondong puterinya yang dengan girang
merangkulnya, Siauw Can bertanya, tidak
memperdulikan ada Cu-ma di situ dan ada
beberapa orang pengawal yang berjaga di depan
Istana itu.
"Lan-moi, apakah yang terjadi di istana! Engkau
baru saja pulang dari sana, tentu mengetahui apa
yang telah terjadi!" Pemuda itu nampak tegang.
Bi Lan mengerutkan alisnya dan memandang
kepada pemuda yang pernah menggerakkan
hatinya akan tetapi yang kini amat dicurigainya
itu. "Bagaimana engkau tahu bahwa ada terjadi
sesuatu di istana?" Ia balas bertanya dan sinar
matanya memandang penuh selidik.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Melihat sinar mata Bi Lan, Siauw Can bersikap
tenang. "Aih, tentu saja aku tahu, Lan-moi. Baru
saja Pangeran Tua dipanggil ke istana dengan
pesan agar segera datang menghadap karena ada
urusan yang teramat penting. Pangeran Tua sendiri
yang berkata kepadaku bahwa panggilan itu tidak
seperti biasanya, dan hal itu hanya berarti bahwa
di istana telah terjadi sesuatu yang luar biasa. Nah,
engkau baru saja datang dari istana, tentu
mengetahui apa yang telah terjadi."
Kecurigaan hati Bi Lan menghilang. Kiranya
Pangeran Li Siu Ti telah dipanggil ke istana, tentu
ada hubungannya dengan keinginan Pangeran
Mahkota untuk melakukan pemeriksaan dan
pembersihan terhadap para pelayan dan pengawal,
semua petugas di istana. Dan tidak aneh kalau
Siauw Can menanyakan apa yang telah terjadi di
istana.
Ia tidak ingin urusan itu didengar orang lain,
maka sambil memondong Lan Lan, iapun berkata
singkat, "Kita bicara di dalam saja."
Setelah mereka berada di ruangan dalam,
mereka disambut oleh Li Ai Yin yang juga segera
mengajukan pertanyaan kepada Bi Lan, "Enci Bi
Lan, apakah yang telah terjadi di Istana?"
Bi Lan menjatuhkan diri duduk di atas kursi dan
merangkul puterinya, lalu menarik napas panjang,
"Ada orang mencoba untuk meracuni Pangeran
Mahkota......."
"Ihhh.......!." Ai Yin menjerit, matanya terbelalak
dan mukanya pucat. "Betapa mengerikan. Dan
bagaimana keadaan kakanda pangeran?" Dari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sikap dan ucapan gadis bangsawan itu, Bi Lan
tahu bahwa bagaimanapun juga, ada perasaan
sayang di hati gadis itu terhadap kakak
sepupunya.
"Jangan khawatir, nona. Beliau sehat-sehat saja
karena arak beracun itu tidak sampai
diminumnya."
"Lan-moi, bagaimana terjadinya? Siapa yang
hendak meracuni Pangeran Mahkota dan
bagaimana pula caranya, bagaimana pula usaha
pembunuhan keji itu dapat digagalkan?" tanya
Siauw Can ingin tahu sekali.
"Benar, enci Bi Lan. Ceritakanlah, apa yang
sesungguhnya terjadi? Akupun ingin tahu sekali."
kata Ai Yin.
"Nanti kalau Pangeran Tua pulang, tentu beliau
dapat bercerita lebih jelas," kata Bi Lan mengelak.
"Tidak, aku ingin mendengar dari sekarang, enci
Bi Lan! Aku sudah tidak sabar menanti pulangnya
ayah!" kata gadis bangsawan itu.
Bi Lan terpaksa. Bagaimanapun juga, Pangeran
Tua tentu akan mendengar segalanya dan kedua
orang ini akan mendengarnya juga. Kalau ia
bertahan dan tidak mau menceritakan, tentu
menimbulkan dugaan yang bukan-bukan. Iapun
menghela napas panjang.
"Siang tadi, ketika aku beristirahat dan berjalanjalan
seorang diri di taman bunga istana, aku
melihat bayangan orang ke dapur istana. Aku
menjadi curiga dan membayangi. Dia seorang
gendut yang bertemu dengan seorang thai-kam di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dapur. Aku mendengar thai-kam itu menegur si
gendut mengapa ia harus memberikan guci arak
itu kepada Pangeran Mahkota. Si gendut lalu
membunuh thai-kam itu. Tentu saja aku
mengejarnya, dia lari ke dalam taman dan aku
berhasil merobohkannya. Ketika aku hendak
menangkapnya, dia menelan racun dan mati
seketika. Aku mengkhawatirkan kesehatan
Pangeran Mahkota, maka cepat aku memasuki
ruangan makan. Ketika melihat pangeran hendak
minum arak dari sebuah guci, aku teringat akan
ucapan thai-kam yang terbunuh dan kusambit
cawan di tangan pangeran itu dengan sumpit.
Ketika diperiksa, arak itu memang beracun!"
Ai Yin merangkul Bi Lan. "Aih, engkau hebat,
enci Bi Lan. Engkau pantas menjadi guruku. Wah,
namamu tentu akan tersohor di istana, aku ikut
bangga karena engkau guruku. Dan telah
menyelamatkan nyawa kakanda pangeran! Bukan
main!" Gadis itu girang sekali. Karena ia dirangkul.
Bi Lan terhalang dan tidak melihat perubahan
pada wajah Siauw Can.
-ooo0dw0ooo-
"Hemm, bagaimanapun baiknya siasat itu,
ternyata telah gagal dan bagaimana kalau thai-kam
dan bekas thai-kam itu dapat tertangkap hiduphiup?
Tak dapat aku membayangkan akibatnya.
Kalian berdua harus bekerja lebih baik dan hatihati!"
Pangeran Tua Li Siu Ti mengomel panjangpendek
di dalam kamar pertemuan yang tertutup
rapat itu. Mereka bertiga, Pangeran Tua Li Siu Ti,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Poa Kiu, dan Siauw Can, membicarakan tentang
usaha pembunuhan terhadap Pangeran Li Si Bin
yang gagal. Usaha pembunuhan itu memang hasil
siasat Poa Kiu dan Siauw Can.
Siauw Can mengepal tinju. "Pangeran, kalau
tidak karena ulah Bi Lan, kalau tidak kebetulan Bi
Lan berada di sana, tentu sekarang ini Pangeran
Mahkota telah tewas.!"
"Bagaimana juga, harap paduka tidak menjadi
khawatir. Hamba telah berlaku amat hati-hati.
Andaikata bekas thai-kam itu tertangkap hiduphiduppun,
dia tidak akan tahu siapa yang memberi
banyak uang emas kepadanya dan yang menyurur
dia menyelundupkan arak beracun ke istana. Juga,
dia telah kami ancam tanpa dia mengenal kami,
bahwa kalau dia tertawan, dia harus membunuh
diri dengan racun. Kalau tidak, maka seluruh
keluarganya di dusun akan kami bunuh. Dan
ternyata ancaman itu cukup ampuh. Buktinya, dia
memilih membunuh diri dari pada tertawan,
sedangkan keluarganya di dusun dapat menikmati
hidup berkecupan dengan upah yang telah kami
berikan kepadanya."
Sang pangeran mengangguk-angguk dan
wajahnya yang tadinya diliputi kegelisanan kini
menjadi terang kembali, sikapnya menjadi tenang,
lalu dia duduk berhadapan dengan dua orang
kepercayaannya. "Lalu, apa yang dapat kita
lakukan selanjutnya?"
"Harap paduka jangan tergesa-gesa. Kegagalan
itu membuat Pangeran Mahkota menjadi waspada.
Bahkan kabarnya para petugas di istana akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dipilih dengan seksama dan penjagaan diperketat.
Tidak mungkinlah dalam waktu dekat ini
menyelundupkan orang ke dalam istana. Kita
harus nanti saat yang tepat dan kesempatan yang
baik, pangeran."
"Hemm, engkau memang benar, Poa Kiu. Aku
sebagai penasihat kaisar, tadi juga menasehati
agar para petugas diganti dan dilakukan pemilihan
yang cermat. Hal itu untuk menjauhkan diriku dari
persangkaan. Akupun menasehatkan kepada
kaisar agar mayat kedua orang itu digantung di
pintu gerbang agar semua rakyat melihatnya dan
agar tidak ada yang berani lagi melakukan
percobaan pembunuhan di istana. Akan tetapi,
sampai kapan kita harus menanti kesempatan?"
"Pangeran, usaha membunuh Pangeran
Mahkota, untuk sementara ini harus
ditangguhkan. Hal ini selain amat sukar, juga amat
berbahaya bagi selamatan paduka sendiri. Kita
harus mencari cara lain yang lebih halus."
"Cara lain yang bagaimana?" tanya Pangeran Tua
tak sabar.
"Misalnya, dengan usaha agar Pangeran
Mahkota mendapat nama buruk dan dikecam
rakyat sebagai seorang pemuda yang tidak pantas
kelak menggantikan ayahnya menjadi kaisar.
Menonjolkan bahwa dia hanyalah keturunan darah
Turki, dan kalau mungkin, kita usahakan agar
Permaisuri bentrok dengan Pangeran Mahkota,
atau setidaknya ada terjadi pertentangan di antara
mereka......".
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pangeran Tua mengangguk-angguk. "Siasat ini
baik sekali dan perlahan-lahan boleh kau cari
jalannya untuk melaksanakannya. Akan tetapi aku
sendiri sama sekali tidak boleh tersangkut, karena
aku adalah penasihat kaisar, bahkan kalau perlu,
andaikata sampai terjadi kebocoran, aku tidak
segan-segan untuk menasehatkan menghukum
mereka yang mengacau di istana! Nah, engkau
harus berhati-hati sekali, Poa Kiu. Jangan sampai
rahasiamu terbongkar dan terpaksa aku harus
menasehatkan kaisar agar menjatuhkan hukuman
seberatnya kepadamu dan keluargamu!"
Poa Kiu bergidik. "Hamba mengerti, Pangeran.
Yang pertama adalah keselamatan paduka tidak
tersangkut, dan ke dua barulah berhasilnya siasat
itu."
"Bagus kalau engkau sudah mengerti. Engkau
boleh bekerja sama dengan Siauw Can. Dan
bagaimana dengan engkau sendiri, Siauw Can?
Apakah kau memiliki siasat lain, kecuali yang
sudah dikemukakan Poa Kiu?"
"Hamba masih mempunyai satu harapan untuk
melenyapkan Pangeran Mahkota, pangeran..."
"Hushhhhh! Engkau akan memancing bahaya
bagi kita? Tadi sudah dibicarakan bahwa untuk
sementara waktu ini, tidak mungkin siasat itu
dilaksanakan. Siapa yang akan mampu menembus
benteng pertahanan para pengawal di istana?"
"Hamba sendiri tidak dapat, akan tetapi ada
orang yang dapat, pangeran."
"Siapakah dia?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ia adalah adik misan hamba sendiri, Bi Lan."
Sepasang mata yang cerdik dan licik dari
Pangeran Tua Li Siu Ti nampak berseri. Seketika
iapun dapat melihat kemungkinan itu. "Ah, engkau
benar.! Setiap hari Bi Lan memasuki istana, tentu
saja ia tidak dicurigai, apa lagi baru saja ia yang
menyelamatkan nyawa Pangeran Mahkota. Akan
tetapi apakah ia mau membantu?" Pangeran Tua
mengerutkan alisnya, ragu-ragu karena dia sudah
melihat sikap Bi Lan. Wanita itu keras hati dan
agaknya sukar ditundukkan.
"Kita harus bekerja dengan tenang dan hati-hati,
pangeran. Memang adik misan hamba itu keras
kepala dan keras hati. Akan tetapi hamba akan
membujuknya perlahan-lahan agar ia mau
membantu."
Biarpun mulutnya berkata demikian, di dalam,
hatinya Siauw Can yakin benar bahwa Bi Lan tidak
mungkin mau kalau disuruh mencelakai Putera
Mahkota, apa lagi membunuhnya. Kalau dia berani
berjanji Kepada Pangeran Tua Li Siu Ti, itu adalah
karena dia hendak mempergunakan cara lain
untuk memaksa Bi Lan suka bekerja sama.! Ada
Poa Kiu yang dapat membantunya. Dengan kerja
sama yang baik, tentu mereka berdua akan
mampu menundukkan Bi Lan dan kalau wanita itu
sudah mau bekerja sama, membinasakan
pangeran Li Si Bin bukan merupakan hal yang
mustahil lagi.
o-ooo0dw0ooo-o
'Terlalu! Sungguh keterlaluan sekali! Orangorang
Turki mencoreng muka kita dengan kotoran,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mencemarkan kehormatan keluarga dan menghina
kita dan paduka membiarkan begitu saja? Apakah
Baducin dan anak buahnya yang biadab itu tidak
akan mentertawakan paduka? Selir paduka di
culik, diperkosa dan dibunuh, dan paduka hanya
diam mengelus dada saja! Apakah karena
permaisuri muda orang Turki, lalu paduka
membiarkan saja keluarga kita diinjak-injak
kehormatannya?" Permaisuri itu berkata dengan
nada suara yang penasaran dan kesedihan, sambil
menggunakan sapu tangan menghapus air mata
yang jatuh berderai.!
Kaisar Tang Kao Cu duduk dengan wajah
muram, alisnya berkerut dan berulang kali dia
menghela napas panjang. "Tenanglah dan jangan
menuruti perasaan saja. Bukankah Gala Sing,
putera Raja Muda Baducin yang berdosa itu telah
menerima hukumannya dan tewas?"
"Apakah cukup dengan itu? Tentu orang-orang
Turki itu akan berpendapat bahwa semua wanita
dalam istana ini boleh saja diganggu dan dihina,
kalau tertangkap mungkin dibunuh, akan tetapi
kalau tidak? Mereka semua akan menertawakan
keluarga istana!" kata pula sang permaisuri dengan
marah.
Kaisar Tang Kao Cu kehilangan kesabarannya
dan memandang kepada permaisurinya dan
bertanya kaku, "Habis, kalau menurut
pendapatmu, kita harus berbuat apa terhadap
mereka?"
"Mereka adalah orang-orang biadab, orang-orang
asing yang sepantasnya diusir semua dari negara
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kita. Perintahkan mereka pulang ke negara mereka
sendiri dan jangan lagi memperbolehkan mereka
berada di kota raja!"
"Akan tetapi, hal itu tidak mungkin!. Engkau
tahu bahwa Pangeran Mahkota Li Si Bin amat
membutuhkan bantuan mereka untuk
menundukkan para pemberontak yang masih
mengacau di sana sini. Dan engkau tentu tahu
pula bahwa merekalah yang membantu kita
menggulingkan Kerajaan Sui. Li Si Bin sendiri yang
minta kepada kami untuk lebih mementingkan
urusan negara daripada urusan pribadi.Dan di
antara kami dan Raja Muda Baducin telah
berdamai, saling memaafkan."
"Paduka telah dipengaruhi orang-orang Turki.!
Aihh, nasib kami sungguh celaka, dapat dihina
oleh orang-orang biadab tanpa kami dapat berdaya
sama sekali." Permaisuri menangis.
Kaisar Tang Kao Cu menjadi jengkel dan dia
meninggalkan permaisurinya. Dia tahu bahwa
permaisurinya itu bagaimanapun juga adalah
seorang wanita yang tidak lepas dari pengaruh
cemburu. Karena permaisuri tidak mempunyai
putera, dan dia mengangkat ibu Li Si Bin, seorang
wanita Turki, sebagai permaisuri muda, bahkan
sebagai ibu kandung putera mahkota, maka tentu
saja permaisuri merasa tersisihkan dan merasa
diancam kedudukannya. Dia sendiri tadinya
memang marah bukan main kepada Raja Muda
Baducin, pemimpin orang-orang Turki karena
selirnya diculik, diperkosa dan sampai membunuh
diri, oleh putera Baducin. Akan tetapi, puteranya,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pangeran Li Si Bin membujuknya dan
menyadarkannya. Dan biarpun dia seorang ayah,
biar dia yang menjadi kaisar, namun dia tahu
bahwa dia tidak mungkin dapat membantah
puteranya itu. Puteranya yang menjadi panglima
besar, puteranya yang berhasil memimpin pasukan
menggulingkan kerajaan Sui, bahkan puteranya
yang mengangkat dia menjadi kaisar.!
Sejak percakapan itu terjadi, permaisuri mulai
diracuni dendam kebencian terhadap Pangeran
Mahkota Li Si Bin, anak tirinya yang dianggapnya
keturunan bangsa biadab! Dan dengan sendirinya
iapun menerima dengan hati terhibur ketika adik
suaminya. Pangeran Li Siu Ti, mendekatinya.
Pangeran Li Siu Ti adalah adik kaisar, dan karena
keduanya sama-sama tidak suka kepada Pangeran
Mahkota yang berdarah Turki itu tentu saja
mereka merasa saling cocok dan hal ini
memudahkan Pangeran Li Siu Ti untuk
menyelundupkan seorang thai-kam baru sebagai
pelayan di istana bagian puteri, tentu saja mereka
dengan bantuan Permaisuri yang tidak tahu bahwa
thai-kam baru yang diusulkan Pangeran Li Siu Ti
itu bertugas sebagai mata-mata di dalam istana.!
Bukan itu saja usaha yang dilakukan oleh
Pangeran Li Siu Ti yang menugaskan Poa Kiu dan
Siauw Can untuk mengatur segala macam siasat
demi tercapainya tujuannya, yaitu merusak nama
baik Pangeran Mahkota atau kalau mungkin
membunuhnya,agar kelak mahkota dapat terjatuh
ke tangan Pangeran Li Siu Ti.!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seperti juga keadaan hati akal pikiran setiap
orang di dunia ini, juga Pangeran Li Siu Ti, Poa Kiu
maupun Siauw Can, sama sekali tidak merasa
bahwa mereka telah melakukan perbuatan yang
tidak baik. Setiap manusia akan selalu
membenarkan tindakan mereka, selama tindakan
itu bertujuan baik bagi diri sendiri. Hati dan akal
pikiran yang sudah bergelimang nafsu selalu
mementingkan pamrih dalam setiap perbuatan,
pamrih untuk keuntungan dan kesenangan diri
sendiri, dan setiap kali hati nurani mencela dan
menegur perbuatan itu, maka hati dan akal pikiran
akan menjadi pembela yang gigih dan cerdik, selalu
akan mencari alasan-alasan kuat untuk
membenarkan tindakan mereka.
Pangeran Li Siu Ti tidak pernah merasa bahwa
perbuatannya itu didorong oleh iri dan keinginan
untuk berkuasa, melainkan menganggap sebagai
perbuatan yang baik karena dia menganggap
bahwa Li Si Bin tidak pantas menjadi calon kaisar.
Seorang berdarah Turki tidak patut menjadi kaisar
dan dialah yang lebih berhak dan lebih pantas. Poa
Kiu juga menganggap semua tindakannya benar
karena hal itu menunjukkan bahwa ia adalah
seorang pembantu yang setia. Juga Siauw Can
menganggap dirinya benar karena dia ingin
memperoleh kedudukan yang baik dan wajarlah
kalau dia membantu Pangeran Li Siu Ti yang
dianggapnya akan dapat menariknya ke tingkat
yang tinggi.
Hanya ada sebuah hal yang selalu meresahkan
hati Siauw Can, yaitu mengenal Kwa Bi Lan. Diamdiam
dia harus mengakui bahwa dia telah jatuh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
cinta kepada Bi Lan. Kalau malam itu dia berusaha
menggauli Bi Lan, bukan semata-mata karena ia
tidak mampu mengendalikan nafsu berahinya.
Sama sekali bukan. Dia mencinta Bi Lan dan ingin
memperisteri wanita itu. Akan tetapi, kemudian
setelah dia melihat Ai Yin, akal pikirannya bekerja
dan dia melihat betapa cita-citanya akan dapat
tercapai kalau dia dapat memperisteri Ai Yin! Dia
akan menjadi mantu Pangeran Tua yang kelak
mungkin akan menjadi kaisar! Dia ingin
memperisteri Ai Yin karena ingin memperoleh
kedudukan tinggi, berbeda dengan keinginannya
memperisteri Bi Lan karena memang mencinta
janda itu. Maka, diapun ingin menjadi suami Ai Yin
akan tetapi tidak ingin kehilangan Bi Lan, dan dia
berusaha menggauli janda itu karena sekali janda
itu telah menyerahkan diri kepadanya, tentu
takkan dapat terlepas lagi dan dia akan mengambil
Bi Lan sebagai isteri ke dua! Akan tetapi, Bi Lan
menolak, bahkan marah-marah dan sejak itu,
sikap Bi Lan dingin terhadapnya. Ini yang amat
meresahkan hati Siauw Can.
Sekarang, sesuai dengan rencana yang diatur
bersama Poa Kiu, bukan hanya cinta yang
mendorong Siauw Can untuk memiliki Bi Lan,
melainkan juga untuk dapat memperalat janda itu
yang kini mendapatkan kepercayaan dari Pangeran
Li Si Bin dan setiap hari memasuki istana kaisar.
Siauw Can mulai mendekati Bi Lan dan dengan
wajah penuh penyesalan, dengan suara menggetar
sedih dia membujuk Bi Lan pada suatu sore, ketika
mendapatkan kesempatan bicara empat mata
dengan janda muda itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Lan-moi, kenapa engkau masih nampak marah
kepadaku? Sudah berkali-kali aku minta maaf
kepadamu. Lan-moi, aku memang bersalah malam
itu. Akan tetapi ketahuilah bahwa aku cinta
padamu, aku rindu padamu dan malam itu aku
tidak dapat menahan diri sehingga melakukan hal
yang tidak sepatutnya kulakukan. Aku minta maaf,
Lan-moi."
Bi Lan menarik napas panjang. Sebetulnya, ia
pernah tertarik kepada pemuda ini dan betapa
akan mudahnya membalas cintanya. Akan tetapi,
peristiwa malam itu sungguh telah menyapu bersih
semua perasaannya terhadap Siauw Can! Biarpun
demikian, ia tidak dapat merasa benci kepada
pemuda ini, karena iapun dapat memakluminya
sekarang. Ia teringat akan semua kebaikan Siauw
Can, teringat betapa pemuda itulah yang
mengajaknya ke kota raja sehingga kini ia
mendapatkan pekerjaan yang baik dan terhormat.
Semua penghuni istana kaisar bahkan
menghormatinya karena ia telah menjadi orang
kepercayaan Pangeran Mahkota. Semua itu dapat
terjadi karena Siauw Can yang mengajaknya ke
kota raja. Kalau ia tidak bertemu dengan pemuda
itu, entah bagaimana keadaannya sekarang.
"Can-toako, aku sudah melupakan peristiwa itu.
Aku memaafkanmu, akan tetapi kuminta mulai
saat ini, engkau jangan lagi bicara tentang cinta
padaku. Aku hanya akan menjadi muak dan
teringat akan peristiwa itu lagi saja. Kita hanya
sahabat, toako, dan untuk membalas semua
kebaikanmu, aku berjanji tidak akan membuka
rahasia dirimu kepada siapapun juga."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hanya itulah yang dapat dihasilkan Siauw Can
biarpun dia sudah mencoba untuk bersikap manis,
lembut, merendah bahkan merengek terhadap Bi
Lan. Agaknya janda itu sudah menutup pintu
hatinya terhadap cintanya!
Sikap Bi Lan ini, selain mengecewakan hati
Siauw Can karena cintanya ditolak, juga membuat
dia bingung. Dia harus dapat memperalat Bi Lan
demi membuat jasa besar kepada Pangeran Tua.
Diapun merundingkan hal ini dengan Poa Kiu,
mengatur siasat.
Siauw Can juga tak pernah lalai memperhatikan
Ai Yin. Sejak semula dia sudah berusaha
mendekati gadis bangsawan itu dan dia
mengerahkan segala daya untuk menaklukkan hati
gadis itu. Dia memang tampan, lincah dan pandai
bicara. Apalagi karena dia mendapatkan
kesempatan. Ai Yin bukan hanya belajar ilmu silat
dari Bi Lan, akan tetapi juga seringkali meminta
petunjuk darinya dan setiap kali Bi Lan pergi ke
istana untuk melatih para dayang istana, Siauw
Can selalu mempergunakan kesempatan ini untuk
memberi petunjuk kepada Ai Yin. Dengan
sendirinya, pergaulan mereka menjadi akrab dan
gadis bangsawan yang kurang pengalaman itu,
yang memiliki pembawaan manja dan genit, tentu
saja mudah runtuh oleh seorang pria yang
berpengalaman seperti Siauw Can. Pemuda ini
bukan saja mempergunakan ketampanan dan
kegagahannya untuk menarik perhatian, bahkan
dia mempergunakan kekuatan sihirnya yang
pernah dia pelajari dari mendiang ayahnya.
Terhadap seorang yang memiliki tenaga sakti
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekuat Bi Lan, kekuatan sihirnya itu tidak akan
bermanfaat. Akan tetapi terhadap Ai Yin, gunaguna
sihir yang dipergunakan Siauw Can tentu
saja amat ampuh! Siauw Can bersikap hati-hati
dan lembut, tidak mau mempergunakan
kekerasan, tidak mau terseret oleh nafsunya
sendiri yang bahkan mungkin dapat menggagalkan
usahanya. Dia harus dapat memikat Ai Yin dan
mendapatkan gadis itu sebagai isterinya secara
terhormat, dapat diterima dengan baik oleh gadis
itu dan keluarganya. Maka diapun berperan
sebagai seorang pemuda yang sungguh jatuh cinta,
yang sopan dan menghormati gadis yang
dicintanya!
Ketika dia pada suatu pagi, setelah memberi
petunjuk ilmu silat kepada Ai Yin, melihat
kesempatan baik, diapun mendekati Ai Yin yang
duduk di atas bangku dalam ruangan berlatih silat
itu. Gadis itu tampak segar, kedua pipinya
kemerahan, napasnya agak terengah, dahi dan
lehernya basah oleh keringat setelah tadi berlatih
silat dan menggunakan tenaga. Ia tersenyum,
cerah dan menyusut keringat dengan saputangan
sambil memandang kepada Siauw Can dengan
wajah berseri.
"Bagaimana pendapatmu, toako? Sudah
majukah gerakanku?" Ai Yin memanggil pemuda
itu toako (kakak) menirukan Bi Lan. Dia tidak
senang kalau disebut taihiap (pendekar besar),
maka Ai Yin menyebutnya toako yang
menyenangkan kedua pihak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Baik sekali, nona. Engkau memang berbakat,
gerakanmu cukup cekatan, cukup kuat, cepat dan
indah. Bahkan gerakanmu lebih indah
dibandingkan gerakan Lan-moi."
Ai Yin tertawa dan ketika mulutnya terbuka,
nampak rongga mulut yang merah dan deretan gigi
yang putih dan rapi. "Hi-hik. engkau memuji
terlalu tinggi, toako. Mana mungkin gerakanku
lebih indah dibandingkan gerakan enci Lan?
Engkau merayu, ya?"
Siauw Can tersenyum, akan tetapi lalu berkata
dengan serius. "Sungguh mati, aku berani
bersumpah, nona. Aku tidak merayu, dan bukan
memuji kosong, hanya berkata sesungguhnya.
Tentu saja engkau tidak dapat menyamai kelihaian
Lan-moi, akan tetapi dalam keindahan gerakan,
nona jauh lebih hebat. Kalau nona bermain silat,
gerakanmu seperti seorang bidadari sedang
menari, gerakan kaki tangan dan badanmu.........."
Wanita mana di dunia ini yang hatinya tidak
runtuh menghadapi pujian, apa lagi kalau pujian
itu keluar dari mulut seorang pria muda tampan?
Bahkan andaikata ia tahu bahwa pujian itu hanya
rayuan gombal sekalipun, hati wanita itu akan
berkembang dan penuh rasa senang dan bangga.!
Agaknya memang sudah pembawaan alam, berlaku
untuk mahluk apapun juga, betina selalu suka
sekali dipuji dan pria selalu suka sekali memuji.!
Percaya atau tidak bahwa pujian Siauw Can itu
benar, tetap saja hati Ai Yin menjadi senang bukan
main dan tawanya lepas dan gembira.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Jangan bohong kau, Can-toako! Enci Lan
seringkali menegurku, mengatakan bahwa yang
membuat gerakanku kaku adalah badanku,
ehh......pinggulku, katanya terlalu menonjol ke
belakang!"
Siauw Can membelalakkan matanya dan berkata
dengan nada penuh penasaran, "Ah, Lan-moi
terlalu kejam untuk mencelamu. Hem, menurut
penglihatankku, justeru pinggulmu amat indah
bentuknya dan membuat gerakanmu nampak
serasi dan menawan!"
Kembali Ai Yin tersenyum, akan tetapi sekali ini
ia mengerling genit dan kedua pipinya agak
kemerahan. Siauw Can yang sudah berpengalaman
dapat melihat bahwa gadis itu sudah mulai
terpikat. Dia mengenal batas dan tidak
melanjutkan rayuannya karena hal itu akan
menimbulkan kecurigaan. Dia bersikap biasa
kembali dan dengan sopan dia mulai pula memberi
petunjuk-petunjuk sehingga gadis itu kehilangan
rasa canggungnya. Akan tetapi diam-diam benih
yang ditanam Siauw Can mulai tumbuh, dan
sepasang mata yang manja itu mulai memandang
Siauw Can bukan hanya karena kagum akan
kepandaiannya, akan tetapi juga dengan perhatian
yang lain, perhatian seorang gadis remaja yang
mulai tertarik kepada seorang pria yang
menyenangkan hatinya, yang pandai mengelus
perasaannya. Jerat mulai dipasang untuk
menangkap kelinci muda yang belum
berpengalaman itu, perangkap mulai dipasang
terhadap burung yang baru belajar terbang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sikap Siauw Can yang mulai berubah, rayuanrayuan
maut berupa pujian-pujian dengan suara
lembut, pandang mata yang jelas membayangkan
berahi, senyum-senyum penuh pikatan, membuat
Ai Yin maklum bahwa pemuda yang selama ini
dianggapnya sebagai seorang pendekar yang
membantu ayahnya itu cinta kepadanya! Hal ini
merupakan pengalaman baru bagi gadis
bangsawan ini, membuat ia kadang suka melamun
dalam kamarnya. Ia mulai gelisah dan akhirnya,
pada suatu kesempatan ia berdua saja dengan Bi
Lan, ia mengaku terus terang kepada pendekar
wanita yang menjadi sahabat dan gurunya itu.!
"Enci Bi Lan, aku ingin membicarakan sesuatu,
akan tetapi engkau harus berjanji dulu padaku
bahwa engkau akan merahasiakan semuanya ini
dan juga bahwa engkau tidak akan merasa
tersinggung.!"
Bi Lan memandang gadis itu dengan sinar mata
penuh selidik. Ia mengenal Ai Yin sebagai seorang
dara remaja yang cantik, genit dan manja. Akan
tetapi yang memiliki dasar watak yang baik, yang
akrab pula dengan saudara sepupunya, yaitu
Pangeran Mahkota Li Si Bin. Iapun merasa sayang
kepada Ai Yin, sungguhpun ia tahu bahwa gadis
itu sebagai murid tidaklah memuaskan karena
tidak memiliki bakat ilmu silat.
"Baik, nona, aku berjanji tidak akan merasa
tersinggung dan akan merahasiakan apa yang
akan kaubicarakan," jawabnya sambil tersenyum,
merasa seperti menghadapi seorang anak-anak
yang manja.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah bersangsi sebentar, dengan kedua pipi
berubah merah, Ai Yin lalu bertata. "Enci Lan,
kakak misanmu itu...... "
Diam-diam Bi Lan terkejut. Ada apa dengan
Siauw Can? Jantungnya berdebar. Jangan-jangan
pemuda itu mengulang lagi perbuatannya seperti
yang pernah dilakukan kepadanya pada malam itu,
dan kini yang didekatinya adalah gadis bangsawan
ini. "Can-toako? Kenapa dengan dia?" tanyanya
cepat.
Melihat Bi Lan terkejut. Ai Yin tersenyum dan
menggeleng kepala. "Tidak apa-apa. enci. Hanya
dia.......dia agaknya jatuh cinta padaku.."
Dara itu menundukkan mukanya dengan malumalu
dan Bi Lan terbelalak. Hemm, kiranya Siauw
Can kini mengalihkan perhatian dan perasaannya
kepada gadis bangsawan yang usianya baru
tujuhbelas tahun ini.!
Akan tetapi, agaknya Ai Yin juga dapat
menerima perasaan pemuda itu. Kalau tidak
demikian, tentu akan berbeda sikapnya. Tentu
dara itu akan marah-marah, tidak bersikap malumalu
seperti ini. Sikap malu-malu menghadapi
pernyataan cinta seorang pria sama artinya dengan
menyambut pernyataan itu dengan senang hati.
Dara ini telah terpikat dan jatuh hati pula kepada
Siauw Can! Akan tetapi, apa salahnya? Siauw Can
adalah seorang pemuda yang baik. Tampan dan
gagah, dan menjadi orang kepercayaan Pangeran
Tua, ayah gadis ini. Ia tidak melihat suatu cacat
pada diri Siauw Can, kecuali peristiwa malam itu
yang telah dapat ia maklumi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Siocia (nona), dia tidak melakukan sesuatu yang
tidak semestinya kepadamu, bukan?" Bi Lan
memancing dan gadis itu cepat menggeleng kepala
dan mengangkat muka memandangnya.
"Tidak, dia amat baik kepadaku, enci."
"Hemm, kalau begitu.......kenapa kauceritakan
hal ini kepadaku?"
Wajah Ai Yin menjadi semakin merah. "Aku...
.aku bingung, enci, aku........aku takut karena
belum pernah aku merasakan seperti ini. Aku tidak
tahu apa yang harus kulakukan, aku ingin
bertanya kepadamu, bagaimana pendapatmu
tentang pemuda yang menjadi kakak misanmu
itu?"
Bi Lan terharu. Sukar baginya membayangkan
bagaimana akan rasanya andaikata pernyataan
dan pertanyaan Ai Yin itu diajukan kepadanya
sebelum terjadi peristiwa malam itu.! Ia sendiri
tadinya menyukai Siauw Can. Akan tetapi
sekarang, yang ada dalam hatinya hanya perasaan
haru. Dara bangsawan itu demikian percaya
kepadanya sehingga menanyakan urusan yang
demikian pribadi kepadanya.
Bi Lan menegang tangan Ai Yin dan dengan
suara gemetar karena haru iapun berkata, "Nona,
sepanjang yang kuketahui, Can-toako adalah
seorang laki-laki yang gagah perkasa dan berjiwa
pendekar. Bagiku dia cukup gagah dan baik. Tentu
saja aku tidak mengenalnya lebih dalam karena
kamipun baru bertemu beberapa bulan yang lalu.
Nona, apakah.........engkau juga cinta padanya?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kembali Ai Yin menanduk, ia memang genit dan
manja, juga lincah, akan tetapi sekali ini dalam
urusan cinta, ia berubah menjadi pemalu! Ia
menggeleng kepala. "Aku tidak tahu, enci. Aku
memang kagum padanya, dan suka padanya, dan
segala hal pada dirinya menarik hatiku, membuat
aku selalu ingat dan kadang tak dapat tidur........ "
Bi Lan tersenyum. Itu tandanya cinta, walaupun
mungkin cinta remaja! "Nona, apakah engkau
mengharapkan nasihat dariku?"
Ai Yin mengangkat muka dan memandang Bi
Lan dengan mata penuh harap. "Benar sekali, enci
Lan. Aku sedang bingung dan ragu, bagaimana
baiknya menghadapi urusan ini?"
"Pernahkah dia secara terang-terangan
menyatakan bahwa dia cinta padamu, nona?"
"Terang-terangan memang belum, akan tetapi
gerak-geriknya, sinar matanya, suaranya, pujianpujiannya,
semua itu sudah jelas. Agaknya diapun
merasa ragu dan bimbang, takut untuk
mengatakannya."
"Hem, kalau begitu, kautunggu saja sampai ia
berkata terus terang, nona. Dia seorang gagah,
kurasa dia akan berani berterus terang kalau
memang dia cinta padamu. Dan kalau dia sudah
menyatakan cintanya, jawablah saja bahwa kalau
benar dia mencintamu, dia harus berani
melamarmu kepada orang tuamu."
"Aih, mana dia berani, enci?"
"Biar itu menjadi ujian baginya, nona. Kalau
memang dia mencintamu, kenapa tidak berani!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jangankan hanya melamar kepada orang tuamu,
kalau dia benar mencinta, biar menyeberangi
lautan api umpamanya, tentu akan dia lakukan.
Bukankah begitu?"
Wajah gadis itu berseri-seri. Betapa senangnya
kalau mempunyai seorang calon suami yang
demikian besar cintanya sampai mau
menyeberangi lautan api! Setelah bicara dengan Bi
Lan, makin besar rasa hati Ai Yin dan diapun kini
tidak ragu-ragu lagi, sudah bertekad untuk
menerima cinta kasih pemuda itu.
Kalau saja Bi Lan tahu! Kalau saja ia mengenal
siapa sebenarnya Siauw Can atau Can Hong San.
Tentu ia akan dengan tegas mencegah puteri
bangsawan itu tergelincir dan terjebak ke dalam
perangkap!
-ooo0dw0ooo-
Beberapa bulan kemudian. Seperti yang
dinasehatkan Bi Lan, ketika pada suatu hari Siauw
Can memberanikan diri mengaku cintanya kepada
Ai Yin, gadis bangsawan itu menjawab bahwa
untuk membuktikan cintanya, Siauw Can harus
melamarnya pada ayahnya!
Siauw Can terbelalak mendengar ini dan dia
nampak gelisah. "Akan tetapi, bagaimana mungkin
itu, nona? Bagaimana aku akan berani
melamarmu? Ayahmu adalah Pangeran Tua,
majikanku, dan aku sendiri sebatangkara, tiada
orang tua lagi. Aku tidak mempunyai wakil
dan........."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Cukup alasan itu, toako!" Li Ai Yin memotong
marah. "Kau bilang bahwa engkau mencintaku.
Akan tetapi baru kusuruh mengajukan pinangan
saja engkau tidak berani! Bagaimana aku dapat
mempercayaimu?" kata Ai Yin yang segera pergi
meninggalkan pemuda itu.
Siauw Can termenung dan menjadi serba salah.
Tadinya dia ingin memikat dulu gadis bangsawan
itu sampai menjadi kekasihnya, baru perlahahanlahan
mengatur perjodohan. Siapa kira, gadis ini
langsung saja minta dibuktikan cintanya dengan
mengajukan lamaran! Sekarang menjadi serba
salah. Tidak memenuhi permintaan Ai Yin tentu
gadis itu akan marah dan menganggap cintanya
hanya pura-pura. Memenuhi permintaan, dia
merasa takut! Karena bingung, diapun lari
menjumpai Poa Kiu dan minta nasihat rekan yang
lebih tua itu.
Mendengar keterangan Siauw Can, Poa Kiu yang
kurus bongkok mengelus jenggotnya dan
mengangguk-angguk. "Hemm, jadi nona Ai Yin
jatuh cinta padamu dan minta agar ia dilamar?
Betapa baik nasibmu, Siauw Can. Baiklah, aku
akan menjadi walimu dan akan kuajukan lamaran
kepada Pangeran. Mudah-mudahan saja beliau
dapat menerima pinanganmu."
"Akan tetapi kuharap paman berhati-hati, jangan
sampai beliau marah kepada kita......" kata Siauw
Can dengan lega walaupun kekhawatirannya masih
membuatnya gelisah.
Demikianlah, dengan hati-hati Poa Kiu
menghadap Pangeran Li Siu Ti dan melaporkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tentang hubungan asmara antara Siauw Can dan
Ai Yin, dan tentang keinginan hati Siauw Can
untuk mengajukan pinangan, akan tetapi pemuda
itu takut-takut.
Pangeran Tua Li Siu Ti tidak marah. Dia
memang suka kepada pemuda itu, akan tetapi
menerima seorang pemuda biasa sebagai mantu
merupakan hal yang harus diimbali dengan jasa
yang besar di pihak Siauw Can. Maka, diapun
mengajukan syarat, bahwa apabila Siauw Can
berhasil membunuh atau setidaknya melukai
Pangeran Mahkota Li Si Bin, barulah dia akan
menerima pinangan pemuda itu.
Mendengar ini, Siauw Can segera mencari akal
dan mengatur siasat, dibantu oleh Poa Kiu yang
mengharapkan bahwa apabila kelak Siauw Can
menjadi mantu Pangeran Li Siu Ti, tentu pemuda
itu tidak akan melupakan jasanya dan diapun
akan ikut terangkat naik derajat dan
kedudukannya.
Bi Lan sama sekali tidak tahu akan persekutuan
yang dikepalai Pangeran Tua Li Siu Ti. Baginya,
pangeran itu adalah adik kaisar yang
berkedudukan tinggi karena menjadi penasihat
kaisar. Sama sekali ia tidak pernah bermimpi
bahwa pangeran itu mempunyai cita-cita untuk
kelak menjadi kaisar dan untuk cita-cita ini, dia
sanggup melakukan apa saja. Apa lagi karena
hubungannya dengan Ai Yin amat akrabnya,
sedangkan gadis bangsawan itu biarpun genit dan
manja, dinilainya seorang yang berbudi baik,
bahkan amat sayang dan hormat kepada Pangeran
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mahkota. Ia tidak tahu betapa cita-cita Pangeran
Tua Li Siu Ti itu bahkan mengancam dirinya,
karena ia dekat dengan Pangeran Li Si Bin dan
dapat keluar masuk istana setiap hari tanpa
dicurigai dan dengan bebas pula.
Pada suatu hari, ketika seperti biasa ia berada di
istana untuk melaksanakan tugasnya melatih silat
kepada para dayang, seorang pengawal memberi
tahu kepadanya bahwa ada dua orang perajurit
pengawal dari istana Pangeran Tua datang minta
bertemu dengannya untuk menyampaikan berita
yang amat penting. Tentu saja Bi Lan menjadi
heran mendengar ini. akan tetapi ia cepat keluar
untuk menemui dua orang perajurit itu. Mereka
nampak gugup dan ketakutan, dan begitu bertemu
dengan Bi Lan, seorang di antara mereka berkata
dengan cemas.
"Celaka, Kwa-lihiap! Nona kecil Lan Lan telah
hilang.........!"
Sepasang mata itu terbelalak. "Apa? Bukankah
ia diasuh oleh Cu-ma?"
"Kami dapatkan Cu-ma duduk di bangku taman
dalam keadaan tak sadar, dan nona kecil tidak
ada. Sudah kami cari kemana-mana tidak
berhasil."
Mendengar ini, tanpa banyak cakap lagi Bi Lan
segera berlari meninggalkan pintu gerbang istana,
membuat para penjaga di pintu gerbang terheranheran
dan tentu saja mereka segera bertanya
kepada dua orang perajurit yang datang dari istana
Pangeran Tua itu. Dua orang perajurit inipun
menceritakan tentang hilangnya Lan Lan, puteri
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kwa Bi Lan. Segera tersebarlah berita itu dari
mulut ke mulut dan sebentar saja berita itu sampai
ke telinga Pangeran Mahkota Li Si Bin. Pangeran
yang menaruh perhatian kepada Bi Lan ini merasa
khawatir dan diapun segera bergegas pergi
berkunjung ke istana Pangeran Tua.
Sementara itu, bagaikan terbang cepatnya, tanpa
memperdulikan orang-orang yang dijumpai dalam
perjalanan, yang memandang dengan heran dan
kaget ketika mereka melihat bayangan berkelebat
saking cepatnya dan tak lama kemudian ia sudah
tiba di istana Pangeran Tua. Ia disambut oleh para
penjaga dan pelayan, dan segera ia diantar ke
kamar Cu-ma, wanita pengasuh yang biasanya
mengasuh Lan Lan setiap kali ia pergi ke istana
kaisar. Mereka telah mengangkat tubuh Cu dan
membaringkannya ke dalam kamar pelayan itu
sendiri. Bi lan segera memeriksa dan melihat Cuma
berada dalam keadaan tidak dapat bergerak
dan tak dapat berbicara. Ia telah ditotok secara
lihai! Bi Lan cepat menotok beberapa jalan darah di
tubuh Cu-ma dan akhirnya wanita setengah tua itu
dapat bergerak dan menangis.
"Cu-ma, apa yang telah terjadi? Di mana Lan
Lan?" Bi Lan bertanya, suaranya tegas dan keras.
"Hentikan tangismu dan ceritakan yang jelas!"
Sambil menahan tangis dan masih nampak
gugup, Cu-ma bercerita bahwa tadi seperti biasa,
setelah Bi Lan berangkat ke istana, ia mengajak
Lan Lan bermain di dalam taman bunga. Kebetulan
musim bunga telah tiba dan taman istana itu
indah sekali. Bunga beraneka warna dan bentuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sedang mekar dan keharuman semerbak di taman
itu. Cu-ma membiarkan Lan Lan bermain-main di
atas rumput dan dia mengawasi sambil duduk di
atas bangku.
"Saya tidak tahu apa yang terjadi, lihiap. Tibatiba
saja ada bayangan berkelebat dan sebelum
saya dapat berbuat sesuatu, tubuh saya tak dapat
digerakkan lagi dan saya tidak dapat
mengeluarkan suara. Akan tetapi saya masih dapat
melihat betapa bayangan itu menyambar tubuh
nona kecil Lan Lan dan membawanya pergi seperti
terbang cepatnya."
Pada saat itu, Ai Yin datang berlari memasuki
kamar itu dan ia duduk di tepi pembaringan Cuma,
memegang tangan Bi Lan dan wajah gadis ini
pun tegang. "Aku juga ikut mencari kemana-mana,
akan tetapi tidak berhasil, enci Bi Lan." katanya
dengan wajah cemas.
"Tenanglah, nona, dan biar aku mencari
keterangan dulu dari Cu-ma," kata Bi Lan. Iapun
merasa gelisah, akan tetapi sikapnya tenang. "Cuma,
bagaimana bentuk wajah dan tubuh bayangan
itu?"
"Saya tidak sempat melihat wajahnya, lihiap.
Pakaiannya serba hitam, dan saya yang tidak
mampu bergerak, hanya sempat melihat tubuh
belakangnya saja. Rambutnya dibungkus kain
kepala warna hitam pula, dan bentuk tubuhnya
sedang."
"Laki-laki atau wanita melihat bentuk tubuhnya
itu?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bentuk tubuh itu sedang saja, bisa laki laki dan
bisa juga wanita."
"Dia tidak mengeluarkan kata-kata?"
"Tidak, Lihiap."
"Apakah Lan Lan tidak menangis ketika
dilarikan orang itu?"
"Saya tidak mendengar nona kecil menangis.
Semua berlangsung demikian cepatnya....." Cuma
menangis lagi.
"Enci Lan, siapa kira-kira yang berani menculik
Lan Lan? Apakah engkau mempunyai musuh?"
Bi Lan hanya menggeleng kepalanya dan tibatiba
ia bertanya kepada gadis bangsawan itu.
"Nona, di mana kakak misanku Siauw Can?"
Dalam keadaaan seperti itu, semua orang patut
dicurigai, pikir Bi Lan. Ia tidak mempunyai alasan
untuk mencurigai Siauw Can, akan tetapi kenapa
pemuda itu tidak nampak, padahal seluruh isi
rumah nampak bingung karena lenyapnya Lan Lan
diculik orang.
"Dia? Sejak pagi tadi dia pergi mengawal ayah
keluar rumah. Dia tidak tahu bahwa Lan Lan
diculik orang. Juga ayah belum tahu karena
mereka belum pulang. Enci Lan, kau harus dapat
menemukan kembali Lan Lan dan menangkap
penjahat yang menculiknya!"
Sebelum Bi lan menjawab, terdengar suara
gaduh para pelayan yang berlutut memberi hormat
dan muncullah Pangeran Li Si Bin. "Bi Lan, kami
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mendengar putrimu diculik orang! Apa yang
sesungguhnya terjadi?" tanya pangeran itu.
Bi Lan tidak kehilangan ketenangannya dan
bersama Ai Yin ia memberi hormat kepada
pangeran itu. "Kakanda Pangeran, paduka harus
menolong Lan Lan......." Ai Yin segera berkata.
"Tenanglah, Ai Yin dan biarkan Bi Lan
menceritakan apa yang terjadi," kata pangeran itu
dengan sikap tenang dan dia sudah duduk di
sebuah kursi dalam kamar pelayan itu.
Bi Lan menceritakan semua yang terjadi dengan
sejelasnya kepada Pangeran Li Si Bin. Setelah
mendengar apa yang terjadi, pangeran itu menjadi
marah sekali. "Jangan khawatir, Bi Lan. Sekarang
juga aku akan mengerahkan seluruh pasukan
keamanan untuk mencari anakmu itu dan engkau
boleh menghentikan dulu tugasmu mengajar di
istana dan mencari anakmu sampai dapat."
Pangeran itu lalu meninggalkan istana Pangeran
Tua memanggil panglimanya dan memerintahkan
agar panglima itu mengerahkan pasukan mencari
anak yang hilang itu. Segera para perajurit berjaga
di semua pintu gerbang, melakukan pencarian dan
penggeledahan, bahkan menangkapi orang-orang
yang dicurigai. Belum pernah terjadi keributan
seperti itu hanya karena hilangnya seorang anak
kecil, yang melibatkan seluruh perajurit pasukan
keamanan!
Bi Lan sendiri tidak tinggal diam. Ia mencari ke
mana-mana, namun tidak menemukan jejak Lan
Lan. Akhirnya ia termenung di dalam kamarnya
seorang diri saja. Mulailah ia menduga bahwa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
besar sekali kemungkinan kini Lan Lan berada
bersama ayah ibunya! Ayah dan ibu Lan Lan, Si
Han Beng dan Bu Giok Cu, adalah sepasang suami
isteri pendekar yang amat lihai, memiliki ilmu
kepandaian silat yang tinggi sekali. Siapa lagi yang
akan menculik Lan Lan kalau bukan mereka?
Mungkin ibu anak itu yang datang untuk
mengambil kembali puterinya. Kalau benar mereka
yang datang mengambil kembali puteri mereka,
iapun tidak dapat berbuat sesuatu. Kalau dulu ia
mampu melarikan Lan Lan hal itu hanya karena
suami isteri itu tidak tahu dan suami isteri itu
tentu saja tidak berani sembarangan mengejarnya
karena takut kalau ia melaksanakannya
ancamannya, yaitu akan membunuh Lan Lan
kalau mereka mengejar.
Bi Lan menarik napas panjang. Ia telah terlanjur
cinta kepada anak itu dan dianggapnya sebagai
anak sendiri. Bahkan kepada Pangeran Mahkota
saja ia mengakui Lan Lan sebagai puterinya.
Biarpun kini Pangeran Li Si Bin yang mempunyai
kekuasaan besar itu membantunya, tidak mungkin
kalau ia minta bantuan pangeran itu untuk
merampas Lan Lan dari ayah ibunya sendiri! Hal
itu berarti ia harus membuka rahasianya bahwa
selama ini ia membohongi semua orang,
membohongi sang pangeran bahwa Lan Lan bukan
anaknya sendiri melainkan anak curian!
Lewat tengah hari, Pangeran Tua Li Siu Ti dan
para pengawal yang dipimpin Siauw Can pulang.
Begitu mendengar tentang terculiknya Lan Lan,
Siauw Can segera mencari Bi Lan di kamarnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Lan-moi, apa yang telah terjadi? Aku mendengar
Lan Lan diculik orang! Benarkah ini?"
Bi Lan mengamati wajah pemuda itu dan ia
mengangguk "Pagi tadi, ketika aku sedang berada
di istana, dan Lan Lan diasuh Cu-ma di taman,
ada bayangan orang menotok roboh Cu-ma dan
membawa lari Lan Lan."
"Ah, keparat! Kalau aku berada di rumah, tak
mungkin hal ini terjadi! Akan kubekuk leher
penculik jahanam itu, Lan-moi. Percayalah, aku
akan mencari dan menemukan kembali anakmu!"
Bi Lan menggeleng kepala dan menghela napas.
"Sudah kucari ke mana-mana akan tetapi tidak
ada jejaknya, Can-toako. Bahkan Pangeran
Mahkota juga sudah mengerahkan pasukan untuk
mencarinya. Penculik itu agaknya lihai sekali. Dia
dan Lan Lan seperti menghilang saja...... " Wajah Bi
Lan nampak berduka sekali karena ia hampir
yakin bahwa Lan Lan tentu diambil kembali oleh
orang tuanya dan kalau hal itu terjadi, berarti
kehilangan Lan Lan untuk selamanya. Dan tibatiba
saja ia merasa amat kesepian. Melihat wanita
itu hampir menangis, Siauw Can menghiburnya.
"Aku akan membantumu, Lan-moi. Betapapun
lihainya, kalau engkau dan aku maju bersama,
mustahil kita tidak akan mampu mengalahkannya
merebut kembali anakmu."
Pada saat itu Pangeran Tua Li Siu Ti datang dan
berada di luar kamar Bi Lan. Wanita itu cepat
keluar dan memberi hormat. "Aku ikut merasa
menyesal sekali mendengar anakmu diculik orang,
Bi Lan. Ah, kalau tahu akan muncul bencana,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tentu aku tidak mengajak Siauw Can pergi hingga
dia berada di rumah dan akan mampu mencegah
terjadinya penculikan itu. Para penjaga yang tidak
becus itu! Akan kuhukum mereka yang bertugas
pagi tadi. Mereka lalai sehingga tidak tahu ada
penjahat masuk dan menculik anakmu!"
"Harap paduka tidak menyalahkan para penjaga,
Pangeran. Penculik itu memiliki kepandaian tinggi
sehingga tidak akan sukar baginya untuk
menyelinap masuk dan melarikan Lan Lan keluar
tanpa diketahui para penjaga. Dari cara dia
menotok Cu-ma, dan betapa dia mampu
bersembunyi dan meloloskan diri dari pengejaran
dan pencarian pasukan keamanan yang
dikerahkan Pangeran Mahkota, saya tahu bahwa
dia lihai bukan main," kata Bi Lan yang tidak ingin
para penjaga disalahkan. Karena andaikata ia
sendiri menjadi penculiknya, iapun akan mampu
melakukan hal itu tanpa diketahui para penjaga.
Sekarang ia sama sekali tidak dapat mencurigai
Siauw Can. Sudah jelas dari penjelasan Pangeran
Li Siu Ti bahwa ketika peristiwa terjadi, Siauw Can
sedang mengawal dan menemani pangeran itu.
Akan tetapi agaknya memang tidak perlu
mencurigai orang lain. Ia hampir yakin bahwa
pelaku penculikan itu pasti orang tua Lan Lan
sendiri.Hanya mereka yang berkepentingan untuk
merampas kembali Lan Lan. Kalau orang lain,
untuk apa menculik Lan Lan, menempuh bahaya
besar menculik anak kecil dari Istana Pangeran
Tua."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kini hati Bi Lan sudah mulai tenang. Kalau yang
menculik Lan Lan itu orang tua anak itu sendrri, ia
tidak perlu lagi mengkhawatirkan keadaan Lan
Lan. Akan tetapi, makin dikenang, semakin sedih
hatinya dan ia merasa kehilangan.
Malam ini ia tidak mampu tidur, gelisah di atas
pembaringan, apa lagi kalau ia melihat
pembaringan yang ditidurinya itu kosong, tidak
nampak lagi Lan Lan yang lucu di sebelahnya.
Bunyi lirih di atas kamarnya membuat ia
waspada. Ketika ada benda putih meluncur dari
atas langit-langit kamar, ia cepat bangkit,
mengenakan sepatu dan membuka jendela, lalu
melihat keluar, langsung saja ia melayang ke arah
atas genteng untuk mencari orang yang
meluncurkan benda ke dalam kamarnya. Akan
tetapi setelah berada di atas genting, ia tidak
melihat bayangan seorangpun. Betapa cepat
gerakan orang itu. Ia mandang ke sekeliling, sunyi
dan tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Atap
istana itu sunyi lengang, dan bintang-bintang
berkeredepan di angkasa. Sayang tidak dapat
ditanya, karena pasti bintang-bintang itu tadi tahu
siapa yang berada di atas kamarnya. Ia
membetulkan letak genteng yang dibuka orang,
lalu teringat akan benda putih yang dilemparkan
ke dalam kamarnya dan ia meloncat turun,
kembali ke dalam kamarnya tanpa menimbulkan
kegaduhan.
Setelah memasuki kamarnya, Bi Lan
menyalakan lampu penerangan sehingga kamarnya
menjadi terang. Ia melihat sebuah bungkusan di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
atas lantai. Kertas putih yang ada tulisannya
membungkus suatu, kecil saja, setengah kepalan
tangannya, dengan hati-hati ia mengambil
bungkusan itu. Bungkusan diatur sedemikian rupa
sehingga tanpa membukanya, ia dapat membaca
tulisan di kertas pembungkusnya.
"Kalau dalam waktu tiga hari Putera Mahkota
belum juga tewas dengan racun ini, Lan Lan akan
dikembalikan sebagai mayat!"
Bi Lan terbelalak, kedua tangannya menggi gil. Ia
meletakkan bungkusan itu ke atas meja.
Memandanginya dengan jijik seperti memandang
seekor ular berbisa yang amat berbahaya. Lan Lan
ternyata diculik orang yang hendak memaksanya
membunuh Pangeran Li Si Bin dengan racun
dalam bungkusan itu! Jelas bahwa ini tentu ada
hubungannya dengan bekas thai-kam gendut yang
pernah mencoba untuk meracuni putera mahkota.
Dan thai-kam itu membunuh diri, maka yang
berdiri di belakangnya, yang menyuruhnya
meracuni putera mahkota, tentulah orang yang
amat ditakutinya. Dan kini agaknya orang yang
menginginkan kematian pangeran Li Si Bin itu
hendak mempergunakan ia untuk membunuhnya.
Dengan cara yang teramat keji dan licik, yaitu
menculik Lan Lan dan mengancam nyawa anak itu
yang harus ditukar dengan nyawa Pangeran Li Si
Bini.! Ini merupakan pemerasan yang teramat hina
dan kotor.
Dengan jari-jari tangan gemetar Bi Lan
membuka bungkusan dan benar saja, di dalamnya
terdapat bubuk putih yang sama sekali tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berbau akan tetapi ia dapat menduga bahwa tentu
benda itu merupakan racun yang amat berbahaya.
Ia membungkusnya kembali, lalu duduk
termenung memandangi bungkusan racun itu. Ia
menjadi bingung dan panik. Ia dihadapkan pada
ancaman yang amat merisaukan hatinya. Ia harus
memilih. Berat mana? Li Si Bin atau Lan Lan?
Tentu saja ia tidak ingin melihat keduanya
terbunuh, ia mencinta Lan Lan, menganggap anak
itu seperti anaknya sendiri. Akan tetapi ia
juga............mencinta Pangeran
Li Si Bin! Ia bersedia mempertaruhkan nyawanya
sendiri untuk kedua orang ini. Dan sekarang, ia
diharuskan memilih antara keduanya. Membunuh
Pangeran Li Si Bin atau melihat Lan Lan dibunuh!
"Jahanam keparat busuk!" Bi Lan menepuk ujung
meja di depannya sehingga remuk dan ia bangkit,
mengepal tinju. Kalau saja penculik Lan Lan itu
berada di situ, tentu akan diserangnya,
diremukkan kepalanya, dipatahkan tulang
lehernya! Karena tidak ada orang yang dapat ia
jadikan sasaran kemarahannya, Bi Lan lalu
melempar diri ke atas pembaringan dan menangis.!
Sejak kematian suaminya, baru sekarang ia
menangis dalam arti kata yang sesungguhnya.
Menangis karena ia merasa betapa nelangsa
hatinya, betapa sunyi hidupnya, betapa ia
membutuhkan seorang yang dekat dengannya,
yang mencintanya dan dicintanya. Ia tadinya
sudah mendapatkan cinta itu dalam diri Lan Lan,
akan tetapi kini pada saat ia menemukan lagi cinta
yang lebih sempurna, dalam diri putera mahkota,
kedua orang yang amat dicintanya itu terancam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bahaya maut. Seorang di antara mereka harus
mati. Dan lebih hebat lagi, mati di tangannya! Apa
yang harus ia lakukan? Tiga hari tidaklah lama
dan bagaimana ia dapat mengatasi keadaan ini!
Hampir saja ia menengok kepada Siauw Can, akan
tetapi mengingat perbuatan Siauw Can kepadanya
di malam itu, ia bergidik. Jangan-jangan kalau
dimintai tolong, Siauw Can bahkan akan
mengajukan syarat yang membuat ia akan menjadi
semakin bingung, dan belum tentu Siauw Can
akan mampu menolongnya. Apakah demi
keselamatan Lan Lan ia harus membunuh putera
mahkota dengan racun itu? Ah, tidak, tidak!!
"Aduh, pangeran, apa yang harus hamba
lakukan..........!?" Bi Lan menangis di depan
Pangeran Li Si Bin yang memandang dengan mata
terbelalak kepada wanita yang berlutut di depan
kakinya itu. Sikap seperti itu sungguh tak pernah
dapat dibayangkannya. Bi Lan yang biasanya
demikian gagah perkasa, kini menangis dan
berlutut di depan kakinya seperti seorang wanita
lemah yang cengeng.!
Akan tetapi timbul kekhawatiran juga di hati
pangeran ini. Kalau sampai seorang wanita gagah
perkasa seperti Bi Lan bersikap selemah itu tentu
ada sebab yang amat hebat. "Bi Lan, tenanglah dan
ceritakan, apa yang telah terjadi sehingga engkau
yang biasanya gagah perkasa bersikap selemah
ini?"
"Silakan paduka membacanya sendiri,
pangeran." Bi Lan menyerahkan bungkusan itu
dengan tangan gemetar kepada Putera Mahkota.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pangeran Li Si Bin yang masih merasa heran itu
menerima bungkusan dan membaca tulisannya.
Wajahnya berubah agak pucat dan dia menaruh
bungkusan itu ke atas meja, lalu memandang
kepada wanita yang masih berlutut dengan muka
ditundukkan, masih terisak menangis itu.
"Bi Lan, engkau tentu amat mencinta Lan Lan,
puterimu itu, bukan?"
Bi Lan mengangkat mukanya yang pucat dan air
mata masih mengalir membasahi kedua pipinya.
"Pangeran, sungguhpun Lan Lan hanya anak
angkat hamba, namun hamba mencintanya seperti
anak kandung hamba sendiri."
Pangeran itu membelalakkan mata. Ini
kenyataan baru yang mencengangkan hatinya
tentang wanita ini. "Anak angkat? Jadi ia bukan
anak kandung Rajawali Sakti, mendiang
suamimu?"
Bi Lan menggeleng kepala, "Ia adalah anak
angkat hamba, pangeran. Akan tetapi hamba
mencintainya dan hamba siap mempertaruhkan
nyawa hamba untuk menyelamatkannya."
"Hemm, kalau begitu, Bi Lan, kenapa engkau
membawa surat dan racun ini kepadaku? Untuk
menyelamatkan anak angkatmu itu, kenapa tidak
kau lakukan saja perintah dalam surat itu.?"
-ooo0dw0oooTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
Jilid 14
"Pangeran...........aihhh, pangeran..., kenapa
paduka berkata demikian? Hamba diharuskan
membunuh paduka dengan racun? Lebih baik
hamba yang mati!"
Pangeran Li Si Bin memandang dengan mulut
tersenyum dan wajah berseri, pandang matanya
lembut dan mesra. "Bi Lan, engkau
mempertaruhkan nyawamu untuk keselamatan
Lan Lan karena engkau mencintanya, lalu engkau
lebih baik mati daripada membunuhku untuk
menyelamatkan Lan Lan. Apakah ini berarti bahwa
engkaupun cinta padaku?"
Dalam kebingungan dan kegelisahannya, Bi Lan
tersipu. "Pangeran, mana hamba...berani...?" Ia
tergagap dan pada saat itu Pangeran Li Si Bin
sudah membungkuk, merangkul pundaknya dan
menariknya bangkit berdiri, lalu pangeran itu
mendekap wajahnya dalam rangkulan. Bi Lan
menyerah saja dan sejenak ia menangis di dada
pangeran itu. Pangeran Li Si Bin membiarkannya
sejenak, lalu dituntunnya Bi Lan dan disuruhnya
duduk di kursi berhadapan dengan dia.
"Duduklah, dan tenangkan hatimu. Sejak
bertemu, akupun sudah amat kagum kepadamu,
dan sejak engkau menyelamatkan aku dari racun
yang disuguhkan bekas thai-kam itu, aku sudah
jatuh cinta padamu, Bi Lan. Nah, setelah kita
mengetahui perasaan hati masing-masing, mari
kita bicara tentang Lan Lan dan ancaman si
penculik. Jangan khawatir, aku mempunyai akal
untuk menyelamatkan puterimu itu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pangeran Li Si Bin mengajak Bi Lan memasuki
kamar yang aman, tidak akan terdengar orang lain
percakapan mereka dan di tempat ini mereka
berbicara dengan serius. Bi Lan mendengarkan
siasat yang diatur oleh pangeran itu. Pangeran Li
Si Bin adalah seorang panglima, seorang ahli siasat
yang pandai, maka menghadapi ancaman surat
itupun dia bersikap tenang dan dingin, dan
menemukan cara untuk menanggulangi dan
mengatasinya. Hati Bi Lan lega bukan main setelah
ia keluar dari istana pada sore hari itu. Bukan saja
ia telah mendapatkan ketenangan karena siasat
yang diatur oleh putera mahkota, akan tetapi juga
ada sinar kebahagiaan di pancaran matanya,
karena pengakuan putera mahkota yang juga
mencintanya!
Suasana di istana tercekam kegelisahan. Betapa
tidak? Putra mahkota, juga panglima besar,
Pangeran Li Si Bin, jatuh sakit parah.! Sambil
berbisik-bisik semua penghuni istana
membicarakannya. Terpetik berita dari tabib yang
menangani perawatan putera mahkota bahwa
pangeran itu telah keracunan hebat dan sukar
disembuhkan. Bahkan Kaisar dan permaisuri, juga
para selir menjadi gelisah. Hanya tiga orang saja
yang tahu bahwa putera mahkota hanya pura-pura
sakit! Memang, dia pucat sekali dan nampak sakit
berat, akan tetapi semua itu akibat obat yang
diberikan tabib kepadanya. Hanya Pangeran Li Si
Bin, Bi Lan, dan sang tabib kepercayaan sajalah,
yang tahu bahwa putera mahkota sebenarnya tidak
menderita penyakit apapun juga. Dia sehat-sehat
saja. Akan tetapi selain mereka bertiga, semua
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
orang percaya bahwa putera mahkota sakit berat,
keracunan dan bahkan agaknya tidak dapat
disembuhkan lagi!
Pada malam hari ke tiga, ketika Pangeran Li Si
Bin rebah seperti orang pingsan, dengan muka
pucat sekali, ditunggui tabib yang tidak
memperkenankan orang lain mendekat, masuklah
seorang thai-kam yang berlutut di ambang pintu
itu.
Tabib Song yang tua dan terkenal pandai itu
mengerutkan alisnya dan memandang thai-kam
itu. "Hemm, mau apa engkau masuk ke sini?
Jangan mengganggu sang pangeran!"
"Maafkan hamba, Tabib Mulia," kata thai-kam
(orang kebiri) itu dengan suara gemetar, "Hamba
diutus oleh Permaisuri untuk menengok keadaan
Putera Mahkota."
"Keadaannya gawat dan jangan diganggu!" kata
pula tabib itu dan di ambang pintu, para pengawal
sudah siap dengan tombak dan pedang mereka
untuk mengusir thai-kam itu kalau menerima
perintah dari tabib. Dalam keadaan seperti itu,
kaisar sendiri yang memberi kekuasaan
sepenuhnya kepada tabib untuk menjaga dan
merawat putera mahkota, dan siapapun harus
tunduk kepada sang tabib.
"Maafkan hamba........akan tetapi Sang
Permaisuri mengutus hamba untuk melihat
keadaan Pangeran dan menanyakan bagaimana
keadaannya, apakah masih ada
harapan........ampun, hamba hanya utusan........"
Dan thai-kam itu merangkak mendekat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tabib yang sudah menjalankan siasat seperti
yang diatur oleh putera mahkota sendiri
membiarkan thai-kam itu mendekat dan
membiarkan thai-kam itu mengangkat muka
memandang kepada sang pangeran yang rebah
terlentang seperti mayat.
"Hemm, kalau begitu laporkan kepada Hong
houw (Permaisuri) bahwa keadaan Putera Mahkota
amat gawat. Lihat saja, wajahnya semakin pucat
dan kebiruan, itu tanda bahwa racunnya masih
bekerja dan biarpun aku sudah berusaha memberi
obat penawar, tetap saja hawa beracun itu tidak
dapat diusir semua. Ludahnya berwarna hitam dan
matanya merah, napasnya terengah. Laporkan
kepada Sang Permaisuri bahwa agaknya putera
mahkota tidak dapat tertolong lagi, mungkin
tinggal satu dua hari lagi........"
Thai kam itu menahan tangisnya, lalu
mengundurkan diri dari kamar itu. Dia terisak
ketika keluar dan melewati penjaga yang mengawal
di luar pintu kamar, sehingga semua orang
menganggap dia seorang thai-kam yang setia dan
mencitai putera mahkota sehingga tidak dapat
menahan kesedihannya ketika menjenguk dan
melihat keadaan sang pangeran yang sedang sakit
payah itu.
Mulai malam itu, tiada seorangpun
diperbolehkan memasuki kamar itu yang selalu
ditutup, dengan alasan bahwa keadaan penyakit
sang pangeran sudah terlalu gawat, sehingga sama
sekali tidak boleh diganggu. Hanya tabib itu saja
yang diperbolehkan menjaga di dalam kamar,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sedangkan di luar kamar, penjagaan pengawal
diperketat.
Sementara itu, Bi Lan setiap hari menangis di
istana Pangeran Li Siu Ti. Pangeran Tua inipun
hanya pada hari pertama putera mahkota jatuh
sakit saja diperbolehkan menengok. Siauw Can
beberapa kali datang untuk menghibur Bi Lan dan
bertanya mengapa wanita itu demikian berduka.
Dengan singkat Bi Lan berkata, "Bagaimana aku
tidak akan berduka? Lan Lan diculik penjahat, dan
kini Putera Mahkota yang kuharapkan dapat
membantuku mencari Lan Lan, jatuh sakit........."
Bi Lan menangis sambil menundukkan mukanya
dan ia tidak melihat betapa Siauw Can tersenyum
puas. "Masih ada aku di sini, Lan-moi. Akulah
yang akan membantumu mencari Lan Lan sampai
dapat."
"Kalau benar begitu, pergilah dan cari Lan Lan,
bukan bicara saja di sini. Pergi dan jangan ganggu
aku."
Siauw Can meninggalkannya dan Bi Lan cepat
menghentikan tangisnya. Ia hanya menangis kalau
ada orang lain melihatnya, karena tangisnya ini
hanya merupakan pelaksanaan siasat yang diatur
oleh putera mahkota. Sekarang sudah hari ke tiga
dan ia harus siap-siaga karena orang yang
menculik Lan Lan tentu akan mengembalikan Lan
Lan setelah mendengar bahwa sang pangeran
menderita sakit keracunan hebat. Tidak sukar
baginya untuk menangis, karena bagaimanapun
juga ia memang bersedih karena Lan Lan diculik.
Dan sekarnag ia sudah siap siaga untuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menangkap penculik itu kalau Lan Lan
dikembalikan.
Akan tetapi, sampai malam tiba, tidak ada berita
dari penculik itu. Bi Lan sudah hampir putus asa
ketika tiba-tiba ia mendengar suara Lan Lan
memanggilnya dari arah belakang, dari taman.
"Ibu.......! Ibu........!"
"Lan Lan..........!!" Bi Lan meloncat keluar dari
kamarnya dan seperti terbang memasuki taman.
Benar saja, ia menemukan Lan Lan di tengah
taman, dalam keadaan sehat.! Ia menyambar
tubuh Lan Lan, dipondongnya dan didekapnya,
diciuminya dan kembali Bi Lan tak dapat menahan
banjirnya air mata, air mata kebahagiaan. Ia
sendiri merasa heran mengapa setelah ia jatuh
cinta, begini mudah ia menangis! Ia membawa Lan
Lan ke kamarnya, menutup pintu kamar dan
dengan lembut dan penuh rasa sayang, ia
menanyai Lan Lan kemana saja ia pergi selama tiga
hari itu.
Lan Lan adalah seorang anak yang usianya baru
tiga tahun, masih belum dapat memberi
keterangan dengan jelas. Ia hanya mengatakan
bahwa ia ditempatkan dalam sebuah kamar, diberi
banyak barang-barang mainan, dilayani oleh
seorang laki laki yang baik hati. Bi Lan tentu saja
tidak dapat mengharapkan keterangan jelas siapa
penculik anak itu, dan tentu anak itu ditotok
ketika diculik dan dikembalikan sehingga tidak
tahu apa-apa.
Dengan hati-hati Bi Lan menjaga Lan Lan malam
itu di kamarnya dan pada keesokan harinya, pagiTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
pagi ia sudah memondong Lan Lan keluar dari
istana Pangeran Tua, menuju ke istana kaisar.!
Karena ia dikenal baik sebagai guru silat yang
melatih para dayang di istana, dengan mudah ia
diperbolehkan masuk dan langsung saja Bi Lan
menju ke kamar di mana Putera Mahkota "dirawat"
oleh tabib. Dan dapat dibayangkan betapa
gembiranya hati Pangeran Li Si Bin ketika melihat
Bi Lan datang sambil memondong Lan Lan yang
dalam keadaan sehat dan selamat! Dan berakhirlah
"penyakit" putera mahkota itu pada hari itu juga.
Seluruh penghuni istana menjadi gembira bukan
main. Demikian pula kaisar ketika mendengari
bahwa puteranya telah sembuh sama sekali. Yang
mendapatkan jasa besar adalah Tabib Song tentu
saja. Dia dianggap berjasa telah dapat mengobati
dan menyembuhkan putera mahkota!
Pada hari itu juga. Bi Lan ditahan di istana atas
kehendak putera mahkota. Dengan alasan bahwa
Bi Lan diangkat menjadi pengawal pribadi Putera
Mahkota, maka wanita itu bersama puterinya tidak
perlu lagi kembali ke istana Pangera Tua, bahkan
barang-barangnya lalu diminta agar diantar ke
istana! Bukan itu saja. Bahkan tak lama kemudian
Putera Mahkota secara berterang mengangkat Bi
Lan menjadi selirnya, merangkap pengawal pribadi!
Karena ibunya menjadi selir pangeran, tentu saja
dengan sendirinya Lan Lan juga menjadi seorang
"puteri"!
-ooo0dw0ooo-
"Tabib Song keparat itu!" Pangeran Li Siu Ti
mondar-mandir di dalam kamarnya, kadang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengepal tinju dan wajahnya.muram. Hatinya
kecewa bukan main mendengar bahwa Putera
Mahkota telah sembuh dari sakitnya. "Bagaimana
mungkin.? Padahal, menurut keterangan thai kam
Ciu, keadaan pangeran Li Si Bin sudah parah
sekali, sudah sekarat. Bagaimana tiba-tiba dapat
menjadi sembuh?"
Poa Kiu dan Siauw Can yang berada di kamar
itu, saling pandang dan mereka berdua juga
merasa kecewa dan heran. Mereka sudah
mengembalikan Lan Lan kepada Bi Lan karena
mereka sudah merasa yakin bahwa putera
mahkota pasti akan mati. Mereka menganggap
bahwa Bi Lan terpaksa harus mentaati bunyi
surat, yaitu meracuni Pangeran Li Si Bin untuk
menyelamatkan nyawa Lan Lan. Mereka sudah
percaya sepenuhnya bahwa usaha itu berhasil dan
kini tahu-tahu pangeran itu sembuh, dan Bi Lan
ditarik ke istana menjadi pengawal pribadi.!
"Jangan-jangan adik misanmu itu yang
berkhianat," kata Pangeran Tua kepada Siauw Can
atau Can Hong San. "Buktinya. Putera Mahkota
tidak tewas dan setelah Lan Lan dikembalikan, ia
segera membawa Lan Lan ke istana dan diangkat
menjadi pengawal pribadi."
"Saya kira tidak demikian, pangeran." kata Hong
San. "Banyak saksinya bahwa putera mahkota
benar-benar keracunan, bahkan banyak yang
melihat dia sakit payah, hampir mati. Tentu tabib
sial itu telah menemukan obat penawar yang amat
mujarab. Tentang diangkatnya Bi Lan menjadi
pengawal pribadi, hal itupun tidak aneh. Pangeran
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Li Si Bin agaknya suka kepada Bi Lan dan sudah
lama Bi Lan telah diberi tugas untuk melatih para
dayang."
"Keterangan Siauw Can memang benar,
pangeran. Kalau saja tabib Song tidak menemukan
obat yang ampuh, tentu usaha itu berhasil baik
dan tentu sekarang putera mahkota telah tewas.
Bagaimanapun juga, Siauw Can telah membuat
jasa dan dapat dikatakan bahwa tugasnya
mengusahakan kematian Pangeran Li Si Bin telah
dilaksanakan dengan baik."
Pangeran Tua Li Siu Ti mengangguk-angguk dan
mengelus jenggotnya. Dia tahu apa maksud
ucapan kedua orang pembantu utamanya itu.
Tentu mengenai hubungan pembantu muda yang
tampan dan pandai ini dengan puterinya, Ai Yin.
"Aku mengerti, dan akupun tidak akan menyalahi
janji. Agaknya engkau dengan Ai Yln sudah saling
mencinta, Siauw Can. Baiklah, engkau akan
kujodohkan dengan Ai Yin dan pertunangannya
akan segera diumumkan setelah engkau berhasil
dengan sebuah tugas lagi yang amat penting, akan
tetapi tidak begitu sukar bagimu."
Di dalam hatinya, Can Hong San merasa
gembira sekali, akan tetapi juga mendongkol,
tercapai cita-citanya menjadi mantu seorang
pangeran yang memiliki kekuasaan besar! Akan
tetapi kembali dia diserahi tugas, itulah yang
membuat dia mendongkol.
"Harap paduka katakan saja, apa tugas itu.Akan
saya laksanakan dengan baik, pangeran."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Engkau harus cepat menyingkirkan thai-kam
Ciu. Dia harus mati secepatnya!"
"Akan tetapi, kenapa, pangeran? Bukankah ia
telah berhasil diselundupkan dan amat berguna
bagi paduka sebagai mata-mata di sana?" tanya
Poa Kiu terkejut, karena dia yang mengusulkan
diselundupkannya thai-kam itu ke istana.
"Saya mengerti maksud paduka." kata Hong San,
sambil menoleh kepada Poa Kiu dengan senyum
memandang rendah. "Paman Poa, lupakah paman
bahwa kita menyuruh thai-kam Ciu untuk
menyelidiki keadaan Pangeran Li Si Bin pada hari
ketiga? Dia berhasil melihat keadaan putera
mahkota, dan siapa tahu, perbuatannya itu akan
dilaporkan oleh Tabib Song dan Putera Mahkota
akan merasa curiga kepadanya. Padahal, dialah
satu-tunya orang yang mengetahui rahasia kita
dan dapat membocorkannya."
"Akan tetapi, tidak mungkin dia mengkhianati
kita," kata pula Poa Kiu.
"Siauw Can benar," kata Pangeran Tua. "Poa Kiu,
lupakah engkau akan kamar siksaan dimana
setiap orang, betapapun kuat dan setianya, akan
mengakui segala perbuatannya kalau dia disiksa?
Kurasa thai-kam Ciu tidak terkecuali. Kalau dia
dicurigai, lalu ditangkap dan disiksa, pasti dia
tidak tahan dan akan mengaku, membongkar
semua rahasia kita."
Wajah Poa Kiu menjadi pucat. "Kalau
begitu......... kalau begitu..........."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Jangan khawatir , Paman Poa. Aku akan
menghabisinya sekarang juga. Serahkan saja
urusan ini kepadaku, pasti beres!"
Senanglah hati Pangeran Tua Li Siu Ti, "Jangan
sekarang, Siauw Can. Kita harus menunggu
sampai keadaan menjadi tenang. Tunggu tiga
empat hari, setelah semua tenang baru engkau
turun tangan melenyapkan thai-kam Ciu. Dan
setelan tugas itu berhasil, pertunanganmu dengan
Ai Yin akan kurayakan."
Bukan main senangnya hati Can Hong San. Dia
segera menemui Li Ai Yin dan pada malam itu dia
berhasil mengajak Ai Yin bicara berdua saja di
dalam taman.
"Yin-moi," sejak Ai Yin menyambut cintanya
Hong San selalu menyebutnya Yin moi (dinda Yin)
dan hanya menyebut nona kalau berada di depan
keluarga pangeran tua itu. "Mulai hari ini, kita
telah bertunangan!" Dia lalu menceritakan janji
ayah gadis itu.
Ai Yin tersenyum senang dan membiarkan ke
dua tangannya dipegang oleh pemuda yang
dikaguminya itu. "Kenapa terjadi perubahan yang
tiba tiba ini, Can ko? Bukankah ayah masih
prihatin dengan peristiwa di istana, dimana
kakanda pangeran mahkota hampir saja tewas
keracunan? Dan Lan Lan juga menjadi korban
penculikan, untung sudah dikembalikan.
Kemudian, kepergian enci Bi Lan yang demikian
tiba-tiba, pindah ke istana. Semua ini membuat
aku bingung. Akan tetapi ayah malah hendak
membuat pesta pertunangan."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aih, jadi engkau sudah tahu?" tanya Hong San
gembira.
Gadis itu mengangguk dan mengerling manja.
"Tentu saja. Kaukira ayah akan merahasiakan? Dia
sudah memberitahukan dan menanyakan
kepadaku, minta persetujuanku untuk
ditunangkan denganmu."
"Dan bagaimana jawabanmu, Yin-moi?"
Wajah itu berseri, kedua pipinya berubah merah
dan senyumnya genit manja, tangannya mencubit
lengan Hong San. "Kaukira bagaimana
jawabanku?"
"Ha, tentu jawabanmu begini............!"
Hong San lalu maju merangkul dan mencium
puteri pangeran itu. Ai Yin tertawa manja dan
malu, akan tetapi karena ia sudah mendengar
sendiri betapa ayahnya menyetujui pemuda ini
menjadi calon suaminya, iapun tidak menolak.
Akan tetapi ketika Hong San berbuat terlalu
berani, iapun mendorong muka pemuda itu.
"Hemm, apa yang kau lakukan ini.!"
Can Hong San adalah putera mendiang Cui beng
Sai-kong dan biarpun tidak sekuat mendiang
ayahnya, dia telah menguasai ilmu sihir. Melihat
betapa gadis bangsawan itu menolaknya, diapun
merasa penasaran. Kalau saja dia tidak ditolak Bi
Lan, tentu diapun tidak bermaksud untuk
menggauli Li Ai Yin sebelum mereka menjadi suami
isteri, karena dia ingin menjadi mantu pangeran
secara terhormat. Akan tetapi, dia telah
dikecewakan Bi Lan, maka gejolak nafsunya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hendak dia puaskan dengan gadis bangsawan yang
oleh ayahnya telah diserahkan kepadanya itu. Dia
memegang kedua pundak gadis itu dengan lembut,
menatap wajahnya dengan tajam dan suaranya
mengandung getaran kuat.
"Li Ai Yin, pandanglah aku baik-baik! Lihatlah
betapa besar kasihku kepadamu dan engkau akan
menyerah, tunduk dan menuruti semua
kemauanku. Aku cinta padamu, Ai Yin dan
engkaupun cinta padaku................ "
Ai Yin terbelalak, kemudian iapun menjadi lemas
dan iapun bertekuk lutut dan tidak terdapat
perlawanan sedikitpun lagi dalam hatinya. Ia
menurut saja segala kehendak Hong San yang
terus merayunya, menurut dan menyerah saja
ketika ia digandeng dan dituntun memasuki
kamarnya.
-ooo0dw0ooo-
Empat hari kemudian. Masih dalam rangka
siasat Pangeran Li Si Bin, keadaan di istana
seolah-olah telah tenang kembali. Tidak ada bekas
ketegangan sebagai akibat sakitnya putera
mahkota yang kabarnya keracunan hebat itu. Sang
pangeran melarang siapa saja bicara tentang hal
itu, dan Bi Lan juga tidak memperlihatkan
kecurigaan apapun. Wanita itu secara resmi
diangkat menjadi pengawal pribadi putera mahkota
sehingga tidak ada seorangpun yang menduga hal
yang bukan-bukan kalau melihat wanita cantik
dan perkasa ini berduaan saja dengan putera
mahkota, bercakap-cakap dengan akrab sekali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tadinya memang putera mahkota hanya
menginginkan Bi Lan menjadi pengawal
pribadinya, akan tetapi karena masing-masing
mengetahui akan isi hatinya, tahu bahwa mereka
saling mengagumi dan saling mencinta, maka
tidaklah mengherankan kalau kemudian putera
mahkota akan mengangkat Bi Lan menjadi seorang
selir terkasih. Bi Lan tahu diri. Ia hanya seorang
wanita biasa, bahkan seorang janda yang sudah
yatim piatu. Dibandingkan dengan putera
mahkota, ia bagaikan seekor burung gagak
bersanding dengan burung Hong. Oleh karena itu,
dengan hati penuh penyerahan, penuh pengabdian
dan cinta kasih, ia menyerahkan diri dengan segala
kerendahan hatinya, rela untuk dijadikan selir
merangkap pengawal pribadi. Karena tugasnya
sebagai pengawal inilah, ia jauh lebih dekat dan
lebih sering berdekatan dengan putera mahkota
dibandingkan selir lainnya, kemudian. Dan iapun
sudah merasa berbahagia sekali kalau berada di
dekat pria yang dijunjungnya dan dicintanya itu.
Menjadi kelanjutan siasat mereka kalau Bi Lan
bersikap seolah sudah melupakan peristiwa
penculikan puterinya dan jatuh sakitnya putera
mahkota. Akan tetapi sesungguhnya, ia tidak
pernah lengah sebentarpun. Ia selalu waspada dan
memperhatikan setiap orang yang berada di dalam
istana, memperhatikan setiap kejadian yang sekecil
apapun, dan diam-diam mencurigai setiap orang.!
Ketekunan dan ketelitiannya itu akhirnya
berhasil. Pada suatu malam, secara sembunyi Bi
lan meronda ke bagian belakang daerah keputren.
Ia sudah diceritakan oleh putera mahkota tentang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sikap thai-kam Ciu yang dahulu diutus permaisuri
untuk menengoknya ketika dia sakit atau lebih
tepat berpura-pura sakit. Malam ini, Bi Lan
sengaja mencari thai-kam itu untuk menyelidiki
keadaan dirinya. Sore tadi ia melihat thai-kam itu
seperti orang gelisah, wajahnya pucat, rambut dan
pakaiannya kusut dan ketika berjumpa dengannya,
orang itu menunduk, pura-pura tidak melihat dan
tampak gugup.
Ketika ia menyelinap mendekati tempat tinggal
para thai-kam, tiba-tiba ia melihat thai-kam Ciu
membuka pintu dan keluar menuju ke taman
dengan sikap hati-hati sekali. Bi Lan membayangi
dari jauh agar jangan sampai terlihat. Karena
inilah, maka ketika memasuki taman, ia
kehilangan bayangan thai-kam Ciu. Selagi ia
kebingungan, mencari-cari kemana perginya orang
yang dicurigainya itu, tiba-tiba ia mendengar suara
orang mengaduh-aduh dan suara sambaran
senjata tajam berdesing.
Cepat Bi Lan melompat dan lari ke arah suara
itu dan ia masih sempat melihat seseorang
diserang orang lain dengan sebatang pedang.
Orang yang diserang itu agaknya sudah terluka,
akan tetapi masih berusaha mengelak dan
berloncatan ke sana-sini, akan tetapi ketika Bi Lan
muncul, penyerang itu berhasil menusukkan
pedangnya lagi dan orang itupun roboh.
"Heiii, tahan senjata!." bentak Bi Lan dan si
penyerang itu agaknya terkejut, menarik kembali
pedangnya dan meloncat jauh, lenyap dalam
kegelapan malam. Sinar lampu penerangan taman
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu agak jauh dan sinarnya hanya remang-remang
saja mencapai tempat itu, namun cukup bagi Bi
Lan untuk melihat bahwa korban itu berpakaian
sebagai seorang thai-kam dan ketika ia berjongkok
untuk memeriksanya, ia terkejut ketika
mengenalnya sebagai thai-kam Ciu yang dicurigai
oleh putera mahkota! Orang itu sudah payah, luka
tusukan pedang membuat tubuhnya berlepotan
darah dan napasnya tinggal satu-satu. Ia harus
bertindak cepat sebelum terlambat. Ditotoknya
beberapa bagian tubuh orang itu dan iapun
bertanya. "Cepat katakan siapa pembunuhmu dan
apa hubungannya dengan penculik anakku dan
musuh putera mahkota!"
Karena totokan-totokan itu, thai-kam Ciu dapat
mengerahkan tenaga terakhir dan dengan suara
penuh penyesalan dan rasa penasaran, diapun
berkata, "Semua diatur oleh Pangeran
Tua.......dibantu Poa Kiu dan Siauw Can........"
kemudian bibirnya hanya bergerak-gerak tanpa
mengeluarkan suara dan tak lama kemudian
diapun terkulai, tewas. Akan tetapi keterangan itu
sudah cukup bagi Bi Lan. Keterangan yang
membuat kedua kakinya gemetar dan tubuhnya
lemas, yang membuat ia sampai lama tidak mampu
bangkit berdiri, termangu-mangu. Pangeran Tua Li
Siu Ti? Dan Siauw Can..........?
Kini mengertilah ia, walaupun ia masih terkejut
karena sama sekali tidak pernah mengira bahwa
semua peristiwa itu diatur oleh orang-orang yang
selama ini dianggapnya baik dan dipercaya
sepenuhnya. Yang membuat hatinya sakit seperti
ditusuk adalah Siauw Can.. Pemuda yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dianggapnya sebagai seorang pendekar itu, bahkan
yang pernah dikagumi dan dicintanya, telah
menculik Lan Lan dan hendak memaksanya untuk
membunuh putera mahkota! Ia dapat menduga
bahwa tentu Siauw Can diperalat oleh Pangeran
Tua, akan tetapi kenapa pemuda yang katanya
mencintanya itu mau melakukan perbuatan keji
dengan menculik Lan Lan dan memaksanya
membunuh putera mahkota, sungguh
membuatnya penasaran bukan main. Ingin
rasanya saat itu juga ia lari mencari Siauw Can
atau Can Hong San untuk memaki dan
menyerangnya. Akan tetapi ia teringat bahwa
pemuda itu adalah seorang lawan yang amat
tangguh, apalagi tentu dia akan dibantu oleh anak
buah Pangeran Tua. Tidak, urusan ini terlalu besar
untuk ia tangani sendiri. Cepat ia meninggalkan
taman dan malam itu juga ia mencari Pangeran Li
Si Bin.
Pangeran Li Si Bin tidak terkejut mendengar
laporan Bi Lan. Memang pangeran ini pernah
mempunyai kecurigaan terhadap pamannya,
Pangeran Tua, hanya karena belum ada bukti
maka dia tidak dapat melakukan sesuatu. Kini
tahulah dia akan rahasia itu dan pada malam itu
juga dia memanggil para panglima yang
membantunya dan pasukan khusus dikerahkan.
Tanpa membuang waktu lagi Pangeran Li Si Bin
sendiri, dibantu para panglimanya dan tidak
ketinggalan Bi Lan sendiri, lalu menyerbu ke istana
Pangeran Tua Li Siu Ti.
Gegerlah di kota raja. Terjadi pertempuran yang
hanya pendek saja karena Pangeran Li Siu Ti sama
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekali tidak mengira bahwa malam itu akan terjadi
penyerbuan besar-besaran yang dilakukan oleh
pasukan istimewa yang dipimpin sendiri oleh
putera mahkota! Dan penyerbuan itupun sudah
direstui kaisar yang malam itu juga mendengar
laporan puteranya. Mereka yang berani melakukan
perlawanan segera dibabat roboh dan yang lain
cepat melempar senjata dan menjatuhkan diri
berlutut. Pangeran Li Siu Ti sekeluarga ditangkap.
Akan tetapi, dengan hati yang lega Bi Lan
mendengar bahwa Ai Yin lolos dari penangkapan.
Disamping kelegaan hatinya, juga ia merasa
penasaran karena Can Hong San juga lolos.
Kiranya pemuda inilah yang melarikan Ai Yin dan
Bi Lan dapat menduga bahwa bayangan yang
dilihatnya membunuh thai-kam Ciu tentulah Can
Hong San. Pemuda itu tentu sudah merasa
khawatir melihat perbuatannya ketahuan, sudah
dapat menduga bahwa mungkin saja Bi Lan akan
melapor dan thaikam Ciu membuka rahasia. Hong
San tentu sudah dapat menduga kemungkinan
datangnya serbuan dari putera mahkota, maka
begitu tiba di istana
Pangeran Tua, dia segera mengajak Ai Yin pergi
dan tidak lupa membawa barang-barang berharga
dari istana itu. Ketika Ai Yin mendesak dan minta
keterangan kepadanya, Can Hong San tidak mau
mengaku dan setengah memaksa gadis yang telah
ditunangkan dengannya itu meninggalkan istana
secepatnya, bahkan malam itu juga mereka kabur
keluar dari pintu gerbang kotaraja, menunggang
dua ekor kuda pilihan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Keluarga Pangeran Tua Li Siu Ti ditangkap dan
dipenjara, kemudian setelah diadili, pangeran itu
dijatuhi hukuman mati sedangkan keluarganya
dihukum buang.
Setelah terjadi peristiwa itu, Bi Lan makin
disayang dan dipercaya oleh Pangeran Li Si Bin
dan iapun menyerah dengan senang hati ketika
putera mahkota itu mengangkatnya sebagai selir
terkasih dan terpercaya. Dengan sendirinya Lan
Lan yang kini diaku sebagai puteri sang pangeran
dengan nama menjadi Li Hong Lan, mendapat
perlakuan sebagai seorang puteri dan pendidikan
dan perawatannya diserahkan kepada para ahli
yang di istana bertugas untuk mendidik para
puteri yang masih kecil.
-ooo0dw0ooo-
Anak laki-laki itu berusia kurang lebih duabelas
tahun, namun tubuhnya tinggi tegap seperti orang
dewasa saja. Juga wajahnya yang tampan itu
nampak dewasa, dengan mata yang tajam
mencorong penuh pengertian, mulut yang
membayangkan keteguhan hati dan ketabahan.
Kalau ada ahli silat melihatnya pada saat dia
berlatih itu, tentu ahli silat itu akan terkagumkagum.
Anak berusia duabelas tahun itu berlatih
silat di atas bambu-bambu runcing yang ditanam
di tanah setinggi satu meter. Kedua kakinya
bertelanjang dan dengan kedua kaki bertelanjang
itu dia bersilat di atas bambu-bambu yang runcing.
Gerakannya demikian gesit dan tangkas, kedua
kakinya yang melangkah ke kanan kiri, depan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
belakang, bahkan kadang melompati sebatang
bambu runcing dan hinggap di atas bambu runcing
berikutnya, tak pernah meleset. Orang akan
merasa ngeri karena sekali terpeleset, anak itu
akan terjatuh dan bambu-bambu runcing akan
menyambut perut dan dadanya atau punggungnya.
Dan mengingat betapa kedua kaki telanjang itu
berloncatan di atas bambu-bambu runcing,
sungguh mengerikan dan sekaligus mengagumkan.
Tak jauh dari situ, di bawah pohon yang tumbuh
di belakang sebuah pondok baru, duduk seorang
pria tua yang tinggi besar bermuka kemerahan dan
jenggotnya panjang. Pria berusia sekitar lima puluh
delapan tahun itu masih nampak gagah dan
berwibawa. Dari wajah dan sikapnya mudah
diduga bahwa dia bukan orang sembarangan. Dia
mengelus jenggotnya dan mulutnya tersenyum,
kepalanya mengangguk-angguk melihat kelincahan
anak laki-laki remaja yang berlatih silat itu. Dari
gerakan-gerakannya saja, jelas nampak bahwa
anak itu memang memiliki bakat yang besar sekali.
Gerakannya demikian lentur dan indah, tidak kaku
dan setiap gerakan mengandung tenaga yang tepat
penggunaannya, tidak berlebihan juga tidak lemah.
Pria tinggi besar itu adalah bekas Pangeran Cian
Bu Ong! Selama beberapa tahun ini, semenjak
Kerajaan Sui jatuh diganti Kerajaan Tang, kurang
lebih sembilan tahun yang lalu, Cian Bu Ong
berusaha untuk menegakkan kembali Kerajaan Sui
yang telah jatuh. Namun semua usahanya gagal,
bahkan dia yang oleh Kerajaan Tang dianggap
pemberontak, menjadi orang buruan. Hidupnya
tidak aman, karena dia dikejar-kejar oleh pasukan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tang. Terutama sekali karena yang menjadi
panglima adalah putera mahkota sendiri, yaitu
Pangeran Li Si Bin yang amat cerdik dan pandai,
Cian Bu Ong harus menjadi pelarian yang tidak
dapat tinggal terlalu lama di suatu tempat. Setelah
dia bertemu dengan Sim Lan Ci yang kemudian
menjadi isterinya, barulah dia menghentikan
usahanya untuk memberontak. Namun, bersama
Sim Lan Ci dan putera janda itu, Coa Thian Ki, dan
juga puterinya sendiri, Cian Kui Eng, dia harus
selalu berpindah-pindah tempat tinggal, khawatir
kalau jejaknya ditemukan para penyelidik Kerajaan
Tang.
Cian Bu Ong menganggap Thian Ki sebagai
puteranya sendiri. Dia amat mencinta Sim Lan Ci
yang telah menjadi isterinya dan dia sayang pula
kepada Thian Ki karena dia tidak mempunyai anak
laki-laki. Anaknya yang tunggal dengan isteri
pertama yang tewas oleh pasukan Tang adalah
seorang perempuan, yaitu Cian Kui Eng yang kini
berusia sebelas tahun. Cian Bu Ong menggembleng
kedua orang anak itu, bahkan dia lebih tekun
mengajarkan ilmu-ilmunya kepada Thian Ki,
karena selain anak ini memiliki bakat yang lebih
besar dibandingkan Kui Eng, akan tetapi juga
bekas pangeran itu memiliki cita-cita tinggi
terhadap Thia Ki. Dia mengharapkan anak tiri yang
sudah dianggap anaknya sendiri itu kelak dapat
menjadi orang besar, kalau mungkin di kalangan
pemerintahan, kalau tidakpun menjadi tokoh besar
di dunia persilatan, agar dapat mengangkat
kembali namanya yang telah jatuh bersama
runtuhnya Kerajaan Sui.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Baru setelah panglima besar dan putera
mahkota, yaitu Pangeran Li Si Bin yang menjadi
tokoh utama Kerajaan Tang menggantikan ayahnya
dan menjadi kaisar (tahun 627) Cian Bu Ong dapat
hidup tenang bersama isterinya dan kedua orang
anaknya, di sebuah dusun kecil yang terletak di
tempat yang amat indah pemandangan alamnya,
yaitu di tepi Sungai Huang-ho, di kaki Kim San
(Bukit Emas). Setelah Pangeran Li Si Bin menjadi
kaisar dan berjuluk Tang Tai Cung, kaisar ini lebih
banyak memperhatikan urusan pemerintahan,
tidak lagi memikirkan pemberontak-pemberontak
buronan yang sudah kehilangan pasukan, seperti
halnya Cian Bu Ong yang dianggap tidak
berbahaya lagi. Di dusun Ke-cung itu, yang
penduduknya hanya puluhan keluarga saja dan
semua adalah petani dan nelayan sederhana, Cian
Bu Ong mendirikan sebuah rumah besar dan
hidup tenang dan tenteram bersama Sim Lan Ci
dan kedua orang anak mereka, yaitu Thian Ki dan
Kui Eng.
Pada pagi hari itu, Thian Ki sudah berlatih silat
di bawah pengawasan Cian Bu Ong, ayah tirinya,
juga gurunya. Dulu, ketika dia masih hidup
bersama ayah kandungnya, mendiang Coa Siang
Lee, ayah dan ibunya selalu menekankan perasaan
tidak suka akan ilmu silat dan penggunaan
kekerasan sehingga biarpun dia menjadi anak
suami isteri yang pandai ilmu silat, Thian Ki
sendiri tidak pernah mempelajari ilmu silat. Akan
tetapi, tanpa diketahui ayah ibunya, neneknya,
yaitu Lo Nikouw yang dahulu terkenal dengan
julukan Ban-tok Mo-li, telah menggembleng
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tubuhnya dengan ramuan racun, sehingga tanpa
disadarinya sendiri, Thian Ki telah menjadi seorang
tok-tong (anak beracun). Di luar kehendaknya
sendiri, dia telah melakukan hal-hal yang akan
menggemparkan dunia kangouw kalau diketahui
orang, yaitu dia telah membunuh atau lebih tepat
lagi menyebabkan kematian tokoh-tokoh kangouw
yang amat lihai seperti Kui bwe Houw Gan Lui, si
golok gergaji Thio Ki Lok, pegulat Turki Gulana.
Mereka semua tewas keracunan karena berani
menyerang dan menyentuh tubuh Thian Ki yang
sudah penuh dengan hawa beracun yang amat
kuat itu!
Semula, karena melihat tok-tong inilah maka
Cian Bu Ong tertarik. Dia ingin memiliki anak
beracun itu untuk membantu gerakannya dan
usahanya menegakkan kembali Kerajaan Sui. Akan
tetapi setelah dia menikah dengan ibu anak itu,
dan melihat bahwa cita-citanya itu tidak akan
mungkin terlaksana karena Kerajaan Tang yang
baru semakin kuat, dan untuk berjuang
menumbangkan pemerintahan dia harus
mempunyai pasukan yang besar sekali, hal yang
tidak mungkin dimilikinya, maka diapun
membuang cita-cita itu. Kini dia menggembleng
Thian Ki dengan cita-cita lain. Dia ingin anak
tirinya yang juga muridnya itu kelak menjadi orang
penting, berkedudukan tinggi atau menjadi seorang
jagoan nomor satu di dunia kangouw, pendeknya
dia ingin agar Thian Ki kelak dapat menjadi
terkenal dan karenanya akan mengangkat tinggi
nama besar Pangeran Cian Bu Ong. Oleh karena
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu, maka dia menggembleng Thian Ki dengan amat
tekunnya.
Anak itu sendiri sekarang juga rajin berlatih dan
suka sekali mempelajari ilmu silat. Hal ini
merupakan perubahan yang amat besar. Selain
ibunya, Sim Lan Ci sekarang tidak lagi
melarangnya belajar silat, bahkan ibu inipun
mengajarkan ilmu-ilmunya sendiri, juga karena
pengalaman-pengalaman yang sudah-sudah
merupakan pelajaran bagi Thian Ki, bahwa
memiliki kekuatan dan kepandaian silat amat perlu
baginya, untuk dapat membela diri dalam hidup
ini. Terlalu banyak orang jahat berkeliaran di bumi
ini dan amat sukarlah mengharapkan
perlindungan dari orang lain.
Dalam usia duabelas tahun, Thian Ki sudah
mampu berlatih silat di atas bambu-bambu
runcing. Hal ini sungguh mengagumkan sekali.
Tanpa memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh)
yang tinggi, sungguh amat berbahaya latihan
seperti itu. Namun, Thian Ki sudah dapat
berloncatan dengan cekatan di atas bambu-bambu
runcing itu. Tentu saja hal ini amat
menggembirakan hati Pangeran Cian Bu Ong. Dia
sendiri mengakui bahwa dalam usia semuda itu,
dia tidak dapat mencapai tingkat seperti yang
dimiliki Thian Ki sekarang ini. Dia merasa bangga
dan girang sekali melihat kemajuan Thian Ki.
Puterinya sendiri, Kui Eng. juga tekun dan cerdas,
akan tetapi dibandingkan Thian Ki, anak itu kalah
jauh. Apalagi kalau diingat bahwa tubuh Thian Ki
beracun, dan keadaan ini saja sudah amat
berbahaya bagi lawannya. Lawan yang amat lihai
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekalipun akan dapat tewas sendiri kalau berani
menyentuh tubuh tok-tong, si anak beracun itu.
Cian Bu Ong yang bercita-cita tinggi itu bahkan
telah memilihkan sebuah nama julukan bagi anak
tiri dan muridnya, yaitu Tok-liong (Naga Beracun)!
"Thian Ki." kata bekas pangeran itu berulang
kali, "Namamu yang biasa adalah Thian Ki, Cian
Thian Ki," dia memberi tekanan kepada nama
keluarga Cian itu. Dia mengakui Thian Ki sebagai
anak sendiri, maka dia menekankan kepada anak
itu dan ibunya agar menggunakan she (nama
keluarga) Cian! "Akan tetapi, di dunia kangouw,
tidak perlu engkau memperkenalkan diri sebagai
Cian Thian Ki, melainkan Tok-liong-eng (Pendekar
Naga Beracun), ha-ha ha.!"
Karena ucapan itu berulang-ulang dikatakan
gurunya yang juga ayahnya karena dia menyebut
ayah kepada gurunya itu, maka sebutan Tok-liong
(Naga Beracun) itu mendatangkan kesan di hati
Thian Ki dan setelah beberapa tahun dia
menganggap Tok-liong sebagai namanya yang ke
dua. Apalagi ayah tiri dan ibunya sendiri sering
menyebut Tok-liong kepadanya.
Baru beberapa bulan Cian Bu Ong tinggal di
dusun Ke-cung itu. Setelah mendengar bahwa
Kaisar Tang Kao Cu diganti oleh Pangeran Li Si Bin
yang kini menjadi Kaisar Tang Tai Cung, baru ia
merasa aman dan tinggal di dusun lembah sungai
yang indah itu. Penduduk dusun menyambut
keluarga ini dengan gembira. Mereka tidak
mengenal siapa keluarga ini dan Cian Bu Ong
sudah mengubah namanya menjadi Cian Bu saja.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Penduduk hanya menduga bahwa Cian Bu adalah
seorang hartawan atau pejabat yang telah
mengundurkan diri dan mencari tempat tinggal
yang tenang di dusun itu. Karena keluarga baru ini
selain kaya juga ringan tangaa membantu
penduduk, maka keluarga ini disambut dengan
baik dan Cian Bu dikenal sebagai hartawan Cian,
bahkan beberapa bulan kemudian, melihat dia
seorang yang kaya dan pandai, luas
pengetahuannya dan suka menolong penduduk,
puluhan keluarga penghuni dusun Ke-cung segera
mengangkatnya menjadi ketua dusun.
Demi keamanan, Cian Bu menerima
pengangkatan itu, walaupun dalam hatinya dia
tersenyum pahit. Dia, pangeran adik kaisar
terakhir Kerajaan Sui yang bercita-cita
menegakkan kembali Kerajaan Sui dimana dia
yang akan menjadi kaisar barunya, kini hanya
diangkat menjadi ketua dusun.! Inipun dusun yang
kecil sekali dan pengangkatan itupun tidak resmi
dari pemerintahan. Karena rumah dan pekarangan
berikut sebuah kebun dan taman yang luas milik
keluarga Cian itu dikelilingi pagar dinding yang
tinggi, maka tak seorangpun pernah melihat kalau
keluarga itu berlatih silat. Tiga orang pelayan
keluarga ini adalah bekas anak buah yang setia
dari bekas pangeran itu, dan mereka maklum
bahwa mereka tidak boleh membuka rahasia
majikan mereka kepada siapapun juga.
Selagi Thian Ki berlatih, kini tidak lagi di atas
bambu-bambu runcing melainkan di atas tanah di
mana dia bersilat dengan amat cepat dan kuatnya,
tiba-tiba seorang anak perempuan berusia sebelas
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tahun datang berlari-lari. Melihat Thian Ki masih
bersilat dengan tangan kosong, dengan baju
dilepas sehingga tubuh atasnya telanjang dan
berkilauan karena keringat, anak perempuan itu
mengeluarkan bentakan nyaring dan iapun
melompat dengan sigapnya mendekati Thian Ki
dan langsung saja menyerangnya dengan jari
tangan menotok ke arah tubuh Thian Ki,
menyerang jalan-jalan darah secara cepat sekali.!
Thian Ki cepat mengelak ke sana sini, lalu
meloncat jauh ke belakang. Ketika anak itu yang
bukan lain adalah Cian Kui Eng, hendak mengejar
dan mendesak, ayahnya membentak.
"Kui Eng, berhenti!"
Anak perempuan itu berhenti menyerang,
menoleh kepada ayahnya dan iapun membantingbanting
kaki dan merajuk. "Aihhh, ayah, aku ingin
berlatih dengan kakak Thian Ki, selalu tidak
boleh.!"
Anak berusia sebelas tahun itu berwajah manis
dan bertubuh ramping. Matanya tajam dan galak,
mulutnya yang cemberut itu menjadi pemanis yang
utama dari wajahnya yang bulat telur. Rambutnya
agak keriting, membuat rambut itu nampak tebal.
"Kui Eng, sudah berulang kali kukatakan
kepadamu. Engkau tidak boleh berlatih dengan
kakakmu. Itu berbahaya sekali!" kata Cian Bu Ong,
atau yang nama barunya Cian Bu saja itu.
Pada saat itu, Sim Lan Ci muncul dan
mendengar percakapan itu, iapun lari menghampiri
dan merangkul Kui Eng yang bersungut-sungut.
"Kui Eng, engkau sudah seringkali kuberi tahu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
agar jangan berlatih dengan kakakmu. Engkau
tentu tahu bahwa kakakmu adalah seorang yang
berbahaya, karena disebut Naga Beracun. Dia
seorang tok-tong. "
Dalam usianya yang hampir empatpuluh tahun,
Sim Lan Ci masih nampak cantik. Hal ini adalah
karena selama menjadi isteri Cian Bu Ong, ia
merasa hidupnya berbahagia walaupun ia ikut
melarikan diri dan bersembunyi bersama suaminyi
selama tujuh tahun ini. Cian Bu amat mencintanya
juga ia mencinta Kui Eng seperti mencinta Thian Ki
anak kandungnya. Suaminya seorang yang amat
baik, bahkan jauh lebih sakti dari pada suaminya
yang pertama, dan juga berwibawa dan jantan.
"Ibu, kenapa sih toako disebut Tok-liong (Naga
Beracun), dan apa sih artinya tok-tong?"
"Dia disebut tok-tong karena tubuhnya
mengandung hawa beracun yang amat kuat, Kui
Eng. Beradu tangan dengan dia, bahkan
menyentuh tubuhnya pun kalau kebetulan hawa
beracun itu bekerja, orang akan mati seketika."
"Tapi.....kenapa toako bisa seperti .itu?"
Suami isteri itu saling pandang. Sudah tiba
saatnya mereka memberi tahu anak-anak mereka
akan kejadian yang sebenarnya tentang diri Thian
Ki. Bahkan anak itu sendiri belum tahu dengan
jelas. Melihat pandang mata isterinya, Cian Bu
menghela napas panjang dan mengangguk, lalu dia
duduk di atas bangku di taman itu.
"Ibu, akupun ingin sekali mengetahui mengapa
tubuhku jadi beracun? Ibu dan ayah tidak pernah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mau menceritakan," kata pula Thian Ki yang
memakai kembali bajunya dan mendekati ibunya.
Sejak berusia lima tahun, dia dipesan oleh ibunya
agar berhati-hati kalau bermain-main dengan Kui
Eng, agar dia tidak mengerahkan tenaga dan
sekali-kali tidak boleh berlatih silat dengan adiknya
itu. Biarpun perintah ibunya itu tentu saja
membuat dia tidak dapat bergembira dan bermainmain
sebebasnya dengan adiknya, namun dia
selalu mentaati karena dia sendiri tahu bahwa
dalam dirinya terdapat rahasia aneh. Sudah dia
melihat sendiri beberapa orang yang amat lihai
ilmu silatnya tewas ketika menyerangnya, tewas
ketika digigitnya, bahkan tewas ketika
mencengkeramnya.
Sim Lan Ci menarik napas panjang, lalu
menggandeng tangan kedua anaknya, diajaknya
duduk di bangku dekat suaminya. Kemudia ia
mulai bercerita. "Thian Ki dan Kui Eng, ingat baikbaik
apa yang akan kuceritakan ini agar kelak
tidak sampai terjadi sesuatu pada diri kalian.
Thian Ki, engkau telah menjadi seorang tok-tong.
Di dalam tubuhmu terdapat racun yang amat
hebat, seluruh darahmu mengandung racun, juga
tubuhmu penuh dengan hawa beracun yang dapat
membunuh siapa saja, bahkan orang-orang seperti
aku dan ayahmu dapat saja terbunuh oleh racun
di tubuhmu itu."
"Wah, hebat kalau begitu! Ibu, kalau kakak
Thian Ki mempunyai tubuh sehebat itu, kenapa
aku tidak? Ibu dan ayah, jadikanlah aku seperti
dia, aku ingin mempunyai tubuh beracun seperti
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu agar dapat kubasmi semua orang jahat di dunia
ini!"
"Ih, Kui Eng, enak saja kau bicara!" Thian Ki
menegur adiknya. "Apa sih senangnya punya
tubuh beracun? Lihat saja aku. Aku ingin bermainmain
denganmu, berlatih silat denganmu tidak
bisa! Kalau racun di tubuhku ini dapat lenyap, aku
akan berbahagia sekali!"
"Ibu, kenapa kakak Thian Ki menjadi Tok-tong?
Bagaimana terjadinya!" tanya pula Kui Eng, tidak
perduli akan keluhan kakaknya.
"Semua ini gara-gara nenekmu, Lo Nikouw. ..."
"Aih, nenek Lo Nikouw. Ibu dari ibu yang jarang
ibu ceritakan itu? Bagaimana nenek bisa menjadi
gara-gara keadaan toako ibu?"
"Ibuku, nenek kalian itu adalah seorang ahli
racun yang tiada keduanya di empat penjuru
sehingga ia dikenal sebagai Ban-tok Mo-li (Iblis
Betina Selaksa Racun).........."
"Ihhhh! Julukannya mengerikan benar!" seru Kui
Eng.
"Julukannya itu adalah ketika ia belum menjadi
seorang nikouw, Kui Eng. Sekarang ia dikenal
sebagai Lo Nikouw yang pekerjaannya hanya
berdoa. Nenek kalian itulah yang diluar tahuku
telah membuat Thian Ki menjadi tok-tong, dengan
cara merendam tubuh Thian Ki ketika masih kecil
ke dalam ramuan obat beracun. Aku mengetahui
hal itu setelah terlambat."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aih, kenapa nenek begitu jahat terhadap Thian
Ki, Ibu?" Kui Eng berseru dengan penasaran.
"Hush, jangan berkata begitu, Kui Eng!" tiba-tiba
Cian Bu yang sejak tadi hanya mendengarkan saja,
berseru kepada puterinya. "Nenekmu melakukan
hal itu justeru karena ia menyayang Thian Ki. Ia
ingin membuat Thian Ki menjadi orang yang tak
terkalahkan, dan dalam hal ini, ia telah banyak
membantu dan usahanya itu berhasil. Kalau
bukan seorang ahli yang amat pandai, bagaimana
mungkin ia dapat membuat cucunya menjadi toktong?
Orang lain yang tubuhnya mengandung
racun seperti Thian Ki, takkan mampu bertahan
hidup lagi. Nenekmu itu memang hebat!"
"Akan tetapi aku tidak suka menjadi tok-tong!
Aku tidak ingin menjadi orang yang tak
terkalahkan!" teriak Thian Ki.
"Aih, toako. Kenapa engkau begitu bodoh.
Sepantasnya engkau berterima kasih kepada
nenek. Kalau aku yang menjadi seperti engkau,
wah, aku akan merasa bangga dan senang sekali.
Akan kukalahkan seluruh jagoan di dunia ini! Ibu,
bawa aku kepada nenek biar aku juga dijadikan
seorang anak beracun.!"
"Hemm, kaukira mudah menjadikan seseorang
beracun seperti itu? Hanya anak yang masih kecil
dan berbakat saja yang akan mampu hidup
menjadi anak beracun. Engkau sudah besar, Kui
Eng, tidak mungkin menjadi anak beracun lagi.
Baru Thian Ki saja menjadi tok-tong kami sudah
bingung, masa engkau ingin menjadi anak beracun
lagi!" kata Sim Lan Ci.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu, Cian Bu menghela napas
panjang. Dia mencita-citakan Thian Ki kelak
menjadi seorang jagoan nomor satu di dunia. Thian
Ki telah menjadi tok-tong, berbakat baik dan telah
digemblengnya dengan sungguh sungguh, akan
tetapi ternyata anak itu tidak suka menjadi jagoan
seperti yang dia idamkan. Kalau saja Thian Ki
mempunyai semangat seperti yang diucapkan Kui
Eng tadi! Thian Ki berwatak lemah, terlalu baik,
tidak suka akan kekerasan, tidak ingin menjadi
jagoan tak terkalahkan, padahal dia memiliki
kemampuan untuk itu. Sebaliknya semangat Kui
Eng berkobar-kobar.
"Ibu, kenapa nenek memperlakukan aku seperti
ini? Aku juga ingin bertemu dengan nenek, akan
kuminta agar dia melenyapkan racun dari
tubuhku!" kata Thian Ki.
"Tidak semudah itu, Thian Ki. Racun itu te lah
menjadi satu dengan darahmu, biar nenekmu
sendiri tidak akan dapat melenyapkannya. Hanya
satu cara saja......" Wanita cantik itu menghentikan
kata-katanya, menyadari bahwa ia telah terlanjur
bicara.
Thian Ki segera menyambar kesempatan itu.
"Ibu, katakan. Apa caranya akan kutempuh segala
cara untuk membuat aku menjadi manusia biasa.
Katakanlah, apa cara yang satu-satunya itu?"
Karena sudah terlanjur bicara. Sim Lan Ci
memandang suaminya, lalu berkata. "Caranya
hanya menularkan racun itu kepada orang lain.
Sedikitnya kepada sepuluh orang dan mereka itu
akan tewas. Biarpun setiap orang hanya menerima
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sepersepuluh bagian saja, cukup untuk membuat
ia tewas. Nah, setelah menewaskan belasan orang,
barulah ada kemungkinan racun itu akan lenyap
dari tubuhmu."
Mendengar ini, Thian Ki termenung dan
wajahnya dibayangi kedukaan. "Kalau
begitu.....selama hidupku sampai mati.........aku
tidak akan dapat melenyapkan racun keparat ini
dari tubuhku......." Ucapan ini saja menyatakan
bahwa ia tidak suka membunuh orang, biar hal itu
demi keselamatan diri sendiri.
Melihat ini, Cian Bu lalu menghibur. "Sebetulnya
tidak perlu dilenyapkan, apa lagi kalau caranya
demikian sulit. Asalkan Thian Ki dapat menguasai
racun itu, dapat menekannya sehingga racun itu
tidak bekerja, kecuali hanya kalau di perlukan
saja, maka tentu dia akan hidup seperi orang
biasa. Hanya pada saat tertentu saja dia dapat
mengerahkan kekuatan racun itu. Sayang, sudah
kucoba, namun aku belum menemukan caranya
untuk mengajar dia dapat mengendalikan hawa
beracun itu."
Mendengar ini, Thian Ki memandang ibunya
"Ibu, dapatkah nenek mengajariku agar aku dapat
menguasai racun ini? Biarpun tidak dapat lenyap,
kalau aku dapat menguasainya seperti dikatakan
ayah, sudah lumayan........ "
Sim Lan Ci mengerutkan alisnya. Sudah tujuh
tahun lebih ia meninggalkan ibunya yang berada di
kuil Thian ho-tong di luar dusun Mo-kim-cung.
Bahkan rumahnyapun ia tinggalkan. Sejak ia dan
almarhum suaminya, Coa Siang Lee meninggalkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dusun Mo-kim cung berkunjung ke pusat Hekhouw-
pang di dusun Ta-bun-cung, yaitu tempat
tinggal keluarga almarhum suaminya, ia tidak
pernah lagi kembali ke Mo-kim cung. Terlalu
banyak peristiwa terjadi sejak ia dan suami
pertamanya itu meninggalkan Mo-kim-cung. Di
Hek-houw-pang itulah terjadinya malapetaka yang
membuat suaminya tewas dan ia bersama Thian Ki
ikut Cian Bu Ong dan kemudian bahkan menjadi
isteri bekas pangeran itu yang kini bernama Cian
Bu. Tujuh tahun lebih telah lewat dari kini
percakapan tentang ibunya membuat ia teringat
akan semua itu.
"Bagaimana, ibu?" Thian Ki mendesak ketika
melihat ibunya termenung. "Aku masih ingat,
nenek adalah seorang nikouw yang ramah dan baik
budi, selalu bersikap baik kepadaku. Beliau tentu
akan suka menolongku, ibu."
Wanita itu menghela napas panjang. "Tidak
tahulah, Thian Ki. Aku memang pernah
mempelajari ilmu-ilmu dari ibuku tentang ilmuilmu
pukulan beracun, akan tetapi aku tidak
pernah diajari ilmu membuat seseorang menjadi
tok-tong, juga tidak tahu menahu tentang cara
menguasai hawa beracun dalam tubuh. Ilmu
pukulan beracun memang hanya timbul hawa
beracun itu kalau ilmu itu dipergunakan untuk
berkelahi, kalau pengerahan tenaga sakti
dilakukan dengan cara tertentu disamping latihan
yang menggunakan racun. Akan tetapi racun yang
sudah menjadi satu dengan darah seperti yang
kaualaml, biasanya hanya membuat orang itu
mati. Engkau sebaliknya hidup dengan sehat dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kuat, dan racun itu bekerja di luar kehendakmu.
Aku tidak tahu.......... "
"Kalau begitu, kenapa tidak ke sana saja.? Kita
semua pergi ke sana mencari ibumu, minta agar ia
suka mengajari Thian Ki menguasai racun di dalam
dirinya, dan kita sekalian berpesiar ke timur.
Anak-anak ini perlu mendapatkan pengalaman,
juga aku ingin sekali melihat keadaan di sana
sekarang ini. Tentu ramai sekali."
Sim Lan Ci terkejut, akan tetapi juga wajahnya
berseri gembira sekali. "Benarkah.......?
Tidak.........tidak akan ada halangannyakah?"
Ia memandang suaminya dengan khawatir.
Suaminya pernah menjadi seorang buruan
pemerintah, kalau sekarang mereka menuju ke
timur, bukankah itu sama saja dengan ular
mencari pemukul?
Cian Bu menggeleng kepala dan meraba
jenggotnya yang dipotong pendek. Dia mengerti apa
yang dimaksudkan isterinya, dan diapun
tersenyum yakin akan dirinya sendiri bahwa
keadaannya sudah berubah sama sekali. Dahulu
dia bertubuh tinggi besar dengan jenggot panjang
dan pakaian bangsawan. Akan tetapi sekarang,
biarpun dia masih tinggi besar, namun perutnya
agak gendut, dan jenggotnya pendek. Juga dia
mengenakan pakaian biasa, pakaian seorang
petani kaya. Juga rambut di kepalanya dibiarkan
tidak tertutup, digelung ke atas, tidak pernah
memakai penutup kepala yang biasa dipakai para
bangsawan. Pula, sejak lama tidak pernah ada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pasukan yang mencarinya, dan setelah Pangeran Li
Si Bin menjadi kaisar, dia merasa lebih aman.
"Tidak akan ada halangan. Hari kita pergi
mengunjungi ibumu dan mudah-mudahan saja ia
akan dapat membimbing Thian Ki sehingga dia
dapat menguasai hawa beracun di dalam
tubuhnya."
Mendengar bahwa ayah ibunya akan mengajak
ia dan kakaknya pesiar ke timur, ke kota-kota
besar yang ramai, Kui Eng bersorak gembira. Anak
perempuan berusia sebelas tahun itu kadangkadang
masih amat kekanak-kanakan. Ia
meloncat-loncat dan merangkul Thian Ki.
"Kita pesiar......! Horee, kita pesiar. Toako,
alangkah senangnya dan ini semua jasamu!" Ia
merangkul leher Thian Ki sehingga mukanya
hampir melekat ke muka pemuda remaja itu.
Biarpun sejak kecil sudah biasa dia bermain main
dengan Kui Eng, akan tetapi kini dia menyadari
bahwa Kui Eng sudah mulai besar, bukan anak
kecil lagi dan dia tahu benar bahwa Kui Eng bukan
apa-apa dengan dia, berbeda ayah berbeda ibu.
Maka rangkulan yang demikian akrab dan
mesranya membuat Thian Ki menjadi tersipu dan
mukanya kemerahan, akan tetapi dia tidak berani
melarang adiknya.
"Eh, Kui Eng, engkau seperti anak kecil saja.
Bagaimana bisa menjadi jasaku?" tanyanya. Kui
Eng melepaskan rangkulannya. "Tentu saja! Kalau
engkau tidak menjadi tok-tong, kalau ayah dan ibu
tidak menghendaki engkau dibimbing nenek,
belum tentu kita pesiar ke timur."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Thian Ki tertawa. Ayah dan ibu merekapun
tertawa. Dan beberapa hari kemudian keluarga
inipun meninggalkan dusun Ke-cung, menunggang
empat ekor kuda menuju ke timur.
Perjalanan pada masa itu amatlah sukar. Tidak
mungkin menggunakan kereta yang besar karena
harus melalui bukit-bukit, kadang harus
menyeberangi sungai. Akan tetapi keluarga itu
adalah orang-orang yang sudah terbiasa dengan
kehidupan di alam terbuka, pandai pula
menunggang kuda dan berkat latihan ilmu silat
membuat tubuh mereka kuat dan kebal terhadap
serangan angin, hawa dingin atau panas. Juga
tidak mudah lelah. Perjalanan yang sukar itu
bahkan membuat mereka bergembira sekali,
terutama Kui Eng yang selalu bercanda dan gadis
cilik yang lincah ini membuat kakaknya, ayah dan
ibunya, selalu merasa gembira. Sebelum
berangkat, dengan sungguh-sungguh Cian Bu
memesan kepada isteri dan kedua orang anaknya
agar tidak memperlihatkan bahwa mereka adalah
keluarga yang pandai ilmu silat.
"Kalau orang-orang tahu bahwa kita adalah
keluarga ahli silat, hal itu hanya akan
mendatangkan kecurigaan dan perhatian saja,
membuat perjalanan kita mengalami banyak
gangguan dan menjadi tidak leluasa lagi." demikian
dia mengakhiri pesannya.
"Tapi, bagaimana kalau kita diganggu orang,
ayah? Apakah kita harus diam saja, membiarkan
kita diganggu? Bagaimana kalau ada perampok?"
Kui Eng yang selalu membantah kalau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dianggapnya pesan siapa saja tidak tepat itu
bertanya dan diam-diam Thian Ki menyetujui
pertanyaan itu walaupun dia sendiri tidak akan
berani menyangkal seperti itu.
Cian Bu tersenyum. Dia mengenal baik watak
puterinya itu, watak yang disukainya, cocok
dengan dia. Tak pernah menyembunyikan sesuatu
yang membuat hati penasaran. "Ha-ha-ha, kalau
terjadi seperti yang kaukatakan itu, diamlah saja,
bersabarlah, dan serahkan saja kepadaku untuk
mengatasinya. Mengerti."
"Mengerti, ayah," kata Kui Eng, akan tetapi
alisnya berkerut. "Eh, kenapa engkau masih saja
cemberut, Kui Eng." tanya ibunya.
"Habis, pesan ayah ini aneh sih! Bagaimana kita
harus diam dan bersabar saja kalau ada orang
jahat mengganggu. Kenapa sih kita harus berpurapura
tak berdaya, penakut dan lemah."
Cian Bu menjadi bingung untuk menjawab, akan
tetapi isterinya yang cerdik segera membantu
suaminya. "Kui Eng, ketahuilah bahwa ayah dan
ibumu dahulu adalah ahli-ahli silat yang suka
bertualang dan karenanya, kami telah merobohkan
banyak lawan dan karena itu tentu saja banyak
yang merasa dendam dan akan memusuhi kita.
Dari pada banyak halangan di perjalanan yang
hanya akan menyulitkan dan melelahkan, lebih
baik tidak ada yang mengenal kita sehingga kita
dapat berpesiar dengan gembira dan dapat cepat
tiba di tempa tinggal nenekmu. Nah, mengertikah
engkau?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kui Eng mengangguk-angguk dan alasan itu
lebih dapat diterimanya. Ia hanya tidak suka kalau
akan dianggap penakut menghadapi gangguan
orang jahat. Akan tetapi kalau hanya untuk
menjaga agar perjalanan mereka dapat lancar,
maka ia pun dapat menerimanya.!
Perjalanan dilakukan dengan gembira, tidak
tergesa-gesa, bahkan kalau mereka melewati
daerah yang indah, mereka berhenti untuk
menikmat keindahan daerah itu. Juga kalau
melewati kota yang ramai, mereka berhenti dan
bermalam sampai dua tiga malam untuk memberi
kesempatan kepada anak-anak mereka, terutama
sekali Kui Eng, untuk bersenang senang.
Kui Eng memang belum pernah melihat barangbarang
yang dianggapnya amat indah menarik
yang terdapat di kota-kota besar. Tidak demikian
dengan Thian Ki. Ketika meninggalkan rumah
bersama ayah ibunya, dia sudah berusia lima
tahun lebih dan dia sudah melalui banyak kota.
Juga mengenai alasan yang disembunyikan Cian
Bu dari Kui Eng, dia lebih tahu. Dia sudah tahu
bahwa ayah tirinya adalah seorang bekas pangeran
yang pernah dicari-cari pasukan pemerintah.
Ayahnya yang berilmu tinggi tentu saja tidak takut
menghadapi gangguan penjahat, namun khawatir
kalau sampai dikenal oleh pasukan pemerintah
karena hal itu pasti akan mendatangkan
kesukaran bear, bahkan bahaya besar.
Sikap mereka yang bersahaja, sebagai keluarga
biasa yang sedang melakukan perjalanan, memang
tidak menarik perhatian orang. Pakaian mereka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sederhana dan tidak nampak memakai perhiasan
mahal, juga tidak membawa banyak barang kecuali
buntalan pakaian. Juga Sim Lan Ci biarpun masih
cantik, namun ia sudah setengah tua, hampir
empatpuluh tahun usianya, sedangkan Kui Eng
juga masih terlalu kecil untuk menarik perhatian
laki-laki mata keranjang. Semua ini membuat
perjalanan mereka menjadi aman, tidak pernah
diganggu orang.
Pada suatu sore, mereka memasuki kota Wu-han
yang besar, kota terbesar yang pernah mereka
lalui. Tempat yang mereka tuju adalah kuil Thianho-
tang yang terletak di luar dusun Mo-kim-cung,
di lereng Coa-san (Bukit Ular). Tempat itu tidak
jauh lagi dari Wuhan, hanya perjalanan sehari lagi
saja dengan kuda. Mereka memasuki kota Wuhan
dan karena kuda mereka sudah lelah, mereka
sendiripun perlu beristirahat dan hari sudah
menjelang senja, Cian Bu lalu menyewa dua buah
kamar untuk mereka. Sebuah kamar untuk dia
dan Thian Ki, sebuah kamar lain untuk Kui Eng
dan ibunya.
Setelah mendapatkan kamar, mereka mandi dan
berganti pakaian bersih. Kemudian Cian Bu
mengajak keluarganya makan malam di sebuah
rumah makan yang paling besar di kota itu.
Rumah makan ini telah ada sejak dia masih
menjadi pangeran, hanya sekarang yang mengelola
adalan anak dari pemilik dahulu yang sudah
meninggal dunia. Ada di antara pelayan tua yang
masih diingat oleh Cian, Bu. akan tetapi tentu saja
mereka itu tidak mengenalnya karena dahulu dia
adalah seorang pangeran yang kalau datang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berkereta, dengan pakaian mewah, diiringkan
pengawal dan sekarang dia hanya seorang laki-laki
yang membawa anak isterinya makan di situ.
Cian Bu masin ingat masakan apa yang istimewa
dari rumah makan ini. Dia memesan masakanmasakan
itu dan merekapun makan dengan
gembira. Apalagi Kui Eng, anak ini gembira bukan
main karena merasakan masakan-masakan yang
luar biasa, baru dan lezat baginya.
Sejak tadi, Cian Bu dan isterinya sudah melihat
adanya dua orang laki-laki yang duduk di ruangan
rumah makan itu, di sudut terpisah dua meja dari
tempat duduk mereka. Dua orang laki-laki ini
tentu akan luput dari perhatian mereka kalau saja
dua orang itu tidak memperlihatkan sikap yang
mencurigakan. Sejak tadi dua orang itu
memperhatikan mereka, terutama sekali
memperhatikan Kui Eng yang makan minum
dengan gembira. Mereka adalah dua orang laki-laki
yang berusia kurang lebih tigapuluh tahun. Yang
seorang bertubuh tinggi kurus dengan muka
meruncing seperti muka kuda, sedangkan orang ke
dua bertubuh tinggi besar dengan muka bopeng
bekas cacar, mereka memperhatikan Kui Eng lalu
berbisik-bisik sambil terus melirik ke arah Kui Eng
yang kebetulan duduknya menghadap mereka.
Sebagai suami isteri yang sudah berpengalaman,
sikap kedua orang itu amat mencurigakan. Mereka
berdua tahu bahwa di dunia kangouw, di dalam
dunia sesat terdapat orang-orang yang keji dan
aneh, orang-orang yang mempunyai selera rendah
yang amat mesum. Ada penjahat cabul yang suka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menculik dan mempermainkan gadis-gadis cilik,
adapula bahkan yang suka menculik pemudapemuda
remaja! Memang jarang sekali manusia
macam ini, akan tetapi kenyataannya memang ada
dan suami isteri itu dalam petualangannya dahulu
pernah bertemu dengan manusia seperti itu. Maka
kini melihat sikap mereka ketika memandang ke
arah Kui Eng, cukup membuat mereka waspada.
Setelah selesai makan dan membayar harga
makanan dan minuman, Cian Bu mengajak
isterinya untuk berpesiar ke sebuah taman rakyat
yang berada di pinggir kota. Taman itu cukup
indah dan terpelihara baik-baik. Di tengah taman
itu terdapat pula sebuah danau kecil yang cukup
untuk dipakai berperahu oleh anak-anak yang
berkunjung ke tempat itu. Malam ini suasana di
situ cukup ramai karena selain lampu-lampu
penerangan berupa lentera beraneka warna yang
menerangi tempat itu, terdapat pula bulan yang
hampir purnama.
Kui Eng berteriak-teriak gembira ketika
memasuki taman dan ia mendahului kakak dan
orang tuanya, masuk lebih dulu sambil setengah
berlari. Ayah dan ibunya hanya tersenyum saja,
membiarkan puteri mereka itu bergembira. Thian
Ki mempercepat langkahnya untuk menemani
adiknya, akan tetapi dia yang merasa sudah besar
malu untuk berlari-lari seperti Kui Eng. Anak
perempuan itu berteriak kegirangan menghampiri
sebuah kolam ikan di mana terdapat bunga-bunga
teratai dan ikan-ikan emas. Ditimpa sinar bulan
dan sinar lentera yang dipasang di tepi kolam,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memang bunga teratai dan ikan-ikan itu nampak
indah sekali.
"Wah, ikan-ikan beraneka warna. Lihat itu, ada
yang putih, kuning, merah.......indah sekali!"
Kui Eng berteriak-teriak, ia tidak tahu bahwa
ada dua orang pria menghampirinya dan seorang di
antara mereka, yang bertubuh tinggi kurus dengan
muka seperti kuda menyentuh lengannya.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 15
"Memang indah dan cantik sekali, nona kecil.
Seperti engkau........"
Kui Eng menengok dan alisnya berkerut. Ia
masih belum tahu bahwa ucapan itu mengandung
kekurang-ajaran, akan tetapi ia tidak suka
lengannya disentuh jari-jari tangan yang panjang
itu. Kalau dalam keadaan biasa, tentu ia sudah
mendamprat orang itu, akan tetapi ia teringat akan
pesan ayahnya dan iapun menarik lengannya yang
terpegang.
"Aku tidak bicara denganmu," katanya ketus dan
iapun menjauhkan diri beberapa langkah. Si muka
kuda menyeringai.
"Aih, galaknya, akan tetapi bertambah manis.
Jangan marah, anak manis." Kini tangan itu
bergerak mengusap ke arah dagu dan pipi Kui Eng.
Tentu saja Kui Eng marah sekali, akan tetapi ia
masih menahan sabar. Ia miringkan kepalanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sehingga hanya dagunya saja tersentuh dan ia
melangkah mundur lagi.
"Jangan sentuh aku.!" katanya, masih menahan
sabar.
Si muka kuda itu mengira bahwa Kui Eng
ketakutan, maka iapun menjulurkan kedua
tangannya lagi. "Jangan takut, sayang, aku tidak
akan menyakitimu. Marilah ikut dengan kami."
Dan tiba-tiba saja si muka kuda itu sudah
menangkap lengan kiri Kui Eng. Anak yang tidak
menyangka-nyangka ini, dan pula tidak ingin
menggunakan kekerasan, tiba-tiba sudah ditarik
dan berada dalam pondongan si muka kuda.! Kui
Eng memiliki dasar watak yang keras, galak dan
tak mengenal takut. Kalau sejak tadi ia hanya
bersabar saja hal itu adalah karena ia mengingat
pesan ayahnya. Akan tetapi, kesabarannya
terbatas sekali. Begitu merasa dirinya dipondong
dan pemondongnya menggerakkan kaki hendak
lari, ia menjadi marah bukan main!
"Heii, jangan larikan adikku!" Thian Ki berteriak,
akan tetapi diapun ragu untuk turun tangan,
mengingat pesan ayahnya.
"Jahanam kau.! Anjing kau.!" Kui Eng memaki
dan tangan kirinya menjambak rambut si muka
kuda, tangan kanannya menampar.
"Plakk! Aduuuhh........!" Si muka kuda merasa
kepalanya seperti dihantam palu godam sehingga
pondongannya terlepas. Kui Eng sudah meloncat
turun. Si Muka kuda marah bukan main. Pipi
kirinya bengkak oleh tamparan tadi dan dia kini
menghampiri Kui Eng dengan mata berapi. Juga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kawannya yang tinggi besar bermuka bopeng
menghampiri dari lain jurusan.
"Bocah setan binal!" si muka kuda menubruk.
Akan tetapi sekarang Kui Eng sudah naik pitam.
Dengan gesit ia mengelak, menggeser tubuh ke kiri
dan begitu si muka kuda menerkam luput, kakinya
menendang dua kali beruntun dengan cepat sekali
dan tubuh si muka kuda terlempar ke dalam air
kolam!
"Byuuuuuurr....!"
Si tinggi besar terbelalak, lalu menerkam dengan
marah. Kui Eng mengelak lagi. Akan tetapi si tinggi
besar ini rupanya menyadari bahwa anak
perempuan remaja itu bukan anak biasa,
melainkan memiliki gerakan silat yang cepat, iapun
membalik dan kakinya yang besar dan panjang itu
mencuat, melakukan tendangan. Sungguh keji
sekali, seorang laki-laki tinggi besar seperti itu
menendang seorang anak perempuan berusia
sebelas tahun. Kalau tendangan itu mengenai
sasaran, tentu tubuh Kui Eng akan terlempar jauh
dan mungkin akan tewas seketika. Namun, sejak
kecil Kui Eng telah menerima gemblengan seorang
sakti seperti ayahnya sendiri, juga ia dilatih oleh
ibunya yang lihai pula. Tendangan yang amat kuat
dan cepat itu dengan mudah dapat ia elakkan,
kemudian ia membalik dan kakinya menendang
belakang lutut kanan lawan.
"Plakk?" dan tanpa dapat dicegah lagi, si tinggi
besar yang belakang lututnya ditendang itu
terpaksa jatuh berlutut dengan kaki kanannya.
Pada saat itu, kaki kanan Kui Eng menggantikan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kaki kiri, menyambar dan tepat mengenai pelipis
kiri si tinggi besar bermuka bopeng.
"Plaak........!" si tinggi besar mengeluh dan
tubuhnya terpelanting. Kui Eng tidak berhenti
sampai di situ saja. Ia mengejar dan kembali
kakinya menendang, dua kali tendangan dan
tubuh si tinggi besar juga terlempar ke dalam
kolam menyusul temannya!
Pada saat itu, Cian Bu dan Sim Lan Ci sudah
tiba pula di situ, demikian pula mereka yang
sedang berada di dalam taman, datang berlarilarian
ketika mendengar ada perkelahian di dekat
kolam ikan.
Cian Bu sudah menangkap tangan puterinya
dan ditariknya dari situ, diajak pergi diikuti oleh
Sim Lan Ci dan Thian Ki. Mereka berempat tidak
berkata sesuatu, dan semua orang yang tiba di tepi
kolam, memandang ke arah dua orang yang masih
berada di dalam kolam itu. Kemudian orang jadi
geger ketika dua orang itu tidak keluar dari dalam
kolam dan ketika diperiksa, ternyata mereka telah
tewas.! Ada luka sebesar kuku ibu jari tangan di
dahi mereka dan darah mengucur dari luka itu.
Agaknya mereka tewas seketika!
Tidak ada seorangpun di antara mereka tahu
apa yang telah terjadi. Yang tadi berada di dekat
situ hanya melihat betapa dua orang yang tewas di
kolam itu tadi menyerang seorang anak perempuan
yang kini telah lenyap entah ke mana. Mereka yang
tadi kebetulan dekat melihat betapa anak
perempuan itu hanya mengelak ke sana sini
kemudian menendang-nendang dan dua orang itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terlempar ke dalam kolam. Akan tetapi, mustahil
kalau tendangan anak perempuan itu dapat
menimbulkan luka di dahi yang menewaskan
kedua orang yang nampaknya kuat dan jagoan itu.
Cian Bu dan keluarganya tiba kembali di rumah
penginapan dan mereka berempat berkumpul di
kamar yang ditempati Sim Lan Ci dan Kui Eng.
Setelah tiba di dalam kamar itu, barulah mereka
saling pandang dan Thian Ki yang sejak tadi
menahan-nahan perasaannya, segera berkata
kepada ayahnya sambil menatap tajam wajah
orang tua itu.
"Ayah, kenapa ayah membunuh mereka?"
Mendengar ini, Kui Eng terkejut dan anak
perempuan itupun memutar tubuh memandang
ayahnya. "Benarkah ayah telah membunuh
mereka? Bagus! Mereka memang layak dibunuh.
Mereka dua orang yang jahat sekali.!" Wajah anak
perempuan itu kelihatan girang bukan main.
"Kui Eng, jangan sekejam itu.! Thian Ki menegur
adiknya. "Mereka itu memang jahat karena hendak
mengganggumu, akan tetapi kalau kita bunuh
mereka bukankah itu lebih jahat lagi namanya?"
"Thian Ki, engkau melihatnya?" Cian Bu
bertanya dan pandang matanya kagum. Tak
disangkanya sama sekali bahwa anak itu akan
melihat perbuatannya tadi, padahal dia hampir
yakin bahwa yang tahu hanyalah dia dan isterinya
saja. Tempat itu gelap dan gerakannya amat cepat,
juga benda yang dipergunakan untuk membunuh
itu terlalu kecil untuk dapat dilihat orang ketika
meluncur cepat ke arah dua orang di kolam itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akan tetapi Thian Ki mengetahuinya! Ini saja
membuktikan bahwa anaknya yang juga muridnya
ini memang berbakat sekali dan telah memiliki
ketajaman pandang mata yang melebihi ahli silat
biasa. Bahkan Kui Eng saja yang tingkat
kepandaiannya tidak berbeda jauh dibandingkan
Thian Ki, tidak dapat melihatnya.
"Aku hanya melihat berkelebatnya dua sinar
hitam kecil ke arah mereka, dan melihat mereka
tewas, akan tetapi aku tidak tahu siapa yang
membunuh mereka dengan sambitan itu, tidak
tahu pula benda apa yang membunuh mereka.
Akan tetapi setelah aku melihat baju ayah, tahulah
aku bahwa ayah yang telah membunuh mereka.
Ada dua buah kancing baju ayah yang hilang."
Cian Bu menunduk dan melihat kancing
bajunya, demikian pula isterinya dan Kui Eng.
"Aih, kiranya ayah membunuh mereka dengan dua
buah kancing baju ayah? Hemm, sayang
kancingnya, ayah. Penjahat seperti mereka lebih
pantas dibunuh memakai batu saja!" kata Kui Eng.
"Akan tetapi, demikian besarkah dosa mereka
sehingga mereka itu harus dibunuh?" Thian Ki
bertanya lagi, penuh rasa penasaran. Selama tujuh
tahun ini, dia tahu benar bahwa ayahnya adalah
seorang gagah perkasa dan tidak pernah
membunuh orang lain. Akan tetapi kenapa
sekarang begitu ringan tangan membunuh dua
orang yang walaupun bersalah, namun
kesalahannya belum cukup hebat untuk dihukum
mati?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Thian Ki, masihkah engkau belum mengerti.
Ayahmu terpaksa membunuh mereka agar mereka
tidak akan menyiarkan berita tentang keluarga
kita," kata Sim Lan Ci.
"Tapi......tapi mengapa....."
"Thian Ki, engkau tadi melihat sendiri betapa
adikmu telah mengalahkan dua orang itu
melempar mereka ke kolam. Hal ini merupakan
peristiwa luar biasa bagi mereka dan mereka tentu
akan menyiarkan berita tentang Kui Eng kepada
mum dan hal ini tentu akan menarik perhatian
orang. Orang-orang akan tertarik dan ingin tahu
siapa anak perempuan yang mampu mengalahkan
dua orang jagoan itu dan siapa pula orang tuanya,
gurunya. Dan kalau sudah begitu, perjalanan kita
tidak akan menyenangkan lagi, bahkan penuh
bahaya dan kehidupan kita tidak dapat tenang
lagi."
"Ah, lagi-lagi akulah yang bersalah!" Kui Eng
berkata dengan alis berkerut. "Kalau saja aku tidak
melempar mereka ke dalam kolam! Ayah sudah
memesan agar aku bersabar dan mengalah, akan
tetapi bagaimana aku dapat mengalah kalau
mereka hendak menculikku?"
Sim Lan Ci merangkul puterinya "Engkau tidak
bersalah, Kui Eng. Perlawananmu tadi memang
sudah tepat. Kesabaran tentu ada batasnya.
Memang agaknya sudah seharusnya begini. Thian
Ki, ayahmu membunuh mereka bukan karena
perbuatan mereka tadi, melainkan untuk
menyelamatkan keluarga kita dari ancaman
bahaya. Kuharap engkau dapat mengerti."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Thian Ki menundukkan mukanya. "Aku
mengerti, ibu. Ayah, maafkan aku." Akan tetapi di
dalam hatinya, tetap saja anak ini merasa
penasaran dan tidak senang karena dianggapnya
perbuatan ayahnya itu terlalu kejam, mudah saja
membunuh orang walaupun dengan dalih demi
keselamatan keluarga mereka. Bahaya itu kan
belum datang mengancam? Ayahnya amat tidak
menghargai nyawa ocang lain!
Betapapun juga, tepat seperti dikatakan Cian
Bu. Setelah dua orang itu tewas tanpa ada orang
lain mengetahui sebabnya, perjalanan mereka
tidak mendapat gangguan lagi. Pada keesokan
harinya, pagi-pagi sekali Cian Bu dan keluarganya
sudah meninggalkan kota Wuhan, melanjutkan
perjalanan menuju ke dusun Mo-kim-cung yang
merupakan sebuah dusun kecil di kaki Bukit Ular.
Sim Lan Ci segera mengajak keluarganya menuju
ke rumahnya yang tujuh tahun yang lalu ia
tinggalkan dalam pengawasan seorang pembantu
wanita yang sudah lama bekerja pada mereka.
Tentu saja ia juga memesan kepada ibunya, yaitu
Lo Nikouw di kuil Thian-ho-tang di luar dusun agar
mengamat-amati rumahnya selama ia dan
suaminya pergi.
Ketika pada senja hari itu mereka tiba depan
rumah Lan Ci, mereka melihat sebuah rumah yang
kotor tidak terawat, jendela dan daun pintunya
tertutup rapat-rapat, bahkan gelangan daun pintu
dirantai dari luar, tanda bahwa rumah itu kosong.
Lan Ci termangu-mangu melihat betapa
pekarangan yang dahulu dirawatnya baik-baik dan
penuh bunga itu kini menjadi kotor dan buruk.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Juga rumah itu kotor dan banyak genteng yang
pecah dan temboknya sudah penuh jamur
kehijauan. Seperti rumah hantu!.
Thian Ki juga berdiri termangu di depan rumah
itu. Terbayanglah dalam ingatannya ketika tujuh
tahun yang lalu dia hidup di tempat ini. Masih
teringat semua keadaan di luar dan di dalam
rumah. Betapa senangnya dia dahulu memanjat
pohon di samping rumah itu atau berlari-larian
dan bermain dengan teman-teman sedusun. Dia
pernah jatuh di sebelah kanan rumah itu, di
selokan kecil yang dibuat ayahnya untuk
mengalirkan air ke taman bunga. Dan sekarang,
keadaan di pekarangan dan taman itu amat
menyedihkan. Juga rumah itu nampak demikian
tua dan kotor. Semua ini membuat dia teringat
kepada ayahnya. Ayahnya demikian lembut dan
baik dan tak terasa ke dua mata Thian Ki menjadi
basah.
Sim Lan Ci sudah menghampiri rumah tetangga
terdekat. Suami isteri petani tua itu
menyambutnya di depan pintu dan mereka segera
mengenal Sim Lan Ci yang bersama suaminya
memang amat dikenal di dusun itu sebagai orangorang
yang suka menolong.
Dari tetangganya ini Lan Ci mendengar betapa
pembantu yang diserahi tugas menjaga rumah
telah pulang ke dusunnya sendiri karena terlalu
lama majikannya tidak pulang. Rumah beserta
isinya oleh pelayan itu diserahkan kepada Lo
Nikouw yang menutup rumah itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Apakah Lo Nikouw masih tinggal di kuil Thianho-
tang?" tanya Lan Ci dengan hati terharu. Suami
isteri itu mengangguk. Sim Lan Ci lalu
mengucapkan terima kasih dan bersama
keluarganya ia lalu pergi ke luar dusun, ke kuil
Thian-ho-tang itu.
Senja telah lewat dan cuaca sudah remang
ketika mereka tiba di luar kuil Thian-ho-tang. Kuil
ini kecil saja, berdiri terpencil di tempat yang
sunyi. Akan tetapi dari luar nampak bahwa kuil itu
sudah dipasangi lampu-lampu dan bahkan meja
sembahyang di ruangan depan juga dipasangi lilin.
Namun suasana di kuil itu nampak sunyi sekali
seolah tidak ada penghuninya. Agaknya ibu masih
juga tinggal menyendiri di kuil ini, pikir Sim Lan Ci
dan iapun berjalan paling depan ketika mereka
memasuki kuil.
"Berhenti!" Tiba-tiba terdengar suara lembut dari
dalam kuil. Suara itu lembut namun berwibawa
dan Lan Ci menahan langkahnya, diikuti oleh
suaminya dan dua orang anak mereka. Mereka
berhenti di ruangan depan, di depan meja
sembahyang. "Siapakah tamu yang memasuki kuil
ini? Beritahukan dulu nama kalian dan apa
perlunya datang berkunjung." Suara itu kembali
terdengar lembut berwibawa dan biarpun singkat,
tidak terdengar galak.
"Ibu, aku Lan Ci, anakmu datang berkunjung,"
kata Sim Lan Ci dan betapapun keras hati wanita
ini, tetap saja ia terharu dan suaranya agak
gemetar. Hening sejenak di dalam kuil. Kemudian
suara itu terdengar lagi, masih lembut berwibawa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Omitohud......semoga hamba dibebaskan
daripada keterikatan! Pin-ni (aku) tidak
mempunyai anak. Anak tunggal pin-ni sudah
bertahun-tahun meninggalkan pin-ni tanpa kabar,
pin-ni menganggap ia sudah mati......."
"Nenek...........!" Thian Ki berseru.
"Omitohud......kau......kau........Thian Ki
cucuku!?"
Dari dalam muncullah seorang nenek. Ia sudah
tua, sedikitnya tujuhpuluh lima tahun usianya,
dan mukanya sudah terhias keriput, terutama di
kanan kiri kedua matanya dan di sekitar mulutnya.
Akan tetapi tubuhnya masih tegak dan gesit, sinar
matanya masih tajam, pakaiannya bersih dan
tangan kanannya memegang sebuah kebutan,
tangan kiri memegang seuntai tasbeh. Sepasang
mata itu ditujukan ke arah Thian Ki, lalu ia
menyelipkan kebutan di pinggang, mengantungi
tasbehnya dan mengembangkan kedua lengannya.
"Thian Ki cucuku............!"
"Nenek..........!" Thian Ki lari menghampiri dan
nenek itu merangkulnya. Biarpun usianya baru
duabelas tahun, tubuh Thian Ki sudah hampir
sama dengan neneknya.
Dan Nikouw yang kepalanya gundul licin itu
menangis, lalu berulang-ulang menyebut nama
Sang Buddha. "Cucuku.......ah. Thian Ki, betapa
rinduku kepadamu. Omitohud....... semoga
diampuni kelemahanku ini....." Kemudian ia
teringat dan mengangkat muka, memandang
kepada Sim Lan Ci yang berdiri tak jauh di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
depannya. Sejenak pandang mata nenek itu
mengamati Lan Ci, kemudian terdengar suaranya
yang lembut namun kering dan tegas.
"Betapa kejamnya engkau! Engkau memisahkan
Thian Ki dari pin-ni., pergi tanpa memberi kabar
lama sekali sampai bertahun-tahun. Engkau
menyiksa hati pin-ni. Begitukah cara seorang anak
membalas budi orang tua.!"
"Ibu, ibu tidak tahu apa yang telah terjadi
menimpa diri kami. Ibu sendiri amat tega,
membuat Thian Ki menjadi seorang tok-tong. Ibu
telah merusak hidupnya, dan ibu masih dapat
mencela aku kejam.?"
"Omitohud.....siapa bilang aku kejam? Pin-ni
menggemblengnya menjadi tok-tong agar kelak
tidak ada orang yang berani mengganggunya, agar
dia dapat menjadi orang gagah yang tak
terkalahkan kelak, agar dia merajai di dunia
persilatan dan mengangkat nama besar orangorang
yang menurunkannya. Neneknya pernah
menjadi Ban-tok Mo-li, sudah sepantasnya kalau
dia menjadi tok-tong."
"Tapi, ibu. Biarpun tidak disengaja, dalam
usianya yang baru lima enam tahun dia sudah
membunuh banyak orang dengan racun yang
berada di tubuhnya!" teriak Lan Ci yang kini
menjadi marah karena teringat akan keadaan
puteranya. "Lihat, dia sampai tidak berani
sembarangan menyentuh orang lain, takut kalau
sampai membunuhnya. Bukankah ini berarti ibu
menyiksanya!?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Omitohud, semua itu salahmu sendiri, Lan Ci.
Kenapa engkau memisahkannya dari pin-ni. Pin-ni
belum selesai dengan cucuku ini. Akan pin-ni
bimbing dia dan latih dia sehingga racun di
tubuhnya hanya akan menjadi senjata kalau
diperlukan."
"Bagus sekali kalau begitu. Sudah kukatakan
bahwa hanya yang membuat dia menjadi tok-tong
sajalah yang akan mampu membimbing dia
menguasai dirinya." kata Cian Bu dengan girang
mendengar ucapan nenek itu.
Lo Nikouw mengangkat muka memandang
kepada Cian Bu. Sepasang matanya mencorong
ketika ia mengamati pria itu penuh selidik, lalu ia
bertanya. "Siapa orang ini?"
Thian Ki yang menjawab cepat. "Nenek, dia
adalah guruku, juga ayahku!."
Kini pandang mata nenek itu terbelalak dan
ketika ia menoleh ke arah puterinya yang tadi
merasa canggung untuk menjawab. "Ayahmu......?
Apa artinya ini?"
Kini Lan Ci sudah dapat menenangkan hatinya
dan iapun menghampiri ibunya dan berkata
dengan suara tenang. "Ibu, dengarlah baik-baik.
Ketika kami pergi ke Ta-bun-cung tujuh tahun
yang lalu dan berada di markas Hek-houw-pang, di
sana terjadi penyerbuan.........musuh-musuh Hekhouw-
pang. Tentu saja kami membela dan dalam
pertempuran itu, Coa Siang Lee tewas, di samping
ketua Hek houw-pang dan banyak tokohnya. Pihak
musuh amat kuatnya. Aku sendiri bersama Thian
Ki tertawan musuh dan tentu kami berdua akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
celaka atau setidaknya akan menderita
kesengsaraan kalau saja kami tidak ditolong
oleh...........dia yang kemudian menjadi suamiku!
Dia sendiri......seluruh keluarganya, isterinya,
semua juga tewas di tangan pasukan pemerintah,
dia sendirian, dan aku........kemudian kami
menikah."
Lo Nikouw mengerutkan alisnya. Yang membuat
ia tidak suka bukan karena puterinya menikah
dengan laki-laki tinggi besar bermuka merah ini.
Baginya, tidak perduli ia siapa yang menjadi suami
Lan Ci. Akan tetapi ia tidak senang mendengar
bahwa Thian Ki menjadi murid pria ini!
"Tidak perduli dia menjadi suamimu, akan tetapi
bagaimana dia berani lancang menjadi guru Thian
Ki? Harus pin-ni lihat dulu apakah pantas dia
menjadi guru cucuku!" Berkata demikian nenek itu
melepaskan Thian Ki dan sekali kakinya bergerak,
seperti memakai sepatu roda saja dengan ringan ia
telah bergeser ke depan Cian Bu dan tangannya
sudah mencabut kebutannya. "Sambutlah ini.!"
Tangannya bergerak, terdengar suaara angin
menyambar bersiut dan nampak sinar putih
bergulung-gulung ketika kebutan berbulu putih itu
menyambar ke arah tubuh Cian Bu dan ujungnya
telah mematuk-matuk, merupakan totokan totokan
yang amat cepat dan kuat sehingga berbahaya
sekali bagi yang diserang.
Sim Lan Ci terkejut bukan main, akan tetapi ia
percaya sepenuhnya kepada suaminya. Dia tahu
bahwa tingkat kepandaian suaminya tidak kalah
dibandingkan ibunya, dan ia sudah menceritakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepada suaminya tentang keadaan ibunya, tentang
ilmu-ilmu yang mengandung racun berbahaya
sehingga suaminya tentu akan berhati-hati dan
mampu menjaga diri. Dan ia percaya pula bahwa
suaminya tentu tidak akan mencelakai ibunya.
Sementara itu, Thian Ki dan Kui Eng hanya
menonton. Akan tetapi, kalau Thian Ki hanya
bingung melihat ayahnya dan neneknya
bertanding, Kui Eng berdiri dengan muka berubah
pucat dan bukan dua orang yang bertanding itu
yang dipandang, melainkan pandang matanya
bergantian menatap wajah Sim Lan Ci dan Thian
Ki. Ketika ibu kandungnya tewas di tangan
pasukan yang mengeroyok, ia masih terlalu kecil
untuk mengingatnya. Yang diingatnya adalah
bahwa ibunya adalah Sim Lan Ci, ayahnya adalah
Cian Bu dan Thian Ki adalah kakaknya. Itu saja.
Akan tetapi percakapan tadi membuat ia pusing
tujuh keliling! Agaknya ayahnya bertemu dengan
ibunya setelah ibunya menjadi janda dan telah
mempunyai anak, yaitu Thian Ki. Dan seperti yang
didengarnya tadi, ayahnya juga kematian isterinya.
Lalu ia sendiri siapa? Anak siapa? Ia anak bawaan
ibunya ataukah bawaan ayahnya? Membayangkan
bahwa ia hanya anak tiri dari satu di antara kedua
orang itu, ingin ia menjerit-jerit dan wajahnya
menjadi pucat.
Sambaran kebutan ke arah jalan darah di tubuh
Cian Bu dapat dielakkan dengan loncatan
belakang. Akan tetapi agaknya nenek itu masih
belum puas, ia meloncat ke depan, menyerang lagi
dan kini lebih hebat serangannya. Suara
kebutannya sampai mencicit mengerikan ketika
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bulu-bulu kebutan itu meluncur dengan cepat
sekali.
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil