Selasa, 31 Juli 2018

Peninggalan Pusaka Keramat 2 Tamat

====
baca juga
Kedatangan ke Tiga Iblis dari Keluarga Lung ini mempunyai
tujuan tertentu. Dan mereka tidak mungkin menyelesaikan
masalahnya begitu saja. Tetapi asal bisa mendapat
kesempatan untuk mengatur nafas dan menjaga pintu batu
agar mereka tidak menerobos masuk ke dalam, sudah lebih
dari cukup. Karena itu, Seebun Jit tidak memperdulikan
keadaannya yang terluka parah dan sengaja mengeluarkan
suara siulan panjang kemudian tertawa terbahak-hahak.
Setelah tertawa beberapa saat, dia mengayunkan golok di
tangannya. "Lung Lo toa, nyalimu sudah ciut?" ujarnya
dengan suara keras.
Sesaat ketiga iblis dari keluarga Lung benar-benar terkecoh
oleh sikap Seebun Jit. Mereka saling pandang sekilas,
kemudian Lung Goan Po memapah kedua saudaranya dan
mengeluarkan suara tertawa dingin. "Hen! Jangan senang
dulu, Seebun Jit! Hari ini tidak berhasil, besok kami pasti
datang kembali! Tunggu saja!"
Sekali lagi Seebun Jit tertawa terbahak-bahak.
"Biar kapan pun kalian datang, asal aku . . ." Seebun Jit
mengerutkan kening sedikit saja, "Anggaplah aku band!"
"Kata-kata yang bagus!" Sembari memapah kedua orang
saudaranya di kiri dan kanan, Lung Goan Po mendelik kepada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seebun Jit. Meskipun Lung Sen dan Lung Ping berjalan
dengan sebelah kaki, gerakan tubuh mereka tetap gesit.
Dalam sekejap mata, mereka sudah keluar dari lembah Gin
Hua kok.
Seebun Jit sadar kepergian mereka kali ini demi
nienyembuhkan luka Lung Sen dan Lung Ping.
Setelah keduanya sembuh, mereka pasti kembali lagi.
Diam-diam Seebun Jit menarik nafas panjang. Darah yang
bergejolak di dalam dadanya sejak tadi, langsung tercurah
keluar setelah perasaannya lebih lega.
"Hooakkkk!!!!"
Butiran darah memenuhi jenggotnya yang sudah memutih.
Hal ini membuat tampang Seebun Jit berubah seperti tua
dalam waktu yang singkat.
Setelah memuntahkan darah segar, Seebun Jit
menggunakan goloknya untuk menopang dirinya. Baru saja
kakinya hendak melangkah menuju pintu batu, entah
mengapa begitu membalikkan tubuhnya, dari luar lembah
sudah terdengar suara batuk-batuk kecil.
Seebun Jit tersentak kaget. Diam-diam hatinya khawatir,
apabila di saat seperti ini datang lagi seorang musuh yang
tangguh. Sudah pasti dirinya tak sanggup menghadapinya.
Cepat-cepat dia menghapus darah di sudut bibir dan
jenggotnya dengan ujung lengan jubahnya. Setelah itu dia
membalikkan tubuhnya kem¬bali, tampak di mulut lembah
berdiri seorang laki-laki tua bertubuh kurus kering.
Tampangnya licik dan tangannya menggenggam seekor ular
hijau yang bentuknya aneh. Ekor ular itu malah melilit di
lehernya. Panjangnya mungkin kira-kira tujuh ciok.
Seebun Jit memaksakan dirinya untuk me-ngembangkan
seulas senyuman.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Leng Coa sian sing, ada keperiuan apa berkun-jung ke Gin
Hua kok?"
Seebun Jit sadar bahwa Leng Coa sian sing jarang
berkecimpung di dunia kang ouw sehingga orang-orang yang
tahu namanya pun sedikit sekali, tetapi ilmunya memang
tinggi sekali.
"Sahabat Seebun, tampaknya luka yang kau derita tidak
ringan?" ujar Leng Coa sian sing sambil tertawa terkekehkekeh.
Seebun Jit tahu tidak mudah mengelabui orang yang satu
ini. Karena itu dia tertawa getir.
"Terima kasih atas perhatianmu! Entah ada keperiuan apa
Leng Coa sian sing bertandang ke Gin Hua kok ini?"
Sekali lagi Leng Coa sian sing tertawa terkekeh-kekeh.
Mimik wajahnya sungguh mencurigakan.
"Sahabat Seebun, apakah kau mengenali benda ini?"
Sembari berkata, dia mengeluarkan sebuah len-cana
berbentuk segi tiga yang ukurannya sebesar telapak tangan.
Lencana itu mengeluarkan cahaya berkilauan karena warnanya
putih keperakan.
Seebun Jit tertegun melihatnya.
"Itukan lencana kokcu. Di dalam dunia bulim, siapa yang
tidak kenal a pa lagi tidak tahu?"
"Memang betul. Melihat lencana ini, merasa seperti
bertemu dengan pemiliknya sendiri. Sahabat Seebun, harap
kau serahkan Lie Cun Ju kepadaku!"
Seebun Jit terkejut sekali.
"Leng Coa sian sing, lencana itu hanya boleh digunakan
satu kali saja. Setelah itu harus dikembalikan kepada kokcu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Benda yang demikian berharga, mengapa kau
menggunakannya untuk tujuan yang satu ini?"
"Loheng tidak perlu ikut campur! Aku mempunyai
pertimbangan sendiri."
Diam-diam Seebun Jit berpikir dalam hati, dia begitu
memperhatikan Lie Cun Ju justru karena dia mengenali
pemuda itu sebagai putra tocu Hek Cui to, sahabatnya. Tetapi
mengapa ke Tiga Iblis dari Keluarga Lung dan Leng Coa sian
sing juga menginginkannya?
"Sahabat Seebun, apakah kau berani membantah
perkataan kokcumu sendiri?" tanya Leng Coa sian sing sambil
menggoyang-goyangkan lencana di tangannya. Sinarnya
semakin berkilauan.
Seebun Jit mengangkat bahunya.
"Sayang orangnya sudah tidak ada di sini, apalagi yang
dapat aku lakukan?"
Leng Coa sian sing tertawa terbahak-bahak.
"Tadi ketika kau bertarung dengan Tiga Iblis dari Keluarga
Lung, orangnya masih ada di dalam lembah, kok tiba-tiba bisa
tidak ada?"
Mendengar ucapan itu, diam-diam hati Seebun Jit
terkesiap. Dia langsung tersadar bahwa kedatangan Leng Coa
sian sing ini bersamaan wak-tunya dengan Tiga Iblis dari
Keluarga Lung. Hanya saja dia sengaja menyembunyikan diri
dan menunggu kesempatan baik!
Meskipun Seebun Jit belum mengerti mengapa Leng Coa
sian sing dan Tiga Iblis dari Keluarga Lung menginginkan Lie
Cun Ju, hatinya yakin mereka pasti berniat tidak baik. Karena
itu, dia segera menenangkan hatinya.
"Leng Coa sian sing hanya tahu soal satunya tetapi tidak
tahu mengenai yang lainnya. Ketika Tiga Iblis dari Keluarga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lung datang, sebetulnya Lie Cun Ju sudah tidak ada di sini,
aku hanya ingin mempermainkan mereka saja!" sahut Seebun
Jit.
Leng Coa sian sing merentangkan kedua tangannya
kemudian mengangkat bahunya.
"Kalau kau bisa mempermainkan tiga iblis dari keluarga
Lung, berarti kau juga bisa saja memper¬mainkan aku.
Pokoknya aku tidak percaya apa yang kau katakan. Aku ingin
memeriksa seluruh lembah ini."
Seebun Jit tertegun sejenak.
"Berani-beraninya kau!" bentaknya.
Leng Coa sian sing tertawa terbahak-bahak.
"Dengan adanya lencana ini, kedudukanku sekarang sama
dengan kokcu lembah ini. Kau yang berani-berani menentang
pemegang lencana perak!" sahutnya.
Diam-diam Seebun Jit mengeluh dalam hati.Dia melihat
Leng Coa sian sing membawa lencana perak.Seandainya
sampai terjadi perkelahian de¬ngan orang itu dan diketahui
oleh I Ki Hu, pasti Raja Iblis itu akan marah besar. Sama saja
mengundang bencana. Karena I Ki Hu sudah menyatakan
dengan tegas bahwa bertemu dengan pemegang lencana
perak, tidak perduli siapa pun, ibarat bertemu dengan dirinya
sendiri. Dengan demikian siapa pun tidak boleh menentang
pemegang lencana itu. Tetapi Seebun Jit pernah menerima
budi besar dari tocu Hek Cui to, Ci Cin Hu. Dan sekarang dia
berhasil menemukan putranya yang selamat tempo dulu.
Mana mungkin dia menyerahkan Lie Cun Ju kepada Leng Coa
sian sing ini?
Karena itu, dia menyurut mundur dua langkah dan
menggetarkan golok di tangannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Leng Coa sian sing, kalau kau tetap berkeras ingin
menggunakan lencana itu untuk menekan aku, maka aku juga
tidak akan sungkan lagi!"
Kembali Leng Coa sian sing tertawa terbahak-bahak.
"Sahabat Seebun, sekarang kau sedang terluka parah,
tetapi masih berlagak gagah. Kau bisa menggertak tiga iblis
dari keluarga Lung sampai mereka mengundurkan diri. Tetapi
kau tidak bisa menggertak aku. Apabila dalam tiga jurus, aku
tidak dapat membuatmu terkapar di atas tanah menjadi
mayat, benar-benar percuma nama besar Leng Coa sian sing
yang telah dipupuk dengan susah payah selama ini."
Pergelangan tangan Leng Coa sian sing bergerak, ternyata
dia melemparkan ular yang sebagian melilit di lehernya itu ke
depan. Ular itu seperti seutas cambuk lemas yang meluncur
mengincar pundak Seebun Jit.
Melihat sikap dirinya yang berlagak gagah tidak sanggup
menggertak Leng Coa sian sing, diam-diam hati Seebun Jit
tercekat. Ketika me-ngetahui Leng Coa sian sing
menggunakan ularnya sebagai senjata, apalagi ular itu sedang
meluncur kepadanya, cepat-cepat Seebun Jit membungkukkan
tubuhnya sedikit sembari memaksakan dirinya sendiri
menghimpun hawa murni dalam tubuh. Golok di tangannya
segera diangkat ke atas. Tampak cahaya berkilauan saat golok
itu menyambut tubuh ular yang sedang meluncur ke arahnya.
Leng Coa sian sing menghentakkan tubuh ular dari atas ke
bawah. Jurus-jurus kedua orang itu dilakukan dengan
kecepatan yang hampir tidak tertangkap oleh pandangan
mata. Ujung golok bekelebat dan tepat mengenai tubuh ular
itu.
Hati Seebun Jit merasa gembira melihat goloknya berhasil
menebas tubuh ular itu. Dia yakin ketajaman goloknya pasti
akan memutus tubuh binatang melata yang dijadikan senjata
oleh Leng Coa sian sing. Diam-diam dia berpikir dalam hati,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
setelah ular itu terputus menjadi dua, dia baru menentukan
kembali langkah berikutnya.
Ternyata perkembangannya justru di luar dugaan Seebun
Jit. Meskipun ketika goloknya bergerak ke atas tepat mengenai
tubuh ular itu, tetapi Seebun Jit merasakan bahwa tenaga
dorongan ular itu besar sekali, menyebabkan kakinya
terhuyung-huyung setengah tindak ke belakang. Dalam
keadaan panik, dia sempat mendongakkan wajahnya melihat
sekilas. Ternyata goloknya berada di bawah perut ular itu.
Hatinya terkesiap setelah melihat tubuh ular tetap utuh.
Bahkan ular itu makin bertambah marah. Ditekannya golok itu
kuat-kuat. Tapi tekanan itu membuat kepala ular menjadi
semakin menjulur ke depan dan menunduk mengincar jalan
darah terpenting di ubun-ubun kepala Seebun Jit.
Bukan main rasa terkejut Seebun Jit saat itu. Cepat-cepat
dia mengangkat cambuk di tangan kanannya, kemudian
dilecutkannya ke atas sembari memiringkan kepalanya
menghindari serangan ular. Tetapi dia terlambat juga,
sehingga jalan darah di bagian samping kepalanya terpatuk
juga oleh ular itu.
Seebun Jit merasa di bagian samping kepalanya laksana
tertimpa besi yang berat. Bagian kepala sebelah mana pun
merupakan tempat yang paling membahayakan apabila
terbentur. Memang tidak separah ubun-ubun kepala, tapi
tetap saja membawa pengaruh yang hebat.
Begitu kepalanya terpatuk mulut ular 'itu, Seebun Jit
merasa telinganya berdengung. Matanya berkunang-kunang.
Kakinya limbung. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang
sampai tujuh-delapan tindak baru dapat berdiri dengan
mantap.
Luka yang diderita oleh Seebun Jit semakin parah.
Meskipun dia tokoh kelas satu dari golongan hitam, tapi luka
yang dideritanya membawa penga¬ruh hebat. Untung saja
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali,
sehingga sesaat dia masih bisa mempertahankan diri.
Sepasang matanya menatap ke arah Leng Coa sian sing lekatlekat.
Tampak Leng Coa sian sing tetap maju
menghampirinya, Seebun Jit segera mengeluarkan suara
bentakan. Baru saja dia ingin melancarkan serangan dengan
tiba-tiba, untuk dapat meraih keuntungan di kala Leng Coa
sian sing belum siap, tetapi tidak mendapatkan kesempatan
sedikit pun.
Wajah Leng Coa sian sing mengembangkan senyuman
yang licik. Kelima jari tangannya mengencang pada bagian
ekor ular. Jelas saja ular itu kesakitan dan tiba-tiba
menyentakkan kepalanya ke atas lalu diserudukkan ke bagian
dada Seebun Jit.
Ular berbisa itu merupakan jenis yang langka. Warna
kulitnya bertotol-totol hijau sehingga tam¬pak bagus sekali.
Kulitnya keras sekali, bahkan merupakan ular yang kulitnya
paling tebal dan keras di antara seluruh jenis ular yang ada di
dunia ini. Karena itu pula, walaupun golok Seebun Jit sangat
tajam, tetap saja tidak sanggup melukainya sedikit pun.
Lagipula tenaga ular itu kuat sekali. Leng Coa sian sing
menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mengintai goa
tempat bersemayam ular itu di daerah Cin Lam.
Baru kemudian berhasil menangkapnya. Begitu sayangnya
Leng Coa sian sing kepada ular yang satu itu sehingga dia
memandangnya sama berharganya dengan nyawanya sendiri.
Dia memberi nama kepada ular itu dengan sebutan 'Cambuk
kumala'. Mungkin karena warna kulitnya yang mirip dengan
batu kumala. Justru dari nama yang diberikannya itu pula,
Leng Coa sian sing mendapat ilham untuk menggunakannya
sebagai senjata.
Kekuatan tenaga ular itu tidak kalah dengan seekor
harimau ataupun singa. Begitu membentur dada Seebun Jit
yang tidak sempat menghindarinya, kembali dia menderita
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
luka parah. Seebun Jit langsung terkulai di atas tanah tanpa
sanggup berdiri lagi.
Leng Coa sian sing mengeluarkan suara dengusan dan
maju beberapa Iangkah. "Seebun Jit, tanyakan pada dirimu
sendiri apakah kau masih sanggup menyambut jurus
ketigaku?" bentaknya sinis.
Seebun Jit memaksakan diri untuk mengatur
pernafasannya. Beberapa kali dia berusaha bangkit, tetapi
karena luka yang dideritanya terlalu parah, tenaganya tidak
ada sama sekali. Akhirnya dia tetap terkulai di atas tanah
dengan sepasang mata menyiratkan kegusaran.
"Leng ... Coa . .. sian sing, mengapa ... jurus . . . keti . . .
gamu . .. belum ... di ... lancarkan juga?"
"Bagus! Kau benar-benar tidak malu disebut seorang laki-
Iaki sejati. Tetapi aku justru ingin melihat sampai di mana
kekerasan hatimu."
Mendengar kata-katanya, Seebun Jit yakin Leng Coa sian
sing tidak akan membunuhnya langsung. Mungkin dia akan
menggunakan cara yang keji untuk menyiksanya. Pikirannya
lalu tergerak, seandainya dia dapat menghadapi Leng Coa sian
sing, tetap saja dia tidak bisa menghin-darkan diri dari tiga
iblis keluarga Lung yang akan datang kemba'I. Lebih baik
menggunakan kesempatan di saat jalan darahnya belum
tertotok oleh lawan untuk memutuskan urat nadinya sendiri.
Lagi pula mereka belum tentu dapat menemukan Lie Cun Ju
yang disembunyikan di dalam ruangan batu. Dengan demikian
dia tidak perlu menerima berbagai penderitaan sebelum
terbunuh.
Setelah mengambil keputusan, Seebun Jit langsung
bermaksud menggunakan sisa tenaganya untuk memutuskan
seluruh urat nadi di tubuhnya untuk membunuh diri. Tiba-tiba
dari luar lembah Gin Hua kok berkumandang suara derap kaki
kuda. Baik Leng Coa sian sing maupun Seebun Jit adalah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tokoh-tokoh yang bepengetahuan luas. Begitu mendengar
suara derap kaki kuda, mereka langsung sadar bahwa tujuan
orang itu pasti Gin Hua kok. Tanpa dapat ditahan lagi
keduanya jadi tertegun.
Di saat keduanya masih termangu-mangu, suara derap kaki
kuda itu sudah semakin mendekat. Kemudian tampak sesosok
bayangan berkelebat, orang yang menunggang kuda itu sudah
sampai di mulut lembah Gin Hua kok.
Serentak Leng Coa sian sing dan Seebun Jit menolehkan
kepalanya ke arah mulut lembah. Mereka melihat seekor kuda
yang bersih mulus berwarna putih keperak-perakan dengan
seorang gadis yang memegang pecut berwarna sama melaju
datang secepat kilat. Orang ini bukan siapa-siapa, tetapi putri
si Raja Iblis I Ki Hu yaitu I Giok Hong.
Begitu melihat I Giok Hong, hati Leng Coa sian sing
berkebat-kebit. Dia khawatir I Ki Hu juga menyusul
dibelakang. Begitu terkejutnya kakek itu, sehingga kakinya
menyurut mundur satu langkah.
I Giok Hong hanya berhenti sebentar di depan lembah.
Kemudian mengayunkan pecutnya dan melesat datang.
Gerakan pecutnya demikian lemah seakan tidak mengandung
tenaga sedikitpun. Secepat kilat melayang kearah Leng Coa
Sian Sing. Manusia pecinta ular itu menghindarkan dirinya
dengan panik. Gerakan pecut I Giok Hong yang tampaknya
lemah itu justru berkelebat bagai cahaya kilat.
Trak!!
Tahu-tahu lencana ditangan Leng Coa sian sing sudah
terbelit oleh pecutnya dan melayang kembali kearah I Giok
Hong.
Wajah Leng Coa sian sing langsung berubah hebat.Kakinya
terhuyung – huyung mundur beberapa tindak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“I ....... kouwnio, lencana i ........ tu kau sendiri yang
memberikannya kepadaku. Mengapa sekarang kau mengam
........ bilnya kembali?” kata Leng Coa sian sing gugup.
I Giok Hong mendengus dingin. Lencana itu dimasukkan
kedalam saku pakaiannya kemudian pecutnya diayunkan
kembali.
“Leng Coa sian sing, setelah menerima lencana ayahku ini,
ternyata kau berani mengumbar lagakmu di lembah Gin Hua
kok. Cepat pergi dari sini!”
Selembar wajah Leng Coa sian sing tampak merah padam
bagai dilumuri darah. Perlahan – lahan dia mengundurkan diri.
Sesampainya di mulut lembah, dia melongokkan kepalanya.
Keadaan diluar lembah sunyi senyap. Tampaknya I KI Hu tidak
mengiringi kepulangan putrinya I Giok Hong.
Ilmu kepandaian I Ki Hu sudah mencapai taraf yang
demikian tinggi sehingga kadang – kadang kedatangan dan
kepergiannya persis setan gentayangan yang tidak
menimbulkan jejak dan suara sedikitpun. Kalau dilihat dari
keadaan sekarag, tampaknya I Giok Hong memang hany
seorang diri. Tetapi siapa tahu si Raja Iblis itu bersembunyi
disuatu tempat dan belum mau menampakkan dirinya.
Meskipun hati Leng Coa sian sing mendongkol sekali, tetapi
apabila dia sampai bergebrak dengan I Giok Hong, ada
kemungkina I Ki Hu bisa muncul setiap saat.
Keadaan itu seperti perjudian yang hanya memegang besar
atau kecil. Hanya ada kemungkianan yang taruhannya bukan
uang atau harta benda yang dapat dicari penggantinya, tapi
nyawanya sendiri.
Karena itu Leng Coa sian sing termenung-menung
beberapa saat. Akhirnya dia tidak berani berspekulasi. Dia
melilitkan sebagian tubuh dan ekor 'cambuk kumala' ke
lehernya. Tubuhnya berkelebat dan menghilang di luar
lembah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebetulnya kakek Leng Coa sian sing tidak kembali ke Leng
Coa ki (tempat tinggalnya). Dia hanya berlari ke tempat yang
agak jauh kemudian kembali lagi dengan mengambil jalan
memutar. Dia menyembunyikan dirinya di sekitar mulut
lembah dan tidak berani masuk ke dalam.
Sejak kecil Leng Coa sian sing senang memelihara ular.
Setnua kepandaian yang dimilikinya sekarang merupakan ilmu
yang didapatkannya dengan meniru gerak gerik ular. Bahkan
ilmu ginkangnya lain daripada yang lain. Dia dapat merayap di
atas tanah dan pulang pergi seperti melayang di atas tanah
dengan tubuh tiarap. Bahkan tidak menimbulkan suara sedikit
pun. Meskipun di luar lembah Gin Hua kok terdapat banyak
pasir, tempat yang dilaluinya tidak meninggalkan jejak kaki
sedikit pun karena dia bukan berjalan tapi melata seperti ular.
Setelah Leng Coa sian sing meninggalkan tem¬pat itu,
Seebun Jit baru bisa menghembuskan nafas lega. Dia
mendongakkan kepalanya.
"Sio . . . cia, keda . . . tanganmu sung .. . gun tepat, se . . .
hingga se . . . lembar nya . . . waku ini tertolong."
Sepasang alis I Giok Hong menjungkit ke atas, seakan ia
sedang ada keperluan penting.
"Siok-siok, kemana bocah she Li itu?Cepat suruh dia keluar,
ayahku ingin menemuinya," tukas I Giok Hong.
Hati Seebun Jit langsung tertegun. Dia mengeluh dalam
hati.
Aku berkelahi melawan tiga iblis dad keluarga Lung dan
Leng Coa sian sing mati-matian justru karena ingin
mempertahankan Lie Cun Ju. Tetapi kalau dilihat dari sikap I
Giok Hong yang kalang kabut ini, tampaknya 1 Ki Hu juga
mengandung niat tidak baik.
Seebun Jit menarik nafas panjang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Siocia, aku yang bersalah. Setelah kalian pergi tidak lama,
datang tiga iblis dari keluarga Lung. Justru ketika aku sedang
bertarung dengan sengit melawan mereka, ternyata bocah itu
menggunakan kesempatan ini untuk meloloskan diri."
Meskipun dalam keadaan mendadak Seebun Jit mengarang
cerita bohong, tetapi nada suaranya sedikit pun tidak
meragukan. Namun I Giok Hong seorang gadis yang luar biasa
cerdasnya. Setelah berpikir sejenak, dia mengeluarkan suara
tertawa dingin.
"Siok-siok, kau sedang mendustai aku." "Siocia, masa
hamba mempunyai nyali sebesar
itu? Dia . . . benar-benar sudah melarikan diri." Wajah I
Giok Hong berubah menjadi angker.
“Seebun Jit, pada dasarnya kau musuh besar Gin Hoa Kok.
Mengingat ilmu kepandaianmu yang tinggi, tia menahan kau
disini. Justru karena hal itu aku tidak segan-segan memanggil
kau siok-siok. Tetapi kalau kau bermaksud macam-macam,
aku tidak akan membiarkannya,” katanya.
Ketika Seebun Jit bermaksud berdebat, I Giok Hong sudah
mengayunkan pecutnya ke atas tanah kemudian membalikkan
tubuh dan berjalan pergi. Seebun Jit segera menolehkan
kepalanya. Tanpa dapat ditahan lagi hatinya mengeluh celaka.
Ternyata arah yang dituju I Giok Hong justru pintu batu
tempat Lie Cun Ju disembunyikan.
Di depan goa batu itu memang telah diganjal dengan
sebuah batu besar. Tapi Seebun Jit tahu I Giok Hong sejak
kecil sudah dilatih oleh ayahnya sehingga meskipun usianya
masih muda, kepandaiannya sudah tinggi sekali. Batu besar
itu tentu tidak sanggup menghalangi niat gadis itu.
“Socia, tunggu dulu!” teriak Seebun Jit.
I Giok Hong menolehkan kepalanya sambil tertawa
cekikikan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Rupanya kau menyimpan pemuda itu di goa batu tempat
tinggalmu,” katanya.
Seebun Jit langsung tertegun. Sekarang dia baru sadar
bahwa bukan hanya kepandaiannya saja yang masih kalah
dengan I Giok Hong. Bahkan kecerdasannya pun terpaut jauh.
Sebetulnya I Giok Hong tidak tahu tempat Lie Cun Ju
disembunyikan. Tetapi saking paniknya Seebu Jit berteriak, itu
sama halnya dengan memberitahukan kepada I Giok Hong.
Akhirnya Seebun Jit hanya daoat menarik nafas panjang.
Sekonyong-konyong, dia melompat bangun dengan tangan
menumpu diatas tanah. Dia berdiri juga berjalan maju
beberapa langkah kemudian bersandar pada batang pohon.
Tampak I Giok Hong sudah sampai di depan pintu batu.
Pecut ditangannya diayunkan, Tar! Sekali gerak saja batu
besar itu, tiba-tiba terdengar suara menggelegar seperti
ledakan bom. Batu besar yang beratnya paling tidak dua-tiga
ribu kati itu langsung terpental ke atas kemudian pecah
berhamburan.
Pada saat itu, I Giok Hong sedang berdiri di depan pintu
goa. Sekonyong – konyong batu besar yang mengganjal di
depan pintu itu terpental ke atas dan pecah berhamburan.
Gadis itu merasa ada serangkum angin yang kuat melanda
kearahnya. Tetapi ia bahkan menerjang kedepan. Melihat
keadaan yang membahayakan, Seebun Jit sampai
mengeluarkan suara seruan terkejut.
Orang yang di tengah bertubuh gemuk pendek, di sebelah
kirinya seorang perempuan, hal ini terlihat dari bentuk
tubuhnya. Sedangkan di bagian kanan berdiri seorang laki-laki
bertubuh tinggi kurus.
Ketiga orang ini memang iblis keluarga Lung dari Kui Cou.
Yang gemuk sebagai saudara tertua, namanya Lung Goan Po.
Orang yang bertubuh tinggi kurus saudara kedua, namanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lung Sen. Sedangkan yang perempuan menduduki tangga
terakhir, namanya Lung Ping!
Ketika masih berada di dalam goa batu, Lie Cun Ju dan
Seebun Jit sudah mendengar suara perempuan itu. Karenanya
mereka pun mengetahui bahwa yang datang adalah tiga iblis
keluarga Lung. Lie Cun Ju pernah kena batunya ketika
bertemu dengan mereka di tengah sungai. Karena itu dia
mengenali suaranya. Sedangkan pengetahuan dan
pengalaman Seebun Jit sangat luas, dia juga senang
menjelajahi dunia. Ketika dunia bu lim belum mengenal nama
tiga iblis dari keluarga Lung, dia sudah sempat bertemu
dengan mereka beberapa kali.
"Rupanya kalian. Ada perlu apa kalian datang kemari?"
tanya Seebun Jit dengan nada dingin.
Ketiga iblis dari keluarga Lung tidak menyahut. Mereka
langsung melepaskan topeng penutup wajah mereka yang
warnanya seperti berlumuran darah.
Perasaan Seebun Jit langsung tertegun. Tanpa dapat
ditahan lagi, kakinya menyurut mundur tiga langkah. Sewaktu
berkunjung ke Kui Cou tempo dulu, kakek itu sudah pernah
mendengar orang mengatakan bahvva ketiga iblis keluarga
Lung memang tiga bersaudara. Tadinya mereka prajurit suku
Biao. Kemudian menurut berita yang tersebar di dunia kang
ouw, tokoh utama dari golongan hitam Hek Leng sin kun
berpesiar ke daerah Biao dan menetap di sana. Kemudian
ketiga saudara ini diterimanya sebagai murid.
Tetapi selamanya ketiga iblis dari keluarga Lung ini tidak
pernah mengungkit tentang gurunya kepada siapa pun juga.
Apabila bergebrak dengan seseorang, selamanya musuh
mereka tidak pernah dibiarkan hidup. Karena itu tidak ada
orang yang tahu sampai dimana ketinggian ilmu mereka dan
keistimewaan yang mereka miliki. Mereka juga selalu
mengenakan topeng. Bahkan setiap tokoh hitam yang takluk
kepada mereka, dijadikan anak buah dan diharuskan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengenakan topeng serupa. Ini merupakan peraturan bagi
mereka. Apabila mereka sampai melepaskan kedok atau
topeng yang menutupi wajah mereka, itu tandanya mereka
mempunyai dendam sedalam lautan dan turun tangan mereka
pun tidak tanggung-tanggung lagi.
Karena teringat selentingan di luaran bahwa ketiga orang
ini merupakan murid Hek leng sin kun dan begitu bertemu
mereka langsung melepaskan topengnya, Seebun Jit jadi
tertegun. Tampak ketiga orang itu tidak berwajah buruk.
Setidaknya semua panca inderanya komplit. Kalau ditilik dari
usianya, ketiga orang itu paling sedikit sudah di atas empat
puluhan tahun.
"Dari tempat yang jauh kalian berkunjung ke¬mari.
Sebetulnya ada keperluan apa? Harap katakan terus terang
saja!" tanya kakek Jit.
"Apakah Anda Seebun Jit yang pernah bertemu muka
dengan kami di Kui Cou tempo dulu?" tanya Lung Goan Po
sambil batuk-batuk kecil.
Mendengar nada mereka yang tidak begitu garang,
perasaan Seebun Jit pun agak lega. Karena bagaimana pun,
mereka terdiri dari tiga orang, sedangkan dia hanya sendirian,
apakah dia sanggup mengalahkan mereka masih merupakan
sebuah tanda tanya besar.
"Ingatan sam wi sungguh hebat. Cayhe memang Seebun
Jit!" sahutnya.
Ketiga orang itu saling lirik sekilas. Kemudian topeng di
tangan mereka dilempar ke atas tanah. Trang! Rupanya
topeng itu terbuat dari emas murni yang kemudian dilumuri
lagi dengan sejenis zat pewarna.
Setelah melemparkan ketiga topeng itu di atas tanah, tibatiba
mereka menjatuhkan diri berlutut di hadapan Seebun Jit
...
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tentu saja Seebun Jit terkejut setengah mati. Dia menduga
mereka sedang menjalankan akal yang licik dan mencari
kesempatan untuk mencelakainya. Karena itu dia segera
menghentakkan kakinya mencelat ke belakang sejauh
beberapa tindak untuk berjaga-jaga terhadap segala
kemungkinan. Pecut bercabang limanya pun langsung
dikeluarkan dari selipan ikat pinggang.
Tetapi saat itu juga Lung Goan Po mendongakkan
wajahnya.
"Sahabat Seebun, jangan khawatir. Kecuali di hadapan guru
kami yang berbudi, selamanya kami belum pernah menekuk
lutut di hadapan siapa pun. Tetapi urusan ini gawat sekali,
kami memohon bantuan sahabat Seebun. Kami sengaja
datang kemari untuk memohon bantuanmu. Apahila sahabat
Seebun bersedia mengabulkan, meskipun kami harus menjadi
kerbau atau kuda di kehidupan mendatang, kami pun rela."
Seebun Jit mendengar nada bicara Lung Goan Po yang
tulus, seakan tidak ada maksud jahat sedikit pun. Juga tidak
tampak berpura-pura. Dia merasa aneh, meskipun kakek itu
belum pernah bergebrak langsung dengan ketiga orang itu,
tapi mereka cukup terkenal di dunia kang ouw. Apalagi di
wilayah Hun Kui. Entah berapa banyak tokoh golongan hitam
yang tidak berani menginjakkan kakinya ke wilayah itu, karena
merupakan tempat tinggal ketiga iblis dari keluarga Lung ini.
Sekarang mereka seakan menghadapi suatu masalah besar
yang entah apa, malah berlutut di hadapannya.
"Sam wi harap berdiri! Ada apa-apa bisa kita rundingkan
baik-baik!"
"Sebelum sahabat Seebun mengabulkan, untuk selamanya
kami tidak akan bangun!" kata Lung Goan Po.
Seebun Jit adalah tokoh yang sudah banyak makan asam
garam. Dia bisa melihat apa yang terkandung di dalam hati
seseorang hanya dari mimik wajahnya. Dia tahu ketiga orang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ini ada sesuatu dan ingin memohon bantuannya, tetapi dia
justru tidak habis pikir apa masalahnya?
"Terserah, katakan saja apa permohonan ka¬lian itu!"
Wajah ketiga orang itu langsung beseri-seri mendengar
jawaban Seebun Jit.
"Sekarang Anda tinggal di Gin Hua kok ini, tentunya Anda
mempunyai hubungan yang baik dengan I losian sing. Kami
bertiga ingin bertemu dengannya, harap Anda sudi mengantar
kami kepada orang tua itu!" kata Lung Goan Po kembali.
Tadinya Seebun Jit mengira ada urusan sebesar apa
sehingga mereka perlu meminta bantuannya, ternyata mereka
hanya ingin bertemu dengan si raja iblis I Ki Hu. Hampir saja
dia tertawa geli.
"Kedatangan kalian sungguh tidak tepat. I Kokcu sedang
keluar, tidak ada di dalam lembah!"
Tidak disangka-sangka wajah ketiga orang itu semakin
bersseri-seri.
"Benar?"
"Tentu. Buat apa aku rnendustai kalian?”
"Dalam perjalanan menuju tempat ini, secara kebetulan
kami bertemu dengan Leng Coa sian sing, dia mengatakan
hahwa I kokcu menolong seorang laki-laki dan perempuan,
apakah yang di-katakannya benar?"
"Tidak ..." Hampir saja Seebun Jit kelepasan bicara. Tetapi
baru mengucap sepatah kata 'tidak', dia teringat sesuatu hal.
Rupanya ketiga orang ini takut berselisihan dengan I Ki Hu,
karena itu mereka menggunakan aka! licik untuk
memancingnya. Mendengar I Ki Hu tidak ada di lembah, wajah
mereka semakin berseri-seri. Lain secara tiba-tiba mereka
menanyakan tentang Lie Cun Ju dan Tao Ling. Di balik semua
itu pasti ada apa-apanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tidak tahu menahu mengenai urusan ini!" Seebun Jit
memang manusia yang cerdas, meskipun dalam sedetik, dia
mengalihkan jawabannya, namun tidak terlihat sedikit pun
bahwa dia sedang berdusta.
Lung Goan Po menarik nafas panjang.
"Sahabat Seebun benar-benar tidak bersedia berterus
terang kepada kami?"
"Aku tinggal di Gin Hua kok, ada kejadian apa pun di sini,
aku pasti tahu. Tapi aku memang tidak mengenal laki-laki dan
perempuan yang ditolong kokcu."
"Mungkinkah Leng Coa sian sing mendustai kami? Aih!
Sudahlah!" gumam Lung Goan Po.
Tiba-tiba ketiga orang itu melonjak bangun.Seebun Jit
langsung menggetarkan pergelangan tangannya. Sepasang
cambuk di tangannya mengeluarkan cahaya yang berkilauan.
Diam-diam dia bersiap siaga terhadap segala
kemungkinan.Tetapi tiba-tiba dia melihat wajah Lung Goan Po
berubah pucat pasi.Sepasang lengannya gemetar!
"Toako! Kita toh masih bisa menemukan mereka!" teriak
kedua saudara Lung Goan Po.
"Dunia begini luas. Kemana kita harus mencari mereka?
Batas waktunya sudah sampai pula, untuk apa kita bercapai
diri lagi?" ucap Lung Goan Po sambil menarik napas panjang.
Sembari berbicara, sepasang lengannya terus menggigil.
Kemudian terdengar suara Krek! Krek! dua kali. Di kening lakilaki
bertubuh gemuk pen-dek itu, tampak keringat dingin
bercucuran. Seebun Jit adalah seorang tokoh bu lim yang
banyak pengalaman. Melihat keadaan ini, dia tahu bahwa
Lung Goan Po telah memutuskan seluruh urat nadi di kedua
lengannya dengan paksa.
Hati Seebun Jit semakin curiga. Dari kata-kata Lung Goan
Po barusan, dia bisa menduga bahwa ketiga iblis itu mendapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
perintah dari seseorang untuk menemukan Lie Cun Ju dan Tao
Ling. Bahkan diberikan batas waktu. Seandainya sampai batas
waktunya mereka masih belum menemukan kedua orang itu,
mereka harus memutuskan urat-urat di kedua lengan mereka
sendiri!
Orang yang berani bermusuhan dengan tiga iblis dari
keluarga Lung, di dalam dunia kang ouw boleh dibilang dapat
terhitung dengan jari tangan. Seebun Jit sendiri juga
mempunyai nama yang cukup terkenal di dunia kang ouw,
tetapi dia pun tidak berani sembarangan mencari masalah
dengan ketiga iblis ini. Kecuali Gin leng hiat ciang I Ki Hu atau
tokoh yang sebanding dengannya, Seebun Jit benar-benar
tidak habis pikir siapa yang berani mendesak ketiga iblis dari
keluarga Lung itu?
Seebun Jit merenung sejenak.
"Sahabat Lung, tunggu sebentar. Seandainya tidak berhasil
menemukan seorang laki-laki dan perempuan itu, mengapa
Anda sampai harus memutuskan seluruh urat di kedua
lenganmu sen¬diri?" tanya kakek itu.
"Sahabat Seebun toh tidak tahu dimana kedua orang itu
berada, untuk apa bertanya? Kami memberitahukan pun tidak
ada gunanya." Sembari berkata, dia menolehkan kepala
kepada kedua saudaranya. Setelah itu berkata lagi. "Kalian
berdua masih tidak cepat turun tangan! Apalagi yang kalian
tunggu? Meskipun kehilangan dua buah le¬ngan, paling tidak
masih ada selembar nyawa!" kata orang yang gemuk pendek
sambil menahan sakit yang dideritanya.
Seandainya Seebun Jit seorang tokoh dari golongan lurus,
tentu dia akan mendesak siapa orangnya yang memaksa
mereka dan untuk apa mereka ingin menemukan Lie Cun Ju
dan Tao Ling. Dia juga akan mencegah perbuatan mereka
bertiga yang memutuskan urat nadi lengan sendiri. Tetapi
pada dasarnya dia memang seorang tokoh dari golongan
hitam. Dia sadar seorang diri melawan mereka bertiga, lebih
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
banyak ruginya daripada untungnya. Lebih baik menunggu
mereka me¬mutuskan dulu urat nadi lengan masing-masing,
dia baru tentukan langkah selanjutnya. Karena itu, dia tidak
mengucapkan sepatah kata pun. Ternyata kedua adik Lung
Goan Po juga mengikuti tindakan toako mereka memutuskan
urat nadi di lengan masing-masing.
Tubuh mereka gemetar dengan hebat. Keringat dingin
membasahi kening. Seebun Jit menunggu sampai pekerjaan
mereka sudah selesai, baru tersenyum simpul.
"Entah siapa nama laki-laki dan perempuan yang kalian cari
itu? Apabila kalian bisa menyebutkan namanya, mungkin aku
bisa membantu!"
Wajah ketiga iblis dari keluarga Lung langsung berubah
hebat.
"Rupanya kau memang tahu, mengapa kau tidak
mengatakannya dari tadi?" teriak Lung Goan Po.
"Toako, jangan bersikap kasar! Sahabat Seebun, orang
yang ingin kami cari bernama Tao Ling dan Lie Cun Ju!" Lung
Ping menjawab sambil mengerlingkan matanya pada
toakonya.
Seebun Jit melihat kening ketiga orang itu dibasahi oleh
keringat dingin. Sepasang lengan mereka menjuntai ke
bawah, belum lagi wajah mereka yang pucat pasi. Dapat
dipastikan bahwa urat nadi di lengan ketiga orang itu sudah
putus. Diam-diam hatinya merasa senang. Seebun Jit
menggetarkan cambuknya dan tertawa terbahak-bahak,
"Rupanya mereka yang kalian cari! Meng¬apa kalian tidak
katakan dari tadi?"
"Rupanya Anda tahu dimana mereka sekarang berada?"
tanya Lung Goan Po.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tentu saja tahu. Kalian tadi mengatakan kokcu menolong
seorang laki-laki dan perempuan. Kedua orang itu bukan
ditolong oleh kokcu, mereka bahkan datang sendiri."
"Dimana mereka sekarang?" tanya Lung Ping gugup.
Tentu Seebun Jit tidak mungkin mengatakan jejak Lie Cun
Ju dan Tao Ling kepada ketiga iblis dari keluarga Lung itu.
Karena dia tahu mereka terdiri dari orang-orang yang keji dan
selalu turun tangan dengan telengas. Tentu mereka mengandung
niat kurang haik.
Sekarang Seebun Jit melihat ketiga iblis itu karena sesuatu
hal memutuskan urat nadi tangannya sendiri. Dengan
kekuatannya sendiri, kakek itu juga sanggup mengalahkan
mereka dalam beberapa jurus saja. Karena itu dia tidak
merasa takut sedikit pun.
"Tao kouwnio pergi mengikuti kokcu. Sedangkan Lie Cun Ju
masih ada di dalam lembah!" sahutnya tenang.
"Mengapa kau tidak mengatakannya sejak tadi?" Ketiga
iblis itu bertanya sambil melangkahkan kakinya maju.
"Mengatakannya sejak tadi? Siapa yang tahu apa yang
terkandung dalam hati kalian?" jawab kakek itu dengan nada
mempermainkan.
"Baik. Kami akan mengadu jiwa denganmu!" ujar Lung
Goan Po dengan nada marah.
Lung Goan Po yang pertama-tama bergerak. Tubuhnya
membungkuk sedikit, dengan nekat dia menyerudukkan
kepalanya ke arah Seebun Jit. Tenaganya begitu kuat
sehingga mengejutkan!
Seebun Jit malah tertawa terbahak-bahak.
"Manusia tanpa lengan! Masih berani sesumbar? Apakah
setelah mati ingin menjadi setan gentayangan?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tubuh kakek Jit berkelebat, pecut di tangannya langsung
melayang ke depan. Cahaya perak berkilauan. Dalam sekejap
timbul bayangan cam¬buk yang tidak terhitung jumlahnya.
Pecutan Seebun Jit itu juga terhitung keji sekali. Walaupun
tidak sampai mematikan, tetapi apahila Lung Goan Po sernpat
tersambar pecutannya, paling tidak sebelah wajahnya
langsung men¬jadi tidak karuan karena seluruh kulitnya
terkelupas.
Lung Goan Po menggeserkan kepalanya sedikit, kedua
lengannya masih menjuntai ke bawah. Tetapi sepasang
cambuk di tangan Seebun Jit seperti seekor naga sakti.
Cahaya terang memercik. Tampaknya sekejap lagi, Lung Goan
Po pasti akan terkena sambaran pecut itu.
Tetapi tiba-tiba, sepasang lengan Lung Goan Po yang
tadinya menjuntai ke bawah langsung meng-angkat ke atas.
Tangan kirinya membentuk cakar mencengkeram ke arah
cambuk Seebun Jit yang sedang menyambar ke arahnya.
Dalam waktu yang bersamaan, tangan kanannya juga
menjulur ke depan mengirimkan sebuah pukulan ke dada
Seebun Jit.
Gerakan kedua tangan ini benar-benar di luar dugaan
Seebun Jit. Hatinya terkesiap bukan kepalang. Karena tadi dia
melihat dengan kepala sendiri keringat dingin menetes
membasahi kening Lung Goan Po. Tangan mereka juga
menimbulkan suara berderak-derak seperti tulang yang
remuk, belum lagi tubuh mereka yang gemetar dan wajah
mereka yang pucat pasi!
Ternyata, sepintar-pintarnya Seebun Jit, dia masih bisa
dikelabui oleh Lung Goan Po.
Sebetulnya Seebun Jit bukan tokoh sembarangan, tetapi
kali ini dia benar-benar bertemu dengan lawan yang seirn!
ang. Ternyata nama besar ketiga iblis dari keluarga Lung
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bukan nama kosong. Kelicikan mereka tidak terduga oleh
Seebun Jit.
Sementara Seebun Jit memang terkesiap bukan kepalang,
namun di sisi lainnya untung dia mempunyai kekuatan tenaga
dalam yang dilatih selama puluhan tahun. Dengan panik
pergelangan tangan¬nya ditekan ke bawah. Yang digenggam
olehnya masih sepasang cambuk bercabang lima. Begitu
dihentikan, cambuk itu melontar ke atas. Ternyata dalam
keadaan yang demikian terdesak, dia bisa menghindarkan
serangan Lung Goan Po.
Tetapi biar bagaimana, penghindaran Seebun Jit itu boleh
dikatakan dipaksakan sekali. Sedangkan dalam waktu yang
bersamaan, Lung Sen dan Lung Ping berdua juga menerjang
ke arahnya dari kiri kanan. Mereka menjulurkan lengan
masing-masing dan mencengkeram ke depan. Ternyata
mereka berdua juga berpura-pura, sama halnya dengan toako
mereka. Sedangkan lengan mereka tidak cacat sedikit pun.
Pada dasarnya kepandaian Lung Sen dan Lung Ping
memang tidak sembarangan. Apalagi Seebun Jit
menghindarkan diri dengan terpaksa sekali. Empat buah
lengan dari kedua orang itu meluncur dalam waktu yang
bersamaan.
Plak! Plak! Plak! Plak! Empat kali pukulan sekaligus tepat
mendarat di bagian kiri kanan punggung Seebun Jit.
Ilmu silat Seebun Jit sendiri memang tinggi sekali. Begitu
saling menggebrak dengan lawannya, meskipun seorang diri
melawan tiga musuh, tetap saja dia bisa mempertahankan
ketenangannya. Hawa murni dalam tubuhnya memang sudah
dihimpun sejak tadi. Dengan demikian seluruh tubuhnya
seperti terlindung hawa murninya.
Tiga lblis dari Keluarga Lung, masing-masing anggotanya
mempunyai kekuatan tenaga dalam yang sudah dilatih selama
puluhan tahun. Begitu Seebun Jit terhantam empat buah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pukulan dari Lung Sen dan Lung Ping, dirasakan bagian kanan
kiri pinggangnya bagai ditimpa besi seberat ratusan kati.
Telinganya sampai berdengung, matanya berkunang-kunang,
tubuhnya bergetar, dan ham-pir saja tidak dapat
mepertahankan keteguhan kakinya sehingga nyaris terjatuh!
Dalam keadaan panik, Seebun Jit merasa ping¬gangnya
nyeri bukan main. Nadi di pergelangan tangannya juga sempat
tersampok kekuatan dari cengkeraman Lung Goan Po. Sebelah
tubuhnya terasa bagai kesemutan.
Di dalam hati ia baru sadar bahwa tiga iblis dari keluarga
Lung sudah mempersiapkan akal licik sebelum datang ke
tempat itu. Kata-kata mereka yang menyatakan ingin meminta
bantuannya hanya omong kosong belaka. Tujuan mereka
hanya ingin mengetahui apakah I Ki Hu ada di dalam lembah
Gin hua kok. Dan apakah Tao ling dan Lie Cun Ju benar di
sana atau tidak. Dirinya sendiri sudah malang melintang di
dunia kang ouw selama puluhan tahun. Pengalamannya sudah
banyak, pengetahuannya luas pula, tetapi dia masih sempat
terkecoh oleh Tiga Iblis dari Keluarga Lung itu.
Seebun Jit merasa benci sekali mengingat dirinya yang
dibodohi mereka. Diam-diam dia bertekad untuk menebus
kekalahannya itu. Namun dia juga sadar bukan hal yang
mudah baginya. Dia berusaha membesarkan hatinya. Tetapi
rasa sakit di pinggangnya hampir tidak tertahankan. Kelima
jari tangannya merenggang, cambuk di tangannya pun
terlepas. Matanya dipejamkan dalam keadaan tubuhnya
terhuyung mundur beberapa tindak.
Di sudut sebelah sana, Lung Sen dan Lung Ping
mengeluarkan suara tawa yang aneh. Mereka lalu menerjang
kembali dengan mengirimkan ten-dangan ke bagian dada
Seebun Jit.
Sebelum tendangan mereka mengenai lawannya, terdengar
Lung Goan Po berteriak dengan keras.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Orang ini sudah lama berkecimpung di dunia kang ouw,
kalian harus hati-hati!"
Lung Goan Po menyadari bahwa Hantu Tanpa Bayangan
Seebun Jit ini bukan lawan yang mudah dihadapi sehingga dia
mengingatkan kedua saudaranya, namun sudah terlambat.
Belum lagi tendangan keduanya berhasil mengenai
sasarannya, tiba-tiba Seebun Jit sudah melangkah ke depan.
Dengan mata mendelik, mulutnya menge¬luarkan suara
bentakan kemudian tubuhnya melesat ke atas. Dalam waktu
yang bersamaan, tangan kirinya mengibas. Tampak segurat
cahaya seperti pelangi melintas, mengedari kaki Lung Sen dan
Lung Ping yang sedang mengirimkan tendangan kepadanya.
Darah segar memercik, sementara Seebun Jit tertawa
terbahak-bahak. Dia menahan rasa sakit karena luka
dalamnya, kemudian menyurut mundur setengah langkah.
Buk! Buk! Tiba-tiba Lung Sen dan Lung Ping jatuh
terbanting di atas tanah. Untung saja ilmu kepandaian kedua
orang ini memang cukup tinggi. Ketika melihat kelebatan
cahaya golok, tiba-tiba saja hati mereka merasa ada firasat
buruk. Mereka memaksakan gerakan kaki yang sudah
melayang keluar itu agar dapat ditarik mundur.
Namun, Seebun Jit justru terkenal di dunia kang ouw
karena sebilah golok dan sepasang cambuknya yang aneh.
Panjang goloknya kira-kira empat ciok. Tipisnya seperti
selembar kertas. Tetapi tajamnya jangan ditanyakan lagi.
Dibuat dari baja pilihan yang sulit didapatkan. Bila sedang
tidak digunakan, golok itu dapat digulung seperti sabuk
pinggang. Bisa disembunyikan di balik pakaian tanpa terlihat
oleh lawan. Bila dicabut keluar pun tidak tampak oleh mata
lawan, tahu-tahu sudah tergenggam dalam telapak tangan.
Jurus yang digunakannya tadi diberi nama Lihat Golok Lihat
Darah. Karena itu kaki kiri Lung Sen dan Lung Ping langsung
terkerat sebatas betis dan langsung jatuh tanpa dapat
mempertahankan diri lagi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam keadaan terluka parah, Seebun Jit masih sanggup
melawan tiga musuh sekaligus, bahkan melukai dua di
antaranya. Ilmu kepandaiannya benar-benar tidak dapat
dipandang ringan. Meskipun Lung Sen dan Lung Ping hanya
terluka di bagian luar, tetapi lukanya justru di kaki yang
merupakan anggota penting dari tubuh. Mereka segera
menutup jalan darahnya untuk menghentikan pendarahan.
Untuk sementara mereka tidak bisa berhadapan dengan
musuh.
Seebun Jit memaksakan diri menghimpun hawa murni
dalam tubuhnya. Lung Goan Po menghambur ke depan
melihat keadaan dua saudaranya. Mengambil kesempatan itu
Seebun Jit segera mengayunkan goloknya ke bagian
punggung Lung Goan Po. Gerakan golok menimbulkan cahaya
seperti pelangi. Kecepatannya sungguh mengejutkan. Lung
Goan Po menyambar kedua saudaranya kemudian mencelat
ke depan sejauh beberapa depa.
Ayunan golok Seebun Jit memang bertujuan membuat Lung
Goan Po menghindarkan diri untuk sementara. Dia bukan
menyerang dengan sungguh-sungguh. Melihat Lung Goan Po
mencelat ke depan, dia juga menggeser kakinya dan
memungut kembali sepasang cambuknya yang terlepas dari
tangannya tadi.
Tampak tangan kirinya menggenggam golok¬nya yang
berbentuk aneh, sedangkan tangan kanannya memegang
cambuk bercabang lima. Seebun Jit berdiri dengan tegak,
penampilannya angker. la mendongakkan wajahnya dan
mengeluarkan suara siulan panjang. Kalau diperhatikan tidak
seperti orang yang sudah terluka parah. Padahal
kenyataannya justru dalam keadaan ter¬luka parah.
Semestinya, orang yang sudah terluka seperti Seebun Jit
sekarang ini, tidak boleh menggunakan tenaga dalamnya
untuk tertawa terbahak-bahak. Karena akan menyebabkan
lukanya semakin parah. Namun Seebun Jit menyadari keadaan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
di depan matanya saat ini. Sekarang tinggal Lung Goan Po
yang masih bisa bertarung dengannya. Apabila otaknya
cerdas, dia bisa mendesak. Seebun Jit terpaksa mundur terus
dan mendekati Lung Sen serta Lung Ping. Meskipun keduanya
terluka dan terkulai di atas tanah, sepasang tangan mereka
masih dapat digerakkan. Tidak sampai dua puluh jurus,
Seebun Jit pasti berhasil dikalahkan. Yang jelas tubuhnya
sendiri sudah terluka parah. Saat ini seandainya dia berpurapura
tidak terluka, bahkan berlagak mencoba menantang
ketiga orang itu, mungkin mereka malah menjadi ragu atau
mungkin mereka malah mengundurkan diri untuk sementara!
Kedatangan ke Tiga Iblis dari Keluarga Lung ini mempunyai
tujuan tertentu. Dan mereka tidak mungkin menyelesaikan
masalahnya begitu saja. Tetapi asal bisa mendapat
kesempatan untuk mengatur nafas dan menjaga pintu batu
agar mereka tidak menerobos masuk ke dalam, sudah lebih
dari cukup. Karena itu, Seebun Jit tidak memperdulikan
keadaannya yang terluka parah dan sengaja mengeluarkan
suara siulan panjang kemudian tertawa terbahak-hahak.
Setelah tertawa beberapa saat, dia mengayunkan golok di
tangannya. "Lung Lo toa, nyalimu sudah ciut?" ujarnya
dengan suara keras.
Sesaat ketiga iblis dari keluarga Lung benar-benar terkecoh
oleh sikap Seebun Jit. Mereka saling pandang sekilas,
kemudian Lung Goan Po memapah kedua saudaranya dan
mengeluarkan suara tertawa dingin. "Hen! Jangan senang
dulu, Seebun Jit! Hari ini tidak berhasil, besok kami pasti
datang kembali! Tunggu saja!"
Sekali lagi Seebun Jit tertawa terbahak-bahak.
"Biar kapan pun kalian datang, asal aku . . ." Seebun Jit
mengerutkan kening sedikit saja, "Anggaplah aku band!"
"Kata-kata yang bagus!" Sembari memapah kedua orang
saudaranya di kiri dan kanan, Lung Goan Po mendelik kepada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seebun Jit. Meskipun Lung Sen dan Lung Ping berjalan
dengan sebelah kaki, gerakan tubuh mereka tetap gesit.
Dalam sekejap mata, mereka sudah keluar dari lembah Gin
Hua kok.
Seebun Jit sadar kepergian mereka kali ini demi
nienyembuhkan luka Lung Sen dan Lung Ping.
Setelah keduanya sembuh, mereka pasti kembali lagi.
Diam-diam Seebun Jit menarik nafas panjang. Darah yang
bergejolak di dalam dadanya sejak tadi, langsung tercurah
keluar setelah perasaannya lebih lega.
"Hooakkkk!!!!"
Butiran darah memenuhi jenggotnya yang sudah memutih.
Hal ini membuat tampang Seebun Jit berubah seperti tua
dalam waktu yang singkat.
Setelah memuntahkan darah segar, Seebun Jit
menggunakan goloknya untuk menopang dirinya. Baru saja
kakinya hendak melangkah menuju pintu batu, entah
mengapa begitu membalikkan tubuhnya, dari luar lembah
sudah terdengar suara batuk-batuk kecil.
Seebun Jit tersentak kaget. Diam-diam hatinya khawatir,
apabila di saat seperti ini datang lagi seorang musuh yang
tangguh. Sudah pasti dirinya tak sanggup menghadapinya.
Cepat-cepat dia menghapus darah di sudut bibir dan
jenggotnya dengan ujung lengan jubahnya. Setelah itu dia
membalikkan tubuhnya kem¬bali, tampak di mulut lembah
berdiri seorang laki-laki tua bertubuh kurus kering.
Tampangnya licik dan tangannya menggenggam seekor ular
hijau yang bentuknya aneh. Ekor ular itu malah melilit di
lehernya. Panjangnya mungkin kira-kira tujuh ciok.
Seebun Jit memaksakan dirinya untuk me-ngembangkan
seulas senyuman.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Leng Coa sian sing, ada keperiuan apa berkun-jung ke Gin
Hua kok?"
Seebun Jit sadar bahwa Leng Coa sian sing jarang
berkecimpung di dunia kang ouw sehingga orang-orang yang
tahu namanya pun sedikit sekali, tetapi ilmunya memang
tinggi sekali.
"Sahabat Seebun, tampaknya luka yang kau derita tidak
ringan?" ujar Leng Coa sian sing sambil tertawa terkekehkekeh.
Seebun Jit tahu tidak mudah mengelabui orang yang satu
ini. Karena itu dia tertawa getir.
"Terima kasih atas perhatianmu! Entah ada keperiuan apa
Leng Coa sian sing bertandang ke Gin Hua kok ini?"
Sekali lagi Leng Coa sian sing tertawa terkekeh-kekeh.
Mimik wajahnya sungguh mencurigakan.
"Sahabat Seebun, apakah kau mengenali benda ini?"
Sembari berkata, dia mengeluarkan sebuah len-cana
berbentuk segi tiga yang ukurannya sebesar telapak tangan.
Lencana itu mengeluarkan cahaya berkilauan karena warnanya
putih keperakan.
Seebun Jit tertegun melihatnya.
"Itukan lencana kokcu. Di dalam dunia bulim, siapa yang
tidak kenal a pa lagi tidak tahu?"
"Memang betul. Melihat lencana ini, merasa seperti
bertemu dengan pemiliknya sendiri. Sahabat Seebun, harap
kau serahkan Lie Cun Ju kepadaku!"
Seebun Jit terkejut sekali.
"Leng Coa sian sing, lencana itu hanya boleh digunakan
satu kali saja. Setelah itu harus dikembalikan kepada kokcu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Benda yang demikian berharga, mengapa kau
menggunakannya untuk tujuan yang satu ini?"
"Loheng tidak perlu ikut campur! Aku mempunyai
pertimbangan sendiri."
Diam-diam Seebun Jit berpikir dalam hati, dia begitu
memperhatikan Lie Cun Ju justru karena dia mengenali
pemuda itu sebagai putra tocu Hek Cui to, sahabatnya. Tetapi
mengapa ke Tiga Iblis dari Keluarga Lung dan Leng Coa sian
sing juga menginginkannya?
"Sahabat Seebun, apakah kau berani membantah
perkataan kokcumu sendiri?" tanya Leng Coa sian sing sambil
menggoyang-goyangkan lencana di tangannya. Sinarnya
semakin berkilauan.
Seebun Jit mengangkat bahunya.
"Sayang orangnya sudah tidak ada di sini, apalagi yang
dapat aku lakukan?"
Leng Coa sian sing tertawa terbahak-bahak.
"Tadi ketika kau bertarung dengan Tiga Iblis dari Keluarga
Lung, orangnya masih ada di dalam lembah, kok tiba-tiba bisa
tidak ada?"
Mendengar ucapan itu, diam-diam hati Seebun Jit
terkesiap. Dia langsung tersadar bahwa kedatangan Leng Coa
sian sing ini bersamaan wak-tunya dengan Tiga Iblis dari
Keluarga Lung. Hanya saja dia sengaja menyembunyikan diri
dan menunggu kesempatan baik!
Meskipun Seebun Jit belum mengerti mengapa Leng Coa
sian sing dan Tiga Iblis dari Keluarga Lung menginginkan Lie
Cun Ju, hatinya yakin mereka pasti berniat tidak baik. Karena
itu, dia segera menenangkan hatinya.
"Leng Coa sian sing hanya tahu soal satunya tetapi tidak
tahu mengenai yang lainnya. Ketika Tiga Iblis dari Keluarga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lung datang, sebetulnya Lie Cun Ju sudah tidak ada di sini,
aku hanya ingin mempermainkan mereka saja!" sahut Seebun
Jit.
Leng Coa sian sing merentangkan kedua tangannya
kemudian mengangkat bahunya.
"Kalau kau bisa mempermainkan tiga iblis dari keluarga
Lung, berarti kau juga bisa saja memper¬mainkan aku.
Pokoknya aku tidak percaya apa yang kau katakan. Aku ingin
memeriksa seluruh lembah ini."
Seebun Jit tertegun sejenak.
"Berani-beraninya kau!" bentaknya.
Leng Coa sian sing tertawa terbahak-bahak.
"Dengan adanya lencana ini, kedudukanku sekarang sama
dengan kokcu lembah ini. Kau yang berani-berani menentang
pemegang lencana perak!" sahutnya.
Diam-diam Seebun Jit mengeluh dalam hati.Dia melihat
Leng Coa sian sing membawa lencana perak.Seandainya
sampai terjadi perkelahian de¬ngan orang itu dan diketahui
oleh I Ki Hu, pasti Raja Iblis itu akan marah besar. Sama saja
mengundang bencana. Karena I Ki Hu sudah menyatakan
dengan tegas bahwa bertemu dengan pemegang lencana
perak, tidak perduli siapa pun, ibarat bertemu dengan dirinya
sendiri. Dengan demikian siapa pun tidak boleh menentang
pemegang lencana itu. Tetapi Seebun Jit pernah menerima
budi besar dari tocu Hek Cui to, Ci Cin Hu. Dan sekarang dia
berhasil menemukan putranya yang selamat tempo dulu.
Mana mungkin dia menyerahkan Lie Cun Ju kepada Leng Coa
sian sing ini?
Karena itu, dia menyurut mundur dua langkah dan
menggetarkan golok di tangannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Leng Coa sian sing, kalau kau tetap berkeras ingin
menggunakan lencana itu untuk menekan aku, maka aku juga
tidak akan sungkan lagi!"
Kembali Leng Coa sian sing tertawa terbahak-bahak.
"Sahabat Seebun, sekarang kau sedang terluka parah,
tetapi masih berlagak gagah. Kau bisa menggertak tiga iblis
dari keluarga Lung sampai mereka mengundurkan diri. Tetapi
kau tidak bisa menggertak aku. Apabila dalam tiga jurus, aku
tidak dapat membuatmu terkapar di atas tanah menjadi
mayat, benar-benar percuma nama besar Leng Coa sian sing
yang telah dipupuk dengan susah payah selama ini."
Pergelangan tangan Leng Coa sian sing bergerak, ternyata
dia melemparkan ular yang sebagian melilit di lehernya itu ke
depan. Ular itu seperti seutas cambuk lemas yang meluncur
mengincar pundak Seebun Jit.
Melihat sikap dirinya yang berlagak gagah tidak sanggup
menggertak Leng Coa sian sing, diam-diam hati Seebun Jit
tercekat. Ketika me-ngetahui Leng Coa sian sing
menggunakan ularnya sebagai senjata, apalagi ular itu sedang
meluncur kepadanya, cepat-cepat Seebun Jit membungkukkan
tubuhnya sedikit sembari memaksakan dirinya sendiri
menghimpun hawa murni dalam tubuh. Golok di tangannya
segera diangkat ke atas. Tampak cahaya berkilauan saat golok
itu menyambut tubuh ular yang sedang meluncur ke arahnya.
Leng Coa sian sing menghentakkan tubuh ular dari atas ke
bawah. Jurus-jurus kedua orang itu dilakukan dengan
kecepatan yang hampir tidak tertangkap oleh pandangan
mata. Ujung golok bekelebat dan tepat mengenai tubuh ular
itu.
Hati Seebun Jit merasa gembira melihat goloknya berhasil
menebas tubuh ular itu. Dia yakin ketajaman goloknya pasti
akan memutus tubuh binatang melata yang dijadikan senjata
oleh Leng Coa sian sing. Diam-diam dia berpikir dalam hati,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
setelah ular itu terputus menjadi dua, dia baru menentukan
kembali langkah berikutnya.
Ternyata perkembangannya justru di luar dugaan Seebun
Jit. Meskipun ketika goloknya bergerak ke atas tepat mengenai
tubuh ular itu, tetapi Seebun Jit merasakan bahwa tenaga
dorongan ular itu besar sekali, menyebabkan kakinya
terhuyung-huyung setengah tindak ke belakang. Dalam
keadaan panik, dia sempat mendongakkan wajahnya melihat
sekilas. Ternyata goloknya berada di bawah perut ular itu.
Hatinya terkesiap setelah melihat tubuh ular tetap utuh.
Bahkan ular itu makin bertambah marah. Ditekannya golok itu
kuat-kuat. Tapi tekanan itu membuat kepala ular menjadi
semakin menjulur ke depan dan menunduk mengincar jalan
darah terpenting di ubun-ubun kepala Seebun Jit.
Bukan main rasa terkejut Seebun Jit saat itu. Cepat-cepat
dia mengangkat cambuk di tangan kanannya, kemudian
dilecutkannya ke atas sembari memiringkan kepalanya
menghindari serangan ular. Tetapi dia terlambat juga,
sehingga jalan darah di bagian samping kepalanya terpatuk
juga oleh ular itu.
Seebun Jit merasa di bagian samping kepalanya laksana
tertimpa besi yang berat. Bagian kepala sebelah mana pun
merupakan tempat yang paling membahayakan apabila
terbentur. Memang tidak separah ubun-ubun kepala, tapi
tetap saja membawa pengaruh yang hebat.
Begitu kepalanya terpatuk mulut ular 'itu, Seebun Jit
merasa telinganya berdengung. Matanya berkunang-kunang.
Kakinya limbung. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang
sampai tujuh-delapan tindak baru dapat berdiri dengan
mantap.
Luka yang diderita oleh Seebun Jit semakin parah.
Meskipun dia tokoh kelas satu dari golongan hitam, tapi luka
yang dideritanya membawa penga¬ruh hebat. Untung saja
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali,
sehingga sesaat dia masih bisa mempertahankan diri.
Sepasang matanya menatap ke arah Leng Coa sian sing lekatlekat.
Tampak Leng Coa sian sing tetap maju
menghampirinya, Seebun Jit segera mengeluarkan suara
bentakan. Baru saja dia ingin melancarkan serangan dengan
tiba-tiba, untuk dapat meraih keuntungan di kala Leng Coa
sian sing belum siap, tetapi tidak mendapatkan kesempatan
sedikit pun.
Wajah Leng Coa sian sing mengembangkan senyuman
yang licik. Kelima jari tangannya mengencang pada bagian
ekor ular. Jelas saja ular itu kesakitan dan tiba-tiba
menyentakkan kepalanya ke atas lalu diserudukkan ke bagian
dada Seebun Jit.
Ular berbisa itu merupakan jenis yang langka. Warna
kulitnya bertotol-totol hijau sehingga tam¬pak bagus sekali.
Kulitnya keras sekali, bahkan merupakan ular yang kulitnya
paling tebal dan keras di antara seluruh jenis ular yang ada di
dunia ini. Karena itu pula, walaupun golok Seebun Jit sangat
tajam, tetap saja tidak sanggup melukainya sedikit pun.
Lagipula tenaga ular itu kuat sekali. Leng Coa sian sing
menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mengintai goa
tempat bersemayam ular itu di daerah Cin Lam.
Baru kemudian berhasil menangkapnya. Begitu sayangnya
Leng Coa sian sing kepada ular yang satu itu sehingga dia
memandangnya sama berharganya dengan nyawanya sendiri.
Dia memberi nama kepada ular itu dengan sebutan 'Cambuk
kumala'. Mungkin karena warna kulitnya yang mirip dengan
batu kumala. Justru dari nama yang diberikannya itu pula,
Leng Coa sian sing mendapat ilham untuk menggunakannya
sebagai senjata.
Kekuatan tenaga ular itu tidak kalah dengan seekor
harimau ataupun singa. Begitu membentur dada Seebun Jit
yang tidak sempat menghindarinya, kembali dia menderita
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
luka parah. Seebun Jit langsung terkulai di atas tanah tanpa
sanggup berdiri lagi.
Leng Coa sian sing mengeluarkan suara dengusan dan
maju beberapa Iangkah. "Seebun Jit, tanyakan pada dirimu
sendiri apakah kau masih sanggup menyambut jurus
ketigaku?" bentaknya sinis.
Seebun Jit memaksakan diri untuk mengatur
pernafasannya. Beberapa kali dia berusaha bangkit, tetapi
karena luka yang dideritanya terlalu parah, tenaganya tidak
ada sama sekali. Akhirnya dia tetap terkulai di atas tanah
dengan sepasang mata menyiratkan kegusaran.
"Leng ... Coa . .. sian sing, mengapa ... jurus . . . keti . . .
gamu . .. belum ... di ... lancarkan juga?"
"Bagus! Kau benar-benar tidak malu disebut seorang laki-
Iaki sejati. Tetapi aku justru ingin melihat sampai di mana
kekerasan hatimu."
Mendengar kata-katanya, Seebun Jit yakin Leng Coa sian
sing tidak akan membunuhnya langsung. Mungkin dia akan
menggunakan cara yang keji untuk menyiksanya. Pikirannya
lalu tergerak, seandainya dia dapat menghadapi Leng Coa sian
sing, tetap saja dia tidak bisa menghin-darkan diri dari tiga
iblis keluarga Lung yang akan datang kemba'I. Lebih baik
menggunakan kesempatan di saat jalan darahnya belum
tertotok oleh lawan untuk memutuskan urat nadinya sendiri.
Lagi pula mereka belum tentu dapat menemukan Lie Cun Ju
yang disembunyikan di dalam ruangan batu. Dengan demikian
dia tidak perlu menerima berbagai penderitaan sebelum
terbunuh.
Setelah mengambil keputusan, Seebun Jit langsung
bermaksud menggunakan sisa tenaganya untuk memutuskan
seluruh urat nadi di tubuhnya untuk membunuh diri. Tiba-tiba
dari luar lembah Gin Hua kok berkumandang suara derap kaki
kuda. Baik Leng Coa sian sing maupun Seebun Jit adalah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tokoh-tokoh yang bepengetahuan luas. Begitu mendengar
suara derap kaki kuda, mereka langsung sadar bahwa tujuan
orang itu pasti Gin Hua kok. Tanpa dapat ditahan lagi
keduanya jadi tertegun.
Di saat keduanya masih termangu-mangu, suara derap kaki
kuda itu sudah semakin mendekat. Kemudian tampak sesosok
bayangan berkelebat, orang yang menunggang kuda itu sudah
sampai di mulut lembah Gin Hua kok.
Serentak Leng Coa sian sing dan Seebun Jit menolehkan
kepalanya ke arah mulut lembah. Mereka melihat seekor kuda
yang bersih mulus berwarna putih keperak-perakan dengan
seorang gadis yang memegang pecut berwarna sama melaju
datang secepat kilat. Orang ini bukan siapa-siapa, tetapi putri
si Raja Iblis I Ki Hu yaitu I Giok Hong.
Begitu melihat I Giok Hong, hati Leng Coa sian sing
berkebat-kebit. Dia khawatir I Ki Hu juga menyusul
dibelakang. Begitu terkejutnya kakek itu, sehingga kakinya
menyurut mundur satu langkah.
I Giok Hong hanya berhenti sebentar di depan lembah.
Kemudian mengayunkan pecutnya dan melesat datang.
Gerakan pecutnya demikian lemah seakan tidak mengandung
tenaga sedikitpun. Secepat kilat melayang kearah Leng Coa
Sian Sing. Manusia pecinta ular itu menghindarkan dirinya
dengan panik. Gerakan pecut I Giok Hong yang tampaknya
lemah itu justru berkelebat bagai cahaya kilat.
Trak!!
Tahu-tahu lencana ditangan Leng Coa sian sing sudah
terbelit oleh pecutnya dan melayang kembali kearah I Giok
Hong.
Wajah Leng Coa sian sing langsung berubah hebat.Kakinya
terhuyung – huyung mundur beberapa tindak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“I ....... kouwnio, lencana i ........ tu kau sendiri yang
memberikannya kepadaku. Mengapa sekarang kau mengam
........ bilnya kembali?” kata Leng Coa sian sing gugup.
I Giok Hong mendengus dingin. Lencana itu dimasukkan
kedalam saku pakaiannya kemudian pecutnya diayunkan
kembali.
“Leng Coa sian sing, setelah menerima lencana ayahku ini,
ternyata kau berani mengumbar lagakmu di lembah Gin Hua
kok. Cepat pergi dari sini!”
Selembar wajah Leng Coa sian sing tampak merah padam
bagai dilumuri darah. Perlahan – lahan dia mengundurkan diri.
Sesampainya di mulut lembah, dia melongokkan kepalanya.
Keadaan diluar lembah sunyi senyap. Tampaknya I KI Hu tidak
mengiringi kepulangan putrinya I Giok Hong.
Ilmu kepandaian I Ki Hu sudah mencapai taraf yang
demikian tinggi sehingga kadang – kadang kedatangan dan
kepergiannya persis setan gentayangan yang tidak
menimbulkan jejak dan suara sedikitpun. Kalau dilihat dari
keadaan sekarag, tampaknya I Giok Hong memang hany
seorang diri. Tetapi siapa tahu si Raja Iblis itu bersembunyi
disuatu tempat dan belum mau menampakkan dirinya.
Meskipun hati Leng Coa sian sing mendongkol sekali, tetapi
apabila dia sampai bergebrak dengan I Giok Hong, ada
kemungkina I Ki Hu bisa muncul setiap saat.
Keadaan itu seperti perjudian yang hanya memegang besar
atau kecil. Hanya ada kemungkianan yang taruhannya bukan
uang atau harta benda yang dapat dicari penggantinya, tapi
nyawanya sendiri.
Karena itu Leng Coa sian sing termenung-menung
beberapa saat. Akhirnya dia tidak berani berspekulasi. Dia
melilitkan sebagian tubuh dan ekor 'cambuk kumala' ke
lehernya. Tubuhnya berkelebat dan menghilang di luar
lembah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebetulnya kakek Leng Coa sian sing tidak kembali ke Leng
Coa ki (tempat tinggalnya). Dia hanya berlari ke tempat yang
agak jauh kemudian kembali lagi dengan mengambil jalan
memutar. Dia menyembunyikan dirinya di sekitar mulut
lembah dan tidak berani masuk ke dalam.
Sejak kecil Leng Coa sian sing senang memelihara ular.
Setnua kepandaian yang dimilikinya sekarang merupakan ilmu
yang didapatkannya dengan meniru gerak gerik ular. Bahkan
ilmu ginkangnya lain daripada yang lain. Dia dapat merayap di
atas tanah dan pulang pergi seperti melayang di atas tanah
dengan tubuh tiarap. Bahkan tidak menimbulkan suara sedikit
pun. Meskipun di luar lembah Gin Hua kok terdapat banyak
pasir, tempat yang dilaluinya tidak meninggalkan jejak kaki
sedikit pun karena dia bukan berjalan tapi melata seperti ular.
Setelah Leng Coa sian sing meninggalkan tem¬pat itu,
Seebun Jit baru bisa menghembuskan nafas lega. Dia
mendongakkan kepalanya.
"Sio . . . cia, keda . . . tanganmu sung .. . gun tepat, se . . .
hingga se . . . lembar nya . . . waku ini tertolong."
Sepasang alis I Giok Hong menjungkit ke atas, seakan ia
sedang ada keperluan penting.
"Siok-siok, kemana bocah she Li itu?Cepat suruh dia keluar,
ayahku ingin menemuinya," tukas I Giok Hong.
Hati Seebun Jit langsung tertegun. Dia mengeluh dalam
hati.
Aku berkelahi melawan tiga iblis dad keluarga Lung dan
Leng Coa sian sing mati-matian justru karena ingin
mempertahankan Lie Cun Ju. Tetapi kalau dilihat dari sikap I
Giok Hong yang kalang kabut ini, tampaknya 1 Ki Hu juga
mengandung niat tidak baik.
Seebun Jit menarik nafas panjang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Siocia, aku yang bersalah. Setelah kalian pergi tidak lama,
datang tiga iblis dari keluarga Lung. Justru ketika aku sedang
bertarung dengan sengit melawan mereka, ternyata bocah itu
menggunakan kesempatan ini untuk meloloskan diri."
Meskipun dalam keadaan mendadak Seebun Jit mengarang
cerita bohong, tetapi nada suaranya sedikit pun tidak
meragukan. Namun I Giok Hong seorang gadis yang luar biasa
cerdasnya. Setelah berpikir sejenak, dia mengeluarkan suara
tertawa dingin.
"Siok-siok, kau sedang mendustai aku." "Siocia, masa
hamba mempunyai nyali sebesar
itu? Dia . . . benar-benar sudah melarikan diri." Wajah I
Giok Hong berubah menjadi angker.
“Seebun Jit, pada dasarnya kau musuh besar Gin Hoa Kok.
Mengingat ilmu kepandaianmu yang tinggi, tia menahan kau
disini. Justru karena hal itu aku tidak segan-segan memanggil
kau siok-siok. Tetapi kalau kau bermaksud macam-macam,
aku tidak akan membiarkannya,” katanya.
Ketika Seebun Jit bermaksud berdebat, I Giok Hong sudah
mengayunkan pecutnya ke atas tanah kemudian membalikkan
tubuh dan berjalan pergi. Seebun Jit segera menolehkan
kepalanya. Tanpa dapat ditahan lagi hatinya mengeluh celaka.
Ternyata arah yang dituju I Giok Hong justru pintu batu
tempat Lie Cun Ju disembunyikan.
Di depan goa batu itu memang telah diganjal dengan
sebuah batu besar. Tapi Seebun Jit tahu I Giok Hong sejak
kecil sudah dilatih oleh ayahnya sehingga meskipun usianya
masih muda, kepandaiannya sudah tinggi sekali. Batu besar
itu tentu tidak sanggup menghalangi niat gadis itu.
“Socia, tunggu dulu!” teriak Seebun Jit.
I Giok Hong menolehkan kepalanya sambil tertawa
cekikikan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Rupanya kau menyimpan pemuda itu di goa batu tempat
tinggalmu,” katanya.
Seebun Jit langsung tertegun. Sekarang dia baru sadar
bahwa bukan hanya kepandaiannya saja yang masih kalah
dengan I Giok Hong. Bahkan kecerdasannya pun terpaut jauh.
Sebetulnya I Giok Hong tidak tahu tempat Lie Cun Ju
disembunyikan. Tetapi saking paniknya Seebu Jit berteriak, itu
sama halnya dengan memberitahukan kepada I Giok Hong.
Akhirnya Seebun Jit hanya daoat menarik nafas panjang.
Sekonyong-konyong, dia melompat bangun dengan tangan
menumpu diatas tanah. Dia berdiri juga berjalan maju
beberapa langkah kemudian bersandar pada batang pohon.
Tampak I Giok Hong sudah sampai di depan pintu batu.
Pecut ditangannya diayunkan, Tar! Sekali gerak saja batu
besar itu, tiba-tiba terdengar suara menggelegar seperti
ledakan bom. Batu besar yang beratnya paling tidak dua-tiga
ribu kati itu langsung terpental ke atas kemudian pecah
berhamburan.
Pada saat itu, I Giok Hong sedang berdiri di depan pintu
goa. Sekonyong – konyong batu besar yang mengganjal di
depan pintu itu terpental ke atas dan pecah berhamburan.
Gadis itu merasa ada serangkum angin yang kuat melanda
kearahnya. Tetapi ia bahkan menerjang kedepan. Melihat
keadaan yang membahayakan, Seebun Jit sampai
mengeluarkan suara seruan terkejut.
Tetapi I Giok Hong sejak kecil memang sudah dilatih keras
oleh ayahnya. Ilmu yang dimilikinya sesungguhnya tinggi
sekali apabila mengingat usianya yang masih demikian muda.
Tubuhnya berdiri tegak. Tangannya masih menggenggam
pecut peraknya. Sedangkan tali pecut itu masih melilit batu
besar tadi. Secepat kilat tangannya begerak mengayunkan
pecut lalu ia sendiri menghindar ke samping sejauh beberapa
tindak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pintu batu itu langsung terbuka karena batu yang
mengganjalnya sudah pecah berantakan.
Tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat. Cahaya pedang
herkilauan. Bahkan siapa sosok yang menerjang keluar itu, I
Giok Hong masih belum sempat melihat dengan jelas. Tahutahu
sinar pedang sudah melintas dan meluncur ke arah
dadanya.
"Bagus sekali," bentak I Giok Hong. Saat itu juga dia
menarik nafas kemudian menyurutkan dadanya ke belakang.
Pedang itu masih terus mengincarnya. Bahkan begitu sampai
di depannya tampak pedang itu dijungkitkan sedikit ke atas.
Sret! Pakaian di dadanya langsung terkoyak sepanjang tiga
cun. Wajah I Giok Hong yang cantik jelita langsung merah
padam. Tanpa menunda waktu lagi dia segera mengayunkan
pecutnya untuk melilit pedang panjang itu kemudian
ditariknya sekuat tenaga.
Sosok yang menggenggam pedang itu dapat merasakan
senjatanya terlilit oleh pecut lawan. Tentu saja dia tidak sudi
membiarkannya, orang itu menghentakkan pergelangan
tangannya ke belakang. Ternyata gerakan ini tidak
menguntungkan pihak mana pun. Hati mereka sama-sama
terkesiap. Gebrakan mereka terjadi secara spontan. Kedua
orang itu saling tidak sempat memperhatikan siapa lawannya.
Sampai saat itu, mata mereka baru bertemu pandang. Masingmasing
mendongakkan kepalanya dan sama-sama tertegun.
Diam-diam I Giok Hong mengeluarkan seruan terkejut di
dalam hatinya. Pemuda ini tampan sekali, pikirnya. Rupanya
orang yang bergebrak dengannya adalah seorang pemuda
berusia kurang lebih dua puiuhan tahun dan mempunyai
wajah tampan. Tetapi sikap pemuda itu tidak menunjukkan
kegagahan, bahkan seperti orang yang sedang dilanda
pukulan batin yang berat. Tangan kanannya menggenggam
sebatang pedang dan kirinya memanggul seseorang. Orang itu
adalah Lie Cun Ju yang menjadi incaran orang banyak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Siapa kau?" bentak I Giok Hong.
Pemuda itu malah menarik nafas panjang.
"Kouwnio, harap kau membiarkan aku pergi, jangan
bertanya apa pun!"
I Giok Hong tertegun mendengar jawabannya.
Diam-diam dia memaki dalam hati.
Bagus sekali. Kau kira Gin Hua kok ini merupakan tempat
yang boleh kau datangi dan kau pergi sesuka hatimu?
Hawa murninya diedarkan, tenaga dalamnya disalurkan ke
lengan kanan, dia sudah mengerahkan tenaga sebanyak
delapan bagian. Kemudian dia menarik lagi pecutnya dengan
sekuat tenaga. Pemuda itu terhuyung-huyung, tubuhnya
limbung ke depan. Tetapi di saat itu juga tiba-tiba pedangnya
bergerak. Timbul suara dengungan, ternyata dia melancarkan
tiga totokan ke bagian dada I Giok Hong.
Seebun Jit sejak tadi memperhatikan jalannya pertarungan.
Pada mulanya dia juga tidak mengenal siapa pemuda itu.
Sampai pada gerakan pedangnya barusan, kakek itu baru
terkesiap setengah mati.
"A ... pa hubunganmu dengan Pat Sian kiam Tao Cu Hun?
Mengapa kau menggunakan jurus Pat sian kiam?" teriak
Seebun Jit tan pa sadar
.
Mendengar teriakan Seebun Jit, I Giok Hong segera
mengendurkan jari tangannya. Pedang dan pecut pun saling
terlepas. Kemudian dia memper¬hatikan pemuda itu dengan
seksama, lalu mengeluarkan suara tertawa dingin.
"Rupanya kau?" ujar I Giok Hong.
Melihat pedangnya tidak dililit lagi oleh pecut si gadis,
tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Sret! Sret! Sret! Sret!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam sekejap mata dia melancarkan empat serangan. Sinar
pedang berkilauan dan gerakannya bukan main hebatnya.
Kali ini, I Giok Hong sudah bersiap sedia. Gerakan
tubuhnya selincah burung walet mengikuti kelebatan pedang
pemuda itu. Dalam keadaan yang benar-benar terjepit,
berhasil juga dia menghindari keempat serangan tadi. Saat
pedang lawan belum sempat ditarik kembali, matanya
mengukur dengan tepat. Tiba-tiba jari tengahnya tampak
meluncur ke depan dan menutul bagian tubuh pedang.
Terdengar suara Tuk! Meskipun hanya tutulan sebuah jari
tangan, tapi I Giok Hong sudah menggunakan tenaga
sebanyak delapan bagian. Saat itu juga, si pemuda merasa
pedangnya seperti ditekan oleh batangan besi seberat ribuan
kati. Jelas saja pedangnya terpental ke samping namun tidak
sampai terlepas.
Tangan kanan pemuda itu memang meng-genggam
sebatang pedang, dan tangan kirinya memanggul seseorang.
Maka begitu pedangnya terhempas ke samping, bagian dada
menjadi terbuka. Dalam waktu yang bersamaan, I Giok Hong
meng-ayunkan pecut di tangannya. Sinar perak berkilauan,
berkelebat melalui bawah ketiaknya kemudian bergerak
melingkar. Pecut itu laksana aeekor ular yang tiba-tiba sudah
melilit dadanya. Semakin lama Hlitan itu semakin kuat, apalagi
setelah I Giok Hong mengerahkan tenaganya. Pemuda itu
merasa tulang di sekitar rongga dadanya nyeri sekali sehingga
dia berteriak kesakitan. Namun dia tidak ceroboh, Pedang
panjangnya dikibaskan ke arah tali pecut itu. Pedang itu tepat
mengenai sasarannya, tetapi pecut lemas itu tidak putus.
Pemuda itu dapat merasakan keadaannya yang tidak
menguntungkan. Dengan mengikuti gerakan pecut, pedang
terus meluncur ke depan dan sekali lagi mengancam
pergelangan tangan I Giok Hong.
Jurus yang satu ini dikerahkan sesuai perkembangan yang
berlangsung. Sebetulnya tidak ada keistimewaan apa-apa,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tetapi dalam keadaan terdesak ternyata bermanfaat sekali.
Pedang itu sudah sampai pada sasaran, tetapi saat itu juga
terdengar suara trak! Ternyata pergelangan tangan I Giok
Hong tidak terluka karena pedang itu tepat mengenai gelang
batu giok yang dikenakannya.
I Giok Hong merasa dirinya tidak terluka. Tetapi dia
menyadari bahwa ilmu pedang pemuda itu ternyata tidak
dapat dipandang ringan. Sama sekali tidak boleh diberi
kesempatan untuk menyerang terlebih dahulu. Cepat-cepat
dia menyurut mundur satu langkah. Dengan sepenuh tenaga
dia menarik pecutnya, maka tali yang melilit pemuda itu
semakin menguat. Terdengar pemuda itu meraung keraskeras
kemudian melancarkan sebuah serangan lagi dalam
keadaan terdesak.
Pecut di tangan I Giok Hong sudah membentuk lingkaran
yang melilit dadanya. Ketika dia mengerahkan tenaga
dalamnya, lilitannya semakin menciut. Pemuda itu harnpir
tidak dapat menarik nafas karena dadanya terasa sesak.
Dengan panik dia mengedarkan hawa murninya dan
memberontak sekuat tenaga. Serangannya kali itu dilakukan
dalam keadaan kalap. Tentu saja membahayakan sekali.
Tetapi I Giok Hong tetap tenang. Pecutnya ditarik ke samping
sehingga gerakan pedang pun meleset dsri sasaran yang
sebenarnya. Gadis itu kembali menjulurkan tangan kirinya ke
atas dan lagi-lagi terdengar ketukan. Kali ini dia menggunakan
tenaga yang lebih besar, sedangkan pemuda itu sudah mulai
lemah karena dadanya yang terasa sesak. Seiring dengan
suara ketukan itu pedang di tangan si pemuda terpental ke
udara.
I Giok Hong merasa bangga sekali. Dia tertawa terbahakbahak.
"Jit siok, coba kau lihat bagaimana permainanku, lumayan
bukan?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Baru saja ucapannya selesai, pergelangan ta¬ngan
kanannya menekan ke bawah. Tiba-tiba pecutnya melayang
ke atas dan jalan darah di pundak si pemuda sudah tertotok.
Setelah itu dia haru mengendorkan lilitannya lalu bergerak ke
samping tiga langkah, sikapnya santai sekali. Dia berdiri tegak
sambil mengembangkan seulas senyuman manis.
Seebun Jit yang berdiri di samping melihat dengan jelas
setiap gerakan tubuh I Giok Hong. Meskipun dia tahu dirinya
terlibat permusuhan yang dalam dengan I Ki Hu dan juga tahu
keme-nangan I Giok Hong yang berhati keji itu pasti
membawa bencana baginya dan lie Cun Ju, tetapi dia juga
tidak dapat menahan diri untuk menarik nafas panjang.
"Kepandaian yang hebat," katanya. Meskipun pemuda tadi
sudah tertotok jalan darahnya oleh I Giok Hong, tetapi
mulutnya masih bisa bersuara. Dia mengedarkan hawa
murninya untuk membebaskan dirinya dari totokan.
"Untuk apa kau menahan aku di sini?" katanya. "Aku lihat
wajahmu ada kemiripan dengan Tao Ling, lagi pula kau juga
pandai memainkan jurus pedang Pat Sian kiam. Mungkinkah
kau Tao Heng Kan yang membunuh Li Po di gedung Kuan
Hong Siau kemudian melarikan diri menjadi buronan orangorang
kang ouw? Tentunya tebakan itu tidak salah, bukan?"
jawab I Giok Hong sambil tersenyum.
Mendengar I Giok Hong menyebut namanya dengan tepat,
Tao Heng Kan segera memejamkan matanya dan tidak
berkata-kata lagi. Wajah I Giok Hong justru semakin berseriseri.
"Ternyata kau memang Tao Heng Kan. Ini yang dinamakan
dicari-cari tidak ketemu, eh tahu-tahunya malah datang
sendiri," ujar I Giok Hong.
Tao Heng Kan sudah mengedarkan hawa mur¬ninya
sebanyak dua kali. Dia merasa jalan darah¬nya yang tertotok
sudah hampir bebas. Karena itu dia segera mengulur waktu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
agar dapat menge¬darkan hawa murninya sekali lagi.
Matanya tetap terpejam. Dia bertanya kepada I Giok Hong.
"Siapa kau? Untuk apa kau mencariku?"
Ilmu totokan dengan ujung pecut seperti yang dikerahkan I
Giok Hong itu, setiap jurusnya mengandung tenaga dalam
yang murni. Jalan darah niana pun yang tertotok, tidak mudah
dibebaskan dengan hanya mengedarkan hawa murni saja.
Kecuali orang yang tenaga dalamnya sudah men-capai taraf
kesempurnaan.
I Giok Hong sudah melihat bahwa lawannya adalah putra
Pat Sian kiam Tao Cu Hun. Ada beberapa pertanyaan yang
ingin diajukannya, karena itu dia hanya menggunakan tiga
bagian ketika menotok jalan darah Tao Heng Kan. Maksudnya
agar pemuda itu dapat menjawab pertanyaannya dengan
lancar. Tetapi maksud hatinya itu justru memberi kesempatan
bagi Tao Heng Kan. I Giok Hong juga tidak menyadari bahwa
tenaga dalam lawannya sudah cukup tinggi, bahwa tidak
seberapa jauh apabila dibandingkan dengan dirinya. Apalagi
mempunyai dugaan bahwa anak muda itu bisa mengedarkan
hawa murninya untuk melepaskan totokannya.
"Tentu saja ada urusan baru aku mencarimu. Aku ingin
menanyakan dimana orang tuamu sekarang?" jawab I Giok
Hong dengan tawa cekikikan.
"Aku tidak tahu," jawab Tao Heng Kan segera.
Dari sepasang inata I Giok Hong yang indah menyorot sinar
yang tajam,
"Kau bertanding ilmu dengan putra Pat Kua kim gin kiam
Lie Yuan yang bernama Li Po. Mengapa tiba-tiba kau
membunuhnya? Apakah demi . . ." tanyanya.
Baru berkata sampai di sini, Tao Heng Kan sudah
mengedarkan hawa murni dalam tubuh untuk ketiga kalinya.
Dia merasa tubuhnya menjadi ringan dan sudah bisa bergerak
lagi. Tiba-tiba tangannya mengibas dan tiga titik sinar melesat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
keluar secepat kilat mengincar bagian dada I Giok Hong.
Dalam waktu yang bersamaan, kakinya menghentak dan
melesat ke samping.
I Giok Hong sedang berbicara dengan Tao Heng Kan, jarak
mereka dekat sekali. Mungkin karena dia telah menotok jalan
darah pemuda itu sehingga tidak khawtir bisa diserang secara
mendadak olehnya. Dia sama sekali tidak membayangkan Tao
Heng Kan bisa menembus sendiri jalan darahnya yang
tertotok, bahkan menyambitkan tiga batang senjata rahasia
kepadanya.
Ilmu kepandaian I Giok Hong saat itu sebetul-nya dapat
menandingi jago bulim kelas satu yang mana pun. Tetapi
dalam keadaan tanpa persiapan sedikit pun, ia tidak bisa
berbuat apa-apa. Niatnya ingin mengayunkan pecut di
tangannya, tetapi tidak keburu lagi. Terpaksa dia menekuk
sepasang kakinya dan berjongkok dengan kepala menunduk.
Ketiga batang senjata rahasia yang disambitkan Tao Heng
Kan pun melesat lewat di atas kepalanya. Jaraknya hanya
tinggal beberapa cun. Kalau saja gerakannya kurang sigap,
pasti saat ini dia sudah terkapar di atas tanah dengan dada
tertembus sen¬jata rahasia.
Hawa amarah dalam dada I Giok Hong meluap seketika.
Cepat-cepat dia bangun dan membalikkan tubuhnya. Tampak
Tao Heng Kan sudah melesat sejauh dua depaan. Kakinya
mendarat tepat di samping pedang panjangnya yang
dipentalkan oleh I Giok Hong tadi. Kakinya menendang,
pedang itu pun mencelat ke atas. Bayangannya seperti pelangi
melintas. Pedang itu terbang ke depan, gerak tubuh Tao Heng
Kan pun melesat mengikutinya. Sembari terus berlari,
tangannya menjulur ke atas meraih pedang yang sedang
melayang turun itu. Jaraknya sudah bertambah dua depa lagi.
Tahu-tahu dia sudah mencapai mulut lembah Gin Hua kok.
Tanpa menolehkan kepala sedikt pun, dia langsung berlari
keluar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
I Giok Hong membentak dengan suara nyaring.
"Manusia she Tao! Jangan lari!"Gerakan tubuhnya laksana
terbang, dia menghambur ke arah kudanya yang berwarna
putih perak. Sekali loncat ia sudah menunggang di atasnya.
Pecutnya diayunkan dan menimbulkan suara Tarrr! Baru saja
dia ingin melarikan kudanya untuk mengejar Tao Heng Kan,
tiba-tiba terdengar Seebun Jit berteriak.
"Siocia! Jangan dikejar!"
Sepasang alis I Giok Hong langsung menjungkit ke atas.
Dia mendengus satu kali.
"Kau dan dia sama-sama prajurit yang sudah dikalahkan.
Setelah aku menyelesaikan persoalanku dengan pemuda itu,
aku akan kembali lagi untuk berhitungan denganmu."
Sembari berkata, dia menghentakkan tali kendali kudanya
kemudian melesat ke depan.
"Siocia, apa yang kukatakan adalah demi kebaikanmu
sendiri. Apakah kau melihat senjata rahasia apa yang
disambitkannya tadi?" teriak Seebun Jit dengan gugup.
Sekali lagi I Giok Hong menghentakkan tali kendali kudanya
dan memutar arah. Orangnya serta pecut di tangannya
menimbulkan cahaya perak yang melingkar sehingga tampak
indah sekali. Dia tidak menghentikan gerakannya, namun dari
jauh masih terdengar teriakannya.
"Tidak perduli senjata rahasia apa pun yang digunakannya,
pokoknya aku harus mengejarnya sampai dapat." Ketika
suaranya sirap, orangnya pun sudah menghilang di belokan
mulut lembah.
Seebun Jit menarik nafas panjang. Dengan menggunakan
goloknya sebagai tongkat, dia ber-jalan tertatih-tatih sejauh
beberapa depa. Ke¬mudian dipungutnya ketiga batang
senjata rahasia yang disambitkan Tao Heng Kan tadi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Senjata rahasia itu menyorotkan sinar yang berkilauan.
Seebun Jit memungutnya dan memperhatikannya dengan
teliti. Bentuknya benar-benar aneh. Karena tidak sesuai
dijadikan senjata rahasia. Panjangnya satu cun lebih. Ternyata
benda itu adalah naga-nagaan dari emas murni yang
buatannya halus sekali.
Seebun Jit masih menggenggam ketiga buah senjata
rahasia itu. Lalu dia menolehkan kepalanya kembali ke arah
mulut lembah. Terdengar dia menghela nafas panjang. Baru
saja dia ingin memasukkan ketiga buah naga emas tadi ke
dalam saku bajunya, tiba-tiba tampak sesosok bayangan
berkelebat di mulut lembah. Rupanya Leng Coa sian sing
sudah kembali lagi.
"Seebun Jit, orang yang melihat seharusnya mendapat
bagian," kata Leng Coa sian sing.
"Leng Coa sian sing, di tanganku sekarang ada tiga buah
naga emas, apakah kau masih berani bergebrak denganku?"
sahut Seebun Jit sambil melintangkan goloknya di depan dada.
"Di dalam lembah ini tidak ada orang lain seandainya aku
membunuhmu, rasanya tidak mungkin ada yang mengetahui,"
ucap Leng Coa sian sing dengan tawa cekikikan.
Wajah Seebun Jit tidak menyiratkan perasaan takut sedikit
pun. Dia malah tertawa terbahak-bahak.
"Leng Coa sian sing, sudah cukup lama kau mengasingkan
diri di wilayah barat ini. Kehidupan-mu tenang dan damai.
Mengapa kau masih ingin menceburkan dirimu dalam kancah
dunia bulim yang tidak habis-habisnya saling membunuh dan
memperebutkan nama kosong? Pemilik naga emas ini bagai
dewa yang sakti. Tidak ada hal yang tidak diketahuinya.
Apabila kau berniat mengelabuinya, mungkin lebih sulit
daripada terbang ke angkasa," kata Seebun Jit.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Wajah Leng Coa sian sing berubah hebat.Tampaknya dalam
hati dia merasa agak takut, tetapi dalam sekejap mata
penampilannya sudah pulih lagi seperti semula.
"Seebun Jit, waktu kematianmu sudah tiba, buat apa kau
membuka mulut sesumbar yang tidak-tidak?" Dia melangkah
ke depan dua tindak. 'Cambuk kumala' yang rebah di
tangannya langsung dikibaskan ke depan, tepat mengenai
betis Seebun Jit.
Luka Seebun Jit sudah parah sekali. Dia mempertahankan
diri berdiri dengan goloknya sebagai penopang. Begitu kena
tersapu, Seebun Jit langsung jatuh ambruk di atas tanah.
Leng Coa sian sing maju ke depan satu langkah, kakinya
sudah siap menginjak dada lawannya. Tiba-tiba Seebun Jit
melihat ada tiga sosok ba-yangan yang berkelebat di mulut
lembah. Diam-diam hatinya merasa girang.
"Leng Coa sian sing, ada orang yang datang," katanya.
Pada saat itu Leng Coa sian sing juga sudah mendengar
suara langkah kaki. Hatinya tercekat. Apalagi setelah Seebun
Jit mengibaskan tangannya melemparkan ketiga buah naga
emas itu ke tempat yang jauh. Dalam waktu yang bersamaan,
ketiga orang yang tadi berkelebat di mulut lembah juga sudah
menghambur ke dalam. Ternyata memang tiga iblis dari
keluarga Lung. Begitu melihat sinar berkilauan melesat la hi
terjatuh di atas tanah, mereka segera menghampirinya.
Setelah melihat dengan jelas bahwa benda itu adalah tiga
buah naga-nagaan dari emas yang panjangnya satu cun lebih,
wajah mereka langsung berseri-seri.
"Tong tian pao Hong! (Naga pusaka penembus langit)."
Seru mereka serentak.
Setelah mengeluarkan seruan tadi. Tanpa bersepakat lagi
ketiganya langsung menerjang ke arah tiga naga emas itu.
Leng Coa sian sing yang melihat ketiga iblis dari keluarga Lung
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
akan memungut naga-nagaan dari emas, langsung panik. 'Dia
berteriak sekeras-kerasnya.
"Tunggu dulu!" Lupa sudah dia akan tujuan semula yang
ingin membunuh Seebun Jit. Tubuh-nya membalik lalu melesat
bagai terbang, gerakan-nya memutar bagai angin topan.
Setelah tujuh-delapan kali putaran, dia langsung menerjang ke
arah tiga iblis dari keluarga Lung. 'Cambuk kumala' di
tangannya mengeluarkan suara desisan yang aneh. Binatang
itu menjulurkan kepalanya dan menyapu tiga orang itu.
Tiga iblis dari keluarga Lung mengeluarkan suara pekikan
yang menyeramkan. Mereka melon-cat ke samping untuk
menghindarkan diri. Tetapi sekejap kemudian mereka
berkumpul kembali dan mengurung Leng Coa sian sing.
Keempat orang itu pun terlibat perkelahian yang seru. Tampak
ba-yangan manusia berkelebat kesana kemari. Bayangan ular
yang mirip pecut lemas juga bergerak kian kemari.
Pertarungan itu sungguh sengit. Sedangkan ketiga naganagaan
dari emas itu belum sempat dipungut oleh siapapun
dan masih menggeletak di atas tanah.
Seebun Jit melihat keempat musuhnya terlihat dalam
perkelahian yang seru. Matanya menatap lekat-lekat pada
ketiga naga-nagaan dari emas yang tergeletak di atas tanah.
Hatinya timbul perasaan sayang. Ketiga naga-nagaan dari
emas itu merupakan benda yang diinginkan setiap tokoh
persilatan di bulim. Sekarang benda itu justru hanya berjarak
tiga-empat depa di hadapannya.
Seebun Jit juga tahu, apabila dia merayap ke depan untuk
memungut ketiga naga-nagaan dari emas itu, tiga iblis dari
keluarga Lung beserta Leng Coa sian sing yang terlibat
perbentrokan justru karena benda yang sama, pasti tidak akan
membiarkannya. Bisa jadi mereka malah bersatu untuk
mengeroyok dirinya.
Dengan kata lain, meskipun Seebun Jit bisa mendapatkan
ketiga naga-nagaan dari emas itu, dia pasti terbunuh di dalam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lembah Gin Hua kok. Menurut cerita yang tersebar di dunia
kang ouw, naga-nagaan yang sejenis jumlahnya ada tujuh
buah. Walaupun dia bisa mendapatkan semuanya sekaligus,
namun kalau akibatnya seperti itu, apa gunanya?
Seebun Jit merenung dengan termangu-mangu sekian
lama. Leng Coa sian sing dan tiga iblis dari keluarga Lung
yang bertarung mati-matian juga tidak memperhatikan gerak
gerik Seebun Jit.
Sebenarnya tidak ada kesulitan bagi tiga iblis untuk
mengalahkan Leng Coa sian sing. Semestinya manusia
pemelihara ular itu sudah bisa dikalahkan sejak tadi. Namun
karena sebelumnya Lung Sen dan Lung Ping pernah terluka di
tangan Seebun Jit, maka gerakan kaki mereka menjadi kurang
gesit. Sedangkan Leng Coa sian sing merasa, dirinyalah yang
seharusnya mendapatkan ketiga ekor naga-nagaan itu.
Dengan menggunakan 'cambuk kumala'-nya sebagai senjata,
dia mengerahkan segenap kemampuannya untuk menghadapi
tiga iblis dari keluarga Lung.
Leng Coa sian sing memijit keras-keras bagian ekor
ularnya. Cambuk Kumala kesakitan, maka menjadi buas
seketika. Asal Leng Coa sian sing menggerakkan tangannya
sedikit saja, ular itu langsung menyeruduk ke depan dengan
kalap. Serangannya merupakan gerakan yang sulit ditirukan
oleh manusia. Lagipula tindakannya kalap seperti tidak
memperdulikan mati hidupnya sendiri. Inilah perbedaan ular
dengan manusia. Manusia, pasti mempunyai berbagai
pertimbangan, sedangkan ular hanya ingin melepaskan dirinya
dari rasa sakit. Hal lain tidak diperdulikan.
Terdengar suara desisan yang semakin lama semakin
keras. Ular itu menyemburkan bisanya kesana kemari. Tiga
iblis dari keluarga Lung tidak berani melawan dengan
kekerasan. Karena itu, meskipun bertiga mereka mengeroyok
satu orang, hasilnya sampai sekian lama tetap seimbang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seebun Jit sendiri sudah merayap sampai keluar mulut
lembah. Di kejauhan terlihat debu beterbangan di angkasa.
Tentu kuda I Giok Hong yang sedang mengejar Tao Heng
Kan. Seebun Jit menarik nafas panjang, setelah itu dia menepi
untuk merawat lukanya.
***
Tao Heng Kan yang berlari secepat kilat meninggalkan Gin
Hua kok, dikejar ketat oleh I Giok Hong di belakangnya.
Beberapa bulan yang lalu, ilmu kepandaian Tao Heng Kan
masih belum terhitung apa-apa, tetapi sejak pertandingan ilmu
melawan Li Po di gedung kediaman Kuan Hong Siau,
tampaknya dia menemukan suatu mukjijat yang membuat
ilmu silatnya maju pesat. Kalau tidak, ketika dia bertarung
melawan I Giok Hong di dalam lembah Gin Hua kok tadi, tidak
mungkin tenaga dalamnya bisa seimbang dengan gadis itu.
Meskipun ilmu silat Tao Heng Kan mengalami kemajuan
pesat, tetapi saat itu dia sedang memanggul Lie Cun Ju.
Ditambah lagi tunggangan I Giok Hong yang merupakan kuda
pilihan. Maka semakin lama jarak ked'ua orang itu pun
semakin mendekat.
Tao Heng Kan menolehkan kepalanya. Tampak cahaya
putih berkilauan. Gerakan I Giok Hong dan kudanya seperti
melesat tanpa memijak tanah. Jarak mereka sekarang tinggal
tiga-empat depa. Dalam hati dia sadar tidak bisa lolos dari
kejaran gadis itu. Karenanya, dia segera menghimpun hawa
murni dalam tubuhnya dan memaksakan kakinya berhenti
berlari. Setelah itu dia berdiri tegak dengan pedang melintang
di depan dada.
"I kouwnio, antara kita tidak ada permusuhan apa pun.
Untuk apa kau mendesakku sedemikian rupa?"
Baru saja ucapannya selesai, I Giok Hong sudah menyusul
tiba. Tangan kirinya menarik tali kendali kuda erat-erat,
kemudian tubuhnya bergerak turun dengan lincah. Dalam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekejap mata dia sudah berdiri di hadapan Tao Heng Kan
sambil tertawa dingin. Tangannya menunjuk kepada Lie Cun
Ju yang ada dalam panggulan pemuda itu.
"Kau berani masuk ke dalam Gin Hua kok secara
sembarangan. Hal itu sudah merupakan kesalahan besar.
Apalagi kau berani menculik orang
lembah itu."
"I kouwnio, aku menculik orang ini bukan atas kemauanku
sendiri. Aku terpaksa melakukannya. Seandainya I kouwnio
bisa melapangkan hati sedikit, aku juga tidak ingin bergebrak
dengan nona. Dengan demikian masing-masing tidak akan
mengalami kerugian apa-apa," kata Tao Heng Kan sambil
menarik napas panjang.
I Giok Hong mendengus dingin.
"Kenapa? Kau kira kalau terjadi perkelahian, aku akan kalah
di tanganmu?"
Bibir Tao Heng Kan bergerak-gerak seakan ingin
mengatakan sesuatu, namun akhirnya dia membatalkan
niatnya. Kakinya menyurut mundur satu iangkah.
"Kalau I kouwnio berkeras ingin berkelahi, silakan
membuka serangan!" ujar Tao Heng Kan kemudian.
I Giok Hong adalah seorang gadis yang sangat cerdas.
Sejak tadi dia sudah melihat ada ucapan yang ingin dikatakan
oleh Tao Heng Kan tetapi dibatalkannya. Meskipun dalam hati
dia merasa benci melihat tindakan Tao Heng Kan yang
seenaknya menculik Lie Cun Ju dari lembah Gin Hua kok,
malah ketiga batang senjata rahasia yang dilontarkannya
hampir saja melukai dirinya, tetapi sejak Tao Heng Kan
bertanding ilmu dengan Li Po di gedung kediaman Kuan Hong
Siau, lalu mem-bunuhnya tanpa sebab musabab yang pasti,
hal ini sudah diketahui seluruh bu Hm, bahkan Tao Heng Kan
dianggap sebagai tokoh yang misterius.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ketika I Giok Hong menolong Lie Cun Ju dan Tao Ling yang
hampir mati di dalam gedung 'Ling Wei piau kiok', dia justru
mengira Lie Cun Ju adalah Tao Heng Kan. Namun akhirnya
ternyata dugaannya salah. Karena itu dia merasa tidak
memerlukan pemuda itu dan melemparkannya ke tepi jalan
begitu saja.
Sekarang ini, di dalam hatinya justru timbul perasaan ingin
tahu tentang diri pemuda tampan yang berdiri di hadapannya
itu. Sebetulnya apa yang membuat Tao Heng Kan tiba-tiba
membunuh LiPo.
"Apa yang ingin kau katakan barusan? Meng-apa akhirnya
kau tidak jadi mengatakannya?" tanya I Giok Hong.
Tao Heng Kan tertegun. Seakan dia menjadi bimbang
karena I Giok Hong berhasil menebak isi hatinya. Tampak dia
menarik nafas panjang.
"I kouwnio, seandainya terjadi perkelahian di antara kita,
mungkin aku tidak dapat mengalahkanmu. Tetapi kalau kau
sampai melukaiku sedikit saja, bisa menimbulkan kemarahan
seorang tokoh besar. Mungkin ayahmu sendiri tidak sanggup
berbuat apa-apa terhadap tokoh yang satu ini."
I Giok Hong mendengar nada suara Tao Heng Kan yang
serius dan wajahnya juga menandakan bukan orang yang
sedang bergurau. Tetapi dia tidak percaya di dunia bu lim ada
tokoh yang ayahnya sendiri tidak berani mencari gara-gara
dengannya. Tapi di samping itu dia juga tahu Tao Heng Kan
tidak berdusta. Kemarahan dalam hatinya agak reda seketika,
bibirnya tertawa sumbang.
"Kalau begitu, kau tidak ingin berkelahi de-nganku, justru
karena kebaikanku sendiri?"
Wajah Tao Heng Kan menjadi merah padam. Dia merasa
malu sekali.
"Memang demikianlah maksudku," ujar Tao Heng Kan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Boleh saja aku tidak berkelahi denganmu, asal kau
kembalikan orang yang kau panggul itu. Aku pun akan
menyudahi urusan ini," kata I Giok Hong.
Kata-kata dan tingkah laku I Giok Hong kali ini sudah
terhitung sungkan sekali. Karena Gin leng hiat dang I Ki Hu
tidak pernah memandang sebelah mata terhadap siapa pun,
sebagai putrinya jelas I Giok Hong mempunyai sifat yang
sama. Apabila dia bersedia melepaskan Tao Heng Kan begitu
saja, bagi orang yang mengenalnya benar-benar merupakan
suatu kejadian yang langka. Bahkan I Giok Hong sendiri tidak
mengerti mengapa dia demikian menaruh simpatik terhadap
pemuda tam¬pan yang ada di hadapannya ini.
Di dalam hati Tao Heng Kan juga dapat merasakan sikap
istimewa I Giok Hong terhadap dirinya. Tetapi dia benar-benar
mempunyai kesulitan tersendiri yang membuatnya tidak dapat
menyerahkan Lie Cun Ju.
Tao Heng Kan menyelinap ke dalam lembah Gin Hua kok
untuk menculik Lie Cun Ju sebetulnya mendapatkan waktu
yang tepat. Karena pada saat itu Seebun Jit sudah terluka
parah, I Ki Hu pun sedang bepergian. Tetapi semua ini
dilakukannya bukan karena dia sudah mengintai datangnya
kesempatan. Kalaupun saat itu Seebun Jit belum terluka dan I
Ki Hu ada di dalam lembah Gin Hua kok, tetap dia harus
menculik Lie Cun Ju.
Karena itu, mendengar permintaan I Giok Hong, dia
terpaksa tertawa getir serta meng-gelengkan kepalanya.
"I kouwnio, aku tahu sikapmu yang rela melepaskan aku
pergi begitu saja merupakan hal yang sulit ditemui. Tapi . . .
aku masih mempunyai satu permohonan, entah I kouwnio
bersedia me-ngabulkannya atau tidak?"
Sembari berkata, sepasang mata Tao Heng Kan yang
menyiratkan penderitaan menatap I Giok Hong lekat-lekat.
Gadis itu sendiri merasa bahwa selama ini hatinya belum
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pernah mempunyai perasaan yang demikian ganjil. Tanpa
terasa wajahnya menjadi merah. Diam-diam dia berpikir dalam
hati.
"Aneh sekali! Rasanya aku ingin mendengarkan
perkataannya. Mengapa bisa mempunyai perasaan seperti ini?
Apa sebabnya?"
Di dalam hatinya berpikir, tetapi mulutnya sudah langsung
menjawab.
"Ada urusan apa? Silakan utarakan saja!"
Wajah Tao Heng Kan langsung berseri-seri. Padahal
sebelumnya wajahnya yang tampan selalu murung. Tetapi
begitu terlihat cerah, malah penampilannya semakin gagah.
Sungguh tidak mudah menemukan pemuda yang demikian
tampan dan enak dipandang. Tanpa dapat ditahan lagi, hati I
Giok Hong bergetar.
"Seandainya I kouwnio bisa mengijinkan aku membuka Lie
kongcu ini, seumur hidup aku tidak akan melupakan budi
kebaikan nona," ujar Tao Heng Kan.
Mendengar ucapannya, I Giok Hong menjadi tertegun. Aku
membawa Tao Ling mengikuti tia menuju Si Cuan yang jauh.
Tahu-tahu di tengah perjalanan, tia menghentikan kereta kuda
dan ber-pesan wanti-wanti agar aku kembali ke Gin Hua kok
dan membawa Lie Cun Ju menuju rumah kediaman keluarga
Sang di Si Cuan. Tia me-ngatakan kami akan bertemu di sana.
Bahkan ketika menyampaikan perintah itu, sikap tia serius
sekali. Sedemikian seriusnya sampai aku belum pernah
melihatnya. Ini berarti perintahnya itu harus dilaksanakan
dengan sebaik-baiknya. Sean¬dainya aku menemuinya
dengan tangan kosong, kemungkinan aku akan mendapatkan
hukuman berat, pikirnya dalam hati.
Seandainya permintaan Tao Heng Kan saat ini merupakan
hal yang lainnya, mungkin I Giok Hong bisa mengabulkannya
mengingat pemuda itu sudah menarik simpatinya. Tetapi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
justru hal inilah satu-satunya permintaan yang tidak dapat
dikahulkan.
Dia termenung beberapa saat. Teringat kembali katakatanya
sendiri yang demikian tegas tadi, dia jadi tidak enak
hati. Bibirnya memaksakan seulas senyuman.
"Tao kongcu, urusan ini aku sendiri tidak bisa mengambil
keputusannya."
Rona berseri-seri di wajah Tao Heng Kan sirna seketika.
"Apakah ayahmu menyuruhmu kembali ke Gin Hua kok
untuk mengambil orang ini?"
I Giok Hong menganggukkan kepalanya, "Dugaanmu
memang benar."
Wajah Tao Heng Kan berubah hebat. Kakinya menyurut
mundur beberapa langkah.
"I kouwnio, ini ... ini . . ." Sampai cukup lama dia tergagap
tanpa dapat meneruskan kata-katanya.
I Giok Hong merenung sejenak.
"Tao kongcu, apakah keadaanmu sama denganku? Yakni
menculik orang ini bukan atas kemauan sendiri, melainkan
atas desakan orang lain? Dan apabila kau tidak sampai
membawa orang ini, kau akan tertimpa musibah besar?"
Wajah Tao Heng Kan pucat pasi. Dia tidak mengucapkan
sepatah kata pun. Karena itu I Giok Hong justru semakin yakin
bahwa dugaannya tidak salah.
"Kalau begitu, aku tidak usah menanyakan siapa orang itu.
Aku sudah dapat membayangkan bahwa orang itu berilmu
tinggi sekali. Biarpun kita bergabung menghadapinya, kita
tidak sanggup mengalahkanriya . . ."
Berbicara sampai di situ, wajahnya yang cantik kembali
merah padam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku justru mempunyai sebuah jalan yang mungkin bisa
menguntungkan kita bersama. Sekarang ini ayah dan adikmu
sedang menunggu di Si Cuan. Bagaimana kalau kita bersamasama
menuju tempat itu dulu, setelah bertemu dengan tia dan
adikmu, baru kita tentukan kembali langkah berikutnya."
Tao Heng Kan terkejut setengah mati mende-ngar
keterangan I Giok Hong.
"Adikku bersama-sama dengan ayahmu sekarang?"
I Giok Hong menganggukkan kepalanya. Baru saja gadis itu
ingin menjawab pertanyaan Tao Heng Kan, tiba-tiba di
belakangnya terdengar sebuah suara.
Suara itu persis seperti langit akan runtuh atau bumi
membelah dalam waktu seketika. Baik Tao Heng Kan maupun
I Giok Hong sama-sama terkejut. Serentak mereka
menolehkan kepalanya. Tampak dari lembah Gin Hua kok
yang terlihat dari kejauhan ada empat orang yang berlari-lari
kalang kabut. Gerakan tubuh keempat orang itu cepat sekali.
Meskipun jaraknya sangat jauh, dapat dipastikan bahwa
mereka adalah Leng Coa sian sing dan tiga iblis dari keluarga
Lung.
Lari mereka bukan seperti tiga orang yang bersaudara itu
mengejar seorang lawan, atau yang satu mengejar yang tiga.
Bahkan tampaknya keem¬pat orang itu seperti melarikan diri
secara serabutan seakan ingin menyelamatkan jiwa masingmasing.
Dua di antaranya, yakni Lung Sen dan Lung Ping
malah tampak bergulingan karena terjatuh-jatuh. Mereka lari
kalang kabut, tam¬paknya seperti lupa bagaimana
mengerahkan ilmu ginkang yang mereka kuasai.
I Giok Hong yang melihatnya sampai terheran-heran. Gadis
itu berpikir dalam hati.
"Keempat orang itu, tokoh-tokoh kelas satu di dunia bu lim.
Mengapa tiba-tiba berlari-Iari seperti orang yang ketakutan?
Mungkinkah tia sudah kembali ke Gin Hua kok?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Baru saja I Giok Hong ingin menghambur ke depan untuk
melihat apa yang sedang terjadi, tiba-tiba terdengar suara
ledakan yang menggelegar. Sumbernya dari lembah Gin Hua
kok. Gadis itu segera menolehkan kepalanya ke arah sumber
suara. Tampak batu-batu dinding di mulut lembah terpental
dan berhamburan sehingga menimbulkan debu-debu yang
tebal. Bahkan batu-batu itu melambung tinggi sampai kurang
lebih tiga depa. Rasa terkejut I Giok Hong tak terkirakan lagi.
Sejak kecil dia dibesarkan dalam lembah Gin Hua kok. Bahkan
dinding batu yang berhamburan itu merupakan tempat
bermainnya ketika masih anak-anak. Dia mengenal sekali
kekokohan dinding batu itu. Tetapi siapa orangnya yang
mempunyai kekuatan demikian besar, yang mampu
menghantam batu itu sehingga pecan berhamburan?
Karena terkejutnya, langkah kaki I Giok Hong terhenti.
Gadis itu tidak melangkah maju lagi. Tampak Leng Coa sian
sing dan tiga iblis dari keluarga Lung bergerak semakin cepat
ke arahnya. Gerakan keempat orang ini benar-benar
menggunakan kecepatan yang semaksimal mungkin. Suara
ledakan di belakang semakin bergemuruh sehingga gendang
telinga terasa ngilu. Wajah keem¬pat orang itu tampak
semakin pucat pasi. Dan saat itu sudah semakin mendekat ke
arah I Giok Hong dan Tao Heng Kan. Wajah mereka penuh
dengan debu, keringat membasahi seluruh tubuh, dan sikap
mereka tampak benar-benar panik. Ketika sampai di depan I
Giok Hong dan Tao Heng Kan, mereka sempat berhenti
sejenak untuk menolehkan kepala melihat keadaan lembah
Gin Hua kok. Kemudian mereka sama-sama mengluarkan
suara pekikan histeris lalu meneruskan langkah kaki mereka
untuk berlari ke depan.
Hati I Giok Hong dilanda rasa penasaran yang tidak
terkirakan. Tanpa menunggu sampai jarak mereka terlalu
jauh, dia langsung menghentakkan sepasang kakinya dan
melesat melewati keempat orang itu. Dalam sekejap mata dia
berhasil melewati atas kepala keempat orang itu dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menghadang di depan mereka. Pecut di tangannya segera
diayunkan ke depan agar mereka tidak berani menerjang terus
ke depan.
"Apa yang terjadi di dalam lembah?" ben-taknya segera.
Keempat orang itu tidak memberikan jawaban. Gerakan
tubuh mereka terhenti.
"Minggir!" bentak Lung Goan Po.
Lung Sen dan Lung Ping segera bergerak ke samping dan
terus berlari ke depan. Sedangkan Leng Coa sian sing lebih
licik. Dari tadi dia sudah melihat tubuh I Giok Hong yang
bergerak ingin menghadang mereka. Baru saja I Giok Hong
melayang turun, dia sudah membalikkan tubuhnya dan berlari
meninggalkan tempat itu dengan mengambil jalan memutar.
I Giok Hong sadar, bahwa menghadang keem¬pat orang
dengan seorang diri itu bukan suatu hal yang mudah.
Ternyata ketiga orang lainnya melarikan diri tanpa
memperdulikan apa pun. Seandainya menghadapi Lung Goan
Po seorang diri, I Giok Hong tentu tidak merasa khawatir.
I Giok Hong langsung mengeluarkan suara ter-tawa yang
nyaring. Pecut di tangannya diayunkan untuk mengirimkan
sebuah totokan ke bagian dada Lung Goan Po.
"Ketiga orang yang lainnya sudah melarikan diri, kau kira
kau dapat lolos begitu saja?" bentak I Giok Hong.
Melihat pecut di tangan I Giok Hong melayang ke arahnya,
Lung Goan Po segera membungkukkan tubuhnya dan
berguling di atas tanah. Meskipun tubuh Lung berbentuk
pendek gemuk, kecepatan gerakannya tidak sembarangan
bisa diikuti orang lain. Setelah bergulingan tiga kali, tahu-tahu
tubuhnya sudah berada pada jarak sejauh lima depaan.
Pakaian I Giok Hong tampak mengibar-ngibar. Tampaknya
dia tidak sudi melepaskan orang itu begitu saja. Pecut di
tangannya kembali diayunkan. Terdengar suara Tar! Tar! Tar!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tar! sebanyak empat kali. Semuanya mengarah ke tubuh Lung
Goan Po.
Keempat pecut itu bukan main cepatnya, orang lain yang
menyaksikan pasti hanya sempat melihat lintasan cahaya
perak. Keempat serangannya mengenai tubuh Lung Goan Po.
I Giok Hong khawatir tenaganya terlalu kuat sehingga orang
itu tidak kuat menahannya. Apabila orang itu sampai mati,
berarti gagal keinginan I Giok Hong untuk mengajukan
pertanyaan. Karena itu dia segera menyurutkan tenaganya.
Tetapi tidak disangka-sangka, kesempatan itu digunakan oleh
Lung Goan Po. Iblis itu mengeluarkan suara raungan dan
menerjang ke arah I Giok Hong sambil mencengkeram.
Rangkuman angin yang kencang menerpa ke arah gadis itu.
I Giok Hong langsung tertegun. Ketika gadis itu
memperhatikan keadaan Lung Goan Po. Dia heran melihat
pakaian orang itu terkoyak di sana-sini kena lecutan pecut,
tetapi kulitnya hanya meninggalkan jalur nierah darah
sebanyak em pat tempat. Dia tidak terluka parah hanya kulit
tubuhnya yang lecet sedikit.
Saat itu I Giok Hong haru menyadari bahwa nama besar
tiga iblis dari keluarga Lung ternyata bukan nama kosong.
Mereka masing-masing memiliki ilmu yang tinggi, bahkan
menguasai sejenis ilmu yang dapat melindungi luar tuhuh.
Mereka benar-benar bukan tokoh sembarangan.
Sikap I Giok Hong tinggi had, seperti ayahnya sendiri.
Tanpa sadar dia berseru memuji.
"Ilmu kebal yang mengagumkan," ucap I Giok Hong.
Tanpa menunggu terjangan Lung Goan Po sam¬pai,
tubuhnya segera menggeser ke samping, pecut-nya
disentakkan ke depan. Terlihat tali pecut itu melayang,
kemudian membentuk lingkaran serta mengincar telapak
tangan Lung Goan Po yang sedang mencengkeram ke
arahnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pecut perak diayunkan dengan menggunakan jurus yang
lihai sekali. Ketika I Giok Hong dilarikan, I Ki Hu memberontak
terhadap pihak mokau dan membunuh ketua serta beberapa
pen-tolannya yang berilmu tinggi. Setelah itu I Giok Hong
dibawa serta menetap di lembah Gin Hua kok. Kemudian
mereka jarang muncul di dunia kang ouw, karena I Giok Hong
masih terlalu kecil. Sedangkan ilmu pecut ini diciptakan oleh I
Ki Hu dengan menghabiskan waktu selama belasan tahun.
Dalam setiap jurusnya pecut itu dapat membentuk tiga buah
lingkaran. Ketika menghadapi Tao Heng Kan di Gin Hua kok, I
Giok Hong justru menggunakan ilmu pecutnya yang hebat
sehingga tubuh pemuda itu terlilit.
Ketika I Giok Hong mengayunkan pecutnya sehingga
melingkar, tampaknya sekejap lagi tangan Lung Goan Po pasti
akan terlilit. Tetapi justru sampai pada waktunya, laki-laki
bertubuh gemuk pendek itu mencelat ke udara dan tiba-tiba
mengirimkan dua buah tendangan. Tangannya yang tadinya
bergerak mencengkeram malah ditarik kembali. Sedangkan
tubuhnya terlentang ke belakang seperti dalam posisi tertidur
di tengah udara.
Manusia bukan burung, tentu saja tidak bisa tidur di
awang-awang. Lung Goan Po melakukan gerakan itu juga
hanya sekejapan saja. Tetapi kakinya yang tiba-tiba
mengirimkan tendangan justru menggunakan jurus yang
hebat sekali. Sasarannya jantung I Giok Hong.
Pecut I Giok Hong luput dari sasarannya. Melihat Lung
Goan Po menggunakan jurus serangan yang aneh, I Giok
Hong menjadi semakin bersemangat. Dia tertawa merdu
sambil menghen-tukkan sepasang kakinya. Tubuhnya
mencelat ke atas kurang lebih satu depa setengah.
Pakaiannya yang putih berkibar-kibar. Bukan main indahnya.
Dengan melayang di udara, gadis itu menghentakkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pecutnya sehingga membentuk sebuah lingkaran dan
ditujukan ke hagian leher Lung Goan Po.
Kali ini, tubuh Lung Goan Po sedang mencelat di tengah
udara. Sudah pasti dia tidak bisa menghindar lagi. Apalagi
gerakan pecut I Giok Hong cepatnya bagai kilat. Tiba-tiba
terdengar suara jeritan dari mulut Lung Goan Po. Sepasang
tangannya melindungi lehernya dengan panik. Tetapi tetap
saja terlambat. Lehernya sudah terjerat oleh pecut I Giok
Hong.
Setelah serangannya berhasil, I Giok Hong tetap tidak
membiarkan lawannya begitu saja. Dia mengerahkan tenaga
dalamnya. Lung Goan Po hampir putus nafasnya. Begitu
disentakkan oleh I Giok Hong, tubuh iblis itu langsung
melayang di udara dan terlempar sejauh enam-tujuh depa. Dia
kelabakan setengah mati. Terdengar suara buk! Tubuhnya
pun terhempas di atas tanah.
Pecut di tangan I Giok Hong laksana seekor uiar yang
hidup. Lilitannya di leher Lung Goan Po begitu erat. Baru saja
tubuh iblis itu menghempas di atas tanah, I Giok Hong sudah
menghentakkan pecutnya kembali sehingga sekali lagi tubuh
lawan¬nya melayang di udara. Lalu dibanting lagi ke atas
tanah. Demikianlah dia melakukannya sebanyak tujuh-delapan
kali berturut-turut. Meskipun Lung Goan Po pernah
mempelajari ilmu kebal, sehingga dia dapat melindungi bagian
luar tubuhnya agar tidak terluka parah. Tetapi berulang kali
diangkat kemudian dibanting oleh I Giok Hong, mesti saja dia
merasa isi perutnya seperti diaduk-aduk. Apalagi leher
merupakan anggota tubuh yang pen-ting. Nafasnya pun
menjadi sesak serta matanya berkunang-kunang. Hampir saja
dia tidak dapat mempertahankan kesadarannya.
Setelah sembilan kali berturut-turut I Giok Hong
mempermainkan Lung Goan Po, ia baru menghentikan
gerakan pecutnya. Terdengar nafas Lung Goan Po tersengalsengal.
I Giok Hong me-ngendurkan genggaman tangannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Apa yang terjadi di dalam lembah? Cepat katakan!" bentak
I Giok Hong.
Dada Lung Goan Po bergerak naik turun. Tubuhnya terkulai
di atas tanah. Matanya mendelik ke atas, mana mungkin dia
mempunyai tenaga untuk menjawab pertanyaan I Giok Hong.
I Giok Hong tertawa terkekeh-kekeh. Dia melihat Tao Heng
Kan masih berdiri dengan termangu-mangu sambil
memondong Lie Cun Ju.
"Dasar goblok! Mengapa kau tidak mengguna-kan
kesempatan di saat aku bergebrak dengannya untuk melarikan
diri?" kata I Giok Hong.
Wajah Tao Heng Kan merah padam. Dia menolehkan
kepalanya dan menatap ke arah lem¬bah Gin Hua kok.
I Giok Hong melihat wajah Tao Heng Kan yang tampak
menyiratkan ketegangan dan ketakutan. Matanya menatap ke
arah Gin Hua kok lekat-Iekat. I Giok Hong merasa heran, dia
segera mengikuti pandangan mata pemuda itu. Setelah
melihat de¬ngan tegas, dia pun terkejut setengah mati.
Ternyata getaran yang terjadi di dinding sekitar Gin Hua kok
semakin menjadi-jadi. Bahkan suaranya pun makin
menggelegar seakan terjadi gempa bumi yang dahsyat.
I Giok Hong tertegun sesaat.
"Siapa yang menghantam tembok sekitar Gin Hua kok?"
tanyanya panik.
I Giok Hong mengayunkan pecutnya sambil berlari ke arah
Gin Hua kok. Tetapi dia baru berlari beberapa langkah, tibatiba
sesosok bayangan berkelebat. Orang itu menghadang di
depannya. Setelah diperhatikan baik-baik, ternyata Tao Heng
Kan.
Tampak wajahnya menyiratkan kepanikan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"I kouwnio, cepatlah naik ke atas kuda dan tinggalkan
tempat ini. Kalau lebih lama sedikit, pasti akan terlambat!"
Mendengar kata-kata Tao Heng Kan yang serius dan
menyiratkan ketulusan, I Giok Hong tahu apa yang dikatakan
pemuda itu untuk kebaikan dirinya sendiri. Hatinya langsung
tergerak. Tapi dia tidak ingin pergi begitu saja.
"Tao Kong Cu, kau tidak perlu mencampuri urusanku!" kata
gadis itu.
Lengan bajunya berkibar, dia melesat melewati samping
Tao Heng Kan dan berlari menuju lembah Gin Hua kok. Tetapi
ketika jaraknya dengan mulut lembah masih sepuluh depaan,
tiba-tiba terdengar lagi suara gemuruh tadi. Ketika dia
memperhatikan, ternyata sebagian lagi tembok yang mengelilingi
lembah itu runtuh berserakan.
Di balik kepulan debu yang beterbangan di udara dan
sekitarnya, terlihat sesosok bayangan tinggi kurus melesat
dengan kecepatan yang sulit diuraikan dengan kata-kata dan
menerjang ke arah I Giok Hong.
Melihat tembok yang mengelilingi lembah tern-pat tinggal
rubuh tidak karuan, sukma I Giok Hong seakan melayang.
Sesaat dia jadi termangu-mangu. Dia hampir tidak percaya
dengan pandangannya sendiri. Di dunia ini mana mungkin ada
orang yang bisa berlari secepat itu?
Gerakannya bahkan seperti terbang. Orang itu menerjang
ke arahnya.
"Jangan dilawan!" teriak orang itu.
I Giok Hong dalam keadaan panik. Dia tidak mendengarkan
teriakan orang itu. Ketika I Giok Hong mengayunkan pecutnya
ke depan, kelihatannya pecut di tangannya telak mengenai
orang itu. Tetapi kenyataannya justru tubuh orang itu melesat
melewatinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
I Giok Hong tertegun. Apakah orang itu hanya sesosok
bayangan? Mengapa pecut yang sudah telak mengenai
tubuhnya bisa meleset? pikirnya dalam hati.
Tetapi bagaimana pun I Giok Hong adalah putri seorang
tokoh sesat yang berilmu tinggi sekali. Setelah merenungkan
sejenak, dia pun tahu sebab musababnya. Ternyata gerakan
orang tadilah yang terlalu cepat. Begitu sampai di depannya
langsung melesat melewatinya.
Tepat pada detik itu, I Giok Hong menganggap orang itu
masih di depan matanya. Tetapi nyatanya hanya bayangan
yang masih tertinggal saking cepatnya tubuh orang itu
berkelebat. Karena itu pula pecutnya hanya mengenai tempat
yang kosong. Bahkan orang itu pun sudah tidak kelihatan lagi.
Entah kemana perginya.
Meskipun I Giok Hong sangat cerdas dan dalam sekejap
sudah tahu sebab musababnya, tetap saja sudah terlambat.
Dia merasa pundaknya mengencang. Cepat-cepat dia
menolehkan kepalanya. Ter¬nyata bahunya dicengkeram oleh
sebuah tangan yang kurus dan panjang. Bahkan tidak mirip
ta¬ngan manusia. Dia pun hanya dapat melihat tangan orang
itu tanpa dapat melihat bagian lainnya.
Begitu terasa ada lima jari yang mencengkeram pundaknya,
I Giok Hong segera mengedarkan hawa murninya untuk
mengadakan perlawanan. Tetapi rasa sakitnya semakin
menjadi-jadi, tanpa dapat ditahan lagi wajahnya pucat pasi
dan keringat di-ngin bercucuran.
"Suhu, aku . . . sudah berhasil . . . ma . . . ri kita . . .
tinggal. . . kan . . . tempat ini!" Terdengar teriakan Tao Heng
Kan dengan gugup.
Pikiran I Giok Hong tergerak. Diam-diam dia berkata dalam
hati.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Rupanya orang itu suhunya Tao Heng Kan. Tetapi entah
siapa? Mengapa dia sanggup meringkus dirinya dengan
demikian mudah?"
I Giok Hong berusaha memberontak. Tetapi bukan saja dia
tidak sanggup melepaskan diri, bahkan tulang di pundaknya
terasa seperti remuk saking sakitnya. Juga seperti meminta
lawannya agar memperkeras cengkeramannya. Karena itu dia
tidak berani sembarangan bergerak lagi.
Terdengar suara orang itu yang dingin dan menyeramkan.
"Di dalam lembah Gin Hua kok ada tiga batang benda
pusaka. Dari mana asalnya?"
Nada suara Tao Heng Kan sendiri terdengar gemetar.
"A ... ku ti. . . dak tahu." Dari nada suaranya saja sudah
dapat dipastikan bahwa dia belum pernah berbohong
sebelumnya.
Orang itu mengeluarkan suara terkekeh-kekeh yang
menggidikkan hati.
"Kemari dan tikam dia sampai mati!"
Mendengar kata-katanya, tanpa dapat ditahan lagi tubuh I
Giok Hong bergetar. Dari pembicaraan yang berlangsung
antara Tao Heng Kan dan orang itu, dapat dipastikan bahwa
pemuda itu jeri sekali terhadap gurunya. Sekarang orang itu
justru menyuruhnya menikam I Giok Hong, kemungkinan dia
akan menuruti perkataan gurunya itu.
Sungguh tidak disangka dirinya yang demikian cantik dan
berilmu tinggi terpaksa harus menerima kematian di luar
lembah Gin Hua kok yang merupakan tempat tinggalnya
sendiri.
Setelah menunggu beberapa saat, belum juga terdengar
Tao Heng Kan menuruti perkataan gurunya itu. Juga tidak
terlihat bayangan pedang yang berkelebat menikam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
jantungnya. Sesaat kemudian, baru terdengar lagi suara Tao
Heng Kan yang gemetar.
"Su . . . hu, a . . . ku ti . . . dak sang . . . gup." Diam-diam
hati I Giok Hong merasa girang. Perasaannya menjadi agak
lega. Walaupun dia mengerti, Tao Heng Kan mengatakan tidak
sanggup membunuhnya, mungkin gurunya akan
memaksakannya kembali. Atau kalau dia tetap menolak,
gurunya pasti akan turun tangan sendiri. Meskipun akibatnya
sama-sama mati, asal bukan Tao Heng Kan yang turun tangan
melakukannya. Karena itu, hatinya merasa terhibur
mendengar kata-kata pemuda itu. Pada dasarnya antara dia
dengan Tao Heng Kan tadinya berhadapan sebagai musuh.
Tetapi di saat yang demikian genting, ter-nyata Tao Heng Kan
menyatakan tidak sampai hati membunuhnya. Apa maksud
hati pemuda itu? Ten-tunya sudah dapat diduga. Justru
karena ini pula I Giok Hong merasa terhibur.
Terdengar suara yang menyeramkan itu ber-tanya.
"Mengapa kau tidak sanggup melakukannya?" "A ... ku sen
. . . diri ... ti ... dak tahu a... pa sebabnya," jawab Tao Heng
Kan.
Orang itu mendengus dingin.
"Jadi semua yang kukatakan sudah kau lupakan?"
Suaranya begitu kaku tanpa kelembutan sedikit pun dan
bagi orang yang mendengarnya pasti merasa menggidik dan
menusuk gendang telinga. I Giok Hong berada di sampingnya,
hatinya merasa tidak enak mendengar suara itu.
"Murid tidak berani melupakan perkataan yang pernah
Suhu katakan."
"Kalau kau tidak melupakannya, mengapa kau belum turun
tangan juga?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tao Heng Kan menarik nafas panjang. I Giok Hong merasa
bagian bawah ketiaknya agak dingin. Dia segera
menundukkan kepalanya. Tampak sebatang pedang telah
menekan jalan darah di bagian bawah ketiaknya. Ternyata
rasa dingin itu terasa karena pedang itu telah mengoyak
pakaian-nya dan ujung pedang telah menyentuh kulit
tubuhnya. I Giok Hong menolehkan kepalanya kembali, tepat
pada saat itu Tao Heng Kan juga sedang menatap kepadanya.
Tampak wajah pemuda itu menyiratkan penderitaan yang
tidak terkatakan. Pandangan matanya seperti kosong dan
terpaku ke depan. Ketika dia melihat sinar mata I Giok Hong,
tanpa dapat mempertahankan diri lagi tubuhnya bergetar.
Kakinya menyurut mundur satu langkah.
Kelima jari tangannya mengendur. Pedang yang tadinya
menekan di bawah ketiak I Giok Hong segera
memperdengarkan suara Trang! dan terlepas jatuh di atas
tanah.
Terdengar orang tadi meraung marah. Tiba-tiba tangannya
melepas kemudian secepat kilat menotok jalan darah pada
pundak I Giok Hong. Setelah itu terdengar suara plak! Plak!
sebanyak dua kali. Tidak usah diragukan lagi tentu Tao Heng
Kan kena ditempeleng oleh gurunya. Kemudian terdengar lagi
dia membentak dengan suara marah.
"Coba ulangi kembali apa yang pernah kuajarkan!"
Tao Heng Kan terdiam sejenak.
"Di bawah pedang ada perasaan, apa pun tidak dapat
berhasil, apabila pedang tanpa perasaan, persoalan apa pun
dapat diselesaikan," kata Tao Heng Kan.
"Kalau kau sudah tahu bahwa pedang yang tanpa perasaan
baru bisa menyelesaikan semua persoalan, mengapa kau
masih tidak menikamnya? Apakah kau akan membiarkan
pedangmu berperasaan?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Su . . . hu, a ... ku ... a ... ku," kata Tao Heng Kan dengan
suara parau.
Tidak menunggu Tao Heng Kan menye¬lesaikan katakatanya,
terdengar orang itu men¬dengus marah.
"Cepat ambil pedang itu, jangan ucapkan kata-kata yang
tidak ada gunanya!"
Pada saat itu jalan darah I Giok Hong sudah tertotok. Jelas
tubuhnya tidak dapat bergerak. Karena itu dia hanya dapat
mendengar pem-bicaraan antara Tao Heng Kan dengan
gurunya, tetapi tidak dapat melihat gerak-gerik mereka. Dia
tidak tahu apakah Tao Heng Kan menuruti perkataan gurunya
mengambil pedang itu. Hatinya terasa berdebar-debar,
perasaannya kacau balau. Dia juga merasa bingung karena
tidak mengerti makna pembicaraan kedua orang itu.
Justru di saat dia tidak mengerti apa yang akan dialaminya,
tiba-tiba dari belakang punggungnya terdengar suara angin
berdesir seperti senjata tajam yang digerakkan di udara.
Ketika mulai terdengar, suara itu seperti bergerak cepat sekali.
Namun sesaat kemudian melemah dan dalam waktu yang
bersamaan terdengar suara Tao Heng Kan yang mirip keluhan.
"Suhu, aku benar-benar tidak sanggup," ucap Tao Heng
Kan.
"Kau pasti sanggup, bahkan kau tidak akan menikamnya
dari belakang. Putarlah ke depannya dan tikam tepat di
jantungnya. Inilah yang dinamakan pedang tanpa perasaan."
Baru saja perkataan orang itu selesai, I Giok Hong melihat
Tao Heng Kan sudah berjalan dengan terhuyung-huyung ke
depannya. Pemuda itu tidak memanggul Lie Cun Ju lagi. Entah
kapan dia meletakkan pemuda itu. Tangan kanannya
menggenggam sebatang pedang, tetapi pergelangan
tangannya justru tampak gemetar terus. Kalau dilihat dari
langkah kakinya yang limbung, tam-paknya pemuda itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berjalan ke depannya bukan atas kehendak dirinya sendiri.
Tetapi didorong oleh gurunya.
Pada saat ini perasaan I Giok Hong bukan main tegangnya.
Dia dapat mendengar bahwa orang itu tidak akan turun
tangan sendiri, melainkan dia mengharuskan Tao Heng Kan
yang melakukannya. Untuk mengokohkan prinsipnya yang
entah 'Pedang tanpa perasaan semuanya dapat diselesaikan'
apa tadi. Dengan kata lain, mati hidupnya tergantung pemuda
itu sendiri.
Karena itu sepasang mata I Giok Hong yang indah
menyorotkan sinar yang mengandung penderitaan menatap
Tao Heng Kan lekat-Iekat. Tetapi ketika Tao Heng Kan
berjalan ke arahnya, kepala pemuda itu sudah menunduk
dalam-dalam. Dia tidak berani memandang sinar mata I Giok
Hong.
"Kau masih belum turun tangan juga?" tanya guru itu lagi.
Tiba-tiba Tao Heng Kan mendongakkan kepalanya.
Penderitaan yang tersirat di wajahnya sudah mencapai titik
puncaknya. Tetapi sekejap kemudian tampak tersirat
keriangan di wajahnya, Meskipun kejadiannya hanya sekejap
mata, tetapi I Giok Hong yang sejak tadi menatapnya sempat
memperhatikan perubahan wajahnya itu.
Belum sempat I Giok Hong mengerti apa arti perubahan
wajahnya tadi, tiba-tiba pergelangan tangan Tao Heng Kan
bergerak. Sinar tajam berkilauan, ternyata pedang di tangan
Tao Heng Kan sudah menusuk ke dalam jantungnya.
I Giok Hong bukan gadis sembarangan. Ilmu silatnya tinggi
sekali. Ketika meiihat gerakan pedang Tao Heng Kan, dia
segera sadar bahwa pemuda itu sudah mengambil keputusan
yang bulat. Dia tidak mungkin menghunjamkan pedangnya
setengah jalan atau tidak sampai hati lagi seperti sebelumnya.
Dalam waktu yang demikian singkat, I Giok Hong teringat
perasaan hatinya yang berbunga-bunga ketika mendengar Tao
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Heng Kan mengata-kan tidak sampai hati membunuhnya. saat
itu baru menyadari betapa bodohnya dia.
Tao Heng Kan meluncurkan pedang demikian cepat. Belum
lagi pikiran I Giok Hong habis, dadanya sudah terasa nyeri.
Ternyata pedang itu sudah menghunjam ke dalam. Mata I
Giok Hong habis, dadanya sudah terasa nyeri. Ternyata
pedang itu sudah menghunjam ke dalam. Mata I Giok Hong
menjadi gelap seketika. Dia merasa tubuhnya seperti selembar
kertas yang melayang tertiup angin. Telinganya masih sempat
mendengar orang itu tertawa dengan terkekeh kemudian
berkata, "Mari kita pergi!"
I Giok Hong mendengar desir angin yang semakin lama
semakin menjauh. Lalu tidak terde-ngar lagi, karena orangnya
sendiri sudah terkulai pingsan di atas tanah.
***
Entah berapa lama sudah berlalu. Lambat laun
kesadarannya tergugah kembali. Ketika dia mem-buka
matanya, tampak matahari sudah di ufuk barat. Hari sudah
menjelang senja. Sebentar lagi malam akan merayap. I Giok
Hong membiarkan matanya terpejam beberapa saat.
I Giok Hong membuka matanya kembali dan menatap ke
sekelilingnya. Tampak bebatuan dan rerumputan di sekitarnya
penuh dengan percikan darahnya. Tapi yang paling banyak
nodanya justru pakaiannya yang putih. Bahkan hampir
seiuruhnya terpercik darahnya sendiri.
Mendapatkan dirinya masih belum mati, I Giok Hong justru
merasa keheranan. la ingin memak-sakan dirinya untuk
bangkit dan duduk. Tetapi baru saja bergerak sedikit,
telinganya sudah mendengar seseorang berkata, "Sio cia,
jangan bergerak!"
I Giok Hong sudah lama tinggal bersama-sama dengan
Seebun Jit di dalam lembah Gin Hua kok, tetapi selania itu dia
belum pernah menemui sikap seperti sekarang ini. Tampak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pinggangnya agak menekuk dan berdiri di samping I Giok
Hong. Seandainya tidak ada golok yang dijadikan penyanggah,
mungkin orang tua itu sudah terkulai jatuh sejak tadi.
I Giok Hong ingin menggerakkan mulutnya untuk berbicara,
tetapi dia tidak mempunyai tenaga sedikit pun.
"Siocia, antara aku dan ayahmu terdapat permusuhan yang
dalam. Dan sampai sekarang masih belum terselesaikan.
Sekarang aku sedang menderita luka parah. Tetapi tampaknya
luka yang kau derita justru lebih parah lagi. Seandainya
pedang Tao Heng Kan tadi menusuk lebih dalam satu dua cun
saja, tidak usah diragukan siocia sekarang pasti sudah
terkapar menjadi mayat. Tetapi aku berniat menolongmu agar
bisa hidup terus, asal kau bersedia mengabulkan
permintaanku."
Selesai mengucapkan kata-kata itu, suasana jadi hening
esaat. I Giok Hong menatap ke atas langit. Tampak beberapa
ekor elang sedang beter-bangan mengelilingi tempat itu. Tibatiba
saja timbul rasa takut dalam hatinya. la takut menerima
kenyataan dirinya akan mati. Lagi pula dia tidak rela dirinya
yang masih demikian muda mati begitu saja. Dia
mengerahkan segenap kemampuannya untuk bertanya.
"Permintaan ... a ... pa?"
Seebun Jit maju selangkah kemudian menatap I Giok Hong
lekat-lekat. I Giok Hong dapat melihat sinar mata Seebun Jit
yang mengandung kekalutan hatinya. Seperti ada keinginan
mebiarkan I Giok Hong mati cepat-cepat, tetapi juga ada
keinginan membiarkan dia hidup terus agar permintaannya
dapat terlaksana.
Beberapa saat kemudian, baru terdengar Seebun Jit
menarik nafas panjang sambil mendo-ngakkan wajahnya
menatap langit.
"Seebun Jit ... Seebun Jit ... Tidak disangka kau akan
mengorbankan selembar jiwamu untuk menyelamatkan putri
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
musuhmu sendiri. Tetapi selain ini, apakah masih ada car a
lainnya?" tanya I Giok Hong.
I Giok Hong tahu, selania tinggal di dalam lembah Gin Hua
kok, Seebun Jit setiap waktu mencari kesempatan untuk
melampiaskan keben-cian hatinya kepada ayahnya ataupun
dirinya. Tetapi dengan berbagai pertimbangan, maka dari awal
hingga akhir dia tidak pernah melakukan apa-apa. Ayahnya
sendiri berkali-kali memperingatkan dirinya agar berhati-hati
terhadap Seebun Jit. Ayahnya pernah mengatakan bahwa
Seebun Jit adalah tokoh golongan hitam yang dulunya sangat
terkenal. Meskipun di luarnya tampak dia patuh sekali kepada
mereka ayah dan anak, tetapi sebetul-nya mereka memelihara
musuh da lam selimut.
Justru karena ilmu kepandaian Seebun Jit mempunyai
keistimewaan tersendiri dan cukup tinggi. Maka I Giok Hong
pun tidak segan-segan memanggilnya 'paman'. Tentu saja
Seebun Jit tidak akan mengajarkan ilmu kepandaiannya
kepada I Giok Hong juga tidak akan belajar darinya. Tetapi
terhadap kejadian yang aneh bagaimana pun dalam dunia bu
lim, boleh dikatakan bahwa pengetahuan Seebun Jit sangat
luas. Dia sering mengungkitnya di hadapan I Giok Hong.
Karena itu, kalau ditilik dari luarnya, hubungan mereka baikbaik
saja. Meskipun kenyataannya dalam hati masing-masing
terdapat ganjalan yang tidak pernah diperlihatkan. Sampai
saat ini Seebun Jit baru menyatakan isi hatinya secara terus
terang.
I Giok Hong hanya memandang Seebun Jit lekat-lekat. Dia
tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Sekali lagi Seebun Jit menarik nafas panjang.
"Siocia, aku ingin mengajukan sebuah permin-taan
kepadamu. Tetapi apakah kau bersedia melaksanakannya?"
I Giok Hong tidak mengerti urusan apa yang dimaksud oleh
Seebun Jit. Untuk sesaat dia tidak tahu harus menjawab apa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Wajah Seebun Jit tiba-tiba saja menjadi garang. Dia
membentak dengan suara keras.
"Perempuan she I, apakah selembar nyawa Seebun Jit
kurang berharga ditukar dengan sekali anggukan kepalamu?"
"Jit siok, katakan ... lah ... a ... pa ... per . . . minta . . .
anmu!" kata I Giok Hong dengan susah payah.
"Seandainya kau bersedia melaksanakan permintaanku,
maka aku akan mengoperkan darah yang ada dalam tubuhku
ke dalam lukamu. Dengan demikian, bukan saja jiwamu akan
tertolong, bah-kan tenaga dalammu akan bertambah. Kau
jawab dulu, kau bersedia mengabulkan permintaanku atau
tidak?"
Saat itu I Giok Hong merasa tubuhnya sudah terlalu lemah.
Dirinya bagai ada di ambang kematian. Asal suara ucapan
Seebun agak keras sedikit saja, telinganya terasa
mendengung-dengung. Dengan susah payah dia baru berhasil
menyimak apa yang dikatakan Seebun Jit.
Sampai Seebun Jit menyelesaikan kata-katanya, I Giok
Hong baru menyadari lukanya ternyata demikian parah. Kalau
tidak, mana mungkin Seebun Jit sudi mengorbankan dirinya
untuk menolong I Giok Hong. Tentu saja dia tidak tahu bahwa
watak Seebun Jit sangat keras, pen-diriannya kukuh sekali.
Dia Sudan bertekad untuk membalaskan dendam penolongnya
yakni tocu Hek cuito yang dibunuh oleh I Ki Hu. Tetapi Seebun
Jit juga sadar bahwa ia tidak punya kesempatan lagi.Lukanya
terlalu parah.
Seebun Jit mengerti satu hal. Walaupun lukanya dapat
disembuhkan, kepandaiannya sudah menyusut terlalu banyak.
sekarang saja dia bukan tandingan I Ki Hu. Apalagi setelah
lukanya sembuh dan kepandiannya semakin menurun. Karena
itulah dia bersedia menolong I Giok Hong agar cita-citanya
yang belum tercapai semasa hidup dapat dilaksanakan oleh
gadis itu. Juga demi keselamatan Lie Cun Ju.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
I Giok Hong merenung sejenak. Dia tahu, apabila tidak
mengabulkan permintaan Seebun Jit, pasti dirinya akan mati.
Permintaan apa pun yang diajukan orang itu, asal bukan mati,
dia tidak akan menolaknya. Biarpun permohonan Seebun Jit
itu mungkin suatu yang membahayakan jiwanya, se-tidaknya
dia juga sudah memperoleh keuntungan.
I Giok Hong menggeretakkan giginya erat-erat.
"Baik, Jit ... siok, aku ber ... se ... dia."
Seebun Jit menatapnya lekat-lekat.
"Aku tahu kalian ayah dan anak memang berhati keji dan
tidak segan membunuh siapa saja. Tetapi aku juga tahu
bahwa kalian mempunyai satu segi kebaikan, yakni selalu
memegang janji. Namun, karena hal ini penting sekali bagiku,
aku minta kau bersumpah!"
"Ka . . . lau . . . aku sam . . . pai . .. menya . . . lahi... jan .
. . ji, biarlah ... a ... ku mati . . . dengan ... pe ... dang
menembus di. .. jan . . . tung."
Tampaknya Seebun Jit puas terhadap sumpah yang
diucapkan gadis itu.
"Baik, dengarkan baik-baik permintaanku! Aku ingin kau
mencari Lie Cun Ju sampai ketemu dan sampaikan padanya
agar jangan melupakan apa yang pernah kukatakan
kepadanya. Ilmu kepandaiannya tidak seberapa, kau juga
hams melindunginya apabila dia sampai berhadapan de¬ngan
musuh. Tidak perduli siapa pun musuhnya, pokoknya kau
harus membantunya sekuat tenaga!"
I Giok Hong mendengarkan permintaan Seebun Jit dengan
seksama. Setelah selesai, ia merasa per¬mintaan orang itu
tidak terlalu sulit. Dengan kekuatan ayahnya dan dia sendiri,
apahiia ingin melindungi seseorang yang tidak memiliki ilmu
sama sekali pun, juga bukan ha! yang sulit.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dia tidak perlu turun tangan sendiri. Dengan lencana Gin
leng hiat ciang, dia bisa memerintahkan tokoh mana pun
untuk melakokan tugas itu.
"Apa masih ada yang Iain?" tanya I Giok Hong.
"Siocia, kau jangan menganggap permintaan ini terlalu
ringan!"
"A . . . ku tahu!" sahut I Giok Hong.
Seebun Jit menarik nafas panjang. Kemudian dia
mengangkat goloknya yang tadi dijadikan tongkat penyanggah
tubuhnya.
"Siocia, aku mempunyai dua macam hadiah yang akan
kuberikan kepadamu. Pertama, golok lemas ini. Yang satu lagi
tempat tidur pusaka yang dinamakan Ban nian si ping. Kau
harus merebahkan diri di atasnya selama satu kentungan.
Tidak boleh sembarangan bergerak, satu kentungan
ke¬mudian, kau boleh bangun. Tetapi satu kentungan lagi,
kau harus kembali merebahkan diri di atasnya dan kali ini
tidak boleh bergerak sefama tujuh hari tujuh malam. Di bagian
atas tempat tidur itu aku meninggaikan sebuah kitab kecil
yang berisi tujuh belas jurus terampuh yang pernah kupelajari.
Senjatamu sendiri seutas pecut, tentu ilmu yang kau miliki
jauh lebih hebat. Tetapi tujuh belas jurus yang kutulis itu
merupakan kombinasi antara pecut dengan golok lemas ini,
kau belum pernah mem-pelajarinya."
I Giok Hong mengunggukkan kepalanya. Tiba-tiba Seebun
Jit mengangkat goloknya ke atas kemudian memotong urat
nadi pergeiangan tangannya sendiri. Darah langsung
mengucur dengan deras. Seebun Jit cepat-cepat
membungkukkan tubuhnya lulu menempelkan pergeiangan
tangan yang disayatnya tadi ke luka di dada I Giok Hong.
Seebun Jit menekannya kuat-kuat. I Giok Hong merasa ds
dalam tubuhnya ada darah hangat yang mengalir. Tidak lama
kemudian, keadaannya sudah seperti sebelumnya. Matanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terasa ingin dipejamkan agar dapat tertidur dengan pulas.
Seehun Jit sendiri sudah Terkulai di samping tubuh I Giok
Hong. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya sudah dingin dan kaku.
Ternyata Seebun Jit sudah mati kehabisan darah.
Udara lambat laun meajadi gelap. I Giok Hong tahu dirinya
telah tertolong. Dia membiarkan tubuhnya oerbanng di atas
tanah. Tanpa bergerak sedikit pun dia melewati .sepanjang
malam.
Pada hari kedua, I Giok Hong merasa hawa murni di dalam
tubuhnya sudah dapat diedarkan dengan lancar. Dia bangun
dan beriatih ilmu. Sampai menjelang sore harinya, I Giok Hong
baru menghentikan gerakannya. Cepat-cepat dia memanggul
jenasah Seebun jit kemudian mencelat ke atas kudanya. Tidak
lupa dia mengambil golok lemas yang dihadiahkan orang tua
itu. Kemudian melesat ke arah lembah Gin Hua kok.
Sesampainya di dalam lembah Gin Hua kok, mata I Giok
Hong membelalak. Hatinya terkejut bukan kepalang. Keadaan
di dalam lembah itu kacau balau, seperti baru terjadi
peperangan dahsyat dan beribu-ribu tentara dan kuda yang
mengacak-acak tempat itu.
Tanaman dan rerumputan rusak tidak karuan. Tidak terlihat
keindahan yang memukau seperti sebelumnya. I Giok Hong
termangu-mangu. Dia tahu semua ini merupakan hasil
perbuatan guru Tao Heng Kan. Tetapi sampai sekarang dia
masih belum tahu siapa orang itu sebenarnya.
I Giok Hong memanggul jenasah Seebun Jit ke ruangan
batu tempat tinggal orang itu semasa hidupnya. Kemudian dia
menggali tanah di sana dan menguburkannya asal-asalan.
Setelah itu dia berdiam diri beberapa saat. Hatinya sedang
mempertimbangkan apakah dia harus menuruti perkataan
Seebun Jit agar merebahkan dirinya di atas tempat tidur Ban
nian si ping selama tujuh hari tujuh malam?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seandainya dia menuruti kata-kata orang tua itu, bukankah
dia bisa mati kesal terkurung di dalam ruangan batu itu
selama tujuh hari? Dengan membawa pikiran itu, akhirnya dia
hanya mengambil kitab kecil peninggalan Seebun Jit. Matanya
melirik sekilas ke arah tempat tidur Ban nian si ping itu.
Setelah itu dia keluar dari ruangan batu tersebut dan mencelat
ke atas kuda putihnya serta meninggalkan Gin Hua kok.
I Giok Hong tidak ingin merebahkan dirinya di atas tempat
tidur Ban nian si ping selama tujuh hari tujuh malam. Bahkan
dia meninggalkan Gin Hua kok dengan tergesa-gesa.
Tujuannya ingin bertemu dengan I Ki Hu secepatnya agar
dapat menceritakan peristiwa yang terjadi di dalam Gin Hua
kok kepada ayahnya.
Karena itu pula, begitu meninggalkan lembah Gin Hua kok,
dia langsung memacu kudanya menuju wilayah Si Coan.
Ketika itu, ia dan ayahnya membawa Tao Ling meninggalkan
Gin Hua kok. Baru menempuh perjalanan sejauh seratus li
lebih, tiba-tiba ayahnya menyuruh ia pulang ke lembah dan
mengajak Lie Cun Ju menemuinya.
Saat itu, I Ki Hu juga mengatakan bahwa dia akan
menempuh perjalanan dengan lambat dan menunggu I Giok
Hong datang dengan membawa Lie Cun Ju. I Giok Hong
menyadari bahwa keper-giannya sudah memakan waktu
sehari lebih. Tetapi ayahnya tidak balik ke lembah Gin Hua kok
untuk menengok keadaannya. Hatinya menjadi bingung.
Namun gadis itu selalu beranggapan bahwa ilmu
kepandaian ayahnya demikian tinggi. Mana mungkin terjadi
apa~apa pada dirinya. Mungkin orang tua itu sudah tidak
sabar menunggunya sehingga berangkat terlehih dahulu
menuju Si Cuan.
Karena itu dia melarikan tunggangannya secepat kilat,
siang malam tanpa istirahat sedikit pun. Kira-kira tengah
malam, remhulan bersinar dengan terang, tiba-tiba di
kejauhan terlihat sebuah kereta berwarna putih keperakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berhenti di tengah padang rumput.
Hati I Giok Hong melonjak kegirangan. Baru saja ia ingin
membuka mulut memanggil ayahnya, tiba-tiba dia melihat ada
sisatu benda yang aneh di samping kereta kudanya.
Setelah memperhatikan dengan seksama, hati I Giok Hong
jadi tertegun Ternyata benda itu adalah sebuah pedupaan
tempat menancapkan hio. Di atasnya memang tertancap
beberapa batang sarana sembahyangan itu. Diam-diam I Giok
Hong berpikir, aneh sekali! Mungkinkah tia mengadakan
upacara sembahyang" pengangkatan saudara dengan
seseorang di sini? Cepat-repat dia melajukan kudanya untuk
maju beherapa depa. Ternyata dia melihat lagi sebuah batu.
besar di samping wadah pedupaan itu. Sedangkan di atas batu
itu lerukir tulisan 'hi' yang artinya hahagia.
Hampir saja ! Giok Hong tertawa geli melihatnya. Kalau
hanya sebuah tempat pedupaan saja, dia masih merenungkan
adanya kemungkinan ayahnya menjalankan upacara
sembahyangan mengangkat saudara dengan seseorang.
Tetapi de¬ngan adanya tulisan 'hi' yang terukir di atas batu,
berarti ada sepasang kekasih yang menjalankan upacara
perkawinan dengan menyembah langit dan bumi. Tentu saja
tidak mungkin ayahnya yang menikah.
Saat ini hati I Giok Hong benar-benar dilanda kebingungan.
Dia segera menghentakkan sepasang kakinya dan melesat ke
depan.
"Tia, aku sudah kembali!"
Tampak tirai penutup kereta kuda tersingkap, Gin leng hiat
ciang I Ki Hu yang namanya menggetarkan dunia persilatan
turun dari kereta itu. Setelah melihat I Giok Hong orang tua
itu menarik nafas panjang.
"Aih! Kenapa hanya kau seorang?" tanya I Ki Hu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tia, di dalam lembah Gin Hua kok telah ter¬jadi sesuatu
yang penting . . . ketika aku sampai…”
I Giok Hong tergesa-gesa ingin menceritakan apa yang
terjadi di dalam lembah Gin Hua kok, tetapi I Ki Hu tidak
memberinya kesempatan.
"Giok Hong, tia di sini juga ada urusan yang penting. Untuk
sementara tunda dulu ceritamu mengenai Gin Hua kok!" tukas
I Ki Hu.
I Giok Hong jadi bingung.
"Tia, kau ada urusan penting apa di sini? Apakah kau sudah
tahu apa yang terjadi dalam lembah Gin Hua kok?" tanya I
Giok Hong.
I Ki Hu tertawa lebar.
"Urusan yang terjadi pada jarak seratus li lebih, mana
mungkin aku bisa mengetahuinya? Giok Hong, tia sudah
menduda sejak lama. Sekarang baru timbul ketnginan untuk
beristri lagi. Mengapa kau masih belum mengucapkan seLamat
kepada ayahmu ini?"
Tubuh I Giok Hong langsung bergetar. Hampir saja dia
tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
"Tia ... a ... pa yang kau ka . . . takan?" tanya I Giok Hong.
Di dalam lembah Gin Hua kok, sejak kecil I Giok Hong
hidup bersama ayahnya. Dia belum pernah mendengar
ayahnya mengatakan akan menikah atau mengambil istri lagi.
Ketika ia melihat tulisan di atas batu besar tadi, I Giok Hong
hampir saja tertawa geli dan merasa yakin bukan ayahnya
yang sedang menjalankan upacara pernikahan.
Tetapi, sesuatu yang dianggap paling mustahil toh akhirnya
menjadi kenyataan.
"Aku sudah menjalankan upacara pernikahan di tempat ini.
Cepat kau temui ibumu yang baru!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ucap I Ki Hu.
Mendengar kata-kata ayahnya yang bersungguh-sungguh
dan mimik wajahnya yang serius, I Giok Hong sadar apa yang
didengarnya memang kenyataan. Bukan I Ki Hu yang sedang
bergurau dengannya. Ia menolehkan kepala kembali melihat
tulisan di atas batu tadi. Kali ini dia baru memperhatikan
bahwa tulisan itu demikian rapi dan tidak ada bekas pahatan
sedikit pun. Hal ini membuktikan bahwa ayahnya membuat
tulisan itu dengan mengerahkan tenaga dalamnya ke ujung
jari dan menekannya di atas batu itu.
Untuk sesaat, kekalutan dalam hati I Giok Hong langsung
mencapai puncaknya. Sejak kecil dia hidup berdampingan
dengan ayahnya. Mereka saling memperhatikan dan saling
mencintai. Selama itu pula tidak ada seorang ibu pun yang
menemani mereka.
Di dalam hati I Giok Hong, dia merasa hanya mempunyai
seorang ayah. Tidak mempunyai ibu. Walaupun kadangkadang
dia suka menanyakan prihal ibunya kepada ayahnya,
tetapi I Ki Hu tidak pernah menjawabnya
Dan sekarang, tiba-tiba ada seorang perempuan asing yang
menjadi ibunya. Bahkan ia harus memanggil 'mama' pada
perempuan asing itu. Bagi I Giok Hong, hal ini tidak pernah
terbayangkan sebelumnya.
Karena itu pula, dia terdiam untuk beberapa saat.
"Tia, aku tidak sudi menemuinya." Akhirnya I Giok Hong
menjawab dengan tegas.
Wajah I Ki Hu langsung berubah angker dan berwibawa.
"Giok Hong, kau tidak senang dengan tindakan ayahmu
ini?" bentaknya garang.
"Anak tidak berani," jawab gadis itu.
"Kalau begitu, cepat temui ibumu!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tangan I Ki Hu terulur dan pergelangan tangan I Giok
Hong telah tercengkeram olehnya. Dia menyeret anak gadis
itu ke arah pintu kereta. Bellim lagi sampai, lengan bajunya
sudah dikibas-kan, tirai penyekat kereta itu pun tersingkap.
Hati I Giok Hong tercekat seketika. Di samping itu, dia
meragukan pandangan matanya sendiri. Siapa yang menjadi
istri I Ki Hu? I Giok Hong memandang dengan mata
terbelalak. Tanpa sadar tangannya menuding ke da lam
kereta.
"Kau . . . rupanya engkau orangnya."
Rupanya di dalam kereta duduk seorang gadis yang
usianya hampir sebaya dengan I Giok Hong. Gadis ini tidak
asing baginya. Karena dia adalah putri Pat Sian kiam Tao Cu
Hun suami istri, yakni Tao Ling.
Meskipun I Giok Hong adalah seorang gadis yang sangat
cerdas. Tetapi dia sama sekali tidak membayangkan ayahnya
akan memilih seorang istri yang patut menjadi putrinya. Lebihlebih
tidak membayangkan bahwa gadis itu adalah Tao Ling.
Untuk sesaat I Giok Hong tidak tahu apa yang harus
dilakukannya. Tetapi ada satu hal yang diyakininya. Biar
bagaimana pun dia tidak sudi mengakui Tao Ling sebagai
pengganti ibunya.
Mata I Giok Hong menatap Tao Ling lekat-lekat. Wajah
gadis itu tampak menyiratkan perasaan yang aneh.
Pandangan matanya kosong. Seakan tidak memperdulikan
peristiwa apa pun yang terjadi di hadapannya. Urusan sehebat
apa pun tidak akan mempengaruhinya. I Giok Hong
menatapnya sejenak, kemudian tiba-tiba saja dia membalikkan
tubuhnya dan bermaksud melesat pergi.
"Berhenti!" bentak I Ki Hu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
I Giok Hong tidak berani membangkang. Tetapi meskipun
langkah kakinya terhenti, ia tidak membalikkan tubuhnya
sama sekali. Ia berdiri membelakangi I Ki Hu dan Tao Ling.
Wajah I Ki Hu berubah tidak enak dilihat.
"Giok Hong, mengapa kau masih belum menyembah?" kata
I Ki Hu dengan nada dingin.
I Giok Hong tetap berdiri tanpa bergerak sedikit pun. Hawa
amarah dalam dada I Ki Hu langsung meluap.
"Giok Hong, rupanya di dalam pandangan matamu sudah
tidak ada ayahmu lagi?"
"Tentu saja dalam pandanganku, ayahku masih ada. Tetapi
apabila menyuruh aku sembarangan menyembah seseorang
dan memanggilnya 'ibu', aku tidak dapat melakukannya,"
sahut I Giok Hong tegas.
Selama hidupnya, baru kali ini I Giok Hong bersikap
demikian keras kepala di hadapan ayahnya. Di satu pihak,
emosi dalam hatinya seakan membara, tetapi di pihak yang
lain, dia juga merasa takut. Karena dia paham sekali watak
ayahnya. Apabila laki-laki itu sudah membenci seseorang,
biarpun putrinya sendiri, ia tidak segan-segan mengambil
tindakan tegas.
Ternyata memang benar. Baru saja ucapannya selesai,
terasa ada angin yang menyambar dari belakangnya. I Giok
Hong sadar, seandainya gerakan ayahnya yang menimbulkan
sambaran angin itu, meskipun dia menghindar juga tidak ada
gunanya. Karena itu, dia diam saja tanpa bergerak sedikit pun.
Pundak I Giok Hong terasa memberat, tangan I Ki Hu telah
menekannya. Dengan keras I Ki Hu membalikkan tubuh
putrinya. Setelah itu tenaga dalamnya dikerahkan ke arah
telapak tangan.
"Berlutut!" bentaknya keras.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Telapak tangannya menekan di pundak I Giok Hong, begitu
tenaganya dikerahkan. Gadis itu merasa seakan ada benda
yang beratnya ribuan kati menindih pundaknya. Sepasang
lututnya jadi lemas, hampir saja dia menjatuhkan diri berlutut
di atas tanah.
Tetapi watak I Giok Hong sangat keras. Saat itu juga,
dalam hati dia berseru.
"Tidak! Aku tidak boleh berlutut!" Dengan panik dia
menghimpun hawa murninya dan menyentakkannya ke atas.
Tetapi, mana mungkin tenaga dalamnya dapat menyaingi I Ki
Hu?"
Sesaat kemudian terdengar suara Krek! Krek! Rasa nyeri
menyerang kedua pergelangan kakinya sampai-sampai dia
hampir tidak dapat mempertahankan diri. Matanya berkunangkunang,
kemudian bluk! Tentu karena dia mengerahkan
tenaganya untuk mengadakan perlawanan, maka tulang kecil
di pergelangan kakinya langsung patah seketika.
Begitu sakitnya sampai seluruh tubuh, I Giok Hong
gemetar. Keringat dingin menetes membasahi keningnya.
Tetapi dalam hati dia merasa senang, karena dari awal hingga
akhir ia tetap tidak menyembah Tao Ling.
I Ki Hu melihat putrinya rela membiarkan tulang kakinya
patah tetapi tetap tidak bersedia menjatuhkan diri berlutut di
hadapan Tao Ling. Tidak timbul perasaan iba sedikit pun di
hatinya, bahkan dia semakin marah. Mulutnya mengeluarkan
suara terkekeh-kekeh dan terdengar menyeramkan.
"Giok Hong, nyalimu sungguh besar. Rupanya kau sudah
berani melawan aku?" tanya I Ki Hu.
I Giok Hong menenangkan perasaanya. Dia juga
mengeluarkan suara tertawa yang dingin.
"Tia, kau yang memaksa anak melakukannya. Jangan
menyalahkan aku!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
I Ki Hu tertawa terbahak-bahak.
"Aku tidak mempunyai anak seperti kau!" Tangannya
segera melayang dan menampar wajah I Giok Hong.
I Giok Hong sungguh bermimpi pun tidak pernah
membayangkan ayahnya akan memutuskan hubungan
dengannya. Pipinya terasa perih. Namun dalam sekejap mata I
Ki Hu sudah mengangkat tangannya kembali. Tetapi kali ini
dia hanya menekan pundak I Giok Hong. Gadis itu segera
menahan kedua tangannya di atas tanah. Pokoknya,
bagaimana pun dia tidak sudi menjatuhkan diri berlutut.
Tenaga dalam I Ki Hu sudah mencapai taraf yang tinggi
sekali. Bahkan orang yang dapat menandinginya di dunia kang
ouw, mungkin dapat terhitung dengan jari. Tadinya I Giok
Hong bermaksud menopang tangannya di atas tanah dan
mencelat ke belakang. Tetapi tekanan di pun-daknya demikian
kuat. Bukan saja tubuhnya tidak dapat terangkat, bahkan
tulang kedua lengannya pun hampir patah seperti tulang di
pergelangan kakinya.
Tanpa dapat menahan diri lagi, tubuhnya terkulai di atas
tanah. Dan tiba-tiba pinggangnya seperti terantuk sebuah
benda yang keras. Suatu ingatan melintas di benaknya.
"Tunggu dulu!" teriaknya segera.
"Apakah kau sudah bersedia menyembah di depan ibumu?"
tanya I Ki Hu dengan nada dingin.
I Giok Hong tidak menyahut. Dia mengulurkan tangannya
ke dalam saku baju dan mengeluarkan sebuah benda yang
sinarnya ber-kilauan. Ternyata Gin leng hiat ciang.
"Lihat lencana seperti bertemu dengan orangnya sendiri!"
seru I Giok Hong.
I Ki Hu langsung tertegun. Karena lencana itu memang
merupakan lambang dirinya. Siapa pun yang bertemu dengan
lencana itu, dia seperti mewakili I Ki Hu sendiri. Dan apa pun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang diperintahkan, orang-orang dunia bu lim sampai saat ini
belum pernah ada yang menentangnya. Sedangkan lencana
Gin leng hiat ciang yang sekarang di tangan I Giok Hong,
justru I Ki Hu yang menyerahkannya sendiri agar disampaikan
kepada Leng Coa sian sing. I Ki Hu pernah menjanjikan Leng
Coa sian sing untuk menggunakan-nya sebanyak dua kali.
Watak I Ki Hu memang angin-anginan. Tetapi apa yang
pernah diucapkannya tidak pernah dijilat kembali. Karena itu
telapak tangannya langsung terhenti di tengah udara.
"Apa yang kau inginkan?" tanya I Ki Hu de-ngan nada
dingin.
"Aku hanya ingin meninggalkan tempat ini, tidak ada
permintaan lainnya."
Trang!
I Giok Hong melemparkan lencana itu di depan kaki I Ki Hu.
Laki-laki setengah baya itu menyepakkan kakinya, lencana itu
mental di tengah udara dan disambut oleh tangan I Ki Hu.
"Giok Hong, dengan mengandalkan lencana ini, kau bisa
meninggalkan tempat ini. Tetapi sadarkah kau bahwa sekali
kau pergi, hubungan kita sebagai ayah dan anak pun sudah
terputus?"
Tanpa berpikir panjang. I Giok Hong langsung menyahut.
"Ayahnya sendiri yang tidak menginginkan putrinya. Bukan
putrinya yang tidak menginginkan ayahnya."
I Ki Hu tertawa terkekeh-kekeh.
"Bagus sekali! Bagus sekali! Tetapi aku tetap mengharap
kau dapat menjaga dirimu baik-baik!"
Tangannya merogoh ke dalam saku pakaiannya. Dia
mengeluarkan sebuah botol kecil berwarna hijau kemudian
dilemparkannya ke atas tanah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Di dalam botol itu terdapat dua butir pil penyambung
tulang. Bawalah dan sambung kem¬bali tulang kakimu yang
patah itu!"
I Giok Hong tahu obat penyambung tulang buatan ayahnya
manjur sekali. Tetapi wataknya yang keras membuat dia tidak
sudi menerima pemberian I Ki Hu. Bahkan meliriknya sekilas
pun tidak.
"Terima kasih!" katanya singkat.
Sret! Golok lemas pemberian Seebun Jit ditarik ke luar. Dia
menggunakannya sebagai penyanggah. Kedua kakinya tidak
dapat menapak di atas tanah. Dengan menahan sakit, ia
melesat pergi meninggalkan tempat itu.
Ketika I Giok Hong baru melesat sejauh beberapa depa,
tiba-tiba I Ki Hu berteriak.
"Tunggu dulu! Apa yang terjadi di dalam lem-bah Gin Hua
kok?"
I Giok Hong sama sekali tidak menolehkan kepalanya.
"Tao Heng Kan menculik Lie Cun Ju. Tiga iblis dari keluarga
Lung dan Leng Coa sian sing menim-bulkan masalah di dalam
lembah Gin Hua kok. Entah mengapa mereka lari terbirit-birit.
Seebun Jit sudah mati. Dan masih ada seorang laki-laki yang
tinggi sekali meruntuhkan seluruh tembok yang mengelilingi
lembah Gin Hua kok. Keadaan di dalam ataupun di luar kacau
balau. Tao Heng Kan memanggil orang itu 'suhu'.”
Pada saat itu, hati I Giok Hong pedih tidak terkirakan.
Sembari berkata, dia terus melesat lagi sejauh beberapa depa.
Tulang di pergeiangan kakinya sudah patah karena tekanan I
Ki Hu yang terlalu kuat. Saat ini persendiannya terasa nyeri.
Meskipun untuk menyambungnya memang tidak terlalu sulit,
tetapi gerakannya sekarang hanya mengandalkan sebilah
golok, maka sulitnya bukan main.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tetapi I Giok Hong tetap tidak sudi memohon ayahnya. Dia
lebih tidak sudi lagi menyembah di hadapan Tao Ling. Sedikit
demi sedikit dia menggeser golok di tangannya. tidak berapa
lama kemudian, sosok tubuhnya hanya meninggalkan
bayangan yang berlompat-Iompat dan akhirnya menghilang
dalam kegelapan malam.
Ketika bayangan I Giok Hong sudah tidak terlihat lagi, I Ki
Hu baru menolehkan kepalanya dan memaksakan bibirnya
mengembangkan seulas senyuman.
"Anak ini sejak kecil sudah kehilangan ibunya, karena itu
adatnya jadi keras. Harap Hu jin tidak mengambil hati atas
sikapnya!"
Wajah Tao Ling tetap tidak menyiratkan perasaan apa-apa.
"Kata-kata Hu kun (panggilan kepada suami) terlalu serius.
Karena aku, hubungan kalian ayah dan anak jadi retak. Justru
akulah yang bersalah."
I Ki Hu menghampirinya dan mengelus-elus rambut Tao
Ling dengan lembut. Mulanya Tao Ling ingin menghindar,
tetapi baru saja kepalanya dipalingkan sedikit, dia merasa
menghindar pun tiada gunanya. Toh nasi sudah menjadi
bubur. Dia membiarkan I Ki Hu membelai-belainya. Dan lakilaki
setengah baya itu pun tampak sangat menyayanginya.
"Hu jin, kita juga harus melanjutkan perjalanan!"
Suara Tao Ling tidak menunjukkan perasaan apa pun.
Seperti orang yang mengigau dalam mimpi.
"Mari kita berangkat!" sahutnya.
Pada saat ini, sebongkah hati Tao Ling mes¬kipun belum
mati, tetapi sudah tidak jauh lagi dari ambang kematian.
Beberapa hari yang lalu, dia merupakan seorang gadis yang
lincah dan riang, tetapi beberapa hari kemudian, dia malah
berubah menjadi pendiam dan murung. Bahkan dia sendiri
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tidak mengerti mengapa tiba-tiba dia bisa menjadi istri si raja
iblis yang menggetarkan dunia kang ouw ini.
Padahal dia sudah mengambil keputusan untuk tidak
memikirkan apa pun, termasuk Lie Cun Ju. Tetapi ketika
barusan dia mendengar I Giok Hong mengatakan bahwa
Seebun Jit sudah mati dan kokonya yang tiba-tiba saja
menjadi misterius dan jejaknya tidak ketahuan malah datang
ke Gin Hua kok untuk menculik Lie Cun Ju. Hatinya yang mulai
redup sinarnya tiba-tiba bergelora lagi.
Yang paling membingungkan, justru gerak gerik kokonya,
Tao Heng Kan. Karena, apabila di dalam gedung Kuan Hong
Siau, Tao Heng Kan tidak membunuh Li Po tanpa sebab
musabab, dirinya juga tidak akan menemui berbagai kejadian
yang janggal sampai sekarang ini.
Tentu saja, dia juga tidak akan menjadi istri Gin leng hiat
ciang, I Ki Hu.
Namun kenyataannya, semuanya sudah terjadi. Tao Ling
juga tidak menyalahkan Tao Heng Kan. Dia hanya
menyesaikan nasibnya sendiri yang buruk. Dia menguburkan
dalam-dalam kerinduannya terhadap Lie Cun Ju.
Rupanya dua hari yang lalu, I Ki Hu dan putrinya membawa
Tao Ling meninggalkan Gin Hua kok. Kereta kuda itu dilarikan
dengan cepat, tetapi baru menempuh perjalanan kurang lebih
seratusan li, tiba-tiba I Ki Hu mengeluarkan suara seruan
terkejut. Seakan ada sesuatu yang tiba-tiba teringat olehnya.
la pun segera menghentikan kereta kudanya di tepi jalan.
Kemudian dia melepaskan tali yang mengait pada leher seekor
kuda putih.
"Giok Hong, cepat kau kembali ke Gin Hua kok dan bawa
Lie Cun Ju kemari. Kita harus meng-ajaknya bersama-sama ke
Si Cuan untuk menemui pasangan suami istri Pat Kua kiam,
Lie Yuan!" kata I Ki Hu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
I Giok Hong tidak banyak bertanya. Dia hanya mengiakan
kemudian melesat ke atas kuda putih yang dilepaskan oleh I
Ki Hu tadi lalu melesat kembali ke Gin Hua kok. Sedangkan
apa yang dialaminya di dalam lembah itu sudah kita ketahui.
Sementara itu, setelah I Giok Hong kembali ke lembah Gin
Hua kok, kereta kuda yang ditumpangi oleh I Ki Hu dan Tao
Ling melaju lagi ke depan secepat kilat. Mereka menempuh
perjalanan sejauh belasan li. Kemudian di sebuah padang
rumput yang luas, I Ki Hu menghentikan keretanya.
Berduaan dengan si raja iblis yang meng-getarkan dunia
kang ouw itu perasaan Tao Ling agak takut juga. Tetapi, dia
sama sekali tidak membayangkan bahwa I Ki Hu mempunyai
pikiran untuk mengambilnya sebagai istri. Dia hanya khawatir
I Ki Hu yang licik itu akan membunuhnya dengan kejam.
Karena itu dia duduk sendiri di dalam kereta tanpa berani
mengeluarkan suara sedikit pun. Bahkan bernafas pun tidak
berani keras-keras.
I Ki Hu menyilangkan tangannya di depan dada. la berjalan
mondar mandir di padang rum-put itu. Dengan rasa jenuh
mereka terus menunggu, sampai matahari sudah tenggelam,
ter-nyata I Giok Hong masih belum kembali juga. Sepasang
alis I Ki Hu tampak menjungkit ke atas.
"Heran! Anak itu sudah pergi setengah harian, mengapa
sampai sekarang belum kembali juga?" I Ki Hu seakan
menggumam seorang diri. " Mungkin di dalani lembah terjadi
sesuatu yang menunda kedatangannya." Tao Ling
memaksakan dirinya menjawab.
Tiba-tiba I Ki Hu menolehkan kepalanya sambil tersenyum.
"Tao kouwnio, ada sedikit ucapan yang ingin kusampaikan.
Entah Tao kouwnio bersedia meluluskannya atau tidak?"
Tao Ling melihat sepasang mata I Ki Hu menyorotkan sinar
yang ganjil, ketika mengucapkan kata-kata itu. Jantungnya
langsung berdebar-debar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Urusan apa?" tanyanya lirih.
I Ki Hu melangkah setindak ke depan.
"Tao kouwnio mempunyai wajah yang cantik. Dari luar
terlihat lembut, di dalam bijaksana. Aku sudah lama menduda,
karena itu watak Giok Hong menjadi manja dan liar. Apakah
Tao kouwnio bersedia mengikat diri denganku menjadi suami
istri?"
Mendengar kata-katanya, persis seperti orang yang
disambar petir. Mulutnya melongo, lidahnya kelu. Mana
sanggup dia mengucapkan apa-apa?
I Ki Hu tersenyum.
"Tao kouwnio tidak mengucapkan sepatah kata pun, pasti
hatimu sudah setuju. Kita menyembah langit dan bumi di sini
saja. Bagaimana menurut pendapatmu?" Sembari berkata, dia
mengulurkan tangannya menarik Tao Ling.
"Tidak! Tidak!" teriak Tao Ling ketika kelima jari tangan I Ki
Hu hampir menyentuh pergelangan tangannya. I Ki Hu
menggerakkan tangannya ke depan, tidak dibiarkannya Tao
Ling menghindar. Sekejap saja pergelangan tangan Tao Ling
sudah tercengkeram olehnya.
"Mengapa tidak?" tanya I Ki Hu.
Tao Ling merasa seluruh tubuhnya menjadi lemas ketika I
Ki Hu berhasil mencengkeram pergelangan tangannya.
Tubuhnya bersandar di tern-pat duduk kereta dan hanya bisa
berteriak dengan gugup.
"Tidak! Tidak!" teriak Tao Ling lagi.
I Ki Hu tersenyum tipis. Sepasang matanya menatap Tao
Ling lekat-lekat. Kalau dinilai dari usianya, memang I Ki Hu
pantas menjadi ayah Tao Ling. Tetapi karena tenaga
dalamnya sudah men-capai taraf yang tinggi sekali,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kelihatannya justru seperti laki-laki yang usianya belum
mencapai empat puluhan tahun. Lagi pula wajahnya sangat
tampan, sehingga orang tidak akan sebal melihatnya. Dan
senyumannya barusan justru membuat bulu kuduk di sekujur
tubuh Tao Ling jadi meremang.
Dengan lemas dia memejamkan matanya, teli-nganya
mendengar I Ki Hu berkata kembali.
"Tao kouwnio, apabila kau bersedia mengikat diri menjadi
istriku, dendam permusuhan kedua orang tuamu yang aneh
bam bisa terbalas."
Mendengar kata-katanya, Tao Ling jadi heran. Diam-diam
dia bertanya kepada dirinya sendiri. "Dendam permusuhan
orang tua? Apakah kedua orang tuaku sudah menemui
bencana?" Rasa terkejut di dalam hatinya semakin bertambah.
"Apakah ayah ibuku telah dicelakai orang?" tanya Tao Ling.
"Urusan ini cepat atau lambat pasti akan terjadi. Sejak
semula kau seharusnya sudah dapat menduganya," jawab I Ki
Hu.
Tao Ling tahu kekuasaan I Ki Hu besar sekali. Apa pun
tidak ada yang sulit baginya. Meskipun dia menginginkan Tao
Ling menjadi istrinya, dan sekarang masih belum kesampaian,
dia tetap tidak perlu mengucapkan kata-kata yang demikian
untuk menakut-nakutinya. Hati Tao Ling semakin tercekat
justru karena percaya apa yang dikatakan I Ki Hu.
"Ka . . . lau begitu, siapa . . . orang . . . nya yang a ... akan
mencelakai ke . . . dua orang tua . . . ku?" tanyanya gugup.
"Untuk sementara aku masih belum tahu. Tetapi asal kita
sudah sampai di Si Cuan, semuanya akan menjadi jelas. Ini
urusan kecil, kalau kau sudah menjadi istriku, mungkinkah aku
tidak membalaskan dendam kedua orang tuamu?"
Tao Ling terdiam beberapa saat. Dengan perasaan seorang
gadis, ia mempertimbangkan situasi yang dihadapinya. Dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sudah melihat bahwa keinginan I Ki Hu tidak dapat dicegah.
Jangan kata padang rumput ini begini sepi dan terpencil.
Biarpun di depan khalayak ramai atau kota besar, kalau I Ki
Hu sudah mempunyai ingatan untuk mengambilnya sebagai
istri, siapa lagi yang dapat mencegahnya?
Perlahan-lahan dia memejamkan matanya. Dalam
benaknya langsung terbayang wajah Lie Cun Ju. Mereka
sudah mengalami suka duka bersama selama satu bulan lebih.
Bahkan kaki mereka sama-sama pernah menginjak di pintu
kematian, yang akhirnya mereka bisa meloloskan diri dari
maut. Dalam hati Tao Ling, tadinya dia sudah yakin bahwa
seumur hidupnya ini, ia tidak akan berpisah lagi dengan Lie
Cun Ju. Taruhlah dirinya harus menjadi dayang I Giok Hong
dan Lie Cun Ju harus menjadi penjaga malam di lembah Gin
Hua kok, asal dapat bersama-sama untuk selamanya, ia tetap
rela. Tetapi, ia tidak pernah menduga bisa terjadi
perkembangan seperti sekarang ini.
Hati Tao Ling sedang merindukan Lie Cun Ju, tetapi
telinganya justru mendengar I Ki Hu berkata lagi.
"Tao kouwnio masih tidak bersuara, itu tan-danya sudah
setuju. Cayhe memberi hormat dulu kepadamu."
Tao Ling membuka matanya, dia melihat I Ki Hu sedang
membungkuk dalam-dalam memberi hormat kepadanya.
Perlahan-lahan dia menarik nafas panjang. I Ki Hu
menegakkan tubuhnya dan berjalan pergi. Tao Ling tidak tahu
apa yang hen-dak dilakukannya. Karena itu ia hanya melihat
saja. Ternyata I Ki Hu menghampiri sebongkah batu besar dan
mengguratkan jari tangannya di sana. Dalam sekejap mata
sudah terbaca sebuah huruf 'hi' di atas batu besar itu.
Kemudian I Ki Hu balik lagi. Tanpa dapat mempertahankan
diri, Tao Ling membiarkan dirinya diseret oleh I Ki Hu dan
melakukan penyembahan dengan menundukkan kepala tiga
kali di atas tanah. Mereka menjalani upacara pernikahan
dengan menyembah langit dan bumi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam satu malam saja, Tao Ling sudah berubah menjadi
istri resmi si raja iblis I Ki Hu.
Tiba-tiba saja hatinya terasa kebal. Dalam satu malam
seolah-olah hatinya berubah menjadi kaku
dan membeku seperti salju di pegunungan Thai san. Tetapi
bukan berarti hatinya tidak ada perasaan lagi. Paling tidak,
jauh di lubuk hatinya, dia masih mengingat Lie Cun Ju.
Terdengar suara derap kaki kuda. Ternyata I Ki Hu sudah
naik ke atas kereta dan melarikannya dengan kencang menuju
Si Cuan. Kereta terus bergerak ke depan, sedangkan hati Tao
Ling terus merindukan Lie Cun Ju. Pemuda yang pernah
dicintainya, bahkan masih dicintainya sampai sekarang.
Tetapi di mana Lie Cun Ju sekarang? Mungkin pemuda itu
berada pada jarak sejauh ribuan li, tetapi mungkin juga begitu
dekat sekali sehingga hanya ada di sekitarnya. Hanya saja Tao
Ling tidak tahu. Namun, bagaimana pun juga pemuda itu tidak
ada di sisinya lagi. Pemuda itu sudah terpisah dengannya.
Tetapi, seberapa jauh pun mereka ber-pisah, kasih sayang
yang pernah terjalin di dalam hati mereka masih tetap terjalin
dengan indah.
Berpikir sampai di sini, Tao Ling tidak dapat menahan
keperihan hatinya. Dia menarik nafas panjang-panjang.
Helaan nafasnya justru mengejutkan I Ki Hu. Laki-laki itu
segera menolehkan kepalanya.
"Hu jin, apa yang membuat hatimu gundah?" tanya I Ki Hu.
"Tidak apa-apa," sahut Tao Ling cepat.
I Ki Hu turun dari kereta dan menghampirinya. Pada saat
itu kereta kuda sudah sampai di tepian sungai. Mereka harus
menyeberangi sungai itu baru dapat melanjutkan perjalanan.
Jarak dari seberang sungai ke Si Cuan di mana keluarga Sang
tinggal, hanya seratusan H. Tao Ling sendiri tidak tahu sudah
berapa hari mereka menempuh per¬jalanan. Perasaannya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seakan tidak berfungsi lagi. Ketika I Ki Hu menghampirinya, ia
segera memalingkan wajahnya. Tampak air sungai beriak-riak,
ombaknya bergulung-gulung. Arusnya deras sekali. Air
mengalir ke bagian timur. Benak Tao Ling segera teringat
pengalamannya ketika ter-hanyut arus sungai tempo hari.
Kejadian itu pula yang mempertemukannya dengan Lie Cun
Ju. Kembali hatinya terasa perih.
"Hu jin, kita menikah sudah enam hari. Tetapi setiap hari
kau terus menghela nafas pendek, meng-hembuskan nafas
panjang. Apakah hatimu sedang merindukan seseorang?"
tanya I Ki Hu.
Tao Ling tertegun. Diam-diam dia berpikir, bagaimana I Ki
Hu hisa tahu perasaannya.
Sebetulnya, kalau melihat keadaan Tao Ling sekarang,
jangan kan I Ki Hu yang demikian cerdas, orang biasa pun
dapat menduga apa yang menjadi ganjalan hatinya.
Sampai sekian lama Tao Ling tidak memberikan jawaban.
"Hu jin, apakah pemuda yang sedang kau rindukan itu Lie
Cun Ju?" tanya I Ki Hu lagi.
"Bukan, bukan dia!" jawab Tao Ling dengan terkejut.
I Ki Hu mengembangkan seulas senyuman.
"Semakin Hu jin tidak berani mengakui, aku justru semakin
yakin. Memang dialah orangnya. Tapi, Hu jin ... apakah kau
tahu siapa pemuda itu sesungguhnya?"
"Aku tidak tahu," jawabnya singkat, tetapi Tao Ling seakan
sudah mengakui bahwa memang Lie Cun Ju yang
dipikirkannya. Tadi dia tidak berani mengakui karena merasa
takut apabila I Ki Hu sudah mengetahuinya maka iblis itu akan
mem-bunuh kekasih hatinya. Selesai berkata, dia baru
menyadari ucapannya barusan salah. Dengan panik ia menarik
tangan I Ki Hu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Jangan kau celakai dia!" katanya gugup.
I Ki Hu mengembangkan seulas senyuman kepadanya.
"Apabila dia bukan putra tocu Hek cui to, tentu saja aku
tidak akan mencelakainya. Tetapi kalau dia ternyata orang
yang kucari-cari selama ini.He ... he ... he ... Api yang liar
tidak dapat dipadamkan, angin musim semi terus silih
berganti.Biar bagaimana pun, aku tidak akan membiarkan ia
hidup di dunia ini."
Tubuh Tao Ling langsung gemetar mendengar kata-kata I
Ki Hu. la sadar dirinya tidak mungkin bisa membujuk I Ki Hu.
Karena itu dia pun tidak mengatakan apa-apa lagi.
Seorang diri I Ki Hu berjalan di tepi sungai.Tampak ada
sebuah perahu melaju dari tengahtengah
sungai. Gerakannya cepat sekali. Sekejap saja
perahu itu sudah mulai terlihat jelas. Tubuh I Ki Hu berkelebat
menghampiri kereta. Disingkapnya sebuah papan lalu
mengeluarkan segulungan tali. Setelah itu dia melesat lagi ke
tepi sungai. Gerakan tubuhnya bukan main cepatnya. Pada
saat itu, perahu tadi kebetulan sedang melaju lewat. Tubuh I
Ki Hu berputar, tangannya dihentakkan ke depan, terdengar
suara desiran. Tali itu pun melayang ke arah perahu. Rupanya
sejak tadi I Ki Hu sudah mengadakan persiapan. Tali yang
dipegangnya mempunyai cantolan dari besi pada bagian
ujungnya. Sentakannya begitu kuat, ujung
tali itu pun langsung menancap di bagian geladak perahu.
I Ki Hu tertawa terbahak-bahak. Ujung tali yang satunya
juga mempunyai pbsak besi. I Ki Hu menancapkannya di atas
tanah.I Gerakan perahu pun tertahan oleh kedua tali yani'
saling berkaitan itu. Gulungan tali itu sekarang berbentuk
titian yang panjang. Tubuh I Ki Hu bergerak kembali. Dia
mencelat ke atas tali dan berjalah\iengan cepat menuju
perahu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Baru mencapai setengahnya, terlihat seseorang muncui dari
dalam kabin perahu. Ketika melihat I Ki Hu berjalan di atas tali
dan menuju ke perahu, orang itu tertegun sejenak. Cepatcepat
dia menyingkapkan pakaiannya dan menghunus sebilah
golok. Tangannya mengayun ke depan untuk menebas tali
yang mengait di geladak perahu itu.
Kalau ditilik dari gerakan tangan orang itu yang begitu
cepat dan reaksinya yang spontan, kemungkinan besar
seorang tokoh bu lim juga. Lagipula bukan tokoh
sembarangan.
Pada saat itu, I Ki Hu baru mencapai setengah jalan,
apabila orang itu berhasil menebas tali yang dijadikannya
titian, pasti dia akan tercebur ke dalam sungai.
Sedangkan arus sungai itu begitu deras. Mes-kipun I Ki Hu
memiliki ilmu yang tinggi sekali, tetap saja dia akan seperti
tikus yang tercebur di parit.
Tetapi bagaimana pun ilmu kepandaian I Ki Hu memang
sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Baru saja orang itu
muncui dari dalam kabin, dan I Ki Hu melihat gerakan tubuh
orang itu yang demikian gesit, ia langsung tahu ilmunya tinggi
sekali. Dia sendiri sudah mempunyai persiapan. Ketika melihat
orang itu mengeluarkan goloknya, dia langsung berseru
"Ada tamu yang berkunjung, masa tidak diterima?" Jari
tangannya menyentak ke depan. Sebatang senjata rahasia
melayang di udara dan meluncur tepat mengenai golok di
tangan orang itu.
Tampak orang itu terhuyung-huyung kemudian menyurut
mundur beberapa langkah. Golok di ta¬ngannya terlepas dan
terdengarlah suara Trak! kemudian terbelah menjadi dua
bagian.
Dalam waktu yang singkat itu, I Ki Hu sudah mencelat ke
atas perahu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Orang itu terkejut setengah mati. Kepalanya langsung
didongakkan.
"Siapakah Tuan?" tanya orang itu.
Padahal, I Ki Hu hanya sembarangan menarik perahu mana
saja yang lewat guna menaikkan kereta kudanya ke atas agar
bisa menyeberangi sungai. Dia tidak perduli siapa penumpang
perahu itu. Lagi pula, di dalam hatinya, siapa pun orangnya,
asal dia mengangkat tangannya, dia dapat membunuh orang
itu seenaknya. Memang selamanya I Ki Hu tidak pernah
memandang mata pada siapa pun. Tetapi ketika mendengar
per-tanyaan orang tadi, dia merasa logat suaranya agak asing.
Karena itu dia segera mendongakkan wajah-nya, tampak
tubuh orang itu demikian kekar dan warna kulitnya agak
kegelapan. Ternyata bukan orang Tiong goan.
"Cayhe she I."
Perlahan-lahan orang itu menyurut mundur lagi satu
langkah.
"Mengapa Tuan menahan perahu kami?"
"Sungai ini sangat dalam, arusnya pun deras. Kami butuh
perahu untuk menyeberangkan kereta kuda, karena itu
meminjam perahu Tuan sebentar."
"Kami menyewa perahu ini justru karena ada urusan yang
penting sekali. Mana bisa meminjamkannya kepada Tuan
untuk menyeberangi sungai? Lagipula, geladak perahu ini juga
tidak bisa memuat sebuah kereta," kata orang itu dengan
nada marah.
I Ki Hu tertawa terbahak-bahak.
"Tidak menjadi persoalan. Asal geladak perahu dihilangkan,
kan kereta kuda kami bisa muat di atasnya."
Sembari berbicara, I Ki Hu maju ke depan dua langkah.
Orang itu cepat-cepat menyurutkan tubuhnya ke belakang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
karena tadi dia sudah merasakan kehebatan I Ki Hu. Tiba-tiba
I Ki Hu membungkukkan tubuhnya sedikit, telapak
ta¬ngannya menghantam ke bagian geladak perahu. Saat itu
juga, perahu itu berguncang dengan dahsyat. Terasa ada
angin yang menderu-deru, papan yang menutupi bagian
geladak berhamburan karena pukulan I Ki Hu. Terlihatlah
sebuah celah yang besar.
Sekali lagi I Ki Hu tertawa terbahak-bahak. "Dengan
detnikian pasti muat, bukan?" Wajah orang itu pucat pasi
seketika. Tanpa dapat mempertahankan diri lagi, dia berteriak.
Entah bahasa apa yang digunakannya. Tetapi tampaknya I Ki
Hu mengerti juga sedikit-sedikit. Dia seperti mengatakan nyali
orang ini besar sekali atau semacam begitulah. Dia juga
menanyakan kepada Lhama yang suci apa yang harus
dilakukannya. Diam-diam I Ki Hu merasa geli. Kepalanya mendongak
ke dalam perahu, tanpa dapat ditahan lagi, hatinya
langsung tercekat.
Rupanya tenaga pukulannya begitu kuat sehingga atap
perahu itu pun tergetar dan jebol. Saat itu dia dapat melihat
keadaan di dalam kabin perahu. Perabotan yang ada di
dalamnya juga berantakan, tetapi ada tiga buah kursi yang
masih terletak pada posisi semula. Di atas kursi itu duduk
tegak tiga orang tanpa bergeming sedikit pun.
Justru tadi I Ki Hu melihat ilmu orang yang muncul dari
dalam kabin itu cukup tinggi. Dia tidak ingin menunda waktu
lama-lama, karena itu dia ingin orang itu tunduk kepadanya
dengan meng-hantam ke arah geladak perahu. Pukulannya
tadi menggunakan tenaga sebesar sembilan bagian. Maka dari
itu pula, seluruh atap yang menutupi bagian atas perahu itu
ikut jebol saking kuatnya. Begitu kuatnya angin yang
terpancar dari pukulan I Ki Hu, ketiga orang yang duduk di
dalam kabin itu seperti tidak merasakan apa-apa. Hal ini
membuktikan bahwa mereka bukan lawan yang dapat
dianggap ringan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan mengembangkan seulas senyuman, I Ki Hu
menatap ketiga orang itu. Tampak orang yang di tengah
sudah tua sekali. Wajahnya sudah penuh dengan kerutan,
tetapi sulit diduga berapa usia yang sebenarnya. Tubuhnya
kurus seperti lidi. Dia adalah seorang pendeta atau lhama dari
Tibet. Kedua orang yang di sisi kanan kirinya juga sama-sama
pendeta. Kalau dilihat dari tampangnya, usia keduanya sekitar
enam puluhan tahun. Telapak tangan ketiga orang itu
dirangkapkan di depan dada. Maka mereka terpejam dengan
tenang, seakan tidak menyadari apa pun yang terjadi di atas
perahu.
Setelah menatap sesaat, hati I Ki Hu semakin penasaran.
Segera tubuhnya berputar dan mencengkeram bahu orang itu.
"Siapa kalian?" bentaknya lantang.
Ketika I Ki Hu mengulurkan tangannya untuk
mencengkeram, tampaknya orang itu ingin menghindar. Tapi
gerakan tubuh I Ki Hu terlalu cepat, meskipun orang itu
sempat menggeser ke samping sedikit, tetap saja bahunya
kena tercengkeram I Ki Hu. Dia berusaha memberontak, tetapi
kelima jari tangan I Ki Hu mencengkeramnya kuat-kuat.
Terdengarlah suara krek! Krek! begitu sakitnya sehingga
wajahnya pucat pasi. Tetapi mulutnya masih memaki dengan
garang.
"Sebentar lagi kau akan mati, untuk apa kau sesumbar?"
I Ki Hu memperdengarkan suara tertawa yang dingin.
Lengan tangannya dihentakkan. la bermaksud melemparkan
orang tadi ke dalam sungai, tetapi haru saja dia mengangkat
tuhuh orang itu, tiba-tiba kedua pendeta yang duduk di sisi kiri
dan kanan membuka matanya. Mata mereka menyorot-kan
sinar yang ganjil. I Ki Hu adalah seorang tokoh yang memiliki
kepandaian yang tinggi. Apa pun yang menyangkut ilmu silat
pasti dia tahu. Hatinya kembali tercekat. Diam-diam dia
berpikir, ilmu yang dipelajari kedua pendeta ini mirip dengan
ilmu Bit tat sin kang dari kaum pendeta berjubah kuning di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pedalaman Tibet. Sinar mata mereka menyiratkan rona
kekuningan. Dapat dipastikan bahwa kedudukan maupun
tenaga dalam mereka dalam Oey kau (Agama Kuning) sudah
mencapai tingkat yang tinggi sekali. Berpikir sampai di situ,
tanpa dapat dipertahankan lagi gerakan tangannya jadi
lambat. Tampak lhama yang duduk di tengah-tengah
mendongakkan kepalanya dan melirik ke kiri kanan. Kedua
lhama yang duduk di sisinya pun memejamkan matanya
kembali. Lhama tua itu herkata dengan nada perlahan dan
seperti keenggan-engganan.
"Apabila I sicu ingin meminjam perahu, untuk apa harus
melukai orang? Harap cepat m-nyeberangi sungai. Lo ceng
(panggilan kepada diri sendiri yang kedudukannya seorang
pendeta) ingin melanjutkan perjalanan secepatnya."
Tentu saja I Ki Hu menggunakan kesempatan untuk
menatap ketiga pendeta itu. Tampak mereka memang
mengenakan jubah pendeta berwarna kuning, tetapi karena
sudah tua sekali, maka warnanya sudah pudar. Apalagi lhama
yang duduk di tengah, bahkan pakaiannya sudah berubah
warna menjadi agak kelabu.
I Ki Hu yakin mereka memang para pendeta dari Oey kau.
Untuk sesaat dia juga tidak berani sembarangan bertindak,
karena ilmu kepandaian yang diturunkan oleh agama yang
satu ini mengandung keanehan tersendiri. Boleh dibilang
berbeda dengan ilmu silat aliran mana pun di dunia ini. Diamdiam
hati I Ki Hu juga merasa heran, karena selama ini para
lhama dari Oey kau hanya menetap di wilayah Tibet atau
Mongol. Mereka tidak pernah muncul di luaran. Apalagi kalau
menilik usia ketiga orang ini yang sudah tinggi sekali,
kedudukan mereka dalam agama itu jelas juga termasuk
angkatan tua. Entah ada keperluan apa mereka datang ke
Tiong goan? Mendengar nada suara lhama tua itu, tampaknya
dia sudah bersedia meminjamkan perahu. Karena itu I Ki Hu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merasa senang sekali. Dia melepaskan cengkeraman
tangannya dari bahu orang tadi.
"Apabila Taisu sudah bersedia meminjamkan perahu, cayhe
juga tidak akan menyusahkan lagi." Tubuhnya berketebat ke
depan perahu, dan dengan menggunakan tali tadi sebagai
titian, dia kembali ke tepi sungai. Setelah itu dia menarik tali
tadi agar perahu mendekat. Kereta kuda dinaikkan ke atasnya,
tali yang digunakan digulung kembali lalu memutar haluan
perahu untuk menyeberangi sungai.
I Ki Hu berdiri di samping kereta, dia khawatir ketiga Ihama
itu tiba-tiba akan menimbulkan kesulitan baginya. Karena itu
dia juga berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan. Perahu
melaju dengan cepat, sekejap kemudian mereka sudah berada
di tengah-tengah sungai.
"Pukulan I sicu tadi, angin yang terpancar keluar
mengandung hawa sesat, apakah I sicu ini orang dari Mo kau?
Entah Mo kau kaucu, si tua Kwe lo sian sing tinggai di mana
sekarang?" tanya pendeta yang duduk di tengah.
Mendengar pertanyaannya, I Ki Hu terkejut setengah mati.
Karena si tua Kwe lo sian sing yang ditanyakan Ihama itu
adalah mertuanya sendiri yang terbunuh di tangannya. Juga
merupakan ketua angkatan ketiga puluh sembilan dari partai
itu. Kaucu itu sendiri sudah mati tujuh belas tahun yang lalu.
Boleh dibilang selama ini tidak ada orang yang pernah
mengungkit lagi nama 'Kwe kau cu’.
"Entah untuk apa Taisu menanyakannya?" tanya I Ki Hu
setelah tertegun sejenak.
"Dulu loceng mempunyai kesempatan bertemu satu kali
dengan Kwe lo Kau cu. Kali ini kedatangan kami juga untuk
mencarinya, tetapi ternyata setelah mencarinya sekian lama
dan menanyakan kesana kemari, tidak ada seorang pun yang
tahu kemana pindahnya orang tua itu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hati I Ki Hu langsung merasa bangga mendengar
ucapannya. Karena tujuh belas tahun yang lalu, I Ki Hu
memberontak terhadap Mo kau dan membunuh tokoh-tokoh
tingkat tinggi di dalam partai itu. Bahkan mertua dan istrinya
sendiri juga dibunuh. Boleh dibilang hal ini sudah tersebar luas
di dunia kang ouw. Tetapi Ihama tua tadi justru mengatakan
'tidak ada seorang pun yang menge-tahui kemana pindahnya
Mo kau kaucu Kwe lo sian sing'. Hal ini membuktikan bahwa
namanya benar-benar menggetarkan dunia kang ouw
sehingga tidak ada seorang pun yang berani mengungkapkan
kejadian yang sebenarnya. Karena itu pula, I Ki Hu langsung
tertawa terbahak-bahak.
"Taisu ingin mencari Kwe kaucu, dari sini am-bil saja arah
timur, kurang lebih tiga ratusan li, ada sebuah desa bernama
Jit Hong ceng. Asal Taisu sudah sampai di sana pasti bisa tahu
sendiri!"
Lhama tua itu tidak tahu bahwa Jit Hong ceng yang
dikatakannya itu bukan sebuah desa, tetapi tanah
pemakaman.
"Terima kasih atas petunjuknya," ucapnya.
Ketika pembicaraan berlangsung, perahu sudah berlabuh di
tepi sungai. I Ki Hu dan Tao Ling segera turun dari perahu
dengan membawa serta kereta kuda mereka. Perahu pun
meluncur kembali. I Ki Hu memandanginya dengan perasaan
ingin tahu.
Setelah perahu itu berada di kejauhan dan tinggal titik
hitam, dia baru menolehkan kepalanya kembali. Diam-diam
dia berpikir dalam hati. Diri-nya adalah menantu dari kaucu
Mo kau, tetapi dia belum pernah mendengar bahwa antara
para pendeta Tibet dengan Mo kau terjalin hubungan
persahabatan. Ketiga pendeta tadi datang ke Tiong goan,
pada suatu hari nanti, mereka pasti akan tahu juga bahwa
Kwe kaucu sudah meninggal tujuh belas tahun yang lalu,
bahkan seluruh tokoh pen-ting partai itu juga mati di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tangannya. Apabila ketiga lhama tadi bermaksud
membalaskan dendam bagi kaucu Mokau, berarti dia
menemukan lawan berat yang sulit ditandingi.
Sembari berpikir, I Ki Hu menjalankan kereta kudanya.
Kemudian dia berpikir lagi, ilmu kepan-daiannya demikian
tinggi, rasanya tidak ada orang lagi di dunia ini yang sanggup
menandingi. Lagipula ada beberapa tokoh berilmu tinggi yang
dapat diperalatnya. Seandainya ketiga lhama itu akan
mencarinya membalaskan dendam Kwe kaucu, dia juga tidak
perlu takut. Akhirnya perasaan I Ki Hu jadi mantap, dia
meneruskan perjalanan menuju Si Cuan.
Menjelang malam, mereka sudah sampai di sebuah jalan
raya yang lurus dan lebar. Wilayah Si Cuan seperti sebuah
perbukitan, jarang ada jalan raya. Tetapi jalan raya yang
mereka lalui ini diatur dengan batu besar kecil sehingga
terlihat rapi. Tanahnya datar, di kedua sisi tumbuh pepohonan
yang rindang. Sekali lihat saja sudah dapat dipastikan bahwa
jalan raya itu dibuat oleh seseorang. Kereta kuda yang
ditumpangi oleh I Ki Hu dan Tao Ling dapat melaju cepat di
atas jalan raya itu. Tiba-tiba terdengar suara desiran angin,
selembar jala yang besar sekali tahu-tahu melayang turun dan
menghadang di depan kereta.
Kejadiannya terlalu mendadak. I Ki Hu cepat-cepat menarik
tali kendali kudanya agar berhenti. Tampak jala lebar itu
terbuat dari semacam kawat, di bagian atasnya terdapat
banyak duri tajam dari sejenis paku. Tajamnya bukan main.
Dalam waktu yang bersamaan, mereka juga melihat ada
enam-tujuh orang yang muncul dari pohon-pohon di kedua sisi
jalan.
"Siapa yang datang?" tanya mereka serentak.
Melihat penghadangan yang lucu itu, I Ki Hu merasa kesal
dan geli. Kereta kudanya sudah dihen-tikan. Tampak orangorang
yang muncul dari balik pohon masih muda-muda. Yang
paling tua berumur sekitar tiga puluh tahun. Tampang mereka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
gagah-gagah. Dua di antaranya paling-paling berusia tujuh
belasan tahun. Mereka berdiri di atas ranting pohon sehingga
dapat dihayangkan bahwa ilmu Gin Kang mereka sudah cukup
tinggi.
Meskipun sebelumnya I Ki Hu belum pernah mengunjungi
keluarga Sang, kalau dihitung dari perjalanan yang telah
ditempuhnya, tempat tinggal keluarga Sang sudah hampir
sampai. Sedangkan jalanan lurus ini pasti milik keluarga Sang,
dan tidak perlu diragukan lagi orang-orang yang mun-cul dari
balik pohon pasti anggota keluarga itu pula. Mereka membuat
jalan raya ini untuk menuju gedung keluarga Sang. Karena itu,
I Ki Hu segera tertawa dingin. Dia menjalankan lagi keretanya
maju sedikit.
"Tamu berkunjung dengan baik-baik, mengapa disambut
dengan cara demikian tidak sopan?" katanya.
"Siapa yang Anda kunjungi?" tanya kedua pemuda yang
berdiri di ranting pohon.
Jarak I Ki Hu sudah dekat sekali. Dia dapat melihat bahwa
kedua pemuda itu tampan-tampan dan gagah. Di pinggang
masing-masing terselip sebuah gantulan (Besi yang ujungnya
berbentuk bola). Keluarga Sang memiliki dua macam ilmu
yang terkenal. Yang satu justru ilmu gantulan itu, dan yang
satunya lagi tujuh puluh dua cara menotok jalan darah
manusia. Usia kedua pemuda ini masih muda sekali. Mungkin
terhitung generasi ketiga dari Kakek berambut putih Sang
Hao. I Ki Hu sendiri juga merasa malu apabila harus bergebrak
dengan mereka. Karena itu dia hanya berkata dengan
nada dingin.
"Aku mengunjungi Kakek berambut putih Sang Hao."
"Kakekku tidak menemui siapa pun," sahut kedua pemuda
itu.
I Ki Hu tersenyum. "Orang lain boleh dia tolak tetapi
terkecuali aku, dia harus mau!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kedua pemuda itu memang cucu si Kakek berambut putih
Sang Hao. Anggota keluarga Sang semuanya berilmu, tetapi
tinggi rendahnya kepan-daian masing-masing berbeda. Kedua
kakak beradik itu bernama Sang Cin dan Sang Hoat. Mereka
terhitung generasi ketiga dalam keluarga Sang. Kedua pemuda
itu juga merupakan cucu kesayangan Sang Hao. Karena itu,
ketiga puluh enam jurus gantulan pemancar angin juga
dikuasai sebagian.
Sebetulnya keluarga Sang terkenal karena ilmu ruyung
saktinya. Tetapi senjata yang satu ini dianggap kurang praktis
dibawa ke mana-mana dan juga tidak sesuai digunakan
generasi muda. Karena itu kemudian hari Sang Hao
mengubahnya dengan menggunakan gantulan sebagai
senjata.
Bentuk ruyung dan gantulan memang hampir sama.
Bedanya yang satu panjang, sedangkan yang lainnya pendek.
Kepandaian Sang Cin dan Sang Hoat malah lebih tinggi bila
dibandingkan dengan beberapa anggota dari generasi kedua.
Karena keduanya mendapat didikan langsung dari si kakek
berambut putih Sang Hao. Tentu saja Sang Hao sendiri
memiliki kepandaian yang sudah mencapai taraf tinggi sekali.
Tetapi orang tua itu tidak berminat mencari nama di dunia
kang ouw. Dia memilih menetap dengan tenang di gedung
keluarga Sang di wilayah Si Cuan. Dia pun melarang anggota
keluarganya atau murid-muridnya berkecimpung di dunia kang
ouw. Karena itu pula Sang Cin dan Sang Hoat tidak tahu siapa
I Ki Hu.
Mendengar nada bicara I Ki Hu yang sombong, kedua
pemuda itu merasa jengkel.
"Pokoknya Yaya kami sudah mengatakan tidak ingin
menemui siapa pun."
I Ki Hu merasa geli sekali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kalau dia tidak sudi menemuiku juga, terpak-sa aku
menjadi tamu yang tak diundang."
Begitu I Ki Hu mengeluarkan perkataan tadi, orang-orang
yang ada di atas pohon langsung mengeluarkan suara bising,
mereka memaki-maki seenaknya.
"Dia kira dirinya hebat sekali, berani berbuat macammacam
di tempat tinggal keluarga Sang."
I Ki Hu tetap enggan berdebat dengan mereka. Dia hanya
tersenyum dingin sedikit. Pada saat ini, jala besar yang
terbuat dari kawat itu masih merin-tangi jalanan di depan
mereka. Tentu saja kereta kuda tidak dapat dijalankan
melewatinya. Tetapi dengan kepandaian I Ki Hu yang tinggi,
untuk meloncati jala sepanjang tiga depaan saja tentu tidak
jadi masalah. Ketika suara teriakan orang sudah reda, dia
segera menyingkapkan tirai kereta.
"Hu jin, di depan ada jala kawat yang meng-hadang. Kereta
tidak bisa maju lagi. Tetapi untung saja gedung kediaman
keluarga Sang sudah dekat. Kita jalan saja sembari menikmati
pemandangan alam," katanya kepada Tao Ling.
Perasaan hati Tao Ling terasa hampa, apa pun yang terjadi
di depannya seakan tidak menarik perhatiannya. Apa pun
yang dikatakan oleh I Ki Hu, dia hanya mengikuti saja. la tidak
pernah membantah. Mendengar perkataan I Ki Hu barusan,
dia hanya menganggukkan kepalanya. I Ki Hu
membimbingnya turun dari kereta dan berjalan ke depan
beberapa langkah.
Ketika melihat Tao Ling, orang-orang yang muncul dari
balik pohon tadi langsung berteriak lagi. Suaranya bising
sekali. Salah satunya bahkan berteriak sekeras-kerasnya.
"Wan! Tua bangka itu malah mempunyai istri yang begitu
muda. Pasti bukan orang baik-baik jangan biarkan dia lolos!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tentu saja. Yaya toh sudah berpesan, siapa pun tidak
boleh maju selangkah dari tempat ini, tidak perduli dia orang
baik-baik atau bukan, pokoknya sama saja."
Ketika orang-orang itu berbicara, I Ki Hu tetap
membimbing Tao Ling melangkah ke depan. Dia
memperhatikan jala kawat yang membentang di depannya
dengan seksama. Tingginya mencapai tiga depa. Lebarnya
mencapai empat-lima depa. Kedua ujungnya dikaitkan pada
pepohonan di kedua sisi jalan. Apabila dia nekat menerobos ke
depan, bagi I Ki Hu sendiri tentu tidak jadi masalah. Tetapi
kalau baru berjalan setengahnya, tiba-tiba orang-orang yang
ada di atas pohon men-jatuhkan jala itu, tentu Tao Ling akan
terluka parah terkena duri-durinya yang tajam. Mungkin malah
bisa mati di tempat itu.
I Ki Hu tidak ingin menempuh resiko itu. Tiba-tiba dia men
da pat akal. Dipungutnya beberapa butir batu di tepi jalan.
Tangannya mengibas dan pinggangnya meliuk. Batu-batu itu
pun melayang ke arah pepohonan di sisi jalan. Tahu-tahu
keenam-tujuh orang yang ada di sekitar pepohonan sudah
tertotok jalan darahnya.
Melihat dirinya sekali turun tangan sudah mencapai hasil
yang gemilang, hati I Ki Hu terus bangga sekali. Dia tertawa
terbahak-bahak. Diraihnya pinggang Tao Ling, sembari
menghimpun hawa murninya. Dia mencelat setinggi satu depa
lebih. Dengan menggunakan kawat jala sebagai tumpuan
kakinya, dia mencelat lagi ke atas setinggi dua setengah depa.
Sekejap mata saja dia sudah melayang turun kembali di
seberang jala.
Setelah berhasil melewati jala kawat itu, I Ki Hu baru
menolehkan kepalanya sambil tertawa.
"Kalian semuanya pasti keturunan Kakek berambut putih
Sang Hao. Tentunya sudah mem-punyai dasar ilmu silat yang
cukup kuat. Totokanku tadi tidak terlalu berat. Asal tenaga
dalam kalian sudah mencapai tingkat yang lumayan, pasti bisa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membebaskan sendiri totokanku tadi. Aku masih ingin
menikmati kein-dahan pemandangan daerah ini, setelah
berhasil melepaskan totokan kalian, silakan menyusul aku
nanti!".
Tentu saja anggota keluarga Sang yang ada di atas pohon
mendongkol sekali mendengar kata-kata I Ki Hu. Tetapi
mereka tidak bisa melakukan apa-apa.
Hanya Sang Cin dan Sang Hoat berdua yang mengedarkan
hawa murninya untuk membebaskan diri dari totokan.
Pertama, memang tenaga dalam mereka yang paling kuat.
Kedua, tempat mereka berdiri juga paling tinggi. Jadi batu
yang disambit-kan I Ki Hu tadi hanya mengenai mereka
dengan ringan. Setelah menghimpun hawa murninya sejenak,
tubuh pun terasa pulih kembali.
"Jangan kabur!" teriak mereka.
Tubuh mereka berkelebat dari atas pohon dan melayang
turun. Secepat kilat keduanya berlari tnengejar I Ki Hu dan
Tao Ling.
Selesai berkata tadi, I Ki Hu langsung berjalan ke depan.
Baru menindak beberapa langkah, dari belakang sudah
terdengar suara teriakan Sang Cin dan Sang Hoat. Dia merasa
kagum juga melihat cucu Sang Hao yang masih demikian
muda dapat melepaskan diri dari totokannya dalam waktu
yang demikian singkat.
I Ki Hu menolehkan kepalanya. Tangan kirinya tetap
membimbing Tao Ling. Tangan kanannya mengibas. Terasa
ada serangkum angin yang ken-cang menahan gerakan Sang
Cin dan Sang Hoat.
Meskipun kedua pemuda itu masih belia dan tidak banyak
pengetahuannya, mereka bukan orang bodoh. Saat itu mereka
sudah bisa mem-bayangkan bahwa ilmu kepandaian lawannya
tinggi sekali dan mereka pasti bukan tandingannya. Karena itu
mereka menghentikan gerakannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Siapa Tuan sebetulnya?" tanya kedua pemuda itu.
Melihat kedua anak muda itu bisa melihat gelagat, I Ki Hu
juga tidak mendesak lebih jauh. la tertawa terbahak-bahak.
"Siapa pun aku ini, apa persoalannya. Apakah ada sebagian
orang yang tidak diijinkan mengun-jungi keluarga Sang?" ucap
I Ki Hu.
Sang Cin tersenyum ramah.
"Harap Cianpwe jangan salah sangka. Yaya pernah
berpesan bahwa ada beberapa orang yang dikecualikan!"
"Siapa saja orang-orang yang dikecualikan itu?" tanya I Ki
Hu.
"Salah satunya, Bok Cin sian siang dari Bu Tong san," sahut
Sang Cin.
I Ki Hu mendengus dingin.
"Mengapa Lo Sang (Si Sang tua) bisa meman-dang tinggi
hidung kerbau itu?"
"Ada lagi Bu Kong Taisu dari Ngo Tay san," kata Sang Cin
kembali.
I Ki Hu mendengar Sang Cin berturut-turut menyebut dua
orang tokoh yang kepandaiannya memang tinggi dan sangat
terkenal di dunia kang ouw, tetapi namanya sendiri masih
belum disebut-kan, wajahnya mulai menyiratkan kemarahan.
"Siapa lagi?"
Sang Cin dan Sang Hoat saling pandang sekilas.
"Yang satunya lagi tentu Tuan sendiri!"
I Ki Hu tahu kata-kata ini hanya ditambahkan kedua anak
muda itu barusan saja. Tetapi dia senang melihat kecerdasan
keduanya yang pandai mengambil hati.
"Apakah kalian tahu, siapa aku?" tanya I Ki Hu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kedua pemuda itu tersenyum lagi.
"Langsung menyebut nama di hadapan orang yang lebih
tua, sangat tidak sopan."
"Kalau kalian memang tidak tahu, untuk sementara aku
juga tidak akan memberitahukan. Cepat antarkan kami
menemui kakekmu!"
Wajah keduanya menyiratkan kebimbangan sekilas. Tetapi
sekejap mata sudah pulih kembali seperti biasa.
"Baiklah. Harap Tuan mengikuti kami!"
I Ki Hu bukan tokoh sembarangan, meskipun perubahan
wajah kedua pemuda itu hanya sekilas, dia sudah menduga
bahwa mereka akan menggunakan akal licik lagi. Tetapi dia
hanya ter-tawa dingin. Dengan membimbing Tao Ling, tanpa
tergesa-gesa sedikit pun, dia mengikuti Sang Cin dan Sang
Hoat dari belakang.
Sebentar saja mereka sudah berjalan sejauh satu li. Tibatiba
tampak Sang Cin dan Sang Hoat membelok ke kiri. Dari
jalan besar mengambil jalan kecil.
Jalan itu bukan saja berkelok-kelok, bahkan setelah
berjalan dua-tiga depa, tampak di depan merupakan sebuah
hutan bambu.
Pohon bambu di dalam hutan tidak banyak, tetapi
batangnya besar-besar dan lurus sekali. I Ki Hu terus
mengikuti dari belakang. Melihat kedua pemuda itu masuk ke
dalam hutan, dia pun meng-ajak Tao Ling ikut masuk juga.
Tetapi baru saja masuk dua langkah dia merasakan sesuatu
yang kurang beres. Di sekitarnya hanya terlihat batang bambu
yang warnanya hijau dan mereka tidak bisa menentukan arah
yang harus dipilih.
I Ki Hu yakin batang-batang bambu itu disusun sesuai
dengan bentuk semacam barisan. Dan sekarang dia bersama
Tao Ling sudah terjebak ke dalam barisan itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mengingat kedua pemuda yang masih ingusan itu
menjebaknya masuk ke dalam barisan bambu, I Ki Hu merasa
geli.
"Bocah-bocah busuk, kemana perginya kalian?" ucap I Ki
Hu pura-pura marah.
Terdengar suara Sang Cin menyahut.
"Ilmu kepandaian tuan sungguh mengejutkan. Mengapa
tidak berusaha menemukan kami?" sahut Sang Cin.
Hati I Ki Hu sendiri juga geli namun jengkel. Tanpa
menimbulkan suara sedikit pun dia memutari batang-batang
bambu itu. Setiap kali ber-putar, dia menggunakan tangannya
mengerat batang-batang bambu itu.
Tidak lama kemudian, seluruh batang bambu yang ada
dalam hutan itu sudah terkerat oleh tangannya. Kemudian dia
memperdengarkan suara tertawa terbahak-bahak.
Begitu suara tertawanya sirap, sepasang lengan bajunya
langsung mengibas, berpuluh batang bambu seperti diterpa
angin kencang secara tiba-tiba. Terdengarlah suara
bergemuruh, lalu batang-batang bambu itu pun rubuh
semuanya di atas tanah.
Ada yang saling bertumpuan, ada pula yang melayang di
udara. Dalam sekejap mata saja, suasana di dalam hutan itu
persis seperti terjadi gempa yang hebat. Boleh dibilang tidak
ada sebatang pun pohon bambu yang utuh.
Rupanya ketika mengerat batang-batang bambu sambil
berputar tadi, I Ki Hu sudah mengerahkan tenaganya untuk
mengguncangkan akar yang tertanam di bawah tanah
sehingga ter-lepas. Begitu dikibas dengan lengan bajunya,
otomatis seluruh batang bambu itu rubuh tidak karuan.
Suara yang bergemuruh itu mengejutkan Sang Cin dan
Sang Hoat. Mereka memang sudah men-duga kepandaian I Ki
Hu sangat tinggi, tetapi tidak menyangka tenaga dalamnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bisa sekuat itu. Belum lagi sempat keduanya berteriak, tibatiba
tampak bayangan berkelebat, gerakannya seperti terbang.
I Ki Hu mengulurkan sepasang tangannya dan tahu-tahu leher
baju Sang Cin dan Sang Hoat sudah tercengkeram olehnya
Kedua pemuda ini sungguh tidak menyangka bahwa
barisan Telaga Bambu yang selama ini sangat dibanggakan
oleh keluarganya ternyata dapat dihancurkan dalam waktu
yang singkat, wajah mereka pun tampak pucat pasi.
Hati I Ki Hu bangga sekali melihat rasa terkejut kedua anak
muda itu. la tertawa terbahak-bahak.
"Ibarat jangkerik menghadang kereta. Ternyata kalian
berani menjebak aku ke dalam barisan bambu itu. Ini
namanya mencari penyakit sendiri, tahu?"
Sembari berkata, I Ki Hu segera mengerahkan tenaga
dalamnya. Tanpa dapat ditahan lagi tubuh Sang Cin dan Sang
Hoat melayang sejauh dua depa dengan menimbulkan suara
desiran angin kemudian terbanting di atas tanah. Wajah
keduanya langsung bengap dan memar di sana sini.
Untung saja kedatangan I Ki Hu ke tempat tinggal keluarga
Sang memang tidak bertujuan mencari permusuhan dengan
Kakek berambut putih, Sang Hao. Karena itu, tindak
tanduknya pun tidak berniat mencelakai kedua pemuda itu.
Sean-dainya dia membanting kedua pemuda itu dengan
mengerahkan tenaga dalamnya lebih ban yak lagi, tentu
mereka sudah mati saat itu juga.
Sementara itu, Sang Cin dan Sang Hoat berusaha bangun.
Namun baru saja terduduk tegak, I Ki Hu sudah melayang
turun di hadapan mereka. Keduanya terkejut setengah mati.
Dalam keadaan gugup, mereka masih herusaha menga-dakan
perlawanan. Masing-masing segera mencabut gantulan yang
terselip di pinggang kemudian dihantamkan ke arah I Ki Hu.
Sekali lagi I Ki Hu tertawa terbahak-bahak, tubuhnya
berkelebat, sepasang tangannya menjulur ke depan. Bret!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bret! Tahu-tahu kedua gantulan itu sudah tergenggam di
telapak tangannya.
Sejak tadi I Ki Hu sudah mengerahkan tenaga murninya ke
dalam telapak tangan. Kedua gantulan itu bukan saja tidak
sempat melukainya, bahkan tenaga pantulan dari telapak
tangannya begitu kuat, hingga kedua gantulan itu terhentak
ke depan dan tepat mengenai wajah Sang Cin dan Sang Hoat.
Keduanya langsung memekik kesakitan. Tam-pak hidung
dan bibir mereka berdarah. Kedua gantulan tadi kembali
melayang di udara setelah menyampok muka keduanya.
Terdengar suara ber-dengung-dengung dan timbul dua gurat
cahaya seperti pelangi yang melintas.
Kali ini, Sang Cin dan Sang Hoat tidak sanggup lagi
mengadakan perlawanan. I Ki Hu mengeluarkan suara
bentakan. Sekali lagi dia menerjang ke depan untuk
mencengkeram kedua pemuda itu. Tetapi baru saja tubuhnya
bergerak, dari belakangnya terdengar seseorang berkata.
"Jangan turunkan tangan keji!" Suara terdengar, orangnya
pun tiba.
Tampak sesosok bayangan melesat datang ke arah mereka.
Tetapi mana mungkin I Ki Hu memandang sebelah mata. Dia
tetap menerjang ke depan dan mencengkeram lengan Sang
Cin dan Sang Hoat. Setelah itu dia baru menolehkan
kepalanya.
Tampak dua orang laki-laki berusia setengah baya dan
seorang perempuan yang usianya sekitar empat puluhan
tahun sudah berdiri di belakangnya dengan wajah
menyiratkan perasaan terkejut.
I Ki Hu tahu ketiga orang ini pasti masih turunan si Kakek
berambut putih Sang Hao. Karena itu dia segera tertawa
dingin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Dengan maksud baik aku datang kemari mengunjungi
Kakek berambut putih, Sang Hao. Tetapi kedua bocah ini
sungguh kurang ajar. Berani-beraninya mereka mengurung
aku dalam barisan bambu. Karena itu aku memberi pelajaran
sedikit kepada mereka agar kelak mereka tahu bahwa di atas
gunung masih ada gunung, di antara yang jago masih ada
orang yang lebih jago."
Wajah perempuan setengah baya itu menyiratkan
kepanikan.
"Apa yang dikatakan Tuan memang tidak salah. Kedua
bocah ini memang agak nakal. Lagipula pengetahuannya
cetek. Punya mata tapi tidak bisa melihat Thai san. Akibatnya
malah menimbulkan kesulitan bagi Tuan." Berkata sampai di
sini, dia mendelik kepada Sang Cin dan Sang Hao.
"Kalian berdua, cepat minta maaf kepada Cianpwe ini!"
bentak perempuan itu.
I Ki Hu tertawa lebar.
"Tidak perlu sampai minta maaf. Cayhe hanya ingin
bertemu dengan Lo Sang." Tangannya mengendur, kedua
pemuda itu didorong ke depan dan tepat berdiri di samping
kiri kanan perempuan setengah baya itu.
Mimik wajah perempuan itu tampak agak lega.
"Tuan ingin bertemu dengan ayah . . . sebetul-nya tidak
menjadi masalah, tetapi ayah . . ."
"Apakah Lo Sang tidak bersedia menemui siapa pun?"
tanya I Ki Hu.
Wajah perempuan itu langsung berubah menjadi murung.
"Sebetulnya hal ini merupakan rahasia keluarga kami, dan
kami tidak ingin orang luar me-ngetahuinya ..."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Piau moay (adik sepupu), masa kau akan men-ceritakan
urusan ini kepada orang luar," tukas salah satu laki-laki
setengah baya yang datang ber-sama perempuan itu.
Sepasang alis perempuan itu berkerut-kerut sekilas.
"Kalau tidak mengatakan secara terus terang, apakah
kalian bisa menahan keinginan Tuan tamu ini?" sahut
perempun itu.
Kedua laki-laki setengah baya itu menatap kepada I Ki Hu
sejenak, kemudian mereka menundukkan kepalanya.
"Piau moay, bahkan namanya saja kau belum tahu, masa
kau sudah ingin menceritakan urusan ini kepadanya?" kata
salah satu laki-laki itu lagi.
I Ki Hu mendengar pembicaraan yang berlangsung di
antara mereka. Diam-diam hatinya menjadi penasaran. Dia
berpikir, kalau mendengar nada pembicaraan mereka,
tampaknya telah terjadi sesuatu yang luar biasa dalam
keluarga Sang. Sedangkan keluarga Sang ingin menutupi
kejadian ini dari orang luar.
Setelah berpikir sejenak, I Ki Hu tahu bahwa ilmu
kepandaian si Kakek berambut putih Sang Hao sangat tinggi.
Apalagi anggota keluarga Sang semuanya mengerti ilmu silat.
Bahkan ada beberapanya yang merupakan jago kelas satu.
Seandainya ada seseorang yang bisa menimbulkan masalah di
keluarga Sang, I Ki Hu benar-benar tidak sanggup
membayangkan siapa orang itu.
"Entah siapa nama Tuan tamu yang mulia?" tanya
perempuan itu.
"Cayhe she I, tinggal di lembah Gin Hua kok, wilayah
barat."
Kedua laki-Iaki dan perempuan setengah baya itu terkejut
setengah mati. Wajah mereka langsung pucat pasi. Bahkan
tanpa disadari mereka menyurut mundur dua langkah. Apalagi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sang Cin dan Sang Hoat, wajah keduanya persis seperti mayat
hidup.
I Ki Hu menyunggingkan seulas senyuman tipis. Setiap ada
orang yang mendengar namanya langsung memperlihatkan
perasaan terkejut, baginya merupakan sebuah kebanggaan.
"Kalian bertiga tidak perlu takut. Kedatangan cayhe tidak
mengandung maksud jahat," ujar I Ki Hu.
Mimik wajah si perempuan yang paling cepat pulih kembali.
Tetapi masih memperlihatkan sedikit ketegangan.
"Entah ada keperluan apa I sian sing mengun-jungi kami?
Tadi kedua putra kami berbuat kesalahan, harap I sian sing
dapat memaafkan . . ."
I Ki Hu tidak memberi kesempatan kepada perempuan itu
untuk menyelesaikan kata-katanya. Dia melirik sekilas kepada
Sang Cin dan Sang Hoat. Wajah kedua pemuda itu tampak
semakin tidak enak dilihat.
"Orang yang tidak tahu, tidak bersalah. Kalian tidak perlu
khawatir."
Perempuan setengah baya itu memang putri si kakek
berambut putih Sang Hao. Namanya Sang Ling. Begitu
mendengar bahwa orang yang ada di hadapannya ternyata si
Raja Iblis Gin leng hiat dang I Ki Hu, rasa terkejutnya benarbenar
tidak terkirakan. Peluh dingin membasahi seluruh
tubuhnya. Dia benar-benar mengkhawatirkan keselamatan
kedua putrinya. la juga tahu watak I Ki Hu yang senang orang
bersikap rendah di depan-nya, maka dari itu cepat-cepat dia
meminta maaf. Setelah mendengar jawaban I Ki Hu, hatinya
baru merasa lega.
"Seandainya dari tadi kami tahu bahwa tamu yang
berkunjung adalah I sian sing, seharusnya kami segera
mengadakan penyambutan, tetapi sayangnya . . . keluarga
Sang sedang tertimpa musibah . . ."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Sebetulnya apa yang terjadi? Dapatkah kau
mengatakannya kepada cayhe?"
"Ayah ... Sang Hao sudah meninggal beberapa hari yang
lalu."
Mendengar keterangan Sang Ling, tanpa dapat ditahan lagi
bibir I Ki Hu mengeluarkan seruan terkejut. Seandainya orang
lain yang mendengar berita itu, biarpun terkejut tetapi tidak
seperti keadaan I Ki Hu saat itu. Mereka pasti bisa
menduganya karena usia Sang Hao memang sudah lanjut.
Biarpun ilmu kepandaiannya tinggi sekali, setiap manusia pasti
akan mengalami kematian. Tetapi bagi I Ki Hu lain. Sebab dari
semua jejak yang telah berhasil ditelus ya, dia sudah menduga
bahwa telah terjadi senate dalam keluarga Sang. Karena
itu pula, ketika mendengar cerita Sang Ling tentang kematian
ayahnya, ia sudah membayangkan bahwa orang tua itu mati
tidak wajar. Pasti ada sesuatu yang luar biasa.
Dan yang membuat I Ki Hu terkejut justru karena
kepandaian Sang Hao yang sudah tinggi sekali. Bukankah
aneh apabila seseorang yang ilmunya demikian tinggi bisa
mati secara mendadak tanpa mengalami penyakit apa pun?
Bukankah aneh apabila orang yang kepandaiannya demikian
tinggi bisa mati tidak wajar?
"Bagaimana Lo Sang menemui kematiunnya? Dapatkah kau
menceritakannya?" tanya I Ki Hu setelah perasaan terkejutnya
reda.
Sang Ling melirik sekilas kepada I Ki Hu. Sepertinya dia
merasa heran mengapa orang itu bisa menduga ada yang
tidak wajar pada kematian ayahnya. Dia menarik nafas
panjang.
"Sebetulnya memalukan kalau cerita ini ter-sebar di luaran,
ayah ... mati karena ter . . . kejut."
I Ki Hu yang mendengarnya benar-benar merasa di luar
dugaan. Dia malah mengira pende-ngarannya yang salah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Mati terkejut?" Diam-diam hatinya berpikir, entah urusan
apa di dunia ini yang dapat membuat si Kakek berambut putih
Sang Hao demikian terkejutnya sehingga menemui kematian.
"Tidak salah," sahut Sang Ling. "Meskipun saat itu ayah
tidak sempat mengucapkan sepatah kata pun, tetapi kami
melihat dengan jeias mimik wajahnya yang menyorotkan
perasaan terkejut, Kemudian langsung mati. Di sini bukan
tempat bicara yang leluasa, I sian sing. Bagaimana kalau I
sian sing dan I hu jin mampir sebentar di tempat kediaman
kami?"
Sebetulnya kedatangan I Ki Hu mempunyai tujuan
tersendiri. Tetapi setelah mendengar berita dari Sang Ling
bahwa ayahnya mati karena terkejut, timbullah perasaan ingin
tahu di dalam hatinya. Malah dia mengenyampingkan dulu
urusannya sendiri.
"Baik!" Dengan membimbing Tao Ling, dia mengikuti di
belakang Sang Ling dan kedua lelaki tadi menuju gedung
kediaman keluarga Sang.
Setelah berjalan kurang lebih setengah li, tam-pak sebidang
tanah yang luas sekali. Di atasnya ada bangunan yang besar
dengan atap merah dan tembok yang tinggi. Mereka masuk
melalui pintu gerbang besar yang terbuat dari besi. Di
dalamnya berjejer-jejer rumah dengan ukuran yang berbeda.
Mereka menuju gedung yang terletak di tengah-tengah.
Bentuknya paling besar dan berloteng.
Begitu masuk ke dalamnya, mereka langsung berhadapan
dengan sebuah ruang tamu. Tuan rumah Sang Ling segera
mempersilakan para tamunya duduk.
"Tentunya I sian sing merasa heran mengapa ayah bisa
mati terkejut, bukan?"
"Ini merupakan berita teraneh yang pernah kudengar." Dia
memalingkan kepalanya kepada Tao Ling. "Hu jin, benar
tidak?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tao Ling menemui berbagai kejadian yang tidak terduga,
belakangan dia malah menjadi istri I Ki Hu. Sebetulnya tidak
ada hal apa pun yang membangkitkan minatnya lagi. Tetapi
mendengar berita kematian Sang Hao, sedikit banyaknya
perasaan ingin tahunya tergugah juga. Karena itu dia pun
menganggukkan kepalanya.
"Benar-benar kejadian yang aneh," gumam Tao Ling.
"Kalau mempertimbangkan biang bencana ini, seharusnya
kesalahan ditujukan kepada Kuan Hoang Siau dan pasangan
suami istri Lie Yuan!" ucap Sang ling.
I Ki Hu bertambah bingung.
"Nama ketiga orang ini di dunia kang ouw memang cukup
terkenal, tetapi tidak mungkin sam-pai Lo Sang mati terkejut
karenanya," gumam I Ki Hu.
"Di sinilah letak keanehan kejadian ini. Kalau ingin cerita
yang lebih jelas, kami harus memulainya dari setengah bulan
yang lalu. Malam itu, tiba-tiba ada seseorang yang tubuhnya
penuh berlumur darah menerjang masuk ke tempat tinggal
kami ini. Ketika sampai di dalam, nafasnya tinggal satu-satu."
"Siapa orang itu?" tanya I Ki Hu.
"Orang itu kakak misan kami yang bernama Sang Cu Ce."
Mendengar Sang Ling menyebut nama itu, sepasang alis I
Ki Hu tampak menjungkit ke atas. Sang Ling pun melanjutkan
penuturannya.
"Pada saat itu, seperti biasanya setiap bulan sekali seluruh
anggota keluarga Sang pasti berkumpul. Ayah juga hadir di
tempat. Wajah yang lainnya langsung pucat mengetahui siapa
yang menerjang masuk itu. Ayah segera menanyainya. Siapa
musuh yang melukainya sedemikian rupa. Tetapi Sang Cu Ce
hanya sempat mengucapkan beberapa patah kata, suaranya
pun lirih sekali. Wajah ayah langsung berubah hebat.
Tampaknya ayah terkejut sekali mendengar kata-kata kakak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
misan kami itu. Sang Cu Ce pun menghembuskan nafasnya
yang terakhir setelah mengucapkan beberapa patah kata tadi.
Sikap ayah pun berubah. Tanpa mengucapkan apa-apa, orang
tua itu langsung masuk ke kamarnya. Pertemuan kali itu pun
terpaksa dibubarkan."
"Setelah kejadian itu, apakah ayah kalian tidak mengatakan
apa yang diucapkan oleh Sang Cu Ce menjelang
kematiannya?"
Sang Ling menggelengkan kepalanya.
"Ternyata I sian sing memang cerdas sekali. Ayah memang
tidak mengungkitnya sama sekali, walaupun kami tahu, ketika
Sang Cu Ce mengucapkan beberapa patah kata itu, suaranya
lirih sekali. Orang lain pasti tidak bisa mendengarnya. Tetapi
jarak ayah dengannya begitu dekat, pasti ayah bisa
mendengarnya. Tetapi setelah kejadian itu, ternyata ayah pun
tidak mengatakannya kepada kami," ujar Sang Ling
menjelaskan.
I Ki Hu menegakkan tubuhnya sedikit. Bibir-nya
mengembangkan senyuman.
"Hal ini justru membuat urusannya lebih aneh lagi,"
katanya.
"Tadinya kami mengira ada musuh tangguh yang akan
menyatroni keluarga Sang. Karena itu, meskipun ayah tidak
berpesan apa-apa, kami sendiri segera mengadakan persiapan
untuk menjaga segala kemungkinan . . ." Berkata sampai di
sini, Sang Ling menghentikan ceritanya sejenak. Seakan dia
sedang merenungi kembali kejadian saat itu. Kemudian ia
baru meneruskan kembali. "Tetapi beberapa hari telah berlalu,
ternyata tidak ada kejadian apa pun dalam keluarga kami.
Lima hari berlalu lagi, tiba-tiba kami kedatangan tamu. Tetapi
yang datang ternyata Kuan Hong Siau dan pasangan suami
istri Lie Yuan. Kuan Hong Siau menjelaskan maksud
kedatangannya. Kepada ayah ia mengatakan bahvva dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengharapkan bantuan ayah untuk membebaskan jalan darah
pasangan suami istri Lie Yuan. Tanpa curiga apa-apa, ayah
langsung menyetujuinya. Ayah segera menghampiri pasangan
suami istri Pat Kua kiam, tetapi setelah memperhatikan
sejenak, tiba-tiba wajah ayah berubah hebat. Sesaat
kemudian orang tua itu langsung terkulai di atas tanah. Ketika
kami menghampirinya, ternyata ayah tidak tertolong lagi."
Setelah mendengar penuturan Sang Ling, I Ki Hu kembali
mengembangkan seulas senyuman.
"Sang kouwnio menganggap kematian ayahniu disebabkan
oleh Kuan Hong Siau dan pasangan suami istri Lie Yuan.
Bukankah itu namanya menuduh orang sembarangan? Lebih
baik kalian keluarkan Kuan Hong Siau dan pasangan suami
istri Lie Yuan. Kedatanganku ke mari justru karena ingin
bertemu dengan mereka."
Melihat I Ki Hu dapat menduga semuanya dengan tepat.
Sang Ling dan yang lainnya terkejut setengah mati. Diamdiam
mereka juga merasa kagum kepada si raja iblis ini.
"Kami hanya menyuruh beberapa anggota keluarga kami
mengawasi mereka, sama sekali tidak bermaksud mencelakai
mereka."
"Jalan darah pasangan suami istri Lie Yuan masih belum
terbuka. Ada baiknya kita menengok mereka sekarang," kata I
Ki Hu kembali
Wajah Sang Ling memperlihatkan kebim-bangan. Tetapi I
Ki Hu tidak menunggu per-setujuan Sang Ling, ia langsung
mengajak Tao Ling berdiri. Sang Ling maklum si raja iblis ini
pantang dilanggar kemauannya.
"Boleh juga. Tetapi. . . ketika itu kanii melihat ayah kami
tiba-tiba mati, karena emosi terjadilah sedikit perselisihan
yang mengakibatkan perkelahian antara kami dengan Kuan
Hong Siau. Sekarang dia masih menderita luka-Iuka. Entah
ada keperluan apa I sian sing mencarinya?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Urusan ini aku juga sudah menduganya. Tapi tujuanku
sebenarnya ingin menanyakan sedikit persoalan kepada
pasangan suami istri Lie Yuan. Pokoknya kalian mengantarkan
kami menemui mereka saja."
Sang Ling tidak berani membantah. Dia mengajak I Ki Hu
dan Tao Ling keluar dari ruangan besar itu, mereka menyusuri
sebuah koridor panjang yang menembus ke sebidang tanah
yang luas.
Di atas sebidang tanah itu berdiri sebuah ba-ngunan yang
bentuknya kotak seperti penjara. Bahannya terbuat dari batu,
tingginya kurang lebih tiga depa. Ketika tiba di depan
bangunan itu, Sang Ling bertepuk tangan tiga kali. Tampak
empat laki-laki bertubuh kekar muncul dari atap bangunan itu.
Sang Ling memberi isyarat dengan gerakan tangan. Keempat
orang itu menyembunyikan diri lagi. Tidak lama kemudian
terdengar suara yang bergemuruh. Pintu batu bangunan itu
pun dikerek dengan seutas rantai yang tebal dan menguak
terbuka.
Sang Ling menggerakkan tangannya ke samping.
"I sian sing, I hu jin, silakan masuk!"
I Ki Hu melongokkan kepalanya ke dalam. Tampak pintu
batu itu tebal sekali. Sedangkan rantai besi yang mengereknya
setebal lengan manusia dewasa. Tampaknya tidak ada jalan
lain lagi kecuali pintu batu itu. Diam-diam dia berpikir dalam
hati, apabila ada orang yang terkurung di dalamnya, benarbenar
sulit untuk meloloskan diri. Sembari berpikir, dia
melangkah masuk tanpa ragu sedikit pun.
Keadaan di dalamnya remang-remang. Di tembok batu
hanya tergantung sebuah penerang yang redup. Namun ilmu
kepandaian I Ki Hu sudah mencapai taraf yang tinggi sekali.
Biarpun tempat yang gelap sekali sehingga jari tangan sendiri
pun tidak terlihat, dia masih bisa melihat benda di sekitarnya.
Meskipun keadaan di dalam ruangan bangunan itu hanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
remang-remang, tidak menim-bulkan kesulitan sedikit pun
bagi I Ki Hu.
Dia mendongakkan kepalanya, tampak tinggi bangunan itu
mencapai tiga depa. Hanya satu tingkat. Di langit-langit
ruangan terdapat lubang-lubang kecil sebanyak belasan buah.
Ruangan itu sendiri tampak jauh lebih kecil dari bangunan
luarnya. Hal ini tidak perlu diherankan, karena temboknya
tebal sekali. Di atas lantai terbaring sepasang pria dan wanita,
sedangkan di sampingnya berdiri bersandar seorang kakek
tua, wajahnya menyiratkan kemarahan. Begitu melihat ada
orang yang masuk ke dalam, dia langsung memaki.
"Penjahat keluarga Sang, sebetulnya untuk apa kalian
mengurung kami di sini?"
I Ki Hu melihat tampang orang tua itu gagah sekali, tetapi
pakaiannya penuh dengan bercak darah. Dari hal ini saja
sudah dapat dibayangkan bahwa sebelum terkurung di
ruangan ini, pasti mengalami pertarungan yang sengit.
Melihat sekilas saja, I Ki Hu sudah tahu bahwa orang tua
itu adalah seorang pendekar tua yang namanya sudah
terkenal di wilayah Tung cuan, Kuan Hong Siau. Dan sepasang
pria dan wanita yang terbaring tidak bergerak di atas lantai
sudah pasti pasangan suami istri Lie Yuan.
I Ki Hu tersenyum kepada Kuan Hong Siau.
"Cayhe bukan she . . ."
Belum lagi kata-kata 'Sang' keluar dari mulut-nya, tiba-tiba
dia mendengar seruan terkejut dari bibir Tao Ling. I Ki Hu
juga merasa pemandangan di hadapan matanya agak
menggelap. Tetapi perasaan hati laki-laki ini memang sensitif
sekali. Dalam waktu sekejapan mata, dia langsung tahu apa
yang telah terjadi. Tanpa membalikkan tubuhnya, dia
berjungkir balik di udara. Sesampainya di depan pintu, dia
segera menghantamkan sebuah pukulan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tenaga dalam I Ki Hu sudah mencapai taraf yang tinggi
sekali. Pukulannya tadi paling tidak mengandung kekuatan
sebesar ribuan kati. Setelah menghantamkan pukulannya
terdengarlah suara Blam yang berat.
Secepat kilat I Ki Hu membalikkan tubuhnya. Ternyata
dugaannya memang tidak salah sedikit pun. Ketika ia dan Tao
Ling masuk ke dalam ruangan itu tanpa pertimbangan apaapa.
Ternyata anggota keluarga Sang satu pun tidak ada yang
mengikutinya. Malah mereka segera merapatkan kembali pintu
batu yang tebal itu. I Ki Hu dan Tao Ling pun terkurung di
dalam ruangan batu itu bersama Kuan Hong Siau dan
pasangan suami istri Lie Yuan.
Seumur hidupnya, I Ki Hu belum pernah menemui kerugian
sebesar ini. Apalagi dulu ketika namanya masih menjadi buah
bibir setiap umat persilatan. Ternyata tanpa terduga-duga dia
bisa terkurung di dalam ruangan itu. Kemarahannya jangan
dikatakan lagi. Benar-benar sulit mengurai-kan bagaimana
perasaan hatinya saat itu
Saking marahnya, I Ki Hu malah memperdengarkan suara
tawa terbahak-bahak. Suara tawanya bergema di dalam
ruangan batu. Tao Ling yang berdiri di sampingnya segera
merasakan gen-dang telinganya seperti hampir pecah.
Darahnya meluap ke atas, berkali-kali dia menggoyanggoyangkan
tangannya. I Ki Hu mengeluarkan suara tawa lagi
sebanyak tiga kali, baru berhenti. Dia menolehkan kepalanya.
Tampak jenggot Kuan Hong Siau yang putih sudah penuh
dengan noda darah.
Hal ini membuktikan bahwa luka yang diderita orang tua itu
tadinya sudah cukup parah. Dia tidak tahan mendengar suara
tawa I Ki Hu yang dipan-carkan dengan mengerahkan tenaga
dalamnya. Lukanya pun semakin parah. Darah segar muncrat
dari mulutnya. Sejenak kemudian dia baru bisa
mempertahankan diri. Dia memandang I Ki Hu lekat-lekat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tenaga dalam saudara benar-benar jarang ditemukan
tandingannya di dunia ini. Tetapi setelah terkurung di dalam
ruangan batu ini, tentu tidak mudah lagi meloloskan diri,"
katanya dengan nada dingin.
I Ki Hu tertawa terkekeh-kekeh. Nadanya tajam sekali.
"Kalau aku tidak membasmi seluruh keluarga Sang sampai
habis-habisan, aku bersumpah tidak
akan menjadi manusia."
"Bagus sekali. Siapa tuan?" tanya Kakek Kuan.
I Ki Hu tidak menjawab. Tubuhnya berkelebat. Tahu-tahu
dia sudah sampai di depan tembok batu. Sepasang tangannya
diangkat, dengan gerakan merayap dia naik ke atas dan
sekejap kemudian dia sudah mencapai langit-langit ruangan
itu. Tubuhnya tegak lurus seperti seekor cicak.
Gerakannya barusan sudah menunjukkan sampai di mana
ketinggian kepandaian yang dimilikinya. Kuan Hong Siau
sampai menarik nafas panjang melihatnya. Di langit-langit
ruangan itu terdapat banyak lubang kecil, selain itu satu pun
tidak ada jendela. Kegunaan lubang-lubang kecil itu tentu
untuk pertukaran hawa dalam ruangan.
Tubuh I Ki Hu tegak lurus. Tangannya menjulur ke atas dan
mengait salah satu lubang kecil di atas langit-langit. Tapi
belum sempat dia melongok-kan lehernya untuk mengintip di
lubang yang lain, tiba-tiba terdengar kumandang suara
dentingan senjata tajam.
I Ki Hu bukan tokoh sembarangan. Begitu mendengar
dentingan senjata tajam, dia langsung tahu bahwa ada orang
yang menghunus pedang atau golok untuk menebas jari
tangannya. Cepat-cepat dia menyurutkan tangannya. Telapak
tangan kirinya menjulur ke depan, Plak! Tangannya langsung
menempel di langit-langit ruangan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tenaga dalamnya dialihkan, langsung terpancar daya isap
yang kuat sehingga tubuhnya bergelan-tungan di atas. Tangan
kanannya pun ditarik secepat kilat.
Baru saja tangannya menyurut ke belakang, terdengarlah
suara Trang! seperti ada senjata tajam yang dibacokkan ke
bagian tembok di balik langit-langit ruangan. Apabila ia
terlambat sedikit saja menyurutkan jari tangannya, tentu saat
itu telunjuknya sudah tertebas putus.
Dari atas langit-langit berkumandang suara seseorang.
"I sian sing, namamu di dunia bu lim tidak begitu harum,
tindakan ini kami lakukan karena terpaksa. Harap I sian sing
sudi memaafkan!"
I Ki Hu tertawa dingin.
"Kalian kira ruangan batu ini sanggup mengurung aku
selamanya?"
Pada saat itu, Sang Ling dan tokoh-tokoh berilmu tinggi
lainnya dari keluarga Sang sudah berkumpul di atap
bangunan. Ketika mendengar nada suara I Ki Hu yang bukan
terpancar dari ruangan bawah, hati mereka merasa heran.
Mungkinkah ilmu orang ini demikian tinggi sehingga bisa
terbang? Kalau tidak mengapa suaranya bisa terpancar dari
atas?
Mereka tidak tahu bahwa tenaga dalam I Ki Hu memang
sudah mencapai taraf yang tinggi sekali.
Dia dapat mengedarkan hawa murninya sesuka hati.
Karena itu dengan sebelah tangan bisa menempel di langitlangit
ruangan. Tubuhnya bisa menggelantung di udara.
Kemudian terdengar lagi seseorang berkata.
"Moay cu, buat apa banyak bicara dengannya. Dia toh
sesumbar kehebatannya sendiri, kita Hhat saja bagaimana dia
bisa meloloskan diri dari ruangan itu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
I Ki Hu masih terus tertawa dingin. Telapak tangannya
bergeser sedikit, dia mengintip dari sebuah lubang.
"Kalau aku sudah keluar dari ruangan ini, kalian baru tahu
rasa."
Seorang laki-laki bertubuh tinggi besar melihat wajah I Ki
Hu tampak dari celah lubang angin. Dia segera mengeluarkan
sebilah pisau kecil kemudian dihunjamkannya melalui lubang
itu.
Dalam pikirannya, I Ki Hu pasti tidak sempat menghindar.
Walaupun belum tentu bisa membunuh si Raja Iblis itu,
setidaknya dapat membuat wajahnya menjadi cacat.
Setelah kematian Sang Hao, di dalam keluarga Sang
memang masih ada beberapa orang tokoh yang ilmunya
cukup tinggi. Cukupanlah apabila ingin menjual lagak di dunia
kang ouw. Tetapi untuk memahami sampai di mana tingginya
kepan-daian I Ki Hu, tentu masih jauh sekali.
Begitu pisau kecil tadi menyusup ke dalam lubang, tiba-tiba
I Ki Hu menyurutkan kepalanya dan jari tangannya menelusup
ke dalam celah lalu menjepit pisau itu kuat-kuat.
Sekejap kemudian terdengarlah suara jeritan histeris lakilaki
itu. Disusul dengan suara Bluk! seperti benda berat yang
jatuh. I Ki Hu pun tertawa dingin.
"Sudah tahu kehebatanku?" katanya sinis.
Rupanya ketika jari tangan I Ki Hu sudah berhasil menjepit
pisau tadi, dia segera mengerah-kan tenaga dalamnya ke
ujung jari. Pisau itu pun terpental membalik dan menghunjam
ke orang itu sendiri. Benar-benar senjata makan tuan.
Kali ini terdengarlah suara bising berkumandang dari atas.
Rupanya mereka terkejut sekali melihat kelihaian I Ki Hu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Cepat pergi! Dia toh sudah terkurung di dalam bangunan
ini. Cepat atau lambat dia pasti mati kelaparan," seru
seseorang dari keluarga Sang.
Orang-orang itu bergegas meninggalkan atap bangunan.
Mereka tidak memperdulikan I Ki Hu lagi. Tangan I Ki Hu yang
sebelah menelusup ke dalam saku. Kemudian menyusup
kembali ke dalam celah lubang angin lalu mengibas. Saat itu
juga terdengar suara pekik kesakitan, juga suara Bak! Buk!
Bak! Buk! seperti benda jatuh. Rupanya barusan dia
menyambitkan sejumlah senjata rahasia dan pasti ada
beberapa orang yang menjadi korban. I Ki Hu tersenyum
puas, tubuhnya pun melayang turun lagi ke bawah.
Tampak Kuan Hong Siau memandanginya sam-bil menarik
nafas panjang.
"Kepandaian saudara seperti dewa," kata Kakek Kuan.
"Apakah kau bisa menghitung berapa orang yang menjadi
korban senjata rahasiaku tadi?" tanya I Ki Hu dengan tawa
datar.
Kuan Hong Siau ikut tertawa.
"Yang jatuh dari atas saja ada sembilan orang, mungkin
ada yang mati sebelum sempat melompat turun," jawabnya.
I Ki Hu merasa bangga sekali, dia meremas-remas
tangannya sambil tertawa senang.
"Tampang saudara gagah sekali. Ilmu kepandaian juga
mengejutkan. Apalagi orang-orang dari keluarga Sang tadi
memanggil Anda I sian sing. Jangan-jangan saudara ini yang
mendapat julukan Gin leng hiat ciang I Ki Hu."
"Tidak salah. Sahabat Kuan, tidak disangka kita bisa
bertemu di tempat seperti ini, bukan?"
"Memang benar-benar tidak disangka," ucap Kuan Hong
Siau dengan tawa getir.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kuan Hong Siau adalah seorang pendekar dari golongan
lurus dan berjiwa besar. la paling membenci segala macam
kejahatan. Sebetulnya bertolak belakang dengan I Ki Hu.
Tetapi justru tidak terduga-duga mereka bisa terkurung dalam
ruangan yang sama.
"Sahabat Kuan, mengapa pasangan suami istri Lie Yuan
bisa tertotok jalan darahnya? Dan sebetulnya bagaimana cara
Sang Hao menemui kematiannya? Dapatkah kau
menjelaskannya dengan terperinci?" tanya I Ki Hu.
"Baik," sahut Kuan Hong Siau.
Dia langsung menceritakan kedua peristiwa yang
disaksikannya dengan mata kepala sendiri. I Ki Hu
mendengarkan dengan penuh perhatian. Kenyataannya apa
yang ia dengar dari Kuan Hong Siau tidak banyak bedanya
dengan cerita yang pernah didengarnya dari orang lain.
I Ki Hu merenung sejenak setelah cerita Kuan Hong Siau
selesai.
"Kalau begitu, Lo Sang secara tidak langsung dibunuh oleh
perasaan terkejutnya ketika mengetahui siapa yang menotok
jalan darah pasangan suami istri Lie Yuan?" tanyanya
kemudian.
"Cayhe juga mempunyai pendapat yang sama. Tempo hari
ketika pertama kali Sang Cu Ce melihat totokan yang terdapat
di tubuh pasangan suami istri Lie Yuan, wajahnya langsung
berubah hebat. Tetapi rasa terkejut yang diperlihatkan oleh
Sang Cu Ce berbeda maknanya dengan rasa terkejut yang
diaiami Sang Hao. Dalam anggapan Sang Cu Ce, ilmu totokan
keluarga Sang terkenal di dunia bu lim. Tetapi kenyataannya
dia tidak tahu jalan darah mana di bagian tubuh pasangan
suami istri Lie Yuan yang tertotok. Belum tentu dia tahu siapa
orang yang melakukannya. Bagaimana menurut pendapat
saudara?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Betul. Tetapi sekali lihat saja Lo Sang sudah mengenali
siapa pelakunya. Karena itu, saking terkejutnya jantungnya
jadi putus seketika. Tampaknya sahabat yang melakukannya
patut bangga juga karenanya. coba aku ingin melihatnya,
siapa tahu aku akan mengikuti jejak Lo Sang?" kata I Ki Hu
dengan maksud bergurau.
Sembari berkata, bibirnya menyunggingkan senyuman. Dia
berjalan menghampiri pasangan suami istri Lie Yuan yang
terbaring di lantai. Kemudian dia membungkukkan tubuhnya
meme-riksa dengan teliti. Padahal senyuman yang menghiasi
bibirnya wajar sekali, namun setelah memper-hatikan keadaan
pasangan suami istri Lie Yuan, senyumannya langsung
terpaku. Mimik wajahnya jadi aneh sekali. Mirip seseorang
yang sedang tersenyum tetapi tiba-tiba tertotok jalan
darahnya sehingga tetap seperti semula tapi kaku.
I Ki Hu yakin mereka memang para pendeta dari Oey kau.
Untuk sesaat dia juga tidak berani sembarangan bertindak,
karena ilmu kepandaian yang diturunkan oleh agama yang
satu ini mengandung keanehan tersendiri. Boleh dibilang
berbeda dengan ilmu silat aliran mana pun di dunia ini. Diamdiam
hati I Ki Hu juga merasa heran, karena selama ini para
lhama dari Oey kau hanya menetap di wilayah Tibet atau
Mongol. Mereka tidak pernah muncul di luaran. Apalagi kalau
menilik usia ketiga orang ini yang sudah tinggi sekali,
kedudukan mereka dalam agama itu jelas juga termasuk
angkatan tua. Entah ada keperluan apa mereka datang ke
Tiong goan? Mendengar nada suara lhama tua itu, tampaknya
dia sudah bersedia meminjamkan perahu. Karena itu I Ki Hu
merasa senang sekali. Dia melepaskan cengkeraman
tangannya dari bahu orang tadi.
"Apabila Taisu sudah bersedia meminjamkan perahu, cayhe
juga tidak akan menyusahkan lagi." Tubuhnya berketebat ke
depan perahu, dan dengan menggunakan tali tadi sebagai
titian, dia kembali ke tepi sungai. Setelah itu dia menarik tali
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tadi agar perahu mendekat. Kereta kuda dinaikkan ke atasnya,
tali yang digunakan digulung kembali lalu memutar haluan
perahu untuk menyeberangi sungai.
I Ki Hu berdiri di samping kereta, dia khawatir ketiga Ihama
itu tiba-tiba akan menimbulkan kesulitan baginya. Karena itu
dia juga berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan. Perahu
melaju dengan cepat, sekejap kemudian mereka sudah berada
di tengah-tengah sungai.
"Pukulan I sicu tadi, angin yang terpancar keluar
mengandung hawa sesat, apakah I sicu ini orang dari Mo kau?
Entah Mo kau kaucu, si tua Kwe lo sian sing tinggai di mana
sekarang?" tanya pendeta yang duduk di tengah.
Mendengar pertanyaannya, I Ki Hu terkejut setengah mati.
Karena si tua Kwe lo sian sing yang ditanyakan Ihama itu
adalah mertuanya sendiri yang terbunuh di tangannya. Juga
merupakan ketua angkatan ketiga puluh sembilan dari partai
itu. Kaucu itu sendiri sudah mati tujuh belas tahun yang lalu.
Boleh dibilang selama ini tidak ada orang yang pernah
mengungkit lagi nama 'Kwe kau cu’.
"Entah untuk apa Taisu menanyakannya?" tanya I Ki Hu
setelah tertegun sejenak.
"Dulu loceng mempunyai kesempatan bertemu satu kali
dengan Kwe lo Kau cu. Kali ini kedatangan kami juga untuk
mencarinya, tetapi ternyata setelah mencarinya sekian lama
dan menanyakan kesana kemari, tidak ada seorang pun yang
tahu kemana pindahnya orang tua itu."
Hati I Ki Hu langsung merasa bangga mendengar
ucapannya. Karena tujuh belas tahun yang lalu, I Ki Hu
memberontak terhadap Mo kau dan membunuh tokoh-tokoh
tingkat tinggi di dalam partai itu. Bahkan mertua dan istrinya
sendiri juga dibunuh. Boleh dibilang hal ini sudah tersebar luas
di dunia kang ouw. Tetapi Ihama tua tadi justru mengatakan
'tidak ada seorang pun yang menge-tahui kemana pindahnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mo kau kaucu Kwe lo sian sing'. Hal ini membuktikan bahwa
namanya benar-benar menggetarkan dunia kang ouw
sehingga tidak ada seorang pun yang berani mengungkapkan
kejadian yang sebenarnya. Karena itu pula, I Ki Hu langsung
tertawa terbahak-bahak.
"Taisu ingin mencari Kwe kaucu, dari sini am-bil saja arah
timur, kurang lebih tiga ratusan li, ada sebuah desa bernama
Jit Hong ceng. Asal Taisu sudah sampai di sana pasti bisa tahu
sendiri!"
Lhama tua itu tidak tahu bahwa Jit Hong ceng yang
dikatakannya itu bukan sebuah desa, tetapi tanah
pemakaman.
"Terima kasih atas petunjuknya," ucapnya.
Ketika pembicaraan berlangsung, perahu sudah berlabuh di
tepi sungai. I Ki Hu dan Tao Ling segera turun dari perahu
dengan membawa serta kereta kuda mereka. Perahu pun
meluncur kembali. I Ki Hu memandanginya dengan perasaan
ingin tahu.
Setelah perahu itu berada di kejauhan dan tinggal titik
hitam, dia baru menolehkan kepalanya kembali. Diam-diam
dia berpikir dalam hati. Diri-nya adalah menantu dari kaucu
Mo kau, tetapi dia belum pernah mendengar bahwa antara
para pendeta Tibet dengan Mo kau terjalin hubungan
persahabatan. Ketiga pendeta tadi datang ke Tiong goan,
pada suatu hari nanti, mereka pasti akan tahu juga bahwa
Kwe kaucu sudah meninggal tujuh belas tahun yang lalu,
bahkan seluruh tokoh pen-ting partai itu juga mati di
tangannya. Apabila ketiga lhama tadi bermaksud
membalaskan dendam bagi kaucu Mokau, berarti dia
menemukan lawan berat yang sulit ditandingi.
Sembari berpikir, I Ki Hu menjalankan kereta kudanya.
Kemudian dia berpikir lagi, ilmu kepan-daiannya demikian
tinggi, rasanya tidak ada orang lagi di dunia ini yang sanggup
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menandingi. Lagipula ada beberapa tokoh berilmu tinggi yang
dapat diperalatnya. Seandainya ketiga lhama itu akan
mencarinya membalaskan dendam Kwe kaucu, dia juga tidak
perlu takut. Akhirnya perasaan I Ki Hu jadi mantap, dia
meneruskan perjalanan menuju Si Cuan.
Menjelang malam, mereka sudah sampai di sebuah jalan
raya yang lurus dan lebar. Wilayah Si Cuan seperti sebuah
perbukitan, jarang ada jalan raya. Tetapi jalan raya yang
mereka lalui ini diatur dengan batu besar kecil sehingga
terlihat rapi. Tanahnya datar, di kedua sisi tumbuh pepohonan
yang rindang. Sekali lihat saja sudah dapat dipastikan bahwa
jalan raya itu dibuat oleh seseorang. Kereta kuda yang
ditumpangi oleh I Ki Hu dan Tao Ling dapat melaju cepat di
atas jalan raya itu. Tiba-tiba terdengar suara desiran angin,
selembar jala yang besar sekali tahu-tahu melayang turun dan
menghadang di depan kereta.
Kejadiannya terlalu mendadak. I Ki Hu cepat-cepat menarik
tali kendali kudanya agar berhenti. Tampak jala lebar itu
terbuat dari semacam kawat, di bagian atasnya terdapat
banyak duri tajam dari sejenis paku. Tajamnya bukan main.
Dalam waktu yang bersamaan, mereka juga melihat ada
enam-tujuh orang yang muncul dari pohon-pohon di kedua sisi
jalan.
"Siapa yang datang?" tanya mereka serentak.
Melihat penghadangan yang lucu itu, I Ki Hu merasa kesal
dan geli. Kereta kudanya sudah dihen-tikan. Tampak orangorang
yang muncul dari balik pohon masih muda-muda. Yang
paling tua berumur sekitar tiga puluh tahun. Tampang mereka
gagah-gagah. Dua di antaranya paling-paling berusia tujuh
belasan tahun. Mereka berdiri di atas ranting pohon sehingga
dapat dihayangkan bahwa ilmu Gin Kang mereka sudah cukup
tinggi.
Meskipun sebelumnya I Ki Hu belum pernah mengunjungi
keluarga Sang, kalau dihitung dari perjalanan yang telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ditempuhnya, tempat tinggal keluarga Sang sudah hampir
sampai. Sedangkan jalanan lurus ini pasti milik keluarga Sang,
dan tidak perlu diragukan lagi orang-orang yang mun-cul dari
balik pohon pasti anggota keluarga itu pula. Mereka membuat
jalan raya ini untuk menuju gedung keluarga Sang. Karena itu,
I Ki Hu segera tertawa dingin. Dia menjalankan lagi keretanya
maju sedikit.
"Tamu berkunjung dengan baik-baik, mengapa disambut
dengan cara demikian tidak sopan?" katanya.
"Siapa yang Anda kunjungi?" tanya kedua pemuda yang
berdiri di ranting pohon.
Jarak I Ki Hu sudah dekat sekali. Dia dapat melihat bahwa
kedua pemuda itu tampan-tampan dan gagah. Di pinggang
masing-masing terselip sebuah gantulan (Besi yang ujungnya
berbentuk bola). Keluarga Sang memiliki dua macam ilmu
yang terkenal. Yang satu justru ilmu gantulan itu, dan yang
satunya lagi tujuh puluh dua cara menotok jalan darah
manusia. Usia kedua pemuda ini masih muda sekali. Mungkin
terhitung generasi ketiga dari Kakek berambut putih Sang
Hao. I Ki Hu sendiri juga merasa malu apabila harus bergebrak
dengan mereka. Karena itu dia hanya berkata dengan
nada dingin.
"Aku mengunjungi Kakek berambut putih Sang Hao."
"Kakekku tidak menemui siapa pun," sahut kedua pemuda
itu.
I Ki Hu tersenyum. "Orang lain boleh dia tolak tetapi
terkecuali aku, dia harus mau!"
Kedua pemuda itu memang cucu si Kakek berambut putih
Sang Hao. Anggota keluarga Sang semuanya berilmu, tetapi
tinggi rendahnya kepan-daian masing-masing berbeda. Kedua
kakak beradik itu bernama Sang Cin dan Sang Hoat. Mereka
terhitung generasi ketiga dalam keluarga Sang. Kedua pemuda
itu juga merupakan cucu kesayangan Sang Hao. Karena itu,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ketiga puluh enam jurus gantulan pemancar angin juga
dikuasai sebagian.
Sebetulnya keluarga Sang terkenal karena ilmu ruyung
saktinya. Tetapi senjata yang satu ini dianggap kurang praktis
dibawa ke mana-mana dan juga tidak sesuai digunakan
generasi muda. Karena itu kemudian hari Sang Hao
mengubahnya dengan menggunakan gantulan sebagai
senjata.
Bentuk ruyung dan gantulan memang hampir sama.
Bedanya yang satu panjang, sedangkan yang lainnya pendek.
Kepandaian Sang Cin dan Sang Hoat malah lebih tinggi bila
dibandingkan dengan beberapa anggota dari generasi kedua.
Karena keduanya mendapat didikan langsung dari si kakek
berambut putih Sang Hao. Tentu saja Sang Hao sendiri
memiliki kepandaian yang sudah mencapai taraf tinggi sekali.
Tetapi orang tua itu tidak berminat mencari nama di dunia
kang ouw. Dia memilih menetap dengan tenang di gedung
keluarga Sang di wilayah Si Cuan. Dia pun melarang anggota
keluarganya atau murid-muridnya berkecimpung di dunia kang
ouw. Karena itu pula Sang Cin dan Sang Hoat tidak tahu siapa
I Ki Hu.
Mendengar nada bicara I Ki Hu yang sombong, kedua
pemuda itu merasa jengkel.
"Pokoknya Yaya kami sudah mengatakan tidak ingin
menemui siapa pun."
I Ki Hu merasa geli sekali.
"Kalau dia tidak sudi menemuiku juga, terpak-sa aku
menjadi tamu yang tak diundang."
Begitu I Ki Hu mengeluarkan perkataan tadi, orang-orang
yang ada di atas pohon langsung mengeluarkan suara bising,
mereka memaki-maki seenaknya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Dia kira dirinya hebat sekali, berani berbuat macammacam
di tempat tinggal keluarga Sang."
I Ki Hu tetap enggan berdebat dengan mereka. Dia hanya
tersenyum dingin sedikit. Pada saat ini, jala besar yang
terbuat dari kawat itu masih merin-tangi jalanan di depan
mereka. Tentu saja kereta kuda tidak dapat dijalankan
melewatinya. Tetapi dengan kepandaian I Ki Hu yang tinggi,
untuk meloncati jala sepanjang tiga depaan saja tentu tidak
jadi masalah. Ketika suara teriakan orang sudah reda, dia
segera menyingkapkan tirai kereta.
"Hu jin, di depan ada jala kawat yang meng-hadang. Kereta
tidak bisa maju lagi. Tetapi untung saja gedung kediaman
keluarga Sang sudah dekat. Kita jalan saja sembari menikmati
pemandangan alam," katanya kepada Tao Ling.
Perasaan hati Tao Ling terasa hampa, apa pun yang terjadi
di depannya seakan tidak menarik perhatiannya. Apa pun
yang dikatakan oleh I Ki Hu, dia hanya mengikuti saja. la tidak
pernah membantah. Mendengar perkataan I Ki Hu barusan,
dia hanya menganggukkan kepalanya. I Ki Hu
membimbingnya turun dari kereta dan berjalan ke depan
beberapa langkah.
Ketika melihat Tao Ling, orang-orang yang muncul dari
balik pohon tadi langsung berteriak lagi. Suaranya bising
sekali. Salah satunya bahkan berteriak sekeras-kerasnya.
"Wan! Tua bangka itu malah mempunyai istri yang begitu
muda. Pasti bukan orang baik-baik jangan biarkan dia lolos!"
"Tentu saja. Yaya toh sudah berpesan, siapa pun tidak
boleh maju selangkah dari tempat ini, tidak perduli dia orang
baik-baik atau bukan, pokoknya sama saja."
Ketika orang-orang itu berbicara, I Ki Hu tetap
membimbing Tao Ling melangkah ke depan. Dia
memperhatikan jala kawat yang membentang di depannya
dengan seksama. Tingginya mencapai tiga depa. Lebarnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mencapai empat-lima depa. Kedua ujungnya dikaitkan pada
pepohonan di kedua sisi jalan. Apabila dia nekat menerobos ke
depan, bagi I Ki Hu sendiri tentu tidak jadi masalah. Tetapi
kalau baru berjalan setengahnya, tiba-tiba orang-orang yang
ada di atas pohon men-jatuhkan jala itu, tentu Tao Ling akan
terluka parah terkena duri-durinya yang tajam. Mungkin malah
bisa mati di tempat itu.
I Ki Hu tidak ingin menempuh resiko itu. Tiba-tiba dia men
da pat akal. Dipungutnya beberapa butir batu di tepi jalan.
Tangannya mengibas dan pinggangnya meliuk. Batu-batu itu
pun melayang ke arah pepohonan di sisi jalan. Tahu-tahu
keenam-tujuh orang yang ada di sekitar pepohonan sudah
tertotok jalan darahnya.
Melihat dirinya sekali turun tangan sudah mencapai hasil
yang gemilang, hati I Ki Hu terus bangga sekali. Dia tertawa
terbahak-bahak. Diraihnya pinggang Tao Ling, sembari
menghimpun hawa murninya. Dia mencelat setinggi satu depa
lebih. Dengan menggunakan kawat jala sebagai tumpuan
kakinya, dia mencelat lagi ke atas setinggi dua setengah depa.
Sekejap mata saja dia sudah melayang turun kembali di
seberang jala.
Setelah berhasil melewati jala kawat itu, I Ki Hu baru
menolehkan kepalanya sambil tertawa.
"Kalian semuanya pasti keturunan Kakek berambut putih
Sang Hao. Tentunya sudah mem-punyai dasar ilmu silat yang
cukup kuat. Totokanku tadi tidak terlalu berat. Asal tenaga
dalam kalian sudah mencapai tingkat yang lumayan, pasti bisa
membebaskan sendiri totokanku tadi. Aku masih ingin
menikmati kein-dahan pemandangan daerah ini, setelah
berhasil melepaskan totokan kalian, silakan menyusul aku
nanti!".
Tentu saja anggota keluarga Sang yang ada di atas pohon
mendongkol sekali mendengar kata-kata I Ki Hu. Tetapi
mereka tidak bisa melakukan apa-apa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hanya Sang Cin dan Sang Hoat berdua yang mengedarkan
hawa murninya untuk membebaskan diri dari totokan.
Pertama, memang tenaga dalam mereka yang paling kuat.
Kedua, tempat mereka berdiri juga paling tinggi. Jadi batu
yang disambit-kan I Ki Hu tadi hanya mengenai mereka
dengan ringan. Setelah menghimpun hawa murninya sejenak,
tubuh pun terasa pulih kembali.
"Jangan kabur!" teriak mereka.
Tubuh mereka berkelebat dari atas pohon dan melayang
turun. Secepat kilat keduanya berlari tnengejar I Ki Hu dan
Tao Ling.
Selesai berkata tadi, I Ki Hu langsung berjalan ke depan.
Baru menindak beberapa langkah, dari belakang sudah
terdengar suara teriakan Sang Cin dan Sang Hoat. Dia merasa
kagum juga melihat cucu Sang Hao yang masih demikian
muda dapat melepaskan diri dari totokannya dalam waktu
yang demikian singkat.
I Ki Hu menolehkan kepalanya. Tangan kirinya tetap
membimbing Tao Ling. Tangan kanannya mengibas. Terasa
ada serangkum angin yang ken-cang menahan gerakan Sang
Cin dan Sang Hoat.
Meskipun kedua pemuda itu masih belia dan tidak banyak
pengetahuannya, mereka bukan orang bodoh. Saat itu mereka
sudah bisa mem-bayangkan bahwa ilmu kepandaian lawannya
tinggi sekali dan mereka pasti bukan tandingannya. Karena itu
mereka menghentikan gerakannya.
"Siapa Tuan sebetulnya?" tanya kedua pemuda itu.
Melihat kedua anak muda itu bisa melihat gelagat, I Ki Hu
juga tidak mendesak lebih jauh. la tertawa terbahak-bahak.
"Siapa pun aku ini, apa persoalannya. Apakah ada sebagian
orang yang tidak diijinkan mengun-jungi keluarga Sang?" ucap
I Ki Hu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sang Cin tersenyum ramah.
"Harap Cianpwe jangan salah sangka. Yaya pernah
berpesan bahwa ada beberapa orang yang dikecualikan!"
"Siapa saja orang-orang yang dikecualikan itu?" tanya I Ki
Hu.
"Salah satunya, Bok Cin sian siang dari Bu Tong san," sahut
Sang Cin.
I Ki Hu mendengus dingin.
"Mengapa Lo Sang (Si Sang tua) bisa meman-dang tinggi
hidung kerbau itu?"
"Ada lagi Bu Kong Taisu dari Ngo Tay san," kata Sang Cin
kembali.
I Ki Hu mendengar Sang Cin berturut-turut menyebut dua
orang tokoh yang kepandaiannya memang tinggi dan sangat
terkenal di dunia kang ouw, tetapi namanya sendiri masih
belum disebut-kan, wajahnya mulai menyiratkan kemarahan.
"Siapa lagi?"
Sang Cin dan Sang Hoat saling pandang sekilas.
"Yang satunya lagi tentu Tuan sendiri!"
I Ki Hu tahu kata-kata ini hanya ditambahkan kedua anak
muda itu barusan saja. Tetapi dia senang melihat kecerdasan
keduanya yang pandai mengambil hati.
"Apakah kalian tahu, siapa aku?" tanya I Ki Hu.
Kedua pemuda itu tersenyum lagi.
"Langsung menyebut nama di hadapan orang yang lebih
tua, sangat tidak sopan."
"Kalau kalian memang tidak tahu, untuk sementara aku
juga tidak akan memberitahukan. Cepat antarkan kami
menemui kakekmu!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Wajah keduanya menyiratkan kebimbangan sekilas. Tetapi
sekejap mata sudah pulih kembali seperti biasa.
"Baiklah. Harap Tuan mengikuti kami!"
I Ki Hu bukan tokoh sembarangan, meskipun perubahan
wajah kedua pemuda itu hanya sekilas, dia sudah menduga
bahwa mereka akan menggunakan akal licik lagi. Tetapi dia
hanya ter-tawa dingin. Dengan membimbing Tao Ling, tanpa
tergesa-gesa sedikit pun, dia mengikuti Sang Cin dan Sang
Hoat dari belakang.
Sebentar saja mereka sudah berjalan sejauh satu li. Tibatiba
tampak Sang Cin dan Sang Hoat membelok ke kiri. Dari
jalan besar mengambil jalan kecil.
Jalan itu bukan saja berkelok-kelok, bahkan setelah
berjalan dua-tiga depa, tampak di depan merupakan sebuah
hutan bambu.
Pohon bambu di dalam hutan tidak banyak, tetapi
batangnya besar-besar dan lurus sekali. I Ki Hu terus
mengikuti dari belakang. Melihat kedua pemuda itu masuk ke
dalam hutan, dia pun meng-ajak Tao Ling ikut masuk juga.
Tetapi baru saja masuk dua langkah dia merasakan sesuatu
yang kurang beres. Di sekitarnya hanya terlihat batang bambu
yang warnanya hijau dan mereka tidak bisa menentukan arah
yang harus dipilih.
I Ki Hu yakin batang-batang bambu itu disusun sesuai
dengan bentuk semacam barisan. Dan sekarang dia bersama
Tao Ling sudah terjebak ke dalam barisan itu.
Mengingat kedua pemuda yang masih ingusan itu
menjebaknya masuk ke dalam barisan bambu, I Ki Hu merasa
geli.
"Bocah-bocah busuk, kemana perginya kalian?" ucap I Ki
Hu pura-pura marah.
Terdengar suara Sang Cin menyahut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ilmu kepandaian tuan sungguh mengejutkan. Mengapa
tidak berusaha menemukan kami?" sahut Sang Cin.
Hati I Ki Hu sendiri juga geli namun jengkel. Tanpa
menimbulkan suara sedikit pun dia memutari batang-batang
bambu itu. Setiap kali ber-putar, dia menggunakan tangannya
mengerat batang-batang bambu itu.
Tidak lama kemudian, seluruh batang bambu yang ada
dalam hutan itu sudah terkerat oleh tangannya. Kemudian dia
memperdengarkan suara tertawa terbahak-bahak.
Begitu suara tertawanya sirap, sepasang lengan bajunya
langsung mengibas, berpuluh batang bambu seperti diterpa
angin kencang secara tiba-tiba. Terdengarlah suara
bergemuruh, lalu batang-batang bambu itu pun rubuh
semuanya di atas tanah.
Ada yang saling bertumpuan, ada pula yang melayang di
udara. Dalam sekejap mata saja, suasana di dalam hutan itu
persis seperti terjadi gempa yang hebat. Boleh dibilang tidak
ada sebatang pun pohon bambu yang utuh.
Rupanya ketika mengerat batang-batang bambu sambil
berputar tadi, I Ki Hu sudah mengerahkan tenaganya untuk
mengguncangkan akar yang tertanam di bawah tanah
sehingga ter-lepas. Begitu dikibas dengan lengan bajunya,
otomatis seluruh batang bambu itu rubuh tidak karuan.
Suara yang bergemuruh itu mengejutkan Sang Cin dan
Sang Hoat. Mereka memang sudah men-duga kepandaian I Ki
Hu sangat tinggi, tetapi tidak menyangka tenaga dalamnya
bisa sekuat itu. Belum lagi sempat keduanya berteriak, tibatiba
tampak bayangan berkelebat, gerakannya seperti terbang.
I Ki Hu mengulurkan sepasang tangannya dan tahu-tahu leher
baju Sang Cin dan Sang Hoat sudah tercengkeram olehnya
Kedua pemuda ini sungguh tidak menyangka bahwa
barisan Telaga Bambu yang selama ini sangat dibanggakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
oleh keluarganya ternyata dapat dihancurkan dalam waktu
yang singkat, wajah mereka pun tampak pucat pasi.
Hati I Ki Hu bangga sekali melihat rasa terkejut kedua anak
muda itu. la tertawa terbahak-bahak.
"Ibarat jangkerik menghadang kereta. Ternyata kalian
berani menjebak aku ke dalam barisan bambu itu. Ini
namanya mencari penyakit sendiri, tahu?"
Sembari berkata, I Ki Hu segera mengerahkan tenaga
dalamnya. Tanpa dapat ditahan lagi tubuh Sang Cin dan Sang
Hoat melayang sejauh dua depa dengan menimbulkan suara
desiran angin kemudian terbanting di atas tanah. Wajah
keduanya langsung bengap dan memar di sana sini.
Untung saja kedatangan I Ki Hu ke tempat tinggal keluarga
Sang memang tidak bertujuan mencari permusuhan dengan
Kakek berambut putih, Sang Hao. Karena itu, tindak
tanduknya pun tidak berniat mencelakai kedua pemuda itu.
Sean-dainya dia membanting kedua pemuda itu dengan
mengerahkan tenaga dalamnya lebih ban yak lagi, tentu
mereka sudah mati saat itu juga.
Sementara itu, Sang Cin dan Sang Hoat berusaha bangun.
Namun baru saja terduduk tegak, I Ki Hu sudah melayang
turun di hadapan mereka. Keduanya terkejut setengah mati.
Dalam keadaan gugup, mereka masih herusaha menga-dakan
perlawanan. Masing-masing segera mencabut gantulan yang
terselip di pinggang kemudian dihantamkan ke arah I Ki Hu.
Sekali lagi I Ki Hu tertawa terbahak-bahak, tubuhnya
berkelebat, sepasang tangannya menjulur ke depan. Bret!
Bret! Tahu-tahu kedua gantulan itu sudah tergenggam di
telapak tangannya.
Sejak tadi I Ki Hu sudah mengerahkan tenaga murninya ke
dalam telapak tangan. Kedua gantulan itu bukan saja tidak
sempat melukainya, bahkan tenaga pantulan dari telapak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tangannya begitu kuat, hingga kedua gantulan itu terhentak
ke depan dan tepat mengenai wajah Sang Cin dan Sang Hoat.
Keduanya langsung memekik kesakitan. Tam-pak hidung
dan bibir mereka berdarah. Kedua gantulan tadi kembali
melayang di udara setelah menyampok muka keduanya.
Terdengar suara ber-dengung-dengung dan timbul dua gurat
cahaya seperti pelangi yang melintas.
Kali ini, Sang Cin dan Sang Hoat tidak sanggup lagi
mengadakan perlawanan. I Ki Hu mengeluarkan suara
bentakan. Sekali lagi dia menerjang ke depan untuk
mencengkeram kedua pemuda itu. Tetapi baru saja tubuhnya
bergerak, dari belakangnya terdengar seseorang berkata.
"Jangan turunkan tangan keji!" Suara terdengar, orangnya
pun tiba.
Tampak sesosok bayangan melesat datang ke arah mereka.
Tetapi mana mungkin I Ki Hu memandang sebelah mata. Dia
tetap menerjang ke depan dan mencengkeram lengan Sang
Cin dan Sang Hoat. Setelah itu dia baru menolehkan
kepalanya.
Tampak dua orang laki-laki berusia setengah baya dan
seorang perempuan yang usianya sekitar empat puluhan
tahun sudah berdiri di belakangnya dengan wajah
menyiratkan perasaan terkejut.
I Ki Hu tahu ketiga orang ini pasti masih turunan si Kakek
berambut putih Sang Hao. Karena itu dia segera tertawa
dingin.
"Dengan maksud baik aku datang kemari mengunjungi
Kakek berambut putih, Sang Hao. Tetapi kedua bocah ini
sungguh kurang ajar. Berani-beraninya mereka mengurung
aku dalam barisan bambu. Karena itu aku memberi pelajaran
sedikit kepada mereka agar kelak mereka tahu bahwa di atas
gunung masih ada gunung, di antara yang jago masih ada
orang yang lebih jago."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Wajah perempuan setengah baya itu menyiratkan
kepanikan.
"Apa yang dikatakan Tuan memang tidak salah. Kedua
bocah ini memang agak nakal. Lagipula pengetahuannya
cetek. Punya mata tapi tidak bisa melihat Thai san. Akibatnya
malah menimbulkan kesulitan bagi Tuan." Berkata sampai di
sini, dia mendelik kepada Sang Cin dan Sang Hao.
"Kalian berdua, cepat minta maaf kepada Cianpwe ini!"
bentak perempuan itu.
I Ki Hu tertawa lebar.
"Tidak perlu sampai minta maaf. Cayhe hanya ingin
bertemu dengan Lo Sang." Tangannya mengendur, kedua
pemuda itu didorong ke depan dan tepat berdiri di samping
kiri kanan perempuan setengah baya itu.
Mimik wajah perempuan itu tampak agak lega.
"Tuan ingin bertemu dengan ayah . . . sebetul-nya tidak
menjadi masalah, tetapi ayah . . ."
"Apakah Lo Sang tidak bersedia menemui siapa pun?"
tanya I Ki Hu.
Wajah perempuan itu langsung berubah menjadi murung.
"Sebetulnya hal ini merupakan rahasia keluarga kami, dan
kami tidak ingin orang luar me-ngetahuinya ..."
"Piau moay (adik sepupu), masa kau akan men-ceritakan
urusan ini kepada orang luar," tukas salah satu laki-laki
setengah baya yang datang ber-sama perempuan itu.
Sepasang alis perempuan itu berkerut-kerut sekilas.
"Kalau tidak mengatakan secara terus terang, apakah
kalian bisa menahan keinginan Tuan tamu ini?" sahut
perempun itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kedua laki-laki setengah baya itu menatap kepada I Ki Hu
sejenak, kemudian mereka menundukkan kepalanya.
"Piau moay, bahkan namanya saja kau belum tahu, masa
kau sudah ingin menceritakan urusan ini kepadanya?" kata
salah satu laki-laki itu lagi.
I Ki Hu mendengar pembicaraan yang berlangsung di
antara mereka. Diam-diam hatinya menjadi penasaran. Dia
berpikir, kalau mendengar nada pembicaraan mereka,
tampaknya telah terjadi sesuatu yang luar biasa dalam
keluarga Sang. Sedangkan keluarga Sang ingin menutupi
kejadian ini dari orang luar.
Setelah berpikir sejenak, I Ki Hu tahu bahwa ilmu
kepandaian si Kakek berambut putih Sang Hao sangat tinggi.
Apalagi anggota keluarga Sang semuanya mengerti ilmu silat.
Bahkan ada beberapanya yang merupakan jago kelas satu.
Seandainya ada seseorang yang bisa menimbulkan masalah di
keluarga Sang, I Ki Hu benar-benar tidak sanggup
membayangkan siapa orang itu.
"Entah siapa nama Tuan tamu yang mulia?" tanya
perempuan itu.
"Cayhe she I, tinggal di lembah Gin Hua kok, wilayah
barat."
Kedua laki-Iaki dan perempuan setengah baya itu terkejut
setengah mati. Wajah mereka langsung pucat pasi. Bahkan
tanpa disadari mereka menyurut mundur dua langkah. Apalagi
Sang Cin dan Sang Hoat, wajah keduanya persis seperti mayat
hidup.
I Ki Hu menyunggingkan seulas senyuman tipis. Setiap ada
orang yang mendengar namanya langsung memperlihatkan
perasaan terkejut, baginya merupakan sebuah kebanggaan.
"Kalian bertiga tidak perlu takut. Kedatangan cayhe tidak
mengandung maksud jahat," ujar I Ki Hu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mimik wajah si perempuan yang paling cepat pulih kembali.
Tetapi masih memperlihatkan sedikit ketegangan.
"Entah ada keperluan apa I sian sing mengun-jungi kami?
Tadi kedua putra kami berbuat kesalahan, harap I sian sing
dapat memaafkan . . ."
I Ki Hu tidak memberi kesempatan kepada perempuan itu
untuk menyelesaikan kata-katanya. Dia melirik sekilas kepada
Sang Cin dan Sang Hoat. Wajah kedua pemuda itu tampak
semakin tidak enak dilihat.
"Orang yang tidak tahu, tidak bersalah. Kalian tidak perlu
khawatir."
Perempuan setengah baya itu memang putri si kakek
berambut putih Sang Hao. Namanya Sang Ling. Begitu
mendengar bahwa orang yang ada di hadapannya ternyata si
Raja Iblis Gin leng hiat dang I Ki Hu, rasa terkejutnya benarbenar
tidak terkirakan. Peluh dingin membasahi seluruh
tubuhnya. Dia benar-benar mengkhawatirkan keselamatan
kedua putrinya. la juga tahu watak I Ki Hu yang senang orang
bersikap rendah di depan-nya, maka dari itu cepat-cepat dia
meminta maaf. Setelah mendengar jawaban I Ki Hu, hatinya
baru merasa lega.
"Seandainya dari tadi kami tahu bahwa tamu yang
berkunjung adalah I sian sing, seharusnya kami segera
mengadakan penyambutan, tetapi sayangnya . . . keluarga
Sang sedang tertimpa musibah . . ."
"Sebetulnya apa yang terjadi? Dapatkah kau
mengatakannya kepada cayhe?"
"Ayah ... Sang Hao sudah meninggal beberapa hari yang
lalu."
Mendengar keterangan Sang Ling, tanpa dapat ditahan lagi
bibir I Ki Hu mengeluarkan seruan terkejut. Seandainya orang
lain yang mendengar berita itu, biarpun terkejut tetapi tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seperti keadaan I Ki Hu saat itu. Mereka pasti bisa
menduganya karena usia Sang Hao memang sudah lanjut.
Biarpun ilmu kepandaiannya tinggi sekali, setiap manusia pasti
akan mengalami kematian. Tetapi bagi I Ki Hu lain. Sebab dari
semua jejak yang telah berhasil ditelus ya, dia sudah menduga
bahwa telah terjadi senate dalam keluarga Sang. Karena
itu pula, ketika mendengar cerita Sang Ling tentang kematian
ayahnya, ia sudah membayangkan bahwa orang tua itu mati
tidak wajar. Pasti ada sesuatu yang luar biasa.
Dan yang membuat I Ki Hu terkejut justru karena
kepandaian Sang Hao yang sudah tinggi sekali. Bukankah
aneh apabila seseorang yang ilmunya demikian tinggi bisa
mati secara mendadak tanpa mengalami penyakit apa pun?
Bukankah aneh apabila orang yang kepandaiannya demikian
tinggi bisa mati tidak wajar?
"Bagaimana Lo Sang menemui kematiunnya? Dapatkah kau
menceritakannya?" tanya I Ki Hu setelah perasaan terkejutnya
reda.
Sang Ling melirik sekilas kepada I Ki Hu. Sepertinya dia
merasa heran mengapa orang itu bisa menduga ada yang
tidak wajar pada kematian ayahnya. Dia menarik nafas
panjang.
"Sebetulnya memalukan kalau cerita ini ter-sebar di luaran,
ayah ... mati karena ter . . . kejut."
I Ki Hu yang mendengarnya benar-benar merasa di luar
dugaan. Dia malah mengira pende-ngarannya yang salah.
"Mati terkejut?" Diam-diam hatinya berpikir, entah urusan
apa di dunia ini yang dapat membuat si Kakek berambut putih
Sang Hao demikian terkejutnya sehingga menemui kematian.
"Tidak salah," sahut Sang Ling. "Meskipun saat itu ayah
tidak sempat mengucapkan sepatah kata pun, tetapi kami
melihat dengan jeias mimik wajahnya yang menyorotkan
perasaan terkejut, Kemudian langsung mati. Di sini bukan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tempat bicara yang leluasa, I sian sing. Bagaimana kalau I
sian sing dan I hu jin mampir sebentar di tempat kediaman
kami?"
Sebetulnya kedatangan I Ki Hu mempunyai tujuan
tersendiri. Tetapi setelah mendengar berita dari Sang Ling
bahwa ayahnya mati karena terkejut, timbullah perasaan ingin
tahu di dalam hatinya. Malah dia mengenyampingkan dulu
urusannya sendiri.
"Baik!" Dengan membimbing Tao Ling, dia mengikuti di
belakang Sang Ling dan kedua lelaki tadi menuju gedung
kediaman keluarga Sang.
Setelah berjalan kurang lebih setengah li, tam-pak sebidang
tanah yang luas sekali. Di atasnya ada bangunan yang besar
dengan atap merah dan tembok yang tinggi. Mereka masuk
melalui pintu gerbang besar yang terbuat dari besi. Di
dalamnya berjejer-jejer rumah dengan ukuran yang berbeda.
Mereka menuju gedung yang terletak di tengah-tengah.
Bentuknya paling besar dan berloteng.
Begitu masuk ke dalamnya, mereka langsung berhadapan
dengan sebuah ruang tamu. Tuan rumah Sang Ling segera
mempersilakan para tamunya duduk.
"Tentunya I sian sing merasa heran mengapa ayah bisa
mati terkejut, bukan?"
"Ini merupakan berita teraneh yang pernah kudengar." Dia
memalingkan kepalanya kepada Tao Ling. "Hu jin, benar
tidak?"
Tao Ling menemui berbagai kejadian yang tidak terduga,
belakangan dia malah menjadi istri I Ki Hu. Sebetulnya tidak
ada hal apa pun yang membangkitkan minatnya lagi. Tetapi
mendengar berita kematian Sang Hao, sedikit banyaknya
perasaan ingin tahunya tergugah juga. Karena itu dia pun
menganggukkan kepalanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Benar-benar kejadian yang aneh," gumam Tao Ling.
"Kalau mempertimbangkan biang bencana ini, seharusnya
kesalahan ditujukan kepada Kuan Hoang Siau dan pasangan
suami istri Lie Yuan!" ucap Sang ling.
I Ki Hu bertambah bingung.
"Nama ketiga orang ini di dunia kang ouw memang cukup
terkenal, tetapi tidak mungkin sam-pai Lo Sang mati terkejut
karenanya," gumam I Ki Hu.
"Di sinilah letak keanehan kejadian ini. Kalau ingin cerita
yang lebih jelas, kami harus memulainya dari setengah bulan
yang lalu. Malam itu, tiba-tiba ada seseorang yang tubuhnya
penuh berlumur darah menerjang masuk ke tempat tinggal
kami ini. Ketika sampai di dalam, nafasnya tinggal satu-satu."
"Siapa orang itu?" tanya I Ki Hu.
"Orang itu kakak misan kami yang bernama Sang Cu Ce."
Mendengar Sang Ling menyebut nama itu, sepasang alis I
Ki Hu tampak menjungkit ke atas. Sang Ling pun melanjutkan
penuturannya.
"Pada saat itu, seperti biasanya setiap bulan sekali seluruh
anggota keluarga Sang pasti berkumpul. Ayah juga hadir di
tempat. Wajah yang lainnya langsung pucat mengetahui siapa
yang menerjang masuk itu. Ayah segera menanyainya. Siapa
musuh yang melukainya sedemikian rupa. Tetapi Sang Cu Ce
hanya sempat mengucapkan beberapa patah kata, suaranya
pun lirih sekali. Wajah ayah langsung berubah hebat.
Tampaknya ayah terkejut sekali mendengar kata-kata kakak
misan kami itu. Sang Cu Ce pun menghembuskan nafasnya
yang terakhir setelah mengucapkan beberapa patah kata tadi.
Sikap ayah pun berubah. Tanpa mengucapkan apa-apa, orang
tua itu langsung masuk ke kamarnya. Pertemuan kali itu pun
terpaksa dibubarkan."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Setelah kejadian itu, apakah ayah kalian tidak mengatakan
apa yang diucapkan oleh Sang Cu Ce menjelang
kematiannya?"
Sang Ling menggelengkan kepalanya.
"Ternyata I sian sing memang cerdas sekali. Ayah memang
tidak mengungkitnya sama sekali, walaupun kami tahu, ketika
Sang Cu Ce mengucapkan beberapa patah kata itu, suaranya
lirih sekali. Orang lain pasti tidak bisa mendengarnya. Tetapi
jarak ayah dengannya begitu dekat, pasti ayah bisa
mendengarnya. Tetapi setelah kejadian itu, ternyata ayah pun
tidak mengatakannya kepada kami," ujar Sang Ling
menjelaskan.
I Ki Hu menegakkan tubuhnya sedikit. Bibir-nya
mengembangkan senyuman.
"Hal ini justru membuat urusannya lebih aneh lagi,"
katanya.
"Tadinya kami mengira ada musuh tangguh yang akan
menyatroni keluarga Sang. Karena itu, meskipun ayah tidak
berpesan apa-apa, kami sendiri segera mengadakan persiapan
untuk menjaga segala kemungkinan . . ." Berkata sampai di
sini, Sang Ling menghentikan ceritanya sejenak. Seakan dia
sedang merenungi kembali kejadian saat itu. Kemudian ia
baru meneruskan kembali. "Tetapi beberapa hari telah berlalu,
ternyata tidak ada kejadian apa pun dalam keluarga kami.
Lima hari berlalu lagi, tiba-tiba kami kedatangan tamu. Tetapi
yang datang ternyata Kuan Hong Siau dan pasangan suami
istri Lie Yuan. Kuan Hong Siau menjelaskan maksud
kedatangannya. Kepada ayah ia mengatakan bahvva dia
mengharapkan bantuan ayah untuk membebaskan jalan darah
pasangan suami istri Lie Yuan. Tanpa curiga apa-apa, ayah
langsung menyetujuinya. Ayah segera menghampiri pasangan
suami istri Pat Kua kiam, tetapi setelah memperhatikan
sejenak, tiba-tiba wajah ayah berubah hebat. Sesaat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kemudian orang tua itu langsung terkulai di atas tanah. Ketika
kami menghampirinya, ternyata ayah tidak tertolong lagi."
Setelah mendengar penuturan Sang Ling, I Ki Hu kembali
mengembangkan seulas senyuman.
"Sang kouwnio menganggap kematian ayahniu disebabkan
oleh Kuan Hong Siau dan pasangan suami istri Lie Yuan.
Bukankah itu namanya menuduh orang sembarangan? Lebih
baik kalian keluarkan Kuan Hong Siau dan pasangan suami
istri Lie Yuan. Kedatanganku ke mari justru karena ingin
bertemu dengan mereka."
Melihat I Ki Hu dapat menduga semuanya dengan tepat.
Sang Ling dan yang lainnya terkejut setengah mati. Diamdiam
mereka juga merasa kagum kepada si raja iblis ini.
"Kami hanya menyuruh beberapa anggota keluarga kami
mengawasi mereka, sama sekali tidak bermaksud mencelakai
mereka."
"Jalan darah pasangan suami istri Lie Yuan masih belum
terbuka. Ada baiknya kita menengok mereka sekarang," kata I
Ki Hu kembali
Wajah Sang Ling memperlihatkan kebim-bangan. Tetapi I
Ki Hu tidak menunggu per-setujuan Sang Ling, ia langsung
mengajak Tao Ling berdiri. Sang Ling maklum si raja iblis ini
pantang dilanggar kemauannya.
"Boleh juga. Tetapi. . . ketika itu kanii melihat ayah kami
tiba-tiba mati, karena emosi terjadilah sedikit perselisihan
yang mengakibatkan perkelahian antara kami dengan Kuan
Hong Siau. Sekarang dia masih menderita luka-Iuka. Entah
ada keperluan apa I sian sing mencarinya?"
"Urusan ini aku juga sudah menduganya. Tapi tujuanku
sebenarnya ingin menanyakan sedikit persoalan kepada
pasangan suami istri Lie Yuan. Pokoknya kalian mengantarkan
kami menemui mereka saja."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sang Ling tidak berani membantah. Dia mengajak I Ki Hu
dan Tao Ling keluar dari ruangan besar itu, mereka menyusuri
sebuah koridor panjang yang menembus ke sebidang tanah
yang luas.
Di atas sebidang tanah itu berdiri sebuah ba-ngunan yang
bentuknya kotak seperti penjara. Bahannya terbuat dari batu,
tingginya kurang lebih tiga depa. Ketika tiba di depan
bangunan itu, Sang Ling bertepuk tangan tiga kali. Tampak
empat laki-laki bertubuh kekar muncul dari atap bangunan itu.
Sang Ling memberi isyarat dengan gerakan tangan. Keempat
orang itu menyembunyikan diri lagi. Tidak lama kemudian
terdengar suara yang bergemuruh. Pintu batu bangunan itu
pun dikerek dengan seutas rantai yang tebal dan menguak
terbuka.
Sang Ling menggerakkan tangannya ke samping.
"I sian sing, I hu jin, silakan masuk!"
I Ki Hu melongokkan kepalanya ke dalam. Tampak pintu
batu itu tebal sekali. Sedangkan rantai besi yang mengereknya
setebal lengan manusia dewasa. Tampaknya tidak ada jalan
lain lagi kecuali pintu batu itu. Diam-diam dia berpikir dalam
hati, apabila ada orang yang terkurung di dalamnya, benarbenar
sulit untuk meloloskan diri. Sembari berpikir, dia
melangkah masuk tanpa ragu sedikit pun.
Keadaan di dalamnya remang-remang. Di tembok batu
hanya tergantung sebuah penerang yang redup. Namun ilmu
kepandaian I Ki Hu sudah mencapai taraf yang tinggi sekali.
Biarpun tempat yang gelap sekali sehingga jari tangan sendiri
pun tidak terlihat, dia masih bisa melihat benda di sekitarnya.
Meskipun keadaan di dalam ruangan bangunan itu hanya
remang-remang, tidak menim-bulkan kesulitan sedikit pun
bagi I Ki Hu.
Dia mendongakkan kepalanya, tampak tinggi bangunan itu
mencapai tiga depa. Hanya satu tingkat. Di langit-langit
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ruangan terdapat lubang-lubang kecil sebanyak belasan buah.
Ruangan itu sendiri tampak jauh lebih kecil dari bangunan
luarnya. Hal ini tidak perlu diherankan, karena temboknya
tebal sekali. Di atas lantai terbaring sepasang pria dan wanita,
sedangkan di sampingnya berdiri bersandar seorang kakek
tua, wajahnya menyiratkan kemarahan. Begitu melihat ada
orang yang masuk ke dalam, dia langsung memaki.
"Penjahat keluarga Sang, sebetulnya untuk apa kalian
mengurung kami di sini?"
I Ki Hu melihat tampang orang tua itu gagah sekali, tetapi
pakaiannya penuh dengan bercak darah. Dari hal ini saja
sudah dapat dibayangkan bahwa sebelum terkurung di
ruangan ini, pasti mengalami pertarungan yang sengit.
Melihat sekilas saja, I Ki Hu sudah tahu bahwa orang tua
itu adalah seorang pendekar tua yang namanya sudah
terkenal di wilayah Tung cuan, Kuan Hong Siau. Dan sepasang
pria dan wanita yang terbaring tidak bergerak di atas lantai
sudah pasti pasangan suami istri Lie Yuan.
I Ki Hu tersenyum kepada Kuan Hong Siau.
"Cayhe bukan she . . ."
Belum lagi kata-kata 'Sang' keluar dari mulut-nya, tiba-tiba
dia mendengar seruan terkejut dari bibir Tao Ling. I Ki Hu
juga merasa pemandangan di hadapan matanya agak
menggelap. Tetapi perasaan hati laki-laki ini memang sensitif
sekali. Dalam waktu sekejapan mata, dia langsung tahu apa
yang telah terjadi. Tanpa membalikkan tubuhnya, dia
berjungkir balik di udara. Sesampainya di depan pintu, dia
segera menghantamkan sebuah pukulan.
Tenaga dalam I Ki Hu sudah mencapai taraf yang tinggi
sekali. Pukulannya tadi paling tidak mengandung kekuatan
sebesar ribuan kati. Setelah menghantamkan pukulannya
terdengarlah suara Blam yang berat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Secepat kilat I Ki Hu membalikkan tubuhnya. Ternyata
dugaannya memang tidak salah sedikit pun. Ketika ia dan Tao
Ling masuk ke dalam ruangan itu tanpa pertimbangan apaapa.
Ternyata anggota keluarga Sang satu pun tidak ada yang
mengikutinya. Malah mereka segera merapatkan kembali pintu
batu yang tebal itu. I Ki Hu dan Tao Ling pun terkurung di
dalam ruangan batu itu bersama Kuan Hong Siau dan
pasangan suami istri Lie Yuan.
Seumur hidupnya, I Ki Hu belum pernah menemui kerugian
sebesar ini. Apalagi dulu ketika namanya masih menjadi buah
bibir setiap umat persilatan. Ternyata tanpa terduga-duga dia
bisa terkurung di dalam ruangan itu. Kemarahannya jangan
dikatakan lagi. Benar-benar sulit mengurai-kan bagaimana
perasaan hatinya saat itu
Saking marahnya, I Ki Hu malah memperdengarkan suara
tawa terbahak-bahak. Suara tawanya bergema di dalam
ruangan batu. Tao Ling yang berdiri di sampingnya segera
merasakan gen-dang telinganya seperti hampir pecah.
Darahnya meluap ke atas, berkali-kali dia menggoyanggoyangkan
tangannya. I Ki Hu mengeluarkan suara tawa lagi
sebanyak tiga kali, baru berhenti. Dia menolehkan kepalanya.
Tampak jenggot Kuan Hong Siau yang putih sudah penuh
dengan noda darah.
Hal ini membuktikan bahwa luka yang diderita orang tua itu
tadinya sudah cukup parah. Dia tidak tahan mendengar suara
tawa I Ki Hu yang dipan-carkan dengan mengerahkan tenaga
dalamnya. Lukanya pun semakin parah. Darah segar muncrat
dari mulutnya. Sejenak kemudian dia baru bisa
mempertahankan diri. Dia memandang I Ki Hu lekat-lekat.
"Tenaga dalam saudara benar-benar jarang ditemukan
tandingannya di dunia ini. Tetapi setelah terkurung di dalam
ruangan batu ini, tentu tidak mudah lagi meloloskan diri,"
katanya dengan nada dingin.
I Ki Hu tertawa terkekeh-kekeh. Nadanya tajam sekali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kalau aku tidak membasmi seluruh keluarga Sang sampai
habis-habisan, aku bersumpah tidak
akan menjadi manusia."
"Bagus sekali. Siapa tuan?" tanya Kakek Kuan.
I Ki Hu tidak menjawab. Tubuhnya berkelebat. Tahu-tahu
dia sudah sampai di depan tembok batu. Sepasang tangannya
diangkat, dengan gerakan merayap dia naik ke atas dan
sekejap kemudian dia sudah mencapai langit-langit ruangan
itu. Tubuhnya tegak lurus seperti seekor cicak.
Gerakannya barusan sudah menunjukkan sampai di mana
ketinggian kepandaian yang dimilikinya. Kuan Hong Siau
sampai menarik nafas panjang melihatnya. Di langit-langit
ruangan itu terdapat banyak lubang kecil, selain itu satu pun
tidak ada jendela. Kegunaan lubang-lubang kecil itu tentu
untuk pertukaran hawa dalam ruangan.
Tubuh I Ki Hu tegak lurus. Tangannya menjulur ke atas dan
mengait salah satu lubang kecil di atas langit-langit. Tapi
belum sempat dia melongok-kan lehernya untuk mengintip di
lubang yang lain, tiba-tiba terdengar kumandang suara
dentingan senjata tajam.
I Ki Hu bukan tokoh sembarangan. Begitu mendengar
dentingan senjata tajam, dia langsung tahu bahwa ada orang
yang menghunus pedang atau golok untuk menebas jari
tangannya. Cepat-cepat dia menyurutkan tangannya. Telapak
tangan kirinya menjulur ke depan, Plak! Tangannya langsung
menempel di langit-langit ruangan
Tenaga dalamnya dialihkan, langsung terpancar daya isap
yang kuat sehingga tubuhnya bergelan-tungan di atas. Tangan
kanannya pun ditarik secepat kilat.
Baru saja tangannya menyurut ke belakang, terdengarlah
suara Trang! seperti ada senjata tajam yang dibacokkan ke
bagian tembok di balik langit-langit ruangan. Apabila ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terlambat sedikit saja menyurutkan jari tangannya, tentu saat
itu telunjuknya sudah tertebas putus.
Dari atas langit-langit berkumandang suara seseorang.
"I sian sing, namamu di dunia bu lim tidak begitu harum,
tindakan ini kami lakukan karena terpaksa. Harap I sian sing
sudi memaafkan!"
I Ki Hu tertawa dingin.
"Kalian kira ruangan batu ini sanggup mengurung aku
selamanya?"
Pada saat itu, Sang Ling dan tokoh-tokoh berilmu tinggi
lainnya dari keluarga Sang sudah berkumpul di atap
bangunan. Ketika mendengar nada suara I Ki Hu yang bukan
terpancar dari ruangan bawah, hati mereka merasa heran.
Mungkinkah ilmu orang ini demikian tinggi sehingga bisa
terbang? Kalau tidak mengapa suaranya bisa terpancar dari
atas?
Mereka tidak tahu bahwa tenaga dalam I Ki Hu memang
sudah mencapai taraf yang tinggi sekali.
Dia dapat mengedarkan hawa murninya sesuka hati.
Karena itu dengan sebelah tangan bisa menempel di langitlangit
ruangan. Tubuhnya bisa menggelantung di udara.
Kemudian terdengar lagi seseorang berkata.
"Moay cu, buat apa banyak bicara dengannya. Dia toh
sesumbar kehebatannya sendiri, kita Hhat saja bagaimana dia
bisa meloloskan diri dari ruangan itu."
I Ki Hu masih terus tertawa dingin. Telapak tangannya
bergeser sedikit, dia mengintip dari sebuah lubang.
"Kalau aku sudah keluar dari ruangan ini, kalian baru tahu
rasa."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seorang laki-laki bertubuh tinggi besar melihat wajah I Ki
Hu tampak dari celah lubang angin. Dia segera mengeluarkan
sebilah pisau kecil kemudian dihunjamkannya melalui lubang
itu.
Dalam pikirannya, I Ki Hu pasti tidak sempat menghindar.
Walaupun belum tentu bisa membunuh si Raja Iblis itu,
setidaknya dapat membuat wajahnya menjadi cacat.
Setelah kematian Sang Hao, di dalam keluarga Sang
memang masih ada beberapa orang tokoh yang ilmunya
cukup tinggi. Cukupanlah apabila ingin menjual lagak di dunia
kang ouw. Tetapi untuk memahami sampai di mana tingginya
kepan-daian I Ki Hu, tentu masih jauh sekali.
Begitu pisau kecil tadi menyusup ke dalam lubang, tiba-tiba
I Ki Hu menyurutkan kepalanya dan jari tangannya menelusup
ke dalam celah lalu menjepit pisau itu kuat-kuat.
Sekejap kemudian terdengarlah suara jeritan histeris lakilaki
itu. Disusul dengan suara Bluk! seperti benda berat yang
jatuh. I Ki Hu pun tertawa dingin.
"Sudah tahu kehebatanku?" katanya sinis.
Rupanya ketika jari tangan I Ki Hu sudah berhasil menjepit
pisau tadi, dia segera mengerah-kan tenaga dalamnya ke
ujung jari. Pisau itu pun terpental membalik dan menghunjam
ke orang itu sendiri. Benar-benar senjata makan tuan.
Kali ini terdengarlah suara bising berkumandang dari atas.
Rupanya mereka terkejut sekali melihat kelihaian I Ki Hu.
"Cepat pergi! Dia toh sudah terkurung di dalam bangunan
ini. Cepat atau lambat dia pasti mati kelaparan," seru
seseorang dari keluarga Sang.
Orang-orang itu bergegas meninggalkan atap bangunan.
Mereka tidak memperdulikan I Ki Hu lagi. Tangan I Ki Hu yang
sebelah menelusup ke dalam saku. Kemudian menyusup
kembali ke dalam celah lubang angin lalu mengibas. Saat itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
juga terdengar suara pekik kesakitan, juga suara Bak! Buk!
Bak! Buk! seperti benda jatuh. Rupanya barusan dia
menyambitkan sejumlah senjata rahasia dan pasti ada
beberapa orang yang menjadi korban. I Ki Hu tersenyum
puas, tubuhnya pun melayang turun lagi ke bawah.
Tampak Kuan Hong Siau memandanginya sam-bil menarik
nafas panjang.
"Kepandaian saudara seperti dewa," kata Kakek Kuan.
"Apakah kau bisa menghitung berapa orang yang menjadi
korban senjata rahasiaku tadi?" tanya I Ki Hu dengan tawa
datar.
Kuan Hong Siau ikut tertawa.
"Yang jatuh dari atas saja ada sembilan orang, mungkin
ada yang mati sebelum sempat melompat turun," jawabnya.
I Ki Hu merasa bangga sekali, dia meremas-remas
tangannya sambil tertawa senang.
"Tampang saudara gagah sekali. Ilmu kepandaian juga
mengejutkan. Apalagi orang-orang dari keluarga Sang tadi
memanggil Anda I sian sing. Jangan-jangan saudara ini yang
mendapat julukan Gin leng hiat ciang I Ki Hu."
"Tidak salah. Sahabat Kuan, tidak disangka kita bisa
bertemu di tempat seperti ini, bukan?"
"Memang benar-benar tidak disangka," ucap Kuan Hong
Siau dengan tawa getir.
Kuan Hong Siau adalah seorang pendekar dari golongan
lurus dan berjiwa besar. la paling membenci segala macam
kejahatan. Sebetulnya bertolak belakang dengan I Ki Hu.
Tetapi justru tidak terduga-duga mereka bisa terkurung dalam
ruangan yang sama.
"Sahabat Kuan, mengapa pasangan suami istri Lie Yuan
bisa tertotok jalan darahnya? Dan sebetulnya bagaimana cara
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sang Hao menemui kematiannya? Dapatkah kau
menjelaskannya dengan terperinci?" tanya I Ki Hu.
"Baik," sahut Kuan Hong Siau.
Dia langsung menceritakan kedua peristiwa yang
disaksikannya dengan mata kepala sendiri. I Ki Hu
mendengarkan dengan penuh perhatian. Kenyataannya apa
yang ia dengar dari Kuan Hong Siau tidak banyak bedanya
dengan cerita yang pernah didengarnya dari orang lain.
I Ki Hu merenung sejenak setelah cerita Kuan Hong Siau
selesai.
"Kalau begitu, Lo Sang secara tidak langsung dibunuh oleh
perasaan terkejutnya ketika mengetahui siapa yang menotok
jalan darah pasangan suami istri Lie Yuan?" tanyanya
kemudian.
"Cayhe juga mempunyai pendapat yang sama. Tempo hari
ketika pertama kali Sang Cu Ce melihat totokan yang terdapat
di tubuh pasangan suami istri Lie Yuan, wajahnya langsung
berubah hebat. Tetapi rasa terkejut yang diperlihatkan oleh
Sang Cu Ce berbeda maknanya dengan rasa terkejut yang
diaiami Sang Hao. Dalam anggapan Sang Cu Ce, ilmu totokan
keluarga Sang terkenal di dunia bu lim. Tetapi kenyataannya
dia tidak tahu jalan darah mana di bagian tubuh pasangan
suami istri Lie Yuan yang tertotok. Belum tentu dia tahu siapa
orang yang melakukannya. Bagaimana menurut pendapat
saudara?"
"Betul. Tetapi sekali lihat saja Lo Sang sudah mengenali
siapa pelakunya. Karena itu, saking terkejutnya jantungnya
jadi putus seketika. Tampaknya sahabat yang melakukannya
patut bangga juga karenanya. coba aku ingin melihatnya,
siapa tahu aku akan mengikuti jejak Lo Sang?" kata I Ki Hu
dengan maksud bergurau.
Sembari berkata, bibirnya menyunggingkan senyuman. Dia
berjalan menghampiri pasangan suami istri Lie Yuan yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terbaring di lantai. Kemudian dia membungkukkan tubuhnya
meme-riksa dengan teliti. Padahal senyuman yang menghiasi
bibirnya wajar sekali, namun setelah memper-hatikan keadaan
pasangan suami istri Lie Yuan, senyumannya langsung
terpaku. Mimik wajahnya jadi aneh sekali. Mirip seseorang
yang sedang tersenyum tetapi tiba-tiba tertotok jalan
darahnya sehingga tetap seperti semula tapi kaku.
Kuan Hong Siau yang melihat keadaan itu jadi bingung. Dia
mengantarkan pasangan suami istri Lie Yuan ke Si Cuan ini
sebetulnya dengan niat baik. Karena dia sendiri tidak sanggup
membebaskan jalan darah kedua orang itu
Begitu sampai di kediaman keluarga Sang, si Kakek
berambut putih yang melihat keadaan pasangan suami istri Lie
Yuan langsung mati terkejut. Hal ini menimbulkan kemarahan
anggota keluarga Sang lainnya. Maka mereka pun terlibat
pertarungan yang sengit, karena seorang diri meng-hadapi
begitu banyak anggota keluarga Sang yang semuanya berilmu
cukup tinggi. Dirinya sampai terluka di sana sini, Akhirnya
mereka dikurung dalam ruangan batu ini.
Hati Kakek Kuan memang merasa her an. Mengapa tokoh
seperti Sang Hao yang menguasai kepandaian tinggi dan
namanya sudah demikian terkenal di dunia kang ouw, juga
mempunyai pe-ngetahuan yang luas bisa mati terkejut begitu
melihat totokan di tubuh pasangan suami istri lie Yuan.
Sekarang melihat mimik wajah I Ki Hu, dia semakin
kebingungan. Diam-diam hatinya sadar bahwa I Ki Hu pasti
sudah mengetahui siapa orangnya yang menotok jalan darah
di tubuh pasangan suami istri Lie Yuan.
Lagipula nama orang penotok jalan darah itu bisa membuat
Gin leng hiat ciang begitu terkejut sehingga wajahnya pucat
pasi. Entah siapa tokoh yang misterius itu?
Keheranan di hati Kuan Hong Siau jangan ditanyakan lagi.
Dia juga tidak mengerti apa sebenarnya yang ada di balik
semua ini. Tampak I Ki Hu merenung sekian lama, senyuman
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
di wajahnya baru dikembangkan kembali. Tetapi tam-paknya
terlalu dipaksakan. Sepasang tangannya menyilang di depan
dada. Di dalam ruangan batu itu dia berjalan mondar mandir,
seakan-akan sedang memikirkan persoalan yang amat rumit.
Sampai lama sekali masih belum terdengar I Ki Hu
mengucapkan sepatah kata pun.
"Apakah I sian sing sudah mengenali siapa orangnya yang
menotok jalan darah mereka?" tanya Kuan Hong Siau yang
sudah tidak tahan lagi menahan rasa ingin tahunya.
I Ki Hu hanya mendehem satu kali sebagai jawaban.
"Kalau begitu, tentu I sian sing dapat mem-bebaskan
totokan mereka, bukan?" tanya Kakek Kuan kembali.
Mendengar pertanyaan itu, langkah kaki I Ki Hu langsung
terhenti. Sepasang matanya menyorot-kan sinar yang dingin.
Dari alisnya terpancar hawa pembunuhan yang tebal. la
menatap Kuan Hong Siau lekat-lekat.
Mendapat tatapan sedemikian rupa, tanpa di-sadari tubuh
Kuan Hong Siau bergetar hebat.
"Sahabat Kuan, kau toh tidak mungkin keluar lagi dari
ruangan batu ini. Untuk apa kau masih memikirkan hidup?"
ucap I Ki Hu dengan nada suara dingin.
Seumur hidupnya, Kuan Hong Siau tidak per-nah
meninggalkan dunia bu Lim. Terhadap ucapan I Ki Hu
barusan, ia mengerti bahwa dirinya tidak akan luput dari
kematian. Tetapi hatinya justru merasa heran mengapa tibatiba
saja timbul niat jahat dalam hati I Ki Hu kepadanya?
Apalagi barusan sikap yang diperlihatkan si Raja Ibiis itu baikbaik
saja. Tidak terkandung kesan akan men-celakainya.
"Orang she Kuan itu sudah lama hidup di dunia. Kematian
bukan suatu hal yang menakut-kan. Tetapi cayhe justru ingin
tahu mengapa tiba-tiba timbul keinginan membunuh di hati
saudara?" tanya Kuan Hong Siau dengan tawa getir,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kau memang tidak malu disebut laki-laki sejati. Terns
terang saja aku katakan kepadamu bahwa aku tidak sanggup
membebaskan jalan darah kedua orang itu. Tetapi aku justru
tidak ingin hal ini diketahui orang-orang bu lim. Jangan sampai
ada yang tahu bahwa dengan kepandaian yang kumiliki,
ternyata masih ada hal yang tidak sanggup kulakukan. Karena
itu pula, aku tidak akan membiarkan ada mulut yang hidup."
Hati Kuan Hong Siau tercekat. Diam-diam dia berpikir
dalam hati. Nama husuk si Raja Ibiis itu ternyata bukan nama
kosong. Hanya karena alasan yang sederhana, dia tidak segan
melakukan pembunuhan.
Setelah termangu-mangu sejenak, Kuan Hong Siau tertawa
sumbang.
"Kalau begitu, harap I sian sing turun tangan saja!" ucap
Kakek Kuan.
Tiba-tiba tubuh I Ki Hu berkelebat ke depan. Lengan
bajunya mengibas tepat di jalan darah terpenting bagian dada
Kuan Hong Siau. Orang tua itu juga sadar dirinya sudah
terluka parah, per-cuma saja menghindar. Karena itu dia
memejam-kan matanya dan tidak mengeluarkan suara sedikit
pun. Begitu jalan darah di dadanya terkena kibasan lengan
baju I Ki Hu, orang tua itu pun terkulai jatuh dan mati
seketika.
I Ki Hu tertawa seram. Kemudian dia berjalan ke arah
pasangan suami istri Lie Yuan. Langkah-nya perlahan tapi
pasti.
Sejak masuk ke dalam ruangan batu, kecuali seruan
terkejut tadi, Tao Ling tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Ketika ia melihat I Ki Hu meng-hampiri pasangan suami istri
Lie Yuan, hatinya langsung tercekat. Kedua orang itu,
bagaimana pun merupakan orang tua Lie Cun Ju.
Entah di mana sekarang Lie Cun Ju berada. Tetapi selama
Tao Ling masih hidup, ia tidak ingin bertemu lagi dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pemuda itu. Sekarang kedua orang tua Lie Cun Ju sedang
menghadapi kesulitan. Tentu saja dia tidak bisa berdiam diri
tanpa memberikan pertolongan apa-apa.
"Hu kun, tunggu dulu!" seru Tao Ling tanpa sadar.
I Ki Hu menolehkan kepalanya.
"Apakah Hu jin ingin memintakan pengampunan bagi kedua
orang ini?" katanya.
Tao Ling maju selangkah.
"Sekarang jalan darah mereka sudah tertotok, mengapa Hu
kun niasih ingin menurunkan tangan jahat?" ujar Tao Ling.
I Ki Hu tertawa terbahak-bahak.
"Hu jin tidak tahu, orang yang menotok jalan darah mereka
mempunyai hati yang keji sekali. Bahkan jauh lebih keji
daripadaku. Seandainya mereka dapat berbicara, tentu
mereka memilih mati daripada tersiksa sedemikian rupa.
Apabila aku turunkan tangan jahat kepada mereka sama
halnya aku melepaskan mereka dari kesengsaraan. Di alam
baka, arvvah mereka malah akan berterima kasih atas budiku
ini."
Tao Ling terdiam mendengar kata-katanya. I Ki Hu
melanjutkan kemhali. "Tetapi aku harus membebaskan dulu
jalan darah mereka agar bisa menjawab beberapa
pertanyaanku."
Tao Ling terkejut sekali.
"Aih .. . Bukankah tadi kau mengatakan bahwa kau tidak
sanggup membebaskan jalan darah mereka?"
"Aku memang tidak bisa membebaskan jalan darah
mereka. Tetapi aku bisa menggunakan semacam cara untuk
mengedarkan hawa murni tubuh mereka, lalu memutuskan
seluruh urat nadi dalam tubuh. Dengan demikian totokan di
bagian mana pun bisa lancar kembali?" tukas I Ki Hu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tao Ling memang gadis yang cerdas. Dia langsung
memahami maksud I Ki Hu.
"Tetapi .. . dengan cara seperti itu, mereka toh bisa
langsung mati."
"Betul. Kalau seluruh urat nadi dalam tubuh sudah putus,
mana mungkin seseorang bisa mempertahankan hidupnya.
Tetapi aku masih mempunyai semacam cara yang bisa
menunda kematian mereka sesaat sehingga ada waktu untuk
menjawab pertanyaan yang akan aku ajukan."
Tao Ling merenung sejenak.
"Hu kun, bolehkah kau pandang aku dan menunda
sebentar keinginanmu itu?" ucap Tao Ling.
"Hu jin, kau tidak ingin melihat kematian kedua orang ini,
apakah karena Lie Cun Ju?" tanya I Ki Hu tajam.
Mengetahui isi hatinya dapat terbaca oleh I Ki Hu, hati Tao
Ling tercekat bukan main.
"Bu . . . bukan." Tao Ling menjawab dengan panik.
I Ki Hu tidak memperdulikannya.
"Apabila kedua orang ini tidak menjelaskan riwayat hidup
Lie Cun Ju, seumur hidup aku tidak akan tenang. Aku boleh
gagal, membunuh sepuluh orang tetapi tidak boleh
membiarkan seorang musuh yaitu Lie Cun Ju lolos. Tetapi
apabila mereka berdua mengatakan hal yang sebenarnya,
bahwa Lie Cun Ju memang anak kandung mereka, maka
harapan untuk hidup bagi pemuda itu masih ada."
Pikiran Tao Ling jadi ruwet mendengar kata-kata I Ki Hu.
Dia tidak ingin pasangan suami istri Lie Yuan mati begitu saja,
justru karena memikirkan Lie Cun Ju. Tetapi sekarang, setelah
mendengar nada perkataan I Ki Hu, dia sadar bahwa Lie Cun
Ju sudah pasti akan dibunuhnya apabila kedua orang ini tidak
mati.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tao Ling melirik sekilas kepada pasangan suami istri Lie
Yuan. Wajah mereka pucat pasi, tubuh keduanya kurus kering.
Ditilik dari keadaan ini saja sudah membuktikan bahwa
mereka tidak akan bertahan lama hidup di dunia ini lagi. Kalau
dibandingkan dengan Lie Cun Ju yang masih muda dan sehat,
tentu saja Tao Ling memilih yang ter-akhir. Karena itu dia
hanya dapat menarik nafas panjang mengingat nasib yang
akan dialami kedua orang itu.
"Terserah kau saja!" kata Tao Ling singkat.
I Ki Hu tertawa. Dia membungkukkan tubuhnya untuk
mengangkat Lie Yuan dan disandarkan-nya ke tembok
ruangan. Kemudian tangan kanan-nya secepat kilat bergerak
menepuk ubun-ubun kepala laki-laki itu.
Ubun-ubun kepala merupakan pusat urat nadi yang
berhubungan dengan seluruh bagian tubuh. Begitu mendapat
tepukan oleh tangan I Ki Hu, seluruh tubuh Lie Yuan langsung
bergetar.
Kemudian tampak I Ki Hu menepuk lagi salah satu jalan
darah di punggung laki-laki tersebut. Tampak rona wajah Lie
Yuan mulai menyiratkan kemerahan. Kemudian Hoakkkk!
Darah segar pun bermuncratan dari mulutnya.
Tangan I Ki Hu tetap menekan jalan darah di punggung Lie
Yuan.
"Sahabat Lie, biar bagaimana kau tetap akan mati. Cepat
katakan apakah Lie Cun Ju anak kandungmu sendiri atau
bukan?" tanya I Ki Hu dengan nada membentak.
Rona wajah Lie Yuan yang merah perlahan-lahan memudar
lagi. la menarik nafas panjang.
"Siapa kau?" tanya Lie Yuan.
I Ki Hu tidak merasa heran dengan pertanyaan-nya itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ketika memeriksa keadaan pasangan suami istri Lie Yuan, I
Ki Hu mendapatkan bahwa bukan saja jalan darah mereka
tertotok, melainkan pada setiap bagian tubuh pun terdapat
luka yang parah sekali. Tubuh mereka bukan saja tidak dapat
bergerak, bahkan telinga pun tidak dapat mendengar apa-apa.
Sebetulnya tidak jauh berbeda dengan mati. Satu-satunya
yang dapat dijadikan pegangan bahwa mereka masih hidup,
hanyalah pernafasan yang sudah lemah sekali.
Karena itu pula, meskipun I Ki Hu sudah cukup lama
berada di dalam ruangan batu itu, lie Yuan tetap tidak tahu
siapa dia.
Sementara itu, I Ki Hu terus menyalurkan hawa murninya
ke dalam tubuh lie Yuan agar orang itu tidak langsung mati.
"Kau tidak perlu urus siapa aku, tapi aku mempunyai
permusuhan yang dalam dengan tocu Hek cui to, C\ Cin Hu.
Cepat kau katakan apakah lie Cun Ju anakmu yang
sebenamya atau anak tocu Hek Cui to itu?" tanya I Ki Hu lagi.
Di wajah Lie Yuan tampak tersirat seulas senyuman yang
ganjil.
"To . . . cu Hek .. . cu ... i to ...Ci... Cin . . . Hu . . .? Anak .
.. nya ... Mak . . . sud ... mu . . .?"
Kata-kata Lie Yuan dicetuskan dengan susah payah.
Suaranya tersendat-sendat. Hati I Ki Hu justru diliputi
ketegangan menunggu ia menyelesaikannya.
Namun di tengah ketegangan hati I Ki Hu terselip beberapa
bagian kegembiraan. Selama dua
puluh tahun belakangan ini, dia terus mencari keturunan
musuh besarnya itu. Boleh dibilang ia tidak pernah mendapat
berita apa pun. I Ki Hu fanatik sekali dengan prinsipnya yang
dikatakan 'api yang liar sulit dipadamkan, angin musim semi
terus berhembus silih berganti'. Meskipun ilmu silatnya
sekarang sudah mencapai taraf yang tidak terkatakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tingginya, asal masih ada seorang saja keturunan musuhnya
yang masih hidup, dia tidak dapat tidur dengan tenang.
Sebetulnya pendapat I Ki Hu itu salah sekali. Yang
membuat hidupnya tidak tenang, sebetulnya perbuatannya
sendiri. Apabila seseorang tidak melakukan kejahatan, tentu
tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan ia pun dapat hidup
dengan tenang. Tetapi sekali seseorang melakukan kejahatan,
perbuatannya itu akan membayang-bayangi dirinya sendiri,
perasaan khawatir di dalam hati tidak dapat dihapuskan.
Seperti seorang pencuri, meskipun sudah berhasil, tetapi
setiap saat ia khawatir dirinya akan ketahuan.
Sedangkan ketegangan di hati Tao Ling diliputi dengan
perasaan takut. Sebab apabila Lie Yuan mengiakan
pertanyaan I Ki Hu, sama saja Lie Cun Ju telah divonis
hukuman mati.
Tetapi setelah mengucapkan beberapa patah kata dengan
susah payah, Lie Yuan malah terdiam kembali
"Cepat jawab. Iya atau bukan? Tidak usah bertele-tele!"
tanya I Ki Hu lagi dengan nada tidak sabar.
Sepasang mata Lie Yuan mendelik marah. Tenggorokannya
mengeluarkan suara Krok! Krok! yang aneh. Melihat
keadaannya, sepertinya laki-laki itu sedang berusaha ingin
mengatakan sesuatu. Tetapi sampai akhirnya dia tidak sempat
mengatakan apa-apa lagi. Kepalanya terkulai dan ia pun
menghembuskan nafas terakhir.
I Ki Hu semakin gusar melihat dirinya sudah
menghamburkan sekian banyak hawa murni tetapi tidak ada
hasilnya sama sekali. Tenaga dalamnya dikerahkan dan tuhuh
Lie Yuan yang sudah kaku itu pun dipentalkan sampai jauh.
Kemudian dia membalikkan tuhuhnya dan menatap Tao Ling
sekilas sambil tertawa dingin. Hati Tao Ling ter-getar. Sekali
lagi I Ki Hu memondong tubuh Lim Cin Ing. Dia juga menepuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ubun-ubun kepala perempuan itu persis seperti yang
dilakukunnya pada Lie Yuan.
Lim Cin Ing juga mengeluarkan seruan terkejut, darah
merembes dari sudut hibirnya. Matanya membuka dan melirik
ke sekelilingnya.
"Di . . . ma . . . na . . . a . . . ku . . .?" Ketika matanya
sempat melihat jenasah Lie Yuan, sekali lagi mulutnya
menjerit.
I Ki Hu menahan hawa amarah dalam dadanya yang
hampir meluap.
"Lie hu jin, suamimu sudah mati. Kau juga tidak bisa hidup
lebih lama lagi. Apabila ada kata-kata yang ingin kau
sampaikan. Utarakanlah sekarang juga!" katanya.
Keadaan Lim Cin Ing tampaknya lebih lumayan
dibandingkan suaminya tadi. Dia menarik nafas panjang satu
kali.
"Tidak ada pesan apa-apa lagi," jawab Lim Cin Ing.
"Kau mempunyai dua orang putra. Yang satu sudah mati
terbunuh Tao Heng Kan di kediaman Kuan Hong Siau. Masa
kau tidak mempunyai pesan apa-apa terhadap putramu yang
satunya lagi?" kata I Ki Hu dengan panik.
Mata Lim Cin Ing langsung mengedar ke sana ke mari.
"Di ... ma ... na ... dia sekarang?"
"Dia baik-baik saja. Tetapi dia tidak ingin ber-temu dengan
kalian lagi."
Wajah Lim Cin Ing tampak menyiratkan penderitaan yang
tidak terkirakan mendengar ucapan I Ki Hu.
"Kenapa?" tanya Lim Cin Ing.
Sepasang mata I Ki Hu menatap reaksi Lim Cin Ing lekatlekat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Dia mengatakan bahwa kalian bukan orang tua
kandungnya. Tetapi selama ini kalian selalu menutupi hal ini.
Karena itu dia merasa benci dan tidak ingin bertemu dengan
kalian lagi," sahut I Ki Hu.
Tiba-tiba Lim Cin Ing tertegun. Dia memaksakan dirinya
untuk berdiri tegak, tetapi keadaan-nya sudah lemah sekali. la
tidak mempunyai tenaga sedikit pun. Setelah berusaha sesaat,
wajahnya jadi merah padam, tetapi tetap saja tubuhnya tidak
dapat ditegakkan.
"Mengapa . . . dia . . . bisa berkata demi . . . kian . . .?"
Kata-kata yang diucapkan I Ki Hu seakan dirinya
mengandung perhatian yang besar ter-hadap Lie Cun Ju.
Tetapi sebenarnya semua hanya karangannya sendiri untuk
mengetahui benar tidaknya pendapat hatinya saat itu.
"Cepat katakan, benar atau tidak? Nanti aku bisa
sampaikan kepadanya. Meskipun kalian akan mati, jangan
sekali-sekali membuat seorang anak bingung dengan riwayat
hidupnya sendiri." Sungguh ucapan yang man is. Tao Ling
yang mendengarkan sampai meremang seluruh bulu
kuduknya.
Sekali lagi Lim Cin Ing menarik nafas panjang.
"Uru . . . san ... ini pan . . . jang seka . . . li apabila dice . . .
ritakan."
Tangan I Ki Hu masih menekan jalan darah di punggung
Lim Cin Ing. Dia dapat merasakan detak jantung perempuan
itu sudah semakin lemah. Dalam sekejap mata saja
perempuan itu akan menemui kematiannya, karena
perasaannya semakin panik.
"Tidak usah panjang lebar, yang penting kau jawab,
apakah dia anak kandung kalian atau bukan?"
Kepala Lim Cin Ing sudah mulai terkulai. Suaranya juga
sudah lirih sekali, tetapi keadaan di dalam ruangan batu itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
demikian heningnya sehingga I Ki Hu dan Tao Ling masih bisa
mendengar ucapannya dengan jelas.
Sekali lagi Lim Cin Ing menarik nafas panjang.
"Di . . .a ... me . . . mang ... bu ... kan ... a ... nak kan . . .
dung ... ka ... mi."
I Ki Hu langsung tertawa terbahak-bahak. Ta-ngannya
merenggang.
"Aku memang sudah menduganya!"
Lim Cin Ing memang hanya mengandalkan bantuan hawa
murni yang dipancarkan tangan I Ki Hu di punggungnya
sehingga masih sempat hidup beberapa saat. Begitu tangan I
Ki Hu merenggang, ia pun mati seketika.
"Apakah dia putra tocu Hek Cui to, Ci Cin Hu?" tanya Tao
Ling panik.
Lim Cin Ing sudah mati, mana bisa men jawab pertanyaan
Tao Ling. Dengan perasaan lesu Tao Ling berdiri. Di depan
pelupuk matanya seakan terlintas bayangan Lie Cun Ju yang
sebatang kara tanpa perlindungan siapa pun. Dan di
sebelahnya seakan ada I Ki Hu yang siap menghantam batok
kepala pemuda itu dengan telapak darahnya.
Hati Tao Ling terasa perih. Sepasang Iututnya jadi lemas.
Tiba-tiba dia sudah menjatuhkan diri berlutut di depan I Ki Hu.
"Hu kun, apa yang dikatakan Lim Cin Ing menjelang
kematiannya tidak dapat dijadikan pegangan. Apakah kau
tetap akan menurunkan tangan jahat kepada Lie Cun Ju?"
Ucapannya ini benar-benar mengharukan. Siapa pun yang
mendengarnya pasti akan tergerak hatinya. Tetapi I Ki Hu
sama sekali tidak tergugah, bahkan tampak angker.
"Hu jin, kita sudah menjadi suami istri, tentunya kau tidak
mengharapkan kelak aku dicelakai orang, bukan?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hu kun, kau memiliki kepandaian yang sakti. Siapa pula
yang sanggup mencelakaimu?"
"Hal ini sulit dikatakan," kata I Ki Hu dengan nada dingin.
"Hampir dua puluh tahun ini aku mencari jejaknya. Aku
berniat membasmi rumput sampai ke akar-akarnya. Itu bukan
hal yang mudah. Kau tidak perlu berkata apa-apa lagi!"
Tao Ling sadar banyak bicara pun tidak ada gunanya.
Terpaksa dia bangun dari berlutut. I Ki Hu sendiri terus
mondar mandir di dalam ruangan batu itu. Suasana di dalam
ruangan itu demikian heningnya. Tao Ling masih berdiri
dengan termangu-mangu. Perasaan hatinya terlalu galau.
Bahkan begitu resahnya ia sampai pikirannya menjadi kosong
melompong. Sampai cukup lama tiba-tiba terdengar suara
Bum! Bum! seperti ada benda-benda yang dilemparkan di
depan pintu.
Begitu mendengar suara itu, I Ki Hu langsung menuju
depan pintu. Dia menempelkan telinganya dan mendengarkan
suara itu dengan seksama. Tampak vvajah I Ki Hu semakin
lama semakin tidak enak dilihat. Tampak menyiratkan
kegusaran yang tidak terkirakan. Kemudian dia mendengus
dingin. Tangannya menjulur ke depan dan diguncangguncangkannya
pintu batu itu.
Tetapi pintu batu itu demikian tebal, beratnya mungkin
mencapai laksaan kati. Meskipun tenaga dalam I Ki Hu sudah
hampir mencapai taraf kesem-purnaan, tenaga seorang
manusia mana mungkin dibandingkan dengan dinding sekokoh
itu. Apalagi di kiri kanannya dipasang seutas rantai sebesar
lengan manusia dewasa. Karena itu, pintu batu itu tidak
bergeming sedikit pun juga.
Kegusaran di wajah I Ki Hu semakin parah, dia terus
mondar mandir di dalam ruangan batu. Langkah kakinya berat
sekali. Setiap tempat yang dilaluinya meninggalkan bekas
tapak kaki yang dalam. Seakan-akan ia sedang mengumbar
kemarahannya dengan cara demikian.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tidak lama kemudian, dari luar berkumandang suara
pletak! pletok! Tao Ling tidak mengerti mengapa ketika
mendengar suara debuman dari luar, wajah I Ki Hu langsung
tampak menyiratkan kegusaran. Sekarang dia mendengar
suara pletak! pletok! dari luar pintu. Dia langsung tersadar,
rupanya keluarga Sang sedang melemparkan kayu atau balokbalok
besar di depan pintu barusan sehingga terdengar suara
debuman. Dan suara yang didengarnya sekarang
membuktikan bahwa mereka akan membakar ruangan batu
itu.
Meskipun tembok batu ruangan itu sangat tebal, apabila
terbakar selama berhari-hari ber-malam-malam, mungkin tiga
hari saja pasti seluruh ruangan batu itu sudah merah
membara seperti tungku perapian. Dan otomatis orang yang
ter-kurung di dalamnya pun tidak bisa memper-tahankan
selembar nyawanya.
Hati Tao Ling menjadi gundah mengingat dirinya akan
terbakar hidup-hidup di dalam ruangan batu. Sesaat kemudian
sebuah ingatan melin-tas di benaknya. Perasaannya menjadi
lega. Di bibirnya tersungging seulas senyuman yang sudah
cukup lama tidak diperlihatkan.
Dalam keadaan seperti ini, tiba-tiba Tao Ling
mengembangkan seulas senyuman yang manis. Hal ini bukan
disebabkan karena jiwanya yang terguncang mengetahui
dirinya akan dibakar hidup-hidup oleh keluarga Sang.
Tao Ling yakin malaikat Elmaut pasti akan menjemputnya
beberapa hari kemudian, namun hatinya tidak merasa takut
sedikit pun. Bahkan tersirat kebahagiaan yang tidak
terlukiskan, karena yang akan mati terbakar di dalam ruangan
batu itu bukan hanya dia seorang, tetapi termasuk juga I Ki
Hu.
Pada dasarnya Tao Ling tidak mencintai I Ki Hu sedikit pun.
Kebahagiaan yang dirasakannya tentu bukan karena mereka
saling mencintai dan dapat mati bersama. Tetapi karena dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyadari, apabila I Ki Hu sampai mati, selembar nyawa Lie
Cun Ju dapat dipertahankan.
Lie Cun Ju lah laki-Iaki yang dicintai Tao Ling. Asal Lie Cun
Ju dapat meneruskan kehidupannya dengan tentram,
meskipun dia harus terkurung dalam ruangan batu dan
terbakar menjadi abu, hatinya rela sekali.
Di pelupuk matanya kembali melintas ba-yangan Lie Cun
Ju. Cuma kali ini tidak ada lagi bayangan I Ki Hu yang
mengangkat tangannya yang berwarna merah darah ke atas.
Bahkan dalam bayangannya Lie Cun Ju sedang tersenyum.
Senyuman di bibir Tao Ling pun semakin me-ngembang.
Meskipun sadar dirinya pasti akan mati, tetapi hatinya gembira
sekali. Sekarang dia merasa I Ki Hu sama sekali tidak
menakutkan. Karena paling lama tiga hari laki-laki itu juga
akan melebur jadi abu bersama-sama dirinya. Begitu
senangnya hati Tao Ling sampai-sampai ter-tawanya
menimbulkan suara terkekeh-kekeh.
I Ki Hu memandang Tao Ling dengan dingin. Wajahnya
juga tersenyum. Tetapi senyumnya me-ngandung kemarahan
dan menyeramkan.
Sampai cukup lama, Tao Ling baru mendengar kata I Ki Hu.
"Hu jin, apakah kau mengira aku tidak akan keiuar lagi dari
ruangan batu ini?"
Tao Ling mendongakkan kepalanya, seakan tidak
mendengar apa yang dikatakan suaminya. Sekali I Ki Hu
mengeluarkan suara tawa yang dingin dan menyeramkan.
"Hu jin, dugaanmu salah sekali. Aku pasti bisa keiuar dari
ruangan batu ini. Seluruh keluarga Sang akan kubunuh sampai
binatang peliharaan mereka pun tidak ada yang kulepaskan.
Demikian pula Lie Cun Ju, dia juga tidak bisa meloloskan diri
dari kematian."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kata-katanya demikian tegas. Seperti mengan-dung
keyakinan penuh. Tetapi Tao Ling hanya menggelengkan
kepalanya seakan tidak percaya atas apa yang dikatakannya. I
Ki Hu pun tertawa terbahak-bahak.
Pada saat itu mungkin di dalam hati I Ki Hu memang ada
keyakinan bahwa dia bisa keiuar dari ruangan batu itu. Karena
dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan keluarga Sang di
luar.
Di luar ruangan batu, sebatang demi sebatang balok telah
disusun setinggi tiga depa. Keluarga Sang menumpuk balok
dan kayu-kayu bukan hanya di depan pintu ruangan itu saja,
tetapi juga sekelilingnya. Bahkan setiap balok dan kayu sudah
direndam sebentar dengan minyak tanah. Mereka
menggunakan jenis balok dan kayu dari pohon siong yang
paling cepat menyerap minyak. Karena itu, apabila api
disulutkan, kayu dan balok itu akan bertahan lama dalam
pembakaran. Dan sekarang pun pembakaran telah dimulai.
Rumah batu yang mirip penjara itu sekarang berubah
menjadi sarana kremasi. Hanya saja yang dibakar bukan
niayat tetapi manusia hidup.
Sang Ling dan anggota keluarga lainnya berdiri di
kejauhan. Suara tertawa I Ki Hu yang menyeramkan
berkumandang keiuar dan terde-ngar jelas di telinga mereka.
Walaupun saat ini 1 Ki Hu sudah terkurung di dalam ruangan
batu, tetapi nama besar iblis ini memang menggetarkan.
Suara tawanya saja masih sanggup membuat wajah-wajah
keluarga Sang pucat pasi.
Bahkan ada seseorang yang berkata dengan suara berbisik.
"Moay cu, meskipun sekarang kita berhasil mengurungya di
dalam rumah batu itu, tetapi kalau dia sampai tidak mati dan
berhasil keluar dari sana, seluruh permukaan tempat tinggal
keluarga Sang ini pasti rata menjadi tanah dan jangan harap
ada satu pun dari kita yang berhasil meloloskan diri."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sang Ling tidak langsung menyahut, di dalam hatinya juga
timbul ketakutan yang sama. Sejak kematian si Kakek
berambut putih Sang Hao, secara tidak langsung dia sudah
menjadi kepala dalam keluarga Sang. Dia juga tahu I Ki Hu
tidak mungkin meloloskan diri dari rumah batu itu. Rasa takut
dalam hatinya dan dalam hati setiap anggota keluarganya
hanya karena kepandaian I Ki Hu yang terlalu tinggi dan
namanya yang terlalu meng-getarkan.
"Kalian tidak perlu cemas!" katanya singkat.
Seluruh anggota keluarga Sang memang berkumpul di
tempat itu. Dari kejauhan mereka melihat api mulai berkobar.
Dari kecil api itu mem-besar. Kurang lebih satu kentungan
kemudian, seluruh rumah batu itu sudah tertutup api.
Malam harinya, anggota keluarga Sang masih terus
menambah balok-balok dan kayu yang telah dilumuri minyak.
Dengan demikian nyala api bukan mengecil bahkan semakin
lama semakin besar.
Meskipun si jago merah sudah memperlihatkan
kegarangannya dan mengurung seluruh rumah batu itu, lidah
api tampak menjilat-jilat dan me-ngeluarkan suara deruan
yang mengerikan hati, tetapi para jago keluarga Sang masih
tidak berani beristirahat.
Mereka ingin menunggu sampai I Ki Hu benar-benar tidak
bisa meloloskan diri lagi baru hati mereka merasa tenang.
Cahaya api menyoroti wajah puluhan orang itu. Tampak mimik
wajah mereka menyiratkan ketegangan dan ketakutan yang
tidak terkatakan. Kalau saja I Ki Hu sampai mati, nama
keluarga Sang pun akan menjulang tinggi seketika dalam
dunia kang ouw.
Tapi bagaimana kalau I Ki Hu tidak mati, berarti seluruh
keluarga itu akan musnah oleh pembalasannya.
Mereka terus menunggu. Satu hari telah ber-lalu. Keadaan
di dalam rumah batu hening men-cekam. Tidak terdengar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
suara sedikit pun. Baru saja anggota keluarga Sang
bermaksud menghem-buskan nafas lega, tiba-tiba terdengar
suara siulan panjang dan kegusaran dari mulut I Ki Hu.
Mereka saling pandang sesaat. Kemudian masing-masing
bergegas mengambil balok dan kayu bakar untuk ditimbun di
sekeliling rumah batu itu. Bahkan mereka juga menyiram
minyak tanah bergentong-gentong di atasnya. Api pun terus
berkobar dan berkobar ...
Apakah api yang menjulang tinggi itu bisa membunuh atau
membakar hidup-hidup seorang pentolan dunia hitam dan raja
iblis yang ditakuti seluruh dunia kang ouw seperti I Ki Hu?
Untuk sementara pengarang sengaja menunda kisahnya.
***
Kita kembali pada I Giok Hong yang tidak sudi berlutut di
depan Tao Ling dan memanggilnya ibu. Begitu kerasnya adat
gadis yang satu ini sehingga tulang kakinya patah tetap rela
memutuskan hubungan ayah dan anak antara dirinya dengan
I Ki Hu.
Dengan golok pemberian Seebun Jit yang dijadikan
tongkat, dia berjalan tertatih-tatih. Rasa nyeri yang
dirasakannya ditahannya kuat-kuat. Akhirnya dia berhasil juga
menempuh perjalanan sejauh tiga-empat li.
Sakit yang dirasakannya semakin menjadi-jadi. Keringat
dingin sudah membasahi seluruh tubuh-nya, I Giok Hong
benar-benar tidak dapat memper-tahankan diri lagi.
la menolehkan kepalanya dan memandang ke sekitarnya.
Keadaan di tempat itu sunyi senyap. Ternyata ayahnya tidak
mengejarnya atau memin-fanya kembali. Bibirnya
menyunggingkan seulas senyuman. Hal ini membuktikan
betapa angkuh dan kerasnya hati gadis itu.
Akhirnya dia duduk di atas tanah, sepasang kakinya yang
patah perlahan-lahan dilonjorkan ke depan. Dengan hati-hati
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dia menyambung kembali tulang itu. Ujung pakaiannya
dikoyak dan dijadikan pembalut. Setelah selesai, dia
beristirahat sejenak. Kemudian baru meneruskan perjalanannya
dengan bantuan golok tadi sebagai penopang.
Ketika hari sudah gelap, dia sampai di tepi sebuah danau.
Di sekitar danau itu tumbuh her-bagai pepohonan. Dan tanah
di sekelilingnya juga ditumbuhi rerumputan yang cukup tebal.
I Giok Hong berbaring di atas rumput sampai cukup lama. Bau
harum yang terpancar dari rerumputan di sekitarnya membuat
semangat I Giok Hong bang-kit. Dia mendongakkan kepalanya
ke atas. Tampak rembulan sudah menggantung di atas langit.
Cahayanya menyorot ke permukaan danau sehingga air
tampak cemerlang bagai cermin. Dia segera berjalan ke tepi
danau. Kemudian dia mem-bungkukkan tubuhnya dan
diminumnya air danau yang jernih itu. Setelah rasa dahaganya
hilang, dia mengayunkan pecutnya ke tengah danau. Dalam
beberapa kali gerakan dia pun mendapatkan tiga ekor ikan
yang besar-besar. I Giok Hong mencari ranting-ranting kering
untuk menyalakan api ung-gun. Dibakarnya ikan-ikan itu lalu
dimakannya dengan lahap. Selama lima hari berturut-turut dia
melakukan hal yang sama.
Sampai hari keen am, dia merasa tulang kakinya sudah
mulai pulih. Dia pun sudah bisa meninggalkan tepi danau itu.
Sampai saat itu, dia baru merasa bingung. Kemana dia harus
pergi? Biar bagaimana, dia tidak dapat kembali ke Gin Hua
kok. Dia merantau ke mana saja. Bukankah hal itu juga
merupakan pengalaman baru yang belum pernah ia rasakan
sebelumnya.
Dengan termangu-mangu I Giok Hong meman-dangi air
danau yang jernih. Hatinya diliputi kebimbangan. Tiba-tiba di
dalam riak permukaan air, sepertinya ada seseorang yang
berjalan dari arah belakang menghampirinya.
Tadinya I Giok Hong mengira orang itu seorang gembala,
penduduk di sekitar tempat itu. Tetapi di bawah sorot
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
matahari, tampak sinar berkilauan terpancar dari pinggang
orang itu. Ternyata kilaunya sebatang pedang yang terpantul
sinar mentari.
I Giok Hong cepat-cepat membalikkan tubuhnya. Jarak
orang itu dengan dirinya tinggal dua depaan. Dia juga dapat
melihat jelas wajah orang itu. Ternyata seorang pemuda
dengan wajah murung dan tampang pasrah. Siapa lagi kalau
bukan Tao Heng Kan?
Melihat Tao Heng Kan muncul di tempat itu, hati I Giok
Hong langsung tergetar.
Beberapa hari yang lalu pemuda itu menikam jantungnya
dengan pedang. Sekarang bayangan belum pernah terlintas di
benaknya itu menjadi terlihat. Sedangkan adik Tao Heng Kan,
Tao Ling sudah menikah dengan ayahnya. Ingatan itu pun
melintas kembali di benaknya.
Selama lima hari berturut-turut di tepi danau, entah sudah
berapa kali I Giok Hong mengucapkan sumpahnya. Dia akan
membunuh Tao Ling, kalau bisa dia akan mencincangnya
sampai tubuhnya tidak berbentuk. Sekarang, begitu melihat
Tao Heng Kan, kebenciannya tiba-tiba saja meluap.
Tampaknya Tao Heng Kan juga tidak me-nyangka bisa
bertemu dengan I Giok Hong di tempat itu. Tiba-tiba dia
mendongakkan kepalanya. Begitu melihat I Giok Hong, dia
langsung tertegun.
"I ... kouwnio, rupanya kau . . . ada di sini juga," tegur Tao
Heng Kan.
I Giok Hong tersenyum tanpa mengucapkan sepatah kata
pun. Di dalam pandangan mata Tao Heng Kan, apa yang
dilihatnya mirip dengan sebuah lukisan karya pelukis ternama.
Langit yang biru, hari yang cerah, rumput-rumput menghijau,
pepohonan melambai-lambai, dan di pinggir danau berdiri
seorang gadis yang cantik jelita. Tapi Tao Heng Kan justru
tidak tahu apa yang terkandung dalam hati I Giok Hong.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan perasaan melayang-layang, Tao Heng Kan
menghampirinya.
"I kouwnio, apakah kau . . .menyalahkan diriku . . .?"
I Giok Hong mencibirkan bibirnya. Dia tahu apa yang
dimaksud oleh Tao Heng Kan.
"Untuk apa aku menyalahkan dirimu?”
Tao Heng Kan pun tersenyum. Dari balik pakaiannya dia
mengeluarkan sebuah kantong kulit.
"Luka yang diderita Lie Cun Ju masih belum sembuh. la ada
di tempat yang tidak seberapa jauh. Aku ingin mengambilkan
sedikit air minum untuknya."
I Giok Hong memperdengarkan suara tawa yang merdu.
"Air di danau ini toh bukan milikku. Kalau mau ambil,
silakan! Tidak perlu menanya dulu padaku."
Wajah Tao Heng Kan langsung merah jengah. Dia berjalan
ke tepi danau dan mengisi kantong kulitnya dengan air. I Giok
Hong berdiri di sam-pingnya kurang lebih dua ciok. Tangan
kirinya menggenggam golok pemberian Seebun Jit, sedangkan
tangan kanannya memegang pecut lemas.
I Giok Hong tahu, Tao Heng Kan pasti tidak menyangka
bahwa ia mengandung niat jahat kepadanya.
Asal dia menggerakkan goloknya saja, pasti Tao Heng Kan
akan rubuh di atas rumput dengan bersimbah darah. Dan hal
ini merupakan urusan yang bukan main mudahnya.
Tetapi bibir I Giok Hong masih tersenyum manis. Tubuhnya
atau tangannya tidak bergerak sedikit pun juga. Bukan karena
dia tidak ingin melihat kematian Tao Heng Kan, melainkan dia
tidak ingin Tao Heng Kan mati dengan cara yang begifu esiik.
Dia ingin menyiksa bathin pemuda itu. Dengan demikian
kebencian dalam hatinya baru bisa terlampiaskan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lagipula, di dalani hatinya masih banyak per-tanyaan yang
belum terjawab. Baginya, pemuda itu merupakan sebuah 'teka
teki' yang rumit. Siapa suhunya yang berilmu tinggi itu?
Mengapa dia menyuruh Tao Heng Kan menculik Lie Cun Ju?
Ketika Tao Heng Kan mengisi kantong kulitnya dengan air
danau, dia sudah mengambil keputusan. Dia tidak akan
membiarkan pemuda ini mati begitu saja. Dia akan
menyiksanya secara halus dan menyelidiki semua misteri yang
menyelubungi dirinya.
Ketika Tao Heng Kan kembali berdiri, dia pun memandang
pemuda itu dengan seulas senyuman manis.
"Tao kongcu, kemana gurumu?"
Tao Heng Kan seperti terkejut mendapat per-tanyaan yang
tidak terduga-duga itu
"Ah! Guruku sedang pergi. Aku sendiri tidak tahu dia
kemana."
Sekali lagi I Giok Hong tersenyum.
"Tao kongcu, adikmu sudah menikah. Apakah kau sudah
mengetahuinya?"
Tao Heng Kan terkejut sekali lagi.
"Sudah menikah?" katanya terhenti sejenak, kemudian dia
baru melanjutkan kembali, "Menikah dengan siapa?"
"Menikah dengan Gin leng hiat dang, I Ki Hu."
Mata Tao Heng Kan langsung membelalak lebar-lebar.
"Menikah dengan ayahmu?"
Wajah I Giok Hong langsung tampak murung.
"Tao kongcu, mengapa kau menyebut I Ki Hu sebagai
ayahku? Hubungan kami sudah putus. Jangan mebuat aku
marah!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tao Heng Kan tertegun mendengar ucapannya.
"Aku tidak tahu urusan yang sebenarnya, harap I kouwnio
sudi memaafkan. Sebetulnya apa yang telah terjadi. Dapatkah
I kouwnio menjelas-kannya?"
I Giok Hong dapat mendengar nada suara Tao Heng Kan
yang mengandung perhatian kepadanya. Bibirnya pun
menyunggingkan seulas senyuman yang pahit.
"I Ki Hu dengan kejam mematahkan kedua tulang kakiku,
tentu saja aku tidak sudi menganggapnya sebagai ayah. Tao
kongcu, kita tidak membicarakan urusan ini. Kau tadi
mengatakan Lie Cun Ju ada di tempat yang tidak jauh.
Dimana dia? Mari kita sama-sama menemuinya!"
Tao Heng Kan pun tidak mendesak lagi. Tadinya dia
mengira ucapan I Giok Hong tentang pernikahan Tao Ling dan
I Ki Hu hanya gurauan.
"Baik!" Mereka segera berjalan bersama meninggalkan tepi
danau itu.
Kurang lebih satu li, tampak sebuah bukit yang luas. Di
sana tampak dua ekor kuda. Tao Heng Kan segera
menghambur ke depan.
"Aih!" Tiba-tiba Tao Heng Kan mengeluh.
***
I Giok Hong bingung melihat tingkahnya.
"Ada apa?" tanya I Giok Hong.
Tao Heng Kan menunjuk ke arah gundukan rumput di
depannya.
"Ta ... di dia masih tidur di sini. Dia tidak bisa bergerak
sedikit pun, sekarang ke rnana perginya?"
Mendengar ucapan Tao Heng Kan, I Giok Hong langsung
tertawa getir.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Orang itu benar-benar sudah menjadi benda pusaka, di
sana sini menjadi bahan rebutan. Jangan-jangan ada orang
yang menculiknya lagi."
Padahal I Giok Hong hanya asal ucap saja, tetapi bagi
pendengaran Tao Heng Kan justru men-jadi suatu
pertimbangan. Wajahnya langsung berubah.
"I kouwnio, maksudmu ... Lie Cun Ju diculik lagi oleh orang
lain?"
I Giok Hong benar-benar bingung melihat sikapnya.
"Kalau benar, memangnya ada a pa?"
Tao Heng Kan tidak menjawab. Tubuhnya melesat mendaki
ke atas bukit. I Giok Hong meng-ayunkan pecut di tangannya.
Terdengar suara Tar! yang memecahkan keheningan.
Pecutnya sudah menyambar tempat sejauh setengah depaan.
Dengan meminjam tenaga lontaran pecut itu, tubuh I Giok
Hong pun mencelat ke udara. Tiga kali berturut-turut
tubuhnya menjungkir balik. Ketika melayang turun kembali,
dia sudah melewati Tao Heng Kan.
Ketika kedua orang itu sudah sampai di puncak bukit,
mereka segera mengedarkan pandangan matanya. Pada jarak
kurang lebih dua li di barat daya, tampak debu mengepul
tinggi. Tidak syak lagi ada orang yang menunggang kuda
dengan kecepatan tinggi menempuh perjalanan.
Hati Tao Heng Kan panik sekali
"I kouwnio, aku ingin mengejar mereka."
I Giok Hong memang tidak mempunyai tujuan kemana pun.
Lagipula hatinya sudah bertekad untuk menyiksa pemuda ini
perlahan-lahan demi membalaskan sakit hatinya akibat
diputuskan hubungan antara ayah dan anak gara-gara Tao
Ling.
"Aku ikut bersamamu!" kata I Giok Hong segera.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kedua orang itu segera menuruni bukit. Di dalam dunia bu
lim mereka termasuk remaja yang sudah memiliki kepandaian
tinggi. Bahkan dapat digolongkan jago kelas satu. I Giok Hong
di depan, Tao Heng Kan di belakang. Gerakan tubuh kedua
orang itu persis seperti bin tang komet yang melesat. Dalam
waktu yang singkat mereka sudah mengejar sejauh belasan li.
Ketika mereka baru mulai mengejar, kepulan debu karena
derapan kaki kuda lawan masih ter-lihat. Tetapi setelah berlari
sejauh belasan li, kepulan debu itu semakin lama semakin
jauh. Akhirnya bukan saja tidak terkejar, bahkan bayangannya
pun tidak terlihat.
"Tao kongcu, rasanya tidak mungkin terkejar lagi," kata I
Giok Hong.
Begitu paniknya sehingga selembar wajah Tao Heng Kan
merah padam.
"Tidak bisa! Kalau tidak terkejar, selembar nyawaku ini
pasti hilang."
"Sebetulnya apa yang ada pada diri Lie Cun Ju, mengapa
dia menjadi rebutan semua pihak?" tanya I Giok Hong.
Tao Heng Kan menarik nafas panjang.
"Aku juga tidak tabu. Tetapi apabila aku sampai kehilangan
pemuda itu, guruku pasti tidak akan mengampuni. Aku mati
tidak apa-apa, tetapi kedua orang tuaku pasti akan menemui
bencana. Bagai . . . mana baiknya?"
I Giok Hong mendengar suara Tao Heng Kan demikian
gugup. Saking paniknya seluruh tubuh pemuda itu dibasahi
oleh keringat dingin. Hatinya semakin penasaran. Terpaksa ia
mengikuti terus pemuda itu. Mereka kembali berlari sejauh
belasan li. Mereka sudah melintas daerah perbukitan. Bah-kan
sudah sampai di jalanan yang bertumpur dan becek.
Baru saja mereka berjalan beberapa tindak, tiba-tiba I Giok
Hong menarik nafas panjang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tao kongcu, rasanya kita tidak perlu mem-buang-buang
tenaga!"
Sembari berbicara, I Giok Hong menghentikan gerakan
kakinya. Tao Heng Kan masih berlari sejauh beberapa depa
baru ikut berhenti.
"Kenapa?" tanya Tao Heng Kan.
"Tao kongcu, tadi di atas bukit kita memang melihat
kepulan debu yang tinggi. Sekarang aku ingin bertanya
kepadamu, apakah kau mendengar suara derap kaki kuda?"
Mendengar pertanyaannya, Tao Heng Kan langsung
tertegun. Diam-diam dia mengingat-ingat. Kenyataannya dia
memang tidak mendengar derap kaki kuda ataupun
ringkikannya.
"Mungkin orang yang menculiknya memiliki ilmu Gin Kang
yang sudah mencapai taraf tertinggi karena itulah kita tidak
sanggup mengejar-nya."
I Giok Hong menggelengkan kepalanya.
"Kalau orang yang menculiknya menguasai ilmu Gin Kang
yang tinggi sekali, di saat berlari, dia tidak perlu menginjakkan
kakinya di atas tanah, hanya perlu menutul saja. Mana
mungkin bisa timbul kepulan debu setinggi itu? Coba kau
perhatikan, apakah ini jejak kaki manusia?"
Tao Heng Kan menundukkan kepalanya melihat ke jejak
kaki yang ditunjuk oleh I Giok Hong. Karena tanah di situ
becek dan berlumpur maka jejak kaki terlihat dengan jelas.
Tao Heng Kan memperhatikan dengan seksama. Jejak itu
tidak mungkin ditinggalkan oleh kaki manusia. Bentuknya
aneh dan arahnya terus lurus ke depan. Meskipun bentuknya
memang mirip dengan kaki manusia, tetapi jauh lebih panjang
dan jari-jemarinya besar-besar.
Setelah melihat jejak kaki itu, hati Tao Heng Kan langsung
tertegun. Meskipun seseorang yang tubuhnya tinggi besar,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tetap tidak mungkin mem-punyai tapak kaki yang begitu lebar,
panjang bah-kan jari-jemarinya besar-besar seperti itu.
Lagipula tidak masuk akal bila seseorang berjalan di luaran
tanpa memakai sepatu!
"I kouwnio, pengetahuanmu jauh lebih luas. Apakah kau
dapat menduga jejak kaki apa yang terlihat ini?" tanya Tao
Heng Kan.
I Giok Hong tersenyum mendengarkan pujian-nya.
"Tao kongcu, pujianmu terlalu tinggi. Orang seperti aku ini
mana pantas dikatakan berpenge-tahuan luas?"
Hati Tao Heng Kan sedang tegang-tegangnya. Ucapan I
Giok Hong yang diiringi dengan senyuman manis itu tetap
sempat membuat dirinya terpaku sesaat. la menarik nafas
panjang.
"I kouwnio, kalau aku tidak berhasil mengejar Lie Cun Ju.
Mau tidak mau aku harus bunuh diri." Sembari berkata,
tubuhnya langsung berkelebat lagi melesat ke depan.
Dengan tergesa-gesa I Giok Hong mengikuti Tao Heng Kan.
Kembali mereka berlari sejauh tiga-empat li. Tanah yang
becek sudah dilalui. Di hadapan mereka tampak tanah yang
keras dan kering. Jejak kaki yang aneh itu pun putus sampai
di situ. Tao Heng Kan hanya termangu-mangu
sesaat kemudian berlari lagi. Setelah berlari sejauh belasan
li, di hadapan mereka sekarang memben-tang sebuah sungai
yang lebar.
Sungai itu lebarnya hampir mencapai delapan depa. Sampai
di situ kembali Tao Heng Kan termangu-mangu beberapa saat.
Tingkahnya seperti orang linglung. Kemudian, tampak dia
menghunus pedangnya kemudian bermaksud menggorok batang
lehernya sendiri.
I Giok Hong yang berdiri di sampingnya sejak tadi sudah
melihat sikap Tao Heng Kan yang men-curigakan. Mimik wajah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pemuda itu menyiratkan keputusasaan. Maka dari itu, baru
saja tangan Tao Heng Kan bergerak, ia segera mengayunkan
pecut-nya. Tali pecut itu laksana seekor ular hidup yang
langsung melilit pedang di tangan Tao Heng Kan. Sret! I Giok
Hong menarik pecutnya kuat-kuat sehingga pedang Tao Heng
Kan menjauh dari batang lehernya.
"Tao kongcu, usiamu masih sangat muda, mengapa
memilih jalan pendek?"
Kembali Tao Heng Kan menarik nafas panjang dan
menatap I Giok Hong dengan wajah menyiratkan penderitaan.
"I kouwnio . . . kau tidak bisa menolongku . . . biarkan aku
menempuh jalanku sendiri!"
I Giok Hong tertawa sumbang.
"Tao kongcu, kau lihat keadaanku ...? Ayahku sendiri sudah
tidak menginginkan aku. Tetapi aku masih mencintai
kehidupan ini. Sedangkan kau, orang tuamu masih ada, masih
ada keluarga yang akan melindungimu, mengapa kau malah
memilih jalan kematian?"
Tao Heng Kan termangu-mangu sesaat. la menggelenggelengkan
kepalanya. Jari tangannya mengendur. Pedang
yang digenggamnya pun ter-lepas dan jatuh dengan
menimbulkan suara den-tangan di atas tanah. I Giok Hong
membungkukkan tubuhnya untuk memungut kembali pedang
itu. Dia memasukkan pedang Tao Heng Kan ke dalam
sarungnya.
"I kouwnio . . . mengapa kau begitu baik terhadapku?"
tanya Tao Heng Kan dengan tam-pang kebodoh-bodohan.
"Kau juga baik terhadapku," sahut I Giok Hong sambil
tersenyum. "Beberapa hari yang lalu, ketika gurumu
memerintahkan kau menikam aku, kau toh tidak sudi
melakukannya."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tapi . . . tapi aku ... toh . . ." Wajah Tao Heng Kan merah
padam rnengingat kejadian itu.
"Kau tidak perlu banyak bicara lagi. Sekarang belum tentu
kita gagal mengejar orang atau siapa saja yang menculik Lie
Cun Ju itu. Lebih baik kita lanjutkan pengejaran kita!"
"Tetapi bagaimana kau bisa tahu arah man a yang
diambilnya setelah menyeberangi sungai?
Bagaimana kita bisa mengejarnya kalau tidak ada
kepastian?"
"Bagaimana lagi? Terpaksa kita mengadu peruntungan."
Tao Heng Kan tertawa getir.
"I kouwnio, itu sama artinya dengan nyawa kita sudah
hilang dua bagian. Aku benar-benar tidak mengerti, mengapa
kau bersedia menempuh bahaya sebesar ini?"
Mendengar ucapan Tao Heng Kan yang tulus, hati I Giok
Hong tergerak juga. Di samping itu dia juga tahu bahwa Tao
Heng Kan memang seorang laki-laki sejati. Namun I Giok
Hong tetap tidak mampu mengubah niatnya.
I Giok Hong menatap Tao Heng Kan lekat-lekat.
"Tao kongcu, apa yang terjadi atas dirimu sudah menjadi
buah bibir orang-orang di dunia bu lim. Mereka
menganggapmu sebagai tokoh yang misterius. Sebetulnya apa
yang menyebabkan kau membunuh Li Po di kediaman Kuan
Hong Siau hari itu? Siapa sebenarnya suhumu? Dapatkah kau
men-ceritakannya kepadaku?"
Tao Heng Kan tertegun sesaat. "I kouwnio, seandainya aku
tidak bertemu de-nganmu di tepi sungai itu, mungkin
sekarang aku sudah mati bunuh diri. Aih! Sebetulnya aku tidak
boleh menutupi masalah ini terhadapmu."
"Betul. Lagipula kita sudah saling mengenal, karena itu
seharusnya kita saling terbuka."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tao Heng Kan menganggukkan kepalanya.
"Tapi, I kouwnio . . . aku khawatir, meskipun aku
menceritakan dengan terus terang, belum tentu kau akan
mempercayainya."
"Aku memang tidak mudah mem per cay ai perkataan
seseorang, tetapi aku percaya penuh kepadamu."
Wajah To Heng Kan tampak menyiratkan perasaan terharu.
Kemudian dia mengedarkan pandangan matanya ke
sekitarnya. I Giok Hong tersenyum melihat sikap Tao Heng
Kan.
"Tao kongcu, apakah kau khawatir ada yang
mendengarkan kata-katamu? Pada jarak sejauh beberapa li
dari tempat ini, rasanya tidak ada orang lain lagi."
"I kouwnio, apabila kita tidak berhasil menemukan Lie Cun
Ju kembali, guruku pasti akan mencari kita sampai bertemu.
Pada saat itu, aku khawatir kita tidak akan terlepas dari
tangan kejinya, sebaiknya kau . . ."
Wajah I Giok Hong tampak menyiratkan kelembutan.
"Tao kongcu, tidak perlu kau teruskan lagi kata-katamu.
Pokoknya aku tidak akan me-ninggalkan kau begitu saja."
Sekali lagi wajah Tao Heng Kan menyiratkan keharuan
yang tidak terkatakan. Dia mengulurkan tangannya dan
menggenggam tangan I Giok Hong erat-erat.
"I kouwnio, suatu hari kelak, apabila aku sudah bisa
memutuskan sendiri apa yang akan kulakukan, aku tentu tidak
akan melupakanmu."
I Giok Hong tahu kata-kata yang diucapkan Tao Heng Kan
ada kaitannya dengan penemuannya yang janggal. Pokoknya,
dia yakin Tao Heng Kan akan menceritakan semuanya. Karena
itu dia tidak ingin mendesaknya sekarang juga.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tao kongcu, mengapa kau bicara seperti itu?" I Giok Hong
mendongakkan kepalanya. Tampak sepasang mata Tao Heng
Kan sedang menatapnya lekat-lekat. Dari sinar mata pemuda
itu terpancar berbagai perasaan. Tanpa disadari jantung I Giok
Hong berdegup-degup dengan cepat. Wajahnya jadi merah
padam, dia merasa ada perasaan yang ganjil menyelinap
dalam hatinya.
Kedua orang itu berdiri saling berhadapan dan
bergenggaman tangan untuk beberapa saat.
"I kouwnio, menurutmu arah mana yang harus kita ambil?"
tanya Tao Heng Kan setelah melepas-kan genggaman tangan
gadis itu.
I Giok Hong mendongakkan kepalanya mem-perhatikan
sungai itu. Tampak air sungai mengalir dengan deras.
Permukaannya pun lebar dan di sekitarnya tidak tampak
perahu satu pun. Meskipun orang yang ilmu Gin Kangnya
tinggi sekali dan jago berenang sekali pun, tidak mudah
menyeberangi sungai itu. Rasanya siapa pun yang menculik
Lie Cun Ju juga tidak menyeberangi sungai itu.
"Tao kongcu, kita terpaksa mengadu nasib saja!" Jari
tangan I Giok Hong menunjuk ke sebelah kanan."Kita ambil
arah kanan saja!"
"Baik," sahut Tao Heng Kan.
Mereka pun turun ke sungai dan mengambil arah kanan.
Baru saja tubuh mereka masuk ke dalam sungai, tiba-tiba
terdengar suara deburan yang keras, air sungai pun
bergelombang dan beriak-riak. Kemudian tampak dua sosok
makhluk muncul dari dalam sungai.
Salah satu di antaranya memiliki tubuh tinggi besar. Begitu
kekarnya hampir menyerupai rak-sasa. Kalau dilihat sepintas
lalu makhluk itu seperti manusia. Tetapi kalau diperhatikan
dengan sek-sama, sebenarnya bukan. Pokoknya sejenis
makhluk aneh yang boleh dikatakan, monyet bukan, orang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hutan pun bukan. Tubuhnya penuh dengan bulu berwarna
hitam. Hidungnya mendo-ngak ke atas, dan mulutnya merah
seperti bersim-bah darah. Tampangnya benar-benar
menakutkan.
Tampak makhiuk aneh itu memanggul se-seorang. Dan
orang yang dipangguinya itu ternyata Lie Cun Ju, yang sedang
dicari-cari oleh Tao Heng Kan. Yang satunya seperti seorang
pendeta. la memakai jubah berwarna kuning. Begitu keluar ke
permukaan air, pendeta itu tertawa terbahak-bahak sambil
menepuk paha makhluk aneh itu. Ternyata tenggorokan
makhluk aneh itu pun me-ngeluarkan suara Ho ... ho ... ho ...
ho ...! seperti tertawa tapi bukan. Benar-benar menggidikkan
bulu roma.
Pendeta itu mengulurkan tangannya dan menurunkan
tubuh Lie Cun Ju. Kemudian dia menepuk punggung pemuda
itu keras-keras. Lie Cun Ju langsung mengeluarkan suara
hoakkk! sejumlah air keluar dari mulutnya. Setelah itu Lie Cun
Ju baru membuka matanya.
"Sia ... pa kau? Un . . . tuk a ... pa kau membawa aku
kesini?" tanya Lie Cun Ju.
"Kau tidak perlu tanya siapa aku. Kalau aku tidak
menolongmu, mungkin selembar nyawamu sulit lagi
dipertahankan," jawab pendeta dengan tersenyum.
Lie Cun Ju teringat berbagai peristiwa yang dialaminya
selama satu bulan itu. Semua serba aneh dan hampir tidak
masuk akal. Sejak dilukai oleh tiga iblis dari keluarga Lung,
boleh dibilang dia tidak pernah melewati satu hari pun dengan
tenang. Tanpa dapat ditahan lagi dia menarik nafas pan-jang.
Sepasang matanya dipejamkan kembali dan dia pun tidak
berkata apa-apa lagi.
Setelah terluka oleh tiga iblis dari keluarga Lung, Lie Cun Ju
dibawa oleh I Giok Hong ke wilayah barat. Tetapi baru
setengah jalan, gadis itu merasa tidak memerlukannya lagi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan melem-parkan tubuhnya yang sekarat di tengah jalan.
Kemudian dia ditolong oleh Leng coa sian sing. Lalu dia
ditukar dengan lencana Gin leng hiat ciangnya I Ki Hu serta
dibawa oleh I Giok Hong ke lemhah Gin Hua kok. Ketika I Ki
Hu dan putrinya meninggalkan Gin Hua kok, Seebun Jit yang
yakin bahwa ia adalah putra sahabat lamanya langsung
membawanya ke kamar batu dan memaksanya tidur di atas
batu Ban nian si ping. Pada saat itu Lie Cun Ju berpendapat
bahwa untuk sementara dirinya bisa meresapi ketenangan.
Tidak disangka-sangka, tak lama setelah Seebun Jit keluar
dari niangan batu, terdengarlah suara Krek!
Pada saat itu, Lie Cun Ju sedang memejamkan matanya
heristirahat.Hatinya mulai tenang me-lihat perhatian Seehun
Jit terhadap dirinya.Maka ketika mendengar suara itu, dia
mengira Seebun Jit kembaii lagi. Karena itu pula perhatiannya
tidak tertarik. Tetapi dia tetap mengedarkan hawa murni
dalam tubuhnya.
Tidak lama kemudian, dia mendengar suara langkah kaki.
Dia dapat merasakan seseorang sudah sampai di sampingnya.
Perlahan-lahan dia membuka matanya. Setelah melihat
dengan jelas, tanpa dapat ditahan lagi mulutnya
mengeluarkan suara seruan terkejut. Ternyata orang yang
berdiri di sampingnya, bukan lain daripada Tao Heng Kan yang
membunuh kokonya di kediaman Kuan Hong Siau.
Tampak Tao Heng Kan berdiri di sampingnya dengan
tangan menggenggam sebatang pedang. Matanya yang
berkilauan menatap Lie Cun Ju lekat-lekat.
"Apa yang akan kau lakukan?" seru Lie Cun Ju sambil
mencoba bangun.
Seperti merasa bersalah, Tao Heng Kan me-ngembangkan
seulas senyuman.
"Sahabat Lie, aku mendapat perintah dari suhu untuk
mengajakmu menemuinya."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Siapa gurumu? Mengapa dia ingin bertemu denganku?"
tanya Lie Cun Ju keheranan.
Tao Heng Kan tidak memberikan jawaban. Dia
mengulurkan tangannya dan menotok jalan darah di pundak
Lie Cun Ju. Pada dasarnya kepandaian Lie Cun Ju memang
sudah musnah. Setelah ditotok oleh Tao Heng Kan, dia
semakin tidak bisa meng-adakan perlawanan. Tao Heng Kan
menghunus pedangnya, setelah itu dia memondong tubuh Lie
Cun Ju dan dibawanya ke luar dari rumah batu itu.
Begitu menerjang ke luar, Tao Heng Kan langsung
berhadapan dengan I Giok Hong. Ketika terjadi perkelahian
sengit antara I Giok Hong de-ngan Tao Heng Kan, Lie Cun Ju
masih dipondong oleh pemuda itu. Kemudian Tao Heng Kan
berhasil meloloskan diri. Lie Cun Ju hanya merasa dirinya
dibawa ke dalam sebuah hutan kecil. Kemudian diletakkannya
di atas tanah. Entah berapa lama sudah berlalu, dia baru
mendengar suara pem-bicaraan.
Suara pembicaraan kedua orang itu dekat sekali
dengannya, tetapi tubuh Lie Cun Ju tidak dapat bergerak
sedikit pun. Karena itu dia tidak tahu siapa mereka.
Telinganya mendengar sebuah suara yang me-lengking dan
menusuk gendang telinga.
"Muridku, dengan susah payah kita baru ber¬hasil
mendapatkan tiga Tong tian pao Hong (Naga pusaka
penembus langit), mengapa kau semba-rangan
menggunakannya sebagai senjata rahasia? Seandainya aku
tidak keburu datang, pasti tiga batang tong tian pao Hong ini
sudah terjatuh ke tangan tiga iblis dari keluarga Lung, atau
tangan Leng Coa sian sing. Bukankah timbul kesulitan lagi
yang lainnya?"
Suara yang lain ternyata suara Tao Heng Kan.
"Suhu, pada waktu itu keadaan terlalu men-desak. Aku pun
tidak berpikir panjang lagi. Sean¬dainya aku tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyambitkan tiga batang Tong tian pao Hong itu, nyawaku
sendiri sulit dipertahankan, apalagi membawa orang ini menemuimu."
Lie Cun Ju mendengar kedua orang itu mem-bicarakan
Tong tian pao Hong, diam-diam hatinya jadi tergerak. Entah di
mana dia pernah mende¬ngar cerita tentang apa yang
dinamakan naga pusaka penembus langit itu.
Tetapi ingatannya tidak dapat tergugah. Rasanya seperti
sebuah lambang atau kode atau bisa jadi nama sejenis senjata
rahasia. Sampai letih Lie Cun Ju menguras pikirannya, ia
masih tidak sanggup mengingat kembali benda apa yang
disebut Tong tian pao Hong itu.
Telinganya kembali mendengar suara yang melengking
tadi.
"Tiga buah Tong tian pao liong ini kudapatkan dari kedua
orang tuamu. Kemudian aku mendapat¬kan satu lagi dari
saku pakaian Li Po. Sekarang jumlahnya ada empat, berarti
kurang tiga lagi. Ha ... ha ... ha .. .!"
Kata-kata yang terucap dari mulut Tao Heng Kan justru
singkat sekali. "Betul!"
"Sisa yang tiganya ada pada bocah ini. Kau harus
mengawasinya baik-baik. Aku ada sedikit urusan sehingga
harus pergi. Jangan sekali-sekali membiarkan bocah ini
meloloskan diri!"
"Suhu tidak perlu khawatir!" Terdengar Tao Heng Kan
menyahut.
Mendengar sampai di sini, hati Lie Cun Ju merasa heran.
Karena dia dapat menduga 'bocah' yang dimaksud orang yang
suaranya melengking itu pasti dirinya sendiri. Dan orang itu
ingin mendapat tiga buah Tong tian pao Hong darinya.
Sebetulnya benda apakah Tong tian pao liong itu? Dia sendiri
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merasa bingung dan tidak mengerti benda apa yang
dimaksudkan?
Tetapi ada satu hat yang sudah dimengerti oleh Lie Cun Ju,
bahwa kematian kokonya Li Po ter-nyata ada kaitannya
dengan benda bernama Tong tian pao liong itu.
Perasaan Lie Cun Ju seperti bergejolak. Dia mendengar lagi
orang itu berkata.
"Kepergianku ini tidak tentu lamanya. Kau boleh
membebaskan jalan darahnya, tetapi harus menjaga jangan
sampai meloloskan diri, apalagi sampai mati!"
Tao Heng Kan mengiakan sekali lagi. Setelah itu Lie Cun Ju
tidak mendengar suara apa-apa lagi. Dia hanya merasa
pundaknya ditepuk oleh seseorang. Tahu-tahu totokan di
tubuhnya sudah bebas. Secepat kilat Lie Cun Ju membalikkan
tubuhnya. Kurang lebih sepuluh depa dari tempat-nya berada,
tampak sesosok bayangan tinggi kurus sedang melesat pergi
bagai terbang. Gerakannya tidak menimbulkan suara sedikit
pun sehingga mirip setan gentayangan. Sedangkan orang
yang membebaskan jalan darahnya siapa lagi kalau bukan Tao
Heng Kan.
Meskipun jalan darah Lie Cun Ju sudah ter-buka, tetapi dia
tidak mempunyai tenaga sedikit pun untuk melawan Tao Heng
Kan. Matanya menatap pemuda itu dengan sinar mengandung
kemarahan.
"Untuk . . . apa kau membawa aku kemari?" tanya Lie Cun
Ju.
Tao Heng Kan memperlihatkan tertawa yang getir.
"Sahabat Lie, aku sama sekali tidak ada niat mencelakaimu,
kau tidak perlu khawatir!"
Lie Cun Ju mendengus dingin.
"Kalau begitu, mengapa kau membunuh kokoku?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tao Heng Kan menarik nafas panjang. Dia memalingkan
kepalanya tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Lie Cun Ju
melihat dirinya berada di atas sebuah bukit. Di sampingnya
juga terdapat dua ekor kuda yang sedang memamah rumput.
Diam-diam Lie Cun Ju berpikir dalam hati.
"Seandainya aku menggunakan kesempatan di saat orang
itu tidak sadar dengan mencuri seekor kuda untuk melarikan
diri, rasanya bisa juga."
Tetapi berpikir sampai di situ, hatinya dilanda kegelisahan
kembali. Biarpun bisa melarikan diri, tapi kemana tujuannya?
Sebetulnya Lie Cun Ju mempunyai keluarga yang harmonis.
Kedua orang tuanya pun me-rupakan tokoh-tokoh kelas satu
di dunia kang ouw yang namanya sudah cukup terkenal.
Tetapi sejak Tao Heng Kan membunuh Li Po, kokonya,
keluar¬ga mereka terpencar dan akhirnya menjadi terkatungkatung
seperti sekarang ini.
Lie Cun Ju menatap bayangan punggung Tao Heng Kan
dengan mat a menyorotkan dendam membara. Sampai lama
sekali dia memandangi pernuda itu, akhirnya dalam benaknya
timbul bayangan Tao Ling.
Dia teringat kasih sayang yang diperlihatkan Tao Ling
selama ini. Hatinya timbul gejolak yang sulit dilukiskan. Lie
Cun Ju hanya dapat menarik nafas panjang. Selama dua
malam dia bersama-sama TaoHeng Kan di tempat itu. Di
antara mereka tidak ada yang mengucapkan sepatah kata
pun.
Pada hari ketiga, Tao Heng Kan tahu luka yang diderita Lie
Cun Ju parah sekali. Tidak mungkin dia bisa meloloskan diri.
Perasaannya pun menjadi lega. Teringat persediaan air sudah
habis, maka dia berjalan menuju tepi danau untuk engambil
air. Tidak disangka-sangka dia bertemu dengan I Giok Hong di
tempat itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah Tao Heng Kan meninggalkannya, tim¬bul niat Lie
Cun Ju untuk melarikan diri, Dia berusaha bangun, tetapi
tubuhnya lemas sekali. Dengan susah payah dia baru berhasil
berdiri, kepalanya terasa pening dan pandangan matanya
langsung berkunang-kunang. Bahkan dia tidak sanggup berdiri
tegak. Ketika ia bermaksud memaksakan diri melangkah ke
depan beberapa langkah untuk bersandar di batang pohon,
tiba-tiba dari belakangnya muncul dua sosok bayangan.
Ketika mata Lie Cun Ju sempat melihat dua sosok
bayangan itu dengan jelas, dia sangat terkejut. Ternyata yang
dilihatnya itu yang satu seorang pendeta, sedangkan yang
satunya lagi sejenis makhluk aneh yang belum pernah ia temui
seumur hidupnya.
Lagipula bentuk makhluk itu begitu aneh. Bah¬kan Lie Cun
Ju tidak pernah tahu bahwa di dunia ini ada jenis makhluk
seperti itu.
Tadinya Lie Cun Ju ingin berteriak, tetapi baru saja
mulutnya membuka, pendeta berjubah kuning yang muncul
bersama-sama makhluk aneh itu sudah berkelebat ke
depannya dan menotok jalan darah Lie Cun Ju. Pemuda itu
pun tidak dapat bergerak lagi.
Makhluk yang mirip manusia tapi bukan manusia itu
langsung membungkukkan tubuhnya dan mengangkat Lie Cun
Ju di pundaknya. Kemudian mereka melesat ke depan. Tidak
lama kemudian, mereka sampai di tepi sungai, dan meloncat
ke dalamnya.
Di dalam sungai, Lie Cun Ju memaksakan diri untuk menu
tup pernafasannya. Ketika ia mulai tidak kuat dan sudah
meneguk air sungai itu beberapa tegukan, tiba-tiba makhluk
yang menyeramkan dan pendeta berjubah kuning itu
menyembulkan kepalanya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pendeta itu
langsung berkelebat menotok jalan darah I Giok Hong dan Tao
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Heng Kan. Apabila dalam keadaan biasa, pasti jalan darah
mereka tidak semudah itu bisa tertotok. Namun pada saat itu
mereka sedang terkesima memandangi makhluk aneh yang
muncul dari permukaan air itu. Maka dalam keadaan tanpa
dapat bertahan lagi jalan darah mereka langsung tertotok.
Kemudian pendeta itu memberi isyarat kepada si makhluk
aneh. Mereka memondong tubuh Lie Cun Ju kembali dan
dibawanya lari meninggalkan tempat itu. Kira-kira menempuh
perjalanan belasan li. Mereka baru berhenti. Makhluk aneh itu
menurunkan tubuh Lie Cun Ju.
Pendeta itu menatap Lie Cun Ju sambil tertawa terkekehkekeh.
"Benar-benar keberuntungan bagi kami bahwa kau tidak
sampai mati."
Hati Lie Cun Ju kesal dan marah. Dia mende-ngus dingin
"Aku malah menganggap lebih baik mati," kata Lie Cun Ju.
Pendeta itu mengeluarkan seruan terkejut.
"Akh! Kau sama sekali tidak boleh mati!"
Pada saat itu, dalam hati Lie Cun Ju memang berpendapat
lebih baik mati daripada hidup tersik-sa seperti itu. Apabila
saat itu dia mengetahui bahwa Tao Ling telah menikah
dengan Gin leng hiat ciang, I Ki Flu, mungkin dia langsung
bunuh diri saking kecewanya.
Yang membuat Lie Cun Ju mempertahankan kehidupannya
justru mengingat cinta kasih yang sudah terjalin antara ia
dengan Tao Ling. Karena itu pula, setelah mendengar ucapan
si pendeta ber¬jubah kuning, dia langsung tertawa getir.
"Mengapa aku tidak boleh mati?"
Mimik wajah pendeta itu berubah menjadi serius.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Mungkin kau ketua agama kami. Kalau kau sampai mati,
ribuan bahkan laksaan umat agama kami berada di bawah
bimbingan siapa lagi?"
Mendengar kata-kata pendeta itu, Lie Cun Ju semakin
heran. Jangan-jangan pendeta ini otaknya kurang waras,
pikirnya diam-diam.
"Apa yang kau maksudkan?" tanya Lie Cun Ju.
Tiba-tiba pendeta itu mengangkat tangannya dan
menampar pipinya sendiri sebanyak dua kali.
"Urusan sebesar ini, mengapa aku membocorkannya?"
gumam pendeta itu sambil ter-senyum kepada Lie Cun Ju.
"Apa yang kukatakan tadi, anggap saja kau tidak
mendengarnya."
Hati Lie Cun Ju merasa geli. Dia semakin yakin dengan
pendapatnya sendiri bahwa pendeta itu memang gila. Karena
itu pula, dia tidak meng-ungkit persoalan tadi lagi.
"Sekarang kemana kau akan membawa aku?"
"Di dalam sekte agama kami, ada seorang lhama tua dan
dua orang Coan lun ong (semacam penasehat) yang sedang
menunggumu. Aku hams membawa kau menemui mereka."
Lie Cun Ju semakin tidak mengerti apa yang sedang
dihadapinya. Tetapi karena ia sudah jatuh ke dalam tangan
mereka, terpaksa dia mengikuti nasibnya saja. Dia tidak
mengatakan apa-apa lagi. Pendeta itu kembali memberi
isyarat tangan agar memondong tubuh Lie Cun Ju. Mereka
terus menuju barat.
Sedangkan I Giok Hong dan Tao Heng Kan mengambil arah
yang berlawanan setelah jalan darah mereka berhasil
dibebaskan sendiri. Mereka tidak tahu bahwa pendeta itu
memang sengaja menyesatkan mereka. Mula-mula pendeta
dan makhluk aneh berlari ke arah timur, tapi kemudian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memutar ke barat. Tentu saja tujuannya agar mereka tidak
berhasil menemukan Lie Cun Ju.
Pendeta berjubah kuning itu menguasai Gin Kang yang
sangat tinggi. Selama beberapa hari mereka menempuh
perjalanan dengan berlari. Tidak tampak keletihan sedikit pun
yang tersirat di wajahnya. Hal ini membuktikan bahwa tenaga
dalamnya pun sangat tinggi.
Diam-diam Lie Cun Ju menghitungi hari-hari yang sudah
mereka lalui. Sampai saat itu, mereka sudah menempuh
perjalanan selama delapan belas hari. Setiap hari mereka
hanya menyantap ransum kering. Jalan yang ditempuh
berkelok-kelok karena melalui daerah pegunungan. Mereka
tidak pernah bertemu dengan seorang manusia pun.
Sampai hari kesembilan belas, mereka melewati sebuah
gunung yang menjulang tinggi. Lie Cun Ju mendengar suara
riak air. Dia segera membuka matanya. Ternyata mereka
sudah sampai di tepi sebuah sungai. Air sungai itu mengalir
dengan deras. Ombaknya tampak bergulung-gulung tinggi.
"Sungai apa ini?" teriak Lie Cun Ju.
"Sungai Yalu Campu," sahut pendeta berjubah kuning itu.
Kemudian dia menjatuhkan dirinya berlutut dan menyembah
ke arah sungai itu.
Lie Cun Ju terkejut sekali. Dia pernah mende¬ngar
seseorang mengatakan bahwa di perbatasan Tibet ada sebuah
sungai besar yang dinamakan Yalu Campu. Apakah ia
sekarang sudah mencapai perbatasan Tibet? Baru saja Lie Cun
Ju ingin mengajukan pertanyaan lagi, tiba-tiba dari tempat
tidak seberapa jauh berkumandang suara de-ngungan. Dan
pendeta berbaju kuning itu pun mengeluarkan suara siulan
sebagai sahutan.
Tidak lama kemudian, tampak empat sosok bayangan
melesat ke arah mereka. Setelah dekat, Lie Cun Ju dapat
melihat bahwa keempat orang itu juga para pendeta berjubah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kuning. Bedanya di lengan jubah mereka terdapat sulaman
dari benang emas.
"Apakah orangnya sudah berhasil disambut?" tanya
keempat pendeta itu.
"Sudah," sahut pendeta yang membawa Lie Cun Ju.
Keempat pendeta itu segera mengeluarkan lem-baran
kertas seperti mata uang dan diberikannya kepada pendeta
yang membawa Lie Cun Ju. Kemudian keempat pendeta itu
menghampiri Lie Cun Ju. Dengan masing-masing mengangkat
sebuah anggota tubuh Lie Cun Ju, mereka mem-bawanya
berlari secepat kilat.
Sejak awal hingga akhir, Lie Cun Ju tidak mengerti apa
sebenarnya yang diinginkan para pen¬deta itu. Tapi
tampaknya mereka tidak berniat jahat. Karena itu, Lie Cun Ju
pun tidak mem-berikan tanggapan apa-apa. Mereka terus
berlari sampai belasan li. Arah yang diamilnya selalu tepi
sungai.
Di sepanjang jalan, pandangan mata Lie Cun Ju terus
memandangi permukaan sungai. Dia merasa kagum sekali
melihat gelombang air yang begitu tinggi dan alirannya yang
demikian deras. Di daerah Tiong goan mungkin sulit
menemukan sungai seperti itu.
Kurang lebih setengah kentungan kemudian, keempat
pendeta itu menghentikan langkah kakinya. Lie Cun Ju segera
mendongakkan kepalanya. Dia melihat di tepi sungai terdapat
sebuah rakit yang sangat besar. Di tengah-tengah rakit itu
terpancang sebuah layar. Di samping atau tepatnya depan
rakit itu terdapat sebuah kemah yang besar. Tampak dari
dalam kemah itu keluar beberapa orang yang juga berjubah
pendeta.
"Apakah orangnya sudah berhasil disambut?" tanya orangorang
yang keluar dari kemah itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Keempat hwesio yang membopong Lie Cun Ju segera
menganggukkan kepalanya. Mereka ber-jalan menghampiri
tenda besar itu. Kemudian per-lahan-lahan menurunkan Lie
Cun Ju. Keempat pendeta itu membungkukkan tubuh mereka
ren-dah-rendah.
"Lapor kepada Tianglo, dan Coan lun ong ber-dua, orang
yang dicari sudah berhasil disambut!" Lie Cun Ju semakin
bingung. Sudah jelas kedatangannya ke tempat ini diculik oleh
seorang pendeta dan makhluk aneh tadi, tapi mengapa
mereka selalu menggunakan kata-kata disambut?
Baru saja ucapan mereka selesai, dari dalam tenda
berkumandang suara lantang.
"Undang orangnya masuk ke dalam!"
Keempat pendeta itu melirik lie Cun Ju sekilas kemudian
menggelengkan kepalanya.
"Lapor Tiang lo, tubuh pemuda ini terluka parah, aliran
darahnya membalik, tidak bisa ber-jalan sedikit pun."
Dari dalam tenda tidak terdengar suara sahutan. Sesaat
kemudian terdengar lagi orang yang di dalam kemah itu
berkata.
"Kalau begitu, kalian papah dia ke dalam!"
Keempat orang itu mengiakan serentak. Setelah itu mereka
segera mengangkat tubuh Lie Cun Ju dan dipondongnya ke
dalam tenda.
Perabotan yang ada di dalam tenda sederhana sekali. Di
tengah-tengahnya terdapat sebuah meja sembahyang. Di atas
meja itu ada patung Buddha yang terbuat dari emas. Sinarnya
berkilauan. Di hadapan patung itu terdapat sebuah tempat
pedupaan yang dipasangi beberapa batang hio wangi. Bau
harum semerbak menerpa indera pen-ciuman. Di samping
tempat pedupaan tampak menyala dua batang lilin merah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Suasananya berkesan misterius. Di depan meja itu terdapat
tiga buah kursi.
Di setiap kursi duduk masing-masing seorang pendeta.
Yang di tengah-tengah usianya sulit diterka, tetapi tampak
sudah tua sekali. Sedangkan kedua pendeta yang ada di sisi
kanan kirinya juga berusia di atas enam puluhan.
Diam-diam Lie Cun Ju berpikir, rombongan para pendeta ini
tampaknya semua menguasai ilmu silat. Ketiga orang yang
duduk di atas kursi itu mungkin pemimpin mereka. Kalau ditilik
dari usianya yang sudah begitu lanjut, ilmu kepandaian
mereka pasti tinggi sekali.
Ketika Lie Cun Ju dibawa masuk, ketiga pen¬deta itu pun
masing-masing membuka mata mereka. Saat itu juga seakan
ada sinar yang menyusup ke dalam tenda. Had Lie Cun Ju
bukan main tercekatnya.
"Tenaga dalam mereka benar-benar sudah mencapai taraf
kesempurnaan. Sinar mata mereka saja bisa menimbulkan
cahaya yang berkilauan."
"Ci sicu tentu letih setelah menempuh per-jalanan yang
demikian jauh. Silakan duduk!" ucap pendeta yang duduk di
tengah dengan perlahan-lahan.
Saat itu juga ada seseorang yang membawa kursi ke
hadapan Lie Cun Ju. Ternyata hampir saja tubuh Lie Cun Ju
terkulai jatuh ketika pegangan keempat pendeta tadi
dilepaskan. Pikiran Lie Cun Ju semakin rumit, mengapa
pendeta tua itu meng-anggapnya berasal dari marga Ci seperti
halnya Seebun Jit?
Setelah duduk bersandar, Lie Cun Ju merasa lebih nyaman.
Tetapi bibirnya justru tertawa getir.
"Taisu, kau sudah berbuat kesalahan. Aku she Lie bukan
she Ci," kata Lie Cun Ju dengan tawa getir.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pendeta tua itu tampaknya terkejut sekali. Matanya
langsung mengalih kepada etnpat pendeta tadi. Keempat
orang itu pun bergegas keluar dari tenda dan tidak lama
kemudian datang lagi dengan membawa pendeta pertama
yang menculik Lie Cun Ju.
"Tu Mo yang mengajak pemuda itu kemari, sedangkan
kami tidak tahu apa-apa," kata salah seorang dari keempat
pendeta itu.
"Tiang lo, kau lihat sendiri!" sahut Tu Mo panik.Dia
mengeluarkan selembar lukisan dari balik jubahnya. Lukisan
itu terbuat dari bahan kulit kambing, tampaknya sudah lama
sekali karena gambarnya pun sudah lusuh. Dia mem-beberkan
lukisan yang tadinya tergulung itu.
Lie Cun Ju mendongakkan kepalanya untuk mengintip
gambar apa yang diperlihatkan pendeta itu. Hatinya langsung
terkesiap seketika.
Rupanya di atas kulit kambing itu terdapat lukisan
seseorang. Dan orang itu ternyata dirinya sendiri.
Rasa terkejut Lie Cun Ju bukan tak beralasan, Coba
bayangkan saja, dia tidak merasa pernah mengenal orangorang
itu. Bahkan bertemu pun tidak. Sedangkan asal usul
mereka saja ia pun tidak tahu.
Tetapi, mereka justru mempunyai lukisan wajah Lie Cun Ju.
Pendeta tua yang duduk di tengah-tengah itu segera
mengambil lukisan kulit kambing itu dari tangan pendeta yang
menculik Lie Cun Ju. Matanya menatap ke arah lukisan
beberapa saat, kemudian beralih lagi ke wajah Lie Cun Ju.
Seakan-akan dia sedang memperban-dingkan kedua wajah
yang dilihatnya.
Hati Lie Cun Ju diliputi kecurigaan yang tidak terkatakan.
Pendeta tua itu mungkin merasa sudah cukup meneliti lukisan
itu. Dia menyodorkannya kepada kedua lhama di sisi kanan
kirinya secara bergantian. Kedua orang itu menghahiskan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
waktu kurang lebih setengah kentungan untuk meneliti.
Kemudian tampak mereka menganggukkan kepalanya
perlahan-Iahan.
"Ci sicu, kami mengundang Anda kemari tanpa niat buruk
sedikit pun. Mengapa Anda tidak meng-akui nama Anda
sendiri?" tanya pendeta yang duduk di tengah.
"Memang aku bukan she Ci. Tetapi kalian terus mendesak
aku dengan mengatakan bahwa aku she Ci. Siapa yang sudi
marganya diubah secara sem-barangan?"
Pendeta itu tersenyum tipis. Kerutan di wajahnya seperti air
yang beriak-riak. Dia menyodorkan lukisan tadi ke hadapan Lie
Cun Ju.
"Ci sicu, mohon tanya, siapa orang ini?"
Lie Cun Ju menyambut lukisan itu Iain dipan-danginya
dengan seksama. Tanpa dapat ditahan lagi, wajahya
menyiratkan senyuman yang pahit.
"Ini memang aku."
"Nah . . . sebetulnya orang yang ada dalam lukisan ini,
bukan engkau. Tetapi tocu dari Hek Cui to semasa mudanya.
Jadi lukisan itu sudah lama sekali, mungkin lebih dari dua
puluh tahun. Kalau kau memang bukan keturunan tocu Hek
Cui Ut itu, mengapa wajah kalian bisa demikian mirip?"
Mendengar ucapan pendeta tua itu, tiba-tiba ingatan Lie
Cun Ju melayang kepada Seebun Jit. Sebetulnya kalau diingat
kembali, apa yang dikatakan pendeta tua ini sama halnya
dengan apa yang dikatakan Seebun Jit tempo hari. Sedangkan
persoalan ini, Lie Cun Ju sendiri tidak jelas. Kecuali
menanyakannya kepada pasangan suami istri Lie Yuan secara
langsung.
"Manusia ada yang mirip, benda pun ada yang sama.
Kedua orang tuaku masih hidup. Mana mungkin aku ini putra
tocu Hek Cui !o seperti yang taisu katakan?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sepasang alis pendeta tua itu menjungkit ke atas.
"Mungkin ketika kecil kau sempat terlantar, kemudian kau
diambil oleh orang tuamu yang sekarang dan diasuhnya
hingga besar.Tetapi karena berbagai alasan, mereka tidak
pernah berterus terang kepadamu," kata pendeta itu
kem¬bali.
Diam-diam Lie Cun Ju berpikir, urusan ini rumit sekali.
Biarpun seratus kali didebatkan tetap saja tidak akan jernih
persoalannya. Kecuali ber-temu langsung dengan kedua orang
tuanya. Karena itu, Lie Cun Ju pun tidak memprotes apa-apa
lagi. "Kita kesampingkan dulu masalah itu. Se¬karang
dapatkah Taisu menjelaskan maksud Taisu menyuruh orang
membawa aku kemari?" Pendeta itu tersenyum.
"Lo ceng tahun ini sudah berusia seratus dua belas tahun.
Mana mungkin bisa salah mengenali orang. Tahukah sicu
bahwa Anda ini sebenarnya merupakan reinkarnasi dari
pimpinan kuil kami, yakni ketua Dan Juel."
Diam-diam Lie Cun Ju menggerutu dalam hati. "Bagus
sekali. Sekarang aku malah dikatakan reinkarnasi dari ketua
kalian. Kalian boleh percaya dengan segala macam reinkarnasi
atau tidak, memangnya aku juga harus ikut-ikutan percaya."
"Kata-kata Taisu tanpa bukti sedikit pun. Mana mungkin orang
seperti aku ini reinkarnasi dari pemimpin kalian yang pasti
sudah almarhum." Pendeta tua itu tidak marah. Bibirnya
malah menyunggingkan seulas senyuman.
"Kami merupakan umat dari Oey kau di per-batasan Tibet.
Sejak pendiri agama kami ribuan tahun yang lalu, kami sudah
mempercayai adanya reinkarnasi. Memang waktunya tidak
dapat diten-tukan kapan reinkarnasi dari pemimpin yang terdahulu
bisa lahir ke dunia. Misalnya pemimpin kami Dan Juel.
Beliau lahir kembali sembilan generasi kemudian dari
pemimpin sebelumnya. Dan sampai sekarang ini, sudah tujuh
puluhan tahun. Ternyata kami baru berhasil menemukan
engkau. Dalam agama kami, setiap pemimpin yang wafat pasti
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
akan terjadi reinkarnasi. Dari dulu sampai sekarang memang
sudah demikian kodrat-nya. Mungkin sampai ribuan tahun
kelak pun tetap sama."
"Rupanya kalian ini para lhama dari Oey kau. Dengan
demikian persoalannya semakin tidak mungkin," ucap Lie Cun
Ju sambil menatap pen¬deta tua itu dengan tercengang.
"Mengapa tidak mungkin?" tanya pendeta tua.
"Taruhlah aku memang putra kandung tocu Hek Cui to, Ci
Cin Hu. Meskipun pemimpin kalian bisa reinkarnasi, mana
mungkin lahirnya begitu jauh di wilayah Tiong goan?"
Sikap pendeta tua itu serius sekali.
"Kesanggupan Buddha hidup tidak dapat diukur dengan
kebiasaan manusia. Buddha hidup lebih sakti dari dewa mana
pun. Untuk menempuh jarak sejauh apa pun hanya dalam
waktu sekejapan mata. Meskipun jarak antara perbatasan
Tibet ini dengan Hek Cui to sangat jauh. Tetapi Buddha hidup
dapat melakukannya dengan mudah," jawab pendeta tua
dengan sikap serius.
Diam-diam Lie Cun Ju berpikir dalam hati. "Pendeta tua ini
mempunyai keyakinan tersen-diri. Mungkin dalam agama
mereka memang ada pelajaran semacam itu. Biarpun
memprotes selama seratus tahun, tetap saja tidak bisa
menggoyahkan pendirian mereka ...
Baru saja Lie Cun Ju mengambil keputusan untuk
menghadapi pendeta tua itu dengan cara yang lain, dia
mendengar orang itu sudah berkata lagi
"Tujuh puluh tahun yang lalu, menjelang akhir hidupnya,
pemimpin kami Dan Juel menunjukkan jari telunjuknya ke
arah utara. Sebagai tiang lo dalam sekte agama kami, aku
segera mengajak beberapa orang sesepuh aliran agama kami
untuk mencari bayi yang merupakan reinkarnasi dari Buddha
hidup. Ternyata sampai berpuluh-puluh tahun kami tetap tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berhasil menemukannya. Ini merupakan pengalaman yang
tidak pernah terjadi dalam sejarah kami."
Perhatian Lie Cun Ju agak tertarik juga men¬dengar
ceritanya
"Lalu?" sahutnya.
"Aku dan kedua Coan lun ong ini benar-benar kewalahan.
Akhirnya kami memohon petunjuk dad roh Buddha hidup."
Diam-diam hati Lie Cun Ju merasa geli.
"Apakah Buddha hidup memberikan petun-juknya kepada
kalian?"
"Tentu saja ada. Setelah selesai berdoa dan membaca kitab
suci, tiba-tiba muncul seekor mer-pati putih. Dengan
mengikuti arah terbang merpati itu kami sampai di pulau Hek
Cui to. Kebetulan istri tocu pulau itu sedang melahirkan. Dan
hari la-hir anak itu sama dengan hari lahir Buddha hidup."
"Apakah semuanya sama? Maksudku, dari hari tanggal dan
jam kelahiran?"
"Tepat. Tidak ada perselisihan sedikit pun," sahut pendeta
tua itu.
Bagi Lie Cun Ju, meskipun urusan ini agak janggal, tetapi
mungkin saja hanya kebetulan. Di wilayah utara memang
banyak merpati putih. Karena di perbatasan Tibet jarang
menemuinya, maka mereka langsung menduga merpati putih
itu merupakan petunjuk yang diberikan oleh Buddha hidup.
Lagi pula dunia ini luas sekali, setiap detik tentu ada bayi
lahir. Mengapa harus heran apabila ada bayi yang lahir dalam
waktu yang sama dan tanggal serta bulan yang sama dengan
Buddha hidup.
"Pada waktu kedatangan kami, bayi itu baru berusia dua
puluh tiga hari. Kami segera menjelas-kan maksud kedatangan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kami untuk mengambil bayi itu. Tetapi ternyata Tocu Hek Cui
to itu tidak mengijinkan."
Lie Cun Ju berpikir dalam hati. Justru aneh kalau dia
memberikan bayinya begitu saja.
"Karena kandungan istri tocu Hek Cui to itu pernah
dipinjam sebagai wadah lahirnya reinkar-nasi Buddha hidup
kami, maka kami tidak berani memaksa dengan kekerasan.
Akhirnya secara diam-diam kami membuat lukisan wajah tocu
Hek Cui to itu dan bersiap akan kembali lagi sewaktu-waktu.
Tidak disangka-sangka, belum lagi kami sampai di perbatasan
Tibet, kami sudah mendengar berita bahwa seluruh keluarga
tocu Hek Cui to itu tertimpa musibah. Hanya satu yang
mendapat per-lindungan sehingga tidak ikut menjadi korban,
yakni bayi keril itu."
"Kalau begitu, keselamatan si bayi berkat lin-dungan
Buddha hidup kalian?" tanya Lie Cun Ju dengan tidak dapat
menahan diri untuk tertawa geli.
"Tentu saja. Begitu mendengar berita itu, kami tidak jadi
kembali ke perbatasan Tibet, bahkan bergegas menuju Hek
Cui to. Tetapi setelah meng-habiskan waktu hampir setahun
lamanya, kami tidak berhasil menemukan bayi itu. Kami
terpaksa kembali ke Tibet. Tetapi ada beberapa orang lhama
yang mewakili kami untuk terus berusaha me-nemukan bayi
itu. Sampai tahun yang lalu, baru ada wakil kami yang
melaporkan bahwa mereka melihat seorang pemuda yang
wajahnya mirip sekali dengan tocu Hek Cui to di masa
mudanya. Karena itu pula, kami bergegas menuju ke Tiong
goan untuk mencari pemuda itu."
Lie Cun Ju merenung sejenak. Rasa-rasanya tahun yang
lalu dia memang pernah bertemu de¬ngan seorang pendeta
berjubah kuning. Pasti pen-deta itu segera kembali ke
perbatasan Tibet dan memberikan laporan kepada lhama tua
ini.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Apa yang dikatakan Taisu menarik sekali. Tetapi sejak lahir
sampai sekarang yang aku ketahui orang tuaku bermarga Lie,
bukan Ci," kata Lie Cun Ju.
"Hal ini mudah sekali. Setiap kali Buddha hidup dilahirkan
kembali, demi menjaga terjadinya kesalahan, kami harus
mengujinya. Sekarang ini kami pun belum dapat memastikan
bahwa sicu adalah reinkarnasi dari Buddha hidup kami. Mengapa
sicu tidak ikut saja kami kembali ke kuil untuk mengetahui
kebenarannya?"
Toh aku sekarang sudah berada di perbatasan Tibet,
andaikata ingin menolak juga tidak mungkin. Mengapa tidak
mengikuti kemauan mereka saja? Pikir Lie Cun Ju dalam hati.
Tetapi setelah direnungkan kembali, dia mengingat kon-disi
tubuhnya yang sedang menderita luka parah. Entah berapa
lama lagi ia dapat mempertahankan kehidupannya. Tanpa
dapat ditahan lagi Lie Cun Ju menarik nafas panjang.
"Sebetulnya aku tidak keberatan berkunjung ke kuil kalian
untuk mengadakan pengujian. Anggap saja sedang berpesiar.
Tetapi malangnya, dua bulan yang lalu aku terluka parah.
Mungkin tidak dapat menempuh perjalanan jauh, sedangkan
aku sendiri tidak tahu berapa lama lagi aku dapat
mempertahankan diri."
Pendeta tua itu memperhatikan Lie Cun Ju dengan
seksama. Bibirnya tersenyum.
"Soal itu mudah diatasi."
Perlahan-lahan dia bangkit dari tempat duduknya. Jangan
dilihat usianya yang sudah tua renta dan tubuhnya yang kurus
kering. Ketika berdiri sikap gagahnya masih terlihat jelas.
Tiba-tiba dia melangkah ke depan Lie Cun Ju. Tangan-nya
menjulur ke depan dan menekan dada serta punggung
pemuda itu.
Baru saja kedua tangannya menekan sebentar, tanpa
disadari mulut Lie Cun Ju menjerit.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Rupanya sepasang tangan pendeta tua itu begitu panasnya
seperti batangan besi yang dibakar di atas api membara.
Meskipun Lie Cun Ju sempat menjerit satu kali, tetapi dia
segera sadar bahwa pendeta itu sedang menyembuhkan luka
dalamnya dengan mengerahkan tenaga murni dalam
tubuh¬nya.
Cepat-cepat dia memejamkan mata dan duduk diam-diam.
Ditahannya rasa panas yang menye-ngat itu. Tidak lama
kemudian, hawa yang terpan-car dari sepasang telapak
tangan pendeta tua itu tidak begitu panas lagi. Bahkan lambat
laun terasa ada serangkum hawa hangat yang mengalir dalam
tubuhnya. Hal ini membuat hawa murni dalam tubuh Lie Cun
Ju yang tadinya tidak dapat diedarkan menjadi lancar kembali.
Kurang lebih dua kentungan kemudian, hawa murni dalam
tubuh Lie Cun Ju sudah dapat meng¬alir dengan lancar.
Tetapi pendeta tua itu masih terus mengerahkan hawa
murninya. Lie Cun Ju merasa tubuhnya nyaman sekali. Dalam
waktu yang singkat, bukan saja tenaganya pulih kembali,
bahkan lebih hebat dari sebelumnya.
Kalau digantikan orang lain yang mengalami kejadian itu,
tentu ia akan membiarkan pendeta tua itu terus menyalurkan
hawa murninya karena me-ngetahui tenaga dalam orang tua
itu sudah men-capai taraf kesempurnaan. Tetapi Lie Cun Ju
bukan jenis manusia seperti itu. Dia sadar hawa murni
pendeta tua itu sudah terkuras banyak untuk
menyembuhkannya. Ia tidak ingin melihat pendeta tua itu
mengalami kerugian terlalu banyak, karena itu dia segera
membuka matanya dan berkata.
"Terima kasih, Taisu. Tenaga dalamku sudah pulih
kembali."
Pendeta tua itu tersenyum lembut. Sepasang tangannya
dilepaskan dan menggeser satu langkah. Cepat-cepat Lie Cun
Ju meloncat bangun dan ber-jalan ke depan beberapa
langkah. Ternyata tenaga dalamnya sudah lebih tinggi dari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sebelumnya. Hati Lie Cun Ju kagum sekali terhadap kekuatan
tenaga dalam pendeta itu. Menurut adat istiadat dunia bu lim,
sudah seharusnya Lie Cun Ju menjatuhkan diri berlutut di
depan pendeta tua itu sebagai per-nyataan terima kasihnya.
Dia segera menekuk kedua lututnya, tetapi belum sempat
niatnya ter-capai, tiba-tiba ada serangkum kekuatan yang
tidak berwujud menahan gerakannya.
Melihat pendeta tua itu hanya mengibaskan lengan bajunya
sedikit untuk menahan gerakan tubuhnya, hati Lie Cun Ju
semakin kagum. Ia memandangi wajah si pendeta tua yang
sudah penuh dengan kerutan beberapa saat lamanya.
"Taisu, seandainya aku memang penjelmaan dari Buddha
hidup kalian, apakah kalian semua harus menuruti
perintahku?"
"Tentu saja. Sebagai seorang pemimpin dalam kuil kami,
pasti mempunyai kekuasaan yang tiada duanya. Pokoknya
setiap anggota agama kami tidak ada yang berani menentang
perintah yang diturunkan." Pendeta itu menjawab sambil tersenyum
lembut.
Hati Lie Cun Ju langsung tergerak. Seandainya tan pa
alasan yang jelas tiba-tiba dia diangkat men-jadi pemimpin
agama ini, bukankah dia akan mem-punyai banyak sekali
bawahan yang berilmu tinggi? Mungkin pemimpin mereka
yang dahulu tidak per-nah menginjakkan kakinya di wilayah
Tiong goan. Karena itu tidak ada yang mengetahui kehebafan
mereka. Seandainya ia menjadi pemimpin mereka, biarpun
ilmu kepandaiannya sendiri tidak meng-alami kemajuan sedikit
pun, tetapi mungkin namanya bisa disejajarkan dengan tokohtokoh
kelas satu lainnya.
Pikiran Lie Cun Ju melayang-layang. Berpikir sanipai di sini,
dia menjadi geli sendiri. Karena tadi dia masih tidak
mempercayai apa yang dinamakan Buddha hidup menjelma
kembali segala macam, sekarang dia bahkan mempunyai
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
minat untuk men¬jadi pemimpin mereka. Lie Cun Ju segera
mem-huang pikiran itu jauh-jauh.
"Tadi Taisu mengatakan bahwa benar atau tidakoya
penjelmaan Buddha hidup harus meialui pengujian. Entah
dengan cara bagaimana Taisu mengujinya?"
"Kami mempunyai keyakinan bahwa seseorang yang
merupakan penjelmaan Buddha hidup tidak mengingat
kembali masa lampaunya. Meskipun demikian, pasti ada
tertinggal naluri yang tajani akan benda kesukaannya seniasa
hidup. Sedangkan semasa hidup Buddha hidup, beliau sangat
meriyukai sebuah kitab. Boleh dikatakan kitab itu tidak pernah
terpisah darinya sedetik pun. Di dalam kuil, kami sudah
menyiapkan dua puluh kitab yang dilihat dari iuar bentuknya
sama. Anda hanya boleh memilih satu di antaranya dan hanya
dengan sekali gerakan saja. Apabila pilihan Anda benar, maka
tidak diragukan lagi bahwa Andalah penjelmaan Buddha hidup
kami dan akan men-dapat sanjungan dari seluruh umat kuil
kami."
Mendengar keterangan pendeta itu, Lie Cun Ju langsung
tertawa getir. Dalam dua puluh kitab yang bentuknya dari Iuar
sama semua, dalam sekali gerak harus mengambil satu yang
tepat. Memangnya itu pekerjaan mudah? Lebih baik iupakan
saja ingatan ingin menjadi pemimpin mereka. Toh ia sudah
mendapatkan keuntungan besar dari pendeta tua itu.
Mengapa masih timbul niat serakah dalam hati? Lagipula,
seandainya ia menjadi pimpinan mereka, bukankah ia harus
men-cukur kepalanya dan tidak boleh menikah seumur hidup.
Mana mungkin dia sanggup melepaskan Tao Ling yang
demikian ia cintai? Pikirnya dalam hati.
Karena itu Lie Cun Ju tidak mengajukan per-tanyaan lagi.
Tampak pendeta tua itu member! isyarat dengan gerakan
tangan. Belasan pendeta segera muncul dan mengajak Lie
Cun Ju naik ke atas rakit. Pendeta tua dan kedua rekannya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pun ikut keluar. Daiam waktu yang slngkat mereka sudah
membereskan tenda besar itu dan menempuh perjalanan.
Lie Cun Ju melihat setiap pendeta memiliki kepandaian
yang cukup tinggi. Sebetulnya di dalam sebuah aliran
keagamaan, seperti Siau lim si, memang terdapat sebagian
tokoh berilmu tinggi. Tetapi kalau setiap pendetanya semua
berilmu tinggi, hal ini belum pernah ditemuinya.
Tiba-tiba Lie Cun Ju teringat kata-kata pendeta tua tadi.
Bahwa semasa hidupnya Buddha hidup senang sekali terhadap
sebuah kitab yang siang malam tidak pernah terpisah darinya.
Kalau menurut teorinya, seorang Buddha hidup memang harus
mempunyai pengetahuan yang lebih luas daripada yang
lainnya. Karena itu, sebuah kitab saja tidak mungkin bisa
menambah seberapa banyak pengetahuannya. Tetapi menurut
cerita pendeta tua tadi, justru hanya satu kitab itu yang siang
malam selalu dibaca oleh Buddha hidup semasa hidupnya.
Mungkinkah kitab itu berisi ilmu pintu Buddha yang
mengandung kesaktian sehingga Buddha hidup itu terus
membaca untuk memahaminya?
Lie Cun Ju hanya berpikir selintasan saja. Dia sadar dirinya
toh tidak mungkin bisa mendapatkan kitab itu. Buat apa dia
memusingkan kepalanya sendiri?
Tentu saja apabila kebetulan dia berhasil memilih kitah
yang betul dari dua puluh kitab yang disediakan, bukan saja
kitab itu menjadi miliknya, malah dia akan diangkat menjadi
pemimpin agama mereka.
Tapi, bukankah harapan itu terlalu tipis?
Sementara itu seratus lebih pendeta berjubah kuning sudah
mulai melanjutkan perjalanan. Satu hari kemudian mereka
sudah sampai di sebuah tempat yang tampaknya seperti kaki
gunung. Mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Kira-kira di hari keempat mereka sudah sampai di atas puncak
sebuah gunung. Lie Cun Ju mencoba melihat ke bawah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hatinya langsung ter-eekat. Ternyata di tengah-tengah
terdapat sebuah lembah yang luasnya sulit diperkirakan.
Sebagian dari lembah itu merupakan sebuah danau. Airnya
bukan main jernihnya. Bahkan pegunungan di sekitarnya
dapat terlihat jelas di permukaan air itu. Ditambah lagi langit
yang biru. Benar-benar merupakan sebuah panorama alam
yang indah sekali.
Di tepi danau tumbuh berbagai jenis bunga-bunga liar. Ada
beberapa ekor rusa yang sedang bermain-main di sekitar
danau. Lie Cun Ju merasa dirinya berada di nirwana. Tidak
jauh dari danau itu tampak sebuah kuil yang mentereng. Dari
luar-nya saja sudah berkesan angker dan timhul rasa hormat.
Lie Cun Ju rnemperhatikan keadaan di sekirar tempat itu
sejenak, Diam-diam dia berpikir dalam hati. Andaikata bisa
hidup di tempat yang demikian indah meskipun hanya sebagai
seorang kacung, rasanya jauh lebih baik daripada hidup di
dunia bu lim yang setiap saat menghadapi bahaya hesar dan
perebutan nama kosong.
Hatinya merasa kagum sekali.
“Taisu apakah itu kuil kalian?” Tanya Lie Cun Ju
Pendeta tua itu menganggukkan kepalanya. Dari kuil
terdengar suara pembacaan ayat suci. Kemudian dari
dalamnya berjalan ke hiar dua baris lhama dengan
membentuk melebar ke samping seperti burung
membentangkan sayapnya. Mereka berhenti di depart kuil dan
mendongakkan kepalanya menatap ke arah mereka.
Pendeta tua itu menarik nafas panjang. "Agama kami tidak
mempunyai pemimpin selama hampir tujuh puluh tahun. Para
umat di kuil kami sudah lama sekali mengharapkan datangnya
seorang pemimpin yang rnerupakan pen-jelmaan dari Buddha
hidup."
"Taisu mempunyai kepandaian yang tinggi, tagipuia
meiniliki hati yang vvelas asih serta mementingkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepentingan umat. Mengapa bukan Taisu saja yang menjadi
pemimpin di kuil ini?" tanya Lie Cun Ju.
Mata pendeta tua itu langsung mendelik.
"Mengapa Ci sicu berbicara seenaknya? Kalau bukan
penjelmaan Buddha hidup, niana boleh men¬jadi pemimpin di
kuil kanii? Lagipula sebetulnya lo ceng hanya seorang pendeta
biasa, karena kematian pemimpin yang terdahulu, lama sekali
kuil kami tidak mempunyai pemimpin. Lambat laun lo ceng
pun menjadi orang yang tertua di dalam kuil ini. Apabila ada
suatu urusan, lo ceng lah yang dimin-takan pendapatnya
sebagai sesepuh. Tetapi bukan berarti lo ceng boleh
mengangkat diri jadi ketua dengan seenaknya."
Mendengar keterangan pendeta tua itu, hati Lie Cun Ju
kembali tergerak.
"Kalau begitu, di dalam kuil kalian, sekarang hanya tinggal
Taisu sendiri yang pernah mendapat didikan langsung dari
Buddha hidup Dan Juel?"
"Tidak. Kedua Coan lun ong juga mendapat didikan
langsung dari heliau. Tentu Ci sicu mengira usia mereka belum
mencapai tujuh puluhan tahun, bukan? Sedangkan Buddha
hidup telah meninggal hampir tujuh puluh tahun yang lalu.
Sebetulnya usia keduanya sudah di atas sembilan puluh tahun,
hanya saja dulu usia mereka masih terlalu muda. Coan lun
ong terdahulu yang ikut mencari bayi penjelmaan Buddha
hidup."
"Taisu sekalian memiliki kepandaian yang tinggi. Apakah
Buddha hidup juga yang meng-ajarkan ilmu itu?"
"Benar. Agama kami tadinya tidak mengenal latihan
pernafasan untuk menghimpun tenaga da lam. Karena itu
sering mendapat perlakuan semena-mena dari orang luar.
Tetapi sejak Buddha hidup Dan Juel yang memegang tampuk
pimpinan, semuanya jadi berubah."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lie Cun Ju hanya menganggukkan kepalanya. Sekarang dia
semakin yakin bahwa kitab kesukaan Buddha hidup yang
menurut cerita pendeta tua ini tidak pernah terpisah darinya
pasti merupakan sebuah kitab pusaka yang isinya mengenai
ilmu silat. Ketika pembicaraan berlangsung, keduanya turun
dari puncak gunung dan sebentar saja sudah sampai di tepi
danau.
Suara pembacaan doa dari kedua baris pendeta itu semakin
nyaring. Lie Cun Ju sarna sekali tidak mengerti apa yang
dibaca oleh mereka. Tetapi kalau dilihat dari mimik wajah
mereka yang seritis terselip keriangan, dia dapat menduga
bahwa pendeta-pendeta itu sedang membaca doa penyambutan
atas dirinya.
Lie Cun Ju mengikuti pendeta tua itu masuk ke dalam kuil.
Tampak di kedua sisi pendopo terdapat lukisan pada dinding.
Lukisan itu seperti mengandung makna Buddha hidup yang
sedang mengajar para umatnya. Sedangkan di tengah-tengah
pen¬dopo terdapat tiga buah patung besar yang melambangkan
Trimurti. Suasana di dalam kuil itu terasa sangat
berwibawa.
Lie Cun Ju sendiri bukan umat agama Oey kau. Tetapi
begitu masuk ke dalam kuil itu, timbul juga rasa hormatnya.
Pendeta tua itu mengajak Lie Cun Ju ke ruangan belakang.
Ruangan itu sunyi senyap dan hening sekali. Lie Cun Ju
ditinggalkan dalam ruangan itu. Pendeta tua meninggalkannya
entah kemana. Tidak lama kemudian ada pendeta cilik yang
membawa makanan dan minuman untuk Lie Cun Ju.
Selama tiga hari berturut-turut, Lie Cun Ju beristirahat di
dalam ruangan itu. Lukanya sudah sembuh sama sekali.
Pendeta tua itu juga tidak pernah kelihatan. Sampai hari
keempat, terdengar suara genta bertalu-talu, juga terdengar
suara ketukan bok hi. Asap hio wangi bertebaran sehingga
menimbulkan bau harum di mana-mana. Pendeta tua dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kedua Coan lun ong mengiringi Lie Cun Ju ke pendopo yang
luas sekali.
Lie Cun Ju melihat keadaan di pendopo itu gelap gulita.
Paling tidak ada lima ratusan pendeta yang menundukkan
kepalanya sambil membaca doa. Di atas undakan tangga
terdapat sebuah meja dan sebuah kursi. Di atas meja berjejer
dua puluh kitab yang bentuknya dan warnanya serupa. Kitabkitab
itu ditempatkan di dalaui sebuah kotak yang bentuknya
juga sama.
Pendeta tua dan kedua coan lun ong membawa Lie Cun Ju
ke belakang meja. Mereka pun berlutut di kedua sisi pemuda
itu. Saat itu di seluruh ru-angan pendopo yang luas itu hanya
Lie Cun Ju seorang berdiri.
Dia tahu bahwa hari kelahirannya yang sama dengan
Buddha hidup membuat umat-umat agama itu mengira ia
sebagai penjelmaan Buddha hidup. Sekarang, apabila dia
berhasil memilih kitab yang tepat dari antara dua puluh kitab
yang berjejer di depannya itu, maka ia akan segera diangkat
men-jadi pemimpin kuil ini. Karena itu, bagi para umat agama
itu, detik-detik sekarang justru penting sekali bagi kelanjutan
agama mereka.
Pendeta tua itu berlutut di sisinya. Tidak lama kemudian, ia
mengangkat tangannya ke atas. Suara genta, pembacaan doa
atau ketukan bok hi pun berhenti seketika. Suasana jadi sunyi
senyap padahal di da lam ruangan itu terdapat begitu banyak
orang. Dari hal itu dapat dibuktikan bahwa para pendeta Oey
kau mendapat didikan disiplin yang keras. Mereka sangat
mengagungkan agamanya sendiri.
Terdengar pendeta tua itu membaca doa de¬ngan suara
yang berat. Selesai berdoa, para umat baru bangkit serentak.
Pendeta tua itu juga berdiri dan menghampiri Lie Cun Ju.
"Harap calon pemimpin Ci sicu mulai memilih kitab!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Padahal Lie Cun Ju tadinya menganggap apa yang
dialaminya benar-benar seperti sebuah per-mainan saja.
Walaupun hatinya juga penasaran, mengapa sejak Buddha
hidup Dan Juel yang memimpin agama ini, seluruh pendeta
Oey kau bisa mengerti ilmu silat? Dia juga ingin tahu kitab apa
sebenarnya yang semasa hidupnya tidak pernah terpisah dari
Buddha hidup itu?
Di samping itu, Lie Cun Ju juga tahu dirinya tidak mungkin
hisa menjadi pemimpin agama mereka. Dia toh tidak punya
kesaktian untuk memilih dengan tepat salah satu di antara
dua puluh kitab yang berjejer di depannya. Karena itu, dia
hanya ingin urusan itu cepat selesai agar dia juga dapat
kembali ke Tiong goan secepatnya. Kemudian berusaha
menemukan Tao Ling dan melewati hari-hari bahagia bersama
gadis itu, daripada menjadi pemimpin agama yang tidak
dimengertinya itu.
Karena itu, ketika mendapat perintah dari si pendeta tua
agar dia mengambil salah satu kitab yang berjejer di atas
meja, Lie Cun Ju tidak pikir-pikir lagi. Sembarangan saja ia
mengulur tangan¬nya untuk mengambil salah satu dari kitab
itu
Lie Cun Ju toh tidak tahu kotak mana terdapat buku yang
asli dan kotak mana yang berisi kitab palsu. Tidak ada hal apa
pun yang dapat dijadikan pegangan baginya untuk memilih. la
mengulurkan tangannya untuk mengambil salah satunya.
Tetapi belum lagi jari tangannya sempat menyentuh kitab itu,
tiba-tiha jalan darah di lengannya terasa ngilu Rasa ngilu itu
membuat tangannya terangkat kem-hali.
Hati Lie Cun Ju merasa aneh, cepat-cepat dia
mendongakkan kepalanya. Tampak ratusan umat sedang
memandang ke arahnya. Kecuali si pendeta tua dan kedua
coan lun ong yang merangkapkan sepasang telapak tangan
dan menundukkan kepalanya rendah-rendah. Dia tidak
berhasil men-cari siapa kira-kira orang yang mengisenginya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tetapi Lie Cun Ju sadar sekali ketika lengannya tadi terasa
ngilu. Kalau tidak, kotak itu pasti sudah diambilnya.
Setelah mengedarkan pandangan matanya sejenak, Lie Cun
Ju memalingkan kepalanya kem-bali. Tiba-tiba saja hatinya
tergerak. Dia merenung sejenak. Urusan itu tampaknya ada
terselip keanehan. Dan hanya ada satu kemungkinannya.
Pendeta tua dan kedua Coan lun ong pasti tahu di mana letak
kitab yang asli.
Dan rasa ngilu tangannya tadi, pasti hasil per-buatan salah
seorang dari mereka pula. Hal itu tidak perlu diragukan lagi.
Mengenai mengapa mereka melakukannya, hanya ada
kemungkinan.
Pertama, orang itu tidak suka Lie Cun Ju menjadi pemimpin
kuil itu. Dengan kata lain, gerakan tangannya yang
sembarangan tadi mungkin memilih kitab yang asli. Tetapi
rasanya tidak mungkin demikian kebetulan.
Sedangkan yang kedua, kemungkinannya lebih besar.
Orang itu justru berharap Lie Cun Ju men¬jadi pemimpin kuil
itu. Karena itu, ketika melihat ia mengambil kitab yang salah,
orang itu segera turun tangan mencegahnya. Dengan pikiran
demikian, Lie Cun Ju teringat kembali kata-kata yang pernah
diucapkan pendeta tua. "Umat kuil kami sudah lama
menantikan kedatangan pemim¬pin yang merupakan
penjelmaan dari Buddha hidup kami." Mungkin dialah yang
turun tangan mencegah Lie Cun Ju barusan.
Meskipun tampaknya pendeta tua itu sedang
merangkapkan sepasang telapak tangannya dan kepalanya
menunduk, tetapi dengan kekuatan tenaga dalamnya,
menotok jalan darah orang de¬ngan tan pa bergerak sedikit
pun bukan hal yang sulit baginya.
Lagipula jarak antara pendeta tua itu dengan dirinya sangat
dekat. Bisa saja ia turun tangan tanpa diketahui oleh ratusan
pendeta lainnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lie Cun Ju tidak berpikir lama-lama. Dia kembali
mengulurkan tangannya untuk mengambil ko-tak yang ada di
sebelah kanannya. Tetapi apa yang dialaminya kali itu sama
seperti yang pertama. Lengannya langsung terasa ngilu dan
tangannya otomatis terangkat ke atas.
Peristiwa itu mungkin hanya diketahui oleh Lie Cun Ju dan
orang yang turun tangan. Sedangkan bagi pandangan orang
lain, Lie Cun Ju seakan sedang mempertimbangkan kitab
mana yang harus diambilnya. Meskipun tangannya sudah
menjulur ke depan, tetapi kemudian ia membatalkannya
karena kurang yakin. Demikianlah anggapan pendeta-pendeta
lainnya terhadap sikap yang di-perlihatkan Lie Cun Ju.
Karena itu pula, hati para pendeta itu begitu tegangnya
sehingga telah mencapai titik puncak-nya. Meskipun di da lam
ruangan itu terdapat lima ratusan pendeta, suasananya justru
demikian he-ning mencekam. Mereka menantikan dengan hati
berdebar-debar.
Untuk kedua kalinya Lie Cun Ju dicegah meng¬ambil kotak
yang dipilihnya. Sekarang dia yakin bahwa orang itu
mengharapkan dirinya menjadi pimpinan kuil. Sebab tidak
mungkin dua kali dia berhasil atau secara kebetulan
mengambil kitab yang asli, sedangkan kitab itu hanya satu
yang aslinya. Dan bila orang itu tidak ingin menjadi pimpinan
kuil mengapa orang itu sampai dua kali turun tangan.
Saat itu juga perasaan Lie Cun Ju menjadi heran, tegang
tetapi terselip sedikit kegembiraan. Sebab, apabila ditilik dari
keadaan yang berlang-sung, tidak diragukan lagi ia akan
menjadi pim¬pinan kuil ini.
Lie Cun Ju menarik nafas dalam-dalam. Dia menjulurkan
tangannya kembali untuk meraih se-buah kotak. Setiap kali
tangannya hampir menyen-tuh kotak itu, lengannya pun
terasa ngilu. Sampai kedua belas kalinya tangan pemuda itu
baru bisa mengambil kotak yang dipilihnya dengan lancar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pendeta tua itu menyambut kotak yang dipilih oleh Lie Cun
Ju. Dia membuka halaman pertama kitab itu kemudian
ditunjukkannya kepada seluruh hadirin. Lie Cun Ju melirik
dengan ekor matanya mengintip kitab itu. Ternyata kitab itu
tipis sekali. Paling-paling hanya berisi beberapa halaman.Di
atasnya tertulis 'Leng Can Po liok'. (Peninggalan pusaka
keramat).


Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments