Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Sabtu, 30 September 2017

Cerita Silat Pendekar Sakti 1 Nemen (Serial Bu Pun Su Pertama)

Cerita Silat Pendekar Sakti 1 Nemen Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cerita Silat Pendekar Sakti 1 Nemen
kumpulan cerita silat cersil online
-
Sungai Huang-ho atau Sungai Kuning yang amat terkenal di Tiongkok itu menumpahkan airnya di laut
Pohai yang termasuk di Propinsi Shan-tung sebelah utara. Berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus kerajaan
boleh ganti-berganti, jutaan manusia mati dan hidup lagi, namun Sungai Kuning tetap mengalirkan airnya
ke dalam laut.
Ketika itu, Kerajaan Tang yang semenjak abad ke tujuh hidup subur dan makmur, dalam permulaan abad
ke delapan mulai mengalami perubahan besar. Korupsi besar-besaran yang dilakukan oleh para pembesar
dan pegawai negeri dari yang terendah sampai yang paling tinggi kedudukannya, membuat negara menjadi
lemah, rakyat menjadi sengsara, dan kekacauan timbul di mana-mana.
Juga bangsa-bangsa lain, seperti bangsa Tibet yang tadinya sudah menjadi sahabat baik sejak Sron-can
Gam-po, kepala suku bangsa Tibet, menikah dengan Puteri Wan Ceng, kini mulai kelihatan mengambil
sikap kurang baik. Suku bangsa Tibet yang menjadi kuat sekali itu, sering kali menunjukkan sikap
bermusuhan dan menghina kepada bala tentara Tang yang menjaga di tapal batas utara. Juga suku
bangsa Nam-cow memperlihatkan sikap tidak bersahabat.
Semua ini bisa timbul karena Kerajaan Tang nampak kacau di sebelah dalam. Kekuatan pasukan menjadi
rusak, penuh oleh kutu busuk yang berupa panglima-panglima tukang korup besar-besaran. Dalam
keadaan seperti itulah cerita ini terjadi...
********************
Sunyi sekali di pinggir Laut Po-hai di mana air Sungai Kuning itu tumpah, karena di situ memang
merupakan tempat yang liar dan tidak didiami orang. Siapakah berani mendiami lembah Sungai Kuning di
dekat laut? Sama halnya dengan hidup di dekat mulut seekor naga yang liar, yang sewaktu-waktu dapat
bangkit dan mencaplok orang yang berada di dekatnya. Tiap kali datang musim hujan, lembah yang
nampak kehijau-hijauan dan amat subur itu berubah menjadi lautan ganas!
Akan tetapi, pada waktu itu musim hujan sudah lama lewat. Lembah Sungai Kuning itu merupakan tanah
yang subur serta penuh dengan rumput-rumput hijau. Pemandangan indah sekali, dan suara air laut
bergelombang memukuli batu-batu karang di pinggir laut, merupakan dendang yang tak kunjung habis.
Walau pun di tempat itu belum pernah ada manusia yang datang, akan tetapi pada saat itu tampak
sesosok bayangan orang berdiri tegak di atas puncak bukit batu karang yang menghitam. Orang ini sudah
tua, pakaiannya penuh tambalan seperti pakaian pengemis, rambutnya panjang tidak terpelihara, tubuhnya
tinggi kurus akan tetapi melihat wajahnya, nampak agung dan berpengaruh laksana wajah seorang kaisar
saja! Usianya sebetulnya baru empat puluh lima tahun, akan tetapi dia sudah tampak tua karena tidak
merawat dirinya.
Kakek ini berdiri tegak sambil kadang-kadang memandang ke arah gelombang laut yang membuas,
kadang-kadang melihat air Sungai Kuning yang menggabungkan diri dengan saudara tuanya, yaitu air laut.
Ia mengembangkan kedua lengan tangannya yang kurus, lalu terdengar dia bicara seorang diri.
“Air Huang-ho berasal dari hujan, dan hujan berasal dari laut. Lihat, mendung bergulung-gulung dari atas
laut, bukankah ini namanya kembali ke asal? Alam begini besar, kuasa, dan adil, mana dapat dibandingkan
dengan kekuasaan kaisar? Alam bersifat memberi, selalu memberi, tidak seperti kaisar yang selalu minta!
Ah, alangkah bodohnya adik Pin, mana aku mau mengikuti jejaknya? Hari ini dia diangkat menjadi menteri,
lalu bercanda dengan kedudukan dan kemewahan, mana dia bisa tahu kebahagiaan sejati? Biarlah aku
bercanda dengan kekayaan alam!”
Setelah berkata demikian, kakek ini lalu berlenggang-lenggang turun dari gunung karang itu. Bukit batu
karang besar itu licin sekali karena selalu tersiram air laut, juga ujungnya runcing-runcing dan tajam,
ditambah lagi dengan bentuknya yang amat terjal. Akan tetapi betul-betul mengherankan sekali, kakek itu
dapat berjalan turun dari batu itu seolah-olah batu itu datar saja. Ia tidak kelihatan menggunakan
dunia-kangouw.blogspot.com
keseimbangan tubuh, hanya berjalan biasa saja tanpa melihat batu karang yang diinjaknya.
Yang lebih hebat lagi, sambil berjalan turun, kakek ini membuka mulutnya dan bernyanyi! Suaranya keras
sekali, mengimbangi suara gelombang air laut yang membentur karang, sehingga kalau didengar-dengar,
suara air laut itu seolah-olah menimbulkan irama musik mengiringi nyanyian kakek itu. Dengan suara
makin lama makin keras seakan-akan dia tidak mau kalah oleh suara ombak yang makin menderu, dia
bernyanyi berulang-ulang.
Kalau kau menarik gendewa,
sampai sepenuh-penuh lengkungnya,
kau akan menyesal mengapa tak kau hentikan pada waktunya.
Kalau kau mengasah pedangmu
seruncing-runcingnya,
ujung pedang itu takkan dapat bertahan lama.
Kalau emas permata memenuhi rumahmu,
kau akan repot dan bingung untuk menjaga semua itu.
Menyombongkan harta dan mengagulkan kedudukan,
berarti menyebar benih keruntuhan.
Mengasolah setelah tugas selesai,
sesuai dengan jalan Thian-to (Hukum Alam)!
Kata-kata yang keluar dari mulut kakek itu sesungguhnya bukan nyanyian sembarangan saja, melainkan
kata-kata bersajak dari pujangga atau ada kalanya disebut Nabi Besar Lo-cu! Kakek itu kini sudah tiba di
atas tanah berpasir, kemudian dia berjalan menuju ke laut!
Apa yang hendak diperbuatnya? Sungguh aneh! Ia berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, kedua
tangan bertolak pinggang menghadapi laut. Ia berdiri di sebelah batu karang itu, menantikan datangnya
gelombang ombak yang sebesar bukit!
Pada waktu itu angin bertiup keras dan ombak yang datang benar-benar dahsyat serta mengerikan.
Ombak ini makin dekat dengan pantai menjadi makin bergelombang, sikap ombak ini benar-benar
merupakan ancaman maut. Akan tetapi, di antara suara ombak menderu, terdengar suara kakek itu tertawa
bergelak-gelak.
Ombak datang dengan luar biasa hebatnya, membawa tenaga yang ribuan kati beratnya, menghantam
batu karang dan juga kakek yang berdiri itu, menimbulkan suara hiruk-pikuk menggelegar yang terdengar
sampai belasan li jauhnya.
Akan tetapi, di antara suara menggelegar ini, masih terdengar suara ketawa dari kakek aneh tadi. Ketika
ombak datang, dia mementang kedua lengannya lalu mendorong ke depan, tubuhnya tidak tegak lagi,
melainkan agak membungkuk ke depan.
Ombak memecah pada batu karang dan lenyap menjadi air yang mengalir kembali ke tengah laut. Batu
karang tadi bergoyang-goyang terpukul ombak, dan setelah ombak lenyap, batu itu masih berdiri tegak,
memperlambangkan kekuatan yang luar biasa. Dan kakek tadi? Masih nampak berdiri, agak terengahengah,
akan tetapi masih ketawa-tawa senang!
“Ha-ha-ha, kakek batu karang, bukankah sang ombak tadi mempergunakan ilmu pukulan Tin-san-ciang
(Pukulan Menggetarkan Gunung)? Ha-ha-ha, pukulan itu terhadap kau dan aku sama saja dengan pukulan
seorang bocah saja!” Sesudah berkata-kata kepada batu dia berseru, “Kakek ombak, hayo kau datanglah,
pergunakan segala tenagamu, hendak kulihat apakah kau mampu menggulingkan kakek batu karang!”
Ombak datang memukul dan pergi lagi, namun batu karang dan kakek itu tetap berdiri teguh. Benar-benar
seperti kata-katanya tadi, kakek ini sedang bercanda dengan ombak dan batu karang, sedang bercanda
dengan alam!
Setelah menahan pukulan ombak sampai lima kali, angin mulai mereda dan ombak yang datang hanya
ombak-ombak kecil saja. Kakek itu menjadi bosan dan ketika dia hendak mendarat, mendadak dari atas
dunia-kangouw.blogspot.com
batu karang itu melompat turun sesosok bayangan orang dengan gesitnya. Tahu-tahu di hadapannya
berdiri sambil tertawa seorang hwesio gundul yang tubuhnya seperti bola karet, bulat segala-galanya,.
Kemudian dia membungkuk, lalu mendorong batu karang itu.
Benar-benar hebat sekali. Batu karang yang tadi tertimpa gelombang berkali-kali bahkan yang entah sudah
berapa ribu kali terdorong ombak tanpa bergeming, hanya bergoyang-goyang sedikit saja, kini terkena
dorongan hwesio bulat ini, menjadi miring dan akhirnya roboh!
Hwesio itu terengah-engah sedikit, lalu menghadapi kakek tadi sambil tertawa-tawa.
“He-heh-heh, Ang-bin Sin-kai (Pengemis Sakti Muka Merah), biar pun kakek ombak amat kuat, namun dia
tidak mempunyai akal budi seperti kita. Mana bisa dia mendorong roboh batu karang ini?”
Kakek pengemis itu pun tertawa sambil memandang ke langit. “Di tempat ini berjumpa dengan Jeng-kin-jiu
(Tangan Seribu Kati), sungguh amat menggembirakan. Ada sahabat datang dari tempat jauh, bukankah itu
amat menggirangkan hati?” Kalimat terakhir ini pun adalah ujar-ujar kuno yang diucapkan Nabi Khong Cu.
“Ehh, Kak Thong Taisu, jauh-jauh kau datang dari selatan ke sini, apakah hanya untuk merobohkan batu
karang ini?”
“Pengemis bangkotan! Merobohkan batu karang benda mati ini, apanya sih yang aneh? Apa bila kakek
ombak yang mampu mendorong roboh kakek batu karang, barulah boleh dibuat kagum. Sebaliknya kalau
pinceng mampu mendorong roboh pengemis bangkotan, batu karang hidup, itu baru namanya cukup
berharga!”
Kakek yang dipanggil Ang-bin Sin-kai atau Pengemis Sakti Muka Merah itu tertawa lebar. “Kepala gundul,
jadi kau ingin mencoba kepandaianku! Itukah maksud kunjunganmu?”
“Ayam jago dari selatan bertemu ayam jago dari timur, mengapa banyak berkeruyuk lagi? Masih tanyatanya
maksud kedatangan?” setelah berkata demikian, hwesio gundul yang bertubuh bundar itu lalu
menubruk maju dengan kedua tangan dipentang seperti hendak menubruk dan menangkap seekor katak.
Ang-bin Sin-kai maklum bahwa meski pun kelihatannya serangan ini seperti main-main, akan tetapi
hebatnya bukan main. Ketika dia mengelak sambil melompat ke kiri, pasir di belakangnya yang terkena
angin terkaman ini berhamburan ke atas dan batu karang di belakangnya bergoyang-goyang!
“Lihai sekali kau punya ilmu pukulan Yu-coan Swe-jiu (Pukulan Menembus Air)!” berkata Ang-bin Sin-kai
sambil membalas serangan lawannya dengan tak kalah hebatnya.
Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu adalah seorang tokoh yang terbesar namanya di wilayah selatan. Di
kalangan ahli-ahli silat dan perantau yang gagah perkasa, Si Tangan Seribu Kati ini dianggap sebagai jago
tua yang paling lihai dan disegani. Orang-orang takut dan segan kepadanya karena selain ilmu silatnya
lihai sekali, juga tabiatnya aneh dan sukar dilayani.
Oleh sebab itu, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu ini hidupnya seolah-olah terasing. Ia tinggal di sebuah pulau
kosong yang kecil di sebelah selatan Propinsi Kwang-tung dan tidak ada seorang pun manusia yang berani
mendatangi pulau ini. Orang-orang hanya bisa melihat hwesio gemuk ini bila ia menyeberang dan
mengadakan perantauan di daratan Tiongkok.
Ilmu kepandaiannya amat tinggi, dan dia terkenal sebagai seorang ahli gwakang (tenaga luar) yang sudah
memiliki kepandaian sempurna sekali sehingga tenaganya sukar untuk diukur bagaimana besarnya. Oleh
karena tenaga gwakang-nya inilah maka dia disebut Jeng-kin-jiu.
Dan sebaliknya, kakek pengemis yang tinggi kurus itu pun bukanlah orang sembarangan. Namanya tidak
ada orang mengetahui, bahkan Kak Thong Taisu sendiri tidak tahu siapa nama asli dari pengemis tua
bangka ini. Dan hanya tokoh-tokoh besar seperti Kak Thong Taisu saja yang tahu bahwa kakek pengemis
ini berdarah bangsawan!
Dia jarang memperlihatkan kepandaiannya dan bila berada di tempat ramai, orang hanya menganggapnya
sebagai seorang pengemis biasa saja. Tentu saja tidak ada orang yang mengetahui bahwa walau pun dia
disebut pengemis dan keadaannya seperti pengemis, akan tetapi selama hidupnya belum pernah
mengemis!
dunia-kangouw.blogspot.com
Nama julukan Ang-bin Sin-kai atau Pengemis Sakti Muka Merah didapatnya karena kulit mukanya memang
selalu kemerah-merahan seperti kulit seorang bayi yang sangat sehat. Berbeda dengan Jeng-kin-jiu yang
tadi sudah mendemonstrasikan tenaga gwakang-nya yang hebat ketika mendorong roboh batu karang,
Ang-bin Sin-kai ini adalah seorang ahli lweekang yang juga telah mendemonstrasikan tenaganya saat dia
menyambut serangan gelombang ombak tadi.
Dengan demikian, pertempuran yang terjadi di dekat laut ini adalah pertempuran antara seorang ahli
gwakang dengan seorang ahli lweekang! Bagi orang-orang yang tingkat ilmu silatnya masih rendah,
memang dengan mudah akan mengatakan bahwa pertempuran antara ahli gwakang dengan ahli lweekang
tentu akan dimenangkan oleh ahli lweekang itu. Namun, hal ini tidak demikian kalau si ahli gwakang sudah
memiliki kepandaian yang sempurna. Pada hakekatnya, sumber atau dasar kepandaian mereka adalah
sama, tapi Jeng-kin-jiu lebih mengandalkan tenaga kasar, ada pun Ang-bin Sin-kai mengandalkan tenaga
lemas.
Bukan main hebatnya pertempuran itu. Keduanya berlompat-lompatan, saling serang dan saling mengelak.
Kadang-kadang saling tangkis sehingga keduanya terhuyung-huyung. Beberapa kali mereka melompat
dengan menggunakan ginkang yang sudah sempurna sehingga seakan-akan mereka merupakan dua ekor
burung raksasa yang saling terkam.
Bahkan pernah Ang-bin Sin-kai terlempar masuk ke laut dan terpaksa berenang minggir lagi. Pada lain
saat si teromok gundul itu terlempar menabrak batu karang, akan tetapi kiranya bukan kepalanya yang
pecah, melainkan batu karang itu yang hancur pinggirnya!
Ketika mereka bertempur tadi, matahari masih berada di atas kepala mereka, akan tetapi kini matahari
telah lenyap dibalik gunung sehingga cuaca telah menjadi remang-remang. Namun pertempuran masih
dilanjutkan dengan ramainya dan ternyata keadaan mereka benar-benar berimbang.
Dari pertempuran yang semula mengandalkan kecepatan gerak kaki tangan, keduanya sampai bertempur
dengan lambat sekali, seperti sedang berlatih silat, namun sebenarnya serangan-serangan yang lambat ini
mengandung tenaga yang sanggup mengirim nyawa salah seorang ke hadapan Giam-lo-ong (Malaikat
Maut) kalau sampai terkena pukulan!
Berhubung dengan datangnya sang malam, angin mulai menyerang lagi. Suara gemuruh dibarengi
getaran-getaran pada tanah pesisir itu menandakan bahwa gelombang ombak membesar menghantami
batu-batu karang di pantai.
Kedua orang kakek yang aneh itu masih saja melanjutkan pertandingan mereka. Makin lama mereka
merasa makin gembira karena setelah berpisah bertahun-tahun, sekarang ternyata kepandaian masingmasing
menjadi makin maju dan hebat. Oleh karena air laut telah pasang, mereka kini terpaksa pindah dan
melanjutkan pertempuran di tempat yang agak tinggi.
Angin mengamuk, langit tertutup mendung tebal sekali sehingga keadaan menjadi gelap gulita. Hanya
orang berkepandaian tinggi sekali mampu melanjutkan pertempuran dalam keadaan seperti itu. Mereka
sudah tak dapat melihat lawan masing-masing, karena tidak mungkin lagi dapat melihat semua yang di
depan. Tangan sendiri pun tidak tampak, apa lagi orang lain. Akan tetapi dengan alat pendengaran mereka
yang terlatih baik, mereka dapat mendengarkan sambaran angin pukulan lawan!
Menjelang tengah malam, keduanya sudah amat lelah. Beberapa kali mereka telah dapat saling pukul,
akan tetapi pukulan-pukulan itu tidak terlalu keras bagi tubuh mereka yang sudah kebal sehingga keduanya
masih mampu terus bertahan. Akhirnya usia lanjut yang menang, tubuh mereka menjadi makin lemas dan
lelah.
Pada saat mereka sedang mengadu tenaga dan kedua tangan saling tempel dan saling mendorong lawan
supaya jatuh ke dalam laut dari batu karang yang tinggi, tiba-tiba batu karang itu terpukul ombak yang
maha kuat sehingga miring! Keduanya cepat melompat turun karena khawatir terbawa jatuh dan tergencet
batu karang. Sesudah tiba di bawah, kembali mereka berhadapan!
Tiba-tiba saja di dalam gelap itu nampak cahaya hijau menjulang tinggi dari tengah laut. Kembali nampak
cahaya kehijauan melayang ke atas dan sesudah sampai di atas lalu padam.
“Ahh, itulah tanda kapal dalam bahaya!” seru Ang-bin Sin-kai.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Benar! Kau perhatikan, bukankah di tengah laut itu nampak lampu merah sebentar ada sebentar hilang?”
ujar Jeng-kin-jiu.
Keduanya memperhatikan dan benar saja. Sebentar-sebentar, bila ombak yang setinggi gunung sudah
turun, nampak lampu merah berkelip-kelip jauh sekali dan berkali-kali api hijau itu melayang ke atas.
“Nasib mereka sudah pasti!” kata Ang-bin Sin-kai perlahan.
“Ikan-ikan hiu akan berpesta pora setelah badai mereda. Dalam badai seperti ini, bagai mana mereka
dapat meloloskan diri?” kata hwesio itu.
“Kita pun tidak berdaya menolong mereka,” kata kakek pengemis.
“Benar, sungguh sayang. Melihat sesama manusia dipermainkan oleh maut namun tidak dapat turun
tangan menolong, alangkah menyedihkan!” si hwesio berkata dan suaranya benar-benar terdengar sedih.
Mendengar suara ini, si kakek pengemis juga menjadi sedih. Keduanya kini duduk di atas batu karang yang
tinggi dan sambil duduk berdampingan. Dua orang yag tadi bertempur mati-matian itu memandang ke
tengah laut. Kadang-kadang mereka berseru girang kalau melihat api merah itu, akan tetapi berdebardebar
gelisah apa bila api itu tidak kelihatan lagi.
“Mereka masih ada!” seru hwesio itu kegirangan bila mana melihat sinar hijau melayang ke atas.
"Moga-moga mereka selamat!" si pengemis berdoa.
Sampai setengah malam badai mengamuk dan dua orang kakek aneh itu masih saja duduk di situ,
melepas lelah akan tetapi dengan hati tidak karuan rasanya melihat betapa ada sebuah perahu besar
diombang-ambingkan oleh gelombang dan menjadi permainan badai.
Menjelang fajar, badai mereda dan ombak menghilang. Aneh sekali kalau dilihat, akan tetapi air laut yg
tadinya mengganas bagaikan semua penghuni laut melakukan perang besar itu, kini menjadi tenang dan
diam, bening bagaikan kaca hijau yang besar sekali.
Bahkan matahari yang timbul dari permukaan laut dan yang bayangannya tercermin di dalam air, nampak
diam tak bergerak sedikit pun juga, tanda bahwa air itu benar-benar diam tak bergerak! Seakan-akan
raksasa besar itu kini tertidur melepaskan lelah setelah setengah malam lamanya memperlihatkan
kehebatan tenaga mereka yang dahsyat.
Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu dan Ang-bin Sin-kai masih duduk bersanding sambil mata mereka tidak
pernah berkejap memandang ke tengah laut. Keduanya nampak lesu dan muram seperti orang
menyedihkan sesuatu. Hal ini tidak aneh, karena semenjak badai mereda lampu merah itu tidak kelihatan
lagi!
“Kita seperti pengkhianat-pengkhianat yang melihat bangsanya terbunuh tanpa sanggup menolong,” kakek
pengemis itu berkata lambat.
“Apa daya kita bila menghadapi kekuasaan alam?” Jeng-kin-jiu menghiburnya. “Giam-lo sudah merenggut
nyawa orang-orang itu, siapa yang dapat menghalangi pekerjaannya? Dari pada kita menyedihkan sesuatu
yang sudah lalu, kenapa kita tidak melanjutkan pibu kita?”
Pengemis itu tersadar, lalu menoleh kepada hwesio itu sambil tersenyum. “Kau benar, di antara kita belum
ada yang kalah atau menang. Mari!”
Ia lalu meloncat turun dari batu karang, diikuti pula oleh hwesio gemuk itu dengan wajah gembira dan
sebentar kemudian kedua musuh gerotan ini sudah berhadapan lagi sambil memasang kuda-kuda!
Tiba-tiba saja dua orang itu mendengar sesuatu dan mereka saling pandang, kemudian keduanya tetawa
bergelak-gelak. Bunyi yang mereka dengar tadi adalah suara isi perut masing-masing yang tak dapat
ditahan lagi telah berkeruyuk saking laparnya. Isi perut pengemis itu mengeluarkan suara yang nyaring dan
tinggi, sedangkan isi perut hwesio itu berkeruyuk dengan suara rendah. Perkelahian malam tadi benarbenar
sudah membuat mereka menjadi lapar sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Gundul busuk, apakah tidak baik kalau kita menyuruh mereka ini tutup mulut lebih dulu dan menyumbat
mulut mereka dengan makanan-makanan?” tanya Ang-bin Sin-kai.
“Akur! Memang menjemukan sekali kalau mereka terus berkeruyuk dan merengek seperti perempuanperempuan
cengeng,” jawab hwesio itu.
“Ehh, hwesio murtad! Bagaimana kau si kepala gundul ini dapat bicara tentang urusan perempuan?
Apakah di luarnya kau bersujud kepada Buddha dan menyucikan diri akan tetapi hatimu selalu mengenang
perempuan cantik?” tanya pengemis itu sambil matanya mencorong memandang penuh kecurigaan.
Jeng-kin-jiu hanya tertawa. “Di tempat seperti ini, dari manakah kita bisa mendapatkan makanan?”
Si pengemis tua tersenyum dan menunjuk ke arah laut. “Ada samudera luas di depan mata kita, takut
apakah? Perutmu yang gendut itu kukira takkan dapat menghabiskan isi laut.”
Setelah berkata demikian, kakek pengemis itu lalu terjun ke dalam laut dan berenang ke tengah untuk
menangkap ikan.
“He, kantong nasi gundul, apakah kali ini kau masih tetap hendak ciakjai (pantang makan daging) dan
membiarkan perut gendutmu kosong dipenuhi angin busuk?” pengemis itu masih sempat berteriak.
Hwesio itu tertawa bergelak, “Siapa sudi mulutnya pantang makan daging dan selalu dijejali sayuran akan
tetapi hati dan pikirannya mengenangkan ekor ikan lee yang lezat?” sesudah berkata demikian, hwesio ini
pun kemudian terjun ke air dan berlomba dengan pengemis itu untuk mencari ikan yang sebesar-besarnya.
Setelah hwesio gundul itu yang mempergunakan kepandaiannya untuk bergerak di atas daratan dasar laut,
akhirnya dia dapat menangkap seekor ikan yang gemuk seperti dia. Ikan itu meronta-ronta. Biar pun kalau
di darat Jeng-kin-jiu adalah seorang ahli gwakang yang tenaganya tak kalah oleh seekor gajah, namun di
dalam air ia tidak dapat melawan ikan ini. Hampir saja ikan itu terlepas lagi apa bila dia tidak dapat cepat
menusuk kepala ikan itu dengan kedua jari tangannya sehingga pecahlah kepala ikan itu!
Setelah Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu mumbul ke permukaan air, dia bisa melihat Ang-bin Sin-kai juga
sedang berenang dari tengah. Juga pengemis itu memondong sesuatu yang dari jauh kelihatannya seperti
ikan. Akan tetapi, sesudah mereka keduanya mendarat di pantai, hwesio itu dengan mata terbelalak
memandang ke arah ‘ikan’ yang di pondong oleh pengemis itu.
“Omitohud!” hwesio itu menyebut nama Buddha. “Benar-benarkah kau sudah berhasil menangkap seekor
ikan duyung?”
“Tutup mulutmu, Gundul! Lebih baik lekas kau tolong anak ini. Jika aku tidak tahu bahwa kau mengerti ilmu
pengobatan, buat apa aku membawanya ke pantai?” Pengemis itu lalu meletakkan tubuh anak kecil yang
dipondongnya tadi di atas pasir.
Anak itu pingsan dan mukanya biru, perutnya gembung penuh dengan air asin. Kepala anak itu gundul dan
melihat pakaiannya, dia tentunya anak dari keluarga cukup. Hanya pakaian ini sekarang compang-camping
dan sepatunya tinggal sebelah kiri saja! Usianya kurang lebih lima tahun.
“Omitohud! Akhirnya bisa juga kita menolong seorang di antara para penumpang perahu yang tenggelam
itu,” kata hwesio gemuk sambil berjongkok memeriksa anak tadi.
Ia suka sekali melihat anak ini karena anak ini memiliki wajah yang tampan dan ketika dia memeriksa tubuh
anak itu, dengan girang sekali dia mendapat kenyataan bahwa anak itu mempunyai tulang-tulang yang baik
sekali, tulang seorang calon ahli silat yang pandai! Yang terutama sekali membuat hwesio ini merasa
senang adalah kepala anak ini yang gundul pelontos dan licin seperti kepalanya sendiri!
“Anak baik... anak baik...” Berkali-kali hwesio itu berkata sambil mengelus-elus kepala yang gundul licin itu.
Si pengemis menjadi dongkol sekali melihat ini.
“Kau hendak mengobatinya atau hendak mengelus-elus kepalanya?” tanyanya marah.
Mendadak hwesio itu berdoa dan dia mengucapkan sebuah syair dari pelajaran Buddha Gautama,
dunia-kangouw.blogspot.com
Tidak ada perbedaan antara
Nirwana dan Sengsara
Tidak ada perbedaan antara
Sengsara dan Nirwana
“Banyak mulut tidak bekerja merupakan watak seorang siauw-jin (orang rendah). Banyak kerja tutup mulut
barulah seorang kuncu (orang budiman)!” Pengemis itu berteriak marah.
Akhirnya Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu mulai mengobati anak itu. Ia memegang dua kaki anak itu dalam
tangan kiri, menjungkir-balikkan anak itu dengan kaki di atas dan kepala di bawah, lalu tangan kanannya
menepuk-nepuk perut anak itu yang gembung penuh air.
“Buang air itu, untuk apa memenuhi perut?” katanya.
Seketika itu juga air laut mengalir keluar dari mulut anak itu sehingga perutnya menjadi kempis kembali.
Lalu ia meletakkan anak itu di atas tanah, telentang dan menggerak-gerakkan kedua tangan anak itu
sehingga dada itu terangkat beberapa kali. Akan tetapi tetap saja anak itu tidak dapat bernapas lagi. Si
hwesio menjadi gemas.
“Anak bandel, bandel dan tolol!” makinya.
Akan tetapi biar pun dia memaki demikian, namun dia lalu mendekatkan mulutnya pada bibir anak itu, lalu
menempelkan mulutnya yang besar memenuhi bibir kecil anak tadi dan meniup serta menyedot beberapa
kali!
Si pengemis tua hanya memandang saja. Diam-diam dia merasa sangat iri hati terhadap kepandaian
hwesio gemuk ini, oleh karena dia sendiri sama sekali tidak mengerti tentang cara-cara penyembuhan.
Tak lama kemudian, terdengar anak itu mengeluh dan pernapasannya berjalan kembali. Hanya sebentar
dia mengeluh sambil menggeliat-geliat, lalu setelah membuka matanya, anak itu melompat berdiri.
Dua orang kakek itu diam-diam memandang kagum. Anak ini benar-benar memiliki tulang yang baik dan
juga daya tahan luar biasa sehingga baru saja terhindar dari bahaya maut, sekarang telah bergerak
dengan tangkas pula.
“Anak baik, siapa kau?” pengemis tua itu bertanya.
“Bagaimana dengan nasib penumpang-penumpang lain?” hwesio itu pun bertanya.
Untuk sejenak anak itu memandang bingung. Biar pun dia telah mengingat-ingat, namun dia benar-benar
telah kehilangan ingatannya.
“Siapa aku? Di mana aku? Ahh... aku tidak tahu. Siapakah lopek dan losuhu ini?”
Anak ini mempunyai suara yg nyaring dan sepasang matanya bersinar-sinar tajam sekali. Ang-bin Sin-kai
dan Jeng-kin-jiu Ka Thong Taisu saling pandang, lantas mereka berdua tertawa besar.
“Aku dipanggil Ang-Bin Sin-kai,” pengemis itu memperkenalkan diri.
“Dan pinceng adalah Kak Thong Taisu,” menyambung hwesio gemuk.
“Mengapa aku berada di sini?” anak itu bertanya.
“Kalau tidak ada Hai-liong-ong (Raja Naga Laut) ngamuk, mana bisa kau ditelan ombak? Dan kalau tidak
ada kami dua orang tua bangkotan, mana bisa kau berada di sini?” kata kakek pengemis itu yang memang
sudah biasa mempergunakan kata-kata yang sukar dimengerti.
Akan tetapi ternyata anak itu cerdik sekali. Ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan dua orang kakek itu
sambil berkata, “Aku sungguh tidak mengerti mengapa aku tenggelam di laut, akan tetapi atas pertolongan
Ji-wi losuhu, aku benar-benar merasa berterima kasih sekali. Semoga Kwan Im Pouwsat memberkahi Ji-wi
yang mulia.” Dia lalu berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepalanya berkali-kali.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dua orang kakek itu saling pandang dengan mata terbuka lebar-lebar. Mereka merasa girang sekali
melihat sikap anak ini.
“Eh, anak baik, agaknya orang tuamu pemuja Kwan Im Pouwsat. Bagus sekali!” Kata Kak Thong Taisu.
“Siapakah orang tuamu dan siapa pula namamu? Dari mana kau datang?”
Anak itu menggeleng-gelengkan kepala dengan muka sedih. “Aku tidak tahu siapa orang tuaku, siapa pula
namaku aku sudah lupa lagi. Dari mana aku datang? Entahlah, yang terang dari laut, karena bukankah Jiwi
mengeluarkan aku dari laut?” dia menudingkan jarinya yang kecil itu ke arah laut.
Kembali dua orang kakek itu saling pandang.
“Hemmm, dia sudah kehilangan ingatannya karena mengalami hal yang amat dahsyat di tengah laut.
Kasihan!” kata Kak Thong Taisu.
“Anak, kalau begitu, aku hendak memberi nama kepadamu, maukah kau?”
Anak itu mengangguk. Ang-bin sin-kai menjadi girang sekali.
“Kalau begitu, mulai sekarang kau she (bernama keturunan) Lu!”
Terdengar Kak Thong Taisu tertawa bergelak-gelak. Suara ketawanya ini nyaring sekali sehingga anak itu
terkejut. Ia merasa telinganya sakit sekali mendengar suara ketawa ini, maka cepat-cepat dia menutup
telinganya dengan kedua tangannya.
“Mengapa kau tertawa, setan gundul?” Ang-bin Sin-kai membentak marah.
“Ha-ha-ha, kau jembel tua bangka ini biar pun di luarnya seperti jembel, ternyata masih belum sanggup
melupakan asal keturunan bangsawanmu! Biarlah anak ini kau beri she. Bagiku, apakah artinya nama
keturunan? Merepotkan saja! Anak baik, kau sekarang she Lu seperti she pengemis tua bangka ini. Akan
tetapi namamu adalah aku yang akan memilihkan. Kau sekarang memakai nama Kwan Cu.”
“Lu Kwan Cu…” anak itu berkata perlahan seperti kepada diri sendiri. Tadi saat melihat hwesio itu berhenti
tertawa, dia sudah menurunkan tangan yang dipakai untuk menutupi telinganya.
“Ya, Lu Kwan Cu, nama baik, bukan?” si pengemis berkata girang. “Dan mulai sekarang kau menjadi
muridku!”
“Eh, eh, ehh, Ang-bin Sin-kai, kau melantur apa lagi? Siapa bilang dia menjadi muridmu? Dia adalah
muridku, tahu?”
“Tidak, hwesio gundul terlalu banyak makan! Dia adalah muridku. Lu Kwan Cu adalah murid Ang-bin Sinkai!”
“Gila! Dia muridku!”
“Aku yang datang menolongnya dari gelombang laut!”
“Dan aku yang mengalirkan kembali nyawa ke dalam tubuhnya!”
Kedua orang kakek ini kembali saling berhadapan dengan mata mencereng, siap untuk memperebutkan
anak itu. Keduanya bersitegang dan akhirnya tanpa dapat dicegah lagi keduanya lalu bertanding pula!
Mereka mengeluarkan ilmu pukulan yang paling dahsyat sehingga pasir berhamburan terkena angin
pukulan mereka.
Bahkan ketika anak yang kini bernama Lu Kwan Cu itu terdorong oleh angin pukulan, anak itu lantas
terguling-guling bagaikan sehelai daun tertiup angin keras. Tentu saja dia menjadi terkejut sekali dan anak
ini lalu mencari tempat perlindungan di belakang sebuah batu karang besar. Ia mengintai dan menonton
pertempuran itu dengan kedua matanya yang lebar dan tajam itu terbuka lebar-lebar.
Kini pertempuran yang terjadi jauh lebih hebat dari pada malam tadi, karena kalau malam tadi mereka
dunia-kangouw.blogspot.com
bertempur hanya mengandalkan pendengarannya, sekarang mereka dapat mengerahkan seluruh
kepandaian dan ketajaman mata mereka. Rasa lapar terlupa dan adanya hanya nafsu untuk menang!
Tiba-tiba terdengar suara yang nyaring dari anak itu,
“Aneh, aneh! Aku kesunyian mencari kawan. Dua orang ini di tempat yang begini sunyi saling bertemu dan
mendapat kawan, mengapa bahkan saling pukul seperti kerbau gila? Ahh, celaka, tentu mereka berdua ini
miring otaknya!”
Mendengar omongan ini, biar pun sedang berkelahi, dua orang kakek itu saling pandang sambil
membelalakkan mata. Akan tetapi mereka kembali melanjutkan perkelahian itu.
Ketika anak kecil tadi melihat betapa dua orang kakek itu masih saja berkelahi, agaknya dia menjadi
bosan. Diam-diam dia lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Jeng-kin-jiu dan Ang-bin Sin-kai tentu saja tahu akan hal ini. Akan tetapi mereka sedang mengerahkan
seluruh kepandaian untuk merobohkan lawan yang amat tangguh, hingga mereka kurang memperhatikan
anak yang pergi itu.
Setelah matahari naik tingi, kelelahan dan rasa lapar membuat keduanya menjadi lemas dan dengan
sendirinya perkelahian itu berhenti pula! Mereka duduk di atas pasir dengan napas terengah-engah sambil
saling pandang.
“Kau tua bangka gundul sungguh hebat kepandaianmu!” Ang-bin Sin-kai berkata memuji.
“Dan kau pengemis kurus kering ternyata lebih hebat dari pada dulu. Kalau saja pinceng berhasil
mendapatkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng tentu kau takkan dapat bertahan begitu lama,” kata Keng-kinjiu
Kak Thong Taisu sambil menarik napas panjang.
“Im-yang Bu-tek Cin-keng tidak akan terjatuh ke tanganmu, gundul. Kitab itu pasti akan menjadi milikku.
Kau lihat saja!”
“Hemm, belum tentu. Semua tergantung atas keputusan Thian. Siapa yang terpilih untuk menjadi ahli silat
nomor satu di dunia, barulah akan berhasil mendapatkan kitab rahasia itu.”
“Baik-baik, mari kita berlomba mendapatkan kitab itu. Sekarang lebih baik kita menunda pertempuran kita
sampai salah seorang berhasil mendapatkan kitab, baru bertempur lagi. Bagaimana pikiranmu?”
“Baik, Ang-bin Sin-kai. Memang perutku sudah lapar sekali. Ehh, di mana Lu Kwan Cu?” Hwesio itu
bertanya sambil memandang ke kanan kiri.
“Biar saja, dia sudah pergi. Karena kita tidak dapat disebut mana yang kalah, mana yang menang, siapa
yang akan menjadi gurunya? Biarlah, biar dia sendiri yang menentukan siapa yang hendak dijadikan guru.
Antara guru dan murid harus ada jodoh, bukan?”
Hwesio itu mengangguk, kemudian keduanya memanggang ikan yang mereka tangkap dari laut, lalu
makan bersama. Kalau dilihat memang aneh dan menggelikan sekali. Dua orang kakek tua bangka ini,
karena sedikit urusan saja telah saling gempur mati-matian. Mereka sudah bertempur sampai berjam-jam
sampai kehabisan tenaga dan sungguh pun mereka tak menderita luka-luka parah, akan tetapi setidaknya
tentu ada kulit-kulit pecah dan biru-biru. Sekarang mereka duduk makan-makan berdua seperti dua orang
kawan baik yang sedang berpelesir di pinggir laut!
Sehabis makan, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu berkata, “Ang-bin Sin-kai, pinceng hendak pergi sekarang.
Dua orang sahabat sudah saling bertemu dan sudah mengalami banyak kesenangan. Setiap pertemuan
tentu berakhir, maka kenapa menyusahkan perpisahan? Hanya satu hal pinceng hendak berpesan. Dalam
hal diri Lu Kwan Cu, di antara kita siapa yang berhak mendapatkannya lebih dulu, berhak mengajar lebih
dulu selama lima tahun. Sesudah itu harus mengoperkannya kepada orang lain, jangan mau dimonopoli
sendiri saja.”
Pengemis itu mengangguk, “Kecuali kalau orang lain itu mampu merebutnya bukan?”
“Tentu saja! Anak itu bertulang baik, dia pantas diperebutkan.” Setelah berkata demikian Kak Thong Taisu
lalu melompat dan amat mengagumkan ginkang dari hwesio gendut ini. Walau pun tubuhnya bagaikan bola
dunia-kangouw.blogspot.com
gendutnya, sehingga kalau berjalan nampak seperti menggelundung, akan tetapi dalam sekali berkelebat
saja, tubuhnya sudah lenyap dari hadapan Ang-bin Sin-kai!
Kakek pengemis ini seperti kawan atau juga boleh disebut lawannya, kemudian berdiri di pinggir pantai dan
memandang ke laut seperti orang melamun. Bibirnya bergerak-gerak perlahan dan terdengar dia berbisik,
“Im-yang Bu-tek Cin-keng, kitab rahasia yang dirindukan oleh semua tokoh kang-ouw, dan Lu Kwan Cu,
anak kecil aneh itu pula... ah, aku seakan-akan melihat pertalian antara keduanya ini!” Sampai berjam-jam
kakek ini terus berdiri di pinggir laut bagaikan patung, pikirannya terbawa ombak yang bergerak-gerak tiada
hentinya.
Kakek pengemis yang aneh, hwesio gendut yang ganjil, anak kecil yang penuh rahasia, kemudian kitab
yang disebut-sebut itu pun kitab yang aneh pula. Semuanya ini terjadi di pantai laut Po-hai yang penuh
rahasia alam.
Memang di dunia ini banyak sekali terjadi hal-hal yang aneh, aneh bagi pandangan mata manusia.
Siapakah berani bilang bahwa alam tak berkuasa? Siapa pula dapat mengikuti sifat dari pada To?
Kekuasaan Thian nampak di mana-mana…..
********************
“Lu Kwan Cu, nama yang baik! Aku suka nama ini. Aku Lu Kwan Cu, ya, aku bernama Lu Kwan Cu, siapa
lagi kalau bukan ini namaku?” berkali-kali kata-kata ini keluar dari mulut anak kecil yang berjalan seorang
diri di jalan raya yang sunyi dan lebar.
Ia sudah kehilangan ingatannya, tidak ingat sama sekali tentang apa yang sudah terjadi padanya. Ia tidak
ingat lagi akan orang tuanya yang lenyap bersama dengan kapal di mana tadinya dia berada. Semua telah
lenyap ditelan ombak samudera, dan kalau anak ini merupakan orang satu-satunya yang selamat, lalu dia
kehilangan ingatannya, siapa lagi orangnya di dunia ini yang dapat menceritakan siapa adanya anak ini
dan siapa pula orang tuanya?
Oleh karena tidak mungkin menyelidiki siapa adanya keluarga anak ini, maka biarlah kita mulai sekarang
menganggap saja bahwa dia bernama Lu Kwan Cu, anak kecil berusia lima tahun yang seolah-olah sudah
dilemparkan oleh ombak laut Po-hai ke dalam dunia, seorang diri tak berteman, hanya berkawan perutnya
yang memiliki nafsu makan besar sekali dan baju compang-camping yang kantongnya kosong sama sekali!
Oleh karena desakan perutnya, maka tak lama kemudian anak ini kelihatan mengemis di sana-sini untuk
dapat mencari makan bagi perutnya yang bernafsu besar! Kwan Cu memang tidak seperti anak-anak lain.
Sikapnya, wataknya, dan cara dia mengemis pun menjadi bukti bahwa dia adalah seorang yang aneh.
Pengemis-pengemis kecil lainnya apa bila mengemis tentu akan merengek-rengek, dan menceritakan
kesusahan mereka untuk menarik belas kasihan dari pada pendengarnya. Biasanya anak-anak seperti ini
amat rendah diri, meski dimaki, dipukul, hanya menerima dengan tangis saja. Berbeda jauh dengan Kwan
Cu. Dia tidak pernah merengek, tidak pernah mengeluh, agaknya anak ini memang tidak mengenal keluhkesah.
Pada suatu hari, dalam perantauannya yang tanpa tujuan itu, tibalah dia di kota Lung-to di tepi Sungai
Kuning. Memang Kwan Cu setelah meninggalkan laut, lalu mengikuti jalan sepanjang sungai besar dan tak
pernah jauh meninggalkan Suangai Huang-ho.
Ia memasuki kota Lung-to dalam keadaan letih dan lapar. Ia telah melakukan perjalanan sehari semalam
lamanya. Daerah ini memang kurang penduduknya dan dari satu kota ke kota yang lain amat jauh
jaraknya.
Semenjak kemarin, Kwan Cu belum makan apa-apa, dan selama sehari semalam itu dia terus-menerus
berjalan kaki. Tidak ada sesuatu yang bisa dimakannya dalam perjalanan melalui hutan-hutan itu, kecuali
air yang memenuhi perutnya. Akan tetapi Kwan Cu tidak berani minum banyak-banyak karena hal ini
mengingatkan dia akan air laut. Anak ini mempunyai perasaan takut terhadap air laut yang bergelombang
besar.
Dengan langkah tersaruk-saruk Kwan Cu memasuki pintu gerabang kota Lung-to. Kota ini besar dan ramai,
banyak terdapat toko-toko dan restoran besar. Maka sebentar saja Kwan Cu dapat menerima sisa
dunia-kangouw.blogspot.com
makanan dari sebuah restoran.
Biar pun perutnya sudah lapar sekali, namun Kwan Cu tidak nampak tergesa-gesa ketika dia membawa
makanan itu ke bawah sebatang pohon besar di pinggir jalan. Kemudian dia makan sisa makanan yang dia
dapatkan dari pelayan restoran. Cara makannya juga tidak tergesa-gesa, bahkan dengan teliti dia memilih
makanan itu.
Dia sama sekali tidak tahu bahwa semenjak dia memasuki kota, dia telah diawasi oleh seorang gemuk
yang berwajah menakutkan sekali dan yang gerakan-gerakannya seperti seekor kucing ringannya.
“Daging baik, tulang murni...,” beberapa kali orang tinggi besar itu berbisik dan nampak puas sekali.
Tingkah laku orang tinggi besar ini benar-benar amat megherankan dan mencurigakan. Biar pun tubuhnya
besar, namun dia bergerak cepat dan gesit sekali. Anehnya, tiap kali bertemu dengan orang, dia lalu
menyelinap dan bersembunyi, dan karena dia memang memiliki gerakan yang ringan dan cepat sekali, tak
ada orang yang melihat dia mengikuti Kwan Cu.
Orang ini tubuhnya besar dan nampak kuat, mukanya bundar dengan mulut lebar seperti mulut barongsai.
Jenggotnya pendek dan kaku bagaikan jarum, sudah putih sebagian. Yang menyolok adalah pakaiannya,
karena bajunya berwarna merah darah sedangkan celananya berwarna biru! Melihat sesuatu mengganjal
di dalam punggung bajunya, dapat diduga bahwa orang ini membawa sebuah senjata tajam.
Pada masa itu banyak timbul kekacauan, karna itu soal membawa-bawa senjata tajam bukanlah
pemandangan baru. Bukan hanya ahli-ahli silat yang membawa-bawa senjata pedang atau golok, bahkan
orang-orang yang tak mengerti ilmu silat pun sebagian besar membawa senjata pelindung diri.
Ketika Kwan Cu tengah makan, orang tinggi besar itu datang mendekati dengan muka menyeringai. Kwan
Cu mengangkat mukanya memandang. Wajah orang itu sama sekali tidak membuat dia takut, bahkan anak
kecil ini lalu mengerutkan kening.
Ia telah memilih tempat di bawah pohon di mana tidak ada orang dan sunyi. Dari situ terlihat orang-orang
mondar-mandir di jalan raya, akan tetapi tak seorang pun menaruh perhatian pada anak kecil jembel yang
sedang makan di bawah pohon. Mengapa orang ini datang dan memandangnya dengan muka
menyeringai?
“Orang tua, apakah kau lapar?” tanya Kwan Cu menunda makannya
Orang itu melengak, lalu tertawa. “Aku memang lapar sekali!” Nampak sikap orang itu benar-benar seperti
kelaparan dan mengilar.
Kwan Cu melihat makanan yang masih ada sisanya dan terpegang di tangan kirinya dalam sebuah
mangkok butut. Sebetulnya dia belum kenyang betul, akan tetapi perutnya sudah tidak perih lagi seperti
tadi. Tiba-tiba dia angsurkan mangkoknya kepada kakek itu dan berkata,
“Nah kau ambil dan makanlah ini!”
Kembali orang itu tertegun. Diam-diam dia merasa geli melihat sikap anak kecil ini.
“Kau tidak tahu siapa aku,” pikirnya, “maka kau berani menghina.”
Sebetulnya siapakah kakek yang berwajah menyeramkan ini? Kalau orang-orang yang berjalan di jalan
raya itu tahu siapa dia, tentu akan terjadi geger. Telah beberapa hari ini timbul kegemparan di kota Lung-to
karena beberapa orang anak kecil lenyap terculik orang.
Telah payah orang-orang pergi menyelidik, akan tetapi percuma saja karena penculik itu dalam melakukan
pekerjaannya tak meninggalkan jejak sama sekali. Orang-orang hanya menyangka bahwa penculik itu
tentu menculik anak-anak dengan maksud untuk menjual anak-anak itu sebagai budak belian sebab yang
dipilih selalu merupakan anak-anak yang manis dan sehat.
Bila saja orang-orang tahu bahwa penculik anak-anak itu ialah Tauw-cai-houw, seorang setengah gila yang
banyak melakukan perbuatan ganas dan sangat menyeramkan, tentu orang-orang akan menjadi gempar!
dunia-kangouw.blogspot.com
Tauw-cai-houw (Harimau Menagih Hutang) adalah seorang tokoh berkepandaian tinggi yang mempunyai
kebiasaan aneh dan mengerikan sekali. Ia menangkap anak-anak kecil bukan sekali-kali untuk dijual
belikan, melainkan untuk di... makan!
Dan kini Tauw-cai-houw berada di kota Lung-to dan telah menculik beberapa orang anak kecil. Lebih dari
itu, pada hari itu Touw-cai-houw bahkan sedang mendekati Kwan Cu dan ditawari sisa makanan oleh anak
ini!
“Anak manis, kau makanlah biar kenyang,” kata Tauw-cai-houw dengan kedua matanya berputar-putar.
Memang muka yang bundar dari orang ini mirip dengan muka harimau. “Kalau kau masih kurang, bilang
saja, aku akan menyediakan untukmu.”
Kemudian, kakek ini melihat mangkok di tangan Kwan Cu yang butut serta isinya yang terdiri dari makanan
sisa. Tangannya cepat menyambar dan tahu-tahu mangkok itu telah dirampasnya dan dibanting hancur.
Kwan Cu memandang heran dan juga marah, akan tetapi Tauw-cai-houw berkata,
“Tunggulah sebentar. Makanan seperti itu tak seharusnya kau makan. Tunggu sebentar, aku akan
mencarikan makanan yang baik untukmu.”
Ia lalu melangkah lebar ke arah restoran dan tak lama kemudian, betul saja dia kembali dengan langkahlangkah
lebar menghampiri Kwan Cu sambil membawa dua mangkok penuh terisi makanan-makanan yang
hangat mengebul!
Ketika dua mangkok masakan itu diletakkan di hadapannya, Kwan Cu menjadi mengilar sekali. Bau
makanan yang amat sedap itu telah membuat perutnya yang belum kenyang tiba-tiba menjadi lapar lagi.
Kalau menurutkan nafsunya, ingin dia segera menyikat dua mangkok masakan itu. Akan tetapi anak ini
memang aneh!
Ia bahkan menggerakkan kepalanya menoleh kepada Tauw-cai-houw, lalu berkata,
“Orang tua, aku tidak bisa makan masakan ini.”
Untuk ketiga kalinya Tauw-cai-houw melengak. “He?! Mengapa?”
“Kita tidak saling mengenal, juga tidak ada hubungan sesuatu di antara kita. Kenapa kau datang-datang
menghadiahkan dua mangkok masakan? Tentu ada udang di balik batu. Apakah sebenarnya
kehendakmu?”
Kini Tauw-cai-hauw benar-benar tercengang. Belum pernah dia bertemu dengan seorang anak kecil yang
seaneh ini. Kata-kata itu tidak patut keluar dari mulut seorang anak-anak, pantasnya diucapkan oleh
seorang dewasa yang sudah banyak pengalaman hidup!
“Anak, siapa namamu? Kau benar-benar cerdik, suka hatiku melihatmu.”
“Aku Lu Kwan Cu, dan siapakah kau, Lopek? Dan apa pula sebabnya kau datang-datang berlaku manis
kepadaku? Aku tidak mempunyai sesuatu sebagai penukar dua mangkok masakan yang mahal ini.”
Tauw-cai-houw tertawa bergelak sehingga beberapa orang yang lewat di dekat tempat itu berhenti lalu
memandang. Akan tetapi begitu Tauw-cai-houw itu memelototkan matanya, orang-orang itu merasa takut
dan buru-buru pergi lagi.
“Anak bodoh, mengapa ribut-ribut mengenai penukaran? Aku pun mengambil masakan-masakan itu tanpa
bayar!”
“Apa? Kau merampas dengan kekerasan?” tanya Kwan Cu dengan mata terbelalak.
“Tidak bisa disebut perampasan karena pemiliknya tidak tahu makanannya kuambil.”
“Kalau begitu kau mencuri!” dengan kata-kata ini, Kwan Cu lalu mendorong dua mangkok masakan itu
sehingga terguling dan semua masakan yang masih mengebul panas itu lalu tumpah di atas tanah yang
kotor. “Aku tidak sudi makan barang curian dan kau pencuri tua ini lekas pergi dan jangan mengganggu
aku lagi!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Dari perasaan heran, kakek itu kini menjadi marah. “Tolol, disuruh makan biar gemuk dan sehat, kau
banyak membantah. Kau kira dapat membantah di depan Tauw-cai-houw?”
Sesudah berkata begitu, tangannya menyambar dan tahu-tahu Kwan Cu telah ditangkap lehernya seperti
harimau menangkap kelinci. Lalu orang tinggi besar yang mengerikan ini melangkah lebar, membawa
Kwan Cu yang tak dapat berkutik lagi.
Orang-orang yang melihat ini menjadi ribut. Ketika mereka mengejar dan melihat betapa kakek bermuka
harimau itu berlari cepat sekali, mereka berteriak-teriak,
“Ahh, tentu dia penculik anak-anak itu! Kejar!”
“Tangkap penculik anak-anak!”
“Bunuh dia!”
Teriakan-teriakan susul-menyusul dan para pengejar makin banyak. Akan tetapi kakek itu benar-benar lihai
karena dalam sekejap mata saja dia sudah hilang dari pandangan mata orang banyak, tidak tahu ke mana
menghilangnya.
Sebentar saja, gegerlah seluruh kota Lung-to dan semua orang membicarakan tentang penculik itu.
Banyak pula orang yang memberi bumbu sehingga tidak lama kemudian, orang menggambarkan penculik
itu sebagai seorang siluman yang bermuka singa dan yang mengerikan sekali!
Para penjaga keamanan kota menjadi sibuk karena mereka berusaha untuk mencari dan menangkap
penculik yang telah beberapa hari mengacau kota itu. Akan tetapi tetap saja tidak ada seorang pun tahu ke
mana perginya si penculik.
Pada saat orang-orang sedang kebingungan dan geger, muncullah seorang wanita yang amat cantik dan
juga bersikap gagah sekali. Wanita ini masih muda, usianya takkan lebih dari dua puluh lima tahun,
pakaiannya sederhana berwarna putih, tetapi kesederhanaan pakaiannya ini yang menambah kecantikan
wajah dan potongan tubuhnya yang langsing serta padat itu makin nampak nyata.
Di pinggangnya tergantung sebatang pedang yang gagangnya beronce benang-benang sutera merah.
Rambutnya yang panjang terurai ke belakang itu diikat dengan pengikat rambut dari sutera merah pula.
Pinggiran bajunya yang putih bersih itu berwarna biru, menambah kepantasan. Siapakah wanita ini?
Melihat dari sikapnya, tak dapat diragukan lagi bahwa ia tentulah seorang wanita perkasa yang pandai ilmu
silat. Dugaan ini tidak salah karena sesungguhnya dia dalah pendekar wanita yang terkenal dengan
sebutan Pek-cilan (Bunga Cilan Putih). Sebenarnya nama sebutan ini lebih berdasarkan kecantikannya dan
baju putihnya dari pada kegagahannya.
Namanya Thio Loan Eng, dan semenjak dewasa memang sudah banyak merantau dan melakukan
perbuatan-perbuatan besar sehingga dapat mengangkat tinggi nama sendiri. Ilmu pedangnya sangat
terkenal di kalangan kang-ouw, karena Loan Eng adalah putreri dari Thio Keng In, tokoh terkenal dari barat
yang mempunyai ilmu pedang turunan dari keluarga Thio. Menurut kepercayaan orang, ilmu pedang
keluarga Thio ini masih warisan dari ilmu pedang Thio Hui, tokoh besar dari jaman Sam Kok!
Ketika itu Loan Eng sedang berada di Lung-to. Dia mendengar suara ribut-ribut ini dan keluar dari kamar di
hotelnya. Dengan cepat ia mendengar tentang penculikan seorang anak kecil oleh seorang saikong yang
bermuka harimau, maka cepat pendekar wanita ini lalu mengadakan penyelidikan…..
********************
Sambil tertawa-tawa, Tauw-cai-houw membawa Kwan Cu ke dalam sebuah hutan yang sangat liar di
sebelah selatan kota Lung-to, terpisah kurang lebih lima belas li. Di tengah hutan ini memang menjadi
tempat persembunyiannya selama dia melakukan penculikan-penculikan terhadap anak-anak kecil di kota
Lung-to.
Setelah tiba di tempat tinggalnya, yaitu sebuah lapangan yang dikelilingi oleh pepohonan besar, dia
melemparkan Kwan Cu ke atas tanah. Anak ini terguling, akan tetapi segera melompat berdiri lagi dengan
dunia-kangouw.blogspot.com
mata terbelalak. Kini dia benar-benar merasa seram ketika melihat betapa di atas tanah berserakan tulangtulang
manusia dan tengkorak-tengkorak. Kalau melihat ukuran tulang-tulang dan tengkorak-tengkorak itu,
dapat di duga bahwa itu adalah tengkorak dan tulang anak-anak kecil seperti dia!
Tauw-cai-houw lalu mengambil sebuah kantong yang tadinya dia gantungkan di cabang pohon. Dia
membuka kantong itu dan mengeluarkan sebutir buah yang kulitnya bersisik seperti kulit ular.
“Kau makanlah ini!” katanya kepada Kwan Cu sambil mengangsurkan buah itu.
Akan tetapi Kwan Cu tidak mau menerimanya, hanya menggelengkan kepala. Sinar mata anak ini sama
sekali tidak memperlihatkan rasa takut terhadap saikong yang setengah gila itu.
“Hayo makanlah!” kembali Tauw-cai-houw membentak, akan tetapi dengan bandel sekali Kwan Cu
menggelengkan kepala.
Tauw-cai-houw menjadi marah. Dipegangnya leher Kwan Cu dan sekali tekan saja mulut anak itu terbuka.
Buah ular itu diremasnya dalam tangan kanan dan dijejalkan ke dalam mulut Kwan Cu! Rasanya asam dan
pahit, akan tetapi karena dijejalkan terus, terpaksa Kwan Cu menelannya!
Sungguh aneh, meski pun rasanya asam dan pahit, setelah memasuki perutnya, terasa perutnya hangat
dan enak sekali! Dia tidak tahu bahwa buah ular itu adalah semacam buah yang langka dan merupakan
obat yang sangat mukjijat khasiatnya terhadap aliran darah. Selain pembersih darah, juga dapat
menguatkan tubuhnya.
Ternyata Tauw-cai-houw memaksa anak itu makan buah obat ini supaya tubuh anak ini menjadi kuat
sehingga daging, darah, serta sumsumnya akan merupakan hidangan yang amat baik untuknya!
Setelah Kwan Cu menelan obat itu, Tauw-cai-houw tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, selama bertahun-tahun ini
belum pernah aku mendapatkan seorang anak seperti engkau! Sekali ini aku pasti akan berhasil. Kau
adalah seorang anak sin-tong (anak ajaib), jantung dan otakmu pasti akan menghasilkan semua usahaku
selama ini. Ahhh, kau mengingatkan betapa semua anak-anak ini hanyalah sebangsa boan-tong (anak
nakal) belaka. Hemm, sungguh menyebalkan!”
Kwan Cu tidak mengerti maksud kata-kata ini, hanya sepasang matanya yang lebar dan bersinar-sinar itu
memandang tajam.
“Kenapa matamu mendelik terus padaku?” Tauw-cai-houw membentak marah. “Tenang saja, matamu yang
tajam itu tidak akan memasuki perutku, hanya akan membikin muak saja!”
Setelah berkata demikian, saikong ini kemudian menyalakan api unggun yang besar dan memasang
pemanggang dari kayu seperti yang biasanya digunakan untuk memanggang binatang buruan.
Kwan Cu masih juga belum mengerti, hanya memandang segala tingkah laku orang tua yang aneh itu.
Diam-diam dia membuat perbandingan, mana yang lebih aneh, kakek ini ataukan dua orang kakek yang
saling hantam di tepi laut itu.
“Di dunia ini sungguh banyak sekali orang-orang aneh. Dia ini tentu juga miring otaknya!” katanya dan
karena kata-kata ini tanpa disengaja diucapkan keras-keras, maka didengar oleh Tauw-cai-houw.
“Apa katamu? Kau berani memaki aku gila?”
“Kalau kau tidak gila, mengapa kau menangkapku dan membawaku ke sini? Kemudian kau juga
memaksaku makan buah yang pahit dan tidak enak, perbuatan ini kalau tidak dilakukan oleh seorang gila,
habis oleh siapa lagi!” Kwan Cu membantah berani.
“Benar, benar! Kau adalah sin-tong (anak ajaib), jika tidak demikian tak nanti kau berani mengeluarkan
ucapan-ucapan seperti itu! Ha-ha-ha, ingin kudengar apa lagi yang akan kau katakan sesudah kau
kupanggang di atas api itu!” dia menuding ke arah api unggun yang sudah menyala besar.
“Celaka, memang kau benar-benar gila!” Kwan Cu menarik napas panjang.
Sambil tertawa dengan suaranya yang serak, Tauw-cai-houw lalu menubruk dan dalam sekejap mata saja
dunia-kangouw.blogspot.com
kedua tangan Kwan Cu telah ditelikung ke belakang dan diikat dengan tambang kulit pohon. Ia seperti
seekor babi kecil yang sudah diikat keempat kakinya dan hendak dipanggang hidup-hidup. Kemudian,
lebihan tambang pengikat tangan Kwan Cu yang masih panjang itu, oleh kakek itu diikatkan di atas cabang
pohon, tepat di atas api yang bernyala-nyala!
Bila anak lain yang dipanggang seperti itu, tentu akan menjerit-jerit, akan tetapi Kwan Cu lain lagi
wataknya. Anak ini benar-benar berhati baja dan walau pun dia sudah mulai merasakan hawa panas
menyambarnya dari bawah, dia tetap menggigit bibir tidak mau menangis atau berteriak.
“Benar-benar sin-tong! Sin-tong!”
Melihat hal ini Tauw-cai-houw menjadi makin girang. Akan tetapi tiba-tiba dia menjadi pucat dan memakimaki
api di bawah tubuh Kwan Cu yang mengeluarkan suara…
“Ces, ces!” lalu padam!
Apa yang terjadi? Tadi sehabis dijejali buah ular yang masam dan pahit, Kwan Cu ingin sekali membuang
air kecil. Akan tetapi karena dia tak sempat dan telah diikat tangannya, tentu saja dia tidak dapat
membuang air kecil. Kini setelah digantung di atas, rasa panas membuat dia tak dapat menahan lagi, dan
kencinglah dia begitu saja. Sungguh kebetulan sekali, air kencing yang banyak itu menimpa api unggun
sehingga memadamkan api itu karena kayu bakarnya menjadi basah semua!
Kwan Cu berotak cerdik. Kini dia dapat menduga bahwa kakek gila di bawah ini adalah seorang pemakan
daging anak-anak! Diam-diam dia bergidik juga, akan tetapi dia tidak takut! Agaknya sesudah terlepas dari
bahaya maut di tengah samudera, perasaan takut anak ini memang telah lenyap.
“Lopek, apakah kau tidak mendengar suara tengkorak-tengkorak itu bicara?” tanya Kwan Cu kepada Tauwcai-
houw yang sedang mengumpulkan kembali kayu bakar yang kering sambil mengomel panjang pendek.
Mendengar ini, Tauw-cai-houw menjadi terkejut sekali.
“Bohong! Bocah nakal, mana ada tengkorak bicara? Tutup mulutmu, kau sudah kenyang, akan tetapi aku
sudah lapar sekali!”
“Siapa yang membohong? Aku mendengar dengan jelas tengkorak-tengkorak di bawah itu berkata-kata.”
Kini Tauw-cai-houw menghentikan pekerjaannya dan dia memandang ke atas di mana Kwan Cu
tergantung dengan muka di bawah.
Kwan Cu mengeluarkan suara mengejek. “Mana kau dapat mendengarnya? Aku adalah seorang anak sintong
(anak ajaib), ingatkah kau?”
Wajah Saikong itu berubah, sedikit pucat. “Apa kata mereka?” tanyanya, suaranya tidak begitu keras
seperti tadi.
“Turunkanlah dulu aku dari sini, nanti kuceritakan apa yang kudengar tentang mereka,“ kata Kwan Cu.
Memang otak Tauw-cai-houw tak begitu beres, maka mendengar ini, dia lalu cepat-cepat menurunkan
Kwan Cu.
“Lepaskan dulu ikatan tanganku. Ikatanmu kuat sekali sehingga kau membikin tanganku sakit,” kata pula
anak ini, suaranya tetap tenang seperti tidak terjadi sesuatu yang hebat dan yang mengancam nyawanya.
Mendengar ini Tauw-cai-houw ragu-ragu, akan tetapi dia lalu menggerutu, “Dibuka juga apa kau kira bisa
pergi lari?” dia lalu membuka ikatan kedua tangan Kwan Cu.
Anak ini menggosok-gosok kedua pergelangan tangannya yang terasa sakit dan kulitnya kelihatan matang
biru.
“Hayo lekas ceritakan, apa yang kau dengar dari tengkorak-tengkorak itu?”
Kwan Cu melirik ke kanan kiri dan diam-diam dia merasa seram melihat rangka manusia ini. Selama
dunia-kangouw.blogspot.com
hidupnya belum pernah menyaksikan pemandangan seperti ini, oleh karena itu diam-diam dia merasa
betapa kepalanya yang gundul itu menjadi dingin sekali.
Tanpa disengaja dia meraba kepalanya. Dan setelah meraba, dia mengeluarkan seruan tertahan. Ternyata
bahwa kepalanya kini menjadi pelontos dan licin sekali, semua rambut yang tadinya masih ada sedikitsedikit
telah lenyap sama sekali, menjadi licin!
Melihat air muka anak itu terkejut dan terheran-heran, Tauw-cai-houw tertawa bergelak. “Rambutmu, baik
yang di kepala mau pun yang di tubuh, telah rontok semua oleh daya coa-ko (buah ular) tadi. Apa kau kira
aku doyan makan daging berbulu dan berambut?”
Kwan Cu mendongkol sekali. Jadi buah yang pahit tadi gunanya untuk membikin rambut dan bulu-bulunya
rontok sehingga dia bagaikan seekor ayam yang dicabut bulu-bulunya sebelum dimasak? Terlalu sekali!
“Nah, hayo ceritakan, tengkorak-tengkorak itu berkata apa?” Tauw-cai-houw berkata tak sabar lagi.
“Mereka saling bercaka-cakap membicarakan kau,” Kwan Cu mulai memberi keterangan. “Katanya bahwa
hari ini adalah hari kematianmu, karena sebagai seorang anak sin-tong, dagingku panas dan sumsumku
beracun, sehingga begitu kau memakan aku, kau pasti akan mampus!”
Sekarang Tauw-cai-houw betul-betul menjadi pucat dan tanpa terasa lagi dia melangkah mundur sampai
tiga tindak. Dia memandang kepada Kwan Cu dengan mata terbelalak, dan diam saja pada saat melihat
anak itu berjalan pergi sambil berkata, “Karena itu demi keselamatanmu sendiri, jangan kau makan aku!”
Kwan Cu berjalan pergi dan dia tidak berani menengok lagi. Hatinya berdebar karena dia tidak mendengar
orang itu mengejar. Benar-benarkah dia dapat mengakalinya demikian mudah?
Akan tetapi, tiba-tiba dia mendengar angin menyambar dan tahu-tahu dia telah ditangkap lagi! Seperti tadi,
dua tangannya telah diikat kembali dan Tauw-cai-houw berkata dengan suara mengancam,
“Sin-tong, betapa pun juga, tetap saja kau akan kupanggang! Kau kira aku akan begitu bodoh? Aku akan
mengambil sekerat dagingmu dan sedikit sumsummu, lalu kuberikan kepada harimau lebih dulu! Kalau
harimau yang makan dagingmu dan sumsummu tidak mati, kenapa aku harus jeri makan kau?” Sambil
tertawa terbahak-bahak Tauw-cai-houw membawa kembali Kwan Cu ke tempat tadi.
Kali ini Kwan Cu betul-betul putus harapan. Akan tetapi, anak ini tetap tak mau menangis atau menjerit
minta tolong. Ia menghadapi dengan mata terbuka, bahkan matanya makin besar cahayanya.
Tiba-tiba berkelebat bayangan putih, dibarengi bentakan nyaring.
“Siluman jahat, lepaskan anak itu!” Bentakan ini dibarengi menyambarnya pedang yang bercahaya ke arah
dada saikong itu.
Tauw-cai-houw kaget sekali karena gerakan serangan pedang ini bukan main cepatnya. Ia pun terpaksa
melepaskan tubuh Kwan Cu yang jatuh membelakang.
Kwan Cu merasa jidatnya sakit terbentur batu, akan tetapi anak ini tidak mengeluh dan cepat-cepat
miringkan kepala untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata olehnya bahwa yang menyerang penculik itu
adalah seorang wanita baju putih yang cantik sekali.
Ketika penyerang yang bukan lain adalah Thio Loan Eng ini menemukan jejak penculik yang membawa lari
anak kecil, dia kemudian menyusul terus sampai ke dalam hutan dan kebetulan sekali dia melihat Tauwcai-
houw hendak memegang seorang anak kecil. Dia terkejut sekali ketika mengenal saikong ini, juga
berbareng marah sekali, maka langsung ia lalu menyerangnya dengan tusukan Sin-liong Jut-tong (Naga
Sakti Keluar Goa).
Tauw-cai-houw adalah seorang yang tinggi ilmu silatnya, maka biar pun diserang dengan tiba-tiba secara
hebat ini, masih dapat dia melepaskan Kwan Cu. Kemudian sekali saja tangannya bergerak, dia telah
mencabut sebatang golok yang amat besar dan tajam.
“Bangsat kecil, siapa kau berani sekali menyerangku?!” bentak Tauw-cai-houw sambil memalangkan
goloknya di depan dada dengan sikap mengancam.
dunia-kangouw.blogspot.com
Loan Eng berdiri tegak sambil menudingkan pedangnya kepada Tauw-cai-houw.
“Siluman keji! Telah lama nonamu mendengar tentang kejahatanmu dan kebetulan sekali kita bertemu di
sini. Inilah tandanya bahwa riwayat Tauw-cai-houw akan segera tamat. Orang jahat, kau telah kehilangan
anakmu sendiri, mengapa kau sekarang berlaku kejam terhadap anak-anak orang lain? Apakah kau sudah
tidak memiliki perasaan lagi sehingga kau membuat anak-anak menjadi seperti ini?” Dengan tangan kiri
Loan Eng menunjuk ke arah tengkorak-tengkorak yang menggeletak di kanan kiri Kwan Cu.
Sejak tadi Tauw-cai-houw berdiri bengong dan takjub. Belum pernah dia melihat seorang wanita yang
dalam pandangan matanya sedemikian cantik jelitanya, yang mengingatkan dia kepada istrinya dulu!
Kemudian mendengarkan ucapan Loan Eng dia seperti tersadar dan untuk beberapa lama dia tak dapat
berkata-kata!
“Tauw-cai-houw, bersedialah untuk mampus!” Loan Eng membentak ketika melihat orang itu hanya berdiri
memandangnya dengan mata terbelalak kagum.
Dengan seruan ini, wanita perkasa itu kembali menyerang dengan pedangnya dan kali ini dia
menggerakkan pedangnya secara lihai bukan main. Inilah ilmu pedang keturunan dari keluarganya dan
meski pun Tauw-cai-houw amat lihai, namun dia segera menjadi repot sekali menghadapi serangan
pedang ini.
“Nona, tahan, Nona... aku tak dapat melawanmu...”
Loan Eng membelalakkan matanya yang bagus. Dia merasa sangat heran mendengar suara lawannya dan
ketika ia memandang, ternyata bahwa saikong yang bertubuh besar dan bermuka seperti harimau itu telah
menangis tersedu-sedu!
“Nona, jangan serang aku... apa bila kau kehendaki aku akan melepaskan anak ini, aku akan melakukan
apa saja yang kau kehendaki, akan tetapi... jangan kau tinggalkan aku selamanya...”
Loan Eng sudah mendengar tentang Tauw-cai-houw, dan sudah mendengar pula tentang riwayat orang
aneh ini, juga tahu bahwa orang ini otaknya miring. Akan tetapi mendengar kata-kata permintaan itu, mau
tidak mau ia merasa jengah dan merahlah mukanya.
“Keparat!” serunya marah.
Pedangnya membacok lagi dengan gerak tipu Batu Karang Menimpa Jurang. Bacokan ini hebat sekali dan
demikian cepatnya sehingga tak mungkin bisa dielakkan pula. Terpaksa Tauw-cai-houw menangkis
dengan goloknya.
“Traaang...!” Bunga-bunga api berpijar dan Loan Eng merasa tangannya tergetar hebat.
“Nona, jangan serang aku… jangan tinggalkan aku…” berkali-kali Tauw-cai-houw berkata dengan suara
penuh permohonan.
Akan tetapi Loan Eng menjadi makin penasaran dan sangat marah. Ia menyerang terus bertubi-tubi dan
lawannya hanya menangkis atau mengelak cepat, sama sekali tidak mau membalas, hanya minta-minta
dengan suara pilu.
Sesungguhnya, Loan Eng sendiri merasa bahwa kepandaian saikong ini masih lebih lihai dari padanya.
Kalau Tauw-cai-houw membalas, tentu wanita perkasa ini akan terdesak. Akan tetapi, saikong itu tak mau
membalas sedikit pun juga dan betapa pun lihainya, ilmu pedang yang dimainkan oleh Loan Eng
merupakan ilmu pedang yang amat baik dan juga kepandaian Loan Eng sudah mencapai tingkat yang
cukup tinggi. Maka bagaimana dia dapat mempertahankan diri terus tanpa membalas?
Sesudah melakukan perlawanan selama lima puluh jurus lebih, akhirnya sebuah bacokan pedang Loan
Eng menyerempet lengan kanannya sehingga ada segumpal daging dekat sikunya terbabat pedang dan
goloknya lepas dari pegangan.
“Aduh, nona... jangan lukai aku...” Saikong itu berseru.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi Loan Eng mendesak terus dan…
“Cep! Cep!” dua kali ujung pedangnya berhasil menusuk pundak dan paha lawannya.
Tauw-cai-houw mengaduh-aduh dan terhuyung-huyung mundur. “Nona... Nona… jangan lukai aku...” Dia
masih terus berseru dan mengangkat kedua tangannya ke atas sambil memandang kepada Loan Eng
dengan sinar mata mengasih.
Diam-diam Loan Eng merasa kasihan juga terhadap orang ini. Akan tetapi mengingat semua kejahatankejahatannya
yang sudah melampaui batas peri kemanusiaan, Loan Eng menggigit bibirnya yang merah
lalu melompat maju dengan sebuah tusukan hebat sekali.
“Aduh, istriku... mengapa kau berhati sekejam itu?” Tauw-cai-houw menjerit dan setelah memanggilmanggil
istrinya, tubuhnya berkelojotan.
Tak lama kemudian dia menghembuskan nafas terakhir. Dadanya sudah tertembus oleh pedang Loan Eng
yang cepat membersihkan pedangnya dan sekali tebas saja dia telah memutuskan tali yang mengikat
kedua tangan Kwan Cu.
Loan Eng mengira bahwa anak ini akan berlutut menghaturkan terima kasih kepadanya, akan tetapi dia
kecelik besar. Kwan Cu bahkan berdiri tegak di depannya dengan sinar mata bernyala-nyala, kemudian
mencela, “Kau kejam sekali!”
Loan Eng benar-benar tertegun .
“Apa? Aku kejam? Kalau aku kejam, habis bagaimana kau menganggap dia itu?” Dengan pedangnya ia
menunjuk ke arah mayat Tauw-cai-houw.
“Dia? Dia jahat.” Jawab Kwan Cu tanpa ragu-ragu lagi.
“Hemm, anak bodoh. Kalau aku tidak berlaku seperti yang kau sebut kejam tadi, apa kau kira sekarang kau
masih dapat bernafas lagi? Mungkin kau sudah masuk dan berada di dalam perutnya yang gendut itu.”
“Akan tetapi tidak perlu dibunuh,” bantah Kwan Cu.
Mendengar kata-kata ini, diam-diam Loan Eng menjadi heran. Ia tadi telah merasa heran kenapa anak ini
tidak pernah mengeluh atau menangis. Tadinya ia mengira bahwa anak ini tentu ditotok jalan darah bagian
Ah-hiat sehingga membuatnya menjadi gagu, akan tetapi ternyata anak ini tidak apa-apa. Mengapa ada
anak demikian bandel dan kuat?
Jidat anak itu masih berdarah bekas terbentur ketika jatuh tadi, akan tetapi sedikit pun tidak pernah
mengeluh. Dan sekarang, kata-kata itu lagi. Sungguh-sungguh tidak pantas keluar dari mulut seorang anak
kecil!
Dia merasa tidak seharusnya berbantah dengan seorang anak berusia lima tahun, akan tetapi anak ini lain
lagi. Kata-katanya membuatnya merasa penasaran. Ia telah menolong nyawa anak ini dan apa
balasannya? Celaan! Sungguh membuat penasaran dan gemas.
“Bocah ingusan! Kau tahu apa? Kau lihat rangka-rangka itu? Jika si jahat itu tak kubunuh, kau pun akan
menjadi rangka, dan bukan kau saja, masih banyak anak-anak kecil akan ditangkapnya, kemudian
dibunuhnya secara keji. Aku telah membunuh seorang jahat dan melenyapkan bencana demi keselamatan
banyak orang anak-anak seperti engkau. Dan engkau menganggap aku kejam?”
Setelah mendengar pembelaan ini, baru agaknya Kwan Cu mau mengerti. Dia kemudian menganggukanggukkan
kepalanya yang gundul sambil berkata, “Toanio, kau benar dan aku yang salah. Terima kasih
banyak atas pertolonganmu tadi.”
Loan Eng mau tidak mau harus tersenyum biar pun hatinya mendongkol sekali. Alangkah mahalnya
ucapan ‘terima kasih’ dari anak jembel ini. Akan tetapi diam-diam ia tertarik. Anak ini bukan anak biasa,
dan cara anak ini mengaku kesalahan sendiri, benar-benar mengherankan dan mengagumkan hatinya.
“Anak, siapakah namamu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Namaku Lu Kwan Cu.”
“Sebatang kara?”
Kwan Cu mengangguk sunyi.
“Tidak ada tempat tinggal?”
Kwan Cu menggeleng, juga tanpa berkata sesuatu.
Loan Eng menggeleng-geleng kepala dan menarik napas panjang. Alangkah banyaknya anak-anak
terlantar seperti Kwan Cu ini. Banyak sudah dia bertemu dengan anak-anak seperti ini, sebatang kara,
berkeliaran menjadi pengemis, dan tak jarang mati kelaparan. Akan tetapi, belum pernah dia bertemu
dengan jembel kecil seperti Kwan Cu ini. Juga wajah anak ini berbeda sekali dengan lain-lain jembel.
“Kwan Cu, maukah kau ikut dengan aku?”
“Ke mana?”
“Ke mana saja aku membawamu pergi.”
“Mengapa? Untuk apa?”
“Anak bodoh, apa kau lebih suka berkeliaran seorang diri di dunia yang penuh kejahatan ini? Baru saja kau
mengalami peristiwa yang mengancam nyawamu, apakah kau tidak ingin ikut dengan aku, menjadi
muridku?”
“Menjadi muridmu, Toanio? Belajar apa?”
“Benar-benar pepat pikiranmu. Tentu saja belajar ilmu silat!”
“Untuk apa belar silat?”
“Bodoh! Kalau kau memiliki kepandaian silat, apakah segala macam orang jahat seperti Tauw-cai-houw itu
dapat mengganggumu?”
“Tidak, Toanio,” Anak itu menggelengkan kepalanya yang gundul. “Aku tidak suka belajar silat.”
“He? Kenapa?” Wanita cantik itu bertanya heran.
“Aku tidak mau belajar menjadi orang kejam.” Kwan Cu teringat akan dua orang aneh di pantai laut. “Ilmu
silat hanya dapat dipergunakan untuk memukul orang, bahkan untuk membunuh orang. Aku tidak suka
pukul orang, juga tidak suka bunuh orang!”
Mendengar filsafat kanak-kanak ini, hati nyonya itu menjadi tertegun. Betul-betul anak ini luar biasa sekali.
Loan Eng bermata tajam dan sebagai seorang ahli silat tinggi, ia dapat pula melihat bahwa anak ini
bertulang baik sekali untuk belajar silat.
“Jika aku mendapat kesempatan belajar, aku ingin belajar membaca dan menulis, bukan belajar
menggerakkan senjata tajam yang mengerikan,” jawab Kwan Cu dengan suara tetap.
“Hemm, kau kira aku hanya dapat menggerakkan pedang saja? Aku pun pernah belajar ilmu surat.”
Kwan Cu sangat girang sekali. “Kalau begitu aku mau menjadi muridmu, Toanio!”
Setelah berkata demikian, serta merta anak ini lalu menjatuhkan diri berlutut di hadapan Loan Eng yang
kembali melengak, kemudian ia tertawa. Ketika Kwan Cu memandang, anak ini heran juga. Setelah tertawa
nyonya ini tampak cantik sekali bagaikan matahari yang bersinar terang, sedangkan tadinya ada bayangan
kemuraman di wajah manis itu, seakan-akan matahari yang tertutup mendung.
“Toanio, bolehkah teecu (murid) mengetahui namamu yang mulia?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aku disebut orang Pek-cilan, namaku Thio Loan Eng.”
Kwan Cu mencatat nama ini di dalam otaknya, kemudian setelah Loan Eng mengajaknya pergi, dia
mengikuti wanita perkasa ini tanpa banyak cakap lagi. Loan Eng merasa amat kasihan pada Kwan Cu,
maka ia ingin menolong anak ini.
“Kau ikut aku ke rumahku didusun Tun-hang, di sana kau boleh belajar membaca dan menulis, akan tetapi
kau harus membantu pekerjaan di rumah,” katanya.
Kwan Cu mengangguk-angguk. “Tentu saja, Toanio. Aku pun tidak suka bila menganggur saja.”
Diam-diam Loan Eng berpikir. Anak ini bukan anak sembarangan, pikirnya. Sudah terang anak ini punya
keberanian luar biasa, juga keuletan menderita yang amat mengagumkan. Selain itu, pandangan serta
pikirannya mendalam dan luas, dan ucapan belakangan ini membayangkan bahwa ia mempunyai
keangkuhan pula.
“Di mana orang tuamu? Siapakah mereka?” tanyanya sambil berjalan perlahan karena kalau ia
menggunakan ilmu berjalan cepat, tentu anak ini akan tertinggal jauh.
“Aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa namaku adalah Lu Kwan cu, yang lain-lain aku tidak tahu sama
sekali.”
Loan Eng makin merasa heran. Sungguh kasihan, mungkin semenjak kecil sudah hidup merantau seorang
diri, pikirnya.
“Toanio, kenapa orang gila tadi menyebut kau sebagai istrinya? Dan mengapa ada orang makan anak
kecil?” Kwan Cu bertanya.
Loan Eng lalu menceritakan keadaan Tauw-cai-houw. Ia telah mendengar riwayat orang itu dari mendiang
ayahnya.
“Dia mempunyai riwayat yang amat menyedihkan. Isterinya yang masih muda dan cantik telah lari dengan
laki-laki lain, meninggalkan seorang anak kecil. Kemudian dia merantau bagaikan orang gila mencari-cari
isterinya, menggendong anaknya yang masih kecil itu. Pada waktu dia tiba di dalam sebuah hutan dan
menurunkan anaknya dari gendongan, anaknya itu diterkam harimau! Ketika itu ia tengah mencari buahbuahan
untuk anaknya, dan saat dia datang menolong ternyata sudah terlambat. Anaknya telah menjadi
mangsa harimau yang kelaparan. Ia lalu mengamuk dan seperti orang gila dia membunuh seluruh harimau
yang ada di dalam hutan itu. Pukulan batin ini terlampau berat baginya sehingga selain benci terhadap
harimau, juga timbul iri hatinya setiap kali dia melihat anak kecil. Akhirnya, kegilaannya memuncak dan dia
membunuh serta makan daging setiap anak kecil yang diculiknya. Kau masih beruntung hanya menderita
luka pada jidatmu setelah tertangkap olehnya, sedikit saja aku terlambat kau pun akan akan menjadi
mangsanya. Entah bagaimana, dia telah berubah seperti seekor harimau dan menganggap diri sendiri
sebagai harimau yang suka makan anak kecil. Karena itu maka di kalangan kang-ouw dia dikenal sebagai
Tauw-cai-houw atau Harimau Menagih Hutang, yaitu hutang nyawa anaknya!”
“Aduh kasihan sekali. Kalau begitu memang lebih baik dia mati,” kata Kwan Cu.
Akan tetapi, pada saat itu Loan Eng memandang padanya. Pendekar wanita ini teringat akan luka di jidat
Kwan Cu dan kini ketika ia melirik ke arah jidat anak itu, ia menjadi heran sekali. Jidat yang tadinya matang
biru dan agak terluka di tengah-tengah benjol itu, kini lukanya telah lenyap sama sekali.
“Coba aku melihat luka di jidatmu!” katanya dan cepat ia memegang kepala anak itu.
Benar-benar mengherankan sekali karena luka itu sekarang sama sekali tidak berbekas lagi. Kulit itu halus
saja dan sama sekali tidak ada tanda-tanda bekas terluka. Sungguh tak mungkin sekali! Menurut
kebiasaan, luka dan benjol seperti itu tak akan lenyap dalam waktu satu dua hari, akan tetapi baru
beberapa jam saja luka pada jidat anak ini sudah lenyap.
Melihat air muka nyonya perkasa itu terheran-heran, Kwan Cu bertanya,
“Ada apakah yang aneh pada jidatku, Toanio?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kau tadi diberi makan apa oleh Tauw-ci-houw?” tanya Loan Eng tanpa mempedulikan pertanyaan Kwan
Cu.
“Sebelum dia memanggangku, dia menjejalkan sebutir buah yang pahit dan masam ke dalam mulutku
sehingga terpaksa aku menelannya.”
“Buah yang kulitnya bersisik seperti ular?”
Pada waktu Kwan Cu mengangguk membenarkan, Loan Eng menjadi terkejut dan girang sekali sehingga
dia memegang kedua pundak Kwan Cu dengan keras. Anak itu lantas menyeringai kesakitan sehingga
Loan Eng cepat melepaskan pegangannya.
“Apanya yang hebat, Toanio? Buah itu tidak enak sekali.”
“Kau tahu apa? Buah itu khasiatnya hebat bukan main. Ratusan orang kang-ouw bahkan berani
mempertaruhkan nyawa untuk mendapatkan buah yang hanya terdapat di puncak Hoa-san dan yang
pohonnya hanya berbuah setiap lima puluh tahun sekali ini! Kau mau tahu kehebatannya?” Loan Eng
mencabut pedangnya dan secepat kilat ia menggoreskan ujung pedangnya pada lengan kiri Kwan Cu.
Anak itu terkejut, akan tetapi biar pun merasa sakit dan perih, dia tidak mengeluh, hanya memandang pada
Loan Eng dengan perasaan heran. Kulit lengannya terbuka dan darah mengalir keluar. Akan tetapi hanya
sebentar saja, karena darah itu segera menutup kulit dan cepat sekali mengering. Sebentar saja lenyaplah
rasa sakit dan pada saat Loan Eng menggosok-gosok darah kering itu, ternyata bahwa luka pada kulitnya
telah tertutup lagi, hanya ada bekas guratan yang halus sekali, hampir tidak kelihatan!
“Kau lihat, hebat bukan? Kecuali terputus uratmu, kulit dan dagingmu menjadi kebal dan biar pun dapat
terluka, kau akan segera sembuh kembali. Kalau kau sudah mempelajari lweekang, bahkan kau tak akan
dapat terluka oleh senjata tajam! Kau benar-benar amat beruntung, Kwan Cu!”
Sebenarnya Kwan Cu masih kurang mengerti. Akan tetapi melihat khasiat buah itu, dia mengeluarkan
lidahnya saking kagumnya.
“Semua ini berkat pertolonganmu, Toanio. Kalau kau tidak datang menolong, apa artinya buah itu bagiku?”
Besar juga hati Loan Eng. Betapa pun juga, anak ini ternyata tahu akan terima kasih. “Baiknya Tauw-caihouw
telah gila. Kalau dia sendiri yang makan buah itu, apakah aku dapat menang dalam pertempuran
melawan dia tadi?”
Walau pun mulutnya bilang begitu, namun di dalam hatinya Loan Eng tahu bahwa kalau saja Tauw-ci-houw
tidak tertarik oleh kecantikannya dan teringat akan isterinya, ia takkan dapat menang menghadapi orang
gila itu yang kepandaiannya lebih tinggi tingkatnya.
“Kwan Cu, berjalan seperti ini, dalam sebulan belum tentu kita akan sampai di Tun-hang. Hayo kugendong
kau!”
Kwan Cu memandang ragu. “Toanio, pakaianku kotor.”
“Habis mengapa?” Wanita perkasa itu memandang sambil tersenyum.
“Pakaianmu begitu bersih, aku takut akan mengotorkan pakaianmu saja.”
“Anak bodoh!” seru nyonya itu.
Sebelum Kwan Cu sempat menjawab, ia telah dipondong. Sebentar kemudian Kwan Cu merasa kepalanya
pening karena nyonya itu berlari cepat sekali bagaikan seekor burung sedang terbang.
“Aduh cepatnya!” serunya girang setelah dia menjadi biasa dengan kelajuan ini.
“Kau mau mempelajarinya?”
“Tentu saja, Toanio. Kepandaian ini amat besar gunanya. Aku suka mempelajarinya.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Loan Eng tetap berlari cepat dan kembali nyonya perkasa ini tersenyum. Anak ini baik sekali, cocok untuk
menjadi kawan anakku, pikirnya.
“Bukankah tadi kau bilang tidak suka belajar ilmu silat?”
“Ehh, apakah berlari cepat termasuk ilmu silat, Toanio? Yang aku tidak suka adalah ilmu memukul dan
membunuh orang. Ilmu berlari cepat seperti ini tidak dapat melukai orang. Aku suka mempelajarinya!”
Dengan berlari cepat sekali, dalam beberapa hari saja Loan Eng sudah sampai di dusun Tun-hang, sebuah
dusun kecil di kaki gunung Fu-niu akan tetapi mempunyai daerah dan tanah yang subur sekali. Kehidupan
penduduk di situ hanya bercocok tanam, akan tetapi meski pun hidupnya sangat sederhana, namun
mereka cukup makan dan sehat, bahkan boleh dibilang makmur.
Rumah keluarga Thio cukup terkenal, karena selain rumah ini paling besar di antara semua rumah di Tunhang,
juga siapakah yang tidak mengenal Bun-pangcu, mendiang suami Loan Eng?
Dahulu Loan Eng tinggal di situ dengan ayahnya dan kemudian setelah ia menikah dan ayahnya sudah
meninggal dunia, ia tinggal bersama dengan suaminya, seorang gagah perkasa bernama Bun Liok Si,
ketua dari Sin-to-pang (Perkumpulan Golok Sakti) yang berpusat di kota Cin-an.
Sin-to-pang terkenal sebagai perkumpulan orang gagah, dan seperti dapat diduga dari nama
perkumpulannya, perkumpulan ini terkenal karena ilmu goloknya yang lihai. Tentu ilmu golok yang amat
hebat. Setelah Bun Liok Si menikah dengan Thio Loan Eng, nama perkumpulan ini menjadi semakin
terkenal karena Loan Eng merupakan seorang tokoh yang diindahkan dari dunia kang-ouw.
Pernikahan itu amat berbahagia dan Loan Eng beserta suaminya dikaruniai seorang putri yang mungil dan
yang diberi nama Bun Sui Ceng. Akan tetapi ketika Sui Ceng berusia tiga tahun, terjadi peristiwa yang
hebat sekali.
Untuk mengurus perkumpulannya yang menjadi pekerjaannya sehari-hari, Bun Liok Si sering kali pergi ke
kota Cin-an. Akhir-akhir ini makin sering Liok Si pergi ke Cin-an dan semakin lama saja dia berada di kota
itu meninggalkan anak isterinya. Loan Eng tidak bercuriga, karena sebagai seorang isteri yang bijaksana,
ia mencintai dan juga percaya penuh kepada suaminya.
Akan tetapi, di antara pembantu-pembantu suaminya, terdapat seorang pemuda yang diam-diam menaruh
hati cinta pada Loan Eng yang cantik jelita. Pada suatu hari, pemuda ini menjumpai Loan Eng dan
menceritakan bahwa kini Bun Liok Si mempunyai seorang kekasih di kota Cin-an, dan bahwa kekasihnya
itu telah dijadikan isteri kedua. Karena itulah maka Bun Liok Si jarang sekali pulang ke dusun dan betah
sekali tinggal di Cin-an.
Thio Loan Eng adalah seorang wanita yang berhati keras sekali, persis seperti mendiang ayahnya. Ia
mencinta dan percaya pada suaminya, akan tetapi kalau dipermainkan, dia menjadi seorang iblis wanita!
Dengan marah sekali ia lalu membawa pedangnya dan menyusul ke Cin-an. Benar saja, ia lalu
mendapatkan suaminya berada dalam rumah seorang nona cantik yang menjadi penyanyi terkenal di kota
itu. Meluaplah kemarahannya dan dia membunuh perempuan itu. Juga ia menyerang suaminya kalang
kabut dengan pedangnya.
Bun Liok Si merasa bersalah dan minta ampun, akan tetapi Loan Eng tidak mau memberi ampun dan
meyerang terus. Kalau saja Bun Liok Si mau melawan dengan goloknya yang lihai, agaknya isterinya tak
akan menang. Akan tetapi pada waktu itu, Bun Liok Si yang sudah merasa bersalah itu berlaku mengalah
dan tidak mau membalas.
Ilmu pedang Loan Eng cepat dan ganas sekali, maka akhirnya pedang di tangan nyonya muda yang marah
besar ini menembus dada suaminya sendiri! Di dalam saat terakhir Bun Liok Si masih memaafkan isterinya
dan berpesan supaya isterinya itu merawat Sui Ceng baik-baik!
Sesudah melihat suaminya menggeletak tak bernyawa di depan kakinya, barulah Loan Eng merasa
menyesal sekali. Ia lalu mendengar bahwa memang sudah lama suaminya itu dibujuk-bujuk dan dirayurayu
oleh nona penyanyi ini. Ketika ia menyelidiki, ternyata bahwa nona penyanyi ini sudah bersekutu
dengan pemuda yang melaporkan kepadanya tentang ketidak setiaan suaminya!
dunia-kangouw.blogspot.com
Loan Eng menjadi sadar. Pada hari itu juga ia mencari pemuda yang menjadi pembantu suaminya dan
tanpa ampun lagi ia membunuh pemuda ini!
Perkumpulan Sin-to-pang menjadi gempar, tetapi tak ada seorang pun berani menentang Loan Eng atau
Pek-cilan yang ilmu pedangnya hebat itu. Bun Liok Si sangat dicinta oleh semua anggotanya, maka para
anak buah Sin-to-pang menaruh dendam pada Loan Eng, sungguh pun mereka tidak berani menyatakan
secara berterang. Loan Eng juga tak mau peduli lagi akan perkumpulan mendiang suaminya, dan ia hidup
berdua dengan puterinya di rumah besar warisan orang tuanya sendiri di dusun Tun-hang.
Pada saat Loan Eng yang memondong Kwan Cu tiba dipinggir dusun Tun-hang, tiba-tiba dia menghentikan
larinya ketika melihat tiga orang laki-laki yang kepalanya diikat sapu tangan putih berdiri di pinggir jalan dan
memandangnya dengan tajam.
“Mengapa kalian memandang saja kepadaku?” tanya nyonya cantik ini dengan ketus.
Tiga orang itu berubah air mukanya dan mereka cepat memberi hormat sambil menjura.
“Tidak, Thio-toanio, kami tidak bermaksud apa-apa, hanya merasa heran melihat toanio menggendong
seorang anak laki-laki yang tidak kami kenal,” berkata seorang di antara mereka.
“Bukan urusanmu, jangan ambil pusing! Ehh, siapakah sekarang yang menjadi pangcu (ketua) dari Sin-topang?”
tiba-tiba ia bertanya.
“Belum ada, Toanio, dan kebetulan sekali Toanio bertanya tentang hal ini. Sesungguhnya kami bertiga
untuk sementara ini mengurus perkumpulan, sementara menunggu adanya seorang ketua. Oleh karena
kita sudah membicarakan perkumpulan, biarlah kami bertiga mengulangi lagi permohonan kami pada Thiotoanio.
Harap Toanio sudi mengingat akan usaha dan jerih payah Bun-pangcu dan suka memimpin
perkumpulan kami yang...”
“Cukup! Aku sampai bosan mendengarkannya. Berapa kali sudah kukatakan bahwa aku tak peduli lagi
dengan perkumpulan busuk itu? Perkumpulan yang hanya mengutamakan nafsu dan pelanggaran susila?”
“Toanio terlalu tidak adil!” Salah seorang di antara mereka berseru. “Hanya seorang yang melanggar, akan
tetapi Toanio mengutuk kami semua. Apa kematian Bun-pangcu masih belum cukup merupakan tebusan
dosa? Apakah...?”
Belum habis orang itu berbicara, tangan Loan Eng menyambar dan terdengar orang itu berseru kesakitan,
lantas tubuhnya terlempar ke belakang sampai lima langkah. Ternyata bahwa tangan Loan Eng tadi sudah
memukul pundaknya sehingga sambungan tulang pundaknya terlepas!
Loan Eng lalu memandang dengan mata penuh ancaman. “Semoga sedikit hajaran ini membikin kalian
kapok dan tidak akan mengganggu aku lagi!” Setelah berkata demikian, Loan Eng melompat pergi dan
sebentar saja nyonya yang keras hati ini telah masuk ke dalam dusun, langsung menuju ke rumahnya.
Kwan Cu senang tinggal di rumah keluarga Thio. Tidak saja Loan Eng sangat suka dan bersikap baik
sekali padanya, juga Bun Sui Ceng, putri dari Loan Eng ternyata adalah seorang anak yang manis dan
lincah.
Sui Ceng senang kepada Kwan Cu karena anak ini jauh lebih cerdik dari padanya, dan dalam banyak hal
selalu Kwan Cu menjadi penasehatnya. Sui Ceng menganggap Kwan Cu sebagai kakaknya sendiri dan
demikian Kwan Cu merasa mendapatkan seorang adik yang manis. Terhadap Loan Eng, Kwan Cu berlaku
penuh hormat dan dia pun amat rajin membantu pekerjaan rumah sehingga nyonya janda ini amat suka
padanya.
Akan tetapi, apa bila semenjak kecil Sui Ceng amat gemar belajar ilmu silat, sebaliknya Kwan Cu tidak
pernah mau belajar ilmu pukulan, dan lebih tekun mempelajari ilmu surat dan juga ilmu ginkang! Sebentar
saja Kwan Cu sudah memiliki ilmu meringankan tubuh yang mengagumkan Loan Eng.
Benar sebagaimana dugaannya, Kwan Cu amat baik bakatnya, bahkan dalam usia enam tahun anak ini
sudah tahu cara-cara melatih diri dalam hal siulian atau semedhi! Di luar kesadaran anak itu sendiri, diamdiam
Loan Eng melatih ginkang dan lweekang kepada Kwan Cu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dua tahun lewat tanpa terasa dan usia Kwan Cu sudah tujuh tahun. Di dalam waktu dua tahun itu dia
sudah dapat mempelajari ilmu surat, dan kini dia sudah lancar serta pandai membaca kitab-kitab tebal,
bahkan dengan lancarnya dia sanggup membaca kitab-kitab berat yang berisi ujar-ujar para nabi! Benarbenar
dalam hal ini pun Loan Eng merasa terkejut dan terheran sekali atas kecerdasan otak anak yang
pendiam itu.
Keluarga Thio adalah keluarga yang kaya, maka selain gedung yang besar itu, Loan Eng juga menerima
warisan berupa barang-barang berharga. Akan tetapi nyonya janda ini hidup secara sederhana, hanya
dibantu oleh dua orang pelayan yang sekalian bekerja sebagai pengasuh Sui Ceng. Semenjak suaminya
meninggal, nyonya ini sering kali pergi merantau dan meninggalkan anaknya di dalam asuhan pelayan itu.
Pada suatu pagi Kwan Cu dan Sui Ceng bermain-main di depan rumah. Thio Loan Eng sedang pergi ke
kota, membeli barang-barang keperluan yang tidak dapat dibeli di dusun mereka.
Sui Ceng sedang memamerkan kepandaian silatnya kepada Kwan Cu. Anak perempuan yang berusia lima
tahun ini memang memiliki gerakan yang lincah dan gesit, karena itu Kwan Cu memandang dengan hati
gembira. Di dalam pandangan Kwan Cu, Sui Ceng bergerak-gerak bagaikan orang menari-nari sehingga
tak terasa pula dia bertepuk tangan memuji.
“Bagus, adik Ceng. Sayang gerakanmu kurang cepat.”
“Apa? Kurang cepat? Kwan Cu, kau tidak pernah belajar silat, lalu bagaimana kau berani lancang
mengatakan kurang cepat?” Sui Ceng bertanya penasaran.
“Memang aku tak pernah belajar karena aku tidak suka dengan ilmu pukul orang, akan tetapi kalau aku
melihat ibumu mengajarmu, ternyata gerakan ibumu jauh lebih cepat dari padamu. Oleh karena itu maka
aku bilang gerakanmu kurang cepat.”
Sui Ceng tidak jadi marah. Jika demikian halnya kata-kata tadi bukan merupakan celaan. “Mana bisa aku
dibandingkan dengan ibu? Tentu saja aku kalah cepat. Ibu adalah orang yang paling cepat gerakannya di
dunia ini.”
Kwan Cu diam saja. Akan tetapi diam-diam dia berpikir bahwa jika dibandingkan dengan dua orang kakek
yang dulu dilihatnya di dekat pantai, ibu anak ini kalah jauh sekali.
Kedua anak ini tidak tahu bahwa semenjak tadi, tiga orang laki-laki berdiri agak jauh di luar rumah itu dan
memandang ke arah mereka. Tiga orang itu muncul tak lama setelah Loan Eng pergi ke Cin-an dan
mereka kini bicara kasak-kusuk, lalu dengan langkah lebar mereka memasuki pekarangan gedung itu.
Kwan Cu memandang dan dia melihat tiga orang yang telah dikenalnya dua tahun lalu. Mereka itu adalah
orang-orang yang pernah membujuk kepada Loan Eng untuk menjadi pangcu dari Sin-to-pang, akan tetapi
kemudian ditolak oleh Loan Eng, bahkan seorang di antaranya telah dipukul jatuh. Diam-diam Kwan Cu
berkhawatir dan tanpa terasa lagi dia lalu berjalan menghadang di depan Sui Ceng.
“Toanio tidak ada di rumah, harap Sam-wi datang lain kali saja,” kata Kwan Cu kepada mereka.
“Ha-ha-ha, kau bukankah budak pengemis dulu itu? Aku sudah tahu kalau Toanio tidak ada, tak usah kau
banyak buka mulut!” Seorang di antara mereka membentak dan sekali lagi mengulur tangan, dia telah
memegang tangan Kwan Cu, lantas mendorong anak itu sehingga roboh terguling.
“Kau manusia busuk!” Sui Ceng dengan marah sekali memaki. “Kau berani menjatuhkan Kwan Cu?
Kupukul kepalamu!” Sambil berkata demikian Sui Ceng menyerang dengan kepalan tangannya yang kecil!
Akan tetapi, dengan mudah saja orang itu menangkap tangan dan sekali tarik, Sui Ceng sudah berada
dalam gendongannya dan kedua tangan anak itu dipegang dalam sebuah tangan tanpa dapat bergerak
lagi.
“Lepaskan dia! Lepaskan adik Ceng!”
Kini Kwan Cu sudah melompat bangun, menerjang dalam usahanya hendak merampas kembali Sui Ceng.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi, kembali sebuah dorongan membuat dia jatuh jungkir-balik. Sungguh heran tiga orang itu,
karena begitu di dorong jatuh, anak gundul itu segera melompat berdiri lagi dan kembali mencoba untuk
merampas Sui Ceng!
“Lepaskan adik Ceng!” serunya berulang-ulang sambil dengan nekat dia mencoba untuk merebut anak itu.
Sui Ceng juga berseru-seru, “Kwan Cu, tolonglah aku…!”
Sebuah tendangan mengenai kaki Kwan Cu sehingga membuat anak itu terlempar jauh, lalu jatuh
mengeluarkan suara berdebuk. Akan tetapi, seperti tidak merasakan sesuatu, anak gundul itu telah bangun
kembali dan mengejar!
Orang tertua di antara ketiga orang itu, yang berjenggot kasar, memukul kepala Kwan Cu. Anak ini tidak
pernah belajar silat, akan tetapi perasaannya memperingatkan bahwa kalau sampai kepalanya sampai
kena terpukul, mungkin dia akan binasa. Maka dia cepat miringkan kepalanya dan sebaliknya yang terkena
pukulan adalah pundaknya.
“Bukkk!”
Orang itu terkejut sekali karena seperti memukul bantal kapuk saja, dan biar pun Kwan Cu kembali jatuh
berguling-guling bagaikan bola ditendang, namun dia segera melompat kembali dan berteriak-teriak
menuntut supaya Sui Ceng dilepaskan!
“Twako, kita tinggalkan anak setan itu!” orang yang memondong Sui Ceng berkata sambil melompat pergi,
diikuti oleh dua orang kawannya.
“Lepaskan adik Ceng...!” Kwan Cu mengejar.
Kembali tiga orang itu terkejut bukan main karena melihat betapa anak gundul itu dapat berlari cepat!
Memang selama dua tahun ini, yang dengan tekun dipelajari oleh Kwan Cu selain ilmu membaca dan
menulis, adalah berlari cepat dan tanpa disadarinya dia melatih ginkang dan lweekang! Oleh karena dia
telah mempunyai tenaga lweekang, dibantu daya luar biasa dari buah ular yang dahulu dia makan dengan
terpaksa oleh Tauw-cai-houw, maka semua tendangan, pukulan, dan dorongan itu biar pun membuat dia
jatuh bangun, namun tidak melukainya!
Tiga orang pemimpin Sin-to-pang yang menculik Sui Ceng berlari terus memasuki hutan dan ketika mereka
menengok, mereka tidak melihat Kwan Cu lagi. Mereka tertawa girang dan melanjutkan perjalanan mereka
menuju ke tengah hutan.
Tiga orang ini tidak mengira bahwa diam-diam Kwan Cu mengikuti mereka. Tadi ketika dia mengejar, dia
sendiri merasa heran karena ternyata dalam hal berlari cepat, dia tidak kalah oleh ketiga orang itu! Bahkan
kalau dia mau, agaknya dia akan dapat berlari lebih cepat lagi!
Kemudian, saat ketiga orang itu memasuki hutan, Kwan Cu mendapat pikiran yang amat baik. Apa bila dia
terus menerus mengejar, seandainya dia dapat menyusul mereka, apa gunanya? Ia tidak akan dapat
menolong Sui Ceng, dan ini tidak berarti apa-apa.
Lebih baik dia mengejar dan mengintai secara diam-diam supaya dia tahu ke mana Sui Ceng dibawa
sehingga kemudian dia dapat memberitahukan kepada Loan Eng, ibu dari anak itu. Cara ini lebih tepat
karena kalau sampai dia dapat membawa Loang Eng datang menyusul mereka, apa sih sukarnya merebut
kembali Sui Ceng?
Demikianlah, ketika tiga orang itu sudah tiba di tempat persembunyian mereka, yakni di dalam sebuah
rumah bambu di tengah hutan itu, dan ketika Kwan Cu melihat Sui Ceng dibawa masuk ke sana, anak itu
cepat-cepat berlari keluar dari hutan, kembali ke dusun Tun-hang.
Tak seorang pun di dusun itu tahu mengenai penculikan ini, dan keadaan di dalam dusun tetap aman
seperti biasa. Kwan Cu masuk ke dalam gedung dan ketika pelayan-pelayan bertanya di mana adanya Sui
Ceng, dengan tenang Kwan Cu menjawab,
“Adik Ceng dibawa lari oleh tiga orang Sin-to-pang, tetapi harap kalian jangan ribut-ribut, kita menunggu
saja sampai Toanio pulang.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi, dua orang wanita pelayan itu tentu saja tidak mau diam dan mereka segera mewek-mewek
dan sesambatan memanggil-manggil Sui Ceng. Dengan sebal sekali lalu Kwan Cu keluar dan duduk di
halaman depan menanti kembalinya Loan Eng.
Siang hari itu juga Loan Eng datang membawa bungkusan besar berisi barang-barang belanjaan dari kota.
Segera dua orang pelayan wanita itu berlari-lari dari dalam sambil menangis.
“Toanio... Toanio…” kata mereka megap-megap menahan tangis.
“Diam kalian!” Kwan Cu membentak marah sehingga dua orang pelayan itu terkejut.
“Kau... kau setan cilik!” Pelayan itu memaki. “Nona majikan diculik orang, tetapi kau tidak bersusah sedikit
juga pun!”
Akan tetapi, pada saat mendengar ini, Loan Eng seketika menjadi pucat dan memegang pundak Kwan Cu.
“Apa yang terjadi?” tanyanya. Biar pun mukanya pucat, wanita gagah ini masih bersuara tenang.
“Teecu sedang bermain-main dengan adik Ceng di pekarangan depan ketika tiga orang pengurus Sin-topang
yang dahulu, dua tahun lalu, pernah menjumpai Toanio di jalan itu datang. Tanpa banyak bicara lagi
mereka langsung membawa pergi adik Ceng. Teecu mencoba untuk merebut kembali, akan tetapi teecu
dipukul jatuh bangun.”
“Bohong dia! Anak ini tidak susah sedikit pun, mana dia berani mencoba menolong?” Pelayan yang
seorang berkata.
“Tutup mulutmu dan pergi ke belakang!” Loan Eng membentak dan dua orang pelayan itu dengan
ketakutan pergi kebelakang sambil menyusut air mata.
“Lanjutkan ceritamu, Kwan Cu,” kata Loan Eng.
“Ketiga orang itu membawa adik Ceng keluar dusun dan teecu terus mengikuti mereka.”
“Bagus! Ke mana mereka membawa Ceng-ji?”
Loan Eng percaya penuh atas keterangan ini karena maklum bahwa anak ini mempunyai ginkang yang
cukup tinggi dan tanpa disadari oleh anak itu sendiri, dia sudah memberi pelajaran ilmu lari cepat Chousang-
hui (Terbang Di Atas Rumput).
“Mereka membawa adik Ceng ke dalam hutan di sebelah timur dusun. Di tengah-tengah hutan itu terdapat
sebuah gubug, di sanalah adik Ceng di bawa masuk, lalu teecu cepat berlari pulang untuk memberi tahu
kabar kepada Toanio.”
“Bagus, Kwan Cu. Mari kita kejar mereka!” Sambil berkata demikian, nyonya ini segera memegang tangan
Kwan Cu dan berlarilah ia cepat sekali.
Baiknya Kwan Cu sudah mempelajari ilmu ginkang sehingga sungguh pun masih juga ia terseret, namun
dia juga masih dapat menggunakan kedua kakinya untuk ditotolkan pada tanah dan membantu tenaga
tarikan itu sehingga mereka maju pesat sekali.
Pada saat melihat Loan Eng berlari-lari cepat sambil menarik tangan Kwan Cu, beberapa penduduk dusun
menjadi terheran-heran, maka bertanyalah mereka kepada kedua orang pelayan yang lalu bercerita sambil
menangis tentang diculiknya Sui Ceng. Dalam sekejap mata gemparlah dusun itu.
Ketika melihat bahwa Kwan Cu dapat mengimbangi larinya dengan menotolkan kakinya pada tanah, diamdiam
Loan Eng menjadi kagum dan senang melihat kemajuan anak ini. Akan tetapi pada saat itu dia
sedang merasa gelisah dan marah karena terculiknya Sui Ceng, maka dia tidak berkata sesuatu. Karena
Loan Eng berlari cepat sekali, sebentar saja mereka telah sampai di dalam hutan itu dan Kwan Cu lalu
menunjuk ke arah gubug yang berada di tengah hutan.
Ketika Loan Eng tiba di tempat itu, dia terkejut sekali karena gubug itu sudah dijaga oleh sedikitnya lima
dunia-kangouw.blogspot.com
puluh orang yang semuanya diikat sapu tangan putih kepalanya. Ia tahu bahwa mereka ini adalah anggotaanggota
Sin-to-pang, karena memang sejak suaminya tewas, semua orang itu mengikat kepalanya dengan
kain putih tanda berkabung!
Akan tetapi Loan Eng tidak merasa gentar dan segera maju menghampiri. Tiga orang pemimpin Sin-topang
yang menculik Sui Ceng cepat berlari maju, menyambut dengan penuh penghormatan.
“Thio-toanio sudah datang untuk menyambut Bun-siocia. Harap menerima penghormatan kami,” berkata
orang yang berjenggot kasar kepada Loan Eng sambil menjura.
Kemudian dia memberi aba-aba dan ketika Loan Eng memandang, dia melihat puluhan orang anggota itu
mencabut golok yang dipalangkan di depan dada. Diam-diam nyonya janda ini terharu juga karena ia tahu
karena inilah penghormatan dari Sin-to-pang seperti yang biasa dilakukan mereka kepada mendiang
suaminya!
“Aku bukan apa-apa, bukan pengurus bukan pula anggota Sin-to-pang, untuk apa segala penghormatan
itu? Aku datang mengambil kembali Ceng-ji dan hendak bertanya kenapa kalian berani mati sekali
menculiknya?”
“Toanio, kami sedang melakukan upacara pengangkatan ketua. Bun-siocia telah menjadi pilihan kami
untuk menggantikan ayahnya sendiri, mengapa kami dianggap menculik?”
“Apa katamu?” Mata Loan Eng terbelalak kaget. “Ceng-ji kalian angkat menjadi ketua?”
“Benar, Toanio. Di dalam dunia ini selain Toanio dan Bun-siocia, tak ada lagi orang yang lebih berhak
menjadi ketua Sin-to-pang. Dan oleh karena Toanio menolak, maka pilihan kami jatuh pada Bun-siocia.”
“Kalian gila! Lepaskan anakku Ceng-ji apa bila kalian tidak ingin melihat aku mengamuk. Anak baru berusia
enam tahun bagaimana bisa menjadi ketua Sin-to-pang?”
“Tidak bisa dibawa sekarang, Toanio. Kau sendiri pasti sudah tahu bahwa dalam upacara pengangkatan
kepala perkumpulan kami, tidak boleh diganggu. Ada pun mengenai usia, kami dapat cukup bersabar untuk
mendidik Bun-siocia dan sementara ini kami sanggup mewakilinya.”
“Kurang ajar!” Loan Eng menggerak-gerakkan pedang dengan sikap mengancam sekali. “Kau mau
membebaskan dia atau tidak?”
“Toanio, kau lihat sendiri. Bun-siocia sedang melakukan sembahyang untuk pengangkatan itu,” kata
seoarang di antara tiga orang pemimpin sin-to-pang itu.
Loan Eng memandang ke arah rumah gubuk itu dan benar saja. Dia melihat beberapa orang hwesio
tengah melakukan upacara sembahyang untuk mengambil sumpah kepada Sui Ceng yang diangkat
menjadi ketua Sin-to-pang.
Loan Eng meloncat ke depan pintu dan di sana dia melihat Sui Ceng sedang berlutut di depan meja
sembahyang di mana terpasang gambar mendiang suaminya, Bun Liok Si yang tewas dalam tangannya
sendiri! Loan Eng tertegun dan berdiri bagaikan patung. Sementara itu, Sui Ceng sudah mendengar suara
ibunya tadi, maka kini dia menengok. Ketika melihat ibunya, dia berseru girang.
“Ibu, aku telah berada di antara kawan-kawan ayah!” Sui Ceng menunjuk ke arah gambar ayahnya. ”Lihat,
itu dia ayah dan sekarang aku diangkat menjadi pengganti ayah!”
Hati Loan Eng tergetar. Memang dia selalu membohongi anaknya itu tentang ayah anak itu. Dikatakan
selalu bahwa ayahnya telah pergi jauh sekali, naik perahu menyeberangi laut.
“Ceng-ji…” katanya perlahan dan ia hendak menyerbu ke dalam gubuk, namun tiba-tiba tiga batang golok
menghadang di depannya.
“Toanio, puterimu sudah memilih jalannya. Dia telah diambil sumpahnya maka sekarang dia telah menjadi
Bun-siauw-pangcu (ketua Bun cilik), dan harap kau jangan menggangu Pangcu kami!”
“Bangsat, aku adalah ibunya!” Loang Eng berseru sambil meloncat kembali ke halaman depan gubuk itu
dunia-kangouw.blogspot.com
yang lebar.
Loan Eng maklum kalau terjadi pertempuran, ia akan dikeroyok oleh banyak orang. Maka ia harus mencari
tempat yang lebar dan luas agar pergerakannya lebih leluasa.
“Thio-toanio, mendiang Bun-pangcu adalah ayahnya! Dan dia sekarang adalah Pangcu kami, tak seorang
pun boleh mengganggu!”
“Pengangkatan ketua secara paksa. Ah, tak salah lagi orang-orang ini pasti sudah miring otaknya!
Sungguh banyak sekali orang gila di dalam dunia ini!” Tiba-tiba terdengar suara nyaring.
Semua orang, termasuk juga Loan Eng, lalu menengok ke arah suara itu. Ternyata yang bicara tadi adalah
Kwan Cu yang kini sudah nongkrong di bawah pohon dan sejak tadi memperhatikan peristiwa yang terjadi
di depan matanya.
Tiga orang pemimpin Sin-to-pang itu memandang pada Kwan Cu dengan mata mendelik. Mereka sangat
mendongkol karena dimaki gila, juga dapat menduga bahwa Loan Eng dapat menemukan tempat mereka
tentu atas petunjuk bocah gundul itu. Akan tetapi pada saat seperti itu mereka tidak sempat melayani
bocah gundul itu.
“Huang-ho Sam-eng (Tiga Pendekar Sungai Kuning), sekali lagi aku bertanya, apakah kalian tidak mau
membebaskan Sui Ceng dengan baik-baik sehingga aku tak perlu turun tangan?”
“Itu tidak mungkin, Toanio. Dengan berbuat begitu, berarti kami melanggar sumpah setia kepada mendiang
Bun-pangcu!” jawab seorang di antara mereka.
Memang tiga orang pemimpin yang dahulu menjadi pembantu-pembantu Bun Liok Si ini adalah tiga
bersaudara yang terkenal dengan julukan Huang-ho Sam-eng dan mereka ini sudah semenjak mudanya
terkenal sebagai pendekar-pendekar budiman.
“Kalau begitu kalian mencari penyakit sendiri!” bentak Loan Eng.
“Kami siap sedia mengorbankan nyawa untuk Sin-to-pang!”
Loan Eng tidak banyak cakap lagi lalu langsung menggerakkan pedangnya menyerang. Tiga orang itu lalu
mengurungnya, merupakan segitiga dan menggerakkan golok mereka menangkis. Pertempuran hebat
terjadi dan mata Kwan Cu yang menonton pertempuran itu dari bawah pohon menjadi silau melihat
gerakan pedang dari Loan Eng.
Pedang nyonya ini bergerak cepat, berkelebat ke sana kemari laksana kilat menyambar-nyambar.
Sebentar saja tiga orang pengeroyoknya menjadi terdesak hebat. Akan tetapi, benar seperti kata-kata
mereka tadi, mereka melawan secara nekat serta mati-matian, bertekad akan melawan sampai titik darah
terakhir dalam membela perkumpulan mereka.
Sebagai keturunan langsung dari Bun Liok Si, pengangkatan Sui Ceng menjadi ketua perkumpulan sangat
diperlukan untuk menjaga perkumpulan yang sudah bertahun-tahun menduduki tempat yang baik di dunia
kang-ouw itu. Sejak Bun Liok Si tewas, semangat para anggota menjadi lemah dan perkumpulan itu
terancam keruntuhan.
Biar pun dia sendiri tidak suka belajar ilmu silat yang dianggapnya sebagai sebagai ilmu memukul dan
membunuh orang, namun melihat cara Loan Eng menggerakkan pedang menghadapi ketiga orang
pengeroyoknya itu membikin Kwan Cu menjadi gembira dan kagum sekali. Ia menonton dengan sepasang
matanya bersinar-sinar, dan dengan penuh perhatian dia melihat betapa sinar pedang nyonya itu
mengurung tiga pengeroknya.
Benar-benar sangat mengherankan hatinya. Sudah jelas bahwa nyonya itu dikurung dan dikeroyok oleh
tiga orang, akan tetapi kenapa sinar pedangnya bahkan dapat mengurung serta mengancam tiga
pengeroyoknya?
Memang ilmu pedang keluarga Thio sangat hebat. Hal ini dapat dirasakan oleh Huang-ho Sam-eng, dan
dengan diam-diam mereka juga kagum sekali. Tidak aneh apa bila ketua mereka dulu tewas dalam tangan
nyonya ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mereka bertiga sudah menerima pelajaran ilmu golok langsung dari Bun Liok Si, dan di kalangan kang-ouw
kepandaian main golok dari tiga pendekar Sungai Huang-ho ini telah terkenal sekali. Akan tetapi sekarang
ketika menghadapi Loan Eng, mereka benar-benar terdesak hebat dan tidak dapat menyerang karena
mereka tidak sempat.
Pedang Loan Eng bergerak cepat sekali. Tiap kali tertangkis oleh sebatang golok, maka pedang itu
terpental dan sekaligus membuat serangan lain ke arah pengeroyok yang lain lagi! Juga tubuh nyonya
cepat bagikan seekor burung walet menyambar-nyambar, sukar sekali diikuti pergerakannya.
Sementara itu, Loan Eng yang bernafsu keras untuk cepat-cepat menjatuhkan tiga orang lawannya dan
segera menolong puterinya, lalu berseru nyaring dan tahu-tahu tubuhnya mencelat ke atas. Kaki kanannya
digerakkan secara tiba-tiba menendang ke arah golok dari pengeroyok yang berada di depannya.
Terdengar suara nyaring sekali ketika golok di tangan penyerang itu terpukul oleh ujung kaki sehingga
pemegangnya merasa kaget bukan main. Bukan sembarang orang berani menendang sebatang golok
yang terpegang kuat.
Selagi dia terkejut dan memandang dengan mata terbelalak, Loan Eng sudah memutar pedangnya dan
menyerang dua orang yang lainnya. Mereka ini terkejut sekali dan cepat mengelak mundur.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Loan Eng untuk menggerakkan pedangnya ke depan dengan
kecepatan yang tak dapat terduga lebih dahulu oleh lawan-lawannya. Terdengar jerit kesakitan, lantas
orang itu roboh dengan pundak terluka dan goloknya terlempar dari pegangan.
“Toanio, jangan bunuh orang…!” berkali-kali Kwan Cu berteriak. Teriakan ini ada baiknya karena
merupakan peringatan bagi Loan Eng yang sedang marah sekali.
Dengan sangat cepatnya, kembali dia merobohkan dua orang lawannya dengan melukai paha dan lengan
mereka, kemudian bagai seekor burung garuda dia melompat ke dalam gubuk itu. Beberapa anak buah
Sin-to-pang yang menghadang di pintu, hanya dengan sekali terjang telah dibuat kocar-kacir, jatuh
tunggang langgang ke kanan kiri. Betul-betul hebat sepak terjang nyonya yang sedang marah itu, laksana
seekor harimau betina yang anaknya diganggu.
“Ibu, jangan ganggu anak buahku!” tiba-tiba Sui Ceng berseru nyaring.
Seruan Sui Ceng ini tidak saja membuat Loan Eng melengak, juga membuat para anak buah Sin-to-pang
tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut sambil menyebut,
“Bun-siauw-pangcu!”
Loan Eng benar-benar tertegun sekali. Teriakan tadi membuat ia teringat pada mendiang suaminya.
Seakan-akan suaminya yang berseru tadi melalui mulut anaknya! Segera naik sedu sedan dalam
kerongkongan nyonya itu dan tanpa banyak cakap lagi ia menyambar tubuh Sui Ceng dan dibawanya lari
keluar!
Ketika Loan Eng lewat di depan Kwan Cu yang sudah berdiri di bawah pohon, ia berkata, “Kwan Cu,
terpaksa aku meninggalkan kau, anak baik! Aku hendak pergi bersama Sui Ceng. Kelak kalau kau bertemu
Sui Ceng, pesanku padamu, jagalah dia baik-baik dan bantu dia. Selamat tinggal, Kwan Cu,” sambil
berkata demikian, Loan Eng memeluk dan mencium jidat Kwan Cu , lalu pergi cepat sekali sambil
menggendong Sui Ceng!
Kwan Cu berdiri bagaikan patung dan mulutnya berkemak kemik, “Aku akan menjaga adik Ceng! Akan
kujaga dia baik-baik...” Dan tak terasa pula anak gundul ini menangis dengan air mata mengalir di kedua
pipinya.
Anak ini merasa ditinggalkan seorang diri, sekarang kembali sebatang kara, ditinggalkan kepada nasibnya
sendiri. Ia tidak berduka, hanya menangis saking merasa terharu saja. Belum pernah dia dikasihi orang
seperti nyonya janda tadi dan ciumannya pada jidatnya menghangatkan hatinya. Seakan-akan dia
kehilangan seorang ibu!
Dengan kedua kaki lemas anak ini lalu beranjak pergi dari tempat itu. Tetapi baru saja berjalan beberapa
dunia-kangouw.blogspot.com
langkah tiba-tiba di depannya telah menghadang tiga orang pemimpin Sin-to-pang yang terluka. Luka-luka
mereka hanya luka-luka kulit saja dan sebentar saja mereka telah dapat berdiri kembali. Kini kemarahan
mereka tertimpa pada Kwan Cu.
“Anak gundul, kalau bukan kau yang menjadi biang keladi, tak mungkin Thio-toanio dapat merebut kembali
anaknya!” kata yang berjenggot kasar.
Ketika tangannya melayang, sebuah tempilingan keras telah melayang ke arah Kwan Cu. Anak ini tentu
saja kalah gesit dan…
“Plakkk!” terdengar suara yang keras sekali dan tubuh anak ini jatuh bergulingan.
Ia hanya merasa pening sebentar, akan tetapi tidak merasa sakit, maka dengan cepat dia telah berdiri lagi.
Dia memandang kepada tiga orang itu dengan sepasang matanya yang besar dan terbelalak lebar dengan
sinar terang.
Pemukulnya menjadi heran sekali. Mengapa anak ini demikian kuatnya sehingga mampu menahan
pukulannya? Orang ke dua lalu maju memukul ke arah dada Kwan Cu. Untuk kedua kalinya anak ini jatuh
bergulingan di atas tanah dan debu mengebul.
Akan tetapi kembali Kwan Cu bangun lagi dan kelihatannya tidak sakit, sama sekali anak ini tidak
mengeluh. Memang dia merasa dadanya sesak karena terkena hawa pukulan, akan tetapi sebuah tenaga
yang tak kelihatan seakan-akan mendesak perasaan tak enak ini dari sebelah dalam dan dalam sekejap
mata saja rasa sesak itu lenyap lagi!
Sebelum Kwan Cu dapat berdiri tegak, sebuah tendangan dari orang ketiga mengenai lambungnya.
Sekarang tubuh anak ini terlempar ke atas dan membentur batang pohon di bawah mana dia tadi duduk.
Dengan menerbitkan suara keras tubuhnya tertumbuk pada pohon, lalu jatuh lagi bergulingan. Alangkah
kaget dan herannya tiga pemimpin ini ketika melihat Kwan Cu kembali bangkit seperti tak pernah terjadi
sesuatu.
Sekarang mereka saling pandang, juga anak buah Sin-to-pang yang sudah berkumpul di sana memandang
dengan muka heran. Seorang di antara pemimpin Sin-to-pang itu lalu mengambil goloknya yang tadi
terlempar ke atas tanah, kemudian dengan langkah lebar dia mengejar Kwan Cu, lalu mengangkat golok
membacok ke arah Kwan Cu!
“Sute, jangan!” seru yang berjenggot kasar mencegah adiknya.
Akan tetapi terlambat, karena golok itu sudah menyambar. Kwan Cu melihat sinar golok dan matanya
menjadi silau, maka dia mengangkat tangannya melindungi lehernya. Golok itu membacok lengannya, di
bawah siku.
Tetapi anehnya, pembacok itu merasa seperti ada tenaga yang hebat menolak goloknya dan biar pun dia
berhasil melukai lengan anak itu, akan tetapi lengan anak itu tidak putus, bahkan goloknya terpental dan
terlepas dari pegangannya!
Benar-benar mengherankan sekali hal ini, membuat tiga orang pemimpin itu benar-benar tak mengerti.
Melihat gerakan anak ini, jelas bahwa dia tidak mengerti ilmu silat, buktinya pada saat dipukul, ditendang,
dan dibacok, anak itu tidak mengelak atau melawan sama sekali.
Akan tetapi anehnya, semua pukulan dan tendangan tidak melukainya. Malah lengannya kini terbabat
golok yang dibacokkan dengan keras, tapi mengapa lengan itu tidak putus, bahkan golok itu yang
terlempar? Ketika mereka memandang ternyata bahwa lengan itu mengeluarkan darah banyak juga.
Hal ini sebetulnya tidak terlalu aneh. Tubuh anak ini sudah memiliki tenaga mukjijat dari khasiat buah ular
yang dijejalkan ke dalam mulutnya oleh Tauw-cai-houw dan di samping tenaga mukjijat ini. Tanpa
disadarinya, Kwan Cu juga telah melatih diri dengan lweekang yang diajarkan oleh Loan Eng. Anak ini
tekun sekali melakukan siulian (semedhi), karena itu diam-diam ia telah menampung tenaga lweekang di
dalam tubuhnya tanpa dia ketahui sendiri!
Luka pada lengannya terasa perih sekali dan juga lengannya terasa ngilu dan lumpuh. Akan tetapi benarbenar
luar biasa daya tahan dari anak gundul ini. Ia hanya menggigit bibirnya dan sama sekali tidak
dunia-kangouw.blogspot.com
mengeluh.
Sambil mempergunakan tangan kanan untuk mengusap-usap darah yang mengalir dari lengan kirinya,
Kwan Cu berkata, “Hmm, Sin-to-pang hanya bisa menculik anak kecil dan melukai anak-anak pula. Apakah
ini yang dahulu Bun-pangcu mengajarmu bertindak?”
Mendengar ucapan ini, wajah tiga orang pemimpin Sin-to-pang ini menjadi pucat. Tanpa disengaja, Kwan
Cu telah mengingatkan kepada mereka tentang larangan-larangan yang diadakan oleh mendiang Bun Liok
Si, di antaranya bahwa semua anggota Sin-to-pang dilarang keras mengganggu wanita, anak-anak, dan
orang-orang lemah! Dan kemudian, wajah mereka menjadi makin pucat, sedangkan matanya terbelalak
lebar ketika melihat pemandangan yang benar-benar sukar mereka percaya.
Terdengar seruan-seruan dari para anggota Sin-to-pang.
“Aahhh…!”
“Aneh…!”
“Dia seorang anak sin-tong!”
Memang mengherankan. Beberapa kali saja Kwan Cu mengusap luka di lengannya dan setelah darah
yang mengering di luar luka itu lenyap, ternyata kulit lengan itu telah halus lagi, tak nampak sedikit pun
tanda-tanda bekas luka! Melihat ini, tiga orang pemimpin itu cepat menjatuhkan diri berlutut, diikuti oleh
semua anak buah yang berjumlah lima puluh orang!
“Sin-siauwhiap (pendekar sakti cilik), mohon maaf dan mohon petunjuk yang berharga,” kata si jenggot
kasar, orang tertua dari Huang-ho Sam-eng.
Benar-benar amat menggelikan, akan tetapi juga mengagumkan betapa Kwan Cu yang diperlakukan
seperti ini, dapat berkata dengan sikap bersungguh-sungguh dan tenang, seakan-akan dia memang benar
seorang bocah sakti.
“Cu-wi sekalian mengapa begitu ribut-ribut? Nona Sui Ceng sudah bersumpah di depan arwah ayahnya
bahwa dia menerima menjadi ketua dari Sin-to-pang, akan tetapi karena dia masih sangat kecil dan belum
mempunyai kepandaian, mengapa dia tidak boleh ikut ibunya? Cu-wi melihat sendiri betapa hebat
kepandaian Thio-toanio. Jika Siauw-pangcu (Ketua Cilik) belajar silat dari ibunya, bukankah kelak akan
menjadi seorang pangcu yang benar-benar baik? Dari pada Cu-wi meributkan halnya calon pangcu itu,
lebih baik Cu-wi menjaga supaya perkumpulan Cu-wi tetap berjalan baik dan bersih sehingga kelak kalau
Siauw-pangcu datang, Cu-wi takkan dipersalahkan sebagai anggota-anggota yang sudah melanggar
kewajiban! Nah, aku sudah bicara, bolehkah sekarang aku pergi?”
Semua orang mengangguk-anggukan kepala tanda setuju. Tidak mengherankan apa bila Kwan Cu dapat
berbicara seperti itu, karena selama dua tahun ini memang dia sangat tekun membaca kitab-kitab kuno
sehingga dia tahu akan peraturan-peraturan dan filsafat-filsafat! Dasar dia mempunyai otak yang luar
biasa, maka apa yang dibaca itu dapat diingatnya dengan amat baik. Bahkan kalau banyak orang dewasa
tak dapat menangkap inti sari dari pada kitab-kitab kuno itu, Kwan Cu dengan bakatnya yang luar biasa
dapat menyelami arti-artinya!
Kata-kata Kwan Cu itu berkesan dalam hati para anggota Sin-to-pang sehingga mereka ini melakukan
kewajiban sebagaimana mestinya sambil menanti-nanti datangnya Siauw-pangcu yang di bawa lari oleh
ibunya.
Ada pun Kwan Cu lalu meninggalkan tempat itu, dan untuk kedua kalinya dia berjalan ke mana saja
kakinya membawa dirinya, tiada arah tujuan, tiada bekal selain pakaian yang menempel pada tubuhnya…..
********************
Lu Pin, seorang sastrawan yang amat pandai, juga terkenal sebagai seorang ahli pahat atau ahli ukir
patung yang luar biasa, berkat jasa-jasanya dalam urusan pemerintahan, telah diangkat menjadi menteri
oleh kaisar. Sesuai dengan bakatnya, ia dijadikan menteri urusan kebudayaan, dan karena jasa Lu Pin
inilah maka pada masa itu, kebudayaan di Tiongkok dikembangkan serta dipupuk. Seni-seni ukir, seni lukis
dan lain-lain mendapat perhatian pemerintah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dilihat dari luar, nampaknya penghidupan Menteri Lu Pin ini makmur dan senang. Akan tetapi kalau orang
melihat menteri itu duduk di dalam kamarnya seorang diri, orang itu akan melihat betapa menteri yang
pandai dan berwatak jujur dan adil ini sering kali duduk termenung dan menghela nafas berulang-ulang.
Pada wajahnya yang bersinar agung dan keningnya yang lebar itu terbayang kemuraman dan kedukaan
hati yang besar sehingga biar pun usianya baru empat puluh tahun lebih, namun dia nampak lebih tua.
Apakah yang menindih perasaan menteri yang memperoleh kedudukan tinggi ini? Banyak sekali!
Menteri Lu Pin berasal dari keluarga rakyat biasa saja, akan tetapi berkat kemauan besar dan keuletannya,
dia dapat melanjutkan pelajarannya sampai mendapat gelar siucai, dan bakatnya yang memang luar biasa
membuat dia menjadi seorang satrawan dan seniman yang tinggi kepandaiannya. Akan tetapi pada waktu
muda dia sudah banyak menderita, bergaul dengan orang-orang senasib sependeritaan, yaitu senimanseniman
yang hidup terlantar dan tidak mendapat perhatian dari pemerintah.
Kini setelah menjadi menteri, teringatlah dia akan nasib kawan-kawannya, nasib saudara saudaranya yang
masih amat sengsara. Oleh karena itu, maka sering kali dia termenung dan bersedih hati.
Yang lebih-lebih membuat hatinya sakit adalah keadaan kakaknya. Di dalam dunia ini dia hanya memiliki
kakaknya itu sebagai saudara satu-satunya, karena keluarga lain sudah tidak ada lagi. Akan tetapi berbeda
dengan dia, kakaknya ini menuntut penghidupan yang jauh berlainan.
Kakaknya semenjak kecil biar pun bersama dia mempelajari kesusastraan, namun bakat kakaknya bukan
di sana letaknya, melainkan dalam ilmu silat! Juga watak kakaknya ini berbeda jauh dengan dia. Kalau Lu
Pin bercita-cita tinggi untuk mencapai kedudukan dan kemuliaan, adalah kakaknya itu tidak peduli akan
semua ini. Bahkan akhir-akhir ini dia mendengar kakaknya itu merantau bagaikan seorang pengemis
jembel! Inilah yang amat mengganggu hatinya, akan tetapi dia tidak berdaya.
Selain memiliki kepandaian tinggi sekali dalam hal ilmu silat, kakaknya juga mempunyai watak yang aneh.
Sebelum Lu Pin diangkat menjadi menteri, pernah dia mencari dan bertemu dengan kakaknya. Ketika
kakak ini di bujuk-bujuknya untuk mencari kedudukan, baik dalam hal pembesar sipil mau pun militer
karena kakaknya mempunyai kepandaian bun (silat), kakaknya bahkan menjadi marah dan memakimakinya!
“Pin-te (adik Pin), apakah matamu sudah buta? Kalau mata lahirmu buta, tidak mungkin mata batinmu buta
pula! Tidak dapatkah kau melihat betapa negara kita ini dipegang oleh orang-orang yang tak patut disebut
manusia pula? Tak dapatkah kau melihat kaisar dan seluruh anggota pemerintahan hanyalah orang-orang
yang mengutamakan kesenangan belaka, yang melakukan korupsi besar-besaran dan menginjak-injak
rakyat sendiri? Apa kau mengajak aku membantu manusia-manusia macam begitu? Cih, lebih baik aku
mati saja!” demikian kakaknya ini mengakhiri kata-katanya lalu pergi meninggalkannya.
Memang, sejak kecil kakaknya yang bernama Lu Sin itu beradat keras, tinggi hati, dan kasar. Akan tetapi
Lu Pin maklum sedalam-dalamnya bahwa di dunia ini tidak ada orang yang lebih mulia batinnya dari pada
kakaknya itu! Inilah hal pertama yang membuat Lu Pin merasa menderita batinnya, walau pun sekarang dia
sudah menjadi seorang menteri berkedudukan tinggi dan dimuliakan orang senegerinya.
Masalah kedua yang menekan batinnya adalah rumah tangganya. Menteri Lu Pin hanya mempunyai
seorang anak laki-laki dan puteranya ini pun sudah menikah pula dan telah menjabat sebagai pembesar
bagian sipil. Karena rumah Lu Pin besar sekali dan menteri ini tak mau berpisah dari puteranya, dia minta
agar supaya puteranya sekeluarga tinggal bersama dia. Akan tetapi puteranya akhirnya pindah juga ke
rumah lain karena mantu perempuan selalu bercekcok dengan ibu mertua!
Inilah yang memberatkan hati Menteri Lu Pin. Meski rumah gedung baru milik puteranya itu berada di kota
raja pula dan tidak jauh, namun melihat isterinya tidak akur dengan anak mantunya, sungguh merupakan
hal yang sangat mengecewakan. Dan karena isteri puteranya adalah puteri dari seorang berpangkat
pangeran, tentu saja dia makin merasa tidak enak.
Lu Pin sangat sayang kepada cucu laki-laki yang bernama Lu Thong. Anak ini tampan, bermata lebar, tidak
kalah bagusnya dengan putera-putera pangeran, selalu berpakaian mewah dan sangat manja. Kadangkadang,
diam-diam Lu Pin mengakui bahwa cucunya berwatak kurang baik, pemarah seperti ibunya dan
pengecut seperti ayahnya, akan tetapi karena dia hanya cucu satu-satunya, maka Lu Pin amat sayang
kepadanya. Sering kali menteri ini menyuruh datang cucunya itu, atau bahkan dia sendiri memerlukan
dunia-kangouw.blogspot.com
datang ke rumah puteranya untuk mengunjungi dan melihat Lu Thong.
Pada suatu hari, ketika kebetulan sedang berada di rumah puteranya, Lu Pin mendengar Lu Thong
menangis dan rewel. Ia lalu bertanya dan mendapat jawaban dari puteranya bahwa anak itu rewel sekali
minta dipanggilkan guru silat yang pandai karena anak ini ingin belajar ilmu silat!
Menteri Lu Pin menghela napas. Sambil mengelus-elus kepala Lu Thong yang menangis, dia berkata,
“Cucuku yang tampan. Kenapa kau ingin mempelajari ilmu kepandaian yang kasar serta mengerikan itu?
Dari pada kau memegang golok atau pedang yang hanya akan menimbulkan pertumpahan darah, hatiku
akan merasa lebih girang dan tenteram apa bila melihat kau menggerakkan alat tulis membuat syair yang
baik atau lukisan yang indah!”
“Tidak, Kongkong, aku ingin belajar silat. Ketika bermain-main, jika berkelahi aku selalu kalah. Aku mau
menjadi pendekar, mau menjadi orang gagah yang ditakuti semua orang karena kepandaianku, bukan
karena harta dan kedudukan Ayah atau Kongkong!” anak itu merengek-rengek dengan manja.
“Anak manja!” Ayahnya membentak marah-marah. “Apakah kau hendak menjadi seorang petualang yang
liar?” kemudian dia menepuk kepalanya sendiri sambil berkata, “Hemm, celaka betul. Agaknya darah Pekhu
(Uwa) yang kotor, darah petualang yang memalukan mengalir pula dalam darah anak ini!”
Tiba-tiba saja menteri Lu Pin memandang puteranya dengan marah. “Tutup mulutmu dan jangan kau
berani mengeluarkan kata-kata kotor terhadap Sin-ko (Kakak Sin)!”
Lu Seng Hok, putera dari Lu Pin itu, memandang kepadanya dan menghela napas. “Ayah memang aneh
sekali. Pek-hu Lu Sin sudah terang sekali mencemarkan nama keluarga Lu. Ia beberapa kali mengacau,
mengganggu pembesar-pembesar tinggi, bahkan pernah mengacau dalam dapur istana menghabiskan
makanan kaisar. Bukankah orang seperti itu hanya membikin malu kepada kita saja? Celakanya, banyak
orang-orang besar yang mengetahui hubungan kita dengan dia.”
“Sudah, Hok-ji (Anak Kok), jangan kita bicara lagi mengenai Pek-hu-mu itu. Betapa pun juga, dia adalah
seorang yang budiman, jauh lebih dari aku atau kau.”
Seng Hok tidak berani membantah ayahnya, akan tetapi di dalam hatinya dia mengejek dan diam-diam dia
berkata di dalam hati, “Huhh, manusia macam itu! Jembel tua yang memalukan, kerjanya hanya mengacau
mengandalkan silatnya.” Kemudian, karena tidak berani membantah ayahnya, dia menimpakan
kemarahannya kepada anaknya, yang lalu dimaki-maki lagi.
“Kau tak perlu membuka mulut minta belajar silat lagi. Pendeknya, kau tidak boleh belajar silat!”
Akan tetapi kini perhatian Lu Thong menjadi tertarik pada saat mendengar nama Lu Sin disebut-sebut.
“Kongkong, apakah kakek Lu Sin itu benar-benar lihai ilmu silatnya? Aku pernah mendengar orang bilang
bahwa seluruh bala tentara kerajaan tidak akan dapat menangkap dan melawan dia.”
Menteri Lu Pin mengangguk-angguk sambil memeluk cucunya yang terkasih.
“Cucuku, kakekmu Lu Sin itu biar pun hidup sebagai petualang, namun dia seorang yang luar biasa sekali.
Kepandaian silatnya pada waktu ini sukar dicari tandingannya, dan dia dijuluki Ang-bin Sin-kai. Memang,
kalau orang memiliki kepandaian silat seperti dia itu, barulah orang-orang tidak berani main-main
terhadapnya, dan kalau saja adatnya tidak begitu kukuh dan aneh, kalau saja dia menerima pangkat, tentu
dengan mudah dia akan diberi pangkat tinggi dalam bidang kemiliteran kaisar. Bahkan kaisar pernah
menawarkan kedudukan Koksu (Guru Negara) kepadanya. Sayang... dia lebih senang merantau.”
“Menjadi pengemis kotor!” Lu Seng Hok menambahkan. “Anak rewel, apa kau juga ingin mempunyai
kepandaian silat tinggi dan kemudian menjadi seorang pengemis jembel?”
Akan tetapi Lu Thong tampak diam saja. Anak kecil ini biar pun manja dan rewel, namun harus diakui
bahwa dia memiliki pikiran yang sangat cerdik. Dia lalu memandang kepada ayahnya dan berkata,
“Ayah, kalau kau berhasil membujuk kakek Lu Sin untuk tinggal di sini dan mengajar ilmu silat kepadaku,
bukankah itu baik sekali? Selain dia tidak mengembara dan memalukan ayah, juga aku bisa mendapat
pimpinan dari seorang ahli.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kau tidak akan belajar silat!” kata Lu Seng Hok dengan kukuh.
“Ayah, bagaimana pun juga kakek Lu Sin adalah keluarga kita. Dia masih tetap saja menggunakan nama
keturunan Lu! Kalau kita mempunyai orang tua yang berkepandaian tinggi itu, apakah akan kata orang
kalau aku sebagai keturunan Lu tunggal, tetapi sama sekali tidak mengerti ilmu silat dan sangat lemah?
Kongkong terkenal sebagai ahli bu. Ini merupakan dwi tunggal yang baik sekali dan kalau aku dapat
mempelajari bun dan bu di bawah pimpinan dua orang tua ini bukankah aku akan menjadi seorang bun-bu
cwan-jai (ahli satra dan ahli silat)?”
Ketika ayah dan anak ini bersitegang mempertahankan pendirian masing-masing, Lu Pin mendengarkan
saja dan mendengar ucapan Lu Thong dia menjadi girang sekali. Wajah orang tua ini berseri-seri dan dia
lalu bertepuk tangan.
“Bagus, bagus sekali! Lu Thong, agaknya kaulah yang akan dapat mengharumkan nama keluarga Lu! Hokji,
ucapan puteramu itu betul sekali. Kini kita harus mencari Pek-hu-mu Lu Sin dan kita membujuknya untuk
melatih Lu Thong. Bagus sekali!”
Setelah berpikir-pikir, akhirnya Seng Hok juga menyetujui kehendak ayahnya ini. Ia pikir bahwa tentu saja
amat baik kalau Lu Thong menjadi seorang ahli sastra merangkap ahli silat pula. Ayah mana yang tidak
akan suka melihat puteranya menjadi seorang bun-bu cwan-jai?
Akan tetapi mencari Ang-bin Sin-kai Lu Sin tidaklah semudah mencari orang lain. Nama Ang-bin Sin-kai
memang sudah amat terkenal, dari seorang pengemis yang paling jembel sampai kaisar sendiri mengenal
nama tokoh besar yang luar biasa ini. Akan tetapi di mana adanya kakek aneh ini, tak seorang pun
mengetahuinya!
Karena sekarang telah menyetujui untuk memberi kesempatan kepada Lu Thong belajar ilmu silat, maka
Lu Seng Hok mulai mengundang guru silat untuk memberi pelajaran dasar kepada puteranya. Akan tetapi,
hati Lu Thong tidak demikian mudah dipuaskan. Segala macam guru silat saja, dia tidak sudi mengangkat
menjadi gurunya.
Anak ini paling suka memelihara anjing dan di halaman depan gedung ayahnya penuh dengan anjinganjing
yang galak, besar dan juga bagus. Ia selalu dimanja oleh ayahnya yang sengaja membeli anjinganjing
besar dan bagus. Lu Thong memelihara lebih dari sepuluh ekor anjing!
Ia pernah mendengar tentang kakak kongkong-nya yang bernama Ang-bin Sin-kai Lu Sin itu, dan juga
pernah mendengar cerita bahwa kakeknya ini pernah memukul mati seekor harimau tanpa menyentuh
kulitnya! Oleh karena itu tiap kali ada guru silat yang diundang oleh ayahnya datang hendak mengajarnya,
dia minta pada guru silat ini untuk memukul anjingnya tanpa menyentuh kulitnya!
Dan akibatnya, banyak sudah guru silat yang tidak mampu merobohkan anjing itu tanpa menyentuh
kulitnya, sebaliknya ada beberapa orang di antara guru-guru silat itu yang menjadi korban gigitan anjing
galak! Oleh karena itu, sebegitu jauh Lu Thong masih juga belum mempunyai guru yang pandai dalam ilmu
silat dan dia masih belum mau belajar silat. Ayahnya menjadi bingung dan juga bohwat (kehabisan akal)
menghadapi anaknya yang terus rewel minta supaya kakeknya, Ang-bin Sin-kai Lu Sin, dipanggil datang!
Pada suatu hari, masih pagi sekali, Lu Thong sudah bermain-main di pekarangan gedung ayahnya. Tiga
ekor anjing yang terbesar dan terbaik menemaninya di situ. Dia sedang mengajar anjing-anjingnya
melompat, mencari barang yang disembunyikan, dan lain-lain.
Tiba-tiba tiga ekor anjing ini menggonggong keras dan berlari ke arah pintu. Dari pintu gerbang masuk
seorang pengemis tua yang pakaiannya sudah penuh tambal-tambalan, rambutnya awut-awutan, dan kulit
tubuhnya kotor serta ada penyakit gatal di sana-sini, terutama sekali pada kakinya. Ketika dia datang
memasuki pintu gerbang, banyak lalat mengerubung dan mengikutinya.
Melihat pengemis ini, Lu Thong segera memanggil anjing-anjingnya dan tiga ekor anjing yang sudah
mengerti akan perintah majikan mudanya ini lalu berlari mendekati Lu Thong. Anak ini memandang tajam.
Ketika melihat sikap pengemis itu berani sekali, tidak seperti pengemis biasa, diam-diam dia menaruh
perhatian dan dadanya berdebar. Inikah kakeknya, Ang-bin Sin-kai Lu Sin? Mukanya tidak kemerahmerahan,
pikirnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Menurut penuturan kongkong-nya, juga melihat dari nama julukan ‘Ang-bin’ atau muka merah, tentu kakek
yang menjadi ahli silat itu bermuka merah. Bagaimana pun juga dia hendak bersikap hati-hati dan agar
jangan disangka kurang sopan, dia bertanya dengan halus kepada pengemis tua itu.
“Kakek tua, kau masuk ke sini ada keperluan apakah?”
Pengemis itu memandang. Wajahnya nampak berseri-seri mendengar suara dan melihat sikap yang manis
dari Lu Thong ini.
“Ah, ah, benar! Pohon baik berbuah manis. Kakeknya terpelajar cucunya pun tahu sopan santun. Bagus
sekali! Siauw-kongcu (Tuan Kecil), bukankah kau adalah putera dari Lu Seng Hok?”
Semakin bergairahlah hati Lu Thong. Siapa lagi kalau bukan Ang-bin Sin-kai yang berani memanggil nama
ayahnya begitu saja? Maka dia lalu mengangguk.
Pengemis itu memandang lagi penuh perhatian dan kini dia melihat ke arah pakaian Lu Thong serta hiasan
rambutnya. Ia menggelengkan kepala dan berkata lagi, “Betapa pun juga merak tak mungkin beranak
garuda! Sayang sekali, kemewahan kakeknya menurun padanya!”
Lu Thong adalah seorang anak yang cerdik dan terpelajar. Ia tahu bahwa peribahasa yang menyatakan
bahwa merak tak dapat beranak garuda menyindirkan bahwa seorang pesolek anaknya pun pesolek pula.
Akan tetapi karena dia menduga bahwa pengemis ini adalah kakeknya yang selama ini dicari-cari, yaitu Lu
Sin, anak ini tidak menjadi marah, bahkan berkata,
“Kakek yang baik, ayahku sedang pergi ke kantornya. Siapakah kau dan ada keperluan apakah mencari
ayah?”
“Siapa mencari ayahmu? Aku datang hendak mengobrol dengan Lu Pin, kakekmu.”
Hampir Lu Thong berjingkrak saking girangnya. Tidak bisa salah lagi, ini tentulah Ang-bin Sin-kai Lu Sin,
kakak dari kongkong-nya itu! Akan tetapi anak ini masih menahan gelora hatinya dan bertanya lagi, purapura
tidak tahu,
“Kongkong Lu Pin tidak tinggal di sini, akan tetapi di gedung menteri di sebelah kanan istana! Kakek,
siapakah namamu?”
Kakek itu nampak amat kecewa. ”Hemm, aku sudah pergi ke sana, akan tetapi penjaga mengusirku. Kukira
melalui ayahmu aku akan lebih mudah bertemu Lu Pin. Namaku? Ah, aku sendiri sudah tidak tahu lagi
siapa namaku, Siauw-kongcu.”
Dengan mata bersinar-sinar Lu Thong kemudian berkata, “Kakek yang baik, bukankah kau adalah Ang-bin
Sin-kai Lu Sin?”
Pengemis itu nampak sangat terkejut. “Kau sudah mendengar nama itu? Hmm, Ang-bin Sin-kai barulah
patut disebut seekor garuda. Garuda sakti yang terbang di angkasa raya, bebas lepas tidak terikat oleh
sesuatu. Dia seorang yang patut dikagumi!”
Sehabis berkata demikian pengemis itu merangkapkan kedua tangannya ke dada dan memberi hormat ke
atas!
Lu Thong terheran-heran. Pengemis ini terang sekali bukan orang sembarangan. Sikap dan kata-katanya
bahkan membayangkan bahwa pengemis ini adalah seorang terpelajar pula. Akan tetapi, jawabannya tadi
membikin dia ragu-ragu. Jika kakek ini adalah Ang-bin Sin-kai, mungkinkah ia memuji-muji nama Ang-bin
Sin-kai dan bahkan memberi hormat? Adakah kakek sakti itu demikian sombongnya?
Tiba-tiba Lu Thong mendapat sebuah pikiran yang bagus. Ia lantas bersuit keras sambil menunjuk ke arah
kakek itu, dan tiga ekor anjing serentak menyalak kemudian menubruk ke arah pengemis tadi! Pengemis
tua itu terkejut bukan main dan dengan mata terbelalak ketakutan dia melangkah mundur.
“Siauw-kongcu, tahan anjing-anjingmu! Suruh mereka mundur, lekas!”
Lu Thong tersenyum geli, “Ang-bin Sin-kai, kau adalah kakekku sendiri, siapa yang mau menakutdunia-
kangouw.blogspot.com
nakutimu? Kau bunuhlah anjing-anjing busuk itu, aku tidak akan menyesal. Aku sengaja hendak melihat
kelihaianmu, Kongkong!”
“Hushh... siapa bilang aku Ang-bin Sin-kai? Aku bukan... bukan...!” akan tetapi dia segera roboh terguling
karena ditubruk oleh tiga ekor anjing yang galak-galak itu!
“Siauw-kongcu, aku adalah sahabat Lu Pin. Bagaimana kau berani menghinaku? Panggil anjing-anjingmu,
lekas!”
Alangkah kecewanya hati Lu Thong melihat keadaan itu. Dengan jelas sekali dia melihat betapa kakek ini
amat lemah. Jika tadinya dia merasa girang, sekarang dia amat merasa amat kecewa dan marah.
“Jadi kau bukan Ang-bin Sin-kai? Itu lebih baik lagi, biar anjing-anjingku mengantar kau keluar sebagai
hukuman atas kelancanganmu masuk ke sini tanpa ijin!” Dia lalu memberi aba-aba kepada anjinganjingnya
untuk menyeret kakek itu keluar dari halaman.
Sungguh kasihan sekali kakek pengemis itu. Dia hanya dapat menjaga lehernya dengan kedua tangan,
karena merasa takut kalau-kalau lehernya digigit anjing-anjing yang galak itu. Tiga anjing itu menggigit
lengannya, kakinya, bajunya dan mencoba untuk menyeret keluar dari situ. Akan tetapi tubuh pengemis ini
tinggi dan tentu saja dia terlalu berat bagi tiga ekor anjing itu.
“Siauw-kongcu... kau kejam... kau jahat! Lu Pin tak seperti ini... lepaskan aku!” pengemis ini berteriak-teriak
kesakitan dengan lengan dan kakinya telah berdarah.
Akan tetapi Lu Thong bahkan tertawa bergelak melihat kejadian yang dianggapnya lucu ini.
“Ha-ha-ha-ha! Orang macam ini kuanggap Ang-bin Sin-kai! Ha-ha-ha-ha! Merangkaklah... merangkaklah
keluar! Ha-ha-ha coba kau berlomba dengan anjing-anjing itu keluar!”
Karena tidak tahan lagi digigit oleh anjing-anjing itu, pengemis tadi sambil mengeluh lalu merangkakrangkak
keluar! Dia hendak berdiri, akan tetapi tiap kali berdiri dia lalu roboh kembali karena terkaman
anjing-anjing itu. Baiknya dia selalu melindungi lehernya, sebab bila mana lehernya sampai kena digigit,
pasti dia akan tewas! Baru saja dia merangkak beberapa jauhnya, dia diterkam dan diseret kembali oleh
tiga ekor anjing itu.
Lu Thong tertawa terkekeh-kekeh melihat permainan baru ini. Seakan-akan dia melihat seekor tikus besar
sekali sedang dipermainkan oleh tiga ekor kucing yang tidak hendak membunuhnya lebih dulu sebelum
puas bermain-main!
Keadaan pengemis itu makin payah. Sekarang ia tidak minta dilepaskan, bahkan ia lalu melawan dan
memukul, menggigit serta menjewer anjing-anjing itu sambil memaki-maki, “Lu Pin kau manusia durhaka!
Tidak ingat kau betapa dahulu kau belajar syair dari aku! Tidak ingat kau betapa dulu beberapa cawan
arakku memasuki perutmu! Dan sekarang cucumu berlaku begini? Ahhh...”
Akan tetapi Lu Thong tak mau mempedulikan omongan yang dianggapnya hanya ocehan belaka dari
seorang pengemis yang ingin berpura-pura menjadi sahabat kongkong-nya. Kongkong-nya, menteri Lu Pin,
menteri yang mulia dan berkedudukan tinggi, belajar syair dari pengemis ini? Bah, sungguh menggelikan
dan menggemaskan!
“Kau menghina kongkong dan memasuki rumah ini seperti maling. Kau patut dihukum!” katanya.
Pada saat itu, dari luar pintu gerbang berlari masuk seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun, sebaya
dengan Lu Thong. Anak ini berpakaian seperti pengemis dan kepalanya gundul.
“Sungguh biadab! Kejam sekali!” anak itu datang-datang berseru marah.
Anak itu kemudian memungut batu-batu untuk disambitkan pada anjing-anjing itu.
“Bukk!” terdengar suara ketika sambitannya mengenai tubuh anjing.
Anjing itu berkuik-kuik kesakitan, lalu menjauhkan diri dari kakek pengemis. Sambitan itu cukup bertenaga
dan membuat anjing itu merasa kesakitan. Akan tetapi Lu Thong yang telah melihat perbuatan ini menjadi
dunia-kangouw.blogspot.com
marah sekali. Ia berseru beberapa kali dan memberi aba-aba kepada ketiga ekor anjingnya sehingga
binatang-binatang ini kembali menyerbu kakek itu.
Anak jembel yang gundul itu menjadi marah. Karena sambitannya tidak dapat menolong kakek pengemis,
dia lalu melompat ke arah Lu Thong dengan beberapa lompatan yang jauh sehingga Lu Thong menjadi
kaget sekali.
“Orang kejam, hayo kau panggil anjing-anjingmu!” anak gundul itu membentak dan selain suaranya nyaring
sekali, juga dari sepasang matanya bersinar api, sikapnya amat kereng dan berpengaruh.
Lu Thong memang mempunyai sifat pengecut. Melihat sikap anak gundul itu dan melihat lompatannya
yang kuat tadi dia telah menjadi takut. Kini melihat anak gudul itu berdiri di depannya dengan sikap
mengancam dan memerintah, hatinya menjadi gentar. Cepat dia memanggil ketiga ekor anjingnya yang
segera meninggalkan kakek jembel tadi, berlarian menghampiri Lu Thong dengan ekor digerak-gerakkan
ke kanan kiri.
Anak gundul itu lari menghampiri pengemis tua yang sudah payah, lalu menolongnya.
“Kasihan sekali kau, orang tua,” katanya menghibur sambil membantu kakek itu berdiri.
Kakek pengemis itu memandang kepada anak gundul ini dengan mata terheran, penuh kekaguman.
“Siapa kau?” tanyanya sambil meringis kesakitan karena kakinya yang penuh koreng itu kulitnya sudah
banyak yang pecah-pecah tergigit anjing-anjing yang galak tadi.
“Aku? Namaku Lu Kwan Cu.”
Mendadak jembel tua itu merenggutkan tangan Kwan Cu yang memegangnya. “Jangan sentuh aku! Aku
tidak sudi ditolong oleh seorang she Lu lagi!” katanya
Kwan Cu tersenyum. “Orang tua, tidak baik menilai pribadi orang dari she dan namanya! Bukankah
peribahasa dahulu kala menyatakan bahwa menilai pribudi seseorang lihatlah hati dan perbuatannya,
jangan melihat nama, pakaian, dan mulutnya?”
Mata kakek yang tadi memandang penuh kebencian, kini tiba-tiba memandang dengan kagum dan
terbelalak lebar. “Ehh, anak siapakah kau? Murid siapa?”
Kwan Cu tersenyum. “Aku tidak tahu siapa orang tuaku, dan aku bukan murid siapa pun.”
Kakek itu tersenyum, dan ini mengherankan Kwan Cu. Bagaimana dengan tubuh penuh luka-luka itu orang
ini masih dapat tersenyum? Ia lalu membantu kakek itu berdiri dan kini pengemis tua itu tidak lagi menolak
bantuannya.
Bagaimana Kwan Cu tahu-tahu datang ke tempat itu? Memang, anak ini telah melakukan perjalanan jauh
sekali sampai ke kota raja, tanpa ada tujuan yang tetap. Ketika dia tiba di pintu gerbang kota raja, dan
ketika matanya terbelalak kagum sekali dan terheran-heran menyaksikan bangunan-bangunan yang
demikian megah dan besarnya, tiba-tiba saja dia mendengar suara terkekeh-kekeh yang sudah di
kenalnya.
Ia cepat menengok dan tampaklah olehnya seorang hwesio gundul yang tubuhnya bulat seperti bola berdiri
di bawah pintu gerbang itu sambil memandangnya. Hwesio ini sedang makan makanan dari sebuah
mangkok butut, yaitu mangkok yang biasanya dibawa oleh seorang hwesio untuk minta makanan dari
siapa saja yang dijumpainya saat dia merasa lapar. Mangkok itu dipegang di tangan kiri, tangan kanannya
menjumputi makanan, ada pun di bawah lengan kanannya itu terjepit sebatang tongkat hwesio yang
panjang.
“Ehh, losuhu berada di sini?” tanya Kwan Cu sambil buru-buru maju menjura.
“Ha-ha-ha, Kwan Cu, kau masih ingat kepadaku?” kata hwesio itu yang bukan lain adalah Jeng-kin-jiu Kak
Thong Taisu yang dulu dijumpainya di tepi laut, hwesio yang bertempur mati-matian melawan Ang-bin Sinkai
karena memperebutkan dia!
dunia-kangouw.blogspot.com
Kak Thong Taisu kemudian melemparkan mangkoknya yang butut sehingga makanan itu tumpah di atas
tanah. “Makanan busuk, diberi oleh seorang yang pelit!”
Kemudian ia memukulkan tongkatnya ke mangkok itu, dan aneh sekali! Mangkok itu tidak menjadi hancur,
bahkan lalu mencelat ke atas yang segera diterima dengan tangannya, dan mangkok itu kini telah menjadi
bersih seperti dicuci saja.
“Hm, orang-orang kota raja ini semuanya kaya-kaya dan pelit-pelit, menyebalkan sekali!”
“Losuhu, kalau teecu boleh bertanya, Losuhu datang dari manakah dan hendak pergi ke mana?” tanya
Kwan Cu
“Pinceng datang dari belakang dan hendak menuju ke depan,” hwesio tua itu menjawab seperti orang
berkelakar. “Sekarang telah bertemu dengan kau, muridku, maka aku tidak khawatir lagi akan kelaparan,
karena sudah ada orang yang akan mencarikan makanan untukku!”
“Teecu bukan murid Losuhu, tetapi tentu saja teecu mau mencarikan makanan untuk Losuhu, yaitu kalau
Losuhu merasa lapar.”
Kak Thong Taisu nampak amat terkejut. “Apakah kau sudah bertemu Ang-bin Sin-kai dan sudah diambil
murid olehnya?”
Kwan Cu menggelengkan kepalanya. ”Tidak, teecu tidak bertemu dengan Locianpwe itu. Akan tetapi
seandainya bertemu, teecu juga tidak akan menjadi muridnya.”
“Ha-ha-ha-ha, kepalamu yang gundul itu keras juga kiranya!” Setelah berkata demikian, dengan tongkatnya
Kak Thong Taisu mengemplang kepala Kwan Cu.
“Plakk!” ujung tongkat itu mengenai kepala yang gundul itu.
Akan tetapi biar pun ia merasa sakit sekali dan kepalanya tiba-tiba menjadi benjol, Kwan Cu tidak menaruh
hati sakit atau pun marah. Dia hanya mengejapkan matanya tiga kali untuk menahan sakit. Diam-diam dia
malah merasa geli mendengar kata-kata hwesio ini.
Hwesio ini sendiri mempunyai kepala yang gundul, bundar, besar, juga amat licin, akan tetapi masih
memaki dirinya sebagai kepala gundul! Sungguh cocok kata-kata kuno yang menyatakan bahwa mencari
keburukan orang lain sama mudahnya seperti kita mencari kerbau di ladang, sebaliknya untuk mengetahui
keburukan sendiri sama sulitnya dengan mencari sebuah jarum di dalam tumpukan rumput kering!
“Bagaimana, apakah kau masih tidak mau menjadi muridku?”
Kwan Cu menggeleng kepala dan dia teringat akan pengalaman-pengalamannya selama ini. Dia menarik
kesimpulan bahwa hanya orang-orang ahli silat yang selalu menimbulkan keributan dan kerusuhan,
serang-menyerang atau bunuh-membunuh.
“Mengapa kau tidak mau menjadi muridku? Hayo jawab dan beri penjelasan yang betul, bila tidak akan
kuketok kepalamu sampai pecah!” Hwesio gemuk itu nampak tidak sabar dan mendongkol sekali. Orangorang
muda sedunia akan berebut menjadi muridnya, dan anak gundul jembel ini, dia bahkan menampik!
“Mengapa?” Kwan Cu mengerutkan kening, mengingat-ingat lalu berkata dengan suara tetap, “Karena
teecu teringat akan peribahasa kuno yang menyatakan bahwa, binatang menggunakan kekerasan karena
dia tidak berakal, maka seorang manusia lebih rendah dari pada binatang apa bila dia melakukan
kekerasan. Nah, oleh karena itu, teecu tidak suka belajar ilmu silat, Losuhu. Teecu anggap peribahasa itu
tepat sekali. Binatang yang tidak berakal, mempergunakan kekerasan tanpa kesadaran, sebaliknya kalau
manusia melakukan kekerasan, dia sadar sepenuhnya kalau kelakuannya itu salah dan jahat!”
Hwesio itu memandang kepadanya dengan mata terbelalak lebar, lalu dia memandang ke atas sambil
tertawa bergelak-gelak. Suara ketawa ini keras dan hebat sekali sehingga Kwan Cu merasa tanah yang
diinjaknya sampai tergetar akibat gema suara tertawa itu.
Ada pun orang-orang yang lewat di situ, menjadi kaget sekali, akan tetapi ketika mereka memandang dan
mencoba mendekati, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu lantas memandang kepada mereka dengan mata
dunia-kangouw.blogspot.com
dipelototkan. Mereka menjadi sangat ketakutan dan pergi lagi cepat-cepat!
“Ha-ha-ha! Lucu, lucu, lucu! Ehhh, Kwan Cu, kata-katamu itu membuat mataku melihat seekor lembu yang
baru lahir menyusui seekor lembu tua yang menjadi neneknya!”
“Mana, Losuhu?” tanya Kwan Cu yang merasa heran. “Mana ada anak lembu yang baru terlahir dapat
menyusui lembu lain, neneknya pula?”
Hwesio itu menudingkan jarinya kepada Kwan Cu. “Kaulah anak lembu itu! Kau hendak memberi pelajaran
kepadaku tentang filsafat, bukankah itu sama saja dengan seekor anak lembu hendak menyusui
neneknya? Ha-ha-ha, kau tahu satu tidak tahu lima, tahu lima tidak tahu sepuluh! Kwan Cu, tidak ada
sesuatu di permukaan bumi ini yang memiliki sifat tunggal, semua tentu memiliki dua sifat yang
bertentangan, dua sifat yang bagi kita manusia biasa disebut menguntungkan dan merugikan! Apakah kau
pernah mendengar orang mengeluh karena hari sedang hujan yang lain mengeluh karena tidak ada hujan?
Pernahkah kau mendengar munculnya matahari disambut dengan senyum oleh seorang akan tetapi
sebaliknya disambut dengan muka cemberut oleh orang lainnya? Semua hal mempunyai dua sifat,
tergantung pada yang menghadapinya. Kekerasan tak terkecuali, memiliki dua sifat menguntungkan dan
merugikan. Hee, anak gundul goblok, tahukah kau sekarang bahwa belum tentu kekerasan itu salah dan
jahat seperti anggapanmu tadi?”
Kwan Cu mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia tertarik sekali karena memang dia suka akan filsafatfilsafat
kebatinan. Dia sudah terlalu banyak membaca buku kuno dan semenjak belajar membaca, otaknya
sudah dijejali oleh segala macam filsafat ini.
“Benar-benarkah semua hal di dunia ini mempunyai dua sifat baik dan buruk, Losuhu?”
Hwesio itu mengangguk-anggukkan kepalanya yang bundar. “Tentu! Coba kau sebutkan sesuatu sebagai
contoh.”
Kwan Cu menengok ke sana ke mari, dan tiba-tiba dia menunjukkan telunjuk ke arah tahi kuda yang
bertumpuk di pinggir jalan. “Apakah barang kotor itu juga memiliki sifat baik? Teecu menganggapnya kotor
dan hanya merugikan saja, mengotori jalan, menimbulkan bau tak sedap dan menjijikkan kalau di
pandang.”
“Anak bodoh, itu karena kau memandangnya dari segi yang merugikan saja. Tahukah kau bahwa
keluarnya benda itu dari perut kuda mendatangkan dua macam keuntungan? Pertama, keuntungan bagi si
kuda sendiri karena kalau tidak bisa keluar perutnya akan kembung dan dia akan mati! Kedua, tahi kuda itu
kalau sudah meresap ke dalam tanah akan menjadi pupuk yang amat baik dan menyuburkan tanah.
Bukankah itu keuntungan-keuntungan belaka dan termasuk sifat-sifat baik?”
Kwan Cu melengak dan terpaksa dia tersenyum geli. Sepasang matanya yang lebar dan bersinar-sinar itu
bergerak ke kanan kiri, menandakan bahwa otaknya yang cerdik tengah bekerja keras. Dia mencari akal
untuk mengalahkan hwesio gemuk ini dengan pendirian yang aneh itu.
“Losuhu, ada satu hal lagi. Apakah kejahatan juga mempunyai sifat baik?”
Sekarang Kak Thong Taisu yang melengak. Dia merasa seperti dadanya di todong oleh senjatanya sendiri.
Senjata makan tuan! Akan tetapi hwesio ini adalah seorang manusia yang sudah matang luar dalam, tentu
saja tidak mau kalah. Sambil menggerak-gerakkan kedua matanya yang seperti kelereng itu, dia berkata,
“Tentu saja bocah tolol! Kalau saja tidak ada kejahatan di dunia ini, mana mungkin ada kebaikan? Siapa
mau bicara kebaikan bila tidak ada kejahatan? Siapa bisa mengatakan baik kalau tidak ada buruk dan
mana di dunia ini ada orang berbudi kalau tidak ada orang jahat? Kejahatan merupakan imbangan dari
pada kebajikan seperti Im (positif) menjadi imbangan dari pada Yang (negatif), kalau salah satu tidak ada
mana mungkin dunia bisa berputar dan matahari bisa terbit dan tenggelam?”
Filsafat ini terlalu berat bagi otak Kwan Cu yang masih kecil, maka untuk beberapa lama dia bengong saja.
Sebaliknya setelah berkata demikian Kak Thong Taisu tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, anak bodoh, anak
tolol!”
“Losuhu,” Kwan Cu mendapatkan bahan pula pada saat mendengar makian ini. “Apakah kebodohan juga
dunia-kangouw.blogspot.com
mempunyai sifat baik?’
“Tentu saja, jika tidak bodoh dulu, mana bisa menjadi pintar? Tanpa adanya kebodohan, mana manusia
mengenal kepintaran?”
Dibalik seperti ini, Kwan Cu mulai dapat menangkap dan dia tertawa bergelak, menimpali suara ketawa
hwesio gemuk itu sehingga dua orang ini tertawa-tawa, membikin semua orang yang lewat di situ
memandang terheran-heran.
”Orang-orang miring otaknya…” demikian mereka berbisik.
“Kwan Cu, kau ini terlalu sekali. Perutku menjadi lapar karena kau mengajakku bercakap-cakap saja. Hayo
cepat kau carikan makanan untukku. Makanan enak hanya terdapat di rumah-rumah para bangsawan.”
Hwesio gemuk ini mengajak Kwan Cu memasuki kota raja. Kak Thong Taisu menyuruh Kwan Cu berjalan
lebih dulu dan menyuruh anak ini minta makanan dari rumah gedung bangsawan. Kwan Cu menurut dan
kebetulan sekali dia memasuki halaman gedung dari pembesar Lu di mana dia melihat Lu Thong sedang
menyuruh tiga ekor anjing-anjingnya mengeroyok seorang kakek pengemis itu sebagaimana telah di
tuturkan di bagian depan dari cerita ini.
“Lopek, marilah kita keluar dari halaman orang kaya ini,” kata Kwan Cu sambil menolong pengemis tua
yang terluka oleh gigitan-gigitan anjing tadi.
Dengan susah payah pengemis itu berdiri, dan merangkulkan lengan kirinya pada leher Kwan Cu.
Kemudian terseok-seok mereka keluar dari tempat itu.
Akan tetapi, setelah kini anak gundul itu tidak berada di dekatnya lagi, Lu Thong timbul keberaniannya. Dia
berseru keras dan tiga ekor anjing itu kembali menyalak-nyalak dan menyerbu Kwan Cu dan pengemis tua
yang sedang berjalan terpincang-pincang hendak keluar!
Kwan Cu tidak berdaya karena dia sedang menggandeng kakek itu keluar. Pengemis itu demikian lemah
sehingga kalau dia di lepaskan pegangannya, tentu orang tua itu akan roboh! Sebaliknya pengemis tua itu
tak mempedulikan sama sekali tiga ekor anjing yang menggonggong-gonggong dan mengurungnya. Wajah
pengemis tua ini menjadi terang berseri dan dia bahkan bernyanyi dengan suara yang tinggi!
Alam hidup bukan untuk diri pribadi,
karenanya dapat kekal abadi!
Tidak seperti Lu manusia hina (siauw jin),
lupa akan asal usulnya!
Setelah hidup mewah dan kaya,
si miskin ia hina!
Mana dia akan dapat tahan lama?
Nyanyian ini terus diulang-ulanginya dan diam-diam Kwan Cu merasa kagum. Susunan kata-katanya amat
indah dan dia puji kakek ini yang dapat menghubungkan ujar-ujar Lo Cu dengan kata-kata lain yang isinya
menyinggung-nyinggung orang she Lu yang dia tidak tahu entah siapa! Ia masih ingat bahwa bait pertama
yaitu, ‘Alam hidup bukan untuk diri pribadi, karenanya dapat kekal abadi’ merupakan ujar-ujar dari nabi Lo
Cu mengenai pelajaran To.
Tiga ekor anjing itu mengejar terus. Pada saat mereka hendak menubruk dan menyerang dua orang yang
keluar itu, tiba-tiba dari atas menyambar turun tubuh dengan kepalanya yang gundul kelimis.
Kak Thong Taisu telah berada di situ, tertawa bergelak sambil berkata, “Nyanyian orang edan!”
Akan tetapi biar pun dia tujukan ucapannya ini kepada kakek pengemis tadi, sebetulnya dia sama sekali
tidak memperhatikan kakek pengemis dan Kwan Cu.
“Cocok betul dia dengan bocah tolol.”
Kemudian, ketika Kak Thong Taisu melihat tiga anjing yang mengejar-ngejar pengemis itu dan Kwan Cu,
matanya berseri-seri.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ahh, anjing bagus, daging gemuk!”
Sambil berkata demikian, hwesio ini melangkah dua tindak sambil menggerakkan kedua tangannya dan
tahu-tahu dia sudah dapat menangkap tiga ekor anjing itu pada ekornya! Benar-benar hebat tenaga Si
Tangan Seribu Kati ini, karena dia memegang buntut tiga ekor anjing itu hanya dengan tangan kiri dan
sekali lagi tangan kanannya mengayun…
“Prakk!” terdengar suara dan pecahlah kepala tiga ekor anjing itu menghantam lantai!
Lu Thong memandang peristiwa ini dengan mata terbuka lebar. Dia tidak marah melihat tiga ekor anjingnya
dibunuh orang, bahkan dia lalu menghampiri hwesio itu dan berkata, “Losuhu, agaknya kau lebih hebat dari
pada Ang-bin Sin-kai!”
Kak Thong Taisu membalikkan tubuh, melempar mayat tiga ekor anjing tadi, kemudian memandang pada
anak itu. Ia menatap wajah Lu Thong dari kepala sampai ke kakinya, penuh perhatian dan diam-diam dia
mengakui bahwa anak ini pun memiliki tulang dan bakat yang baik sekali, sungguh pun tidak sebaik Kwan
Cu.
“Kau tahu apa tentang Ang-bin Sin-kai?” tanyanya.
“Dia adalah kakak dari kongkong-ku, kenapa aku tidak tahu? Dia lihai sekali, akan tetapi melihat
kepandaian losuhu, kau berani bertaruh bahwa Losuhu tentu lebih lihai!”
“Hemm, jadi kau cucu dari Lu Pin?”
Lu Thong mendongkol sekali. Sudah dua kali dalam satu hari ini orang menyebut nama kakeknya begitu
saja. Kakeknya Lu Pin adalah seorang menteri, bagaimana ada seorang pengemis tua dan seorang hwesio
menyebut namanya begitu saja. Akan tetapi kali ini Lu Thong tidak mau memperlihatkan muka marah. Ia
cerdik sekali dan dia ingin belajar ilmu silat, maka dia lalu menjura dan berkata,
“Betul sekali, Losuhu. Teecu yang rendah dan bodoh adalah cucu dari orang tua itu. Tapi sayang sekali…
teecu bernasib buruk .”
Hwesio ini mengangkat alis dan memandang penuh perhatian, ”Apa katamu? Bernasib buruk sesudah kau
mengenakan pakaian demikian indahnya, tinggal di gedung demikian mewahnya?”
Mendengar ini, tiba-tiba Lu Thong menangis, menjatuhkan diri berlutut di depan hwesio itu dan
merenggutkan hiasan rambut serta pakaiannya sehingga sobek-sobek. “Buat apa semua kemewahan ini,
Losuhu? Teecu ingin sekali belajar ilmu silat yang tinggi.”
“Kau masih cucu Ang-bin Sin-kai, apa susahnya untuk memenuhi keinginan itu?”
“Losuhu, inilah yang membuat hati teecu selalu tidak senang. Ang-bin Sin-kai tidak mau mengajar silat
kepada teecu!”
Diam-diam Kak Thong Taisu berpikir. Anak ini cukup cerdik dan berbakat baik, dia telah dikecewakan oleh
Kwan Cu yang tidak mau menjadi muridnya, sekarang ada anak ini yang ditolak oleh Ang-bin Sin-kai!
Mengapa dia tidak mau mengambilnya sebagai murid? Hendak dia lihat bagaimana Ang-bin Sin-kai kelak
apa bila melihat keturunannya belajar ilmu silat dari padanya!
“Ehh, anak, siapa namamu?”
“Teecu bernama Lu Thong.”
Girang hati Kak Thong Taisu, karena nama anak ini ada persamaan dengan namanya .
“Kalau aku mengajar silat kepadamu bagaimana?”
Bukan main girangnya hati Lu Thong. Serta merta dia lalu menjatuhkan diri dan berlutut di depan hwesio
itu, “Suhu, teecu akan belajar dengan giat!”
“Akan tetapi kau harus ikut aku merantau, menjadi pelayanku, juga mengemis makanan untukku dan hanya
dunia-kangouw.blogspot.com
boleh makan sisa makananku. Sangggupkah?”
Tentu syarat-syarat ini amat berat, bahkan terdengar sangat mengerikan di dalam telinga Lu Thong. Akan
tetapi, oleh karena anak ini memang cerdik, dia tidak mau menurutkan perasaannya.
”Teecu hanya akan tunduk kepada semua perintah Suhu. Akan tetapi teecu mendengar suhu tadi memuji
anjing-anjing itu sebagai daging-daging gemuk, apakah Suhu suka bila teecu menyuruh orang
memasaknya?”
Berseri wajah Kak Thong Taisu. “Tentu saja, aku sampai lupa! Sangat disayangkan kalau daging-daging
gemuk itu dibuang begitu saja.”
Pada saat itu, beberapa orang muncul dari dalam dan mereka ini terkejut sekali ketika melihat Lu Thong
berlutut di depan seorang hwesio gemuk. Mereka adalah Lu Seng Hok dan istrinya yang diikuti oleh
beberapa pelayan. Tadi Lu Thong memang telah berbohong kepada pengemis tua itu ketika dia
mengatakan bahwa ayahnya tidak berada di rumah.
“Thong-ji, kau sedang apa di situ? Siapakah hwesio ini?” Lu Seng Hok bertanya kepada anaknya dengan
kening di kerutkan.
“Ayah, dia ini adalah suhu-ku, bernama...” Lu Thong menengok kepada Kak Thong Taisu karena dia
memang belum mengetahui nama suhu-nya.
“Kak Thong Taisu, berjuluk Jeng-kin-jiu!” hwesio itu berkata sambil tertawa dan matanya memandang
kepada Seng Hok dengan sikap menggoda.
Hwesio ini memang adatnya aneh sekali. Jika orang biasa, melihat sikap kurang senang dari tuan rumah,
tentu akan segera pergi. Akan tetapi dia sebaliknya. Dia malah sengaja mempermainkan tuan rumah dan
pada saat itu pun dia telah mengambil keputusan untuk tinggal di gedung ini!
Ada pun Lu Seng Hok yang mendengar nama yang amat terkenal ini, diam-diam merasa makin tak
senang. Nama Jeng-kin-jiu sudah amat terkenal sebagai orang yang berwatak aneh dan ditakuti orang.
“Bukankah kau ingin berguru kepada Ang-bin Sin-kai?” tanya Seng Hok karena dia tidak berani melarang
begitu saja atau mengusir hwesio ini.
“Ayah, Suhu jauh lebih lihai dari pada Ang-bin Sin-kai. Lihat saja ketiga ekor anjing itu. Sekali tangkap dan
sekali banting, tiga ekor anjing itu sudah mampus! Suhu ingin makan daging anjing, harap ayah menyuruh
tukang masak segera memasaknya!”
Kak Thong Taisu tertawa bergelak. “Tak disangka-sangka pinceng akan berada di antara keluarga Lu Pin.
Aha, bila saja Ang-bin Sin-kai melihat ini. Ha-ha-ha!” kemudian dengan langkah lebar dia mengikuti
muridnya dan tuan rumah memasuki gedung yang indah itu.
Demikianlah, mulai hari itu Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu tinggal di rumah Lu Seng Hok, hidup senang,
setiap hari minta disediakan makanan yang paling enak. Ia juga mengajar ilmu silat kepada Lu Thong dan
semakin gembira melihat betapa anak ini benar-benar berbakat baik.
Akan tetapi, orang seperti hwesio ini mana betah tinggal terus-terusan di dalam rumah? Sering kali dia
pergi tanpa bilang terlebih dahulu dan datang pula tanpa memberi tahu. Kadang-kadang mengajak
muridnya, kadang-kadang sendiri dan semua orang, termasuk Lu Thong yang sudah mengetahui watak
luar biasa dari Kak Thong Taisu, tidak berani menegur.
Pendeknya, Kak Thong Taisu ini boleh berbuat apa saja yang ia suka di dalam rumah itu dan semenjak di
situ ada Kak Thong Taisu, menteri Lu Pin tidak mau datang ke rumah puteranya. Hal ini untuk mencegah
kejadian yang tidak enak oleh karena sikap hwesio ini memang sangat kasar dan tidak mau menghormat
sama sekali…..
********************
Kwan Cu berjalan bersama kakek pengemis yang luka-luka dan di sepanjang jalan kakek pengemis itu
masih bernyanyi-nyanyi. Kwan Cu seorang anak yang cerdik, mendengar nyanyian yang isinya memakidunia-
kangouw.blogspot.com
maki dan mencela orang she Lu, dia tahu bahwa kakek ini tentu dibikin sakit hati oleh she Lu.
“Lopek, apakah anak bangsawan tadi she Lu?”
Kakek itu berhenti bernyanyi, kemudian memandang padanya. Akan tetapi sebelum dia menjawab, tibatiba
kakek itu meramkan matanya. Wajahnya semenjak tadi sudah pucat dan sekarang matanya
berkunang. Tubuhnya lemas dan dia lalu terkulai, pingsan dalam dekapan Kwan Cu. Ternyata bahwa
kakek ini telah kehilangan banyak darah dan karena semenjak tadi dia menahan sakit dengan
nyanyiannya, kini setelah ia berhenti bernyanyi, rasa sakit itu datang menyerang dirinya bagaikan
gelombang besar yang menelannya!
Kwan Cu cepat menarik tubuh kakek ini dan karena anak itu diam-diam telah mempunyai tenaga besar,
dengan mudah dia mengangkat dan memondong tubuh yang kurus kering ini ke pinggir jalan. Dia
meletakkan tubuh pengemis tua itu di bawah pohon, lalu cepat pergi ke sebuah kedai yang ramai.
Pelayan kedai itu baik hati. Ketika Kwan Cu menceritakan keadaan pengemis tua yang sengsara, diberinya
anak ini semangkok bubur hangat dan sedikit sisa arak. Kwan Cu menghaturkan terima kasih dan cepat
kembali ke tempat dia meletakkan tubuh pengemis tua tadi. Setelah dia menuangkan sedikit arak ke dalam
mulut kakek itu, maka pengemis tua ini siuman kembali dan dia menerima bubur yang disuapkan ke dalam
mulutnya oleh Kwan Cu.
“Anak, kau baik sekali. Baru sekarang aku orang she Gui bertemu dengan seorang yang menaruh
perhatian kepada lain orang yang sengsara,” katanya. Dengan bantuan Kwan Cu, dia lalu duduk bersandar
kepada sebatang pohon.
Sementara itu, hari telah menjadi panas dan hawa di bawah pohon besar itu sejuk benar.
“Kita mengaso di sini dulu, ehh, siapa pula namamu tadi? Kau she Lu dan namamu?”
“Kwan Cu,” jawab anak gundul itu sambil menahan perutnya yang terasa perih saking laparnya.
“Lu Kwan Cu, nama yang cukup baik, sayang she-nya itu! Ehhh, anak, bagaimana kau sampai bisa
mempunyai she Lu?” kakek itu bertanya.
“Entahlah, Gui-lopek. Aku sendiri tidak tahu kenapa namaku Lu Kwan Cu. Aku mendapat nama ini begitu
saja, dan kupikir, betapa pun buruknya nama ini masih lebih baik dari pada yang tidak bernama sama
sekali. Pula, apakah artinya nama? Waktu lahir manusia tidak bernama, dan kalau sudah mati, namanya
lenyap pula bersama tubuhnya ke dalam tanah.”
Kakek itu membelalakkan matanya. “Ah, benar-benar ajaib! Dari mana kau mendapatkan semua
pengertian itu? Kau murid siapa?”
“Bukan murid siapa-siapa, Lopek, juga bukan anak siapa-siapa. Aku tahu semua itu dari buku-buku kuno.”
“Hm, lebih aneh lagi. Seorang anak pengemis yang jembel dan miskin dapat membaca kitab...”
“Masih kalah aneh dengan seorang kakek pengemis yang ternyata ahli sastra dan syair!” kata Kwan Cu.
Mereka saling pandang, lalu tertawa.
“Bagus, Kwan Cu. Kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan! Ketahuilah olehmu, dahulu Menteri Lu
Pin yang mulia itu pernah belajar ilmu kesusastraan padaku! Pernah pula dia tinggal di rumahku dan
makan dari mangkokku. Aku adalah ahli sastra, ahli bahasa kuno dan namaku Gui Tin. Gui-siucai bukanlah
nama yang tak dikenal orang!”
“Sayang aku tidak mengenalnya, Lopek,” kata Kwan Cu.
Untuk sesaat kakek ini nampak kecewa dan marah akan tetapi ketika pandang matanya bertemu dengan
pandang Kwan Cu yang mengandung kejujuran, kakek ini lalu tertawa terbahak-bahak sampai keluar air
matanya!
“Aahh, memang lebih mudah memaki orang dari pada memaki diri sendiri! Aku tidak lebih baik dari pada
manusia she Lu itu. Aku masih saja di kotori oleh kesombongan dan ingin namaku dikenal oleh semua
dunia-kangouw.blogspot.com
orang! Hanya kesombongan dan impian kosong belaka. Kau benar, Kwan Cu. Nama Gui-siucai memang
nama kosong belaka. Apa anehnya pada diri seorang pengemis kelaparan yang dikeroyok anjing? Ha-haha!
Akan tetapi pertemuan kita ini bukan kebetulan saja, tentu sudah diatur oleh Thian yang maha adil! Kau
cerdas dan suka dengan kesusastraan. Maukah kau mengoper pengetahuan yang memberatkan jiwaku
ini?”
Kwan Cu memang cerdik, akan tetapi mendengar ucapan ini, dia masih ragu-ragu akan maksudnya. “Apa
kau maksudkan bahwa kau hendak mengajarkan semua pengetahuan sastramu, Lopek?”
Gui Tin mengangguk. “Apa kataku! Kau memang cerdas dan hanya kaulah yang akan mewarisi
pengetahuanku.”
Kwan Cu merasa girang sekali. Memang dia paling senang akan kesusastraan, maka mendengar ini dia
berlutut di depan kakek pengemis tadi, menyatakan kesediaan untuk ‘mengoper’ semua pengetahuan dari
Gui-siucai.
Gui Tin puas sekali. Sambil mengurut-urut kedua kakinya yang sakit-sakit, dia berkata, “Kwan Cu, setelah
sekarang kita menjadi guru dan murid, ada baiknya kalau kau berterus terang. Siapakah sebetulnya orang
tuamu dan kau datang dari mana?”
Mendengar pertanyaan ini Kwan Cu menjawab sejujurnya, ”Lopek sesungguhnya aku tak berbohong ketika
aku berkata bahwa aku tak tahu siapa orang tuaku dan dari mana aku datang. Seingatku tahu-tahu aku
telah berada di pantai Laut Po-hai dan melihat Ang-bin Sin-kai berkelahi dengan Kak Thong Taisu, karena
mereka berdua memperebutkan aku untuk menjadi muridnya! Akan tetapi aku tidak mau menjadi murid
mereka.”
Mendengar ini, Gui Tin membelakkan matanya. ”Aduh, aduh! Kalau tidak mendengar dari mulutnya sendiri,
siapa yang sudi percaya? Tidak mau menjadi murid Ang-bin Sin-kai? Benar-benar aneh pernyataan ini.
Akan tetapi sudahlah, kau memang seorang sin-tong (anak ajaib) dan agaknya kau akan lebih berhasil dari
pada aku. Kita anggap saja bahwa kau memang sengaja diturunkan oleh Thian untuk menguras dan
mengoper semua apa yang pernah kupelajari. Sekarang, kau dengarlah riwayatku agar kau tahu orang
macam apa yang sekarang menjadi gurumu.”
Sampai matahari terbenam ke kaki langit sebelah barat, pengemis itu bercerita mengenai riwayat hidupnya.
Dia memang seorang terpelajar yang sejak kecilnya hanya bergulung dengan kitab-kitab saja. Selain ahli
sastra dan telah lulus dalam ujian kota raja sehingga berhak menyandang gelar siucai, Gui Tin ini juga
tekun sekali mempelajari kitab-kitab kuno sehingga dia berhasil memecahkan segala macam tulisan-tulisan
kuno yang tidak dapat di baca oleh para sastrawan lain!
Ketika dia masih muda, banyak sekali kaum sastrawan datang padanya untuk menerima wejanganwejangan
atau menghisap sedikit ilmu sehingga tidak ada orang yang tidak mengenal Gui Tin yang disebut
Gui-siucai. Akan tetapi, watak dari Gui Tin amat aneh.
Ia benci akan kedudukan dan pangkat. Karena itu, ketika kaisar yang mendengar akan kepandaiannya
memanggilnya untuk diberi kedudukan tinggi, Gui Tin menolaknya secara keras! Tentu saja kaisar merasa
tersinggung dan terhina, lalu menitahkan pasukan untuk menangkap Gui Tin!
Akan tetapi, para pembesar yang merasa sangat kagum kepada sastrawan yang pandai ini, mencegah dan
mintakan ampunan kepada kaisar sehingga hukuman kepada Gui Tin diubah, dari hukuman mati kepada
hukuman buang! Ia dilarang tinggal di kota raja dan harus keluar dari situ!
Gui Tin menjadi marah dan penghinaan ini membuat perubahan hebat dalam hidupnya. Ia menjadi seperti
gila dan sambil berteriak-teriak memaki-maki kaisar, dia lalu keluar dari kota raja!
Sudah tentu saja perbuatannya ini membikin marah orang banyak. Gui Tin tentu sudah terbunuh mati kalau
saja dia tidak ditolong oleh dua orang gagah yang menangkap dan membawanya pergi ke utara. Dua
orang gagah ini ternyata adalah putera-putera Kaisar Mongol!
Ketika itu, pemerintahan Mongol memperluas kebudayaan mereka dengan mempelajari kitab-kitab dari
Tiongkok yang dapat mereka rampas dari perpustakaan Kaisar Han. Akan tetapi karena banyak terdapat
kitab-kitab yang kuno dan sulit sekali dibaca, maka setelah melihat keadaan Gui Tin, dua orang putera
kaisar yang ternyata perkasa sekali itu lalu menolong Gui-siucai dan membawanya ke Mongol!
dunia-kangouw.blogspot.com
Kaisar mendengar tentang hal ini. Gui Tin kemudian dianggap sebagai pengkhianat yang melarikan diri ke
daerah asing, maka seluruh keluarganya lalu ditangkap dan dihukum mati!
Sampai belasan tahun Gui Tin tinggal di Mongolia, di mana dia bekerja menterjemahkan kitab-kitab kuno
yang sangat sukar dibaca. Dalan kesempatan ini Gui Tin memperdalam pengetahuannya dengan
mempelajari bahasa-bahasa daerah yang banyaknya puluhan macam. Juga dia menemukan kitab-kitab
kuno yang ternyata berisikan pelajaran penting sekali mengenai ilmu perang, ilmu silat dan lain-lain. Akan
tetapi sebagai seorang ahli sastra, Gui Tin tidak suka mempelajari tentang ilmu silat.
Kembali Gui Tin menghadapi bahaya hebat ketika Kaisar Mongol minta agar supaya dia menterjemahkan
kita-kitab ilmu perang serta ilmu silat. Tadinya Gui Tin memang mau mengerjakan perintah itu, akan tetapi
ketika dia mendengar bahwa bala tentara Mongol makin maju dalam ilmu perangnya, dan bahkan kini
mempunyai niat hendak menyerang ke selatan, dia menjadi terkejut dan gelisah sekali.
Tidak, betapa pun juga, dia tidak mau menjadi pengkhianat! Biar kaisar memperlakukan dirinya secara
tidak adil, betapa pun dia tidak suka kepada para pembesar-pembesar di negaranya sendiri yang amat
korup dan lalim, namun dia masih mencinta tanah airnya, masih menjunjung tinggi negaranya sendiri!
Oleh karena itu, dia lalu menghentikan segala penterjemahan kitab-kitab perang dan ilmu silat! Biar pun
demikian, telah banyak ilmu perang yang di terjemahkan dan telah banyak pula ilmu silat yang tinggi-tinggi
dia terjemahkan, sehingga sekarang banyak tokoh-tokoh besar di kalangan bangsa Mongol memiliki ilmu
silat yang luar biasa!
Menghadapi pemogokan yang dilakukan oleh Gui Tin dalam menterjemahkan ilmu silat dan ilmu perang,
Kaisar Mongol menjadi marah dan hampir saja Gui Tin dibunuh kalau tidak di halangi oleh dua orang
pangeran yang dahulu menolongnya. Sebaliknya, Gui Tin hanya diusir dari Mongol! Untuk kedua kalinya
satrawan ini diusir oleh kaisar dan kini dia pergi dengan penuh perasaan jemu menghadapi manusia.
Beberapa tahun kemudian, orang melihat seorang kakek pengemis yang kurus kering. Tidak seorang pun
mengetahui bahwa dia ini adalah Gui Tin atau Gui-siucai yang dahulu namanya begitu dimuliakan orang,
bahkan sangat dikagumi oleh kaisar dan juga kaisar Mongol!
Hancur hati Gui Tin ketika dia mendengar betapa keluarganya sudah dimusnahkan dan semua dijatuhi
hukuman mati. Makin rusak batinnya, dan dia merantau ke sana ke mari seperti seorang edan.
Kemudian dia tiba di kota raja dan teringat akan Lu Pin, seorang kawannya yang paling baik, atau boleh
juga dibilang seorang bekas muridnya yang paling dia sayang. Dia juga kagum melihat bakat luar biasa
dari Lu Pin dalam hal seni ukir, maka dia ingin sekali bertemu dan mengunjungi rumah Lu Seng Hok saat
mendengar bahwa Seng Hok adalah putera dari Lu Pin.
Tidak tahunya, di halaman gedung ini dia dihina dan hampir saja mati digigit anjing-anjing yang dikerahkan
oleh Lu Thong, cucu dari Lu Pin bekas sahabat baiknya itu! Tentu saja hatinya menjadi sakit sekali dan
makin bencilah dia kepada manusia, kepada dunia dan kepada diri sendiri.
"Demikianlah Kwan Cu. Kalau tidak bertemu dengan engkau, agaknya aku tidak melihat sesuatu lagi untuk
lebih lama tinggal di dunia ini. Dengan adanya kau, aku masih ingin hidup beberapa tahun lagi untuk
menumpahkan semua yang telah kupelajari kepadamu."
Kwan Cu merasa terharu sekali, dan semenjak saat itu dia memandang kepada gurunya ini dengan penuh
penghormatan, penuh kasih sayang dan dia merawat Gui Tin dengan penuh kesabaran dan kesetiaan. Dia
tidak ragu-ragu untuk mengemiskan makanan untuk gurunya ini, atau menggendong tubuh gurunya yang
lemah bila perjalanan jauh membuat kaki Gui Tin pecah-pecah dan tulangnya sakit-sakit.
"Kwan Cu, aku heran sekali melihat engkau. Bagaimana kau bisa berlari secepat ini dan tubuhmu begitu
kuat? Bukankah kau belum mempelajari ilmu silat?" tanya Gui Tin ketika pada suatu hari Kwan Cu berlari
cepat sambil menggendongnya.
"Belum pernah, Suhu. Sebenarnya, aku hanya pernah mendapat petunjuk dari Pek-cilan Thio Loan Eng
tentang cara bersemedhi dan mengatur napas, juga tentang menyalurkan hawa dari tian-tan ke seluruh
tubuh untuk menguatkan urat-urat dan melancarkan jalan darah. Entahlah, semenjak aku membiasakan diri
siulian, aku merasa tubuhku kuat dan ringan sekali pada waktu berlari."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hm, itulah pelajaran pokok dari ginkang dan lweekang! Anak yang baik, aku sendiri pun telah banyak
menterjemahkan ilmu-ilmu itu, sayangnya dulu aku tidak menaruh perhatian sehingga aku sudah lupa lagi
dengan isinya dan tidak pernah mempelajari ilmu-ilmu silat yang tinggi."
"Mengapa, Gui-lopek? Bagiku mempelajari ilmu silat sama halnya dengan mendatangkan bencana
terhadap diri sendiri. Aku tidak suka belajar silat!"
"Ha-ha-ha-ha, kesukaan kita sama dan pendapat kita sama pula. Sayangnya Kwan Cu, pendapat ini salah
sama sekali!"
Saking herannya Kwan Cu segera berhenti berlari. Kemudian gurunya minta diturunkan dari gendongan.
Mereka berhenti dan duduk di pinggir jalan yang berumput.
"Mengapa begitu, Suhu?"
Gui Tin menarik napas panjang. "Memang kita kaum sastrawan memandang dunia dari segi keindahan.
Kita adalah pencinta damai dan suka akan ketentraman, sesuai dengan kehendak alam yang suci. Akan
tetapi kita lupa bahwa dalam keadaan negara kacau, justru ilmu silat jauh lebih penting dan lebih cocok
untuk dipergunakan bagi kebaikan seluruh manusia! Kita lupa bahwa hidup ini memang perjuangan, ada
pun perjuangan itu tergantung dari keadaan. Bila mana negara sedang dalam keadaan makmur dan damai,
memang ilmu silat hanyalah mendatangkan kekacauan saja, dan ilmu kesusastraan dan kesenianlah yang
diperlukan untuk memperkembangkan kebudayaan. Akan tetapi dalam keadaan seperti sekarang ini..."
Kembali Gui Tin menarik napas panjang. "Apakah artinya kepandaian seorang ahli sastra? Lihatlah saja Lu
Pin itu biar pun dia seorang ahli sastra, namun dalam keadaan kacau ini apa yang dapat ia perbuat?
Melainkan kekacauan yang keluar dari otaknya, buktinya cucunya sudah menjadi jahat karena selalu
terbenam dan mabuk akan kemewahan dan kemuliaan dunia!"
"Akan tetapi, Gui-lopek. Bukankah ilmu silat itu adalah ilmu yang berdasarkan kekerasan, kasar, dan
termasuk kepandaian yang jahat saja? Coba saja dipikir, untuk apa ilmu silat selain menggunakan pukulan
untuk menghantam orang lain, mempergunakan tendangan menyerang orang lain, mainkan senjata tajam
untuk melukai dan membunuh? Nabi-nabi seperti Khong Cu, Lo Cu dan yang lainnya, pernahkah mereka
itu menggunakan pedang untuk mengalahkan orang?"
"Memang benar, akan tetapi mereka itu pun tidak dapat mendatangkan damai di dalam negeri. Pula, kita
sudah melupakan bahwa yang bersifat jahat itu bukanlah ilmu silatnya, melainkan orang-orang yang
mempunyai ilmu itu. Ilmu kepandaian apa saja, baik bun (kesusastraan) mau pun bu (ilmu silat), tetap
merupakan ilmu yang tidak mempunyai sifat baik mau pun buruk. Baik atau buruknya tergantung dari orang
yang memilikinya! Segala apa yang sudah ada di dunia ini sudah ada, dan kekal sifatnya, hanya yang tidak
kekal saja yang dipengaruhi oleh baik mau pun buruk. Seperti air tenang, baru bergerak kalau ada angin
lalu atau sesuatu jatuh ke dalamnya."
Kwan Cu berpikir. Ada persamaan dalam ucapan gurunya ini dengan ucapan Kak Thong Taisu!
Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara ketawa terbahak-bahak dan muncullah seorang bertubuh tinggi
besar, entah dari mana datangnya. Orang ini ternyata memiliki ginkang yang luar biasa sekali dan tahutahu
dia berkelebat berdiri di depan Gui Tin dan Kwan Cu.
Orang ini kulitnya putih, tubuhnya tegap dan nampak kuat sekali. Yang paling aneh ialah pakaiannya,
karena pakaian yang menempel di tubuhnya berbeda dengan pakaian orang biasa.
Kepalanya tertutup oleh topi kain yang di depannya terdapat bentuk seperti tanduk. Pada luar bajunya yang
berlengan panjang itu ditutupi dengan baju rompi lengan pendek yang indah sekali. Di luar celananya yang
panjang itu tertutup pula oleh baju rok sebatas lutut.
Sungguh aneh sekali orang ini. Mukanya sama saja dengan orang Han, hanya hidungnya yang agak
panjang dan bengkok ke bawah. Ia tidak berkumis namun memelihara jenggot model kambing. Pada
punggungnya tergantung sepasang siang-kek (tombak bercabang) yang runcing.
Gui Tin memandang tajam. Kakek pengemis yang pengalamannya sudah banyak ini tahu dengan orang
macam apa dia berhadapan, maka segera dia bicara dalam bahasa yang sama sekali tidak di mengerti
oleh Kwan Cu. Ternyata Gui Tin telah bicara dalam bahasa Tartar.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Siapakah tuan dan mengapa datang menjumpai kami?"
Mendengar pertanyaan ini, orang Tartar itu tertawa lagi dan sekarang sepasang matanya bersinar-sinar
girang.
"Tidak salah lagi!" katanya dalam bahasa Han sehingga Kwan Cu dapat mengerti. "Kau tentu Gui-siucai
bukan? Bagus, bagus! Tadi aku merasa heran sekali dan bertanya-tanya dalam hati apakah aku bertemu
dengan dewa atau setan di tempat ini, ketika mendengar kalian ini pengemis-pengemis tua dan muda
bicara tentang filsafat-filsafat yang demikian tingginya. Sekarang aku mengerti, kau tentu Gui-siucai. Siapa
lagi kalau bukan Gui Tin si ahli sastra?"
Gui Tin cepat bangkit dan menjura seperti laku seorang yang tahu akan sopan santun. "Memang tidak
salah. Aku yang bodoh adalah Gui Tin, dan ini adalah muridku Kwan Cu. Tidak tahu siapakah Tuan?"
Orang Tartar itu tersenyum dan nampaklah giginya yang berbaris rapi dan putih sekali. Kalau saja
hidungnya tidak demikian bengkok, dia benar-benar tampan sekali, pikir Kwan Cu sambil memandang
heran. Ia menaksir usia orang ini antara tiga empat puluh tahun.
"Gui-siucai, baru melihat sepintas saja kau sudah tahu bahwa aku adalah seorang Tartar, ini menandakan
ketajaman matamu dan bahwa kau memang sudah amat matang dalam pengalaman. Juga bahasa Tartar
yang kau ucapkan tadi, amat halus. Sungguh-sungguh aku sangat kagum sekali. Ketahuilah, aku bernama
An Lu Kui, adik dari perwira An Lu Shan yang sudah banyak berjasa kepada negara."
Ketika itu nama An Lu Shan sudah terkenal sekali, karena panglima ini memang sangat gagah perkasa dan
telah banyak membuat jasa dalam membasmi serangan kecil-kecilan dari musuh di utara dan barat. Akan
tetapi, sebagai seorang yang sudah jemu terhadap para pembesar baik sipil mau pun militer, Gui Tin
bersikap dingin saja.
"Ah, kiranya Tuan adalah adik dari An-ciangkun yang ternama. Tidak tahu ada keperluan apakah Tuan
menjumpai aku, seorang jembel miskin?"
"Ah, Gui-siucai, engkau terlalu merendahkan diri. Sebenarnya, aku sengaja datang untuk mengundangmu
supaya datang ke perbatasan utara atas perintah An-cingkun, terutama sekali atas petunjuk dari Li Kong
Hoat-ong yang menjadi penasehat dari An-ciangkun."
Gui Tin berpikir sebentar dan diam-diam dia terkejut. "Kau maksudkan Li Kong Hoat-ong bekas raja dari
suku bangsa Yu-yan? Apakah sekarang dia sudah menjadi penasehat dari An-ciangkun?"
"Gui-siucai betul-betul mengenal orang-orang besar. Memang tepat sekali apa yang kau duga itu."
Meski pun dia sendiri belum pernah memangku jabatan, akan tetapi Gui Tin telah banyak menterjemahkan
buku-buku tentang ilmu perang. Maka, kini timbullah semacam dugaan yang menggelisahkan hatinya.
Di bawah pimpinan Li Kong Hoat-ong, bangsa Yu-yan telah banyak sekali mengacaukan negara Tiongkok,
dan setelah bangsa itu dikalahkan, sekarang Li Kong Hoat-ong menjadi penasehat dari An Lu Shan. Benar
bahwa An Lu Shan merupakan seorang perwira yang banyak berjasa dan tenaganya terpakai sekali oleh
pemerintah, akan tetapi tetap saja An Lu Shan adalah seorang bangsa Tartar, siapa tahu isi hati dari orang
itu?
"Tidak, tidak. Aku tidak dapat pergi ke perbatasan utara. Aku sudah tua, tubuhku sudah lemah, tulangtulangku
sudah rapuh, tak mungkin aku bisa melakukan perjalanan sejauh itu. Harap saja tuan tidak
mengganggu lagi." Sambil berkata demikian kemudian Gui Tin menggandeng tangan Kwan Cu dan diajak
pergi dari situ.
Akan tetapi baru saja mereka berjalan beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara tawa bergelak dan
sekali melompat, An Lu Kui telah berada di depan mereka. Orang Tartar ini mendorong sebatang pohon
besar yang mengeluarkan suara keras dan lantas tumbang, melintang serta menghalang perjalanan Gui
Tin dan Kwan Cu!
Kwan Cu meleletkan lidah saking merasa kagum dan terheran. Bagaimana orang dapat mendorong roboh
sebatang pohon besar sedemikian mudahnya?
dunia-kangouw.blogspot.com
Sedangkan Gui Tin yang melihat ini, lalu memandang tajam dan bertanya, “Hemm, kau berkepandaian
tinggi! Pernah apa kau dengan Li Kong Hoat-ong?”
An Lu Kui tersenyum. “Dia adalah guruku, juga guru dari kakakku, An-ciangkun.”
Makin tercekat hati Gui Tin mendengar ini. Lebih hebat lagi kalau raja Yu-yan itu menjadi guru dari An Lu
Shan! Mengapa kaisar tidak mengetahui akan hal ini?
“Jadi kau hendak menggunakan kekerasan, tetap hendak membawaku ke utara?”
An Lu Kui menggeleng kepala sambil tersenyum. “Tidak sama sekali, kami mengundang Gui-siucai dengan
hormat. Harap Gui-siucai sudi meluluskan permintaan kami.”
Setelah berkata demikian, An Lu Kui bersuit keras dan tiba-tiba dari hutan kecil tak jauh dari situ muncullah
lima orang yang membawa delapan ekor kuda yang besar dan kuat! Ternyata bahwa lima orang ini pun
orang-orang Tartar pula.
“Gui-siucai, silakan naik kuda, kau juga!” kata An Lu Kui kepada Kwan Cu.
Gui Tin hendak membantah, akan tetapi Kwan Cu berkata, “Gui-lopek, tidak ada gunanya membantah.
Biarlah kita ikut pergi dan menyerahkan nasib kepada Tuhan.”
Mendengar ini, An Lu Kui tertawa. “Anak baik, siapa namamu?”
“Aku Lu Kwan Cu, murid dari Gui-lopek.”
Salah seorang kawan An Lu Kui berkata, ”Ah, untuk apa kita membawa-bawa bocah ini? Tinggalkan saja!”
“Tidak!” Gui Tin membentak marah. “Kalau Kwan Cu ditingggalkan, biar pun kalian akan membunuhku, aku
tak sudi pergi!”
Demikianlah, Gui Tin lalu naik kuda dan Kwan Cu juga naik kuda itu di belakang gurunya, karena inilah
kehendak Gui Tin yang tidak mau berpisah dari muridnya yang tercinta. Kuda-kuda itu kemudian dikeprak
dan berlarilah binatang-binatang tunggangan yang kuat ini menuju ke utara. Rombongan ini dipimpin
sendiri oleh An Lu Kui yang di perjalanan bersikap sangat ramah tamah terhadap Gui Tin.
Perjalanan dilakukan cepat sekali. Mereka tidak pernah berhenti di satu kota atau dusun karena bekal
makanan mereka ternyata cukup banyak. Bahkan anehnya, selalu An Lu Kui memilih jalan sunyi dan
menghindari tempat-tempat ramai.
Mereka melewati Propinsi Shan-si dan ketika telah melalui kota Ta-tung, pada suatu pagi mereka melewati
padang rumput yang sunyi. Di situ hanya nampak beberapa beberapa batang pohon yang tumbuhnya
berjauhan dan keadaan benar-benar sunyi.
An Lu Kui nampaknya takut-takut melewati tempat ini dan beberapa kali dia menengok ke arah barat di
mana nampak pegunungan kecil.
“Hayo kita percepat kuda karena sudah dekat!” katanya memberi perintah.
Kuda dilarikan semakin cepat. Keadaan sunyi sekali, kecuali hanya suara kaki kuda yang berderap-derap
dan bergema di empat penjuru. Memang aneh sekali bagi Kwan Cu yang baru pertama kali datang di
tempat ini. Tempat itu terbuka dan hanya terkurung oleh pohon-pohon yang tumbuh di sana-sini seperti
raksasa berdiri megah, akan tetapi suara kaki kuda itu bergema sehingga kalau didengar-dengar, seakanakan
ada banyak sekali kuda berlari datang dari segenap penjuru.
Mendadak delapan ekor kuda itu, terutama seekor yang membawa perbekalan dan tidak ditunggangi
orang, hanya dituntun oleh seorang anak buah An Lu Kui, mengangkat dua kaki depan sambil meringkik
ketika tiba-tiba terdengar suara nyaring dan dua orang anak laki-laki tahu-tahu telah melompat dari atas
pohon dan kini berdiri menghadang di tengah jalan!
Ketika itu, Kwan Cu yang duduk sekuda dengan gurunya, menjalankan kudanya di dekat An Lu Kui.
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat betapa kuda yang di tungganginya dan kuda An Lu Kui menyeruduk maju dan pasti akan menubruk
dua orang anak laki-laki yang usianya sebaya dengan dia itu, Kwan Cu tak terasa pula menjerit,
“Celaka…!”
Setelah berkata demikian, Kwan Cu memondong gurunya dan mengerahkan tenaganya melompat dari
atas kuda yang sedang berlari cepat. Memang dia sudah memiliki ginkang di luar kesadarannya sehingga
tubuhnya dapat mencelat dari atas kuda. Akan tetapi oleh karena dia tidak pernah melatih ilmu melompat,
dia tidak tahu cara bagaimana harus mengatur tubuhnya saat melayang itu sehingga ia jatuh dengan kacau
bersama gurunya.
Namun Kwan Cu memang berhati setia. Melihat bahwa dia dan gurunya jatuh ke tanah, dia lalu berguling
dan mengatur sedemikian rupa sehingga pada saat jatuh dia berada di bawah dan gurunya menimpa
dadanya! Kepala anak ini membentur tanah kering hingga debu mengebul, akan tetapi gurunya selamat!
Ada pun An Lu Kui yang melihat kudanya menubruk seorang di antara kedua orang anak laki-laki itu,
membentak marah, “Anak gila, apakah kau ingin mampus?!”
Akan tetapi, terjadilah hal yang luar biasa sekali. Kuda yang tadi ditunggangi oleh Kwan Cu akan menubruk
anak yang lebih kecil, namun ketika kedua kaki depan kuda itu sudah terangkat akan menimpa anak itu,
dia lalu menggerakkan kedua tangannya, secepat kilat menangkap kedua ujung kaki dan dengan sekali
gentak saja kuda itu sudah melompat ke atas melewati kepalanya sehingga dia selamat!
Anak ini tertawa-tawa geli, sama sekali tak mempedulikan kuda tadi, tetapi menudingkan jari telunjuknya ke
arah Kwan Cu yang jatuh bergulingan. “Ha-ha-ha, Suheng, kau lihat! Bocah gundul itu main komidi, lucu
sekali!”
Ada pun An Lu Kui yang kudanya menubruk anak ke dua yang lebih besar, tidak keburu mencegah
sehingga kudanya itu dengan kedua kakinya menendang ke arah dada anak tadi. Akan tetapi, dengan
cepat dan tenang, anak yang besar ini lalu menusuk lutut kaki depan kuda yang sebelah kanan, yakni kaki
yang berada di depan.
Kuda itu mengeluarkan ringkik kesakitan dan tiba-tiba kedua kaki depannya tertekuk dan kuda itu jatuh
berlutut! Baiknya An Lu Kui adalah orang yang berkepandaian tinggi, maka cepat dia dapat melayang ke
atas dan berpoksai (membuat salto) beberapa kali sehingga dapat turun dengan selamat!
"Sute, kau lihat. Bukankah kuda ini lebih lucu lagi? Datang-datang dia malah berlutut dan memberi hormat
kepadaku. Bagus, bagus!"
An Lu Kui adalah seorang yang sudah lama merantau di dunia kang-ouw dan tahulah dia bahwa dua orang
anak yang usianya sekitar enam tujuh tahun ini tentulah murid-murid dari orang pandai. Maka dia tidak
berani berlaku sembarangan sungguh pun dia merasa mendongkol sekali.
"Kalian ini bocah-bocah kecil murid siapakah? Mengapa kalian menghadang perjalanan kami?"
Akan tetapi kedua orang anak kecil itu tidak menjawab dan pada saat itu terdengar suara yang membuat
kuda-kuda menjadi terkejut dan gelisah. Itulah suara ketawa yang sangat menyeramkan dan ketika An Lu
Kui mendengar ini, mendadak dia menjadi pucat sekali. Suara ketawa itu seperti suara harimau mengaum
dan disusul dengan suara ketawa ini lalu terdengarlah kata-kata yang jauh sekali namun cukup membuat
telinga merasa sakit saking nyaringnya.
"Heh-heh-heh! Swi Kiat dan Kun Beng, kalian berada di manakah?"
Anak yang lebih kecil, yaitu yang tadi melontarkan kuda tunggangan Kwan Cu ke atas kepalanya, segera
meruncingkan mulutnya dan keluarlah teriakan yang kecil akan tetapi cukup nyaring, "Teecu berdua berada
di sini, Suhu!"
Kembali An Lu Kui menjadi amat terkejut sekali. Ternyata bahwa khikang dari pada anak kecil ini sudah
demikian hebatnya!
Baru saja gema suara jawaban anak ini lenyap, nampak berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di
depan mereka berdiri seorang laki-laki berusia sedikitnya enam puluh tahun yang tubuhnya membuat Kwan
Cu hampir tertawa. Orang ini pendek dan kecil, sama sekali tidak membayangkan tanda-tanda bahwa dia
dunia-kangouw.blogspot.com
adalah seorang pandai.
Akan tetapi, ketika melihat orang ini, serta merta An Lu Kui segera melangkah maju dan menjura dengan
sikap hormat sekali.
"Siauwte An Lu Kui mohon maaf apa bila telah melanggar wilayah Pak-lo-sian Cianpwe," katanya.
Akan tetapi kakek itu tidak menghiraukan sama sekali, sebaliknya lalu menoleh kepada Gui Tin dan
terdengar dia mengeluarkan suara ejekan dari hidungnnya, "Hemm, apakah si bangkotan Li Kong Hoat-ong
itu telah benar-benar mendapatkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng?"
Setelah berkata demikian tiba-tiba dia menoleh kepada An Lu Kui dan pandang matanya yang tadinya
suram-muram itu mendadak menjadi tajam luar biasa sehingga An Lu Kui terkejut sama sekali karena
pandang mata itu seakan-akan menembusi dadanya!
An Lu Kui sesungguhnya tidak mengerti tentang kitab itu, maka dengan terus terang dia berkata,
"Locianpwe (sebutan untuk orang tua yang tingkatnya jauh lebih tinggi), siauwte sama sekali tidak tahu
tentang kitab itu. Mendengar pun baru sekarang. Sesungguhnya siauwte sudah diutus oleh suhu Li Kong
Hoat-ong untuk mengundang Gui-siucai karena suhu amat mengaguminya."
Pandangan mata kakek itu benar-banar mengancam sekali. Keningnya yang keriputan itu menjadi makin
nyata garis-garis keriputnya.
"Ehh, kau hendak mengandalkan nama An Lu Shan dan suhu-mu Li Kong Hoat-ong dan tidak mau
mengaku? Hayo bicara terus terang!"
"Sungguh, Locianpwe, siauwte… siauwte tidak tahu…" An Lu Kui yang tadinya galak itu kini nampak
ketakutan.
Tiba-tiba tubuh kakek itu bergerak dan tahu-tahu dia melompat ke dekat orang Tartar itu. Pada saat lain,
sebelum An Lu Kui sempat mengelak, kakek ini telah menangkap batang lehernya dan sekali menggentak,
tubuh orang Tartar ini terlempar ke atas, tinggi sekali!
Bagaikan sekarung beras tubuh An Lu Kui terlempar dan dari atas jatuh pula ke bawah tanpa berdaya
sedikit pun. Ternyata tangkapan pada lehernya tadi sekaligus juga sudah merupakan tekanan pada jalan
darahnya yang membuat dia menjadi lumpuh!
Kebetulan sekali tubuh orang Tartar itu menimpa Swi Kiat, murid terbesar dari kakek itu. Anak ini usianya
paling banyak delapan tahun, akan tetapi kepandaiannya sudah hebat. Dia menerima tubuh orang Tartar
itu dengan kedua tangannya, lalu sambil tertawa lebar dia melemparkan tubuh itu kepada adik
seperguruannya, yaitu yang bernama Kun Beng.
Anak ini lebih muda dari Kwan Cu, usianya paling banyak enam tahun, serta wajahnya tampan dan
periang. Sambil tertawa geli anak ini kemudian menggunakan tangan kanan menahan punggung An Lu Kui
yang terlempar ke arahnya. Kemudian, sekali tangan kiri anak ini menepuk tubuh belakang orang Tartar itu,
An Lu Kui mencelat lagi ke atas dan kini melayang ke arah kakek tadi.
Kakek itu lalu menerimanya dengan menotok pundak An Lu Kui yang jatuh berdebuk di depan kakinya.
Akan tetapi orang Tartar itu kini sudah terbebas dari totokan dan dapat bergerak. Ia segera menjatuhkan
diri berlutut dengan muka pucat sekali.
"Locianpwe, biar pun siauwte dibunuh memang benar-benar siauwte tidak tahu tentang kitab itu," katanya
dengan suara gemetar.
Kwan Cu paling tidak suka kalau orang menggunakan kekerasan, apa lagi melihat kakek dan dua orang
muridnya itu mempermainkan An Lu Kui yang tidak berdaya sama sekali, timbulah rasa penasaran dalam
dadanya.
"Menggunakan kepandaian untuk menghina orang, sungguh tak patut sekali. Menangkan orang lain hanya
memiliki tenaga besar, menangkan diri sendiri barulah betul-betul patut disebut kuat!"
"Hushh, Kwan Cu…" Gurunya mencegah dan memandang khawatir.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kakek itu cepat menengok. Ketika melihat Kwan Cu, nampak kekaguman membayang di dalam sinar
matanya.
"Hemm, kau murid Gui-siucai? Tidak patut, tidak patut!"
"Suhu, segala kutu buku macam ini apa gunanya? Biarlah teecu menghajar sedikit adat padanya!" berkata
Kun Beng dengan marah, akan tetapi Swi Kiat mencegahnya.
"Kalau kau sudah katakan dia kutu buku, untuk apa melawan segala kutu buku, Sute? Tulang-tulangnya
terlalu lemah, jangan-jangan dia akan mati dalam tanganmu!"
"Diamlah kalian berdua. Kulihat ada apa-apanya dalam diri anak ini." Kakek ini kemudian berpaling kepada
An Lu Kui. "Biarlah, memandang ucapan anak ini aku percaya padamu. Pergilah!"
Dengan tergesa-gesa dan juga lega sekali, An Lu Kui lalu mengajak kawan-kawannya, juga Kwan Cu dan
Gui Tin, untuk pergi dari situ cepat-cepat.
Ketika mereka telah membalapkan kuda dan pergi jauh sehingga kakek dan dua orang muridnya tidak
nampak lagi, tiba-tiba terdengar suara kakek itu. Biar pun orangnya tidak kelihatan, namun suaranya
terdengar dekat sekali,
"Gui Tin, lain kali pada waktunya, akulah yang benar-benar akan membutuhkan bantuan darimu. Selamat
jalan!"
Kwan Cu terheran-heran dan sejak pertemuan tadi, berubahlah pandangannya terhadap ilmu silat.
Sebenarnya sejak Gui Tin bicara tentang ilmu silat dan kegunaannya, dia telah tertarik sekali, akan tetapi
tetap saja hasrat di dalam hatinya untuk belajar ilmu silat masih amat lemah. Kini, menyaksikan kelihaian
kedua orang anak kecil itu, dia menjadi tertarik dan ingin sekali memiliki kepandaian seperti mereka! Inilah
sifat anak-anak yang betapa pun juga masih melekat di dalam hatinya.
"An-sianseng (Tuan An), sebetulnya siapakah kakek yang luar biasa sekali itu?"
Diam-diam Kwan Cu lalu membandingkan kakek tadi dengan dua orang luar biasa yang pernah
dijumpainya, yakni Ang-bin Sin-kai dan Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu. Bila melihat keadaan, keanehan dan
kelihaian mereka, agaknya ketiga orang itu mempunyai tingkat yang sudah tinggi sekali.
Sebenarnya An Lu Kui sedang marah, mendongkol dan penasaran sekali. Oleh seluruh barisan di bawah
kakaknya, dia dianggap sebagai seorang gagah yang disegani dan juga dihormati. Tidak tahunya, di sini
dia telah mengalami penghinaan dari seorang kakek dan dua orang anak-anak. Akan tetapi, oleh karena
menganggap Kwan Cu sudah berjasa di hadapan kakek tadi, dia menjawab juga.
"Dia adalah seorang sakti bernama Siangkoan Hai yang berjuluk Pak-lo-sian (Dewa Tua dari Utara). Untuk
daerah utara boleh dibilang dia menjadi tokoh terbesar. Biasanya biar pun orang menduga bahwa dia
berada di daerah utara, dia tidak pernah muncul kecuali terjadi perkara-perkara besar dan biasanya dia
tidak mau mencampuri segala urusan dunia. Kita benar-benar sial sekali bertemu dengan dia."
Akan tetapi, Gui Tin berkata perlahan kepada Kwan Cu, "Kita benar-benar beruntung bertemu dengan dia.
Aku pun baru kali ini melihat wajahnya, walau pun namanya sudah lama kudengar. Kwan Cu,
perhatikanlah, di dalam dunia persilatan, terdapat lima orang yang paling terkenal. Mereka itu adalah Paklo-
sian Siangkoan Hai yang merajai daerah utara, ke dua adalah Ang-bin Sin-kai yang menjagoi di pantai
timur, ke tiga hwesio tibet bernama Hek-i Hui-mo (Iblis Terbang Jubah Hitam) yang menjadi tokoh terbesar
bagian barat. Ada pun orang ke empat dan ke lima merajai daerah selatan, yakni yang seorang Jeng-kin-jiu
Kak Thong Taisu yang sudah kau kenal dan orang ke dua adalah seorang wanita tua yang terkenal dengan
julukan Kiu-bwe Coa-li (Ular Betina Buntut Sembilan)! Menurut berita yang pernah kudengar, mereka
berlima ini kepandaiannya seimbang dan kini mereka sedang berusaha untuk memperebutkan sebuah
kitab ilmu perang dan ilmu silat yang disebut Im-yang Bu-tek Cin-keng. Tadinya kuanggap hal ini hanya
kabar angin belaka, akan tetapi setelah sikap Dewa Tua Utara tadi, agaknya betul juga kabar itu."
"Gui-lopek, apakah sesungguhnya kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang diperebutkan oleh orang-orang luar
biasa itu? Dan apakah selain lima orang tokoh itu, di dunia ini tidak ada orang-orang pandai ilmu silat yang
lain lagi?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Pada saat itu An Lu Kui mendekatkan kudanya. Gui Tin memberi tanda dengan matanya agar Kwan Cu tak
banyak bicara lagi, kemudian kakek pengemis itu berkata seakan-akan menjawab pertanyaan Kwan Cu,
"Kau tanyakan tentang nama-nama tokoh besar? Ahh, menyebut yang lain-lain tidak ada artinya. Kalau
Pek-cilan Thio Loan Eng barulah seorang wanita pendekar berilmu tinggi!"
Mendengar ini, An Lu Kui mengejek dan tersenyum. "Gui-siucai, kau orang bun mana tahu tentang tokohtokoh
besar dalam ilmu persilatan? Walau pun aku belum tentu dapat menandingi kepandaian Pek-cilan,
akan tetapi kalau dibandingkan dengan suhu Li Kong Hoat-ong, bukankah itu sama saja dengan
membandingkan sebuah bukit anakan dengan Gunung Thai-san?"
Akhirnya perjalanan mereka tiba di benteng penjagaan di mana An Lu Shan memimpin barisannya untuk
menjaga tapal batas utara. Benteng ini besar sekali, merupakan suatu perkampungan tersendiri yang
dikelilingi dusun-dusun yang penduduknya campur aduk, ada orang Mongol, ada suku bangsa Uigur, Cou,
dan lain-lain.
Ketika Gui Tin ditinggalkan di ruangan tamu berdua dengan Kwan Cu, kakek ini berkata, "Kwan Cu,
tentang kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng dan tokoh-tokoh persilatan yang kau tanyakan itu, nanti saja kalau
kita sudah dapat meninggalkan tempat ini, kau kuberi tahu. Sebetulnya, di dalam tangankulah rahasia
untuk mendapatkan kitab kuno itu!"
Kwan Cu amat terkejut. Akan tetapi sebelum dia membuka mulut, Gui Tin memberi tanda dengan telunjuk
di depan mulut, dan dari dalam terdengar tindakan kaki mendatangi.
Setelah pintu terbuka, ternyata yang masuk adalah An Lu Kui sendiri bersama dua orang lain. Seorang
adalah seorang berpakaian perwira yang bertubuh gagah, sedangkan yang lain adalah seorang kakek
yang bertubuh tinggi besar, berusia kurang lebih lima puluh tahun dan sikapnya agung sekali. Dia berjalan
dengan tubuh tegak dan dada terangkat, bagai sikap seorang raja besar. Inilah Li Kong Hoat-ong, bekas
raja bangsa Yu-yan yang kini menjadi guru dari An Lu Shan dan An Lu Kui!.
An Lu Shan, panglima yang sudah banyak membuat jasa bagi negara itu, berlaku hormat kepada Gui Tin.
Ia menjura lalu berkata,
“Kami harap Gui-siucai tidak mendapat banyak kaget dan mengalami banyak kesukaran karena undangan
kami ini. Telah lama kami mendengar nama besar Gui-siucai, dan biar pun selama ini pemerintah tidak
memperhatikanmu, akan tetapi karena aku pun seorang panglima negara, maka biarlah kau anggap
sekarang aku sedang mewakili pemerintah dan menebus kelalaian pemerintah. Gui-siucai akan hidup
kecukupan di tempat kami ini.”
Gui Tin adalah seorang terpelajar tinggi yang telah banyak pengalaman dan mempunyai kecerdikan luar
biasa. Akan tetapi dia adalah seorang yang jujur dan tidak suka memutar balikkan omongan. Sebab itu,
mendengar ucapan yang dia tahu hanya merupakan siasat untuk membela hatinya belaka ini, dia
menjawab,
“An-ciangkun, aku dan muridku sudah dibawa ke sini dengan paksa, lebih baik sekarang lekas katakan,
pekerjaan apakah yang harus kami lakukan? Kami ingin membereskan urusan ini secepatnya, karena kami
ibarat burung-burung yang terbang bebas di udara. Pernahkah kau mendengar akan burung-burung yang
merasa suka di kurung, biar dalam kurung emas sekali pun?”
Kini Li Kong Hoat-ong yang tertawa bergelak mendengar kata-kata sastrawan terpelajar tinggi itu. Pada
saat ketawa, Li kong Hoat-ong menutup mulutnya dengan tangan kanan, agaknya dia hendak menjaga
peraturan serta kesopanan dirinya, untuk memperlihatkan bahwa dia adalah berbeda dari pada orang lain,
bahwa ia memiliki keistimewaan khusus, karena bukankah dia bekas raja?
“Gui-siucai, inilah yang dibilang bahwa makin tinggi pengertian orang, semakin poloslah wataknya!” Bekas
raja bangsa Yu-yan ini lalu berpaling kepada An Lu Shan dan berkata, “Muridku, terhadap seorang
terpelajar tinggi seperti Gui-siucai ini, tak perlu kita bicarakan yang lain lagi. Kau lebih baik menerangkan
saja maksud kita.”
Merahlah wajah An Lu Shan saking jengah dan malunya. Benar-benar seorang yang luar biasa sekali Gui
Tin ini, pikirnya. Pakaiannya seperti pengemis, akan tetapi sikapnya agung-agungan seperti seorang
dunia-kangouw.blogspot.com
pembesar tinggi saja! Akan tetapi oleh karena dia amat membutuhkan tenaga bantuan Gui-siucai, An Lu
Shan menahan sabar.
Komandan ini memberi perintah agar semua penjaga pergi dari ruangan itu, lalu Gui Tin bersama muridnya
diajak masuk ke dalam sebuah kamar. Hanya lima orang yang berada di kamar itu, yakni An Lu Shan, An
Lu Kui, Li Kong Hoat-ong dan Gui Tin bersama Kwan Cu saja.
“Gui-siucai, sebelumnya harap kau suka bersumpah bahwa kau takkan bercerita kepada lain orang tentang
hal yang akan kita bicarakan ini,” kata An Lu Shan.
Gui Tin tersenyum. “Aku tak pernah bersumpah, dan tidak mau bersumpah. Kalau orang tidak percaya
padaku, mengapa aku dibawa ke sini? An-ciangkun, bicaralah. Aku Gui Tin bukanlah orang yang biasa
berpanjang mulut.”
“Gui-siucai, kami hanya minta padamu untuk menterjemahkan sebuah kitab untuk kami. Kitab itu kitab kuno
sekali dan hanya kaulah orang yang akan dapat menterjemahkannya. Kami tidak akan mau memeras
tenaga orang secara sia-sia, maka kau boleh tetapkan sendiri biayanya, asal kau suka mengerjakannya
cepat-cepat, lebih cepat lebih baik.”
Gui Tin mengerling ke arah An Lu Kui dan berkata perlahan. “Hm, agaknya benar dugaan kakek pendek
kecil dulu itu?”
Sesungguhnya, di dalam hatinya Gui Tin terkejut sekali mendengar ucapan An Lu Shan tadi, akan tetapi
secara pandai sekali dia dapat menguasai debar jantungnya.
An Lu Kui menjawab, “Memang betul Gui-siucai. Kitab itulah yang berada di tangan kami. Oleh karena
itulah kau tidak boleh membocorkan rahasia ini supaya jangan sampai ada orang jahat datang
merampasnya.”
Gui Tin mengangguk-angguk, hatinya pun berdebar-debar. Sudah belasan tahun ia ingin sekali melihat
kitab ini, kitab yang diperebutkan oleh semua orang gagah di dunia, karena di dalam kitab Im-yang Bu-tek
Cin-keng ini selain terdapat ilmu-ilmu silat yang tinggi, juga di situ terdapat ilmu perang, ilmu pengobatan,
dan perbintangan!
“Akan kucoba menterjemahkan, sungguh pun aku tidak berani memastikan apakah aku bisa melakukan hal
itu. Bolehkah aku melihat kitabnya sekarang juga?”
Li Kong Hoat-ong bertukar pandang dengan An Lu Shan.
“Mari ikut dengan aku untuk mengambilnya,” kata komandan ini.
Beramai-ramai mereka lalu memasuki kamar komandan ini yang berada di tengah-tengah benteng. Kamar
ini terjaga kuat-kuat dan agaknya tidak akan mudah bagi siapa pun juga untuk menyerbu masuk ke dalam
kamar An Lu Shan.
Setelah berada di kamar, An Lu Shan merapatkan daun pintu, bahkan menguncinya dari dalam. Kemudian
dia menghampiri pembaringannya dan sesudah dia menarik gantungan kelambu tiga kali, terdengarlah
suara keras kemudian pembaringan itu terangkat naik! Di bawahnya terdapat lubang yang terbuka sendiri
di lantai yang tadinya berada di kolong pembaringan, dan di dalam lubang ini terdapat sebuah peti kecil.
An Lu Shan mengambil peti itu dan berkata kepada Gui Tin sambil tersenyum, “Kitab yang banyak
diinginkan oleh banyak orang jahat, apa bila tidak disimpan baik-baik, tentu akan mudah hilang.”
Gui Tin mengangguk-angguk. Sambil memandang ke arah peti itu dengan penuh gairah, dia pun berkata
memuji, "An-ciangkun benar-benar teliti. Setan pun agaknya akan sukar mendapatkan kitab itu di sini!"
An Lu Shan tertawa, kemudian setelah menutup kembali pembaringan, dia menghampiri meja dan
menaruh peti kecil berwarna hitam itu ke atas meja. Ketika dia membukanya, nampak sebuah kitab yang
sudah tua sekali dan kertasnya berwarna kekuning-kuningan, terbungkus oleh sutera putih yang bersih.
Debar jantung Gui Tin semakin menghebat dan sastrawan ini bagaikan orang kelaparan melihat paha babi
panggang. Tak terasa pula dia maju mendekat.
dunia-kangouw.blogspot.com
An Lu Shan tertawa lagi, lalu mengambil kitab itu. "Kau lihat sebentar, dan coba kenali kitab apa ini!"
Gui Tin menerima bungkusan sutera putih itu, lalu membukanya. Dia tidak cepat-cepat membuka kitab itu,
akan tetapi memandang sampulnya dahulu dengan penuh perhatian, lalu menimbang-nimbang berat kitab
itu di atas tangannya. Kemudian dia mencium kitab itu dengan hidungnya yang dikembang-kempiskan.
Setelah itu dia memandang agak ragu-ragu ke arah kitab itu. Dibacanya beberapa baris tulisan kuno yang
tak karuan bentuknya, dan menurut penglihatan Kwan Cu yang selalu berada di sisi gurunya, itu bukanlah
tulisan, melainkan gambaran-gambaran yang buruk sekali!
Mendadak Gui Tin tertawa geli. "Ahh, orang telah main-main, An-ciangkun! Orang mau meniru, akan tetapi
alangkah bodohnya! Kertas ini biar pun sudah kuno namun tulisan-tulisan dan gambar-gambarnya
dilakukan dengan penggunaan tinta baru! Ini adalah kitab palsu sama sekali!"
Untuk sesaat hening di dalam kamar itu, kemudian terdengar Li Kong Hoat-ong memuji, "Gui-siucai benarbenar
bermata tajam. Sungguh mengagumkan sekali!"
An Lu Shan juga merasa kagum maka dia lalu menjura kepada Gui Tin. "Gui siucai sekali melihat saja tahu
perbedaan, sungguh lihai. Sekarang aku percaya benar-benar bahwa kitab itu tidak akan dapat
diterjemahkan orang melainkan Gui-siucai seorang. Tunggulah, aku akan mengambil aslinya!"
Setelah berkata demikian, An Lu Shan lalu menekan sesuatu di tembok dan terbukalah dinding itu,
memperlihatkan satu pintu rahasia. Kali ini dia sendiri yang memasuki pintu rahasia itu, bahkan guru dan
adiknya sendiri tidak ikut masuk! Setelah dia keluar kembali, dia sudah membawa keluar sebuah peti yang
lebih kecil dari pada peti yang palsu tadi. Juga peti ini berwarna hitam, akan tetapi kelihatannya berat
sekali. Ia menaruh peti ini di atas meja, kemudian menyimpan kembali kitab dan peti palsu yang tadi.
An Lu Kui sendiri baru pertama kali ini melihat kitab yang asli itu, karena yang pernah melihatnya hanya An
Lu Shan berdua Li Kong Hoat-ong. Oleh karena itu dengan suara memohon dia berkata kepada kakaknya.
"Shan-heng, bolehkah aku membukanya?"
Sambil berkata demikian, dia segera mengulurkan tangan kanannya hendak membuka tutup peti. Akan
tetapi cepat sekali An Lu Shan menampar tangan adiknya dan berkata,
"Hati-hati! Jangan sembarangan menjamah peti ini, Kui-te!" Lalu dia melanjutkan dalam bahasa Tartar.
"Peti ini telah dilaburi racun yang berbahaya sekali!" Tentu saja Kwan Cu tidak mengerti, akan tetapi Gui
Tin mengerti baik kata-kata ini.
An Lu Shan lalu meminta semua orang untuk mundur, kemudian dengan tangan kirinya dia mengambil
sebuah bantal dari pembaringannya, dipegang di atas peti, antara dia dan peti itu sebagai perisai.
Kemudian dengan tangan kanannya dia membuka tutup peti.
“Ser! Ser! Ser!” terdengar suara dan dari dalam peti itu dengan cepat dan tidak terduga sekali menyambar
tujuh batang anak panah kecil yang ujungnya kehitaman karena telah direndam racun ular berbisa! Tujuh
anak panah ini kesemuanya menancap pada bantal yang dipegang oleh An Lu Shan.
An Lu Kui menjadi pucat. Kalau dia yang membukanya, tentu akan celakalah dia! Tidak saja tangannya
akan terkena racun yang dipulaskan di luar peti, juga anak-anak panah itu tak mungkin dielakkan oleh
orang yang membuka peti, kalau tidak mengetahui lebih dahulu!
"Lihai sekali kau, An-ciangkun!" Gui Tin juga memuji sedangkan Kwan Cu meleletkan lidahnya saking
ngerinya.
An Lu Shan hanya tersenyum.
"Untuk menjaga tangan jahil," katanya sambil mengeluarkan kitab itu.
Kitab yang ini lebih kecil bentuknya, akan tetapi amat berat dan ternyata kertasnya amat tipis-tipis sehingga
isinya banyak sekali. Ketika Gui Tin membuka kitab itu dia tertegun.
Benar saja, inilah kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng sebagaimana yang pernah dibacanya dalam buku-buku
dunia-kangouw.blogspot.com
sejarah kuno. Inilah kitab yang semenjak ribuan tahun dipakai rebutan dan siapa yang memegang kitab ini,
kalau perorangan merupakan jago terlihai di muka bumi, kalau negara menjadi negara yang kuat sekali.
Inilah dia kitab yang selama ini diimpi-impikan oleh semua orang gagah, oleh tokoh-tokoh besar di dunia
kang-ouw, oleh negara-negara di seluruh dunia. Dan kini kitab ini berada di tangan An Lu Shan, seorang
komandan militer yang bersemangat dan gagah!
Gui Tin merasa betapa tangannya tergetar. Berbahaya kalau sampai isi kitab ini diketahui oleh An Lu Shan.
Dan dia percaya bahwa yang mampu menterjemahkan kitab ini hanya dia seorang! Kitab ini ditulis di jaman
kerajaan Shia, ribuan tahun yang lalu.
Tiba-tiba Gui Tin teringat sesuatu dan ia meraba-rabakan jari-jari tangannya di atas kitab itu. Hemm, aneh,
pikirnya! Pada masa itu, belum ada kertas!
Lalu dia mengerutkan keningnya untuk mengingat-ingat kembali tentang apa yang sudah dibacanya
mengenai kitab rahasia ini. Kalau tidak salah ingat, kitab aslinya ditulis di atas sutera! Dan dia membaca
sudah beribu kali orang memalsukan kitab itu supaya aslinya tidak mudah dicuri orang. Hm, apakah yang
dipegangnya ini pun sebuah dari pada kitab tiruan dan palsunya?
Melihat Gui Tin mengerutkan kening dan diam seperti patung, An Lu Shan lalu berkata, “Gui-siucai, apa
yang kau pikirkan? Sanggupkah kau menterjemahkannya?” Semua mata memandang kepada Gui Tin
dengan sinar tajam mengancam.
Sastrawan ini maklum kalau dia mengatakan dia tidak sanggup, dia tidak akan diampuni. Sebaliknya kalau
dia sampai menterjemahkan kitab ini, juga tidak ada harapan baginya untuk bisa pergi dari tempat ini
dalam keadaan hidup! Dia yang telah menterjemahkan, kelak tentu akan dianggap berbahaya oleh An Lu
Shan, dan tentu akan dibinasakan agar jangan sampai membuka rahasia isi kitab itu kepada orang lain.
Sebelum menjawab, Gui Tin mengelus-elus kepala Kwan Cu yang berdiri di dekatnya, lalu dia menatap
wajah An Lu Shan sambil berkata, “Biar pun kitab ini sukar sekali untuk diterjemahkan, akan tetapi aku
sanggup mengerjakan asalkan ciangkun dapat bersabar menanti. Akan tetapi, hanya satu saja
permintaanku sebagai biaya penterjemahan, yaitu, kau lepaskan dan bebaskan muridku ini untuk pergi dari
sini dan jangan mengganggu padanya!”
“Tidak, Gui-lopek! Aku tidak mau meninggalkan kau orang tua. Siapa yang akan merawat dirimu, juga
siapa yang akan menggosokkan bak untukmu, dan siapa pula yang akan kau suruh-suruh pada waktu kau
mengerjakan semua ini? Gui-lopek, jangan suruh aku pergi meninggalkanmu!” tiba-tiba Kwan Cu berkata.
Sementara itu, An Lu Shan yang cerdik sekali ketika melihat betapa Gui Tin amat sayang kepada
muridnya, timbullah sebuah pikiran yang amat cerdik.
“Gui-siucai, aku berjanji tak akan mengganggu muridmu. Akan tetapi, dia baru kubiarkan pergi bila mana
kau sudah selesai menterjemahkan kitab ini. Ingat, semakin cepat kau menterjemahkannya, semakin cepat
pula aku melepaskan anak ini. Sementara itu, siapa lagi yang akan melayanimu selain anak ini? Orang lain
tidak boleh melihat kitab ini. Kau tentu mengerti maksudku, bukan?”
Gui Tin mengerti baik sekali. Siapa saja yang sudah melihat kitab ini harus mati, temasuk pula Kwan Cu!
Maka sastrawan ini menjadi gelisah dan berduka sekali, akan tetapi dia dapat menindas perasaanya dan
menyatakan kesanggupannya.
“Baik, akan kukerjakan mulai hari ini juga. Akan tetapi aku tak mau diganggu dan biarkan aku dilayani oleh
muridku di dalam kamar tertutup.”
An Lu Shan mengangguk. “Baik, Gui-Siucai. Kau akan bekerja di dalam kamarku ini dari pagi sampai
petang. Setiap pagi kau masuk ke sini dan sesudah petang kau keluar dari kamar ini, meninggalkan
terjemahan dan kitab aslinya.”
Demikianlah, mulai hari itu juga Gui Tin mengerjakan terjemahan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, dilayani
oleh Kwan Cu. Karena maklum dia dan muridnya diintai dari luar dan diawasi, Gui Tin tidak berani bicara
sembarangan terhadap Kwan Cu, dan dia melakukan terjemahan itu selambat mungkin.
Isi kitab ini benar-benar hebat. Di situ tertulis aturan-aturan dan cara-cara melatih tentara, membentuk
dunia-kangouw.blogspot.com
barisan, dan mengatur serangan secara lihai sekali. Selain itu, terdapat pula latihan-latihan ilmu silat yang
aneh-aneh, cara untuk semedhi dalam bentuk yang paling istimewa, kemudian ada pula ilmu pukulan yang
hebat-hebat sehingga baru membaca sebentar saja Gui Tin sudah merasa pening kepala dan juga ngeri.
Diaa pikir bahwa kalau dia menterjemahkan ilmu silat itu, apa bila sampai dipelajari oleh orang jahat, maka
kelak orang itu akan menjadi manusia berkepandaian iblis yang sukar ditekan. Sebaliknya, bila dia
menterjemahkan ilmu perang, tidak ada jahatnya. Bukankah An Lu Shan seorang perwira dari kerajaan
yang sudah terbukti membela negara. Kalau perwira itu mendapatkan pelajaran ilmu perang ini, bukankah
hal ini baik sekali dan tidak merugikan rakyat mau pun tidak membahayakan negara?
Oleh karena inilah, maka Gui Tin kemudian mulai dengan terjemahannya. Dia sengaja mendahulukan
terjemahan ilmu perang yang aneh-aneh dan lihai itu, yang dia lakukan sedikit demi sedikit. Ada pun
terhadap Kwan Cu, dia memiliki sebuah cita-cita yang baik sekali.
Kitab ini adalah kitab tiruan atau kitab palsu, ini Gui Tin yakin betul. Sayang dia sudah banyak lupa tentang
sejarah yang dulu pernah dibacanya mengenai kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Akan tetapi kitab sejarah itu
masih bertumpuk pada suatu tempat di mana dia menyimpan kitab-kitab kunonya. Kalau kelak kitab aslinya
bisa didapat, mungkin dia telah tewas, dan muridnya inilah yang menjadi orang satu-satunya yang dapat
membacanya!.
Oleh karena itu, maka Gui Tin lalu memberi pelajaran tentang bahasa tulisan kuno itu kepada Kwan Cu. Ia
mengajar sedikit demi sedikit, secara lisan, karena kalau tertulis, ia khawatir akan terlihat oleh orang lain. Ia
minta kepada Kwan Cu supaya mencatat dan menghafal di dalam otaknya.
Anak ini memang cerdik sekali. Apa yang sekali terdengar olehnya, seolah-olah langsung menempel pada
otaknya dan tidak mudah terlupa kembali. Oleh karena itu, semua yang dipelajarinya dapat dihafalnya
dengan mudah.
Pada keesokan harinya, setelah melihat hasil terjemahan Gui Tin, bukan main girangnya hati An Lu Shan.
Ia membaca siasat-siasat kemiliteran yang rumit-rumit dan hebat-hebat, cara mengatur barisan, mengatur
penyerangan dan mengatur penjagaan.
Hebat! Inilah yang dicari-cari, inilah yang diimpi-impikannya! Maka serentak mulailah dia mempraktekkan
semua siasat beserta tata peraturan melatih tentara yang dibacanya dari terjemahan kitab Im-yang Bu-tek
Cin-keng itu.
Tiga bulan terlewat cepat sekali dan selama tiga bulan ini, Gui Tin baru menterjemahkan setengah dari
pada ilmu perang itu! Akan tetapi hasilnya bagi An Lu Shan bukan main besarnya! Kini bala tentara yang
dipegangnya merupakan barisan yang kuat dan memiliki pendidikan militer yang lain dari pada yang lain!
Semua ini berkat pelajaran dari Im-yang Bu-tek Cin-keng dan tentu saja An Lu Shan merasa bangga dan
puas sekali.
Ada pun dalam waktu tiga bulan itu, Kwan Cu dengan penuh ketekunan mencurahkan segenap tenaga,
otak, dan perhatian untuk menghafal dan mempelajari bahasa tulisan kuno yang dipergunakan untuk
menuliskan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng itu. Dan ketika tanpa sengaja dia melirik ke arah kitab yang
sedang diterjemahkan oleh gurunya, hampir dia berseru girang karena dia dapat membacanya dengan
mudah!
"Gui-lopek! Bukankah baris paling atas bunyinya, ‘Barisan Kwan-im Pouwsat menyebar biji teratai’…?
"Sstttt!" Gui Tin cepat menutup mulut Kwan Cu, lalu berkejap mata.
Kwan Cu cerdik. Dia tahu bahwa sesungguhnya bukan karena terjemahan itu sukar bagi gurunya,
melainkan karena gurunya sengaja memperlambat terjemahan itu!
"Lopek, mengapa tidak cepat-cepat menyelesaikan saja agar kita dapat segera pergi dari sini?"
Gui Tin menggelengkan kepala dan menarik napas panjang. Sukar baginya untuk bicara karena dia tahu
bahwa selalu ada penjaga yang mengawasi mereka di luar kamar dan mendengarkan percakapan mereka.
Karena itu dia sengaja berkata keras-keras sambil memberi kedipan mata kepada muridnya itu,
"Enak saja kau bicara! Apa kau kira menterjemahkan kitab seperti ini sama mudahnya dengan makan
dunia-kangouw.blogspot.com
bakso?"
Demikianlah, dua orang guru dan murid ini main sandiwara. Diam-diam Gui Tin menunjuk ke arah kitab
bagian pelajaran ilmu silat dan minta Kwan Cu membacanya!
Anak ini menurut saja dan ketika dia mulai membaca pelajaran itu, dia merasa kepalanya sampai
berdenyutan saking merasa aneh dan terheran-heran! Dulu dia pernah menerima pelajaran siulian
(semedhi) dari Pek-cilan Thio Loan Eng, juga sudah pernah menerima pelajaran melatih napas, akan tetapi
apa yang dia baca di kitab ini benar-benar luar biasa sekali!
Dulu ketika dia belajar siulian dari Loan Eng, dia diharuskan duduk dengan sikap tegak, kedua kaki bersila
dengan mata diarahkan kepada ujung hidung sendiri sambil mengatur pernapasan dan mengosongkan
pikiran. Sekarang apa yang dibacanya?
Beraneka macam aturan tentang semedhi terdapat dalam kitab ini. Ada semedhi dengan berdiri jungkir
balik, yaitu kepala di atas lantai dan kedua kaki diangkat ke atas, ada pula yang menggantung di atas
pohon, dan berbagai macam cara yang aneh-aneh lagi! Dan latihannya bernapas juga luar biasa anehnya!
Menurut pelajaran yang diterima dari Loan Eng dulu, menyedot dan mengeluarkan napas harus selambatlambatnya
dan sepanjang-panjangnya, pada waktu meyedot hawa harus dikumpulkan di dada sehingga
dada mengembung dan perut menipis, kemudian di waktu mengeluarkan napas, dada harus dikosongkan
dan seluruh hawa murni dari dada harus ditarik ke dalam perut untuk memperkuat tian-tan sehingga dada
mengempis dan perut mengembung. Akan tetapi di dalam Im-yang Bu-tek Cin-keng ini bahkan sebaliknya!
Kwan Cu benar-benar tidak mengerti. Akan tetapi dasar dia berbakat baik sekali dalam ilmu silat, maka
ketika dia membaca ini, malam harinya ketika Gui Tin telah mendengkur, anak ini lalu bersemedhi dengan
cara yang tadi dibacanya di dalam kitab itu, juga melatih pernapasan seperti yang dibacanya siang tadi!
Hasilnya bukan main! Kwan Cu hampir gila karenanya! Jika saja dia tidak memiliki tulang yang baik dan
bahan bersih dalam dirinya, mungkin otaknya sudah menjadi miring. Pada saat dia bersemedhi menurut
kedudukan yang dipelajari dari dalam kitab, yakni dengan kepalanya yang gundul di atas lantai dan kedua
kakinya di atas bersandar tembok, dia merasa kepalanya berdenyut-denyut karena semua darah mengalir
ke bawah dengan cepat.
Kemudian, pada waktu dia hendak mengosongkan pikiran serta mengheningkan panca inderanya,
beraneka macam bayangan setan terbayang di depan matanya, dan berbagai macam hal yang ngeri-ngeri
teringat olehnya. Juga latihan pernapasan dengan cara itu membuat perutnya merasa muak dan dadanya
sakit.
Akan tetapi karena dia memang keras hati, dia melanjutkan latihannya sampai beberapa hari. Terjadilah
hal yang aneh dalam dirinya. Ia merasa ada tenaga saling tarik-menarik di dalam dadanya dan perjalanan
darahnya mengalir sebentar cepat sebentar lambat.
Ketika dia telah melatih selama sebulan, dia sudah dapat membiasakan diri dengan cara baru ini dan pada
suatu tengah malam, dia mendengar buku-buku tulang pada seluruh tubuhnya berbunyi keletak-keletuk!
Dia tidak tahu bahwa karena latihannya ini, dia sudah melenyapkan hasil latihannya yang dahulu.
Perasaan tidak enak dan tarik menarik tenaga di dalam dadanya adalah pertempuran antara tenaga latihan
yang berlawanan. Dan ternyata bahwa cara latihan menurut kitab rahasia itu lebih kuat sehingga dalam
waktu beberapa hari saja tenaga latihan cara baru ini dapat mengalahkan tenaga latihan yang dahulu!
Karena tiada waktu untuk melatih diri dengan ilmu silat seperti yang diuraikan di dalam kitab itu, maka
Kwan Cu lalu membaca saja kitab itu seperti orang membaca buku cerita! Akan tetapi dia membaca tidak
sembarang membaca, melainkan menghafal isi kitab itu sedikit demi sedikit.
Enam bulan telah lewat. Kini Gui Tin telah menyelesaikan pekerjaannya menterjemahkan ilmu perang dari
kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng! Terjemahan itu diambil oleh An Lu Shan untuk dipraktekkan, ada pun kitab
aslinya masih berada di dalam kamar, karena Gui Tin harus menterjemahkan ilmu-ilmu yang lain!
Dan pada petang hari itu terjadilah hal yang hebat! Baru saja Gui Tin menutup kitab itu setelah mulai
menterjemahkan bagian pertama dari ilmu silat, tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar kamar dan tak lama
kemudian pintu kamar itu terbuka lebar.
dunia-kangouw.blogspot.com
Seorang laki-laki bertubuh gemuk dengan baju terbuka di bagian dada sehingga nampak dadanya itu
brewok, juga mukanya penuh brewok, meloncat masuk! Gui Tin dan Kwan Cu melihat betapa beberapa
orang penjaga yang tadinya menjaga di luar pintu kamar itu kini menggeletak malang melintang dalam
keadaan tidak bernyawa pula!
Laki-laki brewok ini melihat kitab yang sudah dimasukkan ke dalam peti hitam dan ditaruh di atas meja.
Tanpa banyak cakap, dia melompat ke dekat meja, memegang peti hitam itu dan berpaling kepada Gui Tin.
"Gui-siucai, inikah kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang lagi kau terjemahkan?" tanyanya kepada Gui Tin
dengan suaranya yang parau dan kasar sekali.
Gui Tin mengangguk dengan wajah pucat. Orang itu menyambar peti dan juga tangan kanannya
menyambar Gui Tin yang terus dikempitnya dan hendak pergi dari situ.
"Jangan kau culik guruku!"
Mendadak orang itu merasa ada sambaran keras dari belakang menuju ke arah pundak kanannya!
Sambaran ini merupakan angin pukulan yang hebat, maka dia terkejut sekali. Terpaksa dia melepaskan
tubuh Gui Tin dan mengangkat tangan menangkis.
Ternyata yang menyerang adalah Kwan Cu! Melihat gurunya hendak dibawa orang, anak ini menjadi nekad
dan memukul ke arah pundak orang itu dengan maksud merampas gurunya. Tidak tahunya bahwa pukulan
itu mengandung tenaga lweekang yang didapat dari melakukan latihan siulian itu, maka juga hebat sekali
datangnya.
Akan tetapi, orang itu lihai sekali. Dengan keras lengannya menangkis dan tubuh Kwan Cu terpental
membentur tembok!
Orang itu tertawa dan hendak menyambar tubuh Gui Tin. Akan tetapi pada saat itu dari luar terdengar
suara teriakan berkali-kali.
“Tangkap penjahat!”
Orang yang mencuri kitab itu melompat keluar dan disambut oleh An Lu Shan, An Lu Kui dan Li Kong
Hoat-ong sendiri dan di belakang mereka ini masih terdapat puluhan orang perwira!
Ketika melihat orang brewokan ini, Li Kong Hoat-ong, An Lu Shan dan An Lu Kui menjadi terkejut sekali.
Sebaliknya si brewok ini hanya tertawa saja menghina, sama sekali tidak merasa gentar dan bahkan suara
ketawanya menyatakan bahwa dia memandang rendah semua orang itu.
“Ahhh, tidak tahunya Hek-mo-ong Lo-taihiap yang datang berkunjung,” kata An Lu Shan sambil menjura.
“An-ciangkun, kau seorang perwira, untuk apakah kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng? Apa lagi Gui-siucai telah
menterjemahkan bagian ilmu perangnya, yang lain-lain kau tak perlu lagi. Oleh karena itu aku datang untuk
mengambilnya, dan sekalian membawa Gui-siucai pergi bersamaku.”
An Lu Shan tidak berani membantah dan terlalu banyak berbicara. Dia sudah kenal akan kelihaian Hekmo-
ong (Raja Iblis Hitam) ini yang di daerah utara namanya hanya sebelah bawah Pak-lo-sian Siangkoan
Hai saja. Akan tetapi, Li Kong Hoat-ong tentu saja menjadi marah melihat lagak orang.
“Hek-mo-ong, sudah lama aku mendengar namamu tetapi baru sekarang aku mendapat kehormatan untuk
bertemu muka. Tidak tahunya Hek-mo-ong yang memiliki nama besar itu hanya seorang sombong yang
tidak memandang muka orang lain dan hendak berlaku sewenang-wenang tanpa kesopanan sedikit pun
juga.”
Wajah Hek-mo-ong tak berubah, akan tetapi sepasang matanya mengeluarkan sinar kilat ketika dia
berpaling kepada Li Kong Hoat-ong.
“Hemm…” Dia mengeluarkan suara dari hidung, sikapnya menghina sekali, “Kalau tidak salah kau adalah
Li Kong Hoat-ong, raja yang sudah kehilangan mahkotanya itu? Perlu apa kau mencampuri urusanku?
Kalau memang betul aku kurang sopan dan sombong, habis kau mau apakah?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hek-mo-ong, kau benar-benar tidak melihat orang! Kalau tidak ada aku di sini, kau boleh berbuat sesuka
hatimu, akan tetapi setelah aku berada di sini, apakah kau masih mau banyak lagak?”
“Li Kong Hoat-ong, apa kehendakmu?!” suara Hek-mo-ong dahsyat sekali, mengandung ancaman maut.
“Tinggalkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, kalau tidak jangan harap dapat keluar dari sini!” berkata Li
Kong Hoat-ong dan bekas raja yang memiliki kepandaian tinggi ini telah meloloskan senjatanya, yakni
sebatang pedang kerajaan Yu-yan pada tangan kanan dan sebatang tongkat tanda pangkat di tangan kiri!
An Lu Shan hendak mencegah akan tetapi dia sudah terlambat, karena telah terdengar suara ketawa
ngakak seperti suara burung goak dari mulut Hek-mo-ong dan terdengar suara keras, disusul oleh
melayangnya daun pintu yang sudah dicabut oleh Hek-mo-ong dan kini menyambar ke arah Li Kong Hoatong!
Li Kong Hoat-ong cepat menghantam dengan tongkat di tangan kirinya dan terdengarlah suara keras lain.
Daun pintu itu sudah pecah menjadi beberapa potong dan pecahannya menyambar ke kanan kiri!
An Lu Shan dan An Lu Kui cepat-cepat mengelak, akan tetapi beberapa orang perwira lain yang kurang
cepat sudah terkena sambaran potongan serta pecahan daun pintu ini sehingga terdengar jerit
mengerikan. Pecahan-pecahan daun pintu itu menembus baju perang bagaikan pelor-pelor baja dan
beberapa orang perwira tewas pada saat itu juga!
Pertempuran segera terjadi dengan hebatnya. An Lu Shan tak berdaya dan hanya bisa menyuruh para
perwira menjauhkan diri, karena setelah dua orang sakti ini bertanding, siapa yang dapat dan berani
memisahkan mereka? Sekejap saja yang nampak hanyalah berkelebatnya pedang serta tongkat pada
kedua tangan Li Kong Hoat-ong, serta tubuh Hek-mo-ong yang berubah menjadi sesosok bayangan yang
gesit sekali.
Sebentar saja kelihatan betapa hebatnya kepandaian Hek-mo-ong, karena meski pun dia bertangan
kosong, akan tetapi tongkat dan pedang ini sama sekali tidak dapat mengenai tubuhnya. Tiap kali kedua
tangannya bergerak, menyambar angin pukulan yang dahsyat, yang tidak saja membuat kedua senjata itu
terpental mundur, juga membuat bangunan di situ seakan-akan tergetar-getar!
Berkat tubuhnya yang kuat, Kwan Cu yang tadi terlempar akibat tangkisan Hek-mo-ong dan membentur
tembok, tidak mengalami luka hebat dan kini dia telah menolong gurunya bangun. Gui Tin cepat menyingkir
ke tepi karena gentar melihat pertempuran yang amat dahsyat itu, sebaliknya Kwan Cu malahan menonton
dekat-dekat.
Anak ini telah menghafal isi pelajaran ilmu silat dari kitab yang diperebutkan itu, dan biar pun
pengetahuannya terbatas pada teori saja, namun pengertian ini telah mendatangkan dorongan sehingga
dia mulai memperhatikan gerakan-gerakan kedua tokoh besar ini! Ia diam-diam merasa gembira sekali bisa
menyaksikan pertandingan yang begitu hebatnya, dan biar pun dia merasa ngeri juga, akan tetapi dia tidak
pernah melepaskan pandang matanya dari kedua orang itu.
Setelah bertempur puluhan jurus, perlahan-lahan Hek-mo-ong mendesak lawannya. Raja Iblis Hitam ini
mempergunakan pukulan berdasarkan lweekang yang cukup tinggi dan baginya untuk merobohkan lawan
tidak usah mempergunakan tenaga tangan, cukup oleh hawa pukulannya saja.
Li Kong Hoat-ong maklum akan kehebatan lawan, maka dia pun mengerahkan seluruh kepandaiannya
untuk mengimbangi permainan lawan. Akan tetapi sia-sia saja. Pada saat dia membacok dengan
pedangnya dan berbarengan mengemplang dengan tongkatnya, tiba-tiba Hek-mo-ong berseru keras
sekali.
Kwan Cu yang tadinya berdiri sampai roboh dan terlempar ke lantai saking hebatnya getaran seruan ini
yang menyerang serta melumpuhkan dirinya melalui pendengarannya! Demikian pula orang-orang yang
berada di sekitar tempat itu, semua merasa seolah-olah lumpuh!
Berbareng dengan pekik yang dahsyat ini, Hek-mo-ong tidak mengelak dari serangan lawan, bahkan
menubruk maju. Tangan kanannya mencengkeram ke arah pedang dan dia membiarkan kepalanya dipukul
tongkat!
dunia-kangouw.blogspot.com
Terdengar suara keras pada saat tongkat memukul kepalanya. Tongkat itu terpental dan Hek-mo-ong
merasa kepalanya sedikit pening, akan tetapi dia berhasil mencengkeram pedang yang patah menjadi dua
potong! Sebelum rasa terkejut Li Kong Hoat-ong hilang, Hek-mo-ong sudah menyeruduk maju dan
menubruk dengan kepalanya ke dada Li Kong Hoat-ong.
Terdengar pekik mengerikan dan tubuh bekas raja itu terhuyung ke belakang, mukanya pucat dan darah
segar menyembur keluar dari mulutnya. Tulang-tulang dadanya sudah remuk akibat terkena benturan
kepala lawannya dan dia tewas pada saat itu juga setelah tubuhnya roboh terlentang!
Keadaan menjadi sunyi, kemudian dipecahkan oleh suara ketawa Hek-mo-ong. Tak ada seorang pun
berani bergerak.
“Ha-ha-ha! An-ciangkun, lebih baik kau mengurus bala tentaramu baik-baik dan jangan meributkan urusan
kitab ini,” kata Hek-mo-ong.
An Lu Shan maklum bahwa tiada gunanya menyerang orang luar biasa ini. Akan tetapi dia tahu bahwa apa
bila Gui Tin sampai dibawa pergi, amat berbahayalah bagi dirinya. Hanya Gui Tin dan muridnya saja yang
tahu bahwa ia telah mempelajari ilmu perang dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, dan kalau sampai orang
luar mengetahuinya…, mungkin rencananya yang sudah terkandung di dalam hati selama bertahun-tahun
akan gagal!
Oleh karena itu dia lalu menjura dan berkata,
“Lo-enghiong, kami tak akan meributkan urusan ini, akan tetapi kami harap Lo-enghiong juga suka berlaku
adil. Kitab itu sudah kau ambil, biarlah. Akan tetapi harap kau jangan membawa pergi Gui-siucai, karena
sebenarnya masih banyak sekali penjelasan tentang terjemahan yang kami perlukan darinya. Apa bila kami
sudah selesai dengan dia, boleh Lo-enghiong membawanya. Hal ini penting sekali, dan kami harap saja
Lo-enghiong tidak akan menggunakan kekerasan terhadap puluhan ribu anak buah barisan kami yang
telah teratur dan menjaga berlapis-lapis di benteng ini.”
Hek-mo-ong terdiam sejenak. Ia juga tahu bahwa An Lu Shan adalah seorang komandan yang pandai
sekali mengatur barisan. Kalau dia berkeras, dia akan menghadapi puluhan ribu tentara dan hal ini tidak
boleh dibuat sembarangan.
Biar pun kepandaiannya tinggi dan dia tidak takut akan keroyokan, akan tetapi jika harus membobolkan
pertahanan puluhan ribu orang, sebelum bebas tentu dia akan kehabisan tenaga dan akhirnya usahanya
akan sia-sia belaka. Kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng telah berada di tangannya, mengapa dia harus
bertindak tergesa-gesa? Masih banyak waktu untuk mempelajari kitab itu, pikirnya.
Setelah berpikir begitu, dia mengangguk. “Baiklah, An-ciangkun. Aku minta maaf karena sudah kesalahan
tangan membunuh gurumu, namun seperti kalian menyaksikan sendiri, gurumulah yang mulai lebih dulu.”
“Tidak mengapa, Lo-enghiong. Mati hidup bukan di tangan kita dan sudah lajim di dalam pertempuran
kalau tidak menang, tentu kalah dan mati,” jawab An Lu Shan.
Kembali Hek-mo-ong tertawa. Kemudian dia melihat Kwan Cu masih berdiri di pinggir. kedua matanya
mendelik dan dia kelihatannya akan menyerang anak ini. Akan tetapi dia membatalkan niatnya, lalu tertawa
dan sekali tubuhnya berkelebat, dia sudah melompat keluar dari rumah itu.
Pada saat dia berlari keluar dari benteng, benar saja dia melihat betapa tempat itu sudah terkurung rapat
oleh lapisan-lapisan tentara yang kuat sekali. Dia merasa girang bahwa tadi dia tidak mempergunakan
kekerasan. Mudah kelak menculik Gui-siucai, pikirnya.
Mengapa An Lu Shan berlaku demikian lemahnya? Mengapa dia tidak mengeroyok dan mengerahkan
pasukannya untuk membunuh Hek-mo-ong? An Lu Shan tidak sedemikian bodoh untuk mengorbankan
anak buahnya. Ia adalah seorang yang amat cerdik.
Pada waktu dia tadi melihat peti kitab itu tercuri oleh Hek-mo-ong, dia telah yakin bahwa Hek-mo-ong tidak
akan dapat hidup lama di dunia ini. Selain peti itu mengandung rahasia sehingga kalau dibuka akan ada
tujuh batang anak panah beracun yang menyambar ke luar, juga peti itu telah dilabur dengan racun yang
amat jahat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Jika tangan Hek-mo-ong telah terkena racun itu, sedikit racun masuk ke dalam mulutnya, pasti Raja Iblis
Hitam itu akan mampus! Perlu apa mengeroyoknya? Dia tahu ke mana harus mencari Hek-mo-ong, maka
nanti saja dia akan menyuruh para penyelidik supaya mendatangi tempat tinggal Hek-mo-ong di dusun
Thian-bun di Gunung Hek-mo-san. Bila iblis itu sudah mati, mudah saja mengambil kembali peti itu.
Dan dia sengaja menahan Gui Tin, sebab selain dia sendiri, hanya sastrawan tua itu saja yang pernah
membaca Im-yang Bu-tek Cin-keng. Biar pun kitab itu sekarang berada di tangan Hek-mo-ong, takkan ada
gunanya kalau tidak diterjemahkan!
Karena itu, setelah Hek-mo-ong pergi, An Lu Shan lalu mengumpulkan orang-orangnya yang paling cakap
untuk pergi menyusul ke Hek-mo-san dan menyelidiki keadaan iblis itu, sekalian kalau iblis itu sudah
mampus terkena racun, supaya mengambil kembali peti kitab tadi.
Akan tetapi, setelah serbuan Hek-mo-ong yang mencuri kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, berturut-turut
terjadilah hal-hal yang luar biasa dan mengerikan hati An Lu Shan.
Pada keesokan harinya, baru saja dia beserta yang lain-lain selesai mengubur jenazah Li Kong Hoat-ong
dan sedang duduk berunding di dalam ruangan tengah, tiba-tiba datang penjaga-penjaga di pintu depan
yang melaporkan dengan napas tersengal-sengal bahwa ada seorang tokouw (pertapa wanita) yang
sangat galak dan memaksa masuk ke dalam benteng. Siapa saja yang menghalanginya lantas dirobohkan
dengan amat mudah!
An Lu Shan dan An Lu Kui bergegas keluar, diikuti oleh beberapa orang perwira. Betapa kaget hati mereka
ketika melihat pemandangan yang amat aneh dan luar biasa. Seorang tokouw yang tua akan tetapi
tubuhnya masih nampak sehat seperti tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun, jalan mendatangi.
Tangan kirinya menggandeng seorang anak perempuan berusia enam tahun yang cantik mungil, tangan
kanannya memegang sebatang ranting pohon yang panjang. Dia berjalan maju terus dan setiap kali ada
prajurit yang hendak menghalanginya, dia menudingkan ranting itu kepada prajurit yang menghadang dan
prajurit itu roboh sambil memekik keras dan ternyata bahwa prajurit itu telah tewas!
Berdiri bulu tengkuk An Lu Shan saat menyaksikan keganasan dan kekejaman yang luar biasa ini!
Siapakah iblis wanita ini, pikirnya. Cepat dia lalu mengeluarkan aba-aba untuk melarang orang-orangnya
menghalangi majunya wanita pertapa itu dan dia sendiri lalu cepat mundur dan menanti di ruang tengah,
akan tetapi diam-diam dia menyuruh barisan panah mengurung tempat itu untuk bergerak apa bila tokouw
itu datang dengan maksud kurang baik.
Sambil tersenyum-senyum mengejek, tokouw itu bersama anak perempuan tadi lantas memasuki benteng
dan menuju ke ruangan besar di mana An Lu Shan duduk menanti. Dengan melihat bendera yang berkibar
di atas ruangan itu, mudah saja bagi tokouw ini untuk mencari di mana adanya komandan benteng. Dia
melangkah masuk dengan sikap tenang seperti memasuki rumahnya sendiri saja.
Setelah masuk ke dalam ruangan itu tokouw ini berdiri tegak dan memandang kepada An Lu Shan. Perwira
ini segera berdiri dan menyambut dengan penghormatan. Akan tetapi sebelum dia membuka mulut,
terdengar seruan nyaring.
“Ehh, adik Ceng...! Kau di sini...?”
“Hee...! Bukankah kau adalah Kwan Cu?” jawab anak perempuan yang masih digandeng tangannya oleh
tokouw itu.
Kwan Cu yang kebetulan keluar bersama gurunya, melihat bahwa anak perempuan itu adalah Bun Sui
Ceng, puteri dari Thio Loan Eng, segera menegur. Juga Gui Tin yang telah banyak merantau dan banyak
sekali pengalamannya, ketika melihat tokouw itu, dia tersaruk-saruk maju menghampiri dan menjura.
“Dunia ini ternyata sempit sekali,” katanya kepada tokouw itu, “sehingga di ujung utara ini akan dapat
bertemu muka dengan Kiu-bwe Coa-li Suthai dari ujung selatan!”
Tokouw itu nampak tertegun, kemudian ia mengerutkan keningnya. Setelah memandang beberapa lama,
dia lalu tersenyum dan berkata dingin, “Hemm, tubuhmu sudah reyot dan lelah, akan tetapi matamu masih
tajam sekali, Gui-siucai. Kita bertemu baru satu kali ketika masih muda, namun kau betul-betul tidak
melupakan muka orang.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Siapa dapat melupakan wajah dan bentuk badan Kii-bwe Coa-li Suthai dari selatan?” jawab Gui Tin sambil
tersenyum pula.
Sementara itu, pada saat mendengar bahwa tokouw yang berada di depannya itu adalah Kiu-bwe Coa-li
(Ular Betina Berekor Sembilan) yang namanya amat terkenal dan ditakuti oleh semua orang kang-ouw, An
Lu Shan menjadi terkejut sekali sehingga dia merasa betapa belakang lehernya menjadi dingin. Ia cepat
maju dan menjura dan berkata,
“Ah, tak tahunya Locianpwe yang datang mengunjungi tempatku yang bobrok ini. Mohon banyak maaf
karena siauwte tidak tahu maka tidak keluar menyambut.”
Tokouw itu mengeluarkan suara mengejek dari hidungnya.
“Anak buahmu sudah menyambut baik-baik, mengapa kau bersungkan? Lagi pula, siapa sih yang
mengharapkan sambutan? Aku bukan kaisar!”
Muka An Lu Shan menjadi merah. Akan tetapi biar pun dia disindir, toh hatinya senang juga mendengar
bahwa tokouw ini tidak suka kepada kaisar.
“Maaf, maafkan!” katanya merendah. “Bolehkah kiranya siauwte mengetahui kedatangan Locianpwe ini
membawa maksud mulia yang manakah?”
“Tidak bermaksud apa-apa, hanya minta kau menyerahkan padaku kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng.”
Hemm, ini hebat, pikir An Lu Shan. Jadi kitab itu sudah demikian digilai oleh orang-orang pandai di dunia.
Baiknya dia telah mendahului mempelajari bagian ilmu perangnya.
“Bagaimana?” tiba-tiba Kiu-bwe Coa-li mendesak sambil menggerak-gerakkan ranting di tangannya.
Ternyata bahwa itu bukan ranting biasa, melainkan gagang sebatang pecut yang panjang dan halus sekali.
Pecut itu terdiri dari sembilan helai tali yang halus akan tetapi kuat dan merupakan senjatanya yang luar
biasa. Oleh karena tali-tali yang sembilan helai ini bisa bergerak-gerak hidup bagaikan ular-ular kecil, maka
dia lalu dijuluki Ular Betina Berekor Sembilan!
Satu saja dari sembilan helai tali ini ia gerakkan untuk menotok jalan darah seperti yang diperlihatkan tadi
terhadap para prajurit yang menghadangnya cukup untuk membunuh seorang manusia. Dapat
dibayangkan betapa hebat dan tingginya kepandaian tokouw ini!
“Locianpwe, sungguh kebetulan sekali. Kalau saja siauwte tidak kehilangan guru siauwte dalam urusan ini,
tentu siauwte sudah tertawa geli mendengar Locianpwe datang hendak minta kitab itu.”
“Apa yang telah terjadi?” Sepasang alis tokouw itu bergerak-gerak dan kedua matanya demikian tajam
sehingga An Lu Shan tidak kuat untuk menentang lama-lama.
“Baru terjadi kemarin, Locianpwe. Kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang kau minta itu telah dirampas orang
dan suhu-ku Li Kong Hoat-ong bahkan sampai tewas melawan orang itu.”
“Lekas bilang, siapa yang merampasnya?” seru tokouw itu yang sama sekali tidak peduli tentang kematian
Li Kong Hoat-ong.
“Dia adalah Hek-mo-ong yang tinggal di Hek-mo-san...”
Secepat kilat Kiu-bwe Coa-li memutar tubuhnya menghadapi Gui Tin.
“Betulkah demikian?”
Gui Tin hanya mengangguk dan diam-diam sastrawan ini tidak suka melihat sikap tokouw ini. Apa lagi
setelah dia melihat bahwa tokouw ini sudah membunuh banyak penjaga di luar benteng!
Kiu-bwe Coa-li hendak pergi, akan tetapi ternyata Sui Ceng yang tadi masih digandeng, telah melepaskan
gandengan tangannya dan anak itu sekarang nampak bercakap-cakap dengan seorang anak laki-laki
dunia-kangouw.blogspot.com
gundul.
“Sui Ceng, mari!” seru tokouw ini dan sekali ia mengulur tangannya, ia mendorong Kwan Cu sehingga anak
ini menggelundung seperti bola.
Akan tetapi Kwan Cu cepat melompat lagi dan menuding kepada Kiu-bwe Coa-li sambil berkata, “Mengapa
kau begitu galak? Aku tidak suka melihat adik Ceng menjadi murid seorang galak! Ketahuilah, adik Ceng
sudah diserahkan kepadaku untuk kujaga dan bila kau memperlakukan buruk padanya...”
Melihat betapa anak laki-laki gundul yang didorongnya itu tidak apa-apa, bahkan barusan mengeluarkan
ucapan yang mengancam kepadanya untuk membela Sui Ceng, Kiu-bwe Coa-li menengok dan
memandang terheran-heran. Hebat sekali anak gundul ini, pikirnya. Dia lalu ia berbisik kepada Sui Ceng
dan anak perempuan ini berkata,
“Engko Kwan Cu, guruku ini baik sekali kepadaku! Ehh, aku ingin tanya, betul-betulkah penuturan mereka
tentang Hek-mo-ong?”
Kwan Cu maklum bahwa tokouw ini masih tidak percaya penuh kepada An-ciangkun dan Gui-siucai, maka
menggunakan Sui Ceng untuk bertanya kepadanya. Dengan demikian, itu berarti bahwa tokouw itu lebih
percaya kepadanya! Hanya dalam sekejap mata saja anak yang berkepala gundul dan berotak cerdik ini
bisa menghubung-hubungkan sesuatu dan menarik kesimpulannya pada saat itu juga!
“Adik Ceng, biasanya, orang yang tidak mudah percaya kepada orang lain itu mempunyai watak yang tak
dapat dipercayai pula. Karena hendak mengukur watak orang lain seperti wataknya sendiri, maka dia
selalu merasa khawatir kalau dibohongi orang!”
Sui Ceng tentu saja tidak mengerti akan maksud jawaban yang menyimpang dari pada pertanyaannya tadi,
akan tetapi Kiu-bwe Coa-li merasa sekali akan sindiran yang amat tepat ini. Anak gundul itu seakan-akan
dapat membaca pikirannya!
“Keparat gundul!” bisiknya.
Sekali dia menarik tangan muridnya, kemudian menggerakkan tubuhnya, berkelebatlah bayangannya dan
lenyaplah tokouw ini dari hadapan mereka! Kali ini, ketika berlari cepat keluar dari benteng, bayangannya
hampir tidak dapat terlihat oleh para penjaga!
“Hebat...!” An Lu Shan berkata. “Celakalah Hek-mo-ong kalau bertemu dengan dia!”
Baru saja keadaan mereda setelah tokouw itu pergi, tiba-tiba terdengar suara di atas genteng, suara yang
kecil tinggi. “Omitohud! Pinceng hanya datang mengganggu saja!”
Dan tiba-tiba genteng di atas ruangan itu pecah beterbangan, lalu tubuh seorang hwesio yang gemuk
seperti gajah menerobos turun dari lubang di atas genteng itu! Walau pun tubuhnya besar dan gemuk,
hampir sama dengan tubuh Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, akan tetapi ketika kaki hwesio ini menyentuh
lantai sama sekali tidak terdengar suara apa pun, sungguh pun An Lu Shan yang masih duduk dapat
merasakan betapa bangkunya tergetar dan dia terpental sedikit ke atas!
Pada saat semua mata memandang, ternyata bahwa hwesio ini berkulit agak kehitaman, bermata lebar
dan misainya tergantung menutupi dagunya. Jubahnya hitam seluruhnya, hitam arang sehingga membuat
mukanya yang berkulit kehitaman itu kelihatannya agak bersih. Tangan kiri hwesio gemuk ini memegang
serangkaian tasbih, tangan kanannya memegang sebatang tongkat berkepala naga terbuat dari logam
kuning seperti emas.
“Hek-i Hui-mo...,” terdengar Gui Tin berkata.
Hwesio ini segera menjura kepada sastrawan ini.
“Gui-siucai, kau masih tetap muda. Ha-ha-ha-ha, agaknya nasib akan menjodohkan kita sehingga tak lama
lagi pinceng akan berkumpul dengan Gui-siucai, bersama mempelajari isi kitab!”
Setelah suaranya yang halus mengeluarkan kata-kata ini, mendadak dia menggerakkan tongkatnya ke
depan An Lu Shan dan…
dunia-kangouw.blogspot.com
“Brakk!” meja di depan An Lu Shan menjadi hancur sama sekali tertimpa tongkat itu, biar pun dia hanya
memukulkan perlahan saja.
An Lu Shan terkejut luar biasa dan mencelat ke belakang, bersiap sedia karena maklum bahwa dia kini
berhadapan dengan tokoh besar dari barat, yaitu hwesio Tibet yang telah menyeleweng dan sekarang
mengadakan permusuhan besar dengan hwesio Tibet aliran jubah kuning. Oleh karena penyelewengan
inilah maka nama Hek-i Hui-mo (Iblis Terbang Berjubah Hitam) amat terkenal.
“An-ciangkun, pinceng tidak mau membuang banyak waktu. Lekas kau serahkan Im-yang Bu-tek Cin-keng
kepada pinceng!” kini suaranya berbeda sekali karena terdengar amat ketus dan galak, mengandung
ancaman hebat.
Akan tetapi An Lu Shan sudah menjadi mendongkol sekali. Kalau sekiranya yang datang bukanlah tokoh
besar yang amat berbahaya ini, tentu dia akan menyerang mati-matian dan menyuruh seluruh barisannya
untuk maju mengeroyok.
“Hemm, celaka sekali,” katanya, “kenapa hari ini aku betul-betul sial? Losuhu, ketahuilah bahwa kemarin
kitab itu sudah dicuri oleh Hek-mo-ong, bahkan baru tadi Kiu-bwe Coa-li juga datang menanyakan.
Sekarang Kiu-bwe Coa-li telah menyusul ke Hek-mo-san.”
Seperti juga Kiu-bwe Coa-li tadi, kini hwesio itu berpaling kepada Gui Tin dan bertanya. “Betulkah itu, Guisiucai?”
“Memang betul demikian,” kata Gui Tin.
“Baiklah, kau beristirahat dulu baik-baik di sini, Gui-siucai. Kalau sudah terdapat kitab itu, pinceng akan
menjemputmu di tempat ini!”
Sesudah berkata demikian, sekali dia menggerakkan kakinya, tubuhnya yang gemuk itu telah melayang
naik dan menerobos melalui lubang yang tadi! Betul-betul hebat ginkang dari hwesio gemuk ini, karena itu
tidak mengherankan apa bila julukannya adalah Iblis Terbang!
Celaka, pikir An Lu Shan. Sekarang benar-benar hebat! Im-yang Bu-tek Cin-keng sudah dikejar oleh
demikian banyak orang lihai. Tidak ada harapan sama sekali baginya untuk mendapatkan kitab itu kembali!
Sesungguhnya, yang pertama kali mendapatkan kitab itu adalah suhu-nya, yaitu Li Kong Hoat-ong. Maka
setelah suhu-nya itu meninggal, An Lu Shan menganggap kitab itu telah menjadi haknya. Kalau tadinya dia
masih mengandung harapan besar untuk mengambil kembali kitab itu dari tangan Hek-mo-ong yang lihai,
tidak tahunya kini muncul banyak tokoh yang masih jauh lebih lihai dan berbahaya dari pada Hek-mo-ong
sendiri! Habislah harapannya dan diam-diam dia mengerling ke arah Gui Tin. Untuk apa sastrawan tua ini
dibiarkan hidup?
“Ia harus mati!” demikian An Lu Shan mengambil keputusan.
Kalau dia mati, biar pun seorang di antara tokoh-tokoh besar itu berhasil mendapatkan kitab Im-yang Butek
Cin-keng, namun apa gunanya? Tak seorang pun selain Gui-siucai mengerti akan bahasa tulisan kitab
itu. Kalau sastrawan ini dibiarkan hidup sehingga ada orang lain yang mampu membaca kitab rahasia itu,
bukankah hal itu berbahaya sekali?
Sekarang dia sudah mempunyai barisan yang kuat dan siasat-siasat perang yang lihai. Apa bila sampai
ada yang mengerti rahasianya kemudian siasat-siasatnya itu dipecahkan orang, bukankah itu akan celaka
sekali?
Sementara itu, terdengar Kwan Cu mengomel, “Benar-benar orang-orang tua itu sudah miring otaknya
semua! Kitab palsu diperebutkan!” Baru saja dia bicara demikian, Gui Tin membentaknya dan baru Kwan
Cu sadar bahwa dia telah berbicara terlalu banyak. Ia menyesal sekali dan mendekap mulutnya sendiri.
Akan tetapi An Lu Shan sudah bangkit dari tempat duduknya, lalu menghampiri mereka.
“Coba katakan, apa artinya ucapan tadi, Kwan Cu? Kitab palsu, apakah maksudmu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwan Cu tak dapat menjawab, hanya berdiri memandang kepada komandan itu dengan mata terbuka
lebar-lebar.
Akan tetapi An Lu Shan sudah menaruh kecurigaan dan tidak percaya akan keterangan ini. Memang dia
hendak mencari-cari alasan untuk melenyapkan guru serta murid ini. Dia memegang tangan Kwan Cu dan
menekannya keras-keras.
“Hayo kau mengaku terus terang, benarkah kitab itu palsu?”
Kwan Cu merasa tangannya sakit sekali, akan tetapi pada saat dia mengerahkan tenaga lweekang-nya
yang selama ini dilatih menurut petunjuk kitab itu, mendadak An Lu Shan melepaskan pegangannya sambil
berteriak kesakitan. Dari lengan anak itu seakan-akan menolak hawa yang panas sekali.
“Keparat! Kau bahkan sudah mempelajari isi kitab itu, ya? Hayo lekas katakan terus terang!”
Kwan Cu hanya tertawa, dan suara ketawanya ini mengobarkan kemarahan komandan itu. Sekali dia
mengayun tangannya, dada Kwan Cu telah dipukulnya.
Bila menurut keadaan biasa, tentu dada anak ini akan pecah dan binasa di saat itu juga. Akan tetapi, tubuh
anak ini hanya terlempar jauh dan kembali seperti ketika dia tertangkis oleh Hek-mo-ong, tubuhnya lalu
membentur dinding. Anehnya, dia tidak apa-apa, karena ketika dipukul dia kerahkan hawa murni yang
dikumpulkan di bagian dada yang terpukul sambil menahan napas sehingga tubuhnya seakan-akan terisi
hawa yang kuat dan tidak terluka!
Melihat keanehan ini, semakin yakinlah An Lu Shan. Ia lalu menubruk maju dan kini dia memegang lengan
Gui-siucai.
“Kau berbicaralah terus terang!”
Akan tetapi Gui Tin menggeleng-gelengkan kepala dan tidak mau menjawab pertanyaan ini. An Lu Shan
menggunakan tenaganya menekan dan…
“Krakk!” terdengar suara dan ternyata tulang lengan Gui Tin telah remuk! Sastrawan tua ini berjengkit
kesakitan. Namun dia tetap menutup mulut.
“Jangan kau sakiti guruku!” tiba-tiba Kwan Cu berseru keras.
Sekali melompat, dia telah berada di depan An Lu Shan dan merenggutkan lengan An Lu Shan yang
menekan lengan Gui Tin. An Lu Shan merasakan sambaran angin datang dari serangan Kwan Cu, maka
cepat dia mengelak dan kakinya menyambar. Sekali lagi Kwan Cu terlempar jauh.
An Lu Shan sudah marah sekali. Dia berteriak memanggil penjaga-penjaga dan berkata keras, “Tangkap
mereka, rangket sampai mereka mengaku tentang kitab itu!”
Lima orang tentara yang biasa menjalankan perintah menyiksa tawanan atau lebih tepat disebut algojoalgojo,
segera menyerbu dan sebentar saja Gui Tin dan Kwan Cu sudah ditangkap, lalu diseret keluar!
Seorang di antara mereka mengeluarkan sebatang cambuk hitam dan mulailah guru dan murid ini dihajar,
dicambuki seperti dua ekor binatang yang mogok kerja.
Darah mengalir dari kulit tubuh mereka yang tertimpa oleh cambuk. Tidak hanya pakaian mereka yang
butut itu yang terobek, bahkan kulit dan muka mereka juga pecah-pecah mengeluarkan darah.
“Kwan Cu...” Giu-siucai mengeluh dengan tubuh lemah terkulai, menggantung di tangan seorang algojo
yang memegangnya. “Carilah kitab aslinya, kau pelajari baik-baik, jangan seperti aku... lemah...
kepandaian bu penting sekali agar dapat menghadapi orang-orang macam ini.”
Akan tetapi dia tak dapat lagi melanjutkan kata-katanya karena sebuah tendangan tepat sekali mengenai
ulu hatinya sehingga orang tua ini tiba-tiba merasa napasnya terhenti dan dia megap-megap seperti ikan
dilempar di darat.
“Kejam! Kalian ini bukan manusia. Kejam!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwan Cu meronta dan berhasil melepaskan diri, lalu menubruk gurunya. Akan tetapi satu ketokan dengan
belakang golok membuat ia roboh terguling dan tangannya telah dicekal lagi, lalu dicambuki sampai
pakaiannya hancur dan anak ini menjadi setengah telanjang!
Gui Tin sudah payah sekali. Dan betapa pun kuat tubuh Kwan Cu, tanpa memiliki ilmu silat, dia tidak
berdaya dan agaknya guru dan murid ini tentu akan menemui kematian di tangan para algojo ini yang
sudah mendapat perintah dari An Lu Shan untuk membunuh mereka.
Akan tetapi, pada waktu itu terdengar bunyi gembreng dan tambur dari luar benteng dan masuklah satu
rombongan orang yang disambut dengan penghormatan besar oleh para penjaga.
Penyiksaan terhadap Gui Tin dan Kwan Cu otomatis dihentikan. An Lu Shan bersama An Lui Kui nampak
tergesa-gesa menyambut kedatangan tamu agung itu. Ternyata bahwa yang datang adalah Menteri Lu Pin
yang mendapat tugas dari kaisar untuk menaikkan pangkat An Lu Shan!
Dari jauh Lu Pin melihat kakek dan bocah pengemis itu dicambuki, maka begitu bertemu dengan An Lu
Shan yang menjalankan penghormatan, dia lalu bertanya,
“Siapakah mereka itu dan mengapa dicambuki?”
“Ahh, Taijin. Mereka itu adalah dua orang penipu besar. Mereka adalah guru dan murid yang mengaku
sebagai sastrawan dan yang kami perintahkan untuk menterjemahkan sebuah kitab kuno. Tiada tahunya
mereka menipu kami dan menyatakan bahwa kitab itu palsu adanya.”
“Kitab kuno? Apakah An-ciangkun maksudkan bahwa kitab itu adalah Im-yang Bu-tek Cin-keng?”
Pucatlah muka An Lu Shan mendengar ini. “Ahh, Taijin sudah mendengar pula tentang kitab itu? Agaknya
semua orang tahu akan kitab itu.”
“Tentu saja. Siapa yang tak mendengar akan kitab yang diperebutkan oleh semua orang di negeri ini? Anciangkun,
apakah kau benar-benar sudah menemukan kitab itu? Kalau benar begitu, kenapa tidak kau
antarkan ke kota raja?” Menteri tua ini memandang penuh curiga dan selidik.
“Itulah Lu-taijin. Kami memang telah mendapatkan kitab, akan tetapi kami masih merasa ragu-ragu apakah
kitab itu kitab yang asli, karena banyak kitab-kitab yang dipalsukan orang. Dan karena itu pula kami segera
memerintahkan kepada sastrawan tua itu untuk menterjemahkannya. Tidak tahunya, dia menipu kami dan
kitab itu dinyatakan palsu.”
“Mana kitab itu?”
An Lu Shan menarik napas panjang. Kini dia merasa puas dan lega bahwa kitab itu telah dirampas orang!
Jauh lebih baik kitab itu jatuh ke dalam tangan para tokoh kang-ouw dari pada jatuh ke dalam tangan
pemerintah! Ia kemudian menuturkan bahwa kitab itu telah dirampas orang. Menteri Lu Pin menghela
napas dan menyatakan sayangnya. Lalu dia menyuruh orang membawa datang dua orang pengemis yang
disiksanya tadi.
Setelah Gui Tin dan Kwan Cu diseret di hadapan Menteri Lu Pin, kebetulan sekali Gui Tin siuman dari
pingsannya. Keadaannya sudah payah sekali, akan tetapi begitu dia melirik dan bertemu muka dengan
Menteri Lu Pin, dia segera membuang muka dan meludah ke atas tanah.
Lu Pin memandang dengan penuh perhatian. “Ahh, bukankah kau ini Gui-twako?”
Gui Tin tetap saja membuang muka dan pandangan matanya penuh hinaan terhadap menteri itu.
“Benarkah kau Gui Tin...? Benarkah aku berhadapan dengan Gui-twako?” Menteri Lu Pin kembali
bertanya, bahkan kini dia turun dari tempat duduknya yang tadi disediakan oleh seorang pengawalnya, lalu
dihampirinya Gui Tin.
“Aku tidak sudi berkenalan dengan manusia she Lu!” mendadak Gui Tin berkata dengan suara keras dan
marah sekali sehingga kembali dadanya terasa sakit dan dia pun roboh pingsan!
“Lekas tolong dia!” kata Lu Pin. “Dia adalah kenalan lama dariku. Hayo cepat tolong dan rawat dia baikdunia-
kangouw.blogspot.com
baik?”
An Lu Shan menjadi kaget sekali melihat bahwa menteri ini kenal baik dengan Gui Tin, karena itu dia cepat
menyuruh orang-orangnya untuk menolong Gui Tin dan Kwan Cu. Kemudian Menteri Lu Pin lalu dibawa ke
rumah gedung An Lu Shan yang berada di luar benteng. Memang komandan An ini telah membawa
keluarganya dari kota raja ke tempat itu, akan tetapi karena merasa tak enak untuk tinggal bersama
keluarga dalam benteng, dia lalu membuah sebuah rumah gedung di luar benteng.
Lu Pin lalu menyuruh An Lu Shan untuk membawa Gui Tin dan muridnya ke rumah itu pula untuk dirawat.
Akan tetapi keadaan Gui Tin demikian parah sehingga dia tak pernah siuman lagi, kecuali satu kali di
tengah malam ketika dia meninggalkan pesan kepada Kwan Cu bahwa anak ini harus mencari kitab Imyang
Bu-tek Cin-keng.
“Kwan Cu.” bisiknya di atas pembaringan. “Untuk mendapatkan kitab itu, satu-satunya jalan hanya
membaca dan mempelajari kitab sejarah yang masih kusimpan di dalam goa di hutan siong di lereng Bukit
Liang-san. Di dalam dusun di lereng bukit sebelah barat, asal kau tanyakan di mana tempat tinggal Guilokai
(pengemis tua she Gui), tentu semua orang akan dapat memberi tahu. Goa itu kosong dan aku
menyimpan peti besi di bawah tanah. Bukalah dan carilah kitab sejarah yang tulisannya sama dengan isi
kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Kau pelajari sejarah itu dan kemudian kau carilah kitab itu. Dunia kacau
balau, kekerasan dan kekuatan selalu memegang peranan penting, kalau tidak dilawan oleh kekerasan dan
tenaga pula, kita tidak berdaya. Taatilah pesanku ini, Kwan Cu.”
Kwan Cu mengangguk-angguk sambil mencegah keluarnya air matanya. Ia tidak mudah terharu, tetapi
melihat keadaan gurunya yang sangat dikasihinya ini, dia merasa kasihan juga.
Gui Tin meninggal dunia dan berkat pengaruh Lu Pin, dia dimakamkan dengan pantas di dusun itu. Ada
pun Kwan Cu yang bersembahyang di depan makam bekas gurunya ini, merasa sunyi sekali. Tiba-tiba dia
disuruh datang menghadap Menteri Lu Pin.
Setelah dia berhadapan dengan menteri ini, Kwan Cu mendapat kenyataan bahwa wajah menteri ini benarbenar
sangat agung dan mendatangkan rasa sayang. Gerak-geriknya halus seperti Gui-siucai, dan amat
peramah pula.
“Anak, apakah kau murid dari Gui-twako?”
“Benar, Taijin.”
“Apa saja yang kau pelajari dari gurumu itu?”
“Membaca, menulis, dan mempelajari syair-syair dan ujar-ujar kuno,” Kwan Cu menjawab terus terang.
Mendengar jawaban yang lancar serta melihat sikap Kwan Cu yang sopan-santun, jujur, dan tidak
merendah ini, Lu Pin merasa suka juga.
“Anak baik, siapakah namamu?”
“Nama hamba Kwan Cu.”
“Nama keluargamu?”
“Hamba she Lu”
Menteri Lu Pin tercengang.
“Siapa orang tuamu?”
“Hamba tidak tahu. Nama dan she hamba juga hamba terima sebagai pemberian orang lain kepada
hamba,” kata Kwan Cu terus terang.
Mau tidak mau Lu Pin tertawa juga. “Ahh, aneh sekali. Siapakah orangnya yang memberi she Lu
kepadamu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hamba menerima she Lu itu dari pemberian seorang tua yang gagah perkasa, Ang-bin Sin-kai.”
“Ang-bin Sin-kai?!” Lu Pin benar-benar terkejut. “Ehhh, anak baik, masih ada hubungan apakah antara kau
dan dia?”
“Tidak ada hubungan apa-apa, Taijin. Hanya Ang-bin Sin-kai hendak mengambil murid kepada hamba,
akan tetapi hamba tidak mau.”
Lu Pin tertawa gembira. “Dia orang aneh, akan tetapi kau seorang bocah yang lebih aneh lagi. Dan
namamu itu, Kwan Cu, pemberian siapa pula?”
“Nama hamba diberi oleh seorang hwesio gemuk bernama Kak Thong Taisu.”
Kembali menteri tua itu tertegun. “Ahh, benar-benar kau bocah aneh sekali. Masih sekecil ini sudah
mengalami hal yang tidak sembarangan anak dapat mengalaminya. Diberi she oleh Ang-bin Sin-kai, diberi
nama oleh Kak Thong Taisu, menjadi murid dari Gui-siucai, kini kau bercakap-cakap dengan aku! Ah, Lu
Kwan Cu, apakah kau tidak ingat lagi siapa adanya ayah bundamu?”
Kwan Cu menggelengkan kepalanya. “Ayah hamba adalah langit dan ibu hamba adalah bumi. Saudarasaudara
hamba adalah semua manusia di dunia ini,” Kwan Cu menjawab sambil meniru ujar-ujar yang
pernah dibacanya.
Bukan main terharunya hati Lu Pin mendengar ini. Ia melambaikan tangannya dan ketika Kwan Cu
mendekat, menteri tua ini lalu memeluknya dan mengelus-elus kepalanya yang gundul.
Sebagaimana diketahui, Menteri Lu Pin hanya mempunyai seorang putera dan seorang cucunya amat
tidak berkenan dalam hatinya. Kini melihat Kwan Cu, timbul sukanya.
“Kwan Cu, marilah kau ikut dengan aku saja ke kota raja. Kau akan kudidik dengan ilmu kesusastraan, dan
sungguh pun aku tidak sepandai mendiang gurumu, akan tetapi kau akan berhasil dengan cita-citamu. Kau
tinggallah bersama aku, kau kuanggap sebagai cucuku sendiri, Kwan Cu.”
Terharu sekali hati Kwan Cu. Belum pernah ada orang yang sikapnya demikian halus dan ramah tamah
kepadanya, apa lagi seorang pembesar tinggi seperti Menteri Lu Pin ini.
“Hamba boleh menyebut kongkong kepada Taijin?”
“Tentu saja, karena dalam pandanganku, kau adalah cucuku sendiri, Kwan Cu.”
Saking girangnya Kwan Cu lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan menteri tua itu dan tak tertahankan
pula dua titik air mata kemudian mengalir turun ke pipinya yang kurus. “Kongkong...” katanya.
Lu Pin juga merasa terharu, segera dipeluknya anak itu. “Kau harus berganti pakaian, cucuku, dan besok
kau ikut aku ke kota raja.”
“Tidak, Kongkong. Tidak sekarang. Biarlah kelak aku akan mencari Kongkong. Sekarang aku mempunyai
tugas lain yang lebih penting.”
“Tugas...?” Menteri Lu Pin membelalakkan matanya. “Kau...? Tugas apa dan dari siapa, cucuku?”
“Tugas yang telah dipesankan oleh mendiang Gui-lopek, dan tugas itu adalah...” Anak ini menengok ke
kanan kiri, kemudian melanjutkan dengan perlahan, “tugas mencari kitab asli Im-yang Bu-tek Cin-keng.”
Kembali untuk ke sekian kalinya menteri tua itu tertegun. Kemudian dia menghela napas. “Memang kau
seorang anak ajaib! Benar-benar kau bocah ajaib! Baiklah, aku juga tahu bahwa orang-orang aneh seperti
Ang-bin Sin-kai dan kau tak akan mudah dibantah. Kau pergilah, akan tetapi ingat bahwa aku selalu
menanti kau sebagai kongkong-mu!”
Sesudah berkata demikian, Menteri Lu Pin lalu memberi bekal sekantong uang emas kepada Kwan Cu,
dan memberitahukan An Lu Shan agar semua anak buahnya jangan mengganggu anak ini. Sesudah
berpamit dan menghaturkan terima kasihnya, Kwan Cu bersembahyang lagi di hadapan makam Gui Tin,
lalu pergilah anak ini, menuju ke Goa Liang-san untuk mencari simpanan kitab-kitab mendiang gurunya…..
dunia-kangouw.blogspot.com
********************
Sesudah berhasil merampas kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, dengan hati gembira sekali Hek-mo-ong
berlari cepat sambil tertawa-tawa menuju ke rumahnya di puncak gunung Hek-mo-san. Ia tinggal bersama
dua orang adiknya dan isteri serta ipar-iparnya di dalam satu rumah besar di kampung yang cukup ramai,
di mana dia dianggap sebagai seorang tuan tanah yang cukup kaya-raya. Memang sejak bertahun-tahun
yang lalu, Hek-mo-ong tidak berkelana lagi di dunia kang-ouw, melainkan hidup aman di dalam kampung
ini.
Ketika dia melangkah masuk ke dalam rumahnya, dia disambut oleh dua orang adiknya yang juga dua
orang laki-laki yang bertubuh tinggi besar dan kasar, yang menyambutnya bersama isteri-isterinya yang
cantik. Isteri Hek-mo-ong sendiri masih muda, lagi cantik dan genit sekali. Melihat kegembiraan Hek-moong,
mereka beramai-ramai mengajukan pertanyaan.
Akan tetapi Hek-mo-ong hanya menjawab sambil tertawa-tawa. “Lekas bikin masakan yang enak,
keluarkan arak yang wangi! Kita rayakan hari besar ini, karena tak lama lagi aku Hek-mo-ong akan
menjagoi di seluruh permukaan bumi! Tunggu saja kalian, Ang-bin Sin-kai, Jeng-kin-jiu, Pak-lo-sian, Hek-i
Hui-mo, dan Kiu-bwe Coa-li! Sebentar lagi, kalian terpaksa harus bertekuk lutut dan tunduk kepadaku,
mengakui keunggulan Hek-mo-ong sebagai orang yang terpandai! Ha-ha-ha-ha-ha!”
Adik-adiknya, ipar-iparnya, juga isterinya sudah tahu akan keanehan watak Hek-mo-ong, karena itu mereka
tidak berani bertanya lagi sebelum orang ini menceritakannya sendiri. Maka, segera makanan dan arak
disediakan lalu mereka makan minum dengan gembira sekali.
Setelah makan kenyang, barulah Hek-mo-ong mengeluarkan peti hitam itu dari sakunya, meletakkannya di
atas meja sambil berkata bangga.
“Lihat, inilah kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng!”
“Twa-pek (Uwa), mengapa kitab seperti kotak kayu?” memotong seorang anak kecil yang menjadi putera
dari saudara termuda.
“Kau tahu apa?!” bentak ayahnya atau adik termuda dari Hek-mo-ong. “Kotak itu hanya tempat saja,
tentunya.”
Karena tidak sabar lagi, mereka lalu mendesak kepada Hek-mo-ong untuk membuka peti itu. Pada waktu
peti itu dibuka, kedua orang adik Hek-mo-ong menjenguk dari kanan kiri. Hek-mo-ong tertawa-tawa, lalu
menggunakan kedua tangannya untuk membuka peti itu.
“Ser! Serr! Serrr…!”
Berturut-turut, tujuh batang anak panah yang secara pandai dipasang oleh An Lu Shan itu menyambar ke
atas cepat sekali. Kalau saja bukan Hek-mo-ong, tentu orang yang membukanya akan mati saat itu juga,
terpanggang oleh anak-anak panah itu.
Akan tetapi Hek-mo-ong sudah mempunyai kepandaian yang amat tinggi. Begitu melihat menyambarnya
cahaya hitam dari dalam peti, dia berseru keras dan kedua tangannya bergerak menangkis sehingga anakanak
panah itu terpental ke kanan kiri.
Celaka sekali, kedua adiknya yang menjenguk dari kanan kiri itu tidak sempat mengelak dan tepat sekali
muka mereka tertembus anak-anak panah sehingga mereka roboh tak berkutik lagi. Muka itu menjadi
bengkak dan biru, amat mengerikan.
Tentu saja isteri-isteri mereka menangis dan menjerit-jerit memeluki mayat dua orang itu. Hek-mo-ong
sendiri untuk beberapa lama berdiri bagaikan patung, akan tetapi sesudah mengeluarkan kitab itu dan
membalik-balikkan lembarannya, timbul lagi kegembiraannya.
“Sudah, jangan menangis lagi. Mereka sudah mati, sudahlah. Sudah patut kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng
didapatkan dengan pengorbanan besar. Urus jenazah mereka baik-baik, dan kalian ini tidak usah
menangis, mulai sekarang boleh ikut aku saja sebagai pengganti suami-suamimu.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Tidak seorang pun berani membantah, akan tetapi ucapan ini saja sudah cukup dipakai ukuran orang
macam apa adanya Hek-mo-ong ini! Tanpa menghiraukan perkabungan dan sambil tertawa-tawa, dia lalu
minum arak dan membalik-balik lembaran kitab yang baru saja dirampasnya itu.
Akan tetapi, mendadak dia menjadi pucat sekali dan mukanya meringis-ringis menahan sakit. Kedua
tangannya bergerak memegangi perut, dada, dan leher karena dia merasa betapa bagian-bagian tubuh itu
terasa amat panas dan sakit.
“Celaka... keparat An Lu Shan... aduh...!” Ia terhuyung-huyung, menubruk meja sehingga kitab itu
terlempar ke atas lantai.
Isterinya beserta ipar-iparnya memburu dan menubruknya.
“Aduh...” Hek-mo-ong menjerit-jerit, ada pun mulutnya mulai berbusa. “Awas... peti itu... jangan disentuh...
aduh, mati aku!” tubuhnya kaku, matanya mendelik, mulutnya berbusa dan dia tidak bernapas lagi!
Apa bila orang lain, tentu sudah semenjak tadi mati karena pengaruh racun. Tadi dia memegang-megang
peti, kemudian makan. Sudah menjadi kebiasaan orang-orang kasar seperti Hek-mo-ong, biar pun
tangannya kotor, kalau mau makan terus saja makan tanpa mencuci atau membersihkan tangannya, maka
sebentar saja racun di tangannya terbawa masuk ke perut. Akan tetapi dia memang bertubuh kuat
sehingga racun itu agak lama merobohkannya.
Isteri-isteri dari tiga orang itu beserta anak-anak dan keluarganya, tentu saja menangis dan sebentar saja
di situ terdengar jerit tangis ramai sekali. Pada waktu dua orang adik Hek-mo-ong tadi tewas, mereka tidak
berani menangis karena takut kepada Hek-mo-ong. Setelah sekarang Hek-mo-ong sendiri mati, semua
orang menangis sepuasnya!
Dengan dibantu oleh para tetangga dan orang sedusun yang datang berlayat, keluarga itu lalu mengurus
tiga jenazah itu. Dan atas perintah isteri Hek-mo-ong, peti hitam itu lalu dibakar, ada pun kitabnya lalu
ditaruh di atas meja sembahyang yang diletakkan di depan peti mati Hek-mo-ong. Tiga peti mati dijajarkan
dan peti mati Hek-mo-ong ditempatkan di tengah-tengah. Juga meja sembahyangnya paling besar.
Pada keesokan harinya, pada waktu orang-orang masih ramai bersembahyang dan hio mengebulkan
asapnya bergulung-gulung, seorang tokouw datang ke tempat itu! Tangan kanan tokouw itu memegang
cambuk berbulu sembilan helai, sedangkan tangan kirinya menggandeng tangan seorang anak perempuan
yang mungil dan cantik manis. Tokouw ini bukan lain adalah Kiu-bwe Coa-li dan muridnya Bun Sui Ceng!
Pada saat Kiu-bwe Coa-li melihat tiga peti mati itu berjajar di halaman dan semua orang menangis dan
berkabung, dia mengerutkan keningnya. Ada pun keluarga Hek-mo-ong segera menyambut tokouw ini,
bagai layaknya menyambut seorang pertapa wanita yang mereka anggap datang untuk memberi hiburan
kepada warga yang mati.
“Silakan duduk, Suthai,” kata mereka.
Kiu-bwe Coa-li tidak menjawab, melainkan memandang ke arah peti-peti mati, kemudian matanya mencaricari
sesuatu dengan pandangan yang tajam sekali.
“Di mana Hek-mo-ong?” tanyanya tiba-tiba dengan suara kereng.
Ditanya demikian, isteri dari Hek-mo-ong melangkah maju dan menangis.
“Suthai yang mulia, suamiku telah meninggal dunia,” lalu tangisnya makin menjadi.
Kiu-bwe Coa-li tertegun dan memandang tajam. “Yang mana petinya?” tanyanya pula.
Karena tidak menyangka buruk, isteri Hek-mo-ong lalu menunjuk ke arah peti mati yang berada di tengahtengah
sambil berkata, “Itulah peti mati suamiku.”
Dengan langkah perlahan Kiu-bwe Coa-li lalu menghampiri peti itu. Sui Ceng tak senang melihat peti mati,
maka semenjak tadi dia sudah melepaskan tangannya dari gandengan gurunya. Sekarang anak ini duduk
di atas sebuah bangku dan memandang ke arah meja sembahyang dengan perasaan heran serta kagum
melihat hiasan-hiasan dalam upacara sembahyang itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kiu-bwe Coa-li mendekati peti mati Hek-mo-ong, kemudian mengulur tangan kirinya dan menepuk-nepuk
peti mati itu beberapa kali secara perlahan. Semua orang menyangka bahwa pendeta wanita itu memberi
berkah kepada yang mati, maka mereka menjadi terharu dan girang. Tidak seorang pun di antara mereka
pernah mengira bahwa tepukan-tepukan perlahan itu adalah serangan-serangan pukulan lweekang yang
dahsyat bukan main!
Ternyata bahwa Kiu-bwe Coa-li masih belum percaya penuh akan kematian Hek-mo-ong dan diam-diam
menyerang isi peti mati itu. Kemudian dia melirik ke arah peti mati yang berada di kanan kiri peti mati Hekmo-
ong.
“Siapa yang berada di dalam dua peti mati itu?” tanyanya kepada isteri Hek-mo-ong.
“Mereka adalah kedua adik suamiku, Suthai,” jawab nyonya itu sambil sesunggukan. Dan kembali ramai
orang-orang menangis di tempat itu.
Pada saat itu terdengarlah suara ketawa keras. Semua orang terkejut dan menengok. Ternyata, entah dari
mana datangnya, tahu-tahu di depan peti-peti mati itu sudah berdiri seorang hwesio gemuk bundar
berpakaian serba hitam yang berkali-kali menyebut nama Buddha.
“Omitohud!” Kemudian, sambil mengoceh seorang diri, dia berkata lagi, “Tidak tahunya iblis neraka telah
mendahului pinceng (aku) dan merenggut nyawa Hek-mo-ong.”
“Hemm, Hek-i Hui-mo, alat penciumanmu lebih tajam dari seekor anjing buduk!” berkata Kiu-bwe Coa-li
dengan senyum mengejek.
Hwesio itu yang bukan lain adalah Hek-i Hui-mo, tertawa bergelak.
“Ha-ha-ha! Kiu-bwe Coa-li, kau benar-benar cepat. Hampir saja pinceng ketinggalan!”
Setelah berkata demikian, hwesio ini lalu melakukan upacara sembahyang di depan peti mati Hek-mo-ong.
Akan tetapi yang dia pakai sembahyang bukannya hio yang dibakar, melainkan tiga batang hio hitam yang
tidak dibakar. Orang-orang merasa heran sekali, akan tetapi Kiu-bwe Coa-li maklum bahwa tiga batang hio
hitam itu sebenarnya bukanlah hio, melainkan tiga batang jarum hitam yang disebut Hek-tok-ciam (Jarum
Racun Hitam)!
Mulut hwesio ini berkemak-kemik membaca doa, kemudian setelah selesai sembahyang dia
menggerakkan tangannya dan lenyaplah tiga batang hio hitam itu! Orang-orang lain tidak tahu ke mana
perginya benda-benda hitam itu dan mereka mengira hwesio gemuk ini main sulap.
Akan tetapi Kiu-bwe Coa-li tersenyum dan tahu bahwa hwesio Tibet yang lihai ini telah menyambitkan
jarum-jarum itu yang meluncur laksana kilat ke arah tiga buah peti mati dan telah menembusi peti-peti itu
untuk menyerang isinya! Jadi seperti juga dia sendiri, Hek-i Hui-mo Si Iblis Terbang Baju Hitam ini tidak
percaya akan kematian Hek-mo-ong dan diam-diam menyerang isi peti mati!
“Sebelum mati, suamimu membawa sebuah peti kecil terisi kitab, di manakah ditaruhnya peti itu? Peti itu
adalah milikku, sekarang harap dikeluarkan dan dikembalikan kepadaku!” Kata Kiu-bwe Coa-li kepada isteri
Hek-mo-ong.
“Peti celaka itu!” seru isteri Hek-mo-ong. “Peti hitam celaka itulah yang telah membunuh suamiku dan adikadiknya!
Kami telah membakar peti siluman itu, Suthai!”
Terdengar seruan tertahan dan tahu-tahu Kiu-bwe Coa-li bersama Hek-i Hui-mo sudah bergerak dan
berdiri di depan nyonya itu, sikap mereka mengancam dan beringas sekali.
“Sudah dibakar?!” tanya Hek-i Hui-mo dengan suara parau dan keras sehingga nyonya Hek-mo-ong
terkejut sekali.
“Dan isinya, kitab itu... apakah terbakar pula?” tanya Kiu-bwe Coa-li, pandang matanya mengancam.
Kalau nyonya itu menganggukkan kepala, tak salah lagi dia tentu akan mati dalam sekali pukul oleh dua
orang tokoh kang-ouw yang amat mengerikan itu. Akan tetapi nyonya itu menggelengkan kepalanya, lalu
dunia-kangouw.blogspot.com
menunjuk ke arah meja sembahyang di depan peti mati Hek-mo-ong.
“Itulah dia kitab setan itu, yang tadinya berada di dalam peti hitam.”
Tubuh Kiu-bwe Coa-li berkelebat ke arah meja hendak mengambil kitab itu. Akan tetapi tahu-tahu di dekat
kitab itu, di atas meja, terdengar bunyi nyaring dan tiga batang jarum hitam telah menancap di situ! Kiu-bwe
Coa-li cepat melompat ke belakang dan menoleh pada Hek-i Hui-mo yang berdiri tersenyum-senyum!
“Aha, Hek-i Hui-mo! Kau hendak main-main dengan pinni?” tanya Kiu-bwe Coa-li dengan pandang mata
tajam dan cambuknya digerak-gerakkan dalam tangannya.
“Kiu-bwe Coa-li, kita datang di tempat yang sama dan dengan maksud yang sama pula. Tidak boleh kau
mau menang sendiri saja! Aku pun membutuhkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng!”
Dua orang tokoh besar itu berdiri saling pandang dengan sikap mengancam. Keduanya sama jauhnya dari
meja sembahyang di mana keduanya maklum bahwa bergerak lebih dahulu berarti bahaya maut. Mereka
saling menanti, dan sekali lawannya bergerak, tentu akan mengirim serangan.
Ada pun keluarga Hek-mo-ong, ketika sadar dan tahu bahwa dua orang ini sebenarnya sama sekali
bukanlah orang-orang suci yang datang hendak menghibur mereka, bahkan sebaliknya adalah orangorang
jahat yang datang hendak mengacau, menjadi panik dan makin bersedih. Terdengar tangisantangisan
dan sebentar saja keadaan di situ menjadi gaduh sekali.
Tiba-tiba terdengar suara orang mencela, “Hee, kalian ini apakah sudah gila? Menangis tidak karuan
padahal seharusnya bersyukur! Hayo diam semua jangan menangis, kalau tidak akan kutampar mulutnya
siapa yang menangis!”
Semua orang terheran dan kaget sehingga suara tangisan benar-benar lenyap. Memang, seperti biasanya
di dalam sebuah kematian, sebagian besar tangisan orang hanyalah air mata buaya belaka, yaitu tangis
palsu asal keluar air mata saja agar membuktikan bahwa mereka benar-benar berduka!
Ternyata yang baru saja menegur adalah seorang kakek berpakaian seperti pengemis yang tubuhnya
kurus tinggi. Sesudah semua orang berhenti menangis, kakek ini lantas bernyanyi! Suara nyanyinya yang
parau itu mengucapkan kata-kata yang cukup aneh!
Ahh, Hek-mo-ong!
Kau benar-benar amat berbahagia!
Kau telah kembali ke asalmu semula,
tidak seperti kami yang masih menjadi manusia!
Ahh, kau benar-benar berbahagia, Hek-mo-ong!
Kiu-bwe Coa-li dan Hek-i Hui-mo yang tadinya saling pandang dan sudah bersiap-siap untuk
memperebutkan kitab di atas meja sembahyang itu, seketika air mukanya berubah ketika melihat pengemis
kurus kering ini.
“Ang-bin Sin-kai, engkau juga datang? Kau tidak mau ketinggalan pula?” Kiu-bwe Coa-li menyindir.
“Ha-ha-ha-ha, tua bangka dari timur mana mau mengalah? Ada tulang baik dan daging gemuk, tentu
datang anjing!” Hek-i Hui-mo juga menyindir.
Akan tetapi baik Hek-I Hui-mo mau pun Kiu-bwe Coa-li kini lebih waspada dan bersiap lagi mengawasi
gerak-gerik Ang-bin Sin-kai, menjaga jangan sampai pengemis kurus itu mendahului mereka mengambil
kitab di atas meja!
“Kau benar, Setan Hitam! Memang kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng tidak boleh terjatuh ke dalam tanganmu
yang kotor!” Ang-bin Sin-kai yang dimaki itu tersenyum-senyum saja.
Mendadak menyambar angin keras dan tubuh seorang lain yang gemuk bundar seperti tubuh Hek-i Huimo,
datang bagaikan ‘menggelundung’! Ternyata dia adalah Jeng-kin-jiu Kak Thong Tiasu, tokoh pertama
dari selatan.
“Omitohud, bakal ramai sekarang!” katanya sambil matanya yang bundar itu jelalatan ke kanan kiri.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Pengemis bangkotan, kau juga sudah ada di sini?” katanya kepada Ang-bin Sin-kai.
Pembaca tentu masih ingat akan hwesio gemuk ini, karena pada permulaan cerita ini, dia sudah muncul
bersama Ang-bin Sin-kai dan mengadu kepandaian di pinggir pantai Laut Po-hai, maka tak perlu kiranya
dituturkan pula betapa hebat dan lihai kepandaian hwesio gemuk ini!
“Bagus, bagus! Dengan munculnya si gundul gendut ini, benar-benar menggembirakan!” berkata Ang-bin
Sin-kai yang segera menyambar sebuah bangku dan menduduki bangku itu. Matanya terus mengincar ke
arah kitab yang terletak di atas meja sembahyang.
Empat tokoh besar ini telah mengetahui kepandaian masing-masing dan tak seorang pun di antara mereka
berani lancang bergerak untuk mengambil kitab itu. Sudah jelas bahwa mereka semua datang untuk
memperebutkan kitab itu, namun karena kitab itu berada di atas meja dan mereka berempat sudah berada
di sana, siapakah yang berani lancang turun tangan lebih dulu? Oleh karena itu, Ang-bin Sin-kai memilih
tempat duduk, karena dia tahu bahwa menanti sambil berdiri saja amat melelahkan.
Tidak tahunya, akalnya ini diketahui pula oleh yang lain-lain, maka yang tiga orang lagi pun segera
menyambar bangku dan ikut duduk! Empat orang itu kini duduk tak bergerak mengelilingi meja
sembahyang dalam jarak yang sama jauhnya. Masing-masing memutar otak mencari akal bagaimana
dapat mengambil kitab itu!
Tiba-tiba Kiu-bwe Coa-li berseru nyaring dan tahu-tahu pecutnya yang berbulu sembilan helai itu
menyambar ke arah meja. Ia hendak mencoba mengambil kitab itu dengan ujung cambuknya.
Akan tetapi, sebelum pecut itu mencapai kitab, sebatang tongkat berkepala naga datang menyambar dan
menangkis pecut itu sehingga terpental kembali! Ternyata Hek-i Hui-mo yang duduknya paling dekat
dengan Kiu-bwe Coa-li telah menangkis dan menggagalkan niat wanita sakti itu!
“Eh, ehh, nanti dulu, Kiu-bwe Coa-li,” kata hwesio dari Tibet ini sambil tertawa terkekeh.
Pada saat Kiu-bwe Coa-li memandang, dia melihat Ang-bin Sin-kai dan Jeng-kin-jiu juga memandangnya
dengan senyum penuh arti. Senyum yang menyatakan bahwa mereka berdua ini pun tidak akan tinggal
diam saja kalau wanita tua itu turun tangan.
“Hemm, berat nih...,” pikir Kiu-bwe Coa-li, lalu ia duduk kembali sambil mengerling ke kiri kanan. “Apakah
kalian begitu pengecut tidak berani mendahului turun tangan mengambil kitab itu?” tanyanya.
Akan tetapi, tiga orang kakek itu tidak menjawab, hanya duduk saja sambil tersenyum-senyum. Benarbenar
keadaan mereka lucu sekali, kini hanya duduk diam saja, bagaikan empat orang kawan lawan yang
baru bertemu dan mengobrol mengitari meja!
“Bagus, baiknya aku belum terlambat!” mendadak terdengar suara halus dan datanglah seorang kakek
bertubuh pendek kecil diikuti oleh dua orang anak laki-laki di tempat itu.
Semua orang menengok dan ternyata kakek ini adalah Pak-lo-sian Siangkoan Hai, tokoh besar dari utara!
Ada pun dua orang anak kecil itu adalah murid-muridnya, yakni Gouw Swi Kiat dan The Kun Beng.
Dua orang anak-anak ini sudah sering kali mendengar dari suhu mereka tentang empat orang tokoh yang
kini duduk mengelilingi meja sembahyang. Maka, mereka tidak berani mendekat, lalu menghampiri Ben Sui
Ceng murid Kiu-bwe Coa-li, karena melihat anak perempuan yang mungil dan cantik duduk di tempat agak
jauh sambil menonton.
“Bagus, tua bangka dari utara sekarang sudah datang, kaulah yang boleh mulai mencoba mengambil kitab
itu. Bukankah untuk itu kau datang?” tanya Kiu-bwe Coa-li.
Akan tetapi Siangkoan Hai Si Dewa Dari Utara bukanlah seorang bodoh. Hanya melihat sekelebatan saja,
dia tahu bahwa empat orang ini tidak berani mengambil kitab, karena kalau seorang mengambil, yang lain
tentu akan mencegahnya. Ia tertawa terkekeh-kekeh sambil memandang mereka berempat itu bergantiganti.
“Heh-heh-heh! Dunia ini ternyata tak lebih lebar dari pada setapak tangan. Tak kusangka bahwa aku di sini
akan bertemu dengan Kiu-bwe Coa-li dan Jen-kin-jiu Kak Thong Taisu dari selatan! Hek-i Hui-mo dari barat
dunia-kangouw.blogspot.com
dan Ang-bin Sin-kai dari timur! Hebat benar! Apakah seluruh dunia sudah terbakar oleh api neraka
sehingga iblis-iblis dan setan-setan datang berkumpul di sini? Dan berkumpul mengelilingi meja kematian
pula! Heh-heh-heh! Orang yang berada di dalam peti mati ini benar-benar seorang yang beruntung dan
terhormat. Kaisar sendiri kalau mati tak mungkin dapat mengundang datang setan-setan dari barat, timur
dan selatan!”
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Best Cersil

Pecinta Cersil