Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Kamis, 28 September 2017

Pendekar Bongkok Ke 5

Pendekar Bongkok Ke 5 Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Pendekar Bongkok Ke 5
kumpulan cerita silat cersil online
-
Mendengar seruannya ini, keempat orang saudaranya juga teringat dan mereka semua merasa heran.
Anak bongkok itu kini berani datang dan bersikap demikian tenang dan gagah!
“Benar sekali, Tibet Ngo-houw. Aku adalah anak bongkok yang dulu itu dan kini aku datang mencari kalian
sebagai utusan para tosu dan pertapa dari Himalaya yang kini berada di Kun-lun-san. Sudah tiba saatnya
kalian berlima mempertanggung jawabkan perbuatan kalian dahulu itu dan menjelaskan kepadaku apa
yang menjadi sebab maka kalian memusuhi mereka yang sama sekali tidak berdosa.”
“Omitohud... alangkah lancang dan sombongnya anak ini!” Tiba-tiba seorang di antara para pendeta yang
hadir di situ berseru.
Dia bukan seorang di antara Lima Harimau Tibet, melainkan seorang pendeta Lama Jubah Merah yang
tubuhnya pendek kecil seperti kanak-kanak berusia belasan tahun. Akan tetapi melihat wajahnya, tentu
usianya sudah mendekati enam puluh tahun. Dia bangkit berdiri dan menjura ke arah Kim Sim Lama.
“Susiok (paman guru), perkenankan teecu (murid) menghajar bocah lancang yang sama sekali tidak
menghormati kita ini. Bocah ini tidak cukup pantas dilayani oleh para suheng berlima!”
Kakek tua renta itu mengangguk. Juga Tibet Ngo-houw diam saja karena mereka pun merasa malu kalau
harus melayani seorang pemuda, yang bongkok pula. Hanya akan menurunkan nama besar mereka
sebagai pembantu-pembantu utama Kim-sim-pai!
Pendeta Lama yang bertubuh pendek kecil itu bernama Ki Tok Lama dan dia pun merupakan seorang di
antara ‘dua belas besar’ yang menjadi para pembantu utama Kim Sim Lama. Sebagai seorang di antara
para pembantu utama, tentu saja dia memiliki tingkat ilmu kepandaian yang cukup hebat.
Dua belas orang pembantu utama itu masih terhitung murid-murid keponakan Kim Sim Lama sendiri,
demikian pula Tibet Ngo-houw, juga merupakan murid keponakannya, sehingga tingkat kepandaian
mereka satu dengan yang lain tidak banyak berselisih.
Hanya Tibet Ngo-houw sudah memiliki nama besar dan mereka berlima itu sudah biasa bertindak sebagai
kelompok yang bekerja sama, maka mereka yang dianggap menjadi pembantu-pembantu utama. Karena
itu kedudukan mereka berlima sedikit lebih tinggi dibandingkan para pembantu lainnya.
Pada saat Ki Tok Lama sudah berdiri di depan Sie Liong, pemuda ini maklum bahwa keadaannya sungguh
tidak menguntungkan baginya. Dia bukan seorang pemuda yang bodoh. Dia tahu bahwa dia sudah
terjebak, memasuki goa harimau yang berbahaya sekali.
Bagaimana mungkin dia yang hanya seorang diri bisa menandingi lawan yang demikian banyaknya! Akan
tetapi, untuk mundur pun tidak mungkin. Tempat itu telah terkepung. Jalan keluar sudah buntu dan kalau
dia nekat melarikan diri, tentu akan dikepung dan dikeroyok.
“Sie Liong!” Ki Tok Lama membentak, “Engkau masih bocah ingusan tapi sudah berani memakai julukan
pendekar, dan engkau sudah berani menghina para suheng-ku Tibet Ngo-houw pula! Hemm, coba
keluarkan semua ilmu kepandaianmu, hendak pinceng (saya) lihat apakah sepak terjangmu juga sehebat
suara dan sikapmu. Majulah!”
Setelah berkata demikian, pendeta Lama yang bertubuh katai ini memasang kuda-kuda yang aneh. Kedua
kakinya berdiri di ujung jari seperti berjingkat, tangan kanan miring di depan dada, sedangkan tangan kiri
berada di balik punggung dengan bentuk cakar.
Melihat ini, diam-diam Sie Liong dapat menduga akan keadaan batin orang ini. Dengan berjingkat dia ingin
mengangkat diri lebih tinggi sesuai dengan watak orang yang masih dikuasai nafsu-nafsunya. Nampak dari
depan, tangan kanannya seperti sikap seorang yang beribadat, yang menaruh tangan berdiri lurus di depan
dada, namun diam-diam, tangan yang lain bersembunyi di punggung dalam bentuk cakar. Ini menandakan
bahwa dia seorang munafik, yang pura-pura alim akan tetapi sesungguhnya batinnya masih bergelimang
nafsu sehingga siap untuk melakukan kekerasan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tentu saja bukan demikian maksud Ki Tok Lama, hanya gerakannya itu mungkin saja tanpa disadarinya
sudah menggambarkan keadaan batinnya.
Sie Liong memberi hormat, kemudian berkata dengan sikap tenang dan suara lembut. “Losuhu, maafkan
saya. Kedatangan saya ini untuk berbicara dengan Tibet Ngo-houw, bukan untuk bertanding dengan siapa
pun juga. Sudah saya katakan bahwa saya tidak mempunyai urusan pribadi dengan Kim-sim-pai...”
“Pengecut! Engkau sudah masuk ke sini dan bersikap sombong dan sekarang engkau tidak berani
menyambut tantangan pinceng?”
“Bukan tidak berani, melainkan karena saya tidak melihat adanya suatu alasan apa pun untuk menyambut
tantangan ini.”
“Ada alasan atau tidak, mau atau tidak, engkau harus menerima seranganku ini. Nah, sambutlah!”
Ki Tok Lama tak mempedulikan semua alasan Sie Liong. Tubuhnya sudah bergerak dan dengan
kecepatan yang luar biasa, tubuh itu sudah meluncur ke depan. Tangan kirinya yang membentuk cakar
tadi, dari belakang telah melayang dari atas ke depan, dan oleh karena tubuhnya tadi meloncat tinggi,
maka tangan itu mencengkeram tepat ke arah ubun-ubun kepala Sie Liong!
“Hyaaaaattt...!” Dia mengeluarkan pekik melengking.
Diserang seperti itu, tentu saja Sie Liong tidak mungkin dapat tinggal diam. Serangan itu merupakan
serangan maut! Dia pun terkejut melihat betapa cepatnya gerakan lawan. Tahulah dia bahwa lawannya
yang cebol itu memiliki ginkang yang tinggi. Namun, masih belum terlalu cepat gerakan itu baginya.
Dengan mudah dia pun menggeser tubuh ke kiri dan terkaman itu luput.
Ki Tok Lama menjadi semakin marah. Begitu tubuhnya turun, dia sudah membalik dan kembali dia sudah
menyerang, kali ini lebih dahsyat, dengan kedua tangan menyambar dari kanan dan kiri.
Sekali lagi Sie Liong mengelak dengan loncatan mundur.
“Losuhu, aku tidak ingin bertanding denganmu!” katanya masih lembut, akan tetapi tidak begitu hormat lagi.
Ki Tok Lama tidak peduli. Dua kali serangannya dengan jurus pilihan gagal. Hal ini saja sudah membuat
dia merasa malu dan menganggap bahwa pemuda itu menghinanya.
“Haiiiiiitttt...!”
Dia menyerang lagi, sekarang dengan pukulan-pukulan yang bertubi dan tubuhnya yang ringkas itu
bergerak-gerak bagaikan seekor tupai yang melompat-lompat, dan setiap kali serangannya luput, sudah
disusulkannya serangan berikutnya.
“Losuhu, sekali lagi, aku tidak ingin berkelahi denganmu!” Sie Liong berkata, suaranya semakin keras.
Namun jawabannya adalah serangan yang lebih ganas.
Sie Liong merasa serba salah. Apa bila dia tidak melayani, tentu orang ini akan terus menyerangnya dan
tidak mungkin jika dia hanya selalu mengelak. Kalau dia membalas, berarti dia sudah terpancing dan
melibatkan diri dalam permusuhan. Padahal sekarang dia berada di dalam sarang Kim-sim-pai.
“Engkau sungguh memaksaku!” kata Sie Liong.
Pada waktu kedua lengan lawannya menghantam dengan pengerahan sinkang, dia pun menyambut dari
samping, menangkis untuk membuktikan kepada lawan bahwa kalau dia mau, tidak begitu sukar baginya
untuk mengalahkan si cebol itu.
“Dukkk!”
Sie Liong membatasi tenaganya, tidak mempergunakan seluruh tenaga, tetapi akibatnya tubuh si cebol
terpelanting dan dia sendiri terhuyung-huyung hampir roboh terbanting.
dunia-kangouw.blogspot.com
Si cebol mengeluarkan teriakan melengking nyaring dikarenakan marahnya, dan ketika dia melompat ke
depan, dia sudah memegang sepasang pedang, yaitu senjatanya yang selalu disembunyikan di balik jubah
merahnya yang lebar.
“Hemm, losuhu, bagaimana seorang pendeta mau memegang senjata tajam? Apa lagi sepasang!” Sie
Liong memperingatkan.
Sebenarnya, menggunakan senjata untuk membunuh orang merupakan pantangan bagi seorang pendeta,
apa lagi memegang senjata pedang untuk menyerang lawan yang tak bersenjata!
Agaknya Ki Tok Lama masih mengingat akan kedudukannya dan dia merasa sungkan juga. “Jangan
banyak mulut! Cepat kau keluarkan senjatamu dan mari kita bertanding dengan menggunakan senjata!”
tantangnya.
“Losuhu, aku tidak pernah memegang senjata!” kata Sie Liong dengan harapan agar lawannya itu merasa
malu dan mundur. “Sebaiknya kita hentikan saja ribut-ribut yang tiada gunanya ini dan membiarkan aku
untuk bicara dengan Tibet Ngo-houw.”
“Tidak! Kau kalahkan dulu sepasang pedangku, baru engkau boleh bicara dengan lima orang suheng Tibet
Ngo-houw!” si cebol berkeras.
Sie Liong menarik napas panjang. Pada waktu dia memandang kepada para pimpinan Kim-sim-pai,
mereka itu diam tak bergerak seperti arca.
Dia melihat sebuah rak senjata di sudut, dan dengan perlahan dia menghampiri rak itu, lalu mengambil
sebatang tombak bergagang kayu dan mematahkan mata tombaknya. Gagang tombaknya saja yang
berada di tangannya dan dia pun berkata,
“Baiklah, kalau engkau memaksa, losuhu, biar aku meminjam gagang tombak ini saja, agar tidak sampai
melukaimu dengan senjata yang tajam atau runcing.”
Sie Liong menggunakan senjata itu bukan karena takut menghadapi sepasang pedang lawan, melainkan
untuk berjaga diri. Kalau sampai terpaksa dia didesak dan dikeroyok, dia harus memiliki senjata untuk
melindungi dirinya dan tidak ada senjata di dunia ini yang lebih baik baginya dari pada sebatang tongkat!
Jawaban Sie Liong itu membuat wajah Ki Tok Lama menjadi semakin merah karena jelas memandang
rendah kepadanya.
“Lihat pedang!” bentaknya untuk berlagak bahwa dia tidak mau menyerang lawan tanpa memberi
peringatan lebih dahulu.
Dua gulungan sinar berkelebat ketika sepasang pedang di tangannya digerakkan secara amat cepat dan
kuat sekali. Akan tetapi, dengan tenang Sie Liong bergerak mundur dan mengelak dari dua kali sambaran
kilat dari sepasang pedang lawan.
Tongkat di tangannya tidak tinggal diam dan ujung tongkat itu diputarnya sedemikian rupa sehingga
ujungnya seperti berubah menjadi belasan banyaknya. Dan ujung-ujung tongkat ini sekarang menyambarnyambar
ke arah jalan darah di seluruh tubuh Ki Tok Lama!
Pendeta Lama itu terkejut bukan main dan terpaksa dia memutar sepasang pedangnya untuk melindungi
diri dari serangan banyak ujung tongkat itu! Akan tetapi, di antara ujung-ujung tongkat itu yang tentu saja
sesungguhnya hanya memiliki dua ujung saja, namun karena tongkat itu bergerak dengan menggetar,
maka ujungnya nampak menjadi banyak, kini ada yang menyerang ke arah pergelangan lengan lawan
yang memegang pedang, sementara ada ujung-ujung lain yang masih mengancam jalan darah tubuh Ki
Tok Lama.
Tentu saja pendeta ini menjadi semakin terkejut dan bingung. Dia lebih condong untuk melindungi
tubuhnya yang akan tertotok, karena itu tanpa dapat dihindarkan lagi, kedua pergelangan tangannya
tertumbuk ujung tongkat secara aneh sekali dan kedua tangan itu tiba-tiba terasa lumpuh dan sepasang
pedangnya pun terlepas dari tangannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi Sie Liong menghentikan gerakan tongkatnya, berdiri tegak di depan Ki Tok Lama dan berkata,
“Losuhu, silakan mengambil kembali sepasang pedangmu.”
Dengan muka agak pucat dan mata terbelalak penuh rasa penasaran dan kemarahan, Ki Tok Lama
bergerak cepat. Dia segera menyambar sepasang pedang itu dari atas lantai, kemudian memutar
sepasang pedang itu, bersiap untuk melakukan penyerangan yang lebih dahsyat dan nekat lagi.
“Tahan senjata!” tiba-tiba Kim Sim Lama berseru. “Ki Tok Lama, kau mundurlah!”
Ki Tok Lama sejenak hanya memandang melotot ke arah Sie Liong. Akan tetapi ia tidak berani membantah
perintah susiok-nya dan dia pun mundur sambil menyimpan kembali sepasang pedangnya ke balik jubah
merah.
Kiranya pada waktu Sie Liong mulai melayani Ki Tok Lama tadi, Kim Sim Lama yang memandang penuh
perhatian, menjadi kagum dan tertarik. Dia berbisik-bisik kepada Thay Ku Lama, orang pertama dari Tibet
Ngo-houw. Setelah memerintahkan Ki Tok Lama untuk mundur, Kim Sim Lama lalu diam saja dan
menyerahkan kepada Thay Ku Lama untuk menghadapi Sie Liong seperti yang mereka bisikkan tadi.
Thay Ku Lama bangkit dari bangkunya, lalu menghampiri Sie Liong yang sudah siap siaga karena
sekarang yang maju adalah orang pertama dari Tibet Ngo-houw. Sejenak mereka saling pandang,
kemudian Thay Ku Lama yang bertubuh besar dengan perut gendut itu menarik napas panjang.
“Omitohud, sekarang pinceng ingat. Memang engkau adalah bocah yang dahulu itu, dan agaknya engkau
telah menjadi murid para tosu pelarian itu. Bukankah ilmu tongkatmu tadi adalah Thian-te Sin-tung yang
amat hebat dari Pek Sim Siansu?”
Sie Liong terkejut bukan main. Sungguh tajam pandangan mata Thai Ku Lama ini, dan pengetahuannya
tentang ilmu silat sangat luas. Hal itu saja membuktikan bahwa lima orang Harimau Tibet ini memang tidak
boleh dipandang ringan.
“Sesungguhnya, losuhu, aku pernah menerima bimbingan dari suhu Pek Sim Siansu,” jawabnya jujur.
“Hemm, begitukah? Nah, sekarang lekas katakan, apa keperluanmu mencari kami Tibet Ngo-houw?
Katakan saja terus terang karena yang hadir di sini bukanlah orang-orang lain bagi kami.”
Sie Liong memandang ke arah lima orang itu bergantian, kemudian dia berkata dengan suara lantang.
“Tibet Ngo-houw, dengarlah baik-baik. Aku mewakili para locianpwe dan para pertapa yang selama ini
kalian kejar-kejar, untuk bertanya kepada kalian, apakah sesungguhnya alasan yang mendorong kalian
berlima untuk memusuhi mereka? Jawab sejujurnya, benarkah kalian menjadi utusan Dalai Lama untuk
membasmi para tosu dan pertapa asal Himalaya?”
Thay Ku Lama tertawa bergelak. Perutnya yang gendut itu terguncang dan di antara suara ketawanya itu
terdengar bunyi berkokok dari dalam perutnya, seperti suara katak besar.
Pendeta Lama ini memang mempunyai ilmu yang luar biasa hebat, yang disebut Hek-in Tai-hong-ciang,
yaitu suatu pukulan yang didorong oleh tenaga dari perut yang kalau dia gunakan, selain dari perutnya
keluar bunyi berkokok nyaring dan kedua kakinya ditekuk dalam-dalam seperti berjongkok, juga telapak
tangannya itu mengeluarkan uap hitam.
“Ha-ha-ha, tentu saja Dalai Lama yang mengutus kami untuk membasmi para pertapa Himalaya yang
dianggap pemberontak!”
“Pemberontakan apakah yang telah dilakukan oleh para locianpwe, atau para pertapa itu terhadap Dalai
Lama?” Sie Liong mengeluarkan pertanyaan yang dulu sudah pernah diperbincangkan para gurunya itu.
“Hemm, para tosu itu pernah membunuhi beberapa orang pendeta Lama, hal itu berarti pemberontakan!”
kata pula Thay Ku Lama dengan sikap acuh.
“Nanti dulu, losuhu. Memang pernah aku mendengar bahwa mendiang locianpwe Pek Thian Siansu, yaitu
seorang pertapa Himalaya, membela penduduk yang diserbu para pendeta Lama. Lalu terjadilah
perkelahian antara Pek Thian Siansu dan para pendeta Lama dan ada beberapa orang pendeta Lama
yang tewas. Itukah yang menjadi sebab maka para pendeta Lama lalu memusuhi para tosu dan pertapa
dunia-kangouw.blogspot.com
Himalaya?” Sie Liong pernah mendengar cerita itu dari tiga orang gurunya, yaitu Himalaya Sam Lojin
tentang guru mereka itu.
“Ha, kiranya engkau sudah tahu? Nah, kenapa bertanya lagi? Para tosu itu mencampuri urusan kami para
pendeta Lama, itulah maka mereka dianggap pemberontak.”
“Akan tetapi, losuhu. Bukankah mendiang Pek Thian Siansu membela penduduk dusun yang
mempertahankan seorang anak laki-laki yang ketika itu hendak diculik oleh para para pendeta Lama itu?
Dan anak itu yang kemudian menjadi Dalai Lama! Bagaimana mungkin Dalai Lama itu malah mengutus
losuhu berlima untuk memusuhi para pertapa Himalaya? Padahal, para pertapa itu dahulu bahkan pernah
membelanya! Dan juga, kalau suhu berlima menjadi utusan Dalai Lama, bagaimana pula ngo-wi (anda
berlima) sekarang berada di sini dan kudengar malah memusuhi Dalai Lama?”
Mendengar ucapan Sie Liong itu, Tibet Ngo-houw saling pandang dan Thay Ku Lama sendiri mengerutkan
alisnya dengan wajah berubah merah. Tidak disangkanya bahwa pemuda bongkok itu agaknya telah
mengerti akan segala rahasia mereka!
Akan tetapi Kim Sim Lama yang sejak tadi mendengarkan saja, tiba-tiba mengeluarkan suara ketawa.
“Ha-ha-ha-ha! Omitohud...! Sie Taihiap agaknya mengetahui ekornya. Baiklah, pinceng yang akan memberi
penjelasan kepadamu. Memang, dulunya Tibet Ngo-houw ini, para murid keponakanku, hanya mentaati
perintah Dalai Lama saja. Pinceng sudah mencoba untuk mencegah perintah itu karena ketika itu pinceng
masih menjadi wakil Dalai Lama. Akan tetapi, memang dia telah tersesat dan lalim, dan karena itulah maka
kami semua meninggalkan Dalai Lama lalu berdiri sendiri di sini. Kami memang bermaksud untuk
menggulingkan penguasa yang lalim itu! Itu pula sebabnya maka kini Tibet Ngo-houw berada di sini
membantu Kim-sim-pai. Kami mempersilakan engkau untuk bekerja sama dengan kami juga, Sie Taihiap.
Kami menentang Dalai Lama karena dia adalah seorang pemimpin lalim, sedangkan engkau membantu
kami untuk membalaskan dendam para tosu dan pertapa dari Himalaya yang pernah melepas budi kepada
Dalai Lama, akan tetapi malah dibalasnya dengan pengejaran dan pembunuhan! Dan masih banyak pula
pihak-pihak yang memusuhi Dalai Lama. Gerakan kita pasti akan berhasil, Sie Taihiap!”
Sejak tadi Sie Liong mendengarkan saja, dan alisnya mulai berkerut. Tentu saja dia tidak dapat menerima
dan percaya semua yang dikatakan pendeta ketua itu. Jelas bahwa Kim Sim Lama sedang memberontak
terhadap Dalai Lama, maka tentu saja dia memburuk-burukkan nama Dalai Lama! Dia tidak mau percaya
begitu saja, pula dia pun tidak ingin melibatkan dirinya dalam pemberontakan dan pertikaian di Tibet yang
bukan negaranya.
“Terima kasih, losuhu. Akan tetapi tugas saya hanya bertanya kepada Tibet Ngo-houw mengapa dia
dahulu memusuhi para pertapa pelarian dari Himalaya. Sekarang, setelah mereka menjawab bahwa
mereka hanya utusan dari Dalai Lama, maka biarlah saya akan menghadap Dalai Lama sendiri untuk
bertanya, mengapa beliau membalas budi kebaikan para tosu itu dengan pengejaran dan penumpasan.
Nah, selamat tinggal, para losuhu, saya hendak pergi sekarang.”
Akan tetapi, agaknya sudah ada isyarat dari Kim Sim Lama. Begitu dia malangkah ke arah pintu ruangan
luas itu, di ambang pintu telah berdiri banyak pendeta Lama dengan berbagai macam senjata di tangan,
menutup lubang pintu itu dengan sikap mengancam. Ketika dia melirik ke arah jendela-jendela di sekeliling
ruangan, di sana pun sudah rapat tertutup oleh tubuh banyak pendeta Lama yang berjaga-jaga. Jelas
mereka semua itu tidak akan memberi jalan keluar padanya.
“Nanti dulu, orang muda!” Tiba-tiba Kim Sim Lama berseru, suaranya tidak begitu ramah lagi walau pun
masih lembut.
Sie Liong menatap tajam wajah pemimpin Kim-sim-pai itu. “Ada apa lagi, losuhu?”
“Orang muda, engkau datang ke sini tanpa kami undang, dan kami telah bersikap terus terang,
menceritakan segala rahasia kami kepadamu. Oleh karena itu, jika engkau mau bekerja sama dengan kami
untuk menentang Dalai Lama, hal itu sudah sepatutnya. Akan tetapi, apa bila engkau menolak dan hendak
pergi begitu saja dengan membawa semua rahasia kami, sudah tentu kami merasa keberatan!”
Sie Liong maklum bahwa saatnya sudah tiba. Kim Sim Lama sudah membuka kartunya. Tadi dia sudah
merasa khawatir bahwa dia telah terperangkap, dan inilah buktinya. Dia dipaksa untuk bekerja sama atau
dia tidak diperkenankan pergi meninggalkan tempat itu!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Losuhu, saya tidak ingin terlibat dalam pemberontakan! Tibet bukan negaraku dan saya tidak mempunyai
urusan dalam pemberontakan. Saya hanya melaksanakan tugas untuk menyelidiki mengapa para pertapa
di Himalaya dimusuhi oleh Dalai Lama.”
“Sie Liong!” Kim Sim Lama membentak, kini terdengar sangat marah. “Dengar baik-baik! Pinceng pernah
menjadi wakil Dalai Lama, merupakan orang kedua setelah Dalai Lama yang berkuasa di negeri ini! Dan
sekarang pinceng adalah seorang calon Dalai Lama atau pemilik Dalai Lama yang baru! Sekali aku
memerintahkan, engkau akan mati!”
“Losuhu, mati hidup bukan di tangan siapa pun, melainkan di tangan Thian Yang Maha Kuasa! Apa bila
Thian sudah menghendaki aku harus mati, maka tidak ada kekuasaan apa pun di dunia ini yang akan
mampu mencegahnya, namun sebaliknya, kalau Thian menghendaki aku hidup, tidak ada kekuasaan pula
yang akan mampu membunuhku. Mati hidup di tangan Thian, akan tetapi baik buruknya langkah hidup
berada di tangan kita masing-masing. Oleh karena itu, aku tetap akan melangkah melalui jalan kebenaran
dan aku menyerahkan jiwa ragaku kepada Thian. Aku tetap menolak untuk menjadi kaki tangan
pemberontak, apa pun yang akan menjadi akibatnya!”
Semua pendeta Lama yang berada di situ, diam-diam merasa kagum. Bahkan Kim Sim Lama juga merasa
kagum sekali. Pemuda ini, biar pun bongkok ternyata jiwanya tidak bongkok dan semangatnya tegak lurus.
Akan tetapi, betapa pun kagum rasa hatinya, dia tidak rela membiarkan Sie Liong pergi karena tentu
semua rahasia akan ketahuan dan mereka terancam bahaya serbuan Dalai Lama sehelum mereka kuat
benar.
“Sie Liong, engkau masih amat muda, akan tetapi selain memiliki ketabahan besar, juga kesombongan
yang berlebihan. Agaknya engkau terlalu mengandalkan kepandaianmu sendiri sehingga merasa bahwa di
kolong langit ini tidak ada orang yang akan mampu mengalahkanmu. Nah, ingin sekali pinceng melihat
sampai berapa hebat kepandaianmu maka engkau berani menentang kami! Thay Ku Lama, pinceng ingin
melihat seorang di antara kalian mengujinya!” kata Kim Sim Lama.
Biasanya, apa bila menghadapi lawan berat, Tibet Ngo-houw tentu maju berlima. Akan tetapi kini yang
mereka hadapi hanya seorang pemuda bongkok. Betapa pun lihainya, kalau mereka maju berlima
mengeroyok seorang pemuda bongkok, hal ini tentu saja amat merendahkan nama besar mereka sebagai
pembantu-pembantu utama Kim Sim Lama!
Bahkan Thay Ku Lama sendiri pun merasa sungkan kalau harus bertanding melawan pemuda bongkok itu.
Karena itu, dia memberi isyarat kepada Thay Bo Lama, saudara termuda di antara mereka berlima, untuk
maju menandingi Sie Liong.
Thay Bo Lama bertubuh kurus kering dan wataknya memang keras dan berangasan. Begitu menerima
isyarat dari suheng-nya, dia sudah melompat ke depan menghadapi Sie Liong. Tangan kirinya sudah
memegang sebatang tombak karena tadi dia sudah menyambar tombaknya yang dia letakkan di atas lantai
di bawah meja.
Kini, dengan tombak berdiri di sebelah kirinya, tangan kanannya bergerak ke depan, lalu telunjuknya
menuding ke arah muka Sie Liong.
“Orang muda sombong! Ketika masih kecil dahulu engkau sudah mengganggu kami, sekarang setelah
dewasa, engkau masih datang mengganggu. Agaknya memang sudah kehendak Thian bahwa engkau
akan mati di tanganku! Nah, sekarang engkau majulah, perlihatkan kepandaianmu kepada Thay Bo Lama!”
Sie Liong bersikap tenang. Dia sudah siap sedia menghadapi ancaman yang paling hebat karena dia
maklum bahwa hanya dengan pertolongan Thian saja dia akan dapat lolos dari tempat ini, lolos dari
ancaman bahaya maut.
“Thay Bo Lama, sudah kukatakan bahwa aku tidak ingin berkelahi atau bermusuhan dengan siapa pun
juga di sini. Maka, tentu aku tidak akan menyerang siapa pun, dan hanya akan membela diri kalau aku
diserang.”
“Sombong! Sambutlah serangan tombakku ini!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Thay Bo Lama segera menggerakkan tombaknya. Terdengarlah suara bersiutan karena tombak itu
bergerak dengan cepat dan kuat bukan main. Pada saat menyerang dengan tusukan, tombak itu meluncur
bagaikan anak panah saja, menusuk ke arah dada Sie Liong!
Melihat gerakan Lama ini, Sie Liong dapat menduga bahwa lawannya yang kurus kering bagaikan cecak
mati kering itu agaknya mempunyai tenaga yang sangat besar. Untuk meyakinkan dugaannya, dia pun
segera mengerahkan tenaganya pada tongkat yang dipegangnya, lalu dengan tubuh miring dia menangkis
dari samping.
“Traanggg...!”
Dugaan Sie Liong memang tepat. Walau pun lawannya itu kurus kering dan kelihatan lemah, namun
ternyata di dalam lengan yang kecil dan hanya tulang terbungkus kulit itu terdapat tenaga raksasa yang
mengejutkan.
Untung bahwa dia sudah menduga hal itu sebelumnya sehingga tidak merasa terkejut. Juga tidak sampai
terpental karena dia pun sudah mengerahkan tenaganya pada waktu menyambut dengan tangkisan tadi.
Di lain pihak, Thay Bo Lama terkejut bukan main. Bocah bongkok itu mampu menangkis tombaknya, dan
tongkat yang dipegang bocah itu tidak sampai terpental, apa lagi patah. Bahkan kedudukan kakinya sendiri
yang menjadi goyah karena dia merasa seolah-olah tombaknya bertemu dengan pagoda baja yang amat
kuatnya!
“Bagus! Bocah bongkok kiranya engkau telah mewarisi sedikit ilmu dari Pek Sim Siansu dan karenanya
menjadi sombong! Akan tetapi awas, hari ini engkau akan mampus di tangan pinceng!” bentak Thay Bo
Lama sambil melintangkan tombaknya di depan dada.
“Thay Bo Lama, ingatlah bahwa engkau yang memaksaku untuk berkelahi, bukan aku yang mencari
permusuhan!” jawab Sie Liong dengan sikap yang amat tenang.
“Hyeeeehhhh... haittt...!”
Thay Bo Lama mengeluarkan teriakan keras, lengan kirinya membuat gerakan memutar di depan dada
untuk mengumpulkan tenaga sakti yang dipusatkan pada kedua lengan. Kakek yang usianya sudah
mendekati enam puluh tahun ini ternyata memang masih amat kuat sehingga dari kedua lengannya itu
timbul getaran melalui tombaknya dan kini tombak itu bagaikan hidup menyambar ke arah Sie Liong.
“Wuuuuuuutt... singgggg...!”
Ketika dielakkan, senjata itu menyambar-nyambar dan melakukan serangan bertubi-tubi yang selain
mendatangkan sambaran angin yang amat kuat, juga mengeluarkan suara bersiutan dan berdesing.
Akan tetapi, tanpa terlalu sulit Sie Liong selalu dapat menghindarkan diri, menggunakan gerakan dua
kakinya yang amat lincah untuk membuat tubuhnya selalu meliuk-liuk dan menyusup-nyusup di antara
sinar tombak. Kadang-kadang tongkatnya menolak tombak dengan tangkisan yang demikian kuat sehingga
beberapa kali tombak itu menyeleweng dan Thay Bo Lama sendiri terhuyung!
Sie Liong maklum bahwa dia berada di dalam bahaya, juga dalam keadaan serba salah. Kalau dia terlalu
lama melayani Thay Bo Lama, tentu tenaganya akan terkuras karena di situ masih terdapat banyak lawan
yang tentu akan maju satu demi satu. Sebaliknya, apa bila terlalu cepat dia mengalahkan Thay Bo Lama,
hal ini hanya akan membuat mereka menjadi semakin penasaran dan marah kepadanya!
Jalan lari sudah tidak mungkin lagi sebab dia telah terperosok ke dalam sarang mereka. Tetapi bagaimana
pun juga, dia harus menghadapi ancaman bahaya itu dengan gagah. Tiba-tiba dia mempercepat gerakan
tongkatnya dan dia mainkan Thian-te Sin-tung pada bagian yang menekan dan menyerang.
Begitu Sie Liong mengubah gerakannya dan mulai menyerang, Thay Bo Lama terkejut. Dia melihat betapa
tongkat di tangan lawannya seperti berubah menjadi banyak sekali. Sebagian menahan tombaknya,
sebagian lagi menyerangnya seperti gelombang lautan yang menyerbu dirinya! Beberapa kali tubuhnya
nyaris terpukul dan dia terus memutar tombak, melindungi tubuhnya sambil terdesak mundur. Padahal,
belum ada tiga puluh jurus dia melawan!
dunia-kangouw.blogspot.com
Cepat dia mengerahkan tenaga sakti dan mulutnya berkemak-kemik. Sebagai jalan terakhir, dia hendak
menggunakan kekuatan sihir untuk mengalahkan lawan yang masih muda itu.
“Hyaaaahh, orang muda berlututlah engkau!”
Namun, biar masih muda, Sie Liong adalah murid yang dikasihi dan digembleng oleh Pek Sim Siansu,
maka tentu saja dirinya sudah ‘berisi’ dan segala macam kekuatan sihir tak akan mudah mempengaruhi
batinnya yang sudah kuat. Dia merasakan getaran ilmu sihir itu, akan tetapi cepat Sie Liong mengerahkan
sinkang melindungi dirinya dan sekali tongkatnya berkelebat, dua lutut kaki lawan telah dicium ujung
tongkatnya.
Thay Bo Lama mengeluarkan seruan kaget pada saat dua kakinya mendadak menjadi lumpuh dan tanpa
dapat dicegah lagi, dia pun sudah jatuh berlutut! Ternyata jeritannya yang mengandung perintah tadi
langsung disusul dengan dirinya sendiri yang berlutut, bukan lawannya.
“Thay Bo Lama, tidak berani aku menerima penghormatan itu!” kata Sie Liong sambil melangkah mundur
dan menghadap ke samping.
Sikap Sie Liong wajar dan sedikit pun tidak menunjukkan ejekan. Justru sikap ini yang membuat Thay Bo
Lama menjadi malu dan marah bukan main. Setelah rasa kesemutan yang membuat kedua lututnya
lumpuh tadi lenyap, dia pun bangkit berdiri dengan muka merah dan matanya mencorong memandang
pemuda bongkok itu penuh kebencian.
“Hyaaattttt… ahhhh...!”
Tiba-tiba Thay Hok Lama, pendeta mata satu itu sudah menyerang Sie Liong dengan senjatanya yang
amat ampuh, yaitu sebatang rantai baja yang panjang dan berat sekali. Rantai itu menyambar ganas ke
arah kepala Sie Liong.
Semenjak dahulu Pendekar Bongkok sudah mengenal akan kelihaian Tibet Ngo-houw ini. Maka, melihat
rantai menyambar ganas, dia pun merendahkan tubuhnya dan rantai itu lewat di atas kepalanya, kemudian
dia pun melangkah maju mendekat.
Rantai itu panjangnya ada tiga meter sehingga kalau berkelahi jarak jauh, dia akan rugi. Rantai lawan
dapat mencapai dirinya sedangkan tongkatnya yang hanya satu setengah meter panjangnya tidak akan
dapat mencapai lawan.
Akan tetapi, Thay Hok Lama sudah cepat menyambutnya dengan dorongan tangan kiri yang terbuka. Ada
angin yang berbau amis menyambar ke arah Sie Liong. Pemuda ini meloncat ke kiri, maklum bahwa itu
adalah pukulan yang mengandung racun.
Memang, pendeta Lama yang matanya buta sebelah itu, selain amat lihai memainkan rantai bajanya yang
panjang dan berat, juga terkenal mempunyai pukulan beracun, juga pandai mempergunakan racun sebagai
senjata atau alat untuk mengalahkan lawannya.
Sambil melangkah maju, Sie Liong juga menggerakkan tongkatnya menusuk ke arah perut lawan baru ini.
Namun tiba-tiba rantai baja itu ditekuk menjadi dua dan ternyata pendeta Lama itu sekarang memegang
rantai di bagian tengah dan rantai yang tadinya tunggal dan panjang itu berubah menjadi dua rantai pendek
karena dipegang bagian tengahnya!
Dua batang rantai itu berputar menangkis tongkat, bahkan dengan membalas serangan dari kanan kiri, dua
helai rantai baja itu melakukan gerakan menggunting. Kembali Sie Liong melangkah ke belakang untuk
menghindarkan diri dari guntingan sepasang rantai baja itu. Akan tetapi, dia mendengar angin bersiut ke
arah kepalanya dari belakang.
Cepat Sie Liong merendahkan tubuh sambil memutar tongkat untuk menyambut orang yang
menyerangnya dari belakang itu. Kiranya Thay Bo Lama yang telah menyerangnya secara curang sekali.
Thay Bo Lama yang tadi menghantamkan tombaknya ke arah kepala Sie Liong, malah kini berbalik
diancam tongkat yang menusuk ke arah lambungnya dari samping. Cepat dia melempar tubuhnya
mengelak, akan tetapi kaki Sie Liong menyambar dan dia pun terpelanting! Untung bahwa tendangan itu
tidak mengenai dengan tepat sehingga tubuh Thay Bo Lama hanya terpelanting saja dan tidak terluka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pada saat itu, Thay Hok Lama sudah pula menyerang dengan rantai bajanya. Ketika Sie Liong
menggerakkan tongkat menangkis, ujung rantai yang panjang itu melibat tongkat! Maksud Thay Hok Lama
tentu saja untuk merampas tongkat. Dia membetot keras untuk membuat tongkat di tangan pemuda itu
terlepas.
Akan tetapi Sie Liong mempertahankan dan dengan pengerahan sinkang-nya, dia pun membalas, menarik
dan akibatnya, tubuh Thay Hok Lama melayang terbawa tarikan itu, melambung ke atas sehingga terpaksa
Thay Hok Lama melepaskan belitan rantainya dan dia meloncat turun dengan muka berubah merah.
Melihat betapa dua orang rekan mereka masih terdesak oleh Pendekar Bongkok, Thay Ku Lama memberi
isyarat kepada dua orang sute-nya, yaitu Thay Si Lama dan Thay Pek Lama. Tiga orang ini serentak
berloncatan turun ke gelanggang dan mereka pun sudah menggerakkan senjata masing-masing
melakukan pengepungan.
Thay Ku Lama yang bermuka codet dan berperut gendut itu telah memegang goloknya, Thay Si Lama
yang bermuka bopeng mempergunakan senjata cambuknya, sedangkan Thay Pek Lama yang bermuka
pucat memegang sepasang pedang! Lengkaplah kini Tibet Ngo-houw (Lima Harimau Tibet) mengepung
Pandekar Bongkok Sie Liong!
Sie Liong tersenyum dan terbayanglah peristiwa beberapa tahun yang silam ketika dia masih kecil. Pada
saat itu, dia pun melihat Tibet Ngo-houw ini bertanding melawan tiga orang gurunya atau juga dapat
disebut suheng-nya, yaitu Himalaya Sam Lojin.
Mereka adalah gurunya sebab dia menerima gemblengan silat pertama kali dari mereka bertiga. Akan
tetapi mereka pun kakak-kakak seperguruannya karena dia adalah murid Pek Sim Siansu yang terhitung
susiok (paman guru) dari Himalaya Sam Lojin.
Masih terbayang olehnya betapa Tibet Ngo-houw ini bertanding melawan Himalaya Sam Lojin, lima orang
melawan tiga orang! Suatu pertandingan yang amat hebat dan dahsyat dan dia masih ingat betapa
Himalaya Sam Lojin terdesak oleh Tibet Ngo-houw yang lihai itu. Untung ketika itu muncul Pek Sim Siansu
dan juga sute dari kakek sakti itu, Koay Tojin yang aneh sehingga Tibet Ngo-houw dapat dikalahkan dan
diusir.
Dan kini, dia seorang diri harus menghadapi pengeroyokan lima orang Lama yang amat lihai itu! Namun,
dia sudah menerima gemblengan lahir batin dari Pek Sim Siansu dan dia tidak merasa gentar sedikit pun
juga.
“Hemm, aku datang mewakili para tosu yang dimusuhi hanya untuk minta keterangan mengapa mereka
yang tidak berdosa itu dimusuhi. Ternyata sekarang Tibet Ngo-houw bahkan juga berusaha keras untuk
mengeroyok aku! Apakah ini pun termasuk perintah dari Yang Mulia Dalai Lama? Ataukah nama beliau itu
hanya kalian pergunakan untuk menjatuhkan nama Dalai Lama? Bukankah ini juga merupakan suatu
muslihat dalam pemberontakan kalian terhadap Dalai Lama? Sungguh bagus sekali!” Sie Liong berkata.
Karena maklum bahwa dia telah masuk sarang harimau dan tidak dapat mengharapkan lolos, maka dia
pun tidak menyembunyikan perasaan dan dugaannya.
Ucapan ini membuat lima orang pendeta Lama itu saling pandang. Tentu saja mereka merasa betapa
janggalnya dan memalukan keadaan mereka saat itu. Lima orang datuk besar persilatan yang namanya
sudah menjulang tinggi, lima orang kakek sakti yang usianya sudah mendekati enam puluh tahun dengan
senjata-senjata pusaka andalan mereka di tangan, kini mengepung seorang pemuda yang cacat tubuhnya,
bongkok dan hanya memegang senjata sebatang tongkat kayu pula!
Betapa memalukan keadaan ini. Akan tetapi mereka berada di sarang sendiri, tidak ada orang luar yang
menyaksikan peristiwa memalukan itu. Yang hadir di situ hanyalah para rekan mereka, yaitu Kim Sim
Lama, yang tentunya maklum bahwa mereka harus maju bersama menghadapi musuh yang demikian
lihainya, meski pun masih amat muda dan bongkok pula.
Betapa pun juga, ucapan Sie Liong tadi menyentuh perasaan harga diri mereka dan kini mereka berdiri
berjajar, tidak lagi mengepung. Hal ini mereka lakukan atas isyarat Thay Ku Lama, orang pertama di antara
mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mereka hendak menggunakan tenaga gabungan mereka untuk mengalahkan Sie Liong sehingga tidak
akan kelihatan terlalu mengepung dan mengeroyok pemuda itu! Mereka berdiri berjajar sambil bergandeng
tangan. Thay Ku Lama menempatkan dirinya di ujung kanan sebagai kepala dan Thay Si Lama di sebelah
kiri paling ujung sebagai ekor.
Mereka membentuk suatu barisan yang mereka ciptakan sendiri dan nama barisan ini adalah Siang-thouwcoa
(Ular Berkepala Dua). Memang barisan atau ‘tin’ ini amat mirip dengan gerakan ular yang berkepala
dua. Mereka berlima sambil bergandengan tangan menghadapi lawan dengan gerakan melingkar-lingkar
dan meliuk-liuk dan yang menjadi penyerang utama hanyalah sang kepala dan sang ekor yang keduanya
dapat berganti tempat. Jadi penyerang utama hanya Thay Ku Lama dan Thay Si Lama, sedangkan tiga
orang Lama yang lain, karena kedua tangan mereka bergandeng untuk menyambung barisan itu, hanya
membantu dengan tendangan-tendangan saja.
Menghadapi lima orang lawan yang sudah menyimpan senjata masing-masing dan kini bergandeng tangan
itu, Sie Liong mengerutkan alisnya. Dia tahu bahwa Tibet Ngo-houw adalah lima orang pendeta Lama sakti
yang amat berbahaya, lihai dan licik bukan main.
Oleh karena itu, dia pun menduga bahwa mereka tentu akan menggunakan suatu cara penyerangan yang
istimewa. Melihat cara mereka bergandengan tangan, dia pun dapat menduga bahwa ini tentulah semacam
tin (barisan) dan cara bergandengan tangan itu menunjukkan bahwa mereka berlima tentu akan
menyatukan tenaga sinkang mereka.
Ini berbahaya bukan main. Menghadapi mereka itu satu lawan satu, mungkin dia masih dapat menandingi
kekuatan sinkang mereka, bahkan mengatasi mereka. Akan tetapi kalau tenaga sinkang mereka berlima
disatukan, dia harus berhati-hati sekali, terutama kalau hendak mengadu tangan!
“Sie Liong, bocah sombong! Hendak kami lihat apakah engkau mampu menandingi barisan kami!” teriak
Thay Ku Lama.
Barisan lima orang ini mulai bergerak, melenggang-lenggok dan bagaikan ular berjalan mengelilingi Sie
Liong! Thay Ku Lama berada paling depan sebagai kepala dan Thay Si Lama paling belakang sebagai
ekor. Melihat kelima orang pendeta Lama ini berjalan beriringan sambil bergandeng tangan seperti itu,
sungguh merupakan penglihatan yang aneh dan lucu, seperti melihat lima orang anak kecil bermain-main
saja.
Akan tetapi Sie Liong sama sekali tidak menganggapnya demikian. Dia tetap waspada, tetap melintangkan
tongkatnya di depan dada dan pandang matanya, juga pendengaran telinganya, tidak pernah melepaskan
gerakan lima orang lawan itu.
Pada waktu lima orang itu bergerak mengelilinginya, dia tidak ikut memutar-mutar tubuh, hanya lehernya
saja yang bergerak perlahan mengikuti mereka. Setelah mereka tiba di belakang tubuhnya, dia pun
memutar leher dari arah lain dan mengikuti gerakan mereka lagi hanya dengan menggerakkan leher. Tidak
pernah dia menggeser kaki yang selalu siap bergerak dengan sikap bertahan dan menjaga diri.
Pancingan pertama ini saja sudah tidak berhasil. Tadinya, Siang-thouw Coa-tin (Barisan Ular Kepala Dua)
ini mengelilingi lawan memancing agar lawan ikut pula berputar. Kalau lawan melakukan ini, mereka akan
berlari makin cepat mengelilinginya, memaksa lawan berputar demikian cepat dan dengan mengubah-ubah
arah, berbalik-balik, maka lawan yang berputaran dalam lingkaran mereka tentu akan menjadi bingung dan
juga pening sehingga kedudukannya menjadi lemah.
Akan tetapi, Pendekar Bongkok itu tidak mau memutar tubuh, hanya mengikuti gerakan mereka dengan
leher saja. Kalau dilanjutkan seperti itu, bukan Pendekar Bongkok yang menjadi bingung, pening dan lelah,
melainkan mereka sendiri.
Gerakan Siang-thouw Coa-tin itu kini berubah. Mereka masih mengitari Sie Liong, akan tetapi sekarang
berganti arah, yang tadinya ekor menjadi kepala dan kepala menjadi ekor. Perubahan arah gerakan
semacam ini dilakukan lagi beberapa kali.
Kemudian, atas isyarat Thay Ku Lama yang melihat pemuda itu tidak terpancing dan tetap tenang saja,
Thay Si Lama lalu melakukan penyerangan pertama. Tangan kirinya bergandengan dengan tangan Thay
Pek Lama, maka kini dia mempergunakan tangan kanan untuk menghantam ke arah kepala Sie Liong.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Wuuuuuuttt...!”
Sie Liong cepat mengelak karena dia merasa betapa pukulan itu mengandung angin pukulan yang amat
dahsyat. Pada waktu pukulan itu melewati atas kepalanya, tiba-tiba barisan itu membalik dan kini ‘ekornya’,
yaitu Thay Ku Lama sudah berganti kedudukan menjadi kepala dan tangan kiri orang pertama dari Tibet
Ngo-houw ini tahu-tahu sudah mencengkeram ke arah dada Sie Liong!
Cepat dan tidak terduga sekali gerakan ini sehingga Sie Liong terkejut. Dia pun cepat membuang diri ke
belakang sambil berjungkir balik.
“Brettt...!”
Ujung baju di dada Sie Liong tersentuh cengkeraman tangan kiri Thay Ku Lama dan terbukalah lubang di
baju bagian dada itu, dan bekas robekan itu menjadi hangus!
Sambil melompat menjauhi, Sie Liong makin yakin bahwa dugaannya benar. Lima orang itu sedang
menyatukan tenaga sinkang sehingga dia seolah menghadapi seorang lawan yang memiliki kekuatan
sinkang yang amat hebat.
Akan tetapi dia tidak diberi kesempatan untuk berpikir banyak karena pada saat itu pula, Siang-thouw Coatin
sudah bergerak lagi, dengan dahsyat dan cepatnya, juga dengan cara yang aneh dan tidak dapat
diduga sebelumnya, menyerangnya dengan hantaman-hantaman tangan yang mengandung sinkang amat
kuat. Sukar diduga siapa yang akan menyerangnya, Thay Ku Lama ataukah Thay Si Lama.
Namun Sie Liong sudah cepat-cepat menggunakan langkah-langkah ajaib yang dahulu pernah dilatihnya
dari Pek Sim Siansu. Langkah-langkah yang menjadi dasar Thian-te Sin-tung dan yang membuat tubuhnya
berkelebatan bagaikan bayang-bayang saja. Biar pun dia terdesak hebat, akan tetapi sampai belasan jurus
lamanya, belum pernah ada pukulan lawan yang mampu menyerempetnya lagi.
Setelah dua puluh jurus dia selalu mengelak sambil memperhatikan gerakan barisan lima orang itu,
akhirnya dia pun tahu bahwa yang dimaksudkan dengan Ular Kepala Dua adalah karena dua orang yang
berada di kedua ujung itulah yang menyerangnya secara bergantian, dan mereka itulah kepala dan ekor,
akan tetapi ekor dapat pula menjadi kepala dan sebaliknya. Justru perubahan tiba-tiba inilah yang
membingungkan lawan.
Dan dia pun melihat betapa tiga orang pendeta Lama lainnya yang menjadi penghubung dan penyalur
tenaga sinkang yang disatukan, tidak mampu banyak berbuat sebagai penyerang karena kedua tangan
mereka saling gandeng. Hanya kadang-kadang saja tiga orang ini membantu dengan tendangan kaki.
Akan tetapi karena tubuh mereka tidak bebas, sebab dengan kedua tangan saling bergandengan itu
mereka seperti terikat oleh barisan, maka tendangan mereka itu pun tidak banyak artinya bagi Sie Liong.
Dan pemuda yang cerdik ini pun menemukan suatu kenyataan yang memberi harapan, yaitu bahwa pada
bagian ‘tubuh’ atau tengah yang dimainkan tiga orang inilah bagian barisan itu yang paling lemah!
“Yaaaaattt...!”
Thay Ku Lama sudah menyerang lagi dengan hantaman telapak tangan terbuka ke arah dada Sie Liong
ketika pemuda itu membalik dari elakan serangan sebelumnya. Bukan main kerasnya angin pukulan itu.
Sie Liong yang sudah membuat perhitungan matang, lalu menggerakkan kedua tangan pula untuk
menyambut pukulan itu dari jarak sekitar dua meter. Tentu saja dia tak berani menyambut secara
langsung, maklum betapa hebat tenaga sinkang yang mendorong pukulan itu.
Akan tetapi dalam jarak dua meter, dia pun berani mengambil resiko karena tidak terlalu berbahaya. Dia
juga mengerahkan sinkang yang lemas, tak mau mengadu keras lawan keras karena tenaga sinkangnya
jelas kalah jauh kalau dibandingkan tenaga lawan yang disatukan itu.
“Desss...!”
Dua pasang tangan itu tidak sampai bertemu, tidak saling sentuh, akan tetapi tenaga sinkang yang
menyambar bagai kekuatan dahsyat itu telah saling bertemu dan saling bertumbuk di udara. Akibatnya
hebat bukan main.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sie Liong merasa seperti didorong oleh angin taufan dan dia pun terlempar! Namun, dia telah
memperhitungkan sehingga dia membiarkan dirinya terjatuh ke atas tanah lalu dia bergulingan. Dengan
cepat tubuhnya berguling-guling ke sana-sini hingga mematahkan tenaga luncuran sambil memperhatikan
keadaan barisan lawan.
Seperti yang diduganya, lima orang Tibet Ngo-houw itu mengira bahwa dia tentu terluka. Mereka itu sudah
datang menghampiri dengan cepat, dengan gerakan lenggak-lenggok seperti seekor ular.
Tiba-tiba Sie Liong yang bergulingan itu tubuhnya melambat, dan setelah cukup dekat, dia meloncat dan
mengeluarkan suara melengking nyaring. Tongkatnya bergerak-gerak sehingga ujungnya nampak menjadi
banyak dan diseranglah tiga orang yang berada di tengah-tengah!
Serangan yang tiba-tiba ini membuat Thay Pek Lama, Thay Hok Lama dan Thay Bo Lama yang berada di
tengah-tengah terkejut bukan main. Juga Thay Ku Lama dan Thay Si Lama yang menjadi kepala dan ekor
barisan itu sangat terkejut. Mereka tadi salah perhitungan. Mereka mengira bahwa Sie Liong terluka.
Sungguh tak mereka sangka kini pemuda itu bahkan menyerang dengan hebat ke arah bagian barisan
yang lemah. Tiga orang sute mereka itu hanya dapat membantu dengan penyaluran tenaga, sama sekali
tidak dapat menangkis atau mengelak karena mereka itu seperti terkait dan terjepit! Padahal, serangan
tongkat di tangan pemuda bongkok itu dahsyat bukan main karena dia memainkan jurus-jurus Thian-te Sintung!
“Lepaskan ikatan!” bentak Thay Ku Lama pada saat melihat betapa tiga orang sute-nya terancam bahaya
maut oleh tongkat kayu yang digerakkan secara lihai sekali itu.
Terlepaslah tangan mereka yang bergandengan dan kini tiga orang pendeta Lama yang diserang itu dapat
menggunakan kaki tangan mereka untuk membela diri. Mereka pun segera bergerak, ada yang mengelak
dan ada juga yang menangkis. Namun, gerakan mereka melepaskan diri dari ikatan barisan tadi terlambat
sedikit.
Akibatnya, Thay Pek Lama terjengkang dengan pundaknya tertotok ujung tongkat. Thay Hok Lama juga
terpelanting akibat kakinya menjadi lumpuh sebelah ketika ujung tongkat singgah di lutut kirinya.
Sedangkan Thay Bo Lama terhuyung ke belakang, dada kirinya kena didorong tangan kanan Sie Liong
sehingga terasa napasnya sesak dan dadanya nyeri.
Masih untung bagi tiga orang pendeta Lama itu bahwa Sie Liong hanya berniat untuk menghancurkan
Siang-thouw Coa-tin itu saja, tidak berniat membunuh sehingga baik tongkat mau pun tangan kirinya,
menyerang dengan tenaga yang terbatas. Bagaimana pun juga, jelas bahwa barisan itu dapat dia
pecahkan dan kini lima orang pendeta Lama itu berdiri dengan muka berubah merah karena malu dan
marah.
Tiga orang pendeta Lama yang tadi terkena serangan, juga sudah dapat memulihkan tenaga. Mereka
sudah menyambar senjata masing-masing, seperti juga yang dilakukan Thay Ku Lama dan Thay Si Lama!
Melihat ini, Sie Liong menjura. “Apakah ucapan Tibet Ngo-houw tidak dapat dipercaya lagi? Aku sudah
menandingi barisanmu dan berhasil memecahkannya, mengapa kalian malah mengeluarkan senjata?”
“Pendekar Bongkok, apakah engkau takut?” Thay Ku Lama bertanya dengan suara mengejek, juga empat
orang sute-nya mengeluarkan suara mengejek, semua ini tentu saja untuk menghibur atau menutupi
kekalahannya tadi yang membuat mereka merasa malu, penasaran dan marah.
Mendengar ini, mendadak saja Sie Liong menekuk punggungnya yang bongkok itu ke belakang. Dia
menengadah, memandang langit-langit ruangan yang luas itu dan dia pun mengeluarkan suara tawa yang
membuat semua orang di situ terkejut dan tercengang. Suara ketawa itu amat nyaring melengking, akan
tetapi juga bergelak dan bergemuruh bagai gelombang, mendatangkan getaran dahsyat yang seolah-olah
akan meruntuhkan bangunan ruangan itu!
Bahkan Kim Sim Lama sendiri memandang dengan kagum. Belum pernah selamanya dia bertemu dengan
seorang pemuda seperti ini, yang memiliki ilmu kepandaian hebat sekali! Bukan hanya hebat ilmu
kepandaiannya, akan tetapi juga luar biasa sekali tabah dan beraninya! Seorang diri memasuki sarangnya,
bahkan menyambut tantangan Tibet Ngo-houw! Sungguh hampir tak masuk akal dan sukar dipercaya!
dunia-kangouw.blogspot.com
Kehebatan Sie Liong ini saja sudah mendatangkan perasaan sayang di dalam hatinya. Betapa akan
senangnya jika dia dapat mempunyai seorang pendukung atau pembantu seperti pemuda bongkok itu!
“Ha-ha-ha-ha!” Sie Liong menghentikan tawanya yang bergelombang dan bergemuruh tadi, kemudian
menudingkan tongkatnya ke arah muka Tibet Ngo-houw dan suaranya terdengar tidak seperti tadi, lemah
lembut, melainkan tegas dan berani penuh kekuatan dan kegagahan.
“Tibet Ngo-houw, bukan aku yang takut, melainkan kalian! Buktinya kalian mengeroyok aku! Seorang
seperti aku ini, apa artinya takut? Aku seorang sebatang kara yang tidak memiliki apa-apa, tubuh pun
cacat, dan kematian bagiku hanya kembali ke tempat yang jauh lebih baik dari pada di dunia yang penuh
kekotoran dan manusia busuk macam kalian ini! Bagiku, yang ada hanyalah berpegang kepada kebenaran
dan keadilan. Demi kebenaran dan keadilan, mati pun tidak apa-apa! Kematian hanya pulang dan kembali
kepada sumber kebenaran dan keadilan! Sebaliknya, kalian ini walau pun berpakaian pendeta, tapi selalu
menuruti nafsu angkara murka, menjadi setan sehingga kalian takut mati, karena kematian kalian akan
menyeret kalian kepada kerajaan setan dan iblis!”
Seperti juga suara ketawanya tadi, kini ucapannya itu membuat banyak orang di situ merasa panas dingin
dan bulu tengkuk mereka meremang.
Akan tetapi, Tibet Ngo-houw yang sudah merasa sangat malu dan penasaran, tidak mempedulikan semua
itu. Atas isyarat Thay Ku Lama, mereka sudah kembali bergerak mengepung dengan senjata masingmasing
di tangan.
Sie Liong berada di tengah-tengah dan dia pun sudah siap siaga. Dia tahu bahwa kalau dia dikeroyok
dengan pengepungan semacam ini, maka akan rugilah dia apa bila hanya mempertahankan diri saja.
Kalau sampai dia terdesak, akan sukarlah meloloskan dirinya dari kepungan, dan sukar pula untuk
membalas serangan lawan yang tentu bertubi-tubi datangnya. Oleh karena itu, dia pun mengambil
keputusan untuk mendahului lawan dan mengambil sikap menyerang dan mengamuk.
Tiba-tiba dia mengeluarkan lengkingan dahsyat dan tubuhnya bergerak ke kiri. Pemuda bongkok itu sudah
menyerang Thay Bo Lama yang berada di sebelah kirinya. Karena dia menggunakan jurus dari ilmu
tongkat Thian-te Sin-tung, tentu saja serangannya itu hebat bukan main.
Thay Bo Lama menggerakkan tombaknya menangkis, dan Thay Hok Lama yang berada di sampingnya
juga turut mengayun rantai baja untuk melindungi sute-nya, juga untuk menyerang Sie Liong! Namun,
begitu serangannya gagal, Sie Liong tidak membiarkan dirinya diserang. Serangan Thay Hok Lama itu dia
hindarkan dengan loncatan ke kanan dan dia sudah menotokkan ujung tongkatnya ke arah leher Thay Si
Lama.
“Tar-tar-tarrrr!”
Thay Si Lama menggerakkan cambuknya meledak-ledak ketika ujung tongkat di tangan Sie Liong itu bagai
seekor lalat menyambar-nyambar ke arah lehernya. Dia tahu betapa hebatnya totokan itu kalau mengenai
sasaran, maka dengan sibuk dia pun melindungi dirinya dengan putaran cambuk. Sementara itu, Thay Pek
Lama juga menggerakkan siang-kiam (sepasang pedang) untuk membantu suheng-nya dan membalas
serangan Sie Liong.
Ketika pedang itu menyambar pinggang dan leher, Sie Liong melempar tubuh ke bawah dan bergulingan
ke arah Thay Ku Lama. Begitu melompat, tongkatnya telah menyerang dengan tusukan ke perut orang
pertama Tibet Ngo-houw itu! Lama ini cepat memutar golok menjaga dirinya. Akan tetapi Sie Liong sudah
membalik ke belakang lagi untuk menyerang Thay Hok Lama!
Amukan Sie Liong itu mengejutkan Tibet Ngo-houw. Gerakan pemuda itu begitu cepat, membagi-bagi
serangan sehingga mereka tidak sempat lagi menyusun kekuatan untuk mengepung dan menghimpit.
Melihat ini, dengan muka merah dan hati panas sekali Thay Ku Lama berseru nyaring. “Ngo-heng-tin
(barisan lima unsur)!”
Mendengar bentakan ini, para sute-nya lantas sadar dan mereka segera berlompatan menjauhi Sie Liong
lalu membuat barisan segi lima! Dan mereka pun mulai bergerak mengelilingi Sie Liong, semakin lama
semakin cepat dan lingkaran yang mereka buat itu semakin sempit.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sie Liong tidak berani lagi menyerang seperti tadi. Dia sudah maklum bahwa begitu dia menyerang salah
seorang di antara mereka, maka yang empat orang akan menubruk dan menyerangnya dari empat jurusan
secara berbareng!
Dia sudah pernah mendengar dari Pek Sim Siansu tentang beberapa tin (barisan) dan Ngo-heng-tin
merupakan salah satu barisan yang berbahaya, apalagi karena lima orang anggotanya menggunakan lima
macam senjata sehingga sukar sekali diduga gerakan dan corak penyerangan mereka.
Akan tetapi dia pun teringat pelajaran yang diberikan oleh para gurunya. Antara lain Pek Sim Siansu
pernah menceritakan sifat dan kehebatan barisan Ngo-heng-tin itu.
“Dalam Ngo-heng-tin terdapat unsur Im-yang pula,” demikian kata kakek sakti itu. “Lima unsur itu saling
bantu, sehingga kalau ada seorang anggota diserang, selain dia sendiri dapat membela diri, juga ada satu
anggota lainnya yang melindunginya, sedangkan tiga orang lainnya tentu akan membarengi saat itu untuk
menghantam lawan. Memang kalau lima orang anggota Ngo-heng-tin itu mempunyai tenaga dan
kepandaian yang setingkat denganmu, amat sukarlah mengalahkan mereka. Akan tetapi, dengan Thian-te
Sin-tung dan langkah-langkah ajaib, tentu engkau akan dapat mempertahankan diri. Jika engkau dapat
memecahkan unsur-unsur yang saling membantu itu, baru engkau akan mampu mengacaukan pertahanan
mereka. Maka usahakan supaya engkau mengenal siapa di antara mereka itu yang saling melindungi,
siapa yang memegang unsur air, api, kayu, tanah dan angin.” Demikianlah petunjuk yang diperolehnya dari
Pek Sim Siansu.
Terdengar seruan keras ketika Thay Ku Lama membuka serangan pertama! Golok di tangannya itu mulamula
diacungkan ke atas, dan kedua kaki pendeta yang bertubuh gemuk dengan perut gendut itu ditekuk
hingga tubuhnya hampir berjongkok. Dari dalam perutnya berbunyi suara berkokokan seperti suara katak
besar dan perut yang gendut itu bergoyang-goyang, kemudian tubuhnya meloncat ke depan dan dengan
jari terbuka tangan kirinya mendorong ke arah Sie Liong.
Uap hitam disertai angin keras langsung datang menyambar ke arah Sie Liong. Itulah pukulan Hek-in Taihong-
ciang (Tangan Angin Taufan Awan Hitam) yang berbahaya sekali.
Sie Liong mengenal pukulan ampuh, maka dia pun melempar tubuh ke kiri sehingga angin pukulan itu
lewat. Ketika sinar golok di tangan kanan Thay Ku Lama menyambar, dia menggerakkan tongkatnya
menangkis, lalu cepat membalas dengan totokan-totokan ke arah tujuh jalan darah utama di bagian depan
tubuh lawan!
Menghadapi jurus hebat dari Thian-te Sin-tung ini yang membuat dirinya terancam maut oleh totokantotokan,
Thay Ku Lama menjadi sibuk dan cepat memutar goloknya untuk melindungi tubuhnya. Thay Si
Lama cepat sekali memutar cambuknya, selain berniat untuk melindungi sehengnya, juga ujung cambuk itu
berusaha membelit tongkat untuk merampasnya!
Sie Liong mulai merasakan keampuhan barisan Ngo-heng-tin. Dengan otomatis, ketika Thay Ku Lama
diserangnya, Thay Si Lama sudah berada di situ, melindunginya dan ikut pula menyerangnya.
Sie Liong meloncat tinggi melewati tubuh para pengepungnya dan tiba di belakang Thay Hok Lama. Akan
tetapi begitu lima orang pengeroyoknya membuat gerakan berlari dan berlompatan, dirinya sudah dikepung
lagi oleh barisan segi lima itu. Dia cepat menubruk ke depan, menggerakkan tongkatnya yang mula-mula
menusuk ke arah sepasang mata Thay Pek Lama, kemudian ujung tongkat itu digetarkan untuk beralih
menghantam leher dan ubun-ubun secara bergantian.
Thay Pek Lama cepat mengeluarkan sepasang pedangnya menangkis. Pada saat itu, secara otomatis pula
Thay Hok Lama sudah menggunakan rantai bajanya melindungi Thay Pek Lama. Dan kedua orang
pendeta Lama ini lalu bergabung dan menyerang Sie Liong secara bersamaan.
Setelah mencoba untuk mengamuk beberapa belas jurus lamanya, tahulah Sie Liong bahwa benar seperti
apa yang dikatakan oleh gurunya, lima orang itu saling melindungi. Dia lalu mencari mata rantai yang tidak
bersambung dalam barisan itu.
Tiba-tiba dia menyerang Thay Si Lama dengan hebatnya. Dia tahu bahwa tentu Thay Pek Lama yang akan
bergerak melindungi suheng-nya itu. Dan benar saja, Thay Pek Lama secara otomatis telah melindungi
dunia-kangouw.blogspot.com
Thay Si Lama, akan tetapi ketika mereka berdua hendak membalas serangan Sie Liong, pemuda itu telah
membalik secara tiba-tiba dan dia pun sudah menyerang Thay Bo Lama!
Dia sudah memperhitungkan bahwa tentu Thay Ku Lama yang akan melindungi orang termuda dari Tibet
Ngo-houw itu. Ketika Thay Ku Lama bergerak, dia pun cepat menarik kembali serangannya dan mendadak
saja dia menyerang Thay Hok Lama si mata satu!
Serangannya sekali ini hebat bukan main, karena selain tongkatnya membuat serangan tusukan beruntun
yang amat dahsyat, juga dengan tenaga sinkang sepenuhnya tangan kirinya melakukan hantaman dengan
jurus Pay-san-ciang (Tangan Menolak Gunung), jurus ilmu pukulan sakti yang dia pelajari dari Hek Bin
Tosu.
Thay Hok Lama terkejut bukan main dan segera memutar rantai melindungi dirinya. Dia mengharapkan
perlindungan Thay Bo Lama seperti yang sudah diatur menjadi bagian masing-masing dalam barisan itu.
Akan tetapi baru saja Thay Bo Lama bergerak mundur karena desakan Sie Liong yang ternyata hanya
serangan palsu itu. Maka sekali ini, Thay Hok Lama harus melindungi diri sendiri dan tidak mempunyai
pelindung lain.
Akan tetapi, serangan Sie Liong itu terlampau hebat. Thay Hok Lama dapat menangkis tongkat itu, akan
tetapi dia sama sekali tidak mampu menghindarkan diri dari tangan kiri Pendekar Bongkok yang
memukulnya. Namun dia masih berusaha menangkis dengan tangan kirinya.
“Desss...!”
Tubuh Thay Hok Lama terpelanting keras dan terbanting sampai terguling-guling.
Tentu saja para Lama yang lainnya menjadi terkejut bukan main. Tidak pernah mereka bermimpi bahwa
Ngo-heng-tin kebanggaan mereka akan dapat dipecahkan sedemikian mudahnya oleh Pendekar Bongkok
sehingga belum lewat tiga puluh jurus saja seorang dari mereka sudah roboh!
Tiba-tiba nampak sesosok bayangan merah berkelebat dan tahu-tahu Kim Sim Lama yang memegang
sebatang tongkat pendeta sudah berada di tempat di mana tadi Thay Bo Lama berdiri.
“Ngo-seng-tin (Barisan Lima Bintang)!” serunya dengan suaranya yang lembut namun berwibawa.
Empat orang Lama itu pun bergerak dan dipimpin oleh Kim Sim Lama sendiri, mereka membentuk barisan
Bintang Lima yang gerakannya aneh namun cepat, seperti bintang yang berkedap-kedip karena senjata
mereka selalu digerak-gerakkan hingga berkilauan dan kedudukan mereka selalu berubah. Tiba-tiba
mereka berlima itu menyerang dari lima penjuru!
Sie Liong cepat-cepat memutar tongkatnya melindungi diri. Tangan kirinya mendorong dengan pukulan
yang dia ubah-ubah pula untuk membingungkan para pengeroyoknya. Tongkatnya membentuk benteng
yang sangat kuat sehingga semua senjata terpental kalau hendak menerobos ke dalam lingkaran benteng
sinar itu. Hanya tongkat di tangan Kim Sim Lama saja yang mampu membuat Sie Liong merasakan
lengannya terguncang hebat dan kedudukan kakinya terhuyung.
“Trakkk!”
Pertemuan antara tongkat di tangan Sie Liong dengan tongkat pendeta berkepala naga yang besar di
tangan Kim Sim Lama amatlah hebatnya. Bukan saja Sie Liong tergetar, juga Kim Sim Lama kelihatan
tercengang. Jelas nampak betapa di wajahnya terbayang kekaguman dan keheranan karena dia mendapat
kenyataan bahwa pemuda itu mampu menandingi kekuatan sinkang-nya!
Sie Liong tidak membiarkan dirinya dilanda kekagetan lebih lama, akan tetapi cepat dia menghindarkan diri
dari sambaran tombak Thay Bo Lama yang menusuk lurus ke arah lehernya. Dia merendahkan dirinya
sedangkan tangan kirinya lantas mendorong ke arah penyerangnya itu, cepat sekali.
“Hyaaaattt...!”
Hawa yang sangat dingin menyambar ganas ke arah dada Thay Bo Lama. Ternyata Pendekar Bongkok
sudah mempergunakan Swat-liong-ciang (Tangan Naga Salju) yang dilatihnya dari Swat Hwa Cinjin, salah
dunia-kangouw.blogspot.com
seorang di antara Himalaya Sam Lojin. Pukulan ini memang mengandung sinkang yang berhawa dingin
seakan-akan ada hawa salju yang menyambar ganas.
Thay Bo Lama terkejut dan menangkis dengan lengan kirinya pula.
“Plakkk!”
Dan akibatnya, tubuhnya terguling dan dia pun menggigil kedinginan!
Saat itu segera dipergunakan oleh Thay Ku Lama untuk menyambarkan goloknya yang mengeluarkan
suara berdesing! Sie Liong menundukkan mukanya dan menggerakkan tongkat untuk menangkis.
Pada saat yang sama, tongkat naga di tangan Kim Sim Lama kembali menyambar. Sie Liong yang maklum
akan kehebatan pemimpin pemberontak ini, terpaksa menggunakan tongkat yang tadi membalik ketika
menangkis golok Thay Ku Lama, untuk menghadapi sambaran tongkat naga Kim Sim Lama.
“Dukkk!”
Sekali ini, sedemikian kuatnya Kim Sim Lama menghantamkan tongkatnya. Lagi pula Sie Liong baru saja
menangkis golok Thay Ku Lama sehingga ketika menangkis tongkat Kim Sim Lama, tenaganya pun tidak
sepenuhnya. Akibatnya Sie Liong terpelanting!
Kesempatan itu dipergunakan oleh Thay Si Lama untuk manghantamkan cambuknya ke arah kepala Sie
Liong. Cambuk itu melecut dengan cepat seperti kilat menyambar!
Sie Liong masih berhasil menggerakkan tongkatnya menangkis, walau pun dia sudah terpelanting. Namun,
ujung cambuk itu membelit tongkatnya dan terjadi tarik menarik. Sie Liong mengerahkan tenaga dan
tangan kirinya mendorong dengan telapak tangan terbuka ke arah Thay Si Lama.
Thay Si Lama yang menguasai ilmu silat Sin-kun Hoat-lek, yaitu silat yang bukan saja mengandung tenaga
sinkang kuat, akan tetapi bahkan juga mengandung ilmu sihir itu, tidak gentar dan dia pun menggerakkan
telapak tangan kiri menyambut.
“Desss...!”
Hebat bukan main pertempuran dua telapak tangan dan akibatnya, tubuh Thay Si Lama terjengkang dan
dia pun muntah darah! Sie Liong sendiri juga terjengkang karena tadi kedudukannya tidak menguntungkan
ketika dia mengadu tenaga dalam dengan Thay Si Lama. Kuda-kudanya tidak kokoh karena dia tadi baru
saja dalam keadaan terpelanting dan terhuyung.
Pada saat dia terjengkang, ujung tongkat di tangan Kim Sim Lama menyambar dan menyentuh
punggungnya. Sie Liong terkulai lemas dan roboh pingsan! Melihat betapa Thay Si Lama muntah darah,
empat orang rekannya menjadi marah dan mereka sudah menggerakkan senjata untuk melumatkan tubuh
Pendekar Bongkok.
“Tahan!” Kim Sim Lama berseru dan tongkatnya diputar melindungi tubuh Sie Liong.
Lima orang Harimau Tibet itu kini memandang heran kepada pemimpin mereka. Bahkan Thay Si Lama
yang mengusap darah dari bibirnya, mengerutkan alisnya.
“Maaf, susiok (paman guru), akan tetapi Pendekar Bongkok ini berbahaya sekali. Sudah selayaknya kalau
dia dibunuh!” katanya dengan nada tidak senang.
“Hemm, kalian ini sudah berpengalaman luas, mengapa masih berpandangan picik dan masih mudah
dipengaruhi oleh kemarahan dan dendam? Yang penting bagi kita adalah langkah yang kita perhitungkan,
langkah yang pasti akan menguntungkan usaha kita! Kalau dia kalian bunuh, lalu apa untungnya? Boleh
jadi dia lihai, akan tetapi tidak cukup lihai untuk membuat kita gentar. Pula, apa artinya dia seorang diri saja
menghadapi kita? Sebaliknya, kalau dia tidak dibunuh, banyak pilihan bagi kita untuk memanfaatkan bocah
ini dan menarik keuntungan sebesarnya.”
Lima orang pendeta Lama itu memandang penuh perhatian dan Thay Ku Lama mewakili para sute-nya
bertanya, “Susiok, manfaat apa yang dapat kita ambil dari bocah bongkok ini?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ha-ha-ha-ha! Nah, kalian lihatlah,” katanya kepada belasan orang pembantu utamanya.
“Tanpa pimpinan pinceng, kalian ini sama seperti sekumpulan gajah yang kehilangan pembimbing. Biar
pun kalian kuat, kalau tidak pandai mempergunakan akal, tidak akan ada gunanya dan tidak akan
mencapai hasil jauh! Dengarlah. Kita semua telah melihat bahwa bocah ini, walau pun masih muda dan
tubuhnya bongkok, akan tetapi dia sudah mewarisi ilmu kepandaian yang hebat dan kiranya hanya pinceng
seorang saja yang akan mampu menandinginya. Kalian semua, kalau maju satu lawan satu, sama sekali
bukanlah tandingannya! Nah, kalian tentu tahu betapa akan baik dan menguntungkan sekali bagi kita kalau
saja dia mau membantu gerakan kita.”
“Akan tetapi, susiok! Dia adalah murid Himalaya Sam Lojin, bahkan juga murid Pek Sim Siansu. Dia musuh
kita dan mana mungkin dia mau membantu gerakan kita?” Thay Si Lama mencela.
“Bagaimana kalau kita mempergunakan sihir supaya dia kehilangan ingatan dan suka membantu kita?”
kata Thay Hok Lama.
Kim Sim Lama menggelengkan kepalanya. “Memang benar bahwa kiranya tidak akan mungkin dia
membantu kita, dan penggunaan sihir pun tidak ada artinya bagi seorang yang sudah memiliki sinkang
sekuat itu.”
“Pinceng dapat membuatkan racun perampas ingatan...” berkata pula Thay Hok Lama si ahli racun.
Kim Sim Lama tetap menggeleng kepalanya. “Biar pun dia sudah kehilangan ingatan, watak dasarnya tentu
melarang dia untuk membantu kita. Dan apa artinya orang yang kehilangan ingatan untuk kita? Bahkan dia
akan dapat menimbulkan kekacauan karena ketololannya. Tidak, agaknya kita tidak boleh mengharapkan
dia membantu perjuangan kita dengan tenaganya.”
“Lalu untuk apa lagi, susiok?” Thay Pek Lama bertanya.
Kim Sim Lama tersenyum dan mukanya yang merah kekanak-kanakan itu kini kelihatan cerdik luar biasa.
Matanya mencorong, berkilat dan mulutnya tersenyum mengejek.
“Kita dapat mempergunakan dia untuk memperuncing hubungan yang sudah memburuk antara Dalai Lama
dan para tosu. Kalau dia sebagai utusan para tosu sampai terbunuh oleh Dalai Lama, barulah kematiannya
ada gunanya untuk kita.”
Lima orang Tibet Ngo-houw mengangguk-angguk dan mereka pun melihat manfaat itu. “Akan tetapi,
bagaimana caranya agar dia dapat terbunuh oleh Dalai Lama, atau agar para tosu menganggap
kematiannya disebabkan oleh Dalai Lama?”
“Tentu saja satu-satunya jalan adalah supaya dia mati di dalam istana Dalai Lama di Lhasa!” kata Kim Sim
Lama.
“Akan tetapi, bagaimana caranya menyelundupkan dia ke dalam istana?” tanya Thay Bo Lama.
Kim Sim Lama tersenyum lagi. “Tidak percuma pinceng sudah menyebar orang-orang ke dalam Lhasa.
Biarlah kita menanti kesempatan yang baik. Sementara ini, kita tahan dia di dalam penjara lebih dulu.”
“Akan tetapi, hal itu berbahaya sekali, susiok! Dia amat lihai, kalau dibiarkan hidup di dalam penjara,
bagaimana kalau sekali waktu dia memberontak dan berhasil lolos dari dalam penjara?” Thay Ku Lama
berseru khawatir.
“Ha-ha-ha-ha, mengapa engkau begitu bodoh? Tentu saja kita harus membuat dia tidak berdaya lebih
dahulu. Nah sekarang racunmu perampas ingatan itu kita butuhkan, Thay Hok Lama.”
Thay Hok Lama merasa girang karena dia dapat berjasa. Cepat dia mengeluarkan dua butir pel hitam.
“Ingatannya dihilangkan sama sekali ataukah untuk sementara, susiok?”
“Maksudmu bagaimana?” tanya Kim Sim Lama.
“Pinceng mempunyai dua butir pel racun perampas ingatan. Kalau diminumkan sebutir, maka dia akan
kehilangan ingatan selama satu bulan saja. Akan tetapi, kalau dua butir sekaligus dimasukkan ke perutnya,
dunia-kangouw.blogspot.com
racun yang bekerja sedemikian hebatnya sehingga semua syaraf ingatan di kepalanya akan hangus dan
dia pun akan kehilangan ingatan untuk selamanya.” Thay Hok Lama tertawa gembira karena bangga dapat
memamerkan keahliannya tentang racun.
“Berikan sebutir saja. Mungkin kita memerlukan dia dalam keadaan sadar dan setelah sebulan, kalau perlu,
kita bisa meminumkannya sebutir lagi.”
Thay Hok Lama menghampiri tubuh Sie Liong yang masih pingsan, menotok lehernya sehingga dengan
mudah dia membukakan mulut pemuda itu dan memaksakan sebutir pel ke dalam kerongkongannya.
Dengan arak yang dituangkan dengan paksa, maka pel itu memasuki perut Sie Liong tanpa diketahui
pemuda yang masih pingsan itu.
“Ha-ha-ha, setelah siuman dia sudah akan lupa segala-galanya, susiok. Apakah boleh kami lempar dia di
dalam kamar tahanan?” tanya Thay Hok Lama.
“Nanti dulu! Walau pun ingatannya hilang, apa bila tenaganya masih demikian kuat dan nalurinya masih
membuat dia mampu bersilat, hal itu tetap saja membahayakan.”
“Jangan khawatir, susiok. Pinceng mempunyai racun lain yang akan meracuni darahnya sehingga kalau dia
mengerahkan sinkang-nya dia akan roboh sendiri,” kata Thay Hok Lama.
Kembali Thay Hok Lama mengeluarkan obat bubuk yang dituangkan ke dalam perut Sie Liong melalui
mulutnya. Setelah itu, barulah Sie Liong dimasukkan ke dalam sebuah kamar tahanan yang berpintu besi.
“Ha-ha-ha, dalam keadaannya seperti itu, dia tidak berbahaya lagi, seperti orang biasa saja. Tidak perlu
kita sendiri yang berjaga, cukup dijaga anak buah saja,” kata Thay Hok Lama.
Demikianlah, Sie Liong dilempar ke dalam kamar tahanan dan pemuda itu menggeletak pingsan di atas
lantai kamar yang dingin itu. Lima orang Tibet Ngo-houw meninggalkan kamar itu setelah menyuruh enam
orang penjaga berjaga di luar pintu besi dengan senjata di tangan.
Tanpa perlu dijaga pun, pemuda yang sudah makan dua macam obat beracun itu tak akan mampu
membebaskan diri dari dalam kamar penjara…..
********************
Bayangan itu berkelebat cepat sekali meninggalkan wuwungan rumah penginapan. Bulan sepotong sudah
naik tinggi dan sinarnya yang remang-remang menyinari muka orang yang berkelebat turun dari wuwungan
genteng rumah penginapan itu.
Dia adalah seorang pemuda tampan sekali, dengan wajahnya yang bulat bersih dan sepasang alis yang
hitam lebat. Hidungnya mancung dan matanya mencorong, bibirnya selalu tersenyum memikat dan
pakaiannya mewah dan bersih. Dia tersenyum-senyum ketika berhenti di kebun rumah penginapan itu,
menoleh ke arah kamarnya yang berada di bagian tengah.
“Selamat tidur, suci yang manis,” bisiknya sambil tersenyum.
Pemuda ini adalah Coa Bong Gan, murid ke dua Koay Tojin yang melakukan perjalanan bersama suci-nya,
Yauw Bi Sian ke Lhasa untuk mencari Pendekar Bongkok Sie Liong. Seperti telah diceritakan di bagian
depan, mereka memasuki kota Lhasa dan di kota ini mereka berhasil mendapat keterangan tentang
Pendekar Bongkok yang kabarnya akan melakukan penyelidikan ke sarang Kim-sim-pai daerah Telaga
Yam-so.
Tentu saja Bi Sian segera akan melakukan pengejaran ke sana, akan tetapi Bong Gan mencegahnya,
mengingatkan bahwa mereka harus lebih dahulu menyelidiki Kim-sim-pai yang amat ditakuti penduduk dan
di mana pula adanya sarang perkumpulan yang akan didatangi Sie Liong itu. Selain alasan ini, juga ada
alasan rahasia yang membuat Bong Gan menahan suci-nya agar jangan hari itu juga pergi meninggalkan
Lhasa!
Tadi, di rumah makan, dia bertemu dengan seorang wanita yang demikian cantik manis sehingga membuat
hatinya jungkir balik! Yang membuat ia tergila-gila dan mengobarkan birahinya adalah ketika wanita yang
cantik manis itu di rumah makan tadi jelas memberi tanda kepadanya dengan main mata!
dunia-kangouw.blogspot.com
Kerling dan senyum wanita itu demikian memikatnya sehingga dia tidak ragu lagi bahwa dia tidak bertepuk
tangan sebelah. Bukan dia saja yang bangkit birahinya, melainkan wanita itu pun jelas tidak
menyembunyikan perasaan hatinya yang tertarik kepadanya! Dia harus dapat bertemu dengan wanita itu,
malam ini juga!
Sebelum dia dan suci-nya meninggalkan Lhasa, dia harus dapat mendekati wanita itu untuk mempererat
hubungan, untuk berkenalan. Akan tetapi, setelah berhasil keluar dari rumah penginapan tanpa diketahui
siapa pun, dan suci-nya tentu sudah tidur di kamar sebelah yang sudah gelap dan sunyi, dia menjadi
bingung sendiri. Ke mana dia harus mencari wanita itu? Ada sesuatu pada wajah wanita itu yang amat
menarik hatinya, yang secara mendadak saja menimbulkan gairah cintanya.
Tiba-tiba hidungnya kembang kempis. Keharuman mawar demikian menyolok masuk ke hidungnya.
Apakah kebun ini banyak bunga mawarnya? Akan tetapi ketika dia menoleh ke sekeliling, tidak ada pohon
bunga mawar di situ. Akan tetapi keharuman itu demikian keras dan semakin keras lagi.
Tiba-tiba ia merasa ada orang di belakang. Cepat dia memutar tubuhnya dan... benar saja, dalam jarak
lima meter ia melihat sesosok tubuh yang ramping. Akan tetapi dalam keremangan itu, jarak itu masih
terlampau jauh untuk dapat mengenal mukanya. Hanya terdengar suara kekeh wanita dan orang itu pun
meloncat dan berkelebat pergi.
Seorang wanita! Cepat Bong Gan melakukan pengejaran. Dia makin heran dan kagum. Wanita itu sungguh
memiliki ilmu berlari cepat yang hebat! Dia mengejar terus.
Wanita itu melalui jalan-jalan yang sunyi. Setelah tiba di sebuah lapangan rumput dekat sungai kecil yang
sunyi karena tempat itu merupakan pinggiran kota Lhasa, dengan suara ketawa kecilnya yang masih
terdengar, ia berhenti, seolah menanti.
Bong Gan meloncat ke depan wanita itu dan dia terpesona, terbelalak dan sejenak dia bengong. Wanita itu
adalah wanita cantik manis yang membuatnya tergila-gila tadi! Betapa manisnya wajah yang bulat telur
dengan dagu runcing itu. Kulit muka dan leher itu putih mulus, manisnya bukan main!
“Hi-hik-hik, mengapa engkau mengejarku?” terdengar suaranya yang merdu dan penuh godaan.
“Karena aku tergila-gila kepadamu, nona. Pertemuan antara kita di rumah makan itu sudah membuat aku
jatuh cinta kepadamu, nona!” jawab Bong Gan yang masih belum hilang kekaguman dan keheranannya.
Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa gadis cantik jelita yang telah membuatnya tergila-gila itu
bukan wanita sembarangan saja, melainkan seorang wanita yang memiliki ilmu lari cepat yang agaknya
tidak berada di bawah tingkatnya!
Wanita itu bukan lain adalah Pek Lan. Sebagai seorang yang mata keranjang dan gila pria ganteng, begitu
bertemu dengan Bong Gan tentu saja ia sudah tertarik bukan main. Ia merasa betapa wajah pemuda
ganteng itu tidak asing baginya, namun ia lupa lagi entah di mana pernah bertemu pemuda yang gagah
dan ganteng itu.
Sayang pemuda itu sudah mempunyai pasangan, seorang gadis yang demikian cantik. Akan tetapi justru
hal ini bahkan menimbulkan gairahnya, karena ia merasa ada saingan dan ia harus menang! Ia sudah
bosan dengan permainan cinta Thai Yang Suhu yang biar pun masih tampan dan gagah, namun sudah tua
itu.
Setelah siang tadi dia membayangi pemuda dan gadis itu sampai mengetahui rumah penginapan mereka,
maka malam itu dia lalu pergi mengunjungi rumah penginapan itu. Tanpa disangka-sangkanya, ia melihat
bayangan melayang turun dari wuwungan rumah penginapan. Tentu saja dia terkejut dan heran, dan lebih
besar lagi keheranannya ketika dia mengenal pemuda tampan yang digandrungi itulah bayangan yang
amat gesit itu.
Hatinya menjadi semakin bergairah. Kiranya seorang pemuda yang lihai! Dia semakin tertarik, dan dia lalu
memancing pemuda itu keluar dari daerah ramai, menuju ke tempat sunyi di pinggir sungai kecil yang
mengalir di dekat tembok kota Lhasa.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kini, mendengar pengakuan pemuda itu yang mengaku bahwa dia telah tergila-gila dan jatuh cinta
padanya, Pek Lan pun tertawa.
“Aihh, benarkah engkau jatuh cinta kepadaku? Kalau begitu, aku harus mengujimu dulu apakah engkau
cukup gagah untuk dapat berdekatan dengan aku. Sambut seranganku ini!”
Tiba-tiba Pek Lan sudah melakukan penyerangan dengan tangan kosong. Gerakannya cepat dan juga
mengandung tenaga kuat sehingga terdengar angin berdesir.
Timbul kegembiraan di hati Bong Gan. Kiranya wanita ini bukan hanya pandai berlari cepat, pikirnya. Dia
harus menunjukkan bahwa dia cukup jantan dan gagah untuk dapat ‘berdekatan’ dengan wanita cantik
yang menantang ini. Cepat dia pun mengelak untuk menghindarkan serangan orang dan dia pun segera
membalas.
Ternyata wanita itu memiliki gerakan yang gesit dan serangan Bong Gan dapat pula ia elakkan dengan
cepat, kemudian ia melancarkan serangan bertubi-tubi yang membuat Bong Gan diam-diam menjadi
semakin kagum. Apa bila tadinya dia masih tersenyum mengejek dan hendak main-main, kini dia tahu
bahwa wanita itu sungguh lihai dan dia sama sekali tidak boleh memandang ringan! Segera dia mainkan
ilmu simpanannya, yaitu ilmu inti dari Koay Tojin.
Ilmu silat ini dapat dimainkan dengan tangan kosong, atau dapat pula dengan pedang, namun pada intinya
ilmu silat ini adalah ilmu silat tongkat yang disebut Ta-kwi Tung-hoat (Silat Tongkat Pemukul Iblis). Begitu
dia memainkan ilmu silat ini, dua tangannya seolah merupakan sepasang tongkat yang ampuh sekali dan
mempunyai gerakan yang aneh sehingga Pek Lan beberapa kali mengeluarkan seruan kagum.
Namun, biar pun agak terdesak, Pek Lan masih dapat mengindarkan semua rangkaian serangan lawan.
Karena ia memang sudah tertarik kepada pemuda itu, maka ia tidak mau mengeluarkan ilmu pukulan yang
sangat dahsyat, yaitu Hek-in Tok-ciang (Tangan Beracun Awan Hitam).
“Tahan dulu...!” serunya sambil melompat ke belakang.
Bong Gan berdiri dan tersenyum, merasa menang karena betapa pun juga, dia tadi sudah berhasil
mendesak lawan dengan ilmu silat Pemukul Iblis dan wanita itu yang kini minta berhenti.
Akan tetapi ternyata Pek Lan telah mengeluarkan pedangnya dan melintangkan pedang di depan dada
sambil tersenyum. Manis dan gagah sekali.
“Aku sudah melihat ilmu silat tangan kosongmu dan merasa kagum sekali. Akan tetapi aku belum melihat
bagaimana kehebatanmu kalau bermain senjata. Nah, kau keluarkan senjatamu dan mari kita main-main
sebentar. Sebelum berkenalan, aku ingin mengenal kepandaianmu lebih dulu.”
Ketika masih ikut Koay Tojin, baik Bong Gan mau pun Bi Sian tidak pernah dibolehkan menggunakan
senjata tajam, walau pun mereka diajarkan bermain ilmu tongkat Ta-kwi Tung-hoat yang dapat juga
dimainkan dengan pedang. Bi Sian sendiri juga tidak pernah menggunakan pedang. Setelah ia mewarisi
pedang Pek-lian-kiam dari ayahnya gadis itu baru membawa senjata tajam. Demikian pula Bong Gan,
hampir tidak pernah membawa senjata tajam karena kedua kaki tangannya saja sudah cukup ampuh untuk
menghadapi lawan yang bersenjata sekali pun.
Sebenarnya dia sama sekali tidak gentar menghadapi gadis yang berpedang itu dengan tangan kosong.
Akan tetapi sebagai seorang laki-laki gila perempuan yang telah banyak mengenal wanita, Bong Gan
maklum akan watak wanita yang pada umumnya senang disanjung, suka dimanja dan dihargai. Kalau kini
dia maju dengan tangan kosong tentu wanita itu akan tersinggung dan merasa dipandang rendah. Dan hal
ini sungguh akan merugikan dirinya.
Dia lalu mengambil sebatang ranting pohon sebesar lengannya. Sambil melintangkan tongkat sepanjang
hampir dua meter itu dia pun berkata, “Maaf, nona. Aku tidak pernah membawa senjata. Pula, kita adalah
kenalan baru yang hendak mempererat hubungan, bagaimana aku dapat tega untuk mengangkat senjata
tajam melawanmu? Biarlah aku menggunakan tongkat ini saja.”
Pek Lan mengerutkan alisnya. “Engkau memandang rendah kepadaku?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Bong Gan menahan senyumnya. Tepat seperti yang sudah diduganya. Wanita ini tidak menyimpang dari
watak wanita pada umumnya, tidak suka dipandang rendah dan ingin selalu dihargai. Maka dia pun cepat
berkata,
“Aihhh, siapa berani memandang rendah kepadamu, nona? Dari pertandingan tangan kosong tadi saja aku
tahu bahwa aku bukanlah tandinganmu! Apa lagi kalau kini engkau berpedang, mana aku berani
memandang rendah? Dan terus terang saja, satu-satunya senjata yang paling dapat kuandalkan adalah
tongkat dan kalau ada tujuh belas macam senjata pilihan di sini, aku tetap akan memilih sebatang tongkat.”
Lenyap kerut di antara sepasang alis yang hitam panjang melengkung indah itu. “Bagus, kalau begitu, aku
ingin melihat ilmu tongkatmu! Sambutlah pedangku ini!” Dan ia pun menyerang dengan gerakan cepat dan
dahsyat sekali.
Bong Gan memang benar tidak berani memandang rendah. Dia tahu bahwa lawannya ini hebat dan lihai
sekali, maka dia pun cepat menggerakkan tongkatnya dan segera memainkan Ta-kwi Tung-hoat yang
merupakan ilmu inti yang diajarkan oleh Koay Tojin kepada dua orang muridnya.
Begitu ada tongkat di tangannya dan setelah memainkan tongkat itu dengan ilmu Ta-kwi Tung-hoat, Bong
Gan memang menjadi lihai sekali. Tongkatnya itu bagikan seekor naga bermain di angkasa, berkelebatan
dan menyambar-nyambar dengan ganasnya.
Pek Lan telah digembleng oleh Hek-in Kui-bo, seorang datuk sesat yang berilmu tinggi. Namun, tingkat
nenek itu masih kalah dibandingkan tingkat Koay Tojin, maka ilmu yang telah diserap oleh Bong Gan juga
lebih tinggi tingkatnya dibandingkan dengan ilmu yang dikuasai Pek Lan.
Apa bila Pek Lan menggunakan kecurangan seperti yang diajarkan oleh gurunya, yaitu dengan
menggunakan senjata rahasia beracun dan sebagainya, baru mungkin ia dapat mengimbangi kelihaian
Bong Gan. Akan tetapi wanita itu sama sekali tidak ingin melukai Bong Gan, apa lagi membunuhnya. Ia
sudah menjadi semakin tertarik kepada pemuda tampan dan gagah, juga berkepandaian tinggi. Sungguh
seorang kawan dan rekan yang akan amat menyenangkan hati sebagai selingan kebosanan dirinya harus
melayani Thai Yang Suhu saja!
Bong Gan juga kagum. Ilmu pedang yang dimainkan gadis itu harus diakuinya sangat hebat sehingga
andai kata dia tak menggunakan tongkat, tentu dia akan kalah. Bahkan dengan tongkatnya pun, ditambah
dengan ilmu tongkatnya, ia hanya bisa mengimbangi permainan pedang lawannya, mampu melindungi diri
dan juga membalas dengan sama dahsyatnya.
Pertandingan itu berjalan seru di bawah sinar bulan sepotong dan diam-diam keduanya merasa saling
tertarik dan kagum. Kemudian Bong Gan mengeluarkan seruan keras dan dia lalu menggunakan jurus
Menghitung Tulang Iga. Ujung tongkatnya itu bagaikan berubah menjadi banyak dan menusuk-nusuk ke
arah dada lawan, seperti hendak mematahkan setiap tulang iga di dada itu!
Pek Lan terkejut bukan main. Ia sudah berusaha memutar pedangnya menangkis, tetapi ujung tongkat itu
seperti hendak menyentuh dan menotok kedua payudaranya. Memang ia berhasil melindungi diri dengan
sinar pedangnya sehingga ujung tongkat tidak sampai menyentuhnya, namun angin pukulan tongkat itu
tetap menyambar-nyambar dan seperti jari tangan yang meraba-raba dadanya!
Semenjak tadi ia memang sudah kagum bukan main dan kini gairah birahinya bangkit, menyala dan
berkobar. Sambil mengeluarkan suara melengking yang panjang, Pek Lan menggerakkan pedangnya
menangkis tongkat dan mengerahkan tenaga sinkang untuk menempel. Pedang bertemu tongkat dan
melekat!
Pek Lan menggunakan tangan kirinya untuk mendorong ke arah dada lawan, namun pada saat itu Bong
Gan juga melepaskan tangan kanannya, memegang tongkat hanya dengan tangan kiri dan tangan kanan
itu menyambut dorongan tangan kiri Pek Lan.
“Plakkk!”
Dua buah tangan dengan jari-jari terbuka itu bertemu dan saling melekat pula, seperti pedang dan tongkat!
Mereka tidak bergerak, hanya saling pandang dalam jarak kurang dari satu meter lebih sehingga mereka
dapat melihat wajah masing-masing cukup jelas.
dunia-kangouw.blogspot.com
Bong Gan tersenyum. “Nona, engkau sungguh cantik jelita...”
Pek Lan juga tersenyum. “Dan engkau perayu besar!”
“Tidak, nona. Aku bicara sejujurnya. Engkau memang cantik jelita dan manis sekali, dan ilmu
kepandaianmu amat hebat, aku tergila-gila padamu, aku... aku tidak ingin berkelahi denganmu, melainkan
ingin bercinta denganmu, ingin mencium mulutmu yang manis itu...”
Senyum Pek Lan melebar. Gairah birahinya sudah berkobar membakar seluruh dirinya karena sikap dan
ucapan Bong Gan bagaikan minyak bakar disiramkan pada api nafsu birahinya.
Pek Lan menggerakkan kepalanya. Rambutnya yang digelung itu terlepas dan rambut yang panjang itu
menyambar ke depan, melingkari leher Bong Gan. Dia menarik dan muka pemuda itu mendekat. Ketika
dua mulut itu bertemu dalam ciuman yang penuh nafsu, pedang dan tongkat mereka terjatuh dan dua
pasang lengan itu saling dekap. Keduanya terguling ke atas rumput!
Mereka bagaikan dua orang yang mabok, mabok oleh nafsu birahi mereka sendiri. Dua orang ini memang
cocok, keduanya mempunyai kelemahan yang sama, yaitu menjadi hamba nafsu birahi. Mereka saling
menumpahkan birahi mereka lewat kemesraan yang panas.
Tiba-tiba, masing-masing terbelalak dan melepaskan rangkulan, bangkit duduk dengan napas masih
terengah-engah serta keringat membasahi dahi dan leher. Mereka saling tatap seperti orang terkejut.
“Kau... kau... Bong Gan...?”
“Kau... Pek Lan...?”
Tadinya mereka memang hanya merasa pernah saling bertemu, akan tetapi keduanya sudah saling tidak
mengenal. Hal ini dapat dimaklumi, karena pada saat mereka dahulu menjadi kekasih masing-masing, usia
Pek Lan baru tujuh belas tahun dan usia Bong Gan bahkan baru tiga belas atau empat belas tahun!
Kini, Pek Lan telah menjadi seorang wanita cantik yang matang, sedangkan Bong Gan menjadi seorang
pemuda tampan yang sudah dewasa, bukan lagi remaja setengah kanak-kanak seperti dahulu. Pula,
dahulu keduanya sama sekali tidak dapat bersilat dan kini keduanya telah menjadi orang yang lihai ilmu
silatnya.
Akan tetapi, setelah keduanya bermesraan, barulah mereka saling mengenal dan tentu saja keduanya
terkejut bukan main, terheran, juga merasa girang sekali!
“Pek Lan, ahhh kau Pek Lan, kekasihku...”
“Bong Gan, betapa aku rindu kepadamu...!”
Keduanya saling rangkul dan saling cium lagi, seperti dua orang kekasih yang sudah bertahun-tahun
berpisah kini saling jumpa kembali. Mereka agaknya sudah lupa bahwa dalam pertemuan terakhir dahulu
mereka saling serang dengan penuh kemarahan dan dendam, saling menyalahkan karena keduanya
terpaksa harus pergi dari rumah gedung hartawan Coa sesudah tertangkap basah ketika mereka berdua
melakukan hubungan gelap, berjinah!
Kembali mereka tenggelam dalam gelombang nafsu birahi. Akan tetapi tiba-tiba Pek Lan menahan dada
Bong Gan yang menggelutinya, lalu mendorong pemuda itu sehingga keduanya kembali bangkit duduk.
“Ada apakah, Pek Lan, kekasihku? Aku... sangat rindu kepadamu...” Bong Gan berbisik, terengah-engah.
“Nanti dulu, aku melihat engkau bersama gadis cantik itu. Isterimukah dia?” tanya Pek Lan, bukan karena
cemburu hanya ingin tahu saja.
Bong Gan tersenymn lega. Disangkanya mengapa Pek Lan menghentikan pelukan. “Ia bernama Yauw Bi
Sian dan ia adalah kakak seperguruanku.”
“Suci-mu? Hemm, kalau begitu ia tentu lihai sekali.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Sudahlah, kenapa justru membicarakan orang lain? Engkau mengganggu saja...!” Bong Gan merangkul
dan kembali mereka tenggelam ke dalam lautan kemsaraan yang penuh nafsu birahi.
Semalam suntuk, kedua orang ini membiarkan diri mereka dipermainkan gelombang birahi. Mereka lupa
diri, lupa susila dan lupa segalanya, karena yang terasa hanyalah gairah nafsu yang tak terkendalikan,
nafsu yang menuntut pemuasan namun yang tak mengenal puas. Dan setiap kali mereka mendapat waktu
luang untuk istirahat, mereka bercakap-cakap, saling menceritakan pengalaman masing-masing semenjak
mereka berpisah.
“Sungguh aneh keadaan kita ini, Pek Lan,” kata Bong Gan sambil membelai rambut kekasihnya dalam
rangkulan. “Dahulu, ketika aku masih remaja, kita sudah saling jatuh cinta, kita bermain cinta. Kemudian,
ketika kita terusir keluar dari rumah keluarga Coa, kita saling serang hingga engkau diambil murid Hek-in
Kui-bo seperti yang kau ceritakan tadi, dan aku menjadi murid Koay Tojin. Kemudian, begitu bertemu, kita
saling tertarik lagi tanpa saling mengenal, dan kemudian kita bertanding lagi sebelum akhirnya saling
bermain cinta.”
“Engkau memang sudah kucinta sejak dulu, Bong Gan,” kata Pek Lan sambil mencium dagu pemuda itu.
“Dan engkau sampai tiba di Lhasa ada keperluan apakah?”
“Aku diminta suci-ku untuk membantunya mencari musuh besarnya.”
“Hemm, siapakah musuh besarnya?”
“Dia bernama Sie Liong dan berjuluk Pendekar Bongkok.”
Pek Lan melepaskan rangkulannya, bahkan bangkit duduk seperti orang terkejut.
“Pendekar Bongkok? Dia...?”
Pada waktu gairah nafsu sudah terpuaskan dan mulai menipis, maka apa yang tadinya nampak begitu
indah menjadi berubah. Bong Gan tak lagi merasakan keindahan bentuk tubuh Pek Lan yang bermandikan
sinar bulan itu, sudah tak seindah tadi. Apa lagi yang menjadi bahan percakapan kini menarik hatinya.
“Engkau sudah mengenal dia, Pek Lan?”
“Mengenalnya...?” Pek Lan tersenyum getir. Tentu saja dia sudah mengenal Pendekar Bongkok,
mengenalnya dengan cara yang paling pahit. “Aku pernah bertemu dengan dia. Dia... hemm, lihai bukan
main. Jadi Pendekar Bongkok itu musuh besar suci-mu?”
“Ya, musuh besar akan tetapi juga pamannya, adik ibu kandungnya.”
“Ehhh? Ceritakan kepadaku, kenapa begitu, Bong Gan,” kata Pek Lan dan karena hawa mulai dingin
menjelang subuh itu, ia menutupi tubuhnya dengan pakaiannya, meski pun belum ia pakai sebagaimana
mestinya.
Bong Gan juga mulai mengenakan kembali pakaiannya. Dia tidak begitu bergairah lagi setelah semua
nafsu yang bergelora disalurkan dan terpuaskan. Dia mulai teringat akan hal-hal lain seperti Bi Sian dan
perjalanan mereka ke Lhasa.
“Suci adalah keponakan Pendekar Bongkok karena Sie Liong itu adik kandung ibunya...”
“Tapi Pendekar Bongkok itu masih amat muda!”
“Memang selisih usia mereka tidak banyak. Pendekar Bongkok adalah murid Himalaya Sam Lojin dan Pek
Sim Siansu, yaitu subeng dari guruku, Koay Tojin. Pada suatu hari, Pendekar Bongkok telah... ehhh, dia
membunuh ayah kandung suci-ku. Karena itu, suci mendendam dan hendak mencari Pendekar Bongkok,
pamannya itu. Karena tahu akan kelihaian pamannya, maka dia minta bantuanku dan kami berdua
kemudian mengikuti jejak Pendekar Bongkok sampai ke Lhasa.”
“Hemm, kalau begitu, kita mempunyai kepentingan yang sama. Aku pun dimusuhi oleh Pendekar Bongkok
dan dia kami anggap sebagai musuh. Kalau engkau suka bergabung dengan kami, Bong Gan, tentu
dunia-kangouw.blogspot.com
keadaan kita akan lebih kuat. Apa lagi, setelah kini saling bertemu, aku tidak ingin berpisah lagi denganmu.
Entah bagaimana dengan engkau!”
Bong Gan mendekat dan mencium pipi wanita itu. “Engkau tahu perasaanku kepadamu, Pek Lan, dan
engkau tahu tak ada kesenangan lebih besar bagiku melebihi kesenangan bekerja sama denganmu dan
selalu berada di dekatmu. Akan tetapi, bagaimana dengan suci? Kalau ia marah kepadaku dan menentang
kita, ia akan menjadi penghalang besar dan menambah musuh yang amat berbahaya bagi kita.”
“Kenapa harus menjadi musuh? Bukankah ia memusuhi Pendekar Bongkok? Ajak saja ia bergabung
dengan kami. Thai Yang Suhu, guruku dalam ilmu sihir itu tentu akan suka pula bergabung dengan kalian.”
“Maksudmu pendeta yang kulihat lagi bersamamu di rumah makan itu?” Baru sekarang Bong Gan teringat
akan pendeta itu. “Jadi dia itu gurumu yang baru?”
“Dia sahabat subo Hek-in Kui-bo dan sekarang sedang mengajarkan ilmu sihir padaku, menjadi guruku
pula.”
“Dan kalian hendak pergi ke manakah? Mengapa sampai pula di Lhasa?”
“Kami hendak pergi menghadap Kim Sim Lama, ketua Kim-sim-pai...”
“Ahhh! Sie Liong Si Pendekar Bongkok juga ke sana!”
“Akan tetapi dia sebagai lawan Kim-sim-pai, sedangkan kami datang sebagai sababat. Guruku, Thai Yang
Suhu, adalah seorang sahabat Kim Sim Lama dan kami datang untuk menggabungkan diri dengan Kimsim-
pai yang mempunyai cita-cita besar.”
“Cita-cita bagaimana?” Bong Gan mulai tertarik.
“Menggulingkan Dalai Lama dan menjadi penguasa seluruh Tibet!”
“Wah, pemberontakan? Apa hubungannya itu dengan kita? Aku tidak mau kalau harus menjadi
pemberontak di negeri asing!”
“Bong Gan, engkau bodoh. Kau kira aku pun senang membantu pemberontakan orang Tibet? Kita bukan
ikut memberontak, melainkan membantu Kim-sim-pai untuk mencapai cita-citanya. Kalau mereka berhasil,
kita tinggal pilih. Kedudukan tinggi dan kekuasaan di Tibet, atau kita dapat pulang ke timur membawa
kekayaan yang amat besar. Di sini tempat harta yang amat banyak, emas permata, dan benda-benda aneh
yang tak ternilai harganya.”
Bong Gan mengerutkan alisnya. “Jadi engkau dan Thai Yang Suhu hendak bersekutu dengan Kim-sim-pai,
lalu membantu pemberontakan mereka untuk mencari kedudukan tinggi atau harta benda?”
“Tentu saja, untuk apa lagi kalau bukan mencari keuntungan? Apa artinya hidup ini jika tidak mencari
keuntungan dan kesenangan?”
Bong Gan mengangguk-angguk. “Hemm, sebenarnya aku tertarik sekali, Pek Lan. Akan tetapi...
bagaimana dengan suci Yauw Bi Sian?”
“Kau ajak saja ia bersama kami.”
“Uh, engkau tidak tahu bagaimana wataknya! Ia keras hati dan sudah pasti ia tidak akan suka kalau
mendengar kita membantu Kim-sim-pai untuk suatu pemberontakan di Tibet. Ia... ia... hemm, ia condong
untuk menentang segala yang dianggapnya jahat.”
“Hi-hik-hik, kau maksudkan ia seorang pandekar wanita?”
Bong Gan mengangguk. “Begitulah! Guru kami, Koay Tojin, menentang segala bentuk kejahatan dan...”
“Dan kau sendiri?”
Bong Gan menyeringai. “Aku lebih suka mencari kesenangan dan keuntungan seperti engkau, Pek Lan.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kalau begitu, tinggalkan saja suci-mu yang pura-pura alim itu. Engkau ikut dengan kami bargabung
dengan Kim-sim-pai dan persetan dengan gadis itu!”
“Ahh, tidak bisa begitu, Pek Lan. Meninggalkan ia begitu saja? Ahhh, aku... aku...”
“Hemmm, aku tahu! Engkau jatuh cinta kepada suci-mu yang cantik itu, bukan? Dasar mata keranjang
kau!”
“Tidak banyak bedanya denganmu, Pek Lan.” Bong Gan membalas.
“Hemm, kalau begitu. Bujuk dan rayu dia agar suka bergabung dengan kami. Kalau dia begitu lihai, kami
pasti lebih senang lagi dan Kim Sim Lama tentu akan suka menerima bantuannya.”
“Itulah sukarnya, Pek Lan. Terus terang saja, pernah aku menyatakan cintaku padanya dan ia... ia agaknya
tidak menolak, akan tetapi dengan tegas mengatakan bahwa aku dilarang bicara tentang cinta sebelum
kami bertemu Pendekar Bongkok dan berhasil membalas kematian ayahnya. Kalau saja dia suka
menerima cintaku sekarang juga... kalau saja ia dapat menjadi milikku sekarang, tentu akan mudah
mengajaknya bekerja sama denganmu.”
Pek Lan terkekeh genit dan merangkul leher kekasihnya. “Huh, kalau bukan aku yang mendengar
ucapanmu itu, apakah orang tidak akan menjadi gila oleh cemburu? Engkau laki-laki mata keranjang!
Baiklah, jangan khawatir, guruku Thai Yang Suhu tentu akan dapat membantumu menundukkan suci-mu
itu. Akan tetapi hanya dengan satu syarat, yaitu setelah engkau berhasil menundukkan suci-mu, engkau
harus mengajaknya untuk bergabung dengan kami!”
Tentu saja Bong Gan merasa girang bukan main. “Baik, aku berjanji! Ia pun tentu akan setuju karena
bukankah dengan bekerja sama akan lebih mudah untuk menghadapi Pendekar Bongkok?”
“Dan setiap saat aku menginginkan, engkau harus melayaniku dengan taat!”
Bong Gan tertawa. “Tentu saja, dengan segala senang hati!”
“Nah, kalau begitu, sekarang aku menginginkan...”
Keduanya tertawa dan kembali mereka menyelam ke dalam lautan kemesraan yang panas dan
memabokkan…..
********************
Mereka memasuki kota Lhasa sambil menuntun kuda tunggangan mereka yang nampak lelah sekali. Sie
Lan Hong memandang ke kanan kiri, mengagumi bangunan-bangunan kuno yang kokoh dan megah di
lereng bukit-bukit itu.
Sungguh sebuah kota yang aneh dan juga asing baginya. Melihat daerah yang luas itu, perumahan yang
berada di lereng-lereng bukit, orang-orang yang berlalu lalang di jalan-jalan lebar, ia pun mengerutkan
alisnya dan merasa khawatir.
“Lie-toako, di tempat besar seperti ini, ke mana kita harus mencari puteriku dan adikku?”
Lie Bouw Tek tersenyum. Dia memandang wanita itu dengan sinar mata lembut dan menghibur.
“Jangan khawatir, Hong-moi. Yang kita cari adalah dua orang Han, maka tentu tidak akan begitu sukar.
Tidak banyak orang Han di sini, maka kalau mereka berada di sini, tentu ada yang melihat mereka.”
“Sekarang, kita ke mana toako?”
“Kita mencari tempat penginapan dahulu, menyewa dua buah kamar, dan membiarkan kuda kita mendapat
perawatan, kemudian kita membersihkan diri, lalu makan. Setelah itu, baru kita pergi menghadap atau
berusaha supaya dapat diterima menghadap Dalai Lama.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Menghadap Dalai Lama? Akan tetapi aku pernah mendengar bahwa kedudukan Dalai Lama amat tinggi,
hampir seperti kaisar kita, dan tidak akan mudah menghadap beliau.”
“Benar, akan tetapi aku yakin akan dapat diterimanya, Hong-moi. Aku mengenal beliau pribadi, karena aku
pernah membantu beliau ketika ada segerombolan penjahat hendak membunuh beliau.”
“Akan tetapi, adikku Sie Liong mungkin pergi mencari Tibet Ngo-houw, kenapa engkau hendak mengajak
aku menghadap Dalai Lama?”
“Begini, Hong-moi. Aku sendiri sesungguhnya sedang menerima tugas dari Kun-lun-pai untuk menyelidiki
kenapa Tibet Ngo-houw memusuhi para tosu, bahkan memusuhi pula Kun-lun-pai. Di sepanjang perjalanan
kita sudah mendengar akan adanya perkumpulan Kim-sim-pai yang kabarnya hendak memberontak. Maka,
kupikir sebaiknya kalau aku langsung saja bertanya kepada Dalai Lama tentang sikap Tibet Ngo-houw itu.
Aku yakin di sana aku akan bisa mendapatkan keterangan yang lebih jelas. Dan tentang mencari adikmu
dan puterimu, kukira orang-orang Dalai Lama akan lebih tahu, atau setidaknya akan lebih mudah
menemukan kedua orang itu kalau Dalai Lama membantu, menyuruh orang-orangnya untuk menyelidiki
dan mencari.”
Sie Lan Hong mengangguk-angguk. Ia memang telah tahu bahwa Lie Bouw Tek adalah seorang pria yang
hebat, yang gagah perkasa, cerdik dan juga amat berpengalaman. Ia merasa lemah dan bodoh sekali
berada di samping pria ini, dan ia merasa aman dan terlindung.
Alangkah bedanya ketika ia masih menjadi isteri Yauw Sun Kok. Ia tak pernah merasa tenteram, tak
pernah merasa aman bahkan selalu merasa gelisah, takut dan juga sakit hati. Lie Bouw Tek yang bukan
apa-apanya, tidak ada hubungan apa pun antara mereka telah bersikap demikian baiknya!
Begitukah sikap setiap orang pendekar, ataukah ada sesuatu yang istimewa di dalam hubungan di antara
mereka? Mengingat akan hal ini, sering kali Lan Hong tersipu malu. Tidak, bantahnya kepada diri sendiri. Ia
hanya seorang janda yang mempunyai seorang puteri lagi. Ia bukan seorang gadis muda!
Sedangkan Lie Bouw Tek adalah seorang pendekar yang gagah perkasa dan budiman, seorang tokoh
Kun-lun-pai yang terkenal! Betapa mungkin... ah, ia telah mengharapkan terlalu jauh, sungguh tidak tahu
malu!
Lan Hong menurut saja ketika Lie Bouw Tek mengajaknya mencari rumah penginapan. Mereka menyewa
dua buah kamar yang letaknya berdampingan dan menyerahkan dua ekor kuda mereka kepada pelayan
untuk diberi makan.
Setelah mandi, dengan tubuh terasa segar dan pakaian bersih menggantikan pakaian mereka yang penuh
debu, keduanya lalu pergi ke rumah makan. Mereka tidak terlalu menarik perhatian, seperti sepasang
suami isteri saja.
Lie Bouw Tek sendiri biar pun dia seorang pendekar besar, tetapi dia tidak menonjolkan diri dan pedang
pusakanya selalu tersembunyi di balik baju luarnya. Atas nasehat Lie Bouw Tek pula, Sie Lan Hong juga
menyembunyikan pedangnya sehingga tidak terlalu menyolok. Pedang Lan Hong memang hanya pedang
pendek, maka setelah diselipkan di ikat pinggang, ujung sarung pedang masih tertutup baju, dan
gagangnya juga tidak nampak walau pun ada kalanya ujung itu menonjol keluar.
Setelah makan, pada pagi hari itu juga, mereka pun pergi menuju ke istana Dalai Lama di lereng bukit.
Suasana di bukit itu sungguh nyaman. Terdapat beberapa buah taman bunga yang amat indah, dengan
suasana yang aman dan tenteram. Para pendeta Lama yang kadang-kadang bersimpang jalan dengan
mereka, bersikap hormat dan ramah.
Akan tetapi, ketika mereka tiba di pintu gerbang memasuki daerah istana itu, beberapa orang pendeta
Lama menghadang mereka. Biar pun sikap mereka sangat hormat, akan tetapi dengan tegas mereka
mengatakan bahwa orang luar tak diperbolehkan memasuki daerah itu tanpa ijin.
“Harap kalian memaafkan kami,” kata kepala jaga dengan sikap hormat. “Kalau hendak berjalan-jalan dan
menikmati keadaan, harap lakukan itu di luar daerah istana. Tidak seorang pun diperbolehkan memasuki
daerah dalam pintu gerbang tanpa ijin.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Lie Bouw Tek tersenyum dan menjura dengan hormat, diikuti pula oleh Sie Lan Hong. “Harap saudara
sekalian suka memaafkan saya. Saya sengaja datang ke Lhasa untuk menghadap Dalai Lama. Harap
saudara sudi melaporkan ke dalam dan mengatakan bahwa kami berdua ingin menghadap Dalai Lama
karena ada suatu keperluan yang amat penting.”
“Omitohud...!” Kepala jaga itu berseru. “Apakah sicu (tuan yang gagah) mengira akan demikian mudah saja
bertemu dengan beliau? Tanpa panggilan bagaimana sicu dapat diperkenankan menghadap? Pinceng
(saya) sungguh tidak berani lancang mengganggu beliau di pagi hari ini, tanpa alasan yang cukup kuat.”
“Sahabat, harap sampaikan saja ke dalam bahwa saya adalah utusan dari Kun-lun-pai yang ingin
menyampaikan sesuatu yang teramat penting untuk Dalai Lama,” kata pula Lie Bouw Tek dengan sikap
dan suaranya yang tenang berwibawa.
Mendengar disebutnya Kun-lun-pai, sikap para pendeta penjaga itu berubah dan kepala jaga memandang
dengan sikap lebih hormat.
“Omitohud, kiranya sicu adalah utusan dari Kun-lun-pai? Harap sicu menyampaikan surat dari ketua Kunlun-
pai lebih dahulu kepada Dalai Lama melalui kami. Setelah surat itu kami sampaikan, tentu sicu
diperkenankan masuk menghadap.”
Akan tetapi Lie Bouw Tek menggeleng kepalanya. “Sobat, sampaikan saja kepada Dalai Lama bahwa
saya, Lie Bouw Tek murid Kun-lun-pai, hendak mohon menghadap. Kalau mendengar nama saya, tentu
beliau akan sudi menerimaku.”
Pada saat itu, seorang pendeta Lama yang usianya sudah lebih dari lima puluh tahun berjalan tenang dari
sebelah dalam. Begitu melihat Lie Bouw Tek, dia pun cepat-cepat menghampiri dan menjura dengan sikap
hormat.
“Omitohud... kiranya Lie Taihiap yang sedang berada di sini! Selamat datang, taihiap. Ada keperluan
apakah gerangan yang membawa taihiap datang berkunjung ke Lhasa?”
Lie Bouw Tek tidak mengenal pendeta Lama itu, akan tetapi dia tahu bahwa pendeta ini tentu seorang di
antara mereka yang dulu tahu akan bantuan yang dia berikan kepada Dalai Lama. Dia pun cepat memberi
hormat dan berkata dengan lembut.
“Selamat bertemu, losuhu. Saya datang untuk mohon menghadap Dalai Lama karena ada sesuatu hal
yang sangat penting harus saya sampaikan kepada beliau. Tolonglah, harap mintakan ijin kepada beliau
agar saya diperkenankan menghadap sekarang juga.”
“Baik, taihiap. Tunggulah sebentar di sini!” kata pendeta itu yang bergegas masuk ke arah bangunan istana
yang megah itu.
Kini para pendeta jaga bersikap hormat dan ramah, bahkan mempersilakan Bouw Tek dan Lan Hong untuk
duduk menanti di dalam gardu penjagaan.
Tidak lama kemudian, muncullah enam orang pendeta Lama yang merupakan sebuah pasukan kecil
berbaris menghampiri tempat itu. Mereka ditemani oleh pendeta Lama yang tadi menegur Bouw Tek, yang
kini tersenyum ramah.
“Silakan, taihiap. Dalai Lama yang agung mengundang taihiap.”
“Akan tetapi, saya datang bersama Sie-toanio ini, harap supaya ia pun diperkenankan menemani saya
untuk menghadap Dalai Lama.”
Pendeta itu mengerutkan alisnya. “Tidak biasanya Dalai Lama mau menerima tamu wanita. Akan tetapi
karena toanio ini datang bersamamu, maka silakan masuk. Terserah kepada Dalai Lama sendiri nanti
setelah ji-wi (kalian berdua) tiba di luar ruangan tamu, apakah toanio ini diperkenankan turut masuk
ataukah dipersilakan menunggu di luar ruangan.”
Lie Bouw Tek mengangguk dan bersama Lan Hong, dia lalu mengikuti enam orang pendeta itu yang
mengawal dan menjadi penunjuk jalan. Setelah mereka memasuki istana, tidak seperti Lie Bouw Tek yang
pernah satu kali masuk ke istana ini, Lan Hong memandang ke kanan kiri dengan bengong.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ia terpesona menyaksikan segala keindahan yang terdapat di istana itu. Ukir-ukiran yang indah sekali,
marmer, emas, perak, sutera beraneka warna! Ia merasa seperti memasuki sebuah istana dalam mimpi!
Patung-patung logam, marmer, perak atau emas yang ukirannya sangat indahnya, lukisan-lukisan.
Pendeknya, selama hidupnya belum pernah Lan Hong menyaksikan keindahan seperti itu.
Ketika mereka sampai di luar sebuah pintu besar yang terjaga, enam orang pendeta pengawal itu
mempersilakan mereka menanti sebentar. Seorang di antara mereka memasuki ruangan di balik pintu
besar itu, dari mana keluar keharuman cendana yang nyaman. Tak lama kemudian, pendeta itu keluar lagi
dengan wajah cerah.
“Taihiap dan toanio dipersilakan masuk untuk menghadap Yang Agung Dalai Lama!”
Dengan wajah gembira Lie Bouw Tek lalu mengajak Sie Lan Hong memasuki ruangan itu. Akan tetapi Sie
Lan Hong sendiri agak gemetar ketika melangkah masuk.
Ruangan itu luas dan nampak sunyi karena kosong. Di sudut paling belakang, nampak ada seorang pria
duduk di atas sebuah kursi yang besar dan terukir indah, mengenakan jubah dan kepalanya tertutup topi
pendeta.
“Selamat datang, pendekar perkasa Lie Bouw Tek dan toanio! Silakan duduk!”
Lie Bouw Tek cepat maju memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan depan dada dan
membungkuk sampai dalam. Sie Lan Hong juga memberi hormat, akan tetapi dia merasa heran bukan
main.
Tadinya ia membayangkan bahwa Dalai Lama yang mengepalai para pendeta Lama di Tibet, tentu
seorang kakek yang tua renta keriputan dan buruk. Akan tetapi ternyata sama sekali tidak demikian!
Pendeta yang duduk menyendiri itu usianya hanya beberapa tahun saja lebih tua dari Lie Bouw Tek, dan
wajahnya tampak bersih! Wajah yang cerah dengan sepasang mata yang terang dan jernih, senyum yang
terbuka dan seluruh gerak geriknya menyiratkan kesabaran, keagungan dan kebesaran hati.
Setelah Bouw Tek dan Lan Hong duduk di atas kursi yang agaknya sudah disediakan untuk mereka,
menghadap ke arah Dalai Lama, nampaklah oleh mereka berdua bahwa di belakang Dalai Lama terdapat
sehelai kain sutera putih dan di balik kain sutera itu berdiri beberapa orang pendeta Lama yang tak
bergerak bagaikan arca-arca mati saja. Bouw Tek maklum bahwa sedikitnya sepuluh orang pendeta Lama
berdiri di sana, dan mereka itu adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi sekali, yang
merupakan pasukan pengawal yang melindungi keselamatan Dalai Lama.
Dalai Lama sendiri memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka ditambah penjagaan pasukan pengawal pribadi
ini, dan adanya ratusan orang pendeta Lama di kompleks istana itu, maka tentu saja tempat itu amatlah
kuatnya. Apa lagi di benteng yang setiap waktu siap mentaati perintah Dalai Lama.
“Nah, menurut laporan tadi engkau datang sebagai seorang utusan Kun-lun-pai, maka katakanlah semua
keperluanmu berkunjung ke sini, taihiap.”
Dari tempat duduknya, Bouw Tek memberi hormat kepada orang pertama yang paling berkuasa di Tibet
itu. “Mohon dimaafkan atas kelancangan saya. Karena para pimpinan Kun-lun-pai yang mengutus saya itu
hanya menyampaikan pesan melalui beberapa orang murid yang menyusul saya, maka saya tidak
membawa surat perintah tertulis. Sebetulnya, tugas saya dari Kun-lun-pai adalah untuk menyelidiki Tibet
Ngo-houw, akan tetapi karena saya merasa yakin akan dapat paduka terima dengan baik, maka saya
langsung saja menghadap paduka untuk mohon pertimbangan dan kebijaksanaan.”
Dalai Lama masih tersenyum walau pun pandang matanya sejenak kehilangan cahaya kelembutannya
ketika mendengar disebutnya nama Tibet Ngo-houw tadi.
“Tibet Ngo-houw? Taihiap, ada urusan apakah dengan Tibet Ngo-houw?”
Jelas bagi Bouw Tek bahwa pertanyaan itu memancing. Dia merasa heran. Semenjak dahulu semua orang
juga tahu bahwa Tibet Ngo-houw adalah lima orang pendeta Lama yang terkenal sebagai pembantudunia-
kangouw.blogspot.com
pembantu Dalai Lama yang dipercaya. Dan mungkin saja mereka kini pun berada di balik sutera putih di
belakang Dalai Lama itu. Mengapa Dalai Lama masih bertanya lagi?
“Ampunkan saya, bukan maksud saya untuk mengadu, hanya saya diutus oleh para pimpinan Kun-lun-pai
untuk menyelidiki kenapa Tibet Ngo-houw datang ke Kun-lun-san, bukan hanya mencari dan menyerang
dengan maksud membunuhi para pertapa dan tosu yang berasal dari Himalaya dan kini bertapa di sana,
akan tetapi juga bahkan mereka berlima itu memusuhi Kun-lun-pai. Karena mereka itu mengaku sudah
diutus oleh paduka, maka saya kira lebih baik saya langsung saja bertanya kepada paduka mengenai
sepak terjang Tibet Ngo-houw itu.”
Dalai Lama mengangguk-angguk, agaknya dia sama sekali tidak heran apa lagi terkejut mendengar
ucapan Bouw Tek ini, bahkan terdengar dia berkata lirih, seperti kepada diri sendiri. “Hemm, sampai begitu
jauh mereka berusaha memburukkan nama kami?”
Dalai Lama bertepuk tangan dua kali dan muncullah seorang pendeta Lama dari balik kain sutera putih. Dia
seorang pendeta yang bertubuh tinggi besar, bersikap agung dan usianya sudah enam puluh tahun lebih.
Mukanya berbentuk persegi seperti muka singa, membayangkan kekerasan dan kekokohan, akan tetapi
sinar matanya sangat lembut. Dia menjura di depan Dalai Lama, menanti perintah.
“Lie-taihiap, engkau tentu masih ingat kepada Kong Ka Lama yang bijaksana dan sakti ini. Nah, dialah
yang akan menceritakan semuanya kepadamu. Maafkan, sekarang tiba saatnya bagi saya untuk
melakukan meditasi, maka urusan selanjutnya, rundingkanlah segalanya dengan Kong Ka Lama ini.”
Setelah berkata demikian, Dalai Lama bangkit berdiri.
Bouw Tek cepat bangkit berdiri diikuti oleh Lan Hong dan setelah sedikit mengangguk kepada mereka,
Dalai Lama lalu melangkah masuk dari pintu di belakang sutera putih, meninggalkan Bouw Tek dan Lan
Hong berdua dengan pendeta Lama yang bernama Kong Ka Lama itu.
Setelah Dalai Lama dan para pendeta yang mengawalnya memasuki pintu yang segera tertutup kembali,
Kong Ka Lama baru menghadapi Bouw Tek dan Lan Hong, membuat gerakan dengan tangan menunjuk
pintu samping dan berkata, “Taihiap dan toanio, mari kita bicara di ruangan sebelah.”
Mereka bertiga keluar dari ruangan itu, melalui pintu samping mereka memasuki sebuah ruangan lain yang
tidak begitu besar. Ruangan ini pun kosong dan hanya ada sebuah meja dan beberapa buah kursi. Kong
Ka Lama mempersilakan dua orang tamu itu untuk duduk dan dia sendiri pun duduk menghadapi mereka.
Tentu saja Lie Bouw Tek masih ingat kepada pendeta Lama ini. Kong Ka Lama atau artinya Lama Salju
Putih adalah seorang di antara jagoan Tibet yang mengawal Dalai Lama. Bahkan dulu, ketika Dalai Lama
dalam perjalanan keluar Lhasa dihadang para pemberontak yang menyerangnya, Kong Ka Lama ini yang
mengepalai para pengawal melakukan perlawanan dan melindungi Dalai Lama yang berada di dalam
tandu. Pada waktu itulah kebetulan dia melakukan perjalanan dan melihat peristiwa itu, lalu dia turun
tangan membantu para pendeta Lama, menghalau para penghadang sehingga akhirnya Dalai Lama dapat
diselamatkan.
Kong Ka Lama adalah seorang pendeta Lama yang berilmu tinggi dan masih saudara seperguruan dengan
lima orang Tibet Ngo-houw, maka bisa dibayangkan kelihaiannya.
“Taihiap, pinceng (saya) memenuhi perintah Dalai Lama untuk memberi keterangan dan penjelasan
kepada taihiap tentang sepak terjang Tibet Ngo-houw terhadap para tosu yang berasal dari Himalaya dan
yang kini telah mengungsi ke Kun-lun-san itu. Mungkin taihiap sudah mendengar betapa yang mulia Dalai
Lama dahulunya terlahir di sebuah dusun dan melihat bahwa beliau adalah penjelmaan Dalai Lama yang
tua, maka para pendeta Lama yang ketika itu dipimpin oleh wakil Dalai Lama, yaitu Kim Sim Lama
mengambil calon Dalai Lama baru itu secara paksa. Hal ini diketahui oleh seorang pertapa Himalaya, dan
terjadilah bentrokan ketika pertapa itu membela orang-orang dusun yang hendak mempertahankan anak
itu sehingga akibatnya, tiga orang pendeta Lama tewas. Akan tetapi anak itu dapat dibawa ke sini.
Kemudian, dengan bimbingan Kim Sim Lama, anak itu diangkat menjadi Dalai Lama.”
Lie Bouw Tek dan Sie Lan Hong mendengarkan dengan penuh perhatian. Lie Bouw Tek tidak merasa
heran karena dia pernah mendengar sendiri dari Dalai Lama, yaitu ketika dia menolongnya beberapa tahun
yang lalu, bahwa Dalai Lama ketika kecilnya pernah menimbulkan keributan karena dia dipaksa oleh para
pendeta Lama ke Tibet sehingga timbul pertempuran antara para pendeta Lama dan orang-orang dusun
yang hendak mempertahankannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Itulah yang aneh, losuhu,” katanya. “Kalau sedikit banyak para tosu Himalaya sudah berjasa membela
Dalai Lama ketika masih kecil, mengapa sekarang Dalai Lama yang mulia dan adil bahkan menyuruh Tibet
Ngo-houw untuk membunuhi para tosu dari Himalaya, bahkan juga memusuhi para tosu Kun-lun-pai?”
Kong Ka Lama menarik napas panjang. “Omitohud... memang demikianlah agaknya yang dikehendaki
mereka yang hendak merusak nama baik yang mulia Dalai Lama. Dengarkan, taihiap, akan pinceng
lanjutkan penjelasan itu….” Kong Ka Lama berhenti sebentar, lalu melanjutkan ceritanya.
“Karena ketika diangkat menjadi Dalai Lama, pemimpin kami itu masih belum dewasa, maka kekuasaan
dipegang sementara oleh wakil Dalai Lama, yaitu Kim Sim Lama yang sudah berpengalaman. Adalah Kim
Sim Lama ini yang dahulu mengamuk, mengirim para pendeta Lama ke Himalaya dan menyerang para
tosu dan pertapa Himalaya. Tindakan itu dia lakukan karena dendam, yaitu karena kematian tiga orang
pendeta Lama ketika terjadi pertempuran untuk memperebutkan Dalai Lama ketika masih kecil. Perbuatan
itu mendatangkan keributan dan banyak para tosu dan pertapa tewas, terluka dan lebih banyak lagi yang
melarikan diri meninggalkan Himalaya. Di antaranya banyak yang mengungsi ke Kun-lun-san.”
Lie Bouw Tek mengangguk-angguk. “Akan tetapi, kiranya peristiwa itu sama sekali tidak ada hubungannya
dengan pihak Kun-lun-pai, losuhu.”
“Omitohud, memang tidak ada hubungannya. Harap taihiap dengarkan selanjutnya, dan nanti taihiap akan
mengerti. Beberapa tahun kemudian, setelah Dalai Lama menjadi dewasa dan mengerti, beliau mendengar
tentang segala sepak terjang Kim Sim Lama yang menjadi wakil, juga pembimbingnya pada waktu beliau
masih kecil. Beliau terkejut sekali. Pertama, beliau adalah penjelmaan Dalai Lama yang selalu hidup suci,
maka tentu saja beliau sangat tidak suka mendengar tentang permusuhan, apa lagi dendam kebencian dan
bunuh membunuh. Apa lagi yang dikejar-kejar adalah para pertapa, para tosu karena dahulu seorang di
antara mereka pernah membantu penduduk dusun yang mempertahankan dirinya yang hendak dibawa
dengan paksa oleh para pendeta Lama. Juga masih banyak kebijaksanaan yang diambil Kim Sim Lama
tapi tidak disetujuinya. Beliau menegur Kim Sim Lama dan terjadilah bentrokan!”
“Hemm, terjadi pemberontakan, begitukah maksud losuhu?”
Pendeta Lama itu mengangguk. “Semacam itulah. Dalai Lama tidak suka meributkan peristiwa itu, karena
hanya akan memukul nama baik Tibet sendiri. Kim Sim Lama dapat ditundukkan dan dia pun
meninggalkan Lhasa, tidak mau lagi membantu Dalai Lama. Bahkan dia membentuk suatu perkumpulan
yang disebut Kim-sim-pai yang berpusat di sekitar Telaga Yam-so, di sebelah selatan Lhasa. Akan tetapi,
karena sampai sekarang mereka tak pernah melakukan gerakan pemberontakan, Dalai Lama mendiamkan
saja, bahkan memesan kepada kami semua supaya tidak membuat keributan dengan pihak Kim-sim-pai,
apa lagi mengingat bahwa Kim Sim Lama adalah seorang tokoh tua di sini dan sudah banyak jasanya
dahulu ketika menjadi wakil Dalai Lama.”
“Akan tetapi, bagaimana dengan Tibet Ngo-houw yang mengamuk di Kun-lun-san?”
“Omitohud...! Benar-benar hal itu sama sekali tidak kami ketahui sebelumnya, taihiap. Agaknya, Yang Mulia
Dalai Lama terlalu memberi hati kepada mereka dan agaknya sudah tiba waktunya untuk menghentikan
nafsu mereka yang merajalela. Hendaknya taihiap ketahui bahwa Tibet Ngo-houw merupakan tokoh-tokoh
Tibet yang juga menjadi anak buah Kim Sim Lama. Jelas bahwa perbuatan Tibet Ngo-houw itu sengaja
mereka lakukan, sekarang bukan lagi untuk membalas dendam, namun terutama sekali untuk
memburukkan nama baik Dalai Lama, atau untuk mengadu domba agar para tosu, dan juga Kun-lun-pai,
supaya memusuhi Dalai Lama.”
“Ah, betapa liciknya!” Bouw Tek berseru. “Sekarang baru saya mengerti, losuhu. Untung bahwa saya
langsung datang menghadap Dalai Lama sehingga mendapat keterangan yang teramat penting ini.”
“Omitohud, syukurlah kalau sekarang taihiap sudah dapat mengerti. Harap taihiap sudi menyampaikan
maaf kami kepada Kun-lun-pai, juga para tosu di daerah pegunungan Kun-lun-san, dan suka memberi
tahukan kenyataan yang sesungguhnya. Bahwa Dalai Lama sama sekali tidak memusuhi para tosu, dan
bahwa semua itu, semenjak dahulu, adalah tindakan yang diambil oleh Kim Sim Lama.”
“Akan tetapi, apakah perbuatan itu harus didiamkan saja? Jelas bahwa Kim Sim Lama telah melakukan
perbuatan menyeleweng dan jahat terhadap nama baik Dalai Lama...”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Lie-taihiap, hal itu merupakan urusan dalam kami sendiri. Tentu saja Dalai Lama akan mengambil
kebijaksanaan, dan apa pun yang diambilnya, kebijaksanaan itu tidak ada hubungannya dengan pihak luar.
Oleh karena itu, kami harap supaya taihiap juga tidak mencampuri. Bahkan pinceng yakin bahwa yang
mulia Dalai Lama sendirilah yang akan bertindak. Nah, kiranya cukup jelas, taihiap. Sekarang kami
persilakan ji-wi kembali ke luar istana, dan kalau mungkin secepatnya meninggalkan Lhasa supaya jangan
terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.”
Pendeta Lama itu bangkit berdiri. Bouw Tek dan Lan Hong juga ikut bangkit berdiri.
“Maaf, losuhu. Ada sedikit lagi pertanyaan dari kami. Harap saja losuhu suka membantu kami.”
“Hemm, urusan apakah itu, taihiap?”
“Sie-toanio ini datang ke Lhasa untuk mencari dua orang, losuhu. Yang pertama adalah puterinya, seorang
gadis bernama Yauw Bi Sian yang berusia kurang lebih delapan belas tahun, dan yang ke dua adalah
adiknya yang bernama Sie Liong dan terkenal dengan julukan Pendekar Bongkok. Kami perkirakan mereka
pun datang ke Lhasa. Kalau barangkali losuhu dapat memberi keterangan tentang mereka...”
Pendeta Lama itu mengelus jenggotnya yang dibiarkan memanjang, alisnya berkerut dan dia menganggukangguk
sambil memandang kepada Sie Lan Hong.
“Hemm, jadi toanio ini kakak dari Pendekar Bongkok yang terkenal itu? Toanio, tentang puteri toanio ini,
kami memang tidak pernah mendengarnya. Akan tetapi kalau Pendekar Bongkok... hemm, namanya sudah
sampai pula ke dalam istana ini. Memang dia pernah berada di Lhasa, kabarnya bersama seorang gadis
peranakan Tibet Han. Dan kebetulan pula menurut kabar yang kami dengar, dia pernah bentrok dengan
seorang anggota Kim-sim-pai.”
“Aihh, terima kasih, losuhu. Dapatkah losuhu memberi tahu, di mana dia sekarang?” tanya Lan Hong yang
sejak tadi tidak pernah ikut bicara.
“Menurut penyelidikan para anak buah kami yang diam-diam kami taruh di mana-mana untuk menjaga
keamanan Lhasa, ada yang melihat PendeKar Bongkok mendatangi sarang Kim-sim-pai. Akan tetapi
karena anak buah kami itu dipesan dengan keras agar jangan sampai terlibat dengan urusan Kim-sim-pai,
dan karena tak ada sangkut pautnya dengan kami, maka kami pun tidak tahu apa yang terjadi di sana.
Nah, kiranya cukup keterangan kami, taihiap dan toanio.”
Lie Bouw Tek tidak berani mengganggu lagi. Dia pun menghaturkan terima kasih, lalu meninggalkan istana
itu bersama Lan Hong. Wanita itu menahan-nahan perasaannya, dan baru setelah mereka keluar dari
istana itu, Lan Hong berkata dengan suara yang mengandung kekhawatiran.
“Aihh, toako. Apa yang hurus aku lakukan sekarang? Aku ingin cepat menyusul dan mencari Sie Liong.
Aku harus lebih dahulu bertemu dia sebelum Bi Sian mendahuluiku. Aih, ngeri aku membayangkan mereka
saling bertemu sebelum aku menemui adikku...”
“Tenanglah, Hong-moi. Biar aku yang akan melakukan penyelidikan ke daerah Telaga Yam-so untuk
mencari Pendekar Bongkok, dan aku akan mengajaknya ke sini untuk menemuimu.”
“Tidak! Aku harus ikut, toako. Aku harus cepat menemukannya. Sekarang juga.”
“Akan tetapi hal itu berbahaya sekali, Hong-moi. Tentu engkau tadi sudah mendengar keterangan Kong Ka
Lama. Daerah telaga Yam-so itu menjadi sarang Kim-sim-pai dan mereka adalah para pendeta Lama yang
memberontak. Banyak terdapat orang sakti di sana, Hong-moi. Lebih baik engkau menanti saja di rumah
penginapan dan biarlah aku yang akan mencari adikmu di sana.”
“Toako, tidak boleh begitu. Yang mempunyai kepentingan adalah aku, lalu bagaimana mungkin engkau
yang bersusah payah menempuh bahaya sedangkan aku enak-enak menanti sambil tiduran di kamar?
Tidak, aku harus ikut! Aku tidak takut menghadapi bahaya dan aku juga dapat menjaga diriku sendiri,
toako!”
“Akan tetapi, sungguh aku amat mengkhawatirkan keselamatan dirimu, Hong-moi. Bagai mana kalau
sampai datang ancaman bahaya dan aku sampai tidak mampu melindungi dirimu? Aihh, Hong-moi, tak
dapat aku membayangkan hal itu terjadi...”
dunia-kangouw.blogspot.com
Suara pendekar perkasa itu tiba-tiba agak gemetar. “... tidak, aku tak dapat membiarkan engkau terancam
bahaya. Aku... aku akan merasa menyesal selama hidupku!”
Melihat pendekar itu bicara seperti itu, seperti tanpa disadarinya bahwa dia membuka rahasia hatinya, tibatiba
wajah Lan Hong berubah merah dan ia pun tersipu. Kalau saja tidak sedang menghadapi keadaan
yang menegangkan, tentu ia akan semakin tersipu malu, walau pun ada rasa bahagia dan bangga
menyelinap di dalam hatinya.
“Toako, banyak terima kasih atas perhatianmu kepada diriku, akan tetapi sebaliknya, toako. Kalau engkau
pergi sendiri meninggalkan aku untuk mencari adikku, kemudian terjadi sesuatu dengan dirimu, maka aku
pun akan merasa menyesal selama hidupku, bahkan tak mungkin lagi aku menghadapi kehidupan yang
kejam ini seorang diri saja...”
Keduanya menunduk dan dalam saat seperti itu, biar pun mereka tidak secara langsung mengucapkan
pengakuan, akan tetapi keduanya merasa benar betapa keduanya saling membutuhkan, saling
menyayang, saling mencinta dan merasa ngeri kalau-kalau saling kehilangan!
“Baiklah, Hong-moi. Kita pergi bersama, akan tetapi kita harus berhati-hati dan membuat persiapan. Aku
akan melakukan penyelidikan yang lebih seksama dulu. Besok baru kita berangkat ke Telaga Yam-so.”
“Terima kasih, toako. Selama hidupku, aku tidak akan pernah dapat melupakan semua budi kebaikanmu
ini,” kata Lan Hong lirih dengan suara mengandung isak haru.
Keduanya lalu terdiam, terbenam dalam lamunan masing-masing…..
********************
Telaga Yam-so adalah sebuah telaga yang besar dan luas di sebelah selatan. Orang Tibet menyebut
danau ini dalam Bahasa Tibet sebagai Yamzho Yumco (Telaga Yamso). Letaknya di sebelah selatan
sungai besar Brahmaputra yang amat panjang.
Gambar Yamzho Yumco
Sungai Brahmaputra mengalir di sepanjang negara Tibet sampai membelok ke selatan dan berakhir di
selatan negara Bangladesh, di sebelah timur laut India. Daerah inilah, mulai dari Sungai Brahmaputra
sampai ke Telaga Yamso, menjadi daerah yang dikuasai Kim-sim-pai!
Daerah ini amat sunyi, penuh dengan hutan-hutan belantara yang liar, yang sambung menyambung
sampai ke selatan, hingga ke Pegunungan Himalaya. Dusun-dusun hanya dihuni orang-orang pribumi
Tibet, dan ada pula peranakan Tibet Bhutan dan beberapa orang peranakan India.
Namun mereka adalah orang-orang gunung yang sederhana, dan agaknya Kim-sim-pai tidak mengusik
mereka yang hidup tenang dan damai karena setiap harinya mereka hanya mengurus mencari makan
dengan jalan berburu, beternak kecil-kecilan, dan ada pula yang menjadi penangkap-penangkap ikan di
sepanjang Sungai Brahmaputra atau Telaga Yamso.
Akan tetapi, akhir-akhir ini bermunculan banyak orang Nepal di daerah itu dan mulailah terdapat gangguangangguan
yang mengusik kehidupan yang tadinya aman damai dari para penghuni dusun di daerah itu.
Orang-orang Nepal ini adalah anak-anak buah dari pangeran Nepal pelarian yang kini telah bersekutu
dengan Kim-sim-pai.
Pangeran itu, Janghar Singh, sudah bersekutu dengan Kim Sim Lama dan dia berjanji untuk membantu
gerakan para pendeta Lama yang memberontak terhadap Dalai Lama. Sedangkan pihak Kim-sim-pai juga
berjanji bahwa kelak, kalau mereka telah menguasai Tibet, mereka akan membantu Pangeran Janghar
Singh yang hendak memberontak terhadap Kerajaan Nepal.
Gangguan para orang Nepal itu kadang amat menggelisahkan penduduk. Kalau mereka itu kadang hanya
minta dengan paksa beberapa ekor hewan ternak, hal itu masih dapat diberikan dengan hati sabar oleh
para penghuni dusun. Tetapi ada kalanya, orang-orang Nepal itu mengganggu wanita! Karena itu, maka
banyaklah wanita muda yang cantik atau bersih, diungsikan keluarga mereka ke tempat yang jauh dari
dunia-kangouw.blogspot.com
daerah itu, terutama mereka yang tinggal di lereng Pegunungan Himalaya yang menjadi perbatasan antara
Tibet dengan Nepal.
Pada suatu pagi yang cerah, seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik yang menunggang kuda
tiba di lereng bukit dekat Telaga Yam-so.
“Sute, berhenti dulu!” kata Bi Sian menahan kendali kudanya. Bong Gan juga menahan kudanya dan
menoleh, lalu menghampiri suci-nya.
“Ada apakah, suci?” tanyanya, sambil memandang ke sekeliling dengan khawatir.
“Lihat, sute, betapa indahnya pemandangan di sini. Lihatlah telaga di bawah itu, airnya seperti permadani
biru dikelilingi bukit menghijau. Indah sekali!”
Bong Gan menarik napas lega. Dia sudah mengatur rencana bersama Pek Lan dan menurut rencana itulah
pada pagi ini ia dan Bi Sian tiba di lareng bukit itu. Tadinya, ketika Bi Sian minta berhenti, dia khawatir
kalau-kalau suci-nya itu mencurigai sesuatu. Kiranya gadis itu hanya mengagumi alam yang memang amat
indah itu.
“Memang indah sekali tempat ini, suci. Hawanya pun nyaman dan sejuk sekali. Ahhh, alangkah senangnya
kalau kita dapat tinggal beberapa lamanya di tempat seindah ini!”
Bi Sian menoleh dan memandang pemuda itu yang mengembangkan kedua lengannya sambil menghirup
udara yang amat menyegarkan itu. Ia tersenyum.
“Ihhh, sute. Apakah engkau lupa bahwa kita datang ke tempat ini bukan untuk pesiar melainkan untuk
mencari musuh besarku?”
“Wah, memang kadang-kadang aku lupa, suci. Perjalanan ini demikian menyenangkan bagiku. Siapa tahu,
kita dapat lebih cepat lagi menemukan musuhmu dan membereskan perhitungan, agar kita mempunyai
banyak waktu untuk menikmati tempat indah ini.”
Mendadak sepasang mata Bi Sian terbelalak. Bukan hanya matanya yang menangkap berkelebatnya
banyak bayangan orang, akan tetapi juga pendengaran telinganya sudah menangkap gerakan banyak
orang di sekitar tempat itu.
“Ada orang...!” bisiknya.
“Mereka mengepung kita!” Bong Gan juga berbisik dan pemuda ini kelihatan terkejut.
Padahal, di dalam hatinya dia bersyukur karena dia tahu bahwa ini merupakan siasat yang dijalankan oleh
Pek Lan. Maka, dia pun hanya berpura-pura ketika kelihatan kaget, tidak seperti Bi Sian yang merasa
benar-benar terkejut karena melihat bahwa mereka telah dikepung oleh sedikitnya tiga puluh orang.
Mereka bukan orang Han, bukan pula orang Tibet, melainkan orang-orang yang aneh. Orang-orang itu
rata-rata berkulit kehitaman dan gelap, bentuk tubuh mereka tinggi dan sebagian besar dari mereka
menggunakan penutup kepala berupa sorban putih yang tebal.
“Mereka orang-orang asing...,” kata pula Bong Gan. Padahal dia sudah mendengar dari Pek Lan yang
mengatur siasat itu, bahwa yang akan mengepung mereka adalah orang-orang Nepal.
Melihat banyak orang mengepung dan maju mendekat, kedua ekor kuda yang mereka tunggangi menjadi
panik. Bi Sian lalu melompat turun dari atas punggung kudanya dan berkata kepada Bong Gan, “Sute,
turun saja dari atas kuda agar kita dapat membela diri lebih leluasa!”
Keduanya sudah melompat turun dari atas punggung kuda dan dengan sikap tenang akan tetapi penuh
kesiap siagaan, kakak adik seperguruan ini lalu berdiri dengan saling membelakangi.
“Sute, biarkan aku yang bicara dengan mereka,” bisik Bi Sian dan diam-diam Bong Gan tersenyum.
Memang sebaiknya begitu agar tidak akan terdengar suaranya yang pasti akan terdengar sumbang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kini, tiga puluh orang lebih prajurit Nepal itu sudah datang dekat dan seorang di antara mereka, yang
melihat pakaiannya tentu merupakan komandannya berdiri di depan Bi Sian. Dia seorang pria berusia
empat puluhan tahun, bertubuh tinggi kurus, matanya cekung ke dalam dan hidungnya yang panjang itu
agak membengkok ke kiri sehingga mulutnya kelihatan seperti mengejek selalu.
“Hei, kalian dengarlah baik-baik!” Bi Sian berseru dengan suara lantang. “Kami dua orang pelancong dari
timur, tidak ingin bermusuhan dengan penduduk pribumi. Kenapa kalian menghadang dan mengepung
kami yang tidak bersalah?”
Orang tinggi kurus itu memandang tajam, kemudian menjawab. Dia dapat bicara dalam Bahasa Han, walau
pun logatnya aneh dan lucu.
“Kami biasa menghormati tamu yang datang diundang. Akan tetapi kalian berdua tidak diundang, tapi telah
melanggar wilayah kami. Sudah sepatutnya kalau kami membunuh kalian, akan tetapi mengingat kalian
dua orang muda, dan seorang di antaranya bahkan wanita, kami tidak akan bersikap keras. Orang-orang
muda, menyerahlah kalian dengan baik, agar kami tawan dan kami hadapkan kepada pemimpin kami!”
Bi Sian menatap orang itu. Sikap mereka cukup gagah, pikirnya, tidak mirip gerombolan perampok atau
penjahat yang kejam. Maka, dia pun berkata lantang. “Maafkan apa bila tanpa disengaja kami melanggar
wilayah kalian. Akan tetapi kami tidak bersalah, harap biarkan kami melanjutkan perjalanan. Kami tidak
suka untuk ditawan.”
Pemimpin tinggi kurus itu mengerutkan alisnya yang tebal, lalu dia mencabut sebatang golok yang
bentuknya melengkung panjang, dan dia berkata dengan tegas, “Di wilayah ini, kami yang berkuasa! Mau
atau tidak mau, kalian harus menyerah untuk menjadi tawanan kami. Harap kalian menyerah dengan
damai!”
“Kalau kami tidak mau menyerah?” tanya Bi Sian yang mulai marah dan penasaran.
“Terpaksa kami menggunakan kekerasan untuk menangkap kalian!”
“Singgg...!” Nampak sinar putih berkilauan ketika dia mencabut pedang Pek-lian-kiam (Pedang Teratai
Putih).
“Bagus! Andai kata aku mau menyerah pun, pedang ini yang tidak membolehkannya. Karena tidak merasa
bersalah, tentu saja aku tidak mau menyerah dan kalau kalian hendak memaksaku dan menggunakan
kekerasan, jangan salahkan aku kalau kalian menjadi korban pedangku!”
Bong Gan juga telah menyambar sebatang dahan pohon di atasnya, membuangi ranting dan daunnya
sehingga kini dia sudah memegang sebatang tongkat.
“Kalau kalian memaksa, kami akan melawan!” Dia pun membentak dan sambil berdiri saling membelakangi
dengan suci-nya, ia melintangkan tongkatnya dan siap melakukan perlawanan.
“Kami tidak akan membunuh kalian, akan tetapi terpaksa harus menangkap kalian!” bentak pemimpin
rombongan itu dan dia pun lalu mengeluarkan aba-aba dalam bahasa Nepal. Tiga puluh orang lebih itu,
dengan senjata tombak atau golok dan perisai, kini mengepung ketat dan kepungan itu makin mendesak.
“Sute, sedapat mungkin robohkan mereka akan tetapi jangan bunuh!” kata Bi Sian.
Dara itu menganggap mereka itu bukan orang jahat, hanya akan menangkap dan tidak membunuh. Oleh
karena itu ia pun tak ingin sute-nya melakukan pembunuhan sehingga menanam permusuhan yang
semakin dalam.
“Baik, suci,” kata Bong Gan.
Pada saat kepungan itu sudah makin dekat dan dua orang murid Koay Tojin itu siap bergerak menyerang
pengeroyok terdekat, tiba-tiba saja terdengar seruan nyaring suara seorang wanita.
“Tahan...! Jangan bertempur!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Para pengepung itu menahan senjata mereka dan segera mundur. Bi Sian dan Bong Gan menoleh ke arah
suara wanita itu dan mereka melihat seorang wanita yang berusia dua puluh empat tahun lebih, cantik
manis dengan muka lonjong dan kulit putih mulus berambut keemasan, muncul bersama seorang kakek
berusia enam puluh tahunan yang berkepala gundul, berjubah pendeta dengan gambar Teratai Putih di
dadanya. Kakek itu masih nampak muda dan tampan, dengan tubuh yang tinggi besar. Begitu dua orang
ini mendekat, semerbak bau keharuman bunga mawar.
Tentu saja Bong Gan mengenal wanita itu, wanita yang baru beberapa hari yang lalu, semalam suntuk
berada dalam pelukannya. Wanita itu adalah Pek Lan dan kakek yang nampak muda itu adalah Thai Yang
Suhu, tokoh Pek-lian-kauw. Akan tetapi Bi Sian tidak mengenalnya.
Melihat para pengepung itu mundur, Bi Sian mengerti bahwa kini ia berhadapan dengan pemimpin
gerombolan orang asing yang menghadangnya. Tentu saja dia tidak tahu bahwa dua orang itu telah
bersekutu dengan Kim Sim Lama dan kini menjalankan siasat untuk menjebaknya! Dan para pengepung itu
adalah orang-orang Nepal yang digunakan untuk membantu siasat itu, yang juga sudah diketahui oleh
Bong Gan.
Sambil memandang tajam wanita cantik yang sikapnya genit itu, pedang Pek-lian-kiam masih melintang di
depan dadanya, Bi Sian berkata, “Hemm, kiranya kalian berdua, seorang gadis cantik dan seorang
pendeta, yang memimpin gerombolan ini. Apa alasan kalian menghadang perjalanan kami dan kenapa
orang-orangmu yang mengepung kami ini hendak menawan kami?” Suara Bi Sian penuh wibawa, tanda
bahwa ia sama sekali tidak merasa gentar.
Diam-diam Pek Lan kagum. Pantas Bong Gan tergila-gila kepada suci-nya sendiri dan ingin
memperisterinya. Memang manis dan jelita sekali! Dan diam-diam Thai Yang Suhu mengamati pedang di
tangan gadis itu.
Pedang itu bersinar putih dan ada ukiran bunga teratai. Pedang Teratai Putih! Sungguh merupakan pedang
yang cocok sekali apa bila menjadi miliknya, bahkan kalau menjadi pusaka dari perkumpulannya, yaitu
Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih), sekiranya bila pedang itu memang sebuah pusaka yang ampuh,
bukan pedang biasa saja.
Pek Lan tersenyum dan memang ia memiliki deretan gigi yang rapi dan putih sehingga nampak menarik
sekali ketika tersenyum, dan kerling matanya ke arah Bong Gan penuh daya pikat. Diam-diam Bong Gan
membandingkan dua orang wanita itu.
Memang, biar pun Bi Sian amat manis, namun ia tidak mampu bergaya seperti Pek Lan sehingga daya
tariknya tidak sekuat Pek Lan. Bagaimana pun juga, kalau harus memilih keduanya untuk menjadi
isterinya, tanpa ragu-ragu dia akan memilih Bi Sian.
Bi Sian seorang gadis yang masih perawan dan hatinya juga bersih, sebaliknya Pek Lan adalah seorang
wanita yang matang dan juga genit sehingga sukar diharapkan dapat menjadi seorang isteri yang setia.
Akan tetapi kalau untuk bersenang-senang, tentu Pek Lan akan lebih memuaskan dan menyenangkan.
“Adik yang baik, engkau sungguh cantik jelita dan gagah berani. Jangan salah mengerti, kalau anak buah
kami melakukan penghadangan, hal itu terjadi karena kalian sudah melanggar wilayah kekuasaan kami.
Akan tetapi, kami dapat menghargai orang-orang gagah. Melihat kalian berdua yang tidak gentar
menghadapi pengepungan orang-orang kami, tentu kalian memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kami ingin
sekali berkenalan melalui adu silat. Jika memang kalian pantas menjadi kenalan kami, tentu akan kami
persilakan untuk menjadi tamu dari Sang Pangeran yang menjadi tuan rumah kami. Suhu, engkau ujilah
kepandaian adik manis ini, biar aku yang menguji pemuda ini,” katanya kepada Thai Yang Suhu.
Memang Pek Lan cerdik. Ia sudah mendengar dari Bong Gan bahwa tingkat kepandaian Bi Sian bahkan
lebih tinggi bila dibandingkan pemuda itu, padahal baginya, menghadapi Bong Gan saja ia hanya mampu
mengimbangi. Berbahaya kalau ia menghadapi Bi Sian kemudian sampai kalah!
Maka ia sengaja menyuruh Thai Yang Suhu yang menghadapi gadis itu sedangkan ia akan menghadapi
Bong Gan yang tentu saja hanya akan main-main, tidak bertanding sungguh-sungguh. Biar pun ilmu
kepandaian silat dari tokoh Pek-lian-kauw itu pun tidak jauh lebih tinggi dari pada tingkatnya sendiri, namun
setidaknya pendeta itu mempunyai kekuatan sihir untuk melindungi diri.
dunia-kangouw.blogspot.com
Thai Yang Suhu memang sudah tertarik sekali, bukan kepada Bi Sian saja, melainkan terutama sekali
tertarik melihat pedang di tangan gadis itu. Sekarang dia memperoleh kesempatan untuk menguji apakah
pedang Teratai Putih itu sebuah pedang pusaka ampuh ataukah pedang biasa saja.
Dia tidak menurunkan sepasang pedangnya karena sepasang pedangnya merupakan pedang yang baik
dan dia khawatir bila pedangnya akan menjadi rusak kalau pedang di tangan gadis itu benar pedang
pusaka yang ampuh. Maka dia pun meminjam sebatang pedang yang dipegang oleh seorang prajurit
Nepal, kemudian menghampiri Bi Sian.
“Siancai... harap maafkan pinto (saya), nona. Kami memang hanya ingin menguji, sebab hanya melalui
pertandingan silat maka perkenalan menjadi erat. Nah, silakan, nona!”
Melihat sikap dua orang itu cukup hormat dan sopan, Bi Sian juga merasa tidak enak kalau ia bersikap
keras. Biar pun tadi pasukan itu mengepungnya, namun mereka belum melakukan penyerangan.
“Aku tidak ingin berkelahi atau bermusuhan dengan siapa pun juga, dan aku pun tidak sengaja melanggar
wilayah siapa pun juga. Wilayah ini bukan pekarangan, juga tidak dipagari, melainkan pegunungan dan
telaga. Bagaimana aku tahu bahwa tempat ini ada orang yang memilikinya? Akan tetapi, biar pun tidak
mau bermusuhan, kalau dimusuhi, jangan dikira aku takut!”
“Siancai...! Nona memang seorang gagah perkasa, karena itu pinto ingin sekali menguji kepandaianmu,
bukan berkelahi atau bermusuhan. Nona, lihat pedang!” kata Thai Yang Suhu sambil menggerakkan
pedang pinjamannya, mengirim serangan gertakan ke arah kepala gadis itu.
Dengan cepat Bi Sian mengelak. Dan ketika tangannya bergerak, pedang Pek-lian-kiam sudah lantas
menyambar ke depan, menusuk ke arah dada lawan sehingga merupakan sinar putih berkelebat.
Thai Yang Suhu terkejut. Cepat dia juga melompat ke belakang untuk menghindarkan diri, kemudian
menyerang lagi dengan berhati-hati sebab biar pun pertarungan ini hanya menguji kepandaian, kalau ilmu
pedang lawan itu terlalu berat, mungkin saja dia akan terluka. Dia tidak berani memandang ringan
lawannya yang dapat membalas serangan sedemikian cepat dan kuatnya.
Sementara itu, Bong Gan juga sudah menggerakkan ranting di tangannya dan dia pun menyerang Pek Lan
yang menyambut pula dengan pedangnya. Mereka pun bertanding dengan seru, tapi tentu saja hanya
nampaknya demikian karena hati mereka yang tahu bahwa mereka hanya bersandiwara dan tidak
sungguh-sungguh bertanding.
Thai Yang Suhu segera mendapatkan kesempatan untuk menguji keampuhan pedang di tangan Bi Sian.
Ketika pedang bersinar putih itu menyambar dengan bacokan ke arah lehernya, dia memutar tubuhnya
sambil mengerahkan tenaga sekuatnya, menggunakan pedang pinjaman itu untuk menangkis.
“Trangggg...!”
Terdengar bunyi nyaring disusul pijaran bunga api dan... pedang di tangan pendeta dari Pek-lian-kauw itu
tinggal sepotong! Pedang itu patah di tengah-tengah, padahal pedang prajurit Nepal itu merupakan pedang
melengkung yang cukup berat dan tajam.
Thai Yang Suhu berseru. “Lihai sekali!” dan dia pun melempar gagang pedangnya dan memberi hormat
kepada Bi Sian. “Nona yang lihai, pinto kagum sekali kepadamu!”
Pada saat itu pula, Pek Lan juga mengeluarkan jerit tertahan dan ia pun melompat ke belakang, lalu
memberi hormat kepada Bong Gan. “Saudara sungguh gagah, membuat kami kagum luar biasa.
Perkenalkanlah, kami berdua adalah sahabat-sahabat baik dari Pangeran Maranta Sing yang menguasai
daerah lembah ini. Namaku Pek Lan dan suhu ini adalah Thai Yang Suhu. Kalau kami boleh mengetahui,
siapakah ji-wi (anda berdua) dan apa yang anda berdua cari di tempat ini? Ataukah sekedar melancong
saja?”
Sebelum Bi Sian sempat menjawab, dengan cepat sesuai dengan rencana Bong Gan telah menjawab,
“Kami kakak beradik seperguruan. Namaku Coa Bong Gan dan suci ini bernama Yauw Bi Sian. Kami
datang ke tempat ini bukan sekedar melancong, tetapi hendak mencari seorang musuh besar kami yang
bernama Sie Liong dan mempunyai julukan Pendekar Bongkok...!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Bi Sian memberi isyarat kepada sute-nya agar diam, akan tetapi sudah terlambat karena sute-nya telah
memperkenalkan nama mereka, bahkan juga menyebut nama Pendekar Bongkok. Dan tiba-tiba saja sikap
kedua orang itu berubah, alis mereka berkerut akan tetapi sikap mereka bahkan semakin ramah.
“Aih, kiranya ji-wi musuh Pendekar Bongkok? Kalau begitu, di antara kita terdapat ikatan yang amat kuat
karena kami pun menganggap Pendekar Bongkok sebagai musuh besar kami! Adik Bi Sian dan adik Bong
Gan, aku akan merasa senang sekali untuk bekerja sama dengan kalian menghadapi Pendekar Bongkok
yang amat lihai itu!”
Akan tetapi Bi Sian mengerutkan alisnya. Biar pun Pek Lan dan Thai Yang Suhu telah memperlihatkan
sikap yang ramah dan bersahabat, namun di dalam hatinya ia merasa tidak suka kepada mereka.
“Enci Pek Lan,” kata Bong Gan yang agaknya hendak bersikap ramah karena Pek Lan menyebut adik
kepadanya dan kepada Bi Sian, “Kami tidak ingin bekerja sama dengan kalian, dan kami akan cukup
berterima kasih kalau engkau dapat memberi tahu kepada kami di mana adanya Pendekar Bongkok.
Tahukah engkau di mana dia?”
Pertanyaan ini berkenan di hati Bi Sian dan dia pun mengangguk, menyatakan setuju dengan pertanyaan
sute-nya itu.
Akan tetapi Pek Lan tersenyum manis sekali. “Kalian ini adik-adik yang gagah perkasa, mengapa sungkan
dan ingin enak sendiri saja? Kalau kita hendak bekerja sama, tentu sebaiknya kalau ji-wi menerima
undangan kami untuk mempererat perkenalan. Kalau kita sudah menjadi sahabat yang akrab, tentu kami
tidak akan ragu lagi untuk membagi semua rahasia, juga termasuk di mana adanya Pendekar Bongkok
sekarang. Nah, kami ulangi undangan kami kepada ji-wi.”
Bong Gan menoleh kepada suci-nya seperti orang minta pertimbangan, lalu terdengar dia berkata, “Suci,
kita tidak mengenal daerah ini, maka kalau enci Pek Lan ini sudah berbaik hati hendak menunjukkan di
mana adanya musuh besar itu, kurasa tidak ada salahnya kalau kita memenuhi undangannya. Tidak tahu
bagaimana pendapatmu?”
Bi Sian tidak melihat pilihan lain kecuali mengangguk. Ia lalu menyarungkan pedangnya kembali.
Thai Yang Suhu segera memberi hormat kepadanya. “Nona yang masih begini muda sudah memiliki ilmu
kepandaian tinggi dan juga sebatang pedang pusaka yang ampuh sekali. Kalau boleh pinto mengetahui,
apa nama pedang pusaka itu, nona?”
Bi Sian merasa sangat bangga dengan pedangnya. Ia pun menepuk gagang pedang di pinggangnya dan
menjawab, “Totiang, pedangku ini adalah Pek-lian-kiam peninggalan ayahku.”
Makin giranglah rasa hati Thai Yang Suhu. Pek-lian-kiam, sebatang pedang yang patut menjadi miliknya,
bahkan menjadi lambang dari perkumpulannya, yaitu Pek-lian-kauw! Akan tetapi dia menyembunyikan
kegirangan ini di dalam hatinya saja. Bagaimana pun juga, pedang itu harus dapat menjadi miliknya!
Bong Gan dan Bi Sian merasa kagum sekali pada saat memasuki gedung besar yang didirikan di antara
pohon-pohon dalam hutan di lereng bukit itu. Sebuah gedung yang besar dan di dalamnya mewah sekali,
seperti rumah raja-raja saja layaknya.
Di sekeliling gedung itu terdapat banyak rumah-rumah, merupakan perkampungan yang dikelilingi tembok
seperti sebuah benteng saja. Itulah tempat tinggal Pangeran Maranta Sing, pangeran Nepal yang menjadi
buruan pemerintahnya karena sudah memberontak itu. Dia tinggal di perbatasan itu bersama anak
buahnya, yaitu sisa-sisa para prajurit anggota pasukan pemberontakan yang dipimpinnya dan telah gagal
itu.
Bong Gan dan Bi Sian dijamu oleh Pangeran itu yang menyambut mereka dengan amat ramah dan
hormat. Bong Gan memperlihatkan kegembiraannya dan Bi Sian akhirnya juga merasa gembira karena
pihak tuan rumah sungguh ramah kepadanya.
“Harap ji-wi jangan khawatir tentang Pendekar Bongkok,” kata Pangeran Maranta Sing sambil tersenyum,
memperlihatkan deretan gigi putih di balik mukanya yang kehitaman, dan kumisnya yang melintang
panjang itu bergerak-gerak ketika dia bicara. “Kalau dia berani datang ke daerah ini, sudah pasti kami
dunia-kangouw.blogspot.com
dapat menangkapnya. Daerah ini sudah kami kuasai bersama Kim-sim-pang, maka harap ji-wi tenang saja.
Kita pasti akan dapat menangkapnya.”
“Apa yang diucapkan Pangeran Maranta Sing ini benar, adik-adikku yang baik,” berkata Pek Lan. “Betapa
pun lihainya Pendekar Bongkok, dia tidak akan mampu menandingi Kim Sim Lama, apa lagi di sini terdapat
ji-wi yang bekerja sama dengan kami. Nah, mari kita minum demi berhasilnya kita menangkap Pendekar
Bongkok!”
Mereka makan minum sambil bercakap-cakap dengan gembira. Dari percakapan itu tahulah Bong Gan dan
Bi Sian bahwa Pangeran Maranta Sing ini adalah seorang pangeran dari Nepal yang bersekutu dengan
Kim-sim-pang, dan betapa Kim-sim-pang menentang pemerintah Dalai Lama di Tibet.
Apa bila diam-diam Bong Gan merasa sangat tertarik oleh janji-janji dan harapan yang dibayangkan dalam
percakapan itu oleh pangeran Nepal itu mau pun Thai Yang Suhu dan Pek Lan, Bi Sian sendiri sama sekali
tidak tertarik. Bahkan ia tidak ingin melibatkan diri di dalam pemberontakan itu, karena yang terpenting
adalah menemukan Pendekar Bongkok dan membalas kematian ayahnya!
“Nona, cicipilah masakan ini!” kata Pangeran Nepal itu ketika melihat Bi Sian belum mencicipi masakan
yang warnanya merah. Bong Gan sudah memakannya, akan tetapi gadis itu agaknya tidak mau mencicipi
masakan yang asing baginya itu.
“Ini adalah masakan asli dari Nepal, lezat sekali dan merupakan masakan kehormatan bagi tamu yang
diagungkan!”
Bi Sian tertarik, dan merasa tidak enak untuk tidak memperhatikan karena dikatakan bahwa masakan itu
adalah masakan kehormatan bagi tamu yang diagungkan!
“Pangeran, masakan ini terbuat dari apakah?” tanyanya, masih merasa ragu-ragu untuk mencicipinya
karena warnanya yang merah seperti darah walau pun baunya sedap dan masih mengepul panas.
“Bahan masakan ini amat langka dan amat sukar diperoleh karena ini adalah sumsum di dalam tulang
punggung beruang salju yang besar, kuat dan ganas! Karena merupakan sumber kekuatan dari seekor
binatang raksasa, maka masakan ini selain lezat, juga mengandung khasiat yang luar biasa untuk
kekuatan dan kesehatan. Marilah nona, sebagai tamu agung, nona harus mencicipinya!”
Pangeran itu mempergunakan sebuah sendok yang bersih, mengambilkan masakan itu dan menaruhnya
ke dalam mangkok di depan Bi Sian. “Dan engkau juga, saudara Coa Bong Gan, mari ambil lagi masakan
ini.”
Bong Gan tersenyum. “Sudah sejak tadi saya memakannya dan memang lezat sekali, suci. Rasanya
seperti otak, akan tetapi masakannya memakai bumbu yang aneh dan sedap bukan main. Juga terasa
hangat di dalam dada dan perut. Cobalah, suci!”
Bi Sian semakin tertarik, juga untuk menghormati tuan rumah yang demikian ramah dan hormat, ia lalu
mencoba mencicipi masakan itu. Memang lezat!
“Adik Yauw Bi Sian, harap jangan sungkan atau pun ragu. Ketahuilah bahwa Pangeran Maranta Sing ini
adalah seorang ahli obat sekaligus ahli memasak! Masakan sumsum tulang punggung beruang itu
memang hebat dan aku sendiri pun sudah merasakan khasiatnya!” kata Pek Lan.
“Siancai, memang tepat sekali,” kata pula Thai Yang Suhu. “Pinto yang makan masakan itu merasa
bagaikan muda kembali! Masakan itu tentu dapat membuat orang berumur panjang, dan dapat
memperkuat tenaga sinkang!”
Mendengar ucapan kedua orang itu, Bi Sian semakin tertarik dan sekarang ia pun tidak berkeberatan lagi
untuk makan masakan itu cukup banyak. Karena dia dan Bong Gan yang sedang menjadi tamu
kehormatan, maka semangkok besar masakan merah itu diperuntukkan bagi mereka berdua dan mereka
pun memakannya sampai habis!
Bi Sian mulai merasa gembira. Ia merasa mendapat teman-teman yang menyenangkan. Maka ia pun
minum arak lebih banyak dari biasanya. Apa lagi arak yang disuguhkan itu manis dan harum, terbuat dari
anggur Nepal yang baik.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah makan minum sampai kenyang, wajah Bi Sian yang cantik itu sudah berubah kemerahan dan
bibirnya pun hampir tak pernah berhenti tersenyum manis. Akan tetapi, ketika dia memegang kepalanya,
kepala itu langsung terkulai ke atas meja. Bong Gan cepat bangkit dari tempat duduknya dan
menghampirinya.
“Suci, kau kenapa...?” katanya lembut sambil menyentuh pundak gadis itu.
Bi Sian mengangkat muka sambil tersenyum. Dari pandang matanya saja sudah jelas menunjukkan bahwa
dia mabok! Dan juga pandang matanya itu aneh, begitu sayu dan penuh gairah.
“Sute... aku... ahhh, agaknya terlalu banyak minum anggur, kepalaku agak pening...”
Pek Lan memberi isyarat dengan pandang matanya kepada Bong Gan, lalu berkata, “Adik Bong Gan,
kasihan itu adik Bi Sian mabok. Ia butuh istirahat. Mari kuantar kalian ke kamar kalian.”
Pek Lan bangkit berdiri dan membantu Bong Gan memapah Bi Sian menuju ke sebelah dalam gedung itu,
diikuti pandang mata Pangeran Maranta Sing yang tersenyum lebar dan Thai Yang Suhu yang
mengangguk-angguk puas. Tak percuma saja ia merupakan seorang ahli sihir dan ahli ramuan obat
beracun. Ia telah mencampurkan pembius yang lembut pada anggur yang diminum Bi Sian, dan masakan
yang disuguhkan Pangeran Maranta Sing itu mengandung pula obat perangsang yang amat kuat!
Pek Lan membawa mereka ke sebuah kamar yang besar dan mewah, di mana terdapat sebuah tempat
tidur yang lebar. Kembali Pek Lan memberi isyarat kedipan mata kepada Bong Gan dan pemuda ini
mengerti.
“Nah, inilah kamar kalian, adik Bong Gan. Biarkan adik Bi Sian beristirahat dan tidur, nanti peningnya tentu
akan hilang. Dan engkau juga perlu beristirahat, engkau pun telah minum terlalu banyak, adik Bong Gan.
Kalian mengasolah!”
“Tapi, enci Pek Lan!” Bong Gan membantah. “Mengapa hanya satu kamar? Kamar ini untuk suci saja, akan
tetapi di mana kamarku?”
“Pangeran hanya memberikan sebuah kamar saja untuk kalian berdua, namun kurasa kamar ini pun cukup
besar, tempat tidurnya pun cukup luas untuk kalian berdua. Nah, selamat tidur.” Pek Lan menutupkan daun
pintu kamar itu dari luar sambil tersenyum kepada Bong Gan.
Bi Sian hanya mendengar sayup-sayup saja apa yang mereka bicarakan. Ia telah terlalu pening sehingga
tidak peduli lagi bahwa ia berada sekamar dengan sute-nya.
“Aku... aku pening... mau tidur...!” katanya.
Bi Sian hendak melangkah ke arah pembaringan, akan tetapi ia terhuyung dan tentu akan jatuh kalau tidak
segera dirangkul oleh Bong Gan.
“Marilah, suci, mari kubantu engkau... aku pun agak pening... mari kita beristirahat...!”
Bong Gan memapah tubuh suci-nya ke tempat tidur, lalu membantu suci-nya berbaring. Dengan hati-hati
dia lalu meraba kaki suci-nya untuk melepaskan sepasang sepatunya. Bi Sian terbelalak ketika merasa
kakinya diraba sute-nya dan sepatunya dilepaskan.
“Sute... kenapa... kau di sini...? Aku mau tidur, pergilah...”
Akan tetapi Bong Gan tidak mau tidur, bahkan dia lalu duduk di tepi pembaringan sambil menatap wajah
suci-nya yang rebah telentang.
“Suci, kita hanya mendapatkan satu kamar saja. Kamar ini untuk kita berdua.”
Dengan mata sayu Bi Sian menatap wajah pemuda itu. Gairah yang tidak wajar sudah membakar dirinya
sehingga wajah sute-nya itu tampak tampan luar biasa.
“... kenapa begitu... ahhh... sudahlah, aku mau tidur...”
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba Bi Sian membuka matanya lagi karena merasa betapa wajahnya dibelai oleh tangan orang. Ketika
ia melihat tangan sute-nya meraba dan membelai kedua pipi dan dagunya, ia tidak meronta hanya
menegur lembut.
“Sute... jangan begitu...”
“Suci, alangkah cantiknya engkau. Aihhh, suci, aku cinta sekali kepadamu, suci!” Dan Bong Gan sudah
memeluk, mendekap dan menciumi muka gadis itu.
Bi Sian dalam keadaan setengah sadar, akan tetapi obat perangsang sudah semakin dalam menguasai
dirinya. “Jangan, sute... jangan...” mulutnya mendesah, akan tetapi kedua lengannya balas merangkul leher
pemuda itu.
Dan terjadilah apa yang selalu diharapkan dan dirindukan oleh Bong Gan. Dia berhasil menguasai diri sucinya,
berhasil menggaulinya berkali-kali tanpa gadis itu menolak atau memberontak, bahkan di luar
kesadarannya, gadis yang diidamkan itu sudah membalas semua kemesraannya dengan penuh gairah.
Akhirnya, jauh lewat tengah malam, kedua saudara seperguruan ini tidur pulas kelelahan, masih saling
rangkul.
Pada keesokan harinya, ketika pengaruh obat bius dan obat perangsang meninggalkan kepala dan tubuh
Bi Sian, dan ketika gadis itu terbangun dari tidurnya, bisa dibayangkan betapa kagetnya Bi Sian melihat
dirinya dalam keadaan bugil tidur berangkulan dengan sute-nya yang juga berbugil! Seketika terasalah
olehnya kelainan dalam dirinya, tahulah ia apa yang telah terjadi!
Ia telah melakukan hubungan dengan sute-nya, hubungan suami isteri! Dengan muka sebentar merah
sebentar pucat, ia segera mengenakan pakaiannya, lalu meloncat turun dari atas pembaringan.
Sekali tendang, pembaringan itu roboh dan Bong Gan terbangun gelagapan. Dia melihat suci-nya sudah
berpakaian dan kini sedang berdiri membelakanginya, dengan pedang Pek-liam-kiam terhunus di
tangannya.
“Sute, kenakan pakaianmu. Cepat!” Suara suci-nya membentak dan dari nadanya jelas bahwa suci-nya
marah bukan main.
“Ehh... kenapa kita... kenapa aku di sini... kenapa tidur di sini dan... ehh, apa yang telah kita lakukan ini...?”
Bong Gan bersandiwara, bicara dengan gagap dan gelisah.
“Cepat pakai pakaianmu kataku!” Bi Sian membentak lagi.
Bong Gan segera mengenakan pakaiannya dan turun dari atas pembaringan. “Sudah... sudah kupakai,
suci...”
Bi Sian membalik dan sekali pedangnya menyambar, tahu-tahu telah menempel di leher Bong Gan.
Pemuda itu terbelalak dan wajahnya pucat.
“Suci... kenapa... kau hendak membunuhku...?”
“Coa Bong Gan!” Bi Sian membentak marah. “Apa yang sudah kau lakukan terhadap diriku selagi aku
mabok? Hayo katakan! Apa yang telah kau lakukan? Keparat engkau!”
“Suci! Apa... apa yang telah kulakukan...? Suci, seharusnya suci bertanya apa yang kita lakukan! Aku... aku
sendiri tidak tahu, suci, aku tidak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi pada kita...,” lalu dengan hati-hati
dia menambahkan, “... suci, sayup-sayup aku teringat... bukankah engkau pun... ehh, mendukung
terjadinya peristiwa itu semalam...?”
Wajah yang cantik itu menjadi merah sekali dan kini dari sepasang matanya mengalir beberapa butir air
mata. Akan tetapi pedangnya masih menempel di leher Bong Gan.
“Aku... aku berada di dalam pengaruh obat bius dan obat perangsang, hal itu kini aku yakin sekali. Dan
kau... kau menggunakan kesempatan itu untuk... untuk...”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Suci, engkau sungguh-sungguh tidak adil! Apa bila aku sejahat itu, tanpa perlu menanti kemarahanmu,
aku akan membunuh diriku sendiri! Akan tetapi, suci, kalau engkau bisa terbius, kenapa aku tidak? Aku
pun sama saja seperti keadaanmu, suci. Aku tidak ingat apa-apa lagi, dan dalam keadaan setengah sadar
seperti dalam mimpi saja semua itu terjadi. Suci, kenapa engkau menyalahkan aku bila keadaan kita
sama? Kita berdualah yang bertanggung jawab, dan aku... ehhh, cinta padamu, suci...”
“Jangan sentuh aku!” Bi Sian membentak ketika tangan Bong Gan hendak menyentuh lengannya.
Ia pun kini menangis terisak-isak. Ia kini melihat kenyataan itu. Sute-nya tidak bersalah. Sute-nya juga
minum pembius dan obat perangsang yang sama! Pek Lan! Ini semua gara-gara Pek Lan, wanita genit itu!
“Hemm, perempuan jahat itu harus mampus!” katanya dan dia pun melompat ke arah pintu, mendorong
daun pintu dan berlari keluar.
“Suci...!” Bong Gan berseru dan mengejar dari belakang.
Akan tetapi Bi Sian tidak berhenti, tidak menoleh dan pada saat itu, kebetulan sekali ia melihat Pek Lan
melangkah dengan tenangnya menuju ke arah mereka. Sepagi itu, Pek Lan sudah nampak rapi dan cantik
sekali, sudah mandi dan mengenakan pakaian bersih seperti baru. Ketika melihat Bi Sian dan Bong Gan,
Pek Lan tersenyum dan wajahnya berseri.
“Ah, ji-wi (kalian) sudah bangun? Selamat pagi...!” katanya dengan suara merdu dan gembira.
“Manusia jahat, cabut senjatamu dan lawanlah aku!” bentak Bi Sian dengan pedang melintang di depan
dada.
Pek Lan terbelalak. “Adik Bi Sian, ada apakah ini? Apa artinya sikapmu ini?”
Bi Sian menudingkan pedangnya ke arah muka Pek Lan. “Tidak perlu berpura-pura lagi. Keluarkan
senjatamu atau kalau tidak, aku akan membunuhmu begitu saja!”
“Tapi... tapi kenapa, adik Bi Sian? Adik Bong Gan, kenapa kalian bersikap seperti ini terhadap aku?
Bukankah sejak saling berkenalan, aku selalu bersikap baik terhadap kalian?” Pek Lan bertanya lagi, kini
mendesak Bong Gan untuk memberi keterangan.
Bong Gan segera berkata, “Enci Pek Lan. Siapa orangnya tidak akan menjadi marah? Kemarin kami kau
undang untuk makan minum. Setelah makan minum, kami berdua... kemudian kehilangan kesadaran,
terbius dan terangsang, sehingga... kami melakukan pelanggaran...”
Bi Sian memandang dengan mata mencorong penuh kemarahan. “Pek Lan, engkau sudah menipu kami,
engkau membius kami, penghinaan ini hanya dapat ditebus dengan nyawa!” Ia sudah siap bergerak
mengangkat kedua tangan ke atas.
“Nanti dulu, kedua orang adikku yang baik! Bi Sian, jangan terburu nafsu dan menuduh yang bukan-bukan
padaku. Ingatlah, bahwa aku dan guruku Thai Yang Suhu juga hanya merupakan dua orang tamu saja di
sini! Bagaimana mungkin kami yang melakukan itu? Makanan dan minuman itu bukan dari kami. Dan apa
gunanya kami melakukan hal yang membuat kalian berdua melakukan hubungan suami isteri di luar
kesadaran kalian ini? Jelas, yang memberi obat bius dan obat perangsang ke dalam makanan dan
minuman kalian bukan kami.”
“Maranta Sing! Dialah yang melakukan itu, suci! Bukan enci Pek Lan. Sekarang aku yakin, Pangeran Nepal
itulah yang meracuni kita!” kata Bong Gan kepada suci-nya.
Bi Sian termenung, lalu dia pun mengangguk-angguk, dan berkata, “Maafkan aku, enci Pek Lan. Kalau
begitu, pangeran keparat itu yang harus kubunuh! Aku akan mencarinya dan...”
Pek Lan menggeleng kepala. “Tahan dulu, adikku yang baik. Mari kita bicara di dalam kamarku. Harap
jangan terburu nafsu. Ingatlah, bahwa kita sekarang sedang berada di dalam benteng di mana terdapat
ratusan orang prajurit Nepal! Mari, mari, di kamarku kita dapat bicara dengan leluasa,” kata Pek Lan dan ia
mendahului mereka menuju ke kamarnya yang tidak jauh dari situ.
dunia-kangouw.blogspot.com
Terpaksa Bi Sian menahan kemarahannya dan bersama Bong Gan dia pun mengikuti Pek Lan masuk ke
dalam sebuah kamar. Kamar itu tidak seluas kamar mereka, akan tetapi juga mewah dan perabot
kamarnya serba indah. Begitu memasuki kamar, Bong Gan dan Bi Sian mencium bau semerbak harum.
Setelah mempersilakan kedua orang itu duduk, Pek Lan lalu duduk di tepi pembaringan, menghadapi
mereka. “Ketahuilah kalian bahwa Pangeran Maranta Sing menyuguhkan makanan yang mengandung
obat perangsang itu, bukan suatu kejahatan, bahkan dia sengaja melakukan hal itu untuk menyenangkan
kalian yang dianggap sebagai tamu agung yang dihormati.”
Dua orang kakak beradik seperguruan itu terbelalak, kemudian mereka saling pandang dengan penuh
keheranan. “Akan tetapi, enci Pek Lan!” seru Bong Gan.
“Bagaimana mungkin kami dapat percaya soal itu? Memberi obat bius dan perangsang kepada kami
sehingga kami berdua melakukan pelanggaran? Dan itu merupakan suatu penghormatan? Mustahil...”
“Aku tidak percaya!” Bi Sian juga berseru.
Pek Lan tersenyum. “Akan tetapi, sesungguhnyalah begitu, Memang lain bangsa lain pula kebiasaannya,
lain negara lain pula peraturannya, dua orang adikku yang manis. Ketahuilah bahwa masakan sumsum
tulang punggung beruang itu merupakan makanan langka yang luar biasa, dan memang makanan itu
mengandung daya rangsangan yang kuat. Biasanya hidangan ini hanya diberikan kepada sepasang
pengantin keluarga raja saja! Dan anggur merah itu pun amat keras, hanya bekerjanya amat halus seperti
obat bius. Akan tetapi keduanya juga merupakan hidangan-hidangan yang mahal dan langka, hanya
diperuntukkan tamu kehormatan.”
“Akan tetapi, kalau pangeran itu sudah tahu akan pengaruh makanan dan minuman itu, mengapa dia tetap
menyuguhkan kepada kami? Dan kami diberi satu kamar pula? Apa maksudnya kalau bukan hendak
menjerumuskan kami dan menghina kami?”
Pek Lan menggelengkan kepalanya. “Sama sekali dia tak bermaksud menghina kalian. Karena kalian
merupakan dua orang muda yang melakukan perjalanan bersama, maka dia menganggap bahwa tentu
kalian berdua memiliki hubungan yang lebih erat. Kalian dianggapnya sebagai suami isteri atau dua orang
yang sedang berpacaran, sehingga hidangan itu bahkan dianggapnya membantu dan menyenangkan
kalian.”
“Akan tetapi dia sudah tahu bahwa kami adalah kakak dan adik seperguruan!” Bi Sian berseru. “Kami
belum menikah...!”
“Itu menurut pendapat dan kebiasaan kalian! Akan tetapi menurut kebiasaan di Nepal, kalau ada seorang
pemuda dan seorang gadis melakukan perjalanan bersama selama berbulan-bulan, maka tidak ada
pendapat lain kecuali bahwa mereka adalah sepasang suami isteri, baik sudah menikah atau belum. Oleh
karena itu, adik-adikku, harap kalian tenang. Pangeran Maranta Sing tidak bermaksud buruk. Pula semua
itu sudah terjadi, dan kalau kulihat, kalian memang pantas untuk menjadi jodoh masing-masing. Apa bila
memang kalian saling mencinta, apa salahnya peristiwa yang terjadi semalam?”
“Tidak! Penghinaan ini hanya dapat ditebus dengan nyawa! Noda ini hanya dapat dicuci dengan darah!
Pangeran Maranta Sing harus mempertanggung jawabkannya! Aku mau mencarinya!” Bi Sian berteriak. Ia
sudah bangkit berdiri dan meraba gagang pedangnya.
“Sabar dan ingatlah, adik Bi Sian! Selain pangeran itu tidak memiliki niat jahat menurut pendapatnya,
bahkan ingin berbuat untuk menyenangkan tamu, juga kita berada di sini, di dalam bentengnya!
Bagaimana mungkin engkau akan melawan ratusan orang prajurit Nepal? Bukankah itu sama halnya
dengan bunuh diri?”
“Aku tidak peduli! Aku tidak takut! Bagiku, kehormatan lebih penting dari pada nyawa!” Bi Sian berkata
dengan air mata bercucuran kembali karena ia teringat akan nasibnya yang telah menderita aib.
“Suci... ahhh, harap dengarkan apa yang dikatakan enci Pek Lan, suci. Kita berada di tengah-tengah
benteng mereka, kita tak mungkin mampu melawan mereka...” Bong Gan berkata.
Tiba-tiba Bi Sian membalik dan menghadapinya dengan mata berapi saking marahnya. “Sute! Engkau
masih berani berkata demikian? Engkau takut mati?! Huh, enak saja engkau. Engkau adalah seorang lakidunia-
kangouw.blogspot.com
laki, tentu tidak akan dapat merasakan penderitaan seorang wanita yang telah menderita aib dan noda
seperti aku! Kalau engkau takut mati, biarlah aku sendiri yang akan menuntut kepada pangeran itu!”
Melihat sikap suci-nya itu, mendadak saja Bong Gan menjatuhkan diri berlutut di depan suci-nya sambil
menangis!
“Suci, semua ini akulah yang bersalah! Aku sudah menodaimu, aku mendatangkan aib bagimu. Akulah
yang membikin celaka sehingga kini suci menghadapi bahaya maut. Aku sudah menghancurkan
kehidupanmu, suci. Sungguh aku merasa menyesal sekali. Engkau adalah satu-satunya orang yang
kumiliki, juga satu-satunya orang yang sudah menolongku, dan baik kepadaku. Engkau satu-satunya orang
yang kucinta sepenuh jiwa ragaku dan sekarang... aku pula yang mencelakakanmu. Aih, suci, kalau begitu,
engkau bunuhlah aku lebih dulu agar aku tidak lagi melihat penderitaanmu.”
“Sute, cukup...!” Bi Sian berseru dan tangisnya semakin menjadi-jadi.
Melihat ini, Bong Gan maklum bahwa siasatnya berhasil dengan baik, maka dia pun lalu memperkuat
tangisnya. “Suci, bagaimana mungkin aku dapat hidup jika melihat engkau sengsara karena aku?
Sudahlah, kalau engkau tidak mau membunuhku, biar aku sendiri yang akan menghabiskan nyawaku
supaya rasa penaaaran di hatimu berkurang, suci. Suci, selamat tinggal, suci...!”
Bong Gan menyambar pedang milik Pek Lan di atas meja, kemudian mencabutnya dan menggerakkan
pedang menggorok leher sendiri! Tentu saja semua hal ini sudah diatur sebelumnya dan merupakan siasat
belaka.
Pek Lan diam-diam sudah siap siaga mencegahnya kalau Bi Sian diam saja. Andai kata Bi Sian
mendiamkan saja sute-nya membunuh diri, demikian siasat yang mereka atur sebelumnya, maka Pek Lan
yang akan turun tangan mencegah sehingga bunuh diri itu nampak sungguh-sungguh.
Akan tetapi, permainan sandiwara itu ternyata berhasil pula mengelabui mata Bi Sian. Melihat kenekatan
sute-nya yang dalam hal ini juga sama-sama menjadi korban obat bius dan perangsang, cepat Bi Sian
menendang ke arah pergelangan tangan sute-nya yang memegang pedang. Pedang itu terlepas dari
pegangan dan Bong Gan menutupi mukanya sambil menangis.
“Suci, kalau engkau tak dapat mengampuni aku, kenapa engkau tidak membiarkan saja aku membunuh
diri?” ratapnya.
Bi Sian tidak menjawab, hanya menangis sesenggukan, hatinya bagaikan ditusuk-tusuk rasanya. Ia
memang suka sekali pada sute-nya ini, bahkan mungkin juga ada peraaaan cinta, karena sute-nya pandai
mengambil hati.
Ia pun tahu bahwa sute-nya amat mencintanya dan kini, sute-nya telah memperlihatkan perasaan cintanya
yang amat mendalam. Ia merasa terharu sekali dan agak meredalah kemarahannya.
Bagaimana pun juga, yang menodai dirinya adalah sute-nya sendiri, orang yang amat mencintanya, dan
yang besar kemungkinan akan menjadi suaminya kelak. Kini, setelah peristiwa itu, bukan mungkin lagi
bahkan sudah pasti bahwa pemuda ini akan menjadi suaminya kelak.
“Aih, betapa mengharukan. Sudahlah, adik Bi Sian. Aku ikut terharu melihat besarnya cinta di antara kalian,
terutama sekali apa yang sudah dibuktikan oleh adik Bong Gan. Sungguh, dia mencintamu dan biar pun
dia itu sute-mu, akan tetapi aku melihat bahwa dia lebih tua darimu dan kalian memang cocok sekali untuk
menjadi suami isteri kelak. Sebaiknya kalian berdua ikut bersama kami menghadap Kim Sim Lama. Kalau
kalian bekerja sama dengan Kim-sim-pang, aku yang tanggung bahwa dalam waktu singkat kalian akan
dapat bertemu dengan Pendekar Bongkok.”
Bong Gan sendiri terkejut mendengar ini. Apakah Pek Lan sudah mendengar dari para anak buahnya
tentang Pendekar Bongkok? Nada suara Pek Lan demikian meyakinkan seolah-olah Pendekar Bongkok
sudah berada dalam kekuasaannya!
“Jangan main-main, enci!” berkata Bi Sian sambil mengerutkan alisnya. “Aku baru mau bekerja sama
denganmu atau rekan-rekanmu apa bila benar kalian dapat menemukan Pendekar Bongkok. Benarkah
engkau berani tanggung? Aku tidak mau tertipu!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Pek Lan tersenyum manis. Tentu saja dia berani bertanggung jawab karena dia sudah mendengar dari
orang-orangnya bahwa Pendekar Bongkok sudah menjadi tawanan Kim Sim Lama!
“Aku tanggung. Bahkan aku pun berani menanggung bahwa kami akan dapat menawan Pendekar
Bongkok untukmu, adik Bi Sian.”
Bi Sian memandang Bong Gan yang masih berlutut sambil menutupl mukanya. “Sute, bangunlah. Memang
benar, semua nasib manusia telah digariskan Thian. Aku tak dapat mengingkari dan tidak ada gunanya
menyesali hal yang sudah lalu. Baiklah, kini tidak mungkin lagi aku dapat menolak cintamu, menolak
pinanganmu. Aku bersedia menjadl isterimu...”
“Suci! Terima kasih...!” Bong Gan berseru gembira walau pun mukanya masih basah air mata. Dia masih
berlutut akan tetapi tidak lagi menutupi mukanya.
“Hemm, sudah sewajarnya kalau kita menjadi suami isteri. Akan tetapi tidak sekarang! Kelak, bila kita
sudah berhasil membunuh Pendekar Bongkok, baru kita melangsungkan pernikahan. Akan tetapi sebelum
itu, engkau tidak boleh menjamahku. Mengerti?”
“Baik... baik...” Bong Gan kini bangkit berdiri dan menatap wajah suci-nya itu dengan pandang mesra.
“Akan tetapi, setelah kini kita bertunangan, bolehkah aku menyebutmu Sian-moi (dinda Sian)? Dan maukah
kau menyebut aku Gan-koko (kanda Gan)?”
Wajah Bi Sian menjadi kemerahan, akan tetapi untuk mencegah agar persoalan itu tidak diperpanjang, ia
pun mengangguk.
Melihat ini, Pek Lan girang bukan main. Ia pun cepat memberi hormat kepada mereka bergantian sambil
berseru, “Kionghi, kionghi (selamat, selamat)!”
Biar pun wajahnya berubah kemerahan, Bi Sian terpaksa menerima pemberian selamat itu sambil
menggumamkan terima kasih. Dan dengan wajah gembira bukan main Bong Gan juga menghaturkan
terima kasih, ucapan terima kasih yang bukan hanya sebagai basa-basi belaka karena dia bersungguhsungguh
merasa berterima kasih kepada Pek Lan.
Pek lan yang telah mengatur semuanya itu, sehingga dia berhasil memiliki diri Bi Sian. Dia pun berjanji di
dalam hatinya untuk membalas jasa Pek Lan itu dengan pelayanan semesra mungkin.
“Nah, marilah kita berangkat sekarang juga. Untuk mencegah suasana tidak enak, ji-wi (kalian berdua)
tidak perlu berpamit dari Pangeran Maranta Sing, biar kupamitkan nanti. Kalian bersiaplah, kita berangkat
sekarang bersama suhu.”
Bi Sian merasa senang bahwa ia tidak perlu berpamit lagi dari Pangeran Maranta Sing, karena biar pun ia
dapat mengerti bahwa pangeran itu tidak dapat terlalu dipersalahkan karena memang tidak berniat buruk,
tetapi tetap saja kalau ia bertemu dengan pangeran itu, tentu ia akan sukar menahan kemarahannya.
Mereka berdua berkemas dan tak lama kemudian Pek Lan dan Thai Yang Suhu datang menjemput
mereka. Berangkatlah mereka meninggalkan istana dalam benteng di lereng bukit dekat telaga Yam-so.
Mereka menunggang empat ekor kuda. Di sepanjang perjalanan, pemandangan alam yang amat indah
membuat Bi Sian perlahan-lahan dapat melupakan peristiwa semalam yang dianggapnya sebagai mala
petaka. Dia mulai dapat menerima kenyataan itu dan menganggap bahwa memang sudah menjadi
jodohnya untuk bersuamikan Coa Bong Gan maka terjadi peristiwa memalukan itu.
Tak sedikit pun pernah terlintas di dalam pikirannya bahwa semua peristiwa itu adalah hasil rencana siasat
yang sudah diatur oleh Pek Lan dan Bong Gan, dibantu oleh Thai Yang Suhu dan Pangeran Maranta
Sing…..
********************
Sie Liong duduk bersila di dalam ruangan tahanan itu. Dia duduk bersila hanya karena naluri saja, atau
karena tubuhnya sudah terbiasa dengan sikap duduk seperti itu. Dia duduk bersila seperti sebuah arca
mati, tidak bergerak-gerak.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sudah hampir satu bulan lamanya dia menjadi seorang tawanan yang sama sekali tidak berdaya. Bukan
hanya ingatannya hilang dan dia lupa segala, akan tetapi juga tubuhnya menjadi lemah dan dia kehilangan
tenaga sinkang-nya, atau kalau dia mencoba untuk mengerahkan tenaga, dadanya terasa seperti ditusuk.
Pernah dia mencoba untuk keluar dari kamar tahanan itu, akan tetapi setibanya di pintu, seorang penjaga
langsung datang menghadangnya.
“Hei, engkau tidak boleh keluar dari kamar ini tanpa ijin,” kata si penjaga. “Hayo masuk kembali. Makanan
dan minuman untukmu akan kami antar dari luar, dan kalau engkau hendak kencing atau berak, baru boleh
keluar dari sini, akan tetapi juga kami kawal!”
Sie Liong tidak ingat mengapa dia berada di situ, bahkan dia tidak ingat siapa dirinya dan bagaimana asal
mulanya! Dia hanya tahu bahwa dia berada di sebuah kamar yang asing, dan dijaga oleh penjaga yang
jumlahnya sampai belasan orang, menjaga di luar pintu kamar itu.
Dia sudah mencoba mengerahkan ingatannya, namun gagal. Yang diingatnya sejak dia sadar, seperti
orang bangun tidur dan tahu-tahu sudah berada dalam kamar itu.
“Aku mau keluar. Aku tidak suka di sini. Biarkan aku keluar dari sini,” katanya kepada penjaga.
“Tidak boleh! Hayo kau kembali, atau harus kupaksa?”
Sie Liong tidak ingat lagi bahwa dia adalah Pendekar Bongkok. Tidak ingat bahwa dia adalah seorang yang
berilmu tinggi. Dan memang pada dasarnya dia berwatak lembut dan tidak suka berkelahi, maka biar pun
dia merasa tidak senang dengan cegahan itu, dia tetap bersikap lembut.
“Sobat, aku tidak mengenal engkau dan kawan-kawanmu itu. Aku pun tidak mempunyai urusan dengan
kalian, maka kuharap engkau tidak menahanku lagi. Biarkan aku keluar,” katanya dan dia nekat melangkah
hendak keluar dari kamar tahanan itu.
“Tidak boleh keluar! Kembali ke dalam kamar!” bentak penjaga itu dan melihat Sie Liong nekat hendak
melangkah keluar, dia lalu mendorong dada Sie Liong.
Biar pun Sie Liong lupa bahwa dia pandai ilmu silat, namun naluri tubuhnya bergerak dan otomatis tenaga
sinkang dari pusar menerjang ke atas, ke arah dada. Akan tetapi, begitu tenaga sinkang itu bergerak, dia
mengeluh karena dadanya terasa sangat nyeri dan otomatis dia membiarkan dirinya lemas lagi. Dorongan
itu mengenai dadanya dan dalam keadaan tidak bertenaga itu, dia pun terjengkang dan jatuh telentang ke
dalam kamar tahanan kembali! Penjaga itu tertawa.
“Ha-ha-ha, jangan harap engkau dapat keluar tanpa ijin. Sekali lagi aku bukan hanya mendorong,
melainkan memukulmu!”
Sie Liong tidak menjawab. Ada kenyataan baru yang diketahuinya, yaitu bahwa dia berada dalam tahanan,
dijaga oleh orang-orang yang kasar dan galak, dan bahwa tidak mungkin dia melawan karena begitu
mengerahkan tenaga, dadanya terasa nyeri. Maka, dia pun tidak begitu bodoh untuk mencari penyakit dan
menyabarkan hatinya, lalu duduk bersila kembali di atas pembaringannya.
Obat penghilang ingatan yang sudah dipaksakan masuk ke dalam perutnya oleh Thay Hok Lama
mempunyai kekuatan selama satu bulan. Dalam beberapa hari lagi Sie Liong akan memperoleh kembali
ingatannya. Akan tetapi apa gunanya?
Selain racun penghilang ingatan, juga Thay Hok Lama telah memberinya minum racun yang membuat dia
akan merasa nyeri di dada setiap kali mengerahkan sinkang, dan kalau dipaksanya, berarti dia membunuh
diri sendiri. Darahnya telah keracunan!
Sambil duduk bersila, otak Sie Liong bekerja. Dia berusaha mengingat segala sesuatu. Pengaruh racun
penghilang ingatan itu sudah agak menipis sehingga samar-samar Sie Liong mulai teringat akan dirinya
sendiri. Dia mulai teringat bahwa namanya Sie Liong, bahwa dia ditangkap oleh para pendeta Lama.
Hanya itu yang baru dapat diingatnya. Mungkin besok atau lusa, kalau pengaruh racun penghilang ingatan
itu sudah hilang, barulah dia akan dapat mengingat seluruhnya atau sebagian besar dari hal-hal yang lalu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi, pada hari itu, datanglah Thai Yang Suhu, Pek Lan dan kedua orang muda yang hendak
bekerja sama dengan Kim-sim-pang itu.
Bi Sian dan Bong Gan melihat betapa tempat itu dari luar hanya seperti sebuah kuil biasa, kuil Kim-simpang
yang dikunjungi banyak orang untuk bersembahyang. Ketika mereka diajak masuk ke belakang kuil,
melewati pintu yang terjaga oleh para pendeta Lama, baru mereka tahu bahwa ternyata pusat Kim-simpang
berada di belakang kuil, merupakan perkampungan yang dihuni para pendeta Lama.
Kim Sim Lama gembira sekali manerima dua orang tamunya, apa lagi ketika mendengar laporan Pek Lan
bahwa Bong Gan dan Bi Sian adalah dua orang muda yang memiliki kepandaian tinggi. Pek Lan sendiri
sudah terlebih dahulu menggabungkan diri dengan Kim-sim-pang, dibawa oleh Thai Yang Suhu.
“Omitohud...” Kami sungguh merasa beruntung sekali dapat bekerja sama dengan ji-wi (kalian), dua orang
muda yang lihai. Kalau perjuangan kami berhasil, tentu kami tidak akan melupakan jasa ji-wi dan akan
memberi imbalan yang pantas,” kata Kim Sim Lama yang mengira bahwa mereka berdua itu, seperti
halnya Pek Lan dan Thai Yang Suhu, adalah dua orang petualang yang mengharapkan imbalan jasa yang
besar.
Mendengar ini, Bi Sian mengerutkan alisnya. “Maaf, losuhu. Kami berdua datang dan menerima
penawaran dari enci Pek Lan untuk bekerja sama bukan untuk mendapatkan imbalan. Kami tidak mencari
imbalan jasa!”
Pek Lan cepat memberi penjelasan kepada Kim Sim Lama. “Hendaknya losuhu ketahui bahwa adik Bi Sian
dan adik Bong Gan ini mengajak bekerja sama untuk menghadapi musuh besar mereka, yaitu Pendekar
Bongkok! Sudah kujanjikan pada mereka bahwa kita akan membantu mereka menangkap Pendekar
Bongkok, dan sebagai imbalannya, mereka akan membantu perjuangan kita.”
Kim Sim Lama tertawa gembira. “Ha-ha-ha-ha, kiranya begitu? Bagus sekali! Ji-wi tidak datang di tempat
yang keliru. Pinceng (saya) mempunyai berita yang sangat baik untuk ji-wi. Apakah nona Pek Lan belum
memberi tahukan kepada ji-wi mengenai Pendekar Bongkok?”
Bi Sian menoleh kepada Pek Lan dan ia menggeleng kepala.
Pek Lan tersenyum. “Adik Bi Sian, lupakah engkau ketika aku berkata bahwa aku yang tanggung akan
tertangkapnya Pendekar Bongkok? Nah, ketahuilah bahwa Pendekar Bongkok sudah tertawan oleh losuhu
Kim Sim Lama dan kini berada dalam tahanan.”
Mendengar ini, Bong Gan menjadi girang bukan main. “Ahh, benarkah itu? Kalau begitu, mari kita
menemuinya, Sian-moi!”
“Nanti dulu, aku masih belum percaya benar bahwa dia sudah tertawan di sini. Bagai mana demikian
mudahnya?” Bi Sian meragu, khawatir kalau tertipu. Dia masih belum percaya benar kepada orang-orang
yang baru dikenalnya.
“Omitohud... Nona terlalu bercuriga dan berprasangka. Nona Yauw, kalau ingin bertemu dengan Pendekar
Bongkok Sie Liong, mari pinceng ikut mengantarkan.”
Bi Sian dan Bong Gan mengikuti Kim Sim Lama, Pek Lan dan Thai Yang Suhu menuju ke bagian belakang
sarang Kim-sim-pang itu. Setelah tiba di luar kamar tahanan, Kim Sim Lama tersenyum.
“Nah, kalian berdua lihatlah baik-baik siapa yang berada di dalam kamar tahanan itu!”
Bong Gan dan Bi Sian memandang ke dalam kamar yang daun pintunya terbuka dan dijaga oleh beberapa
orang pendeta Lama itu. Di atas pembaringan duduk seorang pria bongkok yang bukan lain adalah Sie
Liong!
“Tidak mungkin...” Bi Sian berkata lirih ketika melihat Sie Liong yang katanya ditahan itu hanya ditahan
begitu saja di dalam sebuah kamar yang dijaga beberapa orang pendeta Lama. “Bagaimana dia begitu...
begitu... jinak?”
“Ha-ha-ha, tak perlu heran, nona. Dia telah kehilangan ingatannya, dan juga kehilangan tenaganya. Dia kini
menjadi seorang yang lemah, ha-ha-ha!” Kim Sim Lama tertawa.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendengar ini, Bong Gan memandang dengan mata mencorong. Dia amat takut dan benci kepada Sie
Liong karena dia dapat merasakan bahaya mengancam dari orang bongkok itu. Kalau sampai rahasianya
terbongkar, tentu dia akan celaka. Akan tetapi kalau Sie Liong sudah tewas, tentu akan aman rahasianya
bahwa dia yang membunuh Yauw Sun Kok, bukan Sie Liong.
Kini, mendengar bahwa pendekar itu sudah kehilangan ingatan dan kehilangan tenaga, ia melihat
kesempatan yang baik sekali untuk membunuhnya. Dilihatnya sebatang golok besar di atas meja depan
kamar tahanan, agaknya itu adalah senjata milik seorang di antara para pendeta penjaga.
“Keparat Sie Liong, engkau tidak layak dibiarkan hidup!” bentaknya dan sebelum semua orang dapat
mencegah, dia sudah menyambar golok itu, menerobos masuk ke dalam kamar tahanan melalui pintu
terbuka.
Mendengar teriakan yang memanggil namanya ini, Sie Liong membuka mata. Dia amat terkejut melihat
seorang laki-laki muda yang tidak dikenalnya, atau yang tidak diingatnya siapa, meloncat ke arah
pembaringan dan mengayun golok menyerangnya!
Gerakan orang itu demikian cepatnya sehingga Sie Liong tidak mempunyai kesempatan untuk menyingkir
lagi. Hanya dengan gerakan naluri Sie Liong lalu mengangkat lengan kirinya untuk menangkis.
“Jangan bunuh dia!” terdengar seruan Kim Sim Lama yang merasa terkejut sekali.
Namun terlambat, golok di tangan Bong Gan itu sudah meluncur dengan cepatnya dan bertemu dengan
lengan kiri Sie Liong yang menangkisnya.
“Crokkkk!”
Lengan kiri yang menangkis itu, lengan yang tidak mengandung tenaga sinkang, mana mungkin kuat
menahan golok besar yang sangat tajam itu? Lengan itu terbabat buntung di atas siku, dan buntungan
lengan terlempar ke atas lantai.
Sie Liong terbelalak, tidak mengeluarkan keluhan, hanya memandang ke arah lengan kirinya yang buntung
dan darah muncrat-muncrat. Akhirnya dia pun roboh pingsan di atas pembaringan.
Bong Gan hendak menyusulkan serangan maut ke arah tubuh yang sudah tidak mampu berkutik itu, akan
tetapi nampak bayangan merah dan Kim Sim Lama telah memukul ke arah lengan kanan Bong Gan.
“Tranggg...!”
Golok yang berlumur darah itu terlepas dari pegangan tangan Bong Gan yang merasa nyeri lengannya dan
terkejut sekali.
“Aih, adik Bong Gan, kenapa engkau lancang menyerangnya? Losuhu Kim Sim Lama membutuhkan dia
hidup-hidup!” tegur Pek Lan.
Sementara itu, Bi Sian memandang dengan mata terbelalak ke arah Sie Liong yang rebah pingsan di atas
pembaringan, kini sedang diperiksa oleh Kim Sim Lama. Ia tidak melihat betapa Pek Lan memberi isyarat
teguran kepada Bong Gan dan pemuda ini nampak gelisah.
Di dalam hati Bi Sian ada perasaan iba kepada pamannya itu, dan kemarahan kepada Bong Gan yang
secara curang menyerang Sie Liong yang sedang kehilangan ingatan dan tenaga itu. Namun ingatan
bahwa Sie Liong sudah membunuh ayahnya membuat perasaan iba itu menipis karena ia berkeras
mengusirnya.
Kim Sim Lama menotok jalan darah di ketiak Sie Liong untuk menghentikan darah yang bercucuran keluar
melalui lengan yang buntung itu, kemudian terdengar dia memanggil seorang penjaga dan menyuruhnya
memanggil Camundi Lama dengan cepat.
Setelah petugas itu pergi, Kim Sim Lama bangkit dan memandang kepada Bong Gan, sinar matanya
penuh penyesalan. “Orang muda, sungguh engkau lancang sekali. Bagai mana pun juga, Pendekar
Bongkok ini adalah tawanan kami, dan engkau tidak berhak menyerangnya tanpa persetujuan kami. Sudah
dunia-kangouw.blogspot.com
pinceng katakan bahwa dia kehilangan ingatan dan tenaga, kenapa engkau masih hendak
membunuhnya?”
“Maafkan saya, Losuhu. Saya amat membenci orang itu dan menjadi naik darah ketika melihatnya.
Maafkan, saya mengaku salah. Akan tetapi, Losuhu, jika dia tidak dibunuh, lalu untuk apa? Dia berbahaya
sekali.”
Kim Sim Lama menyeringai. “Untung sekali tadi pinceng masih sempat menghalangi kelancanganmu
sehingga dia tidak sampai terbunuh. Karena lukanya, terpaksa rencana kami harus dipercepat. Kami
hendak mempergunakan dia, maka sampai sekarang kami menahannya dan sedang mencari kesempatan
baik untuk mempergunakan dia.”
Karena Pendeta Lama yang tua itu jelas nampak tidak senang, Bong Gan tidak berani lagi banyak
bertanya. Apa lagi ketika pendeta itu menggumam kepada Pek Lan.
“Untung bahwa dia bermaksud membantu gerakan kita, kalau tidak, sukar bagi pinceng untuk
memaafkannya.”
Penjaga yang diutus tadi sudah datang kembali bersama seorang pendeta Lama yang kurus tinggi dan
gerak-geriknya lembut. Usianya tentu sudah enam puluh tahun lebih, dan pandangan matanya lembut,
akan tetapi dahinya penuh kerut merut seperti biasa terdapat pada wajah orang yang banyak menderita
tekanan batin.
“Camundi Lama, cepat engkau obati luka di lengannya yang buntung itu. Kami tak ingin melihat dia cepatcepat
mati.”
Pendeta tua itu mengangguk tanpa menjawab, kemudian menghampiri Sie Liong dan memeriksanya.
Setelah memeriksa beberapa lamanya, dia menarik napas panjang.
“Dia sudah kehilangan cukup banyak darah, dan detik jantungnya amat lemah. Kini dia membutuhkan
perawatan yang cermat. Pinceng akan merawatnya, tapi harap kamar ini dikosongkan dan buntungan
lengan itu disingkirkan. Juga bekas-bekas darah itu supaya dibersihkan.”
Kim Sim Lama mengangguk dan berkata kepada semua orang, “Kita tinggalkan dia bersama Camundi
Lama, tabib kita yang pandai.”
Dan kepada para penjaga dia memerintahkan agar membuang buntungan lengan dan membersihkan
percikan darah. Lalu dengan sikap masih tak senang Kim Sim Lama pun pergi meninggalkan kamar itu.
Pek Lan memberi isyarat kepada Bong Gan dan Bi Sian agar kembali ke kamar mereka. Thai Yang Suhu
juga kembali ke kamarnya sendiri. Akan tetapi Pek Lan ikut masuk ke dalam kamar Bong Gan dan Bi Sian.
Di dalam kamar yang disediakan untuk mereka berdua itu, Pek Lan diam-diam merasa geli. Di situ hanya
ada sebuah saja tempat tidur, akan tetapi melihat betapa lantai kamar terdapat sebuah bantal, selimut dan
buntalan pakaian Bong Gan, mengertilah ia bahwa Bi Sian memegang teguh pendiriannya, yaitu ia tidak
sudi dijamah Bong Gan sebelum mereka menikah, yaitu setelah mereka berhasil menemukan Pendekar
Bongkok.
“Adik Bong Gan, yang sudah terjadi tadi sudahlah. Akan tetapi lain kali harap engkau suka bertanya-tanya
dahulu sebelum melakukan sesuatu. Untung bahwa Kim Sim Lama tidak marah tadi. Kalau dia marah,
siapa pun tak akan mampu melindungi keselamatan nyawamu lagi.”
Wajah Bong Gan menjadi kemerahan dan di dalam hatinya, dia marah dan penasaran karena merasa
dipandang rendah. Akan tetapi tentu saja dia tidak berani menyatakan kemarahannya, apa lagi karena
semenjak tadi Bi Sian juga menghindarkan pertemuan pandang mata dengannya dan alis gadis itu selalu
berkerut tanda bahwa hatinya tidak senang.
“Demikian lihaikah Kim Sim Lama itu?” Bong Gan bertanya, seolah-olah ingin membalas dan memandang
rendah.
Pek Lan tersenyum memandang pemuda yang semenjak masih remaja pernah menjadi kekasihnya itu.
“Aihh, adik Bong Gan. Engkau tidak tahu siapa losuhu Kim Sim Lama! Dia pernah menjadi orang ke dua di
dunia-kangouw.blogspot.com
seluruh Tibet! Dan tentang kelihaiannya? Hemmm, biar pun kalian berdua juga amat lihai, namun aku
pernah mencoba kalian dan menurut pendapatku, bila kita bertiga ini mengeroyok Kim Sim Lama seorang
diri pun kita akan kalah.”
“Ahh, demikian hebatkah dia?” Bong Gan berseru dan terbelalak kaget.
Bi Sian melirik kepada pemuda itu dan berkata dengan nada suara kesal. “Kalau tidak lihai, mana mungkin
dia dapat menawan Pendekar Bongkok? Tidak seperti engkau yang menyerang orang yang sudah
kehilangan ingatan dan tenaganya!”
“Aihh, Sian-moi, mengapa engkau berkata demikian? Bukankah semua itu kulakukan demi engkau! Demi
membalas sakit hatimu terhadap dia?”
Bi Sian bersungut-sungut. “Aku paling tidak suka perbuatan yang pengecut dan curang. Suhu pasti tidak
akan suka melihat perbuatanmu tadi! Kalau aku membalas dendam, tentu akan kulakukan dengan cara
orang gagah!”
“Sian-moi, engkau tidak adil...”
“Sudahlah, untuk apa kalian ribut-ribut dan bertengkar? Peristiwa itu sudah terjadi dan bagaimana pun,
adik Bong Gan belum membunuhnya. Tahukah kalian mengapa Kim Sim Lama melarang Bong Gan
membunuh Pendekar Bongkok?”
“Kenapa, enci Pek Lan?” Bi Sian bertanya karena ia pun tertarik sekali.
Ia mulai merasa heran kenapa kini kebenciannya terhadap Sie Liong hampir tak terasa lagi, bahkan
terganti rasa iba dan khawatir! Yang terbayang di depan matanya bukan pembunuhan atas diri ayahnya,
namun semua kebaikan dan sikap penuh kasih sayang dari pamannya itu kepadanya sejak mereka masih
kecil!
“Kim Sim Lama membutuhkan Pendekar Bongkok hidup-hidup karena dia ingin melihat Pendekar Bongkok
mati di Lhasa, bukan di sini, sehingga nanti Dalai Lama yang akan bertanggung jawab atas kematiannya,
bukan Kim Sim Lama.”
“Kenapa begitu?” Bi Sian bertanya sambil mengerutkan alisnya. Hatinya sudah merasa tidak senang
karena perbuatan itu dianggapnya licik dan curang.
Pek Lan tersenyum. “Kalian memang perlu diberi penjelasan supaya kalian tahu siapa yang kalian bantu
dan apa artinya perjuangan yang sedang dilakukan Kim-sim-pang ini. Ceritanya panjang, akan tetapi
sebaiknya kupersingkat saja. Ketika Dalai Lama masih kecil, Kim Sim Lama menjadi wakilnya dan semua
urusan bahkan ditangani oleh Kim Sim Lama atas nama Dalai Lama. Akan tetapi sesudah Dalai Lama
semakin besar, semua tindakannya tidak cocok dengan pendapat Kim Sim Lama. Bahkan Dalai Lama lalu
mengutus para pembantunya untuk membunuhi banyak pertapa di Himalaya. Para pembantu utamanya
adalah Tibet Ngo-houw. Karena perbuatan itu sesungguhnya tidak disukai oleh Kim Sim Lama, maka
akhirnya terjadi pertentangan dan Kim Sim Lama pun meninggalkan Lhasa, membentuk Kim-sim-pang
yang bertujuan menentang kelaliman Dalai Lama. Bahkan Tibet Ngo-houw akhirnya juga ikut membantu
perjuangan Kim Sim Lama.”
“Kalau begitu, Kim-sim-pang adalah perkumpulan pemberontak?” Bi Sian bertanya.
“Bagi Dalai Lama tentu begitu, akan tetapi bagi kami, kami tengah mengadakan gerakan perjuangan untuk
menentang kelaliman Dalai Lama.”
“Akan tetapi, apa hubungannya dengan Pendekar Bongkok? Dan kenapa pula Kim Sim Lama
menghendaki agar orang menduga bahwa Pendekar Bongkok terbunuh di Lhasa oleh Dalai Lama?” Bi
Sian mendesak karena ia merasa tertarik sekali.
“Pendekar Bongkok adalah utusan yang mewakili para tosu dan pertapa dari Himalaya yang pernah
dikejar-kejar dan dibunuhi atas perintah Dalai Lama. Karena Pendekar Bongkok hanya tahu bahwa yang
melakukannya terutama sekali Tibet Ngo-houw, maka dia mencari Tibet Ngo-houw sampai ke sini. Kim Sim
Lama sudah menjelaskan bahwa Tibet Ngo-houw hanyalah petugas yang mentaati Dalai Lama saja,
bahwa Dalai Lama yang bertanggung jawab. Bahkan Kim Sim Lama mengajak Pendekar Bongkok untuk
dunia-kangouw.blogspot.com
bersama-sama membantu perjuangan menentang kelaliman Dalai Lama. Akan tetapi dia tidak mau,
bahkan menyerang Tibet Ngo-houw. Dia memang hebat, lihai bukan main dan barulah dia dapat tertawan
sesudah Kim Sim Lama sendiri turun tangan. Begitulah keadaan yang sebenarnya. Karena Dalai Lama
yang memusuhi para tosu, maka Kim Sim Lama juga tidak mau membunuh Pendekar Bongkok itu di sini.
Kesalahannya harus ditimpakan kepada Dalai Lama yang menjadi biang keladi.”
Mendengar keterangan itu, diam-diam Bi Sian membayangkan keadaan pamannya itu. Jelas baginya
bahwa pamannya adalah seorang pendekar yang menjunjung perintah guru-gurunya, yaitu Himalaya Sam
Lojin serta Pek Sim Siansu. Pamannya merupakan seorang pendekar yang melaksanakan tugas di Tibet
ini dan kini ditimpa mala petaka. Sedangkan dia? Dia dibantu Bong Gan hanya hendak melampiaskan
nafsu dendamnya kepada pamannya itu.
“Aihhh, paman,” keluhnya di dalam hatinya, “kenapa engkau tega membunuh ayahku?”
“Enci Pek Lan, kapan Pendekar Bongkok itu akan dibunuh, dan bagaimana dengan rencana pembunuhan
yang akan dilakukan di Lhasa itu?” tanya Bong Gan.
Kali ini suara dan isi pertanyaan pemuda yang menjadi sute-nya dan juga tunangannya itu terdengar
sangat tidak sedap di telinga Bi Sian. Sedikit rasa suka dan kagum yang pernah mengeram di hatinya
terhadap pemuda itu kini menipis, bahkan timbul kembali penyesalan yang mendalam bahwa ia dan sutenya
itu menjadi korban obat bius dan perangsang sehingga ia terpaksa harus menjadi isteri Bong Gan
karena dirinya telah ternoda oleh laki-laki itu!
Pertanyaan yang diajukan Bong Gan itu menarik pula perhatian Bi Sian yang kini ingin sekali mengetahui
apa yang akan terjadi selanjutnya dengan pamannya itu. Melihat bahwa pamannya buntung lengan kirinya
oleh sabetan golok Bong Gan dalam keadaan tidak dapat melawan itu saja sudah membuat hatinya terasa
sedih bukan main, bahkan kini dia merasa heran mengapa dia pernah begitu membenci pamannya dan
ingin sekali membunuhnya!
“Hal itu masih dirahasiakan Kim Sim Lama, Bong Gun. Aku sendiri tidak tahu apa yang akan ia lakukan
terhadap Pendekar Bongkok. Dan aku mengenal watak Kim Sim Lama, maka aku tidak berani bertanya.
Hanya kalau kita dipanggil dan diberi tugas, kita harus melaksanakannya dengan baik. Nah, kini
mengasolah dan harap pertengkaran yang tak ada gunanya itu jangan dilanjutkan.”
Akan tetapi Bong Gan merasa benar betapa berubah sikap suci-nya atau calon isterinya itu terhadap
dirinya setelah terjadi peristiwa pembacokan tadi. Bi Sian bersikap dingin, dan jarang sekali memandang
kepadanya.
Akan tetapi, diam-diam Bong Gan merasa girang karena setelah lengannya buntung, tentu makin tidak ada
harapan bagi Sie Liong untuk melarikan diri. Dia tentu akan mati dibunuh Kim Sim Lama, dan amanlah
rahasia pembunuhan yang dia lakukan terhadap Yauw Sun Kok itu. Betapa pun juga, melihat sikap wanita
yang pernah digaulinya, yang akan menjadi isterinya demikian dingin, hatinya merasa kesal dan
mendongkol juga.
Memang sejak terjadi hubungan badan antara mereka karena Bi Sian terpengaruh obat bius dan
perangsang itu, dia selalu teguh memegang janji dan tidak pernah dia berani menyentuh calon isterinya itu.
Akan tetapi setidaknya, selama ini sikap Bi Sian biasa dan baik, tidak seperti malam ini.
Kalau siang tadi Bi Sian menurunkan sebuah bantal, sehelai selimut di sudut kamar itu yang menjadi
isyarat bahwa dia harus tidur di lantai malam itu, dia masih melihatnya dengan senyum saja. Akan tetapi
sekarang, melihat Bi Sian rebah miring menghadap ke dinding membelakangi dia yang sedang duduk di
atas lantai, hatinya menjadi semakin mendongkol.
Melihat tubuh Bi Sian yang membelakanginya, Bong Gan teringat akan peristiwa yang penuh kemesraan
baginya pada malam itu, ketika dengan penuh gairah yang panas Bi Sian menyerahkan diri kepadanya!
Tidak seperti Bi Sian yang terpengaruh obat bius sehingga dalam keadaan setengah sadar, Bong Gan
sadar sepenuhnya dan menikmati perbuatan mereka itu sepenuhnya. Teringat akan peristiwa itu, timbullah
gairah dalam hati Bong Gan dan dia pun bangkit, kemudian menghampiri pembaringan Bi Sian.
“Sian-moi...” panggilnya lirih.
Tubuh itu tidak bergerak, masih menghadap ke dinding, membelakanginya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Sian-moi...” kembali dia memanggil lembut dan kali ini dia duduk di tepi pembaringan, menjaga agar
jangan sampai tubuhnya menyentuh pinggul atau punggung Bi Sian.
Sekali ini Bi Sian melirik. “Hemm, mau apa engkau? Jangan duduk di sini!”
“Sian-moi, masih marahkah engkau kepadaku? Apakah engkau tidak dapat memaafkan aku, Sian-moi?
Aku merasa sangat menyesal, aku sama sekali tidak ingin menyinggung hatimu, Sian-moi. Kau tahu
betapa besar cintaku kepadamu...”
“Sudahlah, jangan bicarakan urusan itu lagi. Pergi sana, tidur!”
“Sian-moi, jangan engkau begini kejam. Aku... ahh, betapa rinduku padamu, Sian-moi... perkenankanlah
aku menyentuhmu, aku... ingin menciummu, satu kali saja, Sian-moi. Bukankah kita akan menjadi suami
isteri?”
Bi Sian bangkit duduk, matanya bersinar marah. “Apa? Engkau hendak melanggar janji? Sudah kukatakan,
sebelum kita menikah engkau tidak boleh menyentuhku!”
Bong Gan terkejut dan bangkit berdiri. “Akan tetapi aku belum menyentuhmu, Sian-moi. Aku memegang
janji, aku hanya mengatakan bahwa aku rindu sekali. Bahkan akulah yang khawatir kalau-kalau engkau
yang akan melanggar janjimu untuk menjadi isteriku setelah Sie Liong tewas.”
“Aku tidak akan sudi melanggar janji. Kalau Pendekar Bongkok sudah tewas, baru kita menghadap ibuku
dan mohon perkenan serta doa restunya. Sesudah itu barulah kita melangsungkan pernikahan.”
“Tapi, Sian-moi, biarkan aku berdekatan sebentar denganmu, hanya untuk menunjukkan bahwa engkau
benar sudah tidak marah lagi kepadaku...” Pemuda itu masih memohon.
“Sudahlah, kalau engkau masih terus merengek apa lagi berani menyentuhku, baru aku akan menjadi
marah benar! Kau tidurlah!”
Bong Gan telah mengenal watak suci-nya itu yang tidak pernah mengeluarkan ancaman kosong belaka.
Hatinya menjadi kecewa sekali dan timbul kekesalan hatinya. Dia adalah soorang pemuda yang tidak
pernah ditolak wanita, dan kini dia ditolak oleh wanita yang sudah jelas akan menjadi isterinya! Bukan
hanya tidak boleh mencumbu rayu, bahkan menyentuh pun tidak diperkenankan.
Sambil menarik napas panjang dia pun mundur, lalu berkata dengan nada suara kesal, “Dari pada tersiksa
tidur di lantai dan memandangmu tanpa boleh mendekat, lebih baik aku tidur di luar kamar.” Setelah
berkata demikian, dia pun keluar dari kamar itu, dan menutupkan kembali daun pintu kamar itu dari luar.
Tadinya Bi Sian tidak peduli Bong Gan akan tidur di mana pun juga. Tetapi, lapat-lapat ia mendengar suara
ketawa lirih di luar kamar pada saat Bong Gan membuka pintu dan suara ketawa itu tidak terdengar lagi
ketika daun pintu ditutup. Hal ini lalu menimbulkan kecurigaan hatinya.
Dia khawatir kalau-kalau Bong Gan mendatangi lagi tempat tahanan untuk membunuh Sie Liong. Ia tidak
ingin sute-nya itu atau ia sendiri membunuh Sie Liong begitu saja. Ia akan terlebih dahulu minta penjelasan
kepada pamannya itu mengapa dia membunuh ayahnya. Setelah itu, untuk membalas dendam, barulah ia
akan menantang Sie Liong, dengan bantuan Bong Gan. Itulah yang ia kehendaki ketika ia mencari Sie
Liong. Bukan membunuhnya dalam keadaan yang tidak berdaya seperti itu.
Kecurigaan dan kekhawatirannya membuat Bi Sian cepat-cepat meloncat turun dari atas pembaringan.
Dengan hati-hati sekali sehingga tidak mengeluarkan suara, lalu dia pun menghampiri pintu dan perlahanlahan
membuka sedikit daun pintu itu untuk mengintai keluar. Ia masih melihat Bong Gan dan Pek Lan di
dekat tikungan lorong, saling rangkul dan berciuman sebelum mereka menghilang di balik tikungan itu.
Bi Sian menjadi bengong dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Bermacam-macam perasaan
mengaduk hatinya, terutama sekali kemarahan. Dia sama sekali tidak marah karena cemburu. Tidak! Dia
tidak peduli apa pun yang dilakukan Bong Gan kini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Namun dia mendapat kenyataan betapa pria yang terpaksa harus diterimanya sebagai calon suaminya itu
ternyata adalah seorang lelaki yang rendah dan hina! Sebagai tamu orang berani berjinah dengan wanita
lain!
Tadinya, ada dorongan untuk mengejar dan memaki-maki mereka berdua. Akan tetapi segera timbul
pikiran lain. Mengapa ia harus marah? Ia menutupkan kembali daun pintu kamar itu, menguncinya dari
dalam dan ia pun duduk di sisi pembaringannya, melamun.
Tidak! Tidak mungkin ia dapat menjadi isteri seorang laki-laki macam itu. Belum menjadi suaminya saja
sudah berani melakukan penyelewengan di depan matanya! Dan ia telah ternoda oleh pria macam itu! Tak
terasa lagi air matanya bercucuran turun membasahi kedua pipinya.
“Tidak!” Ia menahan suaranya yang ingin berteriak. “Aku tidak sudi menjadi isterinya!”
Dan kembali ia teringat betapa ia telah ternoda oleh Bong Gan. Biarlah. Aku tidak akan menikah selama
hidupku. Akan tetapi aku tidak akan menikah dengan Coa Bong Gan!
Tiba-tiba ia mengerutkan alisnya. Tangisnya terhenti walau pun mukanya masih basah air mata. Terbayang
betapa Bong Gan dan Pek Lan saling rangkul dan saling berciuman tadi. Ahh, perbuatan dua orang itu tadi
hanya membuktikan bahwa sebelum malam ini memang sudah pernah ada hubungan di antara mereka.
Dan peristiwa di malam jahanam itu, ketika dia terbius dan terangsang oleh racun yang dicampurkan ke
dalam makanan dan minuman, sehingga dia menyerahkan diri kepada Bong Gan di luar kesadarannya,
pada saat hal itu terjadi Pek Lan berada pula di dekat mereka. Hal ini menimbulkan kecurigaannya.
Agaknya ada sesuatu antara Bong Gan dan Pek Lan, sesuatu yang busuk dan agaknya sudah berjalan
lama di luar pengetahuannya!
Bagaimana juga, dia sudah mengambil keputusan untuk tidak mau menjadi isteri Bong Gan! Bagaimana
kalau pemuda itu menagih janji? Ahh, mudah saja, pikirnya. Peristiwa malam ini bisa dijadikan alasan
kenapa ia membatalkan janjinya. Ia memperoleh alasan yang kuat sekali. Bi Sian tersenyum walau pun
mukanya masih basah air mata.
Sungguh aneh. Ia kini merasa seolah-olah bebas dari himpitan batu besar. Dan ia pun menyadari bahwa
kalau selama ini ia merasa tertekan dan selalu murung, ternyata yang menyebabkan adalah ingatan bahwa
ia harus menjadi isteri Bong Gan!
Kini, sesudah dia memperoleh alasan kuat untuk membatalkan janjinya, hatinya terasa ringan dan nyaman
sekali. Dan tidak lama kemudian Bi Sian sudah tidur pulas, dengan beberapa butir air mata masih
tergantung di bulu matanya, akan tetapi dengan mulut tersenyum manis…..
********************
“Omitohud...! Orang muda yang malang...,” berulang kali Camundi Lama berbisik ketika dia mengobati dan
merawat Sie Liong di dalam kamar tahanannya.
Camundi Lama adalah seorang pendeta yang umurnya kurang lebih enam puluh lima tahun, bertubuh
tinggi kurus dan gerak geriknya lembut. Dia adalah seorang tabib yang amat pandai di Tibet dan dia sama
sekali tidak termasuk seorang pendeta yang ingin memberontak terhadap Dalai Lama. Sama sekali tidak.
Kalau dia kini berada di sana adalah karena dia memang diculik dan dipaksa oleh Kim Sim Lama untuk
bekerja di situ.
Oleh karena dia tidak dilibatkan dalam pemberontakan, dan tugasnya hanyalah menjadi tabib untuk
mengobati orang sakit, maka Camundi Lama juga menerima nasibnya dan menjadi tabib dalam Kim-simpang.
Dia mendengar tentang beberapa perbuatan keras dan jahat yang sudah dilakukan oleh orang-orang
Kim-sim-pang, akan tetapi dia tidak mau ikut-ikutan dan pura-pura tidak tahu saja.
Akan tetapi, ketika dia mendengar tentang Pendekar Bongkok dan kini merawatnya, di dalam hatinya
timbul perasaan kagum dan iba. Seorang pemuda yang tubuhnya cacat, bongkok, akan tetapi memiliki
keberanian yang luar biasa di samping ilmu silat yang kabarnya setingkat dengan kepandaian Kim Sim
Lama sendiri!
dunia-kangouw.blogspot.com
Dia merasa kasihan sekali melihat betapa pemuda bongkok itu kini sama sekali tidak berdaya. Selain
darahnya keracunan sehingga dia tidak mampu mengerahkan tenaga, juga dia sudah minum racun
penghilang ingatan, dan kini ditambah lagi buntung lengan kirinya!
“Kasihan, sungguh orang muda yang malang...,” untuk ke sekian kalinya pendeta Lama itu berbisik.
Sie Liong membuka matanya. Ingatannya masih belum pulih sama sekali, akan tetapi pengaruh racun
penghilang ingatan itu sudah mulai berkurang. Biar pun dia belum bisa mengingat semua peristiwa yang
lalu, akan tetapi dia mulai dapat mengingat apa yang terjadi dalam waktu dekat. Dia memandang ke kanan
kiri.
“Ling Ling... di mana Ling Ling...”
Camundi Lama membungkukkan tubuhnya untuk memeriksa pandang mata pemuda itu. Pandang mata itu
sudah agak jernih, pikirnya.
“Siapakah Ling Ling, orang muda?”
Kini Sie Liong memandang kakek itu. Samar-samar dia teringat bahwa kakek ini yang mengobatinya.
“Ahh, Ling Ling...? Dia... dia… aku tidak ingat lagi, akan tetapi aku selalu ingat namanya dan... ahhh,
sudahlah, aku tidak ingat lagi...”
Pendeta Lama itu semakin iba. “Omitohud... engkau sungguh seorang pemuda yang bernasib malang.”
Sie Liong yang tadi memejamkan mata, membukanya kembali. Dia sudah tahu ketika siuman untuk
pertama kalinya bahwa lengan kirinya buntung, dan ia juga teringat bahwa buntungnya lengan kirinya itu
adalah diakibatkan dia menangkis bacokan golok seorang pemuda yang tidak dikenalnya.
“Aku tidak bernasib malang, losuhu,” katanya dan dengan susah payah dia pun bangkit duduk bersila.
“Ah? Tidak? Akan tetapi baru saja engkau kehilangan lengan kirimu, orang muda,” kata Camundi Lama,
terheran-heran melihat sikap pemuda itu yang tenang saja, seolah-olah kehilangan sebuah lengan kiri
hanya kehilangan sesuatu yang tidak berharga, dan tidak apa-apa!
Sie Liong memandang ke arah pangkal lengan kirinya yang buntung, kemudian dia pun tersenyum. “Kalau
memang sudah hilang, perlu apa disesali dan disedihkan, losuhu? Lengan itu tak akan tumbuh kembali
karena disedihkan. Lengan hanya merupakan satu di antara perabot-perabot perlengkapan badan saja.”
“Omitohud...! Banyak orang mengeluarkan ucapan seperti itu, dan sudah sering pinceng (aku)
mendengarnya, akan tetapi semua ucapan mereka itu hanyalah pengertian teori belaka. Akan tetapi
engkau, engkau benar-benar kehilangan lengan kirimu dan engkau masih dapat bersikap setenang dan
senyaman ini! Orang muda, engkau bukan hanya kehilangan lengan kirimu, akan tetapi juga kehilangan
ingatanmu, dan juga kehilangan tenagamu karena darahmu telah keracunan. Engkau kini tidak berdaya
sama sekali, dan setiap saat nyawamu terancam. Nah, apakah engkau sekarang tidak akan merasa sedih
dan menyesal?”
Sie Liong menggeleng kepala sambil tersenyum, demikian wajar dan tidak dibuat-buat. Semua penderitaan
yang sudah dialaminya itu seperti mendatangkan suatu penerangan baginya, membuat dia seperti hidup
baru.
“Kenapa sedih dan menyesal, losuhu? Badan ini hanya seperti bayangan saja, setiap saat pasti akan
lenyap. Bahkan kalau seluruh badan ini mati pun tidak perlu disesalkan, kenapa baru kehilangan yang
sedikit itu mesti dibuat berduka? Tidak, losuhu. Aku masih hidup dan akan tetap hidup, dan kalau Thian
menghendaki, aku akan dapat mengatasi sagala kesulitan.”
“Omitohud... semoga Sang Buddha memberikan penerangan kepada seluruh manusia. Orang muda, ilmu
apakah yang kau pergunakan, bagaimana caranya maka engkau bisa menerima segala derita sengsara ini
dengan senyum di bibir?” Dia memandang penuh kagum.
“Tidak ada ilmunya, losuhu, hanya dengan cara penyerahan kepada Thian Yang Maha Kasih,
menyerahkan segala-galanya kepada Thian sehingga apa pun yang terjadi atas diriku adalah sesuai
dunia-kangouw.blogspot.com
dengan kehendak-Nya. Tiada penyesalan apa pun, yang ada hanya puji syukur karena semua ini sudah
dikehendaki oleh Thian, dan segala kehendak Thian pun jadilah, dan tidak ada kekeliruan.”
Tiba-tiba kakek itu tersedu dan tangannya merangkul Sie Liong. Ada beberapa butir air mata membasahi
mata kakek itu.
“Ah, orang muda, pinceng harus banyak belajar darimu... jangan khawatir, pinceng akan mencoba untuk
menolongmu. Racun penghilang ingatan itu sudah menipis dan akan lenyap sendiri pengaruhnya. Akan
tetapi yang sangat berbahaya adalah racun di dalam darah yang membuat engkau terancam bahaya luka
dalam kalau mengerahkan sinkang. Namun akan kucoba untuk menyembuhkannya. Nah, kau minumlah
obat ini dulu, orang muda, untuk membuat luka di lenganmu cepat mengering, juga untuk mencegah luka
itu keracunan dan membengkak. Aku akan membuatkan obat penawar racun di tubuhmu.”
Dengan taat Sie Liong meminum obat itu, kemudian dia tetap duduk bersila sedangkan kakek itu mulai
sibuk pula membuat ramuan obat baru untuk menghilangkan racun yang berada dalam darah Sie Liong.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Best Cersil

Pecinta Cersil