Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 27 September 2017

Pusaka Pulau Es 4 Tamat Cersil Hangat Anget

Pusaka Pulau Es 4 Tamat Cersil Hangat Anget Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Pusaka Pulau Es 4 Tamat Cersil Hangat Anget
kumpulan cerita silat cersil online
-
Bhe Seng Kok adalah seorang pria berusia empat puluh lima tahun dan tinggal di kota Cian-an. Sepuluh
tahun yang lalu, pada saat diadakan pemilihan bengcu, dia juga hadir. Tadinya semua orang sudah
sepakat untuk memilih serta menunjuk Pendekar Sakti Yo Han untuk menjadi bengcu baru, akan tetapi Yo
Han yang pada waktu itu sudah menjadi ketua Thian-li-pang menolak.
Atas usul Yo Han yang mengenal baik Bhe Seng Kok, pendekar Siauw-lim-pai inilah yang kemudian dipilih
menjadi bengcu. Bhe Seng Kok menerimanya dan sejak itu dialah yang menjadi bengcu.
Tugas seorang bengcu adalah mengepalai seluruh dunia kang-ouw dan kalau terjadi bentrokan di antara
orang kang-ouw, bengcu inilah yang akan menyelesaikannya. Akan tetapi ketika terjadi perang antara
pemberontak dan pemerintah, dia sama sekali tidak mau mencampurinya. Biar pun banyak anggota kangouw
yang terlibat, akan tetapi Bhe Seng Kok menganggap itu urusan pemerintah dan dia tidak mau
melibatkan diri, hanya mendengar laporan dari orang-orang kang-ouw saja.
Bhe Seng Kok hidup menyendiri, tidak mempunyai keluarga dan tidak pernah menikah. Bahkan ada
keinginan dalam hatinya untuk kembali ke biara Siauw-lim-pai dan menjadi hwesio di sana.
Pada suatu hari Bhe Seng Kok sedang duduk sendiri di dalam rumahnya yang tidak besar. Tiba-tiba
terdengar langkah kaki orang di depan rumahnya dan dia cepat keluar untuk menyambut tamu yang
datang. Ternyata yang datang adalah dua orang, seorang pemuda yang gagah dan seorang kakek tinggi
kurus yang memegang sebatang dayung baja.
Sebagai seorang bengcu, tentu saja Bhe Seng Kok mengenal hampir semua orang dari kalangan kangouw,
apa lagi tokoh-tokoh golongan tua. Maka begitu melihat kakek yang memegang dayung baja, dia
teringat dan segera menyambut dengan ramah.
“Ahh, kiranya Tung-hai Lo-mo yang datang berkunjung. Selamat datang dan marilah kita duduk di dalam
agar dapat bicara dengan leluasa.”
“Terima kasih, Bengcu,” kata Tung-hai Lo-mo.
Tung-hai Lo-mo masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Gulam Sang, pemuda gagah itu. Bhe Seng Kok lalu
mempersilakan dua orang tamunya.
“Silakan Ji-wi (kalian berdua) duduk!”
“Terima kasih, Bengcu,” kata Tung-hai Lo-mo sambil tersenyum. “Perkenalkan pemuda ini bernama Gulam
Sang, seorang pemuda yang memiliki ilmu silat tinggi bukan main.”
Bhe Seng Kok mengangguk, lalu dia memandang kepada Gulam Sang sambil berkata, “Maafkan kalau aku
belum mengenal Sicu, karena Sicu masih muda dan baru muncul di dunia kang-ouw. Tung-hai Lo-mo, ada
keperluan apakah yang membawamu datang ke tempat ini?”
“Yang mempunyai keperluan justru Gulam Sang kongcu ini. Aku hanya mengantarkan dia saja.”
“Ahh, begitukah? Sicu, ada keperluan apakah maka Sicu datang menemuiku?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Gulam Sang tersenyum mengejek. “Aku mendengar bahwa engkau adalah bengcu yang mengepalai
seluruh dunia kang-ouw. Benarkah?”
“Benar, dan aku menjadi bengcu karena dipilih dan didorong oleh para saudara di dunia kang-ouw.”
“Seorang bengcu tentu mempunyai ilmu silat yang tak terkalahkan. Karena tertarik dan ingin sekali
membuktikan sendiri bagaimana hebatnya ilmu silat bengcu, maka sekarang aku sengaja datang untuk
menantangmu mengadu ilmu silat!” kata Gulam Sang terus terang.
Bhe Seng Kok tersenyum lebar dan berkata, “Orang muda, menjadi bengcu bukan diukur dari ilmu silatnya
saja, melainkan harus pula memiliki kebijaksanaan dan rasa keadilan. Bengcu bukan jagoan yang
membanggakan ilmu silatnya, maka tidak perlu kita harus mengadakan pibu (mengadu ilmu silat).”
“Maaf, Bengcu. Kurasa pendapat itu tidak benar,” kata Tung-hai Lo-mo. “Kongcu Gulam Sang ini datang
dari jauh di Barat. Kalau permintaannya untuk pibu tidak dipenuhi, tentu dia akan menceritakan kepada
semua orang bahwa Bengcu takut bertanding dengan dia.”
Gulam Sang tertawa. “Ha-ha-ha, kalau memang Bengcu takut bertanding melawanku, akuilah saja.
Asalkan engkau suka berlutut memberi hormat tiga kali padaku, aku tidak akan memaksamu lagi.”
Berkerut alis Bhe Seng Kok. “Tidak ada yang takut dan tidak ada yang perlu berlutut! Aku menolak
diadakan pibu hanya karena menyayangkan Sicu yang masih muda. Kalau sampai Sicu terluka dalam pibu,
aku akan ditertawakan orang sedunia. Seorang bengcu melayani tantangan seorang pemuda yang tidak
ternama tanpa alasan. Tidak, aku tidak mau pibu denganmu!”
Gulam Sang bangkit dan mencabut pedangnya. “Engkau telah menghinaku Pendeknya, mau atau tidak
engkau harus melawanku untuk menentukan siapa di antara kita yang lebilh lihai!”
Melihat kenekatan Gulam Sang, Bhe Seng Kok mengerutkan alisnya dan mengangguk-angguk. “Begitukah
yang kau kehendaki? Kalau begitu terpaksa aku akan melayanimu!” Setelah berkata demikian, Bhe Seng
Kok menyambar pedangnya yang tergantung di dinding. “Mari kita pergi ke kebun di belakang agar lebih
leluasa bertanding!”
Mereka pergi ke kebun di belakang rumah itu. Di kebun ini biasanya Bhe Seng Kok bercocok tanam.
“Nah, di sini tempatnya luas dan engkau boleh mulai, orang muda!”
“Bengcu, jagalah seranganku!” kata Gulam Sang dan dia sudah menyerang dengan ganasnya.
Melihat serangan ini, diam-diam Bhe Seng Kok terkejut karena dia mengenal ilmu silat yang dahsyat. Maka
dia pun menangkis dengan pedangnya, lalu membalas serangan itu. Gulam Sang juga dapat
menghindarkan diri dan mereka sudah bertanding dengan seru.
Melihat betapa semua serangan Gulam Sang bukan sekedar untuk menguji kepandaian, melainkan benarbenar
menyerang dengan serangan maut yang berbahaya, Bhe Seng Kok terpaksa mengimbanginya
dengan ilmu pedangnya yang kokoh kuat. Bengcu ini adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai maka tentu saja
ilmu silatnya sudah mencapai tingkat tinggi.
Akan tetapi sekali ini dia bertemu dengan Gulam Sang yang pernah mempelajari ilmu-ilmu dahsyat dari
Dalai Lama, maka pertandingan itu berlangsung seimbang dan amat hebatnya. Sinar kedua pedang itu
bergulung-gulung dan dua orang yang bertanding itu merasa betapa tangguh lawannya. Seratus jurus telah
lewat tanpa ada yang terdesak dan ternyata tingkat mereka seimbang!
Mendadak sebatang dayung baja yang kuat dan berat menyambar ke arah Bhe Seng Kok. Bengcu itu
terkejut bukan main. Segera dia mengelak dan menahan pedangnya, kemudian menudingkan telunjuknya
kepada Tung-hai Lo-mo.
“Lo-mo, kau...!” Bhe Seng Kok berseru.
Akan tetapi pada saat itu pedang di tangan Gulam Sang sudah menyerangnya dari belakang. Bhe Seng
Kok sedang mencurahkan perhatiannya kepada Tung-hai Lo-mo, maka dia tidak tahu akan kecurangan itu
dan tahu-tahu punggungnya sudah ditembusi pedang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Bengcu itu roboh terlentang, matanya mendelik ke arah kedua orang itu dan berseru, “Kalian keji dan
curang...!” Dan dia pun terkulai, menghembuskan napas terakhir.
“Bagus!” kata Tung-hai Lamo. “Perkelahian ini tidak nampak oleh orang lain. Mari cepat pergi dari sini,
jangan sampai terlihat orang lain!”
Keduanya lalu cepat melarikan diri, menyusup-nyusup di antara pohon-pohon kemudian melompat keluar
dari pagar tembok rumah itu. Tidak ada orang lain yang melihatnya dan baru beberapa hari kemudian
mayat Bhe Seng Kok ditemukan tetangganya yang mencium bau mayat.
Tidak ada orang mengetahuinya siapa yang membunuh bengcu itu. Melihat bengcu itu tewas dengan luka
di punggung dan masih memegang sebatang pedang, semua orang tahu bahwa bengcu itu terbunuh
dalam suatu perkelahian, akan tetapi tidak ada yang tahu siapa pembunuh itu.
Matinya bengcu ini segera tersiar ke seluruh pelosok negeri. Hanya dua hari setelah kematian bengcu itu,
Thian It Tosu dari Bu-tong-pai mengundang para tokoh kang-ouw dan ketua partai-partai besar untuk
datang ke Bu-tong-san. Bu-tong-pai hendak menjadi pelopor untuk pemilihan bengcu baru.
Undangan ini pun tersiar cepat sehingga terdengar sampai ke kota raja. Maka The Sun Tek juga
mendengar tentang undangan Bu-tong-pai itu walau pun dia belum mendengar akan kematian Bhe Seng
Kok.
Orang yang memiliki pamrih besar yang dia sendiri sebut sebagai cita-cita, memang mempunyai seribu
satu macam akal untuk mencapai apa yang dituju. Dia tidak peduli lagi akan caranya, segala macam cara
akan dianggap halal dan pantas dilakukan demi mencapai apa yang dicita-citakan.
Seperti Gulam Sang dan kawan-kawannya itu. Baru saja mereka gagal dalam usaha membunuh kaisar dan
pangeran mahkota, juga penyerbuan ke kota raja gagal, mereka kini sudah menjalankan siasat lain. Dan
untuk keberhasilan siasat itu, mereka pun tidak segan-segan membunuh orang yang sama sekali tidak
bersalah.
Siapa pun yang dianggap menghalangi jalan mereka tentu akan dihancurkan…..
********************
Mereka bertiga melakukan perjalanan dengan cepat dan pada suatu hari tibalah mereka di kaki Beng-san.
The Sun Tek berjalan paling depan, kemudian di belakangnya Cu In berjalan di samping Keng Han.
Cu In yang menjadi penunjuk jalan. “Di depan itu terdapat jalan simpangan ke kiri. Jalan itulah yang harus
diambil, Ayah. Membelok ke kiri.” Kini Cu In sudah tidak asing lagi menyebut ayah kepada The Sun Tek
dan sebutan ini benar-benar membahagiakan hati panglima itu dan juga menyenangkan hati Keng Han.
“Kita sudah berjalan lebih dari setengah hari, apakah tidak baik kalau kita beristirahat lebih dulu?” Keng
Han mengusulkan. Dia sendiri sebetulnya masih dapat bertahan, akan tetapi dia melihat betapa dahi Cu In
sudah berkeringat dan dia merasa kasihan kepada gadis itu.
Mendengar ini, The Sun Tek tersenyum dan menghentikan langkahnya. “Engkau benar, Keng Han. Saking
besarnya semangatku ingin cepat-cepat bertemu isteriku, aku sampai lupa akan kelelahan, dahaga dan
kelaparan. Mari kita beristirahat sejenak sambil makan bekal kita.”
Cu In diam saja, akan tetapi juga tidak membantah. Mereka memilih tempat yang teduh di bawah pohon
besar dan duduk di atas batu yang terdapat di situ. Keng Han lalu membuka buntalan dan mengeiuarkan
beberapa potong roti kering dan dendeng kering. Juga seguci anggur dan tiga buah cawan.
Tanpa banyak cakap lagi mereka duduk makan dan minum. Karena mereka sudah lelah dan lapar, maka
makanan sederhana itu bagi mereka terasa nikmat sekali. Sesudah selesai makan mereka lalu duduk
beristirahat melepas lelah.
“Cu In, anakku. Engkau mengenakan cadar di mukamu karena tekanan ibumu supaya mukamu tidak
sampai terlihat pria yang dianggapnya semua jahat. Akan tetapi, kukira sekarang pendapat ibumu itu lain
dunia-kangouw.blogspot.com
lagi, maka pantangan itu pun harus dapat kau buang jauh-jauh. Tidak semua pria merupakan orang jahat.
Contohnya Keng Han ini. Apakah engkau dapat mengatakan bahwa dia seorang laki-laki yang jahat?”
“Tidak, Ayah,” kata Cu In sambil menundukkan mukanya.
“Apakah engkau menganggap ayahmu ini laki-laki yang jahat pula?”
“Tidak juga, Ayah.”
“Nah, kalau begitu kenapa engkau selalu memakai cadar itu menyembunyikan mukamu dari kami? Aku ini
ayahmu, Cu In. Aku ingin sekali melihat mukamu. Maka kuminta, bukalah cadar itu, Cu In.”
Melihat gadis itu menjadi kebingungan, Keng Han lalu berkata dengan lembut. “Cu In, bukalah cadarmu
dan biarkan ayahmu melihatmu. Seorang ayah yang baik tentu akan tetap menyayang anaknya,
bagaimana pun juga wajah anaknya itu.“
“Ayah, kau berjanji tidak akan membenciku atau malu mengakui aku sebagai anakmu setelah melihat
wajahku?”
“Ahh, bagaimana mungkin? Engkau tetap anakku, tidak peduli bagaimana pun bentuk wajahmu. Bukalah
cadar itu sebentar saja, untukku.”
Cu In lalu menghadapi ayahnya dan berkata, “Lihatlah Ayah, betapa buruk rupaku!” Ia menyingkap
cadarnya dan The Sun Tek sampai melangkah mundur dua langkah saking kagetnya.
“Engkau... jijik melihatku, Ayah?”
“Tidak, ah, tidak...!” Ayah itu menghampiri dan memeluk Cu In yang sudah menutupkan lagi cadarnya. “Aku
tetap sayang kepadamu, bahkan aku iba kepadamu. Tapi kenapa mukamu sampai begini, anakku?
Kenapa?”
“Ketika kecil aku diserang penyakit cacar yang berat sehingga setelah sembuh mukaku bercacat seperti
ini.”
“Nah, apa kataku, Cu In. Orang yang mencinta dengan hati tulus tidak akan berubah hanya karena melihat
muka yang dicintanya itu cacat. Bahkan rasa iba memperdalam rasa cinta itu. Jangan khawatir, kelak aku
akan mengobati dan menghilangkan cacat di mukamu itu!”
Dari ucapan ini The Sun Tek dapat menduga bahwa pemuda itu pun sudah pernah melihat muka anaknya
yang cacat. Sudah melihat bahwa muka gadis itu mengerikan akan tetapi tetap mencintanya, sungguh
merupakan seorang pemuda yang sulit dicari keduanya di dunia ini.
“Ucapan Keng Han benar, anakku. Kami akan mencarikan tabib yang terpandai untuk mengobatimu. Nanti
sesudah kita hidup serumah dengan ibumu, aku akan menyebar anak buahku untuk mencarikan tabib itu.
Nah, sesudah sekarang engkau melihat bukti bahwa kami tidak berubah sikap terhadapmu setelah melihat
mukamu yang cacat, tentu engkau menyadari bahwa tidak semua laki-laki di dunia ini jahat seperti yang
diajarkan ibumu. Baru dua orang yang melihat wajahmu, yaitu aku dan Keng Han, akan tetapi kami tidak
menjadi jijik atau membencimu.”
“Bukan baru Ayah dan Keng Han yang melihatnya. Ada seorang lain yang melihatnya dan begitu dia
melihatku, langsung saja aku akan dibunuh.”
“Siapakah orang itu, Cu In?” tanya Keng Han dengan cepat.
“Tung-hai Lo-mo. Kau ingat, Keng Han ketika engkau menolongku dari tangan Tung-hai Lo-mo dan Swathai
Lo-kwi? Nah, ketika itu Tung-hai Lo-mo yang menawanku sempat membuka cadarku dan begitu dia
melihat wajahku, dia hendak membunuhku. Baiknya engkau datang dan menolong.”
“Tung-hai Lo-mo? Datuk sesat itu memang orang yang jahat. Biar pun tidak membuka cadarmu pun dia
tetap seorang jahat yang harus dibasmi! Orang laki-laki macam dia tidak masuk hitungan, Cu In. Seperti
juga julukannya, dia memang seorang iblis!” kata The Sun Tek marah.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aku sendiri akan membunuhnya, Ayah, sesuai dengan sumpahku dahulu bahwa siapa yang berani
membuka cadarku, dia harus mati di tanganku.”
“Ahhh, sumpah itu mengerikan sekali anakku. Aku sendiri dan Keng Han juga sudah melihat wajahmu,
apakah engkau juga akan membunuh kami?”
“Tidak, Ayah. Sumpahku itu sudah kuanggap habis begitu aku bertemu dengan Keng Han dan kemudian
melihat bahwa kebencian ibuku terhadap laki-laki hanyalah sekedar pelampiasan amarahnya terhadapmu.
Akan tetapi perkenankan aku memakai cadar ini, Ayah. Pertama, karena aku sudah terbiasa memakainya
sehingga kalau ditanggalkan aku merasa malu seolah telanjang, dan kedua kupakai supaya tidak menjadi
perhatian orang. Ketiga, agar engkau dan Keng Han tidak akan menjadi malu.”
“Aku? Malu? Kenapa aku harus malu?”
“Punya anak yang cacat wajahnya.”
“Aku adalah seorang yang berani menghadapi kenyataan betapa pun pahitnya, Cu In. Cacatnya wajahmu
tidak mengurangi kasih sayangku kepada engkau sebagai puteriku!”
“Dan kenapa aku harus malu, Cu In?” tanya Keng Han dengan suara mengandung rasa penasaran.
“Kalau orang-orang melihat wajahku lalu mendengar bahwa engkau... mencinta padaku, bukankah engkau
akan menjadi bahan tertawaan?”
Keng Han terkejut. Gadis ini membuka rahasia hatinya begitu saja di depan ayahnya! Dia menjadi tersipu
dan salah tingkah, lalu memandang kepada The Sun Tek. Panglima ini juga memandangnya, wajahnya
berseri dan mulutnya pun tersenyum, lalu kepalanya mengangguk perlahan.
“Cu In, apa pun yang terjadi padaku, aku tidak peduli. Orang boleh menertawakan aku sesuka hati mereka,
namun aku tetap seorang sahabat yang amat mencintamu.”
“Ayah, kau dengar itu? Apakah ucapan seperti itu bisa dipercaya? Bagaimana mungkin seorang pemuda
yang amat tampan dan gagah tanpa cacat dapat mencinta aku yang berwajah buruk mengerikan ini? Aku
belum dapat percaya sepenuhnya!”
“Cu In, engkau belum mengerti tentang cinta. Bagaikan aku dan ibumu. Apa pun yang telah dilakukan oleh
ibumu, aku tetap mencinta dan menyayangnya. Bagi seorang yang mencinta dengan tulus, segala macam
cacat pada diri orang yang dicintanya tidak ada artinya. Bukankah begitu, Keng Han?”
“Benar sekali, Paman. Aku mencinta Cu In karena kepribadiannya, bukan hanya karena wajahnya. Setelah
melihat wajahnya, aku bahkan merasa semakin sayang karena iba, dan kelak aku akan mencarikan tabib
yang pandai untuk mengobati cacatnya itu.”
“Nah, anakku. Engkau beruntung sekali menemukan pemuda seperti ini. Cintanya tulus dan suci, dan aku
pun setuju sekali kalau dia menjadi menantuku!”
“Ayah. Apakah Ayah telah tahu siapa dia? Dia adalah putera Tao Seng, pangeran yang memberontak itu!
Nah, apakah Ayah masih setuju juga berbesan dengan pengkhianat Pangeran Tao Seng itu?”
“Menilai orang dengan melihat ayahnya adalah picik. Belum tentu seorang ayah yang baik budi memiliki
anak yang baik pula dan tidak semua ayah yang jahat memiliki anak yang jahat pula. Aku tidak peduli calon
menantuku itu anak siapa, yang penting asal pribadinya baik. Dan kulihat Keng Han adalah seorang
pendekar yang baik dan gagah perkasa.”
Cu In menundukkan mukanya, akan tetapi terlihat betapa sepasang mata itu mencorong berseri. “Aku
sendiri tidak dapat menjawab sekarang. Kita lihat nanti sajalah. Sekarang yang penting kita harus bertemu
ibu dulu. Masih ada ibuku yang mempunyai hak untuk menentukan siapa calon menantunya.”
Keng Han diam saja, akan tetapi The Sun Tek mengerutkan alisnya. Dia sudah tahu akan watak isterinya
yang keras. Kalau isterinya tidak menyetujui Keng Han, sampai mati pun ia tentu tidak akan menyetujuinya!
dunia-kangouw.blogspot.com
Pada saat itu, nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang wanita yang cantik
jelita. Usianya kurang lebih dua puluh tiga tahun, cantik jelita, kulit mukanya putih mulus, pipinya
kemerahan, mata dan bibirnya begitu manisnya sehingga tiap pria pasti akan tertarik. Rambutnya yang
dibiarkan terurai panjang di punggungnya itu diikat sutera merah dekat kepala. Punggungnya membawa
sebatang pedang.
“Suci kiranya engkau!” tegur Cu In.
Keng Han merasa tidak enak juga kalau tidak menyapa wanita itu.
“Subo...!” katanya, terpaksa menyebut subo kepada Bi-kiam Niocu Siang Bi Kiok karena dia pernah diberi
pelajaran cara menghindarkan totokannya yang amat lihai.
Akan tetapi Bi-kiam Niocu mengerutkan alisnya dan memandang kepada Keng Han dengan mata bersinar
marah. Ia sudah merendahkan diri begitu rupa terhadap pemuda itu, bahkan menemani pemuda itu sampai
dapat menghadap Dalai Lama, akan tetapi apa balasan Keng Han kepadanya? Saat diajak berjodoh dan
lari minggat meninggalkan subo-nya, pemuda itu tidak mau! Dan sekarang nampak bergaul akrab sekali
dengan sumoi-nya!
Niocu menudingkan telunjuknya yang runcing ke arah muka bercadar itu dan terdengar suaranya yang
lantang. “Sumoi, apa artinya ini? Engkau bukan saja sudah melanggar pantangan subo, bahkan engkau
berani membawa dua orang laki-laki ke sini! Apa kau sudah bosan hidup? Hayo lekas bunuh dua orang
laki-laki itu, atau aku akan segera melaporkan kepada subo!”
“Kebetulan sekali kalau begitu, Suci. Cepat laporkan kepada subo bahwa aku datang menghadap bersama
ayahku dan saudara Keng Han yang sudah berulang-ulang kali menyelamatkan diriku.”
“Apa kau bilang? Ayahmu...?” Niocu mengamati The Sun Tek dengan penuh perhatian.
“Ya, Ayahku. Sudahlah jangan bertanya panjang lebar. Beri tahukan saja bahwa aku datang bersama
ayahku dan sahabat baikku, tentu subo akan mengerti.”
Betapa pun marahnya, Niocu yang galak dan kejam ini masih jeri terhadap Cu In yang tingkat
kepandaiannya lebih tinggi darinya.
“Baik, dan kalian tentu akan dibunuh semua!” Ia pun berkelebat dan pergi.
“Cu In, itukah yang terkenal dengan julukan Bi-kiam Niocu? “ tanya The Sun Tek kepada puterinya.
“Benar, Ayah. Ia suci-ku dan patuh sekali kepada guru kami sehingga ia melaksanakan semua perintah
guru. Entah berapa banyak laki-laki yang telah dibunuh olehnya karena berani bersikap ceriwis
kepadanya.”
The Sun Tek menghela napas panjang. “Mudah-mudahan nanti aku bisa menghentikan semua perintah
ibumu yang keterlaluan itu.”
Mereka mendaki bukit Beng-san dengan cepat.
“Kita akan mengambil jalan pintas, Ayah, agar supaya lebih dekat. Akan tetapi kita harus berhati-hati
karena daerah ini termasuk wilayah yang dilindungi oleh keluarga Gak.”
“Keluarga Gak…?” Keng Han bertanya sambil mengingat-ingat.
Sambil terus berjalan, Cu In kemudian menjelaskan tentang keluarga Gak yang tadi dia sebutkan.
“Keluarga Gak adalah keluarga yang sakti. Paman Gak Ciang Hun sendiri adalah orang yang dekat dengan
keluarga Pulau Es. Ilmu silatnya lihai sekali. Juga isterinya memiliki ilmu silat yang hebat. Bahkan subo
sendiri kalau tidak perlu sekali tidak mau lewat di daerah ini.”
Keng Han tertarik sekali. “Kalau begitu, dia tentu mengenal baik Paman Yo Han.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kiranya demikian. Sudah lama aku mendengar akan nama besar Pendekar Tangan Sakti Yo Han. Apa
lagi isterinya yang berjuluk Bangau Merah adalah seorang wanita sakti. Kabarnya ia pernah belajar dari
locianpwe Suma Ceng Liong yang merupakan keturunan langsung dari Keluarga Pulau Es.”
Keng Han mengangguk-angguk. “Kalau begitu tidak salah lagi bahwa Pulau Hantu itu adalah Pulau Es
yang dulu tenggelam dan kini muncul lagi. Paman Yo Han mengenal semua ilmu silat yang kupelajari dari
pulau itu.”
“Ahh, kalau begitu engkau adalah pewaris ilmu-ilmu keluarga Pulau Es!” seru The Sun Tek dengan kagum.
“Ahh, hanya kebetulan saja aku menemukan dan mempelajari, Paman. Dibandingkan dengan orang-orang
keturunan keluarga itu tentu kepandaianku tidak ada artinya. Aku belajar sendiri tanpa ada yang
membimbing.”
“Jangan merendahkan diri, Keng Han. Aku sendiri sudah melihat betapa hebatnya ilmu kepandaianmu,
dapat menandingi ilmu silat para datuk sesat.”
“Engkau terlalu memuji, Cu In. Ilmumu sendiri juga hebat sekali.”
Dua orang muda itu saling memuji dan saling merendahkan diri mereka sehingga The Ciangkun yang
mendengarnya menjadi senang. Pertanda baik bagi orang yang saling mencinta dan calon berjodoh.
Akan tetapi mereka tak menemui halangan sehingga mereka menduga bahwa keluarga Gak itu disegani
dan ditakuti orang karena adalah pendekar-pendekar yang lihai. Akan tetapi mereka sendiri tidak pernah
usil mencampuri urusan orang lain sehingga biar pun ada orang asing memasuki wilayah mereka asal
orang asing itu tidak mengganggu, juga tidak dilarang.
Ketika mereka tiba di pondok tempat tinggal Ang Hwa Nio-nio, ternyata wanita itu sudah menunggu di
serambi depan bersama Bi-kiam Niocu. Wanita itu agaknya mengenakan pakaian yang masih baru dan
rambutnya tersisir rapi dengan hiasan kembang merah. Agaknya ia sudah diberi tahu oleh Niocu akan
kedatangan Cu In, Keng Han, dan laki-laki setengah tua itu.
Ketika melihat The Ciangkun, Ang Hwa Nio-nio menyambutnya dengan ucapan dingin. “Hemmm, kiranya
engkau memenuhi janjimu, menemukan dan membawa Cu In ke sini.”
Mendengar sikap dan mendengar ucapan yang nadanya dingin itu, Cu In merasa marah sekali kepada
wanita yang menjadi ibu dan gurunya itu. Dia pun berkata, “Kalau tidak dibujuk Ayah dan Keng Han,
sampai mati pun aku tidak akan mau datang ke sini lagi!”
Ang Hwa Nio-nio memandang kepada Cu In. Hatinya bagaikan ditusuk rasanya. Puteri kandungnya sendiri
berkata seperti itu!
“Cu In, jangan berkata begitu, Nak!” katanya.
“Mengapa baru sekarang ibu memanggilku seperti itu? Mengapa ibu mengingkari dan mengatakan bahwa
aku yatim piatu dan dipungut menjadi murid, kemudian bahkan aku disuruh membunuh ayah kandungku
sendiri? Mengapa?” Sekarang dalam suara gadis berkerudung itu terdengar isak tangis.
Ang Hwa Nio-nio menghela napas panjang. “Engkau tidak mengetahui penderitaanku selama itu, Cu In.
Hidup seorang diri, menahan semua rasa rindu. Bahkan peristiwa itu membuat aku membenci dan ingin
membunuh semua pria! Akan tetapi setelah bertemu dengan ayahmu, aku menginsyafi kekeliruanku.
Ternyata tidak semua laki-laki itu jahat. Juga ayahmu sama sekali bukan seorang laki-laki jahat.”
Mendengar semua percakapan itu, Bi-kiam Niocu Siang Bi Kiok menjadi terheran-heran. Ia membelalakkan
matanya yang indah, memandang kepada The Sun Tek, lalu kepada gurunya.
“Jadi... Paman ini... dia suami Subo?” tanyanya dengan suara lirih terputus-putus.
Ang Hwa Nio-nio hanya mengangguk dan kedua matanya menjadi basah, berlinang air mata! Makin
heranlah Niocu. Belum pernah selama ini ia melihat subo-nya menangis.
“Aku... aku memang bersalah diracuni sakit hatiku, Cu In. Maafkan ibumu, Nak...”
dunia-kangouw.blogspot.com
The Sun Tek lalu berkata, “Sudahlah, mari kita lupakan semua yang terjadi dan memulai hidup baru yang
penuh kasih sayang dan berbahagia. Cu In, ibumu telah minta maaf. Cairkan perasaan hatimu yang
membeku itu.”
“Benar, Cu In. Bagaimana pun juga, beliau adalah ibu kandungmu yang melahirkanmu kemudian
memeliharamu sampai menjadi dewasa,” kata Keng Han membujuk.
Semenjak melihat ibunya menangis dan bicara dengan suara terputus-putus mengakui kesalahannya, Cu
In sudah menangis tanpa suara. Air matanya bercucuran akan tetapi tidak kelihatan karena ia
menundukkan mukanya. Kini mendengar bujukan ayahnya dan Keng Han, ia lalu bangkit dan berlari
menubruk kedua kaki ibunya.
“Ibuku...!”
“Cu In... Cu In... engkau anakku, anak tunggal. Kau maafkan ibumu, ya?” Ibunya juga merangkul dan
keduanya bertangisan.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Ibu. Aku dapat memaklumi perasaan Ibu.”
“Subo, bagaimanakah ini? Jadi Sumoi adalah puteri Subo sendiri dan Paman ini adalah suami Subo?”
Keng Han pun melangkah maju dan menghampiri Niocu sambil berkata, “Sesungguhnya begitulah, Subo.”
“Jangan kau panggil subo kepadaku! Seperti orang mengejek saja. Panggil saja Niocu seperti dulu. Siapa
yang tidak tahu bahwa ilmumu jauh lebih tinggi dari ilmuku? Jangan sekali-kali panggil subo lagi atau aku
akan menganggap engkau menghinaku.”
Ang Hwa Nio-nio yang tahu benar bahwa hati para muridnya itu penuh rasa kebencian kepada pria seperti
yang sejak dulu ia tekankan, tahu pula akan watak Bi-kiam Niocu. “Bi Kiok, sudahlah. Mulai sekarang,
jangan membenci setiap pria. Hanya yang jahat saja boleh kau benci. Akan tetapi kalau pria itu baik, tak
ada salahnya menjadi sahabatnya.”
“Ibu, bagaimana kalau ada pria yang mencinta Suci? Apakah dia harus dibunuh?”
“Tidak, tidak. Dulu itu aku sudah gila. Jatuh cinta bukanlah hal yang jahat. Kalau ada pria yang jatuh cinta
dan Bi Kiok tidak membalas cintanya, jauhi saja dan katakan terus terang.”
“Bagaimana kalau teecu yang jatuh cinta, Subo? Apakah pria itu harus dibunuh?”
“Tidak! Kalau engkau mencinta seseorang dan orang itu pun mencintamu, maka tiada halangannya engkau
berjodoh dengan dia.”
“Aihh, terima kasih, Subo! Adik Cu In, mulai sekarang engkau tidak perlu lagi menutupi mukamu. Kutukan
itu telah dihapuskan oleh Subo!”
“Suci, aku tidak mau menjadi buah tertawaan orang dengan mukaku yang penuh cacat ini! Tidak, aku kini
mempunyai sumpah bahwa aku tak akan membuka cadar ini sebelum aku menikah. Pada waktu malam
pengantin aku akan membuka dan membuang cadar ini untuk selamanya!”
“Sumoi...!” kata Niocu sambil memandang kepada Keng Han.
Dari sikap mereka dia dapat menduga bahwa keduanya saling mencinta. Akan tetapi bila kelak Keng Han
melihat wajah sumoi-nya itu, apakah Keng Han akan mau menjadi suaminya?
“Bi Kiok, Cu In sudah mempunyai pendirian begitu, engkau tidak boleh mencampurinya!” kata Ang Hwa
Nio-nio sambil tersenyum.
Niocu memandang bengong. Belum pernah dilihatnya gurunya itu tersenyum, apa lagi tertawa. Dan ia
melihat wajah subo-nya itu kini penuh senyuman dan ternyata gurunya itu masih cantik walau pun usianya
sudah lima puluh tahun!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hong Bwe, anak kita ini sudah memiliki calon jodohnya, bahkan sudah pernah melihat mukanya.”
“Ayah...!” Cu In berseru dan dahinya nampak kemerahan.
“Cu In, engkau tidak dapat menyembunyikan perasaanmu di depan ayahmu, Ha-ha-ha!”
“Benarkah itu?” Ang Hwa Nio-nio berseru, dari nada suaranya terdengar gembira bukan main, “Siapakah
laki-laki yang bijaksana itu?”
“Orangnya dekat di sini, apa engkau tidak dapat menduganya, Hong Bwe?”
“Ahh, engkaukah itu, orang muda? Benarkah engkau mencinta Cu In dengan setulus hatimu?”
Biar pun dengan perasaan sungkan dan tersipu, Keng Han menjawab dengan lantang, “Benar, Bibi. Saya
mencinta Cu In dengan segenap jiwa ragaku.”
“Ahhh, tidak mungkin!” mendadak Bi-kiam Niocu berseru nyaring. “Sama sekali tidak mungkin!”
Tentu saja dia merasa sangat terkejut mendengar ucapan Keng Han itu. Dia pernah mencinta Keng Han
dan mengharapkan pemuda itu bisa menjadi suaminya. Akan tetapi Keng Han menolaknya. Dan sekarang
Keng Han menyatakan bahwa dia mencinta Cu In? Rasanya tidak mungkin.
Ia sendiri seorang wanita cantik dan ia menyadari benar akan hal ini. Sebaliknya, ia pun sudah melihat
wajah sumoi-nya yang totol-totol hitam dan buruk sekali. Kalau Keng Han pernah melihat wajah itu,
bagaimana mungkin dia bisa jatuh cinta kepada wanita yang wajahnya sedemikian buruknya?
The Sun Tek berkata, suaranya tegas dan berwibawa, “Mengapa tidak mungkin? Ada dua macam cinta di
dunia ini. Yang pertama cinta murni yang tidak dipengaruhi oleh buruknya rupa, buruknya nama atau
kemiskinan. Yang kedua adalah cinta nafsu yang digerakkan oleh keadaan yang dicinta seperti wajah elok,
terkenal, berkuasa atau kaya raya. Dan cinta Keng Han seperti cinta yang pertama tadi.”
“Ucapan suamiku ini benar, Bi Kiok. Lihat cinta suamiku kepadaku. Walau pun namaku buruk dan terkenal
sebagai seorang yang disebut kejam dan sesat, akan tetapi cintanya kepadaku sama sekali tidak pernah
berkurang. Usahakan supaya engkau menemukan seorang pria seperti itu, yang mencintamu bukan
sekedar pelampiasan nafsu belaka!”
The Sun Tek berkata kepada Ang Hwa Nio-nio, “Hong Bwe, sebaiknya engkau segera berkemas karena
sekarang juga kita akan pergi ke kota raja, pulang ke rumah kita.”
“Pulang...?” Ang Hwa Nio-nio bertanya, suaranya seperti orang kebingungan, seperti di dalam mimpi.
“Ya, pulang ke rumah kita di kota raja.”
“Aku sudah bersiap-siap, lama sebelum engkau datang,” kata Ang Hwa Nio-nio dengan kedua pipinya
berubah kemerahan. “Aku hanya membawa sebuah buntalan saja.”
“Subo, apakah Subo akan pergi meninggalkan tempat ini?” tanya Bi-kiam Niocu.
“Benar, Bi Kiok. Aku akan pergi, akan pulang ke kota raja, meninggalkan Beng-san dan tak akan kembali
ke sini lagi. Rumah beserta isinya ini kutinggalkan kepadamu, menjadi milikmu.”
Ang Hwa Nio-nio lalu mengambil buntalan yang menjadi bekalnya, kemudian mengajak suami dan
puterinya untuk segera berangkat.
Keng Han tidak ikut. “Paman, sebagai seorang anak, saya harus mencari ayah saya, membujuknya agar
dia menghentikan usahanya memberontak dan mengajaknya pulang ke Khitan. Setelah itu barulah orang
tua saya akan mengajukan peminangan resmi atas diri Cu In.”
The Sun Tek mengangguk-angguk, diam-diam memuji calon mantunya itu. “Itu adalah suatu niat yang
mulia sekali. Pergilah, kami akan menunggumu di kota raja. Memang sudah semestinya kalau orang tuamu
merestui perjodohanmu.”
dunia-kangouw.blogspot.com
The Sun Tek, Ang Hwa Nio-nio dan Cu In segera berangkat. Akan tetapi belum jauh mereka pergi, Cu In
membalikkan tubuhnya dan lari menghampiri Keng Han.
“Keng Han, kuharap engkau suka menyimpan ini baik-baik!” Ia pun meloloskan sabuk suteranya yang
putih. “Selama ini sabukku menjadi temanku yang setia.”
Keng Han merasa terharu sekali ketika menerima sabuk sutera putih itu. Dia pun lalu mengambil pedang
bengkoknya dan diserahkan kepada Cu In.
“Terima kasih, Cu In. Dan ini pedangku harap kau simpan baik-baik. Pedang ini adalah pemberian ibuku
dan biarlah sekarang untuk sementara ini disimpan oleh calon isteriku yang tercinta.”
“Selamat tinggal, Keng Han,” kata Cu In sambil menerima pedang bengkok itu.
“Selamat jalan dan selamat berpisah untuk sementara, Cu In,” kata Keng Han. Gadis itu lalu pergi dengan
cepat menyusul orang tuanya.
“Hi-hik-hik, sungguh lucu. Seperti orang bermain sandiwara saja. Alangkah mesranya, Keng Han!” Bi-kiam
Niocu mengejek sambil tertawa.
“Kalau dua hati sudah bertemu dalam cinta, tentu saja timbul kemesraan, Niocu.“
“Aku heran sekali. Apakah matamu sudah buta, Keng Han?”
“Niocu, harap engkau jangan menghinaku. Kenapa engkau mengatakan mataku buta?”
“Benarkah engkau sudah menyaksikan bagaimana bentuk wajah sumoi Cu In?”
“Sudah, mengapa?”
“Wajahnya begitu buruk dan menjijikkan! Engkau dapat mencinta gadis dengan wajah seperti itu?”
“Niocu, engkau belum mengenal apa artinya cinta. Aku mencinta Cu In sejak ia belum memperlihatkan
mukanya. Aku mencinta dia, aku mencinta pribadinya, bukan mencinta wajahnya. Setelah aku melihat
mukanya, cintaku semakin kuat karena ada dorongan perasaan iba kepadanya. Aku kelak akan
mencarikan tabib terpandai di seluruh dunia untuk mengobatinya!”
“Hi-hik-hik, percuma saja. Cacat di mukanya itu menurut kata subo dan sumoi sendiri, adalah cacat bekas
cacar. Mana mungkin pulih kembali? Kelak engkau akan menyesal. Kalau semua orang menertawakanmu
ketika engkau bersanding dengan isterimu yang wajahnya seperti setan...!”
“Cukup, Niocu! Jangan engkau menghina Cu In atau aku akan menghajarmu!”
“Eh-eh-eh, engkau akan menghajarku? Lupakah, engkau bahwa aku ini gurumu?”
“Hemmm, memang engkau pernah mengajari cara menghadapi tok-ciang, akan tetapi tadi engkau sendiri
yang menyuruh aku memanggil Niocu. Jadi sekarang aku bukan lagi muridmu.”
“Hemmm, pedangmu sudah kau berikan kepada kekasihmu, bagaimana engkau akan melawan aku?
Dengan sabuk sutera putih pemberian kekasihmu itu?”
“Niocu, untuk melawanmu tidak perlu aku menggunakan senjata!” kata Keng Han sambil mengikatkan
sabuk sutera putih itu di pinggangnya.
“Keparat! Berulang kali engkau menghinaku, menolakku, dan sekaranglah kesempatan bagiku untuk
membunuhmu! Jika aku tidak dapat memperolehmu, orang lain juga tidak boleh!” Berkata demikian, Bikiam
Niocu mencabut pedangnya lalu menyerang dengan cepat dan dahsyat.
Namun Keng Han dengan tenang saja menggerakkan tubuhnya mengelak dari tusukan ke arah dada itu.
“Percuma, Niocu. Engkau tidak akan menang. Hentikanlah seranganmu itu dan jangan ganggu aku lagi!”
Keng Han masih mencoba untuk memperingatkan lawannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Mampuslah!” Niocu membentak dan menyerang lebih hebat lagi.
“Wuuuuuttt... singgg...!”
Pedang yang menebas ke arah leher itu luput karena dielakkan oleh Keng Han. Keng Han mengalah dan
terus mengelak sampai sepuluh jurus. Ketika melihat gadis itu makin nekat menyerangnya, dia pun lalu
membalas.
Tangan kirinya menampar ke arah leher Niocu, akan tetapi ketika Niocu mengelak, dia langsung disambut
oleh tangan kanan Keng Han yang menjotos ke arah lambungnya. Niocu berseru kaget dan melompat
mundur ke belakang sehingga jotosan ke lambung itu luput.
Keng Han segera bersilat dengan ilmu Toat-beng Bian-kun, sebuah di antara ilmu silat pusaka Pulau Es.
Nampaknya saja ilmu silat ini lemah lembut seperti kapas, akan tetapi di dalamnya terkandung tenaga
sinkang yang mengancam lawan dengan dahsyatnya! Menghadapi ilmu silat aneh dan berbahaya sekali
ini, Niocu terdesak mundur terus.
“Hentikan seranganmu, Niocu. Hentikan!” Keng Han berkali-kali membujuk.
Akan tetapi Niocu yang sudah menjadi penasaran itu tidak mempedulikan seruannya dan menyerang terus.
Tiba-tiba ia menggerakkan kepalanya ke belakang dan gelungan rambutnya terlepas sehingga rambut itu
pun menjadi riap-riapan dan panjang sampai ke pinggang.
Rambut ini, yang lembut dan berbau harum, adalah senjata yang tidak kalah ampuhnya dengan pedang di
tangan kanan Niocu. Bahkan gerakan rambut ini datangnya bisa tidak terduga-duga, dapat dipergunakan
untuk menyolok mata, melibat dan mencekik leher, bahkan menotok ke arah jalan darah lawan.
Tapi Keng Han telah mengenal kelihaian rambut panjang itu. Ketika Niocu menusukkan pedangnya ke arah
perut, tiba-tiba saja rambutnya melibat leher Keng Han! Keng Han mengelak ke kiri akan tetapi tidak dapat
lagi mengelak dari rambut yang sudah melilit lehernya. Dia menggunakan tangan kirinya, menangkap
rambut itu dan sekali tarik, rambut itu putus setengahnya!
Niocu menjerit kaget. Rambutnya yang tadinya sepanjang pinggang kini hanya tinggal sepundak! Akan,
tetapi ketika sedang mundur dan kaget melihat rambutnya, Keng Han sudah maju dan menendang ke arah
pergelangan tangannya yang memegang pedang.
Kembali Niocu menjerit kaget dan pedangnya terlepas dari pegangan, mencelat ke atas. Mendadak
nampak bayangan tubuh orang yang menangkis pedang yang terpental itu. Ketika bayangan itu turun,
ternyata dia seorang laki-laki berusia empat puluhan tahun. Wajahnya penuh berewok seperti muka
harimau dan berewok serta rambutnya sudah putih semua!
“Bi-kiam Niocu, ini pedangmu! Apa engkau perlu bantuanku menghadapi bocah lancang ini?”
Bi-kiam Niocu bukan seorang yang curang. Sebaliknya, dia menghargai kegagahan dan tanpa malu lagi ia
mengaku dalam hati bahwa kepandaiannya tidak mampu menandingi kepandaian Keng Han. Ia
menyimpan kembali pedangnya dan menyanggul rambutnya yang tinggal sepundak, lalu berkata kepada
orang itu.
“Pek-thou-houw (Harimau Kepala Putih), tidak perlu engkau mencampuri urusanku. Dan ada keperluan
apakah engkau datang ke sini?”
Orang yang berjuluk Harimau Kepala Putih itu menghela napas panjang. Bi-kiam Niocu ini ternyata masih
sama angkuhnya dengan dulu. Seorang wanita yang amat dingin dan angkuh! Maka dia pun tidak mau
bicara panjang lebar, hanya menyampaikan tugasnya saja.
“Bi-kiam Niocu, aku diutus oleh Thian It Tosu dari Bu-tong-pai untuk mengundang Ang Hwa Nio-nio ke Butong-
san, karena di sana akan diadakan rapat besar antara para datuk dan tokoh kang-ouw. Harap engkau
suka minta pada gurumu untuk menemuiku atau aku yang menghadap ke dalam,” kata Pek-thou-houw
sambil memandang ke arah rumah itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Guruku sudah pergi dan tidak akan kembali,” kata Bi-kiam Niocu, “maka tidak mungkin dapat pergi. Akan
tetapi aku yang akan mewakilinya datang ke Bu-tong-san.”
“Begitu juga bagus, Niocu. Kami semua sudah mendengar nama besar Bi-kiam Niocu. Niocu, bagaimana
kalau sebelum aku pergi, aku memberi hajaran kepada bocah ini agar lain kali dia tidak akan menggodamu
lagi?”
Bi-kiam Niocu tersenyum mengejek. “Sesukamulah!” katanya.
Pek-thou-houw menghampiri Keng Han yang sejak tadi hanya menjadi penonton saja. “Heh, orang muda,
siapa namamu? Aku tidak biasa membunuh orang yang tak memiliki nama!” bentak Harimau Kepala Putih
itu dengan sikap bengis.
“Namaku Si Keng Han dan kuharap engkau tidak mencampuri urusan antara aku dan Niocu,” kata Keng
Han dengan lembut.
“Apa katamu? Kalau aku mencampuri, kau mau apa?”
“Sesukamulah kalau begitu. Tapi aku sudah memperingatkan!” kata Keng Han, kini tidak lembut lagi
bahkan suaranya mengandung gertakan.
“Awas seranganku. Heh-heiiiiittt!”
Si Kepala Putih itu mengeluarkan gerakan seperti seekor harimau dan tubuhnya sudah meloncat ke depan,
sikapnya persis harimau yang hendak menerkam korbannya, kedua tangan dibentangkan dengan jari-jari
membentuk cakar harimau.
“Hemmm...!”
Keng Han mengenal ilmu silat harimau ini. Akan tetapi harus diakui bahwa Si Harimau Kepala Putih ini
sudah mempelajari segala bentuk gerakan harimau dengan seksama dan seorang ahli dalam Houw-kun
(silat Harimau) itu. Dia percaya bahwa dua cakar itu sanggup merobek kulit dan daging lawan! Karena
sudah mengenal ilmu itu, dengan mudah dia mengelak dengan lompatan ke kiri dan begitu ‘harimau’ itu
turun ke atas tanah, dia sudah menampar dengan tangan kiri.
“Wuuuuuttt... plakkk...!”
Keng Han terkejut sendiri. Tanpa dia sadari, tangan kirinya masih memegang potongan rambut Niocu
sehingga ketika dia menampar, rambut itu yang melecut ke arah muka Pek-thou-houw!
Pek-thou-houw berteriak kesakitan. Lecutan cambuk istimewa itu keras sekali sehingga meninggalkan jalur
merah pada pipi dan lehernya. Sementara itu, Keng Han yang baru ingat akan rambut itu sudah mendekati
Niocu dan menjulurkan tangan mengembalikan rambut.
“Maafkan aku, Niocu. Aku menyesal sekali.” katanya.
Bi-kiam Niocu menyambar rambutnya sambil menggigit bibir dan menahan keluarnya air mata, lalu ia
membalikkan tubuhnya dan berlari pergi meninggalkan tempat itu.
Pek-thou-houw tertegun. Saat melihat bahwa Bi-kiam Niocu lari pergi, dan teringat akan lecutan rambut
tadi, dia pun merasa jeri. Tahulah dia bahwa Bi-kiam Niocu tadi agaknya kalah oleh pemuda itu, apa lagi
dia! Maka, tanpa pamit lagi dia pun lari meninggalkan Keng Han.
Keng Han memandang ke arah bayangan Niocu dan berulang kali dia menghela napas panjang. Mudahmudahan
kelak dia bisa mendapatkan seorang pria yang benar-benar mengasihinya, pikirnya.
Dia merasa kasihan pada Bi-kiam Niocu. Dia mengerti bahwa Bi-kiam Niocu mencintai dirinya, bahkan
pernah mengajaknya menikah lalu lari minggat dari subo-nya. Sekarang, melihat dia saling mencinta
dengan Cu In, tentu hati wanita itu penuh iri dan cemburu, maka berusaha mati-matian untuk
membunuhnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dia tahu bahwa Bi-kiam Niocu bukan orang jahat, dan kalau wataknya menjadi kejam terhadap kaum pria,
hal itu adalah karena sejak kecil dara ini dididik untuk membenci pria. Akan tetapi mulai sekarang, dia
berharap gadis itu berubah pula setelah melihat betapa subo-nya kembali kepada kekasihnya, bahkan
merestui perjodohan antara dia dan Cu In.
“Semoga engkau kelak menemukan jodohmu yang tepat, Niocu,” kata Keng Han sambil menarik napas
panjang dan dia pun pergi ke Bu-tong-san.
Dia tertarik mendengar dari Pek-thou-houw tadi bahwa Bu-tong-pai akan mengadakan pertemuan besar.
Siapa tahu dia akan dapat kembali bertemu dengan ayahnya di sana, mengingat bahwa gerakan ayahnya
itu sejalan dengan sikap Bu-tong-pai yang hendak memberontak…..
********************
Sebuah kereta kuda berhenti di halaman depan gedung istana Pangeran Mahkota Tao Kuang. Setelah
kepala jaga memeriksa siapa yang berada di dalam kereta itu, dia lalu memberi hormat dan kereta itu
diperbolehkan masuk sampai ke pintu depan istana.
Pangeran Tao Kuang sedang bercakap-cakap dengan Kwi Hong, Kai-ong dan Han Li di ruangan
perpustakaan yang luas ketika penjaga melapor akan kedatangan tamu-tamu berkereta itu. Mendengar
siapa yang datang berkunjung, Pangeran Mahkota tersenyum dan berseri wajahnya, lalu mengajak mereka
semua untuk keluar menyambut.
“Ayo kalian ikutlah, akan kuperkenalkan kepada seorang pangeran adik sepupuku yang menjadi sahabat
baikku! Dialah satu-satunya orang di kalangan keluarga kami yang bisa kupercaya sepenuhnya.” katanya
kepada Kai-ong dan Han Li.
Ketika mereka tiba di luar, mereka semua melihat tiga orang berada di serambi depan. Seorang laki-laki
berusia empat puluh tahun lebih yang tampan dan lembut sikapnya, seorang wanita cantik yang agung dan
anggun, berusia sebaya dengan pria itu. Dan di belakang mereka berjalan seorang pemuda yang tampan
dan gagah.
Begitu melihat mereka, Han Li berubah air mukanya, menjadi kikuk dan salah tingkah karena ia mengenal
mereka itu sebagai suami isteri Pangeran Cia Sun dan isterinya, Sim Hui Eng dan putera mereka, Cia Kun.
Suami isteri dan putera mereka itu belum lama ini telah datang ke Bukit Naga untuk meminang dirinya yang
hendak dijodohkan dengan putera mereka itu!
Begitu pun Kwi Hong. Ketika ia melihat siapa yang datang, kedua pipinya lalu menjadi kemerahan karena
ayah bundanya pernah bertanya kepadanya, bagaimana kalau ia dijodohkan dengan putera Cia Sun,
saudara sepupu ayahnya. Sudah lebih dari tiga tahun dara ini tidak pernah bertemu dengan Cia Kun dan
kini pemuda itu telah menjadi seorang dewasa yang ganteng!
Demikian pula dengan Cia Kun. Dia terheran melihat Han Li berada di situ dan dia juga terpesona melihat
Kwi Hong yang kini demikian cantik jelita.
Pangeran Cia Sun beserta isterinya juga merasa heran melihat Han Li. “Ehh, bukankah engkau Yo Han Li?
Bagaimana bisa berada di sini?”
Sebelum Han Li dapat menjawab, Pangeran Tao Kuang berkata sambil tertawa, “Bagus, kiranya kalian
sudah saling mengenal sehingga tidak perlu kuperkenalkan lagi.”
“Akan tetapi siapa Locianpwe ini? Kami tidak mengenalnya.”
“Ah, Paman ini adalah seorang tokoh yang terkenal di dunia kang-ouw, Dinda Pangeran. Tentu engkau
pernah mendengar akan julukan Kai-ong, bukan?”
“Bukankah Kai-ong Lu Tong Ki?” tanya Pangeran Cia Sun.
“Benar, dia dan muridnya, nona Han Li, menjadi tamu kehormatan kami. Paman Lu, ini adalah Pangeran
Cia Sun yang dahulu sering bertualang di dunia kang-ouw.”
Pangeran Cia Sun dan pengemis tua itu saling memberi hormat.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Nah, mari kita semua masuk ke dalam dan bicara di sana!” kata Pangeran Tao Kuang dengan ramah.
Mereka semua diajak masuk ruangan tamu yang luas dan sejuk karena di ruangan itu terdapat banyak
jendela sehingga hawa dapat masuk dengan leluasa.
“Kanda Pangeran, kedatangan kami untuk menjenguk Kanda karena kami mendengar bahwa Kanda baru
saja diserbu orang-orang yang hendak membunuh. Kami bersyukur sekali mendengar bahwa Kanda
Pangeran terlepas dari bahaya maut.”
“Benar, Adinda Pangeran. Semua ini adalah jasanya Tao Keng Han dan nona Souw Cu In yang
membongkar rencana pemberontakan dan pembunuhan itu. Karena kami telah mengetahui lebih dulu,
maka kami sekeluarga dibantu Paman Lu dan muridnya Han Li yang telah bersiap-siap. Juga penjagaan
oleh pasukan dilakukan dengan ketat. Dengan ayahanda Kaisar pun demikian. Bahkan sepasang pendekar
itu pun menyamar sebagai pengawal pribadi Kaisar.”
“Ahh, kami merasa gembira sekali mendengar itu, Kanda. Untuk itu, biarlah kuucapkan selamat dan
menyulangi Kanda dengan tiga cawan arak!”
Karena di situ memang sudah dipersiapkan dan disediakan arak, maka kedua orang pangeran, diikuti yang
lain minum tiga cawan arak.
“Bagaimana pun juga, kalau tidak ada bantuan nona Yo Han Li dan gurunya, tetap saja kami terancam
bahaya maut. Mereka berdua yang bisa menandingi pihak pemberontak itu.”
Cia Sun tersenyum memandang kepada Han Li. “Tentu saja. Han Li adalah puteri Si Tangan Sakti Yo Han
dan isterinya Si Bangau Merah Tan Sian Li. Apa lagi sekarang menjadi murid Kai-ong! Tentu ilmu
kepandaiannya menjadi luar biasa sekali!”
“Aihh, Paman Cia terlalu memujiku, membuat aku merasa malu saja.”
“Li-moi, ayahku hanya berkata sebenarnya, mengapa harus malu? Dan aku percaya bahwa Hong-moi
sekarang tentu telah menjadi seorang gadis yang lihai pula. Kabarnya Hong-moi menerima pelajaran dari
para ahli silat yang menjadi panglima pengawal, berganti-ganti guru sehingga tentu mempunyai banyak
macam ilmu silat!” kata Cia Kun sambil memandang adik sepupunya itu dengan sinar mata penuh kagum.
Pemuda ini sudah mendengar dari ayahnya bahwa pinangan mereka atas diri Han Li ditolak secara halus
oleh orang tua gadis itu, maka dia tidak mengharapkan lagi dan kini perhatiannya beralih kepada Kwi Hong
yang tidak kalah cantiknya dibandingkan Han Li.
“Aih, Kun-ko, engkau pandai memuji orang. Mana aku dapat dibandingkan dengan enci Han Li? Kalau
dibandingkan dengan engkau saja aku sudah kalah jauh! Selain Paman Pangeran Cia sendiri memiliki ilmu
yang tinggi, Bibi yang menjadi ibumu memiliki ilmu silat yang lebih hebat pula. Engkau tentu telah mewarisi
semua ilmunya!”
“Ahh, Ayah dan terutama ibu memang pandai, akan tetapi aku yang bodoh, tidak dapat maju-maju dalam
pelajaran ilmu silat,” bantah Cia Kun sambil memandang kepada adik sepupunya itu dengan senyum.
“Kwi Hong, kenapa engkau tidak mengajak Han Li dan Cia Kun untuk bicara di taman? Biarkan kami yang
tua-tua bicara di sini,” kata Pangeran Tao Kuang kepada puterinya.
“Ah, taman bunga sedang indah karena bunga-bunga sedang mekar, di mana hawanya sejuk sekali.
Marilah, enci Han Li dan kanda Cia Kun, kita bermain-main dan bicara di sana!”
Karena ajakan nona rumah ini, Han Li dan Cia Kun tidak dapat menolak dan pergilah tiga orang muda itu
ke taman bunga.
Setelah tiga orang muda itu pergi, bertanyalah Cia Sun kepada Pangeran Tao Kuang, “Kanda Pangeran,
sebetulnya apakah yang sudah terjadi? Siapakah yang mendalangi pemberontakan itu?”
Pangeran Tao Kuang menghela napas panjang. “Sungguh memalukan bila dipikir. Yang menjadi
dalangnya adalah Tao Seng dan Tao San.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bukankah mereka telah dihukum buang ketika hendak membunuhmu dahulu itu, Kanda Pangeran?” tanya
Cia Sun.
“Benar, akan tetapi hukuman mereka telah habis. Mereka lalu kembali ke kota raja dan menyamar sebagai
orang-orang hartawan. Kita mengetahui akan hal itu, akan tetapi mendiamkan saja. Bagaimana pun juga
mereka adalah saudara-saudara kita dan pada kenyataannya hukuman bagi mereka sudah habis. Akan
tetapi sungguh tidak disangka sama sekali, diam-diam mereka menghimpun kekuatan, mempergunakan
datuk-datuk dan tokoh-tokoh sesat untuk membunuh ayahanda Kaisar dan aku sendiri. Dan engkau tahu
siapa yang membongkar rahasia mereka?”
“Kakanda tadi sudah memberi tahukan bahwa yang membongkar rahasia itu adalah seorang bernama Tao
Keng Han dan nona Souw Cu In.”
“Benar dan tahukah engkau siapa Tao Keng Han itu? Dia adalah keponakan kita sendiri, yaitu putera dari
kakanda Tao Seng.”
Pangeran Mahkota Tao Kuang lalu menceritakan betapa Keng Han hendak membunuh dia karena pemuda
itu dihasut oleh ayahnya sendiri yang menyamar sebagai Hartawan Ji. Akan tetapi akhirnya pemuda itu
dapat disadarkan akan kekeliruannya dan bahwa dia terkena hasutan.
Cia Sun mendengarkan dengan perasaan heran bercampur kagum. “Jadi pemuda itu memusuhi ayahnya
sendiri dan membongkar rahasia pemberontakannya kepadamu?”
“Benar. Akan tetapi bukan berarti bahwa dia membenci ayah kandungnya. Dia berbuat demikian sebab
melihat bahwa perbuatan ayahnya itu tidak benar. Sekarang dia hendak mencari ayahnya untuk dibujuk
pulang ke Khitan. Ibunya adalah puteri kepala suku Khitan.”
Pangeran Cia Sun mengangguk-anggukkan kepalanya. “Benar hebat pemuda itu. Dia tentu seorang
pendekar yang besar!”
“Dia memang berjiwa pendekar dan menurut keponakanmu Kwi Hong, ilmu silatnya hebat sekali sehingga
dia mampu mengalahkan para datuk sesat. Karena itu maka aku minta agar dia dan nona Souw Cu In yang
juga lihai sekali untuk melindungi Kaisar dan tarnyata mereka berhasil merobohkan banyak penjahat yang
menyamar sebagai prajurit pengawal, akan tetapi sayang, para datuk yang memimpin penyerbuan itu
dapat kabur. Rencana pemberontakan itu keji sekali. Mereka hendak membunuh ayahanda Kaisar dan
aku, dan mereka mempersiapkan pasukan di luar dan di dalam kota raja, berhasil pula mempengaruhi
seorang panglima. Tujuan mereka, kalau Kaisar dan aku sudah tewas, istana akan dikuasainya dan
dengan dalih singgasana kosong dan dia yang berhak duduk sebagai kakakku yang tertua, Pangeran Tao
Seng akan mengangkat diri sendiri menjadi kaisar.”
“Keterlaluan sekali kanda Tao Seng itu. Dan sekarang, apakah dia sudah tertangkap kembali?”
“Belum. Begitu gerakan mereka gagal, dia sudah menghilang entah ke mana. Kini para penyelidik sedang
mencarinya dan kalau tertangkap, sekali ini tentu dia akan dijatuhi hukuman mati.”
“Aku dapat menduga siapa datuk-datuk sesat yang dipergunakan para pemberontak itu. Mereka tentu
termasuk Swat-hai Lo-kwi, Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin. Mereka adalah datuk-datuk yang
tersesat, mau melakukan apa saja asalkan pahalanya besar,” kata Kai-ong Lu Tong Ki yang sejak tadi
diam saja.
“Hemmm, tiga nama datuk itu sudah terkenal sekali. Kalau hanya menerima upah harta saja tentu mereka
tidak mau membantu pemberontakan,” kata isteri Pangeran Cia Sun yang bernama Sim Hui Eng. Wanita
ini sudah kenyang dengan pengalaman di dunia kang-ouw, maka ia mengenal pula ketiga orang datuk
yang disebutkan tadi. “Kurasa mereka itu mendapatkan janji akan diberi kedudukan tinggi kalau Pangeran
Tao Seng berhasil menjadi Kaisar.”
Pangeran Mahkota Tao Kuang mengangguk-angguk. “Dugaan itu memang tepat sekali. Tidak dapat
disangsikan lagi, mereka tentu diberi janji yang muluk-muluk.”
“Akan tetapi masih ada satu hal lagi yang sangat mengherankan hatiku, Kanda Tao Kuang.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Apa yang kau herankan?”
“Hadirnya Yo Han Li di tempat ini. Kalau Locianpwe Kai-ong tidak aneh berada di sini sebagai tamu karena
aku tahu bahwa Kanda Pangeran suka menghargai orang pandai. Akan tetapi Han Li, dia masih terhitung
keponakanku sendiri karena ayahnya adalah kakak angkatku. Akan tetapi walau pun demikian, ayahnya itu
juga ketua Thian-li-pang yang jelas-jelas merupakan perkumpulan para pejuang yang sewaktu-waktu juga
dapat memberontak. Bukankah tersiar berita bahwa para penyerang yang hendak membunuh kaisar itu
mengaku orang Thian-li-pang?”
Pangeran Tao Kuang tersenyum. “Berita itu bohong dan yang membongkar rahasianya adalah nona Yo
Han Li. Ia tidak mengenal satu pun orang-orang itu sebagai anggota Thian-li-pang, bahkan kemudian
diketahui bahwa para penyerang itu adalah orang dari Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai. Tadinya aku pun
sangat curiga kepada nona Yo, akan tetapi selama ia di sini ia memperlihatkan sikap yang baik sekali,
bahkan cocok dengan Kwi Hong. Oleh sebab itu, aku sepenuhnya menanggung bahwa nona Yo tidak
berpihak kepada pemberontakan, bahkan ia pun ikut turun tangan melawan ketika gerombolan penjahat itu
menyerbu ke istana ini.”
Pangeran Cia Sun mengangguk-angguk, dan Liang Siok Cu, selir Pangeran Tao Kuang yang mendampingi
mereka bercakap-cakap, menambahkan, “Menurut penglihatanku, nona Yo sama sekali tidak jahat. Bahkan
ia baik sekali, sopan dan ramah. Dengan terus terang dia pernah mengatakan kepada aku dan Kwi Hong,
bahwa ayahnya memang pemimpin Thian-li-pang dan berjiwa patriot, tetapi sama sekali tidak membenci
keluarga Kaisar. Yang dibencinya adalah penjajahan, dan kini mereka hanya bergerak melindungi rakyat
dari penindasan pejabat-pejabat yang menyeleweng atau gangguan gerombolan perampok. Itulah
sebabnya mengapa ia mau tinggal di sini menjadi tamu kami, bahkan telah ikut membantu menyelamatkan
kami dari serbuan para pembunuh.”
Kembali Cia Sun mengangguk-angguk. “Aku sudah mengenal baik siapa itu Yo Han. Pendekar Tangan
Sakti itu memang seorang pendekar tulen yang budiman. Dia hampir tak pernah membunuh orang. Orangorang
jahat hanya dia kalahkan dan dia taklukkan, kemudian diampuni asalkan mau mengubah jalan hidup
mereka yang menyeleweng.”
Sementara itu, di taman bunga juga terjadi percakapan yang menarik hati.
“Taman begini indah, hawa pun begini sejuk, sungguh tepat sekali untuk menulis sajak, meniup suling dan
menabuh yangkim. Akan tetapi, karena kita belum mempersiapkan peralatannya, bagaimana kalau kita isi
dengan mempertunjukkan ilmu silat kita masing-masing?” kata Kwi Hong dengan gembira.
“Bagus!” Cia Kun memuji. “Engkau yang mengusulkan, sebaiknya engkau yang terlebih dulu mulai, Hongmoi!”
“Tidak, sebaiknya kalau enci Han Li yang mulai, mengingat bahwa ilmu silatnya yang paling tinggi di antara
kita. Marilah, enci Han Li, bermainlah silat agar membuka mata kami yang bodoh!” kata pula Kwi Hong
sambil menarik-narik tangan Han Li.
Han Li tersenyum. “Sudah lajim di mana-mana bahwa pria harus mengalah kepada wanita. Karena kita
berdua wanita dan yang pria hanya Kun-ko, maka sepantasnyalah kalau dia mangalah dan bermain silat
lebih dulu.”
Kwi Hong bertepuk tangan dan bersorak. “Setuju sekali. Nah, Kun-ko, kalau engkau menolak berarti
engkau seorang laki-laki yang tidak bijaksana, tidak mau mengalah terhadap wanita!”
Menghadapi serangan Kwi Hong ini, Cia Kun menyeringai dan tidak mampu membantah lagi. “Baiklah aku
akan mengalah. Aku mainkan ilmu pedang yang kupelajari dari ibuku.”
Kwi Hong bertepuk tangan. “Wah, tentu hebat sekali!”
Cia Kun lalu mengeluarkan sebatang pedang dari punggungnya dan mencabut sebuah kipas putih dari
pinggangnya, kemudian dia berkata sambil tersenyum. “Ibuku biasanya memainkan pedang di tangan
kanan dan sebuah kebutan di tangan kiri. Oleh karena aku tidak memainkan kebutan seperti seorang
pendeta, ibu lalu mengganti kebutan itu dengan kipas. Nah, aku mulai, akan tetapi harap jangan
ditertawakan!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Cia Kun lalu melompat ke bagian yang luas dekat kolam ikan dan mulailah dia bermain pedang dan kipas.
Gerakannya cepat dan indah sekali, seperti orang menari-nari dan terdengar suara berdesing dari
pedangnya. Kipasnya melakukan totokan-totokan yang cepat dan kuat, kadang dikembangkan untuk
menangkis serangan lawan.
Pemuda itu memainkan ilmu pedangnya yang sebanyak tiga puluh enam jurus itu, lalu berhenti. Lehernya
sedikit berkeringat namun pernapasannya biasa saja, tanda bahwa dia sudah menguasai ilmu itu dengan
baik dan dapat mengatur pernapasannya ketika berlatih tadi.
Kwi Hong bertepuk tangan, diikuti oleh Han Li. Dan Han Li berkata, “Sungguh kiam-hoat (ilmu pedang)
yang bagus!”
“Aihh, Li-moi, jangan memuji di mulut akan tetapi menertawakan di hati!” kata Cia Sun sambil menyimpan
kembali pedang dan kipasnya.
“Siapa menertawakan, Kun-ko?” Tiga tahun yang lalu, ketika engkau dan orang tuamu datang berkunjung
engkau juga memperlihatkan ilmu silatmu, akan tetapi sungguh jauh bedanya dengan yang kau mainkan
tadi. Dalam waktu tiga tahun saja ilmu silatmu telah maju pesat sekali.”
“Terima kasih atas pujianmu, Li-moi.”
“Haiii, kalian ini agaknya sudah lama berkenalan,” kata Kwi Hong sambil memandang wajah kakak
misannya.
“Tentu saja!” jawab Cia Kun sambil tersenyum. “Bahkan Han Li ini boleh dibilang adikku sendiri. Ayahku
dan ayahnya adalah saudara angkat!”
“Ah, pantas saja kalian demikian akrab. Nah, enci Han Li, sekarang tiba giliranmu untuk menunjukkan
kepandaianmu!” kata Kwi Hong dengan gembira. Tadi ia merasa bangga dan kagum sekali melihat ilmu
pedang yang dimainkan oleh kakak misannya.
“Ihh, apakah engkau tidak mengenal lagi sopan santun, adik Kwi Hong. Engkau adalah nona rumah dan
aku hanya tamu, maka sudah selayaknya kalau nona rumah memberi contoh lebih dulu, baru aku sebagai
tamu mengikutinya!”
“Wah, kiranya yang lihai bukan hanya ilmu silatmu, enci. Han Li. Engkau lihai sekali berdebat dan bicara.
Baiklah, sebagai nona rumah aku harus mengalah. Akan tetapi berjanjilah bahwa kalian berdua tidak
mentertawakan ilmu pedangku.“
“Mana mungkin kami menertawakanmu? Kami percaya bahwa ilmu pedangmu tentu hebat sekali. Hayolah,
adik Hong, perlihatkan kehebatan pedangmu!”
“Hong-moi, aku tadi sudah mengalah bermain pedang lebih dulu, maka kini engkau tidak dapat menolak
lagi,” Cia Kun juga membujuk.
“Baiklah, boleh lihat baik-baik ilmu pedangku yang jelek dan dangkal.”
Kwi Hong lalu meloncat ke tempat dekat kolam tadi sambil mencabut pedangnya. Cepat sekali gerakan
mencabut pedang itu sehingga seperti bermain sulap saja, tahu-tahu pedang sudah berada di tangan
kanannya. Ia memberi hormat dengan kedua tangan di dada terhadap dua orang penontonnya dan
mulailah ia bermain silat pedang Ngo-heng Sin-kiam (Pedang Sakti Lima Unsur), yaitu ilmu silat yang
secara kebetulan dia temukan bukunya di perpustakaan istana kaisar.
Dan kedua orang penontonnya tertegun. Hebat memang ilmu pedang itu, mengandung tenaga keras tetapi
kadang lembut, kadang cepat dan kadang lambat. Dan Kwi Hong memainkannya dengan gerakan yang
indah sekali.
Kini Yo Han Li yang merasa kagum. Belum pernah ia menyaksikan ilmu pedang seperti itu. Akan tetapi,
kalau dibandingkan dengan ilmu pedang yang dimainkan Cia Kun tadi, jelas bahwa ilmu pedang yang
dimainkan Kwi Hong ini lebih lihai. Juga Cia Kun kagum bukan main. Ilmu pedang itu tidak pernah
dilihatnya, namun gerakannya demikian kuat dan cepat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah Kwi Hong menghentikan permainan pedangnya, Cia Kun dan Han Li langsung menyambutnya
dengan tepuk tangan.
“Kiam-hoat itu sungguh hebat sekali!” kata Han Li.
“Wah, Hong-moi, kalau aku tahu bahwa ilmu pedangmu demikian hebat, aku tadi tidak akan berani
memperlihatkan kebodohanku. Aku mengaku kalah!” kata Cia Kun sambil menghampiri adik misannya itu.
“Kalian berdua terlalu memujiku!” berkata Kwi Hong sambil menyapu dahi dan lehernya yang berkeringat
itu dengan sapu tangan. “Sekarang aku minta enci Han Li yang memperlihatkan kepandaiannya.”
“Karena kalian tadi bermain pedang, biarlah aku pun menggunakan pedang,” kata Han Li sambil mencabut
pedangnya. Pedang itu tipis dan tidak begitu panjang.
Setelah memberi hormat kepada dua orang penontonnya, Han Li mulai menggerakkan pedangnya. Mulamula
gerakannya lambat saja, akan tetapi makin lama semakin cepat sehingga tubuhnya lenyap tergulung
sinar pedang. Pedang itu mengeluarkan angin dan kadang sinarnya membubung ke atas, lalu mencuat ke
kanan kiri. Kalau sinar pedang itu mencuat ke atas, maka jatuhlah daun-daun pohon berhamburan!
Sungguh ilmu silat yang luar biasa, baru sinar pedangnya saja mampu membuat daun-daun itu berjatuhan!
Cia Kun dan Kwi Hong menjadi bengong menyaksikan ilmu pedang yang dimainkan Han Li. Mereka tidak
tahu bahwa itu adalah ilmu pedang Koai-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Siluman), sebuah ilmu pedang
dari keluarga Lembah Naga. Mata mereka menjadi silau dan seolah mereka menahan napas saking
kagumnya.
Baru setelah gulungan sinar itu lenyap dan nampak Han Li berdiri di situ dengan pedang bersembunyi di
lengan kanarnya, mereka bertepuk tangan. Han Li menyimpan pedang dan menghampiri mereka dengan
senyum simpul.
“Hebat! Hebat sekali ilmu pedangmu tadi, enci Han Li!” seru Kwi Hong.
“Memang hebat, akan tetapi ilmu pedangmu juga tidak kalah hebatnya, Hong-moi,” kata Cia Kun.
“Ahh, engkau bisa saja memuji orang, Kun-ko!”
“Aku tidak asal memuji. Memang ilmu pedangmu tadi bagus sekali. Tanyakan kepada nona Yo kalau tidak
percaya!”
Yo Han Li mengangguk. “Memang hebat ilmu pedangmu tadi. Aku tidak pernah melihat ilmu pedang seperti
itu. Apa namanya ilmu pedangmu itu, adik Kwi Hong?”
“Ilmu pedang itu kudapatkan secara kebetulan sekali. Pada saat aku mencari-cari buku bacaan di kamar
perpustakaan istana, aku menemukan sebuah kitab lama yang sukar dibaca. Aku lalu minta tolong kepada
para sastrawan di istana dan akhirnya mengetahui bahwa isinya adalah ilmu pedang yang namanya Ngoheng
Kiam-sut. Nah, aku pun lalu mempelajarinya.”
“Hebat sekali. Ilmu itu tentu peninggalan orang sakti dan engkau beruntung sekali dapat menemukannya,
adik Kwi Hong.”
“Jangan terlalu memujiku, enci Han Li. Ilmu pedangmu tadilah yang sangat hebat. Apa sih namanya?”
“Itu adalah Koai-liong Kiam-sut yang kupelajari dari ibuku.”
“Dari kitab kuno dapat mempelajari ilmu pedang yang demikian kuat dan indah? Engkau sungguh seorang
gadis yang cerdik dan tekun, Hong-moi. Aku sungguh merasa kagum sekali!” tiba-tiba Cia Kun berkata
sambil memandang wajah gadis itu. Wajah Kwi Hong menjadi kemerahan.
“Ahh, Kun-ko. Sudahlah, jangan memuji-muji aku terlalu tinggi. Jangan-jangan kepala ini nanti membesar
dan meledak karena bangga!” kata Kwi-Hong sambil tersenyum.
Cia Kun juga tertawa dan dia beradu pandang dengan Kwi Hong. Dari pandang mata ini mereka dapat
mengetahui bahwa keduanya saling tertarik. Han Li melihat gelagat ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tadinya Cia Kun menyatakan suka kepadanya, bahkan ayah dan ibunya sudah datang meminangnya.
Akan tetapi karena ayah ibunya tidak menyetujui pinangan itu, agaknya Cia Kun tidak lagi
mengharapkannya dan memindahkan perhatian kepada Kwi Hong.
Mereka memang pasangan yang sangat cocok, keduanya anak pangeran, sama-sama berdarah
bangsawan. Oleh karena itu, ia pun tidak ingin hadir terus di situ yang hanya akan merupakan gangguan
bagi mereka.
“Ahh, kepalaku agak pening rasanya. Maafkan aku, adik Kwi Hong, aku permisi dahulu untuk rebahan di
kamarku.”
“Ahhh, tentu saja, Enci Han Li. Apakah engkau sakit? Jangan-jangan masuk angin.“ Kwi Hong
mendekatinya dan meraba dahi Han Li, “Perlukah kupanggilkan tabib?”
“Ah, tidak usah, adik Kwi Hong, terima kasih. Aku hanya merasa pening dan lelah. Ingin mengaso.”
“Kalau begitu baiklah, enci Han Li, aku akan bercakap-cakap dengan Kun-ko di sini.”
Han Li lalu pergi dari situ. Setelah agak jauh dia mendengar suara Kwi Hong dan Cia Kun. Keduanya
tertawa-tawa dengan gembira.
“Semoga mereka berbahagia,” katanya dalam hati sambil memasuki gedung istana itu untuk menuju ke
kamar yang disediakan untuknya.
“Nah, kebetulan sekali, Hong-moi. Kini kita ditinggalkan berdua saja. Aku memang ingin menyampaikan
perasaan hatiku setelah bertemu denganmu. Sudah sekian lama tidak saling bertemu dan tadi begitu
melihatmu, jantungku berdebar tidak karuan. Kini engkau sudah menjadi gadis dewasa yang cantik seperti
bidadari dan juga tangguh seperti seorang pendekar wanita. Aku merasa kagum sekali, Hong-moi.”
“Wah, pujianmu terlalu muluk, Kun-ko. Aku hanya seorang gadis biasa, mana mungkin disamakan dengan
bidadari?” Kwi Hong lalu tertawa dan Cia Kun juga tertawa. Inilah yang didengarnya oleh Han Li sebelum ia
masuk ke dalam istana.
“Sungguh, Hong-moi. Aku tidak main-main. Di dalam istana ayahku ada sebuah patung Dewi Kwan Im, dan
kulihat engkau mirip patung itu, lebih elok malah.”
“Aku kau samakan dengan Kwan Im Pousat? Ngaco! Engkau terlalu memujiku, padahal engkau sendiri
seorang pemuda yang gagah dan tampan sekali. Tentu banyak gadis puteri istana yang tergila-gila
padamu.”
“Entahlah, aku tidak memperhatikan mereka. Tidak ada seorang pun puteri istana yang dapat menyamai
engkau, Hong-moi. Karena itulah, aku akan mohon kepada ayah ibuku untuk meminangmu sebagai calon
isteriku.”
“Ihh! Jangan bicara soal perjodohan, Kun-ko.” Kwi Hong membalikkan diri dan mukanya menjadi merah
sekali. Cia Kun mengitarinya dan menghadapinya.
“Engkau marah, Hong-moi? Maafkan kelancanganku kalau begitu. Akan tetapi sebelum ayah bundaku
melamarmu, aku ingin lebih dahulu mengetahui darimu, apakah hatimu sudah ada yang punya? Kalau
engkau tidak setuju, katakan saja sekarang agar orang tuaku tidak usah melamar kalau kemudian kau
akan menolaknya. Maka itu, katakanlah, bagaimana kalau ayah bundaku melamarmu?”
Kwi Hong merasa terharu sekali. Ia memang pernah jatuh cinta pada seorang pemuda, dan pemuda itu
adalah Keng Han. Akan tetapi ternyata bahwa Keng Han adalah kakak sepupunya, satu marga sehingga
tidak mungkin sekali mereka menjadi suami isteri.
Sekarang Cia Kun menyatakan cintanya. Ditanya seperti itu, tentu saja sukar baginya untuk menjawab. Di
dalam hatinya, ia pun kagum dan suka kepada Cia Kun. Seorang pemuda bangsawan, putera pangeran
yang terkenal berbudi, seorang pemuda yang juga tidak lemah, karena ibunya seorang pendekar wanita
yang berilmu tinggi. Mau apa lagi?
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hong-moi, jawablah. Jangan biarkan aku dalam keraguan yang akan menyiksa hatiku. Aku tidak akan
merasa sakit hati andai kata engkau menolakku. Aku hanya ingin adanya kepastian dan jawablah selagi
kita hanya berdua di sini.”
“Ahhh, Kun-ko... urusan begituan... kuserahkan saja kepada ayah dan ibuku. Mari kita kembali kepada
mereka.“
Dan tanpa menanti jawaban Kwi Hong lalu berlari masuk, disusul oleh Cia Kun. Pemuda ini merasa
gembira bukan main. Dia tahu bahwa kalau seorang gadis setuju dipinang, ia pasti akan mengatakan
seperti yang dikatakan gadis itu, yaitu menyerahkan kepada orang tuanya. Kalau tidak setuju, pasti terus
terang dikatakan tidak setuju!
Ketika Cia Kun dan Sim Hui Eng melihat putera mereka kembali dari taman bersama Kwi Hong dan wajah
pemuda itu berseri serta matanya bersinar-sinar, mereka sudah dapat menduga. Apa lagi saat melihat Kwi
Hong malu-malu duduk sambil menundukkan mukanya!
Mereka berpamit dan diantar oleh Pangeran Tao Kuang dan selirnya sampai ke pintu depan. Dengan hati
gembira dan tidak sabar lagi, Cia Kun lalu menceritakan kepada ayah bundanya bahwa dia telah
menyatakan cintanya kepada Kwi Hong dan agaknya gadis itu tidak berkeberatan. Maka dia minta kepada
ayah ibunya untuk meminang gadis itu.
Cia Sun dan isterinya gembira mendengar berita ini karena mereka tentu setuju sekali kalau mempunyai
menantu puteri Pangeran Mahkota. Mereka berjanji akan melakukan pinangan secepat mungkin…..
********************
Bi-kiam Niocu Siok Bi Kiok melakukan perjalanan seorang diri. Berulang kali ia menarik napas panjang
karena hatinya murung dan kecewa sekali. Sampai usianya yang dua puluh dua tahun, dia belum pernah
merasa jatuh cinta terhadap seorang pria. Apa lagi akibat penekanan dari subo-nya bahwa semua pria
adalah jahat dan palsu, dia bahkan membenci kaum pria.
Dan karena ia seorang gadis yang berwajah cantik, maka tentu saja dalam perjalanan ia banyak digoda
pria yang mengakibatkan pria-pria itu tewas terbunuh olehnya. Akan tetapi sejak ia bertemu Keng Han,
entah bagaimana ia benar-benar jatuh cinta kepada pemuda itu.
Ilmu kepandaian dan watak serta ketampanan wajah pemuda itu membuatnya tergila-gila. Bahkan saking
cintanya, ia lalu menjadikan pemuda itu sebagai muridnya dan ikut membantunya menghadap Dalai Lama.
Akhirnya ia pun minta pemuda itu agar suka menjadi suaminya, walau pun maksud ini bertentangan
dengan ajaran subo-nya. Ia berani menentang maut demi cintanya kepada pemuda itu. Akan tetapi
pemuda itu menolaknya.
Sakit sekali rasa hatinya. Ingin dia membunuh pemuda itu, akan tetapi kembali hatinya kecewa karena
ternyata dia tidak mampu mengalahkan Keng Han, bahkan sebagian rambutnya putus di tangan pemuda
itu. Rasa sakit hatinya bertambah.
Apa lagi ketika Keng Han mengakui bahwa dia mencintai Cu In yang berwajah cacat dan buruk! Dari pada
memilih dirinya yang cantik jelita, pemuda itu malah memilih gadis yang cacat wajahnya! Hal ini amat
menyakitkan dan mengecewakan hatinya dan kini ia pergi ke Bu-tong-pai untuk menghibur diri dan melihat
apa yang terjadi di sana.
Pada suatu hari tibalah ia di kota Hue-nam. Kota ini cukup besar dan Niocu memasuki pintu gerbang kota
itu. Karena hari telah senja, ia hendak melewatkan malam di kota itu. Mulailah dia mencari rumah makan
yang juga merupakan penginapan. Setelah melihat rumah penginapan yang dari papan namanya diketahui
bernama Losmen Hok-lai, ia lalu masuk ke rumah makan di depan penginapan itu.
Masuknya seorang wanita seperti Niocu, yang cantik jelita dan sendiri pula, tentu saja menarik perhatian
banyak orang, terutama para prianya. Kebetulan dalam rumah makan itu maslh terdapat meja yang kosong
dan Niocu disambut seorang pelayan serta diajak menuju ke sebuah meja kosong di sudut.
dunia-kangouw.blogspot.com
Puluhan pasang mata pria mengikutinya dan memandang dengan kagum. Akan tetapi Niocu tidak
mengacuhkan. Sudah biasa baginya melihat mata pria menantapnya penuh kagum. Asal tidak ada yang
berucap atau berbuat kurang ajar, ia tidak ambil peduli.
Akan tetapi hatinya tertarik sekali melihat seorang pemuda yang juga duduk seorang diri menghadapi meja.
Pemuda itu berusia kurang lebih tiga puluh tahun, berwajah tampan dan gagah, bertubuh tinggi besar, dan
wajahnya berbentuk bundar dengan mata yang lebar. Pemuda itu duduk menghadap ke arahnya, akan
tetapi pemuda itu bersikap tidak acuh.
Melihat ini hati Niocu menjadi penasaran. Belum pernah dara ini melihat laki-laki yang bersikap acuh tak
acuh terhadap kehadirannya. Sekali pun pemuda itu tak memandang kepadanya!
Wanita memang aneh. Diperhatikan orang tidak suka, akan tetapi tidak diacuhkan juga tidak senang dan
penasaran. Dengan sengaja Niocu menaruh pedangnya di atas meja sambil agak dibanting untuk
menimbulkan suara agar pria di depan itu memperhatikan dirinya.
Akan tetapi pria itu mengangkat muka dan hanya memandang kepada pedangnya di atas meja, sama
sekali tidak melirik kepadanya! Padahal semua pria yang berada di rumah makan itu menoleh kepadanya.
Kepada pelayan yang mengantarnya ke meja itu ia lalu memesan masakan yang mahal, juga dengan
suara tinggi agar terdengar pemuda di depannya itu. Akan tetapi kembali sang pemuda tidak
mengacuhkannya, bahkan mulai makan kacang goreng yang berada di mejanya sambil sesekali minum
araknya dari cawan.
Bila pemuda itu tidak mempedulikan Niocu, sebaliknya ada empat orang pemuda yang tidak
menyembunyikan kekaguman mereka. Empat orang pemuda ini jelas merupakan pemuda-pemuda
bangsawan atau hartawan. Pakaian mereka mewah sekali dan usia mereka rata-rata dua puluh lima tahun.
“Bukan main cantiknya nona itu! Hatiku seketika jatuh!” terdengar seorang di antara mereka berkata,
suaranya cukup lantang untuk dapat terdengar oleh Niocu.
“Kasihan ia makan seorang diri, bagaimana kalau kita undang ia makan di meja kita?” kata orang kedua.
“Bagus sekali. Meja kita cukup lebar untuk ditempati lima orang. Akan tetapi bagaimana kalau ia menolak
undangan kita dan marah?” kata yang ketiga.
“Hemmm, siapa yang tidak mengenalku, si penakluk wanita? Belum, pernah ada wanita yang menolak
undanganku. Kalian lihat saja!” berkata orang keempat, seorang pemuda yang paling pesolek di antara
mereka dan memang wajahnya tampan sekali.
Dia lalu bangkit berdiri dan menghampiri meja Niocu. Kepada gadis itu dia memberi hormat dengan
merangkap kedua tangan di depan dada. Niocu menghadapinya dengan dingin dan tenang, tidak
membalas penghormatan itu.
“Maafkan aku, Nona. Namaku Teng Sin, dan melihat Nona duduk seorang diri, kami berempat merasa
kasihan. Maka saya mengundang Nona untuk duduk makan bersama di meja kami. Kami yang akan
membayar semua pesanan Nona! Marilah, Nona, kami mengundang dengan hormat!”
Niocu mengerutkan alisnya. Meski pun pemuda itu secara tidak wajar mengundangnya makan bersama,
namun ucapannya sopan dan ia masih dapat menahan diri. Pemuda ini tidak kurang ajar, hanya
mengundang makan dengan hormat walau pun undangan itu tidak wajar karena mereka tidak saling
mengenal.
“Terima kasih. Aku ingin makan sendirian di sini, tidak ingin ditemani siapa pun juga,” jawabnya dingin.
“Aih, Nona. Mengapa Nona menolak undangan kami? Kami bermaksud baik, Nona. Aku Teng Sin selalu
memandang tinggi gadis-gadis cantik dan sangat menghargai mereka. Marilah, Nona, harap jangan malumalu.”
Kalau tadinya Niocu hanya menunduk, kini ia mengangkat muka dan matanya bersinar tajam memandang
kepada pemuda itu, mula-mula ke wajah lalu pakaiannya. Pemuda yang tampan dan pesolek, model
pemuda-pemuda yang suka mempermainkan wanita.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Sudahlah, jangan ganggu aku lagi. Cepat pergilah!” kata Niocu, masih dapat menahan kesabarannya.
“Pergi atau engkau akan menyesal nanti!”
Akan tetapi mana pemuda itu mau pergi? Dia telah berdiri di dekat Niocu dan melihat betapa cantiknya
gadis itu.
“Nona begini cantik seperti bidadari, tentu berbudi mulia seperti bidadari pula dan tidak akan menolak
maksud baik kami. Marilah, nona manis, engkau tentu akan mendapatkan kegembiraan makan semeja
dengan kami. Kami adalah pemuda-pemuda hartawan dan bahkan di antara kami ada yang menjadi putera
jaksa. Engkau akan terhormat kalau memenuhi undangan kami.” Pemuda itu tidak mau kalah dan terus
membujuk.
“Hemmm, sudah ditolak masih terus minta-minta dan merengek. Sungguh bermuka tebal dan tidak tahu
malu!”
Terdengar suara orang dan ketika semua orang menoleh, ternyata yang bicara adalah pemuda yang
makan kacang goreng itu. Niocu juga memandang dan melihat pemuda itu masih makan kacang goreng,
akan tetapi kini pandang matanya ditujukan kepada pemuda hartawan itu.
Pemuda hartawan itu menjadi marah sekali dan dengan langkah lebar dia menghampiri pemuda yang
mengeluarkan kata-kata mengejeknya tadi.
“Siapa engkau? Berani mencampuri urusanku?” Dan tiga orang pemuda lain juga sudah bangkit berdiri
siap mengeroyok pemuda bermata lebar itu.
Akan tetapi pemuda itu hanya tersenyum. Dia lalu mengambil empat biji kacang goreng, dimasukkan ke
dalam mulutnya, kemudian dengan tiba-tiba dia menyemburkan empat biji kacang itu dari mulutnya dan
empat orang pemuda itu mengaduh sambil meraba pipi mereka. Ternyata semburan kacang itu mengenai
pipi mereka dan terasa nyeri bukan main seolah pipi mereka disambar benda keras yang membuat pipi itu
lecet dan kulitnya pecah!
Empat orang pemuda itu adalah pemuda-pemuda kaya yang biasanya tidak pernah disentuh orang. Apa
lagi di antara mereka terdapat putera jaksa yang membuat mereka berani melakukan apa saja. Kini,
melihat ada orang berani menentang mereka bahkan melukai mereka, empat orang pemuda itu menjadi
semakin marah.
“Orang lancang dan kurang ajar! Engkau pantas dihukum!” kata mereka dan empat orang itu maju hendak
menghajar laki-laki itu.
Kini pria itu menenggak arak dari cawan dan kembali dia menyemburkan arak itu ke arah empat orang
yang mengancamnya. Kini empat orang itu terhuyung ke belakang, muka mereka rasanya seperti ditusuk
banyak jarum sehingga mata mereka juga sukar dibuka.
Barulah mereka menyadari bahwa pemuda itu seorang yang berilmu tinggi. Mereka menjadi ketakutan dan
tanpa dikomando, mereka serentak mundur dan melarikan diri keluar dari rumah makan itu!
Niocu menjadi kagum. Orang itu tentu lihai sekali dan ketika laki-laki itu memandang kepadanya, ia
mengangguk dan berkata, “Terima kasih atas bantuanmu.”
Pemuda itu pun mengangguk dan melanjutkan makan minum. Niocu juga makan minum seolah tidak
pernah terjadi sesuatu. Pemuda itu selesai makan dan setelah membayar harga makanan, dia keluar lebih
dulu. Tidak lama kemudian, Niocu juga selesai makan, membayar harga makanan ia lalu berkata kepada
pelayan bahwa ia hendak bermalam di rumah penginapan Hok-lai itu.
Si pelayan segera mengantar Niocu masuk ke dalam dan mendapatkan sebuah kamar di loteng. Kamar itu
menghadap ke jalan sehingga dari jendela kamarnya Niocu dapat menjenguk keluar dan melihat lalu lintas
di jalan raya yang berada di luar losmen itu.
Baru saja Niocu melepaskan buntalan pakaiannya dan bersiap hendak mandi, tiba-tiba dia mendengar
suara ribut-ribut di luar. Cepat ia menghampiri jendela dan menjenguk keluar.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dan ia melihat betapa tidak begitu jauh dari losmen itu, terdapat seorang pemuda yang dikeroyok belasan
orang. Ia segera mengenal pemuda itu sebagai pemuda yang tadi sudah membantunya. Cepat ia turun dari
loteng dan keluar.
Pemuda itu memang benar-benar tangguh. Para pengeroyoknya adalah tukang-tukang pukul yang
memegang senjata golok dan ruyung, akan tetapi pemuda itu hanya dengan kedua tangan kosong saja
melawan mereka, membagi pukulan dan tendangan.
Melihat ini, Niocu tidak sabar lagi dan segera berlari ke tempat itu dan terjun ke dalam perkelahian.
Belasan orang itu yang tadinya memang sudah kewalahan mengeroyok si pemuda, kini menjadi kalang
kabut diterjang oleh Niocu. Niocu juga tidak menggunakan pedangnya, hanya menggunakan kedua tangan
dan kaki saja, akan tetapi dalam waktu singkat ia sudah merobohkan lima orang!
Pemuda itu pun dengan cepat merobohkan beberapa orang. Para pengeroyok menjadi jeri bukan main
melihat sepak terjang dua orang yang sedang mereka keroyok. Mereka segera melarikan diri sambil
memapah teman-teman mereka yang sudah roboh.
Pemuda itu berhadapan dengan Niocu.
“Terima kasih atas bantuanmu!” katanya sambil mengangguk.
Niocu balas mengangguk dan keduanya lalu pergi karena di situ terdapat banyak orang yang menonton.
Niocu kembali ke losmen dan segera mandi serta bertukar pakaian. Akan tetapi sejak tadi dia tidak pernah
dapat melupakan pemuda yang tadi dibantunya.
Seorang pemuda yang gagah, pikirnya dan diam-diam ia merasa betapa jantungnya berdebar aneh.
Pemuda itu sama sekali tidak memperhatikannya. Bukan pemuda mata keranjang, bukan pemuda usil
yang suka menggoda wanita. Akan tetapi pemuda itu sungguh gagah dan lihai.
Pada keesokan harinya, Niocu melanjutkan perjalanan menuju ke Bu-tong-pai. Ketika ia tiba di luar kota
Hue-nam, ia melihat seorang pria berjalan di depannya, menuju arah yang sama. Meski ia hanya melihat
dari belakang, namun hatinya berdebar karena dia mengenal orang itu sebagai pemuda yang kemarin.
Dia mempercepat langkahnya mengejar dan ternyata dugaannya benar. Ia melampaui pemuda itu, purapura
tidak melihatnya karena rasanya tidak pantas kalau ia sebagai seorang wanita menegur lebih dulu.
“Perlahan dulu, Nona,” terdengar suara pemuda itu.
Niocu menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya. Kini dia berhadapan dengan pemuda itu.
“Ah, kiranya engkau!” katanya dengan wajar.
“Nona, tidak kusangka akan bertemu denganmu di sini. Kalau aku boleh bertanya, Nona hendak pergi ke
manakah?”
“Aku hendak pergi ke Bu-tong-san.”
Wajah pemuda tampan itu berseri. “Ah, sungguh suatu kebetulan yang menyenangkan. Aku pun sedang
menuju ke Bu-tong-pai, Nona!”
Niocu memandang dengan tajam seolah-olah hendak menjenguk isi hati pemuda itu. “Apakah engkau
murid Bu-tong-pai?”
“Sama sekali bukan. Akan tetapi aku mengenal baik ketua Bu-tong-pai dan aku menjadi tamu di sana.
Kalau memang engkau hendak pergi ke Bu-tong-san, apa bila Nona tidak berkeberatan, kita dapat
melakukan perjalanan bersama. ”Ucapan pemuda itu wajar saja. “Akan tetapi kalau Nona keberatan, aku
pun tidak akan memaksa atau kecewa.”
Niocu diam-diam merasa gembira sekali. Ia sudah tertarik kepada pemuda ini dan ingin mengenalnya lebih
baik. Ternyata secara kebetulan sekali bertemu di sini dan arah perjalanan mereka ternyata sama!
dunia-kangouw.blogspot.com
Tentu saja ia tidak tahu sama sekali betapa sejak pagi sekali tadi, pemuda itu dengan sembunyi sudah
mengamatinya dan tahu bahwa dia meninggalkan losmen dan pergi keluar kota. Pemuda itu selalu
membayanginya dan ketika melihat ia pergi ke jurusan itu, pemuda itu dengan jalan memutar
mendahuluinya!
“Aku hendak ke Bu-tong-pai dan mendengar bahwa di sana akan diadakan pertemuan orang-orang kangouw,
aku pergi ke sana untuk meluaskan pengalaman. Engkau tentu mengetahui tentang Bu-tong-pai,
apakah benar akan ada pertemuan besar di sana?”
“Benar sekali, Nona. Bahkan aku baru pulang setelah mengirim undangan-undangan dari Bu-tong-pai. Aku
dimintai bantuan oleh ketua Bu-tong-pai. Dan sekarang, biarlah kami mengundang juga Nona untuk
menghadiri pertemuan itu sebagai tamu agung.”
“Aihh, kebetulan sekali kalau begitu.”
“Jadi Nona tidak keberatan kalau melakukan perjalanan bersamaku ke sana?”
“Tentu saja tidak.”
“Terima kasih atas kepercayaan Nona padaku. Nona, namaku Gulam Sang. Kalau boleh aku mengetahui,
siapakah nama Nona?”
“Namaku Siang Bi Kiok, akan tetapi dunia kang-ouw lebih mengenalku sebagai Bi-kiam Niocu.”
“Ahhh! Jadi Nona yang disebut Bi-kiam Niocu? Sudah lama sekali aku mendengar dan mengagumi Bi-kiam
Niocu yang kabarnya pandai sekali menggunakan pedang. Kiranya Nonalah orang itu dan sekarang
bahkan aku mendapat kehormatan untuk melakukan perjalanan bersama.”
Melihat kegembiraan pemuda itu Niocu merasa senang. Semua itu begitu wajar dan pemuda ini tidak
bermuka-muka.
“Melihat namamu tentu engkau seorang asing. Boleh aku mengetahui dari mana engkau berasal?”
Gulam Sang menjawab cepat. “Memang aku berasal dari Tibet, Nona. Tetapi setelah berada di sini aku
tidak merasa sebagai orang asing.”
“Mari kita lanjutkan perjalanan kita sambil bercakap-cakap, saudara Gulam Sang. Ahh, aku harus
menyebut apa padamu?“
“Sebut saja namaku tanpa embel-embel, dan aku akan menyebut Niocu kepadamu,” kata Gulam Sang
merendah.
“Baiklah, Gulam Sang. Aku melihat betapa hebat kepandaianmu ketika menghadapi empat pemuda di
rumah makan dan ketika tadi dikeroyok banyak tukang pukul. Engkau dari perguruan manakah? Dan
siapakah gurumu?”
“Guruku hanya satu, yaitu Sang Dalai Lama di Tibet.”
“Aihh, tidak mengherankan kalau begitu. Dalai Lama adalah seorang yang sakti. Aku pernah menghadap
dia dan menyaksikan kehebatan ilmunya. Mengapa waktu aku ke sana engkau tidak berada di sana,
Gulam Sang?”
“Aku sudah lama sekali meninggalkan Tibet. Sudah lebih dari lima tahun. Tentu aku sudah pergi dari sana
ketika engkau menghadap guruku. Akan tetapi, mengapa engkau pergi menghadap guruku, Niocu? Ada
keperluan apakah engkau dengan guruku?”
“Ahh, aku sendiri tidak memiliki urusan apa pun dengannya. Akan tetapi aku mengantar seorang kawan
bernama Si Keng Han yang mendendam kepada Dalai Lama karena Dalai Lama menyuruh para Lama
untuk membunuh gurunya yang namanya Gosang Lama.”
Berdebar jantung dalam dada Gulam Sang. Tentu saja dia telah mengetahui semuanya. Gosang Lama itu
adalah ayah kandungnya sendiri yang dihukum mati oleh Dalai Lama karena telah memberontak. Dan dia
dunia-kangouw.blogspot.com
pun pernah bertemu dengan Keng Han beberapa kali, bahkan pernah bertanding pula melawan pemuda itu
yang dia tahu amat lihai. Dan Niocu ini agaknya bersahabat baik dengan Keng Han!
Pada saat itu dia membutuhkan pembantu yang pandai dan begitu bertemu dengan Niocu hatinya tertarik,
apa lagi mendengar bahwa nona ini Bi-kiam Niocu yang namanya tersohor. Timbul niat di dalam hatinya
untuk memikat gadis ini supaya suka menjadi pembantunya. Setelah menggunakan siasat, akhirnya dia
pun dapat berkenalan dengan gadis ini.
“Niocu, sebagai seorang yang mempunyai ilmu kepandaian amat tinggi seperti engkau ini, apakah engkau
tidak mempunyai cita-cita untuk masa depan?”
Niocu menoleh sambil terus berjalan. “Cita-cita? Apakah maksudmu? Aku sudah puas dengan keadaanku
yang sekarang.”
“Ahh, mana mungkin orang puas dengan keadaannya sekarang? Orang harus memiliki cita-cita untuk
memperoleh kemajuan dalam hidupnya.”
Niocu menghela napas. Cita-cita apa? Dia mengharapkan menjadi jodoh Keng Han, tapi ternyata gagal
dan ditolak pemuda itu! Dia pun tidak kerasan tinggal di Beng-san, di bekas rumah gurunya yang kini telah
mengikuti The Ciangkun, hidup di kota raja!
“Saat ini aku belum mempunyai cita-cita, Gulam Sang. Dan bagaimana dengan engkau? Apakah engkau
memiliki cita-cita yang muluk?”
“Tentu saja! Aku bercita-cita membantu gerakan Bu-tong-pai yang sedang berusaha menggulingkan
pemerintah Mancu. Kalau gerakan itu berhasil, tentu aku memperoleh kedudukan yang tinggi sebagai
pahalaku. Alangkah senangnya kalau aku memperoleh kedudukan tinggi. Aku akan memiliki kekuasaan,
harta, juga dihormati dan dimuliakan orang! Apakah engkau tidak ingin seperti itu?”
Niocu diam saja, namun alisnya berkerut dan ia pun membayangkan, mengingat-ingat. Kemudian dia
mengangguk. “Kalau bisa demikian, tentu aku akan senang sekali. Aku pun bercita-cita seperti itu, Gulam
Sang. Akan tetapi bagaimana caranya?”
“Mudah saja, Niocu. Kalau engkau mau membantu aku, kelak tentu engkau juga akan memperoleh pahala
yang besar. Aku yang menanggung itu. Kita bekerja sama dengan Bu-tong-pai serta dengan perkumpulanperkumpulan
lain, mengadakan pemberontakan dan menggulingkan pemerintah Mancu. Nah, mudah saja,
bukan? Aku sendiri ingin sekali bekerja sama denganmu. Kawan-kawan lain tentu akan bergembira
mendengar bahwa Bi-kiam Niocu mau bekerja sama dengan kami!”
Hati Bi-kiam Niocu semakin tertarik. Dara ini tidak tahu betapa diam-diam Gulam Sang sejak tadi sudah
mengerahkan ilmu sihirnya sehingga dalam penglihatan Niocu, Gulam Sang kelihatan sebagai orang yang
amat baik hati dan wajahnya amat menarik hatinya.
Mereka melanjutkan perjalanan. Gulam Sang cukup cerdik sehingga dia bersikap sopan sekali terhadap
Niocu. Bahkan pada suatu malam yang dingin, ketika mereka terpaksa melewatkan malam di hutan, ketika
melihat Niocu seperti orang yang sudah pulas, padahal dia tahu betul wanita itu belum tidur nyenyak, dia
melepaskan jubahnya dan dipergunakan untuk menyelimuti Niocu!
Niocu tahu akan hal itu, dan dia diam saja karena cara Gulam Sang menyelimutinya dilakukan dengan
sopan, sedikit pun tangan pemuda itu tidak menyentuh kulit tubuhnya. Gulam Sang juga berjaga semalam
suntuk untuk menjaga supaya perapian yang dibuat dari api unggun itu tidak sampai padam.
Demikian pula kalau mereka membutuhkan makanan, Gulam Sang selalu mencarikan untuk mereka.
Dalam perjalanan bersama ini, Niocu melihat bahwa Gulam Sang lebih memperhatikan dirinya dibanding
Keng Han dahulu. Tanpa kata-kata ia dapat mengerti bahwa Gulam Sang jatuh cinta kepadanya.
Hal ini mendatangkan kebanggaan di hatinya. Kini ia pun sama sekali tidak membenci pria yang jatuh hati
padanya, semenjak gurunya menyatakan bahwa semua pantangan dan larangan itu telah dihapus. Ia boleh
menikah dengan pria yang dicinta dan mencinta dirinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dan bagi Gulam Sang sendiri, Bi-kiam Niocu merupakan tenaga yang sangat penting. Selain gadis ini
cantik jelita sehingga dia akan merasa puas dan senang kalau dapat memperisterinya, juga gadis ini
memiliki ilmu yang sangat tinggi sehingga dapat menjadi pembantu yang berharga.
Berbeda dengan Liong Siok Hwa yang sekarang menjadi kekasihnya itu. Siok Hwa juga seorang gadis
manis, namun masih kalah dibandingkan dengan Niocu. Dan Siok Hwa hanya memiliki ilmu silat rendah
saja, tidak banyak gunanya untuk membantunya.
Juga tidak ada orang tahu bagaimana hubungannya dengan Siok Hwa yang kini berada di Bu-tong-pai.
Para murid Bu-tong-pai hanya menganggap bahwa Siok Hwa adalah tamu dari ketua mereka dan sahabat
dari Gulam Sang!
Saat mereka tiba di Bu-tong-pai, Gulam Sang disambut para murid dengan sikap hormat sebab orang ini
merupakan tamu kehormatan ketua mereka. Pernah Thian It Tosu, tentu saja sebagai penyamaran Gulam
Sang, memesan kepada para muridnya agar supaya memperlakukan Gulam Sang sebagai tamu terhormat
karena Gulam Sang merupakan kenalan dekat dengan Thian It Tosu!
Bi-kiam Niocu sudah mempunyai nama besar, maka orang-orang Bu-tong-pai juga telah mendengar akan
kelihaian pendekar wanita itu. Maka semua orang menghormatinya. Oleh Gulam Sang, Niocu diberi
sebuah kamar yang bersih dan lengkap.
Ketika Niocu bertanya di mana adanya Thian It Tosu, Gulam Sang menjawab bahwa Thian It Tosu kini
lebih sering kali mengurung diri di dalam ruangan bersemedhi dan tak mau diganggu. Pada waktunya dia
akan keluar sendiri dari kamar semedhi itu. Sebelum dia keluar, tak seorang pun boleh mengganggunya.
Pada keesokan harinya, benar saja Thian It Tosu keluar dari dalam kamarnya dan murid kepala memberi
laporan bahwa keadaan Bu-tong-pai baik-baik saja dan bahwa Gulam Sang telah pulang akan tetapi
karena ada urusan ke dusun di kaki bukit, pagi-pagi tadi sudah berangkat meninggalkan Bu-tong-pai!
Dari kalangan Bu-tong-pai hanya Thian Yang Cu dan Bhok Im Cu yang mengetahui bahwa Gulam Sang
tidak turun gunung, melainkan menyamar sebagai Thian It Tosu yang sekarang ada di hadapan para murid
itu. Selain dua orang itu, tidak ada orang lain yang tahu. Dua orang ini berada di bawah tekanan dan
ancaman bahwa Thian It Tosu yang asli akan dibunuh kalau mereka membocorkan rahasia.
Orang ke tiga yang mengetahuinya adalah Liong Siok Hwa yang terpaksa mau dijadikan kekasih Gulam
Sang. Ia telah ternoda, ayahnya telah tewas dan biar pun bagaimana juga, ia sudah terlanjur jatuh cinta
kepada Gulam Sang.
Akan tetapi semenjak Bi-kiam Niocu datang bersama Gulam Sang dan mendapatkan sebuah kamar yang
besar, hati Liong Siok Hwa menjadi tidak enak. Gadis itu terlalu cantik untuk tidak dicurigai. Apa lagi
melihat sikap Gulam Sang terhadap gadis itu yang begitu manis budi dan menghormat, hati Liong Siok
Hwa dipenuhi rasa cemburu yang hebat.
Dia sudah terlalu mengenal Gulam Sang sehingga ia tahu pula bahwa Gulam Sang mencinta gadis yang
baru datang itu. Dan sejak kehadiran Bi-kiam Niocu di Bu-tong-pai, Gulam Sang tidak pernah berkunjung
ke kamarnya di waktu malam seperti biasanya, seolah Gulam Sang telah lupa kepadanya.
Pada hari yang sudah ditentukan, berdatanganlah para tokoh kang-ouw di Bu-tong-pai. Sebuah panggung
didirikan dan dikelilingi kursi-kursi untuk para tamu. Thian It Tosu sendiri sebagai tuan rumah duduk di
belakang panggung, didampingi oleh Thian Yang Cu dan Bhok Im Cu yang merupakan murid-murid kepala
dari Bu-tong-pai.
Dua orang murid ini sama sekali tidak berani berkutik, apa lagi membongkar rahasia Gulam Sang karena
orang ini telah mengancam akan membunuh guru mereka yang ditahan di ruangan tahanan bawah tanah
oleh Gulam Sang dan dijaga siang malam oleh orang-orang Pek-lian-pai yang membantu Gulam Sang.
Di antara para tokoh persilatan yang berkedudukan tinggi, termasuk ketua-ketua partai dan para datuk,
hadir pula di situ Pendekar Tangan Sakti Yo Han dan puterinya, Yo Han Li. Han Li telah meninggalkan kota
raja bersama gurunya, Kai-ong Lu Tong Ki. Han Li mengatakan kepada Kai-ong bahwa sudah tiba saatnya
ia harus pulang ke Bukit Naga, pusat Thian-li-pang.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Engkau telah menguasai ilmu Tongkat Pemukul Iblis, maka tidak perlu lagi mengikuti aku. Pulanglah, Han
Li, dan selalu bersikaplah sebagai seorang pendekar wanita yang menegakkan kebenaran dan keadilan.”
“Apakah Suhu tidak ikut bersama teecu ke Bukit Naga dan bertemu dengan ayah bundaku?”
Lu Tong Ki menggoyang-goyang tangan kirinya. “Bertemu Pendekar Tangan Sakti dan pendekar wanita Si
Bangau Merah? Wah, tidak, aku malu sudah mengangkat engkau menjadi muridku.”
“Tidak apa-apa, Suhu. Aku yang menanggung kalau orang tuaku marah kepadamu.”
“Tidak, aku lebih senang merantau dan mencari makanan yang enak-enak. Selamat jalan!” kata kakek itu
yang lalu membalikkan tubuhnya meninggalkan muridnya itu.
Han Li merasa kehilangan. Sudah lama ia hidup di dekat kakek itu, menerima pelajaran Tongkat Pemukul
Iblis dan ikut pula makan enak di dapur istana Pangeran Mahkota, bahkan sampai menjadi tamu pangeran
itu selama beberapa pekan. Han Li tidak tahu betapa gurunya itu pergi dengan wajah muram dan hati yang
merasa sengsara.
Manusia memang sukar membebaskan diri dari pada ikatan-ikatan antara manusia, ikatan dengan harta
benda, dengan kedudukan, dengan kepandaian. Segala sesuatu yang menyenangkan segera melekat dan
mengikat manusia sehingga dia merasa sedih kalau harus berpisah dengan yang menyenangkan itu.
Han Li pulang dan banyak sekali yang diceritakan kepada ayah bundanya. Juga tentang orang-orang yang
hendak membunuh kaisar dan pangeran mahkota, dan orang-orang yang tertangkap hidup itu mengaku
bahwa mereka itu orang dari Thian-li-pang, padahal kenyataannya mereka adalah orang Pek-lian-pai dan
Pat-kwa-pai.
“Keparat!” Yo Han marah sekali. “Kiranya begitu permainan mereka? Mereka melakukan fitnah keji untuk
memburukkan nama Thian-li-pang. Jika pemerintah mendengar ini tentu kita akan diserbu pasukan!”
“Harap jangan khawatir, Ayah. Aku sudah menjadi saksi bahwa mereka bukan orang Thian-li-pang karena
tidak ada yang dapat mengenali aku dan ketika kurobek baju di dada mereka terdapat tanda-tanda Peklian-
kauw dan Pat-kwa-pai di dada mereka. Baik kaisar mau pun pangeran mahkota melihat sendiri
sehingga kita bebas dari tuduhan yang merupakan fitnah itu.”
Han Li kemudian bercerita betapa ia bertemu dengan Kai-ong Lu Tong Ki dan menjadi muridnya
mempelajari ilmu Tongkat Pemukul Iblis, dan betapa dengan gurunya itu ia menjadi tamu dari keluarga
Pangeran Mahkota.
“Aku melihat sendiri bahwa Pangeran Mahkota sekeluarganya adalah orang-orang yang baik dan dapat
menghargai orang-orang gagah.”
Yo Han yang marah kepada Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai, ketika mendengar bahwa Thian It Tosu dari Butong-
pai mengadakan undangan kepada orang-orang gagah, lalu berangkat dan kini dia ditemani isterinya,
Si Bangau Merah serta puterinya.
Nafsu memang menguasai manusia, tidak peduli orang itu kaya atau miskin, pintar atau bodoh. Nafsu yang
semula diikut-sertakan manusia agar manusia dapat hidup bahagia, ternyata nafsu yang tadinya hanya
menjadi peserta dan alat, sebaliknya malah menjadi majikan manusia. Dalam segala tindakannya, manusia
selalu dikendalikan nafsu. Rasa benci, marah, dendam, iri dan sebagainya adalah akibat dari batin yang
dikuasai nafsu.
Nafsu menghendaki kesenangan dan kalau kesenangan itu diganggu maka timbullah marah dan benci
yang akibatnya melahirkan duka. Sejak jaman dahulu kala sampai sekarang, orang sudah menyadari akan
hal ini. Sudah banyak usaha dilakukan manusia untuk mengendalikan nafsu. Melalui agama, bertapa,
menyiksa diri dan sebagainya.
Akan tetapi semua itu telah gagal. Kegagalan ini terbukti dari keadaan dunia di jaman dahulu sampai saat
ini. Permusuhan terjadi di mana-mana, bukan hanya permusuhan antara negara dan bangsa, bahkan
permusuhan antara bangsa sendiri, antara rekan, teman dan bahkan keluarga. Padahal mereka itu semua
beragama, semua maklum akan bekerjanya nafsu yang menyeret manusia pada perbuatan jahat dan
permusuhan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kenapa demikian? Karena pengertian mereka hanya sebatas akal pikiran saja. Padahal, nafsu daya
rendah telah menguasai hati dan akal pikiran kita. Dalam keadaan demikian maka hati akal pikiran ini
bahkan membela perbuatan-perbuatan kita yang sesat. Kalau dua orang bermusuhan, tentu hati akal
pikiran selalu membela diri sendiri sebagai pihak yang benar dan lawannya sebagai pihak yang bersalah!
Bahkan seorang pencuri pun, yang tentu tahu bahwa mencuri itu tidak baik atau jahat, dibela hati akal
pikiran yang sudah bergelimang nafsu yang lalu mengatakan bahwa manusia mencuri karena kelaparan
sehingga mereka membutuhkan uang, karena ini dan itu. Pendeknya, hati akal pikiran membela perbuatan
mencuri itu sebagai perbuatan yang tidak jahat.
Karena hati akal pikiran sudah bergelimang nafsu, maka pengertian tidak ada gunanya, tidak dapat
mengekang dan mengendalikan nafsu yang sudah menyusup ke dalam diri kita sampai ke tulang sumsum,
sampai ke pembuluh darah. Buktinya cukup banyak.
Orang-orang yang katanya berkepandaian tinggi, berilmu, para sarjana dan cerdik pandai banyak yang
melakukan tindakan menyimpang dari kebenaran. Ada yang korup, ada yang menyalah gunakan
kekuasaannya, dan sebagainya. Ini menunjukkan bahwa pengertian atau kepandaian hati akal pikiran tidak
berdaya menghadapi nafsu yang selalu ingin mencari enak, ingin mencari senang dan kepuasan lahir mau
pun batin.
Kalau sudah begitu, bagaimana agar kita dapat mengendalikan nafsu? Hanya satu yang dapat
mengendalikan nafsu, yaitu Penciptanya. Hanya kekuasaan Tuhan yang mampu menyingkirkan nafsu,
yang mampu mengembalikan nafsu ke tempatnya semula, yaitu menjadi peserta dan pembantu manusia
dalam kehidupannya, tidak menjadi majikan dari manusia. Karena itu, jalan satu-satunya bagi kita adalah
menyerah kepada Tuhan! Penyerahan yang tulus ikhlas, dengan segala kerendahan hati, dengan tawakal
dan kesabaran. Kalau kekuasaan Tuhan yang bekerja, tidak ada lagi hal yang tidak mungkin dilakukan.
Kekuasaan Tuhan yang akan membimbing kita dan menundukkan nafsu.
Yo Han, isterinya Tan Sian Li, dan puteri mereka Yo Han Li, berangkat meninggalkan rumah dan pergi
berkunjung ke Bu-tong-pai. Semua urusan perkumpulan Thian-li-pang diserahkan kepada para murid
kepala untuk bekerja seperti biasa dan menjauhkan diri dari pertikaian dan permusuhan…..
********************
“Cu-wi (Saudara sekalian) yang terhormat tentu sudah mendengar akan berita yang menyedihkan itu, yaitu
bahwa bengcu Bhe Seng Kok telah tewas terbunuh orang yang tidak kita ketahui siapa orangnya. Oleh
karena kedudukan bengcu sekarang ini sedang lowong, maka pinto (saya) memberanikan diri untuk
mengundang Cu-wi berkumpul hari ini di Bu-tong-pai agar dapat melakukan pemilihan bengcu baru!”
demikian Thian It Tosu berkata kepada para tamunya.
“Kami setuju...!” Banyak seorang orang berteriak.
Mereka yang berteriak itu adalah orang-orang kang-ouw golongan sesat yang memang sudah diatur
terlebih dahulu oleh Gulam Sang. Terutama sekali para tokoh Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai, mereka itu
tanpa kecuali segera menyambut dengan teriakan setuju.
Tiba-tiba terdengar suara yang nyaring, melebihi suara banyak orang yang menyatakan setuju. “Tunggu
dulu!”
Teriakan ini membuat semua orang yang berseru setuju berhenti berteriak dan semua orang menengok ke
arah pembicara. Ternyata yang berseru nyaring tadi adalah Yo Han dan pendekar ini melompat naik ke
atas panggung di mana Thian It Tosu berdiri.
Melihat ini, Thian It Tosu merangkap kedua tangan di depan dada dan berkata lantang, “Siancai! Kiranya
Yo-taihiap yang berseru tadi. Mengapa Taihiap berseru supaya kami menunggu dulu? Apa lagi yang harus
ditunggu?”
Yo Han menjawab, suaranya lantang sehingga dapat terdengar semua orang. “Thian It Totiang, di antara
kita telah terjalin persahabatan yang erat dan aku Yo Han mengakui bahwa Totiang adalah seorang ketua
yang bijaksana dan para murid Bu-tong-pai adalah pendekar-pendekar yang menjadi pembela kebenaran
dan keadilan. Akan tetapi akhir-akhir ini telah terjadi perubahan besar di Bu-tong-pai. Totiang tak lagi
dunia-kangouw.blogspot.com
memegang teguh kependekaran Bu-tong-pai. Seperti dulu, sekarang pun aku dapat melihat orang-orang
Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai di sini! Mereka dan seluruh orang-orang golongan sesat tidak berhak untuk
ikut melakukan pemilihan bengcu!”
“Siancai, ucapan Yo-taihiap keterlaluan. Bengcu adalah pemimpin dari dunia kang-ouw, tidak hanya milik
orang-orang seperti Yo-taihiap ini. Dunia kang-ouw milik semua orang yang gagah perkasa, ahli-ahli silat di
dunia tanpa membedakan golongan,” jawab Thian It Tosu.
“Tidak!” bentak Yo Han. “Semua locianpwe dan sahabat dari dunia kang-ouw pasti tidak menyetujui
turutnya golongan sesat dalam pemilihan ini. Terutama sekali Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai! Aku pribadi
mempunyai perhitungan dengan kedua perkumpulan sesat itu. Mereka mengirim pembunuh-pembunuh ke
kota raja untuk membunuh kaisar dan pangeran mahkota. Hal itu bukan urusan kami, akan tetapi ketika di
antara mereka ada yang tertangkap hidup, mereka mengaku sebagai anggota Thian-li-pang. Itu merupakan
fitnah yang keji dan sekarang kita kebetulan berkumpul di sini, maka aku tantang para pimpinan Pek-lianpai
dan Pat-kwa-pai untuk menyelesaikan urusan denganku melalui pertandingan!” Yo Han memang marah
sekali karena nama Thian-li-pang difitnah oleh mereka.
Sesosok tubuh melayang ke atas panggung dan seorang tosu telah berdiri di depan Yo Han sambil
tersenyum mengejek.
“Pinto Koai Tosu adalah seorang di antara pimpinan Pat-kwa-pai. Tidak kami sangkal bahwa Pat-kwa-pai
mengirim orang-orangnya untuk membunuh Pangeran Mahkota Tao Kuang. Semua pejuang yang
menghendaki berakhirnya penjajahan Mancu tentu akan setuju dengan usaha kami itu. Akan tetapi tahukah
Cu-wi, apa yang terjadi di sana? Orang-orang kita itu sudah dihadapi oleh puteri Yo-pangcu! Puteri Yopangcu
membela pangeran mahkota! Dan tahukah Cu-wi apa artinya itu? Artinya bahwa Thian-li-pang
telah menjadi antek penjajah!”
“Tutup mulutmu yang kotor!” Yo Han berteriak lantang, memandang Koai Tosu. “Puteri kami berada di sana
sebagai tamu, dan sudah wajar kalau tamu membela tuan rumah yang hendak dibunuh. Dulu sudah
kukatakan bahwa Thian-li-pang adalah perkumpulan para patriot, akan tetapi kami ingin menumbangkan
kekuasaan penjajah bukan dengan cara-cara yang curang dan keji. Justru puteri kami yang mengetahui
bahwa orang-orang yang mengaku orang Thian-li-pang itu sebetulnya adalah orang-orang Pek-lian-pai dan
Pat-kwa-pai.”
“Kami mengaku sebagai orang Thian-li-pang bukan untuk melakukan fitnah, tetapi untuk menggugah
semangat perjuangan Thian-li-pang yang kini agaknya menjadi lemah,” kata pula Koai Tosu penuh
semangat.
“Cukup! Di sini sekali lagi kukatakan bahwa Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai tidak berhak ikut pemilihan
bengcu dan aku menantang kalian untuk menyelesaikan urusan itu lewat pertandingan!” Yo Han berseru
dengan tegas.
“Siancai! Agaknya Yo-pangcu menganggap diri sendiri yang paling hebat! Akan tetapi pangcu kami tidak
hadir di sini sehingga tidak dapat memenuhi tantangan Yo-pangcu!”
Tiba-tiba Thian Yang Ji, tokoh Pek-lian-pai, juga meloncat dan berdiri di samping Koai Tosu. “Siancai,
tantangan Yo-pangcu tidak dapat kami sambut karena ketua kami juga tidak berada di sini. Kalau Yopangcu
merasa penasaran, boleh datang ke tempat kami agar ketua kami dapat menyambut!” kata Thian
Yang Ji.
Melihat dua orang tosu ini, Yo Han sudah menjadi marah sekali.
“Kalian berdua pernah mengerahkan anak buah untuk mengeroyok kami dahulu ketika kami meninggalkan
Bu-tong-pai. Kalian menggunakan banyak orang untuk mengeroyok kami. Kalau kalian memang ada
kepandaian, kalian berdua boleh mewakili ketua kalian dan sekarang kalian berdua menghadapi aku!”
“Siancai! Pada waktu itu pun sudah ternyata bahwa ketua Thian-li-pang bersekutu dan menjadi antek
penjajah. Ketika itu pun muncul pasukan penjajah membantu Yo-pangcu. Apakah Yo-pangcu akan
menyangkal hal itu?”
“Sama sekali tidak!” jawab Yo Han. “Tetapi pasukan itu bergerak untuk menyelamatkan nona Tao Kwi
Hong, puteri Pangeran Mahkota, bukan untuk membantuku!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat suasana semakin panas, Thian It Tosu maju untuk melerai. “Sudahlah, tempat ini didirikan untuk
pemilihan bengcu, sama sekali bukan untuk berkelahi. Urusan pribadi boleh diselesaikan di tempat lain,
bukan di Bu-tong-pai. Kalau Sam-wi (Kalian bertiga) masih menghargai Bu-tong-pai sebagai sahabat,
harap pertikaian ini tidak dilanjutkan di sini.”
Yo Han menyadari kebenaran ucapan Thian It Tosu, maka dia pun memberi hormat dan berkata, “Maafkan
aku, Totiang. Ucapan Totiang benar dan aku tidak akan memaksa mereka untuk bertanding di sini. Akan
tetapi aku tetap tidak setuju kalau yang dipilih itu orang dari golongan sesat!”
Ketika orang-orang membicarakan ucapan Yo Han yang mereka anggap mewakili para pendekar, di
sebelah dalam bangunan induk Bu-tong-pai terjadi hal yang menarik. Pada saat semua perhatian ditujukan
ke dalam, sesosok bayangan yang cepat seperti seekor burung walet sudah menyelinap masuk ke dalam
gedung itu tanpa diketahui seorang pun.
Bayangan ini bukan lain adalah Keng Han. Pemuda ini datang ke Bu-tong-pai bukan tertarik oleh pemilihan
bengcu, melainkan dia hendak mencari ayahnya, Pangeran Tao Seng yang disangkanya bersembunyi di
Bu-tong-pai.
Di ruangan tengah dia melihat seorang wanita muda sedang dipegangi dua orang pria yang tinggi besar.
Wanita itu meronta dan berteriak, “Aku harus membuka kedoknya! Thian It Tosu itu palsu adanya. Dia
adalah Gulam Sang!”
Akan tetapi baru saja ia mengucapkan itu, seorang di antara dua orang tinggi besar menggerakkan
tangannya, dihantamkan ke tengkuk gadis itu yang lantas terkulai lemas. Tewas seketika!
Keng Han yang bersembunyi tertegun. Dia tidak mengenal siapa adanya gadis itu, juga tidak mengetahui
persoalannya. Pula, untuk menolong gadis itu sudah tidak keburu lagi, maka dia diam saja.
Ucapan gadis itu yang membuat dia tertegun. Thian It Tosu adalah Gulam Sang yang menyamar! Jika
begitu, di mana adanya Thian It Tosu yang sesungguhnya? Dan wanita itu sudah dibunuh karena
membocorkan rahasia itu.
Dia mencari terus, tidak mempedulikan dua orang dan gadis yang dibunuh itu. Setiap kamar dijenguknya,
akan tetapi dia belum juga melihat adanya ayahnya di situ. Tiba-tiba nampak seorang murid Bu-tong-pai
berjalan, agaknya dia yang bertugas menjaga dalam bangunan itu.
Keng Han menanti sampai bayangan itu mendekat. Dia meloncat, dan menyergapnya dengan totokan
sehingga orang itu tidak mampu bergerak atau bersuara lagi.
“Cepat katakan, di mana adanya Thian It Tosu?” katanya sambil membebaskan totokan pada leher orang
itu sehingga dapat bicara.
“Suhu? Suhu jelas berada di luar, menyambut para tamu,” kata murid itu dengan heran.
“Dan di mana adanya Pangeran Tao Seng?”
“Tidak ada pangeran di sini!”
Keng Han mengingat-ingat, lalu bertanya, “Apakah di sini ada tempat tahanan rahasia?”
“Ada... ada…”
Keng Han lalu menotok lagi lehernya sehingga orang itu tidak mampu bersuara lagi, lalu melepaskan
totokan sehingga kini orang itu mampu bergerak lagi. Dapat bergerak akan tetapi tidak dapat
mengeluarkan suara.
“Hayo cepat antarkan aku ke tempat tahanan itu! Awas, kalau engkau meronta atau lari, aku akan
membunuhmu!”
Orang itu mengangguk lalu melangkah ke belakang, tangan kirinya dipegang oleh Keng Han. Dia
membawa Keng Han ke belakang bangunan dan di taman terdapat sebuah pondok.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Di sanakah tempat tahanan itu?”
Orang itu menunjukkan ke pondok, lalu ke bawah.
Terpaksa Keng Han kembali membebaskan totokannya pada leher sehingga orang itu dapat bicara lagi.
Sebetulnya dia tidak suka melakukan ini karena sekali saja orang itu berteriak, semua usahanya akan
gagal! Akan tetapi orang itu sudah menjadi begitu takut sekali sehingga dia tidak berani berteriak.
“Katakan, apakah penjara itu berada di bawah pondok itu?”
“Benar, merupakan penjara rahasia.”
“Bagaimana caranya masuk?”
“Di sana ada arca yang sesudah diputar tiga kali ke kanan, akan terbuka pintu yang menuju ke lorong
bawah tanah.”
“Kau tidak berbohong?”
“Tidak, akan tetapi kalau engkau hendak masuk ke sana, engkau akan menempuh bahaya besar. Tempat
itu di jaga ketat oleh orang-orang Pek-lian-kauw!”
“Terima kasih! Maaf, terpaksa aku membuatmu tak berdaya sampai aku berhasil keluar lagi.” Kembali jarijari
tangannya bergerak cepat dan orang itu roboh terkulai serta tidak mampu bersuara.
Keng Han menyeret tubuh orang itu, disembunyikan di belakang semak-semak, lalu dia berindap-indap
memasuki pondok. Pondok itu kosong dan setelah diperiksanya, benar saja terdapat sebuah arca singa di
atas meja. Ia menghampiri arca itu dan memutarnya ke kanan tiga kali, sambil terus waspada karena dia
khawatir itu merupakan jebakan. Akan tetapi tidak begitu, karena terdengar bunyi berderit dan di lantai
kamar itu terbuka sebuah lubang dengan tangga yang menurun ke bawah.
Keng Han lalu menuruni tangga dengan hati-hati sekali. Ternyata anak-anak tangga itu menembus sebuah
lorong yang diterangi oleh lampu-lampu dinding. Ia melangkah maju terus dengan hati-hati dan berhenti
ketika mendengar suara orang bercakap-cakap. Dia pun mengintai.
Di depan terdapat lima orang penjaga yang membawa golok di tangan. Agaknya itulah orang-orang Peklian-
kauw yang berjaga di situ. Keng Han memperhitungkan dengan teliti sebelum bergerak, kemudian
secara tiba-tiba dia meloncat ke depan dan kedua tangannya yang bergerak cepat sudah merobohkan dua
orang!
Tiga orang yang lain terkejut melihat munculnya seorang pemuda dan robohnya dua orang rekan mereka.
Tiga orang itu lalu menyerang dengan golok mereka. Akan tetapi mereka kalah cepat. Dua orang roboh
oleh kedua tangan Keng Han sedangkan yang seorang lagi roboh oleh tendangannya. Keng Han cepat
menotok lima orang itu agar jangan mampu bergerak mau pun bersuara.
Dia maju terus dan akhirnya dia melihat sebuah kamar tahanan dengan pintu besi dan jendela beruji besi.
Ketika dia memandang ke dalam, dia melihat seorang tosu tua sedang bersila dan bersemedhi. Dan tosu
itu bukan lain adalah Thian It Tosu yang asli!
“Totiang...!” Keng Han berseru lirih.
Akan tetapi suara itu cukup untuk menggugah tosu itu dari semedhinya dan dia menoleh ke kanan, ke arah
ruji jendela. Di sana dia melihat seorang pemuda yang sama sekali tidak dikenalnya.
“Siapa engkau orang muda?”
“Ssttt, Totiang, saya datang untuk membebaskan Totiang.”
Pendeta itu terkejut dan girang, lalu cepat dia meloncat dari lantai dan berdiri di balik ruji besi.
“Pintu ini terkunci kuat sekali, juga jendela ini agaknya terlalu kuat untuk dijebol,” kata kakek itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Keng Han teringat. “Akan saya cari kuncinya!”
Dia lalu menghampiri kelima orang itu dan memeriksa mereka satu demi satu. Akhirnya dia dapat
menemukan kuncinya di dalam saku salah seorang di antara mereka. Cepat dia menggunakan kunci untuk
membuka pintu besi yang tebal dan berat itu.
Melihat para penjaga menggeletak tak mampu berdaya, tahulah Thian It Tosu bahwa penolongnya seorang
pemuda yang berilmu tinggi. Padahal orang-orang Pek-lian-kauw yang berjaga di situ rata-rata merupakan
anggota pilihan yang sudah memiliki ilmu silat yang tangguh!
“Ke mana engkau hendak membawa pinto, orang muda? Apakah yang telah terjadi?”
Dengan singkat Keng Han menceritakan. “Gulam Sang telah menangkap Totiang dan menyekap dalam
penjara itu. Dan dia sendiri menyamar sebagai Totiang. Dia membawa Bu-tong-pai bersekutu dengan
orang-orang sesat seperti Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai, kemudian dia membawa Bu-tong-pai untuk
memberontak, mengirim orang-orang untuk mencoba membunuh Kaisar dan Pangeran Mahkota. Akan
tetapi usahanya gagal dan kini dia mengundang para tokoh kang-ouw untuk mencari bengcu baru karena
bengcu yang lama sudah terbunuh orang tanpa diketahui siapa yang membunuhnya. Marilah, Totiang. Kita
ke sana dan membuka rahasia penyamaran Gulam Sang.”
Tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu Bi-kiam Niocu telah berada di depan mereka.
“Niocu, kau... di sini?” Keng Han benar-benar terkejut melihat wanita itu.
“Dan engkau pun mau apa berada di sini? Aku di sini sebagai tamunya Thian It Tosu, bukankah demikian,
Totiang?”
“Siancai! Pinto tidak pernah bertemu denganmu, Nona.”
“Apa? Baru kemarin dulu Totiang menerimaku sebagai tamu dan sahabat Gulam Sang. Bagaimana baru
dua hari Totiang sudah lupa lagi padaku?”
“Niocu, engkau telah ditipu orang! Ketahuilah bahwa aku baru saja membebaskan Thian It Tosu dari
penjara bawah tanah.”
“Tapi...tapi Thian It Tosu kemarin dulu benar-benar menerimaku. Aku tidak berbohong, Keng Han.”
“Engkau memang tidak berbohong, melainkan telah dibohongi orang. Thian It Tosu yang kemarin dulu
menerimamu itu bukan lain adalah Gulam Sang yang menyamar. Gulam Sang sudah menguasai Bu-tongpai
dengan menyamar sebagai Thian It Tosu dan dia menahan Totiang ini di bawah tanah.”
“Ihhh... rasanya tidak mungkin. Gulam Sang adalah seorang yang baik budi dan gagah perkasa.”
“Hemmm, agaknya engkau sudah melupakan sama sekali nasehat gurumu. Di dunia ini memang terdapat
banyak pria yang jahat dan Gulam Sang merupakan seorang yang paling jahat di antara mereka.”
“Benarkah begitu, dapatkah aku percaya padamu, Keng Han?”
“Buktikan saja sendiri. Kami mau keluar untuk membongkar rahasia ini. Mari kau lihat dan dengar sendiri!”
Pada saat itu, Thian It Tosu penyamaran Gulam Sang sedang berdiri di atas panggung dan berkata
dengan suara lantang. “Saudara sekalian, bengcu telah dibunuh orang. Untuk menjaga kesatuan dan
ketertiban, kita harus memilih seorang bengcu baru. Kalau sudah mendapatkan bengcu yang baru, tentu
kita dapat memulai dengan perjuangan kita.”
“Tahan dulu...!”
Terdengar teriakan sangat nyaring dan sesosok bayangan melompat ke atas panggung. Ternyata dia
adalah Keng Han. Melihat pemuda ini Gulam Sang merasa terkejut sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Orang muda, telah kami katakan padamu, bahwa gurumu Gosang Lama itu seorang penjahat dan kami
dari Bu-tong-pai terkenal sebagai para pendekar! Engkau muncul lagi mempunyai keperluan apakah?”
Keng Han tidak menjawab, melainkan berpaling kepada semua orang yang hadir.
“Cu-wi, apakah Cu-wi (Saudara sekalian) mengenal orang ini?” Dia menuding ke arah Thian It Tosu yang
palsu.
Banyak orang tertawa menanggapi pertanyaan yang mereka anggap aneh itu.
“Heiii, orang muda! Siapa yang tidak mengenalnya? Beliau adalah Thian It Tosu ketua Bu-tong-pai. Siapa
pun yang berada di sini tentu tahu akan hal itu. Mengapa engkau menanyakannya?”
“Ketahuilah, Cu-wi yang mulia. Orang ini bukan Thian It Tosu. Dia adalah Thian It Tosu palsu!”
“Orang muda, enak saja engkau bicara! Pinto adalah Thian It Tosu, mengapa engkau bilang palsu?”
“Cu-wi menghendaki bukti?” suara Keng Han nyaring sekali, mengatasi suara semua orang yang riuh
rendah terheran-heran mendengar bahwa Thian It Tosu yang di atas panggung adalah palsu.
Keng Han lalu memberi isyarat dengan tangannya dan sesosok tubuh lain melayang dan berada di atas
panggung. Ketika semua orang memandang mereka, mereka berseru terheran-heran karena orang itu juga
Thian It Tosu! Di panggung itu berdiri dua orang Thian It Tosu yang sama, baik bentuk tubuh, wajah dan
pakaiannya!
Selagi semua orang ribut bicara sendiri mengomentari pemunculan dua orang Thian It Tosu itu, Keng Han
berkata dengan lantang, “Nah, kini saudara sekalian sudah melihat buktinya. Thian It Tosu yang baru
muncul inilah yang asli, sedangkan Thian It Tosu yang pertama tadi adalah palsu. Dia adalah Gulam Sang
yang menyamar sebagai Thian It Tosu!”
Tentu saja Gulam Sang menjadi marah sekali dan juga bingung. Sama sekali tidak disangkanya bahwa
Keng Han mampu membebaskan Thian It Tosu sehingga kedoknya terbongkar. Akan tetapi dia masih ingin
mempertahankan diri dan dia segera berseru.
“Dia itu yang palsu! Lihat ini, Pek-coa-kiam ini jelas milik Thian It Tosu yang asli. Akulah yang asli dan dia
itu palsu!” Setelah berkata demikian, dengan pedang Pek-coa-kiam di tangan, Gulam Sang menyerang dan
menusukkan pedangnya kepada Thian It Tosu.
“Tranggg...!”
Pedangnya itu tertangkis oleh pedang di tangan Bi-kiam Niocu. Wanita ini marah sekali kepada Gulam
Sang. Pemuda itu tadinya dia harapkan untuk menjadi suaminya, akan tetapi ternyata pemuda itu malah
telah menipu dan membohonginya.
“Niocu, kuharap engkau jangan mencampuri urusan ini, atau bantulah aku membunuh Thian It Tosu yang
palsu ini!”
“Engkaulah yang palsu, Gulam Sang!” bentak Bi-kiam Niocu.
Akan tetapi dara ini terkejut ketika pedangnya yang menangkis pedang Pek-coa-kiam itu terpental dan
tangannya tergetar hebat. Pemuda Tibet itu ternyata mempunyai tenaga sinkang yang luar biasa kuatnya.
Keng Han meloncat ke depan Niocu, kemudian berkata, “Mundurlah, Niocu. Jahanam ini adalah musuh
besarku, biarlah aku yang menghadapinya! Nah, Gulam Sang, sebaiknya engkau melepas kedokmu itu!”
Gulam Sang yang menyamar sebagai Thian It Tosu itu memandang Keng Han dengan mata mencorong
penuh kebencian.
“Engkau pengacau sinting, biar kubunuh engkau terlebih dahulu!” Dengan bentakan ini, Gulam Sang
menyerang Keng Han dengan Pedang Ular Putih.
dunia-kangouw.blogspot.com
Serangan itu hebat sekali dan Pek-coa-kiam itu menyambar ke arah leher Keng Han. Akan tetapi Keng
Han yang sudah tahu betapa lihainya Gulam Sang, sudah mengelak dengan loncatan jauh ke belakang.
Akan tetapi, Gulam Sang mendesak terus dengan Pek-coa-kiam yang ampuh itu sehingga Keng Han harus
berloncatan dan mengelak ke sana sini dan nampak terdesak serta tidak mampu balas menyerang.
Saat itu Bi-kiam Niocu berteriak, “Keng Han, pakailah pedangku ini!” Ia melontarkan pedangnya ke arah
Keng Han yang menyambutnya dengan tangan.
Kini Keng Han juga memegang sebatang pedang. Ketika Gulam Sang menyerang lagi dengan bacokan
dahsyat, Keng Han malah maju dan menangkis sambil mengerahkan sinkang-nya.
“Tranggggg...!”
Sepasang pedang itu bertemu dengan hebatnya. Gulam Sang yang menyamar sebagai Thian It Tosu itu
terdorong mundur ke belakang. Akan tetapi ketika Keng Han melihat pedangnya, ternyata pedang itu
sudah buntung pada bagian ujungnya! Jelaslah bahwa Pek-coa-kiam di tangan Gulam Sang itu sebuah pokiam
(pedang pusaka) yang sangat ampuh.
Namun dari pertemuan tenaga itu dapat diketahui bahwa dalam hal sinkang, ternyata Gulam Sang masih
belum mampu menandingi Keng Han. Keng Han kemudian balas menyerang dengan pedang buntungnya.
Dia memainkan ilmu Hongin-bun-hoat, pedang buntungnya seperti menulis dan membuat corat-coret di
udara, akan tetapi semua itu sebenarnya merupakan serangan yang dahsyat bukan main.
Menghadapi ilmu pedang yang aneh ini, Gulam Sang terkejut dan kini dia yang terdesak mundur. Beberapa
kali dia mencoba untuk memanfaatkan keunggulan pedangnya untuk menangkis dan membabat pedang
buntung lawan, akan tetapi usahanya itu tidak pernah berhasil karena Keng Han selalu mengelak kalau
diajak beradu pedang.
Di antara para penonton terdapat Yo Han, Tan Sian Li, dan juga Yo Han Li yang sejak tadi menonton
pertandingan itu. Yo Han sendiri juga kaget dan tidak mengerti mengapa muncul dua orang Thian It Tosu.
Dia masih ragu-ragu siapa di antara kedua orang itu yang asli dan mana pula yang palsu. Maka ketika
Keng Han bertanding dengan Thian It Tosu, Yo Han, isterinya dan puterinya tidak tahu harus memihak
yang mana.
Akan tetapi ketika Keng Han mulai memainkan ilmu Hong-in-bun-hoat, mereka bertiga lalu memandang
heran. Pemuda itu sedemikian hebatnya memainkan Hong-in Bun-hoat yang mereka kenal. Bahkan biar
pun pedangnya sudah buntung, dia sekarang mampu mendesak Thian It Tosu yang menjadi kewalahan
dan main mundur terus.
Pertandingan itu memang hebat bukan main. Gulam Sang yang didesak terus itu telah mengeluarkan
semua ilmunya, bahkan beberapa kali dia membentak dengan kekuatan sihirnya untuk merobohkan Keng
Han. Akan tetapi, ilmu sihirnya tidak mempan terhadap Keng Han karena pemuda ini telah memiliki tenaga
sakti yang hebat.
Dan setelah mereka bertanding sampai seratus jurus lebih, tahulah Yo Han, isteri dan puterinya bahwa
Thian It Tosu itu jelas palsu. Hal ini mudah saja diketahui. Kalau Thian It Tosu ini asli, tentu menggunakan
ilmu pedang Bu-tong-pai yang sudah mereka kenal. Akan tetapi Thian It Tosu ini sama sekali tidak
mempergunakan ilmu silat Bu-tong-pai melainkan menggunakan ilmu silat yang aneh dan belum pernah
mereka lihat!
Yo Han yang berpengalaman luas itu berbisik kepada isteri dan puterinya, “Ilmu silatnya tentu datang dari
Barat. Dan lihat, dia menggunakan sihir dalam bentakan-bentakannya itu. Untung bagi Keng Han, dia
sudah memiliki sinkang yang cukup kuat untuk menolak pengaruh sihir itu.”
Tiba-tiba Keng Han mengubah ilmu silatnya. Pedangnya masih membuat gerakan ilmu Hong-in Bun-hoat,
tetapi tangan kirinya memukul dengan jurus pukulan ilmu Toat-beng Bian-kun yang kelihatan lemah lembut
namun menyembunyikan kekuatan yang amat dasyat. Dan Gulam Sang benar-benar terdesak hebat.
Pada saat itu dari dalam melayang keluar tiga orang kakek yang membentak, “Bocah lancang!. Berani
engkau menghina tuan rumah kami, ketua Bu-tong-pai?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Yo Han melihat bahwa mereka itu adalah para datuk sesat yang terkenal, yaitu Swat-hai Lo-kwi, Tung-hai
Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin. Tiga orang datuk ini memang sengaja tidak keluar dulu dan hanya mengintai
dari dalam, melihat perkembangan keadaan.
Ketika melihat Keng Han datang bersama Thian It Tosu, tahulah mereka bahwa Gulam Sang terancam
bahaya. Apa lagi setelah melihat betapa Gulam Sang terdesak hebat oleh Keng Han, mereka tidak dapat
tinggal diam saja.
Ketiganya lalu keluar dan segera melompat ke atas panggung, meninggalkan Pangeran Tao Seng yang
masih bersembunyi di dalam kamar rahasia. Karena mereka berada di kamar rahasia, maka tadi Keng Han
tidak berhasil menemukan ayahnya ketika mencari di seluruh kamar tahanan dalam rumah induk Bu-tongpai
itu.
Melihat tiga orang datuk sesat itu maju, Bi-kiam Niocu yang sudah marah sekali melihat Gulam Sang
menyamar sebagai Thian It Tosu juga melompat ke atas panggung.
“Main keroyokan bukan watak orang gagah!” dia berseru.
Dan ia sudah siap untuk melawan siapa saja yang hendak mengeroyok Keng Han, biar pun ia bertangan
kosong karena pedangnya sudah dipinjamkan kepada Keng Han.
Han Li tadi melihat betapa gadis itu meminjamkan pedangnya kepada Keng Han, maka tanpa ragu lagi ia
mencabut pedangnya dan melemparkannya kepada Bi-kiam Niocu sambil berseru, “Enci, pakailah
pedangku ini!”
Niocu menyambut pedang itu dengan tangan kanannya, lalu dia menghadapi Swat-hai Lo-kwi yang juga
memegang sebatang pedang.
Pada saat itu pula, dua bayangan berkelebat ke atas panggung dan mereka itu ternyata adalah Yo Han
dan isterinya, si Bangau Merah Tan Sian Li! Tan Sian Li telah mencabut suling emas yang diselipkan pada
pinggangnya, sedangkan Yo Han yang tidak pernah bersenjata itu hanya berdiri dengan tangan kosong.
Tan Sian Li menghadapi Tung-hai Lo-mo sambil berkata lantang, suaranya mengejek. “Main keroyokan,
ya? Kami juga bisa!”
Tanpa banyak komentar lagi wanita berusia empat puluh tahun yang masih cantik itu sudah menggerakkan
sulingnya untuk menyerang Tung-hai Lo-mo. Terdengarlah suara berdesing nyaring dan suling itu kini
menjadi sinar keemasan yang melengking-lengking! Terpaksa Tung-hai Lo-mo menyambut dengan
pedangnya, dan mereka berdua sudah bertanding dengan hebatnya.
Sekarang hanya tertinggal Lam-hai Koai-jin yang belum mendapat lawan. Maka Yo Han segera
menghadapinya sambil berkata, “Lam-hai Koai-jin, engkau ingin memperlihatkan kepandaianmu? Majulah
dan akulah lawanmu!”
Melihat Yo Han, Lam-hai Koai-jin sudah merasa gentar. Dia maklum betapa tinggi ilmu kepandaian
Pendekar Tangan Sakti ini. Selagi dia meragu untuk menyambut tantangan Yo Han, Thian It Tosu yang
sejak tadi hanya menonton saja lalu melangkah maju dan dia berseru lantang, “Cuwi harap menahan
senjata dan berhenti berkelahi!”
Mendengar bentakan nyaring ini semua menahan senjata, Thian It Tosu yang palsu sudah terdesak hebat,
mandi peluh dan napasnya terengah-engah. Maka seruan untuk, berhenti bertanding itu telah
menyelamatkannya.
Thian It Tosu lalu menghampiri Gulam Sang dan berkata, “Gulam Sang, engkau yang menjadi gara-gara
semua keributan ini. Pinto tak ingin bila Bu-tong-pai dijadikan tempat pertempuran. Harap para saudara
yang membela Gulam Sang dan membelaku suka mundur semua dan biarkan kami berdua yang
menyelesaikan urusan ini!”
Sikap Thian It Tosu berwibawa sekali. Tiga orang datuk itu segera mundur. Melihat ini, Bi-kiam Niocu, Yo
Han dan Tan Sian Li juga mengundurkan diri. Kini yang berdiri di atas panggung hanya kedua orang yang
sama itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Thian It Tosu berkata dengan suaranya yang lembut namun berwibawa. “Gulam Sang, untuk membuktikan
siapa yang asli dan palsu di antara kita berdua, mari kita bertanding ilmu di sini, disaksikan oleh semua
orang. Akan tetapi, yang namanya Thian it Tosu itu selamanya tak pernah menyerang lawan yang tidak
bersenjata. Nah, beranikah engkau melawan pinto?”
“Hemmm, engkaulah yang palsu dan jangan mencoba untuk mengelabui orang lain. Aku Thian It Tosu
yang asli. Tentu saja aku siap melawanmu dengan tangan kosong!”
Setelah berkata demikian, Thian It Tosu yang palsu itu lalu melontarkan pedangnya ke bawah dan pedang
itu lalu menancap di atas papan, bergoyang-goyang saking kuatnya lontaran itu.
Sekarang kedua orang kakek itu saling berhadapan dan semua orang menahan napas menyaksikan
peristiwa yang aneh itu. Dua orang Thian It Tosu saling berhadapan untuk saling menyerang.
Kalau tadi Yo Han, Keng Han dan dua orang wanita itu menaati permintaan Thian It Tosu adalah karena
mereka menghormati Thian It Tosu sebagai tuan rumah. Mereka ini yakin dan percaya kepada Keng Han
bahwa yang muncul belakangan itu adalah ketua Bu-tong-pai yang asli. Juga semua murid Bu-tong-pai
yakin dan tahu mana yang asli dan mana yang palsu dengan melihat cara Thian It Tosu tadi bertanding
melawan Keng Han.
Gulam Sang adalah murid Dalai Lama yang lebih banyak mempelajari kebatinan. Sebab itu pemuda ini
merasa sinkang-nya lebih dapat diandalkan dibandingkan ilmu silatnya. Apa lagi dia pun tahu bahwa ketua
Bu-tong-pai yang menjadi lawannya ini setiap hari telah diberi racun sehingga sekarang sudah keracunan
hebat. Dalam keadaan begini tentu saja Thian It Tosu tidak akan mampu sepenuhnya mengerahkan
sinkang-nya.
Selain itu, Gulam Sang juga tahu bahwa ilmu pedang Bu-tong-pai sungguh lihai dan sulit dicari
tandingannya. Karena itu, setelah mengetahui bahwa pertandingannya melawan Thian It Tosu akan
dilakukan dengan tangan kosong tanpa senjata, dia merasa yakin bahwa dia akan dapat memenangkan
pertandingan ini.
Dia lalu menerjang ke depan dan mulai dengan serangannya. Thian It Tosu mengelak dan bersilat dengan
ilmu silat Bu-tong-pai. Kini Gulam Sang tidak dapat menirukan lagi dan mengeluarkan ilmu silatnya yang
dia pelajari dari Dalai Lama.
Melihat kenyataan ini, para murid Bu-tong-pai tidak ragu lagi untuk menentukan siapa di antara dua orang
yang sedang bertanding itu mana yang asli mana yang palsu. Thian Yang Cu dan Bhok Im Cu, dua orang
murid kepala di Bu-tong-pai yang selama itu sudah terpaksa menuruti kemauan Gulam Sang karena
khawatir bahwa Gulam Sang akan membunuh guru mereka, sudah mencabut pedang masing-masing dan
mereka segera berloncatan ke atas panggung, diikuti oleh belasan orang murid lainnya.
“Dialah yang palsu!” bentak Thian Yang Cu kepada Gulam Sang sehingga para murid itu mengepungnya.
Melihat ini, Gulam Sang menjadi gentar dan Thian It Tosu memanfaatkannya dengan sebuah tendangan
yang mengenai dadanya. Gulam Sang roboh dan para murid sudah mengayun pedang untuk
membunuhnya.
Akan tetapi Thian It Tosu berseru nyaring, “Jangan bunuh!”
Gulam Sang tidak dibunuh, akan tetapi ia ditangkap dan banyak senjata menodongnya. Thian Yang Cu lalu
menjambak rambutnya dan sekali tarik dengan kuat, terlepaslah kedok yang dipakai oleh Gulam Sang.
Thian Yang Cu mengangkat kedok itu ke atas dan berseru kepada semua tamu. “Lihat, dia menggunakan
kedok menyamar sebagai guru dan ketua kami. Dia adalah Gulam Sang!”
Bukan hanya pendekar yang terheran-heran, bahkan tiga datuk yang tadi membelanya terkejut dan merasa
heran. Mereka sama sekali tidak pernah menduga bahwa Thian It Tosu yang selama ini mereka anggap
asli itu ternyata palsu.
“Kalau begitu, semua janji itu pun palsu.”
“Bunuh saja keparat itu!” demikian banyak orang berteriak-teriak karena marah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi Thian Yang Cu melarang para murid membunuhnya.
“Gulam Sang, permainanmu sudah berakhir. Semestinya engkau dibunuh oleh banyak senjata murid Butong-
pai. Akan tetapi kami akan membebaskan engkau kalau engkau suka memberi obat penawar racun
dari tubuh ketua kami.”
Gulam Sang menyeringai. “Bagus jika kalian mengetahui dan ingat akan keadaan Thian It Tosu!” katanya.
Karena dia sudah ditodong dan tak mungkin melawan lagi, dia merogoh saku dalam di bajunya dan
mengeluarkan sebuah bungkusan kertas. Kemudian dia berkata kepada Thian It Tosu, “Tubuhmu sudah
penuh dengan racun yang berada di dalam makanan dan minumanmu selama ini. Telanlah obat ini dan
engkau akan sembuh kembali.”
Thian It Tosu menerima bungkusan itu dan seorang murid mengambilkan air teh. Thian It Tosu membuka
bungkusan itu dan menuangkan isinya ke dalam mulut, kemudian air teh itu diminumnya. Setelah obat itu
memasuki perutnya, dari dalam perut itu keluarlah bunyi dan dia merasa betapa rasa nyeri di dada dan
perut menghilang.
Tadi pun dalam keadaan keracunan dia melawan Gulam Sang. Bila dilanjutkan agaknya dia akan kalah
karena setiap kali mengerahkan tenaga sinkang dadanya terasa nyeri. Kini dia mencoba untuk
mengerahkan sinkang-nya. Tidak terjadi sesuatu. Itu merupakan bukti bahwa obat itu memang manjur.
“Lepaskan dia!” kata Thian It Tosu kepada para muridnya dan dia sendiri lalu mencabut Pek-coa-kiam yang
tadi oleh Gulam Sang ditancapkan ke atas papan.
Meski pun agak enggan, para murid menarik senjata mereka yang ditodongkan kepada Gulam Sang.
Gulam Sang tertawa menyeringai, lalu menoleh kepada Bi-kiam Niocu sambil berkata, “Niocu, maukah
engkau pergi dengan aku?”
“Jahanam busuk! Membunuhmu aku mau, tapi kalau disuruh pergi bersamamu, jangan harap!”
Gulam Sang maklum bahwa dia telah kalah segala-galanya, maka dia sudah melangkah untuk
meninggalkan panggung.
“Tahan dulu!” tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
Semua orang menoleh dan Gulam Sang juga memandang. Ketika melihat bahwa yang datang itu adalah
dua orang pendeta Lama berjubah merah, wajahnya menjadi pucat sekali.
"Omitohud...! Dicari ke mana-mana ternyata berada di sini. Gulam Sang, atas perintah Yang Mulia Dalai
Lama, kami harus menangkapmu. Menyerahlah engkau supaya kami tidak harus menggunakan
kekerasan!”
Gulam Sang maklum bahwa kalau dia menyerah, tidak urung dia akan dibunuh. Dia dan ayahnya, Gosang
Lama, sudah menyebabkan pemberontakan di Tibet. Ayahnya juga sudah terbunuh, dan selama ini dia
masih dapat meloloskan diri karena bersembunyi di Bu-tong-pai. Ternyata pada saat kejatuhannya, dua
orang Lama Jubah Merah muncul. Maka, Gulam Sang menjadi nekat.
“Kalian tidak akan dapat menangkapku hidup-hidup!” setelah membentak demikian, dia lalu menyerang
kedua pendeta Lama itu dengan amat ganas.
Akan tetapi, kedua orang pendeta Lama itu adalah murid-murid Dalai Lama yang lebih tinggi tingkatnya
dibandingkan Gulam Sang. Mereka menyambut terjangan itu dengan pukulan telapak tangan secara
berbareng.
“Desss...!”
Tubuh Gulam Sang terpental dan bergulingan, kemudian diam dan tidak bergerak lagi. Ternyata dia telah
tewas!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Omitohud, setiap perbuatan jahat akan berakibat mala petaka bagi dirinya sendiri!” kata pendeta Lama
yang perutnya gendut. Kemudian mereka berdua menghadapi Thian It Tosu dan yang kurus berkata
dengan sikap hormat.
“Apakah Toyu ketua Bu-tong-pai?”
“Benar.”
“Kalau begitu, kami mohon dengan hormat untuk bisa mengadakan upacara membakar mayat di sini.
Bolehkah?”
“Tentu saja boleh.”
Thian It Tosu kini menghadapi semua orang yang berkumpul di situ.
“Kami harap agar para tamu yang tergolong sesat seperti perkumpulan Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai, suka
meninggalkan tempat ini. Kalian semua memang diundang, akan tetapi bukan pinto yang mengundang.
Hendaknya kalian maklumi, bahwa Bu-tong-pai bukan perkumpulan pemberontak terhadap pemerintah.
Kami hanya menentang orang-orang yang melakukan kejahatan. Yang tadinya merasa bersekutu dengan
Bu-tong-pai di bawah pimpinan ketua palsu, diminta agar juga meninggalkan tempat ini!”
Mendengar ucapan ini, tiga orang datuk segera pergi tanpa banyak cakap lagi. Juga rombongan orang
Pek-lian-pai serta Pat-kwa-pai, termasuk pula mereka yang tadinya disusupkan menjadi anggota Bu-tongpai,
semua pergi secepatnya dari tempat yang berbahaya bagi keselamatan mereka itu.
Kini yang masih tinggal d sana hanyalah orang-orang kang-ouw yang hidupnya sebagai pendekar dan
yang selalu menentang orang-orang yang melakukan kejahatan. Tentu saja termasuk Yo Han, Tan Sian Li
dan Yo Han Li yang sudah lama menjadi sahabat baik Thian It Tosu. Juga Bi-kiam Niocu masih berada di
situ.
Keng Han menghampiri Bi-kiam Niocu, mengembalikan pedang yang tadi dipijamkan kepadanya, “Maaf,
Niocu, pedangmu rusak dan patah ujungnya,” kata Keng Han.
“Tidak mengapa, engkau telah menyadarkan aku tentang Gulam Sang yang palsu itu,” kata wanita itu
sambil menerima kembali pedangnya.
Thian It Tosu menghampiri Yo Han dan memberi hormat dengan merangkap dua tangan di depan dada
yang segera dibalas oleh Yo Han.
“Terima kasih atas bantuan Yo-taihiap sekeluarga, juga terima kasih kepada Ji-wi yang muda-muda namun
berilmu tinggi,” katanya dan ucapan terakhir ditujukan kepada Keng Han dan Bi-kiam Niocu.
“Ah, Totiang. Aku malah minta maaf bahwa aku sama sekali tidak tahu bahwa Totiang telah ditahan dan
Thian It Tosu yang memimpin Bu-tong-pai adalah orang palsu! Pantas saja aku merasa heran sekali atas
perubahan sikap Bu-tong-pai dan bersekutu dengan Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai. Kiranya bukan Totiang
orangnya.”
“Totiang, saya mohon ijin hendak mencari orang yang bernama Tao Seng, yang menjadi pimpinan
pemberontakan ini. Menurut perhitungan saya, dia pasti bersembunyi di dalam Bu-tong-pai bersama datukdatuk
sesat tadi. Apakah di antara murid Totiang ada yang mengetahui di mana dia bersembunyi?”
Seorang murid Bu-tong-pai cepat-cepat maju dan berkata, “Memang ada seorang yang kemarin dulu
diterima oleh ketua palsu sebagai tamu dan dia disebut Ji-wangwe.”
"Ya itulah orangnya!” seru Keng Han. “Tahukah engkau di mana dia bersembunyi?”
“Tadinya mereka semua bersembunyi di dalam kamar rahasia. Akan tetapi ketika terjadi perkelahian, Jiwangwe
itu keluar dari kamar rahasia, kemudian melarikan diri melalui pintu belakang.”
“Wah, aku harus mengejarnya!” kata Keng Han dan dia sudah meloncat pergi dari situ.
dunia-kangouw.blogspot.com
Keng Han lari ke belakang gedung, melalui taman dan terus melompat pagar tembok di belakang taman.
Dia mengejar dan mencari terus, akan tetapi tidak nampak jejak orang yang dicarinya itu. Tugasnya
membela keluarga kaisar sudah berhasil, sekarang tinggal menemukan ayahnya dan memaksa ayah itu
ikut bersamanya ke Khitan, menghadap ibunya!
Dia tiba di sebuah bukit kecil. Cepat dia mendaki bukit itu dan di puncak bukit itu dia melihat sebuah rumah
menyendiri. Mungkin ayahnya itu bersembunyi di sana, pikirnya penuh harapan.
Akan tetapi ketika tiba di pekarangan rumah itu, tiba-tiba terdengar suara tawa dan tiga orang lalu meluncur
keluar dari dalam rumah itu. Mereka itu ternyata adalah Swat-hai Lo-kwi, Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai
Koai-jin. Swat-hai Lo-kwi telah memegang pedang, Tung-hai Lo-mo juga telah memegang dayung bajanya
dan Lam-hai Koai-jin memegang ruyungnya. Jelas bahwa kedatangannya itu sudah diketahui mereka dan
mereka telah siap untuk menghadapinya.
“Ha-ha-ha-ha, orang muda. Beberapa kali engkau menggagalkan usaha kami, sekarang tiba saatnya kami
melakukan pembalasan dan membunuhmu di sini!” berkata Swat-hai Lo-kwi sambil tertawa.
“Lo-kwi, ingat! Ketika kita berada di Pulau Hantu itu engkau pun berniat membunuhku, akan tetapi sampai
sekarang aku masih hidup! Aku tidak takut biar pun kalian bersikap curang hendak mengeroyokku. Aku
hanya ingin bertanya, apakah Pangeran Tao Seng atau Hartawan Ji itu berada di dalam? Kalau betul,
lekas suruh dia keluar dan aku akan membawanya pergi. Aku tidak ada alasan untuk bertanding dengan
kalian!”
Melihat sikap pemuda itu demikian tabah menghadapi mereka bertiga, Tung-hai Lo-mo yang wataknya
angkuh itu membentak, “Dia memang berada di sini. Akan tetapi kami melindunginya. Kalau engkau dapat
mengalahkan kami bertiga, barulah engkau boleh menemuinya!”
“Tung-hai Lo-mo, sudah kukatakan bahwa aku tidak butuh bertanding denganmu. Aku hanya menghendaki
orang itu. Ketahuilah bahwa Pangeran Tao Seng itu adalah ayah kandungku!”
“Ha-ha-ha, jangan engkau membual!” kata Lam-hai Koai-jin. “Kalau dia memang ayah kandungmu,
mengapa engkau malah menentangnya sehingga gerakannya gagal?”
“Karena dia berada di pihak yang bersalah. Dia berbuat jahat dan aku tidak ingin melihat dia berbuat jahat!”
jawab Keng Han.
“Sudahlah, kawan-kawan, tak perlu berdebat dengan bocah ini. Mari kita bereskan saja dia!” Setelah
berkata demikian Swat-hai Lo-kwi sudah menggerakkan pedangnya dan langsung menyerang Keng Han.
Keng Han menghindarkan diri dengan mengelak ke kiri. Akan tetapi dari sebelah kiri, dayung baja Tung-hai
Lo-mo sudah menyapu ke arah pinggangnya! Keng Han meloncat tinggi ke atas sehingga dayung baja itu
menyambar di bawah kakinya. Ketika dayung baja itu melayang tepat di bawahnya, Keng Han menginjak
dayung itu dan meloncat ke belakang, berjungkir balik beberapa kali sebelum turun ke atas tanah.
Baru saja Keng Han hinggap di tanah, ruyung Lam-hai Koai-jin sudah menyerangnya, memukulkan ruyung
yang besar dan berat ke arah kepalanya! Hebat serangan ini, tapi Keng Han tidak menjadi gentar. Kembali
dia mengelak ke kanan dan sekarang kakinya menendang ke arah Swat-hai Lo-kwi. Lo-kwi mengelak dan
Keng Han segera dikeroyok tiga orang datuk itu.
Keng Han telah memiliki tenaga sinkang yang dahsyat dan ilmu silatnya juga ilmu silat tinggi dan sakti dari
Pulau Es. Akan tetapi kini dia menghadapi pengeroyokan tiga orang datuk besar di dunia persilatan. Apa
lagi dia tak bersenjata, sedangkan tiga orang datuk yang menyerangnya itu menggunakan tiga macam
senjata yang berbeda gerakannya. Tubuhnya berkelebatan di antara tiga gulungan sinar dari senjata
musuh-musuhnya.
Ketiga orang datuk itu mengeroyok sambil mengeluarkan bentakan-bentakan nyaring, Namun Keng Han
bukan saja mengelak, bahkan terhadap dayung baja dan ruyung itu beberapa kali ia menangkis dengan
tangannya. Setiap kali ditangkis, pemegang senjata itu merasa tangannya tergetar oleh hawa yang dingin
sekali kalau yang menangkis itu tangan kiri Keng Han, sedangkan kalau tangan kanan yang menangkis,
lawannya akan merasakan hawa yang amat panas menyerang dirinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba seorang muncul di depan pintu. Dia itu bukan lain adalah Tao Seng. Melihat betapa puteranya
dikeroyok oleh tiga orang datuk itu, tiba-tiba Tao Seng teringat kepada Silani, isterinya yang ditinggalkan di
Khitan. Maka dia pun tidak ingin melihat puteranya terbunuh.
“Sam-wi Locianpwe, jangan bunuh dia! Dia itu anakku, jangan bunuh dia!”
Swat-hai Lo-kwi menjadi jengkel mendengar ucapan Tao Seng itu. Baginya, orang itu adalah Hartawan Ji
yang membiayai semua usaha pemberontakan itu. Dan kini, melihat hartawan itu malah melindungi Keng
Han, dia menjadi marah.
“Kami harus membunuhnya! Dialah yang sudah menggagalkan semua usaha kita!” Dan dia pun
menyerang semakin gencar terhadap Keng Han yang masih terus melakukan perlawanan dengan gigih.
Tao Seng melihat betapa Keng Han sudah terdesak amat hebat dan kalau perkelahian itu dilanjutkan, tentu
akhirnya Keng Han akan tewas! Mati terbunuh di depan matanya. Anaknya!
Tiba-tiba dia menghunus pedang dan meloncat ke dalam pertandingan itu, sama sekali bukan untuk
mengeroyok Keng Han, namun dia menggunakan pedangnya menyerang Swat-hai Lo-kwi!
“Heiii! Apa yang kau lakukan ini, Ji-wangwe!” bentak Swat-hai Lo-kwi sambil menangkis.
“Jangan bunuh dia! Jangan bunuh dia!” Tao Seng berteriak-teriak sambil terus untuk membantu Keng Han.
“Keparat!”
Swat-hai Lo-kwi berteriak marah sambil membalik dan menyerang Tao Seng. Baru diserang sebanyak lima
jurus saja pedang di tangan Swat-hai Lo-kwi sudah menembus dada Tao Seng. Tao Seng berteriak dan
roboh terguling.
“Ayahhh...!” Keng Han berseru keras melihat ayahnya roboh dengan mandi darah.
Dia lalu mengamuk. Akan tetapi dia dikeroyok tiga orang datuk yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian
tinggi dan semua bersenjata, sedangkan dia sendiri bertangan kosong. Swat-hai Lo-kwi menusukkan
pedangnya ke arah lambung Keng Han dan pada saat itu dayung baja Tung-hai Lo-mo menghantam ke
arah kepalanya, sedang ruyung Lam-hai Koai-jin menghantam punggungnya!
Diserang secara serentak seperti itu, Keng Han cepat meloncat tinggi untuk menghindar dari semua
serangan itu. Kedua kakinya menendang dan menangkis dayung baja dan ruyung, kemudian sambil
menjejakkan kedua kakinya pada dua senjata itu, tubuhnya berjungkir balik ke belakang. Maka selamatlah
dia dari ketiga serangan yang dilakukan serentak itu.
Akan tetapi jantungnya berdebar juga karena serangan berbareng itu sungguh sangat berbahaya. Kalau
saja tidak melihat tiga orang datuk itu membunuh ayahnya, tentu dia sudah meninggalkan tiga orang
lawannya. Akan tetapi Swat-hai Lo-kwi telah membunuh ayahnya dan dia tidak dapat tinggal diam begitu
saja. Dia pun meloncat ke dekat tubuh ayahnya.
“Ayah, engkau tidak apa-apa?” tanyanya khawatir.
“Keng Han, larilah selagi ada kesempatan... aku... aku tidak apa-apa...!”
Akan tetapi tiga orang datuk itu sudah mengurungnya lagi dan terpaksa dia melawan sekuat tenaga. Tanpa
memegang senjata apa pun, sedangkan ketiga lawannya memiliki tiga macam senjata yang berbeda
sifatnya, maka tidak heran kalau Keng Han langsung terdesak hebat.
Selagi keadaan amat gawat bagi Keng Han itu, tiba-tiba terdengar seruan, “Keng Han, terimalah pedangmu
ini!”
Ternyata yang datang adalah Cu In! Gadis itu melemparkan pedang bengkok milik Keng Han yang sudah
diberikan kepadanya. Keng Han menyambut pedang bengkok itu, lalu melepaskan sabuk sutera putih dan
melemparkannya ke arah Cu In.
dunia-kangouw.blogspot.com
Cu In menyambut senjatanya itu dan langsung saja ia pun menyerang kepada Tung-hai Lo-mo dengan
sabuk suteranya. Di tangan Cu In sabuk sutera itu menjadi senjata yang ampuh sekali, dapat melibat
senjata lawan, dapat pula menotok jalan darah dan dengan sinkang-nya dia dapat membuat sabuk itu
sebagai pecut yang dapat melecut dengan ganasnya!
Bagaimana Cu In dapat datang pada saat yang sangat gawat bagi Keng Han? Ternyata berita tentang Butong-
pai mengundang para tokoh kang-ouw itu sampai ke kota raja dan terdengar pula oleh The Ciangkun,
ayah Cu In.
Mendengar ini, Cu In menduga bahwa Keng Han tentu pergi ke sana untuk mencari ayahnya. Maka hatinya
merasa tidak enak dan ia berpamit dari ayah ibunya untuk pergi melihat-lihat keadaan di Bu-tong-pai.
“Aku dapat sekalian menyelidiki apa yang dikehendaki Bu-tong-pai dengan undangan itu, Ayah,” katanya
kepada ayahnya.
Ayah dan ibunya tidak melarangnya dan pergilah The Cu In ke Bu-tong-pai, membawa pedang bengkok
milik Keng Han yang tidak pernah lepas dari tubuhnya. Ternyata gadis itu datang terlambat dan pertemuan
itu sudah selesai dengan terbongkarnya rahasia penyamaran Gulam Sang.
Ketika mendaki bukit Bu-tong-san, ia melihat Keng Han dikeroyok oleh tiga orang datuk itu. Maka ia cepat
bertukar senjata dengan Keng Han dan segera menyerang Tung-hai Lo-mo yang amat dibencinya karena
datuk ini pernah menyingkap cadarnya dan melihat mukanya.
Diserang dengan hebat oleh sabuk sutera di tangan Cu In, Tung-hai Lo-mo cepat-cepat menggerakkan
dayung bajanya untuk menyambutnya. Segera terjadilah perkelahian yang seru di antara mereka. Lo-mo
yang bersenjata dayung baja yang berat itu segera terdesak. Senjatanya terlalu berat dan lamban,
sedangkan gadis baju putih itu memiliki ginkang istimewa.
Selain gerakannya amat lincah dan cepat, juga senjata yang ringan itu bergerak dengan kecepatan kilat
yang menyambar-nyambar. Meski pun hanya sabuk sutera, akan tetapi berbahaya sekali kalau
serangannya mengenai tubuh lawan. Tung-hai Lo-mo terpaksa menghindarkan diri sambil mundur terus,
dan didesak oleh Cu In yang penuh semangat untuk merobohkan lawan.
Sementara itu, Keng Han juga sedang mengamuk dengan pedang bengkoknya. Setelah menerima
pedangnya dari Cu In, Keng Han seperti seekor harimau yang tumbuh sayap. Sepak terjangnya amat
dahsyat, membuat dua orang pengeroyoknya kewalahan.
Swat-hai Lo-kwi menjadi penasaran. Pada suatu saat ia mengerahkan sinkang-nya dan memukul dengan
tangan kiri terbuka ke arah dada Keng Han. Itulah pukulan jarak jauh yang mengandung hawa dingin.
Akan tetapi Keng Han tidak menyingkir. Dia pun merendahkan tubuhnya dan tangan kirinya didorongkan ke
depan dengan tenaga Swat-im Sinkang yang dilatihnya di Pulau Hantu.
“Wuuuuuttt...! Desss...!”
Benturan dua tenaga sakti yang hebat itu sampai dapat dirasakan oleh Lam-hai Koai-jin. Dia merasa ada
hawa yang amat dingin, hampir membuatnya menggigil kalau dia tidak cepat-cepat mengerahkan sinkangnya
untuk melindungi dirinya.
Akan tetapi Swat-hai Lo-kwi terdorong mundur. Mukanya pucat dan dia pun lalu roboh terguling. Ternyata
tenaga dinginnya itu masih kalah kuat. Keng Han sendiri terhuyung sedikit dan kesempatan itu
dipergunakan oleh Lam-hai Koai-jin untuk menyerangnya dengan ruyung.
Akan tetapi Keng Han sudah cepat menguasai dirinya dan segera memainkan Hong-in Bun-hoat untuk
menghadapi ruyung Lam-hai Koai-jin. Lam-hai Koai-jin adalah seorang datuk dari selatan yang memiliki
ilmu ruyung hebat. Akan tetapi, menghadapi Keng Han yang mencorat-coret dengan pedangnya seperti
orang menuliskan huruf-huruf itu, dia merasa bingung dan sebentar saja sudah terdesak hebat.
Swat-hai Lo-kwi yang telah menderita luka dalam tubuhnya itu, bangkit dan terhuyung meninggalkan
tempat itu, tidak mempedulikan lagi kepada dua orang temannya karena dia harus menyelamatkan diri
setelah terluka berat itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tung-hai Lo-mo juga kewalahan menghadapi sabuk sutera putih di tangan Cu In. Dia hanya dapat
memutar dayungnya sambil kadang-kadang mengelak. Tapi setelah lewat lima puluh jurus, ujung sabuk itu
berhasil menotok pundaknya yang sebelah kanan.
Seketika lengan kanannya terasa lumpuh dan dayung baja itu lepas dari pegangannya. Selagi dia
terhuyung, ujung sabuk telah menyambar lagi dan tepat mengenai ubun-ubun kepalanya.
“Prattt…!”
Tung-hai Lo-mo berteriak keras dan dia pun roboh, tewas seketika!
Melihat dua kawannya sudah kalah, Lam-hai Koai-jin cepat meloncat jauh ke belakang. “Orang muda, aku
mengaku kalah sekali ini. Di antara kita tidak terdapat permusuhan, biarlah lain kali aku mencarimu untuk
membuat perhitungan.” Dia lalu meloncat jauh dan melarikan diri.
“Kau hendak lari ke mana?”
Cu In hendak mengejar, akan tetapi Keng Han berkata sambil menghampiri Cu In dan memegang
lengannya. “Musuh yang sudah mengaku kalah tidak perlu dikejar!”
Mendengar kata-kata Keng Han ini, Cu In tidak jadi mengejar. Dia segera menyimpan kembali sabuk
suteranya, dililitkan ke pinggangnya yang ramping.
Keng Han menghampiri ayahnya dan berlutut. Keadaan Tao Seng payah sekali. Keng Han menotok jalan
darah untuk menggugah ayahnya dari keadaannya yang pingsan. Akhirnya bekas pangeran itu membuka
matanya.
“Kau... Keng Han... puteraku...?”
“Ayah, aku datang hendak mengajak Ayah menemui Ibu di Khitan,” berkata Keng Han dengan nada sedih
karena dia maklum bahwa ayahnya tidak mungkin dapat tertolong lagi. Pedang itu agaknya telah
menembus jantungnya.
“Sudah... sudah terlambat... aku berdosa besar kepada ibumu... Keng Han, maukah... engkau memintakan
maaf kepada Silani? Dan maukah engkau... memaafkan...aku...?”
Keng Han mengangguk dan mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Biar pun ayahnya telah
berbuat jahat karena menuruti ambisi yang muluk, namun pada saat terakhir ayahnya itu berusaha untuk
menolongnya sampai tewas!
“Tentu saja, Ayah. Ibu pasti akan memaafkanmu...” katanya dengan terharu.
“Terima kasih... ahhh, terima kasih, Tuhan! Kini... aku dapat... mati dengan… dengan tenang...!”
Leher itu terkulai dan mata itu terpejam, tanda bahwa Tao Seng telah menghembuskan napas terakhir.
“Ayah, ohhh... Ayah...” Saking sedih dan terharunya, Keng Han menangisi kematian ayahnya.
“Keng Han, ayahmu telah tewas, tidak ada gunanya ditangisi lagi,” kata Cu In sambil memegang pundak
pemuda itu dengan suara halus.
Keng Han sadar dan menghentikan tangisnya. Kemudian dia menoleh kepada Cu In. “Kalau tidak ada
engkau, agaknya aku pun sudah tewas menemani ayahku. Bagaimana engkau dapat berada di sini, Cu
In?”
“Kebetulan saja, Keng Han. Agaknya Thian memang sudah menentukan begitu. Kami di kota raja
mendengar akan pertemuan yang diadakan Bu-tong-pai dan aku menduga bahwa engkau akan mencari
ayahmu di sini. Maka aku berpamit dari ayah ibuku untuk menyusulmu ke Bu-tong-pai. Dan ketika mendaki
bukit, aku melihat engkau dikeroyok tiga orang datuk itu.”
Keng Han menoleh ke arah mayat Tung-hai Lo-mo. “Engkau membunuhnya?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Cu In mengangguk. “Aku sudah bersumpah untuk membunuhnya. Ketika dia bersama Swat-hai Lo-kwi
dahulu menawanku, Tung-hai Lo-mo ini hendak memperkosaku. Akan tetapi setelah dia menyingkap
cadarku, dia tidak jadi melakukannya, bahkan hendak membunuhku. Orang seperti dia itu patut
dilenyapkan dari muka bumi agar jangan suka menghina orang lagi.”
“Cu In, sekarang aku hendak mengubur jenazah ayahku di tempat ini, sekalian jenazah Tung-hai Lo-mo
pula.”
“Tung-hai Lo-mo? Untuk apa kita bersusah payah mengubur jenazah manusia sesat itu?”
“Jangan berpendapat seperti itu, Cu In. Boleh jadi dia jahat di waktu hidupnya. Akan tetapi dia telah tewas
dan yang berada di sini bukan lagi Tung-hai Lo-mo yang jahat, melainkan sebuah jenazah yang perlu
diurus dan dikuburkan.”
Cu In menggangguk. Matanya memandang kepada pemuda itu dengan penuh kagum. Baru sekarang dia
bertemu dengan seorang pemuda yang bukan saja gagah perkasa dan bersikap sopan, akan tetapi juga
berpemandangan luas dan berbudi luhur.
Keng Han lalu menggali dua buah lubang dan menguburkan jenazah itu di pekarangan depan rumah itu.
Dia meletakkan sebuah batu besar di depan makam ayahnya, dan sebuah batu lebih kecil di depan makam
Tung-hai Lo-mo. Dia lalu bersemedhi sejenak di depan makam ayahnya. Cu In juga memberi hormat
kepada makam Pangeran Tao Seng itu.
“Sekarang engkau hendak ke manakah, Keng Han?”
“Aku harus kembali dulu ke Khitan, Cu In. Pertama untuk mengabarkan kepada ibuku bahwa ayah sudah
meninggal dunia sebagai seorang jantan karena dia tewas dalam membelaku, dan kedua kalinya aku
hendak memberi tahu tentang perjodohan kita.”
Tiba-tiba mereka mendengar suara orang yang memanggil dan melihat sesosok tubuh dengan cepatnya
berlari ke arah mereka. Dari jauh saja Cu In sudah mengenal orang itu.
“Itu suci yang datang,” katanya.
Keng Han mengerutkan alisnya karena beberapa kali dia mengalami kesukaran kalau berdekatan dengan
Bi-kiam Niocu. Akan tetapi sekali ini Cu In bersamanya, maka apa yang akan dapat dilakukan oleh Niocu?
Bi-kiam Niocu cepat sekali berlari dan telah tiba di tempat itu. Napasnya tidak terengah, seolah berlari
secepat itu tidak melelahkan baginya.
“Aku tadi khawatir kalau engkau bertemu para datuk itu Keng Han. Dan ternyata engkau sudah berada di
sini bersama Sumoi. Dan dua makam ini, makam siapakah?”
“Yang di sana itu adalah makam Pangeran Tao Seng atau Hartawan Ji, atau juga ayah kandungku.
Sedangkan yang ini adalah makam Tung-hai Lo-mo!”
Bi-kiam Niocu terbelalak. “Apa yang sudah terjadi? Bagaimana mereka dapat tewas di sini dan kau
kuburkan, Keng Han?”
“Aku bertemu dengan Swat-hai Lo-kwi, Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin di sini dan aku dikeroyok
mereka bertiga. Kemudian muncul ayahku yang membelaku, akan tetapi dia tewas oleh Swat-hai Lo-kwi.
Ketika aku masih dikeroyok tiga, datang In-moi yang membantuku. In-moi berhasil menewaskan Tung-hai
Lo-mo, dan aku juga telah melukai Swat-hai Lo-kwi. Kemudian Swat-hai Lo-kwi dan Lam-hai Koai-jin
melarikan diri.” Keng Han menceritakan dengan singkat.
“Aihhh, mereka bertiga begitu sakti, akan tetapi engkau mampu menandingi mereka. Sungguh hebat
engkau, Keng Han. Kalau aku tahu, tentu aku akan membantumu.”
“Bukankah sepatutnya engkau membantu Gulam Sang, Niocu?” Keng Han mengejek.
Wajah Bi-kiam Niocu berubah merah. “Laki-laki jahat dan palsu itu! Hampir saja ia dapat mengelabui aku.
Hampir saja aku mabuk oleh puji rayuannya. Tidak, setelah engkau memberi tahu akan kepalsuannya aku
dunia-kangouw.blogspot.com
sudah membencinya setengah mati. Sayang dia tewas tidak olehku, melainkan oleh Lama-Lama Jubah
Merah itu? Sumoi, bagaimana engkau dapat berada di sini. Bukankah engkau ikut... ibu dan ayahmu ke
kota raja?”
“Benar, Suci. Akan tetapi di sana aku mendengar akan undangan Bu-tong-pai kepada para tokoh kangouw.
Aku menduga bahwa Keng Han tentu mencari ayahnya di sini dan aku khawatir sekali. Juga ayah
menyuruhku menyelidiki apa yang terjadi di Bu-tong-pai ini. Engkau belum sempat menceritakan kepadaku,
Keng Han. Sebetulnya apakah yang telah terjadi di sana?”
Keng Han lalu menceritakan pengalamannya betapa dia menyusup ke dalam bangunan induk Bu-tong-pai
dan berhasil membebaskan Thian It Tosu yang disekap di penjara bawah tanah oleh Gulam Sang. Betapa
selama ini yang berada di Bu-tong-pai adalah Gulam Sang yang menyamar sebagai Thian It Tosu.
“Aihhh, pantas kalau begitu mengapa Bu-tong-pai mendadak saja berubah haluan dan bersekutu dengan
perkumpulan sesat seperti Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai serta dibantu pula oleh para datuk sesat,” kata
The Cu In.
Keng Han menghela napas panjang. “Harus diakui bahwa Gulam Sang itu memiliki otak yang cerdik sekali
dan juga mempunyai ilmu silat yang tinggi. Sayang dia pergunakan kepandaiannya untuk berbuat jahat.”
“Memang benar. Kalau saja dia itu seorang pemuda Han yang melakukan semua itu demi menghancurkan
pemerintah penjajah dan membebaskan rakyat dari penjajahan, masih bagus! Akan tetapi dia melakukan
semua itu demi ambisinya untuk menjadi Pangeran Mahkota seandainya berhasil dan Pangeran Tao Seng
menjadi Kaisar,” kata Bi-kiam Niocu.
“Sudahlah, sekarang ia telah tewas, tak perlu lagi membicarakan tentang kejahatannya. Selanjutnya begini,
In-moi. Setelah terbuka kedoknya, Gulam Sang lalu ditangkap oleh orang-orang Bu-tong-pai. Akan tetapi
dasar dia cerdik sekali, orang-orang Bu-tong-pai tidak berani membunuhnya karena dialah yang
menyimpan obat pemunah racun yang meracuni tubuh Thian It Tosu. Gulam Sang mau menukar obat itu
dengan pembebasan dirinya. Orang-orang Bu-tong-pai yang tidak ingin melihat Thian It Tosu tewas,
terpaksa menyetujui. Obat diberikan dan Gulam Sang dibebaskan. Tiba-tiba muncul dua orang pendeta
Lama Jubah Merah yang diutus oleh Dalai Lama untuk menangkap Gulam Sang. Gulam Sang melawan
dan tewas oleh dua orang pendeta Lama itu.”
“Lalu kenapa engkau berada di sini dan dikeroyok oleh tiga orang datuk itu?” tanya pula Cu In.
“Tiga orang datuk itu meninggalkan Bu-tong-pai setelah mereka mengetahui bahwa ketua Bu-tong-pai yang
mereka bela itu adalah ketua palsu. Aku lalu mencari ayahku di dalam bangunan Bu-tong-pai, akan tetapi
mendapat keterangan bahwa pangeran itu telah pergi. Cepat aku melakukan pengejaran dan tiba di tempat
ini. Dan ternyata benar, ayahku berada di sini. Aku dikeroyok oleh tiga orang datuk sesat. Aku kewalahan
dan terdesak. Lalu muncul Pangeran Tao Seng, ayahku itu. Dia membelaku dan melarang tiga orang datuk
itu membunuhku. Akan tetapi hal itu justru membuat para datuk marah kepadanya sehingga ayahku
dibunuhnya. Aku terus mengamuk sampai engkau datang membantuku, In-moi.”
“Kalian memang serasi, selalu saling bantu dan saling menolong. Mudah-mudahan saja kelak kalian
menjadi suami isteri yang berbahagia. Sekarang aku hendak kembali ke Beng-san,” kata Bi-kiam Niocu
sambil memandang dengan hati iri.
Sumoi-nya yang berwajah cacat dan buruk itu memperoleh calon suami yang begitu baik, tampan dan
gagah, juga berbudi mulia. Sedangkan ia, yang memiliki kecantikan yang dikagumi banyak orang, selalu
menemukan orang yang salah. Pertama, ia jatuh cinta kepada Keng Han yang sama sekali tidak membalas
cintanya. Kedua, ia tertarik kepada Gulam Sang tetapi ternyata pemuda itu adalah seorang jahat yang
berbahaya.
“Selamat jalan, Suci. Kuharap kalau engkau pergi ke kota raja, suka singgah di rumah kami,” kata Cu In
dengan ramah.
Ia dahulu tidak suka kepada suci-nya ini karena terlalu kejam terhadap kaum pria. Akan tetapi sekarang ia
merasa kasihan kepadanya.
“Selamat berpisah, Niocu. Semoga engkau berbahagia,” kata Keng Han yang merasa kasihan pula karena
gadis itu pernah jatuh cinta kepadanya tapi tidak dapat dibalasnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hemmm...!” Bi-kiam Niocu mendengus dan sekali berkelebat ia sudah lenyap dari situ. Memang Bi-kiam
Niocu memiliki ginkang yang hebat.
“Kasihan...!” Tanpa terasa Keng Han berkata lirih.
“Ehh? Kenapa kasihan, Han-ko?”
Bukan main senangnya hati Keng Han saat mendengar gadis itu menyebutnya Han-ko (kanda Han),
karena biasanya gadis itu menyebut namanya begitu saja. Dia sendiri pun sudah mendahului Cu In dan
menyebutnya In-moi (dinda In).
Tentu saja Keng Han tidak mau menceritakan tentang Bi-kiam Niocu yang jatuh cinta kepadanya. “Kasihan
karena ia telah keliru memilih pria yang dicintanya. Gulam Sang adalah seorang yang jahat dan kejam.
Bahkan dia menyuruh anak buahnya membunuh kekasihnya ketika kekasihnya itu berteriak hendak
membuka rahasia penyamarannya. Suci-mu itu sudah sepantasnya mendapatkan seorang jodoh yang
baik.”
“Kuharap juga begitu. Akan tetapi agaknya itu merupakan hukuman baginya karena dahulu, entah berapa
banyak pria yang dibunuhnya hanya karena pria itu sudah berani mencintainya.”
“Apakah engkau dahulu juga tidak seperti suci-mu itu, In-moi? Bukankah gurumu... ehh, ibumu mengajar
kalian untuk membunuh pria yang menaruh hati kepadamu?”
“Tidak, Han-ko. Untung aku memiliki wajah yang buruk dan aku selalu menyembunyikan wajahku di
belakang cadar sehingga tak ada orang yang sempat jatuh cinta kepadaku.”
“Siapa bilang tidak ada yang jatuh cinta kepadamu? Buktinya aku jatuh cinta kepadamu dengan seluruh
jiwa ragaku!”
Dahi gadis itu berubah merah mendengar ucapan ini. “Engkau lain lagi, Han-ko. Engkau adalah seorang
pendekar yang tampan dan gagah, akan tetapi bodoh!”
“Bodoh?”
“Ya, bodoh! Kalau tidak bodoh, mana mungkin engkau jatuh cinta kepada seorang gadis yang mukanya
cacat dan buruk?”
“Sudahlah, jangan bicara tentang wajah! Aku mencintaimu dengan setulus hatiku, bukan karena baik atau
buruknya wajahmu. Nah, sekarang pulanglah engkau ke kota raja, ke rumah orang tuamu.”
“Dan engkau?”
“Aku? Karena ayahku telah tewas, aku akan pulang dulu ke Khitan melaporkan kepada ibu bahwa ayah
telah tewas dan juga mohon doa restunya supaya aku dapat menikah denganmu.”
“Ahh, aku hendak ikut, Han-ko! Aku pun ingin berkenalan dengan ibu, calon mertuaku!” kata Cu In dengan
suara bersungguh-sungguh.
“Akan tetapi, engkau belum memberi tahu kepada ayah ibumu! Tentu mereka akan khawatir sekali kalau
sampai lama engkau belum juga kembali ke kota raja!”
“Ibu akan mengerti dan tidak akan mengkhawatirkan aku. Ia pun dapat memberi tahu kepada ayah bahwa
sejak muda sekali aku sudah sering berkelana di dunia kang-ouw dan selalu pulang dalam keadaan
selamat. Apa lagi sekarang, melakukan perjalanan bersamamu. Apa bahayanya? Kita pasti akan mampu
menanggulangi berdua!”
“Bukan bahaya yang kukhawatirkan, In-moi. Akan tetapi... seperti para ibu lain di dunia ini, ibuku tentu ingin
sekali melihat wajahmu...”
“Biarkan saja dia melihatnya! Bukankah engkau juga sudah melihatku dan hal itu tidak mengurangi cintamu
kepadaku?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ahh, itu urusan lain lagi, In-moi. Kalau ibuku melihat wajahmu lalu melarangku berjodoh denganmu, aku
tidak akan dapat menyalahkannya. Hal itu wajar saja, bukan? Aku tidak termasuk hitungan karena aku
mencintamu dengan hati yang tulus ikhlas. Sebaiknya engkau tidak ikut, In-moi. Aku tidak akan lama
tinggal di Khitan. Setelah kita menikah baru engkau akan kupertemukan dengan ibuku dan kakekku.”
“Tidak, Han-ko. Aku tak percaya bahwa seorang ibu yang melahirkanmu akan bersikap sepicik itu. Engkau
bijaksana, maka ibumu tentu lebih bijaksana lagi!”
“Ibuku adalah seorang Khitan yang tidak berpendidikan dan tentu saja pikirannya masih kolot. Aku
khawatir...”
“Khawatir kalau ia menolakku? Tenangkan hatimu. Aku telah siap menghadapi apa saja. Dan andai kata
ibumu menolak aku menjadi calon menantunya sekali pun, perasaanku terhadapmu tak akan berubah. Kita
harus bersikap jujur terhadap ibumu, Han-ko. Kalau ia menolakku itu sudah wajar. Akan tetapi kalau ia
menerimaku tanpa melihatku, bagai mana akibatnya di belakang hari kalau ia menyesal mempunyai mantu
seperti aku?”
Keng Han merasa terharu sekali dan dia memegang kedua tangan gadis itu. “Alangkah gagah beraninya
engkau dalam menghadapi apa pun juga, In-moi. Aku menghargai sikapmu dan marilah kita berangkat ke
Khitan.”
Sepasang orang muda itu dengan bergandeng tangan melanjutkan perjalanan setelah sekali lagi memberi
hormat kepada makam Pangeran Tao Seng. Mereka nampak amat gembira dan bahagia menyongsong
masa depan mereka. Cinta kasih di antara mereka membuat mereka merasa kuat sekali.
Cinta kasih yang murni hanya memberi dan sama sekali tidak mementingkan diri sendiri, bersih dari nafsu
menyenangkan diri sendiri. Kalau cinta itu didasari menyenangkan diri sendiri, maka cinta itu tidak akan
tahan lama. Karena segala macam kesenangan di dunia ini selalu disusul kebosanan dan keinginan
mencari yang lebih menyenangkan lagi. Akan tetapi kalau cinta itu didasari pementingan diri orang yang
dicinta, kita selalu berusaha untuk menyenangkannya, untuk membahagiakannya karena kebahagiaan dia
yang dicinta itu menimbulkan kebahagiaan bagi diri sendiri.
Cinta yang terdorong wajah tampan dan cantik, terdorong harta benda atau kedudukan, cinta seperti itu
mudah luntur. Menimbulkan kebosanan dan kebencian yang berakhir dengan perpisahan atau perceraian.
Cinta nafsu hanya menghendaki keuntungan bagi diri sendiri.
Seorang sahabat yang melakukan seribu satu kebaikan kepada kita akan terhapus oleh satu saja
keburukan kepada kita. Cinta yang sejati tak lapuk oleh panas tak lekang oleh hujan. Seperti cinta kasih
Tuhan kepada semua makhluk ciptaannya. Baik itu berupa tumbuh-tumbuhan, hewan, terutama sekali
manusia. Semua mendapatkan berkahNya, semua dapat menikmati hidup.
Baru matahari saja, seolah diciptakan Tuhan untuk kehidupan semua makhluk di dunia. Tanpa sinar
matahari tak akan ada yang dapat hidup. Dan diberiNya tanpa pilih kasih, kepada siapa saja, yang kaya
mau pun yang miskin, yang berkedudukan tinggi mau pun yang rendah, yang hidup benar dan baik mau
pun yang hidup buruk dan jahat.
Tuhan memang bukan manusia, akan tetapi kita manusia seyogianya mawas diri dan mengkaji kembali
cinta kasih kita kepada kekasih, kepada teman hidup, kepada anak-anak, keluarga, tetangga dan
masyarakat. Kalau kita semua hidup dengan cinta kasih kepada sesamanya tanpa nafsu mementingkan
diri sendiri, adanya hanya memberi dan membantu, maka kehidupan di dunia ini akan merupakan
keindahan sorgawi!
********************
Gadis dan pemuda itu duduk berhadapan di sebuah hutan. Mereka duduk di atas batu di bawah naungan
pohon yang rindang dan teduh. Mereka adalah Lo Siu Lan dan Gan Bu Tong. Kita masih ingat bahwa Lo
Siu Lan merupakan puteri dari ketua Kwi-kiam-pang (Perkumpulan Pedang Setan) Lo Cit yang berjuluk
Toat-beng Kiam-sian (Dewa Pedang Pencabut Nyawa). Ada pun pemuda itu adalah Gan Bu Tong, suhengnya
dan murid dari Toat-beng Kiam-sian.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mereka sedang berburu binatang. Akan tetapi hari itu agaknya mereka sedang sial. Sampai matahari naik
tinggi, mereka belum mendapatkan buruan seekor pun. Karena siang itu panas sekali, mereka lalu
beristirahat, duduk di bawah pohon, minum sambil bercakap-cakap.
“Sumoi,” kata Bu Tong, suaranya sedih dan penasaran. “Kita bergaul sejak kecil dan engkau tahu sendiri
betapa besar kasihku kepadamu. Akan tetapi kenapa engkau tega menolakku kalau aku mengajak bicara
tentang perjodohan kita?”
“Karena aku sama sekali belum memikirkan tentang perjodohan, Suheng. Sudahlah, jangan bicara tentang
perjodohan, aku tidak menyukainya!” gadis itu menjawab dengan suara agak ketus.
Ia seorang gadis berusia kurang lebih sembilan belas tahun, cantik dan berkulit putih mulus. Rambutnya
hitam panjang dan diikat ke belakang dengan sanggul manis di atas kepalanya. Lo Siu Lan memang
seorang gadis yang sudah dewasa dan menarik hati.
“Akan tetapi ketika pemuda bernama Keng Han itu berada di sini, engkau bersikap lain! Kau tentu tahu
bahwa aku mencintaimu sejak lama, Sumoi. Dan selama ini aku melihat bahwa engkau juga suka
kepadaku sehingga pergaulan kita akrab sekali.”
“Tentu saja aku suka padamu, Suheng. Bukankah engkau suheng-ku? Akan tetapi rasa suka itu berbeda
sekali dengan cinta. Aku menyukaimu seperti seorang adik menyukai kakaknya, bukan seperti seorang
wanita mencinta pria. Mengertikah engkau, Suheng?”
Gan Bu Tong adalah seorang pemuda yang telah berusia dua puluh lima tahun, tampan dan gagah, tinggi
besar dengan rambut panjang dikuncir tebal. Tentu saja dia mengerti apa yang dimaksudkan oleh sumoinya
itu.
Dahulu pun dia mencinta sumoi-nya ini sebagai seorang kakak terhadap adiknya. Akan tetapi setelah Siu
Lan menjadi dewasa, nampak cantik jelita, cintanya sebagai kakak itu berubah menjadi cinta seorang pria
terhadap wanita dan mengharapkan sumoi-nya itu untuk menjadi jodohnya. Dan pada hari ini, ketika
berdua saja di dalam hutan itu, dia mengambil keputusan untuk minta ketegasan sumoi-nya.
Mendengar jawaban bahwa sumoi-nya tidak mencintanya, namun hanya menyukainya sebagai seorang
kakak, hatinya seperti ditusuk rasanya dan habislah harapannya. Jika gadis itu menjawab belum ada rasa
cinta, hal itu masih ada kemungkinan dan harapan bahwa kelak gadis itu akan tertarik dan jatuh cinta
kepadanya. Akan tetapi kalau gadis itu menyukainya sebagai kakak, tidak mungkin ia dapat mencintanya
sebagai kekasih.
Melihat wajah yang murung itu, wajah yang biasanya berseri itu kini nampak demikian sedih, Siu Lan
merasa iba kepada suheng-nya itu.
“Suheng, harap jangan berduka. Tidak selamanya cinta berakhir dengan pernikahan, bukan? Kita bisa
saling mencinta sebagai saudara, bersikap baik dan saling membantu, saling melindungi.”
“Akan tetapi, kepada Keng Han itu...”
“Terus terang saja, memang aku amat tertarik kepadanya, Suheng. Ia seorang pemuda yang bagiku amat
menarik hati, apa lagi kepandaiannya pun jauh lebih tinggi dari pada kepandaian kita.”
“Akan tetapi dengan tegas dia menyatakan tidak mau kawin denganmu, Sumoi.”
Siu Lan menghela napas panjang. “Itu adalah hak dia! Memang tak mungkin dua orang menjadi suami
isteri kalau cinta itu datangnya hanya sepihak.”
“Agaknya dia memiliki hubungan erat sekali dengan gadis bercadar itu!” Gan Bu Tong memanaskan hati
sumoi-nya.
Siu Lan tidak marah, melainkan menghela napas lagi. “Entah bagaimana wajah gadis bercadar itu. Akan
tetapi yang jelas, ia pun lihai bukan main. Agaknya nasib kita sama, Suheng. Kita berdua menjadi korban
cinta yang gagal, mencinta seorang yang tidak membalas cinta kita. Agaknya memang bukan jodoh kita.
Kita tidak boleh putus asa. Suheng, di dunia ini wanita bukan aku seorang, seperti juga di dunia ini pria
bukan hanya Keng Han saja. Kelak kita pasti akan bertemu dengan jodoh kita masing-masing! Mari kita
dunia-kangouw.blogspot.com
teruskan berburu, Suheng, sudah terlalu lama kita beristirahat. Kalau kita pulang tidak membawa hasil
buruan, tentu ayah akan mentertawakan kita.”
“Baiklah, mari kita menyusup ke tengah hutan ini,” jawab Bu Tong yang mendapatkan kembali
kegembiraannya.
Betapa pun juga, hatinya menjadi lega. Biar pun cintanya gagal, keadaan ini lebih baik dari pada
sebelumnya, harap-harap cemas. Kini dia telah mengetahui isi hati sumoi-nya dan yakin bahwa dia tidak
boleh lagi mengharapkan sumoi-nya menjadi isterinya.
Hal ini, kepastian ini, melenyapkan keraguannya dan malah melegakan hatinya. Dia merasa bebas dari
ikatan batinnya sendiri yang mencinta sumoi-nya, walau pun dia merasakan kepedihan cinta yang gagal.
Sebagai seorang gagah dia harus mampu menahan pukulan ini!
Kedua orang muda itu menyusup ke tengah hutan dan tak lama kemudian mereka melihat sekawanan
kijang sedang minum di tepi sungai kecil. Kijang-kijang itu berada di seberang sungai dan mereka tahu
bahwa wilayah kekuasaan Kwi-kiam-pang hanya sampai di sungai itu.
Akan tetapi kijang-kijang itu berada begitu dekat dan mereka tidak tahu siapa yang menguasai wilayah
seberang sungai itu. Kalau mereka tidak salah ingat, kabarnya yang berkuasa di seberang itu adalah
perkumpulan Hek-houw-pang (Perkumpulan Harimau Hitam).
Karena sungai itu kecil saja, dua orang muda yang sudah haus korban buruan itu tidak lagi mempedulikan
bahwa kijang-kijang itu berada di seberang sungai. Mereka sudah memasang anak panah pada busur
mereka dan begitu melepaskan anak panah, dua ekor kijang terjungkal dan lainnya lari dengan cepat
meninggalkan tempat itu.
Bu Tong dan Siu Lan bersorak gembira, lalu mereka meloncati sungai kecil itu untuk mengambil hasil anak
panah mereka. Akan tetapi baru saja mereka mencabut anak panah dari tubuh dua ekor kijang itu, muncul
belasan orang yang berlompatan dari balik pohon-pohon dan semak belukar.
Melihat bahwa orang-orang itu memakai pakaian seragam bergambar harimau hitam, tahulah Bu Tong dan
Siu Lan bahwa kini mereka berhadapan dengan para anggota perkumpulan Hek-houw-pang. Mereka itu
dipimpin seorang pemuda yang gagah dan bermata lebar.
“Hemmm, dua orang yang lancang berani berburu binatang dalam wilayah kekuasaan kami?” bentak
pemuda bermata lebar itu.
Gan Bu Tong cepat mengangkat tangan ke depan dada dan untuk memberi hormat kepada pemuda itu
dan berkata, “Kami adalah dua orang murid dari Kwi-kiam-pang. Aku bernama Gan Bu Tong dan sumoi-ku
ini adalah puteri ketua kami bernama Lo Siu Lan. Kami melihat buruan kami di tepi sungai kecil ini dan
memanahnya. Kami sama sekali tidak bermaksud lancang memasuki wilayah orang lain!”
Mendengar perkenalan diri ini, pemuda itu nampak tertegun. Dia memandang kepada Siu Lan dengan
penuh perhatian.
“Jadi kalian adalah murid-murid Kwi-kiam-pang? Kwi-kiam-pang tak pernah memandang kami sebagai
sahabat. Kami dari Hek-houw-pang tidak pernah mengijinkan siapa pun juga untuk memasuki wilayah kami
tanpa ijin. Kalian telah melanggar, maka terpaksa kami akan menahan kalian, dan kalau Toat-beng Kiamsian
Lo Cit sendiri yang datang minta maaf, barulah kami dapat melepaskan kalian.”
Kini Siu Lan tidak dapat menahan kesabarannya lagi. “Kalian berani berkata demikian? Siapakah engkau
yang berani tidak memandang muka ayahku dan bersikap kurang ajar?!”
Pemuda bermata lebar itu tersenyum. “Perkenalkan, namaku Tang Hun dan aku adalah putera dari ketua
Hek-houw-pang!”
Sekarang mengertilah dua orang muda dari Kwi-kiam-pang itu. Setahun yang lalu, ketua Hek-houw-pang
pernah datang bertamu ke Kwi-kiam-pang. Ketua ini mengajukan usul untuk menjodohkan puteranya
dengan Siu Lan. Akan tetapi, karena gadis itu tidak mau, Toat-beng Kiam-sian Lo Cit menolak dengan
halus.
dunia-kangouw.blogspot.com
Agaknya penolakan itu menyinggung perasaan keluarga Tang sehingga kini Tang Hun hendak membalas
penolakan yang dianggap menghina itu. Dia menangkap Siu Lan dan Bu Tong dan baru mau
membebaskan mereka kalau ketua Kwi-kiam-pang sendiri yang datang memintakan maaf!
Bu Tong adalah seorang pemuda yang cerdik. “Sobat, kalau engkau menganggap kami bersalah, maka
maafkanlah kami dan kami tidak akan mengambil kijang buruan kami ini.”
“Tidak! Siapa berani berbuat harus berani menanggung resikonya. Kami akan menahan kalian dan
sebelum ketua Kwi-kiam-pang sendiri yang minta maaf, kami tidak akan membebaskan kalian!” Tang Hun
berkata tegas.
“Akan tetapi bagaimana mungkin? Kalau kalian menahan kami berdua, lalu siapa yang akan memberi
kabar kepada suhu? Tangkap dan tahanlah aku, akan tetapi bebaskan Sumoi agar ia dapat melaporkan
kepada suhu,” kata pula Bu Tong.
Tang Hun diam sejenak, lalu sambil memandang kepada Siu Lan dia berkata, “Baiklah, aku akan menahan
nona Lo di sini, dan engkau boleh pulang untuk melapor!” kata-kata itu demikian tegas dan pasti.
“Sobat, sungguh tidak enak dan tidak pantas kalau kalian menahan seorang wanita. Biar aku yang ditahan
dan Sumoi...”
“Cukup! Kalian tinggal pilih. Keduanya akan kami tahan atau hanya Nona ini!”
“Suheng, biarlah engkau yang pulang melapor kepada ayah bahwa aku ditawan oleh orang-orang Hekouw-
pang. Jangan khawatir, mereka tidak akan dapat berbuat sesuatu kepadaku!” kata Siu Lan sambil
meraba gagang pedangnya.
“Akan tetapi, Sumoi...”
“Sudahlah, apakah engkau lebih suka kalau kita berdua yang menjadi tawanan? Siapa yang akan memberi
tahu kepada ayah?” potong Siu Lan.
Bu Tong menghela napas panjang. “Baiklah, aku akan pulang. Akan tetapi kalau kalian berani
mengganggu sehelai saja rambut Sumoi, kami akan datang menghancurkan dan membinasakan kalian
semua!”
“Hemmm, engkau boleh menggertak semau hatimu, Sobat. Kami tidak bersalah. Kami menahan orang
yang melanggar perbatasan wilayah kami. Kalianlah yang bersalah, bukan kami!” tangkis Tang Hun sambil
tertawa, wajahnya berseri.
Terpaksa Gan Bu Tong meloncati sungai kecil itu dan langsung melakukan perjalanan pulang sebelum hari
menjadi sore. Dia berlari cepat dan pada suatu tikungan yang tertutup oleh pohon-pohon besar, hampir dia
bertabrakan dengan seorang yang berjalan cepat dari depan. Akan tetapi, bagaikan seekor burung saja,
orang itu telah melayang melewati kepalanya.
Gan Bu Tong terkejut sekali dan juga amat kagum. Dia cepat membalikkan tubuhnya dan ternyata orang itu
adalah seorang gadis yang cantik sekali.
Gadis itu bukan lain adalah Bi-kiam Niocu Siang Bi Kiok. Bu Tong sampai ternganga saking kagumnya.
Gadis yang cantik jelita, mukanya berseri dengan senyum tenang, kulitnya putih mulus, kedua pipinya
kemerahan, sepasang mata serta bibirnya manis sekali, rambutnya agak keriting dan panjang.
“Hemmm, apakah engkau dikejar setan maka berlarian di tengah hutan seperti itu?” kata Niocu sambil
tersenyum mengejek.
Akan tetapi matanya memandang penuh selidik. Seorang pemuda yang tampan dan gagah, pikirnya.
“Maafkan aku, Nona. Aku tidak sedang dikejar setan, akan tetapi bahkan lebih dari itu. Aku hendak melapor
kepada suhu bahwa puteri suhu ditawan gerombolan orang-orang Hek-houw-pang!”
Bi-kiam Niocu mengerutkan alisnya. Ia memandang wajah pemuda itu penuh perhatian. “Kulihat engkau
bukan orang lemah, kenapa engkau melarikan diri dan tidak menolong sumoi-mu itu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Nona, tadi kami sudah dikepung oleh belasan orang yang dipimpin oleh putera ketua Hek-houw-pang.
Kalau melawan kami pasti kalah. Mereka lalu menyandera sumoi dan mengatakan bahwa mereka akan
membebaskan sumoi hanya kalau suhu sendiri yang datang ke sana minta maaf.”
“Hemmm, kesalahan apakah yang kalian lakukan?”
“Kami sedang berburu binatang dan memanah dua ekor kijang yang berada di seberang sungai kecil,
wilayah kekuasaan mereka. Kami telah minta maaf akan tetapi mereka memaksa untuk menawan sumoi.”
“Hemmm, siapa namamu dan siapa nama sumoi-mu itu?” tanya Niocu yang semakin tertarik.
“Namaku Gan Bu Tong dan sumoi bernama Lo Siu Lan.”
“Kalian dari perkumpulan apa dan siapa suhu-mu?”
“Suhu adalah ketua dari Kwi-kiam-pang berjuluk Toat-beng Kiam-sian bernama Lo Cit,” Gan Bu Tong
menjawab dengan bangga karena nama besar gurunya itu pasti dikenal semua tokoh kang-ouw.
Benar saja dugaannya. Niocu tersenyum mendengar nama ini.
“Ah, kiranya engkau murid kakek pincang itu? Gurumu pernah bersikap baik terhadap muridku, biarlah
sekarang aku membantu muridnya. Cepat bawa aku ke tempat di mana sumoi-mu itu ditawan. Aku yang
akan membebaskannya!”
Girang sekali hati Gan Bu Tong. Agaknya gadis itu tidak hanya membual. Gerakannya ketika meloncat di
atas kepalanya menghindarkan tabrakan itu saja sudah membuktikan betapa hebat ginkang-nya. Apa lagi
gadis ini sudah mengenal nama suhu-nya.
“Baik, Nona. Mari kita pergi ke sana!” kata Bu Tong.
Ia pun berlari kembali ke tempat tadi secepatnya. Akan tetapi, gadis itu seakan berjalan melangkah
seenaknya biar pun kenyataannya dia tidak pernah dapat meninggalkannya. Sungguh merupakan ilmu
berlari cepat yang hebat.
Akan tetapi ketika mereka tiba di seberang sungai itu, tidak nampak lagi bayangan Siu Lan.
“Tentu sumoi sudah mereka bawa ke sarang mereka!”
“Kita kejar!” kata Niocu.
Tanpa menanti jawaban ia sudah melompat ke depan berlari cepat. Bu Tong berusaha mengejarnya, akan
tetapi sebentar saja dia sudah tertinggal jauh. Niocu yang berlari lebih cepat itu segera dapat mengejar
orang-orang Hek-houw-pang yang menawan Siu Lan.
Gadis ini berjalan dengan sikap tenang di tengah-tengah mereka. Ia tidak merasa takut. Suheng-nya tentu
akan melapor kepada ayahnya dan ayahnya tentu akan datang untuk membebaskannya.
Kini Siu Lan teringat mengapa pemuda itu seperti menaruh dendam kepada ayahnya. Setahun lebih yang
lalu, ketua Hek-houw-pang pernah berkunjung ke rumah ayahnya. Dari ibunya ia kemudian mendengar
bahwa ia telah dipinang oleh ketua Hek-houw-pang untuk dijodohkan dengan puteranya. Akan tetapi ia
berkeras menolak karena ia belum pernah melihat putera ketua Hek-houw-pang itu.
Ayahnya lalu menolak pinangan itu dengan halus. Agaknya urusan itulah yang membuat pemuda itu
hendak membalas dendam dengan menawannya supaya ayahnya datang minta maaf kepada ketua Hekhouw-
pang!
Kini setelah melihat orangnya, ia harus mengakui bahwa pemuda itu cukup tampan dan gagah, akan tetapi
matanya yang terlalu lebar itu tidak sedap dipandang, di samping ia belum mengetahui bagaimana watak
pemuda itu. Kalau wataknya baik, belum tentu ia menolak pinangannya setelah melihat orangnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pada waktu Siu Lan melangkah sambil melamun, tiba-tiba nampak sesosok bayangan berkelebat dan
tahu-tahu di depan rombongan itu telah berdiri seorang wanita cantik. Wanita itu memandang dengan
matanya yang bersinar tajam dan mulutnya tersenyum mengejek.
“Belasan orang laki-laki menawan seorang gadis muda, sungguh merupakan perbuatan yang tidak tahu
malu!” kata wanita itu yang bukan lain adalah Bi-kiam Niocu Siang Bi Kiok.
Tang Hun yang tadinya berjalan dekat Siu Lan, segera melangkah maju menghadapi Niocu. Dia
mengangkat kedua tangannya ke depan dada sebagai penghormatan, lalu berkata, “Kami tidak mengenal
Nona, sebaliknya Nona juga tidak mengenal kami. Setiap perbuatannya tentu ada sebabnya yang kuat,
maka harap Nona jangan mencela dulu dan tidak mencampuri urusan pribadi kami!” Suaranya itu sopan
namun nadanya keras.
“Tidak mungkin aku tidak mencampuri. Melihat seorang wanita ditawan belasan orang, bagaimana
menyuruh aku tidak campur tangan? Cepat bebaskan dia atau aku akan memberi hajaran keras kepada
kalian!”
“Wanita sombong. Apa kau kira aku takut kepadamu?”
“Heh-heh-heh, bukankah engkau adalah putera Hek-houw Tang Kwi? Dari pada engkau babak-belur, lebih
baik engkau suruh ayahmu datang ke sini melawanku.”
“Nona, sebetulnya siapakah engkau dan mengapa engkau mencampuri urusan ini? Ini adalah urusan
antara Kwi-kiam-pang dan Hek-houw-pang. Nona tidak berhak untuk ikut mencampuri!”
“Hemmm, bocah seperti engkau ini hendak melawanku? Ketahuilah bahwa aku yang disebut orang Bi-kiam
Niocu!”
Mendengar nama ini, Tang Hun terkejut. Tentu saja dia pernah mendengar akan nama Bi-kiam Niocu yang
kabarnya amat kejam terhadap pria itu. Akan tetapi dia tidak merasa takut. Malu rasanya kalau takut
melawan seorang wanita.
“Bagus! Nama Bi-kiam Niocu memang sudah terkenal di dunia kang-ouw, akan tetapi aku Tang Hun tidak
gentar menghadapimu. Engkau yang mencari perkara, bukan kami!” Pemuda itu berkata demikian sambil
mencabut pedangnya.
Pada saat itu, Bu Tong sudah tiba di situ. Melihat ini, Bi-kiam Niocu berseru kepadanya. “Gan Bu Tong,
engkau bantulah sumoi-mu untuk menghajar orang-orang itu, sedangkan bocah she Tang ini serahkan saja
kepadaku!”
“Baik, Nona.” Bu Tong berseru girang dan berkata kepada sumoi-nya, “Sumoi, mari kita lawan mereka!”
Kalau tadi kakak beradik seperguruan itu tidak berani memberontak adalah karena di situ ada Tang Hun
dan belasan orang anak buahnya. Kini, setelah Tang Hun ada yang menghadapi, mereka menjadi berani
dan Siu Lan juga mencabut pedangnya. Dua orang kakak beradik seperguruan ini lalu mengamuk dan
dikepung serta dikeroyok belasan orang anak buah Hek-houw-pang.
Sementara itu Tang Hun mencabut pedangnya. Dia sudah mendengar akan kelihaian Bi-kiam Niocu, maka
dia mencabut pedang lebih dulu lalu menyerang lawannya yang masih bertangan kosong.
Akan tetapi dengan gerakan yang cepat Niocu sudah menghindar dari serangan itu. Dia membiarkan
pemuda itu menyerangnya hingga sepuluh jurus yang selalu bisa dielakkan oleh Niocu. Setelah
membiarkan lawan menyerang sampai sepuluh jurus, barulah Niocu mencabut pedangnya.
Pedang ini adalah pedang baru karena pedangnya yang lama patah ujungnya ketika ia pinjamkan kepada
Keng Han untuk melawan Thian It Tosu palsu yang mempergunakan pedang Pek-coa-kiam, pedang
pusaka Bu-tong-pai. Ia membeli pedang baru yang juga baik sekali, terbuat dari baja pilihan.
Begitu Niocu menggunakan pedang untuk melawan, Tang Hun segera terdesak hebat. Akan tetapi Niocu
sekarang bukan seperti Niocu dahulu ketika ia masih liar membenci kaum pria. Ia tidak berniat membunuh
Tang Hun, hanya membebaskan Siu Lan saja.
dunia-kangouw.blogspot.com
Apa lagi memang ilmu kepandaian Tang Hun sudah cukup tangguh sehingga biar pun terdesak dia masih
dapat melakukan perlawanan! Setelah pertandingan berjalan kurang lebih tiga puluh jurus, Tang Hun main
mundur terus.
Pertandingan antara lima belas anak buahnya yang mengepung Lo Siu Lan dan Gan Bu Tong juga
berlangsung seru. Meski dikeroyok belasan oleh orang, namun kakak beradik seperguruan ini dapat
menggerakkan pedang mereka untuk melindungi diri, bahkan sempat pula merobohkan beberapa orang
dengan tendangan kaki mereka.
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
“Tang Hun, mundurlah, biarkan aku yang menghadapi!”
Tang Hun gembira sekali mendengar suara ini karena suara itu adalah suara ayahnya! Memang yang baru
datang itu adalah Hek-houw Tang Kwi sendiri, seorang kakek yang bermuka hitam dan berusia kurang
lebih lima puluh tahun.
Begitu tiba di situ dia melihat puteranya didesak hebat oleh seorang wanita cantik. Dia tidak mengenal
wanita itu, karena itu dia cepat menyuruh puteranya mundur dan dia menangkis pedang di tangan wanita
itu yang menyambar cepat.
"Tranggggg...!”
Keduanya amat terkejut karena merasa betapa tangan mereka yang memegang pedang tergetar hebat.
Hek-houw Tang Kwi menjadi penasaran dan segera berseru, “Tahan senjata!”
Semua anak buahnya yang tadi mengeroyok Siu Lan dan Bu Tong juga menghentikan penyerangan
mereka. Semua melompat ke belakang sehingga perkelahian itu terhenti.
“Apa artinya perkelahian ini? Heiii, bukankah engkau adalah puteri dan murid Toat-beng Kiam-sian Lo Cit?
Dan engkau sendiri siapakah Nona?”
“Aku adalah Bi-kiam Niocu Siang Bi Kiok!” Niocu memperkenalkan diri.
“Ahhh...! Bukankah engkau murid Ang Hwa Nio-nio? Kenapa terjadi perkelahian dengan puteraku dan para
anggota kami? Tang Hun, apa yang telah terjadi di sini?” Hek-houw Tang Kwi bertanya kepada puteranya.
“Begini, Ayah. Mula-mula kami melihat puteri dan murid Toat-beng Kiam-sian ini berburu binatang di dalam
wilayah kita. Karena mereka memasuki wilayah kita tanpa ijin, kami lalu menahan nona Lo untuk
dihadapkan kepada Ayah, dan membebaskan pemuda itu untuk melaporkan kepada ketuanya. Akan tetapi
mendadak pemuda itu datang kembali bersama Bi-kiam Niocu dan hendak memaksa kami membebaskan
nona Lo. Kami menolak dan terjadilah perkelahian ini.”
Hek-houw Tang Kwi mengerutkan alisnya dan berkata kepada Bi-kiam Niocu, “Bi-kiam Niocu, aku
mendengar bahwa engkau seorang wanita gagah, akan tetapi mengapa engkau mencampuri urusan
pribadi antara Hek-houw-pang dan Kwi-kiam-pang? Apa yang dilakukan puteraku sudah sepantasnya
karena kedua orang murid Kwi-kiam-pang melanggar wilayah kekuasaan kami.”
“Hemmm, kalau puteramu itu tadi berani bertanding satu lawan satu dengan puteri ketua Kwi-kiam-pang,
tentu aku tidak akan mencampurinya. Akan tetapi melihat belasan orang anak buahmu sudah
menggunakan kekuatan banyak orang untuk menawannya, hal ini kuanggap tidak adil dan merupakan
tindakan seorang pengecut. Karena itulah aku turun tangan membantu mereka!” Jawab Niocu sambil
tersenyum mengejek.
“Tang Hun, benarkah engkau menggunakan anak buah untuk menangkap mereka?”
“Tidak, Ayah. Di antara kami dan mereka tadinya tak ada perkelahian. Kita menangkap mereka dan
mereka merasa bersalah, maka nona Lo tidak keberatan kami tawan dan suheng-nya itu pun pergi untuk
melapor kepada gurunya. Setelah Bi-kiam Niocu campur tangan barulah terjadi pertempuran.”
“Beranikah engkau melawan nona Lo, satu lawan satu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Wajah pemuda itu berubah kemerahan ketika dia memandang kepada Siu Lan. “Aku... aku tidak ingin
memusuhinya, Ayah.”
Bi-kiam Niocu tertawa mengejek.
“Orang muda, katakan saja kalau engkau tidak berani. Hei, adik Lo, beranikah engkau melawan putera
Hek-houw Tang Kwi ini?”
Siu Lan menegakkan tubuhnya dan menjawab, “Mengapa tidak berani? Asal jangan main keroyokan!”
“Nah, kau dengar itu, Tang Hun? Untuk menyelesaikan urusan ini, sambutlah tantangan nona Lo. Siapa
pun di antara kalian yang kalah harus minta maaf dan urusan ini habis sampai di sini saja. Bagaimana
pendapatmu, Bi-kiam Niocu? Atau, apakah engkau ingin kita bertanding terus mati-matian hanya untuk
urusan sekecil ini?”
Niocu merasa tidak enak. Sebetulnya, sebagai orang luar ia memang tidak tersangkut urusan itu sama
sekali. Kalau ia membantu, sebetulnya yang ia bantu adalah Gan Bu Tong karena ia tertarik dan suka
kepada pemuda itu.
“Bertanding satu lawan satu itu baru adil dan aku tidak akan mencampuri, hanya akan menonton agar
jangan ada yang main curang.”
“Nah, Tang Hun, engkau sudah mendengar sendiri. Bersiaplah untuk bertanding dengan nona Lo Siu Lan!”
kata Hek-houw Tang Kwi.
“Akan tetapi, Ayah. Aku tidak ingin melukainya...,” kata pemuda itu ragu.
Melihat sikap dan mendengar ucapan Tang Hun, Siu Lan merasa jantungnya berdebar. Tadi ketika ia
ditangkap, pemuda itu bersikap sopan padanya, seolah ia bukan seorang tawanan melainkan seorang
tamu. Dan sekarang, pemuda itu mengatakan tidak ingin memusuhinya dan juga tidak ingin melukainya!
Hal ini hanya mempunyai satu arti, ialah bahwa pemuda itu suka padanya!
Hek-houw Tang Kwi menjadi marah kepada puteranya. “Engkau tidak berani? Kalau begitu engkau harus
minta maaf kepadanya!”
“Minta maaf? Aku tidak bersalah, melainkan mereka yang bersalah. Kenapa aku harus minta maaf? Dan
aku tidak ingin berkelahi melawan nona Lo, sama sekali bukan karena takut melainkan...”
“Sudahlah jangan banyak bicara lagi. Layanilah nona Lo yang menantangmu!” berkata demikian Hek-houw
Tang Kwi kemudian mendorong punggung puteranya supaya maju menghadapi Siu Lan.
Dengan terpaksa sekali dan sikap apa boleh buat Tang Hun maju menghadapi Siu Lan. Dia menyimpan
pedangnya dan berkata dengan lembut. “Nona Lo, terpaksa aku harus melawanmu. Akan tetapi kita tidak
bermusuhan, maka kita bertanding dengan tangan kosong saja.”
“Tidak bersenjata boleh, bersenjata juga boleh!” berkata Siu Lan yang juga menyimpan pedangnya. Kalau
lawan tidak bersenjata tentu ia malu kalau harus melawan dengan pedangnya.
Mereka sudah memasang kuda-kuda masing-masing, akan tetapi Tang Hun belum juga mau menyerang.
“Hayo mulai!” kata Siu Lan. “Aku sudah siap!”
“Engkau adalah tamu, maka engkaulah yang harus memulai lebih dulu, Nona,” kata Tang Hun.
“Baik, bersiaplah dan sambut seranganku ini!” Siu Lan mulai memukul akan tetapi dapat dielakkan Tang
Hun dengan baik.
Dua orang itu segera terlibat dalam perkelahian yang seru. Akan tetapi Bi-kiam Niocu dan Hek-houw Tang
Kwi keduanya dapat mengikuti gerakan mereka dengan baik dan mereka mendapat kenyataan bahwa dua
orang itu tidak berkelahi dengan sungguh-sungguh. Hek-houw Tang Kwi tahu benar bahwa puteranya tidak
mengerahkan tenaga sepenuhnya dan Bi-kiam Niocu juga melihat dengan jelas betapa Siu Lan juga tidak
menyerang dengan sepenuh hatinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pada saat itu berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di situ sudah berdiri seorang kakek yang kaki
kirinya timpang dan membawa tongkat.
"Apa yang terjadi di sini?" tanyanya. Ketika melihat puterinya berkelahi melawan Tang Hun, dia lalu
menghampiri Hek-houw Tang Kwi dan bertanya, "Ehh, Hek-houw, kenapa engkau membiarkan anak kita
saling serang seperti itu?"
"Ssstt, lihatlah baik-baik, Kiam-sian. Bukankah kedua anak kita itu serasi dan cocok sekali? Mereka saling
serang? Hemmm, kurasa tidak. Mereka hanya latihan saja dan saling mengalah!"
Dan kenyataannya memang demikianlah. Kedua orang muda itu sama sekali tidak menyerang dengan
sungguh-sungguh, dan tidak ingin melukai lawan. Siu Lan melihat datangnya ayahnya, maka ia meloncat
jauh ke belakang dan mendekati ayahnya.
"Ayah, mereka hendak menawanku!" katanya dengan manja.
"Apa?! Siapa yang hendak menawan anakku?" bentak Toat-beng Kiam-sian dan kini barulah dia melihat
adanya Bi-kiam Niocu di situ.
"Eh, engkau juga berada di sini, Bi-kiam Niocu? Apakah engkau yang hendak menawan anakku?" Berkata
demikian Lo Cit melangkah maju menghampiri Bi-kiam Niocu yang hanya memandang kepadanya dengan
senyum mengejek.
"Suhu, tidak sama sekali, Suhu!" Gan Bu Tong meloncat mendekati suhu-nya. "Nona ini sama sekali tidak
mengganggu kami berdua, ia malah datang untuk menolong sumoi yang tadinya ditawan oleh orang-orang
Hek-houw-pang!"
"Hemmm, apa yang terjadi di sini? Mengapa anakku dapat ditawan oleh orang-orang Hek-houw-pang?"
Hek-houw Tang Kwi dengan sikap tenang berkata kepada Lo Cit. "Kiam-sian, engkau dengarlah baik-baik
keterangan dari anakku. Tang Hun, lekas ceritakan semua kepada pamanmu Lo ini apa yang telah terjadi
sebenarnya."
Tang Hun maju memberi hormat kepada Lo Cit lalu berkata, "Sebetulnya begini, Paman. Kami tadi
mendapatkan puteri dan murid Paman sudah melanggar wilayah kami dan membunuh dua ekor kijang.
Karena mereka memasuki wilayah kami tanpa ijin, terpaksa saya menahan nona Lo untuk kami hadapkan
kepada Ayah. Ia kami tahan sebagai seorang tamu, bukan sebagai tawanan. Akan tetapi tiba-tiba murid
Paman ini datang bersama Bi-kiam Niocu dan menyerang kami. Untung ada Ayah, kalau tidak mungkin kita
semua akan dibunuhnya!"
"Siu Lan, benarkah apa yang dikatakan Tang Hun itu?"
Dengan kedua pipi berubah kemerahan, Siu Lan menjawab, "Benar, Ayah. Akan tetapi kami hanya
melanggar perbatasan sungai itu untuk mengejar kijang."
"Kalau begitu, engkau dan Bu Tong berada di pihak yang salah. Hayo kalian berdua minta maaf kepada
pamanmu Tang Kwi!" bentak Lo Cit.
Siu Lan dan Bu Tong terpaksa memberi hormat kepada Hek-houw Tang Kwi sambil berkata, "Harap paman
Tang sudi memaafkan kelancangan kami!"
"Ha-ha-ha-ha, semua ini hanya merupakan salah paham saja. Di antara orang sendiri mengapa harus
minta maaf? Akan tetapi, Kiam-sian, bukankah engkau sudah melihat sendiri alangkah serasi dan cocok
adanya putera-puteri kita? Maka kesempatan ini akan kugunakan untuk mengulang pinanganku tempo
hari. Bagaimana bila kita menjodohkan mereka?"
Toat-beng Kiam-sian Lo Cit tersenyum, kemudian bertanya kepada puterinya, "Siu Lan, engkau telah
mendengar sendiri usul pamanmu Tang. Nah, bagaimana jawabanmu?"
Dengan muka kemerahan Siu Lan bersembunyi di belakang tubuh ayahnya, kemudian berkata, "Ahh,
urusan itu bagaimana baiknya terserah kepada Ayah saja!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Jawaban ini saja sudah jelas bagi semua orang. Kalau seorang anak tidak setuju, tentu ia akan marahmarah
atau menangis. Tapi kalau ia setuju, tentu ia akan menyerahkan keputusannya kepada orang
tuanya dan tersipu malu.
Melihat keadaan puterinya, Lo Cit menjadi girang sekali. Ketika pertama kali Tang Kwi meminang
puterinya, sebetulnya dia sudah setuju sekali. Dia merasa suka kepada Tang Hun yang gagah dan tampan.
Akan tetapi puterinya itu yang menolak.
Kini dia tahu mengapa dulu puterinya menolak. Karena belum pernah melihat Tang Hun. Setelah kini
berhadapan, bahkan saling serang dalam pertandingan tadi, ia setuju akan pinangan itu.
"Ha-ha-ha, bagus sekali. Marilah singgah di rumah kami di mana kami dapat menjamu kalian sebagai tamu
agung dan kita dapat bercakap-cakap mengenal persoalan ini. Kami juga mengundang Niocu untuk ikut
datang sebagai tamu kehormatan."
Bi-kiam Niocu mengerling kepada Gan Bu Tong. Ia melihat betapa pemuda itu juga memandang
kepadanya penuh kagum, maka ia pun mengangguk. "Baiklah, aku tanpa sengaja telah terlibat dalam
urusan kalian, tidak apa menjadi saksi dari hubungan antara kalian yang menjadi baik."
Mereka semua lalu menuju ke perkampungan Hek-houw-pang. Dan dalam perjalanan ini dengan sengaja
Niocu mendekati Gan Bu Tong dan mengajaknya bercakap-cakap. Dia bertanya-tanya tentang keadaan
pemuda itu dan hatinya girang mendengar bahwa pemuda itu sudah yatim piatu dan belum bertunangan
apa lagi menikah. Dan pemuda itu pun jelas kelihatan amat kagum kepadanya. Juga usia Gan Bu Tong
sudah dua puluh lima tahun, berarti dua tahun lebih tua dari pada usianya.
Sebaliknya sikap yang amat ramah dan bersahabat dari Niocu membuat dia akrab sekali dengan gadis itu.
Tadinya Bu Tong memang agak sungkan terhadap Niocu yang dianggapnya mempunyai tingkat yang lebih
tinggi dari pada dia, juga namanya sudah terkenal sekali di dunia kangouw sebagai tokoh yang ditakuti.
Akan tetapi setelah bercakap-cakap dengan dia, dia mendapat kenyataan bahwa Niocu amat manis budi
dan bijaksana sehingga dia merasa cocok dan tidak menjadi rendah diri.
Demikian pula dengan Lo Siu Lan. Ia berterima kasih sekali kepada Niocu yang telah membantu untuk
membebaskannya. Maka setelah mereka semua dijamu sebagai tamu kehormatan oleh Hek-houw Tang
Kwi yang membicarakan dengan Lo Cit mengenai perjodohan antara anak mereka, Lo Siu Lan minta
dengan sangat agar Niocu suka singgah di rumahnya. Permintaan ini diterima dengan senang hati oleh
Niocu.
Setelah tinggal beberapa hari di rumah kediaman keluarga Lo, yaitu di perkampungan Kwi-kiam-pang,
hubungan antara Niocu dan Bu Tong menjadi makin akrab. Pada suatu sore Niocu dan Bu Tong berjalanjalan
di luar perkampungan di Kwi-kiam-pang. Niocu yang mengajaknya dan Bu Tong dengan girang
menyambut ajakan itu.
"Tong-ko, aku heran sekali melihatmu," kata Niocu sambil melangkah perlahan.
"Kenapa heran, Niocu?"
"Engkau murid seorang ketua perkumpulan yang terkenal. Engkau juga mempunyai ilmu kepandaian yang
cukup tinggi dan hidupmu sudah sebatang kara karena tidak memiliki orang tua atau keluarga lain. Akan
tetapi kenapa sampai usia dua puluh lima engkau belum juga menikah?"
Gan Bu Tong tersenyum malu-malu mendengar ini. "Ahh, Niocu. Orang seperti aku ini siapa yang suka
menjadi isteriku? Pula, aku mengganggap suhu sebagai orang tuaku dan Lan-sumoi sebagai adik sendiri."
"Tidak keliru engkau memilih keluarga gurumu sebagai keluarga sendiri. Tetapi apakah engkau tidak ingin
membentuk keluarga sendiri, berumah tangga dan mempunyai anak-anak?"
Bu Tong teringat kepada Siu Lan. Dia pernah jatuh cinta kepada sumoi-nya itu dan ingin memperisterinya,
akan tetapi ternyata Siu Lan tak mencintainya, melainkan hanya suka sebagai seorang kakak. Bahkan Siu
Lan agaknya kini tertarik kepada Tang Hun dan perjodohan mereka telah dibicarakan oleh orang tua
masing-masing.
dunia-kangouw.blogspot.com
Habislah sudah harapannya untuk memperisteri Siu Lan. Sejak pertama kali bertemu dengan Bi-kiam
Niocu Siang Bi Kiok, dia memang sudah tertarik dan kagum sekali. Apa lagi setelah pergaulan mereka
akrab, dia semakin tertarik. Akan tetapi sedikit pun dia tidak mempunyai pikiran untuk jatuh cinta kepada
tokoh yang terkenal ini. Dia tidak berani. Siu Lan saja menolaknya, apa lagi seorang tokoh besar seperti Bikiam
Niocu!
Setelah menghela napas panjang beberapa kali, dia pun menjawab. "Tentu saja kadang timbul keinginanku
untuk berumah tangga, Niocu. Akan tetapi seperti kukatakan tadi, siapa orangnya mau mendampingi aku
sebagai isteriku? Aku seorang pemuda yang yatim piatu, tidak mempunyai apa-apa." Kemudian dia teringat
bahwa gadis ini bertanya terlalu mendalam, maka timbul keberaniannya untuk bertanya. "Akan tetapi
engkau sendiri, Niocu. Kulihat usiamu pasti lebih tua dari sumoi, mengapa engkau juga beIum berumah
tangga?"
Bi-kiam Niocu tersenyum dan Bu Tong memandang dengan hati terpesona. Bukan main manisnya wanita
ini kalau tersenyum!
"Tentu saja aku jauh lebih tua dari Siu Lan. Usiaku sudah dua puluh tiga tahun. Terus terang saja, entah
berapa banyak pria yang meminangku, akan tetapi semuanya itu kutolak. Aku belum menemukan seorang
yang cocok untuk menjadi pilihanku. Karena itulah sampai kini aku belum juga menikah."
"Niocu, seorang gadis seperti engkau ini, cantik jelita, berilmu tinggi dan berbudi mulia, bijaksana, tentu
saja berhak memilih seorang calon suami yang sebaik-baiknya."
"Ahh, jangan terlalu memuji padaku, Tong-ko. Dengarkanlah pendapat dunia kang-ouw tentang diriku dan
engkau akan tahu bahwa aku tidak patut dipuji seperti itu. Aku pernah terkutuk, pernah bersumpah bahwa
aku akan membunuh pria yang berani mencintaku! Entah sudah berapa orang yang kubunuh karena itu.
Akan tetapi aku sekarang telah terbebas dari kutukan itu, bahkan aku mendambakan cinta kasih yang tulus
ikhlas dari seorang pria. Aku tidak memilih yang muluk-muluk, melainkan yang berhati bersih, jujur dan
mencintaku tanpa pamrih."
"Niocu...!"
"Ada apakah, Tong-ko?"
"Kalau sekarang ada seorang pria yang jatuh cinta kepadamu, seorang pria yang tidak berharga, miskin
dan papa, yang tidak mampu menjanjikan apa pun kepadamu, apakah engkau dapat menerima cintanya?"
"Aku tidak membutuhkan pria yang kaya raya atau pun pandai dan berkedudukan. Aku membutuhkan pria
yang jujur dan baik."
"Niocu, aku... aku seorang tak berharga, yatim piatu tidak mempunyai apa-apa..." Dia berhenti bicara.
“Ya...? Mengapa?"
"Aku yang hina ini telah berani bermimpi tentang bintang yang tidak terjangkau oleh tangan..."
"Tidak oleh tangan, melainkan harus dijangkau oleh hati yang penuh cinta kasih."
"Aku... maafkan aku, Niocu. Aku seperti dalam mimpi. Aku berani jatuh cinta padamu..."
Kedua pipi Bi-kiam Niocu menjadi merah padam, jantungnya berdebar karena girang. "Cintamu tidak siasia,
Tong-ko!"
Bu Tong terbelalak memandang wajah yang cantik itu. "Maksudmu, engkau tidak marah padaku?"
Niocu menggeleng kepalanya. "Tidak, aku malah merasa girang dan berbahagia sekali karena pria dalam
angan-anganku tadi sepertimu inilah, Tong-ko. Engkau jujur, engkau sederhana, engkau rendah hati."
Keduanya sudah berhenti melangkah sejak tadi dan berdiri saling berhadapan. Dua pasang mata saling
bertemu bertaut dan dua pasang mata itu menjadi basah karena haru.
dunia-kangouw.blogspot.com
Bu Tong melangkah maju dan memegang kedua tangan Niocu. "Benarkah semua ini? Bukan mimpi
kosong belaka? Niocu, benarkah engkau bisa menerima cintaku? Maukah engkau menjadi isteriku?"
"Kita berdua sama-sama yatim piatu, tidak mempunyai siapa-siapa di dunia ini. Tentu saja aku mau
menjadi isterimu, Tong-ko."
Bukan main girangnya hati Bu Tong di saat itu. Dengan kedua lengannya yang tegap itu dia memeluk
Niocu sedemikian kuatnya, seolah dia ingin membenamkan kepala yang tersayang itu ke dalam dadanya.
Setelah merasa yakin bahwa dalam hidupnya ada Bi-kiam Niocu Siang Bi Kiok, Gan Bu Tong menjadi
pemberani. Dengan terus terang dia mengajak kekasihnya menghadap gurunya.
"Suhu, teecu mohon doa restu dan persetujuan Suhu, karena teecu dan Niocu sudah mengambil
keputusan untuk menjadi suami isteri!" Pengakuan ini dia katakan di depan Toat-beng Kiam-sian, isterinya
dan juga di depan Lo Siu Lan.
Mendengar ini, Lo Siu Lan langsung berteriak girang. Dia segera menghampiri Niocu dan merangkulnya.
"Ah, selamat kuucapkan kepada kalian! Enci Bi Kiok, hatiku merasa gembira bukan main mendengar berita
yang membahagiakan ini!"
Toat-beng Kiam-sian Lo Cit juga merasa heran dan gembira sekali. Dia menganggap bahwa muridnya itu
berperuntungan baik sekali, dapat menjadi pilihan Bi-kiam Niocu untuk menjadi jodohnya.
"Tentu saja kami merasa berbahagia sekali, Bu Tong. Semoga kalian menjadi suami isteri yang
berbahagia. Dan karena engkau tidak memiliki keluarga yang bisa menjadi wali, biarlah kami yang akan
menikahkan kalian, berbareng dengan pernikahan Siu Lan dengan Tang Hun!" kata Toat-beng Kiam-sian
Lo Cit.
Demikianlah, semenjak hari itu Niocu tinggal di Kwi-san untuk menunggu hari baik itu. Perjodohan antara
mereka akan dibarengkan dengan perjodohan antara Siu Lan dan Tang Hun…..
********************
Di kota raja juga terjadi hal yang berbahagia. Setelah bertemu dengan Tao Kwi Hong, Cia Kun tergila-gila
kepada saudara misan itu. Sebaliknya Kwi Hong juga tertarik sekali kepada putera Pangeran Cia Sun itu.
Hubungan mereka menjadi semakin akrab dan akhirnya Cia Kun minta kepada ayah bundanya untuk
melamarkan Tao Kwi Hong.
Pinangan itu diterima baik oleh Pangeran Tao Kuang, karena selain puterinya setuju, juga dia melihat
bahwa Pangeran Cia Sun adalah seorang pangeran yang baik. Sebagai seorang pangeran namanya cukup
bersih dan terhormat.
Lalu bagaimana dengan Keng Han? Pemuda ini melakukan perjalanan ke Barat Laut. Pada suatu hari
sampailah dia di perkampungan Khitan. Ternyata kakeknya, Khalaban, telah meninggal dunia dan yang
ditunjuk sebagai penggantinya adalah Kalucin.
Silani, ibu Keng Han, dan juga Kalucin yang dipanggilnya paman, menyambut mereka dengan gembira.
Bahkan Kalucin lalu mengadakan sebuah pesta untuk menyambut pulangnya pemuda itu. Seluruh
perkampungan itu bergembira ria.
Sejak ditinggalkan oleh puteranya, siang malam Silani menanti kembalinya Keng Han dengan penuh
harapan. Bahkan Kalucin sudah beberapa kali mengajukan pinangan kepadanya. Namun Silani selalu
menolaknya, dan mengatakan bahwa dia masih isteri Pangeran Tao Seng yang belum diketahui
bagaimana nasibnya itu.
Sampai berusia empat puluh lima tahun Kalucin masih belum beristeri. Dia benar-benar mencinta Silani
dan tidak dapat menikah dengan wanita lain sebelum Silani bertemu kembali dengan suaminya.
Biar pun pulangnya Keng Han amat membahagiakan mereka semua, namun diam-diam Silani kecewa
karena suaminya tidak datang bersama puteranya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah memperoleh kesempatan untuk bicara berdua saja dengan puteranya, Silani tidak dapat lagi
menahan keinginan hatinya dan ia bertanya, "Bagaimana, Keng Han, apakah engkau sudah bertemu
dengan ayahmu? Kenapa dia tidak ikut datang bersama denganmu? Apakah dia menyuruh memboyongku
ke sana?"
Dihujani pertanyaan itu, Keng Han merasa kasihan sekali kepada ibunya. "Maafkan aku, Ibu. Aku datang
tidak membawa berita yang baik. Ayah... ayah... sudah meninggal dunia."
Silani terbelalak, mulutnya terbuka lalu perlahan-lahan air matanya berjatuhan ke atas pipinya yang
menjadi pucat, lalu ia menutupi mukanya dan menangis. Keng Han maju dan merangkulnya dan wanita itu
menangis di dada puteranya. Keng Han mengelus pundak ibunya dan menghiburnya.
Setelah tangisnya mereda, dengan muka pucat sekali Silani bertanya apa yang telah terjadi dengan
suaminya.
"Ayah memang seorang pangeran, Ibu. Akan tetapi ia bukan Pangeran Mahkota seperti yang diakuinya.
Ketika dia meninggalkan ibu dan pulang ke kota raja, dia melakukan perbuatan yang buruk, yaitu dia
hendak membunuh Pangeran Mahkota yang menjadi saudaranya sendiri. Dia ingin menjadi Pangeran
Mahkota. Akan tetapi usahanya gagal, bahkan dia ditangkap dan dihukum buang selama dua puluh tahun."
"Ahh, pantas dia tidak memberi kabar sama sekali. Kiranya dia dihukum..."
"Pada waktu tiba di kota raja, aku mendapatkan ayah telah menyamar sebagai seorang hartawan she Ji
dan kembali dia mendirikan komplotan untuk membunuh Kaisar dan Putera Mahkota karena dia ingin
menjadi kaisar. Dan kembali usahanya gagal, bahkan ayah terbunuh dalam usahanya itu. Aku dikeroyok
oleh tiga orang datuk sakti dan ayah hendak menolong dan membelaku, dan dalam usahanya inilah dia
terbunuh. Aku sudah menguburkan jenazahnya di suatu tempat. Sebelum dia tewas dia berpesan
kepadaku untuk memintakan ampun darimu, Ibu!"
"Ahhhhh...!" Kembali ibunya menangis.
Setelah tangisnya reda Silani bertanya kepada puteranya. "Akan tetapi kenapa engkau begitu lama pergi?
Sampai hampir enam tahun engkau pergi, membuat hati kami semua selalu mengkhawatirkan
keselamatanmu."
Mendengar pertanyaan ibunya ini, Keng Han lalu menceritakan semua pengalamannya dengan panjang
lebar, betapa selama lima tahun dia hidup terasing di Pulau Hantu dan mempelajari ilmu silat yang dia
temukan di sana. Kemudian dia menceritakan semua yang telah dialaminya.
Ibunya memandang kepadanya dengan kagum.
"Demikian banyak dan hebatnya pengalamanmu, anakku. Akan tetapi engkau pulang bersama gadis yang
berkerudung itu. Siapakah dia, Keng Han?"
"Ia seorang sahabat baik bernama The Cu In, Ibu. Puteri seorang panglima tinggi di kota raja."
"Hemmm, sahabat baik? Sampai di mana kebaikan itu?"
"Dia sudah sering kali menolongku dari kesulitan dan bahaya, Ibu. Kalau tidak ada dia yang menolong,
mungkin sekali aku tidak dapat pulang hari ini."
"Akan tetapi mengapa dia ikut ke sini?"
"Dia ikut agar dapat berkenalan dengan Ibu. Terus terang saja, Ibu, dia bukan sahabat biasa. Kami berdua
sudah mengambil keputusan untuk menjadi suami isteri dan aku mengajaknya supaya Ibu dapat mengenal
calon mantunya." Wajah Keng Han berubah kemerahan ketika membuat pengakuan itu.
"Calon menantuku? Ahhh, aku girang sekali. Akan tetapi mengapa dia selalu menutupi mukanya dengan
cadar? Suruhlah dia membuka cadarnya agar semua orang melihat betapa cantiknya calon menantuku!"
Jantung Keng Han berdebar tegang mendengar ucapan ibunya itu. Akan tetapi dia lalu teringat bahwa Cu
In hanya mau memperlihatkan mukanya kepada ibunya saja, tidak kepada orang lain.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ibu, Cu In sudah bersumpah bahwa dia baru akan membuka cadarnya pada hari pernikahannya."
"Hemmm, sumpah yang aneh sekali. Bagaimana aku dapat menyetujui pilihanmu itu sebelum aku melihat
wajah calon menantuku? Dia harus membuka cadarnya agar aku dapat melihat mukanya, Keng Han," kata
Silani dengan tegas.
"Akan tetapi Ibu harus berjanji dulu padaku bahwa betapa pun jelek wajah Cu In, aku telah mencintanya
dan ingin dia menjadi isteriku, Ibu."
Ibunya memandang wajah puteranya penuh selidik. "Cinta benarkah engkau padanya, anakku?"
"Aku mencintanya dengan seluruh jiwa ragaku. Bagiku, wajah tidak banyak artinya. Aku mencinta
pribadinya, pembawaannya, sikap dan budinya, Ibu. Aku sudah sering kali bertemu wanita yang wajahnya
cantik, akan tetapi aku tidak tertarik kepada mereka."
"Hemmm, dan bagaimana dengan gadis itu? Apakah dia juga mencintamu sebesar cintamu kepadanya?"
"Menurut pengakuannya begitu, Ibu. Dan juga sudah terbukti dari sepak terjangnya saat menolongku. Aku
percaya sepenuhnya kepadanya!"
"Hemmm, cinta memang dapat memabukkan manusia, anakku. Baiklah, aku tidak akan terpengaruh oleh
baik buruknya muka calon mantuku. Aku sudah merasa puas asal diperbolehkan melihatnya sendiri
dengan mataku.”
"Kalau begitu, biar kupanggil dia menghadap Ibu," kata Keng Han yang segera keluar dari kamar ibunya
dan mencari Cu In di dalam kamar yang disediakan untuk gadis itu.
Dia mengetuk pintu. Cu In membukanya dari dalam. "Cu In, apa yang kukhawatirkan telah terjadi," katanya
dengan gelisah.
"Apakah itu, Han-ko?"
"Ibu ingin bicara denganmu, ingin bertemu dan ingin melihat wajahmu, In-moi!"
Tadinya Keng Han menduga bahwa kekasihnya tentu akan menjadi gugup dan gelisah pula. Akan tetapi
dia kecelik. Cu In sama sekali tak nampak gugup atau gelisah, bahkan sepasang matanya berseri-seri.
"Kalau memang itu yang ibumu kehendaki, aku harus menghadapnya sekarang juga, Han-ko," katanya
sambil bangkit berdiri.
Keng Han memegang pundaknya. "Tetapi kau... kau harus siap kalau ibuku terkejut, bahkan menolakmu.
Jangan sampai perasaanmu tertusuk, In-moi."
"Aku tahu, Han-ko. Dan kurasa ibumu tidak akan begitu. Aku percaya sepenuhnya bahwa dia adalah
seorang ibu bijaksana. Nah, biar aku menghadapnya, akan tetapi engkau tidak perlu ikut, Han-ko. Aku ingin
berdua saja dengan ibumu."
Keng Han maklum. Gadis kekasihnya ini tidak ingin melihat perasaannya terpukul. Maka dia mengangguk
dan menunjukkan di mana kamar ibunya. Akan tetapi dia tidak pergi meninggalkan begitu saja. Dia tetap
melihat dari situ, siap untuk menghibur kekasihnya kalau nanti keluar sambil menangis.
Dengan langkah yang tegap Cu In menghampiri kamar Silani dan mengetuk pintunya.
"Siapa?" terdengar wanita itu bertanya dari dalam.
"Saya, Bibi. Saya Cu In, ingin menghadap dan bicara dengan Bibi."
"Ahhh, engkau Cu In, pintunya tidak terkunci, buka saja dan masuklah."
dunia-kangouw.blogspot.com
Cu In mendorong pintu kamar dan masuk. Jantung Keng Han berdebar tegang melihat gadis itu memasuki
kamar ibunya. Dia memandang pintu kamar itu penuh perhatian, seolah pandang matanya ingin
menembus pintu dan melihat apa yang terjadi di dalam.
Dia mengira bahwa tidak lama kemudian akan mendengar teriakan ibunya, lalu disusul keluarnya Cu In
sambil menangis. Akan tetapi hal seperti yang dia khawatirkan itu tidak terjadi. Setelah menanti sampai
lama sekali, akhirnya daun pintu terbuka dan Keng Han sudah siap menyambut dan menghibur kekasihnya
yang keluar sambil menangis.
Akan tetapi kembali Keng Han kecelik. Gadis itu keluar tidak menangis, bahkan kedua matanya bersinarsinar,
diikuti ibunya yang juga tersenyum-senyum.
Keng Han menyongsong mereka dan bertanya kepada ibunya. "Ibu, apakah Ibu sudah melihat wajah Cu
In? Bagaimana pendapat Ibu?”
"Keng Han, manusia tidak dapat dinilai dari cantik tidaknya wajahnya, melainkan dari budi pekertinya. Aku
mendapatkan bahwa calon isterimu ini seorang yang bijaksana. Engkau memang pandai dan cocok sekali
memilihnya sebagai isterimu."
"Akan tetapi, wajahnya...?" Saking herannya Keng Han bertanya.
"Jangan mempersoalkan tentang wajah. Melihat ia seorang gadis yang bijaksana sudah cukup bagiku!"
"Terima kasih, Ibu!" Keng Han girang bukan main, "Akan tetapi aku belum meminang dia dengan resmi
kepada ayah bundanya, Ibu."
"Kenapa begitu?"
"Karena aku ingin memberi tahu dulu kepada Ibu dan minta persetujuan Ibu."
"Aku menyetujui sepenuhnya dan cepat-cepat engkau melamarnya, Keng Han. Karena ibumu berada di
tempat jauh, biar engkau saja melamar sendiri. Kalau sudah menikah aku harap kalian suka menjenguk
ibumu."
"Tentu saja, Ibu!"
Demikianlah, setelah tinggal di rumah ibunya sampai dua pekan, Keng Han dan Cu In kembali melakukan
perjalanan ke timur, menuju ke kota raja.
Hati Keng Han gembira bukan main. Satu-satunya persoalan yang selama ini sangat mengganggu
pikirannya adalah bagaimana jika ibunya melihat wajah Cu In yang cacat. Dia khawatir kalau-kalau ibunya
akan menolaknya. Akan tetapi ternyata tidak. Ibunya menerima kenyataan itu dengan hati terbuka, dengan
bijaksana.
Akan tetapi baru saja dia kematian ayahnya. Untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang putera,
ketika mereka diterima oleh Panglima The dan membicarakan tentang perjodohannya dengan Cu In, dia
mengatakan bahwa untuk melaksanakan pernikahan dia harus menunggu setahun setelah kematian
ayahnya.
Mendengar ini, Panglima The bahkan mengagumi calon menantunya dan menyatakan setuju. Demikian
pula Ang Hwa Nio-nio, sepenuhnya menyetujui. Cu In sendiri tentu saja merasa senang melihat calon
suaminya membuktikan bahwa dirinya seorang anak yang berbakti.
Beberapa bulan kemudian, Keng Han dan Cu In menerima undangan dari Toat-beng Kiam-sian Lo Cit yang
menikahkan Lo Siu Lan dengan Tang Hun, dan Gan Bu Tong dengan Bi-kiam Niocu Siang Bi Kiok.
Perayaan mempelai kembar itu sangat meriah. Mereka juga menghadiri pernikahan yang dirayakan secara
besar-besaran antara Cia Kun dan Tao Kwi Hong sebagai mempelai bangsawan.
Setelah lewat setahun meninggalnya Pangeran Tao Seng, maka pernikahan antara Cu In dan Keng Han
dapat dilaksanakan. Semua tamu merasa heran karena mempelai wanita tetap memakai cadar.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah sepasang mempelai berada berdua saja di dalam kamar, Keng Han hendak membuka cadar
isterinya. "Jangan dulu, Han-ko!"
"Ehhh? Kenapa, In-moi? Bukankah engkau berjanji akan membuka cadar setelah kita menikah?"
"Nanti dulu, berjanjilah dulu bahwa engkau akan tetap mencintaku, bagaimana pun juga rupaku!"
"Ha-ha-ha, In-moi. Aku sudah pernah melihat wajahmu. Apakah ada perubahan yang kau lihat dalam
sikapku kepadamu? Aku tetap mencintamu, bagaimana pun juga bentuk wajahmu."
"Benarkah? Engkau berani bersumpah?"
"Aku bersumpah, disaksikan Tuhan, Langit dan Bumi, bahwa aku akan tetap mencinta dirimu seutuhnya,
bagaimana pun juga bentuk wajahmu!" kata Keng Han dengan suara tegas.
Terdengar gadis itu terisak. "Dan aku... aku pun hanya isterimu yang buruk dan bodoh, aku... aku
selamanya mencintamu! Nah, sekarang bukalah cadarku, perlahan-lahan saja, Han-ko!"
Meski pun dia sudah tahu bahwa dari atas hidung ke bawah, wajah isterinya ini cacat menghitam, akan
tetapi kedua tangannya gemetar juga ketika dia membuka cadar, disingkapkan ke atas. Setelah cadar
dibuka, Keng Han meloncat ke belakang seperti diserang ular.
"Kau... kau... kau bukan Cu In!" Keng Han menatap wajah yang cantik jelita itu. "Siapa engkau...?"
Wanita itu menutupkan kembali cadarnya. "Aku adalah The Cu In, Han-ko. Engkau ini mengapakah?"
"Tapi, tetapi... wajahmu itu...!" Kembali dia menyingkap cadar itu, bahkan merenggut lepas dari kepala Cu
In. "Engkau... benarkah engkau Cu In isteriku?"
Cu In bangkit berdiri dan tersenyum manis sekali. "Aku memang Cu In, isterimu. Dan mulai malam ini aku
meninggalkan cadarku, juga menghapus penyamaranku."
"Jadi selama ini engkau menyamar? Mengapa engkau tega membohongi aku dengan menyamar sebagai
gadis yang cacat mukanya?"
"Aku memang sengaja hendak menguji cintamu, Han-ko. Akan tetapi ternyata engkau tetap mencintaku
dengan wajahku yang buruk. Aku... aku bersyukur dan berterima kasih sekali, suamiku..."
Keng Han melangkah maju dan merangkul Cu In yang menyembunyikan mukanya di dada suaminya
sambil menangis.
"Akan tetapi mengapa? Mengapa engkau selama ini menyamar sebagai dara yang cacat mukanya dan
mengenakan cadar?"
"Semua ini gara-gara sikap ibuku. Ibuku selalu menceritakan bahwa semua laki-laki itu jahat, bagaikan
kumbang yang sesudah puas menghisap madunya kembang kemudian meninggalkannya begitu saja. Aku
lalu menyamar sebagai seorang gadis yang buruk muka karena cacar, lalu memakai cadar supaya jangan
ada laki-laki mencintaku. Tidak tahunya muncullah engkau, laki-laki bodoh yang jatuh cinta kepadaku!
Tidak ada yang mengetahui rahasiaku ini kecuali ibuku. Suci-ku sendiri pun tidak pernah tahu. Yang
mengetahui hanya ibuku dan ibumu."
"Ibuku...?"
"Ya, ibumu. Lupakah engkau betapa ibumu ingin melihat mukaku? Nah, ketika itulah aku melepas
penyamaranku sehingga ibumu dapat melihat wajah asliku. Akan tetapi aku berpesan agar beliau tidak
membuka rahasiaku, juga tidak kepadamu."
"Ihh, engkau nakal, In-moi!" kata Keng Han sambil menciumnya. "Kenapa engkau terus menyembunyikan
dariku pada hal engkau tahu bahwa bagaimana pun rupamu aku tetap mencintamu?"
"Aku ingin menguji cintamu sampai penghabisan, sampai kita menikah. Apakah engkau tidak senang
melihat aku tidak cacat?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Tidak senang? Tentu saja aku bahagia sekali karena kalau begini aku tidak perlu menghajar orang!"
"Menghajar orang?"
"Ya, kalau engkau sudah membuka cadarmu dan ada orang yang mengejekmu, pasti kuhajar orang itu.
Akan tetapi sekarang tidak akan, tidak ada yang mengejekmu, yang ada hanya memujimu."
Keng Han lalu merenggangkan dirinya dan memegang wajah itu pada kedua pipinya untuk dipandang
dengan penuh perhatian. Hatinya menjadi sebesar gunung karena wajah isterinya benar-benar cantik
seperti bidadari.
"Kenapa engkau...?"
"Mengagumi wajahmu yang begitu cantik bagaikan seorang dewi turun dari kahyangan saja."
"Ihhh, engkau membuat aku malu!"
"Biar, inilah sebagai hukumanmu menggodaku semenjak dahulu!" kata Keng Han sambil mendekatkan
mukanya dan mencium isterinya…..
>>>>> T A M A T <<<<<
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Best Cersil

Pecinta Cersil