Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 27 September 2017

Pusaka Pulau Es 2 Komik Terhot Kho Ping Hoo

Pusaka Pulau Es 2 Komik Terhot Kho Ping Hoo Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Pusaka Pulau Es 2 Komik Terhot Kho Ping Hoo
kumpulan cerita silat cersil online
-
Dengan sinar mata termenung Bi-kiam Niocu memandang pada Keng Han yang sedang membakar daging
kijang. Dia sudah menaruh bumbu pada daging itu. Kalau melakukan perjalanan, wanita ini selalu
membawa bekal bumbu, seperti garam, merica dan lain-lain untuk penyedap makanan.
Ia merasa heran sekali. Mengapa hatinya begini tertarik kepada Keng Han dan ia tidak menghendaki
pemuda itu jauh darinya? Selama ini, sampai usianya telah dua puluh dua tahun, ia selalu merasa tidak
suka kepada laki-laki.
Semenjak ia belajar ilmu silat dari gurunya, yaitu seorang pendeta wanita yang hidup mengasingkan diri,
gurunya selalu menekankan betapa jahatnya kaum pria. Karena ini, sejak kecil sudah tumbuh semacam
perasaan tidak suka kepada pria.
Apa lagi setelah ia mulai remaja ia melihat betapa mata laki-laki seperti mata elang saja menatapnya,
seperti mata elang melihat anak ayam, ingin menerkam. Semakin tak suka hatinya terhadap pria, makin
dewasa ia makin muak. Entah berapa banyaknya pria yang telah dibunuhnya, hanya akibat pria itu berani
memandangnya terlalu lama, menegurnya secara kurang ajar atau hendak menggodanya.
Akan tetapi kini dia merasa heran sekali. Mengapa dia begini tertarik kepada Keng Han yang bahkan lebih
muda darinya? Apa lagi kalau dia membayangkan ketika pemuda itu mendekapnya untuk menghalanginya
melakukan pembunuhan. Dekapan yang kuat dan hangat itu seolah masih terasa! Dan jantungnya
berdebar aneh.
Daging kijang panggang itu sudah matang dan mereka lalu makan daging yang lunak dan sedap itu. Bikiam
Niocu mengeluarkan seguci arak dan mereka pun makan minum dengan lahapnya karena memang
perut mereka terasa lapar. Akan tetapi diam-diam harus diakui oleh Niocu bahwa belum pernah ia makan
daging panggang selezat ini!
Setelah selesai makan, Bi-kiam Niocu berkata, “Selama perjalanan kita ke Tibet, engkau harus selalu
mentaati omonganku, Keng Han. Aku jauh lebih berpengalaman darimu, kalau engkau tidak mendengar
omonganku, bisa-bisa engkau akan celaka.”
“Tidak, Niocu. Aku tidak akan melakukan perjalanan bersamamu. Sekarang juga aku akan memisahkan diri
darimu dan aku akan melakukan perjalanan ke Tibet seorang diri saja.”
“Ehhh, kenapa begitu?”
“Karena engkau kejam sekali. Tadi kembali engkau membunuhi banyak orang dan aku merasa tidak
senang sekali melihat engkau begitu kejam.”
“Engkau tidak boleh meninggalkan aku. Kalau engkau meninggalkan aku, maka dalam beberapa hari lagi
engkau akan mati keracunan. Ingat, tubuhmu sudah kupukul dengan Tok-ciang, dan hanya aku yang dapat
memberi obat pemunahnya.”
“Biarlah! Lebih baik mati keracunan dari pada menjadi saksi kekejamanmu.”
“Demikian besarkah perasaan bencimu kepadaku, Keng Han?” Di dalam ucapannya itu terkandung
kesedihan yang mengherankan hati Niocu sendiri.
“Aku tidak membencimu, Niocu. Bila tadinya aku suka melakukan perjalanan denganmu, tadinya aku
mengharap akan dapat menasehatimu agar tidak terlalu kejam. Akan tetapi engkau tetap kejam sekali,
maka aku tidak tahan lagi untuk terus melakukan perjalanan denganmu. Nah sekarang aku harus
dunia-kangouw.blogspot.com
meninggalkanmu, Niocu. Selamat tinggal!” Keng Han mengemasi buntalan pakaiannya sendiri dan
memanggulnya, lalu melangkah pergi dari situ.
Melihat kenekatan pemuda itu, Niocu segera bangkit berdiri dan berseru. “Nanti dulu, Keng Han! Engkau
akan mati dalam beberapa hari lagi. Nah, biarlah kusembuhkan dulu lukamu karena pukulanku yang
beracun itu!”
Niocu menghampiri Keng Han dan menyuruhnya membuka bajunya. Ketika melihat ke arah dada kiri
pemuda itu, ia terbelalak dan ternganga keheranan. Kulit dada itu putih bersih, sama sekali tidak ada tanda
telapak tangan merah seperti yang seharusnya ada.
“Aihhh... aneh sekali...!” Keng Han pura-pura terkejut.
“Tanda tapak tangan merah itu telah lenyap! Ini tidak mungkin!”
“Kenapa tidak mungkin? Kenyataannya telah lenyap dan berarti aku telah sembuh. Tak perlu lagi engkau
mengobatiku,” kata Keng Han sambil menutupkan kembali bajunya.
“Hemmm, kau hedak mempermainkan aku, ya! Sambutlah serangan ini!” Wanita itu lalu menyerang
dengan hebatnya!
“Ehhh, apa yang kau lakukan ini?”
Keng Han melompat ke belakang untuk menghindarkan diri dari serangan itu. Namun wanita itu
mengejarnya dan terus menyerang kalang-kabut dengan gencar sekali. Keng Han terpaksa mainkan ilmu
silat Hong-In Bun-hoat untuk menghindarkan diri. Ternyata ilmu silatnya ini hebat sekali. Dia seolah tidak
bersilat, hanya menuliskan huruf-huruf di udara dan semua serangan Bi-kiam Niocu dapat dielakkan atau
ditangkis!
Tentu saja wanita itu menjadi penasaran sekali. Ia mengeluarkan ilmu totokannya yang ampuh, yaitu Tokciang.
Ilmu ini bukan hanya menotok, akan tetapi juga menampar dan kedua tangan itu lalu berubah
merah!
Meski pun Keng Han mampu mengelak sampai puluhan jurus, suatu ketika dia tidak lagi bisa
menghindarkan diri dan sebuah totokan mengenai pundaknya, membuat tubuhnya lemas dan tidak
berdaya! Bi-kiam Niocu menambahkan beberapa totokan pada kedua pundak dan dadanya sehingga tubuh
Keng Han benar-benar tak mampu bergerak lagi.
Akan tetapi pemuda itu maklum bahwa kalau dia mengerahkan tenaga dari pusarnya, totokan itu pasti akan
dapat dipunahkannya dalam waktu tidak terlalu lama. Karena itu dia hanya memandang dengan mata
melotot kepada wanita itu.
“Wanita kejam! Apakah engkau juga hendak membunuhku? Lakukanlah, aku tidak takut mati!”
“Keng Han, mengapa engkau begini keras kepala? Apakah tidak ada manusia di dunia ini yang kau taati?”
“Tentu saja ada. Yang kutaati hanyalah ayah bundaku dan juga guruku. Jika orang lain, hanya yang benar
yang akan kutaati, yang tidak benar tentu tidak kutaati!”
Wanita itu tersenyum. “Keng Han, aku melihat ilmu silatmu hebat sekali, tetapi buktinya engkau masih
kalah olehku. Maukah engkau menjadi muridku?”
“Hemmm, untuk apa menjadi muridmu? Untuk belajar membunuh? Ilmu silatku sudah cukup untuk
menjaga diri.”
“Akan tetapi engkau tidak berdaya menghadapi ilmu totokanku. Bagaimana jika engkau mempelajari ilmu
menotok dariku? Ilmuku menotok itu disebut Tok-ciang Tiam-hiat-hoat. Kalau engkau memiliki ilmu ini tentu
tidak mudah engkau dikalahkan orang.”
Keng Han tertarik sekali. Harus dia akui bahwa ilmu totokan dari wanita itu lihai bukan main. Dua kali sudah
dia roboh karena totokan itu. Dan kalau totokan lain dapat ditolak dengan sinkang-nya, ternyata totokan ini
dunia-kangouw.blogspot.com
tidak. Baru setelah lama mengerahkan tenaga sinkang, dia dapat membebaskan diri. Padahal totokan lain
dapat ditolak oleh kekebalan tubuhnya karena sinkang di dalam tubuhnya.
“Kalau engkau suka mengajarkan ilmu totokan itu kepadaku, tentu saja aku suka sekali mempelajarinya.”
Akhirnya setelah berpikir-pikir sejenak, dia menjawab.
“Bagus, aku suka mengajarkannya untukmu. Engkau tadi telah berusaha menolongku, sudah sepatutnya
kalau aku membalas budimu. Akan tetapi untuk mengajarkan ilmu itu, engkau harus mengangkatku
sebagai guru. Ini peraturan perguruanku, dan aku tidak mau melanggar peraturan. Nah, kubebaskan
totokan pada tubuhmu agar engkau dapat melakukan upacara pengangkatan guru.”
Secepat kilat tangan wanita itu bergerak menotok beberapa kali ke tubuh Keng Han dan segera pemuda itu
merasa betapa tubuhnya dapat bergerak kembali seperti biasa. Karena dia memang ingin sekali
mempelajari ilmu itu, maka dia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Bi-kiam Niocu dan memberi hormat
sambil menyebut subo (ibu guru).
Bi-kiam Niocu tertawa terkekeh, girang bukan main. “Bangkitlah, Keng Han. Mulai saat ini, engkau adalah
muridku dan aku adalah gurumu, bukan?”
“Benar, Subo. Apakah sekarang Subo akan mengajarkan Tok-ciang Tiam-hiat-hoat itu kepada teecu
(murid)?”
“Tak perlu tergesa-gesa, Keng Han. Dan mulai sekarang engkau harus mentaati segala perintahku,
mengerti?”
“Akan tetapi...”
“Akan tetapi apa? Ingat, aku adalah gurumu dan bukankah engkau sudah mengatakan bahwa engkau
hanya taat kepada orang tua dan gurumu?”
“Ahhh...? Jadi Subo hanya menggunakan akal agar aku selalu taat...?”
“Bukan hanya itu, aku memang ingin engkau menjadi muridku, akan tetapi murid yang taat. Nah, sekarang
ceritakan kepadaku tentang suhu-mu yang katanya terbunuh oleh utusan Dalai Lama. Ingat, aku akan
membantumu bertemu Dalai Lama dan hanya aku yang dapat menolongmu.”
Keng Han lalu menceritakan dengan singkat tentang tiga orang pendeta Lama Jubah Merah yang telah
membunuh Gosang Lama. Juga tentang pesan terakhir Gosang Lama agar dia membunuh Dalai Lama
yang mengutus tiga orang Lama Jubah Merah itu, dan juga membunuh ketua Bu-tong-pai yang menjadi
musuh besar gurunya itu.
Setelah Keng Han selesai bercerita, Bi-kiam Niocu menarik napas panjang dan berkata, “Gurumu itu
agaknya seorang yang benar-benar kejam. Aku membunuhi orang jahat kau katakan kejam, akan tetapi
gurumu itu seperti hendak membunuh engkau sendiri! Engkau mimpi kalau dapat membunuh Dalai Lama
dan ketua Bu-tong-pai. Sukarnya sama seperti naik ke langit! Aku sendiri, terus terang saja, tidak berani
mencoba untuk melakukan dua hal itu, akan tetapi aku dapat membantumu bertemu dengan Dalai Lama
dan juga dengan ketua Bu-tong-pai.”
Keng Han merasa girang sekali. “Bantuan itu saja sudah cukup bagi teecu, Subo. Kalau sudah bertemu
dengan mereka, aku akan menuntut mereka dan juga minta keterangan mengapa mereka memusuhi suhu
Gosang Lama. Selanjutnya biarlah aku sendiri yang akan menghadapi mereka.”
Mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju ke barat. Sekarang Keng Han merasa lebih senang karena
ternyata gurunya yang baru ini mengenal jalan ke Tibet sehingga tidak perlu bertanya-tanya lagi seperti
ketika dia melakukan perjalanan seorang diri. Dia percaya bahwa gurunya ini, walau pun masih muda,
namun berilmu tinggi dan sudah memiliki banyak pengalaman.
Ingin dia menanyakan riwayat subo-nya yang tentu menarik. Apakah subo-nya sudah memiliki suami?
Ataukah masih memiliki keluarga lain, dan kalau ada di mana tempat tinggalnya? Akan tetapi, dia khawatir
kalau dibentak karena subo-nya kadang bersikap galak kepadanya, maka sampai lama dia tidak pernah
mengajukan pertanyaan ini…..
dunia-kangouw.blogspot.com
********************
Malam itu gelap sekali, Keng Han dan Bi-kiam Niocu terpaksa melewatkan malam di sebuah goa. Menurut
Niocu, dusun yang terdekat dari situ masih lima puluh li lebih sehingga mereka akan kemalaman di tengah
jalan kalau melanjutkan perjalanan. Lebih baik melewatkan malam di goa itu, agak terlindung dari angin
dan hawa dingin.
Keng Han mengumpulkan kayu bakar dan membuat api unggun di depan goa. Dia pun mencari rumput
kering untuk alas lantai goa sehingga gurunya akan dapat mengaso. Akan tetapi Niocu duduk saja di dekat
api unggun dan termenung mengamati api yang bernyala. Keng Han duduk di depannya, terhalang api
unggun.
“Keng Han, ke sinilah. Duduk di dekatku sini, aku ingin bercakap-cakap denganmu.”
Keng Han pindah duduk di sebelah gurunya, tapi diam saja. Setelah agak lama mereka berdiam diri, Niocu
menghela napas panjang dan berkata, “Keng Han, apakah engkau berbahagia?”
Pemuda itu terheran mendengar pertanyaan ini. “Bahagia? Apakah artinya bahagia itu, Subo? Kita sudah
makan tadi, perutku kenyang, badan yang letih kini dapat beristirahat di dekat api unggun yang hangat
sehingga tubuh ini terasa enak. Hatiku juga merasa senang karena kita tidak mendapat gangguan. Ya,
boleh jadi aku berbahagia saat ini, Subo.”
“Aih, betapa rinduku akan kebahagiaan. Aku tidak pernah merasa berbahagia. Senang, memang. Akan
tetapi itu lain. lagi. Senang hanya sebentar saja lewat dan berlalu. Aku ingin bahagia! Ahh, betapa aku ingin
sekali bahagia, akan tetapi bagaimana caranya? Di manakah kebahagiaan itu? Aih, aku ingin mencarinya,
Keng Han. Apakah engkau dapat membantuku?”
“Bagaimana cara membantumu, Subo? Aku sendiri merasa berbahagia, lalu bagaimana aku dapat
menularkan kebahagiaan ini padamu? Kebahagiaan adalah suatu perasaan, suatu keadaan hati, dan hati
orang tidaklah sama. Aku sendiri saat ini merasa senang, tiada apa pun yang menggangguku, maka aku
tidak butuh bahagia itu! Barangkali Subo merasa tidak berbahagia, bagaimana bisa mencari kebahagiaan?
Hilangkanlah ketidak bahagiaan itu, Subo!”
“Aku merasa kesepian, merasa tidak bahagia, bagaimana dapat menghilangkan ketidak bahagiaan ini?”
“Ahh, aku juga tidak tahu, Subo.” Keduanya melamun sambil memandang ke dalam api yang bernyala di
depan mereka.
Setiap orang mendambakan kebahagiaan, bahkan ada yang mencari kebahagiaan itu dengan cara apa
pun, ada yang menyiksa diri, ada yang bertapa dan sebagainya lagi. Ada pula yang mengejarnya dengan
cara belajar ilmu ini dan itu, seolah kebahagiaan itu adalah sesuatu yang bisa dicari dan didapatkan.
Orang yang mendambakan kebahagiaan sudah pasti adalah orang yang tidak bahagia. Tidak bahagia
adalah suatu perasaan yang muncul apa bila terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan hati. Dalam
keadaan yang tidak bahagia ini, bagaimana mungkin orang mencari dan mendapatkan kebahagiaan?
Orang yang sedang berjalan-jalan di daerah pegunungan, kemudian melihat matahari tenggelam amat
indahnya dan pikirannya tidak melayang-layang tak karuan, sudah tentu dia akan mengalami kebahagiaan
itu. Kalau sudah begitu, tentu dia tidak perlu lagi mencari kebahagiaan!
Dari pada mencari-cari kebahagiaan, bukankah lebih tepat kalau mempelajari mengapa dia tidak bahagia,
apa yang menyebabkan dia tidak berbahagia. Kalau yang menjadi penyebab ketidak-bahagiaan itu sudah
tidak ada lagi, apakah dia masih membutuhkan kebahagiaan? Tidak lagi, karena dia sudah berbahagia!
Jadi, kebahagiaan itu sesungguhnya tak pernah meninggalkan kita, seperti Tuhan tidak pernah sedetik pun
meninggalkan kita dengan kasih sayangNya. Kitalah yang sering meninggalkan kebahagiaan, kitalah yang
meninggalkan Tuhan!
Kita meninggalkan kebahagiaan melalui akal pikiran yang bergelimang nafsu sehingga kita tak pernah
merasa puas dengan keadaan. Kita penuh harap, penuh kecewa, penuh iri, penuh amarah, penuh
kebencian. Semua itu membuat kebahagiaan tidak nampak lagi dan membuat kita merasa tidak
berbahagia!
dunia-kangouw.blogspot.com
Seperti halnya kesehatan. Kita sudah sehat setiap saat, akan tetapi kita tidak dapat merasakan itu, tidak
dapat menikmati itu. Kalau kita sakit saja barulah kita dapat membayangkan betapa akan nikmatnya kalau
kita sembuh dan sehat!
Kebahagiaan sudah ada setiap saat. Kalau ada gangguan sehingga kebahagiaan tidak terasa, itu adalah
kesalahan kita sendiri. Karena itu, setiap saat kita wajib bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kasih.
Kalau menghadapi mala petaka, di samping berusaha sekuatnya untuk menghindarkan diri, juga kita harus
menyerah dan pasrah sepenuhnya kepada Tuhan, karena hanya Tuhanlah yang berkuasa mengatur
segalanya. Juga mengatur kehidupan kita. Makin kita mendekatkan diri kepada Tuhan, makin kuat iman
kita kepada Tuhan, makin dekat pula kebahagiaan dengan kita, makin dapat terasakan.
“Keng Han, di manakah orang tuamu?”
Ditanya tentang orang tuanya, Keng Han terkejut. Dia tidak ingin diketahui orang bahwa dia putera
pangeran mahkota dari kerajaan Ceng.
“Aku hanya tinggal memiliki seorang ibu, Subo. Ayah sudah meninggalkan ibu sebelum teecu lahir.”
“Ahhh, keparat!” Dan tiba-tiba tangan wanita itu sudah bergerak cepat dan menotoknya pula sehingga
Keng Han menjadi lumpuh seketika.
“Subo mengapa... mengapa Subo berbuat begini?”
“Jahanam, sama saja. Semua laki-laki memang keparat. Benar kata-kata subo. Karena itu aku benci
kepada laki-laki. Ayahmu meninggalkan ibumu ketika ibumu sedang hamil. Hemmm, dan engkau ini
sebagai puteranya tentu sama saja, sama jahatnya!”
“Aku... aku… selama hidupku belum pernah melihat ayah kandungku, Subo. Aku juga sudah bersumpah
hendak mencari ayah, dan kalau dia tidak mempunyai alasan kuat meninggalkan dan menyia-nyiakan
ibuku, aku akan menghajarnya!”
“Bagus! Kalau begitu engkau tidak sama dengan ayahmu!” Kini Niocu kembali menotok Keng Han
sehingga terbebas dari totokan. Keng Han mengelus-elus pundaknya yang tadi ditotok dan meringis karena
pundaknya terasa agak nyeri.
“Kenapa Subo begitu kejam, dengan mudah saja menotokku tanpa sebab?”
“Aku paling benci kalau mendengar ulah laki-laki yang mempermainkan wanita. Karena ayahmu berlaku
keji terhadap ibumu, maka aku menjadi marah dan karena engkau puteranya, aku menjadi marah
kepadamu. Akan tetapi sekarang tidak lagi karena engkau menyatakan tidak setuju dengan tingkah laku
ayahmu itu.”
“Subo sudah mengetahui banyak tentang diriku, akan tetapi sebaliknya aku tidak tahu apa-apa tentang
Subo. Bagaimana kalau kelak orang bertanya tentang guruku, apakah harus kujawab bahwa aku tidak
mengenal guruku sendiri?”
Bi-kiam Niocu menghela napas panjang.
“Riwayatku tak menarik. Aku yatim piatu. Yang terdekat denganku hanya seorang guru dan seorang adik
seperguruan. Guruku pembenci pria dan entah sudah berapa banyak pria yang telah dibunuhnya. Ia
mengajarkan kami untuk membenci pria pula, terutama pria-pria mata keranjang dan pria yang suka
mempermainkan wanita. Engkau masih beruntung bertemu dengan aku. Kalau engkau bertemu dengan
guruku atau sumoi-ku, tentu kepalamu sudah dipenggal!”
Keng Han bergidik. Nona ini saja sudah begitu kejam terhadap pria, apa lagi sumoi-nya dan subo-nya itu.
Hemmm, mengerikan!
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Keng Han sudah terbangun dari tidurnya. Ketika bangun, dia
melihat Bi-kiam Niocu sudah berdiri di depan goa dan melihat jauh ke depan, ke arah bawah karena goa itu
terletak di lereng bukit. Tiba-tiba ia membalik dan dengan kakinya ia memadamkan api unggun, bahkan
dunia-kangouw.blogspot.com
mencerai-beraikan kayu-kayu bakar sehingga tidak ada yang membara lagi dan tidak mengeluarkan asap.
Kemudian ia berkata kepada Keng Han, sikapnya seperti orang ketakutan.
“Keng Han, cepat kemasi barang-barangmu. Kita pergi dari sini!”
“Kenapa, Subo?”
“Tidak usah bertanya, cepat lakukan perintahku!” kata wanita itu bengis.
Keng Han cepat mengemasi buntalannya. Tak lama kemudian keduanya telah menuruni bukit itu. Ketika
tiba di kaki bukit, tiba-tiba wanita itu menarik tangan Keng Han, diajak bersembunyi di balik semak belukar.
Keng Han menurut saja dan ikut mengintai dari balik semak. Dari jauh dia melihat ada seorang laki-laki
berusia enam puluhan tahun yang sedang berjalan terpincang-pincang menggunakan sebatang tongkat.
Sungguh aneh sekali. Gurunya yang sedemikian lihai nampak ketakutan bertemu dengan seorang tua yang
timpang kakinya! Akan tetapi dia tidak berani bertanya.
“Jangan bergerak dan jangan bersuara,” bisikan halus itu terdengar dekat sekali dengan telinganya. Dan
Keng Han mencium bau harum rambut gurunya.
Keng Han semakin heran dan mengintai terus. Setelah tiba tak jauh dari semak belukar itu, si timpang itu
lantas berhenti melangkah dan kepalanya dimiringkan seolah-olah dia sedang menggunakan ketajaman
pendengarannya untuk mendengarkan sesuatu. Keng Han tidak berani bergerak, bahkan menahan napas.
“Kalian tidak lekas keluar menghadap aku, masih tunggu apa lagi?”
Keng Han kaget setengah mati. Kiranya si timpang itu dapat pula mengetahui kehadiran mereka di situ!
Akan tetapi, ketika dia hendak bergerak, ada sebuah tangan menahan pundaknya sehingga dia tetap tidak
bergerak. Tetapi dia siap siaga kalau-kalau diserang oleh kakek timpang itu.
Tiba-tiba dari balik semak-semak di seberang bermunculan tiga orang yang segera keluar dan
menjatuhkan diri berlutut di depan si kakek timpang.
“Pangcu, mohon maaf sebesar-besarnya!” kata mereka sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Tidak perlu cerewet. Cepat katakan apakah kalian sudah berhasil merampas kuda itu?”
“Ampunkan kami, Pangcu. Penunggang kuda itu ternyata lihai sekali dan kami bahkan menerima hajaran
darinya. Kami tidak berhasil merampas kuda itu, bahkan nyaris tewas kalau kami tidak melarikan diri.”
Kakek timpang itu mengerutkan alisnya dan matanya mencorong marah. “Kalian orang-orang yang tidak
berguna! Cabut pedang kalian!”
Tiga orang itu tidak berani membantah dan segera mencabut pedang masing-masing dari punggung
mereka.
“Cepat buntungi telinga kiri kalian sebagai hukuman!”
Kini tiga orang itu diam saja, agaknya merasa ngeri harus membuntungi daun telinganya sendiri. Melihat
ini, Keng Han yang masih mengintai merasa penasaran sekali. Alangkah kejamnya pangcu itu!
Dia membuat sedikit gerakan, akan tetapi tangan Niocu cepat menekannya agar dia tidak bergerak.
Kenapa gurunya begitu takut terhadap kakek timpang yang kejam itu?
“Kau tidak cepat-cepat melaksanakan perintahku? Baik, akulah yang akan menghukum kalian!”
Gerakannya demikian cepat dan begitu dia menggerakkan tangan, tahu-tahu dia telah merampas sebatang
pedang dari tangan anggota yang terdekat dan nampak sinar pedang berkelebat tiga kali.
“Sing-sing-sing...! Crat-crat-crattt...!”
Nampak darah muncrat dan tahu-tahu ketiga orang itu sudah kehilangan telinga kirinya! Kakek timpang itu
membuang pedang rampasannya, kemudian mengeluarkan sebuah bungkusan kecil.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Pergunakan bubuk obat ini supaya darahnya berhenti mengalir dan cepat sembuh. Hati-hati, kalau lain kali
kalian gagal melaksanakan perintahku, bukan hanya telingamu yang kubuntungi, melainkan leher kalian!
Hayo cepat pergi!”
Tiga orang itu menghaturkan terima kasih. Setelah menerima obat itu, mereka lalu pergi dengan cepat,
menahan rasa nyeri pada telinga kiri yang daunnya telah buntung itu.
Kini Keng Han tak lagi dapat menahan kesabaran hatinya. Tanpa mempedulikan tangan gurunya yang
mencoba untuk menahannya, ia telah meloncat keluar menghadapi kakek itu sambil membusungkan
dadanya.
“Orang tua, engkau sungguh kejam bukan main! Baru terhadap anak buah sendiri yang gagal
melaksanakan tugas, engkau bersikap begitu kejam membuntungi daun telinga kiri mereka. Apa lagi
terhadap orang lain!”
Kakek timpang ini adalah Toat-beng Kiam-sian (Dewa Pedang Pencabut Nyawa) Lo Cit, seorang di antara
para datuk persilatan yang terkenal kehebatan ilmu silatnya. Dan kini, ada seorang pemuda berani
menegurnya seperti seorang tua menegur seorang anak nakal saja!
Demikian heran kakek itu sampai dia tidak mampu menbeluarkan kata-kata, hanya terus memandang
dengan bengong kepada Keng Han. Akhirnya, setelah dia merasa yakin bahwa dia tidak sedang mimpi, dia
membentak dengan bengis, “Bocah setan, apakah engkau sudah bosan hidup?”
Bi-kiam Niocu terkejut setengah mati melihat ulah Keng Han. Ia merasa jeri melihat kakek timpang ini.
Pada waktu tadi ia melihat seorang pria timpang berjalan dengan tongkatnya, ia segera mengenal siapa dia
dan ia merasa jeri. Lebih baik tidak bertemu dengan datuk ini, pikirnya. Bagaimana ia tidak akan merasa
jeri? Gurunya sendiri, Ang Hwa Nio-nio, pernah bertanding melawan datuk timpang ini dan berakhir seri,
tidak ada yang menang!
Kini melihat Keng Han melompat keluar dan menegur kakek itu, hatinya tentu saja khawatir bukan main. Di
luar kesadarannya sendiri Bi-kiam Niocu merasa amat sayang kepada Keng Han dan khawatir kalau
pemuda itu celaka. Maka ia melupakan rasa takutnya sendiri dan meloncat pula keluar dari balik semaksemak.
Ia cepat memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan di depan dada sambil berkata dengan
nada menghormat.
“Harap Lo-pangcu sudi memberi maaf kepada muridku yang kurang sopan ini. Karena dia tak mengenal
Locianpwe, maka telah bersikap kurang hormat. Dengan memandang mukaku, dan muka guruku, harap
Lo-pangcu sudi memaafkan.”
Kakek itu menoleh kepada Niocu dan memandang tajam penuh perhatian. “Hemmm, ini muridmu? Dan
siapa gurumu?”
“Guru saya adalah Ang Hwa Nio-nio!”
Kakek itu mengangguk-angguk dan kembali memandang kepada Keng Han. “Hemmm, jadi anak setan ini
adalah cucu murid Ang Hwa Nio-nio? Nenek gurunya saja tak mampu mengalahkan aku, sekarang cucu
muridnya malah berani menegur aku. Dia harus dapat menahan sepuluh jurus pukulanku, baru aku dapat
memaafkan dia!”
Bi-kiam Niocu Siang Bi Kiok terkejut bukan main. Dia tahu bahwa kakek itu lihai bukan main. Bukan saja
terkenal sebagai ahli pedang sehingga dia disebut Dewa Pedang dan pedang itu disembunyikan dalam
tongkatnya itu, akan tetapi juga dia ahli menggunakan ilmu pukulan yang disebut Pukulan Halilintar yang
ampuhnya menggila! Mana mungkin Keng Han dapat bertahan sampai sepuluh jurus? Lima jurus saja
sudah cukup untuk membunuh Keng Han. Ia sendiri belum tentu dapat bertahan sampai sepuluh jurus.
“Saya hanya bisa memohonkan ampun bagi nyawa murid saya. Harap Lo-pangcu tidak membunuhnya
karena kalau Pangcu melakukan itu, tentu akan membuat kami semua, juga guru saya, merasa tidak enak
sekali.”
“Ha-ha-ha, jangan khawatir. Aku tidak perlu membunuhnya, cukup membuat tangan dan kakinya lumpuh
untuk selamanya agar dia tidak berani lagi bersikap kurang ajar!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Sementara itu, Keng Han sudah berkata, “Subo, jangan minta-minta seperti itu. Kakek ini memang kejam
bukan main.”
“Keng Han, cepat minta ampun kepada Lo-pangcu!” kata Niocu.
“Tidak, dia yang harus minta ampun kepada Tuhan atas dosanya! Aku akan menerima tantangannya dan
menghadapinya sampai sepuluh jurus. Harap Subo tidak khawatir. Aku mampu menjaga diri!”
“Bagus, bocah sombong. Nah, terimalah jurus pertama ini!” Kakek timpang itu berseru dan tangan kirinya
sudah menyambar dengan hebat sekali ke arah kepala Keng Han.
Memang bukan main cepatnya serangan itu, sungguh cepat dan kuat sekali sehingga mendatangkan angin
pukulan yang amat dahsyat. Akan tetapi Keng Han telah bergerak cepat dan berhasil mengelak dari jurus
pertama itu. Dia mengelak dengan gerakan dari Hong-in Bun-hoat.
Melihat serangan pertamanya gagal, kakek timpang itu menjadi penasaran sekali dan kini dia memukul lagi
dengan tenaga sepenuhnya. Terdengar angin berdesir dan debu mengepul ketika kakek itu memukul
dengan tangan kirinya lagi ke arah dada.
Keng Han mengubah gerakan silatnya dan sekarang dia memakai ilmu silat Toat-beng Bian-kun, ilmu silat
yang dipelajarinya dari Pulau Hantu. Ilmu silat ini bersifat lemas, namun di balik kelemasan itu terkandung
tenaga dahsyat sekali sehingga ketika dia menangkis, pukulan kakek itu seperti masuk ke dalam air saja.
Kakek itu terkejut bukan main dan dia segera mengamuk, mengirim pukulan beruntun dengan hebatnya.
Sementara itu, Bi-kiam Niocu hanya menonton dengan hati tidak karuan rasanya. Dia yakin bahwa
muridnya yang tersayang itu akan terpukul mati atau setidaknya akan lumpuh seperti ancaman kakek itu
dan ia tidak berani turun tangan membantu. Akan tetapi segera ia memandang dengan terheran-heran.
Muridnya itu bukan saja mampu menghindarkan diri, bahkan berani menangkis pukulan datuk itu.
Karena merasa penasaran bukan main, setelah lewat sembilan jurus dia belum mampu mengalahkan
bocah itu, Toat-beng Kiam-sian lalu merendahkan tubuh dan menyalurkan tenaga sinkang ke dalam kedua
tangannya, kemudian ia memukul ke depan seperti mendorong. Inilah Pukulan Halilintar yang telah
mengalahkan banyak sekali ahli silat di dunia kang-ouw. Niocu memandang dengan muka pucat sekali
karena kali ini muridnya pasti celaka.
Melihat pukulan yang luar biasa kuatnya itu, yang mendatangkan angin seolah timbul badai, Keng Han juga
merendahkan tubuhnya dan dia menyambut pukulan itu dengan kedua tangannya pula. Diam-diam dia
mengerahkan dua hawa sakti yang berlawanan dalam tubuhnya dan dua macam tenaga sakti meluncur
melalui kedua tangannya, yang kanan mengandung hawa panas dan yang kiri mengandung hawa dingin!
“Wuuuuuttttt... desssss...!!”
Dua tenaga yang sangat hebat bertumbukan di udara dan akibatnya, tubuh kakek itu terpental ke belakang
sampai dia terhuyung beberapa langkah, sedangkan tubuh Keng Han hanya bergoyang-goyang saja!
Niocu terbelalak, hampir tidak percaya kepada pandang matanya sendiri. Juga kakek timpang itu terkejut
setengah mati. Tidak disangkanya bahwa pemuda itu bukan saja mampu menahan Pukulan Halilintarnya,
bahkan dapat mengatasinya dan membuatnya terhuyung! Dia lalu mengangkat tongkatnya yang
menyembunyikan pedang dan hendak menyerang lagi menggunakan pedangnya.
Akan tetapi Niocu cepat meloncat ke depan dan berkata, “Lo-pangcu telah menyerang sebanyak sepuluh
jurus dan sudah mengalah, memberi pelajaran kepada murid saya. Saya sebagai gurunya menghaturkan
terima kasih atas kebaikan ini!”
Wajah Toat-beng Kiam-sian berubah merah. Akan tetapi dia juga meragu dan agak jeri. Kalau muridnya
sudah demikian hebatnya, apa lagi gurunya! Agaknya murid Ang Hwa Nio-nio ini memiliki ilmu kepandaian
yang hebat sekali. Juga dia teringat akan janjinya tadi bahwa dia akan mengampuni pemuda itu kalau
mampu menahan sepuluh jurus serangannya.
Maka sambil mendengus marah dia membalikkan tubuhnya. Sekali melompat dia sudah hilang di balik
semak belukar. Gerakannya demikian cepat sehingga mengagumkan hati Keng Han. Setelah bertemu
dunia-kangouw.blogspot.com
dengan Niocu, baru dia tahu bahwa di dunia ini terdapat banyak sekali orang yang amat lihai, akan tetapi
juga amat kejam.
Niocu menghampiri Keng Han dan meraba-raba pundaknya. “Engkau tidak apa-apa?”
“Tidak, Subo. Kenapa Subo melerai? Biarlah dia mengeluarkan seluruh kepandaiannya, teecu tidak takut!”
kata Keng Han penasaran.
“Sudahlah, Keng Han. Engkau dapat keluar dengan selamat saja sudah merupakan keajaiban. Keng Han,
sebetulnya engkau mempunyai ilmu apakah? Bagaimana engkau dapat menahan ilmu Pukulan Halilintar
tadi?”
Keng Han tersenyum. “Aku adalah murid Subo, kenapa Subo bertanya? Semua ilmuku tentu kudapatkan
dari guruku, bukan?” Dia mengejek.
Niocu terbelalak, sedangkan wajahnya berubah merah. Memang selama ini dia belum mengajarkan apaapa,
juga ilmu totok itu belum ia ajarkan.
“Marilah aku mengajarkannya kepadamu. Akan tetapi engkau harus sungguh-sungguh melawanku, seperti
kau melawan kakek tadi!”
“Baik, Subo,” kata Keng Han dengan girang.
Dia memang ingin mempelajari ilmu totokan yang disebut Tok-ciang itu, meski bukan itu benar yang
membuat dia betah melakukan perjalanan bersama gurunya ini. Entah bagaimana, dia pun suka sekali
kepada Niocu dan tidak ingin berpisah darinya, ingin agar di temani ke Tibet. Bukan hanya pribadi Niocu
yang menyenangkan hatinya, akan tetapi juga pengalamannya akan sangat berguna baginya dalam
perjalanan menemui Dalai Lama itu.
Keng Han telah melepaskan bungkusan pakaian dari pundaknya, dan siap menghadapi serangan gurunya.
Niocu juga melepaskan buntalan pakaiannya dan pedangnya, lalu ia memasang kuda-kuda.
“Lihat seranganku!” katanya tiba-tiba.
Bi-kiam Niocu pun menyerang dengan cepat. Serangannya cepat dan kuat dan ia telah menggunakan Tokciang,
yaitu ilmu pukulan yang mengandung hawa beracun. Keng Han tidak berpura-pura lagi. Dia pun
menyambutnya dengan Toat-beng Bian-kun.
Dan sekali ini benar-benar Niocu dibuat terheran-heran. Ilmu silat muridnya itu demikian aneh dan asing
gerakannya, akan tetapi semua pukulannya meleset dan tidak pernah mengenai sasaran.
Lalu dia mengerahkan seluruh tenaga sinkang-nya dan menyerang dengan hebatnya, menggunakan dua
telapak tangannya. Keng Han menyambut dengan kedua tangannya pula.
“Wuuuttttt... desss...!”
Dan tubuh Niocu terjengkang seperti ditolak oleh tenaga yang sangat dahsyat dan ia merasa betapa
tangan kanannya bertemu hawa dingin sekali sedangkan tangan kirinya bertemu hawa panas luar biasa.
“Ahhh... Subo, engkau tidak terluka...?”
Keng Han cepat menghampiri gurunya dan membungkuk, untuk membantunya berdiri. Akan tetapi secepat
kilat tangan Niocu sudah menotok pundaknya dan seketika Keng Han tidak mampu menggerakkan kedua
tanganya.
“Subo, kenapa...?” tanyanya heran.
Niocu cepat bangkit berdiri. Wajahnya agak pucat, akan tetapi pandang matanya penuh keheranan. Dalam
pertandingan ilmu silat tadi, jelas bahwa dia kalah kuat dan bahwa muridnya ini memiliki ilmu silat yang
hebat bukan main dan mempunyai tenaga sinkang yang berlawanan, tangan kirinya dingin dan tangan
kanannya panas. Tapi, menghadapi ilmu totokannya, muridnya ini agaknya tidak berdaya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Keng Han, apakah gurumu Gosang Lama itu adalah seorang anggota keluarga Pulau Es?” tanyanya.
“Bukan, Subo. Akan tetapi tolong bebaskan dulu totokan ini.”
Niocu membebaskan totokannya dan Keng Han dapat bergerak kembali. “Diakah yang mengajarkanmu
menggunakan tenaga tadi? Dan ilmu silatmu itu, apakah dia pula yang mengajarkannya?”
Terpaksa Keng Han berterus terang. “Sesungguhnya bukan dia yang mengajarkannya, Subo, melainkan
aku belajar sendiri dari dalam sebuah goa di Pulau Hantu.”
“Pulau Hantu...?”
Keng Han lalu meceritakan tentang munculnya sebuah pulau baru di permukaan laut itu yang oleh para
nelayan disebut Pulau Hantu. Diceritakannya pula penemuannya di goa, yaitu tulisan di dinding batu
berikut gambar-gambar tentang ilmu silat yang dipelajarinya.
Mendengar ini Niocu kagum bukan main. “Tidak salah lagi! Pulau itu tentulah Pulau Es yang dikabarkan
sudah tenggelam di lautan itu dan engkau telah mewarisi peninggalan Keluarga Pulau Es!”
“Akan tetapi pulau itu tidak ada esnya sama sekali. Bukan Pulau Es, melainkan Pulau Hantu, Niocu.”
Keng Han kadang-kadang menyebut subo (ibu guru) kepada Bi-kiam Niocu, akan tetapi kadang-kadang dia
terlupa dan menyebut Niocu begitu saja. Akan tetapi agaknya wanita itu tidak keberatan disebut Niocu.
“Sudahlah, mungkin karena engkau tidak langsung dilatih orang namun hanya belajar sendiri, maka
gerakanmu masih kaku sehingga engkau mudah terserang ilmu totokku. Sebetulnya engkau sudah
mempunyai ilmu yang jauh lebih tinggi dari pada ilmu silatku, Keng Han. Karena itu, tidak perlu lagi engkau
mempelajari ilmu menotok itu, hanya akan kuajarkan bagaimana cara untuk menghindarkan diri dari
totokanku.”
Demikianlah, mulai saat itu, setiap kali berhenti mengaso, Niocu lalu mengajarkan cara menghindari ilmu
totokannya sehingga Keng Han sekarang selalu dapat mengelak dan menangkis, tidak sampai tertotok.
Ilmu totok itu memang memiliki gerakan yang amat aneh maka kalau tidak mempelajarinya, tentu dia akan
mudah tertotok dan dibuat tidak berdaya.
Setelah mempelajari rahasianya, Keng Han bahkan dapat menggunakan sinkang-nya untuk menolak
totokan-totokan itu. Tubuhnya kini menjadi kebal dari totokan itu seperti dari totokan lain.
Suatu hari, perjalanan kedua orang ini sudah sampai di daerah Propinsi Secuan sebelah utara, yaitu di
Pegunungan Beng-san. Selama berbulan-bulan melakukan perjalanan bersama Keng Han, Bi-kiam Niocu
nampak semakin akrab. Juga Keng Han merasa betapa gurunya itu ternyata baik sekali kepadanya dan
kini tidak lagi membentak atau bersikap keras kepadanya.
Bahkan kalau dia berburu binatang dan memasaknya, wanita itu membantu dan bahkan membuatkan
masakan-masakan yang lezat untuknya. Maka pemuda ini juga merasa senang sekali dan hubungannya
dengan gurunya menjadi semakin akrab. Juga dia pun sudah mempelajari rahasia ilmu totok gurunya yang
aneh sekali itu sehingga kini dia dapat menghindarkan diri dari serangan totokan seperti itu.
Ketika mereka sedang menuruni lereng sebuah bukit dari Pegunungan Beng-san, dari jauh mereka melihat
seorang wanita berjalan cepat sekali mendaki lereng itu. Mendadak Bi-kiam Niocu mendorong punggung
Keng Han sambil berkata, “Engkau jalan duluan, cepat!”
Keng Han tidak tahu persoalannya, akan tetapi dia tidak membantah dan berjalan cepat meninggalkan
gurunya. Tidak lama kemudian dia berpapasan dengan seorang wanita yang aneh. Wanita itu memakai
sehelai sapu tangan sutera putih menutupi mukanya dari hidung ke bawah. Akan tetapi bagian atas dari
muka itu, dari hidung ke atas yang nampak saja sudah membuat Keng Han terpesona!
Hidung mancung lurus, sepasang mata yang bersinar-sinar seperti mata burung Hong dan memiliki sinar
lembut, dihiasi sepasang alis mata yang kecil melengkung hitam. Anak rambut yang melingkar di dahi dan
pelipis, rambut yang hitam panjang serta disanggul dan diberi pita putih, semua itu sudah cukup membuat
Keng Han mengakui dalam hati bahwa dia belum pernah melihat yang seindah itu!
dunia-kangouw.blogspot.com
Tubuhnya tertutup pakaian yang serba putih dari sutera halus, dan hanya sepatunya saja yang hitam. Dari
muka dan tangan yang nampak dapat diketahui bahwa gadis itu memiliki kulit yang putih mulus
kemerahan.
Ketika berpapasan, Keng Han memandang dan wanita itu pun mengerling kepadanya. Kerlingan yang
hanya sebentar itu tidak akan pernah dilupakan Keng Han selamanya, karena kerlingan itu demikian
manisnya. Akan tetapi bukan wataknya untuk menoleh dan memandangi orang secara kurang ajar, maka
dia melangkah terus, hanya sekarang langkahnya lambat sekali karena dia ingin tahu apa yang akan terjadi
kalau wanita itu berpapasan dengan Bi-kiam Niocu yang berjalan di belakangnya.
Apa yang diharapkan Keng Han tercapai. Dia mendengar percakapan mereka.
“Suci...!”
“Sumoi...! Engkau dari manakah?”
“Aku baru pulang mencari rumput merah atas perintah subo. Dan engkau sendiri hendak ke mana, Suci?”
“Aku mempunyai urusan di barat. Sampaikan saja hormatku kepada subo dan setelah selesai urusanku di
barat, tentu aku akan pulang.”
“Baik, akan tetapi berhati-hatilah, Suci. Aku mendengar di daerah Tibet sedang terjadi pergolakan. Ada
bentrokan antara para pendeta Lama.”
“Aku akan berhati-hati, Sumoi.”
Keng Han yang mendengarkan merasa hatinya semakin tertarik. Jelas bahwa yang disebut sumoi oleh
gurunya itu adalah nona berpakaian serba putih yang mukanya ditutupi sapu tangan putih itu. Suaranya!
Belum pernah dia mendengar ada wanita bersuara semerdu dan selembut itu! Hanya ibunya yang dapat
bersuara seperti itu, pikirnya.
Jadi nona itu adalah sumoi dari gurunya. Kenapa pakaiannya serba putih dan mengapa pula wajahnya
bagian bawah ditutupi sutera putih? Wajah itu pasti cantik jelita luar biasa. Melihat hidung ke atas saja dia
sudah dapat membayangkan bahwa wanita itu pasti cantik seperti bidadari!
Bulu matanya lentik dan yang tidak akan pernah dapat dilupakan adalah sinar matanya ketika mengerling
kepadanya. Dia belum pernah melihat burung Hong, hanya melihat gambarnya saja. Akan tetapi seperti
itulah mata burung Hong. Cemerlang indah penuh pesona dengan sinar yang tajam lembut.
Tidak lama kemudian subo-nya sudah menyusulnya. Dia melihat wajah subo-nya diliputi ketegangan.
“Subo, mengapa Subo menyuruh saya berjalan lebih dulu? Ada urusan apakah?”
“Aku baru saja bertemu dengan sumoi-ku!”
“Kenapa saya disuruh pergi dulu, dan tidak diperkenalkan kepadanya? Bukankah ia bibi guruku?”
“Tidak! Celakalah jika ia mengetahui bahwa engkau adalah muridku. Kalau subo sampai mengetahuinya,
tentu aku disuruh membunuhmu sekarang juga!”
“Ehh, mengapa begitu, Niocu?”
“Murid-murid subo harus bersumpah dulu bahwa selama hidupnya tidak akan mencinta dan dicinta seorang
pria. Kalau hal itu terjadi, maka dia harus membunuh pria yang mencintanya dan dicintanya itu.”
“Ahhh...!”
Keng Han berseru kaget sekali, bukan hanya kaget mendengar sumpah yang aneh itu, melainkan kaget
sekali terutama karena tanpa langsung gurunya itu telah menyatakan cinta kepadanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kalau kita jalan bersama dan diketahui sumoi, dia tentu akan bertanya kepadaku siapa engkau dan ada
hubungan apa di antara kita, dan itu berarti bahaya maut bagiku dan bagimu. Kalau subo mengetahui,
bersembunyi di mana pun kita akan dapat ditemukan dan dibunuh.”
“Akan tetapi bibi guru tadi, mengapa ia menutupi mukanya dengan sapu tangan putih?”
“Itulah usahanya agar wajahnya tidak dapat nampak oleh pria dan agar tidak ada pria yang jatuh cinta
kepadanya. Sudahlah, kita jangan lama-lama di sini. Daerah ini masih merupakan wilayah kekuasaan
subo.”
Keduanya melanjutkan perjalanan secepatnya menuju ke barat. Akan tetapi sejak saat itu, bayangan
wanita pakaian putih yang tertutup sebelah bawah mukanya itu sering kali muncul dalam pikiran Keng Han.
Dia tidak dapat melupakan kerling itu!
Berkat kepandaian mereka yang tinggi, Keng Han dan Bi-kiam Niocu sampai di wilayah Tibet tanpa ada
halangan apa pun. Dalam perjalanan itu, sering kali mereka melihat serombongan kafilah yang juga
menuju ke Tibet.
Rombongan yang membawa kuda dan onta itu membawa pula pasukan pengawal yang kuat sehingga
mengherankan hati Keng Han dan Bi-kiam Niocu. Pada waktu mereka bertanya, mereka mendapatkan
keterangan bahwa perjalanan ke barat sekarang tidak aman karena adanya perang saudara antara para
pendeta Lama Jubah Kuning yang memberontak terhadap golongan Lama Jubah Merah.
Sekarang di wilayah itu sering kali terjadi pertempuran. Selain itu mereka juga mendapat gangguan dari
para pendeta Jubah Kuning yang tidak segan-segan merampok mereka untuk merampas senjata serta
harta benda karena mereka membutuhkan biaya untuk pemberontakan mereka.
Mendengar ini, Bi-kiam Niocu menerangkan. “Lama Jubah Merah adalah para pengikut Dalai Lama. Dan
mendengar ceritamu dulu bahwa mendiang gurumu adalah seorang pendeta Lama Jubah Kuning, kurasa
sangat boleh jadi dia masih sekawan dengan para pemberontak itu. Sekarang tidak aneh lagi kalau sampai
gurumu dibunuh oleh Pendeta Lama Jubah Merah.”
“Aku tidak peduli akan perang di antara mereka. Aku hanya ingin bertanya kepada Dalai Lama mengapa
dia menyuruh bunuh guruku!” jawab Keng Han bersikeras.
Bi-kiam Niocu menarik napas panjang. “Wah, kita mencari penyakit.”
“Kenapa kita, Subo? Akulah yang akan menemui Dalai Lama.”
“Dan aku akan mengantarmu sampai dapat berjumpa dengan Dalai Lama, bukan? Jadi, kita berdua yang
mencari penyakit.”
“Aku tidak takut!”
“Aku pun tidak takut. Mari kita melanjutkan perjalanan secepatnya.”
Beberapa hari kemudian, pada suatu pagi mereka melihat dua orang pendeta Lama Baju Merah sedang
bertanding melawan delapan orang pendeta Lama Jubah Kuning. Melihat pertandingan yang tak seimbang
ini, Keng Han segera mengajak gurunya untuk membantu dua orang Lama Jubah Merah itu.
“Ehhh, kenapa justru membantu mereka? Bukankah gurumu juga Lama Jubah Kuning dan mungkin
mereka itu teman-teman gurumu?”
“Subo, aku tak peduli. Mereka berlaku curang mengandalkan banyak orang mengeroyok yang sedikit.
Pertama, aku selalu menentang pihak yang curang dan kedua, dengan membantu Lama Jubah Merah itu
siapa tahu aku dapat lebih mudah bertemu dengan Dalai Lama!”
“Ahh, engkau ternyata cerdik juga. Keng Han. Marilah kita bantu dua orang Lama Jubah Merah itu!”
Delapan orang pengeroyok itu semua mempergunakan tongkat pendeta yang panjang, sedangkan dua
Lama Jubah Merah menggunakan senjata kebutan. Melihat gerakan mereka, andai kata mereka itu
berkelahi dua lawan dua saja, tentu Lama Jubah Kuning akan kalah. Tetapi menghadapi pengeroyokan
dunia-kangouw.blogspot.com
delapan orang, kedua orang Lama Jubah Merah itu menjadi kewalahan juga. Beberapa kali mereka telah
menerima gebukan dan kini hanya lebih banyak main mundur.
Pada saat Keng Han dan Bi-kiam Niocu muncul dan membantu mereka, keadaannya langsung menjadi
berubah. Biar pun hanya menggunakan kaki tangan saja, namun guru dan murid ini dapat membuat
delapan orang pengeroyok itu menjadi kalang kabut.
Keng Han telah merobohkan dua orang dengan tamparan tangannya yang mengandung hawa panas
sekali, sedangkan dengan tendangannya, Bi-kiam Niocu juga telah berhasil merobohkan dua orang
pengeroyok. Melihat datangnya bala bantuan di pihak musuh yang demikian kuatnya, delapan orang Lama
Jubah Kuning itu segera melarikan diri cerai berai.
Dua orang Lama Jubah Merah yang sudah kelelahan itu tidak mengejar, dan mereka mengangkat tangan
memberi hormat kepada Keng Han dan Niocu.
“Ji-wi (Kalian berdua) menjadi bintang penyelamat kami. Kalau tidak ada Jiwi, tentu kami berdua sudah
binasa di tangan para pemberontak itu,” kata seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi kurus.
“Ah, tidak mengapa, Losuhu,” kata Bi-kiam Niocu. “Sudah menjadi kewajiban kami untuk membantu yang
tertindas, apa lagi kami sudah mendengar bahwa mereka itu adalah kaum pemberontak. Dan sekarang,
kami berbalik mengharapkan bantuan Ji-wi Losuhu untuk membantu kami.”
“Tentu saja kami berdua akan suka sekali membantu Ji-wi, akan tetapi bantuan apakah yang dapat kami
berikan untuk Ji-wi yang lihai?”
“Kami ingin sekali menghadap dan bertemu dengan Dalai Lama di Lhasa.”
Dua orang pendeta Lama Jubah Merah itu terkejut bukan main mendengar permintaan ini. “Ahh, Nona dan
Sicu, bagaimana mungkin itu dilaksanakan? Sang Dalai Lama tidak dapat sembarangan saja dikunjungi
orang, kecuali jika ada tujuan yang teramat penting. Bahkan wakil dari Kaisar Ceng sekali pun, kalau
menghadap cukup diterima oleh wakil atau pembantu beliau. Kami tidak dapat membantu, harap Nona
berdua memaafkan kami.”
Bi-kiam Niocu mengerutkan alisnya. “Hemmm, begini sajakah watak dua orang pendeta Lama Jubah
Merah? Pantas kalau begitu ada yang memberontak. Kami bermaksud baik, akan tetapi kalian menolak
mentah-mentah. Kalau kalian haturkan kepada Dalai Lama bahwa yang minta menghadap adalah Bi-kiam
Niocu, murid Ang Hwa Nio-nio, apakah Dalai Lama berani memandang rendah? Dan kunjungan ini amat
penting, untuk membicarakan tentang seorang pendeta Lama Jubah Kuning yang bernama Gosang Lama.”
Kembali dua orang Lama Jubah Merah itu menjadi terkejut. Agaknya nama Bi-kiam Niocu, dan terutama
nama Ang Hwa Nio-nio, sudah mereka kenal dan tentu saja nama Gosang Lama juga amat terkenal,
bahkan sebenarnya dialah yang menjadi biang keladi pemberontakan Lama Jubah Kuning!
“Ah, kiranya Nona adalah murid Ang Hwa Nio-nio? Kalau begitu baiklah, mari ikut kami ke Lhasa, akan
kami usahakan untuk dapat diterima oleh Sang Dalai Lama. Akan tetapi kalau gagal harap Ji-wi jangan
menyesal dan menyalahkan kami, karena untuk dapat menghadap dan berwawancara dengan Sang Dalai
Lama bukan perkara yang mudah.”
Bukan main girangnya hati Keng Han. Untung ada Niocu, kalau tidak ada wanita itu, agaknya tak mungkin
kedua orang pendeta Lama itu mau membawa mereka ke Lhasa.
Ibu kota Lhasa amat besar dan terutama sekali bangunan kuno yang megah di bukit itu nampak sangat
megah dan hebat. Keng Han yang sejak kecil berada di daerah Khitan yang amat sederhana, kemudian
berada di Pulau Es sampai lima tahun lamanya, belum pernah selama hidupnya menyaksikan kemegahan
dan keindahan seperti itu.
Dia merasa takjub dan merasa dirinya kecil. Apa lagi melihat penjagaan di depan tempat tinggal Dalai
Lama. Dia bergidik. Tidak mungkin dia dapat memasuki tempat itu dengan kekerasan. Beratus-ratus
pendeta Lama yang nampaknya berkepandaian menjaga di situ, dengan tongkat atau pun kebutan di
tangan. Untuk dapat memasuki istana Dalai Lama dia harus mengalahkan ratusan orang pendeta Lama!
dunia-kangouw.blogspot.com
Dua orang pendeta Lama itu menemui pendeta penghubung dan menceritakan betapa mereka berdua
nyaris tewas di tangan para Lama Jubah Kuning yang memberontak namun diselamatkan oleh dua orang
muda itu. Kemudian mereka minta kepada pendeta penghubung untuk mengajukan permohonan kepada
Dalai Lama agar kedua orang itu, seorang di antaranya adalah Bi-kiam Niocu murid dari Ang Hwa Nio-nio,
diperkenankan menghadap karena ada urusan penting yang hendak dibicarakan.
Keng Han dan Bi-kiam Niocu memperkenalkan nama mereka masing-masing kepada para pendeta
penghubung. Pendeta-pendeta penghubung itu lalu melaporkan ke dalam. Tidak lama kemudian mereka
keluar lagi dan berkata dengan suara lantang dan jelas.
“Tuan muda Si Keng Han dan Nona Siang Bi Kiok dipersilakan masuk menghadap Yang Mulia Dalai
Lama!”
Mereka diantar atau dikawal oleh dua orang pendeta Lama. Ketika memasuki bangunan itu, Keng Han
mengamati semua bagian dalam ruangan-ruangan yang luas dan terukir indah itu dengan penuh kagum
sehingga Bi-kiam Niocu merasa geli melihat tingkah laku Keng Han seperti seorang dusun yang memasuki
sebuah istana.
Akan tetapi yang menyolok sekali, kalau di bagian luar dijaga ketat sekali, di sebelah dalam bahkan amat
sunyi, tidak nampak penjaga atau pengawal. Bahkan ketika mereka memasuki ruangan di mana Dalai
Lama duduk, di situ tak nampak penjaga sama sekali, hanya ada dua orang pendeta cilik yang agaknya
menjadi pelayan Sang Dalai Lama!
“Si Keng Han kongcu bersama Siang Bi Kiok siocia telah datang menghadap!” Pendeta pengantar itu
melaporkan.
Sang Dalai Lama lalu memberi isyarat agar mereka berdua mundur, bahkan kemudian memberi isyarat
pula kepada dua orang pendeta cilik untuk mengambilkan minuman.
Si Keng Han merasa dirinya kecil ketika berhadapan dengan pendeta yang sederhana itu. Pendeta Lama
itu duduk di atas pembaringan yang bentuknya seperti teratai dari perak, dengan jubah warna kuning
kemerahan yang amat sederhana. Kepalanya gundul kelimis. Sepasang matanya yang penuh wibawa itu
memandang dengan sinar lembut, mulutnya tersenyum ramah.
Bersama Bi-kiam Niocu, Keng Han lalu memberi hormat, mengangkat kedua tangan di depan dada dan
membungkuk.
“Kongcu dan Siocia silakan duduk!” kata Dalai Lama dengan ramah.
Kemudian dua orang pendeta cilik itu menyuguhkan secangkir air teh harum. Setelah menyuguhkan air teh,
mereka pun mengundurkan diri sehingga yang berada di ruangan itu tinggal mereka berdua bersama Sang
Dalai Lama.
Kalau Keng Han hendak membalaskan kematian gurunya, alangkah mudahnya dan ini merupakan
kesempatan yang baik. Akan tetapi dia teringat akan ucapan Kwi Hong dan juga Bi-kiam Niocu, bahwa
Dalai Lama adalah seorang pendeta yang mempunyai ilmu kepandaian yang tinggi sekali. Apa lagi di luar.
Andai kata dia mampu membunuh Dalai Lama, dia pun tidak akan dapat meloloskan diri dari tempat yang
terjaga oleh ratusan orang pendeta Lama itu.
“Terima kasih, Losuhu,” kata Bi-kiam Niocu dan Keng Han juga mencontoh wanita itu mengucapkan terima
kasih, kemudian mereka duduk berhadapan dengan pendeta itu.
Wibawa yang teramat kuat menyinar dari pendeta itu. Pandang matanya yang lembut, mulutnya yang
penuh senyum, kesabaran yang terbayang di seluruh wajahnya, semua itu membuat Keng Han merasa
semakin tidak enak hatinya. Dia seolah merasa berdosa mendendam kepada seorang pendeta seperti ini.
“Nah, orang-orang muda yang baik, kini ceritakan apa maksud kalian menemui pinceng (saya),” kata Dalai
Lama dengan suara ramah.
“Saya hanya mengantar sobat ini menghadap, Losuhu. Saya sendiri tidak mempunyai urusan apa pun,”
jawab Niocu yang agaknya juga merasa tak enak berhadapan dengan pendeta itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dalai Lama memandang kepada Keng Han sejenak, kemudian bertanya, “Orang muda, ada keperluan
apakah yang membawamu jauh-jauh datang ke tempat ini dan bertemu dengan pinceng? Katakanlah
sejujurnya, pinceng siap mendengarkan.”
Keng Han menelan ludah sendiri sebelum dia menjawab dan suaranya terdengar agak gemetar, “Losuhu,
saya datang ini untuk menghadap Losuhu dan bertanya mengapa Losuhu mengutus tiga orang pendeta
Lama Jubah Merah untuk membunuh suhu-ku?”
“Omitohud...! Siapakah suhu-mu itu, Kongcu?”
“Suhu bernama Gosang Lama, seorang pendeta Lama Jubah Kuning. Suhu telah hidup tenteram di daerah
utara, kenapa suhu dicari dan kemudian dibunuh dengan kejamnya? Saya menuntut keadilan, Losuhu.”
“Omitohud...! Gosang Lama itu suhu-mu? Ahhh, engkau tentu tidak tahu siapa Gosang Lama yang kau
angkat menjadi guru itu, Kongcu. Dia tidak dibunuh, namun menerima hukuman dari semua kejahatannya.”
“Dihukum? Jahat? Akan tetapi suhu tidak melakukan sesuatu yang jahat!”
“Mungkin tidak selama menjadi gurumu. Akan tetapi sebelum itu, apakah engkau tahu apa saja yang telah
dilakukan Gosang Lama?”
Keng Han menggelengkan kepalanya dan tidak dapat menjawab.
“Orang muda, berhati-hatilah dengan akal pikiran dan hatimu sendiri, terutama sekali waspadalah terhadap
rasa dendam. Dendam itu merupakan racun yang akan meracuni dan merusak hati sendiri, menimbulkan
perbuatan yang kejam dan tanpa perhitungan lagi. Dendam bagaikan api yang membakar hati dan
mendatangkan kebencian yang mendalam. Akan tetapi ketahuilah, segala sesuatu yang telah terjadi itu
ada kaitannya dengan karma, ada kaitannya dengan perbuatannya sendiri. Perbuatannya sendiri itulah
yang akan menimbulkan akibat yang menimpa diri sendiri. Engkau mendendam karena kematian gurumu,
akan tetapi tidak tahu mengapa gurumu dihukum mati. Kalau engkau menuruti nafsu dendam itu, bukankah
berarti engkau bertindak semau sendiri tanpa pertimbangan lagi? Dan mungkin karena dendam itu engkau
melakukan pembunuhan-pembunuhan kepada orang-orang yang tidak bersalah. Jangan mencari sebab
dan kesalahan keluar, orang muda, melainkan carilah di dalam diri sendiri, karena sebab dan kesalahan itu
berada di dalam dirinya sendiri.”
Keng Han tertegun. Dia merasa betapa tepat dan benarnya ucapan itu. Dia mendendam atas kematian
gurunya. Akan tetapi dia tidak tahu kenapa gurunya dibunuh. Bagaimana kalau gurunya yang bersalah?
Bukankah berarti dia membela orang yang bersalah?
“Losuhu, mohon Losuhu ceritakan apa saja yang sudah diperbuat oleh suhu Gosang Lama sehingga dia
harus dihukum mati.”
“Gosang Lama sudah melakukan pelanggaran-pelanggaran pada waktu mudanya. Dia melakukan
perbuatan yang keji, merampas dan memperkosa wanita, merampok harta milik penduduk, bahkan dia
mengobarkan pemberontakan di kalangan para pendeta Lama Jubah Kuning. Dosanya besar sekali dan
karena dia membahayakan kehidupan semua orang, maka majelis lalu menjatuhkan hukuman mati
kepadanya. Dia melarikan diri dan menjadi buronan sampai akhirnya petugas-petugas dapat menemukan
dia dan melaksanakan hukuman mati itu. Nah, apakah kini engkau masih juga hendak membela kematian
orang yang telah melakukan demikian banyak dosa, orang muda yang baik?”
Keng Han tertegun dan tidak mampu menjawab, akan tetapi kemudian dia mengeraskan hatinya dan
menjawab, “Losuhu, bagaimana pun juga suhu Gosang Lama tidak pernah melakukan pembunuhan...”
“Omitohud! Apakah pinceng harus menceritakan semua? Dia telah membunuh banyak orang, bahkan tiga
orang utusan pertama yang kami tugaskan untuk menangkapnya, telah dibunuhnya. Dan sekali lagi, dia
menipu kami dengan memasukkan seorang anak laki-laki yang dia katakan berbakat baik dan katanya
merupakan anak yatim piatu. Kami percaya dan kami sendiri menurunkan ilmu-ilmu kepada anak itu. Akan
tetapi setelah Gosang Lama melarikan diri, baru ketahuan bahwa anak itu adalah anaknya sendiri yang
didapat dari wanita yang dipaksanya menjadi isterinya. Nah, masih kurangkah apa yang kau dengar ini?”
Keng Han merasa terpukul sekali. “Apakah puteranya itu yang bernama Gulam Sang, Losuhu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Benar sekali. Apakah engkau sudah bertemu dan berkenalan dengan dia?”
“Tidak, akan tetapi mendiang suhu yang meninggalkan pesan tentang puteranya itu.”
“Hemmm, dan engkau tidak merasa heran apa bila ada seorang pendeta Lama dapat mempunyai anak?”
Keng Han kembali merasa terpukul dan dia menundukkan mukanya. Pikirannya menjadi ruwet. Jauh-jauh
dia datang untuk membalaskan dendam kematian gurunya, dan kini ia hanya mendengar segala kejahatan
gurunya dibeberkan! Apa yang harus dia lakukan?
“Akan tetapi saya adalah muridnya, Losuhu. Bukankah tugas seorang murid adalah untuk berbakti kepada
gurunya, seperti berbakti kepada ayah ibu sendiri? Melihat suhu binasa di tangan orang, bagaimana
mungkin saya harus berdiam diri saja? Berarti saya akan menjadi seorang murid yang durhaka!”
“Omitohud! Orang yang bijaksana selalu meneliti perbuatannya sendiri, selalu mencari kekurangan dan
kesalahan pada diri sendiri. Perbuatan orang tua dan guru juga harus diteliti, untuk dicontoh mana yang
baik dan dihindarkan mana yang buruk. Akan tetapi, agar engkau tidak menjadi penasaran, orang muda,
engkau boleh melaksanakan balas dendam itu. Pinceng yang sudah menyuruh menghukum Gosang Lama,
maka pinceng memberi kesempatan kepadamu untuk menyerang pinceng. Engkau boleh menyerang
sesukamu dan pinceng tidak akan membalas.”
Setelah berkata demikian, tiba-tiba tubuh Dalai Lama itu melayang dalam keadaan tetap duduk bersila, lalu
melayang dan turun ke lantai, masih bersila dan kedua tangan di atas lutut sambil tersenyum ramah.
“Nah, engkau boleh menyerang pinceng sesukamu, orang muda.”
Keng Han merasa betapa jantungnya berdebar tegang. Jika dia dapat membunuh Dalai Lama, tentulah roh
suhu-nya akan tenang. Akan tetapi dia lalu teringat akan penjagaan ketat di tempat itu. Kalau dia
membunuh Dalai Lama, tentu dia akhirnya akan tewas di tangan ratusan pendeta Lama itu.
“Losuhu, kalau saya menyerang Losuhu dan berhasil menewaskan Losuhu, tetap saja saya akan dikeroyok
oleh banyak pendeta dan tidak akan dapat lolos dari tempat ini.”
“Ha-ha-ha, jangan khawatir, orang muda. Pinceng tidaklah securang itu. Kalau engkau mampu membunuh
pinceng, itu sudah kehendak Yang Maha Kuasa, dan engkau akan dapat pergi dengan aman.”
Keng Han masih ragu-ragu dan menoleh kepada Bi-kiam Niocu, bertanya, “Bagaimana, Niocu? Apa yang
harus kulakukan?”
Bi-kiam Niocu tersenyum dan berkata, “Losuhu Dalai Lama sudah mengijinkan engkau untuk
menyerangnya. Nah, untuk menghilangkan rasa penasaran di hatimu, mengapa tidak kau lakukan itu?”
“Baik!” Akhirnya Keng Han mengambil keputusan. “Akan tetapi kalau saya menyerang Losuhu, hal ini
hanya terjadi karena Losuhu yang menyuruhku!”
“Tentu saja, dan semenjak tadi pinceng sudah siap, orang muda. Seranglah dan engkau boleh
mengeluarkan semua ilmu dan tenagamu.” Dalai Lama masih tetap duduk bersila dengan senyumnya yang
lembut.
Keng Han lalu mengerahkan tenaga dari pusarnya. Dua tenaga panas dan dingin naik ke kedua lengannya,
yang panas menyusup ke lengan kanan, yang dingin menyusup ke lengan kiri, kemudian dia berseru,
“Maafkan saya, Losuhu!”
Keng Han pun memukul dengan dorongan kedua tangan sambil mengerahkan seluruh tenaganya karena
dia sudah mendengar bahwa Dalai Lama ini seorang manusia sakti. Dua macam hawa yang berlawanan
menyambar ke arah Dalai Lama.
Kakek ini dengan tenang mengangkat kedua tangan pula untuk menyambut dan ketika tangan-tangan itu
bertemu, Keng Han merasa betapa kedua tangannya bertemu dengan benda yang lunak dan halus, yang
seolah menyerap semua tenaga yang keluar dari lengannya. Kemudian, sebuah tenaga yang sangat hebat
mendorongnya sehingga dia terhuyung ke belakang, membuat napasnya terengah akan tetapi dia tidak
terluka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dalai Lama masih duduk seperti tadi dan sinar mata yang lembut itu memandang penuh keheranan.
“Orang muda, engkau bilang bahwa engkau muridnya Gosang Lama, akan tetapi bagaimana engkau
menguasai Hui-yang Sinkang dan Swat-im Sinkang dari Pulau Es?”
Keng Han terkejut sekali. Tak disangkanya bahwa pendeta agung itu bahkan mengenal dua macam ilmu
rahasia yang dipelajarinya di Pulau Hantu!
“Bukan suhu Gosang Lama yang mengajarkan ilmu itu, Losuhu.”
“Kalau begitu engkau murid Pulau Es?”
“Juga bukan. Saya mempelajarinya dari Pulau Hantu.”
“Hemmm, suatu kebetulan yang aneh. Jodoh yang mengherankan. Nah, sekarang bagai mana, apakah
engkau masih hendak menyerangku lagi?”
“Tidak, Losuhu. Mataku kini sudah terbuka dan saya melihat betapa saya bodoh sekali. Bodoh dalam
pemikiran juga bodoh dalam ilmu silat. Saya tidak akan menang melawan Losuhu, dan hati saya penuh
penyesalan atas segala perbuatan mendiang suhu yang tidak benar. Harap Losuhu memaafkan
kebodohan saya.”
“Orang yang dapat melihat kesalahan sendiri sama sekali bukan orang bodoh, Kongcu. Pinceng gembira
sekali bahwa engkau telah menyadari kekeliruanmu.”
Keng Han dan Niocu segera berpamit kepada Dalai Lama. Pendeta itu mengucapkan selamat jalan,
kemudian mereka keluar bersama dua orang pendeta pengantar. Setelah meninggalkan Lhasa, Keng Han
merasa girang dan hatinya terasa ringan sekali, tak lagi dibebani tugas yang tadinya selalu memberatkan
hatinya.
“Ternyata engkau benar, Niocu. Pendeta itu adalah seorang yang sakti lagi bijaksana sekali. Betapa pun
juga, aku telah melaksanakan tugasku terhadap mendiang suhu. Kini tugas itu hanya tinggal satu lagi, yaitu
menyelidiki keadaan Bu-tong-pai yang menjadi musuh besar suhu.”
Bi-kiam Niocu tersenyum lebar. “Sama saja, Keng Han. Engkau pun akan kecelik besar sekali kalau pergi
ke Bu-tong-pai. Ketua Bu-tong-pai dan para murid di sana semuanya adalah pendekar-pendekar yang
gagah perkasa, pembela kebenaran dan keadilan. Jika suhu-mu memusuhi Bu-tong-pai, maka aku hampir
berani memastikan bahwa semua kesalahan tentu berada di pihak gurumu itu.”
“Bagaimana pun juga aku harus pergi menyelidiki lebih dulu Niocu. Kalau ternyata suhu memang benar
telah melakukan kesalahan terhadap Bu-tong-pai, biarlah aku yang akan memintakan maaf dari mereka.”
“Engkau keras kepala!” Niocu berkata sambil tersenyum.
Perjalanan meninggalkan Tibet itu kembali melalui Beng-san. Seperti ketika berangkat, Niocu kembali
nampak gelisah ketika harus melewati daerah tempat tinggal subo-nya itu.
Pada suatu pagi, selagi mereka mendaki sebuah bukit, tiba-tiba saja entah dari mana munculnya, seorang
wanita sudah berdiri di depan mereka. Wanita ini usianya sekitar lima puluh tahun, masih nampak bekas
kecantikan pada wajahnya dan tubuhnya masih nampak ramping seperti tubuh seorang wanita muda.
Wajahnya yang anggun membayangkan ketinggian hati dan bibirnya membayangkan kekerasan. Matanya
tajam sekali dan ketika itu, dia berdiri seperti patung memandang bergantian kepada Keng Han dan Niocu.
Tangan kirinya memegang sebatang kebutan sedangkan di punggungnya nampak sebatang pedang.
Begitu melihat wanita ini mendadak muncul di depanya, Bi-kiam Niocu menjadi terkejut setengah mati.
Wajahnya mendadak menjadi pucat dan ia cepat-cepat menjatuhkan diri berlutut di depan wanita itu.
“Subo...!” katanya lemah dan suaranya tergetar penuh rasa gentar.
Tahulah Keng Han bahwa wanita itu adalah guru Bi-kiam Niocu yang pernah disebut oleh Niocu dan
bernama Ang Hwa Nio-nio itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Wanita itu memang benar Ang Hwa Nio-nio. Ia adalah seorang pendeta wanita yang mengasingkan diri di
Pegunungan Beng-san itu, seorang Tokouw (Pendeta To) berjuluk Ang Hwa Nio-nio (Nyonya Bunga
Merah) karena disanggul rambutnya yang masih hitam itu selalu terhias setangkai bunga merah.
Ang Hwa Nio-nio mempunyai dua orang murid wanita. Yang pertama adalah Siang Bi Kiok yang berjuluk
Bi-kiam Niocu itu dan yang kedua bernama Souw Cu In yang pernah dilihat Keng Han bertemu dengan Bikiam
Niocu, yaitu gadis yang berpakaian putih dan wajah bagian bawahnya tertutup sapu tangan putih
pula.
Kini, melihat Bi-kiam Niocu melakukan perjalanan bersama seorang pemuda tampan, Ang Hwa Nio-nio
marah bukan main. Dia tidak mampu lagi mengeluarkan suara, hanya sepasang matanya saja yang terus
memandang kepada murid pertamanya itu seperti api yang membakar.
Ang Hwa Nio-nio keras sekali dalam mendidik dua orang muridnya, terutama mengenai diri kaum pria. Dia
malah membuat dua orang muridnya itu berjanji bahwa setiap kali bertemu dengan pria yang mencintai
mereka, mereka harus cepat membunuh pria itu! Pendeknya ia mencegah jangan sampai ada hubungan
antara murid-muridnya dengan kaum pria yang dianggapnya busuk dan jahat semua, tanpa terkecuali.
Inilah sebabnya mengapa dalam pertemuan pertama, Bi-kiam Niocu juga hendak membunuh Keng Han.
“Siang Bi Kiok, apa yang sedang kau lakukan ini?” Akhirnya Ang Hwa Nio-nio menegur muridnya.
Dengan gugup Bi-kiam Niocu menjawab, “Apa...apa yang Subo maksudkan?”
“Hemmm, engkau melakukan perjalanan dengan seorang pemuda dan engkau masih pura-pura bertanya
apa yang aku maksudkan?” kata wanita itu bengis.
“Ahhh, itukah, Subo? Dia ini hanya kebetulan saja bertemu dengan teecu dan karena sejalan, maka kami
pun berjalan bersama. Tidak ada apa-apa di antara dia dan teecu...” Bi-kiam Niocu membela diri, akan
tetapi suaranya gemetar.
“Bagus! Engkau sudah pandai berbohong juga, ya? Engkau sudah pergi bersamanya sampai ke Tibet,
menghadap Dalai Lama bersama, dan sekarang mengatakan hanya kebetulan bertemu?”
Bukan main kagetnya hati Bi-kiam Niocu mendengar itu. Juga Keng Han merasa heran bagaimana wanita
itu dapat mengetahuinya. Kiranya Dalai Lama sudah menyuruh salah satu orangnya untuk meneliti
kebenaran keterangan Bi-kiam Niocu apakah benar murid Ang Hwa Nio-nio itu yang datang menghadap
Dalai Lama!
“Ampun, Subo. Kami... kami sungguh tidak ada hubungan apa pun, hanya melakukan perjalanan bersama
saja.”
“Diam! Jika engkau tidak cepat membunuhnya, maka aku sendiri yang akan membunuh pemuda ini, dan
engkau juga!”
Setelah berkata demikian, wanita itu menggerakkan kakinya dan sekali berkelebat ia telah lenyap dari situ.
Keng Han terkejut bukan main, maklum betapa lihainya wanita itu yang memiliki ilmu meringankan tubuh
sedemikian rupa sehingga seolah-olah ia dapat menghilang!
Wajah Bi-kiam Niocu menjadi pucat sekali. Sampai lama ia masih berlutut di situ tanpa bergerak.
Keng Han lalu berkata, “Sudahlah, Niocu. Kalau kita tidak boleh melakukan perjalanan bersama, sekarang
juga aku akan meninggalkanmu, akan melanjutkan perjalananku.”
Setelah berkata demikian, Keng Han membalikkan tubuhnya. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya,
meninggalkan tempat itu.
Akan tetapi belum jauh dia pergi, berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu Bi-kiam Niocu sudah berdiri di
depannya. Wajahnya masih pucat sekali dan matanya bersinar aneh, juga ia telah memegang sebatang
pedang telanjang di tangan kanannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Berhenti!” bentaknya. “Si Keng Han, engkau tidak boleh pergi dan terpaksa aku harus membunuhmu!
Kalau tidak, aku sendiri yang akan dibunuh oleh guruku!”
Keng Han memandang dengan mata terbelalak. Selama ini, sikap wanita itu amat baik dan akrab
dengannya dan sekarang, tiba-tiba saja ia hendak membunuhnya.
“Akan tetapi, mengapa, Niocu? Mengapa engkau hendak membunuhku?” Dia menuntut. “Bukankah selama
ini hubungan antara kita baik sekali? Aku tidak pernah berbuat jahat kepadamu, Niocu.”
Pedang di tangan itu gemetar dan kedua mata itu kini menjadi basah. “Keng Han, kita harus melarikan diri
dari sini dan engkau harus menikah denganku. Itulah satu-satunya jalan. Kita saling mencinta, dan tidak
ada apa pun yang mampu menghalangi kita hidup bersama.”
Keng Han semakin kaget mendengar ucapan itu. “Siapa yang saling mencinta, Subo? Aku... aku suka
kepadamu karena engkau baik kepadaku dan engkau menjadi guruku, bahkan engkau membantuku
menemui Dalai Lama. Akan tetapi bukan berarti bahwa aku cinta padamu dan suka menjadi suamimu.
Tidak, Niocu tidak bisa kita menikah.”
Sepasang mata wanita itu terbelalak lebar dan mukanya menjadi merah sekali. “Apa?! Engkau tidak
mencinta padaku? Subo sudah menganggap kita saling mencinta, maka aku harus membunuhmu. Jadi
selama ini aku salah sangka, ternyata engkau tidak cinta padaku?”
Keng Han menggeleng kepalanya. “Mungkin cinta kita hanya cinta antara sahabat, atau antara guru dan
murid, bukan cinta yang membuat kita harus berjodoh. Tidak, Niocu, sekali lagi tidak, aku tidak cinta
padamu seperti itu.”
“Bagus! Kalau begitu tidak berat lagi hatiku untuk membunuhmu! Mampuslah engkau!”
Dan wanita itu segera menyerang Keng Han, membabi buta mengayunkan pedangnya bagaikan kilat
menyambar-nyambar, semua merupakan serangan maut yang ditujukan untuk membunuh.
Keng Han cepat mengelak sambil mundur. “Niocu, ingat, kita bukan musuh!” Beberapa kali Keng Han
memperingatkan.
Akan tetapi Bi-kiam Niocu yang sudah marah sekali itu tidak peduli dan hanya berteriak, “Mampuslah!”
Pedangnya menyambar ganas sekali dan Keng Han dipaksa untuk membela diri. Oleh karena dia tidak
memiliki senjata lain kecuali pedang bengkok pemberian ibunya, maka dia mencabut pedang bengkoknya
dan melawan, bahkan membalas karena kalau tidak melawan dia tentu akan terancam bahaya maut.
Ilmu silat Hong-in Bun-hoat adalah ilmu silat sakti yang dapat dimainkan dengan tangan kosong atau
menggunakan senjata pedang. Begitu Keng Han memainkan jurus Hong-in Bun-hoat dengan pedang
bengkoknya, Bi-kiam Niocu segera terdesak hebat. Bantuan tangan kirinya yang menggunakan ilmu
totoknya tiada artinya lagi bagi Keng Han yang sudah menguasai ilmu itu. Bahkan tangan kirinya beberapa
kali mendorong sehingga serangkum hawa yang sangat dingin dari Swat-im Sinkang menyambar dan
membuat Bi-kiam Niocu terhuyung dan menggigil.
Baru lewat tiga puluh jurus saja Bi-kiam Niocu sudah terdesak hebat. Akan tetapi sama sekali tidak timbul
niat di dalam hati Keng Han untuk membunuh wanita itu, maka dia hanya mendesak saja.
Pada saat itu nampak bayangan putih datang berkelebat amat cepatnya dan sinar putih panjang
menyambar ke arah Keng Han. Pemuda ini terkejut sekali, mengira bahwa Ang Hwa Nio-nio yang
menyerangnya. Dia lalu menangkis dengan pedang pendeknya, akan tetapi alangkah kagetnya ketika
pedangnya tahu-tahu terlibat sutera putih yang panjang dan juga tubuhnya terlibat sehingga tahu-tahu dia
telah dibuat tak berdaya, terbalut kain sutera putih yang dilepas orang yang baru datang.
Melihat keadaan Keng Han, Bi-kiam Niocu, berseru, “Mampuslah engkau sekarang!”
Dengan cepat ia sudah menyerang dengan pedangnya, ditusukkan ke arah dada Keng Han yang sudah
tidak berdaya karena kedua lengannya sudah terbelenggu bersama tubuhnya. Keng Han hanya dapat
membelalakkan matanya, ingin menghadapi kematian dengan mata terbuka.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Singgg... tranggggg...!”
Bunga-bunga api berpecikan dan menyilaukan mata Keng Han ketika ada pedang lain menangkis pedang
yang ditusukkan Bi-kiam Niocu kepadanya itu. Dan ketika Keng Han menoleh, ternyata yang menangkis itu
adalah nona berpakaian putih dan berkedok putih itu. Dan nona itu pula yang memegang ujung sabuk
sutera putih yang melibat tubuhnya!
“Sumoi, mengapa kau menangkis?”
“Suci, engkau tidak berhak membunuhnya!” kata gadis itu dan suaranya sungguh merdu dalam
pendengaran Keng Han.
“Subo sudah menyuruh aku membunuhnya, Sumoi!” bantah Bi-kiam Niocu.
“Subo mengira bahwa dia mencintamu, Suci. Subo menyuruh bunuh kalau ada laki-laki yang mencinta kita.
Akan tetapi engkau hendak membunuhnya karena engkau marah mendengar bahwa dia tidak mencintamu.
Aku sudah mendengar semua percakapan kalian. Apakah engkau ingin aku melaporkan pada subo betapa
engkau membujuknya untuk minggat dan menikah denganmu?”
“Sumoi...! Tadi engkau membantuku menangkapnya dan sekarang...”
“Tadi aku membantumu karena melihat engkau tidak dapat mengalahkannya. Dan kini aku melarang
engkau membunuh karena memang engkau tidak berhak membunuhnya. Sudahlah, Suci. Kita bebaskan
pemuda yang tidak berdosa ini. Nanti aku yang memberi penjelasan kepada subo bahwa pemuda itu tidak
mencintamu dan bahwa engkau pun hanya bersahabat saja dengan dia dan tidak mempunyai hubungan
apa pun. Subo pasti akan dapat mengampunimu.”
Dengan uring-uringan Bi-kiam Niocu diam saja. Gadis berpakaian putih itu lalu menarik kembali sabuknya
yang lepas dari tubuh Keng Han.
Pemuda itu sudah bebas dan dia tidak tahu harus berkata apa. Akan tetapi mengingat bantuan Bi-kiam
Niocu kepadanya, dia lalu memberi hormat kepada wanita itu sambil berkata, “Niocu, banyak terima kasih
kuucapkan atas bantuanmu selama ini. Dan Nona, terima kasih bahwa engkau telah menyelamatkan
nyawaku!” katanya pula kepada gadis berpakaian putih itu sambil memberi hormat.
Karena kedua orang gadis itu tidak menjawab, Keng Han lalu melangkah pergi dan tidak menengok
kembali…..
********************
Bukit Menjangan berada di Pegunungan Cin-ling-san. Disebut demikian karena di bukit itu memang banyak
terdapat binatang kijang dan menjangan. Tadinya banyak pemburu yang mencari binatang itu di Bukit
Menjangan sehingga jumlah binatang itu makin lama semakin berkurang.
Akan tetapi, pada suatu hari datanglah seorang datuk yang memilih tempat itu sebagai tempat tinggalnya.
Semenjak dia tinggal di situ, tidak ada lagi pemburu berani naik ke Bukit Menjangan. Tadinya memang ada
yang naik, akan tetapi setiap kali ada pemburu berani naik ke bukit itu, dia pasti turun lagi dengan digotong
karena terluka parah.
Karena penyerangnya tidak nampak, hanya bayangannya saja yang terlihat berkelebat, dan pemburu yang
terluka itu menggigil kedinginan, maka segera tersiar berita bahwa penyerangnya tentu siluman dan sejak
itu tidak ada lagi yang berani berburu binatang di Bukit Menjangan. Pegunungan Cin-ling-san sangat
luasnya dan terdapat puluhan bukit sehingga mereka mengalihkan ladang perburuan mereka ke bukit-bukit
lainnya.
Sebetulnya siapakah datuk yang kini bertempat tinggal di Bukit Menjangan itu? Kalau saja ada yang berani
dan mampu naik menyelidiki, dia akan melihat sebuah pondok bambu berada di puncak bukit, dan yang
tinggal di situ adalah seorang laki-laki raksasa yang rambutnya sudah putih semua dan usianya sudah
tujuh puluh lima tahun lebih. Dia bukan lain adalah Swat-hai Lo-kwi yang dahulu pernah menyerang Keng
Han pada saat pemuda itu pertama kali datang ke Pulau Hantu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sebagai seorang datuk besar, Swat-hai Lo-kwi juga tertarik dengan munculnya Pulau Hantu. Ia telah
melakukan penyelidikan ke sana dan telah berkelahi melawan tiga puluh orang pimpinan Harimau Hitam
yang kemudian dibunuhnya satu demi satu. Bahkan dia pun sudah melukai Keng Han dengan pukulannya
yang mengandung racun berhawa dingin.
Akan tetapi kemudian dia merasa jeri menyaksikan betapa pulau itu dihuni oleh ular-ular merah yang amat
berbahaya. Dan melihat pulau itu kosong tidak ada apa-apanya yang berharga, dia lalu pergi meninggalkan
Pulau Hantu. Karena tertarik oleh pemandangan di Bukit Menjangan, akhirnya dia memilih tempat itu
sebagai tempat tinggalnya.
Sejak dia tinggal di situ, dia tidak memperkenankan siapa pun juga naik ke bukit. Yang berani naik tentu
dipukulnya dengan pukulannya yang membuat orang lantas menggigil kedinginan sehingga akhirnya tidak
ada yang berani mengunjungi tempat itu dan dia tidak lagi merasa terganggu.
Swat-hai Lo-kwi mencari tempat pengasingan yang tidak terganggu orang lain bukan karena ingin bertapa,
melainkan karena dia sedang melatih diri dengan semacam ilmu silat yang amat hebat dan dia tidak ingin
ada orang lain melihatnya.
Swat-hai Lo-kwi memang memiliki sinkang yang berhawa dingin sekali. Kini dia melatih diri untuk
menyempurnakan sinkang-nya itu sehingga kalau dia menyerang orang, dia dapat membuat lawannya itu
menjadi beku darahnya dan tewas seketika! Kurang lebih setahun lamanya dia melatih ilmu itu dan kini dia
telah berhasil. Yang menjadi kelinci percobaan ilmunya itu adalah binatang-binatang kijang dan menjangan
yang berada di bukit itu.
Kini, dari jarak kurang lebih sepuluh meter, dia mampu memukul binatang-binatang itu dengan pukulan
jarak jauhnya sehingga membuat binatang itu roboh dan tewas dalam keadaan darahnya beku! Bukan
main hebatnya ilmu ini dan Swat-hai Lo-kwi merasa dirinya yang paling jagoan di antara para ahli silat
mana pun.
Pada suatu pagi yang amat dingin, Swat-hai Lo-kwi sedang menghangatkan diri dengan membuat api
unggun dan memanggang daging kijang untuk sarapan pagi. Mendadak ia menjadi waspada dan matanya
mengerling ke kiri karena dari arah itu ia mendengar suara langkah orang.
Langkah itu demikian ringan sehingga dia merasa heran sekali. Orang yang datang ini pasti seorang yang
berilmu tinggi, pikirnya. Akan tetapi dia pura-pura tidak tahu dan masih saja memanggang paha kijang itu
dengan tekun sambil menghangatkan tubuh dari serangan hawa dingin pagi itu.
“Ha-ha-ha, sudah kuduga bahwa tentu engkau Iblis Lautan Es yang berada di tempat ini karena orangorang
yang terpukul itu mati kedinginan!” Tiba-tiba terdengar suara.
Ketika Swat-hai Lo-kwi menoleh, ia melihat seorang kakek tinggi kurus yang memegang sebatang dayung
baja berdiri di situ sambil bertolak pinggang dengan tangan kirinya dan bersandar pada dayungnya. Melihat
kakek yang datang itu, Swat-hai Lo-kwi juga tertawa bergelak.
“Ha-ha-ha-ha, kiranya Setan Lautan Timur yang datang berkunjung. Setan tua, mau apa engkau
mengganggu ketenteraman hidupku di tempat ini?” Kata-katanya yang terakhir itu mengandung tantangan.
“Wah, sejak kapan Swat-hai Lo-kwi menerima kedatangan seorang sahabat seperti ini? Aku, Tung-hai Lomo
(Setan Tua Lautan Timur) tidak pernah datang ke suatu tempat tanpa urusan penting. Aku sengaja
mengunjungimu untuk urusan penting sekali, penting bagi kita berdua.”
“Nanti dulu, aku kini tak mau sembarangan bicara dengan orang yang belum kuketahui sampai di mana
tingkat kepandaiannya. Marilah kita main-main sebentar, hendak kulihat apakah selama ini engkau maju
atau bahkan mundur dalam ilmumu, Lo-mo!” tantang Swat-hai Lo-kwi sambil bangkit berdiri.
“Bagus, bagus! Engkau masih saja belum berubah, Lo-kwi. Engkau selalu tinggi hati dan menganggap diri
sendiri terpandai. Baiklah, majulah dan coba rasakan hebatnya dayung bajaku!”
“Awas seranganku!” Lo-kwi berseru dan dia sudah menyerang dengan tangan kirinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Serangkum hawa yang sangat dingin menyambar. Akan tetapi Lo-mo adalah datuk dari timur yang
kepandaiannya juga sangat tinggi. Dia menghindar dan dayungnya meluncur menyapu ke arah pinggang
Lo-kwi.
Lo-kwi menggunakan tangannya menangkis, lalu menyerang lagi lebih hebat dari pada tadi. Akan tetapi,
Lo-mo juga dapat menangkis serangannya dan tidak terpengaruh oleh hawa dingin yang menyambar itu.
Keduanya sudah bertanding dengan seru sekali dan sebentar saja lima puluh jurus telah lewat.
Merasa betapa lawannya benar-benar tangguh, Lo-kwi lalu menyerang dengan pukulan jarak jauhnya,
yang selama setahun ini dilatihnya di bukit itu.
“Hyaaaaattt... ahhhhh!”
Dia berseru dengan suara melengking dan dari kedua telapak tangannya nampak sinar putih kebiruan
menyambar ke arah lawan.
Tung-hai Lo-mo agaknya maklum akan hebatnya serangan jarak jauh ini. Dia pun cepat menancapkan
tongkatnya di atas tanah, lalu dia pun mengerahkan tenaga sinkang-nya dan dalam keadaan setengah
berjongkok dia menyambut pukulan jarak jauh itu.
“Wuuuttttt... desss...!”
Keduanya terdorong ke belakang dan Tung-hai Lomo agak menggigil kedinginan, akan tetapi dia segera
dapat mengusir hawa itu dengan pengerahan sinkang-nya.
“Hebat! Pukulanmu tadi hebat sekali. Orang lain mana akan mampu menahannya? Aku kagum sekali
padamu, Lo-kwi!” kata Lo-mo yang merasa kalah kuat dalam adu tenaga ini.
Lo-kwi juga tertawa. “Ha-ha-ha, engkau juga telah memperoleh kemajuan pesat, Lo-mo. Nah, engkau
memang pantas berunding denganku, lekaslah katakan apa yang menjadi keperluanmu datang berkunjung
ini.”
“Ha-ha-ha-ha, bicara sih mudah, akan tetapi perut lapar ini perlu diisi. Kulihat panggang daging kijang itu
sudah matang.”
Mereka kemudian makan daging panggang di dekat api unggun tanpa bicara apa-apa. Lo-mo
mengeluarkan sebuah guci arak dan menenggaknya, lalu menyerahkan kepada Lo-kwi.
“Ini arak pilihan dari Hang-ciu. Engkau pantas minum bersamaku, Lo-kwi!” katanya.
Swat-hai Lo-kwi tanpa sungkan-sungkan lagi menerima guci itu lalu menuangkan isinya ke dalam mulutnya
sampai terdengar bunyi menggelegak. Setelah itu barulah keduanya bicara.
“Nah, sekarang bicaralah!” kata Swat-hai Lo-kwi.
“Begini, Lo-kwi. Orang dengan kepandaian seperti kita ini, apakah cukup harus begini saja? Tinggal di
tempat sunyi dan tidak dipandang orang? Padahal, orang-orang macam kita ini sudah sepatutnya kalau
memegang kedudukan tinggi, dihormati dan dipandang orang, hidup penuh kemuliaan dan kemewahan.”
Swat-hai Lo-kwi mengerutkan alisnya dan memandang kepada Tung-hai Lo-mo dengan alis berkerut. “Lomo,
kalau engkau mengharapkan agar aku suka menghambakan diri kepada penjajah Mancu untuk
memperoleh kedudukan tinggi, engkau mimpi!”
“Siapa yang hendak mengabdikan diri kepada bangsa Mancu? Aku pun tidak sudi. Akan tetapi
persoalannya lain sama sekali. Kita bahkan membantu untuk menjatuhkan Kaisar Mancu yang sekarang
ini.”
Mendengar ucapan itu, Lo-kwi mulai tertarik. “Aku pun tidak mau membantu dan juga tak sudi menjadi
antek perkumpulan-perkumpulan pemberontak semacam Pek-lian-pai, Pat-kwa-pai, Thian-li-pang dan
sebagainya.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ahh, tidak sama sekali. Dengar dulu baik-baik, Lo-kwi. Di kota raja terdapat dua orang pangeran yang
pernah dihukum buang oleh kaisar karena mereka hendak membunuh pangeran mahkota. Sekarang dua
orang pangeran itu telah bebas dan kembali ke kota raja. Nah, mereka berdua itulah yang menghubungi
aku dan minta agar aku juga minta bantuanmu. Merekalah yang ingin memberontak dan hendak
menjatuhkan kaisar yang sekarang bertahta.”
“Hemmm, sama saja. Kalau mereka berhasil, tentu mereka yang menjadi penguasa dan berarti kita harus
mengabdi kepada bangsa Mancu. Apa bedanya?”
“Engkau belum mengerti maksudku. Kita membonceng saja, dan kalau pemberontakan ini berhasil dan
kaisar dapat dibunuh, kita akan rebut kedudukan kaisar itu dari tangan mereka! Kita mempunyai harapan
menjadi kaisar atau setidaknya menjadi Koksu atau Menteri!”
Lo-kwi semakin tertarik. “Akan tetapi, apa artinya tenaga kita berdua?”
“Kita berdua menjadi pembantu utama. Sekarang kedua orang pangeran itu sudah mulai menyusun
kekuatan. Kita dapat membujuk partai-partai lain untuk mau bekerja sama. Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai
sudah terbujuk. Juga Bu-tong-pai! Dan Bu-tong-pai bahkan hendak mengadakan pertemuan dengan
seluruh perkumpulan dan perorangan yang berjiwa patriot untuk diajak bekerja sama. Juga kita harus
menghubungi para Pendeta Lama Jubah Kuning yang tentu siap membantu. Pendeknya, gerakan ini harus
berhasil baik. Dan kita berdua yang menjadi pembantu utama kedua orang pangeran itu tentu dapat
mengatur bagaimana sebaiknya untuk kita berdua. Coba pikir, dari pada engkau hidup seperti ini, makan
daging kijang panggang dan hidup seperti orang liar, bukankah lebih baik menggunakan kepandaianmu
untuk mencari kedudukan setinggi mungkin?”
Swat-hai Lo-kwi mulai terbujuk. Dia menyatakan kesanggupannya untuk bekerja sama dengan Lo-mo
membantu gerakan Pangeran Tao San dan Pangeran Tao Seng.
Seperti kita ketahui, kedua orang pangeran ini dihukum buang selama dua puluh tahun dan sekarang
mereka telah bebas. Mereka kembali ke kota raja dan nampaknya mereka telah bertobat. Akan tetapi,
ternyata diam-diam mereka kini sedang menyusun kekuatan untuk memberontak…..
********************
Pegunungan Bu-tong-san merupakan pusat dari perguruan silat Bu-tong-pai yang amat terkenal. Semenjak
dahulu Bu-tong-pai memiliki pendekar-pendekar yang amat tangguh sehingga namanya menjadi terkenal
dan dihormati oleh semua perguruan lain dan juga para pendekar.
Biasanya, Bu-tong-san nampak sunyi saja karena memang para penduduknya hanya orang-orang dusun
yang bersahaja. Akan tetapi pada hari itu, Pegunungan Bu-tong-san menjadi ramai dengan kunjungan
banyak orang dari bermacam-macam golongan. Ada yang berpakaian seperti hwesio, ada pula tosu, ada
yang berpakaian seperti pengemis dan ada pula yang seperti seorang hartawan. Ada yang sikapnya lemah
lembut seperti kaum sastrawan, akan tetapi ada pula yang berpakaian ringkas dan sikapnya gagah
perkasa seperti kaum persilatan.
Undangan yang, dilakukan oleh Butong-pai ternyata mendapat banyak sambutan. Siapa tidak mengenal
Bu-tong-pai? Kalau Bu-tong-pai mengundang semua tokoh kang-ouw, berarti tentu ada keperluan yang
sangat penting. Bahkan mereka yang tidak diundang sekali pun, hanya karena mendengar saja bahwa Butong-
pai mengundang orang-orang kang-ouw, banyak pula yang turut datang untuk melihat perkembangan,
menonton dan menambah pengalaman. Mereka ini dapat menduga bahwa yang diundang oleh pihak Butong-
pai tentulah para jagoan-jagoan yang berilmu tinggi dan yang hanya mereka dengar namanya saja.
Ketika itu yang menjadi ketua Bu-tong-pai adalah Thian It Tosu, seorang tosu berusia enam puluh tahun
yang bertubuh sedang, berjenggot dan berkumis panjang. Ada pun pembantunya adalah dua orang murid
utamanya, yaitu Thian Yang Cu dan Bhok Im Cu yang dahulu pernah datang berkunjung ke rumah
Pendekar Tangan Sakti Yo Han untuk menyampaikan surat dan undangan.
Di antara para tamu itu terdapat pula Yo Han. Isterinya dan puterinya tidak ikut. Yo Han datang ke Bu-tongpai
dengan hati diliputi perasaan penasaran dan juga keheranan. Dia tak mengerti akan sikap Thian It
Tosu. Kenapa mendadak tosu itu hendak mengobarkan pemberontakan? Karena khawatir bahwa
pertemuan itu akan mendatangkan keributan, maka dia melarang isteri dan puterinya untuk ikut serta.
Kalau terjadi keributan, biar dia sendiri yang akan menghadapinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Seperti para tamu lainnya, Yo Han juga disambut oleh dua orang murid utama itu. Para tamu dipersilakan
duduk di sebuah ruangan yang luas sekali dan mereka mendapatkan tempat duduk yang diatur menurut
kedudukan masing-masing. Ada tempat bagi para ketua perguruan dan para tokoh tingkatan tua, dan ada
tempat bagi yang muda-muda.
Yo Han sebagai seorang pendekar yang amat terkenal mendapat tempat kehormatan di antara para ketua
perguruan yang terkenal. Tentu saja Yo Han bertemu dengan muka-muka lama yang sudah dikenalnya
sehingga terjadilah pertemuan dalam suasana yang cukup menggembirakan di antara mereka.
Anehnya, Thian It Tosu sendiri belum kelihatan menyambut. Ketika ada orang yang menanyakan kepada
Thian Yang Cu, atau Bhok Im Cu, kedua orang tosu ini menjawab bahwa suhu mereka sedang semedhi
dan nanti kalau sudah tiba saatnya tentu akan keluar menyambut para tamu.
Setelah para tamu datang memenuhi ruangan itu, barulah Thian It Tosu muncul. Yo Han yang sudah
mengenal baik tosu itu melihat betapa wajah tosu itu agak pucat, seperti orang yang sedang menderita
sakit.
Thian It Tosu mengangkat kedua tangan ke depan dada, memberi hormat kepada para tamu dan berkata
dengan suara parau, “Harap Cu-wi maafkan, saya sedang sakit batuk dan serak.”
Lalu dia mempersilakan semua orang duduk dan dia sendiri duduk di kursi ketua yang sudah disiapkan.
Thian Yang Cu lalu berdiri dan memberi hormat kepada semua orang yang hadir.
“Harap Cu-wi semua suka memaafkan. Agaknya Suhu mendadak menderita sakit batuk dan suaranya
hampir hilang. Karena itu, pinto yang ditunjuk sebagai wakil pembicara.”
Semua orang mengangguk-angguk dan maklum. Betapa pun lihainya seseorang, apa lagi kalau sudah tua,
dapat saja terserang penyakit. Dan penyakit yang diderita Thian It Tosu itu meski pun tidak berat, namun
membuat dia tidak mampu mengeluarkan suara sehingga sudah sepantasnya kalau diwakili oleh murid
utamanya.
“Seperti yang Cu-wi semua ketahui dari undangan Suhu, Cu-wi diminta berkumpul untuk menyatakan
persetujuan atas usul Suhu, yaitu mempersiapkan diri untuk menyerang kota raja dan menggulingkan
kedudukan kaisar Mancu. Sudah tiba saatnya bangsa kita dibebaskan dari belenggu penjajah bangsa
Mancu. Kita semua yang berkumpul di sini adalah kaum patriot yang mencinta tanah air dan bangsa.
Melihat bangsa kita dijajah oleh penjajah Mancu, apakah kita harus berpangku tangan saja? Kita harus
bergerak, dan sekaranglah saatnya, selagi kaisar yang memegang tampuk pemerintahan seorang yang
lemah. Kalau kita bersatu dan menyerbu kota raja, tentu kita akan menang dan dapat merampas istana,
mengakhiri penjajahan!”
Ketika Thian Yang Cu berhenti bicara, suasana menjadi gaduh sekali karena mereka masing-masing saling
berbicara sendiri. Thian It Tosu membiarkan mereka berunding sendiri, lalu memberi isyarat dengan
tangannya kepada Thian Yang Cu, membisikkan sesuatu. Thian Yang Cu lalu bangkit berdiri lagi dan
mengangkat kedua tangan ke atas.
“Mohon tenang, saudara sekalian. Kami percaya bahwa Cu-wi (Saudara sekalian) yang berwatak patriot
tentu menyetujui pendapat dan usul ketua kami. Yang setuju, tinggal mempersiapkan diri saja, kalau
waktunya sudah tiba tentu akan diberi tahu. Terutama sekali para ketua perkumpulan, harap menyiapkan
anak buahnya untuk sewaktu-waktu menerima panggilan dan bergabung dengan kami. Kalau ada yang
hendak menyatakan pendapatnya, silakan, akan tetapi satu-satu saja, agar mudah didengar.”
Mendadak terdengar suara lembut. “Omitohud...!”
Semua orang memandang dan ternyata yang bicara itu adalah seorang hwesio tinggi besar yang mewakili
Siauw-lim-pai.
“Kami dari Siauw-lim-pai tidak begitu setuju dengan usul dari Bu-tong-pangcu. Memang benar kami semua
berjiwa patriot dan ingin melihat bangsa kita terbebas dari belenggu penjajahan. Akan tetapi apa yang
dapat kita perbuat dalam keadaan seperti sekarang ini? Biar pun kita semua hendak berjuang, akan tetapi
harus diketahui dengan siapa kita berjuang dan bagaimana pula keadaan kekuatan kita. Pinceng melihat di
sini banyak pula perkumpulan yang hanya berkedok pejuang akan tetapi tidak segan melakukan kejahatan
dunia-kangouw.blogspot.com
terhadap rakyat, Bekerja sama dengan mereka itu merupakan pantangan bagi kami. Bu-tong-pangcu tentu
mengerti siapa-siapa yang kami maksudkan itu dan sebaiknya kalau mereka itu tidak diajak berunding
tentang perjuangan.”
Setelah berkata demikian hwesio itu duduk kembali. Seperti tadi, mereka semua lantas saling bicara sendiri
dengan gaduhnya.
Pada saat itu, Yo Han yang sejak tadi sudah merasa penasaran sekali melihat hadirnya perkumpulanperkumpulan
sesat seperti Pek-lian-pai, Pat-kwa-pai dan lain-lainnya, juga sudah bangkit berdiri. Suaranya
terdengar lembut namun lantang sehingga mengatasi semua suara dan semua orang terdiam
mendengarkan.
“Kami dari Thian-li-pang ingin bicara!”
Thian It Tosu sendiri berdiri dan memberi isyarat dengan tangan mempersilakan Yo Han untuk bicara.
“Thian It Totiang, Totiang bukanlah kenalan baru dari kami dan kami sudah mengenal bahwa Bu-tong-pai
ialah sebuah perkumpulan yang berjiwa patriot di samping berwatak pendekar. Oleh karena itu, saya tidak
menganggap aneh kalau Bu-tong-pai mengajak untuk bangkit melawan penjajah meski sekarang belum
tiba saatnya, melihat kekuatan musuh dan kekuatan kita sendiri yang masih terpecah belah. Akan tetapi
melihat betapa Bu-tong-pai juga mengundang perkumpulan-perkumpulan sesat, sungguh ini amat tidak
sesuai dengan kependekaran Bu-tong-pai. Kami setuju dengan pendapat Losuhu dari Siauw-lim-pai tadi
bahwa banyak perkumpulan yang berkedok pejuang tapi sebenarnya hanya merupakan perkumpulan sesat
yang suka mengganggu rakyat. Selama mereka itu masih mencampuri urusan kami, maka tentu akan
timbul kekacauan. Kami mohon Thian It Tosu mempertimbangkan kembali dan mengusir golongan sesat
dari pertemuan ini, barulah kita bicara tentang perjuangan. Selama mereka itu hadir, kami tidak suka ikut
dalam pertemuan ini!”
Thian It Tosu kembali berbisik kepada Thian Yang Cu dan wakilnya ini lalu berdiri dan bicara, “Yo-pangcu
dari Thian-li-pang harus suka bicara terus terang. Siapakah di antara kita ini yang disebut golongan sesat?
Justru dalam perjuangan, semua kekuatan harus dipersatukan. Harap dijelaskan siapa yang dianggap
golongan sesat supaya persoalan menjadi terang.”
Karena ditantang untuk berterus terang, Yo Han tanpa ragu-ragu lalu berseru dengan suara gagah,
“Perlukah hal itu disebutkan lagi? Semua orang gagah di sini mengetahui siapa-siapa tokoh sesat yang
turut hadir di sini. Dan mengenai perkumpulan golongan sesat, siapa belum tahu bahwa Pek-lian-pai dan
Pat-kwa-pai merupakan perkumpulan sesat? Mengapa mereka menerima undangan pula? Bagaimana pun
juga, kami tidak dapat bekerja sama dengan mereka itu!”
Sekarang Thian It Tosu bangkit berdiri dan dengan suaranya yang parau dia berkata, “Yo-pangcu bicara
tidak adil! Bukankah tadi Yo-pangcu sendiri yang mengatakan bahwa pihak musuh terlalu kuat sedangkan
pihak kita masih terpecah belah. Mengapa kita tak mengajak dua perkumpulan itu turut berjuang? Dalam
keadaan begini kita harus bersatu padu, menghilangkan kepentingan sendiri demi perjuangan!”
“Tidak mungkin! Perjuangan kita akan diselewengkan oleh mereka yang memang sesat itu. Selain
perjuangan akan gagal, juga nama baik kita sebagai pendekar akan menjadi rusak. Semua orang akan
menyangka kita juga melakukan perampokan dan pencurian terhadap rakyat seperti mereka!” kata Yo Han
dengan lantang pula.
Dari pihak Pek-lian-pai muncul Thian Yang Ji, seorang tosu tokoh Pek-lian-kauw yang berusia lima puluh
tahun lebih dan dia sudah memegang pedang telanjang di tangan kanannya. Telunjuk kirinya menuding ke
arah Yo Han sambil berteriak,
“Yo-pangcu dari Thian-li-pang sungguh terlalu menghina kami dari Pek-lian-pai. Sudah lama pinto
mendengar akan kehebatan ilmu dari ketua Thian-li-pang. Kalau sekarang engkau menghina kami berarti
menantang kami. Mari kita selesaikan urusan ini di ujung pedang.”
“Benar, Yo-pangcu juga menghina Pat-kwa-pai, kami juga menantang Yo-pangcu untuk menyelesaikan
urusan di ujung pedang!” terdengar seruan dan seorang laki-laki berusia empat puluh tahun tokoh Pat-kwapai
juga berdiri sambil menghunus pedang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Yo Han tersenyum mengejek. “Kita adalah tamu-tamu. Aku tidak mau menghina tuan rumah dengan
bertindak semauku sendiri. Kecuali kalau tuan rumah mengijinkan, aku akan menerima tantangan kalian
dan kalian berdua boleh maju bersama!”
Akan tetapi Thian It Tosu segera bangkit berdiri dan berseru dengan suaranya yang parau, “Harap Sam-wi
suka melihat muka pinto dan tidak mengadakan keributan serta perkelahian di sini! Yo-pangcu, kami
sungguh tidak dapat menyetujui pendapat Pangcu itu. Pada saat seperti sekarang ini, kami membutuhkan
sebanyak mungkin tenaga untuk menentang pemerintah, baik dari golongan mana pun juga, tidak pandang
bulu. Kecuali mereka yang tidak mau bekerja sama dengan kami, terpaksa kami tolak kehadirannya di sini.
Semu pihak yang mau membantu dan bekerja sama untuk berjuang, kami anggap tamu kehormatan kami.”
Pada saat itu Keng Han juga berada di antara para tamu golongan muda. Dia datang ke Bu-tong-san untuk
menuntut ketua Bu-tong-pai tentang permusuhan ketua itu dengan mendiang gurunya, Gosang Lama,
seperti yang sudah dipesan oleh gurunya itu. Ketika dia sedang mendengarkan perbantahan tadi, tiba-tiba
lengannya disentuh orang.
Pada waktu dia menoleh, dia terbelalak heran, juga kaget dan senang karena yang menyentuh lengannya
itu bukan lain adalah Kwi Hong, gadis yang pernah dia jumpai di kota Tung-san ketika gadis itu menghajar
para murid Pek-houw Bu-koan yang bersikap kurang ajar kepadanya.
“Hong-moi, kau di sini?”
“Han-ko, engkau juga di sini, mau apakah? Apa engkau juga hendak memberontak?”
“Ahh, tidak. Aku mempunyai urusan pribadi dengan ketua Bu-tong-pai.”
“Hemmm, tentu karena pesan gurumu itu, bukan? Berbahaya sekali, Han-ko. Dia lihai bukan main dan kau
lihat sendiri, di sini banyak temannya yang juga terdiri dari orang-orang tua angkatan tinggi yang lihai
bukan main.”
“Aku tidak takut. Bahkan biarlah orang sebanyak ini bisa menjadi saksi akan kejahatan Bu-tong-pai yang
memusuhi guruku yang tidak berdosa.”
“Jangan, Han-ko. Biar aku membubarkan dulu mereka ini, baru engkau bicara dengan ketua Bu-tong-pai.”
Setelah berkata demikian, gadis itu berdiri dan dengan lantang dia berkata, ditujukan kepada ketua Butong-
pai yang baru saja menjawab ucapan Yo Han tadi.
“Heiii, apa yang aku dengar ini? Bu-tong-pai hendak memberontak terhadap pemerintah dan membujuk
semua orang untuk memberontak? Apakah tidak takut akan bala tentara kerajaan yang tentu akan
membasmi kalian semua? Janganlah bertindak begitu bodoh!”
Semua orang terkejut bukan main mendengar ucapan itu. Kwi Hong sendiri agaknya lupa bahwa dia
sedang menyamar, bukan sebagai puteri Pangeran Mahkota, melainkan sebagai gadis kang-ouw biasa!
Beberapa orang murid Bu-tong-pai sudah mengepung tempat itu dan siap untuk turun tangan.
Melihat ini, Yo Han yang mengkhawatirkan keadaan gadis itu segera berseru, “Tahan dulu! Gadis itu hanya
memberi peringatan dan ucapannya memang betul. Kita ini bukan apa-apa jika sudah berhadapan dengan
pasukan pemerintah. Apa artinya beberapa ribu anggota kita semua yang dikumpulkan jika melawan
ratusan ribu pasukan pemerintah? Hanya akan mati konyol dan bunuh diri belaka. Sudah kukatakan bahwa
masih belum waktunya bergerak, bukan berarti bahwa aku tidak suka berjuang membebaskan rakyat dari
penjajahan!”
“Nah, itu baru kata-kata yang bijaksana. Yo-pangcu memang benar sekali. Kalau kita ketahuan pemerintah,
kita tentu akan terbasmi habis. Karena itu sebaiknya sekarang kita bubaran saja sebelum ada pasukan
pemerintah yang datang!” kata pula Kwi Hong dengan suaranya yang lantang.
Ucapan Kwi Hong dan terutama Yo Han itu berpengaruh sekali. Mereka yang diam-diam merasa tak setuju
dengan tindakan Bu-tong-pai yang tergesa-gesa, segera cepat-cepat meninggalkan tempat itu! Dan
akhirnya hanya tinggal Pek-lian-pai, Pat-kwa-pai beserta beberapa rombongan kaum sesat saja yang
tinggal. Perkumpulan para pendekar seperti Siauw-lim-pai dan lain-lainnya telah pergi meninggalkan
tempat itu, menganggap bahwa Bu-tong-pai lancang dan tidak mengenal keadaan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Hal ini membuat Thian It Tosu marah sekali. Dia memandang ke arah Kwi Hong dengan mata melotot.
Akan tetapi pada saat itu, Keng Han sudah melangkah maju menghadapi ketua Bu-tong-pai itu dan berkata
dengan suara nyaring,
“Bu-tong Pangcu, saya bernama Si Keng Han. Saya datang bukan untuk segala macam urusan
pemberontakan, melainkan untuk bertanya kepada Bu-tong-pai. Apa sebabnya Bu-tong-pai memusuhi
guruku yang tidak bersalah?”
Thian It Tosu mengelus-elus jenggotnya. “Siancai, siapakah gurumu?” tanyanya dengan suara yang parau.
“Guruku bernama Gosang Lama!”
“Gosang Lama, Pendeta Lama Jubah Kuning itu? Akan tetapi kami tidak memusuhinya!” jawab Thian It
Tosu, kelihatan bingung sekali.
Thian Yang Cu yang maju dan melanjutkan keterangan ketuanya. “Gosang Lama tidak ada sangkut
pautnya dengan kami, akan tetapi ia sudah berani melukai beberapa orang murid kami. Karena itulah kami
melawannya dan berhasil mengusirnya dari sini. Jadi benar ucapan Pangcu tadi, bukan kami yang
memusuhi, tetapi Gosang Lama sendiri. Dan karena engkau muridnya, tentu engkau akan membalaskan
kekalahan gurumu itu!”
Thian Yang Cu melompat ke depan diikuti Bhok Im Cu dan kedua orang tosu ini berdiri di depan Keng Han
dengan sikap menantang.
“Kalian mundurlah!” kata Thian It Tosu kepada dua orang murid utamanya, kemudian ia berdiri dan
menghadapi Keng Han. “Gosang Lama yang memusuhi kami dan kami yang bertanggung jawab atas
kekalahannya dari kami. Oleh karena itu, kalau engkau hendak membalas atas kekalahannya itu, pinto
yang akan menghadapimu, orang muda!”
Keng Han merasa tidak enak kalau hanya berdiam diri. Bagaimana pun juga, dia harus menghormati pesan
terakhir dari gurunya. Dia telah gagal melaksanakan pesan gurunya untuk membunuh Dalai Lama, apakah
sekarang dia juga harus gagal memenuhi pesan yang kedua? Setidak-tidaknya, dia kini harus
memperlihatkan sikapnya yang memusuhi Bu-tong-pai seperti diharapkan gurunya.
“Bagus! Hendak kulihat sampai di mana kelihaian Bu-tong-pai yang telah mengalahkan guruku!” katanya
sambil memasang kuda-kuda untuk menghadapi Thian It Tosu.
“Ha-ha-ha, siancai...! Walau pun badanku sedang sakit, akan tetapi engkau tidak akan mampu
mengalahkan aku, orang muda. Sebaiknya kalau engkau menyadari kesalahan gurumu dan tidak menuntut
balas agar engkau tidak sampai tewas atau terluka.”
Yo Han memandang heran. Kenapa Thian It Tosu sekarang bersikap seperti itu? Kata-katanya bernada
angkuh, padahal biasanya Thian It Tosu orangnya penyabar dan tentu tidak mau melayani tantangan
seorang pemuda seperti itu. Dia mulai merasa tidak senang. Thian It Tosu kini sudah berubah. Agaknya dia
telah terbujuk oleh orang-orang Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai sehingga kini bukan saja berniat untuk
memberontak, akan tetapi juga sikapnya mulai keras.
Di samping itu, dia juga merasa sayang kalau sampai pemuda itu tewas di Bu-tong-pai, hanya untuk
membela seorang guru yang berada di pihak yang bersalah. Dia pun sudah mendengar tentang
pemberontakan Lama Jubah Kuning di Tibet, maka kalau memang guru pemuda ini seorang Lama Jubah
Kuning, mungkin Lama itulah yang berada di pihak yang bersalah.
Akan tetapi dia sudah terlambat karena Keng Han sudah menyerang dengan cepatnya kepada tosu itu.
Namun serangannya dapat dielakkan oleh Thian It Tosu. Pemuda itu menyerang lagi dan begitu dia
memainkan ilmu silatnya, Yo Han hampir berseru saking kagetnya.
Dia sendiri tidak mempelajari ilmu silat itu, akan tetapi dia mengenal ilmu silat itu, karena isterinya juga
menguasainya. Itulah Hong-in Bun-hoat, ilmu silat yang mencorat-coret di udara seperti orang menuliskan
huruf dengan gerakan silatnya! Itulah ilmu keturunan keluarga Pulau Es.
dunia-kangouw.blogspot.com
Keng Han yang maklum akan kelihaian ketua Bu-tong-pai, segera melakukan pukulan jarak jauh dengan
tenaga sinkang-nya. Kakek itu menahan dengan kedua tangan pula dan akibatnya, keduanya terpental ke
belakang.
Yo Han makin terkejut. Dia maklum akan kelihaian ketua Bu-tong-pai itu, akan tetapi pemuda itu mampu
membuat ketua itu terdorong ke belakang walau dia sendiri pun juga terdorong ke belakang.
Sementara itu, Thian It Tosu juga terkejut bukan main dan menjadi sangat penasaran. Dia sudah meloncat
maju lagi dan kini dia mencabut sebatang pedang yang berkilauan sinarnya, dan itulah pedang pusaka
Pek-coa-kiam (Pedang Ular Putih).
Yo Han maklum benar betapa bahayanya kalau Thian It Tosu sudah mencabut pedang. Selain pedang itu
merupakan pusaka yang ampuh, juga ketua itu memang mempunyai keahlian dalam permainan pedang.
Maka, tanpa ragu lagi dia lalu melompat dan berdiri di antara mereka yang hendak berkelahi.
“Harap tahan dulu!” serunya lantang.
Thian It Tosu sudah amat marah itu menegur, “Yo-pangcu, apakah engkau hendak turut mencampuri
urusan Bu-tong-pai?”
“Tidak sama sekali, Totiang. Aku hanya ingin memperingatkan bahwa tidak semestinya Totiang melayani
pemuda ini. Gurunya boleh jadi bersalah terhadap Bu-tong-pai, tetapi pemuda ini tidak bersalah apa-apa.
Dia hanya ingin membalaskan kekalahan gurunya dan tidak perlu sampai Totiang mencabut pedang dan
membunuhnya! Bukankah sudah sewajarnya jika yang tua dan yang lebih tinggi tingkatnya mengalah dan
menggunakan kesabaran?”
Thian It Tosu mengerutkan alis. “Siancai, kata-katamu memang masuk akal, Pangcu. Akan tetapi engkau
tadi tentu melihat dan mendengar sendiri betapa bocah ini yang menantang, bukan kami yang memulai.”
“Mungkin karena dia tidak mengerti dan biarlah saya yang mencoba menyadarkannya, Totiang.”
Setelah berkata demikian, Yo Han kemudian menghadapi pemuda itu dan sejenak dia memandang penuh
perhatian. Dari sinar mata pemuda itu dia dapat menduga bahwa pemuda itu bukan orang jahat, melainkan
seorang yang pemberani dan keras hati.
“Orang muda, dengarlah nasehatku baik-baik. Apa yang sedang kau lakukan ini sama sekali keliru dan
menyimpang dari kebenaran.”
Keng Han mengerutkan alisnya memandang. Dia tadi sudah merasa amat suka kepada Yo Han yang
menentang kehendak Bu-tong-pai yang mengajak memberontak terhadap pemerintah. Apa bila ayah
kandungnya sekarang telah menjadi kaisar, bukankah berarti pemberontakan itu ditujukan kepada
ayahnya? Atau setidaknya pemberontakan ini akan ditujukan kepada keluarganya karena ayahnya adalah
Pangeran Mahkota. Tentu saja niat memberontak Bu-tong-pai itu sudah membuat hatinya tak senang dan
dia condong menyetujui pendapat Yo Han yang menentang niat itu.
“Paman, harap Paman tidak turut campur urusan kami. Bagaimana Paman tadi dapat mengatakan
perbuatanku keliru dan menyimpang dari kebenaran? Bukankah memang sudah selayaknya kalau seorang
murid membela gurunya yang sudah mati? Sebelum meninggal dunia, guru saya memesan agar saya
membalaskan permusuhannya dengan Bu-tong-pai.”
“Membalas dendam itu sendiri adalah perbuatan yang tidak benar, hanya menurutkan nafsu kebencian dan
amarah. Setelah engkau mendapat keterangan bahwa gurumu berada di pihak yang bersalah, apakah
engkau akan melanjutkan balas dendammu itu? Bukankah jika begitu berarti engkau akan menambah
beban dosa gurumu? Sepatutnya engkau menebus kesalahan gurumu dengan perbuatan yang benar,
bukan menambah besar dosa itu dengan perbuatan yang tidak benar. Engkau masih amat muda dan perlu
banyak belajar dari kehidupan, jangan menurutkan nafsu. Apa yang dapat kau lakukan terhadap
perkumpulan Bu-tong-pai yang besar? Ketahuilah, aku sendiri menjadi saksi bahwa perkumpulan Bu-tongpai
terdiri dari pendekar-pendekar yang berilmu tinggi dan tidak biasa melakukan kejahatan.”
Kembali Keng Han merasa terpukul sekali. Nasehat itu hampir sama dengan nasehat yang diterimanya dari
Dalai Lama.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pada saat itu, Kwi Hong sudah berada di sampingnya. “Apa yang diucapkan Paman ini semua benar, Hanko.
Marilah kita pergi dari tempat ini. Arwah suhu-mu tentu akan mengampunimu kalau dia sudah
menginsafi kesalahannya.”
Kwi Hong menarik tangannya dan Keng Han tidak membantah lagi ketika ditarik pergi oleh Kwi Hong.
Ada pun Yo Han merasa senang sekali melihat pemuda itu sudah mau meninggalkan tempat itu. Dia
sendiri lalu memberi hormat kepada Thian It Tosu dan berkata, “Terima kasih atas undangan Totiang, dan
saya mohon diri karena merasa tidak pada tempatnya kalau saya menghadiri pertemuan ini.” Melihat dua
orang tokoh dari Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai yang tadi menantangnya, dia lalu menambahkan sambil
menoleh ke arah mereka. “Bila masih ada yang merasa penasaran dengan pendapatku tadi dan hendak
menyelesaikan urusan dengan kekerasan, saya dapat melayaninya di kaki gunung, di luar wilayah Bu-tongpai.”
Setelah berkata demikian, Yo Han pun langsung melangkah pergi dan setelah dia pergi, lebih banyak lagi
orang yang meninggalkan tempat itu. Terpaksa sekarang Thian It Tosu melanjutkan perundingannya hanya
dengan orang-orang yang sebagian besar berasal dari golongan sesat…..
********************
“Orang muda, perlahan dulu!”
Keng Han yang sedang berjalan bersama Kwi Hong, terkejut dan menahan langkahnya, lalu memutar
tubuhnya. Kiranya yang menegurnya adalah ketua Yo Han yang tadi telah menasehatinya.
“Ada keperluan apakah Paman menyusul perjalananku?” tanya Keng Han dengan sikap hormat.
“Aku sengaja mengejar karena ada sesuatu yang ingin sekali kubicarakan denganmu. Bukankah namamu
tadi Si Keng Han? Dan Nona ini siapakah?”
“Namaku Kwi Hong, Paman,” kata Kwi Hong ramah. “Paman berani sekali menentang para pemberontak
itu, untung tadi tidak terjadi perkelahian.”
“Engkau lebih berani lagi, Nona. Engkau bahkan mengancam mereka semua sehingga dapat menyadarkan
banyak orang.”
“Aku hanya bicara sebenarnya. Di waktu yang aman ini, kenapa orang bicara tentang pemberontakan? Jika
ketahuan pemerintah, bukankah itu mencari penyakit namanya?”
“Paman,” kata Keng Han. “Urusan apakah yang hendak Paman bicarakan dengan aku?”
“Begini, Keng Han. Benarkah gurumu itu Gosang Lama?”
“Benar sekali.”
“Akan tetapi aku melihat gerakan ilmu silatmu tadi sama sekali tidak asing bagiku. Bukankah engkau tadi
menggunakan ilmu silat Hong-in Bun-hoat, ilmu dari keluarga Pulau Es? Apakah engkau masih keluarga
atau murid keluarga Pulau Es?”
“Sama sekali bukan, Paman. Terus terang saja, aku mempelajari ilmu itu dari Pulau Hantu, melalui coretancoretan
di dinding goa di sana.”
“Ahhh, engkau telah mewarisi ilmu yang menjadi pusaka Pulau Es!”
Akan tetapi tiba-tiba mereka menghentikan bicara mereka karena mereka mendengar gerakan orang. Dan
tak lama kemudian tempat itu sudah penuh dengan orang-orang Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai, jumlah
mereka tidak kurang dari lima puluh orang, dan dipimpin oleh Thian Yang Ji, tokoh Pek-lian-kauw itu dan
seorang tosu bernama Koai Tosu tokoh Pat-kwa-pai. Di dekat mereka masih terdapat seorang pemuda
yang amat gagah perkasa, tinggi besar dan berwajah tampan, matanya lebar sekali menambah
ketampanan wajahnya yang bundar.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Yo-pangcu, engkau tadi menantang kami. Nah, sekarang kami datang untuk mencoba kepandaian ketua
Thian-li-pang!” kata Thian Yang Ji dengan marah.
“Ketua Thian-li-pang ternyata hanya seorang penakut yang pura-pura menjadi patriot, tidak berani diajak
berjuang melawan penjajah!” kata pula Koai Tosu.
Yo Han memandang dengan senyum mengejek. Sikapnya yang tenang membuat Keng Han dan Kwi Hong
kagum sekali. Dikepung lima puluh orang lebih masih bisa demikian tenangnya. Ketua Thian-li-pang ini
benar-benar seorang gagah perkasa. Diam-diam Keng Han mengambil keputusan untuk membela ketua
Thian-li-pang ini sekuat tenaga.
“Mempergunakan banyak orang untuk menggertak, apakah ini yang dinamakan gagah perkasa?
Mengandalkan pengeroyokan untuk mendapat kemenangan, anak kecil pun bisa dan terutama orangorang
yang curang sekali!” kata Kwi Hong dengan lantang.
“Gadis lancang mulut! Tadi pun di sana engkau bicara seakan-akan engkau membela kerajaan Mancu.
Apakah engkau adalah seorang antek atau mata-mata Mancu? Untuk melawanmu, tidak perlu keroyokan,
pinto sendiri saja pun cukup untuk melawanmu!” kata Koai Tosu menantang gadis itu.
“Bagus! Siapa takut kepada segala macam tosu bau? Jubahmu saja seperti tosu dan pertapa, akan tetapi
siapa tidak tahu di dalamnya? Engkau seperti buaya berkulit ikan emas, di luarnya bagus di dalamnya
busuk. Aku tidak takut kepadamu!” kata Kwi Hong sambil mencabut pedangnya. Gadis yang pakaiannya
serba biru ini lalu membusungkan dada dan memandang dengan mata bersinar-sinar.
“To-yu, hati-hatilah. Melihat hiasan rambut gadis itu, agaknya dia yang disebut orang Si Bangau Emas!”
kata Thian Yang Ji memperingatkan kawannya.
“Wah, kebetulan sekali kalau begitu. Benarkah engkau Si Bangau Emas, Nona?” tanya Koai Tosu.
“Kalau benar, mau apa? Lekas engkau minggat dari sini kalau takut!”
“Ha-ha-ha, masih muda tetapi mulutnya tajam sekali dan lagaknya seperti seekor naga. Bagus, mari kita
main-main sebentar, Nona!” Koai Tosu juga mencabut pedangnya.
Kwi Hong segera menyerang dengan hebatnya. Demikian ganas serangannya sehingga lawannya terkejut
dan tidak berani memandang ringan lagi. Apa lagi ketika Kwi Hong memainkan Ngo-heng Sin-kiam, tosu itu
segera terdesak dan terpaksa harus memutar pedangnya untuk melindungi tubuhnya dari serangan yang
dahsyat sekali itu.
Sementara itu, Thian Yang Ji berkata kepada Yo Han, “Yo-pangcu, mari kita selesaikan urusan di antara
kita dengan senjata!” kata-kata ini dilanjutkan dengan tangannya yang cepat mencabut pedangnya.
“Majulah, Totiang. Senjataku hanyalah kaki tanganku yang diberikan Tuhan kepadaku!” jawab Yo Han dan
memang ketua Thian-li-pang ini tidak pernah menggunakan senjata. Selain dia mengandalkan kaki
tangannya, juga ilmu kepandaiannya sudah sedemikian tingginya sehingga apa pun yang dipegangnya
dapat dijadikan senjata!
“Bagus, engkau sendiri yang mengatakan, jangan bilang bahwa pinto curang!” kata tosu itu sambil
menyerang dengan pedangnya, namun dengan mudahnya Yo Han mengelak sambil membalas serangan
tosu yang cukup lihai itu.
Keng Han melihat betapa lihainya lawan Kwi Hong sehingga dia merasa khawatir akan keselamatan nona
ini.
“Hong-moi, biarkan aku saja melawan tosu itu!” katanya.
Akan tetapi pemuda tinggi besar dan gagah itu sudah maju menghadapinya. “Sobat, engkau adalah
lawanku. Mari majulah kalau engkau memang memiliki kegagahan!”
Sebetulnya Keng Han enggan berkelahi dengan orang itu tanpa alasan apa pun. Maka dia ragu-ragu dan
tidak menjawab, hanya memperhatikan Kwi Hong yang sebenarnya bertemu lawan yang tangguh. Meski
dunia-kangouw.blogspot.com
gadis ini memiliki ilmu pedang Ngo-keng Sin-kiam yang ampuh, akan tetapi ia kalah pengalaman sehingga
setelah tosu itu mulai mengenal gerakannya, gadis itu berbalik terdesak mundur.
Oleh karena tidak ditanggapi oleh Keng Han, pemuda itu juga memperhatikan jalannya perkelahian antara
Yo Han dan Thian Yang Ji. Alisnya berkerut melihat betapa Yo Han mempermainkan Thian Yang Ji. Meski
ketua Thian-li-pang itu hanya bertangan kosong saja dan Thian Yang Ji bersenjata pedang, namun jelas
nampak betapa dalam belasan jurus saja Thian Yang Ji mulai terdesak hebat. Melihat ini, pemuda itu
mengeluarkan teriakan mengguntur dan melompat dekat lalu menyerang Yo Han dengan pukulan jarak
jauh yang mendatangkan angin besar.
Yo Han tekejut dan menangkis. Tangkisan itu membuat dia mundur dua langkah, akan tetapi pemuda itu
pun terhuyung mundur. Melihat pemuda itu melakukan pengeroyokan, Keng Han menjadi penasaran.
“Jangan curang!” Keng Han berseru dan dia lalu menyerang pemuda itu.
Pemuda itu menangkis dan kembali dua tenaga yang dahsyat bertemu. Akibatnya Keng Han terdorong
mundur, akan tetapi pemuda itu pun terhuyung. Keduanya sama-sama terkejutnya dan maklum bahwa
lawan memiliki tenaga yang kuat sekali.
Kini pertandingan menjadi tiga pasang. Kwi Hong masih terdesak oleh Koai Tosu yang lihai sekali ilmu
pedangnya. Untung Kwi Hong sudah menguasai Ngo-heng Sin-kiam sehingga ia masih mampu melindungi
dirinya sehingga pedang lawan tak pernah dapat menembus pertahanannya. Kalau tidak tentu sudah sejak
tadi ia roboh.
Sebaliknya, perkelahian antara Yo Han melawan Thian Yang Ji justru membuat tosu itu terdesak. Walau
pun dia berpedang dan Yo Han tidak, namun dia hampir tidak kuat lagi menghadapi ilmu Bu-kek Hoat-keng
dari Yo Han yang amat hebat.
Akan tetapi yang paling ramai dan dahsyat adalah pertandingan antara Keng Han dan pemuda itu. Mereka
ternyata memiliki tenaga yang seimbang. Keng Han memainkan ilmu-ilmu yang diperolehnya dari Pulau
Hantu, yaitu Hong-In Bun-hoat dan Toat-beng Bian-kun, bahkan mengerahkan tenaga panas dan dingin
yang berada di tubuhnya.
Akan tetapi, pemuda itu masih dapat mengimbanginya dengan ilmu silat yang aneh dan bentakanbentakan
yang mengandung kekuatan sihir. Bila saja Keng Han tidak memiliki sinkang yang kuat sekali
berkat latihan Hwi-yang Sinkang dan Swat-im Sinkang, tentu dia terpengaruh oleh bentakan-bentakan yang
mengandung kekuatan sihir itu.
Tiba-tiba Thian Yang Ji yang terdesak itu berseru dan anak buahnya maju mengeroyok, demikian pula
dengan anak buah Koai Tosu. Lima puluh orang maju mengeroyok tiga pendekar itu.
Tentu saja Yo Han, Kwi Hong dan Keng Han harus mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya
menghadapi pengeroyokan itu. Mereka sudah merobohkan beberapa orang pengeroyok, akan tetapi
karena lawan mereka tangguh sekali, pengeroyokan itu membuat mereka sibuk juga. Terutama Kwi Hong.
Menghadapi Koai Tosu seorang saja ia sudah repot, apa lagi dikeroyok belasan orang. Ia mulai main
mundur dan lelah karena harus menangkis sekian banyak senjata yang menyerangnya. Keadaan gadis itu
mulai gawat, sedangkan Yo Han dan Keng Han tidak berdaya menolongnya karena mereka sendiri repot
dengan pengeroyokan itu.
Pada saat yang gawat itu, tiba-tiba terdengar suara kaki kuda yang banyak sekali, dan tidak lama
kemudian muncul pasukan pemerintah yang tidak kurang dari seratus orang banyaknya. Seorang perwira
yang memimpin pasukan itu berseru, “Tuan puteri dalam bahaya! Cepat selamatkan beliau!”
Dia sendiri sudah menyerbu dengan pedangnya membantu Kwi Hong yang dikeroyok oleh banyak orang.
Para anak buah pasukan itu pun serentak menyerbu dan kini anak buah Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai
berbalik menjadi kalang kabut dan langsung terdesak hebat oleh pasukan yang dua kali lipat banyaknya
itu.
Melihat ini, Thian Yang Ji terkejut bukan main. Ia cepat memutar pedangnya, melompat mundur dan
melihat keadaan yang tidak menguntungkan itu, ia berteriak, “Gulam Sang, cepat melarikan diri!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Pemuda tinggi besar yang masih melawan Keng Han mendengar seruan ini, kemudian melompat ke
belakang. Sementara Keng Han sendiri tertegun mendengar suara Thian Yang Ji tadi sehingga dia tidak
mengejar. Gulam Sang?
Dia teringat akan pesan mendiang gurunya, Gosang Lama supaya kelak bekerja sama dengan putera
suhu-nya itu yang bernama Gulam Sang! Jadi pemuda tinggi besar itu putera gurunya! Menurut penjelasan
Dalai Lama, putera gurunya itu telah menjadi murid Dalai Lama. Tidak mengherankan bila dia mempunyai
ilmu yang tinggi sehingga dalam pertandingan tadi dia tidak mudah mengalahkannya.
Koai Tosu juga melarikan diri bersama Thian Yang Ji, lalu diikuti teman-temannya yang belum roboh.
Dalam sekejap saja kedua orang ini sudah lenyap dari pandangan.
“Jangan kejar!” teriak Kwi Hong kepada komandan pasukan itu.
Perwira itu menghampiri Kwi Hong dan memberi hormat. “Tuan Puteri tidak apa-apa? Tidak terluka?”
“Sama sekali tidak. Untung kalian muncul membantu, jika tidak tentu kami akan celaka. Bhok-ciangkun,
bagaimana engkau dapat muncul bersama pasukanmu di sini?”
“Kami mendapat tugas dari Yang Mulia Pangeran Mahkota untuk mencari Tuan Puteri. Sudah sebulan
lebih kami mencari dan kebetulan saja kami mendapatkan Paduka di sini. Kami pikir bahwa mungkin sekali
Paduka pergi ke Bu-tong-san.”
Sementara itu, Yo Han dan Keng Han mendengar semua percakapan itu. Wajah Keng Han berubah pucat
saking kagetnya mendengar ucapan panglima itu terhadap Kwi Hong. Tuan puteri? Pangeran Mahkota?
Apa artinya ini? Jadi Kwi Hong adalah seorang puteri istana dan masih ada hubungannya dengan
Pangeran Mahkota?
Yo Han juga tercengang dan dia lalu memberi hormat kepada Kwi Hong. “Kiranya Nona adalah Tuan Puteri
dari istana. Maafkan kalau saya bersikap kurang hormat.”
“Ahh, Paman Yo. Puteri atau bukan aku tetap saja sama, dan aku yang berterima kasih. Kalau tidak ada
Paman tadi, tentu aku sudah celaka di tangan mereka.”
Keng Han memandang gadis itu dan Kwi Hong juga memandangnya. Dua pasang mata bertemu pandang,
dan melihat pemuda itu diam saja tanpa mengeluarkan suara, Kwi Hong tersenyum dan berkata, “Han-ko,
mengapa engkau diam saja?”
“Engkau... engkau adalah puteri istana... dan aku...” Keng Han tidak dapat melanjutkan kata-katanya.
Dia tadinya hendak berkata bahwa dia pun putera Pangeran Mahkota. Untung dia masih ingat dan
menyimpan rahasianya. Sebelum dia bertemu dengan ayahnya, dia tidak akan membuka rahasianya.
“Benar, aku memang puteri Pangeran Mahkota dan namaku Tao Kwi Hong, lalu kenapa, Han-ko? Aku
masih Kwi Hong yang biasa itu bagimu.”
“Akan tetapi, Tuan Puteri...”
“Aihh, sebut aku Hong-moi seperti biasa, Han-ko. Kita masih tetap sahabat, bukan?”
“Benar, Hong-moi, kita tetap bersahabat.”
Pada saat itu, Bhong-ciangkun memberi hormat kepada Kwi Hong dan berkata, “Sudah berbulan Paduka
meninggalkan istana. Yang Mulia Pangeran amat gelisah, maka harap Paduka segera mengikuti kami
untuk pulang ke kota raja.”
“Itu benar sekali, Tuan Puteri. Sebaiknya Tuan Puteri segera mengikuti pasukan ini dan pulang ke kota
raja,” kata Yo Han yang ikut merasa tidak enak sekali. Tanpa disengaja, dia malah melindungi puteri
pangeran penjajah!
Keng Han merasa tidak enak jika diam saja. “Memang itu yang paling tepat, Hong-moi. Orang tuamu tentu
cemas memikirkan keselamatanmu.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Engkau ikutlah dengan kami ke kota raja, Han-ko. Bukankah dulu engkau mempunyai niat melihat-lihat
kota raja?”
“Tidak sekarang, Hong-moi. Lain kali bila aku ke kota raja, aku tentu akan mencarimu.”
“Benarkah, Han-ko? Datang saja ke istana ayahku. Ayahku adalah Pangeran Mahkota dan semua orang
tahu di mana istananya.”
Keng Han merasa terharu. Jangan-jangan gadis ini adalah saudaranya seayah!
“Baik, Hong-moi.”
Kwi Hong lalu diberi seekor kuda yang bagus dan berangkatlah ia dikawal pasukan itu meninggalkan kaki
Pegunungan Bu-tong-san. Setelah gadis itu pergi dan derap kaki kudanya tidak terdengar lagi,
bayangannya tidak nampak lagi, Keng Han terharu dan menghela napas panjang.
Yo Han agaknya mengerti akan isi hati pemuda itu dan dia pun menghibur, “Ada waktunya berpisah dan
ada waktunya bertemu, Sobat Muda. Aku melihat gadis itu baik sekali padamu sehingga kelak kalian tentu
akan dapat saling berjumpa kembali.”
Tiba-tiba timbul keinginan di dalam hati Keng Han untuk minta keterangan dari Yo Han ini. Sebagai ketua
Thian-li-pang dan seorang pendekar kenamaan yang dihormati, tentu Yo Han mengetahui banyak tentang
keluarga kaisar.
“Paman Yo, kalau boleh aku bertanya, siapakah nama Pangeran Mahkota itu?”
Pertanyaan yang diajukan sambil lalu ini tidak menarik kecurigaan Yo Han dan dianggap pertanyaan biasa
seorang yang ingin tahu karena Pangeran Mahkota itu ayah dari gadis yang menjadi sahabat pemuda itu.
“Namanya Pangeran Mahkota Tao Kuang.”
Keng Han menyimpan keheranannya. Tadinya dia menduga bahwa Pangeran Mahkota bernama Tao
Seng. Ataukah ayahnya itu kini telah menjadi kaisar?
“Dan siapakah nama kaisar sekarang, Paman?”
“Ahh, engkau belum tahu? Agaknya engkau belum banyak merantau di dunia ramai, Keng Han. Nama
kaisar adalah Kaisar Cia Cing.”
Kembali Keng Han termenung. Kalau kaisar dan putera mahkotanya bukan ayahnya, lalu di mana adanya
ayahnya dan apa pula kedudukannya? Dengan amat hati-hati agar jangan sampai kentara bahwa dia
menaruh perhatian, dia lalu bertanya,
“Memang saya belum banyak merantau di dunia ramai sehingga tidak tahu apa-apa, Paman. Tetapi saya
pernah mendengar tentang seorang pangeran bernama Pangeran Tao Seng. Adakah nama pangeran yang
demikian itu?”
“Pangeran Tao Seng?” Yo Han mengerutkan alisnya, mengingat-ingat. “Kalau aku tidak salah, dua puluh
tahun yang lalu Pangeran Tao Seng itu bersama Pangeran Tao San telah menerima hukuman buang.
Mereka dihukum karena berselisih dengan Pangeran Mahkota Tao Kuang.”
“Ahhh, dibuang? Ke manakah?”
“Mana aku tahu? Bahkan mungkin juga dia sudah meninggal dunia sekarang. Orang yang dihukum amat
berat, apa lagi dihukum buang di tempat terasing, jarang yang kuat bertahan.”
Hampir saja Keng Han meloncat saking kaget dan sedihnya mendengar ini. Ayahnya yang disangkanya
menjadi pangeran mahkota atau bahkan kaisar itu, telah meninggal dalam pembuangan!
“Kenapa, Keng Han? Kenapa engkau menanyakan pangeran itu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ahh, tidak apa-apa, Paman. Hanya aku pernah bertemu seorang yang dahulu pernah ditolong oleh
Pangeran Tao Seng, dan dia minta tolong kepadaku untuk menyampaikan hormatnya kalau aku kebetulan
bertemu dengannya.”
“Ohh, begitukah? Keng Han, aku tertarik sekali melihat engkau ketika tadi berkelahi melawan pemuda
tinggi besar yang lihai sekali itu. Engkau dapat menahan pukulannya dan engkau menggunakan ilmu-ilmu
Pulau Es. Agaknya aku sempat melihat engkau mempergunakan ilmu Toat-beng Bian-kun pula.
Benarkah?”
Keng Han juga kagum sekali. Orang ini dapat mengenal ilmu pukulannya, padahal dia sendiri dalam
keadaan sedang dikeroyok oleh banyak orang. “Benar, Paman. Memang di Pulau Hantu itu aku
menemukan dua ilmu silat itu yang kupelajari dengan tekun.”
“Dan tenagamu itu! Coba kau terima pukulanku ini, Keng Han!”
Yo Han segera mendorongkan kedua tangannya ke arah Keng Han. Serangkum angin yang dahsyat lantas
menyambar sehingga Keng Han amat terkejut. Cepat dia menerima dengan kedua tangannya dan secara
otomatis dua hawa yang berlawanan di dalam tubuhnya bekerja.
“Wuuuttttt... dessss...!” Keduanya terdorong ke belakang dan Yo Han berseru kaget.
“Ahh, bukankah kedua tanganmu itu tadi menggunakan tenaga Hwi-yang Sinkang dan Swat-im Sinkang?”
Karena sudah terlanjur ketahuan, terpaksa Keng Han membenarkan. “Memang aku juga mempelajari
sinkang itu dari coretan di dinding goa.”
“Bukan main! Kalau begitu engkau benar-benar telah mewarisi pusaka Pulau Es, Keng Han! Berhati-hatilah
engkau dan pergunakan ilmu-ilmu itu untuk kebaikan. Ketahuilah bahwa keluarga para pendekar Pulau Es
adalah para pendekar yang gagah perkasa. Kalau engkau keliru menggunakan ilmu-ilmu itu ke arah
kejahatan, pasti mereka semua akan mencari dan membinasakanmu. Ilmu-ilmu pusaka Pulau Es tidak
boleh digunakan untuk kejahatan.”
“Semoga Tuhan menghindarkan aku dari perbuatan jahat, Paman!” Keng Han berkata penuh semangat. Ia
adalah putera bangsawan. Ayahnya seorang pangeran Mancu dan ibunya adalah puteri kepala suku
Khitan, bagaimana mungkin dia bisa menjadi seorang penjahat?
Mereka lalu berpisah. Yo Han kembali ke Thian-li-pang di Bukit Naga dan Keng Han melanjutkan
perjalanannya. Akan tetapi dia menjadi bingung. Bagaimana kalau ayahnya benar-benar telah tewas
seperti diduga oleh Yo Han tadi?
Bagaimana pun juga, dia harus menyelidiki ke kota raja dan kalau benar ayahnya telah mati, dia harus
membalas kematian ayahnya itu! Pantas selama ini ayahnya tak pernah menengok ibunya. Kiranya ia telah
dihukum buang. Dua puluh tahun yang lalu, jadi tidak lama setelah ayahnya meninggalkan ibunya…..
********************
Keng Han berjalan dengan wajah muram. Dia tengah teringat kepada Kwi Hong. Harus diakuinya bahwa
dia tertarik sekali pada Kwi Hong yang bersikap amat baik kepadanya. Hampir dia menduga bahwa dia
telah jatuh hati kepada gadis itu. Tetapi kenyataannya membuat dia muram dan berduka.
Kwi Hong adalah Tao Kwi Hong, masih saudara sepupunya! Mereka bermarga Tao yang sama, maka
sudah tentu tidak mungkin mereka saling jatuh cinta dan berjodoh. Makin dikenang semakin sedih hatinya.
Selagi dia berjalan perlahan-lahan, tidak peduli ke mana dia pergi asal ke timur, tiba-tiba pendengarannya
yang tajam mendengar langkah kaki orang. Cepat dia menyelinap dan bersembunyi ke balik semak
belukar. Tak lama kemudian dia melihat dua orang kakek berjalan dengan langkah panjang.
Salah seorang di antara mereka segera dikenalnya sebagai kakek yang dahulu pernah memukulnya ketika
mereka bertemu di Pulau Hantu. Kakek raksasa berambut putih itu tidak akan pernah dilupakan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ada pun kakek kedua adalah seorang berusia enam puluhan tahun, bertubuh tinggi kurus, tangan kanan
memegang sebatang dayung baja dan lengan kirinya memanggul tubuh seorang wanita yang pakaiannya
serba putih dan mukanya tertutup topeng sutera putih pula.
Jantung Keng Han berdebar tegang! Itulah gadis berpakaian putih yang menjadi sumoi dari Bi-kiam Niocu!
Jelas bahwa gadis itu telah tertotok. Tubuhnya amat lemas ketika dipanggul oleh kakek tinggi kurus itu.
Kakek yang usianya sudah tujuh puluh tahun lebih itu memang benar adalah Swat-hai Lo-kwi, kakek yang
dahulu bertemu dengan Keng Han di Pulau Hantu. Ada pun kakek kedua yang menawan Souw Cu In,
gadis berpakaian putih itu adalah Tung-hai Lo-mo. Kedua orang kakek ini sedang berjalan seiring menuju
ke Bu-tong-san.
Bagaimana gadis berpakaian putih itu sampai jatuh ke tangan Tung-hai Lomo? Gadis itu adalah murid Ang
Hwa Nio-nio, murid ke dua. Akan tetapi karena ia lebih berbakat dan lebih disayang oleh Ang Hwa Nio-nio
maka dalam hal ilmu silat, ia justru lebih lihai dari suci-nya, Siang Bi Kiok atau Bi-kiam Niocu. Akan tetapi,
ia yang begitu lihai bagaimana sampai dapat ditawan dua orang kakek datuk sesat itu?
Terjadinya tadi pagi. Ketika itu Souw Cun In sedang berjalan seorang diri dan melewati sebuah dusun. Di
dusun itu sedang diadakan keramaian karena ada pesta pernikahan di rumah kepala dusun. Tentu saja
semua penduduk dusun itu berdatangan sehingga suasana dusun itu ramai dan meriah sekali.
Selagi orang ramai merayakan pesta itu, datanglah dua orang kakek memasuki tempat pesta. Mereka
berdua disambut sebagai tamu walau pun tidak ada yang mengenalnya, dan memang demikianlah
kebiasaan di dusun itu. Setiap kali ada pesta, siapa pun yang datang akan dianggap sebagai tamu dan
disuguhi hidangan.
Dua orang kakek itu bukan lain adalah Swat-hai Lo-kwi dan Tung-hai Lo-mo. Dasar dua orang datuk sesat,
mereka tidak merasa puas hanya dilayani sebagai tamu biasa.
“Hai, tidak tahukah kalian siapa yang datang ini? Kami adalah dua orang datuk dan kami minta pelayanan
istimewa. Hayo keluarkan arak pengantin yang terbaik dan hidangan yang paling lezat, kemudian
sepasang pengantin harus melayani kami makan minum!” Demikianlah kata Tung-hai Lo-mo yang
berwatak mata keranjang itu. Swat-hai Lo-kwi hanya tertawa saja melihat ulah kawannya.
Tentu saja suasana menjadi gempar. Tuan rumah, si kepala dusun, datang menemui mereka dan
berusaha untuk membujuk mereka supaya jangan membuat kacau pesta pernikahan. Mereka akan dilayani
sebagai tamu terhormat seperti yang lain.
“Tidak, pengantin wanita harus melayani kami makan minum!” Tung-hai Lomo berkata dengan nada
membentak.
Kepala dusun itu menjadi marah. Bersama beberapa orang pemuda dia menghampiri dua orang tua itu dan
berkata dengan suara tegas.
“Kami tidak bisa menuruti kehendak kalian yang tidak pantas itu. Kalau mau, terimalah pelayanan kami apa
adanya, atau pergi dari sini dan jangan menimbulkan kekacauan!”
Lo-mo menoleh kepada Lo-kwi. “Mereka belum mengenal siapa kita, karena itu berani sembarangan.
Mereka harus dihajar agar mengenal siapa kita!”
Kedua orang kakek itu lalu menerjang maju dan kepala dusun bersama enam orang pemuda itu sudah
terlempar ke sana sini!
Orang-orang muda di dusun itu menjadi sangat marah. Mereka lalu maju mengeroyok, akan tetapi hasilnya
mereka sendiri yang terlempar malang melintang terkena tamparan dan tendangan kakek itu.
Pada saat itu terdengar bentakan nyaring tapi lembut. “Dari mana datangnya dua orang kakek yang begini
jahat?” Dan muncullah seorang gadis berpakaian putih yang wajah bagian bawahnya tertutup kain putih
pula. Demikian cepat gerakannya sehingga tidak ada orang yang melihatnya datang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Lo-kwi dan Lo-mo juga ikut menengok dan menghadapi gadis itu. Mereka tertawa dan Lo-mo berkata,
“Haa! Mengapa gadis secantik kamu menutupi mukamu dengan kain? Engkau pun harus melayani kami
makan minum bersama mempelai wanita, jadi ada dua orang pelayan untuk kami berdua.”
“Ji-wi (kalian berdua) tentulah termasuk datuk yang tingkatnya sudah tinggi dalam ilmu silat. Mengapa
masih tidak malu mengganggu orang dusun? Harap Jiwi menghentikan perbuatan yang akan
mencemarkan nama besar Ji-wi sendiri.” Gadis itu berkata lagi. Sepasang matanya yang tidak ditutupi itu
nampak bening dan bersinar tajam menyapu kedua orang datuk sesat itu.
“Nona, siapakah engkau? Apa lagi baru seorang gadis muda sepertimu, bahkan kalau gurumu sendiri
datang ke sini, kami tidak akan gentar menghadapinya!”
“Guruku adalah seorang pendeta wanita bernama Ang Hwa Nio-nio. Jika beliau melihat perbuatan kalian,
kalian tentu tidak akan diberi ampun!”
Dua orang kakek itu bangkit berdiri. “Aha, kiranya murid Ang Hwa Nio-nio?” seru Lo-kwi. “Bagus, kini aku
mendapat kesempatan baik untuk membalas penghinaan yang pernah kuterima dari Ang Hwa Nio-nio!”
“Dan Nona ini tentu cantik luar biasa, sayang kalau dilewatkan begitu saja!” kata Lo-mo sambil
menyeringai.
“Kiranya kalian adalah orang-orang yang sesat dan memang patut diberi hajaran!” kata gadis itu yang
bukan lain adalah Souw Cu In yang kebetulan lewat di dusun itu.
“Lo-kwi, biarkan aku yang menangkap gadis ini!” berkata pula Lo-mo yang sudah tergiur hatinya melihat
bentuk tubuh dan juga muka bagian atas dari Souw Cu In. Lo-kwi hanya tersenyum dan menenggak arak
dari guci yang berada di atas meja.
Tung-hai Lo-mo memandang rendah gadis berkedok itu, maka dia tidak menggunakan dayungnya yang ia
sandarkan pada meja. Dia lalu menerjang dengan kedua tangannya yang panjang itu, menerkam dari
kanan dan kiri. Agaknya dengan sekali tubruk saja dia hendak menangkap gadis itu.
Akan tetapi dia kecelik sama sekali. Tangannya hanya menerkam angin belaka karena Souw Cu In sudah
dapat mengelak dengan sangat mudah, dan dengan geseran kakinya sudah berada di belakang lawan. Lomo
membalik dengan cepat dan kini menyerang lagi dengan pukulan yang dilanjutkan cengkeraman
tangannya.
Souw Cu In cepat menangkis. Tangkisan itu membuat tangan yang mencengkeram itu terpental dan gadis
itu langsung membalas dengan tamparan yang kuat ke arah muka kakek tinggi kurus itu.
Lo-mo menjadi terkejut sekali. Tamparan itu keras dan mendatangkan angin, maka dia lalu meloncat ke
belakang untuk menghindarkan dirinya. Tiba-tiba ada sinar kecil putih meluncur ke arah mukanya. Lo-mo
terkejut dan cepat hendak mengelak, akan tetapi ujung sabuk sutera putih yang panjang itu masih
mengenai pundaknya.
“Prattt...!”
Dan dia terhuyung ke belakang. Baju di pundaknya robek dan kulit pundaknya terasa perih. Bukan main
marahnya. Disambarnya dayung baja yang disandarkan pada meja tadi dan kini dia menyerang dengan
ganasnya kepada gadis berpakaian putih itu.
Para tamu menjadi geger. Medan pesta menjadi medan perkelahian! Kepala dusun dan para orang muda
yang tadi sempat berkenalan dengan kelihaian Lo-mo hanya dapat menonton sambil berdoa semoga gadis
berpakaian putih itu mendapatkan kemenangan.
Perkelahian berlangsung seru dan seimbang. Lo-mo memainkan dayungnya yang terus menyambarnyambar.
Akan tetapi gadis itu lincah sekali gerakannya sehingga setiap sambaran dayungnya selalu dapat
dihindarkan. Bahkan lecutan sabuk suteranya yang meledak-ledak itu kadang mengacam kepalanya
karena terus mengirim totokan ke arah jalan-jalan darah di tubuhnya. Biar pun pertandingan berjalan
seimbang, namun karena Lo-mo kalah dalam hal kecepatan bergerak, dia lebih banyak menerima
serangan dan kelihatan terdesak.
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat temannya tidak mampu mengalahkan gadis itu, Lo-kwi tidak mau tinggal diam. Dia masih
mendendam kepada Ang Hwa Nio-nio yang pernah mengalahkannya dalam pertandingan. Maka kini dia
hendak melampiaskan dendamnya kepada murid Ang Hwa Nio-nio itu. Dia segera maju dan melancarkan
pukulannya yang mengandung sinkang dingin.
Merasa ada hawa dingin menghantamnya dari samping, Souw Cu In amat terkejut dan maklum bahwa
kakek ke dua membantu temannya. Dia mengelak dengan loncatan ke kiri sambil memutar sabuk
suteranya yang melingkar dan membalik menyerang Lo-kwi. Akan tetapi Lo-kwi lalu menangkisnya dengan
pukulannya yang ampuh sehingga ujung cambuk itu terpental.
Pada saat itu dayung di tangan Lomo telah menyambar lagi. Souw Cu In mengelak akan tetapi pukulan Lokwi
kembali menyambar dengan dahsyatnya. Kembali Cu In melompat ke belakang untuk menghindarkan
diri.
Sebetulnya, tingkat kepandaian Souw Cu In sudah tinggi sekali dan kalau dibandingkan dengan Lo-kwi
atau Lo-mo, tingkatnya seimbang. Akan tetapi karena kedua iblis tua itu maju bersama mengeroyoknya,
tentu saja Cu In menjadi kewalahan! Akhirnya, sebuah pukulan dari Lo-kwi menyerempet pundaknya,
membuat ia terhuyung dan kesempatan itu dipergunakan oleh Lo-mo untuk menotoknya sehingga dia
menjadi lemas dan tidak mampu bergerak lagi.
Lo-mo tertawa puas dan memanggul tubuh yang ramping itu, lalu mengambil sabuk sutera putih itu dan
menggunakannya untuk mengikat kedua tangan Cu In.
“Mari kita pergi dari sini!” katanya kepada Lo-kwi.
Karena merasa tidak enak bahwa semua orang dusun sudah memusuhi mereka, Lo-kwi menyambar
seguci arak dan segera pergi mengikuti temannya yang sudah lebih dahulu melangkah pergi sambil
memanggul tubuh Cu In.
“Hei, tunggu dulu!” berkata Lo-kwi setelah mereka meninggalkan dusun itu. “Untuk apa engkau
menawannya?”
“Heh-heh-heh, untuk apa? Tentu untuk bersenang-senang. Gadis ini cantik sekali!”
“Bodoh. Apakah kau tidak mau melihat dulu mukanya yang ditutupi itu? Bukan tidak ada sebabnya ia selalu
menutupi mukanya!” kata Lo-kwi.
Mendengar ini, Lo-mo lalu menurunkan tubuh Souw Cu In ke atas tanah dan tangannya menyingkap kedok
putih itu. Dia terbelalak dan Lo-kwi tertawa mengejeknya.
“Kalau begitu, kita bikin mampus saja bocah setan ini. Untuk apa dibawa-bawa?” kata Lo-mo dengan
marah.
“Nanti dulu. Aku pernah dihina oleh Ang Hwa Nio-nio, pernah dikalahkannya walau pun selisihnya sedikit
saja. Aku ingin membawa muridnya kepadanya untuk menghinanya.”
“Kalau ia marah dan menyerangmu?”
“Ha-ha-ha, sudah kukatakan tadi bahwa aku hanya kalah sedikit saja olehnya. Jika ada engkau yang
membantuku, tentu kita berdua akan mampu membunuhnya dengan amat mudah!”
“Engkau hendak membawa aku bermusuhan pula dengannya?” Lo-mo membantah.
“Ehhh, Kawan. Bukankah kita sudah bersekutu untuk membantu Bu-tong-pai? Kalau kita ini sekutu, dalam
segala hal haruslah bersatu, bukan?”
Lo-mo menarik napas panjang. “Baiklah, mari kita pergi.”
Dia lalu mengambil lagi tubuh Cu ln dan memanggulnya, akan tetapi tidak lagi lembut dan mesra seperti
tadi, melainkan dengan kasar dia memanggul tubuh itu. Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan,
hendak menuju ke tempat tinggal Ang Hwa Nio-nio dan Lo-kwi yang menjadi penunjuk jalan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Demikianlah mereka tidak tahu bahwa mereka sudah diintai oleh Keng Han yang lalu membayangi mereka
dari belakang. Setelah hari menjadi sore, kedua orang datuk itu beristirahat di dalam sebuah goa dan
mereka menaruh tubuh Cu In di atas tanah, di ujung goa itu. Kemudian mereka mengeluarkan bekal roti
kering dan minum anggur yang tadi dibawa oleh Lo-kwi dari rumah pengantin.
Keng Han mendekati mereka. Setelah tiba di balik semak dekat goa, dia lalu mengambil beberapa buah
batu kerikil. Dia membidik dan menyambitkan batu-batu kerikil itu ke arah tubuh Cu In yang menggeletak di
sudut goa. Bidikannya tepat dan dengan mudah dia sudah membebaskan Cu In dari totokannya.
Gadis ini terkejut dan juga girang. Dia tahu bahwa ada orang yang menolongnya, telah membebaskan
totokannya dengan sambitan batu-batu kerikil. Akan tetapi karena kedua tangannya masih terbelenggu
sabuknya sendiri, dia pura-pura tak bergerak. Diam-diam dia mengerahkan sinkang-nya dan perlahanlahan
dia dapat meloloskan tangannya dari ikatan sabuknya. Setelah tangannya bebas, ia pun meloncat
bangun, sabuk sutera yang menjadi senjata ampuhnya itu telah berada di tangannya.
Mendengar gerakan ini, dua orang kakek itu menengok dan alangkah kaget hati mereka melihat gadis itu
telah bebas dan juga telah siap menyerang dengan sabuknya! Mereka meloncat berdiri dan bersiap pula.
Bahkan Lo-mo sudah menyambar dayung bajanya.
Akan tetapi, pada saat itu ada bayangan orang melayang dan tahu-tahu sudah berada di depan goa. Keng
Han segera mengenal Swat-hai Lo-kwi, kakek raksasa rambut putih yang dulu pernah memukulnya ketika
mereka bertemu di Pulau Hantu. Maka dia segera menghadapinya.
“Kakek tua, sebetulnya seorang yang sudah tua sepertimu ini sebaiknya mencari jalan terang dengan
perbuatan-perbuatan yang baik agar kelak mendapat pengampunan dari Tuhan, bukan malah menumpuk
kejahatan!“ kata Keng Han.
Lo-kwi tidak mengenal Keng Han. Pada saat mereka bertemu dahulu, Keng Han baru berusia lima belas
tahun, masih remaja dan sekarang pemuda remaja itu telah menjadi seorang pemuda dewasa.
Akan tetapi Souw Cu In mengenal Keng Han yang pernah hendak dibunuh suci-nya. Ia tahu bahwa
pemuda itu yang menolongnya, akan tetapi ia pun menjadi khawatir akan keselamatan pemuda itu. Kalau
pemuda itu melawan suci-nya saja kalah, bahkan diakui murid oleh suci-nya, bagaimana mungkin dia akan
menandingi Swat-hai Lo-kwi?
Maka, untuk menolong pemuda itu, ia sudah cepat menyerang dengan sabuk suteranya ke arah Lo-mo
sambil berseru, “Sobat, kau cepat lari dari sini!”
Akan tetapi Keng Han tidak lari, bahkan dia pun lalu menyerang Lo-kwi! Serangannya mendatangkan angin
yang amat kuat sehingga Lo-kwi terkejut dan mengelak, kemudian membalas dengan pukulannya yang
dingin.
Menghadapi pukulan dingin ini, Keng Han menangkis dengan tangan kanannya sambil mengerahkan hawa
panas dari Hwi-yang Sinkang.
“Wuuuttttt... desssss...!”
Akibatnya, tubuh kakek raksasa itu lantas terpental ke belakang. Bukan main kagetnya Swat-hai Lo-kwi
karena ketika tangannya tertangkis tadi, ada hawa yang panas sekali menyusup ke tubuhnya melalui
lengannya sehingga membuyarkan tenaga dingin yang tadi dikerahkannya. Dia lalu menerjang lagi dengan
ilmu silatnya yang aneh dan Keng Han melayaninya dengan Hong-in Bun-hoat sehingga terjadilah
perkelahian yang seru di antara mereka.
Sementara itu, Cu In juga sudah menyerang Lo-mo kalang-kabut karena kemarahannya kepada kakek
yang tinggi kurus ini. Sabuk sutera putihnya menyambar-nyambar dan meledak-ledak di atas kepala lawan
dengan totokan-totokan yang berbahaya.
Ang Hwa Nio-nio memang seorang ahli totok yang lihai sekali, dan ia telah menurunkan ilmu totoknya itu
kepada kedua orang muridnya. Hanya bedanya, kalau Siang Bi Kiok atau Bi-kiam Niocu diajar menotok
dengan jari tangan, Souw Cu In melakukan totokan-totokan dengan ujung sabuk suteranya! Karena kini
tidak lagi dibantu Lo-kwi yang sibuk sendiri melawan pemuda itu, Lo-mo menjadi kewalahan dan segera
terdesak oleh gadis berpakaian putih itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Keng Han juga sama sekali tidak mau memberi kesempatan kepada lawannya. Ketika lawannya lengah,
sebuah hantaman dengan tangan kirinya mengenai pundak lawan. Tangan kirinya mengandung Swat-im
Sinkang dan kakek yang ahli ilmu tenaga sinkang dingin itu kini menggigil kedinginan. Dia menjadi jeri dan
berteriak kepada kawannya.
“Lo-mo, mari kita pergi!”
Teriakan itu sudah dimengerti oleh Lo-mo bahwa kawannya itu tak mampu menandingi lawan, maka dia
memutar dayungnya dengan cepat dan dahsyat. Menghadapi serangan dahsyat ini, terpaksa Cu In mundur
dan kesempatan ini dipergunakan oleh Lo-mo untuk meloncat dan melarikan diri bersama kawannya.
Cu In yang masih marah sekali kepada kakek itu hendak mengejar, namun Keng Han berkata, “Tidak
menguntungkan mengejar lawan yang sudah kalah. Apa lagi mereka berdua!”
Mendengar ini, Cu In tidak melanjutkan pengejarannya. Dia berdiri memandang pemuda itu dengan sinar
matanya yang tajam sambil menggulung kembali sabuk suteranya dan menyelipkan di pinggangnya.
“Kenapa engkau membantuku?” Pertanyaan itu pendek akan tetapi seperti suara orang yang menuntut.
Keng Han menjadi bingung. “Kenapa? Kenapa, ya? Barangkali karena melihat seorang wanita sedang
ditawan oleh dua orang datuk sesat, atau barangkali juga karena engkau pernah menyelamatkan nyawaku
ketika aku akan dibunuh oleh Bi-kiam Niocu.”
“Aku tidak menyelamatkanmu, tapi menghindarkan suci dari perbuatan yang keliru. Aku tidak
menghutangkan budi apa pun padamu. Lalu kenapa engkau menolongku? Jawab yang jelas!” Wanita itu
kembali bertanya dengan suara sungguh-sungguh.
“Jawabannya mudah saja. Melihat seorang wanita ditawan orang jahat, tentu saja aku menolongnya.”
“Bagaimana kalau wanita itu bukan aku?”
“Aku tetap akan menolongnya, tidak peduli orang itu engkau atau siapa pun juga. Sudah menjadi tugas
kewajibanku untuk menolong orang yang tertindas dan menentang orang yang jahat. Nah, puaskah engkau
dengan jawaban itu?”
Souw Cu In menghela napas panjang, mukanya nampak lega. “Cukup puas. Jadi itu berarti bahwa engkau
menolong tanpa pamrih, bukan menolong aku pribadi, melainkan aku sebagai wanita yang terancam
bahaya.”
“Tentu saja. Pula, andai kata aku menolong karena engkau, itu pun tidak aneh, bukan? Engkau pernah
menyelamatkan aku, sudah semestinya kalau sekarang aku membalas budi itu.”
“Tidak! Jangan kau lakukan itu. Tidak ada budi di antara kita. Aku adalah wanita biasa bagimu, bukan?
Engkau tidak tertarik kepadaku karena aku pernah menolongmu, atau karena keadaan diriku?”
Keng Han merasa betapa anehnya pertanyaan wanita ini. Kemudian dia teringat akan keterangan Bi-kiam
Niocu.
Guru kedua orang gadis itu adalah nenek yang amat kejam itu, melarang kedua orang muridnya
berhubungan akrab dengan pria. Mereka dilarang jatuh cinta atau dicinta oleh seorang laki-laki. Kalau ada
laki-laki yang jatuh cinta kepada mereka, mereka harus membunuh pria itu!
Karena itulah agaknya wanita berkedok ini bertanya kepadanya untuk melihat apakah dia menaruh
perhatian atau jatuh cinta kepadanya. Diam-diam dia bergidik! Kalau dia mengaku tertarik, mungkin wanita
ini akan membunuhnya!
“Engkau aneh sekali, Nona. Aku menolongmu tanpa pamrih apa pun!”
Mendengar jawaban yang tegas itu, baru Souw Cu In kelihatan tenang. Matanya berseri dan sinarnya tidak
setajam tadi, melainkan lembut.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Siapakah namamu?”
“Namaku Si Keng Han.”
“Jadi engkau telah menjadi murid suci-ku?”
“Benar, subo mengajarkan ilmu menotok kepadaku.”
“Kalau begitu aku ini su-i-mu (bibi gurumu) maka sudah semestinya engkau menyebut bibi guru kepadaku.”
“Akan tetapi engkau masih begini muda, tidak pantas aku menyebut bibi guru!”
“Keng Han, engkau murid suci-ku, bukan? Apakah suci-ku sudah begitu tua sehingga ia menjadi gurumu?”
Keng Han teringat dan dia pun memberi hormat sambil berkata, “Baiklah, Su-i!”
“Bagaimana engkau tadi dapat melihat aku dibawa dua orang datuk itu? Engkau hendak pergi ke
manakah?”
“Aku sedang melakukan perjalanan ke timur, ke kota raja, dan tadi aku melihat kedua orang datuk itu lewat.
Melihat mereka menawanmu, aku lalu membayangi mereka dan setelah mereka tiba di sini, aku turun
tangan menolongmu.”
“Pantas engkau pandai membebaskan totokan pada tubuhku, kiranya sudah belajar dari suci. Akan tetapi,
aku lihat kepandaianmu tidak di sebelah bawah tingkat suci, mengapa engkau menjadi muridnya?
Benarkah engkau tidak mempunyai perasaan suka dan cinta terhadap suci?”
“Tidak sama sekali, Su-i. Aku suka menjadi muridnya mempelajari ilmu totokan, karena selain aku memang
suka mempelajari segala macam ilmu, juga subo sudah lebih dulu menunjukkan kemahirannya dengan
mengalahkan aku, yaitu dengan totokan itu.”
“Untung engkau tidak mencintanya, jika engkau mencintanya berarti engkau harus mati di tangannya.
Jangan sekali-kali engkau jatuh cinta kepada orang-orang seperti kami, karena itu merupakan keputusan
hukuman mati bagimu.”
“Aku... aku tidak berani...!” kata Keng Han ngeri.
Akan tetapi dia tak dapat membohongi dirinya bahwa berbeda dengan perasaan hatinya terhadap Niocu,
terhadap nona berpakaian putih ini lain lagi. Hatinya amat tertarik dan dia ingin mengenalnya lebih dekat
lagi.
“Nah, sekarang kita harus berpisah di sini, Keng Han,” kata Souw Cu In.
“Su-i, setelah aku menyebutmu bibi guru sungguh tidak masuk akal kalau aku tidak mengetahui namamu?”
“Namaku Souw Cu In. Sudahlah, aku harus pergi sekarang!”
“Su-i, sungguh berbahaya pergi sekarang. Hari sudah hampir gelap, tentu engkau akan kegelapan dalam
perjalanan. Dan itu berbahaya sekali. Bagaimana kalau kedua orang kakek iblis tadi masih berada di
sekitar tempat ini?”
Gadis itu nampak membelalakkan matanya dan memandang ke arah depan, lalu alisnya berkerut. “Lalu
bagaimana baiknya?”
“Yang terbaik adalah melewatkan malam di goa ini, Su-i. Di sini aman, tidak terganggu angin malam yang
dingin dan kita dapat membuat api unggun. Selain itu, apakah Su-i tidak merasa lapar?”
Souw Cu In termenung. Baru sekarang terasa olehnya betapa perutnya memang lapar sekali. “Begitu pun
baik, tetapi di tempat seperti ini bagaimana kita bisa mendapatkan makanan?”
“Jangan khawatir, Bibi Guru yang baik. Aku akan mencari binatang buruan untuk kita panggang dagingnya.
Dan tentang minuman, sayang aku tidak punya.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aku masih mempunyai seguci arak,” berkata Souw Cu In sambil melepaskan buntalan pakaiannya.
“Kalau begitu, sungguh beruntung kita. Nah, aku pergi sebentar untuk mencari binatang buruan, Su-i!”
Setelah berkata demikian, Keng Han melompat pergi dengan cepat.
Dia harus cepat mendapatkan binatang buruan karena sebentar lagi malam tiba dan sukar baginya untuk
memperoleh binatang buruan. Senja menjelang malam itu menjadi waktu bagi burung-burung untuk
terbang kembali ke sarangnya dan inilah yang menarik perhatian Keng Han.
Dia pergi ke sebatang pohon besar di mana nampak banyak burung terbang berputaran. Dengan beberapa
buah batu dia menyambit dan berhasil mengenai empat ekor burung yang berjatuhan ke bawah. Dia girang
sekali. Burung ini cukup besar sehingga seorang makan dua ekor saja tentu sudah kenyang.
Cepat dia pun berlari kembali ke goa tadi dan melihat betapa Cu In sudah membuat api unggun.
“Ini hasil buruanku, Su-i!” katanya bangga sambil memperlihatkan empat ekor burung yang sudah mati itu.
Dengan pedang bengkoknya dia membersihkan burung itu, membuang isi perut dan semua bulunya,
kemudian menusuknya dengan bambu dan siap memanggangnya di api unggun.
“Bagaimana mungkin makan panggang burung tanpa dibumbui? Tentu rasanya tidak enak. Aku membawa
bumbu untuk itu!” kata Cu In dan ia mengeluarkan dari buntalan pakaiannya beberapa bungkusan terisi
bumbu seperti garam, merica, bawang dan lain-lainnya.
Keng Han merasa girang sekali. Mereka bekerja menaruh bumbu pada daging burung yang lalu
dipanggangnya. Tercium bau sedap pada saat daging burung itu terpanggang. Tentu saja yang dapat
membuat daging itu mengeluarkan bau sedap adalah bumbunya, terutama bawangnya.
Sebentar saja empat ekor daging burung itu matang dan mereka lalu makan. Ketika Keng Han
memandang untuk mencuri lihat wajah yang tertutup kedok itu, dia kecelik. Gadis itu makan daging burung
tanpa sedikit pun memperlihatkan mulutnya. Tangannya yang membawa daging itu ke balik topeng sutera
dan yang kelihatan hanya kain itu bergerak-gerak ketika mulutnya makan.
Keng Han merasa penasaran sekali. Ia yakin bahwa gadis ini tentu berwajah cantik jelita luar biasa. Baru
dilihat dari rambutnya yang hitam panjang dan ikal mayang, melihat sinom (anak rambut) yang melingkarlingkar
di dahi dan pelipisnya, dahi yang halus dan putih mulus, alis yang seperti dilukis seorang pelukis
pandai, melengkung dan kecil hitam, mata yang bagaikan sepasang bintang kejora, tulang pipi yang agak
menonjol dan selalu kemerahan bukan oleh pemerah muka, itu semua saja sudah menunjukkan kecantikan
yang luar biasa. Hidung dan mulutnya tidak nampak, juga dagunya, akan tetapi Keng Han berani bertaruh
bahwa hidung dan mulut itu tentu indah sekali.
Setelah makan daging burung panggang, Cu In mengeluarkan seguci anggur. Ia lalu membawa mulut guci
ke balik topengnya dan menengadah, minum anggur itu langsung dari mulut guci ke mulutnya. Kemudian ia
menyerahkan guci itu kepada Keng Han.
“Nah, kau minumlah. Anggur ini tidak keras, hanya sebagai penyegar setelah makan.”
Keng Han tertegun. “Tapi... mana cawannya, Su-i?”
“Cawan? Untuk apa? Aku tidak mempunyai cawan.”
“Untuk minum tentu saja. Kalau tidak ada cawannya, bagaimana aku dapat minum?”
“Bodoh! Minum saja dari mulut guci, apa sukarnya?”
Jantung dalam dada Keng Han berdebar. Mulut guci itu baru saja beradu dengan mulut nona itu, dan
sekarang nona itu menyuruh dia minum dari mulut guci pula!
“Akan tetapi, mana aku berani? Bukankah guci anggur ini milikmu, Su-i? Bagaimana aku berani mengotori
dengan minum dari mulut guci?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Gadis itu memandang keheranan, matanya bersinar-sinar tertimpa cahaya api unggun. “Engkau ini
kenapa? Apakah mulutmu mengandung penyakit? Apakah engkau sedang menderita sakit batuk yang
parah?”
“Tidak, Su-i.”
“Nah, kalau begitu minumlah dari mulut guci!”
Jika gadis itu merasa heran melihat kesungkanan Keng Han yang agaknya terlalu sopan santun itu,
sebaliknya Keng Han bahkan terheran-heran melihat keterbukaan nona itu yang wataknya begitu polos dan
bersih! Maka dia lalu menenggak anggur itu dari mulut guci dan memang rasanya segar sekali. Setelah
merasa cukup dia mengembalikan guci kepada pemiliknya dan Cu In menutupkan kembali mulut guci,
menyimpannya dalam buntalannya seolah tidak pernah terjadi sesuatu yang janggal.
Kemudian Keng Han teringat. Bibi gurunya itu perlu beristirahat dan tempat itu demikian kotornya. Ia
segera mencari daun-daun kering untuk membersihkan dan menyapu lantai goa yang paling rata.
Kemudian dia baru mempersilakan Cu In untuk duduk atau rebah di situ.
“Silakan Bibi Guru mengaso di sini, tempat ini sudah bersih. Aku akan menjaga di luar goa sambil menjaga
agar api unggun tidak padam.”
Cu In mengikuti pekerjaan Keng Han dengan penuh perhatian. Kemudian pada waktu ia dipersilakan
mengaso, ia pun mengangguk, lalu bangkit dan melangkah ke dalam goa. Langkahnya! Alangkah indah
lenggangnya, bagaikan seekor harimau betina melangkah, demikian lemah gemulai akan tetapi juga
demikian kokoh kuat!
Cu In duduk di tempat yang sudah dibersihkan itu, kemudian dia merebahkan diri miring berbantalkan
buntalan pakaiannya. Sebentar saja gadis itu sudah tertidur pulas. Hal ini diketahui oleh Keng Han dari
pernapasannya yang lembut dan teratur.
Keng Han merasa berbahagia sekali. Dia sendiri merasa heran. Pernah dia merasakan kebahagiaan
seperti ini, yaitu ketika dia bertemu dengan Kwi Hong. Dia juga merasa tertarik dan suka sekali kepada
dara itu. Akan tetapi semenjak dia mengetahui bahwa Kwi Hong bermarga Tao, puteri Pangeran Mahkota,
masih saudara sepupunya sendiri, hatinya terasa perih dan dia mencoba melupakan gadis itu.
Kemudian dia melakukan perjalanan bersama Bi-kiam Niocu. Harus diakuinya bahwa dia juga suka sekali
kepada Niocu, akan tetapi rasa sukanya itu sekedar bersahahat, bahkan dia menjadi muridnya. Maka
ketika Niocu bertanya tentang cinta, terus terang dia mengatakan bahwa dia tidak mencinta Niocu sebagai
seorang pria mencinta wanita, melainkan sebagai murid mencinta guru atau seorang sahabat mencinta
sahabatnya.
Dan sekarang... perasaannya lain lagi. Dia tertarik kepada Souw Cu In, tertarik dengan kepribadiannya dan
dia merasa amat berbahagia dapat bersama dengan gadis itu walau pun hanya semalam!
Keng Han termenung memandangi api unggun dan menambah kayu pada api unggun. Dia sama sekali
tidak tahu betapa Cu In juga kini membuka matanya dan memandang kepadanya dengan penuh perhatian.
Gadis ini merasa gelisah sekali ketika ia merasa bahwa hatinya tertarik kepada pemuda ini. Seorang
pemuda yang lain sekali dari pada pemuda lain.
Kaum lelaki yang dijumpainya selalu ingin membuka kedoknya, selalu memujinya cantik dan selalu
mengeluarkan cumbu rayu seribu satu macam untuk menarik perhatiannya. Akan tetapi Keng Han sama
sekali tidak! Bahkan ketika disuruh minum anggur dari mulut guci, jelas pemuda itu merasa rikuh sekali.
Pemuda ini sungguh sopan dan pandai membawa diri.
Di samping itu, juga pemuda ini memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat. Tadi sudah dibuktikannya
ketika dia melawan Swat-hai Lo-kwi. Pemuda ini memiliki tenaga sinkang yang luar biasa kuatnya dan ilmu
silatnya juga aneh sekali. Namun, sikapnya demikian biasa, bahwa begitu rendah hati seolah dia seorang
pemuda yang lemah dan bodoh sehingga mau mempelajari ilmu totokan dari suci-nya! Dan wajahnya!
Sungguh tampan dan gagah.
Mendadak Souw Cu In memejamkan matanya kuat-kuat untuk mengusir perhatiannya terhadap pemuda
itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tidak! Ia tidak ingin tertarik kepada pemuda itu. Ia tidak ingin harus membunuh pemuda itu. Dan ia
menghela napas panjang. Ia dan suci-nya sudah bersumpah kepada subo mereka untuk tidak jatuh cinta,
dan kalau ada pria yang jatuh cinta kepada mereka harus mereka bunuh!
Semua lelaki jahat, demikian subo mereka selalu menekankan ke dalam hati mereka. Semua lelaki itu jahat
dan palsu, bagaikan kumbang yang selalu mendekati kembang dengan suaranya yang merayu-rayu. Akan
tetapi setelah dia menghisap madu kembang itu sampai habis, lalu ditinggalkannya kembang itu begitu
saja!
Dan, kalau menurut keterangan gurunya itu, tidak ada laki-laki yang baik. Berarti Keng Han juga bukan
seorang yang baik. Mungkin sikapnya yang baik itu hanya merupakan akal untuk merayunya belaka! Tidak,
ia tidak boleh tertarik kepadanya!
Lewat tengah malam, Souw Cu In terbangun dari tidur. Ia menggeliat karena tubuhnya terasa kaku akibat
tidur di lantai yang kasar itu, lalu menutupi mulut dari luar topeng untuk menahan nguapnya, dan ia bangkit
berdiri. Dihampirinya Keng Han dan ia berkata dengan suara yang kasar.
“Sekarang engkau boleh mengaso dan tidur, giliranku berjaga,” katanya.
Keng Han merasa heran sekali mendengar ucapan yang bernada ketus itu. Dia pun lalu memandang dan
berkata. “Tak perlu, Su-i. Su-i mengaso dan tidurlah, biar aku berjaga di sini sampai malam lewat.”
“Tidak!” suara Cu In membentak karena dalam perasaannya, sikap baik pemuda ini hanya akal untuk
merayunya saja. “Kau kira aku ini orang macam apa? Engkau sudah berjaga setengah malaman, maka
setengah malam yang lain menjadi bagianku untuk berjaga!”
Melihat sikap gadis itu demikian galak dan tegas, Keng Han merasa heran sekali. “Kalau bagitu, biarlah
aku juga berjaga di sini saja. Aku tidak merasa mengantuk.”
Cu In duduk di dekat api unggun berhadapan dengan pemuda itu terhalang api unggun. Mereka saling
pandang dan Keng Han tak dapat menyembunyikan perasaan kagumnya. Wajah yang meski hanya
kelihatan bagian atasnya saja itu demikian indahnya tertimpa sinar api unggun, kemerahan dan begitu
halusnya dahi itu. Ditambah lagi anak rambut yang berjuntai melingkar-lingkar itu. Begitu manisnya!
“Kau melihat apa?” bentak gadis itu dan Keng Han baru menyadari bahwa terlalu lama dia menatap wajah
itu.
“Tidak apa-apa, Su-i. Hanya aku heran mengapa Su-i tidak tidur saja mengaso. Malam sudah larut dan
biarkan aku yang berjaga di sini.”
“Tidak, aku tidak mau tidur.”
“Kalau begitu, kita berdua tidak tidur,” kata Keng Han bersikeras.
“Engkau bandel!”
“Bukan cuma aku yang bandel.”
Keduanya diam dan terasa amat heningnya malam itu. Yang terdengar hanya suara api makan kayu
kering.
Keng Han maklum bahwa gadis ini berwatak aneh sekali. Bukankah Niocu juga pernah berkata betapa
sumoi-nya ini lebih kejam darinya? Akan tetapi dia tak percaya. Seorang gadis dengan sinar mata selembut
itu tidak mungkin berhati kejam.
“Engkau berasal dari mana?” tiba-tiba gadis itu bertanya dan nada suaranya sambil lalu saja, seolah
pertanyaan itu hanya untuk mengisi kesepian.
Terhadap Souw Cu In, entah apa sebabnya, Keng Han tidak ingin menyembunyikan rahasianya. “Aku
berasal dari daerah Khitan.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Engkau orang Khitan?”
“Peranakan Khitan. Ibuku orang Khitan, tapi ayahku orang Han.” Ia masih belum berani mengakui ayahnya
sebagai seorang pangeran Mancu.
“Pantas. Aku sudah menduga bahwa engkau seorang peranakan. Di mana orang tuamu sekarang?”
“Ibuku masih di Khitan bersama kakekku akan tetapi ayahku...”
“Bagaimana dengan ayahmu? Sudah matikah?”
Keng Han menggelengkan kepalanya dan menghela napas panjang. “Aku belum pernah melihat ayahku.
Semenjak aku di dalam kandungan ibu, ayah telah pergi meninggalkan ibu dan sejak itu tidak pernah
kembali.”
Souw Cu In melempar sepotong kayu di api unggun sehingga bunga-bunga api terbang membubung ke
atas.
“Huh!” katanya gemas. “Benar juga kata subo. Lelaki adalah makhluk yang palsu dan kejam!”
“Akan tetapi aku memang sedang mencari ayahku, Su-i. Dia harus menjelaskan kenapa dia tidak pernah
pulang menengok ibu. Kalau memang benar dia telah melupakannya dan mengkhianatinya, aku sendiri
yang akan menghajarnya!”
“Hemmm, apa lagi yang terjadi kalau bukan ayahmu bertemu dengan wanita lain yang lebih cantik lalu
ayahmu mengawini wanita itu dan melupakan ibumu?”
“Belum tentu. Kurasa ayahku tidak sejahat itu! Akan tetapi, aku ingin mencarinya sampai dapat! Dan
engkau sendiri, Su-i. Maukah engkau bercerita tentang dirimu? Dari Niocu aku sudah tahu bahwa engkau
juga murid Ang Hwa Nio-nio, dan bahwa engkau pun memiliki pendirian yang sama dengan Bi-kiam Niocu
tentang pria. Selain itu, aku tidak tahu apa-apa tentang dirimu. Maukah engkau bercerita?”
“Hemm, untuk apa bercerita tentang diriku padamu?” Sepasang mata itu menatap tajam penuh selidik.
Keng Han menghela napas panjang. “Bukan apa-apa, Su-i. Akan tetapi engkau adalah bibi guruku, dengan
adanya hubungan ini, tidak pantaskah kalau aku mengenalmu lebih baik lagi? Agar engkau tidak menjadi
seperti orang asing lagi bagiku.”
“Engkau sudah mengetahui namaku.”
“Ya, aku masih ingat. Nama Su-i adalah Souw Cu In, hanya itu yang kuketahui.”
Aku juga seperti engkau. Hidup keluargaku tidak bahagia. Ayah ibuku telah meninggal dunia, terbunuh
musuh. Ketika itu aku baru berusia lima tahun, lalu aku diambil murid oleh subo. Nah, hanya begitu saja
riwayatku. Aku pun sedang mencari-cari seseorang untuk membalas kematian ayah ibuku.”
“Musuh besar yang membunuh ayah ibumu itu?”
“Benar. Ahhh, sudahlah. Kenapa aku menceritakan semua ini kepadamu?” Dia seperti menegur diri sendiri.
“Oh ya, ke mana engkau hendak mencari ayahmu itu, Keng Han?”
Mendengar gadis itu tiba-tiba membelokkan arah percakapan, tahulah Keng Han bahwa gadis itu tidak mau
lagi bercerita tentang dirinya. Maka dia pun menjawab sejujurnya, “Aku hendak mencari ayahku di kota
raja.”
“Ahhh...!”
“Kenapa Su-i terkejut mendengar itu?”
“Tujuan perjalananku juga ke kota raja!”
Bukan main girangnya hati Keng Han mendengar ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kalau begitu kebetulan sekali, Su-i. Kita dapat melakukan perjalanan bersama.”
“Tidak! Besok pagi kita harus berpisah, melakukan perjalanan sendiri-sendiri. Jika subo mengetahui, baru
malam ini saja kita berada di sini berdua, sudah cukup bagi subo untuk menuduh yang tidak-tidak dan
membunuhku!”
“Gurumu amat kejam terhadap laki-laki, Su-i!” Keng Han memprotes.
“Tidak! Guruku sudah sangat adil. Engkau tidak tahu betapa hatinya telah dihancurkan, kehidupannya
sudah dilumatkan, oleh kaum pria! Ia hanya membalas dendam! Aku pun mencari musuh besarku itu, juga
sekalian untuk mencari musuh besar yang dulu telah menghancurkan kebahagiaan hidup guruku.
Orangnya sama!”
“Ahhh...!”
Keng Han bukan hanya terkejut mendengar ucapan itu, akan tetapi dia juga terkejut mendengar suara lain,
suara gerakan orang-orang di sekitar mereka! Akan tetapi karena malam itu gelap sekali dan api unggun itu
tidak terlalu besar, dia tidak melihat apa-apa.
“Engkau dengar tadi?” Souw Cu In bertanya. Keng Han mengangguk dan keduanya lalu waspada.
Tiba-tiba terdengar ledakan-ledakan keras di sekitar mereka. Mereka terkejut dan cepat meloncat berdiri,
tidak tahu harus berbuat apa karena musuh masih belum nampak dan ledakan-ledakan masih terjadi di
sekeliling mereka. Agaknya musuh menyerang mereka dengan bahan ledakan yang mengeluarkan asap
tebal.
Kedua orang itu tidak berani sembarang bergerak karena khawatir kalau-kalau diserang musuh yang tidak
kelihatan. Akan tetapi tiba-tiba keduanya mencium bau keras sekali dan Souw Cu In berseru.
“Tahan napas...!”
Tetapi sudah terlambat. Keduanya sudah menghisap asap terlalu banyak dan mereka terbatuk-batuk, lalu
roboh terkulai dan pingsan. Kiranya bahan peledak itu mengandung racun pembius yang kuat sekali.
Tubuh Keng Han memang sudah kebal terhadap racun, berkat dia makan daging ular merah. Akan tetapi
yang kebal adalah tubuhnya sehingga andai kata dia terkena makan racun atau dilukai oleh racun, tentu
hawa beracun dalam tubuhnya akan menolak dan membuatnya kebal. Akan tetapi sekali ini dia terkena
racun pembius berupa asap yang memasuki paru-parunya, maka dia pun tidak dapat bertahan dan roboh
pingsan seperti Souw Cu In.
Beberapa bayangan orang yang memakai kedok tebal berkelebatan memasuki tabir asap itu dan
menghampiri kedua orang yang sudah pingsan itu. Akan tetapi ketika empat orang itu menghampiri Keng
Han dan Cu In, Cu In melompat dan dua orang roboh tewas seketika terkena pukulan Tok-ciang (Tangan
Beracun).
Kiranya Cu In belum pingsan seperti keadaan Keng Han. Ketika wanita ini tahu bahwa ada musuh
menggunakan asap beracun, ia meneriaki Keng Han, akan tetapi Keng Han yang terlambat. Ia sendiri baru
sedikit menghisap asap beracun. Untuk menyelamatkan diri, ia menjatuhkan diri agar tidak terpengaruh
asap yang membubung ke atas.
Setelah ada empat orang datang, Cu In cepat menyerang dan setelah merobohkan dua orang, dia pun
melompat menjauh, keluar dari tabir asap itu. Dua orang berkedok lain menggotong Keng Han dan
membawanya pergi dari situ.
Souw Cu In merasa khawatir sekali, akan tetapi tidak dapat mencegah dengan adanya tabir asap pembius
yang menghalanginya. Setelah tabir asap menipis dan mulai hilang, barulah ia melakukan pengejaran.
Akan tetapi dia tidak menemukan jejak mereka, apa lagi malam itu gelap sekali dan api unggun yang
mereka buat malam tadi sudah hampir padam.
dunia-kangouw.blogspot.com
Terpaksa dia duduk kembali dekat api unggun dan menambahkan kayu bakar sehingga api unggun itu
membesar kembali. Akan tetapi dia sudah tidak mungkin dapat tidur lagi. Sambil menanti lewatnya malam,
ia duduk bersila dekat api unggun dan memperhatikan sekelilingnya dengan pendengarannya.
Hatinya amat gelisah memikirkan Keng Han. Ia menduga-duga siapa yang menangkap pemuda itu dan apa
alasannya. Juga dia mengingat-ingat siapa tokoh dunia kang-ouw yang suka mempergunakan alat peledak
yang mengandung racun pembius itu.
Ia lalu teringat kepada seorang datuk sesat dari selatan yang berjuluk Ban-tok Kwi-ong (Raja Iblis Selaksa
Racun). Datuk inikah yang melakukannya? Akan tetapi rasanya tidak mungkin. Seorang datuk seperti dia
itu biasanya memiliki ketinggian hati, tidak mungkin kalau hanya hendak menangkap seorang pemuda saja
harus menggunakan peledak racun pembius.
Siapa pun yang menangkap pemuda itu, Keng Han berada dalam bahaya dan dia harus menolong pemuda
itu…..
********************
Keng Han merasa seperti dalam mimpi. Tahu-tahu setelah dia sadar kembali, dia sudah terbelenggu kaki
tangannya, rebah di atas sebuah dipan dan tubuhnya dalam keadaan tertotok. Semua itu tidak merisaukan
hatinya, akan tetapi yang membuat dia khawatir adalah kepalanya. Kepala itu pening sekali dan masih
pening sehingga sukar bagi dia untuk berpikir.
Dia membuka sedikit matanya dan melihat bahwa dirinya berada dalam sebuah kamar, seperti kamar
tahanan karena pintunya dari besi dan ada jeruji besi pula di atas pintu. Di luar kamar itu, dia dapat melihat
beberapa orang melalui jeruji besi dan agaknya mereka melakukan penjagaan. Perlahan-lahan dia pun
teringat.
Dia sedang duduk menghadapi api unggun bersama Souw Cu In dan tiba-tiba terdengar suara ledakanledakan
dan asap mengepul tebal, lalu dia pun tidak ingat apa-apa lagi dan tahu-tahu telah berada di
tempat ini dalam keadaan terbelenggu dan tertotok.
Ia merasa bahwa belenggu itu tidak sukar dipatahkan, juga totokan itu bisa ia punahkan dengan mudah.
Akan tetapi kepeningan kepalanya masih terasa, maka ia pun diam saja dan terus rebah berbaring menanti
perkembangan lebih lanjut sambil memberi waktu kepada kepalanya agar bebas dari kepeningan akibat
asap racun pembius itu.
Tidak terlalu lama dia menunggu. Dia mendengar daun pintu besi itu dibuka orang dan nampaklah tiga
orang memasuki tempat tahanan itu. Seorang di antara mereka adalah seorang kakek yang segera
dikenalnya. Kakek Itu adalah Toat-beng Kiam-sian yang pernah bentrok dengan dia.
Dulu dia menegur kakek yang terlalu kejam menghukum tiga orang anak buahnya dan karena itu kakek ini
marah sekali kepadanya. Dia diberi waktu untuk menghadapinya selama sepuluh jurus dan kalau selama
itu dia tidak roboh, dia akan dibebaskan. Dan dia berhasil bertahan sampai sepuluh jurus. Ketika kakek itu
merasa penasaran hendak menggunakan tongkat yang sekarang dipegangnya itu, Bi-kiam Niocu
menegurnya dan mengingatkan akan janjinya dan kakek itu lalu pergi.
Sekarang kakek itu agaknya yang menyuruh anak buahnya menawannya. Entah apa yang hendak
dilakukan atas dirinya. Dia pura-pura masih pingsan, tetapi memperhatikan mereka bertiga dengan
telinganya.
“Nah, inilah pemuda itu. Bagaimana pendapatmu, Siu Lan?
Gadis yang datang bersama kakek itu memandang wajah Keng Han penuh perhatian. Gadis ini cukup
cantik, dengan pakaiannya yang mewah.
“Dia kelihatan seperti orang dusun, Ayah,” kata gadis itu setelah mengamati Keng Han.
“Ha-ha-ha!” Kakek itu tertawa. “Jangan melihat pakaiannya, Siu Lan. Lihatlah wajahnya. Bukankah dia
tampan dan gagah? Dan tentang ilmu silat, sudah kukatakan bahwa dia lihai juga dan pantas untuk
menjadi jodohmu.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Suhu, saya tidak percaya bahwa dia mampu melawan Sumoi,” berkata pemuda yang datang bersama
mereka.
Pemuda ini tubuhnya tinggi besar dan berwajah gagah, akan tetapi pandang matanya membayangkan
kecongkakan hati. Jelas dia memandang rendah pada Keng Han yang menggeletak tidak berdaya di atas
dipan itu.
“Dia tidak pantas untuk melawan Sumoi. Biarlah dia melawan saya lebih dulu. Kalau dia mampu
menandingi saya, baru Sumoi boleh mencobanya!”
Toat-beng Kiam-sian tertawa dan mengangguk-angguk. “Hmmm, pikiran yang baik itu. Boleh engkau
mencobanya dulu, Bu Tong.”
“Biarlah saya bebaskan dulu dia dari totokan dan belenggunya!” kata pemuda itu yang bernama Gan Bu
Tong.
Akan tetapi ketika dia menghampiri dipan, Keng Han segera mengerahkan tenaganya dan totokan itu pun
sudah punah, lalu sekali dia menggerakkan kaki tangannya, ikatan itu pun putus semua! Keng Han lalu
bangkit dan meloncat berdiri menghadapi tiga orang itu.
“Mengapa kalian menangkap aku? Aku tidak mempunyai permusuhan dengan kalian, mengapa kalian
berbuat begini?” tegurnya.
Toat-beng Kiam-sian Lo Cit, puterinya yang bernama Lo Siu Lan serta muridnya itu terkejut bukan main
melihat betapa pemuda itu telah terbebas dari totokan dan dengan mudahnya mematahkan semua
belenggu.
Toat-beng Kiam-sian maju dan tertawa. “Ha-ha-ha, tempo hari engkau mampu menahan sepuluh jurus
seranganku, sebab itu hatiku amat tertarik untuk mengujimu, orang muda. Sekarang lawanlah muridku ini,
hendak kulihat sampai di mana kelihaianmu!”
“Aku tak ingin bertanding dengan siapa pun tanpa sebab yang jelas. Di antara kita tidak ada urusan,
mengapa kita harus bertanding?”
“Hemmm, bocah sombong. Ada atau tidak ada urusan, aku akan menandingimu. Kalau engkau takut,
engkau boleh berlutut dan mencium kaki guru sambil meminta ampun, baru kami akan melepaskanmu,”
kata Bu Tong yang memandang rendah.
Keng Han mengerutkan alisnya. “Aku tidak bersalah apa pun, mengapa harus minta ampun? Aku tidak sudi
melakukannya, jangan engkau menghinaku!”
“Aku memang sengaja menghinamu, habis engkau mau apa? Aku menantangmu untuk mengadu
kepandaian, kalau engkau menolak berarti engkau takut!”
Panas juga rasa hati Keng Han. Dia ditangkap tanpa sebab, kemudian ditantang dan dianggap pengecut
kalau tidak berani. Tentu saja dia berani!
“Siapa yang takut kepada kalian? Aku tidak bersalah apa pun, maka tentu saja aku tidak takut!”
“Ha-ha-ha, bagus. Itu barulah suara seorang laki-laki sejati. Orang muda, marilah kita ke lian-bu-thia dan di
sana kita melihat sampai di mana kepandaianmu,” berkata Toat-beng Kiam-sian.
Makin senang hatinya menyaksikan kegagahan sikap Keng Han. Sebetulnya, pangcu dari Kwi-kiam-pang
ini sudah tertarik sekali kepada Keng Han ketika Keng Han mampu menahan sepuluh jurus serangannya,
bahkan juga dapat menangkis Pukulan Halilintar darinya.
Oleh karena itu, ketika melihat Keng Han bersama Souw Cu In, dia lalu menyuruh para anggota Kwi-kiampang
mempergunakan obat peledak dan pembius untuk menangkap pemuda itu. Dia bermaksud untuk
menjodohkan pemuda ini dengan puterinya, Lo Siu Lan yang selalu menolak pinangan para pemuda
karena di antara mereka tidak ada yang mampu menandinginya. Memang kepandaian Siu Lan sudah
hebat sekali. Bahkan suheng-nya, Gan Bu Tong juga tidak dapat menandinginya!
dunia-kangouw.blogspot.com
Keng Han menjadi penasaran sekali. Karena ditantang, maka dia pun mengikuti mereka menuju ke sebuah
ruangan yang luas. Ruangan ini merupakan tempat para anggota Kwi-kiam-pang berlatih silat. Juga dia
melihat bahwa anggota perkumpulan itu banyak sekali, tidak kurang dari lima puluh orang! Agaknya sulit
baginya untuk meloloskan diri menggunakan kekerasan karena selain harus menghadapi tiga orang itu, dia
juga harus menghadapi para anggota Kwi-kiam-pang. Maka, dia hendak menebus kebebasannya dalam
pertandingannya itu.
Setelah tiba di lian-bu-thia (tempat berlatih silat), Keng Han telah dihadapi oleh Bu Tong yang bersikap
angkuh.
“Nah, bersiaplah engkau untuk melawan aku!” kata Bu Tong.
“Nanti dulu,” kata Keng Han, lalu dia menoleh kepada Toat-beng Kiam-sian. “Locianpwe adalah seorang
yang berkedudukan tinggi, apakah ucapannya dapat dipercaya?”
Lo Cit membelalakkan mata. Kakek yang kakinya timpang ini marah sekali mendengar pertanyaan itu.
“Bocah sombong, tentu saja ucapanku dapat dipercaya!”
“Nah, kalau begitu, setelah aku dapat mengalahkan pemuda muridmu ini, apakah aku akan dibebaskan
dan dibiarkan pergi tanpa diganggu?”
“Heh, nanti dulu. Kalau engkau mampu mengalahkan muridku, engkau juga harus dapat mengalahkan
puteriku ini, dan selanjutnya harus mampu pula bertahan menghadapi aku sampai lima puluh jurus. Kalau
sudah begitu barulah engkau tidak akan diganggu lagi, bahkan akan kunikahkan dengan puteriku ini. Haha-
ha-ha!”
Bukan main kagetnya hati Keng Han mendengar ucapan itu. Dirinya hendak dinikahkan dengan gadis
cantik itu? Sungguh keterlaluan sekali peraturan kakek itu. Dia sendiri pun tidak ditanya apakah dia suka
atau tidak!
“Aku tidak ingin menikah dengan siapa pun juga. Aku hanya minta agar aku dibebaskan dan tidak diganggu
lagi.”
“Ha-ha-ha, kita lihat saja nanti. Hayo Bu Tong, mulailah dengan seranganmu!” kata Lo Cit sambil tertawa
senang.
Gan Bu Tong sudah mencabut pedangnya. “Sobat, sebutkan dulu namamu agar engkau jangan mati tanpa
nama.”
“Namaku Si Keng Han dan aku tidak akan mati melawanmu.”
“Nah, di sudut itu ada rak senjata. Boleh engkau pilih untuk menghadapi pedangku!”
“Hmmm, pemuda ini memiliki watak yang gagah juga dan tidak curang,” pikir Keng Han. “Agaknya mereka
ini bukan orang-orang yang jahat, akan tetapi orang-orang yang suka membawa dan mempertahankan
kehendak sendiri.”
“Aku tidak membutuhkan senjata-senjata itu. Bahkan aku sendiri juga memiliki sebatang pedang, akan
tetapi tidak akan kupergunakan untuk melawanmu. Tangan kakiku sudah cukup untuk kupakai membela
diri,” katanya sambil memamerkan pedang bengkoknya yang berada di pinggangnya.
“Si Keng Han, engkau sombong, akan tetapi engkau sendiri yang menentukan. Jangan anggap aku
keterlaluan melawanmu dengan pedangku!” kata Bu Tong penasaran dan marah karena dia menganggap
pemuda itu memandang rendah kepadanya.
Tiba-tiba Lo Siu Lan mencabut pedangnya dan melemparkan pedang itu kepada Keng Han. “Si Keng Han,
pedang Suheng-ku itu merupakan senjata ampuh. Semua senjata di rak itu akan patah apa bila bertemu
dengan pedangnya, maka pakailah pedangku ini!”
Melihat pedang itu melayang ke arah dirinya, Keng Han menyambutnya, akan tetapi dia bahkan berkata
kepada gadis itu. “Terima kasih, Nona. Akan tetapi sungguh aku tidak membutuhkan pedang!” Dan dia
dunia-kangouw.blogspot.com
melemparkan kembali pedang itu kepada Siu Lan, lalu menghadapi Bu Tong sambil berseru. “Aku sudah
siap menghadapi seranganmu!”
Gan Bu Tong semakin marah. Perbuatan sumoi-nya tadi dianggapnya sebagai pukulan baginya. Sumoinya
agaknya berpihak kepada pemuda ini!
“Lihat serangan pedangku!” bentaknya dan dia pun mulai menyerang dengan bacokan pedangnya.
Akan tetapi dengan gesit Keng Han mengelak. Bacokan dan tusukan susul menyusul menghujam ke arah
tubuh Keng Han, namun dengan ilmu Hong-in Bun-hoat, Keng Han selalu dapat mengelak dengan cepat
sekali. Setelah belasan jurus mengelak, barulah dia membalas serangan lawan dengan pukulan-pukulan
tangannya yang ampuh.
Pada saat pedang lawan menyambar ke arah kepalanya, dia malah maju mendekat dan sekali jari
tangannya menyentil pedang, pedang itu lantas terlepas dari tangan Bu Tong, mengeluarkan suara nyaring
berdenting ketika jatuh ke atas lantai. Kalau Keng Han menghendaki, saat yang baik itu tentu dapat dia
pergunakan untuk merobohkan lawan.
Akan tetapi dia tidak mau berbuat demikian, melainkan dia mencokel pedang itu dengan kakinya dan
pedang itu melayang ke arah pemiliknya. Bu Tong menangkap pedangnya dan dengan muka merah sekali
dia mengundurkan diri. Setelah pedangnya terlepas dia maklum bahwa dia tidak mampu menandingi Keng
Han.
Lo Siu Lan gembira sekali melihat betapa Keng Han dapat mengalahkan suheng-nya. Sekali kakinya
bergerak, tubuhnya sudah melayang ke depan dan dia pun berhadapan dengan Keng Han. Sejenak gadis
itu mengamati Keng Han dari atas sampai ke bawah seperti orang menaksir seekor kuda yang hendak
dibelinya.
Hal ini tentu saja membuat Keng Han tersipu. Dia cepat mengangkat tangan memberi hormat kepada gadis
itu.
“Nona, di antara kita tidak ada permusuhan, harap suka menghabiskan urusan ini dan membiarkan aku
pergi dengan aman. Aku sama sekali tidak ingin bermusuhan dengan kalian.”
Lo Siu Lan menjawab dengan suaranya yang merdu, “Siapa yang hendak bermusuhan? Kami cuma ingin
membuktikan sendiri sampai di mana kelihaianmu dan ternyata engkau mampu mengalahkan suheng Gan
Bu Tong. Maka, mari kita main-main sebentar. Akan tetapi, perkumpulan kami disebut Kwi-kiam-pang
(Perkumpulan Pedang Setan), maka aku pun hanya bisa memainkan pedang. Jika engkau tetap bertangan
kosong, sungguh amat tidak enak bagiku.”
Kembali diam-diam Keng Han memuji. Gadis ini pun selain tidak curang, juga tidak tinggi hati seperti
suheng-nya.
“Nona, sudah kukatakan sejak tadi bahwa kalau tidak terpaksa sekali aku tidak pernah menggunakan
pedangku, cukup dengan tangan kakiku saja. Maka apa bila Nona tetap memaksaku untuk bertanding,
gunakanlah pedangmu, aku akan membela diri dengan kedua kaki tanganku saja.”
“Bagus, engkau memang seorang pemuda yang pemberani. Nah, sambutlah pedangku ini, Sobat!” Lo Siu
Lan sudah mencabut pedangnya dan nampak sinar menyambar.
Begitu dia melakukan penyerangan, terdengar bunyi pedang berdesing dan sinar kilat menusuk ke arah
dada Keng Han. Baru gebrakan pertama saja Keng Han sudah tahu bahwa gadis ini memang lebih lihai
dibandingkan suheng-nya. Akan tetapi gerakan yang cepat itu tidak membuat Keng Han bingung karena
baginya kecepatan gerakan gadis itu masih belum hebat. Dengan mudahnya dia mengelak dari sambaran
pedang.
Gadis itu mendesak terus. Pedangnya berkelebatan, kadang menyerang leher, kadang mengarah dada
dan ada kalanya menyabet ke arah kedua kaki Keng Han. Pemuda ini memperlihatkan kegesitannya.
Sampai sepuluh jurus dia mengelak terus dan baru pada jurus ke sebelas dia membalas.
Ketika itu pedang di tangan Siu Lan menyambar ke arah dada dengan tusukan kilat. Keng Han miringkan
tubuhnya dan menggunakan dua jari tangan kirinya untuk menjepit pedang itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Siu Lan terkejut bukan main karena pedangnya seperti dijepit jepitan baja saja. Biar pun dia berusaha
untuk menariknya, akan tetapi pedang itu tidak dapat terlepas dari dua jari tangan Keng Han. Gadis itu
menjadi amat penasaran dan tangan kirinya telah meluncur untuk menghantam dada lawan.
Keng Han juga menggerakkan tangan kanannya. Dia maklum bahwa gadis ini sedang menggunakan
pukulan yang mengandung tenaga sinkang yang amat kuat, maka ia pun mengerahkan sinkang-nya
sehingga dari tangan kanannya itu keluar hawa yang sangat panas. Demikian pula pukulan tangan kiri Siu
Lan mengandung hawa panas karena gadis ini telah menyerang dengan pukulan Halilintar.
“Desssss...!”
Dua telapak tangan bertemu dan tubuh Siu Lan terhuyung ke belakang karena pada saat itu juga Keng
Han melepaskan jepitan jari tangannya dari pedang lawan.
Siu Lan cepat mengambil napas panjang untuk menjaga supaya bagian dalam dadanya tidak terluka. Akan
tetapi ia tahu bahwa dirinya kalah, maka ia pun cepat bersembunyi di balik tubuh ayahnya. Muka gadis itu
menjadi merah tersipu dan mulutnya tersenyum malu-malu.
Melihat tingkah puterinya, Toat-beng Kiam-sian Lo Cit tertawa bergelak.
“Ha-ha-ha-ha, sekarang engkau baru percaya kepada omongan ayahmu? Si Keng Han, engkau telah
mengalahkan anakku Siu Lan, maka mulai sekarang juga engkau harus menjadi suaminya!”
Keng Han terkejut sekali dan dia memandang kepada kakek timpang itu dengan alis berkerut. “Apa
maksud Locianpwe? Saya tidak akan menikah dengan siapa pun juga!”
“Hemmm, dengarlah Si Keng Han. Anakku menolak semua lamaran orang karena dia sudah bersumpah
untuk menikah dengan pria yang mampu mengalahkan dirinya. Dan kini engkaulah yang mampu
mengalahkannya.”
“Akan tetapi sejak semula aku tidak menghendaki pertandingan ini. Aku dipaksa. Aku sama sekali bukan
bertanding untuk memperoleh kemenangan dan untuk memperoleh jodoh. Maaf, Locianpwe, aku tidak
dapat menerimanya. Dan sekarang, harap kalian suka membiarkan aku pergi dari sini!”
“Ho-ho-ho, tidak demikian mudah, orang muda! Kalau engkau menolak berjodoh dengan puteriku, hal itu
berarti engkau telah menghinaku! Dan siapa saja menghinaku dia harus mampus! Akan tetapi karena aku
menyukaimu, engkau tidak akan kubunuh. Bersiaplah untuk menahan seranganku sampai lima puluh jurus.
Apa bila selama lima puluh jurus engkau mampu menahan pedang tongkatku, barulah engkau boleh pergi
dari tempatku ini!”
Mendadak terdengar bentakan halus. “Toat-beng Kiam-sian Lo Cit sungguh tidak tahu malu dan mau
menghina yang muda!”
Semua orang terkejut dan menengok. Ternyata, tanpa dapat diketahui para anak buah Kwi-kiam-pang,
Souw Cu In telah muncul di situ. Toat-beng Kiam-sian, puterinya dan para muridnya tentu saja terkejut dan
terheran. Hanya Keng Han yang menjadi girang bukan main.
“Bibi guru telah datang! Kalian tidak akan dapat memaksaku untuk kawin!” katanya dan dia menghampiri
Cu In.
Toat-beng Kiam-sian Lo Cit memandang penuh perhatian dan makin heran mendengar Keng Han
menyebut bibi guru pada seorang gadis yang berpakaian putih dan mukanya bagian bawah tertutup sutera
putih! Teringatlah dia kepada Bi-kiam Niocu yang dahulu disebut subo oleh pemuda ini. Tahulah dia bahwa
gadis bercadar putih ini pun adalah seorang murid dari Ang Hwa Nio-nio atau sumoi dari Bi-kiam Niocu.
“Nona, apakah engkau murid Ang Hwa Nio-nio?” tanyanya.
“Tidak salah, Pangcu. Aku memang murid subo Ang Hwa Nio-nio dan Si Keng Han ini adalah murid suciku,
jadi dia masih murid keponakanku sendiri. Sungguh tidak pantas sekali kalau Pangcu (ketua) hendak
memaksanya menikah dengan puterimu. Mana ada paksaan kepada seorang pria untuk menikah? Dan
dunia-kangouw.blogspot.com
engkau telah menantangnya untuk bertanding selama lima puluh jurus pula. Bukankah ini namanya
menghina yang muda? Apakah engkau tidak akan malu kalau hal ini terdengar oleh dunia kang-ouw?”
Wajah Lo Cit menjadi merah sekali. Tidak disangkanya bahwa wanita bercadar itu telah mengetahui dan
agaknya juga telah mendengarkan semua percakapan tadi. Hal ini saja sudah menunjukkan kehebatan
ilmu ginkang-nya sehingga tidak ada seorang pun yang tahu akan kehadirannya.
“Bocah bermulut lancang! Siapakah namamu yang berani bicara seperti Itu kepadaku?” Lo Cit mencoba
mengangkat namanya.
“Namaku Souw Cu In, dan memang aku orang biasa saja. Akan tetapi apa yang kau lakukan ini memang
memalukan sekali, Pangcu. Pertama, engkau menggunakan bahan peledak yang mengandung racun
pembius untuk menangkap Si Keng Han. Kemudian engkau memaksanya menikah dengan puterimu, dan
yang terakhir engkau baru mau membebaskannya kalau sudah bertanding denganmu selama lima puluh
jurus! Sungguh memalukan!”
“Memang sungguh memalukan!” Keng Han ikut-ikutan bicara. “Mana aku bisa menahan serangannya
sampai lima puluh jurus? Ini sama saja dengan memaksaku tinggal di sini dan mengawini puterinya yang
tidak kucinta. Mana ada aturan begitu, ya, Bibi Guru?”
“Memang tidak ada aturan seperti itu di dunia kang-ouw, kecuali dunianya orang-orang sesat. Tentu Kwikiam
Pangcu tidak akan suka disebut orang sesat!” kata lagi Souw Cu In.
Lo Siu Lan menjadi marah sekali. Ia marah karena melihat hubungan yang akrab antara Keng Han dan Cu
In. Meski pun mereka mengaku sebagai murid keponakan dan bibi guru, akan tetapi keduanya masih muda
dan wanita bercadar itu nampak cantik jelita serta tubuhnya begitu ramping seperti batang pohon liu. Ia
merasa cemburu sekali!
“Perempuan hina! Cepat buka cadarmu dan perlihatkan mukamu! Engkau sudah berani mencampuri
urusan kami!” Berkata demikian, Lo Siu Lan telah mencabut pedangnya.
Souw Cu In mendengus seperti orang mengejek. “Dan engkau, sungguh tidak tahu malu hendak memaksa
seseorang menjadi suamimu!”
“Keparat!” Lo Siu Lan menyerang dengan pedangnya.
Akan tetapi bagaikan bayangan saja, tubuh Souw Cu In telah meloncat ke samping dan tiba-tiba ada sinar
putih mencuat dan tahu-tahu pedang di tangan Siu Lan terlibat dan terampas! Siu Lan terkejut dan
melompat mundur. Cu In mengambil pedang itu dan melemparkannya kembali kepada Siu Lan.
“Siapa yang keparat masih patut diselidiki!” kata Cu In.
Meski marah sekali, akan tetapi Siu Lan tidak berani lagi sembarangan bergerak. Dalam segebrakan saja
pedangnya telah terampas!
Lo Cit juga kaget sekali melihat hal ini. Gadis bercadar itu lihai bukan main.
“Siapa yang sudah masuk ke sini tidak boleh sembarangan keluar. Kalau Si Keng Han ingin membebaskan
diri, dia harus melalui pertandingan denganku. Tidak usah sampai lima puluh jurus, melihat dia masih muda
biarlah kuberi waktu...”
“Sepuluh jurus!” kata Keng Han. “Sepuluh jurus sudah merupakan waktu yang lama, melihat aku yang
masih begini muda harus melawan Pangcu yang tua dan tentunya sangat berpengalaman!”
Toat-beng Kiam-sian tertegun. Dulu pernah dia menyerang pemuda ini sampai sepuluh jurus dan ternyata
dia tidak dapat merobohkan. Tetapi ketika itu dia tidak menggunakan pedang tongkatnya. Kalau dia
menggunakan pedang tongkatnya, mungkin dalam satu atau dua jurus saja dia sudah mampu
mengalahkan pemuda itu.
“Keng Han, sepuluh jurus pun sudah terlalu lama. Engkau tidak akan dapat bertahan menghadapi
pedangnya biar pun hanya lima jurus saja!” Ucapan ini bernada sungguh-sungguh penuh kekhawatiran,
padahal sebenarnya merupakan pancingan yang sangat cerdik dari Souw Cu In.
dunia-kangouw.blogspot.com
Gadis ini telah melihat kelihaian Keng Han yang dapat menandingi seorang datuk besar seperti Swat-hai
Lo-kwi. Kalau pemuda itu mampu menandingi Swat-hai Lo-kwi, maka menghadapi Toat-beng Kiam-sian
dalam sepuluh jurus saja tak mungkin dia dikalahkan, apa lagi hanya dalam lima jurus. Bahkan mungkin
sampai puluhan jurus akan mampu bertahan.
Mendengar ucapan dan melihat sikap Souw Cu In, Toat-beng Kiam-sian membentak, “Baiklah, sepuluh
jurus! Kalau selama sepuluh jurus pedangku masih belum mampu mengalahkanmu, engkau boleh pergi
dari sini tanpa diganggu!”
“Keng Han, engkau berhati-hatilah. Pedang tongkat itu amat lihai sekali!” Kembali Souw Cu In berseru.
“Hayo, orang muda. Kau boleh menggunakan senjata apa pun, boleh kau pilih dari rak senjata itu untuk
menghadapi pedangku!” kata kakek itu sambil mengangkat tongkat di tangannya yang di dalamnya terisi
pedang.
“Lo-pangcu! Keng Han tak pernah menggunakan senjata, maka bila kau menggunakan pedang, itu licik
sekali namanya!”
“Dia boleh memilih senjata yang disukainya! Aku tidak peduli, dia mau bersenjata atau tidak!”
“Jangan khawatir, Bibi Guru. Aku memiliki pedangku ini!”
Keng Han mencabut pedang bengkoknya yang selama ini belum pernah dia pakai untuk berkelahi. Tetapi,
mendengar nasehat Souw Cu In, dia tahu bahwa tentu ilmu pedang kakek timpang itu hebat dan dahsyat,
maka kini dia menggunakan pedang pemberian ibunya atau pedang peninggalan ayah kandungnya.
Melihat pemuda itu memegang sebatang pedang bengkok, Gan Bu Tong tertawa.
“Ha-ha-ha, dia memegang sebatang pisau pemotong ayam!” Dia mengejek.
“Diam, Suheng! Engkau sudah dikalahkannya dengan mudah!” kata Lo Siu Lan ketus.
Akan tetapi Toat-beng Kiam-sian memandang rendah pedang bengkok itu.
“Orang muda, bersiaplah menghadapi seranganku!” bentaknya dan pedangnya sudah menyambar
bagaikan kilat cepatnya.
“Singgggg...!”
Keng Han terkejut bukan main. Dahsyat sekali pedang itu menyambar, beberapa kali lipat lebih cepat dan
kuat dari pada pedang yang dimainkan Lo Siu Lan tadi. Akan tetapi dia sudah siap. Dengan gerakan
sangat tangkas dia mengelak sambil memutar pedang bengkoknya menangkis.
“Tranggg...!”
Nampak bunga api berpercikan dan keduanya merasa betapa tangan yang memegang pedang menjadi
panas den tergetar.
“Jurus pertama...!” Souw Cu In menghitung dengan suara nyaring sekali.
Lo Cit merasa penasaran dan mulailah dia mengayun pedangnya dan menyerang dari segala jurusan
dengan kecepatan bagaikan kilat. Memang julukan Dewa Pedang bukan julukan kosong belaka karena
memang hebat sekali ilmu pedangnya. Namun, Keng Han juga memiliki ilmu Hong-in Bun-hoat yang sakti.
Dengan berloncatan ke sana-sini dan pedang bengkoknya mencorat-coret menuliskan huruf-huruf, dia
dapat menghindarkan diri dari semua serangan kakek itu.
“Jurus ke dua... ke tiga... ke empat...!” Souw Cu In menghitung terus jurus-jurus yang dimainkan
oleh kakek itu.
Pada jurus ke enam, Keng Han sama sekali belum tersentuh pedang lawan, bahkan kini dia mampu
membalas dengan gerakan corat-coretnya yang membingungkan lawan.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Jurus ke delapan...!”
Toat-beng Kiam-sian menjadi marah bukan main. Sudah delapan jurus lewat akan tetapi lawannya masih
mampu menandinginya, bahkan mampu membalas serangannya. Dan dia sendiri tidak mengenal ilmu silat
pedang lawan yang seperti corat-coret menuliskan huruf itu. Dia membentak keras sambil berjongkok dan
menyabetkan pedangnya untuk membabat kedua kaki lawan.
“Hyaaaaattttt...!”
Keng Han meloncat ke atas dengan gerakan ringan bagaikan seekor burung terbang sehingga babatan itu
hanya lewat di bawah kedua kakinya.
“Jurus ke sembilan...!” Cu In berseru girang, akan tetapi mendadak wajahnya menjadi pucat dan ia
memandang dengan hati cemas ketika melihat serangan jurus ke sepuluh.
Sekarang Lo Cit menggerakkan pedangnya ke atas, menyambut tubuh Keng Han yang melompat turun
dan bukan pedangnya saja yang menyerang, akan tetapi juga tangan kirinya menghantam dengan ilmu
pukulan Halilintar! Bukan main hebatnya pukulan dan tusukan pedang ini, sedangkan tubuh Keng Han
masih berada di udara.
Sementara itu, ketika melihat serangan lawan yang nekat dan berbahaya, Keng Han segera menggerakkan
pedang bengkoknya untuk menangkis, sedangkan tangan kirinya juga dihantamkan ke depan menyambut
pukulan Halilintar lawan.
“Tranggg... desss...!”
Hebat bukan main pertemuan kedua pedang itu, akan tetapi masih lebih dahsyat lagi pertemuan kedua
telapak tangan. Dan akibatnya, tubuh Lo Cit terdorong sehingga dia terhuyung ke belakang, sedangkan
Keng Han turun ke bawah dengan selamat.
“Jurus ke sepuluh!” bentak Cu In.
Akan tetapi agaknya Lo Cit tidak mempedulikan teriakan itu dan kini bahkan menyerang lagi dengan lebih
dahsyat ke arah Keng Han. Dan bersama dengan majunya Lo Cit, kini beberapa orang murid, di antaranya
termasuk Gan Bu Tong, juga hendak melakukan pengeroyokan.
Melihat gelagat yang tidak baik ini, Cu In sudah meluncurkan sabuk suteranya yang berubah menjadi sinar
putih menyerang kearah Lo Siu Lan. Siu Lan terkejut akan tetapi tidak sempat mengelak dan tahu-tahu
pinggangnya telah terlibat ujung sabuk dan sekali Cu In menarik, tubuh Siu Lan terdorong ke arahnya dan
ia sudah menangkap gadis itu dan menodongkan jari-jari tangan kirinya ke atas ubun-ubun kepala Siu Lan.
“Tahan semua senjata atau aku akan membunuh Siu Lan!” teriak Cu In dengan suara nyaring.
Toat-beng Kiam-sian Lo Cit cepat menengok dan wajahnya berubah ketika dia melihat puterinya telah
berada dalam ancaman tangan Cu In. Dia maklum bahwa sekali Cu In menggerakkan tangan ke arah
ubun-ubun kepala anaknya, gadis itu tentu akan tewas!
“Tahan semua senjata dan mundur!” bentaknya kepada para muridnya. Semua mundur dan memandang
ke arah Cu In yang masih mengancam Siu Lan.
“Keng Han, mari kita pergi dari sini. Awas, jangan ada yang mengikuti kami kalau ingin gadis ini selamat!”
kembali Cu In membentak.
Cu In mendorong Siu Lan agar berjalan di depan, sedangkan ia dan Keng Han berjalan di belakangnya.
Dengan cara ini mereka dapat keluar dari sarang Kwi-kiam-pang tanpa ada yang berani menghalangi.
Setelah tiba di luar, Cu In menotok Siu Lan sehingga gadis ini menjadi lemas dan roboh tak berdaya,
kemudian mereka berdua berlari cepat meninggalkan tempat itu. Belasan li mereka berlari meninggalkan
tempat itu sampai mereka memasuki sebuah hutan yang terdapat di lereng bukit.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mereka berhenti melepas lelah dan Keng Han berkata dengan nada suara menegur, “Su-i, kenapa
menggunakan cara yang curang itu untuk menyelamatkan diri?”
“Curang katamu? Lalu bagaimana dengan Toat-beng Kiam-sian itu? Sudah sepuluh jurus engkau bertahan
terhadap serangannya, ehh, dia malah menyerang lagi dan maju mengeroyok. Jumlah mereka demikian
banyak, bagaimana mungkin kita dapat melawan mereka? Kalau aku tidak menggunakan akal itu, apa kau
kira kita bisa keluar dengan selamat?”
Keng Han menundukkan mukanya, harus mengakui kebenaran ucapan gadis itu. “Ahhh, mengapa di dunia
ini banyak orang yang tidak sungkan berlaku curang seperti ketua Kwi-kiam-pang tadi?”
“Itulah! Merupakan pelajaran pertama bagimu kalau engkau memasuki dunia kang-ouw, yaitu, jangan
mudah percaya kepada siapa pun juga atau engkau akan tertipu. Lebih banyak orang yang curang dari
pada yang jujur, lebih banyak yang jahat dari pada yang baik. Nah, sekarang tiba saatnya kita harus
berpisah mengambil jalan masing-masing.”
“Su-i,” Keng Han berkata dengan suara sungguh-sungguh. “Kalau perjalanan kita sama, menuju ke satu
jurusan yaitu kota raja, kenapa kita tidak melakukan perjalanan bersama saja?”
“Tidak pantas seorang pemuda melakukan perjalanan bersama seorang gadis!”
“Aihh, Su-i, bukankah engkau ini bibi guruku? Kenapa tidak pantas? Yang penting kita tidak melakukan
sesuatu yang tidak pantas. Pula, agaknya memang sudah semestinya kita melakukan perjalanan bersama
sehingga dapat saling melindungi. Bayangkan saja, kalau kita tidak melakukan perjalanan bersama,
engkau telah celaka di tangan Tung-hai Lo-mo dan aku sudah celaka di tangan Toat-beng Kiam-sian!
Dengan berdua, kita dapat mengatasi semua bahaya itu.”
Souw Cu In termenung, agaknya melihat kebenaran dalam ucapan pemuda itu dan kini ia
mempertimbangkan. Tiba-tiba ia mengangkat mukanya dan bertanya.
“Keng Han, apakah engkau murid keluarga Pulau Es?”
“Bukan, Su-i. Bahkan aku selama hidup belum pernah bertemu dengan mereka.”
“Akan tetapi ilmu silatmu itu... aku pernah mendengar subo bercerita tentang ilmu-ilmu keluarga itu.
Katanya ada ilmu yang sifatnya seperti mencorat-coret dengan tangan atau pedang yang disebut Hong-in
Bun-hoat. Tadi engkau menggunakan ilmu itu, bukan?”
Terhadap gadis ini Keng Han tidak ingin berbohong. “Memang sesungguhnya aku tadi memainkan ilmu
Hong-in Bun-hoat.”
“Dan kau bilang bukan murid Pulau Es?”
“Bukan, Su-i. Aku tidak berbohong. Kudapatkan ilmu ini di sebuah goa di Pulau Hantu, bersama ilmu-ilmu
lain.”
“Ilmu apa saja? Ahh, kau tidak perlu mengaku kalau hendak merahasiakannya.”
“Kepadamu aku tidak ingin menyembunyikan apa-apa, Su-i. Selain Hong-in Bun-hoat, aku juga
menemukan pelajaran ilmu silat Toat-beng Bian-kun, juga ilmu tenaga sakti Hwi-yang Sinkang dan Swat-im
Sinkang.”
Gadis itu terbelalak dan Keng Han terpesona. Sepasang mata itu demikian indahnya ketika terbelalak,
seperti bintang kembar yang bercahaya terang.
“Tapi semua itu adalah ilmu-ilmu keluarga Pulau Es!”
“Entahlah, Su-i. Aku hanya menemukannya di Pulau Hantu dan telah kupelajari semua itu selama lima
tahun.”
“Pantas saja engkau mampu menandingi Swat-hai Lo-kwi dan Toat-beng Kiam-sian. Dan suci telah
mengangkatmu sebagai murid! Betapa lucunya. Padahal suci sendiri tak mungkin dapat menandingimu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Bahkan subo sendiri belum tentu mampu. Engkau telah menguasai ilmu-ilmu langka yang sakti, Keng
Han.”
Keng Han tersipu. “Aih, Bibi Guru terlalu memuji. Aku hanya seperti seekor burung yang baru belajar
terbang dan baru saja pergi meninggalkan sarangnya. Aku tak mempunyai pengalaman apa-apa, maka
kalau Su-i sudi melakukan perjalanan bersamaku, aku dapat belajar banyak.”
“Tidak bisa! Jika subo mengetahui aku melakukan perjalanan dengan seorang pemuda, tentu dia akan
marah sekali dan aku harus membunuhmu! Nah, pergilah!”
“Akan tetapi, Su-i...” Suara Keng Han penuh permohonan dan penuh kekecewaan.
“Tidak ada tapi-tapian, Keng Han. Kita harus berpisah. Pergilah, atau aku akan marah kepadamu!”
“Su-i...! kata Keng Han, akan tetapi melihat sinar mata itu mencorong marah, dia lalu memberi hormat dan
berkata, “Baiklah, Su-i, aku tidak berani membantah. Harap Su-i berhati-hati di jalan dan jagalah dirimu
baik-baik, Su-i.”
Dengan wajah sedih sekali Keng Han lalu memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan gadis itu. Dia
merasa tubuhnya menjadi lemas sehingga segala sesuatu nampak buruk baginya. Dia merasa kesepian,
merasa ditinggalkan oleh sesuatu yang amat berharga baginya. Kalau tadinya, segala hal nampak
menyenangkan, kini menjadi menyedihkan.
Dia menengok dan tidak melihat lagi bayangan Cu In. Kesedihan dan kesepian melanda dirinya sehingga
Keng Han tak mampu melangkah lagi. Dia menjatuhkan dirinya duduk di atas batu dan termenung.
Hidupnya terasa hampa. Kerinduan kepada Cu In begitu mencengkeram hatinya. Membayangkan bahwa
dia tak akan dapat bertemu lagi dengan gadis itu, membuat matanya menjadi basah dan hampir saja dia
menangis seperti anak kecil kalau tidak ditahan-tahannya.
Tiba-tiba dia menyadari keadaannya dan menepuk kepalanya sendiri. Huh! Mengapa engkau menjadi
cengeng seperti itu? Dia merasa malu kepada diri sendiri, malu kepada Souw Cu In. Kalau bibi gurunya itu
melihat keadaannya, tentu ia akan menegurnya.
“Tolol! Cengeng!” Keng Han memaki dirinya sendiri sambil bangkit berdiri, dan dengan langkah tegap dia
melanjutkan perjalanannya menuju ke timur, ke kota raja! Dia masih memiliki tugas yang teramat penting.
Mencari ayah kandungnya.
Souw Cu In sendiri merasa kesepian dan hatinya terasa berat harus berpisah dari Keng Han. Gadis ini
merasa heran sekali. Belum pernah ia merasa kehilangan seperti ini! Apa lagi kehilangan seorang sahabat,
seorang pria.
Tekanan yang diberikan subo-nya sejak ia masih kecil membuat ia menganggap setiap orang pria adalah
palsu dan jahat. Apa lagi setelah ia melihat sendiri betapa kaum pria selalu bersikap menjemukan kalau
bertemu dengannya di mana pun. Pria semua mata keranjang dan ingin menggoda kalau bertemu
dengannya.
Akan tetapi kini dia bertemu Keng Han yang sama sekali berlainan dengan pria yang sering kali dia
bayangkan dan yang pernah dia temukan. Keng Han sama sekali tidak kurang ajar, bahkan pemuda itu
amat sopan dan bersikap baik sekali kepadanya. Maka, begitu Keng Han meninggalkannya dengan sikap
demikian kecewa dan sedih, hatinya merasa kasihan sekali dan ikut pula berduka dan kehilangan. Baru
sekarang ia merasa kesepian melanda hatinya.
Akan tetapi gadis yang dididik menjadi keras hati ini dapat menekan perasaannya dan ia pun melakukan
perjalanan seorang diri dengan cepat sekali. Pada suatu hari tibalah ia di sebuah dusun yang cukup besar
dan ramai. Bahkan ia menemukan sebuah kedai makan di dusun itu. Karena perutnya sudah lapar Souw
Cu In memasuki kedai itu dan memesan makanan dan minuman teh.
Di dalam kedai teh itu sudah banyak tamu yang sedang makan. Seperti biasa dialami Cu In, begitu dia
memasuki kedai makan itu, banyak mata memandang dan banyak kepala menengok lalu terdengar suara
berbisik-bisik dan tawa yang dibuat-buat. Namun dia tidak mempedulikan itu semua dan memesan
makanannya kepada pelayan yang menghampirinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiga orang pria yang duduk di meja sebelahnya, menghentikan makan mereka ketika melihat Cu In.
Mereka itu terdiri dari orang-orang yang berpakaian mewah dan berusia antara tiga puluh dan empat puluh
tahun. Salah seorang di antara mereka, yang berusia tiga puluh tahun, agaknya menjadi pemimpin mereka.
“Sayang ia bercadar sehingga kita tidak dapat melihat mukanya,” kata seorang di antara mereka yang
berusia hampir empat puluhan tahun.
“Aku yakin ia cantik seperti bidadari,” kata orang kedua yang usianya empat puluhan tahun.
“Sudahlah, lanjutkan makan kalian dan jangan pedulikan orang lain,” kata pemuda yang berusia tiga
puluhan tahun. Dia itu bertubuh tinggi besar, nampak gagah dan tampan, mukanya bundar dan sepasang
matanya lebar sehingga wajah itu nampak asing.
“Akan tetapi, Kongcu, yang satu ini berbeda dengan wanita biasa. Kami berani bertaruh bahwa ia seorang
yang luar biasa sekali, penuh rahasia karena muka itu bercadar,” kata orang pertama.
Orang yang disebut kongcu itu mencela, “Bila orang menutupi mukanya, apa lagi kalau dia wanita, tentu
dia itu cacat. Sudahlah, mari kita cepat selesaikan makan, kita harus melanjutkan perjalanan!”
Mereka melanjutkan makan minum dan karena Cu In makan cepat dan tidak banyak, gadis ini lebih dulu
selesai dan segera membayar makanan dan pergi meninggalkan kedai makanan itu tanpa mempedulikan
orang lain. Tiga orang itu juga sudah selesai makan dan mereka juga cepat-cepat meninggalkan kedai.
Ketika berjalan keluar dari dusun itu, Cu In pun tahu bahwa tiga orang itu membayangi dirinya. Dia purapura
tidak tahu dan melangkah terus. Akan tetapi setelah tiba di jalan yang sepi, tiga orang ini berlari cepat
menyusulnya.
“Tahan dulu, Nona!” terdengar suara pria pertama yang berkumis dan berjenggot seperti kambing.
Cu In berhenti dan menghadapi tiga orang itu. Dia melihat bahwa dua diantara mereka memandangnya
dengan mulut menyeringai, akan tetapi pemuda berusia tiga puluhan tahun yang berwajah tampan dan
gagah itu bersikap acuh tak acuh.
“Nona, tadi kita melihatmu di rumah makan,” kata orang kedua yang hidungnya pesek.
“Lalu, mengapa kalian mengejarku?” tanya Cu In dengan ketus.
“Begini, Nona. Aku dan temanku ini bertaruh. Aku yakin bahwa wajahmu cantik seperti bidadari, sebaliknya
dia yakin bahwa wajahmu cacat dan buruk. Nah, karena itu kami harap Nona suka membuka cadar Nona
itu sebentar saja agar kami dapat melihatnya dan menentukan siapa yang menang bertaruh.”
“Aku tidak peduli kalian bertaruh atau tidak, tetapi aku tidak akan membuka cadarku!” kata Cu In dengan
suara ketus dan marah.
“Aih, Nona. Mengapa Nona begitu pelit? Memperlihatkan muka sebentar saja, kenapa keberatan? Nah,
kalau begitu biarlah aku yang membuka dan menyingkap cadar itu!” kata si jenggot kambing dan
tangannya meraih ke arah cadar di muka Cu In. Gadis ini mengelak mundur dan sambaran tangan itu
luput.
“Siapa berani membuka cadarku dia akan mati!” kata Cu In dengan suara membentak.
Akan tetapi agaknya si jenggot kambing dan si hidung pesek menganggap gertakan Cu In ini kosong
belaka. Bahkan si hidung pesek tertawa.
“Ha-ha-ha, Thian-ko. Mari kita bertaruh lagi, siapa di antara kita yang lebih dulu dapat membuka cadar
Nona ini!”
Si jenggot kambing tertawa. “Ha-ha-ha, baik sekali! Jadi taruhan kita ada dua, mengenai muka gadis ini
dan siapa yang lebih dulu menyingkap cadar!”
Keduanya lalu menerjang maju. Tangan mereka meraih untuk menyambar cadar putih yang menutupi
muka Cu In. Leaki ketiga yang berwajah tampan itu masih memandang dengan tidak peduli.
dunia-kangouw.blogspot.com
Marah sekali hati Cu In. Cepat ia mengelak sambil berloncatan dari serangan kedua orang yang hendak
merenggut cadarnya dan ia pun menampar dengan pukulan Tangan Beracun. Akan tetapi kagetlah ia
melihat betapa dua orang itu pun mampu mengelak dengan cepat. Kini keadaannya berubah. Dua orang
itu bukan berebutan membuka cadar, melainkan mengeroyok gadis itu. Terjadilah perkelahian yang seru.
Akan tetapi, dua orang itu kecelik karena kini mereka bertemu batunya. Ternyata gadis bercadar itu lihai
bukan main dan mereka terdesak hebat oleh pukulan dan tendangan Cu In. Padahal, kedua orang itu
mengira bahwa mereka adalah orang-orang lihai yang jarang bertemu tanding!
Melihat ini, sepasang mata lebar dari pemuda tampan itu bersinar-sinar.
“Kalian mundurlah!” bentaknya, dan sekarang dia sendiri yang maju melawan Cu In. Dua orang kawannya
menaati perintahnya dan mundur menjadi penonton.
Cu In terkejut setengah mati. Pemuda itu ternyata lihai bukan main, berani menangkis Tangan Beracunnya,
bahkan setiap kali tertangkis dia merasa lengannya tergetar hebat. Pemuda itu memiliki ilmu silat yang
aneh dan juga mempunyai tenaga sinkang yang amat kuatnya.
Cu In yang maklum bahwa lawannya tangguh, segera melolos sabuk suteranya yang menjadi senjatanya
yang ampuh, dan mulai menyerang dengan sabuk suteranya. Akan tetapi pemuda itu dapat mengelak atau
menangkis sambil mencoba untuk menangkap ujung sabuk sutera putih itu. Akan tetapi usahanya selalu
gagal.
Sabuk sutera itu seolah hidup di tangan Cu In, bergerak seperti seekor ular dan setiap kali ditangkap dapat
melesat cepat menghindar, lalu menyerang lagi dengan patukan yang mengarah jalan darah karena
sesungguhnya senjata lemas itu dapat dipergunakan untuk menotok jalan darah.
Selagi ramai-ramainya kedua orang ini bertanding, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan terdengar
suara Keng Han.
“Bibi guru, harap minggir, biar aku yang menghadapinya!”
Bagaimana Keng Han dapat tiba di situ? Perjalanannya dengan Cu In memang searah, sama-sama ke
timur sehingga tidak aneh kalau dia juga lewat di situ. Ketika dari jauh dia melihat perkelahian itu,
jantungnya berdebar penuh kegembiraan dan ketegangan karena siapa lagi wanita yang berpakaian putih
bersenjata sabuk sutera putih itu kalau bukan Souw Cu In?
Melihat orang yang dirindukannya ini hatinya merasa girang sekali, akan tetapi juga tegang melihat betapa
lawan bibi gurunya itu amat tangguh. Apa lagi setelah dekat dia mengenal pemuda itu sebagai Gulam Sang
yang pernah ditandinginya!
Gulam Sang, putera mendiang gurunya! Bahkan gurunya sebelum meninggal dunia sudah berpesan agar
dia bekerja sama dengan puteranya itu. Maka cepat dia meloncat datang dan menyuruh bibi gurunya
supaya minggir.
Gulam Sang juga mengenal Keng Han sebagai pemuda tangguh yang pernah menjadi lawannya. Dia
menjadi penasaran karena tadi belum sempat mengalahkan Cu In yang sudah didesaknya.
“Siapakah engkau yang mencampuri urusan kami?” bentaknya dan dia memandang kepada Keng Han
dengan mata yang lebar itu mencorong.
“Bukankah namamu Gulam Sang dan engkau adalah putera dari Gosang Lama?” tanya Keng Han sambil
membalas pandang mata mencorong itu.
Gulam Sang nampak terkejut dan melangkah mundur setindak mendengar pertanyaan itu. “Siapa engkau?
Apa hubunganmu dengan Gosang Lama?”
Keng Han melihat betapa keterkejutan pemuda tinggi besar itu agak dibuat-buat karena suaranya masih
biasa saja, hanya tadi seolah sengaja melangkah mundur.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aku adalah muridnya. Sebelum suhu Gosang Lama meninggal dunia, dia berpesan kepadaku agar dapat
bekerja sama denganmu. Akan tetapi kenapa engkau bertempur melawan bibi guruku ini? Ia adalah bibi
guruku dan mustahil ia melakukan kesalahan sehingga engkau turun tangan bertempur dengannya.”
Wajah Gulam Sang berubah kemerahan dan dia menoleh kepada dua orang kawannya. “Kawan-kawanku
ini yang usil, maka terjadilah perkelahian. Mereka hendak menyingkap tabir yang menutupi wajah Nona
ini.”
Keng Han mengerti mengapa mereka berkelahi. Tentu saja bibi gurunya tidak sudi dibuka cadarnya dan
masih beruntung mereka berdua itu tidak sampai dipukul mati.
“Kalian sudah bertindak lancang. Mengingat engkau putera suhu Gosang Lama, biarlah aku mintakan
ampun kepada bibi guruku,” kata Keng Han sambil menoleh.
Akan tetapi ternyata Cu In sudah tidak nampak, sudah pergi dari tempat itu tanpa pamit. Ketika tadi Keng
Han muncul, Cu In juga merasa berbahagia sekali. Akan tetapi ketika mendengar bahwa pemuda tinggi
besar itu putera guru Keng Han, Cu In menjadi marah dan pergi tanpa pamit.
“Ehhh, ke mana bibi guru?”
Si jenggot kambing yang menjawab. “Ia sudah pergi sejak tadi.”
Keng Han memandang kepada si jenggot kambing dan si hidung pesek dengan marah. “Kalian berdua
telah melakukan kesalahan, hayo cepat minta maaf kepadaku dan aku akan memaafkan atas nama bibi
guruku!”
Kedua orang itu memandang kepada Golam Sang yang mengangguk. Keduanya lalu mengangkat kedua
tangan di depan dada, memberi hormat kepada Keng Han, “Harap sampaikan maaf kami kepada nona
tadi.”
“Saudara yang baik, siapa namamu dan sejak kapan engkau menjadi murid ayahku?”
“Namaku Si Keng Han dan semenjak berusia sepuluh tahun aku menjadi murid Gosang Lama selama lima
tahun.”
“Kalau begitu engkau masih saudaraku sendiri walau pun aku sendiri sejak kecil tidak pernah bertemu
dengan mendiang ayahku. Apa saja yang dipesankan ayah kepadamu sebelum dia meninggal?”
“Dia berpesan agar aku bekerja sama denganmu, saling bantu.”
“Bagus sekali! Mari kita kembali ke dusun dan mencari penginapan supaya kita leluasa bicara.”
Keng Han tidak menolak, karena percuma saja andai kata dia akan mengejar Cu In yang pergi tanpa pamit
. Dan dia pun ingin mengenal lebih baik putera suhu-nya ini yang berkepandaian tinggi dan yang menurut
Dalai Lama pernah menjadi murid Dalai lama yang sakti. Mereka kembali ke dusun dan menyewa kamar,
kemudian bercakap-cakap berdua saja di kamar yang disewa Keng Han.
“Nah, sekarang katakanlah apa yang hendak kau bicarakan, Gulam Sang. Kerja sama yang bagaimana
yang dapat kita bersama lakukan.”
“Nanti dulu, Keng Han. Aku ingin tahu siapakah orang tuamu dan sekarang ini engkau hendak ke mana?
Kita harus terbuka dan menceritakan keadaan masing-masing, baru kita dapat bekerja sama, bukan?”
Keng Han mengangguk-angguk. Dia belum percaya kepada pemuda tinggi besar ini, akan tetapi
bagaimana pun juga, pemuda ini adalah putera Gosang Lama yang pernah menjadi gurunya yang baik.
“Terus terang saja, saudara Golam Sang. Ibuku adalah seorang wanita Khitan, puteri seorang kepada suku
di sana dan ayahku...”
Ia berhenti dan meragu. Haruskah dia mengatakan rahasia tentang ayahnya…..?
“Dan ayahmu tentu bukan orang Khitan!” kata Golam Sang.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Engkau benar. Ayahku adalah seorang pangeran kerajaan Ceng.”
“Ahhh...!” Gulam Sang nampak terkejut. “Siapa nama ayahmu yang pangeran itu?”
“Nama ayahku adalah Tao Seng, jadi aku she Tao bernama Keng Han.”
“Ahhh...!” kembali Golam Sang terkejut. “Apakah Pangeran Tao Seng yang dua puluh tahun lalu dihukum
buang itu?”
“Agaknya engkau mengetahui banyak hal tentang ayahku, saudara Golam Sang.”
“Aku hanya mendengar saja bahwa ada dua orang pangeran yang dihukum buang.”
“Dan tahukah engkau di mana ayahku itu sekarang?”
“Aku tidak tahu, mungkin di kota raja, mungkin juga masih di tempat pembuangannya, di Barat. Akan tetapi
engkau tentu dapat mencari keterangan di kota raja. Kebetulan aku mengenal seorang pensiunan pejabat
tinggi yang dahulu mempunyai hubungan erat dengan ayahmu. Kau carilah dia di kota raja dan dia pasti
akan dapat memberi tahu di mana ayahmu. Namanya Ji Soan dan dikenal dengan sebutan Ji-wangwe
(hartawan Ji) karena sekarang dia sudah menjadi seorang saudagar yang kaya raya. Kau tanyakan kepada
siapa saja di mana rumahnya Ji-wangwe, tentu dengan mudah engkau akan dapat menemukannya.”
“Ahh, terima kasih, Gulam Sang. Keteranganmu ini penting sekali bagiku. Besok pagi-pagi aku akan
langsung menuju ke kota raja untuk mencari Ji-wangwe itu.”
“Kabarnya, ayahmu itu difitnah dan dia dihukum dalam keadaan penasaran sekali.”
“Difitnah?” tanya Keng Han, ingin sekali tahu.
“Ya, kabarnya yang melakukan fitnah adalah seorang pangeran lain yang kini menjadi Pangeran Mahkota.”
“Aku mendengar dari ibuku bahwa ayahku itu adalah Pangeran Mahkota.”
“Mungkin benar demikian. Mungkin karena dia adalah seorang Pangeran Mahkota, ada pangeran lain yang
iri hati dan melakukan fitnah sehingga dia dihukum buang.”
“Siapakah pangeran jahat itu?”
“Dia adalah Pangeran Mahkota Tao Kuang. Akan tetapi urusan itu aku pun tidak tahu banyak. Yang lebih
mengetahui adalah Hartawan Ji itu. Bagaimana pun juga, Pangeran Tao Kuang dan Kaisar Cia Cing itu
adalah musuh besarmu karena mereka yang telah mencelakakan dan menghukum ayahmu.”
“Kalau benar ayahku terhukum dengan penasaran, aku akan membalas dendam!” kata Keng Han dengan
hati panas.
“Bagus! Dalam hal ini, kita dapat bekerja sama. Kita akan sama-sama berjuang untuk menggulingkan
pemerintahan Ceng yang dipegang oleh Cia Cing dan kelak dipegang oleh Pangeran Tao Kuang itu! Kita
bekerja sama dengan teman-teman seperjuangan.”
“Hemm, kau maksudkan orang-orang Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai yang dulu kau bantu mengeroyok kami
itu? Mereka itu bukan orang-orang baik. Aku sudah mendengar sepak terjang orang-orang Pek-lian-pai dan
Pat-kwa-pai itu. Mereka adalah orang-orang jahat yang berkedok perjuangan. Bagaimana kita dapat
bekerja sama dengan mereka?”
“Nah, di sini letak kesalah pahaman itu. Engkau berpikiran seperti ketua Thian-li-pang itu. Kalau kita
sungguh-sungguh hendak berjuang menentang pemerintahan, kita harus mempersatukan semua tenaga
dari pihak mana pun. Karena itu kita harus bersatu padu tanpa mempedulikan watak masing-masing, untuk
bersama-sama menghadapi pasukan pemerintah yang kuat. Aku lebih condong menyetujui pendapat ketua
Bu-tong-pai!”
“Ahh, engkau juga hadir ketika ada rapat besar itu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tentu saja. Aku hadir sebagai pendengar saja. Nah, bagaimana pendapatmu?”
Keng Han mulai meragu. “Agaknya engkau benar. Aku harus membalas dendam atas kematian ayahku
kalau benar dia sudah mati secara penasaran dan difitnah. Aku suka bekerja sama denganmu, Gulam
Sang.”
Gulam Sang menjabat tangan Keng Han. “Bagus, kita akan bekerja sama kelak. Kau tunggu saja di rumah
Hartawan Ji, karena dia pun sudah menjadi sekutu kami untuk melakukan pemberontakan. Pergilah
engkau ke sana, cari keterangan tentang ayahmu dan katakan kepada Ji-wangwe bahwa engkau adalah
sahabat dan sekutuku yang suka untuk bekerja sama.”
Demikianlah, Keng Han yang masih hijau dalam pengalaman itu percaya sepenuhnya kepada Gulam Sang
karena orang ini adalah putera gurunya yang sudah meninggalkan pesan agar dia bekerja sama dengan
Gulam Sang…..
********************
Yo Han dan Tan Sian Li tidak dapat membantah atau melarang lagi ketika Yo Han Li menyatakan
pendapatnya bahwa ia ingin merantau untuk mencari pengalaman.
“Bukankah Ibu dahulu ketika masih muda juga suka merantau mencari pengalaman di dunia kang-ouw
sehingga Ibu dijuluki Si Bangau Merah di dunia kang-ouw? Juga Ayah mendapat julukan Pendekar Tangan
Sakti karena perantauannya di dunia kang-ouw. Saya hanya ingin merantau dan meluaskan pengalaman
saja. Saya tidak ingin mengejar nama julukan dan saya akan selalu berhati-hati agar tak terpancing dalam
permusuhan.”
Demikian ucapan Yo Han Li yang membuat ayah ibunya tidak dapat membantah lagi dan terpaksa
memberi ijin kepada puterinya untuk merantau. Siapa tahu justru dalam perantauannya itu puteri mereka
akan bertemu dengan jodohnya. Mereka tidak perlu khawatir karena sekarang Han Li sudah memiliki
tingkat kepandaian yang sebanding dengan tingkat ibunya, sudah cukup kuat untuk menjaga diri.
“Baiklah, kami mengijinkan engkau untuk pergi merantau meluaskan pengalaman. Akan tetapi engkau
harus berjanji tidak akan pergi lebih lama dari satu tahun. Dalam waktu setahun engkau harus sudah
pulang,” kata Yo Han. “Di dunia kang-ouw sedang kacau karena partai besar seperti Bu-tong-pai hendak
memberontak dan mengajak partai-partai sesat untuk bekerja sama. Engkau jangan terpikat oleh mereka
itu. Perjuangan kita lain sifatnya. Kita pantang bekerja sama dengan penjahat dan kita bergerak melihat
suasana.”
“Aku berjanji, Ayah,” kata Han Li.
“Hati-hatilah, anakku,” kata Tan Sian Li. “Jangan engkau mencari permusuhan dengan siapa pun. Meski
pun engkau harus membela kebenaran dan keadilan, membela yang tertindas dan menentang yang jahat,
namun kalau tidak terpaksa sekali jangan engkau membunuh orang. Dan yang harus kau ingat benar,
jangan sekali-kali percaya begitu saja kepada mulut manis seseorang, karena di dunia kang-ouw banyak
sekali penjahat yang bermuka dan bermulut manis. Engkau harus pandai menjaga harga dirimu, walau pun
tidak perlu tinggi hati. Jika sekiranya ada bahaya mengancam, sebut nama julukan ayahmu dan nama
julukanku, mungkin dapat menolongmu.”
“Baik, Ibu. Aku akan selalu ingat akan nasehat Ayah dan Ibu.”
Tiga hari kemudian, Yo Han Li berangkat meninggalkan Thian-li-pang yang berpusat di Bukit Naga itu dan
turun gunung untuk memulai dengan perantauannya. Ia membawa sebuah buntalan pakaian dan
sekantung uang. Tidak lupa ia membawa pula sebatang pedang pemberian ayahnya yang selalu
dipakainya untuk berlatih silat pedang.
Ayah dan ibunya mengantar puteri mereka sampai keluar pintu gerbang. Bagaimana pun juga, kedua
orang tua ini mengkhawatirkan puteri mereka yang merupakan anak tunggal. Mereka tahu bahwa justru
kecantikan gadis itu yang akan banyak memberikan gangguan pada puteri mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Yo Han Li yang berusia delapan belas tahun itu memang cantik. Wajahnya mirip dengan ibunya. Mukanya
bulat telur dan kulitnya putih mulus, mata agak lebar dan hidungnya mancung. Mulutnya selalu tersenyum
agak mengejek dan dihias lesung pipit di pipi kiri.
Tubuhnya sedang dan ramping. Ia berpakaian sederhana, dari sutera berwarna biru dan kuning.
Sepatunya dari kulit berwarna hitam. Ia membawa pedang di pinggangnya dan buntalan pakaiannya
berada di punggungnya.
Apa yang dikhawatirkan ayah ibu gadis itu ternyata terbukti, bahkan baru sehari setelah gadis itu
meninggalkan rumahnya. Sore itu tibalah Han Li di sebuah bukit yang masih bertetangga dengan Bukit
Naga. Dari bukit itu, kalau ia menoleh, ia akan melihat Bukit Naga yang dari situ nampak memanjang dan
berlekuk-lekuk seperti tubuh seekor naga, dan karena bentuknya itulah maka bukit itu disebut Bukit Naga.
Ketika Han Li sedang melangkah maju dengan cepat untuk mencari dusun di mana ia dapat melewatkan
malam, tiba-tiba muncullah dua belas orang laki-laki yang kelihatan kasar. Pakaian mereka tidak karuan
dan sikap mereka kasar sekali, mata mereka liar dan bengis, dipimpin oleh seorang laki-laki tinggi besar
yang muka codet, yaitu terdapat cacat bekas goresan senjata pada pipi kirinya.
Melihat seorang gadis berjalan seorang diri, dua belas orang itu tertawa senang dan si muka codet itu
tertawa bergelak.
“Ha-ha-ha, sungguh tidak kusangka di tempat sesunyi ini terdapat seorang nona yang cantiknya seperti
bidadari! Eh, Manis, engkau siapakah dan hendak pergi ke mana?”
Han Li belum pernah bertemu dengan orang-orang macam itu, akan tetapi dia sudah mendengar banyak
cerita dari ayah ibunya mengenai orang-orang kasar yang biasanya menjadi perampok. Maka kini dia pun
dapat menduga bahwa dia sedang berhadapan dengan segerombolan perampok.
“Aku seorang gadis perantau yang hendak mencari dusun di depan sana. Harap kalian tidak
menghalangiku pergi.”
“Ha-ha-ha, untuk apa mencari dusun? Kalau hanya hendak melewatkan malam, ikutlah bersama kami dan
kita bersenang-senang. Kami mempunyai banyak arak dan kami pun telah menangkap beberapa ekor
lembu dari dusun yang kami lewati. Kita berpesta pora. Mari, Nona!” kata si codet yang menjadi pimpinan
gerombolan perampok itu.
Tangan si codet itu sudah dijulurkan ke depan untuk merangkul pinggang yang ramping itu, tapi dengan
cepat Han Li sudah melangkah mundur. Pandang matanya mencorong ketika ia berkata, suaranya masih
lembut namun mengandung ancaman.
“Sudah kukatakan, harap jangan halangi dan ganggu aku atau kalian akan menyesal nanti!”
“Ehhh? Engkau mengancam kami? Ho-ho-ho-ha-ha, agaknya karena engkau membawa pedang engkau
dapat mengancam kami? Menyerahlah, Nona, dan aku akan bersikap manis padamu. Kalau engkau
berkeras, terpaksa aku akan menggunakan kekerasan menangkapmu!”
“Hemmm, sombongnya! Boleh kau coba kalau engkau mampu menangkap aku!” kata Han Li dan seluruh
urat syaraf di tubuhnya siap untuk menghadapi penyerangan lawan.
“Heiii, kalian dengar, kawan-kawan? Ia menantangku, ha-ha-ha!”
Semua anak buahnya juga tertawa. “Jangan sampai dia terluka, sayang kalau sampai terluka, Toako!”
“Jangan sampai kulit yang putih mulus itu lecet!”
“Ha-ha-ha, sekali ringkus saja ia pun akan berada dalam pelukanku. Kalian lihat saja!”
Tiba-tiba si codet menubruk dengan amat cepatnya. Kedua lengannya yang panjang dikembangkan dan
jari-jari kedua tangannya menyambar ke depan untuk menerkam Han Li.
Namun dengan lincah dan mudah saja Han Li menyelinap dan mengelak dari terkaman itu. Ia melihat
bahwa lawannya itu hanya seorang yang mengandalkan kekuatan otot saja dan gerakannya terlalu lamban
dunia-kangouw.blogspot.com
baginya. Begitu mengelak, ia sudah menyelinap ke belakang si codet dan sekali kaki kirinya bergerak,
sepatu hitamnya sudah menendang pantat si codet sehingga tubuh tinggi besar itu jatuh tersungkur!
Semua anak buah kaget bukan main melihat betapa pimpinan mereka tertendang roboh oleh gadis itu
hanya dalam segebrakan saja. Akan tetapi si codet menjadi penasaran dan marah sekali karena malu.
Dia merangkak bangun, lalu menghadapi Han Li dengan muka bengis dan kemerahan, kedua tangannya
dibuka seperti cakar harimau dan tanpa banyak cakap lagi sekarang dia menyerang dengan pukulan dan
tamparan. Sepak terjangnya ganas dan liar seperti seekor harimau.
Namun bagi Han Li gerakan itu terasa amat lambat sehingga mudah sekali baginya untuk mengelak ke
kanan kiri dan setelah mendapatkan kesempatan, tangan kirinya menampar, kini mengenai leher si codet
yang kembali terpelanting roboh dan sekali ini agak lambat dapat bantuan. Kepalanya terasa pening dan
lehernya terasa seperti patah!
Akan tetapi hajaran kedua kali itu agaknya tidak membuat kepala gerombolan perampok itu jera. Dia
bahkan mencabut golok besarnya dari pinggang dan memutar-mutar golok itu di atas kepala dengan sikap
mengancam. Dia tidak lagi menyayang gadis cantik itu dan kalau perlu akan disembelihnya untuk
meredakan kemarahannya.
Melihat cara orang mencabut golok dan memutar-mutar di atas kepalanya, tahulah Han Li bahwa orang ini
hanya memiliki ilmu silat biasa saja, maka ia pun tak mau mencabut pedangnya. Dia siap menghadapi
serbuan orang bergolok itu dengan tangan kosong saja.
“Bocah setan, mampuslah kau sekarang!” bentak si codet dan dia sudah menyerang dengan ganasnya.
Goloknya berayun dari kanan ke kiri membabat ke arah leher Han Li.
Dengan menundukkan kepala Han Li sudah mengelak. Golok lewat menyambar di atas kepalanya,
kemudian membalik menyambar dari kiri ke kanan membabat pinggangnya! Dengan geseran kaki ke
belakang, kembali Han Li membiarkan golok itu lewat.
Setelah dua kali bacokannya dengan mudah dapat dielakkan lawan, si codet menjadi semakin penasaran.
“Hyaaaattt...!” Dia berteriak nyaring dan kini goloknya menusuk ke arah perut gadis itu.
Han Li menggeser kaki ke kiri. Ketika golok itu lewat di dekat perutnya, dia melangkah maju dan secepat
kilat tangannya menampar, kini dengan tenaga yang lebih besar dan tamparan tangannya menghantam
bawah leher kepala perampok itu.
“Plakkk... ughhhhh...!”
Tubuh itu terbanting keras dan tak dapat bangun kembali. Tamparan tadi amat hebatnya dan membuat
kepalanya seperti remuk, bumi berputar dan matanya menjadi juling.
Sebelas orang anak buahnya melihat betapa pimpinan mereka roboh segera mencabut golok masingmasing
dan dengan teriakan-teriakan dahsyat mereka serentak menyerbu dan mengeroyok Han Li yang
bertangan kosong dari berbagai jurusan. Akan tetapi mereka terkejut bukan main.
Gadis yang tadi berada di tengah-tengah mereka tiba-tiba melayang ke atas dan sudah berada di belakang
mereka. Mereka membalik, tetapi dua kali kaki Han Li melayang dan dua orang di antara mereka roboh.
Han Li mengamuk di antara pengeroyokan gerombolan itu dan membagi-bagi tamparan tangannya yang
ampuh dan tendangan. Dalam waktu beberapa menit saja dua belas orang itu sudah jatuh bangun dan
akhirnya, dipimpin oleh si codet, mereka melarikan diri seperti sekawanan monyet melihat singa betina
mengamuk.
Han Li tersenyum geli dan mengibas-ngibaskan dua tangannya, mengebutkan bajunya supaya bebas dari
kotoran debu, kemudian ia pun melanjutkan perjalanan seperti tak pernah terjadi sesuatu. Ia sudah
mendapatkan pengalaman yang menarik dan ia sudah memenuhi pesan ayah ibunya, yaitu menentang
kejahatan namun tidak sembarangan membunuh orang. Kalau ia menghendaki, kiranya tidak sukar
baginya untuk membunuh semua lawan tadi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Li melanjutkan perjalanannya. Yang dituju adalah ke kota raja. Ia sudah mendapat keterangan dari
ayah ibunya di manakah adanya kota raja, dan ia ingin sekali melihat kota yang besar dan indah itu. Sudah
banyak ia mendengar mengenai keindahan kota raja, namun belum pernah ia melihatnya.
Dengan cepat ia menuruni lereng bukit itu menuju ke sebuah dusun yang dilihatnya dari lereng bukit tadi
dan mencari tempat untuk bermalam di dusun itu. Sepasang suami isteri petani yang sederhana dengan
senang hati memberikan kamar mereka untuk Han Li yang menyewanya…..
********************
Beberapa pekan telah lewat tanpa ada halangan sesuatu yang mengganggu perjalanan Yo Han Li. Pada
suatu pagi tibalah ia di tepi Sungai Kuning di daerah Propinsi Shansi. Niatnya akan pergi ke kota Tai-goan
dan dari sana terus ke kota Peking.
Ia berjalan menyusuri sungai besar itu untuk mencari tumpangan perahu yang akan dapat
menyeberangkannya. Akan tetapi tepi di mana ia tiba itu sangat sunyi, tidak ada dusun nelayan di situ. Dan
perahu-perahu yang sedang berlayar itu berada di tengah sungai sehingga ia tidak dapat menghubungi
mereka.
Tiba-tiba ia melihat seorang kakek sedang memancing ikan. Kakek itu duduk di atas sebongkah batu di tepi
sungai dan memegangi tangkai pancing dari batang bambu kecil, matanya penuh perhatian memandang
joran pancingnya.
Gambar TP2
Memang itulah nikmatnya seorang pemancing ikan. Memperhatikan joran pancingnya dengan penuh
harapan dan begitu joran pancingnya bergerak, begitu tangan yang memegang tangkai pancing itu
merasakan sentakan, itu tandanya umpan disambar ikan dan pada saat yang tepat menggerakkan tangkai
pancingnya ke atas supaya pancing dapat menusuk mulut ikan!
Han Li tidak mengerti tentang seni memancing ikan. Kalau pemancing ikan sedang mencurahkan segenap
perhatian kepada joran pancingnya, dia sama sekali tidak boleh ditegur atau diganggu. Karena tidak tahu,
Han Li menghampiri kakek itu dari belakang dan bertanya, “Kakek yang baik, tahukah engkau di mana aku
bisa menyewa perahu untuk menyeberangkan aku?”
Kakek yang sedang mencurahkan seluruh perhatiannya kepada joran pancingnya serta melupakan segala
yang berada di sekelilingnya itu terkejut dan marah.
“Apakah engkau tidak melihat bahwa aku sedang memancing?!” kakek itu membentak tanpa menoleh.
Han Li sangat terkejut. “Maafkan kalau aku mengganggu. Kalau engkau dapat memberi keterangan padaku
di mana aku dapat menyewa perahu, biarlah aku beri sedikit uang agar engkau dapat membeli ikan, dari
pada susah payah memancing.”
Tapi kakek itu menjadi lebih marah lagi. “Aku tidak butuh ikannya! Aku membutuhkan ketenangan
memancingnya. Kalau aku ingin ikan, tidak usah membeli. Dan kalau hanya menangkap ikan, apa sih
sukarnya? Kau lihat!”
Tiba-tiba kakek itu menggerakkan ujung tangkai pancingnya ke dalam air seperti orang menusuk dengan
tombak. Ketika dia mengangkat tangkai pancing itu... di ujung tangkai dari bambu itu sudah tertusuk seekor
ikan besar yang menggelepar-gelepar.
Han Li terkejut sekali. Ia maklum bahwa kakek ini seorang yang berkepandaian tinggi, maka ia memberi
hormat dan berkata, “Harap Locianpwe suka memaafkan kalau aku sudah mengganggu ketenangan
Locianpwe.”
“Enak saja mengganggu ketenanganku, engkau bahkan sudah menghilangkan seleraku memancing!”
Kakek itu melemparkan ikan dan tangkai pancingnya ke air, lalu membalikkan tubuhnya sambil melompat
berdiri. Ternyata kakek itu gemuk dan pendek sekali, bahkan masih kalah tinggi dibandingkan Han Li.
Wajahnya seperti kanak-kanak, telinganya lebar dan matanya kemerahan. Wajah itu mendatangkan rasa
ngeri dalam hati Han Li.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketika kakek itu melihat Han Li, matanya terbelalak dan mulutnya menyeringai. “Aha, kiranya yang
menggangguku adalah seorang gadis yang cantik jelita. Nona, engkau ini manusia ataukah penunggu
sungai ini?”
Dalam ucapan dan pandang mata kakek itu terkandung keceriwisan seorang yang mata keranjang, maka
Han Li lalu memutar tubuhnya hendak pergi dari situ tanpa menjawab pertanyaan tadi. Akan tetapi ketika ia
memutar tubuh dan baru melangkah, tiba-tiba ada bayangan orang melewatinya dan tahu-tahu kakek itu
telah berdiri di depannya.
“Ho-ho-ho, nanti dulu, Nona. Engkau sudah menggangguku dan sekarang hendak pergi begitu saja? Tidak
bisa, tidak boleh! Engkau harus dihukum untuk gangguanmu tadi.”
“Locianpwe, atas kesalahan itu aku tadi telah minta maaf dan bersedia untuk mengganti kerugianmu.
Harap Locianpwe tidak menghalangiku dan biarkan aku pergi melanjutkan perjalananku.”
“Ha-ha-ha, enak saja! Orang yang telah menggangguku selagi memancing, seharusnya dihukum mati.
Akan tetapi melihat engkau begini cantik, biarlah hukuman itu kuubah. Engkau tidak akan kuhukum mati,
tetapi harus menjadi pelayanku selama satu minggu!”
“Engkau keterlaluan, Locianpwe. Aku tak mau menjadi pelayanmu walau hanya sehari, apa lagi seminggu.”
“Hemmm, keputusan hukumanmu tidak dapat diubah lagi. Mau atau tidak engkau harus menjadi pelayanku
selama seminggu.”
“Aku tidak sudi dan harap jangan halangi aku pergi!” kata Han Li dengan marah.
Han Li lalu membalikkan tubuh lagi untuk meninggalkan kakek pendek gemuk itu. Akan tetapi kembali ada
bayangan berkelebat dan tahu-tahu kakek itu kembali telah berada di depannya, mengembangkan kedua
lengannya sambil menyeringai.
“Engkau tidak boleh pergi sebelum aku membebaskanmu!” katanya.
Han Li menjadi marah sekali. Dengan tangan kirinya dia mendorong pundak kakek itu sambil mengerahkan
tenaga sinkang-nya. Akan tetapi betapa terkejutnya Han Li ketika tangannya bertemu dengan pundak yang
sekokoh baja dan tubuh itu sama sekali tidak tergoyangkan dorongannya!
“Ha-ha-ha, mana bisa engkau menyuruhku pergi?” Kakek itu mengejek.
Dalam kemerahannya, Han Li lalu menggunakan tangan kanannya untuk menampar dada kakek itu.
Tamparannya ini kuat sekali karena ia mengerahkan tenaga sinkang.
“Wuuuuuttt...plakkk!”
Untuk kedua kalinya ia terkejut dan merasa heran. Tamparannya tadi demikian kuatnya sehingga akan
mampu menghancurkan sebongkah batu. Akan tetapi ketika mengenai dada kakek itu, pukulannya itu tidak
berarti sama sekali, tenaga sinkang-nya bagaikan tenggelam dan hilang sendiri. Ini hebat! Karena maklum
bahwa ia berhadapan dengan seorang kakek sakti yang agaknya berniat jahat terhadap dirinya, Han Li lalu
menyerang dengan ilmu silat Ang-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Merah) yang dipelajari dari ibunya!
Kakek itu pun mengeluarkan seruan heran dan tubuhnya demikian cepatnya mengelak ke sana sini, lalu
dia berseru sambil meloncat ke belakang. “Hei, bukankah ini Ang-ho Sin-kun? Apa hubunganmu dengan Si
Bangau Merah?”
Han Li merasa bangga bahwa kakek ini mengenal ilmu silat ibunya. “Beliau adalah ibu kandungku!”
“Ho-ho-ho, kebetulan sekali, tidak dapat menghajar ibunya, anaknya pun boleh mewakili ibunya. Nah, kini
hukumanmu ditambah lagi. Engkau harus menjadi pelayanku selama satu bulan penuh. Sama sekali tidak
boleh ditawar-tawar lagi dan kelak engkau boleh bercerita kepada Si Bangau Merah bahwa engkau pernah
menjadi pelayanku selama satu bulan! Ha-ha-ha!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kakek yang sesat! Kalau ayahku mengetahui hal ini, engkau tentu akan dihajar sampai setengah mampus!
Ayah kandungku adalah Pendekar Tangan Sakti Yo Han!”
“Ha-ha-ha, itu aku sudah tahu karena aku pernah mendengar bahwa Si Bangau Merah telah menikah
dengan Si Tangan Sakti. Karena itu, sampai hari ini perasaan penasaran di hatiku kupendam saja. Dan
sekarang engkau muncul tanpa kusangka-sangka. Biarlah rasa penasaran ini kutumpahkan kepadamu!”
“Apa kesalahan ibuku sehingga engkau hendak membalas dendam melalui penghinaan atas diriku?”
“Dulu, pada waktu mudanya, Si Bangau Merah pernah mencampuri satu urusanku dan membikin malu
diriku sehingga belasan tahun aku tak ada muka untuk muncul di dunia kang-ouw. Akan tetapi sekarang,
ha-ha-ha, biar dia dibantu suaminya, aku tidak akan merasa gentar. Nah, hayo cepat berlutut dan beri
hormat kepada majikanmu!”
“Aku tidak sudi!” jawab Han Li.
“Kalau begitu aku akan memaksamu berlutut!”
Kakek itu kemudian menggerakkan tangan kirinya ke arah pundak Han Li. Han Li cepat mengelak, akan
tetapi tetap saja merasa pundaknya dilanda angin yang mengandung hawa panas. Ia meloncat ke
belakang dan cepat mencabut pedangnya.
“Kalau engkau tidak menghentikan perbuatanmu, terpaksa pedangku ikut bicara!”
“Ha-ha-ha-ha, pedang mainan kanak-kanak itu hendak kau pakai untuk menakut-nakuti aku? Ha-ha-ha-hoho!”
Han Li maklum bahwa kakek ini sudah nekat, maka ia kemudian memainkan ilmu silat Koai-liong Kiam-sut
(Ilmu Pedang Naga Siluman) yang ia pelajari dari ibunya pula. Ilmu pedang ini hebat bukan main. Saat ia
menggerakkan pedangnya, pedang itu mengaum seperti seekor singa marah. Pedangnya berkelebatan
dan membentuk gulungan sinar pedang yang dahsyat.
Ilmu pedang ini berasal dari Lembah Naga Siluman yang dikuasai oleh Kam Hong. Kam Hong
mengajarkan kepada puterinya, Kam Bi Eng dan Kam Bi Eng menurunkan kepada Tan Sian Li Si Bangau
Merah. Kini Tan Sian Li menurunkan kepada puterinya, Yo Han Li.
Sebetulnya, ilmu pedang ini merupakan gabungan ilmu pedang dan ilmu silat suling dan biasanya Tan Sian
Li memainkannya dengan sebatang suling berselaput emas. Akan tetapi Yo Han Li tidak suka
menggunakan suling, maka oleh ibunya lalu diganti pedang. Walau pun dengan pedang ilmu itu menjadi
Ilmu Pedang Naga Siluman, namun unsur-unsur ilmu Suling Emas masih terkandung di dalamnya, maka
kehebatannya luar biasa.
Kakek itu berilmu tinggi karena sesungguhnya dia adalah seorang tokoh datuk selatan yang berjuluk Lamhai
Koai-jin (Orang Aneh Laut Selatan). Walau pun usianya sudah enam puluh tahun namun wajahnya
seperti kanak-kanak dan wataknya keras, bahkan dia mempunyai watak mata keranjang pula.
Melihat Han Li yang demikian cantiknya, timbul nafsunya dan ingin dia mempermainkan gadis itu. Apa lagi
ketika mendengar bahwa gadis itu puteri Si Bangau Merah, nafsunya makin menjadi.
Dahulu, dua puluhan tahun yang lalu, ketika dia masih bertualang di selatan, pernah dia bertemu dengan Si
Bangau Merah dan hendak mempermainkannya. Akan tetapi dia lalu dikalahkan oleh pendekar wanita itu.
Karena itu, kini dia hendak membalas dendamnya kepada puteri musuh besarnya itu.
Namun, menghadapi permainan pedang Han Li, kakek itu menjadi sibuk dan kewalahan juga. Setelah
berloncatan mundur dan kadang ke kanan kiri untuk mengelak, akhirnya dia menyambar tangkai
pancingnya dan dengan senjata istimewa ini dia lalu melakukan perlawanan.
Tangkai pancing dari bambu itu bersiutan menyambar-nyambar dan dapat dipergunakan untuk menangkis
pedang lawan tanpa khawatir patah atau putus. Juga tangkai pancing itu lebih panjang dari pedang
sehingga kakek itu lebih leluasa menyerang Han Li.
dunia-kangouw.blogspot.com
Gadis ini terkejut bukan main. Ia memang sudah menduga bahwa kakek itu lihai sekali, akan tetapi sama
sekali tidak mengira bahwa dengan tangkai pancing bambu seperti itu kakek itu mampu melawan, bahkan
mendesak dirinya! Ujung tangkai itu kini menyerang dengan totokan-totokan ke arah jalan darahnya. Selain
itu, juga tangkai pancing itu terus berputar-putar bagai dayung lebar dan ujungnya seperti seekor lebah
yang mengancam kepala dan lehernya.
Pada saat yang amat gawat bagi Han Li, tiba-tiba terdengar suara tawa terkekeh-kekeh, “Heh-heh-heh,
datuk Lam-hai Koai-jin sekarang sudah menjadi seorang pengecut yang menyerang seorang gadis yang
pantas menjadi cucunya!”
Mendengar suara tawa ini, kakek itu segera menahan gerakan tangkai pancingnya dan kesempatan ini
dipergunakan oleh Han Li yang sudah terdesak itu untuk melompat ke belakang.
Ternyata yang datang dan tertawa itu adalah seorang laki-laki berusia enam puluhan tahun. Tubuhnya
tinggi kurus seperti orang yang kurang makan, pakaiannya juga penuh tambalan walau pun bersih dan
tangannya memegang sebatang tongkat bambu. Dari pakaiannya saja sudah dapat diduga bahwa kakek ini
seorang pengemis. Rambutnya yang sudah putih semua dibiarkan tergantung di sekeliling pundak dan
lehernya.
Melihat pengemis tua ini, Lam-hai Koai-jin terkejut dan segera mengenalnya.
“Lu Tong Ki, gembel tua bangka busuk, mau apa engkau mencampuri urusanku? Gadis ini telah
mengganggu aku yang sedang enak-enak memancing ikan, maka perlu kuberi hukuman. Bukankah itu
sudah adil?”
“Memang adil, heh-heh-heh. Akan tetapi bagaimana caranya gadis ini mengganggumu dan hukuman apa
yang hendak kau berikan kepadanya?”
“Ia mengganggu ketenanganku memancing ikan.”
“Dia bohong, Kek!” Han Li cepat berkata. “Aku hanya menghampiri dia dan bertanya di mana aku bisa
mendapatkan tukang perahu untuk menyeberangkan aku ke seberang sana. Tahu-tahu dia marah dan
menyerangku!”
“Heh-heh-heh, dan hukuman apa yang akan kau berikan kepada Nona ini, Koai-jin?”
“Aku hanya minta agar ia menjadi pelayanku selama beberapa hari...”
“Tidak begitu, Kek. Tadi dia minta aku berlutut di depannya sebagai majikanku dan dia hendak menjadikan
aku pelayannya selama satu bulan!” kata pula Han Li dengan suara nyaring.
“Wah-wah-wah, ini sudah keterlaluan sekali namanya. Tidak malukah engkau, Koai-jin, menghina dan
mengganggu seorang gadis muda seperti itu?”
“Kai-ong (Raja Pengemis), jangan engkau usil dan mencampuri urusanku atau terpaksa aku harus
menghajarmu pula!”
Kakek yang bernama Lu Tong Ki yang berjuluk Kai-ong itu tertawa panjang. “He-he-heh! Engkau hendak
menghajarku? Sejak kapan engkau berani mengeluarkan kesombongan seperti itu? Dan bagaimana
caranya engkau hendak menghajarku? Dengan apa?”
“Tentunya dengan ini!” Lam-hai Koai-jin berteriak marah sambil menggerakkan tangkai pancingnya.
Kalau tadi ketika melawan Han Li dia menggenggam pancingnya sehingga pancing itu tidak akan melukai
Han Li. Sekarang dia melepaskan pancingnya sehingga ketika dia menyerang, pancing yang berupa kaitan
besi kecil menyambar dahsyat ke arah muka Kai-ong.
Akan tetapi Lu Tong Ki bersikap tenang sekali. Begitu pancing itu menyambar dekat, tongkat bambu di
tangannya bergerak.
“Trakkk!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Pancing itu terpental ketika tertangkis tongkat bambu itu dan selanjutnya kedua kakek itu saling menyerang
dan tubuh mereka berkelebatan dengan cepat sekali. Bagi orang biasa yang melihatnya, tentu tidak akan
mampu mengikuti gerakan mereka karena dua orang itu seperti berubah menjadi bayang-bayang saja.
Akan tetapi Han Li sudah mencapai tingkat tinggi dalam ilmu silat, karena itu ia dapat mengikuti gerakan
mereka dan ia merasa kagum bukan main. Kedua orang kakek itu menggunakan kecepatan gerakan
mereka untuk mendapat kemenangan dan agaknya dalam hal ilmu ginkang (ilmu meringankan tubuh)
keduanya seimbang. Nampaklah sinar tongkat bergumul dengan sinar tangkai pancing, sedangkan
pancingnya sendiri sudah sejak tadi putus talinya.
Karena tidak mampu menang dalam hal kecepatan gerakan, Lam-hai Koai-jin kemudian memperlambat
gerakannya dan kini dia menggerakkan tangkai pancingnya dan juga menggerakkan tangan kirinya yang
terisi penuh tenaga sinkang. Melihat ini, Lu Tong Ki juga mengimbangi lawan dan dia pun mengerahkan
tenaga sinkang untuk menandingi pukulan Koai-jin. Mereka ini saling pukul dan suara pukulan mereka
menderu-deru, membuat pepohonan di sekeliling mereka bergoyang dan daunnya runtuh berguguran.
Dengan penasaran sekali Koai-jin melempar tangkai pancingnya, dan kini tubuhnya berjongkok. Tubuh
yang pendek itu berjongkok sampai pantatnya hampir menyentuh tanah. Dalam keadaan berjongkok itu dia
memukulkan kedua tangannya yang terbuka ke depan, dan dari dalam mulutnya terdengar suara nyaring
sekali.
“Kok-kok-kok!”
Han Li merasa geli karena sikap dan suara Koai-jin seperti seekor katak besar yang menggembung
perutnya.
Akan tetapi agaknya Kai-ong tidak memandang rendah serangan seperti katak besar ini. Dia pun
menancapkan tongkatnya ke atas tanah, menekuk kedua lututnya dan dia juga mendorongkan kedua
tangannya untuk menyambut serangan lawan.
Jarak di antara mereka ada sekitar dua meter, akan tetapi ketika dua tenaga dahsyat itu bertemu, Han Li
merasa ada getaran hebat melanda dirinya sehingga ia cepat duduk bersila dan mengarahkan sinkang
agar jangan sampai terluka. Ia melihat betapa kedua orang kakek itu tergetar, akan tetapi tubuh Koai-jin
kemudian terpental dan bergulingan ke belakang, sedangkan tubuh Kai-ong hanya bergoyang-goyang saja.
Lam-hai Koai-jin terpental masuk ke dalam sungai. Terdengar suara berjebur, kemudian tubuhnya lenyap
ditelan air. Han Li cepat berlari ke tepi sungai dan melihat. Ternyata tubuh itu tidak tersembul kembali.
“Ahh, dia mati Kek...?” tanyanya kepada Kai-ong yang juga sudah berdiri di dekatnya memandang ke air
sungai yang dalam itu.
“He-he-heh, dia mati? Hemmm, agaknya engkau masih belum mengenal siapa adanya Lam-hai Koai-jin.
Dia datuk besar Laut Selatan, bagaimana bisa mati tercebur ke dalam sungai? Tidak, saat ini dia pasti
sudah muncul jauh dari sini, entah berapa jauhnya karena ketika tercebur tadi, dia menyelam. Dia memang
seekor katak buduk besar yang lihai!”
“Ahhh...!” Gadis itu berseru kagum. “Akan tetapi engkau telah dapat mengalahkannya, Locianpwe!”
Han Li menyebut locianpwe untuk menghormati kakek pengemis yang ternyata sangat sakti itu.
“Heh-heh-heh, jangan sebut aku Locianpwe atau aku tidak akan sudi bicara denganmu. Namaku Lu Tong
Ki, sebut saja aku kakek atau Kai-ong karena memang itu julukanku. Jelek-jelek aku ini raja lho, walau pun
hanya raja pengemis, heh-heh-heh!”
“Baiklah, aku akan menyebutmu Kakek atau Kai-ong. Aku merasa berterima kasih sekali kepadamu,
Kakek, karena kalau engkau tidak datang mengusir Katak Buduk itu, entah apa jadinya dengan diriku.”
Kai-ong menggeleng-geleng kepalanya dan mulutnya mengeluarkan suara berdecak, baru kemudian da
berkata, “Engkau tentu akan celaka sekali! Katak Buduk itu memang jahat, orang yang paling jahat di
selatan dan sampai tua tetap saja dia mata keranjang dan jahat sekali. Akan tetapi aku melihat ilmu
pedangmu hebat sekali, dan ilmu pedang seperti itu setahuku hanyalah Koai-liong Kiam-sut. Benarkah
demikian?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Pandanganmu tajam sekali, Kek. Memang benar aku tadi memainkan jurus-jurus dari Koai-liong Kiamsut.”
“Aha! Kalau begitu, apa hubungannya dengan Lembah Naga Siluman? Bukankah ilmu itu milik Pendekar
Suling Emas dan Naga Siluman, Locianpwe Kam Hong?”
“Beliau adalah kakek buyutku, Kek.”
Raja Pengemis itu nampak girang bukan main. “Kalau begitu sudah tentu engkau puteri Si Bangau Merah
dan Pendekar Tangan Sakti, bukan?”
“Benar sekali.”
“He-he-heh, pantas saja Katak Buduk tadi hendak menghinamu karena aku mendengar dia pernah
dikalahkan oleh ibumu.”
“Dia tadi juga mengatakan demikian, Kek.”
“Engkau hendak ke manakah dan siapa pula namamu?”
“Namaku Yo Han Li, dan aku sedang dalam perjalanan menuju ke kota raja. Aku tadi mencari tukang
perahu untuk menyewa perahunya menyeberangi sungai ini.”
“Wah, kebetulan sekali jika begitu. Aku pun hendak ke kota raja, sudah terlalu lama aku tidak menikmati
masakan di dapur istana. Aku mempunyai sebuah perahu kecil. Tuh di sana perahuku. Han Li, maukah
engkau menyeberang bersamaku kemudian melakukan perjalanan bersamaku ke kota raja?”
“Tentu saja aku mau, Kek. Akan tetapi...” Ia memandang pakaian kakek itu. “Aku tidak mau kalau kau ajak
mengemis. Aku membawa bekal uang cukup banyak.”
"Ha-ha-ha, jangan khawatir. Biar pun pengemis, tetapi aku ini rajanya, tahu? Mana ada seorang raja yang
pekerjaannya mengemis?”
“Akan tetapi pakaianmu itu, Kek. Penuh tambalan. Biar nanti kubelikan pakaian yang lebih pantas
untukmu.”
“Oho, kau kira yang kupakai ini pakaian apa? Ini adalah pakaian kebesaranku sebagai Raja Pengemis,
tahukah engkau? Biar ditukar dengan pakaian kaisar sekali pun, aku tidak akan mau. Dan di dalam
buntalan ini masih ada beberapa stel pakaian kebesaran. Jangan khawatir, aku setiap hari mandi dan
bertukar pakaian. Biar pengemis, aku bukan pengemis busuk, heh-heh-heh!”
Wajah Han Li berubah kemerahan. “Aku pun tidak mengatakan engkau demikian, Kek. Akan tetapi, orang
melakukan perjalanan harus ada hubungannya. Sedangkan aku tidak mempunyai hubungan apa pun
denganmu. Bagaimana kalau aku menyebut suhu dan menjadi muridmu? Sebagai suhu dan muridnya,
tentu tidak aneh melakukan perjalanan bersama.”
Kakek itu tertawa dan menudingkan telunjuknya ke arah muka Han Li. “Gadis cerdik, engkau ingin aku
mengajarkan ilmu silat kepadamu? Bagaimana kalau kelak Pendekar Tangan Sakti dan Si Bangau Merah
mengetahui? Tentu mereka akan menjadi marah kepadaku.”
“Tidak, aku jamin. Kalau orang tuaku bertanya, aku akan mengaku bahwa akulah yang ingin menjadi
muridmu, bukan engkau yang minta aku menjadi muridmu.”
“Heh-heh-heh, engkau memang cerdik sekali.”
Melihat kakek itu tidak membantah lagi, Yo Han Li lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kakek itu
sambil menyebut ‘suhu’. Lu Tong Ki segera membangunkan Han Li.
“Sudahlah, tak perlu memakai banyak peradatan. Aku memang suka menerima engkau menjadi murid.
Engkau puteri sepasang pendekar besar dan engkau berbakat sekali. Akan tetapi, dari semua ilmuku yang
dunia-kangouw.blogspot.com
dapat menandingi ilmu-ilmumu hanya sebuah saja, yaitu Ta-kwi-tung (Tongkat Pemukul Iblis). Itulah yang
akan kuajarkan kepadamu sambil melakukan perjalanan ke kota raja.”
"Terima kasih, Suhu.”
“Nah, sekarang mari kita seberangi sungai ini, Han Li.” kata kakek itu sambil meloncat ke dalam sebuah
perahu kecil yang berada di pantai.
Kiranya kakek itu tadi datang berperahu. Han Li juga menyusul Lu Tong Ki meloncat ke dalam perahu.
Kalau tadi ketika kakek itu meloncat, perahu sama sekali tidak bergoyang seolah yang hinggap di perahu
itu hanya seekor burung. Tetapi ketika Han Li meloncat, perahu itu bergoyang sedikit. Ini saja menunjukkan
bahwa dalam hal ginkang, kakek itu telah memiliki ilmu yang tinggi sekali.
Karena perahu itu hanya mempunyai sebuah dayung, Han Li lalu meminta dayung itu dari gurunya dan
sebagai seorang murid yang baik, dialah yang mendayung perahu itu menyeberang ke pantai timur. Lu
Tong Ki tidak membantah dan membiarkan muridnya mendayung perahu itu.
Perahu itu pun meluncur dengan cepatnya karena Han Li mengerahkan sinkang untuk mendayung perahu
itu…..
********************
Ketika perahu itu tiba di seberang sungai, dari perahu mereka dapat melihat seorang wanita berpakaian
putih sedang dikeroyok oleh belasan orang yang memegang pedang. Wanita itu bersenjatakan sabuk
sutera putih dan gerakannya ringan bagaikan seekor burung bangau putih.
Namun, belasan orang pengeroyoknya itu membentuk barisan pedang yang lihai sekali sehingga wanita itu
agaknya berada dalam keadaan cukup berbahaya. Ke mana pun dia bergerak, selalu dia bertemu dengan
pedang para pengeroyok yang sudah mengepung dirinya dengan barisan yang teratur rapi.
Kai-ong Lu Tong Ki berkata kepada Han Li. “Han Li, kalau melihat perkelahian itu, apa yang akan kau
lakukan? Kau hendak membantu pihak yang mana?”
Han Li berdiri di perahu dan memandang sejenak.
“Aku akan melerai dan menegur belasan orang yang mengeroyok seorang wanita itu, Suhu. Kalau mereka
tidak mau menurut, tentu aku akan membantu wanita itu. Ia amat lihai, akan tetapi para pengeroyoknya
menggunakan barisan yang amat kuat.”
“Engkau benar dan lakukanlah!” kata kakek pengemis itu sambil tersenyum.
Mendengar ucapan gurunya, Han Li segera melompat ke darat dan berlari menghampiri mereka yang
sedang bertanding. Setelah mencabut pedangnya, Han Li menerjang para pengeroyok sambil berseru,
“Tahan senjata!”
Dua orang pengeroyok yang pedangnya bertemu dengan Han Li terkejut karena pedang mereka terpental,
hampir terlepas dari pegangan. Yang lain lalu berhenti mengeroyok gadis berpakaian putih yang bukan lain
adalah Souw Cu In itu.
“Berhenti dulu!” kata Han Li sambil memandang kepada Cu In. “Kalian ini belasan orang laki-laki mengapa
mengeroyok seorang wanita? Itu curang namanya!”
“Siapa kau berani mencampuri urusan kami?”
“Tidak peduli aku siapa, akan tetapi kalau melihat kecurangan aku tidak akan tinggal diam. Kalau kalian ini
bertanding satu lawan satu aku tentu tidak akan campur tangan.”
“Perempuan ini lancang. Hajar saja!” terdengar teriakan mereka.
Kembali mereka bergerak dengan teratur dan menggerakkan pedang untuk menyerang. Akan tetapi sekali
ini bukan hanya Cu In yang dikeroyok, melainkan juga Han Li.
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Li menggerakkan pedangnya dan Cu In menggerakkan sabuk suteranya. Gerakan dua orang gadis ini
begitu hebatnya sehingga barisan pedang itu mulai menjadi kacau.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring. Semua pengeroyok mengundurkan diri mendengar
bentakan ini dan di situ telah muncul seorang kakek berusia enam puluhan tahun yang memegang
sebatang tongkat dan mendatangi tempat itu dengan terpincang-pincang. Ternyata kaki kiri kakek ini
timpang sehingga jalannya terpincang-pincang.
Melihat kakek itu, Cu In amat terkejut karena dia mengenal kakek itu sebagai Toat-beng Kiam-sian Lo Cit
yang amat lihai itu. Baru-baru ini dia dan Keng Han dapat meloloskan diri dari pengeroyokan kakek ini
bersama anak buahnya.
Tadi ketika menyeberangi sungai dan di daratan timur bertemu dengan belasan orang itu yang
mengeroyoknya dengan pedang, dia sudah menduga bahwa mereka tentulah anak buah Kwi-kiam-pang.
Agaknya di antara mereka ada yang mengenal dirinya yang pernah bermusuhan dengan Toat-beng Kiamsian
Lo Cit.
“Ha-ha-ha, kiranya engkau!” Kakek itu menuding ke arah Cu In. “Sekarang jangan harap engkau akan
dapat lolos dari tanganku!”
Berkata demikian kakek itu lalu menggerakkan tongkat pedangnya menyerang Cu In. Gadis ini mengelak
dan Han Li membantu, akan tetapi para anak buah Kwi-kiam-pang sudah maju pula mengeroyoknya.
Serangan Lo Cit terhadap Cu In amat hebatnya sehingga dalam waktu pendek saja Cu In sudah terdesak
hebat. Juga Han Li yang dikeroyok anak buah Kwi-kiam-pang yang mernbentuk barisan, kini telah terdesak
pula.
Tiba-tiba terdengar suara tawa orang. “Ha-ha-ha, Pangcu dari Kwi-kiam-pang ternyata hanyalah seorang
pengecut yang mengeroyok dua orang gadis muda!”
Mendengar ucapan itu, Toat-beng Kiam-sian Lo Cit meloncat mundur untuk melihat. Ketika melihat
seorang kakek berpakaian tambal-tambalan, dia mengerutkan alisnya. Dia lalu menudingkan tongkat
pedangnya ke arah muka pengemis itu dan membentak, “Bukankah engkau Lu Tong Ki yang di juluki Kaiong?
Mau apa engkau mencampuri urusan pribadiku?!”
“Heh-heh-heh, tentu saja aku mencampuri karena yang dikeroyok itu adalah muridku. Bebaskan kedua
orang gadis itu dan aku tidak akan mencampuri urusanmu lagi.”
Lo Cit sebetulnya merasa jeri terhadap kakek yang namanya terkenal sekali di antara para datuk itu, akan
tetapi dia berbesar hati karena di situ terdapat belasan orang murid-murid utamanya yang sudah pandai
membentuk barisan pedang yang amat lihai.
“Kalahkan dulu kami kalau engkau ingin bebas!” tantangnya.
Dia pun langsung menggerakkan pedang yang tersembunyi dalam tongkatnya itu untuk menyerang Kaiong.
Melihat pimpinan mereka sudah menyerang kakek pengemis yang baru tiba itu, anak buah Kwi-kiampang
kembali menyerbu ke arah Cu In dan Han Li. Kedua orang gadis itu menggerakkan senjata mereka
masing-masing dan bekerja sama melakukan perlawanan.
Pertempuran antara Lo Cit melawan Kai-ong amat ramai dan hebatnya. Ternyata tingkat kepandaian
mereka seimbang, hanya Kai-ong mempunyai kecepatan yang lebih dari lawannya sehingga serangan
tongkatnya membuat Li Cit agak kewalahan. Biar pun ilmu pedang Lo Cit amat dahsyat, akan tetapi karena
gerakannya kalah cepat, dialah yang terdesak.
Sementara itu, setelah kini dibantu Han Li, Cu In mengamuk dan dapat mendesak para pengeroyoknya.
Anak buah Kwi-kiam-pang yang membentuk kiam-tin (barisan pedang) mulai kacau dan kocar-kacir diamuk
dua orang gadis perkasa itu.
Akan tetapi Kai-ong agaknya maklum bahwa apa bila datang lebih banyak anak buah Kwi-kiam-pang, tentu
keadaan mereka akan menjadi berbahaya sekali. Juga dia pun maklum bahwa Dewa Pedang itu
mempunyai anak perempuan dan murid yang lihai. Kalau mereka datang mengeroyok, kekuatan mereka
bertambah dan tentu dia bersama dua orang gadis itu menjadi repot.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kai-ong memutar tongkatnya dengan cepat, membuat Lo Cit terkejut dan mundur.
“Lo Cit, biarlah lain kali saja kita lanjutkan perkelahian ini, aku masih mempunyai banyak urusan. Han Li
dan engkau Nona, mari kita pergi!”
Sebetulnya Han Li dan Cu In merasa heran mengapa orang tua itu mengajak mereka pergi, padahal
keadaan mereka tidak kalah, bahkan sedang mendesak lawan. Akan tetapi Han Li tidak berani membantah
perintah gurunya.
“Enci, mari kita pergi!” ajaknya kepada Cu In.
Cu In sendiri maklum bahwa tanpa bantuan gadis dan gurunya itu, tentu ia akan celaka di tangan musuh.
Maka ia pun melompat keluar dari gelanggang perkelahian dan pergi mengikuti Han Li yang sudah
melarikan diri bersama gurunya.
Melihat tiga orang itu melarikan diri, Lo Cit yang tahu diri tidak mengejar. Keadaannya tadi sudah sangat
terdesak, jelas kekuatan musuh lebih besar. Mengejar berarti mencari penyakit, maka dia pun tidak mau
mengejar, dan mengajak anak buahnya untuk kembali ke bukit Kwi-san.
Setelah yakin bahwa mereka tidak dikejar, Kai-ong berhenti berlari dan dua orang gadis itu pun berhenti.
Kai-ong tertawa-tawa, “Heh-heh-heh, baru sekali ini aku berlari-larian seperti orang dikejar anjing!”
“Akan tetapi, Suhu. Kita sama sekali tidak kalah, malah kita mendesak lawan, kenapa Suhu mengajak kami
melarikan diri?”
“Benar, Locianpwe, orang-orang Kwi-kiam-pang itu adalah orang-orang jahat yang perlu dihajar. Kenapa
Locianpwe mengajak kami melarikan diri?” bertanya pula Cu In dengan hati penasaran.
“Heh-heh-heh, kalian tahu? Kalau aku mengajak kalian melarikan diri itu adalah untuk keselamatan kalian!
Aku mengenal Kwi-kiam-pang. Selain mereka itu lihai, juga mereka licik dan curang sekali, suka
menggunakan alat-alat rahasia dan jumlah mereka banyak. Kalau yang lain-lain berdatangan, bagaimana
aku akan mampu menyelamatkan kalian. Lebih baik kita pergi selagi mereka terdesak sehingga mereka
tidak berani mengejar, heh-heh-heh!”
“Sudah lama aku mendengar kecerdikan Kai-ong, dan ternyata memang Locianpwe cerdik sekali!” puji Cu
In.
“Ehhh? Engkau mengenal nama julukanku?”
“Sudah lama aku mengenalnya, Locianpwe dan hari ini aku beruntung sekali mendapat pertolongan
Locianpwe dan Adik ini.”
“Enci, tak ada kata tolong-menolong. Sudah menjadi kewajiban kami untuk turun tangan menentang yang
jahat. Enci, namaku Yo Han Li, dan bolehkah kami tahu siapa nama Enci?”
“Hemmm, melihat ilmu pedangmu tadi, engkau tentu puteri dari Pendekar Tangan Sakti Yo Han dan Si
Bangau Merah, bukan?”
“Ahh, Enci ternyata berpandangan luas dan mempunyai banyak pengalaman sehingga mengenal pula ilmu
pedangku. Siapakah engkau, Enci yang baik?”
“Namaku Souw Cu In dari Beng-san.”
“He-he-heh, engkau dari Beng-san? Melihat sepak terjangmu yang hebat dengan sabuk suteramu, tentu
engkau ini murid Ang Hwa Nio-nio. Benarkah?”
Cu In memberi hormat. “Locianpwe berpandangan luas dan tentu mengenal Subo.”
Kai-ong mengerutkan alisnya. “Hemm, siapa yang tidak mengenal Ang Hwa Nio-nio dan muridnya Bi-kiam
Niocu yang tanpa berkedip suka membunuhi orang? Nama mereka terkenal sekali!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendengar ini, Cu In juga mengerutkan alis. Ia sendiri harus mengakui bahwa subo-nya dan suci-nya
sangat kejam terhadap kaum pria. Salah sedikit saja tentu akan mereka bunuh! Ia sendiri tidak demikian
dan selalu menentang perbuatan yang kejam itu, dan karena ini pula ia selalu menyembunyikan mukanya
agar tidak dilihat pria dan tidak ada pria yang tertarik kepadanya, agar dia tidak usah menyakiti atau
membunuh pria itu.
“Subo dan suci memang tersohor, aku lebih suka tidak dikenal orang,“ katanya perlahan dan suaranya
mengandung penyesalan besar. “Sekarang aku harus pergi, dan sekali lagi aku mengucapkan terima kasih
atas pertolongan Ji-wi (Kalian)!” Setelah berkata demikian, gadis berpakaian putih itu lalu berkelebat lenyap
dari situ.
Han Li menghela napas panjang. “Sayang sekali ia pergi. Padahal aku ingin berkenalan lebih lanjut dan
ingin melihat wajahnya, Suhu.”
“Ah, sudahlah. Lebih baik ia lekas pergi dan tidak bersama kita agar kita tidak berurusan dengannya. Ia
menyembunyikan mukanya tentu bukannya tanpa sebab, apa lagi kalau mengingat watak suci dan subonya.”
“Kenapa suci dan subo-nya, Suhu?”
“Mereka adalah pembunuh-pembunuh kejam. Kalau ada laki-laki berani menegur atau memuji, atau
bahkan hanya memandang mereka terlalu lama, laki-laki itu tentu akan dibunuhnya! Mereka itu pembenci
kaum pria yang sudah hampir gila barangkali!”
“Ahhh...! Akan tetapi aku melihat enci Souw Cu In tadi begitu lemah lembut dan aku yakin dia pasti memiliki
wajah yang cantik sekali.”
“Hemmm, siapa tahu? Menurut pengalamanku, wanita yang memiliki wajah cantik tentu selalu ingin
memamerkan kecantikannya itu, bukan malah disembunyikan di balik cadar. Aku ragu apakah ia memiliki
wajah cantik seperti yang kau duga!”
“Akan tetapi, wajahnya bagian atas demikian indahnya, terutama sepasang matanya. Tidak mungkin kalau
dari hidung ke bawah tidak sempurna.”
“Sudahlah, bagaimana pun juga, ia hendak menyembunyikan dirinya di balik cadar. Itu adalah haknya.
Sekarang, mari kita lanjutkan perjalanan kita.”
Guru dan murid ini melanjutkan perjalanan dan makin lama Han Li semakin sayang kepada gurunya.
Gurunya bersikap manis budi, lemah lembut dan mengajarkan ilmu tongkat dengan sungguh-sungguh. Dia
merasa seolah melakukan perjalanan bersama kakeknya sendiri…..
********************
Para pendekar serta ketua-ketua perkumpulan persilatan besar semacam Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai dan
yang lain-lain merasa heran sekali melihat sikap Thian It Tosu, ketua Bu-tong-pai yang secara mendadak
begitu bersemangat untuk memberontak terhadap kerajaan Ceng. Dan yang lebih mengherankan mereka
lagi adalah betapa ketua ini kini tidak segan-segan untuk bekerja sama dengan perkumpulan-perkumpulan
sesat seperti Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai.
Bahkan banyak tokoh Bu-tong-pai sendiri merasa heran akan sikap ketua mereka ini. Akan tetapi karena
Thian It Tosu memiliki alasan yang kuat, yaitu untuk berjuang harus menyatukan segala kekuatan, mereka
pun tidak berani membantah.
Pada suatu hari Thian It Tosu memanggil para sute dan muridnya dalam suatu rapat. Ketua Bu-tong-pai ini
masih merasa badannya kurang enak dan kurang sehat sehingga suaranya juga masih parau.
"Pinto merasa tidak sehat, maka untuk memulihkan kesehatan, pinto harus beristirahat dan bersemedhi.
Selama pinto bersemedhi, tidak ada seorang pun boleh mengganggu pinto.”
Para sute dan murid menyatakan setuju dan tidak akan melanggar perintah ketua itu. Thian It Tosu yang
bertubuh tinggi besar itu menghela napas lega.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Masih ada satu pesanan lagi. Kalau dalam beberapa hari ini datang seorang pemuda bernama Gulam
Sang, harap kalian menerimanya sebagai seorang tamu kehormatan dan melayaninya sebaik-baiknya. Dia
adalah seorang tokoh Lama Jubah Kuning yang berilmu tinggi dan dia sudah menjanjikan kerja sama
dengan pinto. Para Lama Jubah Kuning akan menjadi sekutu kita dalam perjuangan.”
Kembali semua orang menyatakan taat akan pesan itu. Dan sejak hari itu Thian It Tosu mengurung diri di
dalam sebuah ruangan tertutup untuk bersemedhi.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Best Cersil

Pecinta Cersil