Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 27 September 2017

Cersil Laris Si Tangan Sakti 2 Kho Ping Hoo

Cersil Laris Si Tangan Sakti 2 Kho Ping Hoo Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil Laris Si Tangan Sakti 2 Kho Ping Hoo
kumpulan cerita silat cersil online
-
Tiba-tiba terdengar suara lantang. "Ahhh, tidak salah lagi. Dia adalah Sin-ciang Taihiap yang pernah
menggemparkan perbatasan barat!"
Semua orang menengok dan ternyata yang bicara itu adalah seorang laki-laki tua yang berjubah pendeta
dan dia bukan lain adalah Hoat Cin-jin, tokoh Go-bi-pai!
"Pinto telah mendengar bahwa Pendekar Tangan Sakti yang tak pernah memperlihatkan mukanya itu
bernama Yo Han, yang dulu pernah membantu para pendeta Lama di Tibet meredakan pemberontakan!"
Kini semua orang memandang lagi kepada Yo Han dan mereka tertegun. Mereka sudah mendengar
kebesaran nama Sin-ciang Taihiap (Pendekar Tangan Sakti) yang membuat gempar di daerah barat itu,
seorang pendekar yang tidak pernah mau memperlihatkan mukanya sehingga hanya dikenal namanya
saja.
Juga Siangkoan Kok sudah pernah mendengar nama Sin-ciang Taihiap, maka kini dia memandang kepada
Yo Han dengan penuh selidik. Sedangkan tokoh Kun-lun-pai dan Siauw-lim-pai tadi terpaksa mengakui
kekalahan mereka dan mereka kembali ke tempat duduk masing-masing. Siangkoan Kok kini maju
menghampiri Yo Han.
"Saudara Yo Han, benarkah engkau ini yang berjulukan Sin-ciang Taihiap?" tanya ketua Pao-beng-pai itu.
Yo Han menghadapi pria tinggi besar yang gagah perkasa itu. "Memang benar, Pangcu. Akan tetapi orang
terlalu membesarkannya. Aku bukanlah seorang pendekar seperti tiga keluarga besar itu! Aku hanya ingin
menyadarkan orang-orang kang-ouw yang tersesat dan mengganggu rakyat, agar mereka itu tidak
memusuhi rakyat melainkan memusuhi pemerintah Mancu dan antek-anteknya. Pernahkah Pangcu
mendengar aku membunuh seorang kang-ouw seperti yang dilakukan para anggota tiga keluarga besar
itu? Tidak, yang kumusuhi bukanlah orang-orang kang-ouw melainkan pemerintah Mancu bersama antekanteknya.
Karena itulah, maka aku sengaja datang untuk bekerja sama dengan orang-orang seperjuangan
dan sehaluan."
Banyak di antara para tamu, orang-orang kang-ouw yang sudah mendengar akan sepak terjang Sin-ciang
Taihiap, menyambut ucapan itu dengan gembira. Hanya mereka yang merasa dekat dengan keluarga para
pendekar Pulau Es, Gurun Pasir dan Lembah Naga saja yang memandang dengan wajah muram. Pemuda
itu sungguh merupakan bahaya bagi para pendekar, terutama mereka yang tidak menentang pemerintah
Mancu.
Sedangkan Siangkoan Kok justru merasa gembira bukan main. Inilah orang yang akan menjadi sekutu
yang sangat berguna baginya. "Yo-sicu (orang gagah Yo), sudah lama kami mencari seorang sekutu yang
baik dan agaknya engkaulah orangnya. Hayo, aku masih merasa penasaran jika tidak mengukur sendiri
kekuatanmu, biar pun tadi engkau sudah memperlihatkan tenagamu yang dahsyat. Kami akan suka sekali
menjadi kawan seperjuanganmu, Sicu, tetapi lebih dahulu aku ingin menguji kekuatanmu. Bersediakah
engkau?"
"Hemmm, aku mendapatkan kehormatan besar sekali kalau Pangcu dari Pao-beng-pai sendiri suka
memberi petunjuk kepada aku yang muda dan bodoh," kata Yo Han. "Nah, Pangcu, aku sudah siap."
"Bagus, aku pun hanya ingin mengukur tenagamu saja, Sicu. Sambutlah doronganku ini!"
Setelah berkata demikian, ketua Pao-beng-pai itu menekuk kedua lututnya dengan kaki terpentang, lalu
kedua lengannya melakukan dorongan lurus ke depan yang dimulai dari bawah pangkal lengan, kedua
tangannya terbuka, jari-jari tangan sedikit ditekuk dan dari kedua telapak tangannya itu lalu menyambar
hawa pukulan dahsyat yang mengeluarkan bunyi berciut dan mengandung hawa dingin!
dunia-kangouw.blogspot.com
Maklum bahwa dia menghadapi serangan pukulan jarak jauh yang amat dahsyat dan berbahaya, Yo Han
juga cepat menekuk kedua lutut dan seperti tadi ketika menyerang dua orang pendeta, dia pun
mengerahkan tenaga dari Bu-kek Hoat-keng dan dari kedua telapak tangannya menyambar hawa pukulan
yang tidak kalah hebatnya.
Dua tenaga yang tidak nampak bertemu di antara mereka dan nampak tubuh mereka tergetar hebat. Yo
Han sengaja tidak menyerang, hanya mempertahankan ketika tenaga lawan mendorongnya, dan ketua
Pao-beng-pai itu merasa betapa dorongannya bertemu dengan perisai yang kokoh kuat seperti batu
karang! Dia kagum bukan main, kemudian mengerahkan seluruh tenaganya mendorong, sedangkan dari
mulutnya terdengar suara menggereng.
Yo Han tetap mempertahankan. Biar tenaga lawan itu kuat sekali, jika dia menggunakan Bu-kek Hoat-keng
dan membalas menyerang, dia merasa yakin akan mampu mengatasi lawan. Namun bukan itu yang
dikehendakinya. Maka, dia pun hanya mempertahankan dan walau pun kedua kakinya tetap memasang
kuda-kuda, namun tubuhnya terdorong sehingga kedua kaki itu tergeser ke belakang sampai tiga kaki!
Melihat hal ini, ketua Pao-beng-pai semakin kagum. Jarang ada tokoh persilatan mampu menahan
dorongannya itu, dan melihat betapa pemuda itu tidak sampai mengangkat kakinya, tidak terjengkang
melainkan hanya kedua kakinya tergeser ke belakang dalam keadaan kuda-kuda yang sama, hal ini saja
membuktikan betapa kuatnya pemuda itu.
Dia pun segera berseru, "Cukup!" dan keduanya menarik tenaga masing-masing.
Siangkoan Kok agak terengah karena tadi dia sudah mengerahkan seluruh tenaga. Yo Han cepat membuat
pernapasannya memburu agar jangan diketahui orang bahwa dia lebih kuat.
"Hebat! Engkau masih muda, tetapi sudah memiliki tenaga yang hebat, Sicu! Cukuplah, biar lain kali saja
kita berlatih silat. Engkau cukup berharga untuk menjadi sekutu kami. Mari Yo-sicu, silakan duduk di atas
bersama kami. Dan engkau juga, Cia-sicu. Engkau pun sudah mampu menandingi puteri kami, bararti
engkau juga cukup berharga dan layak untuk duduk di tempat kehormatan dan semeja dangan keluarga
kami!"
Ketua itu girang bukan main bahwa di antara para tamunya terdapat dua orang pemuda seperti Cia Ceng
Sun dan Yo Han. Tinggal pilih saja salah satu di antara mereka untuk menjadi calon mantu. Keduanya
sama tampannya dan sama gagahnya. Yo Han tentu saja lebih kuat, akan tetapi Cia Ceng Sun lebih
berwibawa dan terpelajar.
Pesta pertemuan itu pun dimulai dengan meriah. Sebagai tamu-tamu kehormatan yang duduk di atas
adalah tokoh besar dunia kang-ouw termasuk para tokoh Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai, Go-bi-pai dan Butong-
pai. Akan tetapi mereka itu duduk di meja lainnya, sedangkan Yo Han dan Cia Ceng Sun duduk
semeja dengan Siangkoan Kok, isterinya dan puterinya.
Apa bila sikap Cia Ceng Sun sopan santun dan sungkan seperti seorang pemuda yang diharuskan duduk
semeja dengan nyonya dan nona rumah, Yo Han menyesuaikan diri dengan perannya sebagai seorang
berandalan kang-ouw. Ia acuh saja, bahkan bersikap agak dingin! Sikap seorang pemuda kang-ouw yang
tinggi hati.
Mula-mula Siangkoan Eng juga kagum bukan main melihat kelihaian Yo Han, apa lagi nama besarnya
sebagai Pendekar Tangan Sakti. Akan tetapi karena sikapnya itu, maka perhatian gadis itu lebih banyak
tertuju kepada Cia Ceng Sun yang bersikap ramah, manis dan pandai membawa diri. Bahkan ibunya pun
lebih suka kepada Cia Ceng Sun dari pada kepada Yo Han.
Karena mereka duduk semeja, mau tidak mau Yo Han terpaksa berkenalan pula dengan Cia Ceng Sun.
Ketua Pao-beng-pai sambil makan minum dan mendengarkan musik dan nyanyian, mencoba untuk
mengorek keterangan tentang riwayat kedua orang pemuda yang menarik hati itu.
Cia Ceng Sun menceritakan bahwa ia adalah seorang yatim piatu yang menerima harta warisan yang
banyak dari mendiang orang tuanya yang hartawan di utara, dan sejak kecil ia suka mempelajari ilmu silat
dari siapa saja sehingga tidak memiliki guru tertentu.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Guru saya banyak sekali, tetapi bukan guru tetap. Ilmu silat apa saja saya pelajari, dan untuk itu saya
telah menghamburkan hampir semua harta peninggalan ayah."
Tentu saja dia berbohong. Yang tidak bohong adalah bahwa dia memang mempelajari ilmu-ilmu silatnya
dari banyak guru, tanpa ada guru tetap. "Sampai sekarang pun, saya merantau untuk menambah
pengetahuan dan meluaskan pengalaman," tambahnya.
Ketika ditanya, Yo Han mengaku bahwa dia juga yatim piatu seperti telah diceritakannya tadi. Tentang ilmu
silat, dia katakan bahwa dia mewarisi ilmu-ilmu ibunya, dan juga dia mempelajari ilmu silat dari para tokoh
Thian-li-pang di Bukit Naga.
"Tadinya, aku dipilih untuk menjadi ketua, akan tetapi karena aku tidak suka terikat, aku lalu menyerahkan
kedudukan itu kepada suheng-ku, Lauw Kang Hui." Dia mengakhiri ceritanya.
Siangkoan Kok memandang kagum. "Jadi Lauw Kang Hui adalah suheng-mu? Pantas saja engkau lihai.
Kami pernah mendapat kehormatan bertemu dengan dua orang tokoh Thian-li-pang yang sakti, yaitu Bantok
Mo-ko dan Thian-te Tok-ong."
Yo Han mengangguk. "Mereka adalah guru-guruku dan kini mereka sudah meninggal dunia."
Mereka makan minum sambil bercakap-cakap dan tidak mengherankan kalau sebentar saja, nampak
keakraban antara Cia Ceng Sun dan Siangkoan Eng. Kebetulan Cia Ceng Sun duduk di sebelah gadis itu,
dan Siangkoan Eng juga bukan seorang gadis pemalu, sehingga mereka pun becakap-cakap
membicarakan ilmu silat.
Dari sikap dan pandang mata gadis itu, Yo Han saja dapat mengerti bahwa gadis itu tertarik kepada Cia
Ceng Sun yang tampan dan gagah. Apa lagi orang tua gadis itu, mereka tentu saja lebih mengetahui.
Selain mengenalkan diri, di dalam pesta perjamuan itu Pao-beng-pai juga menawarkan kerja sama dengan
semua pihak yang menentang penjajah Mancu, tidak peduli mereka itu dari golongan hitam atau putih, dari
kelompok mana pun.
"Untuk mengusir penjajah dari tanah air kita, satu-satunya cara adalah bersatu padu di antara seluruh
golongan. Bila kita bersatu padu, kita akan menjadi kuat dan pemerintah penjajah pasti dapat kita
tumbangkan!" demikian antara lain ketua Pao-beng-pai berkata kepada para tamunya.
Pertemuan itu dibubarkan dengan kesan yang amat baik bagi para tamu. Pao-beng-pai mereka akui,
bahkan kini semua orang tahu bahwa Pao-beng-pai dipimpin oleh keluarga yang mempunyai ilmu
kepandaian tinggi. Semua tamu lalu meninggalkan rumah besar di perkampungan Pao-beng-pai di Bankwi-
kok (Lembah Selaksa Setan) itu. Kecuali Yo Han dan Cia Ceng Sun!
Dua orang pemuda ini menerima undangan khusus dari pihak pimpinan Pao-beng-pai untuk tinggal selama
beberapa hari di situ dengan alasan supaya perkenalan semakin menjadi akrab. Tentu saja hal ini amat
menggembirakan hati Yo Han sebab dia memang ingin sekali memperoleh keterangan tentang penculik
puteri bibinya yang dia harapkan dapat mendengar dari perkumpulan itu.
Juga Cia Ceng Sun merasa girang. Ia melihat bahwa Pao-beng-pai merupakan bahaya besar bagi
pemerintahan kakeknya, maka sebagai seorang pangeran, dia berkewajiban untuk melakukan penyelidikan
yang lebih mendalam agar dia memperoleh bahan untuk membuat pelaporan sehingga pemerintah dapat
diselamatkan dan para pemberontak ini dapat dibasmi. Hanya ada sebuah hal yang membuat hati
pangeran ini gelisah. Yaitu Siangkoan Eng! Dia merasa menyesal sekali, kenapa seorang gadis seperti itu
menjadi puteri kepala pemberontak!
Dua orang pemuda itu masing-masing memperoleh sebuah kamar di bagian belakang, kamar yang cukup
mewah. Dan biar pun mereka mendapatkan kamar sendiri, namun dua pemuda itu maklum bahwa diamdiam
pihak keluarga tuan rumah selalu mengikuti gerak-gerik mereka.
Beberapa orang selalu memasang mata kalau mereka berada di dalam kamar. Hal ini membuat keduanya
berhati-hati dan tidak berani sembarangan bertindak. Juga mereka maklum bahwa betapa pun ramahnya
sikap keluarga tuan rumah, namun agaknya mereka masih belum percaya benar…..
dunia-kangouw.blogspot.com
********************
Pada senja hari itu, mereka duduk berdua saja di ruang depan. Yo Han dan Siangkoan Kok. Sudah dua
hari Yo Han tinggal di rumah keluarga Siangkoan Kok dan dia mulai mengenal ketua itu sebagai seorang
yang memiliki cita-cita besar, yaitu menumbangkan pemerintah Mancu.
Juga ketua itu mulai mengaku bahwa ia adalah keturunan keluarga Kerajaan Beng yang sudah dijatuhkan
pasukan Mancu seratus tahun lebih yang lalu. Ketua Pao-beng-pai ini bercita-cita untuk membangun
kembali Kerajaan Beng!
Yo Han melihat kenyataan bahwa yang dinamakan ‘perjuangan’ oleh Siangkoan Kok ini pada hakekatnya
tiada lain hanyalah suatu usaha balas dendam dan ambisi pribadi. Alangkah banyaknya orang yang
menggunakan kedok perjuangan, demi bangsa, demi rakyat dan sebagainya, yang pada hakekatnya
menyembunyikan kepentingan pribadi.
Siangkoan Kok bukan berjuang melihat penderitaan rakyat, melainkan bercita-cita untuk merampas
kembali kerajaan, dan tentu dia bercita-cita menjadi raja kalau dia berhasil membangun kembali Kerajaan
Beng.
Perjuangan itu baru asli kalau dilakukan oleh seluruh rakyat sebagai akibat penderitaan atau penindasan.
Perjuangan yang mengutamakan rakyat tapi tanpa mengikut sertakan rakyat sendiri, masih diragukan
kemurniannya. Siangkoan Kok tidak mengajak rakyat, melainkan memiliki anak buah sendiri, dan
merangkul orang-orang dari dunia persilatan, baik golongan hitam mau pun putih.
Akan tetapi bagaimana dengan rakyat jelata? Benarkah mereka itu kini dalam keadaan tertindas? Yang dia
tahu, biar pun Kaisar Kian Liong seorang Mancu, namun dia dikenal sebagai seorang kaisar yang
bijaksana, yang membangun dan berusaha memakmurkan rakyat, bukan dengan jalan penindasan. Karena
itu, nama kaisar itu harum di kalangan rakyat, bukan sebagai kaisar penindas.
Yo Han setuju sekali jika pemerintah dipegang oleh bangsa sendiri, bukan oleh bangsa Mancu. Akan
tetapi, dia tidak setuju kalau untuk menumbangkan kekuasaan pemerintah penjajah itu diadakan
pemberontakan-pemberontakan kecil di sana sini yang bukan lain merupakan ambisi pribadi dari
pemimpin-pemimpin kelompok yang tidak puas dan yang mencari kekuasaan bagi diri sendiri.
Pemberontakan kecil semacam itu hanya akan menyengsarakan rakyat belaka. Seperti halnya yang
sudah-sudah, gerombolan pemberontak itu selalu mengganggu rakyat pula. Seperti Pek-lian-pai, Pat-kwapai,
bahkan Thian-li-pang juga pernah menyeleweng.
Kalau perkumpulan yang bertujuan menumbangkan penjajah itu dimasuki orang-orang dari golongan sesat,
sudah pasti akan terseret ke dalam kejahatan dan mengganggu rakyat dengan dalih perjuangan! Dan dia
tidak setuju sama sekali!
Jika ada pemimpin sejati yang dapat membangkitkan rakyat untuk menentang penjajah, maka dia siap
untuk berdiri di barisan terdepan! Akan tetapi karena kehadirannya di Pao-beng-pai bukan untuk urusan
pemberontakan, melainkan dalam usahanya mencari jejak penculik puteri bibinya, ia pun tak banyak
membantah ketika mendengarkan ketua itu bicara penuh semangat tentang gerakannya.
"Nah, bagaimana pendapatmu, Yo-sicu? Setelah engkau mendengarkan semua cita-cita dan rencanaku,
bersediakah engkau bekerja sama dengan kami, baik engkau pribadi mau pun engkau sebagai pimpinan
Thian-Li-pang? Kita akan berjuang bahu-membahu, menumbangkan penjajah dan kelak kita bersama pula
yang akan memetik buahnya, kita yang akan menikmati hasilnya."
Nah, mulai tersembul sedikit setan itu, pikir Yo Han. Kita yang akan memetik buahnya, menikmati hasilnya!
Jadi, apa yang dinamakan perjuangan itu hanya merupakan suatu cara untuk dapat mendatangkan atau
menghasilkan buah yang nantinya bisa dinikmati! Dia menahan diri untuk tidak mengucapkan suara hatinya
yang ingin membantah dan mencela.
"Pangcu (Ketua)..."
“Aihh, sesudah kita bergaul begini akrab sebagai kawan seperjuangan, engkau tak perlu lagi menggunakan
sebutan yang asing itu. Sebut saja paman kepadaku, Yo Han!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Hemmm, orang ini memang pandai mempergunakan orang lain, pandai memanfaatkan tenaga orang lain
dengan sikap yang amat menyenangkan.
"Terima kasih, Paman Siangkoan Kok. Pengangkatan ketua di Thian-li-pang sendiri aku tolak. Bukan
karena aku tidak suka kedudukan, melainkan karena aku ingin bebas agar aku dapat melakukan balas
dendam untuk kematian ayah ibuku. Mereka tewas karena dijerumuskan oleh Setan Cilik (Siauw Kwi) Can
Bi Lan! Sebaiknya aku dalam keadaan bebas dan tidak terikat dalam usahaku membalas dendam ini. Dan
setelah aku berhasil membunuh Can Bi Lan beserta suaminya, mungkin saat itu barulah aku akan
memimpin Thian-li-pang dan aku akan bekerja sama denganmu."
Siangkoan Kok mengangguk-angguk, lalu dua matanya menatap tajam wajah pemuda itu. "Yo Han,
demikian besarkah kebencianmu terhadap Can Bi Lan dan Sim Houw?"
Yo Han balas memandang, memperlihatkan rasa heran dan alisnya berkerut. "Paman, kenapa Paman
masih bertanya lagi? Kalau tidak karena ulah Can Bi Lan dan suaminya, dan seluruh anggota keluarga
Pulau Es, Gurun Pasir, dan Lembah Naga, tentu sampai sekarang ibuku masih menjadi seorang tokoh
kang-ouw yang disegani! Hemmm, kalau saja aku bisa mendapatkan seorang teman yang dapat dipercaya
dan yang mempunyai ilmu kepandaian yang bisa diandalkan, ingin sekali aku mengajaknya untuk
mendatangi suami isteri itu dan membunuh mereka!"
Ketua Pao-beng-pai itu tersenyum. "Heh-heh-heh, Yo Han, alangkah mudahnya engkau bicara! Mungkin
kalau hanya Can Bi Lan atau Siauw Kwi, aku atau engkau akan mampu menandinginya bahkan
mengalahkannya. Akan tetapi Sim Houw? Dia adalah Pendekar Suling Naga, dengan suling pedangnya
yang terkenal di seluruh dunia dan sukar dicari bandingnya! Sungguh berbahaya sekali menghadapinya!"
"Aku tidak takut, Paman. Sudah pernah aku berusaha menyerbu mereka, akan tetapi aku seorang diri tidak
mampu mengalahkan mereka. Akan tetapi, kalau saja aku dapat bertemu dengan seseorang yang kucaricari
dan sampai sekarang sayang sekali belum kutemukan, bersama dia rasanya sanggup aku membasmi
keluarga Sim itu!" kata Yo Han penuh semangat.
"Hemmm, siapakah orang itu, Yo Han?"
"Namanya aku tidak tahu, Paman, bahkan aku juga tidak tahu apakah dia pria ataukah wanita. Yang
kuketahui adalah bahwa dia pada dua puluh tahun yang lalu telah berhasil menculik puteri dari Sim Houw
dan Can Bi Lan itu! Apakah Paman mengetahui siapa penculik itu?"
"Hemmm, apakah engkau datang ke sini sengaja hendak mencari penculik itu?"
"Memang telah lama sekali aku mencarinya, Paman. Aku mengunjungi pertemuan yang Paman adakan
untuk mencari tahu tentang penculik itu, dan juga untuk mencari teman sehaluan."
"Kenapa engkau mencari penculik itu?"
"Karena, kalau dia sudah berani menculik puteri suami isteri itu, berarti dia memiliki ilmu kepandaian yang
tinggi dan juga sangat membenci mereka. Nah, dengan orang seperti itu, kalau aku dapat mengajaknya,
kiranya aku akan mampu untuk membalas dendam. Apakah Paman mengetahui siapa orangnya dan di
mana aku dapat bertemu dan bicara dengannya?"
Yo Han sengaja menahan diri dan tidak bertanya tentang anak yang diculik, seolah dia tidak peduli dan
tidak tertarik tentang anak itu. Yang diperlukan adalah si penculik untuk diajak kerja sama!
Ketua Pao-beng-pai menggeleng kepalanya. "Tentang penculikan itu pun baru sekarang aku mendengar
darimu, Yo Han. Bahkan aku pribadi tidak pernah mempunyai urusan langsung dengan Sim Houw dan Can
Bi Lan."
Yo Han mengerutkan alisnya, kecewa. "Kalau Paman tidak tahu, aku akan segera pergi dari sini untuk
bertanya kepada tokoh-tokoh kang-ouw lainnya..."
"Nanti dulu, Yo Han. Kau bilang bahwa jika engkau sudah berhasil menemukan penculik itu dan kau ajak
dia menyerang musuh-musuhmu, engkau akan memimpin Thian-li-pang dan bekerja sama dengan kami?
dunia-kangouw.blogspot.com
Jika memang benar demikian, mungkin saja aku dapat membantumu. Anak buahku banyak, dan kami
memiliki hubungan baik dengan dunia kang-ouw. Kalau kusebar mereka untuk melakukan penyelidikan,
kiraku dalam waktu beberapa hari saja aku bisa menemukan siapa penculik itu."
"Terima kasih, Paman! Sebetulnya aku pun sudah mempunyai pikiran seperti itu, tetapi mana berani aku
membikin repot Paman? Kalau Paman suka membantuku, sungguh aku merasa berterima kasih sekali dan
aku pasti akan membalas budi itu dengan kerja sama!"
"Baiklah, aku akan membantumu. Sekarang juga akan kuperintahkan para anak buah Pao-beng-pai untuk
mencari keterangan dan menyelidiki siapa adanya orang yang telah menculik anak dari Pendekar Suling
Naga. Engkau tunggu saja dan tinggal di sini untuk beberapa hari lagi sampai kita mendapatkan hasilnya.
Nah, mari kita minum, Yo Han!"
Mereka kemudian minum arak, dan tak lama kemudian Siangkoan Kok memanggil para pembantunya. Dia
memerintahkan mereka menyebar anak buah untuk mencari berita tentang penculik anak Pendekar Suling
Naga.
Sementara itu, pada senja hari itu juga, di dalam taman yang luas dari perkampungan Pao-beng-pai,
nampak Siangkoan Eng berjalan-jalan bersama Cia Ceng Sun. Tidak ada seorang pun anggota Pao-bengpai
berani mengganggu atau mendekati kedua orang muda yang berjalan-jalan di taman sambil bercakapcakap
dan nampak akrab sekali itu. Memang kedua orang muda ini saling tertarik dan saling mengagumi.
Siangkoan Eng adalah seorang gadis yang hidup di tengah keluarga kang-ouw. Biar pun ayahnya seorang
bekas bangsawan dan tetap berusaha sekuatnya untuk hidup seperti seorang bangsawan, namun karena
lingkungannya adalah orang-orang kang-ouw yang menjadi anak buah ayahnya, maka dia sudah terbiasa
hidup bebas tanpa ikatan segala macam peraturan.
Maka, sekarang dia dapat bergaul dengan Cia Ceng Sun dengan bebas tanpa rikuh dan sungkan. Bahkan
ayah dan ibunya juga membiarkannya saja karena kedua orang tua ini tak keberatan kalau puteri mereka
bergaul dengan seorang pemuda yang demikian baik seperti Cia Ceng Sun.
Setelah tiba di dekat kolam ikan yang indah, mereka lalu duduk di atas bangku panjang. Tempat itu
memang sangat indah dan romantis. Bunga-bunga beraneka warna mekar semerbak. Di sana-sini telah
dinyalakan lampu-lampu gantung beraneka warna pula dan pada pohon dekat kolam itu tergantung dua
buah lampu berwarna kemerahan sehingga dalam keremangan senja, kedua orang muda-mudi itu nampak
seperti diselimuti cahaya kemerahan.
"Kongcu, sesudah engkau berada di sini selama dua hari dua malam ini, bagaimana pendapatmu tentang
keluarga kami, perkumpulan kami dan tempat ini?" Siangkoan Eng yang oleh ayah ibunya disebut Eng Eng
dan oleh semua anak buahnya disebut Siocia (Nona) itu bertanya sambil menatap wajah pemuda yang
tampan itu.
"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, bagaimana kalau engkau tidak menyebut aku kongcu (tuan muda)
lagi? Terdengarnya begitu asing dan tak sepantasnya jika seorang gadis seperti engkau menyebut aku
kongcu."
Eng Eng tersenyum. "Hemmm, engkau sendiri menyebut aku siocia (nona), tentu saja aku menyebutmu
kongcu. Habis, kalau tidak menyebut kongcu, harus menyebut bagai mana?"
"Sebut saja kakak, dan aku akan menyebutmu adik. Bagaimana pendapatmu?"
"Tidakkah itu terbalik? Kurasa aku lebih tua darimu!"
"Tidak mungkin. Usiaku sudah dua puluh tiga tahun!"
"Kalau begitu sama, aku pun dua puluh tiga tahun. Baiklah, mulai sekarang, aku akan menyebutmu toako
(kakak), Sun-toako."
"Dan aku akan menyebutmu Eng-moi (adik Eng)."
"Sun-toako..."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Eng-moi..." Keduanya saling pandang dan tertawa gembira.
"Nah, sekarang kita merasa seperti adik kakak, bukan? Eng-moi, kini aku tidak merasa sungkan lagi untuk
menanyakan hal-hal yang lebih bersifat pribadi, dan harap kau tidak marah kepadaku."
"Tanyalah, Toako."
"Engkau seorang gadis yang cantik jelita, pandai dan gagah perkasa, puteri seorang ketua pula, dan
usiamu sudah dua puluh tiga tahun. Akan tetapi kulihat engkau masih sendiri, belum berkeluarga sendiri.
Kenapa, Eng-moi?"
Karena pandainya Cia Ceng Sun mengatur pertanyaan itu dengan sikap bersaudara dan kata-kata yang
halus, Eng Eng tidak merasa tersinggung, walau pun kedua pipinya berubah kemerahan juga.
"Aih, itukah? Bagaimana aku dapat membangun rumah tangga sendiri kalau aku belum bertemu dengan
orang yang cocok, Toako? Memang banyak pinangan terhadap diriku yang berdatangan, akan tetapi
selama ini aku belum bertemu dengan seseorang yang berkenan di hatiku. Kalau aku sudah bertemu yang
cocok, mengapa tidak? Dan engkau sendiri, bagaimana, Toako? Tentu engkau sudah berkeluarga dan
mempunyai satu dua orang anak."
"Ha-ha-ha, dugaanmu keliru, Eng-moi. Seperti juga engkau, aku masih hidup sebatang kara, belum
mendapatkan jodoh. Mungkin karena selama ini juga belum ada yang cocok bagiku seperti keadaanmu."
Hening sejenak, seakan keduanya sedang tenggelam dalam lamunan masing-masing. Sementara senja
mulai ditelan keremangan menjelang malam tiba. Kemudian terdengar Eng Eng bicara lirih seperti kepada
dirinya sendiri,
"Betapa serupa keadaan kita...," kemudian ia menghela napas panjang dan melanjutkan sambil
memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata tajam penuh selidik, seolah sinar matanya hendak
menembus cuaca yang semakin remang. "Toako, wanita seperti apakah yang kiranya dapat kau anggap
cocok untuk menjadi jodohmu?"
Mendengar pertanyaan ini dan melihat sikap gadis itu, berdebar rasa jantung Cia Ceng Sun. Dia merasa
seperti ditodong dan rasanya sukar untuk mengelak atau menangkis. Sukar untuk tidak mengaku terus
terang.
Sejak dia melihat gadis ini, dia sudah terpesona. Apa lagi setelah melihat sepak terjang gadis itu, kemudian
sampai mereka mengadu ilmu, dia telah tergila-gila, dia telah jatuh cinta! Dengan kuat sekali perasaan ini
menekannya dan terasa benar olehnya.
Biar pun dia tidak melupakan pesan ayahnya agar dia jangan jatuh cinta kepada wanita lain karena dia
sudah ditunangkan dengan Si Bangau Merah, namun tetap saja dia tidak mampu menolak gelora hatinya,
tidak dapat menipu diri sendiri. Dia jatuh cinta kepada Siangkoan Eng. Padahal, gadis ini adalah puteri
seorang pemimpin pemberontak, masih keturunan keluarga kaisar Kerajaan Beng!
"Eng-moi, aku mau berterus terang saja, harap engkau tidak marah."
"Eh? Kenapa aku harus marah kalau engkau bicara terus terang tentang seorang wanita yang menurut
pendapatmu cocok untuk menjadi jodohmu?"
"Eng-moi, setelah aku tiba di sini, bertemu denganmu, maka tahulah aku bahwa gadis yang kucari-cari
untuk menjadi jodohku itu adalah... yang seperti engkau inilah..."
"Seperti aku? Apa maksudmu, Sun-ko?"
"Maksudku... ehhh, mana mungkin ada gadis yang sama denganmu. Maksudku, bahwa yang selama ini
kucari-cari itu adalah engkau! Engkaulah gadis yang kuidam-idamkan menjadi jodohku. Eng-moi, tentu saja
kalau engkau sudi menerimaku."
"Hemmm, engkau hendak meminangku? Kenapa? Apa karena aku seperti gadis dalam mimpimu?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Bukan begitu maksudku, ehh... ahhh, terus terang saja, sejak aku bertemu denganmu, aku terpesona dan
aku jatuh cinta padamu, Eng-moi. Nah, aku sudah berterus terang, terserah kepadamu."
Hening pula, sekali ini agak lama dan keduanya menundukkan muka. Seakan lenyap semua kegagahan
dan keberanian mereka. Untuk dapat mengangkat muka dan saling pandang pun merupakan hal yang bagi
mereka membutuhkan keberanian besar sekali pada saat seperti itu.
Dan akhirnya, setelah beberapa kali meragu karena mendengar gadis itu berulang kali menghela napas
panjang, Cia Ceng Sun memberanikan diri berkata, "Eng-moi, harap engkau suka memaafkan aku kalau
aku menyinggung perasaanmu."
Memang sungguh aneh sekali pengaruh cinta terhadap diri seseorang. Cia Ceng Sun ialah Pangeran Cia
Sun, cucu kaisar! Padahal, dalam kedudukannya sebagai pangeran, dengan kegagahan dan
ketampanannya, biasanya seorang pangeran seperti dia tinggal menunjuk saja gadis mana yang
disukainya dan gadis itu akan datang kepadanya, baik dengan suka rela mau pun atas kehendak orang tua
si gadis.
Dan sekarang, dia bersikap seperti seorang pemuda yang malu-malu dan gelisah ketika menyatakan
cintanya pada seorang gadis biasa, bukan puteri bangsawan, bukan puteri istana! Dan sikapnya ini bukan
sekali-kali disesuaikan dengan penyamarannya sebagai pemuda biasa. Memang sesungguhnya dia
merasa lemah dan tak berdaya menghadapi Siangkoan Eng!
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Toako. Sesungguhnya, aku sendiri merasa bahwa sekarang setelah
bertemu denganmu, aku pun telah menemukan pria yang selama ini kuharapkan..."
Gadis itu tidak melanjutkan kata-katanya, malah menundukkan mukanya yang berubah merah. Biar pun
Eng Eng seorang gadis yang gagah perkasa yang wataknya dingin dan aneh, namun kali ini ia merasa
sedemikian malu dan salah tingkah sehingga jantungnya berdebar keras. Seluruh tubuhnya seperti panas
dingin dan kedua kakinya gemetar!
"Eng-moi...!" Bukan main girangnya rasa hati Cia Ceng Sun mendengar pengakuan itu. Dia bukanlah
seorang pemuda yang sama sekali belum pernah bergaul dengan wanita, walau pun dia bukan tergolong
pemuda yang mata keranjang dan suka pelesir seperti para pangeran lainnya.
Mendengar pengakuan Siangkoan Eng yang sama sekali tidak pernah disangkanya, dia kemudian
menggeser duduknya dan memegang kedua tangan gadis itu. Mereka saling berpegang tangan. Gadis itu
mengangkat mukanya dan pandang matanya sayu, bahkan seperti hendak menangis. Keempat buah
tangan yang saling berpegangan itu menggigil dan menggetar.
"Eng-moi, terima kasih, Eng-moi! Aihhh, engkau membuat aku berbahagia sekali. Aku cinta padamu, Engmoi."
Biar pun Eng Eng amat mengharapkan kata-kata itu, tapi setelah diucapkan, ia merasa lucu dan ia pun
tersenyum. "Sun-ko, kita baru dua hari ini berkenalan dan sudah saling mengaku cinta."
"Apa salahnya? Kita saling mencinta, baru bertemu sedetik pun apa bedanya? Aku akan mengirim wali
untuk meminangmu kepada orang tuamu, Eng-moi."
"Aku hanya akan menunggu, Sun-ko..."
Hening kembali sejenak dan mereka masih saling berpegang tangan. Tetapi mendadak Cia Ceng Sun
melepaskan tangannya dan menunduk, seperti orang melamun dengan alis berkerut.
"Kenapa, Koko?" tanya Eng Eng khawatir.
"Ada satu hal yang mengganjal hatiku, Eng-moi. Yaitu cita-cita ayahmu. Biar pun sejak kecil aku suka
sekali mempelajari ilmu silat, akan tetapi aku tidak pernah dan tidak suka bermusuhan. Aku tak ingin
terlibat pemberontakan terhadap pemerintah, juga tidak ingin bermusuhan dengan siapa pun, maka tidak
mungkin aku dapat membantu keluargamu. Aku lebih suka berterus terang, Eng-moi, dari pada berpurapura
dan palsu."
dunia-kangouw.blogspot.com
Gadis itu tersenyum dan kembali dia menangkap kedua tangan pemuda itu yang tadi melepaskan diri.
"Koko, aku justru bangga sekali karena sikapmu yang berterus terang ini. Aku sendiri pun hanya
melaksanakan kewajiban. sebagai puteri ayah. Aku tak peduli tentang perjuangan dan hanya membantu
ayah sebagaimana patutnya seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya. Ada pun tentang
permusuhan antara keluarga kami dengan tiga keluarga besar itu, aku sendiri sudah sering memberi tahu
kepada ayah betapa tidak wajarnya memusuhi seluruh anggota keluarga Pulau Es, Gurun Pasir, dan
Lembah Naga. Tidak wajar dan juga sangat berbahaya karena tiga keluarga besar itu mempunyai orangorang
yang sakti dan amat sukar untuk dikalahkan."
"Hemmm, mengapa ayahmu memusuhi mereka?"
"Menurut ayah, semenjak orang-orang Mancu menyerbu dan menumbangkan Kerajaan Beng, semua
anggota keluarga-keluarga itu tak pernah menentang, bahkan membantu orang Mancu."
"Eng-moi, aku adalah orang yang menghargai kejujuran. Aku pun sudah berterus terang kepadamu
mengatakan bahwa aku tidak mungkin dapat membantu ayahmu. Nah, bagai mana tanggapanmu, Engmoi?
Bila kita sudah berjodoh, maukah engkau meninggalkan ini semua dan tak lagi mencampuri urusan
pemberontakan dan permusuhan, melainkan hidup dalam suasana tenteram dan damai di sampingku?"
"Koko, betapa sudah lama sekali aku merindukan ketenteraman dan kedamaian itu. Aku akan berbahagia
sekali kalau hidup dengan tenteram dan damai di sampingmu, akan tetapi... tentu ayah dan ibu tidak akan
mau membiarkan..."
"Percayalah kepadaku, Eng-moi. Aku yang akan melindungimu," berkata Cia Ceng Sun dengan sikap
gagah.
Baru sekali ini selama hidupnya Eng Eng merasa lemah sekali dan amat membutuhkan perlindungan orang
lain kecuali ayah ibunya. Ketika Cia Ceng Sun menariknya, dia pun merebahkan diri di atas dada pemuda
itu, menyembunyikan mukanya di bawah dagu. Mereka pun tenggelam dalam kemesraan. Kelelep…..
********************
Sebagai hasil percakapan dengan Siangkoan Kok, pada keesokan harinya Yo Han telah memperoleh
keterangan dari ketua Pao-beng-pai itu bahwa penyelidikan anak buahnya berhasil!
"Penculik anak Pendekar Suling Naga Sim Houw itu ialah Tiat-liong Sam-heng-te (Tiga Kakak Beradik
Naga Besi). Mereka adalah orang-orang yang sejak dahulu bermusuhan dengan Pendekar Suling Naga,
dan mereka membalas dendam dengan menculik puteri pendekar itu."
Dapat dibayangkan betapa besar kegirangan hati Yo Han mendengar keterangan itu. Tidak disangkanya
akan semudah itu dia mendapatkan jejak penculik puteri bibinya!
"Di mana mereka bertiga, Paman? Ingin sekali aku menemui mereka untuk bisa kuajak bekerja sama! Dan
apakah anak itu masih ada pada mereka? Kalau masih ada, dapat kita pergunakan untuk memeras dan
memaksa orang tuanya! Hemm, sekali ini aku akan berhasil membalas dendam orang tuaku!"
Melihat kegembiraan Yo Han, Siangkoan Kok tertawa, "Kebetulan sekali mereka tinggal tidak terlalu jauh
dari sini. Dalam waktu setengah hari engkau akan tiba di tempat tinggal mereka. Menurut keterangan anak
buah Pao-beng-pai yang melakukan penyelidikan, anak perempuan yang dahulu mereka culik masih hidup
dan tinggal bersama mereka."
Hampir Yo Han bersorak saking gembiranya. Ia hanya cukup menekan dan mengurangi saja luapan rasa
girang itu. Dalam perannya sebagai musuh bibinya, ia pun sepatutnya bergembira karena memperoleh
sekutu yang dapat dipercaya serta menemukan anak perempuan yang akan dapat dipergunakan sebagai
sandera yang amat berharga.
Siangkoan Kok lalu memberi keterangan tentang tempat tinggal Tiat-liong Sam-heng-te, yaitu di sebuah
lereng di bukit yang tidak jauh dari situ, di mana terdapat sebuah goa terowongan yang mereka bangun
menjadi tempat tinggal tiga bersaudara itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan tulus hati Yo Han mengucapkan terima kasih kepada Siangkoan Kok, kemudian pamit untuk
melanjutkan perjalanan mencari tempat itu. Siangkoan Kok mengucapkan selamat jalan sambil berpesan
agar pemuda itu tidak melupakan hubungan baik antara mereka dan kelak dapat membantunya dengan
bekerja sama antara Pao-beng-pai dan Thian-li-pang. Yo Han menyanggupi, lalu berangkat.
Di pekarangan depan, Yo Han berjumpa dengan Cia Ceng Sun dan Siangkoan Eng yang nampak berjalan
berdampingan dalam suasana yang akrab sekali. Yo Han dapat melihat bahwa ada apa-apa di antara
keduanya, maka dia pun tersenyum.
Memang mereka merupakan pasangan yang pantas sekali, pikirnya. Namun diam-diam dia menyayangkan
bahwa seorang pemuda yang hebat seperti Cia Ceng Sun itu kini terlibat dalam keluarga pimpinan
pemberontak, bahkan yang memusuhi tiga keluarga besar. Ah, itu bukan urusannya, pikirnya sambil
menggerakkan pundak.
Karena mereka berdua sudah sama-sama tinggal di situ sebagai tamu Pao-beng-pai, tentu saja dua orang
pemuda ini sudah saling berkenalan walau pun hubungan mereka tidak akrab sekali. Yo Han lebih sering
bercakap-cakap dengan Siangkoan Kok, namun sebaliknya Cia Ceng Sun lebih sering berduaan dengan
Siangkoan Eng.
"Ehhh, engkau hendak pergi, saudara Yo?" tanya Cia Ceng Sun ketika melihat pemuda itu hendak pergi
meninggalkan pekarangan sambil menggendong buntalan pakaiannya di punggung.
Eng Eng hanya mengangguk saja ketika bertemu pandang dengan Yo Han. Biar pun dia merasa kagum
kepada Yo Han, namun ia selalu merasa curiga. Karena bagaimana pun juga dia tahu, bahwa pemuda
sederhana itu adalah seorang yang sangat tangguh dan menurut ayahnya, tenaga sinkang pemuda itu
seimbang dengan ayahnya!
Apa lagi pemuda ini pernah membuat nama besar dengan julukan Pendekar Tangan Sakti. Menghadapi
orang yang lebih lihai, tentu saja ia merasa khawatir dan juga curiga.
“Benar, saudara Cia. Aku sudah berpamitan kepada Paman Siangkoan Kok dan harus melanjutkan
perjalananku hari ini juga. Nah, selamat tinggal dan semoga saja engkau berhasil dalam segala citacitamu.
Selamat tinggal, Nona Siangkoan, dan terima kasih atas kebaikan keluarga Nona selama aku
tinggal di sini."
Dengan sikap tidak terlalu menghormat dan ugal-ugalan seperti tokoh yang perannya dia mainkan, Yo Han
tersenyum lalu membalikkan tubuh meninggalkan mereka, diikuti pandang mata sepasang orang muda itu.
"Hemmm, dia seorang pendekar yang hebat! Masih begitu muda tetapi sudah memiliki kesaktian yang
dahsyat," Cia Ceng Sun memuji.
"Tapi aku tidak terlalu percaya kepadanya, bahkan aku mencurigainya, Koko," kata Eng Eng.
"Ehhh? Mengapa? Bukankah dia tokoh Thian-li-pang dan kini bersahabat baik dengan ayahmu? Bahkan
tadi dia menyebut paman kepada ayahmu. Hemmm, aku jadi berpikir jangan-jangan ayahmu lebih condong
memilih dia sebagai calon mantu dari pada aku!"
Eng Eng mencubit tangan kekasihnya dengan gemas. "Ihhh! Aku akan minggat kalau ayah memaksa aku
menikah dengan pria lain kecuali engkau. Apakah engkau masih belum percaya kepadaku, Koko?"
"Maaf, aku hanya bergurau. Sekarang juga aku akan menghadap ayah dan ibumu untuk menyatakan
keinginan kita, menceritakan hati kita, dan kalau ayah ibumu mengijinkan, aku segera akan pergi dan
mencari seorang wakil untuk kukirim ke sini dan melakukan pinangan."
"Nah, begitu lebih baik daripada membicarakan orang lain. Sebaiknya nanti saja, setelah mereka sarapan
baru engkau mengatakan isi hatimu kepada mereka. Akan kuusahakan agar engkau diundang sarapan
sehingga kita berempat dapat berkumpul dan bercakap-cakap."
Demikianlah, tidak lama kemudian mereka sudah makan pagi bersama, Cia Ceng Sun, Siangkoan Eng,
Siangkoan Kok dan isterinya, Lauw Cu Si. Setelah makan pagi yang agaknya dilakukan oleh Siangkoan
dunia-kangouw.blogspot.com
Kok dengan sikap tergesa-gesa karena dia hendak bepergian, Cia Ceng Sun mempergunakan kesempatan
itu untuk bicara.
"Locianpwe (Orang Tua Gagah), saya ingin mohon sedikit waktu untuk bicara dengan Locianpwe berdua,
bersama Eng-moi juga," katanya dengan sikap sopan dan tenang. Bagaimana pun juga, dia seorang
pangeran dan tentu saja memiliki wibawa yang besar sehingga menghadapi ketua Pao-beng-pai itu pun dia
dapat bersikap tenang.
"Hemmm, soal apakah yang hendak kau bicarakan, Cia sicu?"
"Soal saya dan adik Eng Eng. Harap Locianpwe berdua mengetahui bahwa kami berdua sudah bersepakat
untuk mengaku terus terang kepada Ji-wi (Anda Berdua) sekarang ini bahwa kami saling mencinta dan
juga telah mengambil keputusan untuk hidup bersama sebagai suami isteri. Saya segera akan pergi,
kemudian mengirim seorang wali untuk melakukan pinangan kepada Ji-wi secara resmi."
Mendengar pinangan yang diajukan begitu tiba-tiba dengan pengakuan bahwa pemuda itu sudah saling
mencinta dengan puteri mereka dalam waktu tidak lebih dari tiga hari, suami dan isterinya itu saling
pandang. Siangkoan Kok menoleh kepada puterinya yang juga sedang memandang kepadanya dengan
sikap yang tenang pula.
"Eng Eng, benarkah apa yang dikatakan Cia Ceng Sun barusan? Bahwa kalian saling mencinta dan
engkau sudah setuju untuk menjadi isterinya?"
Dengan sikap gagah dan penuh tanggung jawab, Eng Eng mengangguk dan berkata, "Benar, Ayah.
Kurasa usiaku sudah lebih dari cukup untuk berumah tangga sekarang, dan dialah pilihan hatiku."
Siangkoan Kok tertawa bergelak. Sukar menduga apakah suara tawa itu karena girang atau karena geli
atau untuk mengejek.
"Ha-ha-ha-ha! Orang muda she Cia! Engkau tahu bahwa Eng Eng adalah puteri tunggal kami yang sangat
kami sayang. Ia puteri ketua Pao-beng-pai, cantik dan tinggi ilmunya, masih lebih tinggi dari pada ilmu yang
kau kuasai. Kalau ia menghendaki jodoh seorang pangeran sekali pun, hal itu bukan mustahil akan dapat
terlaksana. Eng Eng kaya raya, berilmu tinggi dan cantik! Dan engkau ini siapakah berani hendak berjodoh
dengannya? Dari keturunan apa? Engkau memang cukup tampan, dan biar pun tidak selihai puteriku,
kepandaianmu lumayan dan tidak memalukan. Akan tetapi selain itu, apa lagi yang bisa kau berikan
kepada puteri kami?"
Panas juga rasanya perut Cia Ceng Sun mendengar ucapan laki-laki yang akan menjadi ayah mertuanya
itu. Betapa dia diremehkan dan dipandang rendah!
"Apakah yang Locianpwe minta? Kalau Locianpwe mengajukan syarat, tentu akan saya coba untuk
memenuhinya," katanya sederhana, namun sikapnya tegas.
Mendengar ucapan yang nadanya menantang itu, Eng Eng mengerutkan alisnya dan merasa khawatir.
Bahkan ia lalu mengerling ke arah kekasihnya dan mengedipkan mata mencegah, namun sia-sia karena
pemuda itu sudah mengeluarkan kata-katanya.
"Ha-ha-ha-ha, bagus, bagus! Seorang gadis seperti Eng Eng memang tidak sepatutnya didapatkan dengan
amat mudah seperti orang memetik buah apel dari pohon saja! Nah, permintaanku tidak banyak. Pertama
engkau harus bisa memberi tanda mata yang patut bagi seorang calon isteri macam Eng Eng, dan ke dua,
dalam pesta pernikahan kalian nanti, aku minta agar keluarga Kaisar menjadi tamunya!"
"Ayah! Permintaan itu keterlaluan!" teriak Eng Eng, dan Ibunya juga berseru kaget.
"Aihhh, mana ada permintaan seperti itu? Yang pertama mungkin dapat dilaksanakan, akan tetapi yang ke
dua mustahil! Kita ini apa dan siapa, minta keluarga kaisar menjadi tamu dalam pesta pernikahan anak
kita?" kata Lauw Cu Si.
"Sudahlah, kalian jangan ribut-ribut. Semua ini kulakukan demi menaikkan derajat anak kita, dan itu berarti
naiknya derajat kita pula! Bagaimana, Cia-sicu, sanggupkah engkau memenuhi kedua permintaan itu?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Saya sanggup!" berkata Cia Ceng Sun dengan suara yang lantang dan tegas sehingga mengejutkan tiga
orang itu yang sekarang memandang pada pemuda itu dengan mata terbelalak.
"Sun-koko! Bagaimana engkau berani menyanggupi syarat yang mustahil itu?" teriak Eng Eng.
"Tenanglah, Eng-moi. Demi cintaku kepadamu, aku akan berani menyeberangi lautan api sekali pun. Akan
aku usahakan sedapat mungkin untuk kelak mengundang keluarga kaisar. Aku mempunyai banyak
kenalan di antara para pembesar dan juga penghuni istana!"
"Ha-ha-ha, bagus sekali! Setidaknya, kesanggupanmu telah membuktikan adanya cinta kasihmu yang
besar terhadap anak kami, Cia-sicu. Dan sekarang, tanda mata apa yang pantas kau berikan kepada Eng
Eng sebelum engkau pergi dan mengirirm wakil untuk melakukan pinangan resmi?"
"Harap Locianpwe sekalian menunggu sebentar, akan saya ambil dari kamar saya."
Pemuda itu lalu bangkit dan meninggalkan ruangan makan. Pada saat Eng Eng hendak mengejar, baru
saja ia bangkit, ayahnya sudah melarang.
"Eng Eng, engkau harus pandai menghargai diri sendiri. Tunggu saja di sini, kita lihat bersama apa yang
mampu dia berikan kepadamu. Engkau tidak ingin kelak kecewa dengan pilihanmu, bukan? Biarkan Ayah
yang mengujinya!"
Eng Eng tidak jadi bangkit. Ia pun tahu bahwa sikap ayahnya yang begitu keras bukan karena ayahnya
tidak suka mempunyai mantu Cia Ceng Sun, namun karena ayahnya ingin mendapatkan mantu yang
benar-benar mencintainya, seorang mantu yang berani dan pandai.
Agak lama pemuda itu pergi. Ketika dia masuk kembali ke dalam ruangan itu, ternyata dia telah berganti
pakaian dan telah pula membawa buntalan pakaiannya.
"Sun-koko! Engkau... kau hendak pergi...?" Eng Eng terkejut sekali karena sebelumnya kekasihnya tidak
mengatakan hendak pergi sekarang juga.
"Benar, Eng-moi. Aku harus cepat berusaha untuk memenuhi permintaan ayahmu, yaitu mengirim wali
untuk meminang, dan mempersiapkan agar kelak keluarga istana dapat menghadiri pesta pernikahan kita."
Dia lalu menghadapi Siangkoan Kok dan mengeluarkan sebuah benda dari dalam saku bajunya.
"Locianpwe, untuk sementara ini, saya tidak mampu memberikan sesuatu yang lebih berharga dari pada
ini. Harap Locianpwe sekalian tidak merasa kecewa dengan pemberian tanda mata yang tidak berharga
ini."
Ketika Siangkoan Kok menerima benda itu, dia dan isterinya yang duduk di dekatnya terbelalak kagum.
"Tidak berharga?!" Lauw Cu Si berseru. "Wah! Belum pernah selama hidupku melihat kalung mutiara
seindah ini!"
Siangkoan Kok yang merupakan seorang keturunan bangsawan, juga terbelalak kagum. Dia mengenal
barang yang amat berharga dan langka sehingga terlontar pertanyaannya penuh keheranan. "Dari mana
engkau memperoleh benda mustika seperti ini?"
"Locianpwe, sudah saya katakan bahwa saya mewarisi harta kekayaan orang tua saya, dan itu merupakan
satu di antara benda-benda peninggalan itu."
"Nah, Ayah jangan memandang rendah kepada Sun-koko!" Eng Eng juga berseru.
Ia bangga sekali walau pun diam-diam ia juga merasa heran bahwa kekasihnya memiliki simpanan benda
yang sedemikian langka dan berharga, yang dikatakannya tadi ‘tidak berharga’. Kalau kalung seperti itu
tidak berharga, lalu bagaimana yang berharga itu?
Sesudah memeriksa benda berharga itu, Siangkoan Kok lalu menyerahkannya kepada isterinya yang kini
mendapat giliran mengaguminya bersama Eng Eng, lalu dia berkata kepada pemuda itu. “Baik, tanda mata
itu kami terima dan kami anggap cukup pantas. Sekarang pergilah untuk mengirim utusan dan wali untuk
dunia-kangouw.blogspot.com
melakukan pinangan resmi, kemudian aturlah supaya dalam pesta pernikahannya, keluarga kaisar dapat
hadir. Apa bila engkau membohongi kami, awas, aku tidak akan mengampunimu."
"Baik, Locianpwe. Nah, saya minta diri. Eng-moi, aku pergi dulu dan doakan saja agar usahaku berhasil."
"Selamat jalan, Koko, dan jangan terlalu lama membiarkan aku menunggumu di sini," kata gadis itu.
Setelah memberi hormat, Cia Ceng Sun lalu pergi meninggalkan rumah itu.
Tiba-tiba Siangkoan Kok berkata kepada puterinya, "Eng Eng, aku mempunyai urusan penting, karena itu
engkau harus dapat mewakill aku. Kau bawa beberapa anak buah yang boleh diandalkan, dan kau bayangi
pemuda itu."
"Ayah! Apa artinya ini? Kami sudah saling mencinta!"
"Anak bodoh! Justru karena engkau mencintanya, engkau harus mengenal betul siapa dia! Bayangi dia dan
buktikan sendiri bagaimana cara dia berusaha untuk kelak dapat menghadirkan keluarga istana di dalam
pesta pernikahanmu. Lebih baik kita waspada, jangan sampai kita dibohongi dan ditipu. Mengerti? Jangan
percaya dulu sebelum kita melihat buktinya, betapa pun besar cintamu kepadanya. Engkau tidak ingin
kelak hidup sengsara, bukan? Dan ingat, engkau bayangi dia, jangan bantu dan jangan perlihatkan diri,
jangan khianati ayahmu karena semua ini demi kebaikan masa depanmu sendiri."
Eng Eng mengerti dan dia mengangguk. Bahkan diam-diam dia merasa gembira karena dengan
membayangi Cia Ceng Sun, berarti dia selalu dekat dengan kekasihnya itu, biar pun dia tidak boleh
memperlihatkan diri. Dan memang perlu untuk mengetahui siapakah sebenarnya kekasihnya itu yang
menyanggupi ayahnya untuk menghadirkan keluarga kaisar dalam pesta pernikahannya!
Dia pun cepat berkemas, lalu mengajak empat orang pelayannya yang ia percaya, yaitu empat orang gadis
yang berpakaian kuning, merah, biru dan putih. Mereka berlima lalu segera meninggalkan perkampungan
Pao-beng-pai dan dengan mudah mereka dapat menyusul Cia Ceng Sun dan membayangi pemuda itu dari
jauh.
Cia Ceng Sun sudah keluar dari Ban-kwi-kok (Lembah Selaksa Setan) melalui jalan keluar yang sudah
diberi tanda-tanda sehingga dia tidak akan tersesat ke dalam daerah yang berbahaya penuh rahasia, dan
dia kini tiba di lereng paling rendah dari Kwi-san (Bukit Setan). Sunyi saja di situ. Matahari sudah naik tinggi
dan sinarnya mulai terasa hangat di badan.
Tiba-tiba Cia Ceng Sun yang penglihatan dan pendengarannya tajam dan peka, melihat berkelebatnya
bayangan di balik semak-semak di sebelah kirinya. Dia berhenti, menoleh ke kiri dan membentak.
"Siapa mengintai di sana?! Keluarlah dan jangan bersembunyi seperti binatang liar!"
Sesosok bayangan melompat keluar dari kiri, disusul bayangan lain melayang dari sisi kanan dan dia
sudah berhadapan dengan dua orang laki-laki yang berusia kurang lebih empat puluh lima tahun. Dua
orang itu cepat-cepat memberi hormat kepadanya dengan berlutut sebelah kaki.
"Mohon maaf kalau hamba berdua mengejutkan hati Pangeran," kata seorang di antara mereka yang
kumisnya tebal.
"Hamba berdua diutus ayah Paduka, Pangeran Cia Yan, untuk menjemput Paduka dan mengawal Paduka
pulang sekarang juga karena ada urusan penting," kata orang ke dua yang kepalanya botak.
"Ssttttt!" Pangeran Cia Sun atau Cia Ceng Sun menaruh telunjuk ke depan bibir untuk memberi isyarat
agar dua orang itu menahan kata-kata mereka, kemudian menoleh ke sekeliling.
"Harap Paduka jangan khawatir, Pangeran. Kami berdua telah melakukan pemeriksaan dan tempat ini
sangat sunyi," kata si kumis tebal.
"Andai kata ada yang melihatnya juga, siapa yang akan berani mengganggu Paduka?" sambung si botak.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tentu saja kedua orang pengawal istana ini merasa heran melihat sikap sang pangeran. Mengapa mesti
bersikap begitu hati-hati dan takut? Dia seorang pangeran. Siapa akan berani mengganggunya tentu akan
berhadapan dengan pasukan pemerintah!
Pangeran Cia Sun mengerutkan alis. "Ada urusan penting apakah sampai kalian diutus mencari aku? Aku
bisa pulang sendiri!" katanya tidak senang. "Pula, bagaimana kalian dapat tahu bahwa aku berada di sini?"
Si kumis tebal tersenyum bangga. "Pangeran, tak percuma kami berdua menjadi jagoan istana, pengawalpengawal
yang dipercaya. Pada waktu Paduka pergi, ayah Paduka Pangeran Cia Yan memerintahkan
kami berdua untuk membayangi Paduka dari jauh dan menjaga keselamatan Paduka. Tugas ini amat
mudah karena Paduka memiliki ilmu kepandaian tinggi dan cukup kuat untuk mampu membela diri sendiri.
Maka kami hanya menyebar anak buah supaya membayangi dari jauh. Kami mengetahui bahwa Paduka
hadir pula dalam pertemuan Pao-beng-pai, walau pun kami tidak mungkin dapat masuk ke tempat
berbahaya itu."
"Untung kalian tidak masuk. Bila hal itu terjadi, selain kalian celaka, tentu penyamaranku akan gagal pula.
Lalu bagaimana?" tanya sang pangeran.
Kini si Botak yang melanjutkan. "Kami merasa sangat khawatir karena setelah semua tamu keluar dari
Ban-kwi-tok, Paduka tidak keluar-keluar. Kami merasa bahwa tentu ada sesuatu yang terjadi, maka cepat
kami mengirim laporan kepada ayah Paduka. Kami menerima perintah agar menjemput Paduka dan
mengajak Paduka pulang secepatnya. Ayah Paduka tidak berkenan mendengar Paduka bergaul dengan
orang-orang kangouw yang mencurigakan itu, juga Paduka ditunggu karena ada tamu penting."
"Siapa tamu penting itu?"
Dua orang pengawal itu saling pandang dan tersenyum penuh arti. "Paduka tentu akan senang sekali kalau
tiba di rumah. Tunangan Paduka sudah menunggu bersama orang tuanya."
"Tunanganku ? Jangan bicara sembarangan!"
"Hamba tidak berbohong. Pendekar wanita Si Bangau Merah….”
“Ahhh! Sudahlah, kalian ini sungguh menjengkelkan. Bukankah kalian juga tahu bahwa aku pandai
menjaga diri sendiri? Seperti anak kecil saja, di jemput dan dikawal!"
Tiba-tiba sang pangeran terkejut dan membalikkan tubuh dengan cepat, juga dua orang pengawalnya
memutar tubuh ke kanan dan terbelalak. Di situ, di hadapan mereka, telah berdiri lima orang gadis yang
cantik-cantik, yang empat orang berpakaian empat macam warna, dan yang berdiri paling depan luar biasa
cantiknya.
Pakaiannya berkembang, rambutnya digelung ke atas dengan dihias sebuah tiara kecil, tangan kirinya
memegang sebatang hudtim atau kebutan berbulu merah dengan gagang emas. Sepasang matanya
mencorong memandang kepada Pangeran Cia Sun seperti mengeluarkan api!
"Hmmm… Pangeran Cia Sun!" terdengar suaranya dingin sekali. "Menyerahlah engkau untuk menjadi
tawanan kami!"
"Eng-moi !" Pangeran Cia Sun berseru sambil melangkah maju untuk mendekati gadis kekasihnya itu.
"Diam! Engkau tak berhak menyebutku seperti itu!" bentak Siangkoan Eng marah.
Si kumis tebal dan si botak menjadi marah. Mereka meloncat ke depan Pangeran Cia Sun seperti
melindunginya dan menghadapi lima orang gadis cantik itu.
"Apakah kalian telah menjadi gila? Beliau ini adalah Pangeran Cia Sun, cucu Sribaginda Kaisar! Beranikah
kalian bersikap kurang hormat kepada beliau? Apakah kalian sudah bosan hidup?" Sebelum selesai
berkata, kedua orang pengawal itu sudah mencabut pedang mereka untuk melindungi sang pangeran.
"Bereskan mereka!" kata Siangkoan Eng.
dunia-kangouw.blogspot.com
Empat orang pelayannya telah berloncatan menghadapi dua orang pengawal itu sambil mencabut pedang
mereka.
"Kalian yang sudah bosan hidup!" bentak nona baju kuning.
Nona baju kuning itu lalu memimpin penyerangan kepada dua orang jagoan istana itu. Terjadilah
pertandingan seru dan hebat. Dua orang jagoan istana itu terkejut setengah mati karena mendapat
kenyataan bahwa empat orang gadis cantik itu lihai bukan main dalam menggerakkan pedang mereka, dan
sebentar saja mereka berdua terdesak dan terkepung, harus memutar pedang secepatnya untuk
melindungi diri.
Sementara itu, Siangkoan Eng melangkah maju menghampiri Pangeran Cia Sun, lantas membentak lagi.
"Menyerahtah atau terpaksa aku akan menggunakan kekerasan!"
"Eng-moi, ingatlah aku…aku.."
"Tidak perlu banyak cakap lagi!" bentak Siangkoan Eng.
Siangkoan Eng sudah menyerang dengan kebutannya, menotok ke arah leher Cia Sun. Pangeran ini
mengelak, akan tetapi Eng Eng menyerang terus, bahkan semakin hebat.
"Eng-moi… ahh, engkau keterlaluan, tidak memberi kesempatan kepadaku," kata sang pangeran yang
terus mengelak sampai beberapa kali.
"Engkau mata-mata busuk, pengkhianat, manusia berhati palsu, tidak perlu bicara lagi!"
Sekarang penyerangan semakin hebat sehingga terpaksa Pangeran Cia Sun menangkis cengkeraman
tangan kanan gadis itu. Begitu kedua lengan saling bertemu, dia hampir terjengkang! Cia Sun amat terkejut
dan baru dia yakin benar bahwa dalam pertandingan tempo hari, gadis itu selalu mengalah. Sekarang
buktinya, pertemuan tenaga mereka membuktikan bahwa gadis itu jauh lebih kuat dari padanya.
Kini Cia Sun melawan setengah hati, tidak mau membalas serangan, hanya mengelak dan menangkis
saja. "Engkau keliru, Eng-moi. Aku memang pangeran yang menyamar menjadi orang biasa untuk dapat
leluasa memperdalam pengetahuan dan pengalaman. Aku tidak berniat buruk, aku bertemu denganmu dan
jatuh cinta."
Karena berbicara, maka pertahanan pangeran itu kurang kuat dan sebuah totokan jari tangan kanan Eng
Eng membuat dia terkulai dan roboh lemas tak mampu bergerak lagi! Dan pada saat itu pun, dua orang
pengawal itu roboh mandi darah dan tewas di ujung pedang empat orang gadis pelayan Eng Eng.
"Belenggu kedua tangannya dan bawa pulang, masukkan ke dalam kamar tahanan dan jangan ganggu dia
sampai ayah pulang," katanya kepada empat orang gadis pelayan itu.
Empat gadis pelayan itu segera meringkus Cia Sun yang sudah tidak mampu bergerak, membelenggu
kedua tangannya ke belakang, lalu menggotongnya seperti seekor kijang yang baru saja ditangkap oleh
sekawanan pemburu. Mayat kedua orang pengawal itu ditinggalkan begitu saja oleh mereka.
Sekitar sepuluh menit kemudian, barulah beberapa orang muncul dan membawa pergi dua jenazah jagoan
istana itu. Mereka adalah anak buah yang tadi tidak berani muncul. Sang pangeran yang perkasa bersama
dua orang jagoan istana itu saja tidak mampu menandingi lawan, apa lagi mereka yang hanya anak buah
biasa…..
********************
Dari jauh goa itu nampak hitam gelap, walau pun pada saat itu matahari telah tinggi dan bersinar seterangterangnya.
Tengah hari itu, Yo Han tiba di depan goa di lereng bukit yang menjadi tempat tinggal Tiat-liong
Sam-heng-te seperti yang sudah diceritakan oleh Siangkoan Kok kepadanya.
Dengan sinar matahari yang sangat terang, maka setelah tiba di depan goa, ternyata tidak begitu gelap
seperti nampaknya dari jauh. Inilah salah satu goa yang terbesar dan merupakan sebuah ruangan depan,
oleh karena di situ terdapat perabot-perabot seperti bangku dan kursi. Goa itu seperti sebuah rumah besar
dunia-kangouw.blogspot.com
saja. Di sebelah dalam terdapat sebuah pintu kayu yang memisahkan ruangan depan dengan ruangan
dalam.
Beberapa kali Yo Han memanggil-manggil ke arah dalam goa, akan tetapi tidak terdapat jawaban. Dia tidak
berani lancang memasuki tempat tinggal orang lain tanpa diketahui oleh pemiliknya. Mungkin goa ini
merupakan terowongan yang dalam dan penghuninya berada di bagian belakang sehingga tidak
mendengar panggilannya, pikirnya. Dia lalu mengerahkan khikang dan berseru dengan suara yang seperti
menembus ke seluruh ruangan di dalam goa terowongan itu.
"Tiat-liong Sam-heng-te! Harap suka keluar untuk bicara dengan aku, Yo Han."
Suara itu bergema dan gemanya terdengar dari luar. Akan tetapi tetap saja tidak ada jawaban. Tentu saja
sedang keluar, pikir Yo Han. Ia teringat bahwa anak yang diculik itu kabarnya masih hidup dan berada di
sini pula. Kebetulan! Kalau Tiat-liong Sam heng-te keluar, tentu anak itu berada seorang diri saja! Inilah
kesempatan yang amat baik untuk mengajaknya pergi dari sini, kembali kepada orang tuanya.
"Sim Hui Eng! Apakah engkau berada di dalam?" ia berteriak lagi dengan pengerahan khikang.
Dan sekarang ada tanggapan dari dalam! Ada suara langkah kaki menuju keluar. Daun pintu itu terbuka
sedikit dan nampaklah wajah seorang gadis cantik mengintai dari balik daun pintu itu.
"Nona, aku ingin bicara denganmu!"
Yo Han berseru. Akan tetapi wajah itu segera lenyap dari balik pintu dan Yo Han cepat meloncat ke dalam
goa lalu lari mengejar. Gadis itu kini berhenti di ruangan tengah dan tidak lari lagi, melainkan
memandangnya dengan amat heran ketika Yo Han masuk ke ruangan itu.
"Mengapa engkau masuk ke sini ?" Kini gadis itu menegur, suaranya mengandung rasa takut. "Jangan
masuk, nanti ketiga orang ayahku marah!"
Tiga orang ayah! Yo Han merasa kasihan sekali. Agaknya gadis itu seperti orang yang bingung, bahkan
mengaku mempunyai tiga orang ayah. Mana mungkin seorang gadis mempunyai tiga orang ayah? Sudah
jelas, pasti ini yang namanya Sim Hui Eng, puteri bibinya. Hatinya pun terharu.
"Aku mau bicara denganmu," kata pula Yo Han sambil mendekat.
"Jangan masuk, nanti ayah marah. Dan aku tentu akan dihukum!"
Yo Han mengerutkan alisnya dan mengepal tinju. Tentu tiga orang penculik itu bersikap kejam terhadap
gadis ini, pikirnya.
"Kalau begitu, mari kita keluar dan bicara di luar supaya ayahmu tidak marah," katanya.
Gadis itu mengangguk dan ketika Yo Han melangkah keluar, ia mengikuti. Akan tetapi, kembali gadis itu
berhenti, bahkan kini masuk ke dalam sebuah ruangan yang berada di sebelah kiri. Yo Han menengok, dan
melihat gadis itu berhenti lagi bahkan memasuki sebuah ruangan yang agak lebih terang, dia pun
melangkah kembali menghampiri.
"Nona, kenapa engkau berhenti?"
Gadis itu kelihatan gelisah dan mengerutkan alisnya, pandang matanya tidak percaya dan curiga. "Mau
bicara apa sih dengan aku? Aku tidak mengenalmu!"
"Akan tetapi aku mengenalmu. Engkau tentu Sim Hui Eng."
Gadis yang manis itu menggeleng kepala. "Namaku bukan Sim Hui Eng dan aku tidak mengenalmu.”
"Mungkin engkau sendiri tidak tahu bahwa namamu yang sebenarnya adalah Sim Hui Eng karena engkau
diculik orang sejak kecil. Nona, aku hampir yakin bahwa engkaulah gadis yang kucari, dan aku dapat
membuktikan kebenaran hal itu."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hemmm, apakah bukti itu?"
"Kalau engkau mau memperlihatkan pundak kirimu dan tapak kaki kananmu kepadaku, di sana ada tandatandanya."
"Ihhh, engkau orang yang kurang ajar! Bagaimana mungkin aku dapat memperlihatkan pundak dan kakiku
kepadamu?" Gadis itu berseru marah sehingga mukanya berubah kemerahan.
Yo Han berpikir. Memang sulit juga. Akan tetapi, agaknya Tiat-liong Sam-heng-te, tiga orang yang oleh
gadis itu disebut ayah, sedang tidak berada di situ dan ini merupakan peluang yang baik sekali. Dia harus
dapat melihat bukti itu dan kalau gadis itu tidak mau memperlihatkannya, dia harus memaksanya. Tidak
ada lain jalan. Kalau tiga orang yang diakui ayah gadis itu berada di situ, tentu hal ini akan lebih sulit untuk
dilaksanakan. Dia harus memeriksa pundak dan kaki gadis itu agar yakin apakah dugaannya bahwa gadis
itu Sim Hui Eng itu benar.
"Nona, aku tidak bermaksud kurang ajar. Akan tetapi aku harus dapat melihat bukti Itu, apakah pundak dan
kakimu ada tanda-tanda, kelahiran itu ataukah tidak," katanya dan dia pun cepat memasuki ruangan yang
terang itu.
Gadis itu menyambutnya dengan serangan pisau yang tadi disembunyikan di belakang tubuhnya. Yo Han
tidak merasa heran. Tentu gadis ini salah paham dan menganggap dia hendak kurang ajar.
Akan tetapi karena dia tahu bahwa tanpa paksaan, sukar untuk dapat melihat kaki dan pundak seorang
gadis, dia pun mengelak dan begitu tangan yang memegang pisau itu menyambar lewat, dia sudah
menangkap lengan kanan yang memegang pisau itu dan secepat kilat jari tangan kanannya menotok
sehingga gadis itu tidak mampu bergerak lagi! la tentu roboh kalau saja Yo Han tidak cepat merangkulnya
dan merebahkannya di atas lantai.
Pada saat dia merangkul itulah, dia mendengar suara yang aneh di belakangnya. Dia menoleh dan terkejut
melihat betapa jalan masuk ke ruangan itu, tiba-tiba saja tertutup oleh jeruji besi yang meluncur dari atas.
Karena dia sedang merangkul tubuh gadis itu, maka dia tidak sempat lagi untuk meloloskan diri, dan dia
pun terkurung dalam ruangan itu bersama gadis yang masih tertotok.
Celaka, tentu mereka yang disebut Tiat-liong Sam-heng-te itu yang menjebaknya, sebab mengira dia akan
kurang ajar terhadap puteri mereka. Akan tetapi dia dapat memberi penjelasan nanti dan begitu kedua
tangannya bergerak, baju di pundak kiri gadis itu dan sepatu di kaki kanannya telah terbuka. Bajunya dia
robek dan sepatunya dia lepaskan.
Akan tetapi, matanya terbelalak ketika melihat kulit pundak dan kulit telapak kaki yang putih mulus tanpa
cacat sedikit pun! Wah mungkin dia lupa, pikirnya. Jangan-jangan terbalik, pundak kanan dan kaki kiri yang
harus dia periksa!
Tanpa banyak ragu lagi, Yo Han kembali merobek baju di pundak kanan dan melepas sepatu yang kiri dan
dia tertegun. Kulit pundak kanan dan kaki kiri itu pun putih mulus, tidak terdapat tanda apa pun seperti yang
diharapkan dan disangkanya. Dia telah keliru!
Kalau begitu, Siangkoan Kok telah berbohong kepadanya. Dan ini tentu berarti suatu tipuan, suatu jebakan!
Cepat ia meloncat berdiri untuk mencoba keluar dari situ dengan menjebol jeruji besi, akan tetapi pada saat
itu juga, dari arah pintu, kanan kiri dan atas, menyembur masuk asap yang kekuningan.
Yo Han menahan napas dan memaksa diri mendekati jeruji besi untuk menjebolnya. Akan tetapi, di balik
asap tebal nampak orang-orang yang menggunakan tombak yang ditusukkan ke dalam melalui celah-celah
jeruji sehingga terpaksa dia mundur lagi.
Cepat ia memeriksa ke belakang, kanan dan kiri, akan tetapi dinding goa itu merupakan dinding batu alam,
entah berapa tebalnya. Tidak ada jalan lari! Dan dia pun tak mungkin menahan napas terus-terusan. Dia
mulai bernapas dan asap sudah memenuhi goa itu. Yo Han terbatuk-batuk, lalu mencium bau yang masam
yang menyesakkan dada dan ia pun terguling roboh. Pingsan…..
********************
dunia-kangouw.blogspot.com
Yo Han bermimpi. Dalam mimpi itu ia mengejar-ngejar seorang gadis cantik yang dapat berlari kuat sekali,
juga kecepatan larinya luar biasa sekali. Akan tetapi akhirnya, di puncak sebuah bukit, dia dapat menyusul
dan menangkap gadis itu, dirangkulnya dari belakang, kemudian dia merobek baju gadis itu! Bukan untuk
apa-apa melainkan untuk melihat pundaknya! Dia melihat sepasang pundak yang putih mulus, kemudian
gadis itu menendangnya dan dia jatuh terjungkal ke dalam jurang yang dalam sekali!
Dia membuka matanya. Tidak, dia tidak mati, tidak jatuh ke jurang. Lalu dia teringat. Heran, dia tidak
berada di lantai batu, tidak berada di ruangan goa lagi, walau pun masih ada pintu jeruji besi di depannya.
Dia rebah di atas lantai ubin, di sebuah kamar yang cukup luas, kamar yang tidak berjendela, akan tetapi
pintunya berjeruji amat kuat dan di luar pintu terdapat banyak penjaga dengan senjata tajam dan runcing di
tangan. Dia berada dalam tahanan!
Yo Han bangkit duduk dan terdengar gerakan orang di belakangnya, disusul suara tawa orang itu, tawa
kecil yang bukan mengejek, bukan pula mentertawakan, tetapi tertawa karena merasa lucu. Ia cepat-cepat
menengok dan melihat orang yang dikenalnya, yaitu pemuda bernama Cia Ceng Sun yang pernah
bersama dia menjadi tamu kehormatan keluarga Siangkoan atau perkumpulan Pao-beng-pai!
"Kiranya engkau juga di sini, saudara Cia Ceng Sun. Dan kenapa pula engkau tertawa? Melihat tempat ini,
jelas bahwa kita berada di dalam kamar tahanan. Mengapa engkau malah tertawa?"
Yo Han bangkit berdiri dan menghampiri pemuda itu yang duduk di depan kayu panjang, lalu duduk di
sampingnya.
Cia Ceng Sun menahan tawanya dan menepuk pundak Yo Han. "He-heh-heh, Yo-toako, lucu akan tetapi
menyenangkan melihat engkau dibawa masuk dalam keadaan pingsan ke kamar ini. Berarti aku
mempunyai teman yang menyenangkan. Lucunya, kita berdua yang dipilih oleh Pao-beng-pai menjadi
tamu kehormatan dan sekutu, dan kita berdua pula yang kini menjadi tawanan. Bukankah itu lucu sekali?"
Yo Han kagum melihat betapa pemuda itu dalam tawanan masih mampu berkelakar dan tertawa demikian
gembira. Wajah yang tampan itu sedikit pun juga tak membayangkan perasaan takut, bahkan agaknya
pengalaman ini amat menyenangkan hatinya.
"Saudara Cia, kenapa engkau sampai ditawan? Bukankah Siangkoan Kok dan terutama sekali Siangkoan
Siocia (Nona Siangkoan) amat suka padamu?"
Cia Ceng Sun menarik napas panjang, namun wajahnya masih cerah. "Ini merupakan rahasia besar yang
sukar untuk aku ceritakan kepadamu. Akan tetapi mengapa engkau sendiri yang memiliki ilmu kepandaian
hebat sekali sampai dapat tertawan mereka? Ini baru aneh!"
Yo Han memandang dengan serius. "Saudara Cia, kita ini senasib. Bahkan mungkin sekali kita berdua
akan terancam bahaya maut. Jika kita tidak bekerja sama, bagaimana mungkin akan mampu lolos dari
ancaman bahaya? Dan untuk dapat bekerja sama, kita lebih dulu haruslah dapat saling percaya, bukan?"
Cia Ceng Sun mengangguk. "Engkau benar sekali, Yo-toako."
"Nah, aku percaya padamu, apakah engkau tidak percaya padaku sehingga tidak dapat menceritakan
keadaanmu padaku? Dengan mengetahui keadaan kita masing-masing, barulah kita dapat bekerja sama."
"Kalau engkau percaya padaku, nah, ceritakanlah mengapa engkau ditawan, Yo-toako."
Yo Han menghela napas. Pemuda ini selain cerdik, juga agaknya hendak merahasiakan dirinya. Dia harus
memperlihatkan kejujuran dulu supaya pemuda itu benar-benar dapat percaya padanya.
"Baiklah. Namaku memang Yo Han dan seperti telah kau ketahui dalam pertemuan itu, memang aku
adalah seorang tokoh Thian-li-pang, bahkan dianggap sebagai pimpinan. Hanya sikapku memusuhi tiga
keluarga besar para pendekar Pulau Es, Gurun Pasir dan Lembah Siluman adalah palsu. Aku sengaja
memperlihatkan sikap bermusuhan karena sedang menyelidiki hilangnya seorang anak dari ketiga keluarga
besar itu yang terjadi dua puluh tahun yang lalu."
dunia-kangouw.blogspot.com
Ceng Sun tertarik sekali. "Wah, sungguh menarik dan aneh. Bagaimana mungkin dapat mencari anak
hilang yang sudah lewat dua puluh tahun? Anak siapa yang hilang itu dan bagaimana caranya engkau
hendak mencarinya, Yo-toako?"
Yo Han lalu bercerita mengenai hilangnya puteri dari Pendekar Suling Naga Sim Houw dan isterinya, yaitu
bibi gurunya yang bernama Can Bi Lan, yang hilang diculik orang dua puluh tahun yang lalu.
"Itulah sebabnya aku sengaja menyatakan permusuhanku terhadap suami isteri itu, karena aku menduga
bahwa penculiknya tentulah musuh mereka dan musuh mereka itu siapa lagi kalau bukan tokoh kang-ouw,
tokoh sesat yang lihai? Aku sengaja memancing untuk mencari penculik itu. Pada waktu kuceritakan hal ini
kepada Siangkoan Kok, dia mengatakan bahwa yang menculik puteri dari suami isteri pendekar itu adalah
Tiat-liong Sam-heng-te, dan memberi tahu di mana tiga orang tokoh sesat itu tinggal. Aku segera ke sana
dan bertemu seorang gadis yang tentu saja kukira anak yang hilang itu. Aku mengajak ia bicara dan
kepadanya aku mengaku terus terang bahwa aku mencari anak yang hilang dua puluh tahun yang lalu. Aku
bahkan memaksa membuka bajunya dan sepatunya untuk menemukan tanda kelahiran di pundak dan
kaki. Akan tetapi ternyata gadis itu bukan anak yang kucari, dan ternyata ia adalah umpan yang sengaja
dipasang oleh Pao-beng-pai untuk menjebak dan menangkap aku."
Ceng Sun tertawa geli. "He-he-heh, orang-orang Pao-beng-pai memang cerdik dan licik bukan main. Lalu
bagaimana cara mereka dapat menangkap dan membuatmu pingsan, Toako?"
Yo Han lalu menceritakan betapa dia dijebak dan ruangan dalam goa tertutup jeruji besi, kemudian ada
asap bius yang menyerangnya sehingga dia akhirnya roboh pingsan.
"Agaknya Siangkoan Kok memang sudah mencurigaiku atau mendengar tentang sepak terjangku sebagai
Pendekar Tangan Sakti, maka dia memasang jebakan itu. Aku terlalu yakin bahwa gadis itu benar puteri
Paman Sim Houw, maka aku ceroboh dan bodoh, menceritakan maksudku hingga aku ketahuan dan
dijebak. Kini aku telah menceritakan semua dengan terus terang kepadamu, Saudara Cia. Engkau sudah
mengetahui siapa aku dan mengapa aku berada di sini, mengapa pula aku ditangkap. Tiba giliranmu untuk
menceritakan siapa adanya engkau dan mengapa pula engkau berada di sini sehingga akhirnya ditawan
juga."
"Yo-toako, ini merupakan rahasia besar yang amat gawat dan hanya dapat kuceritakan kepada orang yang
benar-benar dapat kupercaya."
Yo Han mengerutkan alisnya. "Saudara Cia! Apakah engkau tidak percaya kepadaku, padahal aku sudah
menceritakan segala rahasiaku kepadamu yang berarti aku percaya padamu?"
"Bukan begitu, Yo-twako. Akan tetapi karena rahasiaku amat besar dan gawat, aku tidak boleh bercerita
kepada orang lain kecuali seorang saudaraku. Nah, kalau engkau mau mengangkat saudara dengan aku,
barulah aku mau bercerita."
Yo Han mengerutkan alisnya. Ia kagum dan suka kepada pemuda ini, akan tetapi sama sekali tak pernah
bermimpi akan mengangkat saudara! Akan tetapi, mereka berdua kini menjadi tawanan dan nyawa mereka
terancam, kalau tak ada saling percaya dan saling pengertian, maka akan sukar bekerja sama. Padahal,
dengan kerja sama pun belum tentu mereka akan dapat lolos menghadapi Pao-beng-pai yang memiliki
banyak anggota dan amat kuat itu, apa lagi memiliki pimpinan yang berilmu tinggi.
“Baiklah," akhirnya dia berkata.
"Bagus, marilah kita bersumpah di sini saja, Toako," Ceng Sun berkata dan mereka pun berlutut di atas
pembaringan.
Yo Han segera mengucapkan sumpahnya. "Saya, Yo Han, bersumpah bahwa mulai saat ini, saya
menganggap saudara Cia Ceng Sun…"
"Namaku yang sebenarnya Cia Sun, Yo-twako," pemuda itu memotong.
Yo Han membuka mata dan menoleh. Temannya itu juga berlutut di sebelahnya. Nama Cia Sun ini tidak
berarti apa-apa baginya. Dia tidak mengenal nama Cia Sun seperti juga dia tidak mengenal nama Cia
dunia-kangouw.blogspot.com
Ceng Sun. Akan tetapi dia merasa seolah-olah ada sesuatu yang aneh pada kedua nama itu, entah
apanya. Dia tak peduli dan mengulang.
"Saya, Yo Han, bersumpah bahwa mulai saat ini saya menganggap saudara Cia Sun sebagai adik angkat
saya, akan saling memberi dan saling mengasihi seperti kakak dan adik kandung."
Cia Sun mengangguk-angguk, kemudian ia pun mengucapkan sumpahnya seperti yang diucapkan Yo Han.
Setelah itu, mereka lalu turun dari pembaringan dan saling memberi hormat.
Cia Sun berkata lebih dulu sambil memberi hormat. "Yo-toako, terimalah hormat adikmu Cia Sun."
"Cia-siauwte, aku merasa berterima kasih sekali. Nah, sekarang, kau ceritakanlah apa yang sebenarnya
terjadi dengan dirimu supaya kakakmu ini mengetahui segalanya dan kita dapat saling membantu."
"Mari kita duduk kembali di pembaringan itu."
Mereka kemudian duduk di tepi pembaringan dan Cia Sun mulai dengan pengakuannya. "Namaku
memang benar Cia Sun dan kalau engkau tidak mengenal nama ini adalah karena aku hanyalah putera
Pangeran Cia Yan yang tidak begitu terkenal di luar istana."
"Ahhh, pantas…!" Yo Han berkata sambil menepuk pahanya.
"Apanya yang pantas?"
"Ketika mendengar she Cia, aku sudah merasa aneh, seperti ada sesuatu yang kukenal atau yang
menarik. Kiranya Paduka adalah cucu Sribaginda Kaisar!"
"Hushhh! Begitukah sikap seorang kakak terhadap adiknya? Yo-toako, aku akan merasa terhina kalau
kakakku sendiri menyebutku paduka. Bagimu aku adalah adik Cia Sun, tanpa embel-embel pangeran dan
sebagainya!"
Melihat sikap pangeran itu yang kelihatan tidak senang, Yo Han cepat-cepat memegang lengannya.
"Maafkan aku, siauwte. Aku hanya bergurau. Nah, coba lanjutkan ceritamu, mengapa engkau sampai
tersesat ke tempat ini dan mengapa pula engkau ditawan oleh Pao-beng-pai?"
"Aku memang sedang merantau, Toako. Aku bosan di istana dan karena sejak kecil aku gemar belajar
silat, maka aku ingin sekali mengenal dunia persilatan, mengenal dunia kang-ouw. Aku lalu mohon pada
orang tuaku untuk merantau meluaskan pengalaman. Demikianlah, aku tiba di sini sesudah mendengar
akan pertemuan yang diadakan oleh Pao-beng-pai."
"Hemmm, apakah engkau merantau sekalian hendak menyelidiki tentang gerakan anti pemerintah?"
"Tidak sama sekali. Hanya kebetulan saja aku mendengar. Akan tetapi, begitu bertemu dengan nona
Siangkoan, seketika aku jatuh cinta!"
Yo Han tersenyum, akan tetapi sikapnya bersungguh-sungguh. "Aku tak merasa heran, Cia-te (adik Cia),
karena ia memang seorang gadis yang luar biasa. Ilmu silatnya tinggi, wajahnya cantik jelita dan anggun,
tidak kalah oleh puteri yang mana pun."
"Akan tetapi, tentunya engkau mengetahui sendiri betapa cintaku kepadanya itu bahkan menyiksa
perasaanku mengingat bahwa ayahnya adalah ketua Pao-beng-pai yang tentu saja memusuhi keluargaku."
"Hemmm, memang liku-liku cinta kadang amat membingungkan. Akan tetapi bagaimana dengan perasaan
nona itu sendiri kepadamu, Cia-te?"
"Dia pun tidak menolak cintaku, bahkan setuju ketika aku mengajukan pinangan secara langsung kepada
ayahnya."
Yo Han memandang kaget dan kagum. "Engkau berani langsung meminangnya, Cia-te? Itu membutuhkan
keberanian hebat! Meminang puteri orang yang baru saja dikenalnya! Dan bagaimana tanggapan orang
tuanya?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Eng-moi dan ibunya setuju, dan ayahnya mengajukan syarat, minta tanda ikatan dan juga kelak dalam
pesta pernikahan harus dihadiri Kaisar."
"Gila…!"
"Engkau tahu siapa aku sebenarnya, Twako. Kalau aku menikah, sudah pasti kakekku, Sri baginda Kaisar,
akan menghadirinya. Oleh karena itu, aku menerima syarat itu dan sebagai tanda pengikat, aku lalu
memberikan seuntai kalung mutiara yang amat mahal harganya."
"Jadi engkau mengaku sebagai pangeran?"
"Aku tidak sebodoh itu. Tentu saja aku tidak mengaku sebagai pangeran. Dan Eng-moi sudah berjanji
kepadaku bahwa kelak setelah menikah dengan aku, dia tidak akan lagi mencampuri urusan
pemberontakan dan permusuhan."
"Aihhh, siauwte! Jika engkau tak mengaku sebagai pangeran, akan tetapi menyanggupi untuk
mendatangkan Sribaginda Kaisar dalam pesta pernikahanmu, hal itu tentu akan membuat mereka curiga
sekali!"
Cia Sun menghela napas panjang. "Itulah kesalahanku. Aku tidak menduga sedemikian jauhnya. Aku
kemudian berpamit kepada mereka, berjanji untuk mengirim utusan dan meminang secara resmi. Dalam
perjalanan, muncul tanpa kusangka-sangka dua orang perwira pengawal yang diutus ayah untuk
memanggil aku pulang karena aku ditunggu oleh tunanganku dan keluarganya."
"Ahh, engkau sudah bertunangan dan engkau masih meminang nona Siangkoan Eng?" Yo Han bertanya
dengan suara mengandung teguran.
Dia mulai memandang pemuda tampan dan halus itu sebagai adiknya sendiri, maka dia secara otomatis
menegurnya…..
"Ahhh, engkau tidak tahu, Twako. Aku ditunangkan oleh orang tuaku dengan gadis itu, akan tetapi
bagaimana aku bisa mencinta seorang gadis yang baru sekali kumelihatnya, itu pun ketika ia masih kecil?
Aku tidak berani menentang kehendak orang tuaku, akan tetapi biar pun aku sudah ditunangkan, namun
aku masih merasa bahwa hatiku bebas. Anehkah kalau aku jatuh cinta kepada Eng-moi? Sudah jelas Engmoi
mencintaku dan aku mencintanya, sedangkan Si Bangau Merah itu, belum tentu ia suka kepadaku
atau aku suka kepadanya."
Sepasang mata Yo Han terbelalak. "Si Bangau Merah...?"
Pangeran itu tersenyum. "Ya, tunanganku adalah seorang gadis pendekar yang berjuluk Si Bangau Merah,
namanya Tan Sian Li. Ayahnya adalah Pendekar Bangau Putih Tan Sin Hong dan ibunya adalah puteri
bekas panglima Kao Cin Liong. Ia masih keturunan keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir. Kenalkah engkau
kepadanya, Twako?"
Yo Han dapat menenangkan kembali hatinya yang terguncang keras mendengar bahwa tunangan
pangeran ini adalah Tan Sian Li, kekasihnya! Ia mendengar keterangan orang tua Sian Li bahwa
kekasihnya itu sudah ditunangkan dengan seorang pangeran, akan tetapi siapa dapat menduga bahwa
pangeran itu adalah pemuda ini, Cia Sun yang kini menjadi adik angkatnya?
"Aku mengenal nama besarnya. Cia-te, apakah engkau pernah melihatnya sekarang?" tanyanya.
Diam-diam dia membandingkan antara Sian Li dan Siangkoan Eng. Memang keduanya cantik jelita,
keduanya memiliki ilmu silat tinggi. Akan tetapi bagi dia, tentu saja Sian Li lebih hebat, lebih segalagalanya.
Biar pun demikian, dia yakin bahwa jika pangeran ini sebelumnya telah melihat Sian Li, belum
tentu dia akan mudah terpikat oleh gadis lain yang secantik Siangkoan Eng sekali pun.
"Sudah kukatakan tadi bahwa aku baru bertemu satu kali dengannya, itu pun saat kami masih remaja.
Bahkan aku sudah hampir lupa bagaimana wajahnya, dan tidak tahu pula bagaimana wataknya."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Cia-te, lanjutkanlah ceritamu. Sesudah engkau bertemu dengan kedua orang perwira pengawal itu, lalu
bagaimana?"
"Selagi mereka bercakap-cakap dengan aku, mendadak saja muncul Eng-moi bersama empat orang
pelayannya. Aku terkejut dan mencoba untuk memberi penjelasan. Akan tetapi dia sudah marah sekali,
menganggap aku sebagai pangeran yang menjadi mata-mata dan tentu akan memusuhi Pao-beng-pai. Ia
lalu merobohkan aku dan menawanku, sedangkan dua orang perwira itu diserang oleh empat orang
pelayannya. Mereka tentu telah tewas. Nah, segala penjelasanku tidak diterima oleh ketua Pao-beng-pai
mau pun Siangkoan Eng sendiri, dan aku lalu dimasukkan ke dalam kamar tahanan ini. Eh, belum lama
aku berada di sini, engkau digotong masuk dalam keadaan pingsan."
Setelah saling mendengar pengalaman mereka yang diceritakan dengan sejujurnya itu, segera dua orang
pemuda yang mengangkat saudara dalam keadaan aneh itu menjadi akrab sekali. Mereka bercakap-cakap
saling menceritakan riwayat mereka.
Akan tetapi ada satu hal yang masih tetap dirahasiakan oleh Yo Han, yaitu mengenai hubungannya
dengan Tan Sian Li, Si Bangau Merah yang menjadi tunangan pangeran itu. Dia merahasiakan hal ini
karena dia tidak ingin menimbulkan suasana yang tak enak di antara mereka.
Kenyataan bahwa pangeran ini tidak saling mencinta dengan Sian Li, bahkan pangeran itu kini jatuh cinta
kepada Siangkoan Eng, menimbulkan perasaan senang dan harapan baru dalam hatinya. Dan timbul pula
tekad dalam hatinya untuk membantu pangeran itu supaya dapat melangsungkan perjodohannya dengan
Siangkoan Eng. Tentu saja, tanpa dia sadari, tanpa dia sengaja, dibalik sikapnya ini terdapat dasar kuat
dari hasrat hatinya agar pangeran itu dapat terlepas dari ikatannya dengan Sian Li…..
********************
Tengah malam telah lewat, akan tetapi Siangkoan Eng masih belum juga tidur. Ia sejak sore tadi mondarmandir
dalam kamarnya dengan wajah muram. Ia menderita tekanan batin dan kebingungan semenjak ia
menangkap Cia Ceng Sun dan memasukkannya ke dalam kamar tahanan, kemudian melapor kepada
ayahnya bahwa Cia Ceng Sun itu sebenarnya adalah seorang pangeran Mancu. Ayahnya marah bukan
main.
"Jahanam, aku sudah curiga! Pantas dia enak saja menerima syaratku bahwa dalam pesta pernikahan
harus hadir kaisar! Kiranya kaisar adalah kakeknya sendiri! Dia tentu datang untuk memata-matai kita!
Celaka! Kalau begitu, bagus sekali bila engkau sudah menawannya, anakku. Kita dapat
mempergunakannya sebagai sandera penting untuk melindungi diri kalau-kalau ada penyerangan dari
pemerintah. Dan kalau dia sudah tidak ada gunanya lagi, akan kusiksa dia sampai mampus!"
Setelah Siangkoan Eng berada di dalam kamarnya sendiri, ucapan terakhir ayahnya itu selalu terngiang di
telinganya. Cia Ceng Sun yang ternyata adalah Pangeran Cia Sun itu akan disiksa ayahnya sampai mati!
Dan dia tidak dapat menipu diri. Dia tetap mencinta pemuda itu, pangeran atau pun bukan!
Apa lagi kalau ia teringat akan percakapannya dengan Cia Sun, teringat betapa pemuda itu berjanji akan
membawanya ke dalam kehidupan yang tenteram penuh kedamaian, tak mau terlibat dalam
pemberontakan dan permusuhan. Ia bahkan hampir yakin bahwa pemuda itu bukan datang untuk mematamatai
Pao-beng-pei.
Akan tetapi, karena terkejut dan marah mendengar pemuda itu seorang pangeran yang menyamar sebagai
pemuda biasa, ia telah menangkapnya. Sekarang pemuda itu sudah menjadi tawanan ayahnya, tawanan
penting dan dia tidak mungkin dapat minta kepada ayahnya untuk mengampuni atau membebaskan Cia
Sun.
Kini Siangkoan Eng menjatuhkan diri duduk di tepi pembaringan, wajahnya muram dan sedih hampir
menangis. Dia bertepuk tangan dua kali, dan sesudah seorang pelayan menjawab dengan ketukan pada
pintu dalam, dia memerintahkan pelayan itu memasuki kamar. Pelayan itu kelihatan heran melihat nonanya
belum tidur.
"Panggil Sui Lan ke sini!" katanya singkat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pelayan itu mengangguk dan cepat keluar. Tak lama kemudian, terdengar ketukan daun pintu sebelah luar
dan suara pelayan tadi melapor bahwa Nona Sui Lan telah datang.
"Sui Lan, masuklah!" berkata Siangkoan Eng.
Daun pintu depan terbuka dan masuklah seorang gadis cantik berusia dua puluh satu tahun. Gadis itu
kelihatan baru bangun tidur, agaknya tadi sedang tidur ketika pelayan memanggilnya. Gadis bernama Tio
Sui Lan ini adalah seorang murid yang pandai dari Siangkoan Kok dan merupakan teman bermain bagi
Siangkoan Eng, juga menjadi orang kepercayaannya, bahkan juga sumoi-nya (adik seperguruan).
"Suci, tengah malam begini memanggilku, ada kepentingan apakah gerangan yang bisa kulakukan
untukmu?" Dan karena mereka memang bergaul akrab, ia pun menghampiri lalu duduk di tepi
pembaringan, di sebelah suci-nya itu.
"Duduklah, dan maaf kalau aku mengganggu tidurmu, Sui Lan."
"Aih, Suci, kenapa sungkan kepadaku? Engkau kelihatannya belum tidur, dan wajahmu kusut serta muram
seperti orang bersedih. Ada apakah, Suci?"
Siangkoan Eng memegang lengan gadis manis itu. "Sumoi, engkau adalah orang yang paling kupercaya.
Kini hatiku sedang risau. Engkau tahu sendiri bahwa pemuda yang tadinya kita kenal sebagai Cia Ceng
Sun itu sudah ditunangkan denganku. Kami saling mencinta. Akan tetapi kemudian ternyata bahwa dia
seorang pangeran dan aku sendiri yang telah menawannya sehingga kini dia dikurung di dalam tahanan."
"Akan tetapi, itu sudah benar, Suci. Bukankah dia dapat menjadi orang berbahaya sekali dan sudah
merugikan kita? Dia memata-matai kita dan dia bahkan sudah menipu Suci. Aku yakin bahwa cintanya pun
hanya pura-pura."
"Diam! Jangan lagi berkata demikian atau aku akan lupa bahwa engkau sumoi-ku dan akan kuhajar kau!"
mendadak Siangkoan Eng membentak dan gadis itu memandang dengan wajah pucat.
"Maafkan aku, Suci..."
Siangkoan Eng menghela napas panjang dan kembali dia memegang lengan gadis itu. "Engkaulah yang
harus memaafkan aku. Aku begini bingung sehingga sangat mudah tersinggung. Ketahuilah, sampai detik
ini aku tak dapat menghilangkan cintaku padanya, apa lagi membencinya. Aku yakin bahwa dia bukan
mata-mata, dan dia benar-benar mencintaiku. Aku menyesal sekali telah terburu nafsu sehingga
menangkapnya."
Diam-diam Siu Lan terkejut, akan tetapi ia tidak berani menyatakan pendapatnya, takut salah. Dia terharu
karena suci-nya atau juga nonanya yang biasanya keras hati itu kini menjadi lemah oleh cinta!
"Akan tetapi, Suci sudah terlanjur menangkap dia, lalu hal apa yang dapat aku lakukan untukmu?"
"Engkau adalah satu-satunya murid ayah yang dipercaya oleh ayah. Semua anggota Pao-beng-pai juga
tunduk padamu. Apa lagi baru saja engkau berjasa dalam menjebak dan menangkap Pendekar Tangan
Sakti Yo Han, tokoh pimpinan Thian-li-pang itu. Nah, karena Cia Sun ditahan dalam satu kamar tahanan
dengan Yo Han, maka aku minta engkau suka berkunjung ke sana dan melihat keadaan Cia Sun."
Sui Lan membelalakkan matanya. "Malam-malam begini? Saat ini sudah tengah malam, Suci. Lalu apa
alasanku tengah malam begini berkunjung ke tempat tahanan?"
"Katakan saja kepada penjaga bahwa engkau sedang mendapat tugas dari ayah untuk mengamati
penjagaan supaya kedua orang tahanan itu tidak sampai lolos. Perhatikan apakah Cia Sun telah
diperlakukan dengan baik oleh para penjaga seperti yang sudah aku perintahkan kepada mereka, apakah
ia mendapatkan makanan sepantasnya, bagai mana keadaannya. Kemudian, engkau harus dapat
menyerahkan ini kepada Cia Sun tanpa diketahui penjaga." Siangkoan Eng menyerahkan sebuah surat
yang dilipat-lipat menjadi kecil kepada sumoi-nya.
"Suci, engkau melibatkan aku dalam pekerjaan yang amat berbahaya, sebab kalau suhu tahu tentu aku
akan dibunuhnya. Setidaknya, aku berhak mengetahui, apa yang akan kau lakukan agar aku dapat
dunia-kangouw.blogspot.com
menyesuaikan sikapku. Aku pasti akan membantumu, Suci. Akan tetapi, apakah maksudmu memberiku
tugas ini? Apa artinya semua ini dan apa rencanamu?"
Siangkoan Eng merangkul sumoi-nya. "Sumoi, kalau engkau berkhianat kepadaku dan melaporkan kepada
ayah, aku akan celaka. Engkau saja yang dapat kupercaya. Aku memberi surat kepada Cia Sun, minta
supaya dia bersiap-siap menyambut rencanaku malam ini."
"Dan apa rencanamu itu, Suci?"
Siangkoan Eng mengusir semua keraguannya. Memang berbahaya sekali. Kalau dia memberi tahu kepada
sumoi-nya dan gadis itu melaporkan kepada ayahnya, bukan saja rencananya gagal, akan tetapi bahkan
amat membahayakan keselamatan Cia Sun dan dia sendiri. Akan tetapi, dia tidak melihat jalan lain.
"Sumoi, setelah larut malam nanti, aku akan membebaskan Cia Sun."
Gadis itu terbelalak, kaget dan heran.
"Suci! Engkau yang menangkapnya dan melaporkannya kepada suhu, dan engkau pula yang kini akan
membebaskannya. Bagaimana pula ini?"
"Sudahlah, Sumoi. Ini demi cintaku, dan untuk itu aku siap mempertaruhkan nyawaku. Maukah engkau
membantuku? Atau engkau akan melaporkan kepada ayah?"
Sui Lan merangkul suci-nya. "Suci, engkau tahu bahwa aku menganggapmu bagaikan kakak sendiri. Aku
hidup sebatang kara dan di dunia ini hanya engkaulah satu-satunya sahabatku, juga saudaraku.
Percayalah, aku akan melaksanakan tugasmu dengan baik. Akan tetapi, dia satu kamar dengan orang she
Yo itu. Bagaimana?"
"Justru aku ingin memanfaatkan dia. Kita tahu, ilmu silat Si Tangan Sakti itu amat hebat. Kalau mereka
berdua melarikan diri bersama, aku yakin ayah sendiri tidak akan mampu menangkap mereka dan Cia Sun
tentu akan dapat terbebas." Siangkoan Eng lalu turun dari pembaringan. "Nah, lakukanlah tugasmu,
Sumoi. Hati-hati, jangan ada yang melihat ketika engkau menyerahkan surat itu karena kalau ketahuan
penjaga, semua rencanaku dapat gagal sama sekali!"
"Percayalah padaku, Suci." Sui Lan meninggalkan kamar suci-nya dan setelah Sui Lan pergi, Siangkoan
Eng duduk termenung.
Sementara itu, dengan langkah biasa Sui Lan pergi ke sebuah bangunan khusus yang berada di
perkampungan Pao-beng-pai itu, bangunan yang digunakan sebagai tempat tawanan. Para penjaga tentu
saja tidak melarang dia masuk, bahkan memberi hormat, apa lagi ketika Sui Lan mengatakan bahwa ia
mendapat tugas khusus dari ketua untuk memeriksa keadaan tawanan.
Juga para penjaga sebelah dalam yang berlapis-lapis, semuanya mengenal baik siapa gadis ini. Murid
tersayang dari Siangkoan Kok, sekaligus orang kepercayaan pimpinan Pao-beng-pai. Bahkan semua orang
tahu bahwa Pendekar Tangan Sakti Yo Han, tokoh Thian-li-pang, dapat ditawan berkat pancingan nona ini.
Diam-diam Sui Lan meragukan kemungkinan berhasilnya rencana yang dibuat suci-nya. Bagaimana
mungkin tawanan dapat lolos dari tempat ini? Selain penjagaan ketat yang berlapis-lapis, juga satu-satunya
jalan keluar harus melalui rintangan-rintangan berupa jebakan-jebakan rahasia yang sukar ditembus.
Akhirnya tibalah ia di depan kamar tahanan yang berjeruji tebal itu. Dan ia melihat dua orang tawanan itu
sedang duduk bersila, saling berhadapan dan mengobrol! Kelihatan mereka demikian tenangnya!
Pangeran itu bahkan nampak gembira. Ketika ia berdiri di depan jeruji kamar itu, mereka berdua menoleh
kemudian memandang dirinya.
Melihat Sui Lan, Yo Han lalu tersenyum masam. "Nah, itulah dia gadis lihai yang sudah digunakan sebagai
umpan sehingga aku terjebak," kata Yo Han tanpa terdengar suara atau pandang mata yang membenci
gadis itu.
Sesuai dengan perintah suci-nya, Sui Lan memperhatikan keadaan dua orang tawanan itu, terutama Cia
Sun. Dia melihat betapa mereka dalam keadaan sehat, bahkan wajah mereka sama sekali tidak
dunia-kangouw.blogspot.com
memperlihatkan rasa takut atau murung. Jelas bahwa mereka diperlakukan dengan baik oleh para penjaga
seperti yang telah diperintahkan suci-nya.
Sui Lan memberi isyarat kepada para penjaga untuk menjauh. Mereka mentaati, akan tetapi tentu saja
memandang dari jauh sambil mendengarkan. Sui Lan mengambil sikap seperti orang mengejek.
"Hemmm, kalian sudah tertangkap seperti dua ekor tikus, masih berlagak. Akuilah saja bahwa kalian sudah
memata-matai Pao-beng-pai. Benar, tidak? Kalian menyamar dan berpura-pura, sungguh licik dan
pengecut!"
Sui Lan sengaja mengejek dan memaki dengan suara nyaring sehingga terdengar oleh para petugas yang
melakukan penjagaan di bagian terdalam tempat itu.
Yo Han tersenyum. Dia seorang yang cerdik dan dia melihat sikap yang tidak wajar dari gadis itu, bahkan
dapat merasakan betapa suara gadis itu sengaja ditinggikan supaya terdengar oleh semua orang. Apa
yang tersembunyi di balik sikap yang disengaja itu? Pasti ada! Karena itu, dia segera menanggapi,
disesuaikan dengan sikap gadis itu yang sengaja menghina mereka. Kesengajaan yang dapat dia lihat dari
suara dan sikap gadis itu yang tidak sewajarnya.
"Aha, kiranya engkau gadis palsu, gadis licik dan curang! Bukannya kami yang curang, melainkan Paobeng-
pai. Kalau tidak licik, pengecut dan curang, coba bebaskan kami dan mari kita bertanding sampai
seribu jurus!"
Sui Lan semakin marah. "Jahanam! Engkau telah merobek bajuku, engkau pun melepas sepatuku. Engkau
laki-laki mesum dan kurang ajar! Kalau tidak dihalangi suhu, tentu engkau sudah kubunuh!"
"Ha-ha-ha, engkau mampu membunuhku? Kita lihat saja!" kata Yo Han.
Cia Sun memandang kakak angkatnya itu dengan mata terbelalak. Ia mengenal Yo Han tidak seperti itu!
Begitu kasar kata-katanya terhadap seorang gadis!
"Keparat busuk, rasakan dan makan jarumku ini!"
Tangan kiri gadis itu bergerak dan sinar lembut meluncur ke dalam kamar tahanan itu melalui celah-celah
jeruji yang cukup lebar. Jika dipandang oleh para penjaga dari jauh, jelas bahwa gadis itu menyerang Yo
Han dengan jarum rahasia yang ampuh!
Akan tetapi, Yo Han menangkap sinar putih yang menyambarnya, dan menyimpannya ke dalam saku
bajunya dengan kecepatan yang tidak dapat terlihat oleh para penjaga. Memang jarum yang disambitkan
Sui Lan, namun jarum yang membawa lipatan kertas kecil!
Melihat sambitannya tidak mengenai sasaran, Sui Lan memaki-maki lalu meninggalkan tempat itu,
memesan kepada para penjaga agar menjaga dengan ketat. "Kecuali Suhu sendiri, suci Siangkoan Eng,
dan aku sendiri, siapa pun dilarang memasuki tempat ini! Mengerti?!" bentaknya kepada para penjaga
sebelum ia pergi dari situ.
Dua jam kemudian, malam sudah sangat larut dan hawa yang dingin membuat semua orang mengantuk.
Demikian pula para penjaga di bangunan tempat tahanan itu. Akan tetapi mereka tidak berani tidur dan
melakukan penjagaan ketat secara bergantian.
Ketika Siangkoan Eng muncul dan membentak para penjaga yang sedikit mengantuk, mereka terkejut dan
cepat mengambil sikap tegak dan siap. Sikap Siangkoan Eng galak terhadap para penjaga. Dia memarahi
setiap orang penjaga yang kelihatan mengantuk atau habis tidur.
"Kalian tak boleh lengah sedikit pun! Dua orang tawanan ini amat lihai dan amat penting. Kini aku harus
memeriksa segala kemungkinan, jangan sampai mereka lolos!" katanya dengan suara galak.
Suaranya terdengar sampai kamar tahanan di mana kedua orang pemuda itu sedang duduk bersila.
Mendengar suara ini, berubah wajah Cia Sun dan jantung kedua orang tawanan itu berdebar tegang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tidak lama kemudian, setelah memeriksa di sepanjang jalan, tibalah Siangkoan Eng di lorong terakhir yang
menuju ke kamar-kamar tahanan. Dua belas orang penjaga lorong itu menyambut dengan sikap yang
tegak dan siap.
"Tidak ada yang tertidur di antara kalian?" bentak Siangkoan Eng.
"Tidak, Nona."
"Bagus! Siapa yang memegang kunci kamar tahanan?” bentaknya pula. "Ia mempunyai tanggung jawab
yang amat penting!"
"Saya, Nona!" kata seorang di antara para penjaga yang bertubuh tinggi besar, bermuka bopeng, yaitu
kepala regu yang menjaga kamar tahanan dan lorong itu. "Apakah sudah kau periksa benar bahwa pintu itu
terkunci rapat?"
"Sudah, Nona."
"Berikan kuncinya kepadaku. Hendak aku periksa sendiri!" kata Siangkoan Eng. "Awas kau kalau
menguncinya tidak benar!"
"Silakan, Nona!" kata si bopeng sambil menyerahkan sebuah kunci yang besar.
Karena sikap Siangkoan Eng yang amat galak dan keras itu, para penjaga nampak takut kepadanya, tak
berani mendekat sehingga ketika gadis itu menghampiri pintu jeruji besi kamar tahanan, para penjaga
hanya melihat dari jarak sepuluh meter.
Pada saat gadis itu menghampiri pintu jeruji, mereka melihat betapa dua orang tawanan itu tidur di lantai, di
tengah kamar, agak mendekat pintu. Mereka tidur mendengkur, dan Siangkoan Eng mencoba kunci pintu,
apakah terkunci dengan benar atau tidak.
Pada saat itu, dua orang tawanan itu bergerak cepat bagaikan kilat dan Yo Han sudah menotok gadis itu
melalui celah jeruji, lantas mencengkeram pundaknya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya
mengancam lehernya. Cia Sun juga cepat mencabut pedang yang terselip di pinggang Siangkoan Eng, lalu
menghardik kepada para penjaga yang berloncatan mendekat.
"Semua berhenti dan jangan ada yang bergerak. Kalau ada yang bergerak, kami akan membunuh
Siangkoan Eng!"
Bentakan itu berpengaruh karena para penjaga yang dua belas orang banyaknya itu tak berani berkutik,
seperti telah berubah menjadi arca di tempat masing-masing. Tentu saja mereka tidak menghendaki nona
mereka dibunuh.
Nampaknya nona mereka memang sama sekali tidak dapat menyelamatkan diri. Sudah ditotok,
dicengkeram lagi. Dan mereka semua juga tahu atau sudah mendengar betapa lihainya dua orang
tawanan itu, terutama sekali Yo Han yang kini mencengkeram nona mereka.
Cia Sun merampas kunci dan melalui celah jeruji, dia membuka kunci pintu, lalu mereka berdua keluar. Yo
Han menelikung kedua lengan gadis itu ke belakang punggung, lalu membebaskan totokannya.
"Hayo antar kami keluar. Bergerak sedikit saja melawan, lehermu akan kupatahkan!" katanya geram.
Siangkoan Eng kelihatan terkejut dan marah, akan tetapi dia pun tahu bahwa dia tidak berdaya. Ketika
melihat para penjaga memandangnya dengan bingung, dia pun berkata gemas, “Biar mereka lewat. Lain
kali masih ada kesempatan bagi kita untuk menangkap mereka kembali dan kalian akan mendapat bagian
menyiksa mereka!"
Para penjaga terpaksa membiarkan gadis itu digiring keluar oleh dua orang tawanan itu. Demikian pula
para penjaga di tengah dan di luar, tidak ada yang berani berkutik melihat nona mereka diancam seperti
itu. Siangkoan Eng juga menyuruh mereka mundur dan membiarkan dua orang tawanan itu lewat sambil
mengeluarkan ancaman bahwa kelak mereka semua pasti akan dapat menangkap kembali dan membalas
kedua orang itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Karena menggiring Siangkoan Eng, tentu saja para penjaga tidak berani menggunakan alat rahasia untuk
menjebak. Nona mereka terancam dan sekali menggerakkan tangan, kedua orang tawanan itu dapat
membunuhnya dengan mudah. Tentu saja mereka tidak berani berkutik, bahkan membunyikan tanda
bahaya pun tidak berani. Apa lagi nona mereka sudah memerintahkan agar mereka tidak melawan dan
membiarkan dua orang tawanan itu lewat.
Karena tidak ada penjaga yang berani menghalangi, dengan sangat mudahnya Yo Han dan Cia Sun dapat
keluar dari perkampungan Pao-beng-pai itu menggiring Siangkoan Eng. Setelah mereka keluar dari pintu
gerbang, barulah para penjaga berani berlari-lari untuk memberi laporan kepada Siangkoan Kok.
Akan tetapi, ketika Siangkoan Kok terbangun dan terkejut, juga marah sekali mendengar betapa kedua
orang tawanan itu lolos bahkan menggiring Siangkoan Eng yang dibuat tidak berdaya, kedua orang
tawanan itu telah lari jauh.
Setelah tiba di luar pintu gerbang, agak jauh di tempat sepi, Yo Han melepaskan kedua tangan Siangkoan
Eng.
"Eng-moi..." Cia Sun memegang kedua lengan gadis itu.
Siangkoan Eng memandang dengan muka sedih, kemudian berkata dengan suara lirih, "Engkau
pergilah..."
"Eng-moi, mengapa engkau tidak ikut kami saja pergi meninggalkan neraka itu?" bujuk Cia Sun.
"Neraka itu tempat tinggal ayah ibuku, Koko. Bagaimana aku dapat meninggalkan ibuku begitu saja? Tidak,
kalian pergilah cepat sebelum ayah dan para anggota Pao-beng-pai datang."
"Eng-moi, aku bersumpah akan kembali dan membawamu sebagai isteriku. Aku cinta padamu, Eng-moi."
"Aku pun cinta padamu, tidak peduli engkau ini pangeran atau pengemis...,” Siangkoan Eng berkata dalam
isaknya, akan tetapi isaknya terhenti ketika Cia Sun, tanpa sungkan dan malu di depan Yo Han, merangkul
dan menciumnya.
Pada saat itu terdengar suara ribut-ribut yang datangnya dari perkampungan itu hingga mereka berdua
saling melepaskan rangkulan.
"Pergilah sebelum terlambat," kata Siangkoan Eng.
"Benar, Cia-te, kita harus cepat-cepat pergi. Nona, maafkan kami, terpaksa aku harus menotokmu."
"Silakan," kata Siangkoan Eng.
Yo Han cepat menotok gadis itu sehingga lemas tak mampu bergerak, bahkan dia pun menotok mulutnya
sehingga gadis itu tidak dapat bersuara pula. Cia Sun menyambut tubuh yang lemas itu agar tidak terjatuh,
lalu merebahkannya telentang di atas rumput. Setelah menciumnya sekali lagi, Cia Sun terpaksa melompat
dan mengejar Yo Han yang sudah lari terlebih dahulu karena kini terdengar langkah kaki orang-orang
berlari datang dan nampak pula mereka membawa obor.
Siangkoan Kok dan isterinya yang memimpin para anak buah Pao-beng-pai melakukan pengejaran,
menemukan puteri mereka dalam keadaan telentang di atas rumput, tanpa dapat bersuara mau pun
bergerak. Dengan marah Siangkoan Kok memerintahkan anak buahnya mencari dan melakukan
pengejaran sampai ke bawah bukit, sementara dia dan isterinya membebaskan totokan pada diri
Siangkoan Eng.
Dengan muka merah dan mata berkilat menahan kemarahannya, Siangkoan Kok yang tak mau ribut-ribut
memarahi puterinya di tempat terbuka, kemudian mengajak isteri dan puterinya kembali ke rumah mereka,
dan memerintahkan semua anak buahnya untuk terus mencari.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sekarang mereka bertiga berada di dalam rumah, di ruangan dalam di mana tidak ada pelayan yang boleh
masuk. Semua pelayan diperintahkan untuk keluar dari ruangan itu, dan mereka menanti di luar dengan
wajah pucat karena mereka maklum bahwa ketua mereka marah bukan main.
"Nah, sekarang katakanlah terus terang, apa yang sudah kau lakukan!" Siangkoan Kok membentak
puterinya yang telah duduk di samping ibunya.
Siangkoan Eng mengangkat muka menatap wajah ayahnya, sedikit pun tidak merasa takut walau pun ia
tahu bahwa ayahnya marah sekali karena kedua orang tawanan itu dapat meloloskan diri.
"Apa yang harus kukatakan, Ayah? Tadi, untuk merasa yakin bahwa dua orang tawanan itu tidak dapat
melarikan diri, aku memeriksa tempat tawanan itu. Mendadak, ketika aku memeriksa kunci pintu kamar
tahanan itu, Pendekar Tangan Sakti yang tadinya kukira tidur pulas, meloncat dan telah menyergapku
melalui celah jeruji besi. Gerakannya tak terduga dan cepat bukan main sehingga aku dapat ditotoknya.
Mereka membuka piritu dengan kunci setelah membuat aku tidak berdaya, dan mengancam para penjaga
untuk membunuhku apa bila mereka mencoba menghalangi larinya kedua orang tawanan itu. Nah, setelah
berhasil keluar dari pintu gerbang, mereka lalu menotok dan meninggalkan aku, sampai Ayah
menemukanku."
"Kau bohong! Kau pembohong besar!" Siangkoan Kok membentak dan matanya melotot lebar.
Dalam kemarahannya, pria yang tinggi besar dan gagah ini kelihatan semakin besar dan garang
menyeramkan. Akan tetapi Siangkoan Eng tenang-tenang saja.
"Ayah, kenapa Ayah mengatakan aku bohong? Untuk apa aku berbohong? Kenapa aku harus
membohongi Ayah?"
"Mengapa…?! Karena engkau sudah jatuh cinta kepada pangeran Mancu itu! Karena engkau sudah tergilagila
padanya! Tak tahu malu, merendahkan diri tergila-gila kepada seorang pangeran Mancu!"
"Hemmm, apa alasan Ayah menuduhku berbohong?"
"Apa alasannya…?! Bocah murtad, pengkhianat! Seumur hidupku, belum pernah aku melihat engkau
sedemikian penakut dan bodoh sehingga dapat dikelabui musuh, dapat disergap dan ditundukkan dari
dalam kamar tahanan, lalu sedemikian penakut sehingga ketika engkau ditawan dan digiring keluar,
engkau memerintahkan para anak buah kita untuk membiarkan kedua orang itu pergi! Kau boleh
mengelabui orang lain, akan tetapi tidak mungkin mampu membohongi aku! Aku sudah sangat mengenal
watakmu. Engkau tak mengenal takut, engkau cerdik, tak mungkin dapat ditundukkan dua orang tawanan
semudah itu, kecuali kalau engkau memang sengaja hendak membantu mereka lolos!"
"Itu hanya dugaan Ayah belaka. Mana buktinya?" tantang Siangkoan Eng yang memang sejak kecil
digembleng oleh ayah ibunya agar tidak mengenal takut.
"Bocah setan. Engkau masih mau menantangku untuk menunjukkan bukti? Kau kira aku belum melakukan
penyelidikan dan belum membongkar rahasiamu yang busuk dan memalukan?" Siangkoan Kok
membentak ke arah pintu memanggil pelayan dan ketika seorang pelayan wanita masuk dengan sikap
takut-takut, dia membentak, "Panggil Sui Lan ke sini! Cepat!!"
Pelayan itu lari tunggang langgang dan diam-diam Siangkoan Eng terkejut. Apakah Sui Lan telah
mengkhianatinya dan melapor kepada ayahnya? Rasanya hal itu tak mungkin terjadi. Ia hampir yakin akan
kesetiaan sumoi-nya itu kepadanya.
Tidak lama kemudian Sui Lan masuk dan memberi hormat kepada suhu-nya. Dengan suara biasa ia
berkata seperti orang melapor, "Maaf, Suhu. Sudah teecu (murid) dengar dari laporan anak buah bahwa
pencarian itu tidak berhasil..."
“Diam kau!" Siangkoan Kok membentak. "Jangan bicara kalau tidak kutanya, dan setiap jawaban harus kau
jawab sejujurnya!"
"Baik, Suhu."
dunia-kangouw.blogspot.com
Gadis itu pun lalu duduk di atas bangku yang ditunjuk oleh gurunya. Berbeda dengan Siangkoan Eng yang
nampaknya masih tenang, Tio Sui Lan kelihatan agak pucat dan matanya mengandung kegelisahan ketika
melihat kemarahan gurunya.
Setelah melihat muridnya yang sebenarnya merupakan murid yang paling disayangnya itu duduk,
Siangkoan Kok lalu menghadapi puterinya lagi. Dia tetap berdiri, bagaikan gunung karang di depan
puterinya yang duduk di samping ibunya. Lauw Cu Sin, wanita berusia empat puluh lima tahun yang masih
cantik itu, mengerutkan alisnya dan hanya mendengarkan, pandang matanya juga gelisah.
"Nah, sekarang Sui Lan telah berada di sini. Eng Eng, apakah engkau masih tidak mau mengakui
pengkhianatan terhadap Pao-beng-pai dan bahwa engkau sudah membantu kedua orang itu
membebaskan diri?"
"Ayah hanya menuduh tanpa bukti," kembali Siangkoan Eng atau Eng Eng membantah, sikapnya tetap
berani.
"Brakkkk…!!"
Meja di samping kirinya dihantam tangan kiri Siangkoan Kok sehingga papan meja itu hancur berkepingkeping.
"Engkau masih berani mengatakan aku menuduhmu tanpa bukti? Anak durhaka, dengar baik-baik. Aku
telah menyelidiki dan menanyai para penjaga. Dua jam sebelum engkau muncul, si iblis cilik Sui Lan ini
sudah datang lebih dahulu ke tempat tahanan, memasuki tempat tahanan dan mengatakan kepada para
penjaga bahwa aku sengaja memerintah dia agar menjaga para tawanan. Para penjaga lalu melihat Sui
Lan cekcok dengan para tahanan, kemudian ia menyambitkan jarum ke arah para tahanan. Para penjaga
melihat berkelebatnya sinar putih halus! Sui Lan, jawab. Benarkah itu?"
"Benar, Suhu. Teecu marah dan menyerang orang she Yo dengan jarum teecu dan..."
"Bohong! Ingin kau kurobek mulutmu? Mana mungkin jarum rahasiamu bersinar putih? Tentu bukan jarum
yang kau sambitkan, melainkan surat, gulungan kertas atau alat lain untuk mengirim pesan!"
"Suhu..."
"Diam!"
Tangan Siangkoan Kok menyambar ke arah muridnya sehingga gadis itu terpelanting dari bangkunya dan
bajunya robek lebar memperlihatkan sebagian dadanya. Sui Lan bangkit dan berlutut sambil membetulkan
letak bajunya. Untung gurunya tidak berniat membunuhnya sehingga ia tidak terluka.
"Eng Eng, engkau masih hendak membantah? Engkau sudah mengirim pesan lewat Sui Lan kepada
pangeran Mancu itu. Kemudian, dua jam setelah itu, engkau sendiri yang datang berkunjung ke sana,
berpura-pura melakukan pemeriksaan dan sengaja engkau membiarkan dirimu dibuat tak berdaya! Engkau
bahkan membantu mereka lolos karena engkau sudah tergila-gila kepada seorang pangeran Mancu. Tak
tahu malu!"
Kini tahulah Eng Eng bahwa Sui Lan tidak berkhianat. Rahasianya terbongkar semata-mata karena
kecerdikan ayahnya yang memang luar biasa. Ia menghela napas panjang.
"Ayah, aku melakukan hal itu demi menjaga baik nama Ayah."
Mata itu melotot. "Apa kau bilang? Menjaga nama baikku?" Karena heran, maka untuk sementara
kemarahannya tertunda.
"Ayah adalah ketua Pao-beng-pai yang baru saja mengenalkan diri kepada para tokoh kang-ouw, dikenal
sebagai pemimpin perkumpulan patriot yang gagah perkasa. Akan tetapi, Ayah sudah menawan Pendekar
Tangan Sakti secara curang. Bagaimana kalau sampai terdengar dunia persilatan? Apa lagi aku yakin
bahwa Pangeran Cia Sun bukan seorang mata-mata Mancu. Biar pun dia pangeran Mancu, akan tetapi dia
bukan mata-mata, melainkan seorang pemuda yang ingin meluaskan pengetahuan dan pengalaman di
dunia kang-ouw. Mana mungkin seorang pangeran melakukan pekerjaan mata-mata yang berbahaya?
Tentu keluarganya tidak akan menyetujuinya."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Cukup! Katakan saja engkau tergila-gila kepada pangeran Mancu itu!"
Siangkoan Eng yang yakin bahwa ayahnya amat menyayangnya dan tidak mungkin dia sampai terancam
mala petaka oleh tangan ayahnya, kemudian menjawab dengan sama lantangnya, "Tidak kusangkal, Ayah.
Memang aku mencinta Cia Sun dan dia pun amat mencintaku. Akan tetapi, bukankah Ayah juga sudah
menerima pinangannya, menerima pula tanda pengikat perjodohannya, dan bahkan Ayah mengajukan
syarat yang sudah disanggupinya? Apakah Ayah ingin menarik kembali janji dan ucapan Ayah?"
"Jahanam kau! Kau ingin Ayah mempunyai mantu seorang pangeran Mancu?"
"Mengapa tidak, Ayah? Dia pangeran biasa, bukan calon kaisar!"
"Keparat, anak durhaka, engkau memang patut dihajar!" bentak Siangkoan Kok dan dia pun menerjang ke
depan, tangannya terayun memukul ke arah kepala Eng Eng.
Gadis itu terkejut. Ia sama sekali tak pernah menduga bahwa ayahnya akan sedemikian marahnya
sehingga mau memukulnya, hal yang selama ini belum pernah dilakukan oleh ayahnya. Yang mengejutkan
hatinya adalah ketika melihat betapa tangan ayahnya itu memukul ke arah kepalanya. Pukulan maut!
Kalau kepalanya terkena pukulan itu, tentu akan pecah dan ia pun akan tewas seketika! Otomatis, sebagai
seorang ahli silat yang gerakannya serba otomatis, dengan cepat dia menggerakkan lengan ke atas untuk
menangkis karena untuk mengelak, ia tidak berani dan hal itu tentu akan membuat ayahnya menjadi
semakin marah.
"Desss...!!"
Meski ia telah menangkis, karena ia tidak berani pula mengerahkan seluruh tenaganya, hantaman ayahnya
itu tetap saja hebat bukan main. Tenaga yang dahsyat menerpa dan menerjang dirinya sehingga membuat
kursi yang didudukinya patah-patah dan tubuhnya terjengkang sampai berguling-guling. Sungguh hal ini
tidak disangkanya sama sekali.
Kepalanya terasa pening, dadanya pun nyeri karena hawa pukulan itu menerjang masuk lewat lengannya.
Dari mulutnya keluar darah segar dan Eng Eng yang kemudian rebah menelungkup itu, menggerakkan
tubuh telentang dan ia bertopang pada siku kanannya. Ia kemudian mengangkat tangan kiri ke arah
ayahnya, bibirnya berdarah dan matanya terbelalak.
"Ayah...?!" terkandung penasaran, keheranan dan kekagetan dalam suara itu.
Melihat keadaan Eng Eng, kemarahan Siangkoan Kok bukan mereda, namun menjadi semakin marah
karena tangkisan puterinya tadi dianggapnya sebagai perlawanan.
"Engkau memang patut dibunuh!" bentaknya lagi dan dia sudah mencabut pedangnya, menerjang ke
depan dan mengayun pedangnya untuk memenggal leher Eng Eng yang masih bertopang pada sikunya.
"Singgg...! Tranggg...!"
Pedangnya tertangkis pedang lain dan dia cepat meloncat ke belakang. Mukanya merah sekali saat ia
melihat bahwa yang menangkis pedangnya adalah isterinya sendiri, Lauw Cu Si! Wanita cantik itu berdiri
dengan pedang di tangan, dan dengan mata mencorong ia menghadapi suaminya.
"Engkau harus melangkahi mayatku terlebih dulu jika hendak membunuhnya!" katanya, suaranya tenang
akan tetapi mengandung ancaman yang mengerikan.
Kalau saja yang menantang itu orang lain, tanpa banyak cakap lagi tentu Siangkoan Kok akan
membunuhnya. Akan tetapi, isterinya adalah keturunan Beng-kauw. Biar pun Beng-kauw telah hancur,
namun di dunia persilatan masih terdapat banyak sekali bekas tokoh Beng-kauw yang lihai sekali. Kalau
dia membunuh isterinya, apa lagi tanpa sebab yang kuat, tentu dia akan berhadapan dengan banyak
musuh yang amat berbahaya dan ini berarti akan melemahkan Pao-beng-pai.
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat keraguan ayahnya, Eng Eng yang masih merasa sesak dadanya dan kini sudah bangkit duduk
berkata memelas. "Ayah, bukankah aku ini anakmu, darah-dagingmu? Seekor binatang buas sekali pun
tidak akan membunuh anak sendiri..."
"Dia bukan ayahmu! Engkau bukan anaknya!" Tiba-tiba Lauw Cu Si berkata dan wajah Eng Eng seketika
pucat sekali, matanya terbelalak dan hampir ia jatuh pingsan.
"Ibu... dia... dia bukan ayahku...?" Ia berbisik-bisik berulang-ulang. Ibunya sudah berlutut dan
merangkulnya.
"Tenanglah, tidak akan ada manusia di dunia ini dapat membunuhmu tanpa melangkahi mayatku!" kata ibu
itu sambil merangkul puterinya dan memandang suaminya dengan sinar mata menantang.
Siangkoan Kok menjadi merah sekali mukanya. "Baiklah, kalian ibu dan anak memang jahanam! Memang
kau bukan anakku! Ketika menjadi isteriku, ibumu telah membawa engkau! Seorang gadis sudah
mempunyai anak tanpa ayah. Huh, perempuan macam apa itu! Dan sekarang, kalian hendak mengkhianati
aku!"
Setelah berkata demikian, Siangkoan Kok menyarungkan pedangnya, kemudian hendak melangkah keluar.
Akan tetapi dia melihat Sui Lan yang masih berlutut dengan muka pucat dan baju robek.
"Engkau juga mengkhianatiku. Mestinya engkau kubunuh! Akan tetapi, aku tidak akan membunuhmu,
tetapi mulai sekarang, engkau menggantikan perempuan laknat itu dan melayaniku sebagai isteriku!"
Sekali tangannya bergerak dia telah menyambar tubuh Sui Lan dan memondongnya keluar dari kamar itu.
"Tidak, Suhu...! Jangan, Suhu...! Tidaaaaakkk...!"
Gadis itu menjerit-jerit, namun Siangkoan Kok tidak peduli dan melangkah lebar menuju ke kamarnya
sendiri, menutupkan daun pintu dengan keras dan tangis Sui Lan semakin sayup terdengar.
"Ibu... ahh, Ibu... aku… aku harus menolong sumoi...," Eng Eng mencoba untuk bangkit berdiri, akan tetapi
ia terhuyung dan jatuh ke dalam rangkulan ibunya.
"Hemmm, apa yang dapat kau lakukan, Eng Eng? Marilah kurawat lukamu, kita masuk ke kamarmu. Aku
tidak sudi lagi memasuki kamar yang tadinya menjadi kamar kami itu. Mulai sekarang aku pindah ke
kamarmu."
"Tapi, Ibu...! Kasihan Sui Lan. Ibu, tolonglah sumoi. Setidaknya, ayah... ahh, suami Ibu masih memandang
muka Ibu. Tolonglah, cegahlah agar sumoi tidak menjadi korban."
Ibunya menggoyang kedua pundak, sikapnya acuh saja. Ia adalah seorang bekas tokoh besar Beng-kauw,
sebuah perkumpulan sesat. Ia adalah seorang tokoh sesat sehingga peristiwa seperti itu tidak ada artinya
baginya. Ia tidak peduli seujung rambut pun.
"Tidak ada sangkut pautnya dengan aku. Kalau dia hendak membunuhmu, barulah aku akan bangkit. Akan
tetapi Sui Lan? Huh, aku tahu bahwa sudah lama Siangkoan Kok memandang padanya penuh birahi.
Agaknya sekarang ini kesempatan baginya. Sui Lan bersalah, kalau aku mencegahnya sekali pun, tentu
dia akan dibunuh gurunya. Biarlah, jangan ambil peduli!" Ibu itu menarik Eng Eng ke kamar puterinya yang
berada agak jauh di samping kiri.
Eng Eng menangis karena merasa tidak berdaya. "Lebih baik dia mati... lebih baik dia mati..." Ia berulangulang
berbisik, akan tetapi ibunya tidak mempedulikannya dan tetap melanjutkan membawanya ke kamar.
Eng Eng mencoba untuk mengusir bayangan sumoi-nya yang meronta-ronta dalam pondongan pria yang
selama ini dianggapnya ayahnya, ditaatinya dan disayangnya.
"Ibu, kenapa selama ini Ibu tidak pernah memberi tahu kepadaku bahwa dia itu bukan ayahku?" tanya Eng
Eng ketika ibunya memeriksa tubuhnya, lalu menyalurkan tenaga sinkang untuk menyembuhkan luka di
dalam tubuhnya karena terguncang hawa pukulan Siangkoan Kok yang kuat. Kemudian ia pun minum obat
yang diberikan ibunya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah puterinya menelan obat, barulah Lauw Cu Si menjawab. "Untuk apa? Selama ini dia
menyayangmu seperti anak sendiri. Baru setelah kalian bertentangan dalam urusan gerakan Pao-beng-pai,
dia hampir membunuhmu. Engkau masih terlalu kecil ketika aku menjadi isterinya, maka kupikir sebaiknya
tak perlu kau tahu bahwa dia bukan ayahmu, sampai tadi ketika dia hampir membunuhmu."
"Kalau begitu... nama keluargaku bukan Siangkoan?"
"Tentu saja bukan!"
"Lalu siapa? Siapakah nama ayah kandungku dan di mana dia, Ibu?"
"Hemmm, dia sudah mati. Kalau engkau tidak suka nama marga Siangkoan boleh kau pakai nama
keluargaku, yaitu Lauw. Namaku Lauw Cu Si dan kalau engkau tidak suka nama Siangkoan, boleh kau
ganti Lauw, jadi namamu Lauw Eng."
"Tapi, siapa nama ayah kandungku, Ibu? Aku ingin menggunakan nama marganya!"
"Sudahlah aku tidak mau bicara tentang dia. Aku tak suka mengingatnya!" Suara wanita itu mulai terdengar
ketus sehingga Eng Eng merasa heran sekali.
"Akan tetapi, kenapa, Ibu? Kalau pun ayah kandungku sudah mati, kenapa Ibu tak mau memberi tahukan
namanya? Dan di manakah kuburannya? Aku ingin bersembahyang di depan kuburannya."
"Cukup! Aku tidak sudi menyebut namanya. Aku juga sudah lupa namanya. Aku benci padanya!" Suara itu
semakin galak.
Eng Eng terkejut dan semakin heran. "Tapi, dia sudah mati, Ibu..."
"Dia sudah mati atau masih hidup, tetap saja aku paling benci kepadanya. Sudah, kalau engkau bicara
tentang dia lagi, aku akan marah sekali!"
Eng Eng tidak berani melanjutkan lagi. Dia sudah kehilangan ayahnya, atau orang yang selama ini
dianggap ayahnya yang disayangnya dan ditaatinya, dan kini dia tidak ingin kehilangan ibunya pula. Pasti
pernah terjadi sesuatu yang hebat, sesuatu yang sangat menyakitkan hati ibunya yang telah dilakukan
ayah kandungnya sehingga ibunya begitu membencinya setengah mati. Kalau benar demikian, berarti ayah
kandungnya juga telah melakukan sesuatu yang amat jahat.
Hatinya terasa perih dan nyeri sekali. Orang yang selama ini dianggap ayahnya sendiri akan tetapi ternyata
hanya ayah tiri itu seorang jahat, dan ayah kandungnya sendiri pun dahulunya orang jahat. Ketika ia
terkenang kepada Pangeran Cia Sun, Eng Eng merasa jantungnya seperti ditusuk. Ia merasa rendah
diri…..
********************
Dua orang pemuda itu berhasil meninggalkan Ban-kwi-kok (Lembah Selaksa Iblis) yang berada di bagian
barat Kwi-san (Bukit Iblis), bahkan kini mereka mulai turun dari bukit itu. Setelah jauh, menjelang tengah
hari, mereka lalu duduk beristirahat di bawah pohon besar di dalam sebuah hutan kecil yang sunyi.
Melihat betapa wajah Cia Sun agak murung, Yo Han lantas berkata, "Mengapa engkau kelihatan murung,
Cia-te? Bukankah sepatutnya kita bersyukur karena sudah terhindar dari ancaman maut di sana?"
Pangeran itu memandang kakak angkatnya. "Yo-twako, aku takut. Aku khawatir sekali apa yang akan
terjadi dengan Eng-moi. Aku amat mencintanya..."
Yo Han tersenyum. "Engkau aneh sekali, Cia-te. Ketika engkau dan aku berada dalam tahanan dan dalam
keadaan tidak berdaya, setiap saat dapat saja kita dibunuh, engkau sama sekali tidak merasa takut,
bahkan selalu nampak gembira. Akan tetapi sekarang, setelah terbebas dari bahaya, engkau malah begitu
takut."
dunia-kangouw.blogspot.com
Cia Sun menghela napas panjang. "Biasanya aku tidak pernah takut, Yo-twako. Akan tetapi sekarang, aku
gelisah sekali dan aku tidak tahu bagaimana caranya aku dapat menghilangkan perasaan takut atau
gelisah ini."
"Tidak ada cara untuk menghilangkan takut, Cia-te. Takut adalah perasaan kita sendiri, dan yang ingin
menghilangkan itu pun perasaan kita sendiri. Takut timbul karena ulah pikiran, dan keinginan
menghilangkan juga ulah pikiran, Cia-te. Kalau kita tidur, pikiran kita tidak bekerja, maka takut pun tidak
ada. Pikiran menimbulkan rasa takut, duka, dan sebagainya. Namun, kesadaran akan rasa takut itu sendiri,
tanpa adanya usaha untuk melenyapkan, akan mendatangkan perubahan, mendatangkan kesadaran dan
dengan sendirinya takut pun tidak nampak bekasnya."
Apa yang dikatakan Yo Han bukanlah teori, melainkan pengalaman yang sudah dialami sendiri oleh
pemuda itu.
Takut bersumber dari pikiran, dan pikiran bergelimang nafsu, membentuk aku. Keakuan inilah yang
menjadi sumber segala perasaan. Aku terancam, pikiran membayangkan segala hal buruk yang dapat
menimpa diriku, maka timbullah takut.
Aku yang mengaku-aku adalah pikiran bergelimang nafsu. Nafsu membuat kita selalu ingin senang, tidak
mau susah. Maka, membayangkan kesusahan yang akan menimpa diri inilah yang kemudian menimbulkan
rasa takut.
Takut adalah ulah pikiran yang membayangkan hal yang belum terjadi, membayangkan hal buruk yang
mungkin menimpa kita. Yang sehat takut sakit. Bila sudah datang sakit, bukan sakit lagi yang ditakuti,
melainkan mati, lalu takut akan keadaan sesudah mati dan selanjutnya. Membayangkan hal-hal yang
belum terjadi, itulah penyebab rasa takut. Kalau pikiran tidak membayangkan hal-hal yang belum terjadi,
takut pun tidak ada.
Iblis menggoda kita manusia melalui nafsu-nafsu kita sendiri. Sebenarnya nafsu adalah anugerah Tuhan
yang disertakan pada kita sejak kita lahir. Nafsu diikut sertakan untuk menjadi alat kita, menjadi budak kita
yang membantu kita dalam kehidupan di dunia lain. Tuhan Maha Murah, Tuhan Maha Asih.
Dengan memiliki nafsu, kita bisa menikmati kehidupan di dunia ini melalui panca indera kita, melalui semua
alat tubuh kita lahir batin. Iblis melihat ketergantungan kita kepada nafsu, mempergunakan nafsu untuk
menyeret kita sehingga kita bukan lagi memperalat dan memperbudak nafsu, melainkan kita yang diperalat
dan diperbudak. Dan jika sudah begitu, kita tidak berdaya, menjadi permainan nafsu yang akan menyeret
kita ke dalam kesengsaraan, menjadi seperti kanak-kanak yang diberi makanan enak, tidak mengenal
batas makan sebanyaknya untuk kemudian menderita sakit yang menyengsarakan.
Kalau sudah menderita akibat menuruti nafsu, barulah timbul penyesalan, dan alat lain dalam tubuh
memprotes, akal sehat melihat betapa merugikan dan tidak menyenangkan akibat dari menuruti dorongan
nafsu tadi. Akan tetapi, usaha menghentikan pengaruh nafsu itu tak akan berhasil, atau sukar sekali
mendatangkan hasil.
Usaha itu datang dari hati akal pikiran pula, padahal hati akal pikiran sudah bergelimang nafsu. Bagaimana
mungkin nafsu meniadakan nafsu, atau nafsu mengalahkan dirinya sendiri? Tidak mungkin! Bahkan akal
pikiran yang sudah dipengaruhi nafsu daya rendah itu membela pekerjaan nafsu.
Contohnya banyak kalau kita mau membuka mata melihat kenyataan dalam kehidupan kita ini. Adakah
manusia yang tidak menyadari akan perbuatannya yang benar? Adakah seorang pencuri yang tidak tahu
bahwa mencuri itu buruk? Adakah seorang koruptor yang tidak tahu bahwa korupsi itu jahat dan buruk?
Semua tahu belaka!
Seperti contoh terdekat dan teringan, adakah seorang perokok atau pemabuk yang tidak tahu bahwa
merokok atau bermabukan itu tidak baik? Tentu tidak ada! Setiap orang pasti tahu, akan tetapi apa daya?
Pengetahuan ini tidak mampu menghentikan ikatan pengaruh nafsu.
Yang berjudi, walau tahu benar bahwa berjudi itu tidak baik, tidak mampu menghentikan kebiasaannya
berjudi! Demikian pula halnya dengan perampok, pencuri, koruptor dan sebagainya! Kenapa begitu?
Karena pengetahuan itu ada di pikiran, dan pikirannya pun sudah bergelimang nafsu. Bahkan hati akal
pikiran yang sudah bergelimang nafsu akan membela perbuatan-perbuatan itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Seorang pencuri dibela pikirannya sendiri bahwa ia mencuri karena terpaksa, karena tak ada pekerjaan,
karena ia ingin menghidupi keluarga, dan sebagainya. Seorang koruptor dibela oleh pikirannya sendiri
bahwa ia korupsi karena semua orang pun melakukannya, karena gajinya tak mencukupi, karena
keluarganya ingin hidup mewah, dan seribu satu macam alasan lagi.
Jika semua usaha sudah gagal, lalu apa yang harus kita lakukan untuk menanggulangi pengaruh nafsu kita
sendiri? Di dalam pertanyaan ini sudah terkandung jawabannya. Selama kita berusaha melakukan sesuatu,
kita tak akan berhasil, karena yang berusaha menundukkan nafsu adalah nafsu itu sendiri. Bila kita sudah
ingin menundukkan nafsu, kita hanya waspada mengamati gejolak nafsu kita, tanpa ada keinginan
mengubahnya, maka baru akan terjadi perubahan!
Tanpa adanya si-aku yang berusaha, tanpa adanya si-aku alias nafsu melalui pikiran yang merajalela,
nafsu menjadi bagaikan api yang tidak ditambah minyak. Kekuasaan Tuhan akan bekerja!
Dalam urusan kehidupan sehari-hari, mencari sandang, pangan, papan, hidup sebagai manusia yang
berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, tentu saja kita harus mempergunakan hati akal
pikiran. Akan tetapi dalam urusan rohanian, alat-alat jasmani kita tidak berdaya. Hanya kekuasaan Tuhan
yang mutlak berkuasa. Maka, kita hanya menyerah! Kekuasaan Tuhan yang akan mengembalikan nafsunafsu
kita pada kedudukan asalnya, yaitu menjadi peserta dan alat kita, bukan sebaliknya kita yang
diperalat…..
"Yo-twako, sebenarnya, apa sih yang kita cari di dunia ini? Mengapa dalam kehidupan ini selalu kita
dipermainkan senang dan susah, puas dan kecewa? Bahkan apa yang menyenangkan pun menjadi
membosankan. Kenyataan hidup terlalu sering berlawanan dengan apa yang kita idamkan dan harapkan.
Sekelumit kesenangan segera diseling segunung kesusahan. Bukankah kita manusia ini seperti selalu
mencari-cari? Apa yang kita cari? Kebahagiaan? Di mana dan apakah kebahagiaan itu? Pertanyaan ini
selalu menggangguku dan sudah kutanyakan kepada banyak sekali orang-orang pandai, tetapi tak pernah
aku memperoleh jawaban yang meyakinkan dan memuaskan."
Yo Han tersenyum lebar. "Pertanyaanmu itu agaknya sudah menjadi pertanyaan dunia sepanjang masa,
pertanyaan seluruh manusia di permukaan bumi ini, Cia-te. Kita selalu mencari-cari kebahagiaan,
mengejar-ngejar kebahagiaan, akan tetapi tak pernah dapat menemukannya. Kalau ada kalanya merasa
menemukan, ternyata dalam waktu singkat yang kita tadinya anggap sebagai kebahagiaan itu berubah
menjadi kesengsaraan. Kita mengejar dan mencari terus selama kita hidup."
"Akan tetapi, adakah orang yang betul-betul telah menemukan kebahagiaan itu, Twako? Dan dimanakah
sebenarnya kebahagiaan itu?"
"Cia-te. Marilah kita selidiki bersama. Mungkinkah kita mencari sesuatu yang tidak kita kenal?"
"Tentu saja mustahil!" jawab sang pangeran tanpa ragu.
"Tepat. Karena itu, sebelum kita bertanya di mana adanya kebahagiaan yang kita cari, lebih dulu aku
hendak bertanya, apakah kebahagiaan itu, Cia-te?"
"Kebahagiaan! Tentu saja kebahagiaan ialah suatu perasaan, yaitu perasaan bahagia!"
"Kalau begitu pertanyaan yang menyusul, apakah engkau pernah mengalami perasaan bahagia itu, Ciate?"
Pangeran Cia Sun tertegun dan mengingat-ingat, lalu mengangguk-angguk. "Rasanya pernah dan sering
malah. Kalau aku merasa bebas dari kepusingan apa pun, merasa bebas dan lega, seperti ketika aku
berada seorang diri di tepi laut yang sunyi, seperti kalau aku berada di puncak gunung yang sunyi pada
suatu senja memandang matahari tenggelam, seolah-olah aku melayang di antara sinar senja, ketika aku
saling tatap dan bercakap-cakap dengan Eng-moi, yah, sering kali aku merasakan itu dan mungkin aku
selalu mencari-cari saat atau detik-detik seperti itu..."
"Nah, itulah, Cia-te! Sekali saat kita merasa berbahagia seperti yang kau alami itu. Akan tetapi nafsu
menguasai hati akal pikiran. Karena nafsu selalu mengejar keenakan serta kesenangan, maka nafsu di hati
akal pikiran membuat kita lantas ingin mengabadikan perasaan bahagia di saat itu! Kita ingin memilikinya!
dunia-kangouw.blogspot.com
Dan kita terseret oleh nafsu, yaitu menjadikan saat indah dan suci itu menjadi semacam kesenangan. Jadi,
yang kita cari selama ini, yang dicari-cari oleh setiap manusia di dunia ini, hanyalah kesenangan yang
mengenakan topeng kebahagiaan. Yang bisa dikejar hanya kesenangan, Cia-te. Mudah saja mengejar
kesenangan yang sebenarnya makanan nafsu itu, melalui mata, hidung, telinga, mulut, kulit serta anggota
badan luar dan dalam lainnya. Kesenangan timbul dari kenangan, dari pengalaman, yang diulang-ulang,
karenanya mati dan selalu disusul oleh kebosanan. Kebahagiaan sudah ada dan selalu ada. Hidup
bagaikan awan berarak di angkasa, bagaikan gelombang di samudera, tak dapat ditangkap dan dimiliki, tak
dapat diulang-ulang, dirasakan saat demi saat tanpa bayangan kenangan masa lalu."
Pangeran Cia Sun tertawa dan memegangi kepala dengan kedua tangannya. "Aduh, kepalaku yang
pening, Twako. Jika begitu, menurut Twako apakah amat tidak baik bila dalam hidup ini kita bersenangsenang?"
Yo Han tertawa pula. "Wah, bukan begitu, Cia-te! Menikmati keenakan dan kesenangan dalam hidup
merupakan anugerah yang sudah sepatutnya kita nikmati. Manusia berhak menikmati kenikmatan dan
kesenangan melalui panca-indra. Akan tetapi, diperhamba nafsu lain lagi akibatnya. Kita lalu menjadi
hamba, setiap saat hanya mengejar-ngejar dan mencari-cari kesenangan dengan melupakan segala
macam cara. Di sini perlunya kita mempergunakan alat kita yang lainnya, yaitu akal budi untuk
mempertimbangkan, kesenangan macam apa yang baik dan tidak baik, yang sehat dan tidak sehat.
Engkau tentu mengerti apa yang kumaksudkan."
Pangeran itu mengangguk-angguk. "Sekarang, bagaimana baiknya, Twako? Sebetulnya aku ingin sekali
memperisteri Eng-moi, akan tetapi jelas bahwa ayahnya pasti tidak akan menyetujuinya. Ia anti
pemerintah, anti Mancu, sedangkan aku justru seorang pangeran Mancu."
"Memang keadaan kalian itu sulit sekali, Cia-te. Akan tetapi, aku tetap yakin bahwa lahir, jodoh dan mati
ditentukan dan sudah diatur oleh kekuasaan Tuhan. Maka, bersabarlah dan sebaiknya sekarang engkau
kembali dulu karena dipanggil keluargamu. Sebaiknya kalau kau ceritakan persoalanmu ini kepada orang
tuamu. Mungkin mereka akan dapat menemukan jalan sehingga akhirnya engkau akan dapat berjodoh
dengan kekasihmu itu."
Pangeran itu menggeleng-geleng kepalanya dengan sedih. "Agaknya mustahil jika ayah mengijinkan aku
menikah dengan Eng-moi, kalau ia mengetahui bahwa Eng-moi adalah puteri ketua Pao-beng-pai yang
menentang pemerintah."
"Kalau begitu, lebih sulit lagi. Tapi percayalah, Cia-te, betapa pun sulit dan mustahilnya suatu urusan bagi
kita manusia, kalau Tuhan menghendaki, segala kesulitan itu akan terlampaui dan perkara ini dapat diatasi
dengan segala ikhtiarmu, dengan penyerahan diri kepada kekuasaanNya."
"Dan sekarang, engkau sendiri hendak ke mana, Twako? Aku akan kembali ke kota raja. Maukah engkau
ikut denganku ke sana? Akan kuperkenalkan kepada ayah ibuku."
Diam-diam Yo Han merasa ngeri. Ikut ke sana dan bertemu dengan Sian Li? Ahh, tidak! Dia tidak ingin
membuat adik angkatnya ini menjadi terganggu apa bila tahu bahwa dia mempunyai hubungan dekat sekali
dengan gadis tunangannya itu. Juga dia tidak mau membuat Sian Li menjadi rikuh. Di samping itu, dia pun
tidak ingin menyiksa diri sendiri bila menyaksikan pertunangan antara adik angkatnya dengan gadis yang
dicintanya.
"Terima kasih, Cia-te. Akan tetapi, aku harus melanjutkan pelaksanaan tugasku, yaitu mencari puteri bibi
guruku yang hilang sejak kecil itu."
"Pekerjaan yang teramat sukar, Twako. Bagaimana mungkin mencari seseorang yang belum pernah kau
kenal sama sekali? Apa lagi dia hilang ketika berusia tiga tahun dan jarak waktunya sudah dua puluh
tahun. Ia sendiri mungkin tidak ingat lagi akan keadaan dirinya ketika berusia tiga tahun."
"Kalau saja aku dibimbing dalam kekuasaan Tuhan, tidak ada perkara yang sulit, Cia-te. Engkau tentu ingat
kata-kataku tadi. Aku tidak akan putus asa dan akan terus mencari. Setidaknya, aku mengetahui tanda
pada tubuhnya ketika ia lahir, yaitu di pundak kirinya dan di kaki kanannya."
Pangeran itu tertawa geli. "Ha-ha-ha-ha, sekarang mengertilah aku mengapa gadis yang mengirim surat
Eng-moi kepadaku melalui jarum yang disambitkan padamu itu memaki-makimu! Kiranya engkau pernah
dunia-kangouw.blogspot.com
menyangka gadis itu sebagai gadis yang kau cari dan engkau tentu membuka bajunya untuk melihat
pundaknya, juga membuka sepatunya untuk melihat kakinya. Pantas ia marah-marah!" Pangeran itu
tertawa geli dan Yo Han juga ikut tertawa dengan muka kemerahan.
"Apa lagi ketika engkau menjawabnya dengan sikap kasar, aku sempat terheran-heran melihat sikapmu,
Twako. Ehhh, kiranya engkau bersandiwara dan tahu bahwa gadis itu tentu mempunyai maksud tertentu.
Nyatanya ia menyambitmu dengan jarum yang ada surat Eng-moi sehingga kita dapat siap melaksanakan
sandiwara ketika Eng-moi datang membebaskan kita."
"Memang dialah gadis yang disuruh Siangkoan Kok untuk menjebakku. Baru kemudian kuketahui bahwa
dia adalah murid terbaik dari ketua Pao-beng-pai itu. Nah, sekarang sebaiknya kita saling berpisah di sini,
Cia-te. Percayalah, jika engkau memang berjodoh dengan nona Siangkoan Eng, kelak engkau pasti dapat
menjadi suaminya. Dan kalau tugasku selesai, kelak pada suatu hari aku pasti akan mengunjungimu di
kota raja."
Dua orang pemuda itu bangkit dan setelah saling memberi hormat dan saling rangkul, mereka lalu
mengambil jalan masing-masing. Pangeran Cia Sun kembali ke kota raja sedangkan Yo Han mengambil
jalan yang belum dia ketahui menuju ke mana karena dia pun tidak tahu ke mana harus mencari Sim Hui
Eng.
Ia akan melanjutkan ikhtiarnya itu dengan menghubungi orang-orang di dunia kang-ouw, terutama para
golongan sesat untuk menyelidiki siapa pelaku penculikan atas diri puteri bibi gurunya itu…..
********************
Pemuda itu berusia kurang lebih dua puluh tiga tahun. Tubuhnya sedang namun tegap. Dadanya bidang
dan kekar dengan otot-otot menggelembung sehingga nampak jantan dan gagah. Wajahnya juga tampan
dan bersih, alisnya tebal, hidungnya mancung dan mulutnya memiliki bentuk yang manis, dengan dagu
yang kokoh dan mata mencorong seperti bintang. Pakaiannya sederhana bentuknya, namun bersih, dan
rambutnya pun tersisir rapi.
Seorang pemuda yang tampan dan gagah. Apa lagi pada pagi hari itu, dia berlatih silat seorang diri di
bawah pohon besar itu dengan gerakan yang perkasa, cepat tangkas dan mengandung tenaga yang amat
kuat sehingga daun-daun pohon itu bergoyang-goyang seperti dilanda angin.
Makin lama gerakan pemuda itu makin cepat. Tiba-tiba, sambil membalikkan tubuhnya, tangannya
bergerak memukul ke arah sebatang pohon sebesar paha orang. Tangan itu tidak sampai menyentuh
batang pohon, masih ada satu setengah meter jaraknya, tetapi kemudian terdengar suara…..
"Kraaakkk!" dan batang pohon itu pun patah dan tumbang!
Sekarang mulut pemuda itu tertarik dan menyeringai aneh, dan pada saat itu, nampak berkelebat seekor
burung yang terkejut mendengar robohnya pohon kecil itu. Burung itu terbang ke dekat pohon besar, dan
pemuda itu mendadak saja meloncat ke atas serta tangannya bergerak ke arah burung.
Dan sebagai akibatnya, burung itu tiba-tiba terjatuh seperti sebuah batu dan disambar oleh tangan pemuda
itu yang juga melayang turun. Sambil membuang bangkai burung itu, dia menengadah, kemudian wajah
yang tampan itu menyerigai, dan dia pun tertawa bergelak seperti kesetanan!
Lalu dia berjongkok, memeriksa bangkai burung yang seluruh tubuhnya sudah menjadi hitam, keracunan.
Kembali dia tertawa, akan tetapi tawa ini aneh karena berhenti secara tiba-tiba seperti tercekik. Dia lalu
memandang ke sekeliling, seolah-olah takut kalau ada yang melihat atau mendengarnya, kemudian dia
pun meloncat dan menyelinap ke balik semak belukar dan tahu-tahu tubuhnya lenyap.
Kalau ada orang yang melihat dan mencarinya, menyingkap semak belukar, orang itu tentu akan melihat
adanya sebuah sumur yang amat dalam di balik semak belukar itu. Sumur yang tua dan kalau dilihat dari
atas, tidak nampak dasarnya, saking dalam dan gelapnya.
Dapatlah dibayangkan betapa besar bahayanya kalau orang berani menuruni sumur itu, dengan tangga
atau tali sekali pun, karena dia tidak tahu apa yang berada di dasar sumur. Mungkin gas beracun, atau ular
berbisa.
dunia-kangouw.blogspot.com
Orang itu tentu akan bertambah heran dan kagum kalau melihat betapa pemuda tadi memasuki sumur
dengan cara merayap melalui dinding sumur. Gerakannya cepat bagai seekor cicak saja yang merayap
menuruni dinding! Dan kini, pemuda itu sudah berada di ruangan bawah tanah yang mendapat sinar
matahari dari celah-celah batu retak di atas.
Pemuda itu tertawa-tawa seorang diri, menghadapi sebuah dinding yang penuh dengan coret-coretan huruf
dengan gambar-gambar yang sebagian sudah terhapus.
"Ha-ha-ha-ha, susiok-kong (kakek paman guru) Ciu Lam Hok yang buntung tangan dan kakinya itu
mencoba untuk melenyapkan Bu-kek Hoat-keng! Ha-ha-ha, arwahnya tentu sekarang akan cemberut kalau
melihat betapa usahanya itu tidak sempurna, dan bahwa ilmu Bu-kek Hoat-keng akhirnya dapat dimiliki
orang yang paling berhak, yaitu aku, Ouw Seng Bu, ha-ha-ha!"
Seperti orang sinting pemuda itu tertawa-tawa dan sekarang dia menggunakan kedua tangannya
menggaruk-garuk ke permukaan dinding batu. Sungguh hebat bukan main. Gerakan jari-jari tangannya itu
membuat dinding batu ini lantas rontok bagaikan tepung saja, seolah-olah dinding batu itu hanya
merupakan tanah yang lunak. Sebentar saja, terhapuslah sudah semua huruf dan gambar yang tercoret di
dinding itu.
Siapakah pemuda itu? Ia merupakan seorang tokoh muda dari Thian-li-pang dan seperti kata-katanya tadi,
ia bernama Ouw Seng Bu. Belasan tahun yang lalu, ketika dia sendiri masih seorang anak laki-laki kecil
berusia delapan atau sembilan tahun, Thian-li-pang, perkumpulan orang-orang gagah anti penjajah Mancu
itu dipimpin oleh mendiang Ouw Ban sebagai ketuanya.
Ouw Ban mempunyai dua orang putera. Yang pertama adalah Ouw Cun Ki yang dahulu diselundupkan ke
istana untuk membunuh kaisar Mancu, akan tetapi dia tertawan dan dihukum mati. Yang ke dua adalah
Ouw Seng Bu yang ketika peristiwa itu terjadi, masih kecil.
Kemudian terjadilah perpecahan di kalangan para pimpinan Thian-li-pang sehingga Ouw Ban tewas di
tangan guru-gurunya sendiri, yaitu mendiang Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong. Kemudian muncul Yo
Han yang secara kebetulan mewarisi ilmu kepandaian kakek yang buntung kaki tangannya di dalam sumur
rahasia, yaitu mendiang kakek Ciu Lam Hok, sute dari Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong yang memiliki
ilmu kesaktian hebat. (baca kisah Si Bangau Merah)
Munculnya Yo Han akhirnya membersihkan Thian-li-pang dari pengaruh-pengaruh sesat dan jahat partaipartai
lain seperti Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai dan kehadiran Yo Han menyebabkan pimpinan Thian-lipang
beralih kepada Lauw Kang Hui sebagai ketuanya.
Lauw Kang Hui telah sadar dan membawa kembali Thian-li-pang ke jalan lurus, sebagai perkumpulan
orang gagah yang menentang penjajah Mancu. Juga dia merasa iba pada Ouw Seng Bu, putera suhengnya
dan mengajarkan ilmu silat kepada keponakannya itu.
Ouw Seng Bu berlatih dengan rajin. Di depan paman guru yang kini menjadi gurunya dan di depan para
tokoh Thian-li-pang, ia selalu memperlihatkan sikap sebagai seorang pemuda yang gagah perkasa dan
pendiam. Namun, pemuda ini tidak pernah melupakan pesan mendiang ayahnya dahulu ketika dia masih
kecil bahwa sekali waktu, dia harus berani memasuki serta menyelidiki sumur di bawah tanah, mencari
peninggalan kakek paman gurunya yang sakti.
Demikianlah, setelah ia memiliki ilmu kepandaian dan cukup gagah, dalam usia delapan belas tahun, dia
nekat mencari dan menemukan sumur di balik semak belukar itu dan nekat memasukinya dengan tali yang
panjang. Setelah mencari-cari dan membongkar-bongkar batu besar di dalam goa dan terowongan di
bawah tanah, akhirnya dia berhasil menemukan dinding penuh coretan dan gambaran itu yang tadinya
tertutup batu besar.
Agaknya kakek Ciu Lam Hok dahulu pernah membuat coretan dan gambaran di dinding itu, kemudian
menghapus sebagian dan menutupi dinding dengan batu besar. Dia pun tahu bahwa itulah ilmu Bu-kek
Hoat-keng yang merupakan ilmu rahasia kakek buntung itu, maka dengan penuh ketekunan dia mulai
mempelajari ilmu itu secara rahasia.
dunia-kangouw.blogspot.com
Selama lima tahun dia rajin belajar tanpa mengetahui bahwa karena ilmu yang aneh itu tidak lengkap,
maka ia pun menyimpang dari jalur yang semestinya. Tanpa disadarinya, dia telah melakukan latihan yang
salah, bahkan kadang-kadang berlawanan. Berkali-kali dia jatuh pingsan karena salah mengerahkan
tenaga sinkang.
Akan tetapi, setelah lima tahun belajar dengan tekun dan rahasia, tanpa diketahui siapa pun juga, akhirnya
dia berhasil menguasai ilmu yang aneh dan dahsyat bukan main. Tanpa disadarinya, penyelewengan cara
latihan yang salah itu juga telah mendatangkan perubahan pada dasar wataknya, pusat susunan
syarafnya.
Dia memang masih nampak pendiam dan lembut, jujur dan baik di depan para pimpinan Thian-li-pang.
Akan tetapi pada saat-saat tertentu, bila dia sedang berada seorang diri, terutama sekali sehabis dia
berlatih ilmu silat Bu-kek Hoat-keng yang tidak lengkap itu, dia lalu menjadi seperti kesetanan, seperti
sinting, tertawa-tawa sendiri, kadang-kadang menangis sendiri, dan pandang matanya yang biasanya
lembut dan jujur itu mencorong penuh kecerdikan!
Juga latihan yang salah itu membuat dia berhasil menguasai pukulan yang mengandung hawa beracun
yang dapat membuat semua yang dipukulnya menjadi tewas dengan tubuh menghitam seperti menjadi
hangus! Hal ini diketahuinya ketika beberapa kali dia menguji kecepatannya, membunuh burung atau
binatang lain yang ditemuinya. Dengan sekali pukul, binatang itu akan tewas dengan tubuh hangus!
Pagi hari itu ia merasa telah menamatkan ilmunya. Maka, ia menghapus semua coretan di dinding itu
dengan jari-jari tangannya yang memiliki kekuatan demikian dahsyatnya sehingga sekali garuk saja
permukaan dinding itu rontok dan semua coretan lenyap.
Setelah merasa puas karena di situ tidak terdapat apa pun juga yang dapat dipelajari orang lain, Ouw Seng
Bu lalu merayap keluar dari dalam terowongan goa bawah tanah melalui sumur, dan menutupkan kembali
sumur itu dengan semak belukar. Kemudian dia pun berjalan dengan santai kembali ke markas Thian-lipang
yang berada di dekat puncak Bukit Naga.
Matahari sudah mulai meninggi dan cuaca cerah sekali. Wajah pemuda itu kini kembali menjadi lembut dan
senyumnya ramah gembira, jauh berbeda dengan ketika dia berlatih silat dan di dalam tanah tadi. Dia kini
menjadi seorang pemuda yang nampak ramah dan murah senyum, pendiam dan lembut menyenangkan!
Ketua Thian-li-pang yang bernama Lauw Kang Hui ini telah tua sekali, usianya sudah tujuh puluh tiga
tahun. Meski pun dia masih nampak tinggi besar dengan muka merah, gagah dan berwibawa, namun
bagaimana pun juga, usia tua membuat semangatnya banyak menurun.
Saat itu diam-diam Lauw Kang Hui tengah melihat-lihat siapa kiranya yang pantas untuk dijadikan
penggantinya. Dia sendiri tidak memiliki keturunan, dan di antara para anggota Thian-li-pang dan muridmuridnya,
hanya ada dua orang muridnya yang agaknya cukup dapat dipercaya.
Yang pertama adalah murid wanita yang sudah berusia empat puluh tahun, berwajah buruk dan berwatak
kasar namun setia kepada Thian-li-pang, bernama Lu Sek. Wanita ini sudah menjadi janda dan tak
mempunyai anak. Suaminya tewas dalam pertempuran membela Thian-li-pang.
Bahkan, menurut penilaian Lauw Kang Hui, di antara para muridnya, Lu Sek inilah yang paling lihai,
mempunyai tingkat yang paling tinggi, bahkan lebih tinggi dibandingkan apa yang dicapai oleh Ouw Seng
Bu, yaitu murid ke dua yang dipercayanya dan dianggap merupakan calon penggantinya. Ia masih
bimbang, apakah ia harus menunjuk Lu Sek ataukah Ouw Seng Bu untuk menjadi penggantinya, menjadi
ketua Thian-li-pang.
Meski pun seorang wanita, Lu Sek sangat berwibawa dan penuh semangat. Juga janda itu memiliki
hubungan dekat dengan Lauw Kin, duda yang berusia lima puluh tahun dan tidak mempunyai anak pula.
Lauw Kin masih keponakan Lauw Kang Hui sendiri, putera tunggal adiknya yang mati muda.
Hati ketua itu lebih condong memilih Lu Sek untuk menjadi calon penggantinya. Ilmu silatnya paling tinggi
di antara semua murid Thian-li-pang, apa lagi kalau dibantu Lauw Kin yang mungkin sekali menjadi
suaminya. Selain itu, hatinya sedikit tidak enak kalau mencalonkan Ouw Seng Bu. Bagaimana pun juga,
Seng Bu adalah putera mendiang suheng-nya, Ouw Ban yang dahulu pernah menjadi ketua Thian-li-pang,
dan yang telah menyelewengkan Thian-li-pang ke jalan sesat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Lauw Pangcu (Ketua Lauw) telah sarapan pagi dan duduk di ruangan depan ketika dia melihat Seng Bu
melangkah masuk dari luar. Kebetulan sekali, pikirnya. Dia harus lebih dahulu memberi tahu muridnya itu
agar kalau pada suatu hari dia mengambil keputusan, muridnya ini tidak merasa kecewa.
Beberapa kali dalam sikap muridnya itu ia melihat tanda bahwa Seng Bu mengharapkan kelak akan bisa
menjadi ketua Thian-li-pang. Bahkan para tokoh Thian-li-pang sebagian besar juga menyangka bahwa
pemuda yang pandai membawa diri ini pantas menjadi calon penggantinya.
Kalau saja di situ terdapat Pendekar Tangan Sakti Yo Han, tentu tidak sukar baginya untuk mengambil
keputusan berdasarkan petunjuk pendekar muda yang sakti itu. Tapi sudah lima tahun lebih Yo Han yang
dianggap menjadi pemimpin besar atau penasehat Thian-li-pang tak pernah terdengar beritanya. Kini ia
harus mengambil keputusan sendiri dan dia harus dapat bersikap bijaksana demi keutuhan para tokoh di
Thian-li-pang. Dia berteriak memanggil nama muridnya itu.
Seng Bu cepat memasuki ruangan di mana gurunya duduk seorang diri, dan dia lalu memberi hormat dan
mengucapkan selamat pagi.
"Duduklah di sini, Seng Bu," kata ketua yang sudah berusia lanjut itu sambil menunjuk ke arah sebuah
kursi di depannya, sebelum muridnya itu berlutut.
"Terima kasih, Suhu," berkata Seng Bu yang merasa heran.
Dia tahu bahwa tentu ada urusan penting maka suhu-nya mempersilakannya duduk di kursi, tidak
membiarkan dia berlutut seperti biasa. Dia duduk dan menundukkan muka dengan sikap siap
mendengarkan dan mentaati semua perintah gurunya.
"Seng Bu, apakah engkau sudah sarapan pagi dan dari mana engkau sepagi ini sudah berkeringat?"
"Teecu baru saja berlatih silat, Suhu, nanti setelah mandi teecu akan sarapan di dapur," jawab Seng Bu
dengan sikap hormat.
"Bagus, engkau memang rajin. Kalau engkau mencontoh suci-mu Lu Sek rajinnya dalam berlatih silat,
kurasa engkau akan mampu mencapai tingkatnya."
"Teecu tidak berani, Suhu. Tidak mungkin mengejar Lu-suci yang amat lihai."
Lauw Kang Hui tersenyum. Muridnya ini selalu bersikap rendah hati dan sopan, selalu menyenangkan hati
orang lain. "Seng Bu, apakah dua ilmu simpananku yang terakhir aku ajarkan padamu, sudah dapat kau
kuasai dengan baik?"
"Suhu maksudkan Tok-jiauw-kang (Cengkeraman Beracun) serta Kiam-ciang (Tangan Pedang)? Setiap
hari teecu sudah berlatih diri dengan tekun dan mohon petunjuk Suhu."
Lauw Kang Hui menghela napas panjang. "Aku sudah terlalu tua untuk dapat berlatih dengan kedua ilmu
itu denganmu, Seng Bu. Sebaiknya engkau minta kepada Lu Sek untuk latihan bersama agar engkau
dapat memperoleh banyak kemajuan."
"Baik, Suhu. Teecu (murid) akan mohon bantuan Lu-suci."
"Aku ingin sekali lagi mengingatkanmu, Seng Bu. Hanya kepada Lu Sek dan engkau dua orang sajalah aku
mengajarkan dua ilmu simpananku itu. Oleh karena itu, jangan dilupakan bahwa dua macam ilmu itu
adalah ilmu yang amat berbahaya dan mematikan lawan. Kalau engkau tidak terancam maut atau pun
terpaksa sekali, janganlah engkau menggunakan ilmu-ilmu itu untuk menyerang lawan. Mengerti?"
"Teecu mengerti, Suhu."
Lauw Kang Hui menghela napas panjang. "Sampai sekarang kalau teringat aku masih merasa menyesal
bukan main karena dahulu aku pernah mempergunakan kedua ilmu itu secara sembarangan sehingga
menjatuhkan banyak korban yang tidak semestinya kubunuh. Sekarang aku menghendaki agar seluruh
murid Thian-li-pang, selain menjadi patriot-patriot yang menentang penjajah Mancu, juga menjadi
dunia-kangouw.blogspot.com
pendekar-pendekar yang membela kebenaran dan keadilan, dan tidak mempergunakan ilmu untuk
memaksakan kehendak dan berbuat kejahatan."
"Teecu mengerti."
"Ingat, kalau sampai terjadi penyelewengan oleh siapa pun juga, andai kata aku yang sudah tua tidak
mampu lagi menghukum, kelak kalau Sin-ciang Taihiap Yo Han datang berkunjung, dia tentu akan turun
tangan dan menindak mereka yang berani melakukan penyelewengan."
"Teecu mengerti, Suhu." Seng Bu menunduk menyembunyikan senyum mengejek yang mendesak keluar
ke mulutnya. Lalu dia bersikap biasa dan hormat kembali, mengangkat mukanya yang jujur dan bertanya
kepada suhu-nya, "Suhu, apakah Sin-ciang Taihiap itu luar biasa lihainya? Apakah Suhu sendiri tidak akan
mampu menandinginya?"
Lauw Kang Hui tersenyum.
"Ha-ha-ha, Seng Bu, jangan samakan aku dengan dia! Bahkan dua orang kakek gurumu sekali pun, yaitu
mendiang Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong, tidak akan mampu menandingi Pendekar Tangan Sakti Yo
Han."
"Luar biasa sekali! Bukankah usia Sin-ciang Taihiap masih sangat muda, Suhu? Hanya beberapa tahun
lebih tua dari teecu? Teecu masih ingat ketika masih kanak-kanak, dia tidak banyak lebih tua dari teecu."
"Benar, dia hanya beberapa tahun lebih tua darimu. Akan tetapi, dia telah mewarisi ilmu yang mukjijat dari
kakek paman gurumu, mendiang supek Ciu Lam Hok di sumur bawah tanah."
"Maaf, Suhu. Teecu mendengar bahwa kakek itu buntung kaki dan tangannya. Dalam keadaan seperti itu,
ilmu silat macam bagaimanakah yang dapat beliau ajarkan kepada Sin-ciang Taihiap?"
Lauw Kang Hui menghela napas panjang. "Ilmu yang mukjijat, ilmu yang luar biasa dan tidak ada keduanya
di dunia ini. Ilmu itu disebut Bu-kek Hoat-keng dan hanya Sin-ciang Taihiap seorang saja yang
menguasainya. Sukar dicari tandingannya."
"Suhu maksudkan bahwa kalau memiliki ilmu Bu-kek Hoat-keng itu, orang akan dapat menjadi jagoan
nomor satu di dunia persilatan?"
Lauw Kang Hui mengangguk-angguk. "Mungkin saja. Namun, Yo Han Taihiap bukanlah orang semacam
itu. Tidak, dia tidak mau menonjolkan diri, bahkan untuk menjadi ketua Thian-li-pang saja dia menolaknya.
Karena dia maka Thian-li-pang harus menjaga diri menjadi perkumpulan yang gagah dan menegakkan
kebenaran dan keadilan."
"Teecu sudah mengerti, Suhu. Bolehkah teecu mengundurkan diri sekarang untuk pergi mandi?"
"Nanti dulu, ada satu hal lagi ingin kubicarakan denganmu, Seng Bu."
"Urusan apakah itu, Suhu? Teecu siap mendengarkan."
"Engkau tentu tahu bahwa mengurus Thian-li-pang tidaklah mudah, selain harus ketat mengawasi sepak
terjang para anak buah Thian-li-pang, juga harus dapat menghadapi ancaman dari luar. Aku sekarang
sudah semakin tua dan lemah, kurang bersemangat. Coba katakan, siapakah di antara para anggota
Thian-li-pang yang waktu ini memiliki ilmu kepandaian silat paling tinggi sesudah aku, Seng Bu?"
Siapa lagi kalau bukan aku, bisik hati pemuda itu. Bahkan suhu-nya sendiri pun tidak akan mampu
menandinginya! Akan tetapi mulutnya menjawab tanpa ragu, "Tentu saja Lu-suci, Suhu."
"Tepat sekali Seng Bu. Dan oleh karena itu, kurasa engkau pun akan setuju kalau aku mengangkat sucimu
itu menjadi calon penggantiku, menjadi calon ketua Thian-li-pang, bukan?"
"Teecu setuju, Suhu," katanya sambil menunduk, karena dia harus menyembunyikan lagi tarikan sinis pada
mulutnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Melihat hubungan suci-mu dengan suheng-mu Lauw Kin, kurasa mereka akan menjadi pasangan yang
akan mampu memimpin Thian-li-pang. Dan engkaulah yang kuharapkan akan dapat membantu mereka.
Maukah engkau kini berjanji untuk membantu mereka sekuat tenagamu, Seng Bu? Karena engkaulah
orang ke dua yang kupercaya setelah suci-mu."
"Teecu berjanji akan membantu Lu-suci, Suhu."
"Bagus! Kini legalah hatiku. Besok kita adakan upacara besar, mengumpukan seluruh anggota untuk
mengumumkan pengangkatan Lu Sek menjadi calon ketua Thian-li-pang, Lauw Kin menjadi wakil ketua
dan engkau menjadi pembantu utama. Nah, sekarang engkau boleh pergi."
Pada keesokan harinya, pagi-pagi seluruh anggota Thian-li-pang sudah berkumpul di ruangan besar yang
biasa dipergunakan untuk rapat dan juga berlatih silat. Di bawah bimbingan Lauw Kang Hui, Thian-li-pang
dalam lima tahun lebih ini sejak kematian Ouw Ban, sudah kembali ke jalan benar. Akan tetapi, banyak
anggota yang dikeluarkan dan disaring sehingga kini hanya memiliki sedikit anggota saja. Namun, seluruh
anggota itu merupakan orang-orang gagah yang berwatak pendekar dan juga yang berjiwa patriot.
Para anggota yang langsung menjadi murid-murid Lauw Kang Hui hanya ada belasan orang. Yang
terutama di antara mereka tentu saja adalah Lu Sek, Lauw Kin, dan Seng Bu. Para murid lain memiliki
tingkat yang lebih rendah dari tiga orang ini, walau pun tentu saja mereka jauh lebih lihai dari pada para
anggota biasa yang hanya mempelajari ilmu silat Thian-li-pang dari para murid ini.
Selama ini, Lauw Kin yang mewakili pamannya, juga gurunya dan ketuanya, untuk membimbing para
anggota dalam berlatih silat. Lu Sek mewakili ketua untuk urusan luar Thian-li-pang. Oleh karena itu,
desas-desus tentang akan diangkatnya kedua orang ini menjadi ketua dan wakil ketua, diterima oleh para
anggota Thian-li-pang dengan wajar dan gembira karena memang selama ini kedua tokoh itulah yang aktif
mewakili sang ketua yang sudah lanjut usia itu mengurusi Thian-li-pang bagian luar dan bagian dalam.
Saat Lauw Kang Hui keluar dari dalam, seluruh anggota Thian-li-pang sudah berkumpul dan tiga belas
orang murid ketua itu pun sudah berada di situ. Mereka duduk paling depan dan mereka semua segera
bangkit berdiri ketika Lauw Pangcu muncul.
Setelah menerima penghormatan semua murid dan anggota Thian-li-pang, Lauw Kang Hui duduk di kursi
yang sudah disediakan untuknya. Setelah duduk, dia pun memberi isyarat kepada ketiga belas orang
muridnya yang mengambil tempat duduk di bangku yang tempatnya lebih rendah. Sementara itu, para
anggota Thian-li-pang lainnya tetap berdiri dengan rapi.
Suasana menjadi hening karena semua anggota tidak berani mengeluarkan suara, siap menanti untuk
mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh ketua mereka. Juga para murid duduk dengan sikap tenang
dan patuh.
"Para murid dan anggota Thian-li-pang semua, dengarlah baik-baik apa yang kukatakan dan laksanakan
dengan patuh. Seperti kalian ketahui, lebih lima tahun sejak Sin-ciang Taihiap Yo Han menyerahkan
kepemimpinan Thian-li-pang padaku, telah terjadi banyak perubahan. Biar pun dalam hal perjuangan kita
belum dapat berbuat banyak, namun kita telah bisa membelokkan arah kemudi dan kembali ke jalan benar
sebagai perkumpulan yang membela kebenaran dan keadilan, sesuai dengan apa yang diinginkan
Pendekar Tangan Sakti. Akan tetapi, sekarang aku telah semakin tua, usiaku sudah tujuh puluh empat
tahun, sudah kekurangan semangat. Sudah lama kita menanti-nanti datangnya Yo Taihiap, akan tetapi dia
belum kunjung datang. Oleh karena itu, sekarang aku akan menentukan pilihanku, untuk mengangkat
calon-calon pimpinan Thian-li-pang sehingga kalau sewaktu-waktu aku mati, tidak akan terjadi kekacauan
karena tidak ada pimpinan. Sementara itu, andai kata nanti Yo Taihiap datang dan tidak setuju dengan
pilihanku, maka tentu saja calon yang kupilih ini dapat saja diganti sesuai dengan kehendak Yo Taihiap.
Setujukah kalian semua?"
Serentak seratus orang lebih itu menyambut dengan suara yang penuh semangat, "Setujuuuuu...!!"
Sambil tersenyum gembira atas sambutan meriah itu, Lauw Pangcu mengangkat tangan minta supaya
semua orang diam, lalu dia melanjutkan dengan suara gembira. "Bagus! Nah, kini hendak kuumumkan
siapa yang kupilih menjadi calon pimpinan Thian-li-pang yang akan menggantikan aku sewaktu-waktu jika
kukehendaki atau sewaktu-waktu aku meninggalkan dunia. Pertama, yang akan menjadi ketua adalah
muridku Lu Sek. Biar pun ia seorang wanita, namun tingkat kepandaiannya adalah yang paling tinggi di
dunia-kangouw.blogspot.com
antara kalian semua. Pula, dia sudah berpengalaman dan sudah biasa mewakili aku. Ada pun yang
menjadi wakilnya kutetapkan murid dan juga keponakanku Lauw Kin. Sedangkan pembantu utama mereka
adalah muridku Ouw Seng. Kalau memang kelak dibutuhkan, ketua boleh mengangkat para pembantu
lainnya. Setujukah kalian? Kalau ada yang tak setuju, boleh mengajukan pendapatnya!"
Akan tetapi, tidak seorang pun yang menolak dan kembali mereka berseru menyatakan persetujuan
mereka. Dan seperti yang telah menjadi kebiasaan perkumpulan itu, segera dilakukanlah upacara
sembahyang untuk mengesahkan pengangkatan calon pimpinan Thian-li-pang.
Setelah upacara sembahyang dilakukan, para anggota dipersilakan bubar dan kembali ke tempat masingmasing
melakukan tugas sehari-hari. Akan tetapi, tiga orang pimpinan baru itu masih ditahan oleh Lauw
Kang Hui untuk diberikan pengarahan serta nasehat-nasehat. Dalam kesempatan ini, Lauw Kang Hui minta
kepada tiga orang muridnya itu untuk mulai membawa Thian-li-pang pada cita-cita mereka semula, yaitu
menggulingkan pemerintah penjajah Mancu.
"Pemerintah penjajah Mancu sangat kuat, tentu saja dengan jumlah anggota kita yang hanya seratus orang
lebih, tak mungkin kita akan mampu melawan bala tentara Mancu. Kita harus bisa menghimpun kekuatan
dengan mengajak rakyat jelata untuk menentang penjajah, dan terutama sekali harus bersatu dengan para
perkumpulan pejuang lain. Aku ingin sekali mendengar berita dari Thio Cu yang kuutus sebagai wakil
Thian-li-pang mengunjungi pertemuan yang diadakan oleh Pao-beng-pai. Kalau benar Pao-beng-pai
merupakan perkumpulan anti penjajah, tentu kita boleh bersekutu dengan mereka. Tapi jika Pao-beng-pai
hanya merupakan perkumpulan penjahat yang berkedok perjuangan seperti Pek-lian-pai, Pat-kwa-pai, kita
tidak perlu mendekati mereka."
Mendengar ucapan gurunya itu, Lu Sek dan Lauw Kin mengangguk-angguk setuju, tapi diam-diam Ouw
Seng Bu tidak senang hatinya. Ia berpendapat bahwa itulah kekeliruan Thian-li-pang maka sampai
sekarang tidak memperoleh kemajuan, seperti ketika masih dipegang pimpinannya oleh mendiang
ayahnya.
Dahulu, Thian-li-pang terkenal dengan keberaniannya, bahkan beberapa kali mencoba untuk membunuh
kaisar dan para pangeran Mancu sehingga dulu Thian-li-pang ditakuti dan terkenal sebagai perkumpulan
pejuang yang gigih. Namun sekarang, Thian-li-pang hanya tinggal namanya saja.
Yang penting adalah menggulingkan pemerintah Mancu, dan untuk itu, semua kekuatan harus dikerahkan,
tidak peduli dari golongan mana pun juga. Biar penjahat, maling dan perampok sekali pun, jika memang
mau harus diajak untuk menentang penjajah, harus dianggap kawan seperjuangan.
Juga dia mempunyai pendapat bahwa sesungguhnya, dialah yang paling berhak untuk memimpin Thian-lipang.
Bukan saja karena dia memiliki kepandaian yang paling tinggi di antara mereka semua, melainkan
terutama sekali karena dialah keturunan ketua yang dulu.
Kalau dia yang menjadi ketua, dia akan membuat Thian-li-pang menjadi perkumpulan pejuang yang paling
hebat. Siapa tahu, justru di tangan dialah penjajah Mancu dapat digulingkan. Dan bukan mustahil pula,
kalau dia sudah menjadi jagoan nomor satu di dunia, yang paling lihai di antara semua tokoh persilatan,
memiliki pengikut yang paling besar, setelah penjajah roboh, dia yang akan diangkat menjadi kaisar baru!
Cita-cita ini muncul dalam hati Ouw Seng Bu semenjak dia mempelajari ilmu rahasia di dalam goa bawah
tanah.
Selagi empat orang pimpinan Thian-li-pang itu berbincang-bincang, muncullah Thio Cu yang baru pulang
dari perjalanan mengunjungi Pao-beng-pai bersama beberapa orang saudaranya. Kedatangannya tentu
saja disambut oleh para anggota Thian-li-pang.
Thio Cu sendiri, sesudah mendengar bahwa Lauw Pang-cu berada di ruangan besar bersama ketiga orang
yang baru saja dipilih menjadi calon pimpinan baru, segera pergi menghadap. Sedangkan kawankawannya
sibuk menceritakan apa yang mereka alami dalam pertemuan yang diadakan Pao-beng-pai.
Lauw Kang Hui gembira sekali ketika melihat Thio Cu datang menghadap. "Aih, baru saja aku
membicarakan engkau, Thio Cu," kata kakek itu kepada Thio Cu yang menjadi seorang di antara muridmuridnya.
"Cepat ceritakan bagaimana keadaan Pao-beng-pai. Siapa ketuanya dan bagaimana
keadaannya. Kuatkah mereka? Apakah mereka adalah perkumpulan pejuang asli seperti kita? Dan apa
yang terjadi dalam pertemuan itu?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Banyak hal menarik yang terjadi di sana, Suhu, juga ada hal yang aneh-aneh. Ketua Pao-beng-pai
bernama Siangkoan Kok, kabarnya dia masih keturunan keluarga kaisar Kerajaan Beng-tiauw. Isterinya
bernama Lauw Cu Si, nama keturunannya sama dengan Suhu, dan kabarnya ia adalah keturunan dari
partai Beng-kauw yang telah hancur. Ilmu kepandaian mereka amat tinggi, Suhu. Teecu (murid)
menyaksikan sendiri betapa ketua Pao-beng-pai itu dalam beberapa jurus saja mengalahkan Thian Ho
Sianjin bersama tiga orang tokoh lain yang maju berbareng mengeroyoknya..."
"Wahhh...! Maksudmu Thian Ho Sianjin ketua Pat-kwa-pai itu?" tanya Lauw Kang Hui terkejut.
"Benar, Suhu!"
Lauw Kang Hui terbelalak. Dia sendiri tak akan mampu mengalahkan ketua Pat-kwa-pai itu, dan sekarang,
Thian Ho Sianjin dibantu tiga orang kawannya kalah oleh Siangkoan Kok dalam beberapa jurus saja!
"Bahkan kemudian, Kui Thiancu, tokoh Pek-lian-kauw yang terkenal pandai bermain pedang itu, dikalahkan
dengan mudah oleh puteri ketua Pao-beng-pai yang bernama Siangkoan Eng. Beberapa orang tokoh lagi
yang maju menguji kepandaian pimpinan Pao-beng-pai, semua juga dikalahkan dengan mudah."
"Bukan main!" seru Lu Sek yang juga tertegun seperti gurunya mendengar kehebatan pimpinan Pao-bengpai.
Diam-diam Ouw Seng Bu juga kagum sekali. Timbul keinginan hatinya untuk mengenal lebih dekat
keluarga Siangkoan yang amat lihai itu. Mampukah dia menandingi mereka?
"Bagaimana dengan para wakil perguruan-perguruan silat besar seperti Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai, Go-bipai,
Bu-tong-pai dan lain-lainnya?" tanya pula Lauw Pangcu semakin tertarik.
"Empat partai besar itu dianggap sebagai tamu kehormatan dan dipersilakan duduk di kursi-kursi
kehormatan sejajar dengan ketua Pao-beng-pai. Perkumpulan itu mengajak semua aliran, baik dari partai
bersih mau pun golongan sesat, untuk secara bersama-sama menggulingkan pemerintah penjajah
Mancu..."
"Tepat sekali!" tiba-tiba Ouw Seng Bu berseru nyaring sehingga mengejutkan semua orang yang
mengenalnya sebagai seorang pemuda yang biasanya pendiam.
"Apanya yang tepat, Seng Bu? Apa maksudmu?" tanya Lauw Kang Hui.
Wajah Seng Bu berubah merah. Dia menyesali diri sendiri kenapa tidak dapat menahan diri. Akan tetapi
berkat kecerdikannya yang luar biasa, dia sudah mampu menguasai dirinya dan menyediakan jawaban
yang tepat.
"Maksud teecu, perkumpulan yang amat kuat seperti Pao-beng-pai itu tepat sekali untuk dijadikan sekutu
menentang penjajah, bukankah begitu Lu-suci dan Suheng?"
Lu Sek dan Lauw Kin mengangguk, akan tetapi Lauw Kang Hui menarik napas panjang. "Belum tentu. Kita
harus mengenal benar keadaan mereka. Lalu apa pula yang terjadi di sana, Thio Cu?"
"Ada peristiwa yang pasti akan mengejutkan hati Suhu. Teecu melihat Sin-ciang Taihiap Yo Han berada
pula di sana."
"Ahhh...!" Seruan ini keluar dari mulut keempat orang itu. Berita ini sungguh merupakan kejutan besar.
"Apa yang dilakukan Pendekar Tangan Sakti di sana? Ceritakan, Thio Cu, ceritakan!" kata Lauw Kang Hui,
tertarik sekali.
"Yo Taihiap termasuk mereka yang ingin menguji kepandaian pimpinan Pao-beng-pai. Kui Thiancu dari
Pek-lian-kauw mengenalnya dan memaki Yo Taihiap sebagai iblis dari Thian-li-pang. Teecu kemudian maju
membelanya, mengatakan bahwa Yo Taihiap ialah pemimpin Thian-li-pang. Kemudian, Yo Taihiap
memperkenalkan diri kepada pimpinan Pao-beng-pai dan bahwa dia memusuhi pemerintah Mancu, juga
dia memusuhi ketiga keluarga para pendekar Pulau Es, Gurun Pasir dan Lembah Siluman. Juga dia
dunia-kangouw.blogspot.com
mencela empat partai besar sebagai para pendekar yang tak bersemangat, tidak mau menentang penjajah.
Celaannya memarahkan Ciong Tojin dari Kun-lun-pai dan Lo Kian Hwesio dari Siauw-lim-pai, akan tetapi
Yo Taihiap menantang mereka. Dua orang pendeta itu lalu mengeroyoknya, tetapi mereka kalah!
Kemudian Hoat Cinjin dari Go-pi-pai mengenal Yo Taihiap sebagai Sin-ciang Taihiap. Ketua Pao-beng-pai
tertarik dan dia sendiri pun turun tangan menguji kepandaian Yo Taihiap. Mereka mengadu sinkang dan
agaknya mereka sama-sama kuat, sehingga Siangkoan Kok menerima Yo Taihiap sebagai tamu agung
dan sahabat yang akan bekerja sama."
Semua orang mendengarkan cerita itu dengan hati tertarik. Kalau tadi mereka kagum terhadap keluarga
ketua Pao-beng-pai, kini mereka kagum dan bangga pula terhadap Yo Han yang mereka anggap sebagai
pemimpin besar Thian-li-pang…..
"Kalau begitu, Yo Taihiap hendak membawa Thian-li-pang supaya bekerja sama dengan Pao-beng-pai?"
tanya Lauw Kang Hui.
"Teecu tidak mengerti, Suhu. Ada yang aneh dalam sikap Yo Taihiap. Pada saat semua tamu berpamitan,
ketika teecu bertanya kepadanya kalau teecu bisa membantunya, dia bahkan menyuruh teecu cepat-cepat
pergi dan mengatakan agar teecu tak mencampuri urusan pribadinya di sana."
"Urusan pribadi?" Lauw Kang Hui bertanya heran.
"Suhu, kalau benar begitu, tentunya Yo Taihiap tak bermaksud untuk bergabung dengan Pao-beng-pai
untuk urusan perjuangan. Mungkin ia hendak minta bantuan Pao-beng-pai untuk menghadapi musuhmusuhnya.
Kalau teecu tidak salah dengar, tadi Thio-suheng mengatakan bahwa dia memusuhi para
pendekar dari tiga keluarga besar," kata Seng Bu.
"Hemmm, mungkin pendapatmu itu benar, Seng Bu. Bagaimana pendapatmu, Thio Cu? Engkau melihat
semua peristiwa di sana, tentu lebih tahu."
"Teecu kira pendapat sute Seng Bu tadi benar. Ketika memperkenalkan diri, Yo Taihiap juga menyatakan
bahwa dia amat membenci dan memusuhi dua orang, yaitu Pendekar Suling Naga Sim Houw dan isterinya
yang bernama Can Bi Lan, masih bibi guru sendiri dari Yo Taihiap. Dia mengatakan bahwa ayah ibunya
tewas karena kedua orang itu dan dia mendendam kepada mereka."
"Jelas bahwa Yo Taihiap memang hendak mengurus persoalan pribadi, maka kita pun tidak boleh tergesagesa
bekerja sama dengan Pao-beng-pai," kata Lauw Kang Hui.
"Akan tetapi, Suhu, bukankah kalau kita bekerja sama dengan perkumpulan yang kuat itu, maka
perjuangan kita akan menjadi lebih berhasil?" Seng Bu bertanya dengan nada memprotes.
"Sute, engkau tahu apa? Kita harus mentaati Suhu dan juga menunggu isyarat dari Yo Taihiap," Lu Sek
menegur sute-nya dengan alis berkerut.
Seng Bu menghela napas. "Baik, maafkan aku, Suci. Oya, Suci, kemarin Suhu memberi petunjuk agar aku
mengajak Suci untuk menjadi lawan berlatih supaya ilmu-ilmu yang sedang kulatih dapat memperoleh
kemajuan." Dia mengalihkan perhatian.
"Aihhh, Sute. Sekarang Thio-suheng sedang bercerita tentang pengalamannya, engkau malah
membicarakan urusan latihan."
"Maaf, aku takut lupa..."
Lauw Kang Hui tertawa. "Ha-ha-ha, memang benar, Lu Sek. Aku sudah terlalu tua untuk menjadi
pasangannya berlatih. Dan hanya engkau yang dapat melayaninya."
Lu Sek mengangguk dan mengerti. Dia tahu apa yang dimaksudkan oleh sute-nya dan suhu-nya. Memang,
ada dua macam ilmu silat guru mereka, yaitu Tok-jiuaw-kang dan Kiam-ciang, hanya diajarkan kepada dia
dan sute-nya saja. Selain guru mereka, hanya mereka berdua yang dapat memainkan ilmu itu, maka tentu
saja hanya mereka berdua yang dapat menjadi pasangan berlatih.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Baik, kita bicarakan soal latihan itu lain hari saja, Sute," katanya kepada Seng Bu yang mengangguk
sambil tersenyum.
Thio Cu melanjutkan ceritanya mengenai pengalamannya di pertemuan yang diadakan Pao-beng-pai itu.
Akan tetapi tak ada yang menarik lagi bagi para pendengarnya karena yang menarik bagi mereka hanyalah
tentang Yo Han dan tentang keluarga Siangkoan.
Tentu saja Thio Cu sama sekali tidak tahu bahwa pemuda bernama Cia Ceng Sun yang dia ceritakan itu
sesungguhnya adalah seorang pangeran Mancu! Jika saja dia tahu dan menceritakan hal itu, sudah pasti
peristiwa dan kenyataan ini akan menarik perhatian para pendengarnya.
Demikianlah, mulai hari ini, walau pun mereka belum ditunjuk sebagai ketua dan wakil ketua secara resmi,
baru dicalonkan, namun Lu Sek dan Lauw Kin makin berkuasa di Thian-li-pang, sedangkan Lauw Kang Hui
hanya menjadi penasehat saja, walau pun dia masih disebut dan dianggap sebagai ketua…..
********************
Ouw Seng Bu menyelinap ke dalam hutan di kaki Bukit Naga itu, lalu dia duduk di atas batu besar. Belum
sepuluh menit dia duduk, terdengar gerakan orang dan dia pun cepat menoleh ke arah suara itu. Muncul
seorang laki-laki berusia lima puluh tahunan yang bertubuh tinggi kurus dan mukanya penuh brewok.
"Paman Su, engkau sudah datang? Bagaimana kabarnya?" tanya Seng Bu tanpa turun dari batu besar.
Laki-laki itu adalah seorang anggota Thian-li-pang, dan dia pun cepat maju menghampiri kemudian
memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada.
"Ouw Kongcu (Tuan Muda Ouw), aku ada membawa kabar baik. Pek Sim Siansu sendiri yang mengirim
salam untuk Kongcu dan sebagai tanda persahabatan beliau mengirim benda ini kepada Kongcu, dengan
harapan agar pertengahan bulan depan Kongcu suka memenuhi undangannya. Kunjungan Kongcu akan
disambut dengan gembira."
Tiba-tiba Seng Bu melirik ke arah kanan. Dia mendengar gerakan orang, meski gerakan itu hampir tak
bersuara. Dia tahu bahwa ada orang yang mengintai dan mendengarkan percakapannya dengan orang itu.
Jantungnya berdebar tegang. Celaka, pikirnya.
Su Kian adalah bekas kepercayaan mendiang ayahnya yang sampai sekarang masih tetap setia kepada
ayahnya, walau pun ia telah menjadi anggota Thian-li-pang yang ikut bersumpah untuk kembali ke jalan
yang benar dan taat kepada ketua Lauw. Su Kian merupakan satu-satunya orang yang dipercayanya dan
siap membantu supaya ia dapat menguasai Thian-li-pang dan memimpin perkumpulan ini seperti mendiang
ayahnya dulu, melanjutkan perjuangan ayahnya menentang kerajaan Mancu secara kekerasan. Dan dia
telah mengutus Su Kian untuk menghubungi Pek-lian-kauw dan menceritakan kepada pimpinan Pek-liankauw
akan niatnya untuk bekerja sama setelah dia dapat menguasai Thian-li-pang seluruhnya.
Walau pun dia tahu bahwa ada orang mempunyai kepandaian tinggi yang mengintai dan menyaksikan
pertemuannya dengan Su Kian, juga mendengar percakapan mereka tadi, namun Seng Bu bersikap
tenang dan mendengarkan laporan Su Kian sampai habis, bahkan ia menerima benda pemberian ketua
Pek-lian-kauw kepadanya. Ketika buntalan kain kuning itu dibuka isinya adalah sebuah mainan berbentuk
seekor naga yang terbuat dari batu giok! Indah sekali dan tentu berharga mahal bukan main.
Tiba-tiba Seng Bu melemparkan benda indah dan mahal itu ke atas tanah dan dia lalu menudingkan
telunjuk kirinya ke arah muka Su Kian sambil memaki-maki dengan suara nyaring dan marah.
"Su Kian, berani engkau membujuk aku untuk menerima uluran tangan Pek-lian-kauw? Engkau
pengkhianat, sepantasnya engkau dibunuh!"
Tangannya bergerak cepat sekali dan Su Kian yang terbelalak matanya dan ternganga mulutnya itu tidak
sempat mengelak, menangkis atau bahkan mengeluarkan suara apa pun. Totokan itu cepat datangnya dan
dia pun terpelanting lemas.
Pada saat itu, muncul sesosok bayangan berkelebat dan Lu Sek sudah berdiri di sana, diikuti Lauw Kin dan
di belakang mereka masih nampak bayangan beberapa orang yang berkelebat. Seng Bu hanya mengerling
dunia-kangouw.blogspot.com
saja, dan pada saat melihat bahwa yang muncul adalah belasan orang saudara seperguruannya yang
dipimpin oleh Lu Sek, tangannya kembali bergerak ke depan, mencengkeram ke arah kepala Su Kian dan
orang itu pun tewas seketika terkena cengkeraman Tok-jiauw-kang. Mukanya membiru.
"Sute, kenapa engkau membunuhnya?" Lu Sek melompat dekat dan menegur Seng Bu.
Seng Bu mengerutkan alisnya, dia nampak marah sekali. "Pengkhianat ini layak dibunuh seratus kali!"
katanya. "Suci, dia mengkhianati kita. Dia mengadakan hubungan dengan Pek-lian-kauw, bahkan
membujuk aku untuk bekerja sama dengan Pek-lian-kauw. Lihat, dia hendak menyampaikan pemberian
ketua Pek-lian-kauw kepadaku!"
Dia membungkuk dan mengambil mainan berbentuk naga dari batu giok tadi dan sekali mengerahkan
tenaga menjempit benda itu di antara kedua tangannya, benda itu pun remuk berkeping-keping dan
dilemparkan ke atas tanah dengan pandang mata muak.
Lu Sek masih mengerutkan alisnya dan kini semua murid ketua Thian-lipang sudah berada di situ,
menghadapi Seng Bu dengan setengah lingkaran.
"Aku telah mendengarnya. Akan tetapi, kenapa engkau membunuhnya padahal engkau tadi sudah
merobohkannya dengan totokan?" bertanya pula Lu Sek dengan sinar mata penuh selidik, sedangkan para
tokoh Thian-li-pang lainnya memandang kepada pemuda itu.
Seng Bu memandang ke arah mayat Su Kian dengan alis berkerut. Dia amat marah dan kecewa sekali
harus membunuh pembantunya yang paling dipercayanya itu. Terpaksa dia membunuhnya karena yang
menyaksikan pertemuannya dengan Su Kian terlalu banyak. Tak mungkin dia membunuh belasan orang ini
untuk menutupi rahasianya.
Tadi pun dia sudah sengaja menotoknya, untuk lebih dahulu melihat siapa yang muncul setelah melakukan
pengintaian. Kalau hanya satu dua orang saja yang mengintai, tentu dia akan membunuh mereka dan
memulihkan pembantunya. Akan tetapi yang muncul belasan orang sehingga dengan hati berat dia
terpaksa cepat membunuh Su Kian untuk membungkamnya dan menyimpan rahasianya.
"Suci, tadinya aku ingin menangkapnya dan menyeretnya ke depan Suci. Akan tetapi melihat Suci sudah
datang, aku tak dapat menahan kemarahanku dan membunuhnya!"
"Hemmm, memang dia pantas dibunuh, akan tetapi kenapa harus begitu tergesa-gesa? Semestinya
engkau membiarkan dia hidup agar dia dapat membuat pengakuan dan kita akan dapat membongkar
semua rahasianya, sudah sampai seberapa jauh ia melakukan pengkhianatan dan hubungan dengan Peklian-
kauw. Sekarang dia telah mati, tentu kita tidak dapat memperoleh keterangan yang berharga."
Melihat suci-nya menegurnya, Seng Bu menundukkan mukanya. "Maafkan aku, Suci, dalam kemarahanku,
aku tidak ingat lagi akan hal yang penting itu. Akan tetapi, sebelum aku membunuhnya, dia tadi sudah
menceritakan betapa dia mengadakan hubungan dengan pimpinan Pek-lian-kauw dan betapa Pek-liankauw
ingin menyambung kembali hubungannya dengan kita seperti dulu, mengajak kita bekerja sama
untuk menghadapi penjajah. Bahkan dia membujukku dengan hadiah naga kemala yang katanya diberikan
kepadaku oleh Pek Sim Siansu ketua Pek-lian-kauw."
"Sudahlah, Sute. Kalau kita bekerja sama dengan Pek-lian-kauw, mereka hanya akan menyeret para
anggota kita ke dalam jalan yang sesat, dan melakukan kejahatan demi keuntungan diri sendiri dengan
kedok perjuangan. Su Kian sudah menjadi pengkhianat, dan dia sudah terhukum mati. Akan tetapi, satu hal
yang membuat aku tidak senang, kenapa engkau melupakan pesan Suhu, Ouw-sute? Lupakah engkau
akan pesan Suhu tentang penggunaan Tok-jiauw-kang? Mengapa engkau mempergunakan ilmu itu untuk
membunuhnya? Dengan pukulan biasa pun engkau akan sanggup membunuhnya."
Sikap dan ketegasan serta suara suci-nya membuat Seng Bu diam-diam merasa sangat tersinggung.
Hemmm, baru saja diangkat menjadi calon ketua, sudah begini tinggi hati dan angkuh, pikirnya. Akan tetapi
dia menunduk menyembunyikan pandang matanya, mengambil sikap mengalah dan mengaku salah.
"Maaf, Suci. Karena marah aku menjadi mata gelap dan tanpa sadar mempergunakan ilmu itu. Karena
belum menguasai ilmu itu dengan sempurna maka tadi aku kelepasan tangan."
dunia-kangouw.blogspot.com
Tentu saja ucapan ini sama sekali bohong, akan tetapi menyenangkan hati Lu Sek yang merasa bahwa
tingkat kepandaian sute-nya yang merupakan orang nomor dua di antara para murid suhu-nya, masih jauh
di bawah tingkatnya sendiri.
"Harap Suci tidak melapor kepada Suhu agar aku tidak mendapat teguran. Cukup Suci yang menegurku
dan aku sudah menyadari kesalahanku."
"Sudahlah, lupakan hal itu. Sekarang ceritakan, bagaimana engkau dapat berada di sini dan mengadakan
pertemuan dengan Su Kian. Tadi kami melihat gerakan Su Kian yang mencurigakan, maka diam-diam kami
membayanginya karena memang sudah lama aku memperhatikan gerak-geriknya yang mencurigakan."
"Begini, Suci. Malam tadi dia menemuiku dan mengatakan bahwa pagi hari ini dia ingin membicarakan
sesuatu yang teramat penting, yang katanya masih menyangkut urusan Thian-li-pang. Tadinya aku merasa
heran mengapa dia tidak bicara secara terbuka saja, akan tetapi dia mengatakan bahwa hanya aku yang
dia percaya, maka dia minta agar aku datang ke sini sekarang dan dia akan menceritakan kepentingannya
itu. Dapat Suci bayangkan betapa kaget hatiku mendengar pelaporannya tentang hubungannya dengan
Pek-lian-kauw, dan saat ia membujukku untuk mau bekerja sama dengan Pek-lian-kauw dan memberikan
benda itu, aku menjadi marah sekali. Selanjutnya, Suci mungkin telah mendengar dan melihat sendiri."
Lu Sek mengangguk-angguk. "Pengalaman ini agar bisa menjadi peringatan kepadamu, Sute, bahkan kita
sama sekali tidak boleh menyimpang dari jalan yang sekarang diambil Thian-li-pang, sesuai dengan
pengarahan Yo Taihiap dan bimbingan Suhu selama ini."
Yo Taihiap lagi, Yo Taihiap lagi, demikian Seng Bu mengomel di dalam hatinya. Macam apakah Yo Han itu
sehingga semua orang seolah-olah tunduk dan amat taat padanya? Bertahun-tahun tak pernah muncul,
tidak melakukan sesuatu untuk Thian-li-pang, akan tetapi semua pimpinan Thian-li-pang selalu menyebutnyebut
namanya penuh hormat!
Mereka lalu kembali ke markas Thian-li-pang setelah Lu Sek menyuruh para sute-nya menguburkan
jenazah Su Kian sebagaimana mestinya, di tempat itu juga. Bagi seorang pengkhianat, tidak ada tempat
peristirahatan di makam keluarga Thian-li-pang!
Seng Bu ikut pulang dengan wajah biasa, akan tetapi hatinya mengalami tekanan yang berat. Dia terpaksa
harus membunuh Su Kian, satu-satunya orang kepercayaannya di Thian-li-pang. Bahkan hanya Su Kian
yang tahu bahwa dia telah mewarisi ilmu Bu-kek Hoat-keng. Su Kian pula yang selama ini menjadi
perantara baginya untuk berhubungan dengan para pimpinan Pek-lian-kauw.
Dia telah mengambil keputusan untuk mengambil alih pimpinan Thian-li-pang, kemudian bergabung
dengan Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai, seperti dulu ketika ayahnya masih menjadi ketua Thian-li-pang.
Dan sudah cukup lama, melalui Su Kian, dia mengadakan hubungan rahasia dengan para pimpinan Peklian-
kauw.
Ketika mereka berjalan pulang, Seng Bu melangkah mendekati Lu Sek yang berjalan berdampingan
dengan Lauw Kin, yang bukan rahasia lagi kini menjadi sahabat baik dan bahkan kedua orang itu telah
merencanakan pernikahan dalam waktu dekat. Hubungan antara janda dan duda yang tidak mempunyai
anak dan masih bersaudara seperguruan ini direstui oleh Lauw Kang Hui.
"Suci, aku merasa menyesal sekali atas kejadian tadi...," Seng Bu berkata.
Lu Seng mengerutkan alisnya dan menoleh, memandang kepada sute-nya itu dengan sinar mata heran
dan penuh selidik. "Sute, apa sih yang mendatangkan perubahan pada dirimu? Biasanya engkau pendiam,
akan tetapi hari ini engkau banyak bicara. Bukankah urusan itu sudah selesai?"
"Aku tetap merasa menyesal sekali telah kelepasan tangan, Suci. Hal itu terjadi karena aku belum
menguasai Tok-jiauw-kang sepenuhnya. Aku teringat akan pesan Suhu agar aku mengajak engkau untuk
memberi petunjuk dalam latihan. Maukah engkau memberi petunjuk kepadaku, Suci?"
"Hemmm, baiklah. Nanti akan kusediakan waktu untuk itu."
"Bagaimana kalau besok pagi-pagi sekali, Suci? Aku biasa berlatih di dekat sumur tua yang ditutup itu. Di
sana amat sunyi dan kurasa latihan ini tidak baik bila sampai terlihat murid lain."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Baiklah, besok pagi kusediakan waktu."
"Aku akan menunggumu pada saat matahari mulai menyingsing, Suci." Tanpa menanti jawaban suci-nya,
Seng Bu kembali menjauhkan diri dan berjalan bersama para murid Thian-li-pang lainnya.
Setelah Seng Bu menjauhkan diri, Lauw Kin berkata kepada Lu Sek, "Kulihat Ouw-sute itu setia kepada
Thian-li-pang. Dia tegas dan semangatnya untuk maju besar sekali. Kita beruntung mendapatkan seorang
pembantu seperti dia. Kelak ia boleh diharapkan untuk membawa Thian-li-pang maju."
Lu Sek menghela napas. "Tadinya aku juga mengira bahwa Suhu akan mengangkat dia menjadi calon
ketua. Dia memang berbakat dan ilmu silatnya maju pesat, hanya di bawah tingkatku saja. Akan tetapi,
agaknya Suhu melihat bahwa dia masih terlalu muda dan kadang-kadang wataknya amat aneh. Seperti
yang tadi ia lakukan, ia menggunakan Tok-jiauw-kang untuk membunuh Su Kian, padahal ilmu itu
merupakan ilmu simpanan yang hanya boleh dipergunakan kalau terpaksa menghadapi lawan berat dan
nyawanya terancam saja. Dan dia bahkan mempergunakannya untuk membunuh seorang anggota Thianli-
pang sendiri begitu saja!"
"Akan tetapi, pengkhianat itu memang sudah sepatutnya dibunuh."
"Itu memang benar, akan tetapi dia tak perlu mempergunakan Tok-jiauw-kang. Mungkin karena ia memang
belum menguasai ilmu itu dengan sempurna. Ilmu itu memang amat sulit, sama sulitnya dengan ilmu Kiamciang.
Biarlah besok kuberi petunjuk kepadanya, sesuai dengan perintah Suhu."
Lauw Kin tidak bicara lagi, namun hatinya mengandung kekhawatiran. Tadi dia seperti melihat sinar mata
yang aneh dari pandang mata Seng Bu terhadap suci-nya, seperti kilatan mata yang tajam dan dingin…..
********************
Pagi-pagi sekali Lu Sek telah tiba di tempat sunyi itu. Matahari belum nampak di langit timur, akan tetapi
sinarnya telah menerangi langit itu dan cuaca sudah mulai terang. Keruyuk ayam jantan hanya terdengar
kadang-kadang, tidak sesering tadi, akan tetapi burung masih ramai berkicau membuat persiapan untuk
berangkat kerja mencari makan hari itu.
Pada tengah hari saja, tempat ini jarang dikunjungi orang. Apa lagi orang luar, bahkan orang-orang Thianli-
pang sendiri kalau tidak mempunyai keperluan yang penting sekali, merasa segan datang ke tempat ini.
Seolah-olah ada hukum tak tertulis dan terucapkan bahwa daerah ini merupakan daerah pantangan.
Tempat itu adalah daerah liar di mana terdapat sumur yang dulu pernah menggegerkan Thian-li-pang.
Sumur itu pernah dijadikan hukuman atau siksaan oleh nenek moyang Thian-li-pang. Bahkan seorang
tokoh besar Thian-li-pang pernah dibuang hidup-hidup di dasar sumur oleh para suheng-nya sendiri,
demikianlah menurut dongeng yang dikenal oleh para murid Thian-li-pang.
Tokoh besar itu dibuntungi kaki tangannya dan dibuang ke sumur itu. Namun dia tidak mati-mati, bahkan
sering kali terdengar teriakan dan lolongnya yang mengerikan. Tokoh rahasia ini sangat sakti dan akhirnya,
tokoh sakti ini menjadi guru dari Yo Han yang pernah tinggal di Thian-li-pang sehingga Yo Han akhirnya
menjadi tokoh yang dianggap sebagai pemimpin besar Thian-li-pang, yang mengubah jalur Thian-li-pang
yang tadinya menyeleweng dan sesat.
Biar pun telah dikabarkan bahwa kakek sakti yang bernama Cu Lam Hok itu telah mati, namun tempat itu
masih dianggap keramat. Sumur yang telah ditutup oleh para tokoh besar Thian-li-pang untuk membunuh
kakek buntung itu, kini dianggap sebagai tempat yang dihuni iblis dan hantu. Bahkan ada murid Thian-lipang
yang berani bersumpah bahwa dia pernah mendengar lolong dan pekik mengerikan itu keluar dari
dalam sumur yang sudah ditutup itu.
Tempat ini amat sunyi. Karena para murid Thian-li-pang sendiri menganggap tempat itu amat angker dan
keramat, maka tempat itu jarang dijamah tangan dan tidak terpelihara sehingga di situ tumbuh banyak
alang-alang dan semak belukar yang membuat tempat itu kelihatan semakin menyeramkan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Biar pun ia seorang ahli silat tingkat tinggi yang tangguh dan tak pernah mengenal takut, namun diam-diam
Lu Sek merasa bulu tengkuknya meremang kalau dia teringat akan dongeng menyeramkan dari tempat itu.
Dia mulai menyesal mengapa dia menyanggupi sute-nya untuk berlatih silat di tempat seperti itu.
Akan tetapi, dia tidak terlalu menyalahkan sute-nya yang biasa berlatih di tempat ini. Untuk melatih kedua
ilmu simpanan guru mereka yang hanya diajarkan kepada mereka berdua, guru mereka sudah berpesan
agar kalau mereka berlatih ilmu Tok-jiauw-kang dan Kiam-ciang, mereka harus berlatih di tempat
tersembunyi agar tidak kelihatan oleh murid-murid lain dan menimbulkan perasaan iri.
Dia sendiri selalu melatih diri di dalam kamar yang tertutup, dan memang tidak begitu menyenangkan
berlatih di kamar tertutup, tidak seperti di tempat terbuka seperti ini. Apa lagi untuk melatih kedua ilmu itu,
ia harus mengerahkan tenaga sinkang yang amat kuat dan ini membuat tubuh menjadi panas sehingga
banyak mengeluarkan keringat, apa lagi kalau latihan di kamar tertutup yang pengap.
Dia berhenti, menengok ke sekelilingnya. Sumur mengerikan itu masih nampak tembok bibirnya, di antara
semak-semak. Di sekitar sumur itu masih terdapat banyak batu-batu besar, agaknya kelebihan batu-batu
yang dipakai untuk menutup sumur. Mengerikan!
"Ouw-sute...!" Ia memanggil sambil memandang sumur itu, seolah-olah mengharapkan sute-nya itu akan
muncul keluar dari sumur tua itu.
Dia tahu bahwa masih ada sumur ke dua yang tertutup semak belukar sama sekali, beberapa ratus meter
dari situ. Akan tetapi sumur ke dua ini lebih menyeramkan lagi karena belum tertutup dan merupakan
lubang gelap hitam tak kelihatan dasarnya dan kabarnya mengandung hawa beracun dan menjadi tempat
tinggal ular-ular berbisa.
Tiba-tiba ia terbelalak dan merasa bulu tengkuknya dingin meremang. Dia memandang ke arah sesosok
bayangan yang benar-benar muncul dari sumur itu! Perlahan-lahan sosok bayangan itu bangkit berdiri
tanpa mengeluarkan suara, berdiri tegak seperti iblis yang datang untuk membalas dendam, haus darah!
Lu Sek mentertawakan diri sendiri. Ia seorang pendekar gagah perkasa, tidak takut dan tidak percaya
kepada segala macam ketahyulan!
"Sute, engkaukah itu?" serunya dan ia pun melangkah maju agak mendekat.
Bayangan itu meloncat dan ternyata dia benar Ouw Seng Bu. Karena waktu itu cuaca belum terang benar,
dan kemunculannya tepat di belakang sumur itu, maka tentu saja membuat ia berkhayal melihat iblis
sendiri keluar dari dalam sumur yang sudah tertutup. Akan tetapi, ketika Seng Bu melangkah maju
mendekat dan ia dapat melihat wajahnya, Lu Sek mengerutkan alisnya.
"Ouw-sute, engkaukah itu?" kembali ia bertanya.
Memang ia mengenali sute-nya, akan tetapi sinar mata sute-nya itu, senyum pada mulut sute-nya itu.
Betapa asing dan aneh baginya. Belum pernah selama ini ia melihat sinar mata dan senyum seperti itu
pada wajah Ouw Seng Bu. Sinar mata yang mencorong bagaikan mata binatang buas, penuh kebengisan
serta kekejaman. Dan senyum itu! Mengerikan sekali. Senyum itu demikian dingin penuh ejekan, membuat
Lu Sek merasa tengkuknya dingin dan bulu kuduknya meremang.
Akan tetapi, bayangan khayal menyeramkan itu membuyar ketika ia mendengar suara sute-nya, "Lu-suci,
aku sudah menunggumu sejak tadi."
"Ouw-sute, kenapa tergesa-gesa? Matahari juga belum muncul, baru nampak sinarnya saja."
"Suci, latihan kedua ilmu simpanan dari suhu ini merupakan ilmu yang hanya diajarkan kepada kita berdua.
Murid lain tidak boleh mempelajarinya, bahkan suheng Lauw Kin juga tidak diajari kedua ilmu itu. Maka,
sebaiknya kalau kita latihan secara tersembunyi. Di tempat ini sunyi, juga pagi-pagi seperti ini belum ada
anggota Thian-li-pang yang keluar. Amat baik kalau kita berlatih sekarang, Suci. Aku ingin agar dapat
menguasai Tok-jiauw-kang dan Kiam-ciang sepenuhnya. Agar aku dapat paham benar, sebaiknya kalau
kita melatih dua macam ilmu itu sekaligus. Bagaimana, Suci?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Baiklah. Akan tetapi kita harus berhati-hati sekali. Kedua macam ilmu pukulan ini amat berbahaya dan
dapat mendatangkan luka beracun atau bahkan kematian. Kita tak boleh kesalahan tangan. Nah, sekarang
aku sudah siap, engkau mulailah!" kata Lu Sek sambil memasang kuda-kuda yang kokoh kuat.
Ouw Seng Bu tersenyum dan kembali Lu Sek merasa bulu tengkuknya meremang dan terasa dingin.
Senyum itu sungguh aneh dan tidak wajar, seperti senyum iblis!
"Suci sambutlah seranganku ini!"
Tiba-tiba Seng Bu menyerang dengan pukulan tangan miring. Terdengar suara bersiut dibarengi angin
dahsyat. Itulah Kiam-ciang (Tangan Pedang). Ilmu ini membuat tangan yang memukul itu laksana sebatang
pedang saja, dapat membuntungi anggota badan lawan, bahkan dapat menyambut senjata tajam lawan
seperti sebatang pedang!
Melihat betapa pukulan yang menyambar itu amat dahsyat, Lu Sek segera mengelak. Akan tetapi begitu
tangan kiri Seng Bu yang menyambar itu luput, tangan kanannya sudah meluncur ke arah dada suci-nya.
Ketika terpaksa Lu Sek menangkis serangan mencengkeram itu, kembali ada angin yang datang
menyambar dan itulah sebuah jurus Tok-jiauw-kang yang amat ampuh!
"Ihhh...!!" Lu Sek berseru kaget. "Sute, gerakanmu sudah hebat."
Dia berseru kaget karena serangan sute-nya ini benar-benar amat kuat. Akan teramat berbahaya, juga
tidak sopan karena mencengkeram ke arah dadanya tapi kembali ia merasa ngeri melihat sute-nya. Sinar
mata sute-nya yang demikian aneh. Tidak begitu seharusnya dalam latihan, tidak sopan namanya.
Akan tetapi dia masih menganggap bahwa sute-nya tidak sengaja, maka dia pun cepat mengelak,
langsung balas menyerang dengan Kiam-ciang yang dikombinasikan dengan cengkeraman Tok-jiauwkang.
Akan tetapi tentu ia menahan dan membatasi tenaganya agar jangan sampai melukai sute-nya yang
ia tahu belum begitu sempurna menguasai kedua ilmu itu!
Akan tetapi, semua serangannya ternyata dapat dielakkan dengan amat mudahnya oleh Seng Bu, dan
pemuda itu membalas lagi semakin lama semakin dasyat!
"Duk-duk-plakkk!"
Tiga kali beruntun dua tangan mereka saling bertemu ketika terpaksa Lu Sek menangkis serangan sutenya
yang amat dasyat. Karena dia membatasi tenaganya, akibatnya dia terdorong dan terhuyung ke
belakang.
"Sute, gerakanmu sudah hebat dan amat kuat!" Ia berseru kaget.
Akan tetapi kembali dia merasa ngeri melihat sinar mata sute-nya yang demikian aneh mencorong, serta
senyumnya semakin menakutkan. Bahkan tanpa mengeluarkan kata apa pun, sute-nya kini meloncat ke
depan dan menerjang lagi dengan dasyat.
Lu Sek makin kaget. Sute-nya menyerangnya dengan Kiam-ciang atau Tok-jiauw-kang, tetapi dengan
tenaga yang dahsyat dan sama sekali bukan seperti orang yang sedang mengajaknya berlatih. Sute-nya
menyerangnya bagai orang yang berkelahi, menyerang sungguh-sungguh, dengan pukulan-pukulan maut!
Terpaksa ia mengerahkan tenaganya untuk memukul mundur sute-nya. Ketika sute-nya memukul ke arah
dadanya dengan Kiam-ciang, ia pun mengerahkan seluruh tenaga dan menangkis dengan gerakan Kiamciang
pula.
"Wuuuttt... desss...!!"
Dua tenaga bertemu melalui pukulan tangan miring. Sebagai akibatnya, tubuh Lu Sek terjengkang dan
tentu dia terbanting roboh jika saja tidak cepat-cepat membuat gerakan bergulingan. Pada waktu ia
meloncat bangun, ia merasa napasnya agak sesak dan ia memandang kepada sute-nya dengan mata
terbelalak.
"Sute, kau...!"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Lu-suci, kita belum selesai latihan. Sambut seranganku ini!" katanya.
Tanpa memberi kesempatan lagi kepada Lu Sek, kembali Seng Bu telah menerjang lagi dengan pukulan
kombinasi antara Kiam-ciang dan Tok-jiauw-kang (Cakar Beracun).
"Hemmm...!"
Sekarang Lu Sek menjadi marah. Kiranya sute-nya ini benar-benar ingin memamerkan kepandaiannya.
Biar pun ia terkejut menyaksikan kemajuan sute-nya, namun ia merasa lebih unggul dan ia pun tak mau
kalah. Apa lagi, ia adalah orang yang barusan diangkat menjadi ketua Thian-li-pang. Bagaimana ia sampai
dapat dikalahkan oleh salah seorang pembantunya, juga sute-nya yang minta petunjuk dalam ilmu silat
darinya? Lu Sek kini mengerahkan seluruh tenaganya dan memainkan kedua ilmu itu sebaik mungkin.
Terjadilah serang-menyerang yang hebat dan seru. Memang harus diakui oleh Seng Bu bahwa dalam hal
penggunaan dua ilmu itu, dia masih kalah mahir dibandingkan dengan suci-nya. Kalau ia hanya
menggunakan kedua ilmu itu tanpa menambah tenaga mukjijat yang dihimpunnya melalui latihan ilmu
rahasia Bu-kek Hoat-keng, jelas dia tidak akan mampu menandingi suci-nya.
Karena itu, tiap kali beradu lengan, diam-diam dia mengerahkan tenaga mukjijat itu dan selalu suci-nya
terpental dan terhuyung ke belakang. Karena kalah tenaga, maka Seng Bu dapat menutupi kekalahannya
dalam kemahiran memainkan kedua ilmu itu, bahkan kini dia yang mendesak hebat!
"Desss...!!"
Kembali kedua tangan mereka saling bertemu dan kembali pula Lu Sek terpental serta terjengkang,
dengan dada yang terasa makin sesak. Dan pada saat itu, Seng Bu sudah meloncat ke depan dan
mengirim tamparan susulan dengan Kiam-ciang ke arah kepala suci-nya yang masih belum sempat
bangun.
"Sute, kau...!" Lu Sek mengangkat tangan menangkis sambil mengerahkan tenaganya.
"Plakkk!"
Tubuh Lu Sek terdorong sehingga bergulingan, dan dari mulutnya keluar darah segar, dadanya terasa
nyeri.
"Ouw-sute, apa yang kau lakukan ini?" bentak Lauw Kin yang tiba-tiba sudah berada di situ.
Melihat tunangannya terdesak bahkan muntah darah, tentu saja Lauw Kin terkejut dan marah sekali. Dia
memang sudah merasa curiga kepada Seng Bu kemarin, maka pagi ini dia sengaja datang ke tempat itu
untuk melihat keadaan tunangannya. Dan ternyata kekhawatirannya terbukti. Dalam berlatih melawan
Seng Bu, agaknya tunangannya itu sudah terluka, dan latihan itu agaknya menjadi perkelahian yang
sungguh-sungguh.
"Dia... dia menjadi gila...!" kata Lu Sek yang sudah dapat bangkit kembali.
"Ouw-sute, apa yang kau lakukan ini? Mengapa engkau melukai ketua kita?" kembali Lauw Kin menegur
Ouw Seng Bu dengan alis berkerut.
Tiba-tiba Seng Bu tertawa dan kedua orang itu saling pandang, merasa ngeri. Itu bukan tawa manusia
waras! Mirip tawa iblis, atau tawa orang sinting.
"Heh-heh-ha-ha-hah...! Engkau boleh maju sekalian, Lauw-suheng. Atau engkau tidak berani? Takut
berlatih melawan sute-mu seperti Lu-suci? Heh-heh-heh, ketua dan wakil ketua Thian-li-pang begini
pengecut! Sungguh tidak pantas!"
Lauw Kin dan Lu Sek terbelalak, terkejut dan heran, akan tetapi juga marah sekali. Gila atau tidak, Ouw
Seng Bu ini sungguh merupakan seorang murid yang murtad!
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ouw-sute, sadarlah! Sudah gilakah engkau?" bentak Lu Sek marah, akan tetapi karena ia tadi telah
melihat kenyataan betapa lihai sute-nya ini, ia kini sudah siap waspada dan sudah meraba gagang
pedangnya, sedangkan Lauw Kin meraba gagang goloknya.
"Ha-ha-ha, berani atau takut, tetap saja aku akan menyerang kalian! Nah, sambutlah ini!" Dia sudah
menyerang lagi dengan tamparan-tamparan Kiam-ciang.
Karena maklum betapa serangan itu sangat berbahaya, Lu Sek meloncat ke belakang, diikuti Lauw Kin dan
mereka kini sudah mencabut pedang dan golok.
"Ouw-sute, sadarlah! Atau terpaksa kami akan menghadapimu dengan senjata. Engkau dapat merupakan
bahaya besar bagi Thian-li-pang kalau tidak mau sadar dan berubah menjadi gila!"
Ouw Seng Bu tersenyum dan sekali ini bukan hanya Lu Sek yang merasa ngeri, juga Lauw Kin
memandang dengan terbelalak karena dia pun tidak lagi mengenal sute-nya dengan senyum seperti itu.
"Kalian mencabut senjata? Bagus, bagus! Inilah kesempatan baik bagiku untuk menguji kepandaianku
sendiri. Nah, sambutlah seranganku dengan senjata kalian, he-he-heh!"
Sambil tertawa-tawa Ouw Seng Bu sudah menyerang lagi. Namun kedua orang kakak seperguruannya itu
terkejut dan terheran bukan main karena kini gerakan sute mereka itu sama sekali berlainan dengan
gerakan ilmu silat yang pernah mereka pelajari.
Gerakan itu aneh sekali dan nampaknya seperti gerakan yang kacau, gerakan pesilat yang mungkin gila!
Karena maklum betapa besar bahayanya kalau sute yang gila ini dibiarkan saja, Lu Sek sudah meloncat ke
depan dan menyambut serangan itu dengan pedangnya, dengan maksud merobohkan sute-nya,
menangkap atau bila perlu bahkan membunuhnya.
Lu Sek yang memiliki gerakan ringan dan cepat itu sudah meloncat ke depan sambil memutar pedangnya,
menyambut gerakan kedua tangan sute-nya yang seperti hendak mencakar itu dengan sambaran
pedangnya!
"Wuuut... singgg...! Krakkk...!"
Pedang itu bertemu dengan jari tangan kanan Seng Bu dan pedang itu patah-patah. Kemudian tangan kiri
Seng Bu menampar ke depan dengan jari tangan terbuka, bukan gerakan Kiam-ciang, melainkan gerakan
aneh.
Angin yang panas sekali menyambar ke arah dada Lu Sek dan wanita itu mengeluarkan jerit tertahan,
tubuhnya roboh dan tidak bergerak lagi. Ketika Lauw Kin memandangnya, ia pun terbelalak dengan wajah
pucat melihat betapa tunangannya itu telah tewas dalam keadaan tubuh menghitam seperti hangus
terbakar!
"Kau... jahanam... kau membunuhnya...!"
Lauw Kin menjadi marah dan sedih sekali. Dengan nekat ia maju sambil menggerakkan goloknya,
menerjang maju dan menyerang Seng Bu dengan cepat sekali.
"Bagus, memang engkau harus pergi untuk selamanya agar tidak menjadi penghalang bagiku!" bentak
Seng Bu dan dia menyambut golok itu dengan kedua tangannya.
Tangan kirinya begitu saja, dengan jari terbuka, menerima dan mencengkeram golok itu. Bukan main
hebatnya jari-jari tangan itu karena begitu kena dicengkeram, golok itu pun patah-patah dan remuk!
Kemudian, tangan kanan Seng Bu sudah memukul ke depan. Dada Lauw Kin terkena tamparan itu dan dia
pun terjengkang dan tewas seketika di dekat mayat tunangannya dengan tubuh hangus pula.
Ouw Seng tertawa bergelak seperti seekor binatang buas, akan tetapi hanya sebentar saja karena
kemudian sikapnya itu berubah kembali. Dia tidak tertawa lagi, juga sinar matanya tidak liar dan mulutnya
tidak mengandung senyum iblis. Dia nampak tenang dan termenung berdiri memandang ke arah dua
mayat suheng dan suci-nya yang telah dibunuhnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pikirannya bekerja, penuh kelicikan. Dia telah berhasil membunuh ketua dan wakil ketua Thian-li-pang.
Hanya tertinggal satu lagi pengganjal yang akan menjadi penghalang dia memimpin Thian-li-pang, yaitu
gurunya sendiri, Lauw Kang Hui!
Kakek itu tentu tidak akan tinggal diam kalau dia mendengar betapa kedua orang murid tersayang itu
tewas, apa lagi kalau tahu bahwa dia membunuh mereka, pikirnya. Kalau penghalang yang tinggal seorang
ini disingkirkan, siapa lagi yang akan berani dan dapat menghalanginya menjadi ketua Thian-li-pang?
Tidak lama kemudian, di pagi hari buta itu, dia sudah mengetuk pintu kamar Lauw Kang Hui. Seperti biasa,
kakek ini semenjak pagi sekali sudah terbangun dan sudah duduk semedhi. Mendengar ketukan pintu,
hatinya merasa tak senang. Siapa berani demikian lancangnya mengganggu semedhinya di pagi hari
seperti itu?
"Siapa?" tanyanya, suaranya halus tetapi mengandung ketidak sabaran karena merasa terganggu.
"Suhu, teecu ingin melaporkan hal yang amat penting dan gawat!" terdengar suara Seng Bu dari luar, juga
lirih akan tetapi dapat didengar jelas oleh orang pertama Thian-li-pang itu.
"Masuklah, pintunya tidak terkunci," kata Lauw Kang Hui.
Seng Bu masuk dan berlutut di depan gurunya.
"Seng Bu, ada apakah engkau sepagi ini menggangguku dari semedhi?"
"Maaf, Suhu. Sudah terjadi sesuatu dengan suci Lu Sek dan suheng Lauw Kin. Marilah Suhu tengok sendiri
dan melihat keadaan mereka.”
"Hemmm, ada apa dengan mereka?"
"Mereka... ahhh, teecu khawatir sekali, Suhu. Marilah, kita ke sana dan Suhu melihat sendiri!" kata Seng
Bu sambil bangkit dan keluar dari kamar itu.
Tentu saja Lauw Kang Hui menjadi heran dan tertarik, lalu dia bangkit dan mengikuti muridnya. Dia menjadi
semakin heran ketika muridnya itu pergi ke tempat sunyi yang dikeramatkan, yaitu di daerah yang terdapat
sumur yang dahulu dipakai sebagai tempat menghukum kakek Ciu, yaitu mendiang supek-nya (uwa
gurunya).
Lauw Kang Hui mengerutkan alisnya. "Seng Bu, kenapa engkau mengajakku ke tempat ini?"
Dia merasa tidak enak juga melihat ke arah dua buah sumur itu, yang sebuah tertimbun batu, yang sebuah
lagi tersembunyi di balik semak belukar dan tempat ini merupakan tempat yang mengerikan.
"Lihatlah, Suhu." kata Seng Bu.
Dia berhenti tidak jauh dari semak yang menyembunyikan sumur ke dua yang masih belum ditimbuni apaapa.
Lauw Kang Hui menghampiri dan dia terbelalak memandang pada tubuh dua orang muridnya yang
rebah telentang dengan muka, leher dan tangan menghitam seperti arang!
Kakek itu mengeluarkan suara tertahan, berjongkok untuk memeriksa mereka. Ia makin heran dan terkejut
ketika mendapat kenyataan bahwa kedua orang muridnya itu tewas oleh pukulan beracun yang tidak
dikenalnya.
"Apa yang telah terjadi? Siapa yang telah membunuh mereka?" tanyanya sambil berdiri dan memandang
Seng Bu dengan muka agak pucat dan mata terbelalak.
Tiba-tiba dia melihat perubahan pada wajah yang tampan itu. Sepasang mata pemuda itu mencorong liar,
dan senyum aneh berkembang di bibirnya, senyum iblis!
"Mereka mengajak teecu berlatih silat dan mereka roboh terpukul oleh teecu," katanya dengan nada suara
mengejek walau pun kata-katanya masih menghormat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sepasang mata kakek itu semakin dilebarkan. Dia mengamati muridnya itu dari kepala sampai ke kaki.
"Tidak mungkin! Engkau tak akan mampu mengalahkan mereka, apa lagi memukul mati seperti ini!"
"Hemmm, kalau Suhu tidak percaya, boleh Suhu buktikan sendiri. Jangankan mereka, Suhu pun tidak akan
mampu menandingiku, bahkan aku dapat membunuhmu dengan mudah."
Tentu saja kakek itu menjadi marah bukan main. "Engkau telah gila!" teriaknya marah.
"Dan engkau akan mati bersama mereka!" kata Seng Bu. Dia pun lantas menggerakkan kaki dan
tangannya menyerang gurunya sendiri.
Lauw Kang Hui kini sudah menjadi marah sekali. Dua orang muridnya tersayang tewas, padahal mereka
baru saja dia angkat menjadi ketua dan wakil ketua. Kalau tadinya dia masih tidak percaya bahwa Seng Bu
yang membunuh mereka, bukan saja karena dia tahu betapa tingkat kepandaian Seng Bu masih kalah
dibandingkan Lu Sek, juga tidak ada alasan mengapa pemuda ini harus membunuh suci dan suheng-nya,
kini tiba-tiba dia teringat. Ketua dan wakil ketua dibunuh! Ini berarti bahwa Seng Bu merasa iri dan ingin
merebut kedudukan ketua!
Akan tetapi, dia tak sempat berpikir lagi karena melihat Seng Bu berani menyerangnya. Dia cepat
mengerahkan tenaga dan menangkis, dengan maksud sekali tangkis dapat merobohkan dan menangkap
murid yang agaknya tiba-tiba menjadi gila itu.
"Dukkk...!!"
Lauw Kang Hui mengeluarkan gerengan kaget dan marah ketika benturan lengan itu membuat dia
terhuyung ke belakang! Seng Bu sendiri hanya tergetar saja, namun dapat mempertahankan kudakudanya.
Ini tidak mungkin, pikirnya! Tetapi pemuda itu menyeringai dan kini melakukan gerakan yang aneh, lalu
kembali menerjang ke depan, tangan kirinya menyambar. Hawa pukulan yang panas sekali menerjangnya!
Dan kakek itu cepat-cepat menyambut dengan kedua tangannya.
"Desss...!!"
Dan sekali ini, dia terjengkang! Sambil mengerahkan seluruh tenaganya, Lauw Kang Hui meloncat bangun
berdiri dan memandang kepada murid itu dengan mata hampir tidak percaya.
“Ilmu siluman apakah itu...?" Saking herannya, dia bertanya. Keheranannya melampaui kemarahannya.
"Ha-ha-ha-heh-heh-heh, Suhu, engkau selalu memuji-muji Yo Han dengan ilmu Bu-kek Hoat-keng! Nah,
inilah Bu-kek Hoat-keng! Bukan hanya Yo Han yang menguasainya, aku pun telah menguasainya. Kalau
dia berani muncul, akan kuhancurkan kepalanya. Sekarang, bersiaplah untuk menemani suci Lu Sek dan
suheng Lauw Kin!"
Lauw Kang Hui marah bukan main. Ia pun mengerahkan seluruh tenaga, mengeluarkan semua
kepandaiannya, bahkan dia melakukan gerakan ilmu silat Tok-jiauw-kang serta Kiam-ciang yang telah
mencapai tingkat tinggi.
Maklum bahwa kalau dia mengandalkan ilmu-ilmu yang pernah dipelajarinya dari kakek itu, dia tidak
mungkin akan menang, maka Seng Bu segera memainkan ilmunya yang didapat dengan rahasia di dalam
sumur, yaitu ilmu Bu-kek Hoat-keng yang dipelajarinya secara ngawur dan terbalik-balik. Dan memang
hebat bukan main ilmu ini.
Ilmu Bu-kek Hoat-keng yang aslinya, seperti yang dikuasai Yo Han, sudah merupakan ilmu ajaib, memiliki
daya atau pengaruh yang aneh, yaitu selain gerakannya aneh dan lihai, mengandung tenaga sinkang yang
amat kuat. Bila ada lawan, betapa pun lihainya, menyerang dengan kemarahan dan kebencian di dalam
hati, maka serangan itu akan membalik dan menghantam si penyerang sendiri!
dunia-kangouw.blogspot.com
Dan sekarang, ilmu aneh yang dipelajari secara ngawur dan terbalik oleh Seng Bu itu, memberinya ilmu
yang luar biasa kejamnya, biar pun pengaruh ilmu itu membalik pada dirinya, membuat dia kalau sedang
kumat seperti orang gila, atau lebih tepat seperti iblis sendiri.
Lauw Kang Hui adalah seorang datuk yang sudah mempunyai tingkat tinggi dalam ilmu silat. Jarang ada
tokoh yang mampu menandinginya. Akan tetapi sekarang, bertanding mati-matian melawan muridnya
sendiri, dia mulai terdesak sesudah mampu bertahan sampai lima puluh jurus. Kedua lengannya sudah
terasa panas seperti dibakar setelah beberapa kali bertemu dengan lengan Seng Bu.
Dia merasa menyesal, mengapa tadi tidak membawa golok besar, senjata andalannya. Semenjak
melepaskan kedudukan sebagai ketua Thian-li-pang dan bersemedhi, ia telah menyingkirkan golok itu,
maka tadi ketika pergi ke tempat ini, dia pun tidak membawa senjata.
"Heh-heh-heh, Lauw Kang Hui, sekarang engkau mati!" kata Seng Bu, sikapnya sama sekali berubah dan
tidak lagi menyebut suhu.
Lauw Kang Hui menjadi nekat dan dia pun mengerahkan seluruh tenaganya, menerjang ke depan.
"Hyaaaattt...!!" bentaknya dan suara gerengannya bagaikan seekor binatang buas yang terluka.
Seng Bu tersenyum mengejek. Pada saat kedua tangan gurunya yang mendorong itu meluncur ke arah
dadanya, tiba-tiba dia merendahkan diri hampir berjongkok sehingga kedua tangan Lauw Kang Hui
menyambar lewat atas kepalanya dan pada detik itu juga, tangan kiri Seng Bu sudah mencuat ke depan,
menghantam dengan telapak tangannya ke arah dada Lauw Kang Hui.
"Hukkk... !!"
Mata kakek itu melotot, punggungnya melengkung dan dia pun terbanting ke belakang, terjengkang.
"Kau...! Kau...!" Suaranya lalu terhenti karena dia muntah darah. Tubuhnya berkelojotan sebentar, matanya
mendelik memandang Seng Bu dan akhirnya dia tidak bergerak lagi. Kulit tubuhnya berubah menghitam
seperti dibakar sampai hangus!
Seng Bu mengeluarkan suara tawa yang mengerikan itu lagi sambil berdiri memandangi ketiga buah mayat
yang hangus itu. Mendadak sikapnya berubah lagi, termenung dan pendiam. Segera dia berlari ke
perkampungan Thian-li-pang, dan dipukulnya kentungan tanda bahaya dengan gencar.
Tentu saja para anggota Thian-li-pang sangat terkejut. Bahkan yang masih tidur segera terbangun. Mereka
berlari-larian menuju gardu di mana Seng Bu memukuli kentungan dengan gencar seperti orang
kesetanan.
Setelah semua anggota berkumpul, kurang lebih seratus orang banyaknya, dan mereka bertanya-tanya
mengapa pembantu ketua baru itu memukuli kentungan tanda bahaya, Seng Bu menghentikan
perbuatannya dan dengan napas terengah dia berkata, "Celaka, terjadi pembunuhan besar-besaran!"
"Apa?”
“Siapa yang dibunuh?”
“Di mana?”
“Apa yang terjadi?"
Pertanyaan-pertanyaan itu saling susul dengan gencar, ditujukan kepada Seng Bu.
"Mari kalian semua ikut aku dan lihat sendiri!" katanya dan dia pun berlari keluar dari perkampungan, diikuti
oleh semua anggota.
Melihat pemuda itu lari menuju ke sumur tua yang merupakan tempat yang ditakuti dan dikeramatkan, para
anggota menjadi makin heran. Akan tetapi mereka mengikuti terus sampai akhirnya Seng Bu berhenti di
dekat sumur tua yang tertutup semuk belukar.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Nah, kalian lihatlah sendiri!" katanya sambil menunjuk ke arah tiga sosok mayat di atas tanah.
Ketika para anggota melihat ketiga buah mayat itu, mula-mula mereka tidak mengenal. Akan tetapi setelah
mereka mengamati wajah-wajah menghitam itu dan bisa mengenal mereka, tentu saja mereka menjadi
gempar.
Ketua lama, ketua baru beserta wakilnya telah mati dibunuh orang, mati dalam keadaan yang sangat
menyedihkan, dengan seluruh tubuh menjadi hangus…..
Segera terdengar jerit tangis dan keadaan menjadi amat gaduh, di samping pertanyaan yang dihujankan
kepada Seng Bu.
"Ouw-sute, apa yang telah terjadi?"
"Ouw-suheng, siapa pembunuh mereka?"
Demikian pertanyaan yang datang dari para suheng-nya, sute-nya atau suci-nya, juga para paman dan bibi
gurunya. Seng Bu mengangkat kedua tangan ke atas.
"Harap kalian suka tenang dahulu. Dalam keadaan gaduh begini, bagaimana aku dapat bicara? Tenanglah,
tenang dan hentikan lolong dan tangis itu!"
Suaranya halus namun tegas dan mengandung kekuatan yang membuat semua orang menahan diri untuk
tidak mengeluarkan suara agar dapat mendengarkan dengan jelas. Setiap orang anggota Thian-li-pang
merasa marah, sedih dan ingin sekali tahu apa yang telah terjadi.
"Tadi aku bangun pagi-pagi sekali dan berjalan-jalan, seperti sering kulakukan. Ketika tiba di dekat tempat
ini, aku melihat sesosok bayangan berlari cepat menuruni lereng. Aku segera mengejarnya karena curiga,
akan tetapi aku hanya dapat mengenalnya dari jauh saja. Pagi masih terlampau gelap dan dia menghilang
di dalam hutan di kaki bukit itu. Aku lalu kembali ke sini, untuk melihat mengapa orang itu datang ke sini
dan aku menemukan Suhu, Suci dan Suheng telah menggeletak dan tak bernyawa lagi. Aku lalu cepat
turun dan memukul kentungan untuk memberi tahu kepada kalian."
"Tapi siapakah orang yang melarikan diri itu? Apakah dia pembunuh jahanam itu?"
"Meski pun tidak melihat dia membunuh Suhu bertiga, akan tetapi aku yakin dia yang membunuh."
"Siapa dia? Kau tadi mengatakan, mengenalnya dari jauh. Siapakah pembunuh itu?"
"Dia adalah... Si Tangan Sakti Yo Han!" kata Seng Bu dengan suara tegas.
"Yo Taihiap...?!"
"Ahh, tidak mungkin!"
"Bagaimana dia yang mengangkat Lauw Pangcu menjadi ketua malah membunuhnya?"
"Aku tidak percaya!"
Riuh rendah suara mereka yang menyanggah dan menentang keterangan Seng Bu. Tak seorang pun di
antara para anak buah Thian-li-pang percaya bahwa Yo Han yang telah melakukan pembunuhan terhadap
tiga orang pimpinan Thian-li-pang itu.
Kembali Seng Bu mengangkat kedua tangan ke atas, minta agar semua orang tenang dan
mendengarkannya. Setelah semua orang diam, Seng Bu berkata, "Kalian percaya atau tidak, akan tetapi
aku yakin bahwa Yo Han yang telah membunuh Suhu, Suci dan Suheng."
"Tapi engkau tidak melihat dia dengan jelas!"
Kini majulah Thio Cu, yaitu seorang yang termasuk tokoh Thian-li-pang dan masih adik seperguruan Lauw
Kang Hui walau tingkatnya kalah jauh. Thio Cu ini adalah seseorang yang mewakili Thian-li-pang ketika
dunia-kangouw.blogspot.com
menghadiri pertemuan antara para tokoh di sarang Pao-beng-pai. Dia memberi isyarat kepada semua
orang untuk tidak membuat gaduh lagi.
"Ouw Seng Bu, bagaimana engkau dapat merasa begitu yakin bahwa Yo Taihiap yang melakukan
pembunuhan itu? Coba jelaskan alasanmu!"
Seng Bu mengangguk. "Begini, Thio-susiok (paman guru Thio). Kita semua mengetahui belaka bahwa Yo
Han adalah murid mendiang kakek guru Ciu Lam Hok, bukan? Nah, kakek paman guru Ciu Lam Hok
pernah dibuntungi dan dihukum ke dalam sumur tua oleh kedua kakek guru pendiri Thian-li-pang. Oleh
karena itu, sudah sepantasnya kalau kini kita mencurigai Yo Han. Dia tentu mendendam kepada Thian-lipang
dan kini dia datang membunuh para pimpinannya."
Semua orang terdiam, akan tetapi Thio Cu mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepalanya.
"Alasan itu kurang kuat. Kalau memang dia mendendam kepada Thian-li-pang kenapa tidak dari dulu dia
membasmi Thian-li-pang? Dia bahkan menunjuk suhu Lauw Pangcu menjadi ketua. Tidak, Seng Bu. Itu
bukan merupakan bukti bahwa pembunuhnya adalah Yo Taihiap."
Mendengar ucapan Thio Cu ini, para anggota Thian-li-pang menyatakan persetujuan mereka.
"Kalian minta bukti bahwa pembunuhnya adalah Yo Han? Lihat saja keadaan tiga mayat itu. Tubuh mereka
hangus, jelas akibat pukulan beracun yang sangat hebat. Aku yakin bahwa hal itu hanyalah dapat
dilakukan oleh seseorang yang sudah menguasai Bu-kek Hoat-keng dan ilmu itu, seperti kita telah
mendengarnya, dikuasai oleh Yo Han ketika dia belajar di dalam sumur. Bukti itu sudah amat kuat. Yo Han
yang membunuh Suhu, Suci dan Suheng. Dan aku yang kelak akan membalaskan sakit hati ini!"
"Hemmm, Ouw Seng Bu, jangan takabur kau! Andai kata benar pembunuhnya adalah Yo-taihiap, jelas
bahwa mereka bertiga ini saja tidak mampu mengalahkan Yo Taihiap, apa lagi engkau! Lagi pula, tidak ada
yang dapat membuktikan bahwa mereka ini tewas karena pukulan Bu-kek Hoat-keng yang dilakukan oleh
Yo Taihiap."
"Thio-suciok, lupakah engkau bahwa aku adalah pembantu dari ketua baru, mendiang Lu-suci? Setelah Lusuci
dan Lauw-suheng sebagai ketua dan wakilnya di Thian-li-pang tewas, maka aku sebagai pimpinan ke
tiga, berhak untuk menggantikan mereka menjadi pemimpin di Thian-li-pang! Nah, dengan demikian,
akulah orangnya yang berhak untuk menyelidiki urusan pembunuhan ini."
Thio Cu mengerutkan alisnya. "Tidak, urusan ini terlalu besar! Pembunuhan ini harus dibongkar! Dan
tentang pemilihan ketua baru, sebaiknya bila kita menunggu munculnya Yo Taihiap agar dia yang
mengadakan pemilihan ketua baru!"
"Thio-susiok, aku sudah dipilih Suhu untuk menjadi orang ke tiga di Thian-li-pang, dan engkau berani
memandang rendah kepadaku? Sekarang begini saja. Siapa di antara para anggota Thian-li-pang yang
menyetujui pendapat susiok Thio Cu, silakan berdiri di belakangnya! Dan yang menganggap aku sebagai
pemimpin Thian-li-pang sehubungan dengan kematian Suhu, Suci dan Suheng, harap jangan mendekati
mereka!"
Ada lima orang yang kini berdiri di belakang Thio Cu. Mereka adalah orang-orang yang masih disebut
paman guru oleh Seng Bu. Tentu karena mereka merasa lebih tua dan lebih tinggi kedudukannya sebagai
anggota Thian-li-pang, mereka berpihak kepada Thio Cu. Kini enam orang itu, dipimpin oleh Thio Cu,
berdiri berhadapan dengan Seng Bu.
Melihat sikap mereka yang menantang, Seng Bu mendadak tertawa sehingga semua orang terkejut. Suara
tawa itu amat menyeramkan, dan kini mereka melihat betapa mata pemuda itu mencorong aneh,
sedangkan senyumnya dingin mengerikan.
"Paman Thio Cu dan kelima Paman lain, kalian berenam tetap tidak percaya bahwa Yo Han yang
membunuh Suhu, Suci dan Suheng? Tak percaya bahwa ilmu pukulan Bu-kek Hoat-keng yang telah
dipergunakan Yo Han membunuh mereka?"
"Kami tidak percaya karena tidak ada buktinya. Siapa dapat membuktikan tuduhanmu itu?" tanya Thio Cu.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Akulah orangnya yang dapat membuktikannya! Aku menguasai ilmu itu, bukan hanya Yo Han, maka aku
yakin benar bahwa Yo Han menggunakan ilmu Bu-kek Hoat-keng untuk membunuh mereka bertiga!"
Tentu saja ucapan ini sangat mengejutkan dan mengherankan semua orang. Thio Cu dan kawankawannya
mengerutkan alisnya, kemudian memandang aneh kepada Seng Bu, menyangka bahwa
pemuda itu telah menjadi gila.
"Ouw Seng Bu, jangan engkau bicara yang bukan-bukan. Siapa dapat mempercayai omonganmu yang
seperti orang gila itu?"
Kembali Beng Bu tertawa dan kini dia menoleh ke arah semua anggota Thian-li-pang. "Kalian semua lihat
baik-baik. Thio Cu dan lima orang ini tetap tidak percaya. Biarlah mereka membuktikan sendiri dan kalian
menjadi saksi. Aku akan menggunakan Bu-kek Hoat-keng kepada mereka seperti yang dilakukan Yo Han
terhadap Suhu, Suheng dan Suci, dan kalian nanti lihat akibatnya!"
"Seng Bu, apakah engkau sudah gila?" Thio Cu berseru lagi.
"Kalian berenam, bersiaplah untuk membuktikan kebenaran tuduhanku!"
Tiba-tiba pemuda itu mengeluarkan suara melengking yang amat menyeramkan, seperti suara iblis dari
neraka atau seekor binatang buas sedang menderita hebat. Tubuhnya bergerak ke depan secara aneh,
kedua tangannya bergerak seperti orang mabuk. Thio Cu dan lima orang saudaranya yang mengira Seng
Bu telah menjadi gila, cepat bersiap siaga untuk menangkap dan menundukkan murid keponakan yang
mendadak menjadi gila itu.
Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget perasaan hati mereka pada saat mereka dilanda angin topan
yang dahsyat. Mereka sudah berusaha menangkis, namun semua tangkisan itu sia-sia belaka, lengan
mereka seperti lumpuh dan enam orang itu terkena tamparan tangan kiri Seng Bu pada dada mereka.
Bagaikan daun-daun kering yang dihembus angin badai, tubuh mereka terlempar dan terjengkang, roboh
malang-melintang, lalu berkelojotan dan tewas! Dan yang membuat semua anggota Thian-li-pang
terbelalak dan memandang ngeri adalah ketika mereka melihat betapa wajah dan tubuh enam orang itu
menjadi kehitaman dan hangus!
Seng Bu telah biasa kembali. Kini dengan penuh wibawa dia berdiri bertolak pinggang, menghadapi semua
anggota Thian-li-pang dan suaranya terdengar halus namun penuh wibawa. "Ada lagi di antara kalian yang
tidak percaya kepadaku bahwa pembunuh Suhu, Suheng dan Suci adalah Yo Han? Dan apakah ada lagi
yang tidak setuju kalau aku mulai saat ini menjadi ketua Thian-li-pang dan memimpin kalian?"
Tak ada seorang pun berani menjawab. Peristiwa itu terlampau hebat dan semua orang masih tertegun,
hanya berdiri diam seperti patung.
"Hayo jawab, apakah ada yang hendak menentangku?!" Seng Bu membentak, sekarang suaranya
terdengar menyeramkan, mengejutkan semua orang.
Mereka itu serentak menjatuhkan diri berlutut menghadap Seng Bu, seakan-akan takut kalau-kalau
pemuda itu menjadi marah kemudian menjatuhkan tangan saktinya kepada mereka.
"Tidak ada... tidak ada..."
"Kami semua tunduk kepada Pang-cu..."
"Hidup Ouw-pangcu!"
Seng Bu tersenyum, senyum biasa yang membuat wajahnya nampak tampan menarik. "Bagus, aku akan
memimpin kalian, membawa Thian-li-pang maju, tidak seperti saat sekarang ini. Thian-li-pang akan
menjadi perkumpulan terbesar! Kalau Yo Han berani datang, aku akan membunuhnya dengan ilmu yang
sama! Sekarang, kita bereskan semua jenazah ini. Tidak perlu dikubur, kita mesukkan saja ke dalam
sumur tua itu!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Semua orang terbelalak dan bergidik, akan tetapi tidak ada yang berani membantah. Melihat sikap para
anggota itu ragu-ragu, Seng Bu tidak sabar dan dia menghampiri jenazah-jenazah itu, lalu sekali angkut,
kedua tangannya sudah mencengkeram empat batang tubuh, masing-masing tangan mengangkat dua
mayat. Dengan langkah lebar dia lalu menghampiri semak belukar, dan melempar-lemparkan empat
batang tubuh itu ke dalam sumur tua! Dua kali dia membawa delapan mayat, dan mayat terakhir, yaitu
mayat Lauw Kang Hui, dibawanya dan dimasukkannya pula ke dalam sumur tua!
Semua orang hanya terbelalak, bergidik dan takut sekali kepada pemuda yang biasanya lembut dan ramah
itu. Mereka kini memandang Seng Bu seolah-olah pemuda itu kini berubah menjadi iblis yang amat
menakutkan.
"Kalian tahu mengapa aku tidak mengubur jenazah mereka dan membiarkan mereka menjadi penunggu
sumur tua?" tanya Seng Bu kepada para anah buah Thian-li-pang.
Tidak ada seorang pun dapat menjawab, bahkan tidak berani membuka mulut, hanya menggelengkan
kepala menyatakan bahwa mereka tidak tahu.
"Aku bukanlah orang yang tak mengenal aturan. Aku melempar semua mayat ke dalam sumur tua dengan
maksud tertentu," kata Seng Bu dengan sikap biasa, ramah lembut dan berwibawa. "Biarlah mereka itu
menjadi arwah penasaran, hal ini kusengaja. Nanti kalau aku sudah berhasil menangkap Yo Han, dia akan
kulemparkan ke dalam sumur, baik masih hidup atau pun telah mati. Dengan demikian, arwah Suhu, Suci
dan Suheng akan merasa senang, bisa membalas dendam kepada Yo Han. Juga arwah enam orang
anggota Thian-li-pang semua akan ikut mengeroyok dan menyiksa Yo Han."
Semua anggota diam saja, masih tertegun dan masih terkejut dan ketakutan.
"Sekarang semua kembali dan berkumpul di ruangan besar. Sebagai ketua baru aku akan mengadakan
peraturan baru. Kita harus dapat menjadikan Thian-li-pang sebagai perkumpulan yang besar dan makmur,
tidak seperti sekarang ini. Miskin dan tak pernah melakukan apa-apa yang sesuai dengan perjuangan kita
dalam menentang pemerintah Mancu."
Sesudah mereka berada di sarang Thian-li-pang, Seng Bu lalu mengumpulkan seluruh anggota dan dia
membuat peraturan baru yang membongkar semua peraturan lama. Dan mulai hari itu, Thian-li-pang
kembali seperti sebelum Yo Han memasukinya, yaitu menjadi perkumpulan yang dengan kedok
perjuangan melakukan apa saja untuk dapat mengumpulkan harta.
Mereka menguasai tempat-tempat pelesir di kota-kota dan menundukkan jagoan-jagoan yang memimpin
kelompok-kelompok penjahat hingga semua penjahat harus mengakui Thian-li-pang sebagai pimpinan dan
menyerahkan sebagian dari hasil kejahatan mereka sebagai tanda menakluk atau pajak. Mereka yang
berani menentang lalu dihancurkan dengan mudah karena selain Thian-li-pang mempunyai banyak
anggota yang tangguh, juga ketuanya adalah seorang yang lihai.
Tidak sukar bagi para anggota Thian-li-pang untuk mengambil cara hidup baru ini, yang sebetulnya hanya
merupakan pengulangan atau kambuhan saja dari cara hidup mereka yang terdahulu. Dan memang
hasilnya dapat segera dirasakan oleh para anggota, yakni kemakmuran dan serba kecukupan, walau pun
uangnya didapat dari hasil kekerasan dan kejahatan. Dalam waktu beberapa bulan saja, nama Thian-lipang
semakin tersohor dan perkumpulan ini menjadi perkumpulan yang amat kaya dan berpengaruh, juga
amat ditakuti orang.
Ouw Seng Bu mempunyai alasan sendiri untuk membenarkan tindakannya itu. Pernah ia mengumpulkan
semua anggotanya, kemudian dengan panjang lebar ia menandaskan bahwa apa yang mereka lakukan
adalah benar.
Mereka yang tadinya merasa penasaran juga melihat bahwa ketua mereka kini menjalin hubungan baik lagi
dengan Pek-lian-kauw, Pat-kwa-pai serta gerombolan-gerombolan lainnya yang di dunia kang-ouw dikenal
sebagai gerombolan jahat dan golongan hitam, menjadi hilang perasaan penasaran itu setelah mendengar
keterangan ketua mereka yang baru dan masih muda itu.
"Perjuangan menentang pemerintah penjajah Mancu adalah perjuangan yang suci," demikian antara lagi
Seng Bu berkata. “Cita-citanya hanya satu, yaitu menentang dan menggulingkan pemerintah penjajah,
mengusir penjajah Mancu dari tanah air dan dapat membebaskan bangsa dari belenggu penjajah!
dunia-kangouw.blogspot.com
Perjuangan tidak mengenal golongan putih atau golongan hitam. Yang terpenting adalah cita-cita tercapai.
Demi tercapainya cita-cita perjuangan, apa pun boleh kita lakukan, tidak ada pantangan lagi!"
Ucapan Seng Bu disambut dengan gembira oleh semua anak buah Thian-li-pang. Cara yang dipakai ketua
mereka itu tentu saja membuka kesempatan besar bagi mereka untuk memuaskan keinginan mereka
sendiri dengan membonceng perjuangan! Mereka dapat saja menggunakan kekerasan memaksakan
kehendak mereka kepada rakyat, dapat melakukan perampokan atau pencurian karena semua itu menjadi
benar dan baik kalau mereka menggunakan alasan demi perjuangan!
Tujuan menghalalkan segala cara! Itulah pendirian mereka yang telah dicengkeram oleh nafsu. Nafsu
selalu menghendaki supaya keinginannya dapat tercapai, tersalurkan dan terpuaskan. Mengejar keinginan
atau ambisi berarti membiarkan nafsu untuk merajalela menguasai diri sehingga kesadaran lenyap, akal
sehat menjadi sakit, dan pertimbangan patah-patah. Nafsu untuk mendapatkan apa yang diinginkan
menyeret kita melakukan segala macam perbuatan yang merugikan orang lain, yang sifatnya merusak.
Tujuan mengumpulkan harta sebanyaknya akan menghalalkan kita melakukan korupsi, perampokan,
penipuan, pencurian dan sebagainya, sebab harta akan dianggap sebagai sumber kesenangan. Tujuan
mendapatkan kedudukan yang dianggap sebagai sumber kemuliaan, kehormatan dan kesenangan
menghalalkan kita melakukan pengkhianatan, kelicikan, penipuan dan menghantam siapa saja yang
menghalangi kita, dan kalau perlu membunuh penghalang itu!
Semua ambisi dan semua keinginan, tidak lain hanyalah pengejaran terhadap apa yang dianggap menjadi
sumber kesenangan. Sementara itu, pikiran yang sudah bergelimang nafsu akan membela semua
perbuatan itu, dengan memberi istilah yang indah-indah dan muluk-muluk terhadap pengejaran keinginan
itu, misalnya perjuangan, cita-cita dan sebagainya.
Yang terpenting justru terletak kepada cara itu. Cara berarti tindakan, cara berarti saat ini, sekarang.
Tujuan hanya merupakan khayal, belum ada. Yang menentukan adalah cara itu, tindakan itu, sekarang ini.
Yang sekarang ini menentukan yang nanti, karena yang nanti hanya merupakan akibat dan kelanjutan dari
yang sekarang. Tidak mungkin mencapai tujuan yang baik dengan cara yang buruk, tidak mungkin
mencapai tujuan yang bersih dengan cara yang kotor. Kalau caranya kotor, akhirnya yang didapat sebagai
akibat cara itu pun pasti kotor.
Kalau orang melakukan sesuatu sambil membayangkan tujuan yang hendak dicapai oleh tindakannya itu,
maka besar kemungkinan dia terseret oleh nafsu dan dibutakan oleh kemilau tujuan yang hendak dicapai.
Tindakan yang benar adalah tindakan yang tidak terbimbing nafsu, melainkan tindakan yang dasarnya
penyerahan kepada Tuhan sehingga tindakan itu akan selalu terbimbing oleh kekuasaan Tuhan. Tindakan
seperti ini merupakan tindakan yang dilakukan demi tindakan yang penuh kasih terhadap tindakan itu,
karena kekuasaan Tuhan berlimpahan dengan kasih.
Kalau kita mencintai apa yang kita lakukan, mencintai apa yang kita kerjakan, demi pekerjaan itu sendiri
tanpa membayangkan hasilnya, maka apa yang akan kita lakukan itu sudah pasti benar dan baik, sebagai
kemampuan kita. Jika kita belajar dan mencintai apa yang kita lakukan, sudah pasti dengan sendirinya kita
memperoleh kemajuan dan ijazah tanpa kita mengejarnya. Ijazah itu hanya merupakan akibat atau buah
dari pada pohon yang kita tanam sendiri, yaitu mengerjakan pelajaran itu.
Sebaliknya, kalau kita belajar demi mendapatkan ijazah, maka kita akan mudah terseret karena yang kita
pentingkan hanya ijazahnya, bukan pelajarannya sehingga mungkin kita akan melakukan penyelewengan
dengan menyontek, dengan membeli, menyogok dan sebagainya.
Bukan berarti bahwa kita harus menolak kesenangan. Sama sekali bukan. Menikmati kesenangan
merupakan anugerah dari Tuhan! Kalau Tuhan tidak menghendaki, tentu kita tidak diberi perlengkapan
sebagai sarana untuk dapat menikmati kesenangan itu. Kita berhak menikmati kesenangan karena itu
pemberian dari Tuhan, tetapi kesenangan yang tidak dibuat-buat, tidak dicari-cari, tidak dikejar-kejar.
Kesenangan letaknya di dalam perasaan hati. Rasa senang yang menyelinap di dalam hati tanpa dikejarkejar,
itulah kesenangan sejati yang biasa kita namakan kebahagiaan. Kesenangan yang dikejar dan diberi
adalah kesenangan nafsu. Biasanya kesenangan seperti ini lebih nikmat dikenang dan dibayangkan dari
pada dialami pada saatnya. Hal ini timbul karena perbandingan dengan apa yang kita kenang, apa yang
kita bayangkan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Seolah-olah semua kenikmatan itu sudah menjadi hambar, dihisap habis oleh kenangan dan bayangan
masa lalu dan masa depan. Tanpa kenangan masa lalu dan bayangan masa depan, pada saat itu, kalau
kesenangan menyelinap di hati, itulah kebahagiaan.
Seperti melihat penglihatan indah, mendengar suara merdu, mencium bau harum. Kita mendapatkan
kebahagiaan pada saat itu juga, dan habis pula pada saat itu. Kalau kita menyimpannya dalam ingatan,
maka kebahagiaan itu berubah menjadi kesenangan.
Pikiran dan ingatan paling suka menguyah-nguyah pengalaman yang nikmat, kemudian membayangkan
dengan latar belakang kenangan. Dari sini timbulnya pengejaran, dan bila yang dikejar sudah dapat, akan
terasa hambar karena tidak seindah yang dikenang dan dibayangkan!
Kebahagiaan adalah saat demi saat, tanpa kenangan masa lalu dan bayangan masa depan. Bahkan hidup
adalah sekarang, saat ini, saat demi saat. Yang lalu sudah mati dan hanya kenangan, yang akan datang
hanya bayangan khayal.
Ouw Seng Bu telah mendapatkan ilmu yang luar biasa, ilmu yang menjadi aneh karena dia mempelajarinya
dari catatan yang tidak lengkap, dipelajari tanpa bimbingan guru sehingga pelajaran yang tidak lengkap
dan terbalik-balik itu menyeretnya ke alam yang mendekati kegilaan.
Memang dia menjadi lihai bukan main, akan tetapi, ilmu itu pun mempengaruhi hati akal pikirannya,
membuat dia kadang-kadang kumat seperti orang gila, bahkan dapat lebih mengerikan lagi, seperti iblis
sendiri yang menjelma ke dalam tubuh manusia…..
********************
"Apa kau bilang? Heh, Sun-ji (anak Sun), lupakah engkau siapa dirimu ini? Engkau adalah cucu Kaisar,
tahu? Engkau adalah seorang pangeran, cucu kaisar sendiri! Dan kau berani katakan bahwa engkau jatuh
cinta kepada puteri ketua Pao-beng-pai, kaum pemberontak itu? Gila!"
"Ayah, apakah cucu kaisar itu bukan manusia? Dan puteri Pao-beng-pai juga bukan manusia? Kami
berdua sama-sama manusia, pria dan wanita, maka apa yang perlu diherankan kalau kami saling jatuh
cinta?" bantah Pangeran Cia Sun di depan ayahnya dan ibunya.
Dia baru saja pulang dan langsung melapor kepada ayah ibunya bahwa dia jatuh cinta kepada Siangkoan
Eng, puteri ketua Pao-beng-pai dan minta kepada orang tuanya agar meminang gadis itu untuk menjadi
isterinya.
"Anakku, bagaimana engkau bisa berkata seperti itu?" Ibunya membujuk dengan lembut dan meletakkan
tangannya di pundak puteranya. "Tentu saja engkau tak mungkin dapat disamakan dengan pemuda biasa
yang lain, dapat menikah dengan sembarang gadis saja."
"Akan tetapi, Ibu. Kami sudah saling mencinta, dan cinta tidak mengenal pangkat atau derajat!" bantah Cia
Sun.
"Cia Sun!" Ayahnya, Pangeran Cia Yan, membentak marah. "Ingat, sejak engkau masih kecil, kami telah
mengikat tali perjodohanmu dengan puteri Pendekar Bangau Putih Tan Sin Hong. Puterinya itu seorang
gadis yang cantik jelita, berbudi, gagah perkasa dan bahkan mendapat julukan Si Bangau Merah. Kami
bangga sekali mempunyai mantu seperti gadis itu. Baru-baru ini ayah ibu gadis itu datang ke sini. Mereka
menantimu, akan tetapi sia-sia saja mereka menanti walau pun kami sudah mengirim orang untuk
mencarimu dan memanggilmu pulang. Dalam pertemuan itu kami sudah mematangkan urusan itu, dan
dengan resmi kami mengambil keputusan untuk menjodohkan engkau dengan Tan Sian Li. Ialah calon
jodohmu, bukan wanita lain!"
"Tetapi, Ayah. Aku dan dia tidak saling mencinta, bahkan bertemu muka pun belum pernah!" Cia Sun
membantah.
"Sudah cukup!" Pangeran Cia Yan membentak marah. "Engkau yang belum pernah membalas budi ayah
ibumu, sekarang bahkan hendak menjadi anak yang murtad dan tidak berbakti? Pendeknya, Tan Sian Li
adalah calon isterimu, bukan perempuan lain!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Ibunya cepat melerai. "Anakku, kenapa engkau menjadi bingung? Tentu saja engkau dapat mengambil
wanita lain sebagai selir kalau engkau menyukai gadis-gadis lain..."
Ayahnya memotong. "Tentu saja engkau boleh memiliki selir, akan tetapi selir-selirmu pun harus gadis
baik-baik supaya jangan menodai nama keluarga kita. Kita ini keluarga Cia, keluarga Kaisar, tahu? Kalau
engkau mencinta gadis lain, tentu boleh kau jadikan selir, dan gadis itu... siapa tadi kau bilang? Ahhh,
puteri dari ketua Pao-beng-pai? Kau maksudkan perkumpulan pemberontak yang baru saja mengadakan
pertemuan rahasia dengan para pemberontak lain untuk menggulingkan pemerintah? Gila!"
"Tapi Siangkoan Eng tidak seperti ayahnya, Ayah. Ia sama sekali tidak jahat, bahkan ia berjanji kalau
menjadi isteriku, tidak akan mencampuri urusan dunia kang-ouw, tak akan mencampuri urusan
pemberontakan lagi..."
"Ihhh, engkau agaknya telah terkena guna-guna. Dan Pao-beng-pai...? Hemmm, kiranya engkaukah
pemuda yang ditawan mereka itu?"
"Ayah tahu tentang itu?" Cia Sun memandang ayahnya dengan heran. "Memang aku telah ditawan
mereka, dan kalau tidak ada Eng-moi, tentu aku telah mereka bunuh, atau dijadikan sandera untuk
mengacau pemerintah, Ayah."
"Sudah, jangan bicara lagi tentang gadis Pao-beng-pai itu! Sekarang pun pasukan telah bergerak ke sana
untuk membasminya sampai ke akar-akarnya dan membunuh seluruh pimpinannya."
Cia Sun terbelalak. "Ahhh? Apa yang Ayah katakan?"
Pangeran Cia Yan mengangguk-angguk dan tersenyum, merasa menang. Lalu dia pun berkata bangga,
"Apa kau kira pemerintah begitu bodoh? Di antara para tamu, terdapat mata-mata kita yang diselundupkan.
Jika engkau saja bisa menyelundup menjadi tamu, apa lagi mata-mata yang cerdik. Kini Ciong-ciangkun
(perwira Ciong) sudah membawa pasukan untuk membasmi gerombolan pemberontak itu dan..." Pangeran
Cia Yan amat terkejut melihat puteranya buru-buru bangkit berdiri dan melangkah pergi."...Hei, kau mau ke
mana?"
Cia Sun menoleh dan berkata, "Ayah, Ibu, aku harus pergi, aku harus menyelamatkan Eng-moi dan ibunya.
Mereka tidak bersalah, mereka tidak boleh ikut terbasmi!" Dan pemuda itu pun berlari cepat meninggalkan
rumah orang tuanya, tidak mempedulkan teriakan ayah ibunya yang memanggilnya.
Kedua orang tua itu hanya menghela napas panjang dan menggeleng kepala saja. "Itulah sebabnya aku
ingin sekali dia menjadi suami seorang wanita perkasa seperti Si Bangau Merah," kata Pangeran Cia Yan
kepada isterinya. "Semenjak dia suka belajar silat, wataknya pun berubah menjadi keras kepala dan
berjiwa petualang. Kalau dia tidak mendapatkan seorang isteri yang pandai dan berwibawa, berilmu tinggi,
tentu tidak ada yang akan mampu mengendalikannya."
Cia Sun cepat berlari ke markas pasukan untuk mencari Perwira Ciong yang sudah dikenalnya. Akan tetapi
dia terlambat. Perwira itu telah berangkat bersama pasukannya yang berjumlah seribu orang. Cia Sun
cepat-cepat melakukan pengejaran, menunggang seekor kuda.
Pada waktu itu memang banyak terdapat perkumpulan atau kelompok orang-orang yang melakukan usaha
untuk menentang pemerintah kerajaan Mancu. Akan tetapi, satu demi satu perkumpulan pejuang yang
disebut pemberontak oleh kerajaan Mancu itu berhasil dihancurkan.
Kekuatan pasukan Mancu masih amat kuat, sedangkan para pejuang itu tidak memiliki persatuan yang
kokoh. Mereka bahkan membentuk kelompok sendiri-sendiri. Bukan hanya itu, bahkan di antara mereka
kadang terdapat bentrokan sendiri yang tentu saja melemahkan kekuatan mereka. Banyak pula
bermunculan perkumpulan pejuang yang lebih condong menjadi perkumpulan golongan sesat atau
golongan hitam, karena mereka melakukan segela macam bentuk kejahatan.
Pao-beng-pai merupakan satu di antara perkumpulan pejuang yang pada hakekatnya memang membenci,
bahkan menaruh dendam kepada kerajaan Mancu. Hal ini adalah karena pemimpinnya atau pendirinya,
Siangkoan Kok, adalah seorang keturunan dari keluarga kerajaan Beng yang telah dijatuhkan oleh bangsa
Mancu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Oleh karena itu, gerakan perjuangan Pao-beng-pai ini lebih condong kepada gerakan untuk membalas
dendam atau merampas kembali tahta kerajaan Beng yang dulu sudah dirampas oleh bangsa Mancu yang
kemudian mendirikan kerajaan Ceng. Tetapi, karena Siangkoan Kok, keturunan keluarga kerajaan Beng itu
juga seorang datuk sesat, bahkan isterinya, Lauw Cu Si, juga keturunan pimpinan Beng-kauw yang
terkenal sebagai suatu perkumpulan sesat, maka Pao-beng-pai juga merupakan perkumpulan yang tak
pantang melakukan kekejaman atau kejahatan.
Pihak pemerintah kerajaan selalu mengamati perkembangan perkumpulan-perkumpulan pemberontak
seperti itu. Pemerintah memang maklum bahwa tidak mudah membasmi seluruh pemberontak sampai ke
akar-akarnya. Sudah sering kali pasukan pemerintah menghancurkan gerombolan pemberontak, namun
para anak buahnya yang berhasil meloloskan diri segera bergabung lagi dengan kelompok pemberontak
lain. Oleh karena itu, pemerintah hanya memperhatikan kelompok yang besar-besar dan berbahaya saja.
Ketika Pao-beng-pai mengadakan pertemuan dengan para tokoh kang-ouw, tentu saja peristiwa ini tidak
terlepas dari perhatian para mata-mata yang disebar oleh pemerintah. Setelah menyaksikan pertemuan itu,
serta mendengar betapa Pao-beng-pai menyusun kekuatan, mengajak semua pihak yang menentang
pemerintah untuk bergabung dan bekerja sama untuk melakukan pemberontakan, mata-mata cepat
memberi kabar ke kota raja dan para panglima yang bertugas menumpas setiap pemberontakan segera
mengambil tindakan tegas dan cepat.
Panglima Ciong, yang terkenal sebagai seorang panglima yang gagah perkasa dan pandai, yang sudah
sering kali melakukan pembasmian terhadap para pemberontak, segera ditugaskan untuk memimpin
pasukan seribu orang menyerbu dan membasmi Pao-beng-pai di Han-kwi-kok, lembah Bukit Iblis…..
********************
Siangkoan Kok marah sekali ketika mendengar bahwa puterinya, Siangkoan Eng, pergi dari Ban-kwi-kok
tanpa pamit. Selama belasan hari ini ia memang tak pernah menengok lagi kepada isteri dan puterinya itu,
semenjak dia marah-marah dan hampir membunuh Eng Eng. Dia tidak mempedulikan mereka, dan
berpengantinan dengan isterinya yang baru, yaitu bekas muridnya yang dipaksanya untuk melayaninya
dan menjadi pengganti isterinya.
Dengan kemarahan meluap-luap, lelaki tinggi besar yang berusia lima puluh lima tahun ini, pergi mencari
Lauw Cu Si, isterinya yang sedang menangis di ruangan belakang. Mukanya merah sekali dan begitu
melihat isterinya, yang menangis, ia pun membentak.
"Ke mana perginya anak durhaka itu? Tentunya engkau sengaja menyuruh dia minggat, bukan?" bentakan
ini disertai tangannya menggebrak meja sehingga seluruh ruangan itu bagaikan tergetar.
Lauw Cu Si yang sedang duduk menangisi kepergian puterinya, segera menghentikan tangisnya dan
bangkit berdiri. Nyonya berusia empat puluh tahun ini masih cantik. Kalau biasanya dia selalu tunduk dan
penurut, kini dia bangkit berdiri dan tegak menghadapi suaminya. Mukanya diangkat dan sepasang
matanya bersinar-sinar menatap ke wajah suaminya dengan penuh keberanian dan kemarahan, lalu
telunjuk kirinya ditudingkan ke arah muka suaminya dan terdengar suaranya, suara yang menggetar dan
mengandung kemarahan yang hebat.
"Kau...! Kau manusia binatang, engkau iblis busuk, engkaulah yang membuat Eng Eng melarikan diri,
meninggalkan aku! Engkau yang harus bertanggung jawab. Ia bukanlah anakmu, bukan darah dagingmu,
bukan apa-apamu. Ia milikku, anakku, tetapi engkau hampir membunuhnya! Sekarang ia pergi dan engkau
yang harus bertanggung jawab!"
Kemarahan Siangkoan Kok meluap-luap. Selama ini isterinya itu belum pernah memaki dirinya seperti itu.
"Perempuan busuk tak mengenal budi! Aku telah mengangkatmu dari lembah kehinaan setelah Beng-kauw
hancur, juga memelihara anakmu seperti anakku sendiri. Dan begini balasan kalian kepadaku? Kalau tahu
akan begini, sudah sejak dulu Eng Eng kubunuh, dan kau juga!"
"Apa? Kau hendak membunuh kami? Cobalah kalau engkau mampu! Kau kira aku takut padamu?"
Saking sedihnya ditinggal pergi anaknya, wanita itu menjadi marah dan nekat. Walau pun ia tahu benar
bahwa ilmu kepandaiannrya masih kalah dibandingkan suaminya, dia berani menantang!
dunia-kangouw.blogspot.com
"Bagus, kalau begitu mampuslah kau, Lauw Cu Si, perempuan tak tahu diri!" Siangkoan Kok menerjang
isterinya dengan dahsyat.
Akan tetapi, Lauw Cu Si yang sudah nekat, cepat mengelak dan membalas dengan tak kalah dahsyatnya.
Bahkan wanita ini sudah mencabut pedangnya, lalu menyerang bertubi-tubi. Siangkoan Kok juga mencabut
pedangnya dan suami isteri ini lalu berkelahi mati-matian.
Lauw Cu Si adalah seorang tokoh sesat, keturunan ketua Beng-kauw. Ia memiliki ilmu silat yang dahsyat
dan keji pula. Tingkat kepandaiannya sudah tinggi dan ia hanya kalah sedikit saja dibandingkan suaminya,
maka tidaklah terlalu mudah bagi Siangkoan Kok untuk membunuh isterinya.
Para murid dan anggota Pao-beng-pai yang melihat perkelahian ini, menjadi bingung sekali. Mereka sama
sekali tidak berani mencampuri. Orang-orang yang mungkin berani mencampuri hanyalah Siangkoan Eng,
atau mungkin juga Tio Sui Lan, murid kepala dari Siangkoan Kok yang kini menjadi selirnya itu.
Akan tetapi pada saat itu, Eng Eng tidak ada, sudah pergi tanpa pamit. Dan ketika para murid mencari Tio
Sui Lan, mereka juga tidak dapat menemukan murid utama yang selama beberapa hari ini menjadi isteri
ketua mereka. Karena bingung, tidak tahu harus berbuat apa, para murid dan anggota Pao-beng-pai itu
bahkan menjauh, sama sekali tidak berani mencampuri perkelahian antara sang ketua dan isterinya,
karena mereka tahu bahwa mencampuri berarti akan mati konyol.
Pada saat semua orang menjadi bingung itu, terdengar suara gaduh di lereng bukit, suara tambur dan
terompet, suara sorakan riuh rendah. Inilah suara genderang perang yang dibunyikan oleh pasukan
pemerintah yang datang menyerbu.
Siangkoan Kok sudah dapat menekan dan mendesak Lauw Cu Si. Pedangnya berubah menjadi gulungan
sinar kemerahan, dan biar pun Lauw Cu Si sudah melawan dengan nekat saking marahnya, tetap saja ia
kalah tingkat dan mulai terdesak, bahkan ia telah menderita beberapa luka karena tusukan dan bacokan
pedang.
Suara tambur dan terompet itu mengejutkan Siangkoan Kok. Akan tetapi Lauw Cu Si tidak peduli. Satusatunya
perhatian wanita ini hanyalah ingin membunuh pria yang selama ini dipuja dan ditaatinya, karena
pria ini hampir saja membunuh puterinya, dan kini ingin membunuhnya.
Namun, Siangkoan Kok yang kini terkejut dan bingung mendengar suara gaduh yang disusul sorak-sorai
dan suara pertempuran, cepat menggerakkan kakinya menendang. Karena isterinya memang sudah
terdesak oleh pedangnya, maka tendangan itu tidak dapat dielakkan Lauw Cu Si.
"Desss...!"
Kaki Siangkoan Kok yang besar dan kuat itu menghantam perut isterinya, dan Lauw Cu Si terjengkang
serta terlempar, roboh terbanting dan pingsan! Siangkoan Kok sudah tak lagi mempedulikan isterinya
karena dari teriakan-teriakan para anak buah Pao-beng-pai, dia dengan terkejut sekali mengetahui bahwa
sarangnya diserbu pasukan pemerintah!
Pada saat itu, muncul Tio Sui Lan bersama belasan orang perwira! Wanita muda itu menudingkan telunjuk
kirinya ke arah Siangkoan Kok sambil berkata, "Inilah si jahanam Siangkoan Kok, si manusia iblis!"
Melihat munculnya murid yang telah dipaksanya menjadi isterinya itu bersama belasan orang perwira,
Siangkoan Kok segera tahu apa yang terjadi. Murid ini ternyata sudah mengkhianatinya! Pantas sejak pagi
Sui Lan tidak nampak.
Pada waktu dia bangun tidur tadi, dia tidak melihat Sui Lan di sisinya. Hal ini sudah membuatnya marahmarah,
apa lagi ketika mendengar bahwa Eng Eng sudah minggat meninggalkan Pao-beng-bai,
kemarahannya semakin memuncak. Selama ini Eng Eng menjadi puterinya yang patuh, bahkan menjadi
pembantu utama, menjadi tokoh kedua sesudah dia di Pao-beng-pai. Apa lagi sekarang tahu-tahu murid
yang telah dipaksanya menjadi isteri selama belasan hari itu, tiba-tiba muncul dengan belasan orang
perwira pemerintah yang membawa pasukan dan yang agaknya kini melakukan penyerbuan ke situ.
"Pengkhianat kau...!" teriaknya sambil melotot memandang kepada wanita yang malam tadi masih menjadi
kekasihnya tercinta.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi Sui Lan tersenyum mengejek, dengan kedua matanya bercucuran air mata! "Engkaulah
manusia iblis! Dan inilah pembalasanku, Siangkoan Kok!" teriaknya.
Dengan nekat Sui Lan yang telah memegang pedang itu kini menerjang dan menyerang pria yang selama
ini menjadi gurunya yang ditaati. Kemudian ketaatannya dihancurkan bersama kehormatannya yang
direnggut secara paksa oleh orang yang dihormatinya itu.
Para perwira itu amat terkejut. Tadi ketika mereka memimpin pasukan mendaki lereng Kwi-san menuju
Ban-kwi-kok (Lembah Selaksa Setan), setelah semalaman mengurung ketat tempat itu, mereka bertemu
dengan seorang wanita cantik yang menuruni lereng. Segera wanita itu dikepung. Wanita itu adalah Tio Sui
Lan!
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Best Cersil

Pecinta Cersil