Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Jumat, 11 Agustus 2017

Kho Ping Hoo Terbagus : Kisah Sepasang Rajawali 10

Kho Ping Hoo Terbagus : Kisah Sepasang Rajawali 10 Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Kho Ping Hoo Terbagus : Kisah Sepasang Rajawali 10
kumpulan cerita silat cersil online
-
Tiba-tiba saja di samping perahu itu muncul moncong ular naga tadi. Uap putih keluar bergumpal dari mulut
itu dan Ceng Ceng mencium bau yang memuakkan, akan tetapi karena dia sudah kebal terhadap racun,
uap beracun itu tidak mempengaruhi, hanya rasa takut membuat dia seperti kehilangan semangat dan
tidak mampu bergerak lagi. Ekor ular menyabet, tampak bayangan ekor ular itu muncul di permukaan air
dan secepat kilat Topeng Setan sudah menyambar pinggang Ceng Ceng dengan lengan kanannya dan dia
meloncat ke atas ketika ekor ular raksasa itu menyabet perahu.
“Braaakkkk...!” Perahu kecil itu hancur berkeping-keping ketika dihantam ekor ular itu.
Topeng Setan sudah cepat meloncat ke atas, akan tetapi tetap saja kaki kanannya keserempet sabetan
ekar ular itu. Bukan main nyerinya, kiut-miut rasanya menusuk tulang seolah-olah tulang pahanya remuk.
Topeng Setan maklum bahwa sinkang-nya dapat melindungi tulang pahanya, akan tetapi biar pun dia tidak
mengalami luka dalam yang hebat, tetap saja merasa betapa kaki kanannya itu seperti lumpuh.
“Pakai pedang pendek ini...!” Ceng Ceng yang teringat akan bekalnya, sebatang pedang kecil yang
diselipkan di pinggang, mencabut senjata itu dan menyerahkan kepada Topeng Setan yang cepat
menyambarnya dengan tangan kiri.
Dia berhasil menginjak pecahan perahu dan selagi tubuhnya meluncur turun dan dia melihat kepala naga
itu membuka moncongnya dan siap hendak menyerang dan menelan dia dan Ceng Ceng, Topeng Setan
melihat lidah putih itu mencuat keluar. Secepat kilat tangan kirinya menggerakkan pedang pendek Ceng
Ceng. Dia sudah melihat tadi betapa tubuh dan kepala naga itu kebal terhadap hantaman dan bacokan
senjata-senjata tajam anak buah kedua perahu itu, maka kini dengan mati-matian dia menusukkan
pedangnya ke arah lidah ular naga itu.
“Crattt... plaaakkk!”
Pedang kecil itu tepat menancap di lidah ular, melukai lidah itu, tetapi gerakan kepala ular itu ke samping
membuat pedang itu terlepas dari pegangan tangan kiri Topeng Setan. Topeng Setan terpaksa harus
mengerahkan seluruh tenaganya karena terdengar pekik melengking yang dahsyat sekali dari mulut ular
itu. Pekik melengking nyaring ini terdorong oleh rasa kesakitan karena lidahnya terluka dan mengucurkan
darah, dan pada saat ular itu terpekik melengking, pandang mata yang tajam dari Topeng Setan dapat
melihat sebuah benda berkilauan mencelat keluar dari dalam kerongkongan mulut ular naga itu. Benda itu
ternyata adalah seekor ular kecil! Itulah anak naga yang dicari-cari!
Dengan lengan kanan masih memeluk pinggang Ceng Ceng, Topeng Setan lupa akan segala bahaya dan
cepat dia menubruk ke air, di mana tadi dia melihat ular kecil itu terlempar dan tangan kirinya menyambar.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tepat sekali dia berhasil menangkap kepala ular kecil itu! Ular kecil meronta-ronta, tubuhnya membelit
lengan kiri Topeng Setan, akan tetapi Topeng Setan mengerahkan tenaganya dan ular kecil itu tidak
mampu melepaskan diri.
Akan tetapi pada saat itu induk ular naga menjadi marah sekali. Biar pun matanya sudah buta, akan tetapi
nalurinya memberi tahu bahwa anaknya berada dalam bahaya dan kepekaannya dapat membuat dia tahu
bahwa musuh yang menyakiti lidahnya berada di depan. Dia membuka moncongnya dan menyambar ke
arah Topeng Setan yang sudah berhasil menangkap anak ular dan berusaha menghindar dan berenang.
Topeng Setan yang melihat moncong lebar itu menyambar dari arah kirinya menjadi terkejut. Dia
memindahkan anak ular ke tangan kanannya, kemudian dia menggerakkan tangan kiri dengan pengerahan
tenaga untuk menangkis karena sudah tidak keburu membalikkan badan. Karena lengan kanan itu
merangkul pinggang Ceng Ceng, tentu saja gerakan tangan kirinya menjadi kaku.
“Plakkk...!”
Topeng Setan mengeluarkan teriakan ngeri ketika dia merasa betapa Ceng Ceng terlepas dari rangkulan.
Seketika yang teringat olehnya hanyalah keselamatan Ceng Ceng yang disangkanya telah terampas oleh
moncong ular naga, maka otomatis dia menggerakkan lengan kiri untuk menyambar. Akan tetapi perasaan
kosong dan aneh membuat dia memandang tangan kirinya. Topeng Setan terbelalak.
“Auhhhh....” Mulut Topeng Setan mengeluarkan suara ketika dia melihat betapa tangan kiri berikut
lengannya telah lenyap! Yang tinggal hanyalah pundaknya dan seluruh lengan kirinya itu ternyata telah
buntung dicoplok ular naga tadi!
Melihat kenyataan yang mengerikan ini, hampir saja Topeng Setan menjadi pingsan. Akan tetapi, dia
menggigit bibir menahan pukulan lahir batin yang amat hebat ini. Tidak, tekadnya. Dia tidak boleh pingsan.
Yang paling penting adalah Ceng Ceng! Dia cepat menengok dan melihat gadis itu gelagapan tak jauh dari
situ. Gadis itu tidak pandai berenang dan dipermainkan air bergelombang. Cepat dia lalu berenang
mendekati dan menggunakan lengan kanan memeluk pinggang gadis itu dan mengangkatnya ke atas. Ular
itu masih digenggam di tangan kanannya.
Selagi Topeng Setan yang kini hanya mengandalkan kedua kakinya untuk bergerak di air itu hendak
berenang menjauh, mendadak kaki kirinya dipegang orang dari bawah! Topeng Setan merasa terkejut,
mengerti bahwa amatlah berbahaya kalau dia tak dapat melepaskan cekalan tangan orang itu. Cepat dia
meronta dan menendang-nendangkan kaki kirinya, bahkan kaki kanannya juga menendang ke bawah.
Akan tetapi tetap saja cekalan itu tidak terlepas dari kakinya. Sementara itu Ceng Ceng sudah pingsan dan
bergantung lemas dalam pelukan tangan kanannya, sedangkan anak ular itu masih membelit lengan
kanannya tanpa mampu melepaskan diri.
Tangan yang mencekal kaki Topeng Setan itu kuat sekali dan kini berusaha menarik tubuh Topeng Setan
tenggelam. Topeng Setan meronta-ronta, akan tetapi cekalan pada pergelangan kakinya itu seperti jepitan
baja, dan tak mungkin dapat dilepaskan dengan cara meronta dan menendang. Sudah beberapa kali
Topeng Setan ditarik ke bawah sampai gelagapan. Hampir saja dia menyerah.
Tetapi tiba-tiba induk ular yang masih mengamuk itu menggerakkan ekor menyabet ke arah kaki Topeng
Setan. Hal ini menolongnya karena kakinya terlepas dari jepitan dan orang yang memegang kakinya itu
muncul ke permukaan air. Kiranya orang itu adalah Si Tosu yang lihai tadi! Namun karena induk ular naga
itu masih mengamuk, Si Tosu Lihai tak berani mendekat, bahkan cepat-cepat berenang menjauh ketika
ular naga itu bergerak ke arahnya dengan sikap menyeramkan.
Karena merasa betapa tubuhnya makin melemah dan ular naga itu masih mengamuk di dekatnya, maka
Topeng Setan yang hanya teringat akan keselamatan Ceng Ceng semata, melihat adanya balok tiang
perahu besar yang tadi patah dan kini ujung yang kiri masih ditumpangi oleh Kian Bu dan Hong Kui, cepat
dia menggerakkan kaklnya dan seluruh tubuhnya, mencelat ke atas balok tiang layar itu.
Akan tetapi pada saat itu, tiba-tiba tampak sebuah perahu juga meloncat dan menubruk Topeng Setan.
Orang yang berada di dalam perahu itu adalah kakek tinggi besar dan bermuka hitam yang cepat mengulur
tangannya hendak merampas ular kecil di dalam genggaman tangan Topeng Setan!
Karena perahu itu muncul tiba-tiba dan langsung menubruknya, membuat dia tidak dapat mengelak lagi,
apa lagi lengannya yang tinggal satu itu memeluk Ceng Ceng yang sudah mulai siuman, maka Topeng
dunia-kangouw.blogspot.com
Setan sekali ini tidak berdaya. Ular kecil di dalam tangannya kena dirampas oleh kakek tinggi besar
bermuka hitam itu! Dengan kemarahan meluap, Topeng Setan masih sempat menggerakkan kakinya
menendang.
“Bukkk!” Tendangannya tepat mengenai lambung kakek itu sehingga terlempar keluar dari perahunya.
“Byuuuurrr...!”
Tiba-tiba dari dalam air muncul sebuah perahu dan kakek pendek gemuk berkepala gundul telah
menggunakan dayungnya mengemplang kepala kakek muka hitam! Kakek muka hitam terkejut, masih
dapat mengelak sambil menangkap dayung itu, akan tetapi ternyata kakek gundul itu hanya menipunya
karena sambil tertawa lalu tangannya meraih dan... ular kecil itu kembali berpindah tangan, dari tangan
kakek tinggi besar bermuka hitam terampas oleh kakek gundul.
“Keparat...!” Kakek muka hitam menggerakkan dayung rampasannya dan menghantam ke perahu lawan.
“Brakkkk...!” Perahu itu hancur berkeping-keping dan Si Kakek Gundul sambil tertawa lalu menyelam dan
lenyap!
Sementara itu, Topeng Setan berhasil hinggap di ujung balok tiang layar. Ceng Ceng sudah siuman dan
pertama kali gadis ini melihat lengan kiri Topeng Setan yang lenyap, hanya tinggal pundak kiri yang
berlepotan darah, hampir dia pingsan lagi.
“Paman...!” Ceng Ceng menjerit sambil memeluk tubuh mandi darah itu. “Kau... kau... lenganmu...?”
“Tidak apa, Ceng Ceng... tidak apa...” Topeng Setan berkata tenang.
“Tidak apa-apa? Lenganmu buntung dan kau bilang tidak apa-apa?” Ceng Ceng lalu cepat mengeluarkan
obat bubuk yang sudah basah semua dari dalam saku bajunya, mengobati pundak yang buntung itu
dengan hati penuh kengerian dan keharuan, kemudian dia merobek baju Topeng Setan dan membalut luka
yang kini darahnya sudah berhenti mengucur. Topeng Setan sama sekali tidak mengeluh, bahkan kelihatan
tersenyum di balik topengnya yang buruk.
Kian Bu dan Hong Kui yang melihat semua ini menjadi bengong. Kian Bu merasa kagum bukan main.
Betapa hebatnya orang yang bermuka buruk ini, yang dia tahu adalah pembantu dari Ceng Ceng. Manusia
muka buruk ini sudah putus lengannya, namun masih dapat bergerak sehebat itu di dalam air, berhasil
menolong Ceng Ceng yang tadi pingsan, bahkan telah berhasil menangkap anak naga yang kini terampas
oleh kakek gundul yang menyelam dan menghilang.
Melihat kesibukan Ceng Ceng merawat luka Topeng Setan, apa lagi karena dia masih merasa malu karena
terlihat berdua dengan Mauw Siauw Mo-li, maka Kian Bu tidak berani menegur Ceng Ceng yang agaknya
juga tak melihatnya biar pun mereka berada di satu balok tiang layar, di kedua ujungnya. Agaknya Ceng
Ceng juga tidak melihat dan mempedulikan keadaan sekelilingnya lagi karena seluruh perhatiannya
tercurah kepada keadaan Topeng Setan yang kehilangan lengan kirinya.
“Sayang anak naga itu terampas Si Kakek Gundul...,” terdengar Topeng Setan berkata.
“Peduli dengan ular itu...!” Ceng Ceng menjawab sambil menyelesaikan pekerjaannya membalut pundak
dengan hati-hati. “Aku... aku benci ular itu, Paman! Aku benci diriku sendiri karena aku yang menyebabkan
kau kehilangan lengan kirimu.”
“Ahhh... jangan berkata begitu...”
Sementara itu, induk ular naga masih mengamuk karena selain matanya buta, lidahnya terluka, juga dia
kehilangan anaknya. Amukannya di dalam air itu agaknya membuat Si Kakek Gundul tidak kuat bertahan
lama dan sudah muncul lagi ke permukaan air. Akan tetapi begitu dia muncul, dari atas perahu besar milik
Tambolon, tampak sinar hitam mencuat dan tahu-tahu tubuh kakek gundul sudah tertangkap dalam sehelai
jaring hitam yang terbuat dari tali sutera halus yang amat kuat!
Kakek gundul yang masih memegangi ular kecil itu terkejut dan meronta-ronta, namun dia tidak berdaya
ketika tubuhnya ditarik dan diangkat naik ke atas perahu oleh Tambolon dan dua orang pengawalnya, yaitu
dunia-kangouw.blogspot.com
Si Petani dan Si Siucai. Begitu jaring dibuka, kakek gundul mengamuk dan gerakannya dahsyat sekali.
Akan tetapi tiba-tiba nenek itu berkata, suaranya melengking tinggi dan nadanya aneh.
“Jangan keroyok, biarkan dia!”
Mendengar ini, Tambolon bersama dua orang pembantunya mundur dan nenek itu lalu berkata, “Hai,
cucuku gundul... engkau memang anak baik sekali mau menyerahkan ular itu kepada nenekmu. Mari...
mari sini... berikan ular itu kepadaku...!”
Ceng Ceng yang sudah selesai membalut, kini bersama Topeng Setan memandang ke arah perahu itu dan
mereka menjadi bengong terheran-heran melihat kakek gundul yang lihai dan yang tidak gentar dikeroyok
oleh Tambolon dan dua orang pengawalnya itu kini menjatuhkan diri berlutut di depan Si Nenek Hitam dan
menyerahkan ular itu dengan kedua tangannya! Sambil terkekeh Durganini menerima ular itu.
Begitu ular diterima, kakek gundul agaknya menjadi sadar dan dengan teriakan dahsyat dia meloncat
berdiri dan hendak menerjang nenek itu. Akan tetapi Tambolon dan dua orang pengawalnya sudah
menyambutnya sehingga terjadilah pertandingan seru di atas perahu.
Akan tetapi kini semua perahu yang melihat bahwa ular yang diperebutkan itu terjatuh ke tangan Si Nenek
Hitam, berbondong datang mendekati perahu besar Tambolon dan banyak sekali bayangan orang yang
gerakannya ringan dan gesit berloncatan ke atas perahu besar itu untuk merampas ular kecil! Di antara
mereka terdapat Si Tosu Lihai, Hek-tiauw Lo-mo, dan banyak orang lagi termasuk Si Kakek Muka Hitam
dan Si Kakek Gundul yang masih bertanding melawan Tambolon. Anak buah raja liar ini menyambut dan
terjadilah perang tanding yang amat seru di atas perahu.
Menghadapi pengeroyokan banyak sekali orang pandai, Tambolon dan Si Nenek Lihai ini menjadi
kewalahan juga dan dia tidak sempat menggunakan ilmu sihirnya terhadap begitu banyak orang pandai
yang rata-rata memiliki tenaga batin amat kuat sehingga tidak mudah tunduk kepada kekuatan ilmu
sihirnya.
Selagi Topeng Setan masih belum tahu apakah dia harus pula ikut memasuki medan pertandingan itu, tibatiba
perahu besar itu terlempar ke atas dan terbanting lalu terbalik! Kiranya ular yang marah itu telah
mengamuk dan menyundul perahu yang sudah pecah itu sehingga terbalik dan tentu saja semua orang
lihai yang sedang enaknya bertempur semua terlempar ke dalam air! Si Nenek Hitam yang lihai dan ahli
ilmu sihir itu kehilangan kelihaiannya karena dia tidak pandai renang, maka dengan gelagapan dia terpaksa
minta tolong dan dibantu oleh anak buah Tambolon, diseret kembali ke perahu yang sudah terbalik.
Akan tetapi dalam ketakutannya tenggelam tadi, nenek ini yang sudah pikun lupa akan ular kecil yang
dipegangnya sehingga ular kecil itu terlepas. Anak ular yang juga panik karena sejak tadi dicengkeram
tangan-tangan panas dan kuat, dalam keadaan bingung dan panik meluncur dan berenang ke dekat tiang
layar yang ditumpangi Kian Bu, Hong Kui, Topeng Setan dan Ceng Ceng! Melihat ini, Topeng Setan tak
mau menyia-nyiakan kesempatan. Cepat tangannya meraih untuk menangkap anak naga itu.
“Desssss...!”
Topeng Setan dan Kian Bu terkejut. Keduanya tadi secara otomatis telah mengulur tangan hendak
menangkap anak ular naga itu. Begitu tangan mereka saling bertemu, otomatis pula keduanya
menyalurkan tenaga sehingga terjadilah bentrokan hebat antara tangan mereka. Kian Bu terkejut sekali
karena merasa betapa tenaga yang keluar dari tangan Topeng Setan itu kuat bukan main, dan betapa
orang yang sudah mengalami luka buntung lengan itu masih sanggup menandingi tenaganya. Hal ini
benar-benar membuat dia penasaran dan juga kagum bukan main.
Anak ular lalu itu berenang ke dekat Ceng Ceng. Tentu saja Ceng Ceng tidak menyia-nyiakan kesempatan
ini dan cepat tangannya menyambar. Akan tetapi pada saat itu, Lauw Hong Kui Si Siluman Kucing juga
sudah menangkap pada saat yang bersamaan, tentu saja mereka lalu berebut dan saling betot! Kasihan
ular kecil itu yang dipegang kepala dan ekornya dan dijadikan rebutan!
Kian Bu memandang terbelalak. Biasanya kekasihnya itu sangat takut terhadap ular, bahkan beberapa kali
pingsan melihat ular, akan tetapi mengapa kini berani menangkap ular itu dan membetotnya. Melihat Ceng
Ceng juga sudah menangkap ular itu, dia lalu berteriak kepada Hong Kui, “Enci, biarkan dia mendapatkan
ular itu...!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Hong Kui terkejut dan marah. “Apa? Aku tidak sudi!” Dan dengan marah dia menarik sekuatnya.
Ceng Ceng tentu saja mempertahankannya, gadis ini lebih beruntung dalam perebutan itu karena dia tadi
memegang kepala ular yang tentu saja merupakan bagian yang lebih kuat dari pada bagian ekornya.
“Prattttt...!”
Anak ular naga itu putus menjadi dua dan putusnya di dekat ekor sehingga Hong Kui hanya mendapatkan
bagian yang sedikit saja, yaitu bagian ekornya! Dan karena Ceng Ceng yang mempertahankan ular itu
berada di pinggir balok dan kini tiba-tiba ular putus, tak dapat dihindarkan lagi Ceng Ceng terjengkang dan
terjatuh ke dalam air. Pada saat itu, induk ular naga sudah tiba di atas lagi, ekornya mobat-mabit dan balok
tiang itu kena dihantam ekor yang amat kuat, pecah berantakan.
Melihat Ceng Ceng terjatuh ke dalam air, Topeng Setan yang setengah pingsan karena penderitaannya itu
tahu bahwa gadis itu terancam bahaya sebab tidak pandai berenang, maka tepat pada saat balok tiang
dihantam ekor ular naga, dia sudah meloncat terjun ke air dan mengejar Ceng Ceng, merangkulnya dan
terus dibawanya gadis itu menyelam selagi ular naga mengamuk di atas mereka. Dia maklum bahwa kini
keadaan sudah berbahaya sekali, tenaganya sudah tidak dapat diandalkan lagi untuk melindungi Ceng
Ceng dan kalau mereka muncul lagi di permukaan air, tentu semua orang lihai itu akan mengeroyok
mereka karena ular itu, biar pun ekornya putus sedikit, masih berada di tangan Ceng Ceng.
Karena dia maklum bahwa sekali mereka muncul, tentu mereka akan celaka dan terutama sekali yang
terpenting baginya, Ceng Ceng akan terancam bahaya dan anak ular naga itu akan dirampas orang, maka
Topeng Setan mengambil keputusan nekat. Dia hendak membawa Ceng Ceng menyelam terus dan
berenang di bawah permukaan air menuju ke tepi telaga. Dengan sinkang-nya yang sudah amat kuat itu,
dan melawan penderitaan tubuhnya yang terluka hebat dengan daya kemauannya yang membaja, Topeng
Setan lalu menyeret tubuh Ceng Ceng yang dirangkulnya itu, mulai berenang meninggalkan tempat
berbahaya itu di mana tidak hanya ular naga raksasa yang mengamuk, akan tetapi juga banyak tokoh lihai
yang mencari-cari mereka.
Dengan pengerahan tenaga yang amat menakjubkan, yang sesungguhnya terdorong oleh keinginan dan
kemauannya untuk menyelamatkan Ceng Ceng, Topeng Setan berenang cepat dan hanya menggunakan
kedua kakinya dan dia berhasil menjauhi tempat itu. Kakinya yang pernah dihantam ekor ular naga terasa
nyeri bukan main, tapi dia tidak mau merasakan siksaan ini dan terus menggerakkan kedua kaki meluncur
ke depan.
Dengan sinkang-nya yang sudah mencapai puncak, dia dapat ‘menyimpan’ hawa udara sehingga dia
masih kuat bertahan. Akan tetapi tidak demikian halnya dengan Ceng Ceng. Dasar sinkang dari gadis ini
masih lemah sekali, maka kini dia mulai kehabisan napas, meronta-ronta dan hal ini diketahui oleh Topeng
Setan. Akan tetapi, kalau dia membawa Ceng Ceng muncul ke permukaan untuk mencari hawa segar dan
bernapas, tentu akan kelihatan oleh musuh dan selanjutnya mereka tidak mungkin dapat melarikan diri lagi,
karena tentu akan dikejar-kejar, baik di permukaan air atau di dalam air.
Di antara mereka terdapat banyak ahli bermain di air, seperti kakek gundul dan tosu itu. Maka Topeng
Setan mempererat pelukannya dan tidak membolehkan Ceng Ceng yang sudah kehabisan napas itu untuk
naik ke permukaan air. Akan tetapi dia pun maklum bahwa kalau dibiarkan terus, gadis itu akan kehabisan
napas dan akan tewas pula, maka dia lalu mengambil keputusan nekat.
Diangkatnya tubuh Ceng Ceng, didekatkan muka gadis itu dengan mukanya. Di dalam air yang jernih itu
mereka tidak dapat saling melihat, karena sinar bulan tidak dapat menembus sedalam itu, akan tetapi
remang-remang mereka masih dapat saling melihat bayangan mereka. Topeng Setan lalu menundukkan
mukanya dan... dia menutup mulut Ceng Ceng dengan mulutnya sendiri!
Tentu saja Ceng Ceng terkejut bukan main, mula-mula dirinya tidak mengerti apa yang dikehendaki oleh
orang tua itu. Dia sudah pening dan telinganya mengeluarkan bunyi mengaung, dadanya seperti hendak
meledak. Rasa kaget ketika merasa betapa mulutnya dicium seperti itu oleh Topeng Setan, membuat dia
ingin menjerit dan otomatis mulutnya terbuka. Agaknya inilah yang dikehendaki Topeng Setan. Dengan
bibir masih menutup mulut Ceng Ceng yang terengah-engah itu, ia mengeluarkan hawa ‘simpanan’ yang
masih bersih, ditiupkannya ke dalam paru-paru Ceng Ceng yang sudah kehabisan napas.
Ceng Ceng gelagapan, akan tetapi dadanya menjadi lega dan kini lenyaplah kekagetan dan kemarahan
yang tadi menyelinap di dalam hatinya. Kini dia mengerti bahwa orang tua bertopeng buruk itu sama sekali
dunia-kangouw.blogspot.com
tidak berniat kurang ajar kepadanya. Sebaliknya malah, kembali Topeng Setan menyelamatkannya! Dia
tahu bahwa cara penyelamatan ini pun suatu pengorbanan diri juga, karena dengan memberikan hawa
cadangan itu kepadanya, berarti Topeng Setan sendiri akan cepat kehabisan napas!
Keharuan memenuhi hati Ceng Ceng dan saat Topeng Setan melepaskan ‘ciumannya’, dia merangkul
pinggang kakek itu serta merapatkan tubuhnya sebagai tanda terima kasihnya. Kini Ceng Ceng dapat
bertahan dan mereka terus berenang ke suatu arah tertentu, secara untung-untungan karena mereka tidak
dapat melihat arah mana yang terdekat ke pantai.
Setiap kali Ceng Ceng kehabisan napas, Topeng Setan lalu ‘menciumnya’ seperti tadi untuk memindahkan
hawa murni dan sampai tiga kali dia melakukan hal ini yang berarti menyambung napas dan umur gadis itu.
Ceng Ceng tidak meronta lagi, dan setiap kali dia dicium, dia memejamkan matanya dan sungguh aneh,
dalam keadaan tercium itu, yang amat terasa olehnya, dia membayangkan wajah... pemuda laknat yang
telah memperkosanya! Dia sendiri merasa heran. Dicobanya untuk membayangkan wajah Pangeran Yung
Hwa, mengkhayal bahwa pangeran yang tampan dan menarik itulah yang menciumnya, akan tetapi tetap
saja wajah pemuda laknat itu yang muncul!
Ketika akhirnya, secara kebetulan sekali mereka dapat mendarat di pantai terdekat, keduanya sudah
kehabisan napas. Mereka terengah-engah di pantai, dengan tubuh bawah masih terendam air dan tubuh
atas rebah di atas lumpur, dada mereka terasa seperti akan meledak, terengah-engah seperti ikan-ikan
terdampar di daratan. Akan tetapi anak ular naga itu masih terus digenggam tangan kanan Ceng Ceng,
dan tubuh ular yang ekornya buntung itu masih membelit lengannya dengan kuat.
Sementara itu, jauh di tengah telaga, orang-orang lihai masih terus sibuk melawan ular naga yang
mengamuk dan mereka sibuk pula berusaha mencari Topeng Setan dan Ceng Ceng. Ada pun Hong Kui
dan Kian Bu yang tadi terlempar ke air ketika balok tiang layar dihantam oleh ekor ular naga, kini sudah
berhasil menyelamatkan diri ke atas sebuah pecahan perahu.
Melihat ekor ular itu yang masih berdarah itu, Hong Kui terus saja memasukkannya ke dalam mulutnya dan
Kian Bu merasa ngeri melihat betapa mulut yang bentuknya indah itu, bibir yang selalu merah basah dan
yang sudah sangat dikenalnya dengan ciuman-ciumannya yang hangat dan mesra, kini mengunyah
daging, tulang dan kulit ular yang berdarah itu sampai terdengar suara berkerotakan ketika tulang-tulang
ekor ular kecil itu hancur digilas oleh gigi-gigi kecil kuat dari Hong Kui.
Sedikit pun wanita itu tidak kelihatan merasa jijik, maka kini Kian Bu mulai mengerti bahwa Hong Kui
sebenarnya sama sekali tidak takut kepada ular! Terbukalah matanya bahwa selama ini wanita itu memang
sengaja memancing dan merayunya dan dia merasa alangkah bodoh dirinya. Tetapi biar pun kenyataan ini
membuat dia kehilangan perasaan cinta terhadap Hong Kui, namun tidak melenyapkan rasa tertariknya.
Wanita itu sudah memperkenalkan kenikmatan yang luar biasa kepadanya dan dia masih merasa sayang
untuk melepaskannya!
Kalau tadinya Kian Bu hampir mengakui dan percaya bahwa dia jatuh cinta kepada Hong Kui, semenjak
peristiwa memperebutkan ular itu, ia yakin bahwa sebetulnya tidak ada kasih di hatinya terhadap wanita ini,
melainkan hanya nafsu kesenangan karena wanita ini memang hebat dan pandai sekali menghibur dan
menyenangkan hatinya. Dan melihat Hong Kui mengunyah dan makan ekor ular itu mentah-mentah, timbul
juga rasa kasihan di hatinya karena dia maklum bahwa wanita itu terpaksa melakukan hal ini karena
khawatir kalau-kalau bagian yang hanya sedikit itu akan terampas orang lain! Akan tetapi, yang sedikit ini
pun cukuplah karena seketika itu juga Hong Kui merasa betapa tekanan panas di pusarnya akibat
keracunan telah lenyap sama sekali begitu ekor ular itu memasuki perutnya!
Topeng Setan sudah dapat memulihkan pernapasannya. Pundak kirinya terasa sakit bukan main,
berdenyut-denyut sampai terasa di ubun-ubun kepalanya, kaki kanannya yang kena hantaman ekor ular
naga juga masih terasa setengah lumpuh. Lebih-lebih lagi hatinya seperti ditusuk-tusuk kalau dia teringat
akan lengan kirinya yang buntung. Akan tetapi semua penderitaan lahir batinnya ini dilupakannya seketika
ketika dia menoleh kepada Ceng Ceng yang juga sudah tidak begitu terengah-engah seperti tadi.
“Cepat kau makan ular itu. Ular inilah obat yang akan menghilangkan semua racun yang mengancam
nyawamu. Cepatlah, Ceng Ceng.” Topeng Setan berkata.
Ceng Ceng menoleh kepadanya. Wajahnya pucat, sebagian tertutup rambutnya yang terurai awut-awutan
dan basah kuyup. Begitu menoleh dia melihat lengan kiri yang buntung itu dan mendadak Ceng Ceng
dunia-kangouw.blogspot.com
memandang ular di tangannya dengan wajah beringas. “Ular sialan! Ular itu telah membuat lenganmu
buntung, Paman. Aku benci ular itu!” Ceng Ceng lalu melemparkan ular itu ke telaga!
“Aihhh... kau... kau gila...!” Topeng Setan berteriak kaget sekali.
Cepat dia terjun ke air dan berenang mengejar ular itu. Untung ular itu sudah menjadi lemah dan setengah
mati karena sejak tadi kepalanya digenggam oleh Ceng Ceng dan ekornya telah buntung, maka dia tidak
menyelam dan hanya berenang lambat-lambat ke sana-sini sehingga mudah bagi Topeng Setan untuk
menangkap dan membawanya berenang ke pinggir. Ceng Ceng sudah merangkak dan duduk di atas tanah
yang keras di tepi telaga ketika Topeng Setan mendarat.
“Kau harus makan daging ular ini dan minum darahnya.” dia berkata.
“Ular sialan itu, biarlah aku tidak berobat lagi, Paman.”
“Kau harus!”
“Tidak...!”
“Aku akan memaksamu!”
Ceng Ceng yang pada dasarnya berhati keras itu, mendengar ucapan ini dan melihat sikap yang keras dan
marah dari Topeng Setan, lupa kalau orang itu telah kehilangan lengannya dan dia meloncat bangun
sambil mengepal kedua tangannya. “Tidak! Tidak sudi! Coba kau memaksaku kalau berani.”
“Mengapa tidak berani? Hanya ular ini obatnya yang akan menyelamatkan nyawamu, Ceng Ceng.”
Tiba-tiba Topeng Setan menyerbu dan Ceng Ceng berusaha mengelak, akan tetapi dia kalah cepat, dan
sebuah totokan pada pundaknya membuat dia roboh dan tak dapat bergerak lagi. Akan tetapi sebelum dia
roboh, lengan Topeng Setan sudah menahannya dan dia lalu direbahkan dengan hati-hati di atas rumput.
“Karena kau berkeras menolak, aku terpaksa menggunakan kekerasan ini, Ceng Ceng. Ular ini harus cepat
kau pergunakan sebagai obat, kalau sampai mereka mengejar ke sini, ular ini akan terampas dan kau akan
celaka. Maafkan aku, terpaksa aku melakukan ini padamu...”
Topeng Setan mencari sehelai daun teratai lebar, membuatnya dengan susah payah sebagai tempat air
dan sementara itu dia menjepit leher ular dengan jari kakinya yang dilepaskan dari sepatunya yang basah,
lalu dengan jari-jari tangannya yang panjang dia menggulung dan menggenggam ular itu dalam
kepalannya, dan mengerahkan tenaga menghimpitnya! Tentu saja kepala dan tubuh ular itu menjadi
hancur dan cairannya mengucur ke dalam mangkok daun teratai itu, cairan yang terdiri dari darah dan
perasan tubuh ular itu, cairan kuning kemerahan yang dipandang dengan mata jijik oleh Ceng Ceng.
“Cairan ini mengandung obat mujarab, akan tetapi juga mengandung racun ular itu yang akan mematikan
bagi orang biasa. Akan tetapi karena tubuhmu sudah kebal racun, maka racun ular ini tidak akan
mengganggu, bahkan mungkin akan mendatangkan suatu keuntungan bagimu, Ceng Ceng. Mestinya tidak
dihidangkan secara begini saja, yang agak menjijikkan, akan tetapi apa boleh buat, kita masih belum aman
benar dan obat ini perlu secepatnya kau minum.”
Ceng Ceng yang sudah lumpuh kaki tangannya itu hanya menjawab pendek, “Aku tidak mau!”
“Maaf...!” Topeng Setan kembali menggerakkan jari tangannya.
“Aaaahhhh!” Mulut Ceng Ceng terbuka dan tak dapat tertutup kembali!
Topeng Setan lalu menuangkan cairan itu ke dalam mulut yang terbuka itu! Ceng Ceng mencium bau yang
amat amis dan busuk, maka dia tidak mau menelan cairan yang sudah berada di mulutnya itu.
“Maaf, terpaksa aku...!” Topeng Setan lalu menggunakan telunjuk dan ibu jarinya untuk memencet kedua
lubang hidung Ceng Ceng.
Dipencet lubang hidungnya seperti itu, Ceng Ceng tak dapat bernapas dan gelagapan sehingga terpaksa
cairan itu tertelan olehnya. Dia dicekoki cairan ular yang menjijikkan itu. Topeng Setan itu lalu
dunia-kangouw.blogspot.com
membebaskan totokannya dan Ceng Ceng bangkit duduk, meludah berkali-kali akan tetapi cairan itu telah
memasuki perutnya.
“Kau maafkanlah aku, Ceng Ceng...”
Suara itu demikian penuh permohonan dan penyesalan sehingga kemarahan Ceng Ceng sudah sebagian
terusir pergi. Apa lagi dia ingat bahwa semua yang dilakukan oleh Topeng Setan itu semata-mata adalah
untuk menolongnya. Dan penolakannya tadi pun hanya karena berduka dan menyesal mengapa untuk
mencari ular itu Topeng Setan sampai mengorbankan lengannya.
“Mengapa kau minta maaf?” tanyanya pendek.
“Maaf bahwa aku terpaksa memaksamu minum cairan obat itu.”
“Engkau memaksaku karena aku menolak dan engkau melakukan itu karena engkau hendak menolongku,
Paman.”
“Maaf, bahwa aku harus memencet hidungmu, menotokmu, dan mencekokkan obat itu kepadamu.”
“Sudahlah, obat sudah masuk ke perutku, mengapa diributkan lagi?”
“Dan maafkan aku... aku tadi terpaksa mengoper hawa murni kepadamu secara itu...” Topeng Setan
memalingkan mukanya membelakangi Ceng Ceng, lalu bangkit berdiri dan memasuki hutan tak jauh dari
situ.
Ceng Ceng juga bangkit dan mengikutinya memasuki hutan itu. Di bawah sebatang pohon, Topeng Setan
lalu berusaha membuat api, akan tetapi karena tangannya tinggal satu, sukarlah dia menggosok-gosokkan
kayu kering untuk membuat api.
Ceng Ceng merebut kayu kering itu. Dia lalu membuat api dan menyalakan api unggun. Tanpa bicara
keduanya duduk di dekat api unggun itu. Topeng Setan merenung ke dalam api, sedangkan Ceng Ceng
memandang wajah yang buruk itu.
“Kenapa kau minta maaf tentang itu, Paman? Kalau kau tidak melakukannya, tentu saat ini aku sudah
menjadi mayat dengan perut kembung penuh air.”
Topeng Setan menoleh dan mereka saling pandang. Pengalaman hebat yang baru saja mereka alami
berdua itu masih menegangkan hati mereka. Ketika dua pasang mata itu bertemu, Topeng Setan cepat
mengelak dan menunduk. “Kini bagaimana... perasaan tubuhmu, Ceng Ceng?”
Ceng Ceng juga sadar betapa dia tadi memandang orang itu dengan sinar mata penuh kagum, penuh rasa
syukur dan terima kasih, maka dia cepat-cepat menjawab sambil merasakan keadaan tubuhnya, “Rasanya
enak dan hangat... dan rasa muak itu lenyap, Paman.”
“Hemm... aku yakin bahwa engkau akan sembuh sama sekali. Engkau telah terbebas dari bahaya maut,
Ceng Ceng.” Suara itu terdengar girang.
Ceng Ceng merasa jantungnya seperti ditusuk. “Apa artinya itu? Dan untuk nyawaku yang tidak berharga
ini engkau harus mengorbankan lengan kirimu! Ah, Paman...!”
Topeng Setan menoleh ke kiri memandang ke arah pundaknya yang buntung. “Ah, ini? Tidak begitu hebat.
Sekali waktu manusia akan kehilangan sesuatu yang berharga di luar kehendaknya, Ceng Ceng. Kalau dia
dapat menghadapi peristiwa itu dengan penuh kewaspadaan dan kesadaran, maka tidaklah terlalu
menyiksa hati benar...”
Ceng Ceng memandang dengan mata terbelalak. “Kau... kau kehilangan lengan kiri dan tidak tersiksa
hatimu karenanya?”
Topeng Setan menggelengkan kepalanya. “Ceng Ceng, segala peristiwa yang terjadi menimpa diri kita
tidak mengandung suka atau pun duka, tidak mengandung sesuatu yang ada hubungannya dengan batin.
Suka atau pun duka hanyalah permainan batin, permainan hati dan pikiran. Betapa pun akan hebatnya
pikiranku menyiksa hati, tetap saja lenganku tidak akan dapat tumbuh kembali. Karena itu, mengapa harus
dunia-kangouw.blogspot.com
dipikirkan? Permainan pikiran hanya akan menimbulkan derita batin, menimbulkan perasaan duka,
menimbulkan sengsara dan menimbulkan kebencian, dendam dan permusuhan belaka.”
Ceng Ceng makin terheran-heran. Manusia ataukah apa yang bersembunyi di dalam topeng itu?
“Paman, setelah segala pengorbanan besar yang kau derita karena aku, setelah segala yang kau lakukan
demi aku, setelah segala budi yang berlimpah-limpah bertumpuk yang kau lakukan untukku, maukah
engkau memenuhi permintaanku ini? Aku... aku ingin sekali melihat wajahmu, Paman.”
Topeng Setan kelihatan terkejut sekali, tersentak kaget dan melangkah mundur seperti terhuyung sampai
punggungnya menabrak batang pohon di belakangnya, kepalanya digelengkan dan matanya terbelalak
menatap wajah Ceng Ceng.
“Tidak...! Tidak..., janganlah kau minta itu... Kau boleh memerintahkan apa saja padaku Ceng Ceng, kau
boleh menyuruh dan minta apa saja, aku akan melaksanakan dan menuruti... akan tetapi yang satu ini...
jangan pernah kau memaksa aku menanggalkan topengku...”
“Kenapa, Paman? Antara kita... mengapa engkau segan memperlihatkan mukamu? Kita sudah senasib
sependeritaan, aku merasa kita bukan orang lain lagi, sudah berkali-kali aku hutang budi dan hutang
nyawa kepadamu, yang sampai mati pun takkan mampu kubalas. Aku hanya ingin melihat manusia yang
paling baik dan paling mulia terhadap diriku di dunia ini, mengapa kau menolak?”
“Aku... aku tidak bisa membuka topeng ini, akan terlalu mengerikan..., wajahku sangat mengerikan, jauh
lebih buruk dari topeng ini. Engkau akan menjadi ketakutan dan aku khawatir engkau akan menjadi jijik dan
muak, bahkan benci melihatku. Jangan, Ceng Ceng, jangan kau memaksa aku membuka topeng ini. Kau
boleh membukanya kalau kelak aku sudah mati...”
Ceng Ceng menundukkan muka, menarik napas panjang. “Aku tidak akan memaksamu, Paman. Sungguh
pun aku yakin bahwa betapa pun buruk rupamu, aku tidak akan dapat merasa takut, apa lagi jijik dan
muak, apa lagi membencimu. Bagaimana mungkin aku bisa membenci seorang yang telah berkorban
sedemikian hebat untukku? Aku jadi heran sekali apa yang terjadi antara wanita yang... kau bunuh itu
dengan engkau. Kalau aku menjadi dia, agaknya... aku mau melakukan apa saja untuk seorang semulia
engkau ini, Paman. Apakah bibi itu melakukan hal yang amat menyakitkan hatimu?”
Topeng Setan menghela napas panjang, agaknya lega karena Ceng Ceng tidak lagi memaksanya
membuka topeng. Dia duduk kembali bersandar batang pohon, kemudian menjawab, “Tidak, Ceng Ceng,
dia seorang wanita yang amat hebat, tiada keduanya di dunia ini, akan tetapi aku... aku telah
membunuhnya...”
“Kasihan sekali engkau, Paman...”
Topeng Setan agaknya ingin mengalihkan percakapan karena dia lalu berkata, “Ceng Ceng, engkau
sekarang sudah sembuh, engkau tidak terancam lagi oleh racun, bahkan dengan latihan I-kin-keng yang
telah kuajarkan, semua ilmu beracun yang kau pelajari dari Ban-tok Mo-li sehingga tubuhmu beracun akan
lenyap, dan... aku sendiri masih belum tahu akibat aneh apa yang akan didatangkan oleh khasiat anak
naga yang telah memasuki tubuhmu. Sekarang, sebaiknya kalau kau kembali ke kota raja, kau... kau temui
Pangeran Yung Hwa itu...”
“Eh, mengapa, Paman?” Ceng Ceng bertanya dengan kaget sekali.
“Engkau seorang gadis yang amat baik, seorang wanita berjiwa pahlawan, engkau telah mengalami
banyak kesukaran dan seorang wanita seperti engkau berhak untuk hidup mulia dan bahagia. Pangeran
Yung Hwa itu, dia... dia seorang bangsawan tinggi, putera Kaisar, dia terpelajar tinggi, tampan dan baik
hati. Dan yang terutama sekali, dia cinta kepadamu, Ceng Ceng. Kau pergilah kepadanya...”
Ceng Ceng menggeleng kepala keras-keras. “Tidak! Dia boleh cinta kepadaku, akan tetapi aku... aku tidak
berharga...”
“Hemmm, jangan kau berkata begitu, Ceng Ceng. Apakah engkau hendak mengatakan bahwa engkau
tidak cinta kepada pangeran itu? Aku teringat akan pemuda tampan yang berilmu tinggi, adik dari Puteri
Milana, putera dari Pendekar Super Sakti yang bernama Suma Kian Lee itu. Dia pun cinta kepadamu,
Ceng Ceng. Baik Pangeran Yung Hwa mau pun Suma Kian Lee keduanya adalah pemuda-pemuda pilihan
dunia-kangouw.blogspot.com
yang sukar dicari tandingannya di dunia ini. Kau kembalilah ke kota raja, kau berhak hidup bahagia.
Apakah engkau mencinta Suma Kian Lee...?”
“Tidak, Paman. Sama sekali tidak mungkin! Dia adalah pamanku sendiri!”
“Ehhh...?!” Topeng Setan kelihatan terkejut sekali mendengar hal ini. “Putera Pendekar Super Sakti itu...
pamanmu?”
Ceng Ceng mengangguk dan hatinya terasa perih ketika dia teringat kepada Kian Lee. Pemuda itu pun
amat baik kepadanya, bahkan dia tahu bahwa Kian Lee cinta padanya, sehingga dia dapat membayangkan
betapa hancur hati Kian Lee ketika memperoleh kenyataan-kenyataan bahwa dia ternyata adalah
keponakannya sendiri! Pemuda itu pun demikian mencintanya sehingga rela mengorbankan dirinya sendiri
ketika berusaha mengobatinya sampai kedua tangannya keracunan.
“Rahasia itu terbuka ketika aku bertemu dengan Paman Gak Bun Beng. Itulah sebabnya mengapa aku
pernah mengatakan kepadamu, Paman, bahwa she-ku bukanlah Lu, melainkan Wan. Ayahku adalah Wan
Keng In, kakak tiri Paman Suma Kian Lee. Ayahku adalah putera tiri Pendekar Super Sakti, dia... ayahku
itu... dia amat jahat, Paman....”
Ceng Ceng kemudian menceritakan riwayat dirinya, diceritakan semua tanpa ada yang disembunyikan
bahwa dia hidup di Bhutan dengan kakeknya yang ternyata adalah kakek buyutnya, betapa tadinya dia
mendengar dari kakeknya bahwa ayah kandungnya adalah Gak Bun Beng yang sudah mati seperti ibunya.
Betapa dia mengawal Puteri Syanti Dewi yang menjadi kakak angkatnya itu sehingga mengalami banyak
kesengsaraan, betapa kemudian dia bertemu dengan Gak Bun Beng dan mendengar akan semua riwayat
ibunya yang diperkosa oleh Wan Keng In yang memakai nama Gak Bun Beng. Semua diceritakannya
dengan panjang lebar, didengarkan dengan mata terbelalak dan penuh perhatian oleh Topeng Setan.
Setelah mendengar semua itu, Topeng Setan lalu menarik napas panjang. “Akan tetapi, riwayatmu itu
bahkan mengangkat derajatmu, Ceng Ceng. Engkau adalah cucu tiri dari Pendekar Super Sakti, dan
engkau adalah adik angkat dari Puteri Bhutan, bahkan kakek buyutmu adalah seorang bekas panglima
pengawal yang setia. Engkau cukup berharga bahkan untuk seorang pria seperti Pangeran Yung Hwa itu
sekali pun, engkau sudah terlalu berharga. Dia amat mencintamu, Ceng Ceng, bahkan dia sampai menolak
dikawinkan dengan Puteri Syanti Dewi karena dia cinta padamu. Mari kuantar engkau menjumpainya,
Ceng Ceng...”
“Paman...! Janganlah engkau berkata demikian, Paman...!” Dan tiba-tiba Ceng Ceng menangis tersedusedu
karena dia teringat akan keadaan dirinya.
“Eh, ehhh... Ceng Ceng, kenapa...?” Topeng Setan bertanya, suaranya gemetar.
Ceng Ceng mengusap air matanya dan memandang wajah bertopeng buruk itu, yang menjadi seperti
wajah iblis ketika tertimpa cahaya api unggun yang merah. “Baiklah, kau boleh mendengar semua, Paman.
Engkau sudah kuanggap seperti pamanku sendiri seperti ayah sendiri, seperti sahabatku yang termulia di
dunia ini, bahkan sebagai satu-satunya orang yang menjadi sahabatku. Aku... aku sama sekali tidak
berharga, Paman, apa lagi bagi seorang pria seperti Pangeran Yung Hwa. Aku hanyalah seorang yang
menanti kematian...”
“Eh, apa maksudmu?”
“Paman... aku... aku telah tertimpa mala petaka yang lebih hebat dari pada kematian. Aku telah ternoda,
aku telah diperkosa orang...” Dengan terengah-engah dan terputus-putus Ceng Ceng menceritakan
melapetaka hebat di dalam goa itu ketika dia diperkosa oleh pemuda laknat itu.
“Dia kutolong, akan tetapi dia malah memperkosa aku, Paman... Dia, si laknat itu, dia bernama Kok Cu,
murid Si Dewa Bongkok dari Istana Gurun Pasir. Mendiang kakek Lauw Ki Sun yang tewas dan
jenazahnya kau kubur di depan kuil itu, dialah yang menceritakan kepadaku siapa adanya manusia iblis itu.
Kakek itu adalah pelayan dari Dewa Bongkok dan pemuda yang merusak hidupku itu adalah murid Si
Dewa Bongkok, dialah orang yang kau gambar itu, Paman. Aku harus menemukannya, engkau harus
membantu aku untuk membalas dendam setinggi langit dan sedalam lautan ini. Aku bersumpah tidak akan
berhenti sebelum dapat membunuhnya. Dan setelah aku berhasil membunuhnya, mudah-mudahan dengan
dunia-kangouw.blogspot.com
bantuanmu karena dia lihai sekali, Paman, sesudah itu, aku... aku akan membunuh diri, untuk apa hidup
menderita aib yang hebat ini...?”
Topeng Setan bangkit berdiri, mengepal tinjunya, matanya terbelalak, tampak seluruh urat di dadanya yang
telanjang karena bajunya dirobek untuk membalut pundak kirinya, dan dari kedua mata yang terbelalak
lebar itu jatuh air matanya satu demi satu, seperti butir-butir mutiara runtuh dari untaiannya. Dadanya
bergelombang dan terdengar rintihan aneh keluar dari mulutnya yang berbibir tebal sekali itu.
Ceng Ceng memandang dengan amat heran. Melihat Topeng Setan berdiri seperti iblis berdiri, dengan air
mata bercucuran seperti itu, hati Ceng Ceng seperti diremas-remas rasanya. Dia tahu bahwa orang
bertopeng ini juga amat mencintanya sehingga orang itu kini menderita pukulan batin yang hebat setelah
mendengar ceritanya. Melihat orang yang sudah buntung lengannya karena dia itu kini menangis, Ceng
Ceng memandang dengan bibir gemetar, kemudian menggigil dan bibir itu mewek-mewek menahan tangis.
Dan akhirnya Ceng Ceng menubruk dan merangkul pinggang Si Buruk Rupa itu sambil menangis
sesenggukan. Sampai mengguguk Ceng Ceng menangis. Dia melepaskan seluruh kedukaan dan
penyesalan hatinya, menumpahkan semua rasa penasaran yang bertumpuk-tumpuk dan dia seolah-olah
memeluk gunung yang kokoh kuat, yang akan dapat dipergunakan sebagai sandaran hidup ketika dia
sendiri sudah hampir tidak kuat menahan penderitaan yang menimpanya.
Dengan lengan kanannya, Topeng Setan memeluk dan jari-jari tanngannya mengelus kepala gadis itu
penuh keharuan dan kasih sayang.
“Paman... Paman... ahh... Paman... hu-hu-huuuhh...” Ceng Ceng menangis seperti anak kecil, air matanya
membasahi dada yang bidang, kuat, tegap dan berkulit putih halus, merupakan kontras yang aneh dengan
kulit wajah yang buruk itu.
“Tenanglah, Ceng Ceng. Kuatkan hatimu... dan hadapilah kenyataan hidup seperti ini... jangan kau putus
harapan, Ceng Ceng. Aku... aku bersumpah akan melindungimu dan membantumu menemukan
kebahagiaan...”
“Paman, kau bilang tadi... kau akan meninggalkan aku... kau menyuruh aku pergi ke kota raja...”
“Sekarang tidak lagi, Ceng Ceng. Aku baru akan pergi setelah melihat engkau menemui kebahagiaan
hidup. Janganlah kau khawatir, aku akan mempertaruhkan nyawaku demi kebahagiaanmu.”
“Paman... uhu-hu-huuu, Paman...” Ceng Ceng makin menjadi tangisnya karena hatinya terharu sekali
mendengar ucapan yang keluar dengan suara gemetar itu.
“Paman, mengapa kau begini baik kepadaku. Mengapa...?” Ceng Ceng mengguncang-guncang tubuh yang
dipeluknya itu. “Dan mengapa dia... dia begitu jahat... dia merusak hidupku... mengapa...?”
Topeng Setan tidak menjawab, hanya mengelus-elus rambut itu dan membiarkan Ceng Ceng
menumpahkan semua rasa penasaran hatinya. Setelah gelora perasaan itu agak mereda di hati Ceng
Ceng, Topeng Setan lalu mengajak gadis itu pergi dari situ.
“Kita harus segera pergi melanjutkan perjalanan. Mereka tentu akan mengejar terus dan sebelum luka di
pundakku sembuh, amat berbahaya menghadapi lawan berat, Ceng Ceng.”
“Baik, Paman. Aku hanya menurut dan ikut padamu.” Ceng Ceng menjawab dan dia tahu bahwa mulai saat
itu, untuk segala urusan, sampai kepada urusan mencari musuh besarnya, dia harus mengandalkan
pamannya yang buruk rupa dan penuh rahasia ini, yang kini dipercayanya setelah dia saksikan kehebatan
sepak terjangnya.
Maka berangkatlah mereka meninggalkan hutan itu menuju ke selatan karena menurut rencana Topeng
Setan, mereka akan pergi ke sebelah selatan kota raja, di markas kaum sesat yang dulu menjadi markas
kaum Tiat-ciang-pang, di mana Ceng Ceng telah diangkat menjadi bengcu (ketua) oleh kaum sesat dan
Topeng Setan bersama-sama Tek Hoat menjadi pembantu-pembantunya. Di tempat itu mereka akan
bersembunyi dan beristirahat sampai luka di pundak Topeng Setan sembuh sama sekali.
Hukum karma seperti yang dikenal oleh kita semua adalah lingkaran setan berupa roda-roda sebab akibat
yang saling berkaitan dan tidak akan ada habisnya karena semua itu digerakkan oleh pikiran manusia yang
dunia-kangouw.blogspot.com
membentuk nafsu-nafsu sebagai lanjutan dari setiap peristiwa yang terjadi atas diri manusia sendiri. Dari
suatu sebab timbullah akibat, dan akibat lain sehingga menjadi lagi si sebab juga si akibat dan sebaliknya.
Sebagai contohnya, terjadi suatu peristiwa di mana kita dirugikan orang lahir mau pun batin. Mungkin
kejadian ini pun merupakan akibat dari sebab-sebab terdahulu, akan tetapi kita menganggapnya sebagai
sebab dan peristiwa itu mendatangkan kemarahan dan dendam sehingga tentu saja menimbulkan akibat
yang terjadi dari pihak kita, membalas dendam dan sebagainya sebagai reaksi.
Reaksi dari kita ini terhadap pihak luar yang kita anggap merugikan, kembali dapat menjadi suatu aksi yang
memancing reaksi lain dari pihak luar itu sehingga dengan demikian, si reaksi menjadi aksi dan sebaliknya.
Dengan adanya kenyataan ini, maka yang membentuk lingkaran setan yang disebut hukum karma
sesungguhnya adalah kita sendiri, pikiran kita sendiri yang selalu siap untuk melakukan reaksi.
Sebaliknya, kalau dengan kesadaran mendalam kita menghadapi peristiwa yang merugikan kita itu sebagai
suatu peristiwa yang wajar, sebagai suatu kenyataan yang habis sampai di situ saja, tidaklah timbul
dendam, kemarahan, kebencian, harapan atau lain macam perasaan lagi dan patahlah lingkaran setan itu!
Jelas bahwa mengingat-ingat masa lalu, baik itu setahun yang lalu, kemarin atau semenit yang lalu,
disambung dengan membayangkan masa depan, baik itu nanti, besok atau kelak, merupakan
pembentukan lingkaran setan atau hukum karma tadi. Batin yang bebas dari masa lalu dan masa depan,
akan bebas pula dari hukum karma.
Sekali kita membiarkan diri terseret oleh hukum karma, hidup akan terombang-ambing dan menjadi
permainannya, yang sesungguhnya adalah permainan dari nafsu-nafsu keinginan dan hasil pikiran kita
sendiri. Setiap peristiwa yang terjadi tidak bersifat senang atau susah, yang terjadi adalah suatu kenyataan
sungguh pun kejadian itu sendiri tidak akan terlepas dari keadaan yang dibentuk oleh kita sendiri. Suka
atau duka akan terjadinya peristiwa itu terletak dalam penanggapan kita. Siapa mengejar suka tak dapat
tidak pasti berkenalan dengan duka karena suka atau duka hanya permainan dari pikiran sendiri yang
menilai, membanding, memilih, membenarkan atau menyalahkan.
Kita tidak berani meninggalkan semua ini, karena kita takut untuk menjadi ‘bukan apa-apa’, dan kita
menganggap bahwa melepaskan semua suka duka hidup, berarti kita akan menjadi kosong melompong,
tidak berarti apa-apa dan kita menjadi ngeri untuk kehilangan arti kita! Oleh karena itu pula, dengan
membuta kita melanjutkan semua ini, melanjutkan kehidupan seperti yang sudah-sudah, sungguh pun
setiap hari kita ditimpa kesengsaraan dan menjadi permainan konflik-konflik, dari konflik batin sendiri
sampai konflik antar manusia sampai ke perang-perang yang berkobar di seluruh pelosok dunia. Dan
dipermainkan oleh konflik dan kesengsaraan ini kita namakan hidup.....
********************
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Puteri Syanti Dewi yang dilarikan ke luar dari istana oleh Puteri
Milana, akhirnya bertemu dengan Jenderal Kao Liang dan atas usul jenderal yang gagah perkasa dan
bijaksana ini, Puteri Syanti Dewi lalu dikawal oleh dua losin pasukan pengawal jenderal itu. Pasukan itu lalu
mengawal Syanti Dewi yang menunggang kuda Jenderal Kao di tengah-tengah. Berangkatlah mereka
membelokkan perjalanan ke barat untuk memulai perjalanan yang amat jauh itu ke Bhutan.
Kepala atau komandan pasukan ini bernama Can Siok, seorang gagah berusia empat puluh tahun yang
telah lama menjadi seorang di antara pengawal kepercayaan Jenderal Kao Liang. Dia memiliki kepandaian
tinggi sebagai anak murid Hoa-san-pai dan juga mengantongi surat perintah Jenderal Kao yang akan dapat
digunakan sebagai ‘jimat’ di dalam perjalanannya menuju ke Bhutan mengantar puteri jelita itu.
Pengawal Can Siok ini maklum betapa berat tugasnya mengantar puteri itu, yang dia tahu diam-diam juga
mungkin dianggap buronan oleh Kaisar, dan tentu akan menarik hati orang-orang jahat di tengah
perjalanan. Akan tetapi, mengandalkan ketangkasan dua losin tenaga dalam pasukannya dan
mengandalkan nama Jenderal Kao Liang yang surat perintahnya dia kantongi, pengawal ini melakukan
perjalanan dengan hati tenang sungguh pun dia selalu berhati-hati.
Dua hari kemudian, mereka berhenti di sebuah dusun karena kemalaman. Dusun itu terletak di tepi Sungai
Ta-cing yang mengalir di sebelah selatan dan barat kota raja Peking. Setelah melapor kepada kepala
dusun setempat, kepala dusun dengan penuh kehormatan lalu memerintahkan penginapan tunggal di
dusun itu untuk mengosongkan semua kamar dan memberikannya kepada rombongan ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dusun ini berada di dekat hutan yang menjadi markas para kaum sesat yang dipimpin oleh Ceng Ceng.
Ketika rombongan ini tiba di dusun, seorang di antara anggota Tiat-ciang-pang yang kini telah bergabung
menjadi anak buah perkumpulan kaum sesat itu, cepat lari ke markasnya dan memberi laporan bahwa ada
sepasukan pengawal lewat dan bermalam di dusun tepi sungai Ta-cing itu, mengantarkan seorang puteri
yang menurut kabar angin adalah Puteri Bhutan yang dikabarkan melarikan diri dari istana Kaisar. Kabar
seperti itu memang cepat sekali tersiar sehingga tidak mengherankan kalau berita itu telah terdengar di
daerah itu.
Kalau saja Ceng Ceng berada di tempat itu, tentu dia akan girang sekali mendengar berita ini. Akan tetapi
pada waktu itu, Ceng Ceng belum kembali ke markas ini dan telah terjadi perubahan besar sekali di pusat
kaum sesat daerah kota raja ini. Baru beberapa hari yang lalu, markas kaum sesat itu telah diambil-alih dan
dikuasai oleh rombongan Pulau Neraka!
Seperti kita ketahui, Hek-tiauw Lo-mo dan anak buahnya, orang-orang Pulau Neraka, juga berusaha
menangkap anak ular naga di Telaga Sungari dan setelah melihat bahwa mereka gagal, naga yang terluka
menyelam kembali ke dalam telaga dan anak ular itu lenyap setelah yang terakhir berada di tangan Ceng
Ceng, Hek-tiauw Lo-mo membawa anak buahnya mendarat.
Mereka melakukan perjalanan cepat dengan kuda-kuda yang telah tersedia dan mereka langsung menuju
ke sarang kaum sesat di selatan kota raja ini karena Hek-tiauw Lo-mo sudah tahu bahwa Ceng Ceng
menjadi bengcu di sarang ini. Karena menduga bahwa Ceng Ceng dan Topeng Setan yang terluka itu tentu
akan bersembunyi di sarang ini, maka dia telah mengejar ke sana, akan tetapi ternyata dia dan
rombongannya jauh lebih cepat tiba di tempat itu dari pada Ceng Ceng dan Topeng Setan yang melakukan
perjalanan lambat berhubung dengan lukanya Topeng Setan.
Setelah tiba di sarang itu, dengan mudah saja Ketua Pulau Neraka ini dapat menguasai para kaum sesat
tanpa banyak menimbulkan korban. Kaum sesat di tempat itu sudah terpengaruh dan tunduk begitu
mendengar bahwa kakek raksasa mengerikan itu adalah Ketua Pulau Neraka, apa lagi sesudah
menyaksikan kelihaian anak buahnya.
Setelah mendengar bahwa Ceng Ceng dan Topeng Setan belum tiba di situ, Hek-tiauw Lo-mo lalu
mengatur untuk menyambut kedatangan dua orang itu yang diharapkan masih menyimpan anak ular naga
Telaga Sungari. Akan tetapi, malam hari itu Hek-tiauw Lo-mo mendengar pelaporan bahwa rombongan
pengawal sedang mengiringkan Puteri Bhutan bermalam di dalam dusun yang hanya dua puluh li jauhnya
dari sarang itu. Mendengar pelaporan ini, Hek-tiauw Lo-mo mengangguk-angguk dan cepat dia
memerintahkan beberapa orang anak buahnya untuk merampas dan menculik Puteri Bhutan itu.
Dia pernah mendengar bahwa gadis liar Ceng Ceng adalah saudara angkat Puteri Bhutan yang
menimbulkan kegemparan itu. Maka kini mendengar puteri itu lewat di dekat tempat itu, tentu saja dia tidak
mau membuang kesempatan baik ini untuk menawan Sang Puteri, karena puteri ini dapat dia pergunakan
sebagai sandera untuk memaksa Ceng Ceng menyerahkan anak naga kepadanya!
Dan selain anak naga yang amat diinginkannya itu, juga dia harus memaksa Topeng Setan
mengembalikan kitab Istana Gurun Pasir. Kitab itu yang kini telah lengkap karena tadinya bagiannya dan
bagian yang dicuri oleh Ketua Lembah Bunga Hitam, baru-baru ini terjatuh ke tangan kakek Lauw Ki Sun,
pelayan dari Dewa Bongkok di Istana Gurun Pasir dan kakek itu setelah terluka parah dilarikan oleh
Topeng Setan, maka menurut dugaannya, pasti kitab itu kini berada di tangan Topeng Setan! Dengan
adanya anak naga dan kitab Istana Gurun Pasir itu di tangan Ceng Ceng dan Topeng Setan, Hek-tiauw Lomo
akan berusaha sekuat tenaga dan mau melakukan apa pun juga untuk menangkap dan memaksa
mereka menyerahkan dua buah benda keramat itu.
Baru saja anak buah Pulau Neraka yang diutus oleh Hek-tiauw Lo-mo berangkat untuk menangkap Puteri
Bhutan yang hanya dikawal oleh dua losin prajurit itu, tiba-tiba Hek-tiauw Lo-mo mendengar suara kucing.
Lirih saja suara ini yang datangnya dari atas genteng dan yang bagi orang lain tentu akan dianggap suara
kucing asli, akan tetapi kakek raksasa ini sudah hafal akan suara sumoi-nya, maka sambil tersenyum lebar
dia menggerakkan tangannya seperti orang tidak sabar dan berseru, “Sudahlah, Sumoi, kalau sudah
datang turun saja, kenapa mesti banyak lagak!”
“Suheng...!” Dari atas genteng melayang sesosok tubuh yang gerakannya ringan sekali dan tahu-tahu di
depan kakek raksasa mengerikan itu berdiri Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui yang cantik jelita dan kedua
pipinya kemerahan, wajahnya cemerlang tertimpa sinar lampu yang terang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sejenak Hek-tiauw Lo-mo memandang wajah sumoi-nya itu dengan kagum, akan tetapi tiba-tiba dia
meloncat bangun dari kursinya dan memandang wajah sumoi-nya lebih teliti lagi. “Ehhh, engkau sudah
sembuh...!”
Lauw Hong Kui mencibirkan bibirnya yang merah basah itu kepada suheng-nya, dan sikapnya manja serta
mengejek. “Suheng, setelah engkau kejam meninggalkan aku terancam bahaya maut dan darahku
keracunan, apa kau kira aku tidak mampu mencari obatnya sendiri?”
“Salahmu sendiri!” Hek-tiauw Lo-mo mengomel. “Engkau mencuri ilmu dari kitabku...”
“Huh, kitab itu pun kitab curian,” Lauw Hong Kui mencela.
“Jangan kurang ajar kau! Setelah mencuri ilmu dari kitabku sampai darahmu keracunan, apa yang kau
harapkan dariku? Hal itu kuanggap sebagai hukuman bagimu, akan tetapi racun itu pun tidak akan
membunuhmu, karena itu aku diam saja.” Hek-tiauw Lo-mo memandang lebih teliti wajah sumoi-nya yang
berseri-seri dan kemerahan, sehat sekali. “Sudahlah, Sumoi, sekarang katakan bagaimana engkau bisa
memperoleh obat yang mencuci bersih darahmu?”
Dengan sikap angkuh dan lagak bangga Lauw Hong Kui bertolak pinggang dan berkata, “Suheng tidak
berhasil di Telaga Sungari, bukan? Aku sudah melihat sendiri betapa Suheng gagal, bahkan hampir celaka
oleh Nenek Durganini yang seperti iblis itu!”
“Eh, eh... kau juga berada di sana?”
“Tentu saja! Dan berhasil!”
“Berhasil? Kau mau bilang bahwa anak naga itu...”
Mendadak tangan Hek-tiauw Lo-mo itu menyambar dan sumoi-nya tidak mampu lagi mengelak karena
pergelangan tangannya sudah dipegang oleh kakek raksasa itu. Jari-jari tangan kakek itu lalu menotok
sana-sini membuat sumoi-nya tak dapat bergerak, lalu tangannya meraba-raba dari ubun-ubun kepala
sampai punggung dan ulu hati di antara dua tonjolan buah dada wanita itu.
“Hemm, kau sudah sembuh sama sekali akan tetapi kalau kau makan semua anak naga itu tentu hawanya
terasa olehku. Kau bohong, kau tidak makan semua anak naga dan entah obat apa yang telah
menyembuhkan keracunan darahmu,” kata kakek itu dan dia membebaskan kembali sumoi-nya.
Setelah dapat bergerak, Mauw Siauw Mo-li memandang suheng-nya dan dengan mata berapi dia berkata
penuh kemarahan, “Suheng, kalau lain kali kau memperlakukan aku seperti tadi, aku akan membunuhmu!”
“Heh-heh, kau harus belajar seratus tahun lagi untuk dapat melakukan itu, anak manis. Sekarang ceritakan
saja obat apa yang telah menyembuhkanmu?”
“Apa lagi kalau bukan anak naga itu? Akan tetapi kalau aku mendapatkan semua dan telah makan
seluruhnya, apa kau kira aku demikian tolol untuk muncul di depanmu? Tentu engkau akan merampas
khasiatnya dengan cara makan dagingku dan minum darahku.”
“Ahhhh! Masa aku melakukan hal itu? Engkau adalah sumoi-ku.”
“Huhhh, seperti aku tidak mengenalmu saja, Suheng. Akan tetapi karena aku hanya memperoleh ekor anak
naga itu dan telah kumakan habis, andai kata engkau makan dagingku dan minum seluruh darahku pun
tidak ada manfaatnya bagimu. Suheng, sisa anak naga itu, sebagian besarnya karena aku hanya
memperoleh ekor sejengkal, telah dilarikan oleh dara liar bersama Si Topeng Setan yang lihai.”
“Aku tahu... hemmm...!” Tiba-tiba Hek-tiauw Lo-mo menggerakkan tangan kirinya ke arah genteng.
“Suheng, jangan...!” Lauw Hong Kui mencegah, akan tetapi terlambat.
Tampak sinar berkelebat dan sebatang golok terbang yang panjangnya hanya satu kaki meluncur ke arah
bayangan seorang pemuda yang berdiri di atas genteng. Akan tetapi dengan mudah saja pemuda itu
mengulur tangan kiri dan menangkap hui-to (golok terbang) itu pada gagangnya, lalu dia melayang turun
dunia-kangouw.blogspot.com
dan melemparkan golok kecil itu kembali ke arah Hek-tiauw Lo-mo sambil berkata, “Lo-mo, beginikah kau
menyambut tamu?”
“Hehhh!” Hek-tiauw Lo-mo mendengus. Tangannya bergerak, jari tangannya menampar hui-to yang
menyambar ke arah dadanya.
“Krekkk!” Hui-to itu patah-patah menjadi tiga potong dan semua potongannya, berikut gagangnya,
menancap di atas lantai.
Hek-tiauw Lo-mo memandang wajah pemuda yang bukan lain adalah Suma Kian Bu itu. Dia menjadi
terkejut. “Ah, kiranya engkau, keparat!” bentaknya dan dia sudah siap untuk menyerang.
“Suheng, jangan! Dia adalah sahabatku, sahabatku yang sangat baik!” Lauw Hong Kui meloncat di depan
suheng-nya, menghadang dan melindungi Kian Bu.
“Lo-mo, kalau tidak melihat muka sumoi-mu dan tidak menerima undangannya, apakah kau kira aku sudi
datang mengunjungimu sebagai tamu?” Kian Bu juga berkata dengan nada suara mengejek.
“Sumoi, apa artinya ini? Tahukah kau siapa pemuda ini?”
“Dia adalah Suma Kian Bu yang telah membantuku mencari anak naga.”
“Dia adalah putera dari Majikan Pulau Es, goblok! Dan kau berkawan dengan orang yang menjadi musuhku
ini?”
“Kalau dia adalah benar putera Pendekar Super Sakti, aku malah merasa bangga dapat menjadi... ehh,
sahabat baik.”
“Minggirlah, aku akan membunuhnya!” Hek-tiauw Lo-mo berseru marah.
“Enak saja engkau bicara, Lo-mo. Dahulu waktu aku masih kecil pun engkau tak mampu membunuhku,
apa lagi sekarang,” jawab Kian Bu, sedikit pun tidak menjadi takut.
“Suheng, harap jangan mengumbar keganasanmu di mana-mana tanpa perhitungan!” Lauw Hong Kui
mencela suheng-nya. “Lupakah Suheng bahwa Suci telah tewas dan hanya tinggal kita dua saudara? Aku
akan membantu dia kalau Suheng menyerangnya dan kita akan saling gempur mati-matian. Begitukah
yang Suheng kehendaki? Ingat, Suheng telah melihat sendiri betapa banyak orang-orang berilmu telah
bermunculan di Telaga Sungari. Bukankah sebaiknya kalau kita bersatu sehingga kedudukan Suheng lebih
kuat setelah Suci meninggal dunia?”
Hek-tiauw Lo-mo bukanlah seorang bodoh. Dia meninggalkan Pulau Neraka karena tak betah tinggal di
tempat yang amat berbahaya itu. Sumoi-nya yang pertama telah tewas dan sumoi-nya yang masih muda
ini juga amat lihai, terutama sekali senjata-senjata rahasianya yang amat berbahaya, maka dapat dijadikan
sekutu yang boleh diandalkan, apa lagi mengingat betapa akhir-akhir ini, ketika menghadapi orang-orang
Lembah Bunga Hitam, sumoi-nya ini juga langsung turun tangan membantunya. Dia menarik napas
panjang dan mengendurkan lagi kedua tangannya.
“Sudahlah, selama dia menjadi sahabatmu, aku tidak akan mengganggunya.” Dan Hek-tiauw Lo-mo
dengan wajah bersungut-sungut lalu memasuki kamarnya.
Kian Bu mengerutkan alisnya. “Enci, aku tidak suka tinggal di tempat suheng-mu ini.”
“Eh, Kian Bu, kenapa engkau pun meniru watak Suheng yang pemarah?” Dengan sikap manja Hong Kui
menggandeng lengan pemuda itu. “Ingat, kita ke sini untuk menanti munculnya Topeng Setan dan dara liar
itu, siapa tahu nasib kita baik dan anak naga itu dapat terjatuh ke tangan kita. Jangan pedulikan dia,
anggap saja engkau menjadi tamu di rumahku...” Dengan bujuk rayu dan kegenitannya, Lauw Kui Hong
akhirnya dapat mengajak Kian Bu memasuki sebuah kamar tamu yang lengkap dan mewah.
Kian Bu juga tidak membantah lagi, akan tetapi kalau saja Hong Kui tahu apa yang terkandung di dalam
hati kekasihnya ini, tentu dia tidak akan segembira itu melayani dan menghibur hati kekasihnya dengan
segala kepandaiannya bermain cinta. Dia sama sekali tidak tahu bahwa telah terjadi perubahan di dalam
hati pemuda kekasihnya itu. Kian Bu telah menyadari kepalsuan wanita cantik ini dan dia hanya
dunia-kangouw.blogspot.com
menganggap Hong Kui sebagai seorang wanita yang amat pandai menyenangkan hati dan menghiburnya,
seorang wanita yang sengaja merayunya dan sama sekali bukan berdasarkan cinta kasih seperti yang
dahulu sering diimpikannya.
Dia tahu bahwa di antara mereka berdua yang ada hanyalah cinta jasmani belaka, dorongan nafsu birahi
yang mengasyikkan. Jika dia mau mengikuti Hong Kui dan tinggal di rumah Hek-tiauw Lo-mo,
sesungguhnya hanya karena diam-diam dia mengambil keputusan untuk melindungi Ceng Ceng yang
masih terhitung keponakannya sendiri itu.
Ketika dia menyaksikan perebutan anak ular naga antara Ceng Ceng dan Hong Kui, dia sudah
menganjurkan kepada kekasihnya itu untuk memberikan saja ular kecil itu kepada Ceng Ceng yang dia
tahu amat membutuhkannya. Kemudian melihat ular itu putus dan Hong Kui hanya mendapat bagian
sedikit sedangkan selebihnya terampas oleh Ceng Ceng, diam-diam dia merasa girang sekali, akan tetapi
tentu saja dia tidak menyatakannya di depan kekasihnya.
Kemudian Hong Kui menyatakan ketidak puasan hatinya bahwa dia hanya dapat makan bagian ekor anak
naga itu dan wanita ini menyatakan dugaannya bahwa Ceng Ceng dan Topeng Setan yang terluka parah
itu tentu akan kembali ke sarang kaum sesat di selatan kota raja di mana gadis itu menjadi ketuanya.
Mendengar bahwa Hong Kui hendak mengejar Ceng Ceng ke sana, dia sengaja menyatakan
persetujuannya, tetapi diam-diam tentu saja bersiap untuk melindungi Ceng Ceng dan mencegah
kekasihnya ini mengganggu Ceng Ceng.
Siapa kira, di tempat itu dia malah bertemu dengan Hek-tiauw Lo-mo, maka tahulah dia bahwa Ceng Ceng
akan terancam bahaya hebat kalau benar-benar datang ke tempat itu. Hal ini membuat dia terpaksa
menerima ajakan Hong Kui untuk bermalam dan tinggal di gedung yang ditinggali Hek-tiauw Lo-mo itu,
menanti kalau Ceng Ceng benar datang di tempat berbahaya itu.
Sayang bahwa kedatangan mereka agak terlambat sehingga Kian Bu tidak mendengar akan perintah Hektiauw
Lo-mo terhadap anak buahnya untuk menangkap Puteri Syanti Dewi yang bermalam di dusun tidak
jauh dari tempat itu. Kalau dia mendengarnya, tentu dia terkejut sekali dan akan turun tangan
mencegahnya.
Akan tetapi di dusun di mana rombongan Puteri Syanti Dewi bermalam, terjadi hal yang sama sekali tak
diduga-duga oleh Hek-tiauw Lo-mo, bahkan oleh rombongan itu sendiri. Siang tadi dusun itu kedatangan
rombongan yang terdiri dari orang-orang aneh dan rombongan ini tentu akan mendatangkan geger kalau
saja ada yang mengenalnya karena rombongan ini dipimpin oleh Raja Tambolon!
Seperti diketahui, Raja Tambolon yang dibantu oleh Si Petani Maut Liauw Kui dan Si Sastrawan Maut Yu
Ci Pok, membawa anak buahnya yang terdiri dari orang-orang liar di daerah utara, untuk ikut
memperebutkan anak naga di Telaga Sungari, akan tetapi rombongan Raja Tambolon ini pun tidak
memperoleh hasil. Ketika melihat bahwa anak naga itu terjatuh ke tangan Ceng Ceng dan Topeng Setan,
Raja Tambolon yang sudah mengenal dua orang itu dan tahu bahwa nona Lu Ceng adalah bengcu dari
kaum sesat di sebelah selatan kota raja, lalu melakukan pengejaran ke tempat itu. Dia dan para
pembantunya menyamar sebagai serombongan pelancong dan karena mereka royal mengeluarkan uang,
mereka tidak menarik perhatian dan kecurigaan orang lain.
Di tengah perjalanan, rombongan ini bertemu dengan lima orang wanita yang sudah mengenal Yu Ci Pok,
maka mereka dihadapkan kepada Tambolon dan diperkenalkan oleh Si Sastrawan Maut itu. Lima orang
wanita ini bukanlah sembarangan wanita, oleh karena mereka itu adalah Loan-ngo Mo-li (Lima Iblis Betina
Sungai Loan) yang namanya sudah terkenal sekali di sepanjang Sungai Loan-ho. Mendengar bahwa Loanngo
Mo-li hendak berkunjung ke Tiat-ciang-pang untuk mengambil-alih kekuasaan karena mendengar
bahwa perkumpulan itu dan semua perkumpulan kaum sesat kini dipimpin oleh seorang wanita yang
kabarnya menyamar sebagai Song Lan Ci, orang pertama dari Loan-ngo Mo-li, lima orang wanita yang
pekerjaannya adalah cabang atas Sungai Loan-ho yang membawahi semua kaum bajak, Tambolon
menjadi girang dan segera mengajak lima orang wanita lihai itu untuk bekerja sama.
Biar pun pihaknya sendiri sudah amat kuat, dengan bantuan dua orang pengawalnya yang setia dan
terutama sekali bantuan nenek gurunya yang pikun, Durganini, namun dalam keadaan seperti itu, di mana
banyak tokoh pandai bermunculan, Tambolon merasa lebih kuat kedudukannya kalau mempunyai banyak
pembantu orang lihai. Dia menawarkan bantuannya untuk merampas kedudukan bengcu bagi Loan-ngo
Mo-li, akan tetapi dia pun minta bantuan lima orang wanita itu untuk menghadapi musuh-musuhnya dalam
memperebutkan anak naga.
dunia-kangouw.blogspot.com
Demikianlah, rombongan yang kini bertambah dengan lima orang wanita itu memasuki dusun, beberapa
jam lebih dulu dari pada kedatangan rombongan Puteri Syanti Dewi. Secara kebetulan sekali, satu-satunya
rumah penginapan yang diminta atau diperintahkan agar dikosongkan oleh kepala dusun karena rumah
penginapan itu harus diberikan kepada rombongan Puteri Bhutan, tadinya disewa oleh rombongan
Tambolon ini!
Tentu saja raja liar Rambolon menjadi marah, akan tetapi begitu mendengar penjelasan bahwa rumah
penginapan itu akan dipergunakan untuk tempat bermalam rombongan dari kota raja yang mengawal
Puteri Bhutan, dia cepat memberi isyarat kepada para pembantunya agar supaya mengalah dan mereka
segera pergi meninggalkan rumah penginapan itu, mengalah bermalam di dalam sebuah kuil di luar dusun!
Akan tetapi Tambolon segera mengatur siasat untuk menangkap Puteri Bhutan, puteri dari musuh
besarnya karena dengan adanya puteri itu di tangannya, dia tentu akan dapat memaksakan tuntutannya
kepada Raja Bhutan! Apa lagi karena memang puteri itu dahulunya telah dihadang dan hendak
dirampasnya namun usahanya gagal karena Sang Puteri dapat melarikan diri.
Tambolon tidak akan dapat menjadi raja dari para suku bangsa liar kalau saja dia tidak pandai dan cerdik.
Dia bukanlah orang kasar yang hanya mengandalkan kekuatan badan dan ilmu kepandaian silatnya saja,
akan tetapi seorang ahli siasat yang dapat bersikap cerdik dan hati-hati.
Dia maklum bahwa biar pun kekuatan rombongannya sudah lebih dari cukup untuk menyergap dan
merampas Syanti Dewi dengan kekerasan, namun dia tidak mau melakukan hal itu, mengingat bahwa
dusun ini tidak begitu jauh dari kota raja dan kalau dia menimbulkan keributan sampai ketahuan dan
terdengar oleh kota raja, tentu pemerintah akan mengirim pasukan besar dan orang-orang pandai untuk
menangkap atau membunuhnya. Dia maklum akan kelemahannya sendiri kalau harus menghadapi bala
tentara pemerintah dan orang-orang pandai yang dia tahu banyak membantu pemerintah.
Oleh karena itu, dia lalu minta bantuan gurunya, nenek ahli sihir yang seperti iblis itu untuk menawan
Syanti Dewi secara halus. Nenek itu terkekeh girang. Durganini sudah terlalu tua dan sudah pikun, biar pun
dia lihai sekali, baik ilmu silat mau pun tenaga saktinya, terutama sekali ilmu sihirnya. Namun karena sudah
terlalu pikun, Tambolon tidak berani melepaskan gurunya ini untuk bekerja sendiri saja, karena
kepikunannya akan dapat menggagalkan semua urusan.
Oleh karena itu, dia minta bantuan kepada sekutunya yang baru, yaitu Loan-ngo Mo-li yang dipimpin oleh
Song Lan Ci. Lima orang wanita jagoan dari Sungai Loan-ho ini berusia rata-rata empat puluh tahun, wajah
mereka membayangkan kekejaman dan kekasaran sungguh pun mereka itu, terutama Song Lan Ci, dapat
dikatakan agak cantik juga dan mereka semua masih gadis, dalam arti kata belum ada yang menikah. Lima
orang wanita itu tentu saja menyanggupi dan pergilah mereka mengantar Durganini yang harus digandeng
itu menuju ke rumah penginapan yang telah mereka tinggalkan tadi.
Sementara itu, Puteri Syanti Dewi yang sudah di atas pembaringan di dalam kamar rumah penginapan itu
merasa gelisah hatinya. Biar pun ada dua puluh empat orang pengawal anak buah dan kepercayaan ayah
angkatnya, Jenderal Kao Liang, pada saat itu menjaga dan mengawalnya, namun hatinya merasa tidak
enak. Dia mengingat akan semua pengalamannya sejak meninggalkan Bhutan dan merasa betapa lebih
senang dan merasa lebih aman ketika dia melakukan perjalanan bersama adik angkatnya, Lu Ceng atau
Candra Dewi.
Entah bagaimana, dia tidak merasa senang untuk kembali ke Bhutan. Dia merasa kehilangan karena di
dalam perantauannya selama ini dia bertemu dengan banyak orang jahat dan musuh, akan tetapi juga
dengan banyak sekali orang-orang yang amat baik kepadanya, yang tak mungkin dapat dia lupakan
selama hidupnya. Lu Ceng adik angkatnya, Jenderal Kao Liang ayah angkatnya, Gak Bun Beng laki-laki
yang pernah menjatuhkan hatinya, yang sampai saat itu pun dianggap sebagai seorang manusia yang
paling mulia baginya, Suma Kian Bu yang ternyata mencintanya dan pemuda yang remaja ini amat baik
kepadanya. Kemudian Suma Kian Lee yang halus dan sopan gerak-geriknya.
Puteri Milana yang demikian gagah perkasa dan bernasib menyedihkan. Kemudian Ang Tek Hoat, pemuda
yang takkan dapat dia lupakan, pemuda yang aneh, pemuda yang telah mengorbankan diri sendiri untuk
menolongnya, pemuda yang oleh semua orang dianggap jahat dan menjadi pengkhianat, menjadi
pemberontak ternyata malah berjasa membunuh pangeran pemimpin pemberontak. Pemuda yang menurut
cerita Puteri Milana ibu pemuda itu, ternyata masih terhitung keluarga Pulau Es!
dunia-kangouw.blogspot.com
Dia membayangkan sinar mata sayu dan penuh derita hidup membayang dari mata pemuda itu. Teringat
akan ini, Syanti Dewi menarik napas panjang. Betapa banyaknya kedukaan di dunia ini bagi manusia. Gak
Bun Beng pendekar sakti itu pun merana karena cinta kasihnya dengan Puteri Milana gagal. Demikian pula
puteri itu merana. Dan Kian Bu patah hati karena dia tidak dapat membalas cintanya. Dia suka kepada
pemuda ini seperti suka kepada seorang saudara, kepada seorang adik karena pemuda perkasa itu masih
amat muda.
Renungan-renungan ini membuat Puteri Syanti Dewi merasa gelisah. Bagaimana mungkin dia dapat
melupakan semua orang itu dan kembali ke Bhutan di mana penghidupan akan menjadi lain sama sekali
dan dia harus mengubur semua wajah yang dikenalnya itu dan mulai hidup baru di Bhutan? Kepada pria
mana lagi dia akan dijodohkan oleh ayahnya demi negara? Dia merasa ngeri memikirkan hal ini. Setelah
merasakan keindahan alam luas, kenikmatan kebebasan, kini dia menghadapi istana Bhutan seperti
menghadapi sebuah penjara! Dia akan kehilangan kebebasannya sebagai manusia, sebagai seorang
wanita biasa dan akan berada di dalam kurungan emas berupa istana megah itu sebagai seorang puteri,
sebagai alat untuk negara!
Syanti Dewi makin gelisah dan akhirnya dia turun dari pembaringan, membuka pintu samping dan berkata
kepada pengawal yang berjaga di luar pintu bahwa dia ingin berjalan-jalan ke dalam taman bunga kecil di
samping rumah penginapan itu. Pengawal itu mengangguk dan menjaga serta mengawasi dari jauh.
Taman itu menembus ke samping rumah dan depan rumah penginapan itu telah terjaga oleh lima orang
temannya. Puteri itu selalu dalam pengawasan dan tidak akan ada sesuatu dapat menimpanya.
Angin malam semilir lembut mengusap wajah Syanti Dewi, mengusir kegelisahannya yang tadi terselimut
oleh kenangan yang mendatangkan rasa gelisah di hati. Kewaspadaan membuat dara ini dapat melihat
dan mendengar dengan jelas keadaan di sekelilingnya dan telinganya menangkap suara tidak wajar yang
arahnya datang dari depan. Dia lalu melangkah perlahan menuju ke depan sehingga akhirnya dia dapat
menyelinap di belakang serumpun pohon kembang dan mengintai keluar.
Dia terheran-heran melihat lima orang pengawalnya itu semua berlutut di depan seorang nenek tua renta
berpakaian hitam yang datang bersama lima orang wanita setengah tua yang sikapnya galak. Lebih lagi
heran dan kagetnya ketika dia melihat berturut-turut semua pengawalnya yang keseluruhannya berjumlah
dua losin orang itu berdatangan dan terdengar nenek itu berkata, suaranya agak pelo karena mulutnya
sudah tidak bergigi lagi, nadanya tinggi dan mendesis setengah berbisik, akan tetapi terdengar jelas
memasuki telinga bahkan sampai menyusup ke dalam jantung.
“Aku adalah permaisuri, kalian para pengawal tidak cepat berlutut memberi hormat? Aku adalah Thaihouw
yang sengaja datang untuk memeriksa apakah kalian benar-benar baik dalam pengawalanmu terhadap
Puteri Bhutan.” Nenek berkulit hitam berpakaian hitam itu berkata.
Syanti Dewi sendiri belum pernah bertemu atau melihat permaisuri Kaisar, karena ketika dia dihadapkan
Kaisar, dia sama sekali sebagai seorang puteri bangsawan yang tahu akan tata susila tidak berani
mengangkat muka dan meliarkan pandang mata, maka sekarang pun dia tidak akan mengenal permaisuri.
Akan tetapi, betapa pun juga, sampai mati dia tidak akan mau percaya bahwa nenek tua renta yang
berwajah bengis menyeramkan, yang berpakaian hitam berkulit hitam dan lebih menyerupai iblis betina dari
pada manusia ini adalah permaisuri Kaisar dengan lima orang pengawalnya! Akan tetapi, yang membuat
dia terheran-heran adalah ketika dia melihat Can Siok, komandan pasukan pengawalnya yang baru datang
berlari keluar, menjatuhkan diri berlutut di depan nenek itu dan berseru hormat, “Thaihouw...!” Juga semua
pengawal kini telah berlutut di depan nenek itu!
Syanti Dewi mengerutkan alisnya. Dia adalah seorang puteri Bhutan. Kerajaan Bhutan adalah sebuah
kerajaan di antara Pegunungan Himalaya dan di sana banyak terdapat pertapa-pertapa dan ahli-ahli ilmu
kebatinan termasuk ahli-ahli sihir. Maka puteri ini tidak asing dengan segala peristiwa yang tidak wajar dan
berbau ilmu sihir. Begitu dia menyaksikan keadaan di depan rumah penginapan itu, di mana dua losin
orang pengawalnya berlutut di depan seorang nenek hitam dan menganggap nenek itu permaisuri, dia
sudah dapat menduga bahwa tentu ada permainan sihir di sini.
“Heh-heh-heh, bagus sekali para pengawal yang setia!” Nenek hitam itu terdengar berkata, suaranya
berbisik mendesis seperti suara ular.
“Sekarang lekas kau ambil Puteri Bhutan itu, Kaisar menghendaki agar dia ikut dengan aku sekarang juga.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Begitu mendengar kata-kata ini, Syanti Dewi terkejut sekali dan maklumlah dia bahwa nenek iblis itu
sengaja datang hendak menangkapnya secara halus, menggunakan ilmu sihir. Maka dia cepat pergi
meninggalkan tempat persembunyiannya itu, menyelinap di antara pohon-pohon dan kembang di dalam
taman, lalu dengan jantung berdebar dia menggunakan kepandaiannya untuk meloncati pagar taman yang
tidak begitu tinggi. Dia kemudian lari menyelinap di antara rumah-rumah penghuni dusun itu. Karena tidak
mengenal jalan, dia tidak berani lari di tempat terbuka, dan dia hanya bersembunyi di balik-balik rumah,
dan berpindah ke tempat lain kalau mendengar suara orang-orang mencarinya di tempat yang berdekatan.
Di sudut dusun itu, Syanti Dewi melihat ada sebuah rumah rusak yang kosong, maka dimasukinya rumah
kosong ini dan dia bersembunyi di situ, mengintai dari balik pintu rumah yang terbuka karena daun
pintunya tinggal sebelah. Jantungnya berdebar dan kakinya menggigil. Dia tidak lagi berani keluar dari
rumah rusak itu karena takut terlihat orang dan tertangkap.
Pagi cepat datang dan sinar matahari pagi mulai mengusir kegelapan malam. Syanti Dewi masih berdiri
mengintai di balik daun pintu yang tinggal sebelah. Dusun itu masih sunyi dan Syanti Dewi ingin minta
tolong penduduk dusun kalau dia melihat mereka keluar. Di antara orang banyak, tentu nenek iblis itu tidak
berani berlagak, pikirnya.
Tetapi tiba-tiba dia menahan napas melihat munculnya seorang wanita, yaitu seorang di antara lima wanita
pengawal nenek itu malam tadi, dan wanita ini datang menuju ke rumah rusak itu diikuti oleh lima orang
pengawalnya sendiri yang kini agaknya sudah menjadi kaki tangan mereka! Syanti Dewi maklum bahwa
para prajurit pengawalnya itu berada di bawah pengaruh sihir nenek itu, maka dari mereka jelas dia tidak
dapat mengharapkan perlindungan lagi.
Mereka datang makin dekat, hanya tinggal belasan meter saja dari rumah rusak itu. Untuk melarikan diri
tidak mungkin karena sekali keluar dari rumah itu tentu akan terlihat oleh mereka dan lari pun tentu
percuma, akan dapat dikejar. Maka Syanti Dewi hanya bersembunyi dan mengintai dengan menahan
napas, diam-diam berdoa agar mereka itu tidak akan memasuki rumah rusak.
“Haaaa, kau hendak lari ke mana...?” Suara lirih dan parau di belakangnya ini membuat Sang Puteri
terkejut setengah mati. Dia menengok dan melihat seorang kakek tua berkepala botak, tersenyum dan
matanya memandang seperti mata seorang anak nakal yang suka menggoda, kedua lengan dibentangkan
dengan sikap hendak menangkap Syanti Dewi!
Syanti Dewi terkejut dan menjadi bingung, akan tetapi tiba-tiba kakek itu yang melihat kebingungannya, lalu
menurunkan kedua lengannya dan bertanya halus, “Eh, Nona. Mengapa pagi-pagi sekali engkau berada di
sini seorang diri dan kelihatan ketakutan? Apakah kau hendak minggat dari rumahmu bersama seorang
pacar?”
Syanti Dewi maklum bahwa ternyata kakek ini tidak ada hubungannya dengan para pengejarnya, dan
sepanjang perantauannya dia telah agak mengenal orang-orang pandai, maka dia pun menduga bahwa
kakek ini tentu bukan orang sembarangan, maka cepat dia menjura dan berkata, “Kakek yang baik, aku
mohon padamu, tolonglah aku... aku sedang dikejar dan hendak ditangkap oleh mereka itu...” Dia
menuding ke arah luar rumah rusak itu.
Akan tetapi terlambat sudah. Wanita yang bukan lain adalah seorang di antara Loan-ngo Mo-li itu telah
mendengar suara Si Kakek dan dengan langkah lebar diikuti oleh lima orang prajurit pengawal dia telah
menghampiri rumah rusak itu dan tiba-tiba saja dia muncul di depan Syanti Dewi dan kakek itu.
Wanita yang memakai anting-anting emas besar di kedua telinganya dan lima orang prajurit pengawal itu
kelihatan girang sekali melihat Syanti Dewi. Akan tetapi tiba-tiba kakek itu tertawa dan mengandung
getaran kuat sekali, “Ha-ha-ha-ha, kalian bengong memandang kami kakek dan nenek mau apa sih?
Berani kalian mengganggu Nenek Durganini yang sedang indehoi dengan kekasihnya? Heh-heh!”
Betapa anehnya! Wanita Loan-ngo Mo-li yang bertampang kejam itu dan lima orang prajurit pengawal yang
telah terpengaruh sihir dari nenek hitam guru Tambolon itu kini memandang bengong, dan wanita itu lalu
menjura kepada Syanti Dewi sambil berkata, “Harap Locianpwe maafkan, saya kira tadi puteri yang sedang
kita cari-cari...”
Syanti Dewi tentu saja juga bengong dan bingung, akan tetapi lengannya sudah digandeng oleh kakek itu
pergi meninggalkan rumah rusak, jalan bergandengan tangan diikuti pandang mata wanita itu yang masih
terkejut dan heran. Akan tetapi, bukan main kaget dan heran hatinya ketika melihat mengapa ‘nenek hitam’
dunia-kangouw.blogspot.com
itu tadi dari belakang kelihatan ramping dan muda, tidak terbongkok-bongkok melainkan jalan berlenggang
dengan bukit pinggul seorang dara muda yang bulat dan penuh! Dia menggoyang dan mengguncang
kepalanya, memejamkan mata sebentar kemudian membuka mata memandang lagi. Kiranya ‘nenek’ itu
adalah puteri yang dicari-carinya.
“Kejar...! Tangkap mereka!” dia berteriak.
Lima orang prajurit pengawal yang kini berubah menjadi seperti manusia-manusia robot yang tidak
mempunyai pendirian sendiri karena telah dipengaruhi sihir Nenek Durganini itu cepat mengejar Syanti
Dewi dan kakek tua, tombak mereka ditodongkan ke depan siap untuk menyerang.
Mendengar teriakan ini yang disusul derap kaki mengejar mereka, Syanti Dewi menjadi khawatir sekali.
“Kek, mereka mengejar...!” bisiknya.
Kakek itu terkekeh, kemudian secara tiba-tiba dia berhenti dan membalikkan tubuhnya, telunjuk kirinya
menuding ke arah lima orang prajurit pengawal itu sambil mulutnya berkata, “Heeeiii! Kalian mengapa
main-main dengan ular? Lihat, kalian bisa digigit sendiri oleh ular di tangan kalian!”
Syanti Dewi tentu saja menjadi heran sekali, mengira bahwa kakek yang aneh ini mungkln sudah miring
otaknya. Dikejar musuh yang mengancam bukannya lari atau melawan malah berolok-olok seperti itu. Akan
tetapi Syanti Dewi terbelalak kaget bukan main ketika dia melihat betapa lima orang prajurit pengawal yang
kini telah menjadi hamba atau kaki tangan nenek hitam mengerikan itu memekik ketakutan dan tombak di
tangan mereka itu telah berubah menjadi ular-ular besar yang kini membalikkan kepala mendesis-desis
hendak menyerang mereka sendiri. Syanti Dewi mengejap-ngejapkan matanya karena tidak percaya, akan
tetapi benar saja, tombak-tombak di tangan lima orang itu telah berubah menjadi ular-ular yang menyerang
mereka sendiri.
Kelima orang itu terbelalak dengan muka pucat, kemudian tentu saja mereka lalu membuang ‘ular-ular’ itu
dan lari ketakutan! Mereka adalah prajurit-prajurit pengawal pilihan, anak buah Jenderal Kao dan juga
merupakan prajurit yang pantang mundur menghadapi musuh yang bagaimana kuat pun. Akan tetapi kini,
melihat tombak sendiri berubah menjadi ular-ular besar panjang yang menyerang mereka sendiri, hal ini
terlalu hebat bagi mereka dan mendatangkan rasa takut yang hebat.
“Ha-ha-ha-ha!” Kakek itu tertawa.
Syanti Dewi terpukau di tempatnya melihat betapa ‘ular-ular’ itu setelah dibuang ke atas tanah dan
ditinggalkan para prajurit, telah kembali kepada bentuk semula, yaitu lima batang tombak. Bukan main
kagum dan girang rasa hatinya karena kini dia maklum bahwa dia telah ditolong oleh seorang kakek ahli
sihir pula. Sungguh mengherankan sekali, pikirnya. Dia akan diculik oleh seorang nenek ahli sihir dan
ditolong oleh seorang kakek ahli sihir!
“Kakek yang baik, aku akan kau bawa ke mana?” tanya Syanti Dewi setelah melihat betapa para pengejar
itu tidak tampak lagi di belakang mereka dan kakek itu telah membawanya keluar dari dusun itu.
“Ke tempat yang aman, di hutan depan itu. Di sana menanti seorang muridku, mari kau kuperkenalkan
dengan dia,” kata Si Kakek yang bukan lain adalah See-thian Hoat-su itu.
Kakek ini pernah mengacau di dalam pesta yang diadakan Tambolon ketika Tambolon memaksa Siang
Hwa untuk menikah dengan dia. Seperti telah diceritakan secara singkat, tokoh perantauan yang aneh ini
adalah seorang yang memiliki ilmu silat tinggi dan mahir pula dengan ilmu sihir dan dia adalah bekas suami
dari Nenek Durganini.
Seperti telah kita ketahui, See-thian Hoat-su bersama Panglima Jayin perwira pengawal Bhutan itu
bersama empat orang anak buahnya, Kian Bu, Siang Hwa dan Siang In melarikan diri dikejar oleh Pasukan
Tambolon dan dikeroyok di atas rakit sampai rakit itu terbawa hanyut oleh sungai yang mengamuk dalam
badai. Jenazah Siang Hwa yang menjadi korban hujan anak panah tidak dapat diselamatkan dan dibawa
hanyut oleh air, akan tetapi kakek ini berhasil menyelamatkan Siang In ke darat. Karena kasihan melihat
dara yang yatim piatu dan kini bahkan kehilangan enci-nya itu, juga karena melihat Siang In memiliki tulang
yang kuat dan darah yang bersih serta memiliki bakat, kakek itu lalu mengangkat Siang In menjadi
muridnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Biar pun sudah bercerai dari isterinya, yaitu Nenek Durganini, namun sesungguhnya Kakek See-thian
Hoat-su masih mencinta isterinya atau bekas isterinya itu. Maka ketika dia mendengar bahwa isterinya
datang dari barat untuk membantu dan dapat dikatakan diperalat oleh muridnya yang jahat, yaitu
Tambolon, See-thian Hoat-su menjadi tak senang hati dan dia pun lalu membayangi bekas isterinya itu
untuk mencegah isterinya terseret dalam kejahatan. Inilah sebabnya mengapa kakek itu bisa muncul di
dalam perayaan pesta pernikahan Tambolon dan mengacau sehingga pernikahan paksaan itu gagal.
Kini, mendengar bahwa Tambolon dan bekas isterinya itu pergi ke kota raja, diam-diam dia pun mengajak
murid barunya, Teng Siang In untuk membayangi. Melihat betapa isterinya menggunakan ilmu sihir untuk
menculik Syanti Dewi, dia segera turun tangan menolong gadis itu. Hal ini dilakukannya bukan sekali-kali
karena dia suka mencampuri urusan orang lain, melainkan semata-mata karena dia hendak mencegah
isterinya terseret oleh muridnya melakukan perbuatan jahat. Demikian pula halnya ketika dia mengacau di
dalam pesta Tambolon. Hanya karena mengingat kepada isterinya sajalah maka kakek ini mau campur
tangan karena biasanya dia sudah tidak sudi lagi mencampuri urusan dunia yang hanya mendatangkan
pertentangan dan permusuhan.
See-thian Hoat-su yang melarikan Syanti Dewi itu telah tiba di dalam hutan kecil itu dan langsung dia
menghampiri sebuah kuil rusak yang kosong dan sisa dindingnya sudah penuh dengan lumut hijau.
“Siang In..., muridku yang baik, kau lekas keluarlah...!” Kakek itu berteriak dengan suara gembira.
Terdengar suara orang menjawab dari dalam kuil tua dan Syanti Dewi ingin sekali melihat macam apa
orangnya yang menjadi murid kakek aneh ini. Kemudian dari dalam kuil itu tampak sesosok bayangan
orang melangkah keluar dan Syanti Dewi terbelalak melihat bahwa orang ini bukan lain adalah nenek hitam
berpakaian hitam yang telah menyihir para pengawalnya malam tadi!
See-thian Hoat-su juga terkejut sekali, tetapi kakek ini terkekeh dan berkata, “Isteriku yang baik, engkau
sudah menyusulku ke sini? Mana muridku?”
“Siapa isterimu? Siapa muridmu?”
“Engkau isteriku... yang baik, yang tercinta, yang...”
“Cukup! Kita sudah bercerai dan aku sudah nenek-nenek, engkau sudah kakek-kakek, tidak ada gunanya
merayuku lagi.”
“Ahhhh, galak amat...! Durganini, di mana muridku?” Kakek itu bertanya dengan alis berkerut, agak
khawatir juga sungguh pun dia tahu bahwa isterinya ini tidak akan mengganggu orang begitu saja.
“Muridmu siapa?”
“Ah, jangan main-main. Tentu saja Teng Sian In...”
“Dia? Huh, engkau lancang mulut, enak saja mengaku murid. Dia muridku, tahu?”
“Hah...?!” Kakek itu melongo.
Cepat dia menguasai keheranannya, teringat bahwa sekali dia terheran, akan mudah untuk jatuh di bawah
pengaruh sihir isterinya yang dalam hal ini lebih kuat dari pada dia itu. “Apa maksudmu?”
“Maksudku? Kau lihat dan dengar sendiri! Siang In...! Muridku yang baik, kau keluarlah!”
“Baik, Subo!” Terdengar jawaban nyaring dan tak lama kemudian muncullah seorang dara remaja cantik
manis yang memandang kepada kakek itu dengan senyum lebar dan kemudian memandang kepada
Syanti Dewi dengan sinar mata penuh keheranan. “Ehh, Enci ini siapakah? Begini cantik jelita seperti
bidadari...!”
Begitu melihat Siang In, Syanti Dewi sudah merasa senang sekali. Akan tetapi hatinya terlampau gelisah
melihat nenek itu sehingga dia diam saja memperhatikan kedua orang tua itu. Tak disangkanya bahwa
kakek yang menolongnya ini malah suami dari nenek itu, atau setidaknya bekas suami!
dunia-kangouw.blogspot.com
Sementara itu, See-thian Hoat-su yang tadinya menyangka bahwa tentu muridnya telah terjatuh ke dalam
kekuasaan sihir isterinya, begitu melihat muridnya, menjadi makin terheran-heran karena ternyata benar
olehnya bahwa muridnya itu sama sekali tidak di bawah pengaruh sihir!
“Siang In, apa maksudmu? Mengapa engkau mengangkat guru kepadanya?”
“Kepada siapa, Suhu? Maksudmu kepada Subo ini?”
“Ya. Kenapa? Bukankah engkau sudah menjadi muridku?” kakek itu menuntut.
“Karena aku menjadi murid Suhu, maka aku adalah muridnya juga, bukan? Engkau adalah suhu-ku (Bapak
Guru) dan dia adalah subo-ku (Ibu Guru). Aku telah mendengar bahwa Suhu telah meninggalkan Subo.
Jahat sekali itu!”
“Ihh, anak kecil kau tahu apa? Hayo kau ikut aku pergi.”
“Tidak, Suhu. Aku mau ikut pergi dengan Suhu kalau bersama Subo. Kalau tidak, biar aku ikut Subo saja,
sama-sama perempuan.”
“Wah, apa-apaan ini?” Kakek itu menggaruk kepalanya. “Celaka sial dangkalan! Kenapa aku mengambil
murid seorang perempuan? Sekarang aku dikeroyok!”
“Bagaimana, Suhu? Kalau Suhu mau berbaik kembali dengan Subo, aku mau ikut Suhu, kalau tidak, biar
aku ikut dengan Subo.”
Kakek itu membanting-banting kakinya. “Cari penyakit! Dahulu, hanya dengan seorang perempuan di
sampingku, hidup sudah banyak repot, sekarang malah ada dua ekor! Cari penyakit!”
“See-thian Hoat-su, banyak lagak engkau!” Durganini menudingkan tongkatnya. “Kalau begitu, pergilah
tinggalkan kami, jangan sampai bangkit marahku dan kukutuk engkau menjadi monyet nanti!”
“Sudahlah!” Kakek itu menghela napas panjang. “Dasar nasibku, tua-tua cari perkara. Aku mau menurut,
kita bersama lagi, akan tetapi hanya dengan satu syarat yaitu kalian harus meninggalkan Tambolon dan
ikut dengan aku ke tempat sunyi. Jangan membikin dunia yang sudah kacau menjadi makin kacau lagi.
Bagaimana?”
“Setuju!” Siang In bersorak. “Selamanya aku memang hidup di tempat sunyi, dahulu dengan enci-ku,
sekarang dengan Suhu dan Subo, tentu lebih ramai.”
“Bagaimana, Durganini?” Kakek itu menuntut.
Aneh! Nenek itu menundukkan muka seperti seorang gadis diajak kawin, kemalu-maluan dan hanya
terkekeh dan mengangguk-angguk! Kakek itu tertawa bergelak lalu menggandeng tangan Durganini di
sebelah kanan dan tangan muridnya di sebelah kiri. “Kalau begitu, hayo kita pergi, tunggu apa lagi?”
“Ehh, nanti dulu... Enci, mari kau ikut bersama kami saja...!” Siang In berseru sambil menoleh kepada
Syanti Dewi.
Akan tetapi Syanti Dewi yang merasa ngeri menyaksikan adegan aneh itu dan seolah-olah menghadapi
orang-orang gila, tentu saja tidak mau dan menggeleng kepala. Dan tiba-tiba dia melihat asap hitam
mengepul yang menelan tiga orang itu lenyap dari pandangan matanya. Sejenak dia tertegun dan kagum
bukan main. Kiranya banyak benar orang-orang pandai di dunia ini.
Akan tetapi setelah kakek itu pergi, dia teringat akan keadaan dirinya dan timbullah kekhawatirannya. Biar
pun nenek itu sudah tidak ada lagi, akan tetapi dia tidak tahu bagaimana jadinya dengan dua losin orang
pengawal itu, apakah masih di bawah pengaruh sihir nenek itu sehingga bahkan berbalik hendak
menangkapnya. Teringat ini, kemudian dia mengambil keputusan untuk pergi sendiri saja melanjutkan
perjalanannya ke barat.....
********************
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan hati lega Ceng Ceng dan Topeng Setan tiba di sarang perkumpulan di mana Ceng Ceng menjadi
ketuanya itu. Mereka sudah melihat beberapa orang anak buah menyambut kedatangan mereka dengan
muka gelisah. Karena Topeng Setan masih menderita luka parah dan tubuhnya membutuhkan perawatan
baik, maka dia tak begitu memperhatikan keadaan di situ, dan Ceng Ceng yang merasa lega hatinya
bahwa akhirnya mereka dapat tiba di tempat persembuyian ini, segera bersama Topeng Setan memasuki
rumah besar yang selama dia berada di situ menjadi tempat tinggalnya. Heran juga dia melihat rumah itu
demikian sunyi, padahal hari sudah agak siang.
Tidak nampak ada pelayan dan penjaga menyambutnya. Mereka terus saja memasuki ruangan dalam dan
tiba-tiba keduanya tertegun ketika melihat munculnya belasan orang yang warna mukanya aneh-aneh,
mengurung ruangan itu sehingga mereka berdua terkurung di tengah-tengah oleh orang-orang yang
bersenjata itu! Kaget sekali hati Ceng Ceng karena dia mengenal orang-orang ini sebagai anak buah Hektiauw
Lo-mo, yaitu orang-orang Pulau Neraka yang memiliki kepandaian tinggi.
Topeng Setan juga terkejut sekali dan tiba-tiba muncullah dari balik pintu dalam dua orang yang sama
sekali tidak mereka sangka-sangka berada di tempat itu. Mereka adalah Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw
Siauw Mo-li Lauw Hong Kui!
Melihat wanita yang bersama dengan Kian Bu di Telaga Sungari dan yang telah memperebutkan ular naga
dengan dia, Ceng Ceng menjadi marah, memandang dengan mata terbelalak dan dia menudingkan
telunjuknya sambil membentak, “Kalian iblis laki perempuan berada di sini mau apa?”
“Ha-ha-ha-ha, selamat bertemu, Nona Ceng! Selamat datang di tempat perkumpulan kami.”
“Apa maksudmu, Hek-tiauw Lo-mo?” Ceng Ceng membentak. “Aku adalah Bengcu di tempat ini!” Ceng
Ceng memberi isyarat dengan tepuk tangannya untuk memanggil anak buahnya, akan tetapi tidak ada
seorang pun yang berani muncul.
“Ha-ha-ha-ha! Tempat ini telah menjadi tempatku, Nona yang baik. Tetapi mengingat persahabatan antara
kita, aku mau mengembalikannya kepadamu dan mengampunimu kalau engkau suka menyerahkan anak
ular naga itu kepadaku.”
“Jangan mimpi! Mustika itu telah berada di dalam perutku...”
“Tidak... tidak..., kami tidak berhasil mendapatkan anak naga itu...” Topeng Setan cepat berseru dengan
wajah membayangkan kekhawatiran, namun Hek-tiauw Lo-mo tertawa lagi.
“Kau hendak membohongiku? Ha-ha, kulihat cahaya racun sudah lenyap dari wajahnya, hal ini berarti
darahnya sudah bersih. Tetapi... darah dan dagingnya masih sepenuhnya mengandung khasiat mustika itu
sebelum lewat empat puluh hari, dan kini kau datang menyerahkan diri padaku, ha-ha-ha...!”
“Hek-tiauw Lo-mo, engkau tidak bisa berbuat sekeji itu!” Mendadak Topeng Setan membentak marah dan
tangan kanannya telah dikepal keras-keras. “Engkau tidak boleh mengganggu dia!”
“Ha-ha-ha, siapa yang tidak memperbolehkan? Engkau dengan lenganmu yang sudah buntung sebelah?
Ha-ha-ha! Mari, Nona manis, kau ikutlah dengan aku, ha-ha-ha-ha!” Hek-tiauw Lo-mo yang kegirangan
melihat munculnya orang yang ditunggu-tunggu itu menggapai kepada Ceng Ceng.
Nona ini tenang-tenang saja dan dia masih belum mengenal bahaya. Dengan sabar dia berkata, “Hektiauw
Lo-mo, apakah kau benar-benar tidak mempunyai perikemanusiaan lagi? Puterimu demikian cantik
dan berbudi, akan tetapi apakah engkau begitu kejam untuk mengganggu kami? Kau lihatlah, dia terluka
parah dan perlu beristirahat, perlu dirawat luka-lukanya. Dan percuma saja engkau mengganggu kami
karena anak ular itu sudah kuhabiskan semua. Biar engkau akan membunuh aku pun engkau tidak akan
bisa mendapatkan anak ular naga itu.”
“Aihhh, Ceng Ceng... kau... kau tidak tahu...” Topeng Setan mengeluh. “Dia memang bukan manusia, dia
lebih jahat dari pada iblis, lebih keji dari pada seekor binatang yang paling buas. Dia menghendaki daging
dan darahmu...”
Wajah Ceng Ceng menjadi pucat sekali dan sambil berteriak marah dia lalu menerjang ke depan,
menghantam ke arah Hek-tiauw Lo-mo. Akan tetapi dengan amat mudahnya Ketua Pulau Neraka itu
mengelak dan kemudian tiba-tiba Ceng Ceng merasa betapa punggungnya sakit sekali dan dia roboh
dunia-kangouw.blogspot.com
pingsan. Ternyata bahwa ketika dia menyerang Hek-tiauw Lo-mo yang tentu saja menganggap ringan ilmu
silatnya, dari belakang Hong Kui telah menotoknya.
“Kalian tidak boleh mengganggunya!” Topeng Setan membentak.
Tubuhnya mencelat ke depan dengan kecepatan bagai kilat dan tangannya yang tinggal sebelah itu
berkelebat. Bukan main cepatnya gerakan tangannya dan tenaga yang terkandung di dalam tangan ini juga
amat besar, mendatangkan angin pukulan yang dahsyat. Hong Kui terkejut dan membalik sambil
menangkis.
“Bressss...!”
Tubuh wanita cantik ini terlempar ke belakang menabrak tembok dan kalau saja dia tidak memiliki
kepandaian tinggi, tentu tulang-tulangnya akan remuk. Akan tetapi dia sudah mengerahkan sinkang-nya
dan ketika tubuhnya menabrak dinding, dia sudah membulatkan tubuh dan menggelinding di atas lantai.
Wanita ini selamat, akan tetapi dia kaget dan marah bukan main, mukanya merah, matanya melotot dan
jantungnya masih berdebar tegang karena hampir saja dia celaka dalam sekali gebrakan saja!
Sementara itu, Hek-tiauw Lo-mo sudah menerjang maju, mengerahkan tenaganya dan menggunakan Ilmu
Pukulan Hek-coa-tok-ciang yang ampuh. Pada saat itu, Topeng Setan baru saja menderita kehilangan
lengan kiri. Ketika hal itu terjadi, dia sedang bergulat dengan maut dalam air, maka dia telah kehilangan
banyak darah dan tubuhnya masih lemah. Apa lagi karena baru saja kehilangan lengan kiri, gerakannya
menjadi kaku dan canggung.
Oleh karena itu, biar pun dia masih mampu menangkis beberapa pukulan Hek-tiauw Lo-mo dan mengelak
cepat ketika Mauw Siauw Mo-li juga menerjangnya dengan penuh kemarahan, namun karena sebagian
perhatiannya juga tercurah kepada Ceng Ceng dengan penuh kegelisahan melihat dara ini rebah
terlentang dalam keadaan pingsan, maka lewat belasan jurus saja dia sudah roboh oleh hantaman tangan
kanan Hek-tiauw Lo-mo yang mengenai punggungnya. Sekali dia roboh terhuyung, Mauw Siauw Mo-li
langsung menotok pundak kanannya. Seketika Topeng Setan merasa betapa lengan kanannya setengah
lumpuh dan dia roboh terguling.
“Ceng Ceng...!”
Biar pun dia sudah roboh, Topeng Setan berusaha untuk bangkit sambil memandang ke arah Ceng Ceng
dengan penuh kekhawatiran. Dia maklum manusia macam apa adanya Hek-tiauw Lo-mo dan
membayangkan betapa dara itu akan diganyang dagingnya dan diminum darahnya oleh Hek-tiauw Lo-mo
yang sangat menginginkan khasiat dari anak ular naga, dia merasa ngeri dan khawatir sekali.
Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui yang merasa marah bukan main karena tadi dibuat terlempar menubruk
tembok oleh Topeng Setan, menghampiri orang aneh itu. Memang dia sudah merasa amat kagum dan
heran ketika menyaksikan sepak terjang Topeng Setan ketika terjadi perebutan anak ular naga, kagum
betapa laki-laki ini dalam keadaan terluka hebat, buntung lengan kirinya, masih mampu merampas anak
ular naga itu, bahkan mampu membawa Ceng Ceng lari sehingga tidak dapat ditangkap oleh sekian
banyaknya orang lihai di Telaga Sungari. Sekarang dia merasakan sendiri keampuhan tangan yang tinggal
sebelah itu, maka timbul keinginannya untuk melihat bagaimana macam orangnya yang bersembunyi di
balik kedok buruk itu.
“Suheng jangan bunuh dia dulu. Aku ingin melihat wajahnya!” Dia berteriak ketika melihat Hek-tiauw Lo-mo
hendak turun tangan membunuh Topeng Setan.
“Hemm, sesukamu. Aku pun ingin melihat siapa dia!” Hek-tiauw Lo-mo berkata sambil terkekeh girang
karena dia telah berhasil menangkap Ceng Ceng dan merobohkan Topeng Setan yang amat lihai itu.
Lauw Hong Kui membungkuk, tangan kanannya meraih ke arah wajah Topeng Setan yang sama sekali
tidak berdaya lagi itu, jari-jari tangan yang panjang dan halus itu sudah menyentuh topeng.
“Tahan...! Enci Hong Kui, jangan kau buka topeng itu...!” Tiba-tiba Kian Bu yang baru muncul keluar
berseru keras mencegah perbuatan Hong Kui itu.
Mendengar suara Kian Bu itu, Hong Kui terkejut karena kekasihnya itu nada suaranya bersungguhsungguh
seperti orang sedang marah. Tentu saja dia tidak ingin membuat kekasihnya marah kepadanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kalau hanya karena muka Topeng Setan dia harus menghadapi kemarahan kekasihnya yang mungkin
akan mogok melayani nafsunya, dia akan rugi sekali!
Kian Bu terkejut bukan main ketika melihat Ceng Ceng menggeletak di atas lantai. Jika saja dia tidak
terlambat muncul, tentu dia akan mencegah Ketua Pulau Neraka dan sumoi-nya itu menyerang Ceng Ceng
dan pembantunya yang setia itu. Kini dengan langkah lebar dia menghampiri, alisnya berkerut dan dia
menghadapi Hek-tiauw Lo-mo sambil berkata, “Lo-mo, aku melarang engkau mengganggu mereka!
Ketahuilah, nona ini adalah keponakanku sendiri, dan Topeng Setan adalah pembantunya yang setia.
Mereka berdua telah membuat jasa besar dalam membantu pemerintah. Aku terpaksa akan menentangmu
kalau engkau mengganggu mereka. Enci Hong Kui, jangan engkau ikut-ikut suheng-mu!”
“Ha-ha-ha, Sumoi, matamu buta! Engkau memilih kekasih yang menentang kita. Orang muda, engkau
sombong sekali. Kau kira mudah saja menentang Hek-tiauw Lo-mo?”
Kakek itu sudah mengepal kedua tangannya dan terdengar suara berkerotokan. Ini merupakan tanda
bahwa dia sudah marah sekali dan ingin menurunkan tangan maut kepada Kian Bu. Sebaliknya, pemuda
dari Pulau Es itu pun memandang tajam, berdiri tegak dan siap untuk melakukan perlawanan terhadap
musuh yang dia tahu amat lihai itu.
“Tahan...! Jangan berkelahi...!” Mauw Siauw Mo-li berseru, meloncat di tengah-tengah melerai mereka.
“Suheng! Kian Bu! Janganlah kalian berkelahi sendiri. Segala urusan masih dapat dirundingkan baik-baik,
mengapa harus menggunakan kekerasan saling merusak? Kalian berdua adalah orang-orang yang
memiliki kepandaian tinggi, kalau sudah saling gempur tentu ada seorang di antara kalian yang celaka.”
Hek-tiauw Lo-mo bukan seorang bodoh. Ucapan sumoi-nya ini menyadarkannya bahwa memang amat
merugikan kalau dia bermusuhan dengan kekasih sumoi-nya ini. Dia tahu betapa lihainya putera Majikan
Pulau Es ini dan dalam keadaan seperti sekarang ini, sebaiknya kalau dia tidak bermusuhan dengan
pemuda yang telah dapat ditarik oleh sumoi-nya itu. Dan tentang Ceng Ceng yang telah ditawannya, juga
Topeng Setan, dapat saja dia kuasai dengan jalan halus.
“Ha-ha-ha, ucapan sumoi memang tepat juga. Orang muda, engkau mencinta dia, dan aku adalah suhengnya,
sungguh tidak enak kalau antara kita bentrok sendiri. Aku akan menjadi malu hati terhadap sumoi-ku
yang tinggal seorang ini!”
Kian Bu menahan senyum dan melirik ke arah Ceng Ceng yang masih rebah terlentang dalam keadaan
pingsan dan Topeng Setan yang juga rebah tak berdaya karena sudah tertotok.
“Lo-mo, aku pun tidak hendak memusuhimu, tetapi kalau engkau mengganggu mereka, terpaksa aku harus
turun tangan.”
Hek-tiauw Lo-mo menarik napas panjang. “Aihh, kau tentu mengerti betapa aku amat membutuhkan
khasiat naga itu untuk menyempurnakan ilmuku yang masih setengah matang kulatih. Dan aku harus
merampas kembali kitabku dari tangan Topeng Setan ini.
Akan tetapi biarlah hal itu akan kita lakukan dengan halus dan membujuknya untuk mengembalikan kitab.
Ada pun tentang nona dengan khasiat anak naga, biar sementara waktu kita tidak usah bicarakan dulu.
Akan tetapi aku pun tidak akan membebaskan mereka sebelum kitab itu dikembalikan kepadaku. Sumoi,
kau yang bertanggung jawab kalau sampai nona ini melarikan diri. Nah, kau boleh membawa dia ke kamar
dan menjaganya. Topeng Setan akan kumasukkan tahanan dan dijaga keras.”
Tanpa menanti jawaban, Hek-tiauw Lo-mo menyambar tubuh Topeng Setan dan membawanya ke dalam
tahanan di mana dia memerintahkan anak buah Pulau Neraka untuk menjaganya. Lengan yang tinggal
sebelah itu dipasangi belenggu baja yang arnat kuat, demikian pula kedua pergelangan kakinya. Akan
tetapi, sebagai seorang tokoh besar, Hek-tiauw Lo-mo yang sudah berjanji itu tidak memperbolehkan anak
buahnya membuka topeng buruk itu.
Sementara itu, Lauw Hong Kui terus membujuk kekasihnya untuk bersabar dan dia lalu memondong tubuh
Ceng Ceng yang masih pingsan itu ke dalam sebuah kamar dan menjaganya. Dapat dibayangkan betapa
bingung rasa hati Kian Bu. Dia ingin sekali menolong Ceng Ceng dan Topeng Setan, tetapi dia maklum
bahwa dalam keadaan tidak berdaya seperti itu, dia tidak mungkin seorang diri saja membebaskan mereka
karena dia harus menghadapi Hek-tiauw Lo-mo yang lihai dan banyak anak buahnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Selain itu, juga dia merasa sungkan untuk bermusuhan dengan kekasihnya yang dia tahu tentu terpaksa
akan berpihak kepada suheng-nya. Maka dia mengandalkan cinta kasih wanita itu kepadanya agar supaya
dapat membujuk agar Hek-tiauw Lo-mo tidak mengganggu kedua orang tawanan itu sebelum dia mampu
menyelamatkan mereka.
Suma Kian Bu termenung dalam kamarnya. Hatinya gelisah sekali dan pikirannya ruwet. Batinnya sadar
bahwa dia telah tersesat, telah menuruti nafsu birahi dan membiarkan dirinya tenggelam ke dalam
kenikmatan duniawi yang sebetulnya mengandung racun-racun berbahaya. Namun, setiap kali dia
membayangkan kesenangan dan kenikmatan yang dialaminya bersama Hong Kui, dia menjadi lumpuh dan
tak mampu meninggalkan wanita itu.
Dia merasakan dirinya seperti seekor semut yang terjatuh ke dalam secawan madu. Manisnya madu itu
memabokkan, akan tetapi telah menggulung dan membuat dia melekat tak mampu melepaskan diri,
bergulung dalam kemanisan dan kenikmatan biar pun dia maklum bahwa keselamatannya terancam.
Hendak melepaskan diri, sayang akan kenikmatannya, hendak melanjutkan menikmati kesenangan, sadar
bahwa dia tersesat!
Tiba-tiba dia mendengar suara sesuatu di jendela kamarnya. Daun jendela itu diketuk orang dari luar! Dia
terheran-heran mengapa dia tidak dapat mendengar ada orang mendekati jendelanya dan tahu-tahu
jendela itu diketuk dari luar! Dengan sikap waspada dan siap-siap Kian Bu mendekati jendelanya dan
membuka palangnya lalu mendorong jendela terbuka. Betapa heran dan kagetnya ketika dia melihat
seorang pemuda sudah berdiri di luar jendela dan pemuda itu tentu saja dikenalnya baik karena dia bukan
lain adalah Ang Tek Hoat!
Dengan pandang mata tajam penuh selidik Tek Hoat memberi tanda dengan telunjuk di depan bibir agar
Kian Bu tidak membuat gaduh, kemudian dengan gerakan ringan sekali dia meloncat memasuki kamar
Kian Bu. Wajah pemuda ini masih pucat, agaknya luka-luka yang dideritanya ketika dia dikeroyok oleh
Siang Lo-mo dan Hek-wan Kui-bo yang berhasil dia robohkan dan tewaskan itu masih belum memulihkan
kesehatan tubuhnya secara keseluruhan.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Tek Hoat yang terluka hebat sekali telah diangkut ke kota raja
oleh Puteri Milana dan di sana mengalami perawatan serta pengobatan. Akan tetapi, ketika Tek Hoat
mendengar bahwa musuh besarnya, Gak Bun Beng, masih hidup, semangatnya timbul dan biar pun
kesehatannya masih belum pulih, badannya masih lemah, dia tetap nekat meninggalkan istana Puteri
Milana untuk pergi mencari musuh besarnya itu.
Juga dia pergi dengan jantung seperti ditusuk rasanya karena dia melihat bahwa Syanti Dewi, Puteri
Bhutan yang telah merampas hatinya dan telah membuat dia tergila-gila itu, ternyata mencinta Suma Kian
Bu, putera Pendekar Super Sakti. Dia maklum bahwa dirinya memang tidak berharga sama sekali bagi
puteri itu dan dia sudah merasa berbahagia bahwa dia telah berhasil menyelamatkan puteri yang
dicintanya dengan diam-diam itu dari bahaya.
Karena kesehatannya belum pulih, Tek Hoat tidak pergi jauh meninggalkan kota raja dan kemudian dia
teringat akan dusun Nam-lim di mana dia membantu Ceng Ceng yang menjadi bengcu kaum sesat di sana.
Mengingat bahwa Ceng Ceng dan Topeng Setan meninggalkan tempat itu, Tek Hoat lalu pergi ke sana
dengan niat untuk mencari sapu tangannya yang membuat dia teringat akan sumpahnya kepada Ceng
Ceng, dan juga untuk beristirahat dan memulihkan tenaganya.
Akan tetapi, ketika pagi hari itu dia tiba di sebuah hutan tidak jauh dari Nam-lim, dia mendengar jerit
seorang wanita. Biar pun dia merasa enggan untuk mencampuri urusan orang lain, apa lagi karena
tubuhnya masih lemah, namun bangkit juga rasa penasaran di dalam hatinya dan dia cepat mengejar ke
arah datangnya suara itu. Jerit tertahan yang hanya satu kali seperti jerit wanita yang mengalami
kekagetan.
Dengan bersembunyi di balik sebatang pohon besar, Tek Hoat memandang ke depan kuil rusak di mana
terdapat belasan orang yang dikenalnya sebagai raja liar Tambolon dan dua orang pengawalnya yang
terkenal itu bersama anak buahnya. Dan hampir Tek Hoat mengeluarkan teriakan kaget dan marah ketika
dia melihat seorang dara berdiri di tengah-tengah pengurungan mereka, dan dara yang matanya terbelalak
lebar dan mukanya pucat karena kaget itu bukan lain adalah Puteri Syanti Dewi!
dunia-kangouw.blogspot.com
Tek Hoat menggosok-gosokkan kedua matanya. Tak salah lagi. Puteri itu adalah Puteri Bhutan yang
selama ini tidak pernah dilupakannya sedetik pun juga! Akan tetapi bagai mana puteri ini bisa berada di
dalam hutan, seorang diri di depan kuil tua dan kini dikurung oleh Tambolon dan orang-orangnya?
Seperti kita ketahui, Puteri Bhutan ini berada di depan kuil tua seorang diri setelah dia ditinggalkan Seethian
Hoat-su yang mengajak pergi isterinya, Durganini dan muridnya, Teng Siang In di tempat itu, tiba-tiba
datang Tambolon dan anak buahnya sehingga Syanti Dewi terkejut sekali dan mengeluarkan suara
menjerit tadi yang terdengar oleh Tek Hoat.
Setelah dia merasa yakin bahwa dara itu adalah Puteri Syanti Dewi, Tek Hoat merasa ada hawa panas
naik dari pusarnya terus sampai membuat mukanya menjadi panas dan merah. Ada orang-orang berani
mengganggu Syanti Dewi di depan hidungnya! Sekali meloncat, tubuhnya melayang dan tahu-tahu dia
telah tiba di depan pengurungan itu, di dekat Syanti Dewi yang menjadi girang sekali melihat pemuda ini.
“Tek Hoat...!” Dalam kegirangannya melihat betapa dalam keadaan terancam bahaya mengerikan itu tibatiba
muncul pemuda yang pernah menolongnya dan yang tentu sekarang datang hendak menolongnya
pula, Syanti Dewi segera menyambar lengan Tek Hoat.
Merasa betapa lengannya disentuh oleh tangan dara itu, jantung Tek Hoat berdebar keras akan tetapi
dengan halus dia melepaskan pegangan gadis itu sambil berbisik halus, “Harap paduka mundur dan
berlindung di belakang saya...”
Syanti Dewi menggigit bibirnya mendengar betapa pemuda itu menyebut paduka dan bersikap amat
menghormatinya. Dia tidak berkata apa-apa lagi dan mundur di belakang pemuda itu, hatinya diliputi penuh
kekhawatiran karena melihat sikap Tambolon dan anak buahnya yang mengancam.
Memang Tambolon marah sekali ketika dia melihat munculnya Tek Hoat yang seperti setan tiba-tiba saja
muncul di situ. “Ahhh, bukankah engkau pemuda tangan kanan Pangeran Liong Khi Ong?” bentaknya.
“Tidak perlu menggali urusan lama, yang penting adalah sekarang ini, Tambolon. Aku melarang engkau
mengganggu puteri ini!” Tek Hoat berkata dengan suara nyaring dan yang nadanya penuh tantangan.
“Pemuda sombong!” Tiba-tiba Yu Ci Pok, Si Siucai Maut itu membentak dan sudah menerjang ke depan
dengan totokan jari-jari tangannya yang dilakukan secara beruntun ke arah tujuh jalan darah terpenting di
tubuh bagian depan dari Tek Hoat.
“Plak-plak-plak... desss...!”
Tubuh Siucai itu terlempar ke belakang, bahkan sampai terbanting sehingga pinggulnya menimpa tanah
dan debu mengebul dari tempat yang tertimpa pantatnya.
Melihat betapa kawannya begitu mudah dirobohkan, Liauw Kui Si Petani Maut menjadi marah. Dia berseru
keras dan pikulannya telah menyambar-nyambar. Melihat serangan maut ini, Tek Hoat cepat mengelak
dengan lincahnya dan balas menendang dari kiri yang juga dapat dielakkan oleh Si Petani Maut. Ada pun
Yu Ci Pok yang mukanya menjadi merah sekali karena terbanting tadi, kini juga telah meloncat bangun,
mencabut senjatanya yang ampuh, yaitu sepasang poan-koan-pit dan bersama dengan Lauw Kui dia
menyerang Tek Hoat kalang kabut.
“Hemm..., kalian hendak bertempur? Boleh, lihat pedang!”
Tiba-tiba kelihatan sinar pedang bergulung-gulung mengerikan sekali. Itulah pedang Cui-beng-kiam
(Pedang Pengejar Roh) yang amat ampuh, sebatang pedang yang dulu menjadi milik iblis dari Pulau
Neraka Cui-beng Koai-ong! Terdengar suara nyaring berkali-kali dan dua orang pembantu Tambolon itu
melompat ke belakang dengan muka pucat karena senjata pikulan dan dug batang poan-koan-pit itu telah
patah-patah terbabat sinar pedang Cui-beng-kiam.
“Simpan pedangmu atau gadis ini akan kubunuh lebih dulu!” Tiba-tiba Tambolon berkata tenang.
Tek Hoat terkejut, cepat dia memutar tubuhnya dan matanya terbelalak memandang Syanti Dewi yang
sudah dipegang kedua lengannya ke belakang oleh Tambolon dan raja liar ini menempelkan pedangnya di
leher Puteri Bhutan itu. Melihat ini lemaslah seluruh tubuh Tek Hoat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tambolon memang seorang yang amat cerdik sekali. Dia telah melihat betapa lihainya pemuda ini ketika
Tek Hoat dengan mudah membuat dua orang pengawalnya itu tidak berdaya hanya dalam waktu singkat
saja. Dia tahu bahwa kalau dia sendiri maju dibantu dua orang pengawalnya dan para anak buahnya,
belum tentu dia tidak akan dapat mengalahkan Tek Hoat, akan tetapi sebelum dia dapat merobohkan
pemuda perkasa ini tentu pihaknya lebih dulu mengalami pukulan hebat, mungkin pula banyak
pembantunya yang akan tewas. Dia tentu tidak menghendaki hal ini terjadi, apa lagi dia memang
mengharapkan bantuan pemuda ini. Maka dia telah mengambil cara yang dianggapnya paling mudah dan
paling aman, yaitu mengancam Syanti Dewi.
Muka Tek Hoat menjadi merah saking marahnya menyaksikan cara ini. “Tambolon, kau sungguh manusia
pengecut! Bebaskanlah Sang Puteri dan mari kita bertanding secara jantan!”
Tambolon tersenyum mengejek. “Di antara kita tidak ada permusuhan, perlu apa saling hantam? Pula, aku
ingin bicara denganmu, kau simpan pedangmu itu!”
“Jangan mengira aku akan dapat kau gertak, hayo bebaskan atau aku akan mengamuk dan membunuh
kalian semua!”
“Ha-ha-ha, apakah kau kira aku anak kecil, Ang Tek Hoat? Bergeraklah dan pedangku akan memenggal
leher yang halus ini!” Tambolon mengancam dan pedangnya yang menempel di kulit leher putih halus itu
amat mengerikan.
Memang Tambolon bukan melakukan perbuatan ini karena takut, melainkan dengan perhitungan yang
sudah masak. Dia telah mendengar betapa pemuda ini, demi untuk menyelamatkan Syanti Dewi, telah
berkhianat, membalik dan membunuh Pangeran Liong Khi Ong, Pak-thian Lo-mo, Lam-thian Lo-mo, dan
Hek-wan Kui-bo. Hal ini yang membuat dia merasa yakin bahwa penodongannya terhadap Syanti Dewi
sudah pasti akan berhasil dengan baik dan membuat Tek Hoat tidak berani bergerak. Dan memang
perhitungannya tepat sekali. Tek Hoat merasa seolah-olah dibelenggu kaki tangannya dan dia lalu
menyimpan pedangnya.
“Tambolon, kalau engkau mengganggu selembar rambutnya saja, aku bersumpah akan menyiksamu dan
akhirnya membunuhmu sampai engkau menyesal telah dilahirkan di dunia ini.” Ucapannya itu lirih akan
tetapi mengandung ancaman yang mendirikan bulu roma.
Tambolon sendiri yang mempunyai watak kejam bergidik mendengar sumpah itu karena dia maklum
bahwa orang macam pemuda ini tentu akan memenuhi ancamannya yang hebat itu. Pemuda seperti ini
merupakan seorang musuh yang berbahaya dan mestinya, menurut watak dan kecerdikannya, dia harus
membunuh pemuda ini sekarang juga. Akan tetapi dia ingin memanfaatkan pemuda ini lebih dulu, karena
dia mendengar pelaporan anak buahnya tadi bahwa Ceng Ceng dan Topeng Setan telah tiba di dusun
Nam-lim dan celakanya telah terjatuh ke tangan Hek-tiauw Lo-mo.
“Ang Tek Hoat, aku pun bersumpah tidak akan mengganggu Puteri Bhutan ini, akan tetapi engkau harus
membantuku dengan sesuatu. Kalau engkau tidak mau melakukan itu atau mengalami kegagalan, terpaksa
aku akan membunuhnya dan kami sanggup menghadapi ancaman kosongmu itu!”
“Tambolon, tak perlu banyak cakap. Katakan apa yang kau kehendaki?”
“Aku ingin agar engkau pergi ke dusun Nam-lim dan menghadapkan Nona Lu Ceng ke sini. Atau
pendeknya, aku ingin menukar puteri ini dengan Nona Lu Ceng.”
“Tek Hoat... jangan engkau celakakan Lu Ceng...!” Tiba-tiba Syanti Dewi yang berdiri dengan leher
tertempel pedang dan mukanya pucat, berseru. “Biar mati aku tidak akan mencelakakan adikku itu!”
Tek Hoat memandang Tambolon dengan sinar mata penuh selidik. “Tambolon, kenapa engkau menyuruh
aku untuk urusan itu? Engkau dengan begini banyak pembantumu, takut untuk melakukan penangkapan
atas diri Nona Lu Ceng maka engkau menyuruh aku?”
“Ha-ha-ha, jangan menduga yang bukan-bukan, orang muda. Engkau adalah seorang di antara pembantu
Lu-bengcu, bukan? Engkau lebih mengenal keadaan di sana dan engkau tentu akan lebih mudah untuk
membawa dia ke sini. Sudahlah, kau lakukan itu atau terpaksa aku akan membunuh puteri ini.”
“Mengapa engkau menghendaki dia?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Karena dia telah berhasil memperoleh anak naga Telaga Sungari.”
Diam-diam Tek Hoat terkejut. Dia pun mendengar tentang anak naga itu akan tetapi dia sendiri tidak
mempedulikan binatang yang dianggap keramat dan merupakan obat yang amat luar biasa itu.
“Nona Lu Ceng dan Topeng Setan telah kembali ke Nam-lim dan mereka terjatuh ke tangan Hek-tiauw Lomo
dan anak buahnya.”
“Ahhh...?” Tek Hoat terkejut.
“Karena itu, berhati-hatilah dan jangan sampai engkau gagal menyeret Nona Lu ke sini kalau kau ingin
melihat puteri ini selamat.”
“Baik, aku akan lakukan itu. Dan sekali lagi ingat, jangan engkau mengganggu selembar rambut pun dari
nona ini.” Setelah berkata demikian, Tek Hoat membalikkan tubuhnya pergi dari situ.
“Tek Hoat..., jangan kau penuhi permintaan mereka. Jangan kau ganggu adikku Lu Ceng!” Syanti Dewi
masih berseru marah.
Ang Tek Hoat membalik dan menjura. “Harap paduka tenang saja.” Kemudian sekali berkelebat, pemuda
itu sudah lenyap di balik pohon-pohon di hutan itu.
Demikianlah, malam hari itu Tek Hoat berhasil menyelundup ke dusun Nam-lim yang tentu saja dikenalnya
dengan baik dan dia berhasil memasuki kamar Suma Kian Bu yang gelisah tak dapat tidur memikirkan
keadaan Ceng Ceng yang menjadi tawanan itu. Dapat dibayangkan betapa heran dan kagetnya hati Kian
Bu melihat munculnya Tek Hoat di tempat itu.
Setelah mereka berdiri berhadapan di dalam kamar, Tek Hoat sejenak menatap wajah Kian Bu dengan
tajam, kemudian dia berdiri. “Apakah dunia sudah terbalik? Tidak salahkah penglihatanku bahwa putera
Pendekar Super Sakti kini menjadi sekutu Hek-tiauw Lo-mo?”
Wajah Kian Bu menjadi merah bukan main. “Tek Hoat, jangan engkau mengeluarkan ucapan yang bukanbukan!
Aku di sini menjadi tamu, bukan sekutu!”
“Bagus! Akan tetapi mengapa engkau enak-enak saja melihat Nona Lu Ceng dijadikan tawanan olehnya?”
Jantung Kian Bu berdebar penuh rasa malu dan ketegangan. Untung bahwa pemuda aneh ini agaknya
belum tahu akan hubungannya dengan Hong Kui, kalau tahu, dia akan merasa makin canggung dan malu
lagi. “Enak saja kau bicara, apa kau kira aku diam-diam tidak memikirkan hal itu? Akan tetapi mereka itu
kuat sekali, aku tidak berani bertindak sembrono dan mengalami kegagalan.”
“Aku datang untuk menyelamatkan Nona Lu Ceng. Dapatkah kau membantuku?”
“Dengan adanya engkau, tentu keadaan kita lebih kuat. Mari kita serbu dan...”
“Tidak begitu maksudku, Kian Bu. Aku hanya minta bantuanmu. Di mana Ceng Ceng ditahan?”
“Di dalam kamarnya... Mauw Siauw Mo-li, di ujung lorong belakang. Sedangkan Topeng Setan dimasukkan
ke gudang belakang...”
“Aku tidak peduli dengan Topeng Setan,” kata Tek Hoat. “Sekarang baiknya engkau mengacau dengan api.
Bakarlah bagian depan bangunan untuk memancing mereka keluar, dan aku akan menyelinap ke belakang
dan membebaskan Nona Lu Ceng.”
Kian Bu mengangguk dan setelah menerima bahan pembuat api dari Tek Hoat yang memang telah
mempersiapkannya sebelumnya, dia lalu mengikuti Tek Hoat keluar dari kamar itu. Setelah memberi
isyarat di mana letaknya kamar Mauw Siauw Mo-li, mereka lalu berpisah dan Kian Bu cepat menuju ke
depan dan memilih tempat yang baik untuk dibakar. Dia maklum bahwa perbuatannya ini tentu akan
membuat dia dibenci oleh Mauw Siauw Mo-li, akan tetapi dia tidak peduli. Dia tidak mencinta wanita cantik
itu, hanya menikmati pergaulan mereka, memuaskan nafsu belaka. Memang dia sudah gelisah dan
dunia-kangouw.blogspot.com
mencari akal bagaimana dapat menyelamatkan Ceng Ceng sehingga kemunculan Tek Hoat memang amat
kebetulan.
Tak lama kemudian, di malam yang sunyi itu, kegelapan di dusun yang menjadi sarang bekas perkumpulan
Tiat-ciang-pang dipecahkan oleh sinar api yang bernyala tinggi dan kesunyian dipecahkan oleh teriakanteriakan
banyak orang, “Api...! Api...! Kebakaran...!”
Seketika tempat itu menjadi geger. Para anggota Pulau Neraka memimpin orang-orang memadamkan api
dan Hek-tiauw Lo-mo sendiri dengan kaget dan marah mendatangi tempat kebakaran. Tak lama kemudian
muncul Mauw Siauw Mo-li dan Suma Kian Bu. Wanita ini tadi masih menjaga Ceng Ceng di dalam
kamarnya. Ketika Suma Kian Bu datang mengetuk pintunya dan mengajaknya keluar untuk melihat
kebakaran, Lauw Hong Kui yang tadi menotok Ceng Ceng, lebih dulu mengikat kaki tangan dara itu, baru
dia pergi bersama Kian Bu keluar.
Ketika mereka tiba di luar, Hek-tiauw Lo-mo memandang tajam kepada Kian Bu dan sumoi-nya, lalu
membentak marah, “Sumoi, mengapa kau tinggalkan dia? Celaka, ini tentu perbuatan musuh yang
menggunakan siasat memancing harimau keluar sarang!”
Mendengar ini, Hong Kui terkejut dan bersama suheng-nya dia berlari kembali menuju ke kamarnya.
Saking kaget dan khawatirnya dia sampai tidak melihat bahwa Kian Bu tidak ikut kembali ke dalam.
“Brakkk!”
Hek-tiauw Lo-mo menendang pecah daun pintu kamar itu dan keduanya berteriak marah dan kaget melihat
pembaringan di mana tadi Ceng Ceng rebah terbelenggu telah kosong.
“Celaka...!” Lauw Hong Kui berteriak. “Dia sudah kubelenggu!”
“Kau tolol...!” Hek-tiauw Lo-mo berseru dan meloncat keluar lagi, mendorong sumoi-nya yang menghalangi
jalan. Dia kembali ke tempat kebakaran dan mencari-cari, akan tetapi tidak melihat lagi bayangan Suma
Kian Bu.
Sambil memaki-maki penuh kemarahan, Hek-tiauw Lo-mo cepat berlari menuju ke tempat tahanan Topeng
Setan dan dia masih melihat para penjaganya lengkap di situ karena mereka tidak berani meninggalkan
tawanan penting ini. Dan Topeng Setan sendiri masih duduk bersila dalam keadaan terbelenggu di dalam
kamar tahanan.....
********************
Kita tinggalkan dulu Hek-tiauw Lomo yang marah-marah melihat hilangnya Ceng Ceng dan mari kita ikuti
pengalaman Ceng Ceng. Tadi ketika dia melihat Kian Bu muncul di depan kamar kemudian dia yang sudah
tertotok itu dibelenggu oleh Mauw Siauw Mo-li, melihat betapa mereka berdua bicara dengan sikap mesra
sekali, hati Ceng Ceng mendongkol bukan main. Tak disangkanya bahwa putera Pendekar Super Sakti
atau masih terhitung ‘paman’ tirinya itu, kini menjadi sahabat baik dari Hek-tiauw Lo-mo dan sumoi-nya.
Ketika dulu dia melihat Suma Kian Bu berdua dengan Lauw Hong Kui di Telaga Sungari, dia masih belum
menduga jelek dan mengira bahwa mereka itu secara kebetulan saja bertemu di telaga karena keduanya
sama memperebutkan anak naga. Akan tetapi sekarang, dia menjadi tawanan Hek-tiauw Lo-mo dan Kian
Bu berada di situ sebagai sahabat Mauw Siauw Mo-li! Hampir saja Ceng Ceng tidak dapat mempercayai
pandangan matanya sendiri. Sungguh tidak mungkin kalau pemuda perkasa itu, yang dia tahu merupakan
keturunan pahlawan dan pendekar besar, yang bersama dengan Gak Bun Beng dan Suma Kian Lee telah
ikut berjuang membasmi pemberontak, kini tiba-tiba menjadi sahabat Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw
Mo-li, bekas kaki tangan pemberontak dan orang-orang yang pantas digolongkan dengan bangsa iblis
jahat!
Teringat dia akan teriakan Suma Kian Bu ketika dia memperebutkan anak naga dengan Mauw Siauw Mo-li
di atas tiang layar patah itu. Pemuda itu berteriak, “Enci, biarkan dia mendapatkan ular itu...!”
Teriakan ini ditujukan kepada Mauw Siauw Mo-li yang disebut ‘enci’ oleh Kian Bu. Dan teriakan itu saja
sudah membuktikan bahwa Kian Bu berpihak kepadanya, minta kepada iblis betina itu agar menyerahkan
anak naga kepadanya. Akan tetapi Mauw Siauw Mo-li tidak mau sehingga akhirnya anak ular naga itu
putus ekornya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi mengapa sekarang Kian Bu seolah-olah diam saja melihat dia ditawan? Dan mengapa
kelihatannya antara Kian Bu dan iblis betina itu begitu mesra? Iblis betina itu cantik sekali. Memang cantik,
menarik dan genit penuh daya pikat. Diam-diam Ceng Ceng mengeluh. Mungkinkah ‘paman’ tirinya itu
yang masih muda belia terjebak dalam pikatan si cantik genit?
Ceng Ceng gelisah sekali, gelisah memikirkan keselamatan Topeng Setan. Pamannya yang bertopeng
buruk itu, yang telah berkorban sedemikian rupa untuk dia, sekarang kembali berada dalam ancaman
maut. Ceng Ceng memejamkan matanya mengusir kengerian hatinya yang penuh rasa iba kepada Topeng
Setan. Luka di pundaknya karena lengannya buntung itu masih belum sembuh dan sekarang harus
menjadi tawanan orang-orang sejahat iblis. Sudah matikah Topeng Setan?
Tak terasa lagi dua titik air mata meloncat keluar membasahi pipinya. Topeng Setan mati? Dunia tak ada
artinya lagi baginya. Karena kalau orang itu mati dia sudah tidak mempunyai apa-apa lagi. Dia tidak akan
dapat menahan derita hidup dan akan bosan dengan hidup ini. Topeng Setan merupakan harapan satusatunya,
seolah-olah orang itu merupakan pegangan terakhir baginya dalam kehidupannya yang penuh
derita itu.
Sejak dulu ia hanyut dalam gelombang kesengsaraan dan baru sekarang dia mendapat pegangan yang
dapat menahan kehanyutannya, pegangan dari seorang yang dapat dipercayanya sepenuhnya, yang dia
yakin amat mencintanya, mungkin menganggapnya sebagai anak sendiri. Kalau dia benar sudah mati, dia
pun enggan menanggung derita hidup sendirian saja!
Tiba-tiba jendela kamar itu terbuka dari luar, dan sesosok bayangan yang cepat dan ringan sekali
melayang masuk. Ang Tek Hoat! Ceng Ceng memandang dengan jantung berdebar ketika melihat betapa
jari-jari tangan yang mengandung kekuatan sinkang hebat itu mematah-matahkan belenggu kaki
tangannya, kemudian dia ditotok bebas.
“Tek Hoat...”
“Sssssttt, mereka sedang sibuk dengan api, mari kita pergi!” Tanpa menanti jawaban dia menyambar
lengan Ceng Ceng dan mengajaknya melompat lari dan menyelinap di antara bayangan rumah-rumah di
situ lalu langsung melarikan diri secepat mungkin keluar dari dusun Nam-lim.
“Tek Hoat, berhenti dulu!” Tiba-tiba Ceng Ceng berkata dan memegang lengan pemuda itu.
Tek Hoat berdiri dan memandang wajah gadis itu di bawah sinar bulan yang bersinar terang di malam itu.
“Kita harus kembali!” kata Ceng Ceng dengan suara tetap.
“Ehh...?” Tek Hoat menjadi terheran sekali. “Susah payah aku membebaskan engkau dan melarikan diri,
sekarang engkau hendak kembali ke sana? Apa artinya ini?”
“Aku tidak boleh melarikan diri sendiri saja sedangkan Topeng Setan masih tertawan di sana. Kita harus
menolong dan membebaskannya.”
Tek Hoat yang tidak tahu menahu akan segala pengalaman Ceng Ceng bersama Topeng Setan, tidak tahu
betapa Topeng Setan telah kehilangan sebelah lengannya ketika membela Ceng Ceng, diam-diam menjadi
kagum sekali, mengira bahwa gadis ini mempunyai rasa setia kawan yang amat besar.
“Ceng Ceng, kau kira mudah saja aku membebaskanmu tadi? Kalau tidak ada bantuan Suma Kian Bu
yang membakar ruangan depan, kiranya belum tentu aku bisa semudah itu membebaskanmu dari tangan
orang macam Hek-tiauw Lo-mo dan sumoi-nya serta kaki tangannya, orang-orang Pulau Neraka itu. Dan
sekarang kalau kita kembali ke sana berarti kita akan memasuki goa naga yang amat berbahaya. Apa lagi
mereka tentu telah bersiap-siap...”
“Tidak peduli!” Ceng Ceng membentak dan mencari-cari sapu tangan dari balik bajunya.
Sapu tangan milik Tek Hoat yang selama ini selalu dibawanya karena benda itu merupakan ‘jimat’ baginya
kalau berhadapan dengan pemuda ini. “Ang Tek Hoat, kau berani membantah perintahku? Kau... kau...”
dunia-kangouw.blogspot.com
Dia bingung karena sapu tangan itu tidak berada lagi di kantongnya dan mendengar pemuda itu tertawa,
dia memandang dan... ternyata sapu tangannya itu telah berada di tangan pemuda itu! Agaknya ketika
menolongnya tadi, Tek Hoat tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk merampas kembali sapu
tangannya!
“Ceng Ceng, kau tidak lagi dapat memaksaku melakukan sesuatu.”
“Keparat, kau jahat!” Ceng Ceng membentak. “Kalau begitu sudahlah, memang kau orang jahat dan tidak
patut menjadi temanku. Biarlah aku akan menolongnya sendiri!” Ceng Ceng hendak membalikkan
tubuhnya, akan tetapi Tek Hoat cepat menahannya.
“Nanti dulu...! Ceng Ceng, apa kau sudah melupakan kakak angkatmu, Puteri Bhutan?”
“Syanti Dewi...? Apa maksudmu?” Ceng Ceng terkejut dan memandang tajam.
“Dia ditawan oleh Raja Tambolon. Aku hendak menolongnya, akan tetapi Tambolon menodong leher puteri
itu dan mengatakan bahwa dia mau membebaskan Syanti Dewi asal engkau mau menyerahkan diri
kepadanya sebagai tukarnya.”
“Lalu... lalu bagaimana maksudmu? Mengapa dia hendak menangkap aku?”
“Hemm... aku telah mendengar bahwa engkau berhasil memperoleh anak naga, maka tentu dia hendak
minta mustika itu darimu. Maka, untuk dapat menyelamatkan Syanti Dewi, kita harus menggunakan akal.
Engkau harus pura-pura menjadi tawananku dan kutukarkan dengan Syanti Dewi, setelah puteri yang
lemah itu berada padaku, maka aku dapat membantumu untuk meloloskan dia dari Tambolon.”
Ceng Ceng menjadi girang sekali bahwa dia akan dapat menolong kakak angkatnya dan akan dapat
bertemu dengan puteri yang telah lama sekali berpisah darinya itu, akan tetapi dia menjadi bimbang karena
teringat kepada Topeng Setan yang masih menjadi tawanan Hek-tiauw Lo-mo.
“Akan tetapi... bagaimana dengan Paman Topeng Setan...? Kita harus menyelamatkan dia lebih dulu...”
“Jangan khawatir, Ceng Ceng. Setelah membantuku membakar ruangan depan dan memancing perhatian
musuh, Suma Kian Bu tentu akan menolong Topeng Setan. Pula, aku yakin bahwa Hek-tiauw Lo-mo tidak
akan membunuh Topeng Setan sebelum dapat menangkapmu kembali. Engkaulah yang sebenarnya
dibutuhkan olehnya, bukan dia. Tentu dia dapat digunakan sebagai sandera. Marilah, aku khawatir kita
akan terlambat menolong Syanti Dewi!”
Mendengar ini, terpaksa Ceng Ceng mengikuti pemuda itu menuju ke dusun di tepi Sungai Ta-cing di mana
Syanti Dewi menjadi tawanan Raja Tambolon. Untung bahwa puteri ini dianggap orang penting sekali
setelah gerombolan ini bertemu dan berjanji dengan Tek Hoat yang akan ditukar dengan Ceng Ceng
sehingga Syanti Dewi memperoleh perlakuan yang baik dan sopan, karena kalau tidak, sukar dibayangkan
bagaimana nasib puteri jelita ini di tangan seorang biadab seperti Tambolon!
Hari masih pagi sekali dan penduduk dusun itu masih belum bangun ketika Tek Hoat dan Ceng Ceng tiba
di dusun itu. “Engkau harus pura-pura menjadi tawananku, biar kutotok jalan darahmu. Kalau hanya purapura
biasa, tentu tidak akan dapat mengelabui Tambolon dan pembantu-pembantunya yang lihai,” kata Tek
Hoat.
Ceng Ceng mengangguk dan Tek Hoat lalu menotok pundak dara itu sehingga menjadi lemas dan
dipanggulnya tubuh Ceng Ceng, dibawa berloncatan ke atas genteng menuju ke tempat Tambolon dan
gerombolannya bermalam.
“Tambolon, aku sudah berhasil menangkap Nona Lu Ceng. Hayo kau keluarkan Puteri Syanti Dewi!” Tek
Hoat berteriak ketika dia sudah tiba di depan rumah yang ditinggali gerombolan itu.
Tambolon dan teman-temannya memang sudah siap menanti kedatangan pemuda ini sejak Tek Hoat pergi
dengan janjinya untuk menangkap Ceng Ceng. Tambolon sendiri yang keluar, diantar oleh dua orang
pengawalnya, mendorong Syanti Dewi yang memandang dengan mata terbelalak ketika mendengar nama
Lu Ceng disebut-sebut.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketika dia melihat Ang Tek Hoat memondong tubuh Ceng Ceng yang dikenalnya karena di depan rumah
itu terdapat penerangan lampu yang cukup terang sehingga dia dapat melihat wajah Ceng Ceng, dia
berteriak kaget dan girang, “Adik Candra...!”
Akan tetapi Tambolon menangkap lengannya ketika puteri ini hendak lari menghampiri. Ceng Ceng sendiri
merasa girang bukan main dan tak terasa lagi dua butir air mata menetes turun ketika dia melihat puteri itu
bercucuran air mata memandang kepadanya. Dia mulai merasa curiga karena Tek Hoat belum juga
membebaskan totokannya.
“Tambolon, kau lemparkanlah Sang Puteri kepadaku dan aku pun akan melemparkan Nona Lu Ceng
kepadamu!” Tek Hoat berseru karena dianggapnya bahwa cara inilah yang paling baik dan aman agar dia
tidak dicurigai raja liar itu.
“Hemm, pemuda sombong. Kau kira aku ini orang macam apa? Seorang raja sekali mengeluarkan janji,
tidak akan ditelannya kembali. Nah, terimalah!” Tambolon yang tadi memegang lengan Syanti Dewi, kini
mengangkat puteri itu dan melemparkannya ke arah Tek Hoat. Pemuda ini pun melemparkan tubuh Ceng
Ceng yang masih lemas tertotok itu ke arah Tambolon.
“Adik Candra...!”
“Enci Syanti...!”
Dua orang gadis itu hanya mampu saling memanggil nama masing-masing ketika mereka terlempar saling
berpapasan. Tek Hoat cepat menyambar tubuh Syanti Dewi dan didukungnya lalu dibawanya lari secepat
mungkin dari tempat berbahaya itu.
“Ang Tek Hoat... kau harus menolong Adik Candra...” Syanti Dewi berkata ketika melihat betapa dia
dilarikan secepat itu meninggalkan Ceng Ceng.
“Harus satu demi satu, Sang Puteri. Tidak mungkin aku menyelamatkan kalian berdua sekaligus,” kata Tek
Hoat yang tentu saja membohong karena baginya, yang terpenting adalah menyelamatkan puteri yang
dicintanya ini.
Dia juga suka sekali kepada Ceng Ceng dan tidak pernah dia mempunyai pikiran jahat terhadap gadis itu,
akan tetapi sekali ini dia dihadapkan kepada dua pilihan, yaitu Ceng Ceng atau Syanti Dewi dan tentu saja
dia memberatkan Syanti Dewi yang dicintanya sepenuh hati itu.
“Habis, bagaimana dengan Candra Dewi...?” Syanti Dewi membantah.
“Jangan khawatir, Sang Puteri. Setelah saya menyelamatkan paduka, tentu saya akan berusaha untuk
menolongnya.”
Agak lega rasa hati Syanti Dewi, sungguh pun dia masih mengkhawatirkan keselamatan adik angkatnya itu
di tangan raja liar Tambolon yang dia tahu amat jahat dan kejam. “Ke mana aku hendak kau bawa...?”
Kembali dia bertanya ketika melihat pemuda itu melakukan perjalanan cepat sekali, menuju ke utara.
“Ke kota raja,” jawab Tek Hoat pendek.
Tentu saja Syanti Dewi terkejut bukan main. Dia baru saja dilarikan oleh Puteri Milana dari istana kaisar.
Dia adalah seorang pelarian. Bagaimana kini pemuda ini hendak membawanya kembali ke kota raja?
“Tek Hoat...! Apa... apa yang hendak kau lakukan ini...?”
Melihat puteri itu memandangnya dengan pandang mata penuh kecurigaan, ketakutan dan ketidak
percayaan, Tek Hoat yang menghentikan larinya itu lalu menurunkannya dan dia menarik napas panjang.
“Puteri Syanti Dewi, saya memang hanya seorang pemuda bodoh, kasar dan jahat akan tetapi... harap
paduka tenangkan hati karena saya... saya yang sesungguhnya seorang jahat ini, pada saat ini sama
sekali tidak mempunyai niat buruk terhadap paduka. Saya ingin membawa paduka berlindung pada
Perdana Menteri Su yang saya tahu adalah satu-satunya orang yang dapat dipercaya di kota raja, di
samping Jenderal Kao Liang dan Puteri Milana. Akan tetapi, Jenderal Kao Liang sibuk dengan urusan di
luar kota raja, Puteri Milana telah pergi meninggalkan kota raja, satu-satunya jalan hanyalah berlindung
dunia-kangouw.blogspot.com
kepada Perdana Menteri Su. Engkau akan aman di sana, Puteri. Setelah itu, barulah saya akan pergi
menolong Ceng Ceng...”
Melihat sikap pemuda itu, melihat pandang matanya yang penuh kedukaan, jelas terbayang pada wajah
yang tampan itu betapa sakit rasa hati pemuda itu karena dia telah mencurigainya. Syanti Dewi lalu
menghela napas. “Aku yakin bahwa engkau adalah seorang yang amat gagah perkasa dan dapat
kupercaya sepenuhnya, Ang Tek Hoat. Baiklah, mari kita lanjutkan perjalanan ke kota raja, dan aku
menyerahkan semua nasibku ke tanganmu, juga aku mengharapkan bantuanmu untuk keselamatan adik
Candra Dewi.”
Tek Hoat menjadi lega dan girang hatinya. Tidak ada hal yang lebih menyakitkan hatinya dari pada
kehilangan kepercayaan puteri yang dicintanya ini. Dia tahu bahwa dia sama sekali tidak berharga bagi
puteri jelita ini, akan tetapi setidaknya kalau dia sudah dapat melakukan sesuatu bagi puteri ini, apa lagi
menyelamatkan puteri ini dari bencana, hatinya sudah akan merasa bahagia.
Akan tetapi kalau dia teringat betapa puteri ini mencinta Suma Kian Bu, dan hal itu memang sudah
sewajarnya mengingat bahwa Suma Kian Bu adalah putera Pendekar Super Sakti, hatinya seperti ditusuk
rasanya. Dan dia akan menegur pemuda itu karena dia melihat pemuda itu bermain gila dengan seorang
busuk seperti Mauw Siauw Mo-li, dan kalau perlu dia akan menggunakan kekerasan untuk
memperingatkan pemuda ltu agar menjadi orang berharga untuk dicintai seorang seperti Syanti Dewi!
“Agar dapat cepat, terpaksa saya harus memondong paduka...”
“Terserah kepadamu, Tek Hoat. Aku percaya sepenuhnya kepadamu,” jawab Syanti Dewi.
Tek Hoat kemudian memondong puteri itu dengan hati-hati dan kembali melanjutkan perjalanan sambil
berlari cepat. Bukan main rasa bangga dan bahagia hatinya. Puteri yang dicintanya itu telah dipondongnya!
Gemetar rasa seluruh tubuhnya ketika dadanya dan tangannya merasakan kehangatan dan kelembutan
tubuh yang dipondongnya, hidungnya mencium keharuman yang membuat semangatnya melayang. Dia
merasa terharu sekali! Keharuan yang baru pertama kali pernah dirasakan oleh pemuda yang digembleng
oleh keadaan dan menjadi seorang yang keras ini.
Dengan mudah Tek Hoat dapat melompati pagar tembok di sekeliling istana Perdana Menteri Su setelah
dia tiba di kota raja pada malam hari berikutnya. Ketika dia tiba di ruangan dalam, dua orang pengawal
membentaknya dan menghadangnya dengan pedang di tangan.
“Aku bukan orang jahat..., kalian tentu mengenal puteri ini, lekas kalian laporkan kepada Perdana Menteri
bahwa aku dan puteri ingin menghadap sekarang juga...!”
Dua orang pengawal itu adalah pengawal-pengawal setia dari Perdana Menteri Su. Mereka tentu saja
mengenal keadaan dan tahu akan hal ihwal Puteri Syanti Dewi dari Bhutan ini. Melihat puteri itu yang kini
menjadi pelarian muncul bersama seorang pemuda di tengah ruangan istana seperti iblis saja, mereka
terkejut dan seorang dari mereka cepat berlari dan mengetuk pintu kamar Perdana Menteri Su setelah dia
memanggil lima orang pengawal lain untuk mengurung pemuda itu.
Perdana Menteri Su terkejut sekali mendengar laporan bahwa Puteri Syanti Dewi muncul bersama seorang
pemuda lihai dan hendak menghadapnya. Cepat dia berpakaian dan keluar dari kamarnya. Ketika melihat
perdana menteri itu datang, Tek Hoat dan Puteri Syanti Dewi yang tadinya beristirahat dan duduk di atas
bangku, dijaga dari jauh oleh para pengawal, cepat berdiri dan Tek Hoat memberi hormat kepada perdana
menteri tua itu.
Perdana Menteri Su mengangkat tangan kanannya, memandang Syanti Dewi lalu bertanya dengan suara
serius dan pandang mata penuh selidik kepada Tek Hoat. “Siapakah kau dan bagaimana kau dapat datang
bersama Puteri Bhutan ini di waktu tengah malam di sini?”
“Saya adalah Ang Tek Hoat...”
“Hemmm... aku sudah pernah mendengar namamu dari Puteri Milana...” Kakek bangsawan itu
mengangguk-angguk dan memberi isyarat dengan tangannya agar para pengawal mundur dan menjaga
dari jauh saja, jangan ikut mendengarkan percakapan mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Perdana Menteri Su adalah seorang yang bijaksana dan cerdas sekali. Begitu melihat Puteri Syanti Dewi
dan sikap puteri ini, maka dia dapat yakin bahwa pemuda ini bukan orang berbahaya, apa lagi setelah dia
mendengar namanya, maka tidaklah perlu sekali para pengawal menjaga keselamatannya dan agaknya
yang akan disampaikan oleh pemuda ini tentulah hal yang amat penting maka dia menyuruh para
pengawal mundur.
“Ceritakan apa kepentingan kalian,” kemudian perdana menteri itu berkata setelah dia duduk di atas
sebuah bangku di depan dua orang muda itu.
“Saya baru membebaskan Puteri Syanti Dewi dari tangan raja liar Tambolon...”
“Ahhh...? Si keparat itu berani berada di dekat kota raja?”
Tek Hoat lalu menceritakan di mana adanya Tambolon dan para pembantunya, yaitu di desa dekat Sungai
Ta-cin di selatan kota raja. Dia minta agar perdana menteri sudi melindungi Syanti Dewi, sedangkan dia
sendiri hendak pergi menolong Ceng Ceng dan Topeng Setan pula yang masih berada di dalam tangan
Hek-tiauw Lo-mo.
“Hemm, tentu saja aku akan membantu Sang Puteri ini. Kebetulan sekali siang tadi aku bertemu dengan
rombongan utusan dari Kerajaan Bhutan. Aku akan menyerahkan Sang Puteri kepada mereka agar dapat
dikawal kembali ke Bhutan, dan aku akan menghubungi Jenderal Kao agar raja liar Tambolon dan bekas
para pembantu pemberontak itu dapat dibasmi!”
Tek Hoat menjadi girang sekali, juga Puteri Syanti Dewi girang bukan main mendengar bahwa rombongan
utusan ayahnya yang dipimpin Panglima Pengawal Jayin sendiri sudah berada di kota raja! Tek Hoat lalu
memberi hormat kepada Perdana Menteri Su dan menghaturkan terima kasihnya, kemudian dia memberi
hormat kepada Syanti Dewi yang cepat dibalas oleh puteri itu.
Sejenak mereka berpandangan, dan Tek Hoat berkata dengan suara gemetar, “Selamat jalan, Sang Puteri.
Semoga Thian selalu melindungi paduka dengan berkah yang berlimpah-limpah sehingga paduka akan
hidup bahagia selalu.”
Terharu rasa hati Syanti Dewi. Dia sudah tertarik sekali pada pemuda ini sejak pemuda ini menyelamatkan
dirinya dari Pangeran Liong Khi Ong, apa lagi setelah mendengar bahwa pemuda inilah yang dahulu
menyamar sebagai tukang perahu. Kini lagi-lagi pemuda itu menolongnya dari ancaman mengerikan di
tangan Tambolon. Pemuda ini dikabarkan jahat sekali, dikabarkan menjadi kaki tangan pemberontak, akan
tetapi baginya, pemuda ini amat baik, amat gagah perkasa dan menimbulkan rasa iba di hatinya. Ingin dia
menceritakan kepada pemuda ini tentang hal ibu pemuda itu yang pernah dijumpainya pada saat Ang Siok
Bi bertemu dengan Milana, dan ingin dia menceritakan rahasia tentang diri pemuda ini.
Akan tetapi dia merasa tidak enak untuk bercerita di depan perdana menteri, juga dia masih sangsi apakah
rahasia itu setelah dibukanya tidak akan menghancurkan hati pemuda itu. Karena ini maka siang tadi dia
selalu meragu dan belum menceritakan apa yang diketahuinya tentang pemuda ini kepada Tek Hoat. Dan
sekarang telah terlambat. Kalau dia mengajak pemuda itu bicara empat mata, tentu amat tidak baik dan
akan menimbulkan prasangka yang bukan-bukan terhadap perdana menteri.
“Terima kasih..., Tek Hoat. Selamanya aku akan selalu ingat bahwa sudah dua kali engkau menyelamatkan
aku dari bahaya yang lebih mengerikan dari pada maut. Terima kasih...”
Wajah Tek Hoat berseri sejenak mendengar ini, kemudian dia memandang dengan sinar mata penuh kasih
sayang dan kemesraan, namun hanya sekejap saja karena dia lalu membalikkan tubuhnya dan pergi cepat
sekali dari istana itu. Sekali berkelebat tubuhnya sudah mencelat keluar dan naik ke atas genteng lalu
lenyap.
Perdana Menteri Su menghela napas panjang. “Seorang pemuda yang hebat sekali kepandaiannya...”
Dia lalu mengajak Sang Puteri Syanti Dewi untuk menemui isterinya dan memberinya sebuah kamar untuk
mengaso dan memerintahkan sepasukan pengawal untuk menjaga di luar kamar puteri itu dengan ketat.
Malam itu juga dia mengabarkan kepada Panglima Jayin yang bermalam di sebuah rumah penginapan di
kota raja.
dunia-kangouw.blogspot.com
Syanti Dewi tidak dapat tidur di dalam kamarnya. Wajah Ang Tek Hoat selalu terbayang di depan matanya,
terutama sekali wajah pemuda itu pada saat terakhir ketika hendak meninggalkannya. Pandang mata
pemuda itu! Tak salahkah dia? Benarkah pemuda itu menolongnya dengan pengorbanan dirinya, sampai
hampir tewas ketika melawan para pengawal Liong Khi Ong, didasarkan rasa cinta kasih kepadanya?
Ahhh, tidak mungkin. Tentu karena pemuda itu mulai insyaf akan kesesatannya, setelah dia membantu
pemberontak lalu dia insyaf dan bahkan menentang pemberontak, membunuh dalang pemberontak
Pangeran Liong Khi Ong!
Mengapa dia selalu terkenang kepada pemuda itu? Sedangkan dia sama sekali justru tidak tersentuh
hatinya ketika pemuda seperti Suma Kian Bu menyatakan cinta kasih kepadanya?
Dibandingkan dengan Ang Tek Hoat, tentu saja Suma Kian Bu menang jauh! Pemuda itu putera Pendekar
Super Sakti, adik kandung Puteri Milana, cucu Kaisar! Akan tetapi entah bagaimana, dia tidak mempunyai
perasaan cinta terhadap pemuda yang amat tampan dan gagah itu, yang dalam pandangannya masih
seperti kanak-kanak saja, sungguh pun dia amat suka kepada Suma Kian Bu, rasa suka yang lebih mirip
rasa suka seorang kakak kepada adiknya! Rasa sayang persaudaraan.
Dan tentang cinta kasih terhadap seorang pria, agaknya baru satu kali pernah dia alami, yaitu terhadap
Gak Bun Beng! Meski pun kini dia insyaf bahwa tidak mungkin dia dapat berjodoh dengan pendekar
setengah tua yang amat menarik hatinya, mengagumkan hatinya dan yang dianggapnya sebagai sebuah
puncak di Pegunungan Himalaya, tenang dan mendalam seperti lautan, dan yang dapat dipercaya seratus
prosen itu.
Keinsyafan itu membuat dia mengubur rasa cinta kasih itu karena dia pun maklum bahwa seorang laki-laki
sehebat Gak Bun Beng, sekali menjatuhkan cinta kasihnya, yaitu kepada Puteri Milana, selama hidupnya
tidak akan dapat mencinta seorang wanita lain, biar pun dia tahu bahwa pendekar besar itu pun amat
tertarik kepadanya dan amat mencintanya. Keinsyafan ini membuat cinta kasihnya terhadap Gak Bun Beng
menjadi cinta kasih terhadap seorang paman, ayah atau guru yang amat dihormati dan dijunjung tinggi,
dan dia hanya mengharapkan pendekar itu akan dapat berkumpul kembali dengan Puteri Milana karena dia
akan ikut merasa gembira jika melihat pria perkasa itu berbahagia hidupnya.
Sekarang, melihat Tek Hoat yang pendiam dan kadang-kadang pandai bicara, kadang-kadang muram,
kadang-kadang gembira, dia melihat pula adanya sifat-sifat yang mendekati sifat-sifat Gak Bun Beng.
Pemuda ini menimbulkan kepercayaan besar dalam hatinya, dan pemuda ini pun membayangkan sebagai
sebongkah batu karang yang besar dan kokoh kuat, yang akan dapat merupakan seorang pelindung yang
boleh diandalkan. Juga seperti Gak Bun Beng, pemuda ini seolah-olah hidup di dalam alam penderitaan,
alam kedukaan dan penyesalan.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Perdana Menteri Su sudah memanggilnya, kemudian
mengatakan bahwa perdana menteri itu telah melakukan kontak dengan para utusan Bhutan yang dipimpin
oleh Panglima Jayin.
“Karena engkau masih merupakan seorang pelarian istana, maka untuk mencegah timbulnya keributan,
terutama juga untuk mencegah terjadinya pencegatan-pencegatan seperti yang terjadi ketika kau dikawal
pasukan Jenderal Kao, maka sebaiknya kalau engkau menyamar sebagai seorang wanita biasa, Sang
Puteri.”
Demikianlah, tak lama kemudian, dua orang pengawal tua mengantarkan seorang gadis yang cantik sekali
namun berpakaian biasa seperti pakaian semua wanita sederhana, rambutnya juga dikuncir ke belakang
dan dia berjalan keluar dari istana perdana menteri melalui pintu belakang.
Panglima Jayin yang menyambutnya di jalan tidak memberi hormat tetapi memandang dengan mata
bersinar-sinar dan wajah berseri-seri gembira hatinya dapat bertemu dengan puteri junjungannya itu.
Kemudian dia menggantikan dua orang pengawal itu, mengantarkan Sang Puteri menuju ke sebuah rumah
penginapan kecil di mana anak buahnya sudah berkumpul. Para anak buah panglima pengawal Bhutan ini
pun berpakaian seperti orang-orang biasa dan mereka segera bangkit berdiri dan memberi hormat kepada
Syanti Dewi ketika puteri yang cantik ini dalam pakaian wanita biasa memasuki rumah penginapan itu
diantar oleh Panglima Jayin yang kelihatan tinggi tegap dan gagah dalam pakaian penyamarannya seperti
orang biasa.
Dengan sehelai surat dari Perdana Menteri Su di dalam sakunya, Panglima Jayin dan rombongannya
dapat mengawal Sang Puteri mengendarai sebuah kereta keluar dari kota raja tanpa ada yang berani
dunia-kangouw.blogspot.com
mengganggu dan mulailah Puteri Syanti Dewi yang kini dikawal oleh para pengawalnya sendiri dari Bhutan
itu melakukan perjalanan pulang ke Bhutan.
Tanpa dapat dicegah lagi, teringat betapa dia akan pulang ke Bhutan dan mungkin tidak akan dapat
bertemu dengan orang-orang di dunia timur ini kembali, air matanya menetes-netes di sepanjang kedua
pipinya. Dia tidak tahu jelas siapa yang ditangisinya, akan tetapi wajah orang-orang yang selama ini baik
sekali kepadanya terbayang semua, terutama sekali wajah Gak Bun Beng, Jenderai Kao Liang, Puteri
Milana, Suma Kian Bu dan Suma Kian Lee, dan terutama sekali wajah Ang Tek Hoat.....
********************
“Ha-ha-ha, akhirnya engkau terjatuh pula ke dalam tanganku, nona manis. Ha-ha-ha!” Raja Tambolon
tertawa gembira ketika dia memondong tubuh Ceng Ceng masuk ke ruangan dalam rumah yang dijadikan
tempat tinggal sementara itu, diikuti oleh Si Petani Maut Liauw Kui, Si Siucai Yu Ci Pok, dan lima orang
Loan-nga Mo-li. Nenek ahli sihir Durganini tidak nampak sekali ini karena seperti telah diceritakan di bagian
depan, nenek itu berjumpa dengan bekas suaminya, See-thian Hoat-su dan pergi bersama kakek ini dan
Teng Sian In yang menjadi murid See-thian Hoat-su.
Ceng Ceng kini mengerti bahwa dia telah ditinggalkan oleh Tek Hoat begitu saja! Dia telah ditipu oleh Tek
Hoat dan ia dijadikan barang tukaran dengan Syanti Dewi. Celaka, pikirnya. Pemuda itu benar-benar luar
biasa jahat dan curangnya. Untuk mendapatkan Syanti Dewi, pemuda itu telah menyelamatkannya dari
tangan Hek-tiauw Lo-mo akan tetapi kiranya bukan ditolong untuk dibebaskan, melainkan untuk diserahkan
kepada Tambolon sebagai penukar diri Syanti Dewi. Terjatuh ke tangan pemuda berhati palsu seperti itu,
tentu kakak angkatnya itu akan celaka, pikirnya penuh kekhawatiran. Dan dia sendiri, dia baru saja terlepas
dari tangan Hek-tiauw Lo-mo kini terjatuh ke tangan Tambolon, artinya sama saja dengan terlepas dari
mulut harimau terjatuh ke dalam cengkeraman seekor serigala!
“Tambolon, aku tahu bahwa engkau adalah seorang laki-laki yang berjiwa dan berwatak pengecut! Kalau
memang engkau yang suka mengangkat diri menjadi raja, benar-benar seorang yang jantan, hayo kau
bebaskan aku dan kita bertanding sampai selaksa jurus sampai seorang di antara kita menggeletak
mampus!” Ceng Ceng memaki.
“Ha-ha-ha! Dengan susah payah aku mendapatkan dirimu, sampai-sampai aku harus mengorbankan dan
kehilangan Puteri Bhutan yang denok ayu, masa sekarang harus membebaskan kau dan bertanding lagi.
Sayang kalau sampai aku harus membunuhmu begitu saja, nona manis,” Tambolon tertawa-tawa.
Akan tetapi kemudian tiba-tiba sikapnya berubah, wajahnya bengis dan dengan kasar dia mendudukkan
tubuh Ceng Ceng yang masih lemas tertotok itu ke atas kursi di sebelahnya, memegangi pundak dara itu
dan membentak. “Hayo lekas katakan di mana adanya anak ular naga itu dan serahkan kepadaku!”
“Hemm, kiranya untuk itu dia menangkapku dan rela membebaskan Syanti Dewi,” pikir Ceng Ceng.
Tahulah kini Ceng Ceng bahwa dia tidak akan dapat hidup lagi. Seperti juga Hek-tiauw Lo-mo, Tambolon
ini agaknya berkeras ingin memiliki anak naga dan karena anak naga itu telah dimakannya habis, maka
tentu seperti juga Hek-tiauw Lo-mo, raja liar ini akan membunuhnya dan minum semua darahnya yang
telah mengandung khasiat dari anak naga itu.
Dia tidak bisa mengharapkan pertolongan lagi. Kedua orang pembantunya yang boleh diandalkan,
keduanya sudah tak dapat diharapkannya lagi. Tek Hoat telah menipunya, tak mungkin pemuda ini dapat
membantunya. Dan Topeng Setan masih berada di dalam tahanan Hek-tiauw Lo-mo, entah masih hidup
atau sudah mati. Tidak ada lagi seorang manusia yang akan mampu menyelamatkannya.
Maka dia lalu menjawab, “Aku tidak tahu!” dan kemudian menutup mulut dan matanya, seperti orang
sedang bersemedhi.
“Keparat, apakah kau ingin kusiksa untuk mengaku?” Tambolon berteriak marah.
“Ong-ya, saya mendengar bahwa gadis ini menderita luka parah dan kalau dia mencari anak naga itu tentu
untuk mengobatinya. Setelah memperoleh anak naga itu dengan demikian susah payah, di mana lagi
disimpannya kalau tidak di dalam perutnya? Lihat, wajahnya demikian merah dan sehat, tentu karena
khasiat anak naga itu.” Tiba-tiba Si Siucai Maut Yu Ci Pok berkata.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kata-kata Yu-hiante ada benarnya dan untuk membuktikannya, tidak ada jalan lain kecuali memeriksa
darahnya,” kata pula Liauw Kui Si Petani Maut.
“Aha, kalian benar! Tentu telah ditelannya anak naga itu, maka Hek-tiauw Lo-mo lantas menangkapnya.
Aku tahu kebiasaan manusia iblis itu, suka sekali makan daging dan minum darah manusia. Daging gadis
manis ini tentu lunak dan darahnya tentu manis apa lagi kalau ternyata mengandung khasiat anak naga.
Belenggu dia dan bebaskan totokannya!”
Liauw Kui dan Yu Ci Pok cepat membelenggu kaki dan tangan Ceng Ceng dengan tali sutera yang sangat
kuat pada kursi yang didudukinya, lalu Liauw Kui membebaskan totokan pada pundak dara itu. Tetapi
Ceng Ceng tetap menutup mulut dan matanya, seolah-olah tidak merasakan itu semua.
Gadis ini memang sedang memusatkan perhatiannya. Sudah beberapa hari semenjak dia minum sari dari
anak ular naga itu, dia merasa sesuatu bergerak-gerak aneh di dalam perutnya, gerakan yang disertai
hawa amat panas akan tetapi kadang-kadang juga amat dingin. Akan tetapi gerakan-gerakan itu dengan
segera menghilang, maka dia melupakannya. Sekarang, kembali perutnya bergerak-gerak dan diam-diam
dia bergidik.
Jangan-jangan anak naga yang hanya diminum perasannya itu kini hidup kembali dan bergerak-gerak di
dalam perutnya! Makin lama gerakan-gerakan itu makin menghebat dan seolah-olah ada tenaga mukjijat
yang hidup di dalam rongga perutnya dan yang kini minta jalan keluar!
Ceng Ceng menjadi khawatir sekali karena perutnya seperti hendak pecah rasanya, ditekan oleh hawa
mukjijat yang berputar-putar di perutnya itu. Maka dia kemudian mengerahkan sinkang-nya, mengerahkan
tenaga dari pusarnya untuk menekan dan menindih tenaga liar mukjijat itu. Akan tetapi betapa heran dan
kagetnya ketika hawa liar itu malah menyerbu ke dalam pusarnya, tak terkendalikan lagi, demikian kuatnya
bergerak-gerak di dalam pusar hendak menerobos ke atas!
Pada saat itu pula, Tambolon sudah mengeluarkan sebatang jarum, hendak menusuk pergelangan lengan
Ceng Ceng untuk mengeluarkan darah gadis itu dan memeriksanya apakah benar darah gadis itu sudah
lain dari biasanya dan telah mengandung khasiat mukjijat dari anak ular naga. Dan Ceng Ceng tidak tahu
akan itu semua karena dia sendiri sedang berjuang melawan hawa liar mukjijat yang kini dari dalam rongga
perut memasuki pusarnya dan akhirnya dia tidak dapat menahan lagi, membuka saluran dari pusarnya
sehingga hawa mukjijat itu kini menjalar di seluruh tubuhnya, membuat tubuhnya terasa panas seperti
dibakar dan keringatnya bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.
“Cusss...!” Tambolon menusukkan jarumnya ke pergelangan lengan Ceng Ceng.
“Krakkk...!” Jarum itu mendadak patah seperti ditusukkan pada baja yang keras.
“Ahhhh...!” Tambolon terkejut bukan main dan juga kagum karena dia mengira bahwa gadis itu telah
menggunakan sinkang yang demikian kuatnya sehingga kulit lengannya mampu mematahkan jarum baja.
“Keparat, dia melawan! Totok dia agar tidak mampu mengerahkan sinkang!” katanya kepada Liauw Kui.
Si Petani Maut ini selain amat lihai ilmu silat dan senjata pikulannya, juga terkenal sebagai ahli menotok
jalan darah yang lihai sekali. Mendengar perintah rajanya, dia lalu menggerakkan tangan kanannya, dua
jari yaitu telunjuk dan jari tengahnya menusuk ke arah pundak kini Ceng Ceng, di bagian jalan darah Kinceng-
hiat.
“Takkk! Aughhh...!”
Liauw Kui terhuyung ke belakang sambil memegangi tangan kanannya. Dua batang jari tangannya seperti
akan patah-patah rasanya dan hawa panas yang amat hebat menyerangnya dari pundak gadis itu,
membuat seluruh lengan kanannya seperti lumpuh dan kehilangan tenaga!
Tentu saja semua orang menjadi terheran-heran melihat keanehan ini. Gadis itu masih duduk di atas kursi
dalam keadaan terbelenggu, dan memejamkan matanya, alisnya berkerut, semua tubuhnya mengeluarkan
hawa panas. Jelas bahwa gadis itu tidak seperti sedang mengerahkan tenaga, akan tetapi mengapa jarum
menjadi patah dan totokan Si Petani Maut menjadi gagal?
dunia-kangouw.blogspot.com
Pada saat itu Ceng Ceng memang sudah tidak merasakan apa-apa lagi. Telinganya bagai penuh dengan
bunyi mengaung-ngaung dan biar pun kedua matanya dipejamkan, namun dia masih melihat warna merah
serta darah yang menyilaukan, dan seluruh tubuhnya terasa nyeri semua. Celaka, pikirnya, aku tentu
keracunan hebat, akan tetapi pikiran ini hanya seperti kilatan halilintar saja karena segera pikirannya
menjadi kosong lagi dan seluruh perhatiannya hanya tertuju pada pergerakan hebat di dalam perutnya,
pusarnya, dadanya dan semua tubuhnya, bahkan pergerakan itu sampai terasa ke ubun-ubun kepalanya.
“Dia... dia mempunyai ilmu yang mukjijat... ingat, dia gadis beracun!” Liauw Kui berkata dan semua orang
sudah mencabut senjatanya.
“Biar aku menotoknya dengan poan-koan-pit!” teriak Yu Ci Pok dan cepat dia telah menggerakkan senjata
pensil baja itu ke arah punggung dan tengkuk Ceng Ceng
“Cus-cuss... krekk-krekkk! Aihhh...!” Yu Ci Pok meloncat ke belakang, tubuhnya tergetar dan kedua buah
senjata pensil itu patah menjadi empat potong!
“Ilmu siluman...! Biar kita keluarkan darahnya dan kita tampung!” Berkata Tambolon. “Cepat ambilkan
panci!”
Song Lan Ci, orang pertama dari Loan-ngo Mo-li, sudah cepat lari dan minta sebuah panci kepada anak
buah Tambolon, kemudian dia datang lagi dan bersama empat orang saudaranya dia pun sudah mencabut
pedang-pedang samurai mereka.
Tambolon sudah mencabut pedangnya. Dengan gerakan tangkas dia sudah menerjang ke depan,
menusukkan pedangnya ke arah leher Ceng Ceng karena leher itu tentu akan mengalirkan semua darah
segar dari tubuh dara itu yang akan ditadahi dengan panci. Dia akan ‘menyembelih’ gadis itu di atas
kursinya dalam keadaan terbelenggu!
Pada saat itu, Ceng Ceng sudah berada dalam keadaan puncak dari getaran hawa mukjijat yang
menguasai seluruh tubuhnya. Dia sudah menahan-nahan diri agar tidak muntah karena keadaannya itu
membuat dia merasa mual dan ingin muntah. Namun pada saat pedang Tambolon bergerak, dia sudah
tidak dapat bertahan lagi, merasa seolah-olah nyawanya dicabut melalui mulutnya, maka dara yang
merasa bahwa dia tentu mati pada saat itu, padahal sakit hatinya belum terbalas, pemuda laknat itu belum
terdapat olehnya, rasa penasaran membuat dia menjerit sekuatnya. Lengking yang amat hebat keluar dari
tenggorokannya, dibarengi dengan gerakan tubuhnya yang seolah-olah hendak meronta dan melawan
maut yang disangka hendak merenggut nyawanya.
“Aaaiiihhhhh...!” Lengking ini diikuti dengan keluarnya darah menghitam bergumpal-gumpal yang
dimuntahkan oleh mulut Ceng Ceng, akan tetapi hebatnya, pada saat dia menggerakkan tubuhnya, kaki
tangannya bergerak dan semua tali sutera kokoh kuat yang membelenggunya putus semua.
Bukan itu saja, dari dua tangannya yang bergerak kalang-kabut itu keluar hawa mukjijat yang luar biasa
dahsyatnya sehingga Tambolon yang sedang menusukkan pedangnya, kena digempur hawa mukjijat ini
sehingga dia terlempar ke belakang. Tidak terkecuali Si Petani Maut dan Si Siucai Maut, bersama Loanngo
Mo-li yang memegang samurai, terdorong oleh hawa mukjijat dari gerakan kedua dengan tangan Ceng
Ceng sehingga mereka itu terlempar ke belakang dan terbanting ke atas lantai dengan keras!
Ceng Ceng membuka matanya, merasa betapa dada dan perutnya lega bukan main setelah dia
memuntahkan darah bergumpal-gumpal itu. Melihat betapa gerakan-gerakannya dapat mematahkan
belenggu dan merobohkan delapan orang itu, dia sendiri terheran dan terkejut, akan tetapi kecerdasannya
mengingatkan bahwa dia kini memperoleh kesempatan baik sekali. Cepat dia meloncat keluar dan
melarikan diri di dalam kegelapan malam!
Tidak lama kemudian, setelah sadar dari keterkejutan yang hebat, Tambolon dan para pembantunya
meloncat bangun, kemudian sambil berteriak-teriak mereka melakukan pengejaran, diikuti oleh anak buah
mereka. Akan tetapi Ceng Ceng telah lenyap dan selain Tambolon sendiri, juga para pembantunya masih
terkejut dan jeri menyaksikan kehebatan gadis itu.
Ceng Ceng sendiri juga terheran-heran. Dia tidak tahu mengapa bisa terjadi seperti itu, akan tetapi karena
dia seorang gadis yang memiliki kecerdasan, dia teringat dan menduga bahwa tentu semua itu adalah
khasiat darah anak ular naga yang telah diminumnya. Agaknya baru sekarang khasiat anak ular naga itu
memperlihatkan diri, dan hasilnya memang hebat. Hanya dia masih belum mengerti benar keadaannya dan
dunia-kangouw.blogspot.com
sayang bahwa Topeng Setan tidak berada di situ, karena kalau ada, tentu pembantunya yang serba bisa
itu akan dapat memberi keterangan.
Memang dugaan Ceng Ceng tidak keliru, semua itu adalah khasiat dari darah anak ular naga dan darahdarah
hitam bergumpal-gumpal yang keluar dari mulutnya itu adalah dari racun-racun yang dahulu dilatih
dan berada di tubuhnya. Hawa mukjijat itu adalah hawa yang dibangkitkan oleh darah anak ular itu.
Seluruh tubuh Ceng Ceng masih gemetar. Ketika dia menyelinap di antara pohon-pohon, mendadak dua
orang anak buah Tambolon muncul dan hampir bertumbukan dengan dia di tempat gelap. Mereka samasama
kaget, tetapi dua orang anak buah Raja Tambolon itu telah mengenalnya dan cepat mereka
mengangkat golok mereka untuk menyerang sambil berteriak-teriak memanggil teman-teman mereka.
Ceng Ceng yang masih merasa gemetar tubuhnya dan dikuasai oleh hawa yang bergerak-gerak, merasa
lemas dan tidak bersemangat untuk melayani mereka. Setelah mengelak, dia lalu teringat akan senjatanya
yang ampuh, yaitu ludahnya.
“Cuh! Cuhh!” Dua kali dia meludah dan tepat mengenai muka dua orang lawan itu.
Akan tetapi Ceng Ceng menjadi kaget dan bingung karena dua orang yang terkena ludah beracunnya itu
sama sekali tidak roboh, bahkan menyumpah-nyumpah marah dan menyerangnya lebih ganas lagi! Dan
karena teriakan mereka tadi, kini muncul lagi dua orang lain yang segera mengepungnya.
Celaka, pikirnya. Kalau sampai Tambolon dan para pembantunya datang, dia tentu celaka.
“Minggir...!” teriaknya dan kaki tangannya bergerak menyerang.
Gerakannya kacau karena Ceng Ceng merasa betapa tenaganya sendiri lenyap ditelan oleh hawa yang
masih bergerak-gerak itu seolah-olah dia tidak mampu lagi menguasai kaki tangannya. Akan tetapi, begitu
kedua tangannya bergerak mendorong ke depan dan kanan kiri, empat orang itu memekik ngeri, terlempar
dan senjata mereka terpental, terbanting dan tidak bangun lagi karena mereka tewas seketika!
Ceng Ceng mendengar datangnya banyak kaki orang, maka cepat dia membalikkan tubuhnya dan lari dari
situ. Begitu dia meloncat, hampir dia berteriak kaget karena loncatannya kini seperti terbang saja. Sekali
meloncat dia sudah melayang ke atas hampir menabrak pohon! Tubuhnya begitu ringan dan loncatannya
begitu kuat sehingga dia tidak dapat menguasai lagi tubuhnya.
“Brukkk!”
Dia terbanting ke atas tanah seperti seekor burung sedang belajar terbang. Akan tetapi Ceng Ceng
merangkak bangun dan lari lagi, sekali ini dia berhati-hati karena dia mulai maklum bahwa di dalam
tubuhnya terdapat tenaga mukjijat yang liar dan tidak dapat dikendalikan sehingga jika dia salah
menggunakannya, dia tidak mampu lagi mengatur keseimbangan dirinya.
Akhirnya dia dapat meninggalkan tempat itu dan tidak mendengar lagi suara para pengejarnya. Tadinya dia
berniat untuk mengejar Tek Hoat dan menolong Syanti Dewi, akan tetapi dia tidak tahu ke mana perginya
pemuda berhati palsu itu, maka dia lalu memutuskan untuk kembali saja mencari dan menolong Topeng
Setan. Akan tetapi tiba-tiba kepalanya terasa pening bukan main dan tanpa dapat dicegahnya lagi
tubuhnya terguling. Karena gelap, dia tidak tahu bahwa dia terguling ke dalam sebuah jurang. Untung
baginya bahwa jurang itu tidak terlalu dalam, dan bahwa di luar kesadarannya, tubuhnya seperti balon
karet terisi penuh hawa yang penuh, maka biar pun dia pingsan, ketika terguling-guling ke dalam jurang itu
tubuhnya sama sekali tidak terluka, terlindung oleh hawa mukjijat itu.....
********************
“Kalian pengecut-pengecut hina-dina, manusia-manusia busuk yang tak tahu malu!” maki-makian itu
terdengar dari dalam sebuah kamar tahanan yang sangat kuat, berdinding tebal dan berpintu besi. “Kalau
kalian berani mengganggu seujung rambut saja dari Ceng Ceng, aku bersumpah akan menghancurkan
kepala kalian satu demi satu!”
Yang memaki-maki ini adalah Topeng Setan! Dapat dibayangkan betapa risau hatinya kalau dia mengingat
akan nasib Ceng Ceng yang telah terjatuh ke dalam tangan Hek-tiauw Lo-mo. Kalau saja anak ular naga
itu belum diminum darahnya oleh Ceng Ceng, masih ada harapan bagi dara itu untuk lolos dengan
selamat. Akan tetapi, darah anak ular itu telah diminum Ceng Ceng dan dia tahu bahwa Hek-tiauw Lo-mo
dunia-kangouw.blogspot.com
manusia iblis itu amat membutuhkan darah itu. Dia tahu bahwa Hek-tiauw Lo-mo tidak akan ragu-ragu lagi
untuk makan daging dan minum darah Ceng Ceng untuk memperoleh khasiat darah anak ular naga itu.
Membayangkan ini, hatinya merasa ngeri dan dia berteriak-teriak dan memaki-maki.
“Hek-tiauw Lo-mo, pencuri busuk, keparat keji dan curang. Hayo kau tandingi aku, satu lawan satu, jangan
mengandalkan orang banyak selagi aku terluka dan jangan kau berani mengganggu Ceng Ceng!”
Karena Topeng Setan selalu meronta dan memaki, maka ketika dia roboh tadi, dia lalu dibelenggu di dalam
kamar tahanan ini dan keadaannya mengerikan sekali. Pundak kirinya yang buntung itu masih
mengeluarkan darah, buktinya bajunya di bagian pundak itu masih basah dan merah. Kedua kakinya,
demikian pula tangan kanannya, sudah dibelenggu dengan belenggu baja yang amat kuat dan diikatkan
pada tiang-tiang di sudut kamar sehingga tubuhnya tergantung menelungkup, terapung kurang lebih dua
kaki dari lantai.
Tentu saja dia berada dalam keadaan tersiksa. Hanya satu hal yang tidak berani dilakukan oleh para anak
buah Pulau Neraka atau anak buah Hek-tiauw Lo-mo, yaitu membuka topengnya. Hal ini adalah karena
pesan dari Mauw Siauw Mo-li sendiri yang memenuhi permintaan Suma Kian Bu. Sampai kini, para anak
buah itu tidak berani membuka topeng buruk itu, akan tetapi karena Topeng Setan selalu memaki-maki
Hek-tiauw Lo-mo, menantang-nantang dan berteriak-teriak sepanjang malam, para anak buah yang terdiri
dari orang berwatak keras dan berhati kejam itu menjadi marah dan benci sekali! Mulailah mereka
mencambuki tubuh yang sudah tergantung menelungkup itu.
Melihat Topeng Setan tidak mempedulikan siksaan ini, dan tidak menghentikan maki-makiannya seperti
yang diperintahkan oleh para penjaga, para anak buah Hek-tiauw Lo-mo menjadi makin marah. Mereka kini
tidak hanya mencambuki, juga menyirami dengan air, menggunakan pentungan untuk menggebuki
punggung dan pinggulnya sehingga terdengar suara bak-buk-bak-buk di samping meledaknya pecut.
Hebatnya, semua cambukan dan gebukan itu seolah-olah tidak terasa oleh Topeng Setan yang masih
menantang-nantang.
Karena dia maklum bahwa dalam keadaan seperti itu dia sama sekali tidak berdaya, sedangkan Ceng
Ceng terancam bencana hebat, maka Topeng Setan melampiaskan kekhawatiran dan kemarahannya
dengan berteriak-teriak dan memaki-maki untuk memancing kemarahan Hek-tiauw Lo-mo dan agar
perhatian mereka semua tidak hanya tercurah kepada Ceng Ceng yang tidak diketahuinya bagaimana
nasibnya itu. Topeng Setan tidak tahu pula akan apa yang terjadi malam tadi, hanya mendengar teriakan
kebakaran.
Kini, setelah malam lewat, sikap para anak buah Hek-tiauw Lo-mo lebih kejam lagi. Muncul di situ Hektiauw
Lo-mo yang wajahnya muram dan keruh.
“Iblis laknat Hek-tiauw Lo-mo, kalau kau berani, hayo kau lawan aku, laki-laki sama laki-laki, jangan
mengganggu wanita! Ataukah kau sudah demikian pengecut tidak berani melawan seorang laki-laki yang
sudah cacat dan terluka? Ha-ha-ha, betapa hina engkau!” Topeng Setan memaki-maki dan meronta-ronta
sehingga belenggu-belenggu tangan dan kedua kakinya mengeluarkan bunyi berkerontangan.
“Siksa dia, akan tetapi jangan bunuh dulu! Siksa dia sampai dia minta-minta ampun kepadaku!” bentak
Hek-tiauw Lo-mo yang berwajah keruh itu, lalu meninggalkan kamar tahanan Topeng Setan.
Dia datang hanya untuk memeriksa apakah Topeng Setan masih berada di situ dan sekali pandang saja
tahulah dia bahwa Topeng Setan tak ada sangkut pautnya dengan terbebasnya Ceng Ceng dan larinya
Suma Kian Bu. Akan tetapi dia sudah berpesan kepada semua anak buahnya agar Topeng Setan tidak
tahu akan peristiwa lolosnya Ceng Ceng malam tadi.
Mendengar perintah dari kepala mereka, tentu saja para penjaga itu menjadi girang sekali. Mereka
memang ingin melampiaskan kemendongkolan dan kemarahan mereka. Seorang di antara mereka yang
mempunyai banyak akal mencari cara-cara penyiksaan yang paling sadis, segera mengusulkan untuk
mencari batu besar dan menindihkan batu itu di atas punggung Topeng Setan agar orang ini remuk
punggungnya kalau tidak cepat-cepat minta ampun. Semua orang setuju dan enam orang di antara mereka
lalu keluar dan menggotong sebongkah batu besar yang beratnya tentu lebih dari tiga ratus kati.
Batu besar itu mereka pergunakan untuk menindih punggung Topeng Setan sampai melengkung ke bawah
ketika punggungnya ditindih batu seberat itu, akan tetapi dia mengerahkan tenaganya, pinggulnya
digerakkan secara tiba-tiba dan batu besar itu terlempar mencelat dari atas punggungnya, hampir menimpa
dunia-kangouw.blogspot.com
seorang di antara mereka yang cepat meloncat ke samping sehingga hanya sebuah bangku kayu saja
yang hancur berkeping-keping tertimpa batu itu.
“Ambil yang lebih berat lagi!” teriak seorang di antara mereka.
Kini enam orang itu menggotong sebongkah batu yang lebih besar. Mereka berenam adalah anggotaanggota
Pulau Neraka yang lihai dan bertenaga besar dan batu yang mereka gotong itu tentu lebih dari
lima ratus kati beratnya. Dengan beramai-ramai mereka kini mengangkat batu besar itu dan
menindihkannya ke atas punggung Topeng Setan.
Wajah belasan orang yang sudah biasa dengan segala macam kekejaman itu kelihatan puas ketika melihat
betapa perut Topeng Setan hampir menyentuh lantai dan terdengar keluhan dari mulut di balik topeng itu
ketika batu besar menghimpitnya dari atas. Tangan yang tinggal sebelah itu menegang tertahan
belenggunya, demikian pula kedua kakinya.
Akan tetapi sedikit pun tidak ada kata-kata rintihan atau permintaan ampun dari mulut Topeng Setan. Dia
kembali mengerahkan tenaga dari pusarnya. Memang tidak mudah karena selain dia masih menderita
karena luka di pundaknya yang buntung, juga dalam keadaan tergantung menelungkup itu, dia harus pula
menggunakan tenaganya untuk menahan agar kaki tangannya tidak terluka atau patah tulangnya. Dan dia
sudah tergantung seperti itu selama satu malam suntuk!
“Haiiiiittttttt!” Setelah beberapa kali mencoba tanpa hasil dan ditertawakan oleh para penjaga, mendadak
Topeng Setan mengeluarkan seruan ini dan kembali pinggulnya bergerak mengerahkan tenaga dan... batu
sebesar kerbau yang amat berat itu segera terlempar dari punggungnya.
“Awas... minggir...!” Mereka berteriak akan tetapi tetap saja seorang di antara mereka kena tertimpa
sehingga terlempar dan terguling-guling dan mengalami luka-luka parah.
Hal ini tentu saja membuat para penjaga itu menjadi makin marah dan penasaran saja. Kalau tidak ada
larangan dari kepala mereka, tentu mereka sudah menghujankan senjata untuk membunuh orang yang
keras hati dan keras kepala ini. Kembali mereka menghujankan cambuknya dan gebukan sampai tangan
mereka sendiri lecet-lecet. Namun Topeng Setan yang juga mengalami rasa puas sudah dapat membikin
marah Hek-tiauw Lo-mo dan kaki tangannya, makin mengejek dan menantang-nantang.
Karena dalam keadaan tidak berdaya dan tidak tahu apa yang terjadi dengan Ceng Ceng, maka sedikitnya
dia sudah merasa puas dengan dapat membikin hati mereka tidak senang, dan tadi melihat kekeruhan
wajah Hek-tiauw Lo-mo, timbul harapan di dalam hatinya. Kalau wajah Ketua Pulau Neraka itu keruh,
berarti telah terjadi hal yang tidak menyenangkan hatinya dan hal ini tentu ada hubungannya dengan Ceng
Ceng!
Apakah gadis itu dapat menyelamatkan dirinya? Atau setidaknya dapat mengakali Hek-tiauw Lo-mo
sehingga untuk sementara dapat terbebas dari ancaman maut? Dan dia melihat adanya Suma Kian Bu di
tempat ini. Akan janggal dan tidak masuk akallah kalau putera Pendekar Super Sakti itu membiarkan saja
Ceng Ceng dibunuh! Ahh, dia masih dapat mengharapkan pemuda tampan itu! Harapan-harapan ini
membuat hatinya menjadi besar dan dia menantang-nantang lebih berani lagi.
“He, Hek-tiauw Lo-mo, jangan lari kau! Hayo kau keroyoklah aku dengan semua anak buahmu! Aku akan
mematahkan batang leher kalian satu demi satu!”
Kini para penjaga sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi. Tidak peduli apakah akibatnya tawanan
ini akan mampus, mereka segera mendorong sebongkah batu penggilingan tahu yang besar sekali, batu
penggilingan tahu ini beratnya ada seribu kati! Saking beratnya, mereka tidak mampu menggotongnya dan
hanya dapat mendorong batu yang bentuknya bundar itu, kemudian dengan pengerahan tenaga belasan
orang, mereka dapat mengangkat gilingan tahu itu dan menindihkannya ke atas panggung Topeng Setan!
Sekali ini Topeng Setan tak mampu berkutik lagi. Kedua kakinya tergantung, demikian tangan kanannya,
badannya terayun dan ditindih batu sebesar dan seberat itu. Dia merasa seolah-olah kedua kaki dan
sebelah tangannya akan copot pergelangannya. Napasnya sesak dan keringatnya bertetesan satu-satu
dan besar-besar. Semua orang bersorak dan tertawa-tawa, ada yang menjambak rambutnya dan berkata,
“Hayo kau gebrakkan lagi pantatmu yang lihai itu agar batu ini terlempar!”
“Lihat, dia sudah empas-empis mau mampus!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hati-hati, kawan, jangan sampai dia benar-benar mampus!”
“Tidak, kalau dia sudah sekarat mau mampus kita gulingkan batu ini dari punggungnya. Paling-paling
tulang punggungnya remuk, ha-ha-ha!”
Dapat dibayangkan betapa hebat siksaan ini terasa oleh Topeng Setan. Menahan agar tulang-tulang kaki
dan tangannya tidak copot saja sudah amat sukarnya, apa lagi melemparkan batu seberat itu dari
punggung dengan hanya tenaga gerakan pinggul. Peluh mengucur keluar dengan derasnya dan dia hampir
putus asa. Punggungnya terasa seperti akan patah. Sendi-sendi tulangnya seperti mau copot semua.
Terutama sekali sendi pergelangan kedua kaki dan tangan kanannya, tak mungkin dapat bertahan lama.
Akan tetapi, dia tidak boleh putus asa. Dia harus tetap hidup untuk dapat menyelamatkan dan melindungi
Ceng Ceng! Otot-otot di tubuhnya mengeras, dia ingin bertahan dengan tenaga dalamnya. Dia harus
membuat tubuhnya menegang dengan pengerahan sinkang, menegang kaku seperti batu. Karena kalau
sedikit saja mengendur, tentu tulang kaki, tangan atau punggungnya akan patah. Mengeluh dan minta
ampun? Pantangan besar bagi seorang gagah! Lebih baik mati dengan tubuh gepeng dan tulang remuk
dari pada harus minta ampun!
Dia maklum bahwa nyawanya tergantung kepada selembar rambut. Sedang nyawanya sendiri terancam,
mana bisa menolong Ceng Ceng. Kiranya tidak ada orang di dunia ini yang akan mau dan yang dapat
menolongnya dalam keadaan seperti itu. Akan tetapi ada! Yaitu gurunya! Akan tetapi gurunya itu tidak
pernah mencampuri urusan dunia!
Dalam keadaan menghadapi maut itu, Topeng Setan teringat akan gurunya, manusia yang memiliki
kepandaian tidak lumrah manusia itu. Kalau saja dia sepandai gurunya, dalam keadaan seperti ini pun
tentu akan dapat membebaskan diri, akan dengan mudah melemparkan batu seberat ini. Mengapa dia
tidak bisa sehebat gurunya? Padahal gurunya itu pun hanya seorang manusia yang buntung sebelah
lengannya!
Tiba-tiba Topeng Setan teringat akan sesuatu, teringat akan pesan gurunya dahulu. Pelajaran yang
diberikan kepadanya di waktu itu, pesan gurunya di waktu itu, sebelum ini memang tak pernah
diperhatikannya. Akan tetapi setelah sebelah lengannya buntung, setelah dia terhimpit dan terancam maut,
tiba-tiba dia teringat akan semua itu. Gurunya pernah berkata kepadanya bahwa kini gurunya menemukan
seorang ahli waris yang tepat dan cocok sekali, yaitu dirinya sendiri, sehingga ilmu rahasia perguruan yang
dirahasiakan itu tidak akan musnah.
“Ilmu rahasia ini tidak dikenal oleh seluruh tokoh persilatan di dunia, muridku,” demikian kata gurunya.
“Akan tetapi kiranya jarang ada ilmu silat dan ilmu menghimpun tenaga sinkang yang akan mampu
menandingi ilmu rahasia kita ini. Ilmu ini telah ribuan tahun terpendam dan baru setelah tiba di tanganku,
kupelajari dan kusempurnakan. Bahkan aku belum pernah mempergunakan ilmu ini saking hebatnya, dan
karena aku memang tidak pernah bermusuhan dengan siapa pun. Ilmu ini kunamakan Ilmu Sin-liong-hok-te
(Naga Sakti Mendekam di Atas Tanah). Engkaulah yang menjadi ahli waris ilmu rahasia ini, muridku.”
Setelah berkata demikian, gurunya mengajarkan teori ilmu yang sakti itu.
Dahulu, dia merasa heran dan tidak mengerti, biar pun dia tidak berani membantah gurunya, mengapa
gurunya mengajarkan ilmu itu kepadanya. Ilmu Sin-liong-hok-te itu adalah ilmu mukjijat yang hanya tepat
dipelajari oleh orang yang lengannya buntung sebelah, itu pun harus lengan kanan yang masih tinggal,
seperti keadaan gurunya yang lengannya hanya sebelah kanan itu. Akan tetapi gurunya tetap saja
mengajarkannya kepadanya. Hal ini sekarang membuat dia makin tunduk dan kagum kepada suhu-nya
yang ternyata selain memiliki kesaktian hebat, juga agaknya telah dapat mengetahui bahwa dia akhirnya
pun akan menjadi buntung lengan kirinya, seperti gurunya!
Dahulu, biar pun dia sudah hafal akan teorinya, dia mengalami kesukaran hebat ketika melatihnya. Ilmu
Sin-liong-hok-te itu, sesuai dengan namanya, harus dilatih dengan tubuh menelungkup di atas tanah,
seperti naga mendekam. Dan ketika berlatih, tubuh harus kejang dan kaku dari awal sampai akhirnya.
Latihan yang amat hebat, karena membuat tubuh seluruhnya kejang kaku itu bukan dalam waktu pendek,
karena latihan itu memakan waktu sampai setengah hari!
Berbahayanya, ketika sedang melatih sinkang berdasarkan ilmu itu, tubuh sedikit pun tidak boleh
mengendur, karena selagi mengerahkan sinkang seperti yang diajarkan dalam ilmu tadi, sedikit saja tubuh
mengendur, orang yang melatihnya akan dapat menjadi lumpuh kaki tangannya untuk selama hidupnya!
dunia-kangouw.blogspot.com
Inilah yang amat sukar sehingga sampai dia meninggalkan gurunya, dia belum juga dapat menguasai ilmu
itu. Selalu yang menjadi penghalang dahulu adalah adanya lengan kirinya. Gurunya sudah berkali-kali
menganjurkan agar dalam latihan ilmu itu, dia ‘melupakan’ lengan kirinya. Akan tetapi mana mungkin?
Karena itu dia belum juga berhasil.
Topeng Setan melamun mengenangkan masa lalu itu sambil terus menegangkan tubuhnya untuk menahan
gilingan tahu yang amat berat dan menindih tubuhnya itu. Dan pada saat itu dia sadar! Bukankah
keadaannya pada saat itu sangat cocok untuk melatih dan menyempurnakan Ilmu Sin-liong-hok-te yang
sampai saat ini belum dapat dikuasainya itu? Sekarang tubuhnya juga menelungkup dalam keadaan kaku
menegang seluruhnya, biar pun tidak menelungkup di atas lantai. Yang penting, dia pun dalam keadaan
tegang terus tubuhnya, karena kalau tidak, mengendur sedikit saja, tulang punggungnya bisa patah!
Bagus sekali, semua persyaratan terpenting dari cara melatih ilmu ini telah terpenuhi. Lengannya tinggal
yang kanan saja sehingga lengan kiri yang selalu mengganggu penyaluran tenaga itu tidak ada lagi, dan
dia harus menelungkup dengan tubuh kaku menegang terus. Namun, tadi para penyiksanya ini selalu
mengganti penyiksaannya.
Bagaimana kalau sebelum dia dapat menguasai Sin-liong-hok-te kemudian mereka menurunkan batu
gilingan itu. Bisa celaka dia karena latihannya jadi terganggu dan setengah matang! Jangan-jangan dia
bisa menjadi lumpuh kaki tangannya. Terlalu berbahaya untuk menyempurnakan ilmu seperti itu dalam
keadaan di tangan musuh seperti ini. Akan tetapi dia tidak melihat jalan lain dan teringat ini, tanpa
disadarinya Topeng Setan mengeluh.
“Ha-ha-ha, mulai terasa sekarang, ya? Hayo kau lekas minta ampun kepada kami, baru kami akan
menurunkan batu ini agar kau tidak sampai mampus!” Seorang di antara mereka mengejek.
Bentakan yang disertai lecutan cambuk ke arah mukanya ini mendatangkan akal kepada Topeng Setan.
“Kalian anjing-anjing rendah! Siapa tidak kuat menahan... uhhh... uhhh... batu jahanam ini... uhhh...”
Topeng Setan berpura-pura kepayahan. “Mari kita bertaruh... bahwa aku akan kuat menahannya sampai
sebatang lilin putih bernyala habis.”
“Ha-ha-ha! Sebatang lilin dapat bernyala sampai tiga empat jam. Mana kau akan kuat bertahan?”
Memang inilah yang dikehendaki oleh Topeng Setan. Dia membutuhkan waktu berlatih kurang lebih tiga
empat jam!
“Berani atau tidak bertaruh? Kalau aku dapat bertahan sampai lilin itu padam, kalian menurunkan batu ini
dan selanjutnya jangan kalian menggangguku, biarkan Hek-tiauw Lo-mo sendiri yang berhadapan dengan
aku. Kalau aku tidak kuat bertahan, kalian boleh... boleh menanggalkan topengku!”
Tentu saja taruhan ini tidak usah dipikir panjang dua kali oleh mereka. Taruhan itu sama sekali tidak
merugikan mereka dan memang mereka ingin sekali melihat bagaimana macamnya orang yang
mempunyai kekuatan dan daya tahan sedemikian hebatnya. Seorang lalu berlari cepat mencari lilin dan
menyalakan lilin itu di situ.
Topeng Setan sudah mulai dengan latihannya, hatinya lapang karena dia yakin bahwa latihannya tidak
akan diganggu. Dia berlaku nekat, dan memang tidak ada jalan lain baginya. Dia harus berhasil dengan
latihannya, atau jika dia gagal, biarlah dia mati terhimpit batu itu. Peluhnya makin bertetesan dari seluruh
tubuhnya. Tubuhnya menjadi keras dan kejang seperti sebatang pohon kering atau lebih lagi, seperti tiang
baja.
Dengan menurutkan teori yang sudah dihafalnya tentang latihan Sin-liong-hok-te, dia mulai mengerahkan
sinkang yang berputar di pusarnya, hawa sinkang ini bergerak perlahan-lahan, mula-mula didorong ke
bawah menembus semua jalan darah sampai ke ujung kedua kakinya, terasa sampai ke jari-jari kakinya.
Lalu perlahan-lahan naik ke atas, ke dada dan ketika tiba di pundak, tenaga itu bergabung dan tersalur ke
samping kanan saja karena lengan kirinya sudah tidak ada. Inilah sukarnya bagi dia ketika dahulu latihan
ilmu mukjijat ini, ketika kedua lengannya masih utuh.
Ketika lengannya masih lengkap, tenaga atau hawa sinkang yang merayap ke atas itu selalu sebagian
menyeleweng ke lengan kiri, sukar sekali untuk dipusatkan ke lengan kanan. Padahal di dalam ilmu ini,
kalau tenaga sakti Sin-liong-hok-te sudah sempurna, inti tenaga sakti ini dipergunakan dalam ilmu silat
tangan kosong yang khusus diciptakan untuk seorang berlengan buntung sebelah, dengan tenaga sakti ini
dunia-kangouw.blogspot.com
sebagai dasar, yaitu Ilmu Silat Tangan Kosong Sin-liong-ciang-hoat (Ilmu Silat Tangan Kosong Naga
Sakti), lengan tunggal ini bergerak sebagai kepala naga, sedangkan kaki bergerak sebagai cakar naga.
Walau pun memakan waktu yang cukup lama, akhirnya hawa sakti itu dapat juga membelok dan berputar
pada lengan kanannya. Kini tinggal tingkat terakhir dari latihan itu, tingkat yang paling sukar dan
berbahaya, yaitu menyalurkan hawa itu ke dalam kepala! Amat sukar dan berbahaya sekali untuk
menembus terbuka jalan darah di ubun-ubun kepala, harus dilakukan dengan amat teliti, hati-hati dan
dengan pencurahan seluruh perhatian dan penyerahan lahir batin.
Para penjaga sudah mulai tertawa-tawa karena lilin itu sudah terbakar selama hampir tiga jam, tinggal
sedikit lagi dan Topeng Setan sudah kelihatan amat lelah kehabisan tenaga, kehabisan keringat dan
napasnya mulai terengah-engah. Topeng Setan sadar akan hal ini. Hampir dia tidak kuat bertahan lagi,
hampir menyerah!
Tenaganya telah terkuras habis, berjam-jam terus-menerus mengerahkan tenaga agar tubuhnya meregang
dan menegang kaku, sedangkan untuk dapat menerobos jalan darah di ubun-ubun bukanlah hal yang
mudah, membutuhkan pengerahan tenaga sinkang yang terpusat. Mana dia kuat dan mampu? Dia
berbeda dengan gurunya, dan dia masih terluka hebat.
“Ha-ha-ha-ha, lilinnya sudah hampir padam dan engkau pun sudah hampir padam!” seorang penjaga
mengejeknya.
“Wah-wah, mampus kau sekali ini, Topeng Setan! Apakah lebih baik kau menyerah saja, biar kubuka
topengmu dan kami turunkan batu ini?”
“Heh-heh, dia sudah tidak mampu menjawab. Dia sudah sekarat!”
Para penjaga yang wataknya kejam itu memperolok-oloknya dengan bermacam-macam kata-kata
mengejek dan semua ini bahkan menimbulkan kembali semangat Topeng Setan yang tadinya sudah
hampir tenggelam. Bernyala kembali api perlawanannya yang tadi sudah hampir padam.
Dia menggeleng kepala tanda belum menyerah, kemudian dia mengerahkan seluruh tenaganya. Tidak, dia
harus nekat sampai denyut darah terakhir. Dia tidak akan menyerah sampai mati. Dengan otak
membayangkan keselamatan Ceng Ceng dia memusatkan tenaga yang menjadi besar kembali terdorong
oleh kebulatan tekadnya, berusaha menjebol jalan darah ke ubun-ubun sebagai tingkat terakhir dari latihan
dan penguasaan ilmu mukjijat Sin-liong-hok-te.
Hanya tinggal sedikit lagi. Dia sudah merasa betapa hawa sakti membubung ke atas, kepalanya sudah
tergetar dan terasa panas. Tapi bukan main sukarnya dan kalau pada waktu itu para penjaga menurunkan
batu itu, hal ini bahkan akan mencelakakannya. Tenaganya sudah habis! Dia tidak kuat menembus bagian
tipis yang sedikit lagi itu. Seolah-olah terasa sudah olehnya tirai tipis yang sudah disentuhnya. Kalau masih
ada tenaganya, mendorong sedikit saja tentu sudah akan dapat menerobos tirai itu. Akan tetapi tenaganya
sudah habis!
“Wah, dia memang keras kepala! Manusia ini menjemukan sekali!” teriak seorang penjaga.
“Biar kuhajar kepalanya agar tahu rasa dia!” Penjaga lain yang memegang cambuk berteriak.
“Tar-tar-tar...! Plongggg...!”
Jalan darah ke ubun-ubun itu tertembus secara tiba-tiba dan tidak disengaja. Pada saat dia sedang
bersitegang untuk menembus tirai tipis yang tinggal sedikit itu, secara tiba-tiba cambuk melecut mengenai
ubun-ubunnya dan sentakan kaget ini membantunya sehingga merupakan bantuan yang tak tersangkasangka
pada saat yang kritis itu. Dia berhasil!
Hampir Topeng Setan tidak dapat mempercayai sendiri apa yang dirasakannya pada saat tirai tipis itu
tertembus oleh hawa saktinya dan semua jalan darah telah terbuka, seluruh hawa sakti di tubuhnya telah
meluncur dengan lancar dan cepatnya. Tubuhnya kini terasa nyaman, kepalanya terasa ringan, otaknya
menjadi terang dan sepasang matanya mengeluarkan cahaya mencorong menggiriskan, seperti mata naga
sakti, seperti mata suhu-nya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Beban berat yang menindih punggungnya tidak terasa lagi olehnya, yang terasa hanyalah hawa penuh
yang berputar-putar cepat sekali di seluruh tubuhnya, seolah-olah seekor naga sakti melayang-layang
berputaran di angkasa mencari korban.
Para penjaga yang tidak sadar akan perubahan ini masih mengejek, bahkan Si Pemegang Cambuk kini
mengayun cambuknya dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk melecut kepala yang menelungkup itu.
“Tarrr... brolll...! Aduhhh...!”
Bukan main hebatnya akibat dari lecutan ini, seolah-olah lecutan yang membuka bendungan besar tenaga
sakti yang kini datang membanjir dengan hebatnya. Naga sakti yang melayang-layang itu seperti
memperoleh mangsa oleh lecutan itu. Tenaga mukjijat yang berputaran di tubuh Topeng Setan itu bergerak
melawan ketika melecut, dan akibatnya, Si Pemegang Cambuk itu roboh dan mati seketika dengan tubuh
membiru karena semua urat-uratnya tergetar pecah-pecah oleh tenaganya sendiri yang membalik dengan
kuatnya.
Batu penggilingan tahu yang mendidih punggung itu mencelat seperti dilontarkan, menghantam dua orang
penjaga yang menjadi remuk badannya dan masih terus menerjang dinding batu sehingga ambrol dan
berlubang besar. Belenggu tangan kanan dan kedua kaki yang terbuat dari baja tebal itu patah-patah
semua dan jatuh berkerontangan di atas lantai!
Kini Topeng Setan berdiri di tengah kamar tahanan itu dan berteriak dengan suara menyeramkan, “Mana
Hek-tiauw Lo-mo? Bebaskan aku!”
Para penjaga lainnya memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak, ada yang terkencing ketakutan
melihat orang bertopeng yang berdiri tegak dengan mata mencorong seperti itu, ada yang kedua kakinya
menggigil dan tidak mampu melangkah selangkah pun untuk mengikuti teman-temannya yang mundur
melarikan diri.
“Hek-tiauw Lo-mo manusia iblis! Hayo kau bebaskan Ceng Ceng...!” Kembali Topeng Setan berteriak.
Mendadak terdengar suara Hek-tiauw Lo-mo dari sebelah kiri, dari dinding yang masih utuh. “Topeng
Setan, aku berada di sini!”
Mendengar suara musuhnya ini, dengan sekali gerakan saja, tubuh Topeng Setan melayang ke arah
dinding, tangan kanannya mendorong dinding dan...
“Braaakkkk!”
Dinding itu jebol dengan amat mudahnya! Begitu dia menerobos dinding ini dan tiba di sebuah ruangan
lain, dari kanan kiri menyambar anak-anak panah yang tak mungkin dielakkannya lagi. Topeng Setan
terpaksa menangkis dengan tangan kanan sambil mengerahkan tenaga di seluruh tubuh untuk
mengebalkan tubuh. Hawa mukjijat di tubuhnya itu berputar cepat sekali dan betapa girang hati Topeng
Setan ketika menyaksikan betapa anak-anak panah itu begitu menyentuh tubuhnya, di bagian mana pun,
runtuh semua dan patah-patah!
Hek-tiauw Lo-mo, Ji Song kakek gendut pembantunya, dan Mauw Siauw Mo-li sumoi-nya, memandang
dengan mata terbelalak. Ketika anak panah itu habis, yang ternyata dilepas dari alat-alat rahasia, Topeng
Setan memandang ke depan dan matanya yang mencorong itu berapi-api ketika dia melihat Hek-tiauw Lomo.
“Hek-tiauw Lo-mo, kalau kau tidak bebaskan Ceng Ceng, aku akan menghancurkan kepalamu!”
Hek-tiauw Lo-mo mengangkat tangan kanannya ke atas. “Topeng Setan, jangan bergerak kau! Sekali
bergerak, nona itu akan dibunuh oleh pembantu-pembantuku seperti yang sudah kuperintahkan. Aku akan
membebaskan gadis itu dan juga engkau asal engkau suka membantuku sekali ini. Kalau engkau menolak,
gadis itu akan kusuruh bunuh lebih dulu sebelum kami akan menghadapimu dalam pertempuran matimatian.”
Topeng Setan memandang tajam. Betapa cerdiknya Ketua Pulau Neraka ini, pikirnya. Kalau iblis tua ini
membawa Ceng Ceng pada saat itu, dengan ilmunya yang mukjijat telah dikuasainya kini, agaknya dia
akan mampu merampas Ceng Ceng dari tangan orang-orang ini. Akan tetapi iblis tua yang cerdik ini
menyembunyikan Ceng Ceng, dan orang macam dia ini tentu benar-benar akan membunuh Ceng Ceng
kalau dia tidak memenuhi permintaannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kalau kau menipuku, ke mana pun kau pergi akan kukejar sampai dapat, Hek-tiauw Lo-mo.”
“Tidak! Aku bicara sebagai seorang tokoh kang-ouw terhadap seorang tokoh lain, dan namaku akan
tercemar selama hidupku kalau aku menipumu. Aku akan membebaskan kalian kalau engkau mau dan
berhasil membantuku.”
“Katakan, apa yang harus kulakukan!”
“Kami sedang diserbu musuh-musuh yang lihai, dan kalau engkau bisa mengundurkan musuh-musuh itu,
nah, aku Hek-tiauw Lo-mo berjanji akan membebaskan engkau dan gadis itu.”
“Siapakah musuh-musuhmu itu?”
“Mereka adalah serombongan pengawal yang dipimpin oleh Gak Bun Beng, Puteri Milana, dan Suma Kian
Bu.”
Terkejut sekali hati Topeng Setan mendengar ini, alisnya berkerut. Bagaimana dia berani melawan? Andai
kata dia mampu menghadapi mereka juga, bagaimana dia dapat melawan orang-orang yang dia tahu
adalah pahlawan-pahlawan dan pendekar-pendekar besar itu? Akan tetapi, keselamatan Ceng Ceng
berada di tangan Hek-tiauw Lo-mo! Topeng Setan menjadi bingung sekali.....
********************
Bagaimana Gak Bun Beng, Milana, dan Suma Kian Bu dapat berkumpul dan sekarang dikatakan oleh Hektiauw
Lo-mo bahwa mereka sedang memimpin pasukan pengawal menyerbu dusun itu? Untuk mengetahui
hal ini, baiknya kita membiarkan dulu Topeng Setan yang sedang kebingungan itu dan mari kita mengikuti
pengalaman Gak Bun Beng dan Milana.....
Seperti telah dituturkan di bagian depan, dengan hati seperti disayat-sayat Gak Bun Beng terpaksa
meninggalkan istana Milana, bekas kekasihnya dan yang masih merupakan satu-satunya wanita yang
dicintanya di dunia ini. Perih sekali hatinya ketika dia melihat kenyataan bahwa Milana juga masih mencinta
dia! Bahwa wanita yang dicintanya itu ternyata hidup merana, hidup sengsara di samping suaminya itu,
karena Milana tidak pernah dapat melupakan dia.
Betapa akan mudahnya untuk membiarkan diri terbenam dalam kebahagiaan bersama Milana, menuruti
suara hati dan dorongan keinginan yang ditekan-tekannya selama belasan tahun ini. Namun kalau dia
menuruti hati dan menerima uluran kasih sayang Milana, akan menjadi orang macam apakah dia? Tidak!
Ayahnya dulu terkenal sebagai seorang datuk sesat, berjuluk Kang-thouw-kwi Gak Liat, dan kelahiran
dirinya pun adalah akibat perbuatan terkutuk ayahnya itu atas pemerkosaannya terhadap ibunya.
Biar pun ayahnya seorang manusia iblis, dia harus menebus semua penyelewengan ayahnya itu dengan
perbuatan yang benar! Dan kalau dia kini menuruti nafsu hatinya, merebut seorang wanita seperti Milana
yang masih bersuami, berarti dia adalah sama tersesatnya dengan ayahnya. Tidak, biar hancur hatinya,
biar remuk hidupnya, dia tidak sudi melakukan hal ini dan dia telah melarikan diri dari Milana!
Namun, cintanya terhadap Milana demikian besarnya, mengalahkan segala-galanya. Dahulu, selama
belasan tahun dia telah mampu menekan perasaannya ini, menekan hasrat hatinya untuk bersanding
dengan wanita kekasihnya. Akan tetapi, setelah kini bertemu dengan Milana, duduk berdekatan,
mendengar suaranya, bahkan mendengar pernyataan cinta kasih wanita itu yang masih sebesar dahulu
terhadap dirinya, mana dia mampu berjauhan? Dia tidak kuat untuk berjauhan lagi.
Maka seperti seorang yang sinting Gak Bun Beng tak pernah jauh meninggalkan kota raja, bahkan kadangkadang
dia mencuri masuk, menggunakan kepandaiannya hanya untuk menjenguk dan melihat wajah
kekasihnya. Dia cukup puas hanya dengan melihat sepintas wajah yang tak pernah meninggalkan lubuk
hatinya itu, lalu pergi lagi, akan tetapi tidak jauh, hanya dekat di luar kota raja, bersembunyi.
Gak Bun Beng adalah seorang laki-laki yang sudah berusia tiga puluh sembilan tahun, hampir empat puluh
tahun dan selama hidup baru dengan Milana saja dia berdekatan dengan wanita. Dia adalah seorang
perjaka, bahkan setelah berpisah dengan Milana belasan tahun yang lalu, dia tidak pernah mau
memandang wanita lainnya dan seolah-olah sudah menutupkan pintu hatinya terhadap cinta asmara
antara pria dan wanita.
dunia-kangouw.blogspot.com
Segala macam bentuk nafsu keinginan lahir dari pikiran. Daya tarik yang terkandung, dalam keindahan
bentuk tubuh dan kecantikan serta kelembutan seorang wanita terhadap pandang mata seorang pria
memang sudah sewajarnya, akan tetapi dalam daya tarik itu tidak terkandung nafsu birahi.
Kalau kita kaum pria melihat seorang wanita dan kita lalu kagum akan kecantikannya, kelembutan dan
keluwesannya, maka hal itu hanya habis pada tingkat kekaguman saja. Akan tetapi begitu sang pikiran
masuk mencampuri, pikiran membayangkan hal yang bukan-bukan, kenangan-kenangan yang pernah
dirasakannya atau pernah didengar, pernah dilihatnya, maka sang pikiran ini lalu membayangkan betapa
akan senang dan nikmatnya kalau kita dapat memiliki wanita itu menjadi kawan bermain cinta dan
sebagainya, maka lahirlah nafsu birahi yang pada dasarnya hanyalah keinginan untuk menyenangkan diri
pribadi. Pikiran adalah diri pribadi, maka segala yang direncanakan dan diperbuat oleh pikiran selalu
berpusat pada kesenangan untuk diri pribadi.
Dengan kekuatan batinnya yang memang amat kokoh kuat, Gak Bun Beng berhasil menjauhkan diri dari
nafsu birahi dan tidak merasa terganggu. Akan tetapi tiba-tiba muncul Syanti Dewi dalam kehidupannya,
dan sifat-sifat dara yang amat baik ini dengan kekuatan mukjijat membuka lagi pintu hatinya. Jika saja dia
tidak mempunyai kesetiaan sampai mati kepada Milana, agaknya dengan amat mudahnya dia menerima
uluran tangan Syanti Dewi yang jatuh cinta kepadanya karena terdorong oleh hutang budi dan kekaguman
yang berlebihan.
Dia sudah menolak Syanti Dewi dengan bijaksana, mengingat usia mereka, mengingat hubungan hatinya
dengan Milana. Akan tetapi penolakan ini membuka lebar-lebar kembali luka di dalam hatinya. Semua ini
ditambah lagi dengan perjumpaannya dengan Milana, lalu lebih-lebih lagi dengan pernyataan Milana
betapa wanita itu masih selalu mencintanya, betapa wanita itu merana hidupnya karena dia!
Kini Gak Bun Beng tersiksa hebat, jauh lebih hebat dari pada dahulu kerena kini setiap detik dia digerogoti
perasaan dendam rindu kepada Milana! Inilah yang membuat dia tidak mampu lagi terpisah jauh-jauh dari
wanita yang dicintanya itu, dan penderitaan ini hendak diperingan dengan setiap kali menjenguk wajah
orang yang dicintanya. Dia tidak tahu bahwa perbuatan itu sebenarnya bahkan memperhebat
penderitaannya, seperti seorang yang kehausan diperlihatkan air yang tidak boleh diminumnya!
Betapa terkejutnya ketika dia mendengar akan geger yang terjadi di kota raja, yaitu tentang tewasnya
Pangeran Liong Bin Ong yang kabarnya dibunuh oleh perwira Han Wi Kong dan tentang tewasnya perwira
itu pula, kemudian tentang mengamuknya Puteri Milana dan lenyapnya Puteri Syanti Dewi dari istana
Kaisar!
Tentu saja dia cepat memasuki kota raja dan melakukan penyelidikan. Dengan muka pucat dia menghadap
Perdana Menteri Su dan mendengar semua penuturan perdana menteri itu bahwa suami Milana tewas,
kemudian betapa Milana menculik Puteri Syanti Dewi dan melarikan diri dari kota raja setelah membunuh
para pengawal Liong Bin Ong yang menewaskan suaminya!
Gak Bun Beng terkejut dan juga berduka sekali. Kekasihnya tertimpa mala petaka yang demikian hebat
tanpa dia mampu menolongnya! Dia merasa menyesal sekali. Andai kata dia tidak meninggalkan istana
puteri itu, kiranya belum tentu suami puteri ini akan tewas dan membawa akibat sedemikian hebatnya
sehingga kini Puteri Milana menjadi seorang pelarian dari istana! Setelah menghaturkan terima kasih
kepada Perdana Menteri Su, dia lalu berpamit dan cepat mencari Milana yang dia duga tentu hendak
mengantarkan Syanti Dewi kembali ke Bhutan.
Sementara itu, seperti telah diceritakan di bagian depan, Milana yang membawa lari Syanti Dewi bertemu
dengan Ang Siok Bi, kemudian bertemu dengan Jenderal Kao Liang dan menyerahkan Syanti Dewi kepada
dua losin pengawal jenderal itu yang dipimpin oleh kepala pengawal Can Siok untuk dikawal sampai ke
Bhutan. Puteri Milana sendiri lalu berpisah dari Jenderal Kao Liang untuk kembali ke utara karena dia ingin
pergi ke orang tuanya, yaitu di Pulau Es.
Lemas rasa seluruh sendi tulangnya ketika Puteri Milana berjalan perlahan memasuki hutan itu. Berkali-kali
dia menghela napas panjang, menyesali dirinya sendiri karena dia merasa telah melakukan dosa yang
amat besar. Dia merasa seolah-olah dialah yang telah membunuh Han Wi Kong. Dia tahu bahwa suaminya
itu seperti membunuh diri, sungguh pun pembunuhan diri yang amat terhormat dan berjasa besar bagi
negara. Dan yang menjadi sebab adalah dia.
dunia-kangouw.blogspot.com
Suaminya menderita hebat sejak menikah dengan dia karena suaminya itu benar-benar mencintanya dan
dapat dibayangkan betapa perih hatinya dan sengsara hidupnya karena semenjak menikah, sampai
belasan tahun lamanya, dia hanya menjadi isteri dalam nama saja, tidak pernah menjadi isteri dalam arti
yang sesungguhnya.
“Salahkah aku? Berdosakah aku?” Berkali-kali dia bertanya kepada diri sendiri.
Dia dahulu diharuskan menikah oleh Kaisar dan terpaksa dia harus memilih seorang di antara mereka.
Pilihannya jatuh kepada Han Wi Kong, akan tetapi bagaimana dia bisa mencinta orang lain kalau hatinya
sudah diserahkan sebulatnya kepada Gak Bun Beng? Han Wi Kong ‘membunuh diri’ sebab ingin
membahagiakannya, ingin membebaskannya agar dia dapat berkumpul dengan Gak Bun Beng. Jika
sampai tujuan terakhir suaminya itu tidak terpenuhi, sama artinya dengan membiarkan suaminya itu mati
konyol, mati dengan sia-sia.
Akan tetapi Gak Bun Beng... Milana menarik napas panjang ketika teringat pria yang dicintanya itu, teringat
akan pendiriannya, akan keangkuhannya. Teringat betapa Gak Bun Beng berkeras meninggalkannya,
kembali dia menarik napas panjang dan bibirnya terdengar mengeluh lirih seperti rintihan, “Gak-suheng...”
“Sumoi...!”
Suara ini memasuki telinganya seperti halilintar dan membuat seluruh tubuhnya tergetar. Wajah Milana
menjadi pucat sekali dan cepat dia membalikkan tubuhnya. Ketika melihat orang yang sedang dikenangnya
itu kini berdiri di depannya, Gak Bun Beng yang berwajah pucat dan bermata sayu, Milana menggosok
kedua matanya.
“Sumoi... Milana, aku di sini...” Gak Bun Beng berkata dengan suara terharu ketika melihat wanita itu
seperti tak percaya akan kehadirannya, wanita yang dicintanya, yang berpakaian kusut dan berambut
awut-awutan, berwajah pucat sekali akan tetapi yang kecantikannya baginya tak pernah berkurang
semenjak mereka masih remaja dahulu.
“Suheng... Gak-suheng...” Milana tak dapat lagi menahan hatinya.
Wanita yang terkenal sebagai seorang pendekar besar, seorang pahlawan dan seorang panglima yang
amat gagah perkasa, yang mampu menghadapi segala macam bahaya dengan mata tidak berkedip, yang
tidak pernah meruntuhkan air mata dan yang terkenal sebagai seorang wanita gagah berhati baja, kini tidak
lebih hanya seorang wanita yang lembut dan tangisnya mengguguk, air matanya jatuh berderai-derai.
Seperti seorang anak kecil dia berdiri sambil menangis, tubuhnya berguncang dan kedua punggung
tangannya menggosok-gosok matanya.
“Sumoi... tenangkan hatimu, Sumoi...” Dengan suara gemetar Gak Bun Beng mencoba menghibur,
melangkah maju dan dengan hati-hati menyentuh kedua pundak wanita itu dengan ujung-ujung jari
tangannya. Sedikit sentuhan ini sudah cukup untuk membuka bendungan itu.
“Gak-suheng... aihhh, Gak-suheng...!” Milana lalu memeluk dan mendekap dada pria itu dengan mukanya,
menangis sejadi-jadinya.
“Sumoi...” Suara Bun Beng juga mengandung isak dan dia menengadah, memejamkan kedua matanya
mencegah keluarnya air mata, dan tangan kanannya mengusap-usap rambut yang awut-awutan dan halus
lemas itu.
Sampai lama sekali mereka hanya berdiri saling peluk. Milana menangis terisak-isak, makin lama makin
mereda dan Gak Bun Beng memeluk pundaknya serta membelai rambutnya. Setelah tangis wanita itu agak
mereda, tinggal terisak-isak saja, Bun Beng lalu dengan halus melepaskan pelukannya, menjauhkan
dirinya sambil berkata lembut, “Sumoi, aku telah mendengar semua apa yang terjadi di kota raja. Aku
menyesal sekali... tidak dapat membantumu sama sekali...”
Milana masih belum mampu menjawab hanya terisak-isak dan menghapus sisa air mata dengan sehelai
sapu tangan sutera.
“Mari kita duduk di bawah pohon itu dan bicara, Sumoi.” Bun Beng mengajaknya dan dia mengangguk,
keduanya lalu duduk di atas akar-akar pohon yang menonjol di atas tanah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Milana menundukkan mukanya yang menjadi agak kemerahan, mungkin dikarenakan tangisnya. Isaknya
masih ada akan tetapi hanya kadang-kadang dan air matanya sudah berhenti mengucur. Wanita perkasa
ini sudah dapat menguasai dirinya lagi.
“Sumoi, aku sudah bertemu dengan Perdana Menteri Su dan mendengar dari beliau akan semua peristiwa.
Suamimu telah membunuh Pangeran Liong Bin Ong dan dalam usaha itu dia berhasil akan tetapi dia juga
terbunuh oleh para pengawal tokoh pemberontak itu. Dan kau telah melarikan Syanti Dewi... ehh, di mana
sekarang?”
“Dia telah dikawal oleh para pengawal Jenderal Kao, kembali ke Bhutan.” Milana lalu menceritakan dengan
singkat pertemuannya dengan Jenderal Kao. Kemudian dia juga menceritakan tentang pertemuannya
dengan Ang Siok Bi dan kemudian menambahkan, “Ternyata benar bahwa Ang Tek Hoat itu adalah
puteranya, dan dia... dia mencari-carimu sebagai seorang musuh besar, Suheng.”
“Biarlah...” Gak Bun Beng menarik napas panjang, sikapnya tidak peduli. “Sekarang engkau hendak... ke
manakah, Sumoi?” Suaranya itu penuh perasaan iba dan hal ini terasa sekali oleh Milana sehingga kembali
wanita perkasa ini menggigit bibir menahan tangisnya.
“Tadinya aku hendak mencarimu, Suheng, akan tetapi karena tidak tahu engkau berada di mana, setelah
Syanti Dewi diantar para pengawal, aku lalu hendak pergi ke Pulau Es saja. Syukur bahwa kita dapat
bertemu di sini, Suheng.”
“Kau... kau mencariku, Sumoi?” Gak Bun Beng memandang dengan jantung berdebar tegang. “Mengapa...
engkau mencariku?”
Wajah yang masih agak pucat itu menjadi merah dan jari-jari tangannya gemetar ketika Milana mencaricari
ke balik bajunya, kemudian mengeluarkan sebuah sampul surat. “Aku mencarimu untuk
menyampaikan ini, Suheng. Aku menemukan surat peninggalan suamiku ini di dalam kamarnya dan surat
ini untukmu.”
Gak Bun Beng menerima surat itu dan membaca tulisan pada sampulnya. Memang ditujukan kepadanya,
ditulis oleh tangan Han Wi Kong dengan gaya tulisan yang kuat dan indah. Jantungnya berdebar tegang
penuh kekhawatiran dan penyesalan. Apakah yang akan dia baca dan temukan di dalam surat ini? Apakah
kata-kata kutukan dan penyesalan dari perwira gagah itu?
Karena dirinya dan isterinya mempunyai hubungan cinta kasih? Apakah perwira itu menderita
kesengsaraan batin karena dia? Karena isterinya mencinta dia? Hampir dia tidak berani membuka surat itu
dan dia memandang kepada Milana. Akan tetapi wanita itu pun merunduk saja, agaknya menanti dengan
penuh ketegangan.
“Sumoi, katakanlah, mengapa suamimu melakukan perbuatan nekat itu? Seorang diri menyerbu istana dan
membunuh Pangeran Liong Bin Ong, bukankah hal itu sama saja artinya dengan membunuh diri?”
Ucapan itu terasa oleh Milana seperti tusukan pada jantungnya dan tanpa dapat dicegahnya lagi beberapa
butir air mata mengalir turun dan karena dia menunduk, air mata itu berkumpul di ujung hidungnya seperti
sebutir mutiara besar. Ketika Milana menggeleng kepala, mutiara itu jatuh dari ujung hidungnya. “Aku... aku
tidak tahu...”
Dia merasa lehernya seperti dicekik, tidak mampu lagi mengeluarkan kata-kata. Gak Bun Beng menarik
napas, memandang sampul surat itu lalu memberanikan hatinya, membuka sampul itu dengan jari-jari
tangan gemetar dan mengeluarkan suratnya. Dia sudah siap untuk menerima berita yang paling buruk,
siap untuk menerima celaan dan kutuk orang yang sudah mati itu. Lalu dibacanya surat itu.
Gak Bun Beng Taihiap, Kalau taihiap membaca surat ini, saya tentu sudah mati. Kematian yang tidak siasia
karena saya tentu telah berhasil membunuh dalang pemberontak Liong Bin Ong. Terutama sekali,
dengan kematian saya, Puteri Milana menjadi bebas untuk hidup bersama satu-satunya pria yang
dicintanya, yaitu Taihiap sendiri. Percayalah, sejak dahulu sampai saat ini Puteri Milana hanya mencinta
Taihiap seorang, dan dia menjadi isteri saya hanya namanya saja, bukan isteri dalam arti sesungguhnya.
Sampai saat ini Puteri Milana masih seorang gadis yang selalu menanti pinangan Taihiap!
Semoga bahagia,
Han Wi Kong.
dunia-kangouw.blogspot.com
Surat itu terlepas dari jari-jari tangan Gak Bun Beng yang gemetar karena jantungnya berdebar dengan
keras. “Ohhh...,” demikian keluhnya.
Mendengar keluhan ini, Milana mengangkat mukanya memandang. Gak Bun Beng lalu menyambar kertas
itu dan menyerahkannya kepada Milana sambil berkata, suaranya gemetar, “Benarkah ini...? Benarkah
ini...?”
Milana menerima surat itu dan membacanya, dipandang dengan tajam oleh Gak Bun Beng. Perlahan-lahan
kedua pipi wanita itu berubah menjadi merah sekali dan surat itu pun terlepas dari tangannya yang
menggigil.
“Benarkah, Milana...?” tanya Bun Beng, suaranya lirih seperti berbisik.
Milana mengangkat muka memandang. Dua pasang mata saling bertemu dan akhirnya Milana hanya
mengangguk penuh kepastian. Bun Beng meloncat berdiri. “Akan tetapi mengapa?” teriaknya. “Milana?
Engkau adalah isterinya! Mengapa engkau menyiksanya sedemikian rupa? Belasan tahun menjadi
isterinya... hanya dalam nama saja...? Betapa kejamnya engkau...”
Mendengar ucapan ini, Milana juga meloncat berdiri dan memandang Bun Beng dengan mata bersinarsinar.
“Mangapa? Tentu saja aku tidak bisa menyerahkan diri kepada lain pria! Setelah aku menyerahkan
cinta kasih dan hatiku kepadamu, suheng, bagaimana mungkin aku dapat menyerahkan tubuhku kepada
pria lain?”
“Ahh... tapi... kalau begitu, mengapa engkau menikah dengan dia?”
“Karena Kaisar memaksaku.”
“Kau bisa saja pergi dari istana dan mencari aku, Milana...”
“Suheng, bukankah engkau yang telah meninggalkan aku dan pergi dariku? Aku sudah merasa berdosa
kepadamu dahulu, telah tidak mempercayaimu..., akan tetapi aku tidak mungkin bisa menyerahkan diri
kepada pria lain...” (dalam cerita SEPASANG PEDANG IBLIS)
“Milana... sumoi, begitu besar cintamu kepadaku...”
“Dan kau tadinya kuanggap telah melupakan aku, Suheng. Kiranya engkau pun rela hidup merana, tak
pernah menikah, karena cintamu kepadaku...”
“Milana... aku cinta padamu, sejak dahulu sampai detik ini... aku hanya merasa diriku tidak berharga
untukmu. Dan ternyata engkau... engkau begitu setia kepadaku... ternyata aku yang telah menyiksa
hidupmu, Milana...”
“Suheng...!” Milana mengeluh dan mereka saling tubruk, saling rangkul karena sekarang keduanya yakin
akan cinta kasih mereka masing-masing.
“Sumoi... Milana... ah, Milana... betapa aku rindu padamu.”
“Aku pun rindu padamu, Suheng...”
Sejenak kedua orang itu lupa diri. Milana terlena dalam pelukan Bun Beng, air matanya mengalir turun dari
kedua mata yang dipejamkan. Bun Beng kemudian mendekapnya, menciumnya, mencium lehernya,
dagunya, bibirnya, hidung dan matanya, menghisap air mata itu, air mata yang seolah-olah menjadi air
embun yang menyiram kembang di dalam hatinya yang kehausan dan yang hampir melayu, sehingga
kembang itu menjadi segar kembali.
Pada saat itu dicurahkanlah segala kerinduannya, segala cinta kasihnya hingga setiap bulu di tubuhnya
seolah-olah bangkit dan membelai wanita itu. Milana memejamkan matanya, merasa terayun di angkasa
dengan nikmatnya. Wanita manakah yang tidak akan merasa berbahagia bahwa dia telah menundukkan
hati pria yang dicintanya, merasa dibutuhkan, dicinta dan dipuja? Bisikan halus yang keluar dari bibir Bun
Beng di dekat telinga, bisikan yang berkali-kali menyatakan cinta kasih yang mendalam, membuat hati
Milana bangga dan bisikan itu lebih merdu dari pada nyanyian surga!
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi tiba-tiba Milana melepaskan dirinya dengan halus. Kini dia memandang kekasihnya dengan
bibir tersenyum dan mata yang masih basah, dengan kedua pipi kemerahan seperti wajah seorang dara
remaja yang baru pertama kali menerima ciuman seorang pria. Bun Beng memandang dengan terpesona.
“Jangan... Suheng, jangan dulu..., kita harus menghormati Han Wi Kong... dialah yang sesungguhnya
mempertemukan kita kembali. Kita... kita harus sabar menanti... biarkan aku berkabung selama setahun
untuknya, Suheng.”
Gak Bun Beng tersenyum, senyum penuh kecerahan yang baru pertama kali ini nampak di wajahnya,
seolah-olah wajahnya bersinar kembali dengan cahaya kehidupan. Dia mengangguk dan matanya
memandang penuh kelembutan, penuh kemesraan dan penuh pengertian. “Memang sebaiknya begitu,
Sumoi. Sebaiknya begitu..., betapa pun juga, secara lahiriah dia adalah suamimu dan sahabat kita yang
amat baik. Setelah menanti belasan tahun lamanya, apa artinya setahun bagi kita?”
Milana melangkah maju lagi dan memegang kedua tangan kekasihnya. “Aku tahu bahwa engkaulah satusatunya
manusia yang bijaksana dan mulia di dunia ini. Mulai saat ini aku merasa seolah-olah baru hidup,
suheng...”
Gak Bun Beng balas menggenggam jari-jari tangan yang halus itu. “Bukan baru hidup melainkan hidup
baru, Sumoi. Sekarang, apakah engkau tetap hendak melanjutkan perjalananmu ke Pulau Es?”
“Aku... aku... terserah kepadamu, Suheng. Sejak saat ini, aku hanya menurut pada apa yang kau katakan
dan kau tentukan. Aku takut kalau-kalau keputusanku sendiri akan mengakibatkan kesalahan hebat seperti
yang telah kita alami bersama dahulu. Aku menyerahkan segalanya kepadamu, Suheng.”
Bukan main girangnya hati Gak Bun Beng. “Kiranya lebih baik kalau kelak setahun kemudian kita bersama
pergi menghadap ke Pulau Es untuk minta doa restu dari orang-orang tua. Sekarang, lebih baik kita
mengejar perjalanan Syanti Dewi. Hatiku merasa tidak tenang kalau sampai anak itu hanya dikawal oleh
pasukan biasa. Sebaiknya waktu yang satu tahun itu kita pergunakan untuk mengawalnya ke Bhutan.”
Milana mengangguk, lalu berkata, “Dia... Syanti Dewi amat mencintamu, Gak-suheng...”
“Eh, bagaimana kau tahu?”
“Anak yang baik itu menceritakan segalanya kepadaku. Dan tahukah engkau betapa dia marah-marah
kepadaku dan menuntut agar aku membahagiakan engkau. Tidakkah aneh sekali itu? Seorang anak
belasan tahun mengajarkan aku tentang cinta kasih! Dia benar-benar cinta kepadamu sehingga aku
merasa amat heran mengapa engkau tidak menyambut uluran hati seorang dara secantik dia?”
“Sumoi, perlukah kau tanyakan lagi hal itu? Dengan adanya engkau, betapa mungkin aku mencinta wanita
lain? Aku tahu akan kebaikan hatinya, karena itu dia kuanggap sebagai keponakan atau anak sendiri, dan
karena itu pula kita sudah sepatutnya mengantarkan dia kembali kepada orang tuanya di Bhutan.”
Milana tersenyum manja. “Terima kasih, Suheng. Pernyataanmu itu makin meyakinkan hatiku betapa besar
cintamu kepadaku, dan amat membahagiakan hatiku.”
“Hemm, tidak kalah besarnya dengan kebahagiaanku memperoleh kenyataan bahwa selama ini engkau
tetap mencintaku, Sumoi. Mari kita berangkat, aku khawatir terjadi hal-hal yang tidak baik terhadap diri
Syanti Dewi.”
Maka berangkatlah kedua orang kekasih yang baru saling menemukan kembali setelah cinta kasih mereka
terpisah selama belasan tahun itu. Patut dikagumi Gak Bun Beng dan Milana. Keduanya masih perawan
dan perjaka, biar pun usia mereka telah mendekati empat puluh tahun, dan mereka selama belasan tahun
menekan kerinduan hati masing-masing.
Sekarang, setelah mereka berdua memperoleh kebebasan dan tidak ada sesuatu yang menghalangi
mereka untuk saling memiliki, seolah-olah kenikmatan itu merupakan setangkai bunga di depan mata,
tinggal mengulur tangan memetiknya saja, dan keduanya sudah saling mencinta dan sudah saling percaya,
tidak ada halangannya untuk saling menyerahkan diri lahir batin, mereka masih mampu mengatasi
dorongan nafsu mereka dan melihat kenyataan bahwa hal itu kurang baik dan bahwa sudah sepatutnya
dunia-kangouw.blogspot.com
kalau mereka menanti saja sudah menjadi bukti betapa teguh dan kokoh kuat dasar batin kedua orang
gagah ini, yang tidak mudah dimabok oleh nafsu birahi!
Sambil bergandeng tangan mereka pergi meninggalkan hutan itu dan dengan kecepatan luar biasa mereka
menggunakan ilmu berlari cepat mereka menuju ke barat untuk menyusul rombongan Syanti Dewi yang
dikawal oleh dua losin orang pasukan pengawal Jenderal Kao Liang.
Ketika mereka tiba di dekat dusun yang dijadikan markas sementara oleh Hek-tiauw Lo-mo, di tengah jalan
mereka bertemu dengan Suma Kian Bu yang memimpin sepasukan yang terdiri dari belasan orang, yaitu
pasukan yang didapatnya dari Perdana Menteri. Pemuda ini setelah behasil membantu Tek Hoat
membakar ruangan dan membiarkan Tek Hoat menolong Ceng Ceng, lalu melarikan diri ke kota raja dan
dia pun pergi menemui Perdana Menteri Su, menceritakan dan minta bantuan untuk menolong Ceng Ceng
dan Topeng Setan.
Perdana Menteri Su dengan singkat menceritakan bahwa Syanti Dewi telah ditolong Tek Hoat dan karena
semua perbuatannya itu adalah di luar tahu istana, maka perdana menteri yang bijaksana ini hanya dapat
menyuruh pengawal-pengawal pribadinya yang berjumlah lima belas orang untuk membantu Suma Kian
Bu menolong Ceng Ceng dan Topeng Setan. Demikianlah, di tengah jalan mereka saling bertemu.
“Enci Milana! Gak-suheng!” Suma Kian Bu berseru dengan girang bukan main dan dia memegangi kedua
tangan suheng dan enci-nya itu.
“Hemmm, ke mana saja engkau selama ini, Kian Bu?” Milana bertanya.
Ditanya demikian, Kian Bu menundukkan muka menyembunyikan perasaan jengah dan malunya. Tentu
saja tidak mungkin dia menceritakan pengalamannya dengan Hong Kui.
“Aku hanya merantau saja, Enci, akan tetapi ada hal yang lebih penting untuk kalian ketahui dan kebetulan
sekali aku bertemu dengan kalian. Marilah kita pergi menolong Ceng Ceng dan Topeng Setan dan di
perjalanan nanti kuceritakan semua kepada Ji-wi (Kalian Berdua).”
Tentu saja Gak Bun Beng dan Milana terkejut dan segera mengikuti adik itu melanjutkan perjalanan
menuju ke dusun yang dijadikan tempat tinggal Tambolon. Kian Bu telah mendengar penuturan dari
Perdana Menteri Su betapa Ceng Ceng masih ditawan oleh Tambolon menurut cerita Tek Hoat dan Syanti
Dewi, dan bahwa Tek Hoat sedang pergi untuk menolongnya. Sedangkan Topeng Setan juga masih
ditawan Hek-tiauw Lo-mo di dusun Nam-lim.
Dengan singkat namun jelas Kian Bu menceritakan betapa dia bertemu dengan Tek Hoat dan dia
membantu Tek Hoat untuk membebaskan Ceng Ceng, kemudian dia pergi ke kota raja untuk minta
bantuan.
“Hek-tiauw Lo-mo kuat sekali kedudukannya, apa lagi di dekat dusun Nam-lim itu terdapat pula rombongan
Tambolon yang dibantu oleh banyak orang pandai, di antaranya seorang nenek yang amat lihai dan pandai
ilmu sihir. Ternyata tadinya Puteri Syanti Dewi ditawan oleh Tambolon dan telah diselamatkan oleh Tek
Hoat dengan jalan menukarnya dengan Ceng Ceng. Menurut Perdana Menteri Su, kini puteri itu telah
dikawal oleh pasukan Bhutan sendiri, kembali ke Bhutan.” Kian Bu menghentikan ceritanya karena dia
masih merasa terluka oleh penolakan cintanya terhadap puteri itu.
“Sungguh aneh sekali! Mengapa pula rombongan Hek-tiauw Lo-mo dan rombongan Tambolon masih saja
berkeliaran di sini? Dan bagaimana pula Syanti Dewi yang dikawal oleh pasukan Jenderal Kao sampai
dapat tertawan oleh rombongan Tambolon? Bagaimana pula cara Tek Hoat menukar tawanan itu? Ahhh,
pemuda itu ternyata hebat! Kembali dia telah menyelamatkan Syanti Dewi dan kini dia seorang diri hendak
menolong Ceng Ceng, sungguh berbahaya baginya. Mari kita mempercepat perjalanan dan mendahului
pasukan ini,” Bun Beng berkata.
Setelah berpesan kepada pasukan itu, Kian Bu lalu bersama Milana dan Bun Beng menggunakan ilmu
berlari cepat, meninggalkan pasukan dan mendahului pergi ke sarang Tambolon di mana kabarnya Ceng
Ceng menjadi tawanan raja liar itu.
Akan tetapi ternyata rombongan itu tidak lagi berada di situ. Seperti kita ketahui, akibat khasiat darah anak
ular naga yang diminumnya, Ceng Ceng dapat membebaskan diri sendiri dari tangan Tambolon dan
dunia-kangouw.blogspot.com
kawan-kawannya, dan rombongan raja liar ini pun lalu pergi meninggalkan tempat itu untuk melakukan
pengejaran.
Karena dusun itu kosong, maka Bun Beng lalu mengajak Milana dan Kian Bu untuk melanjutkan perjalanan
ke Nam-lim. Kedatangan tiga orang ini dengan pasukan pengawal di belakang mereka, telah diketahui oleh
anak buah Hek-tiauw Lo-mo yang cepat melapor kepada Ketua Pulau Neraka ini, tentu saja Hek-tiauw Lomo
menjadi terkejut sekali dan pada saat itu dia melihat Topeng Setan sudah dapat membebaskan diri
secara menggiriskan.
Maka timbullah akalnya untuk mengadu Topeng Setan dengan rombongan Puteri Milana. Biar pun Ceng
Ceng sudah tidak berada lagi di tahanan, akan tetapi kebebasan dara ini belum diketahui oleh Topeng
Setan dan karenanya dia masih dapat menipu Topeng Setan dan memaksanya untuk membantunya
dengan mengancam Ceng Ceng yang sebenarnya sudah tidak ada lagi di situ.
Demikianlah mengapa Gak Bun Beng, Milana dan Suma Kian Bu dapat muncul di tempat itu dan kini kita
kembali kepada Topeng Setan yang dihadapkan pada dua pilihan yang amat berat baginya. Sungguh berat
baginya untuk menghadapi rombongan Puteri Milana yang dihormati dan dipandang tinggi itu, akan tetapi
apa pun akan dilakukannya demi untuk menolong keselamatan Ceng Ceng.
“Bagaimana, Topeng Setan? Apakah engkau lebih ingin melihat kami membunuh gadis itu kemudian
engkau melawan kami mati-matian? Jangan mengira bahwa kami takut kepadamu. Kami hanya ingin
menarikmu sebagai kawan untuk menghadapi musuh-musuh yang kuat itu, dan percayalah, aku pasti akan
membebaskan engkau dan gadis itu kelak. Mereka telah tiba di luar dan pergilah kau mengundurkan
mereka.”
“Baik, akan tetapi awaslah engkau kalau menipuku, Lo-mo!” teriak Topeng Setan yang kini juga sudah
mendengar gerakan orang di depan rumah itu. Dia meloncat keluar dan terus ke ruangan depan dan tibatiba
saja dia sudah berhadapan dengan Puteri Milana, Gak Bun Beng dan Suma Kian Bu!
“Pergilah kalian dari sini...! Ahhh, pergilah segera...!” Topeng Setan berkata sambil melambai-lambaikan
tangannya memberi isyarat agar supaya mereka itu pergi dari situ.
“Topeng Setan, kami datang justru untuk menolong... engkau dan Ceng Ceng...” Suma Kian Bu berkata.
“Tidak..., tidak...! Lekas kalian pergi dari sini, lekas...!” kembali Topeng Setan berseru dengan kacau
karena memang hatinya kacau-balau tidak karuan menghadapi keadaan gawat yang mengancam
keselamatan Ceng Ceng itu.
Milana dan Gak Bun Beng hanya pernah mendengar nama Topeng Setan, akan tetapi mereka baru
sekarang melihat orangnya. Bagi kedua orang pendekar besar ini, orang yang menyembunyikan mukanya
di balik topeng sudah menunjukkan ketidak jujuran orang itu, maka topeng itu saja sudah mendatangkan
kesan yang kurang baik bagi mereka.
“Topeng Setan atau siapa pun adanya engkau. Mundurlah karena kami datang untuk membebaskan Ceng
Ceng!”
“Tidak... tidak... Paduka saja mundurlah. Dan harap jangan mencampuri urusan kami berdua dengan Hektiauw
Lo-mo!”
Milana menjadi marah. Biar pun satu kali dia pernah melihat Topeng Setan ini dan biar pun dia sudah
mendengar bahwa orang ini adalah pembantunya Ceng Ceng, namun sikapnya sekarang amat
mencurigakan karena agaknya membela Hek-tiauw Lo-mo.
“Manusia sombong, agaknya engkau telah berkhianat dan memihak Hek-tiauw Lo-mo. Minggir...!” Milana
lalu maju dan mendorong Topeng Setan agar ke pinggir akan tetapi Topeng Setan menggerakkan tangan
kanannya menangkis.
“Dessss...!”
Milana terlempar hampir jatuh oleh tangkisan itu, baiknya Bun Beng cepat menyambar lengannya. Milana
dan Bun Beng terkejut bukan main. Apa lagi Milana. Wanita perkasa ini tadi sudah mengerahkan seluruh
dunia-kangouw.blogspot.com
tenaganya karena dia dapat menduga bahwa Topeng Setan ini memiliki kepandaian hebat, namun dia
terlempar oleh tangkisan itu. Sungguh hebat orang ini.
Hek-tiauw Lo-mo, pembantunya yang utama Ji Song, dan Mauw Siauw Moli juga kaget bukan main melihat
betapa Topeng Setan dapat menangkis dan membuat puteri yang mereka segani dan takuti itu terlempar!
Akan tetapi, Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui yang melihat Suma Kian Bu muncul bersama Milana dan
Gak Bun Beng menjadi girang dan juga khawatir.
“Kian Bu...!” Dia berseru memanggil akan tetapi pemuda itu sudah cepat melompat ke belakang dan
menghilang karena dia merasa malu sekali kalau sampai wanita cantik yang membuat dia mabuk dan lupa
daratan, membuat dia tenggelam dalam permainan cinta dan nafsu birahi, akan membuka rahasia yang
memalukan di depan enci-nya dan suheng-nya.
Pada saat itu Milana sudah menjadi marah bukan main.
“Kau mundurlah, biar aku yang menghadapinya,” kata Bun Beng.
Akan tetapi Milana yang sudah penasaran itu membantah. “Biar aku mencobanya sekali lagi!”
Puteri Milana sudah mengerahkan tenaga sakti dari Pulau Es, yaitu tenaga Swat-im Sinkang. Setelah
mengerahkan tenaga mukjijat ini, tangan puteri itu kelihatan mengkilap kebiruan dan di ruangan itu
menyambar hawa yang amat dingin!
Topeng Setan maklum bahwa puteri ini memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat, maka ia pun terpaksa
mengerahkan ilmunya yang mukjijat, yang baru saja dikuasainya, yaitu tenaga Sin-liong-hok-te. Tubuhnya
memasang kuda-kuda rendah sekali, hampir menelungkup, lengan kanannya lurus ke depan dengan jarijari
tangan membentuk kepala ular, tubuhnya kaku kejang dan anehnya, lengan kiri yang hanya tinggal
lengan bajunya yang kosong itu seolah-olah ‘hidup’, dapat bergerak-gerak lurus ke belakang dan kopatkapit
seperti ekor naga!
“Pergi!” Milana membentak dan wanita ini sudah mendorong dengan lengan tangannya.
Hawa yang amat dingin menyambar ke arah Topeng Setan. Pukulan yang didasari tenaga Swat-im
Sinkang ini hebat dan dahsyat bukan main. Dengan ilmu ini yang sudah sampai di puncaknya, air pun
terkena hawa pukulan ini akan menjadi beku! Topeng Setan memapaki dengan lengan kanannya dalam
tangkisan yang dahsyat pula.
“Dessss...!”
Kembali tubuh Milana terlempar ke belakang, sedang Topeng Setan hanya melangkah mundur dua
langkah saja. Dan kembali Gak Bun Beng yang menyambar lengan Milana. Sekali ini Milana tidak banyak
membantah ketika Bun Beng yang maju menghadapi Topeng Setan.
Hek-tiauw Lo-mo dan para pembantunya memandang heran dan terkejut, akan tetapi juga girang bahwa
‘pembantu’ mereka itu dapat menolong mereka menghadapi para lawan yang tangguh itu. Diam-diam Hektiauw
Lo-mo memberi isyarat kepada sumoi-nya dan kepada para pembantu dan anak buahnya dan diamdiam
mereka itu mundur ke dalam. Mereka hendak mempergunakan kesempatan selagi para musuh sibuk
menghadapi Topeng Setan yang hebat itu untuk meloloskan diri karena mereka merasa tidak akan
menguntungkan kalau melawan pasukan pemerintah yang dipimpin sendiri oleh Puteri Milana.
Gak Bun Beng memandang tajam dan dengan penuh keheranan. Selama hidupnya yang penuh dengan
pengalaman dan pertempuran melawan orang-orang pandai, tokoh-tokoh sesat dari seluruh dunia
persilatan, belum pernah dia bertemu dengan orang yang menggunakan ilmu pukulan macam yang
diperlihatkan Topeng Setan. Penghimpunan sinkang dengan tubuh merendah hampir menelungkup itu!
Dia sendiri pernah melatih diri di bawah pimpinan Bu-tek Siauw-jin tokoh besar di Pulau Neraka dengan
sinkang mukjijat yang dinamakan Tenaga Sakti Inti Bumi, yang juga pengerahan tenaganya dilakukan
dengan menelungkup di atas tanah, akan tetapi sungguh berbeda lagi dengan yang diperlihatkan Topeng
Setan tadi. Apa lagi gerakan ilmu silat yang aneh itu, lengan kanan seperti kepala ular dan lengan buntung
diwakili lengan baju seperti ekor naga, sungguh amat mengerikan dan hebat. Kalau sinkang Si Topeng
Setan mampu menandingi Swat-im-sinkang, sungguh amat luar biasa. Biar pun dia tahu bahwa Milana
dunia-kangouw.blogspot.com
belum mencapai kesempurnaan dalam latihan Swat-im Sinkang, namun tingkat wanita ini amat tinggi dan
sukar mencari tandingannya.
“Kau agaknya tetap berkeras hendak membela Hek-tiauw Lo-mo!” kata Gak Bun Beng. “Terpaksa aku pun
harus menggunakan kekerasan.”
“Harap... harap Taihiap mundur saja...” Topeng Setan berkata dengan cemas.
“Aku tidak tahu apa yang memaksamu, akan tetapi jelas engkau membela musuh, maka terpaksa aku akan
berusaha menyingkirkanmu!”
Bun Beng kini mengerahkan tenaga Hwi-yang Sinkang di tangan kanannya. Tenaga ini sudah dia perkuat
dengan tenaga sakti Inti Bumi sehingga lengan kanannya itu kelihatan merah membara seperti baja yang
terbakar api dan mengeluarkan uap. Hawa di sekitarnya menjadi panas sekali sehingga para pengawal
yang sudah tiba di situ tidak berani mendekat saking panasnya.
Topeng Setan terkejut bukan main, maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang yang benar-benar
sakti, akan tetapi karena dia harus melindungi keselamatan Ceng Ceng, dia tidak gentar dan kalau perlu
dia akan mempertaruhkan nyawanya. Gak Bun Beng mengeluarkan pekik melengking dan tubuhnya sudah
menerjang ke depan, menggunakan tangan kanan dengan jari terbuka untuk menghantam. Serangkum
hawa panas sekali menyambar dan Topeng Setan terpaksa menyambutnya dengan telapak tangan
kanannya, seperti tadi tubuhnya mengambil posisi rendah dan lengan baju kirinya tergerak-gerak di
belakangnya seperti mengatur keseimbangan.
“Blarrrrr...!”
Hebat bukan main pertemuan dua tenaga sakti di udara ini, terasa oleh semua orang, bahkan beberapa
orang pengawal yang sudah menonton dari jarak jauh ada yang terpental. Topeng Setan berseru keras dan
pada saat kedua tangan bertemu tadi, kakinya melangkah ke belakang, akan tetapi tiba-tiba ‘ekor naga’
yang berupa lengan baju kirinya itu menyambar, tubuhnya miring.
“Pyarrrrr...!”
Bun Beng terkejut dan masih sempat menangkis, akan tetapi tetap saja dia terhuyung ke belakang,
sedangkan Topeng Setan juga terhuyung ke belakang dengan muka pucat akibat pertemuan tenaga sakti
yang pertama tadi.
Topeng Setan memandang dengan mata terbelalak. Dia maklum bahwa dia sudah berhasil menguasai
Ilmu Tenaga Sakti Sin-liong-hok-te, biar pun belum sesempurna gurunya, namun ilmu ini hebat sekali dan
menurut gurunya, jarang ada orang di dunia yang akan mampu melawannya. Akan tetapi siapa kira, baru
saja dia berkesempatan mempergunakan ilmu yang dahsyat ini, dia telah menemui lawan yang begini
hebat.
Di lain pihak, Gak Bun Beng juga memandang dengan mata terbelalak dan jantung berdebar keras. Baru
sekarang dia bertemu dengan lawan yang hebat, yang dapat mengimbangi kepandaiannya. Seolah-olah
dia melihat tokoh-tokoh besar seperti Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin, dua tokoh Pulau Neraka itu,
hidup lagi! Topeng Setan ini merupakan orang yang kepandaiannya sukar ditandingi.
Padahal dia sudah menggembleng dirinya dan pukulannya tadi adalah pukulan yang didasari persatuan
tenaga Hwi-yang Sinkang dan Inti Bumi. Kiranya di dunia ini hanya dapat dihitung dengan jari tangan saja
yang akan mampu menahan pukulannya, di samping tentu saja orang sakti seperti Pendekar Super Sakti,
akan tetapi orang bertopeng ini mampu menahan bahkan membalas dan membuat dia terhuyung.
Sejenak keduanya saling pandang dengan mata terbelalak, seperti dua ekor ayam jago yang berlagak
sebelum saling gempur, berdiri saling pandang dan saling taksir. Tiba-tiba Bun Beng mengeluarkan suara
melengking tinggi dan pendekar sakti ini sudah bergerak menyerang. Topeng Setan yang sudah
memasang kuda-kuda Sin-liong-hok-te menyambut dan bertempurlah kedua orang itu.
Karena yakin bahwa lawannya ini memang dahsyat sekali dan tingkat kepandaiannya masih lebih tinggi
dari padanya, maka Topeng Setan tidak berani mainkan lain ilmu silat kecuali yang baru saja dikuasainya,
yaitu Ilmu Silat Sin-liong-ciang-hoat yang sejak dahulu memang sudah dihafalnya benar akan tetapi baru
sekarang dia kuasai. Pula, ilmu inilah satu-satunya ilmu silat tinggi yang dikenalnya, yang cocok dimainkan
dunia-kangouw.blogspot.com
dengan lengan tunggal, sedangkan ilmu silatnya yang lain, dahulu dilatihnya dengan sepasang lengan
sehingga tentu sekarang menjadi canggung kalau dia mainkan dengan lengan tunggal.
Sementara itu, menghadapi serangan-serangan yang aneh dari lengan kanan dan ‘ekor’ berupa lengan
baju kiri itu, Gak Bun Beng mainkan ilmu silat Kong-jiu-jip-tin (Dengan Tangan Kosong Memasuki Barisan)
sambil mengerahkan tenaga saktinya berganti-ganti kadang-kadang dengan Hwi-yang Sinkang, kadangkadang
dengan Swat-im Sinkang yang amat dingin.
Akhirnya Topeng Setan harus mengakui keunggulan Pendekar Sakti Gak Bun Beng. Dan diam-diam Bun
Beng juga harus mengakui bahwa kalau saja Topeng Setan tidak sedang terluka hebat, dan kalau saja ilmu
silat aneh itu sudah dikuasainya benar, sudah terlatih matang dan banyak dipakai menghadapi orang
pandai dalam pertempuran, belum tentu dia akan dapat menang dengan mudah! Kini Topeng Setan
terhuyung dan terdesak hebat, agaknya sebentar lagi akan roboh.
Topeng Setan merasa heran sekali mengapa Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li tidak membantunya,
padahal kedua orang itu memiliki kepandaian hebat pula dan kalau membantunya, belum tentu dia sampai
terdesak seperti ini. Ketika sebuah hantaman yang biar pun sudah ditangkisnya membuat dia terlempar ke
belakang, dia menengok dan... dia tidak melihat mereka. Terkejutlah dia. Celaka, pikirnya, siapa tahu dia
ditipu oleh orang Pulau Neraka itu.
“Tahan dulu...!” teriaknya ketika Gak Bun Beng mendesak maju. Napasnya sudah terengah-engah dan
keringatnya bercucuran.
“Taihiap...! Puteri...! Tolonglah... harap jangan serbu Hek-tiauw Lo-mo karena... karena Ceng Ceng mereka
jadikan sandera. Mereka akan membunuh Ceng Ceng kalau saya tidak melawan Ji-wi, maka terpaksa saya
melawan agar Ceng Ceng dibebaskan...”
Mendadak terdengar suara teriakan, “Paman...! Kau sudah mati-matian membelaku...! Aku telah dapat
lolos, Paman...!”
Kemudian Ceng Ceng membalik, menghadapi Gak Bun Beng dan Puteri Milana dengan kedua tangan
terkepal. “Paman Gak Bun Beng dan... Bibi Puteri Milana! Kalau kalian melanjutkan mendesak dan
menyerang Paman Topeng Setan, terpaksa aku akan menentang kalian!”
“Hushhh... Ceng Ceng, jangan kurang ajar kau terhadap mereka. Gak-taihiap, celaka, kita telah diadu
domba dan ditipu oleh Hek-tiauw Lo-mo!” kata Topeng Setan.
Akan tetapi Ceng Ceng yang kegirangan melihat Topeng Setan tidak mati seperti yang dikhawatirkannya
itu, sudah lari dan menubruk, merangkulnya dengan penuh girang dan kebanggaan. Lagi-lagi dalam
keadaan seperti itu, Topeng Setan telah memperlihatkan kemuliaan hatinya terhadap dia, telah
membelanya mati-matian, bahkan sampai berani melawan Gak Bun Beng yang demikian sakti karena dia
ditekan oleh Hek-tiauw Lo-mo yang mengancam hendak membunuhnya kalau Si Buruk Rupa ini tidak
melawan Gak Bun Beng.
Dia baru saja tiba dan selagi dia terheran-heran dan kebingungan menyaksikan Topeng Setan bertanding
sedemikian hebatnya dengan Gak Bun Beng, dia mendengar ucapan Topeng Setan itu, maka dia lalu
berteriak dan muncul memperlihatkan diri.
“Syukur engkau telah bebas pula, Paman. Betapa aku amat mengkhawatirkan dirimu, Paman...,” katanya.
“Dan kau... bagaimana kau dapat bebas, Ceng Ceng?” Topeng Setan bertanya dan mereka lalu bicara
dengan asyik, tanpa mempedulikan Milana dan Gak Bun Beng yang sudah menerjang ke dalam. Akan
tetapi rumah itu sudah kosong sama sekali dan di belakang mereka berjumpa dengan Suma Kian Bu.
“Eh, kau tadi ke mana, Bu-te?” tanya Milana terheran-heran. Baru sekarang dia teringat bahwa adiknya ini
tidak nampak ketika mereka bertanding melawan Topeng Setan.
“Aku... aku tadinya menyelinap ke belakang untuk menolong Ceng Ceng, kiranya Ceng Ceng tidak ada dan
mereka semua telah melarikan diri,” jawab Suma Kian Bu yang sebenarnya menghindarkan diri dari Mauw
Siauw Mo-li Lauw Hong Kui.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mereka semua lalu mencari-cari, mengejar ke sana-sini dan mengerahkan belasan orang pengawal,
namun hasilnya sia-sia belaka. Hek-tiauw Lo-mo dan kawan-kawannya sudah melarikan diri entah ke
mana, menggunakan kesempatan selagi Milana dan Gak Bun Beng sibuk bertempur melawan Topeng
Setan tadi. Terpaksa mereka kembali ke tempat tadi dan melihat Topeng Setan dan Ceng Ceng masih
bercakap-cakap dengan asyik sekali.
“Orang itu hebat, entah siapa dia...” Diam-diam Gak Bun Beng berbisik kepada Milana dan wanita perkasa
itu mengangguk menyetujui.
“Tapi dia benar-benar setia, agaknya dia mencinta Ceng Ceng...,” bisiknya kembali dan biar pun tidak yakin
akan hal ini, Gak Bun Beng juga mengangguk. Baginya, tanpa melihat wajah Si Kedok itu, bagaimana dia
bisa menduga isi hati orang? Akan tetapi, dalam hal asmara memang wanita lebih halus perasaannya.
Melihat kedatangan mereka, Ceng Ceng lalu bertanya kepada Milana, “Bibi Puteri Milana, bagaimana
dengan Syanti Dewi? Di mana Kakak Syanti?”
Yang menjawabnya adalah Suma Kian Bu, “Menurut penuturan Perdana Menteri Su, puteri itu kini telah
dikawal oleh para utusan Bhutan sendiri kembali ke negaranya...”
“Ah...! Kiranya dia bermain curang...!” Ceng Ceng berseru.
“Siapa?”
“Ang Tek Hoat. Dia menolongku dari tahanan di sini, akan tetapi dia membawaku, dan menukarkan aku
dengan Enci Syanti yang tadinya tertawan oleh Tambolon. Untung aku dapat meloloskan diri...” Dia tidak
menceritakan kepada orang lain kecuali kepada Topeng Setan tadi betapa dia secara aneh dan tiba-tiba
memiliki tenaga mukjijat yang amat dahsyat itu.
Selagi mereka bercakap-cakap, datang serombongan pasukan yang dipimpin langsung oleh Jenderal Kao
Liang! Begitu tiba di situ dan melihat Ceng Ceng, jenderal ini menjadi girang sekali.
“Ceng Ceng... ahhh, Nona yang baik...! Ternyata benar engkau masih hidup...!” Dengan suara serak
karena terharunya dia menghampiri Ceng Ceng dan memeluknya seperti memeluk anaknya sendiri.
“Banyak yang mengatakan bahwa kau masih hidup, akan tetapi sukar bagiku untuk percaya setelah
melihat kau terjerumus ke dalam sumur maut! Aihhh, betapa bahagia rasa hatiku dapat bertemu
denganmu!”
Ceng Ceng segera memberi hormat dan hatinya terharu sekali. Jenderal ini merupakan satu di antara
orang-orang di dunia ini yang amat baik kepadanya.
“Paman, inilah dia Paman Jenderal Kao Liang yang sering kuceritakan kepadamu, seorang yang amat
mulia hatinya!” katanya kepada Topeng Setan memperkenalkan.
Jenderal Kao Liang terkejut sekali melihat orang yang bertopeng seperti setan dan amat buruk, lagi
lengannya buntung sebelah itu. “Siapa... siapa dia...?”
Gak Bun Beng yang menerangkan, “Goanswe, dia adalah Topeng Setan yang amat terkenal, yang menjadi
pembantu dan pengawal Ceng Ceng, akan tetapi ternyata ilmu kepandaiannya hebat bukan main, saya
sendiri sampai kewalahan dibuatnya!”
Dengan singkat pendekar ini menuturkan kepada Jenderal Kao tentang peristiwa tadi. Sang Jenderal
mengangguk-angguk, kagum memandang ke arah Topeng Setan yang hanya menunduk.
“Selama orang-orang jahat itu masih berkeliaran, negara tidak akan aman,” katanya. “Setelah kini
pemberontakan dapat terbasmi, para kaki tangan pemberontak harus dibersihkan karena jelas bahwa
mereka tidak mau insyaf dan melanjutkan kejahatan mereka. Saya akan mengerahkan semua kekuatan
untuk membasmi mereka.” Lalu kepada Ceng Ceng dia berkata, “Harap engkau suka ikut bersamaku dan
singgah di rumahku karena banyak hal yang harus kubicarakan denganmu, anak yang baik.”
Ceng Ceng hanya menoleh kepada Topeng Setan yang masih menunduk saja, hatinya bimbang karena dia
tidak mau berpisah lagi dari Topeng Setan, akan tetapi menolak permintaan jenderal yang amat baik hati
itu pun dia merasa tidak enak.
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat keraguan Ceng Ceng, jenderal yang gagah perkasa dan berwatak jujur itu lalu tertawa dan dengan
suara lantang berkata, “Anak Ceng, biarlah disaksikan oleh para tokoh perkasa di sini, bahkan oleh Puteri
Milana yang masih terhitung bibi luarmu, aku mengundangmu untuk membicarakan soal perjodohan! Aku
ingin sekali mengambil engkau sebagai mantuku, Ceng Ceng!”
Puteri Milana terbelalak, lalu tersenyum dan mengangguk-angguk setuju, sedangkan Gak Bun Beng juga
tersenyum. Dia sudah mendengar bahwa putera sulung jenderal ini, yang tadinya lenyap, kini telah pulang
dan telah menjadi seorang pemuda yang amat lihai dan telah membantu pelaksanaan penghancuran para
pemberontak. Biar pun dia sendiri tidak mengenal pemuda itu, namun melihat Jenderal Kao, seorang yang
dia ketahui betul sifat dan keadaannya, amat baiklah kalau gadis yang gagah ini menjadi mantu jenderal
itu.
Akan tetapi tiba-tiba Ceng Ceng berseru keras, “Ehhh, Paman...! Paman Topeng Setan, kau tunggu aku...!”
Semua orang menoleh dan melihat bahwa Topeng Setan telah pergi dari situ tanpa pamit lagi. Mendengar
teriakan Ceng Ceng, dia hanya menoleh sebentar, kemudian melangkah pergi lagi tanpa mengeluarkan
kata-kata.
“Paman Jenderal Kao, harap suka maafkan saya. Biarlah lain kali saja saya pergi mengunjungi rumah
Paman untuk menghaturkan terima kasih. Paman Gak, Bibi Puteri, maafkan saya...!” Ceng Ceng lalu
berlari cepat mengejar Topeng Setan yang sudah agak jauh.
Semua orang memandang ketika dara itu berhasil menyusul Topeng Setan dan mereka berdua itu berjalan
berdampingan sambil bercakap-cakap. Sungguh pasangan yang sama sekali tidak patut dan berat
sebelah!
Tampak Jenderal Kao Liang menggosok-gosok dagunya, mengelus jenggot dengan hati penasaran dan
kecewa. “Sungguh manusia aneh Topeng Setan itu...”
“Akan tetapi kesetiaannya terhadap dara itu tidak perlu diragukan lagi, Kao-goanswe. Karena itu
tenangkanlah hatimu, dara itu tidak akan dibiarkan mengalami mala petaka.”
Jenderal Kao Liang dan pasukannya lalu melanjutkan perjalanan untuk mencari dan membasmi kaki
tangan bekas pemberontak yang masih berkeliaran, sedangkan Gak Bun Beng dan Puteri Milana kembali
melanjutkan perjalanan mereka untuk mengejar rombongan Syanti Dewi untuk melindunginya.
“Bu-te, aku dan Gak-suheng akan mengantarnya sampai ke Bhutan. Kau sebaiknya pulang dulu ke Pulau
Es dan ceritakan semua yang telah terjadi kepada Ayah dan Ibu dan katakan bahwa setelah mengantar
Syanti Dewi ke Bhutan, kami berdua akan pergi ke Pulau Es menghadap Ayah dan Ibu.”
Kian Bu hanya mengangguk, akan tetapi setelah semua orang pergi, dia tidak menuju ke Pulau Es,
sebaliknya dia pun menuju ke barat karena dia ingin mencari kakaknya, Suma Kian Lee yang tidak
diketahuinya ke mana perginya itu. Juga dia masih perlu waktu panjang untuk memulihkan perasaannya
yang terguncang karena dia malu dan menyesal akan semua perbuatannya bersama dengan Mauw Siauw
Mo-li. Kini baru dia insyaf betapa dia telah terpikat oleh wanita yang hina, seorang datuk kaum sesat yang
gila laki-laki. Sungguh dia merasa menyesal sekali kepada dirinya sendiri yang dianggap amat lemah dan
mudah jatuh oleh kecantikan wanita.
********************
Kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda itu berjalan dengan tenang melalui lembah pegunungan, dikawal
oleh tiga puluh enam orang yang kelihatan gagah perkasa, kesemuanya menunggang kuda dan biar pun
mereka berpakaian seperti orang-orang biasa, bukan pakaian seragam piauwsu (pengawal barang),
namun dari cara mereka menunggang kuda, duduk dengan tegak dan kuda mereka teratur rapi di belakang
dan di depan kereta, dapat diduga bahwa mereka itu adalah orang-orang yang biasa berbaris dengan kuda
dan mengenal disiplin.
Pemimpinnya, seorang laki-laki tinggi besar dengan kumis dan jenggot pendek rapi, kelihatan gagah sekali
dan mereka melanjutkan perjalanan berkuda itu menuju ke barat tanpa banyak kata-kata. Kereta itu sendiri
amat besar, tidak seperti kereta biasa, agaknya kereta yang khusus dibuat untuk keperluan itu. Panjang
kereta dua kali panjang kereta biasa, maka penariknya adalah empat ekor kuda, tidak dua ekor seperti
dunia-kangouw.blogspot.com
biasa kalau hanya menarik penumpang. Di bagian paling belakang dari rombongan itu terdapat seekor
kuda menarik sebuah kereta kecil yang terisi barang-barang perbekalan mereka.
Orang-orang yang kelihatan gagah itu ternyata dapat bekerja sama dengan cepat dan setiap kali jalan
terlalu mendaki sehingga empat ekor kuda yang menarik kereta besar itu kelihatan payah, mereka lalu
langsung meloncat turun dan beberapa orang ikut mendorong roda kereta sehingga kereta itu dapat
mendaki dengan lancar dan perjalanan tidak perlu dihentikan. Walau pun mereka tidak tergesa-gesa, akan
tetapi perjalanan itu tidak pernah berhenti kecuali kalau hendak makan atau bermalam di tengah
perjalanan.
Pagi hari itu amat cerah. Jalan yang dilalui rombongan itu pun datar sehingga kuda mereka berlari
congklang dan kereta dapat bergerak lancar. Suara derap kaki kuda menimbulkan bunyi irama yang lucu
dan menggembirakan, dan barisan kuda itu akhirnya memasuki sebuah hutan kecil yang mulai diterobos
sinar matahari pagi yang membangunkan semua binatang penghuni hutan.
Beberapa ekor kelinci dan tikus lari berserabutan melintasi jalan dan menyelinap ke balik semak-semak
ketika rombongan itu tiba. Burung-burung terbang ketakutan dari pohon-pohon di kanan kiri jalan. Kudakuda
mereka agaknya merasa gembira pula tiba di dalam hutan di antara pohon-pohon dan daun-daun
segar. Beberapa di antara mereka meringkik dan mendengus, agaknya bau daun-daunan dan tanah yang
sedap menimbulkan gairah dan kegembiraan mereka. Tentu saja jauh bedanya dengan bau pengap di
kota-kota dan dusun-dusun yang penuh manusia.
Akan tetapi, selagi rombongan yang terdiri dari tiga puluh enam orang termasuk kusir kereta dan
komandan rombongan itu menjalankan kuda dengan hati tenang gembira, tiba-tiba terdengar bunyi
berdesing dan tahu-tahu tiga batang tombak menancap di tengah jalan di depan Si Pemimpin. Cepat
pemimpin rombongan ini menahan kudanya, mengangkat tangan kiri memberi tanda agar rombongan itu
berhenti. Kemudian beberapa orang pembantunya melarikan kuda dari belakang ke depan dan lima orang
pemimpin rombongan yang berkuda itu berjajar memenuhi jalan sambil memandang ke arah tiga batang
tombak yang masih menggetar di atas tanah itu.
Mereka menyangka bahwa tentu ada perampok-perampok yang ‘bosan hidup’ berani menghadang
mereka. Akan tetapi ketika dari balik pohon-pohon besar muncul seorang kakek tinggi besar bersama
seorang wanita cantik dan di belakang mereka terdapat belasan orang yang dipimpin oleh seorang kakek
gendut tinggi besar, rombongan berkuda ini menjadi terkejut sekali. Andai kata benar mereka itu perampok,
tentu bukan perampok-perampok sembarangan. Orang-orang yang datang bersama kakek tinggi besar itu
adalah orang-orang yang berwajah menyeramkan sekali, seperti setan-setan karena wajah mereka itu
samar-samar masih membayangkan warna-warna bermacam-macam, ada yang kehijauan dan ada yang
kemerahan!
“Haii, rombongan yang sedang melakukan perjalanan, jangan kalian takut, kami bukan perampok.
Ketahuilah, kami adalah orang-orang Pulau Neraka dan aku adalah Hek-tiauw Lo-mo. Hayo kalian turunlah
dari kuda, berikan kereta itu untukku dan berikan kepada anak buahku masing-masing seekor kuda dan
kami tidak akan membunuh kalian.”
Rombongan itu belum pernah mendengar tentang Pulau Neraka atau Hek-tiauw Lo-mo, maka tentu saja
mereka menjadi marah mendengar ucapan yang bernada sombong itu. Apa lagi harus menyerahkan kereta
yang dikawalnya dengan rapi, tentu saja mereka tidak sudi melaksanakan permintaan ini.
Pemimpin rombongan lalu berkata, suaranya tegas dan bernada keras, “Hek-tiauw Lo-mo, kami
serombongan pelancong tidak mempunyai permusuhan dengan kalian, maka harap kalian jangan
mengganggu kami. Kuda dan kereta ini kami butuhkan sekali untuk melanjutkan perjalanan kami. Akan
tetapi penolakan kami bukan berarti bahwa kami pelit. Nah, sedikit emas dan perak ini kiranya cukup bagi
kalian untuk membeli kuda!”
Setelah berkata demikian, pemimpin rombongan itu melemparkan sebuah kantung kecil ke arah Hek-tiauw
Lo-mo! Kakek ini menerimanya dan merobeknya, sehingga isinya yang berupa potongan-potongan emas
dan perak berhamburan ke atas tanah.
“Ha-ha-ha, ada orang berani memberi sedekah kepada Hek-tiauw Lo-mo. Penghinaan ini selama hidupku
belum pernah kuterima. Ji Song, hajar mereka!” Perintahnya kepada pembantunya yang selama ini tidak
pernah ketinggalan memimpin para anak buahnya. Ji Song, kakek gendut tinggi besar, segera berteriak
memberi aba-aba dan majulah belasan orang anak buah Pulau Neraka itu menyerbu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi pemimpin rombongan itu pun memberi aba-aba dan bagaikan prajurit-prajurit yang terlatih baik,
para anak buahnya juga meloncat dari atas kuda dan menyambut serbuan itu sehingga terjadilah
pertempuran yang seru. Akan tetapi betapa kaget hati pemimpin itu menyaksikan kehebatan pihak lawan,
terutama kakek gendut tinggi besar. Maka dia sendiri bersama empat orang pembantunya lalu meloncat
turun dan disambut oleh wanita cantik itu sambil tertawa-tawa.
Wanita cantik itu bukan lain adalah Mauw Siauw Mo-li! Seperti telah diceritakan di bagian depan, Hek-tiauw
Lo-mo yang telah kehilangan Ceng Ceng, menggunakan siasat adu domba ketika dia diserbu oleh pasukan
pemerintah yang dipimpin oleh Puteri Milana dan Gak Bun Beng, dan menggunakan kesempatan selagi
Topeng Setan melayani mereka, dia lalu mengajak sumoi-nya itu dan semua anak buahnya untuk
meloloskan diri.
Mauw Siauw Mo-li penasaran sekali karena kehilangan Kian Bu, pemuda yang amat memuaskan hatinya
itu, sedangkan Hek-tiauw Lo-mo penasaran karena kehilangan Ceng Ceng. Mereka terus mencari ke barat
dan di hutan itu mereka bertemu dengan rombongan berkuda itu yang hendak mereka rampas kereta dan
kudanya agar perjalanan mereka lebih lancar dan cepat.
Biar pun dikeroyok oleh lima orang pimpinan rombongan itu, Mauw Siauw Mo-li masih melayani seenaknya
saja. Untung bahwa lima orang pemimpin rombongan itu adalah laki-laki yang gagah perkasa dan rata-rata
berwajah tampan menarik. Laki-laki muda tampan dan menarik merupakan kelemahan Mauw Siauw Mo-li
sehingga hati wanita ini tidak tega untuk membunuh mereka. Dia hanya mempermainkan mereka,
menangkis senjata mereka dengan pedangnya yang bersinar hijau, sedangkan jari-jari tangan kirinya tidak
hentinya mencolek sana-sini di tubuh kelima orang lawannya itu sambil mengeluarkan kata-kata pujian
yang membuat lima orang itu terkejut, terheran, akan tetapi juga menjadi muak.
“Hemm, Sumoi, apakah pada saat begini sudah kumat lagi penyakitmu gila laki-laki? Hayo kau bunuh
mereka agar lebih cepat urusan ini beres!” teriak Hek-tiauw Lo-mo yang duduk di bawah pohon menonton
pertempuran. Dia sendiri merasa terlalu tinggi untuk melayani orang-orang yang kepandaiannya tidak
berapa tinggi itu dan dia mendongkol menyaksikan sumoi-nya yang mempermainkan lima orang lawannya.
“Hi-hi-hik, baiklah, Suheng. Wah, sayang sekali, aku terpaksa harus merobohkan kalian, orang-orang
ganteng!”
Mauw Siauw Mo-li tertawa dan pedangnya lalu berubah berkelebatan menjadi gulungan sinar hijau yang
amat cepat. Lima orang lawannya terkejut sekali dan mereka pun menggerakkan senjata mereka untuk
membela diri, akan tetapi biar pun mereka sama sekali tidak dapat menyerang dan hanya
mempertahankan diri, tetap saja mereka terhimpit dan terdesak hebat oleh sinar hijau itu dan agaknya
pertahanan mereka tidak akan berlangsung lama.
Tiba-tiba tampak bayangan orang berkelebat terjun ke medan pertempuran ini, didahului sinar yang seperti
halilintar menyitaukan mata.
“Cringgg... trakkkk!”
Mauw Siauw Mo-li mengeluarkan pekik kaget ketika pedangnya yang bersinar hijau itu disambar oleh sinar
kilat itu dan ternyata ujung pedangnya yang merupakan pedang pusaka ampuh itu telah patah! Ketika dia
yang telah meloncat mundur memandang ke depan, kiranya di depannya telah berdiri seorang pemuda
tampan gagah yang sudah dikenalnya baik karena pemuda ini bukan lain adalah Tek Hoat!
Setelah pemuda itu menyerahkan Syanti Dewi kepada Perdana Menteri Su, hatinya lega bukan main
karena kekasih hatinya itu telah berada dalam keadaan aman. Barulah dia teringat akan Ceng Ceng dan
Topeng Setan. Dia suka sekali kepada Ceng Ceng dan agaknya akan mudah baginya untuk jatuh cinta
kepada gadis itu andai kata tidak ada Syanti Dewi di dunia ini.
Maka setelah meninggalkan istana Perdana Menteri, dia bergegas keluar dari kota raja dan kembali ke
tempat Tambolon di sebelah selatan untuk menolong gadis itu. Diam-diam dia merasa khawatir juga kalaukalau
dia akan terlambat. Dan ketika dia tiba di tempat itu, ternyata bahwa Tambolon dan kawan-kawannya
telah pergi dan demikian pula Ceng Ceng, entah pergi ke mana, entah berhasil lolos ataukah dibawa pergi
oleh Tambolon. Maka ia menjadi gelisah juga dan dia cepat pergi ke dusun Nam-lim untuk menolong
Topeng Setan. Akan tetapi dusun bekas sarang kaum sesat ini pun telah kosong!
dunia-kangouw.blogspot.com
Terpaksa dia lalu meninggalkan tempat itu dan secepatnya dia menuju ke barat, karena dia dapat
menduga bahwa tentu Syanti Dewi akan dikawal dan dipulangkan ke Bhutan, maka sebaiknya kalau dia
mengamat-amati dari jauh. Demikianlah, pada pagi hari itu dia melihat Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw
Mo-li mencegat rombongan berkuda, dan melihat orang-orang yang sekarang menjadi musuhnya ini,
orang-orang yang telah menangkap Topeng Setan dan Ceng Ceng, dia menjadi marah dan tanpa
mengetahui siapa mereka yang didesak oleh Mauw Siauw Mo-li, dia sudah mencabut Cui-beng-kiam dan
sekali tangkis dia telah mematahkan ujung pedang sinar hijau di tangan Siluman Kucing itu.
“Eh, kau... bocah tampan? Kau di sini...? Kenapa kau melawan aku?” Mauw Siauw Mo-li menegur,
setengah marah karena kerusakan pedangnya, tetapi juga girang karena sejak dahulu dia ada hati
terhadap pemuda tampan itu yang dahulu merupakan tangan kanan dari Pangeran Liong Khi Ong.
Sementara itu, Hek-tiauw Lo-mo sudah meloncat ke depan dan menghadapi Tek Hoat dengan alis
berkerut. “Bocah lancang! Kenapa engkau mencampuri urusanku? Hayo minggat, sebelum aku marah dan
membunuhmu!”
Kalau saja Hek-tiauw Lo-mo tidak bersikap kasar dan bicara dengan baik, agaknya Tek Hoat yang tidak
mengenal rombongan itu akan merasa sungkan untuk mencampuri dan akan pergi. Akan tetapi entah
mengapa, semenjak dia bertemu dengan Syanti Dewi dan orang-orang seperti Milana dan lain-lain, dia
merasa betapa dirinya amat rendah dan hina, betapa dia adalah seorang pemuda yang tersesat dan jahat,
betapa dia karena semua perbuatannya yang jahat, sama sekali tidak berharga untuk berdekatan dengan
Syanti Dewi. Hal ini membuat dia merasa menyesal bukan main akan perbuatan-perbuatannya yang
sudah-sudah.
Dia bukan anak penjahat, mengapa dia telah tersesat sedemikiah jauhnya? Penyesalan inilah, terutama
sekali bayangan wajah Syanti Dewi yang lembut dan penuh welas asih, yang membuat dia merasa tidak
senang dengan orang-orang dari golongan sesat karena dia menganggap bahwa mereka itulah yang
menyeretnya ke lembah kesesatan. Kini, Hek-tiauw Lo-mo bersikap kasar, maka dia menjadi makin marah
dan mengambil keputusan untuk melawannya dan membela rombongan yang tak dikenalnya ini.
“Hek-tiauw Lo-mo, engkau manusia sombong dan jahat! Kau kira aku takut kepadamu?” bentaknya dan
pedang Cui-beng-kiam yang menggiriskan itu melintang di depan dadanya.
Hek-tiauw Lo-mo memang benar telah menjadi Ketua Pulau Neraka, akan tetapi dia bukanlah asli penghuni
Pulau Neraka. Dia adalah pendatang baru yang menggunakan ilmunya untuk menaklukkan orang-orang
Pulau Neraka, karena itu dia tidak mengenal pedang di tangan Tek Hoat itu. Akan tetapi Kakek Ji Song,
kakek gendut gundul yang memang merupakan tokoh Pulau Neraka asli, begitu melihat pedang di tangan
Tek Hoat, seketika dia menjadi ketakutan, gemetar dan berseru, “Cui-beng-kiam...!” Lalu dia menjauhkan
diri dari situ.
Hal ini adalah tidak aneh. Cui-beng-kiam ini dahulunya adalah pedang milik Cui-beng Koai-ong, yaitu tokoh
nomor satu dari Pulau Neraka yang merupakan iblis Pulau Neraka. Orangnya mengerikan seperti mayat
hidup, kepandaiannya pun tidak lumrah manusia. Seperti kita ketahui, pedang pusaka ini berikut kitab-kitab
peninggalan Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin terjatuh ke tangan seorang tokoh Pulau Neraka
lainnya, yaitu Kong To Tek dan akhirnya terjatuh ke tangan Tek Hoat.
Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li yang tidak mengenal pedang ini lalu bergerak menerjang pemuda
itu dari kanan kiri. Hek-tiauw Lo-mo yang dapat menduga akan kelihaian pemuda yang pernah menjadi
tangan kanan pemberontak ini, langsung mengeluarkan senjatanya yang mengerikan, yaitu sebatang golok
besar tajam yang punggungnya berbentuk gergaji! Senjata ini terbuat dari baja pilihan sehingga mengkilap
dan amat tajam, ketika digerakkan menjadi gulungan sinar biru dan mengeluarkan suara berdesing.
Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui juga marah sekali karena kerusakan pedangnya, akan tetapi karena
yang patah hanya ujungnya sedikit, dia masih dapat menyerang dengan ganas. Dia merasa menyesal
sekali bahwa obat peledaknya yaitu senjatanya yang paling diandalkan, telah habis dan belum mendapat
kesempatan untuk membuat lagi, maka kini dia hanya dapat menyerang dengan pedang buntung dibantu
oleh cakaran tangan kirinya yang juga amat berbahaya.
Ang Tek Hoat mengamuk. Kadang-kadang dia menyeringai menahan rasa sakit. Luka-lukanya akibat
pertempuran membela Syanti Dewi di dalam hutan melawan Pak-thian Lo-mo, Lam-thian Lo-mo dan Hekwan
Kui-bo masih belum sembuh sama sekali. Dan kini dua orang lihai yang mengeroyoknya itu pun
mengeluarkan seluruh daya upaya mereka untuk membunuhnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sebetulnya suheng dan sumoi itu sama sekali tidak merasa sakit hati atas kematian Hek-wan Kui-bo
karena di antara mereka bertiga biar pun terhitung suheng dan sumoi, tetapi tidak mempunyai hubungan
akrab, bahkan saling mengiri dan saling mencurigai. Kematian Hek-wan Kui-bo di tangan pemuda ini tidak
mendatangkan perasaan dendam. Akan tetapi, karena kini Tek Hoat berani menentang mereka, maka
mereka teringat akan hal itu yang sedikitnya merupakan pukulan bagi nama mereka, maka tanpa
berunding lebih dulu, keduanya kini berusaha sekuat tenaga untuk membunuh Tek Hoat.
Tek Hoat juga maklum akan kelihaian lawan, maka dia memutar pedangnya yang ampuh itu dan
mengeluarkan semua kepandaiannya. Ilmu yang diwarisinya dari Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin
memang hebat sekali. Dari kitab peninggalan Bu-tek Siauw-jin dia telah memperoleh ilmu menghimpun
tenaga sakti, sedangkan dari kitab-kitab Cui-beng Koai-ong dia memperoleh ilmu-ilmu pukulan beracun,
ilmu pedang yang dinamakan Cui-beng Kiam-sut dan obat perampas ingatan. Kini dia menggerakkan
pedangnya berdasarkan sinkang yang sesungguhnya berpusat pada ilmu mukjijat atau Ilmu Tenaga Sakti
Inti Bumi dan dia memainkan Cui-beng Kiam-sut yang luar biasa gerakannya itu.
Hebat bukan main pertandingan antara tiga orang ini. Sinar pedang Cui-beng-kiam berubah menjadi
gulungan sinar kilat menyambar-nyambar menyilaukan mata, dan sinar ini dikeroyok oleh gulungan sinar
hijau dan biru! Ada pun lima orang pemimpin rombongan itu kini sudah saling gempur melawan kakek
gundul Ji Song yang lihai dan teman-temannya. Akan tetapi karena jumlah para anak buah Pulau Neraka
ini kalah jauh dan karena ternyata anggota rombongan berkuda itu pun rata-rata memiliki kepandaian yang
cukup tinggi, maka pertandingan antara mereka itu berjalan seru dan akhirnya pihak Pulau Neraka mulai
terdesak.
Mauw Siauw Mo-li yang sudah marah kini tidak lagi memperlihatkan sikapnya yang gila laki-laki, apa lagi
dia teringat akan suci-nya yang tewas oleh pemuda ini dan pedangnya yang menjadi buntung. Lebih-lebih
lagi karena dia yang mengeroyok dengan suheng-nya yang dia tahu amat lihai, selama hampir seratus
jurus masih belum juga dapat mengalahkan pemuda ini. Dia gemas dan penasaran sekali.
“Ang Tek Hoat, kau manusia khianat! Engkau yang sudah banyak makan uang dari pemberontak, pada
saat terakhir malah berkhianat. Manusia tak tahu malu! Sekarang engkau agaknya hendak bermuka-muka
dan menjilat-jilat pantat Kaisar agaknya! Hi-hik, manusia rendah, pemuda yang hina!”
Bukan main marahnya hati Tek Hoat mendengar ini. Diingatkan akan penyelewengan dan kejahatannya
adalah hal yang amat dibencinya karena hal itu mengingatkan dia lagi akan ketidak pantasannya untuk
berdekatan dengan Syanti Dewi! Tiba-tiba dia merubah ilmu pedangnya. Biar pun Cui-beng Kiam-sut
adalah ilmu pedang iblis yang amat hebat, akan tetapi pertahanan kedua orang itu amat ketat dan mereka
mulai dapat mengikuti gerakan dari ilmu pedang ini.
Maka secara tiba-tiba dia merubah ilmu pedangnya dan mainkan Pat-mo Kiam-sut yang pernah
dipelajarinya dari Sai-cu Lo-mo, bekas tokoh Thian-liong-pang. Pat-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Delapan
Iblis) juga merupakan ilmu pedang golongan sesat yang amat hebat sekali, dahulu menjadi satu di antara
ilmu-ilmu yang paling hebat dari ketuanya, yaitu Puteri Nirahai yang kini menjadi nyonya Pendekar Super
Sakti. Dan perubahan mendadak ini membuat kedua orang lawan itu terkejut, terutama sekali Lauw Hong
Kui yang memang didesak hebat oleh Tek Hoat yang marah mendengar ejekannya tadi.
Sinar kilat menyambar ke arah ulu hati Lauw Hong Kui. Wanita hamba nafsu birahi ini memekik, cepat dia
miringkan tubuhnya dan menangkis.
“Cringgg... trekk... aughhh...!”
Tangkisan itu memang tepat, tapi saking kuatnya Tek Hoat menggerakkan pedangnya, kembali pedang
sinar hijau dari wanita itu terbabat putus dan Cui-beng-kiam masih sempat melukai pangkal lengan kanan
wanita itu sehingga kulit dan dagingnya terobek lebar dan darah bercucuran, pedang buntungnya yang
tinggal pendek saja itu terlepas!
Akan tetapi pada saat itu, sinar hitam menyambar dari atas ke arah kepala Tek Hoat. Pemuda ini terkejut
dan cepat menangkis dengan Cui-beng-kiam.
“Plakkkk...!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Makin kagetlah hati Tek Hoat karena ternyata bahwa sinar hitam itu adalah sehelai jala tipis yang tadi
dikepal di tangan kiri Ketua Pulau Neraka dan jala ini terbuat dari bahan yang amat kuat, tidak dapat
diputus oleh pedang pusaka. Pedang itu telah tertangkap oleh jala! Dan golok berpunggung gergaji itu
menyambar ganas ke arah lehernya!
Sementara itu, Mauw Siauw Mo-li yang juga marah sekali karena lengannya terluka parah dan pedangnya
rusak, menerjang ke depan dengan hantaman tangan kirinya dengan pengerahan sinkang dan dia telah
mempergunakan pukulan beracun ke arah kepala Tek Hoat.
Pemuda ini maklum akan datangnya bahaya besar. Pedangnya tidak dapat digerakkan lagi sebab telah
tertangkap dan terbelit jala tipis, dan andai kata ia hanya mementingkan pedangnya, tentu dia akan terkena
sambaran golok dan hantaman wanita itu. Dia teringat akan Tenaga Sakti Inti Bumi yang dipelajarinya dari
kitab peninggalan Bu-tek Siauw-jin.
Tiba-tiba dia melepaskan pedangnya, melempar diri ke bawah dan menelungkup, kemudian dengan
pengerahan sinkang sakti Inti Bumi, kedua kakinya menghantam ke atas seperti seekor jangkrik
menendang. Tendangannya yang tak tersangka-sangka dan mengandung tenaga dahsyat itu memapaki
golok.
“Dessss... crakkk...!”
Hek-tiauw Lo-mo berteriak keras karena goloknya itu membalik sedemikian hebatnya sehingga dia tidak
mampu mempertahankan lagi dan goloknya telah menghantam pundaknya sendiri sehingga tulang
pundaknya retak dan bahunya terluka! Dengan kemarahan meluap, dia menguyun kakinya.
“Bukkk! Plakkk!”
Tek Hoat terkena tendangan pada perutnya dan terkena hantaman tangan kiri Mauw Siauw Mo-li pada
punggungnya. Tubuhnya terlempar dan terbanting lalu bergulingan. Akan tetapi dia dapat meloncat bangun
kembali, matanya terbelalak marah dan tangan kirinya mengusap mulutnya yang berdarah.
Hek-tiauw Lo-mo menyumpah-nyumpah. Dia telah terluka, juga Mauw Siauw Mo-li telah terluka.
Celakanya, anak buahnya terdesak hebat dan banyak yang sudah terluka. Maka dia lalu bersuit nyaring
dan meloncat pergi bersama sumoi-nya. Anak buahnya maklum bahwa pimpinan mereka juga terdesak,
maka mereka lalu melarikan diri meninggalkan medan pertempuran sambil memapah teman-teman yang
terluka. Tek Hoat memandang dengan mata terbelalak, tidak dapat mengejar karena dia maklum bahwa
dirinya sendiri pun terluka parah.
Setelah melihat bahwa musuh-musuhnya lari pergi membawa pedang Cui-beng-kiam yang terampas oleh
Hek-tiauw Lo-mo, dia mengeluh, memejamkan matanya dan terguling pingsan di dekat kereta rombongan
itu.
Tek Hoat, yang memang luka-lukanya akibat pertandingan melawan para pengawal lihai dari Pangeran
Liong Khi Ong itu belum sembuh benar, kini mengalami pukulan dan tendangan yang hebat, tentu saja
menjadi makin parah luka-luka di sebelah dalam tubuhnya. Dia tidak tahu bahwa selama sehari semalam
dia tidak sadar. Ketika dia akhirnya siuman kembali, dia merasa dirinya terguncang-guncang perlahan dan
telinganya mendengar suara bergemuruh.
Dia membuka matanya. Kiranya tubuhnya memang sedang terguncang-guncang di dalam bilik kereta yang
berjalan perlahan, dan suara gemuruh itu adalah suara roda-roda kereta melindas jalan yang tidak rata.
Cuping hidungnya kembang-kempis karena dia mencium bau harum semerbak dan matanya mencari-cari.
Kiranya di dalam bilik kecil kereta itu terdapat peralatan rias dari wanita di atas sebuah meja kecil. Sisir,
cermin, bedak dan lain-lain. Dia bergerak hendak bangkit duduk dan mengeluh. Kiranya tubuhnya sakitsakit
semua, terutama di dada dan punggungnya. Dia melihat betapa luka-luka luar di lengan dan dahinya
telah dibalut orang dan diobati.
Tek Hoat menjadi terheran-heran dan menduga-duga. Tak salah lagi, tentu dia ditolong oleh rombongan
itu, karena dia juga melihat ada sebuah kereta besar dari rombongan yang diserbu oleh Hek-tiauw Lo-mo
itu. Akan tetapi siapakah orang-orang ini dan kereta siapa ini yang penuh dengan peralatan rias seorang
wanita?
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba kereta itu berhenti dan Tek Hoat menyingkap tirai di jendela kereta. Kiranya mereka berhenti di
dalam hutan dan waktu itu adalah tengah hari. Dia mengira bahwa belum lama dia berada di situ, karena
pertempuran itu terjadi di pagi hari. Baru setengah hari.
Seorang yang berjenggot dan berkumis pendek, yang dikenalnya sebagai seorang di antara para pemimpin
yang mengeroyok Mauw Siauw Mo-li, datang menjenguk dan diikuti seorang anggota rombongan yang
membawa makanan untuk Tek Hoat.
“Aih, syukurlah bahwa engkau telah siuman kembali, orang muda yang perkasa! Hati kami sudah gelisah
melihat kau pingsan selama sehari semalam.”
“Sehari semalam?” Ang Tek Hoat berseru kaget. “Bukankah baru pagi tadi aku jatuh pingsan?”
“Bukan pagi tadi, melainkan kemarin pagi,” orang itu berkata sambil tersenyum dan memandang kagum.
“Sungguh hebat engkau, dapat menandingi orang-orang iblis itu! Terpaksa kami membawamu ke dalam
kereta karena engkau pingsan dan tentu saja kami tidak tega meninggalkan engkau di dalam hutan itu.”
“Ahhh, terima kasih...!” Tek Hoat mencoba untuk bangkit duduk lagi, akan tetapi dia menyeringai kesakitan.
“Tak usah duduk. Mengasolah dulu, orang muda...”
“Akan tetapi... akan tetapi, siapakah kalian ini...?”
“Kami adalah pelancong-pelancong, rombongan pelancong.”
“Dan ke mana kalian hendak pergi?”
“Engkau sendiri hendak ke mana, orang muda? Kalau tidak satu tujuan dengan kami, biarlah kami
mencarikan tempat di sebuah kota atau dusun untuk kau tinggal dan beristirahat. Jangan khawatir, kami
akan meninggalkan biaya secukupnya sampai kau sembuh.”
“Terima kasih, kau baik sekali, Paman. Aku... aku akan ke barat...”
“Ahhh! Kalau begitu kita setujuan. Kami pun serombongan sedang menuju ke barat. Kalau begitu, biarlah
engkau mengaso dahulu di kereta itu dan kami akan berusaha mengobatimu.”
Tek Hoat merasa girang sekali dan amat berterima kasih. Karena dia belum kuat bangkit duduk, maka dia
mengangkat kedua tangan ke dada sambil rebah telentang, lalu berkata, “Engkau sungguh baik sekali,
Paman, dan... banyak terima kasih atas pertolonganmu ini.”
Orang itu tersenyum dan mengangguk-angguk. “Orang muda perkasa yang rendah hati! Jangan bicara
tentang terima kasih dan pertolongan, karena kalau bukan engkau yang datang menolong, agaknya saat ini
kami telah menjadi mayat-mayat yang diperebutkan binatang-binatang hutan! Mengasolah dan biar anak
buahku ini melayanimu.” Pemimpin rombongan itu lalu pergi dan kiranya mereka semua berhenti di hutan
itu untuk makan siang.
Orang yang membawa bubur dan asinan itu lalu hendak menyuapkan makanan, akan tetapi Tek Hoat
mengucapkan terima kasih dan makan sendiri sambil rebah miring. Dia merasa berhutang budi kepada
mereka ini dan diam-diam dia harus mengakui bahwa di dunia kaum sesat kiranya tidak berlaku hukum
tolong-menolong seperti ini. Baru terbuka matanya bahwa manusia harus saling tolong-menolong, bantumembantu,
bukan saling bermusuhan seperti di dunia kaum sesat. Betapa tenteramnya dunia ini kalau
kehidupan manusia tidak dikotori oleh permusuhan dan kebencian!
Seorang di antara anggota rombongan, seorang kakek, ternyata pandai dengan ilmu pengobatan dan
setiap hari Tek Hoat diperiksa dan diberi obat minum yang pahit namun manjur juga karena dia merasa
makin tenang dan makin ringan luka-lukanya di dalam tubuh. Tentu saja setelah dapat duduk dia pun
bersila dan mengumpulkan hawa murni untuk mengobati luka-lukanya sendiri.
Setiap hari, bahkan setiap saat Tek Hoat tidak pernah dapat melupakan Syanti Dewi. Makin dikenang,
makin sakitlah hatinya, karena dia makin melihat kenyataan bahwa dia sama sekali tidak berharga
berdekatan dengan puteri itu. Jangankan menjadi... kekasih seperti yang selalu mengganggu hatinya,
bahkan menjadi sahabat pun tidak pantas, menjadi pelayannya pun tidak patut. Pendeknya dia hanya akan
dunia-kangouw.blogspot.com
mengotorkan puteri itu kalau berdekatan, karena hawa di sekitar dirinya adalah kotor, hina dan jahat!
Teringat akan itu semua, dia mengeluh panjang pendek di dalam bilik itu.
“Keparat kau, Tek Hoat...!” Dia memaki diri sendiri sambil menjambak rambut di bilik itu, tidak peduli bahwa
suara hatinya itu keluar dari mulutnya dengan suara lirih. “Engkau manusia sesat, manusia jahat, sejahatjahatnya
orang! Bagaimana orang macam engkau tergila-gila kepada seorang bidadari seperti Puteri Syanti
Dewi? Kau sudah gila! Seperti seekor burung gagak merindukan seekor burung hong!”
Kadang-kadang dia memaki-maki dirinya sendiri dan menyesali semua perbuatannya. Kadang-kadang dia
membayangkan kecantikan Syanti Dewi, kelembutannya serta keramahannya, kemuliaan budinya, bahkan
terdorong oleh suara hatinya, kadang dia bersenandung memuji-muji puteri yang telah menguasai seluruh
cinta kasih hatinya itu. Hampir setiap malam dia bermimpi, bertemu dengan puteri itu dan dalam mimpinya
tentu dia menyebut-nyebut namanya. Apa lagi ketika luka-lukanya membuat tubuhnya terserang demam,
dalam keadaan tak sadar dia mengigau tentang Syanti Dewi.
Berkat usahanya sendiri siulian dan menghimpun tenaga murni, ditambah pengobatan rombongan itu,
seminggu kemudian kesehatan Tek Hoat sudah berangsur baik. Biar pun dia belum sembuh sama sekali,
dan masih lemah, akan tetapi dia sudah dapat meninggalkan kereta dan di waktu kereta berhenti di dusundusun,
dia dapat ikut pula turun dan bersama dengan rombongan itu makan di warung-warung.
Hari itu mereka agak lama berhenti di dusun yang agak besar, karena rombongan itu membeli banyak
ransum. Setelah melewati dusun itu, perjalanan akan melalui daerah pegunungan yang sunyi dan jarang
terdapat dusun yang menjual bahan makanan, maka rombongan itu memperbanyak bekal mereka untuk
keperluan di perjalanan. Tek Hoat juga membantu mereka. Karena tenaganya belum pulih kembali, dia
ditugaskan untuk menghitung dan menimbang bahan-bahan makanan yang dibeli.
Ketika akhirnya semua beres, dan dia hendak kembali ke kereta karena dia belum kuat naik kuda, Tek
Hoat menjadi bingung. Baru sekarang dia melihat bahwa kereta yang panjang itu ternyata terdiri dari dua
bilik. Dia hampir saja membuka pintu bilik yang berada di depan, akan tetapi pemimpin rombongan itu
memegang lengannya dan berkata, “Engkau keliru, Taihiap.” Dia kini disebut Taihiap setelah dia
memperkenalkan diri, Ang-taihiap sebutannya. “Bilikmu adalah yang di belakang ini.”
“Ah, maaf. Akan tetapi siapakah yang berada di bilik depan?” tanyanya.
“Tidak ada siapa-siapa, akan tetapi Taihiap jangan membukanya. Sekali-kali harap jangan membukanya
dan kami tentu saja percaya penuh kepada Ang-taihiap.”
Tek Hoat mengangguk, akan tetapi di dalam hatinya dia curiga sekali. Beberapa kali ingin dia membuka
pintu bilik itu kalau tidak ada orang melihatnya, akan tetapi kata-kata pimpinan rombongan itu
mengingatkannya. “...kami tentu saja percaya penuh kepada Ang-taihiap.”
Hemm, apakah dia yang sudah menyeleweng dan tersesat itu kini juga menjadi orang yang tidak bisa
dipercaya? Betapa pun curiganya, betapa pun inginnya untuk membuka pintu bilik depan itu, dia
mengeraskan hati dan tidak mau membukanya! Mulai sekarang, dia harus menjadi seorang yang menjauhi
segala keburukan! Dia harus memulai hidup baru dan menanggalkan semua kebiasaan lama yang busuk
dan sesat!
Menjelang tengah hari, kereta mulai memasuki daerah hutan yang sunyi. Akan tetapi, ketika memasuki
sebuah hutan, baru saja tiba di pinggir hutan itu, tiba-tiba rombongan ini berhenti dan kereta juga berhenti.
Ang Tek Hoat terkejut. Kalau sekali ini terjadi pencegatan oleh orang-orang sakti seperti yang terjadi
seminggu yang lalu, sedangkan kesehatan dan tenaganya belum pulih sama sekali, tentu mereka semua
akan celaka dan dia sama sekali tidak dapat melindungi mereka. Padahal mereka sudah begitu baik
kepadanya!
Tetapi tidak terdengar kegaduhan, maka Tek Hoat lalu menyingkap tirai bilik keretanya dan memandang ke
depan, menjenguk ke luar. Di depan, tampak seorang dara remaja berdiri menghadang rombongan itu. Ang
Tek Hoat memandang kagum. Seorang dara remaja yang amat cantik jelita, sangat cantik dan lincah,
sikapnya ramah kekanak-kanakan namun memikat hati, tubuhnya tiada hentinya bergerak, sepasang
matanya seperti sepasang bintang senja yang berkedip-kedip dan bersinar terang, jernih dan tajam,
bibirnya yang merah itu bersungut-sungut namun bertambah manisnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan sikap yang lucu dan jenaka, akan tetapi juga sedikit ugal-ugalan dara itu menggunakan telunjuk
tangan kanannya menyodok perut kepala rombongan yang agaknya sudah mengenalnya itu. “Wah, Paman
mencari penyakit, ya? Kenapa melalui jalan sini? Di balik hutan ini terdapat rombongan orang jahat yang
amat jahat, bukan penjahat biasa melainkan gerombolan yang berilmu tinggi. Kalau rombongan Paman ini
diketahuinya, tentu celaka! Suhu sendiri merasa ngeri berhadapan dengan gerombolan itu dan Suhu yang
menyuruh aku menghadang Paman di sini untuk memberi peringatan agar Paman menggunakan jalan
lain!”
Kepala rombongan itu tersenyum, agaknya dia sudah mengenal watak dara remaja yang jenaka itu
sungguh pun sekali ini dia membawa berita yang mengejutkan.
“Aih, Nona Teng, kita bertemu lagi di tempat yang tak tersangka-sangka ini! Di mana Locianpwe yang
menjadi gurumu itu? Dan gerombolan apakah yang kau ceritakan itu?”
“Gerombolan apa lagi yang berbahaya kalau bukan gerombolan yang dipimpin Raja Tambolon? Musuh
besarmu, bukan? Menurut Suhu, Tambolon selalu menjadi musuh besar orang-orang Bhutan!”
Kepala rombongan itu kelihatan kaget bukan main, juga semua anggota rombongan itu mengeluarkan
seruan kaget.
“Celaka...!” Kepala rombongan itu berseru.
Akan tetapi Tek Hoat yang mendengarkan percakapan itu pun terkejut bukan main. Kiranya rombongan ini
adalah orang-orang Bhutan! Dia meloncat turun dan pergi ke depan mendekati gadis ini yang memandang
kepada Tek Hoat dengan pandang mata penuh selidik.
“Taihiap, sekali ini kita dihadang gerombolan yang lebih berbahaya lagi,” pemimpin rombongan itu berkata
ketika melihat Tek Hoat mendekati mereka.
“Paman Jayin, siapa dia yang kau sebut taihiap ini? Aku baru sekali ini melihatnya. Apa dia orang baru?”
Dara remaja itu berkata dan dengan sinar mata penuh selidik, seperti seorang pedagang kuda yang
hendak membeli seekor kuda dan menaksirnya, dia berjalan dengan gerak penuh kelembutan dan lagak
yang memikat, mengelilingi Tek Hoat perlahan-perlahan sambil memandang dengan mata dipicingkan!
Melihat sikap ini, Tek Hoat menjadi geli di dalam hatinya. Benar-benar seorang bocah perempuan yang
bersemangat, lincah jenaka dan ugal-ugalan. Rambut yang dikepang dua itu melambai-lambai lucu ketika
kepala yang manis itu digerak-gerakkan dan lengannya lemah gemulai sehingga pinggul yang tertutup baju
panjang itu bergerak-gerak membayang dengan lemasnya.
Rombongan itu kini berkerumun dan Tek Hoat lalu bertanya kepada dara remaja yang bukan lain adalah
Teng Siang In itu. Seperti kita ketahui, Siang In telah diambil murid oleh See-thian Hoat-su, kakek yang
sakti bekas suami nenek iblis Durganini. Mereka berdua telah saling berjumpa dan rujuk kembali. Akan
tetapi dasar watak Durganini sudah pikun dan sudah berubah. Mereka berdua tadinya mengajak Siang In
untuk kembali ke barat, ke Himalaya. Akan tetapi di tengah perjalanan, nenek itu banyak rewel dan
kadang-kadang timbul niat buruknya untuk mengganggu penduduk dusun yang mereka lalui di tengah
perjalanan. See-thian Hoat-su menentangnya dan kembali mereka cekcok dan bertentangan. Akhirnya,
nenek yang ilmu silatnya masih kalah tinggi dibandingkan bekas suaminya ini ngambek dan pergi
meninggalkan guru dan murid itu.
Setelah ditinggalkan oleh Nenek Durganini, See-thian Hoat-su menjadi kecewa dan membatalkan niatnya
untuk kembali ke Himalaya. Dia mengajak muridnya kembali ke timur, karena dia tidak akan merasa tenang
selama nenek yang pernah menjadi isterinya itu masih berkelana di timur. Dialah yang harus mencegah
kalau bekas isterinya itu menggunakan ilmu mendatangkan kerusakan dan mala petaka kepada penduduk
yang tidak berdosa.
“Adik kecil, apakah ceritamu itu benar? Benarkah Tambolon dan kawan-kawannya sudah berada di sini?”
Tek Hoat bertanya kepada Siang In.
Kontan dara ini cemberut dan bertolak pinggang. “Ehhh, kau manusia sombong, ya? Dumeh (mentangmentang)
sudah disebut orang taihiap (pendekar besar) kau lalu merasa tua sekali, ya?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Tentu saja Tek Hoat yang belum pernah bertemu dengan seorang dara seperti ini menjadi melongo. “Ehh,
ehh, kok marah? Apa salahku?”
Perwira Jayin dari Bhutan dan empat orang pembantunya yang sudah mengenal Siang In, bahkan sudah
pernah sama-sama menjadi tawanan raja liar Tambolon, menahan senyumnya.
Siang In memandang ke kanan kiri, kepada rombongan itu dan dengan hidung diangkat ke atas dia
menuding kepada Tek Hoat. “Coba...! Dia masih pura-pura bertanya apa kesalahannya? Kau menyebut
aku adik kecil, apakah itu bukan menghina namanya? Sudah sebegini, masih disebut anak kecil? Kalau
aku anak kecil, apakah engkau sudah kakek-kakek?”
Semua rombongan itu tertawa dan muka Tek Hoat menjadi merah. Akan tetapi pemuda ini tersenyum.
Pada dasarnya, Tek Hoat adalah seorang yang jenaka dan lincah gembira pula. Kalau dia berubah menjadi
pendiam adalah karena banyak hal yang menekan hatinya. Kini dia memandang dengan mata berseri.
Dara remaja ini benar-benar jenaka dan kemarahannya itu dia tahu adalah dibuat-buat.
“Kalau begitu, biarlah aku menyebutmu nyonya tua yang galak!” Tek Hoat menggoda.
Dara itu membelalakkan matanya, kelihatan menjadi makin cantik. Dia lalu menarik muka seperti neneknenek,
tubuhnya agak membungkuk, suaranya lalu gemetar seperti seorang wanita tua yang sudah tua
sekali, dan dia menjura ke arah Tek Hoat dengan lagak seorang nenek.
“Baiklah, kakek tua renta yang sudah pikun. Mengapa sudah setua ini kau masih belum juga mati-mati?
Apakah tidak merasa bosan?”
Kembali rombongan itu tertawa karena suara dan sikap dara itu persis nenek-nenek tua. Tek Hoat juga
tertawa dan dia lalu berkata, “Sudahlah, Nona. Maafkan aku. Aku hanya ingin bertanya apakah benar
Tambolon sudah tiba di sini karena belum lama ini aku masih bertemu dengan mereka di timur.”
“Itu Suhu datang. Kalau kau tidak percaya, sudah jangan tanya aku, kau tanya saja kepada Suhu!”
Tek Hoat menoleh dan benar saja dari jauh datang seorang kakek tua renta yang larinya cepat sekali.
Perwira Jayin dan para pembantunya cepat memberi hormat.
“Locianpwe, terima kasih atas peringatan Locianpwe tentang gerombolan itu. Sekarang bagaimana
baiknya? Belum lama, baru seminggu ini kami juga telah dihadang oleh gerombolan Hek-tiauw Lo-mo dan
kalau tidak ada Ang-taihiap ini tentu kami sudah celaka semua.”
Kakek itu bukan lain adalah See-thian Hoat-su. Dia terkejut mendengar bahwa rombongan ini seminggu
yang lalu dicegat oleh Hek-tiauw Lo-mo dan dia memandang kepada Tek Hoat dengan kagum. Seorang
yang dapat menolong rombongan ini dari gangguan Hek-tiauw Lo-mo, biar pun masih begitu muda, tentu
memiliki kepandaian yang tinggi sekali, pikirnya. Akan tetapi sekali pandang saja, dia tahu bahwa Tek Hoat
pernah mengalami luka-luka dalam yang amat hebat, maka dia terkejut sekali.
“Ahh, engkau telah terpukul hebat sekali, orang muda!”
Tek Hoat menjadi kagum dan dia menjura. “Sudah berangsur baik, Locianpwe, berkat rawatan dan
pengobatan rombongan ini.”
“Rombongan ini harus mengambil jalan lain. Cepat! Jangan melalui hutan ini. Mudah-mudahan saja belum
terlambat dan tidak akan bertemu dengan mereka. Dan engkau harus diobati secepatnya, orang muda,
agar tenagamu pulih dan kau dapat membantu kalau toh mereka masih dapat mengejar.”
Mendengar kata-kata kakek ini, pewira pengawal Bhutan itu tidak ragu-ragu lagi dan cepat memerintahkan
rombongannya mengambil jalan berbelok ke selatan, mengambil jalan memutari bukit di depan dan
menyimpang dari jalan besar. Ada pun Kakek See-thian Hoat-su lalu mengajak Tek Hoat ke dalam bilik
keretanya itu dan setelah dia menotok dan mengurut beberapa jalan darah di tubuh pemuda itu, dia
memanggil muridnya.
“Berikan dia obatmu penyembuh luka dalam yang manjur sekali itu!” kata kakek ini yang segera
meninggalkan mereka untuk ikut menjaga di bagian depan barisan itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hemm, enaknya! Sudah menghina masih minta obat. Panggil dulu aku sebagaimana mestinya, nanti
kuberi obat yang paling manjur,” Siang In berkata dengan sikap jual mahal.
Kalau saja Tek Hoat sudah tidak melihat kesesatannya dan mengambil keputusan untuk merubah watak
dan sikapnya, tentu dia akan menjadi marah dan akan menghina gadis ini. Akan tetapi dia tersenyum dan
mengangguk dalam. “Nona yang baik, aku minta maaf dan kau berikanlah obat itu.”
Siang In tersenyum. “Nah, begitu dong! Sekarang engkau menjadi sahabatku, tidak usah minta pun tentu
akan kuberikan obat itu.” Dia lalu mengeluarkan sebungkus obat yang berwarna merah dan berbentuk
bulat kecil. Dia menyerahkan dua butir kepada Tek Hoat sambil berkata, “Telan semua dan kau tidur, nanti
setelah bangun baru terasa khasiatnya.” Kemudian dia tersenyum manis dan meloncat turun dari dalam
kereta.
Tek Hoat memandang dua butir obat di telapak tangannya itu sambil berkata seorang diri, “Betapa baiknya
semua orang. Betapa manisnya dara itu, akan tetapi mana bisa dia menandingi Syanti Dewi...?” Lalu
ditelannya dua butir obat itu dan dia pun merebahkan dirinya.
Begitu obat memasuki perutnya, terasa hawa panas memenuhi perut dan dadanya, kemudian seluruh
tubuh sehingga dia mengeluarkan keringat. Nyata manjur sekali obat itu dan Tek Hoat menjadi makin
kagum. Tentu saja dia tidak tahu bahwa gadis itu, Teng Siang In, adalah puteri mendiang ahli obat Yoksian
(Dewa Obat) yang amat terkenal di dunia kang-ouw, dewa atau ahli pengobatan yang tinggal di
Lembah Pek-thouw-san.
Menjelang senja, rombongan ini sudah mengelilingi bukit dan memasuki hutan kecil. Tiba-tiba tanpa ada
sebabnya, tahu-tahu hutan di sekeliling mereka sudah terbakar! Rombongan ini tentu saja berhenti dan
terkejut sekali. Akan tetapi See-thian Hoat-su yang berada di depan rombongan itu berteriak, “Jangan
panik! Ini hanya ilmu siluman!”
Dia lalu meloncat ke atas sebuah batu besar, bersedakap dan berteriak, “Durganini, kau terlalu! Terpaksa
aku melawanmu!”
Kakek itu bersedakap terus dan tak lama kemudian, rombongan orang Bhutan itu melihat hujan turun
secara tiba-tiba dan api yang berkobar itu padam. Akan tetapi anehnya, mereka semua tidak tertimpa
hujan! Kiranya baik kebakaran mau pun hujan itu hanyalah bayangan yang ditimbulkan oleh kekuatan sihir
yang mukjijat saja!
Tak lama kemudian dari balik pohon-pohon bermunculan banyak orang dan di depan sendiri tampak
Tambolon, Si Petani Maut Liauw Kui, Si Siucai Maut Yu Ci Pok, dan si nenek hitam Durganini yang
menghadang rombongan!
“Orang gila, kau berani melawan aku?” Durganini memaki bekas suaminya dan dengan ganas dia
melontarkan tongkatnya ke udara.
Tongkat itu berubah menjadi seekor naga yang turun menyambar ke arah See-thian Hoat-su yang masih
juga berdiri di atas batu. See-thian Hoat-su cepat meloncat turun, menyambar segenggam tanah dan
melontarkannya ke arah naga yang menyerangnya dengan dahsyat itu.
“Darrrrr...!”
Tampak kilat menyambar dan naga itu berubah menjadi tongkat butut kembali, lalu melayang ke tangan
Durganini, etapi See-thian Hoat-su terhuyung karena memang dia kalah kuat dalam ilmu sihir.
“Kau perempuan iblis!” Kakek itu memaki dan tubuhnya sudah menyambar ke arah bekas isterinya untuk
merampas tongkat.
Durganini membalas dengan hantaman tongkatnya, tetapi See-thian Hoat-su menangkis dengan lengan kiri
sedangkan tangan kanannya mencengkeram ke arah ubun-ubun Si Nenek Ganas. Durganini mengelak,
akan tetapi tetap saja pundaknya keserempet jari tangan See-thian Hoat-su sehingga ia memekik
kesakitan, terhuyung dan menudingkan tongkatnya. “Kau... kau berani memukulku?” Teriakan ini disertai
suara tangis, persis seperti lagak seorang isteri yang marah kepada suaminya!
dunia-kangouw.blogspot.com
Tambolon juga sudah mencabut pedangnya dan membantu gurunya menerjang See-thian Hoat-su.
Sedangkan Liauw Kui dan Yu Ci Pok telah memimpin anak buah mereka menyerbu Perwira Jayin dan
pasukannya. Terjadilah pertempuran yang hebat.
“Heeeiii, bangun! Bangun kau...! Wah, celaka, malasnya orang ini!”
Diguncang-guncang pundaknya itu, Tek Hoat terbangun dengan kaget dan dia meloncat turun dari kereta.
Kiranya yang menggugahnya adalah Siang In. “Lekas bantu, lihat Suhu terdesak hebat oleh nenek siluman
itu dan Tambolon!”
Tek Hoat meraba pinggangnya dan baru teringat dia ketika tangannya meraba tempat kosong, bahwa
pedang yang diandalkannya, yaitu Cui-beng-kiam, telah terampas oleh Hek-tiauw Lo-mo.
“Kenapa kau sendiri tidak membantu gurumu?” tanyanya.
“Uhhh, mana aku berani? Kau bantu guruku, mereka itu lihai sekali, dan aku akan membantu Paman
Jayin!” kata Siang In yang memang belum begitu tinggi ilmu silatnya sehingga dia merasa ngeri kalau
harus membantu suhu-nya menghadapi orang-orang seperti Tambolon dan gurunya itu.
Tek Hoat menggerak-gerakkan kedua lengannya. Memang jauh lebih enak dari pada kemarin. Dia menarik
napas panjang, juga dadanya tidak terasa nyeri lagi. Dikerahkan sinkang-nya dan dengan girang dia
mendapat kenyataan bahwa keadaannya jauh lebih baik dari pada yang sudah-sudah. Maka dia kemudian
meloncat dan terjun ke dalam pertempuran, menyerang Tambolon dengan pukulan dahsyat yang dilakukan
dengan pengerahan sinkang-nya.
Tambolon terkejut, maklum bahwa lawannya ini lihai sekali. Dia mengelak dan berkata, “Eh, orang muda.
Lupakah kau akan hubungan baik kita baru-baru ini? Kau bantulah kami dan engkau akan mendapat
bagian, kau takkan kecewa!”
“Manusia keparat, siapa sudi mendengar bujukanmu?” Tek Hoat membentak dan sudah menerjang lagi,
mengirim pukulan mautnya. Tambolon menyambut dengan tangan kirinya dan membarengi dengan
bacokan pedangnya.
“Dessss...!”
Tambolon terjengkang ke belakang dan pundak kirinya Tek Hoat terkena ujung pedang, akan tetapi hanya
luka kecil saja dan dia terus mendesak Tambolon yang ternyata kalah tenaga. Tetapi Tek Hoat
mengerutkan alisnya. Memang dia telah mampu mengerahkan sinkang-nya, akan tetapi begitu bertemu
dengan lawan yang kuat, dalam pertemuan tenaga dahsyat tadi, biar pun dia berhasil membuat Tambolon
terjengkang, akan tetapi dadanya terasa agak nyeri.
Sementara itu Tambolon sudah menubruk maju dengan serangan pedangnya yang membabi buta. Tek
Hoat mengelak dengan cepat, akan tetapi kembali dia diam-diam mengeluh oleh karena pengerahan
ginkang-nya juga membuat dadanya sakit. Hal ini menandakan bahwa luka di dadanya belum sembuh
benar.
“Sut-sutt-sing... desss!”
Biar pun Tek Hoat dapat menghindarkan diri dari sambaran pedang yang bertubi-tubi itu, namun sebuah
tendangan mengenai lambungnya dan dia terlempar, jatuh terguling-guling. Dan sialnya, dia terlempar ke
dekat Nenek Durganini yang sedang bertanding melawan bekas suaminya.
“Hiyyaaahhh!” Nenek itu mengeluarkan pekik dahsyat dan tangan kirinya bergerak ke arah leher Tek Hoat.
Pemuda yang masih bergulingan ini terkejut sekali. Ternyata kini sepuluh jari tangan nenek itu telah
mengeluarkan kuku yang panjang runcing dan ketika dia mengelak, kuku jari tangan itu lewat dekat
mukanya dan dia mencium bau yang amis, tanda bahwa kuku-kuku itu mengandung racun yang hebat! Dia
berusaha meloncat berdiri, akan tetapi kaki kanan nenek yang memakai gelang itu menyambar.
“Dessss...!” Kembali dia roboh.
dunia-kangouw.blogspot.com
See-thian Hoat-su hendak menolongnya, akan tetapi Tambolon sudah menerjang kakek itu dengan putaran
pedangnya secara dahsyat sehingga terpaksa kakek itu mengelak ke sana-sini. Tek Hoat terus didesak
oleh Nenek Durganini, dan begitu dia bangkit, dua cakar beracun itu menyambarnya. Tek Hoat mengelak
ke sana-sini, akan tetapi tetap saja leher dan pundaknya kena dicakar. Panas dan perih rasanya! Tek Hoat
terkejut, cepat-cepat dia melempar tubuh ke atas tanah dan ketika nenek itu menendang, dia membiarkan
dirinya ditendang.
“Desss...!” Tubuh pemuda itu bergulingan menabrak benda keras.
“Bresss!”
Ketika dilihatnya, ternyata tubuhnya tertumbuk kepada roda kereta! Nenek itu terkekeh-kekeh dan sudah
berlari menghampirinya dengan kedua tangan bergerak-gerak secara menyeramkan.
Tek Hoat bangkit dengan kepala pening, siap untuk melawan mati-matian. Akan tetapi tiba-tiba pintu bilik
depan kereta itu terbuka dan sebuah tangan yang halus namun kuat mencengkeram punggung bajunya
dan menarik tubuh pemuda itu ke dalam bilik kereta yang segera ditutupkan. Nenek itu marah-marah dan
hendak mencengkeram kereta, akan tetapi pemilik tangan halus itu menusukkan pedang menembus pintu
kereta.
“Crattt! Aihhhh... aduhhhh...!”
Tangan Nenek itu tertusuk pedang dan terasa sakit bukan main. Karena tidak disangka-sangkanya, maka
ujung pedang itu dapat melukai tangannya dan nenek yang pikun ini segera membalikkan tubuhnya,
menangis lalu mengamuk kepada bekas suaminya, agaknya dia sudah lupa sama sekali akan Tek Hoat
yang tidak kelihatan lagi itu.
Tek Hoat membuka matanya memandang dan... dia terbelalak. Matanya melebar dan mulutnya ternganga,
karena ternyata yang menolongnya itu bukan lain adalah... Syanti Dewi!
“Ya Tuhan... sudah... sudah matikah aku...? Ataukah... ini hanya... mimpi...?” Tek Hoat menggosok-gosok
matanya.
Syanti Dewi yang duduk di atas bangku kereta itu memandang dengan dua titik air mata berlinang, lalu
mengulurkan tangan menyentuh leher dan pundak itu dan terdengar suaranya halus, “Kau... kau... terluka
lagi...” Disentuhnya luka-luka itu dengan ujung jarinya yang halus.
“Kau... kau... Syanti Dewi...?” Tek Hoat menangkap ujung tangan itu dan menciumnya. “Aku... aku... ahhh,
benarkah aku masih hidup?”
Kedua pipi puteri itu menjadi merah sekali dan jantungnya berdebar ketika dia merasa betapa ujung jarinya
diciumi dan merasakan hembusan napas yang panas dari pemuda itu mengenai jari-jari tangannya.
“Engkau masih hidup dan aku memang Syanti Dewi... aku... akulah yang berada di bilik depan kereta ini...”
Tek Hoat menjadi girang bukan main, girang dan juga jengah dan malu. Setiap saat dia teringat kepada
puteri ini, dicari-carinya dan dikenang, dikhawatirkannya. Siapa tahu, seminggu lamanya dia berada di satu
kereta dengan puteri ini! Dan teringatlah dia betapa dia sering kali menggandrungi puteri ini, bersenandung
memuji-muji puteri ini. Tiba-tiba dia teringat. Pertempuran itu masih berlangsung.
“Ahhh, aku harus melindungimu, aku harus membasmi mereka... kalau tidak... Paduka akan celaka...
kiranya mereka itu menyerang karena Paduka berada di sini...”
“Kau... kau masih terluka...”
Akan tetapi Tek Hoat sudah tidak peduli lagi. Begitu melihat bahwa Syanti Dewi berada di situ, mengertilah
dia mengapa gerombolan Hek-tiauw Lo-mo menyerang rombongan ini, dan mengapa pula kini gerombolan
Tambolon juga menyerang rombongan ini. Kiranya mereka itu tahu bahwa Sang Puteri berada di dalam
kereta. Hanya dialah yang tolol, yang goblok, sekereta sampai seminggu lamanya tidak tahu! Hatinya
girang, tapi juga khawatir, dan dia meloncat keluar dari kereta itu, cepat menutupkan pintunya kembali
seolah-olah dia hendak menyembunyikan mustika agar tidak terlihat oleh lain orang!
dunia-kangouw.blogspot.com
Kakek See-thian Hoat-su masih dikeroyok dua oleh Tambolon dan Durganini. Kakek ini terdesak hebat,
agaknya juga sudah terluka karena pangkal lengan kirinya berdarah. Siang In masih mengamuk membantu
Perwira Jayin dan para anggota rombongan, akan tetapi mereka pun terdesak hebat oleh Si Petani Maut
Liauw Kui dan Si Siucai Maut Yu Ci Pok, karena memang tingkat kepandaian dua orang pembantu
Tambolon ini lebih tinggi dari mereka. Senjata pikulan dari Liauw Kui dan senjata sepasang poan-koan-pit
dari Yu Ci Pok memang berbahaya sekali, dan hanya karena Jayin yang dibantu oleh Siang In dan empat
orang perwira pembantunya itu melakukan perlawanan gigih, maka pertandingan masih berlangsung
dengan seru dan mati-matian.
Tek Hoat maklum bahwa yang boleh diandalkan oleh rombongan ini hanyalah Kakek See-thian Hoat-su.
Dia sendiri sudah terluka parah, dan kalau kakek itu roboh, tentu yang lain akan celaka semua. Maka dia
lalu menerjang maju lagi membantu kakek itu dan kini entah bagaimana, pertemuannya dengan Syanti
Dewi seolah-olah memulihkan semua tenaganya. Ketika dia menyerbu dan menghantam, Tambolon
sampai terpental ke belakang dan bergulingan sambil memaki-maki, bangkit berdiri lagi dan menerjang Tek
Hoat yang merasa betapa dadanya sakit akan tetapi kini dia pertahankan dengan semangat baru. Dia
harus hidup. Dia harus menang, karena kalau tidak, Syanti Dewi akan celaka.
“Sutt... singgg-singgg...!”
Pedang di tangan Tambolon menyambar-nyambar ganas. Tek Hoat mengelak dua kali dan dari samping
dia memukul dengan tangan miring, ke arah lambung raja liar itu. Tambolon terkejut dan tidak sempat
mengelak akan tetapi karena dia maklum bahwa pemuda itu sudah terluka dan dalam keadaan tidak sehat
sehingga tenaganya pun tidak sepenuhnya, dia lalu berlaku nekat, menyambut hantaman itu dengan
tangan kirinya sambil mengerahkan seluruh sinkang-nya.
“Dessss...!”
Sekali ini hebat sekali pertemuan tenaga sinkang yang sama kuatnya, dan akibatnya, kembali tubuh
Tambolon terpental, mulutnya muntahkan darah segar sedangkan tubuh Tek Hoat terguling-guling sampai
beberapa kaki jauhnya dan wajah pemuda ini pucat sekali, napasnya terengah-engah dan sesak sehingga
dia menggunakan tangannya untuk menekan dadanya.
Dengan mata mendelik Tambolon meloncat bangun, mengusap darah dari bibirnya dengan gemas,
kemudian mengangkat pedangnya sambil lari menerjang Tek Hoat. Sementara itu, kakek See-thian Hoatsu
masih belum merobohkan Durganini karena sesungguhnya kakek ini masih merasa kasihan kepada
bekas isterinya yang dia tahu berubah jahat karena sudah pikun dan disalah gunakan oleh muridnya,
Tambolon yang penuh ambisi dan jahat itu. Ketika melihat betapa Tek Hoat sudah tidak berdaya dan
Tambolon mengejar hendak membunuhnya, dia terkejut sekali, akan tetapi karena jaraknya agak jauh, dia
maklum bahwa dia tidak akan dapat menyelamatkan pemuda perkasa itu.
Tiba-tiba, entah dari mana datangnya, tahu-tahu di tempat itu muncul seorang kakek berlengan tunggal
yang berpunggung bongkok! Punggungnya demikian bongkoknya sehingga ketika dia datang berjalan
cepat ke arah pertempuran, kepalanya seperti meluncur di depan saja, sedangkan kedua kakinya seperti
terseret jauh di belakang. Atau cara kakek ini berjalan seperti setengah merangkak! Tetapi anehnya, bukan
main cepatnya karena tahu-tahu dia telah berada di situ.
Hebatnya, bersama dengan kakek bongkok yang aneh ini datang pula angin berputar yang seperti ombak
dahsyatnya, dan semua orang, termasuk Tek Hoat, Tambolon, Durganini dan See-thian Hoat-su terdorong
dan terhuyung ke belakang oleh angin dahsyat ini. Jangan ditanya lagi para anggota rombongan orang
Bhutan dan anak buah Tambolon, mereka semua roboh jungkir balik dan tumpang-tindih antara kawan dan
lawan seperti daun-daun kering diamuk angin puyuh.
Kakek bongkok yang berdirinya seperti mau ‘tiarap’ itu menggerakkan kedua lengannya seperti orang
mencegah mereka bertempur, lalu berkata, “Antara sesama manusia, mengapa saling bunuh? Tanpa
saling bunuh pun, apakah ada di antara kalian yang kelak bebas dari kematian?”
Durganini yang sudah pikun itu tidak terpengaruh oleh ucapan aneh ini, tidak seperti See-thian Hoat-su
yang sudah berdiri tegak dan bersikap hormat. Sebaliknya Durganini malah melangkah maju mendekati
kakek bongkok itu, kedua tangannya lurus ditujukan ke arah kakek bongkok itu sambil membentak dengan
suara yang amat berpengaruh. Nenek ini sudah mengerahkan kekuatan sihirnya!
“Tua bangka bongkok, kau yang sudah mau mampus, hayo cepat bergulingan di atas tanah!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Durganini, jangan...!” See-thian Hoat-su mencegah namun terlambat.
Semua orang di situ merasa betapa ada pengaruh yang amat jahat dan mengerikan terbawa oleh suara
dan gerakan kedua tangan Durganini, bahkan ada di antara prajurit yang tanpa disadarinya tahu-tahu
sudah merebahkan diri di atas tanah dan bergulingan seperti orang gila! Akan tetapi yang paling aneh
adalah ketika semua orang melihat bahwa kakek bongkok itu hanya menggeleng-geleng kepala sambil
menghela napas, sama sekali tidak bergerak dan lucunya, kini Durganini tahu-tahu merebahkan diri dan
bergulingan di atas tanah dengan hebatnya!
Tek Hoat yang sudah setengah pingsan itu melihat dengan terbelalak, akan tetapi pengerahan tenaga
terakhir dengan Tambolon tadi membuat kepalanya pening dan pandang matanya berkunang. Sebuah
tangan yang halus memegang lengannya. Dia menoleh dan kiranya Syanti Dewi yang memegang
lengannya. Puteri itu kemudian menariknya perlahan-lahan dan pergi dari situ selagi semua orang masih
terpesona oleh peristiwa aneh tadi.
“Kau terluka parah... sebaiknya kita menyingkir dari tempat berbahaya ini...”
Tek Hoat menggeleng kepala. “Aku... aku harus melawan... aku harus melindungimu...”
Akan tetapi Syanti Dewi memaksanya pergi, setengah menyeretnya dan keduanya lalu menyelinap ke
dalam hutan yang lebih lebat.
Sementara itu, melihat Durganini makin lama makin hebat bergulingan, kakek bongkok itu mengangkat
tangan ke atas. “Sadarlah semua... bangkitlah..., dan lenyaplah semua kekuatan gelap...!”
Aneh, mereka yang bergulingan di atas tanah, termasuk Durganini, menjadi terkejut, sadar dan terheranheran,
lalu Durganini bangkit dengan napas terengah-engah dan wajah pucat. Sekarang dia memandang
kepada kakek bongkok itu dengan sinar mata ketakutan karena dia maklum bahwa kakek itu adalah
seorang yang sakti luar biasa.
“Siapa yang pernah bertemu dengan muridku? Harap katakan, di mana muridku? Apakah ada yang
melihatnya? Dia berusia kira-kira dua puluh lima tahun, pemuda yang bertubuh tinggi besar, wajahnya
tampan dan gagah, matanya tajam seperti mata naga, sikapnya gagah seperti seekor singa, namanya Kok
Cu... siapakah yang pernah bertemu dengan dia?”
See-thian Hoat-su dan Durganini menggeleng kepala dan tidak ada seorang pun yang pernah mendengar
tentang pemuda murid kakek bongkok itu. See-thian Hoat-su cepat memberi hormat dan bertanya dengan
suara tergetar penuh kagum. “Kalau saya tidak keliru sangka, tentu Locianpwe ini adalah Yang Mulia Dewa
Bongkok dari Istana Gurun Pasir...?”
Kakek bongkok itu menghela napas dan menggerakkan tangannya, seolah-olah tidak mempedulikan katakata
itu. “See-thian Hoat-su, Durganini dan Tambolon, apakah kalian pernah bertemu dengan muridku Kok
Cu itu?”
Tiga orang itu terkejut bukan main. Selama hidup mereka, baru kini mereka bertemu dengan kakek tua
renta itu, akan tetapi kakek ini begitu saja menyebut mereka seolah-olah sudah lama mengenal mereka.
Otomatis mereka menggeleng kepala karena memang mereka belum pernah bertemu dengan pemuda
yang dimaksudkan kakek itu.
“Sudahlah, aku mencari di tempat lain!” kata kakek itu dan sekali berkelebat dia sudah lenyap!
Selagi semua orang tertegun dan melongo, tiba-tiba terdengar sorak-sorai dan dari jauh di atas bukit
tampaklah debu mengepul tinggi dan datang sebuah pasukan besar dari barat yang jumlahnya tentu tidak
kurang dari seratus orang.
Tambolon belum dapat mengenal pasukan itu, maka dia sudah berteriak lagi, “Serbu!”
Dan pertandingan pun mulai lagi! Sungguh mereka ini seperti serigala-serigala yang haus darah dan tadi
pertempuran terganggu sebentar karena munculnya kakek bongkok luar biasa itu. Durganini kembali
menyerang See-thian Hoat-su seperti sikap seorang isteri galak yang mencemburui suaminya, tak pernah
dunia-kangouw.blogspot.com
mau sudah menyerang! Karena dikeroyok dua oleh bekas isterinya dan Tambolon, sedangkan Tek Hoat
sudah tidak ada lagi untuk membantunya, kakek ini tentu saja kembali terdesak hebat dan kewalahan.
Akan tetapi tak lama kemudian pasukan itu tiba dan bersoraklah pihak rombongan Perwira Jayin karena
ternyata bahwa pasukan itu adalah pasukan dari Bhutan yang dikirim oleh rajanya untuk menyusul Perwira
Jayin yang belum ada kabarnya dalam mencari puteri raja. Tentu saja pertempuran menjadi berubah
keadaannya dan terpaksa Tambolon membujuk gurunya untuk lari menyingkir karena menghadapi
pasukan pilihan dari Bhutan yang terlatih baik dan yang jumlahnya jauh lebih besar itu, tentu saja dia dan
anak buahnya kewalahan dan terancam bahaya kemusnahan. Maka berlarilah mereka, meninggalkan para
korban di antara anak buah raja liar Tambolon.
Sementara itu, Syanti Dewi yang dulu sudah berpengalaman ketika menemani Gak Bun Beng yang juga
menderita sakit payah, kini setengah menyeret tubuh Tek Hoat yang hampir pingsan itu. Akhirnya, karena
tenaganya habis dan napasnya terengah-engah, Syanti Dewi berhenti di belakang semak-semak yang
rimbun.
“Aihhh..., kau terluka lagi...” katanya sambil menggunakan sapu tangannya menyeka darah yang mengucur
dari luka di leher dan pundak Tek Hoat yang pecah kembali.
“Syanti... puteri... saya... saya harus membantu teman-teman menghadapi mereka...” Tek Hoat bangkit
akan tetapi terhuyung.
“Tidak... tidak...! Apakah kau mau bunuh diri? Tidak, aku melarang kau pergi. Aku melarang!” Syanti Dewi
memegangi lengannya erat-erat.
Tek Hoat membalik dan menghadapi puteri itu, memandang dengan mata terbelalak. “Paduka... paduka
peduli apa... kalau saya mati...?”
Syanti Dewi mengerutkan alisnya. “Ang Tek Hoat, kau sudah berkali-kali menolong aku dan
menyelamatkan aku dengan pengorbanan dirimu, dan kini kau masih bertanya aku peduli apa? Kau
anggap aku ini orang apa? Orang yang tidak mengenal budi? Kau terluka, biar aku merawat lukamu...”
“Paduka... kau... merawat lukaku...?” Tubuh Tek Hoat menjadi lemas, kepalanya pening kembali sehingga
bicaranya tidak karuan lagi dan dia menurut saja ketika ditarik turun dan disuruh rebah di atas rumput.
“Luka-lukamu harus dicuci bersih... sayang obat-obat untuk luka yang pernah kuterima dari Jenderal Kao
sebagai bekal berada di kereta...”
“Aku mempunyai obat seperti itu...” Tek Hoat dengan mata masih terpejam meraba saku jubahnya dan
mengeluarkan sebuah bungkusan. “Gunakan obat bubuk ini... auhhh... dadaku...”
“Kenapa dadamu? Kenapa...?” Syanti Dewi meraba-raba dan membuka kancing baju pemuda itu untuk
memeriksa. Alangkah kagetnya ketika melihat kulit dada yang putih itu tampak tanda biru bekas pukulan
sedangkan ketika dia mencuci luka di leher dan pundak bekas cakaran kuku Durganini, luka-luka itu
kelihatan kehitaman!
“Ah, kau terluka parah...!” Dia berseru penuh kekhawatiran.
“Tidak mengapa... tidak mengapa, harap paduka cepat kembali ke sana, biarlah saya mengurus diri
sendiri...”
“Tek Hoat!” Tiba-tiba Syanti Dewi berkata dengan nada suara agak keras. “Mengapa kau begini angkuh?”
Tek Hoat memandang dengan mata terbelalak. “Saya...? Angkuh...?”
“Engkau terluka parah dan perlu ditolong, mengapa engkau seolah-olah menolak semua pertolonganku?
Engkau benar-benar mengusirku agar kembali ke sana, agar tertawan oleh Tambolon?”
“Ah, tidak..., tidak... jangan paduka salah sangka...!”
“Engkau sungguh... sungguh memuakkan perutku!” Syanti Dewi lalu bangkit berdiri dan membelakangi Tek
Hoat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pemuda ini menjadi bengong dan dia bangkit duduk, memandangi tubuh belakang Syanti Dewi. Dia benarbenar
tidak mengerti harus berkata dan berbuat apa. Sikap wanita ini membingungkannya, dan dia tidak
dapat menyelaminya. Ketika dia melihat pundak puteri itu berguncang perlahan, dia terkejut. Puteri itu
menangis! Tentu merasa tersinggung dan sakit hatinya, pantas dia dikatakan memuakkan dan memuakkan
perut!
“Ahhh, Puteri Syanti Dewi, harap paduka sudi mengampuni saya... saya sungguh tidak tahu terima kasih...
saya memang membutuhkan bantuan dan paduka demikian rela membantu, akan tetapi saya keras kepala,
sombong dan... memuakkan perut, maafkan saya...” Dengan kaku dia lalu merebahkan dirinya sehingga
kepalanya terbentur batu di belakangnya. “Aduhhh...!”
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Cersil Keren

Pecinta Cersil