Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 02 Agustus 2017

Cersil Tegal Pendekar Super Sakti 8

Cersil Tegal Pendekar Super Sakti 8 Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil Tegal Pendekar Super Sakti 8
kumpulan cerita silat cersil online
-
Semua pasukan yang mendengar ucapan Han Han yang keras dan berwibawa ini melihat perubahan aneh
pada diri Thai Li Lama. Sekarang pendeta itu berubah menjadi biasa kembali dan kedua orang lawan itu masih
melanjutkan mengadu kekuatan melalui sinar mata yang berapi-api! Akhirnya Thai Li Lama tidak kuat menahan,
kepalanya berdenyut-denyut amat peningnya dan dari kedua matanya keluar air mata karena saking panas
dan pedas rasa kedua matanya. Ia terhuyung dua langkah, dan tiba-tiba memekik sambil memukulkan sebelah
tangannya ke arah dada Han Han, sedangkan tangan yang lain membuat gerakan seperti orang menulis huruf.
Han Han sudah siap sedia. Ia melengking nyaring dan kedua tangannya juga mendorong ke depan, sebelah
kiri dengan inti tenaga Swat-im Sin-ciang sedangkan yang kanan dengan inti tenaga Hwi-yang Sin-ciang!
Dilanda dua macam tenaga yang berhawa amat dingin dan amat panas ini, Thai Li Lama terlempar ke
belakang dan roboh terguling-guling. Ia dapat meloncat bangun lagi, akan tetapi napasnya terengah-engah dan
mukanya pucat!
Melihat keadaan sute-nya, Thian Tok Lama sudah merendahkan tubuhnya yang gendut, perutnya
mengeluarkan suara berkokok seperti ayam biang, dan kedua tangannya menyerang dengan pukulan Hek-inhwi-
hong-ciang yang ampuhnya menggila itu. Tangan kanannya berubah biru dan dari kedua telapak tangan
itu menyambar uap hitam ke arah Han Han. Pada saat yang hampir sama, tiga orang tokoh sakti yang lain,
yaitu Kang-thouw-kwi Gak Liat, Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee dan Toat-beng Ciu-sian-li Bu Ci Goat sudah
menerjang dengan pukulan-pukulan sakti mereka ke arah Han Han.
Namun semua pukulan sakti yang membawa maut itu luput. Pada saat yang tepat, tubuh Han Han telah lenyap
dan pemuda buntung yang amat sakti ini telah melesat ke atas, kemudian menukik turun dengan tongkatnya
yang diputar menjadi sinar kehijauan melingkar-lingkar dan menyambar ke arah kepala lima orang
pengeroyoknya! Lima orang tokoh besar yang kesemuanya memiliki tingkat kepandaian yang sudah mencapai
puncaknya itu cepat mengelak dan melakukan pengurungan ketat dari lima penjuru, seolah-olah secara
otomatis membentuk ngo-heng-tin (barisan lima anasir).
Terjadilah pertandingan yang amat seru dan luar biasa. Kang-thouw-kwi Gak Liat Si Setan Botak melancarkan
pukulan-pukulan Hwi-yang Sin-ciang yang berhawa panas sekali. Juga Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee Si Iblis
Muka Kuda menghujankan pukulan-pukulan Swat-im Sin-ciang yang berhawa dingin seperti salju. Toat-beng
Ciu-sian-li dengan penuh amarah menggerakkan sepasang rantai gelang di kedua telinganya yang merupakan
sepasang senjata ampuh, dibantu sambaran rambutnya dan serangan kedua tangan penuh kuku runcing
dengan pukulan Toat-beng Tok-ciang yang beracun. Karena maklum akan kelihaian pemuda buntung itu,
kedua orang pendeta Lama dari Tibet juga tanpa segan-segan lagi menyerang dengan pukulan-pukulan sakti
mereka.
Han Han mengerti sepenuhnya bahwa dia terancam maut. Dia mengenal kehebatan lima orang lawannya.
Kalau mereka itu maju seorang demi seorang, dia yakin akan dapat mengalahkan mereka. Akan tetapi
dikeroyok lima orang yang memiliki kepandaian setinggi itu benar-benar amat berbahaya dan selama hidupnya,
baru sekali ini ia benar-benar dihadapkan dengan pengeroyokan lawan yang menggiriskan! Terpaksa pemuda
buntung yang amat sakti ini mengerahkan seluruh kepandaiannya yang pernah dipelajarinya dan mengerahkan
seluruh tenaga sinkang yang berada di tubuhnya untuk melindungi diri dan juga untuk balas menyerang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pada saat itu senja telah datang dan keadaan cuaca mulai gelap. Di atas wuwungan istana, jauh tinggi di
puncaknya, terdapat dua orang yang menonton pertandingan itu penuh takjub. Mereka ini bukan lain adalah
Puteri Nirahai dan gurunya, Puteri Maya. Tadi mereka keluar dari istana ketika mendengar akan kekacauan di
depan istana, akan tetapi melihat bahwa yang datang mengacau hanya seorang pemuda buntung dan yang
menghadapi pemuda buntung itu sudah amat banyak, hati Maya menjadi tertarik, maka ia memegang tangan
muridnya diajak meloncat naik ke atas wuwungan dan menonton.
Bagi Puteri Maya, benar-benar merupakan pantangan besar dan amat memalukan kalau harus ikut-ikutan
mengeroyok seorang lawan yang masih begitu muda, buntung kakinya dan sudah dikeroyok begitu banyak
orang. Juga Puteri Nirahai merasa segan untuk turun tangan karena hal ini akan merendahkan derajatnya
sebagai seorang puteri kaisar, terutama sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi.
Begitu mendengar teriakan-teriakan Han Han yang minta dibebaskannya Lulu, Nirahai dapat menduga bahwa
tentulah pemuda buntung ini yang bernama Han Han, kakak angkat Lulu. Ia merasa heran dan terkejut melihat
bahwa pemuda itu buntung sebelah kakinya, padahal Lulu tidak pernah mengatakan bahwa kakaknya itu
buntung! Dan dia terpesona, takjub menyaksikan gerakan dan sepak-terjang pemuda buntung itu, kagum
menyaksikan betapa pemuda itu sanggup menghadapi Ilmu I-hun-to-hoat dari Thai Li Lama, dan hatinya
berdebar aneh menyaksikan wajah tampan dilingkari rambut riap-riapan itu, terutama sekali melihat sepasang
sinar mata yang begitu tajam dan mengandung sesuatu yang aneh.
“Iiihhhhh...! Kedua tangannya mengandung pukulan Hwi-yang Sin-ciang dan Swat-im Sin-ciang yang
digunakan secara berbareng! Memecah sinkang menjadi berlawanan ini dari mana dia mempelajarinya? Siapa
bocah setan itu...?” terdengar Nenek Maya mengomel dan matanya memandang terbelalak penuh kaget dan
heran menyaksikan Han Han menggunakan kedua tangannya untuk menghadapi lima orang pengeroyoknya.
“Subo, dia itulah yang selalu diceritakan Lulu-sumoi. Ia kakak angkatnya yang bernama Han Han,” jawab
Nirahai tanpa mengalihkan pandang mata dari medan pertandingan di bawah.
Meski mendengar ucapan muridnya itu, tetapi Nenek Maya agaknya tidak mengacuhkan karena dia mengalami
kekagetan demi kekagetan ketika menyaksikan pertempuran itu. Mulutnya mengeluarkan seruan-seruan heran,
“Lihat pukulannya itu...! Tendangan dengan satu kaki...! Aihhh, bukankah itu jurus-jurus simpanan yang hanya
dikenal kami bertiga di Pulau Es? Dan itu heiiiiii...! Itu gerakan tongkatnya... bukankah bagian dari Siang-mo
Kiam-sut! Dan loncatan-loncatan itu... hemmm... seperti telah mengenalnya akan tetapi demikian aneh! Bukan
main! Siapa bocah ini?”
“Subo, dia Han Han dan seperti subo ketahui, dengan Lulu dia telah berhasil mewarisi kitab-kitab di Pulau Es.”
“Aihhh...! Benar! Tapi loncatan-loncatan itu! Ilmu silat iblis manakah itu? Benar-benar hebat dan mengerikan!”
Ternyata Nenek Maya ini merasa terkejut dan kagum sekali karena sebagai seorang ahli dia sampai tidak
mengenal ilmu silat dengan gerakan kilat itu. Memang itu adalah Ilmu Soan-hong-lui-kun yang diciptakan oleh
sumoi-nya sendiri, Khu Siauw Bwee, dalam pertapaannya! Tentu saja dia tidak mengenalnya sungguh pun ia
merasa kenal akan dasar-dasarnya.
Memang, untuk menghadapi pengeroyokan lima orang sakti itu, terpaksa Han Han mengerahkan seluruh
kepandaiannya. Gerakan Ilmu Silat Soan-hong-lui-kun yang ia pelajari dari Khu Siauw Bwee, tongkatnya
dimainkan seperti pedang dengan Ilmu Pedang Siang-mo Kiam-sut, dan tangan kanannya melakukan
serangan bergantian dengan hawa sinkang Im dan Yang. Juga ia mencampurkan gerakan-gerakan silat dari
kitab kitab yang telah ia pelajari dari Pulau Es, disesualkan untuk menghadapi hujan serangan kelima orang
lawannya!
Benar-benar hebat pemuda ini dan barulah terbukti kesaktiannya yang jarang dapat ditemui tandingnya,
karena setelah bertempur selama ratusan jurus, mengandalkan kelincahan ilmu gerak kilat, ia sama sekali
tidak terdesak, bahkan berhasil membuat pengepungan lima orang sakti itu kocar-kacir. Tentu saja lima orang
pengeroyoknya menjadi penasaran sekali, terutama Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li karena pemuda
itu bekas murid mereka, dan tentu saja Gak Liat, sebab bocah itu dahulu bekas kacungnya!
dunia-kangouw.blogspot.com
Cuaca semakin gelap. Para pemimpin pasukan pengawal yang melihat betapa pemuda buntung itu masih juga
belum dapat ditundukkan oleh lima orang sakti itu menjadi khawatir kalau pemuda itu akan berhasil menyerbu
ke istana. Maka mereka lalu mulai mengeluarkan aba-aba dan pengurungan pasukan dipersempit dan
diperketat, siap untuk menerjang pemuda itu seperti air bah mengamuk.
Han Han melihat ancaman ini. Tidak mungkin baginya untuk menghadapi pengeroyokan begitu banyak orang,
sedangkan pengeroyokan lima orang sakti itu saja sudah amat melelahkannya. “Lebih baik aku menerobos ke
dalam istana menangkap Puteri Nirahai atau mencari di mana ditahannya Lulu agar aku dapat membebaskan
adikku dan mengajaknya lari dari situ,” pikirnya.
Ia mulai mencari kesempatan untuk lolos dan menerjang ke dalam istana. Akan tetapi lima orang
pengeroyoknya makin lama makin penasaran dan marah sekali. Dari depan, sepasang pendeta Lama sudah
menerjangnya dengan pukulan-pukulan sinkang yang lihai, sedangkan dari kanan kiri Ma-bin Lo-mo dan Kangthouw-
kwi sudah menerjang pula.
Han Han menggunakan tangan kanannya mendorong ke depan, sekaligus menolak pukulan kedua orang
Lama. Hebat bukan main pengerahan tenaganya ini sehingga kedua orang Lama itu terhuyung ke belakang.
Pada saat itu pukulan Kang-thouw-kwi Gak Liat dengan tenaga sakti Hwi-yang Sin-ciang sudah menerjang
datang, didahului oleh si nenek Toat-beng Ciu-sian-li yang menyerangnya dari belakang dengan sambaran
rantai gelang!
Han Han mengeluarkan suara melengking, tubuhnya cepat melesat ke belakang, tinggi dan berjungkir balik.
Tangan kanannya cepat menyambar dan ia berhasil menangkap ujung rantai gelang nenek itu yang
menyambarnya. Dengan sepenuh tenaga disentakkannya kuat-kuat hingga tubuh nenek itu melayang ke atas.
Nenek itu menjerit, kalau bukan dia tentu daun telinganya akan putus. Han Han melontarkan tubuh nenek itu
dengan melepaskan rantai gelang ke arah Kang-thouw-kwi yang memukulnya tadi! Kini tubuh nenek itu
melayang dan akan bertemu dengan pukulan Hwi-yang Sin-ciang yang ampuh!
Melihat ini Ma-bin Lo-mo berseru kaget. Cepat-cepat ia pun mengerahkan tenaganya mendorong ke depan
untuk menyambut pukulan Gak Liat dalam usahanya menolong nenek itu.
“Desssss...!”
Ma-bin Lo-mo terjengkang sedangkan Gak Liat terdorong mundur sambil terbatuk-batuk dan sedikit darah
keluar dari mulutnya. Nenek itu sendiri terbanting roboh ke atas tanah, amat kerasnya sehingga nenek ini
mengeluh dan merasa seolah-olah pantatnya yang tiada dagingnya lagi terbanting peyok!
Ketika lima orang sakti yang dalam gebrakan hebat ini terdesak dan sudah menguasai diri dan hendak
menerjang, tiba-tiba tubuh Han Han melesat ke atas, melampaui kepala para anak buah pasukan yang
mengurung dan telah melayang ke atas genteng istana. Ramailah pasukan itu lari mengejar, ada pula yang
memasang obor karena cuaca sudah mulai remang-remang.
“Kejar ke atas...!”
“Awas, kepung istana agar dia tidak lari!”
“Heiii, lekas jaga sebelah dalam istana, hadang semua jalan!”
“Paling perlu lindungi kamar-kamar Sri Baginda dan keluarganya!”
Ramailah pasukan pengawal itu berteriak-teriak dan bergerak kacau-balau seperti serombongan semut
diganggu sarangnya. Ada pun lima orang sakti itu, biar sudah amat jauh tertinggal, segera meloncat pula naik
ke atas genteng melakukan pengejaran.
Cara Han Han meloncat amat luar biasa karena dia menggunakan ilmu gerak kilatnya, tubuhnya mencelatcelat
ke atas sampai ke wuwungan. Tiba-tiba ia berhenti di atas wuwungan memandang terbelalak kepada
seorang nenek dan seorang gadis cantik jelita yang berdiri tenang di situ. Melihat gadis itu dalam cuaca yang
remang-remang, Han Han memekik girang.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Lulu...!” Tubuhnya mencelat dan ia telah berada di depan gadis itu, terus dirangkulnya sambil mengeluh
karena kelelahan, “Lulu adikku... ah, Lulu... syukur kau selamat... kau ampunkanlah aku, Lulu...!”
Saking girang hatinya, seperti dahulu, ia mencium pipi adiknya itu, tidak tahu betapa gadis itu terbelalak dan
mukanya menjadi merah sekali. Dapat dibayangkan betapa malu dan jengah rasa hati gadis ini yang bukan
lain adalah Puteri Nirahai sendiri yang disangka Lulu oleh Han Han. Memang ada persamaan pada wajah
kedua orang gadis itu dan juga bentuk tubuh mereka sama, maka tidak mengherankan apa bila Han Han yang
dalam keadaan lelah salah duga melihat Nirahai dalam cuaca remang-remang itu.
Han Han berada dalam kegirangan luar biasa melihat ‘adiknya’ selamat, maka ketika merangkul dan
menciumnya, kegirangan membuat ia kehilangan kewaspadaannya dan tiba-tiba ia mengeluh, tubuhnya
menjadi lemas karena jalan darah di punggungnya telah tertotok secara hebat bukan main. Totokan biasa saja
kiranya tidak akan mempengaruhi tubuhnya yang dialiri sinkang amat kuat, akan tetapi sekali ini yang
menotoknya adalah Nenek Maya sendiri! Maka ia terguling dan tahu-tahu telah dikempit oleh lengan kiri Nenek
Maya.
Pada saat itu lima orang sakti telah menyusul ke atas wuwungan. Nenek Maya yang mengempit tubuh Han
Han tersenyum mengejek dan berkata, “Dia sudah kutangkap, kalian mau apa?”
Lima orang sakti itu telah mendengar bahwa di istana terdapat guru Puteri Nirahai yang amat lihai, akan tetapi
karena belum pernah melihat nenek ini yang kehadirannya dirahasiakan, Toat-beng Ciu-sian-li yang berwatak
angkuh segera menegur, “Engkau siapakah?”
Nirahai khawatir kalau-kalau gurunya yang memiliki watak aneh luar biasa itu menjadi marah, maka ia cepat
maju dan berkata halus. “Harap Ngo-wi Locianpwe suka mundur dan beristirahat karena pengacau telah dapat
ditangkap oleh guru saya dan akan kami periksa sendiri.”
Mendengar ini Toat-beng Ciu-sian-li terkejut dan memandang tajam penuh perhatian kepada Nenek Maya. Ia
merasa sudah pernah melihat nenek itu, akan tetapi tidak ingat lagi kapan dan di mana. Juga tokoh-tokoh lain
ketika mendengar bahwa nenek yang agaknya dengan amat mudahnya menangkap Han Han yang tadi
membuat mereka berlima kewalahan itu adalah guru Nirahai, cepat menjura dengan hormat. Mereka semua
tahu akan kelihaian puteri cantik itu. Jika muridnya saja sudah demikian lihainya, apa lagi gurunya!
Nenek Maya sudah membalikkan tubuhnya dan tanpa mengeluarkan ucapan sedikit pun ia telah meloncat
turun mengempit tubuh Han Han, diikuti oleh Nirahai, memasuki istana kembali melalui pintu belakang. Lima
orang tokoh itu pun cepat turun dan kini pasukan pengawal sibuk merawat teman-teman yang terluka dalam
pengeroyokan mereka terhadap Han Han tadi.
Malam itu suasana di sekeliling istana sunyi sepi, akan tetapi di dalam kesunyian ini penjagaan para pengawal
diperkuat karena para komandan pengawal merasa khawatir kalau-kalau datang lagi pengacau yang berilmu
tinggi seperti di pemuda buntung yang kini telah menjadi tawanan Puteri Nirahai di dalam istana.
Setelah tertotok lemas dan dibawa oleh nenek sakti itu ke dalam istana, barulah Han Han dapat melihat wajah
Puteri Nirahai di bawah sinar lampu yang terang. Ia terkejut setengah mati ketika mendapat kenyataan bahwa
gadis yang disangkanya Lulu, yang dirangkul dan dicium pipinya tadi ternyata sama sekali bukanlah Lulu,
melainkan seorang gadis yang mirip Lulu dan cantik jelita sekali.
Kekagetan Han Han bertambah ketika ia melirik dan mengamati wajah nenek yang mengempitnya. Ia
mengenal betul wajah ini yang biar pun sudah tua namun masih membayangkan kecantikan, membayangkan
raut muka yang mirip benar dengan puteri jelita ini, mirip pula dengan Lulu, dan... mirip dengan patung wanita
di Pulau Es. Han Han terbelalak, kini ia kembali memandang Nirahai. Bukan main! Sekarang terasa benar
olehnya kemiripan wajah gadis jelita ini dengan patung Puteri Maya di Pulau Es! Han Han melongo, terpesona,
dan biar pun tubuhnya dikempit, pandang matanya seperti lekat pada wajah Puteri Nirahai.
Puteri Maya membawa tubuh Han Han memasuki ruangan dalam yang luas di depan kamarnya, kemudian
sekali tangannya bergerak, Han Han telah dibebaskan totokannya dan tubuhnya telah dilempar ke atas lantai.
Kemudian nenek sakti itu duduk di atas kursi, menyambar guci arak dan minum arak dari sebuah cawan perak,
dunia-kangouw.blogspot.com
ada pun Puteri Nirahai masih berdiri. Gadis ini memandang wajah Han Han penuh perhatian, memandang ke
arah kaki dan alisnya yang bagus itu berkerut dalam kesangsian dan pertanyaan, apakah pemuda ini benarbenar
kakak Lulu yang bernama Han Han?
Han Han meloncat bangun dan terhuyung karena tubuhnya masih terasa lemas, bukan oleh bekas totokan
yang telah dibebaskan, karena sinkang-nya membuat ia dapat menguasai kembali jalan darahnya, melainkan
karena lelahnya setelah melakukan pertempuran yang berat tadi. Tiba-tiba Nenek Maya menggerakkan tangan
dan tongkat butut Han Han yang tadi dia bawa pula melayang ke arah Han Han, melayang seperti luncuran
anak panah menuju ke dada pemuda buntung itu.
Han Han cepat menyambarnya dan nenek itu kagum bukan main. Pemuda buntung ini benar-benar tidak
mengecewakan menjadi murid atau ahli waris Istana Pulau Es! Dengan tongkat di tangannya, Han Han dapat
berdiri tegak dan ketika ia memandang Nirahai, puteri ini pun sedang memandangnya penuh perhatian. Dua
pasang mata bertemu pandang dan wajah Han Han menjadi merah sekali. Ia teringat betapa tadi ia merangkul
dan mencium pipi yang halus kemerahan itu. Tak terasa lagi ia lalu berkata lirih menggagap.
“Maaf... maafkan kekurang ajaranku tadi... kukira engkau adikku Lulu.”
Wajah puteri yang berkulit halus putih kemerahan itu menjadi makin merah, akan tetapi ia hanya mengangkat
pundaknya, lalu bertanya, suaranya dingin seolah-olah hal yang dihadapi dan ditanyakannya adalah urusan
kecil. “Apakah engkau ini yang bernama Han Han, kakak angkat Lulu?”
Han Han mengangguk dan bertanya, “Di manakah adikku? Dan engkau... eh, tentu engkau inilah Puteri Nirahai,
bukan? Mengapa engkau menangkap adikku itu dan di mana dia? Kuharap kau suka membebaskannya.
Kedatanganku ini bukan untuk mengacau, hanya untuk membebaskan adikku.”
Nirahai tersenyum mengejek. “Tidak membikin kacau akan tetapi sudah membunuh dan melukai banyak
pengawal istana, menggegerkan istana. Bahkan pernah menjadi pembantu pemberontak di Se-cuan! Hemmm,
tentang urusan Lulu, dia adalah sumoi-ku, karena dia menyeleweng maka kutangkap. Subo yang
menangkapmu, maka terserah kepada subo untuk mengadilimu. Subo, teecu akan pergi sekarang
mempersiapkan pertemuan penting itu. Mengenai orang buntung ini, terserah kepada subo.”
Nenek Maya mengangguk. Sejak tadi nenek ini memandang Han Han penuh perhatian, lalu menggerakkan
tangan menyuruh Puteri Nirahai pergi. Setelah melontarkan kerling mata terakhir kepada Han Han, mulut yang
manis itu menyimpulkan senyum, Nirahai lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Han Han kini menghadapi Nenek Maya, mereka saling pandang dan Han Han menjadi makin yakin di dalam
hatinya bahwa nenek ini tentulah wanita yang patungnya berada di Pulau Es, suci dari gurunya yang telah
membuntungi kaki gurunya itu. Dan betapa hebat persamaan puteri cantik tadi dengan patung itu pula!
“Orang muda, engkaukah pemuda yang bersama muridku Lulu tinggal bertahun-tahun di Pulau Es?” Nenek
Maya bertanya sambil memandang tajam.
Karena kini tidak ragu lagi, Han Han lalu menjatuhkan diri berlutut dan berkata, “Benar, subo, harap subo
memaafkan kelancangan teecu yang telah membikin ribut di tempat ini. Teecu tidak tahu bahwa adik teecu
telah menjadi murid subo, dan sesungguhnya teecu hanya mengkhawatirkan keselamatan Lulu.”
“Hemmm..., kau menyebut aku subo (Ibu Guru), atas dasar apakah? Tahukah engkau, siapa aku?”
Han Han teringat bahwa seperti juga Khu Siauw Bwee, nenek buntung yang menjadi gurunya, Nenek Maya ini
pun telah mengasingkan diri dan tidak pernah muncul di dunia ramai, maka tentu saja nenek itu ingin sekaii
tahu bagaimana Han Han dapat mengenalnya.
“Maafkan teecu kalau keliru. Subo adalah Puteri Maya yang arcanya pernah teecu lihat di dalam Istana Pulau
Es, bersama arca Subo Khu Siauw Bwee dan Suhu Kam Han Ki.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aihhhhh...!” Nenek itu terbelalak dan sepasang matanya berkilat-kilat, “Di antara kami bertiga tidak mungkin
ada yang meninggalkan nama di Pulau Es. Bagaimana engkau bisa mengenal nama-nama kami? Awas, sekali
engkau berbohong, aku akan membunuhmu!”
Pandang mata, suara dan sikap nenek ini benar-benar membuat Han Han mengkirik. Betapa jauh bedanya
nenek ini dengan gurunya Si Nenek Buntung. Nenek ini memiliki kecantikan yang amat luar biasa, seperti
bukan manusia, akan tetapi di samping kecantikannya, juga memiliki watak yang mengerikan. Dan tentang
kepandaian, tentu saja nenek ini memiliki kesaktian hebat, hal ini dia tidak ragu-ragu lagi mengingat akan
hebatnya kepandaian Khu Siauw Bwee, nenek yang menjadi gurunya, yang kakinya dibuntungi oleh Nenek
Maya ini.
“Teecu tidak berani membohong. Tentu subo telah mendengar penuturan adik teecu tentang pengalaman kami
berdua di Pulau Es. Teecu bersama Lulu memang tadinya tidak tahu sama sekali siapa adanya tiga arca yang
berada di Istana Pulau Es itu. Akan tetapi, teecu telah berjumpa dengan Subo Khu Siauw Bwee...” Tiba-tiba
Han Han menghentikan kata-katanya.
Seluruh urat syaraf di tubuhnya menggetar dan hanya dengan kemauannya yang amat keras saja ia dapat
memaksa dirinya untuk tinggal diam berlutut dan tidak melawan, mengelak mau pun menangkis. Nenek itu
telah mencelat ke dekatnya dan tahu-tahu jari tangan nenek itu telah menyentuh ubun-ubun kepalanya, siap
untuk mencengkeram! Sedikit saja nenek itu menggunakan tenaganya mencengkeram, tentu kepalanya akan
pecah!
“Orang muda... hati-hati kau... kalau bohong...!” Suara itu terdengar gemetar, agaknya Nenek Maya ini terharu
dan terkejut mendengar bahwa sumoi-nya itu masih hidup!
“Teecu bersumpah tidak bohong, subo. Teecu ditangkap dan kaki teecu dibuntungi aleh Toat-beng Ciu-sian-li
sebagai hukuman. Teecu terjerumus ke dalam jurang, hanyut di sungai dan ketika teecu berhasil mendarat,
teecu bertemu dengan Subo Khu Siauw Bwee. Maka teecu lalu memberi kantung surat, yaitu peninggalan
Suhu Kam Han Ki yang teecu bawa dari Pulau Es untuk teecu sampaikan kepada orang yang berhak. Dan
ternyata surat-surat itu memang ditujukan oleh suhu kepada Subo Khu Siauw Bwee...”
Kembali Han Han menghentikan kata-katanya karena nenek itu mengeluh lalu terhuyung-huyung ke belakang
dan menjatuhkan lagi dirinya di atas kursi. Wajahnya yang dahulu di waktu mudanya tentu amat cantik itu
pucat sekarang.
“Teruskan... teruskan... apa isi surat-suratnya itu...”
Diam-diam Han Han berpikir. Biar pun nenek buntung Khu Siauw Bwee tidak mau menceritakan pengalamanpengalaman
mereka bertiga di waktu muda ketika mereka berada di Pulau Es, namun ia dapat menduga
bahwa tentu terjadi perebutan cinta antara Nenek Maya dan Nenek Khu Siauw Bwee, dan kemudian, melihat
sikap Nenek Khu Siauw Bwee ketika membaca surat-surat itu, jelaslah bahwa sesungguhnya Koai-lojin hanya
mencinta Khu Siauw Bwee seorang.
Akan tetapi, kalau ia kemukakan hal ini, bukankah berarti ia akan menyakiti hati Nenek Maya ini? Dia menjadi
tidak tega, bahkan diam-diam Han Han merasa kasihan kepada nenek ini. Dia sendiri dahulu terpesona oleh
arca nenek ini di waktu muda, demikian cantik jelitanya, seperti bidadari, dan baru melihat arcanya saja jantung
sudah berdebar dan gairahnya terangsang. Tadi pun ketika ia melihat puteri Nirahai yang mirip dengan arca itu,
ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya. Betapa mungkin ia dapat menyakiti hati nenek itu? Akan
tetapi, kalau dia tidak berterus terang, nenek ini yang berwatak luar biasa tentu akan menjadi marah dan
akibatnya tak dapat ia kira-kirakan, yang jelas ia tentu terancam bahaya maut.
“Teecu tidak berani membuka surat-surat itu, subo. Biar pun teecu hanya mengetahui subo bertiga dari arcaarca
yang berada di Pulau Es, namun tentu saja subo bertiga telah teecu anggap sebagai penghuni-penghuni
Istana Pulau Es, dengan demikian menjadi pula guru-guru teecu. Mana berani teecu membaca surat Suhu
Koai-lojin? Teecu hanya membawanya untuk diserahkan kepada orang yang berhak, dan ternyata memang
surat-surat itu ditujukan kepada Subo Khu Siauw Bwee.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kembali terdengar keluhan dari dada nenek itu, keluhan yang membayangkan kehancuran hati. Kemudian
Nenek Maya dapat menguasai dirinya kembali dan bertanya, suaranya menggetar, “Ceritakan, bagaimana
sikap sumoi setelah membaca surat dari suheng itu...!”
Di dalam lubuk hatinya, Han Han sudah dapat menduga apakah yang dahulu terjadi antara tiga orang gurunya,
penghuni-penghuni Pulau Es yang aneh itu. Sebaliknya bagi yang berkepentingan sendiri harus mengetahui
hal sebenarnya, baik manis mau pun pahit, agar tidak selalu menjadi keraguan dan menimbulkan pertikaian.
Nenek Maya ini tentu selalu menyangka bahwa Koai-lojin mencintanya, maka dahulu telah terjadi pertentangan
antara dia dan sumoi-nya.
“Setelah membaca surat-surat itu Subo Khu Siauw Bwee kemudian menangis dan mengatakan mengapa
dahulu suhu tidak berterus terang menyatakan mencinta subo seorang sehingga tidak terjadi pembuntungan
kakinya. Surat-surat itu adalah surat-surat pernyataan cinta...”
Tiba-tiba Nenek Maya menjerit lirih dan menangis tersedu-sedu. Melihat ini Han Han menjadi kasihan sekali.
Betapa mungkin seorang wanita yang dahulunya tentu amat cantik jelita seperti bidadari mengalami
penderitaan karena cinta! Pemuda itu teringat akan syair yang diukir di dinding Istana Pulau Es, dan dalam
keadaan penuh haru dan setengah sadar itu Han Han lalu mengucapkan syair dengan suara penuh perasaan:
Betapa ingin mata memandang mesra
betapa ingin jari tangan membelai sayang
betapa ingin hati menjeritkan cinta
Namun Siansu berkata:
Bebaskan dirimu dari ikatan nafsu!
Mungkinkah pria dipisahkan dari wanita?
tanpa adanya perpaduan Im dan Yang,
dunia takkan pernah tercipta!
Betapa pun juga,
cinta segi tiga tidak membahagiakan!
menyenangkan yang satu menyusahkan yang lain
akibatnya hanya perpecahan dan permusuhan
ikatan persaudaraan dilupakan
akhirnya yang ada hanyalah duka dan sengsara!
Kesimpulannya, benarlah pesan Siansu
bahwa sengsaralah buah dari nafsu!
Nenek Maya yang tadinya membelalakkan matanya yang basah itu serta memandang dengan bengis dan
penuh nafsu membunuh, ketika mendengarkan syair ini, makin lama makin terbelalak dan wajahnya tidak
bengis lagi melainkan penuh keheranan dan keharuan, kemudian dengan suara serak ia berkata.
“Orang muda, apa... apa maksudmu dengan syair itu...?”
“Maaf, subo. Saking terharu hati teecu, maka teecu teringat akan syair yang diukir pada dinding Istana Pulau
Es, dan menurut Subo Khu Siauw Bwee, agaknya syair itu diukir oleh Suhu Koai-lojin.”
Kembali Nenek Maya mengeluh dan menutupkan kedua telapak tangannya pada mukanya. “Ahhh, kasihan...
kasihan sekali suheng...! Biar pun mencinta sumoi, ternyata tidak mau mengaku karena tidak suka
menghancurkan hatiku! Orang muda, engkau tentu telah digembleng oleh Khu-sumoi, bukan? Cara engkau
meloncat-loncat itu...”
“Benar, subo. Sesungguhnya karena mengingat bahwa teecu memang sudah menjadi murid suhu dan subo
berdua, dan agaknya melihat kaki teecu yang buntung, maka Subo Khu Siauw Bwee lalu mengajar teecu
beberapa lamanya.”
“Bagus, karena itu maka engkau tidak kubunuh sekarang! Dalam cinta mungkin aku telah kalah oleh sumoi,
akan tetapi dalam ilmu silat, aku tidak mau kalah! Sumoi telah menurunkan ilmu silat ciptaannya yang baru
kepadamu, dan aku akan menurunkan kepandaianku kepada muridku Nirahai. Kita sama lihat saja kelak siapa
yang lebih unggul. Aku menitipkan nyawa kepadamu, bocah, dan kelak Nirahai muridkulah yang akan
dunia-kangouw.blogspot.com
mengambil nyawamu sekalian membuktikan bahwa ilmuku masih lebih tinggi dari pada ilmu sumoi. Nah,
pergilah sebelum aku menyesal akan keputusanku ini!”
Han Han bukan seorang penakut. Kalau hanya menghadapi ancaman maut saja, dia sudah berkali-kali
mengalaminya. Kedatangannya untuk mencari Lulu adiknya, tentu saja ia tidak akan mudah diusir pergi
dengan ancaman sebelum ia berhasil mendapatkan adiknya atau setidaknya mengetahui apa yang terjadi
dengan adiknya.
“Maaf, subo. Tentu saja teecu akan mentaati semua perintah subo, akan tetapi terlebih dahulu teecu harus
dapat menemukan Lulu, adik teecu dan membebaskannya...”
Nenek Maya menyusut air matanya dan memandang pemuda berkaki buntung itu. Biar pun hatinya masih
merasa panas terhadap sumoi-nya, namun diam-diam ia merasa kagum kepada pemuda ini. Memang hanya
muridnya Nirahai itulah yang agaknya merupakan satu-satunya orang yang akan dapat menandingi pemuda
hebat ini. Muridnya itu mempunyai kecerdikan luar biasa, bakat yang amat hebat dan kekerasan hati yang
sukar dicari keduanya. Betapa pun juga, timbul keraguan hatinya apakah Nirahai akan mampu menandingi
pemuda ini dan ia berjanji di dalam hati untuk menurunkan semua ilmunya yang paling ampuh kepada
muridnya itu. Pendeknya, Nirahai tidak boleh kalah oleh murid Khu Siauw Bwee!
“Bocah keras kepala, Lulu adalah muridku, siapakah yang akan mengganggunya? Dia memang ditangkap oleh
suci-nya karena dia menyeleweng, akan tetapi kini dia telah melarikan diri ketika murid-murid Ma-bin Lo-mo
menyerbu tahanan. Entah ke mana perginya bocah yang suka menimbulkan kekacauan itu, aku tidak tahu.”
Han Han terkejut bukan main. “Murid-murid Ma-bin Lo-mo...? Bagaimana... apa maksud subo?”
Nenek itu tersenyum dingin dan Han Han kagum melihat betapa nenek itu ternyata masih mempunyai gigi
yang berderet lengkap dan kuat. “Siapa tahu dan siapa peduli? Murid-murid Si Muka Kuda itu memberontak
terhadap guru mereka, dan melihat macamnya Ma-bin Lo-mo, jelas bahwa murid-muridnya tentu lebih baik dari
pada dia! Kalau aku turun tangan, apa yang dapat dilakukan mereka? Aku tidak peduli, dan karena Lulu hanya
akan mereka bebaskan dan tidak diganggu, aku tidak peduli. Bocah itu sudah banyak bikin pusing, sekarang
pergi entah ke mana, kau cari sendiri. Nah, sekarang pergilah dan kalau kau masih tidak taat, kuanggap kau
menantangku!”
Han Han menjadi girang akan tetapi juga bingung. Dia percaya penuh kepada nenek ini, seorang
berkepandaian tinggi luar biasa dan berwatak angkuh, tentu tidak sudi membohong. Yang penting baginya,
Lulu sudah bebas dan perkara mencarinya adalah urusannya sendiri. Maka ia cepat memberi hormat,
kemudian tubuhnya mencelat pergi dari tempat itu. Sengaja ia mengerahkan tenaga menggunakan
kepandaiannya yang ia dapat dari Khu Siauw Bwee, maka gerakannya pun cepat seolah-olah ia pandai
menghilang dan lenyap dalam sekejap mata dari depan Nenek Maya. Melihat ini Nenek Maya menghela napas
panjang penuh kagum.....
********************
Biar pun Han Han dapat mempercayai keterangan Nenek Maya bahwa adiknya telah terbebas dari dalam
tahanan ketika murid-murid Ma-bin Lo-mo menyerbu tahanan, namun ia masih tidak tergesa-gesa
meninggalkan kota raja dan melakukan penyelidikan dengan bertanya-tanya tentang peristiwa itu.
Tentu saja berita penyerbuan itu menggegerkan kota raja dan hampir setiap orang yang ditanyainya dapat
menceritakannya. Akan tetapi, seperti biasa berita yang merupakan berita angin dari mulut ke mulut, setiap
orang mempunyai cerita yang berbeda, dan tidak seorang pun di antara mereka dapat memberitahukan secara
jelas, juga tidak ada yang tahu ke mana perginya Lulu yang ikut pula melarikan diri dari tahanan bersama para
tahanan lain ketika murid-murid In-kok-san (Lembah Awan) itu datang menyerbu.
Han Han menjadi bingung dan tidak mengerti kalau ia teringat akan adiknya. Bukankah menurut keterangan
Lauw Sin Lian, adiknya itu telah menjadi anak angkat mendiang Lauw-pangcu dan telah memihak para
pejuang? Akan tetapi dia berjumpa dengan Lulu di Se-cuan sebagai seorang pemimpin pasukan Mancu!
Kemudian mendengar Lulu ditangkap oleh Puteri Nirahai dan menjadi tawanan, sekarang ditolong oleh muridmurid
In-kok-san. Sebenarnya, di pihak manakah Lulu berdiri?
dunia-kangouw.blogspot.com
Benar-benar membingungkan dan mau tidak mau Han Han tersenyum sendiri kalau mengingat ucapan Nenek
Maya bahwa Lulu sudah banyak membikin pusing! Benar-benar anak nakal adiknya itu! Akan tetapi
senyumnya lenyap terganti awan duka kalau ia teringat akan pertemuannya yang terakhir dengan Lulu.
Adiknya tentu membencinya! Lulu, aku harus dapat menemukanmu dan memberi penjelasan, minta maaf,
demikian jerit hatinya dan pemuda ini mengambil keputusan untuk pergi menyelidik ke In-kok-san, di
Pegunungan Tai-hang-san.
Adiknya dibebaskan oleh murid-murid Ma-bin Lo-mo dan dia sendiri tidak tahu mengapa murid-murid Ma-bin
Lo-mo menyerbu istana sedangkan guru mereka sendiri berada di istana membantu Kerajaan Mancu. Satusatunya
jalan untuk membongkar rahasia ini dan bertanya kepada bekas suheng-suheng dan suci-suci-nya itu
di mana adanya Lulu, hanya pergi mengunjungi mereka!
Selain hendak mencari Lulu atau kalau adiknya tidak berada di sana, bertanya kepada mereka ke mana
perginya adiknya, juga Han Han ingin mengunjungi kuburan kakeknya, yaitu Jai-hwa-sian Suma Hoat dan ingin
menyelidik tentang riwayat nenek moyangnya. Hidupnya selalu dirundung malang, dimusuhi sana-sini, selalu
sengsara dan menderita tekanan batin, agaknya hal ini semua terjadi karena darah keturunannya. Hidupnya
seperti hukuman, dan agaknya memang kutukan karena dosa-dosa nenek moyangnya!
Di sepanjang perjalanannya yang jauh itu Han Han selalu merasa hatinya tertindih kedukaan. Kalau ia
renungkan dan ingat-ingat, apa lagi di waktu ia menghentikan perjalanan karena malam gelap dan ia duduk
mengaso di bawah pohon, terbayanglah di depan matanya wajah Kim Cu yang berkepala gundul dan sinar
matanya penuh duka, terganti wajah Lu Soan Li yang telah mengorbankan nyawa untuknya, kemudian
bermunculan wajah Lauw Sin Lian, Tan Hian Ceng, di antara bayangan wajah Lulu dan yang terakhir Puteri
Nirahai!
Diam-diam ia mengeluh! Mengapa Kim Cu dan Soan Li berkorban untuknya? Mengapa mencintanya? Dan
Hian Ceng...! Ah, dia, seorang yang buntung, yang tidak patut mendampingi gadis-gadis cantik jelita itu,
mengapa justru dia yang mereka cinta? Bukankah hal ini merupakan hukuman baginya, hukuman karena
dosa-dosa nenek moyangnya, terutama sekali kakeknya, Jai-hwa-sian Suma Hoat?
Han Han mengeluh di dalam hatinya. Mengapa dia, yang sudah terang merupakan seorang pemuda berkaki
buntung, bercacat sehingga tidak patut mendampingi seorang wanita, apa lagi gadis-gadis cantik seperti
mereka itu, kini selalu mengenangkan mereka? Tidak, tidak boleh sama sekali! Apakah hal ini pun merupakan
penyakit baginya, penyakit turunan sehingga ia tidak pernah mampu mengusir bayangan wanita-wanita cantik
itu? Apakah dia pun termasuk seorang yang memiliki darah kakeknya, darah seorang pria yang mata
keranjang?
Kembali Han Han mengeluh panjang dan menyandarkan tubuhnya pada batang pohon, berusaha untuk
melupakan semua itu dan untuk tidur. Dia harus menggunakan kekuatan kemauannya untuk melupakan
bayangan-bayangan wajah ayu itu, kecuali bayangan wajah Lulu, adiknya!
Tentu saja pemuda yang bernasih malang ini tidak tahu bahwa dia sama sekali bukan menderita penyakit,
bukan pula mata keranjang, melainkan dia pun seorang manusia biasa. Karena usianya sudah dewasa, tentu
saja daya tarik lawan kelamin makin kuat dan tanpa disadarinya, birahinya terhadap wanita pun makin
menguat. Hal ini adalah wajar dan bahkan sudah semestinya demikian. Hanya karena pemuda ini telah
mengalami hal-hal yang melukai hatinya, melihat pengorbanan Kim Cu dan Soan Li untuk dirinya, ditambah
pengetahuan bahwa kakeknya seorang penjahat cabul pemerkosa wanita, maka ia mengekang rasa tertarik
terhadap wanita ini yang dianggapnya sebagai semacam penyakit dan ia menyalahkan darah keturunannya!
Ketika ia tiba di lereng Pegunungan Tai-hang-san, Han Han memandang sekeliling dan menghirup hawa segar.
Hatinya agak terharu mengingat betapa dahulu, sepuluh tahun lebih yang lalu, ia tinggal di daerah ini sebagai
murid In-kok-san! Teringatlah ia akan Kim Cu yang semenjak menjadi saudara seperguruan, selalu bersikap
amat baik terhadapnya. Memang belum lama ini dia kembali ke In-kok-san, akan tetapi sebagai tawanan Toatbeng
Ciu-sian-li sampai kakinya dibuntungi, dan dalam keadaan seperti itu ia tidak dapat menikmati keindahan
alam dan tidak terkenang akan masa kanak-kanak dahulu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kini ia berdiri termenung dan barulah ia sadar kembali ketika ia mendengar gerakan kaki manusia. Ketika ia
menengok, ia melihat dua orang laki-laki menggotong sebuah joli yang tertutup tirai sutera. Cepat Han Han
menyelinap ke belakang pohon karena ia melihat berkelebatnya bayangan empat orang yang bergerak cepat
sekali, seolah-olah mempunyai niat buruk terhadap joli yang digotong oleh dua orang itu.
Setelah joli yang digotong lewat dan empat bayangan itu dekat, Han Han makin tertarik. Ia mengenal empat
orang pemuda tampan itu. Mereka adalah bekas-bekas suheng-nya, murid-murid Ma-bin Lo-mo atau muridmurid
In-kok-san! Mau apakah mereka mengikuti joli sambil bersembunyi dan siapa pula yang duduk di dalam
joli? Tadinya, melihat sikap mereka yang mengancam, ingin Han Han memperingatkan orang yang duduk di
dalam joli, akan tetapi ia segera menekan kehendak hati ini dengan kesadaran betapa ia selalu mendatangkan
salah paham dan keributan setiap kali turun tangan.
Dia tak akan mencampuri urusan yang belum diketahuinya benar. Maka Han Han hanya menyelinap dan
mengikuti empat orang pemuda itu sambil bersembunyi, menggunakan kepandaiannya mencelat ke tempattempat
tersembunyi sambil mengintai. Agaknya dua orang penggotong joli itu hanyalah memiliki tenaga kasar
saja, hanya kuat untuk menggotong joli dan melakukan perjalanan jauh, akan tetapi tidak memiliki kepandaian.
Buktinya, mereka berdua ini sama sekali tidak tahu bahwa ada empat orang yang kini membayangi dari dekat.
Kini empat orang murid In-kok-san itu bergerombol di balik semak-semak, berbisik-bisik kemudian mereka
mengayun tangan ke arah joli. Han Han terkejut sekali melihat sinar-sinar terang menyambar ke arah joli.
Kiranya mereka itu telah menyerang joli dengan senjata-senjata rahasia. Jarum, piauw, dan uang logam
beterbangan dengan jitu menyambar dan menerobos tirai sutera joli!
Han Han membuka mata lebar-lebar karena tidak terdengar apa-apa dari dalam joli, bahkan beberapa detik,
senjata-senjata kecil itu beterbangan menyambar dari dalam joli, kembali kepada empat orang penyerangnya
secara cepat sekali, jauh lebih cepat dan kuat luncurannya dari pada sambitan empat orang murid In-kok-san
tadi! Han Han kagum dan juga merasa geli hatinya menyaksikan betapa empat orang itu berseru kaget dan
kacau-balau mengelak dari sambaran senjata-senjata rahasia mereka sendiri, sedangkan dua orang
penggotong joli itu agaknya tidak tahu apa yang terjadi dan terus melangkah maju menggotong joli.
Empat orang murid In-kok-san itu agaknya penasaran dan marah sekali. Mereka berempat lalu melompat ke
luar dari balik semak-semak, mencabut senjata dan sambil berseru keras mereka berempat itu menerjang ke
arah joli. Dua batang pedang dan dua batang golok menyambar dan menusuk ke arah tirai sutera joli itu.
Terdengar kain robek ketika empat batang senjata runcing dan tajam itu menembus tirai menusuk ke dalam joli.
Dua orang penggotongnya baru kaget, melepaskan joli dan menjatuhkan diri berlutut. Akan tetapi dapat
dibayangkan betapa kaget dan herannya hati empat orang murid In-kok-san itu ketika senjata mereka
memasuki joli yang kosong...! Hanya Han Han yang melihat betapa ada bayangan berkelebat cepat sekali
keluar dari joli dari sebelah sana dan bayangan itu kini telah meloncat dan berdiri di atas cabang pohon sambil
tersenyum mengejek. Ketika ia memandang, kiranya bayangan itu bukan lain adalah Puterai Nirahai yang
cantik jelita!
Kekaguman Han Han makin meningkat. Dapat menangkap serangan am-gi (senjata gelap) dari dalam joli dan
mengembalikannya tanpa membuka tirai sudah merupakan kepandaian luar biasa. Kini dapat menghindarkan
diri dari serangan dengan cara secepat itu hanya dapat dilakukan oleh orang yang telah memiliki tingkat ilmu
silat yang amat tinggi! Empat orang muda itu adalah murid-murid Ma-bin Lo-mo yang tentu saja bukan
merupakan jago-jago muda sembarangan, namun mereka kini berdiri bingung dan barulah mereka
menggerakkan senjata dibarengi meluncurnya tubuh wanita jelita itu dari atas pohon menyambar ke arah
mereka!
“Trang-trang-trang-trang...!”
Dua batang pedang itu terlempar ke kanan kiri, disusul robohnya empat orang muda itu dalam keadaan
tertotok lemas dan rebah di atas tanah. Hanya mata mereka saja yang mampu memandang melotot penuh
kebencian kepada Nirahai yang tersenyum lebar.
“Untung bagi kalian bahwa aku datang membawa tugas perdamaian dan persahabatan. Kalau tidak, apakah
kalian dapat mengharap masih dapat hidup di saat ini?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah berkata demikian, Nirahai memasuki jolinya yang sudah robek-robek tirainya itu, memberi isyarat
kepada dua orang penggotongnya. Dua orang itu bergegas kembali menggotong joli dan cepat-cepat pergi dari
situ, sedangkan dari balik tirai sutera yang robek-robek itu, Han Han dapat melihat wajah cantik jelita itu
mengerling ke arah empat orang murid In-kok-san sambil tersenyum manis.
Bukan main, pikir Han Han. Puteri itu benar-benar memiliki kepandaian yang hebat sekali! Lebih hebat dari
pada kepandaian datuk-datuk yang pernah ia lawan. Tentu dara ini akan merupakan lawan yang amat
tangguh! Ia kagum akan kecantikannya yang mempesonakan, akan persamaannya dengan patung Puteri
Maya di Pulau Es, akan kepandaiannya yang hebat dan akan sikapnya yang angkuh dan agung terhadap
empat orang murid In-kok-san yang sudah jelas menyerang dengan maksud membunuhnya tadi.
Dengan tenang Han Han lalu menghampiri empat orang murid In-kok-san yang masih rebah tak berdaya di
atas tanah. Mereka itu memandang terbelalak ketika mengenal Han Han. Pemuda berkaki buntung ini lalu
menggerakkan tongkatnya, empat kali tongkatnya bergerak menotok dan ia telah berhasil membebaskan
empat orang muda itu yang cepat meloncat bangun dan berdiri di depan Han Han.
“Engkau... Han Han-sute...!” Seorang di antara mereka yang bernama Song Biauw berkata.
Han Han mengangguk. “Mengapa kalian menyerang dia?”
Empat orang itu memandang ke arah perginya joli itu dan Song Biauw berseru marah, “Iblis betina itu sungguh
lihai! Dialah biang keladi segala kesengsaraan!” Kemudian ia menoleh kepada Han Han. “Kami sudah
mendengar bahwa engkau sekarang menjadi seorang yang memiliki kepandaian tinggi, sute! Marilah kau
bantu kami membunuh iblis betina itu!”
Han Han tersenyum dan menggeleng kepala. Dia terharu bahwa empat orang ini masih menyebutnya ‘sute’,
kemudian ia bertanya, “Ma-bin Lo-mo sendiri membantunya, mengapa kalian memusuhi puteri yang mewakili
kerajaan itu?”
“Ma-bin Lo-mo iblis tua itu juga akan kami basmi!” bentak seorang murid In-kok-san dengan muka merah
penuh kebencian.
Han Han diam-diam terkejut. “Eh, mengapa kalian memusuhi suhu kalian sendiri? Kalau kalian memusuhi
Kerajaan Mancu, hal ini aku tidak heran.”
“Hemmm, agaknya kau belum mendengar akan peristiwa busuk yang menjadi rahasia iblis tua itu, Han-sute?
Engkau tentu sudah tahu bahwa kami semua murid In-kok-san adalah orang-orang yatim piatu...”
“Aku tahu, orang tua kalian, seperti juga orang tuaku, terbunuh oleh pasukan Mancu...” kata Han Han.
“Bukan!” Song Biauw memotong cepat sambil menggoyang tangan. “Mungkin orang tuamu terbunuh oleh
pasukan Mancu, akan tetapi orang tua kami semua sama sekali tidak terbunuh oleh pasukan Mancu,
melainkan dibunuh secara diam-diam oleh Ma-bin Lo-mo!”
“Heeehhhhh...?” Han Han benar-benar terkejut sekali mendengar ini.
“Iblis tua bangka yang busuk itu! Dia dahulunya memusuhi penjajah Mancu, dan untuk dapat membentuk
pasukan kuat, dia sengaja memilih anak-anak yang berbakat baik, menggunakan keadaan yang kacau
membunuhi orang tua kami dan kemudian menolong kami dengan pernyataan bahwa orang tua kami dibunuh
orang-orang Mancu. Kami masih terlalu kecil untuk mengerti akan tipu muslihatnya ini. Akhir-akhir ini dia
menjadi penjilat Mancu sehingga kami merasa heran sekali dan akhirnya kami dapat mengetahui rahasianya
yang membocor dari istana. Tentu saja kami menjadi sakit hati kepadanya sehingga kami bersumpah selain
memusuhi penjajah, juga akan membunuh bekas guru yang juga pembunuh orang tua kami itu!”
Han Han mengangguk-angguk. Baru sekarang ia mengerti mengapa murid-murid In-kok-san menyerbu kota
raja. “Jadi kalian menyerbu kota raja, membebaskan tawanan-tawanan, juga dengan maksud untuk mengacau
kota raja dan sekalian mencari Ma-bin Lo-mo?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Song Biauw berseri wajahnya. “Kau sudah mendengar akan penyerbuan itu? Kami kehilangan belasan orang
saudara, akan tetapi kami berhasil membebaskan banyak tawanan. Kini saudara-saudara kami sebagian
sudah menyeberang ke Se-cuan, maka kami mendengar bahwa engkau telah membantu perjuangan dan
bahkan menjadi panglima di Se-cuan. Kami yang masih tinggal di sini mendengar bahwa puncak Tai-hang-san
akan dijadikan tempat pertemuan antara pemerintah dan tokoh-tokoh kang-ouw, maka kami menghadang di
sini untuk menyerang Ma-bin Lo-mo. Tadi ketika kami tahu bahwa Puteri Nirahai iblis betina itu datang, kami
segera menyerangnya. Siapa tahu dia luar biasa lihainya!”
Han Han menggeleng-geleng kepala. “Kalian ini bernafsu besar dan bercita-cita muluk, akan tetapi kalian
bukanlah lawannya, bahkan kalian berempat takkan mampu mengalahkan Ma-bin Lo-mo.”
“Masih ada lima orang saudara kami di bawah!” Song Biauw membentak.
Han Han menghela napas. “Aku tidak akan mencampuri urusan kalian. Kebetulan aku bertemu dengan kalian
di sini karena memang aku ingin sekali bertanya. Ketika kalian menyerbu kota raja membebaskan para
tawanan, terdapat pula adikku Lulu yang ikut melarikan diri. Di manakah dia sekarang?”
“Ohhhh... dia? Puteri Mancu itu? Wah, dia hebat sekali!” kata Song Biauw dan tiga orang saudaranya
mengangguk-angguk. “Hanya karena bantuan dia maka kami dapat menyelamatkan diri keluar dari kota raja,
dan hanya belasan orang yang gugur. Agaknya iblis betina Nirahai sendiri segan untuk bersikap keras setelah
dia turun tangan membantu kami. Jadi dia adikmu, Han-sute? Ah, sungguh menyesal sekali, kami tidak tahu ke
mana dia pergi karena begitu kami semua berhasil keluar dari kota raja, dia menghilang.”
Han Han menghela napas panjang. Dia sudah menduga akan hal ini. Adiknya itu terlalu keras kepala, keras
hati dan ingin bebas, tentu saja tidak mau bersatu dengan orang-orang ini. Entah ke mana sekarang
‘terbangnya’ bocah itu!
“Sudahlah, aku akan mencarinya sendiri. Kunasehati saja agar kalian tidak terburu nafsu mengandalkan
kepandaian. Ma-bin Lo-mo lihai sekali, juga bekas guru kalian itu mempunyai banyak kawan yang lihai. Kalau
memang kalian ingin berjuang, tempat kalian adalah di Se-cuan di mana dapat dihimpun kekuatan untuk
menghadapi musuh. Nah, selamat berpisah!”
Han Han menggunakan kepandaiannya, sekali mencelat ia telah berkelebat lenyap dari depan empat orang itu
yang memandang terbelalak, menengok dan mencari-cari ke sana ke mari, kemudian saling pandang dengan
melongo. Sukar mereka percaya bahwa pemuda yang kakinya hanya tinggal sebuah itu dapat bergerak
secepat itu.
Sambil berloncatan, Han Han berpikir. Pertemuan di puncak Tai-hang-san? Pertemuan apakah itu? Apa pula
yang akan dilakukan oleh Puteri Nirahai yang lihai dan cerdik luar biasa itu? Ia tertarik sekali, apa lagi dia
mengharapkan bahwa Lulu akan hadir pula di pertemuan aneh itu. Dengan penuh harapan, Han Han lalu
mendaki puncak Tai-hang-san, akan tetapi memilih jalan yang sunyi karena dia tidak mau mengunjungi
pertemuan itu secara berterang. Dia tidak mau melibatkan diri, dan keinginan satu-satunya pada saat itu
hanyalah mencari adiknya, Lulu.
Ia pun bergidik kalau teringat akan cerita bekas saudara-saudara seperguruannya tadi akan kekejian hati Mabin
Lo-mo. Kiranya kakek iblis itu hendak membentuk pasukan terdiri dari murid-muridnya yang mengandung
hati dendam kepada pemerintah Mancu dengan cara membunuhi orang tua dan keluarga calon para muridnya
secara diam-diam, kemudian menolong calon murid itu dan mengatakan bahwa keluarga si murid dibasmi
orang Mancu. Cara mengobarkan anti Mancu yang amat curang, licik dan keji. Lebih menjijikkan lagi bahwa
setelah melakukan perbuatan yang tidak mengenal peri kemanusiaan itu, akhirnya kini Ma-bin Lo-mo dan Toatbeng
Ciu-sian-li malah membalik, mengkhianati perjuangan sendiri dan menjadi kaki tangan Mancu!
Makin dikenang, makin sakit rasa hati Han Han. Bukankah kedua orang nenek dan kakek itu merupakan
orang-orang terakhir di dunia ini yang masih ‘berbau’ keluarga nenek moyangnya sendiri? Merupakan orangorang
yang masih ada hubungan dengan keluarga Suma yang terkenal jahat di masa lalu?
dunia-kangouw.blogspot.com
Teringatlah ia akan cerita yang didengarnya dari mulut Ma-bin Lo-mo sendiri ketika ia masih menjadi murid Inkok-
san di Pegunungan Tai-hang-san ini. Arca yang dipuja di In-kok-san adalah arca Suma Kiat, guru Ma-bin
Lo-mo atau ayah dari Suma Hoat Si Dewa Cabul atau kong-kongnya sendiri! Jadi Ma-bin Lo-mo adalah murid
dari kakek buyutnya, ada pun nenek iblis Toat-beng Ciu-sian-li adalah seorang selir dari kakek buyutnya itu!
Hemmm, baru murid dan selir saja sudah merupakan dua orang iblis yang kejahatannya sukar dicari
bandingnya! Dapat dibayangkan betapa luar biasa jahat dan kejinya keluarga Suma itu sendiri! Pantaslah
kalau dia, sebagai keturunan keluarga Suma, kini selalu hidup merana dan menderita sengsara, agaknya
Thian telah menghukumnya atas dosa-dosa yang dilakukan nenek moyangnya!
Setelah Han Han tiba di puncak Tai-hang-san, di lembah In-kok-san, dari jauh ia sudah melihat banyaknya
orang yang berkumpul di situ. Ia cepat menyelinap dan berindap-indap mendekati pekarangan lebar di mana
berkumpul banyak orang yang duduk di bangku-bangku membentuk lingkaran. Mereka itu terdiri dari orangorang
yang sudah tua dan bersikap penuh wibawa. Para tamu itu menghadapi pihak tuan rumah yang
merupakan rombongan yang duduk di atas bangku-bangku di depan pondok dan mereka ini adalah Puteri
Nirahai sendiri yang ditemani oleh Ma-bin Lo-mo sebagai pemilik In-kok-san tempat mereka mengadakan
pertemuan, Toat-beng Ciu-sian-li, Kang-thouw-kwi Gak Liat, dan kedua orang pendeta Lama dari Tibet yang
lihai, Thian Tok Lama dan Thai Li Lama!
Han Han yang bersembunyi dekat tempat itu dapat melihat jelas dan sebagian di antara para tamu ada yang
telah dikenalnya. Dari pihak Siauw-lim-pai hadir Ceng To Hwesio, penjaga kuil Siauw-lim-si yang menjadi sute
Ceng San Hwesio ketua Siauw-lim-pai ditemani dua orang kakek yang setelah Han Han ingat-ingat ternyata ia
mengenalnya sebagai dua orang di antara Kang-lam Sam-eng (Tiga Pendekar Kang-lam).
Dahulunya tiga pendekar itu adalah Khu Ceng Tiam kakek yang pendek kecil itu, Liem Sian yang tinggi besar,
dan orang ke tiga adalah seorang wanita cantik Bhok Khim yang telah diperkosa Gak Liat Si Setan Botak dan
bahkan yang terakhir bertemu dengan Han Han ketika wanita yang menjadi gila itu membobol kamar penyiksa
diri di Siauw-lim-pai dan melarikan diri membawa anaknya.
Han Han merasa heran mengapa dalam pertemuan penting ini, hanya Ceng To Hwesio dan dua orang tokoh
Siauw-lim-pai bukan pendeta ini yang hadir. Mengapa lima orang tokoh Siauw-lim Chit-kiam tidak hadir pula?
Han Han memperhatikan terus para tokoh yang hadir sebagai tamu. Ia melihat pula tokoh-tokoh Hoa-san-pai
yang merupakan tosu-tosu tingkat tiga. Tiga orang tosu galak yang pernah bentrok dengan dia dahulu, yaitu
Lok Seng Cu dan Bhok Seng Cu, agaknya tiga orang kakek ini mewakili guru mereka, ketua Hoa-san-pai untuk
hadir di In-kok-san ini.
Selain kedua rombongan wakil Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai, masih banyak terdapat wakil-wakil dari partaipartai
persilatan lain, bahkan di antara mereka pula orang-orang dari Pek-lian Kai-pang, dan tokoh-tokoh
pejuang yang pernah ia jumpai di Se-cuan. Kini dia memperhatikan Nirahai dan makin kagumlah hati Han Han.
Benar-benar amat hebat gadis itu.
Masih amat muda, wajahnya cantik jelita seperti bidadari, kadang-kadang demikian lembut seperti setangkai
mawar yang bergoyang-goyang perlahan terhembus angin, kadang-kadang membayangkan kekerasan yang
melebihi baja pilihan. Semuda dan secantik itu telah menjadi seorang pemimpin besar, bahkan kini
mengumpulkan para tokoh perjuangan dan para wakil-wakil partai persilatan yang jelas merupakan musuhmusuh
besarnya. Demikian beraninya gadis ini! Apa kehendaknya mengumpulkan para pejuang yang bagi
puteri itu tentu dianggap pemberontak-pemberontak ini?
Diam-diam Han Han merasa khawatir. Puteri ini terkenal cerdik sekali dan ahli siasat yang pandai mengatur
tipu-tipu muslihat. Jangan-jangan setelah dikumpulkan di sini, para pejuang dan tokoh partai-partai besar ini
akan dibasmi! Han Han berlaku waspada dan siap sedia. Kalau benar seperti itu siasat Nirahai, biar pun dia
sendiri tidak peduli lagi akan perang, terpaksa dia akan turun tangan menentang kecurangan besar ini!
Pada saat itu, agaknya semua tamu telah mengambil tempat duduk dan terdengarlah suara lantang akan tetapi
merdu dari mulut Puteri Nirahai. Han Han memandang penuh perhatian dan mendengarkan dari tempat
sembunyi. Ia menjadi heran mendengar suara gadis jelita itu, karena biar pun gadis itu bukan berbangsa Han,
dunia-kangouw.blogspot.com
akan tetapi suaranya sama sekali tidak kaku, bahkan kata-katanya teratur dengan rapi, tanda bahwa gadis itu
memiliki pengertian yang baik tentang kesusastraan.
“Atas nama Kerajaan Ceng-tiauw yang jaya, kami yang bertugas sebagai wakil kaisar dalam hal ini
menghaturkan banyak terima kasih kepada para locianpwe dan para enghiong yang telah sudi memenuhi
undangan kami untuk datang berkumpul dan bersama-sama menciptakan perdamaian, persahabatan dan
kerja sama demi kesejahteraan rakyat jelata!”
Han Han mendengarkan dengan kagum. Puteri itu benar hebat. Selain kata-katanya terdengar rapi teratur,
juga nadanya membujuk dan memuji-muji orang gagah, suaranya mengandung dasar ketenangan sehingga
amat menarik perhatian mereka yang mendengarnya. Selanjutnya, secara singkat namun padat dan dengan
kata-kata teratur baik, puteri itu menjelaskan mengapa pemerintah Kerajaan Mancu mengulurkan tangan untuk
mengajak damai dengan para orang gagah, terutama dengan partai-partai besar. Rakyat sudah terlalu lama
hidup tertekan dan menderita sengsara akibat perang, katanya. Karena itu, mengapa perang yang
menyengsarakan itu dilanjut-lanjutkan? Lebih baik semua tenaga rakyat dikerahkan untuk membangun demi
kesejahteraaan hidup rakyat, di bawah pimpinan pemerintah Ceng yang jaya dan yang memang sudah
ditentukan oleh Thian untuk memimpin rakyat jelata mencapai kemakmuran.
Sejam lebih puteri itu bicara dengan lancar dan tidak membosankan para pendengarnya. Wajah itu demikian
cantik jelita seperti setangkai mawar sedang mekar dengan segarnya, siapakah yang tidak terpikat dan
siapakah yang akan bosan memandang? Sepasang mata itu berkilat-kilat penuh semangat dan gairah hidup,
bibir yang bergerak-gerak ketika bicara itu demikian manis, semanis kata-kata yang keluar secara teratur dan
indah, seakan gadis itu bukan sedang berpidato, tetapi sedang mendeklamasikan sajak-sajak indah!
Tubuhnya agak bergoyang, sesuai dengan sikap kewanitaannya, mengingatkan para pemandangnya akan
batang pohon yang-liu terhembus angin musim semi, meliak-liuk dengan lemas dan indahnya. Setelah
membeberkan rencana kerja pemerintah dan memberikan janji dengan sumpah bahwa pemerintah tidak akan
mengganggu hak milik para tuan tanah dan tidak akan mengganggu milik rakyat, tidak akan memeras rakyat
dengan pajak berat seperti yang sudah-sudah dilakukan oleh kaisar-kaisar dahulu, berjanji pula akan
menumpas semua kejahatan yang menghimpit penghidupan rakyat, menumpas para pencopet, pencuri,
perampok dan mereka yang masih memberontak, terdengar puteri jelita itu berkata.
“Hendaknya cu-wi sekalian tidak membesar-besarkan perbedaan suku bangsa. Kita seluruhnya merupakan
bangsa yang besar, dan jangan terpengaruh oleh perpecahan-perpecahan yang ditimbulkan oleh para
pemberontak. Kita semenjak dahulu merupakan kesatuan suku bangsa-suku bangsa yang menjadi bangsa
besar. Tentu cu-wi sekalian masih ingat akan nama seorang pahlawan dan pendekar yang tiada bandingnya
selama sejarah berkembang. Siapa yang tidak pernah mendengar nama julukan pendekar besar Suling Emas?
Siapa pula yang tidak tahu akan sepak terjangnya yang tidak memperbedakan bangsa, yang bahkan menjadi
suami Ratu Khitan dan mempersatukan suku bangsa-suku bangsa menjadi bangsa yang besar? Bahkan
sesungguhnya bangsa-bangsa pun hanya merupakan perpecahan yang dibuat-buat oleh manusia sendiri
karena sesungguhnya, tanpa adanya pemecahan bangsa-bangsa, semua manusia di empat penjuru lautan
adalah saudara, seperti yang telah diajarkan oleh Nabi Kong Hu Cu bahwa ‘Su-hai-ci-lwe-kai-heng-te-ya’! (Di
Empat Penjuru Lautan Adalah Saudara). Nah, cu-wi sekalian, hendaknya cu-wi percaya bahwa andai kata
Pendekar Sakti Suling Emas sekarang masih hidup, beliau tentu akan menyetujui persatuan di antara kita, dan
sebagai buktinya bahwa saya, Puteri Nirahai, tidak membohong dan masih mempunyai hubungan dengan
keluarga Suling Emas, hendaknya cu-wi sekalian suka memandang pusaka ini!” Tangan Puteri Nirahai
bergerak dan berkelebatlah sinar kuning emas yang menyilaukan mata. Ternyata sebatang suling emas telah
berada di tangan kanannya dan diangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala.
“Suling Emas...!”
Banyak mulut mengucapkan kata-kata ini penuh takjub dan hormat, dan mereka yang tadinya masih ragu-ragu,
baru setengah tunduk oleh bujukan kata-kata Puteri Nirahai, kini menjadi tunduk benar ketika menyaksikan
senjata pusaka keramat itu berada di tangan sang puteri. Biar pun orangnya sudah puluhan, bahkan ratusan
tahun tidak ada, namun nama besar Suling Emas dikenal oleh semua orang gagah di dunia kang-ouw, dan
karenanya, melihat senjata keramat ini semua orang menjadi kagum dan tunduk.
dunia-kangouw.blogspot.com
Puteri jelita itu tersenyum girang menyaksikan sikap para orang gagah itu dan ia melanjutkan, “Selain memiliki
pusaka keramat ini, juga terus terang saja tanpa maksud membanggakan dan menyombongkan diri, saya
berani mengaku bahwa saya adalah seorang yang mewarisi ilmu dari pendekar wanita perkasa Mutiara Hitam.
Melihat hubungan saya dengan Suling Emas dan Mutiara Hitam, masih perlukah diragukan bahwa saya tidak
mempunyai niat buruk terhadap cu-wi sekalian, orang-orang gagah di dunia kang-ouw?”
Semua orang makin tunduk dan keadaan sejenak menjadi hening. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara Ceng
To Hwesio wakil Siauw-lim-pai, suaranya tenang namun mengandung wibawa dan suara itu menggetarkan
jantung karena dikeluarkan dengan pengerahan tenaga khikang, “Omitohud...! Apa yang diucapkan oleh
Kouwnio amat benar dan melihat senjata keramat itu, siapakah yang tidak akan tunduk? Siapakah pula
orangnya di dunia ini yang menghendaki perang yang hanya akan menimbulkan kesengsaraan bagi rakyat
jelata? Akan tetapi, Kouwnio, pinceng ingin sekali mengetahui, kalau benar Kouwnio tidak mempunyai niat
buruk terhadap kami, mengapakah dua orang murid Siauw-lim-pai, yaitu Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek, dua di
antara Siauw-lim Chit-kiam, telah dibunuh?”
Semua orang menjadi tegang hatinya mendengar ini, apa lagi ketika Lok Seng Cu, orang pertama dari tiga
orang tokoh Hoa-san-pai, berkata nyaring. “Tepat sekali apa yang diucapkan oleh Ceng To Hwesio. Kalau
tidak mempunyai niat buruk, mengapa tokoh besar Siauw-lim-pai dibunuh kemudian kesalahannya ditimpakan
kepada Hoa-san-pai dengan jalan melemparkan fitnah?”
Suasana menjadi makin tegang. Apa lagi bagi Han Han yang mengintai dari tempat persembunyiannya.
Sebagai orang luar dia mengetahui benar akan fitnah itu yang menjadi siasat licin Nirahai, bahkan dia terlibat
dalam urusan itu. Maka pemuda buntung ini mendengarkan penuh perhatian dan seperti orang-orang yang
hadir di situ, ia pun memandang ke arah Puteri Nirahai, ingin tahu apa yang akan menjadi jawaban puteri itu.
Semua orang tercengang dan terheran melihat puteri cantik itu tetap tenang, bahkan kini tersenyum manis,
sedikit pun tidak menjadi gugup menghadapi pertanyaan dari pihak Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai yang
merupakan serangan hebat itu.
Puteri itu memandang tajam ke arah Ceng To Hwesio, kemudian menjura dan berkata, suaranya tetap merdu
dan tenang.
“Maaf, Losuhu. Sebelum saya menjawab pertanyaanmu, juga pertanyaan dari Totiang wakil Hoa-san-pai yang
sifatnya sama, lebih dulu saya hendak mengajukan pertanyaan dengan harapan agar Losuhu sudi menjawab
secara sejujurnya. Pertama, dalam pertandingan perorangan terdapat istilah curang kalau orang itu
menggunakan cara-cara yang melanggar ketentuan pertandingan. Akan tetapi di dalam keadaan perang
terdapat istilah siasat, dan apakah seorang panglima yang menggunakan siasat dalam perang untuk menjebak
pihak musuh dapat disebut curang pula?”
“Siasat dalam perang bukahlah kecurangan,” jawab Ceng To Hwesio dan semua orang mengangguk karena
siapakah yang akan dapat mengatakan bahwa siasat dalam perang itu curang?
“Terima kasih,” kata Nirahai sambil tersenyum. “Pertanyaan kedua, jika seorang prajurit dalam perang
membunuh lawan, tanpa peduli siapa lawan yang berada di pihak musuh itu, apakah dia dianggap bersalah
dan menjadi seorang pembunuh keji?”
“Tentu saja tidak,” jawab pula Ceng To Hwesio. “Membunuh musuh dalam perang merupakan pelaksanaan
tugasnya.”
Kini Nirahai tersenyum manis sekali, sepasang matanya berseri-seri dan suaranya merdu dan nyaring, “Terima
kasih Losuhu. Jawaban-jawaban Losuhu memang tepat sekali dan tidak dapat dibantah oleh siapa pun juga.
Nah, sekarang terjawablah pertanyaan-pertanyaan Losuhu sebagai wakil Siauw-lim-pai dan Totiang sebagai
wakil Hoa-san-pai. Sesungguhnya, saya yang kini mendapat kehormatan memegang pusaka keramat dari
pendekar sakti Suling Emas, dan mengaku sebagai ahli waris ilmu-ilmu pusaka Mutiara Hitam, seujung rambut
pun tidak mempunyai rasa permusuhan, apa lagi kebencian terhadap para orang gagah di dunia kang-ouw.
Sebaliknya, saya bahkan menaruh hormat dan kagum. Akan tetapi mengapa saya membunuh dua orang tokoh
Siauw-lim-pai? Karena tugas saya, tugas seorang prajurit kerajaan Ayahanda Kaisar! Dan mengapa pula saya
menggunakan fitnah kepada Hoa-san-pai, menggunakan siasat untuk mengadu domba antara Siauw-lim-pai
dan Hoa-san-pai? Karena tugas saya sebagai panglima dalam perang! Semua yang saya lakukan itu demi
dunia-kangouw.blogspot.com
tugas dan terjadi dalam perang. Permusuhan dalam perang bukanlah permusuhan pribadi, karena kalau
peristiwa yang timbul sebagai akibat perang lalu dijadikan dendam pribadi, saya kira di dunia ini akan terjadi
dendam-mendendam yang tiada habisnya! Saya harap saja Losuhu wakil Siauw-lim-pai dan Totiang wakil
Hoa-san-pai dapat menerima penjelasan saya ini yang keluar dari hati, bukan sekedar alasan kosong untuk
menghindarkan diri dari kesalahan.”
Semua yang mendengar ucapan puteri itu diam-diam terpaksa harus membenarkannya. Akan tetapi tiba-tiba
seorang kakek yang berpakaian pengemis bangkit berdiri. Han Han dapat menduga bahwa kakek ini tentulah
seorang anggota Pek-lian Kai-pang, yang dengan sikap gagah berkala lantang.
“Semua uraian Kouwnio memang tepat dan sebagai orang-orang gagah kita harus dapat menangkap
kebenarannya. Sudah menjadi hak dan kewajiban Kouwnio untuk bertugas membela bangsa dalam perang,
dan hal ini memanglah kewajiban suci orang gagah. Akan tetapi, kami pun orang-orang gagah yang
menjunjung tinggi kepahlawanan, kami berkewajiban pula untuk membela negara dan bangsa, menentang
penjajah tanah air dari bangsa asing! Kalau sekarang kami menyetujui uluran tangan pemerintah Mancu untuk
bekerja sama, bukankah hal itu berarti hendak menyeret kami patriot-patriot gagah menjadi pengkhianatpengkhianat
bangsa yang rendah dan hina?”
Semua mata orang gagah yang hadir di situ mengeluarkan sinar bersemangat, dan Han Han makin tertarik,
ingin sekali mendengar bagaimana tangkisan puteri yang cerdik itu terhadap serangan yang amat hebat ini.
Akan tetapi puteri itu tersenyum dan tetap tenang saja. Setelah memandang ke arah penyerangnya dengan
sinar mata tajam, ia lalu menjawab.
“Pertanyaan Lo-enghiong mengandung beberapa hal yang perlu saya jawab satu demi satu. Pertama, Loenghiong
menyatakan bahwa tanah air dijajah oleh bangsa asing! Manakah bangsa asing? Bangsa kita yang
besar mempunyai puluhan suku bangsa, di antaranya suku bangsa Khitan, Mongol, Mancu dan lain-lain suku
bangsa yang tersebar di daerah utara dan barat di tanah air kita yang luas. Jadi kalau sekarang negara berada
di dalam bimbingan tangan suku bangsa Mancu, tidak dapat dikatakan bahwa tanah air dijajah bangsa asing!
Di dalam catatan sejarah masih dapat diperiksa betapa eratnya hubungan antara suku bangsa-suku bangsa ini.
Kalau suku bangsa Mancu dianggap bangsa asing, bagaimana dengan suku bangsa Khitan? Kalau Khitan
merupakan bangsa asing, apakah cu-wi sekalian hendak mengatakan bahwa pendekar sakti Suling Emas
memperisteri wanita asing? Apakah pendekar wanita Mutiara Hitam juga berdarah bangsa asing, dan sekarang
tidak tepat kalau dikatakan bahwa kaisar yang bersuku bangsa Mancu merupakan kaisar asing yang menjajah!
Lebih tepat dikatakan bahwa Ayahanda Kaisar telah berhasil menghalau kaisar lalim dan membebaskan rakyat
jelata dari pada penindasan!”
Semua orang saling pandang dan kembali uraian itu sukar mereka jawab secara tepat karena memang mereka
tidak dapat memastikan benar apakah bangsa Mancu termasuk bangsa asing ataukah hanya suku bangsa
mereka yang besar!
“Sekarang hal ke dua. Tadi Lo-enghiong mengatakan bahwa sudah menjadi tugas kewajiban seorang patriot
untuk membela bangsanya. Tepat sekali! Memang tugas seorang gagah perkasa, seorang patriot untuk
membela bangsanya yang tertindas, akan tetapi bukan sekali-kali berarti bahwa seorang gagah harus
membela kaisarnya yang lalim dan menindas rakyat, bukan? Buktinya, jauh sebelum suku bangsa Mancu
berhasil menumbangkan Kerajaan Beng-tiauw yang bobrok, telah banyak terjadi pemberontakanpemberontakan
yang sebetulnya merupakan usaha dan perjuangan para orang gagah untuk membela rakyat
yang tertindas dan mengenyahkan kaisar dan antek-anteknya yang lalim. Lo-enghiong sendiri kalau saya tidak
salah duga, tentulah anggota Pek-lian Kai-pang dan apakah Pek-lian Kai-pang itu? Bukankah perkumpulan
orang gagah ini merupakan kelanjutan dari pada Pek-lian-kauw, perkumpulan yang dahulu tak pernah berhenti
berusaha menggulingkan kaisar lalim dari Kerajaan Beng-tiauw? Nah, dengan demikian, bukankah usaha suku
bangsa Mancu pun merupakan perjuangan untuk membebaskan rakyat dari kesengsaraan akibat penindasan
Kerajaan Beng-tiauw yang tidak becus? Dengan demikian, antara kami dengan cu-wi sekalian terdapat citacita
yang sama, yaitu membebaskan rakyat dari penindasan. Kita sama-sama pejuang dan karenanya sudah
sepatutnya kalau kita bergandengan tangan, bekerja sama untuk mengangkat rakyat yang sudah ratusan
tahun ditindas itu agar mereka hidup makmur!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Han memandang dengan mata terbelalak. Kagum bukan main hatinya. Wanita ini benar-benar luar biasa,
pikirnya dan jantungnya berdebar-debar ketika ia memandang wajah yang cantik itu. Getaran yang aneh
seperti terpancar keluar dari wajah itu dan menyentuh lubuk hatinya, membuat ia kagum dan terpesona.
Biar pun semua orang kini tak mampu lagi berkutik, kakek pengemis yang berhati keras itu masih tidak mau
menyerah kalah. “Kouwnio, kalau benar bahwa kerajaan yang baru ini mengulurkan tangan kepada para patriot,
mengapa sampai sekarang Se-cuan diserang terus? Bukankah Bu-ongya juga seorang patriot besar yang
mengorbankan segalanya untuk mempertahankan nusa bangsanya?”
Wajah puteri itu yang tadinya berseri dan tersenyum-senyum, kini berubah keras, matanya bersinar tajam
berwibawa, dan suaranya nyaring berkata, “Bu Sam Kwi sama sekali bukan seorang pejuang yang membela
rakyat! Dia berjuang untuk kepentingan sendiri, untuk menjadi raja! Lebih buruk lagi, dia adalah pengkhianat
yang bermuka dua!”
Semua orang terkejut mendengar ini dan ada yang mengeluarkan seruan-seruan marah dan penasaran.
Melihat ini, Nirahai cepat menyambung, “Hendaknya cu-wi sekalian jangan silau oleh tipuan pengkhianat licik
itu dan marilah kita ikuti riwayatnya! Bu Sam Kwi dahulunya siapa? Dia seorang panglima Kerajaan Beng-tiauw.
Dan dia telah memberontak terhadap Kerajaan Beng-tiauw! Dengan dalih hendak membasmi Kaisar Bengtiauw
yang lemah dan lalim, dia mengajak suku bangsa Mancu yang pada waktu itu dipimpin oleh Paman
Pangeran Dorgan untuk bersekutu. Setelah kami berhasil menyerbu ke selatan, Bu Sam Kwi memperlihatkan
muka ke dua dan memusuhi kami! Dia tidak hanya berkhianat terhadap Beng-tiauw, akan tetapi berkhianat
pula terhadap kerajaan baru! Orang macam itu mana ada harganya? Dia melawan kerajaan baru semata-mata
karena hendak mengangkangi kerajaan dan hendak mengangkat diri sendiri menjadi raja, sama sekali bukan
hendak membela rakyat! Hal ini diketahui baik oleh Pangeran Kiu yang bijaksana sehingga kini Pangeran Kiu
yang diwakili oleh kedua orang pendeta Lama yang terhormat ini, Thian Tok Lama dan Thai Li Lama, bersamasama
suku bangsa Tibet menerima uluran tangan kami. Bu Sam Kwi mengobar-ngobarkan perang, membuat
rakyat makin sengsara. Akan tetapi, dia hanya tinggal menanti saatnya untuk kami hancurkan. Sekali lagi,
harap cu-wi tidak tertipu oleh kepalsuan orang yang bermuka dua itu!”
Hening sampai lama sekali setelah Nirahai mengeluarkan ucapan yang penuh semangat ini. Kakek pengemis
mengeritkan keningnya, berpikir dan menjadi ragu-ragu akan pendiriannya semula. Tiba-tiba terdengar Ceng
To Hwesio berkata.
“Bagaimana kami dapat mengetahui bahwa pemerintah baru ini tidak sama buruknya dengan yang lama?
Apakah buktinya bahwa suku bangsa Mancu yang telah berhasil memegang pimpinan ini mempunyai niat yang
mulia terhadap rakyat?”
Kembali Nirahai tersenyum. “Inilah pertanyaan yang tepat dan penting, Losuhu, dan jawabannya tentu saja
memerlukan bukti! Saya tidak akan membujuk cu-wi sekalian orang-orang gagah untuk percaya begitu saja.
Akan tetapi marilah kita sama-sama membuktikan sendiri! Saya pun mempunyai darah keturunan keluarga
Suling Emas, tanpa malu-malu saya pun menggolongkan diri sebagai orang gagah. Andai kata kelak ternyata
bahwa kaisar kita lalim, biar pun kaisar itu Ayah saya sendiri, apakah saya akan tinggal diam? Tidak, saya
tetap akan bergandeng tangan dengan cu-wi untuk menentang kelaliman dan membela rakyat yang tertindas!”
Terdengar sorakan gembira menyambut ucapan ini dan Han Han menarik napas panjang. Wanita hebat! Sukar
dicari keduanya! Cantik jelita, lihai ilmunya dan cerdik bukan main, akan tetapi juga gagah perkasa. Dia mau
percaya bahwa seorang seperti Puteri Nirahai itu tentu akan memegang janjinya.
“Baiklah, Kouwnio. Pinceng sebagai wakil Siauw-lim-pai berjanji akin menarik semua murid Siauw-lim-pai, tidak
akan mencampuri urusan perang. Akan tetapi jangan dikira bahwa kami akan menjadi penonton yang hanya
berpeluk tangan saja. Kalau kelak ternyata bahwa pemerintah ini sama buruknya dengan yang lalu, tentu kami
akan mencabut senjata lagi melakukan pembalasan terhadap rakyat yang tertindas!”
“Kami juga berjanji!”
“Kami juga!”
“Kami juga!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Ramailah para tamu yang hadir itu membuka suara, dan biar pun ada yang hanya tinggal diam, namun jelas
bahwa jumlah yang setuju untuk berdamai jauh lebih besar, sedangkan yang membantah tidak ada seorang
pun. Setelah semua diam, terdengar Ceng To Hwesio berkata, suaranya kereng.
“Kouwnio, ada sebuah hal yang dapat kita pergunakan untuk membuktikan sampai di mana iktikad baik
pemerintah baru.”
“Harap Losuhu katakan tanpa ragu-ragu. Hal apakah itu?” Nirahai bertanya ramah.
“Pemerintah yang baik tidak akan mempergunakan kaki tangan yang jahat, dan kalau memang pemerintah
menghargai orang-orang gagah, tentu tidak akan melindungi orang jahat pula.”
“Maksud Losuhu bagaimana?”
“Terus terang saja, biar pun kini urusan pemerintah telah dapat diselesaikan dengan damai dan tidak
mencampuri perang, akan tetapi bagaimana dengan permusuhan pribadi?”
Sepasang mata itu dengan tajamnya menyambar dan menentang wajah hwesio tua itu. “Maksud Losuhu?
Ingat bahwa semua yang saya lakukan dahulu adalah sebagai lawan dalam perang!”
Hwesio itu tertawa. “Kouwnio agaknya salah mengerti. Dengar Kouwnio, sungguh pun Kouwnio telah
membunuh dua orang murid Siauw-lim-pai, akan tetapi persoalan itu telah beres oleh penjelasan Kouwnio tadi.
Yang pinceng maksudkan adalah Kang-thouw-kwi Gak Liat yang kini menjadi pembantu Kouwnio!”
Nirahai melirik ke arah Gak Liat, lalu berkata sambil lalu, “Losuhu maksudkan bahwa antara Losuhu dan Gaklocianpwe
terdapat urusan pribadi?”
“Benar, Kouwnio. Urusan pribadi yang tidak ada sangkut-pangkutnya dengan urusan perang, kejahatan Kangthouw-
kwi terhadap murid Siauw-lim-pai yang hanya dapat ditebus dengan nyawa!”
Nirahai mengerutkan keningnya, kemudian menggerakkan kedua pundak mengembangkan kedua lengan
sambil berkata, “Kita berada di antara para orang gagah. Pemerintah berpendirian untuk membasmi kejahatan,
untuk melindungi rakyat. Apa bila di antara para orang gagah ada dendam pribadi, tentu saja pemerintah
mempersilakan mereka untuk menyelesaikan urusan mereka tanpa campur tangan, bahkan kami berjanji untuk
menjadi saksinya agar penyelesaian urusan pribadi itu dilakukan dengan seadil-adilnya, tidak ada
pengeroyokan, tidak ada kecurangan!”
“Ha-ha-ha-ha! Bagus sekali! Sang Puteri benar-benar telah bersikap adil. Nah, orang-orang Siauw-lim-pai!
Kalau memang kalian mempunyai dendam terhadap diriku, mari kita bereskan sekarang juga!” Kang-thouw-kwi
Gak Liat sudah meloncat ke depan dan dengan sikap menantang memandang kepada Ceng To Hwesio.
Ceng To Hwesio menggerakkan lengan bajunya yang lebar. “Omitohud! Kang-thouw-kwi Gak Liat yang
terkenal sebagai seorang datuk kaum sesat, tentu tidak akan bersikap pengecut dan berani mempertanggung
jawabkan kedosaannya! Apakah engkau sudah merasa akan dosamu terhadap Siauw-lim-pai?”
“Ha-ha-ha! Dosa? Dosa itu apakah? Kau maksudkan murid wanita, seorang di antara Kang-lam Sam-eng itu?
Ha-ha-ha! Itu kau anggap dosa?”
“Gak Liat, manusia berwatak binatang! Siaplah engkau menghadapi pinceng! Sekarang di depan para orang
gagah kita membuat perhitungan!” Sambil berkata demikian, Ceng To Hwesio melolos sabuknya dan sekali ia
menggerakkan tangan, sabuk kain berwarna kuning itu menjadi kaku seperti baja! Hal ini membuktikan betapa
kuat sinkang dari hwesio tua ini dan semua tamu memandang dengan hati tegang.
Akan tetapi Gak Liat tertawa bergelak, kemudian suara ketawanya itu tiba-tiba terhenti, matanya melotot
memandang hwesio itu dan terdengar suaranya bernada sombong.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hwesio bosan hidup! Engkau siapakah? Kalau hendak membalas dendam, kenapa tidak Ceng San Hwesio
ketuamu saja yang maju menghadapi aku?”
“Tidak perlu ketua kami! Untuk menghajar seekor anjing perlu apa menggunakan penggebuk besar? Pinceng
Ceng To Hwesio mewakili suheng untuk membalas dendam terhadap kebiadabanmu! Majulah, Kang-thouwkwi!”
“Susiok-couw (Paman Kakek Guru), karena dia berdosa terhadap sumoi, biarkan teecu yang melayaninya!”
Khu Cen Tiam, orang tertua dari Kang-lam Sam-eng menggerakkan cambuk besinya meloncat maju. Orang
yang pendek kecil ini merasa sakit hati sekali terhadap Gak Liat yang telah memperkosa Bhok Khim, sumoinya
yang tersayang sehingga ia lupa diri dan hendak nekat mengadu nyawa. Akan tetapi Ceng To Hwesio
yang maklum bahwa cucu keponakan ini masih jauh untuk dapat melawan datuk kaum sesat itu, langsung
membentaknya dan menyuruhnya minggir. Kemudian Ceng To Hwesio menghadapi Gak Liat sambil
melintangkan sabuknya dan menantang.
“Mari, Kang-thouw-kwi. Kita tua sama tua mengakhiri perhitungan kita di sini!”
“Ha-ha-ha, aku telah siap sejak tadi. Kalau kau memang sudah bosan hidup, maju dan seranglah, Ceng To
Hwesio!”
“Omitohud, ijinkan hamba membasmi manusia iblis ini, bukan karena benci, melainkan untuk menyelamatkan
manusia-manusia lain!” Ceng To Hwesio berkata lirih seperti berdoa, lalu tubuhnya bergerak dan ia sudah
menerjang maju, sabuknya menyambar ke arah muka Gak Liat.
Setan Botak ini tertawa, melangkah mundur dan membiarkan sabuk lewat di depan mukanya, tangan kirinya
sudah diluncurkan ke depan mencengkeram ke arah pusar lawan. Gerakannya cepat dan mengandung tenaga
yang hebat bukan main. Semua penonton termasuk Han Han memandang penuh ketegangan.
Ceng To Hwesio adalah sute dari ketua Siauw-lim-pai. Ilmu kepandaiannya biar pun belum dapat disejajarkan
dengan Ceng San Hwesio, namun sudah cukup tinggi, bahkan lebih tinggi setingkat kalau dibandingkan
dengan seorang di antara Siauw-lim Chit-kiam. Juga hwesio tua ini telah berpuluh tahun hidup bersih sehingga
ia telah berhasil menghimpun tenaga dalam yang kuat di tubuhnya.
Namun, menghadapi Gak Liat yang tingkatnya sebanding dengan ketua Siauw-lim-pai, ia masih kalah jauh.
Betapa pun juga, hwesio yang berkemauan sangat keras untuk menyingkirkan lawan yang dianggapnya amat
jahat seperti iblis ini tidak menjadi jeri. Cengkeraman itu dapat ia elakkan dengan meloncat ke samping dan
dari pinggir ini, sabuknya yang telah ia gerakkan menjadi kaku itu menyodok ke arah perut Setan Botak.
Namun datuk kaum sesat ini tertawa dan sengaja menerima sodokan itu dengan memasang perutnya
menyambut.
“Dukkk! Wuuuttttt!”
“Aihhh...!”
Ceng To Hwesio meloncat tinggi ke belakang dan hampir saja ia celaka. Saat sabuknya yang menjadi kaku
menyodok perut, ia merasa betapa senjatanya itu membalik, bertemu dengan benda yang seperti karet, dan
tangan Gak Liat sudah melancarkan pukulan Hwi-yang Sin-ciang yang mengandung hawa panas melebihi api.
Biar pun hwesio Siauw-lim-pai ini sudah meloncat dan menghindar, pundaknya kena diserempet hawa pukulan
dan terasa panas sekali, bahkan bajunya robek dan kulitnya gosong menghitam!
“Ha-ha-ha-ha! Begitu saja kepandaianmu, Ceng To Hwesio?” Gak Liat tertawa bergelak.
Nirahai mengerutkan keningnya. Dia maklum bahwa hwesio Siauw-lim-pai itu bukanlah lawan Gak Liat yang
lihai. Dia tidak memihak Gak Liat, sebaliknya malah hatinya condong memihak kepada hwesio Siauw-lim-pai
karena dia dapat menduga apa yang telah terjadi atas diri murid wanita Siauw-lim-pai itu. Tetapi dia pun masih
membutuhkan tenaga bantuan seorang lihai seperti Gak Liat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Biarlah, pikirnya, makin banyak permusuhan diselesaikan makin baik agar pemerintah tidak banyak pusing
menghadapi permusuhan-permusuhan pribadi antara tokoh-tokoh kang-ouw ini. Kalau saja hwesio Siauw-limpai
itu tahu diri, pikirnya, dan mengaku kalah, maka permusuhan itu akan dihabiskan dan dia dapat
menggunakan kekuasaan dan pengaruhnya untuk mencegah Gak Liat melakukan pembunuhan.
Ada pun Han Han yang menonton dari tempat sembunyinya, dia tahu benar apa yang menyebabkan
permusuhan itu. Ingin ia membantu Ceng To Hwesio menghadapi Gak Liat, akan tetapi dia tahu bahwa
pertandingan itu dilakukan secara adil dan bahkan kalau dia turun tangan, maka dia hanya akan mengacaukan
maksud baik Puteri Nirahai. Maka ia hanya menonton dan berkali-kali menarik napas panjang, maklum bahwa
hwesio Siauw-lim-pai yang nekat itu hanya akan membunuh diri melawan Gak Liat yang amat lihai pukulan
Hwi-yang Sin-ciang-nya itu.
Ceng To Hwesio benar-benar nekat. Dia sudah menerjang maju lagi. Kini sabuknya ia putar-putar dengan
tangan kanan melakukan totokan-totokan ke arah jalan darah dan bagian tubuh yang berbahaya, sedangkan
tangan kirinya menggunakan Eng-jiauw-kang (Cengkeraman Kuku Garuda) untuk menyerang. Betapa pun
kebal tubuh lawan, kalau terkena cengkeramannya ini agaknya akan celaka!
Gak Liat yang amat lihai dan banyak pengalamannya itu pun maklum bahwa biar pun tingkatnya jauh lebih
tinggi, namun dia pun tidak boleh memandang rendah seorang tokoh Siauw-lim-pai yang terkenal memiliki ilmu
silat yang kuat sekali. Cepat dia menggerakkan kedua tangan menangkis, dan ada kalanya harus mengelak
sambil menanti saat baik. Ketika sabuk itu menyambar ke arah lehernya, secepat kilat ia menangkap sabuk itu,
membiarkan cengkeraman tangan kiri hwesio ke arah leher itu mengenai pundaknya dengan jalan miringkan
tubuh. Pada saat tangan kiri Ceng To Hwesio mencengkeram pundaknya, tangan kanan Gak Liat menghantam
dengan telapak tangan terbuka ke arah dada lawan.
“Brettt... desssss!”
Baju di pundak Gak Liat robek, akan tetapi tubuh Ceng To Hwesio terlempar ke belakang dan terbanting roboh
dalam keadaan tak bernyawa lagi karena seluruh dada dan perutnya berubah menjadi hitam seperti terbakar!
“Manusia iblis...!” Khu Cen Tiam dan Liem Sian, dua orang di antara Kang-lam Sam-eng meloncat maju. Khu
Cen Tiam menyerang dengan cambuk besinya, sedangkan Liem Sian yang tinggi besar sudah menggunakan
sin-pan, yaitu toya kuningan yang amat berat.
“Cring-tranggg...!”
Dua orang murid Siauw-lim-pai ini meloncat mundur karena kaget ketika senjata-senjata mereka ditangkis dan
tangan mereka tergetar. Yang menangkisnya adalah Puteri Nirahai, menggunakan pedang payungnya. Puteri
itu berdiri dengan kereng dan berkata.
“Ji-wi Lo-enghiong harap suka memenuhi janji. Losuhu ini telah kalah dan mati dalam pertandingan adalah
yang lumrah. Lebih baik mati dalam pertandingan yang adil dari pada berlaku curang yang hanya akan
merendahkan nama besar Siauw-lim-pai! Lebih baik ji-wi membawa jenazah Losuhu ini dan tidak perlu
memperbesar permusuhan karena sudah terang bahwa pihak Siauw-lim-pai telah kalah dalam pertandingan
yang syah dan adil.”
Dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu menghela napas, menyimpan senjata mereka lalu mengangkat jenazah
Ceng To Hwesio. Sebelum pergi, Khu Cen Tiam berkata kepada Gak Liat, “Kang-thouw-kwi, urusan di antara
kita masih belum habis. Tunggulah kami melaporkan hal ini kepada ketua kami.”
“Ha-ha-ha-ha, sudah kukatakan tadi, lebih baik ketua Siauw-lim-pai sendiri yang maju, barulah ramai! Aku akan
selalu menanti, ha-ha-ha!”
Akan tetapi, sebelum dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu pergi, tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan
terdengar bentakan nyaring, “Setan Botak, nyawamu sudah berada di tanganku dan engkau masih bicara
sombong!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Dua orang di antara Kang-lam Sam-eng menengok ke arah wanita berpakaian putih yang muncul tiba-tiba itu
dan mereka berbareng berseru keras penuh kekagetan dan keheranan, “Sumoi...!”
Gak Liat memandang dengan mata terbelalak, dan sinar matanya membayangkan rasa ngeri dan cemas. Han
Han segera mengenal wanita itu sebagai wanita yang dahulu menjadi orang ke tiga dari Kang-lam Sam-eng,
yaitu Bhok Khim yang dahulu diperkosa Gak Liat dan kemudian untuk kedua kalinya ia melihat wanita itu
membobol dinding kelenteng Siauw-lim-si, keluar dari kamar penyiksa diri dan membawa seorang anak lakilaki.
Jantung Han Han berdebar keras, perasaannya terguncang penuh ketegangan.
Orang-orang lain yang berada di situ, termasuk Nirahai, terheran-heran dan tidak tahu siapa gerangan wanita
yang wajahnya masih cantik akan tetapi rambutnya riap-riapan pakaiannya kusut dan wajahnya
membayangkan kemarahan dan kelihatan beringas sekali itu.
“Kau... kau... kau murid Siauw-lim-pai itu...!” Gak Liat akhirnya teringat dan di luar kesadarannya ia berteriak.
“Kakek keparat, manusia iblis Gak Liat. Benar, akulah Bhok Khim dan aku datang untuk merenggut nyawamu!”
Setelah berkata demikian, Bhok Khim sudah menyerang dengan hebatnya, menubruk dan kedua tangannya
mencengkeram seperti seekor harimau mengamuk. Namun dari gerakannya itu menyambar hawa yang amat
kuat sehingga Gak Liat sendiri sampai menjadi kaget. Cepat-cepat kakek ini mengelak dengan lompatan ke kiri,
namun dengan kecepatan yang amat luar biasa, Bhok Khim sudah mendorongkan kedua tangannya ke kanan
dan... tubuh Gak Liat terjengkang lalu terguling sampai lima kali. Dia meloncat kaget sekali, akan tetapi merasa
lega bahwa dia tidak terluka sungguh pun harus ia akui bahwa tenaga dorongan wanita ini hebat bukan main!
Melihat pertandingan yang sedang dimulai ini, Puteri Nirahai kini mengerti siapa adanya wanita itu, maka ia
berseru nyaring, “Pertandingan antara dua orang yang mempunyai dendam pribadi, harap yang lain tidak
mencampuri!”
Seruan ini menenangkan suasana dan kini semua orang menonton dua orang yang sudah mulai bertanding
dengan hebatnya. Diam-diam Han Han yang menyaksikan pertandingan itu terkejut dan kagum sekali.
Gerakan Bhok Khim amat aneh dan terutama sekali hawa yang menyambar keluar dari kedua tangannya amat
kuat, anginnya mengeluarkan suara bercuitan seperti pedang yang digerakkan dengan tenaga sinkang kuat.
Tahulah dia bahwa wanita itu di dalam kamar penyiksa diri telah dapat mencuri ilmu yang diajarkan oleh kakek
sakti Kian Ti Hosiang kepada Siauw Lam Hwesio, pelayannya. Ilmu inilah yang agaknya dimaksudkan oleh
Kian Ti Hosiang. Akan tetapi menyaksikan betapa ilmu itu kini amat ganas dan liar, dia dapat menduga bahwa
wanita ini tentu mempelajarinya secara keliru sehingga menyeleweng. Tetapi melihat hebatnya gerakan Bhok
Khim, dapat diduga betapa hebatnya ilmu yang dicuri oleh wanita itu dari balik dinding kamar penyiksa diri.
Berkali-kali Gak Liat roboh terguling akan tetapi karena dia memiliki kekebalan luar biasa, maka pukulan hawa
aneh itu hanya membuat ia roboh bergulingan, sama sekali tidak melukainya. Melihat ini Han Han merasa
sayang sekali dan ia dapat menduga bahwa wanita itu ternyata hanya mewarisi ‘kulit’ dari ilmu itu, masih
kehilangan inti sarinya, karena kalau sudah mengenal ‘isinya’, agaknya ilmu yang hebat itu pasti tidak akan
dapat tertahan oleh Gak Liat.
Agaknya Gak Liat yang jauh lebih matang pengalamannya dalam hal pertandingan ilmu silat juga dapat
mengerti akan hal itu. Tiba-tiba ia tertawa bergelak dan kini ia mengimbangi serangan-serangan Bhok Khim
yang ganas dan liar itu dengan pukulan-pukulan Hwi-yang Sin-ciang sambil menggulingkan diri.
“Celaka...!” Han Han berseru dalam hatinya. Ia memang sudah tahu bahwa serangan Bhok Khim itu tidak akan
ada artinya kalau lawannya bergulingan seperti itu dan kini biar pun memukul sambil menggulingkan diri, Hwiyang
Sin-ciang dari Setan Botak itu tidak berkurang kedahsyatannya!
Benar saja, setelah Gak Liat membalas serangan dengan bergulingan dan memukul secara bertubi-tubi, Bhok
Khim terkejut sekali dan ketika ia agak terlambat mengelak, pinggangnya kena serempet pukulan panas itu
dan ia menjerit, roboh terguling dan pakaiannya robek di bagian pinggang!
“Ha-ha-ha!” Gak Liat tertawa bergelak.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi ia menghentikan ketawanya dengan tiba-tiba karena ternyata Bhok Khim sudah meloncat bangun
kembali sambil menubruknya dan mengeluarkan suara melengking nyaring seperti kuntilanak! Gak Liat masih
berusaha membuang diri ke samping sambil memukul dengan telapak tangannya. Akan tetapi Bhok Khim
sudah mendahuluinya, menangkap kedua tangannya, pada pergelangan tangan dan gerakan tubrukannya
yang kuat itu membuat Gak Liat roboh terlentang, ditindih oleh Bhok Khim!
Kedua orang itu bergulingan, bergumul di atas rumput dan karena bergumul dengan kacau, saling membetot
bersitegang melepaskan dan mempertahankan tangan yang dicengkeram, maka tubuh mereka saling tindih
sehingga kelihatan seperti kedua orang laki-laki dan wanita itu sedang bermain asmara dan bersendau-gurau
sambil bergumul. Namun semua yang hadir mengerti bahwa pertandingan itu merupakan pertandingan matimatian,
siapa yang kalah tentu tewas, maka mereka memandang dengan hati penuh ketegangan.
Memang hebat dan menegangkan pertandingan yang kini tidak lagi memakai teori ilmu silat itu. Cengkeraman
jari-jari tangan Bhok Khim pada kedua pergelangan tangan Gak Liat benar-benar kuat, seolah-olah jari-jari
tangannya sudah terbenam ke dalam lengan kakek itu. Biar pun ia sudah mengerahkan seluruh tenaganya,
tetap saja kesepuluh jari tangan Bhok Khim itu tidak dapat terlepas dari tangan Gak Liat, seolah-olah menjadi
sepuluh ekor lintah yang menghisap darahnya!
Gak Liat mulai menjadi gugup dan juga marah bukan main. Kalau dia dikalahkan dengan ilmu silat yang lebih
tinggi, dia tidak akan penasaran. Akan tetapi dikalahkan dengan cara wanita berkelahi, mencengkeram dan
mencakar, benar-benar amat memalukan! Lebih celaka lagi, kini wanita gila itu mulai berusaha untuk menggigit
tenggorokannya! Dalam keadaan seperti itu, Gak Liat menjadi makin malu dan bingung.
Ia kembali meronta dan menendangkan kakinya agar tubuh yang menindihnya itu terlepas, akan tetapi kini
Bhok Khim sudah mengaitkan kedua kakinya yang panjang dan berkulit halus itu ke pinggang Gak Liat dan
tiba-tiba mukanya menunduk ke arah tenggorokan! Dilihat sepintas lalu, seolah-olah wanita cantik yang kini
rambutnya terlepas dan awut-awutan menyembunyikan mukanya itu hendak mencium Gak Liat!
Terdengar lengking yang serak seperti serigala disusul teriakan Gak Liat karena tenggorokannya telah tergigit
oleh Bhok Khim! Hal ini hanya dapat terjadi karena gelora nafsu birahi yang timbul di dalam hati kakek itu.
Pergumulan itu, bau keringat dan rambut Bhok Khim, membangkitkan nafsu birahi di hati Gak Liat sehingga ia
sejenak terpesona dan kehilangan kewaspadaan, maka terlambat ia menyadari bahwa wanita itu bukan
hendak mencium bibirnya seperti yang dikhayalkannya dalam buaian nafsu, melainkan menggigit
tenggorokannya. Rasa nyeri yang hebat membuat Gak Liat marah sekali. Biar pun tangannya masih
dicengkeram, namun ia mengerahkan tenaga memukul sehingga tangan Bhok Khim yang mencengkeram
terbawa dengan keras sekali dan pukulan Hwi-yang Sin-ciang bersarang di dada wanita itu!
Pukulan ini hebat bukan main dan tokoh lain yang tinggi kepandaiannya pun kiranya akan tewas seketika
menerima pukulan maut ini. Akan tetapi di dalam diri Bhok Khim terdapat hawa aneh yang timbul sebagai
akibat dari mempelajari ilmu tinggi yang keliru. Biar pun pukulan itu membuat dadanya seperti remuk akan
tetapi tidak membuat ia tewas dan dalam kenyeriannya ia memperkuat gigitannya sampai gigi-giginya
menembus kulit daging dan mengoyak urat besar!
“Desssss!”
Sekali lagi Gak Liat memukul sekuatnya dan tubuh Bhok Khim terkulai dengan dada berubah hitam dan
hangus, akan tetapi tubuh Gak Liat sendiri berkelojotan dalam sekarat karena urat lehernya putus dan lehernya
koyak-koyak, matanya mendelik dan dari leher itu keluar suara mengerikan seperti seekor babi disembelih,
dibarengi darah yang mengucur seperti pancuran air!
Setelah tubuh Gak Liat yang berkelojotan itu menegang lalu terkulai, barulah semua orang menghela napas
dengan muka pucat saking tegang dan ngerinya menyaksikan pertandingan hebat yang mengakibatkan
matinya Bhok Khim dan Gak Liat. Akan tetapi, benar-benar hebat wanita itu. Terdengar ia mengeluh dan
tubuhnya bergerak perlahan, tangannya lemah menggapai ke arah Khu Cen Tiam dan Liem Sian.
“Suheng... suheng... harap suheng... merawat... anakku...,” terdengar suaranya lemah. Suara yang terdengar
aneh, seperti suara yang datangnya dari lubang kubur. Memang aneh sekali melihat tubuh yang sudah
dunia-kangouw.blogspot.com
menerima dua kali pukulan Hwi-yang Sin-ciang dan yang sudah hangus menghitam itu masih dapat
mengeluarkan suara!
“Kami bukan suheng-mu!” Khu Cen Tiam membentak, jijik dan marah. “Anakmu adalah anak haram, anak iblis,
dan engkau sendiri sudah menjadi iblis betina!”
Memang Khu Cen Tiam dan Liem Sian yang dahulunya amat mencinta Bhok Khim menjadi benci ketika
mendengar betapa dalam kamar penyiksa diri itu sumoi mereka telah menjadi gila dan melahirkan anak. Kini
menyaksikan sepak terjang Bhok Khim, mereka menjadi makin benci karena biar pun Bhok Khim berhasil
membunuh Gak Liat, akan tetapi caranya berkelahi tadi amat memalukan, tidak patut dilakukan seorang murid
Siauw-lim-pai! Karena itu mereka tidak mau mengakui Bhok Khim yang dianggap mencemarkan nama besar
Siauw-lim-pai.
“Kami bukan suheng-mu dan engkau bukan murid Siauw-lim-pai lagi!” Liem Sian ikut membentak.
“Suheng... tolong... anak... ku...” Bhok Khim masih terus mencoba untuk mohon kepada bekas kedua suhengnya
sambil mengerahkan seluruh tenaga terakhir.
“Ibils betina!” Khu Cen Tiam dan Liem Sian menggerakkan senjata mereka hendak membunuh bekas sumoi itu
karena kalau dibiarkan bicara terus, mereka takut kalau ketahuan rahasianya dan akan menjadi bahan
penghinaan dan pencemoohan para tokoh kang-ouw terhadap Siauw-lim-pai.
“Tring-tringgg...!”
Cambuk besi dan toya kuningan itu terlempar diikuti tubuh dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu terlempar sampai
empat meter dan terbanting ke atas tanah. Han Han telah berdiri di situ dengan kening dikerutkan,
memandang marah kepada dua orang itu.
“Pesan seorang yang akan mati adalah pesan keramat, apa lagi kalian adalah bekas suheng-nya. Betapa
kejinya hati kalian!” bentak Han Han tanpa mempedulikan siapa pun dan ia lalu berlutut dekat tubuh Bhok Khim.
“Toanio, biar siauwte yang akan menolong dan merawat puteramu. Di mana dia?”
Bhok Khim membelalakkan matanya, memandang Han Han dan agaknya ia mengenal pemuda ini. “Kau...
kau... dua kali kau menolongku... Ahhhh... terima kasih... anakku... kuserahkan padamu... kasihan dia... dia
tidak berdosa... dia... dia... aaahhhhh... dia berada...”
“Di mana? Di mana puteramu, Toanio...?” Han Han bertanya, mengguncang pundak itu.
Bhok Khim sudah meramkan matanya, bibirnya berbisik lemah dan lirih sekali sehingga terpaksa Han Han
mendekatkan telinganya sambil mengerahkan tenaga saktinya untuk menangkap kata-kata terakhir yang
hampir tidak terdengar itu. Bagaikan hembusan napas yang lemah, suara itu memasuki telinga Han Han
bersama dengan napas terakhir Bhok Khim mengucapkan jawaban yang hanya terdengar oleh telinga Han
Han sendiri. Han Han bangkit berdiri dan melihat betapa Khu Cen Tiam dan Liem Sian sudah mengangkat
jenazah Ceng To Hwesio dan pergi dari tempat itu tanpa mempedulikan mayat Bhok Khim.
Sementara itu, semua orang memandang pemuda buntung itu penuh takjub, terutama mereka yang belum
mengenalnya. Ada pun mereka yang sudah mengenalnya memandang Han Han dengan hati gentar karena
mereka itu sudah melihat atau mendengar akan kesaktian pemuda buntung itu. Terutama sekali Nirahai
memandang Han Han dengan sinar mata tajam, menyembunyikan kekagumannya.
Pemuda itu agaknya telah lama berada di situ akan tetapi tidak seorang pun, juga dia sendiri tidak, yang
mengetahui kehadiran pemuda itu. Padahal di situ terdapat banyak orang sakti. Hal ini saja sudah
membuktikan betapa hebatnya pemuda buntung yang menjadi kakak angkat Lulu yang mengatakan bahwa
hanya Han Han inilah yang patut menjadi jodohnya! Teringat akan ini, tanpa dapat dicegah lagi merahlah
kedua pipi Nirahai. Dara ini merasa jengah sendiri dan untuk menutupi debar jantungnya, ia segera berkata
dengan suara dingin.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Setelah dibebaskan subo, apa keperluanmu datang ke sini?”
Han Han mengangkat muka lalu berbalik dan memandang puteri itu, lalu menjawab tenang, “Engkau telah
menawan adikku Lulu, maka aku datang untuk bertanya ke mana perginya adikku itu.”
Kedua alis yang kecil panjang hitam itu berkerut, lalu terdengar suara Nirahai jengkel, “Apa kau kira aku
menyembunyikan Lulu?”
“Aku tidak mengira atau menyangka apa-apa, hanya aku bertanya ke mana perginya Lulu?” Han Han bertanya,
tetap tenang biar pun semua orang yang berada di situ memperhatikan dia bercakap-cakap dengan puteri itu.
Sinar matanya tajam dan tidak membayangkan sesuatu, sungguh pun kini setelah berdiri dekat dan
memandang wajah gadis itu dengan jelas, ia mendapat kenyataan betapa wajah puteri itu benar-benar amat
cantik seperti bidadari.
“Aku tidak tahu ke mana perginya. Dia melarikan diri dari tempat tahanan ketika murid-murid In-kok-san datang
menyerbu. Dia benar sumoi-ku, akan tetapi dia mengecewakan hatiku, maka aku tidak mau tahu lagi ke mana
dia pergi.”
Ucapan ini melemaskan hati Han Han, karena dia percaya bahwa puteri itu memang benar tidak tahu. Akan
tetapi ucapan yang mengandung penyesalan itu pun menyinggung hati Ma-bin Lo-mo karena murid-murid Inkok-
san adalah murid-muridnya! Maka ia lalu berseru marah.
“Murid-murid In-kok-san adalah murid-muridku yang murtad! Manusia-manusia tidak kenal budi, lupa betapa
semenjak kecil dengan susah payah aku mengajar mereka. Terkutuk, akan kubunuh mereka seorang demi
seorang!”
Tidak ada yang berani mencampuri urusan Ma-bin Lo-mo dengan murid-muridnya, akan tetapi Han Han
menjadi panas hatinya. Ia tahu betapa murid-murid In-kok-san itu masih memiliki kegagahan dan sifat-sifat
yang jauh lebih baik dari pada watak Iblis Muka Kuda ini, maka ia menengok kepada Ma-bin Lo-mo dan
berkata.
“Ma-bin Lo-mo, ucapanmu ini sebenarnya tak perlu kau keluarkan di depan para orang gagah! Engkaulah yang
terkutuk dan murtad, setelah apa yang kau lakukan terhadap orang tua dan keluarga para murid In-kok-san!”
Seketika wajah Ma-bin Lo-mo menjadi pucat. Sedikit pun ia tidak pernah mengira bahwa pemuda buntung
yang amat lihai itu telah mengetahui rahasianya. Ia hanya memaadang dengan mata melotot tanpa dapat
menjawab. Han Han juga tidak mempedulikannya lagi lalu berkata, tidak ditujukan kepada siapa pun juga.
“Suara yang mengajak damai adalah suara hati yang murni, akan tetapi manusia sudah terlalu dibungkus
kepalsuan, maka sayanglah kalau suara damai itu menyembunyikan sesuatu yang jauh dari pada
mendatangkan kedamaian di hati sesama manusia.” Setelah berkata demikian, sekali lagi ia mengerling ke
arah Puteri Nirahai lalu tubuhnya berkelebat, sekali mencelat lenyaplah tubuhnya, membuat semua orang
bengong memandang.
“Pemuda Super Sakti!” terdengar orang-orang berbisik kagum.
Nirahai juga kagum sekali. Dia dapat melihat bayangan pemuda itu meloncat-loncat cepat sekali seperti kilat
menyambar dan dalam beberapa loncatan saja sudah amat jauh dari tempat itu. Ia kagum dan juga penasaran,
ingin sekali ia mencoba kepandaian pemuda buntung yang amat terkenal bahkan kini dijuluki pemuda Super
Sakti itu!
Pertemuan itu ditutup dengan janji para tokoh kang-ouw dan wakil-wakil perkumpulan untuk mencuci tangan
tidak mencampuri perang, bahkan berjanji akan menarik semua murid dari Se-cuan. Puteri Nirahai menjadi
lega sekali dan menganggap bahwa tugas dan usahanya berhasil baik sekali. Akan tetapi dalam perjalanan
meninggalkan tempat itu, wajah Han Han tidak pernah lenyap dari depan matanya.
Ia kagum dan juga penasaran. Belum puas hatinya kalau belum dapat berhadapan sebagai lawan dengan
pemuda buntung itu. Akan tetapi, berkali-kali Nirahai mencela hatinya sendiri yang tak pernah dapat
dunia-kangouw.blogspot.com
melupakan Han Han. Dia masih mempunyai banyak kewajiban yang harus diselesaikan, harus cepat pulang ke
kota raja memberi laporan, kemudian ke perbatasan Se-cuan untuk memimpin sendiri pasukan yang
mengepung daerah pemberontak itu.....
********************
Harus diakui kecerdikan Puteri Nirahai dan para pimpinan tinggi Kerajaan Mancu yang selain pandai berperang,
dapat memimpin pasukan-pasukan yang berani mati, tahan uji dan berdisiplin tunduk terhadap pimpinan, juga
pandai pula bersiasat. Siasat yang dilakukannya di puncak Tai-hang-san, mengundang para tokoh kang-ouw
termasuk para pimpinan partai-partai persilatan, mengajak damai dengan mengemukakan pandanganpandangan
dan filsafat-filsafat yang mengesankan, benar-benar telah berhasil baik sekali.
Berbondong-bondong orang-orang kang-ouw yang gagah perkasa dan para murid persilatan besar yang
tadinya dengan mati-matian membantu perjuangan Se-cuan dalam menghadapi barisan Mancu,
mengundurkan diri dan keluar dari Se-cuan memenuhi perintah ketua-ketua dan guru-guru mereka. Sudah
tentu saja hal ini membuat Se-cuan menjadi lemah, sungguh pun Bu Sam Kwi yang berambisi besar itu tetap
mempertahankan kedudukannya dan mengerahkan seluruh pasukan dan penduduk untuk mempertahankan
Se-cuan dari tangan pemerintah Mancu.
Pengunduran para orang gagah dari Se-cuan itu bukan tidak diperhatikan oleh pihak pimpinan pasukan Mancu
yang tak pernah meninggalkan perbatasan. Sebaliknya dari itu malah, mereka ini mempergunakan
kesempatan setelah orang-orang gagah itu keluar, lalu pasukan-pasukan terdepan mengadakan serbuanserbuan
kecil untuk mengacau pertahanan musuh. Yang paling aktif dalam pengecauan-pengacauan di
perbatasan ini adalah Ouwyang-kongcu sendiri, putera Pangeran Ouwyang Cin Kok yang memimpin pasukan
istimewa untuk menyerbu daerah-daerah yang kini tidak lagi diperkuat oleh orang-orang kang-ouw, melakukan
pengrusakan, pembakaran secara kejam, membiarkan pasukannya membunuh, merampok, memperkosa dan
membakari rumah.
Memang hal ini disengaja untuk mengacaukan pertahanan musuh dan di samping itu, Ouwyang Seng
mendapat kesempatan pula untuk melampiaskan nafsu-nafsunya dan memilih wanita-wanita tercantik untuk
dirinya sendiri. Apa lagi pada waktu Puteri Nirahai meninggalkan daerah perbatasan untuk kembali ke kota raja
dan menghadiri pertemuan di Tai-hang-san, Ouwyang Seng seperti seekor kuda tanpa kendali. Kalau ada
puteri itu yang ia harapkan untuk menjadi jodohnya, harapan yang bukan saja terdorong oleh kecantikan dara
itu yang membuat ia tergila-gila, akan tetapi juga sebagai mantu kaisar tentu saja derajatnya menjadi naik dan
ia akan mendapat kedudukan yang tinggi, pemuda bangsawan itu menjadi ‘alim’ dan bersikap seperti seorang
pemuda yang baik.
********************
Han Han yang meninggalkan puncak In-kok-san, melakukan perjalanan cepat sekali ke Se-cuan. Ketika ia
meninggalkan puncak, di tengah jalan di kaki gunung itu ia melihat dua orang murid Siauw-lim-pai, Khu Cen
Tiam dan Liem Sian membakar jenazah Ceng To Hwesio untuk diperabukan dan dibawa abunya ke Siauw-limsi.
Ketika ia mengintai, ia mendengar percakapan antara dua orang tokoh Siauw-lim-pai ini.
Kiranya kedua orang tokoh Siauw-lim-pai ini tidak mau menerima uluran tangan Puteri Nirahai yang mengajak
damai. Mereka berbantahan. Liem Sian mengatakan bahwa mendiang Ceng To Hwesio sudah menerima
perdamaian itu, akan tetapi Khu Cen Tiam membantah, mengatakan bahwa kini hwesio itu telah tewas
sehingga perjanjian itu juga dapat dibatalkan. Akhirnya mereka berdua bersepakat untuk pergi ke Se-cuan dan
membakar hati para saudara mereka yang berjuang di sana untuk lebih memperhebat perlawanan mereka!
Mendengar ini tentu saja hati Han Han menjadi khawatir sekali. Terutama ia ingat akan Lauw Sin Lian, puteri
mendiang Lauw-pangcu yang telah menjadi murid Siauw-lim Chit-kiam sehingga gadis itu pun kini menjadi
tokoh Siauw-lim-pai. Kalau Sin Lian terkena hasutan kedua orang yang mendendam ini, berarti gadis itu akan
terus berjuang melawan pemerintah Mancu. Han Han bukan hanya mengkhawatirkan keselamatan bekas sucinya
itu, akan tetapi terutama sekali ia menjaga jangan sampai tokoh-tokoh Siauw-lim-pai, terutama Sin Lian,
mengingkari atau melanggar janji yang telah diucapkan Ceng To Hwesio, seorang tokoh besar Siauw-lim-pai.
Karena inilah dia bergegas mendahului dua orang Siauw-lim-pai itu menuju ke Se-cuan untuk memberi tahu
kepada Sin Lian akan perjanjian yang diadakan di puncak In-kok-san.
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Han sama sekali tidak tahu bahwa kedatangannya di perbatasan Se-cuan itu telah diketahui oleh
Ouwyang Seng yang sudah mengatur rencana bersama Toat-beng Cui-sian-li dan Ma-bin Lo-mo. Iblis Muka
Kuda ini amat khawatir mendapat kenyataan bahwa Han Han telah mengetahui rahasianya yang busuk
terhadap para muridnya, maka ia hendak mengerahkan segala siasat dan kepandaiannya untuk membunuh
pemuda buntung itu.
Juga Toat-beng Ciu-sian-li yang melihat betapa kini Han Han menjadi seorang yang berilmu tinggi, khawatir
kalau-kalau pemuda itu kelak akan mencelakakannya sebagai balas dendam karena dialah yang
menyebabkan pemuda itu kehilangan sebelah kakinya. Adalah wajar kalau nenek ini pun ingin sekali
membunuh Han Han agar hatinya tidak akan gelisah lagi.
Ouwyang Seng memang membenci Han Han, maka tentu saja dia menjadi gembira untuk bersekutu dengan
dua orang lihai ini dan menjebak Han Han. Hanya ia merasa sayang sekali mendengar akan kematian gurunya,
karena kalau ada bantuan Gak Liat, tentu kedudukan mereka lebih kuat lagi.
Ketika sampai di perbatasan, segera Han Han mendengar dari mulut para pengungsi akan keganasan
pasukan yang dipimpin Ouwyang-kongcu. Mendengar ini Han Han menjadi marah. Semenjak kecil ia sudah
mengenal Ouwyang Seng sebagai seorang yang sombong dan berwatak jahat. Sekarang mendengar akan
sepak terjang putera pangeran yang penuh kekejaman, membakari dusun-dusun dan melakukan hal-hal di luar
peri-kemanusiaan, Han Han tak dapat menahan kesabaran hatinya lagi.
Dia tidak ingin melibatkan diri dengan perang, akan tetapi apa yang dilakukan Ouwyang Seng sama sekali
tidak ada hubungannya dengan perang, melainkan pengumbaran hawa nafsu jahat. Dia takkan peduli jika
Ouwyang Seng dan pasukannya menggempur serta menghancurkan pasukan Se-cuan, itu adalah perang
namanya. Tetapi membakari dusun, membunuhi orang yang tidak melakukan perlawanan, memperkosa wanita
yang lemah, apakah ini dapat dikatakan siasat perang? Tidak, ia harus mencari dan mengenyahkan pemuda
bangsawan yang jahat itu, karena kalau tidak segera dibasmi tentu keganasan dan kejahatannya akan makin
merajalela dan menimbulkan banyak korban manusia yang tidak berdosa.
Pagi-pagi sekali Han Han telah tiba di perkemahan pasukan yang dipimpin Ouwyang Seng di lereng gunung. Ia
langsung memasuki daerah yang dikuasai pasukan ini dan merasa heran melihat keadaan yang sunyi, tidak
nampak penjagaan ketat. Bahkan ada beberapa orang prajurit Mancu yang rebah malang-melintang tidur
mendengkur dalam keadaan mabuk! Pasukan macam begini disohorkan sebagai pasukan yang istimewa?
Diam-diam Han Han memandang rendah, akan tetapi tetap bersikap waspada karena ia telah mengenal
siasat-siasat yang amat berbahaya dari para pasukan Mancu ini.
Berindap-indap ia memasuki daerah itu dan meneliti perkemahan. Di dalam beberapa buah kemah ia
mendengar isak tangis wanita diseling kekeh ketawanya laki-laki mabuk. Tentu para perwira pasukan sedang
melakukan perbuatan biadab terhadap wanita-wanita tawanan, pikirnya. Akan tetapi tujuan Han Han mencari
Ouwyang Seng dan ia menduga bahwa tentu pemuda bangsawan itu berada di dalam kemah yang paling
besar. Akhirnya ia melihat sebuah kemah yang besar berwarna kuning, berada di tengah-tengah perkemahan.
Dengan gerakan amat ringan Han Han bergerak mendekat. Tentu kemah besar itulah yang ditempati Ouwyang
Seng, pikirnya.
Sama sekali Han Han tidak tahu bahwa keadaan yang sunyi itu, adanya penjaga-penjaga mabuk, memang
disengaja oleh Ouwyang Seng, Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li yang berusaha menjebaknya.
Pasukan disingkirkan, memasang barisan pendam mengurung perkemahan, dan kini tiga pasang mata
mengikuti gerak-gerik Han Han dari tempat persembunyian di belakang kemah besar. Keadaan Han Han
seperti seekor harimau yang makin lama makin mendekati jebakan, diintai oleh pemburu-pemburu dengan hati
berdebar tegang.
Sesosok bayangan berkelebat di depan kemah besar. Biar pun cuaca seperti itu masih belum terang benar,
akan tetapi mata Han Han terbelalak lebar ketika ia melihat bayangan itu. Lulu! Tak salah lagi! Bayangan itu
berdiri depan kemah membelakanginya, akan tetapi bentuk tubuh, bentuk tata rambut, dan dagu meruncing
yang tampak sedikit dari samping, cara berpakaian, jelas bahwa gadis itu tentu adiknya! Hatinya berdebar
girang. Akan tetapi hanya sebentar saja ia dapat memandang penuh selidik. karena gadis itu kini telah
dunia-kangouw.blogspot.com
melompat ke dalam kemah melalui pintu kemah yang diterobosnya. Ah, betapa lancangnya Lulu, pikir Han Han
kaget.
Tiba-tiba terdengar jerit melengking dari dalam kemah itu, jerit Lulu yang menggetarkan jantungnya. Cepat
bagai kilat menyambar Han Han sudah meloncat keluar dari tempat persembunyiannya, dan dengan tiga kali
berjungkir-balik di udara tubuhnya langsung menukik ke bawah dan menerobos memasuki perkemahan yang
terkoyak oleh putaran tongkatnya!
Dari atas tubuh Han Han menyambar ke bawah, matanya tajam mencari dan siap untuk langsung menolong
Lulu, akan tetapi di sebelah dalam kemah itu kosong! Ketika kaki tunggalnya turun ke atas lantai, tiba-tiba
lantai itu amblas ke bawah, membuat tubuhnya ikut terjeblos ke bawah dengan cepat sekali! Han Han terkejut,
maklum bahwa dia memasuki perangkap yang memang sengaja diatur dan dipasang lawan. Segera ia
mengerahkan tenaga pada kaki tunggal dan tongkatnya, tubuhnya siap mencelat ke atas. Akan tetapi pada
saat itu sebongkah batu besar sekali telah jatuh menimpa ke dalam lubang jebakan, dengan kekuatan ribuan
kati menimpa ke arah tubuhnya!
“Celaka...!”
Han Han maklum bahwa untuk meloncat ke luar tidak mungkin lagi, maka ia sudah siap dengan kedua
tangannya untuk menerima batu besar yang menimpanya. Pada saat itu ia masih dapat melihat berkelebatnya
dua bayangan di luar lubang, hanya sekilas pandang saja ia mengenal mereka sebagai Lauw Sin Lian dan Tan
Hian Ceng! Bahkan terdengar suara jeritan Sin Lian.
“Han Han...! Awas...!” Akan tetapi bayangan itu segera lenyap tertutup batu yang sudah menimpanya, batu
yang besarnya persis memenuhi lubang di mana ia terjeblos.
Sambil mengerahkan sinkang pada sepasang lengannya, Han Han mengangkat kedua tangan ke atas setelah
menggigit tongkatnya. Dengan telapak tangan menghadap ke atas dia lalu menerima batu yang berat itu,
membiarkan tubuhnya agak merendah lalu mengayun tubuh dan kedua lengan ke atas. Ia harus mengerahkan
seluruh tenaga karena tidak ada ruang lagi untuk mengayun batu itu agar daya luncurnya tersalur kembali ke
atas. Dadanya terasa sesak dan tahulah ia bahwa tak mungkin ia bertahan terus dalam keadaan seperti itu,
menyangga batu yang luar biasa beratnya. Kalau kedua lengannya dan sebuah kakinya tidak kuat, ia akan
terhimpit dan tubuhnya akan hancur tertimpa batu.
Bahaya yang mengancam keselamatannya sendiri tidaklah begitu menyiksa baginya kalau dibandingkan
kekhawatirannya akan keselamatan Lulu, Sin Lian dan Hian Ceng di atas sana. Bukankah tadi terdengar Lulu
menjerit begitu mengerikan? Dan Sin Lian bersama Hian Ceng tentu akan terancam musuh yang keji dan kuat.
Ia harus dapat cepat menyelamatkan diri sendiri terlebih dulu, kalau tidak, tentu tiga orang gadis itu terancam
bahaya hebat.
Mulailah Han Han mencurahkan pikiran kepada diri sendiri. Bagaimana ia dapat membebaskan diri dari
tindihan batu berat itu? Ia berusaha mendorong batu ke pinggir dan merasa betapa dinding sebelah kiri hanya
tanah biasa, namun tentu saja tidak mungkin mendorong batu sebesar itu ke dalam tanah padat! Tenaganya
mulai berkurang dan dadanya terasa makin sesak. Jalan satu-satunya adalah menghindarkan diri tertimpa batu
dan membiarkan batu itu turun ke dasar lubang. Akan tetapi dia harus dapat mencari ruangan untuk tubuhnya
agar tidak terhimpit.
Setelah berpikir dan memperhitungkan masak-masak, Han Han hanya tahu akan sebuah cara yang harus
ditempuhnya. Kalau berhasil, ada harapan selamat, kalau gagal, paling-paling hanya tewas. Akan tetapi kalau
dia tewas, bagaimana dengan Lulu, Sin Lian, dan Hian Ceng? Tidak! Dia tidak boleh tewas dalam saat seperti
itu karena dia dibutuhkan tiga orang gadis yang terancam bahaya.
Han Han mengerahkan seluruh tenaga, mendorong batu dari bawah sehingga batu itu mepet di dinding,
kemudian ia menggeser kedua tangannya yang menyangga itu ke pinggir batu sampai tubuhnya mengenai
dinding. Jauh lebih berat mendorong batu mepet pada dinding dan menahannya agar tidak jatuh dari pada
ketika menyangga tadi. Sampai berbunyi tulang-tulang tubuhnya dan dia hampir tidak kuat lagi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Han memejamkan mata, memanggil semua daya kemauannya, mengumpulkan seluruh tenaga sinkangnya,
kemudian ia menggunakan tubuh belakangnya mendesak dinding sambil tetap mempertahankan batu
agar tidak menimpanya. Tanah dinding itu mulai melesak dan tubuhnya mulai amblas di dinding. Sekali lagi ia
mendorong sekuat tenaga dan kini tubuhnya sudah sama sekali melesak ke dalam tanah dinding dan batu itu
meluncur jatuh ke dasar lubang!
Tubuh pemuda itu telah terhindar dari bahaya terhimpit, akan tetapi ia masih belum bebas dari ancaman maut
karena kini tubuhnya melesak ke dinding tanah dan karena batu itu lebih tinggi dari tubuhnya, dia tertutup dan
tidak ada hawa udara untuk bernapas! Selain ini, juga Han Han muntahkan darah segar akibat pengerahan
tenaga yang berlebihan ketika ia menggunakan tenaga untuk memaksa tubuhnya memasuki dinding tanah tadi.
Pemuda ini cepat menggerakkan tongkatnya menggali ke atas, terpaksa menahan napasnya dan hal ini
membutuhkan pengerah sinkang sehingga dari kedua ujung bibirnya menetes-netes darah segar! Betapa pun
juga, Han Han yang ingin cepat-cepat bebas untuk menolong Lulu, Sin Lian dan Hian Ceng tidak mau
menyerah kalah, terus berusaha menggali tanah di atasnya, dekat batu. Ia menggali sambil menundukkan
muka menahan napas karena kalau ia menengadah, tentu matanya akan terserang tanah yang berguguran
dihujam tongkatnya.....
********************
Mengapa Lauw Sin Lian dan Tan Hian Ceng dapat berada di perkemahan itu? Seperti diketahui, dua orang
dara perkasa ini adalah dua orang pejuang yang gigih menentang pemerintah Mancu semenjak dahulu dan
mereka menggabungkan diri dengan kekuatan penentang penjajah yang berpusat di Se-cuan.
Setelah penyerbuan tentara Mancu berkurang, bahkan hampir terhenti sama sekali, Hian Ceng yang tadinya
berjuang di perbatasan timur dan selatan mengunjungi Cung-king dan bertemu dengan Sin Lian untuk
menanyakan perihal Han Han yang selalu menjadi kenangan. Kedua orang gadis ini bercakap-cakap, saling
menceritakan pengalamannya, akan tetapi tentu saja menyembunyikan perasaan hati masing-masing terhadap
Han Han.
Ketika Hian Ceng bertanya tentang Han Han, dengan hati sedih Sin Lian menceritakan bahwa Han Han telah
mengundurkan diri dan pergi dari Se-cuan untuk mencari adiknya. Hian Ceng juga menyatakan penyesalannya
betapa usahanya mencari Lulu sia-sia, dan diam-diam Hian Ceng memaki-maki Lulu yang dianggapnya
seorang adik yang tak tahu diri dan hanya menyusahkan saja. Akan tetapi karena ia kini tahu bahwa Lulu adik
angkat Sin Lian, tentu saja dia tidak berani mengeluarkan makiannya dengan kata-kata.
Seperti para pejuang suka rela yang lain, yang datang jauh-jauh ke Se-cuan untuk membantu perjuangan
berperang menentang pasukan Mancu, kedua orang perkasa ini pun menjadi kesal hatinya ketika pihak musuh
menghentikan serbuan dan jarang sekali terjadi pertempuran. Mereka menganggur dan kesal, maka seperti
para pejuang lainnya, mereka juga lalu pergi menjelajah seluruh Se-cuan.
Dengan Hian Ceng sebagai petunjuk jalan, hati Sin Lian terhibur melakukan perjalanan di sepanjang
perbatasan Se-cuan dengan propinsi-propinsi lain yang telah dikuasai musuh. Ketika sedang melakukan
perjalanan inilah kedua orang dara perkasa itu mendengar tentang sepak-terjang Ouwyang Seng bersama
pasukan istimewanya. Sin Lian menjadi marah sekali mendengar penuturan para pengungsi yang
menceritakan segala kekejaman Ouwyang Seng dan pasukannya.
“Si bedebah! Semenjak kecil dia memang sudah jahat! Orang macam itu harus dienyahkan dari muka bumi!”
Sin Lian berkata sambil mengepal tinjunya.
“Siapakah panglima musuh kejam yang bernama Ouwyang Seng itu, Enci Lian?” tanya Hian Ceng heran
melihat sikap Sin Lian yang seolah-olah sudah mengenal panglima yang dikabarkan kejam oleh para
pengungsi itu.
“Dia adalah putera Pangeran Ouwyang Cin Kok, murid Setan Botak Gak Liat dan dia...”
Wajah Hian Ceng berubah merah sekali, matanya bersinar-sinar. “Aihhh! Kiranya si keparat laknat itukah? Mari
kita berangkat mencarinya dan aku ingin menyayat-nyayat tubuhnya dengan pedangku, Enci Lian!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kini Sin Lian yang memandang terbelalak. “Mengapa engkau membenci dia pula, Adik Ceng?”
Hian Ceng cemberut dan matanya menyinarkan kemarahan, “Kalau tidak ada Han-twako yang menolongku,
tentu aku sudah menjadi korban kebiadaban Kongcu hidung babi itu!”
“Lho, kau maksudkan hidung belang, bukan?”
“Hidung belang saja masih mending, dia hidung babi dan belang pula!” Hian Ceng bersungut-sungut lalu
menceritakan pengalamannya ketika ia ditawan Ouwyang Seng dan Gu Lai Kwan, betapa ia hampir saja
diperkosa oleh Ouwyang Seng kalau saja tidak muncul Han Han yang menolongnya.
Demikianlah setelah kedua orang gadis itu membicarakan Ouwyang Seng dengan hati penuh kebencian
mereka berdua lalu menyelidiki perkemahan pasukan istimewa yang dipimpin Ouwyang Seng. Pada malam
hari ketika mereka menyelundup ke daerah perkemahan, kebetulan sekali bahwa Ouwyang Seng bersama dua
orang pembantunya yang lihai, yaitu Toat-beng Ciu-sian-li dan Ma-bin Lo-mo, telah mengatur jebakan bagi
Han Han sehingga daerah itu sengaja tidak dijaga ketat.
Dengan kepandaian mereka, dua orang gadis itu berhasil menyelinap masuk dan melakukan pengintaian di
dekat kemah besar yang berwarna kuning. Dari tempat persembunyian mereka, mereka melihat kesibukan
Ouwyang Seng dan dua orang datuk kaum sesat sedang mengatur jebakan di dalam kemah. Melihat Ouwyang
Seng, naik darah Hian Ceng dan gadis ini sudah ingin menyerbu dengan nekat. Akan tetapi Sin Lian
memegang lengannya dan memberi isyarat supaya temannya itu tidak terburu nafsu.
“Toat-beng Ciu-sian-li dan Ma-bin Lo-mo itu lihai sekali,” bisiknya, “Tak mungkin kita dapat mengalahkan
mereka. Kita menanti kesempatan baik...”
Akan tetapi, sampai malam berganti pagi, pemuda bangsawan yang mereka incar itu selalu bersama nenek
dan kakek sakti itu sehingga mereka berdua tidak berani turun tangan. Akan tetapi Sin Lian curiga
menyaksikan gerak-gerik mereka, bahkan menjadi heran melihat munculnya seorang gadis yang gerakgeriknya
gesit akan tetapi yang melihat pakaian dan tata rambutnya mengingatkan ia akan adik angkatnya,
Lulu. Gadis itu jelas bukan Lulu, akan tetapi mengapa gadis itu seolah-olah menjadi saudara kembar Lulu
dengan pakaian, tata rambut, dan gerak-gerik yang serupa benar? Dalam keheranannya, Sin Lian menjadi
makin curiga dan mengambil keputusan untuk menanti dan mengintai terus.
Dia dan Hian Ceng sama sekali tidak tahu bahwa pagi hari itu Han Han telah muncul pula dalam
penyelidikannya, mengintai tak jauh dari semak-semak di mana mereka bersembunyi. Mereka hanya melihat
gadis yang seperti Lulu itu tiba-tiba tampak berkelebat di depan kemah, lalu meloncat ke dalam kemah disusul
suara jeritan nyaring. Peristiwa ini masih membuat mereka berdua terheran-heran, akan tetapi ketika mereka
melihat Han Han meloncat dan berjungkir-balik di udara, kemudian menyerbu ke dalam kemah barulah mereka
terkejut dan Sin Lian yang cerdik lantas dapat menduga bahwa mereka semua itu telah mengatur jebakan
untuk Han Han.
“Han-twako...!” Hian Ceng berbisik ketika ia mengenal tubuh yang meloncat tinggi itu.
“Celaka, dia terjebak. Mari...!”
Sin Lian sudah mendahului Hian Ceng dan kedua orang gadis itu cepat meloncat dan lari ke tenda kuning,
menguakkan pintu tenda. Dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka bahwa kemah itu kosong dan kini
terdapat lubang besar. Han Han berada di dasar lubang dan sebongkah batu besar menimpa turun! Mereka
hanya dapat berteriak tak mampu menolong dan dalam beberapa detik saja batu itu telah menutupi lubang dan
mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan Han Han.
“Ha-ha-ha-ha! Memasang perangkap untuk seekor harimau ganas, yang didapat bukan hanya harimau, akan
tetapi juga dua ekor domba yang berdaging lunak. Ini namanya untung besar, ha-ha-ha!”
Sin Lian dan Hian Ceng mencabut pedang dan meloncat keluar dari dalam kemah itu. Kiranya Ouwyang Seng
yang mengejek mereka telah berdiri di situ bersama Toat-beng Ciu-sian-li dan Ma-bin Lo-mo! Hian Ceng
dunia-kangouw.blogspot.com
adalah seorang gadis yang memiliki keberanian luar biasa. Biar pun ia maklum bahwa kepandaian Ouwyang
Seng amat hebat, namun melihat pemuda bangsawan yang dibencinya ini, dia sudah tidak dapat menahan
sabar lagi dan sambil memaki ia sudah menerjang dengan tusukan pedangnya.
Ouwyang Seng tertawa mengejek. Betapa pun cepat gerakan Hian Ceng, namun dia lebih cepat lagi mengelak
sambil tertawa-tawa mengejek. Hian Ceng menjadi makin marah dan terus menyerang secara bertubi-tubi
yang selalu mengenai tempat kosong, bahkan dia mendesak dan mengejar terus ketika Ouwyang Seng sambil
melompat memancing gadis itu menjauhi kawannya.
Ada pun Sin Lian yang tahu bahwa kakek dan nenek yang berdiri tenang itu jauh lebih berbahaya dan lihai,
membiarkan Hian Ceng menyerang Ouwyang Seng, sedangkan dia tanpa banyak cakap lagi lalu
menggerakkan pedangnya dan mainkan Ilmu Pedang Chit-seng-sin-kiam yang hebat menyerang Ma-bin Lomo.
Kakek ini mendengus dan tentu saja dia dapat menghindarkan serangan Sin Lian hanya dengan
mengibaskan ujung lengan bajunya yang mengandung tenaga sinkang amat kuat membuat pedang yang
menyerang itu menyeleweng. Namun Sin Lian tidak menjadi gentar dan terus melanjutkan penyerangannya
dengan gerakan cepat sekali, mainkan jurus-jurus dari Chit-seng-sin-kiam sehingga pedangnya berubah
menjadi gulungan sinar terang dan mengeluarkan bunyi berdesing-desing.
“Hemmm, kiam-sut (ilmu pedang) yang bagus!” Ma-bin Lo-mo memuji sambil mengelak. Dia tidak ingin cepatcepat
merobohkan gadis ini karena dia tertarik oleh ilmu pedang itu, hendak menyaksikannya lebih dulu.
“Hi-hik, ilmu pedang yang dasarnya adalah Ilmu Silat Siauw-lim-pai. Tentu inilah Ilmu Pedang Chit-seng-sinkiam
yang terkenal itu, ciptaan Siauw-lim Chit-kiam! Si Setan Botak Gak Liat pernah memuji-muji ilmu pedang
ini kepadaku!” kata Toat-beng Ciu-sian-li sambil minum arak dari gucinya, matanya menyipit memperhatikan
gerakan ilmu pedang yang dimainkan Sin Lian.
Sin Lian menjadi terkejut sekali, akan tetapi ia hanya dapat memperhebat serangannya secara nekat.
Kecemasannya memuncak ketika ia mendengar Hian Ceng mengeluh dan dengan kerling matanya ia melihat
Hian Ceng sudah ditawan oleh Ouwyang Seng, dipegang kedua pergelangan tangannya dan dipanggul oleh
Ouwyang Seng yang membawanya memasuki sebuah kemah sambil tertawa-tawa.
Kedua kaki Hian Ceng menendang-nendang dan mulutnya memaki-maki, akan tetapi ia tidak dapat terlepas.
Kemarahan membuat Sin Lian makin nekat dan penyerangannya makin hebat. Akan tetapi makin hebat dia
menyerang, hal ini agaknya membuat Ma-bin Lo-mo yang selalu mengelak atau menangkis dan nenek yang
menonton sambil minum arak itu makin gembira!
Betapa pun Hian Ceng meronta-ronta dan memaki-maki, dia tidak berdaya menghadapi Ouwyang Seng yang
tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi dari padanya. Akhirnya dara yang biasanya riang gembira ini tertotok
dan hanya dapat mengeluh dan menangisi nasibnya yang malang. Di dalam tenda itu terjadilah perkosaan
yang keji, perbuatan kejam dan ganas yang hanya akan dapat dilakukan oleh seorang manusia yang sudah
menjadi buta oleh nafsu dan sudah bukan manusia lagi, melainkan iblis sendiri yang menguasainya!
“Ha-ha-ha-ha, dahulu engkau terlepas dari tanganku, sekarang akhirnya engkau menyerah dan menjadi
milikku. Siapa yang akan menolongmu, manis?” Ouwyang Seng manusia biadab itu mengejek sambil tertawa
memandang korbannya yang terengah-engah seperti hendak pecah dadanya, air matanya bercucuran dan
keadaannya amat mengenaskan.
“Ha-ha, aku takkan membunuhmu, manis. Sayang kalau dibunuh, aku belum bosan padamu. Nanti kutemani
lagi, aku hendak melihat temanmu itu dan...”
“Ouwyang Seng manusia binatang!” Tiba-tiba Ouwyang Seng terbelalak kaget ketika tiba-tiba muncul Han Han
di depannya! Bagaimanakah pemuda buntung yang sudah terjebak dan terhimpit batu besar itu tiba-tiba bisa
muncul di depannya? Setannyakah ini?
Tentu saja bukan! Yang muncul itu adalah Han Han. Setelah dengan susah payah menggali dinding tanah di
atasnya, akhirnya Han Han berhasil membuka lubang di sebelah atas batu yang menutup setengah lubang
sumur itu dan ia cepat meloncat ke atas. Terlalu lama ia tertutup tadi dan ia sungguh cemas akan nasib Lulu,
Sin Lian dan Hian Ceng. Ia mengharap mudah-mudahan tidak terlambat, maka cepat ia meloncat keluar dari
dunia-kangouw.blogspot.com
kemah palsu itu, tidak mempedulikan rasa sesak dan sakit di dalam dadanya. Ketika ia tiba di luar kemah, ia
melihat Sin Lian menyerang Ma-bin Lo-mo dengan pedangnya. Kakek itu seperti seekor kucing
mempermainkan tikus, tidak membalas, hanya menangkis dan mengelak sambil berulang-ulang memuji
keindahan ilmu pedang yang dimainkan Sin Lian.
Ada pun Sin Lian yang melihat munculnya Han Han, cepat menjerit, “Han Han! Cepat kau tolong Hian Ceng di
kemah itu!”
Han Han melihat keadaan Sin Lian memang belum terancam, maka ia berkelebat cepat ke arah kemah dan
mendengar suara ketawa Ouwyang Seng. Begitu ia menerobos memasuki tenda dan melihat keadaan Hian
Ceng, hatinya seperti diremas rasanya. Dia telah terlambat!
Sekali saja melirik Hian Ceng, maka kemarahannya membuat wajah Han Han menjadi beringas, sepasang
matanya terbelalak seperti mengeluarkan api ketika ia menatap wajah Ouwyang Seng. Apa lagi darah yang
tadi keluar dari ujung-ujung bibirnya masih belum dibersihkan, rambutnya masih kotor dengan tanah dan riapriapan,
wajah Han Han pada saat itu seperti wajah maut sendiri!
Ouwyang Seng gemetar. Wajahnya pucat dan ia terbelalak, meraba gagang pedang dengan tangan kanan
sedangkan tangan kirinya masih berusaha mengancingkan bajunya yang baru saja ia pakai kembali.
“Ouwyang Seng... kau bukan manusia... kau... iblis... tidak berhak hidup lagi setelah apa yang kau lakukan
terhadap Hian Ceng...!” Han Han bicara dengan bisik-bisik parau, akan tetapi bagi telinga Ouwyang Seng
terdengar makin menyeramkan dan lebih menakutkan dari pada kalau pemuda buntung itu berteriak-teriak.
Namun pemuda bangsawan ini teringat bahwa di luar terdapat dua orang pembantunya yang sakti, maka
hatinya menjadi besar dan ia berseru, “Ji-wi Locianpwe lekas ke sini! Si Buntung di sini!” Akan tetapi ia cepat
mengelebatkan pedangnya ketika melihat tubuh Han Han bergerak ke depan menerjangnya.
Cepat bukan main gerakan Han Han yang sedang marah ini sehingga Ouwyang Seng secara ngawur saja
menyambut berkelebatnya tubuh Han Han itu dengan sabetan pedangnya. Pemuda bangsawan ini
mengeluarkan jerit kesakitan, pedangnya terlepas jatuh ke atas lantai karena pergelangan tangan kanannya
patah tulangnya ketika bertemu dengan tongkat, kemudian ia terbanting roboh kena disambar tamparan
telapak tangan kiri Han Han yang amat kuat. Pemuda itu mengerang kesakitan, berusaha bangkit akan tetapi
roboh lagi karena tamparan itu membuat dua buah tulang iganya remuk!
Menyaksikan keadaan tubuh Hian Ceng yang masih telanjang bulat, sambil menahan sedu-sedan yang naik ke
lehernya dari dalam dada Han Han cepat menggunakan jari tangan kanannya membebaskan totokan Hian
Ceng. Gadis itu menjerit dan menangis sedih, meloncat bangun, terhuyung dan menyambar pedang Ouwyang
Seng yang terlepas tadi. Han Han hanya dapat memandang dengan hati hancur, kemudian malah
menundukkan mukanya, tidak kuat lebih lagi memandang tubuh yang masih telanjang bulat itu.
Hian Ceng mengeluarkan pekik mengerikan, pedang di tangannya berkelebat dan putuslah leher Ouwyang
Seng disambar pedangnya sendiri. Gadis itu masih terus membacoki mayat Ouwyang Seng sampai menjadi
puluhan potong, darah berhamburan memenuhi ruangan dan lantai, kemudian Hian Ceng menggerakkan
tangan yang memegang pedang ke arah lehernya sendiri!
Seperti digerakkan sesuatu yang aneh, Han Han mengangkat muka memandang dan wajahnya menjadi pucat,
mulutnya berseru, “Ceng-moi...!”
Ia menubruk maju, namun kembali untuk kedua kalinya ia terlambat. Pedang itu telah menyambar leher
sampai hampir putus! Han Han terisak merangkul Hian Ceng, lalu berlutut menyangga punggung dan leher
yang terluka hebat. Hian Ceng membuka matanya yang masih berlinangan air mata, akan tetapi bibirnya
tersenyum! Han Han merasa seperti jantungnya ditarik-tarik. Sakit sekali rasanya menyaksikan betapa sinar
mata gadis itu sama benar dengan sinar mata mendiang Soan Li ketika berangkat mati dalam pelukannya.
“Ceng-moi... Ceng moi...!” Han Han berbisik dan mendekap tubuh itu, tidak peduli betapa darah gadis itu yang
mengucur keluar dari leher membasahi seluruh bajunya. Air matanya sendiri menetes-netes ke muka Hian
dunia-kangouw.blogspot.com
Ceng yang kini memperlebar senyumnya dan makin memucat wajahnya. Beberapa detik kemudian Hian Ceng
tewas dalam pelukan Han Han dengan mulut masih setengah terbuka, tersenyum!
Kekejangan terakhir yang disusul kelemasan tubuh yang dipeluknya membuat Han Han merintih, lalu perlahanlahan
ia merebahkan tubuh Hian Ceng ke atas lantai, menarik selimut yang berada di atas pembaringan,
menutup jenazah itu dengan selimut, kemudian ia terisak dan meloncat ke luar karena teringat akan
keselamatan Sin Lian yang menghadapi lawan tangguh.
“Sin Lian...!” Lengking ini hebat sekali keluar dari mulut Han Han ketika tubuhnya mencelat jauh ke depan, ke
arah pertandingan itu. Lengking yang keluar mengandung kemarahan memuncak, kecemasan mendalam dan
kedukaan yang mengguncang seluruh perasaan hati Han Han.
Dapat dibayangkan betapa marah dan kaget hatinya ketika ia melihat Ma-bin Lo-mo berhasil melibat ujung
pedang Sin Lian dengan ujung lengan bajunya, dan dengan pengerahan Swat-im Sin-ciang yang amat kuat,
Iblis Muka Kuda ini dengan tiba-tiba membalikkan pedang itu dengan kuatnya sehingga pedang di tangan Sin
Lian itu membalik dan menusuk dada dara itu sampai tembus! Sin Lian terhuyung-huyung dan matanya
terbelalak memandang gagang pedangnya sendiri di depan dada.
Han Han yang mencelat dengan kecepatan seperti sinar menyambar itu telah menukik ke arah Ma-bin Lo-mo
dan menggerakkan tongkatnya menusuk dada kakek itu, sedang tangannya ia pukulkan ke arah kepala Toatbeng
Ciu-sian-li!
“Prakkk! Desssss...!”
Tongkat di tangan Han Han patah-patah bertemu dengan golok melengkung di tangan Ma-bin Lo-mo, tangan
kanannya terbentur dengan lengan Toat-beng Ciu-sian-li yang menangkis pukulannya tadi. Kakek dan nenek
itu mengeluarkan seruan kaget dan muka mereka menjadi pucat ketika tubuh mereka terlempar ke belakang
dan terbanting ke tanah, akan tetapi mereka bergulingan dan sudah meloncat bangun kembali. Han Han yang
sudah terluka sebelah dalamnya ketika ia menghabiskan tenaga mengangkat batu, kini menggunakan
serangan dahsyat yang bertemu dengan sinkang kedua lawannya yang kuat pula, maka tongkatnya patahpatah
dan biar pun ia tidak terlempar, namun ujung mulutnya kembali mengucurkan darah segar. Han Han
tidak mempedulikan dirinya sendiri dan berloncatan ke dekat Sin Lian. Gadis itu masih berdiri, tubuhnya
bergoyang-goyang dan kini ia mengeluh.
“Han Han... ohhhhh, Han Han...”
Gadis itu juga mengucurkan darah dari mulutnya dan tubuhnya tentu roboh kalau Han Han tidak cepat
menyambarnya, memeluk dan memondongnya lalu dibawa berloncatan ke bawah pohon. Dengan
menyandarkan punggung di pohon dan memondong tubuh Sin Lian, Han Han menangis.
“Sin Lian... aduh Sin Lian... kau... kau ampunkan aku, Sin Lian...! Aku... aku terlambat menyelamatkanmu...”
Akan tetapi Sin Lian tersenyum sehingga tampak aneh sekali. Dalam keadaan seperti itu, dengan wajah yang
makin pucat sehingga darah yang mengalir ke pipinya kelihatan amat merah, pedangnya menancap di ulu hati,
gadis ini masih dapat tersenyum! Perlahan-lahan lengan kiri Sin Lian yang tergantung itu diangkat dengan
lemah, kemudian jari-jari tangan gadis itu mengusap air mata Han Han, mengusap darah di pinggir mulut,
membelai rambut yang riap-riapan itu dan dibereskannya ke belakang, mulutnya berbisik-bisik.
“Han Han... ohhhh, Han Han... aku rela... aku senang mati... dalam pelukanmu...! Han Han... kau... kau
menangisi aku...?”
Han Han merasa jantungnya seperti diremas-remas. Baru saja menghadapi kematian Hian Ceng yang masih
melukai hatinya, kini ia memeluk tubuh Sin Lian yang sedang menghadapi kematian pula! Kepalanya menjadi
pening, air matanya menetes-netes dan melihat betapa sepasang mata itu memandangnya penuh harap, naik
sedu-sedan di kerongkongannya dan tak kuasa ia mengeluarkan suara, maka ia hanya mengangguk-angguk
dan terisak membenamkan mukanya di leher yang berkulit putih halus itu. Ia merasa betapa leher itu
berdenyut-denyut dan merasa betapa jari-jari tangan halus itu membelai rambutnya, dengan mesra mendorong
mukanya sehingga terpaksa ia mengangkat muka memandang wajah yang makin melayu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Han... Han... aku... cinta padamu..., aku rela mati... kau tolong Hian Ceng... dia... gadis baik yang mencintamu
pula... selamat tinggal...” Kepala Sin Lian terkulai ke belakang.
“Sin Lian... aduhhh, Sin Lian...!”
Han Han tidak kuasa menahan kesedihannya yang datang bertumpuk-tumpuk, pukulan batin yang datang
bertubi-tubi dan ia menangis, mengguguk, dan kalau tidak bersandar pada batang pohon, tentu ia sudah roboh
karena seluruh tubuhnya menggigil.
Melihat keadaan pemuda yang menangis dan agaknya tidak ingat apa-apa lagi itu, Ma-bin Lo-mo dan Toatbeng
Ciu-sian-li melihat kesempatan baik. Mereka memang merasa jeri menghadapi pemuda buntung yang
amat sakti itu, akan tetapi kini mereka melihat kesempatan untuk menerjangnya.
Akan tetapi tiba-tiba Toat-beng Ciu-sian-li berbisik pelan, “Celaka... bocah pengacau itu datang...!” Telunjuknya
menuding dan Ma-bin Lo-mo yang memegang golok menoleh.
“Kak Han Han...!”
Lulu datang berlari seperti terbang cepatnya. Dari jauh ia sudah melihat keadaan Han Han yang memondong
mayat seorang gadis yang belum ia kenal siapa.
“Han-twako...!”
Ia menjerit lagi melihat Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li mempercepat larinya, bahkan kini berloncatan
jauh sehingga tiba di depan Han Han.
Han Han tersentak kaget. Seperti baru bangun dari mimpi ia teringat dan sedetik hatinya lega dan girang
mendapat kenyataan bahwa adiknya selamat, akan tetapi segera timbul kemarahan dan penyesalannya. Ia
memandang Lulu melalui air matanya, mukanya pucat seperti mayat.
Kini Lulu membelalakkan mata memandang mayat gadis yang masih dipondong kakaknya itu, lalu menjerit,
“Enci Lian...! Dia kenapa...?” Ia merenggut tubuh itu dari kedua lengan Han Han, diletakkannya di atas tanah,
diguncang-guncangnya pundak Sin Lian.
“Enci Lian...! Ooohhhh, dia... dia... kenapa...? Mati...! Enci Lian mati...!” Lulu memeluk mayat itu dan menangis
tersedu-sedu. Kemudian ia mengangkat muka memandang Han Han yang masih berdiri bersandar pada
batang pohon, melihat muka yang pucat dan basah air mata itu, melihat pakaian di bagian dada dan perut
penuh darah, melihat darah di ujung mulut, segera ia meloncat bangun memeluk kakaknya.
“Han-koko...! Kau... kau kenapa...? Apa kau terluka...?” Hatinya penuh kekhawatiran, suaranya menggetar.
“Ah, Lulu anak nakal...!” Han Han merangkul adiknya. “Ke mana saja engkau pergi? Sungguh mendatangkan
banyak kedukaan di hatiku. Lulu, aku girang melihat engkau selamat dan sehat. Sekarang pergilah, adikku.
Pergilah tinggalkan aku, jangan dekat-dekat di sini, berbahaya sekali. Pergilah mencari Sin Kiat, dia seorang
yang baik sekali dan amat cinta kepadamu. Pergilah tinggalkan aku bersama mayat Sin Lian...!”
“Koko! Apa kau bilang? Aku tidak mau meninggalkan engkau lagi! Engkau sendiri mau apa?”
“Aku akan mengadu nyawa dengan dua iblis itu!”
“Tapi engkau terluka! Jangan khawatir, ada Lulu di sini. Tidak ada seorang pun iblis yang akan berani
mengganggumu!”
“Lulu, adikku sayang, satu-satunya orang yang kukasihi di dunia ini...! Adikku, pergilah, aku rela mati asal
engkau selamat dan bahagia. Sin Lian... dia... dia... demi cintanya kepadaku... dia sudah berkorban untuk
kakakmu ini... dia berkorban nyawa dalam usahanya menolongku. Tidak bolehkah kalau aku menemaninya
mati untuk membalas budinya?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tidak!” Dan tiba-tiba Lulu membalikkan tubuh menghadapi Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li lalu
menundingkan telunjuknya. “Hemmm, kalian dua orang tua bangka yang melukai kakakku dan membunuh
enciku, ya? Aku tidak akan mengampunimu!”
“Lulu, jangan...! Jangan mencampuri urusan ini!” Han Han yang mengkhawatirkan keselamatan Lulu, cepat
menubruk dan menyambar lengan adiknya, ditarik ke belakang. “Akulah lawan mereka...!”
Han Han hendak menyerbu, akan tetapi begitu ia mengerahkan sinkang untuk meloncat, ia mengeluh dan
tubuhnya roboh terguling, pingsan di samping mayat Sin Lian.
“Koko...! Han-koko...! Jangan engkau mati... janganlah tinggalkan aku, Kak Han Han...!” Lulu menjadi bingung
dan menangis sambil memeluki dada Han Han, mengguncang-guncang pundaknya, tidak peduli lagi akan
keadaan sekitarnya. Akan tetapi Han Han tidak bergerak, mukanya pucat seperti mayat.
Baru Lulu sadar saat sebuah tangan halus tetapi kuat memegang dan mengguncangkan pundaknya. Ia
mengangkat mukanya dari dada Han Han, menoleh dan melihat Nirahai telah berdiri di situ dengan wajah
lembut akan tetapi angkuh, sedangkan tempat itu telah dikurung oleh banyak pasukan Mancu.
Lulu meloncat bangun, mencabut pedangnya dan melintangkan pedang di depan dada sambil berkata, “Suci!
Aku bersumpah, disaksikan bumi dan langit bahwa kalau engkau datang hendak mencelakai Han-koko, aku
tidak sudi menjadi sumoi-mu lagi dan aku akan melawanmu sampai mati di depan kakimu!”
Nirahai tersenyum, kagum menyaksikan kesetiaan dan cinta kasih sumoi-nya terhadap Han Han. Dia datang
dan sudah mendengar akan semua yang terjadi di situ. Melihat tubuh Ouwyang Seng yang hancur lebur di
dalam kemah di samping jenazah Hian Ceng yang masih telanjang, ia dapat menduga apa yang terjadi. Dia
mendengar pula betapa Han Han berhasil lolos dari himpitan batu besar yang membuatnya kagum bukan main.
Kini melihat sumoi-nya, ia diam-diam menjadi kagum dan terharu. Ketika melihat sikap Lulu, ia tersenyum
menggeleng kepala dan berkata, “Sumoi, simpanlah pedangmu. Aku tidak akan membunuh kakakmu. Pula,
jikalau engkau melawan aku, apakah kau kira dengan cara itu engkau akan dapat melindungi kakakmu? Sama
dengan membunuh diri.”
“Aku tidak takut mati! Aku bangga mati membela Han-koko, aku bahagia kalau mati bersama kakakku!”
Nirahai memperlebar senyumnya. “Mengapa bicara tentang mati kalau masih hidup? Aku tidak akan
membunuh kalian, akan tetapi karena dia membunuh Ouwyang-kongcu, aku harus menawannya. Engkau
boleh ikut dan merawatnya. Lihat, dia terluka hebat di sebelah dalam tubuhnya, kalau tidak mendapat
perawatanmu, dia bisa mati.”
Mendengar ini, Lulu menyimpan pedangnya dan menubruk Han Han lagi, penuh kekhawatiran.
“Biarlah dia digotong ke dalam dan kau boleh merawatnya, akan tetapi kalian adalah orang-orang tawananku,”
kata Nirahai.
Terpaksa Lulu menyerah. Kalau memang masih ada jalan untuk menghindari kematian, ia tidak ingin nekat
membiarkan kakaknya mati dan dia sendiri melawan sampai mati. Dia sudah mengenal Nirahai dan tahu
sedalam-dalamnya bahwa suci-nya itu pada hakekatnya bukan seorang kejam, malah sebaliknya. Nirahai
adalah seorang dara yang berbudi mulia dan lemah lembut, hanya terlalu ‘matang’ mengurus tugas dan
membantu pemerintah.
Han Han dan Lulu dimasukkan dalam kamar tahanan yang khusus dibuat di daerah perbatasan. Sebuah
kamar yang cukup kuat dan besar, dengan dua pembaringan yang baik dan perlengkapan secukupnya, akan
tetapi kamar itu terbuat dari tembok tebal dengan pintu bertirai besi yang masih dijaga oleh para penjaga di
luar pintu. Lulu dibiarkan merawat Han Han, bahkan Nirahai mengirim obat-obatan yang dimasak sendiri oleh
Lulu di dalam kamar, juga apa saja yang dibutuhkan Lulu dapat diminta melalui penjaga. Namanya saja
mereka menjadi tahanan, akan tetapi mereka diperlakukan sebagai tamu-tamu agung.....
********************
dunia-kangouw.blogspot.com
Sampai sebulan lamanya Han Han berada di dalam kamar tahanan bersama adiknya. Ia telah sehat kembali
dan diam-diam mereka berdua berterima kasih kepada Nirahai, terutama sekali ketika mereka bertanya
tentang kedua jenazah Hian Ceng dan Sin Lian, dijawab bahwa jenazah kedua orang gadis itu telah
dimakamkan sepantasnya oleh Nirahai, bukan disia-siakan seperti mayat-mayat musuh.
“Kini pemerintah tidak lagi memusuhi para orang gagah. Dua orang dara perkasa itu adalah orang-orang
gagah yang patut dihormati. Makam mereka terawat baik dan diberi nisan sehingga akan dapat dicari dan
dikenal semua orang, terutama keluarga mereka,” demikian Nirahai menyampaikan pesan melalui seorang
perwira. Anehnya, semenjak kedua orang kakak beradik itu ditahan, Nirahai tidak pernah menengok.
“Lulu, kini aku sudah sehat kembali. Kita telah mendengar semua pengalaman masing-masing dan menurut
pendapatku, kita berdua telah salah jalan yang biang keladinya ditimbulkan oleh perpisahan kita. Kalau kita
dahulu tidak berpisah, tak mungkin engkau sampai terlibat dalam urusan perang, demikian pula aku. Semenjak
kecil kita sudah sadar bahwa permusuhan tak boleh dibesar-besarkan. Engkau keturunan Mancu, dan aku
seorang pribumi, namun kita telah menjadi kakak beradik. Engkau kehilangan orang tua yang dibunuh para
pejuang, aku kehilangan orang tua yang dibunuh perwira-perwira Mancu, namun kau tidak mendendam
kepada bangsaku dan aku tidak mendendam kepada bangsamu. Mengapa kita sampai terlibat sehingga kita
menjadi bentrok sendiri? Ahhh, adikku sayang, aku telah bersikap terlalu kepadamu, maukah engkau
memaafkan aku, Lulu?”
Lulu menangis lalu berlutut di depan Han Han yang duduk di atas pembaringannya, menangisi kaki yang
buntung. “Ahh, Han-koko, jangan kau bicara begitu. Akulah yang mohon ampun kepadamu, Koko. Aku adikmu
yang nakal, yang selalu tidak menurut kata-katamu, menimbulkan banyak kesengsaraan padamu. Kakimu...
ahhhh, kakimu sampai buntung sebelah... Koko... Aku akan rela kalau boleh mengganti kakimu yang
buntung...!” Lulu memeluki kaki buntung yang tinggal paha saja itu, dan menangis terisak-isak.
Tiba-tiba Han Han tertawa. “Ha-ha-ha, bocah lucu!”
Ia mengangkat tubuh Lulu sehingga gadis itu bangkit berdiri di depan Han Han yang masih duduk dan
memeluk pinggang adiknya dengan kedua lengan, sedangkan kedua lengan Lulu merangkul pundak kakaknya.
Lulu juga tertawa, apa lagi ketika Han Han berkata, “Bocah lucu! Aneh sekali. Andai kata engkau bisa
memberikan kakimu dan dapat dipasang di tubuhku, tentu kaki darimu lebih pendek, kakiku pendek sebelah,
malah buruk sekali, kalau jalan terpincang-pincang... ha-ha-ha!”
Keduanya tertawa akan tetapi Lulu melihat betapa kakaknya itu biar pun mulutnya tertawa, matanya
menitikkan air mata. Tahulah ia bahwa kakaknya itu terharu dan hanya memaksa diri tertawa untuk
menghiburnya, maka ia merangkul leher dan menangis juga. Keduanya lalu bertangisan!
“Han-koko... dadamu berdebar-debar sangat kencang...!” Tiba-tiba Lulu berkata sambil melepaskan
rangkulannya.
Han Han terpaksa tersenyum. Adiknya ini tetap nakal seperti dulu, jujur polos blak-blakan tanpa tedeng alingaling
kalau bicara. Tanpa disadari, ucapan Lulu menikam ulu hatinya dan membuatnya sadar. Ketika
berpelukan tadi, rasa haru yang aneh, rasa bahagia yang luar biasa seolah-olah ia memeluk surga dan
membuat jantungnya berdebar keras. Wajahnya menjadi merah sekali dan cepat ia berkata.
“Lulu adikku yang terkasih, kau tahu betapa kasih sayangku kepadamu. Kebahagiaanku bersembunyi di balik
kebahagiaanmu, adikku. Aku baru akan merasa lega dan senang kalau engkau sudah ada yang melindungi,
ada yang mencintamu sampai selama hidupmu. Karena itu, engkau harus mentaati kehendakku, Lulu. Engkau
akan kubawa pergi mencari Sin Kiat, karena aku hendak menjodohkan engkau dengan dia. Sin Kiat adalah
seorang pemuda yang baik, tampan, gagah perkasa, dan dia amat mencintamu.”
Lulu mengerutkan keningnya dan tidak menjawab sampai lama. Kemudian ia menarik napas panjang,
mengangkat muka yang tadi ditundukkan, memandang wajah kakaknya dan berkata, “Aku sudah tahu bahwa
dia mencintaku Koko, dan aku tahu pula bahwa dia seorang yang amat baik dan gagah perkasa.”
“Ha...! Kalau begitu kiranya diam-diam engkau telah jatuh cinta kepadanya, bukan?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi Lulu tidak tertawa atau tersenyum malu, malah masih cemberut dan alisnya berkerut. Ia
menggeleng kepala dan menghela napas panjang sebelum menjawab lirih, “Aku tidak tahu apakah aku cinta
padanya, Koko. Memang aku suka kepadanya dan kagum, akan tetapi cinta? Ah, aku tidak tahu...! Koko, aku...
aku tidak mau dikawinkan dengan siapa pun juga!”
Han Han melengak kaget, “Eh! Mengapa? Apakah engkau sudah mempunyai pilihan lain? Bocah nakal, kalau
memang engkau mencinta seorang pemuda lain, asal dia itu benar orang baik-baik, kakakmu tidak akan
memutuskan cintamu.”
Lulu menggelengkan kepalanya pula. “Pendeknya aku tidak mau menikah, Koko.”
“Engkau harus mau!”
“Tidak mau!”
Kembali dua saudara angkat ini beradu pandang, sama-sama membelalak lebar penuh kekerasan hati. Han
Han yang lebih dulu menghalau kemarahannya. Ia menarik napas panjang.
“Ah, sungguh aku yang tidak tahu diri. Ada hak apakah aku hendak memaksamu? Aku hanya seorang kakak
angkat. Maafkanlah, Lulu, aku selalu lupa bahwa aku tidak berhak atas dirimu, akan tetapi semua itu kulakukan
di luar kesadaranku, seolah-olah engkau adalah adik kandungku, aku... aku hanya ingin melihat engkau
bahagia... hatiku selalu akan menjadi risau dan sengsara, selalu cemas memikirkan engkau kalau engkau
belum menjadi isteri seorang yang dapat kupercaya penuh.”
Kekerasan Lulu pun luluh dan ia merangkul kakaknya. “Koko bukan..., bukan seperti yang kau sangka, bukan
sekali-kali aku hendak merendahkan permintaanmu dan tidak suka mematuhi perintahmu. Tidak, Koko.
Engkau pun merupakan pengganti orang tuaku, dan aku telah berkali-kali membikin susah hatimu. Koko, aku
ingin sekali dapat menyenangkan hatimu, aku amat kasihan kepadamu dan aku... aku...” Lulu terisak menangis.
Besar sekali rasa hati Han Han ketika ia mengelus-elus rambut panjang hitam dan berbau harum itu. “Lulu,
adikku yang manis, yang cantik jelita...”
Tiba-tiba Lulu melepaskan rangkulannya, menatap tajam dan bertanya, “Han-koko, benarkah engkau
menganggap aku manis dan cantik jelita?”
Han Han tersenyum, memandang wajah adiknya itu. Setelah lama tidak berkumpul, kini melihat wajah itu
begitu dekatnya, makin nyatalah kecantikan adiknya, kecantikan Nirahai, dengan bentuk-bentuk yang sama,
terutama sekali sepasang matanya.
“Engkau cantik manis, adikku. Terutama sekali sepasang matamu, seperti sepasang bintang bercahaya di
angkasa, seperti sepasang mata seekor burung hong, dan... dan... juga mulutmu...” Ia terhenti, merasa
terlanjur dalam pujiannya.
“Aaahhhhh, lanjutkan, Koko, bagaimana dengan mulutku?” Lulu bertanya, cemberut dan timbul kembali sifat
manjanya seperti ketika ia berada di Pulau Es dahulu.
Terpaksa Han Han melanjutkan sambil memandang mulut adiknya, sepasang bibir yang garis pinggirnya jelas
seperti dilukis, yang berkulit tipis merah dan selalu basah, berdaging penuh, kalau tersenyum terbuka sedikit
tampak ujung gigi seperti mutiara berbaris rapi menyembunyikan lidah kecil merah yang selalu bergerak-gerak
dalam goa kemerahan itu. “Mulutmu... hemmm... seperti telaga madu, menjadi sumber kemanisan yang tiada
habisnya.”
Mata yang lebar itu berseri-seri dan Lulu kembali merangkul lalu mencium pipi kakaknya seperti dulu sering
kali dilakukannya ketika mereka berdua masih tinggal di Pulau Es. “Terima kasih, Koko, terima kasih! Engkau
semulia-mulianya manusia bagiku, engkau satu-satunya manusia yang paling kucinta di dunia ini!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Han kembali menggunakan kemauannya untuk menekan debaran aneh pada jantungnya, lalu ia
memegang kedua pundak Lulu, didorongkan dan dipandangnya wajah adiknya. “Lulu adikku, aku hanya
mempunyai satu tujuan, yaitu melihat engkau bahagia. Karena itu, engkau hendak kuajak mencari Sin Kiat.
Kenapa engkau menolak?”
“Koko, kalau aku dijodohkan dengan orang lain, apakah aku harus ikut dengan suamiku?”
“Tentu saja!”
“Dan engkau akan meninggalkan aku?”
“Hemmm... sudah semestinya begitu, adikku.”
“Kalau begitu aku tidak mau! Aku tidak mau!” Lulu menangis lagi.
Han Han memejamkan mata, menguatkan hatinya dan bertanya dengan suara tegas, “Kenapa, Lulu?”
“Karena aku tidak mau berpisah lagi darimu, Koko! Aku selamanya tidak mau berpisah dari sampingmu!”
Tangisnya mengguguk.
Kembali perasaan aneh sekali menikam hati Han Han, perasaan bahagia dan senang luar biasa. Tidak bisa! Ini
gila! Dia harus melawan perasaan ini. Dia ini adikku! Adikku, pikirnya.
Ia memaksa diri tertawa. “Ha-ha, engkau bocah nakal! Masa engkau akan ikut kakakmu ini sampai kita menjadi
kakek dan nenek?”
“Biar! Aku akan senang sekali, Koko. Biarlah aku tidak pernah kawin, aku akan ikut denganmu sampai mati!”
Han Han mengeraskan hatinya, mendorong tubuh Lulu dan memandang tajam wajah yang basah air mata itu.
“Lulu, tidak boleh! Apakah engkau akan membikin hati kakakmu ini sengsara selamanya? Engkau adikku, dan
seorang adik yang baik akan mentaati kakaknya. Adikku Lulu, tidak maukah engkau menyenangkan hati
kakakmu dengan mentaati permintaanku? Engkau akan hidup bahagia bersama Sin Kiat, aku yakin akan hal
ini. Dia seorang yang amat baik. Lulu, sekali lagi kuminta, penuhilah permintaanku ini!”
Sampai lama mereka saling pandang, dan akhirnya, dengan suara berat Lulu berkata lirih, “Han-koko... kalau
hal itu berarti kebahagiaanmu... aku... baiklah, aku menurut.” Dia lalu membenamkan muka di dada Han Han
sambil menangis.
Han Han mendiamkan saja, membiarkan adiknya menangis. Setelah tangis adiknya mereda, ia lalu berkata,
“Marilah kita menemui Nirahai. Kita minta dibebaskan, kalau dia berkemauan baik, tentu permintaan kita akan
dia pehuhi. Kalau tidak, terpaksa aku akan menggunakan kekerasan!”
Tanpa menanti jawaban adiknya, Han Han menggandeng tangan Lulu, diajak meloncat ke pintu yang tertutup
dengan terali besi. Dia sudah mempunyai sebatang tongkat kayu yang diberikan oleh penjaga atas permintaan
Lulu.
“Koko, pintunya kuat sekali dan di luar ada penjaga-penjaga...!”
“Ssstttt, kau ikutlah saja,” kata Han Han yang menggunakan tongkatnya mengetuk-ngetuk pintu dan ketika
para penjaga yang enam orang jumlahnya itu menengok, ia berkata, “Harap kalian suka membuka pintu ini,
kami hendak menghadap Puteri Nirahai!”
“Ah, kami tidak berani! Kami diharuskan menjaga di sini dan tidak membolehkan kalian berdua keluar dari
pintu!” Komandan jaga membantah sedangkan enam orang itu sudah meraba gagang senjata golok mereka
untuk menjaga segala kemungkinan.
Han Han tersenyum. “Kalau begitu, aku akan keluar sendiri!” katanya dan sekali tangan kanannya bergerak,
terdengar suara keras dan pintu kamar itu jebol berikut jeruji-jeruji besinya, terlepas dari tembok!
dunia-kangouw.blogspot.com
Enam orang penjaga itu menerjang maju, akan tetapi Han Han mengelebatkan tongkatnya dan robohlah
mereka dalam keadaan lemas tertotok! Sambil menggandeng tangan adiknya, tenang-tenang saja Han Han
meninggalkan tempat itu, keluar dari rumah tahanan untuk mencari Nirahai.
Para penjaga yang berada di luar menjadi kaget sekali dan mengurung. Han Han dan Lulu berdiri tegak,
kemudian gadis itu berseru, “Apakah kalian sudah bosan hidup hendak menghalangi aku? Aku hendak
mencari Suci Nirahai, kalian mau apa?”
Para prajurit Mancu sudah tahu bahwa gadis ini adalah adik seperguruan Puteri Nirahai, maka mereka tidak
berani turun tangan mengganggu. Apa lagi, di sudut hati mereka, para prajurit yang sudah mendengar akan
kesaktian Han Han yang dijuluki Pendekar Super Sakti, merasa jeri terhadap pemuda berkaki satu itu. Kini
mereka hanya dapat memandang, kemudian mengikuti dari belakang ketika Han Han dan Lulu berjalan
menuju ke sebuah kemah besar yang berwarna merah, kemah yang ditinggali Puteri Nirahai.
Berbeda dengan perkemahan yang dijadikan tempat tinggal para panglima dan perwira yang selalu dijaga
prajurit, di depan kemah merah ini tidak nampak penjaga. Nirahai memang seorang puteri yang tidak mau
bersikap sebagai seorang pembesar tinggi yang gila hormat. Ia tetap sederhana dan dia lebih condong hidup
dan bersikap sebagai seorang kang-ouw yang mengandalkan diri sendiri dan hidup bebas tidak terikat banyak
peraturan yang membosankan.
Di depan kemah merah itu para prajurit bergerombol dan hanya memandang ketika melihat Han Han dan Lulu
dengan tenangnya memasuki kemah. Selain para prajurit ini tidak berani mengganggu Lulu dan jeri terhadap
Han Han, juga mereka telah mendapat peringatan keras dari Puteri Nirahai untuk tidak melakukan
pertempuran selama sang puteri menjalankan siasat perdamaian dengan para pejuang, bahkan tidak boleh
menyerbu ke Se-cuan melewati perbatasan sebelum ada perintah. Sisa pasukan istimewa yang tadinya
dipimpin Ouwyang Seng, oleh sang puteri telah disuruh tangkap semua dan dikirim ke penjara besar untuk
menerima hukuman!
Akan tetapi ketika mereka tiba di depan pintu ruangan dalam, Han Han dan Lulu berhenti karena mendengar
suara lantang dari Nirahai yang terdengar marah.
“Tidak bisa! Biar pun Ouwyang-kongcu telah terbunuh, akan tetapi Pangeran Ouwyang Cin Kok tidak berhak
untuk memerintahkan kepadaku mengirim kepala pembunuhnya! Dia kira siapakah dia itu yang bisa
menjatuhkan perintah seperti itu kepadaku? Di daerah perang, di perbatasan ini, akulah yang berkuasa. Aku
yang mewakili Ayahanda Kaisar dan semua orang tawanan adalah tanggung jawabku dan hanya aku seorang
yang dapat menjatuhkan keputusan hukumannya! Tidak, aku tidak akan dan belum menjatuhkan hukuman
mati kepada Suma Han dan aku tidak akan mengirimkan kepalanya kepada Pangeran Ouwyang Cin Kok
seperti dimintanya! Ji-wi Locianpwe tahu bahwa kita sedang menjalankan politik perdamaian dengan kaum
pejuang, sedangkan Suma Han tidak melakukan pelanggaran apa-apa. Pembunuhan yang dilakukannya
terhadap Ouwyang-kongcu adalah urusan pribadi dan ji-wi cukup maklum apa yang menjadi sebabnya!”
Han Han dan Lulu mendengarkan dengan hati berdebar. Kemudian mereka mendengar suara Ma-bin Lo-mo
penuh desakan dan penyesalan, “Mengapa Paduka menolak permintaan Pangeran Ouwyang Cin Kok?
Bukankah pemuda buntung itu telah menimbulkan banyak kekacauan? Dan apakah Paduka lupa bahwa
dahulu Paduka telah direncanakan untuk menjadi jodoh mendiang Ouwyang-kongcu! Dengan demikian,
Ouwyang-kongcu menjadi tunangan Paduka. Setelah tunangan Paduka terbunuh secara keji, apakah Paduka
tidak merasa terhina dan merasa sakit hati terhadap pemuda buntung itu?”
“Hi-hi-hik, Ma-bin Lo-mo, engkau ini sudah tua namun masih bodoh!” Terdengar suara Toat-beng Ciu-sian-li
diseling suara berkerincingnya rantai gelang penghias kedua telinganya. “Apakah tidak depat menjenguk isi
hati orang muda? Biar pun kakinya buntung sebelah, hati wanita muda yang manakah tidak akan tertarik? Dan
kalau mau bicara tentang hati wanita, dari puteri sampai jembel pun tiada bedanya. Hi-hik!”
Tiba-tiba terdengar suara Nirahai penuh kemarahan, “Ji-wi adalah orang tua yang selalu membawa kotoran
dalam hati dan pikiran ji-wi! Lekas ji-wi pergi dari sini, karena aku dapat melupakan bahwa ji-wi pernah
membantu kami dan kalau aku turun tangan, apakah ji-wi kira aku tidak mampu membunuh kalian?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Puteri Nirahai, akulah musuh dan lawan mereka! Haiii, Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li, aku Suma
Han menantang kalian dan kutunggu di depan kemah, keluarlah kalau kalian berani!” Han Han berseru keras,
menggandeng tangan adiknya dan keluar dari dalam kemah itu. Para prajurit memandang mereka ini dengan
mata terbelalak. Mereka semua tidak tahu harus berbuat apa, maka hanya mengurung tempat itu sambil
menanti perintah Puteri Nirahai.
Tak lama kemudian muncullah Nirahai, Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li dari dalam kemah. Melihat
para prajurit, Nirahai lalu melambaikan tangan dan berkata, suaranya berwibawa, “Semua prajurit mundur,
boleh menonton dalam lingkaran yang lebar, paling dekat sepuluh meter!”
Para prajurit lalu mundur dan karena semua ingin menonton dan mendengar, mereka lalu membentuk
lingkaran mengelilingi tempat itu. Bahkan para prajurit lainnya yang mendengar lalu berdatangan sehingga
tempat itu penuh oleh lingkaran prajurit-prajurit Mancu.
“Siapa yang mengeluarkan kalian?” Puteri Nirahai bertanya dengan kereng sambil memandang Lulu.
“Suci, akulah yang memaksa keluar,” kata Lulu.
“Bukan! Akulah yang menjebol pintu karena para perjaga tidak mau membukanya. Kami hendak bicara
denganmu, Puteri Nirahai. Akan tetapi mendengar suara dua orang tua bangka jahat ini, biarlah kutunda dulu
pembicaraan kita dan sekarang aku menantang Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li untuk bertanding
denganku!”
“Hemmm... di puncak Tai-hang-san sudah kuputuskan bahwa kini kami mengadakan perdamaian dengan
orang-orang kang-ouw. Apakah engkau menjadi wakil pemberontak Bu Sam Kwi dan menantang pembantupembantu
pemerintah?” Nirahai bertanya.
Han Han menjawab tegas. “Sama sekali bukan. Aku dan adikku Lulu sekarang tidak sudi mencampuri perang.
Aku menantang Ma-bin Lo-mo karena urusan pribadi, karena ingin membalaskan dendam puluhan orang anak
murid In-kok-san yang orang tuanya telah dibunuh semua oleh Iblis Muka Kuda ini dan untuk membalaskan
dendam terhadap kematian Lauw Sin Lian! Aku pun menantang Toat-beng Ciu-sian-li, karena berkali-kali dia
hendak membunuhku, bahkan yang terakhir aku tentu telah mati dibunuhnya kalau tidak muncul Kim Cu
sehingga hanya sebelah kakiku yang buntung. Aku tantang mereka berdua sebagai musuh pribadi!”
Di dalam lubuk hatinya, semenjak dua orang iblis tua itu muncul sebagai utusan Pangeran Ouwyang Cin Kok
untuk minta kepala Han Han sebagai hukuman atas kematian Ouwyang Seng, Nirahai sudah mengambil
keputusan untuk mengenyahkan dua orang itu. Dan ketika Han Han datang bersama Lulu, dia pun sudah tahu
maka dia sengaja bicara keras.
Tantangan Han Han terhadap dua orang itu amat menggirangkan hatinya, maka puteri cerdik ini tidak
mengusir para prajurit, bahkan memperkenankan mereka menonton agar mereka mendengar dan menjadi
saksi atas pertandingan yang memang ia harapkan ini. Ia tahu bahwa Han Han telah sembuh dan bahwa
pemuda itu amat sakti, tentu sanggup menandingi mereka berdua. Maka kini dengan aksi mengangkat pundak
ia berkata.
“Pemerintah tidak akan mencampuri urusan dendam pribadi, bahkan selalu akan menjadi saksi. Terserah
tanggapan Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li atas tantangan Suma Han, kami tidak mencampurinya,
hanya ingin melihat pertandingan yang adil dan sah!”
Dua orang datuk kaum sesat itu diam-diam merasa jeri terhadap Han Han, akan tetapi untuk menolak
tantangan, tentu saja mereka merasa malu. Pula, mereka adalah dua orang tokoh besar, masa harus
melarikan diri terhadap tantangan seorang pemuda yang buntung sebelah kakinya? Biar pun kini tiada tokoh
kang-ouw yang menyaksikan, bahkan kedua orang pendeta yang menjadi utusan Pangeran Kiu juga telah
kembali ke Se-cuan, namun ada ratusan orang prajurit Mancu menjadi penonton.
Akan tetapi, Toat-beng Ciu-sian-li masih berusaha untuk menghindarkan pertandingan dan berkata, “Suma
Han, engkau sekarang mengakui sebagai keturunan Suma! Jai-hwa-sian Suma Hoat adalah Kakekmu!
dunia-kangouw.blogspot.com
Lupakah engkau bahwa aku adalah isteri Kakek Buyutmu Suma Kiat? Aku adalah Nenek Buyutmu sendiri!
Hayo berlutut memberi hormat atas kekurang ajaranmu menantangku!”
Akan tetapi Han Han tertawa mengejek. “Tidak kusangkal bahwa aku menyesal sekali, adalah keturunan
keluarga Suma yang jahat seperti keluarga iblis itu! Engkau adalah seorang di antara selir-selir Suma Kiat yang
tentu banyak jumlahnya, entah selir yang syah ataukah selir gelap-gelapan! Akan tetapi aku tidak akan
mengakuimu, bahkan andai kata Kakekku yang berjuluk Jai-hwa-sian itu masih hidup, kalau mengingat akan
kejahatannya, dia akan kutantang pula! Toat-beng Ciu-sian-li, aku ulangi lagi tantanganku kepadamu, bukan
sekali-kali sebagai nenek buyut, melainkan sebagai seorang datuk kaum sesat yang telah menumpuk dosa.
Ataukah kau tidak berani melawan bekas muridmu sendiri yang telah kau buntungi kakinya? Dan engkau, Mabin
Lo-mo, apakah engkau telah berubah menjadi pengecut, lebih pengecut dari pada perbuatanmu
membunuhi keluarga para murid In-kok-san?”
Kemarahan dua orang tokoh tua itu memuncak dan biar pun mereka maklum akan kesaktian Han Han, namun
keduanya juga memiliki kepandaian yang sudah amat tinggi tingkatnya. Toat-beng Ciu-sian-li memekik dan
begitu tangannya bergerak, tiga sinar terang menyambar ke arah dahi, dada dan pusar Han Han. Itulah senjata
gelap gelang yang ia lolos dari rantai gelang di telinganya.
“Lulu, mundur!” Han Han berteriak.
Lulu meloncat ke dekat Nirahai dan Han Han menggerakkan tangannya. Dengan hawa pukulan sinkang yang
kuat sekali ia membuat tiga buah gelang itu menyeleweng dan menghilang ke dalam tanah di depan kakinya!
“Wuuuttt, tring-tring-tranggggg...!”
Toat-beng Ciu-sian-li sudah menerjang maju dan sekaligus kedua anting-anting rantai gelang rambutnya yang
panjang dan kedua tangannya sudah bergerak melakukan penyerangan secara berbareng.
“Singgg... ngiuuukkkkk...!”
Ma-bin Lo-mo juga sudah menerjang maju, golok melengkung di tangan kanan menjadi gulungan sinar, tangan
kirinya memukul dengan pengerahan tenaga Swat-im Sin-ciang!
“Cuat-cuattt...!”
Tubuh Han Han mencelat seperti kilat dan telah lolos dari kepungan serangan yang amat hebat itu. Tubuhnya
bergerak-gerak dengan loncatan aneh sehingga pandang mata Ma-bin Lo-mo dan Ciu-sian-li menjadi kabur.
Mereka harus membelalakkan mata, bergerak cepat dan bersikap waspada.
“Heiiiii! Mengapa main keroyok? Ini tidak adil!” Nirahai berseru. Biar pun ia tidak khawatir melihat
pengeroyokan atas diri Han Han, namun sebagai saksi dan juri, dia harus mencela agar tidak dianggap berat
sebelah.
“Terima kasih, Puteri. Biarlah mereka mengeroyok, memang selama hidupnya orang-orang seperti mereka ini
hanya mengandalkan kemenangan dengan kecurangan!” Han Han mengejek.
Kedua orang itu menjadi makin marah, akan tetapi tentu saja mereka menulikan telinga terhadap ejekanejekan
ini karena maklum bahwa kalau maju seorang demi seorang, tentu mereka akan celaka. Tanpa
menjawab mereka telah mengirim serangan secara bertubi-tubi.
Han Han tetap mainkan ilmu silat Soan-hong-lui-kun yang amat hebat. Tubuhnya lenyap dan hanya tampak
berkelebatnya bayangannya yang saking cepat gerakannya sampai seolah-olah berubah menjadi banyak itu.
Dia hanya mengelak dengan loncatan-loncatan ke sana-sini sehingga tampaknya seperti dua orang anak-anak
yang canggung mengejar dan berusaha untuk memukul seekor lalat yang amat cekatan.
Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee adalah seorang ahli bermain golok melengkung, dan tenaganya Swat-im Sinciang
amat kuatnya, bahkan lebih kuat dari pada tenaga sinkang Setan Botak, lebih kuat pula dari tenaga
sinkang Toat-beng Ciu-sian-li. Akan tetapi nenek itu jauh lebih berbahaya karena biar pun sinkang-nya tidak
dunia-kangouw.blogspot.com
sekuat Ma-bin Lo-mo, namun dalam hal ilmu silat, Toat-beng Ciu-sian-li Bu Ci Goat lebih lihai dan banyak
sekali macam ilmunya.
Nenek ini puluhan tahun lamanya berkecimpung di dunia kaum sesat, mempelajari bermacam ilmu dan
sebagai selir terkasih Suma Kiat, dia menuruni pula ilmu-ilmu aneh dan mengerikan dari suaminya itu. Dia ahli
mempergunakan rambutnya sebagai senjata. Biar rambutnya sudah banyak uban-nya, namun masih panjang
dan rambut yang halus ini berbahaya sekali, dapat melibat senjata lawan, dapat menjerat leher, dan bahkan
dapat pula menjadi keras menegang dan digunakan sebagai alat penotok jalan darah!
Senjata rantai gelang yang tergantung di kedua telinganya juga merupakan senjata yang ampuh sekali, karena
selain sukar diduga gerakannya karena digerakkan bukan dengan tangan melainkan dengan gerakan kepala,
menjadi imbangan yang membingungkan bagi lawan dengan gerakan penyerangan rambut. Ditambah lagi
dengan kuku-kuku jari tangannya yang beracun, telapak tangannya yang mengandung hawa pukulan Toatbeng-
tok-ciang (Tangan Beracun Pencabut Nyawa) yang biar pun tidak sekuat Swat-im Sin-ciang, namun
mengandung hawa beracun yang jahat sekali!
Han Han yang sudah beberapa kali bertanding melawan dua orang ini tahu bahwa dikeroyok dua orang ini
sama dengan dikeroyok sedikitnya sepuluh orang. Yang paling berbahaya baginya adalah si nenek yang
sambil menyerang menyembunyikan anting-antingnya, suaranya berkerincingan mengacaukan perhatian,
bahkan bagi para pendengar yang tidak memiliki sinkang kuat dapat menggetarkan jantungnya.
Baiknya para prajurit menonton dari jarak jauh sehingga getaran suara itu hanya membuat mereka menutupi
telinga karena amat tidak enak didengar, seperti orang mendengar suara kaleng digurat-gurat. Maka, kini
setelah berloncatan ke sana-sini dan gerakan ilmu gerak kilat pada kaki tunggalnya sudah lancar, mulailah ia
membalas dengan serangan tongkat yang ia mainkan dengan gerakan Ilmu Pedang Siang-mo Kiam-sut,
sedangkan tangan kirinya ia pukulkan dengan sinkang yang berubah-ubah, kadang-kadang ia menggunakan
inti tenaga Hwi-yang Sin-ciang, kadang-kadang ia menghadapi pukulan Ma-bin Lo-mo dengan tenaga yang
sama, yaitu Swat-im Sin-ciang, namun jauh lebih kuat!
Kini mulailah Han Han menggunakan ilmunya Soan-hong-lui-kun yang memungkinkan ia berloncatan cepat
menjauhi Toat-beng Ciu-sian-li dan mendesak Ma-bin Lo-mo! Toat-beng Ciu-sian-li maklum bahwa Han Han
hendak merobohkan murid keponakannya dulu, maka ia berteriak-teriak dan mengejar terus. Namun
gerakannya jauh kalah cepat oleh Han Han sehingga bagi para penonton yang tidak dapat mengikuti dengan
pandangan mata biasa, seperti prajurit-prajurit Mancu itu, yang kelihatan hanya berkelebatan tubuh Han Han
dan Ma-bin Lo-mo yang sibuk menangkis dengan goloknya, dan melihat nenek itu berlari-lari memutari tubuh
Ma-bin Lo-mo sambil berteriak-teriak memaki seperti orang gila!
Ma-bin Lo-mo mempertahankan diri sekuatnya. Ketika melihat tongkat menyambar, ia mengerahkan tenaga
mengayun goloknya menangkis, dan tangan kirinya sudah menghantam ke arah bayangan Han Han dengan
Swat-im Sin-ciang. Saat inilah yang dinanti-nantikan oleh Han Han. Tongkatnya ia pukulkan dengan kuat, dan
tangan kanannya menyambut pukulan itu dengan tenaga Im-kang pula yang jauh lebih kuat. Dua senjata
bertemu di udara, tepat pada saat dua telapak tangan mereka bertemu.
“Krakkk! Dessss...!”
Golok patah menjadi tiga dan tubuh Ma-bin Lo-mo menggigil, kemudian ia terhuyung mundur, dari telinga,
mata, hidung dan mulut juga dari lubang-lubang di bawah tubuh, mengucur darah dan akhirnya roboh dengan
napas putus. Tubuhnya berubah membiru dan kaku seperti sebatang kayu karena tubuh itu sudah membeku!
“Bocah setan...!” Toat-beng Ciu-sian-li memaki menutupi rasa gentarnya, semua senjatanya yang ampuh,
rambut, sepasang rantai gelang dan kedua tangannya menyerang kalang-kabut.
Ketika Han Han menggunakan tongkatnya menangkis, sepasang rantai gelang yang panjang dan pendek itu
bergerak seperti dua ekor ular, tahu-tahu telah melibat-libat pada tongkat itu dan mendadak nenek itu
menggerakkan kepalanya. Dua helai rantai gelang itu membetot ke kanan kiri. Han Han terkejut karena benarbenar
amat kuat tarikan dua rantai gelang itu. Dia pun mengerahkan tenaga membetot.
“Krekkk-krekkk-kraaakkkkk!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aihhhhh...!” Nenek itu menjerit.
Tongkat Han Han patah-patah menjadi tiga potong, akan tetapi dua helai rantai gelang itu pun copot dari kedua
telinga Si Nenek, merobek bagian bawah daun telinga di mana rantai itu tergantung! Nyerinya begitu hebat
bagi seorang nenek yang demikian sakti, akan tetapi rasa kaget dan malu membuat ia menjadi marah dan
nekat. Kepalanya bergerak dan rambutnya sudah membelit leher Han Han.
Pemuda ini tak sempat mengelak, rambut itu seperti hidup, tahu-tahu telah membelit dan mencekik leher.
Otomatis kedua tangannya ia gerakkan ke leher untuk melepaskan libatan dan menarik putus rambut itu, akan
tetapi pada saat itu, Toat-beng Ciu-sian-li Bu Ci Goat sudah menggerakkan kedua tangannya yang berkuku
panjang, yang kiri mencengkeram ke arah ulu hati, sedangkan yang kanan mencengkeram ke bawah pusar
Han Han untuk meremas hancur anggota kelaminnya!
“Koko, awas...!” Tak tertahankan lagi Lulu yang menyaksikan gerakan nekat dan curang itu berseru.
Nirahai menonton dengan sepasang mata tak pernah berkedip dan hatinya menjadi tegang, namun ia tetap
waspada untuk mencegah kalau-kalau Lulu yang sudah tak enak berdiri sejak tadi itu turun tangan membantu
kakaknya.
Han Han sekarang bukanlah seperti Han Han dahulu ketika baru keluar dari Pulau Es. Setelah menerima
gemblengan dari Khu Siauw Bwee, dia telah menguasai ilmu silat tinggi dan memiliki kewaspadaan seorang
ahli. Dia tidak akan patut disebut orang sebagai Pendekar Super Sakti kalau dia tidak melihat gerakan kedua
tangan nenek itu. Dari gerakan pundak saja ia sudah mengetahui lebih dulu sebelum kedua tangan nenek itu
menerkam tubuhnya.
Ia membiarkan lehernya tercekik, mengerahkan tenaga untuk melindungi leher sehingga cekikan tidak
menghalangi pernapasannya, berbareng secepat kilat ia menggerakkan kedua tangan menerima kedua tangan
nenek itu sehingga dua pasang telapak tangan bertemu. Nenek itu terus mencengkeram kedua tangan Han
Han sambil mengerahkan tenaga Toat-beng-tok-ciang. Akan tetapi Han Han tidak menolak, malah pemuda ini
pun mengerahkan sinkang, yang kiri mengerahkan inti Swat-im Sin-ciang, yang kanan mengerahkan Hwi-yang
Sin-ciang!
Dua orang itu berdiri tegak, rambut nenek itu mencekik leher, kedua pasang tangan mereka saling cengkeram
dan terjadilah adu tenaga yang amat menegangkan bagi Lulu dan Nirahai. Mereka berdua maklum bahwa Han
Han dan nenek itu mengadu tenaga sakti yang amat berbahaya.
Kini tangan kiri nenek itu yang bertemu tangan kanan Han Han yang mengepulkan asap dan kuku-kukunya
yang panjang hangus, sedangkan tangan kanannya menggigil. Muka nenek itu sebentar pucat sebentar merah,
napasnya terengah-engah dan ia berkata parau.
“Aku Nenek Buyutmu... Nenek Buyutmu...!” dan dari kedua mata nenek itu bercucuran air mata!
Han Han merasa muak, juga kasihan. Air mata hanya dapat dikeluarkan dari hati yang baik! Hanya orang yang
berduka, orang yang menyesali perbuatannya, orang yang kalah dan tertekan batinnya saja yang akan dapat
mengucurkan air mata. Dan tak dapat disangkal lagi, menangis sama dengan berdoa, karena hanya orang
yang menangis saja yang mendekatkan hatinya dengan Tuhan!
“Pergilah!” seru Han Han dan ia mengerahkan semua tenaganya mendorong.
Tubuh nenek itu terlempar dibarengi jeritnya yang menyayat hati. Rambutnya masih melibat leher Han Han
karena dalam saat terakhir itu, nenek ini masih tidak mau melepaskan niatnya membunuh Han Han, maka
masih melakukan perlawanan. Kalau saja dia mengaku kalah dan tidak melakukan perlawanan dengan seluruh
tenaga, agaknya ia akan terlempar saja dan masih selamat. Akan tetapi ia melawan, maka selain rambut
kepalanya coplok dan tertinggal semua di leher Han Han, juga tenaga yang ia kerahkan di kedua tangannya
membalik dan menghantam isi dadanya sendiri. Ia terbanting dengan kepala tak berambut lagi, kedua telinga
robek, dan tubuhnya hangus sebelah. Toat-beng Ciu-sian-li Bu Ci Goat tewas dalam keadaan yang lebih
mengerikan dari pada kematian Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee!
dunia-kangouw.blogspot.com
Lulu berlari menghampiri kakaknya dan memeluk pundak Han Han yang melepaskan libatan rambut dan
membuang rambut itu dengan helaan napas panjang. Kemudian ia melepaskan pelukan Lulu dan menengok
ke kiri. Juga Lulu mendengar suara ribut-ribut di antara para prajurit. Nirahai sendiri pun memandang ke
jurusan itu dan wajahnya berubah, keningnya berkerut.
“Katanya diadakan perdamaian, kenapa hendak menghadap Puteri Nirahai saja kalian ribut-ribut hendak
menggunakan kekerasan?” Terdengar suara lantang di antara hiruk-pikuk suara para prajurit.
“Sin Kiat...!” Han Han berseru girang.
“Biarkan mereka menghadap!” perintah Puteri Nirahai.
Para prajurit mundur dan membuka jalan, membiarkan serombongan orang muda memasuki tempat itu.
Mereka terdiri dari belasan orang muda. Sin Kiat berjalan di depan dan orang-orang muda lainnya adalah
murid-murid In-kok-san, empat orang gadis dan belasan orang pemuda yang kesemuanya bersikap gagah.
Han Han melihat di antara mereka para murid In-kok-san ada yang pernah menyerang Nirahai dalam jolinya.
Melihat Han Han dan Lulu, Sin Kiat berteriak girang dan lari menghampiri. Akan tetapi ketika melihat Puteri
Nirahai berdiri di situ, Sin Kiat lalu menghadap puteri itu dan berkata gagah, “Aku bernama Wan Sin Kiat dan
kawan-kawan ini adalah murid-murid In-kok-san. Kami mendengar keributan yang terjadi di sini, mendengar
bahwa sahabat-sababatku Han Han dan Nona Lulu tertawan, maka kami datang untuk mengajukan protes.
Pemerintah mengumumkan perdamaian akan tetapi mengapa sahabat-sahabatku ditawan?”
Sementara itu, para murid In-kok-san memandang mayat-mayat Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li
dengan mata terbelalak, bahkan empat orang gadis itu menangis, bukan karena duka melainkan karena
terharu melihat betapa musuh besar mereka, Ma-bin Lo-mo bekas guru yang ternyata menjadi pembunuh
keluarga mereka, kini telah menggeletak tak bernyawa.
Puteri Nirahai tersenyum dan memandang dengan sinar mata dingin. “Apa yang terjadi di sini bukanlah urusan
perang, melainkan urusan pribadi. Dan kalian melihat sendiri, kedua orang yang kau maksudkan itu tidak lagi
menjadi tawanan kami. Bahkan kami memberi kebebasan kepada Suma Han untuk bertanding melawan dua
orang musuhnya tanpa campur tangan dari kami!”
Lega hati Sin Kiat mendengar ini dan ia menghampiri Han Han, memegang tangan sahabatnya itu dan
memandang penuh kagum, kemudian menoleh kepada Lulu dengan sinar mata penuh kebahagiaan dapat
bertemu kembali dengan Lulu, penuh kemesraan sehingga wajah Lulu berubah merah sekali.
“Suma Han! Engkau sudah merobohkan dua orang musuhmu, dan kalau Lulu Su-moi mau pergi, silakan.
Kalau engkau hendak pergi, aku pun tidak akan menghalangi, hanya di sini aku menantang engkau untuk
berpibu mengadu kepandaian denganku pada malam nanti, tepat tengah malam, di puncak Gunung Cengger
Ayam di sebelah utara itu. Aku akan menanti di sana dan kalau engkau tidak datang, aku hanya akan
menganggap engkau sebagai seorang laki-laki sombong yang hanya berani melawan orang-orang lemah, juga
seorang pengecut besar!”
“Nirahai...!” Han Han terkejut dan menyebut nama itu tanpa disadarinya.
Akan tetapi, sambil mengebutkan lengan bajunya, Nirahai sudah membalikkan tubuh dan pergi memasuki
kemahnya.
Lulu menarik tangan Han Han dan pergilah orang muda itu dari tempat itu. Dua orang murid In-kok-san
mengangkat jenazah Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li sambil berkata, “Mereka ini orang-orang jahat di
waktu hidup mereka, akan tetapi ini adalah jenazah-jenazah manusia dan mengingat bahwa kami pernah
menerima gemblengan mereka, kami akan memakamkan jenazah mereka sebagaimana mestinya.”
Han Han menjadi terharu dan memandang kagum. Para prajurit tidak ada yang berani menghalangi
rombongan ini keluar dari daerah perbatasan. Setelah murid-murid In-kok-san membawa pergi dua jenazah itu,
hanya tinggal Han Han, Lulu dan Sin Kiat yang duduk di dalam hutan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Han kemudian menceritakan pengalamannya bersama Lulu. Sedangkan Sin Kiat juga menceritakan
betapa dia menari-cari Han Han dan kemudian kebetulan sekali mendengar bahwa Sin Lian dan Hian Ceng
tewas dalam penyerbuan mereka ke perkemahan Ouwyang Seng, mendengar pula berita mengejutkan bahwa
Ouwyang Seng juga terbunuh dan Han Han ditawan bersama Lulu. Maka dengan nekat ia lalu menyusul,
bertemu dengan rombongan murid In-kok-san yang kesemuanya merupakan teman-teman seperjuangan dan
yang ikut pula bersamanya karena pada waktu itu perang telah dihentikan.
Setelah mereka menceritakan perjalanan masing-masing, Han Han lalu bertanya sambil memandang Sin Kiat
dengan sinar mata tajam penuh selidik, “Sin Kiat, engkau adalah sahabatku terbaik, sahabat semenjak kita
kecil. Katakanlah sejujurnya, di depan adikku, apakah engkau setulus hatimu mencinta Lulu?”
Wajah Sin Kiat menjadi merah. Lulu yang kedua pipinya menjadi merah pula menunduk, jari-jari tangan kirinya
mencabuti rumput di dekat kakinya, jantungnya berdebar. Setelah mendengar keputusan Han Han dalam
kamar tahanan, begitu Sin Kiat muncul, ia amat memperhatikan pemuda itu dan memang pemuda ini tak dapat
dicela, gagah perkasa dan tampan, sikapnya pun menyenangkan.
“Han Han, seorang laki-laki sejati tidak akan mempermainkan cinta kasih. Aku telah menyatakan kepada Adik
Lulu tentang cinta kasihku kepadanya. Aku bersumpah, disaksikan bumi dan langit bahwa aku mencinta Adik
Lulu sepenuh hatiku, mencinta dengan jiwa ragaku!”
Lega hati Han Han mendengar ini. “Dan engkau berjanji akan melindunginya seperti engkau melindungi dirimu
sendiri?”
“Lebih dari itu! Kalau aku diberi kehormatan besar itu, aku akan mendahulukan keselamatan dan
kepentingannya. Aku rela berkorban nyawa untuk melindunginya!”
Han Han menoleh kepada Lulu yang makin menunduk, memegang tangan adiknya dan berkata, “Nah, engkau
mendengar sendiri, Lulu. Engkau tidak akan menyesal selama hidupmu. Maka sekarang jawablah terus terang
saja, aku menjadi saksinya. Apakah engkau bersedia kalau dijodohkan dengan Sin Kiat?”
Sepasang mata yang indah dan lebar itu terangkat, memandang Han Han dan dua butir air mata jatuh berderai
di atas kedua pipinya, bibirnya gemetar ketika ia berkata lirih, “Kalau itu yang kau kehendaki...”
“Memang aku menghendaki engkau berjodoh dengan Sin Kiat, adikku. Akan tetapi tentu saja aku tidak akan
memaksamu kalau engkau tidak setuju. Jawablah. Maukah engkau menjadi jodoh Wan Sin Kiat?”
Lulu menunduk dan menganggukkan kepalanya. Gerakan ini membuat dua butir air mata baru jatuh lagi. Sin
Kiat hampir tidak dapat percaya akan mata dan telinganya sendiri. Mau rasanya ia menari-nari saking
girangnya, akan tetapi tentu saja ia merasa malu, hanya jantungnya yang berdebar-debar menari-nari di dalam
rongga dadanya.
“Sin Kiat, engkau telah melihat sendiri. Adikku sudah sepatutnya menjadi ratu rumah tangga. Sekarang harap
engkau suka mengajak Lulu pergi dan mempersiapkan acara pernikahan. Siapakah yang akan menjadi walimu
dan di mana kiranya upacara itu akan dilaksanakan?”
“Aku sudah mengambil keputusan untuk mohon kepada suhu agar suka menjadi waliku, ada pun tempatnya,
kurasa paling baik di rumah Tan-piauwsu.”
“Hemmm... di Pek-eng-piauwkiok? Di kota Kwan-leng?”
“Benar, aku tidak mempunyai keluarga, dan Tan-piauwsu adalah orang yang amat baik, kuanggap keluarga
sendiri.”
“Baiklah. Kau berangkatlah bersama Lulu ke Kwan-teng, buatlah persiapan upacara pernikahan. Tiga bulan
lagi semenjak hari ini, aku akan menyusul ke sana.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Lulu tiba-tiba mengangkat muka dan berkata, “Koko, kenapa begitu? Kenapa engkau tidak sekalian pergi
bersama kami? Engkau hendak pergi ke mana?”
“Masih ada urusan yang harus kuselesaikan, Moi-moi. Pertama-tama, malam ini aku harus memenuhi
tantangan pibu dari Puteri Nirahai.”
“Aihhhhh...! Aku... aku ikut denganmu, Koko! Puteri Nirahai adalah suci-ku, dan engkau adalah kakakku. Kini
kalian berdua hendak mengadu kepandaian. Suci amat sakti, Koko, bagaimana kalau... kalau... ahh, aku
hendak menjadi saksi!”
“Tidak boleh, Lulu. Dia mengajak pibu di tengah malam di puncak Gunung Cengger Ayam, hal ini berarti
bahwa dia tidak akan membawa teman dan tidak menghendaki saksi. Mungkin dia merasa malu kalau-kalau
akan kalah. Tenangkanlah hatimu, aku akan berusaha mencapai kemenangan tanpa harus membunuhnya.
Kau berangkatlah sekarang juga bersama Sin Kiat dan tunggu kedatanganku di Kwan-teng tiga bulan lagi.”
Wajah Lulu menjadi pucat dan ia terisak menangis. “Bagaimana kalau... kalau engkau tidak datang, Koko? Kita
baru saja bertemu dan berkumpul dan... dan... engkau sudah menyuruhku pergi... aku tidak ingin berpisah
denganmu.”
Han Han merasa jantungnya perih, namun ia memaksa diri tersenyum dan memegang pundak adiknya. “Aku
pasti akan datang, Lulu. Tidak ada peristiwa yang lebih penting bagiku melebihi upacara pernikahanmu,
melihat engkau berbahagia. Hanya kematian saja yang akan mampu menggagalkan kedatanganku tiga bulan
mendatang di Kwan-teng. Akan tetapi andai kata demikian, aku pun akan puas karena percaya bahwa di
sampingmu ada Sin Kiat yang akan membela dan melindungimu dengan sepenuh jiwa raganya. Berangkatlah,
Lulu dan kau sudah berjanji akan menjadi adik yang baik, yang mentaati permintaan kakaknya, bukan?”
“Koko...!” Lulu menubruk dan karena Han Han sudah bangkit berdiri, ia merangkul kaki tunggal itu sambil
menangis. Berat sekali rasa hatinya untuk pergi meninggalkan Han Han.
Hampir saja Han Han tidak dapat menahan keharuan hatinya dan kalau ia sampai balas memeluk adiknya,
tentu dia akan membiarkan adiknya ikut dia dan kelak bersama-sama ke Kwan-teng. Akan tetapi ia
mengeraskan hatinya, lalu berkata kepada Sin Kiat yang memandang penuh keharuan dan bingung apa yang
harus ia lakukan.
“Sin Kiat, lekas kau ajak Lulu pergi. Hari sudah hampir gelap, jangan sampai kalian kemalaman di jalan dan di
hutan.”
Sin Kiat menghampiri Lulu, memegang lengan gadis itu dengan mesra dan hati-hati, mengangkatnya bangun
dan berkata halus, “Marilah, Moi-moi. Kakakmu memang benar, dan sepatutnya kalau kita mentaati apa yang
dikehendakinya. Tiga bulan lagi dia akan menyusul kita di Kwan-teng. Dia bukanlah orang yang tidak menepati
janjinya, Moi-moi. Marilah!” Sin Kiat menarik dengan halus dan terpaksa Lulu menurut, akan tetapi gadis itu
terisak-isak dan sambil berjalan digandeng Sin Kiat, ia menoleh memandang ke arah kakaknya yang berdiri
tegak sambil tersenyum.
Han Han melambaikan tangan sambil berkata, “Selamat jalan, Lulu adikku. Selamat berpisah sampai jumpa
kembali. Jangan kau nakal, ya?”
Tiba-tiba Lulu merenggutkan lengannya terlepas dari gandengan Sin Kiat, lalu lari menghampiri Han Han,
merangkul leher dan mencium pipi Han Han sambil tersedu-sedu. “Koko... Koko... sudah tetapkah
keputusanmu...?”
Han Han menahan air matanya yang memenuhi pelupuk mata. “Pergilah, adikku sayang. Pergilah, doaku
bersamamu...”
Lulu terisak, melepaskan rangkulan lalu lari meninggalkan Han Han. Terpaksa Sin Kiat juga lari dan dari jauh
Han Han melihat kedua orang muda itu lari cepat berdampingan. Air matanya tak dapat ia tahan lagi, mengalir
turun ke atas kedua pipinya, bersatu dengan air mata Lulu yang membasahi mukanya, matanya tak pernah
berkedip sampai bayangan kedua orang itu lenyap.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bodoh! Lemah!” Han Han memaki diri sendiri untuk menguatkan hatinya, akan tetapi kaki tunggalnya menjadi
lemas dan ia menjatuhkan diri berlutut di tempat itu, merasa kehilangan, merasa sunyi dan mulutnya berbisikbisik,
“Semoga Tuhan memberkahimu, Lulu adikku tersayang...!”
Han Han termenung dalam keadaan itu, di tempat sunyi, sesunyi hatinya yang terasa kosong. Setelah
kegelapan menyelimuti dirinya, barulah ia teringat akan tantangan Nirahai dan ia lalu meloncat bangun,
menyambar tongkat yang tadi ia buat dari ranting pohon, dan melesatlah tubuhnya cepat sekali menuju ke
gunung kecil Cengger Ayam untuk menghadapi Puteri Nirahai.....
********************
Puncak bukit kecil itu merupakan padang rumput yang rata dan malam itu amatlah terang di situ karena bulan
sedang purnama. Mengertilah Han Han mengapa Puteri Nirahai memilih tempat ini. Memang sunyi dan padang
rumput itu luas, leluasa untuk dijadikan tempat bertanding, pula malam itu bulan purnama membuat tempat itu
terang benderang seperti sinar matahari pagi.
Dia tiba di puncak menjelang tengah malam. Di tempat yang sunyi ini Han Han duduk di atas rumput, diamdiam
merasa heran mengapa Puteri Nirahai menantang dia untuk pibu. Benarkah puteri itu hendak memenuhi
janji, datang di tempat yang sunyi ini? Benar-benar aneh watak puteri itu. Mengajak pibu di tempat ini, tanpa
saksi. Bagaimana kalau terjadi seperti yang dikhawatirkan Lulu, yaitu seorang di antara mereka roboh, terluka
parah atau tewas? Tentu takkan ada seorang pun manusia mengetahui dan akan terlantar! Apa boleh buat!
Sebagai seorang gagah, dia harus berani menghadapi kekalahan.
Dan puteri itu, ahhh, akan tegakah hatinya untuk melukai Nirahai? Dia harus berani mengaku di dalam hatinya
bahwa hatinya amat tertarik oleh kecantikan dara itu, bahkan segala gerak-gerik Nirahai amat menimbulkan
gairah hatinya. Dan kini dia akan menghadapi dara itu sebagai lawan! Bagaimana ia harus bersikap?
Mengalah? Tidak mungkin! Mengalah terhadap lawan biasa mungkin saja dilakukan, akan tetapi terhadap
seorang dara yang memiliki kesaktian luar biasa seperti Nirahai, mengalah berarti menghina dan tentu akan
diketahui oleh dara itu!
Tiba-tiba Han Han meloncat berdiri ketika melihat bayangan yang amat cepat dan ringan sehingga tidak
menimbulkan suara, berkelebat mendatangi dari depan. Jantungnya berdebar keras. Puteri Nirahai telah
berdiri di depannya, cantik jelita seperti dewi bulan turun dari kahyangan. Rambutnya yang hitam mengkilap
tertimpa cahaya bulan, wajahnya yang jelita seolah-olah diselaput emas, sepasang matanya bersinar-sinar.
Puteri ini benar-benar telah menepati janji, datang tepat pada tengah malam dan seorang diri! Betapa
gagahnya!
“Bagus, engkau telah menanti di sini? Marilah kita mulai!” Dara itu telah melintangkan pedang payungnya di
depan dada.
Terpincang-pincang dibantu tongkatnya Han Han maju tiga langkah menghadapi puteri itu. “Puteri Nirahai,
apakah perlunya diadakan pibu ini? Di antara kita tidak ada urusan sesuatu, perlu apa bertanding tanpa sebab
yang hanya akan mendatangkan kematian bagi yang kalah dan penyesalan di kemudian hari bagi yang
menang?”
“Hemmm... Suma Han, tidak akan mudah bagimu untuk membunuh aku begitu saja seperti yang kau lakukan
terhadap Ma-bin Lo-mo dan Ciu-sian-li siang tadi!”
Han Han tersenyum. Puteri ini cantik, lihai, cerdik akan tetapi juga angkuh dan bersikap agung sesuai dengan
kedudukannya sebagai puteri kaisar! “Katakanlah aku yang akan kalah dan mati di tanganmu. Apakah kelak
engkau tidak akan menyesal telah membunuh orang tanpa sebab dan tanpa dosa?”
“Tiada gunanya bersilat lidah. Baiklah kukatakan saja sebabnya agar engkau tidak menjadi penasaran dan
menganggap aku gila bertanding! Engkau adalah murid Bibi Guru Khu Siauw Bwee yang telah mewarisi ilmu
kepandaiannya yang dahsyat, bukan? Dan aku adalah murid guruku Nenek Maya. Timbullah keinginan hatiku
untuk membuktikan siapa yang lebih unggul di antara kita!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Han menghela napas panjang. “Puteri Nirahai, sebenarnya di sudut hatiku, aku amat membenci
penggunaan kekerasan. Membenci perkelahian. Selama ini aku hanya dipaksa untuk berkelahi, padahal aku
tidak suka untuk bertanding, apa lagi dengan engkau yang gagah perkasa dan lihai. Engkau adalah pewaris
ilmu-ilmu yang dahsyat dari pendekar-pendekar sakti jaman dahulu, pewaris ilmu-ilmu dari pendekar wanita
Mutiara Hitam, menjadi murid Nenek Maya yang maha sakti. Biarlah, tanpa bertanding pun aku sudah
mengakui keunggulanmu dan aku mengaku kalah.”
“Suma Han, apa kau kira aku ini anak kecil yang dapat kau bujuk dengan kata-kata mengalah seperti diberi
kembang gula? Tidak, aku tidak mau menerima alasan seperti itu. Aku menantangmu untuk pibu dan aku
hanya akan meniadakan pibu ini kalau engkau mengaku bahwa engkau takut dan pengecut, tidak berani
melawanku!”
Wajah Han Han menjadi merah. Ia bukan seorang bodoh dan maklum bahwa sengaja puteri itu menggunakan
kata-kata ‘pengecut’ hanya untuk memaksanya. Dia tidak dapat mundur lagi. Bagi seorang gagah, dianggap
takut dan pengecut lebih hebat dari pada mati.
“Hemm, baiklah. Agaknya engkau sudah bertekad untuk menguji kepandaianku yang tidak seberapa ini. Hanya
satu pesan dan permintaanku kepadamu sebelum kita mulai bertanding, Puteri Nirahai.”
“Katakanlah, engkau cerewet benar. Apa pesanmu?”
Han Han tersenyum. Biar pun Nirahai seorang puteri kaisar yang angkuh, sikap dara ini mengingatkan ia akan
kegalakan Lulu!
“Kalau aku menang dan kesalahan tangan sampai membuatmu tewas dalam pertandingan ini, aku akan
menyesali peristiwa ini selama hidupku, engkau akan selalu terbayang olehku dan hidupku akan selalu
dibayangi penyesalan yang hebat. Sebaliknya kalau aku yang tewas, dan agaknya begitulah mengingat akan
kesaktianmu, aku pesan kepadamu, sudilah kiranya engkau tiga bulan mendatang ini mengunjungi Kwan-teng,
di Pek-eng-piauwkiok dan mewakili aku melaksanakan upacara pernikahan antara adikku Lulu dengan Hoasan
Gi-hiap Wan Sin Kiat. Maukah engkau berjanji?”
Puteri itu kelihatan kaget dan termangu-mangu. “Sumoi... akan... kawin?” Akan tetapi ia sudah menguasai
hatinya dan menjawab tenang, “Baiklah, aku berjanji akan memenuhi pesanmu itu. Mari kita mulai!”
“Aku sudah siap!” kata Han Han, memandang tajam penuh kewaspadaan karena ia maklum bahwa senjata
berupa payung itu tidak boleh dipandang ringan.
“Sambut serangan!” Nirahai berseru.
Mata Han Han menjadi gelap. Tiba-tiba payung hitam itu terbuka menyembunyikan tubuh Nirahai dan tahutahu
ujung payung yang runcing itu sudah meluncur ke arah dadanya. Hebat bukan main serangan ini. Han
Han kaget dan kagum, akan tetapi cepat mengangkat tongkatnya menangkis dengan putaran pergelangan
tangannya.
“Cring-cring-cring...!”
Setelah tiga kali menangkis, baru Nirahai menghentikan tusukan bertubi-tubi dan berganti gerakan, payungnya
tiba-tiba tertutup dan tangan kirinya menampar dari samping mengarah pelipis Han Han, sedangkan payung
yang tertutup itu meluncur dengan totokan ke arah lutut kiri lawan!
Han Han cepat mengelak dan melihat serangan itu disusul dengan serangan-serangan dahsyat sekali secara
bertubi-tubi, terpaksa ia lalu bersilat dengan gerak kilat yang membuat tubuhnya seolah-olah menghilang, yaitu
Ilmu Silat Soan-hong-lui-kun! Namun dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ia melihat dara itu memutar
pedang payungnya sambil berputaran, mengarahkan pedang payungnya itu ke atas!
Seperti diketahui, ilmunya Soan-hong-lui-kun yang berdasarkan gerak kilat itu selalu menitik beratkan
serangan dari atas, mempergunakan kesempatan selagi tubuhnya mencelat-celat ke atas yang kecepatannya
tak mungkin dapat dicapai orang yang berkaki dua. Akan tetapi kini Nirahai memutar tubuh dan pedangnya
dunia-kangouw.blogspot.com
sehingga tubuhnya bagian atas seperti diselimuti atau dilindungi benteng baja yang tak mungkin ditembus oleh
air hujan sekali pun! Inilah ilmu terbaru yang diajarkan Nenek Maya kepada Nirahai yang khusus diciptakan
untuk menghadapi Soan-hong-lui-kun!
Han Han menjadi penasaran juga karena sama sekali dia tidak mendapat kesempatan menyerang kalau
menggunakan gerak kilatnya, maka ia meluncur turun dan membalas serangan lawan dengan mainkan
tongkatnya, mencampur-adukkan Ilmu Pedang Siang-mo Kiam-sut dengan gerakan ilmu silat yang ia pelajari
dari kitab-kitab di Pulau Es.
Nirahai sama sekali tidak berani memandang rendah. Tadi ketika tubuh Han Han mencelat dan lenyap, ia
kaget setengah mati. Cepat ia mainkan ilmu yang diajarkan subo-nya melindungi tubuhnya bagian atas. Ia
maklum bahwa kalau saja dia tidak mempelajari ilmu baru itu, tentu dia tak akan sanggup menghadapi ilmu
mencelat-celat seperti itu yang kecepatannya saja sudah membuat pandang matanya kabur, seolah-olah yang
dihadapinya bukan manusia melainkan iblis yang pandai menghilang!
Kini setelah Han Han menyerangnya dengan tongkat yang dimainkan secara kuat dan cepat, hatinya menjadi
tenang. Segera ia pun menggerakkan pedang payungnya untuk mengimbangi permainan lawan sehingga
kedua orang yang sama kuatnya ini bertanding secara hebat dan seru. Berkali-kali terdengar suara nyaring
ketika pedang payung bertemu dengan tongkat, dan terdengar bunyi bercuitan atau berdesingan kalau senjata
mereka yang menyambar itu dielakkan lawan yang menusuk tempat kosong.
Han Han merasa tidak tega kalau dia menggunakan sinkang-nya yang luar biasa, yang sukar dicari
bandingnya di dunia persilatan masa itu. Juga dia merasa bahwa kalau dia menangkan pertandingan
mengandalkan tenaga, ia merasa malu sendiri. Dia adalah seorang pria, dan lawannya seorang wanita. Baru
pembawaan mereka saja sudah berbeda semenjak lahir, tentu saja pria lebih kuat. Maka dia hanya
menggerakkan tenaga sinkang sedikit saja untuk mengimbangi kekuatan Nirahai.
Akan tetapi, betapa kagetnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa hampir ia kecelik dan celaka karena
perasaan sungkan ini. Ketika pedang payung itu untuk kesekian kalinya menyambar, dan ia menangkis dengan
tongkat, tiba-tiba tongkatnya melekat pada senjata lawan dan payung itu diputar dengan pengerahan tenaga
sinkang sedemikian kuatnya sehingga tongkatnya ikut pula terputar! Dia memperbesar tenaganya untuk
bertahan, namun masih saja tongkatnya terbawa! Kalau dilanjutkan, tentu tongkatnya itu akan patah atau akan
terlepas, maka terpaksa ia mengerahkan sinkang-nya. Setelah mengerahkan delapan bagian tenaganya,
barulah tongkatnya terlepas!
“Hebat!” Tak terasa lagi Han Han berseru karena kini ternyata olehnya bahwa dalam hal tenaga sinkang, dara
ini sama sekali tidak boleh dipandang rendah, bahkan belum tentu kalah oleh para datuk kaum sesat, malah
agaknya sebanding dengan tenaga kedua orang pendeta Lama dari Tibet, berarti hanya selisih sedikit di
bawah tenaganya sendiri!
“Sombong! Engkau boleh mengandalkan sinkang-mu!” Nirahai berkata dan wajah Han Han menjadi merah.
Menghadapi dara secerdik ini dia harus berhati-hati. Baru jalan pikirannya saja yang tadinya tidak mau
mengandalkan sinkang-nya telah dapat diterka tepat oleh Nirahai! Han Han mengerahkan kecepatannya dan
masih mainkan tongkatnya dengan Siang-mo Kiam-sut. Dasar dari ilmu pedang ini tentu saja dikenal oleh
Nirahai yang telah mewarisi banyak ilmu-ilmu peninggalan Mutiara Hitam.
Siang-mo Kiam-sut diciptakan oleh pendekar wanita sakti Mutiara Hitam, akan tetapi tidak pernah dipelajari
Nirahai karena memang peninggalan kitabnya tidak ada. Hanya saja karena Han Han mainkan ilmu pedang ini
dengan pencampuran ilmu-ilmu yang dilatihnya di Pulau Es, Nirahai menjadi bingung dan bersikap hati-hati.
Pertama-tama dara ini menutup payungnya, mainkan payungnya seperti sebatang pedang dengan ilmu
pedang Pat-mo Kiam-hoat yang gerakannya liar dan ganas, sesuai dengan namanya Pat-mo Kiam-hoat (Ilmu
Pedang Delapan Iblis). Hebat bukan main ilmu pedang peninggalan Mutiara Hitam ini, akan tetapi masih belum
dapat mendesak Han Han.
Pemuda ini pun merasa jengah dan malu kalau mengalah lagi. Biar pun dia masih tidak mau menggunakan
pukulan maut, namun sambil memainkan tongkatnya, tangan kirinya didorongkan ke depan dari samping atau
dari bawah, sehingga hawa yang amat kuat menyambar keluar dari telapak tangannya. Kadang-kadang ia
dunia-kangouw.blogspot.com
menggunakan tenaga hawa panas, kadang-kadang hawa dingin, akan tetapi selalu ia memukul ke arah
pangkal bahu, lengan, atau paha. Namun betapa kagumnya ketika dara itu tak sempat mengelak lagi, dara itu
pun dapat menangkis dengan kibasan tangan kirinya yang mengeluarkan hawa sinkang yang hampir sama
kuatnya sehingga hawa pukulannya menyeleweng!
Sampai habis semua jurus-jurus dari Pat-mo Kiam-hoat dimainkan Nirahai, namun keadaannya tetap terdesak
oleh tongkat Han Han. Gadis ini memang hendak menguji, maka ia lalu mengeluarkan bentakan halus dan
tiba-tiba ilmu pedangnya berubah sama sekali, berbeda seperti bumi dengan langit kalau dibandingkan dengan
yang tadi. Kalau pedang payungnya tadi bergerak seperti iblis-iblis mengamuk, ganas dan liar, kini gerakannya
halus teratur rapi, kelihatannya lambat namun sesungguhnya cepat, kelihatan lemah namun sesungguhnya
menyembunyikan kekuatan dahsyat sehingga setiap kali pedang payung itu bergerak, terdengar suara
bercuitan panjang! Inilah Ilmu Pedang Pat-sian Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Dewa) yang dahulu dicipta
sebagai lawan dari Pat-mo Kiam-hoat dan tentu saja lebih kuat dan dahsyat dari pada ilmu pedang yang
pertama.
Han Han kagum bukan main oleh karena segera ia terdesak hebat! Namun ia juga mengerahkan seluruh
kepandaiannya, terutama sekali mengandalkan gerak kilatnya sehingga dalam kecepatan ia selalu mengetahui
dan selalu dapat mengelak atau menangkis sambil membalas dengan hebat sehingga perlahan-lahan ia dapat
mengurangi desakan lawan, bahkan setelah lewat seratus jurus lebih, dia kembali telah mendesak puteri itu
sehingga perbandingan serangan menjadi tiga dua yaitu dia menyerang tiga kali hanya dapat dibalas dua kali
oleh Nirahai.
Kembali dua ratus jurus telah lewat dan pertandingan sudah berjalan kurang lebih empat jam! Sinar bulan
makin menyuram tanpa terasa dan tahu-tahu keadaan telah menjadi gelap karena bulan sudah lenyap di balik
puncak. Tiba-tiba Han Han meloncat ke belakang dan menghentikan serangannya.
“Cuaca begini gelap, sebaiknya kita menghentikan pertandingan,” katanya.
“Sambut seranganku!” Nirahai yang kini hanya mengandalkan ketajaman telinganya sudah menerjang dengan
luncuran ujung pedang payungnya.
“Cringgg...!”
Han Han menangkis dan kembali pemuda itu meloncat, menggunakan gerak kilat sehingga loncatannya tidak
menimbulkan suara. Puteri itu menjadi bingung karena tidak tahu ke mana Han Han menyingkir, sedangkan
untuk menggunakan mata sudah tak mungkin lagi saking gelapnya cuaca yang kehilangan sinar bulan
sedangkan matahari masih terlalu pagi untuk dapat menggantikan kedudukan bulan.
“Hemmm, Suma Han! Di mana engkau? Apakah engkau melarikan diri?” Terpaksa Nirahai bertanya, siap
dengan pedang payungnya karena begitu Han Han menjawab, dia akan dapat menyerangnya.
Sunyi tiada jawaban.....
“Suma Han, apakah engkau seorang pengecut?” Nirahai bertanya lagi, gemas karena merasa dipermainkan.
Dia tidak percaya bahwa pemuda yang memiliki kesaktian luar biasa itu melarikan diri.
“Jangan menyerang dulu! Dalam keadaan gelap seperti ini, bagaimana bisa dilakukan pibu secara jujur dan
adil? Kita tunggu sampai pagi dan kita boleh melanjutkan pertandingan. Pula, aku lelah sekali, ingin mengaso!”
“Kita masih mempunyai telinga! Awas serangan!” Nirahai meloncat ke depan dan menusukkan senjatanya ke
arah datangnya suara tadi.
“Trakkk!” Nirahai terkejut karena senjatanya menusuk sebuah batu besar. Kiranya pemuda itu bersembunyi di
balik batu besar!
Han Han menahan ketawanya dan berkata, “Nirahai, mengapa engkau seperti haus akan darahku? Aku
memiliki gerakan kilat yang jika kupergunakan dalam gelap ini, aku akan mudah menyerangmu dari belakang
tanpa kau ketahui. Akan tetapi aku bukan seorang pengecut curang yang hendak menggunakan kelebihan ini
dunia-kangouw.blogspot.com
untuk mencapai kemenangan dalam gelap. Kita menanti sampai pagi, kalau tidak mau, terpaksa aku akan
pergi saja, tidak mau melayani engkau yang haus darah!”
Nirahai penasaran dan marah sekali, tetapi ia tahu bahwa ucapan pemuda itu memang ada benarnya. Ia
menghela napas dan segera duduk bersila di atas rumput, menjawab lirih, “Aku akan menanti sampai sinar
matahari pagi menerangi cuaca.”
Han Han menjadi lega hatinya. Bertanding melawan seorang yang sakti seperti dara itu di dalam gelap, benarbenar
amat berbahaya dan kalau dia menghendaki kemenangan, agaknya dia harus terpaksa merobohkan
dara itu yang mungkin akan tewas. Padahal dia sama sekali tidak menghendaki terjadinya hal itu. Sama sekali
tidak. Setelah empat ratus jurus lebih bertanding melawan gadis ini, dia merasa makin tertarik, makin kagum
dan menaruh hati sayang. Maka ia pun lalu duduk bersila untuk memulihkan tenaganya dan mengatur
pernapasannya.
Setelah berhenti bertanding, berhenti menggerakkan tubuh, baru terasa oleh Nirahai betapa lelahnya dia dan
betapa dinginnya hawa udara menjelang pagi itu. Dia ingin mengaso dan memulihkan tenaga, maka tidak mau
menggunakan tenaga sinkang untuk melawan hawa dingin. Akan tetapi, dengan demikian ia menderita oleh
hawa dingin sehingga mulutnya menggigil dan kedua baris giginya saling beradu.
Han Han adalah seorang yang telah tinggal selama bertahun-tahun di Pulau Es, bahkan melatih sinkang di
sana, maka tentu saja hawa dingin di puncak Bukit Cengger Ayam ini baginya sama sekali tidak terasa dingin.
Dia boleh mengaso dan memulihkan tenaga dengan tenang, sama sekali tidak menderita hawa dingin. Akan
tetapi telinganya yang berpendengaran tajam itu dapat menangkap suara gigi dara itu yang saling beradu
karena menggigil maka timbullah rasa iba di hatinya.
Tanpa bicara sesuatu ia lalu pergi mencari kayu, membuat api unggun di dekat Nirahai. Semua ini ia lakukan
tanpa bicara karena ia tahu bahwa seorang dengan hati sekeras itu tentu akan tersinggung kalau ia membuka
mulut. Ia membuat api unggun, seolah-olah dia sendiri yang membutuhkannya, akan tetapi setelah api unggun
itu menyala besar, ia lalu pergi menjauh dan duduk di bawah sebatang pohon, menanti datangnya pagi.
Nirahai menjadi gelisah dan tak dapat bersemedhi sebagaimana mestinya. Jantungnya berdebar-debar keras.
Pemuda yang hebat sekali, kepandaiannya benar-benar luar biasa dan sukar dicari keduanya. Dan hatinya
begitu mulia. Kalau keadaan tidak segelap itu, tentu ia akan menyembunyikan mukanya yang terasa panas
dan tentu merah sekali ketika Han Han membuat api ungggun.
Betapa bijaksana pemuda itu yang tidak mau mengeluarkan suara, namun dia bukan orang bodoh yang tidak
mengerti betapa pemuda itu sengaja menbuat api unggun untuk dia! Pemuda itu tahu bahwa dia menderita
kedinginan maka membuatkan api unggun sehingga kini tubuhnya terasa hangat dan dia tidak terganggu hawa
dingin sehingga dapat mengaso dan memulihkan tenaga dengan bersemedhi. Akan tetapi, kini bukan hawa
dingin yang mengganggunya, melainkan hatinya yang berdebar keras!
Sinar matahari pagi mulai bercahaya kemerahan. Perlahan-lahan akan tetapi pasti sinar itu makin menjadi
terang dan mulai mengusir kabut tebal yang menyelimuti puncak bukit kecil itu. Kabut lari membawa serta
hawa dingin sehingga permukaan puncak bermandi cahaya matahari dan bumi mengeluarkan hawa yang
hangat seolah-olah menyambut dengan hangat mesra kedatangan sinar matahari. Rumput-rumput hijau tegak
semua, kehijauan dengan ujung terhias mutiara air embun, seperti perawan-perawan jelita yang muda dan
segar sehabis mandi pagi.
“Suma Han, mari kita lanjutkan pertandingan!”
Han Han membuka kedua matanya, sejenak ia mengagumi keindahan cahaya matahari bercumbu dengan
daun-daun pohon dan rumput-rumput, kemudian ia menoleh dan memandang kepada Puteri Nirahai yang
sudah berdiri tegak dengan pedang payung di tangan. Biar pun hampir semalam bertanding dan sama sekali
tidak tidur, dara itu tidak tampak lesu atau kusut, bahkan wajahnya segar kemerahan, hanya rambutnya yang
sedikit terurai kusut, namun malah menambah kecantikannya yang asli.
“Suma Han, aku sudah siap! Mari kita lanjutkan!” Nirahai menegur lagi ketika melihat pemuda itu hanya
bengong memandang wajahnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Han menghela napas panjang, lalu bangkit perlahan bersandar pada tongkatnya. Ia bersungut-sungut dan
suaranya membayangkan penyesalan hatinya, “Ah, sepagi ini enaknya mandi-mandi lalu minum teh panas
menyegarkan tubuh! Akan tetapi engkau sudah mendesakku mengajak bertanding. Nirahai, demikian besarkah
rasa sukamu akan berkelahi? Tiada bosan-bosannya setelah setengah malam kita bertanding?”
Sepasang alis Nirahai bergerak. “Semalam kita belum selesai bertanding, terhalang kegelapan dan aku pun
belum merasa kalah. Mari kita segera melanjutkan untuk menyelesaikan pibu agar diketahui siapa di antara
kita yang lebih unggul!”
Han Han mengerti bahwa seorang seperti puteri ini kalau sudah menghendaki sesuatu pasti akan dikejarnya
sampai dapat. Dia harus menyelesaikan pertandingan ini, dan dia akan mengalahkan Nirahai untuk
menundukkan hati yang keras ini, untuk menundukkan keangkuhannya.
“Baiklah, Nirahai, kalau demikian kehendakmu. Majulah!” Han Han menantang sambil melintangkan
tongkatnya di depan dada dan kaki tunggalnya berdiri tegak, sepasang matanya memandang tajam bersinarsinar.
Ketika tadi bersemedhi, Nirahai memutar otaknya. Dia telah mengeluarkan Pat-mo Kiam-hoat, kemudian malah
mainkan Pat-sian Kiam-hoat, namun kedua ilmu pedangnya yang sukar dicari tandingannya itu ternyata tidak
mampu mendesak Han Han. Dia sudah mengambil keputusan untuk mengeluarkan seluruh simpanan ilmunya
untuk menguji kepandaian pemuda berkaki satu ini. Maka begitu melihat sikap Han Han, ia lalu membentak
nyaring dan kedua tangannya bergerak.
“Sambut jarum-jarumku!”
Han Han melihat berkelebatnya sinar-sinar kecil dan mencium bau yang amat harum. Ia kagum dan terkejut.
Jarum-jarum yang mengeluarkan bau harum ini amat berbahaya, selain cepat seperti menyambarnya kilat,
juga bau yang harum itu memabukkan, dapat menyeret perhatian lawan sehingga kurang cepat
menyelamatkan diri, dan mencium baunya yang harum, Han Han dapat menduga bahwa tentu senjata-senjata
rahasia yang halus dan paling berbahaya di antara segala senjata rahasia ini, tentulah mengandung racun.
Maka ia pun cepat menggerakkan tubuhnya, mencelat ke sana sini. Nirahai terus menggerakkan kedua
tangannya, menyambit dengan jarum-jarumnya ke mana pun bayangan Han Han berkelebat. Dan dara ini
benar-benar kagum sekali. Jarum-jarumnya memang ia pergunakan untuk menguji sampai di mana kehebatan
ginkang dari pemuda itu, sampai di mana kecepatan gerak kilatnya. Dia sendiri tidak mungkin dapat
mengimbangi kecepatan itu dengan gerakan tubuhnya, maka ia menggunakan jarum-jarumnya.
Dan ternyata, jarum-jarum Siang-tok-ciam (Jarum Racun Harum) yang biasanya sekali lepas tentu mengenai
lawan itu, kini tidak ada artinya sama sekali terhadap Han Han. Sampai habis semua jarumnya disambitkan,
tidak sebatang pun mengenai Han Han yang terus berloncatan mengerahkan ilmunya Soan-hong-lui-kun!
Setelah dara itu tidak menyambit lagi karena jarumnya habis, barulah Han Han meloncat turun di tempat tadi,
mukanya biasa saja hanya matanya memandang tajam ke arah Nirahai.
Nirahai yang selain merasa kagum juga merasa penasaran sekali, cepat menerjang maju dengan pedang
payungnya. Han Han sudah siap dengan tongkatnya, mulai ia mengelak ke sana-sini untuk melihat dulu sifatsifat
serangan gadis itu. Apakah akan menggunakan ilmu pedang yang telah dimainkan semalam? Akan tetapi
ternyata tidak, dan sekali ini permainan pedang payung itu berbeda lagi dengan kedua ilmu pedang yang
sudah dimainkan semalam. Jauh lebih aneh dan hebat karena sekarang Nirahai telah membuka payungnya
dan mulailah ia mainkan ilmu pedang simpanannya yang paling diandalkan, yaitu Tiat-mo Kiam-sut (Ilmu
Pedang Payung Besi) yang merupakan penggabungan dari Ilmu Pedang Pat-mo Kiam-hoat dan Ilmu Pedang
Pat-sian Kiam-hoat!
Payung itu membuka menutup secara tiba-tiba dan terputar merupakan perisai dan menyembunyikan gerakangerakan
Nirahai, sehingga datangnya serangan dengan ujung payung meruncing itu sama sekali tidak dapat
diduga oleh Han Han. Setelah Nirahai mainkan ilmu pedangnya yang aneh ini, Han Han terkejut sekali dan
terdesak hebat! Namun ia dapat menghindarkan bahaya dengan loncatan dan gerak kilatnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sambil mengelak ini ia diam-diam memperhatikan dan merasa kagum karena ilmu yang dimainkan dara ini
memang luar biasa sekali. Gerakannya kelihatan kacau-balau namun menyembunyikan jurus-jurus yang
mengerikan. Itulah penggabungan dua macam ilmu pedang yang sesungguhnya berlawanan sifatnya!
“Kiam-sut yang aneh!” Han Han berseru.
Kini terpaksa ia mengerahkan tenaga pada kedua lengannya sehingga tongkatnya menggetar mengandung
hawa Hwi-yang Sin-ciang dan setiap kali menangkis pedang payung, Nirahai merasa betapa seluruh
lengannya tergetar hebat dan hampir saja payung itu terlepas dari pegangannya! Ia mengeluarkan suara
melengking keras dan memperhebat desakannya. Namun gerakan Han Han terlampau cepat baginya, apa lagi
pada saat pemuda itu hampir terkena serangan, tangkisan tongkat pemuda itu membuat Nirahai terhuyung
mundur. Tangkisan dengan pengerahan tenaga yang mukjizat itu benar-benar terlampau kuat bagi Puteri ini.
Kembali dua ratus jurus lewat dan dengan ilmu gabungan itu, masih juga Han Han tak dapat dirobohkan oleh
Nirahai! Dara itu menjadi marah dan penasaran sekali, tiba-tiba ia membentak dan pedang payungnya
membuat gerakan serangan yang amat ganas. Senjatanya itu berubah menjadi gulungan sinar melingkarlingkar
yang menutupi jalan keluar Han Han karena sudah mengurung di bagian atas, tidak memberi
kesempatan bagi Han Han untuk meloncat ke atas, sedangkan tangan kiri dara itu memukul dengan ilmu
pukulan maut Sin-coa-kun-hoat (Ilmu Silat Ulat Sakti)! Bukan main ganas dan dahsyatnya ilmu-ilmu itu
sehingga Han Han berseru kaget. Terpaksa ia mengerahkan tenaga pada tongkatnya, menangkis dan dengan
tangan kirinya ia mendorong ke arah pukulan lawan.
“Krekkk! Plakkk... desssss!”
Cepat sekali terjadinya. Payung itu patah menjadi dua, lalu telapak tangan kiri mereka bertemu dan... lambung
kiri Han Han dicium ujung sepatu Nirahai yang mengirim tendangan kilat.
Han Han mencelat ke belakang, menyeringai menahan rasa nyeri karena biar pun ia tidak terluka dalam, ujung
sepatu yang runcing itu membuat kulit lambungnya lecet! Di lain pihak, Nirahai dengan muka pucat
memandang gagang payungnya.
“Maaf, Nirahai. Aku telah kena kau tendang, aku mengaku kalah.”
Nirahai memandang dengan mata mendelik, akan tetapi bagi Han Han, dara itu tampak makin menarik,
mengingatkan ia kepada Lulu kalau sedang ngambek!
“Suma Han, benar bahwa pedang payungku telah patah, akan tetapi aku pun telah berhasil menendangmu,
maka jangan kau mentertawakan aku lebih dulu. Aku belum kalah. Mari kita lanjutkan!” Setelah berkata
demikian, kembali Nirahai menerjang maju menyerang Han Han.
“Aiiihhhhh...!” Han Han terkejut ketika melihat sinar kuning emas yang menyilaukan mata dan tahu-tahu ada
hawa yang mukjizat menyambar ke arah dadanya ketika sinar kuning emas itu meluncur dan menusuk dada.
“Tranggggg...!” Ia menangkis dengan tongkatnya dan keduanya terpental mundur.
Han Han memandang dengan mata terbelalak. “Aihhh... itukah senjata keramat Suling Emas?” Ia berseru.
Nirahai tersenyum mengejek, yakin akan keampuhan senjata di tangannya. “Payungku telah kau patahkan,
akan tetapi aku masih memegang suling keramat ini, Suma Han. Hendak kulihat apakah engkau akan dapat
mengalahkan senjata keramat ini!”
“Ahhh, Nirahai, mengapa engkau menggunakan senjata keramat itu hanya untuk menguji kepandaianku?
Kalau sampai aku tewas, hal itu tidaklah amat penting, akan tetapi kalau senjata keramat itu sampai minum
darahku, bukankah hal itu patut disesalkan? Bukankah hal itu berarti engkau mengotorkan senjata keramat itu?
Marilah kita hentikan, atau kalau dilanjutkan juga, kita menggunakan kedua tangan kosong!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hemmm, kau kira aku sebodoh itu mudah saja untuk kau tipu? Engkau mengandalkan sinkang-mu yang amat
kuat, kalau kita bertanding dengan tangan kosong, tentu aku yang kalah. Apakah kau takut menghadapi aku
yang bersenjata suling emas?”
“Engkau memang nekat! Marilah!” Han Han berkata, jengkel juga melihat desakan dara ini.
“Sambut ini!”
Nirahai sudah menerjang cepat dan kini ia mainkan Ilmu Pedang Pat-sian Kiam-hoat dengan suling emas.
Terdengar suara aneh seolah-olah suling itu ditiup. Tampak sinar gemerlapan menyilaukan mata dan
terbentuklah gulungan sinar kuning emas melingkar-lingkar seperti seekor naga emas beterbangan di angkasa
dan bermain-main di dalam sinar matahari pagi!
Perlu diketahui bahwa Ilmu Pedang Pat-sian Kiam-hoat adalah ilmu pedang yang dahulu dimiliki pendekar
sakti Suling Emas, dan memang paling tepat dimainkan dengan senjata keramat ini. Malam tadi Nirahai sudah
mainkan Pat-sian Kiam-hoat untuk menyerang Han Han akan tetapi dia tidak berhasil karena dia mainkan ilmu
itu dengan pedang payung. Kini setelah ia mainkan ilmu itu dengan suling emas, kehebatannya menjadi
berlipat ganda sehingga kembali untuk kesekian kalinya Han Han terdesak hebat.
Pemuda ini mengerahkan seluruh kepandaiannya, mengandalkan kecepatannya, akan tetapi ia lebih banyak
mengelak dan menangkis dari pada menyerang sehingga setelah lewat seratus jurus, sudah dua kali ia dicium
ujung suling, yaitu pada pangkal lengan kirinya dan pada pahanya sehingga baju di bagian itu robek dan
kulitnya berdarah. Untung bahwa dia memiliki sinkang yang amat kuat sehingga ia masih dapat bertahan dan
tidak roboh. Rasa penasaran membuat dia melakukan perlawanan sekuatnya. Tadinya memang dia tidak suka
mengandalkan sinkang-nya untuk mengalahkan Nirahai karena ia khawatir kalau-kalau akan mengakibatkan
Nirahai terluka parah atau tewas. Akan tetapi kini melihat desakan Nirahai yang seolah-olah hendak bersikeras
membunuhnya, mulailah ia melawan.
Ketika sinar kuning emas yang menyilaukan matanya itu menyambar ke arah dada, ia cepat menggerakkan
tongkat di tangan kirinya untuk menangkis dan terus mengerahkan sinkang sehingga suling itu melekat pada
tongkatnya. Nirahai mengeluarkan seruan kaget karena tiba-tiba suling yang dipegangnya itu menjadi panas
seperti dibakar, telapak tangannya terasa panas sekali. Maklumlah ia bahwa pemuda itu menggunakan Hwiyang
Sin-ciang. Ia mengerahkan sinkang-nya untuk bertahan sedangkan tangan kirinya ia hantamkan ke perut
Han Han dengan ilmu Sin-coa-kun. Akan tetapi Han Han menerima pukulan ini dengan telapak tangan
kanannya sambil mengerahkan hawa sakti Hwi-yang Sin-ciang.
“Plakkk!” Kepalan tangan Nirahai menempel pada telapak tangan kanan Han Han dan seketika tubuh dara itu
menggigil!
“Lepaskan sulingmu...!” Han Han membentak, suaranya halus karena dia tidak ingin menyinggung perasaan
dara itu.
“Tidak!” Nirahai membantah biar pun tangannya yang memegang suling seperti dibakar rasanya dan dari
tangan kirinya menjalar hawa dingin yang membuat ia menggigil.
Kedua orang muda itu berdiri seperti arca, saling tidak mau mengalah, akan tetapi juga saling menjaga agar
tidak mencelakakan lawan! Kalau Han Han menghendaki, dengan pengerahan tenaga sinkang sekuatnya,
tentu Nirahai akan roboh dan tewas, akan tetapi dia tidak tega melakukan hal ini. Di lain pihak, Nirahai yang
kini sudah merasa yakin benar bahwa dia tidak dapat mengalahkan Han Han, diam-diam menjadi kagum sekali
dan kini ia membuat ujian terakhir, yaitu ingin melihat apa yang akan dilakukan Han Han. Akan
membunuhnya? Ataukah... seperti yang dia harapkan, pemuda ini menaruh hati sayang kepadanya?
“Memalukan!” Tiba-tiba terdengar bentakan halus dan tampak dua bayangan berkelebat cepat sekali ke arah
dua orang muda itu. Nirahai dan Han Han tiba-tiba merasa tubuh mereka terlempar ke belakang oleh tenaga
yang amat dahsyat.
“Subo...!” Nirahai berseru dan menghampiri Nenek Maya, dua titik air mata menetes di pipinya dan mukanya
menjadi merah sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Subo...!” Han Han berlutut di depan Nenek Khu Siauw Bwee.
Akan tetapi kedua orang nenek itu tidak mempedulikan murid mereka, melainkan berdiri tegak saling pandang
dengan mata yang sukar dilukiskan. Ada rasa haru, rasa sayang, rasa dendam dan penasaran bercampur
aduk menjadi satu pada sinar mata kedua orang nenek sakti itu.
“Suci...!” Akhirnya Nenek Khu Siauw Bwee menegur, suaranya halus dan anehnya, ada rasa iba terkandung di
dalam suaranya ini.
“Sumoi...! Syukur... engkau masih hidup...!” Nenek Maya berkata, suaranya dingin sehingga sukar diduga
perasaan apa yang tersembunyi di balik kata-katanya.
Han Han dan Nirahai hanya memandang dengan hati tegang menyaksikan pertemuan antara kedua orang
nenek sakti itu.
“Sumoi, jangan kira bahwa muridmu telah dapat menangkan muridku. Jelas kulihat tadi bahwa Nirahai tidak
bersungguh-sungguh, kalau dia bersungguh-sungguh, tentu dia sudah dapat membunuh muridmu!”
Nenek Khu Siauw Bwee tersenyum dan dengan suara tenang menjawab, “Suci, tidak terbalikkah wawasanmu
itu? Kulihat Han Han yang mengalah tadi!”
“Tidak bisa. Muridku masih lebih lihai dari pada muridmu!” bentak Nenek Maya tidak mau kalah.
Nenek Khu Siauw Bwee yang jelas memiliki watak lebih sabar dan halus, menoleh ke arah Han Han dan
bertanya, suaranya kereng, “Han Han, mengapa engkau tadi tidak menggunakan seluruh tenagamu di saat
terakhir? Mengapa engkau mengalah?”
Han Han tidak mau menyinggung hati Nirahai, maka sambil menundukkan muka ia berkata, “Dia terlampau
sakti, subo. Teecu memang kalah.”
Wajah Nirahai menjadi makin merah mendengar ini dan ia pun menunduk, tidak berani menentang pandang
mata Han Han.
“Nirahai, ketika kalian berdua berdiri mengadu tenaga tadi, ada kesempatan baik bagimu. Sekali menendang
dengan tendangan sakti ke arah bawah pusarnya, bukankah lawanmu akan kehilangan nyawanya? Mengapa
engkau mengalah?” Nenek Maya menegur muridnya pula, suaranya galak.
“Maaf, subo. Teecu... teecu tidak mampu mengalahkannya. Dia terlalu lihai dan teecu memang kalah!”
Han Han mengangkat muka. Nirahai mengangkat muka. Dua pasang sinar mata bertemu pandang, sejenak
bertaut, penuh perasaan dan seolah-olah dalam persilangan sinar mata itu terjadi pencurahan seribu kata-kata
yang tak terucapkan, membuat keduanya segera menunduk kembali dengan jantung berdebar.
“Hemmm... bocah-bocah ini saling mengalah, mana bisa diukur siapa di antara ilmu kita yang lebih tinggi?
Sumoi, marilah kita lanjutkan sendiri!”
Nenek Khu Siauw Bwee tersenyum mengejek. “Kita lanjutkan pertandingan puluhan tahun yang lalu, suci?
Baiklah, tapi ingat, sekarang aku tidak akan suka mengalah lagi kepadamu, suci.”
Nenek Maya tertawa dan Han Han harus mengakui bahwa biar pun usianya sudah amat tua, akan tetapi ketika
tertawa nenek itu masih mempunyai daya tarik yang luar biasa!
“Sumoi, sekarang pun engkau masih takkan dapat mengalahkan aku!”
“Bagus! Kau kira setelah kakiku buntung satu, engkau dapat memandang rendah kepadaku?” Nenek Khu
Siauw Bwee berkata marah.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Majulah, Khu Siauw Bwee!”
Nenek Khu Siauw Bwee mengeluarkan suara bentakan halus dan tubuhnya lalu lenyap karena dia sudah
mencelat cepat sekali, gerakannya lebih cepat dari Han Han dan bagaikan kilat menyambar, dia sudah
menyerang Nenek Maya. Akan tetapi Nenek Maya sudah menggerakkan kedua tangan ke atas dan
menyambut serangan sumoi-nya. Dua lengan bertemu dan Nenek Khu Siauw Bwee mencelat ke atas lagi,
terus menyambar-nyambar dari atas dengan hebatnya. Di lain pihak, Nenek Maya yang sudah siap
menciptakan ilmu yang khusus untuk menghadapi ilmu nenek kaki tunggal ini, tetap berdiri tegak, hanya
memutar tubuh menghadapi ke arah menyambarnya tubuh sumoi-nya dan selalu dapat menangkis sambil
balas memukul. Pertandingan hebat sekali terjadi.
Han Han dan Nirahai yang masih berlutut memandang bengong. Cemas sekali hati mereka, akan tetapi
mereka tidak berani mencampuri urusan antara guru-guru mereka yang masih ada hubungan dekat itu, suci
dan sumoi! Mereka melihat pertandingan yang lebih hebat dari pada pertandingan mereka tadi. Melihat betapa
tubuh Nenek Khu Siauw Swee menyambar-nyambar seperti seekor burung garuda, sedangkan Nenek Maya
tegak seperti seekor harimau yang siap mencakar di saat sang garuda menyambar ke bawah.
Tiba-tiba Nenek Khu Siauw Bwee yang masih berjungkir-balik di udara cepat sekali itu mengeluarkan lengking
nyaring. Tubuhnya menerjang dan menukik ke bawah, tangan kirinya mencengkeram ke ubun-ubun Nenek
Maya. Nenek Maya menangkap tangan sumoi-nya itu dan tangan kedua orang nenek yang tidak saling
mencengkeram itu bergerak cepat memukul.
“Plak! Plak!”
“Celaka...!” Han Han dan Nirahai berseru hampir berbareng dan dengan muka pucat mereka berdua
memandang betapa guru masing-masing terhuyung ke belakang dan muntah darah lalu roboh terguling. Akan
tetapi keduanya dapat merangkak bangun, saling pandang dan tiba-tiba Nenek Khu Siauw Bwee berkata
lemah.
“Suci, engkau memang hebat!”
“Sumoi, engkau lihai! Pukulanmu mendatangkan maut...!”
“Aku pun takkan dapat hidup lagi, suci. Pukulanmu meremukkan isi dada...”
“Ah, sumoi... Siauw Bwee... aku telah berdosa besar padamu. Kasihan sekali engkau, sumoi... puluhan tahun
hidup menderita karena setelah kakimu kubikin buntung... kau maafkan aku sumoi...”
“Tidak, Suci Maya... akulah yang menaruh kasihan kepadamu... penderitaanku hanya penderitaan lahir, akan
tetapi kau... ah, suheng ternyata mencinta aku seorang dan kau... kau menderita batin yang hebat...”
“Sumoi...!”
“Suci...!”
Kedua orang nenek itu merangkul saling menghampiri, lalu saling rangkul sambil menangis!
Han Han memandang dengan muka pucat, sedangkan Nirahai memandang dengan air mata bercucuran.
Terharu hati Han Han melihat puteri itu menangis. Tadinya, sukar baginya membayangkan Puteri seangkuh
dan sekeras itu hatinya mengucurkan air mata!
Setelah bertangis-tangisan dalam menghadapi maut itu, Khu Siauw Bwee berkata, “Suci, apakah engkau
melihat apa yang kulihat?”
“Maksudmu?”
“Murid-murid kita...!” Khu Siauw Bwee berkata.
dunia-kangouw.blogspot.com
Maya tersenyum menyeringai menahan rasa sakit di dadanya oleh tamparan tangan sumoi-nya di
punggungnya tadi. Ia mengangguk.
Khu Siauw Bwee menekan dadanya yang tadi terpukul suci-nya. “Suci..., kita sudah saling memaafkan...
biarlah kita akhiri pertentangan ini dengan persatuan. Aku mewakili muridku, suci... mengajukan lamaran
kepadamu agar muridmu menjadi jodoh muridku...”
Nenek Maya tertawa terkekeh-kekeh girang akan tetapi ia berhenti tertawa karena dadanya menjadi makin
sesak. “Baik... kuterima pinanganmu... hi-hi-hik, bagus sekali, memang pantas... Nirahai menjadi isteri Suma
Han...! Eh, sumoi, sayang kita tak dapat menyaksikan...”
“Han Han, engkau mendengar sendiri suci telah menerima pinanganku. Engkau tentu suka menjadi suami
Nirahai, bukan?”
Jantung Han Han memukul keras, seolah-olah akan pecah dadanya. Ia menoleh ke arah Nirahai yang
mukanya juga menjadi pucat. “Subo, teecu... teecu mana berharga untuk...?”
“Jangan bicara tentang berharga atau tidak. Pendeknya, engkau mau atau tidak? Jawab!” Nenek Khu Siauw
Bwee berkata sambil menekan dadanya.
Han Han mengangguk dan tidak berani melirik ke arah Nirahai. “Tentu saja..., teecu akan merasa bahagia dan
terhormat sekali, teecu mau, subo.”
“Hi-hi-hik, itulah jawaban laki-laki! Eh, Nirahai, bagaimana dengan engkau? Maukah engkau menjadi isteri
pemuda kaki buntung ini? Engkau pernah mengatakan bahwa engkau hanya mau menjadi isteri seorang
pemuda yang dapat mengalahkan engkau. Dan jelas bahwa engkau takkan dapat menangkan Suma Han.
Bagaimana?”
Nirahai yang biasanya tabah itu, kini menundukkan mukanya yang menjadi merah kembali, jawabnya lirih,
“Teecu... menurut perintah subo.”
“Eh, itu bukan jawaban gagah! Engkau mau atau tidak? Jawab!” Sikap Nenek Maya persis seperti sikap Nenek
Khu Siauw Bwee tadi.
Nirahai menunduk makin dalam. “Teecu... teecu mau...”
Dua orang nenek itu tertawa, tertawa bergelak-gelak sambil saling rangkul, dengan dua pasang mata tua
mengeluarkan air mata.
“Subo...!”
“Subo...!”
Seperti berlomba cepat Han Han dan Nirahai sudah menubruk guru masing-masing dan ternyata bahwa dua
orang nenek itu telah tewas sambil berpelukan. Mereka dahulu bermusuhan, akan tetapi dalam ambang maut
mereka saling peluk dan tertawa, juga menangis!
Nirahai terisak menangis. Han Han berlutut sambil menunduk duka. Setelah reda tangis Nirahai dan gadis itu
dengan mata merah menoleh kepadanya, mereka saling pandang dan Han Han berkata halus lirih.
“Lebih baik kita mengubur jenazah mereka. Di mana sebaiknya dimakamkan?”
Nirahai mengangguk, juga menjawab lirih, “Sebaiknya di sini saja. Tempat ini amat baik, bersih dan sunyi.”
“Tepat sekali. Memang tempat ini amat baik, bahkan merupakan tempat keramat bagi kita.”
Nirahai memandang wajah pemuda itu. “Mengapa begitu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bukankah tempat ini yang mempertemukan kita, bahkan... yang menjadi saksi perjodohan kita?”
Nirahai menjadi merah mukanya. Mereka saling berpandangan, kemudian dara itu berbisik, “Marilah kita
menggali tanah untuk makam mereka...”
Han Han meloncat bangun dan pemuda ini merasakan kegembiraan yang luar biasa sekali, yang membuat
tangannya terasa ringan ketika ia menggunakan tongkatnya untuk menggali tanah di bawah pohon di pinggir
padang rumput. Nirahai mengambil pedang payungnya yang sudah patah, lalu menggunakan ujung payung
yang runcing itu untuk menggali sebuah lubang di pinggir lubang yang digali Han Han. Mereka berdua seperti
berlomba dan Han Han sengaja mengurangi tenaganya sehingga lubang yang dua buah itu selesai digali
dalam waktu berbareng. Karena keduanya merupakan orang-orang yang memiliki tenaga sakti, dalam waktu
pendek saja dua buah lubang yang cukup dalam telah tergali.
Dengan penuh khidmat dan tanpa berbicara mereka lalu mengubur kedua jenazah itu berdampingan, lalu
menutup lubang itu dengan tanah galian. Ketika melakukan ini Nirahai menangis dan Han Han menghiburnya
dengan kata-kata halus. Setelah selesai Han Han mencari dua buah batu besar dan kedua orang muda itu
kembali seperti berlomba, mengukir permukaan batu nisan dengan ujung tongkat dan ujung payung.
Han Han mengukir huruf-huruf yang berbunyi:
~MAKAM NENEK KHU SIAUW BWEE, SUMOI TERCINTA DARI NENEK MAYA~
Ada pun ukiran Nirahai berbunyi sebaliknya:
~MAKAM NENEK MAYA, SUCI TERCINTA DARI NENEK KHU SIAUW BWEE~
Ukiran Han Han lebih dalam, tanda bahwa tenaganya lebih kuat, akan tetapi ukiran yang dibuat Nirahai lebih
halus tulisannya. Kini tanpa bicara kedua orang itu memperbaiki ukiran masing-masing, Nirahai memperhalus
ukiran Han Han sebaliknya pemuda itu memperdalam ukiran Nirahai. Setelah selesai, mereka lalu berlutut di
depan kedua nisan yang dipasang di depan makam kedua orang nenek sakti itu. Hari telah menjadi malam dan
kedua orang itu masih berlutut di depan makam.
Untuk mengusir hawa dingin, Han Han membuat api unggun kemudian duduk menghadapi api unggun, duduk
di atas rumput dekat dengan Nirahai. Keduanya merasa canggung, akan tetapi kemudian Han Han menghela
napas panjang dan berkata.
“Nirahai, aku merasa seperti mimpi dan masih belum percaya benar bahwa semua ini dapat terjadi. Seorang
puteri kaisar seperti engkau, berkedudukan tinggi dan mulia, cantik jelita, berilmu tinggi, mau menjadi calon
isteri seorang seperti aku... yang...”
“Ssttttt, jangan lanjutkan, Han Han. Aku yang merasa heran mengapa engkau mau dijodohkan dengan aku?”
Mereka saling pandang dan kini sinar mata mereka saling berusaha menembus dan menjenguk isi hati
masing-masing. Sinar api unggun yang bermain di wajah mereka membuat wajah mereka kemerahan dan
menyembunyikan warna kedua pipi mereka yang merah sekali.
“Telah lama sekali aku aku jatuh cinta kepadamu, Nirahai. Semenjak aku datang ke Pulau Es...”
“Heee...? Menurut keterangan Lulu, engkau masih kecil, baru berusia belasan tahun ketika kalian datang ke
pulau itu...! Betapa mungkin?”
“Benar, dan di sanalah, di dalam Istana Pulau Es itu, pertama kali aku melihatmu, Nirahai, dan sekaligus hatiku
telah terpikat... dan aku telah jatuh cinta!”
Percakapan itu mengusir rasa canggung kedua pihak dan Nirahai lalu tertawa geli. “Ihhh, kiranya engkau
seperti Lulu pula, suka bergurau! Kita baru saling jumpa pertama kali di istana ketika kau datang menyerbu,
dan selama hidupku aku tidak pernah datang ke Pulau Es!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Memang bukan engkau, Nirahai, melainkan sebuah arca yang amat indah buatannya, seolah-olah hidup. Di
sana terdapat tiga buah arca, yang sebuah adalah arca Koai-lojin, yang ke dua arca Subo Khu Siauw Bwee
dan yang ke tiga adalah arca Subo Maya, yaitu ketika mereka masih muda. Arca Subo Maya itu serupa benar
dengan engkau, Nirahai. Karena itu, begitu aku bertemu denganmu, tentu saja bagiku sama halnya dengan
bertemu orang yang arcanya membuat aku tergila-gila itu. Herankah engkau betapa bahagia dan gembiranya
rasa hatiku ketika subo menjodohkan aku dengan engkau? Serasa kejatuhan bulan purnama...!”
Pada saat itu bulan purnama mulai muncul dan otomatis Nirahai memandang bulan. Sinar bulan yang kuning
emas membuat wajah dara ini tampak nyata dan amat cantik jelita sehingga Han Han menahan napas saking
kagumnya, kemudian ia memberanikan hati memegang tangan dara itu yang duduk di sampingnya. “Nirahai...
betapa cantik jelita engkau...”
Tangan Nirahai menggigil, akan tetapi dia tidak melepaskan genggaman Han Han, dan ketika ia menoleh, ia
tersenyum. Wanita manakah yang takkan berbesar hati penuh kebanggaan kalau dipuji cantik? Apa lagi yang
memuji adalah seorang pria yang menjadi pilihan hatinya!
“Aku girang sekali mendengar pernyataan isi hatimu, Han Han. Ketahuilah bahwa aku pun merasa beruntung
sekali bahwa engkau telah berhasil mengalahkan aku dalam pibu...”
“Engkau tidak kalah! Dan mengapa engkau merasa beruntung kalau kukalahkan?”
“Engkau sudah mendengar sendiri kata-kata subo tadi. Memang aku telah bersumpah bahwa aku hanya mau
menjadi isteri seorang pria yang mampu mengalahkan aku. Dan aku semenjak mendengar obrolan Lulu
tentang dirimu, bahkan bocah nakal itu hendak menjodohkan aku denganmu, semenjak itu, kemudian setelah
bertemu, melihatmu dan melihat kegagahanmu, hemmm... aku akan merasa menyesal sekali andai kata
engkau kalah olehku.”
Bukan main besar hati Han Han mendengar ini dan kegirangan yang meluap membuat ia menarik lengan dara
itu. Nirahai seperti lemas tubuhnya dan membiarkan kepalanya rebah di dada Han Han. Sejenak mereka
berdua tidak bergerak, bermandi cahaya bulan yang tersenyum-senyum menyaksikan ulah tingkah dua insan
yang mabuk asmara ini.
Han Han membelai-belai rambut yang halus dan hitam itu dan Nirahai memejamkan mata, mendengarkan
debar jantung di dada Han Han yang baginya seperti bunyi musik yang amat merdu dan indah. Kemudian ia
membuka matanya, dan mengangkat pandang matanya ke atas untuk menatap wajah di atasnya itu sehingga
sepasang mata itu menjadi lebar sekali dan amat indah seperti mata Lulu!
“Han Han, katakanlah. Mengapa engkau jatuh cinta kepada arca subo di waktu muda yang kau katakan serupa
benar denganku itu? Mengapa engkau jatuh cinta kepadaku?”
Sampai lama Han Han tidak dapat menjawab, menatap wajah yang tengadah itu seolah-olah hendak mencari
jawabnya dari wajah yang jelita itu. Mata itu! Mulut itu! Dan ia teringat akan perasaannya di waktu ia
memandang arca di dalam Istana Pulau Es, kemudian seperti menemukan jawabannya, lalu berkata girang.
“Aku tahu! Aku tergila-gila kepadamu, Nirahai, karena pertama-tama karena matamu!”
Nirahai terkekeh dan mendekap mulutnya sendiri dengan tangan, matanya terbelalak lebar, “Karena mataku?
Hi-hik! Mataku kenapa?”
“Matamu begini indah... seperti sepasang bintang di langit... kulihat laut yang bening dalam di situ,
menghanyutkan...” jawab Han Han sambil memandang sepasang mata yang amat indah itu, seperti mata Lulu!
“Ihhh, seperti laut yang menghanyutkan? Mengerikan!”
“Tidak! Sama sekali tidak! Aku akan rela dan bahagia sekali kalau mati hanyut di situ, tenggelam dalam lautan
kenikmatan yang membayang di dalam matamu. Matamu seperti... seperti... bulan kembar...!”
“Hi-hik, kau aneh...”
dunia-kangouw.blogspot.com
Nirahai memejamkan matanya sehingga ‘bulan kembar’ itu bersembunyi di balik pelupuk dan dilindungi bulu
mata yang kini menjadi tebal dan panjang, mendatangkan bayangan-bayangan menggairahkan di atas pipi,
membuat Han Han makin terpesona. Kalau terbuka mata itu mempesona, kalau tertutup malah menggairahkan.
Bukan main!
“Kau bilang tadi, pertama-tama karena mataku. Adakah yang ke dua?” tanya Nirahai tanpa membuka matanya.
“Memang ada, dan aku tidak tahu yang mana yang lebih menarik dan membuat aku tergila-gila. Yang ke dua
adalah... mulutmu, Nirahai!”
Mata itu terbuka kembali, terbelalak dan mengandung senyum terheran-heran.
“Mulutku...? Ada apa dengan mulutku...?” suaranya penuh dengan hati yang riang gembira, bangga dan juga
geli dan heran.
“Mulutmu... bibirmu...” Han Han berbisik dan suaranya gemetar.
Pandang matanya tak pernah dapat melepaskan sepasang bibir yang lunak halus kemerahan itu, yang kini
bergerak-gerak seperti menggigil seolah-olah bisikan Han Han merupakan penggeli yang membuat bibir itu tak
dapat diam, “entah mengapa, Nirahai... melihat mulutmu... bagiku seolah-olah ketika aku kelaparan dahulu
melibat buah apel yang masak...! Aku... aku...”
Han Han tidak melanjutkan kata-katanya karena desakan rasa kasih bercampur birahi membuat ia tak kuasa
menahan hasrat hatinya, membuat ia seperti tak sadar lagi menunduk, mencium bibir itu, mencium mata itu,
lalu mencium bibir kembali, sepenuh rasa kasihnya, semesra-mesranya.
Mula-mula Nirahai tersentak seolah-olah tubuhnya menjadi kaku menegang, kemudian ia menjadi lemas, naik
sedu-sedan dari rongga dadanya dan seperti dalam mimpi ia pun tidak sadar bahwa dia telah membalas
ciuman pemuda yang sudah menjatuhkan cinta kasihnya itu. Sampai lama mereka saling mendekap
berciuman, lupa akan segala. Kemudian kesadaran datang memasuki pikiran mereka, hampir berbareng dan
kedua orang muda yang sejak kecil sudah tergembleng batinnya ini segera sadar dan dapat menguasai
rangsangan hati masing-masing, lalu menghentikan ciuman dan Nirahai terlena di atas dada yang bidang itu,
kedua matanya terpejam, dua titik air mata membasahi bulu matanya yang panjang.
“Ahhh, maafkan aku...!” Han Han berbisik, sekuatnya menahan gelora hatinya yang membuat seluruh tubuh
terasa panas menggigil.
“Bukan... bukan salahmu, Han Han...,” Nirahai berbisik dan keduanya terdiam sampai berjam-jam.
Han Han yang tiada bosannya menatap wajah di atas dadanya itu mengira Nirahai tertidur, maka dia pun tidak
bergerak, hanya bersandar pada batang pohon tanpa mau mengganggu kekasihnya yang disangkanya pulas.
Tetapi tiba-tiba Nirahai membuka mata. Mereka berpandangan dan keduanya tersenyum, merasa lega bahwa
masing-masing dapat menguasai gelora hati sehingga tidak sampai terjadi yang lebih dari pada yang telah
mereka lakukan dalam keadaan mabuk dibuai gelora hati muda.
“Nirahai, kekasih pujaan hatiku... terima kasih...”
Nirahai bangkit dan duduk bersila. Mereka berhadapan, kedua tangan mereka saling berpegangan. “Mengapa,
Han Han? Mengapa berterima kasih?”
“Engkau seperti membangkitkan kembali aku dari timbunan duka nestapa, seperti hawa murni yang
mengembalikan semua kelelahan hidupku, memberi makan kepada jiwa yang kelaparan, seperti tetesan
embun segar pada tunas melayu di bumi mengering... engkau yang begini cantik jelita sudi menyambut cintaku.
Nirahai, katakanlah, mengapa engkau yang begini mulia bisa jatuh cinta kepada seorang seperti aku yang
bunt...”
dunia-kangouw.blogspot.com
Nirahai cepat menggerakkan tangannya dan jari tangan yang halus kecil meruncing itu menutup bibir Han Han,
mencegah pemuda itu melanjutkan kata-katanya.
“Aku cinta padamu karena engkau memang tampan dan gagah perkasa, terutama sekali karena engkau dapat
mengalahkan aku, dan karena engkau adalah seorang laki-laki yang rendah hati, sederhana, akan tetapi
memiliki harga diri yang tinggi, engkau kuat, engkau tahan menderita, engkau tidak pendendam, engkau
pandai mengalah dan sabar.”
“Terima kasih, Nirahai. Terima kasih!” Han Han memeluknya dan memberi sebuah ciuman lembut di dahi
Nirahai.
Sentuhan ciuman ini terasa menyentuh jantung, tidak merangsang seperti tadi, akan tetapi terasa demikian
lembut dan mendalam seolah-olah dua hati mereka melekat menjadi satu.
Malam terlewat amat cepat bagi kedua orang yang sedang berbahagia ini. Tahu-tahu pagi telah tiba. Nirahai
bangkit melepaskan diri dari pelukan Han Han. Sambil tersenyum seperti sang matahari pagi sendiri dia
berkata.
“Han Han, sekarang aku harus meninggalkanmu, kalau tidak tentu akan ada pasukan yang mencariku,
khawatir kalau-kalau aku tewas dalam pibu melawanmu.”
“Engkau dan aku tidak tewas dalam pibu, akan tetapi sama-sama jatuh, jatuh cinta!” Han Han menggoda.
“Wah, entah Lulu yang mencontohmu ataukah engkau yang ketularan!” Nirahai berkata sambil membantu Han
Han bangkit berdiri. Akan tetapi ia segera berkata dengan sungguh-sungguh, “Aku harus menyelesaikan
tugasku lebih dulu, kemudian aku akan pulang ke kota raja. Urusan jodoh di antara kita yang ditetapkan oleh
kedua orang guru dan sudah kita setujui, tak mungkin dapat dilaksanakan tanpa pengetahuan Ayahanda
Kaisar. Aku akan menyampaikan urusan kita ini kepada Kaisar. Maka engkau pergilah ke kota raja dalam
waktu sebulan ini, menyusulku ke sana.”
Kekhawatiran muncul di hati Han Han. Semalam ia lupa sama sekali bahwa dara jelita yang dipeluknya, yang
dianggapnya sebagai calon jodohnya, calon isterinya, adalah puteri kaisar! Maka kini, ia melihat nama kaisar
sebagai sebuah jurang yang amat lebar, yang mengancam putusnya ikatan di antara mereka.
“Nirahai...!” katanya, suaranya gemetar penuh kegelisahan. “Bagaimana... kalau... kalau Kaisar menolak?”
Nirahai menggeleng kepala. “Jangan khawatir, jasaku sudah terlalu banyak dan tentu Ayahanda Kaisar tidak
akan menghalangi. Andai kata demikian pun, di dalam hatiku engkau adalah suamiku dan tak seorang pun di
dunia ini akan dapat menghalangiku!”
“Nirahai...!” Han Han memeluknya dan sejenak mereka berpelukan.
Akhirnya Nirahai melepaskan dirinya. Setelah mengusap dagu Han Han dengan kedua tangannya, ia berkata,
“Sudahlah, Han Han. Aku pergi dan kunanti engkau di istana. Sebulan lagi kita bertemu kembali!” Setelah
berkata demikian, dara itu meloncat jauh akan tetapi sebelum lari, ia membalikkan tubuh, melambaikan tangan
dan tersenyum manis sekali.
Han Han berdiri seperti arca, terpesona dan memandang dara itu berlari sampai lenyap dari pandang matanya.
Hatinya penuh rasa suka, penuh harap, akan tetapi juga penuh kekhawatiran. Dia akan menjadi suami Puteri
Nirahai! Dia akan menjadi putera mantu Kaisar Mancu! Siapa dapat percaya? Ia merasa seperti dalam mimpi
dan tak terasa lagi ia berloncatan mengejar Nirahai! Setelah tampak olehnya bayangan Nirahai yang sudah
jauh, barulah ia merasa yakin bahwa dia tidaklah mimpi. Semua peristiwa tadi malam adalah kenyataan, bukan
mimpi! Dan masih ada buktinya lagi, yaitu dua buah makam. Dia harus melihat lagi kedua makam itu untuk
meyakinkan hatinya bahwa dia tidaklah mimpi.
Akan tetapi ketika ia membalikkan tubuh hendak kembali ke makam, ia terbelalak kaget dan heran melihat
seorang kakek tua renta berdiri seperti arca, tegak dengan kedua tangan bersedakap dan kepala menunduk di
depan dua makam baru itu! Kakek itu sudah tua sekali, rambutnya yang riap-riapan, jenggotnya yang panjang,
dunia-kangouw.blogspot.com
kumisnya yang menjuntai ke bawah, alisnya yang panjang sampai ke pipi telah putih semua, tidak ada yang
hitam selembar pun. Akan tetapi, kakek tua renta ini tubuhnya masih tegak, tinggi besar dan nampak sehat
kuat. Pakaiannya hitam dari kain kasar dengan potongan sederhana sekali, lengan baju pendek di atas siku,
kaki celana pendek di bawah lutut dan kedua kakinya telanjang. Kulit lengan dan kakinya putih bersih dan tidak
tampak keriput!
Tiba-tiba kakek itu menoleh ke arah Han Han dan pemuda yang tadinya berniat menghampiri kakek itu
tersentak kaget dan terpukau di tempatnya. Sinar mata kakek itu mencorong seperti mata harimau di waktu
malam dan mengandung pengaruh mukjizat yang membuat Han Han merasa kakinya seperti lumpuh! Akan
tetapi kakek itu segera membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi dari depan makam, tidak menengok lagi
kepada Han Han.
“Locianpwe, harap berhenti dulu...!” Han Han berteriak dan meloncat melakukan pengejaran.
Akan tetapi kakek itu sama sekali tidak mempedulikan, menengok pun tidak dan terus melangkah maju dengan
enaknya, akan tetapi, ternyata demikian cepatnya sehingga Han Han yang berloncatan itu tidak mampu
mengejarnya!
“Locianpwe, tunggu...!” Han Han berteriak lagi dan kini ia mengerahkan ginkang-nya, mempergunakan ilmunya
berlari cepat berdasarkan Ilmu Soan-hong-lui-kun sehingga tubuhnya seolah-olah terbang, berloncatan dengan
kecepatan laksana kilat menyambar.
“Locianpwe...!” Han Han memanggil.
Sungguh aneh sekali, kakek itu tetap berjalan seenaknya, kelihatan perlahan saja, dengan tubuh tegak dan
kedua kaki melangkah panjang-panjang, akan tetapi jarak antara dia dan Han Han tidak pernah berubah,
masih sejauh tadi.
Han Han merasa seolah-olah dalam mimpi. Ia tidak percaya akan penglihatannya sendiri. Masa dia tidak
mampu mengejar kakek yang hanya berjalan biasa itu? Kalau kakek itu berlari cepat, dia masih tidak
penasaran. Akan tetapi kakek itu hanya berjalan biasa, namun tetap saja ia tidak mampu menyusul!
“Locianpwe, teecu hendak bicara, harap suka menunggu dulu!” Untuk ketiga kalinya Han Han berseru keras.
Kakek itu menengok sekali lalu berkelebat cepat bukan main, sebentar saja sudah amat jauh dan hanya
tampak sebuah titik hitam!
Han Han terkejut. Maklumlah ia bahwa kakek itu adalah seorang yang memiliki kesaktian luar biasa. Dia
mengejar terus ke arah titik hitam yang masih tampak bergerak maju. Sehari penuh ia terus mengejar sambil
berloncatan mendekat.
Akan tetapi setelah mengejar sampai hari menjadi sore akhirnya kakek itu lenyap di antara bangunanbangunan
mungil di dekat sebuah telaga! Timbul keinginan hati Han Han untuk menyelidiki siapa gerangan
kakek yang memiliki kepandaian luar biasa itu, maka dia lalu menghampiri dua buah bangunan kecil yang
berdiri di kanan kiri telaga.
Hari telah senja dan suasana di sekitar telaga itu sunyi bukan main. Han Han menghampiri bangunan dan
ternyata bangunan itu kosong. Ia menyelinap ke samping bangunan, berloncatan perlahan dibantu tongkat
yang ia pegang dengan tangan kiri dan ketika ia tiba di pinggir telaga, ia berdiri tertegun melihat kakek yang
tadi dikejar-kejarnya itu sedang duduk menongkrong (berjongkok) di atas sebuah batu besar di pinggir telaga,
tangan kiri memegang lutut, tangan kanan memegang sebatang tangkai pancing dan matanya termenung
memandang ke air telaga. Kakek itu ternyata sedang enak-enak memancing!
Kakek itu menengok dan kembali Han Han terkejut ketika bertemu pandang dengan mata kakek itu. Kakek itu
pun menatap wajah Han Han dengan tajam, penuh selidik, kemudian berkata dengan ramah dan wajahnya
yang membayangkan ketenangan dan kesabaran luar biasa itu berseri, “Orang muda, mengapa engkau
mengejar-ngejar aku?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Han berdiri dengan penuh hormat di dekat kakek itu, mengamati wajah itu yang seperti pernah dikenalnya.
Kemudian dengan sikap hormat dan suara halus ia berkata, “Teecu mohon maaf sebanyaknya kalau teecu
mengganggu locianpwe dan lancang datang ke tempat ini.”
“Tidak mengapa, orang muda. Aku tadi segan menghadapimu karena memang sudah terlalu lama aku
mengasingkan diri, menjauhkan diri dari dunia ramai.”
Tiba-tiba Han Han teringat dan cepat ia menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu. “Ah, sekarang teecu ingat.
Mohon locianpwe memaafkan. Kiranya locianpwe adalah Koai-lojin...!” Han Han berkata dengan seruan girang.
“Locianpwe yang telah menolong teecu ketika teecu hendak dibunuh oleh Ma-bin Lo-mo dan Kang-thouw-kwi...
dan... dan locianpwe adalah Kam Han Ki Locianpwe atau yang terkenal dengan julukan Koai-lojin, penghuni
Pulau Es!”
Kakek itu menarik napas panjang. “Bangunlah, Suma Han, dan duduklah di atas batu ini agar kita dapat bicara
dengan leluasa.”
Girang bukan main hati Han Han. Bertemu dengan kakek ini baginya seperti bertemu dengan seorang guru
besarnya sendiri, seperti bertemu dengan dewa! Ia lalu bangkit berdiri dan duduk di dekat kakek yang sedang
memancing itu.
“Dugaanmu memang benar, akulah yang disebut Koai-lojin, dahulu penghuni Pulau Es bersama dua orang
sumoi-ku yang telah kau rawat dan makamkan jenazahnya secara baik. Aku bersyukur melihat kebaikanmu,
Suma Han.”
Han Han kagum sekali mendapat kenyataan bahwa kakek ini sudah mengenal namanya, mengenal nama
keturunannya. Akan tetapi kakek yang amat sakti ini tentu saja sudah mengetahui segala hal!
“Sungguh berbahagia sekali teecu dapat berjumpa dengan suhu!” Han Han menyebut suhu karena bukankah
dia murid Pulau Es, berarti murid kakek ini dan murid kedua orang nenek yang telah tewas?
Kakek itu tersenyum tanpa mengalihkan pandang matanya dari ujung tali pancing yang tenggelam di
permukaan air telaga, kemudian ia mengangguk. “Yah, boleh juga engkau menyebut aku suhu setelah engkau
mempelajari ilmu-ilmu dari Pulau Es. Dan aku girang sekali melihat sepak terjangmu selama ini. Engkau
keturunan keluarga Suma yang banyak melakukan penyelewengan dalam hidup mereka. Dari kakek buyutmu
Suma Boan, sampai kakek buyutmu Suma Kiat, dan kakekmu Suma Hoat. Aku gembira melihat sepak
terjangmu tidak seperti mereka dan agaknya engkau mewarisi watak yang baik dari kakak nenek buyutmu,
yaitu pendekar sakti Suling Emas. Dan aku girang sekali melihat kakimu yang kiri buntung.”
Di dalam hatinya, Han Han merasa heran dan tercengang mendengar ini, dan ia teringat akan nasehat hwesio
tua renta di Siauw-lim-si, Kian Ti Hosiang yang menasehatkan agar dia membuntungi kaki kirinya! Rasa
penasaran agaknya terbayang di wajahnya karena kakek itu tertawa dan menoleh kepadanya sambil berkata.
“Suma Han. Perlu diketahui agar engkau tidak penasaran. Andai kata tidak terjadi seperti sekarang, andai kata
kaki kirimu tidak dibuntung orang, agaknya sekarang ini engkau sudah mati.”
“Ahhhhh...!” Han Han terkejut bukan main dan memandang kakek itu dengan mata terbelalak, tidak percaya.
“Suhu, mohon petunjuk mengapa begitu? Dahulu pernah Kian Ti Hosiang dari Siauw-lim-si menasehatkan
teecu agar teecu membuntungi kaki kiri teecu!”
Kakek itu mengangguk-angguk. “Kian Ti Hosiang kiranya masih berpemandangan awas, sungguh
mengagumkan. Ketahuilah, Suma Han, entah bagaimana asal mulanya aku sendiri tidak tahu, akan tetapi
berbareng dengan hawa mukjizat yang terpancar keluar dari pandang matamu itu, ada sebuah penyakit yang
amat jahat mengeram di dalam tubuhmu, yaitu di kakimu yang kiri. Penyakit itu timbul di dalam daging betismu
dan menanam akar-akarnya pada urat-urat halus dan jalan darahmu. Tidak ada obat di dunia ini yang dapat
membasmi penyakit itu dan jalan satu-satunya hanyalah membuntungi kaki yang dihinggapi penyakit itu. Kalau
tidak dibuntungi, akar penyakit itu akan menjalar terus, makin lama makin meluas, dari kakimu akan naik ke
perut, kemudian kalau sudah mencapai jantungmu, darahmu akan habis dihisapnya dan engkau akan mati.
dunia-kangouw.blogspot.com
Maka sungguh untung sekali bahwa kakimu dibuntungi orang sebelum akar penyakit naik ke perutmu sehingga
bersama dengan kakimu yang buntung itu, penyakitnya ikut pula terbuang.”
Han Han bergidik ngeri. Kiranya begitukah? Bagaimana timbulnya penyakit itu? Apakah sejak... sejak ia
melihat ibu dan enci-nya diperkosa orang kemudian ia dibanting ke dinding oleh perwira Mancu?
“Terima kasih atas keterangan suhu. Sungguh pun teecu tak dapat mengerti bagaimana dapat terjadi hal yang
seaneh itu, akan tetapi teecu percaya dan setelah kini secara kebetulan Thian memberi berkah kepada teecu
dapat berjumpa dengan suhu, teecu mohon petunjuk-petunjuk suhu.”
“Hemmm... petunjuk apa lagi yang dapat kuberikan kepadamu? Ilmu kepandaianmu telah cukup setelah
engkau menerima warisan Ilmu Song-hong-lui-kun dari Sumoi Khu Siauw Bwee. Hemmm... dua buah
bangunan ini kubuat di sini untuk mereka, kedua orang sumoi-ku, siapa kira mereka telah mendahuluiku
meninggalkan dunia yang keruh oleh perbuatan manusia ini. Tidak ada lagi yang dapat kuberikan kepadamu,
Suma Han, hanya obrolan-obrolan kosong yang kiranya ada gunanya kalau engkau mampu menangkap inti
sarinya. Aku sudah bosan akan keramaian dunia, sudah makin terhimpit perasaanku menyaksikan ulah
manusia di dunia ramai. Engkau sudah datang ke sini, segala pertanyaanmu akan kujawab. Aku sudah
menjauhkan diri dari pada perbuatan-perbuatan yang hanya akan menambah keruhnya dunia. Aku lebih
senang hidup bebas lepas, menyatukan diri dengan alam semesta dan melihat segala kewajaran terjadi
demikian indah dan gaibnya, tiada terganggu oleh manusia yang penuh kepalsuan nafsu-nafsunya, semua
berjalan lancar seperti gerakan awan, matahari, bulan dan bintang.”
Han Han adalah seorang pemuda yang amat peka perasaannya terhadap filsafat, dan dia jujur, kritis dan
berani menyatakan suara hatinya. Mendengar ucapan kakek yang dianggap gurunya sendiri itu, dia lalu
berkata.
“Harap suhu maafkan pertanyaan teecu yang lancang. Suhu tadi menyatakan tidak suka akan ulah manusia
yang dipalsukan oleh nafsu, dan suhu lebih senang hidup menyatukan diri dengan alam bebas, akan tetapi...
maaf, suhu, mengapa suhu masih suka memancing ikan? Bukankah perbuatan ini berarti membahayakan
kebebasan hidup ikan-ikan di telaga ini?”
“Ha-ha-ha! Bagus sekali! Aku sudah khawatir kalau-kalau engkau hanya tunduk secara membuta saja, muridku
yang baik! Pertanyaanmu itu membuktikan bahwa engkau pandai mempergunakan akal budi dan
kesadaranmu sendiri, tidak hanya ikut-ikutan dan tidak menganut pelajaran secara membuta tanpa
mengadakan wawasan dan mempergunakan nalar (logika). Engkau heran melihat aku memegang tangkai
pancing? Nah, lihatlah!” Kakek itu mengangkat tangkai pancingnya dan Han Han terbelalak heran. Di ujung tali
pancingnya, hanya tali biasa saja yang dipasangi sepotong kerikil!
“Ah, maaf, suhu. Teecu berani menduga yang bukan-bukan, tetapi... apakah gunanya suhu memancing tanpa
umpan, melainkan hanya memakai batu? Mengapa suhu... eh, bermain-main seperti anak kecil?”
“Ha-ha-ha, tepat sekali! Anak-anak kecil yang masih gemar bermain-main itulah manusia-manusia yang wajar
dan murni, muridku. Betapa bahagianya kalau seorang kakek-kakek dapat kembali wajar seperti kanak-kanak!
Aku memang bermain-main, muridku, bermain dengan apa yang disebut manusia dengan kata-kata nasib,
yaitu nasib ikan!”
Han Han tidak mengerti dan memandang kakek itu dengan sinar mata penuh pertanyaan. Koai-lojin tertawa
lagi dan berkata, “Banyak ikan di telaga ini, akan tetapi kenapa kebetulan ikan ini dan ikan itu yang mendekat
pancing dan menyentuh batu dengan mulutnya? Kalau pancing ini pancing benar-benar, bukankah ikan itu
akan terkait pancing dan mati? Aku senang bermain-main dengan ini melihat-lihat dan menduga-duga ikan
mana gerangan yang akan berjodoh dan menyentuh umpan batu ini, ha-ha-ha!”
Han Han ikut tertawa dan diam-diam ia menggeleng kepala. Betapa aneh selera kakek ini dalam mencari
kesenangan bermain-main! Apa sih senangnya dengan permainan seperti itu? Namun permainan ini saja
sudah membuktikan betapa tajam pandang mata kakek itu sehingga dapat melihat ikan di dalam air. Kalau
tidak dapat melihat tentu tidak akan senang, karena tidak melihat ikan yang menyentuh umpannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Marilah ikut ke dalam pondok, Suma Han. Perutku sudah lapar, dan engkau tentu suka menemani aku minum
sambil bercakap-cakap, bukan?”
Girang hati Han Han, akan tetapi menjadi makin heran melihat sikap kakek ini yang biasa saja, tidak sedikit
pun memperlihatkan keanehan seperti orang-orang sakti lainnya. Ia lalu mengikuti kakek itu yang memanggul
tangkai pancingnya dan berjalan melenggang seenaknya dengan wajah gembira seperti wajah seorang tukang
pancing yang memperoleh banyak hasil!
Ketika memasuki pondok kecil mungil yang berada di sebelah kanan, Han Han melihat makanan sudah
tersedia di atas meja yang serba lengkap. Sayur-sayuran dimasak tidak kurang dari lima macam, ada buahbuahan
yang masak dan bermacam-macam, bahkan tersedia arak wangi! Pemuda ini makin terheran-heran
memandang semua itu.
“Duduklah, Suma Han. Makanan ini aku sendiri yang memasaknya, buah-buahan itu pun aku sendiri yang
mencari di hutan, dan arak ini... ha-ha, kubeli dari warung arak di dusun sebelah utara. Marilah kita makan nasi
ditemani sayur dan minum arak!”
Bagaikan seorang petani tua yang ramah sedang menjamu tamunya, Koai-lojin lalu mengajak Han Han makan
bersama. Sikapnya biasa saja seperti seorang petani sederhana sungguh pun masakan-masakan itu ternyata
enak juga, agaknya memakai bumbu yang cukup dan araknya pun amat baik!
Han Han tidak berani bertanya lagi dan makan tanpa berkata apa-apa. Setelah mereka menghabiskan nasi
dan sayur, makan buah-buahan dan minum arak, kakek itu menarik napas penuh kepuasan lalu berkata.
“Suma Han, mengapa engkau menyimpan keherananmu di dalam hati? Kalau engkau terheran menyaksikan
sikap dan perbuatanku, tanyalah. Hanya dengan bertanya orang dapat mengerti, dan bertanya adalah senjata
seorang yang rendah hati, sedangkan hanya orang rendah hati saja yang akan mendapatkan kemajuan dalam
perjalanan hidupnya.”
Kembali Han Han terkejut. Kakek ini kelihatannya biasa sederhana dan wajar tidak membayangkan keanehan
dan tidak bersikap sebagai orang sakti, namun mengapa dapat mengetahui isi hatinya?
“Maaf, suhu. Teecu memang amat terheran-heran menyaksikan suhu dan agaknya inilah sebabnya suhu
disebut Koai-lojin (Orang Tua Aneh). Suhu mengasingkan diri dari dunia ramai. Biasanya, seorang pendeta
yang mengasingkan diri dari dunia ramai adalah orang-orang yang tekun bertapa, berpuasa atau kalau makan
pun seadanya saja, daun dan rumput, minum pun air yang keluar dari sumber, pekerjaannya hanya memuja
Tuhan dan bersembahyang demi keselamatan umat manusia. Akan tetapi suhu, maaf... agaknya suhu masih
suka menikmati hidangan yang lezat biar pun tanpa daging.”
“Untuk bersembahyang dan memuja Tuhan tidak perlu mencari tempat sunyi karena Tuhan berada di mana
pun juga dan kekuasaan-Nya bekerja di dalam segala benda dan makhluk di seluruh alam. Tidak, Suma Han,
aku tidak seperti mereka yang mencari tempat sunyi mengasingkan diri untuk memuja Tuhan. Aku
meninggalkan dunia ramai, menjauhkan diri dari pada manusia lain karena dunia ramai menggoncangkan
ketenteraman hatiku, membuat aku kecewa dan berduka. Manusia telah menyelimuti diri dengan kepalsuankepalsuan
yang mereka sebut peradaban, yang pada hakekatnya bagaikan sebatang pohon tua yang jahat,
yang berakar di dalam seluruh kehidupan manusia, yang kembang-kembangnya berupa murka, dengki, iri,
dendam dan segala perbuatan jahat, buah-buahnya berupa kesengsaraan, ketakutan dan penderitaan.”
Han Han mendengarkan dengan penuh perhatian dan memandang kakek itu yang mengaso sebentar untuk
minum seteguk arak wangi dari cawannya.
“Aku meninggalkan keramaian bukan untuk bersembahyang dan hidup sebagai pendeta atau pertapa, karena
bersembahyang adalah nyanyian hatiku, dan setiap sembahyang akan terdengar oleh Tuhan biar pun hanya
dibisikkan hati di antara kebisingan dan keramian. Aku tidak berpuasa dan menuntut hidup pertapa karena aku
tidak mau menyiksa tubuh dan perasaan. Tubuh manusia merupakan rumah bagi jiwa, maka adalah
kewajibanku untuk memelihara baik-baik rumah yang diberikan oleh Tuhan kepadaku ini. Aku pun tidak
menolak anugerah Tuhan berupa kenikmatan bagi tubuhku, asal saja dapat dipisahkan kenikmatan yang
dunia-kangouw.blogspot.com
berguna dan yang merusak. Yang merusak tentu takkan kulakukan karena aku segan untuk merusak rumah
jiwaku.”
Han Han mengangguk-angguk, takjub akan filsafat yang demikian sederhana namun wajar, tidak
mengkhayalkan yang tinggi-tinggi, sungguh jauh bedanya dengan filsafat-filsafat kuno yang sering dibacanya.
“Manusia sekarang lupa bahwa makan adalah kebutuhan tubuh atau langsung adalah kebutuhan perut karena
yang menampungnya pertama kali adalah perut. Manusia terlalu mabuk akan kesenangan sehingga untuk
makan pun yang diutamakan adalah kelezatannya, yang mendatangkan rasa enak pada mulut tanpa
mempedulikan kegunaannya bagi si perut, lupa bahwa yang enak bagi mulut belum tentu enak bagi perut
sehingga terlalu sering terjadi mulut menikmati makanan yang sesungguhnya merupakan racun bagi perut dan
tubuh seluruhnya!”
“Suhu, kenikmatan dan kegunaan apakah yang suhu dapat peroleh dari pengasingan diri dari dunia ramai ini?”
“Aku hidup di alam bebas dan menikmati keindahan dan keagungan alam yang sudah tak dapat tampak lagi
oleh mata manusia yang hampir buta oleh kesenangan duniawi, melihat cahaya keemasan matahari,
menikmati keharuman bunga-bunga, juga dapat mendengarkan dendang merdu anak sungai mengalir dan
bisikan-bisikan angin pada daun-daun pohon. Aku mengagumi kekuasaan Tuhan yang tampak nyata di manamana,
dan aku berusaha untuk menyatukan diri dengan segala keindahan alam ini, sesuai dengan kekuasaan
Tuhan.”
Demikianlah, dengan filsafat yang gamblang, yang tidak berliku-liku, Han Han menerima gemblengan batin dari
kakek itu selama belasan hari di pinggir telaga. Pada hari ke lima belas, kakek itu berkata setelah mereka
sarapan pagi, “Hari ini kita berpisah, muridku. Aku akan pergi dari tempat ini.”
“Suhu hendak pergi ke manakah dan kapan teecu diperkenankan menghadap suhu lagi?”
Kakek itu tertawa dan mengelus jenggotnya. “Entahlah, aku ingin mengikuti jejak angin dan awan! Dan apa bila
Tuhan menghendaki, tentu kita dapat saling berjumpa lagi.”
Han Han lalu menjatuhkan diri berlutut. “Suhu, sebelum suhu meninggalkan teecu, teecu mohon petunjuk suhu
dan sudilah memberi tambahan ilmu untuk teecu pergunakan dalam tugas teecu membela kebenaran dan
keadilan, menentang kelaliman dan kejahatan.”
“Ha-ha-ha! Memang amat merdu dan indah bunyinya! Membela kebenaran dan keadilan, menentang kelaliman
dan kejahatan! Betapa merdu dan indah bunyinya, akan tetapi betapa lucu kenyataannya, seperti judul adegan
panggung serombongan badut! Karena itu, kuperingatkan kepadamu, Suma Han, jangan engkau menjadi
seorang di antara badut-badut yang tidak lucu itu. Membela kebenaran dan keadilan siapa? Kebenaran dan
keadilan untuk siapa? Kalau hanya benar dan adil untukmu sendiri, jangan disebut-sebut lagi karena semua itu
palsu! Menentang kelaliman dan kejahatan yang mana? Hati-hatilah menentukan ini, Suma Han, dan yang
terpenting adalah mengalahkan kelaliman dan kejahatan yang merajalela di dalam hati sendiri, dibangkitkan
oleh nafsu kesenangan pribadi. Yang baik itu belum tentu baik, sedangkan yang buruk juga belum tentu buruk.
Dan jangan sekali-kali engkau memandang rendah yang buruk karena sudah jelas bahwa hanya karena
adanya buruk maka ada baik, karena ada kedosaan maka manusia mengejar kesucian. Karena adanya
Neraka maka ada Sorga. Tanpa ada keburukan mana mungkin ada kebaikan? Karena itu, pengejaran
kebaikan itu pertama-tama dicetuskan oleh keburukan! Kepandaianmu sudah cukup, engkau minta ilmu apa
lagi? Di samping ilmu-ilmu silatmu yang tinggi, tenaga sinkang-mu yang sukar dilawan, ginkangmu yang luar
biasa dengan ilmu Soan-hong-lui-kun, engkau masih memiliki kekuatan dahsyat yang mukjizat, yang masih
terpendam. Tanpa kau sadari, mungkin timbul berbareng dengan penyakitmu yang aneh itu, engkau telah
memiliki tenaga i-hun-to-hoat yang amat kuat dan dengan kekuatan batin yang dahsyat ini, siapakah yang
akan dapat mengalahkanmu?”
Han Han teringat akan ilmu mukjizat yang sering kali timbul dalam dirinya, teringat akan pengalamanpengalamannya
yang lalu di mana tanpa disadari ia dapat menundukkan lawan hanya dengan kekuatan
kemauannya menguasai kemauan orang lain. Akan tetapi ia pun terkejut mendengar disebutnya ilmu itu, dan
teringat pula betapa dahulu ketika ia masih kecil, ia dituduh memiliki ilmu I-hun-to-hoat oleh mendiang Lauwdunia-
kangouw.blogspot.com
pangcu. Setelah ia dewasa dan banyak mengenal tokoh-tokoh kang-ouw, ia tahu bahwa I-hun-to-hoat adalah
semacam ilmu sihir yang dimiliki oleh Thai Li Lama. Maka ia terkejut dan cepat berkata.
“Suhu, teecu tidak pernah mempelajari I-hun-to-hoat. Bukankah ilmu itu semacam ilmu sihir yang berbahaya
dan jahat?”
“Ilmu tetap ilmu, baik atau jahatnya tergantung si pemakai. Akan tetapi memang benar bahwa makin tinggi ilmu
itu, makin berbahaya karena besarnya kegunaan ilmu yang tinggi membuat manusia lupa diri dan
mempergunakannya untuk mengejar kesenangan pribadi dengan merugikan orang lain. I-hun-to-hoat adalah
ilmu untuk menguasai pikiran dan kemauan orang. Engkau sudah memiliki tenaga yang amat kuat, yang timbul
secara aneh melalui pandang matamu. Hanya tinggal kau menguasainya saja, sehingga mampu
mempergunakannya. Aku percaya bahwa engkau akan dapat memanfaatkan ilmu itu sebaik-baiknya. Caranya
hanya melalui siulian dan pemusatan kekuatan yang kemudian diluncurkan keluar melalui pandang mata dan
suara.” Dengan jelas Koai-lojin memberi petunjuk kepada Han Han sampai dua jam lebih. Akhirnya Han Han
dapat mengerti jelas dan sebelum pergi, kakek itu berpesan.
“Engkau harus berhati-hati benar dengan ilmu ini, Suma Han. Dengan ilmu ini, yang kutahu amat kuat berada
dalam dirimu, engkau akan menjadi seorang yang sukar terkalahkan dan dengan ilmu itu engkau dapat
melakukan apa saja sehingga akan mudah menyeretmu sendiri ke jurang kehancuran. Selamat tinggal!” Koailojin
berkelebat pergi meninggalkan muridnya yang masih berlutut.
Hati Han Han menjadi makin kuat karena kepercayaan kepada diri sendiri makin kokoh. Ilmu baru yang
dimilikinya membuat ia menjadi makin tenang, akan tetapi juga makin hati-hati mengendalikan perasaan dan
hatinya, karena ia tahu bahwa dengan ilmunya ini ia akan dapat menguasai manusia lain yang tentu saja tidak
memiliki kekuatan batin yang amat kuat.
Karena waktu yang dijanjikan oleh Puteri Nirahai tinggal beberapa hari lagi, maka Han Han lalu
mempergunakan gerak kilatnya untuk berloncatan cepat meninggalkan tempat itu, menuju ke kota raja. Biar
pun ia menghadapi saat yang amat menyenangkan, yaitu perjumpaannya kembali dengan puteri itu, namun
hatinya tetap diliputi kekhawatiran kalau-kalau akan muncul penghalang besar bagi kebahagiaannya bersama
Nirahai.....
********************
Han Han tiba di kota raja tepat pada hari yang dijanjikan, yaitu sebulan setelah berpisah dengan Nirahai. Pagi
hari itu dengan tenang ia berjalan memasuki kota raja dan langsung ia menuju ke istana. Akan tetapi jauh
sebelum ia tiba di pintu gerbang istana, seorang perwira muda tinggi besar memanggilnya.
“Suma-taihiap...!”
Han Han menoleh dan memandang perwira muda itu dengan heran. Dia tidak mengenal perwira itu, namun ia
yakin perwira itu memanggilnya karena kini perwira itu dengan langkah lebar menghampirinya, menoleh ke
kanan kiri dan berkata perlahan.
“Harap taihiap suka mengikuti saya. Ada pesan penting dari Puteri Nirahai untuk taihiap!”
Han Han mengangguk dan keningnya berkerut, hatinya tidak enak rasanya ketika ia terpincang-pincang
mengikuti perwira itu yang berjalan menuju ke tempat sepi di jembatan sebelah barat. Di tempat sepi ini ia
berhenti dan mengajak Han Han menyeberangi jembatan. Kemudian ia berkata.
“Saya diberi tugas oleh Sang Puteri untuk menghadang taihiap dan menyerahkan surat ini. Maaf, saya tidak
dapat menemani taihiap lebih lama lagi karena kalau sampai ketahuan, tentu saya akan ditangkap. Dan
sebaiknya kalau taihiap lekas keluar dari kota raja karena taihiap dianggap sebagai seorang pelarian yang
harus ditangkap.” Setelah berkata demikian, perwira muda itu cepat pergi meninggalkan Han Han.
Makin tidak enak rasa hati Han Han, akan tetapi ia menekan perasaannya dan tetap bersikap tenang.
Dibukanya sampul surat itu dan dikeluarkannya sehelai kertas yang penuh dengan tulisan indah dan halus,
dunia-kangouw.blogspot.com
tulisan Nirahai yang sudah dikenalnya ketika mereka bersama mengukir batu nisan untuk makam kedua orang
nenek di puncak Bukit Cengger Ayam.
Han Han mulai membaca dan kerut di antara alisnya makin mendalam, sinar matanya menjadi tajam berapi
membayangkan kemarahan. Apakah isi surat kekasihnya itu? Kabar buruk! Terlampau buruk bagi Han Han
yang datang dengan hati penuh harapan dan kegembiraan, sungguh pun kabar buruk seperti yang
dibayangkan dari tulisan Nirahai ini memang sudah dikhawatirkannya.
Di dalam surat itu Nirahai menceritakan betapa kaisar menjadi marah sekali ketika Nirahai menceritakan
tentang perjodohan itu dan mohon ijin. Kaisar marah-marah dan memakinya sebagai anak yang tak tahu malu,
mencemarkan nama besar Kerajaan Mancu. Masa puteri Kaisar Mancu yang mulia, puteri yang terkenal
sebagai seorang panglima besar akan menikah dengan seorang bekas pemberontak, seorang yang telah
membunuh Ouwyang Seng yang tadinya direncanakan hendak dijadikan suami Nirahai, bahkan seorang yang
buntung sebelah kakinya! Kemarahan kaisar amat hebat sehingga kaisar memerintahkan para pengawal untuk
menangkap Nirahai dan memasukkan puterinya sendiri itu ke dalam penjara istana!
‘Aku ditahan di dalam kamarku sendiri di istana,’ demikian Nirahai menutup suratnya, ‘dilayani seperti biasa
akan tetapi dikurung pasukan pengawal dan tidak boleh keluar dari kamar. Aku bingung dan tidak tahu apa
yang harus kulakukan. Han Han, aku cinta padamu akan tetapi aku pun berat kepada keluarga dan kerajaanku.
Biarlah kuanggap hal ini sebagai ujian, ujian bagi cinta kasih kita, terutama ujian bagi cintamu. Terserah
kepadamu apa yang akan kau lakukan kini untuk mencari jalan keluar!’
Dengan sinar mata berapi Han Han membaca kalimat-kalimat terakhir, ‘Aku tahu bahwa Ayahanda Kaisar telah
terkena hasutan Pangeran Ouwyang Cin Kok sehingga beliau membencimu dan menyatakan bahwa aku lebih
baik mati dari pada menjadi isterimu!’
Han Han membaca sekali lagi isi surat itu dari awal sampai akhir, kemudian ia meremas hancur kertas itu.
Nirahai menantangnya! Menantangnya untuk mengambil keputusan, untuk bertindak demi cinta kasihnya! Dan
Pangeran Ouwyang Cin Kok adalah biang keladi dari kegagalan ini. Timbul niatnya untuk mendatangi istana
pangeran itu dan hendak mengamuk untuk kedua kalinya, membunuh pangeran tua itu.
Akan tetapi, teringat akan wejangan Koai-lojin, ia cepat menarik kembali dan menekan nafsu amarahnya,
menghapus dendamnya dengan kesadaran bahwa Pangeran Ouwyang Cin Kok bersikap seperti itu tentu ada
sebabnya. Dan sebabnya adalah kematian putera tunggalnya, yaitu ouwyang Seng. Ayah manakah yang tidak
akan menjadi marah, sakit hati, dan bertekad untuk membalas dendam atas kematian puteranya yang dibunuh
orang? Han Han menghela napas dan mengusir pergi ba-yangan Pangeran Ouwyang Cin Kok, bahkan lalu
memusatkan pikirannya untuk menyelundup ke istana dan bagaimana untuk dapat membebaskan Nirahai.
Ia harus membebaskan Nirahai dari tahanan dan membawanya lari! Jelas kekasihnya itu menantangnya untuk
bertindak. Ia tahu bahwa dengan ilmu kepandaiannya dan pengaruhnya, tentu saja Nirahai dapat
membebaskan diri sendiri tanpa ada pengawal yang berani menghalanginya, akan tetapi puteri itu agaknya
tidak suka memberontak terhadap keputusan ayahnya. Maka puteri itu menantangnya untuk bertindak, karena
kalau Han Han yang turun tangan membebaskannya, hal itu tidak dapat dianggap sang puteri memberontak.
Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, tidak sukar bagi Han Han untuk meloncat ke atas benteng yang
mengelilingi istana, kemudian cepat sekali, dilindungi oleh kegelapan malam, pemuda ini meloncat turun ke
dalam taman istana. Dengan mudah ia dapat menemukan kamar Puteri Nirahai karena kamar ini merupakan
sebuah bangunan mungil dan mewah tak jauh dari taman, dan bangunan ini dijaga oleh kepungan pasukan
pengawal yang jumlahnya seratus orang lebih! Tidak mungkin memasuki bangunan itu tanpa diketahui mereka
karena sekeliling bangunan kecil itu dikepung ketat.
Kebetulan sekali Han Han melihat empat orang wanita-wanita muda yang cantik-cantik, berpakaian sebagai
pelayan-pelayan istana jalan beriringan datang menuju ke bangunan itu sambil membawa baki-baki yang
tertutup kain, agaknya hidangan untuk sang puteri. Han Han cepat mengerahkan kekuatan batinnya dan
meloncat ke depan, muncul dari balik pohon dan berkata.
“Adik-adik yang manis, aku adalah rekan kalian! Aku pelayan dari istana Ibunda Sang Puteri, diperintahkan
oleh beliau untuk menjenguk keadaan puterinya.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Empat orang wanita pelayan itu tertegun melihat berkelebatnya bayangan, akan tetapi hati mereka lega ketika
melihat seorang wanita cantik yang berpakaian seperti mereka! Mereka adalah pelayan-pelayan Puteri Nirahai
dan biar pun belum pernah melihat ‘gadis pelayan’ yang muncul ini, akan tetapi mereka percaya bahwa tentu
ini pelayan dari ibunda sang puteri, kalau tidak siapa lagi berani menyamar di tempat itu?
“Kalau begitu, marilah ikut bersama kami, Cici. Kami pun hendak mengantar hidangan malam Sang Puteri,”
jawab seorang di antara mereka.
Han Han yang sudah berhasil menguasai empat orang wanita pelayan itu menggunakan kekuatan gaib yang
memancar keluar dengan pengaruh mukjizat sehingga mereka melihat dia sebagai seorang pelayan cantik,
lalu berjalan perlahan di belakang empat orang pelayan itu. Mereka mengambil jalan memutar dan
menghampiri pintu samping yang terjaga oleh lima orang pengawal. Melihat datangnya empat pelayan Sang
Puteri Nirahai, lima orang pengawal itu segera mengenal mereka dan tidak berani main-main karena pelayanpelayan
Puteri Nirahai ini selain memiliki ilmu silat yang tak boleh dipandang ringan, juga para pelayan Nirahai
terkenal galak-galak dan tidak boleh diganggu.
Han Han sudah menggunakan kekuatan matanya sehingga lima orang pengawal itu pun melihatnya sebagai
seorang gadis pelayan dan membiarkan Han Han lewat bersama empat pelayan lain. Begitu memasuki sebuah
kamar besar yang berbau harum dan indah, empat orang pelayan itu sudah mengatur isi baki di atas meja dan
Han Han yang melihat Puteri Nirahai duduk termenung di dekat pembaringan, di atas sebuah bangku
menghadapi meja bundar, cepat menghampiri dengan jantung berdebar saking terharu dan girangnya.
Karena para pelayan masih berada di ruangan kamar itu, terpaksa Han Han lalu menggunakan kekuatan
matanya, sambil berlutut ia berkata, “Puteri, hamba datang menghadap...”
Nirahai membalikkan mukanya memandang dan dara ini bangkit berdiri. Sejenak matanya seperti orang
bingung, dikejap-kejap beberapa kali dan terpaksa Han Han harus mengerahkan pandang matanya dengan
tenaga mukjizatnya sambil berkata lagi untuk memperkuat pengaruhnya, “Hamba adalah seorang pelayan Ibu
Paduka.”
Biar pun Nirahai juga memiliki kekuatan batin yang besar serta kemauan yang keras tidak mudah dipengaruhi
orang lain, namun setelah kelihatan bingung sejenak, akhirnya ia terpengaruh juga dan berkata dengan lesu,
“Mau apa engkau?”
“Hamba akan menyampaikan sesuatu yang amat rahasia kepada Paduka, di bawah empat mata saja.”
Nirahai yang sedang kesal hatinya itu hampir marah, akan tetapi mengingat bahwa pelayan ini adalah utusan
ibunya, ia lalu menoleh kepada empat orang pelayannya dan berkata, “Kalian keluarlah dulu dari kamar ini!”
Empat orang pelayan yang sedang mengatur hidangan itu sejenak menengok ke arah Han Han, kemudian
mereka keluar dari kamar dan menunggu di luar kamar, di ruangan depan sambil berbisik-bisik. Hati mereka
merasa iri dan tidak senang karena belum pernah Puteri Nirahai mengusir mereka hanya karena hendak bicara
dengan seorang pelayan lain!
Setelah empat orang itu keluar dari kamar dan pintunya ditutup perlahan, Han Han bangkit berdiri dan berkata
halus penuh rasa haru, “Nirahai...!”
Nirahai meloncat ke belakang dan mukanya seketika berubah pucat ketika melihat Han Han telah berdiri di
depannya. Ia mengejap-ngejapkan matanya, menggoyang-goyang kepala, memandang bingung dan sampai
lama tak dapat mengeluarkan suara, kadang-kadang matanya mencari-cari ke kanan kiri, mencari pelayan
utusan ibunya tadi.
“Nirahai, jangan bingung. Pelayan tadi akulah yang jadi, akalku agar dapat masuk ke sini.”
Kini Nirahai memandang Han Han dengan mata terbelalak lebar, penuh kagum. Hatinya girang dan bangga
bukan main, akan tetapi juga penuh heran. Dia tahu bahwa pemuda ini memiliki ilmu kesaktian yang hebat,
dunia-kangouw.blogspot.com
jauh melampaui kepandaiannya sendiri, akan tetapi apa yang dilakukan pemuda itu tadi benar-benar membuat
dia tidak mengerti.
“Han Han...! Bagaimana...? Tadi... eh, bagaimana engkau bisa mengubah diri menjadi pelayan...?”
Han Han tersenyum dan melangkah maju, menyambar tangan kekasihnya itu dan memandang dengan wajah
berseri, tersenyum dan sinar matanya mesra. “Nirahai, aku sejak tadi tidak mengubah diri, hanya pandangan
mereka dan juga pandanganmu yang kuubah dan tunduk kepada kemauaku...”
“Ihhhhh... I-hun-to-hoat...?” Nirahai bertanya, tidak percaya. “Aku sudah melihat ilmu I-hun-to-hoat yang
dilakukan oleh Thai Li Lama, dan memang banyak yang terjatuh di bawah pengaruhnya, akan tetapi aku
sendiri dapat melawannya dan aku tidak terpengaruh!”
Han Han yang sudah merasa rindu sekali kepada Nirahai merangkul pundak dara itu. “Mungkin aku lebih kuat
dari pada dia, dan mungkin karena suaraku telah kau kenal, mungkin pula karena engkau tidak tahu bahwa
aku menggunakan ilmu kekuatan kemauanku, maka engkau terpengaruh. Nirahai... ahhhh, Nirahai, mengapa
menjadi begini ikatan kita...?”
Nirahai balas merangkul dan dara ini yang kini diingatkan akan keadaannya, terisak di atas dada Han Han.
“Sudah nasibku... nasibku yang buruk dan malang...!”
“Tidak, Nirahai. Tidak ada nasib buruk dan malang. Yang terjadi semua di dunia ini, yang menimpa kepada kita,
baik mau pun buruk, sudahlah semestinya dan tidak boleh kita terima sebagai nasib buruk. Hanya kita harus
berusaha untuk mengatasi segala persoalan. Sekarang, setelah aku berhasil masuk di sini bertemu denganmu,
apa yang kau kehendaki?”
Nirahai melingkarkan kedua lengannya di leher Han Han. “Aku menyerahkan kepadamu. Engkau pilihan
hatiku... terserah... aku hanya menurut...”
Han Han menjadi girang sekali dan baru sekarang ia merasa sebagai seorang laki-laki yang berdiri tegak,
penuh tanggung jawab dan dibutuhkan seorang seperti Nirahai! Dahulu, melindungi dan membela Lulu ia
anggap sebagai hal yang semestinya, tidak menimbulkan perasaan kagum seperti sekarang karena yang telah
menyerahkan nasib diri kepadanya adalah seorang puteri kaisar! Saking terharu dan girangnya, ia memegangi
kedua pipi dara itu, mengangkat mukanya dan mencium bibir yang tak pernah membosankan itu. Ia berbisik
mesra, “Nirahai, pujaan hatiku, calon isteriku... biarlah aku yang melarikan engkau dari tempat ini. Aku yang
mempertanggung jawabkan kesemuanya!”
Tiba-tiba Nirahai melepaskan pelukan Han Han, menyambar baju tebal, topi bulu dan pedang payungnya yang
baru. “Han Han, kita lakukan bersama, dan mempertanggung jawabkan bersama! Kalau kita berdua
menghendaki, siapakah yang akan mampu mencegah kita keluar dari sini?”
“Tidak, Nirahai. Tidak boleh begitu. Engkau ditahan sebagai tawanan oleh Ayahmu sendiri, tidak baik kalau
engkau memberontak. Biarlah aku yang...”
Tiba-tiba empat orang pelayan wanita itu yang tadi mendengar isak tangis sang puteri, kini membuka daun
pintu dan memasuki kamar. Nirahai berdiri tegak memandang, sama sekali tidak terkejut karena dia sudah siap
menghadapi segala kemungkinan. Setelah Han Han berada di sampingnya, puteri ini menjadi besar hatinya,
dibesarkan oleh rasa girang bahwa ujian terakhir bagi cinta kasih Han Han ternyata membuktikan bahwa
pemuda itu tidak gentar menghadapi tantangan dan bahaya untuk datang ke kamarnya, kamar tahanan dalam
istana yang dikepung ratusan orang pengawal! Kini hatinya besar dan ia menanti reaksi dari kekasihnya ketika
empat orang pelayan itu masuk.
Sejenak, empat orang pelayan itu terbelalak dengan muka pucat. Han Han segera berkata sambil
menggunakan ilmunya, “Akulah Dewa berkepala singa!”
Wajah empat orang pelayan itu menjadi pucat sekali ketika mereka melihat seorang laki-laki berkaki buntung
sebelah, memegang tongkat dan berkepala singa dengan sepasang mata mencorong dan mulut bergigi
runcing terbuka. Kemudian dengan kaki menggigil dan tubuh gemetar, empat orang pelayan itu melarikan diri
dunia-kangouw.blogspot.com
keluar dari pintu sambil menjerit-jerit seperti orang mengigau saking takutnya. Mereka adalah pelayan-pelayan
Nirahai yang memiliki ilmu silat lumayan, untuk menghadapi lawan manusia, mereka cukup dapat diandalkan.
Akan tetapi melihat orang berkepala singa tentu saja menjadi ketakutan.
Han Han mempergunakan kesempatan itu berkata cepat, “Nirahai, engkau menjadi tawananku. Biarlah aku
melarikan engkau dari tempat ini!”
Nirahai hanya mengangguk karena masih kagum menyaksikan pengaruh ilmu Han Han terhadap empat orang
pelayannya. Bagi kedua matanya, Han Han tetap seperti biasa, sama sekali tidak berkepala singa! Han Han
cepat menggerakkan jari tangan kanannya, menepuk pundak Nirahai dan menotok jalan darahnya sehingga
Nirahai terkulai lemas. Han Han lalu menyambar tubuh kekasihnya, memanggulnya di pundak kanan setelah
menyelipkan senjata kekasihnya di pinggangnya. Cepat seperti kilat menyambar ia sudah meloncat ke luar dari
dalam kamar itu, terus berlari keluar dari pintu samping dari mana tadi ia masuk bersama empat orang pelayan.
Keadaan di luar geger tidak karuan ketika empat orang pelayan itu menjerit-jerit dan berlari keluar. Sampai
lama mereka tidak dapat bicara, hanya mengeluarkan jerit seperti orang mengigau.
“Ssseeettttt... taaaaannn... singaaa...!”
Akhirnya para pengawal yang kebingungan menangkap lengan mereka untuk ditanyai.
Memang inilah yang dikehendaki Han Han maka dia tadi membikin takut empat orang pelayan, yaitu untuk
mengacaukan keadaan para pengawal yang menjaga di luar. Dalam keadaan kacau-balau dan tidak teratur itu,
karena semua pengawal menjadi panik melihat betapa empat orang pelayan sang puteri yang biasanya gagah
perkasa itu menjerit-jerit karena melihat setan sehingga mereka lupa membunyikan tanda bahaya dan lupa
melapor, tiba-tiba Han Han berkelebat, mencelat keluar sambil memondong tubuh Nirahai yang terkulai lemas.
“Celaka...! Tangkap penjahat!” teriak seorang di antara mereka.
“Itu dia...! Puteri telah diculik!”
“Tangkap!”
“Kejar...!”
Makin paniklah para pengawal itu dan geger keadaan di istana ketika bunyi kentongan tanda bahaya dipukul
gencar. Para pengawal melakukan pengejaran, akan tetapi siapakah yang dapat mengejar pemuda buntung
yang meloncat dengan gerakan seperti terbang ke atas dan dalam sekejap mata saja lenyap ditelan kegelapan
malam?
Han Han memang sengaja tidak mau menggunakan kekerasan menghadapi banyak pengawal karena
menghadapi banyak sekali orang tentu saja tak mungkin Ilmu I-hun-to-hoat dipergunakannya untuk
mempengaruhi sedemikian banyaknya orang. Dia memang tidak takut untuk menggunakan kekerasan
melawan mereka, akan tetapi, semenjak bertemu dengan Koai-lojin dan menerima wejangan-wejangan kakek
sakti itu, ia merasa menyesal atas sepak terjangnya yang sudah-sudah dan berjanji dalam hatinya tidak akan
lagi melakukan pembunuhan dan hanya akan menundukkan lawan dengan kepandaiannya. Tentu saja dia
tidak suka untuk melawan para pengawal dan kesalahan tangan membunuh mereka yang tidak berdosa, apa
lagi kalau hal itu akibatnya akan memperbesar pertentangan antara Nirahai dengan keluarganya.
Gerakan Han Han yang amat cepat tidak memungkinkan para pengawal untuk mengejarnya, tidak dapat
menggunakan anak panah karena khawatir kalau-kalau mengenai tubuh Puteri Nirahai yang dipanggul
pemuda itu. Dengan demikian, tanpa banyak kesukaran lagi Han Han berhasil membawa Nirahai keluar dari
istana, kemudian melarikan diri melalui pintu gerbang kota raja. Beberapa puluh orang tentara penjaga yang
berusaha menghadangnya roboh terpelanting ke kanan kiri dan senjata-senjata mereka terlempar beterbangan
ketika Han Han menggerakkan tongkatnya, dan dalam waktu beberapa menit saja Han Han telah menerobos
keluar dari pintu gerbang dan lenyap dalam gelap.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah keluar dari benteng, Han Han menurunkan Nirahai dan membebaskan totokannya, kemudian tanpa
bicara lagi mereka melanjutkan perjalanan dan lari dengan cepat. Han Han mengerti bahwa perasaan Nirahai
tertekan sekali, maka dia tidak mengeluarkan kata-kata, hanya berlari sambil menggandeng tangan kekasihnya.
“Ke manakah kita pergi?” Tiba-tiba Nirahai bertanya tanpa mengurangi kecepatannya berlari.
“Kita pergi ke tempat yang sunyi dan indah di dekat telaga.”
Nirahai tidak berkata-kata lagi dan mereka berlari terus. Han Han merasa tidak enak hatinya. Bagi dia sendiri,
tentu saja peristiwa ini amat menyenangkan hatinya. Ia mencinta puteri yang jelita ini dan mereka telah
dijodohkan oleh kedua orang guru mereka, Nenek Maya dan Nenek Khu Siauw Bwee. Andai kata dia diterima
oleh kaisar dan tinggal di istana, tentu dia akan merasa sengsara dan tidak betah. Dengan cara sekarang ini,
membawa Nirahai melarikan diri, dia merasa lebih bebas dan dia yakin akan mendapatkan kebahagiaan besar
apa bila dapat hidup berdua sebagai suami isteri bersama Nirahai dan merantau berdua, atau tinggal di suatu
tempat berdua saja!
Memang, bagi dia, peristiwa di istana ini amatlah menyenangkan. Akan tetapi, dia mengerti betapa peristiwa itu
amat menghimpit perasaan hati Nirahai. Dia mengenal Nirahai sebagai seorang puteri kaisar yang luar biasa,
tidak hanya cantik jelita dan berilmu silat tinggi, malah juga menjadi pimpinan angkatan perang yang
menumpas para pemberontak dan sisa-sisa kerajaan lama yang belum mau tunduk terhadap pemerintah
Mancu! Dara jelita yang perkasa ini mempunyai kesetiaan besar terhadap kerajaan ayahnya dan kini dia
melarikan diri sebagai seorang tahanan dan pelarian. Betapa hal ini tidak akan menghancurkan cita-citanya?
Hati Han Han khawatir sekali, akan tetapi dia tidak berkata apa-apa dan mempercepat gerakannya untuk
mengimbangi larinya Nirahai yang amat cepat itu. Mereka seolah-olah berlomba, berlomba ke mana? Ke arah
pantai bahagia? Mudah-mudahan begitu, bisik hati Han Han. Dengan mesra ia menggunakan tangan
kanannya menangkap tangan kiri Nirahai. Dara itu yang tadinya lari cepat tanpa bicara seperti orang
termenung, menoleh dan mereka berdua saling pandang. Nirahai tersenyum dan balas menggenggam jari
tangan Han Han. Sambil bergandeng tangan, kedua orang muda yang berilmu tinggi itu berlari cepat sekali,
bayangan mereka menjadi satu berkelebat cepat di antara bayang-bayang pohon.
“Indah sekali...! Indah dan sunyi...!” Nirahai berseru penuh kagum ketika mereka berdua tiba di pinggir telaga di
mana terdapat dua buah bangunan mungil yang tadinya dijadikan tempat tinggal kakek sakti Koai-lojin.
Namun ketika pagi itu mereka tiba di situ dan Nirahai mengagumi pemandangan indah di kala sinar matahari
pagi membakar permukaan telaga dengan warna kemerahan, Han Han tidak melihat semua keindahan itu
karena pada saat itu tidak ada keindahan di dunia ini yang dapat menandingi keindahan wajah yang
dipandangnya dari samping. Wajah yang lembut namun menyembunyikan kekerasan, wajah yang sejuk
namun menyembunyikan api menggairahkan, wajah yang mirip benar dengan wajah Lulu!
“Memang indah, Nirahai. Indah sekali... akan tetapi tidak sunyi. Dengan adanya kita berdua di sini, kesunyian
musnah, dunia akan penuh dengan kita, dengan cinta kasih kita... Nirahai...!”
Dara itu tergugah dari pesona dan menoleh, lalu tersenyum penuh kebanggaan ketika ia mendapatkan sinar
mata penuh kemesraan dan kasih sayang terpancar dari sepasang mata Han Han. Sinar mata yang demikian
mesra dan hangat, cerah dan lembut, mengalahkan sinar matahari pagi. Nirahai menarik napas panjang ketika
Han Han merangkul pundaknya. Ia merebahkan kepala, disandarkan di dada pemuda itu.
“Aaahhhhh...!” Nirahai menarik napas panjang, hatinya terasa lapang seolah-olah penuh dengan sinar
matahari pagi, membuat ia merasa seperti akan terbang dan menari-nari di antara mega-mega putih berarak
dan mandi cahaya matahari pagi yang mulai berwarna keemasan, indah sekali. “Han Han, adakah sinar
matamu itu mencerminkan rasa hatimu? Adakah engkau benar-benar mencintaku seperti matahari mencinta
permukaan telaga?”
Han Han menundukkan mukanya, menyentuh dan menelusuri permukaan dahi dan alis itu dengan ujung
hidungnya sebelum menjawab lirih, “Nirahai kekasihku, aku cinta kepadamu, Nirahai...” Ia mempererat
pelukannya dan hatinya penuh dengan cinta mesra. “Ahhh, betapa aku mencintamu, dengan sepenuh jiwa
ragaku, sepenuh hatiku. Aku rela mengorbankan jiwa ragaku untukmu, Nirahai!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Dara itu memejamkan matanya, kembali menarik napas dan membelaikan pipinya di dagu Han Han yang
menunduk, sikap yang amat manja bagi Han Han, mengingatkan ia akan sikap seekor kucing yang minta
dibelai.
“Betapa hebat kekuasaan cinta...!” Hanya demikian Nirahai berkata, suaranya lirih seperti orang mengeluh,
atau lebih mendekati lagi seperti orang merintih, rintihan yang menjadi penyambung antara nyeri dan nikmat,
antara suka dan duka.
Bisikan ini membuat Han Han sadar akan anehnya peristiwa yang terjadi sekarang ini. Yang dipeluknya, yang
diciumnya adalah seorang puteri kaisar! Seorang panglima besar dan merupakan orang amat berpengaruh,
berkuasa dan penting dalam Kerajaan Mancu! Seorang dara yang cantik jelita sukar ditemukan keduanya,
namun kini berada dalam pelukannya! Sukar untuk dapat dipercaya! Dan memang hebat sekali kekuasaan
cinta, memungkinkan terjadinya hal yang agaknya tak masuk akal!
“Nirahai, apakah engkau juga telah benar-benar mencinta aku seperti cintaku kepadamu?” Han Han tak dapat
menahan pertanyaan yang timbul dari hatinya yang masih sukar untuk dapat menerima kenyataan yang
dianggapnya aneh itu.
Mendengar pertanyaan ini Nirahai mengangkat kepalanya yang bersandar di dada Han Han, memutar tubuh
sehingga mereka berdiri berhadapan di pinggir telaga itu. Sejenak mereka beradu pandang kemudian
terdengar suara Nirahai yang halus merdu namun tegas.
“Han Han, aku mengerti mengapa engkau masih mengajukan pertanyaan itu biar pun engkau yang cerdik tentu
sudah merasa yakin akan cintaku dengan bukti yang sekarang kita hadapi. Aku telah meninggalkan kerajaan
Ayahku, meninggalkan kedudukan dan kemuliaan, meninggalkan cita-cita dan lebih dari pada itu semua, aku
bahkan telah menjadikan diriku dimusuhi kerajaan dan keluarga. Semua ini hanya karena cintaku kepadamu.
Masih belum cukupkah bukti dan pengorbanan itu?”
Han Han menarik napas panjang, hatinya penuh keharuan karena ia merasa sangsi apakah seorang pemuda
berkaki buntung sebelah seperti dia, yang yatim piatu dan miskin, tidak mempunyai tempat tinggal, patut
menerima cinta kasih seorang puteri seperti Nirahai?
“Maaf, Nirahai, bukan sekali-kali aku masih menyangsikan perasaan cintamu yang suci. Hanya saja... yang
membuat aku sukar untuk dapat percaya, bagaimana mungkin seorang puteri bangsawan seperti engkau
menghancurkan nasib dan masa depanmu sendiri? Sudah tentu aku... aku akan berbahagia sekali kalau
engkau selalu berada di sampingku, akan tetapi hatiku pun akan selalu tertekan dan hancur kalau melihat
engkau menjadi sengsara kelak...”
Nirahai menubruk Han Han, merangkulnya dan menutup mulut Han Han dengan jari tangannya yang halus.
“Jangan lanjutkan...! Aku cinta padamu, karena hanya engkau satu-satunya pria yang patut menjadi suamiku!
Kita sudah dijodohkan oleh kedua orang guru kita, dan kita sudah saling mencinta. Itu sudah cukup! Aku pun
tidak ingin perjodohan kita dirayakan besar-besaran, bahkan tidak peduli kalau tidak dirayakan oleh kita
berdua! Tentang kedudukan dan kemuliaan? Dengan kepandaian kita, apa sukarnya mendapatkan itu?”
“Tapi, Nirahai... demi menjaga namamu, semestinya kalau pernikahan kita dirayakan, disyahkan! Ohhh, dua
bulan lagi Lulu akan menikah, bagaimana kalau kita rayakan bersama-sama dan...”
“Hussshhhhh...! Mengapa meributkan soal tetek-bengek seperti itu sedangkan aku berada di dekatmu? Apa
kau lupa bahwa aku lelah, bahkan aku lapar, bahwa aku...”
Han Han tertawa dan menutup mulut Nirahai dengan ciuman untuk menghentikan celaannya, kemudian ia
memondong tubuh kekasihnya itu, dibawa berloncatan ke dalam pondok di sebelah kiri telaga di mana ia
pernah tinggal bersama Koai-lojin.
Han Han adalah seorang pemuda yang telah dewasa, seorang pria yang selama hidupnya belum pernah terjun
ke dalam lautan cinta asmara seorang wanita. Dia telah berkali-kali menerima cinta kasih wanita, cinta kasih
murni yang dibuktikan dengan pengorbanan-pengorbanan. Kim Cu yang mencintanya berkorban menjadi
dunia-kangouw.blogspot.com
nikouw, Soan Li tewas karena hendak menolongnya dan dara itu pun mengaku mencintanya. Demikian pula
Tan Hian Ceng dan Lauw Sin Liam, mereka itu mencintanya dan tewas ketika bendak menolongnya. Betapa
pun juga, tidak pernah dia bermain cinta dengan seorang di antara mereka, apa lagi karena di lubuk hatinya, ia
tidak menemukan cinta kasih terhadap mereka. Kini hatinya roboh di bawah kaki Nirahai. Dia mencinta puteri
kaisar ini, bahkan Nirahai juga mencintanya, dan mereka telah dijodohkan oleh kedua orang guru mereka.
Ada pun Nirahai adalah seorang dara bangsawan yang tinggi hati. Belum pernah ia tertarik kepada pria, apa
lagi jatuh cinta. Memang pernah ia dikabarkan akan dijodohkan dengan Ouwyang-kongcu puteri Pangeran
Ouwyang Cin Kok, akan tetapi di dalam batinnya ia tidak mengandung perasaan apa-apa terhadap pemuda itu.
Kini, begitu bertemu dengan Han Han, menyaksikan sepak terjang pemuda buntung itu dan terutama sekali
setelah dia merasa kalah pibu menghadapi pemuda ini, dia tertarik dan sekaligus tunduk dan jatuh cinta. Apa
lagi setelah Nenek Maya mengambil keputusan menjodohkannya dengah Han Han, sudah bulatlah tekad di
hati Nirahai untuk menjadi isteri Han Han! Dia memiliki kekerasan hati yang luar biasa, maka untuk memenuhi
keputusan ini, dia sanggup menempuh rintangan apa pun juga!
Kedua orang muda itu sudah sama dewasa, sama mencinta dan cinta kasih mereka makin mesra dan
mendalam karena peristiwa di istana sehingga mereka merasa bersatu hati, sehidup semati. Tempat di mana
mereka bersembunyi, di pinggir telaga itu merupakan tempat yang sunyi, tenang, indah dan romantis. Tiada
sesuatu yang menjadi penghalang di antara cinta kasih mereka, bahkan Nirahai tidak lagi peduli akan upacara
perjodohan, menganggap bahwa dia sudah menjadi isteri Han Han semenjak ia minggat dari istana.
Tidaklah mungkin menyalahkan mereka ini kalau keduanya sebagai orang-orang muda yang saling tergila-gila,
saling mencinta dan saling menderita, kini menumpahkan semua perasaan cinta kasih mereka di tempat sunyi
itu. Bagi keduanya, hal ini merupakan pengalaman pertama sehingga membuat mereka lupa akan segala dan
mabuk oleh manisnya madu asmara, terlupa masa lalu tak peduli masa depan, yang teringat hanyalah
perpaduan kasih, di dalam pondok, di tepi telaga, di antara bunga-bunga yang tumbuh di hutan kecil pinggir
telaga. Mereka bersendau-gurau, saling menggoda, saling memanja, saling menyayang, tiada ubahnya seperti
sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu.
Betapa pun besarnya badai dan ombak, akhirnya akan mereda juga. Gelombang nafsu asmara yang lebih
besar dan dahsyat dari pada badai dan ombak pun akhirnya akan mereda juga. Selama satu bulan, Han Han
dan Nirahai seolah-olah lupa segala, tidak peduli akan masa lalu dan masa depan, ingatnya hanya berlomba
merenggut madu asmara yang makin direguk makin mendatangkan dahaga. Setelah lewat sebulan, cinta kasih
mereka yang menyala-nyala terbakar nafsu birahi mulai mereda dan mulailah mereka berdua sadar bahwa
cinta kasih bukanlah cinta birahi semata, dan mulailah keduanya merenungkan masa depan mereka!
Bagaikan dua orang yang mengaso tenang setelah diombang-ambingkan gelombang dahsyat selama sebulan
lebih, pada pagi hari itu mereka duduk di tepi telaga. Han Han duduk bersandar batu hitam yang dulu sering
kali dijadikan tempat duduk Koai-lojin di waktu memancing. Nirahai duduk di depannya, setengah dipangkunya
dan merebahkan kepala dengan rambut terurai lepas di atas dada Han Han. Sampai berjam-jam kedua mudamudi
ini duduk seperti itu, tak bergerak dan penuh dengan kebahagiaan, dengan kepuasan, saling menikmati
kehadiran kekasih masing-masing yang hanya terasa oleh detik jantung dan alunan nafas.
Angin semilir dari tengah telaga datang bertiup, membuat rambut yang hitam berikal melambai dan menggelitik
leher Han Han, menyadarkan pemuda ini dari lamunan nikmat yang membuatnya tenggelam. Ia menggerakkan
lehernya mengusir rasa gatal dan geli, kemudian melanjutkan gerakan jari-jari tangannya dengan mengelus
rambut halus di atas dadanya itu penuh kasih sayang dan mesra. “Nirahai, isteriku tercinta...”
Nirahai bergerak, menengadah dan tersenyum memandang wajah Han Han. “Dan engkau suamiku...”
Han Han menunduk, memberi hadiah ciuman mesra untuk sebutan yang menggetarkan perasaannya itu.
Biasanya, selama sebulan ini, satu ciuman saja sudah cukup membuat keduanya tenggelam dalam lautan
asmara, tidak ingat lagi akan hal lain, menghapus semua niat yang hendak dibicarakan, karena semua
kemauan sudah lumpuh dan kalah oleh gelombang asmara yang menghanyutkan. Tetapi kini Han Han dapat
menahan diri dan ia berbisik.
“Nirahai, aku teringat bahwa sebulan lagi Lulu akan menikah. Aku harus hadir dan menyusulnya ke Kwan-teng.
Marilah kita pergi ke sana...”
dunia-kangouw.blogspot.com
Sepasang mata Nirahai yang selama sebulan ini selalu dalam keadaan seperti orang mengantuk, kini mulai
menemukan kembali sinarnya ketika mendengar ucapan Han Han itu. Sudah sebulan mereka berdua tidak
pernah mengucapkan kata-kata yang lain dari pada cumbu rayu sehingga kini seperti baru sadar dari mimpi.
Sadar bahwa di sana masih terdapat banyak hal lain di samping urusan cinta kasih mereka! Matanya mulai
bersinar, perlahan ia bangkit dari dada suaminya, lalu duduk di atas tanah bertilam rumput, memutar tubuh
berhadapan dengan Han Han. Kedua tangannya mulai memilin-milin rambutnya yang selama ini dibiarkan
terurai lepas untuk dibelai dan dipermainkan jari-jari tangan Han Han yang penuh cinta kasih.
Baru saat itulah keduanya saling pandang dalam keadaan sadar, dan otomatis timbul kerut-kerut kecil di wajah
mereka, Han Han pada dahinya, Nirahai di antara kedua matanya.
“Han Han, engkau tahu bahwa tidak mungkin bagi aku untuk pergi ke Kwan-teng atau ke mana pun juga. Aku
telah menjadi seorang pelarian, dan aku merasa malu untuk bertemu dengan tokoh-tokoh kang-ouw kalau
mereka mendengar bahwa aku adalah seorang puteri pelarian.”
“Mengapa tidak mungkin, isteriku?” Han Han menggenggam tangan Nirahai. “Mengapa tidak mungkin pergi ke
sana? Apa yang ditakuti? Andai kata engkau dikejar, apakah kita tidak mampu melawan? Dan mengapa pula
malu kepada orang lain? Siapa yang akan berani menghinamu? Akan kuhancurkan mulut yang berani
mengejekmu.”
Nirahai menggeleng kepalanya, lalu berkata, suaranya tegas, “Tidak, suamiku. Aku tidak mau pergi ke Kwanteng
atau ke mana saja. Aku sudah mempunyai rencana matang yang sudah berhari-hari ini kupikirkan dan
baru sekarang akan kusampaikan kepadamu.”
Berdebar jantung Han Han, seolah-olah ada firasat tidak enak terasa olehnya. Ia menatap wajah Nirahai dan
dengan hati kecut ia mendapat kenyataan betapa wajah yang cantik itu diselubungi kekerasan hati yang sukar
ditembus. Diam-diam ia menjadi gelisah, akan tetapi ia menekan hatinya dan bertanya halus.
“Nirahai, bagaimanakah rencanamu itu?”
“Di selatan ini aku yang telah membuat jasa besar telah dimusuhi oleh kerajaan. Karena itu, jalan satu-satunya
bagiku adalah kembali ke utara! Di Khitan aku akan lebih dihargai, dan aku mempunyai seorang paman, adik
Ibuku, yang kini menjadi seorang panglima besar dari suku bangsa Mongol. Aku hendak menyusulnya ke sana
dan engkau... kuharap saja suka pergi ke sana bersamaku, Han Han.”
Sejenak kedua orang yang selama sebulan lebih mabuk dan tenggelam dalam lautan asmara itu, kini saling
berpandangan penuh kesadaran dan penuh kekhawatiran menyaksikan jalan pikiran dan cita-cita mereka yang
saling bertentangan.
“Aku harus mengurus pernikahan adikku...,” Han Han membantah lemah, berpegang kepada alasan ini untuk
menarik Nirahai yang dicintanya itu dari cita-citanya akan pergi ke utara di luar tembok besar.
Nirahai mengangguk-angguk, tersenyum lalu merangkul Han Han, menciumnya mesra yang dibalas Han Han
sepenuh hatinya. Akan tetapi, kedua orang ini merasa betapa dalam ciuman mereka terdapat sesuatu yang
mengganjal, tidak seperti yang sudah-sudah dan keduanya menjadi gelisah.
“Aku tahu, Han Han. Memang seharusnya engkau menghadiri pernikahan Lulu. Pergilah ke Kwan-teng dan
uruslah pernikahan adik kita itu. Aku akan menantimu di sini dan kalau engkau sudah kembali ke sini dari
Kwan-teng, kita berdua baru pergi ke utara.”
Han Han mengerutkan keningnya dengan jantung berdebar tegang. Ke utara? Mau apa ke sana? Hidup di
antara suku bangsa Mongol yang sama sekali asing baginya? Teringat akan sejarah betapa bangsa Mongol
pernah menjadi penjajah bangsanya, dia tahu bahwa tentu dirinya akan terlibat urusan politik dan
pemerintahan lagi di utara yang asing itu dan ia maklum bahwa dia tidak akan merasa bahagia di sana. Ia
seolah-olah dapat merasa betapa bahaya besar bagi kebahagiaan dia dan Nirahai menunggunya di utara!
dunia-kangouw.blogspot.com
Cepat ia memegang kedua pundak Nirahai, memaksa kekasihnya itu menghadapnya dan memandang wajah
yang jelita itu penuh selidik. “Nirahai, kekasihku, pujaan hatiku! Engkau adalah isteriku, dan aku akan hidup
sengsara tanpa engkau di sampingku! Marilah engkau ikut bersamaku, ke Kwan-teng, kemudian merantau ke
mana saja, berdua, hidup penuh bahagia, jangan kita melibatkan diri lagi dengan urusan kerajaan. Aku... aku
mendapat firasat buruk, kalau kita pergi ke utara... tentu kita akan terlibat dan terseret lagi dalam urusan
kerajaan, politik dan perang! Aku ingin kita berdua hidup merantau, bebas lepas tidak terikat urusan duniawi,
seperti sepasang burung dara di angkasa... marilah, Nirahai sebelum terlambat.”
Han Han yang merasa gelisah itu menjadi terharu dan hendak memeluk isterinya, akan tetapi tiba-tiba Nirahai
melepaskan diri dari pelukan Han Han, mundur tiga langkah dan menatap wajah Han Han dengan sinar mata
tajam dan wajah diliputi sikap dingin murung.
“Han Han, sudah kukhawatirkan hal ini akan terjadi semenjak malam pertama aku terlena dalam belai rayumu.
Engkau lupa bahwa aku adalah seorang puteri! Bahwa tak mungkin bagiku hidup seperti seorang petualangan
yang tak tentu tempat tinggalnya! Engkau lupa bahwa di dalam tubuhku mengalir darah pahlawan, yang
semenjak nenek moyangku dahulu rela mengorbankan jiwa raga demi untuk negara dan bangsa! Biar pun kini
kerajaan menganggap aku seorang pelarian, namun aku tetap harus bersetia kepada kerajaan Ayahku.”
Han Han menjadi pucat wajahnya dan ia membantah lemah, “Nirahai, akan tetapi engkau isteriku yang
tercinta!”
Nirahai tersenyum pahit. “Memang, aku isterimu yang mencintamu, Han Han. Aku cinta kepadamu, demi
Tuhan aku cinta padamu, tapi...”
“Tapi engkau lebih cinta kepada bangsamu?” Han Han berseru penasaran dan hatinya berduka sekali.
Sadarlah ia kini bahwa ia lupa akan sebuah hal yang membuat Nirahai amat jauh bedanya dengan Lulu.
Memang wajah mereka mirip sekali, mempunyai segi-segi keindahan yang sama, akan tetapi ia lupa bahwa
Nirahai tidak mungkin bisa memiliki jiwa seperti Lulu yang lebih polos dan jujur, yang menganggap sama
antara bangsa-bangsa sehingga Lulu tidak menaruh dendam terhadap bangsa pribumi, bahkan telah
mengambil tindakan mengagumkan dengan mengangkat Lauw-pangcu, pembunuh orang tuanya, sebagai
ayah angkat! Nirahai juga tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan kaum pejuang, akan tetapi Nirahai ini
adalah seorang pejuang sampai ke sumsum-sumsumnya, seorang yang lebih mencinta negara dan bangsa
melebihi apa pun juga!
Mendengar tuduhan Han Han itu, Nirahai tersenyum dan mengangguk, “Memang betul, Han Han. Aku
mencintamu, akan tetapi aku lebih cinta kepada bangsaku yang melebihi cintaku kepada diriku sendiri. Engkau
adalah seorang yang berpengetahuan luas, tentu mengerti akan watak keturunan pahlawan. Betapa pun juga,
aku cinta kepadamu, suamiku, ahhhh, betapa cintaku kepadamu. Karena itu, kau kasihanilah aku. Sebelum
terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan dan yang akan menghancurkan kebahagiaan kita berdua, marilah
sekarang saja kita pergi ke utara dan melupakan segala hal! Marilah, Han Han, demi cinta kasih kita...!”
Suara Nirahai makin melemah dan akhirnya ia terisak perlahan. Han Han terkejut dan makin terharu. Isterinya,
kekasihnya yang berhati baja itu, kini ternyata telah menderita tekanan batin hebat sekali!
Ia segera memeluknya dan mereka berciuman penuh kemesraan. Sesaat pertentangan paham yang timbul
dari percakapan tadi terlupa dan lenyap, tenggelam oleh rasa cinta kasih mereka. Akan tetapi badai kecil
asmara ini pun lewat dan mereka kembali sadar dan teringat akan urusan penting yang mereka hadapi dan
yang tak mungkin mereka hindari.
“Han Han, kau sendiri mengatakan bahwa Lulu telah mendapatkan jodoh yang amat baik, yang boleh
dipercaya. Aku pun percaya bahwa Wan Sin Kiat adalah seorang pemuda yang baik sekali, gagah perkasa dan
bertanggung jawab. Karena itu, mengapa engkau masih mengkhawatirkan keadaan Lulu? Marilah kita pergi ke
utara sekarang juga.”
Han Han menggeleng kepala. “Tidak mungkin aku pergi jauh sebelum aku menyaksikan pernikahan adikku,
Nirahai.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kalau begitu, pergilah cepat dan kembalilah cepat pula. Aku akan menantimu di sini, suamiku.”
Han Han termenung, keningnya berkerut dan wajahnya muram. Tak disangkanya sama sekali bahwa dia harus
menghadapi keputusan yang begitu sukar dan yang akan menghancurkan hidupnya! Dia membayangkan
masa depannya bersama Nirahai di utara, di antara bangsa Mongol yang asing baginya sama sekali! Dia
membayangkan Nirahai menjadi seorang pahlawan puteri di antara bangsa Mongol dan dia sendiri... dia
hanyalah suami sang puteri yang bagaimana pun juga tidak mungkin dapat menjadi pahlawan bangsa itu, dan
dia hanya akan ‘membonceng’ kemuliaan isterinya! Dia akan merasa terhina, seorang suami bangsa asing,
yang buntung pula. Han Han bergidik ngeri.
“Tidak, Nirahai. Aku akan pergi ke Kwan-teng dan engkau harus ikut bersamaku! Setelah aku merayakan
pernikahan Lulu, kita berdua akan pergi, ke mana saja, asal bebas dari ikatan. Ke utara pun boleh, akan tetapi
dengan janji bahwa kita berdua tidak akan mengikatkan diri dengan urusan negara!”
Sepasang alis itu berkerut, sepasang mata itu bersinar merah dan Han Han terkejut, maklum bahwa datangnya
badai yang lain lagi dari pada badai asmara yang memabukkan. Setelah berulang kali menarik napas panjang
sampai terdengar nyata, Nirahai berkata, “Sudah kukhawatirkan akan menjadi begini...! Jodoh takkan dapat
kekal hanya didasari cinta birahi saja! Yang penting adalah kesesuaian paham dan cita-cita! Ahhh, Han Han,
tak mungkin aku dapat memenuhi permintaanmu itu. Kalau engkau memang mencintaku, engkau harus
memenuhi permintaanku ikut dengan aku sekarang juga ke utara.”
“Engkau yang tidak sungguh-sungguh mencintaku, Nirahai. Engkau lebih mencinta cita-citamu!”
“Dan engkau, Han Han, engkau seperti telah buta. Engkau memang mencintaku, cinta nafsu, cinta birahi,
padahal sesungguhnya engkau mencinta... Lulu!”
Han Han meloncat kaget dan memandang Nirahai dengan mata terbelalak.
“Apa... apa kau bilang...?”
Nirahai tertawa pahit dan anehnya, dua titik air mata membasahi kedua pipinya. Ia tertawa akan tetapi
menangis, amat mengharukan ketika suaranya yang gemetar berkata, “Kuketahui setelah terlambat! Baru pada
akhir-akhir ini... engkau mencumbu dan merayu, mencinta tubuhku, akan tetapi hatimu lari mencari Lulu.
Tanpa kau sadari, mulutmu yang menciumi bibirku membisikkan nama Lulu! Saat itulah aku tahu bahwa
sesungguhnya engkau telah jatuh cinta kepada Lulu! Akan tetapi, sudah terlanjur! Dan kini aku teringat akan
sikap dan kata-kata Lulu. Adikmu itu, adik angkatmu itu, dia pun mencintamu, Han Han. Mencintamu dengan
sepenuh jiwa raganya, mungkin cintanya terhadapmu jauh lebih murni dari pada cintaku kepadamu. Mungkin
dia akan melakukan apa saja yang kau kehendaki. Akan tetapi, semua itu telah lewat, tiada gunanya lagi
disesalkan, kita telah menjadi suami isteri! Kita tidak boleh berpisah lagi karena hal itu akan berarti
menghancurkan kebahagiaan kita. Aku mencintamu dan engkau mencintaku. Sungguh pun mungkin cinta
kasih di antara kita lebih disuburkan oleh nafsu birahi karena kita saling mengagumi, namun kita dapat
menikmati cinta kasih kita bersama. Sekarang belum terlambat, marilah kita pergi ke utara.”
Han Han menjadi pucat sekali wajahnya, matanya kehilangan sinarnya. Pukulan batin yang dideritanya sekali
ini terlalu berat baginya. Kenyataan yang dibuka secara terang-terangan oleh Nirahai merobek-robek hatinya
dan ia harus mengakui kebenaran ucapan Nirahai. Betapa bodohnya! Lululah yang dia cinta! Bahkan mungkin
sekali karena kemiripan wajah Nirahai dengan Lulu maka dia tergila-gila kepada puteri ini! Dan sekarang sudah
terlanjur!
“Nirahai, terima kasih. Engkau benar hebat dan jujur, aku amat menghargai keterus teranganmu. Maafkan aku,
Nirahai, kalau tanpa kusengaja aku menyakiti hatimu. Sudah semestinya kalau aku menebus dosa-dosaku
dengan menuruti kehendakmu. Akan tetapi, engkau bersabarlah. Aku akan pergi ke Kwan-teng lebih dulu,
merayakan pernikahan adikku, baru kita bicara lagi tentang ke utara.”
Nirahai membanting kakinya. Dia sudah marah sekali dan sudah habis kesabarannya. “Tidak! Sekarang juga
kita harus dapat mengambil keputusan! Han Han, kita bukanlah anak-anak kecil lagi! Kita bukan orang-orang
yang lemah dan ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Kita harus dapat menentukan nasib sendiri karena hal
ini menyangkut masa depan dan kehidupan kita. Dengarlah keputusan yang tak dapat diubah-ubah lagi, Han
dunia-kangouw.blogspot.com
Han. Aku cinta padamu, dan akan bersedia melayanimu sebagai seorang isteri yang mencintamu sampai
kematian memisahkan kita. Akan tetapi, di samping itu aku harus pergi ke Mongol dan aku harus mengabdikan
diriku untuk nusa bangsaku, biar pun dengan cara lain dari pada yang sudah-sudah. Aku hanya minta engkau
tidak menghalangi cita-citaku itu dan aku bersumpah bahwa cintaku kepadamu takkan berubah!”
Sementara itu, biar pun amat berduka, Han Han sudah pula berpikir masak-masak, maka ia menjawab, “Aku
pun sudah mengambil keputusan, Nirahai. Aku cinta padamu dan aku akan mencintamu selamanya, akan
tetapi aku tidak mau terikat dengan urusan pemerintah. Aku harus menikahkan Lulu lebih dulu, kemudian aku
akan mengikutimu ke mana pun engkau pergi, akan tetapi aku hanya minta engkau tidak mencampuri urusan
negara yang hanya akan merenggangkan hubungan kita suami isteri.”
Sejenak sunyi dan mereka berpandangan. Akhirnya Nirahai bertanya nyaring. “Sudah tetapkah keputusan
hatimu itu?”
Han Han mengangguk tanpa mengalihkan pandang matanya yang bertaut dengan pandang mata Nirahai.
Tiba-tiba Nirahai tertawa nyaring dan terkekeh-kekeh.
“Nirahai...!” Han Han maju hendak merangkul. Ia ngeri melihat Nirahai tertawa seperti itu, dengan muka pucat,
dengan air mata bercucuran, dengan mulut tertarik seperti orang menangis, seperti mayat tertawa!
“Jangan dekati!” Nirahai membentak, kemudian ia berkata lirih bercampur isak, “Kalau begitu keputusan kita,
kita harus berpisah, sekarang juga, lebih cepat lebih baik. Nah, selamat tinggal, Han Han. Engkau kekasihku,
engkau suamiku, akan tetapi juga musuhku! Engkau kucinta, akan tetapi juga kubenci!” Setelah berkata
demikian, puteri jelita itu meloncat dan lari pergi secepat kilat.
“Nirahai...!” Han Han menjerit, hanya lirih keluar dari mulut, akan tetapi amat nyaring keluar dari hatinya yang
berdarah.
Ia terus berdiri termenung memandang sampai bayangan Nirahai lenyap, berdiri seperti patung, agak
terbongkok seolah-olah terlampau berat beban yang dipikul dan menimpa punggungnya, bersandar pada
tongkatnya dan diam tak bergerak. Hanya air matanya saja yang jatuh satu-satu tak dihiraukannya.
“Nirahai... Nirahai...!” Hatinya menjerit-jerit.
“Nirahai...! Lulu...! Lulu...!” Ia menjadi bingung, pukulan batin yang dideritanya membuat ia seolah-olah menjadi
batu.
Kalau saja Nirahai tidak sedemikian keras hatinya. Kalau saja ia meragu dan kembali ke tempat itu, tentu hati
wanita ini akan hancur luluh dan mencair melihat keadaan Han Han. Sampai tiga hari tiga malam Han Han
masih berdiri di tempat itu, bersandar pada tongkatnya, tak pernah bergerak kecuali untuk membisikkan nama
Nirahai dan Lulu! Dan yang amat mengharukan adalah rambutnya. Rambut yang gemuk dan panjang, yang
biasanya berwarna hitam mengkilap itu kini telah menjadi putih semua! Putih seperti benang-benang perak,
seperti rambut seorang kakek berusia seratus tahun!
Selama tiga hari tiga malam ini terjadi perubahan hebat pada dirinya. Badannya menjadi semakin kurus,
mukanya kuyu pucat tidak ada cahayanya, seperti muka orang yang kehilangan semangat dan kegairahan
hidup. Tiada sepercik pun sinar kegembiraan terlukis di mukanya. Dan memang selama tiga hari tiga malam itu
Han Han hanya memikirkan nasibnya. Hidup semenjak kecil baginya hanya merupakan serangkaian
kesengsaraan yang tidak ada putus-putusnya. Makin diingat makin menghimpit perasaan.
Teringat ia akan wejangan-wejangan Koai-lojin yang dia tahu juga banyak mengalami duka nestapa dalam
hidupnya, mengalami kekecewaan-kecewaan besar. Sayup sampai bergema di telinganya wejangan kakek
sakti itu sebelum meninggalkannya.
“Hidup itu menderita duka? Hidup itu menikmati suka? Tidak benar semua itu. Hidup adalah hidup, ada pun
suka atau duka adalah urusan hati, tidak ada sangkut-pautnya dengan hidup. Peristiwa yang menimpa kita tak
lepas dari perbuatan kita sendiri. Seni yang amat indah dan besarlah cara penerimaan kita terhadap segala
peristiwa. Penerimaan, sekali lagi penerimaan! Kalau engkau sudah dapat menguasai nafsu dan hati, sudah
dunia-kangouw.blogspot.com
pandai menggunakan pikiran sehingga mendapat kesadaran, engkau akan pandai pula menerima segala hal
yang menimpa dirimu sehingga engkau bisa saja bersuka dalam duka, dan berduka dalam suka!”
Tiba-tiba Han Han tersenyum setelah ia teringat akan wejangan ini dan mulailah tubuhnya yang kaku membatu
itu dapat bergerak lagi. Seolah-olah tubuhnya ‘hidup’ kembali sungguh pun ia merasa betapa hatinya hampa
dan kosong. Dia tidak sadar bahwa rambutnya sudah putih semua dan bahwa ada sinar aneh terpancar dari
matanya yang biasanya bersinar tajam luar biasa. Dengan langkah terpincang-pincang Han Han meninggalkan
tempat itu menuju ke Kwan-teng.
Selagi Han Han berjalan terpincang-pincang menuruni sebuah lereng sambil melamun, tiba-tiba tampak
belasan orang hwesio berloncatan keluar dan menghadapinya dengan sikap mengancam. Han Han
mengangkat muka memandang dan ia mengenal Ceng San Hwesio dan belasan orang anak murid Siauw-limpai,
semuanya pendeta-pendeta berkepala gundul yang tingkatnya sudah tinggi.
Han Han merasa heran. Kalau sampai ketua Siauw-lim-pai sendiri keluar dari Siauw-lim-si, tentulah ada urusan
yang amat penting. Biasanya yang mewakili ketua Siauw-lim-pai ini adalah Ceng To Hwesio, sute dari Ceng
San Hwesio. Akan tetapi ia teringat bahwa Ceng To Hwesio telah tewas dalam pertandingan melawan Kangthouw-
kwi Gak Liat.
Han Han menjura dengan hormat kepada ketua Siauw-lim-pai itu dan berkata, “Kiranya locianpwe dan para
losuhu dari Siauw-lim-pai yang bertemu dengan saya di tempat sunyi ini, dan agaknya menghadang perjalanan
saya. Tidak tahu ada kepentingan apakah?”
“Hemmm, orang muda tidak tahu malu! Dahulu engkau membikin kacau Siauw-lim-si, hal itu telah pinceng
lupakan dan dianggap habis. Sekarang engkau yang tadinya telah membuat nama di Se-cuan, secara tidak
tahu malu sekali bersekongkol dengan Nirahai perempuan iblis itu...!”
“Maaf, locianpwe. Nirahai adalah isteriku, bukan iblis. Aku melarang siapa saja menghina dan memaki isteriku!
Apakah kesalahan Nirahai? Bukankah di puncak Tai-hang-san telah diadakan perdamaian?”
“Hemmm, perdamaian? Engkau kini menjadi suami Nirahai? Bagus, seperti yang telah pinceng duga, engkau
seorang yang tak tahu malu! Kau bicara tentang perdamaian atas nama Nirahai? Perdamaian yang
mengorbankan nyawa Sute Ceng To Hwesio dan engkau yang telah ditolong murid kami Lauw Sin Lian sampai
dia mengorbankan nyawa, engkau... malah menjadi suami pembunuhnya? Suma Han, pinceng telah
mendengar keturunan siapakah engkau ini, maka pinceng tidak merasa heran bahwa engkau hanyalah
seorang rendah budi yang tak patut dinilai sepak-terjangnya!”
Han Han merasa heran sekali mengapa hatinya tidak marah seujung rambut pun mendengar penghinaan yang
luar biasa itu. Entah bagaimana, hatinya seperti kosong melompong, tidak dapat diusik lagi oleh perasaan apa
pun. Mestinya ia marah mendengar kata-kata yang menghina itu, akan tetapi ia malah tersenyum! Bukan
dibuat-buat, melainkan senyum wajar karena ia merasa geli menyaksikan kebodohan seorang kakek yang
sudah menganggap diri pendeta dan menjadi ketua partai besar.
“Locianpwe, harap jangan salah sangka. Mendiang Ceng To Hwesio tewas dalam sebuah pertandingan
perorangan melawan Kang-thouw-kwi Gak Liat, sama sekali bukan kesalahan Nirahai. Ada pun kematian Sin
Lian... hmmm, semoga Thian memberi tempat yang penuh damai bagi arwahnya, kematiannya pun di luar
kesalahan Nirahai karena yang melakukannya adalah Ouwyang-kongcu dan para pembantunya.”
“Pinceng tidak sudi melayani percakapan seorang yang tak boleh dipercaya seperti engkau. Sekarang, lebih
baik engkau menebus semua kesalahanmu dengan dua hal. Pertama mengembalikan anak Bhok Khim, dan ke
dua, memberi tahu di mana adanya iblis betina Nirahai!”
Kembali Han Han tersenyum sambil menghela napas panjang. “Locianpwe, ketika Bhok Khim Toanio hendak
menghembuskan napas terakhir, dia minta tolong kepada kedua orang suheng-nya, akan tetapi kedua orang
suheng-nya memandang rendah sehingga akhirnya Bhok-toanio menyerahkan puteranya kepada saya.
Sekarang locianpwe memintanya, untuk apa?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Untuk apa, kau tidak perlu tahu. Anak itu adalah anak Bhok Khim seorang murid kami, kamilah yang berhak
atas dirinya.”
“Saya sendiri belum menemukan anak itu, locianpwe, maka tidak dapat saya serahkan, dan kalau locianpwe
hendak mencarinya, silakan mencari sendiri. Ada pun tentang Nirahai, saya tidak dapat memberi tahu kepada
siapa juga ke mana perginya karena saya harus melindungi isteri saya.”
“Omitohud! Bicara berbelit-belit, padahal maksudnya hanya menentang dan menolak! Suma Han, apakah
terpaksa pinceng harus turun tangan memaksamu?” Ceng San Hwesio membentak.
Berkerut kening Han Han, bukan karena marah melainkan karena penasaran menyaksikan sikap seorang
ketua partai besar yang sungguh tidak patut itu. Sepasang matanya yang tajam itu mengeluarkan sinar yang
aneh, menyapu belasan orang hwesio itu, kemudian berhenti ke wajah Ceng San Hwesio dan ia berkata,
“Bukan saya yang mencari perkara, silakan kalau locianpwe hendak menggunakan kekerasan!”
Para murid Siauw-lim-pai sudah menyaksikan sikap Han Han yang mereka anggap kurang ajar dan tidak
menaruh hormat kepada ketua mereka. Terdengar bentakan mereka dan mereka sudah melolos senjata
masing-masing, toya, golok dan pedang, gemerlapan tertimpa sinar matahari.
“Hemmm, cu-wi hendak menggunakan kekerasan? Jangan mengira bahwa saya takut menghadapi cu-wi. Lihat
baik-baik, saya sudah siap, apakah cu-wi kira akan dapat mengalahkan saya?”
Para hwesio yang sudah menerjang maju dengan senjata di tangan itu tiba-tiba terbelalak dan berdiri di tempat
masing-masing dengan muka pucat. Bahkan Ceng San Hwesio sendiri berkali-kali mengucapkan “omitohud!”
dan membaca mantera ketika melihat pemuda berkaki buntung itu kini berdiri dengan tegak, tubuhnya berubah
menjadi dua! Kakinya tetap sebuah, akan tetapi kepalanya dua dan lengannya menjadi empat buah, yang dua
memegang tongkat yang dua lagi mengepai siap melakukan perlawanan!
“Omitohud! Dia menggunakan ilmu silat siluman! Jangan takut, serbu!” Ceng San Hwesio berseru penuh
wibawa.
Biar pun hati mereka gentar sekali, sebelas orang anak murid Siauw-lim-pai yang sudah tinggi tingkatnya itu
memaksa diri menyerbu ke arah Han Han yang masih berdiri tegak. Ketika senjata-senjata para anak buah
Siauw-lim-pai itu datang menyambar seperti hujan, tiba-tiba tampak dua batang tongkat berkelebat seperti dua
ekor naga.
“Trang-cring-cring-trakkk!”
Golok dan pedang beterbangan, toya-toya patah ketika bertemu dengan dua batang tongkat itu. Bahkan Ceng
San Hwesio sendiri yang turut menyerbu dengan kepalan tangannya bertemu dengan telapak tangan yang
mengandung hawa panas sekali, membuat ia terhuyung mundur!
“Ceng San Hwesio, jalan kekerasan hanya akan mendatangkan maut dan kerusakan kepada diri sendiri.
Selamat tinggal dan ingatlah selalu bahwa saya sedikit pun tidak pernah dan tidak akan memusuhi Siauw-limpai
yang saya hormati dan kagumi!” Pemuda ini menggunakan kekuatan matanya dan menggunakan ilmunya
Soan-hong-lui-kun, sekali berkelebat lenyap dari depan mata para murid Siauw-lim-pai.
“Di... dia menghilang seperti siluman!” Para murid Siauw-lim-pai berbisik dengan suara gemetar.
Namun ketua Siauw-lim-pai yang sudah tinggi ilmunya itu maklum bahwa Han Han menggunakan ilmu ginkang
yang luar biasa sekali di samping pengaruh pandang matanya yang dapat menyihir para muridnya termasuk
dia sendiri. Maka dia menarik napas panjang dan mengajak murid-muridnya pergi dari situ untuk melanjutkan
usaha mereka mencari Nirahai yang tentu saja sia-sia belaka karena pada waktu itu, Nirahai telah pergi jauh
ke utara dengan hati yang sama hancurnya seperti yang diderita Han Han.
Setelah mengalami peristiwa pertemuannya dengan ketua Siauw-lim-pai yang amat tidak enak itu, Han Han
tidak mau lagi termenung dan ia melakukan perjalanan cepat sambil mengerahkan kepandaian,
menghindarkan pertemuan dan terutama sekali bentrokan dengan orang lain.
dunia-kangouw.blogspot.com
Demikianlah, pada suatu pagi, saat yang ia rindu-rindukan, yang dinanti-nantikan tiba ketika ia memasuki kota
Kwan-teng dan dengan jantung berdebar ia langsung menuju ke Pek-eng-piauwkiok, yaitu gedung perusahaan
ekspedisi milik Hoa-san Pek-eng Tan Bu Kong, murid Hoa-san-pai yang ramah itu.
“Han-koko...!” Lulu menjerit dan lari menyambut kedatangan Han Han ketika Han Han memasuki ruangan
depan Pek-eng-piauwkiok.
“Lulu...!” Han Han memeluk adiknya dan menumpahkan seluruh kerinduan hatinya.
“Han-koko rambutmu... ahhh rambutmu kenapa...?” Lulu yang sudah menangis itu menggunakan kedua
tangannya membelai rambut yang putih semua itu. “Han-koko... kenapa engkau? Kenapa rambutmu... jadi
begini?”
Kembali Han Han merasai keanehan pada dirinya. Rasa haru menyusup ke dadanya, akan tetapi segera
tenggelam seperti sebuah batu dilempar di permukaan telaga dan lenyap tak berbekas! Dia malah dapat
tersenyum sambil mengelus rambut adiknya.
“Lulu, adikku. Rambut hitam menjadi putih apa anehnya? Sudah wajar dan harap jangan diributkan.”
“Koko... Han-koko... ahhh, Han-koko...!”
Lulu merintih-rintih sambil menangis. Air matanya membasahi baju di dada Han Han, dipandang penuh
keharuan oleh Wan Sin Kiat yang pada saat itu merasa benar betapa besar cinta kasih calon isterinya kepada
kakaknya. Akhirnya Sin Kiat yang bijaksana meninggalkan kakak dan adik itu masuk ke ruangan dalam dengan
alasan hendak menyampaikan kedatangan Han Han kepada gurunya.
Setelah tinggal berdua saja, Lulu mempererat pelukannya dan tangisnya makin tersedu-sedu. “Koko... Koko
jangan tinggalkan aku lagi, Koko. Marilah kita pergi berdua... hu-hu-huuukkk...”
“Eh, eh, bocah nakal! Apa pula yang kau katakan ini? Engkau akan menikah dengan Sin Kiat. Bukankah
engkau cinta kepadanya?”
“Aku... aku suka menjadi isterinya akan tetapi aku tidak akan bahagia kalau berpisah darimu, koko. Baru
berpisah tiga bulan saja, engkau sudah tertimpa mala petaka lagi. Pertama kali, perpisahan kita membuat
engkau kehilangan sebelah kakimu...” Lulu mengguguk tangisnya. “Dan sekarang... rambutmu putih semua!”
“Hushhh jangan berkata demikian. Engkau akan hidup bahagia di samping suamimu, jangan pikirkan aku lagi.”
Biar pun mulutnya berkata demikian, hati Han Han tidak karuan rasanya.
Memeluk adiknya ini teringatlah ia ketika ia memeluk Nirahai dan diam-diam ia kini harus membenarkan
ucapan Nirahai yang menyatakan bahwa sesungguhnya dia mencinta Lulu. Memang benar. Baru sekarang dia
tahu Lululah yang dicintanya! Dicintanya sejak dahulu! Bukan hanya dicinta sebagai adiknya, melainkan
dicintanya sebagai seorang wanita satu-satunya di dunia ini yang akan membahagiakan hidupnya!
“Tidak mungkin, Han-koko. Tak mungkin aku tidak memikirkan engkau. Biar pun aku menjadi isterinya, aku
akan sengsara kalau kau tidak berada di dekatku. Lebih baik aku selamanya tidak kawin, biarlah aku ikut
bersamamu... hu-hu-huk, kita kembali ke Pulau Es...!”
Han Han tersentak kaget. Permintaan Lulu ini cocok sekali dengan perasaan hatinya. Dia harus melawan ini.
Tidak boleh begini! Kalau dia menuruti perasaannya, dia tahu bahwa dia akan menemukan bahagia asmara
yang sejati di samping Lulu. Akan tetapi hal itu hanya akan menambah dosanya yang sudah bertumpuktumpuk.
“Tidak! Lulu, jangan berpikiran gila seperti itu! Engkau adikku, dan adik berada di samping kakaknya di waktu
kecil, setelah dewasa dan bertemu jodohnya, harus berpisah.”
“Aku tidak mau...! Tidak mau...!” Lulu terisak-isak dan membanting-banting kakinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kembali Han Han teringat kepada Nirahai. Selama sebulan itu, ketika ia memeluk dan mencinta Nirahai,
bukankah setengah hatinya menganggap bahwa Nirahai menjadi pengganti Lulu? Dan sekarang dia memeluk
Lulu! Akan tetapi Lulu yang dipeluknya ini adalah adiknya! Lebih patut menjadi isteri Wan Sin Kiat.
“Lulu! Apakah engkau ingin melihat kakakmu makin sengsara? Aku bisa mati karena duka jika engkau bersikap
seperti ini!”
Lulu merintih dan melepaskan pelukannya, melangkah mundur sambil memandang kakaknya dengan mata
terbelalak dan muka pucat. “Han-koko, benar-benarkah engkau menghendaki aku kawin dengan Sin Kiat?”
Sejenak mereka berpandangan. Lulu memandang dengan matanya yang lebar penuh selidik. Han Han
berusaha mengelak dan menyembunyikan perasaan hatinya. Jelas sekali tampak olehnya betapa sinar mata
adiknya itu menyorotkan cinta kasih yang mendalam, penuh pemasrahan, cinta kasih dengan pemasrahan
total tanpa halangan perbedaan paham seperti yang dimiliki Nirahai, dan agaknya karena kenyataan bahwa
mereka kakak beradik yang membuat Lulu tidak berani menyatakan perasaan melalui mulutnya.
Han Han mengerahkan seluruh kekuatan kemauannya untuk menekan perasaannya, kemudian ia tersenyum
lebar dan memandang adiknya seperti memandang seorang anak nakal sambil berkata, “Lulu... Lulu adikku
sayang, mengapa kau masih bertanya lagi? Engkau tahu, satu-satunya kebahagiaan bagiku adalah melihat
engkau bahagia adikku. Dan aku yakin engkau akan bahagia menjadi isteri Sin Kiat. Bukankah selama ini dia
bersikap amat baik padamu?”
Lulu menarik napas panjang, menggunakan punggung tangan untuk mengeringkan air mata dari pelupuk mata
dan pipi. “Dia baik, akan tetapi engkau jauh lebih baik”
“Hushhhhh! Tentu lain! Dia adalah calon suamimu, dan aku hanya kakakmu.” Han Han menggandeng tangan
adiknya sambil tertawa. “Jangan seperti anak kecil, Lulu. Mari kita masuk menghadap Locianpwe Im-yang
Seng-cu, guru Sin Kiat.”
Lulu terpaksa menghentikan tangisnya dan tidak sempat lagi berbantahan dengan kakaknya karena tak lama
kemudian Sin Kiat muncul lagi bersama gurunya, Im-yang Seng-cu, Tan Bu Kong dan beberapa orang anak
murid Hoa-san-pai yang telah berada di situ. Ketika melihat Han Han yang rambutnya sudah putih semua, Imyang
Seng-cu membalas penghormatannya sambil berkata, “Siancai... telah banyak sudah aku mendengar
akan sepak terjangmu, orang muda, membuatku kagum. Kiranya engkau cucu sahabatku Suma Hoat telah
menjadi seorang pendekar yang amat sakti!”
Han Han yang sudah menjura penuh hormat, segera menjawab, “Harap locianpwe tidak memuji secara
berlebihan. Saya hanyalah seorang kakak yang kini datang untuk merayakan pernikahan adik saya Lulu
dengan murid locianpwe. Mohon locianpwe maafkan, karena keadaan kami kakak beradik yang tiada orang tua
dan tidak memiliki sesuatu, maka segala pelaksanaan upacara dan perayaan kami serahkan kepada pihak
locianpwe.”
“Suma-taihiap mengapa bersikap sungkan? Kita berada di antara keluarga sendiri. Tentu saja kami sudah
mempersiapkan segalanya, bahkan kami telah menyebar undangan,” kata Tan-piauwsu yang menjadi tuan
rumah.
Ramailah mereka merundingkan rencana pernikahan yang akan diadakan beberapa hari lagi. Kini Lulu tidak
pernah rewel lagi sehingga hati Han Han terasa lega sungguh pun tiap kali bertemu pandang dengan adiknya
itu, Han Han merasa jantungnya tertikam melihat sinar duka menyuramkan sepasang mata adiknya yang
biasanya berseri dan wajahnya yang biasanya cerah itu.
Akhirnya, tibalah harinya yang telah dinanti-nantikan dan dilangsungkanlah pernikahan antara Wan Sin Kiat,
jago muda Hoa-san-pai yang berjuluk Hoa-san Gi-hiap dengan Lulu. Upacara pernikahan dilangsungkan
secara sederhana, namun cukup meriah dan dihadiri oleh tamu-tamu terhormat dari kota Kwan-teng dan
sekitarnya. Han Han dan Im-yang Seng-cu sebagai wakil kedua mempelai memandang penuh keharuan ketika
sepasang mempelai bersembahyang di depan meja sembahyang, mengangkat dupa wangi, berdampingan
dalam pakaian mempelai yang membuat Lulu tampak makin cantik jelita.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dalam keharuannya, Han Han merasa lega hatinya. Belum pernah ia merasa begitu lega hatinya seperti ketika
menyaksikan adiknya bersembahyang di samping Sin Kiat. Adiknya merupakan satu-satunya persoalan yang
memberatkan hatinya, karena kalau dia pergi menjauhi segala kesengsaraan dunia, bagaimana dengan
adiknya yang ditinggalkannya. Kini adiknya sudah ada yang memiliki, ada yang mengurus, membela dan
melindungi. Dan dia percaya bahwa Sin Kiat akan menjadi seorang suami yang baik, dia percaya bahwa tentu
Lulu akan hidup sebagai seorang isteri yang penuh kebahagiaan.
Malam tadi, untuk yang terakhir kalinya Lulu menemuinya dan menangis, dengan terisak-isak minta supaya
pernikahan dibatalkan! “Koko... lebih senang kalau aku pergi saja bersamamu!” Demikian adiknya itu rewel lagi.
“Eh, eh, bagaimana engkau ini, Lulu? Besok dirayakan perkawinan, tamu-tamu akan datang, mana bisa
dibatalkan? Eh, terus terang saja. Katakanlah, apa engkau tidak cinta kepada Sin Kiat?”
Lulu mengangguk. “Aku suka padanya, Koko. Aku mau menjadi isterinya, akan tetapi... berat sekali kalau aku
harus berpisah darimu. Kau berjanjilah bahwa setelah aku menikah, engkau akan tinggal bersama kami untuk
selamanya!”
“Hush, bocah nakal! Apa kau akan mengikat kakiku seperti seekor burung? Jangan begitu, adikku. Engkau
mencinta Sin Kiat, dia pun mencintaimu. Kalau kalian sudah menjadi suami isteri, berarti kalian merupakan dua
tubuh satu hati, sehidup semati dan mengenai aku... ah, aku hanya kakakmu, dan aku... aku akan mencari
jodohku sendiri!” Terpaksa Han Han menggunakan alasan ini dan benar saja, wajah adiknya menjadi berseri
dan biar pun pipinya masih basah, kini Lulu dapat tersenyum.
“Benarkah, Koko? Kenapa tidak dengan Suci Nirahai?”
Kalau saja kini rongga dada Han Han tidak sudah kosong melompong, tentu disebutnya nama Nirahai ini akan
membuat perasaannya tertikam hebat. Akan tetapi tikaman itu mengenai tempat kosong dan ia hanya
memejamkan mata sesaat, kemudian menjawab, “Entahlah, adikku. Soal jodoh berada di tangan Tuhan,
seperti jodohmu dengan Sin Kiat ini pun sudah ditentukan oleh Thian Yang Maha Kasih.”
Bujukan-bujukannya ini membuat Lulu dapat bersikap wajar dan gembira ketika sepasang mempelai
bersembahyang dan mengikuti upacara pertemuan. Setelah upacara selesai dan sepasang mempelai duduk
bersanding, barulah pesta dimulai dan suasana menjadi gembira sekali. Sebagai kedua wali sepasang
mempelai, Han Han duduk berhadapan dengan Im-yang Seng-cu dan minum arak wangi.
Akan tetapi, mendadak suasana gembira itu dipecahkan oleh suara yang nyaring menggema, datang dari luar
pekarangan gedung Pek-eng-piauwkiok, “Suma Han, pinceng tidak ingin mengganggu pesta pernikahan.
Keluarlah agar kita dapat bicara!”
Han Han dan semua orang yang berada di situ terkejut karena suara ini mendatangkan getaran hebat yang
seolah-olah menimbulkan gempa bumi. Han Han mengenal suara Thian Tok Lama, pendeta Tibet, maka ia lalu
bangkit berdiri dan berkata kepada para tamu, “Harap cu-wi melanjutkan makan minum, urusan ini adalah
urusan saya sendiri yang akan saya bereskan di luar!” Setelah berkata demikian, Han Han lalu terpincangpincang
keluar dari ruangan pesta itu.
Akan tetapi, Im-yang Seng-cu yang mengerti bahwa orang yang mengeluarkan suara seperti itu tentulah
memiliki kepandaian yang luar biasa segera bangkit dan diam-diam mengikuti Han Han. Lulu juga cepat
bangkit berdiri dan sebelum dapat dicegah, sudah lari keluar. Tentu saja Sin Kiat tidak mau membiarkan
isterinya pergi sendiri, dan cepat ia pun ikut keluar. Melihat betapa sepasang mempelai keluar, tentu saja para
tamu menjadi tertarik dan ingin tahu, maka tanpa dapat dicegah lagi, berbondong-bondong mereka keluar
untuk melihat apa yang terjadi.
Ternyata yang berada di depan gedung Pek-eng-piauwkiok itu adalah dua orang pendeta Tibet, bukan lain
Thian Tok Lama dan Thai Li Lama yang berdiri dengan sikap tenang, akan tetapi mata mereka memandang
marah.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kiranya ji-wi yang datang,” kata Han Han, sikapnya tenang. “Ada keperluan apakah mengganggu aku yang
sedang merayakan pernikahan adikku?”
“Suma-taihiap, kami berdua masih mengingat akan hubungan lama, karena itu kami datang bukan dengan niat
mencari keributan. Tak perlu kiranya kami jelaskan lagi dan tidak perlu pula urusan ini dibicarakan panjang
lebar. Kami hanya ingin tahu di mana adanya Sang Puteri sekarang.”
Han Han memandang tajam dan melihat betapa sepasukan pengawal kerajaan yang jumlahnya dua puluh
empat orang, kesemuanya pengawal pilihan dan yang berbaris rapi di belakang dua orang pendeta itu, telah
siap menerjang. Akan tetapi ia didahului oleh Im-yang Seng-cu yang telah meloncat maju mendekati kedua
orang pendeta Lama itu sambil menudingkan tongkatnya, “Pinto sebagai tuan rumah yang mengadakan pesta
pernikahan murid pinto, mengharap agar ji-wi Losuhu tidak menggangu perayaan kami, atau, kalau ji-wi
beriktikad baik, kami persilakan untuk masuk sebagai tamu-tamu yang kami hormati.”
Thian Tok Lama memandang tosu kurus itu dengan alis berkerut, kemudian ia berkata tegas dan angkuh,
“Kami tidak ingin mengganggu dan tidak mau diganggu! Kami tidak mempunyai urusan dengan siapa pun juga,
kecuali dengan Suma Han. Harap yang lain tidak mencampuri urusan kami!”
Bayangan Lulu berkelebat dan dia sudah berdiri di dekat kakaknya. Dengan tirai masih menutupi mukanya, dia
menudingkan telunjuknya dan membentak. “Thian Tok Lama dan Thai Li Lama. Aku mengenal siapa kalian!
Beranikah kalian menghinaku dengan mengacau hari pernikahanku dan menghina kakakku?”
Wan Sin Kiat juga sudah berkata keras, “Ji-wi Losuhu sudah menyeberang ke pihak musuh, hal itu tidak ada
sangkut-pautnya dengan kami! Mengapa ji-wi sekarang datang mengganggu?”
Thian Tok Lama memandang sepasang mempelai itu lalu tertawa. “Omitohud...! Seorang puteri Mancu
berjodoh dengan seorang tokoh pejuang! Betapa manis dan baiknya! Kami tidak mengganggu kalian,
melainkan hendak berurusan dengan Suma Han!”
“Suma Han adalah wali mempelai wanita, menjadi tamu agung bagi pinto. Siapa pun juga tidak boleh
mengganggunya. Pinto sebagai tuan rumah berhak melindunginya. Harap ji-wi suka pergi!” Sambil berkata
demikian, Im-yang Seng-cu meloncat maju dan menggerakkan tongkatnya.
“Locianpwe, jangan...!” Han Han berseru mencegah.
Namun terlambat. Im-yang Seng-cu yang dapat menduga bahwa kedua orang pendeta itu tentu lihai dan
berbahaya sekali, telah menyerang dengan tongkatnya. Thian Tok Lama tertawa dan menggerakkan tangan
kanan menyambut tongkat.
“Krekkk...!”
Tongkat di tangan Im-yang Seng-cu patah menjadi dua dan tosu ini terhuyung ke belakang. Kagetlah Im-yang
Seng-cu. Dia merupakan seorang sakti yang berilmu tinggi, akan tetapi ternyata dalam segebrakan saja
tangkisan tangan pendeta aneh itu telah mematahkan tongkatnya dan ia merasa sebuah tenaga panas
mendorongnya sehingga ia terhuyung. Mengertilah ia bahwa hwesio ini amat sakti!
“Pendeta sesat!”
Lulu dan Sin Kiat bergerak hendak menyerang, akan tetapi Han Han sudah melonjorkan lengannya mencegah,
lalu berkata penuh wibawa, “Kalian sedang merayakan pernikahan, tidak boleh bergerak dan berkelahi. Urusan
ini memang tiada sangkut-pautnya dengan lain orang, biarlah aku sendiri yang membereskan!”
Mendengar ucapan Han Han ini, Lulu dan Sin Kiat mundur dan kini Han Han sendiri menghadapi dua orang
pendeta Lama itu. “Ji-wi Losuhu, baiklah pertanyaan ji-wi tadi kujawab. Tentang Puteri Nirahai, aku tidak tahu
dia berada di mana sekarang. Jawabku ini sama sekali tidak membohong, karena memang aku tidak tahu ke
mana dia pergi setelah berhasil kuselamatkan dari tahanan istana. Akan tetapi, perlu ji-wi ketahui pula bahwa
andai kata aku tahu di mana dia berada sekali pun, takkan keberitahukan kepada siapa pun juga jika tidak dia
kehendaki. Nah, setelah kujawab sejujurnya, harap ji-wi tidak mengganggu lagi dan suka pergi dari sini.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Ramailah anak buah pasukan pengawal itu bicara sendiri mendengar jawaban Han Han. Thian Tok Lama
mengerutkan keningnya dan nampak marah. “Suma Han! Engkau telah melakukan dosa besar, menyerbu
istana dan melarikan Sang Puteri, sekarang sengaja hendak menyembunyikannya. Namun, pinceng masih
ingat akan hubungan antara kita dan pinceng persilakan engkau ikut bersama kami untuk menghadapi kaisar
dan memberi jawaban sendiri.”
“Kalau aku tidak mau?”
“Berarti engkau tidak mengindahkan iktikad baik kami dan terpaksa kami menggunakan kekerasan
menangkapmu!”
Han Han tertawa. “Thian Tok Lama dan Thai Li Lama, apakah yang kalian andalkan untuk dapat menangkap
aku? Kalau hendak menggunakan kekerasan silakan!”
Kedua orang pendeta Tibet itu sudah mengenal kelihaian Han Han, maka dengan cerdik mereka tadi hendak
menggunakan bujukan halus. Kini melihat pemuda itu tak dapat dibujuk, Thian Tok Lama lalu mengangkat
tangan dan memberi perintah kepada para pasukan pengawal pilihan, “Tangkap si pemberontak!”
Terdengar suara nyaring dan tampak sinar berkilauan ketika dua losin pasukan pengawal itu mencabut senjata
mereka. Thian Tok Lama dan Thai Li Lama pun sudah bersiap-siap untuk menyerbu kalau pasukan itu sudah
mengeroyok. Akan tetapi Han Han yang tidak ingin membunuh orang, sudah mendahului mereka. Tiba-tiba ia
mengeluarkan suara keras sekali, “Jangan bergerak!”
Dan tubuhnya sendiri mencelat ke atas seperti seekor burung garuda menyambar. Aneh sekali, dua puluh
empat orang yang sudah mencabut senjata itu kini berdiri diam seperti arca dan sekali tubuh Han Han
menyambar turun, dengan mudahnya Han Han merampas dan melucuti senjata-senjata mereka, mematahmatahkan
semua senjata itu dengan kedua tangan seperti orang mematah-matahkan sekumpulan lidi saja!
Kemudian ia membuang senjata-senjata yang sudah patah itu ke atas tanah.
Melihat ini, semua orang terheran-heran. Thian Tok Lama dan Thai Li Lama terkejut sekali. Terutama Thai Li
Lama yang merupakan seorang tokoh dan ahli sihir. Dia tadi sampai ikut diam tak mampu bergerak mendengar
bentakan Han Han, maka tahulah pendeta ini bahwa sekarang Si Pemuda berkaki buntung telah memiliki
kekuatan yang mukjizat, jauh lebih kuat dari pada dahulu ketika bertanding kekuatan sihir dengannya.
Namun, sebagai dua orang yang memiliki sinkang tenaga batin kuat, dua orang pendeta Tibet ini sudah dapat
menguasai dirinya kembali dan sambil berseru marah mereka menerjang maju dari kiri kanan memukul dengan
pengerahan sinkang ke arah Han Han.
Menghadapi pukulan dari kiri kanan yang amat kuat ini, Han Han malah berdiri tegak dan memejamkan
matanya! Tentu saja Im-yang Seng-cu, Lulu dan Sin Kiat menjadi terkejut dan amat khawatir menyaksikan dua
pukulan yang mendatangkan angin mendesir kuat sekali itu. Tiba-tiba Han Han mengembangkan kedua
lengannya dan berseru.
“Thian Tok Lama dan Thai Li Lama, pergilah kalian!”
Kedua telapak tangan Han Han menyambut pukulan dua orang lawannya. Terjadilah pertemuan tenaga yang
amat hebat! Tubuh Han Han diam seperti arca, akan tetapi tubuh dua orang pendeta Lama itu tergoncang
hebat. Mereka masih hendak bertahan, namun mereka terguncang makin hebat dan kalau dilanjutkan
pertahanan mereka, tentu isi dada mereka akan hancur. Mengerti akan bahaya maut, keduanya lalu melompat
mundur dan terhuyung-huyung, lalu roboh terpelanting dan cepat mereka duduk bersila mengatur pernapasan!
Pasukan itu menjadi gempar. Mereka tadi tak dapat menggerakkan kaki tangan sama sekali, dan barulah
sekarang mereka dapat bergerak, namun apa yang dapat mereka lakukan? Senjata telah dirampas begitu
mudah, dan dua orang pendeta itu telah terluka hebat.
“Pergilah, dan bawalah mereka pergi dari sini,” Han Han berkata halus kepada pasukan itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi dua orang pendeta itu sudah bangkit kembali, sejenak memandang kepada Han Han dengan sinar
mata penuh kemarahan, kekaguman dan juga penasaran. Mereka benar-benar merasa heran sekali mengapa
baru berpisah beberapa bulan saja, agaknya kepandaian Si Pemuda buntung ini sudah meningkat secara luar
biasa!
“Suma Han, semenjak saat ini, engkau adalah musuh negara dan kami akan selalu berusaha untuk
membunuhmu! Engkau seorang pelarian, seperti halnya Puteri Nirahai!” kata Thian Tok Lama.
Han Han menghela napas panjang. “Sudah untung kami! Akan tetapi, peganglah aturan orang-orang gagah jiwi
losuhu. Kalian boleh saja mencari aku dan Sang Puteri, akan tetapi jangan sekali-kali mengganggu orang
lain yang tiada sangkut-pautnya dengan kami. Sang Puteri telah pergi, dan aku pun akan pergi dari sini. Kalian
boleh mencari kami kalau bisa, suatu usaha yang sia-sia belaka karena sesungguhnya aku tidak peduli akan
urusan dunia lagi. Nah, pergilah!”
“Engkau... siluman!” Thai Li Lama berseru penuh keheranan. “Engkau patut dijuluki Pendekar Siluman!”
Para pasukan yang masih terheran-heran menyaksikan cara pemuda itu merampas senjata mereka, otomatis
berseru, “Pendekar Siluman...!”
“Kalian jangan memaki kakakku! Hayo pergi, kalau tidak, sekali aku turun tangan, aku tak akan sesabar
kakakku dan takkan puas sebelum kepala kalian menggelinding di sini!” Lulu meloncat maju dan memaki-maki
marah mendengar kakaknya dijuluki Pendekar Siluman.
Dua orang hwesio Lama itu menghela napas lalu membalikkan tubuh, melangkah pergi diikuti para pasukan
yang masih merasa ngeri dan takut. Semua tamu yang menyaksikan peristiwa ini juga memandang Han Han
seperti orang memandang makhluk aneh bukan manusia, kagum heran dan juga seram. Hanya Im-yang Sengcu
yang memandang penuh kekaguman, menjura kepada Han Han sambil berkata lirih.
“Sungguh bahagia sekali bagi mata tuaku ini menyaksikan cucu sahabat baik Suma Hoat menjadi seorang
yang kesaktiannya jauh melampaui nenek moyangnya. Siancai... siancai!”
Lulu sudah menggandeng tangan Han Han diajak memasuki gedung dan dara yang sejenak lupa bahwa dia
sedang menjadi pengantin ini menegur kakaknya, “Han-koko, mengapa kau tidak menceritakan aku tentang
Suci Nirahai? Engkau melarikan dia dari istana? Aihhh, engkau nakal sekali. Kau harus menceritakan hal itu
kepadaku, Koko...!”
Setelah pesta pernikahan itu selesai dan para tamu sudah pulang, barulah pada malam hari itu Han Han
terpaksa bercerita kepada Lulu dan Sin Kiat. Dengan terus terang Han Han menceritakan bahwa atas
keputusan mendiang Nenek Maya dan Nenek Khu Siauw Bwee, dia dijodohkan dengan Nirahai.
Mendengar penuturan Han Han sampai di sini, Lulu menangis. Menangis karena gurunya, Nenek Maya, telah
meninggal dunia, dan menangis saking terharu men-dengar bahwa kakaknya dijodohkan dengan Nirahai.
Han Han melanjutkan ceritanya yang menyedihkan, betapa kaisar bukan hanya melarang perjodohan itu,
bahkan menjebloskan Nirahai ke dalam penjara. Betapa dia menyerbu istana untuk membebaskan Puteri
Nirahai.
“Di mana suci sekarang, Koko? Kenapa tidak ikut ke sini?” Lulu bertanya tak sabar.
“Benar sekali pertanyaan isteriku, Han Han. Kenapa dia tidak ikut ke sini dan... alangkah baiknya kalau tadinya
dirayakan pernikahan kalian di sini,” kata pula Sin Kiat yang menyebut Lulu ‘isteriku’ dengan suara mesra,
akan tetapi tidak dapat mengubah panggilannya terhadap Han Han yang dianggapnya sahabat sejak kecil.
“Ya, kenapa tidak begitu, Koko? Mana suci?” Lulu bertanya lagi penuh desakan.
Han Han merasa jantungnya seperti ditusuk, akan tetapi hanya untuk beberapa detik saja karena perasaan ini
telah tenggelam dan lenyap. Betapa pun juga, wajahnya membayangkan kesayuan dan kekosongan, sayu dan
layu, sinar matanya seperti lampu kehabisan minyak. Ia menghela napas dan menggeleng kepalanya. “Dia
dunia-kangouw.blogspot.com
telah pergi, Lulu. Dan harap jangan mendesakku... cukup kalau kuberitahukan bahwa... bahwa... di antara kami
tidak sepaham.”
“Koko...!” Lulu memegang pundak kakaknya dan menangis. Dia telah mengenal betul wajah kakaknya dan
maklum bahwa pada saat itu, kakaknya sedang menderita tekanan batin yang amat hebat.
“Husshh, jangan begini, Lulu.” Dari atas pundak Lulu, Han Han memberi isyarat kepada Sin Kiat untuk
menghibur Lulu.
Dia bangkit berdiri dan berkata, “Lulu, tentang diriku tak perlu kau hiraukan lagi. Bagiku, yang terpenting adalah
keadaanmu. Sudah menjadi kewajibanku untuk berusaha sekuat tenaga demi kebahagiaanmu. Kini engkau
telah menemukan jodoh, telah mendapatkan seorang suami yang kupercaya penuh akan mencintamu
selamanya, akan menjagamu, membimbingmu dan melindungimu dengan seluruh jiwa raganya. Maka legalah
hatiku, adikku. Cukuplah hidup ini bagiku kalau melihat engkau bahagia. Kini aku dapat pergi dengan hati
lapang, tidak lagi mengkhawatirkan hidupmu. Yang pandai-pandailah engkau menjaga dan mengatur rumah
tanggamu, Lulu. Yang hati-hatilah engkau bersama suamimu mendayung biduk rumah tanggamu menuju ke
pantai bahagia. Aku... aku hanya dapat mendoakan setiap saat untuk kebahagiaanmu.”
“Koko...! Engkau... engkau akan ke mana...?” Lulu bertanya dengan muka pucat melihat kakaknya bangkit
berdiri dan agaknya siap hendak pergi itu.
Han Han tersenyum, senyum yang menyayat jantung Lulu. “Ke mana? Tentu saja pergi dari sini, adikku. Aku
sudah bebas sekarang, bebas lepas seperti burung di udara, bebas dari pada tugas, bebas dari segalagalanya.
Aku akan pergi, sekarang juga...”
“Koko, jangan pergi sekarang...!” Lulu berteriak, mukanya makin pucat dan air matanya mengucur deras.
Melihat keadaan isterinya ini, Sin Kiat cepat merangkul pundak isterinya dan ikut berkata.
“Han Han, mengapa tergesa-gesa? Tinggallah di sini barang sepekan...”
Han Han menengok keluar jendela. Bulan sedang purnama dan di luar rumah terang seperti siang. “Tidak, aku
harus pergi sekarang! Malam ini merupakan malam bahagia bagi kalian, dan merupakan malam keramat
bagiku. Aku harus pergi, selagi bulan sedang purnama, selagi hatiku sedang terang...”
“Han-koko...!” Lulu menjerit menahan isak. “Engkau hendak pergi ke manakah? Malam-malam begini...? Ke
mana...?”
Kembali Han Han memaksa tersenyum kepada adiknya. “Ke mana? Ke manakah semua manusia akan pergi?
Hemmm, aku tidak tahu, adikku. Dunia ini terlalu luas, dan di mana pun sama saja. Terserah kepada hati dan
kakiku ke mana aku pergi. Jangan engkau memikirkan aku lagi, adikku. Nah, selamat tinggal...”
“Koko...!”
“Han Han, jangan pergi seperti ini! Besok saja...!” Sin Kiat mencegah.
“Tidak, sekarang inilah saatnya,” Han Han berpincangan keluar.
“Koko, aku antar engkau...” Lulu mengejar. Sin Kiat juga mengejar. “Kami antar sampai keluar kota!” kata Sin
Kiat yang terharu menyaksikan penderitaan isterinya. Han Han tak dapat membantah lagi.
Di luar ruangan gedung, mereka bertemu dengan Tan-piauwsu, atau Tan Bu Kong pemilik Pek-eng-piauwkiok.
Ketika mendengar bahwa malam hari itu juga Han Han akan pergi, Tan Bu Kong menyatakan keheranannya,
akan tetapi dia tidak berani mencegah bahkan ikut pula mengantar.
Setibanya di luar kota, Han Han berkata, “Sudah cukup, adikku Lulu. Cukuplah Sin Kiat dan Tan-piauwsu.
Kembalilah kalian ke kota, aku akan melanjutkan perjalananku.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Koko...! Ahhh, Koko... jangan... jangan tinggalkan aku...!” Lulu tidak mempedulikan apa-apa lagi, menubruk
Han Han, merangkul dan menyembunyikan mukanya di dada kakaknya sambil menangis sesunggukan.
“Lulu, engkau bukan anak kecil lagi, mengapa bersikap begini? Tidak baik begini, Lulu...”
“Bawalah aku, Koko... bawalah aku..., aku tidak bisa berpisah lagi darimu...!”
“Lulu!” Han Han membentak sehingga Lulu tersentak kaget. Dengan gerakan halus Han Han mendorong Lulu
mundur, kemudian berkata, “Ingat, engkau adalah isteri Wan Sin Kiat yang mencintamu dan kau cinta. Adikku
sayang, selamat tinggal, semoga Tuhan melindungimu selamanya!” Setelah berkata demikian, Han Han
membalikkan tubuh dan berjalan terpincang-pincang meninggalkan mereka.
Lulu seperti terkena pesona berdiri seperti patung, mukanya pucat, air matanya bercucuran, matanya tak
pernah berkedip menatap tubuh yang pergi itu. Tubuh seorang laki-laki yang berkaki satu, terpincang-pincang
dibantu tongkat bututnya, rambutnya terurai lepas berwarna putih. Sesosok tubuh yang menimbulkan haru dan
iba kepada yang melihatnya, terutama sekali Lulu.
“Koko...! Han-koko... kakakku...!”
Sin Kiat sudah memegang lengannya. “Kuatkan hatimu, isteriku. Biarkan kakakmu pergi, di sini ada aku
suamimu yang mencintamu lahir batin...” Sin Kiat menahan isak yang bercampur dalam suaranya.
Lulu membalikkan tubuh memandang suaminya, kemudian menubruk suaminya dan menangis tersedu-sedu.
“Han-koko... ah, Han-koko... betapa malang dan sengsara nasib kakakku... dia... selalu berusaha menolong
orang sengsara... akan tetapi dia sendiri selalu dirundung malang... ohhh, kakakku...”
Sin Kiat memeluk isterinya, kemudian mereka berdua memandang tubuh yang makin menjauh itu. Tubuh yang
berjalan terpincang-pincang di bawah sinar bulan purnama, dan tidak pernah sekali juga Han Han menoleh.
Bukan karena tidak ingin, oh, dia ingin sekali menoleh, akan tetapi dia tidak mau tampak oleh mereka betapa
kedua pipinya basah oleh tetesan air matanya.....
>>>>> T A M A T <<<<<
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil