Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 09 Agustus 2017

Kho Ping Hoo New Kisah Sepasang Rajawali 3

Kho Ping Hoo New Kisah Sepasang Rajawali 3 Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Kho Ping Hoo New Kisah Sepasang Rajawali 3 
kumpulan cerita silat cersil online
-
“Namaku Lu Sian Cu. Boleh aku mengetahui namamu, paman?”
“Sebut saja aku paman Gak. Akan tetapi kuharap engkau tidak merahasiakan namamu karena aku telah
mendengar gadis kedua itu meneriakkan namamu, yaitu Syanti.”
Syanti Dewi tercengang dan maklum bahwa tiada gunanya untuk membohong kepada orang yang jelas
beriktikad baik terhadap dirinya itu. “Memang Lu Sian Cu adalah nama baruku, paman. Nama yang kupakai
dalam perjalanan bersama adikku itu. Nama asliku adalah Syanti Dewi...” Dara itu berhenti untuk melihat
reaksi pada wajah laki-laki itu. Namanya adalah nama puteri Kerajaan Bhutan, tentu laki-laki itu akan
menjadi terkejut mendengarnya.
Namun tidak ada reaksi apa-apa pada wajah laki-laki itu, dan memang Bun Beng tidak pernah mendengar
nama ini. Selama belasan tahun dia tidak mau mencampuri urusan dunia, tidak pula memperhatikan segala
peristiwa yang terjadi mengenai pemerintah dan kerajaan mana pun juga!
“Engkau dari suku bangsa apakah, nona?”
Kini tahulah Syanti Dewi bahwa laki-laki ini memang tidak mengenal namanya sama sekali! Hal ini agak
mengherankan hatinya, karena daerah ini belum jauh dari Bhutan. Memang namanya yang tidak dikenal
orang, ataukah laki-laki ini yang bodoh?
“Aku berbangsa Bhutan...!”
“Ahhh... dan engkau bersama adikmu datang dari Bhutan berdua saja? Hendak ke manakah dan mengapa
kalian hanya pergi berdua? Kuharap kau suka menceritakan semua kepadaku agar aku menjadi jelas ke
mana aku selanjutnya harus mengantarmu.”
Bukan main girang dan lega rasa hati Syanti Dewi. Benar-benar dia telah ditemukan oleh Thian dengan
orang ini yang demikian baik hati! Maka dia lalu bangkit berdiri dan menjura dengan hormat kepada Bun
Beng, yang kemudian dibalas oleh laki-laki itu dengan semestinya.
“Paman, aku menghaturkan banyak terima kasih atas pertolonganmu, dan lebih banyak terima kasih lagi
bahwa paman akan sudi melanjutkan pertolongan paman itu untuk mengantar aku sampai ke tempat
tujuan. Akan tetapi, hal itu berarti bahwa aku akan membuat paman repot sekali!”
“Ah, tidak ada kerepotan apa-apa, nona. Dan aku pun bukan menolong, tetapi sudah sewajarnyalah kalau
aku menolong seorang gadis muda yang kini hanya melakukan perjalanan seorang diri saja.”
“Tapi perjalananku amat jauh, paman.”
“Hemm, sejauh manakah?”
“Sampai ke kota raja Kerajaan Ceng.”
“Hehhh...?” Bun Beng menjadi kaget, juga sama sekali tidak menyangkanya bahwa gadis ini berniat pergi
ke kota raja! Akan tetapi dia menduga bahwa tentu ada urusan yang luar biasa pentingnya, maka segera
dia berkata, “Memang jauh sekali ke sana, akan tetapi kalau memang perlu, aku bersedia mengantarmu ke
sana, nona.”
Kebaikan yang dianggapnya berlebihan ini membuat Syanti Dewi meragu. “Akan tetapi, paman... kabarnya
dunia-kangouw.blogspot.com
perjalanan ke sana harus menghabiskan waktu berbulan, bagaimana paman dapat meninggalkan keluarga
paman...?”
Bun Beng tersenyum dan Syanti Dewi makin kagum. Laki-laki ini tampan dan gagah, juga giginya yang
tampak sekilas itu terawat baik, tidak seperti gigi sebagian besar tukang perahu atau orang-orang dusun
yang dijumpainya.
“Jangan khawatir, nona. Aku hidup seorang diri di dunia ini, tiada handai taulan, tiada sanak keluarga, tiada
rumah tangga. Tetapi, karena perjalanan itu jauh sekali, maka aku tadi mengatakan bahwa kalau perlu,
baru aku bersedia mengantarmu. Maka harus dilihat keperluannya dulu. Kalau saja engkau mau
menceritakan semua riwayatmu kepadaku, mengapa engkau hendak ke kota raja, dan bagaimana engkau
dan adikmu itu sampai terbawa perahu hanyut. Kalau kuanggap memang sepatutnya engkau ke kota raja,
tentu akan kuantar.”
Kembali sang puteri menatap wajah Bun Beng sampai beberapa lama, seolah-olah hendak menyelidiki
keadaan hati orang itu, kemudian dia berkata, “Paman Gak, terus terang saja kukatakan bahwa riwayatku
merupakan rahasia besar yang menyangkut negara, bahkan menyangkut juga mati hidupku. Sekali aku
keliru menceritakannya kepada orang yang tidak dapat dipercaya, celakalah aku.”
“Aku tidak perlu membujuk agar engkau mau mempercayaiku, nona. Hanya saja, untuk mengantarmu ke
tempat yang demikian jauhnya, aku harus memperoleh kepastian dulu akan alasannya.”
“Aku sudah percaya kepadamu, paman Gak. Kalau engkau bukan orang yang dapat dipercaya, agaknya
aku telah mati atau mungkin bernasib lebih buruk lagi. Baiklah, aku akan menceritakan semua keadaanku.
Pertama-tama, aku adalah Puteri Syanti Dewi, puteri dari Raja Bhutan.”
Puteri itu berhenti, hendak melihat reaksi wajah orang itu. Namun, tidak ada reaksi apa-apa, seolah-olah
orang she Gak itu menganggap seorang puteri raja sama saja dengan seorang gadis dusun anak petani
atau nelayan! Hal ini sedikit banyak mendatangkan kekecewaan di dalam hati Syanti Dewi, dan dia cepat
melanjutkan, “Dan aku adalah calon mantu Kaisar Ceng!”
Akan tetapi, Bun Beng tidak kelihatan kaget, hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan memandang
tajam, seolah-olah hendak menjenguk isi hati dara itu. Syanti Dewi menghela napas. Dia kecele kalau ingin
melihat wajah orang itu berubah kaget. Agaknya urusan yang menyangkut nama segala raja di raja tidak
menggetarkan sedikit pun juga di hati orang itu.
“Rombongan utusan kaisar telah menjemputku di Bhutan, Gak-sioksiok (paman Gak) dan dalam
rombongan yang dikawal oleh lima ratus orang pasukan Bhutan itu aku ditemani oleh Ceng-moi.”
“Adikmu yang bernama Candra itu?”
“Dia hanya adik angkat, nama aslinya adalah Lu Ceng, dan nama barunya Candra Dewi, jadi keadaannya
berbalik dengan diriku. Dia seorang gadis Han yang memiliki ilmu silat yang lihai sekali.”
Bun Beng mengangguk-angguk, hatinya senang juga mendengar seorang puteri raja mau mengangkat
saudara dengan seorang gadis biasa, hal yang membuktikan bahwa puteri yang ditolongnya ini adalah
seorang wanita yang berbudi baik!
Syanti Dewi lalu menceritakan semua pengalamannya, semenjak berangkat dari istana Bhutan sampai
mereka diserbu pasukan musuh yang amat besar jumlahnya. Diceritakannya betapa dia bersama Ceng
Ceng, dikawal oleh kakek gadis itu, terpaksa menyamar dan melarikan diri karena gelagatnya tidak baik.
Betapa kakek itu tewas dalam membelanya dan kemudian dia bersama adik angkatnya itu melarikan diri
berdua, mengalami segala kesengsaraan sampai akhirnya terbawa perahu yang hanyut, dan dia tertolong
oleh paman Gak itu.
“Demikianlah, paman. Sungguh tidak saya sangka bahwa kalau demikian buruk nasib Ceng-moi. Kasihan
sekali dia... demi keselamatanku, dia dan kakeknya sampai harus mengorbankan nyawa.”
“Hemmm, kita belum yakin benar bahwa nona Ceng itu akan tewas. Akan tetapi, tukang perahu yang
membawa kalian itu sungguh menarik. Benarkah bahwa dia itu memiliki kepandaian yang hebat?”
“Dia memang lihai sekali. Hal ini baru kami ketahui setelah adik Ceng marah-marah dan menyerangnya.
Ternyata ia memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari pada kepandaian Ceng-moi yang sudah amat lihai
dunia-kangouw.blogspot.com
itu. Dan baru saya dapat menduga bahwa para pencegat dalam dua buah perahu itu tentulah jeri terhadap
dia, entah mengapa, bahkan ada yang membisikkan nama julukan Si Jari Maut.”
Bun Beng mengangguk-angguk. Tidak disangkanya bahwa dia akan bertemu dengan urusan sebesar ini!
Yang ditolongnya adalah puteri Raja Bhutan, calon mantu kaisar! Dan ternyata di daerah barat terjadi
pemberontakan yang besar pula. Dia tidak ingin terseret ke dalam urusan apa pun juga, tetapi setelah
secara kebetulan dia menolong puteri ini, tidak mungkin pula dia membiarkannya saja pergi seorang diri
yang tentu merupakan hal yang amat berbahaya sekali.
“Ketika engkau masih bersama nona Ceng, ke manakah tujuan kalian melarikan diri?”
“Kami hanya mentaati pesan kakek dari Ceng-moi, yaitu disuruh melarikan diri ke kota raja Kerajaan Ceng
dan menemui seorang puteri kaisar di sana.”
“Puteri kaisar?” Bun Beng memandang dengan jantung berdebar tegang.
“Ya, namanya Puteri Milana...”
Bun Beng menelan seruan kagetnya, tetapi dia tidak dapat menyembunyikan wajahnya yang menjadi
merah. Perubahan pada wajah ini tampak pula oleh Syanti Dewi yang cepat bertanya, “Ada apakah,
paman?”
“Tidak... tak ada apa-apa,” jawab Bun Beng yang segera bangkit berdiri dan termenung sejenak. Kemudian
dia berkata, “Sebelum kita berangkat ke kota raja yang jauh itu, mari kita mencoba untuk mencari adikmu
itu. Siapa tahu dia dapat menyelamatkan diri...”
Keduanya lalu menyusuri Sungai Nu-kiang, namun sampai puluhan li jauhnya, mereka tidak melihat ada
tanda-tanda bahwa Ceng Ceng mendarat, akan tetapi juga tidak ada melihat mayat gadis itu. Akhirnya,
terpaksa Bun Beng mengajak dara itu menghentikan usaha mereka mencari Ceng Ceng dan mulailah dia
mengantarkan dara itu ke kota raja, sebuah perjalanan yang amat jauh sekali dan akan memakan waktu
berbulan.....
********************
“Kau tidak boleh melakukan hal seperti itu, Bu-te! Engkau bisa disangka hendak berbuat kurang patut!”
Mendengar teguran kakaknya itu, Kian Bu tersenyum lebar, “Ahhh, Lee-ko. Peduli apa dengan
persangkaan kosong? Buktinya yang penting, dan engkau tentu tahu betul bahwa aku sama sekali tidak
ingin melakukan sesuatu yang kurang patut! Aku hanya ingin berkenalan dan mendapat kesempatan
bercakap-cakap dengan seorang gadis cantik. Apa salahnya itu?”
Mau tidak mau Kian Lee tertawa. Memang adiknya ini bengal sekali dan bagi yang tidak mengenalnya
betul, tentu perbuatannya akan dianggap sebagai perbuatan kurang ajar dan melanggar susila.
Seminggu yang lalu, adiknya itu sudah mempraktekkan kebengalannya. Ketika melihat sebuah joli digotong
angin nakal menyingkapkan tirai memperlihatkan bahwa yang berada di dalam joli itu duduk seorang gadis
cantik, tanpa ragu-ragu sama sekali Kian Bu mengejar joli, membuka tirai dan berseru girang, “Haiii, nona
Liem...! Engkau hendak ke manakah?”
Tentu saja empat orang penggotong joli mengira bahwa pemuda tampan itu memang kenalan atau
anggota keluarga si nona cantik yang mereka gotong, dan baru mereka tahu bukan demikian halnya ketika
terdengar nona itu menjawab dengan nada heran dan marah, “Siapa kau? Aku tidak mengenalmu!”
“Eh, ehh, Liem-siocia. Masa lupa lagi kepadaku? Aku Suma...”
“Aku tidak kenal orang she Suma. Dan aku bukan she Liem, aku she Kiem!” nona itu membentak pula,
sedangkan tukang joli terpaksa berhenti dan memberi kesempatan kepada muda-mudi itu untuk bercakapcakap.
Suma Kian Bu pura-pura kaget. “Aihhh... maaf, maafkanlah aku, Kiem-siocia. Kau mirip benar dengan
Liem-siocia yang... cantik. Kalau begitu perkenalkanlah, aku... Suma Kian Bu...”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tukang joli, hayo jalan terus!” Nona itu berkata marah dan menutupkan tirai joli.
Ketika joli itu sudah berjalan jauh, Suma Kian Bu hanya tertawa-tawa mendengarkan teguran kakaknya.
“Salah-salah kau bisa disangka jai-hwa-cat, penjahat tukang perkosa wanita!” Suma Kian Lee mengakhiri
tegurannya.
Sekarang baru sepekan kemudian, sudah kumat pula penyakit Suma Kian Bu dan pemuda ini menyatakan
hendak ‘belajar kenal’ dengan seorang puteri yang naik joli. Melihat betapa joli itu tertutup rapat tanda
bahwa penumpangnya adalah seorang wanita muda yang tidak mau memperlihatkan diri, Kian Lee
mencegah adiknya.
“Biarlah, kalau begitu besok pagi aku akan mencegat dia di depan kelenteng,” kata Kian Bu. “Aku
penasaran kalau belum melihatnya. Menurut pemilik warung dekat kelenteng, sudah beberapa hari ini nona
itu setiap pagi pergi ke kelenteng dan kabarnya cantik sekali.”
“Huhh, mata keranjang kau!” Kian Lee berkata. “Biarlah besok kau keluar sendiri, aku tidak sudi melihat
kau berbuat ceriwis terhadap wanita!”
Seperti telah diceritakan di bagian depan, kakak beradik dari Pulau Es ini mulai dengan perantauan
mereka. Dengan perahu mereka meninggalkan Pulau Es dan berkat petunjuk peta yang dibuat oleh
Pendekar Super Sakti, ayah mereka, kali ini tanpa banyak kesulitan mereka dapat mencapai daratan
besar. Mereka lalu mulai melakukan perjalanan yang amat jauh itu, menuju ke kota raja untuk menemui
kakak mereka, yaltu Puteri Milana. Akan tetapi karena baru kali itu mereka merantau, mereka tidak
tergesa-gesa dan di setiap tempat yang menyenangkan hati, mereka berhenti sampai dua tiga hari. Bekal
mereka cukup banyak sehingga mereka tidak khawatir kehabisan bekal uang untuk biaya makan dan
penginapan.
Tidak dapat terlalu disalahkan kalau dua orang pemuda itu terpesona menyaksikan tamasya alam yang
amat indah, yang tidak dapat mereka lihat di Pulau Es, melihat kota-kota besar dan dusun-dusun yang
ramai, apa lagi terpesona melihat gadis-gadis cantik yang selama hidup belum pernah mereka lihat. Hanya
bedanya, kalau Kian Lee tetap bersikap tenang-tenang saja, adalah Kian Bu yang seperti cacing
kepanasan dan setiap kali bertemu gadis cantik, ingin sekali dia berkenalan! Dorongan hasrat yang wajar
saja, sama sekali tidak terkandung nafsu birahi atau keinginan yang tidak patut!
Mereka terpaksa bermalam satu malam lagi di rumah penginapan di kota itu karena Kian Bu yang rewel
tidak mau melanjutkan perjalanannya sebelum sempat ‘berkenalan’ dengan nona dalam joli yang setiap
pagi pergi ke kelenteng, dengan menggunakan ‘siasatnya’ yang hanya dapat diciptakan otak seorang
pemuda yang memang memiliki watak urakan (ugal-ugalan) tapi tidak kurang ajar.
Besoknya, pagi-pagi sekali Kian Bu sudah menanti di tepi jalan, dekat kelenteng. Dia tinggalkan kakaknya
yang masih tidur di atas pembaringan dalam kamar penginapan. Jantungnya berdebar tegang dan
sebentar-sebentar dia tersenyum membayangkan betapa dia akan dapat berhadapan dengan gadis cantik
dalam joli dan dapat bercakap-cakap! Siapa tahu, kalau awak sedang untung, dia akan mendapatkan
tanggapan baik dan akan dapat bersahabat, sungguh pun dia hanya ingin melihat kata-kata ramah dan
senyum manis ditujukan kepadanya, lain tidak!
Jantungnya berdebar makin tegang ketika dia melihat joli yang dinanti-nantikannya dari jauh. Tidak salah
lagi, tentu dia, pikirnya. Tidak ada joli lain yang digotong menuju ke kelenteng!
“Hendak ke mana, lopek?” tanyanya kepada penggotong joli terdekat.
Penggotong joli itu melirik tanpa menoleh dan menjawab singkat, “Ke kelenteng.”
Kian Bu kemudian menghampiri joil dan berteriaklah dia dengan suara girang sambil tangannya
menyingkap tirai. “Haiii, kiranya nona Thio... hahhhh...?!” Matanya terbelalak ketika melihat bahwa yang
berada di dalam joli itu ternyata adalah Suma Kian Lee, kakaknya sendiri!
Joli dihentikan, Kian Lee meloncat keluar dan tertawa, mentertawakan adiknya yang membanting-banting
kaki dan bersungut-sungut karena empat orang penggotong joli sudah tertawa, demikian pula beberapa
orang yang menyaksikan peristiwa itu di tepi jalan.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Lee-ko, engkau sungguh terlalu...!” Kian Bu berkata, akan tetapi dia tidak membantah ketika tangannya
ditarik oleh kakaknya, diajak kembali ke penginapan untuk mengambil buntalan mereka.
“Bu-te, kalau tidak begitu engkau tidak akan bertobat. Kau tidak boleh melakukan hal itu, karena biar pun
aku yakin bahwa engkau tidak berniat kurang ajar, namun engkau membuat seorang gadis merasa malu
dan terhina. Salah-salah engkau akan terlibat dalam perkelahian, padahal ayah sudah berpesan keraskeras
bahwa kita tidak boleh mencari gara-gara di dalam perjalanan!”
“Sudahlah, sudahlah, aku memang bersalah besar!”
“Engkau tidak salah besar, Bu-te, akan tetapi engkau terlalu jahil dan kenakalanmu itu dapat
mengakibatkan urusan besar. Engkau suka mengganggu gadis, padahal engkau tidak tahu dia siapa, anak
siapa, dan engkau mendatangkan rasa terhina dan malu kepadanya. Padahal semua itu kau lakukan
hanya untuk main-main, bukan karena memang engkau sungguh tertarik dan suka kepadanya.”
“Kalau begitu, andai kata aku tertarik benar-benar kepada seorang gadis, aku boleh... ehhh, belajar kenal
dengannya?”
“Tentu saja boleh, asal caranya tidak kurang ajar dan sewajarnya. Bukan dengan cara urakan menegur
orang di jalan pura-pura kenal macam yang kau lakukan itu!”
Wajah tampan dari Kian Bu berseri gembira, lenyap sudah kemengkalan hatinya karena penipuan
kakaknya tadi. Memang demikianlah watak Kian Bu. Lincah, kocak, nakal, periang, mudah marah dan
mudah tertawa lagi. “Bagus! Kalau begitu aku akan mencari akal lain yang lebih baik.“ Dia melihat
kakaknya melotot dan cepat menyambung, “yaitu kalau aku sudah tertarik benar-benar kepada seorang
gadis.”
“Kau memang mata keranjang dan nakal!” Kakaknya mengomel.
“Ehh, Lee-ko, apakah kau tidak tertarik dan suka melihat gadis cantik? Mereka itu begitu cantik, begitu
manis. Suaranya begitu halus merdu, lirikan dan senyumannya semanis madu, gerak-geriknya amat
menyenangkan. Aku tidak percaya kalau tidak suka pula menyaksikan seorang gadis cantik.”
“Biar pun suka, akan tetapi tidak boleh diutarakan secara kasar seperti kelakuanmu.”
“Horeee! Jadi kau pun suka, koko? Bagus, kalau begitu bukan aku sendiri yang suka melihat gadis cantik!
Ehhh, engkau lebih suka yang bagaimana, koko? Aku suka gadis yang lincah, yang kocak pandang
matanya, yang murah senyumnya, yang pandai bergaul, seperti lagak seekor burung murai yang tak
pernah diam dan selalu berkicau meriah dan merdu.”
Di dalam hatinya, Kian Lee merasa tidak senang dan malu harus bicara tentang wanita, akan tetapi hanya
untuk melawan dan mencela adiknya, dia menjawab juga, “Sama sekali tidak seperti engkau, aku lebih
suka kepada seorang dara yang sopan santun, pendiam, dan menyembuyikan keramahan di balik
kesopanan dan kesusilaan.”
“Wah-wah-wah, kalau begitu engkau lebih baik memilih sebuah patung saja, Lee-ko! Ha-ha-ha!”
“Sudahlah, mari kita melanjutkan perjalanan. Aku muak mendengar obrolanmu tentang wanita.”
Demikianlah, kakak beradik yang wataknya berbeda seperti bumi dengan langit ini tidak pernah rukun di
dalam perjalanan, dalam arti kata, rukun dalam sifat mereka. Mereka selalu tidak sependapat mengenai
cara hidup, apa lagi kalau ada hubungannya dengan pergaulan dan wanita. Mereka hanya rukun dan
saling membela mati-matian kalau ada urusan yang langsung mengenai diri mereka. Kian Lee amat
mencinta dan membela adiknya, mendahulukan keperluan adiknya dari pada keperluannya sendiri.
Sebaliknya Kian Bu amat mencinta kakaknya dan amat patuh, sungguh pun pada lahirnya dia suka
membantah, dan diam-diam dia kagum dan berterima kasih atas segala kebaikan yang dilimpahkan
kakaknya kepadanya.
Watak Suma Kian Bu di samping keriangan dan kelincahannya, juga amat romantis. Dia menikmati
keindahan alam dengan cara terbuka, dengan wajah berseri, mata bercahaya dan mulut tiada hentinya
mengeluarkan puji-pujian, mengagumi bunga-bunga yang indah, suka akan makanan enak, suka
dunia-kangouw.blogspot.com
mendengarkan nyanyian merdu, suka akan pakaian-pakaian indah, suka mempersolek diri, suka
bernyanyi-nyanyi dan tentu saja suka sekali melihat dara cantik!
Sungguh merupakan kebalikan dari sifat Suma Kian Lee yang pendiam, tidak suka bicara kalau tidak
penting, biar pun suka mengagumi keindahan, namun rasa sukanya itu dipendam dalam batin saja,
berpakaian sederhana tidak mengutamakan keindahan melainkan yang enak dipakai, mengutamakan
kesusilaan dan sopan-santun yang bukan paksaan melainkan timbul dari watak aslinya yang menghargai
orang lain.
Betapa pun juga, perangai Kian Bu yang riang gembira itu kadang-kadang menular kepadanya sehingga
kalau selagi senang hatinya mendengar Kian Bu bernyanyi-nyanyi, dia ikut pula bersenandung sungguh
pun tidak bernyanyi dengan nyaring mengeluarkan semua kegembiraan hatinya melalui nyanyian seperti
adiknya itu. Apa lagi sikap adiknya yang amat suka akan wanita cantik, kadang-kadang membuatnya
termenung dan dia harus mengakui diam-diam bahwa tidak ada kecantikan bunga dan keindahan alam
yang melebihi wajah seorang dara, tidak ada suara merdu yang melebihi suara seorang dara!
Pada suatu hari, ketika mereka tiba di sebuah dusun dan karena kemalaman mereka bermalam di sebuah
penginapan kecil dan sedang duduk di serambi sambil minum arak hangat, tiba-tiba mereka melihat
sebuah kereta yang dikawal oleh rombongan piauwsu berhenti di depan rumah penginapan itu. Kepala
pengawal mendekati kereta dan menyingkap tirai, sedangkan pembantu-pembantunya menahan kuda
yang berbusa mulutnya. Agaknya empat ekor kuda itu sudah bekerja berat, lari melalui jarak jauh sehari itu.
Tiba-tiba ujung kaki Kian Bu menyentuh betis kakaknya sebagai isyarat. Kian Lee mengangkat mata melirik
adiknya dan menoleh ketika melihat adiknya memandang ke arah kereta. Pintu kereta terbuka, tirai
disingkapkan dan turunlah seorang gadis berusia kurang lebih enam belas tahun, cantik jelita seperti
seorang bidadari turun dari kahyangan. Gerak-geriknya begitu halus gemulai ketika dia turun dari kereta
dibantu oleh seorang wanita setengah tua dan seorang laki-laki setengah tua yang agaknya adalah ayah
bundanya.
Sejenak dara itu berdiri di serambi depan ketika ayahnya bicara dengan pengurus penginapan minta
disediakan kamar bagi mereka, kemudian bersama ayah bundanya dara itu memasuki penginapan dan
lenyap di dalam kamar. Sibuklah para piauwsu menurunkan barang-barang, dan kereta kemudian ditarik ke
sebelah belakang rumah penginapan itu. Jika dihitung dengan kusirnya, semua terdapat sebelas orang
piauwsu yang kelihatannya tangkas dan kuat.
Melihat dara tadi menunduk saja, sedikit pun tak pernah melirik kepada mereka, melihat sikap yang amat
sopan santun dari gadis itu, padahal ia mengharapkan kerlingan dan senyum, Kian Bu merasa kecewa dan
tidak puas. Akan tetapi ketika dia memandang kakaknya, dia melihat kakaknya itu termenung, mukanya
agak merah dan kedua tangan kakaknya mempermainkan cawan arak yang telah kosong, agaknya
kakaknya itu lagi termenung-menung.
Kian Bu tersenyum. Baru sekarang dia melihat kakaknya termenung setelah melihat seorang dara! Maka
segera dia menangkap tangan kakaknya sambil berkata, “Lee-ko, bagaimana?”
Kian Lee mengangkat muka memandang. Melihat sinar mata adiknya yang jelas-jelas menggodanya,
mukanya menjadi semakin merah, “Bagaimana apanya?” Dia justru balik bertanya, setengah membentak.
Kian Bu menggerakkan kepalanya ke arah belakang rumah penginapan. “Dia tadi, hebat bukan?”
Kian Lee tidak menjawab segera, melainkan menunduk dan berkata lirih, “Hebat atau tidak, ada sangkut
paut apa dengan kita? Jangan kau memikirkan yang bukan-bukan!”
“Ahhh, tidak. Bagiku sih, dia seperti patung hidup! Melirik sedikit pun tidak, tersenyum sedikit pun tidak,
bicara sepatah kata pun tidak!”
“Itu tandanya dia seorang dara terpelajar, sopan dan menjaga harga diri tinggi-tinggi, bukan seorang
perempuan genit!”
“Hi-hik, aku tahu bahwa dara model inilah yang akan menarik hatimu, koko. Mengapa tidak mengajak dia
berkenalan? Eh, secara sopan maksudku?”
Kian Lee memandang adiknya dengan mata melotot. “Mau apa kau? Jangan main gila kau, Bu-te!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ah, tidak. Aku hanya mengatakan bahwa kalau engkau tertarik kepada dara itu, apa salahnya kalau kau
berkenalan dengan dia? Hanya berkenalan, apa sih buruknya? Kalau tidak berkenalan, bagaimana bisa
mengerti cocok atau tidak?”
“Aku bukan laki-laki mata keranjang yang suka mengganggu gadis yang tidak kukenal.”
“Siapa bilang mengganggu? Aihh, koko, engkau benar-benar selalu berprasangka buruk dan tidak percaya
kepada adikmu ini. Dan engkau ini selalu hendak berpura-pura, dan bersikap palsu.”
“Hemm, apa lagi ini maksudnya? Jangan kau kurang ajar kepadaku!”
“Koko merasa suka kepada seseorang, akan tetapi pada lahirnya pura-pura dingin, bukankah ini pura-pura
namanya? Hati ingin berkenalan, akan tetapi mulut bicara lain, bukankah itu palsu?”
“Kian Bu, engkau masih kanak-kanak, akan tetapi lidahmu tajam. Hati-hati kau, kalau kau bicara seperti itu
dengan orang lain, tentu engkau akan mudah sekali menanam permusuhan. Memang kuakui bahwa sikap
dan keadaan dara tadi menimbulkan kagum di dalam hatiku, akan tetapi apa yang harus kulakukan? Aku
bukanlah seorang laki-laki mata keranjang dan kurang ajar seperti engkau!”
“Bagus...!” Kian Bu meloncat bangun dan merangkul kakaknya. “Lee-ko, aku hanya ingin mendengar
pengakuanmu bahwa kau tertarik kepadanya. Kita bukanlah orang-orang rendah yang suka melakukan halhal
tidak patut, akan tetapi tanpa siasat, mana mungkin kau berkenalan dengan dara itu? Aku sudah
mempunyai suatu rencana, kalau siasat ini dilakukan, engkau tentu akan berkenalan dengan dia dan
bahkan dipandang tinggi dan hormat!” Pemuda tanggung ini lalu berbisik-bisik di dekat telinga kakaknya.
Wajah Suma Kian Lee yang tampan sebentar merah sebentar pucat, dia menggeleng-geleng kepala, akan
tetapi akhirnya dia berkata lirih, “Berbahaya sekali siasatmu yang nakal itu, Bu-te!”
“Alaaaa... kau maksudkan piauwsu-piauwsu itu? Serahkan padaku, beres. Dan aku pun bukan ingin
memperpanjang pertempuran dengan mereka. Aku hanya menjadi penculik, kau lalu muncul. Habis
perkara. Yang penting, dia akan berhutang budi kepadamu dan tentu saja menjadi kenalan. Tidak ada apaapa
yang jahat, bukan?”
“Akan tetapi, kalau kau melukai seorang pun...”
“Koko, engkau anggap aku ini orang macam apa? Aku bukan penculik tulen, bukan pula perampok, mau
apa aku melukai orang? Percayalah kepadaku, kelak engkau akan berterima kasih kepadaku kalau sudah
menjadi sahabatnya, koko!”
Terpaksa Kian Lee tersenyum dan dengan gerakan gemas seperti hendak menampar kepala adiknya. Kian
Bu meloncat menjauh, lalu tertawa-tawa dan tak lama kemudian kedua orang kakak beradik ini pun sudah
memasuki kamar mereka dan tidur.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kian Lee telah dibangunkan oleh Kian Bu. Seperti biasa setiap
pagi, mereka duduk bersila dan bersiulian sebentar, latihan yang sudah menjadi kebiasaan sehingga sekali
saja tidak melakukannya terasa kurang enak. Kemudian mereka mandi dan membayar biaya penyewaan
kamar lalu berangkat, akan tetapi setibanya di luar dusun, mereka berhenti.
Setelah matahari menumpahkan cahayanya di permukaan bumi, tampak oleh mereka yang dinanti-nanti
sejak tadi, yaitu kereta berkuda empat yang dikawal oleh sepuluh orang piauwsu dan seorang kusir.
Mereka membiarkan rombongan itu lewat, kemudian mereka membayangi dari jauh.
Biar pun rombongan itu terdiri dari kereta ditarik kuda dan dikawal oleh sepuluh orang piauwsu berkuda,
namun tidaklah sukar bagi dua orang muda itu membayangi mereka. Kakak beradik ini memiliki ilmu
kepandaian yang hebat, kesaktian yang tinggi dan ilmu berlari mereka luar biasa.
Rombongan memasuki sebuah hutan. “Saudara-saudara, hati-hati dan waspadalah, di depan adalah hutan
yang cukup besar!” berkata kepala piauwsu yang bermuka merah. Sepuluh orang itu lalu melarikan kuda
mereka mengurung kereta, tiga di depan, tiga di belakang, dan masing-masing dua di kanan kiri.
Tiba-tiba para piauwsu itu terkejut sekali ketika melihat sesosok bayangan orang meloncat turun dari atas
pohon besar, langsung menimpa atap kereta dan terdengar kain robek disusul jerit nona yang berada di
dunia-kangouw.blogspot.com
dalam kereta, lalu tampak pula bayangan itu meloncat turun dari kereta sambil memondong tubuh nona itu
yang menjerit-jerit dan meronta ronta.
“Tolong...! Penculik...! Tolong Bi Hwa...!” Nyonya dan suaminya tergopoh-gopoh keluar dari kereta yang
sudah dihentikan oleh kusir, menangis dan berteriak-teriak.
Para piauwsu sudah cepat bergerak. Enam orang melakukan pengejaran kepada Suma Kian Bu yang
berlari cepat memondong tubuh dara itu sedangkan yang empat orang lagi tetap menjaga kereta.
“Kejar! Tangkap penjahat...!” Teriak kepala piauwsu yang memimpin teman-temannya mengejar. Tetapi
mereka segera terpaksa turun dari kuda dan melanjutkan pengejaran dengan berlari ketika melihat
penculik itu membawa dara itu menyusup-nyusup ke dalam semak-semak tebal.
“Lepaskan aku...! Lepaskan...!” Bi Hwa, dara itu meronta sambil memukul-mukul ke arah dada muka dan
kepala Suma Kian Bu.
Akan tetapi pemuda itu hanya tersenyum saja. “Tenanglah sayang, diamlah manis... aku takkan
mengganggumu...!”
Namun Bi Hwa masih meronta-ronta. Meremang seluruh bulu badannya melihat dirinya dipondong dan
dibawa lari dengan begitu hati-hati oleh pemuda yang amat tampan ini. Di dalam hatinya yang dilanda
kaget dan takut, timbul keheranan mengapa pemuda yang masih amat muda dan amat tampan ini menjadi
penjahat!
Tiba-tiba muncul seorang pemuda lain yang menghadang di depan sambil membentak, “Penculik, lepaskan
dia!”
Suma Kian Bu yang melihat kakaknya sudah muncul, pura-pura membentak marah, “Engkau pendekar,
jangan mencampuri urusanku!”
Suma Kian Lee menerjang ke depan, dan beberapa lamanya kakak beradik itu pukul-memukul, akhirnya
sebuah pukulan mengenai kepala Suma Kian Bu yang terhuyung dan roboh. Tentu Bi Hwa ikut pula
terbanting kalau saja tidak cepat ditahan oleh Suma Kian Lee. Sejenak Bi Hwa berdiri dengan muka pucat
memandang kepada Suma Kian Lee yang telah menolongnya, kemudian menoleh dan memandang Suma
Kian Bu yang rebah miring dengan muka pucat seperti telah menjadi mayat!
Kian Lee diam-diam menyesalkan siasat adiknya ini karena jelas tampak betapa gadis itu kaget dan takut.
Dia menanti ucapan terima kasih dan sudah bersiap untuk segera mengantarkan dara itu kembali ke kereta
dan orang tuanya. Akan tetapi, terjadilah hal yang sama sekali tidak disangka-sangka oleh kakak beradik
itu.
Si dara jelita yang menoleh dan memandang Kian Bu tiba-tiba terisak, kemudian lari... menghampiri Kian
Bu, berlutut di dekat tubuh pemuda ini.
“Aihhh, kau... kau telah membunuhnya...! Kau telah membunuhnya...!” Dia menuding ke arah Kian Lee,
kemudian mengangkat kepala Kian Bu, memangkunya dan mengusap-usap kepalanya seperti hendak
mencari bagian mana dari kepala itu yang pecah dan membuat pemuda ini tewas. “Aduh kasihan sekali
engkau...,” bisik Bi Hwa.
Kian Lee berdiri dengan muka pucat. Dan Kian Bu lupa akan permainan sandiwaranya, dia begitu terheranheran
sehingga lupa bahwa dia telah ‘mati’. Dia membuka matanya dan memandang dengan melongo.
“Syukur, kau belum mati... ahhh, aku girang sekali... di manakah yang terluka ?” Bi Hwa bertanya.
Kian Bu menggeleng kepala dan menuding ke arah Kian Lee. “Kau... kau harus cepat menghaturkan terima
kasih kepadanya. Dialah penolongmu “
“Dia kejam, memukulmu sampai hampir mati!” Bi Hwa membantah.
“Tapi aku adalah penculikmu, dialah yang menolongmu... lekas kau hampiri dia...,” Kian Bu makin bingung
dan merenggutkan dirinya yang masih dipeluk dara itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pada saat itu terdengar bentakan. “Penculik busuk, hendak lari ke mana kau?” Dan muncullah enam orang
piauwsu dengan pedang atau golok di tangan masing-masing.
Melihat ini, Kian Lee meloncat dan berkata, “Bu-te, pergi... !”
Terbirit-birit Kian Bu lalu meloncat dan melarikan diri mengejar kakaknya. Sampai jauh sekali mereka
berlari, dan terengah-engah mereka berhenti di dalam hutan kecil yang terpisah jauh dari hutan di mana
mereka tadi main sandiwara itu.
Tentu saja mereka terengah-engah, bukan karena telah lari cepat dan jauh, melainkan karena sejak tadi
hati mereka penuh ketegangan ketika bersandiwara yang kemudian ternyata gagal total itu! Si gadis manis
bukan berterima kasih kepada Kian Lee yang ‘menolongnya’ melainkan justru menaruh iba kepada Kian Bu
‘si penculik’! Benar-benar merupakan kebalikan dari apa yang mereka inginkan, dan hampir saja rahasia
mereka terbuka ketika para piauwsu itu datang.
“Kau...!” Kian Lee menggerakkan tangan hampir menampar muka adiknya, akan tetapi ditahannya dan dia
menarik napas panjang.
“Lee-ko, jangan salahkan aku! Dialah yang salah, gadis tidak tahu terima kasih itu, gadis tidak mengenal
budi itu!”
“Diam! Jangan memaki dia! Justru perbuatannya tadi menambah tingkatnya dalam pandanganku! Dia
adalah seorang yang berbudi mulia, mendahulukan rasa iba hatinya terhadap orang yang tertindas. Karena
melihat kau kupukul dan mengira engkau tewas, maka dia melupakan semua urusan pribadinya dan
menjatuhkan rasa iba hatinya kepadamu. Bukankah itu menandakan bahwa dia seorang yang baik budi?”
Suma Kian Bu kian melongo. Kakaknya ini malah lebih aneh dari pada gadis tadi. Dia menggerakkan
pundaknya dan diam-diam berjanji dalam dirinya untuk berhati-hati, agar lain kali jangan mengecewakan
hati kakaknya.
“Siasatku tadi memang kurang sempurna, koko. Mestinya, begitu terpukul, aku pura-pura kalah dan
melarikan diri, bukan pura-pura terpukul mati. Kalau aku kalah dan lari, tentu perhatiannya tertuju
kepadamu.”
“Sudahlah, salah kita sendiri. Kita bermain sandiwara, bertindak palsu dengan tujuan mempermainkan
kepercayan hati seorang gadis, maka cara yang tidak baik itu tentu saja mendatangkan hasil tidak baik
pula.”
“Aihhh, koko, jangan begitu. Aku telah bersungguh-sungguh membantumu, dan engkau belum pernah
membantuku.”
“Hemm, aku memang telah hutang budi kepadamu. Baik, akan kubalas seperti yang kau lakukan
kepadaku, hanya hasilnya terserah engkau yang menanggung jawab semua.”
“Tentu saja. Akan tetapi siasatnya harus diperbaiki. Setelah engkau kuserang, engkau pura-pura kalah dan
meninggalkan gadis itu untuk berterima kasih kepadaku.”
“Hemmmm...” Kian Lee hanya menggumam mengkal.
Saat yang dijanjikan oleh Kian Lee kepada adiknya itu tiba ketika perjalanan mereka sudah tiba di
pegunungan yang menjadi tapal batas Propinsi Hopei. Perjalanan naik turun gunung dan melalui hutanhutan
besar, hanya jarang saja mereka menjumpai pedusunan atau kota. Pada suatu hari, selagi mereka
berjalan perlahan di bawah pohon-pohon yang rindang yang amat sejuk karena terlindung dari sinar
matahari, mereka bertemu dengan serombongan orang yang terdiri dari dua buah kereta dan dua losin
piauwsu. Rombongan yang cukup besar dan kereta itu merupakan kereta mewah, kudanya pun besarbesar
sehingga mudah saja diduga bahwa penumpangnya tentulah sebangsa bangsawan atau hartawan.
“Nah, besar kemungkinan di dalamnya ada gadisnya, koko,” bisik Kian Bu.
Kakaknya cemberut. “Apakah di dalam kepalamu itu isinya hanya bayangan gadis-gadis cantik?”
bentaknya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Alaaaaaa..., koko. Kalau kau begini terus, sampai kapan kau hendak membalas budi?”
“Wah, kau memang sangat cerewet dan selalu ingat kalau mengutangkan sesuatu!” cela kakaknya.
“Dan kau terlalu sabar kalau disuruh membayar hutang!” Adiknya menggoda sehingga Kian Lee
kewalahan.
“Kau lihat sendiri, dua buah kereta itu tertutup, mana kita bisa tahu apakah di dalamnya ada gadisnya atau
tidak?”
“Ha-ha-ha, apa sih sukarnya untuk mengetahui hal itu?” Tangan Kian Bu bergerak dan tampak oleh Kian
Lee sinar-sinar hitam kecil menyambar ke depan.
Adiknya telah menggunakan tanah liat untuk menyambit ke arah kuda yang menarik kereta. Terdengar
ringkik keras dan empat ekor kuda yang terkena timpukan tanah liat tepat di bawah telinganya itu meringkik
dan meronta berdiri di atas kedua kaki belakang. Tentu saja kusirnya cepat membentak dan menarik
kendali. Rombongan terhenti dan semua piauwsu bertanya sehingga ributlah keadaan di situ.
Dua buah kereta itu tersingkap dari dalam. Ada kepala-kepala orang menjenguk dan bertanya apa yang
terjadi dan mengapa ada ribut-ribut di luar, bahkan orang-orang yang menumpang dalam kereta yang
kudanya meringkik itu menjadi agak panik karena keretanya bergoyang-goyang. Kesempatan itu digunakan
oleh Kian Bu untuk mengintai dan betapa girangnya ketika melihat bahwa di kereta kedua, kereta yang
besar dan mewah, terdapat tiga orang penumpang yaitu seorang laki-laki tua yang pakaiannya mewah
tanda hartawan, usianya kurang lebih empat puluh tahun, seorang wanita yang usianya kurang lebih empat
puluh tahun dan seorang gadis cantik manis yang berusia paling banyak sembilan belas tahun! Seorang
gadis cantik dan bajunya merah, manis sekali! Juga Kian Lee melihat ini dan diam-diam dia memuji
kecerdikan adiknya.
Bocah itu ada saja akalnya! Akan tetapi sekali ini ‘tugasnya’ lebih berat dari pada yang dilakukan adiknya
sebulan yang lalu. Jumlah pengawal ada dua losin orang, dan di antara mereka banyak yang membawa
busur, juga sikap mereka lebih gagah dari pada sepuluh orang dahulu itu. Akan tetapi apa boleh buat,
kalau dia belum ‘membayar hutang’, adiknya tentu akan rewel terus. Dia hanya akan menjaga agar adiknya
jangan bertindak lebih jauh dari sekedar belajar kenal dengan gadis itu!
“Baiklah, kini aku akan membayar hutangku. Kau tunggu di luar hutan ini di sebelah kiri sana,” katanya
tanpa banyak cakap lagi.
Kian Bu memegang tangan kakaknya. “Terima kasih, koko!”
Kian Lee merenggut tangannya. “Pergilah!”
Kian Bu tertawa dan meloncat pergi dengan girang sekali. Mau tidak mau, Kian Lee menggeleng kepala
dan menarik napas panjang melihat adiknya berloncatan seperti anak kecil berlari sambil berjingkrakan itu.
Adiknya itu benar-benar seperti anak kecil, akan tetapi begitu besar hasratnya untuk berkenalan dengan
gadis-gadis cantik!
Dia cepat berlari mengejar rombongan yang sudah bergerak lagi itu. Sebentar saja dia sudah dapat
menyusul. Kian Lee tidak mau menimbulkan keributan seperti yang biasa dilakukan adiknya, maka dia
sengaja mendahului rombongan lalu berdiri di tengah jalan sambil mengangkat tangan. “Harap cu-wi
berhenti dulu!”
Melihat ada seorang pemuda berkelebat cepat sekali kemudian berdiri menghadang di tengah jalan, dua
kereta lalu dihentikan dan dua losin piauwsu itu cepat menjaga kereta. Pemimpinnya, yaitu seorang
piauwsu tua yang berjenggot putih, bersama belasan orang pembantunya menghadapi Kian Lee.
“Kau siapakah dan mau apa menahan rombongan kami?” bentak si jenggot putih.
Akan tetapi Kian Lee tidak mau melayaninya, melainkan melangkah lebar ke arah kereta kedua. Dia segera
dikurung, akan tetapi dia berjalan terus menuju ke kereta sambil berkata, “Aku mau bicara dengan mereka!
Yang berada di dalam kereta!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat pemuda tampan ini berpakaian pantas dan tidak membawa senjata, sikapnya seperti seorang
pemuda terpelajar, maka para piauwsu ragu-ragu untuk menurunkan tangan besi, dan kereta itu disingkap
dari dalam, muncul wajah tiga orang itu.
Kian Lee yang melihat jelas bahwa di dalamnya memang terdapat seorang gadis cantik berbaju merah,
segera berkata, “Aku hanya mau mengajak pergi dia itu!” berkata demikian tubuhnya meloncat cepat sekali
ke depan, dan tahu-tahu semua orang melihat dia sudah melesat pergi dan lari memondong tubuh gadis
berbaju merah yang berteriak teriak. “Tolong... toloooonggg...!”
Beberapa orang piauwsu memasang anak panah pada busurnya.
“Hati-hati, jangan salah sasaran. Arahkan kepada kakinya!”
Belasan batang anak panah melesat mengejar Kian Lee, akan tetapi dengan meloncat-loncat, pemuda itu
dengan mudah menghindarkan kakinya dari sambaran anak panah dan mempercepat larinya. Biar pun
para piauwsu melakukan pengejaran secepatnya, namun sebentar saja Kian Lee sudah lenyap dari depan
mereka.
“Lepaskan aku...! Tolonggg...!”
“Diamlah, aku hanya menculikmu!” Kian Lee menahan kata-katanya karena hampir saja dia bilang
‘Sebentar lagi kau akan tertolong!’
Karena cepatnya dia berlari, tak lama kemudian dia sudah keluar dari hutan itu dan tiba-tiba Kian Bu
meloncat keluar menghadang. “Heiiii, perampok! Penculik! Lekas lepaskan gadis manis ini kalau kau tidak
ingin kupukul mampus!”
Keduanya segera bertanding menurut rencana dan Kian Lee yang terdesak segera melepaskan gadis itu,
menerima beberapa kali pukulan lalu melarikan diri dari situ dengan cepatnya. Dari jauh dia menyelinap
dan mengintai ke arah dua orang itu. Dia kagum melihat betapa gadis itu menjatuhkan diri berlutut di depan
kaki Kian Bu sambil menangis.
“Saya menghaturkan banyak terima kasih kepada kongcu yang telah menyelamatkan nyawa saya...,” kata
gadis itu dengan suara merdu.
Kian Bu tersenyum. “Ah, tidak mengapa, nona. Urusan kecil saja itu. Tak perlu berterima kasih. Saya
sudah merasa girang kalau nona sudi menjadi sabahat saya.”
Gadis itu kemudian bangkit berdiri karena tangannya ditarik oleh Kian Bu. Dari tempat sembunyinya jelas
tampak oleh Kian Lee betapa gadis itu tersenyum manis sekali dan matanya mengerling tajam ke arah
Kian Bu, dan sikapnya amat memikat. “Tentu saja, kongcu. Engkau adalah penolongku, apa pun yang
kongcu kehendaki dariku, tentu akan kulakukan untuk membalas budi...”
Kalau saja yang menerima kata-kata ini bukan seorang pemuda tanggung yang masih hijau seperti Kian
Bu, tentu dapat menangkap arti di balik kata-kata memikat ini. Akan tetapi dasar dia masih mentah, Kian
Bu hanya tersenyum girang dan berkata, “Terima kasih, aku girang sekali dapat berkenalan denganmu,
apa lagi bisa menjadi sahabatmu. Nona, namaku adalah Suma Kian Bu, dan nona siapakah?”
“Namaku...?” Gadis itu terlihat malu-malu dan mengerling tajam disertai senyum simpul. “Aku... Cia Hong
Ciauw...”
“Namamu manis sekali, seperti orangnya,” kata Kian Bu.
Ucapan yang keluar dari mulut Kian Bu ini sebenarnya hanyalah ucapan jujur saja dan bukan merupakan
sanjungan atau bujuk rayu, melainkan diucapkan karena memang sesungguhnya dia menganggap nama
itu manis dan orangnya pun manis! Akan tetapi, wajah gadis itu menjadi merah sekali, malah lebih merah
dari bajunya, tersenyumlah dia dengan penuh daya pikat, matanya mengerling, dan dari lehernya keluar
suara seperti seekor kucing dibelai.
“Ihiiikk... kongcu bisa saja memuji orang, membikin aku malu saja...” Dan tiba-tiba gadis itu merangkul dan
menyembunyikan mukanya di dada Kian Bu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Lhoh...! Ehhh...! Bagaimana ini...? Wah, jangan...!” Kian Bu menjadi bingung, tubuhnya menjadi kaku dan
meremang semua, seolah-olah ada ribuan ekor ulat yang merubung tubuhnya.
Dan pada saat itulah muncul kakek dari dalam kereta bersama para piauwsu.
“Hong Ciauw...!” Kakek itu membentak marah.
Gadis itu lalu melepaskan rangkulannya, terkejut dan mundur, akan tetapi masih sempat melempar
senyum dan kerling manis ke arah Kian Bu, lalu berkata, “Dia ini adalah in-kong (tuan penolong) Suma
Kian Bu. Kalau tidak ditolongnya, tentu aku tadi sudah mati di tangan penculik kejam...”
Melihat kakek itu melotot marah, Kian Bu tahu bahwa keadaan tak menguntungkannya. Ayah itu tentu
marah melihat anaknya merangkul seorang pemuda!
“Eh, maaf... aku... eh, aku hanya menolong puterimu tanpa pamrih sesuatu...”
“Puteri siapa? Dia adalah bini mudaku!” bentak kakek itu.
Sepasang mata Kian Bu makin lama makin lebar sampai menjadi bulat dan tidak dapat lebih lebar lagi,
mulutnya juga terbuka sampai lama. Untung di tempat itu tidak banyak lalat! Akhirnya, tanpa mengeluarkan
suara bah atau buh, dia membalikkan kedua kakinya dan lari lintang pukang seperti dikejar hantu! Tentu
saja para piauwsu yang melihat ini menjadi terheran-heran, apa lagi mendapat cerita nyonya muda itu
bahwa pemuda tadi telah menolongnya dari tangan penculik yang amat lihai tadi. Benar-benar seorang
pemuda yang aneh, pikir mereka, aneh dan berilmu amat tinggi karena dengan beberapa loncatan saja,
bayangan pemuda itu melesat dan lenyap.
Kian Bu berlari terus dengan cepat, merasa seolah-olah gadis manis itu mengejarnya, hendak
merangkulnya, hendak menciumnya. Dia bergidik berkali-kali, menggerakkan kedua pundak dan
tengkuknya terasa dingin dan ngeri, larinya makin cepat seolah-olah setan gadis itu berada dekat sekali di
belakangnya.
“Ha-ha-ha-ha!” Tiba-tiba terdengar suara tertawa dan mendengar suara ketawa ini tahulah Kian Bu bahwa
memang ada orang di belakangnya, bukan setan bukan pula siluman, melainkan kakaknya sendiri. Maka
dia kemudian berhenti dan terengah-engah memandang wajah kakaknya yang tertawa-tawa dengan
gelinya. Baru sekarang dia melihat kakaknya tertawa demikian enak sampai memegang perutnya.
“Ha-ha-ha-ha...! Dia bini mudanya... ha-ha-ha-ha, dan kau dirangkulnya, ha-ha-ha-ha...!” Kian Lee yang
tidak biasa tertawa-tawa seperti itu, kini tidak dapat menahan kegelian hatinya.
“Koko, kau... kejam!” Kian Bu membentak dan suara tertawa terhenti.
Dengan mulut masih tersenyum lebar menahan geli hatinya, Kian Lee berkata, “Nah, kau rasakan
sekarang, Bu-te. Tidak benarkah kata-kataku bahwa cara yang tidak baik hanya akan menghasilkan
ketidak baikan pula? Karena pertolonganmu tadi hanya sandiwara dan pura-pura belaka, hanya palsu,
maka hasilnya hanya menimbulkan cemburu seorang suami yang melihat bini mudanya bermain gila
dengan orang lain.”
“Huh! Sialan perempuan itu...!” Kian Bu membanting kaki dengan gemas. “Aku tidak akan melakukan hal
itu lagi! Tidak lagi!”
“Sudahlah, Bu-te, sekali waktu ada gunanya juga pelajaran pahit seperti ini bagi kita. Nah, marilah
sekarang kita cepat mengejar mereka dan membayangi dari jauh.”
“Hehh...?” Kian Bu memandang kakaknya dengan mata lebar. “Perlu apa membayangi? Aku tidak butuh
berkenalan dengan perempuan itu!”
“Sekarang bukan urusan berkenalan dengan wanita, Bu-te. Ketahuilah, ketika tadi aku melarikan diri dan
mengintai, aku melihat berkelebatnya tiga orang tosu dan aku segera membayangi mereka. Aku sempat
menangkap percakapan mereka yang menyatakan bahwa mereka akan turun tangan terhadap rombongan
itu malam ini di kuil tua.”
“Eh, siapa mereka itu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aku tidak tahu, akan tetapi melihat gerakan-gerakan mereka, kalau benar mereka turun tangan
mengganggu, para piauwsu itu bukanlah tandingan mereka. Maka kita harus membayangi dan kalau perlu
menolong mereka, Bu-te. Sekali ini bukan menolong pura-pura, bukan main sandiwara, melainkan main
betul-betulan karena ada pihak yang terancam bahaya.”
“Baik, koko. Akan tetapi kuharap ada penculik sungguhan yang melarikan perempuan itu dan jangan harap
aku akan menolong dia. Agaknya orang seperti dia itu memang selalu mengharapkan dibawa pergi
penculik!” Kian Bu mengomel.
“Hushh, jangan sentimen, Bu-te! Dia patut dimaafkan karena memang sukarlah mencari seorang penolong
pemuda istimewa seperti engkau.”
“Wah, kau tiada habisnya mengejekku, koko!” Suma Kian Bu mengomel dengan suara merengek. “Awas,
kalau lain kali engkau yang kecelik, aku pun akan mentertawakanmu juga!”
Dua orang kakak beradik itu menggunakan ilmu berlari cepat, tetapi karena rombongan itu dibalapkan
semenjak mengalami gangguan kakak beradik itu, maka setelah hampir malam baru mereka dapat
menyusul rombongan itu yang telah berhenti di dalam sebuah kuil tua di luar hutan. Kuil ini adalah kuil
Buddha yang sudah amat tua, sebagian besar bangunan itu sudah runtuh dan agaknya dibuat sebagai
tempat perhentian oleh para pendeta Buddha di jaman dahulu ketika mereka mulai dengan penyebaran
Agama Buddha sampai ke pelosok-pelosok dunia. Kini kuil kuno dan rusak itu tentu saja tidak
dipergunakan lagi oleh para pendeta dan hanya dipergunakan oleh orang-orang yang melakukan
perjalanan dan lewat di tempat itu untuk sekedar beristirahat atau kadang-kadang juga bermalam.
Agaknya rombongan yang dilindungi oleh dua losin piauwsu itu memang sudah merencanakan untuk
bermalam di tempat itu dan merasa aman karena ada dua losin piauwsu yang mengawal. Akan tetapi,
peristiwa penculikan nyonya muda di siang hari tadi, yang dilakukan oleh seorang pemuda dan entah
bagaimana nasib nyonya muda itu kalau tidak ditolong oleh seorang pemuda lain, membuat para piauwsu
bersikap waspada, hati-hati dan juga agak cemas. Baru ada seorang perampok saja yang turun tangan,
penjahat itu sudah berhasil menculik wanita di hadapan hidung mereka tanpa mereka dapat
menangkapnya!
Setelah hartawan itu dan dua orang isterinya turun dari kereta, menempati ruangan kuil yang sudah
dibersihkan dan dihangatkan dengan api unggun, duduk di dekat api di atas tikar, para piauwsu yang
berjaga-jaga tentu saja membicarakan peristiwa siang tadi. Juga di antara hartawan dan dua orang
isterinya terjadi percakapan mengenai peristiwa itu. Terutama si hartawan yang mengomel tak kunjung
henti.
“Baru sejenak saja jauh dari sampingku, engkau sudah main gila dengan laki-laki lain,” kata si hartawan
kepada bini mudanya.
“Sudah berapa puluh kali kau mengatakan hal itu!” jawab si bini muda dengan berani. “Sampai bosan aku
mendengarnya! Engkau tidak terancam bahaya maut, maka bicara sih mudah! Aku yang terancam bahaya
maut oleh penculik yang ganas dan kejam sekali itu, setelah ditolong orang, tentu saja aku amat senang
dan berterima kasih. Dia masih amat muda, sepatutnya menjadi adikku, kalau aku menyatakan terima
kasihku dengan merangkulnya, apakah itu merupakan kejahatan besar?”
“Kalau aku tidak keburu muncul, entah macam apa lagi bentuk terima kasihmu itu, kau perempuan
rendah...!”
“Sudahlah, sudahlah...!” Isteri pertama mencela. “Di tengah perjalanan ini, di tempat berbahaya dan di
mana bahaya sewaktu-waktu masih selalu mengancam kita, mengapa ribut-ribut mengenai urusan yang
telah lewat? Terdengar para piauwsu pun hanya akan menimbulkan rasa malu.”
Setelah ketiga orang itu dengan bersungut-sungut tidur di dekat api dan tidak lagi ribut mulut, para piauwsu
yang berjaga-jaga lalu membicarakan peristiwa siang tadi sambil berbisik-bislk. Di antara mereka, Can Si
Hok si kepala piauwsu sendiri, juga ikut bercakap-cakap.
“Nasib kita masih baik sehingga ada saja muncul seorang penolong hingga penculikan itu dapat
digagalkan,” kata seorang di antara mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Penculik itu mempunyai kepandaian yang hebat sekali. Keroyokan anak panah itu dapat dielakkannya
semua tanpa menoleh, padahal dia sedang memondong orang dan sedang berlari. Sayang.dia keburu lari
sehingga kita tidak sempat mencoba sampai di mana kepandaian ilmu silatnya. Kelihatannya masih muda
sekali.”
“Akan tetapi, jelas bahwa kepandaian penolong itu pun lebih hebat,” bantah yang lain. “Buktinya dapat
menolong dan mengusir si penculik. Penolong itu pun masih amat muda. Dari cara dia melarikan diri, jelas
bahwa ginkang-nya pun amat luar biasa, seperti terbang saja.”
Can Si Hok, si kepala pengawal yang berjenggot putih menarik napas panjang dan berkata, “Kawankawan,
malam ini harap kalian waspada dan lebih baik kalau tidak seorang pun di antara kita tertidur.
Penjagaan di luar kuil harus dilakukan dengan ketat, perondaan di sekitar kuil dilakukan dengan bergiliran.
Aku khawatir akan terjadi lagi hal yang tak kita inginkan. Munculnya dua orang tadi, baik si penculik mau
pun si penolong, merupakan hal yang amat luar biasa. Selama ini belum pernah pula mendengar di dunia
kang-ouw muncul dua jago muda yang sedemikian lihainya. Baiknya, kalau yang seorang jahat, yang
seorang baik dan suka menolong. Mudah-mudahan tugas kita sekali ini tidak akan gagal.”
Penjagaan diperketat dan Can Si Hok sendiri ikut melakukan perondaan. Kelihatannya aman dan tidak
terjadi sesuatu di tempat yang amat sunyi itu. Benarkah demikian? Sesungguhnya tidaklah demikian,
karena tidak jauh dari kuil itu terjadi hal-hal yang tentu akan menggegerkan para piauwsu kalau saja
mereka mengetahuinya.
Tiga sosok bayangan yang gerakannya gesit bukan main, bagaikan setan-setan saja layaknya, bergerak di
antara pohon-pohon mendekati kuil. Setelah dekat dengan kuil mereka mengintai dari balik pohon besar ke
arah empat orang penjaga yang menjaga di pojok kuil.
“Kita bunuh saja mereka berempat itu, lalu menyerbu ke dalam,” berbisik seorang di antara mereka.
“Biarlah pinto yang menyelinap ke dalam mencari benda itu, kalian berdua bikin ribut di luar untuk
memancing perhatian semua piauwsu. Yang agak lumayan kepandaiannya hanyalah Can-piauwsu itu saja,
yang lain-lainnya tidak perlu dikhawatirkan.”
“Baik, akan tetapi bagaimana dengan hartawan itu?” tanya tosu yang ada tahi lalat besar di dagu
kanannya, “Dan kedua orang wanita itu?”
“Bereskan saja mereka, hartawan itu adalah seorang yang pelit!” kata tosu kedua.
“Ah, wanita muda itu sayang kalau dibunuh. Dia manis,” kata si tahi lalat.
“Hushhhh... jangan ribut-ribut, kita bergerak sekarang dan... heiii... hujankah...?”
Memang ada air menyiram mereka dari atas pohon besar itu. Tadinya mereka mengira bahwa hujan turun
tanpa tersangka-sangka, akan tetapi hidung ketiga orang tosu itu kembang kempis. Mereka meraba-raba
air hujan yang menimpa kepala, dan kemudian mendekatkan jari ke depan hidung.
“Mengapa baunya begini?”
“Seperti air kencing!”
Dan ‘hujan’ pun berhenti yang berarti memang tidak hujan sama sekali, melainkan ada orang mengencingi
mereka dari atas pohon itu.
“Keparat!” Mereka memaki dan secepat kilat tubuh mereka sudah mencelat ke atas, ke dalam pohon.
Mereka berlompatan dan mencari-cari, akan tetapi tidak ada seorang pun di pohon itu! Terpaksa mereka
turun lagi dan berbisik-bisik penuh ketegangan.
“Apa yang terjadi?”
“Tentu hanya seekor monyet, siapa lagi?”
“Akan tetapi, biar pun monyet, bagaimana bisa bergerak secepat itu seperti pandai menghilang saja?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kita harus bekerja cepat,” kata tosu bertahi lalat. “Sudah dikabarkan orang bahwa kelenteng kuno ini
menjadi tempat keramat. Yang dapat menggoda kita seperti tadi tentu hanya setan saja!”
Ketiganya menjadi tegang. Mereka percaya bahwa setanlah yang menggoda mereka, karena kalau
manusia atau binatang, tak mungkin dapat lari dari mereka sedemikian cepatnya. Mereka adalah orangorang
yang berkepandaian tinggi, tak mungkin dapat dipermainkan, dan kalau yang berada di atas pohon
tadi manusia atau binatang sudah pasti mereka akan dapat menangkapnya.
“Marilah kita mulai bergerak,” kata tosu pertama. “Ji-sute (adik seperguruan kedua), kau menyelinap dari
kanan, dan kau sam-sute, kau dari kiri. Setelah kalian menyergap keempat orang itu, pinto akan masuk
melalui pintu samping yang kelihatan dari sini itu dan selanjutnya kalian harus dapat memancing mereka
semua keluar agar leluasa pinto bergerak ke dalam.”
“Baik, suheng,” kata kedua orang tosu itu yang segera berpencar ke kiri dan ke kanan.
“Heiii... aduhhh!” Tak lama kemudian terdengar tosu yang berlari ke kiri terjungkal dan menahan teriakan
makiannya.
Mereka berkumpul, kini di tempat tosu itu jatuh.
“Mengapa kau, sam-sute?”
“Tersandung batu! Sialan!”
“Engkau? Dapat tersandung batu? Sungguh aneh.”
“Entahlah, batu itu seperti ada tangannya memegang dan menjegal kakiku. Eh, mana batu jahanam itu?”
Dia meraba-raba dan tidak menemukan batu itu. “Aneh sekali, batu itu besar sekali ketika aku
menyandungnya, mengapa sekarang menghilang?”
“Ah, sungguh heran, sekali mengapa mendadak engkau menjadi penakut dan gugup sehingga jatuh
sendiri, sam-sute. Apakah cerita tentang setan membuat kau penakut?” cela tosu tertua.
“Biarlah empat orang itu kubereskan sendiri, nanti sam-sute menyusul kalau aku sudah memancing
mereka keluar,” kata orang kedua yang segera meloncat ke depan dengan sigap. Dua orang temannya
melihat dia meloncat ke atas, akan tetapi betapa kaget rasa hati mereka karena tidak melihat temannya itu
turun lagi, seolah-olah menghilang begitu saja!
Tosu tertua dan sam-sute-nya yang tadi tersandung batu ajaib itu lantas terbelalak memandang. “Eh, ke
mana dia?” tanya sute-nya. “Mana ji-suheng?”
Tosu tertua juga bingung karena sute-nya itu benar-benar lenyap tak menimbulkan bekas. “Ji-sute...!”
bisiknya memanggil.
Tiba-tiba terdengar jawaban agak jauh di belakang mereka, akan tetapi bukan jawaban panggilan itu
melainkan suara “ceekkk... ceekkk...” seperti orang yang lehernya dicekik! Cepat mereka berdua melompat
dan lari ke arah suara itu dan dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika melihat saudara yang
dicari-cari itu sedang ‘menggantung’ diri di sebuah dahan, tubuhnya berkelojotan, lehernya mengeluarkan
suara tercekik dan dia digantung dengan sabuknya sendiri sehingga celananya merosot turun terkumpul di
kaki dan karena tosu bertahi lalat itu sudah ‘biasa’ tidak memakai pakaian dalam, tentu saja dia menjadi
telanjang bulat di tubuh bagian bawahnya, menimbulkan penglihatan yang lucu sekali!
Kedua orang tosu itu cepat meloncat dan melepaskan sabuk itu dari dahan pohon dan membawa turun
saudara mereka yang sudah melotot matanya, terjulur lidahnya dan kebiruan mukanya itu! Mereka segera
menjadi sibuk, yang seorang menggosok-gosok leher bekas terjirat itu, kemudian yang kedua
membenarkan celana dan mengikatkan lagi sabuknya pada pinggang.
Setelah siuman, tosu ketiga bertanya, “Ji-suheng, mengapa begitu pendek pikiranmu? Mengapa kau
hendak membunuh diri dan mengapa pula membunuh diri saja menanti saat seperti ini? Aihh, ji-suheng,
kalau kau mati dengan membunuh diri, nyawamu akan melayang ke neraka siksaan!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bunuh diri hidungmu itu!” Si tahi lalat memaki dan bangkit duduk, menggosok-gosok lehernya dan
menggoyang-goyangkan kepalanya. “Iblis yang melakukan ini!”
“Ji-sute, coba ceritakan, apakah yang terjadi tadi?” Tanya tosu tertua setelah dia tadi meloncat ke atas
pohon menyelidiki, akan tetapi juga tidak menemukan orang di situ.
Tosu bertahi lalat menghela napas lalu bergidik. “Kalian melihat sendiri aku meloncat. Tahu-tahu rambutku
ditangkap orang dari atas dan sebelum aku sempat berteriak, jalan darah di leher ditotok membuat aku tak
dapat bersuara, dan aku lalu... digantung di dahan itu.”
“Tidak mungkin!” Tosu pertama membantah.
“Mungkin saja!” Tosu ketiga mencela.
“Buktinya dia sudah tergantung di sana, kecuali kalau dia menggantung diri sendiri. Ji-suheng, berterus
teranglah, apakah kau benar-benar tidak mencoba membunuh diri? Jangan putus asa, biarlah wanita di kuil
itu untukmu, aku tanggung ini!”
“Sam-sute, sekali lagi kau bicara tentang bunuh diri, lehermu yang akan kucekik!” Si tahi lalat berkata
marah dan mendongkol.
“Ji-sute, pinto sukar untuk percaya. Walau pun andai kata benar ada orang menangkap rambutmu dari atas
dan menotok jalan darahmu di leher sehingga engkau tidak dapat berteriak, akan tetapi kedua tangan
masih bebas. Dengan itu kau dapat...”
“Kalau diceritakan memang aneh, suheng, maka tadi kukatakan bahwa setan sajalah yang dapat
melakukan itu. Aku sudah melawan tentu saja, dan tangan kiriku ini sudah menampar lambungnya, bahkan
aku yakin benar tangan kananku sudah menotok jalan darahnya di pinggang. Akan tetapi aku seolah-olah
menampar dan menotok tubuh... mayat saja. Begitu dingin dan sama sekali tidak ada hasilnya, hihhh...!”
Dia bergidik dan kedua orang saudaranya ikut merasa ngeri.
“Aihhh... benar-benarkah ada setan di sini...?” Tosu pertama berkata sambil menoleh ke kanan kiri,
sedangkan tosu ketiga menggosok-gosok tengkuknya yang terasa tebal.
Tiba-tiba si tahi lalat berkata, “Ahh, bukan, suheng. Teringat aku sekarang! Bukan setan karena aku
mendengar dia tertawa, disusul suara yang terdengar jelas akan tetapi agak jauh.”
“Suara bagaimana?”
“Suara seorang laki-laki berkata: ‘Koko, dia telanjang, ha-ha-ha’, begitulah, sekarang aku teringat benar
tentu ada dua orang di pohon itu yang mempermainkan aku.”
Tosu pertama mengelus jenggotnya. “Hemm... setan atau manusia, jelas bahwa mereka itu lihai sekali dan
agaknya hendak merintangi tindakan kita. Bodoh sekali kalau kita berlaku nekat. Biarlah kita anggap saja
kita gagal malam ini, dan kita tangguhkan dulu sampai besok. Kita harus membawa bantuan kalau begini,
siapa tahu diam-diam ada orang pandai yang melindungi rombongan itu.”
Dua orang adiknya mengangguk dan cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Beberapa kali si tahi lalat
menoleh ke belakang, dia masih merasa ngeri kalau mengenangkan peristiwa tadi.
Tentu saja mudah diduga bahwa yang melakukan gangguan itu adalah Kian Lee dan Kian Bu. Dan mudah
pula diduga bahwa yang mengencingi kepala tiga orang tosu itu dan menyamar sebagai batu lalu menjegal
kaki adalah Kian Bu. Sedangkan yang menggantung si tahi lalat adalah Kian Lee, dibantu oleh adiknya
yang melepaskan sabuk dan membuat tali gantungan di dahan.
Setelah tiga orang tosu itu pergi, Kian Lee yang telah turun ke bawah bersama adiknya, berkata, “Ingat,
Bu-te. Ayah sudah berpesan agar kita tidak menanam permusuhan dengan siapa pun. Urusan antara tosutosu
itu dengan rombongan hartawan adalah urusan mereka yang sama sekali kita tidak ketahui sebabsebabnya.
Kita tidak boleh membantu satu pihak, hanya saja kita harus turun tangan kalau ada pihak yang
akan melakukan kejahatan.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kian Bu menggangguk. “Si tahi lalat suka kepada perempuan itu. Kalau dia menculik si perempuan itu, aku
tidak akan mencegahnya.”
“Hushh! Menculik sungguh-sungguh merupakan kejahatan yang harus kita cegah. Kita lihat saja besok,
agaknya mereka hendak merampas sesuatu dari rombongan itu.”
“Bagaimana kalau besok terjadi pertempuran, koko?”
“Kita lihat saja dari jauh. Pertempuran di antara mereka tidak ada sangkut pautnya dengan kita. Tentu saja
kita tidak dapat membantu siapa pun, dan kita tidak dapat pula mencegah pertempuran yang adil. Hanya
kalau melihat ketidak adilan, baru kita harus turun tangan seperti yang dipesankan ayah.”
“Wah, sukar, Lee-ko!”
“Apanya yang sukar?”
“Tentang keadilan itu, atau lebih tepat ketidak adilan itu. Bagaimana menentukannya mana yang adil dan
mana yang tidak? Yang tidak adil bagimu belum tentu tidak adil bagiku dan sebaliknya, demikian pula
dengan orang lain!”
“Hemmm, Bu-te, seorang yang menjunjung tinggi kegagahan, yang mengabdi untuk kebenaran dan
keadilan harus waspada akan kebenaran dan keadilan itu. Kebenaran dan keadilan yang didasari
kepentingan diri pribadi tentu saja palsu! Akan tetapi, mudah saja melihat kenyataan akan penindasan dan
kejahatan yang dilakukan orang, dan itulah ketidak adilan. Kalau kau belum mengerti benar, maka harus
belajar, adikku. Yang terpenting, seperti pesan ayah, harus diingat dan diketahui bahwa segala sesuatu
untuk perbuatan yang dilakukan demi kepentingan diri pribadi, demi keuntungan lahir batin diri pribadi,
tidak benar kalau dipertahankan sebagai kebenaran atau keadilan.“
“Wah-wah, kuliahmu membikin aku pusing, koko. Kita sama lihat sajalah besok kalau benar-benar terjadi.
Tentu ramai!”
Dua orang kakak beradik itu lalu memilih sebatang pohon besar yang enak dipakai tidur, yang tidak ada
semut-semutnya tentu saja dan mereka tidur di dalam selimut daun-daun pohon itu sampai pagi. Kalau
rombongan piauwsu itu sama sekali tak ada yang tidur semenit pun, maka dua orang kakak beradik itu
tidur dengan nyenyaknya. Mereka tidak khawatir jatuh karena tubuh dan syaraf mereka yang sudah terlatih
sejak kecil itu akan selalu siap menjaga segala macam bahaya yang mengancam tubuh mereka.
Siapakah adanya tiga orang tosu yang gerak-geriknya penuh rahasia itu? Dan siapa pula rombongan
hartawan yang hendak diganggunya? Untuk mengetahui ini, kita harus mengenal dulu keadaan
pemerintahan pada saat itu.
Ternyata bahwa seperti juga di setiap pemerintahan, pada waktu itu banyak terdapat orang-orang yang
membenci Pemerintah Mancu yang mulai memperbaiki keadaan pemerintahannya, bahkan berusaha
sedapatnya untuk menarik simpati hati rakyat dengan usaha memperbaiki nasib rakyat kecil. Betapa pun
juga, tetap saja ada di antara mereka yang penasaran dan menghendaki agar pemerintah penjajah itu
lenyap dari tanah air mereka. Golongan ini yang tidak berani berterang melakukan penentangan terhadap
pemerintah yang kuat lalu menyusup ke mana-mana dan di antaranya ada yang menyusup ke dalam tubuh
alat negara yang berupa pasukan pemerintah!
Apa lagi pada waktu itu, kesempatan baik tiba bagi mereka yang diam-diam membenci Pemerintah Mancu.
Kaisar Kang Hsi sudah tua dan seperti biasanya yang terjadi dalam sejarah kerajaan setiap kali sang raja
sudah tua maka timbullah perang dingin di antara para pangeran yang bercita-cita mewarisi kedudukan
kaisar yang amat diinginkan itu.
Biar pun putera mahkota yang ditunjuk untuk kelak menggantikan kaisar sudah ada, yaitu Pangeran Yung
Ceng, namun banyak pangeran-pangeran yang lebih tua usianya, putera-putera selir, merasa iri hati dan
selain ada yang menginginkan kedudukan kaisar, juga banyak yang memperebutkan pangkat-pangkat
tinggi sebagai pembantu kaisar kelak.
Di antara mereka yang berambisi merampas kedudukan terdapat seorang pangeran tua, pangeran yang
paling tua di antara para pangeran. Pangeran tua ini bernama Pangeran Liong Bin Ong, usianya sudah
lima puluh tahun lebih karena dia dilahirkan dari seorang selir ayah Kaisar Kang Hsi. Jadi dia adalah adik
dunia-kangouw.blogspot.com
tiri Kaisar Kang Hsi. Diam-diam Liong Bin Ong mengadakan hubungan dengan orang-orang kang-ouw
yang membenci pemerintah, bahkan mengadakan kontak dengan suku bangsa liar di luar tembok besar,
terutama bangsa Mongol yang masih menaruh dendam kekalahannya terhadap Mancu.
Di antara golongan-golongan yang mengadakan persekutuan pemberontakan ini ada terdapat
perkumpulan Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih), yang para pemimpinnya terdiri dari tosu-tosu yang
sudah menyeleweng dari Agama To dan mempergunakan agama demi tercapainya ambisi pribadi
berkedok agama, yaitu ambisi politik.
Tiga orang tosu yang pada malam itu dipermainkan oleh Kian Lee dan Kian Bu adalah angauta-anggota
Pek-lian-kauw yang ditugaskan oleh pimpinannya untuk melakukan penyelidikan karena Pek-lian-kauw
mendengar bahwa pemerintah pusat sedang mulai menaruh curiga terhadap persekutuan itu dan kabarnya
mengirim utusan kepada Jenderal Kao Liang yang bertugas sebagai komandan yang menjaga tapal batas
utara. Di dalam kabar yang diterima ini, pesuruh dari pemerintah pusat menyamar dan selain mengirim
berita, juga membawakan biaya dalam bentuk emas dan perak. Tiga orang tosu itu bertugas untuk
mengawasi dan kalau dapat merampas semua itu.
Ada pun hartawan yang sedang melakukan perjalanan itu memang datang dari kota raja bersama kedua
orang isterinya dan dikawal oleh para piauwsu bayaran yang kuat, akan tetapi dia hanyalah seorang
hartawan yang hendak pulang ke kampung halamannya saja di utara. Sama sekali dia tidak mengira
bahwa dia disangka oleh para pemberontak sebagai utusan dari kota raja!
Demikianlah, dengan hati merasa lega juga bahwa semalam itu tidak terjadi gangguan terhadap mereka,
para piauwsu kembali mengiringkan dua buah kereta itu melanjutkan perjalanan. Dusun yang dituju oleh
hartawan itu sudah tidak jauh lagi, terletak di balik gunung di depan kira-kira memerlukan perjalanan
setengah hari lebih.
Akan tetapi, belum lama mereka bergerak meninggalkan kuil kuno itu, tiba-tiba kusir kereta pertama yang
duduknya agak tinggi melihat debu mengepul di depan. “Ada orang dari depan...!” serunya dan semua
piauwsu terkejut, siap dan mengurung kedua kereta itu untuk melindungi.
“Berhenti dan berjaga-jaga!” Piauwsu berjenggot putih memberi aba-aba dan dua buah kereta itu lalu
berhenti, semua piauwsu meloncat turun dari kuda dan merasa tegang namun siap siaga menghadapi
segala kemungkinan. Mereka adalah piauwsu-piauwsu yang sudah bertahun-tahun melakukan tugas itu,
sudah terbiasa dengan hidup penuh kekerasan dan pertempuran.
Tak lama kemudian, muncullah tiga orang tosu itu dan di belakangnya tampak sepuluh orang tinggi besar
yang menunggang kuda. Dilihat dari cara mereka menunggang kuda saja dapat dipastikan bahwa mereka
adalah orang-orang yang biasa melakukan perjalanan jauh dengan berkuda, dan sikap mereka jelas
membayangkan kekerasan, kekejaman dan juga ketangkasan ahli-ahli silat. Yang lebih mengesankan bagi
para piauwsu adalah tiga orang tosu itu, yang datang dengan jalan kaki, berlari cepat di depan rombongan
berkuda.
Para piauwsu yang sudah berpengalaman itu tidak gentar menghadapi sepuluh orang berkuda yang tinggi
besar dan kasar itu, akan tetapi mereka dapat menduga bahwa tiga orang tosu itulah justru yang harus
dihadapi dengan hati-hati. Oleh karena itu, pimpinan piauwsu yang tua dan berjenggot putih, segera
melangkah maju menghadapi tiga tosu itu dan menjura penuh hormat.
“Kami dari Hui-houw Piauw-kiok (Perusahaan Pengawal Harimau Terbang) di Shen-yang menghaturkan
salam persahabatan kepada sam-wi totiang dan cu-wi sekalian. Maafkan bahwa dua kereta yang kami
kawal memenuhi jalan sehingga merepotkan cu-wi saja. Kalau cu-wi hendak lewat, silakan mengambil
jalan dulu!” Kata-kata penuh hormat dan merendah ini memang biasanya dilakukan oleh para piauwsu jika
menghadapi gerombolan yang tidak dikenalnya, karena bagi pekerjaan mereka, makin sedikit lawan makin
banyak kawan makin baik.
Tiga orang tosu itu tidak segera menjawab, melainkan mata mereka mencari-cari penuh selidik,
memandangi semua anggota piauwsu, bahkan dua orang kusir kereta pun tidak luput dari pandang mata
mereka yang penuh selidik sehingga para piauwsu menjadi ngeri juga. Pandang mata tiga orang tosu itu
mengandung wibawa dan agaknya mereka marah. Tentu saja tidak ada orang yang tahu bahwa tiga orang
kakek pendeta ini mencari siapa, karena selain para piauwsu, tidak ada orang yang menyelundup di dalam
rombongan itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mereka masih terpengaruh oleh peristiwa gangguan ‘setan’ semalam! Akan tetapi ketika melihat bahwa
semua orang yang mengawal kereta adalah piauwsu-piauwsu biasa yang sejak kemarin mereka bayangi,
wajah mereka kelihatan lega dan kini si tahi lalat mewakili suheng-nya menjawab, “Kami tidak ingin lewat,
kami sengaja menghadang kalian.”
Berubah wajah para piauwsu dan tangan mereka sudah meraba gagang pedang masing-masing. Melihat
gerakan ini tiga orang tosu itu tertawa dan tosu tertua sekarang berkata, “Kami tldak ada permusuhan
dengan Hui-houw Piauw-kiok!”
Mendengar ini pimpinan piauwsu kelihatan girang karena sekarang sudah tampak olehnya gambar teratai
di baju tiga orang tosu itu, di bagian dada. Tiga orang pendeta itu adalah orang-orang Pek-lian-kauw dan
hal ini saja sudah membuat hatinya keder karena sudah terkenallah bahwa orang-orang Pek-lian-kauw
memiliki kepandaian yang tinggi. Akan tetapi biasanya orang Pek-lian-kauw tidak melakukan perampokan,
maka para piauwsu selain lega juga menjadi heran mengapa tiga orang tosu Pek-lian-kauw itu
menghadang perjalanan mereka.
“Kami pun tahu bahwa para locianpwe dari Pek-lian-kauw adalah sahabat rakyat jelata dan tidak akan
mengganggu perjalanan kami. Akan tetapi, sam-wi totiang menghadang kami, tidak tahu ada keperluan
apakah? Pasti kami akan membantu dengan suka hati sedapat kami.”
“Kami akan menggeledah kereta yang kalian kawal!” kata si tahi lalat yang agaknya sudah tidak sabar lagi.
Berubahlah wajah pimpinan piauwsu. Sambil menahan marah dia mengelus jenggotnya. Betapa pun juga,
dia adalah wakil ketua piauw-kiok dan telah terkenal sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi.
Selain itu sebagai wakil piauw-kiok dia rela bertaruh nyawanya demi nama baik piauw-kiok dan demi
melindungi barang atau orang yang dikawalnya.
“Harap sam-wi totiang suka memandang persahabatan dan tidak mengganggu kawalan kami,” katanya
tenang.
“Kami tidak mengganggu, hanya memeriksa dan tentu saja kalian akan bertanggung jawab kalau kami
mendapatkan apa yang kami cari,” kata tosu tertua.
“Apakah yang sam-wi cari?” tanya piauwsu.
“Bukan urusanmu!” jawab si tahi lalat. “Suheng, mari kita segera menggeledah, perlu apa melayani segala
piauwsu cerewet?”
Pimpinan piauwsu melangkah maju menghadang di depan kereta itu, lalu mengangkat muka dan
memandang dengan sinar mata berapi penuh kegagahan. “Sam-wi totiang perlahan dulu! Sam-wi tentu
maklum bahwa seorang piauwsu yang sedang bertugas mengawal menganggap kawalannya lebih
berharga dari pada nyawanya sendiri. Oleh karena itu, betapa pun menyesalnya, kami terpaksa tidak dapat
membenarkan sam-wi melakukan penggeledahan terhadap barang-barang dan orang-orang kawalan
kami.”
Si tahi lalat membelalakkan matanya lebar-lebar. “Apa? Kau hendak menentang kami? Kami bukan
perampok, akan tetapi sikap kalian bisa saja membuat kami mengambil tindakan lain!”
“Kami juga tak menuduh sam-wi perampok, akan tetapi kalau kehormatan kami sebagai piauwsu
disinggung, apa boleh buat, terpaksa kami akan melupakan kebodohan kami dan mengerahkan seluruh
tenaga untuk melindungi dua kereta ini.”
“Wah, piauwsu sombong, keparat kau!” Si tahi lalat sudah hendak bergerak, akan tetapi lengannya
dipegang oleh suheng-nya.
“Piauwsu, kalau dua orang sute-ku bergerak, apa lagi dibantu oleh kawan-kawan kita di belakang ini, dalam
waktu singkat saja kalian semua yang berjumlah dua losin ini tentu akan menjadi mayat di tempat ini. Kami
bukan hendak merampok tanpa alasan dan bukan hendak menyerang orang tanpa sebab, akan tetapi
sekarang kami hanya akan menggeledah. Kalau engkau merasa tersinggung kehormatanmu sebagai
piauwsu, nah, sekarang antara engkau dan pinto mengadu kepandaian. Kalau pinto kalah, kami akan pergi
dan kami tidak akan mengganggu kalian lebih jauh lagi. Akan tetapi kalau kau kalah, kau harus
membolehkan kami melakukan penggeledahan.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Piauwsu tua itu mengerutkan alis berpikir dan mempertimbangkan usul dan tantangan tosu itu. Memang
resikonya besar sekali jika dia membiarkan anak buahnya bertempur melawan rombongan Pek-lian-kauw
itu. Dia dan anak buahnya tentu saja tidak takut mati dalam membela dan melindungi kawalan mereka.
Bagi seorang piauwsu, mati dalam tugas melindungi kawalan adalah mati yang terhormat! Akan tetapi,
perlu apa membuang nyawa kalau para tosu ini memang hanya ingin menggeledah?
Pula, dia sudah mendengar bahwa orang-orang Pek-lian-kauw hanya mengurus soal pemberontakan,
siapa tahu hartawan yang dikawal ini menyembunyikan sesuatu, atau membawa sesuatu yang merugikan
dan mengancam keselamatan Pek-lian-kauw? Jika dia menang, dia percaya bahwa mereka tentu akan
pergi karena dia sudah mendengar bahwa orang-orang Pek-lian-kauw, biar pun kadang-kadang amat
kejam, namun selalu memegang janji dan karenanya memperoleh kepercayaan rakyat. Kalau dia kalah,
dua kereta hanya akan digeledah. Andai kata mereka menemukan sesuatu yang dicarinya, hal itu masih
dapat dirundingkan nanti. Resikonya masih amat kecil kalau dia menerima tantangan, dibandingkan
dengan resikonya kalau dia menolak.
“Baiklah, kalau aku kalah, sam-wi boleh menggeledah. Sebaliknya kalau aku menang, harap cu-wi suka
melepaskan kami pergi,” katanya sambil mencabut golok besarnya, senjata yang diandalkan selama
puluhan tahun sebagai piauwsu. “Saya sudah siap!”
Sebelum tosu tertua maju, tosu ketiga sudah berkata, “Suheng dan ji-suheng, biarkan aku yang maju
melayani. Sudah sebulan lebih aku tidak latihan, tangan kakiku gatal-gatal rasanya!”
Si tahi lalat dan suheng-nya mengangguk dan tersenyum, lalu melangkah mundur. Tosu ketiga yang
tubuhnya kecil kurus, mukanya pucat seperti seorang penderita penyakit paru-paru itu melangkah maju
dengan sigap. Dia adalah seorang pecandu madat, maka tubuhnya kurus kering dan mukanya pucat, akan
tetapi ilmu silatnya lihai. Agaknya racun madat yang dihisapnya tiap hari itu tidak mengurangi kelihaiannya,
bahkan menurut cerita orang, setiap kali habis menghisap madat, dia menjadi lebih ampuh dari biasanya,
dan jurus-jurus silatnya mempunyai perkembangan yang lebih aneh dan lihai!
Tosu itu menghampiri piauwsu berjenggot putih, tersenyum dan memandang ke arah golok di tangan si
piauwsu, lalu berkata, “Eh, piauwsu, yang kau pegang itu apakah?”
Piauwsu itu tentu saja menjadi heran. Dia mengangkat goloknya lalu berkata, “Apakah totiang tidak
mengenal senjata ini? Ini sebatang golok yang menjadi kawanku semenjak aku menjadi piauwsu.”
Tosu kecil kurus itu mengangguk-angguk, “Aahhh, pinto tadi mengira bahwa itu adalah alat penyembelih
babi. Heii, piauwsu, kalau kau hendak menyembelih aku apakah tidak terlalu kurus?”
Mendengar ucapan yang nadanya berkelakar dan mengejek ini, rombongan anak buah Pek-lian-kauw
tertawa tanpa turun dari kudanya, sementara rombongan piauwsu juga tersenyum masam karena tadi
pihak mereka diejek oleh tosu kecil kurus yang kelihatan lemah namun amat sombong itu!
“Totiang, kurasa sekarang bukan waktunya untuk berkelakar. Kalau totiang mewaklli rombongan totiang
maju menghadapiku harap totiang segera mengeluarkan senjata totiang, dan mari kita mulai,” kata
pimpinan piauwsu yang menahan kemarahannya.
“Senjata... he-he-he, twa-suheng dan ji-suheng, dia tanya senjata! Eh, piauwsu, apakah kau tidak melihat
bahwa pinto telah membawa empat batang senjata yang masing-masing sepuluh kali lebih ampuh dari
pada alat pemotong babi di tanganmu itu?”
Piauwsu tua itu sudah cukup berpengalaman maka dia mengerti apa artinya kata-kata yang bernada
sombong itu. “Hemm, jadi totiang hendak melawan golokku dengan keempat buah tangan kaki kosong?
Baiklah, totiang sendiri yang menghendaki, bukan aku, maka kalau sampai totiang menderita rugi
karenanya, harap jangan salahkan aku.”
“Majulah, kau terlalu cerewet!” kata tosu kecil kurus itu dan dia berdiri seenaknya saja, sama sekali tidak
memasang kuda-kuda. Sikapnya ini jelas memandang rendah kepada lawan.
Melihat sikap tosu itu, piauwsu ini juga tidak mau sungkan-sungkan lagi. Cepat dia lalu mengeluarkan
teriakan dan goloknya menyambar dengan derasnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Wuuuuttt... sing-sing-sing-singgg...!”
Hebat memang ilmu golok dari piauwsu itu karena sekali bergerak, setiap kali dengan cepat dielakkan
lawan, golok itu sudah menyambar lagi, membalik dan melanjutkan serangan pertama yang gagal dengan
bacokan berikutnya. Demikianlah, golok itu terus menyambar-nyambar tanpa putus bagaikan seekor
burung garuda, dari kanan ke kiri dan sebaliknya, tak pernah menghentikan gerakan serangannya.
“Wah-weh... wutt, luput...!” Tosu kurus kering itu mengelak ke sana-sini dengan cekatan sekali dan walau
pun dia juga terkejut menyaksikan serangan yang bertubi-tubi dan berbahaya itu, namun dia masih mampu
terus-menerus mengelak sambil membadut dan berlagak.
Golok itu bergerak dengan cepat dan teratur, sesuai dengan ilmu golok Siauw-lim-pai yang sudah
bercampur dengan gerak kaki ilmu silat Hoa-san-pai, kadang-kadang menusuk akan tetapi lebih banyak
membacok dan membabat ke arah leher, dada, pinggang, lutut dan bahkan kadang-kadang membabat
mata kaki kalau lawan mengelak dengan loncatan ke atas. Suara golok membacok angin mengeluarkan
suara berdesing-desing menyeramkan dan sebentar kemudian, golok itu lenyap bentuknya berubah
menjadi sinar bergulung-gulung yang indah dan yang mengejar ke mana pun tosu itu bergerak.
Namun hebatnya, tosu itu selalu dapat mengelak, bahkan kini kadang-kadang dia menyampok dengan kaki
atau tangannya. Hanya orang yang sudah tinggi ilmunya saja berani menyampok golok dengan kaki atau
tangan, karena sedikit saja sampokan itu meleset, tentu mata golok akan menyayat kulit merobek daging
mematahkan tulang!
“Kau boleh juga, piauwsu!” kata si tosu.
Tiba-tiba tosu itu mengeluarkan suara melengking keras. Tubuhnya lenyap bentuknya, berubah menjadi
bayangan yang cepat sekali menari-nari di antara gulungan sinar golok. Si piauwsu terkejut ketika merasa
betapa jantungnya berhenti beberapa detik oleh pekik melengking tadi, dan sebelum dia dapat menguasai
dirinya yang terpengaruh oleh pekik yang mengandung kekuatan khikang tadi, tahu-tahu lengan kanannya
tertotok lumpuh, goloknya terampas dan tampak sinar golok berkelebat di depannya, memanjang dari atas
ke bawah.
“Bret-brett-brettt...!”
Terdengar suara kain terobek dan... ketika tosu itu melempar golok ke tanah, tampak piauwsu itu berdiri
dengan pakaian bagian depan terobek lebar dari atas ke bawah sehingga tampaklah tubuhnya bagian
depan! Tentu saja dia terkejut dan malu sekali, cepat dia menutupkan pakaian yang terobek itu, dan
dengan muka merah dia menjura dan memungut goloknya, “Saya mengaku kalah. Silakan totiang bertiga
kini melakukan penggeledahan!”
Terdengar suara berbisik di antara para piauwsu, tetapi pimpinan piauwsu itu berteriak, “Saudara-saudara
harap mempersilakan sam-wi totiang melakukan penggeledahan di dalam kereta!”
Selagi piauwsu kepala ini menutupi tubuhnya yang setengah telanjang itu dengan pakaian baru yang
diambilnya dari buntalannya di punggung kuda dan memakainya dengan cepat, ketiga orang tosu itu
sambil tertawa-tawa lalu mendekati kedua kereta itu. Si tahi lalat terpisah sendiri dari kedua orang
saudaranya. Kalau tosu pertama dan ketiga menghampiri kereta depan, adalah si tahi lalat ini menghampiri
kereta belakang di mana duduk si hartawan bersama kedua orang isterinya!
Sambil menyeringai ke arah wanita muda baju merah, si tahi lalat yang menyingkap tirai itu berkata, “Kalian
sudah mendengar betapa kepala piauwsu kalah dan kami berhak untuk menggeledah. Heh-heh-heh!”
Hartawan itu dengan muka pucat ketakutan cepat-cepat menjawab, “Harap totiang suka menggeledah
kereta depan karena semua barang kami berada di kereta depan.”
“Ha-ha, dua orang saudaraku sudah menggeledah ke sana, akan tetapi yang kami cari itu mungkin saja
disembunyikan di dalam pakaian, heh-heh. Karena itu, pinto terpaksa akan melakukan penggeledahan di
pakaian kalian.”
Tentu saja dua orang wanita itu menjadi merah mukanya dan isteri tua cepat berkata, “Totiang yang baik,
kami orang-orang biasa hendak menyembunyikan apakah? Harap totiang suka memaafkan kami dan tidak
menggeledah, biarlah saya akan sembahyang di kelenteng memujikan panjang umur bagi totiang.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Si tahi lalat tersenyum menyeringai, “Heh-heh, tidak kau sembahyangkan pun umurku sudah panjang.
Kalau terlalu panjang malah berabe, heh-heh!”
Wanita setengah tua itu terkejut dan tidak berani membuka mulut lagi melihat lagak pendeta yang
pecengas-pecengis seperti badut dan pandang matanya kurang ajar sekali ditujukan kepada madunya
yang masih muda itu.
“Orang menggeledah orang lain harus didasari kecurigaan. Aku pun tidak mau berlaku kurang ajar kepada
kalian berdua, akan tetapi wanita ini menimbulkan kecurigaan hati pinto, karenanya pinto harus
menggeledahnya!”
“Aihhh...!” Wanita muda itu menjerit lirih, tentu saja merasa ngeri membayangkan akan digeledah
pakaiannya oleh tangan-tangan tosu bertahi lalat yang mulutnya menyeringai penuh liur itu.
“Lihat, dia ketakutan! Tentu saja pinto menjadi lebih curiga lagi!” kata tosu bertahi lalat itu serius. “Harap
kalian turun dulu, jangan mengganggu pinto sedang bekerja!”
Setelah didorongnya, suami isteri setengah tua itu tergopoh-gopoh turun dari kereta, meninggalkan wanita
muda itu sendirian saja. Wanita itu duduk memojok dan tubuhnya gemetaran ketika memandang tosu itu
naik ke kereta sambil tersenyum menyeringai.
“Aku... aku tidak membawa apa-apa...! Aku... tidak punya apa-apa...”
“Ah, bohong! Segala kau bawa, kau mempunyai begini banyak! Heh-heh, kau harus diam dan jangan
membantah kalau tidak ingin pinto bertindak kasar!” Dan sepuluh jari tangan itu seperti ular-ular hidup
merayap-rayap menggerayangi seluruh tubuh wanita muda itu
Suaminya dan madunya yang berada di luar kereta hanya mendengar suara wanita itu merintih, merengek
dan mendengus, kadang diselingi terkekeh genit dan suaranya yang mencela, “Ehh... ihhh... hi-hik, jangan
begitu totiang...!”
Suara ini bercampur dengan suara tosu itu yang terengah-engah dan kadang-kadang terkekeh pula,
kadang-kadang terdengar suaranya, “Hushh, jangan ribut... kau diamlah saja ku... ku... geledah...”
Sementara itu, dua tosu yang lain telah memeriksa kereta pertama. Akan tetapi mereka tidak menemukan
sesuatu yang mencurigakan, kecuali hanya peti-peti berisi pakaian dan beberapa potong perhiasan dan
uang emas milik hartawan itu.
“Hemm, sia-sia saja kita bersusah payah. Para penyelidik itu benar-benar bodoh seperti kerbau. Orang
biasa dicurigai!” Tosu kurus kering mengomel.
“Mana ji-sute?” Tosu tertua bertanya.
“Ke mana lagi si mata keranjang itu kalau tidak ke kereta kedua?”
“Hemm... marilah kita lekas pergi, setelah salah duga, tidak baik terlalu lama menahan mereka. Para
piauwsu itu tentu akan menyebarkan berita kurang baik tentang Pek-lian-kauw.”
Keduanya meninggalkan kereta pertama dan menghampiri kereta kedua. Ketika mereka berdua membuka
pintu kereta, tosu pertama menyumpah. “Ji-sute, hayo cepat kita pergi!”
“Ehh... uhhh... baik, suheng!”
Tetapi agak lama juga barulah si tahi lalat itu keluar dari kereta. Pakaiannya kedodoran, rambutnya awutawutan
dan napasnya agak terengah-engah. Saat dua orang hartawan dan isterinya naik ke atas kereta,
mereka melihat wanita muda itu sedang membereskan pakaiannya dan rambutnya, mukanya merah sekali
dan dia tersenyum kecil, mengerling ke arah suaminya yang cemberut. Pintu kereta ditutup dari dalam dan
segera terjadi maki-makian dan keributan antara si suami yang memaki-maki bini mudanya dan si bini
muda yang membantah dan melawan, diseling suara isteri tua yang melerai mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi, ketika kedua tosu itu menghampiri kereta kedua, para pengikutnya yang kasar-kasar itu sudah
turun dan beberapa orang dari mereka ikut memeriksa kereta pertama, kemudian beberapa buah peti
mereka bawa ke kuda mereka.
Melihat ini piauwsu yang terdekat segera meloncat dan menegur, “Heii, mengapa kalian mengambil peti
itu? Kembalikan!”
Jawabannya adalah sebuah bacokan kilat yang membuat piauwsu itu roboh mandi darah. Gegerlah
keadaannya yang memang sejak tadi sudah menegangkan itu. Kedua pihak memang sejak tadi sudah
hampir terbakar, hampir meledak tinggal menanti penyulutnya saja. Kini, begitu seorang piauwsu mandi
darah, semua piauwsu serentak bergerak menyerbu dan terjadilah pertempuran yang sejak tadi sudah
ditahan-tahan.
Melihat ini, biar pun hatinya menyesal, ketiga orang tosu itu terpaksa turun tangan. “Jangan kepalang,
kalau sudah begini, bunuh mereka semua agar tidak meninggalkan jejak kita!” kata si tosu tertua.
Memang terpaksa dia harus membunuh seluruh piauwsu dan kusir serta penumpang kereta, karena kalau
tidak, tentu mereka akan menyebar berita bahwa Pek-lian-kauw mengganggu dan merampok. Hal ini tentu
akan menimbulkan kemarahan ketua mereka dan merekalah yang harus bertanggung jawab, mungkin
mereka akan dibunuh sendiri oleh ketua mereka karena hal itu amat dilarang karena dapat memburukkan
nama Pek-lian-kauw di mata rakyat yang mereka butuhkan dukungannya.
“Bunuh semua, jangan sampai ada yang lolos!” tiga orang tosu itu berteriak-teriak sambil mengamuk. Siapa
saja yang berada di dekat tiga orang tosu yang bertangan kosong ini, pasti roboh.
Tiba-tiba tampak berkelebatnya dua sosok bayangan orang dan tahu-tahu di situ telah muncul Kian Lee
dan Kian Bu. Mereka sudah sejak tadi membayangi dan mengintai dari jauh. Mereka melihat lagak para
tosu dan karena wanita muda itu sama sekali tidak minta tolong, bahkan ada terdengar suara ketawanya di
antara rintihan dan rengeknya, Kian Lee yang ditahan-tahan oleh adiknya itu sengaja tidak ingin turun
tangan dan mendiamkannya saja. Juga ketika terjadi adu kepandaian tadi, dia tidak berbuat apa-apa
karena memang pertandingan itu sudah adil, satu lawan satu.
Tetapi melihat pertempuran pecah dan mendengar aba-aba dari mulut tosu itu, Kian Lee dan Kian Bu
hampir berbareng melompat dan lari cepat sekali ke medan pertempuran. Sekali mereka bergerak,
robohlah empat orang di antara sepuluh orang tinggi besar pengikut Pek-lian-kauw itu dan terdengar Kian
Bu berteriak, “Cu-wi piauwsu, harap kalian hadapi enam orang hutan itu, biarkan kami menghadapi tiga
orang pendeta palsu ini!”
Melihat munculnya dua orang muda yang segebrakan saja merobohkan empat orang tinggi besar itu,
semua piauwsu terheran-heran dan tentu saja dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika
mengenal kedua orang itu yang bukan lain adalah si penculik nyonya muda dan penolongnya! Bagaimana
mereka dapat datang bersama dan kini membantu mereka menghadapi orang-orang Pek-lian-kauw?
Akan tetapi, mereka tidak ada waktu untuk bertanya dan kini semua para piauwsu yang bersama
pemimpinnya masih berjumlah delapan belas orang karena yang enam orang telah roboh, maju menyerbu
dan mengeroyok enam orang sisa pasukan pengikut Pek-lian-kauw yang tinggi besar itu. Biar pun pada
umumnya tingkat kepandaian orang Pek-lian-kauw itu lebih tinggi sedikit, namun karena mereka harus
menghadapi para piauwsu dengan perbandingan satu lawan tiga, mereka segera terdesak.
Sementara itu, Kian Lee dan Kian Bu sudah menghadapi ketiga tosu yang memandang pada mereka
dengan mata terbelak dan dengan ragu-ragu. Kian Bu segera tersenyum dan bertanya, “Apa kabar, sam-wi
totiang? Aihhh, kenapa sam-wi bau air kencing?”
Mendengar kata-kata ini, ketiga orang tosu itu kontan berteriak marah sekali karena mereka tahu bahwa
dua orang pemuda inilah yang mengganggu mereka semalam dan yang telah menyamar sebagai ‘setan’.
Biar pun semalam mereka mendapatkan bukti betapa lihainya dua orang itu, namun begitu melihat mereka
berdua hanyalah pemuda-pemuda tanggung, tiga orang tosu itu menjadi besar hati. Sampai di mana sih
tingkat kepandaian orang-orang muda seperti itu? Mereka tentu saja tidak merasa gentar sedikit pun dan
sambil mengeluarkan suara teriakan seperti harimau buas, si tahi lalat telah lebih dahulu menerjang maju
dan mencengkeram dengan dua tangan membentuk cakar ke arah kepala Kian Bu!
dunia-kangouw.blogspot.com
Pemuda ini sama sekali tidak mengelak. Akan tetapi setelah kedua tangan yang seperti cakar itu dekat
dengan kepalanya, secepatnya ia menangkis hingga sekaligus tangan kirinya menangkis dua tangan lawan
yang menyeleweng ke samping, kemudian secepat kilat tangan kanannya bergerak selagi tubuh lawan
masih berada di udara.
“Plak! Crettt! Aduuhh...!”
Tosu bertahi lalat di dagunya itu berteriak kaget dan kesakitan, lalu mencelat mundur berjungkir balik
sambil mendekap hidungnya yang keluar ‘kecap’ terkena sentilan jari tangan Kian Bu. Biar pun tosu itu
sudah mahir sekali menggunakan sinkang membuat tubuhnya kebal, akan tetapi kekebalannya tidak dapat
melindungi hidungnya yang agak terlalu besar dan buntek itu, maka sekali kena disentil jari tangan yang
kuat itu, sekaligus darahnya muncrat ke luar.
Tosu kurus kering juga sudah menerjang Kian Lee. Karena tosu ini lebih berhati-hati dan tidak sembrono
seperti sute-nya, dia menyerang dengan jurus pilihan dari Pek-lian-kauw, bahkan dia mengerahkan sinkang
yang mendorong hawa beracun menyambar ke luar dari telapak tangannya. Hampir semua tokoh Pek-liankauw
yang sudah agak tinggi tingkatnya, semua mempelajari ilmu pukulan beracun ini, yang hanya dapat
dipelajari oleh kaum Pek-lian-kauw.
Ilmu pukulan ini ada yang memberi nama Pek-lian-tok-ciang (Tangan Beracun Pek-lian-kauw) dan memang
amat dahsyat karena begitu tosu itu memukul dengan kedua tangan terbuka, tidak saja dapat melukai
lawan di sebelah dalam tubuhnya dengan hawa pukulan sinkang itu, akan tetapi hawa beracun itu masih
dapat mencelakai lawan yang dapat menahan sinkang. Berbahayanya dari pukulan ini adalah karena hawa
beracun itu tidak mengeluarkan tanda apa-apa, berbeda dengan pukulan tangan beracun lain yang dapat
dikenal, yaitu dari baunya atau dari uap yang keluar dari tangan sehingga lebih mudah dijaga.
Kian Lee agaknya tidak tahu akan pukulan beracun ini, maka dengan seenaknya dia menyambut dengan
kedua telapak tangannya pula. Melihat ini, si tosu kurus kering dan twa-suheng-nya yang belum turun
tangan menjadi girang, mengira bahwa pemuda itu pasti terjungkal, karena andai kata dapat menahan
tenaga sinkang dari pukulan itu, pasti akan terkena hawa beracun.
“Duk! Plakk!”
Terjungkallah tubuh... si tosu kurus kering! Kejadian aneh ini tentu saja membuat tosu pertama menjadi
kaget setengah mati karena hal yang terjadi adalah kebalikan dari apa yang disangka dan diharapkannya.
Dia melihat tubuh sute-nya yang roboh bergulingan menggigil kedinginan, terheran-heran mengapa sutenya
bisa begitu.
Akan tetapi tak ada waktu untuk memeriksa. Dia segera menerjang maju dengan marah sekali sambil
meloloskan sabuk sutera di pinggangnya. Sabuk pendek ini memang selalu dilibatkan di pinggang dan
merupakan senjatanya yang ampuh sungguh pun jarang sekali dia mempergunakannya karena biasanya,
kedua tangannya saja sudah cukup untuk merobohkan seorang lawan. Akan tetapi sekarang, melihat
betapa ji-sute-nya dalam segebrakan telah remuk hidungnya dan sam-sute-nya juga telah roboh dan
menggigil kedinginan, dia maklum bahwa kedua orang muda itu kepandaiannya amat hebat dan tanpa
sungkan-sungkan lagi dia lalu meloloskan senjatanya itu.
Juga si tahi lalat yang sudah hilang puyengnya karena hidungnya remuk itu, setelah menghapus darah dari
mulutnya yang ternoda oleh darah yang menitik dari bekas hidung, sudah mengeluarkan senjatanya pula.
Berbeda dengan suheng-nya, senjata tosu ini ada dua macam, yaitu seuntai tasbeh dan setangkai
kembang teratai putih yang entah diberi obat apa sudah menjadi keras seperti besi! Tadinya kedua senjata
ini tersimpan di dalam saku bajunya yang lebar dan kini sudah berada di kedua tangannya.
“Wah-wah-wah, setelah menghadapi kesukaran baru kau ingat kepada tasbehmu dan kembang, ya?
Apakah kau hendak membaca doa dan memuja dewa dengan kembang itu?” Kian Bu mengejek.
“Keparat, mampuslah kau di tanganku!” Si tahi lalat membentak.
Tasbehnya sudah menyambar ganas ke arah dahi Kian Bu sedangkan kembang teratai itu menyambar
leher. Serangan ini berbahaya sekali karena merupakan serangan palsu atau ancaman. Kelihatannya
memang ganas, akan tetapi keganasan ini hanya untuk mengelabui perhatian lawan karena pada detik
selanjutnya, selagi perhatian lawan tertuju untuk menghadapi dua serangan ganas itu, kakinya menyambar
dan menendang ke arah anggota kelamin yang merupakan satu di antara pusat kematian bagi seorang
dunia-kangouw.blogspot.com
laki-laki!
“Cuuuutt-wuuuttt... wessss!”
Namun sekali ini yang dihadapi oleh si tahi lalat adalah putera Pendekar Super Sakti! Menghadapi
serangan ini, dengan amat tenangnya Kian Bu tersenyum dan memandang saja. Ketika dua senjata itu
sudah datang dekat, dia hanya menggerakkan tubuhnya sedikit saja, dan pada saat kedua senjata itu
ditarik secara berbareng, tahulah dia bahwa dua serangan itu hanyalah merupakan gertak sambal saja,
maka dengan tenang dia menanti serangan intinya. Ketika melihat berkelebatnya kaki tosu itu menendang
ke arah alat kelaminnya, Kian Bu tersenyum dan pura-pura terlambat mengelak.
“Desss!” Tepat sekali kaki itu menendang bawah pusar dan Kian Bu terjengkang roboh, mukanya pucat
dan matanya mendelik dan napasnya terhenti.
“Hua-ha-ha-ha! Kiranya engkau hanya begini saja! Tidak lebih keras dari pada tahu!” Sambil berkata
demikian, si tahi lalat itu melangkah maju, mengangkat kakinya dan mengerahkan sinkang, hendak
menginjak hancur kepala Kian Bu.
“Wuuutttt! Plak! Tekkk... wadouww...!” Tosu itu memekik, kedua senjatanya terlepas dan dia berjingkrakjingkrak
seperti anak kecil kegirangan, namun air matanya bercucuran, mulutnya megap-megap dan
mendesis-desis seperti orang sedang kepedasan, kedua tangannya mendekap alat kelaminnya dan kaki
kanannya diangkat, kaki kiri berloncat-loncatan! Apa yang terjadi?
Tentu saja Kian Bu tadi menerima tendangan itu dengan sengaja! Sebagai seorang putera Pendekar Super
Sakti yang telah memiliki sinkang luar biasa sekali tingginya, pada saat kaki lawan datang, dia sudah
mengerahkan sinkang-nya menyedot seluruh alat kelaminnya masuk ke rongga perut sehingga tendangan
itu hanya mengenai kulitnya yang dilindungi oleh hawa sinkang di sebelah dalam.
Akan tetapi dia pura-pura jatuh dan semaput! Pada saat kaki tosu itu datang hendak menginjak kepalanya,
dia cepat menangkap kaki itu, menariknya sehingga tubuh tosu itu merendah, kemudian dengan jari
tangannya dia ‘menyentil’ alat kelamin tosu itu, mengenai sebutir di antara bola kelaminnya, dan tentu saja
mendatangkan rasa nyeri yang sukar dilukiskan di sini.
Hanya mereka yang pernah terpukul bola kelaminnya sajalah yang akan tahu bagai mana rasanya. Kiutmiut
berdenyut-denyut terasa di seluruh tubuh, merasuk di otot-otot dan tulang sumsum, terasa oleh setiap
bulu di badan, membuat kepala rasanya mot-motan dan ulu hati seperti diganjal, nyeri dan linu, pedih
cekot-cekot dan segala macam rasa nyeri terkumpul jadi satu membuat tosu itu pingsan tidak sadar pun
tidak, hidup tidak mati pun belum!
Dalam keadaan seperti itu, tentu saja kedua senjatanya terlepas tanpa disadarinya lagi, bahkan dia masih
berjingkrakan seperti seekor monyet diajari menari ketika Kian Bu sambil tertawa mengalungkan tasbeh di
leher tosu itu dan menancapkan tangkai kembang di rambutnya!
Sementara itu tosu tertua yang menyerang Kian Lee pun kecelik. Sabuknya menyambar seperti seekor ular
hidup, mula-mula melayang-layang ke sana-sini untuk mengacaukan perhatian lawan. Tetapi, melihat
betapa pemuda itu sama sekali tidak membuat gerakan mengelak, bahkan memandang gerakan sabuk itu
tanpa gentar sedikit pun juga, sabuk itu melayang turun dan menotok ke arah ubun-ubun kepala Kian Lee.
Kalau saja pemuda ini belum yakin akan kemampuan dan kekuatan sinkang lawan, tentu saja dia tidak
begitu gegabah berani menerima totokan ujung sabuk ke arah bagian kepala yang lemah ini. Akan tetapi
perhitungannya sudah masak, dan dia menerima saja totokan itu.
“Takkkk!”
Ujung sabuk tepat mengenai ubun-ubun kepala pemuda itu, tetapi sabuk itu membalik dan hebatnya,
bukan sembarangan saja membalik, melainkan mengandung kekuatan dahsyat dan sabuk itu menyerang
ubun-ubun kepala tosu itu sendiri tanpa dapat ditahannya. Kaget setengah mati tosu itu dan cepat dia
miringkan kepala sehingga totokan sabuk itu meleset.
Akan tetapi dia masih penasaran. Disangkanya hal itu hanyalah kebetulan saja karena kuatnya dia
menggerakkan sabuk dan kuatnya pemuda itu menahan totokannya. Biar pun dia kaget dan juga heran,
namun kembali dia menggerakkan sabuknya dan sekali ini sabuknya meluncur dan menotok ke arah mata
kanan Kian Lee! Secepat itu pula, tangan kirinya bergerak ke depan mencengkeram ke arah pusar. Sukar
dunia-kangouw.blogspot.com
dibandingkan yang mana antara kedua serangan ini yang lebih berbahaya. Sudah jelas bahwa totokan
ujung sabuk ke arah mata itu sedikitnya dapat membuat sebelah mata menjadi buta! Akan tetapi
cengkeraman tangan yang amat kuat itu ke pusar, kalau sampai pusar dapat dicengkeram dan terkuak,
tentu isi perut akan ambrol dan terjurai keluar semua!
Kian Lee yang senantiasa bersikap tenang itu sedikit pun tidak menjadi gugup, bahkan dengan tenangnya
tanpa berkedip dia menanti sampai ujung sabuk dekat sekali dengan mukanya, lalu tiba-tiba tangannya
menyampok dan mengirim kembali ujung sabuk itu ke muka lawan, sedangkan perutnya menerima
cengkeraman itu, bahkan menggunakan sinkang untuk membuat perutnya lunak seperti agar-agar
sehingga tangan lawan terbenam masuk, tetapi setelah tangan lawan memasuki perutnya, dia
mengerahkan sinkang untuk menyedot dan tangan itu tidak dapat ditarik kembali oleh pemiliknya.
Bukan main kagetnya tosu itu, dia harus membagi perhatiannya menjadi dua, sebagian untuk menarik
kembali tangannya yang terjepit di perut lawan, dan kedua kalinya untuk menguasai sabuknya sendiri yang
menjadi ‘liar’ dan menyerang dirinya sendiri.
“Plakk! Krekkk!”
Tubuh tosu itu terjengkang dan dia mengerang kesakitan karena selain pipinya terobek kulitnya oleh
hantaman ujung sabuknya sendiri, juga tulang ibu jari dan kelingkingnya patah-patah terkena himpitan di
dalam perut pemuda luar biasa itu!
“Tahan semua senjata! Cu-wi piauwsu, biarkan mereka pergi semua!” Kian Lee berseru. Suaranya lantang
sekali, penuh dengan kekuatan khikang sehingga mereka yang masih bertanding itu terkejut dan menahan
senjata masing-masing.
Melihat betapa tiga orang tosu itu sudah dibuat tidak berdaya oleh kedua orang pemuda aneh itu, kepala
piauwsu itu tidak berani membantah, lalu berkata kepada sisa pengikut Pek-lian-kauw, “Kalian tahu sendiri
kami tidak berniat untuk memusuhi Pek-lian-kauw, melainkan pimpinan kalian yang terlalu mendesak kami.
Nah, pergilah dan bawa teman-temanmu!”
Sisa pihak Pek-lian-kauw yang maklum bahwa melawan pun tiada gunanya, lalu saling tolong dan naik ke
atas kuda. Tiga orang tosu yang tadinya ketika datang menggunakan ilmu lari cepat di depan rombongan
kuda, sekarang dalam keadaan setengah pingsan dipangku oleh mereka yang masih sehat, kemudian
tanpa pamit mereka lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Para piauwsu lalu menolong teman-teman mereka yang terluka sedangkan pimpinan rombongan itu,
piauwsu berjenggot putih menjura kepada Kian Lee dan Kian Bu sambil berkata, “Berkat pertolongan ji-wi
taihiap maka kami masih dapat selamat dan...,” tiba-tiba dia menghentikan kata-kata dan terbelalak ketika
melihat kedua orang pemuda itu saling pandang, mengangguk dan tiba-tiba saja melesat dan lenyap dari
depannya! Yang terdengar dari jauh hanya suara melengking tinggi, seperti suara burung rajawali yang
sedang berkejaran.
“Bukan main...!” Piauwsu itu menggeleng kepala dan melongo. “Sepasang pemuda itu... seperti...
sepasang rajawali sakti saja...! Sayang mereka tidak memperkenalkan diri...!”
Memang selama hidupnya berkelana di dunia kang-ouw, belum pernah piauwsu ini menyaksikan
kepandaian dua orang pemuda semuda itu, dua orang pemuda yang tingkat ilmunya tidak lumrah manusia
dan ketika pergi seperti terbang, seperti sepasang rajawali sakti saja!
Tiada habisnya mereka membicarakan kedua orang pemuda itu yang pada kemunculan pertama sudah
aneh, seorang menjadi penculik dan seorang menjadi penolong, kemudian penculik dan penolong itu
bekerja sama mengusir orang-orang Pek-lian-kauw secara mengherankan sekali. Tak salah lagi, tentu
mereka itu bersaudara melihat wajah mereka yang mirip, dan tentu soal penculikan tadi hanya main-main
saja, permainan dua orang pemuda aneh yang tidak lumrah manusia.
Cerita itu menjalar cepat dari mulut ke mulut sehingga mulai hari itu, terkenallah julukan Sepasang Rajawali
Sakti untuk dua orang pemuda yang sama sekali tidak terkenal di dunia kang-ouw. Bukan hanya dari pihak
piauwsu itu saja yang memperluas cerita itu, juga dari pihak Pek-lian-kauw sendiri segera mengakui bahwa
memang di dunia kang-ouw muncul dua orang pemuda yang aneh dan yang patut disebut Sepasang
Rajawali Sakti karena ilmu kepandaian mereka yang amat tinggi.....
dunia-kangouw.blogspot.com
********************
Tidak baik kalau terlalu lama kita meninggalkan Lu Ceng atau Ceng Ceng, dara remaja cantik jelita dan
lincah jenaka yang sejak permulaan cerita ini sudah banyak mengalami hal-hal yang amat hebat itu.
Seperti diceritakan di bagian depan, Ceng Ceng yang juga mempunyai nama baru setelah diangkat adik
oleh puteri Bhutan, yaitu Candra Dewi, hanyut di dalam perahu tanpa kemudi bersama kakak angkatnya,
Puteri Syanti Dewi yang dalam penyamarannya karena dikejar-kejar kaum pemberontak juga mempunyai
nama baru, yaitu Lu Sian Cu.
Seperti telah diceritakan, Syanti Dewi dan Ceng Ceng terlempar ke air sungai yang dalam dan deras
arusnya, ketika perahu yang tanpa kemudi karena ditinggalkan tukang perahu itu menabrak perahu-perahu
lain dan terguling. Syanti Dewi dapat tertolong oleh seorang laki-laki gagah perkasa yang bukan lain adalah
Gak Bun Beng, akan tetapi keduanya tidak berhasil mencari Ceng Ceng dengan jalan menyusuri tepi
Sungai Nu-kiang. Namun tidak ditemukan jejak Ceng Ceng dan dengan hati berat terpaksa Syanti Dewi
bersama penolongnya itu meninggalkan sungai itu dan menganggap bahwa Ceng Ceng tentu sudah
tenggelam dan tewas.
Benarkah Ceng Ceng tewas tenggelam di dasar Sungai Nu-kiang di barat itu?
Tidak, Ceng Ceng tidak tewas dan pada saat Syanti Dewi dan Gak Bun Beng menyusuri tepi Sungai Nukiang
itu, dia sudah menggeletak jauh dari tepi sungai, di dalam sebuah hutan yang amat sunyi dan liar,
menggeletak pingsan dengan muka masih kebiruan, akan tetapi perutnya telah kempis tidak penuh air dan
napasnya sudah berjalan dengan halus dan kuat. Krisis telah lewat dan dara itu telah selamat dari
cengkeraman maut melalui air Sungai Nu-kiang.
Ceng Ceng mulai siuman dan menggerak-gerakkan pelupuk mata, atau lebih tepat lagi, bola mata yang
masih tertutup pelupuk itu mulai bergerak, kemudian pelupuk matanya terbuka perlahan, makin lama makin
lebar sehingga matanya seperti sepasang matahari baru muncul dari permukaan laut di timur. Mendadak,
mata itu terbuka serentak dengan lebar, kepalanya menoleh ke kanan kiri, lalu ke pinggir tubuhnya.
Mengapa dia rebah terlentang di bawah pohon-pohon besar, di atas rumput kering, di dekatnya ada api
unggun yang mendatangkan hawa hangat? Saat menengok ke kanan, dia melihat seorang pemuda sedang
duduk di tepi sungai kecil di dalam hutan itu, duduk membelakanginya dan memegang tangkai pancing,
sedang tangan kirinya memegang sebuah paha ayam hutan yang sudah dipanggang, dan di dekatnya
tampak kayu yang masih terbakar mengepulkan asap dan di antara api membara itu masih terdapat sisa
ayam hutan.
Ceng Ceng tidak bergerak, memandang seperti dalam mimpi. Siapa pemuda itu? Dan dia... mengapa
berada di tempat ini? Tiba-tiba dia menahan seruannya karena teringat. Bukankah dia bersama kakaknya
Syanti Dewi terlempar ke dalam sungai dan hanyut? Teringat akan ini, teringat akan kakaknya yang
hanyut, serentak Ceng Ceng melompat bangun.
“Iihhh...!” Dia menjerit kecil dan cepat-cepat dia merobohkan diri ‘mendekam’ lagi di atas tanah, kedua
tangannya sibuk menutupkan jubah lebar yang kedodoran dan tadi terbuka ketika dia meloncat bangun.
Baru sekarang dia melihat dan memperhatikan keadaan tubuhnya dan rasa malu membuat seluruh
tubuhnya, mungkin saja dari akar rambut sampai akar kuku jari kaki, menjadi kemerahan.
Siapa yang tidak akan malu setengah mati mendapat kenyataan bahwa tubuhnya hanya tertutup oleh
jubah lebar itu saja, tanpa apa-apa lagi di sebelah dalamnya? Dia telah telanjang bulat-bulat betul, hanya
terlindung oleh jubah itu. Di mana pakaiannya? Mengapa dia telanjang bulat? Siapa yang mencopoti
pakaiannya tanpa ijin? Dan jubah ini, siapa yang menutupkan di tubuhnya? Siapa lagi kalau bukan pemuda
itu, pikirnya dan matanya mulai mengeluarkan sinar berapi. Kurang ajar! Pemuda laknat, berani
menelanjangi aku dan memakaikan jubah ini. Pemuda yang harus mampus!
Ingin dia menjerit dan menangis, akan tetapi melihat pemuda yang duduk mancing ikan dan
membelakanginya itu diam tak bergerak, dia menjadi ragu-ragu. Dia tidak boleh sembrono dan lancang,
pikirnya. Bagaimana kalau bukan dia yang melakukannya?
“Setan alas di kali eh, setan kali di alas!” Tiba-tiba pemuda itu mengomel.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kalau Ceng Ceng tidak sedang marah besar sekali, tentu dia akan tertawa geli melihat pemuda itu
mengangkat pancingnya dan melihat ada tahi tersangkut di mata kail itu! Agaknya tahi monyet atau
binatang lain, akan tetapi bentuknya seperti kotoran manusia dan cukup menjijikkan!
Dengan gerakan gemas pemuda itu menyabet-nyabetkan kailnya di air sampai kotoran itu lenyap, lalu
mengangkat mata kailnya yang sudah kehilangan umpan, mengambil lagi daging bakar, sebagian kecil
dicuwil untuk dipakai umpan, sebagian lagi dijejalkan mulutnya. Melihat betapa pemuda itu kembali
mengambil paha ayam dan menggigitnya, timbul air liur di mulut Ceng Ceng karena baru terasa olehnya
betapa lapar perutnya.
Pemuda itu lalu menancapkan gagang pancingnya di tanah, lalu bangkit berdiri dan membalik. Agaknya
kini barulah dia melihat Ceng Ceng! Melihat gadis itu sudah siuman, mendeprok di bawah dengan tangan
sibuk menutupi tubuhnya dengan jubah kedodoran yang kancingnya banyak yang sudah rusak sehingga
tidak dapat dikancingkan itu, dia tersenyum mengejek! Senyum yang bagi Ceng Ceng amat
menggemaskan, senyum yang lebih tepat disebut menyeringai dan sengaja mengejek, malah matanya
melirak-lirik seperti orang menggoda, tangan kiri memegang paha ayam diacungkan ke atas, dicium
dengan cuping hidung kembang kempis.
“Hemmm... sedap dan gurihnya...!” lalu dia menoleh kepada Ceng Ceng sambil berkata, “Wah, lama benar
engkau tidur! Keenakan mimpi, ya? Kau membikin aku repot bukan main, yaaaa... repot bukan main, lahir
batin. Untung engkau tidak mati di sungai, dan untung aku mempunyai jubah cadangan, walau pun sudah
agak tua akan tetapi cukup untuk menyelimutimu.”
Mendengar ini, kontan keras Ceng Ceng jadi naik darah! Betapa tidak kalau kata-kata pemuda itu jelas
membuktikan bahwa pemuda inilah yang telah mencopoti semua pakaiannya, kemudian mengenakan
jubah itu pada tubuhnya! Sialan! Dia meloncat bangun, kedua tangan dikepal dan siap untuk menyerang,
akan tetapi agak kaku karena tangan kanannya tertutup oleh tangan baju yang terlalu panjang itu dan
telapak kakinya terasa nyeri dan juga geli karena kakinya telanjang dan batu-batu di tempat itu agak
runcing.
Akan tetapi hanya beberapa detik saja dia memasang kuda-kuda yang kaku itu karena dia melihat pemuda
itu sudah menaruh telunjuknya di depan hidung sambil berkata, “Cih, tidak tahu malu, ya? Lihat jubah itu
kedodoran!”
Tentu saja Ceng Ceng sudah cepat menggunakan kedua tangannya untuk menutupi depan jubahnya dan
dia tidak berani lagi maju menyerang karena begitu dia menyerang, tentu jubah itu akan terlepas, terbuka
dan... akan tampaklah semua bagian depan dari tubuhnya. Dia membanting-banting kakinya, akan tetapi
segera menjerit dan mengaduh karena kakinya menimpa batu runcing. Ingin dia menjerit, ingin dia
menangis dan dengan mata terbelalak penuh kemarahan dia memandang wajah pemuda itu.
Pemuda itu lalu enak-enak duduk lagi di tepi sungai, membelakangi Ceng Ceng dan sambil melanjutkan
makan ayam panggang dia mencurahkan perhatiannya kepada pancingnya, seolah-olah Ceng Ceng tidak
ada di belakangnya atau bahkan seolah-olah di dunia ini tidak ada seorang manusia lain kecuali dia dan
pancingnya!
Ceng Ceng makin panas perutnya. Dia memutar otaknya dan teringat akan cerita tentang jai-hwa-cat, yaitu
penjahat berkepandaian tinggi yang kerjanya hanya menculik dan memperkosa seorang gadis lalu
membunuhnya. Dia bergidik. Kiranya pemuda itu seorang penjahat jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga)!
Dia terjatuh ke dalam tangan seorang penjahat keji.
Diam-diam selagi pemuda itu membelakanginya, dia meraba-raba tubuhnya, memeriksa dan merasakan
keadaan tubuhnya. Hatinya lega karena dia merasa yakin bahwa dia belum ternoda. Akan tetapi berapa
lama lagi? Dan dia sudah ditelanjangi oleh pemuda itu, jari-jari tangan pemuda itu telah menggerayangi
tubuhnya ketika menanggalkan semua pakaiannya, bahkan sepatunya, kemudian mengganti dengan jubah
itu! Pemuda kurang ajar! Pemuda yang harus mampus!
Makin dipikir, makin dikenang, makin panas rasa perutnya. Dia lalu merobek pinggiran jubah itu sehingga
merupakan tali yang cukup panjang, kemudian selain menggunakan sebagian tali untuk ikat pinggang, juga
dia mengikat lubang-lubang kancing jubah itu sehingga tidak ada bahaya terbuka lagi kalau kedua
tangannya digerakkan. Setelah itu lalu digulungnya lengan bajunya sampai ke siku agar tidak menghalangi
gerakannya oleh karena dia sudah mengambil keputusan pasti untuk menghajar jai-hwa-cat itu!
Menghajarnya sampai mati!
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah selesai persiapannya, dia lalu melangkah perlahan dan seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang.
Dia sudah memasang kuda-kuda dan kedua tangannya sudah terkepal di pinggang, siap untuk menerjang
dan memukul. Dia harus menyerang dengan jurus apa? Bagian mana yang harus dipukulnya dan
sebaiknya memukul dengan tangan terbuka atau terkepal?
Dia mempertimbangkan, memilih-milih bagian mana yang paling ‘lunak’ dan yang paling tepat. Karena dia
yakin bahwa pemuda itu tentu pandai, maka dia harus dapat berhasil menyerang secara ‘tek-sek’, yaitu
satu kali ‘tek’ (suara pukulan) hasilnya ‘sek’ (mati), atau sekali pukul mati! Tengkuknya yang sebagian
tertutup rambut yang hitam lebat dan dikuncir tebal itu? Ah, kuncir itu terlalu tebal dan ini bisa menahan
pukulannya.
Punggungnya? Pemuda itu memakai baju dengan berlapis jubah tebal, ini pun tidak menguntungkan kalau
dia memukul punggung, apa lagi menotok karena totokannya bisa terhalang oleh tebalnya pakaian.
Kepalanya! Ya, ubun-ubun kepalanya itu. Biar pun pemuda itu rambutnya hitam dan tebal, akan tetapi
kiranya rambut itu tidak cukup kuat untuk melindungi ubun-ubun yang lemah.
Sekali pukul ubun-ubunnya, pasti beres! Apa lagi kalau dia mengerahkan sinkang-nya, menggunakan jari
tangan terbuka mencengkeram, tentu jari-jari tangannya akan menancap di ubun-ubun itu. Crottt, dan
otaknya akan muncrat keluar! Ceng Ceng bergidik ngeri juga. Belum pernah dia melakukan hal sekejam
itu. Membayangkan otak kepala manusia berlepotan di jari tangannya, dia sudah mau muntah.
Ah, ditotok saja jalan darah di lehernya. Totokannya biasanya jitu dan sekali totok tentu pemuda itu akan
tak berdaya lagi, kalau sudah begitu, terserah nanti bagaimana dia akan membunuhnya. Tangannya sudah
dibuka jarinya, kedua jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan sudah menegang sedangkan tiga jari
lainnya ditekuk, siap untuk melakukan totokan yang jitu selagi pemuda itu tekun memperhatikan
pancingnya.
“Apakah sebelum membunuhku, kau tidak lebih dulu menanyakan di mana kusimpan pakaianmu? Kalau
aku mati dan kau tidak dapat menemukan pakaianmu, apakah kau akan melakukan perjalanan seperti itu?”
Ucapan pemuda itu membuat dia lemas! Lemas dan jengkel. Jari tangan yang sudah menegang menjadi
lemas kembali.
“Jai-hwa-cat! Manusia cabul! Mata keranjang! Laki-laki tak tahu malu! Ceriwis dan muka tebal!”
Pemuda itu menoleh, tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi yang kuat dan putih bersih, matanya
bersinar-sinar, wajahnya berseri. “Hayo, apa lagi? Kalau masih ada, keluarkan semua, kalau perlu boleh
melihat kamus mencari kata-kata makian. Tidak baik menyimpan penasaran.”
Bagaikan api disiram bensin, kemarahan Ceng Ceng makin berkobar, telunjuknya menuding. “Kau... kau...
babi celeng monyet anjing kerbau! Kau manusia iblis, setan, siluman eh, apa lagi... eh, keparat jahanam!
Hayo kembalikan pakaianku, kalau tidak...”
“Kalau tidak mengapa sih?”
“Kalau tidak... akan kuhancurkan kepalamu, kurobek dadamu, kukeluarkan isi perutmu, kupotong lehermu,
kaki dan tanganmu...!”
“Heh-heh, memangnya aku ayam? Terlalu kejam bagi seorang dara secantik engkau!”
Karena kata-kata dan sikap pemuda itu mengejeknya, Ceng Ceng tidak dapat menahan kemarahan
hatinya lagi, “Kembalikan pakaianku!”
“Nanti dulu! Kalau kau minta dengan cara kurang ajar seperti itu, jangan harap aku akan
mengembalikannya!”
“Apa? Harus bagaimana aku minta?”
“Yahhh, dengan kata-kata yang sopan dan manis, namanya saja orang minta-minta.”
“Aku bukan pengemis!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Akan tetapi engkau minta sesuatu, harus yang sopan dan manis.”
“Manis hidungmu! Mampuslah!”
Ceng Ceng sudah tak dapat lagi menahan lebih lama. Dia menyerang dengan dahsyat, menggunakan dua
tangannya memukul meski pun kakinya berjingkrak karena telanjang.
“Hehhhh... waaahhh... luput!”
“Haaiiiiiitttt...!” Tubuh Ceng Ceng sudah menerjang maju, kakinya menendang menyusul hantamannya
mengarah dada.
“Wuuuussss...!”
“Hampir saja... tapi luput!”
“Hyaaatttttt...!” Kemarahan membuat Ceng Ceng menyerang sehebatnya, kini tangan kirinya
mencengkeram ke mata lawan, disusul tangan kanannya menyodok lambung. Pukulan yang berbahaya
sekali.
“Bagus sekali, sayang gagal...!”
Bertubi-tubi Ceng Ceng menyerang, mengeluarkan jurus-jurus paling ampuh yang pernah dipelajarinya,
terus mengejar ke mana pun pemuda itu loncat mengelak, namun tak pernah serangannya berhasil.
Gerakan pemuda itu luar biasa gesitnya. Dan tiba-tiba Ceng Ceng mengaduh-aduh, lalu menghentikan
serangannya dan pergi dari tempat yang penuh batu kerikil runcing itu ke tempat tadi. Kiranya pemuda itu
mengelak sambil memancing gadis itu mengejarnya ke tempat yang penuh dengan batu kerikil runcing.
Tentu saja kaki Ceng Ceng menjadi korban.
Semenjak kecil, dara itu tidak pernah mempergunakan kakinya bertelanjang menginjak sesuatu, tentu saja
telapak kakinya menjadi amat halus, kulitnya tipis dan perasa sekali. Tanpa sepatu, kakinya itu merupakan
bagian tubuh yang lemah sekali.
Kini dia memandang pemuda itu dengan mata terbelalak. Lagak dan kata-kata pemuda itu, caranya
mengelak dan mengejeknya saat semua serangannya gagal, mengingatkan dia akan seseorang.
Melihat dara itu tidak menyerangnya lagi, pemuda itu berkata seperti kepada diri sendiri, “Melihat orang
yang mengamuk masih mending, asal jangan melihat orang menangis. Menyebalkan!” Tiba-tiba tubuhnya
lenyap begitu saja dan Ceng Ceng melongo.
Kiranya pemuda itu adalah iblis! Hanya iblis saja yang pandai menghilang seperti itu. Akan tetapi, dia
belum pernah bertemu dengan iblis, dan menurut dongeng, iblis hanya muncul di waktu malam. Sekarang,
masih siang begini iblis macam apa muncul dalam ujud seorang pemuda tampan?
“Nih, pakaianmu!”
Tiba-tiba terdengar suara dari atas dan ketika Ceng Ceng memandang ke atas, kiranya pemuda itu
nongkrong di atas dahan pohon dan sedang mengeluarkan pakaiannya dari bungkusan, kemudian
melemparkan pakaiannya kepadanya.
Ceng Ceng menerima gulungan pakaiannya itu, lengkap pakaian dalam dan luar, dan sepatunya, akan
tetapi pakaian petani yang dipakai menyamar, yang dipakai di luar pakaiannya sendiri, tidak ada. Dia tidak
pula memperhatikan hal ini, bahkan kini pakaian itu hanya dipegangnya saja dengan kedua tangannya
karena dia memandang pemuda itu yang meloncat turun dengan gerakan yang membuat dia kaget dan
kagum.
Pantas saja seperti menghilang, kiranya pemuda itu memiliki gerakan yang luar biasa ringan dan cepatnya.
Akan tetapi, bukan itu yang membuat dia bengong dan seperti orang terpesona, tetapi buntalan yang
dibawa turun oleh pemuda itu. Teringat benar bahwa dia pernah melihat buntalan itu, bahkan pernah
melemparkannya ke dalam sungai. Melemparkan buntalan! Dari perahu!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Heiiiii...!” Tiba-tiba karena teringat dia menjerit sambil menudingkan telunjuknya ke arah pemuda itu.
Tepat pada saat itu, sambil memegang buntalan pemuda itu sedang berjongkok untuk memeriksa apakah
pancingannya mengena. Ketika ditunjuk dan mendadak gadis itu menjerit, dia kaget sampai terloncat.
“Wah, kau ini gadis aneh. Ada apa lagi hingga kau menjerit-jerit seperti melihat setan?” dia mengomel.
“Bukan melihat setan, melainkan melihat engkau! Engkau tukang perahu keparat itu! Benar, matamu,
senyummu...”
“Bagus dan menarik, ya?”
“Menarik hidungmu! Hayo mengaku! Kaulah yang menyamar sebagai tukang perahu itu, bukan?”
“Kalau tidak mengaku, mengapa?”
“Mengaku atau tidak, tetap saja aku sekarang mengenalmu. Buntalan itu! Aku sudah membuangnya ke
dalam sungai dan kau meloncat mengejar dan menyelam.”
“Kau memang gadis liar dan galak!”
“Dan kau... kau meninggalkan perahu, membuat perahu hanyut dan terguling. Dan enci-ku..., ehhh, enciku...
dia tentu celaka...!”
“Hemmm, semua gara-gara engkau juga! Mengapa engkau begitu jahat dan kejam, membuang buntalan
orang? Sepatutnya engkau yang harus mati tenggelam, bukan kakakmu yang baik hati dan manis budi dan
cantik jelita itu.”
“Tidak, justru engkaulah yang meninggalkan perahu sampai perahu hanyut!” Ceng Ceng membantah,
marah.
“Jika kau tidak begitu kejam membuang buntalanku, apakah aku meninggalkan perahu? Kau saja yang tak
mengenal budi orang!” Pemuda itu mengomel lalu mengambil sebuah topi caping lebar dari buntalan besar
dan mengebut-ngebutkannya.
Melihat caping itu, Ceng Ceng semakin kaget dan memandang dengan matanya yang indah itu terbelalak
lebar. “Heiii...!”
“Ihhhh!” Pemuda itu mencela, terperanjat. “Apa engkau sudah gila, menjerit-jerit tidak karuan?”
“Capingmu itu! Kau adalah orang yang dulu mengganggu ketika sang... eh, kakakku hendak mandi!”
Pemuda itu menoleh, tersenyum mengejek dan berkata, “Benarkah?”
“Ternyata kau memang kurang ajar, agaknya sejak dahulu engkau membayangi kami, ya?”
“Kalau kau yang minta aku pergi ketika itu, aku tentu tidak sudi. Akan tetapi Sang Puteri Syanti Dewi, dia
begitu cantik, begitu halus, sayang, gara-gara kenakalanmu dia sampai lenyap!”
“Gara-gara kekurang ajaranmu!” Ceng Ceng membantah.
“Gara-gara engkau!”
“Engkau!”
“Hemmm, engkau ini hanya seorang dayang pelayan, besar lagak amat!” pemuda itu mengejek.
Sepasang mata yang sudah terbelalak itu mengeluarkan sinar berapi. “Apa katamu? Dayang pelayan?
Keparat bermulut lancang dan busuk!”
Ceng Ceng melepaskan gulungan pakaiannya. Saking marahnya dia sudah menerjang lagi dengan
pengerahan tenaga sekuatnya dan mengeluarkan jurus yang paling ampuh. Akan tetapi, dengan gerakan
dunia-kangouw.blogspot.com
yang aneh dan sigap, pemuda itu berhasil menangkap kedua pergelangan tangannya dan dia merontaronta
namun tidak bisa melepaskan kedua tangannya yang terpegang.
Ceng Ceng marah sekali, kakinya menendang-nendang namun selalu dapat ditangkis oleh kaki pemuda
itu. Betapa pun juga, memegang seorang dara yang liar seperti itu sama dengan memegang seekor
harimau betina, salah-salah bisa terkena cakarnya. Maka pemuda itu berkata sungguh-sungguh, “Gadis
liar! Kalau kau tak menghentikan kegalakanmu, terpaksa aku akan menghukummu dengan ciuman-ciuman
di mulutmu!”
Diancam pukulan atau maut, agaknya Ceng Ceng takkan merasa takut. Akan tetapi diancam ciuman, hal
yang sama sekali belum pernah dialaminya biar dalam mimpi sekali pun, meremang seluruh bulu di
tubuhnya, dan otomatis dia menghentikan gerakan tubuhnya. Melihat ini, pemuda itu tertawa dan sekali
mendorong, tubuh Ceng Ceng terlempar dan terbanting ke atas tanah.
“Huhh, biar belajar ilmu silat lagi sampai kau menjadi nenek-nenek keriput, tak mungkin engkau dapat
melawanku.” Pemuda itu mengejek dengan nada suara sombong sekali.
Ceng Ceng yang terduduk di atas tanah itu tak bergerak, hati dan pikirannya terasa sakit bukan main.
Pemuda ini seorang pemuda yang tampan dan berkepandaian begitu tinggi, dan kini dia dapat mendugaduga
bahwa dia yang terseret arus sungai tentu telah ditolong oleh pemuda ini, tentu dalam keadaan
hampir mati dan basah kuyup. Pemuda aneh ini, yang tampan dan gagah, tentu telah mengeluarkan air
dari perutnya dan oleh karena pakaiannya basah kuyup, tentu telah menanggalkan pakaian itu,
memakaikan jubahnya kepadanya. Dan pakaiannya itu, sampai sepatu-sepatunya, dijemur sampai kering,
mungkin setelah dicuci dulu karena terkena lumpur.
Dan ketika menanggalkan semua pakaiannya, pemuda itu jelas tidak melakukan sesuatu yang melanggar
susila, kalau demikian halnya, tidak akan begini keadaannya. Pemuda yang aneh, tampan, gagah, kurang
ajar akan tetapi juga baik sekali. Justru kebaikan pemuda itulah yang membuat hatinya menjadi makin
sakit, karena betapa pun baik dan tampan serta gagahnya, pemuda itu kini ternyata tidak menghargainya,
menghinanya, memandang rendah mengatakannya pelayan dan biar sampai menjadi nenak-nenek keriput
takkan mampu melawannya. Dan pemuda itu sudah dua kali mengalahkannya.
Dia jengkel sekali, marah sekali. Melawan dengan tenaga, tidak mampu, bahkan kalah jauh sekali.
Melawan dengan maki-makian, ternyata pemuda itu pun pandai sekali bicara, bahkan setiap kata-katanya
menusuk perasaan! Dia kalah segala-galanya!
Perasaan ini membuat dia terasa begitu nelangsa, teringat dia akan kakeknya, karena kalau ada kakeknya,
tentu tidak ada manusia berani bersikap begini kurang ajar kepadanya. Selama hidupnya, ketika kakeknya
masih ada, dia belum pernah mengalami penghinaan seperti ini. Juga kalau ada Syanti Dewi yang biar pun
halus dan lemah namun amat berwibawa itu, agaknya dia ada yang membela. Sekarang, dia seorang diri
dan dihina orang tanpa mampu melawan sedikit pun.
Teringat akan ini, biar pun pada dasarnya Ceng Ceng bukan seorang dara yang cengeng, bahkan amat
keras hati dan pantang menangis karena iba diri, kini tak dapat menahan tangisnya dan dia menundukkan
muka, menutupi kedua matanya yang mengalirkan air mata.
Siapakah pemuda tampan yang amat lihai itu? Dia ini bukan lain adalah Ang Tek Hoat! Seperti telah
diceritakan di bagian depan, pemuda ini semenjak meninggalkan ibunya di puncak Bukit Angsa di lembah
Huang-ho, telah banyak mengalami hal yang hebat-hebat. Selama dua tahun dia menjadi murid Sai-cu Lomo
dan memperoleh ilmu kepandaian yang amat tinggi, kemudian petualangannya sebagai Si Jari Maut
dengan menggunakan nama Gak Bun Beng untuk merusak nama musuh pembunuh ayahnya yang sudah
meninggal itu dan kemudian setelah dia dikalahkan oleh Puteri Milana yang membuat dia malu dan
penasaran sekali, dia bertemu dengan Kong To Tek bekas tokoh Pulau Neraka yang telah mewarisi kitabkitab
peninggalan dua orang Iblis Tua dari Pulau Neraka, yaitu Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin.
Karena Kong To Tek menderita sakit ingatan, tokoh ini yang melihat wajah Tek Hoat mirip sekali dengan
Wan Keng In yang telah meninggal, mengira bahwa dia berhadapan dengan Wan Keng In dan
menyerahkan pusaka-pusaka peninggalan dua orang Iblis Tua itu kepada Tek Hoat, berikut pedang pusaka
Cui-beng-kiam yang ampuh dan catatan pembuatan obat perampas ingatan yang amat luar biasa. Karena
mencobakan obat perampas ingatan dan obat penawarnya kepada Kong To Tek, maka kakek ini waras
kembali dan melihat dia tertipu, dia hendak membunuh Tek Hoat, namun kalah dan bahkan dia yang
terbunuh oleh Tek Hoat yang telah menjadi lihai sekali!
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan hati girang Tek Hoat yang telah mewarisi ilmu kepandaian hebat, bahkan masih ada dua buah
kitab peninggalan Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin yang dianggap gurunya dan yang belum
dilatihnya, pemuda ini lalu pergi hendak pulang ke rumah ibunya di puncak Bukit Angsa, membawa dua
buah kitab dan sebatang pedang.
Kini dia tidak sudi lagi menyamar dengan nama Gak Bun Beng. Dia telah menjadi seorang yang berilmu
tinggi, dan dia menganggap bahwa di dunia ini tidak akan ada yang dapat melawannya, maka dia berhak
menggunakan namanya sendiri dan hendak mencari nama besar dengan cara yang akan menimbulkan
kegemparan di dunia!
Akan tetapi alangkah kecewa hatinya sesudah dia tiba di puncak Bukit Angsa, dia mendapatkan rumah
ibunya kosong dan ibunya tidak berada lagi di rumah itu. Bahkan melihat bekas-bekasnya, agaknya sudah
lama ibunya meninggalkan rumah itu tanpa meninggalkan pesan apa pun dan kepada siapa pun. Tek Hoat
menjadi jengkel dan marah kepada ibunya, lupa bahwa dialah yang telah melanggar janji. Ketika pergi
dahulu, dia berjanji untuk pulang menengok ibunya setiap tahun, akan tetapi dia telah pergi hampir empat
tahun lamanya dan baru ini dia pulang!
Terpaksa dia pergi meninggalkan Bukit Angsa lagi dengan tujuan mencari ibunya, dan terutama sekali
mencari nama besar di dunia kang-ouw. Pertama-tama dia harus mengunjungi Bu-tong-pai dan memberi
hajaran kepada para tokoh Bu-tong-pai yang telah berani menghinanya empat tahun yang lalu! Kedua, dia
akan mencari Puteri Milana di kota raja dan akan menantangnya untuk menebus kekalahannya dua tahun
yang lalu! Kemudian dia akan membuat geger dunia kang-ouw dan minta diakui sebagai jagoan nomor
satu, lalu dia akan menantang Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman Majikan Pulau Es!
Dengan cita-cita besar itu, pergilah Tek Hoat dari Bukit Angsa. Akan tetapi sebelum semua cita-citanya
terkabul, dia bertemu dengan rombongan Pek-lian-kauw dan dalam bentrokan kecil antara dia dengan para
tokoh Pek-lian-kauw, dia telah memperlihatkan kepandaiannya yang dahsyat. Para tokoh Pek-lian-kauw
tertarik, lalu membujuknya dan membawa pemuda yang masih hijau ini pergi menghadap Pangeran Tua,
yaitu Pangeran Liong Bin Ong di kota raja!
Pertemuannya dengan Pangeran Liong Bin Ong membuat terbuka mata pemuda ini bahwa jalan satusatunya
untuk mencari kedudukan tinggi, juga membuat nama besar dan melakukan kegemparan di dunia,
adalah membantu pangeran ini. Kalau sampai mereka berhasil merampas tahta kerajaan, tentu dia akan
memperoleh pangkat tinggi dan siapa tahu terdapat kesempatan baginya untuk kelak merampas mahkota
sendiri dan menjadi kaisar! Lamunan muluk-muluk ini membuat Tek Hoat untuk sementara melupakan
urusan pribadinya dan mulailah dia mengabdi kepada Pangeran Tua yang mengangkatnya menjadi
pengawal kepala dan menugaskannya mewakili pangeran ini mengadakan kontak dengan para pembantu
pangeran di luar kota raja.
Ketika Kaisar Kang Hsi melamar Puteri Syanti Dewi di Bhutan untuk diperisteri adik tirinya, Pangeran Liong
Khi Ong, adik tiri Pangeran Tua, diam-diam Pangeran Tua ini tidak setuju. Tentu saja dia tidak setuju
karena ikatan keluarga itu akan memperkuat kedudukan kaisar atau kakak tirinya sendiri di dunia barat.
Karena itulah maka diam-diam dia mengusahakan agar pernikahan itu gagal dan dia lalu mengirim
sogokan dan bujukan kepada Raja Muda Tambolon, seorang pemberontak di daerah Bhutan untuk
menghalangi diboyongnya Puteri Syanti Dewi di daratan besar. Bahkan dia mengutus orang
kepercayaannya yang baru, Ang Tek Hoat untuk menyelidiki ke Bhutan dan membantu usaha penggagalan
pernikahan itu.
Demikianlah singkatnya keadaan Ang Tek Hoat yang muncul di Bhutan sebagai seorang pemuda yang
menyembunyikan mukanya di balik caping lebar ketika Puteri Syanti Dewi hendak mandi. Kemudian
melihat bahwa pasukan Raja Muda Tambolon berhasil, dia diam-diam membayangi sang puteri bersama
Ceng Ceng yang melarikan diri.
Dia pula yang menyamar sebagai pedagang garam untuk membantu dua orang gadis pelarian itu lolos,
kemudian dia menyamar sebagai tukang perahu. Semua itu dilakukan agar dia dapat mengamat-amati dua
orang gadis itu, dan terutama sekali agar Puteri Syanti Dewi tidak sampai lolos dan dapat mencapai kota
raja. Kalau saatnya tiba, dia akan ‘menggiring’ sang puteri ini dan dihaturkan kepada majikannya,
kemudian terserah keputusan Pangeran Liong Bin Ong.
Hanya dia harus mengakui bahwa diam-diam dia tertarik dan terpesona oleh kecantikan dan sikap halus
sang puteri, sehingga diam-diam membayangkan betapa akan gembiranya kalau dia dapat menduduki
dunia-kangouw.blogspot.com
pangkat tinggi, kalau mungkin kaisar, dengan seorang isteri seperti puteri Bhutan ini! Baru sekali ini Tek
Hoat merasa tertarik kepada seorang wanita, dan biasanya dia memandang rendah kaum wanita.
Akan tetapi, rencananya menjadi berantakan karena kenakalan Ceng Ceng yang melemparkan
buntalannya ke sungai. Padahal buntalan itu berisi pedang Cui-beng-kiam! Tentu saja dia tidak mau
kehilangan pedang itu dan cepat meloncat ke air sehingga perahu itu hanyut sendiri. Dia melakukan
pengejaran sambil berenang secepatnya. Namun tetap saja tidak dapat mencegah terjadinya tabrakan
sehingga perahu itu terguling.
Cepat dia meloncat ke darat dan lari di sepanjang tepi sungai dan akhirnya dia melihat Ceng Ceng dalam
keadaan pingsan hanyut di air. Dia segera menolong gadis itu, namun tidak berhasil menolong Puteri
Syanti Dewi, sama sekali dia tidak mimpi bahwa puteri itu telah ditolong oleh seorang yang namanya akan
membuat dia terkejut seperti melihat mayat hidup, yaitu Gak Bun Beng musuh besarnya, pembunuh
ayahnya yang telah dianggapnya mati itu.
Tek Hoat yang memiliki watak amat luar biasa, kejam, dingin, tak mengenal sedikit pun perasaan iba,
penuh dendam dan penuh kebencian terhadap manusia umumnya, hanya mengejar keuntungan diri pribadi
saja, betapa pun juga bukanlah seorang yang mudah hanyut oleh nafsu birahi.
Dia seorang pemuda yang kuat luar dalam, kuat pula perasaannya yang seperti membeku dingin sehingga
ketika dia menolong Ceng Ceng, mengempiskan perut dara itu yang penuh air, kemudian menanggalkan
pakaian Ceng Ceng karena pakaian itu basah kuyup. Melihat bentuk tubuh yang sedang mekar dan
menggairahkan itu, dia sama sekali tidak terangsang! Bahkan secara kasar dia menolong Ceng Ceng
karena marah, menganggap gadis ini yang menghancurkan rencananya sehingga dia terpisah dari Syanti
Dewi. Kemudian setelah melihat nyawa Ceng Ceng tertolong, dia mengenakan jubahnya pada gadis itu
dan menangkap ayam, memanggangnya, kemudian dia memancing ikan. Selanjutnya kita telah
mengetahui apa yang terjadi.
Kini, melihat Ceng Ceng menangis, Tek Hoat mengerutkan alisnya. Hatinya seperti ditusuk-tusuk atau
diremas-remas. Memang ada keanehan pada diri Tek Hoat, keanehan yang seolah-olah tidak normal, yaitu
dia tidak tahan melihat orang menangis, atau lebih tepat, melihat wanita menangis! Mungkin saja hal ini
timbul dan menjadi wataknya karena di waktu dia masih kecil, sering sekali dia melihat ibunya menangis
sesenggukan dan terisak-isak dengan sedihnya, bahkan hampir setiap malam dia melihat ibunya menangis
seorang diri dan kalau ditanya kenapa menangis, ia hanya menggeleng kepalanya.
Boleh jadi Tek Hoat merupakan pemuda keras hati dan dingin yang tiada keduanya di dunia, apa lagi
setelah dia mempelajari ilmu-ilmu mukjijat dari dua Iblis Tua Pulau Neraka, wataknya menjadi makin tidak
lumrah. Namun kesan mendalam karena tangis ibunya setiap malam itu masih melekat di hatinya sehingga
kini, melihat Ceng Ceng menangis, dia seolah-olah mendengar ibunya menangis dan hatinya seperti
diremas-remas!
“Aihh, kenapa kau menangis?” tanyanya sambil membalikkan tubuh, duduk menghadapi gadis itu.
Ditanya dengan suara yang halus seperti itu, makin menjadi-jadi tangis Ceng Ceng, akan tetapi segera
ditahannya ketika teringat bahwa yang menegurnya adalah pemuda yang memanaskan dan
menjengkelkan hatinya itu.
Dia mengintai dari celah-celah jari tangannya dan dengan heran dia melihat betapa pemuda itu amat pucat
wajahnya, pandang matanya sayu dan amat berduka, agaknya menderita sekali melihat dia menangis!
“Sudahlah, mengapa menangis? Aku tidak akan mengganggumu dan kalau tadi kau tersinggung, sudahlah
kau maafkan aku dan jangan menangis...” Suaranya halus dan lunak, bahkan agak gemetar!
Hal ini mengherankan hati Ceng Ceng sehingga otomatis tangisnya berhenti. Teringat dia akan kata-kata
pemuda itu tadi ketika dia menyerangnya, “Melihat orang mengamuk masih mending, asal jangan melihat
orang menangis!”
Agaknya pemuda ini memiliki ‘kelemahan’, pikirnya. Yaitu tidak tahan melihat orang menangis! Teringat
akan ini, Ceng Ceng lalu menangis lagi sesenggukan! Diam-diam dia mengintai dari celah-celah jari
tangannya, melihat betapa pemuda itu memejamkan matanya, menggigit bibirnya kemudian berkata
dengan lantang, “Harap kau jangan menangis!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi Ceng Ceng menangis terus, memaksa diri menangis sungguh pun kini tidak ada air matanya
yang keluar, karena memang tangisnya tangis buatan, disembunyikan di balik kedua tangannya. Karena
dia tertarik melihat sikap pemuda yang aneh itu dia lupa akan kemarahan dan kedukaannya, maka tentu
saja sukar baginya untuk benar-benar menangis.
Tek Hoat makin tersiksa. Suara sesenggukan itu persis suara ibunya di waktu malam. “Nona, kau maafkan
aku dan jangan menangis. Kau lihat aku tidak melakukan sesuatu kepadamu, bukan? Kalau aku berniat
buruk, betapa mudahnya aku memperkosamu ketika kau pingsan. Akan tetapi aku tidak berniat buruk...”
“Uhuuuu... huuhhh... huuuu...!” Ceng Ceng memperhebat tangisnya dan dari celah-celah jari tangannya dia
melihat betapa pemuda itu pun makin hebat penderitaannya. “Kau... kau... telah menanggalkan pakaianku,
engkau telah menelanjangi aku, berarti engkau telah menghinaku uh-hu-huuu...!”
“Nanti dulu, jangan menangis, nona. Memang benar aku telah menanggalkan semua pakaianmu, kemudian
mengenakan jubahku ini kepadamu. Akan tetapi, kalau tidak begitu, habis bagaimana? Pakaianmu basah
kuyub, engkau terancam bahaya maut dan satu-satunya cara untuk menolongmu hanya mengeluarkan air
dari perutmu, kemudian mengeringkan pakaianmu. Aku melakukan semua itu hanya untuk menolongmu,
untuk menyelamatkan nyawamu...”
“Uhu-hu-hu, bohong... huuuu... bagaimana pun juga, kau telah menghinaku dan setelah kau melihat aku
telanjang, bagaimana aku tidak akan malu setengah mati? Bagaimana aku dapat bertemu pandang
denganmu? Uhu-hu-huuu...”
“Kalau begitu jangan memandang aku...”
Ceng Ceng menangis makin hebat sampai menggerung-gerung. Dari celah-celah jari tangannya dia
melihat benar betapa pemuda itu menjadi makin gelisah dan bingung, bahkan kemudian berkata,
“Sudahlah, jangan menangis. Sekarang apa yang harus kulakukan untuk menebus dosa, asal kau jangan
menangis...”
“Kau harus berjanji... tidak, harus bersumpah...!”
“Baiklah, aku bersumpah. Bersumpah bagaimana?”
“Keluarkan sapu tanganmu, untuk saksi sumpah.”
Tek Hoat yang ingin agar dara itu benar-benar menghentikan tangisnya, maka terpaksa dia mengeluarkan
sapu tangannya. Sesungguhnya, pemuda ini bukanlah seorang yang begitu bodoh. Akan tetapi dia benarbenar
tidak tahan mendengar dan melihat wanita menangis, dan kalau saja bukan Ceng Ceng, tentu dia
sudah menggerakkan tangan membunuhnya. Dia tidak bisa melakukan itu, dia membutuhkan dara ini.
Bukankah dara ini sahabat baik Puteri Syanti Dewi? Dengan perantaraan Ceng Ceng ini dia masih ada
harapan untuk mendapatkan puteri itu, kalau saja puteri itu masih hidup, dan dia yakin masih karena dia
tidak melihat mayatnya.
“Baik, inilah sapu tanganku,” katanya mengeluarkan sapu tangan, tidak melihat betapa Ceng Ceng
menggosok-gosok keras kedua matanya sehingga menjadi makin merah dan basah air mata ketika dia
menurunkan tangan menyambut sapu tangan itu.
“Taruh tanganmu di sapu tangan ini dan bersumpahlah!” kata Ceng Ceng mengulurkan sapu tangan di
tangannya. Terpaksa Tek Hoat meletakkan tangannya di atas sapu tangan yang berada di telapak tangan
Ceng Ceng.
“Bersumpahlah bahwa kau tidak akan menggangguku,” kata dara itu.
“Aku bersumpah tidak akan mengganggumu,” Tek Hoat mengulang.
“Dan kau tidak akan memandangku.”
“Hehhh...? Habis bagaimana? Aku kan punya mata!” pemuda itu membantah.
“Kalau kau memandangku, aku akan teringat bahwa aku pernah telanjang di depan matamu dan aku akan
mati karena malu.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Habis bagaimana? Apakah kalau bertemu denganmu aku harus memejamkan mata?”
“Terserah, memejamkan mata atau membalik belakang atau menutupi mata dengan sapu tangan,
pendeknya kau tidak boleh melihat aku!”
“Baiklah...” Di dalam hatinya Tek Hoat memaki.
“Bersumpahlah bahwa kau selalu akan menutupi atau memejamkan mata jika bertemu denganku.”
“Aku berjanji akan selalu menutupi atau memejamkan mataku kalau bertemu.”
“Dan kau akan selalu menurut kata-kataku, kau akan mengajarkan ilmu silatmu yang tinggi kepadaku, dan
engkau akan mencarikan enci Syanti sampai bertemu, dan engkau akan...”
“Wah, tidak jadi saja kalau begitu!” Tek Hoat lantas berseru keras sambil menurunkan tangannya dari sapu
tangan. “Masa aku harus bersumpah begitu banyak? Pula, tidak mungkin aku mengajarkan ilmu silat, dan
tidak mungkin harus menurut segala kata-katamu.”
Melihat ini Ceng Ceng maklum bahwa dia sudah terlalu jauh dalam tuntutannya, maka cepat dia berkata,
“Baik, kalau begitu ulangi dua sumpahmu itu saja, bersumpah bahwa kalau sampai melanggarnya, engkau
akan mati muda dan sapu tangannya ini menjadi saksinya!”
Karena ingin lekas beres agar dara itu tidak rewel lagi, dia berkata, “Akan tetapi sebagai imbalannya, kau
pun harus bersumpah bahwa kau tidak akan menangis lagi!”
“Baik, aku bersumpah takkan menangis lagi kalau kau sudah bersumpah.”
Tek Hoat menarik napas panjang dan meletakkan tangannya di atas sapu tangan lalu berkata, “Aku...”
“Sebutkan namamu!”
“Aku... Ang Tek Hoat, bersumpah bahwa aku tidak akan mengganggumu...”
“Sebutkan namaku, Lu Ceng!”
“...bahwa aku tidak akan mengganggu Lu Ceng, dan bahwa aku akan selalu menutupi atau memejamkan
mata kalau bertemu dengan Lu Ceng dan kalau aku melanggar sumpah ini, biarlah aku mati muda dan
sapu tangan ini menjadi saksi!”
Ceng Ceng girang sekali lalu menyimpan sapu tangan itu di sakunya. “Heiii, kau mau melanggar sumpah?
Hayo pejamkan mata atau, membalik! Aku mau berganti pakaian!”
Tek Hoat yang terlupa dan membuka mata memandang tadi, cepat-cepat memejamkan mata dan memutar
tubuhnya membalik, diam-diam dia mengutuk diri sendiri mengapa dia mau bersumpah seperti itu. Akan
tetapi, dia sudah terlanjur bersumpah dan memang dia memerlukan gadis ini untuk dapat bertemu kembali
dengan Syanti Dewi dan melaksanakan cita-citanya terhadap puteri Bhutan itu.
Kalau segala itu sudah tercapai, membunuh gadis ini apa sih sukarnya? Biarlah sementara ini dia
mengalah dulu. Pula, dia juga merasa kurang enak dan tidak aman kalau harus melanggar sumpahnya.
Siapa tahu, sumpah itu benar-benar manjur dan kalau dilanggarnya dia akan mati muda! Dia bergidik!
Nanti dulu, ya! Dia masih memiliki banyak cita-cita yang belum terlaksana. Pokoknya hanya terletak pada
sapu tangan itu. Jika kelak dia membunuh gadis ini, atau setidaknya merampas kembali sapu tangannya,
berarti sumpahnya sudah punah karena tidak ada lagi saksinya!
Dengan hati gembira Ceng Ceng segera mengganti jubah yang kedodoran itu dengan pakaiannya sendiri,
menyimpan sapu tangan di balik kutangnya, dan sambil berganti pakaian dia memandang punggung
pemuda itu dengan tersenyum. Dia menang! Tak disadarinya lagi, dia memberes-bereskan pakaian dan
rambutnya agar kelihatan patut. Dia mempersolek diri untuk pemuda itu tanpa disadarinya!
“Aku sudah selesai!” akhirnya dia berkata, ingin melihat pemuda itu memandangnya dengan kagum.
Setelah mengenakan pakaiannya sendiri, tentu dia akan tampak lebih cantik!
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak menoleh, bahkan melanjutkan memancing ikan dan tiba-tiba
mengangkat tangkai pancingnya dan seekor ikan lele yang gemuk menggelepar-gelepar.
Ceng Ceng kecewa, akan tetapi segera teringat. Celaka! Pemuda itu tentu tidak akan memandangnya!
Karena sumpah itu! Perlu apa dia bersolek? Wah, serba berabe kalau begini. Tetapi dia tahu bahwa
pemuda ltu lebih repot lagi karena harus menghindarkan pandang matanya darinya. Biar tahu rasa dia!
Pikiran ini mengusir kekecewaannya.
“Nona Ceng...”
“Tak usah nona-nonaan. Aku biasa disebut Ceng Ceng.”
“Hemm... Ceng Ceng, apakah kau tidak lapar?” tanya Tek Hoat tanpa menoleh.
“Tentu saja.”
“Nah, ini ada sisa ayam panggang...”
“Aku tak sudi makan sisamu!”
“Kalau, begitu, ikan ini kau boleh ambil dan bakar.”
Tanpa menoleh Tek Hoat menyerahkan ikan itu yang diterima oleh Ceng Ceng dan tak lama kemudian
Ceng Ceng sudah memanggang daging ikan yang gemuk dan makan dengan lahapnya tanpa
menawarkannya kepada Tek Hoat.
Hari mulai gelap, senja telah mendatang.
“Kita harus pergi mencari majikan...”
“Apa? Siapa kau maksudkan?”
“Siapa lagi kalau bukan Puteri Syanti Dewi?”
“Tek Hoat, kau jangan sembarangan omong, dan aku bukanlah pelayannya. Mengerti?”
Tek Hoat mengangguk-angguk dan merasa girang. Tidak keliru dia mengalah kepada gadis liar ini, kiranya
sudah diaku sebagai adik angkat. Kalau dia membunuhnya, tentu sukar baginya untuk berbaik dengan
Syanti Dewi.
“Kau tergila-gila kepada kakakku, ya?”
Tek Hoat terkejut, akan tetapi hanya mengangguk. Dia masih duduk membelakangi Ceng Ceng.
“Wah, tidak enak benar begini! Masa aku bicara dengan... pinggul saja?”
Tek Hoat tersenyum akan tetapi menahan gelak tawanya. “Habis bagaimana? Aku tidak berani melanggar
sumpah.”
“Wah, kau menghadap ke sini dan memejamkan mata, masa tidak bisa?”
“Lebih tidak enak lagi buat aku, terus memejamkan mata, masa seperti orang buta.”
“Kalau begitu, tutup saja dengan sapu tangan.”
“Sapu tanganku sudah kau bawa.”
Terpaksa Ceng Ceng memberikan sapu tangannya sendiri yang berbau harum. Tek Hoat menerimanya,
menutupkan sapu tangan itu di depan matanya dan mengikatkan kedua ujung di belakang kepala,
kemudian membalik menghadapi Ceng Ceng. Gadis itu tersenyum lebar menutupi mulutnya. Lucu sekali,
seperti anak kecil bermain-main!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ceng Ceng, kau mengatakan aku tergila-gila kepada kakakmu? Memang bukan tergila-gila, melainkan
aku... aku jatuh cinta kepadanya.”
“Hemmm, bagus! Betapa pun juga, engkau bukan pemuda yang buruk rupa dan masih muda lagi. Dari
pada kakakku itu menikah dengan Pangeran Liong Khi Ong yang kabarnya sudah hampir lima puluh tahun
usianya, lebih baik menikah denganmu.”
“Benarkah?” Tek Hoat bertanya girang.
“Ya. Dan aku suka membantumu agar enci-ku suka kepadamu, asal saja engkau tidak melanggar
sumpahmu. Kalau kau melanggar, tidak saja engkau tidak dapat berkenalan dengan enci Syanti Dewi,
malah engkau akan mampus di waktu usiamu masih muda. Sayang, kan?”
Kembali dia tersenyum dan menutupi mulutnya. Dia sama sekali tidak mengira bahwa Tek Hoat dapat
melihatnya dari balik sapu tangan sutera yang tipis itu! Akan tetapi pemuda ini pun tidak berani
memandang langsung, takut akan sumpah.
“Hari telah malam, tidak mungkin kita mencari enci Syanti. Malam ini gelap tidak ada bulan. Lalu
bagaimana kita akan melewatkan malam?”
“Tak jauh dari sini, di tepi sungai ini terdapat sebuah kuil tua yang kosong. Kita dapat bermalam di situ dan
tempat itu memang tidak jauh dari Sungai Nu-kiang. Besok pagi-pagi, kita mencari lagi, mendengardengarkan,
mungkin ada nelayan yang tahu bagaimana nasib enci-mu itu.”
Lega hati Ceng Ceng. “Kalau begitu, mari kita ke kuil.” Dia bangkit berdiri dan pergi.
“Haii, bagaimana aku bisa berjalan kalau mataku ditutup begini?”
Ceng Ceng tersenyum. “Bodoh, kalau begitu mengapa tidak dibuka?”
“Kalau dibuka, mana bisa jalan bersama? Aku tidak mau berjalan dengan mata terpejam, salah-salah bisa
terjatuh ke dalam sungai!”
Ceng Ceng tertegun dan bingung. “Habis bagaimana?”
“Kecuali kalau kau sudi menuntun...”
Karena hari sudah hampir gelap dan hutan itu kelihatannya menakutkan, terpaksa Ceng Ceng menyambar
tangan pemuda itu dan menuntunnya. “Jalan ke mana?” dia bertanya.
“Terus saja menurutkan aliran sungai ini,” jawab Tek Hoat yang diam-diam merasa geli dan juga bangga
bahwa kini dia dapat membalas. Sesungguhnya dia dapat melihat melalui sapu tangan tipis itu, akan tetapi
biarlah, biar gadis itu tahu rasa, pikirnya. Betapa pun juga, gadis yang liar dan galak ini ternyata cukup
baik, mau menuntunnya.
Mereka tiba di kuil kosong. Karena ruangan yang merupakan kamar tertutup hanya sebuah, maka Ceng
Ceng berkata, “Aku tidur di sini dan biar kau tidur di mana sesukamu asal jangan di kamar ini.” Berkata
demikian dia lalu menutupkan daun pintu. Perbuatan ini sia-sia saja karena biar pintu ditutup, jendela di
kamar itu melongo tanpa daun! Lalu dia membuat api unggun dan tidak mempedulikan lagi kepada Tek
Hoat.
Pemuda ini luar biasa, pikirnya. Ilmu kepandaiannya amat tinggi dan kalau pemuda ini berwatak jahat,
sukar untuk melawannya. Dan dia... agak aneh rasanya. Mengapa hatinya tidak enak mendengar
pengakuan pemuda itu yang mencinta Syanti Dewi? Mengapa dia tidak puas? Mengapa dia tadi merasa
jantungnya berdebar-debar ketika tangannya menggandeng tangan Tek Hoat? Seolah-olah ada getaran
dari tangan itu yang menyentuh hatinya, menimbulkan rasa girang yang luar biasa. Mengapa?
Celaka, jangan-jangan dia telah jatuh hati seperti yang hanya dikenalnya dalam cerita dongeng! Itukah
cinta? Memang pemuda itu cukup segala-galanya untuk menjatuhkan hati seorang gadis, memang patut
dicinta. Betapa tidak? Tampan, gagah perkasa, lucu dan pandai mengalah. Biar pun agak kasar, akan
dunia-kangouw.blogspot.com
tetapi buktinya tidak suka melakukan pelanggaran susila. Wah, jangan-jangan aku jatuh cinta kepadanya,
bisik Ceng Ceng sebelum tidur.
Menjelang tengah malam dia terbangun karena mimpi ditelanjangi oleh Tek Hoat! Ditelanjangi selagi dia
sadar dan anehnya, dia diam saja. Setelah kelihatan pemuda itu hendak merabanya dan hendak
memeluknya, barulah dia meronta dan terbangun! Bulu tengkuknya berdiri. Kalau tadi bukan mimpi,
melainkan sungguh-sungguh terjadi, tentu dia akan membunuh pemuda itu! Atau, kalau dia kalah, dia akan
melawan mati-matian, kalau perlu mempertaruhkan nyawa untuk membela kehormatannya. Bedebah! Dia
memaki pemuda itu akan tetapi segera teringat bahwa yang dikalahkan pemuda itu hanya dalam mimpi
saja! Mungkin kenyataannya tidak demikian, buktinya Tek Hoat juga tidak melakukan sesuatu terhadap
dirinya.
Tiba-tiba dia bangkit duduk. Terdengar suling ditiup orang amat merdu dan indahnya. Akan tetapi hanya
lapat-lapat terdengar, agaknya dari jauh. Ceng Ceng membereskan rambut dan pakaiannya, kemudian
meloncat keluar melalui jendela. Biar pun tidak ada bulan malam itu, namun langit bersih terhias bintang
sejuta, cukup memberi cahaya penerangan di permukaan bumi. Dia melangkah dengan hati-hati, mencaricari,
akan tetapi ternyata Tek Hoat tidak berada di kuil itu! Ke mana perginya pemuda itu? Buntalannya pun
tidak nampak.
Ceng Ceng mulai bergidik. Ngeri dia memikirkan bahwa dia ditinggal sendirian saja di kuil tua itu. Kuil yang
biasanya dalam dongeng kalau sudah kosong dan kuno begitu selalu dihuni oleh siluman-siluman! Cepat
dia keluar dari kuil dan mendengar suara suling lapat-lapat dari depan, dia lalu melangkah maju menuju ke
arah suara itu.
Tak lama kemudian dia sudah mengintai dari balik pohon, memandang ke arah Tek Hoat yang berdiri di
tepi sungai besar. Sungai Nu-kiang! Kiranya dia telah berada di tepi sungai itu, di mana anak sungai dari
hutan memuntahkan airnya ke situ dan di tepi sungai tampak Tek Hoat yang tadi meniup suling. Kini
pemuda itu sudah berhenti meniup suling dan menyelipkan kembali sulingnya.
Yang menarik perhatian Ceng Ceng adalah sebuah perahu besar yang bergerak mendekat pantai di mana
pemuda itu berdiri, sebuah perahu yang indah dan mewah, dan tampak diterangi lampu-lampu sehingga
dia melihat beberapa orang berpakaian tentara mengiringkan seorang berpangkat tinggi yang mewah
pakaiannya ke pinggir perahu. Ceng Ceng mengintai penuh perhatian dan memasang pendengarannya
agar dapat mendengarkan apa yang akan terjadi. Dia melihat Tek Hoat memberi hormat kepada pembesar
itu dari pantai sambil berkata, “Maafkan, hamba tidak sempat melapor karena hamba tidak dapat
meninggalkan gadis itu sebelum dia tidur.”
“Hemm, Ang Tek Hoat, ceritakan semua yang terjadi. Kami sudah mendengar akan lenyapnya puteri itu,
akan tetapi belum jelas bagaimana. Apa saja yang telah kau lakukan selama melakukan tugas yang
diperintahkan saudara tua kami Liong Bin Ong?”
“Rombongan penjemput puteri itu telah berhasil dihancurkan oleh Tambolon, dan puteri itu bersama
pelayannya yang sudah diangkat saudara, berhasil meloloskan diri, akan tetapi hamba terus membayangi
mereka. Bahkan hamba telah berhasil mengajak mereka naik perahu hamba...”
“Bagus! Bagaimana puteri itu? Benarkah amat cantik?” tanya pembesar itu.
“Memang cantik jelita seperti bidadari, dan paduka beruntung sekali...”
“Aahhh, sayang sekali dia harus dikorbankan demi cita-cita,” orang setengah tua itu menghela napas.
“Akan tetapi, kalau semuanya berhasil dia akan tetap menjadi selirku! Aku Liong Khi Ong bukanlah orang
yang suka menyia-nyiakan waktu... eh, Tek Hoat, lalu bagaimana? Di mana dia?”
“Harap paduka sudi memaafkan hamba. Terjadi kecelakaan, perahu bertabrakan dan terguling. Hamba
berhasil menyelamatkan adik angkatnya akan tetapi belum berhasil menemukan Puteri Syanti Dewi...”
“Hahh? Bodoh! Habis bagaimana? Celaka, jangan-jangan dia terjatuh ke tangan orang-orangnya kaisar!”
“Hamba akan mencarinya sampai dapat besok pagi, kalau andai kata dia terampas oleh orang lain, hamba
akan merampasnya kembali, harap paduka jangan khawatir,” kata Tek Hoat.
“Hemm, baik. Apa perlu kau dibantu pasukan?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tidak perlu, Ong-ya. Hamba lebih leluasa bekerja sendiri. Hamba tanggung akan bisa menemukan puteri
itu, asal dia belum tewas.”
“Bagus, kami akan menanti saja di kota raja, di sana masih banyak urusan dan kau harus cepat kembali,
banyak tugas menantimu.”
“Baik, Ong-ya...”
Tiba-tiba Ceng Ceng yang bengong terlongong itu terkejut karena mendengar suara berkeresekan di
belakangnya. Dia menoleh dan melihat seorang laki-laki berpakaian hitam, berjenggot panjang berdiri tepat
di belakangnya. Dia hampir berteriak dan membuka mulut.
“Eekkk... eeekkk...!” Mulutnya telah dibungkam tangan kiri orang tua dan sebelum dia sempat melawan,
pundaknya sudah ditotok dan dia roboh lemas dalam rangkulan orang itu.
“Ssstt, diam... jangan bergerak... aku bukan musuh melainkan sahabatmu dan sahabat Puteri Syanti
Dewi...” Setelah berkata demikian dan melihat Ceng Ceng mengangguk, orang itu menotok lagi dan Ceng
Ceng terbebas.
Dara ini terkejut dan heran. Demikian banyaknya orang pandai di sini. Pemuda itu lihai dan orang ini pun
hebat kepandaiannya! Dia memandang sejenak. Orang itu mukanya membayangkan kegagahan, matanya
sipit seperti orang mengantuk, alisnya tebal dan kepalanya agak botak. Jenggotnya panjang, usianya tentu
sudah ada lima puluh tahun, pakaiannya biasa saja seperti pakaian petani. Melihat orang itu
memperhatikan ke depan, dia pun lalu memandang lagi. Kini tampak betapa pemuda itu berbisik-bisik di
dekat perahu dengan si pembesar tinggi yang ternyata adalah Pangeran Liong Khi Ong, tunangan Syanti
Dewi!
Ceng Ceng berdebar-debar. Bingung dia dan diam-diam dia memaki-maki Tek Hoat. Kiranya pemuda itu
adalah kaki tangan Pangeran Liong Khi Ong! Akan tetapi apa artinya ini semua? Kalau dia kaki tangan
Pangeran Liong Khi Ong, mengapa dia bersikap begitu aneh, tidak bersama anggota rombongan lainnya
yang dipimpin oleh pengawal kaisar Tan Siong Khi? Mengapa bertindak secara rahasia? Dan apa pula
artinya kata-kata pangeran itu bahwa Syanti Dewi terpaksa harus dikorbankan demi cita-cita? Ceng Ceng
menjadi bingung dan tidak bergerak sama sekali, hanya melihat betapa Tek Hoat telah pergi dengan cepat
menuju ke kuil kembali, sedangkan perahu mewah itu pun bergerak ke tengah sungai.
“Cepat, mari pergi dari sini. Kalau dia kembali dan dapat menyusul kita, celaka. Kita berdua bukanlah
lawannya,” bisik laki-laki setengah tua berjenggot panjang itu.
“Hemm, mengapa aku harus menurut kata-katamu? Siapa tahu bahwa kau lebih jahat lagi dari pada dia?”
“Nona Lu, percayalah kepadaku. Mungkin kakekmu Lu Kiong belum pernah menyebut namaku, akan tetapi
aku mengenal baik Lu-lo-enghiong bekas pengawal kaisar. Aku adalah rekan dari Tan Siong Khi. Aku
sudah mendengar bahwa kakekmu gugur, dan aku hampir mengerti semuanya, kecuali beberapa hal.”
“Apakah yang terjadi? Siapakah sebenarnya pemuda bernama Ang Tek Hoat itu?”
“Sstt, marilah kita segera pergi,” kakek itu mendesak.
“Tidak, sebelum kau menjawab pertanyaanku.”
“Dia seorang manusia luar biasa, ilmu kepandaiannya sangat tinggi...”
“Aku sudah tahu!”
“Tapi dia adalah pengawal Pangeran Liong Bin Ong, pangeran yang merencanakan pemberontakan.
Bahkan pangeran itulah yang mengatur pencegatan rombongan hingga kakekmu tewas. Pemuda itu
tangan kanannya dan Pangeran Liong Khi Ong tadi telah menyalah gunakan niat baik kaisar yang menjadi
kakaknya sendiri. Mereka itu demi cita-cita pemberontakan, tidak segan-segan melakukan kekejian, kalau
perlu membunuh Puteri Syanti Dewi dan engkau.”
“Ohhhh...”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Marilah, nona. Demi keselamatanmu sendiri dan keselamatan Syanti Dewi.”
Dengan hati penuh kengerian Ceng Ceng lalu mengikuti laki-laki itu melarikan diri. Dia percaya penuh
karena bukankah dia sudah menyaksikan dan mendengarkan sendiri pertemuan dan percakapan antara
Pangeran Liong Khi Ong dan Ang Tek Hoat? Kiranya pemuda itu seorang mata-mata pemberontak!
Kiranya justru musuh dari kerajaan kaisar dan kerajaan Bhutan, hendak mencelakakan Syanti Dewi!
Bahkan yang merencanakan pencegatan rombongan yang mengakibatkan terbunuhnya kakeknya, adalah
para pemberontak itu! Dan dia sudah tertarik hatinya oleh Tek Hoat.
“Ahhhh...!”
“Ada apa, nona Lu?” tanya kakek itu.
“Tidak apa-apa...” jawab Ceng Ceng karena yang terasa nyeri adalah jauh di dalam lubuk hatinya, bukan
badannya.
Setengah malam penuh mereka berjalan terus, melalui hutan-hutan dan pegunungan. Dalam perjalanan
ini, kakek tadi menceritakan keadaan kerajaan yang diancam pemberontakan, dan memperkenalkan
dirinya. Dia adalah seorang pengawal kaisar pula, di bawah Tan Siong Khi dan bernama Souw Kee It. Dia
bertugas untuk menyelidiki secara diam-diam keadaan rombongan itu.
Tentu saja dia tidak secepat Pendekar Super Sakti yang juga melawat ke Bhutan dan berhasil menolong
Raja Bhutan, akan tetapl sebagai seorang penyelidik yang tahu akan keadaan negara, dia mempunyai
pendengaran dan penciuman yang lebih tajam. Dia mendapatkan rahasia dari pemberontak yang menaruh
tangan-tangan kotor ke dalam pencegatan itu, maklum bahwa raja liar Tambolon juga digerakkan oleh
tangan kotor dari kota raja sendiri. Dia telah melihat pula sepak terjang Tek Hoat yang hebat, dan
maklumlah dia bahwa dia bukan pula lawan pemuda itu. Maka ketika memperoleh kesempatan, dia
mengajak lari Ceng Ceng.
Mendengar semua penuturan ini, Ceng Ceng makin terheran-heran dan bingung. Tak disangkanya bahwa
pernikahan Syanti Dewi akan membawa akibat sedemikian hebat dan peristiwa itu terlibat dengan
pemberontakan yang ruwet.
“Bagaimana dengan enci Syanti Dewi?” tanyanya dengan khawatir.
“Sudah kuselidiki, nona. Kabarnya puteri itu juga tertolong secara ajaib oleh seorang nelayan tua yang
tidak dikenal siapa sebenarnya. Cara menolongnya amat ajaib hingga sukar aku mempercayai cerita
mereka itu. Tetapi, laki-laki gagah yang menolongnya itu telah pergi bersama sang puteri. Sekarang yang
saya ingin ketahui adalah, ke manakah rencana nona dan sang puteri tadinya setelah terpaksa
meninggalkan kakek Lu yang gugur?”
“Kakek meninggalkan pesan agar supaya kami pergi ke kota raja, minta perlindungan dan bantuan kepada
Puteri Milana...”
Souw Kee It mengangguk-angguk. “Memang tepat sekali pesan kakekmu. Akan tetapi beliau tidak tahu
akan perubahan di kota raja. Kalau engkau dan Puteri Syanti Dewi sudah tiba di kota raja dan berada di
tangan Puteri Milana, kiranya setan pun tidak ada yang berani mengganggu. Akan tetapi, justru perjalanan
menuju ke kota raja itulah yang amat sukar dan berbahaya. Kaki tangan mereka sudah disebar di manamana
untuk menangkap kalian berdua.”
“Ouhhh, habis bagaimana?”
“Harap nona jangan khawatir. Aku juga mempunyai teman-teman, dan nanti akan kita atur bagaimana
membawa nona pergi ke timur dengan selamat. Akan tetapi, kurasa tidak tepat kalau nona pergi ke kota
raja sebelum bertemu dengan Puteri Syanti Dewi. Kalau kita berhasil sampai ke timur, lebih baik kalau
nona untuk sementara berlindung di benteng yang dikuasai Jenderal Kao Liang di tapal batas utara ibu
kota.”
Hati Ceng Ceng agak lega mendengar bahwa Syanti Dewi juga tidak tewas dan telah tertolong orang
pandai, sungguh pun dia bingung memikirkan mengapa begitu banyak orang pandai muncul? Siapakah
penolong Syanti Dewi dan ke mana perginya kakak angkatnya itu?
dunia-kangouw.blogspot.com
Dua hari kemudian, tibalah mereka di sebuah dusun dan di sini terdapat pasukan kaisar yang masih setia
kepada kaisar. Souw Kee It lalu mendandani Ceng Ceng sebagai seorang prla, lengkap dengan kumis
palsu sehingga andai kata Tek Hoat sendiri bertemu dengannya kiranya akan sulitlah untuk mengenalnya,
demikian pendapat Ceng Ceng ketika dia memperhatikan wajahnya sendiri di depan cermin. Setelah
membawa bekal secukupnya, Souw Kee It bersama Ceng Ceng lalu menunggang kuda-kuda pilihan,
melanjutkan perjalanan mereka ke timur.
********************
Kita tinggalkan dulu Ceng Ceng dengan pengawal kaisar Souw Kee It yang melakukan perjalanan amat
jauh ke timur, dan mari kita mengikuti perjalanan Puteri Syanti Dewi.
Secara kebetulan dan aneh sekali, Puteri Syanti Dewi tertolong oleh Pendekar Sakti Gak Bun Beng.
Pendekar ini sudah mengenyampingkan urusan dunia, hidup tenteram di antara rakyat kecil, kadangkadang
menjadi petani, atau kadang-kadang bercampur dengan para nelayan, selalu memilih tinggal di
dusun-dusun yang dianggapnya tidak akan terjadi hal yang penting.
Sungguh di luar dugaannya bahwa hari itu dia terlibat dalam urusan yang amat besar, bukan hanya
menyangkut urusan diri pribadi seorang gadis cantik, melainkan diri seorang puteri Raja Bhutan, bahkan
menyangkut urusan kerajaan!
Gak Bun Beng yang usianya sudah mendekati empat puluh tahun itu melakukan perjalanan dengan hati
kadang-kadang berdebar keras. Benarkah yang dilakukannya ini, mengantarkan Syanti Dewi ke kota raja?
Benarkah kalau kini dia akan menjumpai Milana? Sesungguhnya tidak benar dan amat berbahaya, bagai
orang hendak membuka balutan luka yang amat parah. Akan tetapi apa dayanya?
Tidak mungkin dia membiarkan Syanti Dewi begitu saja setelah dia mengetahui siapa adanya gadis ini.
Calon mantu kaisar! Dan terancam bahaya karena dikejar-kejar oleh mereka yang hendak menggagalkan
perkawinan itu. Apa boleh buat, demi gadis ini, dan terutama demi kesejahteraan negara, kerajaan kaisar
dan Bhutan, dia harus berani menanggung semua itu, harus berani menghadapi resiko perjumpaannya
dengan Puteri Milana!
Perjalanan yang amat jauh itu dilakukan dengan sangat hati-hati oleh Gak Bun Beng yang menjaga agar
jangan sampai terjadi keributan di perjalanan. Dia sudah muak akan keributan dan permusuhan yang
banyak dibuat oleh manusia-manusia yang mengaku berkepandaian. Untuk menjaga agar perjalanan dapat
dilalui dengan aman, dia lalu menyamar sebagai seorang perantau yang baru pulang dari perantauannya
ke Tibet, dan Syanti Dewi diakuinya sebagai anaknya. Agar tidak dicurigai orang, dia mengaku bahwa ibu
Syanti Dewi seorang wanita Tibet dan memang Syanti Dewi selain pandai dalam bahasanya sendiri, yaitu
Bahasa Bhutan, juga pandai berbahasa Tibet dan Bahasa Han.
Berpekan-pekan telah lewat tanpa ada peristiwa penting yang mengganggu perjalanan Gak Bun Beng dan
Syanti Dewi. Pada suatu hari, ketika mereka sedang berjalan melalui jalan raya kasar di lereng
pegunungan, mereka berpapasan dengan serombongan pasukan yang terdiri dari kurang lebih seratus
orang. Pasukan ini kelihatan letih dan banyak yang terluka. Sekali pandang saja Gak Bun Beng dapat
melihat bahwa mereka adalah Bangsa Han yang bercampur dengan orang-orang Mongol.
Agaknya pasukan yang hanya tinggal sisanya dari suatu pertempuran yang merugikan pihak mereka.
Diam-diam Gak Bun Beng terkejut. Apakah kini sudah timbul perang lagi? Ataukah hanya sisa-sisa
pemberontak ataukah pemberontak baru yang sedang ditindas oleh pasukan pemerintah? Dia tahu bahwa
pemberontak Mongol yang amat hebat, yang dipimpin oleh Pangeran Galdan telah dihancurkan oleh
pasukan Kaisar Kang Hsi, bahkan kabarnya Galdan sendiri telah dibinasakan. Apakah sekarang Bangsa
Mongol memberontak lagi, bergabung dengan orang Han yang masih merasa penasaran akan penjajahan
Bangsa Mancu?
Karena dilihatnya masih banyak rombongan-rombongan pasukan campuran itu lewat, Gak Bun Beng
hendak menghindarkan keributan, maka dia mengajak Syanti Dewi untuk melalui jalan hutan. Untung
bahwa rombongan pertama yang lewat tadi terlalu lelah dan terlalu tertekan batinnya untuk melakukan
sesuatu. Mereka hanya memandang tajam kepada Syanti Dewi, bahkan ada pula yang menyeringai, dan
ada yang mengeluarkan kata-kata tak senonoh akan tetapi hanya sambil lalu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tetapi dasar mereka harus mengalami keributan. Saat melalui jalan sunyi, menyelinap-nyelinap di hutan
tidak jauh dari jalan raya itu, mereka bertemu dengan rombongan lain yang hanya terdiri dari belasan
orang, tetapi rombongan ini semua duduk melepaskan lelah. Mereka terdiri dari tujuh orang Han dan
delapan orang Mongol dan ada seorang Han dan empat orang Mongol sedang minum arak, agaknya untuk
menghibur hati yang penasaran karena kekalahan mereka. Melihat bahwa rombongan ini hanya lima belas
orang, timbul niat di hati Gak Bun Beng untuk bertanya, maka dia mengajak Syanti Dewi untuk mendekat.
Orang-orang itu memandang kepadanya dengan curiga, tapi ada yang tersenyum lebar ketika melihat
Syanti Dewi yang biar pun berpakaian sederhana seperti gadis dusun, namun kecantikannya masih
menonjol.
“Maaf, laote,” kata Gak Bun Beng kepada seorang Han yang duduk bersandar pohon, sambil menekuk
lutut duduk pula dekat orang itu, diikuti juga oleh Syanti Dewi di belakangnya, “bolehkah kami bertanya
mengapa banyak pasukan yang mundur dan banyak yang terluka? Apa yang telah terjadi? Kami ayah dan
anak dari Tibet hendak ke Se-cuan, akan tetapi kami khawatir melihat cu-wi terluka, seolah-olah ada
perang di sana.”
Orang yang mukanya dilindungi brewok itu memandang pada Gak Bun Beng, kemudian melirik ke arah
Syanti Dewi. “Lebih baik kalian kembali ke barat.”
“Ya, kembali saja bersama kami! Biar kami yang melindungi kalian!” teriak orang Han yang sedang minum
arak bersama empat orang Mongol tadi.
“Kami mempunyai urusan penting sekali di timur, sobat,” kata Gak Bun Beng. “Apakah yang terjadi di
sana? Dan siapakah cu-wi?”
“Apakah tidak tahu bahwa kami adalah pendekar-pendekar sejati, patriot-patriot?” Tiba-tiba orang berewok
itu menjawab marah.
Gak Bun Beng menggangguk-angguk. “Ahhh, kiranya laote dan cu-wi sekalian adalah pejuang-pejuang
yang menentang penjajah, benarkah? Lalu, apa yang terjadi?”
Dipuji demikian, si brewok agak sabar, lalu menarik napas panjang. “Si keparat Jenderal Kao Liang itu!
Anjing penjilat kaki Mancu dia! Begitu dia datang meronda di bagian barat dan memimpin sendiri pasukan
pembersihan, kita dipukul hancur!”
“Paman, kembalilah saja ke barat, dan sebelum anakmu itu diperebutkan anjing-anjing Mancu, lebih baik
diberikan kepadaku!” Orang Han yang minum arak, usianya kurang lebih tiga puluh tahun itu berkata.
Gak Bun Beng menahan kesabarannya. “Apakah tentara pemerintah itu juga melakukan perbuatan jahat?”
“Siapa bilang tidak? Merampok, membunuh, menculik dan memperkosa! Dari pada diperkosa oleh anjinganjing
Mancu, para penghianat dan penjilat, lebih baik diberikan kepada kami agar menghibur kami para
patriot. Dengan demikian, kau dan anakmu itu ikut berjasa untuk tanah air dan bangsa!” kata pula orang itu.
“Akur! Jumlah kita hanya lima belas orang, masih bisa dibagi rata. Marilah, manis, kau layanilah aku!” kata
seorang Han yang lain yang berkumis panjang melintang.
Bun Beng bangkit berdiri sambil tersenyum. “Kami tahu penderitaan dan perjuangan kalian, sobat-sobat.
Akan tetapi anakku ini adalah pembantuku yang utama, seolah-olah tangan kananku sendiri, bagaimana
bisa kuberikan kepada orang lain? Mana mungkin aku memberikan tangan kananku?”
“Ahhh, dasar kau pelit! Apakah kau hendak peluki anakmu sendiri? Tidak tahu malu! Masa menolong dan
meringankan penderitaan kaum pendekar dan pahlawan sedikit saja tidak mau?” Mereka semua sudah
bangkit berdiri dari mengurung.
Syanti Dewi terkejut dan mukanya berubah pucat, kedua tangannya sudah dikepal untuk membela diri. Dan
tidak hanya takut, tetapi juga amat marah mendengar omongan yang kotor itu.
Akan tetapi Gak Bun Beng tetap tenang dan sabar. Dia mengangkat kedua tangan ke atas dan berkata,
“Bukan aku pelit, akan tetapi sungguh mati, kalau kalian memaksa hendak mengambil anakku, sama saja
dengan kalian memaksa mengambil tangan kananku. Sebelum kalian mengambil anakku, biarlah
dunia-kangouw.blogspot.com
kuberikan saja kedua tanganku. Hidup tanpa tangan kanan kepalang tanggung. Nah, siapa mau lebih dulu
membuntungi kedua tanganku?” dia mengacungkan kedua tangannya ke atas.
“Ha-ha-ha-ha! Orang ini sinting, tetapi anaknya cantik manis sekali! Biarlah aku penuhi permintaannya!”
Teriak orang muda Han yang mabok itu sambil menghunus goloknya yang sudah berkarat karena darah
orang dalam pertempuran.
“Baiklah, mari kau buntungi tangan kiriku lebih dulu!” Bun Beng lalu memberikan tangan kirinya.
Golok itu menyambar kuat sekali ke arah tangan kiri Gak Bun Beng yang diacungkan ke atas. Tangan itu
tidak mengelak, malah memapaki golok.
“Krekkkk!” Golok itu patah-patah dan pemiliknya memandang gagang goloknya dengan mata terbelalak!
“Sayang, golokmu itu sudah berkarat dan rapuh!” Gak Bun Beng berkata dengan suara biasa. “Siapa lagi
yang mempunyai senjata lebih tajam untuk membuntungi tanganku?”
“Biar kulakukan itu!” Bentak seorang Han lainnya sambil meloncat maju, pedangnya menyambar tangan
kanan Gak Bun Beng. Kembali pendekar sakti ini tidak mengelak, melainkan memapaki pedang itu dengan
tangannya.
“Krak... krakkk!”
“Hayaaaa...!” Si pemilik pedang terbelalak memandang gagang pedangnya yang hanya tinggal pendek saja
itu karena pedangnya sendiri sudah patah-patah.
Melihat ini, tiga belas orang lain serentak maju dengan senjata mereka yang bermacam-macam, ada
tombak, golok, pedang dan toya. Gak Bun Beng membiarkan mereka mencabut semua senjata, kemudian
dia meloncat ke depan dan menerima semua serangan dengan kedua tangan dan juga kakinya sambil
mengerahkan sinkang-nya. Terdengar suara krak-krek-krak-krek disusul oleh teriakan si pemilik senjata
dan dalam sekejap mata saja semua senjata milik dari lima belas orang itu sudah patah-patah semuanya.
“Ilmu siluman!” terdengar seorang di antara mereka berteriak dan larilah mereka lintang pukang ketakutan,
meninggalkan segala perbekalan yang tadi mereka taruh di atas tanah.
Gak Bun Beng menghela napas, kemudian menyambar guci arak yang ditinggal di situ, menenggak isinya
sampai habis. Dilemparkannya guci kosong dan diusapnya mulut yang basah itu dengan ujung lengan
bajunya. Dia kelihatan tidak senang sekali. Memang dia tidak senang karena terpaksa dia harus
memperlihatkan kepandaiannya lagi setelah secara terpaksa dia mengeluarkan kepandaian itu ketika
menyelamatkan Syanti Dewi.
“Gak-sioksiok....” Syanti Dewi tahu-tahu sudah berada di sampingnya dan menyentuh lengan pendekar itu
karena dia pun dapat merasakan betapa pendekar itu kelihatan tidak tenang, bahkan seperti orang
berduka. “Engkau banyak repot karena aku saja...”
Gak Bun Beng menoleh dan melihat wajah yang cantik dan agung itu menyuram. Dia tersenyum dan
mengelus kepala Syanti Dewi. Bukan main halusnya perasaan anak ini, pikirnya terharu. “Tidak apa-apa,
Dewi. Aku pun tadi hanya menakut-nakuti mereka saja. Marilah kita melanjutkan perjalanan.”
“Akan tetapi di timur ada perang dan pertempuran, sioksiok.”
“Bukan perang, hanya pasukan pemerintah mengadakan pembersihan terhadap sisa-sisa gerombolan
pemberontak seperti mereka tadi.”
“Tetapi, mendengar omongan mereka tadi, mereka bukanlah pemberontak, melainkan patriot-patriot yang
berjuang untuk mengusir penjajah dari tanah air mereka.” Puteri itu membantah. Biar pun hanya seorang
wanita, tapi sebagai puteri raja tentu saja dia telah banyak membaca kitab-kitab sejarah dan ketata
negaraan sehingga pengetahuannya agak luas dibandingkan wanita-wanita terpelajar biasa.
Gak Bun Beng menghela napas panjang. Ucapan puteri ini menyentuh perasaannya, perasaan muak
terhadap ulah tingkah manusia dalam hidup ini, maka dengan suara bersemangat, di luar kesadarannya
dia berkata, “Manusia di dunia ini siapakah yang tidak akan membenarkan dirinya sendiri? Pemerintah
dunia-kangouw.blogspot.com
Mancu menganggap mereka pemberontak karena mereka melawan pemerintah yang syah dan
menganggap diri sendiri sebagai penolong rakyat, sebaliknya mereka itu menganggap pemerintah sebagai
penjajah laknat dan menganggap diri sendiri sebagai patriot. Namun keduanya tetap sama saja, tetap saja
melakukan kekerasan dan kekejaman dengan dalih kebenaran masing-masing. Padahal, apa sih bedanya
manusia? Dari kaisar, jenderal, pedagang, petani, si jembel sekali pun, hanya dibedakan oleh pakaian dan
embel-embel di luar badan. Coba kumpulkan mereka semua, telanjangi mereka semua dalam sebuah
kandang, apa bedanya mereka dengan sekumpulan domba atau kuda? Manusia hanyalah makhluk biasa
yang mempunyai kelebihan, inilah yang merusak hidup!”
Syanti Dewi mendengarkan dan memandang wajah pendekar itu dengan mata terbelalak. Baru satu kali ini
selama hidupnya dia mendengarkan pandangan orang tentang manusia seperti itu. Ada artinya yang
mendalam, ada kesungguhan dan kebenarannya, akan tetapi juga lucu sekali. Kalau dibayangkan betapa
seluruh manusia di dunia ini tidak berpakaian, tidak dihias segala benda-benda yang hanya menjadi
pemisah dan penentu dari tingkat masing-masing, alangkah lucunya dan memang sukar membedakan
mana raja mana jembel mana kaya mana miskin! Dia sendiri pun tadinya seorang istana dan memakai
pakaian puteri. Sekarang? Setelah berpakaian gadis petani seperti itu, siapa percaya bahwa dia seorang
puteri? Apa lagi kalau harus telanjang bersama seluruh manusia lain!
“Kau... kau hebat, paman!” katanya lirih.
Gak Bun Beng sadar lagi dan memegang tangan Syanti Dewi. “Kau... kau semuda ini, sudah dapat
menangkap arti kata-kataku tadi?”
Syanti Dewi mengangguk, lalu mengangkat mukanya memandang wajah yang masih tampan dan gagah
itu. Gak Bun Beng dulunya memang seorang pemuda yang tampan, dan gagah. Matanya mengeluarkan
cahaya tajam, mulutnya terhias kumis kecil yang terpelihara rapi, demikian juga jenggotnya yang pendek
saja. Pakaiannya sederhana, pakaian petani atau nelayan, namun bersih dan kuku-kuku tangannya
terpelihara baik, giginya terawat.
“Paman Gak, di manakah adanya keluargamu?”
Gak Bun Beng terbelalak dan mengerutkan alisnya. “Apa? Keluarga?”
“Ya, isteri dan anakmu...”
“Ahhh, marilah kita cepat melanjutkan perjalanan ini, aku khawatir mereka datang lagi mengganggu.” Dia
lalu memegang tangan Syanti Dewi dan diajaknya dara itu pergi meninggalkan tempat itu.
Sampai lama mereka berjalan menyusup-nyusup hutan karena Gak Bun Beng tak ingin terganggu lagi oleh
gerombolan pemberontak atau pejuang yang melarikan diri karena diobrak-abrik oleh pasukan pemerintah
yang kabarnya tadi dipimpin oleh Jenderal Kao Liang yang ditakuti. Beberapa kali Syanti Dewi menengok
dan memandang tajam wajah pendekar itu, namun Gak Bun Beng berjalan terus tanpa mengeluarkan katakata.
Akhirnya Syanti Dewi tidak dapat menahan hatinya. “Paman Gak, di manakah isteri dan anak-anakmu?”
Sesungguhnya pertanyaan ini sejak tadi bergema di telinga Gak Bun Beng dan dia sengaja mengalihkan
perhatian dan mengharapkan gadis itu lupa akan pertanyaannya yang terngiang-ngiang di telinga hatinya.
Maka mendengar pengulangan pertanyaan ini, dia menahan napas sejenak untuk menekan perasaannya,
baru dia menjawab tenang saja. “Tidak ada.”
“Ehhh...?” Syanti Dewi terkejut.
“Aku tidak pernah mempunyai isteri atau anak, tidak mempunyai saudara, tidak ada orang tua lagi, aku
sebatang kara di dunia,” kembali jawaban yang keluar dari mulut pendekar itu terdengar datar, seolah-olah
seorang nelayan membicarakan jalan atau pancingnya, biasa saja.
“Tapi... tapi tidak mungkin itu, paman Gak!”
“Apa maksudmu, tidak mungkin? Mengapa harus tidak mungkin?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Seorang seperti paman ini... ehhh, tidak mungkin tidak menikah! Paman, apakah tidak ada wanita di dunia
ini yang mencintamu?”
Tanpa menengok Gak Bun Beng menggeleng kepala dan matanya memandang jauh ke depan.
“Hemm, mustahil! Dan apakah paman tidak ada mencinta seorang pun wanita di dunia ini?”
Gak Bun Beng tersenyum ketika menoleh dan melihat wajah puteri ini diliputi penasaran besar, bahkan
seperti orang marah! “Dewi, engkau kenapa? Aku tak pernah memikirkan hal itu dan hidupku sudah cukup
bahagia.”
“Tidak masuk akal! Seorang pria seperti paman!”
“Hemm, hanya seperti aku ini, apa sih bedanya dengan orang lain?”
“Tidak sama sekali, jauh sekali bedanya! Pangeran-pangeran di Bhutan, bahkan orang berpangkat jauh di
bawah pangeran dan orang berharta, mereka itu sedikitnya punya tiga atau empat orang isteri! Padahal
dibandingkan dengan paman, mereka itu tidak ada sekuku hitam paman!”
“Aihhh, Dewi. Aku seorang tua yang miskin, tidak memiliki apa-apa, mana ada ingatan yang bukan-bukan?”
Gak Bun Beng berkata untuk menghibur diri karena percakapan ini tanpa disengaja oleh puteri itu telah
menusuk-nusuk perasaannya, mengingatkan dia kepada Milana.
“Jangan paman berkata demikian. Siapa bilang paman sudah tua? Usia paman tidak akan lebih dari empat
puluh tahun! Dan pangeran yang namanya Liong Khi Ong itu, yang akan mengawiniku, kabarnya malah
berusia lima puluh tahun, dan aku berani bertaruh potong rambut bahwa dibandingkan dengan paman, dia
itu bukan apa-apa!”
Gak Bun Beng berhenti melangkah dan memegang kedua tangan Syanti Dewi. “Dewi, kuminta kepadamu,
janganlah kau membicarakan urusan diriku. Aku minta ini dengan sangat, ya? Banyak hal yang pahit getir
telah berlalu, dan pembicaraanmu hanya akan menggali segala kepahitan yang telah lewat itu saja.”
Ucapan ini keluar dengan suara agak gemetar.
Syanti Dewi mengangkat muka memandang dan melihat wajah penolongnya ini diliputi awan kedukaan,
hatinya terharu dan dua titik air mata menetes seperti dua butir mutiara di atas kedua pipinya.
“Eh? Kau... menangis?”
“Aku kasihan kepadamu, paman Gak.”
Gak Bun Beng tersenyum dan menggunakan telunjuknya menghapus dua butir mutiara itu. “Kau anak yang
aneh! Kau memperlakukan aku seolah-olah aku ini seorang yang jauh lebih muda dari pada engkau.
Sudahlah, jangan membicarakan tentang diriku, tidak ada harganya dibicarakan. Sekarang aku ingin bicara
tentang dirimu. Mengapa engkau malah membicarakan pribadi calon suamimu seperti itu? Agaknya
engkau tidak suka kepadanya?”
“Hemm, tentu saja,” jawab Syanti Dewi ketika mereka melangkah lagi. “Siapa orangnya yang suka
dikawinkan dengan seorang kakek yang belum pernah dilihatnya selama hidupnya? Dia seorang pangeran,
dan kulihat pangeran-pangeran di Bhutan hanyalah orang-orang yang berlomba mengejar kesenangan,
tenggelam dalam kemewahan dan aku berani bertaruh bahwa Pangeran Liong Khi Ong itu tentu sudah
mempunyai isteri sedikltnya selosin orang, apa lagi usianya sudah lima puluh tahun. Aku tentu sudah gila
kalau aku mengatakan suka kepadanya, paman Gak.”
Gak Bun Beng tersenyum geli. Bukan main anak ini! Pandangannya selalu tepat sekali, membayangkan
pengetahuan luas dan pertimbangan yang masak, kata-katanya tepat mengenai sasaran dan perasaannya
amat halus bukan main.
“Dewi, kalau kau memang tidak suka, kenapa kau mau?”
“Paman, masa paman tak mengerti? Aku hanya bertugas di dalam perkawinan ini untuk menjadi paku
utama dalam singgasana ayah.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ehhh...?”
“Aku kawin bukan karena cinta, melainkan kawin politik. Agar kedudukannya di Bhutan menjadi kuat, apa
lagi dalam menghadapi pemberontakan Bangsa Mongol dan Tlbet yang dipimpin oleh Tambolon, ayah
mengorbankan aku untuk menjadi mantu kaisarmu di sana!” Kedua pipi itu menjadi merah karena
penasaran dan matanya yang indah bersinar-sinar.
Gak Bun Beng mengangguk-angguk. “Kau kan bisa menolak?”
“Aih, paman. Apa dayaku sebagai seorang puteri raja? Kalau aku menolak, andai kata aku bisa menolak,
kemudian terjadi sesuatu yang bisa merobohkan kerajaan, bukankah namaku akan dicatat di dalam
sejarah sebagai seorang anak yang paling durhaka terhadap orang tua, sebagai seorang puteri yang tidak
dapat menjaga negaranya? Ahh, kalau saja aku hanya seorang gadis petani biasa, tentu tidak ada yang
usil mulut!”
Gak Bun Beng maklum akan hal ini dan dia menghela napas panjang, merasa kasihan sekali kepada gadis
ini, dan dia lalu teringat pula akan nasib Milana yang juga menikah karena dipaksa oleh kaisar! “Akan
tetapi, sekarang engkau telah bebas, bukan? Engkau telah menjadi seorang gadis petani, bukan?”
“Apa gunanya? Tak mungkin aku menjadi begini terus. Setelah paman menyerahkan aku ke istana nanti,
apa dayaku selain menurut dan menerima pernikahan itu dengan mata meram dan perasaan mati?”
“Kalau aku tidak menyerahkan engkau ke istana, bagaimana?”
Sepasang mata itu terbelalak. “Benarkah itu, paman? Tetapi, tidak diserahkan pun aku tidak berdaya.
Mana mungkin aku dapat hidup sendiri di dunia ini? Aku sudah terbiasa hidup keenakan di istana. Aihh,
kalau saja ada adik Ceng Ceng... tentu dia akan dapat mencarikan akal.”
“Tenanglah, Dewi. Aku akan membawamu ke kota raja, namun aku menjamin bahwa tidak ada seorang
iblis pun akan dapat memaksamu menikah dengan siapa pun yang tidak kau suka. Aku tidak akan
membiarkan itu, Dewi.”
Syanti Dewi memegang tangan kanan Gak Bun Beng yang terkepal itu erat-erat, membawa kepalan
tangan itu ke depan hidungnya dan menciuminya sambil terisak. Di dalam diri penolongnya itu dia tidak
hanya menemukan seorang penolong, akan tetapi juga seorang kawan baik, seorang yang menjadi
pengganti ayah bundanya, seorang pelindung dan pembela yang dia percaya sepenuh hatinya, seorang
yang menimbulkan kasih sayang di hatinya.
“Bangun...! Gak-sioksiok... bangunlah...!”
Gak Bun Beng membuka matanya.
“Paman, lihat, ada pasukan tentara datang...!”
Gak Bun Beng mengeluh dan merasa kasihan sekali kepada dara itu. Baru saja mereka beristirahat di
dalam rumah kosong yang rusak itu. Setelah membuat api unggun dan menyelimuti tubuh Syanti Dewi
yang tidur di atas rumput kering, dia sendiri lalu duduk bersandar dinding rusak di dekat pintu, menjaga
sambil beristirahat, dan dia pun tertidur saking lelahnya. Baru saja tidur, belum ada sejam karena dia pun
belum pulas benar, sudah ada orang yang mengganggu. Dia bangkit dan berdiri, menggosok-gosok kedua
matanya dan memandang keluar.
“Heiiiiii...! Yang berada di dalam rumah kosong! Hayo kalian semua keluar!” terdengar teriakan seorang di
antara para prajurit yang memegang obor.
Obor itu besar sekali dan amat terang. Di atas sebuah tandu pikulan duduklah seorang panglima yang
berpakaian lengkap dan gagah, pakaian perang, sikapnya gagah sekali mengingatkan Gak Bun Beng akan
tokoh Kwan Kong di dalam cerita Sam Kok, seorang panglima perang yang jarang bertemu tanding saking
gagah perkasanya.
“Tenanglah, Dewi, mari kau ikut aku keluar,” kata Gak Bun Beng dan dia menggandeng tangan dara itu,
diajaknya keluar menghadap panglima itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Suruh pergi mereka semua! Jika mereka ternyata tidak menyembunyikan pemberontak, sudahlah, jangan
ganggu penduduk di sekitar sini! Tetapi cari di rumah-rumah kosong, di goa-goa dan basmi semua pelarian
pemberontak, barulah daerah ini akan aman. Kalian jangan terlalu malas, bekerja kepalang tanggung. Satu
kali mengeluarkan tenaga hasilnya harus dapat dirasakan selama satu tahun! Tidak setiap hari mengalami
gangguan terus!”
Beberapa orang panglima dan perwira yang mendengar perintah ini membungkuk-bungkuk dan mereka
kelihatannya takut sekali pada panglima gagah perkasa ini. Tiba-tiba panglima gagah perkasa ini
memandang ke arah Gak Bun Beng dan Syanti Dewi. Gak Bun Beng terkejut. Pandang mata itu
menunjukkan bahwa jelas pembesar militer ini benar-benar bukan orang sembarangan, akan tetapi ia balas
memandang dengan sikap tenang.
Pembesar itu memberi isyarat dengan tangan dan seorang perajurlt menggapai kepada mereka sambil
berkata, “Heii, kalian berdua majulah menghadap tai-goanswe!”
Gak Bun Beng menarik tangan Syanti Dewi lalu menghadap pembesar itu dan menjura dengan dalamdalam,
tetapi tidak berlutut karena dia ingin menguji watak pembesar ini.
“Hei, berlutut kalian!” bentak seorang perajurlt.
“Biarkan mereka!” kata Jenderal besar (tai-goanswe) itu, melambaikan tangan kepada Gak Bun Beng
memberi isyarat agar mereka berdua maju. Sekali lagi pandang mata Jenderal itu memandang tajam
penuh selidik, kemudian bertanya kepada Syanti Dewi dengan suara membentak dan tiba-tiba, “Kau,
wanita muda, katakan siapa namanya laki-laki ini?”
Tentu saja Syanti Dewi terkejut bukan main karena biasanya, dalam setiap urusan selalu Gak Bun Beng
yang maju ke depan dan Gak Bun Beng yang melayani semua tanya jawab. Sekali ini, secara tiba-tiba
jenderal yang kelihatan galak seperti seekor singa itu menanya kepadanya. Saking kagetnya, dia
menjawab tanpa dapat dipikir lebih dulu secara otomatis, “Namanya adalah Gak Bun Beng!”
Jenderal ini mengerutkan alisnya yang tebal, mengingat-ingat, kemudian dia meloncat turun menghadapi
Gak Bun Beng. Tepat dugaan pendekar sakti ini, cara jenderal itu meloncat menunjukkan pula kemahiran
ilmu silat tinggi, biar pun tubuhnya tegap tinggi besar namun gerakannya ringan sekali dan ketika kedua
kakinya menginjak tanah, tidak mengeluarkan bunyi apa-apa seperti kaki kucing meloncat saja.
“Kau Si Jari Maut?” tiba-tiba jenderal itu membentak.
Gak Bun Beng melepaskan tangan Syanti Dewi dan menyuruh dara itu minggir. Syanti Dewi sendiri juga
kaget sekali, apa lagi mendengar nama Si Jari Maut. Mengapa pula penolongnya itu disangka Si Jari
Maut? Bukankah Si Jari Maut adalah tukang perahu itu?
Gak Bun Beng juga merasa heran dan dia menggeleng kepala. “Bukan, tai-goanswe. Saya tidak punya
nama lain kecuali yang dikatakan tadi.”
“Siapa dia?” Jenderal itu menuding ke arah Syanti Dewi.
“Dia anak saya.”
“Hemm, wajahnya bukan wajah wanita Han. Jangan membohong kau!”
“Memang anak saya ini berdarah campuran, tai-goanswe. Ibunya adalah seorang Tibet.”
Jenderal ini meraba jenggotnya. “Hem... kau dari mana hendak ke mana?”
“Saya dari Tibet di mana selama belasan tahun saya merantau dan menikah di sana, sekarang hendak
pergi ke Se-cuan.”
“Kau bukan Jari Maut?”
“Bukan, tai-goanswe.”
“Tapi kau tentu bisa ilmu silat, bukan?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Sukarlah bagi Gak Bun Beng untuk mendusta terhadap jenderal yang bermata tajam ini. Tentu saja bagi
seorang ahli, dapat melihat bahwa dia seorang yang ‘berisi’, maka dia bersenyum dan menjawab, “Sedikitsedikit
saya pernah mempelajari.”
“Nah, coba kau hadapi seranganku ini, ingin aku lihat sampai di mana kepandaianmu!”
Tiba-tiba saja jenderal itu menerjang maju. Gerakannya cepat bukan main, sama sekali tidak sesuai
dengan tubuhnya yang besar tegap itu, apa lagi dengan memakai pakaian perang yang cukup berat. Selain
cepat, juga pukulan kepalan tangannya didahului angin yang menyambar dahsyat, hawa yang
mengandung rasa panas ke arah dada Gak Bun Beng.
Pendekar sakti ini maklum bahwa sang jenderal sudah dapat melihat bahwa dia memiliki kepandaian dan
agaknya dia hendak menguji karena curiga, maka dia pun tidak mau berpura-pura lagi karena toh akan siasia
saja dan akan ketahuan oleh jenderal yang cerdik itu, maka ia pun cepat menangkis sambil
mengerahkan tenaganya sebagian saja, cukup untuk menandingi tenaga sinkang penyerangnya.
“Dukkk!”
Jenderal itu berseru kaget ketika pukulannya tertangkis dan lengannya terpental. Dia dapat memukul lagi
dan tahulah Gak Bun Beng bahwa pukulannya tadi ternyata hanya menggunakan tenaga setengahnya
karena jenderal itu belum tahu sampai di mana kekuatannya. Kini jenderal itu menghantam lagi, sekali ini
dengan tenaga penuh, tenaga yang melebihi kekuatan seekor kerbau jantan mengamuk!
“Dess...!” Kembali pukulan tertangkis dan jenderal itu terhuyung ke belakang.
“Coba pergunakan jari mautmu!” Bentak sang Jenderal dan kini dia menerjang lagi.
Kaki tangannya bergerak dan sekaligus Gak Bun Beng menghadapi serangan pukulan, tamparan, totokan
dan tendangan sebanyak delapan kali berturut-turut. Maklumlah dia bahwa jenderal ini benar-benar pandai,
agaknya sengaja mendesaknya dengan jurus luar biasa itu untuk memancing dia agar dia, kalau memang
mempunyai, mengeluarkan llmunya yang paling hebat, yang diharapkan akan membuka rahasia Jari Maut.
Tentu saja kalau Gak Bun Beng menghendaki, dengan apa saja, dia sekali turun tangan akan mampu
membunuh lawannya ini. Akan tetapi tentu saja dia tidak mau, bahkan dia menangkis dan sengaja
memperlambat gerakannya sehingga dua pukulan mengenai bahu dan dadanya.
“Bukk! Dess...!”
Gak Bun Beng terhuyung ke belakang sambil bereru, “Maaf, tai-goanswe, saya tidak kuat bertahan!”
“Ha-ha-ha!” Jenderal itu tertawa bergelak, berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang. Perutnya sampai
bergoyang-goyang ketika dia tertawa sambil mendongak ke angkasa. “Ha-ha-ha, engkau terang bukanlah
Si Jari Maut, sungguh pun engkau pandai sekali merendah. Sobat, aku Kao Liang kagum sekali
kepadamu!”
Terkejutiah hati Gak Bun Beng mendengar nama ini. Kiranya inilah jenderal yang amat ditakuti oleh para
pelarian tadi. Pantas saja! Memang seorang jenderal yang hebat! Untung jenderal ini agaknya tak pernah
atau jarang sekali muncul di kota raja sehingga tidak mengenalnya. Pula, andai kata pernah, tentu sudah
sejak mendengar namanya tadi pembesar itu lain sikapnya.
“Ah, kiranya Kao-taigoanswe...! Saya pernah mendengar nama besar tai-goanawe dari para pemberontak
yang lari terbirit-birit ke barat.”
“Ha-ha-ha, dan aku tadinya mencurigaimu sebagai anggota pemberontak. Tak mungkin. Apa lagi dengan
anakmu ini. Nah, kalian berdua hendak ke Se-cuan? Silakan, kalau di jalan bertemu kesukaran, katakan
bahwa engkau adalah sahabat Kao Liang, tentu akan dapat menolong!”
Gak Bun Beng menjura, menghaturkan terima kasih lalu mengajak Syanti Dewi pergi dari situ cepat-cepat,
biar pun malam itu cukup gelap karena bintang di langit terhalang sedikit awan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Gak Bun Beng mengajak Syanti Dewi berhenti di bawah sebatang pohon besar di dekat padang rumput.
Tidak mungkin melanjutkan perjalanan melintasi padang rumput yang demikian rimbun, takut kalau-kalau
ada ularnya atau binatang lain. Melihat lampu-lampu di sebelah kiri, mereka lalu bangkit lagi dan menuju ke
tempat itu. Kiranya itu adalah sebuah dusun yang lumayan besar. Akan tetapi karena dusun itu baru saja
mengalami pemeriksaan dan pembersihan, semua penduduk masih merasa takut dan pintu rumah ditutup
rapat-rapat.
Beberapa kali Gak Bun Beng mengetuk pintu, dan mendengar suara bisik-bisik di dalam, namun tidak
pernah ada yang menjawabnya. Bahkan ketika mereka melihat sebuah rumah penginapan dan mengetuk
pintunya, tak ada pelayan yang membukanya. Barulah setelah Syanti Dewi yang bersuara minta dibukakan
pintu, daun pintu terbuka oleh seorang pelayan yang memandang mereka penuh curiga.
“Kenapa kalian ini malam-malam menggedor-gedor pintu rumah orang?” tanyanya dengan hati lega akan
tetapi juga jengkel ketika melihat bahwa yang datang hanyalah seorang laki-laki setengah tua dan seorang
dara remaja yang keduanya berpakaian seperti orang dusun.
“Hemm, bukankah ini rumah penginapan untuk umum?” Gak Bun Beng bertanya sabar.
“Benar, akan tetapi apakah kau tidak bisa mengerti akan keadaan? Dunia sedang mau kiamat begini
mencari kamar waktu tengah malam! Untung aku berani membuka pintu, kalau tidak siapa lagi yang berani
dan kalian takkan bisa mendapatkan tempat di rumah mana pun juga.”
“Maaf kalau kami mengganggu dan mengagetkan, biarlah besok sebagai penambah uang sewa kamar
kami beri juga uang kaget,” kata pula Gak Bun Beng.
Mendengar bahwa dia akan menerima uang kaget sebagai hadiah, pelayan itu menjadi lebih ramah. “Baru
siang tadi dusun kami digerebek dan diperiksa, diawut-awut, banyak yang ditangkap dituduh teman
pemberontak. Tentu saja seluruh dusun ini masih dalam suasana panik dan takut.”
Gak Bun Beng mengangguk-angguk dan akhirnya mereka memperoleh sebuah kamar dengan dua buah
tempat tidur. Tadinya Gak Bun Beng hendak menyewa dua kamar, akan tetapi di depan pelayan itu Syanti
Dewi berkata, “Ayah, mengapa harus dua kamar? Satu saja cukuplah asal ada dua tempat tidur. Apa lagi,
aku takut tidur sendiri dalam kamar!”
Malam itu keduanya dapat tidur nyenyak setelah bercakap-cakap sebentar tentang Jenderal Kao Liang.
“Dialah seorang jantan sejati,” kata Gak Bun Beng kagum. “Negara memang membutuhkan orang-orang
seperti dia itulah! Aku berani bertaruh apa saja bahwa orang seperti dia tentu setia kepada negara, tidak
mabok kedudukan, tidak sudi menjilat dan tidak suka pula menekan bawahan. Ilmu kepandaiannya boleh
juga.”
“Aku juga sudah khawatir, paman. Dia kelihatannya begitu kuat dan lihai. Akan tetapi ternyata kau tidak
apa-apa! Dia memang mengerikan, seperti seekor singa!”
“Jarang kini terdapat orang seperti dia,” berkata pula Gak Bun Beng. “Orang pemberani macam dia tentu
tidak berhati kejam. Hanya orang penakutlah yang berhati kejam karena kekejaman lahir dari rasa takut.
Dan dia tidak pula penjilat, karena hanya orang yang suka menindas bawahannya sajalah yang suka
menjilat atasannya. Dia memang jantan sejati dan aku benar-benar kagum!”
Sementara itu, di perkemahannya, Jenderal Kao Liang juga berkata kepada seorang perwira
kepercayaannya. “Orang yang bernama Gak Bun Beng tadi memang hebat! Aku percaya bahwa dia
tentulah seorang kang-ouw yang berilmu tinggi, dan yang memakai nama Gak Bun Beng Si Jari Maut
tentulah seorang penjahat yang memang sengaja hendak merusak namanya.”
Memang tepatlah kata-kata Jenderal Kao Liang ini. Yang merusak dan menggunakan nama Gak Bun Beng
Si Jari Maut bukan lain adalah Ang Tek Hoat! Jenderal ini sudah mendengar akan sepak terjang Si Jari
Maut, akan tetapi dia mendengar bahwa penjahat kejam itu adalah seorang pemuda, maka dia tadi
percaya bahwa Gak Bun Beng yang ditemuinya itu bukanlah Si Jari Maut. Tentu saja dia tidak tahu bahwa
ketika menangkis serangannya tadi, Gak Bun Beng baru mengerahkan sedikit bagian saja dari tenaganya,
dan sama sekali dia tidak pernah mimpi bahwa Gak Bun Beng adalah seorang pendekar sakti murid dari
Pendekar Super Sakti Majikan Pulau Es, Bu-tek Siauw-jin, dan memiliki ilmu-ilmu kesaktian tingkat tinggi
yang amat hebat!
dunia-kangouw.blogspot.com
Pada keesokan harinya, setelah mandi pagi Gak Bun Beng berkata kepada Syanti Dewi, “Dewi, kita harus
menyamar dalam perjalanan selanjutnya. Aku sudah kapok kalau sampai terjadi seperti malam tadi. Pula,
menurut pelayan, di sebelah sananya padang rumput itu terdapat perkemahan pasukan. Ingin sekali aku
melakukan penyelidikan, dan mengetahui apakah gerangan yang terjadi sehingga seorang jenderal yang
berpangkat tinggi itu sampai datang ke tempat ini dan melakukan perondaan sendiri, memimpin pasukan
sendiri melakukan pembersihan.”
“Paman, bukankah Jenderal Kao telah menjamin...”
“Ah, aku tidak mau berkedok nama jenderal, Dewi. Kita melakukan perjalanan sendiri menggunakan akal
sendiri untuk menyelamatkan diri. Bagaimana kalau kita menyamar sebagai ayah dan anak penjual silat?”
“Tapi ilmu silatku masih rendah, paman.”
“Habis apa kiranya yang menjadi keahlianmu?”
“Aku agak pandai menari...”
“Nah, itu dia! Kita dapat menyamar sebagai penjual obat dan engkau menari, aku yang mengiringi dengan
meniup suling.”
Syanti Dewi tertawa dan cahaya matahari menjadi cerah bagi Gak Bun Beng. Tawa gadis yang halus itu
sungguh-sungguh mendatangkan kesegaran dalam perasaannya. Bertahun-tahun dia hidup membeku, dan
baru sekarang dia merasakan kehangatan peri kemanusiaan.
“Menari hanya diiringi dengan suling saja? Dan lagunya? Apakah kau mengenal lagu Bhutan, paman?”
“Tentu saja tidak. Akan tetapi cukup asal melagukan. Apa lagi kita adalah penjual obat, bukan ahli tari
sungguh pun aku yakin bahwa engkau tentu merupakan seorang ahli tari yang luar blasa. Nah, sekarang
kita harus berbelanja ke dusun ini menyiapkan segala keperluan penyamaran kita. Untukku sebatang
suling dan sebuah caping lebar, dan untukmu, apa kebutuhanmu dalam penyamaranmu, Dewi?”
“Sebagai penari keliling, cukup dengan sehelai selendang panjang saja, selendang dari sutera berwarna
merah.”
Setelah menemukan dan membeli kebutuhan mereka itu, Gak Bun Beng lalu mengajak Syanti Dewi
melanjutkan perjalanan meninggalkan dusun itu dan melintasi padang rumput. Di sepanjang perjalanan
Syanti Dewi menyanyikan beberapa lagu Tibet yang dikenalnya. Dengan sulingnya Gak Bun Beng
mempelajari lagu-lagu itu dengan penuh kagum dan keharuan karena dara itu ternyata amat pandai
bernyanyi dan mempunyai suara yang amat merdu dan halus.
Ketika mereka sudah melewati padang rumput, Gak Bun Beng berhenti dan meminta kepada Syanti Dewi
agar supaya menari. “Kita harus berlatih dulu agar cocok antara suling dan gerakan tarianmu,” katanya.
Dia duduk di bawah pohon dan mulai meniup sulingnya, menirukan lagu yang pernah dinyanyikan dara itu,
dan Syanti Dewi mulai menari, menggerakkan tubuhnya seperti seekor kupu-kupu beterbangan di atas
kelompok bunga, dan ketika selendangnya yang merah itu digerak-gecakkan, selendang itu membentuk
lengkung-lengkuk merah yang amat indah dan berubah-ubah. Kadang-kadang seperti seekor naga merah
terbang, kadang-kadang seperti seekor kupu-kupu, lalu seperti huruf-huruf yang hanya tampak sekilas
pandang saja karena sudah berubah lagi bentuknya. Bukan main!
Gak Bun Beng terpesona dan lupa diri, seolah-olah dia sedang berada di kahyangan menyaksikan tarian
seorang bidadari. Di dalam setiap gerakan tubuh dara itu, dari ujung jari tangan sampai ke anak rambut
yang terjurai di depan dahi, semua begitu hidup, mengandung warna tertentu dan merupakan nyanyian
tertentu, indah penuh rahasia seperti sajak-sajak keramat, meriah dan riang gembira seperti sinar matahari
pagi di musim semi!
Setelah Syanti Dewi menghentikan tariannya sambil tertawa, Gak Bun Beng baru sadar. Dia menurunkan
sulingnya pula, masih terlongong dan termenung, seolah-olah orang baru terbangun dari suatu mimpi yang
amat indah.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Paman Gak!” Syanti Dewi memanggil ketika melihat pendekar itu duduk termenung, aeolah-olah ada
sesuatu yang mengganggunya.
“Heh...? Ehh...!” Gak Bun Beng langsung menyeka peluh yang tanpa diketahuinya telah memenuhi dahi
dan lehernya, kemudian dia memandang Syanti Dewi dengan sinar mata lembut dan penuh kasih sayang.
“Dewi, bukan main kau...! Bukan main...!” Dan tak dapat ditahan lagi, dia mengatupkan bibir dan dua titik
air mata menetes ke atas pipinya.
Syanti Dewi menubruknya. “Paman, ada apakah? Paman... paman menangis?” Ucapan ini dikeluarkan
penuh ketidak percayaan. Rasanya mustahil bagi Syanti Dewi melihat seorang pria yang demikian gagah
perkasa, jantan keras bagaikan baja, lembut dan budiman seperti kapas, yang dihormati, kagumi, dan
sayang dapat meruntuhkan air mata walau pun hanya dua butir!
Gak Bun Beng tidak mampu menjawab dan memejamkan mata ketika merasa betapa Syanti Dewi
menyeka dua butir air mata itu dengan ujung selendangnya. Terbayanglah wajah Milana, teringatlah dia
akan semua kenikmatan dan kebahagiaan ketika berkasih sayang dengan wanita itu.
Kehadiran Syanti Dewi dalam hidupnya membuat luka lama di dalam hatinya merekah kembali dan dia
menjadi sangat rindu kepada Milana, sangat rindu pada belaian kasih sayang wanita. Padahal selama ini,
dia telah berhasil menundukkan semua itu, telah membuat hatinya mengeras seperti baja. Namun segala
keindahan yang dilihatnya di dalam diri Syanti Dewi, segala kelembutannya, mendobrak seluruh
pertahanannya dan menjadi jebol!
“Paman kau kenapakah? Mengapa paman berduka?” Kemudian Syanti Dewi bertanya dengan suara
penuh kedukaan dan kecemasan.
Gak Bun Beng membuka mata, lalu memaksa diri tersenyum dan membuka capingnya. Dia mengipasi
muka dan lehernya dengan caping, bukan untuk mengusir hawa panas, melainkan dengan harapan angin
dari kipasan caping itu akan mengusir keharuan yang mencekik lehernya. Sukar dia mengeluarkan suara,
karena itu dia hanya menggeleng kepala sambil tersenyum.
“Paman, kau tadi kelihatan demikian berduka, sampai menangis! Padahal tadinya tidak apa-apa. Setelah
aku menari, paman lalu berduka dan terharu. Tentu ada sebabnya, paman. Demikian tegakah paman
membiarkan aku dipermainkan kesangsian? Tidak sudikah paman mempercayaiku dan menceritakan apa
yang mendukakan hatimu?”
Gak Bun Beng menggerakkan tangan dan mengelus rambut kepala gadis itu. Gerakan ini meruntuhkan hati
Syanti Dewi dan otomatis dia kemudian menjatuhkan kepalanya bersandar pada dada pendekar itu. Dia
merasa begitu aman, begitu tenteram dan begitu bahagia, seolah-olah dada yang bidang itu melindunginya
dari segala mala petaka yang akan datang mengancamnya, melindunginya dari segala kedukaan dan
mendatangkan kebahagiaan yang dia tidak mengerti.
Gak Bun Beng pun menerima perbuatan gadis ini dengan perasaan wajar, seolah-olah sudah semestinya
demikian dan untuk beberapa saat dia tetap mengelus rambut kepala yang panjang, hitam dan halus itu.
Kemudian dia teringat betapa janggalnya keadaan mereka, maka perlahan dia mendorong kepala gadis itu
dari atas dadanya.
Mereka duduk berhadapan dan berkatalah Gak Bun Beng, “Syanti Dewi, kaulah satu-satunya manusia
yang berhak mengetahui segala mengenai diriku.”
“Terima kasih, paman. Aku yakin bahwa memang engkau akan menceritakan kepadaku, karena kiranya
tidak ada lagi manusia yang demikian mulia seperti engkau, paman.”
Gak Bun Beng memegang tangan dara itu, akan tetapi ketika dia merasa ada getaran kemesraan yang luar
biasa keluar dari tangan dara itu, dia cepat melepaskannya kembali dan menghela napas, membuang
pandang matanya ke tanah, lalu menunduk. “Dewi, engkau terlalu tinggi memandang diriku. Aku hanyalah
seorang tua yang bodoh, yang canggung dan lemah.”
“Sebenarnya bukan aku yang memandang terlalu tinggi, melainkan engkau yang selalu merendahkan diri,
dan itulah satu di antara sifat-sifat paman yang kukagumi. Sekarang ceritakan, paman, mengapa paman
tadi menangis ketika melihat aku menari?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Syanti Dewi, karena kau mengingatkan aku akan seorang lain...”
“Seorang wanita?”
Gak Bun Beng mengangguk.
“Wanita yang paman cinta?”
Kembali Gak Bun Beng mengangguk.
“Dan dia pun mencinta paman?”
Untuk ketiga kalinya Gak Bun Beng mengangguk.
Syanti Dewi menunduk, dia kelihatan berduka sekali. Sampai lama keduanya diam saja, kemudian
terdengar dara itu bertanya, suaranya gemetar menahan isak, “Paman Gak, sudah lamakah dia
meninggal?”
Gak Bun Beng mengerutkan alis, lalu mengerti bahwa dara ini menyangka kekasihnya itu sudah
meninggal. “Sampai sekarang dia masih hidup, Dewi.”
Muka dara itu menjadi pucat sekali, kemudian merah dan dia meloncat bangkit berdiri dan suaranya
nyaring penuh rasa penasaran dan kemarahan, “Kalau begitu dia telah meninggalkan paman, sungguh
kejam sekali!”
Gak Bun Beng cepat menggelengkan kepalanya. “Bukan! Bukan dia, melainkan akulah yang meninggalkan
dia...”
Wajah yang tadinya merah menyala itu menjadi pucat, kedua tangannya yang dikepal terbuka dan tubuh
yang menegang itu menjadi lemas. “Ouhhh...!” Syanti Dewi mengeluh dan duduk kembali di depan
pendekar itu.
Syanti Dewi melihat Gak Bun Beng pendekar pujaannya itu duduk termenung, wajahnya pucat sekali.
Alisnya yang tebal berkerut, dan di permukaan wajah itu seperti terbayang kenyerian yang sukar dilukiskan.
Melihat wajah pendekar itu seperti ini, Syanti Dewi tak dapat menahan tangisnya. Dia lalu terisak dan
memegang kedua tangan pendekar itu, mengguncang-guncangnya sambil bertanya di antara isaknya.
“Akan tetapi... mengapa, paman? Mengapa...? Mengapa...?” Suaranya bercampur isak dan dia
membiarkan air matanya berderai menuruni pipinya.
Melihat keadaan dara ini, Gak Bun Beng merenggutkan kedua tangannya. Ia takut pada dirinya sendiri
karena seluruh tubuhnya, seluruh hati dan perasaannya, seakan-akan mendorongnya untuk memeluk dan
mendekap dara itu penuh cinta kasih. Dia melawan hasrat ini dan karenanya dia merenggutkan kedua
tangan dari pegangan dara itu, lalu menutupkan kedua tangannya ke mukanya sambil menahan air
matanya dengan jari-jari tangannya. Sampai lama mereka tidak berkata-kata, yang terdengar hanya suara
isak Syanti Dewi dan tarikan napas panjang Gak Bun Beng.
Setelah Syanti Dewi agak mereda dan berhasil menekan perasaan harunya dan ibanya, dia mengangkat
muka yang basah dan merah, memandang punggung kedua tangan yang menutupi muka pendekar itu,
bertanya, “Paman, saya yakin pasti ada sebab-sebab yang memaksa paman meninggalkannya. Sudah
pasti ada, dan maukah paman menceritakan kepadaku?”
Mendengar suara gadis itu telah tenang kembali biar pun masih gemetar, Gak Bun Beng yang juga telah
berhasil meredakan gelora hatinya, menurunkan kedua tangannya dan tampaklah wajahnya yang pucat
dan muram. “Syanti Dewi, sudah kukatakan bahwa aku akan menceritakannya kepadamu. Memang ada
sebabnya, dan sebab itu adalah karena aku bodoh dan serba canggung! Begitu banyak aku melihat
perkawinan gagal, cinta kasih berantakan setelah terjadi perkawinan, kemesraan lenyap terganti cemburu,
kekecewaan dan kemarahan yang berakhir dengan kebencian dan dendam, sehingga aku menjadi muak
dan ngeri. Aku menjadi takut kalau-kalau dia pun akan menderita apa bila kasih di antara kita yang murni
itu akan menjadi palsu dan kotor setelah kita menikah. Aku tidak tega membiarkan dia kelak menderita,
karena itu, aku mundur... tidak tahu bahwa aku membawa pergi racun yang menggerogoti dan merusak
hidupku hari demi hari. Dengan kekuatan batin aku bisa menundukkan semua itu, membuat hatiku keras
dunia-kangouw.blogspot.com
dan melupakan segala.” Dia menarik napas panjang dan menengadah, memandang ke langit seolah-olah
hendak mengadukan nasibnya kepada Thian.
“Jadi... itukah sebabnya, paman, seorang pendekar besar kemudian mengasingkan dan menyembunyikan
diri di antara orang-orang biasa, menjauhkan diri dari segala urusan dan kesenangan duniawi?”
Gak Bun Beng mengangguk.
“Dan selama itu paman tidak lagi tertarik kepada wanita yang mana pun?”
“Hemmm... sebelum mengenal dia, aku belum pernah mencintai orang lain, sesudah itu pun aku tidak ada
minat dan waktu... aku malah muak dan tidak percaya akan cinta kasih antara pria dan wanita yang
kesemuanya kuanggap palsu belaka! Aku tidak percaya lagi akan kata-kata cinta yang pada hakekatnya
hanyalah penonjolan keinginan pribadi untuk mencari kesenangan dan kepuasan hati sendiri. Akan tetapi...
sikapku karena patah hati itu ternyata keliru dan baru aku sadar bahwa memang ada cinta kasih yang
murni, yang tanpa pamrih... yaitu setelah aku bertemu denganmu, Dewi. Setelah aku berjumpa denganmu,
setelah aku bergaul beberapa lamanya denganmu, kau mengingatkan aku kepada dia...”
“Aduh, paman Gak... sungguh kasihan kau! Kalau begitu, mengapa kita tidak pergi saja mencari dia? Di
mana kekasihmu itu? Sekarang belum terlambat untuk menyambung kembali pertalian kasih sayang yang
secara paksa paman putuskan itu! Marilah, aku akan menceritakan kepadanya betapa paman adalah
seorang jantan yang hebat, seorang pria yang budiman, yang sampai saat ini pun tidak pernah melupakan
dia, tidak pernah mengurangi cinta kasihnya yang mendalam dan murni!”
Gak Bun Beng menggeleng kepala. “Dia... dia telah menikah dengan orang lain, Dewi...”
“Ihhhh...!” Mata yang indah itu terbelalak memandang Bun Beng. “Mana mungkin...? Bukankah dia
mencintamu, paman?”
“Dia tidak berdaya, kehendak orang tuanya.” Tiba-tiba Gak Bun Beng teringat bahwa dia telah berlarutlarut.
Melihat wajah dara itu yang biasanya seperti matahari pagi kini menjadi muram, pucat dan layu, dia
hampir memukul kepalanya sendiri.
Tiba-tiba dia memegang tangan dara itu, ditariknya berdiri dan sambil tersenyum dia berkata, “Aahhh, apa
yang telah kita lakukan ini? Kita mendongeng tentang cerita-cerita duka, menggali pendaman-pendaman
busuk! Padahal dunia ini begini indah, matahari begitu terang! Hapuskan air matamu itu, Dewi! Engkau
masih muda belia, muda remaja. Lihat, masa depanmu seperti sinar matahari itu, cerah dan terang! Perlu
apa hidup yang sekali ini di dunia harus berkeluh kesah dan berduka cita! Air mata darah sekali pun tidak
akan dapat membangkitkan kembali yang telah mati! Ha-ha-ha, aku bodoh dan canggung! Mari, Dewi, kita
lanjutkan perjalanan. Lihat di sana itu, genteng-gentengnya masih baru, tentu itu merupakan bangunan
baru, dan kalau tidak salah, itulah markas pasukan yang akan kita selidiki.”
Melihat perubahan sikap pendekar itu, Syanti Dewi yang berperasaan tajam halus dan memang cerdik itu
maklum jika pendekar itu selain hendak mengubur kembali kenangan yang menyedihkan, juga tak ingin
menyeretnya berlarut-larut ke dalam awan kedukaan. Dia semakin kagum dan bersyukur, maka dia pun
membantu agar pendekar itu tidak kecewa. Dia menghapus semua keharuannya dan mulai tampaklah
senyum di bibir dara itu dan matanya mulai bercahaya ketika dia memandang wajah Gak Bun Beng.
“Baik, paman. Marilah, akan tetapi harap paman menjagaku baik-baik karena aku masih ngeri kalau
teringat akan kekasaran prajurit-prajurit itu.”
“Jangan khawatir. Betapa pun juga, andai kata terjadi apa-apa yang tak dapat kucegah, kita masih
mempunyai jimat berupa nama jenderal itu, bukan? Cuma satu hal yang harus kau jaga. Jangan kau
menari seindah tadi!”
“Eh, mengapa, paman?”
“Mana mungkin ada penari dusun dapat menari seindah tarian bidadari seperti tadi?! Jangan, gerakkan
selendangmu biasa saja, agak perkasarlah gerakan kaki tanganmu.”
Syanti Dewi tertawa. Sedap perasaan Gak Bun Beng mendengar suara ketawa ini dan buyarlah semua
awan mendung. “Perintahmu ini jauh lebih sukar dari pada perintah memperbaiki atau memperhalus tarian,
dunia-kangouw.blogspot.com
paman. Memperkasar tarian? Betapa sukarnya, akan tetapi biarlah kucoba asal paman membantu dengan
suara sulingmu.”
“Membantu bagaimana?”
“Jangan terlalu merdu! Bikin agak sumbang begitulah, jadi aku akan tetap teringat untuk membikin
gerakannya kaku.”
Keduanya tertawa dan melanjutkan perjalanan menuju ke sekelompok bangunan di depan sambil
bergandengan tangan. Sekali ini Gak Bun Beng tidak ragu-ragu lagi untuk menggenggam tangan yang
kecil halus itu. Mereka bergandengan sebagai dua orang sahabat, sebagai ayah dan anak, bukanlah
sebagai sepasang kekasih!
Markas itu adalah markas pasukan penjaga tapal batas. Biasanya mereka bermalas-malasan, akan tetapi
semenjak Jenderal Kao Liang datang beberapa hari yang lalu, mereka tidak berani bermalas-malasan lagi
dan penjagaan dilakukan dengan tertib. Juga tidak ada yang berani berkeliaran mengganggu dusun-dusun
terdekat karena Jenderal Kao Liang terkenal sebagai seorang pembesar yang keras dan kedatangannya
otomatis membuat para komandan pasukan di tempat itu juga menjadi tegas dan keras terhadap
bawahannya.
Banyak juga orang preman, penduduk dusun yang keluar masuk pintu gerbang benteng, ada yang
mengantar kayu bakar, sayur-sayuran dan lain-lain. Gak Bun Beng berjalan tenang bersama Syanti Dewi
dan sambil berjalan dia meniup sulingnya. Ketika mereka tiba di depan pintu gerbang, empat orang
penjaga menghadang mereka dan seorang di antaranya menghardik, “Berhenti! Siapa kalian dan mengapa
engkau meniup-niup suling di tempat ini? Tak tahukah bahwa di sini adalah markas pasukan?”
“Maaf, kami memang rombongan tari, maka sudah menjadi kebiasaan saya jika berjalan meniup suling
agar tidak lekas lelah. Jadi di sini adalah markas pasukan pemerintah? Kebetulan sekali! Kami sedang
menuju ke timur dan karena kami ingin mendengar secara resmi bagaimana keadaan di sana, maka kami
ingin memperoleh keterangan dari komandan kalian. Untuk itu, kami bersedia menghibur kalian dengan
tari-tarian dan memberi obat luka yang manjur.”
Para penjaga itu saling pandang dan mereka berkali-kali memandang wajah Syanti Dewi yang amat cantik
biar pun sederhana pakaiannya itu. “Kau tunggu sebentar, aku akan melapor kepada komandan!” kata
seorang di antara mereka penuh gairah.
Gak Bun Beng mengangguk dan duduk di sudut sambil meniup sulingnya, sengaja dia mainkan sulingnya
sebaik mungkin untuk menarik perhatian. Sedangkan Syanti Dewi menunduk saja karena dia merasa
‘ngeri’ melihat pandang mata para penjaga itu yang seolah-olah hendak menelannya bulat-bulat!
Tak lama kemudian muncullah si penjaga tadi mengiringkan seorang perwira gendut pendek yang
mukanya bulat dan terlihat lucu. Perwira itu adalah komandan sementara di markas itu karena panglimanya
sedang pergi mengikuti Jenderal Kao Liang yang sedang memimpin pasukan beroperasi di daerah barat.
Perwira itu sebetulnya seorang yang sabar dan baik, akan tetapi begitu melihat bahwa yang disebut
rombongan tari itu terdapat seorang gadis yang demikian denok, kontan saja sikapnya menjadi berubah
dari biasanya.
Dia memasang aksi seolah-olah dialah komandan terbesar, dialah panglima tertinggi atau bahkan kaisar
sendiri! Sambil bertolak pinggang dia memandang kepada Gak Bun Beng yang sudah berdiri dan menjura
di depannya. Pandang matanya tajam menyapu pendekar itu dan dara di sebelahnya, seolah-olah dia
sama sekali tidak acuh akan kecantikan dara itu dan hanya menjalankan tugasnya sebagai ‘komandan’
betul-betul, lalu dia membentak dengan suara nyaring, “Siapa kau dan dari mana hendak ke mana?”
Gak Bun Beng yang sudah berpengalaman dan pandai membaca sikap dan isi hati orang, tersenyum geli
karena maklum bahwa kegagahan perwira ini adalah dibuat-buat untuk menarik perhatian Syanti Dewi,
tentunya dengan maksud agar dara itu kagum melihat seorang ‘komandan sungguhan’! Ingin sekali dia
melihat akan bagaimana wajah badut ini kalau dia tahu bahwa gadis dusun yang cantik dan dipasangi aksi
itu adalah Puteri Bhutan yang akan menjadi mantu kaisar! Bisa dibayangkan bahwa si gendut pendek ini
tentu akan bertiarap di depan kaki Syanti Dewi, menyusup-nyusup seperti ular di antara rumput dan mintaminta
ampun!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Maafkan kami berdua, tai-ciangkun!” berkata Gak Bun Beng yang makin geli hatinya melihat betapa ketika
mendengar sebutan tai-ciangkun perwira itu langsung saja melembungkan dadanya dan mengempiskan
perutnya, akan tetapi karena tidak dapat menahan lama-lama, segera dadanya mengempis dan perutnya
mengembung kembali seperti biasanya. Dicobanya lagi beberapa kali, namun makin lama makin tak kuat
sampai napasnya senin kemis dan akhirnya dia membiarkan saja perutnya gendut bergantung dan
dadanya mengempis.
“Saya bernama Gak Bun Beng dan dia adalah anakku bernama Dewi, ibunya seorang Tibet. Kami hendak
pergi ke timur, akan tetapi di sepanjang jalan saya melihat pasukan pemberontak yang melarikan diri dan
kabar selentingan bahwa di timur geger karena perang. Hal ini sangat menggelisahkan kami karena kabar
yang kami terima tidak jelas. Maka kami ingin memperoleh keterangan yang resmi dan jelas dari taiciangkun
agar hati kami lega untuk melanjutkan perjalan ke timur yang amat jauh itu. Untuk kebaikan taiciangkun,
sebelumnya kami menghaturkan terima kasih dan untuk membalas budi, kami akan mengadakan
pertunjukan tari-tarian dan membagi obat luka yang mujarab untuk tai-ciangkun.”
Perwira gendut itu menggerak-gerakkan alisnya seperti orang yang berpikir keras. Memang dia berpikir,
akan tetapi alis tipis yang digerak-gerakkan itu termasuk aksinya agar kelihatan sebagai panglima ahli
siasat yang pandai. Lagi-lagi, matanya yang agak bulat dan kecil melirik ke arah Syanti Dewi. Lirikan cepat
tidak kentara akan tetapi tentu saja tidak terlepas dari pandang mata Gak Bun Beng.
“Dewi... hemmm...” Perwira itu menggumam, agaknya tertarik oleh nama itu dan sama sekali tidak
memperhatikan nama lakl-laki bercaping itu.
“Bagaimana, tai-ciangkun?” Gak Bun Beng bertanya ketika melihat perwira itu seperti mimpi menyebut
nama Dewi.
“Ohhh... ya, kami pikir dulu. Eh, engkau kelihatan begini tabah menghadapi pasukan, seperti sudah biasa.
Engkau bukan mata-mata pemberontak, bukan?”
Gak Bun Beng tersenyum. Pertanyaan ini saja sudah membuktikan betapa tololnya perwira ini dan dengan
seorang perwira seperti ini menjadi komandan markas, tidak akan heran kalau mata-mata dapat
menyelundup masuk.
“Tentu saja bukan, tai-ciangkun. Kalau mata-mata musuh, masa kami mencari penyakit datang ke sini?
Saya memang sudah biasa dengan pasukan, apa lagi pasukan pemerintah sendiri, karena belasan tahun
yang lalu saya pun pernah menjadi prajurit dalam pasukan istimewa yang dipimpin oleh Puteri Nirahai
sendiri.”
“Ohhh...!” Seruan ini terdengar dari banyak mulut para prajurit yang sudah mengerumuni tempat itu.
Pasukan istimewa dari Puteri Nirahai memang terkenal sekali.
Mendengar ini, perwira gendut itu berseri wajahnya. “Nah, apa kataku tadi! Tepat sekali, bukan? Sudah
kulihat bahwa engkau adalah seorang yang biasa dengan pasukan. Kiranya masih bekas rekan sendiri, haha!
Kalau begitu, tentu saja kalian kami sambut dengan kedua tangan terbuka. Selamat datang dan marilah
masuk. Mari silakan, nona... eh, nona Dewi. Indah sekali nama puterimu, saudara Gak!”
Syanti Dewi menjura dengan hormat sedang Gak Bun Beng tersenyum girang ketika keduanya diiringkan
oleh sang perwira gendut sendiri memasuki pintu gerbang markas itu. Hari telah mulai gelap karena tadi
mereka berangkat dari dusun setelah berbelanja sampai sudah lewat tengah hari, dan tadi mereka agak
lama berhenti bercakap-cakap sehingga menjelang senja mereka baru tiba di depan markas itu.
“Sebaiknya tari-tarian dilakukan pada waktu malam hari, di dekat api unggun, barulah tampak lebih indah
dan meriah,” kata Gak Bun Beng.
“Baik, dan memang sebaiknya demikian agar semua anak buah dapat ikut menonton karena sudah bebas
tugas,” berkata perwira itu yang mulai kelihatan kebaikan hatinya seperti biasa.
“Sekarang kalau kau tidak berkeberatan, ciangkun, harap suka menceritakan kepadaku tentang keadaan di
kota raja. Saya ingin membawa anak saya ke kota raja, akan tetapi tentu saja hati saya tidak akan
tenteram sebelum tahu bagaimana keadaan di sana.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Perwira itu menggelengkan kepalanya. “Sebetulnya, perjalanan ke sana dari sini sudah tidak akan
terganggu oleh para pemberontak lagi karena belum lama ini telah dilakukan operasi pembersihan besarbesaran.
Akan tetapi, tentu saja kau harus berhati-hati terhadap perampok dan orang jahat, saudara Gak.”
“Harap ciangkun tidak usah khawatir. Kalau hanya menghadapi para perampok, kiranya saya tidaklah
percuma menjadi bekas anak buah Puteri Nirahai. Tetapi, bagaimanakah keadaan kerajaan sendiri?
Mengapa banyak timbul pemberontakan? Kalau sekiranya memang perlu, biar pun sekarang sudah mulai
tua, aku akan menghadap panglima di kota raja untuk menjadi prajurit lagi, membela pemerintah.”
Perwira itu menggeleng-geleng kepala. “Memang kurang baik keadaannya. Karena itulah Jenderal Kao
Liang sendiri sibuk ke sana ke mari, mengadakan pengontrolan dan perondaan sendiri, hanya dengan
beberapa orang pembantu dan pengawalnya. Tentu kau tahu, setelah sri baginda menjelang tua, biar pun
tahta kerajaan sudah ditentukan akan jatuh kepada Putera Mahkota Yung Ceng, tetap saja timbul
perebutan. Kabarnya banyak pangeran yang diam-diam melakukan pemberontakan secara rahasia
sehingga sukar diketahui mana yang setia kepada kerajaan dan yang mana yang memberontak. Apa lagi
akhir-akhir ini keadaan dibikin ramai dan ribut lagi dengan adanya pertalian jodoh antara Puteri Kerajaan
Bhutan dan seorang pangeran.”
Perwira itu agaknya senang bercerita, apa lagi melihat Syanti Dewi mendengarkan dengan penuh
perhatian sehingga mata yang indah itu jarang berkedip, pandangannya seolah-olah bergantung kepada
bibirnya yang sedang bercerita, bibir yang tebal dan membiru karena terlalu banyak menghisap tembakau.
Disebutnya Puteri Bhutan itu mengejutkan hati Gak Bun Beng dan karena dia ingin agar perhatian perwira
itu beralih dari wajah Syanti Dewi yang tentu saja lebih kaget lagi, dia cepat berkata, “Mengapa pertalian
jodoh saja dapat menimbulkan ramai dan keributan, ciangkun?”
“Sebetulnya pernikahan itu sendiri tidak akan menimbulkan ribut, bahkan merupakan peristiwa yang
menggembirakan. Kabarnya Puteri Bhutan itu cantik bukan main, seperti bidadari...”
“Hemm, saya pun sudah mendengar, bahkan melebihi bidadari,” kata Gak Bun Beng secara kelakar untuk
sekedar melenyapkan kekagetan Syanti Dewi. Dara itu menoleh kepada ‘ayahnya’ dan tersenyum.
“Akan tetapi di balik pernikahan itu tersembunyi maksud-maksud tertentu dari kedua pihak. Pihak Bhutan
tentu saja suka berbesan dengan kaisar kita, sebab ingin mendapat perlindungan dari para pemberontak
Tibet dan Mongol pimpinan Raja Muda Tambolon. Sebaliknya, pihak kaisar juga ingin menaklukkan negara
itu secara halus melalui ikatan kekeluargaan tanpa perang. Namun maksud kaisar ini mendapatkan
tentangan dari banyak pangeran dengan bermacam-macam dalih, akan tetapi saya kira dasarnya hanyalah
karena tidak ingin melihat kedudukan kaisar makin kuat dengan adanya banyak negara lain yang
bersekutu! Maka kabarnya terjadi bermacam-macam usaha untuk menggagalkan pernikahan itu, bahkan
kabarnya rombongan penjemput puteri yang dipimpin Panglima Tan Siong Khi telah diserbu, dan puteri itu
sendiri kabarnya lenyap ditawan pemberontak. Inilah sebabnya mengapa Jenderal Kao Liang mengamuk
dan menumpas para pemberontak di perbatasan. Celakanya, ada kabar angin bahwa usaha itu sudah
diatur dari kota raja sendiri, oleh para pangeran yang secara rahasia memberontak.”
Kaget bukan main hati Gak Bun Beng mendengar ini. Kiranya segala kekacauan itu bersumber kepada
perebutan kekuasaan di istana! Bagaimana dengan Milana?
“Lalu bagaimana pula kabarnya sikap pangeran yang akan dikawinkan dengan Puteri Bhutan?”
“Pangeran Liong Khi Ong? Hemmm, tidak ada berita tentang dia, kelihatannya tenang-tenang saja, bahkan
belum lama ini dia pun ikut rombongan Jenderal Kao Liang meninjau ke barat, akan tetapi lalu terpisah dan
berpesiar menggunakan perahu melalui sungai dikawal oleh pasukannya sendiri. Masih untung Puteri
Bhutan yang seperti bidadari itu tidak jadi menikah dengan pangeran itu!”
“Mengapa demikian? Bukankah enak menikah dengan pangeran yang kedudukannya tinggi?” Tiba-tiba
Syanti Dewi bertanya, tidak dapat menahan hatinya lagi karena yang dibicarakan itu sesungguhnya adalah
dirinya sendiri.
Perwira gendut memandang dan tersenyum menyeringai, senang hatinya mendengar dara itu bertanya,
“Menarik sekali ceritaku, ya?”
“Ceritamu menarik dan hebat, tai-ciangkun,” jawab Syanti Dewi.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Biar pun andai kata engkau sendiri, nona, akan sengsara kalau menjadi isteri Pangeran Liong Khi Ong.”
Perwira itu berkata sambil mengurut kumisnya yang tebal. “Pangeran itu terkenal sebagai seorang mata
keranjang. Selain selirnya sangat banyak, juga setiap malam dia harus berganti teman baru. Maka, andai
kata puteri itu pun menjadi isterinya, dalam beberapa hari saja tentu dia akan disia-siakan begitu saja!”
“Ahhh...!” Tentu saja berita ini membuat Syanti Dewi terkejut dan marah.
“Ceritamu menarik sekali, ciangkun, terima kasih atas segala keterangannya. Dengan ceritamu itu, saya
malah ingin sekali segera tiba di kota raja untuk mendaftarkan masuk prajurit lagi. Sekarang, hari sudah
malam, mari kita mulai dengan pertunjukan sebagai upah kebaikan ciangkun. Dan sebungkus obat ini
adalah obat yang amat manjur buat luka-luka, saya haturkan kepada ciangkun.”
“Terima kasih, terima kasih.” Perwira itu menerima bungkusan obat, lalu mengantarkan mereka keluar. Api
unggun dipasang di pelataran yang luas itu, dan para prajurit sudah berkumpul untuk menonton.
Gak Bun Beng mengeluarkan sulingnya dan Syanti Dewi mengeluarkan selendang. Suling kemudian ditiup,
makin malam makin mengalun nyaring dan kemudian mulailah Syanti Dewi menari dengan selendang
merahnya. Gak Bun Beng meniup suling sambil duduk dan matanya mengikuti gerakan Syanti Dewi, juga
siap waspada melindungi dara itu, sedangkan Syanti Dewi menari di dalam api unggun, membuat
selendang itu tampak seperti api bernyala dan wajah yang cantik itu kemerahan, amat cantik jelitanya.
Ketika melihat betapa dara itu tenggelam ke dalam tariannya dan menari dengan amat indah, Gak Bun
Beng cepat mengangkat sedikit jari penutup lubang sulingnya sehingga suara sulingnya menjadi sumbang.
Syanti Dewi terkejut mendengar suara ini, teringat dan menengok ke arah Gak Bun Beng sambil
tersenyum, lalu tangan kanannya digerakkan secara kaku, sungguh pun tangan kirinya masih bergerak
halus dan lemas sekali. Makin sumbang suara suling, makin kaku gerakan Syanti Dewi dan tak lama
kemudian suara suling itu bunyinya seperti suling ular! Tari-tarian dara itu pun makin kacau, akan tetapi
karena hatinya geli, dia tersenyum-senyum dan senyumnya inilah yang menyelimuti semua kejanggalan
itu! Seluruh penonton terpesona oleh senyumnya!
Setelah suara suling berhenti dan Syanti Dewi juga menghentikan tariannya, terdengar tepuk sorak riuh
rendah diselingi permintaan agar dara itu melanjutkan tari-tariannya. Gak Bun Beng maklum bahwa kalau
dituruti para prajurit yang sudah lama tinggal di asrama dan rata-rata ‘haus wanita’ itu keadaannya akan
menjadi runyam, apa lagi kalau Syanti Dewi secara tak sadar begitu banyak mengobral senyumnya.
Selain itu, si perwira gendut bisa saja nanti menuntut yang bukan-bukan. Keterangan yang resmi dan jelas
tentang keadaan di kota raja sudah didapat, dan itulah memang sasaran utamanya. Setelah berhasil, perlu
apa tinggal lebih lama lagi di tempat ini? Bagi dia tidak apa-apa, akan tetapi bagi Syanti Dewi amat
berbahaya. Juga dia yakin kalau Jenderal Kao Liang tiba, tentu jenderal itu akan marah dan mungkin akan
menghukum si perwira gendut yang melalaikan tugas dan bersenang-senang.
“Saudara sekalian,” mendadak dia bangkit berdiri dan menghampiri Syanti Dewi yang masih menerima
sorak sorai itu sambil tersenyum dan membungkuk-bungkuk.
Suara berisik berhenti dan semua orang hendak mendengarkan kata-kata ayah dara yang penuh pesona
itu. “Saudara-saudara sekalian, kami masih memiliki pertunjukan yang menarik lagi, yaitu tarian bersama
antara anakku dan aku sendiri, akan tetapi harap Saudara sekalian suka duduk dan jangan berdiri agar
yang berada di belakang dapat menonton pula dengan senang.”
Semua orang tertawa dan mulailah mereka duduk di atas tanah dengan hati senang karena jarang terdapat
hiburan seperti ini. Setelah melihat semua orang duduk, Gak Bun Beng lalu meniup sulingnya sambil
menggerakkan kedua kaki seperti orang menari. Hal ini mengherankan Syanti Dewi. Dia tahu bahwa
‘ayahnya’ ini mempunyai suatu niat tertentu, akan tetapi tidak tahu niat apa. Dia pun membantu dan mulai
menari lagi dengan indahnya.
Tiba-tiba Gak Bun Beng berbisik sambil menghentikan sebentar tiupan sulingnya, “Kau nanti naik ke
punggungku!” lalu kembali menyuling, mengejapkan mata ke pada Syanti Dewi agar mendekati dan
mengikutinya. Gak Bun Beng melangkah makin ke pinggir, kemudian secara tiba-tiba dia berbisik, “Hayo
sekarang!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Syanti Dewi yang cerdik mengerti bahwa pendekar itu tentu akan membawanya lari tanpa menimbulkan
pertempuran, maka cepat dia meloncat ke punggung pendekar itu. Gak Bun Beng mengeluarkan suara
melengking nyaring sekali, tangan kirinya menahan tubuh Syanti Dewi yang digendongnya di belakang
punggung, tangan kanan memegang suling dan tubuhnya sudah melesat seperti terbang saja melalui
kepala orang-orang yang duduk itu!
Semua orang lalu bersorak, mengira bahwa ayah dan anak itu masih memperlihatkan pertunjukan yang
memang amat hebat dan menarik. Akan tetapi ketika kedua orang itu lenyap ditelan kegelapan malam dan
keadaan sunyi kembali, terdengar mereka ribut-ribut.
“Ke mana mereka?”
“Mereka menghilang!”
“Wah, tentu telah lari!”
“Mengapa lari?”
“Mata-mata! Mereka tentu mata-mata!”
Perwira gendut itu memerintahkan semua anak buahnya untuk mencari dan mengejar, namun sia-sia
belaka karena Gak Bun Beng dan Syanti Dewi telah pergi jauh sekali jauh dari markas itu dan sudah
berjalan sambil tertawa-tawa.
“Paman, mengapa kau harus mempergunakan akal untuk lari? Bukankah perwira itu baik sekali dan kita
tidak akan terganggu?”
“Hemmm, belum tentu. Kalau hanya aku sendiri, pasti tidak ada gangguan. Akan tetapi ada engkau, Dewi!”
Syanti Dewi mengerti dan dia menghela napas panjang. “Sungguh tidak enak menjadi wanita...”
“Heh...?”
“Apa lagi kalau masih muda...”
“Hemm...”
“Dan cantik pula. Selalu menghadapi gangguan pria.”
“Tidak semua pria, Dewi.”
“Tentu saja, paman. Pria seperti paman tidak akan mengganggu wanita, akan tetapi ada berapa gelintir
orang seperti paman di dunia ini? Justru itulah celakanya, pria seperti paman tidak pernah mengganggu,
dan yang mengganggu hanyalah laki-laki ceriwis macam tikus yang menjemukan saja!”
Gak Bun Beng tertawa karena kini dia melihat segi-segi lain yang mengagumkan hatinya dalam diri gadis
ini. Kalau tiba saatnya, gadis ini dapat pula bersikap jenaka dan lucu, sungguh pun tidak selincah Milana
misalnya. Dia terkejut, dan mengepal tinjunya. Mengapa dia jadi teringat kepada Milana dan membandingbandingkan
dengan dara ini?
“Paman, kalau hanya ingin mendengar berita tentang kota raja, bertanya biasa pun bisa. Mengapa paman
harus menggunakan siasat penyamaran kemudian melarikan diri?”
“Ah, tidak mudah, Dewi. Bertanya kepada orang biasa, tentu tidak tahu jelas. Bertanya kepada mereka
secara biasa, tentu menimbulkan kecurigaan dan selain tidak akan memperoleh penuturan jelas, mungkin
malah ditangkap dengan tuduhan mata-mata yang melakukan penyelidikan.”
“Setelah mendengar penuturan itu, aku makin tidak suka pergi ke kota raja, paman.”
“Hem, aku mengerti. Akan tetapi kita harus ke sana lebih dulu, harus melihat sendiri keadaannya.
Bagaimana kalau si gendut tadi hanya membual saja?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Akan tetapi aku tidak sudi menjadi isteri pangeran itu!” kata Syanti Dewi dengan tarikan muka jijik dan
mengkal hatinya.
“Habis bagaimana?”
“Terserah kepada paman saja, ke mana pun juga, selama hidupku. Aku suka menjadi apa saja, murid,
anak, keponakan, pelayan, atau... ah, apa saja terserah paman.”
“Hemm... hemm...” Gak Bun Beng mengelus jenggotnya yang pendek.
“Kalau paman keberatan, aku akan kembali ke Bhutan saja!”
Gak Bun Beng menengok dan tersenyum melihat betapa kini gadis itu pun bisa memperlihatkan sikap
merajuk dan manja seperti biasanya kaum wanita.
“Kita ke kota raja dulu dan nanti kita lihat bagaimana perkembangannya, Dewi.”
Berangkatlah mereka melanjutkan perjalanan menuju ke timur. Di sepanjang perjalanan mulailah Gak Bun
Beng memberi pelajaran ilmu silat tinggi kepada Syanti Dewi.
“Coba kau mainkan jurus-jurus pilihan dari gurumu, perwira Bhutan murid kakek adik angkatmu itu.”
“Baik dan aku mengharapkan petunjuk dan bimbingan paman.” Puteri itu lalu bergerak dan bersilat,
memilih jurus-jurus yang dianggapnya paling ampuh.
Kadang-kadang Gak Bun Beng memandang penuh perhatian, menyuruhnya berhenti tiba-tiba dan
memperbaiki jurus itu, dan demikianlah, perlahan-lahan dia mengajarkan dasar-dasar ilmu silat tinggi,
dimasukkan dalam jurus-jurus yang telah dikenal oleh puteri itu. Maka, dengan adanya pelajaran silat ini
yang selalu dilatih setiap kali ada kesempatan, perjalanan jauh itu tidaklah terasa melelahkan, apa lagi
memang ada daya tarik luar biasa yang mempesonakan hati masing-masing dari teman seperjalanan itu.
Diam-diam Gak Bun Beng membayangkan dengan hati khawatir apa yang telah terjadi di kerajaan. Cerita
dari perwira gendut itu hanya menggambarkan keadaan luarnya saja, namun tidak menceritakan dengan
jelas apa yang telah terjadi dan siapakah di antara para pangeran yang merencanakan pemberontakan,
siapa pula yang bersekutu dengan orang-orang Mongol dan Tibet. Hal ini menggelisahkan hatinya,
terutama kalau dia teringat bahwa kini Milana tinggal di kota raja.
Dia sudah mendengar berita bahwa Milana telah menikah. Walau pun tidak disengaja, berita ini
menghancurkan dan sekaligus mendinginkan hatinya. Dia tahu bahwa Milana sangat mencintainya, dan
tentu pernikahan itu atas desakan ayah dara itu, Pendekar Super Sakti. Oleh sebab itu dia menerima nasib
dan memang dialah yang meninggalkan kekasihnya itu. Akan tetapi, kini mendengar tentang pergolakan di
kota raja, timbullah kekhawatirannya tentang diri kekasihnya itu.....
********************
Sebetulnya, apakah yang sedang terjadi di istana Kaisar Kang Hsi? Agar lebih jelas, sebaiknya secara
singkat kita mempelajari keadaannya. Telah ditetapkan bahwa yang menjadi Pangeran Mahkota adalah
Pangeran Yung Ceng, yaitu seorang pangeran dari permaisuri yang amat dikasihi kaisar. Tentu saja masih
banyak para pangeran yang lahir dari selir-selir kaisar, tetapi yang dicalonkan hanya Pangeran Yung Ceng
seorang.
Kaisar masih mempunyai dua orang adik tiri, yaitu dua orang pangeran yang lahir dari selir ayahnya, yaitu
Pangeran Liong Bin Ong dan Pangeran Liong Khi Ong. Dua orang pangeran tua inilah yang tidak setuju
akan pengangkatan Pangeran Yung Ceng sebagai pangeran mahkota karena mereka sudah tahu bahwa
kelak mereka tidak akan dapat mempermainkan pangeran ini yang tidak suka kepada kedua pamannya itu.
Maka diam-diam dua orang pangeran tua ini merencanakan pemberontakan secara rahasia dan
menghasut para pangeran lainnya.
Suatu hari, seorang pangeran dari selir, yang sebaya dengan Pangeran Yung Ceng, bernama Pangeran
Yung Hwa, setelah mendengar akan kecantikan Puteri Bhutan lalu mengajukan permohonan kepada
ayahanda kaisar agar dapat menikah dengan puteri terkenal itu. Kaisar merasa senang dan setuju dengan
keinginan hati Pangeran Yung Hwa ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tetapi seorang menteri setia, yaitu perdana menteri, yang sekaligus menjadi penasehat kaisar,
membisikkan kaisar bahwa kurang tepat kalau putera kaisar dijodohkan dengan puteri sebuah negeri
sekecil Bhutan! Pangeran Yung Hwa lebih patut dijodohkan dengan puteri kerajaan yang lebih besar lagi
sehingga kehormatan kaisar tidak menurun.
Ada pun Puteri Bhutan itu, untuk bisa menarik Bhutan negara kecil itu sebagai keluarga, sebaiknya dilamar
untuk dinikahkan dengan Pangeran Liong Khi Ong yang walau pun sudah berusia lima puluh tahun, namun
masih ‘perjaka’ dalam arti kata belum memiliki isteri sah melainkan hanya berpuluh-puluh selir saja.
Perdana menteri mengemukakan hal ini menurut perhitungannya yang bijaksana. Dia sendiri tidak tahu
akan pemberontakan rahasia yang diusahakan oleh Pangeran Liong Bin Ong dan Pangeran Liong Khi
Ong, akan tetapi dia tahu bahwa dua pangeran tua itu diam-diam tidak menyukai pangeran mahkota, maka
pemberian ‘hadiah’ ini bertujuan pula untuk melunakkan hati Liong Khi Ong!
Kaisar yang mendapat keterangan panjang lebar ini mengangguk-anggukkan kepalanya dan memuji akan
kecerdikan perdana menterinya, maka dia lalu menolak permintaan Yung Hwa dengan alasan bahwa Yung
Hwa akan dinikahkan dengan seorang Puteri Birma yang lebih cantik dan lebih hebat lagi. Ada pun Puteri
Bhutan lalu dipinang untuk Pangeran Liong Khi Ong!
Justru kesempatan ini digunakan secara licin oleh dua orang pangeran pemberontak itu untuk
menggagalkan semua rencana, hanya dengan niat agar Bhutan malah menjadi musuh Pemerintah Ceng
dan kelak mudah saja mereka ajak bersekutu untuk melawan pemerintah kakak mereka atau keponakan
mereka sendiri.
Betapa pun kedua orang pangeran itu merahasiakannya, namun tetap saja terasa oleh semua orang
suasana panas, suasana tidak enak yang meliputi istana. Apa lagi ketika dikabarkan bahwa Pangeran
Yung Hwa yang ‘patah hati’ itu lolos meninggalkan istana tanpa pamit!
Dan dikabarkan bahwa ada bentrok yang mulai terasa di antara perdana menteri dan kedua orang
pangeran tua. Suasana panas ini tidak langsung ditimbulkan oleh mereka yang bersangkutan, melainkan
oleh kaki tangan masing-masing dan mulailah terjadi pelotot-mempelototi, sindir-menyindir antara
pengawal masing-masing apa bila bertemu di jalan raya di kota raja. Bahkan telah terjadi beberapa kali
bentrokan bersenjata, sungguh pun hanya kecil-kecilan dan secara bersembunyi.
Puteri Milana yang juga merasakan suasana panas ini sesungguhnya sudah tidak lagi tinggal di istana,
melainkan tinggal di gedung suaminya yang menjadi perwira tinggi dan pengawal istana. Dari suaminya,
yang biar pun hubungan mereka seperti saudara saja namun masih bersikap baik kepadanya, dia
mendengar tentang keadaan di istana.
Dengan hati khawatir Milana mulai sering mengunjungi istana untuk mendengar-dengar dan melakukan
penyelidikan. Jiwa patriotnya tersentuh dan agaknya sifat kepahlawanan ibunya menurun kepadanya. Dia
menghadap kaisar yang menjadi kakeknya itu, dengan terus terang menyatakan kekhawatirannya soal
desas-desus bahwa ada persekutuan pemberontak mengancam pemerintah.
Kakeknya menertawakan cucunya ini, tetapi tidak melarang ketika Milana membentuk sebuah pasukan
pengawal khusus yang dipimpinnya sendiri untuk menyelidik dan untuk membasmi pemberontak yang
berani mengacau kota raja! Pendeknya dia mencontoh ibunya, Puteri Nirahai, untuk menjaga keselamatan
kota dan semua keluarga kaisar!
Dengan adanya pasukan istimewa inilah maka keadaan kota raja mulai agak tenang dan keselamatan
penghuninya terjamin. Dua orang pangeran tua itu lebih berhati-hati, tidak berani melakukan tindakan
terlalu menyolok karena mereka pun maklum betapa lihainya cucu keponakan mereka, Puteri Milana.....
********************
Demikianlah sedikit gambaran keadaan kota raja, dan sudahlah sepatutnya kalau Gak Bun Beng merasa
gelisah karena memang dia sedang menuju ke tempat yang amat gawat, yang setiap saat dapat meletus
menjadi perang pemberontakan yang dahsyat. Namun, tujuan yang utama Gak Bun Beng bukanlah untuk
menyelidiki kota raja atau untuk melihat keselamatan Milana, melainkan untuk mengantar Syanti Dewi.
Andai kata tidak ada Puteri Bhutan ini yang ditolongnya, kiranya mendengar apa pun tentang kota raja dan
istana, tidak akan menggerakkan hatinya untuk mengunjungi tempat itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Di sepanjang perjalanan, semakin dekat dengan kota raja semakin tampaklah suasana pertentangan.
Bahkan di antara rakyat sendiri, ada yang pro dan ada yang anti kepada kaisar dan putera mahkota. Hal ini
lumrah karena rakyat, betapa pun juga menyadari bahwa pemerintah yang sekarang adalah pemerintah
penjajah yang bagaimana pun tidak bisa mendapatkan dukungan sepenuhnya dari lubuk hati mereka.
Syanti Dewi memperoleh kemajuan pesat dalam ilmu silat. Gak Bun Beng tak tanggung-tanggung
mengajarkan rahasia-rahasia ilmu silat tinggi, bahkan dia telah mengoperkan hawa sinkang gabungan
Swat-im-sinkang (Tenaga Inti Salju) dan Hui-yang-sinkang (Tenaga Inti Api) yang amat mukjijat dari dalam
tubuhnya ke dalam tubuh dara itu.
Sampai pingsan Syanti Dewi menerima tenaga dahsyat ini, dan bagi Gak Bun Beng sendiri, pengoperan
tenaga sinkang ini membuat dia selama tiga hari tiga malam harus berdiam diri mengumpulkan hawa murni
untuk memulihkan tenaganya. Dengan memiliki dasar tenaga sinkang gabungan ini, biar pun ilmu silat
yang dimainkan oleh Syanti Dewi masih sama dengan beberapa bulan yang lalu, akan tetapi kelihaiannya
naik menjadi sepuluh kali lipat! Juga, biar pun dalam waktu singkat itu dia hanya menerima jurus-jurus baru
yang tidak lebih dari belasan macam saja banyaknya, namun jurus-jurus ini sudah cukup untuk
dipergunakan melindungi diri dari ancaman lawan yang amat kuat pun!
Mereka sudah menyeberangi Sungai Huang-ho dan tiba di kota Ban-jun di sebelah barat kota raja. Hari
sudah siang ketika mereka memasuki kota itu dan karena kota raja sudah dekat dan mereka telah
melakukan perjalanan yang melelahkan sekali, Gak Bun Beng mencari sebuah rumah penginapan.
Akan tetapi baru saja mereka sampai di jalan perempatan, mendadak terdengar suara hiruk-pikuk dan
tampak dari jauh mendatangi sebuah kereta yang ditarik oleh dua ekor kuda besar dan dikusiri oleh
seorang yang berpakaian tentara dan yang memegang golok. Dari simpangan yang lain tampak belasan
orang yang juga berpakaian tentara, dipimpin oleh seorang perwira dan mereka ini membalapkan kuda
mengejar kereta itu! Kemudian betapa kagetnya hati Gak Bun Beng dan Syanti Dewi ketika melihat anak
panah berapi menyambar ke arah kereta dan dalam sekejap saja kereta itu terbakar!
“Ohhh...!” Syanti Dewi berseru, seruannya kabur di dalam seruan-seruan semua orang yang melihat
peristiwa itu dan yang segera lari cerai berai bersembunyi di balik-balik rumah penduduk.
“Kita harus menolong penumpang...!” kata pula puteri ini.
Gak Bun Beng memegang tangan dara itu, mencegahnya bertindak lancang. Dia masih tidak tahu siapa
penumpang kereta, siapa pula yang mengejar dan melepaskan anak panah berapi itu. Sementara itu,
perwira yang memimpin belasan orang prajurit sudah tiba di situ. Kusir kereta itu bangkit berdiri dan
berusaha melawan dengan goloknya, akan tetapi karena di belakangnya ada api berkobar, dan gerakan
perwira itu tangkas sekali, ketika kuda perwira itu loncat mendekat dan pedang perwira itu menyambar,
robohlah kusir itu dari atas kereta, terjungkal di atas tanah jalan sedangkan dua ekor kuda yang panik
karena ‘dikejar’ api di belakang mereka itu, terus membalap sambil meringkik-ringkik.
Kini Gak Bun Beng tidak dapat tinggal diam lagi. Apa dan siapa pun yang bermusuhan, kusir itu tewas dan
penumpang kereta terancam maut. Dia harus menolongnya dulu dan baru kemudian mendengar
urusannya. Bagaikan kilat tubuhnya melesat berkelebat dan angin menyambar dan pendekar itu telah
lenyap. Syanti Dewi kagum bukan main, akan tetapi juga khawatir ketika melihat bayangan Gak Bun Beng
melesat ke dalam kereta yang terbakar. Akan tetapi hatinya lega ketika melihat pendekar itu melesat ke
luar lagi memondong seorang pemuda yang terluka ringan di pahanya.
“Keparat, berani engkau mencampuri urusan kami?” Perwira itu bersama belasan orang prajuritnya sudah
menerjang maju kepada Gak Bun Beng yang menurunkan pemuda itu di tepi jalan dekat Syanti Dewi.
“Hemmm, kalian terlalu kejam!” Gak Bun Beng berkata lalu menerjang ke depan karena dia tidak ingin
pemuda itu diserang. “Dewi, lindungi dia!” katanya dan begitu perwira itu sudah dekat, dia menyambut
pedang yang menusuknya dengan sentilan jari tangannya.
“Tringg... krekkk!” Pedang itu patah menjadi dua!
Gak Bun Beng lalu berkelebat di antara mereka, dan ke mana pun dia berkelebat, tentu senjata seorang
prajurit penunggang kuda patah atau terlempar. Dua orang prajurit menghampiri pemuda yang terluka itu
dengan golok terangkat, akan tetapi Syanti Dewi yang sudah siap dengan dua buah batu sebesar kepalan
dunia-kangouw.blogspot.com
tangannya, menggerakkan tangan kanan dua kali. Terdengar teriakan mengaduh dan dua batang golok
terlepas dari tangan yang disambar batu itu.
“Mundur...! Pergi...!” Perwira itu memberi aba-aba. Pasukan kecilnya yang telah ‘dilucuti’ senjatanya itu
tidak menanti perintah kedua, terus membalikkan kuda dan terjadilah lomba balap kuda yang ramai,
meninggalkan debu mengebul tinggi.
Gak Bun Beng menarik napas panjang. Hatinya lega bahwa urusan itu bisa diselesaikan sedemikian
mudahnya. Namun betapa kagetnya ketika dia menoleh ke tempat Syanti Dewi berada, dia hanya melihat
dara ini saja sedangkan pemuda yang terluka ringan dan hampir mati terbakar dalam kereta tadi tidak
tampak lagi. Cepat dia menghampiri Syanti Dewi.
“Apa yang terjadi? Mana dia?”
“Dia telah pergi, paman. Dia hanya menanyakan nama paman, kemudian mengatakan bahwa dia berterima
kasih sekali, bahwa selama hidupnya dia tidak akan melupakan budi paman.”
“Dalam keadaan terluka itu dia pergi?”
Syanti Dewi mengangguk. “Dia tidak mau ditahan, agaknya tergesa-gesa sekali. Dan dia hanya
menyatakan bahwa namanya adalah Yung Hwa.”
“Hemm... sungguh aneh sekali. Mari kita pergi dari kota ini, Syanti Dewi, aku tidak mau menjadi perhatian
orang.”
Memang pada saat itu orang-orang sudah mulai berkumpul dan menghampirinya sambil membicarakan
kegagahannya saat menolong penumpang kereta dan melawan belasan orang pasukan tadi. Akan tetapi
sebelum ada yang sempat bertanya, Gak Bun Beng sudah menggandeng tangan Syanti Dewi dan cepatcepat
meninggalkan kota itu, tidak menengok ketika mendengar ada orang-orang menegur dan
memanggilnya menyuruh berhenti. Tentu saja orang-orang itu hanya melongo, dan laki-laki perkasa itu
tentulah seorang di antara tokoh-tokoh kang-ouw yang memang selalu bersikap dan berwatak aneh.
Peristiwa itu menambah dorongan bagi Gak Bun Beng dan Syanti Dewi untuk cepat menuju ke kota raja.
Mereka dapat menduga bahwa tentu bentrokan yang terjadi itu ada hubungannya dengan kerusuhan di
kota raja. Sama sekali Gak Bun Beng tidak menyangka bahwa yang ditolongnya itu adalah salah seorang
putera kaisar sendiri! Dia adalah Pangeran Yung Hwa, adik Pangeran Mahkota Yung Ceng.
Pangeran Yung Hwa itulah tadi yang tergila-gila mendengar kecantikan Syanti Dewi dan ingin menikah
dengan puteri itu. Tentu saja Gak Bun Beng dan Syanti Dewi tidak tahu sama sekali akan urusan itu, juga
bagi pangeran muda yang tampan itu, sama sekali tidak pernah mimpi bahwa puteri yang membuatnya
tergila-gila itu pernah berdiri di depannya, bahkan sudah menolongnya dengan merobohkan dua
penyerangnya dengan sambitan batu, pernah dia bercakap-cakap dengan puteri itu!
Tentu saja dia hanya mengira bahwa wanita muda yang menolongnya itu hanyalah seorang dara kang-ouw
yang lihai saja. Juga dia masih terlalu muda untuk mendengar nama Gak Bun Beng yang hanya dikenal
oleh golongan yang lebih tua karena selama belasan tahun ini nama Gak Bun Beng tidak pernah disebutsebut
orang lagi, apa lagi memang orangnya telah menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Dengan cepat Gak Bun Beng melanjutkan perjalanan karena dia ingin cepat-cepat melihat keadaan kota
raja. Apa lagi ketika di sepanjang jalan setelah makin dekat kota raja dia melihat banyaknya pasukanpasukan
kecil yang hilir mudik dan kelihatan sibuk sekali.
Kelihatannya memang amat gawat keadaannya. Di sepanjang jalan dia terus mencari keterangan, tapi para
penduduk juga hanya mengetahui sedikit sekali tentang keadaan sedalam-dalamnya dari kota raja yang
diliputi penuh rahasia itu, hanya mengatakan bahwa di sekitar kota raja muncul banyak orang-orang aneh
dan lihai, seolah-olah semua tokoh kang-ouw dan para datuk kaum sesat muncul dari tempat pertapaan
mereka, semua orang sakti turun dari pegunungan dan semua iblis keluar dari neraka!
Dan bahwa sekarang sering sekali tampak perondaan pasukan tentara dari kota raja dan banyak terjadi
pertempuran, bahkan antara pasukan dengan pasukan lain sehingga membingungkan dan mendatangkan
rasa takut kepada rakyat jelata.
dunia-kangouw.blogspot.com
Beberapa hari kemudian, tibalah Gak Bun Beng dan Syanti Dewi di depan pintu gerbang kota raja sebelah
barat. Di depan pintu gerbang ini, Gak Bun Beng berhenti dan termenung dengan muka berubah pucat.
Terbayanglah olehnya semua pengalamannya belasan tahun yang lalu (baca cerita SEPASANG PEDANG
IBLIS) dan jantungnya berdebar tegang ketika teringat bahwa di dalam lingkungan tembok kota raja inilah
adanya wanita yang pernah dan masih dicintanya. Puteri Milana!
Pintu gerbang itu terbuka lebar dan terjaga oleh sepasukan penjaga yang bersenjata lengkap dan yang
memandangi orang-orang yang lalu lalang dengan sinar mata tajam penuh selidik. Kalau ada orang yang
kelihatan mencurigakan, tentu akan dipanggil dan diperiksa.
Akan tetapi keadaan Gak Bun Beng dan Syanti Dewi sama sekali tidak mencurigakan. Wajah Gak Bun
Beng bukanlah wajah yang menyeramkan, bahkan seperti seorang petani biasa saja yang tampan,
sedangkan biar pun wajah Syanti Dewi mempunyai kecantikan yang khas, namun kecantikannya yang
mirip kecantikan wanita Mancu ini malah menyelamatkannya dari kecurigaan para penjaga. Apa lagi
karena kulit mukanya sudah agak gelap terbakar sinar matahari selama berpekan-pekan, dia mirip seorang
gadis dusun biasa saja sungguh pun amat manisnya.
“Paman, hayo, kita masuk. Mengapa paman berdiri saja di sini?” Syanti Dewi menegur dan menarik tangan
pendekar itu.
“Ahh... eh... benar kau... mari...” kata Gak Bun Beng, suaranya agak parau dan gemetar.
“Paman, engkau kenapakah? Mukamu pucat sekali seperti orang sakit.”
“Sakit? Siapa...? Aku sakit? Ah, tidak...!” jawab Gak Bun Beng, namun kedua kakinya tersaruk-saruk
seolah-olah tubuhnya menjadi lemah kehabisan tenaga.
“Agaknya kau sedang masuk angin, paman. Biar kubawakan buntalan itu.” Syanti Dewi mengambil
buntalan dari tangan Gak Bun Beng dan memandang pamannya itu penuh kekhawatiran.
Ternyata Gak Bun Beng memang sedang menderita tekanan batin yang hebat. Tidak hanya dia teringat
akan segala peristiwa belasan tahun lalu, yang mendatangkan rasa duka, terharu, dan khawatir, akan
tetapi kemudian dia teringat bahwa mereka telah tiba di tempat tujuan! Ini berarti bahwa dia akan segera
berpisah dari Syanti Dewi.
Kenyataan ini merupakan palu godam yang menghantam perasaan hatinya dan lebih parah lagi karena dia
mendapat kenyataan betapa berat rasa hatinya untuk berpisah dari samping gadis ini! Kesadaran akan hal
inilah yang benar-benar menghimpit hatinya. Mengapa jadi demikian? Mengapa dia menjadi berat berpisah
dari samping gadis ini?
Biar pun Syanti Dewi sudah mengatakan akan suka ikut selamanya dengan dia, namun dia bukanlah
seorang laki-laki yang mempergunakan kelemahan seorang gadis untuk menyenangkan diri sendiri. Tidak!
Apa akan jadinya dengan Syanti Dewi, puteri Raja Bhutan, gadis bangsawan tinggi yang biasa hidup mulia
itu apa bila ikut dengan dia? Menjadi seorang perantau yang tidak menentu makan, pakaian dan
rumahnya? Tidak! Tidak! Tentu, saja dia tidak bisa menceritakan kepada Syanti Dewi bahwa bayangan
perpisahan itulah yang amat memberatkan hatinya, yang memukul batinnya, di samping bayangan
pertemuannya dengan Milana!
Mereka melewati pintu gerbang dengan aman. Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan serombongan
pasukan masuk melalui pintu gerbang itu. Syanti Dewi masih memandang pamannya yang menunduk saja.
“Lakukan pengawasan ketat dan jangan lupa, kalau dua iblis itu berani muncul di sini, cepat laporkan
padaku!”
Suara bisikan yang tidak terdengar oleh orang lain karena diucapkan perlahan dan dari jarak jauh itu masih
dapat ditangkap oleh pendengaran Gak Bun Beng, dan ada sesuatu dalam suara itu yang membuatnya
terkejut dan cepat dia menoleh ke kiri. Seketika mukanya menjadi semakin pucat bagaikan mayat, matanya
terbelalak dan mulutnya ternganga, kedua tangan dikepal dan dia tak bergerak seperti arca.
Matanya memandang seperti orang yang hilang ingatan kepada seorang wanita cantik jelita dan gagah
perkasa yang menunggang kuda besar dan berada di depan pasukan berkuda itu dan wanita inilah yang
tadi bicara kepada perwira di sampingnya. Wanita itu usianya kurang lebih tiga puluh tujuh tahun, tubuhnya
dunia-kangouw.blogspot.com
masih padat dan tinggi semampai, menunggang kuda dengan tegak. Tubuhnya tertutup mantel putih,
rambutnya disanggul tinggi-tinggi dan yang membuat Gak Bun Beng hampir pingsan adalah wajah yang
cantik itu kelihatan begitu kurus, begitu muram kehilangan cahayanya yang dahulu selalu berpancar dari
wajah Milana!
Hatinya menjerit. “Milana...!” akan tetapi mulutnya tidak mengeluarkan suara apa-apa.
Syanti Dewi terkejut bukan main. Dia cepat menengok dan dia pun melihat wanita yang menunggang kuda
itu. Segera rombongan itu lewat dan lenyap. Dia menoleh kembali kepada pamannya yang keadaannya
masih payah. Kini Gak Bun Beng menggigit bibir bawahnya, alisnya berkerut dan bibirnya berbisik-bisik
tanpa suara.
“Paman...! Ada apakah...? Paman...!”
Gak Bun Beng terhuyung dan cepat tangannya ditangkap oleh Syanti Dewi, kemudian dia menuntun
pendekar itu ke pinggir jalan, terus diajaknya berjalan ke tempat yang sunyi. Tak jauh dari situ tampaklah
huruf-huruf besar yang menyatakan bahwa di situ terdapat sebuah rumah penginapan.
“Paman, kita beristirahat di penginapan itu, ya?”
Gak Bun Beng hanya mengangguk dan memejamkan matanya. Syanti Dewi berkhawatir sekali. Dengan
hati-hati dia menuntun Gak Bun Beng ke rumah penginapan itu dan minta disediakan sebuah kamar.
Melihat gadis itu menuntun laki-laki yang kelihatannya menderita sakit, pelayan cepat menyediakan kamar
dan Syanti Dewi segera menuntun Gak Bun Beng memasuki kamar.
Gak Bun Beng melempar tubuhnya ke atas pembaringan dan rebah telentang dengan muka tetap pucat.
Dia menderita pukulan batin yang amat hebat. Bermacam-macam perasaan mengaduk hatinya, terutama
sekali perasaan terharu melihat betapa Milana kini telah berubah menjadi sekurus dan sepucat itu.
“Aku menyiksanya... aku menyiksa batinnya... ahhh, aku menyiksanya...,” demikian jerit hati Gak Bun Beng
dan dia memejamkan matanya.
Syanti Dewi duduk di pinggir pembaringan dan dipegangnya dahi pendekar itu. Panas! “Aih, kau panas
sekali, paman. Kau sakit! Kau demam...”
Gak Bun Beng membuka matanya, memandang Syanti Dewi sekejap, kemudian segera memejamkannya
kembali. Dia menggeleng kepala dan berkata lemah, “Tidak apa-apa, Dewi... sebentar juga sembuh... tidak
apa-apa...”
“Paman, ahhh, paman, aku khawatir sekali. Kau tadi begitu pucat seperti mayat setelah melihat wanita itu!
Siapakah wanita cantik dan gagah yang menunggang kuda itu tadi, paman?”
“Milana... dialah Milana...!” Ketika mengucapkan nama ini, seakan-akan hatinya menjerit memanggil nama
kekasihnya. “Milana...!”
Mendengar nama ini, Syanti Dewi terkejut. “Sang Puteri Milana...?”
Gak Bun Beng mengangguk lagi dan memejamkan matanya.
Syanti Dewi mengulang nama itu dan memandang penolongnya penuh selidik, lalu dia menganggukangguk.
Digenggamnya tangan pendekar itu ketika dia berkata, “Maafkan kelancanganku, ya, paman?
Diakah wanita yang yang paman cinta? Sang Puteri Milana itu?”
Sejenak Gak Bun Beng tak menjawab, bibirnya menggigil, matanya terpejam, kemudian dia mengangguk.
“Aihhhhh...!” Syanti Dewi tertegun, sama sekali tidak menduga bahwa penolongnya ini mempunyai
hubungan cinta kasih dengan cucu kaisar sendiri!
Diam-diam dia mengakui bahwa memang patutlah kalau penolongnya ini mencinta wanita itu, karena
memang wanita tadi itu hebat. Begitu cantik, begitu gagah dan begitu agung! Akan tetapi, mengapa wanita
itu tidak menahan kepergian pendekar ini? Apakah cinta kasih wanita itu kurang mendalam? Kasihan
pendekar ini, sampai sekarang masih menderita hebat karena cinta kasihnya terputus!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kalau begitu, antarkan aku kepadanya, paman. Atau aku mencari sendiri, aku akan menghadapnya dan
akan kutegur dia, akan kukatakan betapa dia telah membuat hidupmu sengsara, betapa dia telah berlaku
kejam terhadapmu, betapa dia sepatutnya harus...”
“Hush...! Jangan berkata begitu, Dewi. Akulah yang meninggalkannya. Cintaku padanya sedemikian
mendalam sehingga aku tidak mau karena menikah denganku dia akan sengsara. Lihat, dia begitu agung,
seorang puteri Istana! Cucu kaisar dan puteri Majikan Pulau Es, seorang pendekar yang berjuluk Pendekar
Super Sakti! Sedangkan aku... ah, riwayatku hanya memalukan untuk dibicarakan, seorang rendah, miskin
dan...”
“Dan semulia-mulianya orang, yang tak dapat melihat ini tentu matanya buta!” Syanti Dewi melanjutkan.
“Tidak, Syanti Dewi. Kau tidak mengerti. Aku rela memutuskan hubungan kami, dan aku rela menderita
kalau dia berbahagia. Karena itu, aku pun tak pernah menampakkan diri. Sekarang karena terpaksa aku
berada di sini dan... dan melihat dia... ahh, Dewi, apakah kau tidak melihat bagaimana wajahnya tadi?”
“Cantik dan agung, paman. Tetapi... hemm, memang kurus dan pucat, agak murung...”
“Dia menderita, Dewi. Aku mengenal benar wajahnya. Dia menderita, dan semua itu karena aku... ohhh...”
Gak Bun Beng memejamkan mata erat-erat, mulutnya terkancing.
“Paman...! Paman...!” Syanti Dewi menjerit dan karena jeritannya itu pelayan tadi berlari masuk. Melihat
betapa orang yang dipanggil ‘paman’ oleh gadis itu pingsan dan kaku ia pun ikut menjadi bingung sekali.
“Lekas... ohhh, lekas panggilkan tabib...!” Syanti Dewi memohon dan pelayan itu lalu lari keluar untuk
memanggil ahli pengobatan yang kebetulan toko obatnya tidak begitu jauh dari situ.
Syanti Dewi sendiri cepat membuka baju Gak Bun Beng, lalu dia meletakkan telapak tangannya di dada
pendekar itu dan mati-matian mengerahkan sinkang yang diajarkan oleh Gak Bun Beng. Napasnya sendiri
sampai terengah-engah, wajahnya pucat, akan tetapi dia nekat terus menyalurkan sinkang.
Akhirnya Gak Bun Beng sadar. Cepat dia menangkap tangan Syanti Dewi dan berkata, “Anak bodoh...!
Lekas kau bersila dan atur napasmu baik-baik!”
Syanti Dewi girang sekali melihat penolongnya sudah siuman, maka dia menurut dan bersila. Sekarang
Gak Bun Beng yang membantunya dengan menempelkan telapak tangannya ke punggung dara itu. Syanti
Dewi sehat dan pulih kembali tenaganya, akan tetapi keadaan Gak Bun Beng makin lemah.
“Ahhh, gejolak batin yang belasan tahun kutekan, dalam hari ini terbebas dari tekanan sehingga seolaholah
api dalam sekam, kini menyala, atau seperti air dibendung, kini pecah bendungannya. Mana aku kuat
menahan? Tapi jangan khawatir, Dewi, aku sudah sadar sekarang, hanya tinggal lemas. Tubuhku lemah
sekali dan perlu beristirahat agak lama. Kita tunda saja pergi menghadap dia...”
“Menghadap Puteri Milana? Tak perlu kau terlalu banyak memikirkan urusanku, paman. Kalau kau
menghendaki menghadap kapan saja pun boleh. Kalau tidak pun, aku juga tidak ingin masuk istana. Yang
paling perlu kau harus berobat sampai sembuh.”
Pelayan datang bersama sinshe ahli obat. Setelah memeriksa nadi dan mendengarkan dada, sinshe tua itu
mengangguk-angguk. “Orang muda, jangan terlalu banyak pikiran. Memang sedang masanya dunia kacau
dan ribut-ribut, akan tetapi bukan kita sendiri yang merasakannya, melainkan orang sedunia. Perlu apa
gelisah dan berduka? Tenang dan bergembiralah dan tanpa obat pun kau akan sembuh. Akan tetapi perlu
kuberi obat untuk menjaga jantungmu.”
Setelah membuat resep dan menerima uang biaya dari Syanti Dewi, sinshe itu lalu pergi dan si pelayan
cepat membelikan obat dari resep itu. Sambil memasak obat di dalam kamar, Syanti Dewi memperhatikan
dan menjaga Gak Bun Beng yang masih rebah telentang.
“Sinshe itu memang pandai...” kata Gak Bun Beng. “Sungguh pun dugaannya keliru, namun sifat
penderitaanku dia tahu semua. Dan dia menyebutku orang muda, betapa lucunya!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Biar pun suara Gak Bun Beng masih gemetar dan lemah, membuat Syanti Dewi terharu dan khawatir,
namun teringat akan nasehat sinshe tadi Syanti Dewi berkata dengan tertawa dan suaranya gembira, “Hihik,
paman. Apanya yang lucu? Memang kau masih muda, malah engkau masih... perjaka lagi, hi-hi-hik!”
Gak Bun Beng coba untuk tersenyum. “Bagaimana kau tahu?” Memang sesungguhnya, Gak Bun Beng
yang sudah berusia empat puluh tahun itu masih perjaka, belum pernah dia mengadakan hubungan badani
dengan wanita!
“Tentu saja tahu! Bukankah engkau tak pernah kawin? Itu berarti masih perjaka!”
Gak Bun Beng tak menjawab. Dia terharu sekali karena dia tahu bahwa sebetulnya hati dara itu gelisah
memikirkan bagaimana nanti kalau dia ditinggal di istana, memikirkan sakitnya. Namun gadis itu sengaja
memaksa diri bergembira dan mengajak berkelakar agar dia lekas sembuh. Betapa luhur budi dara ini!
Dengan penuh ketekunan Syanti Dewi merawat Gak Bun Beng, memberinya minum obat, bahkan
menyuapi Gak Bun Beng ketika makan bubur, tetap tak membolehkan pendekar itu bangkit dan makan
sendiri. Akhirnya, dengan hati diliputi penuh keharuan, Gak Bun Beng tertidur nyenyak.
Sore harinya, melihat Gak Bun Beng masih tidur terus, hati Syanti Dewi menjadi tidak enak. Bagaimana
kalau terus tidur dan tidak akan bangun kembali? Membayangkan pendekar itu ‘mati’ Syanti Dewi menjadi
panik. Kacau hatinya, maka dia lalu bertanya kepada pelayan dan menuju ke rumah obat menemui sinshe
tadi, memberitahukan bahwa obat telah diminumkan dan menanyakan mengapa setelah minum obat lalu
tertidur terus sejak tadi sampai sekarang.
“Bagus, bagus...!” Sinshe itu mengangguk-angguk. “Jangan ganggu dia. Makin banyak tidur makin baik.
Dia gelisah dan berduka. Tidur, istirahat, dan bergembira adalah obat yang paling mujarab.”
Legalah hati Syanti Dewi dan dengan hati dan langkah ringan dia kembali ke rumah penginapan. Akan
tetapi alangkah kagetnya ketika dia melihat keributan terjadi di rumah penginapan itu. Dua orang kakek
yang aneh sekali telah berada di ruangan depan penginapan dan berhadapan dengan lima orang pelayan.
Karena mereka itu ribut-ribut tepat di depan pintu kamar Gak Bun Beng, maka Syanti Dewi jadi terhalang
tak dapat masuk dan dia menjadi khawatir sekali.
Sejenak dia memandang dengan penuh keheranan dan kengerian. Kedua orang kakek itu memang luar
biasa sekali. Wajah keduanya persis sehingga mudah diduga tentu mereka adalah orang-orang kembar.
Akan tetapi pakaian mereka berbeda jauh, seperti bumi dengan langit. Yang seorang bermuka merah,
tubuhnya hanya tertutup oleh sebuah celana pendek sehingga dari pinggang ke atas dan dari paha ke
bawah sama sekali telanjang, memakai sepatu pun tidak!
Adapun kakek yang kedua, mukanya putih, pakaiannya lengkap, terlalu lengkap malah, karena di luar
pakaiannya dia memakai mantel bulu tebal, seolah-olah dia selalu merasa dingin sedangkan yang seorang
seolah-olah kegerahan terus! Dua kakek ini lagi marah-marah.
“Kami juga mampu bayar, mengapa kami tidak boleh memakai kamar ini?” bentak yang bermantel bulu.
“Maaf, loya. Kamar ini sudah ada tamunya, bahkan kini sedang sakit. Harap ji-wi suka memakai kamar
yang berada di dalam atau di belakang.”
“Tidak! Kami memerlukan kamar paling depan! Hayo suruh si sakit itu keluar dan pindah ke belakang. Kami
berani bayar tiga kali lipat!”
“Tapi, loya...”
“Heh-heh, kamu minta mampus?” Tiba-tiba yang setengah telanjang itu membentak sambil terkekeh,
tangannya menepuk meja di sebelahnya dan... permukaan meja itu menjadi hangus seperti dibakar!
Para pelayan terkejut sekali dan tidak berani bicara lagi, sedangkan Syanti Dewi yang menyaksikan
demonstrasi tadi juga terkejut. Mengertilah dia bahwa kakek setengah telanjang itu memiliki sinkang yang
amat hebat sehingga mampu membakar meja! Dia lalu menyelinap dari samping, mendorong daun jendela
kamar Gak Bun Beng.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi dia melihat pendekar itu sudah bangkit dan duduk, dan ketika melihat Syanti Dewi, dia berkata,
“Biarlah kubereskan urusan di luar.”
“Jangan, paman... mereka... mereka lihai sekali...”
Tentu saja kata-kata ini hanya disambut dengan senyum saja oleh Gak Bun Beng dan dia lalu turun dari
pembaringan, terhuyung dan membuka pintu kamarnya. Melihat dua orang kakek itu menghadapi lima
orang pelayan yang ketakutan, Gak Bun Beng lalu mengerutkan alisnya dan berkata, “Andai kata ji-wi
sedang sakit dan aku yang sehat, tentu dengan senang hati aku mengalah dan memberikan kamar ini
untuk ji-wi. Akan tetapi karena keadaan kita sebaliknya, sungguh tidak patut kalau ji-wi hendak memaksa
para pelayan. Harap saja ji-wi suka memandang aku yang sedang sakit dan bersedia untuk mengambil
kamar di dalam saja.”
“Heh-heh-heh-heh, apa kau juga ingin mampus?” Kembali kakek setengah telanjang berkata dan dia
menggunakan telapak tangannya mendorong meja tadi dan... seketika keempat kaki meja itu amblas ke
dalam lantai yang keras, seolah-olah lantai itu terbuat dari agar-agar saja!
Melihat ini Gak Bun Beng mengerutkan alisnya. “Hemm, kau memang hebat, akan tetapi berwatak buruk
sekali!”
Gak Bun Beng melangkah maju dan sekali kakinya dihempaskan ke lantai, meja yang kakinya amblas tadi
mencelat ke atas sampai ada setengah meter dari lantai!
Dua orang kakek itu terkejut sekali, saling pandang, kemudian menghadapi Gak Bun Beng. “Bagus,
engkau merupakan lawan yang boleh juga! Kau menantang kami, ya?”
Serta merta kakek bermantel tebal itu menghantam ke depan dengan telapak tangan kanan. Mendengar
sambaran angin ini dan merasakan betapa ada hawa yang amat dingin datang menyambarnya, Gak Bun
Beng terkejut dan maklumlah dia bahwa kakek ini adalah seorang ahli Im-kang, maka dia pun cepat
menyambut dengan telapak tangan kiri.
“Plakkk!”
Pada saat itu kakek setengah telanjang juga sudah menghantam dengan telapak tangan terbuka pula, dan
Gak Bun Beng merasa betapa hawa yang menyambarnya amatlah panasnya. Maka dia pun menyambut
dengan tangan kanannya.
“Plakk!”
Dua orang kakek ini terkejut dan berseru, “Aughhh...!” dan muka mereka menjadi pucat.
Tentu saja kedua orang kakek itu tidak mengenal siapa yang mereka serang. Kakek kembar ini pernah kita
jumpai, yaitu ketika mereka bersama kawan-kawannya yang semua berjumlah dua puluh orang menyerbu
ke Pulau Es dan dapat dihalau pergi oleh Pendekar Super Sakti, dua orang isteri dan dua orang puteranya.
Si muka putih yang selalu bermantel itu adalah Pak-thian Lo-mo sedangkan si muka merah yang setengah
telanjang itu adalah Lam-thian Lo-mo.
Kedua kakek kembar ini memang memiliki keistimewaan masing-masing. Kalau si baju tebal itu seorang
ahli tnaga sakti Im-kang yang selalu kedinginan adalah si setengah telanjang itu seorang ahli Yang-kang
yang selalu kepanasan. Akan tetapi, sekali ini mereka bertemu dengan Gak Bun Beng, seorang ahli dalam
tenaga sinkang Inti Salju dan Inti Api, maka dengan sendirinya dia berani menghadapi pukulan panas
dengan hawa yang lebih panas sedangkan pukulan dingin dia hadapi dengan hawa yang lebih dingin lagi!
“Ouhhhh...!” Kedua orang kakek itu mengerahkan tenaganya karena Pak-thian Lo-mo si ahli Im-kang mulai
menggigil kedinginan sedangkan Lam-thian Lomo si ahli Yang-kang mulai berpeluh kepanasan.
Untung bagi mereka bahwa Gak Bun Beng tidak mempunyai niat membunuh orang, dan lebih untung lagi
bahwa pendekar sakti itu sedang sakit, maka pengerahan tenaga ini membuat Gak Bun Beng terbatukbatuk
dan muntah darah! Kesempatan ini digunakan oleh kakek kembar itu untuk segera menarik tangan
masing-masing, kemudian melihat lawannya muntah darah, mereka berdua menyerang lagi dengan
hebatnya!
dunia-kangouw.blogspot.com
Gak Bun Beng menggerakkan kedua tangannya. Biar pun dia menggoyang-goyangkan kepala untuk
mengusir kepeningan kepalanya dan mengusir kunang-kunang yang tampak ribuan di depan matanya, dia
masih bisa menangkis setiap pukulan yang datang dengan cepatnya sehingga kedua kakek itu merasa
amat terheran-heran dan terkejut bukan main! Belum pernah mereka menghadapi lawan yang sehebat dan
setangguh ini setelah Pendekar Super Sakti!
Tentu saja mereka menjadi penasaran dan kini mereka mengeluarkan senjata mereka, yaitu sabuk baja
yang berupa pecut. Terdengarlah bunyi meledak-ledak ketika kedua kakek itu menggerakkan senjata
mereka menyerang Gak Bun Beng.
Pendekar ini berusaha mengelak, bahkan menangkis dengan lengannya yang penuh dengan hawa
sinkang. Namun karena pandang matanya berkunang dan dia terhuyung-huyung, ada beberapa pukulan
yang mengenai tubuhnya sehingga dia terluka cukup berat.
Pada saat itu Syanti Dewi telah meloncat masuk ke dalam kamar, menyambar buntalan dari meja dan
melihat betapa Gak Bun Beng dikeroyok dan terhuyung-huyung, dia lalu menjerit.
Pada saat itu, terdengarlah derap banyak kaki kuda dan sesosok bayangan menyambar masuk disertai
bentakan nyaring seorang wanita. “Sepasang iblis laknat, kalian berani mengacau kota raja?”
“Sing-sing...!” Dua sinar terang menyambar ke arah dua orang kakek itu.
“Trang-trang...!”
Dua batang pisau terbang itu dapat disampok pecut baja, namun kedua kakek itu terkejut ketika tangan
mereka terasa tergetar, tanda bahwa dua batang pisau terbang itu diluncurkan oleh orang yang memiliki
tenaga hebat. Wanita yang bukan lain adalah Puteri Milana ini sudah membentak lagi dan sinar-sinar halus
menyambar, kini serangan jarum-jarum halus menyambar ke arah jalan-jalan darah di tubuh bagian depan
dari kedua orang kakek kembar.
“Hayaaaa...!” Dua orang kakek itu berteriak dan dengan cepat mereka memutar pecut untuk melindungi
tubuh sambil meloncat keluar dari rumah penginapan di mana mereka disambut oleh sepasukan pengawal
yang cukup lihai.
Sementara itu, ketika Milana melihat orang yang tadi dikeroyok oleh dua kakek kembar itu terhuyung dan
dipapah oleh seorang gadis cantik, dia cepat membalikkan tubuhnya mengejar kedua kakek kembar yang
sudah merobohkan dua orang pengawal. Dengan pedangnya yang berkilauan Milana menerjang dan
kedua orang kakek itu terpaksa harus mengerahkan kepandaian mereka karena wanita ini benar-benar
amat lihai, apa lagi dibantu oleh banyak sekali pengawal yang mengurung mereka.
“Paman, kau... terluka...” Syanti Dewi memeluk tubuh yang terhuyung itu.
“Dewi... cepat... cepat bawa aku pergi... jangan sampai dia melihatku...!”
Syanti Dewi tadi telah melihat kedatangan Milana dan dia kagum meyaksikan kehebatan puteri itu. Setelah
dekat dan melihat wajah Milana terkena sinar penerangan, barulah dia melihat betapa cantiknya puteri itu,
walau pun wajah itu begitu pucat, begitu dingin dan muram seperti kehilangan cahayanya. Kini mendengar
ucapan Gak Bun Beng, dia menjadi bingung. Mengapa penolongnya ini selalu hendak menghindarkan diri
dari kekasihnya?
“Dewi, cepat... aku tak tahan lagi...” Bun Beng berbisik. “Ke sana... melalui jendela...”
Syanti Dewi tidak berani membantah dan memapah penolongnya itu memasuki kamar dan membantunya
keluar melalui jendela. Ketika mereka lewat di samping rumah mereka melihat betapa pertempuran masih
berlangsung dengan hebat sungguh pun kedua orang kakek itu terkepung dan terdesak oleh pedang
Milana. Akan tetapi pada saat itu Milana kebetulan melirik ke arah Gak Bun Beng yang juga sedang
memandang ke arah pertempuran.
“Gak-twako...!” Seruan lirih ini terdengar di antara suara beradunya senjata dan teriakan orang-orang.
Akan tetapi Gak Bun Beng mengenal suara Milana, maka cepat dia memondong tubuh Syanti Dewi dan
melesat pergi dengan kecepatan kilat, tidak mempedulikan bahwa tenaganya sudah hampir habis. Dia
dunia-kangouw.blogspot.com
berlari terus, meloncati tembok pintu gerbang, akan tetapi ketika dia sudah meloncat turun ke tempat gelap,
dia terguling dan roboh pingsan di tempat gelap itu!
“Paman...! Paman...!” Syanti Dewi berbisik-bisik dekat telinga pendekar itu, akan tetapi Gak Bun Beng tidak
bergerak.
Sementara itu, Milana yang terkejut bukan main melihat orang yang tadi dikeroyok dua orang kakek dan
agaknya terluka itu lewat di samping rumah bersama seorang gadis cantik, karena dia mengenal wajah
Gak Bun Beng! Agaknya tidak mungkin salah lagi. Di antara selaksa wajah orang laki-laki, dia akan
mengenal wajah Gak Bun Beng, pria yang penah dicintanya dan masih dicintanya itu. Biar pun laki-laki
setengah tua itu berkumis dan berjenggot, akan tetapi dia tidak pangling melihat mulutnya, hidungnya,
terutama mata dan pandang matanya.
Karena perhatiannya tertarik, apa lagi karena meninggalkan gelanggang pertempuran untuk berusaha
mengejar Gak Bun Beng, kedua orang kakek kembar itu tidak terdesak lagi dan sambil berseru keras
mereka lalu meloncat dan melarikan diri pula.
“Mereka lari!”
“Kejar...!”
Barulah Milana sadar ketika mendengar teriakan-teriakan ini. Cepat dia memerintahkan para pengawal
untuk mengejar dua orang kakek itu, juga dia memerintahkan sebagian pasukan lagi untuk cepat mencari
orang yang bersama dengan gadis cantik yang tadi dikeroyok oleh dua orang kakek. Dari keterangan
pelayan dia mendengar betapa laki-laki itu datang ke losmen dalam keadaan sakit dan dirawat oleh gadis
yang agaknya adalah keponakan laki-laki itu.
Milana termenung mendengar keterangan pelayan. Melihat wajahnya, apa lagi melihat kenyataannya
bahwa dalam keadaan sakit masih mampu menahan pengeroyokan dua orang kakek lihai, jelas bahwa
orang tadi tentulah Gak Bun Beng. Akan tetapi kalau benar dia, mengapa lari darinya? Mengapa tidak
menemuinya? Dan sakit apakah? Ke mana perginya? Bimbanglah hati Milana dan dia sendiri membantu
pencarian itu. Bukan mencari sepasang kakek kembar, melainkan mencari Gak Bun Beng. Baginya kakek
kembar itu bukan hal penting, hanya merupakan orang-orang dari golongan sesat yang mencurigakan saja.
Semalam suntuk dia dan pasukannya mencari dan akhirnya, menjelang pagi keesokan harinya, terpaksa
dia pulang dengan hati parah, penuh kebimbangan dan penyesalan. Dia telah melihat kekasihnya, akan
tetapi belum ada ketentuan juga.
Bagaimana dengan keadaan Syanti Dewi dan Gak Bun Beng yang karena terlampau banyak
mempergunakan tenaga, apa lagi karena sudah terluka dalam pertempuran melawan Siang Lo-mo, yaitu
kakek kembar itu? Dapat dibayangkan betapa bingungnya rasa hati Syanti Dewi. Dia mengerahkan
tenaganya, memondong tubuh Gak Bun Beng untuk dibawa pergi dari pintu gerbang utara itu. Akan tetapi
sebelum dia melangkah jauh, dia mendengar suara hiruk-pikuk dan melihat serombongan pasukan berlarilari
mendatangi.
Tentu saja dia terkejut melihat obor-obor di tangan para prajurit itu. Dilihatnya bahwa di bawah pintu
gerbang itu terdapat sebuah sungai dengan jembatannya, maka cepat dia membawa tubuh Gak Bun Beng
turun ke bawah jembatan. Karena jalannya menurun dan agak sukar, dia takut kalau memondong tubuh
penolongnya bisa tergelincir, maka terpaksa dia bersusah payah menarik atau menyeret tubuh Gak Bun
Beng turun ke bawah jembatan di mana dia bersembunyi sambil memeluk pundak dan kepala Gak Bun
Beng dengan hati berdebar penuh rasa khawatir dan ketegangan.
Sambil memangku kepala penolongnya, dia membasahi sapu tangannya dengan air sungai dan
membasuh muka dan kepala pendekar itu, berbisik-bisik memanggil-manggil namanya. Ketika Gak Bun
Beng tetap tidak menjawab, Syanti Dewi terisak dan mendekap kepala itu, menempelkan pipinya pada
muka pendekar itu dan berbisik dekat telinganya. “Paman Gak... jangan kau mati... jangan tinggalkan aku
sendiri, paman...!”
Akan tetapi karena takut, dia menahan isaknya sehingga hanya air matanya saja yang bercucuran, dia
menangis tanpa suara. Setelah keadaan sunyi kembali dan pasukan itu dengan suara hiruk-pikuk telah
kembali memasuki pintu gerbang, barulah Syanti Dewi berani bergerak. Dengan susah payah dia berhasil
dunia-kangouw.blogspot.com
juga menyeret tubuh Gak Bun Beng keluar dari bawah jembatan, kemudian memondong tubuh pendekar
itu dan secepat mungkin dia membawa Gak Bun Beng pergi jauh dari tempat itu.
Sampai dua hari dua malam Bun Beng pingsan tak sadarkan diri sama sekali, ditangisi oleh Syanti Dewi di
dalam sebuah hutan yang besar dan liar. Berkali-kali Puteri Bhutan ini memanggil-manggil, mengguncangguncang
tubuh pendekar itu, kemudian diseling tangisnya terisak-isak sambil menyatakan penyesalan
hatinya kepada Puteri Milana yang dianggapnya kejam!
Pada hari ketiga, saking lelahnya, Syanti Dewi yang duduk bersandar batang pohon tertidur atau setengah
pingsan. Dia lelah bukan main, lelah, lemas karena lapar dan haus yang sama sekali tak dihiraukannya,
dan mengantuk karena semenjak melarikan diri bersama Bun Beng dia sama sekali belum tidur. Pagi-pagi
tadi, lewat tengah malam, dia menangis dengan putus harapan. Didekapnya kepala Bun Beng yang
dipangkunya, karena dia menganggap bahwa pendekar itu tentu tidak dapat sadar kembali. Akhirnya dia
tertidur atau setengah pingsan, bersandar pada batang pohon sambil tetap memangku kepala Gak Bun
Beng yang masih belum sadar.
Ketika Bun Beng siuman dan membuka matanya, pertama-tama yang diingatnya adalah Milana, maka dia
terbelalak melirik ke kanan kiri, takut kalau-kalau Milana berada di situ. Tiba-tiba dia duduk dan membalik,
memandang kepada Syanti Dewi yang masih pula bersandar pohon, dengan muka pucat dan masih ada
bekas air mata. Bun Beng mengeluh lirih. Dia telah tidur atau pulas dengan kepala di atas pangkuan gadis
itu! Dan mereka telah berada di dalam hutan besar! Padahal, seingatnya, dia memondong gadis ini berlari
secepatnya dari kota raja, melompati benteng pagar tembok kota raja lalu dia terguling dan tidak ingat apaapa
lagi.
“Dewi...!” Bun Beng berkata lirih, setengah menduga bahwa tentu Syanti Dewi yang menyelamatkannya,
membawanya sampai ke dalam hutan lebat itu.
Biar pun hanya lirih saja panggilan ini, Syanti Dewi membuka kedua matanya. Ketika dia melihat Bun Beng
sudah duduk di depannya, memandangnya dengan sepasang mata yang penuh perasaan haru, dia
menggosok-gosok kedua matanya, takut kalau-kalau dia hanya bermimpi, kemudian, ketika melihat bahwa
Bun Beng tetap masih duduk di depannya, tidak pingsan lagi, bukan main girangnya rasa hati dara ini.
“Paman ! Aihh, paman... syukurlah bahwa paman telah sadar! Ahhh, betapa sengsara dan takut hatiku
selama dua hari dua malam ini melihat paman hanya diam tak pernah bergerak...”
Bun Beng memegang kedua tangan dara itu dan memandang tajam. “Apa katamu? Selama dua hari dua
malam aku... aku tak sadarkan diri?”
Syanti Dewi hanya mengangguk dan baru sekarang terasa oleh dara itu betapa lapar perutnya, betapa
lelah tubuhnya.
“Dan selama ini engkau... engkau telah memaksa diri melarikan aku ke sini... dan... dan merawatku...?”
Bun Beng menelan ludahnya menahan keharuan hatinya.
Kembali Syanti Dewi mengangguk. Kemudian berkata lirih, “Aihhh, paman Gak. Bagai mana aku dapat
merawatmu? Aku sudah bingung sekali, hampir putus harapan ketika pagi tadi melihat engkau seperti...
seperti mati. Aku takut sekali...”
Bun Beng menggenggam kedua tangan yang kecil itu, suaranya gemetar ketika dia berkata, “Dewi... kau...
kau seorang... anak yang baik sekali.”
Hati dara itu girang bukan main. Setelah Bun Beng siuman, dia tidak mengkhawatirkan apa-apa lagi, tidak
takut apa-apa lagi. “Paman, engkau tentu lapar sekali, dua hari dua malam tidak makan apa-apa, tidak
minum apa-apa. Sekarang aku akan mencari buah-buahan untukmu.”
Namun Gak Bun Beng tidak melepaskan tangan dara itu. “Dewi, katakanlah, apakah selama ini engkau
juga pernah makan?”
Syanti Dewi menunduk dan menggeleng kepala.
“Dan pernah minum?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kembali Syanti Dewi menggeleng kepala.
Bun Beng menghela napas. “Luar biasa sekali! Engkau seorang gadis yang luar biasa sekali. Seorang
yang berhati sangat mulia, engkau seorang puteri budiman. Cara bagai manakah engkau dapat melarikan
aku ke tempat ini, Dewi?”
Wajah yang agak pucat itu sekarang menjadi merah dan Syanti Dewi lalu menceritakan betapa hampir saja
mereka tertangkap oleh sepasukan tentara kalau saja dia tidak cepat menyeret Bun Beng ke kolong
jembatan. Kemudian dia menceritakan betapa dia membawa lari Bun Beng tanpa tujuan tertentu, pokoknya
asal dapat menjauh dari kota raja, sejauh mungkin.
“Aku hanya tahu bahwa paman tidak ingin dilihat... orang, maka aku membawa paman menjauh dari kota
raja sedapat mungkin. Akan tetapi aku merasa heran sekali mengapa paman melarikan diri begitu paman
melihat Puteri Milana? Mengapa paman tidak ingin dia melihat paman? Bahkan aku mendengar pula dia
mengenali dan memanggil paman malam itu. Mengapa, paman?”
Gak Bun Beng menunduk, menghela napas panjang, lalu menggeleng-geleng kepala. “Aku... aku tidak kuat
menghadapinya... aku... aku... ahhhh, aku hanya seorang laki-laki yang bodoh.”
Hening sampai lama. Bun Beng tetap menunduk dan Syanti Dewi mencoba untuk dapat menyelami
perasaan pendekar itu dengan menatap tajam wajah yang sangat muram itu. Kemudian terdengar Syanti
Dewi bertanya, suaranya lirih. “Paman Gak, sedemikian besarkah cintamu terhadap Puteri Milana?”
Bun Beng tak menjawab, hanya menarik napas panjang, lalu untuk membelokkan bahan pembicaraannya.
Dia kemudian berkata, “Dewi, kita harus segera kembali ke kota raja. Aku akan mengantarkanmu sampai
ke luar pintu gerbang, dan kau masuk sendiri serta langsung menghadap Puteri Milana. Ceritakanlah
riwayatmu tanpa menyebut-nyebut namaku, dan aku yakin dia akan suka menolongmu.”
“Aku hanya mau menghadap dia kalau bersamamu, paman.”
“Ah, engkau tahu bahwa aku tidak mungkin dapat menemuinya.”
“Kalau begitu aku pun tidak sudi menghadapnya!” Jawaban Syanti Dewi ini agak keras, sungguh jauh
bedanya dengan sikapnya seperti biasa yang penuh kehalusan, seolah-olah baru satu kali ini dia marahmarah.
Bun Beng mengangkat muka memandang. “Mengapa, Dewi? Bukankah engkau jauh-jauh dari Bhutan
dikirim ke kota raja oleh ayahmu untuk menjadi mantu kaisar?”
“Tidak, tidak! Paman sudah tahu sendiri akan semua akal busuk yang bersembunyi di balik kepura-puraan
perjodohan itu! Aku tidak sudi! Pula, dahulu aku hanya mau karena ada adik Ceng di sampingku. Sekarang
adik Ceng hilang, mungkin tewas, dan sebagai gantinya adalah paman. Karena itu, tanpa paman, aku tidak
sudi harus pergi sendiri ke istana. Lebih baik aku... mati di sini...”
Bun Beng memegang tangan dara itu. “Tenanglah, tidak ada yang memaksamu, Dewi. Kalau begitu, kita
harus melanjutkan perjalanan ke utara. Aku mau menemui Jenderal Kao Liang. Di kota raja sedang terjadi
pergolakan dan agaknya dia yang menguasai banyak pasukan saja yang akan dapat menyelamatkan kota
raja dan sekaligus mewakili aku mengurus urusanmu dengan kaisar. Percayalah, tidak akan ada yang
memaksamu, Dewi. Aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk mencegah siapa pun yang berani mati
memaksamu.”
Wajah yang jelita itu berseri. “Baik, paman. Ke mana pun paman membawaku pergi, aku akan suka ikut,
asal jangan menyuruh aku pergi seorang diri. Wah, perutku lapar sekali, tentu paman juga. Biar aku
mencari buah-buah...”
Bun Beng sudah menyambitkan batu kecil yang digenggamnya dan kelinci gemuk yang menyusup di
antara semak-semak itu mati seketika. “Nah, itu ada kelinci gemuk yang menyerahkan dagingnya, Dewi.
Ambillah.”
Tadi Syanti Dewi terkejut menyaksikan gerakan pendekar itu, akan tetapi mendengar ucapannya, dia
tertawa lalu berlari-lari dan membuka-buka semak-semak itu. Dan benar saja, di sana ada seekor kelinci
gemuk yang telah mati dengan kepala pecah disambar batu, masih hangat tubuhnya. Sambil tertawa
gembira Syanti Dewi lalu menguliti dan memanggang daging kelinci. Setelah Bun Beng siuman kembali,
dunia-kangouw.blogspot.com
terusirlah semua kekhawatiran dan kedukaan dari hati dara ini yang sebaliknya menjadi riang gembira
kembali, sungguh pun tubuhnya masih terasa amat lelah.
Tetapi ternyata pukulan batin yang diderita oleh Gak Bun Beng dalam pertemuannya dengan Milana,
ditambah dengan luka dalam yang dideritanya ketika dalam keadaan tidak sehat dia bertanding melawan
Siang Lo-mo, dua orang kakek kembar di kota raja itu, membuat pendekar ini lemah dan sakit. Ditambah
lagi kenyataan yang menusuk hatinya, yang mendatangkan rasa khawatir dan bingung, kenyataan yang
dirahasiakan yaitu sikap Syanti Dewi kepadanya, sikap yang amat baik, mengandung kasih sayang, sikap
yang hanya dapat diperlihatkan seorang wanita yang jatuh cinta, membuat dia makin menderita batinnya.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Cersil Keren

Pecinta Cersil