Rabu, 19 September 2018

Cerita Silat Cersil Kelelawar Tanpa Sayap Bab 12 - Tamat

===========


Bab 12. Lorong rahasia. "Aku rasa ada baiknya menunggu sampai Ciu Kiok sadar kembali" kata Suma Tang-shia.
Sekali lagi Siau Jit mengangguk.
"Betul, dia adalah satu satunya korban yang berhasil lolos dari ujung golok Kelelawar,
jadi dia memang sepantasnya ikut ke sana"
"Dengan begitu semuanya akan jadi jelas, apa benar Kelelawar yang ia jumpai adalah
Kelelawar yang disekap dalam perkampungan Suma-sa n-ceng, atau Kelelawar yang kita jumpai"
L ui Sin menambahkan. "Moga moga saja ketiganya berasal dari satu orang yang sama" kata Han Seng sambil tertawa
getir, "kalau tidak, seorang Kelelawar saja sudah bikin kita pusing, apa jadinya bila
muncul Kelelawar yang lain"
Lui Sin berpaling memandang kamar Ciu Kiok sekejap, kemudian katanya:
"Entah bagaimana kondisi Ciu Kiok, kira kira kuat tidak ia diajak melakukan perjalanan?"
"Dia lemah karena telah kehilangan banyak darah, asal istirahat sejenak lagi, tanggung
semangat dan kekuatan tubuhnya akan pulih kembali"
"Jite" pesan Lui Sin kemudian, "beritahu Sun toa-nio, begitu Ciu Kiok tersadar kembali,
minta dia segera memberi kabar"
"Toako, tampaknya watak temperamenmu yang seperti bahan peledak, kini sudah banyak
berubah" sahut Han Seng sambil manggut manggut.
Lui Sin tertawa ewa. "Manusia toh gampang berubah" katanya.
Tanpa bicara lagi Han Seng membalikkan badan sambil beranjak pergi.
Kembali Lui Sin mendongak sambil menghembuskan napas panjang, tiba tiba bisiknya:
"Aaai, musim gugur sudah mendekati puncaknya!"
Dia meraupkan tangannya, menangkap selembar daun yang sedang melayang ditengah udara.
Ia memang banyak berubah, meskipun Siau Jit tidak kenal orang ini namun banyak tahu
tentang sifat serta perangainya dimasa silam, tapi kini, ia merasa semua tingkah laku dan
sepak terjang orang ini sudah jauh berbeda dibandingkan dulu.
Tiba tiba Suma Tang-shia meraih selembar daun yang gugur dan bergumam:
"Aku tidak menyukai musim gugur, khususnya di puncak musim gugur seperti ini"
Siau Jit tidak menjawab, dia hanya membungkam.
Kembali Suma Tang-shia menatap wajah Siau Jit sekejap, lalu tanyanya perlahan:
"Tahukah kau mengapa?"
"Ehmm" "Apa maksudmu ehmm?"
"Itu tandanya dia tahu" sela Lui Sin, kemudian setelah tersenyum lanjutnya, "justru aku
yang tak habis mengerti, mengapa seorang gadis yang masih begitu muda macam dirimu
ternyata begitu sensitif perasaan hatinya"
Suma Tang-shia tertawa. n "Karena kau berkata begitu, hal ini menandakan bila kau benar benar tidak tahu
oyatgll katanya. "Karena kau masih belum melihat kalau sesungguhnya aku sudah tidak muda lagi"
Kontan Lui Sin tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, jadi kau beranggapan dirimu sudah tua sekali?"
"Buat seorang wanita setua aku belum juga menikah, hal ini pertanda kalau dia sudah tua"
kata Suma Tang-shia sambil tertawa.
Lui Sin tertegun. Kembali Suma Tang-shia melanjutkan:
"Selewat puncak musim gugur akan tiba musim dingin, itu berarti setahun kembali berlalu,
coba bayangkan sendiri, bagaimana mungkin perempuan macam diriku menyukai suasana puncak
musim gugur?" Walaupun masih tertawa, terlihat jelas kalau tawanya begitu sedih dan sendu.
"Sungguh tak disangka ada begitu banyak masalah yang gamang membuat kalian kaum wanita
risau dan kuatir" gumam Lui Sin sambil tertawa getir.
Saat inilah Siau Jit baru buka suara:
"Padahal banyak sekali pendekar kenamaan dalam dunia persilatan yang jatuh cinta kepada
toaci, hanya selama ini toaci tak pernah pandang sebelah matapun terhadap mereka"
"Banyak diantara mereka, bahkan kau pun tak pandang sebelah mata, bagaimana mungkin toaci
mu bisa menaruh perhatian?" sahut Suma Tang-shia tertawa.
"Selesai kasus disini, siaute pasti akan secara khusus mencarikan pasangan yang serasi
untuk diri toaci" Mendengar itu, Suma Tang-shia tertawa cekikikan, suara tertawanya begitu sendu, begitu tak
berdaya, apa boleh buat. Angin musim gugur berhembus memenuhi halaman, semakin banyak dedaun yang berguguran, tapi
suara tertawa Suma Tang-shia membuat suasana yang sudah sendu terasa makin pilu.
OoOoo Tengah hari, awan putih memenuhi jagad raya.
Awan dimusim gugur bagai selembar kain sutera yang tipis, cahaya sang surya menembusi
lapisan awan, memancar lembut ke permukaan bumi, begitu lembut bagai kerlingan genit
seorang kekasih. Siau Jit dan Suma Tang-shia berjalan menelusuri sebuah jalan setapak ditengah kebun bunga,
dibelakang mereka mengikuti Lui Sin, Han Seng serta Ciu Kiok.
Kondisi tubuh Ciu Kiok sudah jauh lebih sehat, dibimbing dua orang dayang, ia dapat
berjalan lebih santai. Kebun bunga itu terletak disebelah timur perkampungan Suma-san-ceng.
Biarpun Siau Jit adalah tamu yang sering berkunjung ke perkampungan itu, namun baru
pertama kali ini dia melewati jalan setapak ditengah kebun bunga.
Sekilas pandang, jalan setapak itu tak jauh berbeda dengan kebun kebun bunga lain, namun
sewaktu lewat disana, entah mengapa timbul suatu perasaan aneh dihati Siau Jit.
Dia bahkan sangat yakin kalau perasaan aneh itu bukan timbul lantaran dia berada disuatu
tempat yang asing. Entah karena melihat perubahan mimik wajah Siau Jit atau karena alasan lain, tiba tiba
Suma Tang-shia bertanya: "Siau kecil, apakah kau merasakan sesuatu yang aneh dengan jalan setapak ini?"
"Anehnya memang aneh, hanya tidak kutemukan dimana letak keanehan itu"
Suma Tang-shia segera tertawa, sambil belok ke sebuah persimpangan jalan katanya:
"Kau seharusnya dapat melihat letak keanehan itu"
Tergerak pikiran Siau Jit.
"Maksudmu kelewat banyak persimpangan jalan disini?"
"Sebetulnya bisa saja kita jalan lurus ke depan sana, tapi dalam kenyataan aku berbelok ke
kiri menikung ke kanan dan tiada hentinya memasuki persimpangan jalan yang ada"
"Mula mula kusangka setelah berbelok satu persimangan jalan, seharusnya toaci akan
berjalan lurus, tapi setelah mendengar ucapan toaci, aku jadi sedikit mengerti"
"Kalau begitu coba kau terangkan"
"Persimangan jalan yang ada disini tampaknya memang kacau tak beraturan, padahal dalam
kenyataan memiliki kepanjangan yang sama, hanya saja arahnya . . . . . . .."
"Kenapa dengan arahnya?" tanya Suma Tang-shia tertawa.
"Arah timur, selatan, barat, utara hampir semuanya terdapat hal yang sama, berapa kali aku
merasa hakekatnya sedang berputar ditempat yang sama, mana ada jalan setapak macam
begini?" Suma Tang-shia tidak menjawab, lagi lagi dia belok memasuki sebuah persimpangan jalan.
Tiba tiba Siau Jit berkata:
"Bila dugaan siaute tak salah, seharusnya disini telah dipasang sebuah barisan bunga"
Suma Tang-shia manggut-manggut.
"Apakah sudah kau lihat ilmu barisan apa?"
"Bukankah Lak-hap-tin?" ujar Siau Jit setelah termenung sejenak.
Mula mula Suma Tang-shia agak tertegun, kemudian sahutnya sambil tertawa:
"Tak kusangka kau benar benar dapat menebaknya, selama ini aku hanya tahu kalau ilmu
pedangmu sangat lihay dan tangguh, tak nyana dibidang ilmu barisan pun kau memiliki
pengetahuan yang luar biasa"
"Dimasa tua, guruku tertarik untuk mempelajari ilmu dibidang tersebut . . . . . .."
"Dan kau kebagian ilmunya"
"Tentu saja, kalau tidak bagaimana mungkin bisa menemukan ilmu barisan tersebut sekarang"
"Tapi sejujurnya, mempelajari ilmu semacam itu betul betul bikin otak seperti mau meledak"
kata Suma Tang-shia tertawa.
n "Belum pernah tahu kalau ternyata toaci menguasahi juga . . . . ..
"Dari seluruh wilayah perkampungan Suma-san-ceng, hanya daerah seputar sini yang sama
sekali tak dilengkapi dengan alat perangkap" tukas Suma Tang-shia cepat.
"Andaikata kami tidak membuntuti toaci dan berjalan semaunya sendiri, apa yang bakal
terjadi?" "Maka kalian hanya akan berputar terus diseputar tempat ini"
"Bukankah kita dapat menebang pepohonan disitu dan membuka sebuah jalan lewat?"
"Itu mah tergantung bagaimana nasibmu"
"Kalau kebetulan bernasib jelek?"
"Begitu menyentuh tombol rahasia dibalik pepohonan, besar kemungkinan kau akan tewas
dibawah hujan panah!"
"Bagaimana dengan para dayang . . . . . . .."
Suma Tang-shia tertawa, potongnya:
"Tempat ini sudah ditetapkan sebagai daerah terlarang, tanpa perintah dilarang masuk, jadi
seandainya ada yang tersesat, yaa jangan salahkan orang lain"
"Berarti si Kelelawar dikurung dalam barisan ini?" tanya Siau Jit kemudian.
"Boleh dibilang begitu..... andaikata selama hidup si Kelelawar berada dalam kondisi
idiot, cukup barisan ini sudah mampu mengurungnya sepanjang masa, tapi jika tiba tiba
kesadarannya pulih kembali, susahlah untuk diprediksi mulai sekarang"
"Atau dengan perkataan lain, kecuali barisan ini masih ada perlengkapan lainnya?"
"Masa kau lupa" Aku kan sudah mengatakan kalau disini seluruhnya terdapat tiga belas lapis
alat perangkap yang sangat hebat?"
"Tidak" Siau Jit menggeleng.
"Ooh, mungkin kau merasa sangsi dengan perkataanku itu?" tanya Suma Tang-shia sambil
tertawa. "Aku baru teringat setelah menyaksikan ilmu barisan yang diterapkan disini"


Www.ceritasilatcersil.blogspot.com Cerita Silat ~ Kumpulan Cersil Terbaik Kelelawar Tanpa Sayap

"Oya?" "Hanya untuk membangun ilmu barisan inipun, aku yakin sudah banyak tenaga, pikiran dan
beaya yang dihamburkan, apakah kau tidak merasa agak kelewatan untuk membuang begitu
banyak harta dan waktu hanya untuk melindungi seorang idiot?"
Suma Tang-shia mengangguk sedih.
"Akupun berpendapat begitu, menurut anggapanku, lebih baik kita hadiahkan sebuah bacokan
saja ke tubuh si Kelelawar daripada mencari kesulitan dan masalah, tapi ayahku sekalian
tidak sependapat" "Para cianpwee dan enghiong kebanyakan memang berpikiran begitu, kelewat berbelas kasihan"
keluh Siau Jit sambil tertawa getir.
"Itulah dia, jadi aku sendiripun tak bisa mengatakan apakah tindakan yang mereka lakukan
ini benar atau tidak"
Kembali Siau Jit menghela napas.
"Moga moga saja sikap baik dan berbudi mereka terhadap si Kelelawar tidak keliru"
"Aku cukup tahu akan keampuhan dan kedahsyatan dari berapa alat jebakan yang terpasang
diseputar tempat ini, aku tak percaya kalau si Kelelaw ar sanggup melarikan diri dari
loteng itu"   "Dan yakin pula kalau Lui Hong bukan tewas ditangan si Kelelawar?"
Suma Tang-shia tidak menanggapi, ia terbungkam.
Sementara pembicaraan masih berlangsung, kembali mereka melewati dua buah tikungan,
diantara ranting daun dan pepohonan, lamat lamat tampak sebuah dinding pagar tinggi
berwarna coklat. Setelah termenung berapa saat, Suma Tang-shia baru berkata:
"Benarkah peristiwa berdarah itu merupakan hasil karya si Kelelawar, setelah melihat
keadaan Kelelawar nanti, aku yakin kita bisa menarik sebuah kesimpulan"
Siau Jit manggut-manggut.
"Ciu Kiok pun seharusnya dapat mengenali apakah orang itu adalah si Kelelawar yang melukai
dirinya atau bukan" "Menurut apa yang kuketahui, Kelelawar tak punya saudara, jadi aku rasa tak mungkin ada
orang yang mirip dengan si Kelelawar"
Sementara itu Suma Tang-shia telah mengajak mereka berbelok satu tingkungan, begitu
selesai berbelok, mereka telah keluar dari dalam barisan bunga.
Selapis dinding pagar yang tinggi terbentang satu tombak dihadapan mereka, disisi dinding
itu terlihat sebuah undak-undakan batu yang membentang keatas, diujung dinding merupakan
sebuah panggung datar, sekeliling panggung dipagari dengan balok kayu besar.
Sambil menunjuk kearah panggung itu, ujar Suma Tang-shia:
"Dengan berdiri diatas panggung itu, kita dapat menyaksikan dengan jelas loteng kecil
tempat Kelelawar disekap, panggung ini semuanya berjumlah empat buah, atau dengan
perkataan lain, mau kabur kearah mana pun, segala gerak gerik Kelelawar tak akan lolos
dari pengamatan kami"
"Masa Kelelawar tak mengerti bagaimana cara membuka jendela dan pintu loteng?" tanya Siau
Jit keheranan. "Naik saja keatas panggung, entar kalian akan mengerti dengan sendirinya" usul Suma
Tang-shia sambil menaiki anak tangga batu menuju keatas panggung.
Siau Jit menyusul dibelakangnya.
Sepanjang pembicaraan berlangsung, Han Seng dan Lui Sin yang mengikuti dibelakang mereka
dapat mendengar dengan sangat jelas, perasaan keheranan mereka sedikitpun tidak berada
dibawah Siau Jit, namun kedua orang itu berusaha menahan diri agar tidak ikut menimbrung.
Tentu saja Ciu Kiok yang paling terheran heran, dia bahkan sudah melupakan rasa sakit pada
lehernya dengan mempercepat langkah kakinya.
Serombongan manusia itu bagai barisan sukma, tanpa menimbulkan suara berjalan menuju ke
panggung. Panggung datar itu terbuat dari batu putih, satu tombak lebih tinggi dari dinding pagar,
luasnya pun mencapai satu tombak lebih, dengan begitu meski ada tujuh orang yang berdiri
disana, mereka sama sekali tak merasa kesemitan.
Angin yang berhembus diatas panggung amat kencang, hembusan angin mengibarkan ujung baju
mereka. Disisi belakang dinding tinggi itu merupakan sebuah hutan bambu, hembusan angin yang
kencang membuat daun bambu bergemerisik ramai.
Ketinggian pohon bambu lebih rendah dari permukaan panggung, jadi tumbuhan itu sama sekali
tidak menghalangi pandangan mereka, dari atas panggung mereka dapat melihat dengan jelas
suasana dalam loteng yang dikelilingi kebun bambu itu.
Benar saja, bangunan loteng itu sama sekali tidak dilengkapi pintu maupun jendela.
Disanapun tak ada dinding tembok tapi berupa jeruji yang terbuat dari balok kayu besar,
jadi kalau dibilang bangunan itu adalah sebuah loteng, lebih tepat dibilang sebagai gardu
dua tingkat. Diseputar bangunan loteng itu merupakan lapisan tembok pendek, tingginya tak sampai satu
tombak. Dinding pendek itulah yang memisahkan bangunan dengan hutan bambu.
Diantara bangunan loteng dan tembok pendek terhampar sebuah tanah lapang, rumput yang
tumbuh disana amat lebat dan mencapai ketinggian lutut.
Oleh karena kehadiran lapangan dengan semak tinggi inilah, bangunan loteng tampak
terpencil dan sendu, seolah sama sekali tak ada penghuninya.
Sambil menarik napas panjang gumam Siau Jit:
"Sebenarnya tempat ini adalah sebuah temat yang ind ah"
"Betul, coba dinding pendek itu disingkirkan, lalu semua semak dibabat rata, mau dibangun
gardu atau rumah gubuk disitu, aku yakin pasti banyak orang yang menyukainya dan kerasan
tinggal disini" "Dan siaute adalah salah seorang diantaranya" sambung Siau Jit cepat.
"Menggunakan tempat semacam ini untuk mengurung manusia laknat macam Kelelawar, jelas
siapa pun akan beranggapan kalau kelewat buang buang duit"
Lui Sin yang selama ini murung, kali ini tak kuasa menahan diri lagi, timbrungnya:
"Aku benar benar tak habis mengerti dengan jalan pemikiran para hiapsu dan kaum pendekar"
Siau Jit tertawa getir. "Rasanya bukan hanya locianpwee seorang yang merasa tak habis mengerti"
"Benar, aku selalu beranggapan bahwa cara kerja mereka kadangkala sok berlebihan" Han Seng
menambahkan. "Mungkin saja tidak semua orang berpikiran begitu"
"Asal ada seorang saja yang tidak berpikiran begitu, itu sudah lebih dari cukup"
Suma Tang-shia manggut manggut dan tidak bicara lagi.
"Apakah orang itu adalah si Kelelawar?" tiba tiba terdengar Siau Jit berseru sambil
memandang ke arah bangunan loteng itu.
Tanpa terasa semua orang berpaling kearah yang ditunjuk.
Dalam ruang loteng itu tampak ada seorang kakek sedang duduk bersila.
Rambut beruban kakek itu tampak kusut tak rapi, dia mengenakan baju warna hitam dan duduk
disitu tanpa bergerak, seakan sedang memikirkan sesuatu, ia duduk tak bergerak,
penampilannya persis seperti sesosok mayat kering yang tak bernyawa.
Karena jaraknya terlampau jauh, lagipula kepalanya setengah tertunduk, semua orang tak
dapat melihat jelas raut muka sesungguhnya.
Kalau wajah pun tak terlihat, tentu saja tak akan tampak perubahan mimik mukanya.
Namun mereka segera merasakan semacam perasaan yang amat misterius, khususnya ketika Suma
Tang-shia menjawab: "Benar, dialah sang Kelelawarl", perasaan misterius itu terasa semakin
kental. Benarkah dia adalah si Kelelawar tanpa sayap, Kelelawar laknat yang membuat paras muka
para jago berubah ketika mendengar namanya, Kelelawar bajingan yang selalu mengincar
perempuan, membunuh orang tanpa berkedip dan selalu melakukan perbuatan jahat"
Semua orang membelalakkan matanya lebar lebar, memusatkan segenap perhatian ke wajahnya.
Ciu Kiok merasakan pula jantungnya berdebar keras, perasaan ngeri, seram dan ketakutan
segera menyelimuti dirinya.
Dialah satu satunya orang yang lolos dari kematian, lolos dari cengkeraman mautnya.
Kelihatannya si Kelelawar sama sekali tidak merasa kalau ada orang sedang celingukan
diatas panggung, dia hanya duduk termangu ditempat tanpa bergerak sedikitpun juga.
Entah kenapa, setiap orang merasa seakan ada benda yang setiap saat dapat bergerak,
seperti ada sekelompok Kelelawar yang setiap waktu bakal menyerang mereka.
Bahkan Suma Tang-shia pun punya perasaan seperti ini, dengan wajah sangsi tanyanya kepada
Ciu Kiok: "Nona cilik, apakah orang ini yang kau jumpai di jalan raya di luar kota?"
Begitu pertanyaan itu diucapkan, tatapan mata semua orang serentak tertuju ke wajah Ciu
Kiok. "Apakah dia orangnya?" tak sabar desak Lui Sin.
Ciu Kiok menatap sekejap sekeliling ruang loteng itu, mula mula ia tampak kebingungan,
sesaat kemudian dengan nada meyakinkan sahutnya:
"Bukan, bukan orang ini"
"Bukan Kelelawar yang ini?" desak Lui Sin cemas.
"Bukanl" sahut Ciu Kiok yakin.
"Rasanya orang inipun bukan kakek buta yang mengaku sebagai Kelelawar tanpa sayap yang
kita jumpai pagi tadi" sela Siau Jit tiba tiba.
"Betul, pada hakekatnya seperti dua orang yang berbeda" Han Seng menambahkan.
Agaknya sekarang Lui Sin baru teringat akan peristiwa itu, gumamnya:
"Sama sekali tak mirip"
Perlahan Suma Tang-shia menyapu sekejap wajah ke emat orang itu, tanyanya kemudian:
"Kalian sudah melihat dengan jelas?"
"Sekalipun dia tidak mendongakkan kepalanya, namun bagaimana pun dipandang, rasanya dia
sama sekali tak mirip dengan Kelelawar yang kita jump ai pagi tadi" ujar Siau Jit.
"Tidak susah bila menginginkan dia mendongakkan kepalanya"
kata Suma Tang-shia, setelah
memandang sekejap bawah panggung, lanjutnya, "aku sengaja mengajak kalian masuk pada saat
ini karena ada alasannya"
Mengikuti arah yang dipandang, Siau Jit menyaksikan ada seorang perempuan tua berbaju abu
abu sedang berjalan keluar dari balik barisan bunga dan menuju ke arah panggung.
Perempuan tua itu berusia enam puluh tahunan, wajahnya ramah, dia membawa sebuah keranjang
terbuat dari bambu. "Dia adalah . . . . . . . .." tanya Lui Sin keheranan.
"Dia adalah Sim Ngo-nio, dayang tua dari keluarga kami, saatnya menghantar nasi untuk
Kelelawar" "Ooh....?" "Walaupun kungfu yang dimiliki Kelelawar sangat tinggi, bagaimana pun dia tetap manusia,
sekalipun dia tidak berubah jadi orang idiot pun, paling juga bisa menahan lapar selama
berapa hari" "waah, tampaknya repot sekali untuk membiarkan Kelelawar ini tetap hidup" gumam Lui Sin
dengan kening berkerut. "Akupun berpendapat begitu, kenapa tidak dibantai saja, urusan jadi beres" ujar Suma
Tang-shia. "Betul sekali!"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, Sim Ngo-nio telah naik keatas panggung dan
memandang sekejap ke tujuh orang itu dengan pandangan sangsi dan penuh curiga.
Buru buru Suma Tang-shia memberi tanda kepada Sim Ngo-nio seraya berseru:
"Sana, laksanakan saja tugasmu"
Sim Ngo-nio tidak bicara apa apa, dia langsung menaiki tangga batu, biar usianya sudah
banyak namun tindak tanduknya tidak mencerminkan ketuaan, setiap langkah kakinya masih
mantap dan penuh tenaga. "Aku rasa diapun seorang ahli silat" kata Siau Jit setelah memandangnya sekejap.
"Percayalah, ilmu silat yang dia miliki sama sekali tidak berada dibawah kemamuanku,
bahkan mungkin jauh diatasku"
"Sama sekali tak kusangka"
Suma Tang-shia tertawa, sambungnya:
"Tentu saja kau terlebih tak menyangka kalau dia dengan ayahku masih terhitung saudara
seperguruan" Siau Jit tertegun, serunya kemudian:
"Aah, sungguh diluar dugaan"
Sambil merendahkan suaranya kembali ujar Suma Tang-shia:
"Aku hanya bisa beritahu kepadamu bahwa dia amat menyukai ayahku, sayang ayahku sudah
keburu mengawini ibuku, disaat ibuku meninggal, diapun sudah patah arang dan tidak berniat
"Aah, sungguh diluar dugaan"
Sambil merendahkan suaranya kembali ujar Suma Tang-shia:
"Aku hanya bisa beritahu kepadamu bahwa dia amat menyukai ayahku, sayang ayahku sudah
keburu mengawini ibuku, disaat ibuku meninggal, diapun sudah patah arang dan tidak berniat
untuk menikah lagi" "Kejadian semacam ini terkadang memang tak bisa dipaksakan"
Suma Tang-shia menghela napas panjang dan tidak bicara lagi.
Ternyata Sim Ngo-nio tidak langsung menaiki panggung batu itu tapi berhenti pada undakan
trap pertama dekat dinding tembok.
Diujung tembok terdapat sebuah tabung bambu yang kasar dan besar, tabung itu langsung
berhubungan dengan ruangan dalam bangunan loteng.
Sebenarnya sejak tadi Siau Jit, Han Seng maupun Lui Sin telah menaruh perhatian pada
tabung bambu itu, hanya saja karena konsentrasi mereka tertuju pada si Kelelawar, maka
selama ini tak semat menanyakannya kepada Suma Tang-shia.   Tapi sekarang, tanpa ditanya pun mereka sudah tahu apa kegunaan dari tabung bambu itu.
Sim Ngo-nio membuka kain biru penutup keranjang bambunya dan mengeluarkan dua buah tabung
bambu pendek, kemudian secara beruntun dia lempar kedua tabung kecil itu ke dalam tabung
bambu besar. "Apakah isi tabung bambu itu adalah makanan?" Siau Jit segera bertanya.
"Satu tabung berisi makanan, satu tabung yang lain berisi air bersih, tabung tabung itu
akan menggelinding masuk ke dalam ruangan loteng itu melewati tabung bambu besar ini,
biarpun setiap hari hanya dua tabung, namun repotnya bukan kepalang"
"Aku lihat si Kelelawar benar benar seperti orang idiot" tiba tiba ujar Siau Jit, "kalau
tidak, seharusnya ia dapat berpikir untuk menggunakan batang bambu ini untuk melarikan
diri" Suma Tang-shia kontan tertawa.
"Justru lantaran dia tidak berbuat begitu, maka suasana diseputar sini masih tetap terjaga
hingga kini, belum rata dengan tanah"
"Jadi tiang bambu itu dihubungkan dengan sumbu bahan peledak?" tanya Siau Jit tertegun.
"Betul! Ketika mendengar ada benda menggelinding lewat tabung bambu itu, si Kelelawar
segera akan berjalan menghampiri dan mengambil kedua tabung makanan dan air bersih
itu . . . . . . . .."
Belum habis dia berkata, disebela h sana si Kelelawar sudah mendongakkan kepalanya.< br/>   Kini dia berjalan mendekati panggung batu dengan wajah menghadap ke atas.
Kini Siau Jit, Lui Sin maupun Han Seng dapat melihat wajahnya dengan sangat jelas,
ternyata dia memang bukan kakek buta yang dijumpai pagi tadi.
Tanpa sadar serentak mereka berpaling ke arah Ciu Kiok.
Tampak Ciu Kiok menggelengkan kepalanya berulang kali, Kelelawar yang tersekap dalam
loteng itu sama sekali bukan Kelelawar yang menipu Lui Hong, apalagi si Kelelawar yang
membunuh To Kiu-shia serta Thio Poan-oh sekalian.
Mungkinkah si Kelelawar tanpa sayap ada yang asli dan gadungan" Tapi siapa yang berani
menyamar jadi manusia seperti itu"
Dalam waktu singkat perasaan semua orang jadi kalut, kacau setengah mati, dan pada saat
itu pula si Kelelawar mulai bergerak.
Tampak seluruh tubuhnya mencelat ke tengah udara lalu begitu jatuh kembali ke bawah, ia
berputar dilantai bagai gangsingan, dengan berapa kali putaran tubuhnya sudah melompat
keluar dari ruang loteng.
Saat itulah semua orang baru melihat kalau ditangan kanannya ia menggenggam sebatang
tongkat bambu. Begitu menyaksikan tongkat bambu itu, baik Siau Jit maupun Han Seng dan Lui Sin segera
merasa sangat mengenal dengan benda tersebut.
Fajar tadi, ketika bertemu dengan Kelelawar tanpa sayap, mereka saksikan ditangan orang
itupun membawa sebuah tongkat bambu yang sama.
Dengan tongkat itulah dia menggurat sebuah gambar Kelelawar diatas tanah, beritahu kepada
mereka bahwa dialah si Kelelawar.
Kelelawar tanpa sayap! Walaupun jarak mereka cukup jauh, meski mereka tak dapat melihat secara jelas, namun baik
warna, ukuran maupun bentuk dari tongkat bambu itu sama sekali tak berbeda dengan apa yang
disaksikan Siau Jit bertiga.
Itulah sebabnya mereka merasa sangat mengenal dengan benda tersebut, perasaan kenal itu
bukan dikarenakan benda itu sama sama sebuah tongkat bambu.
Tanpa sadar semua jago mulai tegang, mulai merasakan aliran darah bergerak cepat.
Pada saat itu pula paras muka Suma Tang-shia ikut berubah.
Persoalan apa yang telah membuatnya terperanjat"
Si Kelelawar sudah keluar dari bangunan loteng, tiba tiba tongkat bambunya ditekan ke
bawah kemudian menutul keatas wuwungan rumah, tubuhnya yang kurus itupun segera melambung
tinggi ke angkasa. Bersamaan itu tongkat bambunya meluncur ke tengah udara dengan kecepatan tinggi.
Tatkala tubuh kurusnya meluncur kebawah, sepasang ujung bajunya segera dipentangkan
seperti Kelelawar mementang sayap, ia seolah-olah berubah menjadi seekor Kelelawar hitam
yang amat besar. Begitu meluncur ke bawah, lagi lagi badannya melejit, sementara dalam genggaman tangannya
telah bertambah dengan sebuah tabung bambu.
Tabung itu tak lain adalah tabung bambu yang baru saja dimasukkan Sim Ngo-nio ke dalam
tabung bambu besar tadi. Ketika tongkat bambunya meluncur ke bawah, si Kelelawar segera pentang mulutnya dan secara
tepat menggigit ujung tongkat tadi.
Lagi lagi badannya yang kurus kering berputar bagai gangsingan ditengah udara, kemudian
melesat masuk ke dalam ruang loteng.
Begitu duduk kembali diposisinya semula, dia mulai tertawa, tertawa bangga.


Www.ceritasilatcersil.blogspot.com Cerita Silat ~ Kumpulan Cersil Terbaik Kelelawar Tanpa Sayap

Suara tertawa itu berkumandang hingga keluar hutan bambu, menggema disisi telinga semua
orang, begitu tajam dan nyaring suara tertawanya hingga jauh melebihi suara gemerisik daun
bambu yang dimainkan angin.
Suara tertawanya sangat aneh, dibalik suara mencicit, terselip pula perasaan menakutkan
yang sukar dilukiskan dengan perkataan.
Semua orang mulai bergidik, mulai merinding, tanpa terasa bulu kuduk mulai berdiri.
"Suara tertawanya mirip sekali!" tiba tiba Ciu Kiok menjerit keras.
Lui Sin, Siau Jit maupun Han Seng pun mempunyai perasaan yang sama, seperti itulah suara
tertawa yang mereka dengar ketika bertemu si Kelelawar fajar tadi.
Tapi sekarang suara tertawa itu kedengaran begitu aneh, begitu menakutkan.
Kembali paras muka Suma Tang-shia berubah, gumamnya:
"Kenapa bisa jadi begini?"
Terdengar suara yang parau tua bergema dari samping tubuhnya:
"Setelah berada disini banyak tahun, baru pertama kali ini kulihat ia bersikap begitu"
Itulah suara dari Sim Ngo-nio, dia sudah berjalan naik ke panggung batu dan menghampiri
Suma Tang-shia. Paras muka perempuan tua inipun tampak sangat aneh.
"Benar" ujar Siau Jit pula, "bila dilihat dari tingkah lakunya sekarang, dia sama sekali
tak mirip seorang manusia idiot"
" kata Suma Tang-shia
"Sesaat tadi memang tidak mirip, tapi sekarang sudah mirip kembali
sambil tertawa getir. Sewaktu Siau Jit berpaling lagi, diapun ikut tertawa getir.
Betul saja, waktu itu si Kelelawar sedang mengawasi tabung bambu dikiri kanan tangannya
secara bergantian sambil tertawa bodoh.
Suara tertawa yang berkumandang pun sama sekali tak mirip dengan suara tertawa manusia
normal. Suara tertawa ini berbeda sekali dengan suara tertawanya sebelum Siau Jit mengucapkan
perkataannya tadi. Dibalik suara tertawanya terselip perasaan gembira yang sukar dilukiskan dengan perkataan,
membuat siapa pun yang mendengar, merasa makin seram dan ngeri.
Siau Jit merasa amat ngeri, bulu romanya mulai bangkit berdiri.
"Baru pertama kali ini kudengar ia tertawa seperti itu" kembali Suma Tang-shia berkata
sambil tertawa getir. "Begitu pula dengan aku" Sim Ngo-nio menambahkan.
"Mungkinkah ada saat dia mulai tersadar kembali?" timbrung Han Seng.
Sim Ngo-nio termenung tanpa menjawab, sementara Suma Tang-shia menyahut setelah berpikir
sejenak: "Hal ini kurang jelas"
"Tapi bagaimana pun juga, jangan harap dia bisa meloloskan diri dari hutan bambu ini" Sim
Ngo-nio menambahkan. Suma Tang-shia manggut-manggut.
"Ke tiga belas lapis alat perangkap itu dirancang dan diterapkan setelah melalui
pertimbangan serta perhitungan yang matang, lagipula semua peralatan ditanam pada bagian
yang tidak mencolok, kendatipun ia dapat menemukan letaknya, belum tentu dapat merusaknya,
jadi hal yang mustahil bila dia sanggup lolos dari tempat ini"
"Bila ia dapat keluar dari barisan, berarti tak mungkin akan tetap tinggal didalam hutan
bambu" lanjut Sim Ngo-nio, "kalau sampai terjadi hal semacam ini, perkampungan
Suma-san-ceng sebagai barisan pertama pasti sudah dibumi hangus oleh dirinya"
"Tapi bagaimana dengan tongkat bambunya?" tanya Lui Sin tiba tiba.
"Kenapa dengan tongkat bambu itu?"
"Kelelawar yang kami jumpai fajar tadi justru membawa tongkat bambu yang sama!" kata Lui
Sin. "Kau yakin sama?" desak Suma Tang-shia.
"Walaupun aku tak berani memastikan seratus persen, namun ukuran maupun warnanya sama
sekali tak berbeda" "Kalau dibicarakan kembali, peristiwa ini memang sangat aneh" ujar Sim Ngo-nio, "selama
banyak tahun berada disini, belum pernah kulihat dia membawa tongkat bambu semacam itu"
Suma Tang-shia mengiakan, paras mukanya tamak lebih murung dan serius.
"Masa kejadian ini begitu kebetulan?" desak Lui Sin.
Suma Tang-shia hanya termenung tanpa menjawab.
Berkilat sorot mata Siau Jit, tiba tiba ujarnya:
"Toaci, bolehkah kami berjalan lebih dekat lagi dengan si Kelelawar itu agar bisa melihat
lebih jelas?" "Boleh saja" jawab Suma Tang-shia setelah termenung sejenak, perlahan ia berpaling kearah
Sim Ngo-nio. "Padahal kita tak usah kelewat kuatir atau was was" kata Sim Ngo-nio sesudah berpikir
sejenak, "bila Kelelawar itu tak bermasalah, biar kita mendekatinya pun tak bakal ada mara
bahaya, andaikata ia sudah peroleh kembali kesadaran nya, dengan andalkan kekuatan kita
semu a, rasanya masih mampu untuk menghadapinya"
"Baik!" kata Suma Tang-shia kemudian sambil mengangguk, "mari kita tengok dia dari luar
pagar pendek itu" "Aaah benar" tiba tiba Sim Ngo-nio berseru, "sebetulnya apa yang telah terjadi?"
"Mari kita bicarakan sembari berjalan" kata Suma Tang-shia, kepada Siau Jit bertiga
katanya pula, "setelah melewati dinding tinggi, aku harap kalian mengikuti aku dengan hati
hati" Dia berbicara dengan nada serius.
"Toaci tak usah kuatir" sahut Siau Jit.
"Benar, kami sama sekali tidak mencurigai atau meragukan perkataan nona" sambung Han Seng.
Kembali Suma Tang-shia tertawa.
II "Sejujurnya, hutan bambu itu merupakan sebuah wilayah yang sangat berbahaya katanya,
"karena itu mohon maaf bila terpaksa aku harus bawel dan banyak bicara"
"Hahaha, nona tak usah kuatir, kami dua bersaudara masih belum ingin mati sekarang" kata
Lui Sin sambil tertawa keras.
Kembali Suma Tang-shia tertawa, dengan berpegangan dibahu Siau Jit, ia mulai menuruni anak
tangga batu. Dalam pada itu suara tertawa aneh dari si Kelelawar telah berhenti.
Lebih kurang tiga tombak diatas dinding kiri sebelah timur lapangan batu, terdapat sebuah
pintu berbentuk rembulan, walau tidak dilengkapi daun pintu, namun diatasnya tergantung
sebuah papan nama yang bertuliskan: Mati untuk yang berani masuk!
Sesungguhnya, barisan bunga itu telah ditetapkan oleh perkampungan Suma san-ceng sebagai
daerah terlarang, andaikata ada orang ingin tahu yang menerobos masuk sampai disitu dan
tiba ditempat ini, semestinya mereka akan segera menghentikan langkahnya sesudah membaca
tulisan itu. Melongok kebalik pintu, terlihat sebatang pohon bambu dan tidak terlihat jalanan lainnya.
Pintu gua itu terletak disisi kiri dengan lebar setengah kaki, tapi satu meter diantaranya
kini sudah tertutup oleh dahan bambu yang malang melintang.
Suma Tang-shia segera berhenti didepan pintu sambil berkata:
"Siau kecil, cabut pedangmu"
"Untuk apa?" tanya Siau Jit tertegun.
"Tentu saja membabat batang bambu yang melintang di depan pintu masuk!"
Sambil meloloskan pedangnya kata Siau Jit kemudian:
"Siaute hanya tahu membabat sambil maju, bila menemui kegagalan, jangan lupa toaci memberi
petunjuk" Kontan Suma Tang-shia tertawa cekikikan.
"Biarpun toaci mu kesalnya sampai ingin mati, saat ini masih belum ingin mati beneran"
Siau Jit tertawa, cahaya pedang berkelebat, dia mulai membabat kutung ranting dan dahan
bambu yang menghadang jalanan.
Tangan kanan Suma Tang-shia masih berpegangan diatas pundak kiri Siau Jit, dia tampak
begitu lemah. Ditengah cahaya pedang, rombongan itu kembali melanjutkan perjalanan memasuki hutan bambu.
Ternyata jalanan yang terbentang dibalik pintu bukan hanya ada sebuah, tapi banyaknya luar
biasa, selain banyak bahkan rapat dan membingungkan, persis seperti sebuah jaring
laba-laba. Setiap cabang jalan, nyaris dimulai dari pintu masuk tersebut.
Baru tiga kaki memasuki hutan bambu, jalanan itu telah terpecah menjadi sembilan buah
jalan, setiap pecahan jalan memiliki bentuk yang tak berbeda.
Setiap cabang jalan itupun hanya membentang sejauh tiga tombak, tidak lebih tidak kurang.
Pada cabang jalan tersebut kembali muncul cabang jalan lain, bagi Siau Jit yang menguasahi
ilmu barisan, setelah belok berapa kali, dia mulai kehilangan pegangan dan bingung
sendiri. Terlebih Han Seng dan Lui Sin, mereka hanya merasakan pandangannya kabur dan berkunang,
dalam keadaan begini mereka hanya bisa mengintil dibelakang Suma Tang-shia dan Siau Jit
secara ketat. Sim Ngo-nio berjalan dipaling belakang, namun dia pula yang paras mukanya nampak sangat
serius, seolah kuatir kalau berapa orang yang berjalan duluan itu salah langkah hingga
berakibat fatal. Dari mimiknya ini, bisa disimpulkan bahwa ia sudah membuang waktu cukup lama untuk
mempelajari barisan tersebut, sekalipun sesungguhnya dia tidak tertarik dengan ilmu
semacam itu. Terbukti Suma Tang-shia memang seseorang yang sangat ahli, biarpun setiap langkah dia
lakukan dengan hati hati, namun tak pernah salah langkah.
Makin ke dalam, hutan bambu semakin lebat dan rapat, sebagian besar jalanan bahkan sudah
terputus oleh lebatnya tanaman, hal ini menunjukkan entah sudah berapa lama tempat
tersebut tak pernah dijamah manusia.
Kendatipun begitu, Suma Tang-shia tetap bisa mengenali daerah disitu dengan jelas dan
tepat. Setiap langkah yang dilakukan seakan sudah berada didalam perhitungannya, kalau bukan
sangat ahli, bagaimana mungkin ia dapat melakukan kesemuanya itu"
Setelah berjalan sekian lama, akhirnya tak tahan Siau Jit menghela napas panjang dan
bergumam: "Sekarang, aku benar-benar merasa sangat kagum"
"Kau mengagumi aku?" tanya Suma Tang-shia sambil tertawa.
"Benar" Siau Jit mengangguk, "jangankan keluar dari barisan ini, bahkan untuk menentukan
arah mata angin pun, sekarang aku sudah tak mampu"
"Berarti kau kagum seratus persen?"
"Betul, kagum dan takluk seratus persen"
Kontan saja Suma Tang-shia tertawa cekikikan, tiba tiba serunya:
"Belok kiri!" Siau Jit menyahut sambil belok ke kiri, pedangnya bergetar cepat dan "Sreeet!" sebatang
pohon bambu yang menghadang dihadapannya tertebas kutung dan mencelat ke samping.
Berkilat sorot mata Suma Tang-shia, katanya lagi sambil tertawa:
"Aku pun merasa kagum seratus persen dengan kehebatan ilmu pedangmu"
"Aaah, kepandaian ku tak seberapa"
"Hihihi, sejak kapan kau belajar merendah?"
"sekarangl" kembali pedangnya bergerak memapas kutung sebatang pohon bambu yang menghadang
didepan mata. "Kami jadi ikut bingung dan tak tahu harus bicara apa" timbrung Han Seng dari belakang.
"Menurut apa yang kuketahui, pedang perak milik Han-ya pun terhitung luar biasa"
"Bicara soal ilmu pedang, ilmu pedang pemutus usus milik Siau-heng yang hebat, sedang
bicara soal ilmu barisan, hahaha... kami berdua terlebih lagi blo'on nya"
Suma Tang-shia tertawa dan tidak bicara.
Kembali Han Seng berkata:
"Sewaktu masih berada diatas panggung batu tadi, luas tempat ini masih belum terasa
seberapa, tapi setelah masuk, baru kurasakan betapa luasnya tempat ini"
"Betul, akupun merasakan hal itu" Lui Sin menambahkan.
Walaupun pembicaraan masih berlangsung, langkah kaki mereka tetap sangat berhati-hati.
Angin berhembus lewat menggoyangkan pohon bambu, suara gemerisik dedaunan kedengaran makin
nyaring, bikin hati orang terasa merinding dan bergidik.
Segulung angin kembali berhembus lewat, membawa bau amis dan busuk yang sukar terlukiskan
dengan kata. "Kenapa bisa muncul bau sebusuk ini?" tanya Lui Sin dengan kening berkerut.
"Lui-ya jangan lupa, didalam hutan tersekap seseorang" Suma Tang-shia menjelaskan.
Lui Sin tertegun, kemudian seakan baru sadar serunya:
"Jadi bau busuk itu berasal dari . . . . . . .."
"Lui-ya, jangan kau lanjutkan, aku kuatir bakal muntah" tukas perempuan itu sambil
tertawa. Buru buru Lui Sin menelan kembali ucapannya yang belum selesai diutarakan.
Makin masuk ke dalam, bau busuk itu makin kental dan keras, bikin orang jadi mual.
Untung saja semua orang masih mampu menahan diri hingga tidak sampai muntah.
Setelah berjalan lagi belasan tombak, akhirnya tembok rendah itu terlihat didepan mata,
jalanan setapak pun langsung membentang ke arah dinding rendah tadi.
Suma Tang-shia membawa para jago mengelilingi tembok rendah itu satu lingkaran, kemudian
balik kembali ke tempat semula.
Sepanjang dinding rendah itu, ternyata tak tampak sebuah pintu atau lorong pun.
Sambil menghentikan langkahnya, tak tahan Lui Sin bertanya:
"Bagaimana cara kita masuk?"
"Lewati pagar tembok!" sahut Suma Tang-shia, kemudian bagaikan seekor kupu kupu dia
melomat naik ke atas pagar.
Kuatir terjadi sesuatu, buru buru Siau Jit ikut melompat naik ke atas pagar dinding itu.
Baru saja Lui Sin akan ikut melompat, Han Seng segera mencegahnya sambil berseru:
"Mari kita bantu Ciu Kiok!"
Lui Sin manggut manggut, tanyanya kemudian sambil berpaling:
"Ciu Kiok, bagaimana keadaanmu?"
"Tidak masalah, aku masih sanggup menahan diri" sahut Ciu Kiok cepat.
"Bagus sekali!" Lui Sin segera memayang tubuh Ciu Kiok dari sisi kiri, sementara Han Seng
memayangnya dari sisi kanan.
Dibawah bimbingan kedua orang itu, Ciu Kiok segera melayang naik keatas pagar dinding itu.
Dua orang dayang yang semula membimbing tubuh Ciu Kiok segera menyusul dari belakang
diikuti kemudian oleh Sim Ngo-nio.
Baru saja Lui Sin dan Han Seng tiba diatas pagar, mereka merasakan bayangan manusia
berkelebat lewat, tahu tahu Sim Ngo-nio telah berada disisi mereka.
Tanpa terasa kedua orang itu jadi teringat kembali dengan perkataan Suma Tang-shia tadi,
kalau Sim Ngo-nio adalah adik seperguruan dari Suma Tionggoan.
Sebagaimana diketahui, nama besar Suma Tionggoan telah menggetarkan sungai telaga, dia
merupakan jago diantara para jago, sebagai adik seperguruannya, sudah barang tentu ilmu
silat yang dimiliki Sim Ngo-nio terhitung tangguh.
Berdiri diatas dinding pekarangan, bau busuk terendus makin memuakkan, tanpa terasa Suma
Tang-shia menutupi hidung sendiri dengan kedua belah tangannya.
Siau Jit ikut mengernyitkan alis matanya, sejak dilahirkan, baru pertama kali ini dia
berada dalam kondisi dan situasi seperti ini.
Tiba tiba Suma Tang-shia menghela napas panjang, katanya:
"Selama ini, aku selalu menganggap keenakan membiarkan si Kelelawar tinggal ditempat
seperti ini, tapi sekarang aku rasa sudah bukan keenakan lagi"
"Kalau tempat yang indah berubah jadi jorok, siapa yang mau disalahkan" seru Siau Jit.
"Selama ini si Kelelawar juga tak pernah protes atau mengajukan keberatan" sela Sim
Ngo-nio. "Memang" Suma Tang-shia manggut manggut, "baginya bukan masalah, mau berada ditempat mana
pun, aku rasa sama saja bagi dia"
"Hanya orang idiot yang rela tinggal ditempat seperti ini"
"Ehmm" "Seharusnya dia berada dibawah loteng" kata Sim Ngo-nio lagi sambil menyapu sekejap
seputar tempat itu. "Mungkin saja dia masih berada diatas loteng" sela Siau Jit.
"Dari sini kita bisa melihat keadaan diseputar sana dengan jelas, sama sekali tak ada
bagian tempat yang bisa dipakai untuk sembunyi, bila diatas loteng pun tak ada, itu baru
aneh namanya" Sesudah berhenti sejenak, lanjutnya:
"sewaktu kita masuk tadi, dia masih duduk diatas loteng sambil mengambil makanan dan
minumannya, mau apa dia turun ke bawah" Karena itu aku rasa kita tak perlu kuatir"
"Kalau dia b erada diatas loteng, kenapa sama sekali tak bersuara?" tanya Siau Jit lagi
sambil mendongak. Suma Tang-shia termenung tanpa menjawab, sementara Sim Ngo-nio segera berseru:
"Benar juga perkataan dari Siau kongcu"
"Kenapa tidak segera diperiksa hingga semuanya jadi jelas" usul Suma Tang-shia tertawa.
Belum selesai bicara, tubuh Sim Ngo-nio sudah melambung tinggi ke tengah udara.
Begitu mencapai ketinggian tiga tombak, mendadak terdengar ia menjerit keras:
"Kelelawar tidak berada diatas loteng!"
"Sungguh?" berubah paras muka Suma Tang-shia.
Tapi begitu ucapan tersebut meluncur keluar, iapun tertawa getir, saat ini bukanlah saat
untuk bergurau, tentu saja diapun tahu kalau Sim Ngo-nio bukan termasuk orang yang senang
bergurau. Tapi kalau suruh dia percaya begitu saja, rasanya sulit.
Kalau tidak berada diatas loteng, lantas si Kelelawar berada dimana"
Biarpun rumput liar dibalik dinding pendek setinggi lutut, namun saat itu adalah ujung
musim gugur, banyak yang sudah mengering, lagian tempat itu tidak mirip tempat yang
dipakai untuk bersembunyi.
Tapi kecuali semak, tiada temat lain disana yang bisa digunakan untuk bersembunyi.
Suma Tang-shia celingukan memandang sekejap seputar sana, kemudian sambil menatap Siau Jit


Www.ceritasilatcersil.blogspot.com Cerita Silat ~ Kumpulan Cersil Terbaik Kelelawar Tanpa Sayap

dan Sim Ngo-nio, katanya:
"Coba kalian periksa diatas loteng, sementara aku mengawasi dari bawah!"
Siau Jit mengiakan dan melompat naik setinggi tiga kaki, lalu melejit ke wuwungan rumah
lapis pertama. Sim Ngo-nio mengikuti dibelakang Siau Jit, ternyata kecepatan gerakan tubuhnya tidak
berada dibawah pemuda itu.
Setelah berhenti sejenak di wuwungan rumah, serentak mereka bersama sama menyelinap masuk
ke ruang dalam. Begitu melihat kedua orang itu sudah berada diruang dalam, Suma Tang-shia baru meluncur
melewati semak dan masuk pula ke dalam ruang bangunan.
Lui Sin, Han Seng dengan memayang Ciu Kiok segera mengikuti dari belakang, begitu juga
dengan dua orang dayang lainnya.
Ruang loteng kosong tak berpenghuni, disana hanya terlihat sebuah ranjang batu, sebuah
meja batu dan sebuah bangku terbuat dari batu.
Diatas lantai depan pembaringan terlihat setumpuk pakaian dan selimut, bau nya minta
ampun, bahkan tampak lalat beterbangan disekelilingnya.
Suma Tang-shia berdiri kaku didepan ranjang, alis matanya berkernyit, dia seperti sedang
memikirkan sesuatu. Lui Sin serta Han Seng mencoba mengawasi seputar sana, mereka pun tidak menemukan apa apa.
Angin berhembus kencang menggoyangkan rerumputan liar, bau busuk semakin menusuk hidung.
Tak namak jejak manusia dibalik semak, tak kedengaran suara langkah manusia.
Lalu ke mana perginya si Kelelawar"
Dari atas tiris air diwuwungan loteng Siau Jit periksa seputar sana, tak nampak bayangan
manusia, apa pun tak terlihat.
Perabot diatas loteng jauh lebih sederhana lagi, disitu hanya terdapat sebuah meja pendek
terbuat dari batu. Diatas meja terlihat sebuah tabung bambu, disisinya tergeletak sebuah tongkat bambu.
Dengan kecepatan tinggi Siau Jit melompat ke saming meja dan mengambil tongkat itu.
Tak disangkal itulah tongkat bambu yang mereka jumpai pagi tadi, tongkat yang berada dalam
genggaman si Kelelawar, baik ukuran maupun warnanya sama sekali tak beda.
Manusia saja banyak mirip, apalagi benda, sekalipun terdapat dua buah tongkat bambu, hal
ini bukanlah sesuatu yang aneh.
Masalahnya, kenapa kejadian tersebut bisa begitu kebetulan"
Tanpa terasa Siau Jit mulai mengamati tongkat bambu itu sambil termenung.
Sementara itu Sim Ngo-nio yang ikut masuk segera mengambil tabung bambu itu dan membuka
penutupnya. Bau harum nasi dan sayur segera muncul dari balik tabung itu, ternyata isi tabung bambu
adalah nasi serta lauk. II "Locianpwee" tanya Siau Jit kemudian, "apakah . . . . ..
"Betul, isinya adalah nasi dan lauk yang kubawakan untuk Kelelawar hari ini" lalu sambil
berpaling tanyanya, "apakah tongkat bambu itu . . . . .."
"Aku yakin inilah tongkat yang kita lihat pagi tadi"
"Urusan jadi makin kalut" ujar Sim Ngo-nio dengan kening berkerut, "masa Kelelawar tanpa
sayap benar benar bisa terbang keluar dari hutan bambu ini?"
"Tapi Kelelawar yang kami jumpai pagi tadi memang memiliki ilmu meringankan tubuh yang
sangat bagus" "Dengan ilmu meringankan tubuh sebagus apa pun, jangan harap bisa tinggalkan hutan bambu
ini dengan mudah" kata Sim Ngo-nio dengan suara berat.
Bukannya tidak percaya dengan perkataan Sim Ngo-nio, namun tak tahan Siau Jit bertanya
juga: "Lantas kemana perginya si Kelelawar?"
Sim Ngo-nio tak mampu menjawab.
Pada saat itulah mereka menangkap suara gaduh yang aneh, suara itu meski tidak terlalu
nyaring, namun mana mungkin bisa lolos dari pendengaran mereka"
Serentak para jago menengadah, tapi apa yang kemudian terlihat seketika membuat mereka
bergidik, merinding ngeri.
"Kelelawar?" seru Sim Ngo-nio tak tahan.
Ternyata mereka telah melihat Kelelawar, bukan Kelelawar tanpa sayap tapi Kelelawar
sesungguhnya. Ternyata diatas tiang belandar ruangan, khususnya disudut gelap dan remang, penuh
bergelantungan Kelelawar hitam.
Satu diantara Kelelawar yang tak bersayap, saat itu sedang bergetar dan menggelepar.
"Dari mana datangnya begitu banyak Kelelawar?" seru Sim Ngo-nio lagi dengan nada
tercengang. "Kelelawar!" mendadak terdengar seseorang menjerit keras, suara dari Ciu Kiok!
Siau Jit dan Sim Ngo-nio saling bertukar pandangan sekejap kemudian bergerak cepat, Sim
Ngo-nio menuju ke arah loteng sedang Siau Jit melesat keluar dari ruangan, menutul
wuwungan rumah kemudian secepat gangsingan dia menyelinap ke bawah loteng.
Hampir pada saat bersamaan Sim Ngo-nio telah menerjang turun pula dari tangga loteng.
Mereka tidak menjumpai Kelelawar tanpa sayap, hanya melihat ada dua ekor Kelelawar mamus,
Kelelawar sungguhan. Seekor terbelah jadi dua bagian, tergeletak dibawah kaki Lui Sin, sementara yang lain mati
tertembus tusukan pedang Han Seng, bangkainya masih tertusuk ditangkai pedang peraknya.
Biarpun sudah mati, Kelelawar hitam yang luar biasa besarnya itu tampak sangat menakutkan.
Dengan wajah terkejut bercampur keheranan semua orang kembali mendongak ke atas ruangan.
Dibalik kegelapan dan remang remangnya cuaca, tampak ada berapa ekor Kelelawar masih
bergelantungan disana. Saat itulah Sim Ngo-nio baru menghembuskan napas lega, ujarnya sambil tertawa getir:
"Tadi aku masih mengira si Kelelawar tanpa sayap membokong kalian semua"
"Si Kelelawar tak ada diatas loteng?" Suma Tang-shia balik bertanya.
"Tidak ada" Sim Ngo-nio menggeleng, "tapi disini justru bergelantungan Kelelawar
sungguhan" "Darimana datangnya begitu banyak Kelelawar?"
Sim Ngo-nio tak bisa menjawab, dia hanya menggeleng.
Sementara itu Han Seng telah mengalihkan pandangan matanya mengawasi tongkat bambu itu,
serunya: II "Saudara Siau, tongkat ditanganmu . . . . . . ..
"Tongkat bambu ini diletakkan diatas sebuah meja batu diatas loteng, bila aku tak salah
melihat, tongkat inilah yang pernah kita jumpai pagi tadi"
Han Seng menggetarkan pedangnya, bangkai Kelelawar yang tertembus segera mencelat keluar
dari bangunan loteng. Dia maju ke depan, menerima tongkat bambu itu lalu serunya cepat:
"Saudara Siau, dugaanmu tidak salah"
II "Benar kata Lui Sin pula, "aku pun dapat mengenali"
"Tapi kita semua tak ada yang mengenali orang didalam kurungan loteng ini"
tiba tiba. "Mungkin saja lantaran jaraknya terlalu jauh hingga tidak terlihat jelas" ujar Lui Sin,
kata Han Seng "atau mungkin juga dia tak ingin orang lain tahu kalau dia sudah pulih kembali jadi
normal, atau mungkin masih ada rencana busuk lainnya, maka untuk sementara waktu tak ingin
tampil dulu dengan wajah aslinya"
"Maksud toako, dia pandai ilmu merubah wajah?" tanya Han Seng.
"Bagi manusia macam dia, rasanya tidak sulit untuk mempelajari ilmu sesat semacam itu"
Han Seng termenung, untuk sesaat dia tak mampu bicara.
Kembali Lui Sin berkata: "Untuk sementara waktu lebih baik kita tak usah gubris masalah ini dulu, yang paling
penting bagi kita saat ini adalah menemukan dahulu dimana si Kelelawar berada"
"Benar" Suma Tang-shia mengangguk tanda setuju, "asal orangnya berhasil ditemukan,
bukankah semua urusan jadi jelas?"
Kepada Sim Ngo-nio tanyanya:
"Apakah si Kelelawar tidak membawa pergi ke dua tabung bambu berisi makanan itu?"
"Dia hanya membawa pergi tabung berisi air bersih"
Mendengar sampai disitu, mendadak Han Seng berteriak:
"Bukankah disamping ranjang batu terdapat genangan air?"
Mengikuti arah yang ditunjuk semua orang berpaling, benar saja disamping ranjang batu itu
terlihat genangan air. l! "Tadi aku sangka genangan air itu adalah........... walaupun ucapan Han Seng tidak
dilanjutkan, namun semua orang tahu apa yang dimaksudkan.
II "Aku pun sudah melihat genangan air itu sejak tadi kata Lui Sin pula, "hanya tidak
kuperhatikan, tapi . . . . . . .."
"Bagaimana pun, lebih baik kita bongkar dulu ranjang batu itu" tukas Siau Jit.
"Baikl" seru Lui Sin, dia yang menerjang maju pertama kali, golok emasnya dibacokkan ke
bawah, "Sreeet!" ranjang batu yang keras itupun terbelah jadi dua bagian.
Kaki kanannya kembali menendang, dia lempar belahan ranjang itu hingga mencelat ke
samping, sementara disisi lain, Han Seng melancarkan pula sebuah tendangan.
Dasar ranjang sebetulnya terdapat setumpuk kain selimut dan pakaian dekil, tapi dengan
mencelatnya ranjang batu itu, kini muncullah sebuah lubang yang amat besar.
"Lorong bawah tanah!" jerit Suma Tang-shia dengan wajah berubah hebat.
Paras muka semua orang ikut berubah.
Sebuah anak tangga terlihat membentang dari mulut lorong menuju ke bawah, tangga itu
kelihatan kasar sekali, tapi bisa dipastikan kalau lorong tersebut bukan dibuat secara
terburu buru. Oleh karena mulut lorong tertutup oleh ranjang batu, tentu saja hasil karya itu tidak akan
terlihat dari atas panggung batu diluar hutan bambu.
Kelicikan si Kelelawar benar benar diluar dugaan siapa pun.
Perasaan yang dialami semua jago saat itu bukan bisa dilukiskan dengan kata terperangah
saja. Diatas tangga pertama dekat mulut lorong, tertancap sebatang tongkat bambu, diujung
tongkat terlihat selembar kertas putih.
Kertas itu ternyata berisikan tulisan yang berbunyi begini:
"Oleh karena rahasiaku sudah terbongkar, terpaksa aku kabur lewat lorong rahasia, kali ini
akulah yang kabur, tapi lain kali giliran kalian yang melarikan diri"
Kertas putih dengan tulisan tinta hitam, meski hanya berapa kalimat namun cukup
menggetarkan hati orang. Angin masih berhembus kencang, namun tak dapat membuyarkan perasaan seram yang berkecamuk
dalam hati para jago. Suasana menyeramkan yang menyelimuti bangunan loteng ditengah hutan bambu pun terasa makin
mengental. Suma Tang-shia mengawasi kertas putih itu dengan termangu, entah berapa saat kemudian,
tiba tiba tubuhnya gemetar keras, ujarnya dengan hati bergidik:
"Tak bisa disangkal lagi, kematian nona Lui merupakan hasil karya si Kelelawar"
"Bedebah benar si Kelelawar itu" kata Siau Jit pula, "coba kita tidak masuk kemari, tak
bakalan tahu kalau dia sudah menggali lorong bawah tanah dan bisa masuk keluar dari hutan
bambu ini dengan bebas merdeka"
"Aku benar benar tak habis mengerti, kenapa . . . . . . . . .."
Siau Jit tidak membiarkan Suma Tang-shia menyelesaikan perkataannya, dia menukas:
"Kenapa dia masih tetap berdiam ditemat seperti ini?"
"Menurut kau, mengapa?"
"Mungkin dia anggap tempat ini cukup aman"
"Jagad raya begitu luas, bukan urusan sulit baginya untuk mencari tempat persembunyian"
"Tapi manusia macam dia, cepat atau lambat pasti akan membuat onar dan bencana, begitu
bencana terjadi, terpaksa dia harus kabur balik kesini, karena tempat inilah yang dia
anggap paling aman" Setelah berhenti sejenak, lanjut Siau Jit:
"Mungkin karena alasan itu pula, setelah berhasil memancing Lui Hong, dia harus melakukan
pembunuhan untuk menghilangkan saksi, hal ini mungkin disebabkan ilmu silatnya belum pulih
seratus persen, atau mungkin juga karena untuk sementara waktu dia tak ingin membuka
rahasianya ini" Suma Tang-shia mengangguk berulang kali.
Kembali Siau Jit berkata:
"Walaupun dimasa lalu dia bukan termasuk manusia semacam ini, namun setelah mengalami
pengalaman pahit atas pengeroyokan terhadap dirinya, dia mulai belajar bagaimana
menghindari yang berat untuk keselamatan sendiri"
Suma Tang-shia memandang sekejap sekeliling tempat itu, katanya setelah tertawa getir:
"Dia sama sekali tak ambil peduli dengan semua perlengkapan yang telah disiapkan ditemat
ini, secara nalar, hal ini sama sekali tak masuk akal"
"Kalau masalah itu mah tidak susah untuk dijelaskan, dari gelak tertawanya tadi, aku yakin
kalau kesadaran otak orang ini belum seratus persen normal, bagi seseorang yang
kesadarannya kurang normal, tempat seperti apa pun baginya sama saja, karena orang sinting
tak pernah kenal arti takut"
"Ehmn, betul juga" Suma Tang-shia manggut manggut.
"Sekarang, aku hanya kurang jelas akan satu hal"
"Soal apa?" "Dia pasti tahu kalau dari atas panggung batu diluar hutan bambu sering muncul pengawas
yang memeriksa gerak geriknya, kenapa ia tidak sembunyikan tongkat bambunya?"
"Betul" kata Lui Sin pula, "asal dia sembunyikan tongkat bambu itu, kita yang berada di
panggung batu pun tak akan mencurigai dirinya, kita pun tak bakal datang memeriksa, aku
percaya lorong rahasianya tak mungkin akan terbongkar pula"
"Dua alasan" sahut Suma Tang-shia setelah berpikir sejenak.
Tanpa terasa sorot mata semua orang pun bersama-sama dialihkan ke wajah perempuan itu.
Kembali Suma Tang-shia melanjutkan:
"Seperti apa yang Siau kecil katakan, kesadaran otaknya belum seratus persen normal.
Lui Sin manggut manggut. "Bagi seseorang yang belum normal kesadaran otaknya, kita tak boleh menilai semua
perbuatan yang dia lakukan dengan norma pada umumnya"
"Betul" setelah berhenti sejenak lanjut Suma Tang-shia, "alasan kedua adalah dia sudah
tahu kalau Ciu Kiok belum mati, tahu kalau kita besar kemungkinan akan datang kemari, maka
dia pun bersiap sedia untuk tinggalkan tempat ini, apa yang telah kita saksikan dari
panggung batu tadi tak lebih hanya ulahnya untuk menarik perhatian kita, memancing kita
agar mau datang dan masuk ke sana"
"Ehmm, alasan ini cukup masuk akal" Siau Jit manggut manggut.
"Aku masih belum mengerti" ujar Lui Sin.
"Kelelawar adalah seorang manusia cerdas"
"Kalau cerdas lantas kenapa?"
"Orang cerdas biasanya banyak curiga, dia pasti mulai curiga apa yang berhasil kita
temukan, setelah tiba disana apa yang akan kita lakukan terhadap dirinya" Sudah pasti
banyak dugaan yang muncul dalam benaknya, otomatis banyak pula cara penanggulangan yang
dia pikirkan, tapi cara terbaik untuk menghadapi kesemuanya ini adalah kabur, karena bagi
orang cerdas macam dia, kabur akan menyelesaikan banyak masalah, menghindari banyak
kesulitan" "Selain itu ada pula sebuah keuntungan lain baginya" sambung Siau Jit.
"Keuntungan apa?"
"Mulai sekarang, mau tak mau kita harus selalu waspada, selalu berhati hati menantikan
saat balas dendam darinya"
Berubah paras muka Lui Sin, untuk sesaat dia termenung dan bungkam.
"Menurut pendapatku, dia seharusnya tetap tinggal disini" sela Han Seng.
"Kenapa?" "Kita toh sama sekali tak tahu kalau ditempat ini terdapat sebuah lorong rahasia, bilamana
perlu, dia masih tetap bisa kabur lewat lorong bawah tanah. Sebaliknya bila kita tidak
temukan lorong tersebut, sepeninggal kita dari sini, dia pun masih bisa keluar lewat
lorong rahasia lalu menyergap kita secara tiba tiba dan balas dendam, aku rasa dengan
kepandaian silat yang dia miliki, tidak sulit bila ingin menghabis nyawa kita semua"
"Benar juga perkataanmu itu" sambil mendengarkan, Lui Sin mengangguk berulang kali.
Bab l3. Kabur. Angin barat berhembus kencang, suasana musim gugur dalam hutan bambu tidak terlalu kental,
warna musim gugur pun mulai tawar dan menipis.
Tapi perasaan hati semua orang justru makin dingin dan membeku, perasaan dingin itu bukan
dikarenakan saat itu sudah berada dipenghujung musim gugur, bukan pula karena hawa yang
membeku. Tentu saja mereka tahu kenapa hati mereka jadi dingin, jadi membeku.
Suma Tang-shia merasakan sekujur badannya menggigil, dia sandarkan tubuhnya makin rapat
dibahu Siau Jit. Sementara Siau Jit pun sangat memahami perasaan hatinya saat itu.
Walaupun secara resmi si Kelelawar masih tersekap dalam ruang loteng, namun secara diam
diam ia telah menggali lorong bawah tanah dan mendapatkan kembali kebebasannya, dalam hal
ini ternyata perempuan itu sama sekali tak tahu.
Itu berarti andaikata si Kelelawar hendak berbuat sesuatu terhadap dirinya, ia sama sekali
tak bisa menghindarkan diri.
Memang benar kesadaran Kelelawar belum seratus persen pulih, namun hal ini bisa diartikan
suatu ketika ia normal juga, kalau bukan begitu, darimana bisa tahu untuk bisa lolos dari
kepungan hutan bambu, dia harus menggali lorong bawah tanah"
Disaat pikirannya menjadi normal kembali, mungkinkah dia akan teringat dengan dendam
kesumat nya" Mungkinkah dia akan teringat dengan dendamnya terhadap Suma Tionggoan"
Mungkinkah di a teringat akan balas dendam"
Dapat dipastikan si Kelelawar akan berpikir ke situ, hanya saja kenapa hingga sekarang
belum dia lakukan" Mungkin hanya dia pribadi yang bisa menjawab pertanyaan ini.
Bisa jadi ia telah menyiapkan sebuah rencana besar untuk balas dendam, dan rencana
tersebut akan dia laksakan dalam waktu singkat.
Bagaimana pun, masih untung rahasia ini segera terbongkar, untung mereka datang tepat
waktu. Karena itu selain kaget dan ngeri, diam diam dia pun bersyukur.
Dalam waktu singkat Suma Tang-shia berhasil mengendalikan diri, lambat laun paras muka pun
menjadi tenang kembali. Apa yang dibicarakan Han Seng dan Lui Sin pun dapat ia dengar dengan jelas, maka setelah
termenung sesaat sahutnya:
"Mungkin kalian berdua masih belum tahu dengan jelas tabiat dari manusia yang bernama
Kelelawar ini" "Bagaimana pula dengan wataknya?" tanya Lui Sin.
"Terlalu percaya diri, sebelum pertarungan maut di lembah Hui-jin-gan, dia selalu berkata
sesumbar kalau tak seorang jagopun dalam dunia persilatan yang merupakan tandingannya,
dalam kenyataan, dia pun tidak pernah membokong orang dari belakang"
"Tapi bagaimana penjelasanmu tentang diculiknya putriku?" Lui Sin tertawa dingin,
"bagaimana pula penjelasanmu tentang anak buahku yang mati keracunan dalam warung teh?"
"Diracuninya anak buahmu dalam warung teh, menurut aku hal ini disebabkan Kelelawar sama
sekali tak menganggap mereka sebagai musuhnya"
"Maksudmu dia menganggap mereka tidak pantas menjadi musuhnya?"
"Mungkin saja hal ini ada sangkut pautnya dengan rencana dia untuk menjebak putrimu, dia
tidak berharap putrimu mengalami luka atau cedera karena itu"
Lui Sin berkerut kening, ia tidak berbicara lagi.
Kembali Suma Tang-shia berkata:
"Orang ini masih mempunyai sebuah watak aneh, yakni suka bergurau"
"Suka bergurau?" Siau Jit tertegun.
Suma Tang-shia manggut-manggut.
"Hanya saja gurauannya itu kecuali dia sendiri, mungkin orang lain tak akan tertarik"
Siau Jit tertawa getir, baru saja dia hendak mengucapkan sesuatu, tiba tiba gelak tertawa
yang sangat menakutkan berkumandang membelah keheningan.
Bersamaan itu pula berhembus angin yang sangat kencang, lalu tampak dahan bambu bergoyang
kencang. Tampaknya hembusan angin kencang itu timbul karena getaran suara tertawa yang amat keras
itu, ditengah goncangan dahan bambu, suara tertawa itu kedengaran makin menakutkan.
Begitu suara tertawa bergema, nyaris paras muka semua orang berubah hebat.
Suara tertawa semacam ini tidak terlalu asing bagi me reka, khususnya bagi Suma Tang-shia,
Sim Ngo-nio serta kedua orang dayangnya.
Inilah suara tertawa dari Kelelawar tanpa sayap!
Suara tertawa itu bergema dari arah timur, begitu semua orang berpaling, bayangan
Kelelawar pun kembali terlihat.
Si Kelelawar masih berada diluar hutan bambu, diluar dinding tembok tinggi.
Ternyata ia berdiri tegak diatas panggung batu sebelah timur, berdiri sambil tertawa


Www.ceritasilatcersil.blogspot.com Cerita Silat ~ Kumpulan Cersil Terbaik Kelelawar Tanpa Sayap

terbahak-bahak, tertawa dengan bangganya.
Sekali lagi paras muka Suma Tang-shia berubah, katanya:
"Pintu keluar lorong rahasia itu kalau berada diluar dinding tinggi, sekalipun berada
diluar barisan bunga, letaknya pasti tak jauh dari barisan tersebut, kalau tidak, mustahil
dia bisa mencapai panggung batu itu sedemikian cepatnya"
"Moga moga saja masih berada diantara barisan bunga dengan dinding tinggi" kata Siau Jit.
Suma Tang-shia manggut-manggut.
"Kalau tidak..... Kelelawar pasti akan menembusi barisan bunga itu sebelum tiba diatas
panggung batu, bila dia sanggup melewati barisan bunga, ini berarti dia bukan saja tidak
idiot bahkan kepintarannya sangat menakutkan"
"Mungkin saja dia pun mempunyai kemampuan dalam ilmu barisan, tapi bagaimana pun juga,
untuk bisa menembusi barisan bunga, paling tidak otaknya harus berada dalam keadaan
jernih" "Berarti dia pun sudah tahu bagaimana cara untuk menghadapi kita semua"
Tiba tiba Siau Jit menarik napas panjang, katanya:
"Toaci, adakah jalan ke dua yang bisa meninggalkan hutan bambu ini dalam waktu singkat?"
"Tidak ada, bila harus melewati hutan bambu, berarti harus lewat jalanan yang pernah kita
tempuh" "Itu berarti butuh waktu banyak, lagipula sulit untuk meloloskan diri dari pengawasan si
Kelelawar" "Sama seperti kita awasi gerak geriknya tadi, sekarang dia berada ditempat yang tinggi,
semua gerak gerik kita pasti tak akan mampu lolos dari pengamatannya"
"Kalau begitu terpaksa kita harus menunggu sampai dia bertindak lebih dulu, dari apa yang
dia lakukan, kita baru bisa pastikan bagaimana harus bersikap"
"Kecuali dia tak mempunyai niat jahat, kalau tidak, aku berani memastikan, jangan harap
kita bisa mundur dari sini melalui jalanan semula"
Mau tak mau Siau Jit harus mengangguk.
Saat itu, suara gelak tertawa masih bergema tiada habisnya.
Angin berhembus makin kencang, gemerisik daun bambu tambah ramai, seluruh langit dan bumi
seakan tambah gelap, suara tertawa pun kedengaran makin menyeramkan.
Berkilat mata Siau Jit, katanya:
"Setelah mendengar gelak tertawanya itu, bila orang masih bilang dia bukan edan, benar
benar sebuah pernyataan yang tak bisa dipercaya"
"Sekarang, kita justru berharap dia benar benar edan, benar benar idiot, sebab bagaimana
pun, orang idiot jauh lebih gampang dihadapi daripada orang normal"
"Betull" "Tampaknya kalian berdua kuatir kalau sampai bangsat itu menggunakan alat perangkap yang
ada dalam hutan bambu untuk menghadapi kita?" sela Han Seng.
"Tepatl" "Biarpun dia tahu akan kelihayan alat jebakan ditempat ini, toh belum tahu bagaimana cara
menggunakannya" ujar Lui Sin.
Suma Tang-shia tertawa getir.
"Bukankah sudah kukatakan sedari tadi, semua alat perangkap itu telah dijalankan sejak
awal" katanya. "Kalau bukan begitu, kenapa kita musti masuk dengan sangat hati hati" Siau Jit
menambahkan. Han Seng menghela napas panjang.
"Aaai, kelihatannya sekarang kita hanya berharap, semoga bangsat itu benar benar sinting,
benar benar idiot dan kehilangan akal sehat"
Dengan cepat Lui Sin memegang gagang goloknya sambil berteriak nyaring:
"Daripada disini menunggu mati, lebih baik kita terjang saja hutan bambu itu!"
Sementara Han Seng menarik tangan saudaranya, sambil melangkah maju kata Siau Jit:
"Aku rasa jauh lebih aman bila kita tetap tinggal didalam loteng itu, bukankah alat
perangkap yang terpasang dalam hutan bambu bertujuan untuk mencegah si Kelelawar
meninggalkan tempat ini"
"Keliru!" sahut Suma Tang-shia.
Baru saja ia selesai bicara, suara tertawa si Kelelawar yang menyeramkan ikut berhenti
pula. Semacam perasaan ngeri yang sukar dilukiskan dengan kata segera timbul dalam hati semua
orang, disamping muncul pula perasaan bimbang dan ragu.
Perasaan itu seperti orang yang sedang berjalan tiba tiba menginjak tempat kosong dan
terperosok ke bawah. Selama Kelelawar masih tertawa, mungkin keadaan masih aman, tapi begitu berhenti tertawa,
bisa diartikan dia segera akan turun tangan.
Sinar mata dan perhatian semua orang pun serentak dialihkan ke arah Kelelawar.
Mendadak tubuh jangkung Kelelawar tampak melambung ke udara dan bersalto berapa kali, tahu
tahu dalam genggaman tangan kanannya telah bertambah dengan sebilah golok, golok lengkung.
Golok lengkung itu mirip bulan sabit, gagang pedangnya berupa seekor Kelelawar yang sedang
mementang sayap, amat menyilaukan mata.
Ciu Kiok yang melihat senjata itu kontan menjerit keras:
"Golok Kelelawar!"
"Darimana dia dapatkan golok Kelelawar yang pernah digunakan dulu?" rintih Suma Tang-shia
pula. "Konon dia memiliki tiga belas bilah golok semacam ini" kata Ciu Kiok, "dua belas bilah
diantaranya telah diberikan kepada orang lain"
"Dihadiahkan untuk dua belas orang perempuan yang paling dia sukai!" Suma Tang-shia
menambahkan. "Lantas ke mana perginya sebilah yang lain?" tanya Siau Jit.
"Ada dirumahku" jawab Suma Tang-shia, tapi segera terangnya, "setelah Kelelawar berhasil
dirobohkan, manusia berikut goloknya dihantar kemari, golok tersebut disimpan ayahku dalam
sebuah ruang rahasia di ruang bacanya"
"Itu berarti kalau golok yang berada dalam genggamannya bukan golok tersebut, nyawa salah
satu dari ke dua belas perempuan tersebut jadi masalah besar"
"Tapi dia menyukai ke dua belas orang perempuan itu"
"Mungkin saja dia menyukai mereka, tapi apakah ke dua belas orang perempuan itu menyukai
dirinya pula?" kata Siau Jit, "selain itu, benarkah Kelelawar yang kita jumpai hari ini
adalah Kelelawar dimasa lampau?"
Suma Tang-shia termenung sambil berpikir sejenak, kemudian katanya:
"Memang harus diakui, Kelelawar yang dulu belum pernah membunuh perempuan mana pun"
"Berita yang tersiar dalam dunia persilatan memang begitu"
"Tapi yang kita ketahui sekarang adalah dia telah membunuh nona Lui, bahkan mencincang
tubuhnya" Setelah tertawa getir, terusnya:
"Terlepas dari mana dia peroleh golok Kelelawar itu, lebih baik sekarang kita bikin
persiapan terlebih dahulu untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan"
"Siaute telah berhati hati"
Padahal bukan hanya dia, sorot mata semua orang pun tak ada yang bergeser dari tubuh si
Kelelawar. Waktu itu si Kelelawar telah mengangkat goloknya keatas dan meletakkan diatas ubun
ubunnya. Dipandang dari kejauhan, cahaya terang yang memancar dari golok lengkung itu pada
hakekatnya tidak mirip sebilah golok, tapi seolah dari atas kepala si Kelelawar muncul
sekilas bianglala berwarna perak.
Tiba tiba bianglala itu berputar, dari melintang berubah jadi tegak lurus, lurus dibawah
alis mata si Kelelawar, tiba tiba saja suasana jadi hening.
Mata golok menghadap keluar, gagang golok menindih diatas ujung hidung hingga ke ujung
alis mata Kelelawar, cahaya golok pun berubah jadi satu garis, semakin mencolok mata.
Dalam pandangan mata Siau Jit, disaat golok lengkung itu berhenti diatas wajah Kelelawar,
tiba tiba saja wajah itu seakan terbelah jadi dua bagian.
Mata golok seolah menghujam ke dalam wajah Kelelawar dan membelahnya jadi dua.
Apa yang sebenarnya hendak dilakukan Kelelawar itu"
Tanpa sadar ingatan tersebut melintas dalam benak semua orang, dan saat itu pula cahaya
golok kembali terjadi perubahan.
Cahaya golok yang membentuk satu garis itu secepat petir meluncur keluar dari wajah sang
Kelelawar, berputar, membalik lalu mencongkel, pagar kayu diseputar panggung batu pun
terbabat kutung jadi berapa bagian, kutungan yang kena congkelan langsung beterbangan di
angkasa. Para jago yang berada dalam loteng dapat menyaksikan semua kejadian itu dengan jelas, Lui
Sin segera berseru: "Apa gerangan yang sedang dilakukan bangsat itu?"
Siau Jit seperti ingin mengucapkan sesuatu namun kembali diurungkan, paras mukanya serius,
dari perubahan mimik mukanya, dia seolah tahu kalau si Kelelawar sedang mempersiapkan diri
untuk melakukan sesuatu gerakan.
Paras muka Suma Tang-shia jauh lebih serius daripada Siau Jit, tampaknya dia pun telah
berpikir sampai ke situ. Belum lagi kutungan pagar kayu berjatuhan, golok Kelelawar telah disarungkan kembali.
Tampak ia memutar sepasang tangannya, menyambut kutungan batok kayu pagar lalu kembali
tertawa. Suara tertawanya kedengaran begitu bangga dan puas.
Tiba tiba ia berseru: "Kalian semua adalah orang orang pintar!"
Tentu saja perkataan itu mengandung banyak arti, Siau Jit dan Suma Tang-shia saling
bertukar pandangan sekejap, baru akan menjawab, Lui Sin dengan suara bagaikan geledek
telah membentak nyaring: "Kelelawar" "Hahaha, aku berada disini" jawab Kelelawar sambil tertawa aneh, "boleh tahu Lui toaya ada
urusan apa?" Saat ini Lui Sin sudah merasa sangat yakin kalau Kelelawar yang berada di panggung batu
tak lain adalah Kelelawar yang mereka jumpai pagi tadi, ia cabut keluar golok emasnya,
kemudian sambil menuding Kelelawar itu bentaknya:
"Jadi kau benar benar adalah si Kelelawar?"
"Kelelawar memang hanya ada satu!" tiba tiba tubuhnya berputar kencang.
Disaat wajahnya berpaling lagi, ternyata dia telah merubah tampangnya menjadi orang kedua,
tanyanya kemudian: "Tahukah kalian apa sebabnya bisa begini?"
"Ilmu merubah wajah!" teriak Suma Tang-shia tanpa sadar.
Biarpun teriakan itu tidak begitu keras, ternyata si Kelelawar dapat mendengar dengan
jelas sekali, kembali ia tertawa tergelak.
"Hahaha, bagaimana pun orang pintar tetap orang pintar"
Setelah berhenti sejenak, lanjutnya:
"Orang pintar macam kalian seharusnya tahu bukan tindakan apa yang hendak kulakukan, tentu
tahu juga bagaimana harus menghadapinya"
Begitu selesai bicara, mendadak potongan pagar yang berada dalam genggamannya telah
dilempar ke luar, meluncur ke tengah hutan bambu.
Berubah paras muka Suma Tang-shia ketika melihat hal itu, jeritnya tertahan:
"Aduh celaka!" "Potongan pagar itu tidak dilempar kearah kita . . . . . .." kata Ciu Kiok.
"Apa bedanya dengan seseorang yang menerjang masuk ke dalam hutan bambu?" tanya Suma
Tang-shia sambil tertawa getir.
Sementara pembicaraan berlangsung, "Blaaam!" dari tengah hutan bambu telah terdengar suara
ledakan keras diikuti bergetarnya seluruh permukaan tanah.
Dapat dibuktikan betapa kuat dan dahsyatnya tenaga timpukan yang dilakukan si Kelelawar.
Serentetan suara aneh kembali berkumandang dari balik hutan bambu, suara yang memekakkan
telinga itu membuat paras muka Suma Tang-shia berubah jadi makin tak sedap dipandang.
Pada saat itulah paras muka Ciu Kiok ikut berubah.   Suara tertawa aneh dari si Kelelawar kembali berkumandang, ditengah gelak tertawa,
tubuhnya yang jangkung ceking lagi lagi melambung ke tengah udara, kedua belah ujung
bajunya dikembangkan, seluruh tubuh pun berubah seakan seekor Kelelawar hitam raksasa yang
terbang ke angkasa. Setelah berjumpalitan berapa kali, badannya meluncur ke bawah dengan kecepatan tinggi.
Kali ini dia tidak melayang turun diatas panggung batu, dalam sekejap mata bayangan
tubuhnya hilang lenyap. Sementara suara aneh dari balik hutan bambu berkumandang makin nyaring.
Paras muka Suma Tang-shia berubah semakin tak sedap dilihat, gumamnya:
"Semua alat rahasia dalam hutan bambu mulai bekerja!"
"Lantas kita sekarang . . . . . .." tanya Siau Jit.
"Kalau ingin menerjang keluar dalam keadaan begini, sama artinya mencari mati"
Berkilat sepasang mata Siau Jit, ia termenung dan tidak bicara lagi.
"Masa kita harus berdiam dalam bangunan loteng itu?" tanya Han Seng.
"Ayahku telah memperhitungkan dengan pasti, setelah alat jebakan mulai bekerja, bisa jadi
si Kelelawar akan mundur balik ke dalam bangunan loteng ini"
Han Seng makin tercekat. "Jadi maksudmu bersamaan dengan hancurnya hutan bambu, loteng ini pun . . . . . . . .."
\\ "Betul, loteng inipun akan ikut hancur" nada suara Suma Tang-shia terdengar berat, aah
sekarang alat jebakan ke lima dan ke enam sudah mulai bekerja"
Sekali lagi berkilat sinar mata Siau Jit, tiba tiba ujarnya:
"Memangnya kita tak boleh menggunakan lorong bawah tanah yang digali si Kelelawar untuk
meninggalkan tempat ini?"
Agaknya Suma Tang-shia pun telah mempertimbangkan hal tersebut, segera jawabnya:
"Rasanya hanya itu satu satunya jalan hidup kita, moga moga saja si Kelelawar tidak
memasang alat perangkap atau jebakan dalam lorong bawah tanahnya"
Setelah berhenti sejenak, lanjutnya:
"Tapi setelah berada dalam keadaan begini, rasanya kita tak perlu banyak berpikir lagi!"
Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Sim Ngo-nio, tapi belum sampai ia buka suara, Sim
Ngo-nio sudah berkata duluan:
"Kalau begitu biar aku berjalan duluan!"
Habis berkata, ia segera meloncat turun ke dalam lorong bawah tanah.
Tentu saja semua orang tahu bahwa persoalannya bukan karena dia takut mati atau tidak,
andaikata didalam lorong rahasia terdapat jebakan, maka dialah orang pertama yang bakal
celaka. Begitu bayangan tubuh Sim Ngo-nio lenyap dibalik lorong, Suma Tang-shia segera menitahkan
kedua orang dayangnya: "Cepat kalian berdua membimbing Ciu Kiok dan masuk duluan!"
Kedua orang dayang itu tak berani berayal, cepat mereka memayang tubuh Ciu Kiok dan
menerobos masuk ke dalam lorong rahasia.
Saat itulah Suma Tang-shia baru berpaling sambil berkata:
"Lui, Han lo-enghiong . . . . . . .."
"Silahkan nona masuk duluan" sahut Lui Sin cepat, "biar kami berdua berada dibarisan
paling belakang!" "Sekarang bukan saatnya untuk bersungkan-sungkan" tukas Suma Tang-shia sambil menggeleng,
"aku jauh lebih jelas mengetahui keadaan disini daripada kalian berdua!"
Belum habis ia berkata, gelombang dahsyat telah terjadi ditengah hutan bambu, batang pohon
bambu tampak beterbangan dan meluncur ke tengah udara.
"Alat perangkap ke sembilan telah mulai bekerja!" seru Suma Tang-shia kemudian, kepada Lui
Sin dan Han Seng katanya pula, "apa lagi yang hendak kalian berdua nantikan?"
Bagaimana pun Lui Sin dan Han Seng adalah orang yang berjiwa terbuka, mereka tidak banyak
bicara lagi dan tergopoh gopoh masuk ke lorong rahasia.
"Siau kecil, pedangmu!" kembali Suma Tang-shia berbisik.
Cepat Siau Jit meloloskan pedangnya.
"Sreeet, sreeet, sreeet" suara desingan tajam seketika bergema dari empat penjuru, beratus
batang senjata rahasia memancar keluar dari balik hutan bambu dan menerjang bangunan
loteng itu dari empat arah delapan penjuru.
Tak diragukan semua senjata rahasia itu jelas terlepas dari alat jebakan yang terpasang
dalam hutan bambu, kecepatan dan kehebatannya luar biasa.
Cepat Suma Tang-shia mengebaskan bajunya menggulung ranjang batu yang kemudian dipakai
untuk menahan sebagian serangan senjata rahasia, sedang tangan kanannya digetar keras,
sebuah pedang lembek telah diloloskan untuk menyongsong datangnya ancaman.
Bersamaan waktu Siau Jit menggerakkan pula pedang pemutus ususnya untuk merontokkan
datangnya ancaman. Seolah sudah ada kontak batin diantara kedua orang itu, pada saat yang bersamaan mereka
membalik badan dengan punggung menempel punggung, sepasang pedang diputar berbareng
melindungi diri dari serangan senjata rahasia, lalu perlahan-lahan bergeser masuk ke dalam
Seolah sudah ada kontak batin diantara kedua orang itu, pada saat yang bersamaan mereka
membalik badan dengan punggung menempel punggung, sepasang pedang diputar berbareng
melindungi diri dari serangan senjata rahasia, lalu perlahan-lahan bergeser masuk ke dalam
&n bsp; lorong rahasia.
"Triiing, triiing" hampir sebagian besar senjata rahasia yang berhasil dirontokkan kedua
orang itu berupa panah panah tanpa bulu.
Ada diantara anak panah itu yang menembusi permukaan tanah, ada pula yang menembusi batang
tiang penyangga bangunan, tapi rata rata tembus hingga satu inci lebih.
Coba kalau menghujam dibadan, coba kalau menembusi bagian yang mematikan, hanya cukup
sebatang anak panah sudah mampu menghant ar kau pulang kampung!
Sungguh beruntung mereka berada dalam ruang loteng yang lebih cocok menggunakan pedang,
dengan kungfu yang dimiliki Siau Jit berdua, mereka masih sanggup menghadapi serangan yang
datang. Coba kalau berada ditengah hutan bambu, pada hekekatnya sulit untuk menggunakan pedang
ditengah malang melintangnya bambu, otomatis semakin sulit bagi mereka untuk mengatasi
keadaan. Tampaknya Siau Jit memahami akan hal itu, tanpa terasa serunya:
"Untung sekali kita tidak berada dalam hutan bambu"


Www.ceritasilatcersil.blogspot.com Cerita Silat ~ Kumpulan Cersil Terbaik Kelelawar Tanpa Sayap

"Ehm" Baru saja Suma Tang-shia akan mengucapkan sesuatu, tiba tiba terdengar ledakan dahsyat
bergema memecahkan keheningan diikuti menyemburnya cahaya api dari balik hutan bambu.
"Obat peledak!" teriak Siau Jit kaget.
"Jadi kau sangka toaci sedang bohong?" tanya Suma Tang-shia sambil tertawa.
Siau Jit hanya tertawa getir.
Saat itulah ledakan dahsyat kembali menggelegar membelah angkasa, dengan wajah makin
berubah teriak Suma Tang-shia:
"Cepat kabur!" "Lebih baik toaci duluan!" sahut Siau Jit sambil merangkul bahu Suma Tang-shia dan
mendorongnya masuk ke dalam lorong rahasia.
Kali ini Suma Tang-shia tidak menampik, cepat dia lari turun ke dalam lorong bawah tanah
diikuti Siau Jit. Sementara dia berlarian menuruni anak tangga, ledaka n dahsyat kembali menggelegar dari ke
e mpat tiang pancang yang ada dalam ruang loteng dan menghancurkan ruangan itu menjadi
berk eping. Tampaknya didalam tiang bangunan pun telah tertanam obat peledak dalam jumlah banyak.
Begitu bahan musiu meledak, tiang penyangga bangunan pun hancur berantakan, tak ampun
seluruh bangunan loteng ikut ambruk ke tanah.
Suara robohnya bangunan ini jauh lebih nyaring daripada suara ledakan, begitu keras hingga
memekikkan telinga. Biarpun Siau Jit sudah berada dalam lorong bawah tanah, tak urung telinganya sakit juga
karena kerasnya getaran. Tanpa pedulikan debu dan pasir yang mengotori badannya, cepat pemuda itu bergerak maju ke
depan. Kini suasana dalam lorong gelap gulita, berapa kali badannya menumbuk diatas dinding,
dalam perasaannya, lorong bawah tanah itu sama sekali tak berbentuk lurus.
Cepat dia merogoh ke dalam saku ambil keluar obor, baru akan disulut, tiba tiba badannya
menumbuk ditubuh seseorang.
Tubuh yang lembut, halus dan menyiarkan bau harum semerbak, bentuk tubuh yang sudah amat
dikenalnya. Biarpun tidak melihat, Siau Jit tahu kalau dia adalah Suma Tang-shia.
"Toaci, aku!" cepat Siau Jit berseru sambil menyulur obor.
"Siau kecil?" Cahaya api mengusir kegelapan, sinar terang menerangi lorong bawah tanah, menyinari pula
wajah kedua orang itu. Dengan wajah penuh rasa kuatir, Suma Tang-shia menarik lengan Siau Jit sambil serunya:
"Coba bukan kau, bertemu dengan siapa pun, mungkin saat ini aku sudah jatuh pingsan"
"Bukankah nyali toaci selama ini besar sekali?"
Kontan Suma Tang-shia tertawa cekikikan.
"Untung saja hanya kau seorang yang membuntut dibelakangku, andaikata ada orang kedua,
sudah pasti dia bukan manusia tapi setan"
"Untuk tempat semacam ini, biar ada setan yang muncul pun tidak aneh" kata Siau Jit
tertawa. Mendengar perkataan itu Suma Tang-shia bergidik dan tak sanggup tertawa lagi.
Saat itulah Siau Jit baru dapat melihat jelas bentuk lorong rahasia itu, ternyata
permukaannya tidak rata dan dindingnya penuh dengan bagian yang cekung maupun cembung.
"Pernah menjumpai lorong semacam ini?" tanya Suma Tang-shia.
"Aku rasa lorong ini dibuat secara tergesa gesa"
"Tidak mungkin"
Suma Tang-shia menggeleng, "coba kau periksa undak undakan didepan sana,
bukankah dibuat sangat rapi?"
"Bila Kelelawar sanggup membuat undak undakan sebagus itu, tiada alasan ia tak bisa
meratakan permukaan lorong ini"
"Tadi, justru gara gara undakan batu itu rata dan rapi, kusangka permukaan lorong bawah
tanah pun pasti datar dan rata, akibatnya berulang kali aku musti menumbuk dinding hingga
nyaris jatuh terjerembab"
"Jangan jangan si Kelelawar memang sengaja membuat permukaan lorong seperti ini?"
"Kuatirnya memang begitu" setelah termenung, lanjut perempuan itu, "terlepas bentuk apapun
yang mau dibuat, padahal tak banyak pengaruh baginya"
"Benar, karena dia memang buta"
"Tapi kalau lorong bawah tanah ini digali untuk persiapan diri sendiri, semestinya dibuat
lebih baik, dari sini bisa disimpulkan kalau ia sudah menduga bakal terjadi peristiwa
seperti hari ini" Siau Jit termenung sambil berpikir sejenak, kemudian katanya:
"Sekalipun Kelelawar lebih banyak berada dalam keadaan tak waras, disaat ia sedang waras,
aku yakin kemampuannya tak beda jauh dengan kemampuannya dimasa lalu. Toaci, sekarang
siaute mulai mandi keringat dingin"
Suma Tang-shia sendiripun bergidik, terasa bulu roma pada bangun berdiri.
Sementara pembicaraan berlangsung, mereka melanjutkan perjalanan ke depan.
Terdengar suara gemuruh yang memekakkan telinga masih bergema dari mulut lorong, begitu
nyaring dan kencang ibarat binatang aneh yang sedang meraung.
Begitu kalut dan kacaunya suara gemuruh itu hingga susah untuk membedakan mana suara
bangunan yang ambruk dan mana suara ledakan mesiu.
Permukaan lorong dimana mereka berjalan lewat terasa mulai bergetar dan berguguran, seakan
seluruh bumi bergoncang, seolah setiap saat tempat itu bakal ikut roboh.
Suma Tang-shia berlarian cepat, paras mukanya makin lama berubah makin pucat.
Air muka Siau Jit pun berubah sangat tak sedap, tiba tiba teriaknya keras:
"Cepat lari, kemungkinan besar lorong bawah tanah ini bakal ambruk!"
Belum habis ia menjerit, lorong bagian belakang meledak lalu longsor ke bawah.
Suma Tang-shia menjerit kaget, cepat dia bersembunyi dalam pelukan Siau Jit.
"Cepat kita lari!" teriak Siau Jit sambil merangkul tubuh perempuan itu dan berlari
kencang. "Siau kecil, kau mulai takut?" tiba tiba Suma Tang-shia bertanya.
"Memangnya toaci tidak takut?"
Suma Tang-shia menggeleng.
"Mungkin karena berada disisimu" sahutnya.
"Sayang aku pun hanya seorang manusia, bila lorong ini longsor, kita semua bakal mati"
Suma Tang-shia menghela napas sedih.
"Aaai, bisa mati dalam pelukanmu, apa lagi yang musti kusesalkan?" bisiknya.
Siau Jit tidak menjawab, dia hanya tertawa getir.
Kembali Suma Tang-shia berkata:
"Walaupun aku sudah bosan hidup, tapi kau masih muda, sayang kalau harus mati dalam
kondisi seperti ini, maka dari itu terlepas nasib kita baik atau buruk, yang penting kita
harus lari dengan sekuat tenaga!"
"Sejak kapan toaci jadi begitu melankolis?" tanya Siau Jit sambil menghela napas.
"Mungkin inila h sifat asli toaci, hingga disaat menghadapi ancaman ji wa, watak aslinya
muncul" Siau Jit termenung tanpa menjawab.
"Blaaam . . . . ..!" lagi-lagi terjadi ledakan dahsyat, selapis lorong sebelah belakang longsor
dengan hebatnya, bahkan merembet lorong disekelilingnya.
Berubah hebat paras muka Siau Jit, jeritnya:
"Toaci, cepat lari!" sambil berkata ia langsung mendorong tubuh perempuan itu.
Sadar akan bahaya yang mengancam, Suma Tang-shia kabur ke depan sambil berteriak:
"Hati hati saudaraku!"
Tentu saja dia pun tahu, bila harus begitu terus, disamping harus menjaga keselamatannya,
Siau Jit harus menghadapi longsoran lorong akibatnya mereka berdua bakal mati bersama.
Belum sempat Siau Jit menjawab, tanah liat diatas kepalanya kembali sudah longsor jatuh.
Sambil membentak, tubuhnya lari ke depan, sementara pedangnya menusuk ke atas.
Tusukan itu disertai desingan angin tajam, seketika bongkahan tanah yang longsor tertahan
oleh tusukan pedangnya. Ketika bongkahan tanah itu gugur ke bawah, tubuh Siau Jit sudah melesat maju sejauh satu
tombak. Ternyata dugaan mereka tak salah, lorong bawah tanah mulai longsor dengan hebatnya
diiringi suara ledakan yang memekikkan telinga.
Siau Jit melancarkan tusukan berulang kali, menggunakan saat pedangnya menahan bongkahan
tanah yang longsor, dia melompat ke depan sambil menyelamatkan diri.
Tubuhnya ibarat anak panah yang dibidikkan, pakaian serta kulit luar tubuhnya mulai
tersayat dan mengucurkan darah.
Tentu saja pemuda ini tak ambil peduli dengan luka luar yang dideritanya.
Saat itu obor telah padam, tapi dengan longsornya lorong, cahaya matahari pun ikut
menyorot masuk ke dalam, ditengah debu dan pasir yang beter bangan, mengandalkan ketajaman
matan ya Siau Jit kabur terus ke depan.
Siau Jit tak bisa membayangkan bagaimana bentuk lorong rahasia itu, dia pun tak bisa
membayangkan bagaimana bentuk permukaan tanah waktu itu.
Tiga belas jebakan maut betul betul sangat menakutkan, sekalipun tidak ia saksikan satu
per satu, namun dari kenyataan yang terpampang didepan mata, bisa dibayangkan apa jadinya
jika mereka terjebak dalam hutan bambu itu.
Tiga belas lapis alat perangkap yang membuang begitu banyak pikiran, tenaga dan uang,
ternyata tujuannya hanya untuk mengurung seorang manusia idiot.
Berhargakah kesemuanya itu"
Sekarang Siau Jit mulai sangsi, mulai curiga, apakah otak Suma Tionggoan sekalian yang ada
masalah. Ledakan dan longsoran akhirnya berhenti, tapi Siau Jit sama sekali tidak menghentikan
langkahnya, dia masih kabur terus ke arah depan.
Setelah kabur lagi sejauh tujuh tombak, sinar matahari terlihat mulai memancar masuk ke
dalam lorong, kemudian tampak undak undakan batu menuju ke atas permukaan.
Suma Tang-shia sedang menanti dibawah undak undakan dengan wajah tegang, begitu melihat
kemunculan Siau Jit, ia baru menghembuskan napas lega.
Sambil menghembuskan napas panjang, Siau Jit menyarungkan kembali pedangnya, kemudian
dalam dua tiga langkah sudah tiba dihadapan Suma Tang-shia.
Dengan penuh kehangatan Suma Tang-shia menggenggam tangan Siau Jit, sekujur badannya
gemetar keras, sampai lama kemudian ia baru berbisik:
"Mari kita naik ke atas"
"Bagaimana keadaan mereka?"
"Kami tidak apa apa" suara dari Lui Sin menyahut, lalu sambil melongok tanyanya pula,
"bagaimana dengan kalian berdua?"
"Aku sangat baik, tapi Siau kecil terluka"
"Hahaha, hanya luka lecet" sambung Siau Jit sambil tert awa.
"Hahaha, melihat kau masih bisa tertawa, kami pun merasa sangat lega" ucap Lui Sin sambil
tertawa tergelak. Ditengah gelak tertawa, Suma Tang-shia dan Siau Jit sudah naik keatas permukaan tanah.
Ternyata mulut keluar dari lorong bawah tanah itu terletak ditengah barisan bunga, padahal
sesungguhnya sudah berada ditepi barisan, karena tak perlu berjalan sejauh dua tombak,
mereka sudah keluar dari kepungan barisan tersebut.
Jarak sejauh dua tombak tanpa persimpangan jalan, hal ini menunjukkan kalau tempat itu
berada diluar barisan. Begitu keluar dari lorong bawah tanah dan periksa sekejap sekeliling tempat itu, tiba tiba
Suma Tang-shia menghela napas, katanya:
"Sekarang, kalau ada orang bilang Kelelawar adalah manusia idiot, akulah orang pertama
yang tidak percaya" "Akupun tidak percaya kalau bilang dia adalah manusia buta" Siau Jit menambahkan sambil
menghela napas. "Tapi semuanya ini adalah kenyataan"
"Apakah toaci benar benar yakin?"
"Padahal sudah menjadi rahasia umum, banyak cianpwee yang tahu hal ini dengan jelas"
"Tapi letak lorong bawah tanah ini benar benar sudah diperhitungkan secara teliti" kata
Siau Jit setelah tertegun sejenak.
"Siapa bilang tidak" sambung Lui Sin, "seorang buta ternyata sanggup menggali sebuah
lorong bawah tanah secanggih ini, kejadian inipun sudah aneh dan tidak masuk akal"
"Semua hasil karyanya sepanjang hidup memang membuat orang lain sukar percaya, hanya aku
rasa pintu keluar lorong itu kelewat kebetulan bila berada disini"
"Hal ini bukannya tidak mungkin, tapi memang rasanya kelewat kebetulan" gumam Han Seng.
"Anehnya" Lui Sin menambahkan, "kenapa dia tidak menyerang kita di pintu keluar lorong
bawah tanah ini" Dengan kepandaian silat yang kita miliki rasanya . . . . . . .."
Dia tidak melanjutkan perkataannya, tapi dengan ilmu silat yang dimiliki si Kelelawar,
siapa pun bisa membayangkan bagaimana akibatnya bila dia melancarkan serangan bokongan di
mulut lorong rahasia itu.
Siau Jit menghela napas panjang.
"Sepak terjang orang ini memang jauh diluar dugaan siapa pun, tapi rasanya mustahil kalau
dia kehilangan kewarasannya lagi gara gara dibuat kaget oleh suara ledakan yang maha
dahsyat tadi, sehingga lupa berjaga jaga di pintu keluar lorong rahasia"
" kata Suma Tang-shia, "tapi bagaimana pun
"Mungkin saja apa yang kau duga memang benar
ceritanya, yang penting kita semua telah berhasil lolos dari bencana besar ini, dan
kejadian ini patut kita rayakan"
"Selanjutnya apa yang harus kita lakukan?" tanya Lui Sin, "kemana kita harus mencari jejak
si Kelelawar?" "Bila terkaanku tak salah, mungkin saat ini dia sudah jauh meninggalkan tempat ini" kata
Suma Tang-shia. Kemudian setelah berhenti sejenak, tambahnya:
"Biarpun perkampungan Suma-san-ceng luas, namun tidak banyak tempat yang bisa digunakan
untuk bersembunyi, kecuali otaknya kembali tak waras, kalau tidak seharusnya diapun dapat
menduga kalau kita bakal mencari jejaknya"
"Mungkinkah seputar hutan bambu dipakai untuk bersembunyi?"
"Aku kuatir daerah seputar hutan bambu sudah rata dengan tanah"
Sembari bicara, perempuan itu melompat naik keatas sebatang pohon bunga dan menengok ke
arah hutan bambu. Siau Jit ikut melompat naik pula keatas sebatang pohon.
Tapi begitu melihat, paras muka Siau Jit berubah hebat, sementara Suma Tang-shia sendiri,
meski sudah mempersiapkan diri secara baik, tak urung wajahnya berubah juga dengan
hebatnya. Ternyata pepohonan yang berada tiga tombak dihadapan mereka, kini sudah hancur berantakan
dan rata dengan tanah, dinding pagar tinggi diluar barisan telah roboh, asap dan hancuran
dinding berserakan dimana mana, sementara kobaran api masih menyala dengan hebatnya
didalam hutan bambu. Kendatipun jarak mereka dengan tempat itu cukup jauh, namun hawa panas yang menyengat
terasa sampai disitu. Tak tahan lagi Siau Jit menghembuskan napas dingin, ujarnya:
"Toaci, aku rasa kobaran api yang sedang membara saat ini tak mungkin bisa dipadamkan
dengan kekuatan manusia"
Tanpa bicara Suma Tang-shia mengangguk.
Kembali Siau Jit melanjutkan:
"Untung saja ada selapis dinding pagar tinggi yang menghadang sehingga jilatan api tak
akan merambat sampai disini"
Suma Tang-shia mengangguk.
"Menurut dugaanku, memang inilah tujuan ayahku mendirikan pagar dinding tinggi"
"Tapi siaute benar benar tak habis mengerti" ujar Siau Jit sambil menggeleng.
"Tidak mengerti kenapa harus membuang begitu banyak uang dan tenaga hanya untuk menyekap
seorang manusia idiot?"
Siau Jit tertawa getir. "Benarkah para jago dan para cianpwee itu begitu kolot dan keras kepala?"
Suma Tang-shia tidak menjawab.
Dalam pada itu secara beruntun Lui Sin dan Han Seng telah melompat naik keatas pohon,
setelah menyaksikan perubahan yang terpampang didepan mata, paras muka mereka ikut
berubah. "Hari ini, boleh dibilang kita baru lolos dari kematian" kata Siau Jit kemudian sambil
berpaling kearah kedua orang itu.
Mula-mula Lui Sin tertegun, kemudian sahutnya:
"Selamat dari bencana besar, dikemudian hari pasti banyak rejeki, seharusnya kejadian ini
merupakan sesuatu yang patut digembirakan"
"Hahaha, betul juga perkataanmu!" kata Suma Tang-shi a sambil tertawa, kemudian ia melayang
t urun dari atas pohon. "Toaci, apa rencanamu selanjutnya?" tanya Siau Jit sambil ikut melompat turun dari atas
pohon. "Kau takut si Kelelawar masih berada diseputar sini hingga jiwaku terancam?"
"Apa boleh buat, mau tak mau aku harus kuatir"
Suma Tang-shia tertawa. "Seandainya dia mengincarku, sejak tadi dia pasti sudah bertindak sesuatu" katanya.
"Tapi sekarang keadaan sudah berubah, rahasianya sudah terbongkar, jadi dia bisa saja
menyerang secara terbuka"
"Jadi menurut pendapatmu?"
Belum sempat Siau Jit menjawab, kembali Suma Tang-shia bertanya:
"Menurut pendapatmu, tempat mana yang kau anggap paling aman?"
Siau Jit hanya termenung, tidak menjawab.
"Gagal menemukannya?" desak Suma Tang-shia lagi.
Siau Jit tertawa getir. Maka Suma Tang-shia melanjutkan kembali perkataann ya:
"Sesungguhnya sama sekali tak ada, justru dalam perkampungan Suma-san-ceng seharusnya
masih terdapat sebuah tempat yang aman sekali"


Www.ceritasilatcersil.blogspot.com Cerita Silat ~ Kumpulan Cersil Terbaik Kelelawar Tanpa Sayap

Siau Jit tertegun. Sambil tertawa tanya perempuan itu:
"Ayahku bisa merancang sebuah tempat sempurna untuk mengurung orang, menurut pendapatmu,
mungkinkah dia membangun pula sebuah tempat perlindungan lain yang jauh lebih kokoh?"
"Tentu saja bisa"
"Pada umumnya, setiap perkampungan pasti memiliki sebidang bangunan yang dibuat secara
kokoh dan kuat untuk persiapan bilamana diperlukan, tidak terkecuali perkampungan
Suma-san-ceng" "Ehm" "Sekalipun tak ada tempat yang seratus persen aman, paling tidak, bukan satu pekerjaan
yang mudah bagi si Kelelawar bila ingin menyerbu ke dalam tempat tersebut"
"Dia tak akan memiliki begitu banyak waktu, lagipula sejak hari ini, kita pasti akan
mengerahkan segenap kekuatan yang dimiliki untuk melacak dan menemukan jejaknya"
"sepantasnya aku pergi bersama kalian, tapi, tentunya kaupun tahu dengan jelas bukan,
manusia macam apakah diri toaci"
" Siau ?"Toaci tak pernah suka berkelana ke mana mana, dalam hal ini aku tahu dengan jelas
Jit mengangguk. "Walaupun aku tidak ikut serta, namun setiap saat kalian harus tetap menjalin kontak
denganku, agar setiap saat aku bisa menyusul dan bergabung dengan kalian dalam menghadapi
si Kelelawar" "Toaci tak usah kuatir"
Suma Tang-shia mengangguk, katanya lagi:
"Biarpun ilmu pedangmu tangguh, tapi hati hati, sebab selain harus menghadapi si
Kelelawar, kau pun harus berhati hati menghadapi Ong Bu-shia, aaai, bayangkan saja, mana
mungkin toaci tidak kuatir?"
"Mati hidup sudah kemauan takdir, siaute janji akan berusaha untuk lebih berhati-hati"
Perlahan Suma Tang-shia berpaling kearah Lui Sin dan Han Seng, lalu katanya pula:
"Bila kalian berdua tidak keberatan, aku ingin menahan Ciu Kiok bersamaku"
Lui Sin segera mengangguk.
"Kami harus menjelajahi banyak tempat untuk melacak jejak si Kelelawar, memang kurang
leluasa bila Ciu Kiok bersama kami"
katanya, "bagaimana pun, perkampungan Suma-san-ceng
jauh lebih aman daripada perusahaan piaukiok kami. Bila nona bersedia merawatnya, kami pun
semakin tenang" "Siaute pun tidak punya pendapat lain" kata Han Seng.
Bagi Ciu Kiok sendiri, tentu saja dia terlebih tak punya pendapat lain.
Bab 15. Ci-he si pendekar wanita.
Dibawah cahaya api yang terang benderang, kecuali Lui Sin dan Han Seng tidak ambil peduli,
kalau tidak, tak sulit untuk membaca berapa huruf yang terukir diatas panggung.
Sekalipun tulisan itu tidak jelas, lagipula guratannya cetek, namun secara dipaksakan
masih bisa dikenali. II "Hek Botan, Pek Huyong, Lau Ci . . . . . . . . .. kontan Lui Sin berkerut kening, "apa pula maksud
tulisan itu?" Hanya delapan huruf yang tertera, sementara dibawah huruf Ci baru muncul satu guratan dan
diatas guratan itu masih tersisa kuku yang berdarah.
"Mungkin ke delapan huruf itu mewakili nama dari tiga orang" ujar Siau Jit kemudian, "Hek
n Botan . . . . . . . . .. Tiba tiba Han Seng menukas:
"Hek Botan dari Shantung, Pek Huyung dari Hopak!"
"Bukankah kedua orang bocah perempuan itu sudah lama mengundurkan diri dari dunia
persilatan?" tanya Lui Sin dengan sinar mata berkilat.
"Siapakah mereka itu?" tanya Siau Jit.
"Mereka adalah dua orang perempuan tersohor dari dunia persilatan banyak tahun berselang,
konon ilmu silat mereka bagus, berwajah cantik rupawan, ada suatu masa, nama besar mereka
berkibar dimana-mana, tapi kemudian mengundurkan diri dari keramaian dunia, konon dinikahi
orang" "Kapan peristiwa itu terjadinya?" tanya Siau Jit lagi.
"Mungkin sudah belasan tahun" sahut Lui Sin, setelah termenung sejenak, lanjutnya, "aku
pernah bertemu Hek Botan, betul, dia memang cantik jelita, tapi kurang jelas sampai dimana
kehebatan ilmu silatnya"
Kembali Siau Jit termenung tanpa bicara.
Tiba tiba Han Seng berseru:
"Jangan jangan yang dimaksud Lau Ci . . . . . . . .. mungkinkah Lau Ci-he dari See-hoa-kiam-pay?"
"Mungkin saja orang itu" Lui Sin mengangguk berulang kali, "mereka memang tokoh tokoh
terkenal dari masa yang hampir bersamaan"
Siau Jit segera mencabut keluar potongan kuku yang tertancap diatas panggung, lalu
ujarnya: "Tidak diragukan lagi berapa huruf ini digurat oleh si pemilik kuku, bukankah kuku ibu
jari tangan kanan nona Hong terlepas dan hilang?"
"Betull" sahut Lui Sin dengan wajah berubah, dia sambut potongan kuku itu dari tangan Siau
Jit, setelah diamati sejenak, katanya lagi:
"Seharusnya kuku ini berasal dari ibu jari, karena kita sudah yakin Hong-ji menemui
ajalnya ditempat ini, aku rasa hal ini tak perlu diragukan lagi . . . . . .."
"Mungkin nona Hong tahu kalau nyawanya bakal melayang, maka dia sengaja mengukir berapa
huruf itu dengan harapan kita bisa menemukannya" ujar Siau Jit, "sayang ketika akan
mengukir huruf He, tiba tiba si Kelelawar turun tangan membunuhnya, lantaran dia orang
buta, tentu saja tidak tahu kalau nona Hong telah meninggalkan petunjuk diatas lantai
panggung . . . . . . .. "Petunjuk?" Lui Sin berkerut kening.
Il "Apakah saudara Siau curiga kalau Hek Botan, Pek Huyung sekalian merupakan komplotan dari
si Kelelawar?" tanya Han Seng.
"Kalian jangan lupa, sewaktu berada diwarung teh, bukankah si Kelelawar pernah beritahu
kepada Ciu Kiok sekalian bahwa dia semuanya memiliki tiga belas bilah golok Kelelawar,
dimana dua belas bilah diantaranya telah diserahkan kepada dua belas orang wanita yang
paling disukainya?" Tentu saja Lui Sin maupun Han Seng tidak melupakan akan hal ini.
Kembali Siau Jit berkata lebih jauh:
"Kemungkinan besar Hek Botan, Pek Huyung, Lau Ci-he merupakan tiga diantara dua belas
orang wanita itu" Setelah menyapu seluruh ruangan itu sekejap, lanjutnya:
"Ditinjau dari hasil pahatan yang ada disekeliling ruangan ini, bisa disimpulkan bahwa
semua pahatan yang ada telah melalui seleksi dan pemilihan yang ketat dari si Kelelawar,
bahkan hanya meninggalkan bagian yang terbaik dan tercantik ditempat ini"
Lui Sin maupun Han Seng mengangguk berulang kali.
Kembali Siau Jit berkata:
"Kelelawar adalah orang buta, walaupun dia memiliki sepasang tangan yang cekatan, toh
mustahil bisa meraba setiap wanita yang dijumpai untuk memilih sasaran yang paling cocok
untuk dijadikan contoh pahatan"
"Itu berarti dia mengandalkan . . . . . . .."
"Telinga!" sela Siau Jit cepat, setelah termenung ujarnya, "bila analisaku tak salah, dia
pasti memilih sasarannya berdasarkan pembicaraan orang banyak, sama seperti ketika dia
II memilih Hek Botan, Pek Huyong.....
"Dan Lau Ci-he . . . . .." sela Han Seng.
"Nama besar bocah perempuan ini jauh diatas nama Hek Botan maupun Pek Huyung" ujar Lui
Sin, "bila beritaku tidak keliru, seharusnya perempuan ini masih berkeliaran dalam dunia
persilatan" "Dalam sepuluh tahun terakhir, dalam dunia persilatan telah muncul seorang wanita pembunuh
tanpa nama" kata Han Seng, "dia membunuh bukan lantaran uang, dia pun tak bisa diundang
oleh siapa pun" "Dia membunuh bila ada orang menyalahi dirinya" Lui Sin menyambung, "barangsiapa menyalahi
dirinya, biar kau kabur sejauh ribuan bahkan puluhan ribu li pun, dia tetap akan mengejar,
mengejar untuk memenggal batok kepalanya"
Siau Jit tidak bicara, dia hanya mendengarkan dengan seksama.
Terdengar Lui Sin berkata lebih jauh:
"Ada orang bilang, dia adalah jago pedang wanita dari See-hoa-pay yang bernama Lau Ci-he,
menurut apa yang kutahu, banyak orang telah membuktikan kenyataan itu"
"Aku kenal dengan orang ini" ujar Siau Jit.
Dengan pandangan keheranan Lui Sin menatap wajah Siau Jit.
"Dia adalah seorang wanita yang sepanjang tahun mengenakan baju berwarna putih, berambut
panjang sebahu dan membawa sebilah pedang dengan gagang penuh batu permata" Siau Jit
menerangkan. "Aah, rupanya dia, darimana kau bisa mengenalnya?"
"Kalau dibicarakan kembali, sesungguhnya peristiwa itu merupakan peristiwa lama yang sudah
terjadi dua tahun berselang, waktu itu dia terkena jebakan yang disiapkan Tui-hun-
cap-ji-sat di mulut lembah Sat-hau-ko hingga terluka parah, disaat dia masih bertempur
habis habisan, kebetulan aku lewat disana"
"Dan kau telah selamatkan jiwanya?"
"Manusia macam apakah Tui-hun-cap-ji-sat, semestinya locianpwee tahu juga bukan?"
"Hahaha, aku pun tahu dengan jelas kalau kau adalah seorang pendekar sejati"
"Setelah kejadian itu, dia jatuh pingsan karena lukanya yang parah, sebelum jatuh tak
sadarkan diri ia sempat memberitahukan alamat rumahnya . . . . ..
"Dan kau menghantarnya pulang ke rumah"
"Tempat itu adalah sebuah perkampungan kecil, selain dia, hanya ada seorang nenek ditambah
dua orang dayang kecil. Konon nenek itu adalah inang pengasuhnya"
Setelah termenung sebentar, tambahnya:
"Hanya itu saja yang kuketahui, dia termasuk orang yang tidak begitu suka bicara dengan
orang lain, diapun tak pernah menyinggung masa lalu. Secara beruntun aku berdiam selama
tiga hari disana, ketika melihat kondisi lukanya telah membaik, aku pun berpamitan"
"Apa pula yang kemudian ia katakan?" tanya Han Seng.
"Dia bilang, suatu saat pasti akan membalas budi ini, sebab dia paling tak suka berhutang
budi kepada orang lain, bila aku membutuhkan, asal sepatah kata saja, terlepas persoalan
apa pun, dia bersama pedangnya pasti akan segera datang"
"Bisa membedakan mana budi mana dendam, perempuan ini sesungguhnya bukan orang jahat" puji
Han Seng. "Aku rasa, dimasa lampau mungkin ia pernah mengalami pukulan batin yang amat besar,
sehingga sifatnya berubah dan sangat membenci orang lain"
"Seharusnya perempuan semacam ini tak mungkin akan jalan bersama si Kelelawar"
"Bila permasalahan ini tak ada sangkut paut dengan dirinya, aku rasa persoalan jadi
semakin rumit" Han Seng manggut manggut.
-n "Mustahil Hong-ji kenal dengan perempuan ini katanya, "bisa jadi dia tinggalkan nama
tersebut diatas panggung karena pernah mendengar si Kelelawar menyinggungnya"
"Jangan jangan setelah peristiwa ini, rencana berikut si Kelelawar adalah pergi mencari
mereka dan membunuhnya?" tanya Lui Sin.
"Aku rasa kemungkinan ini besar sekali" seru Siau Jit dengan wajah berubah.
"Lau Ci-he tinggal dimana?" tanya Lui Sin.
"Diseputar sini, paling setengah hari perjalanan"
"Ooh!" "Karena itu gampang sekali bila kita ingin bertanya kepadanya" ujar Siau Jit, setelah
berhenti sejenak, dengan wajah berubah tambahnya, "bila Kelelawar ingin membunuhnya, tentu
saja hal ini mudah sekali untuk dia lakukan"
"Kalau begitu kita harus secepatnya meninggalkan tempat ini" sambil berkata Lui Sin mulai
mengawasi tabung logam darimana mereka terperosok tadi.
Han Seng ikut memandangnya sekejap, kemudian ujarnya:
"Aku rasa tidak gampang untuk tinggalkan tempat ini melalui tabung logam itu"
Setelah memandang sekejap sekeliling ruangan, ia menambahkan:
"Aku yakin didalam ruang rahasia ini pasti terdapat jalan keluar kedua"
Waktu itu api yang berada ditangan mereka bertiga, ada dua telah padam, obor ditangan Lui
Sin pun sudah mulai redup.
Cepat Siau Jit merogoh ke dalam sakunya, ambil keluar sebuah obor lagi, yakni obor
terakhir yang dibawa. Ia dekatkan cahaya api dengan permukaan lantai, lalu ikut pula berjongkok.
ll "Saudara cilik . . . . . . .. seru Lui Sin keheranan.
"Diatas lantai terdapat bekas kaki, asal mengikuti arah bekas kaki itu, siapa tahu kita
bisa temukan pintu keluar" Siau Jit menerangkan.
Seperti menyadari akan sesuatu, Lui Sin berseru:
"Aaah betul, tidak mungkin si Kelelawar ikut terperosok dari atas sana"
Bekas kaki dilantai sangat kalut, namun secara lamat masih terlihat dengan nyata kalau
menuju ke arah dinding dimana bertumpuk aneka jenis payudara.
Siau Jit bergerak cepat, ia melompat ke arah sana.
Dipandang dari jauh masih tidak terasa apa apa, tapi begitu mendekat, kontan Siau Jit
merasa kepalanya pusing matanya berkunang kunang, perasaan itu seratus persen dapat
dipastikan karena pengaruh dari aneka jenis payudara itu.
Walaupun semua payudara itu terbuat dari kayu, namun warnanya hampir tak berbeda dengan
warna kulit pada umumnya, bukan saja akurat pahatannya, bahkan tak jauh berbeda dengan
bentuk aslinya. Dipandang sekilas, pada hakekatnya seperti ada ratusan orang gadis yang sama-sama
menanggalkan bajunya dan maju menyongsong kehadiran mereka.
Saat itu kendatipun gerakan tubuh Siau Jit tidak terlalu cepat, namun ia merasa pandangan
matanya kabur. Lui Sin serta Han Seng memunyai perasaan yang sama, ketika bergerak mengintil dibelakang
Siau Jit, nyaris Han Seng menumbuk diatas dinding ruangan.
Menyaksikan kenyataan itu, sambil menghela napas gumamnya:
"Kelelawar betul betul bukan manusia"
"Jika ada yang mengatakan dia bukan orang sinting, akulah orang pertama yang protes" gumam
Lui Sin pula. Siau Jit tertawa getir. "Andaikata tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, dipukul sampai mampus pun aku tak
akan percaya kalau dikolong langit ternyata terdapat tempat semacam ini"
"Rasanya bukan hanya kau yang berpendapat begitu" kata Han Seng sambil menyulut obor
kedua. Pada saat yang bersamaan Lui Sin menyulut pula sebuah obor.
Pandangan mata mereka mulai bergerak diantara tumpukan payudara itu.
Dibawah cahaya api, bayangan bergerak mengikuti pergeseran tubuh mereka, "gerakan" semacam
ini membuat setiap pahatan payudara itu berubah semakin nyata.
Lui Sin dan Han Seng adalah jago jago kawakan, semasa muda dulu mereka pun pernah
menjalani kehidupan mogor, tapi sejujurnya, kedua orang itu belum pernah menyaksikan
payudara dalam jumlah sebanyak itu.
Jangan lagi Siau Jit, pemuda kemarin sore.
Setiap payudara yang ada disana tampak begitu indah, begitu memukau, membetot sukma, sulit
bagi Siau Jit untuk tidak melotot berapa kejap lebih lama.
Bagaimanapun juga dia tetap seorang manusia biasa, begitu pula dengan Lui Sin serta Han
Seng, oleh sebab itu pandangan mata mereka bergerak tidak terlampau cepat.
Tiba tiba sinar mata Siau Jit membeku, serunya:
"Disini terdapat sebuah rongga!" sambil berkata, ia mendekatkan obornya diatas dinding.
Dibawah cahaya api, mereka bertiga dapat melihat dengan nyata bahwa rongga itu memanjang
lurus ke atas. Makin dekat api obor itu dengan rongga didinding, makin keras goncangan lidah api karena
terhembus angin. Pada saat bersamaan, Siau Jit pun merasakan datangnya hembusan angin dari balik rongga
itu, serunya kemudian: "Pintu rahasia berada disini!"
Ia pun mulai mengetuk sepasang payudara yang tertempel diatas dinding itu.
Betul saja, terdengar suara pantulan yang membuktikan dugaannya tak salah, dia mencoba
mendorong sepenuh tenaga, namun dinding itu sama sekali tak bergerak.
"Aku yakin pintu rahasia ini tak mungkin bisa dibuka secara gampang" kata Lui Sin.
II "Mungkin sudah disantek dari luar kata Han Seng, "bagaimana sekarang loko?"
"?ancurkanl" perintah Lui Sin tegas, sambil berkata dia loloskan golok emasnya dan
langsung dibacok ke depan.
Dimana cahaya golok berkelebat, berapa buah payudara terbabat hingga terbelah jadi berapa
bagian. Lui Sin segera membuang obornya ke tanah, lalu dengan sepasang tangan menggenggam golok,
dia mulai membacok kian kemari.
Siau Jit maupun Han Seng tidak tinggal diam, mereka cabut pedang dan membantu Lui Sin
membabat bagian disekelilingnya.
Diantara ayunan golok dan pedang, payudara berguguran ke tanah menjadi hancuran serbuk
kayu, permukaan dinding pun mulai merekah dan muncul sebuah lubang besar, dari sana terasa
angin dingin berhembus masuk ke dalam.
Lui Sin membentak nyaring, ayunan goloknya semakin cepat.
Ditengah bentakan, lubang diatas dinding semakin membesar, dalam waktu singkat lebarnya
sudah mencukupi seseorang untuk berjalan lewat.
"Sudah cukup!" seru Siau Jit.


Www.ceritasilatcersil.blogspot.com Cerita Silat ~ Kumpulan Cersil Terbaik Kelelawar Tanpa Sayap

Lui Sin menyahut sambil menarik kembali goloknya, sedang Siau Jit langsung melangkah maju
menerobos masuk ke balik lubang.
Suasana diluar lubang gua itu gelap gulita, dibawah cahaya api, lamat lamat terlihat ada
sebuah lorong bawah tanah yang membe ntang jauh ke depan, disana tak nampak seorang man usia
pun. Menyusul kemudian Lui Sin dan Han Seng ikut menerobos masuk, tanya Han Seng:
"Apakah ada orang disana?"
"Tidak ada" "Tempat apakah itu?"
"Naik saja keatas, semua akan jelas dengan sendirinya"
Didepan pemuda itu terdapat sebuah undak undakan batu, dia pun melangkah naik ke atas.
Buru buru Lui Sin dan Han Seng mengintil dibelakangnya.
Undak undakan batu itu tidak terlalu panjang, diujungnya terdapat sebuah lapisan batu.
Siau Jit berhenti didepan lapisan batu itu, membuang obor lalu sambil membentak nyaring
dia lancarkan sebuah pukulan ke depan.
"Blaaaam!" lapisan batu itu mencelat ke depan, sedang Siau Jit berikut pedangnya meluncur
keluar. Disaat bersamaan, pedangnya sudah dilintangkan didepan dada untuk melindungi seluruh
bagian tubuhnya. Tubuhnya melambung setinggi satu tombak lebih, ketika meluncur ke luar, Siau Jit dapat
melihat dengan jelas bahwa pintu keluar dari ruang rahasia itu terletak disisi serambi
ruangan, menjadi satu dengan sebuah lampu batu, sekeliling sana pun tak nampak manusia.
Lui Sin menyusul ikut melompat keluar, setelah menyapu sekejap tempat itu, serunya:
"Pintu rahasia ini dibuat amat sempurna"
"Betul" sambung Han Seng yang baru melompat keluar, "sekalipun kita sudah berulang kali
melewati serambi ini, ternyata tak pernah menaruh curiga dengan lamu batu itu"
"Tentu saja kita tak menaruh perhatian, karena memang tak ada kebutuhan untuk menggeser
lampu itu" Sembari menggeser kembali lampu batu itu ke posisi semula, ujar Siau Jit:
"Lebih baik kita tutup kembali pintu keluar ini, siapa tahu suatu hari kita masih
membutuhkannya" Lui Sin mengangguk. "Si Kelelawar telah membuang banyak waktu, tenaga, pikiran dan beaya untuk membangun ruang
bawah tanah, memang tidak mungkin dia tinggalkan dengan begitu saja, setelah periksa
keadaan Lau Ci-he, lebih baik kita balik lagi kemari untuk memeriksa lebih seksama, bila
beruntung, siapa tahu bisa bertemu dengan si Kelelawar!"
Siau Jit mengiakan dan segera tinggalkan tempat itu.
Lui Sin dan Han Seng mengintil dibelakangnya dengan ketat.
Ketika mereka bertiga balik kembali ke ruang utama kuil Thian-liong-ku-sat, apa yang
terlihat didepan mata membuat paras muka mereka sekali lagi berubah.
Tadi, mereka tinggalkan kuda tunggangan ditengah semak dalam halaman luar bangunan kuil,
kini, walaupun binatang tunggangan itu tidak pergi jauh, namun semuanya sudah roboh
terkapar. Ke tiga ekor kuda itu tidak terkecuali, semuanya muntah darah, tergeletak ditengah semak
dan sama sekali tak bergerak.
Dengan sekali lompatan Siau Jit menghampiri kuda tunggangannya, ketika diperiksa, ia
jumpai sebuah bekas telapak tangan berwarna ungu kehitam hitaman tertera diatas tengkuk
kuda. Keadaan dari kuda tunggangan Lui Sin maupun Han Seng tidak jauh berbeda.
Setelah memeriksa sejenak, sambil menarik napas dingin gumam Siau Jit:
"Sebuah pukulan yang amat jahat dan keji!"
"Aku lihat mirip sekali dengan ilmu pukulan Tay-jiu-eng-kang dari aliran Mit-oong?" kata
Lui Sin dengan kening berkerut.
"Yaa, memang mirip sekali"
"Mungkinkah si Kelelawar yang melancarkan serangan mematikan ini?"
"Bila perbuatan Kelelawar, tak diragukan lagi tujuannya adalah untuk memperlambat
kedatangan kita di kediaman Lau Ci-he"
"Jangan jangan selama ini dia bersembunyi terus disekitar sini dan mendengar pembicaraan
kita dalam ruang rahasia tadi?"
"Bila begitu, orang ini amat berbahaya, bukan saja teliti dalam bertindak bahkan amat
licik" "Maksud saudara Siau, dia bahkan sudah mempertimbangkan petunjuk apa yang mungkin bisa
kita temukan dalam ruangan itu, dan menduga mungkin kita akan mencari Lau Ci-he untuk
mengorek keterangan?"
"Tapi orang ini pernah jadi orang idiot" seru Lui Sin.
"Siapa pula yang dapat memastikan sekarang dia telah berubah jadi bagaimana?"
"Lantas kita . . . . . . .."
"Segera berangkat" tukas Siau Jit, "sepanjang perjalanan nanti, bila bertemu kuda, mau
pinjam, mau beli bahkan bila perlu dirampas pun, kita harus dapatkan kuda tunggangan
dengan segera, bila tak menemukan, terpaksa ia lanjutkan perjalanan dengan berlari"
Lui Sin periksa sejenak keadaan cuaca, kemudian serunya:
"Dengan menunggang kuda tercepat pun, tengah malam nanti kita baru akan tiba ditempat
tujuan, moga moga saja kedatangan kita belum terlambat!"
Belum selesai ia bicara, Siau Jit telah melesat ke muka dengan kecepatan tinggi, Lui Sin
dan Han Seng segera menyusul dari belakang.
Mereka bertiga bagaikan tiga panah yang terlepas dari busur, melesat ke depan dengan
cepatnya. OoOoo Malam tidak terlalu kelam.
Angin musim gugur berhembus kencang, rembulan yang redup tergantung jauh diatas awan.
Suasana ditengah perkampungan sangat hening, dari empat orang yang ada, tiga diantaranya
sudah terlelap tidur, terkecuali Lau Ci-he.
Perkampungan itu terletak ditengah lembah, walaupun jarak dari kota terdekat tidak
terlampau jauh, namun tempat tersebut merupakan sebuah tempat yang sepi, terpencil dan
hening. Ayah Lau Ci-he adalah seorang pertapa, dialah yang membangun perkampungan ini, namun ia
tak pernah punya niatan untuk membiarkan putrinya berdiam terus disana.
Dia hanya memiliki seorang putri yakni Lau Ci-he, tak heran kalau sejak kecil sudah
memanjakan dirinya, kuatir putrinya diusik orang, maka sejak masih usia muda telah dilatih
kepandaian silat yang tangguh.
Dulunya dia adalah seorang jago pedang kenamaan dari perguruan See-hoa-kiam-pay, meski tak
suka mencari nama, namun lantaran hatinya yang luhur dan kungfunya yang lihay, dalam
deretan perguruan See-hoa-kiam-pay, ia termasuk tiga besar.
Lau Ci-he pun merupakan seorang peremuan berbakat bagus, ketika menginjak usia delapan
belas, dia telah mewarisi tujuh puluh persen ilmu silat ayahnya.
Karena itulah sang ayah dengan perasaan lega membiarkan dia berkelana dalam dunia
persilatan seorang diri. Apa mau dikata, kelananya dalam dunia persilatan bukan saja menghasilkan nama besar,
bahkan mendatangkan pula sebuah musibah yang amat besar.
Kalau dia tidak terlalu kesohor, tak mungkin si Kelelawar akan datang mencarinya.
Kalau sang Kelelawar tidak penuju kepadanya, ayahnya yang lihay pun tak bakal mati
ditangan Kelelawar. Akhirnya si Kelelawar memahat sebuah patung kayu yang persis dengan tubuhnya, tapi
meninggalkan sebilah golok Kelelawar untuk kenangan.
Dia merupakan satu diantara dua belas orang wanita yang paling disayang dan paling menarik
perhatian si Kelelawar. Mungkin ada sementara orang menganggap hal ini merupakan sebuah kebanggaan.
Tapi baginya, peristiwa ini merupakan satu aib yang sangat besar, satu penghinaan yang
sangat memalukan. Maka wataknya berubah jadi keji, tidak manusiawi, tindak tanduk dan sepak terjangnya keji,
telengas, tak kenal ampun.
Dan karena itu pula dia tak pernah lagi menggunakan Lau Ci-he sebagai namanya.
Hingga kini, dia tak pernah melupakan aib serta penghinaan ini, selama hampir sepuluh
tahun, meski banyak orang merasa keheranan dan tak bisa menebak siapa gerangan dirinya,
namun ia tak pernah bisa membohongi diri sendiri.
Lau Ci-he tak lebih hanya sebuah nama, sekalipun tidak digunakan, sesungguhnya bagi dia
sendiri tak jauh berbeda.
Manusia tetap manusia yang dulu, bukan karena tidak menggunakan lagi nama tersebut maka
semua aib dan penghinaan itu bisa tercuci bersih dan lenyap tak berbekas.
Mengingat serta mengenang suatu kejadian adalah sesuatu yang mudah, namun untuk melupakan
satu peristiwa, jelas bukan suatu hal yang gampang, kecuali dia berubah menjadi seorang
idiot. Tentu saja Lau Ci-he bukan orang idiot.
OoOoo Malam musim gugur yang sama, cahaya rembulan yang tak berbeda.
Ditengah malam seperti inilah, dulu ia bertemu Kelelawar, selama belasan tahun, setiap
bertemu musim gugur yang diterangi cahaya rembulan, perasaan ngeri, perasaan seram
bercampur gusar selalu muncul dan menyelimuti perasaan hatinya.
Dalam keadaan seperti ini, Lau Ci-he akan bersembunyi didalam kamarnya, menutup rapat
pintu dan jendela dan berusaha mengen dalikan perasaan ngeri, seram dan takutnya yang telah
mengakar. Tidak terkecuali pada malam ini.
Cahaya lentera yang menerangi ruangan, lembut bagai kedele, Lau Ci-he meski sudah
berbaring diatas ranjang namun belum terlelap tidur.
Dia mementang lebar matanya sambil memandang ujung kelambu, pikirannya kosong, dibawah
redupnya cahaya, ia tampak masih cantik bak bidadari, meski diantara jidatnya telah muncul
berapa kerutan. Dia tamak jauh lebih tua daripada usia sesungguhnya.
Perasaan takut atau gusar memang sangat gamang menggeroti usia, membuat seseorang lebih
cepat tumbuh tua. Begitu pula perasaan murung dan kesal.
Tapi ada berapa banyak manusia yang dapat melepaskan diri dari kesemuanya itu"
Oo0oo Kertas diatas daun jendela tampak putih pucat tertimpa cahaya rembulan, "Brrruk!" tiba
tiba muncul bayangan seekor Kelelawar diatas kertas yang pucat.
Spontan Lau Ci-he melompat bangun dari atas ranjang, menggerakkan tangan kirinya,
menyingkap kelambu didepan pembaringan.
Dalam waktu singkat diatas kertas jendela telah bertambah dengan begitu banyak bayangan
Kelelawar, "Brukk, bruuk....!" bunyi benturan bergema silih berganti.
Pucat pias wajah Lau Ci-he setelah menyaksikan kejadian itu, serta merta tangannya meraih
pedang yang selalu diletakkan disamping bantal.
Sarung pedang penuh bertaburkan batu permata, dari sarungnya saja sudah diketahui kalau
pedang andalannya adalah sebilah pedang kenamaan.
Bersamaan waktu tangan kanannya telah menggenggam diatas gagang pedangnya.
"Bruuk, brukkk....!" suara benturan masih bergema tiada hentinya, kemudian . . . . .. "Kraaak!"
tiba tiba saja daun jendela terbuka lebar, angin dingin segera berhembus masuk ke dalam
ruangan. Berapa ekor Kelelawar berbadan besar ikut terbang masuk melalui jendela yang terbuka.
Lau Ci-he mulai bergidik, mulai merinding, bulu kuduknya bangun berdiri, "sreeeet!" dengan
cepat ia cabut keluar pedangnya.
Mata pedang bening bagai air telaga, membiaskan cahaya tajam dibawah sinar lentera.
Dalam waktu singkat berapa ekor Kelelawar telah menerkam ke hadapannya.
Cepat perempuan itu menggerakkan pedang, melepaskan serangkaian babatan, cahaya pedang
yang berlapis membias diangkasa, dalam waktu singkat berapa ekor Kelelawar terbabat hingga
terbelah jadi dua bagian.
Kembali berapa ekor Kelelawar menerjang masuk lewat jendela yang terbuka, suara pekikan
aneh menggema dari empat penjuru, menggidikkan perasaan siapa pun yang mendengar.
Lau Ci-he membentak nyaring, tubuhnya melambung ke tengah udara, "Braaaaakl" ia terjang
atap rumah hingga jebol, tubuhnya langsung meluncur keluar dari ruangan.
Bagai anak panah yang terlepas dari busur dia melesat keluar, cahaya pedang berputar
melindungi badan, setelah bersalto di udara dan bergulingan diatas atap, dengan cepat ia
melejit sambil melompat bangun.
Suara tertawa yang menakutkan segera berkumandang dari samping tubuhnya.
Dengan cekatan Lau Ci-he berpaling, dan dia pun melihat si Kelelawar!
Kelelawar tanpa sayap! Saat itu sang Kelelawar berada dipuncak bangunan, bajunya yang berwarna putih berkibar
terhembus angin, rambutnya yang beruban ikut berkibar dimainkan angin malam.
Rembulan tepat bersinar dari belakang tubuhnya, dipandang sekilas, dia seolah hendak
terbang ke udara, meluncur ke dalam rembulan.
Dengan geram Lau Ci-he menatap Kelelawar, sambil menuding orang tua itu jeritnya:
"Kau, ternyata benar-benar kau!"
Kelelawar tertawa terkekeh.
"Lama tak bersua, apakah tubuhmu tetap langsing padat berisi seperti dahulu?"
Lau Ci-he tidak menjawab, namun tubuhnya yang terhembus angin tampak gemetar keras.
Kembali si Kelelawar berkata sambil tertawa:
"Kau tak usah takut, kedatanganku malam ini bukan untuk melucuti lagi pakaianmu . . . . . . . .."
"Tutup mulut!" hardik Lau Ci-he.
Suaranya yang merdu kini berubah seakan bukan suaranya lagi, suara itu berubah karena
terkejut bercampur marah yang membara, dia bahkan seolah telah berubah menjadi orang
kedua. Dari balik pupil matanya terpancar amarah yang membara, namun terselip pula perasaan
takut, ngeri yang luar biasa.
"Sudah begitu lama kita tak bersua, tentunya harus berbicara secara baik baik bukan?" ucap
Kelelawar. "Apakah kau belum cukup mencelakai aku" Mau apa lagi kau datang mencari aku?" teriak Lau
Ci-he keras. Si Kelelawar menggeleng. II "Kau keliru besar katanya, "bukan saja aku tidak mencelakaimu, bahkan telah kubuatkan
sebuah patung yang indah sebagai kenangan, kau seharusnya berterima kasih kepadaku!"
Saking gusarnya Lau Ci-he tertawa keras.
"Terima kasih, aku memang amat berterima kasih, sayang selama ini aku tak punya kesempatan
untuk menyampaikan rasa terima kasihku padamu, karenanya aku selalu merasa menyesal"
"Dengan cara apa kau hendak berterima kasih padaku?" tanya Kelelawar sambil tertawa,
"apakah hendak membacok batok kepalaku dengan pedangmu itu?"
"Kalau hanya membacok batok kepalamu, bagaimana mungkin bisa menyatakan rasa terima
kasihku?" Lau Ci-he tertawa dingin.
"Lantas apa yang hendak kau lakukan?"
"Akan kucincang tubuhmu hingga hancur berkeping, kemudian membakar tulangmu hingga hancur
menjadi abu!" sumpah Lau Ci-he sambil menggigit bibir.
Kelelawar segera menghela napas panjang.
"Aaai, ternyata kau begitu membenciku, untung selama ini aku mempunyai tempat yang aman
untuk bersembunyi" "Perkamungan Suma-san-ceng?"
"Hahaha, ternyata tidak sedikit urusan yang kau ketahui"
"Bukankah kau telah menjadi orang idiot?" tanya Lau Ci-he sambil menatap tajam wajahnya.
"Justru karena itulah aku dapat hidup hin gga sekarang, jago berhati pendekar macam suma
Tionggoan tak bakal turun tangan keji terhadap seorang manusia idiot"
"Padahal kau sama sekali tidak idiot"
Kelelawar tertawa seram. "Mereka adalah orang orang lihay, kalau tidak berlagak idiot, mana mungkin bisa
mengelabuhi orang orang itu?"
"Maksudmu, dalam keadaan terluka parah, kau hanya sementara waktu berubah jadi manusia
idiot, ketika lukamu telah sembuh, dengan cepat pikiranmu pulih kembali jadi normal?"
"Padahal proses berjalan tidak terlalu cepat!"
Lau Ci-he tertawa dingin.
"Sejak awal aku sudah berkata, Suma Tionggoan hatinya kelewat lembut, persis seperti
pikiran wanita" "Sayangnya mereka para cianpwee enghiong hohan selalu menganggap tinggi pendapat dan
pandangannya, tak bakal akan menaruh perhatian atas pandangan kaum muda"
"Sayang dia mati kelewat cepat, kalau tidak biar tahu apa akibatnya bila punya pikiran
kelewat lembek seperti pikiran wanita"
"Yaa, memang patut disayangkan"
-n "Sayangnya lagi, aku sama sekali tak tahu kalau pikiranmu telah normal kembali lanjut Lau
Ci-he, "kalau tidak, akulah orang pertama yang akan menyerbu masuk ke dalam perkampungan
Suma-san-ceng dan menghabisi nyawamu"
"Betul, betul sekali" si Kelelawar mengangguk, "memang hal ini patut disayangkan"
"Manusia laknat berhati iblis macam kau ternyata mempunyai nasib sebagus itu, bila Thian
punya mata, aku benar benar tak percaya dengan kenyataan ini" keluh Lau Ci-he pedih.
Kontan saja si Kelelawar tertawa tergelak.
"Hahaha, bila Thian punya mata, Dia tak nanti akan membiarkan manusia macam aku lahir di
dunia ini" "Thian memang tak punya mata, masih dibilang jaring langit tersebar diseantero jagad,
ll manusia dosa tak akan luput dari hukuman..... makin bicara, Lau Ci-he merasa makin geram.
"Kau tak usah mengutuk langit, bila tiada manusia jahat macam diriku, darimana kalian bisa
tahu betapa menarik dan indahnya manusia manusia baik?"
Lau Ci-he terbungkam. Kembali Kelelawar berkata:


Www.ceritasilatcersil.blogspot.com Cerita Silat ~ Kumpulan Cersil Terbaik Kelelawar Tanpa Sayap

"Karena ada jahat, kebaikan baru terlihat keindahannya, sekalipun kemauan takdir memang
tak adil, sesungguhnya mengandung arti, makna dan tujuan yang mendalam"
Lau Ci-he semakin tak mampu bicara.
Kembali si Kelelawar berkata:
"Aku sadar, bila kau tahu kalau aku berada dalam perkampungan Suma-san-ceng, sudah pasti
timbul keinginanmu untuk datang membunuhku"
"Sayang aku tak bisa masuk ke sana"
"Ilmu barisan yang dimiliki Suma Tionggoan memang sangat hebat, dia patut diacungi jemol"
"Dalam kenyataan kau berhasil melarikan diri, aku percaya dalam alam baka pun dia tak bisa
beristirahat dengan mata meram"
"Sudah seharusnya dia tahu kalau manusia semacam aku tak gampang untuk diselesaikan dengan
begitu saja" Lau Ci-he menghela napas panjang.
"Menurut aku, Suma Tionggoan lah manusia idiot sesungguhnya!"
Mendengar itu, si Kelelawar tertawa tergelak.
Sambil menarik muka, sepatah demi sepatah ujar Lau Ci-he:
"Sejak awal aku sudah berniat untuk membuat perhitungan denganmu, kebetulan sekali kau
datang hari ini, dengan begitu keinginanku dapat terkabulkan"
"Kau masih bukan tandinganku" ejek Kelelawar sambil tertawa.
"Bukan tandingan atau tidak, hingga sekarang masih merupakan sebuah tanda tanya besar"
"Wah, kelihatannya selama banyak tahun terakhir, kau telah membuang banyak pikiran dan
tenaga untuk memperdalam ilmu silatmu"
"Dan malam ini, aku pun tidak meneguk arak iblis Kelelawar mu"
"Sekalipun begitu, kau tetap masih bukan tandinganku"
Lau Ci-he tertawa dingin.
Kelelawar termenung berapa saat, katanya kemudian:
"Aku sama sekali tak berniat membunuhmu, kalau tidak, pada pertemuan pertama aku telah
menghabisi nyawamu" Mau tak mau Lau Ci-he harus mengakui bahwa apa yang ia katakan memang merupakan satu
kenyataan. "Kau pun seharusnya tahu bahwa aku termasuk seoran g lelaki yang mengerti bagaimana
mengasihi dan menyayangi wanita cantik" si Kelelawar menambahkan.
"Lantas mau apa malam ini kau datang kemari?" hardik Lau Ci-he.
"Datang untuk minta kembali semacam benda"
"Golok Kelelawar?" seru Lau Ci-he tanpa sadar.
"Betul, golok Kelelawar, golok Kelelawar yang pernah kuhadiahkan kepadamu waktu itu"
Lau Ci-he keheranan, ia sampai terperangah.
Tedengar si Kelelawar berkata lebih jauh:
"Golok itu telah kuhadiahkan kepadamu, sesungguhnya tidak pantas bila kuminta kembali"
Lau Ci-he hanya tertawa dingin, sama sekali tidak menanggapi.
Kembali si Kelelawar berkata:
"Tapi sekarang, mau tak mau aku harus minta kembali golok Kelelawar itu"
"Kenapa?" tanya Lau Ci-he tanpa sadar.
"Aku tak bisa menjawab, itu rahasiaku"
Kontan Lau Ci-he tertawa dingin.
"Bukankah kau amat membenciku" Muak padaku" Dendam padaku" Seharusnya kau tak ambil peduli
dengan golok Kelelawar itu bukan?" lanjut si Kelelawar sambil tertawa.
"Apa maksudmu?"
"Seharusnya kau tak peduli bila menyerahkan kembali golok itu kepadaku"
"Kau seakan sudah melupakan semua perkataan yang pernah diucapkan waktu itu" jengek Lau
Ci-he sambil tertawa dingin.
"Tidak, aku pernah berkata, golok Kelelawar itu terkait dengan sejumlah harta karun yang
tak ternilai jumlahnya, aku menghadiahkan golok itu untuk perempuan yang paling kucintai
karena aku ingin menggunakan benda itu untuk membayar semua kerugian yang telah mereka
derita" "Kau memang mengatakan begitu waktu itu"
"Aku bahkan pernah berkata, hanya perempuan pintar yang bisa mengetahui rahasia dibalik
kesemuanya itu, dan bila ia masih mendendam maka ia bisa menggunakan harta karun tersebut
untuk menciptakan sebuah bencana besar yang amat menakutkan"
"Aku percaya inilah tujuan utama mu!"
Si Kelelawar menghela napas.
"Aaai, tapi sepuluh tahun sudah lewat dan kalian tak ada yang berhasil mengetahui rahasia
itu, maka pada akhirnya aku putuskan untuk menarik kembali semua golok Kelelawar yang ada"
Nada suaranya berat dan serius, bahkan terselip perasaan terpaksa dan apa boleh buat.
"Hanya disebabkan alasan itu?" tanya Lau Ci-he sambil menatap dingin wajah Kelelawar.
"Waktu selama sepuluh tahun sudah lebih dari cukup, tapi terbukti kalian tak pernah
berhasil menemukan rahasia yang terkandung, hal ini kalau bukan disebabkan kalian kelewat
bodoh, berarti kalian memang tak punya rejeki untuk menikmati harta karun yang telah
kutinggalkan" Lau Ci-he kembali tertawa dingin.
"Kau yang membuat golok itu, kenapa pula harus menarik kembali golok tersebut" Memangnya
kau sudah lupa dimana harta karun itu kau pendam?"
"Mana mungkin aku lupa" si Kelelawar menggeleng, "golok tersebut harus kuminta kembali
karena benda itulah merupakan anak kunci untuk membuka pintu gerbang ruang harta"
"Ooh....." "Ada orang berkata, perempuan yang pintar jarang berparas cantik, perempuan yang berparas
cantik jarang berotak encer, kalau dipikirkan kembali sekarang, rasanya ucapan itu memang
sangat masuk diakal"
"Lelaki pun sama saja"
balas Lau Ci-he tertawa dingin, "contohnya makhluk tua jelek busuk
macam kau, kalau sudah bertampang sejelek inipun masih tak berotak, hahaha, benar benar
kelewat tragis dan menyedihkan"
Ternyata si Kelelawar tidak naik darah, emosi pun tidak.
Kembali Lau Ci-he berkata:
"Kejadian ini sudah lewat sepuluh tahun, aneh dan luar biasa bila kau si mata buta masih
mampu menarik kembali semua golok yang pernah dihadiahkan kepada orang lain"
Si Kelelawar tertawa seram.
"Ketika akan menghadiahkan golok itu kepada orang lainpun, aku telah menghabiskan banyak
waktu dan pikiran, tidak gampang untuk menemukan seorang wanita cantik, apalagi berjumlah
dua belas orang, toh pada akhirnya tujuanku tercapai juga. Jadi sekarang, meski agak sulit
untuk menarik kembali golok golok itu, pada akhirnya aku yakin tetap akan berhasil"
Dia berbicara dengan nada yang begitu yakin, memang tidak gampang bagi seorang buta untuk
memiliki keyakinan sedemian besar.
Kembali Lau Ci-he tertawa dingin.
"Aneh jika malam ini kau masih bisa tinggalkan tempat ini dalam keadaan bernyawa" ejeknya.
"Sepuluh tahun tak bersua, seharusnya ilmu silat yang kau miliki sudah bertambah maju?"
II "Tidak sulit bila kau ingin tahu dengus Lau Ci-he sambil memutar pedangnya.
"Betul, memang gamang sekali" setelah bertepuk tangan dan tertawa, lanjut si Kelelawar,
"tapi sayangnya, sepuluh tahun berselang kau sudah bukan tandinganku, percaya saat inipun
sama saja" "Kau seperti lupa, dengan cara apa kau membekukku pada sepuluh tahun berselang" seru Lau
Ci-he sambil mendengus. "Hahaha, karena kuatir merusak dan melukai tubuhmu yang cantik dan menawan, aku memang
telah menggunakan arak Kelelawar"
"Atau dengan perkataan lain, sejak waktu itu kau sudah tak yakin mampu menaklukkan aku
dengan ilmu silat" "Oleh karena dibatasi oleh rasa takut rusak dan terluka, tentu saja aku tak bisa bertarung
seenaknya, tapi keadaan sekarang jauh berbeda, apa pun yang bakal menimpa dirimu, itu
bukan urusanku lagi, aku tak ambil peduli"
"Bila terpaksa kau ingin membunuhku?"
"Oleh sebab itu lebih baik kau serahkan kembali golok itu, akupun dengan senang hati akan
mengampuni selembar jiwamu"
"Golok itu sudah kubuang!"
"Tidak mungkin" si Kelelawar menggeleng, "tak seorang manusia pun yang bisa tahan
menghadapi godaan harta karun dalam jumlah besar, paling tidak hingga sekarang aku belum
pernah bertemu dengan seorang manusia macam ini"
"Sekarang kau telah bertemu seorang diantaranya"
Si Kelelawar hanya tertawa, tiba tiba ia menggetarkan tangannya, seekor Kelelawar segera
terbang keluar dari balik sakunya dan langsung menerkam Lau Ci-he.
Cahaya tajam berkelebat, Lau Ci-he telah membabat tubuh Kelelawar itu hingga terbelah jadi
dua bagian. Si Kelelawar mendengarkan dengan seksama, kemudian pujinya sambil tertawa:
"Ilmu pedang bagus, sayang kalau dibandingkan aku, kepandaian mu masih ketinggalan jauh"
Lau Ci-he hanya tertawa dingin tanpa menjawab.
Saat itulaah dari tengah halaman dibawah atap rumah telah muncul tiga sosok tubuh manusia,
seorang nenek berwajah penuh keriput dengan rambut berubah serta dua orang dayang kecil.
Mereka semua sudah lama mengikuti Lau Ci-he, kepandaian silat yang dimiliki pun terhitung
hebat, sementara si nenek adalah inang pengasuh dari Lau Ci-he, dia terhitung seorang
cianpwee dalam partai See-hoa-kiam-pay dan merupakan seorang jago pedang.
Mengapa seorang cianpwee berilmu tinggi rela menjadi orang bawahan" Mungkin hanya dia
sendiri yang dapat menjawab pertanyaan itu.
Ketika Lau Ci-he menjebol atap rumah untuk keluar dari ruangan tadi, ke tiga orang itu
segera terbangun dari tidurnya karena kaget dan tergopoh gopoh menyusul ke situ.
Kini pedang telah diloloskan dari sarung, setiap saat satu pertarungan sengit segera akan
berkobar. Terlebih si nenek itu, dia ibarat anak panah yang terpasang di gendawa, setiap saat bakal
melesat ke luar.

Tampaknya si Kelelawar sama sekali tak ambil peduli dengan kehadiran ketiga orang itu,
bukan saja tidak menggubris, bahkan masih mengajak bicara Lau Ci-he dengan santainya.
Tampak ia menghela napas dan berkata lagi:
"Golok itu sejak semula adalah barang milikku, lebih baik kembalikan saja, buat apa kau
musti menyerempet bahaya?"
Lau Ci-he tertawa dingin.
"Kalau dilihat tamangmu, rasanya kau tak mirip orang idiot, kenapa caramu berbicara
justru lebih mirip orang idiot"
"Aku memahami maksud hatimu"
II "Saat seperti ini sudah lama kunantikan kata Lau Ci-he sambil menyentil pedangnya.
"Aku rasa persoalan ini adalah persoalan pribadimu"
"Tentu saja" "Kalau begitu lebih baik kau suruh ke tiga orang yang berada ditengah halaman itu untuk
menyingkir dari sini"
"Tanpa perintahku, mereka tak akan berani turun tangan" sahut Lau Ci-he dengan perasaan
tercekat. "Benarkah begitu?" tanya si Kelelawar sambil tertawa.
"Apa maksudmu?"
"Masa kau tidak merasakan hawa pembunuhan yang terpancar dari tubuh mereka?" kemudian
sambil berpaling ke arah si nenek yang sedang berdiri dengan mata berapi api, lanjutnya,
"aku percaya ilmu silat yang dimiliki orang ini sama sekali tidak berada dibawah
kemampuanmu" Berkilat sepasang mata Lau Ci-he, segera bentaknya:
"Lolo, kau dan mereka segera mundur dari sini!"
"Siocia, terhadap manusia semacam ini, buat apa kau musti mentaati peraturan dunia
persilatan" teriak nenek itu.
"Dia hanya tak ingin menyaksikan kalian menghantar nyawa dengan percuma" tukas si
Kelelawar. "Beruntung sekali, aku memang sudah bosan hidup" jengek si nenek sambil tertawa dingin.
"Kalau memang sudah bosan hidup, itu mah kebenaran, kemari, biar kubantu kau untuk
memenuhi keinginan itu!"
Si nenek tertawa dingin, tubuhnya melesat keatas genting dengan kecepatan tinggi, sebuah
tusukan maut langsung dilontarkan ke tubuh si Kelelawar.
Tampak cahaya pedang berkelebat bagai halilintas, jangan lihat usia nenek itu sudah
lanjut, ternyata gerak geriknya masih lincah dan cekatan.
Begitu mendengar suara desingan tajam, sang Kelelawar segera mementangkan sepasang
bajunya, bagai seekor Kelelawar yang sedang pentang sayap, dia terbang ke tengah udara.
Merasa kehilangan jejak, nenek itu segera menjejakkan kembali kakinya diatas wuwungan
rumah, "Sreeet, sreeet, sreeeet . . . . . .. secara beruntun dia lancarkan sebelas buah
tusukan. Tusukan yang dilancarkan makin lama semakin cepat, hampir semuanya ditujukan untuk
merenggut nyawa lawan. Si Kelelawar mengebaskan ujung bajunya berulang kali, tubuhnya yang berada ditengah udara
berapa kali berganti posisi, ternyata secara mudah sekali dia berhasil menghindarkan diri
dari ke sebelas tusukan maut itu.
"Hebat kamu hei si buta!" teriak nenek itu, badannya berputar bagai gangsingan, tubuhnya
yang menyatu dengan pedang melancarkan satu tusukan bagai bianglala terbang.
Tusukan itu melesat lewat persis dari atas kepala si Kelelawar, namun kembali ancaman itu
berhasil dihindari. "Siapa kau?" hardik si Kelelawar sambil melayang turun.
"Bukan urusanmu!" selama mengucapkan perkataan itu, kembali si nenek melancarkan tiga
puluh enam buah tusukan. Si Kelelawar berputar kencang menghindarkan diri, serunya:
"Lagi lagi ilmu pedang See-hoa-kiam-hoat!"
"Kalau benar lantas kenapa?" serangan yang dilancarkan nenek itu semakin gencar.
Sambil tertawa Kelelawar itu melanjutkan:
"Ilmu pedang See-hoa-kiam-hoat memang bagus dan hebat, tapi sayang bukannya tanpa titik
kelemahan!" Begitu meluncur ke bawah, tubuhnya berputar kencang, ibu jari tangan kanannya menyentil ke
depan, "Traaangl"
dengan telak dia sentil punggung pedang lawan, membuat gerak serangan
nenek itu segera melenceng ke samping.
Berubah hebat paras muka nenek itu.
"Aku tak percaya kalau kau benar benar buta" teriaknya.
"Semua orang tahu kalau aku buta, buat apa kau musti menanyakan lagi hal tersebut?"
"Sambut lagi ke tiga buah seranganku ini!" bentak si nenek gusar.
Pedangnya ditarik sejajar dada, begitu serangan pertama dilancarkan, ia miringkan badan
sambil melancarkan serangan kedua dengan jurus "Lei-hi-to-ceng-po" (ikan lei menembus
ombak), setelah itu pergelangan tangannya ditarik ke bawah, dari sisi ketiak dia lepaskan
tusukan ke tiga. Tusukan yang satu lebih hebat dari tusukan sebelumnya, sudut dan posisi yang digunakan pun
merapat satu dengan lainnya, kecepatan dan kelincahannya sama sekali tak seimbang dengan
usianya. Si Kelelawar kontan tertawa tergelak.
"Hahaha.... rupanya inti sari dari ilmu pedang See-hoa-kiam-hoat terhimpun didalam ke tiga
buah serangan itu" Ditengah gelak tertawa, ia mengguling ke samping sambil berputar bagai roda kereta, dengan
cekatan lagi lagi ia berhasil menghindarkan diri dari ke tiga serangan itu.
Tampaknya dia sangat memahami akan seluk beluk ilmu pedang See-hoa-kiam-hoat, bukan saja
dapat bergerak santai bahkan cara berkelit pun tepat sasaran.
Paras muka si nenek berubah makin hebat, begitu pula dengan Lau Ci-he yang mengikuti
jalannya pertarungan, dengan wajah berubah memucat, tanpa ragu lagi dia membentak nyaring,
satu serangan segera dilancarkan.
Gerak serangan yang ia pergunakan jauh lebih ganas, kejam dan telengas daripada serangan
nenek itu. Kalau si nenek dalam serangan mengandung pertahanan, dibalik pertahanan terselip serangan,
maka serangan yang dilancarkan Lau Ci-he sangat mematikan, pada hakekatnya dia hanya tahu
membunuh musuh tanpa pedulikan keselamatan sendiri.
Dengan begitu pertahanan seluruh tubuhnya jadi terbuka, bila orang lain berniat
menusuknya, mungkin sulit baginya untuk meloloskan diri dari serangan itu.
Dalam sepuluh tahun terakhir, dengan sistim pertarungan semacam inilah ia berhasil merebut
sebutan sebagai pembunuh wanita, tapi ketika digunakan untuk menghadapi si Kelelawar, ilmu
pedang adu nyawa semacam ini pada hakekatnya sama sekali tak berguna.
Ditengah kepungan cahaya pedang, ia mencelat ke tengah udara, sekilas cahaya setengah
lingkaran pun muncul secara tiba tiba membelah angkasa.
Akhirnya dia mencabut keluar golok Kelelawar miliknya.
Serentak kedua orang dayang cilik itu maju meluruk, melihat itu buru buru Lau Ci-he
menghardik: "Mundur kalian!"
Belum selesai dia membentak, si Kelelawar sudah melayang turun diantara kedua orang dayang
tadi. Diiringi bentakan nyaring, kedua orang dayang itu memutar pedangnya melancarkan tusukan.
Tiba tiba si Kelelawar menghela napas panjang.
Baru saja suara helaan napas itu bergema, cahaya lengkung tampak berkelebat, pedang yang
berada ditangan seorang dayang terpapas kutung jadi dua, diikuti tenggorokan gadis itu
tersayat sabetan golok, darah segar pun menyembur keluar membasahi permukaan tanah.
Buru buru Lau Ci-he dan nenek itu maju menolong, belum lagi serangan mereka berdua tiba
disasaran, pedang milik dayang kedua itu sudah terpapas kutung, satu sabetan golok yang
persis membelah alis matanya membuat dayang cilik itu menjerit kesakitan lalu roboh
terkapar. Kembali golok Kelelawar ditarik balik untuk menyongsong datangnya serangan pedang dari Lau


Www.ceritasilatcersil.blogspot.com Cerita Silat ~ Kumpulan Cersil Terbaik Kelelawar Tanpa Sayap

Ci-he, dengan langkah tujuh bintang ia mengigos dari ancaman ke tiga belas tusukan maut si
nenek, tiba tiba badannya berputar satu lingkaran, "Wessss!" ditengah kilauan cahaya
golok, hancuran baju beterbangan di angkasa.
Si Kelelawar kembali melambung sambil memutar pinggang, "Cring!" ia hindari tusukan pedang
lawan, sementara tangan kirinya menyodok masuk, tahu tahu dia sudah cengkeram urat nadi
pada pergelangan tangan kanan si nenek yang menggenggam pedang.
Tak ampun pedang itu terlepas dari cekalan, belum sempat si nenek menjerit kaget, golok
Kelelawar sudah ditemelkan diatas tengkuknya.
"Berhenti!" hardik si Kelelawar sambil membalik tubuh.
Tidak sempat memberikan pertolongan, terpaksa Lau Ci-he menghentikan serangannya.
"Serahkan golok itu, aku tukar dengan nyawa orang ini!" ujar si Kelelawar cepat.
Belum sempat Lau Ci-he menjawab, mendadak nenek itu berteriak keras:
"Jangan mimpi!"
Tengkuknya disodokkan kearah mata golok, percikan darah segera menyembur ke empat penjuru,
ternyata ia telah bunuh diri diujung golok Kelelawar.
Untuk sesaat si Kelelawar berdiri tertegun, memanfaatkan kesempatan itu Lau Ci-he
melancarkan sebuah tusukan kilat ke dep an.
Tampaknya sulit bagi si Kelelawar untuk menghindari tusukan itu, siapa sangka disaat yang
kritis, tiba tiba ia betot tubuh nenek itu dan dihadangkan dihadapannya.
"Creett!" ujung pedang langsung menghujam diatas dada nenek itu hingga tembus ke
punggungnya. Lau Ci-he menjerit kaget sambil mencabut pedangnya, sayang si Kelelawar bertindak lebih
cepat, ia telah menjepit ujung pedang itu kuat kuat.
Perubahan yang terjadi berlangsung dalam kecepatan yang sukar dilukiskan dengan kata,
namun didalam kenyataan, si Kelelawar telah melakukannya.
Seorang lelaki buta ternyata mampu melakukan hal yang mustahil, benar benar sebuah
kejadian yang sukar diterima dengan akal sehat.
Gerakan tubuh si Kelelawar tidak berhenti sampai disitu, kembali ia membetot sambil
berputar, tak tahan tubuh Lau Ci-he ikut berputar bersama mayat nenek itu.
Kembali si Kelelawar menyentilkan jari tangannya, langsung menyentil diatas urat nadi
ditangan kanan gadis itu.
Mau tak mau Lau Ci-he harus lepas tangan, cakar burung si Kelelawar pun segera berputar
cepat, mencengkeram tengkuk si nona.
Lima jari tangannya yang dingin kaku, bagaikan lima ekor ular berbisa, tahu tahu
mencengkeram lehernya. Lau Ci-he betul betul terkesiap, ia merinding, bergidik, bulu kuduknya pada berdiri
"Dimana kau sembunyikan golok itu?" tanya si Kelelawar sambil tertawa.
Ucapan yang dingin, senyuman yang menyeramkan, jarak diantara mereka berdua pun begitu
dekat, tanpa sadar perasaan ngeri yang mencekam hati Lau Ci-he makin membara.
Untuk sesaat ia berdiri tertegun, membelalakkan sepasang matanya tanpa menjawab.
"Jawab!" hardik Kelelawar.
Kerutan wajahnya yang dalam bagai parutan, dalam waktu singkat mengejang keras.
Kalau memang dia pandang begitu penting golok Kelelawar, mengapa waktu itu dia hadiahkan
kepada orang lain" Hanya terpaut sepuluh tahun, tapi semua keputusan telah berubah, semua pandangan telah
berganti arah, bagi seseorang yang pernah menjadi orang idiot, perubahan watak bukanlah
suatu kejadian yang aneh dan patut diherankan.
Dengan termangu Lau Ci-he mengawasi Kelelawar, ia tidak menjawab tapi sorot matanya
mendadak memancarkan sinar yang sangat aneh.
Terdengar si Kelelawar kembali berkata:
"Kalau tidak segera kau jawab, jangan salahkan bila aku bertindak keji!"
Baru selesai ia berkata, sekonyong-konyong Lau Ci-he menjerit keras:
"Sebenarnya siapa kau?"
Sebuah pertanyaan yang sangat aneh.
"Kelelawar tanpa sayap!"
jawab sang Kelelawar setelah tertegun sejenak.
"Bukan, kau bukan, aku tahu kau bukan!" jerit Lau Ci-he semakin keras.
Si Kelelawar tidak menjawab, dia hanya tertawa dingin tiada hentinya.
Terdengar Lau Ci-he berkata lagi:
"Kau berhasil menirukan suaranya, kaupun berhasil menirukan semua tingkah laku dan gerak
geriknya, tapi ada satu hal yang tak mungkin bisa kau pelajari, meniru dengan cara apa pun
kau tak akan mampu menirukannya"
"Apa itu?" "Mata, matamu masih bernyawa, sedang si Kelelawar adalah orang buta!"
"Kau keliru besar!" tangan kanan si Kelelawar bagaikan sebuah gagang golok segera menekan
disisi mata kirinya, sebiji bola mata segera meloncat keluar dari balik kelopak.
Dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kanannya dia jepit bola mata itu, kemudian
didekatkan ke wajah Lau Ci-he.
Kelopak mata bekas bola mata disebelah kiri kini muncul sebuah lubang hitam yang besar,
dari balik lubang tadi terbesit cahaya fosfor yang aneh, seakan ada seakan tak ada,
khususnya biji mata yang terjepit dijari tangannya, benda itu nampak menggidikkan hati.
Tampaknya biji mata itu dipenuhi dengan tenaga kehidupan, cahaya hijau yang menyeramkan
memancar kian kemari, seolah sedang menatap Lau Ci-he, seolah hendak menerobos ke dasar
tubuh gadis itu. Lau Ci-he merasakan bulu kuduknya bangun berdiri, kalau bisa dia ingin sekali melengos
kearah lain, tapi sayang ke lima jari tangan si Kelelawar yang mencengkeram tengkuknya
seolah telah berakar, dia sama sekali tak sanggup menggerakkan kepalanya,.
Walaupun perasaan ngeri dan takut telah mencekam perasaan hatinya, hal itu tidak membuat
cahaya keheranan yang terpancar jadi pupus, tiba tiba teriaknya keras:
"Bagaimana dengan mata kananmu" Apakah dapat dilepas juga sekehendak hati?"
Kontan si Kelelawar menarik muka.
"Tidak mampu bukan?" ejek Lau Ci-he, "kau tidak seharusnya berada begitu dekat dengan
diriku!" Si Kelelawar tidak bersuara.
Kembali Lau Ci-he berkata:
"Daya ingatku tidak sejelek apa yang kau bayangkan, biar si Kelelawar sudah berubah jadi
abu pun, aku tetap dapat mengenalinya"
II "Omong kosong bentak si Kelelawar sambil tertawa dingin.
Tak disangkal, apa yang diucapkan Lau Ci-he memang omong kosong, bila seseorang telah
berubah jadi abu, bagaimana mungkin dapat dikenali lagi"
Tapi Lau Ci-he berkata lagi sambil tertawa dingin:
"Aku hanya ingin tegaskan kepadamu, tak mungkin aku tak dapat mengenali si Kelelawar!"
"Kau benar benar amat membencinya?"
Lau Ci-he tertawa, suara tertawanya tak berbeda seperti seorang sinting, tak waras
otaknya. Kelelawar mulai mengernyitkan alis matanya, untuk sesaat dia tak tahu harus berbuat
bagaimana. "Kau betul betul sedang omong kosong" ejek Lau Ci-he lagi.
Setelah berhenti sejenak, dengan napas tersengkal tanyanya:
"Katakan kepadaku, bagaimana keadaan si Kelelawar sekarang" Kalau aku merasa puas, golok
itu akan kuserahkan, kalau tidak, biar apa pun yang hendak kau lakukan terhadap diriku,
jangan harap golok itu bisa kau temukan!"
"Oya?" "Keliru besar jika kau menganggap aku kemaruk dengan harta karun itu, aku sengaja
menyimpan golok itu karena suatu hari nanti, aku siap mengembalikan kepadanya, langsung
disodokkan keatas tenggorokannya!"
"Kau bicara jujur?"
"Seharusnya kau sudah mendengar"
"Kau benar benar tidak takut mati?" si Kelelawar semakin mengencangkan ke lima jari
tangannya. "Sejak dulu, nyawaku sudah mati separuh, aku hidup tak lebih seperti sesosok mayat
berjalan!" jerit Lau Ci-he.
"Kau benar benar ingin barter denganku?" desak si Kelelawar sambil berkerut kening.
"Hmm, inilah satu satunya kesempatan yang kau miliki" ujar Lau Ci-he sambil tertawa
dingin. Akhirnya si Kelelawar mengaku:
"Walaupun dia belum mati, namun kehidupannya tak berbeda seperti mati"
"Tetap seorang idiot?"
"Rasanya dia sudah tak punya harapan lagi"
"Bagus, bagus sekali!" Lau Ci-he segera tertawa tergelak, tertawa nyaring.
"Sekarang tiba giliranmu, katakan, dimana kau simpan golok itu?" tanya si Kelelawar.
Masih tertawa nyaring, tanya Lau Ci-he:
"Sebenarnya siapa kau" Mengapa menyaru jadi Kelelawar" Kenapa kau menginginkan golok
Kelelawar itu?" Si Kelelawar mendengus gusar, sambil menarik wajahnya kembali ia menghardik:
"Kau sembunyikan golok itu dimana?"
"Hahaha, walaupun kau cerdas, sayang tetap tertipu!" ejek perempuan itu sambil tertawa
tiada hentinya. "Apa?" Kelelawar segera memperkencang cengkeramannya.
Kontan gelak tertawa Lau Ci-he terputus ditengah jalan, dengan susah payah ia terengah
engah, katanya: "Golok itu tergantung diatas dinding kamarku, sebetulnya kau tak usah bersusah payah!"
"Oya?" Kelelawar menghembuskan napas lega.
Dengan mata melotot Lau Ci-he mengawasi wajah si Kelelawar, ujarnya lagi:
"Sekarang kau boleh bunuh aku!"
"Ternyata kau memang seorang wanita yang amat cerdas"
"Justru karena cerdas, aku tahu kalau kau tak akan membiarkan aku tetap hidup"
"Sayang perasaan dendam yang berkecamuk dalam pikiran dan hatimu kelewat kental, kalau
tidak, mungkin kau sudah menemukan rahasia diatas golok itu"
"Mungkin saja benar"
Kelelawar tidak bicara lagi, diapun tidak melakukan gerakan apa pun.
Sambil tertawa kata Lau Ci-he:
"Kau tak usah banyak pikir, cara apa yang kau anggap bisa membuat kematianku terasa
nikmat, lakukan saja dengan cara tersebut"
"Hahaha, menganggap mati bagai pulang ke rumah, kagum, sungguh kagum!" puji Kelelawar
sambil tertawa. "Jika kau tidak segera turun tangan, jangan salahkan kalau aku akan mulai memaki"
"Kalau aku membunuhmu, perasaan hatiku tentu akan merasa amat sedih, namun kalau tidak
membunuhmu pun hatiku akan bertambah pedih!"
"Hahaha, Kelelawar yang tulen tak akan bersikap ragu macam perempuan!" ejek Lau Ci-he
tertawa keras. Tiba tiba Kelelawar mengebaskan tangannya, seluruh tubuh Lau Ci-he pun mencelat ke
belakang. Saat itulah sekilas cahaya bianglala berkelebat membelah bumi, cahaya golok!
Tubuh Lau Ci-he yang terpental seketika berubah jadi kaku, kemudian terbanting keras keras
diatas genting rumah. Sekilas bianglala berwarna darah segar memancar ke empat penjuru!
Golok Kelelawar telah disarungkan kembali, diujung mata golok tak ternoda setetes darah
pun. Golok itu memang sebilah golok mestika!
Menyusul kemudian, tubuhnya yang ceking berjumpalitan di udara dan meluncur masuk melalui
lubang diatas genting. Cahaya lentera dalam ruangan belum padam, dengan cepat si Kelelawar memandang sekejap
sekeliling tempat itu, akhirnya ia berhenti menatap diatas dinding sebelah kanan.
Sebilah golok tergantung disana, panjang lagi sempit, berbentuk setengah busur, pada
gagang pedang terukir seeekor Kelelawar besar yang sedang mementangkan sayap.
Golok Kelelawar! Dengan langkah cepat si Kelelawar maju menghamiri.
Golok tergantung disana, sama sekali tidak menimbulkan suara, bila dia benar benar
Kelelawar tanpa sayap, sekalipun memiliki pendengaran yang tajam pun jangan harap bisa
mendengar kalau golok tersebut tergantung disitu.
Lalu siapakah dia" Dengan langkah cepat si Kelelawar berjalan menuju ke bawah dinding, menurunkan golok
Kelelawar yang tergantung dan mencabut dari sarungnya.
Dibawah sinar lentera, golok mustika itu memancarkan cahaya yang menggidikkan, ketika
matanya tertuju keatas golok, sekilas cahaya seakan memancar pula dari balik matanya.
Kemudian dia pun memperdengarkan suara tertawa, tertawa penuh kebanggaan.
Ditengah gelak tertawa, "Triiingl" dia sarungkan kembali goloknya, bila ia tidak buta,
sudah pasti dapat dilihat kalau golok itu bukan golok Kelelawar palsu.
Setelah golok disarungkan, dia pun melangkah keluar dari pintu ruangan.
Terdengar suara benturan aneh, tahu tahu dinding ruangan merekah dan muncul sebuah lubang
besar berbentuk manusia, dari lubang itulah si Kelelawar melangkah keluar.
Suasana diseputar ruangan amat hening, tak ada orang lagi yang datang menghadang.
Dalam perkampungan itu hanya ada empat orang, dan sekarang mereka telah berubah jadi orang
mati. Rembulan sudah tinggi di angkasa, cahaya rembulan terasa lebih pucat, lebih dingin
menggidikkan. Oo0oo Bab l6. Rahasia. Si Kelelawar berjalan dibawah cahaya rembulan, wajahnya tampak semakin pucat, pada
hakekatnya seperti dilabur dengan bubuk putih.
Ia berjalan menembusi pintu kamar, menuruni anak tangga, menelusuri jalan setapak menuju
ke luar halaman. Ia berjalan dengan begitu santai, setiap langkahnya selalu berpijak pada bebatuan, sama
sekali tak berbeda dengan langkah manusia normal.
Biarpun mata sebelah kirinya adalah mata palsu, namun mata kanannya sudah jelas tak ada
masalah. Kalau dibilang dia adalah orang buta, maka lebih tepat kalau dikatakan dia hanya setengah
buta. Tapi rahasia ini sudah terkubur bersama jenasah Lau Ci-he, siapa lagi yang bakal tahu"
Kalau dia bukan Kelelawar tanpa sayap, lalu siapakah dia"
Bebatuan memantulkan cahaya yang redup saat tertimpa sinar rembulan, sekilas memandang,
bebatuan itu mirip batu permata yang bertaburan.
Langkah kaki Kelelawar amat ringan, dia seakan kuatir kalau pijakan kakinya merusak dan
menghancurkan batu permata itu.
Berjalan sejauh setengah tombak, ia telah tiba ditengah kebun bunga, tiba tiba langkah si
Kelelawar berubah jadi sangat berat.
Bebatuan yang terpijak seketika hancur jadi bubuk, bersamaan waktu diapun menghentikan
langkahnya. Ia berhenti secara tiba tiba.
Ia mendongakkan kepala memandang sekejap keadaan cuaca, tiba tiba ujarnya:
"Walaupun aku tidak buta sungguhan, bukan Kelelawar tanpa sayap yang asli, namun ketajaman
pendengaranku amat luar biasa"
Dibawah cahaya rembulan dan taburan bintang, walaupun dia seolah sedang bergumam seorang
diri, namun tak diragukan, perkataan itu tertuju untuk orang lain, diucapkan karena ada
tujuan. Suasana disekeliling tempat itu amat hening, hanya suara dedaunan yang bergoyang terhembus
angin, tiada suara manusia, tiada jawaban.
Kembali si Kelelawar menanti berapa saat, kemudian ujarnya lagi sambil tertawa dingin:
"Kau masih tak ingin menampakkan diri" Apakah aku harus memaksamu untuk keluar?"
Baru selesai ia berkata, dari balik semak disisi kiri muncul tubuh seseorang.
Seorang tua berbaju hitam, wajahnya penuh keriput, kulit mukanya bagai disayat dengan
pisau, rambutnya yang telah beruban tampak berkibar dimainkan hembusan angin malam.
"Kau?" seru si Kelelawar kemudian agak tertegun.
"Kau kenal aku?" balas kakek berbaju hitam itu tertegun.
"Ong Bu-shia!" Ternyata kakek berbaju hitam itu tak lain adalah Ong Bu-shia, si Bu-shia beracun!
Ditatapnya si Kelelawar berapa saat, kemudian katanya:
"Kalau kau dikatakan buta, mungkin demikian pula dengan diriku"
Si Kelelawar tertawa dingin.
"Jangan beritahu kepadaku kalau kau tidak mendengar semua pembicaraan dari Lau Ci-he"
Ong Bu-shia tertawa. "Kalau begitu aku perlu beritahu kepadamu bahwa sejak setengah jam berselang aku telah
bersembunyi dibalik pepohonan, semua pembicara an yang kalian langsungkan telah kudengar
dengan sangat jelas"
"Tidak bagus!" seru Kelelawar.
"Sebelum menemukan jejak persembunyianku, kau memang tidak bagus, tapi sekarang akulah
yang tidak bagus" "Ucapan tidak bagus yang kuutarakan tadi memang khusus tertuju untuk dirimu"
"Terima kasih!"
Kembali si Kelelawar tertawa seram.
"Sejak kapan kau belajar sopan dan tahu adat"
"Kalau tahu adat, watak jadi tak aneh, bukan begitu?"
Si Kelelawar mengangguk, katanya sambil tertawa seram:
"Apakah kau ingin bermusuhan dengan aku?"
"Hubungan kita ibarat air sungai tidak melanggar air sumur, kenapa harus beradu jiwa"
"Seharusnya memang begitu" suara tertawa si Kelelawar kedengaran makin menyeramkan,
"sayang kedatanganmu kelewat awal, tadi, kau memang tidak seharusnya mendengarkan
pembicaraan itu" "Tapi daya ingatku selama ini memang kurang begitu bagus" ujar Ong Bu-shia sambil tertawa
serak. "Justru aku kebalikannya!"
Sekali lagi Ong Bu-shia tertawa parau, tidak menjawab.
Si Kelelawar berkata lebih jauh:
"Daya ingat yang terlalu baik bukanlah suatu kejadian yang patut dibanggakan"
"Itu tergantung terhadap siapa kita berhadapan"
"Bagaimana kalau terhadap diriku?"
"Tidak" "Apa hubunganmu dengan keluarga Lau?" tiba tiba si Kelelawar bertanya.
"Musuh besar!" sahut Ong Bu-shia dengan suara berat.
"Musuh besar" Apa pula yang terjadi?" kembali si Kelelawar tertegun.
"Kau pernah mendengar tentang Tui-hun-cap-ji-sat di mulut lembah Sat-hau-ko?"
"setahuku, nama besar Cap-ji-sat memang luar biasa" si Kelelawar manggut manggut.
"Tentunya kau pun tahu kalau Siau Jit dan Lau Ci-he bekerja sama membantai mereka semua?"
"Soal ini aku kurang tahu" Kelelawar menggeleng, "apakah terjadi baru baru ini?"
"Pada dua tahun berselang"
"Hahaha, kelihatannya kabar berita ku kurang tajam"
"Ini disebabkan masalah semacam ini bagimu hanya masalah kecil, lagipula tak ada
hubungannya dengan dirimu"
"Memang ada hubungannya dengan kau?"
"Lotoa dari cap-ji-sat adalah murid putraku"
II "Ooh, kalau itu mah ada kaitan hubungan yang dekat . . . . . ..
"Didalam kenyataan, putraku memang telah mewariskan berapa jurus ilmu kepadanya"
"Berarti urusan jadi serius"
"Karena itulah putraku tak bisa berpangku tangan saja atas terbunuhnya mereka"
Si Kelelawar termenung dan berpikir sejenak, kemudian ujarnya:
"Aku tak tahu sampai dimana kemampuan ilmu silat yang dimiliki putramu, setahuku, ilmu
pedang pemutus usus milik Siau Jit luar biasa hebatnya"
"Kalau bukan karena menggampangkan masalah, semisal mereka bertarung hingga sama sama
mampus pun, kejadian ini tak akan menjadi masalah"
"Oh, jadi Siau Jit tidak mati tapi putramu justru tewas diujung pedangnya"
"Kenyataan memang begitu!" sahut Ong Bu-shia sambil menarik muka.
"Konon kau hanya berputra satu?"


Www.ceritasilatcersil.blogspot.com Cerita Silat ~ Kumpulan Cersil Terbaik Kelelawar Tanpa Sayap

"Itupun kenyataan"
"Karena itu kau pergi mencari Siau Jit untuk membuat perhitungan, tentu saja Lau Ci-he pun
tak bisa dilepaskan dengan begitu saja"
"Itulah sebabnya malam ini aku datang kemari"
"Kau bukan termasuk orang yang memandang enteng segala persoalan, bukan orang yang suka
bekerja tanpa perencanaan bukan?"
Tidak menunggu Ong Bu-shia menjawab, kembali si Kelelawar melanjutkan:
"Tentunya kau pun tak akan berkelit dari yang berat mencari yang enteng dengan memilih
milih patner tandingan bukan?"
Ong Bu-shia hanya tertawa dingin tanpa menjawab.
Maka si Kelelawar berkata lebih lanjut:
"Oleh karena itu orang pertama yang harus kau cari ad alah Siau Jit, bukan Lau Ci-he"
"Aku telah mencari Siau Jit" jawab Ong Bu-shia dingin.
"Apakah pertarunganmu di rumah makan Thay-pek-lo?" tanya si Kelelawar sambil tertawa.
Ong Bu-shia menatap tajam wajah si Kelelawar, namun ia tidak menjawab.
Si Kelelawar berkata lebih lanjut:
"Pertarunganmu di rumah makan Thay-pek-lo telah menggetarkan seluruh jagad, tapi pada
akhirnya kau termakan satu tusukan Siau Jit hingga terpaksa harus menjebol tembok untuk
melarikan diri, bukan begitu?"
"Tajam juga kabar beritamu" dengus Ong Bu-shia.
"Padahal kemenangan yang diperoleh Siau Jit pun nyaris, pedang miliknya memiliki ukuran
satu meter lebih tiga inci, kau terluka diujung pedangnya karena sudah bertindak kelewat
ceroboh, kau telah mengabaikan ukuran pedangnya yang tiga inci itu!"
Dengan pandangan keheranan Ong Bu-shia menatap wajah si Kelelawar, dia merasa heran,
darimana si orang buta ini bisa mengetahui begitu banyak tentang kejadiannya.
Terdengar si Kelelawar berkata lagi:
"Ukuran yang tiga inci itu tak cukup untuk merenggut nyawa, pikiran dan perasaanmu jadi
kalut lantaran kau jarang terluka, jarang melihat ada begitu banyak darah yang bercucuran,
kau sangka lukamu sangat parah maka segera ambil keputusan untuk melarikan diri, kau tak
ingin mengambil resiko, karena itu kau berharap menyembuhkan dulu lukamu sebelum mengambil
tindakan lain" "Hmm, tampaknya kau tahu amat jelas" Ong Bu-shia mendengus dingin.
Tiba tiba si Kelelawar menggeleng, katanya:
"Padahal andaikata kau lanjutkan pertarungan waktu itu, belum tentu kau tak mampu membunuh
Siau Jit, paling tidak, untuk beradu nyawa pasti bukan masalah"
Setelah berhenti sejenak, lanjutnya:
"Biarpun ilmu pedang pemutus usus milik Siau Jit luar biasa, namun berbicara tentang
tenaga dalam, kau masih satu tingkat mengungguli dirinya"
Ong Bu-shia termenung tanpa menjawab.
"Tapi dengan pergi dari situ, kekalahan sudah pasti berada dipihakmu" kata si Kelelawar
lagi. "Aku tinggalkan medan pertarungan bukan berarti aku kalah, dalam satu pertarungan mati
hidup, sebelum ditentukan siapa hidup siapa mati, darimana bisa ditetapkan siapa unggul
siapa asor?" "Aku bilang kau kalah karena kematian mu sudah pasti!"
"Bukankah sampai sekarang aku masih hidup segar bugar?" jengek Ong Bu-shia sambil tertawa
dingin. "Tidakl" si Kelelawar tertawa seram, "kau tidak seharusnya melepaskan pukulan itu, tapi
memang tak bisa disalahkan, disaat seseorang berniat melarikan diri, tentu saja dia akan
mengutamakan kecepatan gerak, sedang apa akibatnya, mana mungkin bisa ia pertimbangan
dengan lebih seksama?"
"Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan" sela Ong Bu-shia.
"Kau seharusnya mengerti" sekali lagi si Kelelawar menggeleng, "kadangkala memiliki ilmu
silat terlalu baik bukanlah satu kejadian yang menyenangkan, karena bukan setiap masalah
dapat diselesaikan dengan ilmu silat, seringkali otak diperlukan, namun biasanya makin
licik seseorang, ilmu silatnya pasti makin cetek, karena dia selalu akan menggunakan
kelicikannya untuk menambal kelemahannya dalam ilmu silat, tentu saja diluar itu pasti
ada, hanya jumlahnya tidak banyak"
Ong Bu-shia hanya mendengarkan, tidak menimbrung.
Si Kelelawar berkata lebih lanjut:
"Ilmu silat yang kau miliki seharusnya masih berada diatasku, maka dari itu selama berada
dihadapanku, lebih baik tak usah bermain akal akalan"
"Bisa kulihat kalau kau memang seorang yang licik"
Kelelawar tidak menanggapi, ia balik kembali ke pokok pembicaraan, katanya:
"Ketika ujung pedang sepanjang tiga inci menembusi perutmu, luka tersebut sesungguhnya
sangat ringan, namun setelah melepaskan pukulan diatas dinding, dapat kupastikan luka mu
bertambah parah" Ong Bu-shia tidak menjawab, dia hanya tertawa dingin.
Kembali si Kelelawar berkata:
"Dibawah ujung pedang pemutus usus milik Siau Jit, tak pernah ada korban yang lolos dalam
keadaan hidup, hal ini dikarenakan arah yang ditusuk selalu bagian yang mematikan, ketika
pedangnya menusuk bagian yang mematikan, sekalipun tidak sampai menyebabkan kematian, luka
tersebut pasti tidak ringan. Jika pengalamannya cukup dan waktu itu dia melakukan
pengejaran, tak mungkin kau masih bisa hidup sampai hari ini"
"Begitukah kenyataannya . . . . .." dengus Ong Bu-shia sambil tertawa dingin.
"Jago kawakan macam kau ternyata melakukan kesalahan yang begitu besar, aku ikut sedih
untuk dirimu" tukas Kelelawar, "malam ini kau sengaja datang kemari, bukankah tujuanmu
adalah membunuh Lau Ci-he lebih dulu kemudian baru mengajak Siau Jit untuk berduel?"
Kembali Ong Bu-shia membungkam, tidak menjawab.
Si Kelelawar meneruskan kata-katanya:
"Setelah terperosok dalam kondisi semacam ini, kau memang seharusnya bertindak demikian,
tapi sayang waktu yang kau pilih sangat tidak tepat, saat ini adalah saatmu yang paling
apes!" "Sudah selesai semua omong kosongmu?" kembali Ong Bu-shia tertawa dingin.
"Aku tidak omong kosong, masa aku tidak jelas manusia macam apakah dirimu itu?"
"Kau . . . . . .."
Kembali si Kelelawar menukas:
"Jika lukamu tidak terlampau parah, tak nanti untuk menghadapi seorang Lau Ci-he pun harus
menunggu kesempatan dengan bersembunyi dibalik semak belukar, kaupun tak mungkin baru
munculkan diri setelah kugertak, terlebih tak mungkin mau bicara omong kosong dengan
diriku" Paras muka Ong Bu-shia berubah makin tak sedap dipandang.
"Andaikata aku bertemu kau didepan pintu sana, mungkin masih ada peluang untuk
dirundingkan" kata si Kelelawar lagi, "tapi sekarang, mau tak mau aku harus mencabut
nyawamu!" Kemudian dengan sepatah demi sepatah kata dia menambahkan:
"Karena terlalu banyak yang telah kau ketahui!"
"Apa yang kuketahui?"
"Paling tidak kau sudah tahu kalau aku bukan orang buta beneran, kaupun tahu kalau aku
bukan Kelelawar tanpa sayap yang sesungguhnya"
"Soal ini . . . . . . ..
"Tahukah kau cara apa yang paling manjur untuk membuat seseorang tetap tutup rahasia?"
tanya Kelelawar sambil tertawa seram, setelah berhenti sejenak sambungnya, "membunuhnya
agar dia tetap membungkam terus!"
Ong Bu-shia tutup mulutnya rapat rapat.
Kelelawar mendongak memandang cuaca, katanya kembali:
"Waktu sudah bertambah larut!"
Baru bicara sampai disitu, tampak pepohonan bergoyang, dengan sekali lompatan Ong Bu-shia
telah munculkan diri, katanya:
"Baiklah, mari kita selesaikan urusan ini dengan mengandalkan kepandaian masing masing"
"Biarpun ilmu pukulan dan tendanganku terhitung cukup baik, namun ilmu golokku jauh lebih
bagus!" "Hmm, sudah kuduga, kau memang tak becus!"
Kelelawar tertawa tergelak.
"Hahaha, percuma kau gunakan taktik semacam itu untuk membangkitkan amarahku, bila aku
becus, tak nanti akan menyamar menjadi orang lain!"
"Siapa kau sebenarnya" Sebutkan namamu!" bentak Ong Bu-shia gusar.
"Bukankah kau mengatakan aku tak becus?"
"Katakan!" Ong Bu-shia makin naik pitam.
"Sebentar lagi kau bakal mampus, apa gunanya menanyakan persoalan ini?" sembari berkata si
Kelelawar meloloskan sepasang goloknya dan diayunkan ke kiri kanan membentuk cahaya tajam.
Cahaya golok yang berkilauan terasa menusuk pandangan mata, menyaksikan hal itu, kembali
berubah paras muka Ong Bu-shia.
Sambil menuding lawannya dengan senjata, seru si Kelelawar:
"Sudah lama kudengar orang berkata bahwa Bu-shia beracun pandai mencabut nyawa orang,
konon setiap jago akan berubah wajah bila mendengar namamu, hahaha... bagus, hari ini aku
ingin menjajal sampai dimana kehebatanmu itu"
"Manusia pengecut yang beraninya hanya sembunyikan kepala bagai kura kura, kau tak pantas
menjadi lawan tandingku"
"Sayang mau tak mau kau harus turun tangan juga saat ini, lihat senjata . . . . . .."
Diiringi bentakan keras, sepasang goloknya diayun ke depan menciptakan dua gulungan cahaya
tajam yang segera mengurung Ong Bu-shia ditengah kepungan.
Tergopoh gopoh Ong Bu-shia melompat mundur.
Dalam waktu sekejap saja, tempat dimana ia berdiri telah berubah bentuk, semua ranting dan
dahan pohon yang berada disitu telah terpapas gundul oleh babatan sepasang golok lawan.
Tidak sampai disitu saja, si Kelelawar berikut sepasang golok Kelelawar nya merangsek
lebih kedepan, bagaikan kebasan sayap, sepasang golok itu kembali membabat dan menyambar
ke bawah. Golok kiri dengan tujuh belas gerakan, golok kanan delapan belas gerakan, semasa masih
ditengah udara, dia telah melancarkan tiga puluh lima bacokan maut, semuanya tertuju ke
bagian tubuh yang mematikan.
Begitu cekatan tangan kanannya melancarkan serangan, sementara kelincahan tangan kirinya
sedikitpun tidak kalah dengan kemampuan tangan kanannya.
Dalam keadaan begini Ong Bu-shia hanya bisa menghindar, gerakan tubuhnya jelas terlihat
tidak selincah dan segesit waktu bertarung melawan Siau Jit.
Bila dibandingkan si Kelelawar, jelas terlihat kalau ia ketinggalan jauh.
Kelelawar pun melihat akan hal ini, sepasang goloknya diputar makin kencang, ia semakin
mendesak Ong Bu-shia dengan serangkaian serangan maut.
Dimana goloknya menyambar lewat, "kraaakl" batang pohon sebesar mulut cawan langsung
tertebas kutung, dari sini dapat dibayangkan betapa tajamnya mata golok Kelelawar itu.
Menghadapi ratusan bacokan maut itu terpaksa Ong Bu-shia harus berkelit kian kemari, tak
lama kemudian wilayah seluas tiga tombak telah berubah menjadi sebidang tanah kosong,
semua ranting dan dahan pohon yang tumbuh disana nyaris sudah terbabat kutung dan
berserakan diatas permukaan tanah.
Sekalipun tidak sampai terluka, bukan pekerjaan yang gampang untuk menghindari serangan
dari sepasang golok yang ganas dan tajam itu, kini ia sudah terperosok dalam posisi
terdesak hebat, yang bisa dilakukan hanya menghindar dan berkelit, sama sekali tak ada
kemampuan untuk menangkis.
Berapa ratus gebrakan kemudian, Ong Bu-shia sudah bermandikan peluh, dia semakin keteter.
Si Kelelawar melanjutkan serangan gencarnya, tiba tiba ia berseru:
"Ke mana kau simpan ilmu pukulanmu yang pernah menggetarkan seantero jagad?"
Ong Bu-shia sama sekali tidak menjawab, dengan langkah kiu-kiong, ia menghindar berulang
kali dari ancaman bacokan.
"Paling banter juga sama sama satu bacokan, buat apa kau harus membuang waktuku?" kata si
Kelelawar lagi. Ong Bu-shia masih tidak menjawab, menggunakan kesempatan disaat lawannya sedang bicara,
dia menggerakkan kepalannya melancarkan satu serangan balasan.
Bagaimana pun juga dia adalah jago dari kawanan jago lihay, begitu melihat datangnya
kesempatan, peluang itu segera dimanfaatkan.
Kelelawar tertawa dingin, sepasang goloknya disilang didepan dada melindungi badan, begitu
serangan balasan dari Ong Bu-shia gagal menembusi pertahanannya, kembali dia putar
senjatanya, golok kiri membacok menyilang sementara golok kanan membacok masuk lewat celah
celah gempuran Ong Bu-shia.
Sesungguhnya kepandaian silat yang dimiliki Ong Bu-shia sangat tangguh, tapi menghadapi
gencaran lawan, mulut lukanya yang baru merapat kembali merekah, rasa sakit hingga merasuk
tulang membuat gerak serangannya jadi melambat, otomatis terbuka celah dalam sistim
pertahanannya. Merasakan gelagat yang tidak menguntungkan, buru buru dia melompat mundur, secara tepat ia
berhasil menghindari ancaman tersebut.
Kepalan serta tendangan kakinya tersohor karena keras melebihi baja, sayang senjata yang
dihadapi adalah golok Kelelawar yang luar biasa tajamnya, lagipula jurus golok yang
Kepalan serta tendangan kakinya tersohor karena keras melebihi baja, sayang senjata yang
dihadapi adalah golok Kelelawar yang luar biasa tajamnya, lagipula jurus golok yang
dihadapi pun sangat aneh dan canggih. Setiap bacokan yang dilepaskan mengubah senjata
tersebut seakan sebuah mata bor, mata bor yang dengan cepat menembusi semua pertahanannya.
Andaikata Ong Bu-shia nekad menggunakan kepalannya untuk menangkis, setiap saat
kemungkinan besar dia akan saling membentur dengan mata golok.
Tak bisa diragukan, si Kelelawar bukan lantaran ingin menghadapi kepalannya maka ia
menggunakan ilmu golok semacam itu, tapi ilmu golok mana dalam dunia persilatan yang
memiliki kehebatan seperti ini"
Sementara pelbagai ingatan melintas dalam benaknya, kembali ia mundur sejauh tiga langkah,
mendadak satu ingatan melintas lewat, segera teriaknya:
"Ilmu yang kau gunakan bukan ilmu golok, melainkan ilmu pedang!"
Sinar mata si Kelelawar semakin menggidikkan, permainan golok pun makin gencar dan cepat.
Sambil mengigos kian kemari, kembali seru Ong Bu-shia:
"Mampu menggunakan ilmu pedang sebagai ilmu golok, bahkan bergerak begitu cepat dan
lincah, dapat dipastikan kau adalah seorang jago silat kelas satu"
Kelelawar tidak menjawab, sepasang goloknya berputar sambil membabat.
Sambil menghembuskan napas panjang, ujar Ong Bu-shia lagi:
"setahuku, dalam dunia persilatan hanya ada seorang yang menggunakan ilmu pedang semacam
ini!" Segulung angin berhembus lewat, mengibarkan rambutnya yang telah beruban, membawa pula
suara ringkikan dan derap kuda dari kejauhan.
Sinar mata Kelelawar makin menggidikkan, gerak serangan goloknya makin lambat, gerakan
yang melambat itu entah karena mendengar suara derap kaki kuda atau karena terpeng aruh
oleh ucapan terakhir Ong Bu-shia.
"Coba kau dengar suara derap kaki kuda itu" kembali Ong Bu-shia berkata sambil melambatkan
pula gerak serangannya, "ada orang sedang menyusul kemari, bisa jadi dia adalah Siau Jit!"
"Kalau benar dia, lantas kenapa?"
"Bicara dari ilmu silat yang kau miliki, mustahil dapat membunuh aku sebelum kedatangan
mereka, begitu orang orang itu muncul, meski mungkin aku tak bisa lolos dari sini, kau
sendiripun belum tentu bisa lolos, bagaimana kalau kita barter saja?"
"Katakan!" "Kita mengambil jalan masing masing dan anggap tak pernah terjadi peristiwa ini, aku pun
tak akan membongkar rahasiamu itu!"
"Jadi kau sudah tahu siapakah aku?"
"Kecuali . . . . . . .." baru sepatah kata itu diucapkan, cahaya golok telah berkembang didepan
mata, gerak serangan si Kelelawar yang terhenti tadi tiba tiba berkembang makin ganas.
Tubuhnya berikut golok telah menyatu jadi satu dan meluncur maju, segumpal bola cahaya
tahu tahu sudah menerkam tubuh Ong Bu-shia.
Gerakan ini sama sekali diluar dugaan siapa pun, sebab dari gerakan yang melambat nyaris
berhenti, tahu tahu berubah secepat anak panah yang terlepas dari busur.
Setiap jengkal pori pori tubuhnya seolah ikut bergerak, setiap inci kekuatan yang dimiliki
seakan sudah dipergunakan hingga maksimal.
Bila Ong Bu-shia memperhatikan wajahnya, dia pasti akan melihat kalau musuhnya sedang
bersiap melancarkan gempuran dengan sepenuh tenaga.
Sayang yang dia saksikan hanya wajah si Kelelawar, perubahan mimik muka yang tersembunyi
dibalik wajah itu sama sekali tak terlihat olehnya.
Disaat dia merasakan gelagat tidak beres, musuh sudah mulai bergerak!
Tak tahan lagi Ong Bu-shia menjerit kaget, cepat tubuhnya mundur dari situ, sekali lompat
ia sudah mundur sejauh dua tombak, sayang kini punggungnya sudah menempel diatas dinding
rumah. Sambil tetap menempel diatas dinding, dia melambung dan bergerak naik ke atas.
Tapi gerakan tubuh si Kelelawar jauh lebih cepat lagi.
Begitu tubuhnya sampai, bacokan golok pun mengikuti, "Sreeet, sreeet!" dalam waktu singkat
dia telah melepaskan seratus dua puluh tujuh bacokan berantai, tak satu pun dari bacokan
itu memiliki sudut yang sama, semua serangan seolah sudah terbentuk sebuah jaring golok
yang sangat rapat. Bagaimana pun Ong Bu-shia berusaha menghindarkan diri, ia tetap gagal melepaskan diri dari
kepungan jaring golok yang begitu rapat.
Dalam keadaan begini, dia hanya bisa sembunyikan kepala, menarik dada, menggunakan
sepasang lengannya melindungi diri, dengan gerakan tubuh Yau-cu-huan-si (belibis membalik
badan), "Lei-hi-to-ceng-po" (ikan leihi meletik diatas ombak) dalam waktu sekejap ia telah
berganti dengan dua puluh tujuh macam gerakan untuk meloloskan diri, pada hakekatnya ia
harus berjumpalitan terus ditengah udara.
Luka pada lambungnya makin merekah, darah segar mulai mengucur keluar membasahi seluruh
pakaiannya. Kini seluruh tubuhnya telah berubah jadi merah membara, merah karena kucuran darah yang
makin deras. Darah itu bukan hanya mengucur dari luka lamanya, bahkan berasal dari puluhan mulut luka


Www.ceritasilatcersil.blogspot.com Cerita Silat ~ Kumpulan Cersil Terbaik Kelelawar Tanpa Sayap

baru, dari seratus dua puluh tujuh bacokan yang dilancarkan Kelelawar, paling tidak ada
sepertiga nya bersarang telak ditubuh orang itu.
Ong Bu-shia menjerit kaget, meraung gusar, mendadak suaranya terputus ditengah jalan, lalu
tubuhnya jatuh terjerembab, roboh terkapar diatas tanah.
Tusukan telak yang bersarang diperutnya mendatangkan luka yang amat serius, bukan hanya
darah yang menyembur keluar, bahkan usus dan isi perutnya ikut berhamburan.
Sambil tertawa dingin ejek si Kelelawar:
"Kalau Siau Jit memiliki pedang pemutus usus, maka aku mempunyai golok pemutus usus!"
Berbareng dengan teriakan itu, dia bergerak mundur.
Kini ia sudah mundur sejauh tiga tombak, tiada setetes noda darah pun yang melekat diatas
sepasang goloknya. Tak diragukan lagi setiap golok Kelelawar merupakan benda mustika yang tiada taranya,
walau digunakan untuk membunuh namun tidak akan menodainya.
Dengan cepat ia sarungkan kembali sepasang goloknya, lalu mementangkan kedua belah ujung
bajunya, dengan satu lompatan ia sudah melambung ke udara dan melewati wuwungan rumah.
Pada saat itulah Siau Jit, Lui Sin dan Han Seng telah melompati pagar tembok, melayang
masuk ke tengah halaman. Mereka semua sempat terkejut oleh suara teriakan kaget dan raungan gusar Ong Bu-shia,
walaupun tidak tahu kalau berasal dari Ong Bu-shia, mereka pun tidak punya bayangan kalau
suara itu berasal dari Kelelawar.
Siau Jit hanya ingin menolong orang secepatnya, sepanjang jalan dia larikan kudanya
kencang kencang. Kuda itu mereka beli ditengah jalan tadi, setelah berlarian sekian lama, binatang
tunggangan itu sebenarnya sudah keletihan, tapi begitu dijepit kuat kuat, otomatis mereka
pun berlari makin cepat. Bagai anak panah yang terlepas dari busur, kuda itu berlari kencang langsung menerjang
dinding pagar, disaat itulah tiba tiba Siau Jit melejit ke tengah udara.
Lui Sin dan Han Seng yang menyusul dari belakang segera ikut melompat keatas dinding pagar
sambil mencabut keluar senjata masing masing.
Siau Jit yang berada diatas dinding pagar ikut meloloskan pedangnya, dengan kecepatan
tinggi dia meluncur ke bawah, bergeser menuju ke arah berasalnya suara teriakan tadi.
Kemudian diantara ranting dan dahan pohon yang berserakan, ia temukan tubuh Ong Bu-shia
yang tergeletak bersimbah darah.
"Siapa disitu?" bentaknya sambil maju mendekat, tapi ia sontak berdiri tertegun setelah
melihat wajah orang itu. Lui Sin dan Han Seng segera menyusul tiba dibelakang Siau Jit, baru akan mengajukan
pertanyaan, Siau Jit sudah menjulurkan tangannya sambil berbisik:
"Ambilkan obor!"
Han Seng menyahut sambil menyulut opor, setelah melihat dengan jelas wajah sang korban,
dia pun menjerit: "Ong Bu-shia?""
"Betul, memang dia!" sahut Siau Jit sambil menerima obor itu.
"Kenapa bisa tergeletak disini?" tanya Lui Sin.
Siau Jit hanya termenung tanpa menjawab.
"Siapa pula yang memiliki kepandaian silat begitu hebat sehingga berhasil membunuhnya
disini?" ujar Han Seng pula.
"Kelelawar!" "Aaah betul, pasti perbuatan Kelelawar!"
"Tapi . . . . . . .." tiba tiba Lui Sin membungkam.
Waktu itu Siau Jit sedang menempelkan tangannya untuk memeriksa dengus napas Ong Bu-shia.
Napasnya sangat lemah, tapi tetap masih hidup, cepat Siau Jit menancapkan pedangnya ke
tanah dan menyerahkan obor ke tangan Han Seng.
Setelah itu dia tempelkan sepasang tangannya diatas khi-bun-hiat ditubuh Ong Bu-shia dan
menyalurkan hawa murninya.
"Mau apa kau?" tak tahan Lui Sin bertanya, "buat apa kau menolong orang jahat itu?"
Siau Jit tidak menjawab. Han Seng yang berada disisinya segera menjelaskan:
"Siau kongcu pasti berusaha mengorek keterangan dari mulutnya, siapa tahu mendapat
petunjuk lain" Tiba tiba terdengar Ong Bu-shia merintih kemudian perlahan lahan membuka matanya.
Sorot matanya sayu tak bercahaya, ia menatap Siau Jit sekejap, akhirnya berbisik:
"Palsu..... palsu . . . . .. palsu ....."
Walaupun suaranya parau, namun masih kedengaran dengan jelas.
"Apa maksudmu palsu?" desak Siau Jit gelisah, "maksudmu si Kelelawar itu palsu?"
Ong Bu-shia tidak menjawab, ia pejamkan mata dan menghembuskan napasnya yang terakhir.
Perlahan Siau Jit menarik kembali tangan nya, untuk sesaat ia duduk bersila disana dengan
wajah tertegun, sama sekali tak bergerak.
Lui Sin menunggu berapa saat, akhirnya tak tahan ia berseru:
"Apa maksud ucapannya itu" Mana mungkin si Kelelawar itu palsu?"
Bagai mendusin dari impian, sahut Siau Jit:
"Seandainya palsu pun tak ada yang perlu diherankan"
"Ooh?" "Coba bayangkan saja, bukankah Kelelawar itu sama sekali tidak mirip orang buta?"
Lui Sin termenung sambil membayangkan, sahutnya kemudian:
"Kalau dibicarakan sekarang, rasanya dugaanmu memang benar"
"Fajar itu, ketika kita mengejarnya dijalan raya, dia kabur menembusi hutan dan tiba
ditepi sungai, akhirnya ia berhasil melompat naik keatas sampan dan lenyap dibalik
ketebalan kabut" "Betul, memang begitu"
"Ketika berlarian menembusi pepohonan dengan kecepatan tinggi, bahkan kita pun harus
berhati hati agar tidak sampai bertumbukan dengan pepohonan, tapi dia seakan serba tahu,
bukan saja dapat berlari kencang bahkan sama sekali tidak bertumbukan dengan pepohonan,
padahal pohon kan tak mungkin bisa bersuara memberi peringatan, selain itu tak ada orang
kedua yang memberi petunjuk, kalau dibilang ia orang buta beneran, siapa pun sulit untuk
percaya" "Ehm, masuk akal juga . . . . . .." Lui Sin mulai mengelus jenggot, "kenapa selama ini aku tak
pernah berpikir sampai ke situ?"
"Orang yang bersangkutan pasti bingung, tapi penonton bisa melihat lebih jelas. Waktu itu
pada hakekatnya aku sudah lupa kalau dia adalah orang buta, yang kupikirkan saat itu hanya
bagaimana menghadangnya serta mencari tahu kabar berita tentang nona Lui"
"Betul, memang begitu"
"Mungkinkah ucapan dari Ong Bu-shia tadi bermaksud begitu?" sela Han Seng.
"Rasanya memang begitu. Jagoan ampuh semacam dia, walaupun sudah terluka parah dan
nyawanya diambang kematian, namun hingga detik terakhir pikirannya masih tetap terang
benderang, lagian kita toh sedang membicarakan masalah si Kelelawar"
"Masalahnya sekarang adalah kenapa dia pun datang kemari?" ujar Han Seng.
"Aku rasa dia datang dengan maksud ingin membunuh Lau Ci-he"
"Apakah diantara mereka terkait masalah dendam atau permusuhan?"
"Secara dipaksakan boleh dibilang begitu"
"Tampaknya saudara Siau amat jelas dengan kejadian ini?"
"Betul, aku rasa salah satu alasannya adalah ingin membuat perhitungan bagi kematian
Tui-hun-cap-ji-sat" Lotoa dari Tui-hun-cap-ji-sat tak lain adalah anak murid dari Ong Sip-ciu.
"Bukankah Ong Sip-ciu adalah putra Ong Bu-shia?" tanya Han Seng, "berarti pertarungan
kalian waktu itu . . . . . . . .."
"Benar, dia sedang membuat perhitungan untuk Tui-hun-cap-ji-sat"
"Kalau begitu kedatangan Ong Bu-shia mencari Lau Ci-he bukannya sama sekali tak ada
alasan" "Benar, tentu saja dia telah menyelidiki dengan jelas tentang sebab musabab kematian Ong
Sip-ciu" "Kalau begitu aneh sekali, seharusnya dia bereskan dirimu terlebih dulu"
"Satu satunya penjelasan dalam hal ini adalah luka yang ia derita dalam pertarungan di
rumah makan Thay-pek-lo jauh lebih parah daripada apa yang kita bayangkan"
"Tapi ketika melarikan diri, dia tidak tampak seperti menderita luka parah"
Berkilat sepasang mata Siau Jit.
"Masalahnya justru muncul setelah dia menggempur dinding tembok dengan pukulannya"
"Aaah, pasti begitu!" seru Lui Sin.
"Oleh karena dia tahu luka yang dideritanya bertambah berat dan susah disembuhkan dalam
waktu dekat, hal ini memaksa ia harus bertindak dengan mencari sasaran yang paling enteng
untuk dibereskan terlebih dulu, kemudian baru mencari saudara Siau untuk ditantang
berduel" "Mungkin saja memang begitu"
"Ketika tiba disini, secara kebetulan ia bertemu Kelelawar dan mengetahui rahasia si
Kelelawar, itulah alasan mengapa si Kelelawar harus menghabisi nyawanya untuk
menghilangkan saksi!"
"Sangat masuk akalkah analisamu itu?"
"Aku rasa sangat masuk akal" tanpa terasa Han Seng manggut manggut.
"Biarpun Ong Bu-shia membawa luka, andaikata jago yang dia jumpai bukan jago hebat macam
Kelelawar, rasanya dia pun sulit untuk dibunuh"
Han Seng mengangguk berulang kali.
"Betul, andaikata lukanya sangat parah, mana mungkin ia berani datang kemari untuk mencari
Lau Ci-he" Kendatipun ilmu silat yang dimiliki perempuan ini masih belum sebanding dengan
Siau-heng, dia pun bukan termasuk jago sembarangan"
"Apa mau dibilang ia justru bertemu Kelelawar, boleh dibilang ia memang sedang sial" ujar
Lui Sin sambil tertawa. Siau Jit tidak tertawa, sebaliknya malah menghela napas panjang.
"Aaai, begitu pula dengan Lau Ci-he, walaupun malam ini dia bisa lolos dari tangan Ong
Bu-shia, pada akhirnya toh susah juga menghindari Kelelawar"
Lui Sin berhenti tertawa, serunya:
"Lalu kita . . . . . . . .."
"Aku yakin kedatangan kita sudah terlambat, kalau tidak, seharusnya Lau Ci-he sudah
munculkan diri saat ini, tak mungkin perkampungan itu begitu tenang"
Mau tak mau Lui Sin harus setuju dengan pendapat ini.
Kenyataan membuktikan bahwa dugaan Siau Jit tidak keliru, setelah menemukan ke empat
jenasah dari Lau Ci-he sekalian, mereka bertiga merasa masgul, murung dan sedih.
Untuk sesaat mereka hanya bisa duduk diatas genting sambil termangu, duduk mematung tanpa
bergerak. Dibawah sinar rembulan yang sendu, tampak paras muka ke tiga orang itu pucat bagai kertas.
Akhirnya Siau Jit yang buka suara lebih dulu, sambil menggeser jenasah Lau Ci-he, ujarnya
sambil menghela napas: "Walaupun kedatangan kita sedikit terlambat, namun sesungguhnya telah berusaha semaksimal
mungkin" "Aaai, seandainya si Kelelawar tidak membantai kuda kuda tunggangan kita, sejak tadi kita
sudah tiba disini" ucap Lui Sin uring uringan.
Siau Jit tertawa getir. "Justru karena dia sudah memperhitungkan kalau kita mungkin akan mencari sampai disini,
maka kuda kuda tunggangan kita dihabisi dulu nyawanya"
"Aku tak habis mengerti, atas dasar apa dia memperhitungkan sampai ke sini" Bila dia pun
tahu kalau Hong-ji telah meninggalkan catatan, tidak seharusnya dia biarkan kita pun ikut
membaca ke tiga nama diatas panggung itu"
"Justru hal semacam inilah yang paling menakutkan dari dirinya, ketika ia tahu kalau kita
berhasil menemukan lorong rahasia bawah tanah di kuil Thian-liong-ku-sat, sudah pasti
mempertimbangkan pula setiap kemungkinan yang mungkin terjadi, mempertimbangkan petunjuk
apa yang mungkin ditinggalkan nona Hong, atau dia telah teledor dengan suatu tempat, suatu
masalah. Oleh sebab itu dia bunuh kuda tunggangan kita lebih dahulu, agar ia bisa berebut
satu langkah didepan kita dan menemukan Lau Ci-he lebih dulu!"
"Tapi mengapa dia harus membunuh Lau Ci-he?" tanya Han Seng keheranan, "atau jangan jangan
gadis itupun mengetahui suatu rahasia besar dari dirinya"'
"Bila demikian kejadiannya, tak mungkin Lau Ci-he bisa hidup melewati hari ini"
"Itulah masalahnya, kenapa dia harus menghabisi nyawanya?"
"Setelah berpikir pulang pergi, aku rasa hanya ada satu kemungkinan!"
"Apa?" "Golok Kelelawar!"
Han Seng tidak habis mengerti, begitu pula Lui Sin, maka Siau Jit menjelaskan lebih jauh:
"Kelelawar memiliki tiga belas bilah golok Kelelawar, dua belas diantaranya telah
dihadiahkan untuk dua belas orang gadis yang paling dia sukai"
"Hal ini kita sudah tahu"
"Mengapa harus membuat tiga belas bilah golok Kelelawar" Aku yakin tak mungkin masalahnya
hanya untuk barang kenangan, dibalik ke tiga belas bilah golok Kelelawar itu pasti
tersimpan suatu rahasia besar"
Setelah berhenti sejenak, lanjutnya:
"Mungkin menyangkut sejumlah harta karun, menurut cerita orang persilatan, sesungguhnya
Kelelawar adalah keturunan dari suatu keluarga persilatan, keluarga itu kaya raya dan
memiliki harta yang mampu menandingi harta sebuah negeri"
II "Ehm, aku pernah dengar cerita tentang hal itu Lui Sin manggut manggut.
"Mustahil baginya untuk selalu menggembol seluruh harta kekayaannya yang begitu banyak
kesana kemari, sebagai orang cerdas dia pasti akan mencari sebuah tempat yang aman dan
rahasia untuk menyimpannya, besar kemungkinan ke tiga belas bilah golok Kelelawar itu
punya hubungan yang erat dengan harta karun itu"
Tanpa terasa Lui Sin dan Han Seng menganggukkan kepala.
Kembali Siau Jit melanjutkan:
"Aku pernah melihat golok Kelelawar milik Lau Ci-he, selama ini dia selalu menggantungnya
diatas dinding dalam kamar tidurnya, tapi sekarang, benda itu sudah lenyap"
"Jika Kelelawar itu adalah Kelelawar tanpa sayap yang sebenarnya, tidak mungkin dia akan
minta balik golok golok Kelelawar yang telah diberikan kepada orang lain pada sepuluh
ll tahun berselang kata Lui Sin.
"Dan satu hal lagi" sambung Han Seng, "mana mungkin seseorang yang sudah berubah jadi
orang idiot, pada sepuluh tahun kemudian sembuh kembali seperti orang normal. Kalau
dipikirkan, hal ini pun patut dicurigai!"
Siau Jit segera tertawa. "Bicara sampai disini, kita semua nyaris yakin kalau si Kelelawar tanpa sayap yang muncul
sekarang, seratus persen adalah gadungan" katanya.
"Tapi siapa pula Kelelawar tanpa sayap gadungan ini?"
Siau Jit tidak menjawab bahkan membungkam dalam seribu bahasa, tampaknya ia sudah
terjerumus dalam pemikiran yang mendalam.
Apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan"
Baru saja Lui Sin ingin bertanya, Han Seng telah menarik tangannya dan memberi tanda agar
dia tidak bersuara. Dari perubahan mimik muka Siau Jit, dapat terlihat dengan jelas bahwa pemuda itu memang
sedang memikirkan sesuatu, dan saat seperti ini kurang cocok untuk mengganggunya sehing ga
memutuskan jalan pemikirannya.
Bab 18. Kembali ke kuil. Tiga bilah golok Kelelawar berjajar menjadi satu, tampak bentuknya persis sama satu dengan
lainnya. Dengan pandangan tajam si Kelelawar menatap ke tiga bilah golok itu tanpa berkedip, tiba
tiba ujarnya: "Tang-shia, coba kau lihat, dimana letak perbedaan dari ke tiga bilah golok itu?"
"Berbicara dari soal ukuran, bentuk maupun bobot, hampir semuanya sama tanpa perbeda an,
satu satunya yang berbeda pada ke tiga golok ini rasanya hanya pada gambar yang terukir
dipelindung tangan berbentuk Kelelawar itu"
"Tahukah kau kalau ukiran itu bukan gambar melainkan huruf sansekerta?"
"Aku hanya tahu kalau huruf yang terukir pada golok Kelelawar milikku adalah huruf "Po"
(mustika)" "Dari golok yang kuperoleh dari tangan si Kelelawar, huruf sansekerta yang tertera disitu
adalah huruf Si (kuil), kita pernah beranalisa bahwa rangkaian huruf tersebut merupakan
petunjuk dimana harta karun itu disimpan, bila ke tiga belas tulisan yang tertera pada
tiga belas bilah golok Kelelawar disatukan maka akan tercipta sebuah kalimat yang
menunjukkan tempat penyimpanan itu"
"Karena itulah kau berupaya dengan segala cara untuk memancing si Kelelawar mau mengaku,
kepada siapa saja ke dua belas bilah golok itu diberikan?" sambung Suma Tang-shia.
"Padahal hal ini bukanlah satu pekerjaan mudah, hingga sekarang, kita hanya mampu
mendapatkan tiga bilah diantaranya"
"Bila ditambahkan golok milik Hek Botan dan Pek Huyung, paling juga baru lima bilah,
sekalipun kita dapat merangkai ke lima huruf itu, belum tentu huruf huruf tadi dapat
dirangkai menjadi sebuah kalimat yang dapat kita pahami artinya"
"Aku rasa tiga bilah pun sudah lebih dari cukup" tukas si Kelelawar cepat.
"Oya?" "Coba kau periksa, huruf apa yang tertera pada golok Kelelawar milik Lau Ci-he?"
Sekarang Suma Tang-shia baru memperhatikan dengan seksama ukiran huruf Sansekerta yang
terukir diatas golok tersebut.
Kemudian dengan suara tercengang teriaknya:
"Aaah, ternyata huruf Liong (naga)"
"Benar, memang huruf Liong. Tang-shia, sekarang kau sudah mengerti bukan?"
Tanpa berbicara Suma Tang-shia mengangguk.
Kembali si Kelelawar berkata:
"Bila dugaan kita tak salah maka bila ke tiga belas huruf yang tertera pada golok
Kelelawar itu dirangkai jadi satu, maka semestinya kalimat yang dirangkai adalah . . . . ..
mestika disimpan di ..... kuil naga"


Www.ceritasilatcersil.blogspot.com Cerita Silat ~ Kumpulan Cersil Terbaik Kelelawar Tanpa Sayap

"Kelihatannya memang begitu"
"Didalam kenyataan, manusia semacam Kelelawar memang luar biasa senangnya dengan segala
macam bangunan kuil, mungkin dia anggap melakukan perbuatan rahasia didalam sebuah kuil
jauh lebih leluasa dan sukar ditemukan orang lain. Tapi bangunan kuil semacam kuil Thian-
liong-ku-sat (kuil naga langit) semuanya berjumlah tiga belas buah yang tersebar di utara
sebanyak enam buah dan wilayah selatan sebanyak tujuh tempat, bukan satu pekerjaan yang
gampang untuk melacak setiap bangunan kuil tersebut"
"Tentu saja sulit"
"Dapat menemukan kuil Thian-liong-ku-sat sesungguhnya merupakan hasil ingatanmu yang luar
biasa, setelah dibebaskan oleh si Kelelawar ternyata kau masih dapat berjalan balik ke
tempat penyekapanmu, hal ini merupakan sebuah kejutan. Hanya sayangnya, walaupun kita
pernah menaruh curiga kalau harta karun itu kemungkinan besar disimpan dalam kuil Thian-
liong-ku-sat, namun setelah digeledah sekian lama, hasilnya tetap nihil. Gara gara itulah
kita jadi kepikiran untuk mengumpulkan kembali ke tiga belas bilah golok Kelelawar"
Setelah tertawa getir, lanjut si Kelelawar:
"Kalau ingin melacak arti kalimat itu dari dua bilah golok saja, sudah jelas hal ini
mustahil bisa berhasil"
"Setelah huruf po (mustika) mustinya huruf ciong (disimpan), setelah huruf Si (kuil)
semestinya huruf wan (halaman), kini kita peroleh lagi huruf Liong (naga), itu berarti
diatasnya adalah huruf Thian (langit)..."
"Betul, dan sekarang paling tidak kita berani memastikan kalau harta karun itu tersimpan
didalam kuil naga langit (thian-liong-si)"
"Tapi huruf Liong bisa dimaksudkan semacam benda mustika, mungkin juga nama sebuah tempat,
dibawah huruf itu belum tentu huruf Si (kuil) dan diatasnya belum tentu huruf Thian
(langit)" Si Kelelawar menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya:
"Bukannya tanpa alasan kita merasa begitu yakin"
Suma Tang-shia tidak bicara, ia termenung.
Si Kelelawar segera menjelaskan:
"Aku percaya kaupun tak akan menyangkal kalau si Kelelawar telah mengobarkan banyak
pikiran, tenaga serta harta untuk membangun kerajaannya dalam kuil Thian-liong-ku-sat,
padahal dia hanya seorang buta, jadi tak mungkin dia membangun kesemuanya itu dengan
andalkan tenaganya seorang diri. Bisa jadi untuk membangun semuanya itu, dia telah
melibatkan banyak tukang serta tenaga kerja, namun ketika bangunan itu selesai dibangun,
dia pun membantai habis semua pekerja itu untuk menghilangkan saksi. Tapi pernahkah di
kota ini terjadi kehebohan karena lenyapnya sejumlah besar tukang bangunan" Walaupun
mereka mungkin diundang bekerja dengan bayaran tinggi atau ada juga yang datang secara
sukarela, masa lenyapnya orang orang itu tak sampai menimbulkan kehebohan" Sudah jelas
pembangunan dalam kuil Thian-liong-ku-s at telah melalui sebuah perencanaan yang masak,
manusia sepintar Kelelawar seharusnya tak akan mengulang sebuah pekerjaan yang sama"
Setelah menghela napas tambahnya:
"Padahal sejak awal kita seharusnya sudah berpikir sampai ke situ, tapi kita tidak
melakukannya" "Karena selama ini kita selalu menempatkan si Kelelawar sebagai orang idiot hingga hampir
saja lupa kalau dia sesungguhnya adalah orang buta"
"Betul, betul!"
"Sekalipun kita sudah pastikan kalau harta karun itu tersimpan dalam kuil Thian-liong-
ku-sat pun tak ada gunanya, bukankah nyaris kita sudah bongkar seluruh bangunan kuil itu
tanpa hasil?" Setelah menghela napas panjang, kembali Suma Tang-shia melanjutkan:
"Bila harta karun itu betul betul tersimpan dalam kuil Thian-liong-ku-sat, seharusnya
benda mustika itu telah berhasil kita temukan"
"Jika harta itu bisa ditemukan segampang itu, si Kelelawar tak usah menggunakan banyak
waktu, pikiran dan tenaga untuk menciptakan ke tiga belas bilah golok Kelelawar itu"
Mau tak mau Suma Tang-shia harus sependapat dengan perkataan itu.
Setelah tertawa getir, ujar si Kelelawar:
"Tampaknya, walaupun kita tak usah mendapat semua dari ke tiga belas bilah golok Kelelawar
itu, paling tidak berapa bilah yang terakhir harus kita dapatkan, dengan begitu harta
karun baru bisa kita peroleh"
Suma Tang-shia hanya tertawa hambar, tidak menjawab.
Maka si Kelelawar berkata lebih lanjut:
"Walau begitu, asal kita sudah bisa memastikan kalau tempat yang dimaksud adalah kuil
Thian-liong-ku-sat, seharusnya persoalan ini bisa diselesaikan jauh lebih mudah"
"Kalau soal itu mah tergantung bagaimana nasib dan rejeki kita"
"Bukankah nasib kita selama ini baik sekali?"
"Hingga detik ini memang masih terhitung sangat bagus"
"Seandainya Siau Jit sekalian pergi mencari Hek Botan dan Pek Hu-yung, ini berarti dalam
tiga sampai lima bulan mereka tak akan kembali kemari, cukup waktu bagi kita untuk
bertindak" Tiba tiba sinar mata tajam yang menggidikkan memancar keluar dari mata kanannya, ia
melanjutkan: "Siapa tahu pada malam ini juga kita sudah berhasil mendapatkan harta karun itu"
"Malam ini?" "Dalam melaksanakan pekerjaan semacam ini, terkadang sedetik pun tak boleh terlambat"
"Kalau toh Siau Jit baru bakal kembali berapa bulan lagi, rasanya kita pun tak usah
kelewat terburu-buru"
"Jerih payah selama sepuluh tahun, Tang-shia, masa sampai sekarang pun kau belum bisa
merasakan perasaan hati ayahmu?"
Ternyata kepada Suma Tang-shia, si Kelelawar menyebut diri sebagai ayah, kalau dia bukan
Suma Tionggoan, lalu siapa lagi"
Suma Tang-shia menghela napas panjang.
"Aaai, aku tahu, kau sudah tak kuasa menahan diri"
Si Kelelawar tertawa, lanjutnya:
"Sekarang, aku bahkan mempunyai satu firasat, kali ini si Kelelawar pasti akan membantu
kita untuk menemukan tempat penyimpanan harta karun itu"
"Kelelawar?" "Kali ini kita harus menggunakan segenap kemampuan untuk memaksa semua ingatan dan
kesadarannya pulih kembali"
"Mungkinkah?" "Aku mempunyai berapa cara yang selama ini tak pernah kugunakan, karena kuatir jika tak
tahan dia bakal tewas seketika, tapi sekarang aku tak ambil peduli lagi, cara cara itu
harus dicoba" "Jika si Kelelawar benar benar mampus . . . . .."
"Sejak dulu orang ini sudah pantas mati, masih beruntung dia bisa mendapat tambahan hidup
selama belasan tahun"
Suma Tang-shia terbungkam.
Sambil menyeringai seram kembali Kelelawar berkata:
"Sekalipun harta karun itu tidak tersimpan dalam kuil Thian-liong-ku-sat, kitapun tak usah
kuatir, sampai waktu kita masih bisa mencari ke sepuluh orang gadis yang lain dan
mengumpulkan golok golok Kelelawar milik mereka"
Suma Tang-shia tertawa getir.
Jika Kelelawar mati, sekalipun berhasil menemukan Hek Botan dan Pek Hu-yang, paling banter
juga hanya menambah dua bilah golok Kelelawar, sisanya yang delapan bilah akan dicari
kemana" Kelelawar tidak menaruh perhatian atas perubahan wajah Suma Tang-shia, katanya lebih jauh:
"Bawalah golok golok itu dan ikut aku menuju kuil Thian-liong-ku-sat"
"Tidak, lebih baik aku tetap tinggal disini" tampik Suma Tang-shia sambil menggeleng.
"Kalau tidak mau yaa sudah, toh perjalanan kali ini belum tentu akan memperoleh hasil"
Dengan sedih Suma Tang-shia membalikkan badan, bergeser dari tempat duduknya dan menggeser
kembali meja rias itu ke tempat semula.
Kemudian dia mengambil lagi buku yang tergeletak dimeja dan membacanya kembali.
Menyaksikan tingkah laku gadis itu, si Kelelawar hanya menggeleng sambil menghela napas,
setelah memungut kembali ke tiga bilah golok Kelelawar, dia melompat keluar lewat jendela.
Bagai hembusan segulung angin, sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.
Dengan cepat cahaya lentera yang bergoyang pun menjadi tenang kembali.
Walaupun Suma Tang-shia memegang buku, tatapan matanya tak pernah dialihkan keatas buku
tersebut. Lama sekali ia duduk termangu, kemudian sambil menghela napas tiba tiba katanya:
"Kenapa kau belum turun juga?"
Baru selesai ia berkata, terdengar suara lirih diatas genting lalu terlihat sesosok
bayangan manusia menerobos masuk lewat jendela.
Seorang gadis muda. Ciu Kiok! Dia melayang turun dihadapan Suma Tang-shia, dengan sepasang matanya yang sayu dia awasi
perempuan itu tak berkedip.
Dari balik pupil matanya, terpancar perasaan ngeri, seram, disamping perasaan heran dan
ragu yang besar. Paras mukanya pucat pias bagai kertas, tubuhnya yang lemah bagai rumput dimainkan angin
musim gugur, seakan tenaga untuk berdiri pun tak ada.
"Kenapa kau datang kemari?" tegur Suma Tang-shia sambil meletakkan kembali bukunya.
ll "Inilah hari pertama aku tinggal dalam perkampungan Suma-san-ceng . . . . .. nada suara Ciu
Kiok kedengaran gemetar. "Karena itu kau tak bisa tidur bukan?" tukas Suma Tang-shia.
"Semula aku ingin jalan jalan ditengah halaman, siapa tahu ketika membuka pintu,
kusaksikan ada sesosok bayangan manusia meluncur melewati pagar langsung menuju kemari"
"Dari bentuk tubuhnya yang mirip Kelelawar, kau sangka Kelelawar datang menyerang, maka
cepat kau menyusul kemari, maksudnya ingin memperingatkan aku"
Ciu Kiok gigit kencang bibirnya tanpa menjawab.
Sambil menghela napas ujar Suma Tang-shia:
"Tentu saja kau tahu bahwa ilmu silatmu cetek dan bukan tandingan Kelelawar, bila sampai
ketahuan maka nyawamu pasti akan melayang"
Ciu Kiok masih membungkam.
Suma Tang-shia berkata lebih jauh:
"Kau tentu tahu juga bahwa nasib baik seseorang tidak selalu berulang, bila sampai bertemu
Kelelawar lagi, besar kemungkinan nyawa mu bakal dicabut!"
Ciu Kiok makin kencang menggigit bibir.
"Tapi kau tetap nekad datang kemari, kenapa?" tanya perempuan itu.
Bibir Ciu Kiok yang digigit mulai terluka, darah mulai meleleh keluar.
Suma Tang-shia segera mewakilinya untuk menjawab:
"Karena kau tak bisa berpeluk tangan membiarkan jiwaku terancam, kau berharap bisa
menyumbangkan sisa tenaga mu untuk bantu aku"
Ciu Kiok masih membungkam.
Suma Tang-shia menghela napas panjang.
"Orang dari golongan pendekar memang tetap berjiwa pendekar, sekarang kau sudah tahu kalau
aku satu komplotan dengan Kelelawar, menyesalkah kau dengan apa yang telah kau lakukan?"
"Tidak!" teriak Ciu Kiok, "walaupun aku salah menilai orang, tapi tak pernah menyesal
dengan apa yang telah kulakukan!"
"Bagus, anak baik!"
"Aku tahu, hidupku tak bakal lama lagi, tapi ada berapa hal tolong jawablah sejujurnya,
agar aku bisa mati dengan mata terpejam!"
"Tanyalahl" "Kelelawar tadi apakah bukan Kelelawar tanpa sayap yang sesungguhnya?"
"Benar" "Siapa sebenarnya orang itu?"
"Ayahku!" "Suma Tionggoan" Bukankah dia sudah mati?"
"Aku yang mengatakan kalau dia sudah mati, sedang kalian percaya kalau dia sudah mati
karena kalian percaya dengan perkataanku"
"Jadi selama ini kau selalu berbohong!"
"Benar" "Apa tujuanmu?"
"Harta karun milik Kelelawar!"
"Jadi apa yang kalian bicarakan tadi memang kenyataan?"
"Betul, semuanya!" Suma Tang-shia mengangguk, "apalagi yang ingin kau ketahui?"
"Dendam sakit hati apa yang sudah terjalin antara siocia kami dengan kalian?"
"Sama sekali tak ada"
"Lantas mengapa kalian berbuat begitu?"
"Ketika awal kejadian, aku sama sekali tak tahu, kalau tidak, aku pasti akan mencegahnya"
"Bohong, kau bohong!" jerit Ciu Kiok seperti orang kalap.
Suma Tang-shia tidak menyangkal, ia membungkam.
Sambil menggigit bibir kembali Ciu Kiok bertanya:
"Kau telah membohongi siau kongcu, apakah kau tidak menyesal" Tidak malu?"
Suma Tang-shia tertawa hambar.
"Apa pun yang kulakukan sekarang, tak ada satu pun yang dapat kurasakan lagi, sebab sejak
sepuluh tahun berselang, perasaanku telah kaku, membeku, telah hilang lenyap"
Ciu Kiok menatap tajam wajah Suma Tang-shia, sesaat kemudian teriaknya lagi:
"Kau sedang berbohong lagi, aku dapat melihatnya"
"Hanya masalah ini saja yang ingin kau ketahui?" tukas Suma Tang-shia tiba tiba.
"Sekarang kau boleh turun tangan membunuhku"
"Tidak" Suma Tang-shia menggeleng, "bila aku ingin membunuhmu, sudah kulakukan sewaktu kau
terjatuh diatas atap rumah tadi"
Setelah menghela napas panjang, lanjutnya:
"Bahkan asal aku buka suara, biar kau mempunyai sepuluh lembar nyawa pun bakal mati semua"
Ciu Kiok tertegun, berdiri terperangah.
"Sekarang kau boleh tinggalkan tempat ini" kata Suma Tang-shia lagi sambil mengebaskan
bajunya. "Tinggalkan tempat ini?" untuk kesekian kalinya Ciu Kiok tertegun.
"Kau adalah anak baik, karena itu nasibmu akan selalu baik, andaikata kedatanganmu bukan
bersamaan dengan suara mesin rahasiaku berbunyi, tak nanti kehadiranmu bisa mengelabuhi
dia, tak mungkin kau bisa hidup sampai sekarang"
Dengan ragu dan tak habis mengerti Ciu Kiok mengawasi Suma Tang-shia.
Perempuan itu berkata lebih lanjut:
"Menurut kau, bagaimana aku bisa mengetahui kehadiranmu" Karena aku telah melihat bayangan
tubuhmu!" "Bayangan?" "Sewaktu kau melompat naik ke atap rumah tadi, sinar rembulan membiaskan bayangan tubuhmu
diatas tiang yang berada diluar jendela"
Lagi lagi Ciu Kiok tertegun.
"Ilmu meringankan tubuh yang kau miliki cukup bagus" kata Suma Tang-shia lagi, "hanya
sayang pengalamanmu dalam dunia persilatan tidak cukup, mencuri angin tidak mencuri
rembulan, mencuri hujan tidak mencuri salju, kau pasti pernah mendengar kata kata ini
bukan?" Ciu Kiok tetap membungkam.
"Sekarang kau boleh pergi dari sini" sekali lagi Suma Tang-shia mengebaskan ujung bajunya.
"Apakah kau tidak kuatir aku bocorkan rahasia ini kepada Siau kongcu?"
Suma Tang-shia tidak menjawab.
Tiba tiba Ciu Kiok berseru lagi:
"Pasti hal ini merupakan satu perangkap, kau pasti sedang mempersiapkan satu perangkap
busuk lagi?" Suma Tang-shia tertawa hambar.
"Kalau sudah tahu begitu, kau seharusnya cepat cepat pergi mencari Siau Jit dan
memberitahukan rahasia ini kepadanya, agar dia tahu diri dan menghindar dari bencana itu"
Dengan termangu Ciu Kiok mengawasi Suma Tang-shia, sesaat kemudian kembali ia bertanya:
"Kau benar benar membiarkan aku pergi dari sini?"
"Tentu saja" buku itu. "Kau jangan menyesal nantinya" seru Ciu Kiok.
Suma Tang-shia kembali menghela napas, untuk kesekian kalinya dia memungut
Suma Tang-shia tidak ambil peduli lagi, tatapan matanya kembali dialihkan keatas buku.
Ciu Kiok segera membalikkan tubuh dan membuka pintu, tapi hampir pada saat bersamaan ia
menjerit keras! Seseorang berdiri didepan pintu bagaikan mayat hidup, tiga bilah golok Kelelawar
tergantung dipinggangnya, orang itu tak lain adalah Kelelawar tanpa sayap gadungan yang
belum lama tinggalkan tempat itu.
Kelihatannya ia sudah cukup lama berdiri disana, ketika pintu terbuka, ia segera membuka
mulutnya sambil tertawa menyeringai.
Selama hidup belum pernah Ciu Kiok saksikan senyuman sedemikian seram dan menakutkannya,
dia pun belum pernah merasakan ketakut an yang luar biasa seperti saat ini.
Setelah lama tertegun, ia berpaling kearah Suma Tang-shia dan tiba tiba serunya:
"Ternyata kau sudah mempersiapkan segalanya, suruh aku tinggalkan tempat ini sebenarnya
suruh aku cepat cepat masuk kubur!"
Untuk sesaat Suma Tang-shia tampak terkejut, tapi akhirnya dia hanya bisa menghela napas.
Belum selesai suara helaan napasnya, tenggorokan Ciu Kiok telah digorok hingga putus,
tubuhnya terjerembab ke lantai.
Begitu cepat Kelelawar mencabut goloknya, begitu cepat melancarkan serangan dan begitu
cepat menyarungkan kembali senjata pembunuhnya.
Ketika golok itu disarungkan, tak setetes darah pun yang melekat, ia segera bungkukkan
badan untuk membangunkan mayat Ciu Kiok, lalu didudukkan diatas bangku.
Suma Tang-shia duduk kaku, sama sekali tak bergerak.


Www.ceritasilatcersil.blogspot.com Cerita Silat ~ Kumpulan Cersil Terbaik Kelelawar Tanpa Sayap

Setelah mendudukkan mayat Ciu Kiok, Kelelawar baru menegur:
"Mengapa kau tidak menghalangi?"
"Jika aku mampu menghalangi, pasti sudah kuhalangi" jawab perempuan itu hambar.
"Kali ini, kujamin dia tak bakalan bisa hidup terus"
"Nasib seseorang memang tak selamanya baik terus"
"Kalau sudah memahami teori tersebut, kenapa kau masih tetap membebaskan dia?"
"Kalau memang Siau Jit baru balik setelah tiga sampai lima bulan lagi, biar kubebaskan
dirinya pun tak akan berpengaruh apa apa bagi kita bukan?" ujar Suma Tang-shia hambar.
"Tapi harta karun dalam kuil Thian-liong-ku-sat . . . . . . .."
"Bukankah sudah pasti?"
"Paling tidak, mungkin dia bisa merusak rencana kita untuk mengambil harta karun"
"Aku tidak pernah mempertimbangkan sampai ke situ"
"Benar benar tak pernah?"
"Bohong!" sikap Suma Tang-shia masih begitu santai.
"Saat ini bukan saat untuk berbelas kasihan" ujar Kelelawar sambil menghela napas, "belas
kasihan terhadap musuh sama artinya bersikap kejam terhadap diri sendiri"
Suma Tang-shia tidak bicara lagi, ia terbungkam.
"Sudah begitu banyak orang yang terbunuh, kenapa musti sedih karena membunuh seorang lebih
banyak?" ujar Kelelawar lagi.
Tanpa bicara Suma Tang-shia mengangguk.
"Sebenarnya kenapa kau?" tegur Kelelawar lagi sambil menatap tajam wajah putrinya, "urusan
telah berkembang jadi begini, masa kau masih belum dapat bersikap lebih tegas dan kejam?"
Kembali Suma Tang-shia hanya tertawa hambar tanpa menjawab.
"Cepat kau singkirkan jenasah itu dari ruanganmu, jangan membuat masalah lagi" perintah
Kelelawar. Begitu selesai bicara kembali ia berkelebat keluar dari pintu kemudian merapatkannya
kembali. Suma Tang-shia masih duduk tak bergerak ditempat semula, entah berapa lama sudah lewat, ia
baru bangkit berdiri dan berjalan menuju ke bawah dinding sebelah kanan.
Sebilah pedang tergantung diatas dinding, pedang mustika penuh bertaburkan permata.
Perlahan dia menurunkan pedang itu kemudian berjalan balik ke tempat semula, duduk
kembali, setelah itu baru mencabut keluar pedang miliknya.
Pedang itu panjangnya satu meter dan bening bagai air danau, dibawah timpaan cahaya
lentera, tampak sinar bening membias ke mana mana.
Setelah mencabut pedangnya, ia letakkan kembali sarung pedang itu lalu mengambil pedang
lain dan disarungkan ke sarung pedangnya semula.
Kemudian sekali lagi dia mengambil kitab itu, kali ini sinar matanya benar benar tertuju
diatas buku. Dia tampak membaca dengan serius, membaca dengan penuh perhatian.
Suasana dalam ruangan pun pulih dalam keheningan yang luar biasa, tentu saja Ciu Kiok
sudah tak bisa merecoki atau mengganggu ketenangan Suma Tang-shia lagi.
Darah segar masih meleleh keluar dari luka di leher Ciu Kiok, meleleh ke bawah, membasahi
seluruh pakaiannya. Apakah pemandangan semacam ini pun terhitung aneh"
Oo0oo Satu li dari situ, tiga ekor kuda sedang berlarian kencang, Siau Jit berada dibarisan
paling depan. Hembusan angin telah mengacaukan rambutnya, membuat pikiran dan perasaannya ikut kalut.
Jalan raya membentang menembusi pepohonan, rembulan yang pucat masih tergantung jauh di
angkasa. Dibawah cahaya rembulan, tidak sulit bagi mereka untuk mengenali jalanan disitu.
Lui Sin dan Han Seng mengikuti dari belakang, setelah berlarian berapa saat, Lui Sin tak
kuasa menahan diri lagi, tanyanya:
"Kenapa jalanan ini seperti sebuah jalanan yang tak ada habisnya?"
"Karena kau sedang risau dan gelisah" jawab Han Seng.
"Apakah masih jauh?"
"Setelah keluar dari hutan dan berjalan setengah li lagi, seharusnya kita sudah tiba di
perkampungan Suma-san-ceng"
Tiba tiba Lui Sin seperti teringat sesuatu, kembali ujarnya:
"Ciu Kiok masih tertinggal dalam perkampungan Suma-san-ceng, mungkinkah keselamatannya
terancam?" "Seharusnya tidak, sebelum rahasia ini terbongkar, seharusnya dia aman disana"
Lui Sin menghela napas panjang.
"Aaai, bocah yang patut dikasihani, aku benar-benar menguatirkan keselamatan jiwanya"
"Hingga kini, semua peristiwa yang berlangsung masih merupakan sebuah teka teki, mau
kuatir pun tak ada gunanya" ujar Han Seng.
"Aaai, aku hanya berharap apa yang mengganjal dihati kita hanya kecurigaan tanpa dasar,
aku berharap dalam kenyataan bukanlah seperti apa yang kita duga"
"Aku pun berharap begitu" akhirnya Siau Jit ikut buka suara.
Sementara pembicaraan berlangsung, ke tiga ekor kuda tunggangan itu sudah menerjang keluar
dari hutan. Bab l9. Air mata darah untuk sahabat dekat.
Malam yang panjang belum mencapai diujungnya, langit gelap gulita bagai tinta bak,
rembulan yang condong ke langit barat, seolah setiap saat bakal tanggal dari langit dan
jatuh ke bawah. Suasana didalam ruangan terasa begitu hening, sepi, cahaya lentera begitu redup, bayangan
manusia pun begitu sendu.
Sinar mata Suma Tang-shia masih tertuju diatas bukunya, masih tetap dengan gayanya, sama
sekali tak bergoyang maupun berubah.
Dia sama sekali tak tahu sekarang waktu sudah menunjukkan pukul berapa, dia pun tak tahu
apa yang tertulis pada buku yang dibaca.
Sinar matanya membeku diatas buku, meski memandang dengan begitu serius, dalam kenyataan
tak sepatah kata pun yang masuk ke dalam benaknya.
Benak perempuan itu tidak kosong melompong, justru pikirannya sedang bergolak, menggelora
tiada habisnya. Tatapan kosong hanya pada sepasang matanya, tentu saja dia bukan orang buta, tapi
keadaannya saat ini tak jauh berbeda dengan orang buta.
Daun jendela masih terbuka, angin malam berhembus masuk membawa bau harum bunga Kui
(Osmanthus), membawa pula nyanyian pedih dari serangga.
Dia seakan tidak ambil peduli, tidak menaruh perhatian, hingga mendengar suara derap kaki
kuda yang bergema terbawa angin, tubuhnya baru gemetar, gemetar keras sekali.
Dia seakan baru merasakan dinginnya hawa malam dimusim gugur, merasakan mengigilnya tubuh.
Derap kaki kuda bergema makin dekat, lalu diiringi ringkikan panjang berhenti tak jauh
dari situ, setelah itu suasana kembali terjerumus dalam keheningan yang luar biasa.
Keheningan yang mencekam, sedemikian hening sampai serangga pun tak berani melanjutkan
lantunan lagunya yang sendu.
Dan pada saat itulah Suma Tang-shia menghela napas panjang.
Belum selesai suara helaan napasnya, suara ujung baju tersampok angin telah bergema tiba.
Akhirnya Suma Tang-shia mengalihkan tatapan matanya, dari atas buku bergeser kearah pintu,
suara ujung baju yang tersampok angin berhenti dipintu luar.
Menyusul kemudian tiga kali suara ketukan pintu bergema.
"Siapa?" sapa Suma Tang-shia sambil membenahi rambutnya yang kusut.
"Siau Jit!" "Kau, Siau kecil?"
"Didampingi Lui Sin dan Han Seng"
"Jadi mereka semua telah datang?"
"Kenapa toaci belum tidur?"
"Mungkin sedang menanti kedatangan kalian"
"Oh?" nada suara Siau Jit kedengaran sangat aneh.
"Pintu tidak terkunci, dorong saja dan silahkan masuk ke dalam"
lanjut Suma Tang-shia. "Maaf kalau mengganggu!" Siau Jit menyahut sambil mendorong daun pintu.
Cahaya lentera segera memancar diwajah Siau Jit, tampak rambutnya sudah kusut terhembus
angin, namun ia sama sekali tak letih, dibalik matanya seolah memancarkan perasaan apa
boleh buat, semacam perasaan pedih yang tak terlukis dengan perkataan.
Disaat melihat Suma Tang-shia, dia pun melihat mayat Ciu Kiok yang terduduk di bangku.
Paras mukanya sama sekali tak berubah, dia hanya menghela napas sambil melangkah masuk ke
dalam. Lui Sin dan Han Seng pun telah melihat jenasah Ciu Kick, tanpa sadar serentak mereka
memburu masuk dan menghampirinya.
Darah yang meleleh dari mulut luka Ciu Kiok dibagian leher telah berhenti, cepat Lui Sin
periksa dengus napas dayang itu, tapi paras mukanya kontan berubah jadi hijau membesi.
Berbicara dari pengalaman yang dimiliki, tentu saja diapun sudah melihat kalau Ciu Kiok
telah tewas, namun tak urung dia tetap memeriksa dengus napasnya.
Dalam keadaan seperti ini, dia sama sekali tidak merasa kalau tingkah lakunya sama sekali
tak berguna dan sangat menggelikan.
Tanpa terasa Han Seng ikut memegang pergelangan tangan kanan Ciu Kick. Tapi ia segera
menyentuh tangan yang dingin kaku, akhirnya sambil gelengkan kepala dan menghela napas,
gumamnya: "Tidak tertolong lagi!"
Dengan wajah hijau membesi Lui Sin maju selangkah, tapi ia segera dicegah Siau Jit.
"Duduk!" kata Suma Tang-shia.
Siau Jit ambil tempat duduk lebih dulu, melihat itu Lui Sin dan Han Seng duduk disamping
kiri kanannya. Suma Tang-shia menyapu sekejap para tamunya, lalu berkata:
"Kalian bertiga datang ditengah malam buta begini, maaf kalau dayangku sudah istirahat
sehingga tak ada yang sediakan minuman, mohon maaf yang sebesarnya"
"Tidak masalah . . . . . . .." sahut Siau Jit.
Perlahan Suma Tang-shia alihkan pandangan matanya ke wajah Siau Jit, sapanya sambil
menghela napas: "Siau kecil . . . . . .."
"Toacil" Siau Jit seperti ingin mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya niat itu diurungkan.
"Siapa yang telah membunuh Ciu Kiok?" sela Lui Sin tiba tiba.
"Akul" Paras muka Lui Sin berubah hebat, belum sempat ia mengucapkan sesuatu, Siau Jit telah
menukas: "Toaci menggunakan pedang, sedang bekas luka di leher Ciu Kiok adalah luka golok"
Mendengar itu kembali Suma Tang-shia menghela napas.
"Siau kecil, terkadang kau kelewat sembrono, tapi terkadang kau pun sangat teliti"
"Untung saat dia sembrono tidak terlalu banyak" sindir Lui Sin sambil tertawa dingin.
"Bagiku, hal itu sudah merupakan satu ketidak beruntungan, suatu keadaan yang tidak baik
bagiku" "Jadi sebetulnya siapakah pembunuhnya?" desak Lui Sin lagi.
Belum sempat Suma Tang-shia menjawab, Lui Sin telah bertanya kembali:
"Apakah si Kelelawar?"
Akhirnya Suma Tang-shia mengangguk.
"Siapa pula si Kelelawar itu?" desak Lui Sin lebih jauh.
"Kelelawar adalah Kelelawar"
"Yang kutanyakan adalah Kelelawar tanpa sayap gadungan itu?" teriak Lui Sin lagi tertawa
dingin. "Menurut apa yang kuketahui, Kelelawar tanpa sayap h anya ada satu orang"
"Sampai saat seperti inipun kau masih ingin membohongi kami" Apakah kau tidak tahu kalau
Ong Bu-shia belum mati, dia telah memberitahukan semua rahasia itu kepada kami?"
"Sungguh tak disangka Lui lo-enghiong pandai pula berbohong" ujar Suma Tang-shia sambil
tertawa hambar. Lui Sin tertegun. Setelah tertawa lanjut Suma Tang-shia:
"Sayangnya Lui lo-enghiong tidak terbiasa bicara bohong, karena itu walaupun saat bicara
tampak serius dan bersungguh sungguh, sayang tidak terlalu mirip"
Lui Sin mendengus dingin.
Suma Tang-shia berkata lebih jauh:
"Sang pembunuh adalah seorang jago kawakan yang amat teliti dan hati hati, sekalipun Ong
Bu-shia belum mati, aku percaya dia sudah tak sanggup banyak bicara, selain itu
sesungguhnya Ong Bu-shia sama sekali tidak tahu apa apa"
Lui Sin hanya mendengus tanpa bicara, Siau Jit segera mewakilinya:
"Sewaktu menemukan Ong Bu-shia, dia memang sudah kritis dan hampir mati"
"Ong Bu-shia adalah seorang jago kawakan dengan tenaga dalam amat sempurna, selama ia
masih bernapas, hal itu sudah lebih dari cukup"
"Dia hanya mengucapkan kata palsu sebanyak tiga kali"
"Walau hanya sepatah kata palsu pun sudah lebih dari cukup, tentunya kalian tak susah
untuk mengartikan" "Ehml" Suma Tang-shia menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya:
"Siau kecil, selama ini aku selalu mengaku bahwa kau adalah seorang yang sangat pintar"
"Sayang masih kalah jauh bila dibandingkan toaci"
Suma Tang-shia tertawa lebar.
"Jika aku adalah orang pintar, tak nanti akan bersahabat begitu akrab dengan dirimu"
Sambil menarik kembali senyumannya, ia menambahkan:
"Sekarang persoalan ini telah berkembang jadi begini, aku rasa kita pun tak usah bicara
yang tak berguna lagi"
Tanpa bicara Siau Jit manggut manggut.
Kembali Suma Tang-shia melanjutkan:
"Jaring hukum langit memang susah ditembus oleh mereka yang bersalah, kalau dibilang
kejadian ini bukan kemauan takdir, rasanya susah untuk dijelaskan, tapi kalau dibilang
kemauan langit, jika diteliti kembali, rasanya hal ini seperti mencari kematian untuk diri
sendiri" "Lagi lagi omong kosong" tukas Lui Sin.
"Betul, tapi omong kosong itupun hanya segitu saja"
"Kalau begitu jawab lah berapa pertanyaanku secara terus terang" bentak Lui Sin.
"Siapa sebenarnya Kelelawar" Mengapa dia membunuh Lui Hong" Bagaimana duduk perkara
sesungguhnya?" "Kau jawab dulu ke tiga pertanyaan itu"
"Malam ini kalian bisa muncul lagi ditempat ini, aku percaya dalam hati kalian pasti sudah
ada perhitungan, sementara apa yang harus kujawab rasanya telah kujawab semua"
"Omong kosong, omong kosong" teriak Lui Sin makin sewot.
Siau Jit menghela napas, tiba tiba tanyanya:
"Mengapa toaci harus membunuh Ciu Kiok?"
"Ia menjumpai Kelelawar masuk ke dalam bangunan loteng ini"
"Kalau begitu dia pasti menyusul kemari karena ingin menolong toaci, siapa sangka kejadian
sesungguhnya sama sekali diluar dugaannya....."
Suma Tang-shia mengangguk.
"Dia memang seorang gadis yang baik, sayang orang baik biasanya berumur pendek" katanya.
"Yang lebih disayangkan lagi adalah walau toaci tak ingin dia mati, pada akhirnya kau
tetap tak berdaya mencegahnya"
"Kau anggap hatiku begitu baik, begitu mulia?"
"Jika toaci kejam dan jahat, bisa saja kau tipu kami agar masuk ke dalam hutan bambu,
dengan bahan peledak yang terpasang dalam hutan bambu itu, sudah cukup membuat kami mati
berulang kali" Tergerak hati Lui Sin dan Han Seng, mau tak mau mereka harus mengakui bahwa apa yang
dikatakan Siau Jit memang satu kenyataan.
Suma Tang-shia terbungkam.
"Aku tahu sesungguhnya toaci adalah orang yang baik sekali hatinya" kembali Siau Jit
berkata, "atas musibah yang menimpa toaci . . . . .."
"Tak usah dilanjutkan lagi" tukas Suma Tang-shia sambil mengebaskan ujung bajunya.
"Kalau begitu siaute hanya ingin menanyakan satu hal kepada toaci, mau dijawab atau tidak,
kami segera akan pergi tinggalkan tempat ini"
"Saudara . . . . . . .." Lui Sin tampak gelisah.
"Bila ingin mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, kita bisa tanyakan hal ini kepada
Kelelawar tanpa sayap gadungan, dan sepantasnya hanya bertanya kepada dia" tukas Siau Jit.
Lui Sin mengerutkan alis matanya yang tebal, namun akhirnya mengangguk.
Maka Siau Jit bertanya lebih lanjut:
"Toaci, sekarang ke mana perginya Kelelawar tanpa sayap gadungan itu?"
"Apa rencana kalian?"
"Puluhan lembar nyawa anggota Tin-wan piaukiok, Lau Ci-he berempat . . . . . . .."
"Kau ingin menuntut keadilan dari si Kelelawar?"
"Betul!" jawaban Siau Jit sangat tegas.
"Kau anggap aku bakal memberitahukan hal ini kepada kalian?" kembali Suma Tang-shia
bertanya. Siau Jit menghela napas, belum sempat mengucapkan sesuatu, Suma Tang-shia telah berkata
lagi: "Semua yang hendak kusampaikan telah selesai kuucapkan, tinggal satu yang belum
kukatakan!" "siaute siap mendengarkan"
"Mulai malam ini, hubungan kita berdua putus sampai disini!"
Siau Jit tertegun. Dengan gerakan cepat Suma Tang-shia telah meloloskan pedang miliknya.
Pedang yang telah keluar dari sarungnya bergetar di angkasa, dibawah pantulan cahaya
lentera tampak sekilas cahaya yang menyilaukan mata.
Serentak Lui Sin dan Han Seng ikut meloloskan senjata, mereka siap siaga menghadapi segala


Www.ceritasilatcersil.blogspot.com Cerita Silat ~ Kumpulan Cersil Terbaik Kelelawar Tanpa Sayap

kemungkinan. Siau Jit tidak meloloskan pedangnya, ia berkata:
"Toaci, walaupun kita sudah bukan teman lagi, aku tak bakal menganggap kau sebagai
musuhku, pertemuan malam ini kita sudahi sampai disini saja, siaute mohon diri"
"Saudara Siau, ini . . . . . . .." Lui Sin berteriak cemas.
Siau Jit ulapkan tangannya sambil menukas:
"Jangan kuatir cianpwee, cayhe sudah mempunyai perhitungan"
Lui Sin berkerut kening, tapi akhirnya dia menurut:
"Baik, aku turuti perkataanmu"
Bicara sampai disitu, ia segera berjalan mendekati mayat Ciu Kiok dan siap membopongnya.
Saat itulah Suma Tang-shia telah menyentil pedangnya, "Nguuung!" dengungan nyaring b ergema
memekikkan telinga, dengan gerakan refleks Lui Sin melompat mundur.
"Untuk memasuki bangunan loteng ini memang gampang, tapi bukan urusan gampang lagi bila
ingin tinggalkan tempat ini!" seru perempuan itu.
"Maksud toaci . . . . . . .."
"Terobos dulu pedangku ini!"
"Selain cara itu . . . . . .."
"Tak ada pilihan lain!" jawaban Suma Tang-shia amat serius.
Kembalu Lui Sin mendengus.
"Hmm, sudah lama aku orang she-Lui ingin menjajal sampai dimana kehebatan ilmu pedang
Tui-mia-kiam dari keluarga Suma"
"Makanya inilah kesempatan baik untukmu, jangan kau lepaskan dengan begitu saja . . . . . .."
"Kau tak usah kuatir!"
Kembali Suma Tang-shia mengalihkan pandangan matanya ke wajah Siau Jit, serunya:
"Cabut keluar pedang pemutus usus mu!"
Dengan cepat Siau Jit menggeleng.
"Toaci, diantara kita berdua seharusnya masih tersedia jalan lain"
"Sebenarnya ada, hanya sayang kalian menerjang masuk kemari, jadi tak mungkin bisa
dibicarakan jalan lain, aku percaya kau pasti paham bukan"
Siau Jit terbungkam. Han Seng yang selama ini hanya berdiam diri, tiba tiba ikut menimbrung:
"Nona pun seorang yang tahu urusan dan mengerti keadaan, kalau memang tidak tersangkut
dalam urusan ini . . . . . .."
"Siapa bilang aku tidak tersangkut dalam peristiwa ini?" tukas perempuan itu cepat.
"Aku yakin kematian yang menimpa rombongan pengawal barang dari Tin-wan-piaukiok sama
sekali tak ada sangkut pautnya dengan nona"
"Itu memang kenyataan"
"Yang mencincang tubuh Hong-ji dan menggorok leher Ciu Kick pun bukan nona"
"Inipun kenyataan"
Tapi dengan nada dingin perempuan itu menambahkan:
"Walaupun semua kejadian tak ada kaitannya dengan aku, namun aku bersikeras tetap ingin
mencampurinya. Meski hal tersebut sukar dipahami, tapi aku percaya kalian tentu bisa
memahaminya bukan?" Kontan Han Seng terbungkam.
Sambil menyilangkan pedangnya didepan dada, kembali Suma Tang-shia berkata:
"Seharusnya saat ini aku sudah tidak berada disini, aku tetap disini karena memang sengaja
hendak menunggu kedatangan kalian"
ll "Aaai, ternyata toaci pun seorang yang cerdas Siau Jit menghela napas panjang.
"Begitu juga dengan kau" kata Suma Tang-shia dengan suara berat, "bisa sampai disini
sebelum fajar menyingsing, membuktikan bahwa aku tidak salah melihat"
"Ucapan terakhir Ong Bu-shia menjelang ajalnya sangat membantu kami"
"Sejak awal, peristiwa ini memang mengandung banyak titik kelemahan, sekalipun tak ada
petunjuk dari Ong Bu-shia, cepat atau lambat kalian toh tetap akan datang kemari"
"Mungkin saja" Siau Jit seperti ingin mengucapkan sesuatu, tapi kemudian diurungkan.
Perlahan-lahan Suma Tang-shia mengalihkan pandangannya ke ujung pedang, ujarnya lagi
dingin: "Pedang adalah benda yang tak kenal belas kasihan, aku harap kau lebih berhati hati"
Bahkan nama panggilan pun kini telah dirubah.
Siau Jit menghela napas, ujarnya:
"Biarpun pedang tak kenal belas kasihan, namun manusia punya perasaan, kalau tidak, tak
nanti toaci akan peringatkan aku agar berhati hati"
"Aku tak lebih hanya suruh kau hati hati"
Begitu selesai bicara, ia sudah bangkit berdiri, udara seputar sana pun seketika
diselimuti hawa pembunuhan yang kental.
Mimik muka Siau Jit ikut berubah jadi serius dan berat.
Berkilat sinar mata Lui Sin, serunya:
"Saudara Siau, apa yang harus kami lakukan?"
Belum lagi Siau Jit menjawab, Suma Tang-shia telah berkata lebih dulu:
"Bukan dia yang akan memutuskan apa yang harus kalian lakukan!"
"Lalu siapa?" "Aku! Pedang dalam genggamanku!"
Tiba tiba ia membentak keras:
"Lihat pedang!"
Mendadak tubuhnya melambung sambil menerjang ke depan.
Belum lagi serangannya tiba, hawa pedang yang kuat telah menyelimuti seluruh ruangan,
seketika cahaya lentera ikut padam.
Serangan itu terdiri dari tiga gerakan, masing masing menusuk Siau Jit, Lui Sin dan Han
Seng. Hampir setiap tusukan yang dilakukan cepat lagi telengas, yang diancampun tempat mematikan
ditubuh ke tiga orang itu.
Tusukan untuk Siau Jit terarah ke jantungnya, tusukan untuk Lui Sin diarahkan ke
tenggorokan, sementara tusukan untuk Han Seng tertuju ke ujung antara kedua alis matanya.
Semula pedang Siau Jit masih berada dalam sarung, namun dengan gerakan cepat tahu tahu
sudah dicabut keluar dan menangkis tusukan yang terarah ke jantung itu.
"Triiiing!" percikan bunga api memancar ke empat penjuru disaat kedua bilah pedang itu
saling membentur, andaikata Siau Jit tidak menghindar atau menangkis, niscaya tusukan itu
akan menembusi jantungnya.
Pada saat yang bersamaan, Lui Sin dan Han Seng telah menangkis pula ancaman yang tertuju
ke arahnya. Sambil merangsek maju, teriakan Han Seng:
"Dengan tiga melawan satu, biar kami berhasil merobohkan diri pun tidak dianggap sebagai
kemenangan yang sah, bahkan orang persilatan pasti akan menuduh kami sebagai orang dewasa
tak tahu diri yang pandainya menganiaya anak perempuan . . . . .."
Suma Tang-shia tertawa dingin, tukasnya:
"Pertarungan pada malam ini hanya diketahui kita berempat, buat apa kau ngaco belo omong
kosong!" "Kalau begitu biar aku orang pertama yang akan menghadapi dirimu!" bentak Han Seng
nyaring. Pedangnya segera dikembangkan, diantara kilauan cahaya perak, secara beruntun dia
lancarkan belasan tusukan ke tubuh perempuan itu.
Dengan cekatan Suma Tang-shia bergerak kian kemari, sambil berkelit ejeknya:
"Bagaimana kalau kau kalah?"
"Biar harus gadaikan nyawa pun aku tetap akan turun tangan!"
"Baikl" seru Suma Tang-shia.
Ia bergerak cepat, "Triiing, triiing, triiiing!" secara beruntun dia sambut tiga buah
serangan dari Han Seng sembari melancarkan satu serangan balasan, arah yang diserangpun
posisi titik kelemahan dari sistim pertahanan Han Seng, yang mau tak mau harus dilindungi.
Han Seng terkesiap, buru buru dia melompat mundur.
Menggunakan kesempatan itu Suma Tang-shia merangsek maju, secara beruntun dia lancarkan
tiga tusukan yang semuanya tertuju ke satu sasaran yang sama.
Untuk kesekian kalinya Han Seng mundur.
Suma Tang-shia sama sekali tidak mengendorkan serangannya, kembali dia lancarkan tiga
belas tusukan, dalam waktu singkat seluruh tubuh Han Seng sudah terbungkus dalam lapisan
cahaya lawan, serangan itu diakhiri dengan sebuah tusukan kilat yang langsung menusuk
ujung alis matanya. Han Seng segera mencongkel pedangnya keatas menyongsong datangnya ancaman itu, siapa tahu
serangan maut dari Suma Tang-shia itu hanya serangan kosong.
Ketika Han Seng mencongkel pedangnya ke atas, mendadak ia berganti gerakan, tahu tahu ia
tusuk ketiak kiri Han Seng, dimana pedangnya tak mungkin bisa dipakai untuk menangkis.
"Triiing!" ternyata ujung pedang itu menusuk diatas mata golok lawan.
Rupanya Lui Sin yang menyaksikan datangnya bahaya segera melancarkan satu bacokan yang
persis menerima datangnya tusukan ke arah tubuh Han Seng itu.
Berubah hebat paras muka Han Seng, sambil menghentakkan kakinya dia langsung mundur.
Lui Sin segera menggantikan posisinya maju menyerang, golok emasnya menciptakan segulung
angin serangan menyapu kaki Suma Tang-shia dari bawah.
Serangan golok belum tiba, Suma Tang-shia sudah melambung ke udara dan melompat naik
keatas bangku. Dibawah berkelebatnya sinar golok, bangku itu seketika hancur berantakan, tapi disaat
cahaya serangan itu menggulung tiba, tubuh Suma Tang-shia telah melambung kembali ke
udara, lalu sambil berputar bagai roda kereta, ia menyelinap ke belakang Lui Sin dan turun
dipunggung bangku yang lain.
Tanpa mengubah gerak serangan goloknya, Lui Sin bergerak cepat dengan ikut menggelinding
ke arah sana. Walaupun posisinya saat itu membelakangi Suma Tang-shia, namun dari desingan angin, ia
sudah tahu ke arah mana perempuan itu bergerak.
Tapi baru saja tubuh berikut goloknya menggelinding kearah bangku itu, tiba tiba saja ia
menghentikan semua gerakannya.
Rupanya jenasah Ciu Kiok berada dibangku itu, andaikata ia melanjutkan serangan, niscaya
bacokan goloknya akan menghajar jenasah tersebut.
Begitu ia berhenti sejenak, Suma Tang-shia berikut pedangnya telah meluncur balik.
Selisih jarak kedua orang itu sangat dekat , bagaimana pun reaksi yang bakal dilakukan Lui
Sin, tampaknya sudah berada dalam perhitungan dan target perempuan itu, tusukan pedang
yang dilancarkan persis mengarah titik kelemahan itu.
Cahaya pedang berkilat cepat, buru buru Lui Sin menangkis dengan goloknya, sementara
langkah tubuhnya mundur sejauh setengah tombak.
Bacokan golok itu gagal membendung seluruh serangan pedang lawan, kendatipun dia mundur
tepat waktu, tak urung pakaian dibagian dadanya tersambar juga hingga robek panjang.
Suma Tang-shia sama sekali tidak melakukan pengejaran, dengan pedang disilangkan didepan
dada, ia tatap Siau Jit dengan pandangan dingin.
Dipihak lain, Lui Sin sudah siap menerjang maju lagi setelah mundur dan memutar goloknya,
tapi pada saat bersamaan Suma Tang-shia telah berpaling, tegurnya sambil menatap tajam
wajah lawan: "Kau sudah kalah, mau apa sekarang?"
"Hmm, mencari kemenangan dengan menggunakan akal licik, tidak terhitung kepandaian
sesungguhnya" dengus Lui Sin. Suma Tang-shia tertawa dingin.
"Hmm, mencari kemenangan dengan menggunakan akal licik, tidak terhitung kepandaian
sesungguhnya" dengus Lui Sin.
Suma Tang-shia tertawa dingin.
"Ilmu silat, tenaga dalam serta kecerdasan otak merupakan berapa syarat yang tak boleh
kurang bagi seorang jagoan" katanya.
"Walaupun pedangmu berhasil merobek baju dibagian dadaku, toh aku belum mati!" kata Lui
Sin lagi sambil tertawa dingin.
Suma Tang-shia menatap tajam wajah Lui Sin, tiba tiba pergelangan tangan kanannya diputar,
"sreeet, sreeet, sreeet!" ia lancarkan tiga tusukan ke udara kosong, lalu katanya:
"Bagaimana kalau kutambahi dengan tiga tusukan ini?"
Menyaksikan hal itu, berubah hebat paras muka Lui Sin.
Terdengar Suma Tang-shia berkata lebih lanjut:
"Bila kulancarkan ke tiga tusukan ini, Siau Jit pasti akan ikut campur, karena menusuk
sama seperti tidak melakukannya, maka aku urungkan niatku itu!"
"Sekarang sudah tiba giliranku" kata Siau Jit tiba tiba sambil melangkah maju.
"Kita tak boleh . . . . . . . . .."
Belum selesai Lui Sin berseru, Suma Tang-shia telah berpaling kearah Han Seng sambil
berkata: "Apakah perkataan kau orang she-Han masih masuk hitungan?"
Sebelum Han Seng menjawab, Siau Jit telah menyela:
"Sebagai orang persilatan, setiap patah kata yang telah diucapkan, tak akan bisa ditarik
lagi" "Perkataan saudara Siau benar sekali" mau tak mau Han Seng menyahut.
Kemudian kepada Suma Tang-shia ujarnya:
"Kepandaian silat maupun kecerdasan nona masih jauh diatas kemampuan kami, aku orang
she-Han harus menerima kekalahan ini tanpa membantah lagi"
"Ilmu pedang yang kau pelajari adalah ilmu pedang adu nyawa, tapi dalam pertarungan tadi
kau sama sekali tak berniat untuk adu jiwa, otomatis semua titik kelemahan pun terlihat
jelas, dalam hal ini aku yakin kau pasti lebih tahu"
Il "Sungguh tajam penglihatanmu Han Seng menghela napas, "aku rasa biar musti beradu nyawa
pun, aku masih bukan tandingan nona"
Suma Tang-shia tertawa dingin.
"Paling tidak kau dapat menguras tenagaku sehingga disaat bertarung melawan golok emas,
aku tak dapat meraih kemenangan semudah itu"
Setelah berhenti sejenak, tambahnya:
"Oleh karena itu aku tetap harus berterima kasih kepadamu"
katanya. Han Seng menghela napas panjang, walaupun kekalahannya disebabkan ia tak tega, namun dalam
kenyataan dia benar benar tak sanggup untuk melancarkan serangan adu jiwa.
Kepada Lui Sin kembali Suma Tang-shia berkata:
"Perasaan anda pun kurang ganas dan telengas. Aku tak habis mengerti dengan cara apa
kalian berkelana dalam dunia persilatan dimasa lalu, tapi untuk jagoan macam kalian, aku
rasa lebih baik tetap tinggal dirumah saja, karena berkelana dengan pikiran semacam ini
hanya bikin orang kuatir saja"
Lui Sin mendengus tapi ia tidak menjawab.
Maka sambil tertawa Suma Tang-shia berkata lebih jauh:
"Manusia kasar yang semberono dan berangasan macam kau, bila tak ada pedang perak yang
selama ini memperhatikan dirimu, aku yakin sejak lama nyawamu sudah melayang"
"Lebih baik kau tak usah banyak bicara" seru Lui Sin gusar.
"Aku tahu, apa yang kuucapkan memang sampah dan omong kosong, karena kau bukan saja sudah
ternama dalam dunia persilatan, bahkan dapat hidup hingga sekarang"
Kepada Siau Jit katanya kemudian:
"Ilmu pedangmu cukup telengas, perasaan hatimu juga cukup keras dan tegas, semestinya aku
tak perlu banyak omong kosong lagi denganmu"
"Toaci . . . . . . .."
"Rubah panggilanmu!" tukas Suma Tang-shia.
Siau Jit menghela napas tanpa menjawab.
Kembali Suma Tang-shia berkata:
"Bagaimana kalau kita bertaruh?"
"Bertaruh apa?" Lui Sin mewakili Siau Jit bertanya.
"Jika Siau Jit menang, aku tak akan bicara apa apa lagi, sebaliknya kalau kalah, kalian
harus sudahi sampai disini saja!"
"Ini tidak adil"
"Kalau aku sudah jadi orang mati, apa lagi yang bisa kukatakan?"
Lui Sin tertegun. Sambil tertawa dingin seru Suma Tang-shia:
"Aku sangka kau bukan orang yang goblok, tak disangka kau tidak memahami maksudku"
Lui Sin terbungkam tidak bicara.
Kembali Suma Tang-shia berpaling kearah Siau Jit sambil bertanya:
"Kau mau bertaruh tidak?"
"Apakah aku bisa tidak bertaruh?"
"Tidakl" sahut perempuan itu tertawa.
Senyumannya lebih dingin dan beku daripada salju, begitu juga nada ucapannya, begitu
selesai bicara, pedangnya telah bergerak melancarkan serangan.
Cahaya pedang berkilauan dibawah sinar lentera, bagai sambaran petir langsung menusuk
tenggorokan lawan. Siau Jit segera menangkis dengan pedangnya, jurus dan gerakan yang dia lakukan tidak lebih
lambat dari Suma Tang-shia, begitu pedangnya menyambar, perubahan jurus pun dilakukan
silih berganti, "Triiing, triiing, triiing" dalam waktu singkat ia sudah menyambut
sembilan belas jurus serangan lawan.
Sungguh hebat gerak serangan dari Suma Tang-shia, jurus yang satu lebih cepat daripada
jurus yang lain, begitu kuat dan hebatnya kekuatan tubuh perempuan ini, bukan saja membuat
Lui Sin dan Han Seng terperanjat, Siau Jit sendiripun sempat dibuat tercengang.
Pemuda itu tak berani gegabah, namun ia hanya bertahan tanpa melakukan serangan balik.
"Triing, triiing" dentingan nyaring berkumandang tiada hentinya, serangan yang dilancarkan
Suma Tang-shia telah mencapai puncak kehebatannya, dalam sekejap mata ia sudah melancarkan
seratus tujuh puluh dua tusukan.
Setiap tusukan mengandung kekuatan yang mampu mencabut nyawa Siau Jit.
Dengan cepat lawan cepat Siau Jit hadapi setiap serangan yang tiba, ketika mencapai jurus
ke seratus tujuh puluh satu, dia sudah tak mampu mempertahankan diri lagi.
Satu tusukan kilat dari Suma Tang-shia langsung tertuju ke ulu hati anak muda itu.


Www.ceritasilatcersil.blogspot.com Cerita Silat ~ Kumpulan Cersil Terbaik Kelelawar Tanpa Sayap

Tak disangkal lagi gerak serangan yang dia lakukan jauh lebih cepat daripada Siau Jit,
walaupun selisih tidak banyak, namun sudah lebih dari cukup.
Siau Jit sadar kalau dia tak akan mampu mempertahankan diri, tangkisan pedangnya juga tak
bakal berhasil, cepat dia melompat mundur.
Suma Tang-shia tidak berhenti sampai disitu, dengan gerak serangan tak berubah, ia
menyusul dari belakang. Bicara tentang ilmu meringankan tubuh, sudah jelas kemampuannya masih diatas Siau Jit,
akibatnya walaupun pemuda itu sudah mengubah gerakan tubuhnya dengan belasan ilmu, ia
masih gagal melepaskan diri dari kejaran lawan.
Namun pemuda itu tidak putus asa, kembali ia berganti dengan tiga gerakan badan dan
akhirnya berhasil juga meloloskan diri.
"Toaci" serunya kemudian, "kepandaian ilmu pedangmu sangat hebat, jauh melebihi
kemampuanmu dimasa lampau, siaute benar benar merasa kagum!"
Suma Tang-shia tertawa dingin.
"Jika kau tetap tidak membalas, tak usah tiga ratus gebrakan pun kau pasti akan terluka
diujung pedangku!" katanya.
"Aku percaya!" Sementara pembicaraan masih berlangsung, kedua orang itu kembali bertarung ratusan
gebrakan. "Bila kau mampu menyambut Tui-mia-samrkiam dari keluarga Suma, aku tak akan banyak bicara
lagi!" seru perempuan itu.
Tubuhnya yang dilapisi cahaya pedang segera melambung ke udara, pedang yang berada dalam
genggaman pun tiba tiba berubah jadi ratusan bilah pedang yang secara bersama menusuk
tubuh Siau Jit. Berkilat mata Siau Jit melihat hal itu, pedangnya cepat berubah, secara beruntun dia
mengubah diri sebanyak tujuh kali.
Dengan gerakan pertama dari tujuh jurus Toan-ciong-jit-si, dia patahkan serangan jurus
pertama dari Tui-mia-kiam yang dilakukan Suma Tang-shia.
Kembali Suma Tang-shia melambung ke udara, dari s ana ia mengubah gerakan tubuhnya tiga
kali dan berganti jurus tiga kali.
Selapis jaring pedang yang rapat segera tersebar keluar dari tubuhnya, mengurung sekujur
badan Siau Jit. Bersamaan waktu Siau Jit ikut berganti jurus serangan, selain menyerang diapun bertahan,
tiga gerakan dari ilmu pedang Toan-ciang-jit-si dilancarkan dengan gencar untuk
membuyarkan kurungan jaring pedang lawan.
Suma Tang-shia membentak nyaring, bayangan pedangnya ditarik lalu secepat kilat menusuk
keluar. Kali ini dia hanya melancarkan sebuah tusukan, namun dibalik tusukan itu justru terkandung
perubahan yang amat rumit, luar biasa hebatnya!
Lui Sin dan Han Seng yang mengikuti jalannya pertarungan dari sisi arena pun tak dapat
melihat arah mana yang menjadi sasaran.
Begitu juga dengan Siau Jit, ia tak bisa meraba bagian mana yang bakal diserang perempuan
itu, empat jurus pertahanan segera dilancarkan.
Dalam empat jurus tadi tersimpan dua puluh delapan jenis perubahan, namun tetap gagal
membendung tusukan maut dari Suma Tang-shia.
Tusukan itu bagai air raksa yang tersebar di lantai, dengan kecepatan tinggi menyusup
masuk melalui posisi yang sama sekali tak terduga.
Cepat Siau Jit melancarkan lagi dua gerakan serangan, satu gerakan dengan tujuh perubahan,
dua gerakan dengan empat belas kemungkinan, hingga perubahan ke empat belas ia baru
mendengar suara "Triiingl , hampir pada saat bersamaan ia dapat melihat dengan jelas kalau
tusukan dari Suma Tang-shia sedang diarahkan ke tenggorokannya.
Tusukan pedang itu pada akhirnya terhadang oleh perubahan terakhir dari enam jurus
serangannya, sekalipun gagal menghadangnya namun arah sasaran terlihat jelas.
Dengan gerakan spontan Siau Jit menggetarkan pedangnya, jurus terakhir dari Toan-ciang-
jit-si pun dengan cepat dilancarkan.
Jurus serangan ini tetap mengandung tujuh jenis perubahan.
Perubahan pertama, pedang telah mengunci datangnya serangan, perubahan kedua menempel
diatas mata pedang lawan, perubahan ketiga, sebuah tangkisan yang membuat senjata Suma Tang-shia terkunci diluar, perubahan ke empat membabat ke bawah, perubahan ke lima
berputar kencang lalu pedang itu pun menusuk ke dalam perut perempuan itu.
Semua perubahan berlangsung dengan kecepatan luar biasa, sebab bila Siau Jit tidak
menggunakan gerakan ke tujuh dari ilmu pedang pemutus ususnya, dia pasti akan tewas
tertembus tusukan pedang Suma Tang-shia yang mengarah tenggorokannya.
Dan begitu serangan dilancarkan, maka tiada peluang lagi baginya untuk membatalkan.
Bahkan dia sendiripun tak sanggup mengendalikan perubahan dari gerak serangannya.
"Triiiingl" pedang dalam genggaman Suma Tang-shia terjatuh ke tanah, kemudian sepasang
tangannya digunakan untuk memegangi perut sendiri.
Serangan telah berhenti, pedang pemutus usus telah dicabut keluar dari perut Suma
Tang-shia, semburan darah segar pun berhamburan dari balik mulut luka.
Ketika tetesan darah pertama belum jatuh ke tanah, Siau Jit telah menancapkan pedangnya
ditanah, dia gunakan sepasang tangannya untuk merangkul tubuh Suma Tang-shia sambil
jeritnya: "Toaci . . . . . . .."
"Ubah panggilanmu!"
"Tak mungkin bisa dirubah!" dengan cepat Siau Jit menotok berapa buah jalan darah penting
ditubuh perempuan itu. Suma Tang-shia tertawa sedih, ujarnya:
"Tahukah kau, semuanya itu tak berguna, orang pintar macam kau, kenapa harus melakukan
perbuatan sebodoh ini?"
Siau Jit tak sanggup berkata kata lagi.
Setelah menghela napas ujar Suma Tang-shia:
"Aku tahu, tujuh jurus ilmu pedang pemutus usus mu pasti dapat mematahkan tiga jurus ilmu
pedang pengejar nyawa dari keluarga Suma, sungguh tak kusangka perubahan pedangmu ternyata
begitu banyak dan tak terhingga"
Nada suaranya telah berubah sedikit parau.
Siau Jit menghela napas panjang, bisiknya:
"Toaci . . . . . .. "Sudah berulang kali kusaksikan ilmu pedang pemutus usus mu, dalam perkiraanku semula, aku
telah berhasil menguasahi semua perubahan yang kau lakukan, ternyata..... kau memang
jagoan masa depan, aku tak mampu menandingimu!"
"Kepandaian toaci pun tak kalah hebatnya"
Suma Tang-shia menggeleng, ujarnya:
"Kalau bukan aku pernah melihat jurus pedangmu, ilmu pedang pengejar nyawa dari keluarga
Suma paling banter hanya mampu menyambut lima jurus seranganmu"
Setelah tertawa lanjutnya:
"Nama besar ilmu pedang pemutus usus ternyata memang bukan nama kosong, Siau kecil,
kepandaianmu luar biasa"
Senyumannya kelihatan begitu sendu dan pedih, membuat Siau Jit merasakan hatinya hancur
lebur, keluhnya: "Toaci, sejujurnya aku tak ingin membunuhmu"
"Sayang kau sama sekali tak mampu mengendalikan perubahan dari gerak seranganmu, dan
sungguh beruntung kau tak mampu mengendalikan, kalau tidak bukan aku yang mati, melainkan
kau!" Setelah tertawa merdu, tambahnya:
"Sejak awal aku sudah pengen mati diujung pedangmu, sekarang harapanku sudah terkabulkan,
apa lagi yang harus kukatakan"
Senyuman itu kelihatan begitu manja dan menawan, namun dalam pandangan Siau Jit justru
terasa begitu memedihkan, begitu memilukan hati.
Sambil tertawa bisik Suma Tang-shia:
"Siau kecil, kau harus baik baik jaga diri . . . . . . . .."
Belum selesai berkata, kepalanya sudah roboh ke samping, dengan senyuman masih dibibir ia
menghembuskan napas terakhir dalam pelukan Siau Jit.
Ketika matanya terpejam, tiba tiba air mata meleleh keluar membasahi pipinya.
Siau Jit tidak bergerak, diapun tak bersuara, hanya berdiam diri disitu bagai patung.
Menyaksikan hal itu, Han Seng dan Lui Sin merasa ikut bersedih hati, untuk berapa saat
mereka ikut berdiri termangu.
Angin berhembus masuk lewat jendela, cuaca diluar kamar tampak semakin hitam pekat,
biarpun malam belum mencapai ujungnya namun jaraknya dengan fajar masih amat jauh.
Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Siau Jit menghembuskan napas dan menggunakan
tangannya untuk mengusap air mata di wayah Suma Tang-shia.
Air mata belum mengering, tapi sudah berubah jadi dingin karena tiupan angin malam.
Kulit badan Suma Tang-shia mulai berubah jadi dingin dan kaku, tanpa mengucapkan sepatah
kata pun Siau Jit membopong jenasah Suma Tang-shia, bergeser ke depan pembaringan dan
membaringkannya disana. Dia menarik selimut yang ada dipembaringan dan ditutupkan ke tubuh Suma Tang-shia, sesudah
menurunkan kelambu baru mundur dari situ.
Kini pakaian berwarna putih yang dia kenakan telah berpelepotan darah, itulah pakaian yang
dijahit Suma Tang-shia untuk dirinya, bahkan perempuan itu pula yang membantunya untuk
kenakan, tapi sekarang telah dinodai oleh darah dari Suma Tang-shia.
Kalau dibilang inilah kehendak takdir, rasanya kelewat ironis, kelewat memedihkan hati.
Siau Jit berjalan menghampiri pedangnya, mencabut keluar pedang pemutus usus itu dari
tanah, tiada noda darah barang setetespun yang membasahi senjatanya.
Setelah menghela napas panjang, katanya:
"Mari kita pergi!"
"Pergi ke mana?" tanya Lui Sin seolah baru mendusin dari impian buruk.
"Thian-liong-ku-sat!"
Kembali Lui Sin tertegun.
"Mau apa pergi ke kuil Thian-liong-ku-sat?"
"Mencari Kelelawar"
"Kelelawar gadungan?"
"Mungkin saja yang asli pun berada disana"
"Mana mungkin mereka akan pergi ke kuil Thian-liong-ku-sat?" tanya Han Seng keheranan.
"Tentu saja, karena mereka sedang mencari harta karun milik Kelelawar"
Ia berbicara dengan nada yakin, membuat Han Seng dan Lui Sin yang mendengar jadi
tercengang, belum sempat bertanya, Siau Jit telah berkata lagi:
"Ciu Kick bukan tewas ditangan Suma Tang-shia"
"Tadi, Suma Tang-shia sudah mengakui" sahut Han Seng.
"Tak diragukan lagi, sang pembunuh adalah si Kelelawar . . . . .. Kelelawar tanpa sayap
gadungan" "Seharusnya begitu"
"Setelah membunuh Lau Ci-he dan merampas golok Kelelawar milik gadis itu, seharusnya dia
mendahului kita dengan pergi mencari Hek Botan dan Pek Hu-yung, tapi nyatanya dia malah
terburu buru balik kemari, hal ini hanya menjelaskan akan satu hal"
Tergerak hati Han Seng. "Apakah dengan mendapat tambahan golok Kelelawar milik Lau Ci-he, ia telah menemukan
rahasia yang berada dalam golok golok tersebut?"
Siau Jit mengangguk. "Padahal sarang Kelelawar yang terdekat adalah kuil Thian-liong-ku-sat"
"Rasanya apa yang kau katakan sangat beralasan"
"Kalau dilihat sepintas seakan tak ada apa apanya disana, karena Kelelawar gadungan pasti
tak akan melepaskan setiap jengkal tempat yang berada dalam kuil Thian-liong-ku-sat"
"Rasanya begitu"
"Tapi manusia sepintar Kelelawar, bila dia ingin menyimpan sebuah rahasia, sudah pasti
akan dicarikan sebuah cara yang sama sekali diluar dugaan dan amat susah ditemukan"
"Sebenarnya rahasia apa yang ada disana?"
"Mungkin saja harta karun milik Kelelawar yang tak terhitung jumlahnya, mungkin juga kitab
pusaka ilmu silatnya yang menakutkan, tapi yang pasti barang barang itu sudah tentu bukan
patung pahatan yang kita temukan"
"Patung pahatan itu . . . . . . .." Han Seng tertegun.
"Itulah karya seni yang dibuat dan dikumpulkan si Kelelawar sepanjang hidupnya, mungkin
dalam pandangan orang lain, barang barang itu hanya sampah, sama sekali tak ada harganya,
tapi bagi Kelelawar pribadi, mungkin tiada benda lain yang bisa ditandingkan dengan karya
karya seninya itu" "Bila dalam kenyataan harta karun yang dimaksud hanyalah karya seni itu, setelah tahu
duduk perkara yang sebenarnya, mungkin Kelelawar gadungan bisa mati saking jengkelnya"
"Kemungkinan seperti itu kecil sekali, kalau hanya barang seni, kenapa Kelelawar musti
menyimpan rahasianya dalam tiga belas bilah golok Kelelawar" Padahal tidak susah untuk
menemukan ruang rahasia dalam kuil Thian-liong-ku-sat"
Han Seng termenung sebentar, katanya kemudian:
"Kelelawar meninggalkan pula rahasia itu untuk orang awam, padahal dimata orang awam,
tiada benda lain yang lebih menarik daripada harta karun dalam jumlah banyak"
"Konon Kelelawar memiliki kekayaan melebihi sebuah negeri, disaat dia lenyap, setahuku
banyak orang persilatan yang mulai melacak dan mencari jejak harta peninggalannya, oleh
karena itu rahasia yang dimaksud sudah pasti rahasia harta karun"
"Menurut dugaan kalian, siapakah Kelelawar gadungan itu?" tiba tiba Han Seng bertanya.
"Suma Tionggoan, dan hanya Suma Tionggoan yang bisa memaksa Suma Tang-shia untuk bersikap
begitu" Siau Jit menghela napas panjang, katanya:
"Tadi, walaupun toaci tidak menjelaskan, namun dari nada pembicaraannya, dia sudah
mengakui akan hal itu"
"Betul" "Tapi persoalannya sekarang adalah Suma Tionggoan pun seseorang yang kaya raya, buat apa
lagi dia mencari uang sebanyak itu?"
Mendadak Lui Sin mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.
Han Seng tidak habis mengerti, diamatinya saudara tuanya itu dengan tertegun.
Setelah tertawa keras, ujar Lui Sin:
"Itulah sebabnya saudaraku, kau tak pernah berhasil menjadi seorang pedagang sukses, masa
persoalan sekecil inipun tidak kau pahami?"
"Silahkan toako jelaskan"
"Kapan kau pernah mendengar ada orang menampik punya uang banyak?"
"Benar juga" sahut Han Seng setelah termenung.
"Semakin kaya seseorang semakin suka dia dengan uang, kalau dia tak suka uang, tak mungkin
dia akan jadi orang berduit, semakin suka uang tentu saja makin banyak dia semakin senang"
"Aaai, aku rasa inilah alasannya mengapa ia berbuat begitu" Han Seng menghela napas.
Lui Sin berpaling dan memandang jenasah Suma Tang-shia sekejap, katanya kemudian:
"Aku rasa nona Suma benar benar kelewat bodoh"
Siau Jit ikut menghela napas, ujarnya:
"Selama ini aku selalu tak habis mengerti kenapa ia hidup uring uringan dan tak pernah
gembira, lelaki macam apa pun tak pernah dipandang sebelah mata olehnya, tapi sekarang,
akhirnya aku tahu juga jawabannya"
"Kelelawar terkutuk, entah berapa banyak anak gadis yang dicelakai olehnya" sumpah Lui
Sin. II "Suma Tionggoan pun pantas mampus kata Han Seng pula, "sudah tahu anak gadisnya jadi
korban kebrutalan Kelelawar, kenapa ia justru menyaru jadi Kelelawar dengan mencelakai
anak gadis lain" "Mungkin dia sudah mendekati edan"
"Harta karun memang gampang membuat orang jadi edan, demi mendapatkan rahasia dari
Kelelawar, mungkin dia telah menggunakan segala cara, oleh karena tidak berhasil maka pada
akhirnya dia menempuh cara ini, menyamar jadi Kelelawar tanpa sayap"
"Aku tetap masih belum mengerti" ujar Lui Sin.
"Kelelawar telah menjadi orang idiot" kata Siau Jit, "bila ingin dia mengungkap
rahasianya, aku percaya hanya ada satu cara..... yakni memulihkan kembali daya
ingatannya!" "Ooh?" "Untuk bisa mencapai tujuan tersebut, dia harus memberikan rangsangan yang besar kepada
Kelelawar, tentu saja aku tak bisa menjelaskan apa alasannya, tapi yang pasti ketika
seorang yang kehilangan ingatan melihat seseorang yang hampir mirip dengan dirinya dan
menyaksikan dia melakukan pelbagai perbuatan yang pernah dia lakukan dimasa lalu, aku
percaya perlahan lahan daya ingatnya pasti akan pulih kembali"
"Seharusnya begitu" teriak Han Seng sambil bertepuk tangan, "kenapa selama ini kita tak
pernah memikirkannya?"
"Hal ini dikarenakan selama ini kita tak tahu kalau terdapat dua orang Kelelawar tanpa
sayap" "Yaa, siapa yang menduga?" gumam Lui Sin sambil tertawa getir.
"Mengenai apakah Kelelawar tanpa sayap gadungan benar Suma Tionggoan atau bukan, meski
sampai sekarang belum dapat dipastikan, tapi untuk membuktikan kebenarannya, kita masih
harus mendapatkan bukti"
"Jika dugaanmu tak salah, seharusnya masalah ini segera akan jadi terang benderang"
Siau Jit mengangguk, tanpa bicara lagi ia berjalan meninggalkan ruang kamar itu.
Kegelapan malam masih mencekam seluruh jagad, meski fajar sudah hampir tiba, namun masih
selisih jangka waktu yang cukup lama.
Bab 20. Kelelawar, Kelelawar.
Malam semakin kelam, angin berhembus makin kencang.
Rerumputan ilalang bergoyang menimbulkan suara gemerisik, seakan ada begitu banyak sukma
penasaran yang bergerak kian kemari, bergerak tiada hentinya.
Cahaya rembulan terasa begitu redup, bayangan hitam dibalik bangunan yang bobrok tampak
bagai setan gentayangan yang sedang bersembunyi disana.
Sesungguhnya kuil kuno Thian-liong-ku-sat memang sebuah tempat yang menyeramkan, khususnya
ditengah malam buta seperti ini, pada hakekatnya tidak mirip dengan bangunan di dunia.
Namun pada saat itulah terlihat ada dua orang manusia sedang berjalan ditengah semak,
dibalik kuil. Kedua orang itu memiliki perawakan tubuh yang hampir sama, dengan dandanan yang sama,
bahkan raut muka mereka pun sama satu dengan lainnya.
Baju berwarna hitam pekat dengan raut muka pucat pasi, warna semacam itu boleh dibilang
merupakan warna dari kematian, warna mendekati maut.
Rambut mereka yang terurai panjang berkibar terhembus angin malam, suasana mengerikan yang
tak terlukis dengan kata, menyelimuti sekeliling tempat itu, dengan munculnya kedua orang
tadi, suasana disitu pun terasa makin dingin menggidikkan.
Semak belukar yang semula tak berkabut, tiba tiba kini diselimuti kabut tebal.
Kabut malam yang dingin seakan terbawa oleh hembusan angin, seolah pula memancar keluar
dari tubuh kedua orang itu.
Bila hal ini merupakan kenyataan, maka asap putih itu bukanlah kabut malam, melainkan hawa
setan. Meskipun kedua orang itu mirip dengan setan gentayangan, namun bila dilihat lebih cermat,
rasanya sama sekali tak mirip.
Menurut cerita, setan tak punya bayangan, tapi kedua orang itu punya.
Dibawah sinar rembulan, bayangan mereka bergeser mengikuti langkah kaki, melayang ditengah
semak, melambung diatas dinding bangunan.
Hembusan angin menggoyangkan rerumputan membuat semak belukar seakan dibelah dengan golok,
membuat bayangan mereka terbelah jadi ribuan keping, namun tatkala bayangan mereka
bergeser keatas dinding, bayangan itu menyatu dan utuh kembali.
Ada banyak orang mempunyai pengalaman seperti itu, tapi jarang ada bayangan seaneh
bayangan mereka. Gerak gerik orang yang berada didepan jauh tampak normal, tapi orang yang berada
dibelakang pada hakekatnya seperti patung, gerak geriknya begitu kaku, seolah setiap organ
badannya dibelenggu dengan tali yang kuat.
Tali yang kuat itu seakan dipegang dan dikendalikan orang yang berjalan dimuka, sehingga
setiap gerakan yang dilakukan orang dibelakang pada hakekatnya hanya menirukan setiap
gerakan orang didepannya.
Cahaya rembulan menyinari pula wajah mereka, siapa pun yang kebetulan menyaksikan mereka
berdua saat itu, dapat dipastikan bakal terperanjat, terkesiap.
Walaupun raut muka mereka tidak begitu buruk, namun memancarkan sinar menyeramkan yang tak
terlukis dengan perkataan.
Yang lebih aneh lagi adalah raut muka kedua orang itu sama satu dengan lainnya, ibarat
pinang dibelah dua. Orang yang berjalan didepan adalah si Kelelawar, sedang orang yang mengikuti dibelakangnya
juga si Kelelawar. Kelelawar tanpa sayap! Rumput ilalang gemetar ditengah hembusan angin malam, lalu patah terinjak kaki ke dua
Kelelawar. Setelah menembusi halaman belakang, mereka tiba diserambi panjang, didepan lamu batu.
Kelelawar yang berada didepan menghentikan langkahnya, memperhatikan sekejap lampu itu
kemudian membungkukkan badan dan menggeser lampu batu itu ke samping.
Sebuah lorong rahasia pun muncul didepan mata.
"Turun!" Kelelawar itu berkata.
Kelelawar yang berada dibelakang selalu menirukan gerak gerik Kelelawar didepannya, dia
ikut menjerit: "Turun . . . . . .."
Gerak geriknya yang semula kaku pun berubah lebih lincah dan hidup, diiringi suara tertawa
yang aneh, selangkah demi selangkah dia berjalan masuk ke dalam lorong, menuruni undak
undakan batu. Kelelawar yang menggeser lampu batu itu ikut masuk ke dalam lorong, kemudian menggeser
balik lampu batu itu ke posisi semula.
Ke dua orang Kelelawar itupun lenyap dengan begitu saja dibawah permukaan tanah.
Meski mereka sudah lenyap, suasana menyeramkan yang mencekam tempat itu tidak berubah
karenanya.

Www.ceritasilatcersil.blogspot.com Cerita Silat ~ Kumpulan Cersil Terbaik Kelelawar Tanpa Sayap

Tempat itu sesungguhnya memang sebuah tempat yang menyeramkan.
Oo0oo Angin malam berhembus kencang di jalan raya.
Dahan dan ranting yang bergoyang karena hembusan, menimbulkan suara yang riuh, riuh bagai
tangisan setan gentayangan. Malam ini, suasana di jalan raya itupun terasa ikut
mengerikan, menggidikkan hati.
Dalam suasana seperti inilah tiga ekor kuda tampak berlarian kencang ditengah jalan raya.
Siau Jit berada dipaling depan, wajahnya sama sekali tak nampak letih, dibalik tampangnya
yang ganteng justru terselip perasaan sedih dan murung yang sangat dalam.
Lui Sin dan Han Seng mengikuti dibelakangnya, walaupun mereka tak dapat menyaksikan paras
Siau Jit, namun tahu bagaimana perasaan hati anak muda itu sekarang.
Karenanya mereka pun tidak bersuara.
Setelah berbelok satu tikungan, tibalah mereka didepan warung teh.
Warung yang roboh masih berserakan ditepi jalan, sekalipun mayat disana telah diangkut
semua, noda darah masih berceceran diseluruh lantai, kendatipun waktu itu sudah mengering.
Ditengah udara, tiada terendus lagi bau anyirnya darah.
Tapi Lui Sin seolah mengendus lagi anyirnya darah, tanpa terasa ia teringat kembali dengan
saudara saudaranya yang telah tewas, cairan darah yang mengalir dalam tubuh tiba tiba saja
mendidih, bergelora. Kalau boleh, dia ingin sekali berteriak keras:
"Sekarang juga aku berangkat untuk balaskan dendam kematian kalian!"
Han Seng sendiripun merasakan gejolak itu.
Belum sempat mereka berteriak, kuda tunggangan mereka justru berteriak lebih dulu,
berteriak secara mendadak bahkan sangat mengerikan.
Tidak terkecuali kuda yang ditunggangi Siau Jit.
Ditengah ringkikan panjang, ke tiga ekor kuda itu mengangkat kaki depannya tinggi tinggi
dan tak mau bergerak maju lagi, mereka seakan merasakan rasa kaget dan takut yang luar
biasa. Tak ada bayangan manusia didepan sana, lalu mengapa kawanan kuda itu gugup dan ketakutan"
Sambil berusaha mengendalikan kuda tunggangannya, Han Seng dan Lui Sin saling bertukar
pandangan, saling memandang dengan perasaan kaget bercamur tercengang.
"Hati hati!" tiba tiba terdengar Siau Jit membentak nyaring.
Baru selesai dia membentak, "buuuk, buukkk....." suara gaduh berkumandang dari emat
penjuru, disusul munculnya sekelompok Kelelawar dari balik hutan, terbang cepat di angkasa
langsung menyerang ke tiga kuda tunggangan itu.
Ringkikan kuda makin kencang, rontaan mereka makin kuat, hampir saja ke tiga orang itu tak
sanggup mengendalikan diri.
Golok emas pedang perak serentak dicabut keluar dari sarungnya, pedang pemutus usus pun
sudah tergenggam ditangan, ketiga orang itu dengan tatapan tajam mengawasi bangunan warung
teh itu tanpa berkedip. Dalam waktu singkat kawanan Kelelawar itu mulai menyerang, mulai menerkam dengan ganasnya.
Golok emas berkelebat lewat, diantara kilatan cahaya tajam kawanan Kelelawar itu satu demi
satu terbabat kutung dan berguguran ke tanah.
Han Seng tak berani mengayal, cahaya pedang berkilat, kawanan Kelelawar itu kembali
tersambar hingga hancur berkeping.
Hanya Siau Jit yang tidak bergerak, sementara kawanan Kelelawar itu pun tak ada yang
langsung menerjang tubuhnya, begitu tiba disekelilingnya langsung buyar ke arah lain.
Rupanya meski pedang tidak dicabut keluar, namun hawa pedang telah memancar diseputar
sana. Sekalipun hawa pedang itu tak dapat melukai orang, namun cukup membuat rontoknya nyali.
Begitu pula keadaannya ketika digunakan untuk menghadapi serangan Kelelawar, apakah
kawanan Kelelawar itupun dapat merasakan pekatnya hawa pedang"
Lui Sin dengan golok emasnya tidak berhenti menyerang, secara beruntun dia sudah menusuk
belasan ekor Kelelawar yang datang menyergap, begitu melihat pedang Siau Jit masih dalam
sarung dan kawanan Kelelawar itu seakan hendak menerjang kearahnya, tanpa sadar ia
berteriak keras: "Saudara Siau, hati hati!"
Gara gara sedikit berayal, seekor Kelelawar terbang masuk menembusi jaring goloknya,
nyaris menubruk pipinya. Dengan kaget Lui Sin mengebaskan ujung bajunya, "Plaaak!" Kelelawar itu mencelat ke
samping, ditengah kilatan cahaya golok, lagi lagi dia membabat binatang itu hingga
terpotong jadi dua bagian.
"Kawanan Kelelawar itu hanya menakut nakuti kita, tak bisa membunuh orang!" terdengar Siau
Jit menyahut. Sementara pembicaraan berlangsung, tatapan matanya masih terarah ke sebelah depan, ucapan
itu seolah tertuju untuk Lui Sin, tapi seakan bukan.
"Ooh!" Lui Sin segera menarik kembali senjatanya, dia amat mempercayai Siau Jit, seperti
dia amat mempercayai goloknya.
Pada saat bersamaan Han Seng menarik pula senjatanya.
Dikedua sisi kuda tunggangan mereka telah berserakan puluhan ekor Kelelawar, bau anyir
darah segera merambah seluruh udara.
Kawanan Kelelawar itu masih saja datang menerkam, bahkan ada berapa ekor yang menempel
ditubuh kedua orang itu. Selama hidup belum pernah Han Seng dan Lui Sin mengalami kejadian seperti malam ini, tanpa
terasa timbul perasaan ngeri dan seram dihati kecilnya, namun kedua orang itu tidak sampai
menjerit. Hanya berapa saat berapa ekor Kelelawar itu menempel ditubuh mereka berdua, kemudian
kawanan binatang itu kembali terbang melayang ke udara.
Lalu mereka pun terbang menari disekeliling tubuh ke tiga orang tersebut.
Kuda kuda tunggangan mereka meringkik ketakutan sambil berusaha meronta, untung ketiga
orang jagoan itu berhasil mengendalikan, kawanan kuda yang lambat laun mulai terbiasa
menghadapi kawanan Kelelawar yang beterbangan pun mulai bisa menenangkan diri dan berhenti
meringkik dan meronta. Tatapan mata Siau Jit sama sekali tidak berubah, saat itulah dia baru berseru lagi:
"Sudah saatnya anda menampakkan diri!"
Suara tertawa dingin segera bergema dari arah depan sana, diikuti munculnya seseorang dari
balik pepohonan. Orang itu berbaju hitam, berwajah pucat dan berambut kusut tak rapi.
Kelelawar tanpa sayap! Kelelawar tanpa sayap ke tiga!
Tentu saja Siau Jit bertiga tidak tahu kalau dalam kuil Thian-liong-ku-sat telah muncul
dua orang Kelelawar tanpa sayap, disaat kemunculan Kelelawar itu, mereka bertiga hanya
terpikirkan satu hal. Kelelawar yang menampakkan diri ini gadungan atau yang asli"
Disekeliling Kelelawar itupun tampak kawanan Kelelawar yang terbang mengiringi, mereka
tidak menukik, pun tidak menempel, seakan kawanan dayang, kawanan menteri yang sedang
mengiringi raja nya. Langkah kaki Kelelawar itu sangat lambat, ia berhenti kurang lebih satu meter diluar
hutan, membiarkan seluruh tubuhnya terbungkus dibalik bayang bayang kegelapan.
Siau Jit masih menatap Kelelawar itu tanpa berkedip, ia belum menegur maupun melakukan
sesuatu tindakan, Lui Sin dan Han Seng yang berada disamingnya tak kuasa menahan diri
lagi, tiba tiba mereka berteriak keras:
"Sebetulnya kau si Kelelawar asli atau gadungan?"
Si Kelelawar tidak menjawab, sepasang lengannya digetarkan sambil berpekik nyaring,
kawanan Kelelawar yang sedang beterbangan di angkasa pun seketika menukik ke bawah dan
menyerang secara membabi buta.
Bersamaan itu, tubuhnya yang ceking turut melambung ke tengah udara.
Cahaya berkilauan ditengah udara, ditangan kanan si Kelelawar tahu tahu sudah bertambah
dengan sebilah pedang. Pedang sepanjang satu meter itu secepat kilat menusuk ke arah kuda tunggangan dari Siau
Jit. Serbuan kawanan Kelelawar itu telah mengalutkan pikiran Siau Jit, seharusnya dapat
mengalutkan pula pandangan matanya.
Kecepatan maupun sudut serangan yang dilancarkan pedang itu lebih lebih diluar dugaan
siapa pun. Sejak awal Lui Sin dan Han Seng sudah berjaga jaga bila Kelelawar melancarkan serangan
secara tiba tiba, begitu melihat pihak lawan bergerak, serentak mereka tinggalkan kuda
masing masing dan menyongsong kedatangannya dari kiri dan kanan.
Sekalipun begitu, ternyata mereka gagal mengejar kecepatan dari serangan tersebut, belum
lagi bacokan golok dan pedang mereka mendekati sasaran, tusukan pedang si Kelelawar telah
tiba duluan didepan dada Siau Jit.
"Triiing!" suara dentingan nyaring segera berkumandang.
Pada detik terakhir sebelum serangan musuh tiba, Siau Jit telah mencabut pedangnya dan
menangkis serangan itu hingga terpental ke saming.
Dengan satu lompatan cepat ia tinggalkan kuda tunggangannya, meminjam tenaga getaran yang
terjadi ia bersalto berulang kali di udara lalu melayang turun di belakang Kelelawar.
Gagal dengan tusukan mautnya si Kelelawar segera merendahkan badan sambil memutar separuh
badan, kembali tiga tusukan berantai dilancarkan.
Pada tusukan yang pertama, dia masih selisih setengah meter dari posisi Siau Jit, tapi
pada tusukan kedua dan ketiga, ujung pedangnya sudah cukup jarak untuk menghabisi nyawa
lawan. Kesempurnaan ilmu pedang yang dimiliki orang ini jelas masih berada diatas kemampuan Suma
Tang-shia. Ternyata jurus pedang yang dia pergunakan adalah ilmu pedang Tui-mia-kiam-hoat dari
keluarga Suma. Jangan jangan dia adalah Suma Tionggoan"
Belum habis ingatan itu melintas lewat, tiga serangan maut dari si Kelelawar telah
dilancarkan, tiga jurus menyatu jadi satu, cepat, kilat dan amat lincah.
Hanya dalam satu malaman, untuk kedua kalinya Siau Jit harus berhadapan dengan Tui-mia-
sam-kiam, bahkan kali yang satu lebih dahsyat daripada kali berikutnya.
Cahaya pedang bergerak bagai sambaran petir, ditengah malam seperti ini, kilatan tersebut
masih terasa amat menyilaukan mata.
Serangan ini sedikit pun tidak lebih jelek daripada serangan dari Suma Tang-shia.
Tak diragukan lagi, hal ini sama sekali tak ada hubungannya dengan bentuk pedang, hanya
saja ilmu pedang serta tenaga dalam yang dimiliki orang ini masih jauh melebihi kemampuan
Suma Tang-shia. Dalam pada itu Lui Sin dan Han Seng telah menyusul tiba, namun sulit bagi mereka untuk
menembusi jala pedang yang terbentuk.
Tujuh jurus ilmu pedang pemutus usus dari Siau Jit telah dilancarkan serentak.
Dua bilah pedang segera saling beradu ditengah udara, "Criiing, criiing, . . . . .."
percikan bunga api pun berhamburan ke empat penjuru.
Tubuh kedua orang itu bergerak cepat, bayangan mereka seolah telah menyatu jadi satu
bayangan, dua bilah pedang yang saling menyerang pun seolah menyatu jadi sebilah pedang
saja. Bayangan pedang memenuhi angkasa, selapis jala pedang yang rapat dan kuat pun terbentang
di tengah udara, dihiasi kilauan cahaya yang memancar ke empat penjuru.
Lui Sin serta Han Seng hanya bisa berdiri tertegun, walaupun mereka dapat menyaksikan
butiran keringat sebesar kacang kedele telah membasahi wajah mereka berdua, namun kedua
orang itu hanya bisa menonton dengan perasaan panik bercampur gundah.
Sesungguhnya mereka ingin sekali membantu Siau Jit, namun sayang kekuatan mereka tak mampu
untuk turut campur, tentu mereka pun sadar, membantu tanpa mengetahui keadaan yang
sebenarnya bukan saja tak akan membantu, bahkan bisa jadi malah akan mencelakakan Siau
Jit. Mereka cukup mengerti akan kelihayan ke tiga jurus ilmu pedang pengejar nyawa dari
keluarga Suma. Dengan kemampuan yang dimiliki sekarang, merekapun tahu kalau belum mampu menghadapi ke
tiga jurus serangan dari Suma Tang-shia, sedang Siau Jit pasti dapat melayaninya, namun
dia pun terdesak dalam posisi yang amat berbahaya.
Dan sekarang mereka pun dapat melihat bahwa kepandaian silat yang dimiliki si Kelelawar
masih jauh diatas kemampuan Suma Tang-shia.
Walaupun sadar akan kelihayan lawan dan posisi berbahaya dari Siau Jit, apa mau dikata
mereka pun tak tahu bagaimana harus terjunkan diri ikut dalam pertarungan itu.
Perubahan maupun gerak serangan pedang Siau Jit dan Kelelawar kelewat cepat, kelewat rapat
hingga sama sekali tak meninggalkan peluang bagi mereka untuk masuk.
Tujuh jurus ilmu pedang pemutus usus cepat, tepat, telengas, begitu pula dengan tiga jurus
ilmu pedang keluarga Suma, tak diragukan lagi mati hidup mereka segera akan ditentukan
dalam sekejap mata. Tangan Lui Sin dan Han Seng yang menggenggam senjata telah meradang, otot hijau pada
menonjol keluar, bila dalam penentuan mati hidup nanti Siau Jit lah yang roboh, maka tanpa
ragu mereka segera akan menerkam maju dan menyerang habis habisan.
Biarpun golok emas pedang perak masih belum mampu mengungguli kemamuan Siau Jit, namun
serangan total yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga seharusnya masih mampu untuk
menghabisi nyawa si Kelelawar.
Sebab menurut perkiraan mereka, sekalipun Siau Jit roboh, namun kondisi si Kelelawar pun
pasti tak jauh berbeda, biar tidak sampai mati pun tentu menderita luka parah.
Terhadap ilmu pedang pemutus usus milik Siau Jit, mereka menaruh kepercayaan yang sangat
tinggi. Golok dan pedang sudah siap melancarkan serangan, ketegangan mereka pun ibarat anak panah
yang sudah ditarik diatas gendawa.
Peluh dingin makin deras membasahi badan.
"Criiing, criiiing!" tiba tiba terdengar suara dentingan nyaring, bayangan pedang lenyap,
dua sosok bayangan manusia saling melintas lewat.
Siau Jit meluncur kearah kanan sejauh satu tombak setengah, pedangnya menghadap ke bawah,
tetesan darah mengalir dari ujung pedang, peluh sebesar kacang membasahi pula wajahnya.
Hanya tetesan keringat! Sebaliknya si Kelelawar meluncur kearah kiri, tangan kirinya meraih dan berpelukan disisi
sebatang pohon, pedangnya menancap ke atas tanah.
Darah segar menyembur keluar dari perutnya, membasahi seluruh permukaan tanah, akhirnya
dia buka suara: "Ternyata pedang pemutus usus memang bukan bernama kosong!"
Ternyata suara seorang wanita.
Siau Jit tertegun, begitu pula Lui Sin dan Han Seng, untuk sesaat mereka berdiri mematung.
Dengan sorot mata yang sayu dan mulai redup, si Kelelawar memandang sekejap kegelapan
langit, lalu gumamnya lagi:
"Kau jangan salahkan aku, sesungguhnya aku telah berusaha dengan sepenuh tenaga . . . . . . .."
Belum selesai ia berkata, badannya yang memeluk batang pohon sudah roboh, "Braaaam!" ia
roboh ke tanah, pedang yang menancap ditanah pun ikut patah jadi dua bagian.
Kulit wajahnya yang tergesek kulit pohon seketika mengelupas, ternyata dibalik kulit
wajahnya masih tersisip kulit wajah lain, wajah seorang wanita.
Wajah perempuan itu tidak terlampau asing bagi pandangan Siau Jit bertiga.
"Sim Ngo-nio!" teriak Lui Sin kaget.
Ternyata perempuan itu tak lain adalah adik seperguruan Suma Tionggoan yang rela jadi
budak, Sim Ngo-nio yang selama ini melayani kebutuhan Suma Tang-shia.
"Kenapa bisa dia?" seru Han Seng sambil maju dua langkah.
"Aku tahu, nenek ini pasti sedang berusaha untuk menghalangi kepergian kita ke kuil Thian-
liong-ku-sat" ujar Lui Sin dengan kening berkerut.
"Ini berarti Suma Tionggoan pasti berada dalam kuil Thian-liong-ku-sat" Han Seng
menambahkan. "Pasti!" jawab Lui Sin yakin, saat itulah ia baru teringat akan Siau Jit, buru buru
dihampirinya sambil menegur:
"Saudara Siau . . . . . . .."
"Aku tidak apa-apa" jawab Siau Jit sambil menggeleng.
Sembari membesut keringat yang membasahi jidat, Lui Sin tertawa keras.
"Hahaha, sudah kuduga, ilmu pedang pemutus usus mu memang tiada tandingan dikolong langit"
Siau Jit tertawa getir. "Andaikata aku tidak bertarung lebih dulu melawan toaci sehingga mengetahui perubahannya,
yang roboh terkapar saat ini meski bukan aku, paling tidak separuh nyawa ku sudah lenyap"
"Begitu lihaykah si nenek itu?"
"Toaci sama sekali tidak membohongi kita, tak diragukan dia memang adik seperguruan Suma
Tionggoan" "Kenapa . . . . . ..
"Sebetulnya gampang untuk dijelaskan" tukas Han Seng, "toako, masa tidak dapat kau duga?"
Lui Sin tertegun, serunya kemudian:
"Maksudmu, secara diam diam ia mencintai Suma Tionggoan?"
"Kalau bukan begitu, dengan kepandaian silat yang dimilikinya, kenapa dia rela jadi
seorang pembantu dalam keluarga Suma?"
II "Ehmm, rasanya memang ada kemungkinan begitu kata Lui Sin kemudian setelah berpikir
sebentar, "andaikata begitulah kenyataannya, aku rasa Suma Tionggoan sedikit kelewat
kejam" "Urusan cinta dan perasaan adalah suatu hal yang tidak bisa dipaksakan, bila Suma
Tionggoan menyukai dia, tak nanti akan biarkan dia menunggu sampai sekarang"
"Aaai, betul juga" Lui Sin menghela napas panjang, ia pun berpaling kearah Siau Jit, lalu
ujarnya: "Saudara Siau, sekarang tampaknya kita harus segera berangkat menuju kuil Thian-liong-
ku-sat" "Aaai, betul juga Lui Sin menghela napas panjang, ia pun berpaling kearah Siau Jit, lalu
ujarnya: "Saudara Siau, sekarang tampaknya kita harus segera berangkat menuju kuil Thian-liong-


Www.ceritasilatcersil.blogspot.com Cerita Silat ~ Kumpulan Cersil Terbaik Kelelawar Tanpa Sayap

ku-sat" "Aku percaya tak secepat itu Suma Tionggoan tinggalkan tempat ini" Siau Jit mengangguk,
"tapi untuk berjaga terhadap segala kemungkinan, memang lebih baik kita segera berangkat"
Selesai berkata, dia segera melompat naik keatas kuda tunggangannya.
Buru buru Han Seng dan Lui Sin melompat naik ke kuda masing masing, ditengah bentakan
nyaring, berangkatlah mereka bertiga meninggalkan tempat itu.
Jarak dari tempat itu menuju ke kuil Thian-liong-ku-sat sudah tidak terlampau jauh.
Oo0oo Dari balik kegelapan tiba tiba muncul segumal cahaya.
Cahaya itu berwarna hijau dan berasal dari sebuah lampu kristal, lampu yang tergantung
diatas langit langit ruangan.
Biarpun sinar yang terpancar tidak terlampau terang, namun sudah lebih dari cukup.
Kegelapan hilang lenyap ditengah pancaran cahaya, patung patung kepala, payudara, kaki,
pinggul, pantat dari ukiran wanita pun segera muncul didepan mata.
Setiap pahatan tamak begitu rapi dan sempurna, hanya sebagian patung payudara yang tampak
rusak dan hancur. Itulah hasil bacokan golok Lui Sin ketika Siau Jit sekalian hendak meninggalkan tempat
itu. Dibalik dinding penuh pahatan payudara itulah terletak pintu keluar lorong rahasia.
Kini pintu rahasia sudah terbuka, Kelelawar sedang berdiri diluar pintu tersebut.
Cahaya lentera menerangi wajahnya, waj ah itu dihiasi senyuman, senyuman dari seorang
idiot. Tak diragukan lagi si Kelelawar itu adalah Kelelawar yang berjalan dibelakang ketika
melewati semak belukar, tapi masuk terlebih dulu ketika menembusi lorong bawah tanah.
Biarpun tingkah lakunya sudah tidak sekaku tadi, namun tetap memancarkan keanehan yang
sukar dilukiskan dengan kata, ia berjalan masuk ke dalam ruang rahasia sambil tertawa
bodoh. Kemudian ia merapatkan kembali pintu rahasia itu.
Gerakan semacam ini sudah dilakukan dan diulang banyak kali sehingga ia dapat melakukannya
dengan hapal, kemudian tangannya mulai meraba payudara payudara itu.
Yang terpegang saat ini adalah payudara yang tinggal sebelah, karena sebelah yang lain
telah terpapas hilang. Tampaknya si Kelelawar baru menyadari setelah tangannya menyentuh payudara itu, untuk
sesaat tampak jelas kalau ia tertegun.
Dengan cepat sepasang tangannya mulai meraba payudara lainnya, disana ia temukan ada
payudara yang masih utuh, tapi ada pula yang sudah terpapas hancur.
Segera terjadi perubahan besar pada mimik wajahnya, setiap inci setiap bagian kulit
mukanya mulai gemetar, mulai berkerut seram.
Itulah penampilan rasa sedih bercampur gusar yang telah mencapai puncaknya, tapi merupakan
juga satu penampilan orang normal, orang yang waras otak, sebab seorang idiot tak mungkin
akan memperlihatkan mimik muka semacam ini.
Kini sepasang tangannya mulai gemetar, mulai menggigil keras, tapi dia masih meraba, masih
menggerayang terus. Sejak awal hingga akhir dia hanya meraba dan menggerayang menggunakan sepasang tangannya,
hal ini semakin memperjelas bahwa dia memang orang buta.
Ini berarti dialah Kelelawar tanpa sayap sesungguhnya, Kelelawar tulen.
Akhirnya rabaan tangannya menyentuh dinding yang jebol, menyentuh lubang besar, kemudian
diapun menjerit keras. Apa yang dia teriakkan pun sangat aneh, mendadak serunya:
"Keliru, keliru besar, bukan disebelah sana, tak usah kau hancurkan mereka!"
Suara lain segera menimpali:
"Kalau bukan disebelah sana, lantas apa yang harus dilakukan?"
Suara itu muncul dari balik dinding berlubang itu.
Diluar dinding yang jebol berdiri Kelelawar kedua, sepasang tangannya telah menekan diatas
gagang goloknya. Golok Kelelawar! Dipinggang Kelelawar itu semuanya tergantung tiga bilah golok Kelelawar, tak diragukan,
dialah Kelelawar yang telah membunuh Ong Bu-shia, menggorok Ciu Kiok.
Kelelawar tanpa sayap gadungan.
Perasaan gugup dan panik melintas diwajah Kelelawar asli, serunya berulang kali:
"Harus..... harus . . . . . .."
Mendadak dia membalikkan tubuh dan lari menuju ke dinding dimana patung berbentuk kepala
wanita berada. Ternyata ruang rahasia yang aneh ini tempat ia menyimpan seluruh hasil karyanya, semua
ukiran dan pahatan yang tersimpan disana, tak satu pun yang dibuat secara sembarangan.
Oleh sebab itulah ruang rahasia yang aneh ini seharusnya meninggalkan kesan yang sangat
mendalam dihati kecilnya.
Pertarungan sengit di lembah Hui-jin-gan telah membuatnya terluka parah, bahkan kehilangan
ingatan dan menjadi orang idiot, namun setelah beristirahat selama sepuluh tahun, ditambah
lagi mendapat bimbingan dari Suma Tionggoan, lambat laun daya ingatannya mulai pulih
kembali, banyak kejadian penting pun sedikit demi sedikit dapat diingatnya kembali.
Itulah sebabnya disaat sedang memahat tubuh bugil Lui Hong, dia sanggup menyebutkan nama
Hek Botan, Pek Hu-yung serta Lau Ci-he.
Karena itu pula dikala sepasang tangannya menyentuh pahatan payudara nya yang hancur
berantakan, suatu perasaan pedih yang tak terlukiskan dengan kata menyusup keluar dari
dasar sanubarinya yang paling dalam.
Dalam waktu sekejap, ia mulai teringat kembali akan banyak urusan.
"Aku tahu apa tujuan kalian menghancurkan semua barang kesayanganku, tapi barang yang
kalian kehendaki tidak berada dibalik dinding payudara itu, jangan dirusak, jangan
dihancurkan, biar aku beritahu kepada kalian!"
Ketika ingatan tersebut melintas dalam benaknya, ia mulai menjerit keras, berteriak
lantang. Ia lebih suka mempersembahkan semua harta karunnya yang tak ternilai daripada membiarkan
hasil karya seninya dihancur orang.
Reaksi yang aneh dan sama sekali diluar dugaan ini sama sekali diluar dugaan si Kelelawar
gadungan sekalipun, dia tidak menyangka kalau kerusakan yang timbul pada hasil karyanya
justru malah merangsang kembalinya kesadaran si Kelelawar.
Harta karun milik si Kelelawar yang tak terhitung jumlahnya, ternyata benar benar
tersimpan dalam ruang rahasia ini, kenyataan tersebut pun sama sekali diluar dugaan.
Tujuh tahun berselang ia sudah pernah membongkar ruang rahasia ini, selama tujuh tahun dia
telah memeriksa dan meneliti setiap jengkal tanah yang berada disana.
Akan tetapi ia tak pernah menemukan sesuatu apapun.
Saat ini dia sama sekali tidak merasakan gembira atau puas karena hal ini, sebaliknya
justru merasakan rasa pedih yang aneh, diikuti meledaknya perasaan gusar.
Kelelawar sialan, sebenarnya kau sembunyikan dimana harta karun itu"
Si Kelelawar langsung berlarian menuju ke depan dinding ruang yang dipenuhi batok kepala
manusia, disaat tangannya menyentuh salah satu kepala itu, dia segera menghentikan
langkahnya, kemudian dengan sepasang tangannya dia pegang kepala peremuan itu lalu
mengelus dan membelainya dengan penuh kasih sayang.
Setelah itu dia mulai menggoyang kepala itu ke kiri, memutar ke kanan dan..... "Kraaakl"
diiringi suara aneh, batok kepala perempuan itu sudah dicabutnya dari atas dinding.
Kembali dia putar batok kepala itu kian kemari, sekali lagi "Kraaak!" batok kepala itu
terbelah jadi dua dan seuntai benda yang berkilauan terjatuh dari dalam.
Ternyata dibalik batok kepala itu terdapat ruang kosong.
Dengan santainya si Kelelawar mengayunkan tangannya, dan ia sambar untaian benda yang
berkilauan itu. "Noh" serunya sambil tertawa, "semuanya berada didalam batok kepala itu!"
Baru selesai ia berkata, Kelelawar gadungan itu sudah tiba dihadapannya, sementara
sepasang tangannya menggenggam golok Kelelawar.
Mungkinkah semua ingatan dan kesadaran si Kelelawar telah pulih kembali" Mungkinkah dia
bakal melancarkan serangan secara tiba tiba" Bahkan dia sendiripun tak yakin.
Namun bila si Kelelawar melakukan suatu gerakan yang mencurigakan, maka tak ragu dia akan
menghujamkan golok Kelelawar yang berada dalam genggaman ke tubuh orang itu, dia yakin dan
percaya kalau kemampuannya masih sanggup membantai Kelelawar dalam waktu singkat.
Dia memang seseorang yang sangat hati hati, itulah sebabnya dia bisa hidup hingga kini.
Si Kelelawar sama sekali bergeming terhadap semua gerak gerik yang dilakukan si Kelelawar
gadungan, dia masih tertawa bodoh, tertawa seperti orang idiot.
Dia perlihatkan untaian benda yang berkilauan itu sambil serunya lagi:
"Inilah untaian mutiara . . . . . .."
Benda yang dipegang memang untaian mutiara, setiap butir besarnya melebihi buah
kelengkeng, dua puluh empat butir mutiara yang acak rata dijadikan satu menjadi seuntai
kalung yang indah. Biarpun cahaya lentera sangat redup, namun untaian kalung mutiara itu tetap memantulkan
cahaya yang lembut tapi mempersona.
Bisa diduga untaian kalung mutiara semacam ini nilainya pasti tak terhingga.
Berkilat mata kanan Kelelawar gadungan setelah menyaksikan kalung itu, bentaknya tiba
tiba: "Bawa kemari!" Dengan sepasang tangannya si Kelelawar mempersembahkan untaian kalung mutiara itu.
Dua kilatan cahaya golok seketika muncul di depan mata, tahu tahu Kelelawar gadungan telah
mencabut keluar sepasang goloknya sambil diayunkan ke depan.
Seakan sadar akan datangnya mara bahaya, cepat si Kelelawar menarik kembali tangannya,
sayang gerakan tersebut tidak terlalu cepat untuk berkelit, dibawah babatan maut Kelelawar
gadungan, sulit rasanya bagi dia untuk menyelamatkan diri.
Diantara kilauan cahaya tajam, semburan darah segar memancar ke empat penjuru, sepasang
tangan Kelelawar terbabat kutung dan mencelat ke udara berikut kalung mutiara itu.
Ia menjerit kesakitan sambil melompat mundur, punggungnya segera menumbuk diatas dinding
membuat ia jatuh terjungkal dan roboh terguling di tanah.
Kembali Kelelawar gadungan memutar sambil memilin goloknya, bagaikan sebuah gunting, ia
gunting batok kepala si Kelelawar yang masih berguling.
Jeritan ngeri kembali berkumandang, batok kepala si Kelelawar segera terpisah dari
tubuhnya dan mencelat ke tengah udara.
Sementara itu tubuhnya yang tanpa kepala tampak merenggang nyawa sebelum akhirnya roboh
tak bergerak lagi. Dengan satu gerakan cepat Kelelawar gadungan menancapkan sepasang goloknya ke tanah, lalu
tangannya bergerak ke atas menyambar untaian kalung mutiara yang sedang meluncur ke bawah.
Makin bersinar mata kanan Kelelawar gadungan itu, pujinya sambil menghela napas:
"Indah nian untaian kalung mutiara ini!"
Setelah dilihat dan diperiksa berulang kali, ia baru masukkan kalung mutiara itu ke dalam
sakunya, kemudian ia memperhatikan kembali kutungan tangan yang tergeletak di lantai.
II "Itu mah bukan sayap, tapi sepasang cakar katanya sambil tertawa, setelah memandang batok
kepala si Kelelawar yang menggelinding, kembali tambahnya, "mau cakar, mau sayap, peduli
amat. Tanpa sayap masih membuatmu tetap hidup, apa yang bisa kau lakukan bila tanpa
kepala" Hahaha . . . . .."
Tentu saja si Kelelawar tak dapat menjawab.
Kelelawar gadungan tidak banyak bicara lagi, dia ambil kepala kedua lalu seperti yang
dilakukan Kelelawar tadi, ia putar kepala itu kekiri dan ke kanan.
"Kraaakl" benar saja, batok kepala itu segera terbelah jadi dua, dari dalam batok kepala
itu segera memancar sekilas cahaya hijau yang amat menyilaukan mata.
Ternyata benda yang berada dalam kepala itu adalah sebuah ukiran naga terbuat dari batu
kumala yang sedang menyemburkan sebutir mutiara.
Bukan saja ukiran naga itu indah bahkan sangat detil, setiap sisik naga tertera jelas
sekali, sedangkan mutiara yang berada dimulut ukiran naga itu tak lain adalah sebutir
mutiara Ya-beng-cu. Karena mutiara ya-beng-cu itu terjepit diantara dua misai naga yang memanjang, hal ini
menyebabkan cahaya hijau yang memancar ke empat penjuru membuat seluruh tubuh ukiran naga
itu bersinar terang. Sebuah batu kemala yang tembus pandang pun sudah terhitung barang langka, apalagi ditambah
mutiara ya-beng-cu, pada hakekatnya nilai benda seni ini sangat mengerikan.
Padahal kepala perempuan yang bergantungkan disepanjang dinding itu mencapai ratusan biji,
andaikata didalam setiap kepala itu tersimpan semacam benda mustika, tak bisa dibayangkan
berapa nilai dari seluruh harta karun itu.
Menurut cerita yang beredar, Kelelawar memiliki kekayaan melebihi sebuah negeri, kalau
dilihat sekarang, rasanya cerita itu merupakan kenyataan.
Dengan hati hati sekali Kelelawar gadungan meletakkan ukiran naga kumala itu keatas
lantai, kemudian baru bangkit berdiri.
Kini sinar matanya telah dialihkan kembali ke arah batok kepala wanita yang berada diatas
dinding, untuk sesaat ia jadi bingung, tak tahu harus dimulai dari mana.
Setelah menengok ke kiri memandang ke kanan, akhirnya dia menghela napas sambil menyumah:
"Sialan si Kelelawar, maknya bener, darimana ia dapatkan harta karun sebanyak ini?"
Kemudian ia berdiri tertegun disana, terperangah.
Dalam hati ia sedang mempertimbangkan, bagaimana harus mengambil dan menyimpan kembali
seluruh harta karun itu. Walaupun tidak ditindak lanjuti dengan suatu perbuatan, namun terlihat jelas sorot mata
tunggalnya yang berkilauan, mendadak ia mendongakkan kepala dan tertawa keras.
Ia tertawa dengan sangat gembira, tertawa puas.
Hanya sejenak ia tertawa nyaring, mendadak ia tutup mulut sambil membalikkan badan,
memutar tubuhnya ke arah dinding yang dipenuhi pahatan payudara.
Pintu rahasia disebelah sana telah hancur berserakan, pintu yang semula kecil pun sudah
terbelah jadi berapa ratus lembar kepingan.
Dari balik pintu yang ternganga lebar itulah tamak tiga sosok bayangan manusia berjalan
masuk ke dalam ruangan. Siau Jit berjalan ditengah dengan diapit Lui Sin disisi kiri dan Han Seng disebelah kanan.
Paras muka Siau Jit dingin bagai salju, sementara paras muka Lui Sin dan Han Seng hijau
membesi, pancaran sinar mata yang berapi api seolah hendak membakar seluruh bangunan
ruangan itu. Tatkala sorot mata mereka saling bertemu, seluruh ruang rahasia itu seketika berubah jadi
tegang, hawa pembunuhan yang tak terlukiskan dengan kata menyelimuti seluruh sudut
ruangan. Akhirnya Kelelawar gadungan buka suara lebih dulu, sapanya:
"Siau Jit!" Sebelum Siau Jit sempat menjawab, Lui Sin telah berebut membentak lebih dulu:
"Suma Tionggoan!"
"Memangnya kau tahu kalau aku adalah Suma Tionggoan?" ejek Kelelawar gadungan sambil
tertawa dingin. "Tak ada lagi orang kedua" jawab Lui Sin cepat, "jelek jelek kaupun terhitung seorang jago
kenamaan, buat apa hingga sekarang masih kau kenakan topeng Kelelawar untuk mengelabuhi
kami?" Kembali Kelelawar gadungan tertawa dingin, tiba tiba ia merobek kulit topeng manusia yang
dikenakan. Dibalik topeng itu tampil sebuah raut muka yang tua tapi tampak gagah, bila ditinjau dari
penampilannya, mungkin jarang ada orang yang percaya kalau dia bukan seorang baik baik.
Karena kakek itu tampil gagah dan saleh, mimik mukanya menampilkan welas kasih, hanya
warna kulitnya sedikit rada pucat.
Siau Jit sama sekali tak kenal dengan kakek itu, begitu pula Han Seng dan Lui Sin, mereka
merasa sangat asing. Namun secara lamat lamat mereka dapat merasakan kalau wajah orang tua ini agak mirip
dengan wajah Suma Tang-shia.
"Betul, akulah Suma Tionggoan!" kembali kakek itu berkata.
"Sebetulnya kau adalah seorang pendekar kenamaan" kata Lui Sin kemudian.
"Pendekar kenamaan pun tetap manusia!"
"Hanya dikarenakan ingin mendapatkan harta karun dari Kelelawar, kau tega menghalalkan
segala cara untuk mencapai tujuan!"
"Aku rasa banyak orang akan berbuat yang sama!"
"Dalam pertarungan di lembah Hui-jin-gan, apakah cianpwee bertempur lantaran toaci?" sela
Siau Jit tiba tiba. "Kau masih tetap memanggil Tong-shia sebagai toaci?"
"Sebutan itu tak mungkin bisa berubah"
"Betul" Suma Tionggoan manggut manggut, "aku memang bertempur demi Tong-shia, Kelelawar
telah mendatangkan rasa malu dan hina bagi Tang-shia, membuat ia hidup dalam penyesalan,
kalau tidak membunuh Kelelawar, aku memang tak mungkin bisa menerima semua kenyataan ini!"
"Begitu pula dengan yang lain?"
"Betull Sebenarnya kami berniat membunuh si Kelelawar saat itu juga, tapi setelah ia jadi
manusia idiot, kami pun berubah pikiran"
"Apakah mereka yang hidup sependapat denganmu?"
"Benar, mereka sependapat!"
"Dimana mereka sekarang?"
"Sudah mati semua, mati ditanganku, harta karun yang tak ternilai jumlahnya itu lebih
nikmat dicicipi seorang diri daripada harus dibagi rata dengan orang lain, bukan begitu?"
"Bagimu, tentu saja benar" seru Siau Jit.
"Tang-shia pun tidak keberatan, menurut rencana bila harta karun itu sudah kami dapatkan,
maka dia akan melakukan satu pekerjaan maha besar, aku percaya kau pasti mengerti bukan
dengan perasaan hatinya itu?"
Tanpa bicara Siau Jit mengangguk.
"Ketika Kelelawar memperlakukan putrimu dengan tak senonoh, aku rasa kau pasti mengerti
bukan bagaimana perasaan dan keadaan putrimu setelah itu" kata Lui Sin, "kenapa kaupun
menggunakan cara yang sama untuk menyiksa perempuan lain?"
"Kau maksudkan putrimu, Lui Hong?"
"Betull" sahut Lui Sin sambil menggigit bibir menahan diri.


Www.ceritasilatcersil.blogspot.com Cerita Silat ~ Kumpulan Cersil Terbaik Kelelawar Tanpa Sayap

"Selama hampir sepuluh tahun lamanya, aku selalu berusaha untuk memulihkan kembali daya
ingatan Kelelawar, aku berharap dia mau menunjukkan tempat harta karunnya disimpan, paling
tidak bisa memberikan sedikit petunjuk yang berharga. Akhirnya semua usahaku sia sia,
karena itu pada akhirnya aku pun menggunakan cara yang sama ketika dia menculik Tang-shia
untuk menculik gadis lain, aku berharap hal tersebut bisa merangsang otaknya untuk
memulihkan kembali semua ingatannya. Aku mengakui, cara ini memang merupakan cara yang
terpaksa, rencana tersebut sebetulnya sudah muncul sejak banyak tahun berselang, sampai
pada akhirnya, karena terpaksa aku baru melakukan hal tersebut"
"Hmm, terpaksa?"" Lui Sin tertawa dingin.
"Apa yang kau katakan hanya sebuah alasan" sambung Han Seng pula, "alasan apa pun yang kau
kemukakan, tak berarti kau bisa melepaskan diri dari tanggung jawab"
"Betul sekali!" seru Lui Sin lagi.
"Bukan aku yang membunuh Lui Hong!" tegas Suma Tionggoan.
"Apakah kau ingin melimpahkan semua tanggung jawab ini kepada orang lain, kepada
Kelelawar?" teriak Lui Sin gusar.
"Memang perbuatan dari si Kelelawar!"
"Orang mati tak bisa jadi saksi, enak benar kau ingin cuci tangan dari peristiwa ini"
"Jadi kau anggap ada kepentingan bagi ku untuk berbuat demikian?"
Lui Sin tertegun. Siau Jit segera bertanya:
"Lantas apa yang sebenarnya telah terjadi?"
"Ketika Kelelawar selesai memahat patung tubuh Lui Hong, ia teringat kembali akan Lau
Ci-he, Hek Botan dan Pek Hu-yung, mendengar itu aku jadi panik dan segera menggertaknya
dengan segala pancingan pertanyaan, maksudku agar dia bisa teringat kembali dengan masa
lalunya" Siau Jit tidak mengerti dengan apa yang diucapkan orang tua itu.
Tampaknya Suma Tionggoan tahu akan hal ini, segera dia menjelaskan:
"Saat itu aku tampil sebagai roh nya Kelelawar, dia percaya kalau dirinya sudah tak bisa
mengingat kembali kejadian lalu karena roh nya sudah tinggalkan raganya, karena panik, dia
semakin mirip orang gila!"
Setelah berhenti sebentar lanjutnya:
"Saat itulah Lui Hong meronta bangun, jangan dilihat Kelelawar sedang gila dan seperti
orang kehilangan sukma, ketajaman pendengarannya tetap luar biasa, begitu Lui Hong
bergerak, diapun mengayunkan goloknya secara kalap, mencincang tubuhnya jadi berapa
bagian. Baginya, mencincang bagian tubuh adalah satu pekerjaan yang sangat dikuasahi.
Terus terang, aku sendiripun tidak menyangka kalau dia akan bertindak sinting, ketika
ingin memberi pertolongan, keadaan sudah terlambat"
"Jadi begitu kejadiannya?" seru Lui Sin penuh dendam.
"Sejujurnya, aku merasa menyesal sekali dengan kejadian itu, nurani ku pun tak bisa
menerima hal tersebut"
"Kau masih punya nurani?" dengus Lui Sin sambil tertawa dingin.
"Terlepas mau percaya atau tidak, aku tak ambil peduli. Tapi bagaimana pun, peristiwa ini
terjadi lantaran ulahku, tentu saja aku harus bertanggung jawab"
"Kalau memang begitu, seharusnya kau tak perlu membohongi kami" ucap Siau Jit.
"Ketika masalah sudah berkembang jadi begini, mau bicara jujur atau bohong, hasilnya sama
saja, jadi buat apa musti banyak pikir"
Kembali Siau Jit bertanya:
"Kalau memang begitu, seharusnya kau tak perlu membohongi kami" ucap Siau Jit.
"Ketika masalah sudah berkembang jadi begini, mau bicara jujur atau bohong, hasilnya sama
saja, jadi buat apa musti banyak pikir"
Kembali Siau Jit bertanya:
"Kematian rombongan Tin-wan piaukiok, keluarga Lau Ci-he dan Ciu Kiok tentu merupakan
ulahmu semua bukan" Kau yang telah melakukan pembantaian itu?"
Suma Tionggoan mengangguk berulang kali.
"Betul, rahasiaku tak boleh bocor keluar, jadi terpaksa aku harus menghilangkan saksi
hidup. Sedang mengenai Lau Ci-he, tentu saja dia harus mati, karena dia sudah tahu kalau
aku gadungan" Dengan tangan kirinya dia tekan kelopak mata kiri hingga biji matanya melompat keluar,
sambil dijepit dengan ibu jari dan jari telunjuk, ujarnya:
"Mata kiriku ini hancur ditangan Kelelawar, tapi mata kananku masih tetap normal, Lau
Ci-he telah mengetahui rahasiaku ini, sebab ketika aku paksa dia untuk mengaku dimana
golok Kelelawar miliknya disimpan, wajahku berada kelewat dekat dengan wajahnya"
Siau Jit menghela napas panjang.
"Dia merupakan salah satu korban kebiadaban Kelelawar, tentu saja kesannya terhadap iblis
itu sangat mendalam"
Tiba tiba Suma Tionggoan bertanya:
"Kau sudah tahu kalau Ciu Kiok telah tewas, berarti kau telah berkunjung ke perkampungan
Suma-san-ceng?" "Kami memang pergi mencari toaci untuk menanyakan hal ini"
"Kenapa kalian bisa mempunyai ingatan semacam itu?"
"Karena tiga patah kata palsu yang diucapkan Ong Bu-shia menjelang ajalnya!"
"Sialan! Tahu begitu, seharusnya kugorok lehernya sampai putus!" sumpah Suma Tionggoan.
"Selama hidup Ong Bu-shia sudah kelewat banyak berbuat kejahatan, tapi akhirnya dia
melakukan juga sebuah kebajikan"
"Kemauan takdir!" gumam Suma Tionggoan sambil mendepak kakinya dan menghela napas.
"Jaring hukum langit memang tak akan membiarkan orang berdosa berbuat semena mena"
II "Mungkin saja begitu kembali Suma Tionggoan bertanya, "bagaimana dengan Tang-shia?"
"Dia sudah tewas oleh pedang pemutus ususku!" jawab Siau Jit sedih.
Berubah paras muka Suma Tionggoan.
"Siau Jit, bedebah kau! Kejam betul hatimu!"
Kembali Siau Jit menghela napas panjang.
"Diantara mati dan hidup, aku tak punya pilihan lain!" sahutnya.
Setelah berhenti sejenak, ia menambahkan:
"Selain itu masih ada Sim Ngo-nio, dia berada dijalan raya, mungkin niatnya untuk
menghalangi kami datang kemari"
Suma Tionggoan membungkam.
Ujar Siau Jit lebih lanjut:
"Menjelang ajalnya dia sempat mengucapkan sesuatu . . . . .. katanya jangan salahkan dia,
karena ia sudah berusaha dengan segala kemampuan yang dimiliki!"
Suma Tionggoan semakin terbungkam, paras mukanya berubah makin tak sedap dipandang.
"Kesemua ini adalah kenyataan!" imbuh Siau Jit.
Dengan sorot mata tajam Suma Tionggoan awasi wajah Siau Jit berapa saat, kemudian katanya:
"Selama ini Tang-shia selalu mengatakan kalau kau sangat cerdas, kenyataan membuktikan
bahwa apa yang dia duga tak keliru, sebaliknya justru akulah yang telah salah menilai
tentang dirimu. Semua usahaku akhirnya rusak ditanganmu seorang, jadi kalau terpaksa aku
bertindak kejam, jangan kau salahkan orang lain!"
"Aaai, toaci pun seorang yang cerdas" Siau Jit ikut menghela napas, "seandainya bukan dia
berbelas kasihan, mungkin kami semua sudah tewas ditengah hutan bambu"
"Itulah kelemahan paling utama Tang-shia, hatinya kelewat lembek, tak tega, bukan saja
akibatnya urusan besar tak mampu dia lakukan bahkan malah merusak segala rencana"
Setelah berhenti sejenak, berkilat mata tunggalnya:
"Aku dengar tujuh jurus ilmu pedang pemutus usus mu telah berhasil mencapai sepuluh bagian
kesempurnaan Bu Cing-cu?"
"Dibandingkan suhu, ilmu silatku masih ketinggalan jauh, mungkin delapan puluh persen pun
tak samai" "Kau tak perlu merendahkan diri lagi dihadapanku, apa pun yang terjadi, dalam pertarungan
nanti kalau bukan kau yang mati, aku lah yang tewas!"
"Jangan lupa masih ada kami berdua . . . . . .." teriak Lui Sin lantang.
"Hahaha, terhitung manusia macam apa kalian itu?" tukas Suma Tionggoan sinis.
Saat itu Lui Sin sudah meloloskan goloknya, begitu mendengar ejekan tersebut, kontan
senjatanya digetarkan berulang kali hingga bunyi kencang, sementara Han Seng telah
menyiapkan pula pedang peraknya, siap menyerang Suma Tionggoan.
Kedua orang ini benar benar sudah habis kesabarannya, mereka siap berduel untuk menentukan
mati hidup. Sambil tertawa kembali Suma Tionggoan berkata:
"Tapi kalau kalian memang ingin cepat cepat mampus, aku pun tak masalah, pasti akan
kupenuhi keinginan kalian itu!"
"Tak usah banyak cincong!" bentak Lui Sin meradang.
"Masih ada sepatah kata"
"Cepat katakan!"
"Kalian bermaksud main kerubut atau maju satu per satu?"
"Untuk menghadapi manusia biadab macam kau, buat apa musti membicarakan soal peraturan
persilatan!" "Hahaha, bagus!" seru Suma Tionggoan sambil tertawa tergelak.
Belum habis ia tertawa, Lui Sin telah mengayun goloknya sambil menyerbu maju, secara
beruntun dia lancarkan delapan belas bacokan berantai.
Han Seng tak mau kalah, pedang peraknya bagai selapis bianglala langsung menerkam Suma
Tionggoan. Siau Jit pun ikut bertindak, biarpun ia menyerang belakangan namun serangannya tiba
duluan, pedang pemutus ususnya langsung menusuk ke dada lawan.
"Bagusl" seru Suma Tionggoan, ia cabut sepasang goloknya lalu menyambut datangnya serangan
dua pedang satu golok itu sekaligus.
"Triiing, traang, triiing, traaang!" suara benturan logam bergema tiada hentinya, dengan
satu langkah lebar Suma Tionggoan menghindari posisi tengah bergeser ke samping, dengan
golok kanan dia tangkis pedang pemutus usus, golok kiri menyambut datangnya golok emas dan
pedang perak. "Traaang!" ternyata bacokan goloknya berhasil dicongkel pedang perak milik Han Seng hingga
mencelat ke samping. Keberhasilan ini kontan membuat Han Seng tertegun, dia sendiri sama sekali tak menyangka
kalau congkelan pedangnya menghasilkan kekuatan sebesar itu.
"Hati hati!" saat itulah Siau Jit membentak nyaring.
Belum habis teriakan itu, Suma Tionggoan sudah menyodokkan tangan kirinya melalui
pertahanan yang terbuka, langsung menghantam dada Han Seng.
"Duuukkl" Han Seng berteriak kesakitan, tubuhnya terpental ke belakang, darah segar
menyembur keluar dari mulutnya membentuk selapis bianglala terbang.
Pakaian yang dikenakan tiba tiba saja hancur dan robek tak karuan, sebuah bekas cap
telapak tangan muncul diatas dadanya.
"Haah, ilmu pukulan Mi-tiong tay-jiu-eng!" teriak Siau Jit terkesiap.
Dalam waktu singkat dia telah melancarkan tujuh kali tujuh, empat puluh sembilan tusukan,
tapi semua serangannya itu berhasil dibendung golok Kelelawar milik Suma Tionggoan.
Begitu menarik kembali telapak kirinya, dengan cepat Suma Tionggoan mencabut keluar golok
Kelelawar yang ke tiga, kemudian mengayunkan kembali sepasang senjatanya untuk menyerang.
Han Seng mencelat sejauh hampir dua tombak dari posisi semula dan roboh terkapar ditanah,
ketika berusaha bangkit, wajahnya berubah jadi merah membara, lagi lagi dia muntahkan
darah segar. Meskipun dia masih bisa bernapas, namun lantaran sudah menderita luka parah, Han Seng
sudah tak mampu lagi untuk bertempur.
Menyaksikan hal itu, Lui Sin gusar bercampur panik, serangan goloknya semakin gencar
dilancarkan, bacokan bertubi tubi ditujukan ke tubuh lawan.
Siau Jit tak mau kalah, dia pun ikut menyerang dengan pedang pemutus usus andalannya.
Sambil melayani serangan gencar lawannya, ejek Suma Tionggoan sambil tertawa:
"Bertarung melawan dua orang jauh lebih gamang daripada bertempur menghadapi tiga orang!"
"Hmm, melukai orang dengan akal busuk, kau bukan terhitung seorang hohan!" umpat Lui Sin
gusar. Suma Tionggoan tertawa tergelak.
"Hahahaha, dalam peperangan tak tabu menggunakan siasat, masa kau tak mengerti maksud
ini!" Sambil meraung penuh amarah Lui Sin mengobat abitkan goloknya melepaskan seratus empat
belas buah bacokan, kekuatan yang ditimbulkan ibarat ambruknya gunung yang menguruk
samudra. Dengan gesit dan cekatan Suma Tionggoan menggerakkan goloknya menangkis kiri kanan,
seratus gebrakan kemudian ia telah berhasil meloloskan diri dari kepungan pedang pemutus
usus, sekarang sepasang goloknya bersama sama digunakan untuk menghajar Lui Sin.
Walaupun menghadapi serangan brutal, Lui Sin enggan mundur, goloknya sekuat tenaga
diayunkan menghadapi ancaman lawan.
Dalam waktu singkat Siau Jit kembali telah menyusul tiba.
Dengan cepat Suma Tionggoan menarik kembali salah satu dari sepasang goloknya yang dipakai
untuk melawan Lui Sin. Lalu tangannya digetarkan, tahu tahu mata golok terlepas dari
gagangnya dan bagai anak panah yang terlepas dari busur, langsung menyambar ke tubuh orang
she-Lui itu. Apa yang dia lakukan sungguh diluar dugaan, apalagi dalam jarak yang begitu dekat, sulit
bagi Lui Sin untuk menghindarkan diri, belum selesai jeritan kagetnya, ujung golok telah
menghujam di dada. Sungguh dahsyat kekuatan daya timpuknya, mata golok langsung menembusi dada hingga jebol
di punggung, tubuh Lui Sin terlempar mundur sejauh setengah tombak lalu roboh terkapar ke
tanah, tewas sambil masih memeluk goloknya.
Sambil tertawa Suma Tionggoan berkata:
"Entah sudah berapa kali golok Kelelawar itu rusak gagangnya hingga mata golok sering
terlepas, tak disangka ketika kugunakan sebagai senjata rahasia, malah mampu mencabut
selembar nyawa!" Gagal selamatkan nyawa rekannya, merah membara sepasang mata Siau Jit, ilmu pedang pemutut
usus segera dilancarkan jurus demi jurus.
Dengan santai Suma Tionggoan menyambut datangnya serangan itu, kembali ujarnya:
"Untuk menghadapi satu orang, tentu jauh lebih gampang daripada menghadapi dua orang!"
Sambil bicara dia melancarkan serangkaian bacokan, dengan golok memainkan jurus pedang,
semua gerakan dapat ia lakukan dengan lincah dan cekatan.
Siau Jit menghadapi dengan serius.
Bicara soal tenaga dalam, kemampuan Suma Tionggoan masih jauh diatas Siau Jit,
kecepatannya berganti jurus pun melebihi anak muda itu, kini dengan melancarkan serangan
kilat, selangkah demi selangkah dia mendesak terus.
Untungnya dalam kelincahan dan kegesitan, Siau Jit masih jauh mengungguli Suma Tionggoan.
Dalam deretan ilmu pedang kenamaan pun, tujuh jurus ilmu pedang pemutus usus dari
Bu-cing-cu berada pada urutan pertama, sedang tiga jurus pengejar nyawa dari keluarga Suma
hanya menempati urutan ke tiga.
Namun usia Siau Jit masih muda, kurang pengalaman, jauh ketinggalan bila dibandingkan Suma
Tionggoan yang merupakan jago kawanan dan sangat berpengalaman.
Setelah bertarung berapa gebrakan, Suma Tionggoan segera dapat meraba situasi yang sedang
dihadapi, sekuat tenaga dia berusaha memanfaatkan kelebihannya dengan memeras habis tenaga
dalam yang dimiliki Siau Jit.
Bagi Siau Jit sendiri, diapun dapat melihat maksud tujuan Suma Tionggoan yang sebenarnya,
enggan terjebak dalam perangkap musuh, beruntun dia mundur sejauh satu tombak lebih, kini
punggungnya sudah menempel diatas dinding.
Dinding dimana ia berdiri sekarang merupakan dinding dengan tumpukan pahatan pantat.
Kini punggungnya sudah bersandar diatas pantat, sayang pantat itu terbuat dari kayu yang
keras hingga terasa tidak nyaman.
Suma Tionggoan sama sekali tidak mengendorkan serangannya, walau musuh sudah terdesak, ia
tetap melancarkan serangkaian bacokan dan tusukan maut.
Secara beruntun Siau Jit menerima lima belas bacokan lawan, mendadak ia membentak nyaring:
"Putus l" Jurus ke dua dari tujuh jurus ilmu pedang pemutus ususnya segera dilancarkan.
Gerakan pertama ia gunakan untuk menangkis golok Kelelawar dari Suma Tionggoan, disusul
gerakan kedua balas menusuk lambung musuh.
"Tak bakalan putus!" sahut Suma Tionggoan sambil menangkis serangan musuh dan melepaskan
tiga jurus ilmu pedang pengejar nyawa.
Segumpal cahaya dingin memancar keluar dari tubuhnya, ia beserta golok melambung ke udara
lalu membacok ke bawah. Malam ini merupakan kali ke tiga Siau Jit menghadapi serangan ilmu pedang pengejar nyawa
dari keluarga Suma, seperti yang dikatakan orang, makin sering mengemudi semakin hapal,
walaupun tusukan maut dari Suma Tionggoan amat ganas, namun lantaran dia gunakan golok
sebagai pengganti pedang, daya kemam puan yang terpancar pun jauh berkurang kehebatannya .
Siau Jit masih tetap menggunakan jurus pertama dari ilmu pedang pemutus ususnya untuk
mematahkan jurus pertama dari ilmu pedang pengejar nyawa Suma Tionggoan.
Jaring golok kembali berlanjut mengurung angkasa, inilah jurus ke dua dari Tui-mia-kiam.
Siau Jit dengan tiga gebrakan, mematahkan satu gerakan musuh.
Ketika jurus serangan ke tiga menyambar datang, Siau Jit yang sudah punya pengalaman
sebelumnya buru buru mendongkel pedangnya keatas, melindungi bagian mematikan di
tenggorokannya. "Triiing", betul saja, golok itu langsung membabat tenggorokannya, tapi segera terbendung
oleh tangkisan pedangnya, memanfaatkan kesempatan ini Siau Jit segera melancarkan serangan
dengan jurus terakhir dari ilmu pedang pemutus usus.
Siapa tahu pada saat itulah gerakan golok Suma Tionggoan yang semula terhenti tahu tahu
kembali berubah. Kali ini goloknya berubah jadi tujuh tusukan yang membabat tiba dari tujuh arah yang
berbeda, jurus ketiga dari Siau Jit hanya berhasil mematahkan enam bacokan pertama,
tersisa satu bacokan yang langsung masuk ke lubang pertahanannya.
"Breeet!" satu bacokan memanjang membuat dada Siau Jit hingga ke arah tenggorokannya
terluka hingga berdarah, walaupun lukanya tidak terlalu dalam, namun bila sampai mengenai
lehernya, niscaya tenggorokan Siau Jit bakal bersayat putus.
Sungguh hebat Siau Jit, dalam keadaan kritis cepat ia keluarkan jurus jembatan baja untuk


Www.ceritasilatcersil.blogspot.com Cerita Silat ~ Kumpulan Cersil Terbaik Kelelawar Tanpa Sayap

menghindarkan diri dari ancaman kearah tenggorokan.
Tidak berhenti sampai disitu, secara beruntun kembali Suma Tionggoan melancarkan tiga
bacokan. Padahal saat itu tubuh Siau Jit sudah terlanjur membuang ke belakang dalam posisi jembatan
gantung, sulit baginya untuk meloloskan diri, tak ampun bahu serta pinggangnya kembali
terbacok hingga berdarah.
Kontan Suma Tionggoan tertawa tergelak, serunya:
"Hahaha, pada sepuluh tahun berselang, ilmu pedang Tui-mia-kiam dari keluarga Suma memang
hanya terdiri dari tiga jurus, tapi sekarang telah kutambah dua jurus lagi hingga genap
lima jurus. Tang-shia belum kuajari dua jurus tambahan itu, ini dikarenakan aku tak ada
waktu untuk melakukannya, tak disangka hal ini justru malah mendatangkan kebaikan untukku"
Sementara pembicaraan berlangsung, dia sama sekali tidak mendesak lagi.
Namun Siau Jit tetap mundur selangkah.
"Tadi adalah jurus ke empat" ujar Suma Tionggoan lebih jauh, "kalau tak berhasil mencabut
nyawamu, itu dikarenakan kau memang berilmu, jika dalam jurus ke lima nanti aku tetap
gagal membunuhmu, saat itulah aku orang she-Suma benar benar akan merasa takluk!"
Bicara sampai disitu, dia angkat golok Kelelawar dan menuding tenggorokan Siau Jit dengan
ujung golok. Dalam pada itu ujung pedang Siau Jit menunjuk ke permukaan tanah, jurus terakhir dari ilmu
pedang pemutus usus siap dilancarkan.
Senyuman yang semula menghiasi wajah Suma Tionggoan, kini hilang lenyap tak berbekas,
ditengah bentakan nyaring, goloknya langsung dibacokkan ke depan.
Sewaktu melancarkan bacokan, dia hanya melakukannya satu kali, tapi ketika tiba ditengah
jalan, satu bacokan telah berubah jadi empat belas bacokan.
Siau Jit tak dapat menebak arah mana ditubuhnya yang menjadi incaran, namun sekarang ia
sudah terpojok dan tak mungkin bisa mundur lagi, mau tak mau terpaksa dia harus sambut
datangnya ancaman itu. Dengan pedang dilintangkan, ia songsong datangnya serangan itu.
Deruan angin golok yang kencang memaksa dia susah bernapas, pandangan matanya ikut kalut
karena silau oleh cahaya golok.
Namun serangan pedangnya hanya ada jalan keluar, tak ada jalan balik.
Ditengah suasana yang kritis dan lapisan golok yang kental itulah, tiba tiba semuanya
rontok dan longsor, lalu terdengar Suma Tionggoan menjerit kaget.
Dalam pandangan matanya hanya ada Siau Jit, semua pikiran dan konsentrasinya hanya tertuju
ingin membantai pemuda itu, mimpi pun dia tidak menyangka kalau Han Seng yang terkapar
ditanah tiba tiba menggelinding ke samping tubuhnya, lalu memeluk sepasang kakinya kuat
kuat. Waktu itu Suma Tionggoan sedang melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga, tenaga dalam
yang disertakan pun sudah mencapai puncaknya, akibat dari pelukan itu, kontan tulang
belulang disekujur badan Han Seng hancur berantakan, selembar jiwanya pun ikut melayang.
Tapi dengan adanya kejadian ini, serangan maut dari Suma Tionggoan pun ikut hancur
berantakan, menggunakan kesempatan itu Siau Jit segera melepaskan satu tusukan maut.
Suma Tionggoan hanya melihat datangnya cahaya pedang, ingin sekali dia menghindar, sayang
tubuhnya enggan turuti perintah, tahu tahu perutnya terasa sakit sekali.
Ia tundukkan kepala, melihat darah segar menyembur keluar dari perutnya.
Walaupun tak nampak jelas, dia tahu usus dalam perutnya sudah hancur dan putus.
Dalam waktu singkat sisa tenaga yang dimiliki pun hilang lenyap tak berbekas.
"Bagusl Pedang pemutus usus!" bisiknya dengan suara parau.
Darah masih menetes diujung pedang Siau Jit, katanya:
"Walaupun aku berhasil menyarangkan tusukan pedang ini ke perutmu, namun mau tak mau harus
kuakui bahwa aku tak mampu menerima jurus ke lima dari ilmu pedang pengejar nyawa mu!"
"Tentu saja" jawab Suma Tionggoan tetap angkuh.
Siau Jit menghela napas panjang, katanya:
"Padahal kau adalah seorang pendekar kenamaan, seorang jagoan luar biasa didalam dunia
persilatan . . . . . .."
"Hahaha.... apa gunanya membicarakan segala omong kosong pada saat sekarang!" tukas Suma
Tionggoan sambil tertawa keras.
Ditengah gelak tertawa, darah segar meleleh keluar membasahi ujung bibirnya, dia mulai
gontai, tubuhnya mulai semoyongan, namun lanjutnya:
"Untung sebelum mati, aku telah mencari dua orang teman, hitung hitung tidak terlalu rugi"
Siau Jit tidak bicara. Kembali Suma Tionggoan melanjutkan:
"Yang menjengkelkan justru tempat penyimpanan harta karun itu, sudah tujuh tahun aku
menggeledah ruang iblis ini namun gagal menemukan rahasia tersebut, tak tahunya jauh
diujung langit, dekat di depan mata"
Lalu sumpahnya: "Dasar Kelelawar laknat, sialan, kalau bertemu di neraka nanti, aku pasti akan membuat
perhitungan lagi denganmu!"
Siau Jit hanya menghela napas sambil menggeleng, dia tak menyangka orang itu begitu
kemaruk harta, kalau dilihat dari keserakahannya, jelas dia sudah berada dalam tahap tak
bisa diobati lagi. Terdengar Suma Tionggoan berkata lagi:
"Kenapa kalian tidak datang sedikit lebih lambat" Paling tidak berilah kesempatan kepadaku
untuk menyaksikan seluruh harta karun yang dimiliki Kelelawar!"
Nada suaranya makin lama semakin bertambah lemah dan parau, keluhnya:
"Inilah satu satunya kejadian yang paling kusesalkan . . . . . .."
Kata terakhir sudah tidak kedengaran lagi, karena diiringi suara keras, tubuhnya roboh
terjungkal ke atas tanah.
Darah segar masih mengucur deras.
Noda darah diujung pedang Siau Jit telah mengering, tiba tiba saja ia menghela napas
panjang. Walaupun pada akhirnya ia berhasil membongkar rahasia Kelelawar tanpa sayap, tapi
sahabatnya satu per satu tewas dihadapannya.
Bagaimana pun juga inilah penyelesaian yang sangat tragis.
Dia benar benar tak ingin menjumpai lagi peristiwa tragis semacam ini, karena satu
kejadian pun sudah lebih dari cukup.
Pedang telah disarungkan, akhirnya dia merasa amat penat.
Semacam kepenatan yang tumbuh dari hati kecilnya, yang menjalar dan menyebar cepat seperti
terkena obat beracun. Tanpa bicara ia duduk bersila, dia hanya ingin memikirkan satu persoalan.
Fajar akhirnya menyingsing.
Tak namak cahaya dalam ruang itu, karena disana tak ada bedanya antara siang dan malam.
Diluar gedung, meski kabut sangat tebal namun secerca sinar fajar mulai muncul di ufuk
timur. Akhirnya malam yang panjang telah berlalu.
Sampai disini pula cerita Kelelawar tanpa sayap.
T A M A T 

Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments