Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 27 September 2017

Pusaka Pulau Es 3 Cersil Best Seller

Pusaka Pulau Es 3 Cersil Best Seller Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Pusaka Pulau Es 3 Cersil Best Seller
kumpulan cerita silat cersil online
-
Pesan Thian It Tosu benar terjadi. Tiga hari kemudian di Bu-tong-pai muncullah seorang pemuda yang
gagah dan tampan, bermuka bundar dengan mata lebar, dan mengaku bernama Gulam Sang.
“Aku bernama Gulam Sang berasal dari Tibet. Aku sudah menerima pesan dari Thian It Tosu untuk
bergabung di sini. Dapatkah aku bertemu dengan Thian It Tosu?”
“Saat ini ketua kami sedang bersemedhi dan sama sekali tidak boleh diganggu. Akan tetapi beliau sudah
memesan kepada kami agar supaya menerima Kongcu (Tuan Muda) sebagai tamu terhormat. Silakan
Kongcu menanti di sini sampai suhu keluar dari tempat pertapaannya sehingga dapat bertemu dan bicara.”
“Ah, tidak mengapa kalau begitu. Memang tidak baik mengganggu pangcu (ketua) yang sedang
bersemedhi. Baiklah, aku akan tinggal di sini menunggu sampai beliau keluar. Aku bisa melewatkan
waktuku dengan berjalan-jalan menikmati keindahan Pegunungan Bu-tong-san.”
Para tosu dan murid Bu-tong-pai diam-diam merasa heran dan tidak senang karena Gulam Sang yang
dikatakan seorang tokoh Lama Jubah Kuning itu ternyata minum arak dan makan daging.
Ketika Gulam Sang melihat keheranan mereka, dia lalu tertawa dan memberi alasan. “Dahulu aku memang
seorang pendeta Lama yang tentu saja pantang minum arak dan makan daging. Akan tetapi karena
sekarang aku menjadi orang biasa, bukan pendeta lagi, maka pantangan itu pun sudah aku tinggalkan.”
Setiap hari Gulam Sang meninggalkan Bu-tong-pai, dan setelah hari mulai gelap baru dia kembali. Tak ada
seorang pun mengetahui apa saja yang dikerjakan orang aneh ini.
Tiga hari kemudian, Thian It Tosu keluar dari ruangan semedhinya. Selama tiga hari itu hanya seorang saja
diperbolehkan memasuki ruangan semedhi, yaitu Thian Tan Tosu, seorang sute-nya yang bertugas untuk
mengirim makanan. Tentu saja begitu keluar dari ruangan semedhinya, Thian It Tosu menerima laporan
tentang kunjungan Gulam Sang.
“Biarkan saja kalau dia pergi setiap hari, karena tentu ada hubungannya dengan usaha perjuangan kita.
Kalau dia pulang, suruh Thian Tan Tosu mengantarnya masuk kamar semedhiku. Pinto akan menemuinya
di sana.”
Tidak lama Thian It Tosu keluar, setelah menerima laporan-laporan, dia pun masuk lagi ke dalam kamar
semedhi itu.
Sore harinya, Gulam Sang pulang ke Bu-tong-pai. Para tosu memberi tahu kepadanya bahwa Thian It Tosu
tadi memesan agar dia diajak masuk ke ruangan semedhi. Gulam Sang menjadi gembira. Dengan diantar
oleh Thian Tan Tosu, dia pun masuk ke dalam ruangan semedhi itu.
Tidak ada seorang pun mengetahui apa yang mereka bicarakan. Bahkan Thian Tan Tosu juga tidak tahu
karena setelah membawa Gulam Sang masuk, dia pun disuruh keluar lagi. Sampai jauh malam barulah
Gulam Sang keluar dari ruangan itu, kemudian memasuki kamarnya sendiri.
Pada keesokan harinya, Gulam Sang berpamit dari para tosu karena dia hendak pergi ke kota raja untuk
mengadakan kontak hubungan dengan sekutunya di sana.
“Malam tadi hal itu sudah kubicarakan dengan Thian It Tosu dan aku sudah berpamit kepadanya. Kalau
beliau keluar, katakan saja bahwa aku sudah berangkat ke kota raja,” demikian pesannya kepada para
tosu Bu-tong-pai.”
Dan setelah Gulam Sang berangkat pergi, pada keesokan harinya Thian It Tosu sudah keluar dari kamar
semedhinya dan memimpin Bu-tong-pai seperti biasa. Akan tetapi banyak terjadi hal yang membingungkan
para tosu yang lain.
dunia-kangouw.blogspot.com
Thian It Tosu sering kali menerima kunjungan tokoh-tokoh Pek-lian-pai, Pat-kwa-pai dan bahkan tokohtokoh
dari dunia sesat! Mereka tidak diijinkan hadir dalam pertemuan itu sehingga tidak tahu apa yang
dibicarakan oleh ketua mereka dengan tokoh-tokoh sesat itu. Dan para tosu Bu-tong-pai hanya dapat
merasa heran dan khawatir.
Pada suatu hari, terjadilah hal yang menggemparkan para tokoh dan murid Bu-tong-pai. Hari itu kembali
Thian It Tosu menerima beberapa orang Pek-lian-pai. Menjelang rapat, terdengar suara gaduh. Para tosu
yang berlari menuju ke ruangan sidang yang tertutup itu melihat tubuh seorang tosu terlempar keluar, dan
ketika mereka semua melihat, ternyata tubuh itu adalah Beng An Tosu yang telah tewas!
Selagi mereka ramai membicarakan hal itu, Thian It Tosu muncul dengan mata bersinar-sinar penuh
kemarahan, “Itulah jadinya kalau ada yang lancang berani mengintai dan mendengarkan percakapan kami.
Pinto kira yang mengintai itu tentu mata-mata musuh, maka pinto menyerangnya sungguh-sungguh
sehingga dia tewas. Kiranya dia adalah sute (adik seperguruan) Beng An Tosu sendiri! Biarlah hal ini
menjadi peringatan bagi kalian agar jangan ada yang berani lancang mendengarkan atau mengintai kami!”
Semua anggota Bu-tong-pai benar-benar merasa heran bukan main. Beng An Tosu merupakan seorang
tosu yang jujur dan setia, bahkan biasanya amat dipercaya oleh Thian It Tosu. Dan sekarang Beng An
Tosu tewas di tangan ketua mereka sendiri! Mulailah para tosu Bu-tong-pai merasa tidak puas dan
menduga bahwa ketua mereka agaknya sudah terlalu dipengaruhi oleh para tokoh sesat itu. Akan tetapi
apa yang dapat mereka lakukan?
Pada suatu hari, terlihat banyak tamu yang berdatangan dan berkunjung ke Bu-tong-pai. Mereka disambut
oleh Thian It Tosu sendiri. Dan kepada para anggota Bu-tong-pai yang terheran-heran melihat hadirnya
para tokoh dan datuk sesat, Thian It Tosu kemudian memperingatkan mereka bahwa untuk berhasilnya
perjuangan, dia tidak mempedulikan golongan dari mana yang akan membantunya. Memang para tamu
yang berdatangan di waktu itu sangat istimewa.
Thian Yang Cu dari Bu-tong-pai yang merupakan murid utama dari Thian It Tosu, dan juga Thian Tan
Tosu, dipercaya untuk membantu ketua Bu-tong-pai itu menyambut para tamu. Selain dua orang tosu ini,
tidak ada orang lain boleh mencampuri dan hanya menjadi penonton dari jauh saja.
Tokoh-tokoh besar dari dunia persilatan golongan sesat berdatangan. Koai Tosu tokoh Pat-kwa-pai
bersama beberapa orang temannya anggota Pat-kwa-pai datang lebih dulu. Lalu Thian Yang Ji tokoh Peklian-
pai juga datang bersama belasan orang kawannya. Kemudian muncul pula Swat-hai Lo-kwi yang
sudah tua dan semua rambutnya sudah putih itu! Swat-hai Lo-kwi datang bersama Tung-hai Lo-mo yang
tak pernah ketinggalan membawa dayung bajanya. Bahkan Ban-tok Kwi-ong, datuk sesat dari selatan itu
juga muncul.
Mereka semua dipersilakan masuk ke dalam ruangan besar tertutup, mengadakan rapat yang penuh
rahasia sehingga para anak buah Bu-tong-pai sendiri tidak ada yang boleh mendengarkan.
Thian It Tosu yang memimpin rapat itu nampak bersemangat serta gembira sekali, dan dengan berapi-api
dia berkata, “Saudara sekalian, kita tidak perlu mempedulikan para pejuang yang tidak mau bekerja sama
dengan kita. Setidaknya mereka itu pasti tidak akan membantu pemerintah Mancu.”
“Pangcu kapan kita mulai bergerak? Aku sudah tidak sabar lagi untuk melihat hancurnya kerajaan Ceng!”
kata Swat-hai Lo-kwi.
“Benar, aku pun sudah siap dengan sedikitnya lima puluh orang kawanku untuk mulai bergerak menyerang
musuh!” kata Tung-hai Lo-mo.
“Harap saudara sekalian bersabar. Kita harus sabar dan memakai perhitungan yang masak,“ kata Thian It
Tosu. “Kalian masih ingat ketika pertemuan dulu itu? Gadis yang memperingatkan kita agar jangan
memberontak itu telah kami selidiki dan ternyata dara itu adalah puteri dari Putera Mahkota!”
“Ahhh...!” Semua orang berseru kaget.
“Jangan panik! Karena itu, kita harus berhati-hati karena tentu gadis itu akan bercerita kepada ayahnya dan
tentu keadaan kita telah diamati dari jauh dan mungkin pemerintah telah menyebar mata-mata. Kalau kini
dunia-kangouw.blogspot.com
kita bergerak, baru mengumpulkan banyak orang saja sudah akan ketahuan dan sebelum kita bergerak,
tentu kita akan dipukul lebih dulu. Dan kita harus ingat bahwa kekuatan pasukan pemerintah amat besar.”
“Lalu bagaimana kita akan bergerak dan mulai berjuang?” tanya Ban-tok Kwi-ong.
“Sabar! Kita harus mempergunakan siasat. Kami perhitungkan, kalau beberapa orang di antara kita yang
memiliki ilmu tinggi, seperti Swat-hai Lo-kwi, Tung-hai Lomo, Ban-tok Kwi-ong dan beberapa orang lagi
pergi ke kota raja dan berhasil menyusup ke dalam istana, akan mudah bagi kita untuk membunuh kaisar
dan Putera Mahkota! Kalau hal itu terjadi, kaisar dan Putera Mahkota dibinasakan, tentu di istana akan
terjadi kekacauan. Kita akan berusaha supaya yang menjadi pengganti kaisar adalah orang yang berpihak
kepada kita. Semua itu akan diatur oleh sekutu kita yang kini juga sedang berada di kota raja, yaitu Gulam
Sang.”
“Ahh, Lama Jubah Kuning itu?” terdengar beberapa orang bertanya.
“Benar, akan tetapi sekarang dia bukanlah pendeta Lama lagi. Dia sudah menghubungi beberapa orang
hartawan yang akan membiayai semua rencana kita, juga dialah yang akan berhubungan dengan para
pangeran di istana. Apa bila pangeran pilihan kita yang menggantikan menjadi kaisar, tentu segalanya
akan mudah diatur selanjutnya.”
“Akan tetapi, tidak mudah untuk menyusup ke dalam istana. Pekerjaan itu berbahaya sekali dan nyawa
taruhannya,” kata Swat-hai Lo-kwi.
“Harap Lo-kwi jangan khawatir. Hal itu pun serahkan saja kepada Gulam Sang Kongcu. Dia yang akan
mengatur sehingga kalian semua akan menyusup ke dalam istana tanpa dicurigai. Misalnya menjadi guru
silat salah seorang pangeran, atau ahli pengobatan dari pangeran lain, atau juga pembantu baru.
Pendeknya, kalian akan dapat masuk ke istana dengan berterang, tentu saja dengan menyamar. Semua
itu telah direncanakan oleh Gulam Sang Kongcu. Kalian tinggal menanti berita selanjutnya dari kami…..”
********************
Telah lama kita tinggalkan Tao Seng dan Tao San, dua orang pangeran yang dulu telah dijatuhi hukuman
buang oleh kaisar karena usaha mereka hendak membunuh Putera Mahkota Tao Kuang, akan tetapi
mengalami kegagalan karena Pangeran Tao Kuang dapat ditolong oleh Liang Cun yang berjuluk Sin-tung
Koai-jin dan puterinya, yaitu Liang Siok Cu. Seperti sudah diceritakan di bagian depan, Liang Siok Cu
kemudian menjadi selir Pangeran Tao Kuang yang kemudian melahirkan Tao Kwi Hong.
Bagaimana dengan kedua orang pangeran yang dibuang itu? Mereka dijatuhi hukuman buang selama dua
puluh tahun dan telah dilupakan orang. Akan tetapi, mereka tidaklah lenyap begitu saja. Juga mereka tidak
mati dalam pembuangan mereka, meski mereka hidup sengsara. Tidak, mereka masih hidup!
Pada suatu hari, mereka bahkan kembali ke kota raja karena hukuman mereka sudah habis. Keluarga
kaisar tidak dapat berbuat apa-apa terhadap kembalinya dua pangeran itu. Akan tetapi, lingkungan istana
bersikap tidak acuh kepada mereka yang dianggap telah melakukan kejahatan yang memalukan.
Tao Seng dan adik tirinya, Tao San, kini telah menjadi dua orang laki-laki setengah tua. Tao Seng kini
berusia empat puluh lima tahun dan Tao San berusia empat puluh empat tahun. Mereka mengumpulkan
harta kekayaan mereka, kemudian menjadi pedagang yang berhasil sehingga mereka menjadi kaya raya.
Untuk membuang riwayat yang memalukan di waktu yang lalu. Tao Seng kini memakai nama Ji dan
terkenal dengan sebutan Ji Wan-gwe (Hartawan Ji), sedangkan Tao San menggunakan nama San Wangwe
(Hartawan San). Hanya keluarga kaisar saja yang tahu bahwa Ji Wan-gwe dan San Wan-gwe adalah
bekas Pangeran Tao Seng dan Tao San.
Karena saat dihukum buang mereka masih muda, maka setelah lewat dua puluh tahun, mereka sudah
tidak mempunyai keluarga lagi. Setelah menjadi hartawan, keduanya lalu mengambil isteri dan membentuk
keluarga baru.
Keliru kalau ada yang menganggap bahwa kedua orang pangeran itu telah menjadi jera atau sadar akan
kesalahan mereka. Sama sekali tidak dan sebaliknya malah. Peristiwa hukuman bagi mereka itu
mendatangkan dendam kesumat yang membuat mereka tidak segan untuk mencari jalan membalas
dendam mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Di dalam pembuangan mereka di barat, pada suatu hari Pangeran Tao Seng bertemu dengan seorang
pemuda yang menarik hatinya. Pada saat itu dia berusia empat puluh tahun dan pemuda itu berusia dua
puluh lima tahun. Pemuda itu menarik perhatiannya karena pemuda itu memiliki ilmu silat yang tinggi
bahkan pandai pula dalam ilmu sihir. Pemuda itu adalah Gulam Sang!
Gulam Sang sendiri adalah seorang pelarian dari Tibet. Dia adalah murid para pendeta Lama termasuk
Dalai Lama, akan tetapi akhirnya dia berkhianat dan memihak Pendeta Lama Jubah Kuning untuk
memberontak. Maka dia dikejar-kejar dan melarikan diri ke timur sampai bertemu dengan Pangeran Tao
Seng.
Mungkin karena nasib sama, mereka segera menjadi akrab, dan akhirnya Pangeran Tao Seng melihat
bahwa pemuda itu kelak akan amat berguna baginya, maka dia kemudian mengangkat Gulam Sang
sebagai puteranya! Mula-mula Gulam Sang merasa ragu-ragu untuk menerimanya, karena walau pun Tao
Seng adalah seorang pangeran akan tetapi pangeran buangan!
Tetapi Pangeran Tao Seng lalu menceritakan ambisinya. Ia hendak membalas dendam dan merebut
kekuasaan kaisar! Kalau dia telah berhasil menjadi kaisar, maka dia akan mengangkat Gulam Sang
menjadi Pangeran Mahkota yang kelak akan menggantikan dia menjadi kaisar. Janji muluk inilah yang
menarik hati Gulam Sang dan akhirnya dia menerima menjadi putera Pangeran Tao Seng.
Demikianlah, setelah hukuman buang mereka habis dan Pangeran Tao Seng bersama Pangeran Tao San
kembali ke timur, Gulam Sang juga ikut pergi ke kota raja Peking, di mana dia dikenal sebagai putera Tao
Seng yang bernama Tai Lam Sang.
Pada suatu hari, di rumah tempat kediamannya, Tao Seng mengajak Gulam Sang dan Tao San bercakapcakap
tentang rencananya.
“Kita mempunyai cita-cita yang besar,” demikian Tao Seng bicara kepada Tao San dan Gulam Sang. “Akan
tetapi jangan dikira mudah saja untuk membuat cita-cita kita dapat menjadi kenyataan. Selama lima tahun
ini engkau banyak belajar dariku, Lam Sang. Engkau sudah mempelajari sastra dan budaya sehingga tahu
bagaimana untuk menjadi seorang pribumi. Akan tetapi untuk sungguh-sungguh bisa berhasil, engkau
harus pergi menghubungi orang-orang di dunia kang-ouw. Terutama sekali hubungilah Pek-lian-pai dan
Pat-kwa-pai. Dalam hubungan itu sebaiknya kalau engkau menggunakan namamu sendiri dan mengaku
saja dari Lama Jubah Kuning. Kita harus menyusun kekuatan dan untuk itu, engkaulah yang bertugas
mengadakan hubungan-hubungan dengan mereka. Kalau saatnya sudah tiba, barulah kita turun tangan.”
Semua rencana diatur oleh Tao Seng, sedangkan pelaksananya adalah Gulam Sang yang memiliki
kecerdikan dan kepandaian luar biasa. Dengan sangat mudahnya, melalui ilmu silatnya yang tinggi dan
ilmu sihirnya, dia mampu mempengaruhi Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai. Didatanginya para pimpinan kedua
perkumpulan, itu dan di depan mereka dia membuktikan kehebatan kepandaiannya.
Setelah mendengar bahwa Gulam Sang adalah seorang Tibet dan dari kelompok Lama Jubah Kuning,
mereka semua percaya dan menariknya sebagai sekutu dan sahabat. Tercapailah rencana pertama dari
Tao Seng, yaitu mencari sekutu yang memiliki banyak anak buah dan yang memusuhi pemerintah.
“Lam Sang, aku tahu benar bahwa orang-orang pribumi bangsa Han pada umumnya tidak suka akan
pemerintah Mancu yang mereka anggap sebagai penjajah. Mereka itu mendendam, tetapi mereka belum
ada yang sungguh-sungguh bergerak karena merasa kekuatan mereka belum ada. Akan tetapi, begitu
kekuatan mereka dianggap cukup, tentu mereka bergerak menyerang pemerintah. Karena itu, tugasmu
yang ke dua adalah membujuk partai-partai bersih, para pendekar, terutama dari Siauw-lim-pai, Bu-tongpai,
Kun-lun-pai, dan lain-lain. Jika dipersatukan, mereka itu merupakan kekuatan yang amat besar karena
mereka memiliki banyak pendekar yang sakti. Nah, engkau harus mencari akal bagaimana cara untuk
dapat mempengaruhi mereka sehingga mereka mau diajak bersekutu dan memberontak.”
Kembali Tao Seng membuat rencana. Ditambah dengan kecerdikannya sendiri, Gulam Sang lalu mulai
bergerak. Ia melakukan penyelidikan terhadap semua perkumpulan silat besar itu dan mencari kelemahankelemahan
mereka. Tetapi sukar sekali menemukan kelemahan mereka, sampai akhirnya dia mendengar
betapa ketua Bu-tong-pai yang bernama Thian It Tosu berada dalam keadaan yang tidak sehat.
Kekuasaan tosu itu besar sekali. Setiap kata-katanya merupakan hukum bagi para anak murid Bu-tong-pai.
Lebih dari itu, Bu-tong-pai amat terkenal di antara semua partai dan sangat dihormati. Betapa besar
dunia-kangouw.blogspot.com
pengaruh orang yang menjadi ketua Bu-tong-pai, tidak hanya di dalam perguruan itu sendiri, melainkan
juga di dunia kang-ouw. Kalau saja dia dapat menguasai Bu-tong-pai!
Dengan pikiran ini dia kemudian mulai mempelajari keadaan Thian It Tosu, kebiasaan-kebiasaannya,
tingkah lakunya, caranya berbicara, dan sebagainya. Ketua yang berusia enam puluh tahun itu bertubuh
tinggi besar, amat mirip dengan tubuhnya. Ini merupakan modal utama baginya.
Setelah mempelajari semua dengan baik, mulailah dia bertindak. Mula-mula dia menguji diri sendiri.
Dengan ilmunya menyamar, dia menggunakan topeng tipis terbuat dari karet yang menutupi mukanya
sehingga wajahnya berubah menjadi wajah Thian It Tosu, lengkap dengan jenggot dan kumisnya yang
panjang. Topeng itu sedemikian sempurna sehingga kalau tidak dikupas dari mukanya, tidak akan ada
orang yang tahu bahwa dia memakai topeng. Pakaiannya pun persis dengan pakaian jubah tosu.
Pada suatu senja, dalam cuaca remang-remang, dia pun berjalan dekat Bu-tong-san dan sengaja berjalan
berpapasan dengan lima orang murid Bu-tong-pai. Pada waktu melihat dia, serta merta lima orang murid
itu memberi hormat dan menyebutnya suhu.
Dia pun menirukan suara Thian It Tosu. “Hemmm, sudah larut senja begini baru pulang. Kalian dari mana?”
“Kami pergi berburu dan sekalian mencari kayu bakar, Suhu,” jawab kelima orang murid itu.
Gulam Sang merasa gembira sekali. Ujiannya terhadap dirinya sendiri yang menyamar sebagai Thian It
Tosu berhasil baik. Pada lain harinya, dia sengaja muncul di siang hari menemui murid-murid yang sedang
bekerja di luar dan tidak ada seorang pun murid yang meragukan bahwa dia adalah Thian It Tosu.
Setelah yakin benar baru dia melanjutkan rencananya. Dia melakukan pengintaian dan pada suatu hari dia
melihat Thian Tan Tosu dan Thian Yang Cu sedang pergi berdua turun gunung. Dia sudah menyelidiki
dengan jelas siapa adanya dua orang tosu ini.
Thian Tan Tosu adalah sute dari Thian It Tosu sedangkan Thian Yang Cu adalah salah seorang murid
utama dari Thian It Tosu. Dia juga telah mempelajari keadaan dua orang tosu ini dan maklum bahwa ia
mampu menaklukkannya, baik dengan ilmu silat mau pun dengan ilmu sihirnya. Dengan menyamar
sebagai Thian It Tosu, di tempat yang sunyi di lereng bukit dia muncul menghadang dua orang yang
sedang melakukan perjalanan itu.
Begitu bertemu dengan Thian It Tosu palsu ini, Thian Tan Tosu dan Thian Yang Cu segera memberi
hormat.
“Suheng...!”
“Suhu...!”
“Hemmm, Sute dan Thian Yang Cu, kalian hendak pergi ke mana?” tanya Gulam Sang atau Thian It Tosu
palsu itu.
Kedua orang itu memandang heran. “Apakah Suheng sudah lupa lagi? Tadi Suheng yang minta kami untuk
mencari sumbangan ke kota, untuk membeli bahan pakaian kita semua.”
“Oh, benar juga, pinto yang lupa. Sute, sudah lama pinto tidak melihat kemajuan ilmu silatmu. Juga engkau
Thian Yang Cu. Sebagai murid utama engkau harus memiliki ilmu silat yang tinggi.”
“Saya mohon petunjuk, Suheng,” kata Thian Tan Tosu.
“Teecu (murid) mohon petunjuk Suhu,” kata Thian Yang Cu.
“Baik, sekarang kalian berdua coba untuk bertanding dengan pinto supaya pinto dapat melihat di mana
letak kekurangan-kekuranganmu. Maju dan seranglah!”
“Teecu tidak berani, Suhu.”
“Berani atau tidak, engkau harus melawanku bertanding. Kalau tidak, bagaimana pinto mengetahui
kelemahanmu dan memberi petunjuk?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Suheng, akhir-akhir ini kesehatan Suheng terganggu, sungguh tidak baik mengeluarkan banyak tenaga
untuk berlatih.” Thian Tan Tosu juga mencegah.
“Sute, engkau tidak memperoleh banyak kemajuan, untuk melawanmu bertanding, pinto tidak perlu
menggunakan banyak tenaga. Kalau kalian sungkan menyerang lebih dulu, baiklah pinto yang menyerang
lebih dulu. Lihat pukulan!” Dengan cepat Thian It Tosu menyerang dengan pukulan kedua tangannya ke
arah dua orang itu.
Akan tetapi Thian Yang Cu dan Thian Tan Tosu dapat mengelak dengan sigapnya dan kedua orang ini
tidak dapat menolak lagi. Mereka harus mengeluarkan kepandaiannya agar dinilai oleh sang ketua.
Akan tetapi serangan mereka dapat dielakkan dengan mudah oleh tosu yang selama ini nampak kurang
sehat itu. Gerakannya demikian cepatnya sehingga serangan dua orang tokoh Bu-tong-pai itu hanya
mengenai angin saja. Kemudian terdengar Thian It Tosu membentak, kedua kakinya ditekuk rendah, kedua
tangan didorongkan ke depan dan akibatnya, Thian Tan Tosu terhuyung ke belakang sedangkan Thian
Yang Cu terpental beberapa meter jauhnya!
Dua orang itu terkejut bukan main. Mereka tidak mengenal pukulan sang ketua, pukulan aneh yang
dilakukan dengan dua kaki ditekuk itu, akan tetapi daya pukulan itu sungguh dahsyat bukan main. Thian
Yang Cu yang ilmu silatnya sudah cukup tinggi langsung merasa sesak dadanya, sedangkan Thian Tan
Tosu merasa kepalanya pening.
Thian Yang Cu segera memberi hormat, kemudian berkata dengan malu-malu. “Teecu memang bodoh dan
lemah.”
Dia merasa malu sekali bahwa menghadapi gurunya, mengeroyok pula dengan paman gurunya, mereka
berdua dikalahkan dalam beberapa gebrakan saja! Itu pun suhu-nya masih menahan tenaganya. Kalau
tenaga sinkang yang dahsyat itu dikeluarkan semua, mungkin mereka berdua sudah tidak mampu bangkit
lagi.
“Wah, suheng agaknya telah menciptakan jurus pukulan baru yang hebat bukan main!” kata pula Thian Tan
Tosu dengan kagum.
“Hemm, pinto tidak menciptakan jurus baru, tapi kalian yang bodoh, kalian yang lemah, tidak ada kemajuan
sama sekali. Sungguh menyebalkan dan menyedihkan sekali!”
“Suhu...!”
“Suheng...!”
“Diam! Kalian membuatku kecewa. Bila kepandaian kalian hanya sebegitu saja, padahal kalian merupakan
dua orang terpenting di Bu-tong-pai sesudah pinto, apa jadinya nanti dengan Bu-tong-pai? Hanya akan
menjadi bahan tertawaan saja. Dengar baik-baik, aku melarang kalian membicarakan lagi tentang latihan
kita tadi! Mengerti?”
“Baik, Suheng.”
“Baik, Suhu.”
Thian It Tosu sudah tidak mempedulikan keduanya lagi dan membalikkan tubuhnya, lalu berkelebat cepat
lenyap dari situ. Thian Tan Tosu dan Thian Yang Cu saling pandang dengan heran. Mengapa ketua
mereka yang biasanya ramah dan tutur sapanya halus lembut itu mendadak menjadi begitu galak? Akan
tetapi larangan tadi amat berkesan di dalam hati mereka dan suara ketua itu seolah-olah masih
berdengung berulang-ulang di telinga mereka.
“Thian Yang Cu, kau pikir bagaimana baiknya sekarang?”
“Susiok (Paman Guru), sebaiknya kita kembali dan menghadap Suhu, mohon agar kita diajari ilmu pukulan
baru yang dahsyat tadi.”
“Kalau dia marah?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Biar kita tanggung berdua. Pelajaran itu penting sekali untuk memperkuat Bu-tong-pai, Susiok. Dan
memang sudah sepatutnya kalau suhu mengajarkan kepada kita.”
“Akan tetapi karena dia sudah melarang kita membicarkkan hal itu, tentu berarti dia tidak suka terdengar
oleh orang lain. Maka, kita harus mencari saat yang tepat selagi suheng berada seorang diri untuk
menghadap dan mohon diberi pelajaran itu.”
Kedua orang itu lalu kembali ke Bu-tong-pai. Dan pada sore harinya, ketika Thian It Tosu sedang berjalanjalan
di taman bunga perkumpulan itu seorang diri dan di sekitar tempat itu sunyi tidak nampak seorang
pun murid Bu-tong-pai, muncullah Thian Tan Tosu dan Thian Yang Cu, segera berlutut di depan Thian It
Tosu sedangkan Thian Tan Tosu memberi hormat dengan membungkuk dan mengangkat kedua tangan ke
depan dada.
Thian It Tosu adalah seorang tosu yang ramah dan lembut, akan tetapi dia pun keras memegang disiplin
dan semua peraturan Bu-tong-pai harus ditaati. Merasa terganggu ketika berjalan-jalan itu, dia
mengerutkan alisnya dan bertanya kepada mereka dengan singkat, “Apa maksudnya ini? Kalian mau apa?”
Kedua orang itu menjadi gentar mendengar pertanyaan singkat itu. Mereka mengira bahwa Thian It Tosu
marah, dan sebelum mereka sempat menjawab tiba-tiba terdengar suara lembut di belakang mereka.
“Siancai-siancai-siancai...! Dari mana datangnya orang yang berani menyamar sebagai pinto?”
Ketika dua orang menoleh, mereka terkejut melihat ada seorang Thian It Tosu yang lain berada di situ.
Semuanya sama, bentuk tubuhnya, wajahnya, bahkan suaranya. Hanya bedanya, yang baru muncul ini
bersuara lembut, sedangkan yang pertama tadi nampak marah.
Dengan sendirinya kedua orang itu berpihak kepada yang baru datang. Yang pertama itulah yang palsu.
Mereka berani memastikan hal itu. Bukankah yang pertama bersikap aneh dan keras terhadap mereka
bahkan merobohkan mereka dengan pukulan aneh dan ampuh?
“Suheng, orang itu adalah orang yang memalsukan dan menyamar sebagai Suheng!” kata Thian Tan Tosu
kepada tosu yang baru muncul.
“Benar, Suhu! Harap Suhu suka memberi hajaran padanya. Akan tetapi dia lihai sekali, Suhu.” kata pula
Thian Yang Cu dan keduanya sudah meloncat ke belakang tosu yang baru muncul.
Thian It Tosu yang pertama tercengang. “Ehhh, lelucon macam apa ini? Pinto Thian It Tosu. Saudara
siapakah dan mengapa menyamar sebagai pinto?”
“Siancai...! Inilah yang dinamakan maling teriak maling. Sute dan kau Thian Yang Cu, karena kesehatanku
masih terganggu, bantulah pinto menangkap maling ini!”
Biar pun gentar menghadapi ketua palsu yang amat lihai itu, namun karena sekarang Thian It Tosu berada
dengan mereka, kedua orang itu menjadi berani dan cepat mereka menyerang Thian It Tosu yang pertama.
Kakek itu mengelak dan menangkis, lalu dia berseru, “Sute! Thian Yang Cu, ini adalah pinto, Thian It Tosu!
Kalian tertipu!”
“Hemmm, manusia jahat. Engkaulah yang menipu. Sejak dahulu Thian It Tosu adalah pinto!” bentak tosu
kedua dan dia pun segera menyerang dan mengeroyok Thian It Tosu pertama.
Tosu itu mencoba untuk melawan, akan tetapi sebuah tamparan tosu kedua mengenai pundak kanannya.
Agaknya tosu pertama itu memang sedang terganggu kesehatannya sehingga gerakannya tidaklah
setangkas tosu kedua. Dia terhuyung dan kesempatan itu dipergunakan oleh tosu kedua untuk mengirim
pukulan tamparan yang sangat kuat ke dadanya.
“Bukkk...!” Tosu itu terpelanting, muntah darah dan pingsan.
“Biarkan pinto yang menangani, mungkin dia masih berbahaya. Kita bawa ke tempat tahanan bawah tanah.
Pinto ingin mengetahui siapa saja kawan-kawannya dan apa maksudnya menyelundup masuk menyamar
sebagai pinto.” Tosu kedua dengan ringan sekali memanggul tubuh tosu pertama yang pingsan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Thian Tan Tosu dan Thian Yang Cu mendahului Thian It Tosu pergi ke tempat tahanan bawah tanah yang
kebetulan kosong. Tidak ada seorang pun murid Bu-tong-pai yang melihat semua peristiwa ini.
Setelah tiba di dalam kamar tahanan bawah tanah yang berpintu dan berjeruji besi itu, Thian It Tosu
menurunkan tawanannya ke atas lantai.
“Biar kita periksa dia dan membuka kedoknya!” kata Thian Tan Tosu.
Thian Yang Cu juga ingin sekali melihat siapa adanya orang yang menyamar sebagai Thian It Tosu, maka
bersama susiok-nya dia sudah berjongkok dan keduanya lalu mulai menarik-narik kumis serta jenggot
Thian It Tosu yang palsu. Akan tetapi, betapa pun mereka menarik-narik, jenggot dan kumis itu tidak dapat
terlepas dan ketika mereka meraba-raba muka tosu itu, juga kulit muka itu asli dan tidak memakai kedok
apa pun.
Kedua orang itu saling pandang dan terkejut, lalu meloncat dan membalikkan tubuh menghadapi tosu
kedua.
“Dia asli!” kata Thian Tan Tosu dengan muka berubah pucat. “Kalau begitu engkau yang palsu!”
Thian It Tosu palsu yang sebetulnya bukan lain adalah Gulam Sang itu tertawa dan berdiri menghadang di
pintu kamar tahanan. “Ha-ha-ha! Memang aku bukan Thian It Tosu. Aku membutuhkan pribadinya hanya
untuk beberapa bulan saja. Kalau urusanku telah selesai semua, akan kukembalikan kepada Thian It Tosu.
Sementara ini dia harus tinggal di sini sebagai tawananku!”
“Jahanam! Siapa engkau yang begini jahat?” bentak Thian Yang Cu marah.
“Siapa aku kau tidak perlu tahu. Yang jelas, kalian harus menurut semua kehendakku atau kakek ini akan
mati di sini, baru kemudian kalian menyusulnya.”
“Kami akan mengadu nyawa denganmu!” Thian Tan Tosu membentak marah dan dia sudah menyerang ke
arah ketua palsu itu.
Akan tetapi tangan Gulam Sang menampar sehingga tubuh Thian Tan Tosu terlempar dan roboh. Thian
Yang Cu juga menyerang, akan tetapi sama saja, dalam segebrakan saja dia pun roboh. Dan sebelum
kedua orang itu bangkit lagi, secepat kilat Gulam Sang menggerakkan jari tangannya menotok sehingga
dua orang itu tidak mampu bergerak lagi, rebah telentang di samping tubuh Thian It Tosu yang masih
pingsan.
Gulam Sang kini berjongkok di dekat mereka dan suaranya terdengar penuh wibawa. Kiranya dia sedang
menggunakan sihirnya untuk mempengaruhi dua orang yang sudah ditotoknya itu.
“Dengar baik-baik, Thian Tan Tosu dan Thian Yang Cu! Nyawa ketua kalian sudah berada di tanganku. Dia
sudah kupukul dengan pukulan beracun dan hanya aku yang memegang obat penawarnya. Kalau tidak
kuberi obat, dalam waktu sebulan dia akan mati dengan tubuh hancur. Kalau kuberi obat penawar, dia
hanya akan menderita sakit, akan tetapi dalam waktu tiga bulan dia akan sembuh sama sekali. Kalian
berdua juga berada di tanganku, akan tetapi aku akan membebaskan kalian dan memberi obat penawar
kepada ketua kalian kalau kalian berjanji akan taat kepadaku. Kalau tidak taat, kalian bertiga dan semua
murid Bu-tong-pai akan kubunuh!”
Walau pun berada di bawah pengaruh sihir, Thian Tan Tosu masih dapat membantah, “Kalau kami harus
menaatimu untuk melakukan kejahatan, lebih baik engkau bunuh kami sekarang juga!”
“Ha-ha-ha, siapa yang akan berbuat jahat? Aku bukanlah penjahat, melainkan pejuang. Aku hanya hendak
meminjam Bu-tong-pai untuk mempersatukan semua tenaga dan menggerakkan mereka untuk
memberontak terhadap penjajah. Bagaimana, maukah kalian berdua berjanji?”
Thian Tan Tosu berpikir sejenak. Kalau memang tidak diharuskan melakukan kejahatan, melainkan untuk
perjuangan, lebih baik ia taat agar Thian It Tosu tidak terbunuh. Orang ini sangat licik dan lihai bukan main,
sedangkan Thian It Tosu berada dalam keadaan tidak sehat dan lemah sehingga sulit dicari kawan yang
dapat mengimbangi orang aneh ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aku berjanji akan taat asal bukan untuk kejahatan!” katanya dan mendengar ucapan susiok-nya, Thian
Yang Cu juga mengikutinya dan mengucapkan janjinya pula.
Gulam Sang tertawa senang, lalu dia membuka jubah Thian It Tosu, memperlihatkan dada tosu itu kepada
dua orang tokoh Bu-tong-pai. Ternyata di dada itu terdapat tanda telapak jari lima buah yang menghitam.
Orang ini bukan hanya menggertak. Pukulannya memang beracun dan nyawa Thian It Tosu berada di
tangannya.
Gulam Sang lalu memulihkan dua orang tokoh Bu-tong-pai itu dari totokannya. Dia tidak khawatir kalau
mereka itu akan memberontak, karena selain mereka telah berjanji, juga mereka telah dipengaruhi
kekuatan sihirnya sehingga dia mampu mengendalikan pikiran mereka.
“Gosokkan minyak ini pada gambar telapak tangan hitam di dadanya dan minumkan pil ini padanya. Racun
itu perlahan-lahan akan meninggalkannya dan sesudah lewat tiga bulan dia akan sembuh sama sekali.”
Gulam Sang segera mengeluarkan obat yang berupa minyak itu, dan Thian Tan Tosu lalu mengobati
suheng-nya. Ketika siuman Thian It Tosu mencoba untuk bangkit duduk, segera ditopang oleh murid dan
sute-nya. Dia memandang ke arah Gulam Sang.
“Apa artinya semua ini? Siapakah engkau?”
“Thian It Tosu, aku tidak mempunyai niat buruk. Aku hanya ingin meminjam namamu dan Bu-tong-pai
untuk menggerakkan semua tenaga para pejuang untuk mulai dengan pemberontakan terhadap
pemerintah penjajah. Apa bila niatku itu sudah terlaksana dan tercapai, akan kukembalikan Bu-tong-pai
kepadamu. Akan tetapi jika engkau mencoba untuk menghalangiku, maka engkau akan mati bersama
seluruh muridmu. Bu-tong-pai juga akan kuhancurkan!”
“Siancai...! Melakukan pemberontakan sekarang merupakan kebodohan. Engkau tidak akan berhasil...”
kata Thian It Tosu lemah.
“Ha-ha-ha, kita sama-sama melihatnya nanti!”
Tiba-tiba Gulam Sang bersuit dan muncullah lima orang yang gerakannya ringan dan cekatan. Mereka
adalah tokoh-tokoh Pek-lian-pai yang sudah bersekutu dengan Gulam Sang. Kiranya semenjak tadi
mereka melakukan pengintaian dan ketika Thian It Tosu dibawa masuk kamar tahanan bawah tanah,
mereka juga membayangi.
“Apa yang harus kita lakukan, Kongcu?” tanya seorang di antara lima orang itu.
“Kalian berjagalah di sini dan begitu ada gerakan untuk memberontak dari orang-orang Bu-tong-pai, kalian
lebih dulu bunuh kakek ini!”
“Baik, Kongcu.”
“Nah, Thian Tan Tosu. Engkau setiap hari dua kali harus membawakan makanan dan minuman untuk
Thian It Tosu dan lima orang penjaganya. Tidak boleh ada orang lain kecuali kalian berdua yang
mengetahui bahwa Thian It Tosu ditawan di sini dan bahwa yang menjadi Thian It Tosu adalah aku.”
Thian It Tosu palsu itu lalu mengajak dua orang yang diakuinya sebagai sute-nya dan muridnya itu untuk
keluar dari tempat tahanan tanpa terlihat orang lain, meninggalkan Thian It Tosu bersama lima orang
penjaganya.
Demikianlah, mulai hari itu yang memimpin Bu-tong-pai ialah Thian It Tosu yang palsu. Dengan pandainya
Gulam Sang berperan sebagai Thian It Tosu, selalu menggunakan alasan bahwa badannya tidak sehat
sehingga harus beristirahat dan bersemedhi dalam kamarnya. Kalau sudah berada di kamar semedhinya,
dengan mudah dia mengubah dirinya menjadi Gulam Sang yang diterima sebagai ‘tamu terhormat’ dari Butong-
pai.
Dengan penyamaran itu pula dia mengundang semua partai besar dan tokoh persilatan, menghasut
mereka untuk bekerja sama melakukan pemberontakan. Tentu saja dia juga bersekutu dengan Pek-lianpai,
Pak-kwa-pai serta para tokoh dan datuk sesat, sesuai seperti yang direncanakan Pangeran Tao Seng!
Semua itu adalah siasat Pangeran Tao Seng yang dilaksanakan oleh Gulam Sang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi tepat seperti yang diramalkan Thian It tosu, pertemuan itu akhirnya gagal karena penolakan Yo
Han, ketua Thian-li-pang. Apa lagi dengan munculnya Tao Kwi Hong yang mengancam mereka, dan sepak
terjang Keng Han yang mencari tahu sebab permusuhan gurunya, Gosang Lama dengan Bu-tong-pai.
Pada saat Thian It Tosu palsu ditanya tentang permusuhan antara Bu-tong-pai dengan Gosang Lama, dia
terkejut sekali. Akan tetapi dasar orang cerdik, Gulam Sang pandai mencari alasan tentang sebab
permusuhan itu dan dia lalu menjatuhkan kesalahannya di pundak Gosang Lama, atau ayah kandungnya
sendiri!
Ketika sebagai Gulam Sang dia bertemu Keng Han yang dianggapnya sebagai teman karena ia adalah
putera gurunya, Gulam Sang berhasil pula mengajak pemuda itu untuk bekerja sama, bahkan dia sudah
memberi alamat Ji Wan-gwe di kota raja yang banyak mengetahui tentang keadaan Pangeran Tao Seng.
Tentu saja secepatnya dia mengirim utusan dengan pemberitahuan kepada Pangeran Tao Seng atau ayah
angkatnya itu bahwa akan datang seorang pemuda bernama Keng Han yang sedang mencari tahu tentang
Pangeran Tao Seng, yang diakui oleh pemuda itu sebagai ayah kandungnya. Juga ia memberi tahu bahwa
Keng Han mempunyai ilmu silat yang amat lihai sehingga kalau perlu pemuda itu dapat dimanfaatkan.
Yang merasa tersiksa hatinya adalah Thian Yang Cu beserta Thian Tan Tosu. Mereka merasa tidak
berdaya karena takut akan ancaman Gulam Sang untuk membunuh Thian It Tosu yang selalu dijaga oleh
lima orang jagoan dari Pek-lian-pai itu. Juga mereka tahu betul akan kelihaian Gulam Sang yang mungkin
akan melaksanakan ancamannya, yaitu membasmi Bu-tong-pai kalau rahasianya terbongkar.....
********************
Keng Han merasa kagum dan terpesona ketika dia tiba di kota raja. Belum pernah dia melihat bangunanbangunan
sebesar dan seindah itu. Dia benar-benar seperti seorang dusun yang baru pertama kali
memasuki sebuah kota besar.
Tidak sukar baginya mencari rumah Hartawan Ji karena nama itu sudah terkenal di kota raja. Dan dia pun
mengunjungi rumah itu, sebuah gedung besar yang mempunyai pintu gerbang besar dan tebal, dijaga pula
oleh orang-orang yang nampaknya seperti tukang-tukang pukul atau ahli-ahli silat.
Kepada para penjaga pintu ini ia mengaku bernama Si Keng Han dan ingin menghadap Hartawan Ji
karena urusan penting. Dia disuruh menanti sebentar sementara seorang penjaga melaporkan ke dalam,
dan tidak lama kemudian dipersilakan memasuki kamar tamu yang besar dan mewah. Keng Han
memandangi semua keindahan itu. Gambar-gambar, sajak-sajak, hiasan-hiasan dan bahkan meja kursi di
situ berukir indah. Oleh pengawal yang mengantarnya dia dipersilakan duduk menanti dan pengawal itu
sendiri lalu keluar lagi.
Bunyi langkah kaki membuat jantung Keng Han berdebar amat tegang. Benarkah cerita Gulam Sang
bahwa dia akan mendapat keterangan yang lebih jelas tentang ayahnya? Begitu tuan rumah muncul, dia
cepat-cepat bangkit berdiri dan memberi hormat sambil mengamati wajah orang itu.
Dia melihat seorang laki-laki berusia empat puluh lima tahun yang masih gagah dan tampan, berpakaian
sutera sebagaimana pakaian seorang hartawan. Sebaliknya, tuan rumah itu yang bukan lain adalah
Pangeran Tao Seng sendiri juga mengamati pemuda yang kini memberi hormat di depannya. Diam-diam
dia merasa kagum dan bangga.
Puteranya! Akan tetapi di dalam hati yang sudah mengeras itu tidak ada rasa keharuan, hanya ada
perasaan girang karena mungkin dia akan mendapatkan seorang pembantu yang amat berguna.
“Maafkan, Tuan...”
“Jangan sebut aku tuan, panggil saja paman,” kata Pangeran Tao Seng atau Hatawan Ji ramah.
“Maafkan kalau kedatangan saya ini mengganggu kesibukan Paman.”
“Ahh, tidak mengapa. Silakan duduk dan perkenalkan siapa dirimu dan ada kepentingan apa ingin bertemu
denganku.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Keng Han mengambil tempat duduk. Bantalan kursinya lunak sekali, enak diduduki.
“Nama saya Si Keng Han, Paman, dan nama Paman diperkenalkan kepada saya oleh seorang sahabat
yang bernama Gulam Sang.”
“Aha, begitukah? Gulam Sang itu adalah putera angkatku sendiri.”
Baru sekarang Keng Han mengetahui dan dia pun terkejut. Kiranya putera gurunya itu telah diambil anak
oleh hartawan ini. “Apa bila begitu, semua keterangannya mengenai Paman tentu benar semua.”
“Keterangan apakah tentang diriku?”
“Bahwa Paman pernah mengenal ayah kandung saya dan mengetahui tentang semua peristiwa yang
menimpa diri ayah kandung saya.”
“Siapakah ayah kandungmu?”
“Dahulu ayah kandung saya adalah seorang pangeran, namanya Pangeran Tao Seng.”
“Akan tetapi bukankah namamu Si Keng Han dan nama margamu Si?”
“Itu hanya untuk penyamaran saja, Paman. Tidak baik kiranya kalau saya menggunakan nama keluarga
istana, hanya akan menarik perhatian orang saja.”
Tao Seng mengangguk-angguk, menyatakan bahwa dia dapat mengerti. “Lalu apa yang hendak kau
tanyakan tentang Pangeran Tao Seng? Siapa pula ibumu dan di mana ia sekarang berada?”
”Saya hendak mencari ayah kandung saya, akan tetapi saya mendengar bahwa ayah saya difitnah orang
sehingga dihukum buang. Ibu saya adalah seorang wanita Khitan, puteri kepala suku. Ibu yang mengutus
saya pergi mencari ayah kandung saya karena setelah meninggalkan ibu selama dua puluh tahun, sedikit
pun dia tidak pernah memberi kabar.”
Ji Wan-gwe sekarang merasa yakin bahwa yang berhadapan dengan dia adalah putera kandungnya,
putera Silani. Bahkan dia yang dahulu memesan kepada Silani bahwa jika isterinya itu melahirkan seorang
anak laki-laki agar diberi nama Tao Keng Han!
Akan tetapi, kalau ada sedikit getaran pada jantungnya karena terharu bertemu putera kandungnya,
ingatannya akan cita-citanya lebih besar dan lebih kuat sehingga dia dapat menekan perasaannya. Dia pun
menghela napas besar seperti orang bersedih, padahal napas panjang itu untuk menekan rasa harunya.
“Menyedihkan sekali nasib ayahmu itu, Kongcu. Ketahuilah bahwa saya dahulu menjadi pengawal dari
ayah kandungmu. Bahkan ketika Pangeran Tao Seng dibuang ke barat, saya tetap mengikutinya untuk
menemani dan melayaninya. Dia memang terkena fitnah, Kongcu.”
“Demikian kata Gulam Sang. Bukankah ayah seorang pangeran mahkota? Bagaimana dia bisa terkena
fitnah dan siapa pula yang memfitnahnya?”
“Semua itu terjadi akibat iri hati. Salah seorang pangeran lain yang bernama Tao Kuang merasa iri hati
karena ayahmu yang terpilih sebagai pangeran mahkota. Maka dia lalu melakukan fitnah dan menuduh
ayahmu hendak memberontak serta membunuh kaisar. Memang ada bukti-bukti karena bukti-bukti itu
memang sudah disediakan lebih dulu oleh Pangeran Tao Kuang. Oleh karena dituduh hendak membunuh
kaisar dan membunuh Pangeran Tao Kuang, maka ayahmu lalu dihukum buang selama dua puluh tahun.
Saya mengikutinya sampai di tempat pembuangannya.”
“Ahh, kasihan sekali ayah kandungku! Dan sekarang dia berada di mana, Paman Ji?”
Hartawan Ji menghela napas lagi. “Agaknya Pangeran Tao Kuang tidak puas karena ayahmu hanya
dihukum buang. Ia menghendaki kematian ayahmu maka dia menyuruh orang untuk menyusul ke barat,
dan di sana orang-orangnya berhasil meracuni ayahmu sehingga meninggal dunia!”
“Ahhh...!” Keng Han menundukkan mukanya karena tidak ingin kelihatan menangis atau berduka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sampai lama keduanya terdiam, kemudian terdengar Hartawan Ji berkata dengan suara yang
mengandung kemarahan.
“Akan tetapi kita tidak tinggal diam Kongcu! Dendam sedalam lautan ini harus ditebus dengan kematian
Pangeran Tao Kuang dan kaisar!”
“Akan tetapi bagaimana mungkin, Paman? Kita hanyalah orang-orang biasa, bagaimana mungkin dapat
menentang kekuasaan yang memiliki ratusan ribu pasukan?”
“Kita tidak bergerak sendiri, Kongcu. Dengarlah. Dengan bantuan anakku Gulam Sang, kita sudah
menghimpun persekutuan yang cukup kuat. Banyak partai persilatan besar, para tokoh kang-ouw yang
sakti, sudah siap membantu. Kalau engkau suka membantu, kiranya tidak akan sukar untuk membunuh
Pangeran Tao Kuang atau bahkan kaisar sekali pun.”
“Tentu saja saya suka membantu. Di mana jenazah ayahku dimakamkan, Pamain Ji?”
“Atas permintaannya sendiri sebelum meninggal, jenazahnya sudah diperabukan, akan tetapi sampai
sekarang abunya belum dapat kukubur atau kubuang ke laut. Aku masih takut kalau-kalau ada yang tahu
atau pun mengenalku sebagai pengawal ayahmu, bisa celaka aku. Abu jenazah itu masih kusimpan di
rumah ini, kubuatkan sebuah meja abu. Kalau Kongcu hendak bersembahyang di depan meja abu, silakan,
Kongcu.”
Keng Han berterima kasih sekali dan dia lalu mengikuti tuan rumah memasuki ruangan dalam yang
hiasannya lebih indah. Mereka sampai di sebuah ruangan di mana terdapat sebuah meja dan abu itu yang
tersimpan di dalam sebuah bejana dari perak. Tidak ada tulisan apa pun di situ dan hal ini dapat dimengerti
oleh Keng Han karena hartawan itu tentunya tidak ingin ketahuan bahwa dia bekas pengawal Pangeran
Tao Seng.
Keng Han lalu bersembahyang dan berlutut di depan meja abu itu. Dia terkenang pada ibunya dan hatinya
seperti diremas. Lima tahun lebih dia meninggalkan ibunya dengan harapan akan dapat bertemu dengan
ayahnya. Siapa sangka sekarang dia hanya dapat bersembahyang di depan abunya.
“Ayah, saya bersumpah untuk membalas dendam kematian ayah!" katanya kuat-kuat, yang membuat
Hartawan Ji yang berdiri di belakangnya tersenyum penuh arti.
Setelah bersembahyang mereka bercakap-cakap lagi berdua saja, di ruangan lain.
"Untuk membunuh kaisar memang merupakan hal yang sulit sekali karena kaisar selalu terkurung rapat
oleh para pengawalnya. Akan tetapi membunuh Pangeran Tao Kuang yang kini menjadi Putera Mahkota
itu tentu lebih mudah. Dia tidak terjaga begitu ketat. Hanya saja, Pangeran Tao Kuang memiliki seorang
selir yang pandai ilmu silat. Tadinya ayah mertuanya juga berada di sana, akan tetapi setelah ayah
mertuanya meninggal, yang perlu diperhitungkan adalah selirnya itu. Apakah engkau berani menyerbu ke
sana dan melawan selirnya yang lihai itu?"
"Untuk membalas dendam, saya berani melakukan apa saja, Paman Ji!"
"Bagus! Kalau begitu sebaiknya engkau tinggallah di sini beberapa waktu lamanya untuk mempelajari
keadaan dalam Istana Pangeran Mahkota. Setelah hafal akan keadaan di sana barulah engkau bergerak.
Apakah engkau membutuhkan bantuan, Tao-kongcu?"
"Tidak dalam hal ini jangan sampai Paman tersangkut. Untuk membalaskan dendam ayah, biar aku sendiri
yang bertanggung jawab."
"Baiklah, kalau begitu akan kuusahakan menemukan denah istana pangeran mahkota itu sehingga engkau
akan lebih mudah bergerak kalau sudah berhasil masuk ke sana."
Keng Han mengucapkan terima kasih dan merasa gembira sekali. Walau pun dia tidak dapat bertemu
dengan ayahnya, kalau dia dapat membalaskan sakit hatinya, dia sudah merasa puas sekali. Tentu hal ini
juga akan menjadi hiburan bagi ibunya sesudah kelak mendengar tentang kematian ayah kandungnya…..
********************
dunia-kangouw.blogspot.com
Yo Han Li dan Kai-ong Lu Tong Ki memasuki kota raja. Semenjak kecil Han Li tinggal di Bukit Naga dan
biar pun dia pernah melihat kota besar, akan tetapi baru sekali ini dara ini melihat kota raja, maka banyak
hal yang membuatnya menjadi bengong! Banyaknya toko, rumah penginapan dan rumah makan yang
serba besar, taman-taman yang besar dan indah, banyaknya orang berlalu lalang, pagoda-pagoda yang
nampak dari jauh di lereng bukit, semua itu membuatnya berulang kali memuji.
"Uhhh, apa sih bagusnya semua itu? Hanya dapat dipandang akan tetapi tidak dapat dirasakan! Lihat nanti
kalau kita bisa mendapatkan hidangan kaisar atau pangeran, baru engkau akan benar-benar kagum!
Hidangan-hidangan itu bukan hanya dapat dipandang dan dicium sedapnya, akan tetapi juga dapat
dirasakan dengan lidah! Wahhh, mulutku menjadi basah mengingat semua itu."
Han Li tersenyum geli. Yang diingat oleh gurunya ini hanya makanan saja. Selama ini, hampir setiap hari ia
harus memasak makanan untuk gurunya yang mengatakan bahwa ia pandai memasak dan bahwa
masakannya sedap sekali.
"Engkau berbakat seni memasak, Han Li!" pujinya berulang-ulang. "Tahukah engkau bahwa memasak itu
merupakan seni yang tinggi nilainya? Cara mengerat daging atau memotong sayurnya, cara membesarkan
atau mengecilkan apinya dan berapa lamanya memasak, semuanya itu mengandung seni tersendiri.
Bumbu-bumbu sederhana saja di tangan seorang ahli akan dapat mendatangkan kelezatan pada masakan.
Apa saja yang dimasak oleh seorang yang berbakat seni memasak, tentu enak!"
Gurunya memang tukang makan. Kalau perlu dia akan mencuri makanan! Pernah ketika mereka melewati
sebuah rumah makan yang memamerkan bebek panggang, Kai-ong lalu berjalan di dekat rumah makan
itu, dan ketika dia keluar dari situ, di bawah baju rombengnya telah tersembunyi seekor bebek panggang
utuh. Di sepanjang jalan bebek panggang itu dilahapnya sambil memberi komentar tentang rasa bebek
panggang itu.
Jarang ada makanan yang dipuji kakek ini, ada saja kekurangannya, kurang asin atau terlalu manis, terlalu
kering dan sebagainya. Jika sekarang dia sudah memuji setinggi langit sebelum merasakan hidangan
istana, Han Li percaya bahwa hidangan itu tentulah benar-benar istimewa.
Ketika mereka berjalan lewat depan sebuah gedung seperti istana, Kai-ong berhenti. "Ahhh, itu rumah
Pangeran Mahkota. Aku yakin hidangan masakan di sini tidak kalah lezat dari pada yang berada di istana
kaisar. Kaisar sudah terlalu tua, tentu giginya pun sudah banyak yang ompong dan masakannya tentu yang
lunak-lunak saja. Berbeda dengan masakan di istana Pangeran Mahkota, tentu lengkap dengan yang agak
keras. Han Li, kita makan di dapur Pangeran Mahkota saja!"
Han Li memandang dengan khawatir. Di depan istana itu saja sudah terdapat prajurit pengawal yang
berjaga. Tentu istana itu di jaga ketat. Bagaimana mereka dapat makan di dapur istana ini? Han Li merasa
ngeri kalau sampai ketahuan dan dikeroyok, apa lagi kemudian ditangkap. Alangkah malunya. Ditangkap
sebagai pencuri makanan!
"Akan tetapi gedung itu tentu dijaga ketat, Suhu."
"Heh-heh-heh, tentu saja. Akan tetapi apa artinya segelintir penjaga itu untuk kita. Mari ikuti aku!"
Kai-ong lalu mengambil jalan memutar dan tibalah mereka di luar tembok pagar yang mengelilingi gedung
itu bagian belakang. Setelah melihat bahwa di situ tidak ada orang, Kai-ong mengajak muridnya untuk
meloncati pagar tembok yang tinggi itu. Mula-mula Kai-ong yang lebih dulu melompat dan dia sudah
mendekam di atas pagar tembok. Han Li menyusul. Dengan gerakan ringan bagaikan seekor burung ia
melayang naik ke atas pagar tembok dan mendekam di sebelah gurunya. Ternyata di sebelah dalam pagar
tembok itu terdapat sebuah taman yang amat indah.
"Nah, sudah kuduga. Tentu dalamnya sebuah taman atau kebun. Mari kita loncat ke dalam dan kau
bersembunyi di belakang rumpun bambu di sana itu!" Kai-ong memberi petunjuk dan keduanya lalu
berlompatan masuk. Han Li segera lari ke belakang rumpun bambu seperti yang dikehendaki Kai-ong,
sementara kakek itu sendiri berindap-indap menghampiri bangunan itu dari belakang.
Bagai sebuah bayangan, Kai-ong menyelinap masuk. Han Li yang disuruh bersembunyi hanya menunggu.
Jantungnya berdebar tegang. Bagaimana kalau mereka ketahuan? Ia tidak takut akan ancaman
pengeroyokan, hanya merasa malu kalau sampai ketahuan masuk ke rumah orang untuk mencuri
makanan!
dunia-kangouw.blogspot.com
Tidak lama kemudian, Kai-ong muncul lagi dan memberi isyarat dengan tangan kepada Han Li untuk
mengikutinya. Kiranya kakek tadi lebih dahulu menyelidiki di mana adanya dapur istana itu. Han Li berlari
menghampirinya dan keduanya lalu menyelinap masuk melalui pintu belakang.
Tiba-tiba Kai-ong menarik tangan Han Li untuk bersembunyi. Baru sekejap saja Han Li bersembunyi di
balik tembok, dia melihat tiga orang pengawal yang membawa tombak lewat di dekat mereka. Untung
mereka sudah bersembunyi. Kalau terlambat sebentar saja mereka tentu sudah ketahuan!
Setelah tiga orang pengawal itu lewat, kembali Kai-ong mengajak Han Li melanjutkan perjalanan memasuki
bagian yang lebih dalam di istana itu. Setibanya di dapur, Han Li melihat ada kesibukan di dalam dapur.
Kai-ong memberi isyarat untuk mengikutinya dan kakek itu lalu melayang naik ke atas dapur. Han Li
mencontoh perbuatan gurunya dan kini mereka mendekam di atas atap dapur mengintai ke bawah.
Sebelum dapat melihat apa-apa, lebih dulu hidung Han Li disambut bau masakan yang amat sedap. Cepat
ia mengintai dan melihat lima orang koki sedang membuat masakan. Bermacam-macam masakan itu.
"Hemmm, udang besar saus tomat itu nampaknya menggapai-gapai kepadaku," Kai-ong berbisik dan dia
menjilat bibirnya sendiri.
Han Li merasa geli dan juga heran ketika gurunya mengeluarkan segulung tali yang di ujungnya dipasangi
besi kaitan seperti sebuah pancing! Han Li baru mengerti setelah gurunya menurunkan pancing itu ke
bawah dan menanti sampai para koki itu lengah, barulah dia mengayun pancingnya dan besi kaitan itu
dengan tepat sekali mengait seekor udang goreng saus tomat yang segera ditariknya ke atas. Segera
ditangkapnya udang yang masih panas itu dan dimakannya dengan lahap sekali.
"Wah, enaknya bukan main!" Dia memuji dan di lain saat dia sudah mengait seekor lagi yang lalu diberikan
kepada Han Li.
Sebetulnya Han Li tidak berselera makan masakan curian itu, akan tetapi ia tidak mau mengecewakan
gurunya, maka dimakannya udang itu. Ternyata memang lezat sekali.
Setelah menghabiskan lima ekor udang besar, dan selagi matanya sedang mencari-cari masakan lain, di
bawah terjadi keributan. Si tukang masak udang goreng saus tomat itu yang membuat ribut.
"Heiii!! Udangku ke mana? A Sam, jangan main-main kau!" tegurnya kepada temannya yang sedang
memasak masakan ayam tanpa tulang. "Tentu engkaulah orangnya yang makan udang-udangku. Kenapa
bisa tinggal setengahnya?"
"Ngawur! Siapa makan udang-udangmu? Sejak tadi aku mempersiapkan masakanku sendiri, mana aku
ada waktu untuk memperhatikan udangmu, apa lagi mencurinya dan memakannya."
"Akan tetapi udang besar itu tadinya berjumlah belasan ekor, sekarang tinggal delapan ekor lagi! Yang
berada di dekatku hanya engkau. Siapa lagi yang mencurinya kalau bukan engkau?"
"Aku tidak mencuri udangmu. Jangan main tuduh sembarangan kau!"
Teman-teman yang lain melerai. "Sudahlah, mungkin dimakan kucing."
"Tidak ada kucing yang masuk ke sini." bantah koki udang yang merasa kehilangan.
Sementara itu, di dalam keributan itu, selagi para koki bicara dan lengah, seekor ayam tanpa tulang sudah
melayang naik ke atas. Kai-ong membaginya dengan Han Li dan mereka makan masakan istimewa. Ayam
itu masih utuh, akan tetapi ketika digigit, sama sekali tidak ada tulangnya dan ayam itu diisi cacahan daging
dengan bumbunya yang sedap.
"Heiii...! Mana ayamku?" tiba-tiba koki ayam yang tadi dituduh mencuri udang, berteriak.
"Ayam apa lagi?!" tanya teman-temannya.
"Tadi masih di sini, baru saja kuangkat dari tempat masak. Semua ada lima ekor, akan tetapi lihat, hanya
tingga empat ekor. Yang seekor lagi terbang ke mana?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Mana ada ayam tanpa tulang itu dapat terbang?"
"Tentu ada yang mencuri dan menyembunyikan. A-cui, engkau tadi menuduh aku sudah mencuri udangudangmu.
Agaknya engkau kini hendak membalas dendam, kemudian engkau menyembunyikan ayamku!"
"Kau gila! Aku tidak mencuri ayammu!" A-cui membentak.
Dua orang itu sudah saling mengacungkan pisau dapur yang tajam, akan tetapi dilerai teman-temannya.
Akhirnya keributan itu pun mereda dan mereka melanjutkan pekerjaan mereka.
Sementara itu, seekor ayam cabut tulang tadi telah habis memasuki perut Kai-ong dan Han Li. Kai-ong
menjilati jari-jari tangannya yang berlepotan minyak dan menggumam, "Wah, enak... lezat...!"
"Suhu, aku sudah kenyang. Mari kita pergi dari sini," bisik Han Li.
"Wah, nanti dulu. Baru mencicipi sedikit sudah mau pulang! Dan lagi, makan seperti ini kurang enak. Aku
ingin mencicipi masakan rebung kaki biruang itu, dan itu ada swi-ke pemakan burung, dan panggang
bebeknya, goreng burung merpati, wah, masih begitu banyak dan engkau telah mengajak pulang? Nanti
dulu ah!"
Kai-ong mematahkan ujung genting, diremasnya menjadi potongan kecil-kecil lalu mulai menyambitkan ke
bawah.
"Aduh, siapa memukul kepalaku?" teriak seorang koki gendut sambil menggosok-gosok kepalanya yang
botak.
"Aduh! Aku juga dipukul. Kamu yang memukul kepalaku, ya?" teriak A-sam dan dia langsung saja
menuduh A-cui.
Acui menjadi marah lagi. "Siapa yang memukul? Aduh, siapa mengetuk kepalaku?"
Kemudian terdengar mereka semua mengaduh dan suasana menjadi kacau. Dalam keadaan seperti itu,
Kai-ong memberi isyarat kepada Han Li dan mengajak gadis itu melayang turun ke dalam dapur!
Dengan cekatan Kai-ong sudah mengambil semangkok sop ayam muda dan sambil berjongkok dan
bersembunyi di belakang meja dia menyambar pula sepasang sumpit dan mulailah dia makan dengan
lahapnya. Dia memberi isyarat kepada Han Li supaya meniru perbuatannya.
Tetapi Han Li yang juga ikut bersembunyi di belakang meja menggerakkan pundaknya, lalu menyambar
sepotong bak-pauw dan memakannya. Bak-pauw adalah sebuah roti biasa yang berisi daging dan sayur,
akan tetapi bak-pauw yang terdapat dalam dapur Pangeran Mahkota ini lain rasanya. Memang enak sekali.
Setelah mencicipi berbagai macam masakan, Kai-ong ingin minum dan merangkaklah dia ke tempat
penyimpanan guci-guci arak. Dia membuka sebuah guci dan dituangkan isinya begitu saja ke mulutnya.
"Heiii, ke mana masakan goreng burung merpatiku?"
"Dan kenapa sop ayam muda ini tinggal sedikit?"
"Ca rebung muda kaki biruangku juga tinggal sedikit!"
"Wah, bau arak! Jangan-jangan ada guci arak yang pecah!"
Lima orang koki itu ribut-ribut dan mencari ke sana ke mari. Tentu saja guru dan murid itu sibuk
berloncatan ke sana ke mari untuk menyembunyikan diri. Akan tetapi Kai-ong yang keenakan minum arak
tidak sempat lagi bersembunyi. Seorang di antara lima koki itu melihatnya dan berteriak, "Wah, ini dia
malingnya. Seorang pengemis tua!"
"Celaka, masakan kita diusiknya, banyak yang dimakannya. Apakah keluarga pangeran hanya
mendapatkan sisanya?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hayo kita tangkap pencuri itu!"
Dua orang sudah menerjang maju untuk menangkap Kai-ong, akan tetapi Han Li cepat melompat ke
depan. Lima orang koki itu terbelalak ketika melihat seorang gadis cantik melindungi kakek itu.
"Paman sekalian, maafkanlah kami yang sudah mencicipi sedikit masakan kalian. Suhu, mari kita pergi!"
"He-he-heh, nanti dulu, Han Li. Kabarnya Pangeran Mahkota adalah seorang yang amat dermawan. Siapa
kira, makanan untuk keluarganya demikian mewah, sedangkan di luar istananya banyak rakyat kelaparan!"
Kai-ong minum terus dan nampaknya kakek raja pengemis ini sudah mulai mabuk.
"Mari kita lapor ke dalam!" Lima orang koki itu lalu berlarian keluar dari dalam dapur.
"Suhu, mari kita cepat pergi. Para pengawal tentu segera berdatangan!"
"Heh-heh-heh, aku tidak pernah melarikan diri dari dapur sebelum perutku benar-benar kenyang. Mari kita
makan dengan leluasa, Han Li. Begini lebih enak. Ini ada nasi dari Hang-ciu, nasinya lembut dan harum
sedap."
Kai-ong tidak mau pergi, malah kini duduk menghadapi meja, menyambar mangkok dan sumpit lalu mulai
makan dengan lahapnya. Han Li membanting-banting kakinya dengan bingung. Sudah terdengar suara
banyak kaki berlari ke tempat itu.
"Wah, ini bagaimana, Suhu? Mereka sudah berdatangan!"
"Biarkan saja. Kalau mereka berani mengganggu aku makan, akan kuhajar! Nih, kau makan nasi, Han Li.
Atau ingin buah-buahan segar. Itu di sana banyak anggur, buah leci dan apel. Tinggal pilih mana yang kau
suka, heh-heh-heh!"
"Akan tetapi, Suhu...!" Han Li tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena pada saat itu di ambang pintu
dapur telah bermunculan pasukan pengawal yang jumlahnya belasan orang.
Seorang komandan pengawal menudingkan goloknya ke arah Kai-ong yang sedang melahap makanan.
"Pencuri busuk, engkau berani mengacau di dapur istana pangeran?"
"Heh-heh-heh, makanan ini datangnya dari perahan keringat rakyat, apakah kami tidak boleh
merasakannya? Aku mendengar bahwa Pangeran Mahkota adalah seorang yang dermawan dan
bijaksana. Apakah dia tidak mengijinkan kami mencicipi makanan ini?" kata Kai-ong sambil menggigit paha
ayam dan menyeringai ke arah para pengawal.
"Keparat, berani engkau...!"
"Tahan dulu, Ciangkun. Biarkan kami bicara dengan mereka!" tiba-tiba terdengar suara lembut dan perwira
pengawal itu terpaksa mundur lagi karena yang menegurnya adalah Pangeran Mahkota Tao Kuang sendiri.
Han Li dan Kai-ong memandang penuh perhatian dan melihat munculnya seorang laki-laki bangsawan
yang tampan dan berwibawa. Usianya sekitar empat puluh tahun. Di sebelah kanannya berdiri seorang
wanita cantik dan di sebelah kirinya berdiri seorang gadis manis. Baik wanita cantik mau pun gadis manis
itu membawa sebatang pedang di punggung mereka sehingga mereka nampak anggun dan juga gagah.
Pria itu adalah Pangeran Mahkota Tao Kuang. Gadis manis itu bukan lain adalah Tao Kwi Hong dan wanita
cantik itu adalah ibunya. Mereka tadi telah bersiap hendak makan siang saat mendengar laporan para koki
bahwa di dapur terdapat kakek pengemis yang mencuri makanan. Pangeran Mahkota Tao Kuang tertarik
mendengar ini dan dikawal oleh Tao Kwi Hong dan ibunya, Liang Siok Cu, mereka bergegas menuju ke
dapur.
Pangeran Mahkota Tao Kuang memiliki watak seperti kakeknya, yaitu suka bergaul dan menghargai orangorang
kang-ouw. Maka, begitu melihat kakek berpakaian pengemis itu bersama seorang gadis cantik yang
mendatangkan kekacauan di dapurnya, dia lalu melarang para pengawal turun tangan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dia sendiri lalu mengangkat kedua tangan ke depan dada sebagai pemberian hormat dan berkata dengan
lembut, "Apakah kunjungan Locianpwe dan Nona ini hanya untuk mencicipi makanan?"
"Habis, untuk apa lagi? Kami tidak mempunyai urusan dengan Pangeran Mahkota Tao Kuang, heh-hehheh!"
kata Kai-ong.
"Kamilah Pangeran Mahkota Tao Kuang. Kalau memang begitu, biar kami mengundang Locianpwe dan
Nona ini untuk makan bersama!" Penawaran ini diajukan dengan sikap yang lembut dan manis sehingga
Han Li merasa tidak enak dan malu sendiri.
"Kau dengar itu, Han Li?" Kai-ong berkata sambil tertawa girang. "Sudah sejak lama aku mendengar
bahwa Pangeran Mahkota Tao Kuang adalah seorang yang bijaksana dan kini terbukti kebenaran berita
itu. Terima kasih, Pangeran, tentu saja kami menerima undanganmu itu, ha-ha-ha!"
Han Li diam saja akan tetapi merasa tidak enak hati. Sejak kecil ia mendengar tentang penjajahan bangsa
Mancu terhadap negara dan bangsanya. Dia sendiri adalah puteri ketua Thian-li-pang yang bercita-cita
memerdekakan bangsa dan sekarang ia diundang makan bersama oleh keluarga Pangeran Mahkota
bangsa Mancu! Akan tetapi, menolak pun tidak mungkin karena gurunya sudah menerima, maka ia pun
mengikuti saja ketika mereka dipersilakan masuk ke dalam ruangan makan yang luas.
Setelah mereka duduk menghadapi meja makan, hidangan-hidangan yang paling lezat disuguhkan.
Pangeran Tao Kuang memberi isyarat kepada pelayan untuk mengisi arak dalam cawan-cawan perak di
depan tamunya kemudian menyulangi dua orang tamunya dengan secawan arak.
"Silakan Ji-wi (Anda Berdua) minum untuk ucapan selamat datang dari kami dan untuk perkenalan ini."
Sambil tersenyum lebar Kai-ong minum secawan arak itu dan Han Li hanya mencontoh gurunya.
Pangeran Tao Kuang memperkenalkan selirnya dan puterinya, lalu bertanya, "Siapakah nama Locianpwe
yang terhormat dan siapa pula Nona ini?"
"He-he-heh, Pangeran. Terima kasih bahwa Paduka suka menyambut kami orang-orang biasa dengan
ramah tamah. Saya bernama Lu Tong Ki, hanya orang biasa saja, bahkan pengemis yang tidak pernah
minta-minta."
"Lu Tong Ki...? Apakah bukan Kai-ong (Raja Pengemis) Lu Tong Ki?" mendadak Liang Siok Cu bertanya
dengan kaget.
"Heh-heh-heh, saya hanyalah rajanya para pengemis, Nyonya."
"Mendiang ayahku Liang Cun sering bicara tentang Locianpwe," kata nyonya itu kagum.
Kini sepasang mata Lu Tong Ki terbelalak, "Liang Cun? Ahhh, Sin-tung Koai-jin sudah meninggal dunia dan
Nyonya adalah puterinya? Pantas, kalian begini ramah. Kiranya keturunan seorang datuk dari Thai-san!"
"Ha-ha-ha, kiranya kita berada di antara orang sendiri!" Pangeran Tao Kuang tertawa gembira.
"Dan engkau, Enci yang baik, siapakah namamu?" tiba-tiba Kwi Hong bertanya kepada Han Li sambil
memandang gadis itu penuh perhatian. "Apakah engkau murid Locianpwe ini?"
"Benar, aku adalah murid Suhu, namaku Yo Han Li," jawab Han Li singkat.
Mereka mulai makan dan minum. Setelah acara makan selesai, di mana Kai-ong dapat memuaskan
seleranya, tiba-tiba Raja Pengemis itu tertawa sambil mengelus perutnya. "Aihhh, kalau setiap hari makan
begini, dalam waktu sebulan aku akan menjadi orang gendut!"
Semua orang tertawa dan Kai-ong kembali berkata, "Ha-ha-ha, Pangeran tentu tidak menduga siapa
adanya nona yang mengakui saya sebagai gurunya ini. Sesungguhnya ia jauh lebih terkenal dari pada
saya yang hanya raja kaum pengemis. Ibunya terkenal dengan julukan Si Bangau Merah, ayahnya lebih
terkenal lagi dengan julukan Pendekar Tangan Sakti yang juga menjadi ketua Thian-li-pang..."
"Ahhh...!!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Liang Siok Cu berseru kaget sambil memandang Han Li, sedangkan wajah Pangeran Tao Kuang juga
berubah agak pucat. Akan tetapi Kwi Hong berseru girang.
"Aih, kiranya Enci ini puteri Paman Yo? Senang sekali bertemu dengan puteri Paman Yo Han!"
"Kwi Hong, apakah engkau mengenal ketua Thian-li-pang?" tanya Pangeran Mahkota Tao Kuang,
sedangkan isterinya bersiap untuk melindungi suaminya kalau-kalau puteri pemberontak itu mempunyai
niat jahat.
"Ayah, aku tidak tahu apakah paman Yo itu ketua Thian-li-pang. Yang aku ketahui dia adalah seorang yang
gagah perkasa dan dahulu pernah menolongku dari pengeroyokan pemberontak Pek-lian-pai dan Pat-kwapai.
Aku kagum sekali kepadanya!"
Han Li tadi terkejut bukan main mendengar gurunya memperkenalkan ayahnya sebagai ketua Thian-lipang.
Akan tetapi dia merasa heran dan juga lega mendengar bahwa Kwi Hong pernah ditolong ayahnya.
Ketika dia melirik ke arah gurunya, dia melihat Kai-ong tersenyum-senyum padanya. Dia pun bisa
menduga bahwa gurunya sengaja menyebut Thian-li-pang untuk menguji hingga di mana ketulusan hati
dan kebijaksanaan Pangeran Mahkota itu!
Dan memang sebenarnya begitulah. Maklum bahwa ucapannya tadi bisa mendatangkan bahaya, maka
diam-diam Kai-ong juga sudah bersiap-siap. Dia cerdik sekali dan andai kata disebutnya Thian-li-pang itu
membuat Pangeran Mahkota marah dan mengerahkan pasukan pengawalnya, dia tentu akan bertindak
menawan sang pangeran terlebih dulu agar dia dan muridnya dapat keluar dari istana itu dengan aman!
Akan tetapi dia pun merasa lega ketika ucapan Kwi Hong membuyarkan suasana yang tegang tadi. Kini
Pangeran Mahkota yang berkata kepada Han Li, di dalam suaranya mengandung perasaan heran.
"Aneh sekali! Ketua Thian-li-pang pernah menolong puteriku dan hari ini aku menjamu puterinya! Padahal
semua orang tahu bahwa Thian-li-pang adalah sebuah perkumpulan yang berjiwa pemberontak!"
"Ayah saya tidak pernah membenci perorangan, Pangeran. Yang ditentangnya adalah penjajah dan
penindasan!" jawab Han Li dengan tegas.
"He-he-heh, dalam anggapan Paduka memang Thian-li-pang pemberontak, Pangeran," berkata pula Kaiong.
"Akan tetapi dalam anggapan kami rakyat jelata, Thian-li-pang berjiwa pendekar dan pejuang."
"Berjuang untuk apa?" Pangeran Mahkota mendesak.
"Berjuang untuk menegakkan kebenaran serta keadilan, berjuang untuk kemerdekaan tanah air dan
bangsa," kata pula Kai-ong dan ketika mengucapkan kata-kata ini, dia tidak lagi tertawa melainkan berkata
dengan suara dan wajah serius.
"Sama saja, itu pemberontakan namanya, menentang pihak yang berkuasa," Pangeran Mahkota Tao
Kuang membantah.
"Harap Paduka mempertimbangkan dengan hati dan kepala yang tenang dan dingin," kata pula Kai-ong.
"Coba Paduka tempatkan diri Paduka sebagai rakyat kami. Apakah Paduka tidak mempunyai keinginan
untuk memerdekakan tanah air dan bangsa dari belenggu penjajah? Salahkah itu kalau seseorang bercitacita
untuk kebebasan dan kemerdekaan bangsanya?"
Pangeran Tao Kuang mengangguk-angguk. "Mungkin juga kami akan berpendirian yang sama. Akan tetapi
kami bukan penindas. Kami menganggap bangsa Han seperti bangsa sendiri. Kami ingin menjalankan
pemerintahan yang adil, ingin menyejahterakan rakyat."
"Kami percaya, Pangeran. Tapi yang ditentang oleh para pejuang adalah pemerintahan penjajah, bukan
perorangan, seperti yang dikatakan murid saya Han Li tadi."
"Akan tetapi sekarang terbukti bahwa di antara kita tiada kebencian atau permusuhan. Anak kami pernah
diselamatkan oleh ketua Thian-li-pang dan anak ketua Thian-li-pang kami undang makan menjadi tamu
terhormat kami!" kata Pangeran Tao Kuang sambil tersenyum.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ayah, kuharap enci Han Li menjadi tamu kita untuk beberapa waktu lamanya. Aku ingin mengenalnya
lebih dekat dan berbincang-bincang tentang ilmu silat dengannya!" kata Kwi Hong kepada ayahnya.
Pangeran Mahkota Tao Kuang mengangguk sambil tersenyum ramah kepada Kai-ong, "Aku tidak
keberatan dan mereka ini boleh tinggal di istana sebagai tamu berapa lama pun mereka kehendaki!"
Kai-ong tertawa. "Bagus! Aku suka sekali tinggal di sini beberapa lamanya sampai puas makan enak setiap
hari. Han Li, kita tinggal di sini sampai bosan!"
Kwi Hong merasa gembira sekali. Dengan senyum manis ia bangkit menghampiri Han Li dan
menggandeng tangan gadis itu. "Mari kita melihat-lihat taman, enci Han Li. Akan kutunjukkan kamarmu di
mana engkau boleh tinggal!"
Kedua orang gadis itu pergi dan meninggalkan Kai-ong yang diajak bercakap-cakap oleh Pangeran Tao
Kuang. Seorang raja pengemis bersama muridnya menjadi tamu dari Pangeran Mahkota…..
********************
Cu In tidak peduli bahwa dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang yang dijumpainya di jalan dalam kota
raja. Mukanya yang tertutup sutera putih dari batas hidung ke bawah itulah yang menarik perhatian orang.
Akan tetapi tak ada seorang pun mengganggunya. Tentu mereka itu mengira bahwa ia seorang wanita dari
Turki atau negara Islam lainnya. Wanita-wanita Islam biasanya menutup mukanya dengan cadar seperti itu.
Tidak sukar bagi Cu In untuk mendapat keterangan di mana adanya rumah Panglima The Sun Tek. The
Ciangkun adalah seorang panglima yang terkenal di kota raja. Dialah yang memimpin pasukan ketika
memadamkan pemberontakan di selatan. The Ciangkun seorang panglima yang bukan hanya pandai ilmu
perang, akan tetapi juga seorang yang memiliki ilmu silat tinggi.
Cu In tidak tahu orang macam apa adanya The Sun Tek. Yang penting baginya adalah bahwa ia harus
membunuh orang itu. Menurut gurunya, panglima The itu adalah musuh besar gurunya, dan lebih dari pada
itu, panglima The itulah yang membunuh ayah bundanya sehingga ia menjadi seorang yatim piatu sejak
masih bayi!
Sejak bayi dia dipelihara oleh subo-nya, maka kini tugas untuk membunuh musuh besar subo-nya itu akan
dilaksanakan sebaik mungkin. Bukan hanya untuk membalas budi gurunya, melainkan juga untuk
membalas dendam ayah bundanya.
Cu In merasa agak heran namun girang melihat kenyataan bahwa rumah itu tidak dijaga regu keamanan
seperti rumah para panglima tinggi lainnya. Rumah itu dari luar nampak sunyi saja. Cu In lalu mengelilingi
pagar tembok rumah itu dan ternyata rumah itu memiliki pekarangan dan taman yang luas sekali.
Hari itu panas sekali. Matahari telah naik tinggi. Bagaikan seekor burung saja ringannya, Cu In sudah
melompati pagar tembok di bagian belakang rumah itu dan mendekam di atas untuk mengintai ke sebelah
dalam pagar. Ternyata di sebelah dalamnya terdapat sebuah taman yang luas, penuh dengan bunga
warna warni yang sedang berkembang sehingga suasana di taman itu nyaman dan indah sekali.
Ia melompat turun ke sebelah dalam dan menyelinap di antara pohon-pohon. Agak jauh di tengah taman
itu terdapat sebuah pondok dengan dinding rendah dan bagian atasnya terbuka. Semacam tempat untuk
duduk bersantai menikmati keindahan taman. Di depan pondok itu terdapat sebuah kolam ikan dengan
bunga teratai dan ikan-ikan emas berenang di dalam kolam. Gemercik suara air di kolam yang jatuh dari
sebuah pancuran mendatangkan suara yang menyejukkan hati.
Cu In cepat menyusup ke balik rumpun bunga. Ia melihat seorang laki-laki melangkah seenaknya dengan
santai menuju ke panggung atau pondok itu, memasukinya dan duduk di atas bangku menghadapi kolam
ikan. Cu In mengintai dan melihat bahwa pria itu berusia lima puluh tahun lebih, akan tetapi rambut
kepalanya sudah banyak beruban.
Rambut itu dikuncir ke belakang dan diikat dengan sutera biru. Wajah yang mulai berkerut merut itu masih
nampak tampan dan gagah. Akan tetapi dalam sinar matanya mengandung duka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sampai lama pria itu termenung memandangi kolam ikan, dan berulang kali pula dia menghela napas
panjang. Tiba-tiba pria itu menengadahkan mukanya, memandangi awan yang berarak di angkasa, dan dia
membaca sajak.
Seperti awan bergerak di angkasa
kita bercanda penuh suka dan tawa
sumpah saling mencinta saling setia
berbahagia memadu asmara
Semua itu hilang musnah
ketika angin datang menerpa
kita berpisah dan merana
yang tertinggal hanyalah air mata!
Cu In tertegun. Dia mengenal betul sajak itu karena gurunya, Ang Hwa Nio-nio, sering menyanyikan sajak
itu dalam sebuah lagu yang sedih. Dan sekarang pria itu bersajak yang sama!
Karena perasaan terguncang, tubuh Cu In membuat gerakan. Biar pun gerakan itu tidak menimbulkan
suara keras, akan tetapi pria itu sudah memutar tubuhnya dan terdengar suaranya yang lantang,
"Sobat, tiada gunanya lagi engkau bersembunyi. Aku telah mengetahui keberadaanmu di situ!" Pria itu
memandang ke arah Cu In.
Cu In terpaksa muncul dari balik rumpun bunga lalu menghampiri pondok itu. Pria itu nampak terkejut dan
terheran-heran melihat bahwa yang muncul adalah seorang gadis yang mukanya ditutup cadar putih,
pakaiannya juga serba putih.
"Siapa engkau? Apa keperluanmu datang ke tempat ini tanpa diundang?" tanya pria itu dan suaranya
mengandung wibawa yang kuat.
Akan tetapi Cu In tidak menjawab, melainkan balas bertanya, "Apakah engkau yang bernama The Sun
Tek?"
"Tidak salah, akulah The Sun Tek. Siapakah engkau, Nona?"
"Namaku Souw Cu In dan aku datang ke sini untuk membunuhmu, The Sun Tek!"
The Sun Tek sama sekali tidak menjadi terkejut mendengar pengakuan itu, bahkan dia nampak begitu
tenang. Sebagai seorang panglima besar, dia tahu bahwa banyak orang menginginkan kematiannya,
terutama untuk membalas dendam karena dia sudah sering menghancurkan usaha pemberontakan di
mana-mana sehingga tidaklah aneh jika ada yang mendendam kepadanya.
Sering pula terdapat usaha orang-orang yang memusuhinya untuk membunuhnya. Akan tetapi baru kali ini
usaha itu akan dilakukan seorang gadis muda. Hal ini mendatangkan rasa penasaran di dalam hatinya.
"Membunuh orang tentu ada alasannya yang kuat, Nona. Dan kenapa engkau hendak membunuhku? Kita
belum pernah bertemu dan di antara kita tidak terdapat urusan apa pun!"
"Kita memang tidak pernah bertemu, akan tetapi engkau keliru kalau mengira di antara kita tidak pernah
terdapat urusan apa pun. Alasanku datang untuk membunuhmu ini cukup kuat. Pertama, aku hendak
membalaskan dendam kematian ayah bundaku yang dahulu sudah kau bunuh! Dan kedua, aku datang
mewakili guruku yang menjadi musuh besarmu!"
The Sun Tek mengerutkan alisnya. Kedudukan dirinya sebagai panglima besar yang memimpin pasukan
memang banyak resikonya. Entah berapa banyak orang yang dapat menaruh dendam kepadanya karena
orang tuanya terbunuh dalam perang.
"Hemm, siapakah nama ayah bundamu itu, Nona? Aku tidak merasa pernah membunuh orang, kecuali
tentu saja dalam perang. Apakah dahulu ayah bundamu itu tewas dalam peperangan melawan
pasukanku?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Aku tidak tahu siapa ayah bundaku, tidak pernah mengenalnya karena sejak aku masih bayi engkau telah
membunuh mereka."
"Lalu bagaimana engkau dapat tahu bahwa aku pembunuh mereka?"
"Guruku yang memberi tahu."
"Aha, gurumu yang kau wakili untuk menghadapi aku sebagai musuh besarnya itu? Dan siapa gerangan
nama gurumu itu, Nona?"
"Guruku adalah Ang Hwa Nio-nio!"
The Sun Tek membelalakkan kedua matanya, kemudian wajahnya nampak muram dan mengandung duka.
"Ahhh, Hong Bwe... Hong Bwe, sampai begitu mendalamkah bencimu terhadap diriku? Bertahun tahun aku
mencarimu dan kini tiba-tiba muncul muridmu untuk membunuhku."
Cu In tidak mengerti apa yang dimaksudkan pria itu. Ia sudah melolos sabuk suteranya dan berkata, "The
Sun Tek, bersiaplah engkau untuk menghadapi seranganku!"
"Nanti dulu, nona Souw. Bersabarlah karena aku tak akan pernah melarikan diri darimu. Engkau tidak
dapat membunuh orang begitu saja tanpa alasan yang kuat. Engkau harus yakin benar bahwa aku adalah
pembunuh orang tuamu. Dan tentang permusuhanku dengan gurumu Ang Hwa Nio-nio itu, tidakkah
engkau ingin untuk mengetahui sebab sebabnya?"
"Aku hanya mendengar tentang kematian ayah bundaku dari guruku, dan kalau guruku sampai
menganggap bahwa engkau musuh besarnya, tentulah engkau telah melakukan hal yang amat jahat
terhadap subo."
"Tahan dulu dan dengarlah sebentar penjelasanku. Aku melihatmu sekarang ini, tiada ubahnya seperti
melihat gurumu ketika itu! Bentuk tubuhmu, matamu itu, dan suaramu! Engkau seperti pinang dibelah dua
dengan Hong Bwe! Karena itulah aku ingin engkau mendengar penjelasanku."
Cu In meragu. Dia tidak mengenal siapa itu Hong Bwe, akan tetapi dia pun tidak dapat menolak keinginan
orang tua ini untuk menceritakan persoalannya dengan gurunya. Dia pun meragukan, jangan-jangan bukan
orang ini pembunuh ayah bundanya. Subo-nya bercerita demikian mungkin hanya supaya dia membenci
orang ini.
"Sesukamu, bicaralah, akan tetapi jangan harap aku akan percaya begitu saja terhadap keteranganmu."
"Percaya atau tidak terserah padamu. Terima kasih jika engkau suka untuk mendengar ceritaku. Silakan
duduk, nona Souw."
The Sun Tek mempersilakan Cu In duduk. Gadis ini pun lalu mengambil tempat duduk berhadapan dengan
panglima itu. Mereka hanya terhalang oleh sebuah meja kecil.
Setelah menghela napas panjang beberapa kali, The Sun Tek berkata, "Aku tidak tahu sampai tingkat apa
ilmu silatmu, akan tetapi kalau gurumu sudah mengutusmu untuk membunuhku, aku percaya bahwa
engkau tentu cukup lihai. Barangkali nanti aku akan terbunuh olehmu, oleh karena itu aku senang bahwa
engkau suka mendengar ceritaku. Terjadinya cerita ini kurang lebih dua puluh tahun yang lalu. Pada saat
itu, aku belum menjadi seorang panglima, akan tetapi aku suka bertualang di dunia kang-ouw dan
mengenal banyak tokoh kang-ouw. Aku lalu bertemu seorang gadis kang-ouw bernama Sim Hong Bwe.
Kami berkenalan dan saling jatuh cinta. Ketika itulah aku melamar pekerjaan sebagai seorang perwira
muda. Karena orang tuaku mengenal panglima yang bertugas menerima para perwira muda, maka aku
pun dapat diterima sebagai seorang perwira. Orang tuaku lalu mendesakku untuk menikah. Ketika aku
memberi tahu bahwa aku telah mempunyai seorang pilihan hati, yaitu Sim Hong Bwe, ayahku menjadi
marah. ‘Menikah dengan seorang gadis kang-ouw? Tidak!’ katanya. Karena aku telah memiliki tugas dan
kedudukan, aku harus menikah dengan seorang gadis baik-baik, berasal dari keluarga yang terhormat. Aku
tidak mampu membantah ayahku, maka terpaksa aku menerima saja dijodohkan seorang gadis puteri
seorang bangsawan."
dunia-kangouw.blogspot.com
Sampai di sini The Sun Tek menghentikan ceritanya, agaknya dia mengingat kembali peristiwa yang
membuatnya selalu berduka itu. Dia memandang kepada Cu In, akan tetapi Cu In tidak mengacuhkannya.
Dia tidak tahu apa hubungannya semua itu dengan tugasnya untuk membunuh musuh besarnya ini.
"Aku harus menghadapi kemarahan Sim Hong Bwe. Ia tidak mau mendengar alasanku, bahkan ia menolak
keras ketika aku mengusulkan supaya ia suka menjadi selirku. Kalau hanya sebagai selir, tentu ayahku
tidak akan keberatan. Akan tetapi Hong Bwe menolak dan menuntut supaya aku menikahinya sebagai
isteri yang sah. Aku tak mungkin dapat memenuhi permintaannya dan ia menjadi demikian marah sehingga
meninggalkan aku begitu saja. Padahal, pada waktu itu ia telah mengandung! Ia mengandung anakku dan
sejak itu aku tak pernah dapat menemukannya. Aku selalu mencarinya, bahkan sampai sekarang aku
masih terus mencarinya. Akan tetapi ia selalu menghilang begitu aku bisa menemukan tempat
persembunyiannya. Aku pun mendengar bahwa ia telah melahirkan seorang anak perempuan, akan tetapi
tidak pernah aku melihat anakku itu pula."
Cu In mengamati wajah di depannya dengan tajam dan penuh selidik. Wajah itu nampak jujur dan tidak
berbohong. Ia menjadi bingung ketika mulai dapat menangkap bahwa yang disebut Hong Bwe itu tentulah
nama kecil subo-nya. Akan tetapi subo-nya tidak mempunyai anak perempuan! Anak laki-laki pun tidak.
Subo-nya tidak mempunyai anak!
"Nah, demikianlah keadaannya, nona Souw. Sim Hong Bwe itu ialah gurumu. Aku sudah mendengar
bahwa ia memakai nama Ang Hwa Nio-nio karena di rambutnya selalu ada kembang merah. Itu memang
kesenangan dan kebiasaan Hong Bwe, selalu menghias rambutnya dengan bunga merah. Sekarang
engkau sudah tahu apa sebabnya maka ia membenciku dan kini mengutusmu untuk membunuhku. Tapi
aku mencintainya, sampai sekarang pun masih tetap mencintainya. Sekarang isteriku telah meninggal
dunia akibat sakit, dan aku mengharapkan Hong Bwe untuk menjadi isteriku. Akan tetapi, agaknya ia tidak
dapat memaafkan aku. Nona Souw, engkau muridnya, tentu engkau mengerti bagaimana keadaannya
dengan puterinya. Sudah besarkah sekarang anakku itu? Siapa pula namanya?"
Cu In menggelengkan kepalanya. "Subo tidak pernah mempunyai seorang puteri, juga tidak mempunyai
putera. Subo tidak pernah menikah dan tidak mempunyai anak."
Ia tidak menceritakan betapa subo-nya sangat benci kepada laki-laki. Bahkan sejak ia masih kecil, ia sudah
dilatih untuk membenci dan tidak percaya kepada pria, terutama kepada pria yang mencintanya! Agaknya
sakit hati subo-nya terhadap The Sun Tek demikian mendalam, membuat ia menjadi pembenci laki-laki.
"Nah, demikianlah ceritaku. Aku tak pernah membunuh orang begitu saja karena urusan pribadi. Jika aku
membunuh orang, tentu hal itu terjadi dalam perang. Maka aku merasa tidak pernah membunuh ayah
bundamu. Mungkin dulu ayahmu berada dalam pasukan musuh sehingga dalam perang aku
membunuhnya, akan tetapi tak mungkin ibumu juga ikut berperang. Aku yakin bahwa itu hanya suatu akal
dari Hong Bwe untuk membuat engkau membenci padaku, kemudian membalas dendam kematian ayah
bundamu. Dan melihat keadaan dirimu, walau pun mukamu tertutup cadar, aku hampir yakin bahwa
engkaulah anak itu, Nona! Engkaulah anak dari Hong Bwe sendiri. Engkaulah anakku. Perasaanku
mengatakan demikian. Suaramu dan pandang matamu itu tidak akan dapat menipuku. Itulah suara dan
mata Hong Bwe! Ya Tuhan demikian bencikah ia kepadaku sehingga ia ingin melihat anakku sendiri
membunuhku?"
Cu In bangkit berdiri. Mukanya menjadi pucat. Kemungkinan itu menyerbu pikirannya. Besar sekali
kemungkinan apa yang diduga orang tua ini benar. Ia sendiri mempunyai perasaan yang aneh terhadap
panglima ini. Tidak ada rasa benci, bahkan ada perasaan iba kepadanya. Jangan-jangan dia benar
ayahnya!
Pada saat itu terdengar bentakan suara lembut, "Cu In, cepat laksanakan perintahku. Jangan dengar dia
dan bunuhlah musuh besar kita itu!"
Yang muncul adalah Ang Hwa Nio-nio. Mukanya kemerahan dan sepasang matanya mencorong penuh
kebencian ditujukan kepada The Sun Tek.
Panglima itu melangkah maju menghampiri, "Hong Bwe...! Ahhh, bertahun-tahun aku mencarimu, Hong
Bwe. Akan tetapi engkau selalu menyingkir. Kembalilah kepadaku, Hong Bwe dan sekarang aku dapat
memenuhi permintaanmu. Engkau dapat menjadi isteriku. Dan anak kita! Bukankah nona Souw ini anak
kita? Begitu kejamkah engkau menyuruh anak kita untuk membunuhku?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kejam katamu? Orang seperti engkau ini masih bisa mengatakan orang lain kejam? Engkau yang
membuat aku hidup sengsara dan merana selama dua puluh tahun! Engkaulah manusia yang paling kejam
di dunia. Cu In, cepat kau bunuh dia!"
Akan tetapi kini Cu In memandang kepada subo-nya dengan sinar mata penuh tuntutan. "Subo, benarkah
dia itu ayahku?"
"Hemmm, Cu In, jangan sebut subo kepadanya, melainkan ibu!" kata The Sun Tek, kini dia hampir yakin
bahwa gadis itu pasti anaknya dari Hong Bwe.
"Tidak peduli dia itu apamu, engkau harus membunuhnya. Sekarang juga! Hayo, cepat serang dan bunuh
dia!" kembali Ang Hwa Nio-nio membentak, suaranya bercampur tangis saking jengkel hatinya.
"Akan tetapi, Su... bo...!"
"Tidak ada tetapi, hayo laksanakan perintahku!"
"Tidak! Kalau benar dia itu ayahku, aku tidak akan membunuhnya!"
"Kau... kau... berani membantah perintahku? Dari kecil engkau kubesarkan, kupelihara, kudidik, hanya
untuk melaksanakan keinginanku ini. Kalau engkau tidak mau, aku akan membunuhmu di depan matanya!"
Ang Hwa Nio-nio menggertak sambil menghunus pedangnya.
"Jawab dulu, apakah benar dia itu ayahku dan engkau ibuku? Kalau sudah kau jawab, baru aku akan
menentukan sikapku."
"Ya atau tidak, engkau harus membunuhnya atau engkau akan kubunuh sendiri!"
"Tidak! Aku tidak mau!"
"Kalau begitu mampuslah kau di depan matanya!" Ang Hwa Nio-nio lalu menggerakkan pedangnya dan
menyerang Cu In dengan ganasnya. Cu In meloncat ke belakang akan tetapi pedang gurunya mengejar
terus.
"Tranggg...!"
Pedang itu tertangkis dan terpental oleh sebatang pedang lain, yaitu pedang di dalam genggaman tangan
The Sun Tek.
"Hong Bwe, tahan dulu! Apakah engkau sudah menjadi gila? Gila oleh dendam yang kau buat sendiri?
Hong Bwe, aku memang telah bersalah kepadamu, kesalahan karena keadaan, karena desakan orang tua.
Aku bersedia minta maaf kepadamu sejak lama, dan kini aku bersedia menerimamu sebagai isteriku yang
sah. Mengapa engkau masih mendendam dan hendak memaksa anak kita membunuhku? Jika dia tidak
mau engkau bahkan akan membunuhnya di depan mataku? Begitu kejamkah hatimu, Hong Bwe? Tidak
ingatkah engkau betapa dahulu kita saling mencinta dan sampai sekarang pun aku masih mencintamu?
Hong Bwe, aku menyesal sekali, aku minta maaf kepadamu, aku mohon ampun kepadamu. Apa bila
engkau masih mendendam, nah, inilah dadaku, tusuklah dan aku tidak akan melawanmu. Aku rela mati di
tanganmu kalau hal itu akan membahagiakan hatimu. Akan tetapi jangan paksa anakku membunuhku!"
Sim Hong Bwe atau Ang Hwa Nionio tertegun memandang pria itu. Tiba-tiba tangannya gemetar,
pedangnya terlepas dari tangannya, lalu telunjuknya menuding ke arah muka The Sun Tek.
"Kau... kau... ahhhhh...!"
Tubuhnya terhuyung dan ia tentu akan jatuh kalau tidak cepat The Sun Tek merangkul dan memapahnya.
Akan tetapi Ang Hwa Nio-nio telah jatuh pingsan dalam rangkulan panglima ini.
Cu In memalingkan mukanya. Kedua matanya basah air mata, bukan hanya karena keharuan melainkan
karena sedih hatinya bahwa ibu kandungnya sendiri yang hendak memaksa ia membunuh ayah
kandungnya. Sungguh ibunya keterlaluan. Karena sakit hati, membuahkan pembalasan dendam yang
teramat kejam.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dendam ibunya kepada ayahnya demikian mendalam sehingga ia tidak puas jika harus membunuhnya
sendiri, tapi menyuruh anak kandung mereka yang membunuhnya. Dan pada saat terakhir, ucapan The
Sun Tek agaknya membuatnya lemas, lemah lunglai dan tidak dapat menahan jeritan hatinya sendiri
bahwa selama ini, sampai kini, ia masih mencintai pria itu! Cu In berlari meninggalkan tempat itu dengan air
mata bercucuran.
"Cu In...!" Terdengar The Sun Tek memanggi-manggil, akan tetapi Cu In tidak peduli dan berlari terus,
meloncati pagar tembok meninggalkan rumah besar itu.
Sementara itu, Ang Hwa Nio-nio mulai sadar dari pingsannya. Melihat ia berada dalam rangkulan bekas
kekasihnya, ia meronta dan meloncat berdiri. The Sun Tek berlutut di depan kakinya.
"Hong Bwe, aku mohon ampun darimu. Lihatlah, aku benar-benar menyesal dan ingin menebus semua
kesalahanku kepadamu. Aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk membahagiakanmu. Bila perlu aku
akan mengundurkan diri dari jabatanku. Seharusnya hal ini sejak dahulu kulakukan. Maafkanlah aku dan
terimalah uluran tanganku ini, Hong Bwe."
Wanita itu seperti nanar, memandang sekeliling. "Mana dia...? Mana Cu In anakku...?" Baru sekarang ia
terang-terangan menyebut gadis itu sebagai anaknya.
"Ia telah lari. Dapat kubayangkan betapa sakit hatinya melihat ayah dan ibunya sendiri hampir saling
bunuh. Ahh, kelak kita harus memberi cinta kasih dan kesayangan kepada anak kita."
"Aku juga telah bertindak keliru menuruti hatiku yang panas dan penuh dendam. Aku sudah membuat ia
menjadi pembenci pria dan ia bahkan rela memakai cadar supaya mukanya jangan sampai terlihat pria.
Aku mabuk dendam karena engkau..."
"Aku menyesal. Sekarang marilah kita bangun kembali rumah tangga kita, kita hidup bahagia seperti
dulu..." The Sun Tek memegang kedua tangan wanita itu.
Ketika itu muncul seorang pemuda berusia dua puluhan tahun, pemuda yang tampan dan gagah. Melihat
The Sun Tek sedang bercakap-cakap dengan seorang wanita asing di taman dalam suasana yang begitu
akrab, memegang kedua tangannya, dia berhenti melangkah, memandang dan tidak berani bertanya.
The Sun Tek mendengar langkahnya dan menoleh, kemudian berkata kepada Ang Hwa Nio-nio. "Dia ini
The Kong, anakku, anak kita karena ibunya telah meninggal. Aku hidup menduda sejak isteriku meninggal
dan selalu mengharapkan kedatanganmu. Kong-ji, ini adalah ibumu, pengganti ibumu. Beri hormat
kepadanya dan tinggalkan kami berdua di sini!"
The Kong dengan patuh memberi hormat kepada Ang Hwa Nio-nio dengan menyebut ‘ibu’, kemudian pergi
dari taman meninggalkan mereka berdua.
"Hong Bwe, seperti sudah kukatakan tadi. Bertahun-tahun aku hidup menduda, tidak mau kawin lagi
karena aku mengharapkan engkau. Kini engkau sudah datang, hiduplah bersamaku sebagai isteriku, Hong
Bwe. Rumah ini seolah dunia gelap yang mendapat matahari kalau engkau berada di sini. Anakku Kong-ji
adalah seorang anak yang baik dan patuh. Tadi pun dia sudah menyebutmu sebagai ibunya, pengganti
ibunya."
"Hemmm, kau kira luka di hati yang hancur luluh ini sedemikian mudahnya sembuh? Kalau engkau benarbenar
hendak memperisteri aku, engkau harus dapat mencari Cu In dan membawanya pulang kepadaku di
Beng-san. Aku hanya mau kau boyong ke sini kalau Cu In bersamaku. Kalau sudah begitu, kita boleh
melupakan semua kesalahan masa lalu. Nah, aku pergi dulu dan menunggu kedatanganmu bersama Cu
In!" Setelah berkata demikian, wanita itu menyambar pedangnya, melompat dan pergi dengan cepat.
"Hong Bwe...!"
Akan tetapi The Sun Tek maklumi bahwa wanita itu tidak akan mau berhenti. Mau atau tidak terpaksa dia
harus melaksanakan permintaan Hong Bwe kalau dia menghendaki hidup sebagai suami isteri dengannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sambil menghela napas panjang karena hatinya merasa lega seolah-olah batu yang amat berat dan yang
selama ini menindih hatinya telah diangkat pergi. Harapan baru bagaikan cahaya matahari
menggantikannya menyentuh hatinya.
Dia berjanji kepada diri sendiri untuk dapat menemukan Cu In dan membujuknya agar mau pulang ke
Beng-san bersamanya…..
********************
Gadis manis dan ayahnya itu dikerumuni banyak orang di depan pasar di kota Leng-an. Mereka adalah
seorang gadis bersama dengan ayahnya yang bermain silat, sengaja mempertontonkan kepandaian
mereka sehingga menarik banyak perhatian penonton. Setelah gadis itu bersilat dengan sepasang
pedangnya dengan gerakan indah dan kuat serta cepat sehingga mendapat tepuk tangan kagum dari para
penonton, sang ayah lalu melangkah maju dan memberi hormat kepada semua penonton di sekelilingnya.
"Cu-wi (saudara sekalian) yang mulia. Kami ayah dan anak mohon maaf sebesarnya bila kami berani
mempertontonkan ilmu silat kami yang masih rendah. Terutama kepada para eng-hiong (pendekar) yang
kebetulan berada di sini, hendaknya dimaklumi bahwa kami sama sekali tidak bermaksud untuk
membanggakan kepandaian kami. Kalau kami mempertontonkan kepandaian, tidak lain karena kami
kekurangan dan kehabisan bekal dalam perjalanan ini dan mengharapkan sumbangan suka rela dari para
penonton, di samping itu juga mengharapkan mudah-mudahan puteriku akan menemukan jodohnya di
tempat ini."
Ucapan yang terus terang itu disambut sorak-sorai dan tepuk tangan. Sekarang tahulah semua orang
bahwa gadis itu hendak mencari jodohnya melalui pertandingan silat. Tentu nanti akan ramai kalau ada
pemuda yang berani mencoba-coba.
Dan dugaan semua orang benar saja. Penawaran jodoh itu menarik perhatian banyak orang. Hal ini tidak
aneh karena gadis itu memang manis sekali.
Wajahnya berbentuk bulat telur, dengan anak rambut melingkar-lingkar di pelipis serta dahinya. Rambutnya
yang hitam panjang itu digelung ke atas dengan ringkas. Kulitnya agak gelap, akan tetapi menambah
kemanisannya.
Matanya tajam dan bersinar-sinar penuh gairah hidup, hidungnya kecil mancung serta mulutnya
mengandung daya tarik yang amat kuat. Mulut itu selalu mengandung senyum memikat, dengan lesung
pipit di kiri bibir. Mulut dan mata gadis ini yang benar-benar memikat. Usianya pun paling banyak delapan
belas tahun.
Namun karena semua orang sudah menyaksikan ketika gadis itu tadi berdemonstrasi silat tangan kosong
kemudian silat sepasang pedang, yang berani maju hanya mereka yang merasa dirinya cukup tangguh
saja.
Mula-mula seorang pemuda berpakaian ringkas seperti seorang jago silat yang maju. Pemuda berbaju biru
ini melompat ke depan dengan sikapnya yang gagah dan semua orang bertepuk tangan ketika
mengenalnya sebagai putera seorang guru silat di kota itu. Pemuda itu memang agak menyombongkan
kepandaiannya, akan tetapi dia memang belum mempunyai seorang isteri.
"Saya ingin mencoba-coba ilmu kepandaian Nona!" katanya dengan gagah dan terang-terangan sehingga
banyak orang tersenyum lebar.
Ayah gadis itu melangkah maju dan bertanya, "Apakah Sicu hendak menyumbang?"
"Saya memiliki sedikit uang untuk menyumbang, akan tetapi saya lebih ingin mencoba ilmu silat puteri
Paman. Siapa tahu kami bisa berjodoh." Ucapan ini disambut gelak tawa para penonton dan sang ayah
memberi isyarat kepada puterinya untuk maju.
Gadis itu juga bukan seorang gadis pemalu. Dengan sikap tenang ia melangkah maju menghadapi pemuda
baju biru dan bertanya, "Aduh, kepandaian yang manakah yang Sicu kehendaki? Tangan kosong atau
dengan senjata?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ah, Nona. Kita hanya bermain-main untuk meramaikan suasana, bukan berkelahi untuk saling melukai.
Maka sebaiknya kita main-main dengan tangan kosong saja."
"Baiklah. Nah, saya sudah siap, Sicu boleh mulai!" kata gadis itu sambil memasang kuda-kuda.
"Aku seorang laki-laki, Nona boleh menyerang terlebih dahulu!" kata pemuda baju biru, mengambil sikap
mengalah untuk menarik perhatian.
"Kalau begitu baiklah. Awas, saya mulai menyerang!"
Gadis itu mengirim pukulan cepat ke arah dada si pemuda. Pemuda itu mengelak ke kiri dan membalas
dengan tamparan ke arah pundak, namun dengan mudah tamparan ini dielakkan oleh gadis itu. Segera
serang menyerang terjadi dengan seru.
Akan tetapi, bagi mereka yang mempunyai kepandaian, setelah lewat belasan jurus saja sudah
ketahuanlah bahwa pemuda itu bukan tandingan si gadis. Dia mulai terdesak dan gerakan gadis itu
sedemikian cepatnya, terlalu cepat bagi pemuda baju biru sehingga dia tidak mempunyai kesempatan
sama sekali untuk menyerang dan hanya dapat mengelak atau menangkis terhadap serangan gadis itu
yang datangnya bertubi-tubi. Belum lewat dua puluh jurus, sebuah tendangan kaki gadis itu mengenai lutut
si pemuda dan pemuda itu pun terpelanting jatuh.
Sorak-sorai menyambut kemenangan gadis ini. Pemuda baju biru itu dengan muka merah bangkit kembali
dan setelah memberi hormat lalu mundur, mengaku kalah.
Tiba-tiba seorang lelaki berusia kurang lebih empat puluh tahun, tubuhnya tinggi besar dan mukanya hitam,
meloncat ke tengah lingkaran itu. Matanya yang besar memandang kepada gadis itu dan terdengar
suaranya yang parau dan lantang.
"Aku Hek-houw (Macan Hitam) Bong Kiat ingin mencoba-coba kepandaian Nona!"
Terdengar seruan-seruan di sana sini ketika Bong Kiat memasuki sayembara memilih suami itu.
"Dia sudah beranak-isteri!"
"Tidak pantas kalau dia ikut!"
Mendengar seruan-seruan itu, Bong Kiat membusungkan dadanya dan memandang ke sekelilingnya. "Aku
Bong Kiat memang sudah beranak-isteri, akan tetapi siapa yang bisa melarangku memilih seorang gadis
untuk menjadi selirku? Hayo katakan, siapa berani melarang?"
Si Macan Hitam Bong Kiat memang sudah terkenal sebagai seorang jagoan yang biasa malang melintang
di kota Leng-an, sering menimbulkan keributan karena memaksakan kehendaknya sehingga semua orang
menjadi takut. Tentu saja tantangannya itu tidak ada yang berani menyambut dan para penonton hanya
diam saja.
Melihat ini, ayah gadis itu maju menyambut Bong Kiat dengan merangkap kedua tangan depan dada lalu
berkata, "Kami Liong Biauw dan anak Liong Siok Hwa ini memang sedang mencari jodoh, namun untuk
menjadi seorang isteri yang baik, bukan menjadi seorang selir. Oleh karena itu, harap Sicu suka
mengurungkan niatnya untuk mengadu kepandaian."
"Apa kau bilang barusan? Mengurungkan niatku mengadu kepandaian untuk memasuki sayembara ini?
Tidak bisa! Engkau tadi sudah mengatakan bahwa siapa yang dapat mengalahkan Nona ini akan menjadi
jodohnya, maka sekarang aku hendak mencoba kepandaiannya. Kalau aku kalah, sudahlah, akan tetapi
bila aku menang, Nona ini harus menjadi selirku!"
"Tidak ada yang mengatakan begitu, Sicu. Memang tadi aku mengatakan bahwa kami mengharapkan anak
kami mendapatkan jodoh di sini, akan tetapi bukan untuk menjadi selir. Dan perjodohan bukan hanya
ditentukan oleh kalah menangnya pertandingan, melainkan oleh cocok tidaknya anakku dengan calon
jodohnya."
"Aih, tidak peduli! Pendeknya, anakmu harus melayani aku bertanding, atau kalau perlu ayahnya boleh
maju mewakilinya. Kalau kalian tidak berani, kalian harus cepat pergi dari kota ini!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Liong Biauw, sang ayah, tentu saja tidak ingin mencari permusuhan, maka dia pun lalu menghela napas
panjang dan berkata kepada puterinya, "Siok Hwa, kemasilah barang-barangnya. Kita pergi saja dari kota
ini." Jelas bahwa dia tak ingin melanjutkan keributan dengan Si Macan Hitam.
Akan tetapi, ketika penonton menjadi kecewa karena pertunjukan yang menarik itu akan berhenti, tiba-tiba
dari penonton muncul seorang pemuda.
"Tahan dulu!" kata pemuda itu, lalu dia menghadapi Bong Kiat. "Sobat engkau sungguh tak tahu malu.
Orang sudah menolak untuk bertanding denganmu karena engkau sudah berkeluarga, mengapa engkau
memaksa? Bagaimana kalau aku mewakili Nona itu maju menandingimu?"
Bong Kiat memandang pemuda itu dengan mata penuh selidik. Dia seorang pemuda yang tampan dan
gagah, tubuhnya tinggi besar, mukanya bundar dan matanya lebar. Belum pernah dia melihat pemuda ini,
akan tetapi watak Bong Kiat memang selalu meremehkan orang lain.
"Tentu saja boleh, kalau engkau memang sudah bosan hidup!"
Pemuda itu lalu memberi hormat kepada Liong Biauw dan berkata, "Paman, sebetulnya saya pun ingin
mencoba kepandaian puteri Paman, akan tetapi terdapat gangguan dari orang tidak tahu malu ini. Maka
saya mohon perkenan Paman untuk mewakili puterimu memberi hajaran kepadanya."
Liong Biauw merasa tertarik dan suka kepada pemuda ini. Seorang pemuda yang sudah matang, usianya
sekitar tiga puluh tahun dan matanya yang lebar itu bersinar tajam. Dia pun mengangguk dan berkata,
"Silakan saja akan tetapi berhati-hatilah, dia bukan lawan yang lemah."
Mendengar ini, Bong Kiat menjadi semakin sombong. "Hai bocah tidak tahu diri. Berani engkau
mencampuri urusan orang lain. Agaknya tidak mengenal siapa Si Macan Hitam! Perkenalkan namamu
sebelum engkau berkenalan dengan tinjuku!"
Pemuda itu tersenyum mengejek dan berkata, "Namaku Ji Lam Sang, dari kota raja."
Pemuda itu sesungguhnya adalah Gulam Sang. Setelah diakui sebagai putera angkat oleh Pangeran Tao
Seng, dia berhak memakai nama Tao Lam Sang. Akan tetapi karena kini Pangeran Tao Seng sendiri
sedang menyamar sebagai hartawan Ji, maka dia pun mengaku marga Ji. Belum tiba saatnya dia
menggunakan nama keluarga kerajaan itu.
Secara kebetulan saja Lam Sang lewat di kota itu dan hatinya tertarik melihat banyak orang melihat
pertunjukan silat itu. Dia pun menjenguk pertunjukan itu dan jantungnya berdebar. Dia bukan seorang lakilaki
yang mata keranjang, akan tetapi entah mengapa, begitu melihat Liong Siok Hwa, hatinya tertarik
sekali. Maka kalau tadinya hanya ingin menjenguk sebentar, dia lalu menjadi penonton.
Ia melihat betapa pemuda baju biru dikalahkan gadis itu. Diam-diam ia semakin kagum. Ilmu silat gadis itu
lumayan tinggi. Lalu muncullah Bong Kiat yang hendak memaksakan kehendaknya. Melihat betapa Liong
Biauw dan puterinya hendak mengalah dan pergi, dia lalu turun tangan mencampuri.
“Cabut senjatamu, Ji Lam Sang, dan bersiaplah engkau untuk mampus!” kata Bong Kiat yang sudah
menghunus sebatang golok besar yang berkilauan saking tajamnya.
Semua orang bergidik melihat Si Macan Hitam sudah menghunus golok besarnya. Akan tetapi Lam Sang
sendiri hanya tersenyum menghadapi ancaman golok besar yang tajam itu, bahkan dia berkata dengan
nada mengejek.
“Untuk menghadapi golok pernotong ayam itu aku tidak perlu menggunakan senjata apa pun, cukup
dengan tangan dan kakiku saja. Nah, aku telah siap, cepat gunakan golok pemotong ayammu itu!”
Bukan main marahnya Bong Kiat mendengar ejekan ini. Kalau saja Lam Sang tadi tidak mengejeknya, dia
pun tentu akan menghadapi Lam Sang yang bertangan kosong tanpa senjata, untuk menjaga
kehormatannya. Akan tetapi ejekan itu membuatnya marah dan dia ingin cepat-cepat dapat membunuh
lawannya! Dia memutar-mutar golok besar yang berat itu di atas kepalanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Sambutlah golokku dan mampuslah!” Bong Kiat membentak dan goloknya meluncur ke depan, membabat
ke arah leher Lam Sang.
Akan tetapi, pemuda Tibet itu dengan amat mudahnya mengelak dengan merendahkan tubuhnya, dan
ketika golok itu menyambar lewat, kakinya mencuat dengan cepatnya ke depan, menendang ke arah perut
Bong Kiat. Serangan yang mendadak ini berbahaya sekali, akan tetapi Bong Kiat juga bukan orang lemah.
Dia cepat melangkah mundur sehingga tendangan itu mengenai tempat kosong.
Akan tetapi gebrakan pertama yang sudah dapat dibalas secara kontan oleh lawannya membuat Bong Kiat
berhati-hati karena ternyata lawannya memang memiliki ilmu silat yang tangguh. Kini dia mengayun
goloknya dan melakukan serangan bertubi-tubi. Golok itu membentuk gulungan sinar terang yang
menyambar-nyambar ke arah Lam Sang.
Semua orang merasa ngeri melihat buasnya serangan Bong Kiat. Akan tetapi Liong Biauw mendekati
puterinya dan berkata lirih, “Pemuda ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Dia tentu akan dapat
mengalahkan Bong Kiat itu, dan agaknya dia seorang calon jodohmu yang baik sekali.”
Wajah Siok Hwa menjadi kemerahan mendengar ucapan ayahnya itu dan ia menonton dengan penuh
perhatian.
Pertandingan masih berjalan dengan seru. Bong Kiat menjadi penasaran sekali ketika goloknya tidak
pernah mengenai lawan, bahkan kalau sekali-kali Lam Sang menangkis lengannya, dia merasa betapa
lengannya terguncang hebat dan terasa ada hawa panas menyerangnya. Dia mengamuk semakin hebat,
akan tetapi justru ini yang dikehendaki Lam Sang. Makin marah dan semakin hebat serangannya, makin
lemah pertahanannya.
Ketika goloknya menyambar, membacok kepala Lam Sang dari atas ke bawah, Gulam Sang mengelak dan
membiarkan golok itu lewat. Secepat kilat jari tangannya kemudian menyambar dan menotok ke arah siku
kanan Bong Kiat.
“Wuuuttt... dukkk!”
Bong Kiat mengeluarkan teriakan kaget. Tangan kanannya menjadi lumpuh dan golok itu dengan
sendirinya terlepas dari pegangannya dan sebelum dia tahu apa yang terjadi, tiba-tiba lengan kirinya
disambar lawan dan tubuhnya terangkat ke atas. Kiranya Lam Sang memakai kesempatan itu untuk
menangkap lengan kiri lawan dan memutarnya sehingga tubuh itu terputar ke atas lalu terbanting ke atas
tanah.
“Bukkkkk...!”
Keras sekali bantingan itu. Bong Kiat merasa tubuhnya bagaikan remuk dan kepalanya menjadi pening. Ia
mencoba bangkit, akan tetapi roboh lagi karena bumi yang diinjaknya seperti bergelombang.
Lam Sang tersenyum dan penonton menyambut kemenangan mutlak itu dengan tepuk tangan dan soraksorai.
“Cepat ambil golok pemotong ayammu dan pergi dari sini!” Lam Sang membentak.
Merasa bahwa dia sudah benar-benar kalah, hati Bong Kiat menjadi jeri. Dengan kepala masih pening ia
cepat-cepat memungut goloknya, lalu terhuyung-huyung seperti mabuk meninggalkan gelanggang itu,
ditertawakan oleh para penonton.
Lam Sang menghadapi Liong Biauw dan Siok Hwa. Ia menjura dan bertanya, “Bolehkah sekarang saya
mencoba ilmu kepandaian Nona?”
Dengan muka kemerahan Siok Hwa mengangguk. “Tentu saja boleh, akan tetapi saya bukan tandinganmu,
Kongcu.”
“Ahh, Nona terlalu merendahkan diri. Kulihat tadi ilmu pedang Nona lihai sekali. Nona boleh
mempergunakan siang-kiam itu.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Engkau sendiri bertangan kosong, bagaimana aku harus menggunakan senjata? Aku pun akan
menghadapimu dengan tangan kosong, Kongcu.”
“Terserah kepadamu, Nona. Aku telah siap, harap Nona suka mulai menyerang.”
Siok Hwa melihat betapa pemuda itu sama sekali tidak memasang kuda-kuda, hanya berdiri saja seperti
tidak sedang menghadapi pertandingan. Ia merasa tidak enak dan sebelum menyerang, ia memberi
peringatan. “Kongcu sambutlah seranganku ini!” dan ia pun menerjang dengan cepat sekali.
“Bagus!” Lam Sang memuji dan dia cepat mengelak, lalu membalas dengan tamparan tangannya.
Keduanya lalu saling serang dengan seru dan cepat. Gerakan mereka begitu cepatnya sehingga sukar
diikuti oleh pandangan mata para penonton, kecuali oleh mereka yang berkepandaian.
Liong Biauw menonton dengan penuh perhatian. Dia segera mengerti bahwa pemuda itu telah banyak
mengalah. Pemuda itu agaknya membiarkan Siok Hwa yang memimpin penyerangan. Dia sendiri lebih
banyak mengelak dan sesekali hanya membalas dengan serangan sekedarnya saja, tidak bersungguhsungguh.
Kalau dia bersungguh-sungguh, tentu sudah sejak tadi Siok Hwa dapat dikalahkannya.
Hal ini membuat hatinya merasa girang bukan main. Agaknya pemuda itu menaruh hati kepada puterinya
maka mengambil sikap mengalah.
Sementara itu, Siok Hwa menjadi bingung sendiri. Semua jurus terampuh ia keluarkan untuk menyerang
lawan, akan tetapi selalu berhasil dielakkan atau ditangkis. Dan kalau lawannya menangkis, lengannya
bertemu dengan telapak tangan yang lunak. Ia merasa heran sekali. Tenaga sinkang yang ia keluarkan
dalam penyerangannya seolah lenyap ketika bertemu dengan tangan yang lunak itu, dan kadang
tenaganya membalik.
Ia sudah mulai berkeringat, akan tetapi belum juga ia mampu mendesak lawan. Ia pun mengerti bahwa
pemuda itu mengalah. Serangan pemuda itu seenaknya saja, berbeda dengan pertahanannya yang
demikian kokoh kuat. Orang yang dapat bertahan seperti itu, kalau dikehendaki, tentu dapat menyerang
dengan hebat pula, tidak seperti pemuda itu yang menyerang hanya dengan tamparan-tamparan lemah. Ia
mulai menjadi bingung bagaimana caranya untuk mengakhiri pertandingan itu.
Tiba-tiba ia teringat akan sebuah jurus yang belum dipergunakannya. Jurus itu adalah sebuah tendangan
yang dilakukan dengan tubuh seolah ‘terbang’ di udara. Tendangan ini ampuh sekali dan jarang ada lawan
mampu manghindarkan diri.
“Haiiittt...!”
Siok Hwa membentak. Tubuhnya meloncat ke udara dan kedua kakinya mencuat dan menendang ke arah
dada dan kepala Lam Sang!
Gambar BKS-16-A
“Bagus!” Lam Sang memuji.
Ketika kedua tangannya bergerak cepat, tahu-tahu dia telah menangkap kedua kaki itu. Dia mendorong
sehingga tubuh Siok Hwa terpental, lalu berjungkir balik beberapa kali sebelum turun kembali ke atas
tanah. Indah bukan main gerakan ini dan semua orang memuji.
Akan tetapi gadis itu menjadi kemerahan mukanya, tersipu-sipu malu sedangkan Lam Sang memegang
dua buah sepatu gadis itu yang tertinggal di tangannya. Melihat ini, semua orang bersorak memuji.
Liong Biauw menghampiri pemuda itu dan menjura, “Anakku sudah kalah olehmu, Ji Kongcu.”
Lam Sang juga menjura. “Nona telah banyak mengalah, harap maafkan aku.”
Dia lalu mengembalikan sepasang sepatu itu kepada pemiliknya, dan diterima oleh Siok Hwa sambil
tersipu dan tersenyum malu-malu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Liong Biauw segera memberi hormat kepada para penonton. “Cu-wi, terima kasih atas perhatian dan
bantuan Cu-wi. Pertunjukan sudah habis dan dihentikan sampai di sini.”
Penonton mulai bubar dan Liong Biauw berkata kepada Lam Sang. “Ji Kongcu, silakan ikut dengan kami ke
pondokan kami untuk bicara.”
Lam Sang hanya mengangguk sambil tersenyum. Mereka bertiga lalu pergi ke rumah penginapan di mana
ayah dan anak itu menyewa dua buah kamar. Setelah mereka masuk ke rumah penginapan, Lam Sang
dipersilakan masuk ke kamar Liong Biauw dan di situ mereka berdua mengadakan pembicaraan. Siok Hwa
tinggal di kamarnya sendiri karena maklum apa yang akan dibicarakan ayahnya dengan pemuda itu dan ia
merasa malu untuk menghadirinya.
“Ji Kongcu, tentunya engkau sudah dapat menduga apa yang hendak kami bicarakan denganmu, bukan?”
Tentu saja Lam Sang sudah dapat menduganya, akan tetapi dia pura-pura bodoh dan bertanya, “Apakah
yang hendak Paman bicarakan? Aku tidak dapat menduganya.”
“Kongcu tentu tadi telah mendengar bahwa kami sedang mencarikan jodoh bagi anakku Liong Siok Hwa
dengan mengadakan pertandingan silat. Nah, kini ternyata engkau yang telah mampu mengalahkan Siok
Hwa, maka hal itu berarti bahwa engkau adalah jodoh Siok Hwa yang selama ini kami nanti-nanti.”
Lam Sang pura-pura kaget. “Ah, akan tetapi aku sama sekali belum mempunyai pikiran untuk menikah,
Paman!”
Liong Biauw mengerutkan alis. “Lalu mengapa engkau tadi mengajak Siok Hwa untuk mengadu
kepandaian silat?”
“Aku tadi hanya iseng-iseng karena kagum melihat ilmu kepandaian puterimu, dan aku menandingi Bong
Kiat karena tidak suka melihat ulahnya.”
“Ji Kongcu, apakah engkau tidak suka kepada Siok Hwa?”
“Aku kagum kepadanya, Paman, dan tentu saja aku suka kepadanya. Ia cantik manis dan berkepandaian
lumayan.”
“Kalau begitu, mengapa menolak? Kami sudah menyatakan setuju untuk menjodohkan ia denganmu.”
“Tidak begitu mudah bagiku untuk menikah, Paman. Harus kutanyakan dulu pada orang tuaku dan aku
sendiri belum mempunyai keinginan untuk berumah tangga.”
“Kalau begitu, harap engkau suka memberi tahukan orang tuamu. Dari sini kota raja tak berapa jauh, kami
akan menunggu keputusanmu di sini, dalam waktu seminggu engkau tentu sudah dapat kembali ke sini.
Bagaimana, Ji Kongcu?”
“Baiklah kalau begitu, Paman. Aku akan memberi tahukan orang tuaku dan dalam waktu seminggu aku
akan kembali ke sini,” kata Lam Sang.
Liong Biauw menjadi gembira sekali dan dia segera memanggil puterinya ke kamarnya. Siok Hwa muncul
dengan muka kemerahan dan kepala ditundukkan.
“Siok Hwa, kami telah membicarakan tentang perjodohan kalian. Ji Kongcu sekarang hendak pulang ke
kota raja untuk memberi tahu tentang hal itu kepada orang tuanya. Kita berdua menanti di sini, dan dalam
waktu seminggu dia akan kembali memberikan keputusannya.”
Siok Hwa makin menunduk dan tersenyum malu sambil melirik ke arah Lam Sang. “Terserah kepada Ayah
saja...” jawabnya lirih.
Lam Sang memandang gadis itu. Sungguh cantik manis dan menarik sekali. Selama hidupnya belum
pernah dia tertarik oleh wanita dan ini merupakan yang pertama kalinya dia terpesona oleh kecantikan
wanita.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi dia tidak boleh mengikatkan diri dalam pernikahan. Dia bercita-cita besar, seperti Pangeran
Tao Seng yang mengakuinya sebagai putera. Ia ingin ayah angkatnya itu menjadi kaisar dan dia menjadi
putera mahkota. Sebelum cita-cita itu tercapai, bagai mana dia boleh mengikatkan diri dalam perjodohan?
Tidak mungkin. Akan tetapi gadis ini sungguh menarik hatinya!
Lam Sang lalu berpamit kepada Liong Biauw dan Siok Hwa dan dia pergi meninggalkan rumah penginapan
itu, diantar sampai ke pintu luar oleh ayah dan anak itu.
Setelah Lam Sang pergi. Liong Biauw dengan girang berkata kepada anaknya. “Pilihan kita tepat sekali
Siok Hwa! Dia bukan hanya lihai dalam ilmu silat, akan tetapi juga tahu aturan dan berbakti kepada orang
tua. Engkau menemukan suami yang pilihan dan aku memperoleh mantu yang baik!”
“Mudah-mudahan begitu, Ayah,” jawab Siok Hwa lirih, seperti berdoa.
Dan keduanya pun kembali ke dalam rumah penginapan…..
********************
Malam itu Siok Hwa tidak dapat tidur. Dia terus membayangkan wajah Lam Sang dan kadang ia tersenyum
sendiri. Hatinya begitu girang dan penuh harapan manis sehingga dia tak dapat tidur. Kamarnya remangremang
saja, hanya menerima cahaya dari lampu gantung yang berada di luar kamarnya.
Tiba-tiba kamarnya menjadi lebih terang dan terkejutlah dia ketika melihat bahwa yang membuat kamarnya
terang itu adalah karena jendela kamarnya telah dibuka orang dari luar sehingga cahaya lampu di luar
dapat menerobos masuk. Akan tetapi sinar terang itu hanya sebentar.
Sesosok tubuh orang cepat sekali meloncat memasuki kamarnya melalui jendela dan daun jendela sudah
ditutupkan lagi dari dalam. Kini bayangan itu sudah berdiri di tengah kamarnya.
Siok Hwa bangkit duduk dan siap menerjang bayangan itu. Tentu pencuri yang sudah memasuki
kamarnya. Cepat tangannya meraih sepasang pedangnya yang diletakkan di atas meja dekat
pembaringannya.
“Ssttt... ini aku, Nona...” bisik bayangan itu.
Siok Hwa terkejut. Suara Lam Sang! Saking kaget dan herannya ia tidak mampu bicara, hanya
memandang saja bayangan itu dengan tangan kiri di atas sepasang pedang yang masih berada di atas
meja.
Bayangan itu mendekatinya. “Ini aku, Nona. Lam Sang, bukan orang lain. Simpanlah pedangmu. Engkau
tidak ingin membunuh aku, bukan?”
Barulah Siok Hwa dapat membuka mulutnya. “Engkau... Kongcu? Akan tetapi kenapa... kenapa engkau
memasuki kamarku seperti ini?”
“Aku rindu sekali kepadamu, Nona. Tak dapat aku menahan kerinduan hatiku padamu, karena itu aku
memasuki kamarmu seperti seorang pencuri. Mungkin pencuri... hati...”
Pemuda itu menghampiri sampai dekat dan duduk di tepi pembaringan, dekat sekali dengan Siok Hwa.
“Tidak... ahh, bukankah engkau tadi sudah berangkat ke kota raja untuk memberi tahu orang tuamu, Ji
Kongcu?”
“Sudah kukatakan bahwa aku rindu sekali kepadamu, maka aku kembali. Besok masih ada waktu bagiku
untuk pergi ke kota raja. Malam ini aku ingin bersamamu.”
“Tidak... tidak... tadi aku pun terus memikirkanmu, Ji Kongcu. Akan tetapi tidak seperti ini. Jangan...”
Siok Hwa tidak mampu mengeluarkan suara lagi dan tubuhnya telah lemas oleh totokan. Selanjutnya dia
hanya mampu menangis sejadi-jadinya dan menyerah kepada pemuda yang kini berubah menjadi ganas
melebihi binatang liar itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah mengalami penderitaan yang membuat dunianya hancur luluh, Siok Hwa hanya terbaring tanpa
dapat mengeluarkan kata-kata. Dan pemuda itu, pemuda yang tadinya diharapkannya menjadi suami yang
baik, pemuda yang menarik hatinya dan yang telah merusak kehormatan dirinya itu, sekarang tidur
mendengkur di sisinya! Demikian pulas tidurnya seolah-olah dia tidak pernah melakukan suatu kesalahan
apa pun!
Kurang lebih tiga jam kemudian barulah totokan pada tubuhnya membuyar dan mulailah Siok Hwa mampu
menggerakkan tubuhnya. Ia bingung, bingung bercampur sedih. Akan dibunuhnya orang ini? Akan tetapi
dia calon suaminya!
Karena tidak tahu harus berbuat apa, perlahan-lahan ia melangkahi tubuh Lam Sang, lalu berindap keluar
dari kamarnya. Ia menghampiri kamar ayahnya dan mengetuk daun pintu kamar ayahnya.
“Siapa di luar...?” tanya Liong Biauw.
“Aku, Ayah. Bukalah pintunya, cepat...!”
Daun pintu terbuka. Liong Biauw melihat puterinya dengan pakaian dan rambutnya yang awut-awutan
sedang menangis terisak-isak.
“Ada apa? Apa yang terjadi?” tanya Liong Biauw bingung.
Siok Hwa menubruk ayahnya dan menangis dalam rangkulan ayahnya. “Ayah... dia... dia kembali...”
“Apa...? Siapa...?”
“Ji Kongcu! Dia memasuki kamarku dan... dan dia memperkosaku...” Gadis itu kembali menangis.
Tentu saja Liong Biauw terkejut bukan main mendengar Ini. “Keparat! Di mana dia sekarang?”
“Tertidur di kamarku...”
Liong Biauw berlari memasuki kamarnya mengambil pedang, lalu lari menuju ke kamar Liong Siok Hwa.
Karena pintunya sudah dibuka oleh gadis itu ketika keluar tadi, dia langsung menerjang masuk. Dalam
cuaca yang remang-remang itu dia melihat sesosok tubuh tidur membujur di atas pembaringan.
Saking marahnya, orang tua ini tidak mengeluarkan sepatah pun kata lagi dan langsung menerjang,
membacokkan pedangnya ke arah tubuh itu. Akan tetapi tiba-tiba tubuh itu bergerak menendang, tepat
mengenai pergelangan tangan kanan Liong Biauw yang memegang pedang sehingga pedangnya terlepas
dari pegangan.
Lam Sang yang tadi terbangun segera meloncat turun. Dengan jari-jari tangan terbuka dia menyerang
Liong Biauw. Hebat sekali serangan itu, tidak dapat ditangkis atau pun dielakkan lagi oleh Liong Biauw. Dia
berteriak dan roboh berkelojotan. Dadanya terkena hantaman tangan terbuka itu dengan pukulan beracun,
pukulan maut.
Liong Siok Hwa melompat masuk.
”Ayah...!” teriaknya, akan tetapi tubuhnya segera lemas tertotok dan dia pun dipanggul oleh Lam Sang
yang segera melompat keluar dari tempat itu.
Tidak ada orang menyaksikan peristiwa itu. Baru pada keesokan harinya para pelayan rumah penginapan
menjadi gempar melihat pintu kamar terbuka dan tubuh Liong Biauw sudah menjadi mayat, sedangkan
puterinya lenyap entah ke mana!
Pagi itu, Siok Hwa diturunkan dari pundak Lam Sang. Gadis itu menangis, lalu meronta dan setelah dapat
bergerak, ia langsung menyerang pemuda itu dengan pukulan tangan kanannya. Akan tetapi dengan
mudah Lam Sang menangkap pergelangan tangan itu dan sekali puntir dia sudah dapat menangkap gadis
itu yang menjadi tidak berdaya.
“Engkau hendak melawanku? Bodoh! Aku justru tidak ingin membunuhmu karena aku suka kepadamu,
Siok Hwa,” kata Gulam Sang sambil melepaskan pergelangan tangan itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kau... jahanam busuk...!” Setelah dilepaskan, kembali Siok Hwa menyerang.
Akan tetapi sekali ini Gulam Sang mengelak dan sekali mendorong dengan tangannya, gadis itu pun
terpelanting keras.
“Engkau bukan lawanku, Siok Hwa. Dengar baik-baik, kalau aku hendak membunuhmu, mudahnya seperti
membalikkan telapak tangan saja. Akan tetapi aku sama sekali tidak ingin membunuhmu, bahkan aku ingin
engkau ikut aku dan membantu usahaku. Kelak, kalau aku menjadi pengeran, engkau akan menjadi
seorang selirku yang tercinta.”
Siok Hwa memandang penuh kebencian, dengan air mata bercucuran di atas kedua pipinya.
“Engkau...engkau telah membunuh ayahku!”
“Salah! Dialah yang hendak membunuh aku maka terpaksa aku lenyapkan dia. Salahmu juga karena
engkau melapor kepada ayahmu. Kalau dia tidak menyerangku, untuk apa aku membunuhnya?”
“Kau... kau jahat...!”
“Kembali engkau keliru. Aku baik sekali padamu, dan aku sayang padamu.” Kini suara Gulam Sang
berubah, penuh getaran dan penuh wibawa.
Mendadak saja Siok Hwa merasa dirinya lemas, pikirannya bagaikan melayang-layang. Kiranya Gulam
Sang mulai mempergunakan sihirnya.
“Mulai sekarang engkau akan menuruti semua kehendakku. Engkau akan selalu taat kepadaku!”
Siok Hwa menunduk. “Aku... akan taat kepadamu,” katanya lirih dan tanpa tenaga.
Gulam Sang merasa girang sekali karena sudah dapat menguasai Siok Hwa.
“Mulai sekarang, ikutlah ke mana aku pergi kecuali kalau kularang. Sekarang, ikuti aku!”
Gulam Sang lalu membalikan badan dan melangkah pergi. Dan seperti telah kehilangan semangatnya,
Siok Hwa lalu mengikutinya. Kalau Gulam Sang berlari, ia pun ikut pula berlari!
Mulai saat itu, Siok Hwa telah berada dalam cengkraman Gulam Sang. Sekali waktu, ingatannya kembali
dan apa bila dia teringat akan kematian ayahnya dan akan keadaan dirinya, dia menangis.
Akan tetapi ia segera terhibur kalau Gulam Sang sudah mengeluarkan kata-kata hiburan yang
mengandung kekuatan sihir…..
********************
Cu In masih menangis tanpa suara ketika ia berjalan seorang diri masih di kota raja, setelah dia
meninggalkan rumah The Sun Tek. Pikirannya masih kacau. Hatinya terasa hancur luluh. Padahal,
sepatutnya ia berbahagia sekali karena ternyata ayah bundanya masih hidup! Ia bukan anak yatim piatu.
Gurunya adalah ibu kandungnya dan The Sun Tek adalah ayah kandungnya. Sepatutnya ia bersyukur.
Akan tetapi kenyataannya lain.
Ibunya sendiri mendidiknya sebagai murid hanya untuk diadu dengan ayah kandungnya. Ia harus
membunuh ayah kandungnya sendiri! Demikian parah racun dendam merusak hati ibunya sehingga wanita
itu ingin melihat kekasihnya terbunuh oleh puterinya sendiri.
Sebuah kereta meluncur berpapasan dengan Cu In. Kereta itu segera dihentikan dan seorang gadis
menyingkap tirai kereta dan memanggil-manggilnya.
“Enci Cu In...! Enci Cu In...!”
Cu In membalikkan tubuhnya memandang dan dia segera dapat mengenali gadis yang memanggil dirinya
itu. Gadis itu bukan lain adalah Yo Han Li, gadis yang membantunya ketika ia dikeroyok oleh orang-orang
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwi-kiam-pang. Gadis itu beserta gurunya, Kai-ong telah membantunya sehingga ia dapat terlepas dari
pengeroyokan yang berbahaya.
Dan dia pun mengenal gadis itu dari ilmu pedangnya bahwa dia adalah puteri Pendekar Tangan Sakti Yo
Han dan isterinya, Si Bangau Merah! Biar pertemuan dan perkenalan mereka hanya sebentar, namun
berkesan di hati Cu In. Maka ketika melihat bahwa Han Li yang memanggilnya, ia pun segera menghampiri
kereta itu.
Han Li sudah meloncat turun dari dalam kereta, diikuti oleh seorang gadis lain yang juga cantik dan
berpakaian serba biru.
“Enci Cu In, girang sekali aku dapat bertemu dengan engkau di sini. Perkenalkan, enci Cu In, ini adalah
adik Tao Kwi Hong, puteri Pangeran Mahkota. Adik Hong, dia adalah enci Souw Cu In yang pernah
kuceritakan kepadamu, ilmu silatnya hebat.”
Mendengar bahwa gadis itu adalah puterinya Pangeran Mahkota, Cu In memberi hormat dan dibalas
dengan manis oleh Kwi Hong.
“Aku sudah mendengar tentang dirimu, enci Cu In, dan aku merasa kagum sekali. Mari, kupersilakan untuk
singgah di rumahku agar kita bertiga dapat bercakap-cakap dengan leluasa dan gembira.”
“Benar, enci Cu In. Aku bersama suhu sedang menjadi tamu dari keluarga Pangeran Mahkota, sudah
beberapa hari aku berada di sini. Marilah singgah sebentar, Enci. Aku ingin mengenalmu lebih dekat.”
Dibujuk oleh dua orang gadis yang ramah dan manis budi itu, Cu In yang sedang bersedih menjadi
gembira dan ia pun ikut naik ke dalam kereta yang segera dijalankan menuju ke istana Pangeran Mahkota.
Biar pun Cu In masih memakai cadar dan mukanya tidak dapat dikenali, namun sikap Han Li dan Kwi Hong
tetap ramah kepadanya, seolah menutupi muka dengan cadar adalah suatu hal yang biasa saja.
“Enci Cu In, apakah angkau masih berdarah keturunan Turki dan beragama Islam?” tanya Kwi Hong ketika
mereka sudah tiba di istana dan mereka bertiga bercakap-cakap di taman bunga yang indah dari istana itu.
“Ahh, tidak. Mengapa?” tanya Cu In heran.
“Cadarmu itu meningatkan aku akan kebiasaan para wanita Islam yang pernah kulihat,” kata pula Kwi Hong
dan suaranya terdengar biasa saja sehingga tidak menyinggung perasaan Cu In. Cu In pun mengerti akan
kewajaran pertanyaan itu.
Akan tetapi pertanyaan mengenai cadar yang menutupi mukanya itu mengingatkan Cu In akan ibunya!
Ibunya yang tadinya dianggap gurunya itulah penyebab ia mengenakan cadar semenjak menjadi gadis
remaja. Gurunya selalu menekankan kepadanya betapa palsu dan jahatnya semua pria, dan betapa besar
bahayanya kalau ada pria jatuh cinta padanya atau sebaliknya kalau ia mencinta pria. Pria yang demikian
itu harus dibunuh!
Karena itulah, untuk mencegah agar jangan ada pria yang jatuh cinta kepadanya, maka ia menutupi
mukanya dengan cadar. Ia tidak harus seperti suci-nya yang entah berapa kali harus membunuh pria
karena pria itu tertarik dan jatuh cinta kepadanya. Dan ketika teringat akan gurunya, mengingatkan pula ia
akan kenyataan bahwa gurunya adalah ibu kandungnya, dan mengingatkan pula bahwa sikap ibunya yang
menyuruh ia membenci setiap orang pria itu berdasarkan sakit hati ibunya terhadap ayahnya!
Teringat akan semua ini, hati Cu In menjadi sedih sekali. Dan pada saat itu juga sudah timbul niat di
hatinya untuk menentang sikap ibu kandungnya itu. Menentang sikapnya yang membenci setiap orang lakilaki,
hanya akibat hatinya pernah disakiti oleh seorang laki-laki. Selama ini dia tidak pernah merasa benci
terhadap laki-laki, dan menganggap mereka sama saja seperti para wanita, ada yang jahat dan ada pula
yang baik.
Tidak adanya sikap membenci pria ini sudah diperlihatkan ketika dia menyelamatkan Keng Han dari tangan
suci-nya, ketika suci-nya hendak membunuh laki-laki itu karena Keng Han tidak mau diajak berjodoh dan
minggat. Setelah mendengar pengakuan Keng Han bahwa pemuda itu tidak mencinta suci-nya, sudah
cukup menjadi alasan baginya untuk mencegah suci-nya membunuh Keng Han.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ingatannya melayang-layang ketika ia teringat akan pemuda itu. Teringat betapa ia telah ditolong oleh
Keng Han ketika ia tertawan oleh Tung-hai Lo-mo dan Swat-hai Lo-kwi, teringat akan perjalanan mereka
bersama, malam-malam di dalam goa, makan minum bersama. Makin terasa di hatinya betapa ia amat
tertarik kepada Keng Han, betapa debar jantungnya menjadi cepat kalau ia teringat kepada pemuda itu.
Namun selama ini perasaan itu selalu ditekannya karena anggapan yang ditanamkan oleh gurunya sejak
kecil dalam perasaannya bahwa semua pria itu palsu dan jahat.
Akan tetapi sekarang, setelah ia mengetahui bahwa gurunya adalah ibunya sendiri yang membenci kaum
pria karena disakiti hatinya oleh seorarig laki-laki, maka anggapan itu mengendur. Ia bahkan tidak percaya
lagi kepada ibunya yang begitu tega menyuruhnya membunuh ayah kandungnya sendiri!
“Enci Cu In, engkau melamun?” tiba-tiba Han Li menegur sambil menyentuh tangannya. Han Li melihat
betapa pandang mata Cu In menerawang jauh dan pandangan mata itu kosong separti orang melamun
dan sejak tadi Cu In diam saja.
Cu In tersentak kaget dan baru sadar. Ia teringat bahwa tadi Kwi Hong menyinggung tentang cadarnya dan
ia merasa tidak enak kalau tidak menjawab.
“Ah, cadarku ini... sebagai penutup mukaku. Aku tidak ingin orang lain melihat mukaku, aku malu...,”
jawabnya terpaksa sekali.
“Malu? Engkau yang begini cantik jelita, tetapi malu kalau orang lain melihat mukamu? Sungguh aneh!”
kata Kwi Hong yang memang lincah.
“Aku... sama sekali tidak cantik, aku... mukaku buruk sekali...,” berkata Cu In dengan terpatah-patah.
Melihat sikap yang gugup dari Cu In, Han Li yang juga lincah namun berwatak lembut itu segera berkata,
“Sudahlah, enci Cu In. Kalau engkau ingin menyembunyikan wajahmu di balik cadar, itu adalah urusamu
sendiri dan menjadi hakmu. Kami tak akan memaksa dirimu untuk memperlihatkan mukamu kepada kami,
bukankah begitu, adik Kwi Hong?”
Kwi Hong juga seorang gadis yang meski pun puteri pangeran mahkota, namun sudah lumayan
pengalamannya di dunia kang-ouw, maklum betapa orang kang-ouw memang banyak yang aneh-aneh,
maka ia pun segera berkata, “Tentu saja. Menggunakan cadar untuk menyembunyikan mukanya adalah
rahasia enci Cu In sendiri, meski aku sungguh ingin dapat melihat muka itu.”
“Kelak akan datang waktunya kalian dapat melihat mukaku, akan tetapi sekarang belum waktunya,” kata
Cu In.
Ketika mereka akan bercakap terus mendadak nampak Pangeran Mahkota Tao Kuang datang memasuki
taman itu, berjalan sambil bercakap-cakap dengan Kai-ong Lu Tong Ki. Ternyata Lu Tong Ki merupakan
kawan bercakap-cakap yang menyenangkan bagi putera mahkota itu.
Raja Pengemis itu berpengetahuan luas dan biar pun dia hanya seorang yang berjuluk Raja Pengemis,
ternyata dia tidak pernah merasa rendah diri dan dapat melayani sang Pangeran Mahkota bercakap-cakap
mengenai banyak hal. Ketika itu, hawa agak panas dan Pangeran Tao Kuang mengajak tamunya untuk
barjalan-jalan dalam taman sambil bercakap-cakap.
Melihat putrinya bersama Han Li dan seorang gadis lain yang bercadar sedang berada dalam taman pula,
Pangeran Mahkota segera menghampiri.
“Itu ayah datang!” kata Kwi Hong.
Mendengar bahwa yang datang adalah Pangeran Mahkota, Cu In segera berdiri dengan perasaan tidak
enak. Ia belum pernah bertemu dengan Pangeran Mahkota dan merasa bahwa kedatangannya hanya
mengganggu saja.
“Hai, bukankah itu nona Souw?” Kai-ong Lu Tong Ki berteriak ketika melihat Cu In. Dia masih ingat ketika
bersama-sama Han Li membantu Cu In dari pengeroyokan Toat-beng Kiam-sian Lo Cit dan anak buahnya.
“Ayah, ini nona Souw Cu In yang saya undang untuk berkunjung ke mari. Ia seorang yang memiliki ilmu
silat yang tinggi sekali, Ayah.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bagus, engkau boleh saja mengajak para sahabatmu yang gagah datang berkunjung, Kwi Hong,” kata
Pangeran Mahkota Tao Kuang sambil menghampiri.
Cu In bangkit dan memberi hormat kepada Pangeran Tao Kuang. “Harap Paduka suka memaafkan kalau
kedatangan saya ini menganggu,” katanya lembut.
“Ahh sama sekali tidak mengganggu, Nona. Bahkan kami pun mengundang Nona untuk menjadi tamu
yang terhomat dari kami karena malam nanti kami akan mengadakan perjamuan makan malam di taman
ini untuk menghormati para tamu.”
“Enci Cu In, aku harap engkau suka menghadirinya!” kata Kwi Hong dengan girang.
“Malam ini terang bulan. Kita makan malam di bawah sinar bulan sambil membicarakan tentang ilmu silat.
Tentu menggembirakan sekali!” kata Pangeran Tao Kuang.
"Kali ini engkau tidak boleh menolak, Enci. Aku juga ingin sekali engkau menemaniku!” kata Yo Han Li
sambil memegang tangan gadis bercadar itu.
Cu In merasa sungkan untuk menolak ajakan mereka yang demikian ramah kepadanya. “Baiklah, aku akan
tinggal semalam dengan kalian.”
Pangeran Tao Kuang melanjutkan berjalan-jalan di dalam taman bersama Kai-ong Lu Tong Ki dan tiga
orang gadis itu pun melanjutkan percakapan mereka. Akhirnya Kwi Hong mengantar Cu In ke dalam
sebuah kamar yang dipesiapkan untuk Cu In tinggal semalam itu.
Malam itu memang terang bulan. Bulan purnama menerangi langit dan bumi. Taman Istana Pangeran
Mahkota nampak indah sekali. Bunga-bunga sedang mekar semerbak harum dan di sana sini dipasangi
lampu-lampu terang yang beraneka warna menambah semaraknya keadaan di dalam taman.
Malam itu Pangeran Mahkota datang ke taman disertai selirnya, Liang Siok Cu, satu-satunya selir yang
cocok untuk mendampinginya waktu pangeran menerima tamu-tamu ahli silat karena selir ini dulu pun
seorang tokoh kang-ouw. Kwi Hong yang menemani ayah ibunya nampak cantik dalam pakaian biru tua
dan muda, dengan rambutnya yang di gelung ke atas, dihias Bangau Emas dan ujungnya diikat sehelai pita
merah.
Cu In segera diperkenalkan kepada Liang Siok Cu dan mereka pun mulai diayani para pelayan yang
menghidangkan makan malam yang mewah dan serba lezat. Yang paling gembira adalah Kai-ong Lu Tong
Ki. Tanpa sungkan atau malu dia menyantap semua hidangan dengan lahapnya. Dan ketika mereka
memperhatikan Cu In, gadis ini makan dengan sikap biasa saja.
Karena sudah terbiasa, maka dia tidak canggung ketika makan, walau pun cadarnya masih menutupi muka
bagian bawah itu. Dia membawa makanan yang disumpit ke balik cadar dan makan dengan tenang.
Cadarnya ikut bergerak-gerak saat mulutnya dengan perlahan mengunyah makanan.
Ketika Pangeran Mahkota Tao Kuang sedang menjamu para tamunya dengan gembira, tiba-tiba berkelebat
sesosok bayangan hitam, dan tahu-tahu tidak jauh dari sana berdiri seorang pemuda yang memegang
sebatang pedang bengkok yang terhunus. Pedang itu berkilau terkena sinar lampu gantung.
“Pangeran Tao Kuang, bersiaplah engkau untuk menerima pembalasanku atas segala kecuranganmu!”
bentak pemuda itu yang bukan lain adalah Keng Han.
Setelah berkata demikian, tubuhnya melayang dan menerjang ke arah Pangeran Tao Kuang. Pedangnya
menyambar ke arah leher sang pangeran.
Sang Pangeran adalah seorang yang mempelajari ilmu silat dari mendiang mertuanya, Sin-tung Koai-jin
Liang Cun. Melihat serangan mendadak ini, maka dia pun cepat-cepat merendahkan tubuhnya untuk
mengelak.
“Tranggg...!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Pedang di tangan Keng Han tertangkis oleh tongkat bambu yang tadi digerakkan oleh Kai-ong Lu Tong Ki
yang duduk di sebelah kiri pangeran itu.
Ketika serangan pertamanya gagal, Keng Han terpaksa melompati meja. Ia juga merasa terkejut sekali
ketika merasakan tenaga hebat terkandung pada tongkat bambu yang menangkisnya. Baru sekarang dia
melihat bahwa yang menangkis pedangnya adalah seorang berpakaian pengemis!
Seorang pengemis makan bersama Pangeran Mahkota! Sungguh merupakan hal luar biasa. Disangkanya
tadi Pangeran Tao Kuang sedang berpesta dengan para selirnya karena dia melihat beberapa wanita
muda cantik menemani pangeran itu makan minum.
Baru sekarang dia sempat memperhatikan wanita-wanita muda itu dan terkejutlah dia ketika dia mengenal
dua orang di antara mereka. Kwi Hong dan Cu In! Dia tidak heran melihat Kwi Hong karena dia sudah
mengenalnya.
“Han-ko kaukah itu? Han-ko, kenapa engkau hendak membunuh ayahku? Ayahku orang yang baik dan
tidak pernah melakukan kejahatan apa pun!” Kwi Hong berseru dan ia pun telah berdiri, memandang
kepada pemuda itu dengan mata terbelalak.
Keng Han menjadi serba salah. Hubungannya dengan Kwi Hong, biar pun tidak begitu lama, meninggalkan
kesan mendalam di hatinya. Bahkan sebelum tahu behwa gadis ini adalah saudara sepupunya satu marga,
dia mengira bahwa dia telah jatuh cinta kepada gadis ini. Sekarang, bagaimana dia dapat membunuh ayah
gadis itu tanpa memberi tahukan alasannya yang kuat?
“Dulu Pangeran Tao Kuang telah bertindak curang sekali. Dua puluh tahun yang lalu dia melakukan fitnah
kepada Pangeran Tao Seng sehingga Pangeran Tao Seng dihukum buang selama dua puluh tahun,
padahal Pangeran Tao Seng tidak berdosa apa-apa.”
“Keterangan itu bohong!” Mendadak Liang Siok Cu bangkit berdiri dan berseru. “Aku sendiri yang menjadi
saksi ketika itu. Pangeran Tao Kuang sedang berburu dengan dua orang saudaranya, yaitu Pangeran Tao
Seng dan Pangeran Tao San. Dan dua orang saudaranya itulah yang tiba-tiba mengeroyok dan hendak
membunuh Pangeran Tao Kuang bersama selosin orang pengawalnya yang semua adalah pembunuh
bayaran. Akulah yang menolongnya, bersama mendiang ayahku Aku menjadi saksi bahwa Pangeran Tao
Kuang tidak melakukan fitnah, melainkan benar-benar hendak dibunuh oleh dua orang pangeran itu
sehingga mereka dihukum buang!”
“Aku tidak percaya…!” suara Keng Han sangat lantang, nyaris seperti berteriak.
“Anak muda…” Kai-ong ikut bicara. “Apa alasanmu tidak mempercayai keterangan Tao Toanio tadi?”
“Aku telah mendengar keterangan yang berbeda!” jawab Keng Han, masih dengan nada keras.
“Aha!” Kai-ong kembali bicara. “Jadi ada dua keterangan berlainan yang sudah engkau dengar. Kalau
engkau hanya percaya kepada salah satu pihak tanpa mau mendengar pihak lain, itu berarti engkau tidak
mau mencari kebenaran, melainkan berpihak dengan dasar penilaianmu sendiri, anak muda.”
Kwi Hong merasa kecewa bahwa keterangan ibunya tidak dipercaya, karena itu ia lalu berkata, “Han-ko,
ibuku tidak pernah berbohong, dan kali ini pun ia berkata jujur.”
Sejak tadi Cu In diam tak bergerak, akan tetapi otaknya bekerja keras. Dia memikirkan beberapa hal yang
dialaminya sendiri, juga yang sudah dijalaninya bersama Keng Han. Entah apa sebabnya, dalam hatinya
ada perasaan aneh terhadap pemuda yang menjadi murid keponakannya itu. Dia tidak ingin melihat
pemuda itu celaka!
Sekarang di tempat ini terdapat beberapa orang berkepandaian tinggi. Ada Kai-ong Lu Tong Ki yang tadi
jelas sudah menangkis pedang bengkok Keng Han untuk melindungi Pangeran Mahkota. Bersama raja
pengemis ini hadir pula muridnya, yang juga adalah puterinya Pendekar Tangan Sakti dan Si Bangau
merah, yang kepandaiaannya sudah pernah dilihatnya begitu lihai.
Melawan dua orang ini saja tidak mudah bagi pemuda itu untuk mendapat kemenangan. Apa lagi di situ
masih ada Tao Kwi Hong yang memiliki ilmu silat aneh, juga Liang Siok Cu, ibu dara itu yang merupakan
puteri Sin-tung Koai-jin Liang Cun, seorang datuk yang memiliki kepandaian tinggi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sukar bagi Cu In membayangkan murid keponakannya bisa lolos dari empat orang ini, belum lagi jika
diingat adanya puluhan orang pasukan penjaga gedung ini yang tentu akan ikut mengepung dan menyerbu
pemuda itu. Nasib Keng Han lebih banyak celaka dari pada selamat!
Selain itu, tiba-tiba dia teringat kepada Ang Hwa Nio-nio. Gurunya ini, yang kemudian ternyata adalah ibu
kandungnya sendiri, juga pernah memberi keterangan yang salah, menanamkan kebencian terhadap ayah
kandungnya, bahkan menyuruhnya membunuh ayahnya sendiri.
Untung pada saat terakhir dia dapat menyadari bahwa semua yang telah didengarnya adalah kebohongan
belaka, sebelum terlanjur ia melakukan tindakan yang keliru. Maka, ia pun tidak ingin Keng Han terlanjur
melakukan kesalahan karena pernah mendengar keterangan yang tidak benar.
Sementara itu hati Keng Han sedang diliputi oleh kemarahan setinggi langit dan dendam sedalam lautan.
Pandangannya seperti dibutakan oleh rasa penasaran. Sekian lama waktu telah dilaluinya serta sekian
jauh jarak telah ditempuhnya, dan akhirnya ia hanya menerima keterangan bahwa ayahnya yang bersalah,
bahkan sudah tewas pula!
“Aku tetap akan membunuh Pangeran Tao Kuang, apa pun kata kalian. Siapa pun yang menghalangiku,
akan kubunuh juga,” katanya. Mata pemuda ini menyorot bengis, penuh nafsu membunuh.
Dengan pedang bengkok yang terhunus, Keng Han melangkah maju ke arah Pangeran Tao Kuang yang
berdiri di belakang tiga orang yang melindunginya, yaitu Liang Siok Cu, Kwi Hong dan Kai-ong Lu Tong Ki.
Akan tetapi, baru dua tindak dia melangkah, tiba-tiba nampak bayangan putih berkelebat dan tahu-tahu Cu
In sudah berdiri di hadapannya, menghalangi dia untuk melangkah lebih jauh.
Walau pun Keng Han tadi sudah sempat melihat keberadaan Cu In di tempat ini, tak urung ia terkejut
bukan main melihat bibi gurunya telah berdiri di depannya, seolah-olah hendak menentangnya pula.
Sebelum ia sempat bicara, gadis berpakaian putih ini telah mendahuluinya.
“Keng Han, cepatlah engkau pergi dari sini. Jangan melakukan perbuatan bodoh yang kelak akan kau
sesali,” Cu In langsung memperingatkan pemuda itu. Kata-kata yang dia ucapkan ini setengah ditujukan
kepada Keng Han, separuh lagi bagi dirinya sendiri.
“Su-i, kau… kau…” suara pemuda itu tergagap saking bingungnya.
“Keng Han, pergilah…” kembali Cu In memperingatkan, kali ini dengan suara yang lebih lembut dan halus,
nyaris seperti bisikan lirih.
Keng Han merasa sudah kepalang basah, karena itu dengan nekat dia berkata, “Su-i, aku tetap harus
membunuh Pangeran Mahkota.”
“Aku melarangmu, Keng Han. Jika engkau tetap hendak berbuat nekat, maka engkau harus melawanku!”
kali ini Cu In berkata dengan nada tegas.
Menghadapi gadis bercadar ini, Keng Han menjadi lemas. Tak mungkin dia menentang Cu In dan
melawannya. Dia menghela napas panjang lalu melangkah mundur. “Biarlah malam ini kulepaskan dia.
Akan tetapi lain kali, dia pasti akan mati di tanganku untuk membalaskan kematian Pangeran Tao Seng.”
“Ha-ha-ha-ha-ha!” Tiba-tiba terdengar Pangeran Tao Kuang tertawa bergelak. “Lelucon macam apa ini?
Orang muda, engkau telah dipermainkan orang akan tetapi tidak tahu. Bukan hanya tuduhan bahwa aku
melakukan fitnah itu palsu adanya, akan tetapi juga perkiraanmu bahwa Pangeran Tao Seng sudah mati itu
bohong belaka. Dia masih hidup dan dalam keadaan segar bugar, bahkan tinggal di kota raja ini. Dia
menyembunyikan siapa dirinya sebenarnya dan memakai nama Ji atau yang terkenal dengan sebutan Ji
Wangwe.“
Keng Han yang tadinya hendak melarikan diri itu sempat mendengar ucapan ini dan dia benar-benar
terkejut. Mukanya berubah pucat dan dia berkata gugup. “Tidak... tidak… tidak benar...!”
“Aku tidak suka berbohong. Kenapa tidak kau selidiki siapa sebetulnya Hartawan Ji itu? Dua bukan lain
adalah Pangeran Tao Seng sendiri. Dan engkau ini siapakah, orang muda?” tanya Pangeran Tao Kuang
dengan suara halus karena maklum bahwa pemuda ini agaknya sudah dibohongi dan dipermainkan orang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Keng Han merasa tersudut. Keadaannya sungguh tidak menyenangkan, karena dari keadaan yang
menuntut balas dan yang benar, kini berbalik keadaannya menjadi yang bersalah. Ayahnya bukan seorang
yang difitnah melainkan yang memfitnah, bukan yang dijahati melainkan yang jahat. Yaitu, kalau
keterangan mereka semua itu benar adanya.
Kini ditanya siapa dirinya, terpaksa dia mengaku untuk alasan mengapa dia begitu mati-matian membela
Pangeran Tao Seng dan ingin membalaskan dendamnya. Setidaknya mereka semua akan mengerti
mengapa dia begitu nekat.
“Aku adalah puteranya. Ibuku puteri kepala suku Khitan!” jawabnya singkat.
"Ahhh, kalau begitu engkau masih keponakanku sendiri! Aku sudah mendengar bahwa kakanda Tao Seng
menikah dengan seorang puteri Khitan di utara. Kiranya engkau ini puteranya! Akan tetapi aku jelaskan
bahwa engkau sudah menerima keterangan yang sifatnya fitnahan terhadap diri kami. Sebaiknya kalau
engkau menemui Ji-wangwe di kota raja ini dan dialah Pangeran Tao Seng yang sebenarnya, masih hidup
dan sehat. Dan dari dia engkau tentu akan mendapat keterangan tentang mengapa dia dihukum buang.”
Melihat semua orang kini berdiri menentangnya, Keng Han menjadi semakin ragu akan niatnya membunuh
Pangeran Tao Kuang. Bagaimana jika semua keterangan ini benar?
Pula, dia sama sekali tidak menduga bahwa Cu In berada di situ. Dengan adanya Cu In dan kakek
berpakaian pengemis itu, masih ada pula Kwi Hong dan ibunya, dan siapa tahu gadis cantik yang berdiri di
dekat kakek jembel pengemis itu juga orang yang lihai, agaknya sulit baginya untuk membunuh Pangeran
Tao Kuang. Pula, dia akan menyesal setengah mati kalau ternyata benar semua keterangan Pangeran itu
bahwa ayahnyalah yang jahat!
Dan hatinya berdebar-debar penuh ketegangan dan penasaran mengingat bahwa ayah kandungnya sendiri
menipunya supaya dia mau membunuh Pangeran Tao Kuang yang tidak bersalah. Demikian jahatkah ayah
kandungnya? Dia merasa sangat kecewa dan menyesal sekali.
“Sudahlah, aku akan menyelidiki semua itu dan kalau semua keterangan itu benar, aku mohon maaf
sebesarnya!” Setelah berkata demikian, sekali berkelebat pemuda itu telah lenyap dalam kegelapan malam
di antara pohon-pohon.
“Ha-ha-ha, seorang pendekar memang harus bertindak demi kebenaran, bukan karena mendengar
omongan orang!” Kai-ong Lu Tong Ki berseru nyaring dan masih terdengar ucapannya itu oleh Keng Han.
Pemuda itu melompat pagar tembok di ujung taman dan keluar dari situ.
Pangeran Tao kuang menarik napas panjang. “Ahhh, sungguh aku tidak mengerti siapa yang melakukan
fitnah seperti itu. Kasihan keponakanku yang kini menjadi mata gelap setelah mendengar bahwa ayahnya
kufitnah, bahkan kubunuh di tempat pembuangan. Tentu dia merasa sakit hati sekali kepadaku.”
“Ayah, aku mengenal baik Keng Han itu!” kata Kwi Hong.
Tidak ada seorang pun di antara mereka mengetahui betapa hancur rasa hati Kwi Hong! Tadi, pada saat
mendengar Keng Han mengaku sebagai putera Pangeran Tao Seng, ia merasa jantungnya seperti ditikam.
Ahh, betapa ia sudah tergila-gila dan amat mencinta pemuda itu, dan sekarang, ternyata bahwa pemuda itu
adalah kakak sepupunya!
“Aku juga heran mendengar engkau tadi menyebut Han-ko kepadanya,” kata Pangeran Tao Kuang. ”Di
mana dan bagaimana engkau dapat berkenalan dengan dia?”
“Beberapa kali dia membantuku ketika aku dikeroyok orang jahat, Ayah. Juga ketika aku bersama Paman
Yo Han, ayah enci Han Li ini, dikeroyok orang-orang Pek-lian-pai, dia membantu. Dia bukan orang jahat,
Ayah. Sama sekali bukan!”
“Hemmm, kalau engkau sudah mengenal kakak sepupumu sendiri, mengapa tidak kau beri tahukan aku
dan Ibumu?”
"Ketika itu, dia mengaku bernama Si Keng Han, bukan she Tao. Demikian pula aku tidak memberi tahukan
nama margaku maka dia pun tidak tahu. Akan tetapi ketika pasukan yang menyusul aku itu datang, tentu
dunia-kangouw.blogspot.com
dia sudah tahu bahwa aku adalah puteri Ayah, tahu bahwa aku adalah adik sepupunya. Hanya aku yang
belum tahu.”
“Ia memang bukan orang jahat. Aku juga sudah mengenalnya. Karena itu aku percaya bahwa
perbuatannya tadi hanya karena ia mendengar hasutan, mendengar keterangan yang sengaja diatur orang
untuk memanaskan hatinya. Buktinya, setelah dia mendengar keterangan di sini, dia pun pergi dan tidak
melanjutkan usahanya membunuh.”
“Mungkin dia jeri melihat kehadiran kita semua,” kata Han Li.
“Ahh, tidak, adik Han Li. Dia seorang gagah yang berkepandalan tinggi. Dan lagi, dia itu pewaris ilmu-ilmu
dari keluarga Pulau Es!”
“Aihhh..., bagaimana ini, enci Cu In? Kalau dia memang murid keluarga Pulau Es, aku tentu mengenalnya!”
kata Han Li.
“Entahlah, akan tetapi dia mahir ilmu-iIlmu Pulau Es, dan Keng Han juga masih terhitung murid
keponakanku sendiri karena dia telah menjadi murid suci-ku. Dia pernah bercerita kepadaku bahwa dia
memperoleh ilmu-ilmu aneh itu dari Pulau Hantu.”
“Pulau Hantu? Tapi ibu yang pernah mempelajari ilmu-ilmu dari keluarga Pulau Es tidak pernah bercerita
tentang adanya Pulau Hantu.”
“Sudahlah, mendengar cerita kalian, aku yakin bahwa Keng Han adalah seorang yang berwatak pendekar.
Setelah apa yang dia dengar dari sini tentang Pangeran Tao Seng, dia tentu akan melakukan penyelidikan,
dan kalau dia sudah tahu duduknya perkara, aku kira dia tidak akan memusuhiku lagi.”
“Mudah-mudah begitu, Ayah. Kalau dia datang lagi dan berkeras hendak membunuh Ayah, akulah yang
akan menghadapinya. Dia boleh membunuh Ayah setelah melewati mayatku!” kata Kwi Hong dengan nada
suara mengandung kecewa, penasaran dan juga sedih.
Tidak ada seorang pun tahu apa yang dirasakan gadis ini. Dia sudah terlanjur jatuh cinta kepada pemuda
itu, dan sekarang melihat kenyataan bahwa pemuda itu adalah kakak sepupunya sendiri yang hendak
membunuh ayahnya!
Setelah makan minum selesai, Pangeran Tao Kuang lalu mengundurkan diri bersama selirnya. Liang Siok
Cu yang merasa amat khawatir akan keselamatan suaminya segera memerintahkan pasukan pengawal
untuk melakukan penjagaan ketat, untuk menjaga agar tidak ada orang luar dapat memasuki istana.
Pasukan pengawal dikerahkan untuk menjaga keselamatan suaminya tersayang.
Cu In juga berpamitan kepada Kwi Hong. “Hatiku merasa tidak enak sekali dengan terjadinya peristiwa ini.
Bagaimana pun juga, Keng Han adalah murid keponakanku dan aku ikut bertanggung jawab kalau dia
melakukan sesuatu terhadap sang pangeran. Karena itu, aku tidak jadi bermalam di sini. Aku pamit untuk
keluar dari istana ini karena aku hendak mencari Keng Han, untuk mengajaknya bicara dan
menyadarkannya.”
Tentu saja Kwi Hong tidak dapat menahannya, karena kepergian Cu In adalah untuk mencegah Keng Han
mengulangi usahanya untuk membunuh ayahnya. Ia mengantar Cu In keluar dari istana karena seluruh
daerah istana telah dijaga pengawal sehingga akan agak sukarlah bagi Cu In atau siapa saja yang datang
dari luar untuk keluar dari situ begitu saja.
Dengan pengawalan Kwi Hong, Cu In dapat keluar dengan mudah. Ia lalu melompat dan lenyap di balik
pohon-pohon. Kwi Hong memandang ke arah bayangannya dan berulang kali Kwi Hong menghela napas
panjang. Kalau saja Keng Han itu bukan kakak sepupunya, kiranya ia pun akan melakukan hal serupa
dengan apa yang dilakukan Cu In yaitu membujuk pemuda itu agar tidak melanjutkan niatnya…..
********************
Cu In berdiri diam di bawah sebatang pohon besar, berpikir. Akan tidak mudah baginya untuk mencari
Keng Han di kota raja yang sebesar itu, tanpa mengetahui ke mana pemuda itu pergi. Ke rumah Hartawan
Ji? Akan tetapi ia tidak tahu di mana rumah Hartawan Ji. Tiba-tiba ia teringat akan The Sun Tek, ayah
kandungnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ayahnya adalah The Ciangkun, seorang panglima besar yang kenamaan di kota raja. Sebagai seorang
panglima, tentu The Ciangkun tahu benar apa yang terjadi dua puluh tahun yang lalu, tentang Pangeran
Tao Seng. Apakah betul Pangeran Tao Seng difitnah oleh Pangeran Tao Kuang, atau apakah dia memang
hendak membunuh Pangeran Mahkota Tao Kuang sehingga dia ditangkap dan dihukum buang?
Juga ayah kandungnya itu tentu tahu siapakah sabenarnya Hartawan Ji dan di mana tempat tinggalnya. Ia
hampir yakin bahwa Keng Han tentu akan pergi kepada Hartawan Ji untuk mencari tahu mengenai
kebenaran apa yang didengarnya dari Pangeran Tao Kuang.
Dengan pikiran ini, Cu In cepat menyelinap dan berkelebat cepat pergi menuju ke rumah The Sun Tek atau
The Ciangkun yang baru siang tadi ia tinggalkan. Ia langsung saja mendatangi gardu di mana terdapat
beberapa orang tentara melakukan penjagaan dan berkata kepada mereka.
“Harap kalian laporkan kepada The Sun Tek bahwa aku, Cu In, ingin menghadap dan bicara dengannya.”
Para penjaga itu terheran-heran melihat ada seorang wanita bercadar minta bertemu dengan sang
panglima. Akan tetapi, melihat sikap yang sungguh-sungguh dari wanita itu, seorang di antara mereka
segera menghadap ke dalam untuk melaporkan kepada The Ciangkun.
Kebetulan The Ciangkun masih belum tidur dan sedang bercakap-cakap dengan The Kong puteranya.
Yang mereka bicarakan bukan lain adalah tentang Ang Hwa Nio-nio dan The Cu In, puteri Panglima itu.
Kalau panglima sudah tidur, tentu penjaga itu tidak akan berani mengganggunya dan akan mengusir Cu In.
“Maafkan saya, Ciangkun, kalau saya mengganggu. Akan tetapi di luar terdapat seorang nona bercadar
yang mengaku bernama Cu In dan ingin bertemu dan bicara dengan Ciangkun.”
Tadinya penjaga itu mengira bahwa panglima itu tentu akan marah dan menyuruh dia mengusir wanita
pengganggu itu. Akan tetapi dia kecelik ketika melihat pangeran itu dan puteranya bangkit berdiri ketika
mendengar pelaporannya.
“Antarkan tamu itu ke sini, cepat!” kata The Ciangkun kepada sang penjaga yang cepat memberi hormat
lalu berlari keluar.
“Tapi, Ayah. Jangan-jangan ia akan menyerang Ayah...” kata The Kong khawatir ketika mendengar nama
Cu In, kakak tirinya itu.
“Tenanglah, Kong-ji dan jangan khawatir. Kalau ia datang dengan niat buruk, tentu ia tidak akan menemui
penjaga, melainkan masuk dengan melompat pagar untuk mencari dan membunuhku.”
Tidak lama kemudian muncullah Cu In, diantar oleh penjaga. The Ciangkun memberi isyarat kepada
tentara itu untuk pergi dan dia segera berkata dengan ramah kepada Cu In.
“Cu In, mari duduklah dan katakan apa yang ingin kau bicarakan denganku. Kebetulan sekali aku pun
sedang mencarimu. Kalau malam ini engkau tidak muncul, besok pagi akan kukerahkan pasukanku untuk
mencarimu di seluruh pelosok kota raja!”
Cu In duduk di atas bangku, berhadapan dengan The Ciangkun dan The Kong lalu dia bertanya, suaranya
terdengar masih dingin, “Mengapa engkau hendak mencariku?”
Biar pun ia sudah tahu bahwa pria ini adalah ayah kandungnya, namun masih canggung baginya untuk
menyebut ayah.
“Mengapa, Cu In? Engkau adalah puteriku, maka tentu saja aku menghendaki engkau untuk pulang dan
tinggal bersama ayahmu. Lagi pula ibumu mengajukan syarat. Aku baru dapat memboyongnya untuk hidup
bersama di sini kalau aku membawa engkau kepadanya! Ia amat mencintamu dan sangat menyesal
melihat engkau marah padanya. Karena itulah, aku girang sekali melihat engkau datang.”
“Benar, enci Cu In. Engkau harus tinggal bersama kami di sini!” kata pula The Kong, adik tirinya.
Cu In menghela napas panjang. “Belum tiba saatnya aku tinggal di sini. Kedatanganku ini hanya ingin
mencari keterangan tentang diri Pangeran Tao Seng.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ehhh? Pangeran Tao Seng? Apa yang ingin kau ketahui tentang Pangeran Tao Seng?” tanya The
Ciangkun heran.
“Dua puluh tahun yang lalu Pangeran Tao Seng dijatuhi hukuman buang. Benarkah itu?”
“Memang benar demikian. Dia dihukum buang selama dua puluh tahun.”
“Dan sebabnya? Apakah dia difitnah orang lain?”
“Sama sekali tidak! Aku masih ingat benar. Pada suatu hari, Pangeran Tao Kuang, yaitu Pangeran
Mahkota, diajak berburu binatang oleh Pangeran Tao Seng dan Pangeran Tao San. Akan tetapi terjadi
keanehan. Mereka pulang dengan diantar Sin-tung Koai-jin Liang Cun bersama puterinya, Liang Siok Cu.
Pendekar itu telah menolong Pangeran Mahkota Tao Kuang yang hampir dibunuh kedua pangeran itu
bersama anak buahnya. Pangeran Tao Kuang pulang dengan selamat dan Pangeran Tao Seng dan
Pangeran Tao San pulang sebagai tawanan, ditawan oleh Sin-tung Koai-jin dan puterinya. Mereka diadili
oleh kaisar sendiri dan dijatuhi hukuman buang selama dua puluh tahun.”
Cu In mengangguk-angguk. Ternyata benar apa yang sudah diterangkan oleh Pangeran Mahkota Tao
Kuang, seperti yang pernah didengarnya.
“Dan kabarnya Pangeran Tao Kuang mengirim utusan untuk membunuh Pangeran Tao Seng dalam
pembuangannya itu? Benarkah demikian?”
The Ciangkun menggelengkan kepalanya sambil tertawa. “Ha-ha-ha, dari mana engkau mendengar berita
itu, Cu In? Itu adalah kabar bohong belaka. Tak ada yang membunuh Pangeran Tao Seng dalam
pembuangannya. Bahkan sampai sekarang ia masih hidup!”
“Apakah dia sekarang menjadi orang yang disebut Hartawan Ji di kota raja ini?”
The Ciangkun membelalakkan matanya. “Ahhh, engkau sudah tahu pula? Tidak banyak orang
mengetahuinya kecuali keluarga kerajaan dan beberapa orang pejabat tinggi. Aku mengetahui juga secara
kebetulan saja. Ketika aku pada suatu hari bertemu muka dengan Hartawan Ji, aku tidak ragu lagi bahwa
dia adalah Pangeran Tao Seng!”
“Di mana rumahnya?”
“Rumahnya amat mudah dicari. Di jalan raya sebelah selatan taman rakyat ada sebuah rumah besar bercat
kuning. Di depan rumah itu terdapat dua arca singa yang besar dan indah. Itulah rumahnya.”
Cu In bangkit berdiri. “Terima kasih atas segala keterangan ini. Maaf, aku harus pergi sekarang.”
The Ciangkun dan puteranya juga cepat berdiri. “Ehhh, Cu In, engkau akan pergi ke mana? Tinggallah saja
di sini dan kalau engkau ada urusan, beri tahukan padaku. Aku yang akan mengurusnya sampai selesai.”
Cu In tersenyum di balik cadarnya. Ayahnya ini berhati mulia dan menyayangnya, tidak seperti ibunya.
“Terima kasih, urusan ini harus kuselesaikan sendiri tanpa bantuan siapa pun.”
“Tetapi engkau adalah puteriku, Cu In. Aku berkewajiban untuk membantumu dalam segala hal.”
“Benar, enci Cu In. Atau, jika engkau tidak mau tinggal di sini dan hendak mengurusnya sendiri, biarkan
aku ikut untuk membantumu!” kata The Kong penuh semangat.
“Terima kasih, aku harus pergi sendiri. Lain kali aku tentu akan datang lagi berkunjung.”
“Nanti dulu, Cu In!” kata The Ciangkun khawatir. “Engkau tadi bertanya-tanya mengenai Pangeran Tao
Seng dan Hartawan Ji. Kalau engkau mempunyai urusan pertentangan dengan Pangeran Tao Seng, aku
harap engkau berhati-hati, anakku. Ketahuilah bahwa Pangeran Tao Seng adalah seorang yang amat
berbahaya. Sekarang pun aku sendiri mencurigainya. Menurut para penyelidik, sudah ada beberapa tokoh
dan datuk sesat datang berkunjung ke rumah Hartawan Ji. Aku khawatir dia sedang menyusun suatu
rencana jahat dan dia berbahaya sekali. Biar pun sekarang menjadi Hartawan Ji yang nampaknya diam
dunia-kangouw.blogspot.com
dan tenang, akan tetapi dia seperti seekor ular yang diam, namun setiap saat siap untuk mematuk dan
menyebar kematian.”
“Aku mengerti dan sekali lagi terima kasih. Aku tidak akan melupakan sambutan kalian yang begini baik
kepadaku. Selamat malam!” Cu In membalikkan tubuhnya dan keluar dari tempat itu, terus keluar dari
rumah dan pekarangan rumah itu.
Ayah dan anak itu terus mengikutinya sampai ke tempat penjagaan. Melihat gadis itu keluar diantar
langsung oleh The Ciangkun sendiri, para penjaga diam saja tidak berani mengganggunya…..
********************
Hati Keng Han bimbang dan ragu, tegang dan penasaran. Baru saja dia mendengar cerita yang berlainan
sama sekali dengan yang didengarnya dari Hartawan Ji! Haruskah dia mempercayai semua keterangan
Pangeran Tao Kuang?
Akan tetapi setidaknya di sana terdapat Kwi Hong dan Cu In. Dan dia tahu bahwa dua orang gadis ini tentu
tidak akan suka membohonginya. Kalau Pangeran Tao Kuang tidak berbohong, lalu apakah Hartawan Ji
yang berbohong? Kenapa pula dia harus percaya kepada keterangan Hartawan Ji?
Lalu dia teringat bahwa Hartawan Ji, menurut Gulam Sang, adalah sekutu pemuda Tibet itu. Seorang
pejuang yang membenci keluarga kaisar Mancu. Jadi wajar saja apa bila Hartawan Ji menghasut dan
mengarang cerita bohong agar dia membunuh Pangeran Mahkota Tao Kuang karena hal itu akan
menguntungkan perjuangannya. Apa lagi kalau Hartawan Ji itu adalah Pangeran Tao Seng yang agaknya
sangat mendendam kepada Pangeran Tao Kuang.
Akan tetapi kalau dia itu Pangeran Tao Seng, tentu mengetahui bahwa dia adalah putera kandungnya!
Kenapa harus berbohong kepada putera kandungnya sendiri? Demi membunuh Pangeran Tao Kuang?
Akan tetapi pekerjaan itu amatlah berbahaya.
Sepatutnya Pangeran Tao Seng tak tega untuk menyuruh puteranya sendiri melakukan perbuatan yang
amat berbahaya bagi nyawanya itu. Tadi pun andai kata dia berkeras hendak membunuh, menghadapi
pangeran itu beserta isterinya dan Kwi Hong, Cu In, kakek pengemis dan muridnya, belum tentu dia
berhasil bahkan mungkin saja dia yang roboh dan tewas.
Dengan hati kacau tidak menentu dia berkunjung ke rumah besar Hartawan Ji. Di dalam ruangan sebelah
dalam, ia melihat Hartawan Ji sedang makan minum bersama seorang pemuda yang telah dikenalnya,
yang bukan lain adalah Gulam Sang, bersama seorang wanita muda yang cantik manis namun wajahnya
agak muram.
Gadis itu bukan lain adalah Liong Siok Hwa, gadis yang sudah dikuasai oleh Gulam Sang, dikuasai badan
dan batinnya oleh pengaruh sihir sehingga dia menurut saja apa yang dikehendaki Gulam Sang darinya.
Gulam Sang, setelah berhasil membujuk Liong Siok Hwa pergi meninggalkan rumah penginapan di mana
ayahnya tewas terbunuh oleh Gulam Sang, lalu membawa gadis itu berkunjung ke rumah Hartawan Ji di
kota raja.
Kedatangannya disambut hangat oleh Hartawan Ji yang langsung menceritakan tentang kunjungan Keng
Han. Dia juga menceritakan mengenai siasatnya menyuruh Keng Han membunuh Pangeran Mahkota Tao
Kuang.
Mendengar cerita ini, Gulam Sang lalu menitipkan Liong Siok Hwa kepada Hartawan Ji, kemudian dia
sendiri segera keluar pada malam itu, menuju ke istana Pangeran Tao Kuang. Dengan kepandaiannya
yang tinggi dia berhasil masuk ke taman dan mengintai ketika Keng Han datang.
Ia melihat apa yang terjadi, mendengarkan semua percakapan mereka dan mendahului keluar dari istana
itu. Dia menceritakan kepada Hartawan Ji tentang gagalnya Keng Han membunuh Pangeran Mahkota.
Di rumah Hartawan Ji terdapat para datuk yang memang sudah lebih dulu tinggal di rumah itu, siap-siap
membantu Hartawan Ji jika tiba saatnya untuk bergerak membunuh Kaisar. Mereka adalah Swat-hai Lokwi,
Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin. Ketiga orang ini lalu dipanggil keluar oleh Ji Wan-gwe untuk
diajak berunding bersama Gulam Sang.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kenapa mesti repot-repot? Kalau pemuda itu datang membuat ulah, ada kami di sini. Dia mau dan bisa
berbuat apa terhadap Wan-gwe?” kata Lam-hai Koai-jin memandang rendah pemuda yang dibicarakan.
Akan tetapi Swat-hai Lo-kwi yang pernah merasakan ketangguhan pemuda itu berkata, “Lam-hai Koai-jin
harap jangan memandang rendah pemuda bernama Keng Han itu. Dia memang lihai sekali dan menguasai
ilmu-Ilmu dari keluarga Pulau Es. Akan tetapi di sini terdapat pula aku dan Lo-mo, maka kalau dia membuat
ribut, kita tentu akan dapat menundukkannya.”
“Sebaiknya diatur siasat untuk menghadapinya. Mula-mula harap Wan-gwe bersikap lembut terhadap dia.
Siapa tahu, kalau dia mengetahui bahwa Wan-gwe itu adalah ayah kandungnya, dia akan menaati semua
kehendak Wan-gwe dan dia mau membantu dengan terang-terangan. Kalau dia bersikap berlawanan, aku
memiliki racun penghisap semangat yang akan kucampurkan dalam arak yang akan diminumnya. Atau
kalau dia tidak mau minum arak, aku dapat menyerangnya dengan pukulan beracun atau dapat
merobohkannya dengan sihir. Jika semua itu pun tidak berhasil, baru Sam-wi Locianpwe muncul dan
membantu kami.”
“Bagus! Kita atur seperti yang direncakan oleh Gulam Sang,” jawab Ji Wan-gwe dengan girang.
Meski pun Keng Han itu putera kandungnya, namun dia lebih percaya kepada putera angkat ini karena
sudah jelas terbukti bahwa Gulam Sang dapat dipercaya dan benar-benar telah membantunya untuk
membuat gerakannya berhasil. Kalau Keng Han suka mendengarkan bujukannya, hal itu baik sekali. Akan
tetapi kalau sebaliknya, dia pun tidak segan untuk membunuh putera kandung yang sejak kecil tidak
pernah dikenalnya itu.
Kekuasaan merupakan sesuatu yang diperebutkan oleh setiap orang. Kekuasaan akan menjamin
kehidupannya, mendatangkan kekayaan dan kesenangan sebab sekali orang memegang kekuasaan,
maka segala kehendaknya pasti akan bisa tercapai. Dan untuk mendapatkan kekuasaan itu, orang yang
lemah hatinya tak segan menggunakan segala macam cara.
Seperti Pangeran Tao Seng itu, atau yang sekarang memakai nama Ji Wan-gwe. Demi mencapai citacitanya
mendapatkan kekuasaan, dia tidak segan merencanakan untuk membunuh anak kandung sendiri,
kalau anak itu menjadi penghalang niatnya.
Demikianlah, ketika akhirnya Keng Han muncul, dia melihat Hartawan Ji sedang makan minum bersama
Gulam Sang dan seorang gadis yang tidak dikenalnya. Dia tidak takut dengan adanya Gulam Sang yang
dia tahu adalah sekutu Hartawan Ji. Dia melompat dan turun ke dekat meja makan, membuat tiga orang
yang sedang makan minum itu menjadi terkejut.
Akan tetapi Hartawan Ji tersenyum ketika melihatnya dan berkata, “Ah, kiranya engkau sudah kembali, Tao
kongcu? Silakan duduk!”
Keng Han mengerutkan alisnya, akan tetapi dia duduk pula di atas bangku dekat meja.
“Kongcu tentu belum makan juga. Mari silakan makan minum bersama kami sebelum kita bicara.”
Akan tetapi Keng Han tidak menjawab, hanya matanya memandang kepada Hartawan Ji dengan tajam dan
penuh selidik. Hartawan Ji menuangkan secawan arak, kemudian memberikan kepada Keng Han.
“Ahh, lebih dulu kami mengucapkan selamat datang dengan secawan arak ini sebagai penghormatan kami.
Silakan, Kongcu!”
Bagaimana pun juga, karena sikap Hartawan Ji itu baik dan menghormat sekali, juga baginya persoalannya
belum jelas siapa yang bersalah, Keng Han menerima secawan arak yang tadi dituang dari guci milik
Gulam Sang. Keng Han mengangkat cawan dan minum isinya sampai habis. Melihat ini, mata Gulam Sang
mencorong serta mulutnya tersenyum simpul. Akan tetapi senyum itu berubah.
Kini dia menyeringai heran melihat Keng Han sama sekali tidak terkulai lemas dan tidak menjadi pingsan.
Tentu saja dia tidak tahu betapa tubuh Keng Han sudah menjadi kebal akan segala macam racun karena
bertahun-tahun dia makan daging ular merah setiap hari, juga jamur-jamur beracun. Karena itu sedikit
racun dalam arak yang diminumnya sama sekali tidak mempengaruhinya.
“Nah, bagaimana dengan usahamu, Kongcu? Sudahkah berhasil melenyapkan musuh besarmu itu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tidak. Akan tetapi kini aku mempunyai sebuah pertanyaan yang kuharap engkau suka menjawabnya
dengan terus terang,” kata Keng Han, matanya tidak berkedip menatap wajah Pangeran Tao Seng
sehingga pangeran itu menjadi resah juga.
“Tentu saja. Pertanyaan apakah itu, Kongcu?”
“Bila aku katakan bahwa Hartawan Ji bukan lain adalah Pangeran Tao Seng, benarkah dugaanku ini?
Engkau adalah Pangeran Tao Seng, yang kini mengubah nama menjadi Hartawan Ji! Nah, jawab
sejujurnya, benarkah demikian?”
Tao Seng atau Hartawan Ji tidak merasa terkejut mendengar ini, karena dia memang sudah diberi tahu
oleh Gulam Sang bahwa Keng Han telah mendengar keterangan dari Pangeran Tao Kuang. Dia hanya
berpura-pura terkejut mendengar hal ini dan bertanya dengan suara heran.
“Ehh, sebetulnya hal itu sangat dirahasiakan, bagaimana engkau dapat mengetahuinya, Tao Kongcu?”
“Sudahlah, tak perlu menyebut Kongcu lagi. Engkau adalah Pangecan Tao Seng, berarti engkau adalah
ayah kandungku! Juga aku pun sudah mendengar bahwa engkau sama sekali tidak difitnah oleh Pangeran
Tao Kuang. Engkau dihukum buang karena usahamu membunuh Pangeran Tao Kuang mengalami
kegagalan. Benarkah semua ini?”
“Benar, akan tetapi engkau tidak mengetahui semuanya, anakku.”
“Ketika aku datang menghadapmu, engkau membohongi aku dan sengaja menghasutku supaya aku
membunuh Pangeran Tao Kuang. Betapa jahatnya engkau! Engkau tahu bahwa membunuh Pangeran Tao
Kuang merupakan pekerjaan yang amat berbahaya. Akan tetapi engkau menyuruh anakmu sendiri
menempuh bahaya besar itu. Aku merasa heran dan malu. Jauh-jauh aku pergi merantau untuk mencari
ayahku, tidak tahunya ayahku begini jahat. Aku malu mempunyai ayah sepertimu!”
“Keng Han, engkau tahu satu tidak tahu dua. Akulah yang memberimu nama Keng Han. Engkau anak
kandungku, maka pertimbangkanlah semua perbuatanku. Pertama, dua puluh tahun yang lalu aku
memang berniat membunuh Pangeran Mahkota Tao Kuang karena merasa diperlakukan tidak adil oleh
ayahanda Kaisar. Aku sebagai putera tertua, mengapa adinda Tao Kuang sebagai Pangeran Ketiga yang
diangkat menjadi putera mahkota? Aku merasa penasaran oleh perlakuan tidak adil itu maka bersama
adinda Pangeran Kedua aku merencanakan untuk membunuhnya. Bukankah itu sudah adil? Kalau dia mati
tentu aku yang diangkat menjadi Putera. Mahkota. Akan tetapi usaha kami berdua itu gagal, bahkan kami
ditangkap dan dijatuhi hukuman buang selama dua puluh tahun! Bayangkan betapa sengsaranya aku,
seorang pangeran yang biasanya hidup mewah dan terhormat, dibuang di tempat pengasingan selama dua
puluh tahun!”
Keng Han diam saja. Walau pun di dalam hatinya dia tidak setuju dengan perbuatan ayahnya yang hendak
membunuh Pangeran Mahkota itu, akan tetapi kalau mengingat penderitaan ayahnya selama dua puluh
tahun, dia merasa kasihan juga.
“Nah, setelah hukumanku selesai dan aku bebas, aku kembali ke kota raja. Agar rakyat tidak mengenalku,
maka aku menyaru menjadi Hartawan Ji. Diam-diam aku bersekutu dengan orang-orang yang
menginginkan jatuhnya kerajaan Ceng, dan aku berniat untuk membunuh Pangeran Mahkota Tao Kuang
dan juga Kaisar! Jika mereka berdua tewas, sebagai pangeran tertua aku berhak atas tahta kerajaan! Dan
kemudian aku mendengar tentang kedatanganmu dan bahwa engkau seorang yang mempunyai
kepandaian tinggi. Karena itulah, aku sengaja tidak mengaku sebagai ayahmu, melainkan menghasutmu
supaya engkau membenci Pangeran Mahkota dan membunuhnya. Akan tetapi ternyata usahamu itu pun
gagal.”
“Hemmm, setelah mendengar duduknya perkara, bagaimana mungkin aku membunuh Pangeran Mahkota
Tao Kuang yang tidak bersalah?” bantah Keng Han.
“Sudahlah, Keng Han. Sekali gagal tidak mengapa. Sekarang, marilah engkau bantu ayahmu untuk
membunuh Kaisar dan Pangeran Tao Kuang. Kalau aku berhasil menjadi Kaisar, bukankah engkau pun
akan menjadi pangeran?”
“Tidak! Aku tidak sudi terlibat dalam persekutuan jahat itu! Aku tidak mau membantumu dalam urusan itu!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Pangeran Tao Seng mengerutkan alisnya dan matanya yang menatap wajah puteranya berubah bengis.
“Dan apa maumu sekarang, Keng Han?”
“Aku minta kepadamu supaya engkau suka ikut dengan aku ke Khitan untuk menemui ibuku. Sudah terlalu
lama engkau meninggalkan ibuku yang hidup merana karena selalu teringat kepadamu dan engkau tidak
mempedulikannya sama sekali!”
“Bodoh kau! Kalau aku menjadi kaisar tentu ia akan segera kuboyong ke sini!” bentak Tao Seng.
“Aku tidak menghendaki engkau menjadi kaisar dengan cara yang curang itu. Aku minta engkau sekarang
juga ikut denganku ke Khitan menemui ibu!”
“Kalau aku tidak mau?”
“Akan kupaksa dan kuseret kau!” Keng Han juga membentak marah.
Tiba-tiba Gulam Sang melompat ke depan Keng Han dengan dada terangkat dan sikap menantang. “Enak
saja engkau bicara, Keng Han! Engkau hendak memaksa ayahku begitu saja? Kalau masih ada aku,
jangan harap akan bisa melakukan itu!”
Keng Han tercengang. “Ayahmu...?”
“Ya, aku adalah anak angkat dari Pangeran Tao Seng, dan sebagai anak aku setia dan berbakti padanya,
akan membelanya dengan nyawaku. Sebaliknya engkau ini seorang anak yang tidak berbakti, bahkan
durhaka karena hendak memaksa ayahnya sendiri seperti itu!”
“Minggir! Ini bukan urusanmu!” bentak Keng Han dan dia pun sudah mendorong ke arah pundak Gulam
Sang dengan tangan kanannya.
Dorongan itu mengandung hawa panas dan kuat sekali sehingga Gulam Sang cepat mengelak karena dia
sudah mengenal kehebatan tenaga pemuda itu. Sambil mengelak dia pun membalas sambil mencabut
pedangnya.
Hebat dan luar biasa dahsyat serangan Gulam Sang dengan pedangnya itu, disabetkan untuk menebas
pinggang Keng Han.
Keng Han mengelak mundur. Karena dia pun maklum akan kelihaian Gulam Sang, dia lalu mencabut
pedang bengkoknya, kemudian segera menangkis ketika pedang Gulam Sang menyambar lagi ke arah
lehernya.
"Trang... trang...!”
Dua kali pedang Gulam Sang bertemu dengan pedang bengkok dan yang kedua kalinya tangan Gulam
Sang tergetar hebat. Gulam Sang merasa penasaran dan mengamuk. Akan tetapi Keng Han
mengimbanginya dengan gerakan yang sangat cepat sehingga mereka bertempur dengan seru dan
hebatnya di tempat itu.
Pangeran Tao Seng sudah bangkit dan mundur sampai mepet dinding. Demikian pula Liong Siok Hwa
mundur dan gentar menyaksikan pertandingan yang amat hebat itu.
Pertandingan itu memang hebat sekali. Gulam Sang adalah seorang murid dari Dalai Lama yang selain
mempelajari ilmu silat tinggi juga telah memiliki tenaga sakti yang ampuh, diperkuat pula oleh ilmu sihirnya.
Akan tetapi, berhadapan dengan Keng Han, dia tidak dapat menggunakan ilmu sihirnya. Orang yang sudah
memiliki tenaga sinkang sekuat Keng Han tidak dapat dipengaruhi sihir lagi. Oleh karena itu, Gulam Sang
hanya mengandalkan ilmu pedangnya yang cepat dan aneh gerakannya.
“Heiiiiittttt...!”
Pedang Gulam Sang menyambar dari atas ke bawah, membacok ke arah kepala Keng Han.
“Hemmm...!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Keng Han mengelak ke kanan sambil menorehkan pedang bengkoknya ke arah lengan lawan yang
memegang pedang. Namun Gulam Sang sudah menarik lengannya, lantas tubuhnya merendah dan
pedangnya membabat ke arah kedua kaki Keng Han.
“Hiaaaaattt...!”
Gulam Sang berteriak dengan pengaruh sihir, “Robohlah engkau!”
Keng Han merasa jantungnya tergetar, akan tetapi tidak terpengaruh oleh teriakan itu. Dia meloncat tinggi
ke udara untuk menghindarkan kedua kakinya yang dibabat pedang, lalu berjungkir balik dan menukik
dengan kepala ke bawah, pedangnya menikam dari atas ke arah ubun-ubun kepala Gulam Sang.
“Wuttttt... tranggg...!”
Bunga api berpijar ketika pedang bertemu dan sekali ini Gulam Sang agak terhuyung, akan tetapi Keng
Han juga harus berjungkir balik untuk mematahkan tenaga dorongan pedang dari bawah yang
menangkisnya.
Keduanya telah berhadapan lagi dan saling menyerang dengan dahsyatnya. Akan tetapi kini Keng Han
mulai memainkan ilmunya yang hebat yaitu Hong-In Bun-hoat. Pedang bengkoknya membuat coretancoretan
di udara seperti orang menulis huruf, akan tetapi akibatnya, permainan pedang Gulam Sang
menjadi kacau.
Semua jurus yang dimainkan Gulam Sang dikacaukan oleh gerakan pedang di tangan Keng Han. Setiap
serangannya selalu dapat ditangkis lawan, bahkan lawan membalas kontan dengan cepatnya dan dengan
gerakan sambung menyambung yang aneh sekali sehingga tak lama kemudian Gulam Sang sudah
terdesak hebat oleh Keng Han. Dia kini hanya mampu menangkis dan mengelak dengan repot sekali oleh
permainan pedang lawan.
Pada saat itu, Pangeran Tao Seng memberi isyarat dan muncullah tiga orang datuk yang sejak tadi sudah
mengintai dan menunggu isyarat dari sang pangeran. Swat-hai Lo-kwi, Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koaijin
tahu-tahu sudah berada di situ. Lam-hai Koai-jin yang masih memandang rendah Keng Han, bahkan
sudah menerjang dengan senjata ruyungnya.
“Tranggg...!”
Pedang Keng Han dan ruyung bertemu dan akibatnya, keduanya mundur dua langkah. Baru kini Keng Han
melihat adanya tiga orang kakek itu di situ.
Melihat Swat-hai Lo-kwi dan Tung-hai Lo-mo, barulah dia tahu benar akan kekuatan persekutuan itu.
Ternyata ayahnya itu telah mempergunakan orang-orang dari golongan sesat untuk membantunya. Dan
dia maklum bahwa kalau dia harus menghadapi empat orang ini sekaligus, tidak mungkin dia akan
menang. Mereka terlampau kuat dan paling bisa dia melawan dua orang di antara mereka.
Pikiran Keng Han bekerja cepat dan tiba-tiba tubuhnya sudah berkelebat dan meloncat ke dekat ayahnya.
“Jangan mendekat!” bentaknya dan dia sudah menempelkan pedang bengkoknya pada leher Pangeran
Tao Seng sedangkan tangan kirinya memegang lengan pangeran itu.
“Biarkan kami keluar. Awas, siapa bergerak, dia akan kubunuh lebih dulu!”
Dia teringat akan perbuatan Cu In ketika hendak membebaskan diri dari pengeroyokan Toat-beng Kiamsian
Lo Cit dan anak buah Kwi-kiam-pang, yaitu dengan menyandera puteri Lo Cit. Kini dia meniru
perbuatan Cu In itu dengan menyandera Pangeran Tao Seng. Ayahnya sendiri!
Memang dalam keadaan terdesak, apa lagi menghadapi pengeroyokan yang curang, ia boleh saja
mempergunakan kecurangan sebagai taktik untuk menyelamatkan diri. Kini ia menangkap ayahnya sendiri
bukan hanya untuk membebaskan diri dari pengeroyokan, melainkan karena dia memang hendak
menangkap ayahnya dan memaksanya pergi ke Khitan bersamanya untuk menghadap ibunya!
dunia-kangouw.blogspot.com
Benar saja. Tiga orang datuk itu tidak berani bergerak ketika melihat Keng Han sudah menyandera sang
pangeran. Dan Keng Han yang terus menodong Pangeran Tao Seng lalu menyeret ayahnya itu menuju ke
pintu.
“Sam-wi Locianpwe (ketiga orang tua gagah), marilah kita serang dia! Dia tidak akan membunuh ayahnya
sendiri!” Mendadak Gulam Sang berteriak dan menyerang dengan pedangnya.
Keng Han terkejut sekali. Tak disangkanya Gulam Sang demikian cerdiknya. Memang, bagaimana pun dia
takkan mau membunuh ayahnya dan tadi hanya untuk menggertak saja.
Tung-hai Lo-mo sudah mengayun dayung bajanya. Swat-hai Lo-kwi juga menggerakkan pedangnya dan
Lam-hai Koai-jin mengerahkan ruyungnya, serentak menyerang kepada Keng Han. Terpaksa Keng Han
memutar pedangnya untuk menangkis dan melepaskan pegangannya pada lengan ayahnya.
Merasa dirinya dilepas, Pangeran Tao Seng cepat meloncat menjauhkan diri. Kini Keng Han sudah
dikeroyok oleh empat orang yang sangat lihai sehingga dia mulai terdesak hebat.
“Jangan bunuh dia! Tangkap saja, jangan sekali-kali membunuh dia!” teriak Pangeran Tao Seng.
Pangeran Tao Seng masih sangat mengharapkan puteranya itu berubah pikirannya dan mau
membantunya. Bagaimana pun, Keng Han adalah putera kandungnya dan ternyata ilmu kepandaiannya
melebihi Gulam Sang!
Empat orang itu mendengar seruan ini dan mereka pun membatasi serangan mereka. Biar pun demikian,
tetap saja Keng Han terkepung ketat sekali oleh empat orang itu dan setelah dia dapat membela diri
sampai hampir seratus jurus, ruyung di tangan Lam-hai Koai-jin mengenai punggungnya, membuat dia
terhuyung.
Ruyung di tangan Lam-hai Koai-jin menyerang terus dengan dorongan ke arah dada. Keng Han mengelak,
akan tetapi dayung baja di tangan Tung-hai Lo-mo menghantam dari belakang mengenai pahanya dan
Keng Han roboh terpelanting. Sebelum dia dapat meloncat bangun, pedang Gulam Sang sudah menempel
di lehernya, juga pedang Swat-hai Lo-kwi telah mengancam dadanya.
Keng Han maklum bahwa dia telah kalah dan tertawan. Gulam Sang segera mengikat kaki tangannya dan
dia pun dibawa ke dalam kamar tahanan yang berada di belakang rumah Hartawan Ji. Kamar tahanan itu
kokoh kuat dan dijaga oleh belasan orang anak buah Gulam Sang.
“Ayah, Keng Han itu amat berbahaya, apakah tidak sebaiknya kalau dia dibunuh saja?” Gulam Sang
bertanya kepada Pangeran Tao Seng setelah mereka semua kembali ke ruangan depan untuk berunding.
“Jangan! Aku menyayangkan ilmu kepandaiannya yang hebat. Akan kubujuk dia agar mau membantu. Dia
akan merupakan tenaga bantuan yang penting sekali,” jawab sang pangeran.
“Bagaimana kalau dia tidak mau?”
“Kalau dia keras kepala dan tidak dapat dibujuk, maka kuserahkan dia kepadamu.”
Gulam Sang nampak gembira sekali. Pemuda ini ingin sekali dapat membunuh Keng Han sebab diamdiam
dia merasa khawatir kalau-kalau kelak ayah angkatnya menerima Keng Han sebagai puteranya dan
tentu kedudukannya akan kalah oleh anak kandung itu. Baginya, Keng Han merupakan duri dalam daging
yang harus dilenyapkan.
“Tetapi aku membutuhkan bantuanmu. Kita berikan racun perampas ingatan darimu itu. Kalau sampai dia
hilang ingatan, tentu dia tidak mempunyai niat macam-macam lagi dan akan tunduk kepada semua
perintah kita.”
Gulam Sang mengerutkan alisnya. Dia teringat betapa Keng Han sudah minum racun itu yang
dicampurkan dalam arak yang disuguhkan kepada pemuda itu, akan tetapi sama sekali tidak nampak
tanda-tanda bahwa pemuda itu keracunan! Ahh, mungkin racunnya kurang banyak, demikian pikirnya.
“Baik, akan saya laksanakan. Saya akan mencampurkan racun perampas ingatan itu di dalam makanan
dan minumannya.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Malam itu udara terasa amat dingin, sedingin hati mereka yang tinggal di gedung tempat kediaman Ji Wangwe…..
********************
Pada keesokan harinya, Keng Han duduk bersila dalam kamar tahanannya. Tangan dan kakinya tidak
dibelenggu, akan tetapi kaki tangannya dipasangi rantai yang terikat pada dinding sehingga dia tidak akan
dapat melarikan diri. Rantai itu terbuat dari baja dan tebal sekali sehingga tak mungkin diipatahkan.
Keng Han juga tidak bodoh untuk coba mematahkan rantai itu. Penjaga banyak terdapat di luar tahanan
dan di sana masih terdapat empat orang sakti itu. Dia tidak mungkin dapat melawan mereka kalau mereka
maju bersama. Dia hanya menanti saatnya untuk dapat meloloskan dirinya.
Maka, dia pun menjaga kesehatan dan tenaganya dan dia makan semua makanan dan minuman yang
dihidangkan biar pun dia dapat menduga bahwa makanan dan minuman itu dicampuri racun. Dia tidak
takut akan segala racun. Tubuhnya kebal terhadap segala macam racun. Asal saja mereka tidak
mempergunakan asap pembius, pikirnya.
Pernah dia tertawan akibat ledakan asap pembius yang dipergunakan oleh orang-orang Kwi-kiam-pang.
Akan tetapi kalau racun itu masuk ke tubuhnya melalui makanan, atau melalui luka, dia tidak akan
terpengaruh. Darahnya memiliki daya menolak pengaruh racun itu.
Pada hari kedua dia ditahan, pagi-pagi sekali Pangeran Tao Seng sudah mengunjungi kamar tahanannya.
“Anakku, kenapa engkau masih berkeras hati? Aku adalah ayah kandungmu. Engkau darah dagingku.
Sungguh sengsara hatiku melihat engkau tertawan seperti ini. Anakku, mengapa engkau tidak mau
membantu gerakanku? Katakanlah bahwa engkau akan membantuku, maka engkau akan dibebaskan dan
menjadi puteraku yang tersayang dan terpercaya.”
Hati Keng Han panas sekali mendengar ucapan ayahnya itu. Hatinya sudah kecewa sekali melihat orang
yang menjadi ayah kandungnya. Ternyata orang itu amat licik dan curang bukan main.
“Aku memang puteramu dan engkau adalah ayah kandungku. Akan tetapi kalau engkau berpikir bahwa aku
akan mau membantu engkau melakukan kejahatan, engkau mimpi di siang hari. Sampai mati sekali pun
aku tak ingin membantumu. Sebaliknya engkau yang menyadari kekeliruan tindakanmu dan ikut dengan
aku menemui ibu. Kalau engkau mau melakukan itu, tentu aku akan menganggap engkau seorang ayah
yang telah bertobat dan baik, dan aku akan berbakti kepadamu.”
“Jangan khawatir, Keng Han anakku. Kalau sudah tercapai cita-citaku, pasti aku akan memboyong ibumu
ke istanaku. Aku juga sangat mencinta ibumu.” Pangeran Tao Seng membujuk.
“Sudahlah, tidak perlu membujukku lebih lanjut. Akan sia-sia saja. Biar pun engkau ayah kandungku, akan
tetapi bila kau lanjutkan usahamu untuk berkhianat dan memberontak, aku akan berdiri di pihak Kaisar
kakekku dan Pangeran Mahkota Tao Kuang pamanku.”
Pangeran Tao Seng lalu meninggalkan tempat tahanan itu dengan muka merah karena marah, Akan tetapi
dia tidak putus asa dan berharap agar racun perampas ingatan dari Gulam Sang itu akan bekerja dengan
baik sehingga dia dapat membujuk puteranya itu.
Pada malam kedua, nampak sesosok bayangan putih berkelebat di atas pagar tembok di belakang rumah
Hartawan Ji. Bayangan ini bukan lain adalah Cu In. Setelah gadis itu mendapatkan keterangan dari The
Ciangkun di mana letak rumah Hartawan Ji, dia lalu datang berkunjung pada malam itu.
Ketika melihat ada dua orang peronda berjalan menghampiri tempat ia bersembunyi, ia meloncat dari
dalam taman itu ke atas sebatang pohon. Ia berada di atas pohon, siap bertindak kalau sampai ketahuan.
Dan ia mendengarkan mereka bercakap-cakap.
“Menjemukan sekali, malam-malam gelap begini harus meronda. Biasanya kita hanya berjaga di gardu dan
dapat terlindung dari cuaca yang amat dingin, dapat membuat api unggun yang hangat.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ahh, ini semua gara-gara pemuda yang bandel itu. Kabarnya dia berkepandaian tinggi dan tidak mau
dibujuk untuk membantu Ji Wan-gwe. Heran aku mengapa ada orang tak mau bekerja kepada Ji Wan-gwe
yang kaya raya dan royal.”
“Ketika hendak menangkap dia pun susah bukan main. Dari teman-teman yang melihat, kabarnya setelah
tiga locianpwe dikerahkan untuk membantu Kongcu, barulah dia dapat ditawan. Kongcu sendiri kewalahan
menghadapi pemuda ini.”
“Hebat. Sayang sekali kalau pemuda lihai macam itu akhirnya mesti mati karena tidak mau terbujuk.”
Percakapan itu cukup bagi Cu In. Tubuhnya melayang turun dan sekali dua tangannya menyambar, dua
orang peronda itu sudah roboh tanpa dapat berteriak, roboh tertotok tidak mampu bergerak mau pun
bersuara.
Ang Hwa Nio-nio memang memiliki keistimewaan dalam ilmu menotok sehingga ilmunya itu disebut Tokciang
(Tangan Beracun) karena sekali totok saja mampu mencabut nyawa orang. Cu In juga menguasai
ilmu ini dan dua orang yang ditotoknya itu sama sekali tidak mampu berkutik. Akan tetapi dara bercadar ini
tidak membunuh mereka.
Cu In melolos pakaian hitam salah seorang di antara mereka dan mengenakan pakaian itu menutupi
pakaiannya sendiri yang serba putih. Kemudian ia berkata kepada orang kedua. “Cepat lakukan perondaan
sampai ke tempat tahanan itu. Awas, sekali saja kau berteriak, nyawamu akan melayang.”
Setelah berkata demikian dia membebaskan orang kedua dari totokan, lalu memaksa peronda itu berjalan
di depan sebagai penunjuk jalan. Ia berjalan di belakangnya sambil menyembunyikan mukanya yang
bercadar.
Peronda itu ketakutan setengah mati. Dia maklum bahwa orang yang sekarang berada di belakangnya itu
tidak hanya menggertak kosong belaka. Kalau dia berteriak, tentu dia akan tewas. Dia pun masih tidak tahu
bagaimana nasib temannya yang ditinggalkan di belakang semak-semak dalam keadaan tidak bergerak
seperti sudah menjadi mayat.
“Bawa aku ke tempat tahanan dan berbuatlah seolah-olah engkau melakukan ronda,” desis suara Cu In di
dekat telinga peronda itu.
Peronda itu hanya mengangguk, membawa lampu teng dan memukul kentungannya, lalu melangkah
menuju ke bagian belakang rumah besar Ji Wangwe. Segera dua orang penjaga yang berada di luar
tempat tahanan menghadap mereka.
“Kanapa engkau sampai di tempat ini?” tanya seorang diantara dua orang penjaga itu.
Pemuda yang sudah mendapat pesan dari Cu In berkata dengan suara ketakutan. “Ah, tolonglah... tadi aku
melihat banyak bayangan orang di sana. Aku khawatir akan datang serangan musuh!”
Mendengar cerita ini, dua orang itu segera masuk ke dalam dan memberi tahu kepada kawan-kawannya di
sana. Empat orang lain keluar dan kini enam orang itu bertanya, “Di mana bayangan-bayangan itu?”
“Di sana...!” Peronda itu menudingkan telunjuknya ke arah taman, sedangkan Cu In bersembunyi di balik
tubuh peronda sehingga mukanya tidak nampak.
“Mari kita periksa tempat itu!” kata seorang di antara enam penjaga itu dan mereka, segera berlarian
dengan golok di tangan memasuki taman.
Melihat ini, Cu In segera menotok peronda itu sehingga roboh tak mampu berkutik lagi. Ia pun cepat-cepat
menyelinap melalui pintu dari mana enam orang penjaga tadi keluar. Ternyata di sebelah dalam masih
terdapat tujuh orang penjaga lagi, dan mereka sedang bermain kartu.
Melihat bayangan memasuki tempat mereka berjaga, tujuh orang itu serentak bangkit. Melihat bahwa yang
masuk adalah seorang yang menutupi tubuhnya dengan pakaian hitam dan mukanya bercadar, semua
menjadi kaget dan menyambar golok mereka.
“Siapa engkau?” bentak seorang kepala jaga.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi Cu In tidak memberi kesempatan kepada mereka. Sabuk sutera putihnya menyambar-nyambar
dengan totokan yang jitu sehingga tujuh orang itu roboh malang melintang dalam keadaan tertotok.
Dengan cepat ia dapat menemukan serangkai kunci di atas meja, dan ia segera berlari masuk. Dari selasela
jeruji baja ia dapat melihat Keng Han yang duduk bersila dengan kaki terikat rantai.
“Keng Han...,” bisiknya.
Keng Han membuka matanya dan segera dia mengenal orang bercadar itu.
“Cu In...!” bisiknya kembali.
Cu In bekerja cepat. Sebuah kunci membuka pintu tahanan yang berat itu, kemudian dengan sebuah kunci
lain ia membuka rantai yang mengikat kaki Keng Han.
“Cu In, terima kasih...” kata Keng Han girang dan juga terharu.
Lagi-lagi gadis bercadar ini yang menolongnya. Ketika dia ditawan Kwi-kiam-pang, gadis ini pula yang
menyelamatkannya. Ketika dia hendak dibunuh Bi-kiam Niocu, Cu In pula yang mencegahnya.
“Ssttt, kita harus cepat pergi dari sini sebelum mereka semua datang!” kata Cu In yang segera melompat
keluar dari situ, diikuti oleh Keng Han.
Baru saja mereka tiba di luar, enam orang penjaga yang tadi memeriksa dalam taman sudah kembali dan
melihat bahwa tawanan mereka lolos, mereka terkejut sekali dan menggunakan golok mereka untuk
menyerang Keng Han dan Cu In. Ada pula yang berteriak-teriak minta tolong sehingga ributlah keadaan di
tempat itu.
“Cepat robohkan mereka dan lari!” kata pula Cu In kepada Keng Han.
Cu In sendiri sudah merobohkan tiga orang penjaga. Keng Han juga lalu menggunakan tenaganya,
menampar ke sana sini dan tiga orang penjaga dapat dia robohkan dalam waktu singkat. Pada saat itu,
nampak orang-orang berdatangan dengan obor di tangan.
“Cepat lari!” kata Cu In pula.
Keng Han segera mengikuti Cu In melarikan diri. Mereka memasuki taman dan keluar dari pagar tembok
taman itu.
Orang-orang yang mengejar mereka, Gulam Sang dan para datuk, tidak menemukan jejak mereka berdua.
Ketika mendapat kenyataan bahwa tawanan telah lolos, Gulam Sang menjadi marah sekali dan dia lantas
menampari para penjaga. Sialan sekali para penjaga. Baru saja ditotok roboh oleh dua orang itu, kini
ditampar lagi oleh Gulam Sang sampai pipi mereka bengkak-bengkak.
Mereka segera memberi laporan kepada Pangeran Tao Seng. Sejenak sang pangeran berpikir sambil
mengerutkan alisnya, kemudian dia berkata, “Kalau begitu, pelaksanaan rencana kita harus dipercepat.
Sam-wi Locianpwe harap melaksanakan pembunuhan terhadap kaisar itu selambat-lambatnya besok pagi.
Aku khawatir dengan lolosnya Keng Han maka rencana kita akan menjadi kacau. Gulam Sang, malam ini
juga engkau harus menghubungi Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai, juga kerahkan murid-murld Bu-tong-pai
untuk bersiap di luar kota raja. Dan Sam-wi Locianpwe, harap membawa orang-orang yang dapat
diandalkan untuk pekerjaan membunuh Kaisar. Mereka harus orang-orang berani mati yang sudah
disumpah untuk mengakui sebagai orang Thian-li-pang kalau sampai tertangkap hidup-hidup, sesuai
dengan rencana kita semula.”
Setelah mengatur semuanya, Pangeran Tao Seng memberi keterangan yang lebih jelas kepada tiga orang
datuk sesat yang bertugas membunuh kaisar itu.
“Seperti biasanya, sesudah persidangan Kaisar akan pergi ke taman sambil membawa laporan-laporan
untuk dipelajari. Nah, saat itulah kesempatan yang terbaik untuk turun tangan. Semua menteri dan
panglima sudah meninggalkan ruang sidang dan pulang ke rumah masing-masing, saat itu keadaan di
istana dalam suasana tenang dan tenteram. Para pengawal tentu tidak akan ada yang menduga bahwa
dunia-kangouw.blogspot.com
akan terjadi penyerangan. Untuk menyelundupkan kalian ke dalam istana, sudah kuserahkan kepada Ciuciangkun
yang akan mengaturnya. Kalian akan diberi pakaian sebagai pengawal-pengawal istana dan
dapat masuk ke dalam istana dengan leluasa. Nah, bersiaplah kalian semua. Untuk menjaga jangan
sampai Keng Han bertindak terhadap diriku, aku akan mengungsi di luar kota raja, yaitu di dusun yang
telah kalian ketahui sebagai tempat peristirahatanku. Mengerti semua?”
Setelah semua mengerti dan siap, mereka bubaran. Pangeran Tao Seng atau Hartawan Ji bersama
adiknya, Pangeran Tao San, keluar dari rumah, bahkan keluar dari kota raja menunggang kereta menuju
ke dusun di sebelah utara kota raja. Gulam Sang pergi pula untuk mempersiapkan pasukan, dan tiga orang
locianpwe bersama selosin anak buah pergi menemui Ciu-ciangkun untuk diselundupkan pagi hari itu ke
dalam istana!
Gulam Sang sendiri sudah mendapat perintah istimewa dari Pangeran Tao Seng, yaitu untuk membawa
teman dan pergi melakukan pembunuhan terhadap Pangeran Mahkota Tao Kuang, tentu saja sesudah dia
mengumpulkan pasukan di luar kota raja yang siap untuk memasuki kota raja dan menyerbu istana, apa
bila saatnya telah tiba.
Menurut rencana Pangeran Tao Seng, apa bila usaha membunuh Kaisar telah berhasil, dan juga usaha
membunuh Pangeran Mahkota berhasil, dia sendiri akan menyerbu ke dalam istana, mempergunakan
pasukan Panglima Ciu yang sudah berhasil dihasutnya dengan janji pangkat besar, dibantu oleh orangorang
Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai.
Andai kata rencana itu gagal, mereka akan menimpakan kesalahan pemberontakan itu kepada Thian-lipang…..
********************
“Cu In, sekali lagi engkau menyelamatkan nyawaku. Hutang budi terhadapmu sungguh bertumpuk-tumpuk,
bagaimana aku akan dapat membalasnya? Dan engkau yang sudah menyaksikan betapa aku akan
membunuh Paman Tao Kuang karena aku dihasut oleh ayah kandungku sendiri, kenapa engkau masih
saja mau menolong aku yang sesat ini?” Keng Han bertanya setelah dia dan Cu In lolos dari rumah
Hartawan Ji.
“Tidak ada hutang piutang budi, Keng Han. Aku membantumu karena melihat bahwa engkau tak bersalah.
Engkau hendak membunuh Pangeran Tao Kuang karena engkau dihasut dan mendapat keterangan yang
keliru.”
“Akan tetapi bagaimana engkau dapat menduga bahwa aku akan tertimpa mala petaka di rumah Hartawan
Ji yang bukan lain adalah Pangeran Tao Seng itu?”
“Sudah kuduga bahwa setelah menerima keterangan dari Pangeran Tao Kuang, engkau tentu akan
menuntut balik kepada ayah kandungmu sendiri yang sudah menghasutmu. Dan kalau engkau melakukan
hal itu, besar sekali kemungkinan engkau akan ditentang, ditawan atau dibunuh karena Pangeran Tao
Seng ternyata adalah seorang yang mabuk kedudukan dan sudah melupakan putera sendiri. Maka aku lalu
mencari keterangan lebih lanjut dan sesudah merasa pasti bahwa Hartawan Ji adalah Pangeran Tao Seng,
malam ini aku segera pergi ke sana. Akan tetapi sudahlah, hal itu tidak perlu dibicarakan lagi. Yang penting
sekarang ini, apa yang hendak kau lakukan?”
“Aku harus menyelamatkan Sribaginda Kaisar. Beliau terancam bahaya maut!”
“Ahh, benarkah itu? Bahaya apa yang mengancamnya?”
Keng Han kemudian bercerita tentang ucapan-ucapan Pangeran Tao Seng yang akan membunuh kaisar
dan pangeran mahkota, dan betapa kini di rumah pangeran itu telah berkumpul datuk-datuk sesat seperti
Swat-hai Lo-kwi, Tung-hai Lo-mo, dan Lam-hai Koai-jin. Juga di sana terdapat Gulam Sang yang lihai.
“Jika begitu, kita harus cepat memberi peringatan kepada Pangeran Tao Kuang. Hanya beliau yang dapat
mengatur semua penjagaan agar jangan sampai terjadi pembunuhan itu.”
“Baik, mari kita menghadap beliau.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Keng Han, apa sudah kau pikirkan masak-masak semua ini? Ingat, kalau kau bertindak begini, itu berarti
bahwa engkau melawan ayah kandungmu sendiri!”
“Ayah kandung atau siapa saja yang bertindak salah, harus ditentang. Ayahku itu telah menyia-nyiakan
kehidupan ibuku hingga ibu hidup merana dan selalu menanti di Khitan. Kemudian ayahku itu sudah
bertindak curang hendak membunuh adiknya sendiri, apa lagi sekarang dia telah bertindak sedemikian
jauhnya untuk membunuh ayahnya sendiri dan juga adiknya yang menjadi pangeran mahtkota. Tentu saja
aku menentangnya!”
Mendengar ini, Cu In termenung. Hampir bersamaan nasib yang dialami oleh Keng Han dan ia sendiri.
Hanya bedanya, kalau yang menyusahkan hati Keng Han itu ayahnya, ia lain lagi. Ibu kandungnya yang
membuatnya bersusah hati. Ibunya mendidiknya sebagai murid, menghasutnya supaya ia membunuh ayah
kandungnya! Akan tetapi dapatkah ia membenci ibu kandungnya?
“Keng Han, apakah engkau membenci ayahmu itu?”
“Tidak, aku tidak membenci orangnya, melainkan perbuatannya. Maka perbuatannya itu yang kutentang.”
“Bagaimana kalau nanti ayahmu itu mau mengubah sikapnya dan tidak lagi melakukan kejahatan?”
“Aku sudah membujuknya, bahkan hendak memaksanya untuk ikut bersamaku pergi menemui ibu di
Khitan. Akan tetapi semua usahaku itu dihalangi oleh para datuk. Kami berkelahi dan aku dikeroyok empat
sampai akhirnya aku tertawan.”
“Jadi engkau akan memaafkan ayahmu kalau dia mengubah sikapnya?”
“Tentu saja. Kalau perbuatannya sudah benar, apa lagi dia itu ayahku, maka aku harus berbakti
kepadanya.”
“Ahhh...!“
“Kau kenapakah, Cu In?” tanya Keng Han khawatir melihat gadis itu seperti tertegun.
“Tidak apa-apa. Marilah kita menghadap Pangeran Mahkota.”
“Sebetulnya aku merasa sungkan dan malu menghadap beliau. Baru dua hari yang lalu aku berusaha
untuk membunuhnya!”
“Jangan khawatir. Ada aku yang akan menjelaskan kepadanya.”
Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke istana Pangeran Tao Kuang. Ketika mereka hampir tiba di
istana itu, Keng Han kembali bertanya, “Cu In, mengapa engkau begini baik terhadap diriku? Kanapa
engkau begini membela aku?”
“Hemmm, kenapa? Karena engkau pun baik sekali kepadaku. Ingat, engkau pun pernah menolongku,
bukan?”
“Cu In, suci-mu mengatakan bahwa engkau lebih kejam dari pada ia, akan tetapi aku melihat engkau sama
sekali tidak kejam, bahkan engkau lembut hati dan mulia. Aku menyebut namamu begitu saja, bukan
menyebut Su-I (Bibi Guru), engkau pun tidak marah. Aku sungguh kagum kepadamu semenjak pertama
kali kita bertemu, aku... aku terpesona melihat sinar matamu dan aku suka sekali kepadamu. Apakah
engkau akan marah dan membunuhku kalau aku mengatakan bahwa aku suka kepadamu?”
Sepasang mata itu mencorong, namun hanya sebentar. Tadinya Cu In hendak marah sekali karena ia
sudah terbiasa menganggap bahwa kalau ada pria menyatakan suka kepadanya, maka pria itu hanya
merayu saja dan pernyataannya itu palsu adanya seperti yang sering kali dikatakan gurunya. Akan tetapi
kemudian ia teringat bahwa gurunya atau ibunya itu bersikap demikian karena sakit hati terhadap
kekasihnya, maka kemarahannya pun hilang. Ia tidak perlu percaya lagi kepada semua pendapat ibunya.
Ia sendiri tidak dapat menyangkal bahwa ia pun suka sekali kepada Keng Han. Baru sekarang ia
menyadari bahwa pria pun sama saja dengan wanita, ada yang baik dan ada yang jahat. Dan Keng Han ini
jelas bukan laki-laki yang jahat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ia menyadari bahwa kebiasaannya mengenakan cadar supaya mukanya jangan sampai terlihat laki-laki itu
merupakan kebiasaan yang keliru. Tetapi sekarang sudah kepalang, bahkan hal itu dapat dipakainya untuk
menguji sampai di mana rasa suka Keng Han terhadap dirinya.
“Aku tidak marah dan tidak akan membunuhmu karena pernyataan itu, Keng Han. Akan tetapi bagaimana
mungkin engkau mengatakan bahwa engkau suka kepadaku pada hal engkau belum pernah melihat
wajahku?”
“Aku tidak peduli akan wajahmu, Cu In. Bagaimana pun bentuk wajahmu aku tetap akan merasa suka
padamu. Aku kagum akan kepribadianmu, watakmu, cara engkau bicara, gerak-gerikmu, dan sinar
matamu.”
“Tidak, Keng Han. Jangan katakan begitu. Aku... aku tidak berharga bagimu. Aku gadis kang-ouw,
petualang yang hidup menyendiri, sedangkan engkau adalah seorang putera pangeran! Tidak, aku sama
sekali tidak sebanding denganmu.”
“Cu In, jangan merendahkan diri sampai demikian! Aku cinta padamu, bukan karena rupa atau kedudukan.
Aku mencinta dirimu, pribadimu, tidak peduli engkau berwajah bagaimana dan dari golongan apa.”
“Ahhh, engkau akan menyesal kelak dan kalau engkau menyesal, aku kembali akan menjadi pembenci pria
yang ternyata berhati palsu, kata-katanya tidak dapat dipercaya.”
“Aku tidak akan menyesal, Cu In. Aku cinta padamu dan tidak ada apa pun yang dapat mengubah cintaku.”
“Akan tetapi wajahku buruk sekali, Keng Han. Aku hanyalah seorang wanita yang cacat mukanya.”
“Aku tidak percaya! Dan andai kata benar wajahmu cacat, aku tetap akan mencintamu.”
“Benarkah? Ingin aku melihat apakah pendapat guruku tentang pria benar, bahwa pria hanya merupakan
perayu besar yang tidak setia dan palsu. Kau lihatlah baik-baik, Keng Han!”
Setelah berkata demikian, Cu In menyingkap cadarnya memperlihatkan mukanya dari hidung ke bawah.
Keng Han memandangnya dan pemuda itu terbelalak, terkejut dan heran.
Tidak disangkanya sama sekali bahwa wajah yang di bagian atasnya demikian cantik jelita, bagian
bawahnya mengerikan. Wajah itu totol-totol hitam, seperti bekas luka yang memenuhi permukaan
wajahnya sehingga meski pun hidung dan mulutnya berbentuk sempurna, namun karena bertotol-totol
hitam menjadi buruk untuk dipandang.
Cu In menutupkan kembali cadarnya, kemudian berkata dengan nada suara mengejek, “Engkau terkejut?
Engkau ngeri? Wajahku seperti setan, bukan? Nah, apakah masih ada ada rasa cinta di dalam hatimu,
Keng Han?”
Keng Han sudah dapat menyadari lagi keadaannya dan menguasai perasaannya yang terkejut. “Aku tetap
mencintamu, Cu In. Biar pun wajahmu cacat, engkau tetap Cu In yang tadi, yang bercadar, yang kucinta.
Akan tetapi mengapa wajahmu seperti itu, Cu In? Aku merasa iba kepadamu dan aku akan berusaha agar
supaya cacat di wajahmu dapat hilang. Akan kucarikan tabib terpandai di dunia ini yang mampu
menyembuhkan dirimu.”
“Kau tidak benci kepadaku? Tidak jijik melihat mukaku?” tanya Cu In, dalam suaranya mengandung
keheranan.
Keng Han mendekat dan memegang kedua tangan gadis itu. “Sudah kukatakan, aku mencinta pribadimu,
bukan sekedar kecantikanmu. Aku tetap mencintaimu walau pun wajahmu cacat. Jadi itulah sebabnya
engkau memakai cadar selama ini! Agar mukamu yang cacat tidak kelihatan orang lain.”
“Benar, aku tidak ingin ada orang melihat mukaku dan kemudian membenciku. Engkau benar-benar tidak
peduli akan cacat di mukaku?” tanya Cu In tanpa melepas pegangan Keng Han pada kedua tangannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aku bukan tidak peduli, akan tetapi aku bahkan kasihan sekali padamu dan ingin membantumu
mencarikan obat untuk menghilangkan bekas luka di wajahmu itu. Akan tetapi cacat di mukamu itu tidak
mengubah perasaan hatiku yang mencintamu.”
Cu In melepaskan kedua tangannya dan membalikkan tubuhnya membelakangi pemuda itu. “Aku... aku
tidak percaya...” suaranya mengandung isak.
“Kenapa engkau tidak percaya? Kenyataan bahwa engkau murid Ang Hwa Nio-nio dan sumoi Bi-kiam
Niocu yang jahat dan kejam itu pun tidak mengubah cintaku padamu, pada hal aku sama sekali tidak
menyukai watak mereka. Aku bersumpah bahwa aku tetap mencintamu Cu In.”
“Ssttt, sudahlah. Soal itu dapat kita bicarakan kemudian. Sekarang ada pekerjaan yang lebih penting. Mari
kita menghadap Pangeran Mahkota Tao Kuang.”
Baru teringat oleh Keng Han betapa lama mereka berhenti di jalan yang sunyi itu. Dia tersenyum kepada
Cu In dan berkata, “Perasaan hati kita lebih penting dari segala urusan, Cu In. Aku sudah mengutarakan isi
hatiku dan hal ini melegakan sekali. Walau pun aku belum tahu bagaimana tanggapanmu tentang
perasaanku, akan tetapi kini aku merasa lega bahwa engkau mengetaihui akan perasasn hatiku
kepadamu. Nah, mari kita lanjutkan perjalanan kita.”
Ketika mereka tiba di istana Pangeran Tao Kuang, mereka segera disambut oleh Sang Pangeran sendiri
yang ditemani oleh Kwi Hong dan ibunya, juga Kai-ong dan muridnya, Yo Han Li yang masih berada di situ.
Melihat munculnya Keng Han bersama Cu In, Kwi Hong segera meloncat ke depan ayahnya dengan
pedang terhunus di tangan.
“Han-ko, apakah engkau hendak membunuh ayahku?!” bentaknya.
Keng Han tersenyum. Sudah lama dia mengetahui bahwa Kwi Hong itu adalah adiknya sendiri, adik
sepupu dan semarga. Dia menggelengkan kepalanya dan berkata. “Tidak, Hong-moi. Aku bahkan datang
untuk minta maaf kepada ayahmu.”
Lega hati Kwi Hong mendengar ini. Ia pun segera melangkah ke pinggir dekat ayahnya.
“Saya datang pertama-tama untuk mohon maaf kepada Paman Pangeran!” kata Keng Han sambil memberi
hormat kepada Pangeran Tao Kuang.
Pangeran itu tersenyum, kemudian berkata, “Aku maafkan engkau, Keng Han. Engkau kemarin bersikap
demikian karena hasutan orang. Apakah kini engkau sudah mengerti benar akan duduknya perkara?”
“Sudah, Paman. Bahkan bukan itu saja. Kami, yaitu Cu In dan saya, mengetahui hal-hal lain yang amat
membahayakan keselamatan Paduka dan juga keselamatan Yang Mulia Kaisar. Ada komplotan yang
hendak membunuh Paman dan Kaisar.”
Pangeran Tao Kuang terkejut mendengar ini dan segera mengajak Cu In dan Keng Han ke ruangan dalam
untuk membicarakan hal itu.
Setelah tiba di ruangan dalam, Keng Han lalu menceritakan semua pengalamannya. Dia menceritakan pula
rencana ayahnya yang hendak membunuh Pangeran Mahkota dan Kaisar.
“Dia yang kini memakai nama Hartawan Ji telah mengundang datuk-datuk besar yang berilmu tinggi untuk
melaksanakan pembunuhan itu. Karena itulah maka kami berdua cepat-cepat menghadap Paman untuk
menghadapi komplotan pembunuh itu. Di antara mereka yang bersekutu itu terdapat pula seorang Tibet
bernama Gulam Sang yang agaknya sudah mengadakan persekutuan dengan pihak Pek-lian-pai dan Patkwa-
pai. Mungkin mereka akan mengadakan penyerbuan ke kota raja. Juga Bu-tong-pai bekerja sama
dengan mereka. Keadaan ini gawat sekali kalau tidak dipersiapkan penjagaan yang ketat.” demikian antara
lain Keng Han berkata.
“Untuk menjaga keselamatan Paduka, di sini sudah terdapat adik Kwi Hong, adik Han Li dan Locianpwe
Kai-ong. Akan tetapi untuk menjaga keselamatan Kaisar, perlu adanya tenaga yang boleh diandalkan untuk
mencegah terjadinya pembunuhan,” kata Cu In.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Wah, ini perkara penting sekati. Aku harus segera menghubungi ayahanda Kaisar dan para panglima
untuk melakukan penjagaan dan untuk menyelidiki gerakan musuh di luar kota raja. Bagaimana kalau kami
minta bantuan kalian, Keng Han dan Cu In, untuk ikut menjadi pengawal Kaisar untuk sementara waktu?”
“Saya bersedia, Paman.” kata Keng Han.
“Jika memang dibutuhkan, saya pun suka membantu,” kata pula Cu In penuh semangat.
“Bagus, kalau begitu sekarang juga kalian berdua ikut dengan aku menghadap Kaisar. Kwi Hong, engkau
menjaga di rumah dan saya mohon bantuan Locianpwe Kai-ong dan nona Yo untuk membantu Kwi Hong.”
“Baik, Ayah. Aku dan ibu akan siap siaga.”
“Ha-ha-ha, setelah siang malam makan dan tidur dengan enak di sini kami tentu saja suka membantu. Ada
pekerjaan itu baik sekali, makan tidur saja setiap hari membuat aku menjadi malas!” kata Kai-ong.
Maka berangkatlah Pangeran Tao Kuang menuju ke istana Kaisar, dikawal oleh Keng Han dan Cu In.
Setelah tiba di istana dan diterima oleh Kaisar, Pangeran Tao Kuang menceritakan keadaan yang
berbahaya itu.
Mendengar laporan ini, Kaisar yang sudah tua itu memukul lengan kursinya.
“Aahhh, anak-anak macam apa Tao Seng dan Tao San itu? Mereka sudah dihukum, tapi tidak jera dan
malah membikin ulah lagi. Kami serahkan penanggulangan pengacau ini kepadamu, Tao Kuang.
Selesaikan sampai tuntas urusan ini. Aaahh, kalau kami yang harus memikirkan masalah anak-anak
durhaka ini, bahkan hanya akan mendatangkan penyesalan saja di dalam hati!”
“Baik, Ayah. Serahkan saja semua ini kepada hamba. Di sini hamba mengajak dua orang pendekar yang
menjadi saksi usaha pemberontakan itu dan hamba harap supaya Ayah suka menerimanya sebagai
pengawal sementara untuk menghadapi mereka yang berani masuk ke Istana.”
Kaisar menerima Keng Han dan Cu In dengan senang. Akan tetapi melihat Cu In yang bercadar, Kaisar
mengerutkan alisnya dan berkata, “Kenapa gadis ini memakai cadar? Sebaiknya kalau cadar itu dilepas
agar kami dapat melihat wajahnya.”
“Ampun, Yang Mulia. Hamba sudah bersumpah untuk tidak membuka cadar ini. Yang berhak melakukan
hanya suami hamba kelak,” kata Cu In.
Keterangannya ini tidak seluruhnya bohong karena di dalam hatinya ia pun mengambil keputusan bahwa
yang berhak membuka cadar adalah tangan suaminya. Mendengar ini Keng Han merasa jantungnya
berdebar. Gadis ini sudah membuka cadar di depannya, bukankah itu menunjukkan bahwa gadis ini setuju
dia menjadi calon suaminya?
“Hemmm, sumpah yang aneh. Tetapi sudahlah, karena putera kami yang membawamu ke sini, engkau
boleh bercadar.” Akhirnya Kaisar berkata sambil mengangguk walau pun merasa heran akan sumpah yang
aneh itu.
Keng Han dan Cu In ditinggalkan dalam istana untuk menjadi pengawal pribadi kaisar. Walau pun kaisar
sudah mempunyai pasukan pengawal pribadi, akan tetapi hadirnya dua orang muda yang oleh puteranya
diperkenalkan sebagai dua orang pendekar yang berilmu tinggi, kaisar suka menerimanya dan hal ini
menambah tenang hatinya.
Pangeran Tao Kuang sendiri lalu membawa sepasukan pengawal untuk mengawalnya. Dia tidak segera
pulang, akan tetapi mendatangi rumah panglima The Sun Tek yang dikenalnya sebagai Panglima besar
yang memiliki ilmu silat tinggi. Kepada panglima itu dia menceritakan tentang usaha persekutuan yang
dipimpin oleh Pangeran Tao Seng.
Ia menyerahkan penyelidikan dan pembasmian gerombolan pemberontak yang mungkin bersembunyi
dekat kota raja, supaya dapat mencegah gerombolan itu menyerbu kota raja. Sesudah Panglima The Sun
Tek menyatakan siap untuk melaksanakan perintah Kaisar melalui Pangeran Mahkota itu, Pangeran Tao
Kuang baru pulang ke rumahnya, dikawal pasukan pengawal dengan ketat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Panglima The Sun Tek dengan cepat mengerahkan pasukan istimewa untuk menambah kekuatan
penjagaan di istana, lalu menyebar penyelidik untuk menyelidiki apakah ada gerombolan yang
bersembunyi di sekitar kota raja.
Kaisar Cia Cing yang usianya sudah lebih dari tujuh puluh lima tahun itu nampak tenang saja mendengar
bahwa dirinya terancam bahaya maut. Apa lagi dengan adanya Keng Han dan Cu In, dia merasa aman.
Ada pun penambahan pengawal istana membuat dia lebih tenang lagi karena penjagaan menjadi ketat
sekali.
Keng Han dan Cu In sama sekali tidak menyangka bahwa di antara pengawal istana itu terdapat Tung-hai
Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin. Mereka ini di selundupkan oleh panglima yang sudah dipengaruhi Pangeran
Tao Seng, yaitu Panglima Ciu, ke dalam pasukan pengawal istana! Ada pun Swat-hai Lo-kwi oleh
Panglima Ciu diselundupkan ke dalam pasukan penjaga istana Pangeran Mahkota.
Tentu saja ketiga orang datuk sesat ini menyamar sehingga kelihatan muda dan seperti anggota pasukan
biasa. Dua orang datuk, yaitu Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin, bertugas untuk membunuh kaisar.
Bersama dengan mereka diselundupkan pula anak buah Pek-lian-pai sebanyak selosin orang untuk
membantu usaha dua orang datuk itu.
Sedangkan Swat-hai Lo-kwi dibantu oleh selosin prajurit pula, yaitu para anggota dari Pat-kwa-pai. Gulam
Sang sendiri memimpin pasukan inti Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai bersama para tokoh kedua gerombolan
itu, mempersiapkan pasukannya di luar kota raja, siap untuk membantu apa bila saatnya tiba.
Penyerbuan itu akan dibarengi dengan gerakan pasukan Panglima Ciu dari dalam. Bila saatnya tiba,
Panglima Ciu akan melepaskan anak panah berapi di udara sebagai tanda kepada gerombolan yang
bersembunyi di luar kota raja. Penyerbuan akan dilakukan pada malam hari.
Pangeran Tao Kuang yang sudah menerima keterangan sejelasnya dari Keng Han dan Cu In,
berhubungan terus dengan Panglima The Sun Tek. Panglima ini adalah seorang panglima perang yang
telah hafal akan liku-liku siasat perang. Maka dia tidak terpancing keluar dan mengerahkan pasukannya
keluar kota raja.
Ia menaruh curiga kalau-kalau pihak pemberontak justru telah menyelundupkan banyak pasukan ke dalam
kota raja. Mudah saja untuk menyusup dengan menyamar sebagai pedagang atau petani yang menjual
hasil ladang mereka ke kota raja. Maka dia pun membagi pasukannya menjadi dua bagian. Yang satu
bagian diperuntukkan membasmi gerombolan yang berada di luar kota raja, sedangkan sebagian lagi tetap
menjaga di kota raja kalau-kalau pihak musuh sudah menyelundupkan pasukan ke dalam kota raja untuk
menyerbu istana. Penjagaan di istana diperketat.
Malam itu teramat indah. Biar pun tidak ada bulan di angkasa namun malam itu penuh bintang. Langit
bersih sehingga semua bintang nampak di angkasa bagaikan butir-butir mutiara di hamparan beludru
hitam. Apa bila ada orang yang menengadah, maka akan nampak keindahan yang luar biasa, nampak pula
kekuasaan Tuhan yang tiada taranya.
Bintang-bintang itu berkelap-kelip, ada yang berkejap ada pula yang tenang diam tanpa sinar gemerlapan.
Cahaya sekian banyak bintang di angkasa, tak terhitung banyaknya, membuat cuaca di bumi nampak
remang-remang. Cahaya bintang-blntang itu demikian lembut sehingga malam terasa sejuk.
Kalau ada angin semilir, barulah terasa betapa dinginnya hawa udara di saat itu. Dingin dan sunyi, penuh
pesona dan rahasia. Kadang nampak bintang meluncur lalu lenyap membuat kita bertanya-tanya apa
sebenarnya yang terjadi jauh di atas itu.
Benarkah pendapat kuno bahwa setiap bintang itu mewakili seorang manusia. Agaknya pendapat kuno ini
berlebihan. Buktinya banyak bintang yang sudah beratus tahun masih nampak cemerlang di angkasa
sedangkan manusia sudah berganti beberapa generasi. Apakah di bintang itu terdapat makhluk hidup?
Mungkin saja, siapa tahu. Tuhan Maha Kuasa, maka tidak ada hal yang tidak mungkin. Kalau Tuhan
menghendaki, mungkin saja di antara bintang-bintang itu ada bintang yang seperti dunia kita ini.
Malam yang indah. Akan tetapi malam yang mencekam bagi para penjaga di istana. Beberapa orang
melihat berkelebatnya bayangan orang di luar kamar tidur Kaisar. Akan tetapi ketika diperiksa, ternyata
tidak ada siapa-siapa.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketika mendengar laporan para penjaga itu, Keng Han dan Cu In siap siaga dengan penuh kewaspadaan.
Keng Han menyuruh para prajurit pengawal untuk mengepung kamar tidur kaisar, sedangkan dia sendiri
bersama Cu In sudah melayang naik ke atas atap, menjaga kalau-kalau ada yang menyerbu dari atas.
Penjagaan itu demikian ketat sehingga siapa pun yang akan memasuki kamar kaisar, dari luar mau pun
dari atas, pasti akan ketahuan. Kecuali kalau ada yang masuk melalui bawah tanah, suatu hal yang tidak
mungkin.
Tengah malam tiba. Bintang-bintang semakin jelas kelihatan, membuat Keng Han dan Cu In yang berada
di atas atap menjadi kagum bukan main. Terutama sekali Keng Han. Sudah sering dia melihat malam
penuh bintang, akan tetapi entah bagaimana, belum pernah nampak seindah malam ini.
Dia tersenyum seorang diri, maklum mengapa hatinya demikian tenteram dan bahagia, walau pun sedang
menghadapi tugas yang berbahaya. Bukan lain karena Cu In berada di situ, di dekatnya!
Terdengar bunyi langkah dua losin prajurit pengawal datang dari arah luar. Mereka itu adalah satu regu
prajurit pengawal yang datang untuk menggantikan para prajurit yang sudah berjaga sejak sore tadi.
Komandan prajurit yang baru datang menerima laporan dari komandan prajurit yang diganti bahwa tadi
nampak bayangan yang mencurigakan berkelebat, akan tetapi kini suasana aman dan tenang sedangkan
bayangan itu tidak dapat ditemukan.
“Mungkin hanya bayangan burung yang terbang lewat,” akhirnya komandan itu menutup keterangannya
kepada komandan yang baru. “Betapa pun juga, harap menjaga dengan hati-hati dan waspada.”
Dia tidak menceritakan bahwa Keng Han dan Cu In sedang berada di atas atap karena dia sendiri tidak
tahu di mana dua orang pengawal pribadi kaisar itu bersembunyi.
Pergantian pengawal sudah dilakukan. Para prajurit pengawal yang baru nampak masih segar dan mereka
mengepung kamar kaisar, bahkan kadang melakukan perondaan di sekeliling tempat itu.
Keng Han dan Cu In mendengar suara mereka dan melongok ke bawah. Mereka tahu bahwa ada
pergantian pengawal, maka mereka tidak mengacuhkan lagi. Kedua orang muda ini terus bersembunyi di
atas atap dengan waspada, mengawasi empat penjuru dengan tatapan tajam.
Tak lama kemudian mereka mendengar suara gedebak-gedebuk seperti orang jatuh.
“Cu In, cepat kau periksa di bawah, biar aku yang menjaga di sini!” kata Keng Han.
Cu In melayang turun. Dia kaget bukan main melihat beberapa orang prajurit pengawal menyerang kawankawannya
sendiri! Dia sama sekali tidak tahu bahwa di antara dua losin prajurit itu, yang empat belas orang
adalah anak buah Pek-lian-pai yang sekarang menyamar sebagai prajurit, termasuk juga dua orang datuk
sesat, Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin!
Melihat sepuluh orang prajurit diserang oleh prajurit yang lain dan empat orang sudah roboh tak bergerak
lagi, Cu In berseru, “Tahan...!”
Akan tetapi, para prajurit penyerang itu bahkan menyerangnya dan seorang di antara mereka yang
memegang ruyung berseru, “Lo-mo, cepat bergerak dari atas!”
Tung-hai Lo-mo mengenal Cu In yang bercadar. Karena tahu betapa lihainya wanita itu, maka dia
menyerahkannya kepada Lam-hai Koai-jin dan selosin anak buah Pek-lian-pai. Maka mendengar seruan
Lam-hai Koai-jin, Tung-hai Lo-mo segera meloncat naik ke atas atap. Diperhitungkannya, kalau memasuki
kamar lewat atap tentu tidak ada yang tahu dan kalau dia dapat membunuh kaisar dengan tangannya
sendiri, tentu pahalanya besar dan Pangeran Tao Seng akan memberi hadiah yang besar.
Namun, begitu kakinya menginjak atap, terdengar bentakan nyaring yang mengejutkan hatinya. “Berhenti,
siapa engkau?!”
Kiranya Keng Han sudah berdiri di depannya. Dia segera mengenal Keng Han, akan tapi pemuda itu
sendiri tidak mengenalnya karena kakek itu memakai samaran sebagai seorang prajurit biasa.
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat Keng Han menghadang dengan pedang bengkok di tangannya, Tung-hai Lo-mo cepat
menggerakkan tombaknya. Sebagai prajurit tentu saja dia tak mungkin membawa-bawa dayungnya, maka
dia memilih memegang tombak dari pada senjata lain karena tombak itu dapat dipergunakan sebagai
senjata dayungnya.
Melihat prajurit itu telah menyerangnya dengan tombak, Keng Han menangkis dengan pedang
bengkoknya.
“Tranggg...!”
Keduanya terdorong mundur tiga langkah. Keng Han terkejut sekali. Orang yang dikirim ayahnya untuk
membunuh kaisar ini ternyata lihai dan memiliki tenaga sinkang yang kuat!
Maka dia pun mengerahkan tenaganya dan segera mainkan pedangnya dengan ilmu silat Hong-in Bunhoat.
Pedang itu menyambar-nyambar dengan gerakan aneh seperti mencorat-coret di udara membuat
huruf-huruf, akan tetapi akibatnya hebat, Tung-hai Lo-mo segera terdesak mundur.
Datuk sesat ini berpikir bahwa kalau bertempur di atas, berbahaya baginya. Selain atap itu licin dan miring,
juga dia tidak mempunyai kawan. Kalau di bawah terdapat selosin anak buah Pek-lian-pai dan masih ada
Lam-hai Koai-jin pula.
Maka dia membabatkan tombaknya menyerampang kedua kaki lawan. Ketika Keng Han meloncat untuk
menghindarkan sambaran tombak, kesempatan ini dipergunakan oleh Tung-hai Lomo untuk meloncat turun
ke bawah!
“Pembunuh jahat, engkau hendak lari ke mana?” bentak Keng Han. Dia pun meloncat ke bawah
melakukan pengejaran.
Melihat Keng Han meloncat turun, Tung-hai Lo-mo menggunakan tombak menyambut dengan tusukan
yang cepat dan kuat sekali. Akan tetapi Keng Han sudah waspada dan pada saat melihat lawannya
menyambutnya dengan tusukan, dia pun memutar pedang bengkoknya untuk melindungi tubuhnya.
“Trang-tranggg...!” Bunga api berpercikan ketika kedua senjata itu bertemu dan mereka segera bertanding
lagi dengan serunya.
Sementara itu, pertandingan antara Cu In melawan Lam-hai Koai-jin juga berlangsung seru. Akan tetapi
karena Cu In membantu para prajurit pengawal yang diserang oleh orang-orang Pek-lian-pai yang
menyamar, ia jadi terkeroyok, apa lagi ruyung di tangan Lam-hai Koai-jin membuatnya terdesak.
Akan tetapi, dengan sabuk suteranya gadis ini berhasil merobohkan lima orang anak buah Pek-lian-pai
sehingga kini jumlah mereka tinggal tujuh orang lagi. Mereka itu dapat dilawan para prajurit pengawal yang
tulen sehingga Cu In hanya menghadapi Lam-hai Koai-jin seorang saja!
Lam-hai Koai-jin ialah seorang datuk selatan yang bertubuh gendut pendek. Permainan ruyungnya
menggiriskan. Senjata berat itu dapat dia gerakkan dengan cepat sehingga mengeluarkan suara
berdesing-desing.
Namun, lawannya adalah Cu In yang mempunyai ginkang yang luar biasa. Kecepatan gerakan Cu In
membingungkan Lam-hai Koai-jin. Sabuk sutera putih yang dimainkan Cu In bagaikan kilat menyambarnyambar,
atau bagaikan seekor naga bermain di angkasa. Ujungnya melecut dan menotok sehingga datuk
gendut pendek itu seolah terkepung oleh belasan ujung sabuk yang menyerangnya secara bertubi-tubi.
Baik Tung-hai Lo-mo mau pun Lam-hai Koai-jin kini mulai maklum bahwa usaha mereka mengalami
gangguan. Apa lagi sekarang berdatangan pasukan pengawal lainnya yang mendengar akan perkelahian
itu kemudian mereka datang berbondong-bondong untuk membantu teman-teman mereka.
Melihat ini, Tung-hai Lo-mo berseru, “Lari...!”
Dia sendiri sudah meloncat jauh ke belakang untuk melarikan diri. Lam-hai Koai-jin juga meloncat jauh
mengikuti jejak kawannya. Para anak buah mereka juga ingin lari, akan tetapi kini bantuan sudah datang
dan mereka terkepung dengan ketat sehingga tak lama kemudian, kedua belas orang anak buah Pek-liandunia-
kangouw.blogspot.com
pai yang menyamar sebagai prajurit pengawal itu berhasil dirobohkan. Di antara mereka ada yang belum
tewas dan hanya terluka, maka yang terluka lalu ditawan.
Pintu yang menuju ke kamar tidur kaisar terbuka dari dalam. Dua orang thaikam muncul. Mereka tadi
mendengar suara ribut-ribut di luar kamar, maka mereka membuka pintu untuk melihat apa yang terjadi.
Kaisar pun sudah terjaga dari tidur dan memerintahkan thaikam untuk memeriksa keadaan di luar.
“Para pembunuh menyamar sebagai prajurit pengawal datang menyerang, akan tetapi mereka semua
sudah tertangkap!” Keng Han melapor kepada para thaikam dan mereka itu dapat melapor kepada Kaisar.
“Siapa yang menyuruh kalian? Hayo cepat katakan!” bentak Keng Han kepada empat orang penyerbu yang
terluka dan sudah diikat kedua tangannya.
Akan tetapi empat orang itu diam saja tidak mau menjawab.
“Katakan kalian dari golongan apa?” tanya lagi Keng Han.
Seorang di antara mereka kini mengangkat muka memandang kepada Keng Han dan menjawab singkat.
“Kami anggota Thian-li-pang!”
Keng Han dan Cu In terkejut sekali. Anggota Thian-li-pang? Mereka teringat kepada Han Li yang berada di
rumah Pangeran Mahkota. Gadis itu puteri ketua Thian-li-pang!
“Mungkin mereka berbohong. Kita undang Han Li ke sini untuk mengenali mereka,” kata Cu In dan Keng
Han menyetujui.
Keadaan kini sudah aman. Tidak mungkin ada pembunuh yang dapat masuk dari luar istana yang sudah
dijaga ketat oleh pasukan. Kalau tadi mereka kebobolan adalah karena para penjahat itu menyamar
sebagai prajurit-prajurit pengawal istana.
“Benar, sekarang di sini sudah aman. Kita serahkan kepada para prajurit untuk menjaga keamanan
selanjutnya dan kita harus cepat pergi ke rumah Pangeran Mahkota. Siapa tahu mereka membutuhkan
bantuan,” kata Keng Han.
Keduanya lalu pergi meninggalkan istana. Dari para penjaga di luar istana mereka mendapat kabar bahwa
dua orang pembunuh yang lihai dan menyamar sebagai prajurit-prajurit itu telah berhasil lolos. Mereka
tidak mempedulikannya lagi. Penjahat-penjahat itu pasti tidak berani masuk kembali ke istana, pikir
mereka. Dengan cepat mereka lalu menuju ke istana Pangeran Tao Kuang.
Di istana ini pun terjadi keributan. Menjelang tengah malam, ada bayangan tiga belas orang memasuki
istana lewat pagar tembok belakang taman. Mereka segera ketahuan karena penjagaan sudah diatur
dengan ketat dan terjadi pertempuran antara tiga belas orang itu dengan para prajurit.
Akan tetapi tiga belas orang itu ternyata lihai, terutama sekali seorang di antara mereka, yaitu seorang
kakek yang memegang pedang. Banyak prajurit penjaga roboh di tangan kakek ini yang bukan lain adalah
Swat-hai Lo-kwi.
Akan tetapi Pangeran Tao Kuang segera dilapori penjaga dan Tao Kwi Hong bersama ibunya Liang Siok
Cu, ditemani pula oleh Han Li dan Kai-ong Lu Tong Ki dengan cepat pergi ke tempat di mana terjadi
pertempuran, yaitu di taman bunga di bagian belakang istana. Sedangkan Pangeran Tao Kuang sendiri
yang nyawanya terancam, telah masuk ke dalam kamar rahasia yang tidak akan dapat ditemukan orang
luar.
Swat-hai Lo-kwi mengamuk dan dia mencari kesempatan untuk menerobos masuk ke dalam istana itu
mencari Pangeran Tao Kuang. Pedangnya membabat ke sana sini.
“Tranggg...!”
Tiba-tiba pedangnya bertemu dengan sebatang tongkat bambu. Biar pun hanya tongkat bambu, tapi
ternyata mampu membuat pedang di tangan Swat-hai Lo-kwi terpental dan tangannya terasa panas.
dunia-kangouw.blogspot.com
Datuk sesat ini segera memandang penuh perhatian pada penangkisnya. Ternyata yang menangkis
pedangnya adalah seorang kakek tinggi kurus, berpakaian tambal-tambalan dan memegang sebatang
tongkat bambu, berdiri sambil tertawa bergelak dan mengelus jenggotnya dengan tangan kiri.
“Ha-ha-ha-ha-ha! Kiranya Swat-hai Lo-kwi yang memimpin penyerbuan ini. Tidak aneh bila Swat-hai Lo-kwi
dapat diperalat kaum pemberontak, tentu dengan janji pahala yang muluk-muluk!” kata Kai-ong Lu Tong Ki.
“Kai-ong, jangan mencampuri urusanku. Apakah engkau telah menjadi anjing peliharaan penjajah Mancu?”
“Heh-heh-heh, tidak perlu engkau berpura-pura bersikap sebagai seorang patriot yang mencinta tanah air
dan bangsa. Aku, Kai-ong, sudah lama mengenal isi perutmu!”
“Keparat, mampuslah engkau!”
Swat-hai Lo-kwi menyerang dengan tangan kirinya, memukul dengan telapak tangan terbuka ke arah dada
Kai-ong. Pukulan ini bukannya sembarang serangan, melainkan serangan maut karena tangan itu terisi
tenaga sakti yang amat dingin.
“Haiiiiit...!” Swat-hai Lo-kwi mengeluarkan tenaga saktinya sambil memekik dahsyat.
“Hemmm...!”
Kai-ong juga mengerahkan tangan kirinya, menyambut pukulan tangan terbuka dengan tangannya sendiri.
“Desssss...!”
Dua tangan bertemu dengan dahsyatnya. Akibatnya, Swat-hai Lo-kwi terdorong mundur sampai tiga
langkah, sedangkan Kai-ong yang bergoyang-goyang saja tubuhnya akan tetapi dapat bertahan sehingga
tidak sampai terdorong mundur.
“Haiiiiit!” Kembali Swat-hai Lo-kwi memekik dan kini pedangnya menyambar.
Kai-ong juga menggerakkan tongkat bambunya dan kedua orang tua ini sudah saling serang dengan
hebatnya. Gerakan mereka tidak cepat, bahkan nampak lamban, akan tetapi setiap gerakan mengandung
tenaga sakti yang dahsyat, menyambar-nyambar, bahkan dapat terasa oleh mereka yang berada dalam
jarak tiga meter dari mereka.
Sementara itu, Kwi Hong dan ibunya Liang Siok Cu, dibantu pula oleh Han Li, sudah mengamuk
menghadapi dua belas orang anak buah Pat-kwa-pai yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian cukup tinggi.
Para prajurit penjaga merasa lega dengan munculnya tiga orang wanita ini dan mereka segera membantu
dengan pengeroyokan.
Liang Siok Cu menggunakan senjata sebuah tongkat kecil, sebab ia adalah seorang ahli tiam-hiat-to
(menotok jalan darah). Tongkatnya merupakan senjata andalannya karena tongkat itu lantas menyambarnyambar
mengarah jalan darah para lawannya. Tak lama kemudian, dua orang anak buah Pat-kwa-pai
sudah roboh tak berkutik terkena totokan tongkat nyonya selir Pangeran Mahkota itu.
Kwi Hong mengamuk lebih hebat lagi. Dengan pedangnya dia cepat mainkan Ngo-heng Sin-kiam sehingga
lawan-lawannya menjadi kerepotan melindungi dirinya dari sambaran pedang yang ampuh itu. Tidak lama
kemudian tiga orang lawan telah dapat dirobohkan oleh pedang di tangan Kwi Hong.
Han Li memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi dibandingkan Kwi Hong atau ibunya. Ia telah mewarisi
banyak ilmu silat dari ayah dan ibunya. Akan tetapi menghadapi para penyerbu ini, ia menyerang mereka
dengan setengah hati. Bahkan ia tidak mencabut pedangnya, melainkan hanya membagi-bagi tamparan
dan tendangan saja. Akan tetapi, walau ia tidak bermaksud membunuh orang-orang yang menentang
penjajah, tamparan dan tendangan itu sudah cukup membuat empat orang terpelanting roboh.
Para prajurit mengeroyok tiga orang sisa para penyerbu dan mereka pun roboh menjadi korban senjata
para prajurit. Sekarang tinggal Swat-hai Lo-kwi seorang yang masih bertanding melawan Kai-ong. Ketika
Kwi Hong hendak membantu kakek itu, lengannya dipegang Han Li.
“Jangan, Suhu tidak memerlukan bantuan. Dia tidak akan kalah.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendengar ucapan Han Li itu, Kwi Hong menghentikan gerakannya. Gadis yang suka bertualang di dunia
kang-ouw ini mengerti bahwa banyak tokoh besar persilatan tidak suka dibantu apa bila sedang bertanding
satu lawan satu, tidak mau bersikap curang melakukan pengeroyokan. Maka, membantunya dapat juga
diartikan penghinaan. Ia pun berdiri menonton pertandingan yang hebat itu.
Akan tetapi sekarang ternyata betapa perlahan-lahan Swat-hai Lo-kwi terdesak hebat oleh tongkat Kai-ong.
Mereka bergerak cepat sekali. Yang nampak hanya dua gulungan sinar pedang dan sinar tongkat.
“Tranggg…!” tiba-tiba terdengar suara nyaring.
Sesosok tubuh mencelat keluar dari medan pertandingan, dan yang meloncat itu adalah Swat-hai Lo-kwi.
Dari ujung bibir sebelah kiri mengalir darah dan tangannya menekan dadanya. Jelas bahwa dia telah
terkena tongkat itu pada dadanya sehingga menderita luka dalam.
“Sekarang aku memang mengaku kalah, Kai-ong. Akan tetapi akan datang saatnya aku membalas
kekalahan ini!” Dan dia pun sudah melompat menjauh, melarikan diri dalam kegelapan malam.
Setelah semua musuh tidak dapat melakukan gerakan lagi, dan dua belas orang itu ada yang tewas dan
ada yang hanya terluka, Pangeran Tao Kuang kemudian diberi tahu. Pangeran itu keluar dari tempat
persembunyiannya. Dia memerintahkan pengawal untuk menyeret seorang di antara mereka yang terluka
dan dibawa ke depan Pangeran Tao Kuang.
“Kamu datang dari perkumpulan mana?”
“Dari Thian-li-pang!” jawab orang itu dengan lantang.
“Bohong!” bentak Yo Han Li sambil bergegas menghampiri orang itu. “Kalau engkau dari Thian-li-pang,
coba katakan siapa aku ini!”
Orang itu hanya memandang kepada Han Li, akan tetapi tidak menjawab.
“Hayo katakan, siapa aku!” kembali Han Li membentak dan kini gadis yang marah itu telah mencabut
pedangnya dan menodongkan ke dada orang itu.
Orang itu menjadi pucat wajahnya, kemudian menggeleng kepalanya dan menjawab, “Tidak... tidak tahu...”
“Nah, Paman Pangeran, jelas bahwa dia berbohong ketika mengaku sebagai anggota Thian-li-pang.”
Setelah berkata demikian, pedangnya membuat gerakan.
“Bret-bret-bret...!”
Baju bagian dada orang itu terbuka sehingga di bawah sinar lampu dapat terlihat jelas di dada itu ada
cacahan gambar pat-kwa (segi delapan).
“Dia dari Pat-kwa-pai!” seru Kwi Hong yang mengenal tanda gambar itu.
Han Li mengangguk. “Benar. Aku mendengar bahwa di Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai ada terdapat pasukan
berani mati. Sampai mati pun mereka tidak mau mengaku bahwa mereka adalah murid Pat-kwa-pai, maka
sengaja tadi dia menyebut Thian-li-pang untuk mengalihkan kesalahan kepada Thian-li-pang.”
Pangeran Tao Kuang mengangguk-angguk dan memerintahkan para pengawal untuk menyingkirkan
mayat-mayat itu dan untuk menawan mereka yang masih hidup.
Pada saat itu muncul Keng Han dan Cu In. Melihat pangeran berada di taman bersama Kwi Hong, ibunya
dan Han Li bersama gurunya, juga melihat banyak tubuh menggeletak berserakan di tempat itu, mereka
dapat menduga bahwa penyerangan terhadap diri Pangeran Mahkota juga telah dapat digagalkan.
“Mereka mengaku dari perkumpulan apa?” tanya Keng Han.
“Ada yang mengaku dari Thian-li-pang, akan tetapi nona Yo Han Li telah membuktikan bahwa mereka
adalah anak buah Pat-kwa-pai. Lihat tanda di dadanya itu.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Keng Han dan Cu In melihat tanda gambar pada dada orang itu dan Cu In mengangguk-angguk. “Sudah
kami duga! Akan tetapi kami tidak menduga bahwa ada tanda gambar perkumpulan mereka di dada.
Orang-orang yang menyerbu ke istana juga mengaku dari Thian-li-pang.”
“Ahh, kita harus dapat membuktikan bahwa mereka bukan dari Thian-li-pang,” kata Han Li. “Aku harus
menjadi saksi di sana.”
“Untuk itulah kami datang ke sini. Selain hendak melihat keadaan di sini juga untuk menjemput engkau adik
Han Li. Hanya engkau yang dapat memastikan bahwa mereka bukan dari Thian-li-pang.”
“Baik, mari kita berangkat,” kata Han Li tegas. Gadis ini tentu saja ingin membersihkan nama
perkumpulannya dari fitnah yang dilontarkan para calon pembunuh kaisar serta pangeran itu.
Setelah mereka tiba di istana, seorang penyerbu yang terluka yang tadi mengaku dari Thian-li-pang,
dibawa menghadap Han Li yang telah diterima menghadap Kaisar sendiri. Orang itu didorong dan dipaksa
berlutut di depan Kaisar.
Han Li lalu menghampiri orang itu dan bertanya, “Engkau dari perkumpulan apa?”
Orang itu menjawab tanpa ragu-ragu lagi. “Dari Thian-li-pang!”
Han Li lalu bertanya sambil mencabut pedangnya, ditodongkan ke arah dada orang itu. “Kalau engkau dari
Thian-lipang, katakan siapakah aku?”
Orang itu berdongak memandang wajah Han Li. Akan tetapi dia tidak mengenalnya dan menggeleng
kepala sambil berkata, “Saya tidak tahu.”
Han Li memberi hormat kepada Kaisar. “Nah, Yang Mulia. Orang ini jelas berbohong. Kalau dia memang
orang Thian-li-pang pasti dia mengenal siapa hamba. Hamba adalah puteri ketua Thian-li-pang.”
Setelah berkata demikian, pedangnya bergerak beberapa kali dan baju di bagian dada tawanan itu pun
robek-robek. Semua orang memandang dan melihat cacahan gambar berbentuk bunga teratai di dada itu.
“Dia seorang anggota Pek-lian-kauw, Yang Mulia,” kata Han Li.
“Benar, dia anggota Pek-lian-kauw!” kata Cu In.
Sekarang bagi mereka jelaslah bahwa selosin anak buah yang menyerbu istana adalah para anak buah
Pek-lian-pai sedangkan selosin yang menyerbu istana pangeran adalah anggota Pat-kwa-pai! Maka
terhapuslah dugaan bahwa Thian-li-pang yang mengirim orang-orangnya untuk membunuh kaisar dan
pangeran mahkota.
Namun di luar istana sudah terlanjur tersiar berita yang datangnya dari para pengawal yang menjadi saksi
ketika tawanan-tawanan itu mengaku bahwa mereka adalah orang Thian-li-pang. Akibatnya, umum
berpendapat bahwa Thian-li-pang sudah mulai dengan pemberontakannya dan sudah pula mengutus
orang-orangnya untuk membunuh kaisar dan pangeran mahkota.
Setelah membuka rahasia para penyerbu itu di depan Kaisar sendiri, Keng Han dan Cu In berpamit kepada
kaisar. Kaisar hendak memberi hadiah kepada mereka dan memberi anugerah pangkat, namun keduanya
dengan hormat dan halus menolaknya. Mereka keluar dari istana dan waktu itu sudah jauh lewat tengah
malam.
Mendadak mereka melihat panah api diluncurkan orang di udara.
“Apa itu?” tanya Cu In.
“Panah api! Tentu menjadi suatu tanda yang dilakukan orang di dalam kota raja untuk mereka yang berada
di luar kota raja. Aku khawatir penyerbuan akan dimulai.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Mengapa khawatir? Bukankah menurut Pangeran Mahkota, semua itu sudah diaturnya dengan baik? Kita
lihat saja. Kalau memang mereka menyerbu dan kota raja terancam, kita berdua harus turun tangan
membantu.”
“Kau benar, Cu In. Walau pun yang menggerakkan semua ini adalah ayah kandungku sendiri, akan tetapi
terpaksa aku harus menentangnya. Dia memberontak untuk dapat merampas tahta kerajaan dengan citacita
menjadi kaisar! Andai yang memberontak itu para pejuang bangsa Han, meski pun aku keturunan
Mancu dan Khitan, aku tidak akan membantu siapa-siapa.”
Cu In mengangguk. “Aku setuju sekali dengan pendapatmu, Keng Han. Pemberontakan dilakukan oleh
orang-orang yang berambisi mengangkat diri sendiri menjadi penguasa, dan mereka sudah menggunakan
tokoh-tokoh sesat serta kumpulan-perkumpulan jahat seperti Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai. Kalau Thian-li-
Pai yang bergerak, tentulah bukan menggunakan cara ini dan di belakangnya tentu mendapat dukungan
rakyat jelata. Mari kita melihat lagi ke istana Pangeran Mahkota untuk mendapat petunjuk dari pangeran.”
Keduanya lalu berlari cepat menuju ke istana Pangeran Tao Kuang. Ternyata mereka semua tidak
beristirahat, melainkan berkumpul di ruangan depan, juga menanti sesuatu yang pasti akan terjadi.
“Kami melihat panah api diluncurkan ke udara,” kata Keng Han setelah mereka berdua menghadap sang
pangeran.
“Kami juga sudah mengetahuinya. Tentu itu merupakan tanda bagi pemberontak yang berada di luar kota
raja. Semua telah diatur oleh The Ciangkun. Dia telah mengetahui semua siasat pemberontak dan sudah
siap siaga menghadapi pemberontak, baik yang di dalam kota raja mau pun yang berada di luar.”
Cu In amat kaget mendengar bahwa yang memimpin pertahanan adalah The Ciangkun. ”Apakah yang
dimaksudkan itu adalah ciangkun yang bernama The Sun Tek?” tanya Cu In.
“Benar,” jawab Pangeran Tao Kuang. “Dia adalah seorang panglima besar yang pandai ilmu silat dan ilmu
perang, dan juga setia. Apakah engkau mengenalnya, Nona?”
“Saya mengenalnya dengan baik, Pangeran,” kata Cu In.
“Bagus, kalau begitu kalian pergilah membantunya. Nona Yo Han Li dan Kai-ong biar tetap di sini untuk
menjaga kemungkinan penyerbuan mata-mata musuh.”
“Baik,” kata Keng Han dan Cu In.
Mereka lalu keluar dari istana itu.
“Cu In, benarkah engkau mengenal Panglima The itu?”
“Tentu saja mengenalnya. Dia itu ayah kandungku,” kata Cu In terus terang.
“Ehhh...?”
Keng Han menghentikan langkahnya dan memandang Cu In. Wajah bercadar itu hanya nampak garisgarisnya
saja dalam malam yang hanya diterangi bintang-bintang itu.
“Bukankah engkau pernah bercerita kepadaku bahwa ayah ibumu sudah mati terbunuh musuh, dan
engkau mencari musuh itu?”
“Memang benar, akan tetapi belum waktunya aku menceritakan kepadamu. Lihat, di sana sudah terjadi
pertempuran!”
Mereka berlari ke tempat itu dan ternyata yang bertempur itu adalah pasukan anak buah Panglima Ciu
yang mempertahankan benteng mereka yang sudah dikepung pasukan anak buah Panglima The.
Sementara itu, tempat persembunyian pasukan inti Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai di luar kota raja juga
sudah ditemukan oleh para penyelidik. Dan begitu ada tanda panah api, sebagian pasukan Panglima The
yang sudah mengepung tempat itu segera bertindak menyerbu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba terdengar suara lantang. “Panglima Ciu! Di sini Panglima The dengan semua pasukannya yang
kuat. Lebih baik engkau menyerahlah karena semua persekutuanmu dengan pihak pemberontak telah
kami ketahui. Heiii, para prajurit dalam benteng! Kalau kalian tidak menyerah, tentu kalian semua akan mati
ditumpas pasukan kami!”
Mendengar seruan ini, banyak prajurit pasukan yang berlari keluar dari benteng tanpa membawa senjata
sambil mengacungkan kedua tangan ke atas. Mereka membiarkan diri mereka ditangkap dan ditawan.
Panglima Ciu yang maklum bahwa terlibatnya dalam persekutuan pemberontak itu tentu tidak akan
mendapat pengampunan, dengan nekat terus memimpin anak buahnya yang masih setia untuk melakukan
perlawanan. Akan tetapi karena kalah banyak jumlahnya, juga para anak buahnya sudah kehilangan
semangat, dengan mudah pasukannya dapat dihancurkan dan Panglima Ciu sendiri dengan pedang di
tangan menyerang Panglima The.
Cu In dan Keng Han melihat ini, tetapi mereka tidak memberi bantuan karena melihat bahwa pasukan
Panglima The jauh lebih kuat dari pada musuh. Juga ketika Panglima Ciu bertanding melawan Panglima
The, Cu In hanya menonton, tidak membantu ayah kandungnya. Memang Panglima The tidak perlu dibantu
sebab belum sampai lima puluh jurus, pedangnya sudah menyambar dan memenggal leher Panglima Ciu.
Seorang pembantunya mengangkat kepala Panglima Ciu tinggi-tinggi dengan sebatang tombak dan
berseru. “Hentikan perlawanan kalian. Panglima kalian telah tewas!”
Mendengar dan melihat ini, para prajurit hilang nyalinya. Mereka membuang senjata dan menjatuhkan diri
berlutut tanda menyerah.
Sementara itu, pertempuran yang terjadi di luar kota raja juga tidak berlangsung lama. Jumlah para
pemberontak itu jauh lebih kecil dibandingkan pasukan pemerintah. Walau pun di antara mereka terdapat
Gulam Sang yang dibantu Liong Siok Hwa dan beberapa orang tokoh Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai, tetapi
karena dikeroyok banyak sekali orang, akhirnya Gulam Sang mengajak Liong Siok Hwa untuk melarikan
diri!
Demikianlah watak seorang yang licik. Demi memperoleh kedudukan tinggi dia mau melakukan perbuatan
apa pun, akan tetapi begitu melihat usahanya gagal, dia lebih dulu melarikan diri.
Gulam Sang mengajak Siok Hwa melarikan diri ke Bu-tong-pai di mana dia menyamar sebagai Thian It
Tosu, ketua Bu-tong-pai yang tua itu. Liong Siok Hwa yang datang bersama Gulam Sang itu, diterima oleh
para tokoh Bu-tong-pai dengan hormat. Bahkan setelah Thian It Tosu keluar dari tempat pertapaannya, dia
mengumumkan kepada para anggota bahwa mulai hari itu juga, Liong Siok Hwa diterima menjadi
muridnya. Sebagai murid Thian It Tosu, tentu saja Siok Hwa boleh tinggal di perkampungan Bu-tong-pai
sesuka hatinya.
Beberapa hari kemudian Bu-tong-pai kedatangan banyak tamu, antara lain Ji Wan-gwe, Swat-hai Lo-kwi,
Tung-hai Lomo, Lam-hai Koai-jin dan masih banyak orang lagi. Mereka semua adalah pelarian, setelah
kalah dan gagal dalam usaha mereka menyerbu istana dan membunuh kaisar serta putera mahkota.
Thian It Tosu menerima mereka dengan senang hati dan mereka menjadi tamu-tamu kehormatan Bu-tongpai.
Mereka semua pergi ke Bu-tong-pai dan berkumpul di sana dengan tujuan untuk menyembunyikan diri
dan agar dapat mengadakan pertemuan dan berunding.
Dalam perundingan mereka, Ji Wangwe atau Pangeran Tao Seng menyesalkan para pembantunya yang
ternyata sama sekali gagal dalam tugas mereka.
“Akan tetapi semua kegagalan itu bukan kesalahan kami, melainkan karena rahasia kita telah bocor dan
pihak musuh mengetahui akan semua rencana kita. Aku yakin bahwa yang mengkhianati kita adalah Tao
Keng Han!”
Tung-hai Lo-mo mengangguk dan berkata, “Memang benar. Kalau tidak ada pemuda itu tentu kami telah
berhasil membunuh Kaisar! Pemuda itu telah mengkhianati Pangeran, ayahnya sendiri.”
Pangeran Tao Seng mengepal tinjunya. “Jika tahu akan begini jadinya, sudah kubunuh dia ketika dulu dia
tertawan!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tidak ada gunanya Ayah marah-marah. Kita masih mempunyai rencana kedua. Kalau rencana ini berhasil,
keadaan kita menjadi semakin kuat sehingga kita akan mampu mengobarkan pemberontakan.”
“Hemmm, rencana apakah itu, Kongcu?” tanya Swat-hai Lo-kwi dan para tokoh lainnya yang juga ingin
mengetahuinya.
“Begini,” kata Pangeran Tao Seng. “Bu-tong-pai telah sepenuhnya kita kuasai. Dengan membonceng
kepada nama Bu-tong-pai, kita dapat mengumumkan bahwa Bu-tong-pai mengadakan pemilihan bengcu
(pemimpin rakyat) baru. Tentu saja harus kita usahakan agar Gulam Sang yang akan menang dan menjadi
bengcu baru. Nah, kalau kedudukan bengcu sudah di tangan kita, kiranya akan mudah bagi kita untuk
menggerakkan semua orang di dunia kang-ouw untuk mulai dengan gerakan pemberontakan yang besar.”
“Pikiran yang sangat bagus! Akan tetapi bagaimana dengan bengcu yang sekarang?” tanya Tung-hai Lomo.
“Dalam pemilihan bengcu pada sepuluh tahun yang lalu, sebagian besar orang memilih Pendekar Tangan
Sakti Yo Han yang kini menjadi ketua Thian-li-pang. Akan tetapi dia tak bersedia menjadi ketua. Maka
pilihan lalu dijatuhkan kepada Bhe Seng Kok, seorang pendekar Siauw-lim-pai. Nah, kalau kita hendak
merampas kedudukan bengcu, terlebih dahulu kita harus singkirkan Bhe Seng Kok ini. Kalau bengcu yang
lama sudah tewas, tentu harus diadakan pemilihan bengcu baru. Dan Bu-tong-pai yang akan mempelopori
pemilihan itu,” kata Gulam Sang.
Semua orang memandang pemuda Tibet ini dengan kagum. Dia agaknya tahu akan segala peristiwa di
dunia persilatan.
“Akan tetapi siapa yang akan menyingkirkan ketua Bhe Seng Kok? Aku pun mendengar bahwa murid
Siauw-lim-pai itu tangguh sekali!”
“Aku yang akan melakukannya, dengan bantuan Tung-hai Lo-mo. Apa bila kita berdua yang
menghadapinya, aku tanggung dia akan tewas!” kata pula Gulam Sang.
Pangeran Tao Seng mengerutkan alisnya. “Murid Siauw-lim-pai? Ahhh, kalau sampai Siauw-lim-pai
mengetahuinya dan memusuhi kita, akan celakalah. Kekuatan mereka besar sekali dan nama mereka
sudah terkenal sehingga lain-lain aliran tentu akan berpihak kepada Siauw-lim-pai.”
“Harap Paduka tidak khawatir. Pembunuhan itu harus dilakukan dengan menggelap dan menyamar
sehingga kalau pun ada yang melihatnya mereka tentu tidak akan mengenal kami. Kami membunuh
dengan alasan sebagai balas dendam musuh lama. Sebagai seorang pendekar, kalau sampai Bhe Seng
Kok tewas terbunuh oleh orang-orang yang mendendam, tentu tidak mengherankan semua orang dan hal
itu wajar saja terjadi,” demikian kata Gulam Sang.
Mendengar ini, Pangeran Tao Seng menjadi lega hatinya dan dia menyerahkan saja urusan itu kepada
anak angkatnya yang sudah dipercaya sepenuhnya itu. Dia tidak tahu bahwa kalau Gulam Sang masih
setia kepadanya, padahal perebutan tahta telah gagal, hal ini adalah disebabkan Gulam Sang masih
membutuhkan harta kekayaannya untuk membiayai rencananya.
Setelah selesai perundingan itu, Swat-hai Lo-kwi dan Lam-hai Koai-jin berpamit untuk pulang ke tempat
masing-masing dengan janji bahwa kelak pada pemilihan bengcu mereka pasti akan hadir dan siap
membantu Gulam Sang. Tung-hai Lo-mo tinggal di situ untuk membantu Gulam Sang…..
********************
Keng Han meninggalkan istana dan kota raja bersama Cu In. Biar pun tidak berjanji keduanya ternyata
melakukan perjalanan bersama. Setelah mereka berada jauh dari kota raja, Keng Han menunda
langkahnya dan berhenti. Melihat ini Cu In juga berhenti melangkah. Keduanya saling pandang.
Keng Han lalu bertanya, dalam suaranya mengandung kekhawatiran kalau-kalau gadis itu akan
meninggalkan dia lagi.
“Cu In, ke manakah tujuan perjalananmu kali ini?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Cu In tidak menjawab, hanya menengok ke depan dan kanan kiri seperti orang mencari jawabannya dari
pohon-pohon dan sawah ladang yang berada di kanan kirinya.
“Dan engkau sendiri, Keng Han. Engkau hendak ke manakah?” akhirnya dia bertanya kembali tanpa
menjawab pertanyaan pemuda itu.
Keng Han menghela napas panjang. “Tujuan perjalananku meninggalkan Khitan adalah untuk mencari
ayah kandungku, kemudian mengajaknya pulang ke Khitan karena ibu amat merindukannya. Tapi
kenyataannya, ayahku seorang ambisius yang memberontak dan melakukan perbuatan jahat dengan
usaha pembunuhan-pembunuhan itu. Bahkan sekarang ayah telah menjadi seorang pelarian dan buruan
pemerintah, dan aku tidak tahu dia berada di mana. Aku tidak tahu ke mana harus pergi, dan aku akan
mengikuti saja ke mana engkau pergi, Cu In.”
Gadis itu menghela napas panjang, lalu duduk di atas sebuah batu di tepi jalan. Keng Han juga mengambil
tempat duduk di depannya.
“Aku sendiri belum tahu ke mana aku harus pergi,” kata Cu In.
“Cu In, bukankah engkau mempunyai ayah dan ibu? Engkau berjanji akan menceritakan kepadaku tentang
pengalamanmu. Dulu engkau mengatakan bahwa engkau yatim piatu dan engkau hendak membalas
dendam kepada pembunuh orang tuamu. Akan tetapi kemudian engkau mengatakan bahwa engkau sudah
bertemu dengan ayah bundamu. Bagaimanakah ini?”
Cu In menghela napas panjang lagi. Kalau bukan kepada Keng Han, dia pasti segan menceritakan
persoalan ayah ibunya. Akan tetapi ia amat tertarik dan percaya kepada Keng Han, maka ia merasa tidak
tega untuk berbohong.
“Sejak kecil sekali aku dipelihara subo (ibu guru) dan subo selalu mengatakan bahwa ayah ibuku telah
dibunuh orang. Setelah aku dewasa, subo mengatakan padaku bahwa pembunuh ayah bundaku adalah
The Sun Tek yang tinggal di kota raja.”
“Ahhh...!” Keng Han berseru heran. “Kau maksudkan The Ciangkun yang memimpin pembasmian
pemberontak itu?”
“Benar, dialah orangnya. Aku dapat mencarinya di kota raja dan aku sudah siap untuk membunuhnya,
akan tetapi The Ciangkun menceritakan tentang hubungannya dengan Ang Hwa Nio-nio. Ternyata bahwa
subo-ku adalah bekas kekasih The Sun Tek, dan bahwa aku adalah puteri mereka berdua! Muncul guruku
atau ibuku yang memaksa aku harus membunuh The Sun Tek. Karena aku sudah tahu bahwa aku anak
The Ciangkun, maka aku tidak mau melakukannya. Subo marah dan hendak membunuhku, akan tetapi
dicegah ayahku. Hatiku demikian sakit rasanya. Kiranya ibuku mendendam sedemikian hebatnya kepada
ayahku sehingga dia mendidik aku sebagai muridnya hanya dengan maksud supaya sesudah dewasa aku
akan membunuh ayahku sendiri! Pembalasan dendam yang amat keji. Karena hatiku sakit, aku lalu
meninggalkan mereka.”
Keng Han mendengarkan dengan penuh perhatian, menghela napas dan berulang kali menggeleng
kepalanya. “Dan bagaimana engkau dapat terlibat dalam keluarga Putera Mahkota?”
“Aku bertemu dengan adik Yo Han Li yang sekereta dengan Kwi Hong. Ia memanggilku dan mereka
membujuk aku agar suka berkunjung ke rumah Kwi Hong. Demikianlah, maka aku berada di sana ketika
engkau hendak membunuh Pangeran Mahkota.”
Kembali Keng Han menghela napas. “Nasib kita hampir sama, Cu In. Engkau disuruh membunuh ayahmu
oleh ibumu sendiri, dan aku hampir saja membunuh pangeran yang tak bersalah. Engkau mendapat
kenyataan betapa kejam ibumu, dan aku pun mendapat kenyataan betapa kejam ayahku. Hemm, sekarang
aku mulai mengerti kenapa Bi-kiam Niocu begitu membenci pria dan kalau ada pria mencintanya harus
dibunuhnya. Tentu engkau pun demikian, bukan?”
“Memang subo-ku atau ibuku selalu mendidik kami berdua agar membenci kaum pria. Dikatakannya bahwa
laki-laki itu semua palsu dan pembohong, tukang bujuk rayu yang berbahaya, maka kami diharuskan
menjauhkan diri dari laki-laki dan kalau ada laki-laki yang menggoda, harus cepat dibunuh! Akan tetapi
semenjak aku... bertemu denganmu, pandanganku sudah berubah. Seperti juga wanita, laki-laki itu ada
dunia-kangouw.blogspot.com
yang jahat dan ada yang baik. Apa lagi setelah aku mengetahui mengapa ibu demikian membenci pria, aku
tahu bahwa sebabnya hanya karena ia sakit hati dan dendam kepada seorang pria.”
“Akan tetapi, bagaimana ibumu dahulu sampai berpisah dari The Ciangkun?”
“Ayah dilarang orang tuanya mengambil ibuku yang seorang wanita kang-ouw sebagai isteri, dan dia sudah
ditunangkan dengan wanita lain, seorang gadis bangsawan. Ayah membujuk ibu agar suka menjadi selir,
akan tetapi ibu tidak mau dan mereka berpisah ketika ibuku sudah mengandung aku tiga bulan.”
Keng Han merasa terharu dan ikut bersedih akan nasib gadis ini.
“Ahh, sekarang aku mengerti pula mengapa engkau menutupi mukamu dengan cadar. Tentu agar tidak
terlihat oleh pria sehingga tidak ada yang melihat dan menggodamu sehingga engkau akan terpaksa
membunuhnya.”
Cu In mengangguk membenarkan.
Pada saat itu pula terdengar seruan orang, “Cu In...! Engkau di sini? Aku mencarimu ke mana-mana,
kiranya engkau berada di sini. Sungguh aku girang sekali bisa menemukan anakku di sini!”
Keng Han dan Cu In menoleh dan ternyata yang mengeluarkan ucapan itu bukan lain adalah Panglima The
Sun Tek! Cu In bangkit berdiri dan Keng Han juga bangkit berdiri.
“Engkau tentu pemuda yang bernama Tao Keng Han. Aku sudah mendengar banyak tentang dirimu dan
aku kagum sekali, orang muda.”
Keng Han cepat-cepat memberi hormat pula. “Sebaliknya saya pun mendengar bahwa berkat pimpinan
Paman maka para pemberontak dapat diruntuhkan.”
“Dan ada urusan apakah engkau mencariku, Ciangkun?” tanya Cu In, suaranya dingin.
“Ah, Cu In. Engkau adalah puteriku. Aku ayah kandungmu! Tentu saja aku mencarimu.”
“Ibuku sendiri tidak mau mengakui aku sebagai anaknya, maka ayahku juga sebaiknya demikian. Biarlah
aku menganggap diriku ini tidak memiliki ayah dan ibu lagi...” Dalam suaranya terkandung isak tangis.
“Cu In, harap engkau jangan berpendirian seperti itu. Ayahmu adalah seorang yang terhormat, gagah dan
terpandang. Dan dia pun sudah bersusah payah mencarimu. Aku sendiri, kalau saja ayahku bersikap
sebaik ayahmu, tentu akan menyambutnya dengan bahagia sekali,” kata Keng Han membujuk.
“Akan tetapi apa artinya seorang ayah bagiku, bila tanpa seorang ibu? Ibuku memusuhi ayah, apakah aku
harus mengkhianati ibuku?” Pertanyaan Cu In ini ditujukan kepada ayahnya.
“Cu In, ketahuilah bahwa ibumu bersedia menghabiskan sisa hidupnya bersamaku, tapi dengan satu syarat
bahwa aku harus dapat mengajakmu pulang menemuinya. Karena itu, demi kebahagiaan kita, marilah kita
pergi mengunjungi ibumu di Beng-san.”
“Ahh, itu bagus sekali! Aku ikut merasa girang, Cu In. Aku mau menemanimu ke sana.”
“Sebaiknya kita semua ke sana,” kata The Sun Tek. “Kai-ong dan muridnya juga sudah berangkat.
Ketahuilah bahwa Bu-tong-pai mengundang semua orang kang-ouw untuk datang ke sana untuk
mengadakan pemilihan bengcu baru.”
“Bengcu baru?” tanya Keng Han heran. “Lalu ke mana perginya bengcu yang lama?”
“Entahlah, itu pun menjadi pertanyaan di dalam hatiku. Beng-san tidak terlalu jauh dari Bu-tong-san.
Setelah aku dapat memboyong isteriku, kita semua dapat singgah pula di Bu-tong-san untuk menghadiri
pertemuan besar itu. Di sana tentu akan dapat terjawab mengapa diadakan pemilihan bengcu baru dan ke
mana perginya bengcu yang lama. Bukankah yang menjadi bengcu adalah Bhe Seng Kok, tokoh Siauwlim-
pai?”
“Benar, Paman. Saya pun pernah mendengar bahwa bengcu yang sekarang bernama Bhe Seng Kok.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kalau begitu, marilah kita berangkat, Cu In. Kita mengunjungi ibumu dan aku akan memboyongnya ke
kota raja. Dari sana kita sekalian pergi ke Bu-tong-pai untuk melihat pemilihan bengcu baru.”
Akhirnya, setelah dibujuk oleh Keng Han, Cu In mau juga pergi bersama ayahnya dan Keng Han. Mereka
bertiga lalu melakukan perjalanan ke Beng-san dan Cu In menjadi penunjuk jalan.
Selama dalam perjalanan ini, The Sun Tek mengerti dari sikap dan kata-kata Keng Han dan Cu In bahwa
kedua orang muda ini saling menaruh hati! Akan tetapi dia diam-diam merasa girang karena diketahuinya
bahwa Keng Han seorang pemuda yang baik sekali, walau pun dia itu putera Pangeran Tao Seng yang
memberontak…..
********************
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Best Cersil

Pecinta Cersil