Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 27 September 2017

Cersil Kho Ping Hoo Pendekar Bongkok 1

Cersil Kho Ping Hoo Pendekar Bongkok 1 Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil Kho Ping Hoo Pendekar Bongkok 1
kumpulan cerita silat cersil online
-
Sie Kauwsu (Guru Silat Sie) membaca surat itu dengan kedua tangan agak gemetar dan mukanya berubah
pucat. Karena senja hari telah tiba dan cuaca tidak begitu terang lagi, ia lalu menyalakan sebuah lampu
meja, kemudian dibacanya sekali lagi surat itu. Sehelai kertas yang bertuliskan beberapa huruf dengan
tinta merah.
Sie Kian, akhirnya aku dapat menemukan engkau! Sebelum malam ini habis, seluruh keluargamu dan
segala makhluk yang hidup di dekat rumahmu, akan kubunuh semua!
Demikianlah bunyi surat itu. Tanpa nama penulisnya. Akan tetapi, Sie Kauwsu atau Sie Kian tahu benar
siapa penulisnya. Tadi dia menemukan surat itu di daun pintu belakang rumahnya, tertancap pada daun
pintu dengan sebatang piauw (senjata rahasia) beronce merah.
Dia mengenal benar piauw itu. Lima tahun yang lalu, dia pernah terluka pada pundaknya oleh piauw seperti
itu. Dia tahu benar siapa pemilik piawsu, siapa penulis surat.
Peristiwa itu terjadi lima tahun yang lalu. Ketika itu, dia melakukan perjalanan ke daerah Hok-kian untuk
mengunjungi seorang sahabat lamanya. Juga dia ingin melancong, sebab semenjak menjadi guru silat, dia
tidak pernah sempat melancong. Kini dia mempunyai seorang murid terpandai yang dapat mewakilinya
mengajar para murid lainnya sehingga dia mempunyai kesempatan untuk pergi.
Kepergiannya direncanakan selama satu bulan. Dia tidak dapat membawa anak isterinya, sebab anaknya
yang ke dua baru lahir beberapa bulan yang lalu. Masih terlalu kecil untuk diajak pergi. Anaknya yang
pertama, seorang anak perempuan yang sudah berusia lima belas tahun, juga tidak dapat diajak pergi
karena harus membantu ibunya di rumah. Maka dia pun pergi seorang diri ke timur.
Dalam perjalanan inilah terjadinya peristiwa itu. Di sebuah hutan dia melihat perampokan terhadap satu
keluarga bangsawan yang sedang melakukan perjalanan dengan kereta. Perampok itu adalah sepasang
suami isteri yang masih muda. Kurang lebih dua puluh lima tahun usia mereka.
Sie Kian turun tangan melindungi bangsawan itu, dan terjadilah perkelahian antara dia dan suami isteri itu.
Ternyata suami isteri itu lihai juga, akan tetapi mereka masih belum mampu mengalahkan Sie Kian yang
pandai bersilat pedang.
Perkelahian itu berakhir dengan kematian isteri perampok itu, serta luka-luka parah pada perampok yang
dengan penuh duka memanggul jenazah isterinya. Sie Kian sendiri juga terluka di pundaknya, terkena
sebatang senjata rahasia piauw yang sempat dilemparkan oleh perampok itu.
Perampok itu sempat menanyakan tentang diri lawannya, dan karena Sie Kian adalah seorang gagah yang
tak pernah menyembunyikan nama serta selalu bertanggung jawab atas segala perbuatannya, maka Sie
Kian terus terang memberi tahukan.
“Sie Kian, kalau engkau membunuhku, aku tidak akan begini merasa sakit hati,” demikian perampok itu
sebelum pergi. “Juga apa bila engkau hanya menghalangi perbuatan kami merampok, aku pun tidak peduli.
Akan tetapi engkau sudah membunuh isteriku tercinta dan aku bersumpah bahwa kelak aku akan
mencarimu dan aku akan membunuh seluruh keluargamu dan semua penghuni rumahmu!”
Setelah mengeluarkan ucapan itu, perampok muda itu pergi dengan muka berduka. Sie Kian
membiarkannya pergi dan mengira bahwa ucapan itu tentu hanya ancaman seorang perampok yang
kecewa.
Akan tetapi, ternyata hari ini ada surat dan piauw beronce merah! Perampok itu ternyata bukan hanya
meninggalkan ancaman kosong belaka dan hari ini, kurang lebih lima tahun sejak peristiwa itu, perampok
itu benar-benar datang untuk melaksanakan ancamannya dan sumpahnya!
dunia-kangouw.blogspot.com
Diam-diam Sie Kian bergidik. Ancaman di dalam surat itu sungguh menyeramkan. Akan tetapi, dia tidak
takut!
Selama hidupnya, Sie Kian adalah seorang laki-laki jantan. Demi membela kebenaran, dia tidak takut
kehilangan nyawa! Ancaman surat itu hanya ancaman seorang penjahat, seorang perampok, dan dia akan
menyambutnya, menandinginya dengan sikap seorang pendekar sejati! Tidak, dia tidak akan minta
bantuan orang lain!
Setelah termenung sejenak, Sie Kian menyimpan surat dan piauw itu ke dalam kantung bajunya. Dia pun
memasuki kamar di mana isterinya sedang berbaring sambil menyusui anak mereka, anak laki-laki yang
baru berusia sepuluh bulan dan mereka beri nama Sie Liong.
Dengan wajah tenang saja Sie Kian duduk di kursi dalam kamar itu dan bertanya kepada isterinya, di mana
adanya puteri mereka yang bernama Sie Lan Hong. Dia dan isterinya memang hanya mempunyai dua
orang anak, yaitu pertama Sie Lan Hong yang sudah berusia lima belas tahun dan setelah lewat empat
belas tahun lebih barulah isterinya melahirkan Sie Liong.
“Ia baru saja keluar dari sini, mungkin kini ia berada di dalam kamarnya!” jawab istrinya sambil bangkit
duduk karena Sie Liong sudah tertidur pulas. “Ada apakah? Kelihatannya engkau begitu pendiam!” Isteri
yang sudah amat mengenal watak suaminya itu bertanya dengan pandang mata curiga melihat sikap
suaminya yang menjadi begitu pendiam, tidak seperti biasanya.
“Panggil dulu Lan Hong ke sini, juga pangil Cu An yang berada di kamarnya. Ada urusan penting sekali
yang hendak kubicarakan dengan kalian bertiga!”
Isteri Sie Kian memandang suaminya dengan heran, akan tetapi tidak membantah dan ia lalu keluar dari
kamarnya. Tak lama kemudian ia muncul kembali bersama seorang gadis yang manis, yaitu Lan Hong, dan
seorang laki-laki muda berusia kurang lebih dua puluh lima tahun.
Pria ini adalah Kim Cu An, murid kepala yang kini membantu Sie Kian memimpin para murid yang belajar
di perguruan silat itu. Karena Kim Cu An seorang yatim piatu yang tidak memiliki sanak keluarga, maka dia
diterima tinggal di rumah gurunya itu, sebagai murid, juga sebagai pembantu gurunya. Tentu saja Cu An
merasa terkejut dan sangat heran ketika oleh ibu gurunya dia dipanggil menghadap gurunya di dalam
kamar gurunya itu!
Setelah isterinya, puterinya dan muridnya duduk di atas bangku dalam kamar itu, dengan sikap masih
tenang Sie Kian lalu bicara. “Kalian tentu masih ingat akan ceritaku tentang peristiwa yang terjadi lima
tahun yang lalu pada waktu aku mengadakan perjalanan ke Hok-kian itu, bukan?”
“Peristiwa yang mana?” tanya isterinya.
“Apakah suhu maksudkan pertemuan suhu dengan suami isteri perampok itu?” tanya Cu An.
Gurunya mengangguk. “Benar. Seperti telah aku ceritakan, aku berhasil menyelamatkan keluarga
bangsawan dari kota raja yang dirampok oleh perampok yang terdiri dari suami isteri itu. Dalam
perkelahian itu, aku terluka oleh senjata rahasia piauw, akan tetapi aku berhasil membunuh isteri perampok
itu dan melukainya. Akan tetapi, ketika itu aku tidak menceritakan pada kalian akan sumpah dan dendam
perampok yang kematian isterinya itu. Ketika itu kuanggap tidak penting dan semua perampok yang
dikalahkan tentu akan mengeluarkan ancaman. Akan tetapi..., hari ini ancaman perampok itu agaknya akan
dilaksanakan!” Sie Kian menarik napas panjang.
“Ancaman bagaimana?” tanya isterinya, nampak khawatir.
“Ketika itu, sambil memanggul jenazah isterinya dan dalam keadaan luka, dia bersumpah bahwa pada
suatu hari dia akan mencari diriku dan akan membasmi seluruh keluargaku. Tapi, ancaman yang keluar
dari mulut seorang perampok seperti itu, mana ada harganya untuk diperhatikan dan dianggap serius?”
“Akan tetapi... dia bersumpah karena kematian isterinya, dan hal itu berbahaya sekali!” kata isterinya.
Sie Kian kembali menarik napas dan dia mengangguk. “Benar sekali pendapatmu itu dan sekarang inilah
buktinya.” Dia mengeluarkan senjata piauw dan kertas bersurat itu. “Tadi kutemukan surat ini tertancap
piauw di daun pintu belakang. Surat itu berbunyi begini…”
dunia-kangouw.blogspot.com
Sie Kian membaca surat itu, didengarkan dengan muka pucat oleh isterinya. Lan Hong dan Cu An
mendengarkan dengan sikap tenang. Mereka adalah orang-orang muda yang sejak kecil sudah belajar
ilmu silat, maka memiliki ketabahan besar.
“Ayah, kalau dia muncul, kita lawan dia! Penjahat itu sudah sepatutnya dibasmi!” kata Lan Hong dengan
penuh semangat.
“Sumoi benar, suhu. Kita tidak perlu takut menghadapi ancaman dan gertak kosong dari seorang penjahat
seperti dia...”
“Ha-ha-ha-ha-ha...!” Pada saat itu, terdengar suara orang tertawa yang datangnya dari atas genteng.
Sie Kian meloncat dari kursinya. “Lan Hong, Cu An, kalian menjaga ibu dan adik kalian di sini!” berkata
demikian, tubuh Sie Kian sudah berkelebat keluar dari dalam kamar itu dan dia segera keluar dan meloncat
ke atas genteng.
Pada saat Sie Kian meloncat ke atas genteng, terdengar suara anjing menggonggong di belakang, akan
tetapi suara gonggongannya berubah menjadi pekik kesakitan lalu sunyi.
Sie Kian melayang turun dan lari ke belakang. Dia tidak melihat berkelebatnya orang, hanya menemukan
anjing peliharaannya itu telah mati dan sebuah ronce merah nampak di lehernya. Anjing itu mati dengan
sebatang senjata piauw terbenam di dalam lehernya! Sie Kian mencari-cari, memandang ke kanan kiri
dengan waspada. Akan tetapi pada saat itu, terdengar bunyi ayam-ayam berteriak, disusul ringkik kuda.
“Celaka...!” serunya.
Dia cepat lari ke kandang kuda dan ayam yang berada agak jauh di samping rumah. Dan seperti juga
anjingnya, dia melihat belasan ekor ayam peliharaannya, dan seekor kuda, telah menggeletak mati!
Sie Kian tidak mempedulikan lagi keadaan binatang-binatang peliharaannya dan cepat dia lari masuk ke
dalam rumah melalui pintu belakang. Dan pada saat itu, terdengar jerit wanita yang datangnya dari kamar
para pelayan di belakang.
Sie Kian terkejut sekali dan kembali dia melompat keluar, menuju ke kamar pelayan. Dia merasa menyesal
sekali mengapa memandang rendah lawan sehingga dia lupa untuk memanggil dua orang pelayannya agar
berkumpul di dalam rumah besar. Dan seperti yang dikhawatirkan, dua orang pelayan wanita itu telah
tewas di dalam sebuah kamar pelayan, leher mereka hampir putus sehingga kamar itu banjir darah. Jelas
bahwa leher mereka terbabat oleh pedang!
Sie Kian menjadi marah sekali. Dia meloncat masuk ke dalam rumah dan hatinya lega melihat betapa Lan
Hong dan Cu An masih berjaga di depan kamar, sedangkan isterinya, dengan muka pucat, duduk di atas
pembaringan memangku Sie Liong yang masih tidur nyenyak.
“Apa... apa yang terjadi...?” tanya isterinya ketika dia tiba di kamar itu.
“Jahanam itu..., dia telah mulai melaksanakan ancamannya! Semua binatang peliharaan kita dibunuhnya,
juga dua orang pelayan kita dibunuhnya.”
“Aihhh...!” Isterinya menangis.
“Sudah, tenanglah dan jangan menangis. Kita harus siap siaga menghadapinya. Dia tidak main-main dan
ancamannya bukan gertakan kosong. Cu An dan Lan Hong, kalian tetap berjaga di sini, menjaga
keselamatan ibumu serta adikmu. Aku yang akan menghadapi jahanam busuk itu!”
“Baik, ayah,” kata Lan Hong dengan muka pucat biar pun ia masih bersikap tenang. Kini tangannya
memegang sebatang pedang.
“Teecu akan menjaga subo dengan taruhan nyawa, suhu!” berkata Cu An dengan sikap gagah. Juga dia
memegang sebatang pedang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan hati penuh kemarahan, Sie Kian lalu keluar dari dalam kamar. Dia berdiri sejenak di ruangan
tengah dan memasang telinga, akan tetapi tidak mendengar suara apa-apa. Sementara itu, malam sudah
tiba dengan sunyinya.
Dia lalu keluar berindap-indap dari dalam ruangan itu, kemudian mengelilingi rumah dan memeriksa setiap
sudut. Namun, tidak nampak bayangan orang.
Dengan gemas dia lalu meloncat naik ke atas genteng, berdiri di wuwungan rumahnya, lalu berteriak,
“Perampok laknat, penjahat keji, jahanam keparat! Keluarlah dari tempat persembunyianmu dan marilah
kita bertanding secara jantan untuk menentukan siapa yang lebih kuat!”
Namun tidak ada jawaban dan suasana sunyi saja.
Tempat tinggal keluarga Sie memang berada di sudut kota Tiong-cin, di pinggiran kota, dan memiliki
pekarangan luas, agak jauh dari tetangga, agak terpencil. Memang Sie Kian memilih tempat ini di mana dia
dapat membuat sebuah lapangan yang luas untuk melatih silat para muridnya.
Sebagai seorang guru silat bayaran, Sie Kian menerima siapa saja yang mau menjadi muridnya dan
mampu membayar. Oleh karena itu dia memiliki banyak sekali murid, baik dari kota Tiong-cin sendiri mau
pun dari dusun-dusun sekitarnya dan dari kota lain. Akan tetapi, semua muridnya tidak ada yang tinggal di
situ kecuali Cu An yang merupakan murid utama dan kini bahkan menjadi guru pembantunya.
Karena usahanya mencari musuh itu sia-sia, dan tantangannya juga tidak mendapatkan jawaban, akhirnya
dengan hati mendongkol Sie Kian masuk lagi ke dalam rumah. Ketika isterinya, Lan Hong, dan Cu An
memandang kepadanya dengan mata bertanya, ia hanya menggelengkan kepala.
“Tidak ada bayangan si keparat itu! Dia tentu telah pergi atau bersembunyi untuk menanti kelengahanku,
atau dia hendak mendatangkan ketegangan di dalam hati kita.”
Memang suasana menjadi tegang sekali. Bahkan Cu An yang biasanya tenang itu kini nampak agak pucat.
Siapa orangnya yang tidak akan tegang menanti musuh yang main kucing-kucingan dan amat kejam itu?
Semua binatang peliharaan telah dibunuhnya, juga dua orang pelayan wanita yang sama sekali tidak
berdosa dan sekarang dia menghilang, membiarkan semua orang dicekam ketegangan dan kegelisahan.
Mereka berempat duduk di dalam kamar itu. Isteri Sie Kian merupakan orang yang paling ketakutan. Sie
Kian duduk dengan tenang, akan tetapi pendengarannya terus dicurahkan keluar untuk menangkap
gerakan yang tidak wajar di luar rumah.
Yang benar-benar tenang hanyalah Sie Liong, anak berusia sepuluh bulan itu! Dia masih suci, batinnya
masih bersih dari pengetahuan sehingga rasa takut dan duka tidak akan pernah dapat menyentuhnya.
“Suhu...!”
Suara Cu An terdengar aneh ketika memecah kesunyian itu. Bahkan suara yang hanya merupakan satu
kata panggilan itu sempat mengejutkan Lan Hong yang cepat menoleh kepadanya dengan kaget. Demikian
juga nyonya Sie yang amat terperanjat. Hanya Sie Kian yang dengan tenang memandang muridnya itu.
“Ada apakah, Cu An? Takutkah engkau?”
Pemuda itu menjilat bibirnya yang kering. Akan tetapi lidahnya juga kering, bahkan mulutnya pun terasa
kering sekali, dan dia menggelengkan kepalanya.
“Suhu, teecu tidak takut, hanya tegang. Kalau musuh sudah berada di depan teecu, biar teecu terancam
maut pun teecu tidak takut. Akan tetapi suasana tak menentu ini sungguh menegangkan. Bagaimana kalau
kita semua pindah saja ke lian-bu-thia (ruangan belajar silat)? Di sana lebih luas. Jika terjadi penyerangan
sewaktu-waktu, kita akan lebih leluasa untuk menghadapi musuh.”
Setelah berpikir sejenak, Sie Kian mengangguk, “Engkau benar, Cu An. Kita belum tahu berapa orang
jumlah musuh yang akan datang menyerbu, dan kamar ini memang terlalu sempit sehingga
membahayakan keselamatan subo-mu dan adikmu yang kecil. Mari kita semua pindah saja ke ruangan
latihan silat.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Sie Kian menyuruh puterinya membawa kasur supaya di ruangan yang luas itu isterinya dapat menidurkan
puteranya yang masih kecil. Dengan penuh waspada mereka semua lalu pindah ke dalam ruangan berlatih
silat, sebuah ruangan yang sepuluh kali lebih luas dari pada kamar itu, dan di situ hanya ada satu pintu
besar dari mana orang luar dapat masuk. Kasur yang dibawa Lan Hong diletakkan di sudut ruangan itu dan
ibunya lalu duduk di situ sambil memangku Sie Liong.
Setelah pindah ke ruangan yang lebih luas ini, benar saja hati mereka bertiga yang siap menghadapi
musuh menjadi lebih tenang. Ruangan itu cukup luas dan mereka bertiga hanya perlu melindungi Nyonya
Sie dari depan saja karena tempat itu dikelilingi dinding sehingga lebih mudah bagi mereka untuk
mempersatukan tenaga menghadapi serbuan musuh.
Betapa pun juga, suasana tegang tetap saja mencekam hati mereka. Sie Kian sendiri berulang kali
mengepal tinju, merasa dipermainkan oleh musuhnya. Dia tahu bahwa kali ini dia harus berjuang matimatian
mempertahankan nyawa keluarganya.
Dia berjanji bahwa sekali ini dia akan membasmi semua musuh yang datang, tidak akan memberi
kesempatan seorang pun berhasil lolos agar supaya tidak terulang pembalasan dandam seperti ini. Kalau
saja dulu dia membunuh perampok pria itu, tentu tidak akan timbul masalah seperti sekarang.
Tiba-tiba Sie Kian terkejut dan dia meloncat keluar dari pintu lian-bu-thia. Juga Cu An dan Lan Hong
meloncat berdiri. Dengan pedang siap di tangan kanan mereka berdua sudah mengambil sikap berjagajaga.
Sedangkan nyonya Sie memeluk puteranya dengan muka pucat, mata terbelalak dan jantung
berdebar penuh ketegangan.
Tidak lama kemudian terdengar suara kucing mengeong, disusul dengan suara Sie Kian menyumpahnyumpah!
Kiranya suara yang mencurigakan tadi hanyalah suara seekor kucing yang kebetulan lewat!
Sungguh menggelikan sekali betapa ketegangan membuat semua orang menjadi demikian mudah kaget.
Sie Kian muncul kembali dari pintu dan dia pun menahan ketawanya, walau pun perutnya terasa geli.
Demikian Pula Cu An dan Lan Hong.
Dari jauh terdengar suara ayam jantan berkokok. Biasanya, kalau ada ayam jantan yang berkokok, ayam
jantan di kandang keluarga itu akan menyambutnya. Sekali ini, kokok ayam itu tidak ada yang menyambut,
akan tetapi Sie Kian maklum bahwa tengah malam telah lewat.
Ayam jantan di sana itu sudah biasa berkokok di saat tengah malam, kemudian di waktu pagi sekali. Kini
tengah malam telah lewat. Betapa cepatnya waktu berlalu. Rasanya baru saja dia menerima surat itu, di
senja hari tadi, dan tahu-tahu kini sudah lewat tengah malam.
Tiba-tiba mereka semua dikejutkan oleh suara ketawa terbahak-bahak yang datangnya dari luar rumah!
Kini Sie Kian melompat berdiri dan dia membentak marah.
“Pengecut hina yang berada di luar! Masuklah, aku berada di lian-bu-thia dan sejak tadi menanti
kedatanganmu. Mari kita bertanding sampai seorang di antara kita menggeletak tak bernyawa lagi!”
tantangnya.
Suara ketawa itu berhenti, dan kini disusul suara yang mengandung ejekan, “Sie Kian! Aku memang
memberi waktu agar kalian dicekam ketegangan. Sekarang aku datang untuk membunuhmu. Keluarlah,
aku menunggumu di pekarangan depan rumahmu!”
“Jahanam busuk! Engkau masuklah, aku sudah menanti dengan pedang di tangan untuk membunuhmu!”
bentak Sie Kian yang tidak ingin meninggalkan keluarganya.
“Ha-ha-ha-ha, Sie Kian kini menjadi seorang pengecut dan penakut! Aku menantangmu di luar, dan engkau
bersembunyi di balik gaun isterimu? Ha-ha-ha! Keluarlah dan sambut aku, kalau tidak aku akan membakar
rumahmu ini.”
“Suhu..., jangan keluar, mungkin ini suatu siasat memancing harimau keluar sarangnya,” bisik Cu An
gelisah.
“Tidak, di sini ada engkau dan Lan Hong, hatiku tenang dengan adanya kalian berdua yang menjaga
ibumu. Aku akan keluar menyambut tantangan anjing keparat itu!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hayo, Sie Kian! Apakah engkau benar-benar takut?” teriakan itu datang lagi dari luar.
“Jahanam busuk, siapa takut? Tunggulah, aku akan menyambut tantanganmu!” Sie Kian segera meloncat
keluar, terus menuju ke pekarangan depan rumahnya.
Orang itu sudah menanti di luar. Dua buah lampu yang tergantung di serambi depan cukup terang untuk
menerangi pekarangan itu. Memang tadi dia menggantung dua buah lampu supaya tempat itu menjadi
terang, tidak seperti biasanya yang hanya diterangi sebuah lampu gantung. Dari penerangan dua buah
lampu itu, Sie Kian yang telah berdiri berhadapan dalam jarak empat meter dengan orang itu, dapat
mengenal wajah musuh besarnya.
Wajah seorang laki-laki yang masih muda, kurang lebih tiga puluh tahun usianya. Wajah seorang laki-laki
yang cukup tampan, halus dan tidak ditumbuhi kumis dan jenggot lebat. Bahkan wajah itu posolek,
pakaiannya pun rapi dan bagus, sepatunya mengkilap baru.
Itulah wajah perampok yang lima tahun yang lalu berkelahi dengannya, perampok yang kematian isterinya.
Akan tetapi kini ada sesuatu dalam sikap orang itu yang menunjukkan bahwa dia bukanlah orang yang
dahulu, bahwa sekarang dia telah menjadi seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Agaknya selama lima
tahun ini dia telah menggembleng diri mati-matian, hanya untuk melakukan balas dendam ini.
Akan tetapi Sie Kian tidak merasa gentar. Kalau berhadapan dengan seorang lawan, betapa pun kuat
lawan itu, dia tidak pernah gentar. Tak ada lagi ketegangan seperti tadi. Hanya ada sedikit kekhawatiran
bahwa orang ini menggunakan tipu muslihat, memancing dia keluar dan ada temannya yang akan
menyerang ke dalam. Akan tetapi kekhawatiran ini pun diusirnya dengan keyakinan bahwa murid kepala
dan puterinya cukup kuat untuk melindungi isteri dan puteranya yang masih kecil.
“Hemmm, kiranya engkau perampok busuk yang dahulu itu? Sungguh perbuatanmu ini menunjukkan
kecurangan dan membuktikan bahwa engkau hanyalah seorang pengecut. Apa bila hendak membalas
dendam, kenapa tidak langsung saja menantangku? Kenapa memakai jalan membunuhi binatang-binatang
dan pelayan-pelayan yang tidak berdosa?”
“Ha-ha-ha, Sie Kian, lupakah kau akan sumpahku bahwa suatu hari aku akan membasmi engkau bersama
seluruh keluargamu dan seluruh isi rumahmu? Ha-ha-ha, sekaranglah saatnya! Tidak perlu banyak cakap
lagi, nanti kalau sudah mati nyawamu akan bertemu dengan isteriku dan masih ada waktu bagimu untuk
minta ampun kepadanya!”
“Jahanam busuk!” Sie Kian memaki dan dia pun sudah menyerang dengan pedangnya.
Serangannya dahsyat sekali karena dalam marahnya, ingin Sie Kian segera merobohkan musuh ini.
Pedangnya berkelebat dari samping dan mengirim bacokan ke arah leher orang itu yang kalau mengenai
sasaran tentu akan membuat leher itu terpenggal putus.
Akan tetapi, orang itu bergerak cepat sekali dan dengan mantap pedangnya berkelebat dari samping ke
atas, menangkis bacokan pedang Sie Kian.
“Tringggg...!”
Nampaklah bunga api berpijar dan Sie Kian merasa betapa lengan tangannya tergetar hebat. Dia terkejut
dan meloncat ke belakang, melihat pedangnya. Ternyata pedangnya itu patah sedikit pada mata
pedangnya, hal ini menunjukkan bahwa pedang di tangan lawannya adalah sebuah pedang pusaka yang
ampuh!
Orang itu tertawa mengejek dan langsung kembali menyerang dengan dahsyat. Sie Kian mengelak ke
samping dan membalas serangan musuh dan mereka segera terlibat dalam perkelahian mati-matian dan
seru sekali. Dan sekali ini Sie Kian harus mengakui dalam hatinya bahwa lawannya sungguh sama sekali
tidak boleh disamakan dengan dahulu, tak boleh dipandang rendah karena ternyata memiliki ilmu pedang
yang hebat, di samping tenaga sinkang kuat ditambah lagi sebatang pedang pusaka yang ampuh!
Mulailah Sie Kian merasa khawatir. Seorang lawan saja sudah begini lihai, apa lagi kalau dia datang
berkawan. Ahhh, isteri dan anaknya berada di dalam! Bagaimana kalau dia kalah? Bagaimana kalau ada
dunia-kangouw.blogspot.com
kawan-kawan penjahat ini? Lebih baik menyuruh mereka melarikan diri! Biarlah, dia akan mati di tangan
musuh, asal keluarganya selamat!
“Singgg...!”
Pedang lawan meluncur dekat sekali dengan dadanya. Sie Kian mengelak ke kanan, akan tetapi pedang
itu sudah membacok dari kiri dengan kecepatan kilat. Sie Kian menggerakkan pedang menangkis.
Terpaksa menangkis karena semenjak tadi dia tidak pernah mengadu senjata secara langsung, maklum
bahwa pedangnya akan kalah kuat. Kini, karena tidak mungkin mengelak lagi, terpaksa dia menangkis.
“Cringgg...!”
Pedang di tangan Sie Kian patah dan buntung pada bagian atasnya! Lawannya tertawa bergelak dan
kesempatan ini dipergunakan oleh Sie Kian untuk mengerahkan tenaga berteriak ke arah dalam rumah.
“Lan Hong...! Ajak ibu dan adikmu melarikan diri! Cepaaaattt...!”
Lawannya tertawa bergelak, tertawa mengejek. Pedangnya kembali menyambar dengan cepatnya,
menusuk ke arah lambung Sie Kian. Guru silat ini melihat datangnya serangan yang amat berbahaya. Dia
melempar tubuhnya ke atas tanah dan bergulingan sehingga terbebas dari tusukan tadi. Akan tetapi
lawannya mengejar dan pada saat itu muncullah Kim Cu An.
Pemuda ini mendengar teriakan gurunya, menjadi khawatir sekali. Sejak tadi, tidak ada musuh menyerbu
lian-bu-thia itu, maka dia berpendapat bahwa musuh hanya seorang saja dan agaknya gurunya
membutuhkan bantuan. Jika tidak begitu, tentu gurunya tidak berteriak menyuruh puterinya membawa ibu
dan adiknya melarikan diri!
Kim Cu An lalu berlari keluar. Di pekarangan itu dia melihat suhu-nya bergulingan di atas tanah, sedang
dikejar oleh seorang laki-laki bertubuh jangkung yang gerakannya gesit bukan main.
“Suhu, teecu datang membantumu!” teriak Cu An.
Dia lalu menggerakkan pedangnya membacok orang itu dari belakang. Akan tetapi orang itu memutar
pedangnya menangkis.
“Tranggg...!”
Cu An mengeluarkan seruan kaget karena pedangnya terpental dan hampir terlepas dari pegangan saking
kuatnya tenaga lawan dan ketika dia melihat, pedangnya telah buntung ujungnya!
“Hati-hati, Cu An, dia memegang pedang pusaka!” teriak Sie Kian yang sudah terbebas dari desakan tadi
berkat bantuan muridnya.
Kini guru dan murid menghadapi lawan tangguh itu dengan pedang mereka yang sudah buntung ujungnya!
Orang itu lalu tertawa lagi. “Ha-ha-ha kebetulan sekali. Kalian sudah berkumpul di sini sehingga tidak
melelahkan aku yang harus mencari ke sana-sini! Kalian akan mampus di tanganku!”
“Nanti dulu! Perkenalkan dulu namamu sebelum kami membunuhmu!” bentak Sie Kian yang ingin tahu
siapa sebenarnya musuh besarnya ini.
“Ha-ha-ha, apa artinya kalau kuperkenalkan namaku pada kalian yang sebentar lagi akan mampus?”
Tiba-tiba saja orang itu sudah menerjang dengan dahsyatnya. Pedangnya bergerak amat cepat, berubah
menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar, mengeluarkan suara berdesing dan menimbulkan
angin berpusing. Sungguh suatu ilmu pedang yang sangat hebat!
Sie Kian dan Cu An segera mengerahkan tenaga dan seluruh kepandaian mereka untuk menahan
serangan itu. Namun mereka segera terdesak dan tiba-tiba tangan kiri lawan itu bergerak. Tiga batang
piauw beronce merah lalu menyambar ke arah tiga bagian tubuh depan Cu An, sedangkan pedangnya
membuat gerakan memutar, membacok ke arah tubuh Sie Kian, kemudian dilanjutkan tusukan-tusukan
maut!
dunia-kangouw.blogspot.com
Guru dan murid ini menjadi repot sekali. Hampir saja tadi Cu An menjadi korban senjata rahasia piauw itu.
Untung dia masih dapat melempar tubuhnya ke atas tanah sehingga terbebas dari renggutan maut lewat
senjata piauw itu. Dan Sie Kian juga terhuyung ke belakang dalam usahanya mengelak dan menangkis
gulungan sinar pedang.
Pada saat itu, lawannya kembali menggerakkan tangan kiri. Tiga sinar merah meluncur ke arah
tenggorokan, dada dan lambung Sie Kian yang sedang terhuyung, dan orang itu meninggalkannya,
pedangnya kini menyambar-nyambar ke arah Cu An yang baru saja meloncat bangun dari atas tanah di
mana dia berguling tadi.
Cu An berusaha menangkis, akan tetapi kembali pedangnya patah dan pedang lawan meluncur terus
memasuki dadanya.
“Cappp...!”
Pedang dicabut, darah menyembur dan tubuh Cu An terjengkang, tewas seketika karena jantungnya
ditembusi pedang lawan.
Sie Kian yang juga repot sekali mengelak dari sambaran tiga batang piauw tadi, terkejut bukan main
melihat muridnya roboh. Akan tetapi pada saat itu, lawannya sudah datang menerjangnya. Dia berusaha
menangkis, namun seperti keadaan muridnya, pedang yang menangkis itu patah dan pedang lawan
meluncur terus menyambar ke arah leher dengan kekuatan dahsyat.
Terdengar suara bacokan keras dan leher Sie Kian terbabat putus. Kepalanya terlepas dari tubuhnya dan
menggelinding ke atas tanah. Tubuhnya terbanting keras dan darah bercucuran membasahi tanah
pekarangan.
Orang itu tertawa bergelak. Dengan wajah gembira dia menyambar rambut kepala Sie Kian dengan tangan
kirinya, lalu dia berloncatan memasuki rumah itu.
Sementara itu, Lan Hong yang tadi mendengar teriakan ayahnya, menjadi khawatir luar biasa. Bagaimana
ia dapat melarikan diri kalau ayahnya terancam bahaya? Apa lagi, ia harus membawa lari ibunya dan
adiknya, bagaimana mungkin ia dapat berlari cepat, dan andai kata ia melarikan ibunya dan adiknya, tentu
akan dapat dikejar dan disusul pula oleh musuh yang lihai.
Ia merasa bimbang, apa lagi ketika melihat suheng-nya melompat keluar untuk membantu ayahnya. Lan
Hong lalu berdiri melindungi ibunya yang masih tetap mendekap adiknya. Ketika melihat ibunya menggigil
ketakutan, ia berkata dengan gagah, sambil mengangkat pedangnya.
“Ibu, jangan takut! Aku akan melindungi ibu dan adik Liong.”
Melihat sikap puterinya yang gagah itu, timbul pula keberanian Nyonya Sie. Orang jahat akan mengganggu
anak-anaknya? Tidak, ia tidak boleh tinggal diam saja! Biar pun tidak sangat mendalam, ia pernah pula
belajar ilmu silat.
Dan kini, melihat puterinya akan menghadapi orang jahat, dan melihat bayinya terancam, bangkit
semangat dan keberaniannya. Apa lagi mengingat betapa suaminya juga sedang terancam bahaya maut.
Ia segera menurunkan Sie Liong yang masih tidur itu ke atas kasur, lalu ia sendiri berlari ke arah rak
senjata yang berada di sudut ruangan belajar silat itu, memilih senjata sebatang golok kecil yang ringan
dan ia berdiri di samping puterinya.
“Kita bersama menghadapi penjahat, Hong-ji!” katanya.
Lan Hong khawatir melihat ibunya, akan tetapi dalam keadaan seperti itu, lebih banyak orang yang
menghadang penjahat tentu lebih baik. Ia hanya mengharapkan ayahnya dan suheng-nya sudah cukup
untuk mengusir penjahat yang menyerbu rumah mereka.
Tidak lama kemudian, terdengar suara ketawa dan sebuah benda melayang dari pintu ruangan itu masuk
ke dalam. Benda itu jatuh ke lantai, lalu menggelinding ke depan dua orang wanita itu. Lan Hong yang saat
itu sudah siap siaga, cepat memandang benda itu. Sebuah kepala yang lehernya masih berlepotan darah!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ayah...!” Ia menjerit.
Ibunya melengking kemudian menubruk ke depan, melemparkan goloknya dan menangis menggerunggerung.
Pada saat itu ada bayangan orang berkelebat masuk.
“Ibu mundur...!” Lan Hong berteriak, akan tetapi terlambat.
Ibunya sudah meloncat ke depan dan menubruk kepala suaminya itu, dan pada saat itu, laki-laki jangkung
yang berkelebat masuk itu sudah menggerakkan pedangnya.
“Crakkkk!”
Pedang itu menyambar cepat dan kuat sekali. Leher ibu yang sedang menangisi kepala suaminya itu pun
terbabat putus, kepalanya menggelinding di atas lantai dan darahnya menyembur-nyembur.
“Ibuuu...!”
Lan Hong hampir pingsan melihat ini, akan tetapi kemarahan membuat ia dapat menahan diri. Dengan
kemarahan meluap, dendam sakit hati yang amat hebat, ia pun menyerang laki-laki itu dengan pedangnya.
Ia menusuk dengan sekuat tenaga ke arah dada orang itu sambil mengeluarkan suara melengking nyaring
saking marahnya.
Laki-laki itu mengelak. Dia mengamati gadis yang menyerangnya, dan sinar kagum lalu terpancar dari
pandang matanya.
“Ahh, engkau sungguh manis sekali! Engkau puteri Sie Kian? Sungguh tidak kusangka guru silat itu
mempunyai seorang puteri yang begini cantik dan manis!” Kembali dia pun mengelak ketika pedang di
tangan Lan Hong menyambar ke arah lehernya.
Lan Hong tidak mempedulikan kata-kata orang itu yang memuji-muji kecantikan dirinya. Hatinya penuh
dendam kebencian dan ingin ia menyayat-nyayat dan mencincang hancur tubuh musuh besar yang telah
membunuh ayah ibunya itu. Ia melanjutkan serangannya, dan kemarahan membuat serangannya itu tidak
teratur lagi, akan tetapi justru serangan seperti itu amat berbahaya.
Melihat kenekatan gadis yang menyerangnya sambil bercucuran air mata itu, laki-laki itu pun
menggerakkan pedangnya menangkis sambil mengerahkan tenaga sinkang. Pedang yang menangkis itu
mengeluarkan tenaga getaran kuat sehingga ketika dua pedang itu bertemu, pedang di tangan Lan Hong
patah dan juga terlepas dari pegangannya!
Gadis itu berdiri dengan muka pucat, akan tetapi matanya terbelalak memandang penuh kebencian.
Laki-laki di depannya itu berusia kurang lebih tiga puluh tahun, wajahnya tampan dan pakaiannya rapi,
tubuhnya tinggi semampai. Seorang pria yang akan menarik hati setiap orang wanita, akan tetapi pada
saat itu, Lan Hong melihatnya seperti setan jahat yang amat dibencinya.
Laki-laki itu menodongkan pedangnya ke depan dada Lan Hong, tersenyum dan kembali matanya
memancarkan sinar kagum dan juga heran.
“Sungguh mati, jika usiamu tak semuda ini, tentu kau kukira isteriku! Engkau mirip benar dengan isteriku,
bahkan engkau lebih cantik, lebih segar dan lebih muda! Ahhh, ayahmu sudah membunuh istriku, sudah
sepatutnya kalau dia menyerahkan puterinya sebagai pengganti isteriku. Ha-ha-ha-ha, benar sekali! Nona
manis, engkau akan menjadi isteriku. Aku tidak akan membunuhmu, sebaliknya malah, aku akan
mengambil engkau menjadi isteriku, isteriku yang tercinta, dan aku akan membahagiakanmu, akan
melindungimu... engkau akan menjadi pengganti isteriku yang telah tiada...”
“Tidak sudi! Lebih baik aku mati dari pada menjadi isterimu, jahanam!” teriak Lan Hong. Sekarang gadis ini
menyerang dengan kepalan tangannya, menghantam ke arah muka yang amat dibencinya itu.
“Plakk!”
Tangan itu telah tertangkap pada pergelangannya oleh tangan kiri pria itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Nona, pikirkan baik-baik dan jangan menurutkan nafsu amarah. Ingatlah bahwa aku terpaksa membunuh
keluarga ayahmu karena ayahmu pernah membunuh isteriku yang tercinta. Sekarang, semua hutang
sudah lunas dan engkau..., engkau sungguh menarik hatiku, Engkau menjadi pengganti isteriku. Mudah
saja bagiku untuk memaksamu dan memperkosamu, nona. Akan tetapi aku sungguh tidak menghendaki
cara itu. Aku ingin engkau dengan suka rela menyerahkan diri padaku, menjadi isteriku!”
“Tidak! Tidak sudi! Lebih baik aku mati!” Lan Hong meronta-ronta.
Pada saat itu terdengar tangis seorang anak kecil! Sie Liong agaknya terbangun dan dia menangis
menjerit-jerit seperti anak yang ketakutan.
Baik Lan Hong mau pun orang itu sangat terkejut. Orang itu melepaskan Lan Hong yang tadi sudah
melupakan adiknya itu, dan dengan pedang di tangan dia menghampiri kasur terhampar di mana anak itu
rebah menangis.
“Aha! Kiranya keluarga Sie masih mempunyai seorang anak kecil? Laki-laki pula! Ahh, dia harus
mampus...!”
Tiba-tiba saja Lan Hong menubruk adiknya.
“Tunggu...! Jangan... jangan bunuh adikku...!” jerit Lan Hong sambil mendekap adiknya, melindunginya.
Mukanya pucat dan matanya terbelalak memandang laki-laki itu. “Jangan bunuh adikku... ahh, kumohon
padamu, jangan bunuh adikku yang masih kecil ini...!”
“Dia putera ayahmu dan kelak hanya akan menjadi ancaman bahaya bagiku. Aku harus membunuhnya.
Berikan dia padaku!” Lelaki itu menghardik, sekarang suaranya berubah, terdengar galak dan kejam, tidak
seperti tadi, penuh nada manis merayu,.
Lan Hong membayangkan betapa orang itu akan membunuh adiknya. Kalau ia melawan, ia pun tentu akan
mati. Baginya, mati bukanlah apa-apa, akan tetapi kalau ia mati dan adiknya mati pula, lalu siapa kelak
yang akan membalas dendam yang setinggi gunung sedalam lautan ini? Satu-satunya jalan, ia harus
mengorbankan diri, menyerahkan diri, demi adiknya agar dapat hidup, agar kelak akan ada yang
membalaskan kehancuran dan pembasmian keluarga ayahnya ini!
“Tidak! Tunggu..! Aku... aku akan menyerahkan diri dengan suka rela... aku akan menjadi isterimu asalkan
engkau... tidak membunuh adikku...! Kalau engkau tetap membunuhnya, aku akan melawanmu sampai
mati dan aku tidak akan menyerahkan diri, tapi aku akan membunuh diri!”
Sejenak pria itu tertegun, memandang kepada anak laki-laki dalam pondongan gadis itu, lalu memandang
gadis itu dari kepala sampai ke kaki. Sungguh aneh sekali, pikirnya. Gadis ini mirip benar dengan isterinya
yang telah tiada! Dan begitu bertemu, timbul rasa suka kepada gadis ini.
Baru penolakannya saja sudah amat menyakitkan hati, kalau dia harus memperkosanya, hatinya akan
lebih kecewa lagi. Kalau gadis itu menyerahkan diri secara suka rela, mau menjadi isterinya, alangkah
akan bahagianya hatinya! Hidupnya akan menjadi terang lagi setelah kegelapan bertahun-tahun yang
dideritanya karena kematian isterinya.
Akan tetapi anak itu! Ah, bukankah janjinya hanya tidak akan membunuhnya? Baik, dia tidak akan
membunuhnya, tapi...
“Benar engkau akan menyerahkan diri kepadaku dengan suka rela?”
“Benar!”
“Dan engkau mau berjanji akan belajar mencintaku seperti aku mencintamu setelah aku menjadi suamimu
yang mencintamu?”
Wajah gadis itu berubah merah. “Aku... aku akan mencoba...”
“Bagus! Kalau begitu, aku tidak akan membunuh adikmu, akan tetapi sekali saja engkau memperlihatkan
sikap memusuhi aku yang menjadi suamimu, adikmu akan kubunuh!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tidak, engkau harus bersumpah lebih dahulu! Bersumpahlah bahwa engkau tidak akan membunuh Sie
Liong, adikku ini. Bagaimana pun juga aku percaya bahwa engkau masih memiliki harga diri dan
kehormatan untuk memegang teguh sumpahmu. Bersumpahlah, baru aku akan percaya padamu.” Gadis
itu mempertahankan diri sambil terus mendekap adiknya yang sudah berhenti menangis.
Pria itu tersenyum dan mengangguk-angguk. “Engkau cantik, engkau manis, dan engkau cerdik! Sungguh
membuat aku samakin jatuh cinta saja. Engkau patut menjadi isteriku, sungguh! Siapakah namamu? Aku
akan bersumpah.”
“Namaku Sie Lan Hong dan adikku ini Sie Liong.”
“Nah, sekarang dengarkan sumpahku!” kata pria itu dan dia pun berdiri dengan tegak, mengangkat
pedangnya di depan dahi, mengacung ke atas dan dia pun berkata dengan suara lantang. “Aku, Yauw Sun
Kok, bersumpah demi nama dan kehormatanku, dengan disaksikan oleh pedang pusakaku, Bumi dan
Langit, bahwa kalau Sie Lan Hong menjadi isteriku dan membalas cinta kasihku, menyerah dengan suka
rela kepadaku, maka aku tak akan membunuh Sie Liong! Biar Bumi dan Langit mengutuk aku kalau aku
melanggar sumpahku!”
Setelah bersumpah, pria yang barusan mengaku bernama Yauw Sun Kok itu menyimpan pedangnya ke
dalam sarung pedang dan tersenyum pada Lan Hong. “Nah, bagaimana? Puaskah engkau dengan
sumpahku tadi?”
Lan Hong mengangguk dan Sun Kok nampak girang sekali.
“Manisku, Hong-moi, kekasihku, isteriku... kemenangan ini harus kita rayakan bersama. Untuk memperkuat
sumpahku, saat ini juga engkau harus menjadi isteriku yang tercinta. Tidurkan adikmu itu...”
Dengan lembut Sun Kok lalu mengambil Sie Liong dari dekapan Lan Hong, merebahkan anak itu di tepi
kasur. Kemudian, dengan lembut namun penuh gairah, bagaikan seekor harimau, dia menerkam Lan
Hong, mendorong gadis itu rebah ke atas kasur di dekat adiknya!
Dapat dibayangkan betapa hancur perasaan hati gadis itu. Dara yang sedang remaja ini terpaksa harus
menyerahkan dirinya bulat-bulat, tanpa mengadakan perlawanan sedikit pun, menyerahkan dirinya untuk
digauli pria yang baru saja membunuh ayahnya, ibunya, suheng-nya, dua orang pelayan dan semua
binatang peliharaan di dalam rumah.
Bahkan ia harus melayani pria itu di kasur yang dihamparkan di atas lantai lian-bu-thia, dan dari tempat ia
rebah terlentang itu ia dapat melihat dua buah kepala yang berlepotan darah di atas lantai, tak jauh dari
situ. Kepala ayahnya dan Ibunya!
Kini Sie Liong mulai menangis lagi, meraung-raung. Lan Hong juga menangis, merintih kesakitan. Namun,
Yauw Sun Kok yang dibakar nafsu birahinya itu tidak mempedulikan semua itu. Dia sudah merasa bangga,
juga bahagia sekali karena gadis itu benar-benar menyerahkan diri bulat-bulat tanpa perlawanan sedikit
pun!
Dia pun tidak peduli ketika gadis itu, di antara isak tangis dan rintihannya, berbisik-bisik, “Ayah... Ibu...
ampunkanlah anakmu ini... demi keselamatan Sie Liong... ahhhh...”
Setelah merasa puas dengan penyerahan diri yang sama sekali tidak mengandung perlawanan seperti
dijanjikan gadis itu, Yauw Sun Kok merasa semakin sayang kepada Lan Hong. Rasa sayang itu
dibuktikannya dengan menuruti permintaan gadis itu untuk menguburkan jenazah ayah ibu gadis itu,
suheng-nya, dan dua orang pelayan.
Pada malam itu juga, Sun Kok menggali lubang-lubang di belakang rumah keluarga Sie, menguburkan
jenazah suami isteri Sie Kian dalam satu lubang, jenazah Kim Cu An dan dua orang pelayan di lain lubang.
Kemudian, menjelang pagi, dia pun memondong tubuh Lan Hong yang juga memondong Sie Liong, lalu
melarikan diri secepatnya meninggalkan tempat itu.
Pada keesokan harinya, beberapa tetangga mendapatkan rumah keluarga Sie sunyi sepi. Ketika tetangga
ini memeriksa, mereka tidak menemukan seorang pun penghuni rumah itu. Di pekarangan dan di ruangan
berlatih silat nampak banyak darah berceceran, dan semua binatang di rumah itu mati di dalam
kandangnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tentu saja para petugas pemerintah melakukan pemeriksaan dan mereka menemukan dua buah lubang
kuburan baru itu. Kuburan dibongkar dan gegerlah kota Tiong-cin ketika mereka menemukan mayat-mayat
Sie Kian, isterinya, muridnya, dan dua orang pelayan wanita.
Jelas mereka itu tewas karena dibunuh, bahkan Sie Kian dan isterinya tewas dengan kepala terpisah dari
badannya. Yang membuat semua orang bingung adalah lenyapnya Sie Lan Hong dan Sie Liong, dua orang
anak keluarga Sie itu.
Teka-teki peristiwa yang terjadi di rumah keluarga Sie itu tetap merupakan rahasia yang tidak dapat
terpecahkan oleh semua orang. Dan rahasia itu memang tidak mungkin dapat dipecahkan karena dua
orang yang dapat menjadi kunci pembuka rahasia itu, yaitu Sie Lan Hong dan Sie Liong, telah pergi jauh
sekali dari tempat itu. Ratusan bahkan ribuan li jauhnya dari kota Tiong-cin karena Yauw Sun Kok
membawanya pergi ke barat, jauh sekali, di perbatasan barat propinsi Sin-kiang…..
********************
Yauw Sun Kok adalah seorang laki-laki petualang yang sudah hidup sebatang kara sejak masih kecil.
Kedua orang tuanya telah meninggal dunia karena wabah penyakit menular yang amat berbahaya di
dusunnya. Dalam usia sepuluh tahun dia sudah hidup sebatang kara dan yatim piatu.
Kehidupan yang keras seorang diri ini menggemblengnya menjadi seorang pemuda yang keras. Namun,
dia memang memiliki kecerdikan sehingga meski pun ketika ayah ibunya meninggal dia baru berusia
sepuluh tahun, akan tetapi dia sudah mempunyai kepandaian membaca dan menulis.
Ketika dia hidup seorang diri, merantau sebatang kara dan menemui banyak kekerasan dan kesulitan
hidup, dia mengerti bahwa dalam kehidupan yang sulit dan serba keras itu, dia perlu menguasai ilmu silat.
Maka, ke mana pun dia merantau, dia selalu berusaha untuk mempelajari ilmu silat dari siapa pun.
Akhirnya, pada usia lima belas tahun, setelah menguasai beberapa macam ilmu silat, dia bekerja pada
seorang kepala perampok kenamaan di sepanjang Sungai Kuning. Karena dia amat setia dan pandai
mengambil hati, dia pun menjadi murid kepala perampok itu dan kemudian mempelajari ilmu silat dan
ilmu... merampok!
Sering kali dia mewakili gurunya memimpin anak buah untuk merampok atau membajak perahu-perahu di
sungai dan dalam usia dua puluh tahun, dia sudah menjadi seorang perampok yang lihai dan ditakuti.
Bukan saja ilmu silatnya cukup lihai, akan tetapi juga dia masih bersikap seperti orang terpelajar dengan
modal sedikit ilmu sastra yang pernah dipelajari pada waktu ayahnya masih hidup.
Pakaiannya selalu rapi, dan karena wajahnya tampan, maka banyak wanita yang jatuh hati padanya. Di
antara gadis yang tergila-gila kepadanya adalah puteri kepala perampok itu sendiri! Gadis puteri kepala
perampok itu memang cantik manis, dan segera terjadilah hubungan akrab di antara mereka.
Akan tetapi, kepala perampok itu tidak setuju kalau puterinya berjodoh dengan Sun Kok yang menjadi
pembantunya dan muridnya pula. Walau pun dia adalah kepala perampok, akan tetapi dia tidak ingin
melihat puterinya menjadi isteri seorang perampok! Dia ingin melihat puterinya menjadi isteri dari seorang
pejabat tinggi atau seorang hartawan, paling tidak seorang yang hidup terhormat dan terpandang!
Di sini terbukti bahwa tiap orang yang melakukan penyelewengan dalam hidupnya, sama sekali bukan
karena dia tak tahu atau menyukai pekerjaan maksiat atau penyelewengan itu! Kalau dia mampu, tentu
saja dia akan menjauhi perbuatan menyeleweng itu! Kalau seorang pencuri, ketika sudah menjadi kaya
raya dan terhormat, tak mungkin dia ingin mencuri lagi!
Kepala perampok itu pun tidak ingin mempunyai mantu seorang perampok!
Akan tetapi, hubungan antara Sun Kok dan puteri perampok itu sudah amat jauh dan mendalam, bahkan
puteri kepala perampok itu sudah berulang kali menyerahkan dirinya kepada Sun Kok. Sudah berulang kali
mereka melakukan hubungan suami isteri dengan pencurahan kasih sayang. Karena dihalangi oleh orang
tua gadis itu, jalan satu-satunya bagi mereka hanyalah minggat!
Sun Kok dan kekasihnya meninggalkan sarang kepala perampok itu. Ketika lari gadis itu membawa pula
beberapa barang berharga. Mulailah mereka berdua hidup sebagai suami isteri perampok! Mereka pergi
dunia-kangouw.blogspot.com
jauh meninggalkan sarang kepala perampok di tepi Sungai Kuning itu dan menjadi perampok di sepanjang
perbatasan Propinsi Hok-kian di timur.
Demikianlah sedikit riwayat Yauw Sun Kok. Sampai lima tahun kemudian, saat ia berusia dua puluh lima
tahun dan menjadi perampok bersama isterinya tercinta, mereka berdua ketika sedang merampok kereta
keluarga bangsawan, mereka bertemu dengan Sie Kian dan dalam perkelahian tersebut, isteri Yauw Sun
Kok tewas di tangan Sie Kian!
Yauw Sun Kok yang kematian isterinya menjadi berduka sekali dan dia mendendam sakit hati yang hebat
terhadap Sie Kian. Kembali kini dia hidup sebatang kara karena isterinya belum pernah melahirkan
seorang anak.
Dengan dendam yang bernyala, Yauw Sun Kok lalu merantau ke barat. Dia mendengar bahwa
Pegunungan Himalaya merupakan gudang para pertapa yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi. Maka ke
sanalah dia pergi, untuk belajar ilmu silat yang lebih tinggi agar kelak dia dapat membalas dendamnya
kepada Sie Kian.
Selama lima tahun, Yauw Sun Kok menghamburkan semua hartanya yang dikumpulkan dari hasil
merampok bersama isterinya, termasuk harta bawaan isterinya, hanya untuk belajar ilmu silat. Bermacam
guru ditemuinya dan dia pun berhasil mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi.
Dia pun behasil mendapat sebatang pedang pusaka yang disebut Pek-lian-kiam (Pedang Teratai Putih)
karena di badan pedang itu terdapat ukiran setangkai bunga teratai putih. Pedang itu sendiri terbuat dari
baja putih sehingga kalau dimainkan menjadi gulungan sinar putih yang menyilaukan mata.
Setelah merasa cukup mempunyai ilmu silat yang boleh diandalkan, Yauw Sun Kok lalu pergi mencari
musuh besarnya. Tidak sukar baginya untuk menemukan tempat tinggal Sie Kian atau Sie Kauwsu yang
membuka perguruan silat bayaran di kota Tiong-cin itu.
Dia melakukan penyelidikan dan merasa girang melihat betapa rumah keluarga Sie itu berdiri terpencil dan
para muridnya tinggal di luar perguruan. Setelah memperhitungkan masak-masak, dia lalu mengirim surat
ancaman dengan mempergunakan senjata rahasia piauw-nya dan akhirnya, dia berhasil membasmi
keluarga Sie, dan melarikan dua orang anak musuh besarnya.
Sungguh di luar perhitungannya bahwa dia dapat jatuh cinta kepada Lan Hong, padahal dia bukahlah
seorang yang mata keranjang dan mudah tergila-gila kepada wanita cantik. Mungkin karena antara wajah
Lan Hong dengan mendiang isterinya ada persamaan atau kemiripan, maka dia tertarik sekali.
Setelah berhasil menaklukan Lan Hong sehingga gadis remaja itu menyerahkan diri kepadanya, Yauw Sun
Kok merasa gembira sekali. Dia maklum bahwa perbuatannya di Tiong-cin itu akan menimbulkan
kegemparan, maka dia kemudian melakukan perjalanan secepatnya menuju ke barat! Dia membawa Lan
Hong yang telah menjadi isterinya itu ke Sin-kiang bersama anak kecil itu.
Di sebuah kota kecil bernama Sung-jan, di perbatasan barat Propinsi Sin-kiang, Tauw Sun Kok telah
memiliki sebuah rumah yang lumayan. Di sinilah tempat tinggalnya yang terakhir setelah menuntut ilmu.
Di kota ini namanya sudah mulai terkenal sebagai seorang yang sakti. Namanya dapat terkenal karena dia
memiliki hubungan dengan banyak tokoh kang-ouw di daerah barat. Memang Sun Kok pandai mengambil
hati orang-orang kang-ouw yang berilmu tinggi dan dengan kepandaiannya mengambil hati ini, dia dapat
mempelajari banyak macam ilmu silat.
Setelah tiba di rumahnya, Sun Kok lalu merayakan pesta pernikahannya dengan Sie Lan Hong! Meriah
juga pesta itu karena selain mengundang orang-orang terkemuka di kota Sung-jan, juga dia mengundang
tokoh-tokoh kang-ouw di daerah barat yang menjadi kenalannya.
Suatu keanehan terjadi dalam hati Sie Lan Hong. Melihat sikap bekas musuh besar yang kini menjadi
suaminya itu, sikap yang sangat baik, penuh dengan kelembutan dan cinta kasih, penuh kemesraan dan
kesabaran, sedikit demi sedikit lenyaplah kebencian dalam hati dara remaja ini! Apa lagi dia melihat betapa
Sun Kok memang bersungguh-sungguh memperisterinya, bukan sekedar main-main dan untuk
mempermainkannya saja.
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat betapa suaminya mengadakan pesta yang meriah untuk pengesahan pernikahan mereka, mulai
timbul perasaan suka di hati gadis ini. Sun Kok yang berpengalaman itu memang pandai merayu, dan Lan
Hong adalah seorang gadis yang usianya baru lima belas tahun, maka mudah saja dia terbuai dalam
kemesraan serta kenikmatan kasih sayang suaminya. Perlahan-lahan, rasa benci dan dendam itu lenyap
terganti perasaan cinta!
Akan tetapi ada suatu hal yang menggelisahkan hati Yauw Sun Kok. Dia pun kini sudah tidak mendendam
lagi kepada keluarga Sie, dan cintanya terhadap Lan Hong yang sudah menjadi isterinya adalah cinta yang
mendalam. Bahkan ia pun tidak membenci Sie Liong, adik isterinya itu. Sebaliknya, dia bahkan juga
memiliki perasaan sayang kepada anak itu, di samping perasaan iba mengingat betapa anak itu sudah
tidak mempunyai ayah bunda lagi.
Akan tetapi, di samping perasaan sayang dan iba ini, ada semacam kegelisahan timbul di dalam hatinya
setiap kali dia memangku dan menimang Sie Liong. Dalam diri anak ini dia melihat ancaman bahaya besar!
Kalau kelak Sie Liong sudah menjadi seorang dewasa, tentu dia akan mendengar akan kematian ayah
ibunya di tangan kakak iparnya ini, dan tentu akan terjadi mala petaka! Besar sekali kemungkinannya, Sie
Liong kelak akan mencoba untuk membalas dendam! Dari pihak isterinya, dia tidak khawatir karena dia
dapat merasakan kemesraan dan kasih sayang dari isterinya kepadanya. Akan tetapi anak ini?
Setahun kemudian, ketika Sie Liong sudah pandai berjalan, pada suatu hari Sun Kok mengajaknya ke
kebun belakang. Sementara itu Lan Hong sedang menyusui anaknya di dalam kamar. Sesudah menikah
setahun lamanya, Lan Hong melahirkan seorang anak perempuan yang mungil dan diberi nama Yauw Bi
Sian. Ketika itu, Bi Sian baru berusia satu bulan.
Sun Kok mengajak Sie Liong ke kebun dan memang anak ini dekat sekali dengan dia. Sun Kok sering kali
menimang dan memondongnya, seolah-olah adik isterinya itu anak kandungnya sendiri. Sun Kok tidak
berpura-pura, di dalam hatinya memang ada rasa sayang dan iba kepada Sie Liong.
Akan tetapi, ketika dia membawa Sie Liong bermain-main di kebun belakang, kembali dia teringat akan
bahaya yang bisa mengancam dari diri anak ini. Dia tahu bahwa Sie Liong mempunyai tulang yang kuat
dan darah yang bersih. Anak ini berbakat baik sekali untuk kelak menjadi seorang yang gagah perkasa.
Jika kelak anak ini menjadi seorang pandai, tentu keselamatan dirinya akan terancam!
Wajah anak itu saja sudah mulai mengingatkan dia akan wajah Sie Kian yang dahulu dibunuhnya. Berbeda
dari wajah isterinya yang lebih mirip ibunya. Kelak Sie Liong akan menjadi Sie Kian kedua yang mungkin
akan membunuhnya untuk membalas dendam!
Mulailah dia merasa menyesal, mengapa dia membunuh dan membasmi keluarga Sie tanpa mengenal
ampun. Pada saat itu dia insyaf, mendiang Sie Kian membunuh isterinya bukan karena benci atau dendam,
melainkan dalam sebuah perkelahian yang wajar.
Ketika itu, sebagai seorang pendekar, Sie Kian membela bangsawan yang dirampoknya. Dalam
perkelahian itu Sie Kian berhasil mengalahkan dia dan isterinya. Isterinya tewas dan dia terluka, juga Sie
Kian terluka oleh senjata rahasia piauw-nya.
Bagaimana pun juga, anak ini merupakan ancaman bahaya besar. Betapa mudahnya melenyapkan
ancaman baginya itu. Sekali menggerakkan tangannya, anak ini akan mati dan lenyaplah ancaman bahaya
itu. Akan tetapi, dia teringat akan sumpahnya kepada isterinya. Dia telah bersumpah tidak akan membunuh
anak ini, dan isterinya ternyata juga memegang teguh janjinya.
Isterinya itu kini benar-benar menjadi seorang isteri yang mencinta, mesra dan bahkan telah melahirkan
seorang anak keturunannya! Bagaimana mungkin dia dapat melanggar sumpahnya? Isterinya benar.
Bagaimana pun juga, dia masih memiliki harga diri dan dia tidak akan melanggar sumpahnya! Dan pula,
bagaimana dia tega untuk membunuh anak ini yang sudah disayangnya pula?
“Ci-hu (kakak ipar)... ci-hu... tangkap... tangkap...!” Tiba-tiba Sie Liong berseru gembira sambil menunjuk ke
arah seekor kupu-kupu kuning yang sedang beterbangan di antara kembang-kembang yang tumbuh di
kebun itu.
Yauw Sun Kok memandang anak itu. Dia tersenyum. “Kau tangkaplah sendiri, Sie Liong! Engkau anak
pandai, harus mampu menangkap sendiri kupu-kupu itu.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Sie Liong dengan gembira berlari-lari mengejar kupu-kupu itu. Akan tetapi kupu-kupu itu terlampau gesit
dan terbangnya terlampau tinggi bagi Sie Liong yang mengejar terus. Karena ketika berlari-lari itu dia selalu
melihat ke arah kupu-kupu di atas, tiba-tiba kaki Sie Liong tersandung batu besar dan dia pun tergelincir
dan terguling.
“Dukkk!”
Ketika terjatuh itu, kepalanya membentur batu dan anak itu pun pingsan! Kepalanya yang kanan dekat
pelipis mengeluarkan benjolan berdarah.
Sun Kok terkejut dan cepat dia meloncat menghampiri dan memondong tubuh anak itu, lalu duduk di atas
bangku dan memangkunya. Sie Liong telah pingsan. Ketika dia hendak menyadarkan anak itu dengan
memijat belakang kepalanya, tiba-tiba menyelinap pikiran lain dalam benaknya. Inilah kesempatan yang
amat baik!
Dia tidak akan membunuh anak ini, akan tetapi dapat membuatnya menjadi cacat dan dengan cacatnya itu,
kelak dia tidak akan dapat menjadi orang kuat dan terhindarlah dia dari ancaman balas dendam anak ini!
Membuat dia cacat tak berarti membunuhnya. Dia tidak melanggar sumpahnya.
Dalam keadaan pingsan begini, anak ini pun tidak merasakan apa-apa! Dan dia akan mengusahakan agar
sama sekali tak ada bekas-bekas penganiayaan, sehingga peristiwa jatuhnya anak ini kelak dapat menjadi
alasan mengapa dia menjadi cacat!
Tanpa ragu lagi, Sun Kok menelungkupkan tubuh Sie Liong yang pingsan itu, membuka bajunya, kemudian
dengan dua jari tangan kanannya, dia menotok dan memuntir tiga kali di punggung anak itu! Benarlah
seperti dugaannya, anak yang pingsan itu tidak kelihatan kesakitan, padahal tiga kali totokan jari dan
puntiran itu sudah membuat tulang punggung itu retak serta jaringan syaraf dan ototnya menjadi hancur!
Setelah membereskan kembali pakaiannya, Sun Kok lalu memondong tubuh itu lagi dan membawanya
pulang ke rumah. Tanda biru menghitam pada punggung itu tentu tak akan menimbulkan kecurigaan. Tak
ada seorang pun akan menyangka bahwa tanda itu adalah tanda bekas totokan dan puntiran jari
tangannya!
Lan Hong sangat terkejut ketika melihat suaminya memasuki kamar sambil memondong tubuh Sie Liong
yang lemas seperti anak tidur.
“Ahh, ada apakah?” tanyanya sambil memandang wajah suaminya dengan khawatir.
“Dia mengejar kupu-kupu, namun tersandung dan terjatuh. Kepalanya terbanting ke atas batu dan dia
pingsan,” katanya sambil merebahkan tubuh anak itu ke atas pembaringan.
Lan Hong sejenak memandang wajah suaminya. Sepasang alisnya berkerut, sedangkan pandang matanya
penuh dengan kecurigaan. Melihat isterinya memandangnya seperti itu, Sun Kok manghampiri dan
merangkul isterinya.
“Isteriku, apakah sampai kini engkau belum juga percaya padaku? Ingat, aku tidak akan pernah melupakan
sumpahku. Aku tidak akan membunuh Sie Liong! Aku sudah sangat sayang kepadanya. Bagaimana kini
engkau dapat memandang kepadaku dengan penuh kecurigaan seperti itu?”
Lan Hong membalas rangkulan suaminya.
“Ahh, maafkan aku...,” dan ia pun segera memeriksa keadaan Sie Liong.
Kelihatannya hanya kepala anak itu saja yang terluka, berdarah dan membenjol. Akan tetapi biar pun
mereka berdua telah berusaha untuk membikin sadar, anak itu tetap saja pingsan. Hal ini membuat Lan
Hong merasa khawatir sekali dan suaminya segera pergi mengundang seorang tabib yang terkenal pandai
di kota Sung-jan itu. Tabib itu seorang peranakan Nepal dan memang dia pandai sekali dalam soal
pengobatan.
Orang berkulit hitam, tinggi kurus dan bersorban putih itu datang membawa keranjang obatnya dan segera
memeriksa Sie Liong. Tabib itu sudah lama mengenal Yauw Sun Kok yang di kota itu dikenal sebagai
dunia-kangouw.blogspot.com
seorang ahli silat yang pandai, selain pekerjaannya sebagai seorang pedagang rempah-rempah yang
cukup maju.
Mula-mula dia memeriksa keadaan kepala yang membenjol itu, ditunggui dengan penuh kekhawatiran oleh
Lan Hong yang memondong puterinya sambil didampingi suaminya. Tabib itu mengangguk-angguk.
“Hanya luka di luar, tidak ada yang berbahaya dengan kepala ini. Hemmm, kenapa dia belum juga siuman?
Tentu ada luka lain. Biar kuperiksa tubuhnya.”
Dia lalu membuka pakaian anak itu, dibantu oleh Sun Kok. Ia sama sekali tidak merasa khawatir. Seorang
tabib yang pandai seperti orang Nepal ini pasti dengan mudah akan dapat menemukan luka di punggung
itu, akan tetapi tidak mungkin akan tahu bahwa itu disebabkan oleh totokan jari tangan dan akan mengira
bahwa punggung itu pun terpukul benda keras.
Dugaannya memang benar. Setelah memeriksa seluruh tubuh Sie Liong, akhirnya tabib itu menemukan
tanda menghitam di tulang pungungnya.
“Ahhh, inilah yang menyebabkan dia pingsan terus! Punggungnya terluka, dan luka ini lebih hebat dari
pada luka di kepalanya!”
Dia memeriksa dengan teliti, lalu mengerutkan alisnya, menggeleng-geleng kepalanya dan menarik napas
panjang.
“Bagaimanakah keadaannya, Sin-she (Tabib)?” tanya Lan Hong khawatir melihat muka orang Nepal itu.
“Tidak baik... sungguh tidak baik...! Luka di punggung ini hebat sekali. Agaknya tulang punggung ini retak,
dan otot-ototnya juga terluka parah...”
“Aihh! Bagaimana hal itu dapat terjadi? Dan... dan... apakah dia masih bisa disembuhkan, Sin-she?” tanya
pula Lan Hong sambil memandang suaminya.
Sun Kok mengangguk-angguk. “Aku hanya melihat ada batu besar di bawahnya ketika dia jatuh. Oleh
karena yang nampak hanya kepalanya yang membenjol dan berdarah, kusangka hanya itu saja lukanya.
Tentu tadi punggungnya terbanting pada batu yang menonjol sehingga seperti terpukul.”
Tabib itu mengangguk-angguk. “Agaknya begitulah. Akan tetapi jangan khawatir, anak ini masih kecil
sehingga luka parah itu tidak akan sampai merenggut nyawanya, walau pun aku khawatir sekali...”
Melihat tabib itu nampak ragu-ragu, Lan Hong bertanya cemas, “Khawatir apa, Sin-she? Katakanlah, apa
yang akan terjadi dengan adikku?”
“Dia akan dapat disembuhkan dengan obatku dan oleh kekuatan tubuhnya sendiri yang masih murni. Akan
tetapi, pertumbuhan tulang punggungnya itu akan tidak normal dan aku khawatir kelak dia akan menjadi
seorang yang bongkok.”
“Ahhh...!” Lan Hong menutupi mukanya dengan tangan, ngeri membayangkan adiknya menjadi seorang
yang bongkok punggungnya.
Tangan suaminya menyentuh pundaknya dengan lembut. “Tidak perlu berduka. Biar pun cacat, biar
bongkok asal sehat, bukankah begitu? Yang penting Sie Liong dapat sembuh dan sehat kembali.”
Sie Liong mendapat perawatan baik-baik dan tepat seperti keterangan tabib pandai itu, Sie Liong dapat
sembuh, akan tetapi pertumbuhan tulang punggungnya tidak normal. Dua tahun kemudian sudah nampak
betapa punggungnya bongkok dan ada punuk di punggungnya seperti punggung onta.
Yauw Sun Kok diam-diam tersenyum seorang diri. Dia merasa lega dan aman sekarang. Seorang bocah
yang bongkok punggungnya, bagaimana pun juga tidak mungkin akan dapat menjadi seorang yang perlu
ditakuti.
Rasa takut dapat membuat orang menjadi curang dan kejam sekali. Sun Kok melakukan kekejaman itu
kepada seorang anak kecil yang sebetulnya sudah mulai disayangnya karena dia takut membayangkan
dunia-kangouw.blogspot.com
betapa Sie Liong kelak akan mengetahui tentang kedua orang tuanya yang dibunuhnya, kemudian anak itu
akan membalas dendam kepadanya.
Sie Lan Hong juga bukan seorang wanita yang bodoh. Walau pun suaminya memberi keterangan bahwa
Sie Liong terjatuh menimpa batu pada saat mengejar kupu-kupu, dan ketika telah sadar Sie Liong pun
dapat bercerita sedikit-sedikit bahwa kupu-kupunya yang nakal, bahwa dia terjatuh ketika mengejar kupukupu,
akan tetapi diam-diam Lan Hong menaruh perasaan curiga kepada suaminya.
Dia tahu bahwa suaminya itu, bagaimana pun juga masih merasa khawatir kalau-kalau Sie Liong kelak
akan mengetahui mengenai kematian orang tuanya, lalu anak itu akan membalas dendam kepadanya. Dia
merasa curiga apakah jatuhnya adiknya itu bukan disengaja dan dibuat oleh suaminya!
Akan tetapi ia sudah terlalu mencinta suaminya, apa lagi kini mereka sudah mempunyai seorang anak.
Andai kata memang benar ada unsur kesengajaan dari suaminya yang menyebabkan adiknya terjatuh dan
menjadi cacat, tetap saja suaminya tidak melanggar sumpahnya.
Suaminya pernah bersumpah tidak akan membunuh Sie Liong! Dan membuatnya cacat bukanlah
pembunuhan. Karena itu, khawatir kalau dia menuduh tanpa bukti hanya akan merenggangkan kasih
sayang antara dia dan suaminya, maka Lan Hong diam saja dan menahan itu di dalam hatinya…..
********************
Waktu berjalan dengan amat cepatnya dan Sie Liong kini telah menjadi seorang anak laki-laki berusia tiga
belas tahun. Enci-nya tidak mempunyai anak lain kecuali Yauw Bi Sian yang kini sudah berusia sebelas
tahun pula. Dan Sie Liong tumbuh besar sebagai seorang anak laki-laki yang amat cerdas, rajin dan
pendiam. Akan tetapi dia rajin sekali bekerja.
Meski punggungnya bongkok dengan punuk sebesar kepalan tangan, namun tubuhnya sehat dan dia tak
pernah sakit. Juga otaknya cerdas sekali sehingga ketika seorang guru sastra didatangkan oleh Sun Kok
untuk mengajar puterinya, Sie Liong yang turut pula belajar, dengan cepat sekali dapat menghafal semua
huruf sehingga guru yang mengajar itu memujinya sebagai anak yang amat cerdas.
Sun Kok masih merasa aman melihat perkembangan Sie Liong yang sekarang menjadi seorang anak yang
biar pun pandai membaca dan menulis, akan tetapi seorang anak bongkok yang biar pun sehat tapi
bertubuh lemah. Hanya satu hal yang mengecewakan hatinya, yaitu melihat bahwa Sie Liong tidak menjadi
seorang anak berpenyakitan seperti yang diharapkannya, melainkan menjadi seorang anak sehat.
Sering kali terjadi pertentangan dalam batinnya sendiri. Di satu pihak dia merasa kecewa melihat anak itu
sehat, di lain pihak dia merasa girang karena betapa pun juga ia merasa sayang kepada anak itu!
Sie Liong memang seorang anak yang tahu diri. Ia merasa bahwa hidupnya menumpang kepada cihu
(kakak ipar), maka dia pun tidak bermalas-malasan. Setiap hari, pagi-pagi sekali dia sudah bangun dan
membantu pekerjaan rumah, walau pun cihu-nya memiliki beberapa orang pelayan.
Semenjak kecil Bi Sian sangat dekat dengannya karena dialah yang selalu mengajak keponakan itu
bermain-main. Bi Sian juga merasa amat akrab dan sayang sekali kepada pamannya itu. Oleh karena usia
mereka hanya berselisih dua tahun saja, maka biar pun mereka itu adalah paman dan keponakan, namun
hubungan mereka amat akrab sebagai dua orang anak yang sebaya atau sepantar.
Semenjak Bi Sian berusia enam tahun, ayahnya telah mulai memberi pelajaran ilmu silat kepadanya.
Melihat ini, Sie Liong merasa ingin sekali untuk ikut belajar, akan tetapi selalu cihu-nya melarangnya.
“Sie Liong, engkau harus tahu bahwa keadaan tubuhmu ini tidak memungkinkan engkau belajar ilmu silat.
Ketahuilah bahwa syarat utama bagi orang yang ingin menguasai ilmu silat dengan baik adalah ketegakan
tubuhnya. Tulang punggung mulai tengkuk sampai pinggang haruslah tegak dan rata, maka tidak baik
kalau engkau berlatih silat. Lebih baik engkau menekuni ilmu membaca dan menulis.” Demikian Sun Kok
pernah berkata.
Mendengar ini, Sie Liong menundukkan mukanya dan merasa bersedih. Akan tetapi dia tahu diri dan mulai
saat itu, dia tidak pernah mengemukakan keinginannya untuk belajar ilmu silat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi, Bi Sian amat sayang kepada paman kecilnya itu. Anak perempuan ini tahu belaka akan isi hati
kawan bermainnya ini, maka ia pun tahu benar betapa paman kecil itu ingin sekali ikut belajar ilmu silat.
Oleh karena itu, setiap kali mereka hanya berdua saja tanpa diketahui orang lain, Bi Sian lalu mengajarkan
semua gerakan yang dipelajari dari ayahnya kepada Sie Liong.
Gambar Pebo-2-A
Dan si bongkok ini pun menerimanya dengan sangat gembira. Memang dia ingin sekali belajar silat, maka
tentu saja dia gembira menyambut uluran tangan Bi Sian yang mau mengajarnya.
Ternyata kecerdasannya membantu dirinya dengan luar biasa sekali sehingga dia mudah menghafal setiap
gerakan. Bahkan karena bakatnya ini dia mampu bergerak lebih lincah dan lebih cekatan, jauh lebih baik
dibandingkan Bi Sian.
Tentu saja ada hambatan yang besar baginya, yaitu tubuhnya yang bongkok. Karena itu, dalam beberapa
gerakan nampak betapa gerakannya melakukan jurus itu nampak lucu sekali. Selain itu kadang-kadang Sie
Liong merasa nyeri pada tengkuk dan punggungnya setelah dia berlatih silat bersama Bi Sian.
Setelah Sie Liong berusia tiga belas tahun dan Bi Sian berusia sebelas tahun, kedua orang anak ini telah
mempelajari banyak macam gerakan silat. Bi Sian sudah menjadi seorang gadis cilik yang pandai bersilat.
Gerakannya lincah sekali dan karena sejak kecil dia digembleng ayahnya dan mempelajari semedhi dan
latihan pernapasan, maka meski pun usianya baru sebelas tahun, anak perempuan ini memiliki tenaga
yang kuat.
Dua orang anak yang saling mengasihi dan saling membela ini dapat menyimpan rahasia Sie Liong
mempelajari ilmu silat. Baik Sun Kok mau pun Lan Hong sama sekali tidak pernah menyangka bahwa
kesehatan Sie Liong yang baik dan gerakannya yang cekatan itu adalah akibat anak itu sudah belajar silat.
Suami isteri itu hanya mengira bahwa itu adalah berkat rajinnya anak itu bekerja, memikul air, menyapu
dan pekerjaan lain yang dilakukannya tanpa diperintah.
Akan tetapi akhirnya kemampuan Sie Liong bersilat itu terbuka dengan terjadinya suatu peristiwa. Semua
orang di Sung-jan tahu belaka bahwa Yauw Sun Kok adalah seorang ahli silat yang pandai. Pernah
beberapa kali Yauw Sun Kok membantu petugas-petugas keamanan kota memberantas gerombolan
perampok hingga dia dikenal sebagai seorang jagoan yang disegani.
Oleh karena itu, tidak ada penduduk yang berani mengganggu keluarganya. Walau pun semua orang
mengenal Sie Liong sebagai si Bongkok, namun di depan Yauw Sun Kok dan isterinya, tidak ada seorang
pun yang berani mengganggu anak bongkok itu, karena mereka maklum bahwa anak bongkok itu adalah
adik isteri Yauw Sun Kok.
Pada suatu hari Bi Sian dan Sie Liong pergi ke pasar untuk berbelanja. Tadinya Sie Liong yang disuruh
enci-nya pergi ke pasar untuk berbelanja berbagai bumbu dapur yang persediannya sudah hampir habis.
Melihat Sie Liong pergi ke pasar, Bi Sian lalu berkeras hendak ikut dengannya. Ibunya memperkenankan
karena anak perempuan itu dapat pula membantu Sie Liong membawa barang belanjaan yang cukup
banyak.
Hari itu memang ramai sekali orang pergi berbelanja. Juga keadaan kota Sung-jan amat ramai. Maklumlah,
orang-orang hendak menyambut hari raya Imlek, menyambut ‘tahun baru’ atau munculnya musim semi
yang cerah dan mendatangkan berkah bagi para petani melalui sawah ladang mereka.
Seminggu lagi ‘sin-cia’ tiba. Orang-orang sibuk berbelanja membeli berbagai keperluan dapur, kemudian
mulai ramai memasak karena pada hari-hari itu biasanya mereka akan mengadakan sembahyangan pada
abu leluhur masing-masing.
Hati Sie Liong dan Bi Sian gembira sekali ketika mereka membawa keranjang kosong pergi ke pasar. Jalan
menuju ke pasar itu pun ramai, penuh dengan orang berlalu lalang dan wajah mereka rata-rata gembira.
Banyak orang sudah mengenal Sie Liong karena bongkoknya memang mudah membuat orang
mengingatnya. Dan banyak orang yang berjumpa di jalan menegur dan menyapa Sie Liong. Ada yang
menyebutnya Sie-kongcu (Tuan muda Sie), ada yang menyebutnya dengan, “Hee, bocah bongkok!” begitu
saja.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi, Sie Liong tetap tersenyum dan menjawab mereka semua dengan kata-kata ramah bahwa dia
akan pergi berbelanja ke pasar. Dia maklum bahwa mereka yang menyebutnya si bongkok itu pun bukan
dengan maksud menghina, melainkan dengan ramah dan hendak bergurau. Dia sudah terbiasa
mendengar sebutan si bongkok. Dulu, ketika dia berusia sekitar enam tahun, mulai mengerti akan harga
diri, memang sebutan itu terasa menyakitkan hati.
Apa lagi kalau dia bercermin dan melihat betapa tubuhnya melengkung ke depan, dia merasa rendah diri.
Akan tetapi karena sudah terbiasa, kini sebutan si bongkok tidak mempengaruhi batinnya. Dia sudah
menerima kenyataan bahwa dia memang bertubuh bongkok, dan memang sepatutnya disebut si bongkok!
Akan tetapi, setiap kali ada orang menyebut Sie Liong dengan sebutan si Bongkok, Bi Sian mengerutkan
alisnya dan melotot marah kepada orang yang menyebut demikian. Di dalam hatinya, Bi Sian tidak rela
paman kecilnya disebut Si Bongkok, yang dianggapnya sebagai suatu ejekan atau hinaan.
Dua orang anak yang berjalan berdampingan itu memang merupakan pemandangan yang agak ganjil.
Wajah Sie Liong memang tidak buruk, biasa saja, dan pakaiannya juga pantas. Namun tubuhnya yang
melengkung ke depan itu, dengan punuk pada punggungnya yang makin membesar, membuat dia nampak
amat pendek dan kedua lengannya kelihatan panjang bagaikan lengan monyet. Pendeknya, Sie Liong
bukanlah seorang pemuda remaja yang menarik hati, melainkan sesosok tubuh yang dapat menimbulkan
rasa geli dan juga iba dalam hati orang yang memandangnya.
Sebaliknya, Yauw Bi Sian adalah seorang anak perempuan berusia sebelas tahun yang mungil. Wajahnya
amat manis, terutama sepasang matanya dan mulutnya. Kulitnya putih mulus, bentuk tubuh yang masih
kekanak-kanakan itu pun padat dan sehat, menjanjikan bentuk tubuh seorang wanita yang indah.
Kalau dara cilik ini diumpamakan setangkai bunga yang belum mekar, kuncup yang indah menarik,
sebaliknya Sie Liong seperti seekor kupu-kupu yang jelek dan cacat. Sungguh tidak merupakan pasangan
yang serasi.
Mereka sudah tiba di dekat pasar ketika tiga orang anak laki-laki yang berusia antara tiga belas sampai
lima belas tahun melihat mereka. Tiga orang anak-anak itu tadinya sedang bermain-main di tepi jalan.
Ketika melihat Sie Liong dan Bi Sian, mereka menghentikan permainan mereka dan memandang kepada
dua orang anak yang membawa keranjang kosong itu.
Mereka bertiga tahu siapa adanya Sie Liong dan mereka tak pernah berani mengganggu, mengingat
bahwa Si Bongkok itu adalah adik isteri Yauw Sun Kok yang terkenal jagoan. Akan tetapi mereka melihat
Bi Sian yang dalam pandangan mereka sangat manis dan menarik.
Mulailah mereka merasa iri kepada Sie Liong. Anak semanis Bi Sian tidak cocok untuk berjalan bersama Si
Bongkok. Karena iri hati, maka tiga orang anak itu sengaja hendak memperolok-olok Sie Liong.
“Nona Yauw, apakah engkau hendak berbelanja ke pasar?” bertanya seorang di antara mereka.
Karena pertanyaan itu sopan dan wajar, Bi Sian lalu mengangguk. “Benar, aku hendak berbelanja ke
pasar.”
“Kalau begitu, marilah kuantar engkau, Nona. Biar nanti kami bertiga yang membawakan barang
belanjaanmu sampai ke rumahmu.”
“Benar, nona Yauw. Dari pada engkau berjalan dengan si Bongkok ini, menjadi buah tertawaan orang!”
kata anak ke dua.
“Nona Yauw,” kata orang ke tiga sambil tertawa. “Engkau membawa monyetmu ke pasar, apakah hendak
kau jual?”
Tiga orang anak itu tertawa sambil menuding kepada Sie Liong. Sie Liong tersenyum saja, tidak marah
karena dianggap mereka bertiga itu berkelakar saja. Akan tetapi Bi Sian yang menjadi marah sekali.
Mukanya berubah merah dan dia melangkah maju dengan sikap mengancam.
“Kalian ini tikus-tikus busuk, berani menghina orang! Apakah kalian hendak menantang berkelahi?” bentak
Bi Sian dengan sikap galak.
dunia-kangouw.blogspot.com
Anak yang paling besar di antara mereka, yang bertubuh jangkung kurus dan mukanya penuh jerawat,
berusia kurang lebih lima belas tahun, lalu memberi hormat kepada Bi Sian. “Aih, mana kami berani
menghinamu, nona Yauw? Kami hanya main-main dengan Si Bongkok ini, karena memang kami
penasaran melihat nona diantar oleh Si Bongkok. Suruh saja dia pulang dan kami bertiga akan menjadi
pengawal dan pengantar nona agar di jalan tidak ada yang berani mengganggu.”
“Siapa butuh kawalan kalian? Dan jangan kalian mengejek dan menghina dia. Dia adalah pamanku,
menghina dia berarti menghina aku! Nah, enyahlah kalian!”
Dua orang anak laki-laki yang lain hendak membantah, akan tetapi anak yang jangkung itu menarik tangan
mereka.
“Mari kita pergi dari sini!” katanya. Agaknya dia merasa sungkan untuk berbantahan dan berkelahi dengan
Bi Sian, apa lagi di situ mulai berkumpul banyak orang yang menonton.
Ketika tiga orang anak itu pergi, orang-orang tersenyum dan memuji kegagahan sikap Bi Sian. Memang
pantas sekali anak perempuan itu menjadi puterinya Yauw Sun Kok yang gagah perkasa, kata mereka.
Seorang di antara mereka, seorang kakek penjual kue, menghampiri Bi Sian.
“Nona Yauw, hati-hatilah, anak yang jangkung tadi adalah putera komandan pasukan keamanan kota. Dia
memang nakal sekali dan suka main keroyokan.”
Bi Sian mengepal tinju. “Aku tidak takut!”
Sie Liong menghadapi kakek itu. “Terima kasih, lopek. Kami tidak mau mencari keributan. Merekalah yang
tadi mengganggu kami yang sedang berjalan menuju ke pasar.”
Orang-orang bubaran dan dua orang anak itu melanjutkan perjalanan mereka ke pasar. Setelah
berbelanja, mereka pun melakukan perjalanan pulang. Keranjang mereka sudah penuh dengan barang
belanjaan.
Sie Liong sengaja memenuhi keranjangnya yang besar sehingga Bi Sian hanya perlu membawa keranjang
kecil yang tak begitu berat. Barang-barang yang berat dimasukkan dalam keranjang besar oleh Sie Liong
dan dia memanggul keranjang itu di pundaknya. Tangan kiri memegang keranjang itu, dan tangan
kanannya masih membawa lima ekor ayam pada kaki mereka.
Jarak antara rumah keluarga Yauw dan pasar di tengah kota itu memang cukup jauh, tidak kurang dari tiga
li jauhnya. Ketika dua orang anak itu tiba di jalan yang sunyi karena di kedua tepi jalan itu adalah kebun
orang yang cukup luas, tiba-tiba muncul lima orang anak laki-laki di depan mereka. Agaknya mereka tadi
sengaja bersembunyi dan sekarang keluar setelah Sie Liong dan Yauw Bi Sian tiba di situ.
Yang tiga orang adalah anak-anak yang ribut dengan mereka tadi, kini ditambah lagi dua orang anak lakilaki
yang usianya tentu lebih dari lima belas tahun, yang sikapnya seperti jagoan. Anak penuh jerawat yang
menurut kakek tadi adalah putera komandan pasukan keamanan kota, tetap memimpin mereka karena
dialah yang menghadang paling depan.
“Monyet bongkok, berhenti dulu!” bentak anak laki-laki jerawatan itu.
Sie Liong bersikap tenang saja dan tidak menjadi marah, akan tetapi malah Bi Sian yang menjadi marah. Ia
segera melepaskan keranjangnya di atas tanah, lalu melangkah maju menghadapi anak laki-laki jangkung
jerawatan itu.
“Engkau lagi? Kalian ini mau apa? Masih juga hendak menghina orang?”
“Nona, kami bermaksud baik. Kami menghormati ayahmu yang menjadi sahabat ayahku. Kami hanya tak
rela melihat monyet bongkok ini menjadi pengiringmu. Monyet bongkok, berikan keranjang itu kepada kami
dan engkau boleh merangkak pergi dari sini, biar kami yang mengantar nona Yauw pulang!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kemarahan Bi Sian memuncak. “Engkau sungguh bermulut kotor dan jahat!” katanya dan ia pun sudah
maju dan menyerang dengan tamparan tangannya. Karena sejak kecil Bi Sian sudah terlatih, maka
gerakan tangannya itu cepat dan kuat.
“Plakkk!” Pipi kiri anak jerawatan itu terkena tamparan.
“Aduhh...!” Dia terhuyung, menutupi pipi yang tertampar dengan tangan, rasanya panas dan nyeri.
Ternyata pipi itu menjadi biru membengkak! “Nona, kenapa engkau memukul aku yang hendak
membantumu?” bentaknya marah dan penasaran.
“Keparat, kalian ini memang kurang ajar dan perlu dihajar!” kata Bi Sian.
Bi Sian sudah menerjang maju lagi. Sekali kakinya terayun, seorang anak laki-laki lain yang mencoba
untuk menangkap lengannya, tahu-tahu jatuh tersungkur dan memegangi perutnya sambil meringis
kesakitan.
“Wah, anak perempuan ini galak dan liar!” kata dua orang anak laki-laki yang lebih besar dan mereka pun
menubruk ke depan.
“Plak-plakk!”
Bi Sian lalu membagi-bagi pukulan dan tendangan sehingga lima orang anak laki-laki itu jatuh bangun.
Akan tetapi mereka itu lebih besar dan mereka kini melakukan perlawanan. Seorang di antara mereka
menubruk dari belakang dan berhasil menelikung kedua lengan Bi Sian ke belakang tubuhnya. Bi Sian
meronta-ronta, akan tetapi anak-anak lain memegangi kaki dan tangannya sehingga ia tidak lagi mampu
melepaskan diri.
“A Cong, cepat kau hajar monyet bongkok itu. Biar kami yang memegangi nona Yauw agar ia tidak dapat
melindungi monyet bongkok itu!” kata orang yang menelikung kedua lengan Bi Sian.
Biar pun kini ada tiga orang anak yang memegangi tubuh Bi Sian, namun mereka tidak berani menyakiti
anak perempuan itu, juga tidak berani berbuat kurang ajar. Mereka hanya memegangi Bi Sian supaya anak
itu tidak dapat melepaskan diri dan tidak dapat membantu Sie Liong yang akan dihajar oleh dua orang
anak yang lain, termasuk Lu Ki Cong, putera komandan pasukan keamanan di Sung-jan itu.
Akan tetapi, Sie Liong sudah menurunkan keranjangnya, juga melepaskan lima ekor ayam yang kakinya
diikat itu. Tadinya ia memang diam saja dan tidak bermaksud untuk berkelahi dengan anak-anak itu,
membiarkan saja mereka menggoda serta mengganggu, bahkan menghinanya. Dia tahu diri. Dia memang
anak cacat, bongkok dan hal itu tidak perlu dibantahnya.
Akan tetapi, melihat betapa tiga orang anak memegangi kaki tangan Bi Sian, mukanya berubah merah dan
kedua matanya mengeluarkan sinar berapi. Dia boleh menahan semua hinaan yang dilontarkan kepada
tubuhnya yang bongkok, akan tetapi jelas bahwa dia tidak mungkin membiarkan mereka itu mengeroyok
dan memegangi Bi Sian.
“Anak-anak jahat! Lepaskan Bi Sian!” bentaknya sambil menghampiri tiga orang yang masih memegangi
anak perempuan itu.
Akan tetapi Lu Ki Cong dan seorang temannya yang bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam, nampaknya
seperti jagoan muda, menghadangnya. Lu Ki Cong dan anak muka hitam itu adalah murid-murid dari guru
silat bayaran terpandai di kota itu.
“Heh, monyet bongkok, kami akan melepaskan nona Yauw jika telah kenyang menghajar mukamu yang
buruk!” kata Lu Ki Cong sambil melayangkan tinjunya ke arah muka Sie Liong.
Sie Liong belum pernah berkelahi seumur hidupnya. Akan tetapi selama ini dia dengan tekun mempelajari
ilmu silat dari Bi Sian, dan dengan rajin sekali, lebih rajin dari Bi Sian sendiri, dia melatih ilmu-ilmu atau
gerakan silat itu di dalam kamarnya, atau di tempat sunyi di mana tidak ada orang melihatnya. Karena itu,
dia telah memiliki kepekaan dan gerakan otomatis.
dunia-kangouw.blogspot.com
Meski dia belum pernah berkelahi, namun dia sudah dapat mengenal gerakan-gerakan dalam latihan itu
seperti gerakan untuk mengelak, menangkis, memukul, menendang dan sebagainya. Kini, melihat tangan
Ki Cong melayang ke arah mukanya, secara otomatis tubuh Sie Liong bergerak ke belakang dan pukulan
itu pun luput!
Ki Cong menyusulkan tendangan kakinya ke arah perut Sie Liong, akan tetapi anak ini pun dengan
gerakan otomatis menggerakkan tangan kirinya menangkis ke samping.
“Dukkk!” Kaki yang menendang itu pun tertangkis.
Melihat betapa dua kali serangannya dapat dielakkan dan ditangkis, Lu Ki Cong menjadi penasaran sekali.
Tadinya dia mengira bahwa dengan sekali pukul saja, dia sudah akan bisa merobohkan Si Bongkok ini.
Dan tangkisan tadi pun kuat sekali sehingga dia merasa kakinya nyeri.
Temannya yang lebih tua darinya dan mempunyai ilmu silat yang lebih pandai, segera menerjang ke depan
dan menghujankan serangan. Lu Ki Cong juga menyerang lagi, sehingga kini Sie Liong dikeroyok dua! Dua
orang itu memukul dan menendang dengan gencar dan penuh kemarahan.
Ilmu silat yang pernah dipelajari Sie Liong hanya melalui Bi Sian dan tidak pernah dia mendapatkan
bimbingan guru. Maka gerakan-gerakan yang dipelajarinya itu tidak lebih hanya gerakan kembangan saja,
seperti tarian. Maka, pada saat menghadapi serangan sungguh-sungguh yang dilakukan dua orang anak
laki-laki yang sudah biasa berkelahi, tentu saja dia kewalahan.
Tadinya dia hanya ingin menolong Bi Sian, tidak ingin memukul orang. Akan tetapi, kini tubuhnya mulai
menjadi bulan-bulanan pukulan dan tendangan! Untung baginya bahwa berkat kerajinannya bekerja dan
bangun pagi-pagi sekali melakukan segala pekerjaan berat, tubuhnya menjadi sehat dan kuat sekali.
Pukulan dan tendangan yang diterimanya itu hanya mendatangkan rasa nyeri, akan tetapi tidak sampai
merobohkannya.
Setelah kini tubuhnya serta mukanya menjadi sasaran pukulan dan tendangan, merasa betapa tubuhnya
nyeri-nyeri, Sie Liong menjadi marah! Apa lagi dia mendengar Bi Sian berteriak-teriak.
“Jangan pukuli paman Liong! Lepaskan dia, jangan pukuli dia! Ahhh, kalian anak-anak jahat, iblis siluman.
Lepaskan aku, biar aku yang melawan kalian!”
“Plakkk!”
Dia menangkis pukulan Ki Cong dan membiarkan saja pukulan si muka hitam mengenai dadanya. Akan
tetapi dia lalu membalas kepada Ki Cong dengan pukulan tangan kanan ke arah leher putera komandan
itu.
“Desss!”
Tenaga Sie Liong memang besar dan pukulan itu keras sekali, juga mengenai pangkal leher dengan tepat
sehingga tubuh Ki Cong terputar lalu dia roboh dan mengaduh-aduh.
Si muka hitam menyerang dari samping, tangan kanannya berhasil mencengkeram muka Sie Liong.
Agaknya dia bermaksud untuk mencengkeram mata Sie Liong, namun terlalu rendah sehingga yang
dicengkeram adalah hidung dan mulut Sie Liong. Cengkeraman itu keras dan kalau dilanjutkan, tentu
hidung dan bibir Sie Liong dapat robek terluka.
Karena kesakitan, Sie Liong membuka mulutnya dan menggigit jari telunjuk yang berada di mulutnya,
menggigit dengan keras mengerahkan tenaganya.
“Krekk!”
Hampir saja jari itu putus oleh gigitan Sie Liong. Setidaknya, tentu buku jarinya sudah retak-retak. Anak
bermuka hitam itu menjerit-jerit kesakitan.
Sie Liong lantas melepaskan gigitannya dan anak itu memegangi jari tangannya sambil meloncat-loncat
kesakitan. Rasa nyeri menusuk jantungnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Lu Ki Cong yang tadi terpukul pangkal lehernya, sekarang sudah bangun lagi. Dengan kemarahan
berkobar dia menggunakan kedua tangannya memukul dari atas ke arah ubun-ubun kepala Sie Liong.
Karena tubuhnya jangkung, maka dia dapat melakukan serangan seperti itu dan kalau mengenai ubunubun
kepala, mungkin saja Sie Liong akan terluka parah atau setidaknya akan roboh pingsan.
Sie Liong yang merasa nyeri-nyeri seluruh tubuhnya itu, tidak mau lagi menerima pukulan begitu saja. Dia
mengangkat kedua lengannya ke atas dengan jurus yang dikenalnya dari Bi Sian. Jurus itu menurut Bi Sian
bernama ‘Dua Tiang Penyangga Langit’. Kedua lengannya dengan kekuatan sepenuhnya diangkat ke atas
menangkis dua tangan lawan yang menghantam ubun-ubun kepalanya.
“Dukkk!”
Kuat sekali kedua lengan Sie Liong itu. Lu Ki Cong sampai berteriak kesakitan ketika kedua lengannya
bertemu dengan dua lengan lawan yang menangkisnya.
Pada saat itu, Sie Liong melihat betapa dada lawannya ‘terbuka’ sampai ke perut. Dia cepat merendahkan
tubuhnya. Kepalanya yang memang sudah terjulur ke depan karena bongkoknya itu ditundukkan dan
dengan sepenuh tenaga dia pun menyeruduk ke depan! Kepalanya secara telak mengenai perut Lu Ki
Cong.
“Bukkk!”
Dan tubuh Lu Ki Cong terjengkang dan terbanting, dia batuk-batuk dan muntah darah!
Sie Liong tidak melihat lagi keadaan lawan-lawannya yang telah roboh itu. Si muka hitam mengaduh-aduh
memegangi telunjuk kanannya yang hampir putus tergigit, sedangkan Ki Cong tidak mampu bangkit,
mengerang kesakitan dan napasnya agak terengah-engah. Sie Liong hanya memperhatikan Bi Sian.
Kini ia meloncat dan menerjang tiga orang anak yang masih memegangi kaki dan tangan Bi Sian. Disergap
dengan penuh kemarahan oleh Sie Liong, tiga orang anak itu terpaksa melepaskan Bi Sian dan kini Sie
Liong dan Bi Sian mengamuk.
Tiga orang anak itu sama sekali tidak mampu membalas dan mereka itu menerima hujan pukulan dan
tendangan Bi Sian sehingga akhirnya mereka minta-minta ampun, bahkan dua orang di antaranya
menangis, dan lima orang anak itu lalu melarikan diri, ada yang terseok-seok ada yang setengah
merangkak!
Sie Liong dan Bi Sian tidak mengejar. Bi Sian memandang Sie Liong dengan mata penuh kekaguman.
“Paman Liong, engkau sungguh hebat! Engkau mampu mengalahkan mereka...,” kata Bi Sian sambil maju
dan memegangi kedua tangan pamannya, memandang wajah paman cilik itu dengan penuh kekaguman.
“Dan engkaulah yang telah menolongku, paman!”
Sie Liong merasa betapa hatinya girang bukan main menerima pujian ini. Serasa lenyap semua nyeri di
tubuhnya oleh pandang mata dan ucapan keponakannya itu. Rasa girang ini bergelimang rasa malu dan
dia pun dengan lembut menarik kedua tangannya sambil membuang muka.
“Ahhh... sudahlah, Bi Sian. Di mana barang-barang kita? Wah, wah, itu ayam-ayamnya berloncatan jauh.
Mari kita kumpulkan!”
Mereka berdua lalu mengumpulkan barang belanjaan yang cerai berai, dan betapa pun mereka mencari,
ayam yang lima ekor itu tinggal tiga ekor saja. Juga ada banyak barang belanjaan menjadi rusak terinjak
dan kotor. Sie Liong menarik napas panjang.
“Ahh, aku tentu akan dimarahi enci Hong!”
“Tidak, biar aku yang bercerita bahwa kita diganggu anak-anak nakal kepada ibu!”
“Jangan, Bi Sian! Jangan ceritakan bahwa aku telah berkelahi. Ah, cihu tentu akan marah kepadaku...!”
“Mengapa ayah harus marah? Bukankah engkau sudah menolongku, paman? Biar nanti aku yang
menceritakan dan kalau ayah dan ibu tetap marah kepadamu, aku yang akan membelamu!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Jangan, Bi Sian. Kuminta sekali lagi kepadamu agar jangan ceritakan bahwa aku telah berkelahi. Cihu
sudah berkali-kali memperingatkan supaya aku tidak berkelahi. Dia tentu akan marah dan bersedih kalau
melihat aku tidak mentaati pesannya. Ah, aku tidak ingin membikin cihu bersedih. Dia sudah begitu baik
kepadaku. Kuminta, jangan kau ceritakan bahwa aku berkelahi!”
Bi Sian memandang wajah paman cilik itu. Tangannya lalu bergerak ke arah muka itu, dengan lembut ia
meraba-raba muka yang bengkak-bengkak dan biru itu. “Sakit-sakitkah mukamu dan badanmu, paman
Liong? Aku tadi sempat melihat betapa engkau dipukuli dan ditendangi...”
Tiba-tiba rasa nyeri itu datang lagi, akan tetapi Sie Liong menggigit bibirnya. “Tidak, tidak berapa nyeri...”
“Paman, kalau nanti aku tidak boleh menceritakan bahwa engkau telah menolongku dan berkelahi
mengalahkan lima orang anak nakal yang jauh lebih kuat dan lebih tua darimu, lalu apa yang akan kita
katakan kalau ayah dan ibu melihat mukamu yang bengkak-bengkak ini dan bertanya?”
Sie Liong meraba mukanya. Dia tidak dapat melihat mukanya yang lebam membiru, akan tetapi dapat
merasakan nyeri di tepi kedua matanya dan di pipi kirinya, juga dia dapat merasakan betapa pipinya itu
membengkak. Karena itu dia tidak dapat membayangkan bahwa dari mukanya akan mudah kelihatan
bekas-bekas perkelahian.
“Ah, bagaimana baiknya...? Aku tidak ingin cihu bersedih dan enci Hong marah-marah.” Dia kelihatan
bingung.
Melihat kesungguhan hati Sie Liong yang tidak ingin diketahui ayah ibunya bahwa dia telah berkelahi, Bi
Sian merasa kasihan walau pun dianggapnya sikap itu berlebihan.
“Baiklah, paman. Aku tidak akan menceritakan mereka tentang perkelahianmu. Aku akan menerangkan
bahwa mukamu bengkak-bengkak karena ada lima orang anak nakal yang mengganggu kita. Engkau
dipukuli, lalu aku melawan mereka sehingga mereka kabur. Nah, dengan begitu engkau terhindar dari
sangkaan berkelahi dan karena aku yang berkelahi, maka kehilangan ayam dan barang-barang adalah
tanggung-jawabku.”
“Dan engkau akan kelihatan gagah berani. Aku senang sekali, akan tetapi kalau engkau dimarahi enci
Hong tentang kehilangan itu, biarlah kukatakan bahwa barang-barang itu tadinya kubawa, dan hilang
karena aku dipukuli mereka. Dan engkau tak dapat menjaga barang-barang itu karena engkau dikeroyok
lima.”
Bi Sian mengangguk dan mereka lalu pulang. Benar saja seperti yang dikhawatirkan Sie Liong, mereka
disambut oleh Yauw Sun Kok dan Sie Lan Hong dengan mata terbelalak dan penuh keheranan.
“Aihh! Apa yang telah terjadi? Berantakan dan kotor semua barang belanjaan ini! Dan ayamnya hanya tiga
ekor? Ehh, apa yang telah terjadi, Sie Liong dan Bi Sian?” Sie Lan Hong berseru dengan alis berkerut.
”Sie Liong! Engkau tadi berkelahi, ya? Berani engkau berkelahi?” Yauw Sun Kok berseru marah ketika
melihat wajah adik isterinya itu bengkak-bengkak.
Sie Liong hanya menundukkan mukanya, khawatir kalau-kalau kakak iparnya itu akan melihat
kebohongannya kalau dia membuka suara.
Bi Sian sudah melangkah maju di depan Sie Liong dan dengan lantang juga berani ia lalu berkata, “Ayah!
Ibu! Jangan marah kepada paman Liong! Dia sama sekali tidak bersalah! Akulah yang bersalah sehingga
barang belanjaan berantakan dan ada yang hilang dan akulah yang berkelahi!”
Mendengar kata-kata dan melihat sikap puteri mereka itu, Yauw Sun Kok memandang dengan mata
bersinar bangga dan wajah berseri. “Bi Sian, engkau berkelahi? Mengapa? Ceritakan apa yang sudah
terjadi dan mengapa pula wajah Sie Liong bengkak-bengkak, dan mengapa pula barang belanjaan menjadi
kotor berantakan dan ada yang hilang?”
Lan Hong yang merasa kasihan melihat adiknya yang bongkok itu kelihatan kesakitan dan mukanya
bengkak-bengkak, lalu berkata, “Biarkan mereka duduk. Sie Liong, engkau minumlah dulu, engkau juga Bi
Sian.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kedua orang anak itu minum air teh yang semenjak tadi tersedia di atas meja, kemudian mereka berempat
duduk menghadapi meja. Bi Sian lalu mulai bercerita.
“Pada waktu kami pulang dari pasar, di jalan yang sepi di dekat ladang itu kami dihadang oleh lima orang
anak laki-laki yang usianya kurang lebih lima belas tahun, ayah. Mereka itu anak-anak nakal. Mereka
menggoda dan memaki paman Liong, mengatakan paman monyet bongkok. Paman diam saja, akan tetapi
aku yang tidak kuat menahan. Aku balas memaki mereka, bahkan aku lalu memukul mereka. Tetapi
mereka lalu memukuli paman Liong yang tidak melawan. Aku menjadi marah dan aku lalu berkelahi
dengan mereka, sementara paman Liong masih dipukuli. Akhirnya, aku berhasil mengusir mereka, ayah.
Barang belanjaan menjadi kocar-kacir, lima ekor ayam itu terlepas dan kami hanya dapat menemukan
kembali tiga ekor saja. Aku yang berkelahi, ayah, akan tetapi lima orang anak itu jahat sekali seperti setan.
Apa lagi yang seorang, yang jangkung dan berjerawat mukanya. Kata orang, dia itu anak komandan
keamanan di kota ini, ayah.”
“Apa?! Putera Lu Ciangkun (Perwira Lu)?” Sun Kok bertanya kaget sekali. “Kalau begitu anak itu adalah Lu
Ki Cong!”
“Kami tak tahu namanya, ayah, hanya ada seorang kakek di jalan yang memperingatkan aku bahwa anak
itu adalah putera komandan pasukan keamanan di Sung-jan.”
“Aihh!” Yauw Sun Kok menepuk pahanya sendiri.
Tentu saja dia mengenal baik Lu Ciangkun! Perwira itu bukan hanya sahabat baiknya, bahkan di antara
mereka pernah timbul percakapan tentang menjodohkan anak masing-masing satu sama lain.
Perwira itu hanya memiliki seorang anak saja, yaitu anak laki-laki bernama Lu Ki Cong. Meski pun belum
diresmikan, bahkan isterinya sendiri belum diberi tahu tentang hal itu, di antara kedua orang itu seperti
sudah ada ikatan. Dan sekarang, mereka berkelahi!
Lalu dia memandang kepada Sie Liong, dan bertanya kepada puterinya.
“Bi Sian, coba ceritakan sekali lagi yang jelas. Apa yang menjadi sebab perkelahian itu? Mengapa mereka
itu menggoda dan mengganggu Sie Liong?”
Bi Sian bersungut-sungut, “Anak jerawatan itu mengatakan bahwa tidak pantas paman Liong mengantar
aku ke pasar. Katanya dia yang hendak mengantar, dan dia mengusir paman Liong. Ketika aku marah dan
memakinya, dia bersama teman-temannya malah memukuli paman Liong.”
Ah, kini mengertilah Sun Kok. Anak sahabatnya itu cemburu! Tentu saja! Agaknya anak itu telah diberi tahu
oleh orang tuanya bahwa dia akan dijodohkan dengan Bi Sian, maka begitu melihat Bi Sian berjalan
dengan Sie Liong, anak itu cemburu dan iri! Pantas kalau begitu, dan Sun Kok lalu tertawa bergelak. Tentu
saja isterinya menjadi heran, juga Bi Sian memandang ayahnya dengan mata terbelalak.
“Mengapa ayah tertawa?” tanyanya berani.
Sun Kok masih tertawa bergelak. Mendengar pertanyaan puterinya itu, dia berkata sambil tersenyum. “Haha,
dia cemburu! Lu Ki Cong itu mencemburukan engkau dan Sie Liong! Ha-ha-ha, bagaimana dia bisa
cemburu? Sie Liong adalah seorang anak cacat... ehh, dia kan pamanmu sendiri! Apakah dia tidak kau beri
tahu?”
Bi Sian menjadi penasaran. “Sudah kuberi tahu bahwa dia pamanku. Akan tetapi kenapa dia cemburu,
ayah? Ada hak apa dia cemburu?”
Yauw Sun Kok masih tersenyum ketika menjawab. “Tentu anak itu sudah mendengar dari ayahnya akan
rencana ayahnya dan aku untuk menjodohkan engkau dengan dia...”
“Ayah...!” Bi Sian berteriak, matanya terbelalak memandang ayahnya, alisnya berkerut.
Sejenak anak ini memandang ayahnya dengan muka merah dan mata merah, tetapi ia lalu lari masuk ke
dalam kamarnya. Melihat ini, Sie Liong yang sejak tadi menundukkan mukanya, lalu mengundurkan diri ke
dapur sambil membawa barang-barang belanjaan untuk menyerahkan kepada pelayan di dapur.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aih, Sian-ji masih kanak-kanak, baru juga sebelas tahun usianya. Bagaimana kau bicara tentang
perjodohan dengan ia yang belum mengerti apa-apa itu?” Sie Lan Hong menegur suaminya.
Suaminya hanya tersenyum. “Kalau tidak ada peristiwa perkelahian itu, tentu aku belum akan menceritakan
kepadanya. Apa lagi, ikatan jodoh itu baru merupakan omong-omong antara kawan saja, belum resmi
mereka meminang. Karena itu, engkau pun belum kuberi tahu. Bagaimana pun juga, Lu-ciangkun adalah
sahabatku. Peristiwa perkelahian antara kedua orang anak yang ingin kami jodohkan itu sungguh membuat
hatiku tidak enak. Apa lagi kalau sampai puteranya terluka oleh tangan Bi Sian yang galak. Biarlah aku
pergi ke sana untuk minta maaf.” Yauw Sun Kok lalu pergi dari rumahnya, mengunjungi rumah Komandan
Lu.
Sie Lan Hong lalu memasuki kamar puterinya dan disambut oleh anaknya yang matanya merah karena
baru saja menangis. Melihat ibunya, Bi Sian lalu bertanya dengan wajah bersungut-sungut. “Ibu, aku tidak
sudi dijodohkan dengan tikus jerawatan itu!”
“Ehhh? Tikus jerawatan yang mana?” ibunya bertanya heran karena dia memang tidak mengerti.
“Itu, anak bengal putera Lu-ciangkun! Benarkah aku akan dijodohkan dengan dia, ibu? Kalau benar, aku
akan minggat saja!”
“Hushhh, itu hanya kelakar ayahmu dan sahabatnya saja. Belum ada pinangan resmi dan kalau ada
pinangan, tentu ayahmu akan mengajak aku berunding, dan engkau pun akan kuberi tahu. Sudahlah,
jangan marah. Karena perkelahian itu, ayahmu merasa tidak enak terhadap Lu-ciangkun yang menjadi
sahabat baiknya dan sekarang dia pergi ke sana untuk minta maaf.”
“Ayah pergi ke rumahnya? Celaka...!” Akan tetapi Bi Sian segera menutup mulut dengan tangan.
Terlambat. Ibunya sudah mendengar ucapan itu dan melihat sikap puterinya, Lan Hong merasa curiga.
“Sian-ji, ada apakah? Mengapa engkau terkejut dan gelisah mendengar ayahmu pergi ke rumah Luciangkun?
Mengapa engkau mengatakan celaka tadi?”
Bi Sian maklum bahwa kalau ayahnya pergi ke rumah tikus jerawatan itu, tentu ayahnya akan mendengar
segalanya dan ibunya akhirnya juga akan tahu. Lebih baik ia lebih dulu memberi tahukan ibunya dan
menarik ibunya di pihaknya supaya nanti membela dia dan pamannya.
“Ibu, aku tadi... berbohong kepada ayah, maka aku amat kaget mendengar ayah pergi ke rumah komandan
itu,” katanya mengaku.
“Bohong? Bohong bagaimana, Bi Sian?”
“Aku memang berkelahi dengan lima orang anak nakal itu, akan tetapi aku telah mereka tangkap dan tidak
berdaya. Mereka lalu memukuli paman Sie, dan melihat aku ditangkap, paman Sie lalu mengamuk dan
kelima orang itu dia hajar sampai luka-luka dan mereka semua melarikan diri.”
“Sie Liong? Tidak mungkin!” kata Sie Lan Hong. Bagaimana adiknya yang bongkok dan lemah itu dapat
mengalahkan lima orang anak nakal yang lebih besar?
“Benar, ibu. Aku tidak berbohong.”
Bi Sian lalu menceritakan semua yang sudah terjadi. Betapa lima orang anak nakal itu menghina Sie Liong
akan tetapi pamannya itu diam saja. Dialah yang marah-marah dan memukul. Akhirnya tiga orang anak
memegangi kaki tangannya dan dua orang anak lain memukuli Sie Liong. Akhirnya Sie Liong mengamuk
dan berhasil menolongnya. Mereka berdua lalu menghajar lima orang anak itu sehingga melarikan diri.
“Paman Liong minta kepadaku, supaya jangan bercerita kepada ayah dan ibu bahwa dia ikut berkelahi,
maka aku lalu berbohong. Akan tetapi sekarang ayah pergi ke sana, tentu tikus jerawatan itu akan
mengadu kepada ayah dan menceritakan bahwa paman Liong yang memukulnya.”
Sie Lan Hong masih bingung dan heran. “Tapi... tapi... Sie Liong cacat dan lemah....”
dunia-kangouw.blogspot.com
Walau pun matanya masih merah oleh tangisnya tadi, kini Bi Sian tersenyum, senyum bangga bahwa
hanya ialah satu-satunya orang yang tahu akan rahasia pribadi Sie Liong.
“Jangan ibu kira bahwa paman Liong seorang yang lemah! Selama ini dia mempelajari semua ilmu silat
yang diajarkan ayah kepadaku, dan dia bahkan lebih lihai dari pada aku, ibu. Ketika melawan anak-anak
nakal itu, dia hebat bukan main!”
Terkejutlah hati Sie Lan Hong mendengar ini. Adiknya telah mempelajari ilmu silat! Ahhh, jantungnya
berdebar penuh ketegangan.
Hal itulah yang sangat dibenci suaminya, dikhawatirkan suaminya. Ia tahu benar bahwa suaminya ingin
melihat Sie Long sebagai seorang anak cacat yang lemah, yang tidak mungkin untuk melakukan
kekerasan. Ada alasan yang amat kuat mengapa suaminya menginginkan Sie Liong menjadi anak lemah.
Tentu agar anak itu kelak tidak mempunyai pikiran untuk membalas dendam!
Perih rasa hati Lan Hong. Ia sendiri sering kali termenung dan merasa berdosa kepada ayah ibunya. Ayah
ibunya dibunuh oleh Yauw Sun Kok, walau pun dengan alasan untuk membalas kematian isteri pertama
suaminya itu. Dan dia telah terpaksa menyerahkan diri kepada Sun Kok demi menyelamatkan adiknya.
Akan tetapi akhirnya ia jatuh cinta kepada suaminya ini, apa lagi setelah ia melahirkan seorang anak
perempuan. Ia pun tak menginginkan terjadi permusuhan antara Sie Liong dan suaminya. Akan tetapi,
sekarang terjadi peristiwa itu dan suaminya tentu akan marah sekali mendengar bahwa Sie Liong telah
mempelajari ilmu silat.
“Sian-ji... jangan... jangan kau menceritakan hal itu kepada ayahmu. Ayahmu tidak suka mendengar Sie
Liong belajar ilmu silat.”
“Tapi, kenapa ibu? Kenapa ayah tidak suka kalau paman Liong belajar ilmu silat? Paman Liong juga
mengatakan begitu. Akan tetapi kenapa? Aku yang seorang anak perempuan, sejak kecil sudah dilatih silat
oleh ayah. Akan tetapi paman Liong adalah seorang anak laki-laki, dan tubuhnya cacat, lemah pula, maka
sudah sepatutnya kalau dia belajar ilmu silat agar sehat dan kuat. Kenapa ayah justru melarangnya?”
“Ayahmu... lebih tahu, anakku. Tubuh pamanmu itu cacat, apa lagi cacat di punggung. Berbahaya sekali
jika dia mempelajari ilmu silat. Sudahlah, lebih baik kau tidak bercerita apa-apa kepada ayahmu.”
Akan tetapi hal itu tidak ada gunanya. Mereka mendengar kedatangan Yauw Sun Kok yang berteriak
memanggil Sie Liong. Bergegas ibu dan anak ini keluar dengan hati yang penuh kekhawatiran. Mereka
melihat Sun Kok sudah duduk di ruangan dalam dengan muka merah.
Memang Sun Kok marah sekali. Ketika ia berkunjung ke rumah sahabatnya, Lu-ciangkun, ia bukan saja
mendengar bahwa yang memukuli putera sahabatnya itu adalah Sie Liong, bahkan anak laki-laki jangkung
itu masih rebah di pembaringan karena dia mengalami luka di perutnya, akibat benturan kepala Sie Liong.
Sahabatnya itu bahkan mengatakan bahwa Sie Liong itu ganas dan berbahaya sekali.
“Bukan hanya Ki Cong yang terluka parah, bahkan kawan-kawannya juga terluka parah oleh anak bongkok
itu. Dia sungguh ganas, liar dan berbahaya sekali.”
Tentu saja Sun Kok marah bukan main kepada adik isterinya itu. Bagaimana Sie Liong dapat menjadi
seorang anak yang demikian kuat dan menurut penuturan Ki Cong, pandai silat pula? Teringatlah dia akan
keadaannya sendiri.
Kalau Sie Liong dibiarkan terus menerus mempelajari ilmu silat sampai menjadi seorang yang pandai,
kelak keselamatan nyawanya tentu akan terancam! Tapi, jalan satu-satunya untuk mengatasi ini hanya
membunuh anak itu, padahal dia tidak mau melakukan hal itu.
Bukan hanya karena dia pernah bersumpah kepada isterinya bahwa selamanya dia tidak akan membunuh
Sie Liong, akan tetapi juga dia tidak tega kalau harus membunuhnya. Bagaimana pun juga, harus dia akui
bahwa Sie Liong adalah seorang anak yang sangat baik, rajin, penurut dan pendiam. Akan tetapi
bagaimana tahu-tahu dia dapat mempunyai kepandaian ilmu silat?
“Sie Liong...!” Yauw Sun Kok memanggil lagi dengan suara nyaring.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pada saat itu muncullah Sie Liong. Mukanya masih bengkak-bengkak dan tangannya masih basah karena
ketika dipanggil, dia sedang membersihkan jendela-jendela rumah itu dengan lap dan air.
“Ci-hu memanggil saya?” tanyanya kepada cihu-nya. Dengan sikap tenang dia berdiri di depan cihu-nya
yang duduk dan memandang kepadanya dengan mata bernyala.
“Sie Liong, dari siapa engkau mempelajari ilmu silat?” bentak Yauw Sun Kok.
Diam-diam Sie Liong terkejut mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu, namun anak ini memang memiliki
ketabahan yang luar biasa sehingga wajahnya yang bengkak-bengkak itu tidak memperlihatkan apa-apa.
Ingin dia memandang kepada Bi Sian karena hanya Bi Sian yang tahu bahwa dia mempelajari ilmu silat.
Apakah anak perempuan itu yang memberi tahukan ayahnya? Akan tetapi jelas bukan, karena kalau Bi
Sian sudah memberi tahu, tak mungkin cihu-nya bertanya dari siapa dia mempelajari ilmu silat. Lalu
bagaimana baiknya? Dia tidak ingin melibatkan Bi Sian, takut kalau-kalau anak perempuan itu
mendapatkan marah dari ayahnya.
Sie Liong menggeleng kepalanya dan memandang wajah cihu-nya dengan berani.
“Saya tidak belajar silat dari siapa pun, cihu.”
“Brakkk!”
Yauw Sun Kok menggebrak meja di depannya sehingga ujung meja itu retak.
“Bohong kau! Aku tahu bahwa engkaulah yang memukuli putera Lu-ciangkun dan kawan-kawannya, dan
engkau mengalahkan mereka dengan ilmu silat! Hayo katakan dari siapa engkau belajar ilmu silat!”
“Ayah, yang memukuli adalah si tikus jerawatan itu dan kawan-kawannya, mereka yang lebih dulu
menghina dan memukul!” Bi Sian memprotes.
“Diam kau! Tadi kau sudah membohongi aku dan mengatakan bahwa Sie Liong tidak berkelahi! Sie Liong,
hayo katakan dari siapa engkau belajar ilmu silat!”
Sie Liong sudah mengambil keputusan tetap untuk tidak melibatkan keponakannya yang selalu mencoba
untuk membelanya itu. “Cihu, memang saya mempelajari ilmu silat, akan tetapi tidak ada gurunya. Saya
belajar sendiri.”
Yauw Sun Kok memandang dengan mata melotot. “Tidak mungkin bisa belajar silat tanpa guru! Coba kau
mainkan beberapa jurus ilmu silatmu, ingin aku melihat ilmu silatmu!” katanya, setengah mengejek,
setengah marah. “Hayo cepat, jangan membuat aku hilang kesabaran, Sie Liong! Engkau sudah
melanggar laranganku!”
Sie Liong memandang pada enci-nya. Sang enci merasa kasihan kepada adiknya, akan tetapi dia tahu
bahwa kalau permintaan suaminya itu tidak dituruti, maka dia tentu akan menjadi semakin marah.
Bagaimana pun juga, kemarahan suaminya itu cukup beralasan karena larangannya sudah dilanggar oleh
Sie Liong. Maka dia lalu mengangguk kepada adiknya itu.
“Engkau mainkanlah ilmu silat yang pernah kau pelajari agar cihu-mu melihatnya, Sie Liong,” katanya
lembut.
Mendengar ucapan isterinya ini, diam-diam Yauw Sun Kok mengira bahwa tentu isterinya yang secara
diam-diam telah mengajarkan ilmu silat kepada adiknya itu, maka dia sudah merasa mendongkol sekali.
“Baiklah, cihu. Akan tetapi harap jangan ditertawakan sebab permainanku tentu jelek dan tidak karuan.”
Maka dia pun lalu memasang kuda-kuda dan menggerakkan kaki tangannya seperti jika dia berlatih silat
menirukan semua gerakan yang dilakukan Bi Sian di waktu berlatih silat. Baru beberapa jurus Sie Liong
bergerak, Sun Kok sudah terkejut sekali karena gerakan-gerakan anak laki-laki itu adalah gerakan ilmu
silatnya sendiri! Dan gerakan itu demikian lincah dan gesit, juga penuh tenaga, jauh lebih baik dari pada
gerakan Bi Sian.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Berhenti...!” bentaknya sambil meloncat dari atas kursinya dan berdiri di depan Sie Liong yang segera
menghentikan gerakan kaki tangannya. “Hayo katakan, dari siapa engkau mempelajari semua gerakan
ilmu silat itu!”
“Maaf, cihu. Saya mempelajarinya dengan... mencuri lihat dan mengintai ketika... Bi Sian sedang berlatih
silat. Semua gerakannya itu saya catat dan hafalkan di dalam hati, lalu saya menirukan gerakangerakannya
itu di dalam kamar dan saya latih terus setiap hari. Saya tidak berniat buruk, hanya ingin sekali
mempelajarinya...”
Yauw Sun Kok bernapas lega. Jadi bukan isterinya dan bukan puterinya yang mengajar anak ini. Akan
tetapi, jelas bahwa anak ini memiliki bakat yang sangat baik. Padahal dia sudah bongkok, namun tetap saja
dapat mempelajari ilmu silat jauh lebih maju dari pada Bi Sian. Dia pun mencari akal.
“Sie Liong, pada waktu aku melarang engkau belajar silat, tentu hal itu sudah kupikirkan masak-masak,
demi kebaikanmu sendiri. Tubuhmu cacat, tulang pungungmu bongkok, sungguh tidak baik bahkan
berbahaya sekali jika engkau mempelajari ilmu silat! Engkau tidak percaya? Nah, boleh kita berlatih silat
sebentar. Keluarkan semua jurus yang sudah kau pelajari, dan serang aku dengan sungguh-sungguh
seperti aku pun akan menyerang engkau dengan jurus yang sama. Engkau akan melihat sendiri nanti.
Hayo, seranglah!”
Sie Liong mengira bahwa dia akan memperoleh petunjuk dari cihu-nya yang biasanya amat sayang
kepadanya. Sedikit pun dia tidak menaruh hati curiga dan dia pun mentaati perintah itu. Dia lalu mulai
menggerakkan kaki tangannya, menyerang cihu-nya dengan jurus-jurus silat yang pernah dilatihnya.
Sie Lan Hong memandang dengan jantung berdebar. Wanita ini masih belum tahu apa yang dikehendaki
oleh suaminya. Ia sendiri juga terkejut karena sama sekali tidak pernah menyangka bahwa adiknya ini
ternyata benar-benar sudah menguasai gerakan silat yang lebih baik dari pada puterinya.
Dengan mata terbelalak, Bi Sian juga memperhatikan gerakan Sie Liong. Ia pun mengira bahwa ayahnya
akan memberi petunjuk kepada pamannya itu. Ia merasa terharu ketika mendengar betapa pamannya itu
sengaja berbohong, mengatakan bahwa dia mengintai dan mencuri pelajaran silat itu, tidak mau
melibatkannya. Betapa pamannya itu sangat sayang kepadanya dan ia pun merasa amat sayang kepada
pamannya itu.
Diam-diam Yauw Sun Kok terkejut. Ternyata gerakan Sie Liong selain baik sekali, juga anak ini memiliki
tenaga yang jauh lebih besar jika dibandingkan anak-anak sebayanya. Tentu saja jauh lebih menang
dibandingkan Bi Sian. Tidak mengherankan bila lima orang anak nakal itu kalah olehnya. Dan kalau
dibiarkan terus anak ini memperdalam ilmu silat, tidak salah lagi, dia kelak akan menjadi orang pandai dan
akan membahayakan dirinya!
Setelah menghadapi serangan-serangan Sie Liong untuk mengujinya sampai belasan jurus, mulailah Yauw
Sun Kok menyerang! Sie Liong juga berusaha mempertahankan diri dengan elakan dan tangkisan karena
cihu-nya menyerang dengan jurus-jurus yang telah dikenalnya. Akan tetapi dia tidak tahu apa yang
tersembunyi di dalam benak cihu-nya.
Tiba-tiba gerakan tangan cihu-nya demikian cepatnya sehingga Sie Liong tidak mampu melindungi
tubuhnya.
“Plakkk! Plakkk!”
Dua kali tangan Yauw Sun Kok menyambar dan mengenai pangkal leher Sie Liong dan ketika tubuh anak
itu masih berputar, sekali lagi tangannya menghantam punggung yang bongkok. Sie Liong mengeluh
pendek dan dia pun roboh terpelanting, muntah darah!
Agaknya Yauw Sun Kok masih belum puas. Akan tetapi tiba-tiba Bi Sian sudah menubruk tubuh Sie Liong
dan melindunginya!
“Ayah, kenapa ayah memukul paman Liong?” Anak ini hampir menangis. Lan Hong juga sudah melompat
di depan suaminya dan memandang tajam.
“Apa yang kau lakukan?” katanya dengan suara nyaring dan mata memandang tajam.
dunia-kangouw.blogspot.com
Yauw Sun Kok menurunkan kedua tangannya. “Hemm, aku hanya ingin memperlihatkan kepada dia
betapa berbahayanya dia berlatih silat! Kalau pungungnya tidak cacat seperti itu, pukulanku tadi tidak akan
membuatnya muntah darah.”
Untunglah tadi dia masih ingat sehingga dia mengurangi tenaga pada pukulannya. Kalau tidak, tentu anak
itu sudah roboh tewas dan ini berarti dia melanggar sumpahnya dan tentu akan terjadi perubahan dalam
hubungannya dengan isterinya tercinta.
Bi Sian cepat membantu Sie Liong bangkit. Anak laki-laki itu sama sekali tidak kelihatan menyesal atau
marah, walau pun dia menyeringai kesakitan dan mengusap darah dari bibirnya dengan ujung lengan
bajunya. Bi Sian bangkit dan memandang ayahnya dengan marah.
“Ayah kejam! Ayah telah menghajar paman Liong yang tak berdosa! Ayah, paman Liong membohong
kepada ayah karena hendak melindungi aku! Sebetulnya, dia tidak pernah mengintai, tidak mencuri ilmu
silat, melainkan akulah yang telah mengajarkan semua ilmu silat itu kepadanya! Kalau ayah mau marah
dan mau menghukum, hukumlah aku!” Anak itu berdiri tegak dengan dada membusung, seperti hendak
menantang ayahnya.
“Hushh,” ibunya cepat merangkulnya, khawatir kalau suaminya benar-benar marah dan menghajar
anaknya. Akan tetapi, Sun Kok tidak marah. Bahkan dia sudah menduga akan hal itu.
“Ayah, paman Liong tidak bersalah. Perkelahian itu terjadi karena kejahatan anak-anak nakal itu!”
“Hemm, kalau dia tidak pandai silat, tentu tidak akan terjadi parkelahian,” kata Yauw Sun Kok.
“Kalau paman Liong tidak pandai berkelahi, mungkin dia akan dipukuli sampai mati dan aku juga! Paman
Liong sama sekali tidak bersalah dan tidak adil kalau menyalahkan dia, ayah!” Kembali Bi Sian membantah
biar pun ibunya sudah mencoba untuk mencegahnya banyak bicara.
“Bi Sian, pikiranmu sungguh pendek! Coba kau bayangkan. Jika engkau pergi sendiri ke pasar tanpa Sie
Liong, atau dia pergi tanpa engkau, apakah akan terjadi perkelahian itu? Sudahlah, mulai saat ini, aku
melarang Sie Liong belajar silat darimu! Sie Liong, maukah engkau berjanji?”
Sie Liong sudah bangkit berdiri dan menundukkan mukanya. Dia merasa menyesal sekali bahwa karena
dia, Bi Sian harus menjadi seorang anak yang berani menentang ayahnya sendiri.
“Baik, cihu. Saya berjanji bahwa mulai hari ini, saya tidak akan belajar silat lagi dari Bi Sian.”
Lega rasa hati Yauw Sun Kok mendengar janji ini. Bagaimana pun juga, dia tidak pernah membenci anak
itu, bahkan dia merasa suka dan kasihan. Anak itu menjadi bongkok karena perbuatannya.
Akan tetapi dia melakukan itu bukan karena benci, melainkan karena mengkhawatirkan keselamatan
dirinya sendiri. Jika ada jaminan bahwa Sie Liong kelak tak akan membalas dendam kepadanya, mungkin
dia akan suka mewariskan seluruh kepandaiannya kepada anak yang amat baik itu.
“Coba kuperiksa tubuhmu,” katanya dan dia segera memeriksa keadaan tubuh Sie Liong.
Anak ini mengalami luka yang cukup parah, akan tetapi tidak sampai membahayakan jiwanya. Dia segera
memberi obat minum dan mengharap supaya Sie Liong benar-benar kapok dan tidak belajar ilmu silat lagi
yang hanya akan merugikan dirinya sendiri…..
********************
Meja sembahyang itu penuh dengan bermacam masakan, juga buah-buahan. Keluarga Yauw melakukan
sembahyang leluhur. Hanya setelah dia menikah dengan Sie Lan Hong saja Yauw Sun Kok mulai
mengadakan sembahyangan lagi setiap tahun.
Tadinya dia sama sekali tidak pernah sembahyang, yaitu pada waktu dia masih menjadi perampok dengan
isterinya yang pertama. Seolah-olah dia sudah melupakan begitu saja kedua orang tuanya yang telah
tiada, juga melupakan nenek moyangnya. Akan tetapi semenjak dia menjadi suami Lan Hong, isterinya ini
membujuknya sehingga setiap tahun mereka melakukan sembahyangan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sie Liong masih menderita akibat pukulan cihu-nya dua hari yang lalu. Dia masih sering batuk-batuk. Meski
kini batuknya tidak mengeluarkan darah lagi, namun kadang-kadang masih terasa nyeri pada punggungnya
yang bongkok kalau dia batuk, dan kepalanya pun terasa pusing.
Selama dua malam ini kalau sedang tidur di kamarnya, dia gelisah dan beberapa kali bahkan dia menangis
tanpa suara. Dia merasa nelangsa sekali. Cihu-nya biasanya baik kepadanya, akan tetapi kini cihu-nya
malah memukulnya.
Dan Bi Sian menjadi korban pula, ribut dengan ayahnya gara-gara dia. Dan dia teringat pula betapa Bi Sian
akan dijodohkan dengan Lu Ki Cong putera Lu-ciangkun itu! Hal ini menambah rasa duka di dalam hatinya.
Dia berduka untuk Bi Sian. Keponakannya yang manis itu, yang berhati keras akan tetapi jujur, yang
berbudi baik, tetapi akan dijodohkan dengan anak yang jahat itu!
Dia pun teringat kepada enci-nya, dan merasa kasihan kepada enci-nya. Dia merasa betapa enci-nya
sangat sayang kepadanya, dan enci-nya tentu menderita tekanan batin yang hebat ketika melihat dia
dipukul oleh cihu-nya. Mungkin akan terjadi ketegangan antara cihu-nya dan enci-nya gara-gara dia.
Dan dia pun sering kali memergoki enci-nya itu duduk melamun dan kalau sedang duduk seorang diri,
nampak betapa pada wajah yang cantik itu terbayang kedukaan yang amat mendalam. Padahal, dia tidak
melihat sesuatu yang dapat mendatangkan kesedihan di hati enci-nya.
Cihu-nya amat baik dan sayang kepada enci-nya, juga Bi Sian seorang anak yang baik, kehidupan encinya
juga sudah serba cukup dan menyenangkan. Lalu masalah apa yang menyebabkan enci-nya kadangkadang
melamun dan kelihatan seperti orang berduka?
Agaknya Yauw Sun Kok masih mendongkol akibat peristiwa dua hari yang lalu. Mukanya nampak muram.
Setelah bersembahyang dan menancapkan hio di hio-louw di atas meja sembahyang, dia pun lalu
meninggalkan ruangan itu untuk pergi ke tokonya di mana dia berdagang rempah-rempah dibantu oleh
beberapa orang pegawai.
Di ruangan sembahyang itu sekarang tinggal Sie Lan Hong, Sie Liong dan Yauw Bi Sian bertiga. Sie Lan
Hong tadi sudah bersembahyang bersama suaminya.
“Bi Sian, sekarang engkau bersembahyang bersama pamanmu Liong, beri hormat pada kakek nenek
dalam dan kakek nenek luar.” Yang disebut kakek nenek dalam ialah ayah ibu suaminya, dan kakek nenek
luar adalah ayah ibunya sendiri.
Dua orang anak itu menyalakan beberapa hio dan mulai bersembahyang. Pada waktu Sie Liong
bersembahyang, dia membayangkan ayah ibunya, dan hatinya terasa seperti diremas. Dia tidak pernah
tahu seperti apa wajah ayahnya dan ibunya!
Usianya belum ada setahun ketika ayahnya dan ibunya meninggalkan dia. Enci-nya lalu menjadi pengganti
ayah ibunya. Dalam keadaan berduka karena peristiwa dua hari yang lalu, karena kepalanya masih terasa
pening dan punggungnya yang bongkok juga terasa nyeri-nyeri, hatinya semakin sedih teringat akan ayah
ibunya yang telah tiada. Tak terasa lagi, luluhlah hati Sie Liong yang biasanya keras dan tabah itu dan dia
pun lalu menangis tersedu-sedu sambil menjatuhkan diri berlutut di depan meja sembahyang.
Bi Sian terkejut sekali melihat pamannya menangis seperti itu. Belum pernah ia melihat pamannya
menangis. Pamannya yang kuat, amat tabah dan selalu tenang, kini menangis tersedu-sedu seperti anak
kecil. Ia pun menjatuhkan diri berlutut dekat pamannya itu dan menyentuh lengannya lalu merangkulnya.
“Paman Liong, ada apa? Apakah... apakah engkau sakit...?” Bi Sian merasa menyesal sekali kepada
ayahnya yang kemarin dulu pernah memukul pamannya ini, dan ia merasa kasihan sekali kepada Sie
Liong.
Sie Liong menggeleng kepala, akan tetapi tangisnya semakin menjadi-jadi. Sikap lemah lembut dan baik
dari gadis cilik itu menambah keharuan hatinya, dan dia tidak mampu menjawab karena lehernya
tersumbat oleh tangis.
Melihat keadaan adiknya, dengan alis berkerut penuh kekhawatiran Sie Lan Hong cepat mendekati dan
berlutut, lalu merangkul adiknya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Adik Liong, engkau kenapakah? Mengapa engkau menangis seperti ini? Belum pernah aku melihat
engkau menangis seperti ini. Apamukah yang terasa sakit?”
Sie Liong menggeleng kepala sambil mengusap air matanya, mengeraskan hatinya untuk menghentikan
tangisnya.
“Yang sakit adalah hatiku, enci. Mengapa ayah dan ibu meninggalkan aku sewaktu aku masih kecil sekali?
Mengapa mereka itu meninggal dunia, enci? Sakitkah? Ataukah ada yang membunuh mereka?”
“Aku pun merasa heran, ibu, dan sering aku bertanya kepada diri sendiri. Kenapa kakek dan nenek luar
meninggal dunia dalam usia muda? Melihat betapa usia paman Liong tak banyak selisihnya dengan aku,
maka tentu kakek dan nenek luar itu belum tua benar ketika meninggal dunia. Apa yang menyebabkan
kematian mereka, ibu?”
Ditanya oleh adik dan anaknya seperti itu, jantung Sie Lan Hong berdebar-debar penuh ketegangan!
Terbayanglah semua peristiwa yang terjadi sebelas atau dua belas tahun yang lalu! Betapa ayahnya dan
ibunya, juga suheng-nya, dan dua orang pelayan wanita, juga semua anjing, kuda dan ayam, dibunuh
orang pada malam yang menyeramkan itu! Hanya tinggal ia dan adiknya yang belum dibunuh.
Kemudian muncul si pembunuh yang sangat kejam itu! Pembunuh itu adalah Yauw Sun Kok, suaminya
sendiri, ayah kandung Bi Sian! Pada saat itu, ia baru berusia lima belas tahun! Yauw Sun Kok tergila-gila
kepadanya, dan ia terpaksa menyerahkan dirinya bulat-bulat karena ia tidak ingin melihat adiknya, Sie
Liong dibunuh oleh musuh besar itu!
Kemudian, sesudah menjadi isteri Yauw Sun Kok, dia dapat mengusir perasaan dendam dan bencinya
terhadap pria itu, bahkan menggantinya dengan perasaan cinta! Dan Yauw Sun Kok kini telah menjadi
suaminya yang tercinta dan juga amat mencintainya, menjadi ayah kandung dari anaknya, Bi Sian.
Lalu bagaimana mungkin ia akan menceritakan semua itu kepada anaknya dan adiknya? Menceritakan
bahwa suaminya sendiri adalah pembunuh ayah ibunya dan musuh besar keluarganya? Sudah lama dia
menghapus permusuhan ini, kebencian berubah menjadi kasih sayang, permusuhan berubah menjadi
ikatan suami isteri yang sudah mempunyai keturunan pula! Tidak, sampai bagaimana pun, dia tidak akan
membongkar rahasia itu kepada adiknya atau kepada anaknya!
“Enci, mengapa enci tidak menjawab pertanyaan kami? Mengapa enci kelihatan sangat ragu-ragu?” Sie
Liong mendesak enci-nya, dan sekarang sepasang matanya yang masih kemerahan karena tangis tadi
mengamati wajah enci-nya dengan penuh selidik.
“Ahh, tidak,” Sie Lan Hong cepat menjawab, nampak agak gugup. “Aku ragu-ragu karena mengapa hal
yang menyedihkan itu harus diceritakan lagi? Aku terkenang akan hari-hari yang malang itu, adikku!
Baiklah, kau dengarkan ceritaku, dan engkau juga, Bi Sian. Sie Liong, ayah dan ibu kita sudah menjadi
korban wabah yang sangat berbahaya. Penyakit menular itu mengamuk di dusun kita, dan ayah ibu kita
terserang sehingga meninggal dunia. Untuk menghindarkan diri dari amukan wabah itu, aku membawa
engkau yang baru berusia sepuluh bulan, melarikan diri mengungsi dari dusun kita dan akhirnya aku
bertemu dengan cihu-mu dan dia menolong kita. Akhirnya aku menikah dengan cihu-mu dan kita semua
pindah ke sini.”
Mendengar cerita enci-nya ini, Sie Liong menarik napas panjang. “Kasihan sekali ayah dan ibu kita, dan
kasihan pula engkau yang begitu susah payah menyelamatkan diri kita berdua, enci.”
Sie Lan Hong memejamkan kedua matanya karena tiba-tiba matanya menjadi basah air mata. Betapa
tepatnya ucapan Sie Liong itu walau pun adiknya mempunyai gambaran dan maksud yang lain dalam katakatanya
itu. Memang sungguh kasihan. Ayah ibunya dibunuh orang! Dan ia sendiri, ia telah mengorbankan
dirinya sampai pada batas paling hebat, demi menyelamatkan diri dan juga adiknya!
“Enci, di manakah kita tinggal dahulu?”
Lan Hong memandang wajah adiknya, alisnya berkerut. “Mengapa engkau menanyakan hal itu, adikku?
Tempat itu adalah tempat mala petaka bagi keluarga ayah ibu kita, sudah lama kulupakan. Kita sekarang
menjadi penghuni kota Sung-jan ini.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aku hanya ingin tahu, enci. Siapa tahu, kelak ada kesempatan bagiku untuk berkunjung ke sana dan
bersembahyang di depan makam ayah dan ibu.”
Sie Lan Hong menggigit bibirnya. Tidak mungkin dia membohongi adiknya lagi, dan pula, apa salahnya
kalau ia memberi tahu? Biarlah adiknya itu kelak bersembahyang di depan makam orang tua mereka.
“Dusun kita itu jauh sekali, di perbatasan utara sebelah barat, bernama dusun Tiong-cin.”
Sie Liong mencatat nama dan letaknya dusun ini di dalam hatinya dan malam itu dia tidak dapat tidur. Dia
gelisah di atas pembaringan dalam kamarnya, apa lagi karena kepalanya masih pening dan punggungnya
masih terasa berdenyut nyeri…..
********************
Pada suatu pagi, nampak sesosok bayangan orang berjalan perlahan di atas Tembok Besar! Tembok
Besar itu merupakan bangunan raksasa yang sangat hebat, naik turun bukit dan jurang, serta memanjang
sampai ribuan li panjangnya sehingga disebut Ban-li Tiang-sia (Tembok Panjang Selaksa Li).
Beberapa bagian dari Tembok Besar ini dijadikan markas bagi pasukan-pasukan penjaga perbatasan,
namun banyak pula bagian yang kosong dan sunyi sama sekali. Dan orang yang sedang berjalan perlahan
di atas Tembok Besar itu pun berjalan seorang diri dalam kesunyian.
Kemudian suara nyanyiannya memecah kesunyian pagi hari di antara bukit-bukit dan jurang-jurang yang
penuh hutan lebat itu.
Tembok Besar
memanjang ribuan li
bekas tangan manusia
masih hidup atau sudah mati
Tembok Besar lambang kekerasan
untuk mempertahankan kekuasaan
berapa puluh laksa manusia mati
untuk menciptakan bangunan ini?
Nyanyian yang berakhir dengan pertanyaan ini tidak terjawab. Angin bertiup kencang dan menimbulkan
suara ketika bertemu dinding tembok, bersiutan dan membuat rambut, kumis, jenggot dan pakaian kuning
orang itu berkibar-kibar seperti bendera.
Orang itu sudah tua sekali. Jenggot dan kumisnya juga rambutnya yang semua sudah putih dibiarkan riapriapan.
Akan tetapi wajahnya masih nampak merah dan halus seperti wajah orang muda. Tubuhnya yang
tinggi kurus itu masih berdiri tegak lurus dan jalannya santai dengan langkah berlenggang bagai langkah
seekor harimau. Usianya tentu paling sedikit tujuh puluh tahun.
Pakaiannya hanya dari kain kuning panjang yang dilibat-libatkan di tubuhnya dari kaki sampai ke pundak,
bagian pinggang diikat dengan tali kulit kayu. Kakinya mengenakan sandal kulit kayu pula.
Sambil berjalan seenaknya di atas Tembok Besar, ia memandang ke kanan kiri. Seluruh yang nampak di
sekelilingnya agaknya tidak terlepas dari pandang matanya yang penuh kewaspadaan dan penuh
semangat. Tangan kanannya memegang sebatang tongkat kayu sepanjang satu meter, akan tetapi
agaknya bukan dipergunakan untuk membantu di berjalan, melainkan dipegang seperti hanya untuk isengiseng
saja.
Gerak-gerik kakek ini halus, sinar matanya lembut dan mulut yang dikelilingi kumis dan jenggot itu selalu
tersenyum seolah-olah dia beramah tamah dengan alam di sekitarnya. Matanya bersinar-sinar penuh
kegembiraan ketika dia menyapu segala sesuatu yang ada di sekelilingnya dari atas tembok yang tinggi itu
dengan pandang matanya. Meski hanya sekelebatan, dia telah menangkap segala yang nampak karena
pandang matanya seperti sinar lampu sorot yang amat kuat dan terpusat.
Pohon-pohon tinggi besar yang tumbuh di sekeliling tempat itu nampak hijau dan liar. Bukit-bukit menjulang
tinggi di kanan kiri, dan jurang-jurang amat dalam sehingga tidak nampak dasarnya. Kalau dia berjalan di
bawah, di atas tanah, tentu akan sukar melihat semua itu bahkan melihat langit pun akan sukar saking
dunia-kangouw.blogspot.com
lebatnya daun-daun pohon. Akan tetapi, dari atas tembok yang tinggi ini, dia seperti berdiri di puncak
sebuah bukit dan dapat melihat sekelilingnya dengan jelas.
Beberapa ekor burung beterbangan dan seekor burung rajawali baru saja meninggalkan cabang sebatang
pohon. Gerakannya ketika meloncat dan terbang membuat cabang itu bergoyang keras dan beberapa helai
daun kering melayang-layang turun karena putus dari tangkainya. Sepasang mata kakek itu mengikuti
beberapa helai daun kering yang melayang turun sambil menari-nari di udara itu, dan dia pun tersenyum
penuh bahagia.
Alangkah bahagianya orang yang masih mampu menikmati semua keindahan yang dihidangkan oleh alam
di sekeliling kita. Kalau kita mau membuka mata dan mengamati sekeliling kita tanpa penilaian, maka kita
pun akan dapat melihat segala keindahan itu!
Dalam gerak-gerik setiap orang manusia, lambaian setiap ranting pohon, sinar matahari, tiupan angin,
cerahnya bunga dengan keharumannya, kicaunya burung, senyum seorang muda, pandang mata seorang
ibu kepada anaknya. Betapa indah mentakjubkan semua itu!
Sayang, batin kita sudah terlampau sarat oleh segala macam persoalan, segala macam masalah
kehidupan, kepusingan, kesusahan, ketakutan, kekhawatiran, permusuhan, iri hati, cemburu, kebencian,
yang semuanya mendatangkan kesengsaraan di dalam batin. Batin yang sengsara, bagaimana mungkin
dapat melihat keindahan itu? Segala hanya akan nampak buruk dan membosankan!
Tiba-tiba kakek itu mengangkat muka ke atas, agaknya dia baru teringat akan urusannya. “Aihh, perjalanan
masih amat jauh, dan aku tidak boleh berlambat-lambatan begini.”
Setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat dan lenyaplah bentuk tubuhnya. Yang nampak hanya
bayangan kuning yang berkelebat cepat dan sebentar saja bayangan itu meluncur ke barat dan lenyap!
Kakek itu adalah seorang pertapa yang sudah puluhan tahun tidak pernah meninggalkan goa
pertapaannya di He-lan-san, yaitu di daerah Mongolia Dalam sebelah selatan. Sudah dua puluh tahun
kakek itu bertapa di He-lan-san, semenjak dia datang dari Pegunungan Himalaya di barat.
Para penduduk perkampungan sekitar Pegunungan He-lan-san menganggap dia sebagai seorang kakek
pertapa yang baik hati, yang suka menolong orang dengan pengobatan. Karena kakek itu dikabarkan
sangat sakti, maka semua orang menghormatinya dan dia pun disebut sebagai Pek-sim Siansu.
Sebutan ‘pek-sim’ ini mungkin dimaksudkan untuk memujinya sebagai orang yang berhati putih, seorang
yang sangat budiman. Dan kakek itu agaknya menerima pula begitu saja sebutan Pek-sim Siansu (Guru
Suci Berhati Putih).
Kakek ini telah mengalami suatu kejadian aneh. Beberapa waktu yang lalu, pada suatu malam, dia tiba-tiba
saja terbangun dari tidurnya, lalu duduk bersila dan sampai tengah malam dia bersemedhi. Lalu paginya,
tanpa pamit kepada siapa pun, ia pergi begitu saja meninggalkan goa pertapaannya dan melakukan
perjalanan ke barat! Yang dituju adalah perbatasan antara Sin-kiang dan Tibet!
Malam itu, dalam tidurnya dia seperti mendapat ilham yang mendorong dirinya supaya melakukan
perjalanan secepatnya menuju ke tempat itu. Seorang yang hidup suci seperti Pek-sim Siansu, peristiwa
mendapat ilham atau isyarat gaib bukanlah hal yang aneh lagi.
Manusia yang hidup bersih lahir batin, yang tubuhnya tidak dikotori makanan-makanan enak yang
merusak, tidak dilemahkan oleh kegiatan-kegiatan yang bergelimang dengan nafsu, yang batinnya tidak
dikotori oleh segala macam kenangan, gagasan, tidak dikotori oleh segala macam nafsu, maka dia memiliki
badan dan batin yang amat peka!
Kekuatan alam ini merupakan kekuatan yang memperlihatkan kebesaran dan kekuasaan Thian, dan alam
sudah memberi tanda-tanda, getaran-getaran pada badan serta batin manusia. Kalau manusia itu bersih
lahir batin dan menjadi peka, maka dia akan mampu menerima isyarat-isyarat gaib ini, tanda-tanda melalui
getaran atau bahkan penglihatan, dalam sadar mau pun dalam tidur.
Dan Pek-sim Siansu sudah mencapai tingkat seperti itu. Maka, tidaklah mengherankan kalau pada hari itu
dia kelihataan berlari cepat melalui Tembok Besar menuju ke barat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mari kita tengok apa yang tengah terjadi di daerah perbatasan Propinsi Sin-kiang sebelah selatan yang
berbatasan dengan Tibet. Tidak jauh dari dusun Sung-jan, agak ke selatan, nampak Pegunungan Kun-lunsan
dengan bukit-bukitnya yang berbaris-baris, melintang dari barat ke timur menjadi perbatasan antara
Sin-kiang dan Tibet. Biar pun tidak sebesar dan seluas atau setinggi Pegunungan Himalaya, namun
Pegunungan Kun-lun-san ini pun telah terkenal sekali dengan puncak-puncaknya yang tinggi, jurang dan
celah yang amat lebar dan dalam, dengan hutan-hutan lebat dan liar amat berbahaya bagi manusia yang
berani memasukinya.
Dan di Kun-lun-san ini terkenal pula dengan adanya banyak pendeta dan orang-orang yang menyucikan
diri, pertapa-pertapa dan orang-orang yang berilmu tinggi. Bahkan satu di antata orang-orang pandai itu
membentuk Kun-lun-pai atau Partai Persilatan Kun-lun yang amat terkenal.
Kurang lebih tiga puluh tahun yang lalu, terjadi bentrokan antara para pendeta Lama di Tibet dengan
beberapa orang pertapa di Himalaya. Penyebabnya hanyalah perselisihan paham dalam kepercayaan dan
keagamaan sehingga timbul bentrokan hebat!
Betapa banyaknya tokoh agama yang lupa bahwa agama diadakan sebagai tuntunan terhadap manusia
agar supaya dapat hidup tenteram dan damai, menjauhi segala bentuk permusuhan, kebencian dan
kejahatan. Akan tetapi, tanpa disadari, di antara mereka malah bentrok sendiri karena persaingan dan
pertentangan paham dan gagasan!
Bentrokan antara para pendeta Lama di Tibet dan para pertapa di Himalaya itu semakin meluas. Para
pendeta Lama yang banyak jumlahnya dan di antara mereka banyak pula yang mempunyai ilmu
kepandaian tinggi, menyerbu Himalaya dan mereka ini menyerang semua pertapa tanpa memperhitungkan
apakah mereka itu terlibat dalam permusuhan ataukah tidak!
Banyak di antara para pertapa yang benar-benar telah menjauhkan diri dari permusuhan. Maka mereka itu
mengalah, lalu diam-diam menyingkir dari Himalaya dan sebagian dari mereka ‘mengungsi’ ke Kun-lunsan,
mencari tempat pertapaan di tempat baru itu untuk menghindari permusuhan dan pengejaran para
pendeta Lama di Tibet.
Demikianlah, pada waktu ini, banyak terdapat pertapa di Kun-lun-san, yaitu para pelarian dari Himalaya.
Dan Pek-sim Siansu juga merupakan seorang pertapa di Himalaya yang kemudian melanjutkan
pengungsiannya ke timur, amat jauh di timur sampai dia menetap di Pegunungan He-lan-san di daerah
Mongolia Dalam.
Dan kini terjadi geger besar di Kun-lun-san karena munculnya lima orang pendeta Lama Jubah Merah yang
mengamuk serta menyerang para pertapa di Kun-lun-san! Agaknya mereka itu adalah para pendeta dari
Tibet yang masih menaruh dendam terhadap para pertapa asal Himalaya. Mendengar betapa para pertapa
itu banyak yang melarikan diri ke Kun-lun-san, maka lima orang pendeta Lama Jubah Merah itu lalu
mengamuk ke sana!
Menurut kabar, lima orang pendeta Lama itu memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat. Mereka itu sakti
sekali dan sudah banyak pertapa yang tak berdosa menjadi korban dan terbunuh oleh mereka!
Keributan yang terjadi di Kun-lun-san itu juga mengguncang ketenteraman Kun-lun-pai. Tembok-tembok
yang kokoh kuat dari perkumpulan silat besar ini seperti tergetar oleh keributan itu dan biar pun Kun-lun-pai
tidak tersangkut, namun tentu saja para tokohnya merasa tidak enak.
Kun-lun-pai sudah diakui sebagai sebuah partai persilatan yang besar, yang mengakui bahwa Pegunungan
Kun-lun-san sebagai markas atau sumber mereka. Apa bila kini ada orang-orang asing mengacau di Kunlun-
san, membunuh para pertapa yang tak berdosa, maka berarti mereka itu memandang rendah kepada
Kun-lun-pai dan tidak menghargai Kun-lun-pai, berani melanggar wilayahnya dan bahkan mendatangkan
kekacauan.
Sementara itu, serbuan lima orang pendeta Lama Jubah Merah dari Tibet itu kemudian mendatangkan
perpecahan di antara para pertapa dan pendeta sendiri. Para pertapa atau pendeta yang menganut Agama
Buddha banyak yang berpihak pada para pendeta Lama, sebaliknya para pertapa dan pendeta yang
menganut Agama To menentang.
Perpecahan ini menimbulkan pertentangan dan perkelahian di antara mereka sendiri dan karena para
pertapa ini sebagian besar adalah orang-orang yang sangat lihai dan tinggi ilmu kepandaiannya, maka
dunia-kangouw.blogspot.com
terjadilah perkelahian dan pertempuran yang amat hebat dan yang mengguncang Pegunungan Kun-lunsan
dan menggetarkan tembok perkumpulan Kun-lun-pai.
Ketua Kun-lun-pai pada waktu itu berjuluk Thian Hwat Tosu, seorang penganut Agama To yang taat. Dia
memimpin Kun-lun-pai dibantu oleh seorang sute-nya yang berjuluk Thian Khi Tosu. Dua orang tosu ini
memiliki ilmu silat yang tinggi.
Di perguruan Kun-lun-pai itu terdapat kurang lebih seratus orang murid Kun-lun-pai yang terbagi dalam
empat tingkatan. Murid kepala atau tingkat pertama, hanya ada belasan orang dan mereka inilah yang
mewakili dua orang guru mereka untuk memberi latihan dan bimbingan kepada para murid yang lebih
rendah tingkatnya.
Thian Hwat Tosu dan Thian Khi Tosu merasa gelisah sekali dengan adanya keributan di Kun-lun-san, dan
pada pagi hari itu, mereka berdua bercakap-cakap di ruangan dalam tanpa dihadiri seorang pun murid
karena mereka ingin bicara empat mata saja.
“Suheng, keadaan ini tidak mungkin dapat dipertahankan dan didiamkan saja. Nama Kun-lun-pai akan
tercemar dan menjadi buah tertawaan dunia kang-ouw sebagai tuan rumah yang tidak berani berkutik
walau pun dihina oleh tamu-tamu kurang ajar!” kata Thian Khi Tosu dengan sikap marah.
“Siancai-siancai-siancai...!” Thian Hwat Tosu berseru lembut sambil merangkap kedua tangan di depan
dada. “Semoga kita dapat tahan uji menghadapi cobaan ini, sute, Tentu engkau maksudkan gerakan yang
dilakukan oleh para Lama Jubah Merah itu, bukan?”
“Benar sekali, suheng! Mereka itu dengan congkak mengaku sebagai Lima Harimau dari Tibet, dan lima
orang pendeta Lama Jubah Merah itu sungguh sombong sekali. Mereka menyerang dan membunuhi para
pertapa yang sudah lemah dan tua, mereka yang tidak berdosa apa pun. Bagaimana kita dapat
membiarkan mereka merajalela di Kun-lun-san yang menjadi wilayah kedaulatan Kun-lun-pai, suheng?”
“Aihh, sute, apa yang dapat kita lakukan? Engkau tentu juga tahu bahwa permusuhan itu hanya merupakan
kelanjutan saja dari permusuhan beberapa puluh tahun yang lalu di Himalaya. Para pendeta Lama itu
agaknya mewakili Dalai Lama di Tibet untuk memberi hukuman kepada mereka yang datang dari
Himalaya. Selama mereka tidak mengganggu Kun-lun-pai, apa yang dapat kita lakukan? Mereka itu
bermusuhan, dan kita tidak terlibat apa pun, bagaimana kita dapat mencampuri? Apa bila kita ikut
bertindak, mungkin malah dapat menimbulkan salah paham yang lebih besar, sute.”
“Tidak, suheng, pinto tidak setuju dengan pendapat seperti itu! Kita selalu mencoba untuk menanamkan
jiwa kesatria, jiwa kependekaran kepada para murid, agar supaya mereka itu menentang yang jahat
sewenang-wenang dan membela kaum lemah tertindas. Kalau sekarang kita melihat Lima Harimau Tibet
itu sewenang-wenang membunuhi orang tidak berdosa dan kita tinggal diam, bukankah hal itu justru
memberi contoh yang buruk sekali kepada para murid?”
“Ingat, sute, selain itu kita juga mengajar mereka agar tidak mencampuri urusan orang lain yang tidak kita
ketahui duduk perkaranya. Dalam urusan antara para Lama dan para pertapa itu pun kita tidak tahu apa
yang sesungguhnya yang terjadi antara mereka, tidak tahu siapa benar siapa salah. Bagaimana mungkin
kita mencampuri? Tidak, sute, sekali lagi kuperingatkan. Jangan engkau membawa Kun-lun-pai ke dalam
permusuhan antara mereka. Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.”
“Dan membiarkan pembantaian terus dilakukan oleh para Lama yang buas itu? Ah, pinto akan bersemedhi
dan mohon kekuatan batin bagi kita semua, suheng,” berkata demikian, dengan muka yang tidak puas dan
penuh penasaran, Thian Khi Tosu lalu meninggalkan suheng-nya untuk bersemedhi di dalam kamarnya
sendiri.
Sementara itu, beberapa li jauhnya dari asrama Kun-lun-pai, dua orang pemuda sedang berjalan sambil
memanggul belanjaan di punggung mereka. Mereka adalah Ciang Sun dan Kok Han, dua orang murid
Kun-lun-pai tingkat tiga, dua orang pemuda berusia lebih kurang dua puluh tahun yang sudah lima tahun
menjadi murid Kun-lun-pai.
Mereka itu bertubuh tegap dan bersikap gagah, dan biar pun sudah lima tahun berlatih dengan tekun,
mereka baru mencapai tingkat tiga. Hal ini membuktikan betapa tingginya ilmu silat Kun-lun-pai, dan
betapa sulitnya untuk mencapai tingkat pertama.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sebagai murid tingkat tiga, mereka sudah diperkenankan membawa sebatang pedang di pinggang mereka,
walau pun pedang itu hanya mereka bawa sekedar untuk berjaga diri dan untuk dipergunakan membela diri
saja, bukan untuk menyerang orang lain. Sangsi hukuman bagi murid Kun-lun-pai amat berat bila mereka
melanggar peraturan perguruan.
Ciang Sun dan Kok Han berjalan memanggul barang belanjaan sambil bercakap-cakap. Mereka baru saja
pulang dari sebuah pasar di dusun kaki pegunungan untuk membeli rempah-rempah dan bumbu-bumbu
masak karena persediaan di asrama telah habis.
Tiba-tiba keduanya berhenti melangkah dan memandang ke arah kiri, dari mana mereka mendengar suara
orang membentak-bentak.
“Engkau harus menjadi tawanan kami, menyerah untuk kami bawa pulang ke Tibet dan menerima
keputusan pimpinan kami, atau kalau engkau tidak mau menyerah, terpaksa akan kami bunuh di sini!”
demikian suara yang membentak itu.
“Siancai...! Puluhan tahun yang lalu, pada waktu pinto masih agak muda dan bertapa di Himalaya, kalian ini
para Lama sudah memburu dan membunuhi para pertapa yang tidak berdosa. Pinto tidak mau terlibat dan
pergi mengungsi ke Kun-lun-san, dan hari ini, dalam usia pinto yang sudah tua, kalian tetap saja
melakukan penangkapan dan pembunuhan terhadap kami yang tidak berdosa,” terdengar suara yang
halus menjawab.
Ciang Sun dan Kok Han sudah menurunkan bawaan mereka dan menyelinap dengan hati-hati di antara
pepohonan mendekati tempat itu, kemudian mereka mengintai. Kiranya dua orang pendeta Lama sedang
menyeret seorang tosu tua yang kini duduk bersila di atas tanah. Pakaian tosu itu robek-robek, dan dua
orang Lama itu berdiri dengan sikap mengancam di depannya.
Dua orang Lama itu berusia sekitar lima puluh tahun dan bertubuh tinggi besar. Kepala mereka gundul dan
pakaian mereka serba kuning dengan jubah luar berwarna merah darah. Ada pun tosu itu berpakaian putih,
kotor dan robek di beberapa bagian, rambutnya sudah putih semua, panjang dan digelung ke atas. Usia
tosu itu tentu sudah tujuh puluh tahun.
“Tidak berdosa? Omitohud... mana ada orang mengakui kesalahannya? Kalian ini para pertapa, semenjak
puluhan tahun yang lalu telah mempunyai rencana jahat di Himalaya, yaitu berniat memberontak dan
berusaha menggulingkan kekuasaan Dalai Lama serta merampas kekuasaan. Kalau orang-orang macam
kalian ini tidak dibasmi, kelak hanya akan mendatangkan keributan saja!” bentak Lama yang ada codet
bekas luka di dahinya.
“Sudahlah, untuk apa lagi bicara panjang lebar dengan dia? Heh, tosu keparat, bukankah engkau adalah
seorang di antara mereka yang berani memakai julukan Himalaya Sam Lojin (Tiga Orang Kakek Himalaya)
itu dan julukanmu adalah Pek In Tosu?!” teriak Lama ke dua yang mukanya bopeng.
“Siancai... memang pinto disebut Pek In Tosu. Kami tiga orang kakek dari Himalaya telah bersumpah tidak
akan membiarkan kebencian menguasai hati, apa lagi memberontak.”
“Aahh, tidak perlu banyak cakap lagi!” kata pula si codet. “Kalau hendak membela diri, nanti saja di depan
pimpinan kami di Lhasa! Hayo ikut dengan kami!”
“Siancai...! Pinto sudah tua, tidak sanggup lagi melakukan perjalanan ke Tibet yang amat jauh itu. Pinto
tidak bersedia ikut dengan kalian ke sana.”
“Apa?! Kalau begitu, kami akan membunuhmu di sini juga!” teriak si muka bopeng.
Dua orang murid Kun-lun-pai yang sejak tadi bersembunyi dan mengintai, menjadi marah sekali dan
kesabaran mereka pun hilang. Sebagai murid-murid Kun lun-pai yang sejak pertama kali masuk ke
perguruan itu sudah diajarkan sikap pendekar yang menentang penindasan, tentu saja mereka menjadi
marah melihat sikap dua pendeta Lama itu. Apa lagi mereka pun seperti murid Kun-lun-pai yang lain,
sudah mendengar akan tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh sekelompok pendeta Lama
sebanyak lima orang.
Kabarnya, mereka itu menangkapi dan membunuhi para pertapa, terutama para tosu dan hal ini sudah
menimbulkan perasaan tidak senang di dalam hati mereka terhadap para pendeta Lama itu. Kini mereka
dunia-kangouw.blogspot.com
melihat dan mendengar dengan mata dan telinga sendiri, tentu saja mereka kehabisan kesabaran.
Bagaikan dikomando saja, dua orang pemuda itu melompat ke depan dua orang pendeta Lama dengan
sikap gagah.
“Kalian ini adalah orang-orang tua yang sudah mencukur gundul rambut dan memakai jubah pendeta!”
teriak Ciang Sun, pemuda yang bertubuh tinggi besar. “Tetapi tindakan kalian seperti penjahat-penjahat
keji saja, hendak memaksakan kehendak kepada orang lain dengan jalan menjatuhkan fitnah keji!”
“Totiang, silakan mundur, biarlah kami berdua yang menghadapi pendeta tersesat ini!” kata Kok Han.
Sementara itu, kedua orang pendeta Lama itu saling pandang, lalu mereka menghadapi dua orang pemuda
itu dengan alis berkerut. Si codet menyapu kedua orang pemuda itu dengan pandang matanya yang liar
dan tajam bagaikan mata harimau, dan suaranya terdengar parau serta penuh teguran.
“Hemm, kalian ini bocah-bocah ingusan dari mana berani ikut mencampuri urusan orang-orang tua?
Mengingat bahwa kalian masih kanak-kanak, biar pinceng berdua memaafkan perbuatan kalian yang
lancang ini. Pergilah sebelum kami kehilangan kesabaran.”
“Kami bukan orang yang suka usil mencampuri urusan orang lain, akan tetapi kami juga bukan orang yang
dapat begitu saja membiarkan terjadinya kesewenang-wenangan dan penindasan. Sejak pertama kali
menjadi murid Kun-lun-pai, kami telah digembleng untuk menentang kejahatan seperti yang kalian lakukan
sekarang ini!” kata pula Ciang Sun yang tinggi besar, bertenaga raksasa dan mukanya yang persegi
membuat dia tampak gagah sekali. Kok Han bertubuh sedang, wajahnya bulat dan tampan, apa lagi dihias
brewok yang terpelihara rapi, membuat dia pun nampak gagah.
Dua orang Lama itu saling pandang dan tertawa, lalu Lama yang mukanya bopeng itu berkata, “Ha-ha-ha,
semenjak kapankah Thian Hwat Tosu ikut-ikutan mencampuri urusan kami dan berani menentang para
Lama dari Tibet?”
Lama yang mukanya terhias codet memandang kepada dua orang pemuda itu dengan mata mencorong,
lalu berkata, “Kalian dua orang anak kecil cepat kembali ke Kun-lun-pai dan sampaikan kepada ketua
kalian bahwa kami, Lima Harimau dari Tibet, tidak ingin melihat Kun-lun-pai mencampuri urusan pribadi
kami. Katakan bahwa kami berdua, Thay Ku Lama dan Thay Si Lama, yang menyuruh kalian!”
“Kami tidak diperintah oleh Suhu! Kun-lun-pai tidak tahu menahu akan tindakan kami ini! Kami bertindak
atas nama sendiri yang tidak rela melihat kalian menggunakan kekerasan dan bertindak sewenangwenang.
Kalau kalian membebaskan totiang ini, baru kami mau sudah!” kata Ciang Sun.
“Siancai...! Ji-wi kongcu harap berhati-hati dan jangan membela pinto karena hal itu bisa membahayakan
keselamatan ji-wi sendiri,” kata tosu itu dengan wajah khawatir.
“Biarlah totiang, kami yang bertanggung jawab,” kata Ciang Sun.
Sedangkan Kok Han sudah melangkah maju menghadapi dua orang pendeta Lama itu. “Sekali lagi, kami
harap kalian pendeta-pendeta tua yang sepatutnya mencari kebaikan dan melaksanakan kebaikan di dunia
ini, suka membebaskan totiang ini agar kami dua orang muda tidak perlu turun tangan mempergunakan
kekerasan!” berkata demikian, Kok Han sudah memasang kuda-kuda dan kedua tangannya dikepal. Juga
Ciang Sun sudah berdiri di sebelahnya, juga memasang kuda-kuda, siap untuk bertanding!
Kembali dua orang Lama itu saling pandang, kemudian mereka tertawa.
Thay Si Lama yang bermuka bopeng berkata dengan nada mengejek, “Kami tidak akan membebaskan dia,
dan hendak kami lihat kalian ini tikun-tikus cilik dari Kun-lun-pai dapat melakukan apakah?”
Ini merupakan tantangan! Tentu saja dua orang pemuda Kun-lun-pai itu menjadi marah, apa lagi mereka
disebut tikus-tikus cilik Kun-lun-pai yang berarti menghina perkumpulan mereka pula.
“Engkau memang Pendeta sesat yang jahat!” bentak Ciang Sun sambil menyerang Thay Si Lama si muka
bopeng.
“Kalian memang patut dihajar supaya tidak membikin kacau lagi di daerah Kun-lun-pai!” bentak Kok Han
yang juga sudah menerjang Thay Ku Lama, yaitu pendeta Lama yang bermuka codet.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Plak! Plak!”
Pukulan dua orang pemuda itu sama sekali tidak ditangkis oleh dua orang Lama itu, bahkan diterima
dengan dada terbuka. Kepalan kanan dua orang pemuda itu dengan tepat mengenai dada mereka, akan
tetapi apa yang terjadi?
Dua orang pemuda itu terpental ke belakang dan terbanting roboh bergulingan! Ketika bangkit kembali,
mereka menyeringai kesakitan karena kepalan tangan kanan mereka telah menjadi bengkak dan membiru!
Dasar orang muda yang kurang pengalaman. Hal itu tidak membuat mereka menjadi jera, bahkan mereka
merasa penasaran sekali. Dengan tangan kiri, mereka mencabut pedang dari pinggang masing-masing
dan mereka berdua pun menyerbu ke depan, menusukkan pedang mereka ke arah dada dua orang
pendeta Lama itu.
Kini dua orang pendeta Lama itu menggerakkan tangan, menyambut pedang itu dengan tangan telanjang.
Pedang dua orang pemuda itu bertemu dengan telapak tangan mereka yang mencengkeram.
“Krekkk! Krekkk!”
Dua batang pedang itu patah dan hancur dalam cengkeraman dua orang kakek Lama itu. Sebelum dua
orang pemuda itu hilang rasa kaget mereka, Thay Ku Lama si muka codet sudah melangkah maju. Dua kali
tangannya bergerak ke arah pundak dua orang murid Kun-lun-pai itu dan mereka pun roboh terjungkal dan
tidak mampu bergerak lagi karena jalan darah mereka telah tertotok! Mereka telentang dan hanya bisa
memandang dengan mata melotot.
Thay Si Lama yang mukanya bopeng mencela temannya. “Suheng, kenapa tidak engkau habiskan saja
mereka ini? Dari pada kelak menjadi penyakit, biar kuhabiskan saja nyawa mereka!” Berkata demikian,
Thay Si Lama melangkah maju. Tangannya sudah bergerak hendak memberi pukulan maut kepada dua
orang murid Kun-lun-pai yang sudah tidak berdaya itu.
“Siancai..., kalian terlalu kejam, tidak mungkin pinto tinggal diam saja!”
Tiba-tiba kakek yang berpakaian putih dan rambutnya yang putih digelung ke atas itu sudah berkelebat.
Nampak bayangan putih, tahu-tahu pukulan yang dilepaskan Thay Si Lama ke arah dua orang pemuda itu
telah tertangkis.
“Dukkk!”
Dua lengan bertemu dan akibatnya, Thay Si Lama terdorong ke belakang dan terhuyung. Kini mereka
berdua berdiri menghadapi tosu itu dan muka Thay Si Lama yang bopeng itu menjadi merah padam.
“Omitohud, bagus sekali! Sekarang Pek In Tosu unjuk gigi dan melawan kami!” kata Thay Ku Lama si
muka codet sambil menyeringai mengejek. “Mengapa tadi pura-pura alim dan sama sekali tidak melakukan
perlawanan?”
“Siancai...! Sudah puluhan tahun kami para pertapa mencoba untuk melenyapkan semua bentuk nafsu,
dan kami pantang mempergunakan kekerasan. Akan tetapi, melihat betapa kalian hendak membunuh dua
orang muda yang sama sekali tidak berdosa, bagaimana mungkin pinto mendiamkannya saja? Kalian telah
menghajar dua orang bocah ini untuk kelancangan mereka, akan tetapi kenapa hendak kalian bunuh?
Apakah kalian juga telah siap untuk menentang Kun-lun-pai?”
“Pek In Tosu, semua orang tahu bahwa engkau adalah seorang di antara Himalaya Sam Lojin yang
kabarnya memiliki ilmu kesaktian luar biasa. Akan tetapi jangan mengira kami Lima Harimau Tibet akan
gentar menghadapimu. Nah, keluarkanlah kesaktianmu karena kami hendak membunuh engkau dan juga
dua orang bocah ini!” kata Thay Ku Lama.
Pendeta Lama yang mukanya codet dan perutnya gendut itu tiba-tiba memasang kuda-kuda yang aneh,
yaitu seperti orang berjongkok. Kedua lengan ditekuk dengan tangan membentuk cakar, telentang di kanan
kiri dada, dan perutnya yang gendut itu makin lama semakin menggembung ketika dia menyedot napas
sebanyaknya sampai keluar suara angin berdesis. Lalu dari dalam perutnya terdengar suara.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kok-kok-kok!”
Dan kedua tangan yang tadinya telentang itu kini menelungkup perlahan-lahan. Seluruh tubuhnya tergetar
dan seluruh syarafnya menegang karena dia sudah siap melancarkan pukulan maut yang amat dahsyat.
Agaknya, untuk menghadapi seorang di antara Himalaya Sam Lojin, Lama yang bermuka codet dan
perutnya gendut ini hendak mengeluarkan ilmu simpanannya supaya dengan sekali pukul atau sekali
serang dia sudah akan mampu merobohkan lawannya yang dia duga tentu lihai sekali.
Diam-diam Pek In Tosu terkejut. Dia sudah pernah mendengar akan ilmu yang sekarang diperlihatkan
lawannya itu. Itu adalah semacam pukulan jarak jauh yang mengandalkan sinkang dan khikang, yang
dinamakan Hek-in Tai-hong-ciang (Tangan Sakti Awan Hitam dan Badai). Perut gendut yang
menggembung itulah yang menjadi sumbernya dorongan tenaga sakti yang amat ampuh.
Maklum bahwa lawan telah mengeluarkan ilmu simpanannya, siap menyerangnya, Pek In Tosu berkata
lembut, “Siancai... pinto terpaksa melanggar pantangan, semoga mendapat pengampunan...!”
Dan kakek ini pun menggerakkan kedua lengannya, diputar seperti membentuk bulatan-bulatan yang
saling dorong. Tubuhnya makin direndahkan dan kedua kakinya dipentang lebar, lalu kedua tangannya
berhenti bergerak, saling bertemu di depan dada seperti menyembah dan dia pun sudah siap menanti
serangan dahsyat dari lawannya.
Bunyi kokok dari perut Thay Ku Lama semakin keras dan semakin cepat, dan dari kedua telapak
tangannya mengepul uap hitam! Telapak tangan itu pun berubah kehitaman. Sungguh dahsyat bukan main
ilmu ini, dahsyat dan amat berbahaya bagi lawan.
Pek In Tosu melihat ini semua. Akan tetapi dia masih tetap tenang saja, bukan tenang memandang rendah,
melainkan tenang menghadapi apa pun yang terjadi dan yang akan menimpa dirinya.
Tiba-tiba Thay Ku Lama yang membuat kuda-kuda seperti seekor katak itu menerjang dan tubuhnya
meloncat ke atas depan. Bunyi kokok itu semakin keras dan tiba-tiba ada angin besar sekali menyambar ke
arah Pek In Tosu, angin keras yang membawa tenaga pukulan dahsyat dan uap hitam!
Bukan main dahsyatnya serangan ini. Angin itu saja sudah mengandung tenaga sakti yang amat kuat dan
mampu merobohkan lawan, dan asap hitam itu pun mengandung racun yang berbahaya, apa lagi kalau
tubuh lawan sampai tersentuh oleh kedua telapak tangan hitam itu.
Tetapi, tiba-tiba dari kedua telapak tangan Pek In Tosu keluar asap putih! Itulah ilmu sakti Pek-in Sin-ciang
(Tangan Sakti Awan Putih) yang menyambar ke depan, menyambut angin dan asap hitam dari pukulan
lawan. Kaki kakek tua itu bergeser ke kiri dan kedua tangannya membuat gerakan memutar dari kiri,
menangkis kedua tangan lawan yang digerakkan lurus ke depan seperti orang mendorong daun pintu.
“Plakk! Plakk!”
Dua pasang tangan itu saling bertemu, dan akibatnya, tubuh gendut dari Thay Ku Lama terpelanting ke kiri.
Akan tetapi, kuda-kuda Pek In Tosu juga terguncang sehingga kakek itu terpaksa melangkah mundur tiga
langkah untuk mengembalikan keseimbangan tubuh.
Pada saat itu, dari arah kanan Thay Si Lama telah datang menyerangnya. Lama bermuka bopeng ini juga
lihai bukan main, dan begitu menyerang dia sudah mengeluarkan ilmu simpanannya, yaitu yang disebut
Sin-kun Hoat-lek (Ilmu Sihir Silat Sakti).
Bukan saja kedua tangan itu membagi-bagi tamparan dan totokan maut, akan tetapi juga dari kedua
telapak tangan itu keluar angin pukulan dahsyat yang mengeluarkan suara bercuitan, dan juga
mengandung tenaga mukjizat dari ilmu sihir yang membuat kedua tangan itu seolah-olah berubah menjadi
puluhan banyaknya dan menyerang dari semua sudut!
“Siancay…!” Pek In Tosu memuji dan berseru, dilanjutkan dengan pembacaan mantera dan dia pun tetap
mempergunakan ilmu pukulan sakti Pek In Sin-ciang.
Terjadilah pertandingan silat yang aneh dan seru. Semua sambaran tangan Thay Si Lama yang disertai
hawa mukjizat itu seperti tertolak mundur semua oleh awan putih yang keluar dari kedua telapak tangan
dunia-kangouw.blogspot.com
Pek In Tosu. Bahkan kini asap atau awan putih semakin besar dan semakin tebal, mendesak Thay Si
Lama yang mulai main mundur! Melihat Thay Si Lama semakin terdesak, Thay Ku Lama mengeluarkan
suara kokok lagi dan dia pun membantu sute-nya, mengeroyok Pek In Tosu!
Dikeroyok dua oleh dua orang Lama yang sakti itu, Pek In Tosu yang sudah tua sekali itu kelihatan
terdesak! Sebetulnya dengan tenaga sinkang-nya yang setingkat lebih kuat, disertai keringanan tubuhnya
yang memudahkan ia untuk berkelebat menghindarkan diri dari pukulan-pukulan dahsyat kedua orang
lawannya, Pek In Tosu tidak perlu terdesak.
Namun, usianya sudah tujuh puluh tahun dan tubuhnya sudah mulai lemah dimakan usia. Apa lagi selama
puluhan tahun ini dia tidak pernah bertanding, sebab itu tentu saja dia kewalahan dan akhirnya terdesak.
Kedua orang lawannya, dua orang pendeta Lama yang usianya baru lima puluhan tahun itu, agaknya
memang terlatih dan mereka sering kali berkelahi, maka gerakan mereka lebih lincah dan juga daya tahan
mereka lebih kuat.
Tiba-tiba Pek-sin Tosu berseru, “Siancai...!” dan dia lalu duduk bersila di atas tanah!
Thay Ku Lama dan Thay Si Lama tertegun dan cepat menahan gerakan mereka. Mereka merasa amat
heran melihat lawan mereka kini tiba-tiba duduk bersila dan memejamkan mata seperti orang bersemedhi,
kedua telapak kakinya telentang di atas paha. Itulah cara duduk bersila dalam kedudukan Teratai yang
kokoh kuat.
Mereka mengira bahwa kakek itu telah kelelahan dan pasrah untuk mati, maka keduanya lalu saling
pandang dan Thay Ku Lama menghantamkan tangan kanannya ke ubun-ubun kepala Pek In Tosu. Ilmu
Hek-in Tai-hong-ciang hanya dapat dilakukan dalam keadaan berjongkok dan menyerang ke atas, ke arah
lawan yang berdiri. Kini lawannya itu duduk bersila, maka tentu saja dia tidak dapat menggunakan tenaga
katak sakti itu!
Dia menghantam dengan telapak tangan terbuka ke arah ubun-ubun kepala. Kalau saja pukulan itu tepat
mengenai sasaran, tak dapat diragukan lagi lawannya tentu akan tewas seketika! Akan tetapi, Pek In Tosu
mengangkat tangan kirinya menangkis.
“Dukkk!”
Tubuh Thay Ku Lama terpental! Kiranya kakek tua renta itu duduk bersila bukan karena putus harapan dan
pasrah menerima binasa, melainkan dia mengambil sikap bertahan dan melindungi tubuhnya secara yang
paling istimewa dan paling kuat!
Kedudukan seperti Teratai itu memang merupakan cara bersila yang paling kokoh kuat seperti piramida,
dan seolah-olah kakek itu dapat menyedot hawa bumi yang membuat tubuhnya kuat sekali dan
tangkisannya membuat lawan terpental!
Thay Si Lama menjadi penasaran dan dia pun menyerang dari arah belakang. Akan tetapi, kembali Pek In
Tosu menangkis, tangannya diangkat ke arah belakang dan begitu kedua tangan bertemu, tubuh Thay Si
Lama terpental dan terhuyung!
Dua orang pendeta Lama itu menjadi makin penasaran. Mereka adalah dua orang tokoh yang kenamaan,
dua di antara Lima Harimau Tibet yang sudah sangat terkenal. Sejak belasan tahun ini mereka merupakan
tulang punggung dari pemerintahan Dalai Lama. Merekalah yang menjaga kedaulatan dan kekuasaan
Dalai Lama sehingga ditaati oleh jutaan orang manusia!
Selama ini, belum pernah Harimau Tibet bertemu tanding. Mustahil bila kini menghadapi seorang pertapa
tua renta saja mereka sampai tak mampu merobohkan, padahal pertapa itu kini sama tidak dapat
membalas lagi, hanya duduk bersila sambil membela diri!
Namun, berkali-kali menyerang, baik bergantian mau pun berbareng dan hasilnya sama saja. Setiap kali
ditangkis, mereka terpental dan terhuyung, bahkan pernah pula hampir terjengkang. Agaknya, makin keras
mereka mempergunakan tenaga, semakin kuat pula tolakan Pek In Tosu yang menangkis mereka.
Keduanya saling pandang, memberi isyarat dengan kedipan mata dan tiba-tiba mereka pun menghentikan
serangan mereka dan hanya berdiri di depan dan belakang Pek In Tosu dalam jarak kurang lebih tiga
meter. Kemudian, mulailah mereka berjalan mengitari kakek yang duduk bersila itu dan keduanya mulai
dunia-kangouw.blogspot.com
mengeluarkan lagu-lagu pujaan atau nyanyian yang biasanya mereka nyanyikan di dalam kuil mereka
untuk memuja para dewa.
Akan tetapi, lagu yang mereka nyanyikan ini lain lagi, ada hubungannya dengan ilmu sihir. Nyanyian ini
bukan untuk memuja para dewa saja, tetapi juga untuk mengundang setan dan meminjam kekuasaan
setan untuk mengalahkan musuh!
Suara nyanyian itu aneh dan menyeramkan. Suara Thay Ku Lama parau dan besar, dan kadang-kadang di
dalam suaranya ada selingan suara kokok seperti kalau dia sedang mengerahkan ilmu Hek-in Tai-hongciang,
sedangkan suara Thay Si Lama yang bermuka bopeng itu tinggi mencicit seperti suara seekor tikus
yang terjepit.
Suara nyanyian itu bukan suara sembarangan, melainkan dikeluarkan dengan tenaga khikang dan sihir.
Suara itu makin lama semakin menggetar dan berirama, dan dua orang pendeta Lama itu bernyanyi sambil
melangkah mengelilingi tubuh Pek In Tosu dan kini kepala mereka pun menggeleng-geleng menurutkan
irama lagu mereka! Aneh memang! Makin lama, tindakan mereka itu seolah-olah terseret oleh gelombang
suara nyanyian mereka sendiri.
Mula-mula tubuh Pek In Tosu gemetar. Kemudian, dari kepalanya keluar uap putih tipis yang membubung
ke atas. Itulah tandanya bahwa ia sedang berjuang mati-matian untuk melawan pengaruh hebat dari
nyanyian itu!
Pek In Tosu bukanlah seorang yang lemah batinnya. Sebaliknya, karena hasil semedhi yang berpuluh
tahun, dia memiliki batin yang amat kuat dan tidak mudah dia dipengaruhi kekuatan apa pun dari luar.
Akan tetapi, diserang oleh kekuatan suara itu, dia harus mengerahkan seluruh tenaga batinnya untuk tidak
terpengaruh. Suara itu tetap saja terdengar walau pun dia berusaha keras mematikan pendengarannya,
seolah-olah suara itu memiliki kekuatan gaib untuk menembus dirinya tanpa melalui alat pendengaran!
Getaran yang disebabkan suara itu membuat tubuh Pek In Tosu gemetar. Dia pun lalu melawan,
mengerahkan khikang sehingga dari kepalanya keluar uap putih yang semakin lama semakin menebal.
Namun, pertahanannya agaknya goyah karena perlahan-lahan akan tetapi pasti, kepala Pek In Tosu mulai
bergoyang-goyang.
Mula-mula goyangan itu hanya perlahan-lahan. Tetapi makin lama goyangan kepala Pek In Tosu semakin
nyata dan mengarah geleng-geleng kepala seperti yang dilakukan oleh dua orang penyerangnya!
Sekarang keadaan kakek tua renta itu gawat sekali. Ilmu yang dilakukan oleh dua orang itu ialah sejenis
ilmu I-hu-to-hoat (hypnotism) melalui pengaruh suara yang mengandung sihir. Jika Pek In Tosu sudah
benar-benar mengikuti irama nyanyian itu berarti dia sudah kena dicengkeram dan tentu akan mudah
dirobohkan dan dibunuh karena semangatnya seolah-olah sudah di dalam cengkeraman kekuasaan dua
orang pendeta Lama itu!
Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan nyawa Pek In Tosu itu, tiba-tiba di dalam kesunyian
tempat yang amat sepi itu terdengar suara lainnya yang memecahkan kesunyian. Tadinya yang terdengar
hanya suara nyanyian aneh kedua orang pendeta Lama itu, dengan irama yang semakin mantap. Akan
tetapi, tiba-tiba saja terdengar suara tak-tok-tak-tok yang nyaring, suara bambu dipukul-pukulkan pada
batu!
Suara ini pun nyaring sekali, tidak kalah oleh nyaringnya suara nyanyian, dan berirama pula, akan tetapi
iramanya sama sekali tidak serasi dengan irama nyanyian dua orang pendeta Lama! Bahkan sebaliknya,
irama tak-tok-tak-tok itu menjadi lawan dan menjadi kebalikannya. Tentu saja kini terdengar suara yang
kacau balau karena irama nyanyian itu bertabrakan dengan irama bambu yang dipukul-pukul batu.
Siapakah yang memukuli batu dengan bambu itu?
Tidak jauh dari situ nampak seorang anak laki-laki yang menggunakan sepotong bambu sedang memukuli
batu besar di depannya. Irama pukulan bambu itu bertolak belakang dengan irama nyanyian dua orang
pendeta Lama, maka tentu saja hal ini mengganggu konsentrasi, bahkan mengacaukan ‘paduan suara’
antara mereka.
Dua orang pendeta Lama itu terkejut dan marah. Mereka lalu cepat-cepat menyesuaikan irama nyanyian
mereka dengan ketukan irama bambu, karena jika mereka bisa membuat irama mereka bersatu, maka
dunia-kangouw.blogspot.com
kekuatan daya serangan dari suara mereka akan menjadi semakin mantap dan besar. Seperti orang
bernyanyi yang diiringi musik, akan menjadi semakin enak didengar dan menghanyutkan.
Sejenak mereka berhasil dan nyanyian mereka itu menjadi semakin mantap, dan kini Pek In Tosu semakin
mengikuti bunyi nyanyian itu, mengikuti iramanya dengan geleng-geleng kepala!
Akan tetapi hal itu hanya berlangsung sebentar saja karena ketukan bambu itu sekarang berubah lagi
iramanya, kembali menjadi berlawanan dengan irama nyanyian dua orang pendeta Lama. Bahkan kini
ketukannya menjadi lebih keras dan iramanya sengaja dibuat kacau-balau, kadang-kadang cepat, kadangkadang
sedang dan berubah lagi menjadi lambat. Kadang-kadang iramanya satu-satu, dua-dua, lalu
berubah menjadi satu-dua satu-tiga, dua-tiga dan sebagainya.
Tentu saja tidak mungkin bagi dua orang kakek Lama untuk menyesuaikan lagi irama nyanyian mereka.
Kini bunyi-bunyian yang terdengar demikian kacau balaunya sehingga daya hanyutnya menjadi kacau dan
lemah sekali.
Pek In Tosu seperti orang yang baru sadar bahwa tadi dia sudah hanyut, kini nampak duduk bersila
dengan tegak lurus dan sama sekali tidak bergerak! Dari kepalanya juga tidak lagi keluar uap putih, dan
kepalanya tidak lagi digeleng-gelengkan.
Bahkan dua orang pendeta Lama yang tadinya mengitari Pek In Tosu sambil bernyanyi dan menggelenggelengkan
kepala memantapkan irama nyanyian mereka, kini langkah-langkah kaki mereka menjadi kacau,
dan gelengan kepala mereka ngawur dan kacau, kaku dan kadang-kadang keliru menjadi anggukanggukan!
Anak laki-laki itu berusia kurang lebih tiga belas tahun dengan pakaian yang sudah kumal dan robek-robek
seperti pakaian seorang gelandangan. Rambutnya panjang dan tidak terawat, awut-awutan, bahkan
sebagian menutupi dahi dan mukanya.
Wajah itu tidak buruk, malah bentuknya tampan. Matanya lebar dan memiliki sinar terang, sepasang mata
yang jernih dan jeli seperti mata burung Hong, akan tetapi wajah itu mendatangkan rasa iba bagi yang
melihatnya. Punggungnya bongkok dan agaknya ada daging menonjol di punggung itu. Anak itu bukan lain
adalah Sie Liong!
Seperti kita ketahui, Sie Liong merasa selalu berduka dan gelisah sejak terjadi peristiwa perkelahian antara
dia yang membantu Yauw Bi Sian melawan Lu Ki Cong dan kawan-kawannya. Dia menerima kemarahan
dari cihu-nya, bahkan juga menerima pukulan yang membuat kepalanya berdenyut nyeri dan punggungnya
lebih nyeri lagi. Dia mendengar bahwa Lu Ki Cong, putera Lu-ciangkun komandan pasukan keamanan di
kota Sung-jan itu bahkan telah disepakati akan menjadi calon jodoh Bi Sian!
Semenjak itu, hatinya selalu merasa tidak tenang, apa lagi ketika mereka melakukan sembahyangan dan
dia mendengar bahwa ayah ibunya meninggal dunia karena penyakit menular di dusun mereka, yaitu
Tiong-cin, hatinya merasa semakin berduka dan gelisah. Pada suatu malam, ketika dia tidak dapat pulas
dan selalu gelisah, dia meninggalkan kamarnya yang berada di ujung belakang, lalu berjalan ke kebun
samping rumah.
Tiba-tiba dia mendengar suara enci-nya bercakap-cakap dengan cihu-nya dan dari suara cihu-nya, dia tahu
bahwa cihu-nya itu sedang marah dan membentak! Memang kamar enci dan cihu-nya itu menghadap ke
kebun dan suara tadi keluar melalui celah-celah jendela mereka yang tertutup. Kamar Bi Sian berada di
sebelah lagi, dan jendela kamar gadis cilik itu telah gelap, tanda bahwa ia tentu telah tidur. Sebaliknya, dari
jendela kamar enci-nya nampak cahaya lampu belum dipadamkan.
“Jelas bahwa dia salah besar!” terdengar suara cihu-nya membentak nyaring. “Pertama, dia mencuri
belajar ilmu silat padahal sudah kularang dia belajar silat! Kedua, dia berani mencari keributan dan
berkelahi dengan anak-anak, bahkan dia memukul dan menggigit putera Lu-ciangkun yang hendak
kujodohkan dengan Bi Sian. Anak itu memang sungguh keterlaluan, dan engkau bahkan membela anak
bongkok jelek itu!”
“Apa? Bongkok jelek katamu? Jangan kau kira aku tidak tahu bahwa engkaulah yang membuat dia menjadi
bongkok!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ehh? Apa yang kau katakan itu?” cihu-nya bertanya kaget, sama kagetnya dengan Sie Liong yang
mendengar ucapan enci-nya itu.
“Ya, engkau yang membuat dia menjadi bongkok! Karena engkau takut kepadanya! Itu pula sebabnya
engkau melarang dia belajar silat. Engkau takut kepadanya!”
“Ssttt...! Lan Hong, apa yang kau katakan ini?”
Terdengar enci-nya menangis. “Setelah... setelah apa yang kulakukan untukmu semua... setelah
kuserahkan badanku, cintaku, kesetiaanku padamu, hanya dengan harapan agar adikku dapat
diselamatkan..., masih kurang besarkah pengorbananku? Dia telah menjadi bongkok, cacat, dan engkau...
masih juga membencinya?”
“Kau jelas keliru, Lan Hong. Engkau tahu bahwa aku pun suka padanya, hanya aku..., benarlah, aku
khawatir dan kau pun tahu betapa aku cinta padamu. Aku telah merobah hidupku, mencari nama baik dan
kedudukan yang terpandang. Semua ini untukmu dan untuk Bi Sian. Akan tetapi adikmu itu... dia seolaholah
menjadi penghalang kebahagiaan kita... aku selalu khawatir dan kadang-kadang aku bermimpi buruk,
tak dapat tidur...”
Hening sejenak, lalu terdengar enci-nya berkata lirih. “Aku dapat memaklumi perasaan hatimu, akan
tetapi... aku tetap menuntut agar adikku yang tunggal itu tidak diganggu!”
“Lan Hong, demi kebahagiaan kita, anak itu harus disingkirkan.”
“Apa?!” enci-nya setengah menjerit. “Maksud... maksudmu...?”
“Biar kutitipkan dia di sebuah kuil besar, agar di sana dia dapat menjadi seorang kacung, dan mudahmudahan
kelak dia dapat menjadi seorang hwesio. Bukankah hal itu sangat baik baginya? Menjadi seorang
hwesio merupakan kedudukan yang terhormat, mulia dan bahkan disegani orang.”
“Ahhh... tetapi... tetapi...”
“Tidak ada tetapi lagi, isteriku yang manis. Bukankah engkau juga menghendaki supaya kebahagiaan kita
tidak terganggu dan keselamatan adikmu terjamin pula?”
Setelah hening sampai lama, lalu terdengar enci-nya berkata, “Baiklah, akan tetapi aku harus tahu di kuil
mana dia dititipkan, dan aku boleh mengunjunginya dan menjenguknya sewaktu-waktu...”
Sie Liong tidak mendengarkan terus. Cepat dia kembali ke kamarnya dan dia duduk di atas
pembaringannya dengan muka pucat dan bengong. Ingin rasanya dia menangis, ingin menjerit-jerit saking
nyeri rasa hatinya. Akan tetapi dia bertahan, bahkan menutupi mulutnya yang mulai terisak-isak itu dengan
bantal.
Dia hendak disingkirkan? Dititipkan dalam kuil? Tidak! Dia takkan menyusahkan cihu-nya lagi! Dia tidak
akan membuat enci-nya cekcok dengan suami enci-nya. Bagaimana pun juga, dia dapat menduga bahwa
cihu-nya tidak suka kepadanya, bahkan membencinya.
Bukankah enci-nya mengatakan bahwa cihu-nya yang membuat dia menjadi bongkok? Ucapan ini
mengejutkan dan juga membuat dia terheran-heran dan tidak mengerti. Dan cihu-nya takut kepadanya?
Menggelikan dan mustahil! Cihu-nya, yang demikian gagah perkasa, yang tinggi ilmu silatnya, takut
kepadanya, seorang anak bongkok yang lemah? Dan mengapa pula mesti takut?
Tidak, dia tidak akan menyusahkan mereka lagi. Dia kemudian mengeraskan hatinya dan menghentikan
tangisnya, lalu dengan perlahan-lahan agar gerak-geriknya tidak terdengar dari luar, dia mengumpulkan
pakaiannya, membungkusnya dengan kain menjadi sebuah buntalan yang cukup besar. Kemudian dia
menulis sehelai surat di atas mejanya.
Enci Lan Hong dan cihu,
Maafkan saya. Saya pergi tanpa pamit, hendak kembali ke dusun Tiong-cin di utara, selamat tinggal.
Sie Liong.
dunia-kangouw.blogspot.com
Biar pun baru berusia tiga belas tahun, namun Sie Liong yang bongkok itu memiliki otak yang cerdik.
Dengan sengaja dia meninggalkan surat, menulis bahwa dia hendak pergi ke Tiong-cin. Padahal, setelah
dia meninggalkan rumah cihu-nya membawa buntalan di punggungnya yang bongkok, dia sama sekali
tidak pergi ke utara, melainkan ke selatan!
Akan tetapi, dia sengaja keluar dari pintu gerbang sebelah utara kota itu. Dia sengaja melalui jalan yang
ramai sehingga nampak oleh beberapa orang ketika dia pergi melalui pintu gerbang kota sebelah utara.
Begitu tiba di luar pintu gerbang, memasuki malam yang gelap, dia lalu menyelinap dan mengambil jalan
memutar, melalui sawah yang sunyi, mengelilingi tembok kota itu dan baru melanjutkan perjalanan menuju
ke selatan! Tak ada seorang pun yang melihatnya karena selain waktu sudah lewat tengah malam, juga
Sie Liong dengan hati-hati sekali mengambil jalan sunyi yang sudah dikenalnya.
Perhitungan anak ini memang tepat sekali. Pada keesokan harinya, ketika mendapatkan surat Sie Liong di
atas meja, Lan Hong menangis sedih dan suaminya cepat melakukan pengejaran, tentu saja ke utara! Apa
lagi ketika Yauw Sun Kok mendengar keterangan beberapa orang yang sempat melihat Sie Liong pada
malam hari itu, membawa sebuah buntalan menuju ke pintu gerbang utara. Dari para petugas jaga di pintu
gerbang pun dia mendengar bahwa memang benar anak bongkok itu semalam lewat dan keluar dari pintu
gerbang itu menuju ke utara, melalui jalan besar.
Yauw Sun Kok melakukan perjalanan cepat, dengan berkuda mengejar terus ke utara. Akan tetapi sampai
sehari dia melakukan perjalanan, belum juga dia berhasil menyusul Sie Liong!
Tadinya dia mengira bahwa tentu anak itu mendapat boncengan ke utara. Akan tetapi setelah sehari dia
gagal, dia kehilangan jejak anak itu dan kembali lagi. Tidak ada orang yang melihatnya! Dia mengira bahwa
tentu anak itu telah mengambil jalan menyimpang. Akan tetapi jalan yang mana dan ke kanan atau kiri?
Akhirnya, dia pun pulang dengan wajah lesu.
Hatinya tidak begitu susah ditinggal pergi adik isterinya itu, akan tetapi ada dua hal yang membuat dirinya
gelisah. Pertama, isterinya tentu akan berduka, yang kedua, dan ini yang sangat mengganggunya, dia
tetap mengkhawatirkan kalau-kalau kelak Sie Liong akan membalas dendam terhadap kematian kedua
orang tuanya. Akan tetapi, apa yang perlu dia takuti? Anak itu bongkok dan cacat!
Seperti sudah diduganya, isterinya menjadi berduka. Dia harus berusaha keras untuk menghibur hati
isterinya, mengatakan bahwa Sie Liong sudah cukup dewasa untuk bisa mengurus dirinya sendiri, dan
bahwa kebetulan sekali Sie Liong pergi karena kehendak sendiri, jadi mereka tidak perlu menyuruhnya
atau membawanya pergi.
Demikianlah, Sie Liong lalu melakukan perjalanan seorang diri, menuju ke selatan. Dia selalu
menghindarkan diri agar jangan bertemu orang selama beberapa hari itu, supaya tidak ada orang dari kota
Sung-jan yang akan melihatnya dan kemudian melaporkannya kepada cihu-nya. Dia memilih jalan liar
melalui hutan-hutan dan pegunungan dan inilah yang lalu mencelakakan dia.
Kurang lebih sebulan sesudah dia meninggalkan rumah enci-nya, pada suatu pagi yang sejuk, dia berjalan
melewati sebuah hutan besar. Setiap harinya Sie Liong melakukan perjalanan dan dia makan dari mana
saja. Kadang-kadang dia mendapat belas kasihan orang yang memberinya makan, tetapi ada kalanya dia
harus menjual beberapa potong pakaiannya untuk dapat ditukarkan dengan makanan. Bahkan pernah pula
dia hanya makan sayur-sayur yang didapatkannya di ladang orang untuk sekedar menahan lapar.
Malam tadi, ada seorang petani yang baik hati menerimanya di rumahnya. Sie Liong membantu petani itu
membelah kayu bakar dan dia pun mendapatkan tempat tidur dan makan malam yang cukup
mengenyangkan perutnya. Bahkan pagi tadi ketika dia pergi, keluarga petani itu memberinya sarapan dan
memberinya bekal roti kering dan sayur asin kering!
Maka, pagi itu Sie Liong berjalan dengan tegap dan kaki ringan. Hatinya gembira karena semalam dia
mendapat kenyataan bahwa masih banyak orang yang baik hati di dunia ini. Kehangatan yang
dirasakannya ketika keluarga petani itu menerimanya membuat hatinya merasa bahagia pada pagi hari itu.
Tiba-tiba dia dikejutkan oleh munculnya lima orang yang berloncatan dari balik batang-batang pohon. Lima
orang itu berwajah bengis menyeramkan. Kalau saja mereka itu tidak berpakaian, tentu Sie Liong akan
mengira mereka itu binatang-binatang sebangsa kera besar.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tubuh dan pakaian mereka sangat kotor dan pandang mata mereka bengis dan buas. Akan tetapi karena
mereka berpakaian, maka Sie Liong kehilangan kekagetannya dan tersenyum kepada mereka.
“Aihh, paman sekalian membikin kaget saja padaku,” katanya sambil membetulkan letak buntalan di
punggungnya.
“Huh, kiranya hanya anak anjing buduk!” kata seorang.
“Anjing cilik, punggungnya bongkok lagi!” kata orang ke dua.
Wajah Sie Liong menjadi merah. Dia memandang kepada dua orang itu dengan mata melotot penuh
kemarahan. “Paman-paman adalah orang-orang dewasa, mengapa suka menghina anak-anak?
Punggungku memang bongkok, akan tetapi apa sangkut pautnya dengan kalian? Kurasa bongkokku tidak
merugikan orang lain, termasuk kalian!”
“Wah, anjing cilik gonggongnya sudah nyaring!” teriak seorang di antara mereka, yang mukanya penuh
brewok dan matanya lebar kemerahan.
Dia adalah pemimpin gerombolan itu dan kini dia menghampiri Sie Liong dengan golok besar di tangan
kanan. Golok itu berkilauan saking tajamnya dan si brewok itu sudah menempelkan mata golok ke leher
Sie Liong.
Terasa oleh Sie Liong betapa golok itu tajam sekali menempel di kulit lehernya. Sedikit saja digerakkan,
tentu lehernya akan putus! Akan tetapi, sedikit pun dia tidak merasa gentar, bahkah dia molotot dengan
marah, walau pun maklum bahwa dia tidak berdaya dan melawan pun berarti hanya membunuh diri.
“Anjing galak, apakah engkau ingin mampus dengan leher buntung?” bentak si brewok. “Hayo jawab!”
Betapa pun marahnya, Sie Liong maklum bahwa orang ini jahat dan kejam luar biasa dan kalau dia tidak
menjawab, orang ini akan marah dan bukan mustahil lehernya akan disembelih. Maka dia lalu menggeleng
sambil berkata dengan suara lirih, bukan karena takut melainkan karena hati-hati agar suaranya tidak
terdengar menyatakan kemarahan hatinya. “Tidak.”
“Ha-ha-ha! Kalau begitu biarlah kepalamu masih menempel di badanmu, akan tetapi buntalanmu itu harus
kau tinggalkan!” berkata demikian, dengan tangan kirinya kepala gerombolan itu merenggut buntalan
pakaian Sie Liong hingga lepas dari punggungnya, kemudian mendorong sehingga anak itu terjengkang
dan kepalanya terbanting ke atas tanah dengan kerasnya.
Sie Liong merasa kepalanya pening, akan tetapi dia cepat bangkit dan berkata dengan suara yang tak
dapat menyembunyikan kemarahannya lagi. “Milikku hanya itu, pakaian-pakaian untuk pengganti.
Kembalikan, kalian orang-orang jahat!”
Seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi kurus dan mukanya pucat, terbelalak menghampiri Sie
Liong dengan marah. “Apa?! Engkau ini masih belum cukup dihajar rupanya!”
Tangannya meraih dan terdengar suara membrebet ketika dia merenggut pakaian yang menempel di tubuh
Sie Liong. Pakaian itu robek dan terlepas sehingga anak itu kini telanjang bulat! Lima orang itu tertawa
bergelak.
“Ha-ha-ha, anjing cilik ini biar bongkok, tubuhnya mulus juga.”
Sie Liong yang merasa terhina itu marah sekali dan dia pun sudah menerjang ke depan dengan ngawur. Si
muka pucat menyambutnya dengan sebuah tendangan yang keras.
“Bukkk!”
Tendangan itu tepat mengenai dada Sie Liong, membuat anak itu jatuh terjengkang dan kepalanya kembali
terbanting menghantam batu dan dia pun roboh pingsan.
Saat dia siuman kembali, Sie Liong mendapatkan dirinya rebah di atas tanah berumput di dalam hutan, dan
lima orang itu sudah tidak nampak lagi. Kepalanya berdenyut nyeri, tubuhnya yang terbanting juga sakitdunia-
kangouw.blogspot.com
sakit, sedangkan buntalan pakaiannya tak ada lagi. Bahkan pakaian yang tadi menempel di tubuhnya juga
sudah tiada. Agaknya sesudah direnggut lepas, dibawa pergi oleh lima orang tadi.
Dia bangkit duduk, memegangi kepala bagian belakang yang berdenyut nyeri.
Ahh, betapa jahatnya lima orang tadi. Jahat dan kejam sekali, tega merampas buntalan pakaiannya,
bahkan menelanjanginya dan menghajarnya! Baru saja dia merasa betapa indahnya hidup di dunia karena
adanya orang-orang yang baik hati seperti keluarga petani itu yang memberinya tempat mondok dan
makan, tiba-tiba saja kini muncul lima orang yang demikian jahatnya!
Hidup di dunia ini nampak berubah seketika, betapa sengsara dan buruknya, betapa pahit dan
mengecewakan. Dia harus makin berhati-hati karena di dalam dunia ini tidak kalah banyaknya terdapat
orang-orang jahat.
Sie Liong teringat akan keadaan dirinya. Telanjang bulat! Tidak memiliki sepotong pun pakaian yang dapat
dipakai menutupi tubuhnya yang telanjang bulat. Tidak ada pula perbekalan makan untuk mengisi
perutnya, dan dia berada di tengah hutan yang lebat!
Sie Liong mendapat keterangan dari keluarga petani semalam bahwa kalau dia berjalan terus menembus
hutan itu ke selatan, dia akan menemui sebuah dusun yang cukup besar, dan menurut petani itu, sebelum
sore dia tentu akan dapat tiba di dusun itu. Dia bangkit dan setelah pening di kepalanya tidak begitu hebat
lagi, mulai dia melangkahkan kakinya.
Dia merasa aneh serta lucu, berjalan dalam keadaan telanjang bulat seperti itu. Suara berkeresekan di
kanan membuat dia terkejut dan cepat-cepat dia menggunakan kedua tangan untuk menutupi
selangkangannya. Dia takut kalau-kalau ada orang muncul dan melihat ketelanjangannya.
Akan tetapi yang muncul adalah dua ekor monyet! Sie Liong tertawa sendiri. Monyet-monyet itu pun
telanjang bulat, mengapa dia harus malu? Dia pun melepaskan kedua tangannya dan menghadapi dua
ekor monyet itu sambil tersenyum.
Monyet-monyet itu semenjak lahir telanjang dan tak pernah merasa malu. Kenapa kalau manusia merasa
malu? Jadi kalau begitu, malu timbul bukan karena ketelanjangannya, melainkan karena merasa telanjang!
Karena monyet-monyet itu tidak pernah merasa telanjang, juga anak-anak bayi tidak pernah merasa
telanjang, maka mereka itu tidak menjadi malu.
Sie Liong berjalan lebih cepat. Kadang-kadang berdebar jantungnya, penuh ketegangan dan perasaan
malu bila dia membayangkan bagaimana nanti dia kalau bertemu dengan orang di dusun itu? Apakah ada
orang yang mau menolongnya dan bagaimana dia bisa menemui mereka dalam keadaan telanjang bulat?
Mungkin dia akan dianggap gila!
Benar seperti keterangan petani yang baik itu, sebelum sore dia telah tiba di luar sebuah dusun. Pagar
dusun itu cukup tinggi, dan nampak genteng merah di atas dinding putih.
Sie Liong merasa bingung sekali. Tak mungkin dia memasuki dusun itu dalam keadaan telanjang bulat
seperti itu. Bagaimana pun dia bukan anak kecil lagi, usianya sudah tiga belas tahun, sudah menjelang
dewasa. Maka dia pun bersembunyi saja di pinggir hutan sambil mengamati dusun itu dari kejauhan.
Nampak olehnya beberapa orang petani laki-laki dan wanita keluar masuk melalui pintu gerbang dusun itu.
Bahkan ada dua orang anak penggembala kerbau yang menggiring kerbau mereka pulang ke dalam
dusun. Dia akan menunggu sampai keadaan cuaca menjadi gelap, baru dia akan masuk ke dusun itu,
mencari keluarga petani yang baik hati untuk menolongnya. Kalau saja di dusun itu tinggal keluarga petani
seperti yang menampungnya semalam, tentu mereka akan mau menolongnya, pikirnya.
Senja tiba dan cuaca mulai gelap. Dengan hati-hati Sie Liong lalu menyelinap memasuki dusun melalui
pintu gerbang. Dia menyelinap di antara pepohonan dan melihat sebuah rumah yang menyendiri di tepi
dusun, dia lalu menghampirinya.
Sampai lama dia ragu-ragu dan berdiri di belakang sebatang pohon. Ketika di dalam keremangan senja itu
dia melihat seseorang datang dari arah belakang rumah menuju ke dapur rumah itu yang berada di
belakang, dia membuat gerakan untuk keluar dari balik pohon dan menegur.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi, pada saat orang tadi sudah dekat, ternyata orang itu adalah seorang gadis remaja yang
membawa sebuah tempat air dari tanah bakar yang dipondongnya di atas pinggang kiri. Melihat bahwa
orang yang tadinya disangka laki-laki itu setelah dekat baru kelihatan bahwa ia seorang gadis remaja,
dengan gugup Sie Liong menyelinap kembali ke balik batang pohon. Namun terlambat, kakinya menginjak
ranting kering dan gadis remaja itu sudah membalikkan tubuh menengok.
“Siapa itu?” Gadis itu menegur.
Sie Liong tidak berani berkutik. Batang pohon itu terlampau kecil untuk menutupi seluruh tubuhnya, dia
tidak berani menjawab saking malunya.
“Hayo katakan siapa itu! Maling ya..? Aku akan menjerit memanggil orang kalau engkau tidak mau keluar
dari balik pohon itu!”
Celaka, pikir Sie Liong. Kalau dia disangka maling dan gadis itu menjerit, mungkin dia akan dikeroyok
orang sedusun! Terpaksa dia keluar dari balik batang pohon, sedapat mungkin menutupi selangkangnya
dengan kedua tangan.
“Aku... aku bukan maling...” katanya lirih.
Gadis itu terbelalak memandang kepada pemuda cilik yang telanjang bulat itu, dengan tubuh yang berkulit
putih bersih, sama sekali tanpa pakaian!
“Eiiiiihhh...!” Ia menjerit dan tempat air dari tanah bakar itu terlepas dari rangkulannya, jatuh dan pecah
sehingga air jernih itu mengalir keluar. Gadis remaja itu pun berlari-lari seperti dikejar setan memasuki
rumah.
“Setaaan...! Setaaaaann...!” Ia menjerit-jerit.
Sie Liong kembali menyelinap ke balik batang pohon, tersenyum pahit karena merasa bahwa dia memang
sudah menjadi setan! Setan telanjang yang menakutkan seorang gadis remaja. Setan bongkok telanjang!
“Sungguh sial,” gerutunya. Dia tidak tahu harus berbuat apa.
Tidak lama kemudian, gadis remaja itu datang lagi dengan sikap takut-takut, bersama seorang laki-laki
setengah tua dan seorang laki-laki lain berusia dua puluh tahun lebih. Keduanya membawa parang, seolah
siap untuk berkelahi melawan setan. Di belakang gadis remaja itu keluar pula seorang wanita yang saling
berpegangan tangan dengan gadis itu, nampak ketakutan sekali.
“Mana dia? Mana setan itu?” pemuda itu bertanya dengan lagak pemberani, akan tetapi jelas suaranya
agak gemetar.
“Tadi di sana, di belakang pohon itu! Nah, lihatlah! Dia masih ada di sana...” gadis itu lalu merangkul
ibunya.
Dua orang laki-laki itu juga sudah melihat tubuh putih yang sebagian tertutup batang pohon. Mereka lalu
maju beberapa langkah, akan tetapi tetap dalam jarak yang aman.
“Setan! Keluarlah dan perlihatkan mukamu!” bentak laki-laki muda.
“Kalau engkau benar setan, harap jangan ganggu keluarga kami, kami adalah orang baik-baik dan suka
sembahyang,” kata pria yang setengah tua.
Sie Liong merasa bahwa bersembunyi lebih lama lagi tidak ada gunanya, juga kalau dia melarikan diri,
mungkin akan dikejar orang sedusun. Maka, dia pun terpaksa keluar dari balik pohon sambil menggunakan
kedua tangan menutupi bawah perutnya.
“Maaf, paman... maafkan aku. Aku... aku bukan setan, aku manusia biasa yang sedang mengharapkan
pertolongan kalian.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Dua orang pria itu jelas kelihatan lega mendengar ini, namun mereka masih ragu-ragu. Kalau benar
manusia, mengapa bertelanjang bulat? Kalau manusia, tentulah orang gila dan ini sama menyeramkannya
dengan setan!
“Engkau seorang manusia? Kenapa malam-malam begini datang ke sini dan telanjang bulat? Apakah
engkau gila?” tanya pria setengah tua.
“Maafkan, paman. Aku tidak gila, aku... aku siang tadi lewat di hutan itu dan aku kena dirampok. Buntalan
pakaianku, juga pakaian yang kupakai, dirampas perampok, bahkan aku dipukul oleh mereka. Lihat,
kepalaku masih berdarah di sini.”
Untuk membuktikan kebenaran kata-katanya, Sie Liong lalu membalikkan badan untuk memperlihatkan
luka di belakang kepalanya, juga memperlihatkan daging menonjol di punggung yang membuatnya
bungkuk, tanpa disadari memperlihatkan pula pinggulnya yang telanjang karena yang ditutupnya hanyalah
bawah perut.
“Iiihhh...!” Gadis remaja itu menjerit lagi dan menutupi muka dengan kedua tangan, tapi masih mengintai
juga dari celah-celah jari tangannya!
Kini pria setengah tua itu percaya karena dia sudah melihat betapa belakang kepala itu memang terluka.
“Ambilkan satu stel pakaianmu, dan juga obor,” perintahnya kepada puteranya, kakak gadis remaja tadi.
“Baik, ayah.” Pemuda itu pun lari ke dalam.
Ayah, ibu beserta anak perempuan itu masih mengamati Sie Liong yang menjadi rikuh sekali. Karena di
situ ada dua orang wanita, terutama gadis remaja yang menutupi muka dengan kedua tangan, dia kembali
menyelinap ke balik batang pohon, menyembunyikan tubuhnya dan hanya memperlihatkan kepalanya saja.
“Maafkan aku, paman. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, maka aku sengaja menunggu sampai
cuaca gelap baru berani memasuki dusun ini dengan maksud minta pertolongan kepada siapa saja.
Melihat rumah paman ini agak terpencil, maka aku lalu datang ke sini untuk minta pertolongan, takut kalau
sampai terlihat banyak orang. Dan ternyata pilihanku tidak keliru. Aku bertemu dengan keluarga yang
budiman. Harap enci yang di sana itu suka memaafkan aku, aku tidak sengaja untuk bersikap kurang ajar
dan melanggar susila.”
Mendengar kata-kata yang halus dan teratur rapi, ayah ibu dan anak itu dapat menduga bahwa tentu anak
telanjang itu bukanlah seorang dusun, melainkan seorang kota yang terpelajar.
“Siapakah namamu, orang muda?” tanya si ayah.
“Namaku Liong, she Sie.”
Ketika itu, pemuda tadi sudah datang lagi sambil membawa obor di tangan kanan dan satu pasang pakaian
di tangan kiri. Kini obor menerangi tempat itu dan gadis remaja itu tetap mengintai dari celah-celah jari
tangannya.
Dengan perasaan berterima kasih sekali Sie Liong menerima satu stel pakaian itu, lalu memakainya di
balik batang pohon. Baju itu kebesaran, lengannya terlalu panjang dan celana itu pun kakinya
kepanjangan. Terpaksa dia menggulung lengan dan kaki pakaian itu, dan muncul dari balik batang pohon.
Karena baju itu kedodoran, maka bongkoknya tidak terlalu kelihatan.
Sie Liong mengangkat tangan memberi hormat kepada mereka. “Paman, bibi, toako dan enci, aku Sie
Liong menghaturkan banyak terima kasih dan percayalah, selama hidupku aku tidak akan melupakan budi
pertolongan yang amat berharga ini.”
Laki-laki setengah tua itu melangkah maju. Kini dia sudah yakin bahwa anak ini bukan setan, bukan pula
orang gila, dan dirangkulnya pundak Sie Liong, ditariknya untuk diajak masuk ke rumah.
“Anak yang malang, mari kita masuk ke dalam. Engkau boleh bermalam di rumah kami dan ikut makan
malam bersama kami, akan tetapi engkau harus menceritakan semua pengalaman dan riwayatmu kepada
kami.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Sie Liong mengikuti mereka. Sekarang gadis remaja itu tidak lagi menutupi mukanya dengan jari tangan.
Gadis itu berusia kurang lebih lima belas tahun dan mukanya manis sekali, tubuhnya padat berisi karena ia
biasa bekerja berat seperti lazimnya gadis-gadis dusun.
Mereka bersikap ramah sekali. Sie Liong diajak makan malam yang terdiri dari nasi dan sayur-sayuran
tanpa daging. Jarang ada petani makan daging, mungkin hanya satu dua kali dalam sebulan sebab daging
merupakan makanan atau hidangan yang mewah bagi mereka. Akan tetapi, di antara orang-orang yang
demikian ramah dan baik, hidangan itu terasa lezat sekali oleh Sie Liong yang memang sudah lelah dan
lapar sekali.
Sesudah makan, mereka duduk di tengah pondok, memutari meja dan Sie Liong lalu bercerita.
“Aku adalah seorang anak yatim piatu. Ayah ibuku sudah tidak ada, meninggal karena penyakit menular
yang berjangkit di dusun kami, jauh di utara. Semenjak itu, aku lalu hidup seorang diri, selama beberapa
tahun ini aku ikut dengan orang, bekerja sebagai pelayan. Kemudian, oleh karena ingin meluaskan
pengalaman, aku lalu berhenti dan melakukan perjalanan merantau. Tak kusangka, sampai di dalam hutan
itu muncul lima orang yang demikian kejamnya, merampas semua pakaian dalam buntalanku, bahkan
melucuti pakaian yang sedang aku pakai sehingga aku bertelanjang bulat. Untung ada paman, bibi, toako
dan enci yang baik budi sehingga sekarang aku tertolong terhindar dari ketelanjangan dan kelaparan.”
Empat orang itu amat senang melihat sikap Sie Liong yang demikian sopan dan santun, kata-katanya yang
rapi, sungguh berbeda sekali dengan anak-anak dusun yang kasar.
“Jika engkau sebatang kara, biarlah engkau tinggal di sini saja bersama kami, Sie Liong. Asal engkau suka
hidup sederhana dan membantu pekerjaan di sawah ladang, makan seadanya dan pakaian pun asal
bersih, kami akan suka sekali menerimamu,” kata sang ayah.
“Benar kata ayahku, Sie Liong. Tinggallah di sini, dan engkau menjadi adikku!” kata gadis manis itu. Ibu
gadis itu, dan kakaknya juga, menyambut dengan senyum ikhlas.
Sie Liong memandang keluarga ini dengan mata basah karena hatinya terharu sekali. Sungguh aneh
manusia di dunia ini, pikirnya. Dia pernah bertemu dengan keluarga petani yang amat baik hati,
memberinya tempat bermalam dan memberinya makan dan dia sudah manganggap mereka itu teramat
baik hati. Akan tetapi, kegembiraan hatinya bertemu dengan keluarga petani yang baik itu dihancurkan oleh
kenyataan pahit ketika dia bertemu dengan lima orang perampok.
Pandangannya bahwa manusia di dunia ini banyak yang baik seketika berubah dengan kepahitan, melihat
betapa lima orang perampok itu amat jahatnya. Tapi, baru setengah hari lewat, dia bertemu lagi dengan
keluarga petani ini yang ternyata luar biasa baiknya, bukan saja memberinya pakaian sehingga dia tidak
lagi telanjang, memberinya makan, menerimanya bermalam di situ, bahkan sekarang menawarkan agar dia
hidup bersama mereka di rumah mereka! Adakah kebaikan yang lebih hebat dari pada ini? Keikhlasan
tanpa pamrih yang amat mengharukan.
Dia bangkit dari duduknya dan mengangkat kedua tangannya di depan dada, memberi hormat kepada
mereka.
“Sungguh paman sekalian teramat baik kepadaku, budi yang berlimpahan dari paman sekalian ini tidak
akan aku lupakan selama hidupku. Semoga Thian memberkahi paman sekalian karena kebaikan dan
ketulusan hati paman, bibi, toako, dan enci. Aku Sie Liong tak akan pernah melupakannya. Akan tetapi
maafkan aku, aku masih ingin melanjutkan perantauan dan belum ingin tinggal di suatu tempat tertentu.
Kelak, kalau sudah timbul keinginan itu, aku akan ingat pada penawaran paman, karena sungguh, aku
akan lebih bangga dan senang hidup serumah dengan keluarga paman yang budiman ini dari pada dengan
keluarga lain.”
Pada malam itu, dengan hati penuh kegembiraan Sie Liong tidur di dalam sebuah kamar bersama putera
tuan rumah yang mengalah dan tidur di atas lantai bertilamkan tikar dan memberikan dipannya yang kecil
kepada Sie Liong. Mula-mula Sie Liong menolaknya, akan tetapi pemuda itu memaksa sehingga akhirnya
Sie Liong menerima juga.
Malam itu, sebelum tidur, dia sempat rebah telentang, agak miring karena pungungnya tidak
memungkinkan dia tidur telentang penuh, dan melamun. Bermacam-macam sudah dia mengalami kejadian
dunia-kangouw.blogspot.com
dalam kehidupan ini sejak terjadi perkelahian di kota Sung-jan itu. Dan semua pengalaman itu mulai
menggemblengnya dan mematangkan jiwanya.
Maklumlah dia bahwa di dunia ini terdapat banyak orang jahat, di samping banyak pula orang yang baik,
dan bahwa dalam kehidupan yang serba sulit dan keras ini, dia harus pandai-pandai menjaga diri sendiri.
Baru mencari makan saja sudah tidak mudah, apa lagi menghadapi gangguan orang-orang jahat yang
amat kejam.
Agaknya, dia perlu memiliki kepandaian silat yang akan membuat dia kuat dan tangguh untuk mengatasi
semua gangguan orang jahat itu, di samping dapat pula dia gunakan untuk melindungi orang yang dihimpit
kejahatan orang lain, seperti halnya Bi Sian ketika diganggu oleh pemuda-pemuda remaja yang nakal itu.
Kini mulai timbul tekatnya untuk mempelajari ilmu silat tinggi dan mencari seorang guru yang pandai.
Pada keesokan harinya, Sie Liong pamit pada keluarga yang baik hati itu, dan dia pun kembali melanjutkan
perjalanannya terus ke selatan. Sampai akhirnya pada pagi hari itu menjelang siang, dia tiba di sebuah
hutan dan dari jauh dia sudah mendengar suara nyanyian dua orang pendeta Lama dengan suara dan
iramanya yang aneh.
Sie Liong tertarik sekali dan cepat dia menuju ke arah suara itu. Melihat betapa ada seorang tosu tua renta
duduk bersila dan dikelilingi oleh dua orang pendeta berkepala gundul berjubah merah, dia merasa heran
sekali dan cepat dia duduk tak jauh dari situ.
Dia memegang sebatang bambu yang dipergunakannya sebagai tongkat, juga sebagai semacam senjata
kalau-kalau dia diserang binatang buas atau juga orang jahat. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi dan
yang sedang dilakukan oleh tiga orang kakek itu, akan tetapi mendengarkan nyanyian dan irama dua orang
pendeta Lama itu, telinganya merasa tidak enak sekali, bahkan nyeri seperti ditusuk-tusuk rasanya.
Maka, tanpa disadari, ia lalu mengetuk-ngetukkan tongkat bambu di tangannya itu pada sebuah batu
besar. Karena bambu itu berlubang, maka menimbulkan suara nyaring dan dia pun memukul tak-tok-taktok
berirama, akan tetapi dia sengaja menentang irama nyanyian dua orang pendeta Lama itu agar
telinganya tidak sakit seperti ditusuk-tusuk oleh irama aneh itu. Begitu dia mendengar suara tak-tok-tak-tok
dari bambunya sendiri, benar saja, telinganya tak terasa begitu nyeri lagi karena tidak lagi ‘diserang’ oleh
irama nyanyian dua orang pendeta Lama.
Akan tetapi, kembali telinganya nyeri ketika dua orang pendeta itu menyesuaikan irama lagu mereka
dengan irama ketukan bambunya. Sie Liong menjadi penasaran dan ia pun mengubah irama ketukan
bambunya, bahkan kini dia membuat irama yang kacau balau, berganti-ganti dan berubah-ubah!
Melihat betapa ilmu yang mereka lakukan melalui pengaruh irama dan nyanyian sudah dibikin hancur dan
kacau balau oleh suara ketukan bambu, dua orang pendeta Lama itu menjadi marah. Mereka
menghentikan nyanyian mereka, dan keduanya membalikkan tubuh menghadap ke arah suara ketukan
bambu.
“Tak-tok tak-tok tak-tok tak-tok tak-tok tak-tok tak-tok tak-tok!” suara ketukan bambu itu seperti ketukan
bambu peronda malam!
Melihat bahwa yang mengacaukan ilmu mereka hanya seorang bocah bongkok berusia tiga belas tahun,
dua orang pendeta Lama itu terbelalak, merasa penasaran, malu dan terhina sekali. Hanya seorang bocah
bongkok! Dan rahasia ilmu mereka telah ketahuan dan telah menjadi kacau balau!
Memang rahasia kekuatan ilmu itu berada pada iramanya yang mampu menyeret dan mencengkeram
semangat seseorang. Akan tetapi begitu irama itu kacau oleh irama lain, seolah-olah jantung ilmu itu
ditusuk, kunci rahasianya dibuka dan ilmu itu pun tidak ada gunanya lagi.
“Bocah setan! Berani engkau mengacaukan ilmu kami?” bentak Thay Ku Lama yang bermuka codet.
Tiba-tiba tubuh Thay Ku Lama sudah meloncat dengan cepat bagaikan seekor burung garuda melayang.
Begitu kedua kakinya menyentuh tanah dan dia sudah berjongkok, cepat sekali dia menyerang anak itu
dengan ilmu pukulan Hek-in Tai-hong-ciang!
dunia-kangouw.blogspot.com
Bukan main kejinya serangan dari Thay Ku Lama ini. Pukulan Hek-in Tai-hong-ciang adalah pukulan sakti
yang ampuh. Orang dewasa yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali pun jarang ada yang kuat
menahan pukulan ini, apa lagi kini yang dipukulnya hanya seorang anak-anak yang lemah!
“Siancai...! Engkau terlalu keji, Lama!” terdengar seruan halus dan tubuh Pek In Tosu sudah meluncur
seperti bayangan putih dan dari samping dia sudah menangkis pukulan dahsyat itu sambil mengerahkan
tenaga sinkang yang tidak kalah hebatnya, yaitu Pek-in Sin-ciang yang mengeluarkan uap putih.
“Desss...!”
Thay Ku Lama terpelanting dan tubuhnya lantas terguling-guling. Ternyata dalam usaha menyelamatkan
anak bongkok itu, Pek In Tosu telah mengerahkan seluruh tenaganya sehingga pendeta Lama itu tidak
kuat bertahan. Akan tetapi, pukulannya yang dahsyat tadi pun sudah menyerempet dada Sie Liong
sehingga anak ini juga terpelanting dan terbanting keras!
Thay Ku Lama terkejut bukan main dan tahulah dia bahwa ketika menangkis, Pek In Tosu telah
mengerahkan tenaganya dan ternyata kakek tua renta itu benar-benar amat tangguh. Dia tidak terluka,
hanya tordorong sampai terpelanting, namun dia marasa jeri. Setelah meloncat bangun, dia lalu berkata
dengan suara marah dan muka merah.
“Tunggu saja, Pek In Tosu. Kami akan membasmi Himalaya Sam Lojin!”
Setelah berkata demikian, Thay Ku Lama mengajak sute-nya untuk pergi dari situ. Dua orang pendeta
Lama itu berkelebat dan lenyap dari situ.
“Siancai...! Sungguh mereka itu orang-orang sesat yang berbahaya sekali...” kata Pek In Tosu.
Tosu ini segera menghampiri dua orang pemuda murid Kun-lun-pai. Dua kali tangannya bergerak dan dua
orang pemuda itu sudah terbebas dari totokan. Mereka tadi hanya diam tak mampu bergerak, akan tetapi
dapat mengikuti apa yang telah terjadi di depan mata mereka, perkelahian yang aneh dan hebat sekali.
Mereka tahu pula bahwa nyawa mereka sudah diselamatkan oleh kakek sakti itu, maka keduanya lalu
berlutut dan menghaturkan terima kasih kepada Pek In Tosu yang segera mengibaskan ujung lengan
bajunya dan berkata dengan halus.
“Sudahlah, harap ji-wi segera pulang saja ke Kun-lun-pai dan jangan lagi mencampuri urusan para Lama
itu.”
Dua orang itu pun cepat-cepat memberi hormat, lalu pergi dari sana untuk membuat laporan tentang
peristiwa itu kepada pimpinan mereka di Kun-lun-pai. Setelah dua orang murid Kun-lun-pai itu pergi, Pek In
Tosu lalu menghampiri Sie Liong yang menggeletak pingsan. Dia mengamati anak itu, lalu berlutut.
“Thian Yang Maha Agung... Sungguh kasihan sekali anak ini...” katanya ketika melihat betapa napas anak
itu empas empis, mukanya agak membiru.
Tahulah dia bahwa pertolongannya tadi agak terlambat dan anak itu masih terlanggar oleh hawa pukulan
Hek-in Tai-hong-ciang yang sangat dahsyat itu. Pek In Tosu cepat meletakkan kedua telapak tangannya ke
atas dada Sie Liong, lalu perlahan-lahan dan dengan hati-hati sekali ia mulai menyalurkan tenaga sakti dari
tubuhnya melalui telapak tangan ke dalam dada anak itu.
Perlahan-lahan ia mendorong dan mengusir keluar hawa busuk beracun sebagai akibat pukulan Hek-in
Tai-hong-ciang sehingga untuk sementara ini nyawa anak itu tidak lagi terancam bahaya, biar pun luka di
dadanya masih belum dapat disembuhkan. Dia tidak mampu menyembuhkan luka akibat getaran pukulan
sakti itu, dan dia harus mencarikan seorang ahli pengobatan yang pandai.
Anak itu menggerakkan kaki tangannya dan membuka mata, meringis kesakitan akan tetapi tidak
mengeluh. Melihat betapa punggung anak itu menonjol dan bongkok, kakek itu menarik napas panjang dan
perasaan iba memenuhi batinnya. Anak bongkok yang aneh ini, mungkin karena tidak disengajanya, tadi
telah menyelamatkan nyawanya yang sudah terancam maut di bawah pengaruh sihir dua orang pendeta
Lama!
dunia-kangouw.blogspot.com
Dan sebagai akibatnya, anak yang bongkok ini terkena pukulan beracun. Bagaimana pun juga, dia harus
mengusahakan agar anak ini dapat disembuhkan oleh seorang ahli. Dan ia pun memandang kagum. Anak
itu tidak mengeluh sama sekali, padahal dia tahu bahwa luka itu tentu mendatangkan perasaan nyeri yang
hebat. Hanya napas anak itu masih sesak.
Ketika Sie Liong bangkit duduk, dia cepat memejamkan kedua matanya karena pening. Akan tetapi, dia
tetap tidak mengeluh!
“Sakitkah dadamu?” tanya Pek In Tosu lirih.
Sie Liong membuka matanya, memandang kepada kakek itu dan mengangguk. “Terasa nyeri dan napasku
sesak. Totiang, kenapa hwesio tadi memukul aku?”
Pek In Tosu menarik napas panjang. Dia semakin suka serta merasa kagum pada anak bongkok itu.
“Untuk menjawab pertanyaanmu itu, perlu lebih dulu pinto ketahui, kenapa tadi engkau memukuli batu
dengan bambu ini?”
Sie Liong yang masih agak pening itu memejamkan mata. Dia lalu mengingat-ingat dan terbayanglah
semua yang tadi terjadi.
“Totiang, ketika tadi aku lewat di hutan ini, aku mendengar suara nyanyian dan aku pun tertarik, lalu
mendekat. Aku tidak mengerti mengapa totiang duduk bersila dan dikelilingi dua orang hwesio yang
bernyanyi-nyanyi dan menari-nari. Akan tetapi suara nyanyian itu, iramanya, begitu tidak enak, makin lama
semakin menyiksa telingaku. Maka, aku lalu memukul-mukulkan bambu pada batu ini, untuk menolak
suara yang tidak enak itu.”
“Siancai...! Tanpa kau sadari, tadi engkau telah menentang dan memecahkan ilmu sihir mereka. Oleh
karena suara ketukan bambumu itu merusak kekuatan sihir dari nyanyian mereka, maka mereka menjadi
marah dan hendak membunuhmu.”
Sie Liong terkejut sekali dan saking herannya, dia bangkit berdiri. Akan tetapi tubuhnya terhuyung dan dia
tentu roboh kalau pundaknya tidak cepat ditangkap oleh Pek In Tosu.
“Jangan banyak bergerak, engkau masih dalam keadaan luka berat. Marilah engkau ikut denganku, akan
pinto usahakan agar engkau mendapat pengobatan yang baik.”
Karena terlalu lemah, Sie Liong hanya mengangguk pasrah dan di lain saat dia merasa tubuhnya bagaikan
terbang. Kiranya dia dipondong oleh kakek itu dan kakek itu sudah berlari dengan amat cepatnya, seperti
terbang saja…..
********************
Bukit itu puncaknya merupakan padang rumput yang luas. Di sana sini tumbuh pohon yang tua dan besar,
dengan daun-daun yang lebat. Dari padang rumput di puncak bukit itu, orang dapat melihat ke seluruh
penjuru, melihat sawah ladang, melihat bukit-bukit lain di Pegunungan Kun-lun-san, puncak-puncak tinggi
yang tertutup awan, serta jurang-jurang yang amat dalam dan hutan-hutan yang hijau.
Mereka duduk bersila di padang rumput itu, duduk dalam bentuk segi tiga mengurung anak bongkok yang
juga duduk bersila di tengah-tengah. Seorang di antara tiga kakek yang duduk bersila itu adalah Pek In
Tosu.
Orang ke dua juga seorang tosu. Tubuhnya tinggi kurus seperti hanya tinggal tulang terbungkus kulit. Akan
tetapi muka kakek ini licin tanpa rambut sedikit pun, seperti muka kanak-kanak dan mulutnya selalu dihias
senyum ramah. Usianya sebaya dengan usia Pek In Tosu, sekitar tujuh puluh tahun, dengan pakaian serba
putih sederhana seperti juga yang dipakai Pek In Tosu. Dia berjuluk Swat Hwa Cinjin.
Orang ketiga bernama Hek Bin Tosu. Sesuai dengan namanya, muka tosu ini kehitaman dan tubuhnya
pendek besar. Wajahnya nampak serius serta bengis, pakaiannya juga putih dan usianya juga sebaya
dengan dua orang tosu lainnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mereka bertiga inilah yang dulu dikenal sebagai Himalaya Sam Lojin (Tiga Orang Kakek Himalaya).
Mereka dahulu adalah para pertapa di Himalaya yang ikut pula mengungsi ke Kun-lun-san untuk
menghindari bentrokan dan keributan dengan para Lama di Tibet.
Tidak mereka sangka, setelah puluhan tahun, kini muncul mereka yang menamakan dirinya Lima Harimau
Tibet, lima orang pendeta Lama sakti yang melakukan pengejaran ke Kun-lun-san dan menyerang para
pertapa yang berasal dari Himalaya! Bahkan baru saja ada dua orang pendeta Lama berusaha menangkap
Pek In Tosu, dengan ancaman membunuhnya kalau tidak mau menyerah.
“Siancai...! Sungguh mengherankan sekali sikap para Lama itu. Mengapa mereka itu memusuhi kita?” Hekbin
Tosu yang berwatak kasar namun jujur terbuka itu berseru.
Mereka bertiga ini bukan saudara seperguruan. Akan tetapi biar pun mereka datang dari sumber perguruan
yang lain, di Himalaya mereka bertemu, kemudian bersatu sebagai tiga orang murid dalam hal kerohanian,
di bawah petunjuk seorang guru besar yang kini telah tiada. Karena itu mereka bertiga merasa seperti
saudara saja dan mereka terkenal sebagai Himalaya Sam Lojin.
“Tidak tahukah engkau, sute?” kata Swat Hwa Cinjin. “Pada saat kita masih di Himalaya dahulu, mereka
para Lama itu sudah memusuhi para pertapa di sana dan menganggap bahwa para pertapa itu ingin
memberontak dan hendak menjatuhkan kedudukan Dalai Lama. Rupanya, meski sebagian besar para
pertapa menghindarkan diri, mereka masih terus mendendam dan kini mereka itu mengutus Lima Harimau
Tibet untuk membasmi para pertapa di pegunungan ini yang datang dari Himalaya.”
“Benar seperti apa yang dikatakan Swat Hwa sute. Sungguh menyedihkan sekali bagai mana orang-orang
yang sudah memiliki tingkat demikian tingginya, masih juga menjadi budak dari nafsu dendam!” kata Pek In
Tosu yang dianggap paling tua di antara mereka.
“Pinto hanya ingat sedikit saja akan hal itu, akan tetapi sampai sekarang pinto masih belum jelas
persoalannya. Mengapa para pendeta Lama itu menuduh para pertapa di Himalaya memberontak? Dan
mengapa pula yang mereka musuhi khususnya adalah kita bertiga?” Hek-bin Tosu bertanya penuh rasa
penasaran.
Pek In Tosu menarik napas panjang. “Memang mendiang suhu berpesan kepada pinto agar urusan itu
tidak perlu pinto ceritakan kepada siapa pun, sehingga engkau sendiri juga tidak mengetahuinya.
Sekarang, menghadapi nafsu balas dendam dari para Lama, biarlah kalian dengarkan apa yang pernah
terjadi puluhan tahun yang lalu.”
Swat Hwa Cinjin dan Hek-bin Tosu mendengarkan penuh perhatian. Sie Liong, anak bongkok yang duduk
bersila pula di tengah-tengah, juga ikut mendengarkan walau pun dia harus menahan rasa nyeri yang
membuat napasnya masih agak sesak dan dadanya terasa nyeri.
Tadi, pagi-pagi sekali, tiga orang tosu itu sudah mengobatinya dengan menempelkan tangan mereka pada
tubuhnya. Hawa yang hangat panas langsung memasuki tubuhnya dan memang perasaan nyeri di
dadanya itu banyak berkurang, walau pun belum lenyap sama sekali.
“Ketika itu, kurang lebih tiga puluh tahun yang lalu, mendiang suhu kebetulan berada di sebuah dusun di
kaki Himalaya. Suhu melihat serombongan pendeta Lama memasuki dusun dan dengan paksa mereka
hendak menculik seorang anak laki-laki yang menurut mereka adalah seorang calon Dalai Lama yang
harus mereka bawa ke Tibet. Ayah ibu anak itu tentu saja merasa keberatan dan tidak mau memberikan
putera mereka yang tunggal, apa lagi karena mereka bukanlah pemeluk Agama Buddha Tibet. Maka terjadi
ketegangan ketika para pendeta Lama itu memaksa. Orang-orang dusun lalu membela orang tua anak itu
dan terjadilah pertempuran. Banyak orang dusun itu tewas, termasuk ayah ibu anak itu. Suhu yang melihat
keributan itu turun tangan dan dalam bentrokan itu, tiga orang pendeta Lama tewas pada waktu mereka
bertanding melawan suhu. Para pendeta Lama menjadi gentar dan sambil melarikan anak itu dan mayat
kawan-kawan mereka, para pendeta Lama itu melarikan diri. Nah, sejak itulah terjadi dendam di pihak
pendeta Lama di Tibet dan mereka mengirim orang-orang pandai untuk membasmi para pertapa di
Himalaya. Tentu saja yang mereka musuhi pertama-tama adalah suhu. Karena suhu telah meninggal
dunia, maka tentu saja kita bertiga sebagai murid-murid suhu yang menjadi sasaran mereka itu, di samping
juga mereka menyerang semua pertapa di Himalaya karena mereka menuduh bahwa para pertapa ini
menentang Dalai Lama di Tibet dan hendak memberontak.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Akan tetapi, itu sungguh tindakan gila!” Hek-bin Tosu berseru penuh rasa penasaran. “Kenapa hanya
untuk memilih seorang anak menjadi calon Dalai Lama, mereka lantas bertindak kejam dan tidak segan
membunuhi manusia yang tidak berdosa?”
“Siancai, sute. Kalau sute mau bersikap tenang, tentu akan mudah melihat mengapa terjadi hal itu.
Kepercayaan yang membuat mereka bertindak seperti itu. Kepercayaan akan agama mereka secara
membuta sehingga apa pun yang dikatakan oleh pimpinan mereka merupakan perintah yang harus mereka
taati, mereka anggap sebagai perintah dari Thian sendiri. Dan betapa pun juga, anak yang mereka culik itu
adalah Dalai Lama yang sekarang!”
“Ahh…” Swat Hwa Cinjin dan Hek-bin Tosu berseru. “Kalau anak itu yang menjadi Dalai Lama, lalu kenapa
dia justru menyuruh Lima Harimau Tibet menggangu kita? Bukankah mendiang suhu bermaksud untuk
menolong dia dan keluarganya pada saat para Lama hendak menculiknya?”
“Ini pun suatu kejanggalan dan rahasia yang harus dipecahkan. Kita belum mempunyai bukti bahwa
penyerbuan ke Kun-lun-san sekali ini adalah atas perintah Dalai Lama. Sudahlah, kalau memang mereka
hendak menyerang kita, terpaksa kita hadapi dengan tenang dan tidak ada pilihan lain kecuali membela
diri. Kita tidak suka permusuhan, tidak membiarkan kebencian menyentuh batin, akan tetapi kita berhak
dan berkewajiban untuk melindungi diri kita dari serangan yang datang dari luar mau pun dalam.”
Tiga orang tosu itu kini berdiam diri, tenggelam ke dalam lamunannya masing-masing. Tidak mereka
sangka bahwa dalam usia yang sangat lanjut itu mereka masih harus menghadapi ancaman dari luar dan
terpaksa harus siap siaga untuk bertanding.
“Suheng, lalu bagaimana dengan anak ini? Kita sedang menghadapi bahaya ancaman Lima Harimau Tibet,
dan dia kini berada di tengah-tengah antara kita,” Swat Hwa Cinjin bertanya kepada Pek In Tosu.
“Siancai...! Agaknya, Thian yang menuntun anak ini sehingga tanpa disadarinya sendiri dia telah
menghindarkan pinto dari ancaman maut di tangan dua orang pendeta Lama itu sehingga dia sudah
menderita luka parah yang sangat berbahaya bagi keselamatan nyawanya. Kita bertiga sudah berusaha
mengusir hawa beracun itu, namun tak berdaya menyembuhkan lukanya. Harus ditangani seorang ahli
pengobatan yang pandai. Karena Thian sendiri yang menuntunnya berada di antara kita, maka sudah
menjadi kewajiban kita pula untuk melindunginya dan mencarikan seorang ahli untuk menolongnya.”
Kembali tiga orang tosu itu berdiam diri.
Sie Liong sejak tadi mendengarkan percakapan mereka. Dia tadinya juga tidak mengerti apa yang telah
terjadi. Karena keterangan Pek In Tosu, dia hanya tahu bahwa tanpa disengaja, dia telah mengacau
permainan sihir dua orang pendeta Lama itu sehingga mereka berusaha membunuhnya.
Dia sudah tahu bahwa dua orang pendeta Lama dari Tibet itu memusuhi kakek tosu yang kemudian
mengaku bernama Pek In Tosu. Dan sekarang, mendengar percakapan mereka, baru dia mengerti jelas
mengapa para pendeta Lama itu hendak membunuh para tosu ini.
Ketika mendengar betapa tiga orang kakek yang terancam oleh serangan para Lama yang sakti ini harus
melindungi pula dirinya, dia pun segera berkata.
“Harap sam-wi totiang memaafkan saya. Sam-wi sendiri sedang menghadapi ancaman para pendeta
Lama, maka tidak semestinya kalau sam-wi harus pula bersusah payah melindungi saya dan mencarikan
ahli pengobatan. Biarlah, saya akan pergi saja dan mencari sendiri ahli pengobatan itu supaya selanjutnya
tidak membuat sam-wi repot dan semakin terancam.” Berkata demikian, dia hendak bangkit untuk
meninggalkan tempat itu.
Akan tetapi begitu dia bangkit, rasa nyeri menusuk dadanya sehingga dia jatuh terduduk kembali.
“Duduk sajalah dengan tenang, Sie Liong. Engkau harus terus menenangkan tubuhmu, bernapas panjang
dan perlahan seperti yang kami ajarkan tadi dan jangan memikirkan apa-apa. Engkau sama sekali tidak
merepotkan kami,” kata Pek In Tosu.
Bagaimana pun juga, anak bongkok ini pernah menyelamatkan nyawanya, maka sudah menjadi kewajiban
mereka bertiga untuk melindunginya. Apa lagi mereka bertiga tadi sudah memeriksa keadaan tubuh Sie
dunia-kangouw.blogspot.com
Liong dan mereka mendapatkan kenyataan yang menakjubkan sekali, yaitu bahwa di dalam tubuh yang
bongkok itu ternyata terkandung tulang yang amat baik, darah yang bersih dan bakat yang besar!
Sie Liong terpaksa mentaati petunjuk Pek In Tosu ini sebab dia memang merasa pening begitu bangkit
berdiri tadi. Dia sudah mendapat petunjuk untuk duduk diam, bersila dan mengatur pernapasan seperti
yang diajarkan mereka.
Tiba-tiba muncul angin keras menyambar dan seperti setan saja, muncullah lima orang pendeta Lama di
tempat itu. Sie Liong hanya melihat bayangan merah berkelebatan dan tahu-tahu di situ telah berdiri lima
orang pendeta Lama yang sikapnya menyeramkan.
Dua di antara mereka adalah Thay Ku Lama si muka codet dan Thay Si Lama si muka bopeng yang
pernah dilihatnya. Tiga orang pendeta Lama yang lain juga mempunyai ciri yang mudah dibedakan satu
antara yang lain.
Orang ke tiga adalah seorang yang mukanya pucat seperti berpenyakitan dan dia ini berjuluk Thay Pek
Lama. Orang ke empat berjuluk Thay Hok Lama, matanya yang kiri buta, terpejam dan kosong tidak berbiji
mata lagi. Orang ke lima berjuluk Thay Bo Lama, kurus kering bagai tengkorak hidup. Inilah Lima Harimau
Tibet yang lengkap dan amat terkenal, yang belakangan mengamuk di Kun-lun-san itu.
Melihat munculnya lima orang ini, Himalaya Sam Lojin lantas menggeser duduk mereka. Sekarang mereka
bersila sejajar, membelakangi Sie Liong dan menghadapi lima orang pendeta Lama itu dengan sikap yang
tenang sekali.
Sie Liong membuka matanya lebar-lebar. Hatinya merasa tegang, akan tetapi dia pun tidak merasa takut,
hanya marah kepada lima orang pendeta Lama yang dianggapnya amat jahat dan sombong itu.
Melihat betapa tiga orang calon lawan itu telah duduk bersila dan berjajar menghadapi mereka, Lima
Harimau Tibet juga segera duduk bersila berjajar menghadapi Himalaya Sam Lojin. Thay Ku Lama, si
muka codet yang menjadi pimpinan mereka itu agaknya tadi memberi isyarat melalui gerakan tangan dan
tubuh.
Mereka berlima tidak berani memandang rendah pada tiga orang lawan mereka. Bukan hanya karena
nama Himalaya Sam Lojin sudah terkenal sebagai orang-orang sakti, bahkan beberapa hari yang lalu Thay
Ku Lama dan Thay Si Lama sudah merasakan kelihaian Pek In Tosu dan karenanya, kini mereka berlima
bersikap hati-hati sekali.
Jarak antara dua pihak itu ada lima meter, dan jelas nampak perbedaan antara sikap mereka. Bila
Himalaya Sam Lojin bersikap tenang saja, sebaliknya sikap Lima Harimau Tibet itu penuh geram, sinar
mata mereka mencorong penuh tuntutan dan tubuh mereka jelas membayangkan kesiap siagaan untuk
berkelahi.
Kedua pihak sampai lama tidak mengeluarkan kata-kata, hanya saling pandang seolah-olah hendak
mengukur kekuatan pihak lawan dengan pengamatan saja.
“Sam Lojin, sekali lagi kami menegaskan bahwa pimpinan kami, yaitu yang mulia Dalai Lama,
memerintahkan kalian bertiga untuk menghadap beliau!” tiba-tiba terdengar Thay Ku Lama berkata,
suaranya lirih namun jelas dan tajam, bahkan mengandung perintah dan ancaman.
“Siancai! Kami bukanlah rakyat Tibet, juga bukan hamba sahaya pemerintah Tibet, oleh karena itu
menyesal sekali kami tidak dapat memenuhi perintah itu.”
“Kalian tinggi hati! Baiklah, kami menggunakan kata-kata yang halus. Pemimpin kami, yang mulia Dalai
Lama mengundang sam-wi untuk datang karena beliau ingin berbicara dengan sam-wi,” kata pula Thay Ku
Lama, biar pun kata-katanya halus dan sopan, akan tetapi mengandung ejekan.
“Maafkan kami. Kami sudah tua dan lelah, tidak mungkin dapat memenuhi undangan itu. Kalau Sang Dalai
Lama memang berkeinginan untuk bicara dengan kami, silakan saja datang ke Kun-lun-san dan kami akan
menyambutnya.”
Marahlah Lima Hariman Tibet itu! “Kalian memang tua bangka yang sombong sekali! Apakah kalian berani
menandingi kesaktian kami?” bentak pula Thay Ku Lama.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Siancai...! Terserah pada kalian. Kami tidak ingin bermusuhan dengan siapa pun juga, akan tetapi juga
tidak ingin kemerdekaan kami dilanggar,” jawab Pek In Tosu dengan sikap tenang.
Lima orang pendeta Lama itu kini merangkap kedua tangan di depan dada seperti orang menyembah.
Kedua mata mereka dipejamkan dan mereka seperti sudah pulas dalam semedhi.
Sie Liong yang sejak tadi mendengarkan sambil duduk bersila di belakang tiga orang kakek tua renta,
diam-diam merasa amat mendongkol kepada lima orang pendeta Lama itu. Biar pun dia tidak mengerti
betul akan urusan di antara kedua golongan itu, namun dia melihat sikap mereka dan dapat menilai bahwa
lima orang pendeta Lama itulah yang sombong dan hendak menggunakan kekerasan memaksakan
kehendak mereka kepada orang lain.
Sebaliknya, sikap tiga orang tosu itu dianggapnya amat mengalah, hal yang membuat hatinya tidak puas
sama sekali. Dia tahu bahwa tiga orang tosu itu memiliki kesaktian, mengapa harus begitu mengalah
terhadap lima orang pendeta Lama yang demikian tinggi hati dan keras? Mengalah sebaiknya
dipergunakan menghadapi orang yang baik, sedangkan untuk menghadapi orang-orang yang jahat,
sepatutnya kalau diambil sikap yang tegas pula! Demikian pikiran Sie Liong yang sudah banyak mengalami
penderitaan akibat perbuatan yang jahat dan mengandalkan kekerasan.
Tiba-tiba Sie Liong memandang dengan mata terbelalak. Ia mengejap-ngejapkan kedua matanya,
kemudian menggosok-gosoknya dan memandang lagi. Akan tetapi tetap saja nampak olehnya hal yang
dianggapnya tidak mungkin itu.
Dia melihat betapa tubuh kelima orang pendeta Lama itu perlahan-lahan naik dari atas tanah yang menjadi
tempat mereka bersila, dan masih dalam keadaan masih bersila, lima sosok tubuh pendeta Lama itu terus
naik ke atas sampai setinggi dua kaki dari atas tanah! Mereka seperti terbang atau mengapung di udara,
seolah-olah tubuh mereka kehilangan bobot dan menjadi seperti balon kosong berisi udara yang amat
ringan!
“Sam-wi Lojin, lihat! Apakah kalian berani menandingi kesaktian kami?” Thay Ku Lama yang sudah
membuka matanya, berseru.
Tiga orang tosu itu memandang dengan mata terbelalak. Mereka tahu bahwa memang tingkat lima orang
pendeta Lama itu sudah amat tinggi. Untuk dapat melenyapkan bobot seperti itu dan mengapung,
membutuhkan tingkat yang sudah tinggi dari semedhi!
Akan tetapi, tiba-tiba Sie Liong yang tidak sabar melihat kecongkakan lima orang itu dan tidak ingin melihat
tiga orang tosu itu merasa rendah diri kemudian dikalahkan, berseru dengan suara nyaring.
“Uhhhh! Kalian ini lima orang pendeta Lama yang sangat congkak! Apa sih artinya mengapung di udara
seperti itu saja? Kecoa-kecoa yang kotor, lalat-lalat yang kotor itu pun mampu mengapung lebih tinggi dan
lebih lama dari pada kalian! Kepandaian kalian itu bila dibandingkan dengan lalat dan nyamuk belum ada
seperseratusnya! Andai kata kalian pandai terbang sekali pun, masih belum menandingi kemampuan
terbang burung gereja yang kecil dan lemah! Dan kalian sudah berani menyombongkan kepandaian yang
tidak ada artinya itu? Sungguh, batok kepala kalian yang gundul itu agaknya sudah terlampau keras
sehingga tidak melihat kenyataan betapa kalian bersikap seperti lima orang badut yang tidak lucu!”
Tiga orang tosu itu terkejut bukan main! Juga Sie Liong terkejut karena walau pun dia mendongkol dan
tidak suka terhadap lima orang pendeta Lama itu, akan tetapi semua kata-kata itu keluar dari mulutnya
tanpa dia sadari, seolah-olah keluar begitu saja dan dikendalikan oleh kekuatan lain. Seolah-olah bukan dia
yang bicara seperti itu, namun orang lain yang hanya ‘meminjam’ mulut dan suaranya! Tadinya dia
memang berniat untuk mengeluarkan suara menyatakan kedongkolan hatinya dan mengejek lima orang
pendeta Lama itu, akan tetapi baru satu kalimat, lalu mulutnya sudah menyerocos terus tanpa dapat dia
kendalikan!
Lima orang pendeta Lama itu demikian terkejut, marah dan malu mendengar teguran yang keluar dari
mulut anak kecil itu dan sungguh luar biasa sekali. Pengaruh ucapan itu membuat mereka goyah dan tanpa
dapat dihindarkan lagi, tubuh mereka pun meluncur turun.
dunia-kangouw.blogspot.com
Terdengar suara berdebuk ketika pantat lima orang pendeta Lama itu terbanting ke atas tanah! Tidak sakit
memang, namun hati mereka yang sakit. Mata mereka sudah melotot, memandang kepada Sie Liong dan
dari mata mereka seolah-olah keluar api yang akan membakar tubuh anak bongkok itu.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara ketawa, disusul suara yang lembut namun cukup nyaring. “Ha-ha-haha,
sungguh tepat sekali ucapan itu! Lima Harimau Tibet bukan lain hanyalah badut-badut belaka, macanmacan
kertas yang hanya dapat menakut-nakuti anak-anak saja!”
Dari belakang tiga orang tosu itu bermunculan banyak orang. Mereka adalah lima belas orang murid kepala
Kun-lun-pai yang dipimpin oleh dua orang ketua Kun-lun-pai sendiri, yaitu Thian Hwat Tosu dan wakilnya,
Thian Khi Tosu dan yang tertawa dan bicara tadi adalah Thian Khi Tosu yang berwatak keras berdisiplin
dan jujur.
Lima orang pendeta Lama itu cepat memandang. Ketika mereka melihat orang-orang Kun-lun-pai itu,
kemarahan mereka pun memuncak dan untuk sementara mereka tidak mempedulikan tiga orang Himalaya
Sam Lojin, melainkan mereka memandang kepada orang-orang Kun-lun-pai itu.
“Hemm, kiranya orang-orang Kun-lun-pai sudah berani lancang untuk menentang kami Lima Harimau
Tibet?”
“Siancai...” Kini Thian Hwat Tosu melangkah maju dan menghadapi lima orang pendeta Lama yang sudah
bangkit berdiri itu, diikuti oleh Thian Khi Tosu dan lima belas orang murid utama Kun-lun-pai.
Thian Hwat Tosu menghadap kepada tiga orang tosu yang masih duduk bersila dengan tenang, memberi
hormat dengan kedua tangannya di dada dan berkata dengan penuh hormat. “Mohon sam-wi locianpwe
sudi memaafkan kami jika kami mengganggu, karena kami mempunyai suatu urusan dengan Lima
Harimau Tibet ini.”
Pek In Tosu tersenyum dan mewakili dua orang saudaranya menjawab, “Silakan, To-yu dari Kun-lun-pai.”
Kini Thian Hwat Tosu kembali menghadapi lima orang pendeta Lama dan dengan suara lembut dan sikap
hormat dia pun berkata, “Ngo-wi losuhu adalah lima orang terhormat dari Tibet. Agaknya ngo-wi lupa
bahwa di sini bukanlah daerah Tibet, melainkan daerah Kun-lun-san. Kedatangan ngo-wi sudah lama kami
dengar, akan tetapi kami tidak ingin mencampuri urusan orang lain. Betapa pun juga, setelah mendengar
laporan dua orang murid kami yang telah ngo-wi robohkan, kami mengambil keputusan bahwa kami tidak
mungkin mendiamkan saja urusan ini. Kalau dilanjutkan sepak terjang ngo-wi di daerah ini, kami khawatir
kalau terjadi bentrokan yang lebih hebat. Karena itu, Ngo-wi losuhu, demi kedamaian, kami mohon dengan
hormat sudilah kiranya ngo-wi kembali ke Tibet dan tidak melanjutkan tindakan ngo-wi di sini, dan kami pun
akan melupakan apa yang telah terjadi di sini selama beberapa pekan ini.”
Ucapan ketua Kun-lun-pai itu bernada halus dan juga sopan, sama sekali tidak ada sikap menyalahkan
atau menegur, tapi mengkhawatirkan bila terjadi kesalah pahaman. Oleh karena sikapnya yang lembut ini,
kemarahan lima orang pendeta Lama itu agak mereda, dan Thay Ku Lama lalu membalas penghormatan
ketua Kun-lun-pai dan dia pun berkata dengan suara yang tegas, namun tidak kasar.
“Pai-cu (ketua), kami mengerti apa yang kau maksudkan. Kami pun menerima tugas untuk mencari orangorang
tertentu dan kami sama sekali tidak ingin mengganggu, apa lagi memusuhi Kun-lun-pai selama Kunlun-
pai tidak mencampuri urusan kami. Kalau beberapa hari yang lalu kami terpaksa telah memberi hajaran
kepada dua orang murid Kun-lun-pai, hal itu terjadi karena dua orang murid itu mencampuri urusan kami
yang tak ada sangkut-pautnya dengan mereka. Namun, kami masih memandang muka Pai-cu dan nama
besar Kun-lun-pai, kalau tidak demikian, apakah kiranya dua orang murid itu sekarang akan masih tinggal
hidup?”
Dalam kalimat terakhir ini jelas sekali Thay Ku Lama menonjolkan kepandaian mereka dan meremehkan
kepandaian murid Kun-lun-pai, juga terkandung pandangannya yang congkak.
“Lama yang sombong!” Thian Khi Tosu berseru geram. “Tentu saja dua orang murid kami itu bukan lawan
kalian karena mereka hanyalah murid kami tingkat tiga yang masih hijau! Coba yang kau hadapi itu muridmurid
utama Kun-lun-pai atau kami sendiri, belum tentu akan dapat mengalahkan dengan semudah itu!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Omitohud...! Siapakah yang sombong, kami ataukah Kun-lun-pai? Sungguh, kami pun ingin melihat
apakah benar Kun-lun-pai demikian tangguh dan lihainya sehingga berani mencampuri urusan kami para
utusan Tibet!”
Thian Khi Tosu yang memang berwatak keras itu segera menjawab, dengan suaranya yang keras. “Bagus!
Lima Harimau Tibet menantang kami dari Kun-lun-pai? Kami bukan mencari permusuhan. Akan tetapi
kalau ditantang, siapa pun juga akan kami hadapi!”
“Omitohud...!” Thay Si Lama, orang ke dua dari Lima Harimau Tibet itu berseru. “Kalau begitu majulah dan
mari kita buktikan siapa yang lebih unggul di antara kita!”
“Manusia sombong! Aku yang akan maju mewakili Kun-lun-pai!” Thian Khi Tosu hendak melangkah maju,
akan tetapi tiba-tiba lima belas orang murid utama dari Kun-lun-pai yang terdiri dari pria berusia antara tiga
puluh sampai lima puluh tahun, sudah serentak berlompatan ke depan dan seorang di antara mereka
berkata kepada Thian Khi Tosu,
“Harap suhu jangan merendahkan diri maju sendiri. Ji-wi suhu adalah tuan-tuan rumah, pimpinan Kun-lunpai.
Masih ada teecu sekalian yang menjadi murid, perlukah ji-wi suhu maju sendiri? Biar kami yang
menghadapi lima orang Lama sombong ini!”
Thian Khi Tosu hendak membantah, akan tetapi suheng-nya, Thian Hwat Tosu ketua Kun-lun-pai
menyentuh lengannya dan mencegah sehingga wakil ketua itu membiarkan lima belas orang murid utama
itu maju. Kalau lima belas orang murid utama itu maju bersama, maka mereka bahkan lebih kuat dari pada
dia atau suheng-nya sekali pun.
Lima belas orang murid itu merupakan murid utama yang ilmu kepandaiannya sudah matang dan tinggi,
apa lagi kalau mereka maju bersama. Mereka itu sudah menciptakan suatu ilmu, dibantu oleh petunjuk
guru-guru mereka, yaitu ilmu dalam bentuk barisan yang dinamakan Kun-lun Kiam-tin (Barisan Pedang
Kun-lun).
Dengan barisan pedang ini, mereka dapat menjadi suatu pasukan yang luar biasa kuat sehingga ketika
diuji, bahkan dua orang pimpinan Kun-lun-pai itu sendiri terdesak dan tidak mampu mengatasi
ketangguhan Kun-lun Kiam-tin! Inilah sebabnya mengapa Thian Hwat Tosu mencegah sute-nya turun
tangan sendiri. Para murid itu cukup tangguh, bahkan dapat dijadikan batu ujian untuk mengukur sampai di
mana kepandaian musuh!
Lima belas orang murid utama Kun-lun-pai itu lalu berlarian menuju ke tempat terbuka, di atas padang
rumput yang lapang. Di situ mereka membentuk barisan berjajar dengan pedang di tangan masing-masing,
kelihatan gagah perkasa dan amat rapi.
“Lima Harimau Tibet, kami telah siap sedia! Majulah kalau kalian memang berniat untuk memusuhi Kunlun-
pai!” bentak murid tertua yang usianya telah hampir lima puluh tahun dan menjadi kepala barisan
pedang itu, berdiri di ujung kanan.
Melihat ini, lima orang pendeta Lama tersenyum mengejek. Dengan berjajar mereka pun melangkah maju
menghadapi lima belas orang itu.
Setelah mereka saling berhadapan, lima belas orang murid pertama Kun-lun-pai itu lalu bergerak mengikuti
aba-aba yang dikeluarkan oleh pemimpin pasukan, dan mereka pun sudah mengepung lima orang pendeta
Lama. Gerakan kaki mereka ketika melangkah amat tegap dan dengan ringan pula, menunjukkan bahwa
mereka sudah berlatih sampai matang.
Melihat ini, lima orang pendeta Lama itu pun bergerak membuat suatu bentuk sagi lima dan berdiri saling
membelakangi. Bentuk seperti ini memang paling kokoh kuat untuk pembelaan diri. Mereka berlima dapat
menghadapi pengeroyokan banyak lawan dengan cara saling melindungi dan tidak akan dapat diserang
dari belakang, bahkan serangan dari samping dapat pula mereka hadapi bersama rekan yang berada di
sampingnya. Pendeknya, pengepungan lima belas orang murid Kun-lun-pai itu berkurang banyak
bahayanya dengan kedudukan lima orang Lama seperti itu.
Lima belas orang murid Kun-lun-pai itu adalah ahli silat yang sudah pandai. Mereka tidak berani
memandang ringan lima orang lawan mereka. Mereka tahu bahwa kalau bertanding satu lawan satu, di
antara mereka tidak akan ada yang mampu menandingi pendeta-pendeta Lama itu, yang memiliki tingkat
dunia-kangouw.blogspot.com
kepandaian lebih tinggi dari mereka, bahkan mungkin lebih tinggi dari pada tingkat ilmu kepandaian guruguru
mereka, kalau melihat demonstrasi yang mereka perlihatkan tadi.
Namun, mereka mengandalkan keampuhan barisan Kun-lun Kiam-tin. Begitu pimpinan mereka memberi
aba-aba, maka lima belas orang itu langsung bergerak, mulai dengan penyerangan mereka yang serentak!
Memang hebat gerakan para murid Kun-lun-pai ini. Pedang mereka berkelebatan bagai kilat menyambarnyambar.
Ilmu pedang Kun-lun-pai memang terkenal amat hebat, dan kini mereka bukan hanya
mengandalkan ilmu pedang masing-masing, bahkan diperkuat pula oleh kerapian barisan yang teratur
sehingga begitu menyerang, kekuatan mereka terpadu, bagaikan gelombang samudera yang menerjang ke
depan dengan dahsyatnya!
Lima orang pendeta Lama itu telah siap siaga. Dengan gerakan cepat sehingga sukar diikuti pandang
mata, tangan mereka bergerak dan tahu-tahu mereka telah memegang senjata masing-masing.
Thay Ku Lama si muka codet sudah memegang sebatang golok tipis yang tadinya dia sembunyikannya di
balik jubah merah yang longgar dan panjang itu. Thay Si Lama si muka bopeng sudah memegang
sebatang cambuk hitam seperti cambuk penggembala lembu. Thay Pek Lama si muka pucat sudah
memegang sepasang pedang yang tipis dan mengeluarkan cahaya kehijauan.
Thay Hok Lama si mata satu sudah memegang sebatang rantai baja yang tadi dipakai sebagai sabuk,
sedangkan Thay Bo Lama sudah memegang sebatang tombak. Lama kurus kering ini memiliki sebatang
tombak yang dapat dilipat dan ditekuk menjadi tiga bagian kemudian diselipkan di pinggang tertutup jubah.
Kini, tombak itu diluruskan dan menjadi sebatang tombak yang panjangnya sama dengan tubuhnya.
Serangan pertama yang serentak dilakukan oleh para murid Kun-lun-pai terhadap lima orang lawan
mereka itu membuat setiap orang pendeta Lama diserang oleh tiga orang lawan. Mereka berlima sama
sekali tak menjadi gugup dan mereka pun menggerakkan senjata mereka menangkis.
Terdengar bunyi nyaring berdenting-denting, kemudian disusul bunga-bunga api berpijar menyilaukan mata
pada saat lima belas batang pedang itu tertangkis oleh senjata lima orang pendeta Lama. Karena memang
tenaga sinkang dari para pendeta Lama itu lebih kuat, maka banyak di antara pedang yang menyerang itu
langsung terpental keras dan pemegangnya merasa betapa lengan mereka tergetar hebat!
Namun, pimpinan mereka memberi aba-aba dan mereka melanjutkan serangan sampai bergelombang
beberapa kali, akan tetapi selalu dapat ditangkis oleh lima orang pendeta Lama, bahkan yang terakhir
kalinya, lima orang pendeta Tibet itu mengerahkan tenaga mereka, membuat lima belas orang penyerang
itu terdorong ke belakang, bahkan ada yang hampir jatuh setelah terhuyung-huyung.
Kesempatan ini digunakan oleh lima Harimau Tibet itu untuk membalas serangan pihak lawan yang
jumlahnya tiga kali lebih banyak dari jumlah mereka itu. Thay Ku Lama yang merupakan orang pertama
dari Lima Harimau Tibet, memutar goloknya dan golok itu seperti kilat menyambar-nyambar, menyerang
siapa saja di antara pihak lawan terdekat.
Thay Si Lama, si muka bopeng, juga menggerakkan cambuknya dan terdengar cambuk itu meledak-ledak
di atas kepala para murid Kun-lun-pai. Thay Pek Lama juga memutar sepasang pedangnya yang berubah
menjadi dua gulungan sinar terang.
Thay Hok Lama juga memutar rantai baja di tangannya sehingga senjata istimewa ini segera menyambarnyambar
ke sekelilingnya, seperti jari-jari maut. Orang ke lima, Thay Bo Lama yang kurus kering itu
menggerakkan tombaknya sehingga terdengarlah suara mendengung-dengung karena si kurus kering ini
ternyata memiliki tenaga raksasa.
Biar pun cengkeraman maut yang disebarkan oleh Tibet Ngo-houw dapat pula dihindari oleh lima belas
orang murid utama Kun-lun-pai itu dengan cara saling melindungi dan saling membantu, namun mereka
terdesak hebat dan hanya mampu mempertahankan diri saja terhadap serangan lima orang pendeta Lama
yang bertubi-tubi itu datangnya. Jelas nampak bahwa pertempuran ini tidak seimbang sama sekali.
Lewat dua puluh jurus lebih, dari lima belas orang murid utama Kun-lun-pai itu hanya sepuluh orang yang
masih mampu melawan, karena yang lima orang sudah terjungkal roboh terkena sambaran senjata lawan.
Sepuluh orang ini lantas mempertahankan diri mati-matian, namun kalau dilanjutkan, jelas bahwa mereka
pun akan roboh seperti yang dialami lima orang saudara mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba berkelebat bayangan dua orang disertai terdengarnya suara bentakan nyaring.
“Tahan senjata!”
Ketika sepuluh orang murid utama Kun-lun-pai melihat bahwa yang maju adalah kedua orang guru mereka,
maka mereka pun berloncatan ke belakang dan sebagian segera menolong lima orang saudara mereka
yang tadi terluka. Lima orang pendeta Lama juga menahan senjata mereka dan sekarang mereka
memandang dengan senyum mengejek kepada dua orang pimpinan Kun-lun-pai itu.
“Pinto Thian Khi Tosu dan suheng Thian Hwat Tosu menantang kalian untuk mengadu ilmu kepandaian
seorang lawan seorang!” bentak Thian Khi Tosu yang bertubuh besar itu dengan garang.
Mendengar ini, lima orang pendeta Lama itu saling pandang, lalu Thay Ku Lama tertawa sambil melangkah
maju. “Omitohud...! Dua orang tosu pimpinan Kun-lun-pai sungguh mau menang dan mau enak sendiri
saja! Baru mereka membiarkan lima belas orang muridnya untuk mengeroyok kami berlima, dan kini bicara
tentang mengadu kepandaian seorang lawan seorang!”
Wajah Thian Khi Tosu menjadi marah. “Bagus! Jangan kalian mengira bahwa pinto takut menghadapi
pengeroyokan. Kalau kalian berlima hendak maju mengeroyok, silakan!”
“Sute, harap tenangkan hatimu!” Thian Hwat Tosu menegur sute-nya, kemudian ketua Kun-lun-pai ini
melangkah ke depan dan memberi hormat kepada lima orang Lama dari Tibet itu. “Siancai... pinto berdua
mohon maaf kepada Ngo-wi. Maafkan para murid kami yang tadi lancang turun tangan, mengeroyok
kepada Ngo-wi. Akan tetapi, mereka itu hanyalah orang-orang muda yang kurang pengalaman dan terima
kasih atas pelajaran yang Ngo-wi berikan pada mereka. Pinto berdua sute yang kebetulan menjadi
pimpinan Kun-lun-pai bertanggung jawab terhadap semua urusan Kun-lun-pai. Agar pertentangan antara
Ngo-wi dan kami tidak terus berlarut-larut, biarlah kami berdua sebagai pimpinan Kun-lun-pai mewakili
perkumpulan kami untuk menentukan apakah Kun-lun-pai masih mampu mempertahankan kedaulatannya
di daerah Kun-lun-san ini. Kalau kami ternyata tidak mampu menandingi Ngo-wi dalam pertandingan yang
adil, satu lawan satu, biarlah kami akan mundur dan selanjutnya pihak Kun-lun-pai tidak akan menghalangi
semua sepak terjang Ngo-wi lagi.”
Ucapan yang panjang itu terdengar halus, namun mengandung tantangan, juga teguran, di samping janji.
“Omitohud... Bagus sekali kalau ketua Kun-lun-pai sendiri yang berjanji begitu. Memang cukup adil! Kita
golongan persilatan memang hanya mempunyai satu aturan, yaitu siapa yang lebih kuat dia berhak
menentukan peraturan. Kalau ternyata kami kalah oleh ketua Kun-lun-pai, biarlah kami angkat kaki dari
sini, kecuali kalau di antara kami masih ada yang mampu menandingi ketua Kun-lun-pai. Thay Si sute,
engkau temani aku untuk bermain-main dengan dua orang tosu ini sebentar.”
Thay Si Lama, si muka bopeng, sambil tersenyum lalu melangkah maju mendampingi suheng-nya, yaitu
Thay Ku Lama, sambil melintangkan cambuknya di depan dada. Thay Ku Lama sendiri sudah semenjak
tadi mempersiapkan golok yang dipegang terbalik dan bersembunyi di balik lengannya.
“Ha-ha-ha!” Orang ke dua dari Tibet Ngo-houw yang mukanya bopeng ini tertawa. “Ini baru pertandingan
yang menarik, suheng, tidak main keroyok seperti tadi.”
Thian Khi Tosu menghadapi Thay Si Lama dan Thay Si Lama yang melihat bahwa wakil ketua Kun-lun-pai
ini tidak bersenjata, segera meledakkan cambuknya di atas kepala dan berseru, “Tosu, keluarkan
senjatamu!”
Akan tetapi, sebelum kedua pihak bergerak menyerang, Pek In Tosu yang tadi masih duduk bersila
bersama dua orang kawannya, sekarang sudah bangkit berdiri dan sekali tubuhnya bergerak, tubuh itu
sudah melayang dan berdiri di antara dua orang tosu dan dua orang Lama itu. Dengan sikap tenang dan
wajah ramah dia menghadapi dua orang tosu Kun-lun-pai dan suaranya terdengar lembut.
“Toyu, pinto harap toyu dapat menjaga nama baik Kun-lun-pai. Kami pernah mendengar bahwa Kun-lunpai
adalah perkumpulan para orang gagah yang tak pernah mencampuri mencampuri urusan orang lain.
Kalau sekali ini Kun-lun-pai mencampuri urusan para Lama dari Tibet, berarti Kun-lun-pai membahayakan
nama baiknya sendiri. Ketahuilah bahwa para pendeta Lama dari Tibet ini datang ke Kun-lun-pai sama
sekali bukan untuk memusuhi Kun-lun-pai, melainkan untuk mencari kami yang dulu disebut Himalaya Sam
Lojin. Karena kami dari Himalaya pindah ke Kun-lun-san ini untuk mencari tempat sunyi dan damai, maka
dunia-kangouw.blogspot.com
mereka mengejar ke sini dan sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan pihak Kun-lun-pai. Jika
sekarang Kun-lun-pai mencampuri, bukankah itu berarti Kun-lun-pai terlalu iseng dan membahayakan
nama baiknya sendiri? Oleh karena itulah kami bertiga minta supaya Kun-lun-pai suka mundur dan
menutup semua pintu, tidak membiarkan anak muridnya mencampuri urusan orang luar.”
Mendengar ucapan kakek berpakaian putih dan berambut putih ini, dua orang pimpinan Kun-lun-pai itu
saling pandang. Ucapan itu memang tepat dan benar. Dua orang murid tingkat tiga mereka memang
bentrok dengan dua orang dari Lima Harimau Tibet, akan tetapi hal itu terjadi karena murid-murid itu
mencampuri urusan para pendeta Lama.
Jika sekarang pertandingan dilanjutkan dan mereka sampai kalah, suatu hal yang amat boleh jadi
mengingat saktinya kelima orang pendeta Lama itu, nama besar Kun-lun-pai akan jatuh!
Dan sebaliknya andai kata mereka menang, berarti mereka menanam bibit permusuhan dengan para
pendeta Lama di Tibet dan hal itu sungguh amat berbahaya sekali! Para pendeta Lama di bawah Dalai
Lama bukan hanya merupakan sekelompok pemimpin agama yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi,
bahkan juga menjadi pucuk pimpinan negara itu sendiri!
Bermusuhan dengan para pendeta Lama sama dengan bermusuhan dengan seluruh rakyat Tibet! Jelaslah
bahwa ucapan Pek In Tosu tadi menyadarkan mereka akan dua kemungkinan yang sama-sama sangat
merugikan Kun-lun-pai itu. Menang atau kalah, akibatnya amat buruk bagi Kun-lun-pai dan sungguh tidak
sepadan dengan sebabnya, yang pada hakekatnya juga salah murid mereka sendiri.
“Siancai...!” berkata Thian Hwa Tosu sambil menjura. “Sungguh ucapan yang bijaksana sekali. Kami akan
menjadi orang-orang yang tak mengenal budi bila tidak mentaatinya. Terima kasih atas nasehat itu,
locianpwe. Dan kepada para Lama, kami mohon maaf dan sejak saat ini, Kun-lun-pai tidak lagi
mancampuri urusan kalian. Sute, ajak semua murid untuk kembali ke asrama!” Ucapan terakhir ini
merupakan perintah.
Meski pun mukanya merah karena penasaran dan marah, Thian Khi Tosu tidak berani membantah perintah
suheng-nya. Dia pun mengajak semua murid untuk pergi mengikuti ketua mereka, dan membawa mereka
yang terluka, pulang ke benteng Kun-lun-pai dan selanjutnya pintu benteng atau asrama itu ditutup rapatrapat!
Setelah semua orang Kun-lun-pai pergi, Thay Ku Lama yang memimpin Tibet Ngo-houw itu tertawa. “Haha-
ha, sungguh luar biasa! Himalaya Sam-lojin malah membantu kami sehingga pekerjaan kami menjadi
jauh lebih ringan, tak perlu menyingkirkan penghalang berupa Kun-lun-pai! Bagus sekali! Kami pun bukan
orang-orang yang tidak ingat budi. Karena kalian telah memperlihatkan sikap baik, dengan menyadarkan
ketua Kun-lun-pai sehingga mereka tidak menentang kami, maka kami pun menawarkan jalan damai untuk
kalian. Marilah kalian ikut dengan kami, sebagai tamu undangan untuk kami hadapkan kepada yang mulia
Dalai Lama di Tibet. Kami tidak akan menganggap kalian sebagai tawanan, melainkan tamu undangan.
Bagaimana?”
Kini tiga orang kakek itu sudah bangkit berdiri semua dan Pek In Tosu juga tersenyum ramah ketika
menjawab, “Siancai...! Terima kasih atas niat baik itu. Akan tetapi sungguh sayang dan maafkan kami,
Ngo-wi Lama, terpaksa sekali kami tidak dapat menerima undangan terhormat itu.”
Wajah Thay Ku Lama yang tadinya tersenyum, seketika berubah keruh dan alisnya berkerut, perutnya
yang gendut itu bergerak-gerak menggelikan. Akan tetapi siapa yang telah mengenalnya baik-baik, maklum
betapa hebatnya perut gendut itu! Yang membuat perut gendut itu bergerak-gerak seolah-olah di dalamnya
ada bayi dalam kandungan itu, sesungguhnya adalah ilmu pukulan Hek-bin Tai-hong-ciang itu, yang
dilakukan sambil berjongkok dan perutnya mengeluarkan bunyi berkokok seperti seekor katak besar!
“Hmm, apakah yang memaksa kalian menolak undangan kami yang telah kami lakukan dengan
merendahkan diri?” tanyanya dengan suara membentak.
Pek In Tosu masih bersikap halus dan ramah, “Pertama, kami adalah tiga orang yang sudah tua dan
lemah, dan setua ini kami hanya ingin menikmati kehidupan yang tenang sehingga undangan terhormat itu
tidak dapat kami terima karena kami tidak sanggup melakukan perjalanan sejauh itu ke Tibet. Ke dua, kami
merasa tidak memiliki urusan apa pun dengan Dalai Lama, sehingga andai kata beliau yang mempunyai
kepentingan dengan kami, sepatutnya Dalai Lama yang datang ke sini menemui kami, bukan kami yang
dunia-kangouw.blogspot.com
diundang ke sana karena bagaimana pun juga, kami bukanlah anggotanya mau pun rakyatnya. Nah, itulah
sebabnya mengapa kami tidak dapat menerima undangan itu.”
“Mau atau tidak, menerima atau menolak, kalian bertiga tetap harus ikut bersama kami ke Tibet!” bentak
Thay Bo Lama, seorang di antara mereka yang tubuhnya kurus kering dan wataknya memang keras.
“Kalau perlu, kami menggunakan kekerasan!”
Pek In Tosu mengangguk-angguk sambil tersenyum dan mengelus jenggotnya.
“Siancai... memang sudah kuduga demikian. Katakan saja bahwa kalian datang untuk membunuh kami,
tidak perlu memakai banyak macam alasan.”
“Benar! Kami memang hendak membunuh kalian!” bentak Thay Ku Lama.
Dia sudah menerjang dengan goloknya, diikuti oleh empat orang adik seperguruannya yang
mempergunakan senjata masing-masing.
Himalaya Sam Lojin tentu saja cepat mengelak dan terjadilah perkelahian mati-matian. Akan tetapi, tiga
orang kakek itu sama sekali tidak bersenjata. Biar pun mereka adalah tokoh-tokoh besar dalam dunia
persilatan dan memiliki ilmu kepandaian tinggi, pandai menggunakan segala macam senjata, namun sudah
sejak belasan tahun mereka tidak pernah menyentuh senjata, apa lagi membawa senjata. Memikirkan
tentang perkelahian saja pun tidak pernah. Selain itu, juga bagi seorang yang sudah ahli benar dalam ilmu
silat, menggunakan senjata ataukah tidak sama saja karena kaki tangan mereka sudah merupakan senjata
yang paling ampuh.
Tiga orang kakek Himalaya ini sudah memiliki tingkat kepandaian yang amat tinggi, baik ilmu silatnya, mau
pun tenaga sakti mereka yang sudah matang. Selain itu, juga mereka memiliki kekuatan batin yang mampu
menghadapi segala macam kekuatan sihir atau ilmu hitam.
Akan tetapi, mereka telah puluhan tahun tak pernah berkelahi, tak pernah menggunakan ilmu-ilmunya
untuk bertentangan apa lagi saling serang dengan orang lain. Selama ini bahkan mereka hanya tekun
memerangi semua nafsu sendiri dalam kerinduan mereka kepada Tuhan, keinginan mereka untuk kembali
kepada ‘sumbernya’, bagaikan titik-titik air yang ingin kembali ke lautan.
Maka, kini menghadapi serangan lima orang lawan yang sakti, mereka itu kurang gairah dan kurang
semangat, hanya lebih banyak membela atau melindungi diri mereka sendiri saja, sama sekali tidak ada
nafsu untuk merobohkan lawan walau pun andai kata ada nafsu itu pun tidak akan mudah bagi mereka
untuk merobohkan Tibet Ngo-houw.
Di lain pihak, lima orang pendeta Lama dari Tibet itu pun merupakan orang-orang yang sudah matang ilmu
kepandaiannya. Bukan hanya keahlian ilmu silat tingkat tinggi yang mereka miliki, akan tetapi juga tenaga
sinkang mereka amat kuat dan di samping itu, mereka pun pandai ilmu sihir.
Thay Ku Lama mempunyai pukulan Hek-in Tai-hong-ciang yang mengeluarkan tenaga dari pusat dasar
perutnya yang gendut. Pukulannya ini amat berbahaya, selain kuat dan mampu merontokkan isi perut
lawan, juga mengandung hawa beracun yang ganas.
Ada pun orang ke dua, Thay Si Lama, di samping permainan cambuknya yang dahsyat, juga memiliki ilmu
Sin-kun Hoat-lek, ilmu silat yang mengandung kekuatan sihir. Orang ke tiga, Thay Pek Lama merupakan
ahli sepasang pedang yang memiliki ginkang yang luar biasa, membuat dia dapat bergerak seperti terbang
saja.
Thay Hok Lama, orang ke empat yang bermata tunggal itu, selain permainan senjata rantai bajanya
berbahaya sekali, juga merupakan seorang ahli racun yang mengerikan. Kemudian orang ke lima, Thay Bo
Lama, biar pun kurus kering, akan tetapi tenaganya raksasa dan dia pandai sekali memainkan senjata
tombaknya.
Dan yang lebih dari pada semua itu, ke lima orang Lama ini berkelahi penuh semangat, penuh gairah untuk
merobohkan lawan. Inilah yang membuat mereka berbahaya sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sebetulnya jika dibuat perbandingan, tingkat kepandaian mereka masing-masing hampir seimbang, namun
pihak Himalaya Sam Lojin masih lebih tinggi. Andai kata mereka itu bertanding satu lawan satu, kiranya
tidak ada seorang pun dari para Lama itu mampu mengalahkan kakek-kakek Himalaya itu.
Akan tetapi, kini mereka bertanding berkelompok, lima melawan tiga sehingga Himalaya Sam Lojin
dikeroyok. Dan seperti telah disebutkan tadi, tiga orang kakek itu kalah jauh dalam hal gairah dan
semangat untuk merobohkan lawan.
Oleh karena itu, setelah melalui pertandingan selama puluhan jurus, tiga orang kakek Himalaya itu mulai
nampak terdesak. Di antara mereka bertiga, nampaknya hanyalah Pek Bin Tosu yang bermuka hitam, yang
berkelahi dengan semangat, membalas setiap serangan lawan dengan serangan pula. Memang, orang ke
tiga dari Himalaya Sam Lojin ini terkenal memiliki watak yang keras, jujur dan terbuka, tidak seperti dua
orang kakek lainnya yang lemah lembut, ramah dan halus.
Hanya Sie Liong seorang yang menyaksikan pertandingan yang sangat hebat ini. Anak berusia tiga belas
tahun ini semenjak tadi masih duduk bersila dan menonton dengan bengong. Matanya tak berkedip sejak
tadi, mulutnya ternganga.
Matanya yang tidak terlatih itu sukar untuk bisa mengikuti gerakan delapan orang kakek yang sakti itu.
Seolah-olah hanya melihat tari-tarian aneh yang dilakukan oleh delapan bayangan, tiga bayangan putih
serta lima bayangan merah. Bahkan kadang-kadang gerakan mereka itu demikian cepat sehingga yang
nampak olehnya hanyalah warna putih dan merah berkelebatan sehingga dia tidak tahu apakah yang
sedang mereka lakukan, dan kalau mereka itu berkelahi, dia pun tidak tahu siapa yang unggul dan siapa
pula yang terdesak.
Akan tetapi satu hal yang dia merasa pasti bahwa tiga orang kakek berpakaian putih itu adalah orangorang
yang baik. Sedangkan lawan mereka, lima orang berpakaian merah adalah orang-orang yang jahat.
Otomatis hatinya condong berpihak kepada tiga orang kakek berpakaian putih, walau pun dia tidak tahu
bagaimana dia akan dapat membantu mereka.
Saking tertarik hatinya, penuh ketegangan dan kekhawatiran kalau-kalau ketiga orang kakek yang
didukungnya itu akan kalah, Sie Liong sampai lupa akan keadaan dirinya sendiri. Meski tiga orang kakek
berpakaian putih itu telah berusaha untuk mengobatinya, akan tetapi dadanya yang sebelah kiri masih
terasa nyeri dan napasnya kadang-kadang sesak.
Pukulan yang mengenai tubuhnya, sebetulnya hanya angin pukulannya saja, sangatlah hebat. Menurut
percakapan antara tiga orang kakek berpakaian putih itu, dia mengerti bahwa dia telah terkena hawa
pukulan beracun yang amat ampuh dari salah seorang di antara lima orang pendeta Lama itu.
Pertempuran itu kini sudah mencapai puncaknya. Delapan orang kakek itu agaknya sudah mengerahkan
seluruh tenaga dan kepandaian mereka, yang tiga orang untuk membela diri, yang lima orang berkeras
hendak merobohkan mereka.
Kalau tadi Sie Liong dibuat pusing oleh bayangan putih dan merah yang berkelebatan, kini dia terpaksa
bangkit berdiri dan karena dia masih lemah dan kepalanya pening, dia pun terhuyung. Namun dia tetap
memaksa dirinya melangkah menjauhkan diri, karena ada angin pukulan menyambar-nyambar dengan
amat dahsyatnya. Tidak urung, masih ada juga angin dahsyat menyambar dan tak dapat dicegah lagi,
tubuh Sie Liong terkena sambaran angin dahsyat ini dan dia pun terjungkal dan terguling-guling!
Tubuhnya berhenti karena tertahan oleh sesuatu. Ketika dia membuka matanya untuk memandang, mata
yang melihat segala sesuatu agak kabur, dia melihat bahwa dia berhenti terguling-guling akibat tertahan
oleh sepasang kaki dan sebatang tongkat butut!
Dia membelalakkan matanya agar bisa memandang lebih jelas lagi. Memang sepasang kaki, akan tetapi
kaki yang buruk sekali. Kaki telanjang, jari-jari kakinya jelek, kotor, kasar dan merenggang seperti jari kaki
ayam. Makin ke atas, semakin jelek karena kaki itu hanya kulit kering kerontang membungkus tulang dan
sampai ke betis mulai tertutup celana yang terbuat dari kain kasar dan penuh tambalan pula.
Ketika menengadah, Sie Liong melihat bahwa sepasang kaki itu adalah milik seorang kakek berpakaian
gembel yang wajahnya buruk, yang menyeringai dengan mulut yang sudah tidak bergigi lagi. Rambutnya
riap-riapan berwarna putih, dan sepasang matanya mengeluarkan sinar aneh sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sie Liong terkejut dan berusaha untuk bangkit berdiri, akan tetapi dia terguling lagi dan roboh. Maka dia
pun lalu duduk saja bersila, tidak mempedulikan lagi apakah dia akan terancam ataukah tidak.
“Heh-heh-heh...!” Kakek itu terkekeh geli.
Tongkat bututnya lalu bergerak ke sekeliling tubuh Sie Liong, membuat guratan di atas tanah mengelilingi
Sie Liong. Lalu nampaklah garis yang cukup dalam, lingkaran dengan garis tengah dua meter lebih.
“Engkau tinggal saja di dalam ruangan ini. Siapa pun tak akan mampu mengganggumu, anak bongkok!”
Sie Liong mendongkol. Agaknya ia baru bertemu dengan seorang gembel tua yang gila. Akan tetapi
kepalanya terlalu pening, tubuhnya sakit-sakit karena terguling-guling tadi dan dia pun tidak menjawab,
hanya membuka mata menonton pertempuran yang masih berjalan terus.
Agaknya kakek gembel itu pun sekarang tidak mempedulikan dia, melainkan ikut pula menonton sambil
kadang-kadang mengeluarkan suara terkekeh aneh. Dia berdiri pula di dalam lingkaran itu, di sebelah
belakang Sie Liong. Ketika kakek itu terkekeh-kekeh geli menonton pertempuran, tiba-tiba saja Sie Liong
merasa kepalanya, leher dan mukanya kejatuhan air.
Wah, hujankah? Pikiran ini membuat dia menengadah. Akan tetapi sungguh sial, pada saat itu, entah
mengapa, si kakek gembel tertawa semakin keras. Sie Liong pun basah semua! Kiranya hujan itu turun
dari mulut si kakek. Karena mulut itu tidak bergigi lagi, agaknya ketika tertawa-tawa, maka air ludah pun
memercik keluar dari mulut yang tidak dilindungi pagar gigi lagi itu!
Sie Liong makin mendongkol. Dia mengusap muka, leher dan kepalanya, menggunakan lengan bajunya,
dan walau pun kepalanya pening, dia memaksa diri untuk bangkit dan untuk pergi menjauhi kakek gila itu.
Akan tetapi, tiba-tiba saja kepalanya diketuk dengan tongkat.
“Tokk!”
Dan dia pun jatuh terduduk kembali! Ketukan dengan tongkat itu tidak mendatangkan rasa nyeri, akan
tetapi seolah-olah kepalanya ditekan oleh sesuatu yang amat berat dan kuat, yang membuatnya jatuh lagi.
Beberapa kali dia mencoba bangun, namun setiap kali pula kepalanya diketuk tongkat! Akhirnya, biar pun
dia marah dan mendongkol, Sie Liong duduk dan tidak lagi bangkit, apa lagi karena pertempuran itu kini
mulai mendekati tempat dia duduk di atas tanah dalam lingkaran garis itu.
Memang telah terjadi perubahan pada pertempuran tingkat tinggi itu. Akhirnya Himalaya Sam Lojin
kewalahan juga dalam menghadapi desakan lima orang lawan mereka yang menggunakan segala daya,
ilmu silat, sihir, bahkan racun, untuk mengalahkan mereka.
Mereka bertiga terdesak dan sambil mengelak ke sana-sini, kadang-kadang menangkis dengan kebutan
ujung lengan baju atau juga dengan tangan mereka yang sudah kebal, mereka terus mundur. Tiba-tiba
terdengar bentakan-bentakan nyaring keluar dari mulut para pendeta Lama dan Sie Liong melihat betapa
tiga orang kakek berpakaian putih itu terhuyung dan ada tanda merah di pakaian mereka yang putih.
Darah!
Tiga orang kakek itu agaknya terluka! Akan tetapi, mereka masih terus melawan. Kini pertempuran makin
mendekati garis lingkaran dan mendadak seorang di antara kakek berpakaian putih meloncat dan kakinya
menginjak sebelah dalam lingkaran.
Tiba-tiba tongkat butut kakek gembel itu bergerak mendorong punggung kakek yang ‘melanggar’ lingkaran
itu dan tubuh kakek berpakaian putih itu pun tordorong keluar!
Pada saat para anggota Tibet Ngo-houw dengan penuh semangat dan nafsu mendesak terus, tiga orang
kakek berpakaian putih itu terus berlompatan. Agaknya mereka tidak berani menginjak lingkaran!
Tidak demikian dengan para pendeta Lama. Pada suatu ketika, ada dua orang yang tanpa sengaja
menginjak garis lingkaran, yaitu Thay So Lama dan Thay Hok Lama.
Begitu melihat Thay So Lama, si kurus kering yang bertenaga raksasa itu memasuki lingkaran, kakek
gembel lalu menggerakkan tongkat bututnya, seperti tadi mendorong dan tubuh pendeta Lama itu pun
dunia-kangouw.blogspot.com
terdorong keluar. Pada saat itu, Thay Hok Lama juga masuk ke dalam lingkaran, kembali dia pun terdorong
keluar oleh tongkat butut.
Keduanya menoleh dan Thay Bo Lama marah sekali. Dia memutar tombaknya dan karena dia mengira
bahwa anak bongkok itu yang usil tangan, tombaknya menyerang ke arah Sie Liong. Bagaikan anak panah
meluncur dari busurnya, tombak itu menusuk ke arah leher Sie Liong. Anak ini tidak tahu bahwa bahaya
maut mengancam nyawanya.
“Trakkk!”
Tombak itu terpental ketika bertemu dengan tongkat butut. Thay Bo Lama terbelalak, tidak mengira sama
sekali bahwa ada seorang kakek gembel yang mampu membuat tombaknya terpental dengan tangkisan
tongkat butut. Padahal, dia mempunyai tenaga gajah yang sukar dilawan.
Pada saat itu pula, Thay Hok Lama yang juga marah, mengayun rantai bajanya ke arah kakek gembel.
Kakek gembel itu terkekeh keras sehingga kembali kepala Sie Liong kehujanan dan begitu kakek gembel
itu menggerakkan tangan kiri, ujung rantai baja itu sudah ditangkap dan ditariknya. Thay Hok Lama tibatiba
merasa ada tenaga dahsyat membetotnya sehingga dia tertarik mendekat dan tongkat butut itu
menyambar ke arah kepalanya.
“Tokkk!”
Kepala Thay Hok Lama yang gundul kena dikemplang dan seketika muncul telur ayam di kepala yang
gundul itu! Thay Hok Lama meraba kepalanya yang dikemplang itu dengan tangan kiri dan dia pun
terbelalak keheranan.
Kepalanya sudah kebal, bahkan dibacok golok saja tidak akan terluka. Mengapa kini dikemplang sebatang
tongkat butut saja dapat menjadi bengkak dan menjendol sebesar telur ayam? Nyeri sekali memang tidak,
akan tetapi hatinya yang amat nyeri karena dia merasa dihina.
Thay Bo Lama yang melihat rekannya dikemplang, menjadi sangat marah. Biar pun tadi dia terkejut oleh
tangkisan tongkat butut, sekarang dia menyerang lagi dengan tusukan tombaknya ke arah perut kakek
gembel.
“Waduh, jebol perut ini...!” teriak kakek gembel dan tombak itu benar-benar mengenai perutnya dan
tembus!
Akan tetapi, tidak ada darah keluar, tidak ada usus keluar dan tiba-tiba kepala Thay Bo Lama kena
dikemplang tongkat butut.
“Takkk!”
Dan seperti juga kepala Thay Hok Lama, kini kepala Thay Bo Lama yang gundul muncul pula sebuah telur
ayam! Pada waktu Thay Bo Lama mengerahkan kekuatan batinnya memandang, ternyata tombaknya
sama sekali tidak menembus perut kakek gembel itu, melainkan menembus baju gembel yang kedodoran
dan tadi hanya merupakan suatu permainan sihir saja. Anehnya, kenapa dia yang ahli sihir sampai dapat
dipermainkan seperti itu?
Sementara itu, tiga orang pendeta Lama yang sekarang menghadapi tiga orang kakek Himalaya, tentu saja
merasa berat kalau melawan seorang dengan seorang. Dua orang rekannya sedang meninggalkan mereka
dan sibuk mengurusi kakek gembel!
“Si-sute dan Ngo-sute, hayo bantu kami!” teriak Thay Ku Lama.
Dua orang itu, Thay Hok Lama dan Thay Bo La mengelus-elus kepala mereka yang benjol. Akan tetapi
mereka sadar bahwa mereka berhadapan dengan seorang gembel yang amat sakti, maka mereka pun kini
hendak membantu rekan-rekan mereka yang agaknya kewalahan juga menghadapi Himalaya Sam Lojin.
Akan tetapi pada saat itu, terdengar seruan yang halus.
“Siancai...! Tidak malukah kalian sebagai lima orang pendeta yang mestinya menjauhi kekerasan, kini
malah mempergunakan kekerasan untuk menyerang orang lain?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Lima orang pendeta Lama itu terkejut. Suara yang halus itu mengandung wibawa yang amat besar, bahkan
mengandung getaran tenaga khikang yang terasa menggetarkan jantung, maka mereka pun berloncatan
mundur untuk memandang siapa yang muncul itu.
Kiranya dia adalah seorang kakek tua renta, usianya tentu sudah tujuh puluh lima tahun. Rambutnya putih
semua, riap-riapan, kumis dan jenggotnya juga putih. Tubuhnya tinggi kurus dan tegak, wajahnya segar.
Pakaiannya berwarna kuning yang hanya dilibatkan dan dililitkan pada tubuhnya, tangan kanannya
memegang sebatang tongkat butut.
“Supek...!” Himalaya Sam Lojin cepat memberi hormat kepada kakek yang baru datang itu.
“Heh-heh-heh, kalau suheng yang muncul, semua akan menjadi beres penuh damai, heh-heh-heh!” Kakek
gembel berseru sambil terkekeh dan kembali Sie Liong kehujanan!
Himalaya San Lojin juga memberi hormat kepada kakek gembel itu.
“Terima kasih atas bantuan susiok!”
“Heh-heh, siapa yang bantu siapa? Aku hanya membuat ruangan untuk anak bongkok ini, dan ternyata ada
Lama Jubah Merah yang berani melanggar, tentu saja kukemplang kepalanya, heh-heh-heh!”
Lima Harimau Tibet terkejut bukan main. Mereka belum mengenal Pek-sim Siansu, kakek berpakaian
kuning itu, dan juga tidak mengenal Koay Tojin, kakek gembel yang aneh itu, akan tetapi mendengar
bahwa dua orang itu adalah supek (uwa perguruan) dan susiok (paman perguruan) dari Himalaya Sam
Lojin, tentu saja mereka merasa gentar. Baru Himalaya Sam Lojin saja sudah merupakan lawan yang
sukar dirobohkan, apa lagi muncul paman guru dan uwa gurunya!
Apa lagi Thay Hok Lama dan Thay Bo Lama yang masih merasa bekas ketukan tongkat pada kepala
mereka yang menjadi benjol. Masih terasa berdenyutan kepala itu!
“Kalian ini para tosu sombong selalu menentang kami!” bentak Thay Ku Lama dengan marah, akan tetapi
juga gentar untuk turun tangan.
“Siancai...!” Pek In Tosu yang terluka pundaknya, mengeluarkan sedikit darah, berkata sambil menarik
napas panjang. “Thay Ku Lama, bukankah omonganmu itu sengaja kau putar balikkan? Sejak kapan kami
memusuhi kalian? Siapakah yang datang menyerang, lalu membunuhi para pertapa yang tidak bersalah
apa pun di Himalaya? Kami sudah mengalah, mengungsi ke Kun-lun-san. Siapa pula yang mengundang
kalian datang ke sini untuk menangkapi bahkan mengancam untuk membunuh kami dan para pertapa di
sini pula?”
“Kami hanya menerima perintah dari Yang Mulia Dalai Lama!” bentak Thay Ku Lama.
“Kami harus menangkap dan membawa Himalaya Sam Lojin untuk mempertanggung jawabkan
pemberontakan dan pembunuhan yang dilakukan mendiang guru kalian!”
“Siancai...!” Pek-sim Siansu berkata, suaranya tetap halus sekali.
Namun kembali lima orang Lama itu bergidik karena isi dada mereka tergetar hebat. Mereka terpaksa
mencurahkan perhatian dan mengerahkan tenaga untuk melindungi diri sambil memandang kepada kakek
tinggi kurus itu.
“Sungguh aneh sekali! Mendiang sute menentang para Lama yang hendak memaksa seorang anak dusun
yang akan diculik. Dalam pertempuran itu, tiga orang Lama tewas. Apa anehnya dalam hal itu? Kalau sute
kalah, tentulah dia yang tewas! Dan anak yang dilindungi mendiang sute itu adalah Dalai Lama yang
sekarang! Bagaimana mungkin dia yang menyuruh kalian untuk menangkapi atau membunuh murid-murid
sute? Sungguh janggal sekali!”
Mendengar ini, lima orang Lama itu saling pandang. Kemudian Thay Ku Lama berseru, “Kami adalah
utusan Dalai Lama, akan tetapi sudah gagal. Biarlah kami akan melapor kepada beliau dan kalian tunggu
saja pembalasan dari kami!” Setelah berkata demikian, Thay Ku Lama berkelebat pergi dikuti oleh empat
orang adik seperguruannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Heh-heh-heh, suheng, kenapa sampai sekarang engkau masih menjadi seorang yang lemah? Anjinganjing
itu gila dan amat membahayakan, bagaimana kalau aku mewakili suheng mengejar dan membasmi
mereka?” kata Koay Tojin.
Kakek ini adalah sute (adik seperguruan) dari Pek-sim Siansu. Akan tetapi kalau Pek Sim Siansu hidup
sebagai orang yang memperdalam kemajuan jiwanya, hidup sebagai seorang yang membersihkan diri lahir
batin bahkan mengasingkan diri dari keramaian duniawi, sebaliknya Koay Tojin suka berkeliaran. Memang
ada kelainan pada diri Koay Tojin. Dia dikenal sebagai seorang yang sinting!
Padahal dalam ilmu kepandaian silat mau pun kekuatan sihir, ia tak kalah dibandingkan dengan suhengnya
itu. Mungkin justru karena dia terlampau banyak mempelajari ilmu sihir dan gaib, terlalu dalam
menjenguk ke dalam rahasia kegaiban, dan batinnya tidak kuat, maka dia menjadi sinting seperti itu.
Hidupnya berkeliaran seperti gembel dan kadang-kadang dia melakukan hal aneh-aneh yang tidak lumrah.
Dia tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, berkeliaran sampai jauh ke empat penjuru dan muncul
secara tiba-tiba saja tanpa berita terlebih dulu. Akan tetapi dia pun tidak pernah menonjolkan diri sehingga
jarang ada yang mengenalnya sebagai seorang sakti, malah dia lebih dikenal sebagai seorang sinting.
“Sute, engkau pun sampai kini masih belum menanggalkan sikapmu yang ugal-ugalan. Siapakah dirimu ini
maka engkau mempunyai niat untuk membunuh orang? Apakah engkau tidak melihat bahwa tidak ada
perbedaan antara engkau dan mereka?”
“Heh-heh-heh, heei, anak bongkok. Engkau dengar itu? Bukankah pendirian suheng itu aneh sekali? Tadi
dia sendiri datang, dan kalau lima ekor monyet gundul itu tidak pergi, aku yakin dia akan turun tangan
melindungi tiga orang murid keponakan yang baik ini dan akan mengalahkan mereka berlima. Tetapi
sekarang, coba dengar, dia berceramah menguliahi aku supaya aku tidak membunuh lima orang Lama itu!
Heh-heh-heh, lelucon yang tidak lucu bukan?”
Biar pun gembel tua itu nampak ugal-ugalan, tetapi diam-diam Sie Liong membenarkan pendapatnya.
Maka dia pun lupa diri dan sambil memandang kepada kakek berpakaian kuning itu, dia berkata, “Memang
benar, kek. Lima orang pendeta itu jahat bukan main, dan lebih jahat lagi karena mereka itu berjuluk
pendeta. Membasmi mereka merupakan kewajiban, karena akan menolong manusia dari ancaman
kejahatan mereka. Andai kata aku kuat, tentu aku akan membasmi mereka!”
“Siancai... Siapakah bocah ini?” tanya Pek-sim Siansu kepada Himalaya Sam Lojin.
Pek In Tosu lalu menceritakan mengenai Sie Liong, seorang bocah gelandangan yang pernah
menyelamatkan dirinya secara tanpa disengaja ketika dia diserang oleh dua orang Lama. Kemudian
betapa bocah itu terkena pukulan beracun dari Thay Ku Lama dan mereka bertiga sudah berusaha
mengobatinya namun gagal ketika tiba-tiba muncul Tibet Ngo-houw tadi.
“Kebetulan supek sudah datang, maka mohon supek menyembuhkan penderitaannya,” kata Pek In Tosu
kepada supek-nya.
Memang aneh hubungan antara mereka itu. Himalaya Sam Lojin berusia kurang lebih tujuh puluh tahun,
sedangkan Pek-sim Siansu lima tahun lebih tua, akan tetapi dia telah menjadi uwa perguruan mereka! Hal
ini adalah karena pada waktu mempelajari ilmu di Himalaya, Himalaya Sam Lojin sudah berusia tiga puluh
tahun lebih dan guru mereka, yaitu seorang sute dari Pek-sim Siansu, berusia hanya tiga tahun lebih tua
dari mereka.
Pek-sim Siansu memang mempunyai berbagai macam kepandaian, di antaranya ilmu pengobatan.
Mendengar bahwa anak bongkok itu telah menyelamatkan nyawa Pek In Tosu, dan kini menderita luka
pukulan beracun, dia pun lalu mendekati Sie Liong dan memeriksa punggung dan dadanya.
Pek-sim Siansu mengerutkan alisnya dan berkata. “Ahh, biar pun hawa beracun sudah bersih, akan tetapi
isi perutnya mengalami guncangan hebat dan ada racun tertinggal di dalam darahnya. Dia dapat diobati,
tetapi akan memakan waktu yang cukup banyak. Biarlah dia ikut dengan pinto, dan perlahan-lahan pinto
akan sembuhkan dia.”
“Lihat, anak bongkok. Orang tua itu menyelewengkan percakapan dan pura-pura tidak mendengar
perkataan tadi. Menggelikan, heh-heh-heh!” kata Koay Tojin.
dunia-kangouw.blogspot.com
Biar pun di dalam hatinya Sie Liong merasa gembira bahwa dia akan diobati oleh kakek berpakaian kuning,
namun mendengar ucapan Koay Tojin, dia merasa tidak puas juga.
“Locianpwe, maafkan aku. Kalau locianpwe tidak mau menjelaskan mengapa locianpwe melarang kakek
gembel ini membasmi lima orang Lama yang jahat, terpaksa aku tidak mau ikut dengan locianpwe untuk
diobati.”
“Hushh! Anak baik, kalau tidak diobati engkau akan mati,” kata Pek-sin Tosu.
“Heh-heh-heh, engkau benar, anak bongkok. Kalau dia tidak mau menerangkan, biarlah engkau ikut aku
saja. Kalau harus mati, kita mati bersama dan melanjutkan perjalanan ke neraka atau ke sorga, he-heheh!”
Pek-sim Siansu menarik napas panjang. “Kalian berdua ini sama-sama ingin mengerti, itu hal yang baik
sekali walau pun sesungguhnya engkau harus malu untuk mengajukan pertanyaan yang kekanak-kanakan
itu, sute. Anak baik, siapakah namamu?”
“Namaku Sie Liong, locianpwe.”
“Sie Liong? Nama yang baik. Nah, dengarlah, Sie Liong, dan engkau juga, sute. Semua perbuatan itu
dinilai dari yang menjadi pendorongnya. Orang bertentangan, berkelahi, juga harus dilihat dari apa yang
menjadi pendorongnya. Jelas bahwa kita tersesat jauh bila kita berkelahi dengan orang lain hanya karena
kemarahan, kebencian atau dendam. Engkau tadi sudah melihat sendiri betapa tiga orang murid
keponakan kita ini berkelahi melawan lima orang Lama hanya untuk membela diri saja, tanpa sedikit pun
dikuasai nafsu kebencian, kemarahan atau keinginan untuk membunuh lawan. Tentu saja sudah menjadi
hak mereka untuk mempertahankan diri dan melindungi dirinya bila terancam kesakitan atau kematian.
Sebaliknya, engkau pun melihat sendiri bagaimana keadaan batin lawan-lawan itu dalam perkelahian tadi.
Mereka itu jelas berkelahi dengan nafsu dendam dan kebencian, keinginan untuk membunuh. Kalau
sekarang kita mengejar mereka dengan niat hati untuk membasmi mereka, bukankah keinginan itu pun
didasari oleh kebencian? Karena itu, setiap perbuatan manusia haruslah dilihat dari pamrihnya atau dari
sebab-sebab yang mendorongnya melakukan perbuatan itu, karena biar pun perbuatannya itu nampaknya
serupa atau sama, namun sesungguhnya berbeda, seperti bumi dan langit.”
Koay Tojin terkekeh-kekeh, sedangkan Sie Liong diam-diam telah mengakui kebenaran pendapat Pek-sim
Siansu. Walau pun masih belum dewasa, namun anak itu memang memiliki kecerdasan. Melihat betapa
sute-nya masih hahah-heheh, Pek-sim Siansu lalu tersenyum.
“Sute, sudah belasan tahun kita tidak saling jumpa, kulihat engkau masih sama saja. Aku dapat membaca
semua isi hatimu. Engkau tentu masih belum puas, bukan? Nah, selagi jodoh mempertemukan antara kita
sekarang ini, kau boleh keluarkan semua isi hatimu dan mari kita bahas bersama, biar didengarkan juga
oleh tiga orang murid keponakan kita yang bijaksana ini, dan juga biarlah anak yang baik ini
berkesempatan mendengarnya.”
Koay Tojin bertepuk tangan tanda gembira. “Heh-heh-heh, bagus, bagus! Memang aku belum puas,
suheng. Akan kukeluarkan semua rasa penasaran dalam hatiku ini. Selama bertahun-tahun aku melihat
kepalsuan-kepalsuan dunia dan aku muak, suheng, aku sedih...” Dan tiba-tiba kakek itu pun menangis
terisak-isak seperti anak kecil!
Tentu saja Sie Liong terkejut sekali melihat hal ini dan dia memandang dengan mata terbelalak. Akan
tetapi, tiga orang kakek Himalaya itu yang kini juga sudah duduk bersila seperti dua orang supek dan
susiok mereka, hanya menundukkan muka saja, sedang Pek-sim Siansu memandang sute-nya sambil
tersenyum.
“Lanjutkan, sute.”
Sambil menyusuti air matanya, Koay Tojin melanjutkan lagi. “Aku melihat semua orang mengenakan
topeng pada mukanya. Mengerikan dan menakutkan, juga membuat hati penasaran dan mendongkol
sekali. Pada lahirnya semua orang memakai topeng yang indah dan bersih, padahal di balik topeng itu,
batin mereka busuk dan kotor! Munafik dan pura-pura. Hati, kata dan perbuatan merupakan segi tiga yang
berbeda jurusan. Palsu, palsu, semua palsu! Juga para pendeta yang pernah kujumpai berbatin palsu.
Karena itu, suheng, aku sudah membuang semua pantangan. Heh-heh-heh, aku makan daging, minum
dunia-kangouw.blogspot.com
arak, heh-heh-heh. Suheng sendiri tentu tak pernah makan daging dan minum arak, bukan? Apakah
suheng barani mengatakan bahwa suheng tidak pernah membunuh?”
“Siancai...! Pinto tidak menyangkal, sute. Akan tetapi dijauhkan Thian kiranya hati ini dari benci, iri, dengki
dan pementingan diri pribadi.”
“Coba jawab, suheng. Apakah kalau suheng makan sayur dan minum air saja, berarti suheng tidak
melakukan pembunuhan? Jawab yang jujur, jangan munafik, suheng!”
“Siancai..., munafik lebih keji dari pada penyelewengan itu sendiri, sute. Tidak dapat disangkal lagi, di
dalam sayuran, tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, bahkan di dalam air jernih itu terdapat makhluk-makhluk
hidup yang bergerak dan bernyawa dan yang tidak nampak saking kecilnya. Bahkan sayur itu sendiri
merupakan tumbuh-tumbuhan yang hidup.”
“Nah-nah-nah...!” Koay Tojin menudingkan telunjuknya, mengamang-amangkan ke arah suheng-nya.
“Kalau begitu suheng juga membunuh!”
“Memang, hal itu pinto akui, sute. Akan tetapi, biar pun sama-sama membunuh namun perbedaannya
bumi-langit. Manusia hidup harus makan, demi kelangsungan hidupnya dan sudah menjadi pembawaan
sejak lahir bahwa manusia harus makan. Dan satu-satunya bahan makanan yang baik, menghidupkan, dan
bukan sekedar menuruti nafsu lidah saja, adalah sayur-sayuran dan buah-buahan, juga air jernih. Biar pun
semua itu mengandung makhluk hidup, akan tetapi karena tidak kelihatan maka kita membunuh tanpa kita
ketahui, tanpa kita sengaja. Andai kata pinto melihat ada ulat pada buah yang pinto makan, tentu ulat itu
akan pinto singkirkan supaya tidak termasuk dan termakan. Semua makhluk hidup kecil tak nampak yang
ikut termakan, bukan sengaja dimakan. Inilah bedanya, sute. Orang yang makan daging, sengaja
membunuh hewan itu dan makan dagingnya untuk memuaskan selera, sedangkan orang yang makan
sayur, biar pun membunuh makhluk kecil-kecil, hal itu dilakukan bukan dengan sengaja dan sama sekali
tidak bermaksud menikmati dagingnya. Demikian pula dengan sayuran, walau pun sayuran itu pun hidup,
namun sayuran tidak bergerak, tidak memperlihatkan rasa sakit seperti halnya binatang. Demikianlah, sute.
Segala perbuatan harus dilihat dasar dan pendorongnya. Kalau orang membunuh sesama makhluk hidup
hanya karena ingin memuaskan nafsu kesenangan, atau pun karena kebencian, sungguh hal itu
merupakan perbuatan yang amat keji dan kejam.”
“Bagaimana kalau aku minum arak? Itu tidak membunuh...”
“Sute, mengapa dianjurkan agar minuman arak dijauhi? Karena dari minum arak orang menjadi mabok dan
dalam mabok dapat melakukan hal-hal yang tidak baik. Bermabok-mabokan memberi jalan kepada nafsu
untuk semakin merajalela menguasai batin. Juga, bermabok-mabokan bisa merusak kesehatan. Kalau hal
seperti ini tetap dilaksanakan, bukankah itu merupakan kebodohan besar merusak diri sendiri? Ingat, sute.
Tubuh kita merupakan Kuil Suci yang dihuni oleh jiwa. Sudah sepatutnya kalau kita merawat Kuil Suci ini
sebaik-baiknya, tidak dikotori dan tidak dirusak, kita pelihara sebaiknya luar dan dalam.”
“Suheng, keteranganmu sudah cukup jelas. Sekarang, kebetulan kita saling bertemu, aku minta sedikit
petunjuk tentang ilmu silat kepadamu. Nah, bersiaplah, suheng!”
Koay Tojin meloncat berdiri dan menudingkan tongkat bututnya ke langit. Melihat ini, Pek-sim Siansu
tertawa.
“Ha-ha-ha, sejak dulu engkau masih saja keranjingan ilmu silat, sute. Orang-orang tua bangka seperti kita
ini, perlu apa mementingkan ilmu kekerasan seperti itu? Akan tetapi, pinto mendengar bahwa engkau telah
memperoleh ilmu yang amat hebat, maka pinto pun ingin pula menyaksikan kehebatan ilmumu itu, sute.
Nah, perlihatkan kepada pinto!”
Pek-sim Siansu juga bangkit berdiri dan dengan tenang dia menghampiri kakek sinting itu, berdiri tegak
dengan tongkat butut di tangannya. Kedua orang kakek itu sungguh amat berbeda.
Pek-sim Siansu demikian anggun dan rapi bersih, penuh wibawa akan tetapi juga penuh kelembutan dan
keramahan, sinar matanya dan senyumnya penuh kasih sayang. Akan tetapi sebaliknya, Koay Tojin
berpakaian tidak karuan, butut dan kotor, berdirinya juga sembarangan saja. Hanya ada satu persamaan
antara mereka, yaitu bahwa keduanya memiliki sinar mata mencorong dan keduanya sama-sama
memegang sebatang tongkat butut.
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat betapa supek dan susiok mereka itu sudah saling berhadapan dengan tongkat di tangan, Himalaya
Sam Lojin mengamati dengan wajah berseri gembira. Sungguh beruntung, pikir mereka. Kesempatan
seperti ini sungguh langka.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Best Cersil

Pecinta Cersil