Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Selasa, 21 November 2017

Pendekar Remaja 2

---------
baca juga
Sekarang, mendapat serangan luar biasa dari Ban Sai Cinjin dengan ilmu hitamnya, biar pun hatinya
berdebar serta rasa takut dan ngeri meliputi hatinya, akan tetapi dia dapat memperteguh imannya dan
permainan pedangnya tidak menjadi kacau.
“Lie Kong Sian, lihat! Api neraka membakarmu!” teriak lagi Ban Sai Cinjin sambil tiba-tiba menepuk pipa
tembakaunya dengan tangan kiri sehingga api tembakau lantas memancar keluar dari kepala pipanya itu,
menyambar ke arah Lie Kong Sian.
Pengaruh ilmu sihir membuat api itu nampak besar bukan main dan menyambar ke arah kepalanya. Akan
tetapi Lie Kong Sian masih dapat berlaku gesit dan tidak terpengaruh oleh teriakan yang mengandung
hawa hitam itu. Dia cepat mengelak ke kiri dan sungguh pun dia merasa terkejut sekali, namun dia masih
sanggup menyelamatkan diri dari pada serangan api tembakau beracun itu.
Tak terduga sama sekali olehnya, bahwa diam-diam Bouw Hun Ti yang berwatak curang dan palsu itu,
melakukan kecurangan yang sangat memalukan. Pada waktu Bouw Hun Ti melihat suhu-nya sangat sukar
mengalahkan Lie Kong Sian, orang ini lalu mengeluarkan gendewanya yang kecil akan tetapi kuat sekali.
Melihat bentuknya, gendewa ini berbeda dengan gendewa yang biasa digunakan orang Tiongkok, karena
sesungguhnya gendewa ini adalah gendewa model Turki.
Sambil memegang gendewa dengan tangan kiri dan tiga batang anak panah pendek di tangan kanan,
Bouw Hun Ti segera bersiap-siap mencari kesempatan untuk membokong musuhnya yang sedang
bertanding melawan gurunya itu. Kesempatan itu tiba ketika Lie Kong Sian diserang oleh api dari kepala
huncwe Ban Sai Cinjin.
Bouw Hun Ti melihat betapa Lie Kong Sian mengelak ke kiri dengan muka menunjukkan kekagetan, maka
ia cepat menggerakkan kedua tangannya dan…
“Serrr…! Serrr…! Serrr…!”
Tiga batang anak panahnya yang pendek kecil dan warnanya hitam itu meluncur cepat sekali ke arah Lie
Kong Sian. Tiga batang senjata itu menyerang ke arah leher, ulu hati, dan bawah pusar!
Bukan main kagetnya hati Lie Kong Sian melihat serangan yang tiba-tiba datangnya dan tak tersangkasangka
ini!
“Bangsat curang!” serunya marah dan berusaha menyelamatkan diri dengan mengelak cepat ke kanan
dengan miringan tubuhnya.
Memang kecepatan gerakannya dapat menolong dirinya dari ancaman tiga batang anak panah beracun itu,
akan tetapi gerakannya ini disambut dengan serangan maut oleh Ban Sai Cinjin yang tidak menyia-nyiakan
kesempatan itu. Selagi tubuh Lie Kong Sian miring dan dalam posisi yang amat lemah, huncwe-nya
menyambar dan...
“Takkk!” huncwe itu dengan tepat sekali sudah mengetuk kepala Lie Kong Sian di bagian ubun-ubunnya.
Lie Kong Sian menjerit ngeri, tubuhnya terhuyung-huyung, terputar-putar dan pedangnya terlepas dari
tangan. Kemudian sesudah berputar beberapa kali, tubuh Lie Kong Sian terjungkal dan roboh tertelungkup
tak bergerrak lag! Ubun-ubunnya sudah pecah terkena pukulan huncwe yang hebat itu dan nyawanya
melayang pada waktu itu juga! Lie Kong Sian, suami Ang I Niocu, pendekar besar dari Pulau Pek-le-to, kini
sudah tewas dalam keadaan yang amat mengecewakan!
Lo Sian yang mengintai dari balik pohon, mengerutkan kening dan meramkan matanya dengan hati perih
dan ngeri. Tanpa terasa pula dua titik air mata melompat keluar dari sepasang matanya, turun di atas
pipinya. Apakah dayanya? Kepandaiannya masih tidak cukup kuat untuk menghadapi Bouw Hun Ti, apa
lagi jika menghadapi gurunya, Ban Sai Cinjin yang amat tangguh dan kejam itu.
Sementara itu, Ban Sai Cinjin juga tercengang melihat kecurangan muridnya. Ia menegur perlahan,
“Hun Ti, kenapa kau lancang membantuku? Kau sudah merendahkan derajatku dengan bantuan tadi dan
dunia-kangouw.blogspot.com
hatiku tidak merasa puas sungguh pun aku telah menang dan berhasil merobohkan Lie Kong Sian. Biar
pun kau tidak membantu, akhirnya Lie Kong Sian pasti akan roboh juga di tanganku. Mengapa kau
membantu dengan jalan curang?”
“Teecu tidak tahan lebih lama lagi melihat orang yang telah membunuh Susiok ini!” jawab Bouw Hun Ti,
dan Ban Sai Cinjin terhibur juga mendengar ini.
Tiba-tiba dia melihat pemuda kampung itu dan membentak, “Siapa dia itu?”
“Entah, teecu juga tidak mengenalnya,” jawab Bouw Hun Ti.
“Dia adalah seorang kampung yang mencari kayu, Suhu,” kata hwesio cilik yang ternyata murid merangkap
pelayan dari Ban Sai Cinjin.
“Celaka, dia sudah melihat perbuatanku terhadap Lie Kong Sian tadi, dan apa bila hal ini sampai diketahui
orang luar, aku akan mendapat malu!” kata Ban Sai Cinjin.
Tiba-tiba tubuhnya melompat dan tahu-tahu dia telah berada di hadapan orang kampung muda yang masih
berdiri terbelalak ngeri melihat pembunuhan tadi. Kini ia menjadi makin ketakutan ketika melihat Ban Sai
Cinjin telah berada di depannya dan sebelum ia dapat melarikan diri, Ban Sai Cinjin menyemburkan asap
hitam ke arah mukanya.
Orang itu mendekap muka dengan tangannya, terbatuk-batuk beberapa kali seakan-akan tak dapat
bernapas, kemudian tubuhnya terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh telentang tak bernapas lagi. Mukanya
menjadi hitam karena racun yang disemburkan melalui asap tembakau itu! Dengan amat kejamnya, untuk
menolong kehormatan dan namanya agar jangan sampai ada lain orang tahu akan kecurangannya
terhadapi Lie Kong Sian tadi, Ban Sai Cinjin telah membunuh pemuda kampung itu begitu saja!
“Ha-ha-ha!” Bouw Hun Ti tertawa girang. “Suhu telah membuat penyelesaian yang amat cepat dan tepat!”
“Sudahlah, kau kubur dua mayat itu agar jangan sampai ada orang melihatnya,” kata Ban Sai Cinjin.
“Suhu, mengapa menyia-nyiakan kesempatan baik ini?” tiba-tiba hwesio cilik itu berkata kepada gurunya.
“Jantung kedua orang ini masih segar dan mudah sekali diambil!”
Ban Sai Cinjin tertawa dan berkata kepada Bouw Hun Ti, “Lihatlah, Sute-mu benar-benar ingin mempelajari
ilmu kebal itu dengan sempurna!”
Bouw Hun Ti hanya tersenyum menyeringai. Dia maklum bahwa suhu-nya mempunyai ilmu kekebalan
yang dapat diturunkan kepada muridnya dengan jalan makan obat yang dicampur dengan tiga buah
jantung manusia!
“Jantung orang kampung ini tidak bersih, tadi sudah terkena racun, karena itu tidak dapat digunakan,” kata
Ban Sai Cinjin. “Kalau jantung dia itu,” dia menunjuk ke arah tubuh Lie Kong Sian yang masih
menelungkup di atas tanah, “masih baik, akan tetapi, dia seorang pendekar besar, aku tak sampai hati
untuk membelek dada mengambil jantungnya.”
“Biarlah murid sendiri yang melakukan hal itu, Suhu,” kata hwesio cilik itu dengan suara memohon, “setelah
itu barulah teecu akan menguburkannya baik-baik.”
“Sesukamulah!” akhirnya Ban Sai Cinjin berkata sambil tersenyum, dan masuklah dia ke dalam kuilnya.
“Sute, biar aku yang mengubur orang kampung ini. Setelah kau selesai dengan yang itu, kau harus
menguburkannya sendiri baik-baik.”
Hwesio cilik itu mengangguk kepada suheng-nya, lalu dia menghampiri mayat Lie Kong Sian dan
diangkatnya menuju ke belakang kuil. Sedangkan Bouw Hun Ti lalu mengubur mayat pemuda kampung itu
secara sembarangan saja di tempat yang agak jauh dari kuil, seperti orang mengubur bangkai anjing saja.
Hari sudah mulai gelap dan suasana malam itu bertambah seram dengan terjadinya dua pembunuhan itu.
Di dalam kamar dekat dapur, hwesio kecil telah menelanjangi mayat Lie Kong Sian dan juga sudah
menyediakan sebilah pisau tajam dan sebuah mangkok putih tempat jantung yang hendak diambilnya dari
dunia-kangouw.blogspot.com
dalam dada Lie Kong Sian.
Kemudian, hwesio cilik ini mempergunakan pisaunya untuk memotong sedikit rambut dari kepala Lie Kong
Sian dan mengikatkan rambut itu pada sebatang sumpit gading yang telah disediakan. Ia meletakkan
sumpit itu di atas mangkok putih tadi, lalu ia menyalakan tiga batang hio. Kemudian ia bersembahyang di
depan mayat itu dan berkata,
“Arwah orang she Lie! Aku, Hok Ti Hwesio, dengan sungguh hati mengundangmu untuk mengajukan
beberapa pertanyaan!”
Dia lalu membawa hio bernyala itu dan berjalan mengitari mayat Lie Kong Sian tiga kali, kemudian dia
menancapkan ketiga batang hio itu ke dalam mulut mayat Lie Kong Sian. Sesudah itu, dia mengambil
sumpit yang telah diikat ujungnya oleh rambut Lie Kong Sian tadi, diputar-putarkan di atas hio agar terkena
asap hio sambil mulutnya berkemak-kemik membaca mantera. Lalu dia menaruh sumpit itu di atas
mangkok lagi dan berkata,
“Arwah orang she Lie! Kalau kau sudah masuk ke dalam sumpit ini, berputarlah!”
Sungguh aneh sekali dan sukarlah untuk diselidiki mengapa dapat terjadi demikian, akan tetapi benar saja
sumpit di atas mangkok itu lalu terputar-putar bagaikan digerakkan oleh tangan yang tidak kelihatan!
Hwesio cilik yang bernama Hok Ti Hwesio itu tersenyum girang.
“Arwah orang she Lie! Perkenankanlah aku meminjam jantung dari tubuhmu yang sudah tidak ada
gunanya lagi untuk campuran obat membuat kebal tubuhku. Kalau kau setuju, berputarlah satu kali, kalau
tidak setuju, berputarlah tiga kali!”
Hwesio itu dengan penuh gairah memandang ke arah mangkok dan sumpit. Dan sumpit itu mulai bergerak
memutar satu kali, lalu diam, akan tetapi lalu memutar sekali lagi dan sekali lagi baru diam tak bergerak!
Ternyata bahwa kalau memang benar yang menjawab itu adalah arwah Lie Kong Sian, maka arwah
pendekar itu tidak menyetujui jantung dari tubuhnya diambil oleh hwesio cilik ini!
Hok Ti Hwesio mengerutkan kening dan wajahnya menjadi muram. Ia segera mencabut tiga batang hio itu
dengan kasar dari mulut mayat Lie Kong Sian, lalu mengangkat hio itu tinggi di atas kepalanya sambil
berkata,
“Arwah orang she Lie! Ketahuilah bahwa aku, Hok Ti Hwesio, akan merawat kemudian mengubur
jenazahmu baik-baik! Dengan demikian, aku sudah melepas budi kepadamu, maka apakah kau tidak mau
membalas budi itu untuk bekal naik ke sorga? Nah, sekali lagi kuminta, arwah orang she Lie, berikanlah
jantungmu dengan rela!” Sesudah berkata demikian, ia lalu menancapkan kembali hio itu ke dalam mulut
mayat itu. Ia menghampiri sumpit di atas mangkok dan berkata lagi,
“Nah, sekarang jawablah! Berikan jantung tubuhmu padaku, setuju atau tidak?” Kembali sumpit itu
berputar-putar dan masih tetap... tiga kali!
Hok Ti Hwesio membanting-banting kakinya dengan gemas sekali. Dia mengambil pisau tajam dari atas
meja dan menghampiri mayat Lie Kong Sian yang bertelanjang bulat dan telentang di atas meja panjang.
“Baik, kau tidak setuju? Aku tetap akan mengarnbil jantung tubuhmu, hendak kulihat kau bisa berbuat apa!
Sudah mampus kau masih saja jahat dan memusuhi kami, orang she Lie!”
Dengan muka kejam hwesio cilik ini lalu mengangkat tangannya hendak menusuk dada mayat Lie Kong
Sian, akan tetapi pada saat itu, tiba-tiba meniup angin besar dari jendela dan api lilin menjadi padam! Hok
Ti Hwesio terkejut bukan main dan menoleh ke jendela. Wajahnya menjadi pucat sekali karena ia melihat
sebuah kepala tersembul di jendela dan karena sekarang penerangan lilin telah padam, maka kepala itu
nampak hitam dan besar mengerikan!
Hok Ti Hwesio biar pun masih kecil, akan tetapi karena telah menerima latihan ilmu-ilmu hitam, tidak
merasa takut terhadap segala setan dan iblis. Akan tetapi oleh karena tadi ia hendak memaksa membedah
dada mayat itu biar pun arwah si mayat tak menyetujuinya, tentu saja kini menyangka bahwa itu adalah
setan penasaran dari Lie Kong Sian yang datang mengganggu! Ia melemparkan pisaunya ke bawah dan
berlari berteriak-teriak.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tolong... setan... tolong, Suhu... ada setan…!”
Kepala yang tersembul di jendela itu ternyata memiliki tubuh dan kini tubuhnya bergerak melompat ke
dalam kamar, lalu memondong mayat Lie Kong Sian dan cepat dibawa lagi keluar! Bayangan yang
disangka setan ini ternyata adalah Lo Sian!
Sebagaimana diketahui, Pengemis Sakti ini mengintai dan menyaksikan betapa Lie Kong Sian terbunuh
dan betapa orang muda kampung yang tanpa disengaja menyaksikan pula pembunuhan itu, tadi telah
dibunuh secara kejam oleh Ban Sai Cinjin. Lalu ia mendengar tentang permintaan Hok Ti Hwesio yang
hendak mengambil jantung dari mayat Lie Kong Sian.
Lo Sian tidak berani bergerak di hadapan Bouw Hun Ti dan Ban Sai Cinjin. Akan ketika melihat hwesio cilik
itu membawa mayat Lie Kong Sian ke belakang, ia lalu mengikuti dan mengintai dari jendela.
Sesungguhnya, perbuatan Lo Sian juga yang memutarkan sumpit gading tadi, dengan mengerahkan
khikang dan meniup dari jendela, dan dia pula yang meniup padam api lilin!
Ketika mendengar teriakan Hok Ti Hwesio, Ban Sai Cinjin dan Bouw Hun Ti cepat-cepat memburu dan
mereka masih melihat bayangan Lo Sian membawa lari mayat Lie Kong Sian. Mereka cepat mengejar,
akan tetapi Lo Sian telah menghilang di dalam kegelapan, sebentar saja Lo Sian telah dapat meninggalkan
kedua orang pengejarnya.
“Celaka, bangsat Lo Sian telah mengetahui peristiwa itu, bahkan dia telah membawa lari mayat Lie Kong
Sian. Hal ini pasti akan berekor panjang sekali,” Ban Sai Cinjin berkata sambil menghela napas.
“Biarlah, apakah Suhu takut menghadapi kawan-kawannya?” kata Bouw Hun Ti. “Kalau Pendekar Bodoh
dan yang lain-lain datang, kita gempur mereka!”
“Takut sih tidak, akan tetapi aku merasa segan untuk bermusuhan dengan orang-orang kang-ouw. Hidupku
biasanya senang dan aman, kini pasti akan menemui gangguan dan semua ini gara-gara kau, Hun Ti!
Karena itu, kau harus memperdalam kepandaianmu. Aku sendiri sudah malas untuk mengajar dan jalan
satu-satunya bagimu adalah pergi ke tempat pertapaan Supek-mu.”
“Wi Kong Siansu di Hek-kwi-san?” Bouw Hun Ti bertanya sambil membelalakkan kedua matanya.
Ban Sai Cinjin mengangguk. “Ya, selain supek-mu itu siapa lagi yang dapat memperkuat kedudukan kita
dan dapat memberi pendidikan ilmu silat lebih jauh kepadamu?”
“Akan tetapi, bukankah Suhu pernah menceritakan bahwa Supek telah mencuci tangan dan mengasingkan
diri di puncak Hek-kwi-san, tidak mau turut mencampuri urusan dunia lagi?”
“Benar, akan, tetapi aku sudah tahu akan tabiat Supek-mu itu. Dia amat sayang kepada mendiang Lu Tong
Kui yang meski pun menjadi Sute, akan tetapi masih iparnya sendiri. Ketahuilah rahasianya dulu, bahwa
Enci dari Lu Tong Kui pernah mengadakan hubungan dengan Supek-mu itu! Nah, apa bila kau membawa
suratku, lantas menceritakan tentang tewasnya Lu Tong Kui, tentu dia akan turun gunung dan memperkuat
kedudukan kita.”
“Akan tetapi, Suhu. Pembunuh Lu Tong Kui adalah Lie Kong Sian sedangkan Lie Kong Sian telah terbalas
oleh Suhu.”
“Bodoh! Jangan kau beritahukan bahwa pembunuh susiok-mu itu adalah Lie Kong Sian. Beritahukan saja
bahwa pembunuhnya adalah Pendekar Bodoh serta kawan-kawannya, dan bahwa matinya akibat
dikeroyok hingga tidak saja Suheng akan mendendam kepada Pendekar Bodoh, akan tetapi juga kepada
yang lainnya. Pendeknya, kalau Suheng dapat dibujuk turun gunung dan tinggal di sini bersama kita,
jangankan baru Pendekar Bodoh, andai kata Bu Pun Su bangkit lagi dari kuburan, kita tak usah takut
menghadapinya!”
Bouw Hun Ti merasa girang sekali. “Dan bagaimana dengan Lo Sian yang membawa lari mayat Lie Kong
Sian itu, Suhu?”
“Serahkan dia kepadaku. Aku yang akan mencari dan menghajarnya. Kau berangkatlah besok pagi-pagi ke
Hek-kwi-san jangan ditunda-tunda lagi dan aku akan membuat surat untuk Suheng.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Demikianlah pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Bouw Hun Ti berangkat ke tempat pertapaan Wi
Kong Siansu, suheng dari Ban Sai Cinjin dengan membawa sepucuk surat dari suhu-nya itu. Pendeta tua
yang disebut Wi Kong Siansu dan yang menjadi suheng dari Ban Sai Cinjin ini adalah seorang pertapa
yang sakti.
Dulu pada waktu mudanya dia terkenal sebagai seorang yang malang melintang di dunia kang-ouw dan
belum pernah menderita kekalahan di dalam setiap pertempuran. Bahkan orang-orang ternama dan yang
termasuk tokoh-tokoh terbesar di dunia persilatan seperti Bu Pun Su, Hok Peng Taisu, Pok Pok Sianjin,
dan Swi Kiat Siansu yang terkenal sebagai empat tokoh terbesar dari empat penjuru, merasa segan untuk
bentrok dengan Wi Kong Siansu.
Bukan karena empat tokoh besar ini merasa jeri dari takut, akan tetapi oleh karena Wi Kong Siansu
terkenal memiliki kepandaian silat yang amat ganas dan dahsyat sehingga setiap kali dia bertanding ilmu
kepandaian dengan seorang lawan, lawan itu tentu akan tewas di dalam tangannya! Bagi Wi Kong Siansu,
hanya ada dua keputusan dalam tiap pertandingan, yaitu menang atau kalah dan mati! Oleh karena inilah,
maka ia mendapat julukan Toat-beng Lo-mo atau Iblis Tua Pencabut Nyawa!
Ada pun Ban Sai Cinjin lalu mengadakan perjalanan pula untuk mencari dan menyusul Lo Sian yang telah
mengetahui rahasianya. Sebetulnya Ban Sai Cinjin tidak takut orang mengetahui bahwa ia telah
membunuh Lie Kong Sian, kalau saja pembunuhan ltu terjadi dalam sebuah pertempuran yang adil. Yang
membuatnya merasa kuatir apa bila sampai diketahui orang adalah bahwa kekalahan Lie Kong Sian
sebenarnya karena kecurangan yang dilakukan oleh Bouw Hun Ti!
Ban Sai Cinjin adalah seorang tokoh kang-ouw yang amat terkenal dan memiliki banyak sahabat hampir di
seluruh daerah. Karena itu dengan mudah dia dapat menyusul dan mengetahui di mana adanya Lo Sian
yang juga banyak dikenal orang…..
********************
Kita mengikuti perjalanan Lo Sian yang membawa lari jenazah Lie Kong Sian. Sesudah dapat melepaskan
diri dari pengejaran Ban Sai Cinjin dan Bouw Hun Ti, Lo Sian segera masuk ke dalam hutan pohon pek
yang bersambung dengan hutan di mana terdapat kelenteng tempat tinggal Ban Sai Cinjin.
Dia memilih tempat yang baik, yaitu sebuah bukit kecil di tengah hutan yang amat baik hongsui-nya
(kedudukan tanahnya). Kemudian dengan penuh khidmat dia lalu mengubur jenazah pendekar besar Lie
Kong Sian.
Sampai lama Lo Sian bersila, di depan gundukan tanah itu untuk mengheningkan cipta. Di dalam hatinya
dia menyatakan terima kasihnya kepada mendiang Lie Kong Sian, dan juga menyatakan penyesalannya
bahwa karena membela dia, pendekar besar itu sampai menemui maut di tangan Ban Sai Cinjin. Kemudian
Lo Sian lalu menanam satu pohon kembang mawar hutan di depan gundukan tanah itu untuk menjadi
tanda.
Sesudah itu, Pengemis Sakti ini lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Beng-san untuk menyusul suhengnya
yang membawa Lili beserta Kam Seng ke puncak bukit itu. Sama sekali dia tidak pernah mengira
bahwa bahaya besar sedang mengancam dan mengejar dirinya.
Siapakah yang menyangka bahwa Ban Sai Cinjin hendak menyusul dan mencarinya? Ia hanya mencuri
mayat Lie Kong Sian dan hal ini bukanlah hal yang terlalu penting bagi Ban Sai Cinjin. Lo Sian tidak tahu
bahwa Ban Sai Cinjin mengejarnya karena ia dianggap satu-satunya orang yang sudah mengetahui akan
rahasia pembunuhan curang atas diri Lie Kong Sian.
Beberapa hari kemudian, baru saja Lo Sian keluar dari dusun, tiba-tiba saja di depannya berkelebat
bayangan orang dan tahu-tahu Ban Sai Cinjin telah berdiri di depannya sambil tersenyum-senyum dengan
huncwe mautnya mengebulkan asap hitam! Ternyata bahwa kakek pesolek yang amat lihai ini telah dapat
menyusulnya.
“Ha-ha-ha, pengemis jembel!” kata Ban Sai Cinjin. “Apa kau kira kau dapat melarikan diri begitu saja dariku
setelah kau mencuri tubuh yang dibutuhkan oleh muridku?”
“Ban Sai Cinjin,” Lo Sian berkata dengan gelisah, “aku tidak mengganggu muridmu dan tentang jenazah
dunia-kangouw.blogspot.com
Lie Kong Sian itu, memang aku yang telah mengambilnya untuk dikubur sepatutnya. Dia adalah seorang
pendekar besar dan sudah sepatutnya kalau jenazahnya dikebumikan dengan baik. Apakah perbuatanku
itu kau anggap salah?”
“Hemm, Lo Sian, kau pandai memutar lidah! Kau sudah berkali-kali mengganggu Bouw Hun Ti mencampuri
urusannya. Sekarang kau pun membawa pergi mayat Lie Kong Sian. Dimanakah mayat itu sekarang?”
“Sudah dikubur dengan baik,” jawab Lo Sian.
“Bagus, dan jantungnya tentu sudah rusak. Kalau begitu, kau gantilah dengan jantungmu sendiri. Hayo
pengemis jembel, lekas kau serahkan jantungmu kepadaku, baru aku mau memberi ampun!”
Lo Sian tahu bahwa kakek ini sengaja mencari perkara. Bagaimana orang dapat hidup kalau jantungnya
diambil? Ia lalu mencabut pedangnya dan berkata keras, “Kau inginkan jantung? Inilah dia!” Sambil berkata
demikian, Lo Sian lalu menyerang dengan sebuah tusukan pedangnya yang dilakukan dengan nekad dan
cepat, karena ia maklum bahwa ilmu kepandaian Ban Sai Cinjin jauh berada di atas tingkatnya.
Si Huncwe Maut tertawa geli. Huncwe di tangannya kemudian bergerak didahului oleh semburan asap
hitam dari mulutnya ke arah muka Lo Sian. Pengemis Sakti tahu akan berbahayanya asap ini, maka ia
cepat melompat ke kiri dan memutar pedangnya untuk melindungi tubuhnya dari serangan lawan. Akan
tetapi tiba-tiba saja pedangnya berhenti berputar karena telah tertempel oleh huncwe pada tangan Ban Sai
Cinjin dan tidak dapat digerakkan lagi.
“Lepas!” Ban Sai Cinjin membentak sambil ia memutarkan huncwe-nya sedemikian rupa sehingga pedang
di tangan Lo Sian ikut terputar, kemudian dengan tenaga tiba-tiba dia membetot hingga terlepaslah pedang
itu dari tangan Lo Sian tanpa dapat dicegah lagi. Huncwe-nya segera meluncur dengan sebuah totokan
hebat sehingga robohlah Lo Sian tanpa dapat berdaya lagi karena jalan darahnya sudah kena tertotok oleh
huncwe yang lihai itu.
Ban Sai Cinjin mengempit tubuh Lo Sian yang menjadi lemas itu dan membawanya lari secepat terbang
kembali ke kelentengnya! Setelah tiba di kelenteng yang mewah itu, dia melemparkan tubuh Lo Sian ke
atas lantai, lalu mengambil semangkok obat yang biru kehitaman warnanya.
“Minum ini!” katanya dan hwesio kecil muridnya itu memandang sambil menyeringai.
Biar pun Lo Sian telah lemas dan tidak bertenaga lagi, namun hatinya masih cukup tabah dan keras, maka
dia diam saja. Meski pun mangkok itu telah ditempelkan pada bibirnya, namun ia tidak mau meneguk obat
itu.
“Ehh, pengemis jembel!” Hok Ti Hwesio si hwesio kecil itu mengeiek. “Kau kelaparan dan kehausan,
minuman seenak ini mengapa tidak mau minum?” Sambil berkata demikian, hwesio kecil ini menampar
mulut Lo Sian yang tidak dapat mengelak atau mengerahkan tenaga.
“Plakk!” maka bibir Lo Sian pecah dan mengeluarkan darah.
“Buka mulut anjing ini!” kata Ban Sai Cinjin kepada muridnya.
Hok Ti Hwesio yang memang semenjak kecil mendapat pendidikan kekejaman itu sambil tertawa-tawa
kemudian menggunakan kedua tangannya membuka mulut Lo Sian dengan paksa, lalu mengganjal mulut
itu dengan kakinya yang bersepatu kotor sehingga mulut Lo Sian kini ternganga diganjal sepatu dari
hwesio cilik itu.
Ban Sai Cinjin lalu menuangkan obat mangkok itu ke dalam mulut Lo Sian. Si Pengemis Sakti mencoba
untuk menutup kerongkongannya, akan tetapi Hok Ti Hwesio, si hwesio kecil yang kejam dan penuh akal
itu lalu memencet hidung Lo Sian dengan kedua jari tangannya.
Lo Sian terengah-engah dan terpaksa harus bernapas dari mulut dan masuklah obat itu ke dalam perutnya!
Obat itu terasa amat getir dan masam dan setelah masuk ke dalam perut terasa amat dingin sehingga dia
menggigil. Lo Sian berpikir bahwa obat itu tentulah racun dan ia tentu akan mati, maka sambil meramkan
mata ia menanti datangnya maut. Tak lama kemudian pikirannya menjadi lemah dan sudah tak dapat
digunakan lagi, lalu ia menjadi pingsan tak sadarkan dirinya!
dunia-kangouw.blogspot.com
Sesudah dia membuka mata kembali, ternyata dia telah berada di dalam sebuah hutan seorang diri. Tidak
nampak lain orang di sana dan pikiran Lo Sian masih tidak karuan. Segala benda di depannya nampak
berputar-putar dan sebentar kemudian dia berteriak-teriak,
“Pemakan jantung...! Tolong... pemakan jantung...!”
Kemudian, dengan beringas dia pun melompat bangun dan berlari terhuyung-huyung tak karuan seperti
orang mabok. Terdengar dia berteriak-teriak, sebentar menangis bagaikan orang ketakutan setengah mati,
kemudian dia tertawa dengan geli seakan-akan melihat sesuatu yang amat lucu. Ternyata Lo Sian telah
menjadi gila!
Obat yang dipaksakan memasuki perutnya itu adalah semacam obat mukjijat yang dapat merampas
ingatannya dan membuat dia menjadi gila! Alangkah kejamnya Ban Sai Cinjin dan muridnya Hok Ti
Hwesio.
Ban Sai Cinjin merasa tidak ada gunanya membunuh Lo Sian, maka timbul pikiran yang amat keji dan juga
cerdik. Ia membiarkan Lo Sian hidup, akan tetapi memberinya minum racun yang membuatnya menjadi
gila sehingga tak mungkin lagi Lo Sian bisa membuka rahasia pembunuhan atas diri Lie Kong Sian!
Jangankan mengingat akan hal itu semua, bahkan terhadap diri sendiri pun Lo Sian tak ingat lagi. Dia tidak
tahu lagi siapa adanya dirinya sendiri, dan tidak ingat pula segala kejadian yang sudah lalu, yang
terbayang di depan matanya hanyalah jantung manusia yang dimakan orang!
Memang, kasihan sekali nasib Lo Sian yang jatuh ke dalam tangan orang-orang berhati iblis! Ia merantau
tak tentu arah tujuan sebagai seorang gila…..
********************
Pegunungan Ho-lan-san memanjang dan menjadi tapal batas antara Mongolia dengan daratan Tiongkok
Propinsi Kansu. Walau pun pegunungan ini di kanan kirinya, terutama sekali di bagian utara, merupakan
padang pasir yang sangat luas, namun pegunungan ini cukup kaya akan hutan-hutan dan pepohonan. Hal
ini adalah berkat mengalirnya Sungai Kuning, yang membuat lembah di sepanjang alirannya menjadi
subur.
Oleh karena itu, tak heran apa bila di tempat yang jauh dari dunia ramai ini telah banyak orang datang dan
desa-desa yang cukup ramai terdapat di sepanjang sungai besar itu. Dengan adanya Sungai Huang-ho
yang tidak pernah mengering ini, lapangan pencarian nafkah hidup bagi mereka tidak kurang.
Selain bercocok tanam di lembah yang subur, para penduduk dapat pula bekerja sebagai nelayan, sebab
air sungai mengandung cukup banyak ikan. Selain ini, mereka dapat pula mengambil hasil hutan terutama
kayu-kayu yang keras dan baik untuk pembangunan.
Pekerjaan ini makin lama semakin ramai dan bahkan ada beberapa orang yang cukup memiliki modal lalu
mendirikan perusahaan kayu bangunan. Banyak tukang kayu disebar ke hutan-hutan untuk menebang
pohon yang baik kayunya, kemudian kayu yang sudah menjadi balok-balok besar itu lalu ditumpuk di
pinggir sungai, siap dikirim ke mana saja datangnya pesanan. Untuk mengangkut kayu-kayu balok itu, air
Sungai Huang-ho selalu siap melakukannya tanpa menuntut bayaran sepotong uang pun!
Pada suatu hari, tiga orang lelaki yang berusia tiga puluhan tahun, bertubuh tinggi tegap dan nampak kuat,
berjalan mendaki sebuah puncak di Pegunungan Ho-lan-san. Mereka ini membawa alat-alat penebang
kayu, yaitu tambang besar yang digulung dan digantung pada pinggang, sebuah golok dan sebuah kapak
besar yang berat dan tajam.
Ketika mereka sampai di luar sebuah hutan yang kecil akan tetapi liar dan gelap, mereka berhenti mengaso
dan duduk di atas rumput. Sambil bercakap-cakap mereka memandang ke arah hutan yang angker itu.
Pohon-pohon besar dan tinggi menjulang dari hutan itu, membuat bagian tanah di gunung ini nampak
paling tinggi menonjol.
“Sute, aku masih saja merasa sangsi untuk memasuki hutan ini,” terdengar orang yang tertua berkata.
“Bukankah Suhu sudah berpesan agar kita lebih baik jangan mengganggu hutan ini? Suhu sendiri katanya
mengambil jalan memutar kalau melakukan perjalanan lewat di sini. Menurut Suhu, bukan karena dia takut,
akan tetapi sungkan menghadapi permusuhan dengan sepasang setan itu.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ah, Twa-suheng,” kata yang termuda, “mengapa kita harus percaya akan segala tahyul bodoh dari orangorang
dusun? Mereka itu hanya menyiarkan kabar bohong yang belum pernah mereka buktikan sendiri.
Siapakah orangnya yang pernah melihat sepasang iblis itu? Aku tidak percaya. Kalau Suhu lain lagi,
karena Suhu adalah seorang pendeta yang menghormati kepercayaan orang lain. Kita adalah orang-orang
muda yang datang dari kota dan memiliki kepandaian, kenapa kita harus takut terhadap segala tahyul
bohong?”
Orang ke dua menyambung. “Ucapan Sute memang ada benarnya, akan tetapi melihat keadaan hutan
yang demikian liar dan angker, timbul juga perasaan tidak enak di dalam hatiku. Dunia ini memang aneh
dan banyak hal-hal yang belum kita mengerti. Bagaimana kalau kabar itu ternyata tidak bohong?
Bagaimana kalau benar-benar muncul setan di tengah hari dan menyerang kita?”
“Mengapa takut?” berkata pula yang termuda. “Percuma saja kita mempelajari ilmu silat sampai beberapa
tahun lamanya, dan percuma pula kita menjadi murid Pek I Hosiang yang namanya telah terkenal di dunia
kang-ouw! Lagi pula, kita bukan bermaksud buruk. Kita memasuki hutan hanya untuk menebang pohon
dan mencari kayu besi yang amat dibutuhkan. Kui-loya (Tuan Kui) berani membayar kita tiga kali lebih
banyak dari pada kayu-kayu biasa.”
Tiga orang yang nampak kuat dan gagah ini adalah tiga orang di antara begitu banyak penebang pohon
yang banyak bekerja di daerah ini. Mereka adalah murid-murid dari Pek I Hosiang, seorang hwesio yang
menjadi ketua dari sebuah kelenteng di dalam dusun tempat tinggal mereka.
Hwesio ini memang berkepandaian tinggi dan ia mempunyai banyak sekali murid. Boleh dibilang, lebih tiga
puluh orang penebang kayu yang muda-muda dan kuat-kuat menjadi muridnya! Para penebang pohon ini
kemudian menjual kayu yang mereka tebang kepada perusahaan-perusahaan kayu yang banyak didirikan
orang di tempat itu dan di antaranya yang terbesar adalah perusahaan kayu milik orang she Kui yang
berasal dari kota besar di daerah timur.
Telah menjadi semacam dongeng yang selama bertahun-tahun amat dipercaya oleh para penduduk di
daerah Pegunungan Ho-lan-san, bahwa daerah puncak yang penuh dengan pohon-pohon tinggi, jurangjurang
dalam dan goa-goa yang angker itu menjadi tempat tinggal sepasang siluman atau iblis yang amat
jahat. Sebenarnya, belum pernah terjadi pembunuhan atau penganiayaan terhadap manusia yang
dilakukan oleh sepasang iblis itu, akan tetapi karena perasaan takut mereka, maka orang-orang lalu
bercerita bahwa iblis-iblis yang menjadi penghuni hutan itu amat jahat dan mengerikan!
Hanya satu kali terjadi peristiwa yang membuktikan bahwa di hutan itu memang terdapat makhluk yang
sakti, sungguh pun orang tak dapat membuktikan dengan nyata bahwa makhluk itu adalah iblis atau
siluman. Terjadinya peristiwa itu telah dua tahun lebih, yaitu ketika serombongan piauwsu mengantar
seorang hartawan bersama keluarganya yang melakukan perjalanan. Ketika rombongan ini tiba di tengah
hutan, tiba-tiba, entah dari mana datangnya, terdengar suara bergema di empat penjuru dan suara ini
berkata tegas,
“Lekas keluar dari hutan ini!”
Para piauwsu yang mengawal rombongan ini merupakan orang-orang gagah yang sudah banyak
pengalaman. Mereka tidak gentar menghadapi perampok-perampok dan bahkan jarang ada perampok
berani mengganggu mereka. Akan tetapi, peristiwa ini baru sekali mereka alami, yaitu adanya suara yang
melarang mereka melalui sebuah hutan. Kepala rombongan itu lalu menjura ke empat penjuru dan
menjawab,
“Mohon maaf sebesarnya dari Tai-ong kalau kami berani berlaku kurang ajar dan melalui wilayah Tai-ong
(Raja Besar, sebutan untuk kepala rampok) tanpa mendapat ijin terlebih dulu. Kami bersedia membayar
uang sewa jalan apa bila Tai-ong kehendaki, akan tetapi harap Tai-ong perkenankan kami melalui jalan ini”
Untuk beberapa lama tak terdengar suara sesuatu, akan tetapi mendadak terdengar lagi suara yang
berlainan dengan suara pertama. Jika suara pertama yang mengusir mereka keluar dari hutan tadi
terdengar halus dan nyaring seperti suara wanita, kini terdengar suara yang juga halus dan nyaring akan
tetapi lebih besar seperti suara seorang pemuda.
“Jangan banyak cakap! Kami tak butuh segala uang sewa jalan! Pergilah lekas dari hutan ini!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Para piauwsu yang jumlahnya tujuh orang itu menjadi amat penasaran. Mereka mencabut senjata masingmasing
dan memandang ke sekeliling dengan sikap menantang.
“Kalau kami tidak mau pergi dan tetap hendak melanjutkan perjalanan kami melalui hutan ini, kau mau
apakah?” tanya kepala piauwsu itu dengan marah.
Kini yang menjawab adalah suara pertama yang masih terdengar halus akan tetapi amat berpengaruh.
“Terpaksa kami akan menggunakan kekerasan! Kami memberi waktu sampai ada ayam hutan berkokok,
itulah tanda bahwa kami akan bergerak apa bila kalian belum keluar dari sini!”
Seorang di antara para piauwsu itu yang terkenal sebagai ahli senjata rahasia secara diam-diam
mengeluarkan beberapa batang senjata piauw, dan tiba-tiba ia menyambitkan tiga batang piauw ke arah
daun-daun pohon besar dari mana suara tadi datang.
Akan tetapi hanya terdengar berkereseknya daun terbabat senjata-senjata piauw itu, dan selain itu tidak
nampak tanda-tanda bahwa di pohon itu terdapat manusianya! Yang lebih mengherankan, ketiga batang
piauw tadi tidak turun lagi ke bawah, seakan-akan lenyap ditelan oleh daun-daun yang lebat itu.
Para piauwsu itu saling pandang dengan heran, sedangkan keluarga hartawan itu duduk berkumpul di
dekat kereta dengan muka pucat.
“Tidakkah lebih baik bila kita mengambil jalan memutar saja?” tanya hartawan itu kepada kepala piauwsu.
Akan tetapi yang ditanya menggeleng kepala.
“Wan-gwe (sebutan hartawan) tidak tahu. Hal ini adalah soal kehormatan bagi piauwsu-piauwsu seperti
kami. Apa bila kami mengalah begitu saja terhadap segala penggertak, bagaimana kami dapat menjadi
piauwsu?”
Mereka menanti dengan hati penuh ketegangan dan tiba-tiba saja mereka terkejut ketika mendengar suara
yang mereka nanti-nanti, yakni kokok seekor ayam hutan dari jauh.
“Waktunya sudah habis, kalian harus pergi!” tiba-tiba seru suara tadi.
Dan entah dari mana datangnya, bagaikan meluncur dari atas awang nampak dua sosok bayangan
berkelebat cepat menubruk tujuh orang piauwsu tadi. Para piauwsu itu terkejut sekali dan cepat memutar
senjata untuk menyerang dua sosok bayangan itu, akan tetapi alangkah terkejut hati mereka ketika
bayangan itu lalu bergerak dengan amat cepatnya, merupakan sinar putih dan merah dan tahu-tahu semua
senjata di tangan para piauwsu itu terlempar jauh!
Sebelum ketujuh orang piauwsu itu sempat memandang, tahu-tahu mereka merasa sakit sekali pada
pundak mereka. Terdengar jerit mereka susul-menyusul lantas tubuh mereka roboh tak dapat bangun
kembali karena mereka telah terkena tiam-hoat (ilmu totok) yang lihai. Setelah itu, hanya nampak
bayangan dua sosok tubuh berpakaian merah dan putih berkelebat lenyap di balik serumpun alang-alang!
“Itulah hukuman bagi tujuh orang piauwsu sombong!” tiba-tiba saja terdengar suara yang halus itu dari atas
pohon. “Naikkan tujuh tikus itu ke atas kereta dan kembalilah kalian keluar dari hutan ini!”
Dengan perasaan ketakutan setengah mati, rombongan itu lalu menolong para piauwsu, menaikkan dan
menumpuk tubuh mereka yang lemas itu ke atas kereta lalu rombongan itu membalap keluar dari hutan!
Maka tersiarlah berita ini sehingga nama kedua iblis penghuni hutan sangat terkenal dan sejak saat itu,
tidak ada seorang pun berani melangkahkan kaki memasuki hutan. Siapa orangnya yang tak akan merasa
takut dan ngeri mendengar betapa tujuh orang piauwsu ternama dibikin tak berdaya oleh sepasang siluman
yang lihai itu?
Berita tentang sepasang iblis itu tentu saja tidak begitu dipercaya oleh para pendatang baru dari kota-kota
besar, terutama sekali oleh orang-orang yang memiliki kepandaian ilmu silat. Betapa pun juga, karena tahu
pula bahwa di dunia ini banyak terjadi hal yang aneh dan banyak sekali terdapat orang-orang pandai,
mereka tak berani mencoba untuk melanggar pantangan penduduk dan tidak mau memasuki hutan itu.
Bahkan Pek I Hosiang, seorang tokoh kang-ouw yang sudah ulung dan berkepandaian tinggi, juga
dunia-kangouw.blogspot.com
menasehatkan murid-muridnya yang banyak jumlahnya agar supaya jangan mengganggu hutan itu.
“Siapa tahu,” kata hwesio itu kepada muridnya yang membantah, “kalau-kalau di tempat itu ternyata
terdapat seorang pertapa yang sedang mengasingkan diri dan pertapaannya tidak mau diganggu.”
Akan tetapi, seperti telah dituturkan di depan, tiga orang penebang kayu yang bertubuh kuat itu duduk di
luar hutan, merundingkan mengenai kehendak mereka menebang kayu besi yang terdapat di hutan itu.
Ketiga orang ini adalah murid-murid Pek I Hosiang yang terhitung pandai, dan sungguh pun tadinya yang
tertua di antara rnereka masih merasa ragu-ragu untuk memasuki hutan itu, namun berkat desakan kedua
orang sute-nya (adik seperguruannya), akhirnya mereka masuk juga ke dalam hutan itu!
“Bagaimana pun juga, Sute, kita harus selalu berhati-hati dan lebih baik bekerja secara diam-diam, jangan
banyak berisik,” berkata orang tertua di antara ketiga orang penebang pohon itu. Kedua sute-nya menurut,
karena memang keadaan hutan yang masih liar dan tak pernah dimasuki orang itu sangat menyeramkan.
Ketika mereka bertiga berjalan lambat sambil melihat ke kanan kiri untuk mencari pohon besi yang hendak
mereka tebang, tiba-tiba orang tertua itu melihat sesuatu dan ia cepat memegang tangan kedua sute-nya
kemudian ditariknya mereka untuk bersembunyi di belakang sebatang pohon yang besar.
“Lihat, apakah itu?” katanya kepada kedua orang sute-nya yang memandang heran.
Dua orang kawannya memandang ke arah yang ditunjuknya dan mereka masih sempat melihat bayangan
putih berkelebat cepat sekali.
“Orangkah dia?” seorang berbisik.
“Entahlah, akan tetapi gerakannya sungguh cepat!” memuji orang termuda yang hatinya paling tabah. “Mari
kita mendekat, dia masuk ke dalam goa itu!”
Kedua orang kawannya merasa ragu-ragu, akan tetapi karena tak melihat bayangan tadi muncul kembali,
sedangkan sute mereka dengan beraninya telah keluar dari balik pohon dan menuju ke tempat bayangan
tadi menghilang, mereka juga mengikuti sute mereka.
Benar saja, di tempat yang meninggi terdapat sebuah goa yang lebar. Goa ini amat gelap sehingga tidak
kelihatan apakah goa itu merupakan terowongan atau bukan.
Tiba-tiba terdengar bentakan dari dalam goa, “He! Kalian mau apa datang ke sini? Hayo cepat pergi!”
Berbareng dengan ucapan itu, terlihat berkelebat bayangan putih keluar dari goa yang gelap itu dan tahutahu
di depan mereka sudah berdiri seorang pemuda yang luar biasa eloknya!
Muka pemuda ini berkulit halus dan putih, dan matanya sangat tajam berpengaruh. Garis mulutnya yang
kuat membayangkan kehendak yang teguh dan kemauan yang membaja. Tubuhnya sedang dengan
pinggang langsing, pakaiannya sederhana tapi rapi, berwarna putih seperti pakaian seorang pelajar. Dia
mengenakan mantel panjang yang putih pula, dan di antara semua pakaian yang menutup tubuhnya,
hanya leher baju yang menurun terus ke pinggang dan kopyahnya saja yang berwarna biru. Juga
sepatunya warna hitam. Memang janggal sekali melihat seorang penghuni goa yang berpakaian
sedemikian putih bersih.
Melihat pemuda ini hanyalah seorang manusia biasa, bukan seorang iblis, ketiga orang penebang pohon
itu pun segera bernapas lega.
“Kami adalah penebang-penebang kayu dan sekarang hendak mencari pohon besi yang banyak tumbuh di
hutan ini,” jawab penebang tertua.
Pemuda itu menggerakkan tangan kanannya, digoyang beberapa kali kemudian berkata, “jangan kalian
melakukan hal itu. Lebih baik lekas kalian pergi dari sini!”
Penebang kayu yang termuda melangkah maju dan berkata marah,
“Orang muda, dengan alasan apakah kau melarang kami melakukan penebangan pohon besi di hutan ini?
Dan hak apakah yang kau andalkan untuk mengusir kami?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Alasannya, kalau kau melakukan penebangan pohon, berarti kau melanggar laranganku dan ini berbahaya
sekali bagi keselamatanmu. Ada pun tentang hak, aku menggunakan hak sebagai seorang yang lebih dulu
datang di tempat ini dari pada kalian bertiga!”
Marahlah penebang muda itu. “Kau anak kecil sombong amat! Kalau kami bertiga tetap melanjutkan
kehendak kami, kau mau apakah? Apakah kau ini siluman yang menguasai hutan ini seperti yang
dikabarkan orang?”
“Tutup mulut dan pergilah!” seru pemuda itu dan biar pun sikapnya masih setenang tadi, namun sepasang
alisnya yang indah bentuknya itu mulai bergerak-gerak.
Akan tetapi, biar pun sinar mata pemuda ini tajam dan berpengaruh, akan tetapi ia hanya merupakan
seorang pemuda yang halus dan tidak nampak berbahaya. Tentu saja ketiga orang penebang kayu yang
bertubuh kuat dan mempunyai kepandaian silat itu tidak takut menghadapinya. Mereka bertiga lalu
mengeluarkan senjata mereka yang menyeramkan, yaitu tangan kanan memegang golok lebar yang tajam
sedangkan tangan kiri memegang sebatang kapak yang tidak kalah hebatnya.
“Ha-ha-ha-ha, anak muda! Betapa pun galaknya mulutmu, kami tidak takut. Kami hendak menebang pohon
dengan kapak dan golok ini, kau mau apa? Ha-ha-ha!”
Akan tetapi baru saja penebang pohon itu menutup mulutnya, pemuda itu sudah lenyap. Tubuhnya
berkelebat merupakan bayangan putih dan penebang pohon yang termuda ini memekik keras ketika
merasa betapa kapak dan goloknya bagaikan bisa terbang sendiri meninggalkan kedua tangannya tanpa
bisa dicegah pula! Ternyata bahwa dengan sekali gerakan saja, pemuda baju putih itu sudah berhasil
merampas kapak dan goloknya yang kini dilempar di atas tanah!
Dua orang penebang yang lain menjadi marah dan terkejut sekali. Sambil berseru marah, mereka lalu maju
menyerang dan pada saat itu, dua batang golok dan dua batang kapak telah menyambar ganas menuju ke
tubuh pemuda baju putih itu!
Namun kembali mereka dibikin bengong oleh pemuda aneh itu. Agaknya tubuh pemuda itu tak bergerak
sama sekali, buktinya kedua kakinya tidak berpindah tempat. Hanya dua lengan tangannya saja bergerak
cepat serta tubuhnya bergoyang-goyang menghindari sambaran keempat senjata itu dan...
“Aduh...! Aduh...!”
Dua orang itu merasa kedua lengan mereka mendadak menjadi lemas dan sakit sekali, oleh karena entah
dengan gerakan bagaimana, jari-jari tangan pemuda itu sudah berhasil menotok pergelangan tangan
kedua orang penebang pohon itu! Kembali senjata-senjata mereka terpaksa harus mereka lepaskan
sehingga jatuh bertumpuk di atas tanah!
Sudah tentu saja mereka bertiga hampir tak dapat percaya akan kejadian yang baru saja mereka alami itu.
Bagaimana mereka yang memegang senjata dan memiliki kepandaian tinggi, sekarang dipaksa
melepaskan senjata dengan cara yang demikian mudahnya oleh pemuda ini? Ilmu silat apakah yang tadi
dipergunakan oleh pemuda baju putih itu untuk menghadapi mereka? Mereka hanya memandang dan
berdiri bagai patung. Silumankah pemuda ini, demikian mereka berpikir dan memandang dengan hati
merasa seram.
“Pergilah...! Pergilah...!” pemuda itu dengan acuh tak acuh berkata sambil menggerakkan tangan kanan
seperti mengusir lalat yang mengganggunya!
Tiba-tiba terdengar suara dari dalam goa. “Siong-ji..., lempar saja tikus-tikus itu ke dalam jurang! Untuk apa
melayani mereka?”
Pemuda baju putih itu menengok ke arah goa dan menjawab, “Mereka hanya tiga orang penebang pohon
yang tak berarti, Ibu!”
“Mereka telah lancang, berani mendekati tempat kita!” suara dari dalam goa itu semakin nyaring.
Tiba-tiba ketiga orang penebang pohon itu melihat berkelebatnya bayangan merah yang luar biasa sekali
cepatnya. Belum sempat mata mereka melihat dengan jelas, tiba-tiba mereka telah roboh pingsan!
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketika tiga orang penebang pohon itu siuman kembali, mereka mendapatkan diri mereka telah berada di
luar hutan yang menyeramkan itu! Sambil mengeluh mereka meraba-raba pundak mereka yang masih
terasa sakit dan linu, bekas tertotok secara luar biasa sekali oleh bayangan merah tadi.
“Ah, Sute. Jika kau tadi mendengar omonganku, tak akan kita mengalami kesengsaraan ini!” kata yang
tertua sambil bangun dengan tubuh masih lemas.
Penebang termuda tak dapat menjawab karena pengalaman tadi masih membuat hatinya berdebar-debar.
“Mereka itukah siluman-siluman yang ditakuti orang?” tanyanya perlahan.
“Mungkin! Mana ada orang semuda itu sudah sedemikian lihainya? Hanya siluman saja yang dapat
merampas senjata kita secara demikian aneh,” kata orang ke dua.
“Dan bayangan merah tadi... apakah dia itu? Dia pandai bicara, akan tetapi gerakannya demikian hebat!
Hebat dan mengerikan!” kata yang tertua sambil bergidik karena teringat akan serangan bayangan merah
tadi. “Sungguh berbahaya sekali!”
“Betapa pun juga, aku masih penasaran, Suheng!” kata yang termuda. “Tidak mungkin pemuda tadi
seorang siluman. Memang kepandaiannya hebat luar biasa, akan tetapi dia seorang manusia biasa saja,
bukan setan. Apakah pekerjaan mereka berdua di tempat itu? Jangan-jangan mereka adalah orang-orang
jahat yang menyembunyikan diri.”
“Habis kau mau apa, Sute? Terhadap orang-orang lihai seperti mereka itu, lebih baik kita menjauhkan diri,”
kata yang tertua.
“Celaka, kapak dan golok kita tertinggal di depan goa!” mengeluh orang ke dua.
“Kita harus melaporkan hal ini kepada Suhu!”
Demikianlah, sambil tiada hentinya membicarakan peristiwa aneh itu, ketiga penebang pohon ini lalu
kembali ke dusun tempat tinggal mereka. Karena mereka menceritakan pengalaman mereka kepada
kawan-kawan di dusun, maka sebentar saja gegerlah dusun itu dan semua orang membicarakan sepasang
‘siluman’ di hutan itu yang disebutnya ‘Pek-ang Siang-mo’ (Sepasang Iblis Putih Merah).
Pek I Hosiang mendengarkan penuturan ketiga orang muridnya dengan penuh perhatian dan hatinya
merasa amat tertarik. Akan tetapi ia tidak menyatakan perhatiannya, bahkan ia lalu menegur ketiga orang
muridnya itu.
“Kalian bertiga memang telah berlaku lancang. Mana ada siluman di dunia ini? Seperti yang kuduga,
mereka adalah orang-orang pandai yang tengah bertapa. Mungkin pemuda itu murid si pertapa yang kalian
lihat sebagai bayang-bayang merah. Lain kali janganlah kalian berlaku lancang. Hutan di sekitar
pegunungan ini sangat banyak, mengapa justru mencari di tempat yang terlarang itu?”
Sungguh pun mulutnya menyatakan demikian, namun di dalam hatinya Pek I Hosiang merasa tertarik dan
ingin sekali menyaksikan sepasang siluman itu dengan mata kepala sendiri. Sebagai seorang hwesio, ia
tidak menghendaki permusuhan, akan tetapi sebagai seorang kang-ouw yang berkepandaian tinggi, tentu
saja dia sangat tertarik mendengar tentang kelihaian ilmu silat orang lain. Ia ingin sekali melihat siapakah
gerangan orang pandai yang menyembunyikan diri di tempat itu. Diam-diam ia lalu mengambil keputusan
untuk pergi sendiri menemui dua orang aneh itu.
Di dalam hutan yang dianggap oleh penduduk sebagai tempat tinggal Pek-ang Siang-mo itu, terdapat
sebuah lapangan terbuka dekat sebatang anak sungai yang bening airnya. Pemandangan di situ sungguh
indah.
Pada suatu pagi, di kala burung-burung hutan berkicau dan bersuka cita menyambut datangnya sang
matahari, di atas lapangan itu nampak sinar pedang bergulung-gulung menyelimuti bayangan putih yang
gerakannya cepat sekali. Ada kalanya gerakan sinar pedang itu mengendur dan tampaklah bayangan putih
itu sebagai tubuh seorang pemuda berbaju putih yang sedang mainkan pedangnya dengan gerakan yang
amat indahnya. Di waktu permainan ilmu pedangnya mengendur, ia seakan-akan sedang menari saja.
Tidak saja ilmu pedangnya yang aneh, bahkan pedang di tangan pemuda baju putih itu lebih aneh lagi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Disebut pedang seperti bukan pedang, akan tetapi cara memegang dan memainkannya sama dengan
pedang! Senjata ini selain aneh juga indah akan tetapi juga mengerikan.
Ukurannya besar dan panjangnya tak berbeda dengan pedang biasa, akan tetapi senjata ini tidak tajam
juga tidak runcing sehingga lebih tepat apa bila disebut bentuknya seperti tongkat pendek. Akan tetapi,
senjata ini berbentuk ukiran sin-liong (naga sakti) membelit tiang. Ukirannya indah sekali dan agaknya
terbuat dari pada logam yang sangat keras berkilauan dan berwarna putih sedangkan tubuh naga yang
melibatnya berwarna kuning. Pemuda itu memegang naga itu pada ekornya sehingga kepala naga
merupakan ujung senjata itu. Dari mulut naga kecil itu keluar lidah merah yang panjang dan mengerikan.
Setelah bermain silat dengan gerakan lambat dan indah, tiba-tiba ia memutar senjatanya makin lama
semakin cepat dan kembali tubuhnya lenyap terbungkus oleh gulungan sinar senjatanya yang dahsyat.
“Cukup, Siong-ji (Anak Siong), kau mengasolah!” terdengar suara nyaring dari seorang wanita yang berdiri
tak jauh dari situ sambil memandang permainan pemuda itu dengan penuh perhatian.
Wanita itu mengenakan pakaian serba merah. Walau pun potongan pakaiannya itu amat sederhana,
namun terbuat dari kain sutera dan amat bersih. Kalau orang melihatnya dari belakang atau dari samping,
orang akan mengira bahwa ia adalah seorang wanita muda, karena bentuk tubuhnya yang langsing itu
masih tampak kuat dan penuh, kulit tangannya halus dan putih.
Akan tetapi kalau orang berhadapan muka dengannya, dia akan terkejut melihat bahwa wanita ini nampak
sudah tua sekali. Rambutnya hampir putih semua, kulit mukanya juga berkeriput, sungguh pun matanya
masih bening dan bersinar amat tajam, bahkan giginya masih bagus dan rata seperti gigi wanita muda
yang cantik!
Masih jelas nampak bahwa dia dulu adalah seorang wanita yang amat cantiknya dengan bentuk muka
yang bagus. Kerut-merut pada jidatnya membayangkan penderitaan batin yang hebat, dan mulutnya yang
masih berbentuk manis sekali itu ditarik mengeras dan tak pernah nampak tersenyum.
Pembaca tentu telah dapat menduga siapa adanya wanita ini. Dia bukan lain adalah Ang I Niocu Kiang Im
Giok, pendekar wanita yang di waktu mudanya telah menggemparkan dunia persilatan karena
kegagahannya. Tak ada seorang pun ahli silat di dunia kang-ouw yang tidak mengenal atau tidak
mendengar namanya yang besar. Ia amat terkenal, baik karena kepandaiannya mau pun karena
kecantikannya yang luar biasa.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, Ang I Niocu adalah seorang wanita yang amat memperhatikan
serta menyayangi kecantikannya sehingga untuk menjaga kecantikannya dari usia tua, ia tidak segansegan
untuk mencari obat kecantikan berupa telur Pek-tiauw (rajawali putih) dan sudah banyak makan telur
yang dapat memelihara kecantikannya ini. Di waktu ia berusia tiga puluh tahun lebih ia masih nampak
cantik jelita bagaikan seorang gadis berusia tujuh belas tahun.
Akan tetapi segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang kekal. Bahkan keadaan yang ditimbulkan karena
kekuasaan alam yang sewajarnya pun masih tidak kekal adanya, apa lagi keadaan yang ditimbulkan oleh
kekuasaan yang tidak wajar.
Khasiat telur Pek-tiauw itu walau pun luar biasa sekali, namun ada pantangannya, yaitu wanita yang sudah
makan obat ini, apa bila mempunyai putera, akan musnalah khasiat obat itu, bahkan akibatnya
mengejutkan sekali. Ang I Niocu setelah melahirkan seorang putera, tidak saja kecantikan dan
kemudaannya lenyap, bahkan ia nampak amat tua dua kali lipat seperti seorang wanita berusia delapan
puluh tahun!
Pada bagian depan telah diceritakan bahwa karena batinnya menderita disebabkan oleh keriput di
wajahnya dan uban di kepalanya yang membuatnya nampak tua sekali, secara diam-diam Ang I Niocu lalu
meninggalkan suaminya, Lie Kong Sian, dan pergi merantau membawa putera tunggalnya. Pendekar
wanita ini merantau sampai jauh, dan semenjak meninggalkan pulau tempat tinggalnya, dia selalu memilih
jalan yang sunyi supaya tidak bertemu dengan orang-orang yang dikenalnya.
Akhirnya dia memilih Pegunungan Ho-lan-san sebagai tempat tinggalnya di mana dia lalu mendidik
puteranya, Lie Siong, dengan sungguh-sungguh dan penuh ketekunan. Tempat tinggalnya hanya di dalam
sebuah goa yang besar dan amat dalam. Akan tetapi di dalam hidup penuh kesederhanaan ini, ia selalu
memperhatikan keperluan putranya yang amat dicintainya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Segala keperluan Lie Siong, makanan lezat serta pakaian indah sampai barang-barang permainan apa
saja, dia adakan dan tanpa segan-segan pada malam hari Ang I Niocu mendatangi kota-kota besar untuk
mencari barang-barang itu.
Dengan amat rajin, Ang I Niocu menurunkan seluruh kepandaiannya kepada Lie Siong. Ia mengajarkan
ilmu silat pedangnya yang luar biasa, yakni Sianli Utauw (Tari Bidadari), Ngo-lian-hoan Kiam-hoat (Ilmu
Pedang Lima Teratai), ilmu pukulan yang disebut Pek-in Hoat-sut (Ilmu Sihir Awan Putih), dan juga Kongciak
Sin-na (Ilmu Silat Burung Merak)! Lie Siong ternyata mempunyai otak yang cerdik dan bakat yang baik
sekali sehingga dia dapat mempelajari semua ilmu itu dengan cepat dan baik sekali.
Akan tetapi, oleh karena ia hanya hidup bersama dengan ibunya yang menderita dan tak pernah
bergembira, maka dia pun menjadi seorang pemuda yang sangat pendiam, keras hati, dan angkuh. Ang I
Niocu merasa demikian bangga kepada puteranya ini sehingga ketika puteranya baru berusia empat belas
tahun, ia sengaja mencarikan sebuah senjata istimewa untuk Lie Song.
Ang I Niocu mendengar tentang seorang kepala rampok di Kun-lun-san yang mempunyai sebatang senjata
yang disebut Sin-liong-kiam (Pedang Naga Sakti). Tanpa peduli akan jauhnya tempat itu dan kesukaran
yang dihadapinya, Ang I Niocu mendatangi tiga kepala rampok itu dan setelah bertempur hebat, akhirnya ia
pun berhasil mengalahkan si kepala rampok dan merampas senjatanya!
Demikianlah, dengan Sin-liong-kiam di tangannya Lie Siong semakin gagah seakan-akan seekor harimau
muda yang tumbuh sayap. Beberapa kali anak muda ini bertanya kepada ibunya tentang ayahnya, dan Ang
I Niocu juga tidak menyembunyikan sesuatu.
Ia menceritakan kepada Lie Siong tentang ayahnya, yaitu Lie Kong Sian, dan mengapa dahulu mereka
meninggalkan Pulau Pek-le-to. Juga Ang I Niocu menceritakan mengenai pendekar-pendekar silat yang
menjadi kawan-kawannya seperti Pendekar Bodoh Sie Cin Hai dan isterinya Kwee Lin, sepasang suami
isteri murid Bu Pun Su yang amat pandai. Ia menceritakan pula tentang Kwee An dan Ma Hoa, sepasang
suami isteri pendekar yang juga memiliki ilmu silat tinggi yang menjadi sahabat baiknya.
“Kelak kalau kau bertemu dengan mereka, kau akan dapat menarik banyak pelajaran dari empat orang
pendekar ini, Siong-ji,” Ang I Niocu sering kali berkata.
Akan tetapi, ia tidak tahu bahwa hati puteranya itu lebih tinggi dan lebih angkuh dari pada hatinya sendiri
ketika masih muda. Mendengar ibunya memuji-muji Pendekar Bodoh dan yang lain-lain, hati Lie Siong
tidak menjadi tunduk, bahkan dia merasa penasaran dan ingin sekali mencoba sampai di mana kepandaian
mereka itu!
Telah beberapa kali Lie Siong minta pada ibunya untuk turun gunung, akan tetapi ibunya selalu
mencegahnya. “Kepandaianmu masih belum cukup sempurna, Siongji. Di dunia ini banyak sekali terdapat
orang jahat, dan kalau kau tidak memiliki kepandaian yang tinggi, kau akan mudah terganggu oleh orangorang
yang jahat dan pandai.”
Demikianlah, pada pagi hari itu, seperti biasanya Lie Siong berlatih ilmu silat pedang di bawah pengawasan
ibunya. Kali ini Ang I Niocu merasa sangat puas karena ternyata bahwa gerakan ilmu pedang puteranya
sudah sempurna, tak ada kesalahan sedikit pun. Diam-diam dia maklum bahwa sekarang kepandaian
puteranya sudah mencapai tingkat yang tidak lebih rendah dari pada kepandaiannya sendiri! Dia telah
mewariskan seluruh kepandaiannya kepada putera tercinta ini.
“Siong-ji,” Ang I Niocu berkata sambil duduk di dekat puteranya dan memandang dengan mata penuh kasih
sayang, “sekarang aku berani menyatakan bahwa kepandaianmu telah sampai di tingkat yang cukup tinggi.
Aku dapat meninggalkan dunia ini dengan hati lega karena kepandaianmu ini sudah cukup untuk
digunakan sebagai penjaga diri.”
Berseri wajah Lie Siong mendengar ini. Biasanya, sehabis berlatih, ibunya selalu masih mencelanya.
“Kalau begitu, sudah tiba waktunya bagiku untuk turun gunung, Ibu?”
Ang I Niocu menggelengkan kepala. “Berat bagiku untuk berpisah darimu, Anakku. Kalau kau pergi,
bagaimanakah dengan aku?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kenapa, Ibu? Mengapa Ibu tidak ikut turun gunung? Marilah kita turun dari tempat yang sunyi ini. Apakah
selama hidup Ibu tidak mau bertemu dengan manusia?”
Tiba-tiba kerut di jidat Ang I Niocu makin mendalam. “Tengoklah aku, Siong-ji. Lihatlah mukaku ini baikbaik!
Alangkah akan malu hatiku dan hatimu apa bila orang lain melihat mukaku yang buruk ini!” Ia lalu
menarik napas panjang berulang-ulang.
Lie Siong juga mengerutkan keningnya dan memandang wajah ibunya. “Aneh sekali, Ibu. Aku merasa
heran karena kau selalu menyebut hal ini. Menurut pandanganku, wajahmu sangat cantik dan aku bangga
melihat wajahmu, Ibu. Mengapa kau selalu menganggap wajahmu buruk? Aku sudah sering kali melihat
wanita-wanita di dusun bawah gunung dan tak ada seorang di antara mereka memiliki mata sebening mata
Ibu, bentuk muka secantik muka Ibu! Ibu sama sekali tidak buruk, hanya nampak tua, itu betul. Akan tetapi,
apakah hal ini perlu dibuat malu? Apakah yang tidak akan pernah menjadi tua di dunia ini? Benda-benda
yang paling keras dan kuat, akhirnya akan menjadi tua pula!”
Ang I Niocu memegang tangan puteranya. “Ah, Siong-ji, kalau saja kau dapat melihat wajah ibumu pada
waktu masih muda dulu! Ah, dibandingkan dengan sekarang, bedanya seperti bumi dengan langit!”
“Aku tak peduli, Ibu. Bagiku, bagaimana pun juga perubahan yang terjadi pada wajahmu, kau tetap ibuku.
Tua atau muda, cantik atau buruk, seorang Ibu tetap menjadi wanita termulia di dunia ini! Marilah kita turun
gunung, Ibu, dan aku bersumpah, siapa saja yang berani mencela wajah Ibu, yang berani menghina atau
membikin malu kepadamu, akan kupecahkan kepalanya!”
Dengan terharu Ang I Niocu memeluk puteranya. “Aku girang mendengar ucapanmu ini, Siong-ji. Kau tidak
perlu khawatir, kurasa tidak ada seorang pun di dunia ini yang begitu berani menghina Ang I Niocu!
Seandainya ada, tak perlu kau mengeluarkan peluh, aku sendiri masih cukup kuat untuk meremukkan
kepalanya!”
“Kalau begitu, kau mau turun gunung, Ibu?”
Kembali kening Ang I Niocu berkerut lagi. “Nanti dulu, Siong-ji... aku masih ragu-ragu... wajahku ini...”
Lie Siong bangun berdiri dan membanting-banting kaki. “Lagi-lagi Ibu berbicara tentang wajah...!”
“Ahhh, kau tidak tahu, Anakku. Dulu, Ang I Niocu adalah secantik-cantiknya orang, akan tetapi sekarang,
seburuk-buruknya wanita! Bagaimana aku dapat menghadapi mereka?”
“Mereka siapa, Ibu?”
“Ayahmu, Pendekar Bodoh, Lin Lin, Kwee An, Ma Hoa...”
“Sudahlah, sudahlah! Aku bosan mendengar nama mereka kau sebut-sebut terus!” kata Lie Siong sambil
mempergunakan kedua tangan untuk menutup telinganya!
Pada saat itu, Ang I Niocu yang tadinya masih duduk di atas tanah, melompat bangun dan memegang
lengan anaknya. Ia mendengar sesuatu dan sebelum ia dan puteranya dapat bergerak, tiba-tiba berkelebat
bayangan orang dengan gesitnya dan tahu-tahu di depan mereka sudah berdiri seorang hwesio gundul
yang berpakaian putih dan berusia kurang lebih enam puluh tahun.
Hwesio ini bermuka lebar, bermata tenang berpengaruh dan mulutnya selalu tersenyum sabar. Dia adalah
Pek I Hosiang yang sengaja datang mencari ke dalam hutan ini karena hendak menyaksikan sendiri
bagaimana macamnya ‘Sepasang Iblis’ yang ditakuti semua orang itu.
Dia telah dapat menemukan goa tempat tinggal sepasang iblis itu dan melihat golok dan kapak milik ketiga
orang muridnya berserakan di depan goa. Melihat goa itu kosong dan sunyi, Pek I Hosiang lalu mencari ke
tempat lain dan akhirnya dia mendengar suara dua orang bercakap-cakap maka cepat menghampiri
mereka.
Pek I Hosiang cepat membungkuk dan merangkapkan kedua tangan di depan dadanya.
“Omitohud! Harap dimaafkan apa bila pinceng mengganggu Ji-wi, dan telah datang tanpa diundang. Jika
pinceng tidak salah duga, Ji-wi tentulah sepasang pendekar yang sedang mengasingkan diri di dalam
dunia-kangouw.blogspot.com
hutan ini, dan yang telah disohorkan oleh semua orang di sekitar pegunungan ini.”
Tiba-tiba Ang I Niocu melangkah maju menghadapi hwesio itu, kemudian membentak, “Pergilah...! Kau
hwesio tak tahu adat, pergilah dari sini!”
Pek I Hosiang terkejut melihat wanita tua yang amat galak ini, akan tetapi dengan sabar ia tersenyum dan
kembali memberi hormat.
“Maaf, maaf! Sudah pinceng akui tadi bahwa pinceng telah berlaku lancang, akan tetapi pinceng memang
sengaja datang hendak berkenalan dengan Ji-wi yang lihai. Pinceng mendengar tentang keadaan Ji-wi dari
tiga orang murid pinceng yang beberapa hari yang lalu telah berlaku kurang ajar dan menerima hukuman.
Pinceng bernama Pek I Hoasiang dan menjadi ketua dari kelenteng di bawah gunung. Pinceng kini sengaja
datang untuk memintakan maaf bagi tiga orang murid pinceng. Bolehkah kiranya pinceng mengetahui, Ji-wi
siapakah?”
“Sudahlah, sudahlah!” Ang I Niocu lalu membanting-banting kakinya dengan gemas dan hilang sabar.
“Kami tidak ingin mengetahui namamu dan tidak ingin pula mengenalkan nama kami. Kau pergilah, jangan
sampai aku kehilangan kesabaranku dan menjatuhkan tangan kepadamu!”
Akan tetapi Pek I Hosiang masih tetap tenang dan sabar.
“Toanio (Nyonya Besar), harap suka berlaku sabar, karena sesungguhnya pinceng tidak bermaksud buruk.
Sudah bertahun-tahun pinceng mendengar tentang adanya sepasang siluman di hutan ini, namun pinceng
tidak percaya dan menduga bahwa yang dianggap siluman tentulah dua orang sakti yang bertapa di sini.”
“Cukup...! Pergi...!” Ang I Niocu membentak lagi.
“Omitohud! Banyak sudah pinceng berjumpa orang-orang pandai, akan tetapi tidak ada yang seaneh Ji-wi
ini...”
“Kau mencari penyakit!” Sambil membentak marah, Ang I Niocu segera maju menyerang dengan sebuah
pukulan dari Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut. Pukulan ini luar biasa hebatnya, karena dari kedua lengan
tangannya mengebul uap putih!
“Omitohud!” Kembali Pek I Hosiang menyebut nama Buddha dan cepat bagaikan kilat dia mengelak sambil
menangkis dengan tangan kanannya.
Ketika dua lengan tangan beradu, Pek I Hosiang berseru kaget dan terhuyung-huyung mundur tiga
langkah, sedangkan Ang I Niocu juga merasa betapa tenaga pukulannya terbentur pada tenaga yang amat
kuat. Ia merasa heran sekali karena jarang ada orang yang bisa menahan pukulan Pek-in Hoat-sut! Ia pun
maklum bahwa hwesio ini bukanlah orang sembarangan.
Sebaliknya, melihat pukulan ini, Pek I Hosiang memandang dengan mata terbelalak.
“Bukankah... pukulan tadi adalah sebuah gerakan dari Pek-in Hoat-sut?” katanya sambil memandang
dengan mata terbelalak.
Kembali Ang I Niocu tertegun. “Kau sudah mengetahui kelihaian pukulanku, tidak lekas minggat dari sini?!”
Ia maju lagi, siap menyerang kembali.
“Ahh... kalau begitu..., Toanio ini tentulah Ang I Niocu!”
Bukan main terkejut dan marahnya hati Ang I Niocu mendengar bahwa hwesio tua ini telah mengenalnya.
Selama ini dia berusaha untuk menjauhi manusia supaya tidak ada orang melihat bahwa Ang I Niocu yang
cantik jelita kini telah berubah menjadi seorang nenek tua buruk.
“Bangsat gundul! Dengan menyebut nama itu, berarti kau harus mampus!” teriaknya dan kembali dia
memukul.
Akan tetapi Pek I Hosiang dapat mengelak dengan cepat sambil berkata, “Tentu Ang I Niocu! Siapa lagi
wanita berbaju merah yang cantik jelita dan dapat mainkan Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut selain Ang I Niocu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Ucapan ini semakin membakar hati Ang I Niocu. Sesungguhnya, dalam pandangan mata Pek I Hosiang, ia
masih nampak cantik jelita, sungguh pun sudah amat tua, akan tetapi ia mengira bahwa hwesio itu sengaja
menghina dan mengejeknya dengan menyebutkan cantik jelita tadi.
Ketika ia hendak menyerang kembali, tiba-tiba Lie Siong berkata, “Ibu, berikanlah hwesio ini kepadaku!”
Ang I Niocu tiba-tiba teringat akan puteranya dan dia lalu timbul pikiran untuk mencoba kepandaian
puteranya itu. Hwesio ini cukup tangguh, dan tepatlah apa bila dipergunakan sebagai ujian bagi puteranya.
“Baik, kau majulah dan hancurkan kepala orang yang sudah berani menghina ibumu ini,” katanya sambil
melompat mundur.
Di dalam hatinya, Lie Siong tidak setuju dengan pendapat ibunya. Dia sama sekali tidak menganggap
hwesio tua ini menghina ibunya, akan tetapi ia tidak berkata satu kata pun. Memang dia sengaja hendak
mencoba kepandaian hwesio ini, sekalian untuk mencegah ibunya turun tangan, karena pemuda ini dapat
menduga bahwa kalau ibunya yang maju, hwesio ini pasti akan tewas!
Demikianlah, tanpa menanti hwesio itu mengeluarkan kata-kata, Lie Siong lalu melompat maju dan
menyerangnya dengan pukulan dari Ilmu Silat Sian-li Utauw. Hwesio itu kagum sekali melihat gerakan
yang indah ini dan timbul kegembiraan hatinya untuk mencoba kepandaian ‘siluman’ ini.
Pek I Hosiang adalah seorang hwesio yang memiliki ilmu silat tinggi. Dia adalah murid tunggal dari Biauw
Leng Hosiang, tokoh kang-ouw yang sangat terkenal. Bagi pembaca yang sudah membaca cerita
Pendekar Bodoh, tentu masih ingat bahwa Biauw Leng Hosiang adalah sute (adik seperguruan) dari Biauw
Suthai, tokouw (pendeta wanita) yang lihai dan yang menjadi guru pertama dari Lin Lin atau Nyonya Cin
Hai si Pendekar Bodoh! Oleh karena itu tentu saja ilmu silatnya amat tinggi. Tidak seperti gurunya yang
tersesat, Pek I Hosiang ternyata menjadi seorang hwesio yang suci dan beribadat. (baca Pendekar Bodoh)
Pek I Hosiang sudah sering mendengar nama Ang I Niocu dan mendengar pula bahwa ilmu silat Pendekar
Wanita Baju Merah itu amat tinggi. Ia tahu pula bahwa Ang I Niocu mendapat latihan dari Bu Pun Su dan
mempelajari ilmu-ilmu silat tinggi seperti Pek-in Hoat-sut, Kong-ciak Sin-na dan lain-lain. Karena itu ketika
ia melihat pemuda itu bersilat demikian indahnya, dia dapat menduga bahwa tentu inilah ilmu silat yang
disebut Sian-li Utauw!
Meski pun gerakan pemuda itu lemah lembut dan ilmu silatnya lebih patut disebut tarian yang indah,
namun dia maklum akan kelihaian tarian ini dan tidak berani memandang ringan. Beberapa kali dia sengaja
menangkis untuk mencoba tenaga pemuda ini, akan tetapi ia terkejut sekali ketika merasa betapa
lengannya tergetar tiap kali bertemu dengan lengan pemuda itu! Ia menjadi kagum sekali.
“Pantas...!” serunya sambil mengelak dari sebuah pukulan. “Pantas sekali kau menjadi putera Ang I Niocu
yang lihai!”
Selama hidup Pek I Hosiang belum pernah menghadapi tandingan semuda dan selihai ini, maka saking
gembiranya, dia lalu mencabut keluar senjatanya, yaitu sepasang toya pendek yang tadi diselipkan pada
ikat pinggangnya.
“Anak muda, mari kita coba-coba mengadu senjata!” katanya.
Lie Siong mewarisi watak ibunya yang keras dan tinggi hati, maka mendapat tantangan ini, dia tidak
mempedulikan lawannya dan terus saja menyerang dengan tangan kosong! Dia lalu mengeluarkan ilmu
Silat Kong-ciak Sin-na, yaitu semacam ilmu silat yang banyak menggunakan cengkeraman dan memang
tepat sekali dipergunakan untuk menghadapi lawan bersenjata dengan tangan kosong!
Pek I Hosiang terkejut bukan main dan biar pun mulutnya tetap tersenyum dan sepasang matanya
memandang kagum, akan tetapi di dalam hatinya ia merasa penasaran dan tak senang. Alangkah
sombongnya anak muda ini, pikirnya. Karena itu, dia segera memutar kedua toyanya dengan cepat sekali
dan mengerahkan seluruh kepandaiannya bermain toya.
Perlu diketahui oleh para pembaca yang belum membaca kisah Pendekar Bodoh bahwa tingkat ilmu silat
Biauw Leng Hosiang tidak di bawah tingkat Ang I Niocu, maka karena Pek I Hosiang juga sudah mewarisi
sebagian besar dari ilmu silat gurunya itu, maka tentu saja Lie Siong tidak dapat bertahan lama
menghadapinya dengan tangan kosong.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kedua toya pendek di tangan Pek I Hosiang bergerak laksana sepasang ular besar yang menyerang
dengan berlenggak-lenggok, sehingga semua usaha Lie Siong dengan Ilmu Silat Kong-ciak Sin-na untuk
merampas senjata ini tidak pernah berhasil. Bahkan lambat akan tetapi pasti, Pek I Hosiang mulai
mendesak pemuda itu!
Melihat betapa pemuda itu masih saja tak mau mengeluarkan senjatanya, Pek I Hosiang lalu memainkan
gerak tipu Hing-san Chian-kun (Menyerampang Bersih Ribuan Tentara). Kedua toyanya menyambarnyambar
dari kanan kiri mengeluarkan gulungan sinar putih yang mendatangkan angin menderu.
Lie Siong diam-diam terkejut juga melihat kehebatan lawan ini, maka dia terpaksa cepat menggerakkan
dua kakinya dan menghindarkan desakan lawan dengan langkah Tui-po Lian-hoan (Gerakan Kaki Mundur
Berantai) sambil memukul-mukulkan kedua tangannya menggunakan tenaga dari Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut
untuk menolak datangnya dua toya yang berbahaya itu.
Namun, gerakan kedua toya di tangan Pek I Hosiang amat cepatnya dan juga tidak lurus seperti senjata
lainnya, tetapi menyerang secara berlenggak-lenggok tak tentu dari mana arahnya sehingga sukarlah
untuk ditangkis, sungguh pun dengan tenaga Pek-in Hoat-sut yang lihai. Karena itu, terpaksa Lie Siong
mengenjot kedua kakinya, dan sambil berseru keras dia melompat dengan gerakan Lee-hi Ta-teng (Ikan
Melompat ke Atas) kemudian disusul dengan gerakan Koai-liong Hoan-sin (Naga Iblis Berjungkir Balik)
maka tubuhnya lalu berjumpalitan di udara dan dengan jalan ini ia terhindar dari serangan lawan. Ketika dia
melompat turun kembali, pada tangannya sudah nampak pedang Sin-liong-kiam yang berbentuk naga itu!
Bukan main kagumnya Pek I Hosiang melihat Sin-liong-kiam yang hebat itu!
“Bagus, jangan berlaku sheji (sungkan), anak muda yang gagah, kau majulah dengan pedangmu itu!”
Mereka bertempur lagi dan kali ini pertempuran itu betul-betul hebat dan ramai sekali. Lie Siong memutar
pedangnya yang aneh itu dengan Ilmu Pedang Ngo-lian-hoan Kiam-hoat, sedangkan Pek I Hosiang
memainkan Ilmu Toya Hek-cia-kun-hwat yang juga luar biasa cepat dan kuatnya.
Akan tetapi, akhirnya hwesio tua itu terpaksa harus mengakui keunggulan ilmu pedang lawan yang muda
namun lihai itu. Dengan gerakan tipu Lian-hwa Gai-ho (Bunga Teratai Membuka Daun), Lie Siong
menyerang dengan hebat sekali menusuk pusar lawannya.
Pek I Hosiang sangat terkejut menyaksikan hebatnya serangan ini. Sungguh pun pedang lawannya itu
tidak runcing, akan tetapi bahayanya tidak kalah oleh pedang biasa yang runcing, karena kepala naga itu
mempunyai tanduk yang runcing dan dapat digunakan untuk menotok jalan darah atau melukai tubuh. Dia
cepat-cepat menangkis dengan toya di tangan kanannya sambil mengayun toya di tangan kiri
mengemplang lawan.
Inilah gerakan ilmu toya yang disebut Menerima Kembang Memberi Buah dari Ilmu Toya Heng-cia Kunhoat
yang lihai. Memang Ilmu Toya Heng-cia Kun-hoat ini mengutamakan gerakan pembalasan yang amat
cepat. Tiap kali toya kanan atau kiri menangkis, maka toya kedua pasti membarengi serangan lawan itu
untuk mengirim serangan balasan yang tak kalah hebatnya!
Akan tetapi, Lie Siong sudah tahu akan sifat ilmu toya ini, karena itu pada waktu dia tadi menyerang
dengan gerakan Lian-hwa Gai-ho, dia telah siap sedia dengan tangan kirinya. Melihat toya di tangan kiri
lawan menyambar ke arah kepalanya, dia cepat mengulurkan tangan dan menggunakan cengkeraman
Kong-ciak Sin-na mencoba merampas toya itu!
Tentu saja Pek I Hosiang tidak mau membiarkan toyanya dirampas, maka ia cepat-cepat mengubah
gerakan toya kiri ini ke samping supaya tidak sampai dirampas. Akan tetapi ternyata bahwa gerakan
merampas dari pemuda itu hanyalah gerakan pancingan belaka untuk mengalihkan perhatian Pek I
Hosiang, karena sebenarnya yang hendak merampas senjata lawan adalah tangan kanannya yang
memegang pedang.
Ketika lawannya memperhatikan gerakan tangan kiri, maka ketika pedang itu ditangkis oleh toya kanan, Lie
Siong menggetarkan tangan kanannya dan lidah merah dari pedang naga itu dengan cepat lalu membelit
toya lawan dan sekali ia berseru keras dan menarik, toya kanan dari Pek I Hosiang telah terbetot dan
terlepas!
dunia-kangouw.blogspot.com
Pek I Hosiang kaget sekali, cepat menggunakan gerakan Naga Hitam Keluar dari Awan, melompat ke
belakang untuk menghindarkan diri dari serangan lawannya. Akan tetapi sebetulnya tak perlu ia
menggunakan gerakan ini, karena Lie Siong tidak menyerangnya, juga tidak mengejarnya.
Sambil melihat sebatang toyanya tergantung pada lidah pedang naga itu, Pek I Hosiang menghela napas
dan tersenyum pahit.
“Omitohud! Kau anak muda betul-betul mengagumkan! Pinceng Pek I Hosiang mengaku kalah!” Ia menjura
kepada Lie Siong.
Pemuda itu tidak menjawab, hanya menggerakkan tangan kanan dan tiba-tiba toya yang tadi terbelit oleh
lidah pedang naganya, kini terlepas lantas meluncur ke arah pemiliknya dengan kecepatan laksana anak
panah yang terlepas dari busurnya! Pek I Hosiang cepat mengulur tangan dan menangkap toyanya yang
hendak menembus dadanya itu.
Akan tetapi, Ang I Niocu tidak puas dengan kemenangan puteranya yang tidak melukai lawannya itu.
“Hwesio busuk, lekas kau pergi dari sini dan tinggalkan toyamu!” katanya dan secepat kilat dia sudah
mencabut pedang Liong-cu-kiam yang bercahaya menyilaukan itu. “Tidak seorang pun yang datang
bersenjata boleh pulang membawa senjatanya!”
Ia lalu menerjang dengan cepat, menyerang dengan gerak tipu Dewi Kwan Im Menyebar Bunga hingga
pedangnya berkelebat dan berubah menjadi segulung sinar indah. Pek I Hosiang terkejut dan cepat
mengangkat kedua toyanya untuk menangkis.
“Traang...! Traaaang...!”
Saat dua kali pedang Liong-cu-kiam bertemu dengan sepasang toya itu, ternyata dengan amat mudahnya
toya-toya itu terbabat putus!
Ang I Niocu melompat mundur kembali, masukkan pedang ke dalam sarung pedangnya dan berkata
singkat, “Pergilah!”
Pek I Hosiang menjadi pucat dan ia masih menahan perihnya hati karena hinaan ini. Ia tersenyum sabar
dan menjura.
“Terima kasih atas petunjuk dari Ang I Niocu dan puteramu!” hwesio ini lalu melompat dan turun gunung
dengan tindakan kaki cepat sekali.
Sesudah bayangan hwesio itu tidak nampak lagi, Lie Siong lalu berkata kepada ibunya, “Ibu, Liong-cu-kiam
itu hebat sekali. Kalau pedang Sin-liong-kiam beradu dengan pedang Liong-cu-kiam, bukankah senjataku
akan terbabat putus pula?”
“Siong-ji, apa kau kira ibumu akan mencarikan pedang sembarangan saja untukmu tanpa diuji terlebih
dulu? Cabutlah pedangmu itu!”
Lie Siong meloloskan Sin-liong-kiam, ada pun Ang I Niocu juga mencabut Liong-cu-kiam. “Nah, mari kita
berlatih, sekalian untuk membuktikan apakah pedangmu akan rusak kalau akan bertemu dengan
pedangku!”
Anak dan ibu itu lalu bermain pedang, serang menyerang dengan hebatnya, bahkan lebih hebat dari pada
pertempuran melawan hwesio tadi! Beginilah cara Ang I Niocu melatih anaknya! Dulu, sebelum Lie Siong
memiliki kepandaian tinggi, setiap kali berlatih dengan ibunya, pemuda ini tentu mengalami kesakitan dan
selalu dirobohkan oleh ibunya!
Pernah ia mengalami ditotok sampai pingsan, dipukul sampai matang biru, bahkan ketika berlatih senjata
tajam, pernah pundaknya tergores pedang sampai mengeluarkan darah! Hal ini memang disengaja oleh
Ang I Niocu untuk melatih ketabahan kepada puteranya. Sekarang mereka berlatih dengan pedang-pedang
mustika, hal yang baru kali ini mereka lakukan. Liong-cu-kiam dan Sin-liong-kiam berkali-kali bertemu
sehingga terdengar suara nyaring dibarengi bunga api berpijar, akan tetapi kedua pedang itu ternyata tidak
rusak!
dunia-kangouw.blogspot.com
Seratus jurus lebih mereka bermain pedang dan yang nampak hanyalah bayang-bayang putih dan merah
yang diselimuti oleh gulungan cahaya pedang Liong-cu-kiam yang putih seperti perak dan sinar pedang
Sin-liong-kiam yang kekuning-kuningan seperti emas!
“Sudah cukup...!”
Keduanya berhenti dan menyimpan pedang masing-masing. Hati Lie Siong merasa puas sekali dan diamdiam
Ang I Niocu yang nampak berpeluh pada jidatnya itu makin sayang dan bangga terhadap puteranya.
Kini kepandaian puteranya itu tidak kalah olehnya!
“Siong-ji, sekarang telah banyak orang yang tahu akan tempat tinggal kita, malah hwesio gundul tadi sudah
mengetahui siapa adanya kita! Kurasa tidak perlu lagi kita lebih lama tinggal di tempat ini!”
Lie Siong menatap wajah ibunya. Ia girang sekali, akan tetapi kegirangan ini sama sekali tidak membayang
pada wajahnya yang elok.
“Jadi, kita turun gunung?” tanyanya penuh harapan.
Betapa pun keras hatinya sehingga dia sering kali berbantah dengan ibunya, namun Lie Siong adalah
seorang anak yang berbakti dan sama sekali ia tidak mau memaksa pergi kalau ibunya belum memberi
persetujuannya.
Akan tetapi ibunya menggeleng kepala. “Bukan kita, akan tetapi engkau sendiri! Sudah lama kau ingin
merantau, bukan? Nah, sekarang kepandaianmu sudah cukup. Kau pergi dan carilah pengalaman di dunia
kang-ouw!”
“Akan tetapi, bagaimana dengan kau, Ibu...? Kau akan kesunyian, hidup seorang diri di tempat ini...”
Ibunya lantas mencabut pedang Liong-cu-kiam yang ampuh tadi. “Aku sudah mempunyai kawan. Liong-cukiam
ini adalah kawanku yang amat setia, pedang inilah yang memberi kenang-kenangan kepadaku.”
Sambil berkata demikian, dia mengusap-usap pedang itu dengan tangannya, penuh kasih sayang.
“Ibu, dari manakah kau memperoleh Liong-cu-kiam itu?”
Ibunya menghela napas panjang dan teringatlah dia akan segala pengalaman bersama Pendekar Bodoh
ketika mendapatkan pedang itu (baca Pendekar Bodoh).
“Sesungguhnya, Susiok-couw Bu Pun Su yang memberi pedang ini kepadaku. Masih ada sebatang lagi,
yang lebih panjang, dan yang sekarang berada di dalam tangan Pendekar Bodoh.”
“Ah, aku ingin sekali menyaksikan kelihaian orang tua yang menjadi susiok-couw-mu itu, Ibu.”
“Anak bodoh, jangan sembarangan bicara! Susiok-couw Bu Pun Su adalah seorang yang paling tinggi ilmu
kepandaiannya. Tiada tokoh di dunia ini yang dapat mengimbanginya, dan sekarang yang mewarisi
kepandaiannya hanyalah Pendekar Bodoh seorang, walau pun ibumu juga pernah mendapat latihan
darinya.”
“Hemm, aku pun sejak dulu ingin sekali bertemu dengan Pendekar Bodoh yang sering kali Ibu puji-puji.”
“Pergilah dan kau tentu akan berjumpa dengan mereka yang pandai itu. Pergilah dan berlakulah hati-hati,
jangan membikin malu nama ibumu.”
Sesudah berkata demikian, Ang I Niocu mengajak puteranya kembali ke dalam goa lalu mengumpulkan
pakaian puteranya. Dia mengeluarkan pula beberapa stel pakaian warna kuning dengan leher baju merah.
Memang, semenjak masih kecil, Lie Siong selalu diberi pakaian warna putih atau kuning oleh ibunya
sehingga lama kelamaan pemuda itu hanya suka mengenakan pakaian putih atau kuning saja.
“Nah, kau pergilah, Anakku. Kau sudah tahu di mana tempat tinggal sahabat-sahabatku, carilah mereka
dan jangan kau membikin malu ibumu. Juga kau telah tahu siapa adanya tokoh-tokoh kang-ouw yang jahat
dan yang pernah bermusuhan dengan ibumu, karena itu berhati-hatilah terhadap mereka. Kurasa ayahmu
tidak berada di Pulau Pek-le-to lagi, karena ayahmu tentu mencari-cari kita. Kasihan ayahmu itu, kau
carilah dia dan mintakan ampun ibumu yang telah meninggalkan dia. Berangkatlah, doaku besertamu
dunia-kangouw.blogspot.com
selamanya.”
“Selamat tinggal, Ibu. Dan... Ibu hendak ke manakah? Bilakah aku bisa bertemu dengan Ibu lagi?”
“Tak perlu kau bingungkan soal ibumu, Nak. Aku boleh jadi berada di sini atau di tempat lain, akan tetapi
jangan khawatir, kita pasti akan bertemu kembali kelak.”
Berat hati Lie Siong ketika hendak meninggalkan tempat itu. Dia telah melangkah keluar dari goa, akan
tetapi tiba-tiba dia kembali lagi dan memeluk ibunya.
“Ibu, berjanjilah bahwa kita pasti akan bertemu lagi.”
Ang I Niocu merasa terharu dan dia lalu tersenyum, senyum yang sudah bertahun-tahun meninggalkan
bibirnya. Ia lalu mendekap kepala puteranya dan mencium jidat puteranya yang tercinta itu.
“Jangan gelisah, Siong-ji. Apakah kau kira aku senang hati berpisah dengan kau untuk selamanya?
Percayalah, pasti aku akan bertemu kembali dengan engkau, Anakku.”
Maka berangkatlah Lie Siong dengan membawa sebungkus pakaian yang diikatkan pada punggungnya,
ada pun pedangnya, Sin-liong-kiam, atas kehendak ibunya disembunyikan di balik mantelnya yang
panjang.
Ketika dia telah keluar dari hutan tempat tinggalnya dan memasuki hutan berikutnya, dia mendengar suara
riuh rendah dan ternyata bahwa dari bawah gunung nampak dua puluh orang lebih sedang naik menuju ke
hutan itu. Mereka adalah penebang-penebang pohon yang bersenjata lengkap, mengiringi enam orang
yang bukan lain adalah para pengusaha kayu.
Mereka ini merasa penasaran ketika mendengar cerita tiga orang penebang pohon yang bertemu dengan
sepasang ‘siluman’ itu dan kini setelah mengumpulkan dua puluh lebih orang-orang yang dianggap paling
kuat dan gagah di antaranya sebagian besar adalah murid dari Pek I Hosiang, lalu beramai-ramai naik ke
atas gunung hendak menyerbu dan menangkap siluman-siluman itu!
Lie Siong tertarik hatinya melihat orang banyak ini, terutama ketika dia melihat mereka itu berhenti dan
bersorak seakan-akan menonton sesuatu yang menarik hati. Pada saat Lie Siong sampai di dekat tempat
itu, ternyata dia melihat empat orang yang bertubuh kuat sedang mendemonstrasikan tenaga mereka.
Keempat orang ini adalah murid-murid Pek I Hosiang yang paling pandai. Tadi ketika mereka berjalan naik,
mereka tiada hentinya membicarakan sepasang siluman itu dan timbul hati ngeri dan takut di antara
sebagian besar para penebang pohon. Oleh karena itu, untuk membakar semangat kawan-kawannya,
empat orang yang terkuat itu kemudian memperlihatkan tenaga mereka dan memang mereka ini kuat
sekali!
Sebatang pohon yang besarnya tak kurang dari tubuh enam orang menjadi satu, telah diikat batangnya
dengan seutas tambang yang besar dan sangat kuat, kemudian empat orang itu lalu mengerahkan tenaga
menarik tambang itu. Urat-urat menonjol pada dada dan tangan mereka yang telanjang karena untuk
demonstrasi ini, mereka sengaja sudah menanggalkan baju agar tidak robek.
Memang kehebatan tenaga mereka sulit dipercaya. Empat ekor kerbau saja belum tentu akan dapat
menarik pohon itu sehingga tumbang, akan tetapi pada saat empat orang ini mengerahkan tenaga, segera
terdengar suara keras sekali dan pohon itu roboh berikut akar-akarnya!
Karena semua orang sedang menonton pertunjukan ini dengan penuh perhatian, maka tak ada seorang
pun di antara mereka melihat Lie Siong yang diam-diam berdiri di antara mereka, yang menonton
demonstrasi itu.
Berbareng dengan robohnya pohon itu, terdengar sorak-sorai memuji, karena siapakah yang tidak kagum
menyaksikan tenaga luar biasa dari empat orang jagoan itu? Empat orang itu memandang ke sekeliling
dengan bangga dan mengangkat dada, akan tetapi tiba-tiba seorang di antara mereka yang berjenggot
pendek, melihat Lie Siong.
Ia merasa heran karena tidak mengenal pemuda ini, akan tetapi keheranannya berubah menjadi
kemarahan ketika dia melihat betapa pemuda yang lemah-lembut ini tidak turut bersorak memuji. Memang
dunia-kangouw.blogspot.com
tak seorang pun di antara mereka mengenal Lie Siong, sebab tiga orang penebang pohon yang pernah dia
robohkan itu tidak berani ikut serta bersama rombongan ini. Si Jenggot Pendek melangkah maju dan
menegur,
“Eh, Sobat! Kau ini siapakah dan mengapa kau diam saja? Apakah kau tidak menghargai kepandaian
kami? Ketahuilah bahwa hanya mengandalkan tenaga dan kepandaian kami berempatlah maka sepasang
siluman Pek-ang Siang-mo itu akan ditumpas!”
Semua orang kini memandang kepada Lie Siong dengan heran karena mereka pun tidak mengenal
pemuda ini dan tidak tahu pula kapan pemuda ini datang di situ.
Lie Siong merasa mendongkol sekali melihat kesombongan mereka, terutama sekali saat mendengar
betapa mereka hendak membasmi sepasang iblis yang dia dapat menduga tentu dimaksudkan ibunya dan
dia sendiri. Dengan wajah tenang dan tak berubah sedikit pun juga, ia berkata acuh tak acuh,
“Apa sih anehnya tenaga kalian berempat? Lebih baik kalian pergi dan jangan masuk ke dalam hutan di
atas ini.”
“Eh, ehh, mengapa kau berkata demikian?” tanya Si Jenggot Pendek.
“Karena tenagamu yang hanya dapat merobohkan pohon lapuk itu takkan ada gunanya. Kalau kalian
pergunakan untuk menarik lawan, biar pun hanya satu kakinya saja, kalian tidak akan mampu
merobohkannya!”
Bukan main marahnya empat orang jagoan itu dan semua orang juga ikut memandang dengan heran dan
marah.
“Orang muda, kau tahanlah lidahmu! Kalau kau bicara sembarangan saja, dengan sekali pukul aku akan
menghancurkan kepalamu!” kata salah seorang di antara empat jagoan itu yang bertubuh besar pendek.
“Siapa bicara sembarangan? Kalianlah yang bermata buta dan sombong.”
“Kau bicara sungguh-sungguh?” Si Jenggot Pendek berkata sambil tersenyum menghina. “Kalau begitu,
kau berani membiarkan sebelah kakimu kami tarik dengan tambang dan kau merasa pasti bahwa kami
tidak akan dapat merobohkanmu?”
Semua orang tertawa mengejek mendengar ini. Enam orang pengusaha itu lalu berdiri sekelompok
kemudian berbisik-bisik karena mereka juga merasa sangat heran melihat keberanian pemuda tampan ini.
Akan tetapi Lie Siong masih bersikap tenang dan dingin. “Mengapa tidak berani? Kalau kau dapat menarik
sebelah kakiku dengan tambang dan dapat merobohkan aku, barulah kalian patut naik ke hutan itu.”
“Bagus!” seru Si Jenggot Pendek. “Akan tetapi kalau kakimu sampai terbetot putus dari tubuhmu, jangan
kau persalahkan kami, anak muda yang manis!”
Terdengar suara orang-orang tertawa disusul dengan ejekan, “Bila kakinya sudah copot, bagaimana dia
bisa mengeluarkan kata-kata lagi?”
Kembali terdengar semua orang tertawa geli sungguh pun mereka memandang semakin tertarik dan
dengan penuh perhatian. Semua orang lalu menduga-duga siapa gerangan pemuda yang mencari penyakit
ini. Apakah dia berotak miring?
“Boleh, aku berjanji,” jawab Lie Siong yang ingin mempermainkan orang-orang sombong itu, “sebaliknya
kalian semua harus berjanji bahwa apa bila kalian tak dapat merobohkan sebelah kakiku maka selama
hidup kalian tidak akan mengganggu dan menebang pohon di hutan itu!”
“Jadi!!” seru Si Jenggot Pendek, tidak memikirkan lagi keheranan hati yang timbul karena ucapan pemuda
ini seakan-akan membela sepasang siluman di hutan itu!
Semua orang lalu mundur dan membuat lingkaran, berdiri mengelilingi pemuda itu. Para pengusaha berdiri
sekelompok sedangkan para penebang kayu berdiri di kelompok lain yang tersendiri, tidak berani
mendekati para ‘thauwke’ (majikan) itu. Empat orang kuat itu lalu mempersiapkan tambang besar tadi. Si
dunia-kangouw.blogspot.com
Jenggot Pendek memegang ujung tambang dan menghampiri Lie Siong sambil bertanya menyeringai,
“Kau sudah siap?”
Lie Siong menurunkan buntalan pakaiannya dan menaruh di atas tanah bawah pohon, kemudian dia
kembali ke tengah lapangan itu, dan berdiri dengan satu kaki, mengangkat kaki kirinya ke depan, dan
kedua tangannya ditaruh di belakang. Sikapnya demikian enak dan seakan-akan tak bertenaga sama
sekali sehingga semua orang tertawa mengejek.
Kalau orang yang mempunyai kepandaian silat, tentu akan memasang bhesi (kuda-kuda) yang teguh,
mengerahkan tenaga pada kaki yang hendak ditarik. Akan tetapi mengapa pemuda ini berdiri seakan-akan
sedang makan angin menikmati sinar bulan purnama? Sungguh lucu dan menggelikan. Jangan kata
hendak ditarik dengan tambang oleh empat orang yang bertenaga gajah, sedangkan kalau ada angin besar
bertiup saja, agaknya pemuda itu akan rubuh.
Tentu saja mereka itu tidak tahu bahwa Lie Siong diam-diam sudah mengerahkan ilmu memberatkan tubuh
yang disebut Ban-kin-cui (Beratkan Tubuh Selaksa Kati) dan cara berdiri itu adalah bhesi (kuda-kuda) dari
Ilmu Silat Sian-li Utauw (Ilmu Silat Bidadari), yaitu disebut Berdiri Dengan Kaki Berakar!
“Aku sudah siap!” Lie Siong berkata dengan suara dingin saja seakan-akan tidak sedang menghadapi
urusan penting.
Sambil tertawa haha-hihi, Si Jenggot Pendek lalu membelitkan ujung tambang pada kaki kanan Lie Siong
tepat pada tulang keringnya, di atas pergelangan kaki, agak di bawah betisnya. Kemudian setelah
memeriksa bahwa ikatan tali pada kaki itu cukup kuat takkan terlepas bila ditarik, ia lalu mendekati kawankawannya
dan sambil tersenyum-senyum ia berkata perlahan,
“Kita menggunakan tenaga tiba-tiba menariknya agar dia jatuh terjengkang!”
Tiga orang itu tersenyum gembira kemudian menganggukkan kepalanya. Mereka segera berdiri berbaris
dan memegang tambang itu.
Semua orang memandang dengan napas tertahan, karena betapa pun mereka merasa lucu dan penasaran
kepada pemuda yang mereka anggap berotak miring ini. Melihat wajah yang elok dan kulit yang halus itu
mereka merasa kasihan juga.
Sedikitnya kaki yang tidak seberapa besarnya itu pasti akan patah akibat tarikan empat orang kuat ini, pikir
mereka. Bahkan salah seorang pengusaha yang berpakaian kuning dan yang masih muda berwajah
tampan, lalu menghampiri Lie Siong dan berkata,
“Hian-te, kenapa kau melakukan hal yang bodoh ini? Kau mintalah maaf kepada mereka dan aku yang
tanggung bahwa perkara ini akan dibikin habis sampai di sini saja.”
Lie Siong paling tidak suka apa bila ada orang menaruh hati kasihan kepadanya, maka sambil mengerling
tajam ke arah orang itu, dia pun berkata, “Jangan ikut campur, dan mundurlah!” Tentu saja semua orang
semakin merasa tak senang melihat sikap ini, dan orang baju kuning itu pun mundur dengan muka
kemerahan.
“Aku sudah siap, hayo tariklah sekuatmu!” kata Lie Siong sekali lagi.
Orang berjenggot pendek itu lalu memberi aba-aba, “Tarik...!!”
Empat orang itu langsung mengerahkan seluruh tenaga membetot tambang itu sehingga urat-urat pada
lengan dan dada mereka mengembung. Semua orang memandang dan terbayang sudah di mata mereka
betapa pemuda elok ini akan jatuh tunggang-langgang dengan kaki patah. Akan tetapi... sungguh aneh,
sama sekali tidak terjadi hal seperti itu!
Pemuda elok itu masih berdiri seperti tadi, kaki kiri diangkat ke depan dan kedua tangan ditaruh di
belakang. Sedikit pun ia tidak berkedip seakan-akan sama sekali tidak merasa akan tarikan dan sama
sekali tidak mengerahkan tenaga untuk mempertahankan diri!
“Aduh...! Sungguh aneh!” terdengar suara penonton.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tak masuk di akal!”
“Tak mungkin...!”
“Ajaib sekali...!”
Jika semua orang yang menonton menjadi terheran-heran, empat orang jagoan itu lebih terkejut lagi.
Tambang itu sudah tertarik sehingga menegang, bahkan terdengar bergerit saking kuatnya mereka
menarik, akan tetapi mereka merasa seolah-olah sedang menarik sebuah gunung saja!
Untuk sesaat mereka saling pandang, kemudian dengan amat penasaran mereka segera menarik lagi. Kini
tarikan mereka tidak teratur lagi, suara mereka ‘ah-ah, uh-uh’ sambil mengerahkan tenaga sekuatnya,
sehingga mereka terhuyung ke sana terdorong ke mari, namun tetap saja kaki yang dilibat tambang dan
ditarik itu sama sekali tidak bergeming sedikit pun!
Kini tak seorang pun penonton dapat mengeluarkan suara, bahkan bernapas pun mereka hampir lupa!
Keempat orang jagoan itu sambil membetot, memandang kepada pemuda itu dengan mulut ternganga
saking herannya, akan tetapi mereka tidak berhenti menarik. Mustahil tidak dapat merobohkannya, pikir
mereka dan kembali mereka mengerahkan tenaga seadanya untuk membetot kaki yang hanya kecil saja
itu!
Peluh sebesar kacang telah menitik turun dari jidat mereka, dan napas mereka pun mulai terengah-engah
setelah beberapa lama mereka menarik dengan tenaga sepenuhnya.
Lie Siong merasa bahwa sudah cukup ia memperlihatkan tenaganya, karena itu dia lalu membentak keras.
“Tidak lekas-lekas lepaskan tambang?” Sambil berkata demikian, tanpa menurunkan kaki kirinya, kaki
kanannya melakukan gerakan mengisar dan... tak dapat ditahan pula, empat orang jagoan itu lalu
terdorong ke depan, dan karena mereka masih belum melepaskan tambang itu, mereka jatuh saling timpa!
Yang paling sial adalah Si Jenggot Pendek karena ia tertindih oleh dua orang kawannya dan karena
jatuhnya dengan hidung di depan, maka ketika merangkak bangun kembali, hidungnya yang tadinya
mancung telah menjadi pesek dan berdarah!
Kini ramailah orang-orang itu memuji dan menyatakan keheranan mereka. Bagaimana mungkin terjadi hal
yang aneh ini? Walau pun sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, mereka masih belum dapat
percaya bahwa seorang pemuda yang lemah-lembut dan berkulit halus itu dapat memiliki tenaga yang
demikian besarnya. Siapakah pemuda lihai ini? Mereka saling bertanya tanpa berani menanyakan sendiri
kepada pemuda itu.
Pada saat itu nampak dua orang berlari dari bawah lereng. Mereka ini adalah seorang laki-laki tinggi besar
bersama seorang hwesio. Ketika laki-laki tinggi besar itu tiba di situ dan melihat Lie Siong, ia lalu cepat
berseru kepada semua orang,
“Dia adalah iblis putih!”
Orang ini adalah seorang di antara penebang pohon yang dulu pernah dirobohkan oleh Lie Siong, dan
mendengar seruan ini, semua orang menjadi pucat mukanya, ada yang menggigil dan bahkan ada yang
cepat mengangkat kaki lari dari situ! Akan tetapi, ketika mereka melihat hwesio yang datang bersama
penebang tadi, semua orang lalu menjadi tabah kembali dan mengikuti hwesio itu menghampiri Lie Siong.
Hwesio itu bukan lain adalah Pek I Hosiang sendiri.
Melihat bahwa yang menimbulkan keributan itu adalah Lie Siong, Pek I Hosiang segera merangkapkan
kedua tangan di depan dada sambil memberi hormat.
“Omitohud, tak tahunya Siauw-enghiong (Orang Muda Gagah) yang datang di sini! Harap suka maafkan
murid-murid pinceng yang bodoh dan tidak tahu aturan, Siauw-enghiong. Sesungguhnya ketika pinceng
mendengar bahwa mereka ini hendak menyerbu ke dalam hutan, segera pinceng menyusul ke sini untuk
mencegah mereka.”
Melihat Lie Siong hanya berdiri tanpa menjawab, hwesio itu lantas memandang kepada semua orang dan
dunia-kangouw.blogspot.com
berkata,
“Cuwi sekalian, harap mendengarkan kata-kata pinceng. Mulai sekarang janganlah ada seorang pun berani
mengganggu hutan di atas itu! Ketahuilah bahwa di situ tinggal dua orang pendekar sakti yang
mengasingkan diri! Pegunungan ini mempunyai banyak sekali hutan-hutan besar, mengapa harus
mengganggu hutan kecil? Kalau kalian sayang diri, jangan sekali-kali berani memasuki hutan itu lagi. Ang I
Niocu dan puteranya bukanlah siluman, akan tetapi pendekar-pendekar besar yang berkepandaian tinggi
dan tidak mau diganggu!”
Semua orang terkejut mendengar ini, karena tak pernah mereka sangka bahwa hwesio ini pun telah kenal
kepada dua orang yang tadinya dianggap siluman itu, terutama sekali para murid yang pernah mendengar
nama Ang I Niocu yang tersohor! Mereka cepat memandang kepada pemuda yang diperkenalkan sebagai
putera Ang I Nicou itu, tetapi alangkah heran dan kagetnya semua orang ketika melihat bahwa di situ tidak
nampak lagi bayangan pemuda tadi! Pemuda tadi telah lenyap bersama buntalan pakaiannya tanpa
diketahui oleh seorang pun kecuali Pek I Hosiang. Hwesio ini lalu berkata,
“Dia sudah pergi!” Dia menghela napas. “Masih baik bahwa pemuda itu sendiri yang datang di sini, tidak
bersama ibunya. Kalau kalian berani mengganggu ibunya, tak dapat kubayangkan kengerian yang menjadi
akibatnya!”
Semenjak saat itu, semua orang memandang hutan itu sebagai tempat keramat dan tak seorang pun
berani naik ke situ. Nama Ang I Niocu makin terkenal, dan juga puteranya menjadi buah bibir semua orang
yang tinggal di sekitar Pegunungan Ho-lan-san…..
********************
Pada suatu hari, ketika Lie Siong tiba di sebuah jalan yang sunyi, dia melihat dua orang laki-laki sedang
bertengkar. Tadinya dia tidak hendak mempedulikan kedua orang yang bercekcok itu, akan tetapi karena ia
mendengar suara yang seorang amat aneh dan kaku seperti orang asing, ia tertarik juga dan segera
menghampiri mereka sambil bersembunyi di balik pohon besar.
Laki-laki yang bicaranya terdengar kaku itu adalah seorang setengah tua yang berkumis dan berjenggot
panjang, nampaknya gagah sekali dan matanya bersinar tajam. Ada pun orang yang bercekcok dengan dia
adalah seorang muda yang bertubuh tinggi besar dan bermuka kasar dengan mulut selalu menyeringai
sombong.
“Gui-kongcu (Tuan Muda Gui), sudah berkali-kali aku menegur dan menasehatimu agar kau jangan
menggoda anakku lagi, akan tetapi agaknya kau sengaja bahkan menghina puteriku. Aku biasanya amat
sabar, akan tetapi jangan kira bahwa kesabaranku ini tanda bahwa aku takut kepadamu!”
Laki-laki muda itu tertawa bergelak dengan sikap menghina sekali.
“Paman Manako, kau orang tua mengapa tidak memaklumi hati orang-orang muda? Aku mencinta Lilani,
kenapa aku menghina? Aku pernah melamar anakmu itu, mengapa pula kau berani menampik
pinanganku? Ingat, Paman Manako, kau datang sebagai seorang perantau, dan kalau tidak ada aku dan
ayahku, tidak mungkin kau dapat tinggal di daerah ini!”
“Kurang ajar!” bentak lelaki berkumis yang bernama Manako itu. “Gui-kongcu, kau sudah mengucapkan
kata-kata menghina terhadap seorang laki-laki Haimi. Kalau aku tak ingat bahwa kau masih kanak-kanak
dan tidak ingat bahwa ayahmu sudah menolongku, untuk ucapanmu itu saja aku dapat membunuhmu!
Memilih mantu tidak dapat dipaksa. Anakku Lilani tak suka kepadamu, bagaimana aku harus menerima
pinanganmu? Sungguh amat tidak tahu malu bagi seorang pemuda yang sudah ditolak pinangannya, tetapi
masih saja mendesak dengan cara yang kurang ajar sekali!”
“Manako!” pemuda itu membentak marah, kini tanpa menggunakan sebutan paman lagi. “Lupakah kau
sedang bicara dengan siapa?” Pemuda ini kemudian mencabut pedangnya dengan sikap mengancam.
Orang tua berjenggot itu tersenyum dan dengan tenang ia pun lalu mencabut pedangnya pula. “Tentu saja
aku tidak lupa. Aku berhadapan dan bicara dengan Gui-kongcu, putera dari Kepala Daerah Ki-ciang. Akan
tetapi agaknya kau lupa bahwa aku Manako bukan seorang penjilat. Tidak peduli siapa saja kalau berani
menghinaku, akan kulawan!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Orang Haimi yang sombong, rasakan tajamnya pedangku!” teriak pemuda tinggi besar itu dan segera dia
menyerang dengan sebuah tusukan hebat.
Gerak tipunya ini ialah yang disebut Han-ya Pok-cui (Burung Gagak Menyambar Kelinci), sebuah gerakan
tipuan dari Ilmu Pedang Tat-mo Kiam-hoat, yakni ilmu pedang ciptaan pendekar besar Tat Mo Couwsu.
Akan tetapi, dengan tenang orang Haimi itu menangkis dengan pedangnya sehingga Pemuda she Gui itu
terkejut sekali karena ternyata bahwa tenaga lawannya amat besar, membuat pedangnya terpental ke
belakang!
Ia berseru keras dan segera menyerang lagi dengan gerak tipu Hui-eng Bok-thou (Elang Terbang
Menyambar Kelinci). Kedua kakinya melompat ke atas dan pedangnya ganas menyambar. Akan tetapi
Manako, orang Haimi itu dengan amat gesitnya lalu mengubah kedudukan kakinya, melangkah dengan
kaki kanan ke belakang, lalu memutar tubuhnya dengan gerak tipu Monyet Sakti Memasuki Goa. Dengan
gerakan ini dia segera berhasil menghindarkan diri dari serangan lawan, kemudian ia membalas
menyerang dengan tak kurang hebatnya.
Sebentar saja ternyata bahwa ilmu pedang orang Haimi ini jauh lebih unggul dari pada ilmu pedang
lawannya. Maka, cepat dia mendesak serta mengurung pemuda itu dengan pedangnya yang menyambarnyambar!
Lie Siong yang mengintai dari balik pohon maklum bahwa orang tua itu tak berniat buruk, karena kalau ia
mau, dengan mudah saja ia pasti akan dapat merobohkan pemuda itu. Akan tetapi pemuda itu ternyata tak
tahu diri dan ia tidak tahu bahwa orang tua itu telah berlaku murah hati dan mengalah. Kalau ia tahu diri,
tentu ia tidak akan melawan terus. Sebaliknya, ia malah memaki-maki dan menyerang dengan membuta
tuli.
“Kau benar-benar tak tahu diri!” teriak Manako.
Lalu, sebuah serangan dengan pedang diputar dibarengi gerakan menggetarkan pedang, membuat
pedang pemuda itu terkurung dan tertempel, kemudian orang tua itu membetot sambil membentak,
“Lepas senjata!” maka pedang pemuda itu pun terlempar dan terlepas dari pegangan!
Pada saat itu, tujuh orang yang berpakaian seperti perwira kerajaan lari mendatangi dan mereka segera
mencabut senjata golok dan pedang.
“Orang Haimi yang sudah bosan hidup!” teriak seorang di antara para perwira itu. “Kau berlaku kurang ajar
terhadap Gui-kongcu?”
“Bukan aku yang mulai lebih dulu!” jawab Manako dengan berani, akan tetapi tujuh orang perwira itu
segera mengurung dan menyerangnya.
Manako melawan sekuatnya, akan tetapi tujuh orang perwira itu kepandaiannya rata-rata lebih tinggi dari
pada kepandaian pemuda she Gui tadi sehingga sebentar saja Manako terdesak hebat dan menjadi sibuk
sekali.
Pada saat orang tua itu berada dalam keadaan yang amat berbahaya, tiba-tiba nampak berkelebat
bayangan putih dari belakang pohon. Lie Siong yang menyaksikan keroyokan yang berat sebelah itu tidak
mau tinggal diam dan dia sudah melompat keluar, langsung mengamuk dan mainkan Ilmu Silat Kong-ciak
Sin-na.
Tubuhnya bergerak cepat bagaikan halilintar menyambar, maka ke mana saja tubuhnya berkelebat,
seorang perwira lalu menjerit, pedang atau goloknya terampas dan tubuhnya menerima pukulan atau
tendangan yang cukup membuatnya mencium tanah tanpa dapat bangun kembali!
Pemuda she Gui yang melihat kehebatan lawan baru ini, dengan cerdik lalu diam-diam segera melarikan
diri dari situ. Tujuh orang perwira itu dalam waktu pendek saja sudah dirobohkan oleh Lie Siong yang tidak
menggunakan senjata sehingga orang tua Haimi itu telah memandang dengan bengong.
Manako cepat menghampiri Lie Siong, memberi hormat dan berkata kagum, “Kau hebat sekali, anak muda.
Kehebatanmu mengingatkan aku akan Sie Taihiap!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Siapakah Sie Taihiap itu?” tanya Lie Siong.
“Sie Taihiap ialah Sie Cin Hai atau Pendekar Bodoh! Seperti kau inilah sepak terjangnya kalau menghadapi
orang-orang jahat.”
Lie Siong tadi membantu Manako tanpa mengandung maksud sesuatu, hanya terdorong oleh hatinya yang
tak senang melihat keroyokan yang tidak adil. Kini mendengar betapa orang tua itu memuji-muji nama
Pendekar Bodoh, dia menjadi sebal sekali. Telah sering kali ibunya memuji-muji Pendekar Bodoh hingga
nama Pendekar Bodoh ini seakan-akan merupakan lidi yang ditusuk-tusukkan ke dalam telinganya,
sekarang ketika mendengar lagi ada orang memujinya, langsung membuat ia merasa tidak puas.
“Sudahlah, aku tak kenal segala Pendekar Bodoh. Kau pergilah sebelum orang-orang ini sempat
mengeroyokmu lagi!”
Manako memandang heran kepada pemuda yang bersikap dingin ini, akan tetapi ia lalu teringat bahwa tadi
dia telah melawan perwira-perwira, bahkan bertempur dengan putera Kepala Daerah. Maka, dengan cepat
dia lalu memberi hormat lagi dan berlari pergi dari situ.
Akan tetapi, baru saja dia membelok di sebuah tikungan jalan, tiba-tiba dia telah dicegat oleh belasan
orang perwira yang tadi mengantarkan pemuda she Gui! Ternyata bahwa Gui-kongcu setelah berlari cepat
lalu memanggil lebih banyak perwira untuk mengeroyok pemuda yang lihai dan Manako.
“Penggal leher orang Haimi jahat ini!” Gui-kongcu berseru marah.
Sebentar saja Manako sudah dikeroyok oleh belasan orang perwira itu. Perwira-perwira yang datang ini
tingkatnya lebih tinggi dari pada tujuh orang perwira yang tadi, bahkan di antara mereka terdapat seorang
panglima tamu dari kota raja yang kegagahannya amat terkenal. Panglima muda ini bernama Kam Liong
dan orang ini bukan lain adalah anak dari Panglima Besar Kam Hong Sin yang sangat tersohor karena
kegagahannya (baca Pendekar Bodoh).
Tentu saja Manako bukan tandingan para perwira ini. Panglima muda yang mempunyai kepandaian tinggi
itu sama sekali tidak mau turun tangan karena ia merasa rendah untuk mengeroyok seorang Haimi! Akan
tetapi, perwira-perwira yang lainnya sudah cukup kuat untuk merobohkan Manako sehingga hanya dalam
waktu sebentar saja orang Haimi ini roboh dengan beberapa luka parah pada tubuhnya.
Lie Siong yang hendak meninggalkan tempat itu tiba-tiba mendengar bentakan-bentakan para perwira
yang mengeroyok Manako. Oleh karena pertempuran itu terjadi di belakang tikungan dan tidak kelihatan
dari tempatnya, maka dia cepat berlari menghampiri tempat itu. Alangkah marah dan terkejutnya ketika dia
melihat betapa Manako telah roboh mandi darah, dikeroyok oleh belasan orang perwira.
“Pengecut hina dina!” Lie Siong berseru sambil mencabut keluar Sin-liong-kiam dari balik jubahnya.
Sekali dia berkelebat, tubuhnya sudah menjadi bayangan putih yang cepat gerakannya laksana seekor
burung garuda. Seperti juga tadi ketika menghadapi tujuh orang perwira, kini begitu dia menggerakkan
pedangnya, maka golok serta pedang perwira beterbangan kemudian terdengar teriakan-teriakan susulmenyusul
dibarengi jatuhnya tubuh mereka bertumpang tindih.
Bukan main kagetnya Panglima Muda Kam Liong ketika menyaksikan kelihaian pemuda baju putih ini.
Terpaksa dia harus bertindak, kalau tidak, mungkin belasan orang perwira itu akan roboh semua! Ia lantas
mencabut keluar pedangnya yang mengeluarkan cahaya berkilauan, kemudian sekali mengenjot tubuh, ia
telah melayang dan menyambut pedang Lie Siong yang mengeluarkan sinar kuning keemasan.
“Trang...!” Sepasang pedang itu bertemu, menimbulkan bunga api berpancaran.
“Tahan dulu!” seru Kam Liong.
Lie Siong yang merasa tercengang menyaksikan ada pedang yang mampu menyambut Sin-liong-kiam-nya,
segera menahan senjata dan memandang dengan sinar mata tajam.
Kedua laki-laki muda yang sama tampan dan sama gagahnya ini saling pandang dengan penuh perhatian.
Lie Siong melihat seorang pemuda yang mengenakan pakaian sebagai seorang panglima, pakaiannya
gagah dan mentereng sekali, wajahnya membayangkan kegagahan. Sedangkan Kam Liong tercengang
dunia-kangouw.blogspot.com
pada saat melihat bahwa orang yang lihai sekali kepandaiannya itu ternyata hanyalah seorang pemuda
berkulit muka halus dengan sikap lemah lembut!
“Saudara yang gagah, kau siapakah dan mengapa kau membela seorang pemberontak bangsa Haimi?”
“Aku tidak tahu apa yang kau maksudkan dengan pemberontak, dan juga aku tak peduli apa yang menjadi
persoalannya, akan tetapi yang sudah jelas bahwa orang tua ini kalian keroyok secara tidak tahu malu
sekali. Pengecut-pengecut macam kalian ini tidak dapat kuberi ampun!”
Marahlah Kam Liong mendengar ucapan ini yang dianggapnya sombong bukan main dan kurang ajar.
“Orang sombong!” teriaknya sambil menggerakkan pedang di tangan. “Kau terlalu mengandalkan
kepandaian sendiri. Tidak tahukah bahwa kau berhadapan dengan Panglima Muda she Kam dari kota
raja?”
Mendengar disebutnya she Kam ini, Lie Siong lalu memandang dengan penuh perhatian. Ibunya pernah
menuturkan kepadanya tentang panglima kosen bernama Kam Hong Sin.
“Ada hubungan apakah kau dengan Panglima Kam Hong Sin?” tanyanya tiba-tiba.
“Dia adalah ayahku, bagaimana kau dapat mengetahui namanya? Siapa kau sebetulnya dan siapa pula
guru atau orang tuamu!”
Akan tetapi Lie Siong tidak menjawab pertanyaan ini, bahkan dia melangkah maju dan berkata, “Bagus!
Kalau begitu biarlah kita menguji kepandaian masing-masing dan tidak perlu banyak mengobrol lagi!”
Dia lalu memutar pedangnya yang aneh bentuknya itu. Kam Liong yang maklum akan kelihaian lawan,
tidak mau berlaku lambat dan cepat sekali dia menangkis lalu membalas dengan serangannya yang tak
kalah hebatnya.
Kam Liong adalah putera tunggal dari Panglima Kam Hong Sin yang tinggi ilmu silatnya. Pemuda ini
mengikuti jejak ayahnya dan kini telah menduduki pangkat yang tinggi dalam ketentaraan di kota raja, telah
mewarisi hampir seluruh kepandaian ayahnya. Dia sangat lihai, terutama dalam ilmu pedang yang berasal
dari ilmu pedang Partai Kun-lun-pai.
Gerakan pedangnya cukup cepat serta kuat, apa lagi ditambah pula dengan pedangnya yang bukan
pedang sembarangan, melainkan sebuah pedang mustika hadiah dari kaisar, tentu saja dia jarang
menemukan tandingan dalam ilmu pedang.
Akan tetapi, setelah dia bertempur menghadapi Lie Siong, ia menjadi terkejut sekali oleh karena ilmu silat
pemuda elok ini benar-benar hebat dan lihai sekali. Pedang aneh yang berbentuk naga itu di samping
sangat keras sehingga tidak menjadi rusak oleh pedang mustikanya, juga amat berbahaya.
Pedang itu bila menyabet tidak akan melukai kulit, akan tetapi akan meremukkan tulang dan otot,
sedangkan tanduk pedang naga itu dapat dipergunakan untuk menusuk bagian tubuh yang berbahaya.
Yang lebih istimewa lagi adalah lidah pedang naga yang panjang itu, karena lidah ini dapat berputar-putar
melakukan sambaran-sambaran tersendiri dan menotok jalan darah. Bahkan telah beberapa kali lidah
merah ini mencoba untuk melibat pedang di tangannya untuk dirampasnya!
Kam Liong teringat akan beberapa nama pendekar besar yang pernah dia dengar dari ayahnya. Menurut
ayahnya, ilmu pedangnya atau ilmu silatnya harus digunakan dengan amat hati-hati apa bila menghadapi
mereka atau murid dan keturunan mereka.
“Apakah kau putera Sie-taihiap Si Pendekar Bodoh?” Ia bertanya sambil menangkis satu tusukan ke arah
lehernya.
“Aku tidak kenal Pendekar Bodohl” jawab Lie Siong dengan hati mangkel karena lagi-lagi ia mendengar
nama pendekar ini disebut-sebut orang!
Ia segera menyerang lebih hebat lagi dan mainkan Ilmu Pedang Ngo-lian-hoan Kiam-sut. Pedangnya
berputar demikian hebatnya seolah-olah telah berubah menjadi lima putaran sehingga kelihatan bagaikan
lima bunga teratai dan sesuai sekali dengan namanya, yaitu Ngo-lian-hoan Kiam-sut (Ilmu Pedang Lima
Bunga Teratai).
dunia-kangouw.blogspot.com
Kam Liong terkejut melihat ilmu pedang ini dan terpaksa dia harus mengeluarkan seluruh kepandaiannya
untuk menjaga diri, dan untuk sementara dia mencurahkan perhatiannya terhadap pertahanannya
sehingga tak sempat bertanya lagi. Akan tetapi, setelah ia amat terdesak, ia segera menggunakan gerak
tipu Pek-hong Koan-jit (Bianglala Putih Menutup Matahari). Pedang mustikanya berputar cepat sekali
hingga merupakan payung penutup tubuhnya yang amat rapat dan kuat.
“Jika begitu, tentulah putera Kwee An Locianpwe!” kata Kam Liong lagi, menduga-duga. Oleh karena apa
bila bukan putera Pendekar Bodoh, hanya putera atau murid Kwee An Locianpwe saja yang memiliki
kepandalan sedemikian hebatnya, demikian ia berpikir.
“Jangan mengobrol! Aku tak kenal orang she Kwee itu!” jawab Lie Siong dengan marah.
Dia pun merasa penasaran sekali karena sudah bertempur lima puluh jurus lebih, namun belum juga dapat
mengalahkan panglima muda yang lihai ini. Dia lalu berseru keras dan dengan pedang di tangan kanan
mainkan Ilmu Pedang Sin-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Sakti), yaitu ilmu pedang yang diciptakan oleh
ibunya sendiri untuk menyesuaikan pedang yang dipergunakannya, sambil ia menggunakan tangan kirinya
untuk menyerang dengan Ilmu Pukulan Pek-in Hoat-sut yang membuat tangan kirinya lantas mengeluarkan
uap putih!
Pek-in Hoat-sut sudah terkenal sekali kelihaiannya, dan kepandaian ini adalah warisan dari Guru Besar Bu
Pun Su. Tidak saja pukulannya yang amat lihai, bahkan uap putih itu saja bila menyambar lawan bisa
mematahkan tenaga lweekang dan bisa mendatangkan luka di dalam tubuh.
Akan tetapi ilmu pedang itu pun luar biasa hebatnya. Pada saat Ang I Niocu menciptakan ilmu pedang ini
untuk puteranya, ilmu pedang ini disesuaikan dengan bentuk Pedang Naga Sakti itu, sehingga di dalam
gerakannya ini terdapat totokan-totokan jalan darah, dan juga lidah pedang naga yang panjang itu
digunakan dengan ilmu melempar tali yang merupakan kepandaian tunggal dari Lie Kong Sian!
Bukan main terkejutnya hati Kam Liong pada saat menyaksikan serangan lawannya yang hebat ini. Dia
terkejut dan cepat mengelak dari serangan pukulan Pek-in Hoat-sut, akan tetapi lidah pedang naga itu
telah berhasil membelit pedangnya sehingga saat Lie Siong mengerahkan tenaga, pedang itu telah terbetot
terlepas dari pegangan Kam Liong!
Kam Liong kaget sekali dan berteriak keras sambil melempar tubuhnya ke belakang, lalu membuat gerakan
melompat berjungkir balik beberapa kali ke belakang. Inilah gerakan Naga Sakti Menembus Awan yang
sangat indah sehingga diam-diam Lie Siong kagum juga melihat gerakan lawannya.
“Pergi...! Pergi kalian dari sini!” bentaknya sambil menggerakkan tangan kanan sehingga pedang Kam
Liong yang terampas tadi tahu-tahu sudah terlepas dan meluncur ke arah dada pemiliknya!
Kam Liong tidak keburu menyambut dan terpaksa cepat menjatuhkan tubuhnya sehingga pedangnya itu
meluncur terus lalu menancap pada dada seorang perwira yang berdiri di belakangnya! Perwira itu menjerit
dan tewas dengan dada tertembus pedang!
“Kau... kau tentu putera Ang I Niocu!” seru Kam Liong masih dalam dugaannya, sambil mencabut
pedangnya dan memandang kagum. Mendengar ini, Lie Siong terkejut sekali dan juga marah.
“Apakah kau ingin mampus?” bentaknya sambil menggerakkan tubuh menerjang.
Akan tetapi Kam Liong yang sudah tahu akan kelihaian pemuda elok ini tidak lagi berani melawan dan
cepat melarikan diri! Lie Siong hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba saja dia mendengar keluhan orang
Haimi yang menggeletak mandi darah itu, oleh karena itu dia menunda niatnya hendak mengejar dan
menghampiri orang tua yang terluka tadi.
Ketika ia berlutut, ternyata orang tua itu keadaannya payah sekali. Tubuhnya penuh luka dan darah telah
keluar cukup banyak sehingga napasnya tinggal satu-satu.
“Orang muda...,” katanya terengah-engah, “engkau gagah sekali... tak ubahnya Pendekar Bodoh sendiri...
kau pun tentu berbudi... seperti Pendekar Bodoh pula... kau tolonglah puteriku… Lilani... ia tentu mendapat
susah dari putera kepala daerah she Gui itu! Lekas, tolonglah... dia yatim piatu... tolong anakku...!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat keadaan orang tua itu sudah tak ada harapan lagi, Lie Siong lalu bertanya,
“Di mana dia...? Di mana anakmu itu?”
“Di... di rumahku, di ujung barat kota Tatung, tak jauh dari sini... kau cepat tolonglah dia... hanya kaulah
orang satu-satunya yang menjadi harapanku...” tiba-tiba saja orang tua itu menarik napas panjang dan
ternyata napas itu adalah tarikan yang terakhir!
Lie Siong cepat bangun berdiri dan membentak kepada perwira yang terluka dan yang ditinggalkan oleh
kawan-kawannya. “Kau harus rawat jenazahnya baik-baik, kalau tidak, awas! Lain kali aku datang
mengambil kepalamu!”
Perwira itu mengangguk-angguk dengan muka pucat. “Baik, baik... Hohan!”
Lie Siong kemudian melompat pergi dan berlari cepat sekali menuju ke kota Tatung yang berada di
sebelah selatan hutan itu.
Setibanya di kota itu, Lie Siong lalu menuju ke ujung barat dan dengan mudah saja dia mencari keterangan
tentang rumah tempat tinggal seorang bangsa Haimi yang bernama Manako. Ketika ia menanyakan
kepada seorang tetangga orang Haimi itu, karena rumah yang dicarinya ini ternyata dalam keadaan
tertutup, tetangga itu memandangnya dengan ragu-ragu dan muka takut.
“Kongcu, kau mencari Manako, apakah kau masih keluarganya?”
“Bukan, aku hanya sahabatnya. Aku mau bertemu dengan Nona Lilani, puterinya.”
Muka orang yang nampak ketakutan itu menjadi makin pucat. Ia memberi isyarat dengan jari tangannya
ditaruh ke depan mulut lalu berkata perlahan,
“Ssstt, Kongcu, janganlah kau bicara terlalu keras tentang gadis itu. Lebih baik lekas kau pergilah dari sini
dan jangan katakan kepada siapa pun juga bahwa kau sudah mengenal Nona itu...! Aku kasihan
kepadamu karena kau adalah orang Han, bukan bangsa Haimi.”
Lie Siong memandang tajam dan sekali ia menggerakkan tangannya, ia telah memegang tengkuk orang itu
dengan keras sehingga orang yang dipegangnya menjadi terkejut dan ketakutan. Tangan yang mencekik
tengkuknya seakan-akan sepasang jepitan baja yang kuat sekali.
“Hayo, lekas katakan, apa yang telah terjadi dengan Lilani, dan di mana dia berada!”
“Am... ampun, Hohan...! Gadis itu baru tadi telah dibawa pergi oleh sepasukan prajurit, ditangkap oleh Guisiauwya!”
“Kau maksudkan Gui-siauwya putera Kepala Daerah?”
“Benar, Hohan.”
“Di mana rumah Kepala Daerah itu?”
Orang itu cepat-cepat menunjuk ke arah timur dan berkata, “Di tengah kota ini, bangunan yang tertinggi
dan terbesar.”
Lie Siong melepaskan pegangannya dan sekali dia berkelebat, maka lenyaplah tubuhnya dari depan orang
yang menjadi bengong dan bergemetaran seluruh tubuhnya itu.
Sangat mudah untuk mencari gedung besar Kepala Daerah she Gui di kota itu, karena gedungnya besar
dan tinggi, berada di tengah-tengah kota. Tanpa banyak peraturan lagi, Lie Siong lalu memasuki pintu
gerbang dan ketika empat orang penjaga pintu menegur dan menghampirinya, dengan beberapa kali
menggerakkan kaki tangannya, empat orang penjaga itu lalu terlempar ke kanan kiri. Ia terus masuk ke
dalam didahului oleh seorang penjaga yang bergegas lari masuk untuk memberi laporan tentang
kedatangan seorang pengamuk muda yang lihai sekali.
Dengan diiringkan oleh serombongan penjaga, Gui-taijin sendiri keluar dari ruang dalam bersama Kam
dunia-kangouw.blogspot.com
Liong, panglima muda yang menjadi tamunya.
Begitu melihat pembesar ini, Lie Siong melompat dan menangkap lengannya.
“Hayo lepaskan Lilani, kalau tidak kepalamu akan kuhancurkan!” katanya dengan bengis.
Pembesar Gui yang sudah setengah tua itu memandang dengan heran dan gelisah, lalu bentaknya marah,
“Siapakah kau dan apa maksudmu?!”
Juga Kam Siong lalu maju dan menjura ke arah Lie Siong.
“Taihiap, harap kau bersabar dahulu, ada urusan dapat diurus dan ada persoalan dapat dirundingkan.
Sesungguhnya kami tidak mengerti akan maksud kedatanganmu ini, dan siapakah adanya Lilani?”
Lie Siong mengerling tajam dan dengan heran ia melihat bahwa wajah panglima muda itu tidak
membayangkan kebohongan. Akan tetapi ia lalu berkata dengan penuh sindiran.
“Bagus! Kalian telah membunuh orang Haimi itu dan merampas puterinya, dan sekarang masih berpurapura
tidak tahu?”
“Siapa yang membunuh orang dan siapa yang merampas puterinya?” Gui Taijin berseru marah. “Jangan
menuduh sembarangan saja!”
Kam Liong yang berdiri di samping dengan muka merah kemudian berkata kepadanya, “Sesungguhnya
memang ada pembunuhan atas diri orang Haimi itu. Akan tetapi menurut keterangan puteramu, orang
Halmi itu adalah seorang pemberontak, oleh karena itulah maka ketika aku dimintai bantuan, aku segera
membantu puteramu. Akan tetapi tentang perampasan gadis itu, aku sama sekali tidak tahu!”
Sesungguhnya, Gui Taijin ini tak tahu sama sekali tentang urusan puteranya, dan segala peristiwa yang
terjadi tadi adalah di luar kehendak dan pengetahuannya. Puteranya telah bertindak seorang diri untuk
melampiaskan nafsu jahatnya dan menggunakan kedudukan dirinya sebagai putera Kepala Daerah.
“Apakah artinya semua ini?” Gui Taijin membentak marah kepada para penjaga yang kini berdiri dengan
ketakutan. “Di mana adanya Gui Kongcu? Benarkah dia sudah merampas anak gadis orang?”
Salah seorang penjaga dengan ketakutan lantas memberi hormat dan melapor, “Kongcu telah membawa
gadis itu ke rumah peristirahatan Taijin di dekat sungai.”
“Keparat...!” seru Gui Taijin, akan tetapi pada saat itu, Lie Siong sudah melompat maju dan dengan mudah
dia sudah menangkap penjaga yang bicara tadi, mengempitnya dan membawanya lompat keluar dari situ.
“Kau harus tunjukkan kepadaku di mana adanya tempat itu!” katanya.
Biar pun dia sedang marah kepada puteranya, kini melihat betapa pemuda yang lihai itu hendak mengejar
ke sana, Gui Taijin merasa berkhawatir juga. Dia segera mengerahkan prajurit-prajuritnya dan dengan
cepat melakukan pengejaran pula, didampingi oleh Kam Liong yang diam-diam merasa benci kepada
putera Kepala Daerah itu.
Prajurit yang dikempit dan dibawa berlari oleh Lie Siong itu merasa seakan-akan dibawa terbang oleh
seekor burung besar, maka dengan muka pucat dia lalu menunjukkan jalan yang menuju ke sebuah dusun
di pinggir Sungai Yung-ting. Di tempat ini, Kepala Daerah Gui memang mempunyai sebuah gedung indah
di mana dia dan keluarganya menghibur diri di musim panas.
Setelah tiba di tempat yang dicari, Lie Siong lalu melempar tubuh penjaga itu ke samping jalan di mana
penjaga itu rebah dengan tubuh menggigil tanpa berani bangun. Kemudian pemuda perkasa itu lalu cepat
melompat ke atas tembok tinggi yang mengelilingi gedung itu.
Beberapa orang penjaga melihatnya dan berteriak-teriak sambil mengejar. Akan tetapi Lie Siong tidak
mempedulikan mereka dan terus saja melompat masuk dan menyerbu ke dalam. Ia bertemu dengan
beberapa orang penjaga yang berlari keluar mendengar akibat teriakan kawan-kawannya, akan tetapi
bagaikan orang membabat rumput saja, Lie Siong merobohkan mereka dengan pukulan dan tendangan
kakinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketika dia telah merobohkan para penjaga, tiba-tiba dia mendengar suara jeritan wanita, maka cepat ia
mengejar ke dalam dari mana jeritan itu terdengar. Ternyata bahwa jeritan itu terdengar dari ruangan
belakang, di mana bangunan didirikan di atas air. Memang gedung yang indah ini bagian belakangnya
berada di atas air Sungai Yung-ting, sehingga kalau orang duduk di belakang, ia akan menikmati
pemandangan yang indah sekali.
Lie Siong terus berlari ke arah belakang. Dua orang penjaga yang menghadang di jalan kembali
dirobohkannya dengan sekali pukul. Sekali lagi ia mendengar jeritan wanita dan kali ini terdengar keras
sekali dari balik sebuah pintu.
Dengan marah Lie Siong lalu menendang daun pintu itu dan alangkah marahnya ketika ia melihat seorang
pemuda, yaitu pemuda yang tadi bertempur dengan orang Haimi itu, sedang menarik-narik tangan seorang
gadis muda yang meronta-ronta, menjerit-jerit, dan memaki-maki!
Muka laki-laki jahanam yang tadinya menyeringai seakan-akan merasa gembira melihat perlawanan gadis
itu, tiba-tiba menjadi pucat bagaikan mayat ketika dia mendengar pintu kamar itu mengeluarkan bunyi
keras dan melihat daun pintu itu roboh. Lebih kagetlah dia ketika melihat munculnya Lie Siong, pemuda
gagah perkasa yang telah menghajar para perwira pembantunya siang tadi dengan hebatnya.
Betapa pun juga, melihat Lie Siong melangkah menghampirinya dengan mata bersinar marah, Gui Kongcu
masih ingat akan pedangnya yang diletakkan di atas pembaringan. Ia menyambar pedangnya dan
menyambut kedatangan Lie Siong dengan sebuah bacokan hebat. Akan tetapi tanpa berkejap sedikit pun,
Lie Siong lalu mengangkat tangannya dan dengan gerak tipu Tangan Kapak Membacok Cabang ia
kemudian menangkis sambaran pedang itu dengan babatan tangannya dari samping ke arah pinggir
pedang.
“Krakk!”
Pedang itu menjadi patah ketika terkena sambaran tangan Lie Siong yang dimiringkan. Pukulan ini hebat
sekali dan tidak sembarangan ahli silat berani mempergunakan untuk menangkis pedang. Biar bagaimana
pun juga tangan terbuat dari pada kulit dan daging pembungkus tulang, tentu saja tak mungkin
dipergunakan untuk diadu dengan tajamnya pedang.
Akan tetapi gerakan Tangan Kapak Membacok Cabang ini mengandalkan kecepatan dan ketangkasan,
disertai tenaga lweekang yang sangat kuat. Penggunaannya bukan untuk menyambut datangnya pedang
yang tajam, akan tetapi digerakkan dari pinggir dengan memukul pedang itu dari samping pada mukanya
dengan mempergunakan tangan yang dimiringkan. Tentu saja kalau gerakan ini kurang cepat atau kurang
tepat, maka banyak bahayanya tangan akan bertemu dengan mata pedang dan akan terluka!
“Bangsat hina dina!” Lie Siong membentak marah dan sekali ia majukan tangan kiri, ia telah mencekik
batang leher pemuda cabul itu. “Pergilah!” serunya.
Dan tubuh Gui Kongcu yang dilempar itu melayang laju keluar dari jendela kamar dan langsung meluncur
ke dalam sungai yang sangat dalam itu, kemudian terdengar suara…
“Byurrr…!” tanda bahwa air telah menyambutnya dan setelah itu sunyi.
Gadis itu memandangnya dengan sepasang matanya yang lebar.
“Siapakah kau...?” Dengan jujur gadis ini tidak menyembunyikan kekaguman yang keluar dari suara dan
pandangan matanya.
Lie Song balas memandang. Ia melihat seorang gadis yang berusia paling banyak enam belas tahun,
berwajah cantik jelita, kecantikan yang sangat aneh dan berbeda dengan kecantikan wanita biasa. Mungkin
karena matanya yang lebar sekali itu atau rambut dan manik matanya yang hitam, atau mungkin suaranya
yang bernada lain dari pada suara gadis biasa.
“Apakah kau yang bernama Lilani?” tanya Lie Siong yang lebih heran dari pada tertarik melihat kecantikan
ini.
Gadis ini mengangguk. “Dan kau siapakah?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aku datang menolongmu untuk memenuhi pesanan ayahmu.”
Tiba-tiba saja gadis itu memegang lengan Siong kemudian bertanya dengan muka pucat, “Bagaimana
dengan Ayah? Di mana dia...?”
Benar-benar gadis yang amat aneh, pikir Lie Siong dengan hati tidak enak sebab merasa betapa telapak
tangan gadis itu dengan halus sudah memegang lengannya. Di mana ada seorang gadis yang belum
dikenalnya memegang lengan seorang pemuda begitu saja?
Ia menarik lengannya dan menggeleng kepala, lalu berkata singkat, “Kita pergi dulu dari tempat ini!”
Karena maklum bahwa gadis ini tidak memiliki kepandaian tinggi, dia segera memegang tangan Lilani dan
menariknya keluar dari kamar itu. Akan tetapi, baru saja dia keluar dari kamar ternyata bahwa gedung itu
telah penuh dengan perwira yang menghadang jalan keluarnya.
Para perwira dan penjaga dengan senjata tajam di tangan telah menyerbu masuk untuk menolong putera
Kepala Daerah. Ketika melihat pemuda baju putih itu bejalan sambil menggandeng tangan Lilani, mereka
berseru keras dan menyerang.
Bagi Lie Siong, tidak sukarlah menghadapi mereka itu dan mencari jalan keluar melalui jalan darah, akan
tetapi ia lalu teringat akan gadis itu. Kedatangannya bukanlah dengan maksud untuk mengamuk dan
mencari permusuhan dengan para perwira itu, akan tetapi khusus untuk menolong Lilani. Melihat para
perwira itu menyerbu, Lie Siong kemudian membalikkan tubuh dan menarik tangan Lilani memasuki kamar
itu kembali.
“Celaka, mereka mengejar kita!” kata Lilani akan tetapi gadis ini tidak nampak takut. “Kau pergilah, jangan
sampai kau menjadi korban karena menolongku. Aku sanggup melawan mereka dan sebelum aku mati,
pasti aku akan dapat membunuh seorang dua orang!”
“Bodoh!” kata Lie Siong.
Dia cepat bertindak ke arah jendela, lalu menjenguk keluar. Kamar ini berada di bagian terbelakang, maka
di luar jendela itu kosong dan di bawah jendela adalah air Sungai Yung-ting yang nampak kebiruan. Tidak
mungkin membawa gadis itu melompat keluar, karena tubuh mereka tentu akan terjatuh ke dalam air dan
dia tidak pandai berenang.
Sementara itu, suara kaki para pengejar telah semakin dekat sehingga Lie Siong merasa bingung juga.
Kemudian ia mendapat akal. Pedang Sin-liong-kiam dicabut dan tubuhnya tiba-tiba telah melayang naik
sambil memutar pedang itu pada langit-langit di atas kamar.
Terdengar suara keras dan langit-langit itu berlubang besar, sedangkan potongan kayu jatuh berhamburan
di dalam kamar itu. Lie Siong melompat turun kembali dan cepat dia menyambar tubuh gadis itu tanpa
banyak cakap lagi.
Ketika itu, para pengejar sudah tiba di depan kamar. Lie Siong menggunakan tangan kiri mengempit
pinggang Lilani yang ramping, lalu menyambar daun pintu yang sudah roboh ketika ditendangnya tadi.
Daun pintu yang berat itu dia lemparkan ke arah para penyerbu sehingga tiga orang terdepan menjadi
terjengkang tertimpa oleh daun pintu itu.
Kawan-kawannya di belakang mereka tertimpa pula, sehingga mereka menjadi tumpang tindih dan untuk
sesaat lamanya tak dapat melanjutkan pengejaran. Lie Siong pun cepat melompat naik sambil mengempit
Lilani.
Ketika para pengejar sampai di dalam kamar, ternyata bahwa dua orang muda itu sudah lenyap! Tidak
lama kemudian Kam Liong dan Gui Taijin datang pula, akan tetapi mereka tak dapat menemukan Lie Siong
mau pun Lilani. Sedangkan Gui Kongcu pun tak nampak bayangannya!
Sesungguhnya, dengan kepandaiannya yang sangat tinggi, Kam Liong tentu saja dapat mengejar Lie
Siong yang melarikan diri dari atas genteng. Akan tetapi panglima muda ini tidak mau melakukannya.
Pertama ia memang segan bermusuhan dengan Lie Siong yang gagah perkasa dan lihai itu. Kedua kalinya
dunia-kangouw.blogspot.com
dia tidak suka akan kebiasaan Gui Kongcu dan tidak mau membantu perbuatan jahat.
Dia tahu bahwa pendekar muda baju putih itu tentu mengambil jalan genteng, maka dia hanya
memberitahukan ini kepada para perwira yang segera melompat dan mengejar ke atas genteng. Namun
gerakan mereka tidak secepat Lie Siong.
Pada saat melihat para pengejarnya kacau-balau akibat serangannya dengan daun pintu tadi, Lie Siong
lalu melompat ke atas langit-langit yang telah berlubang. Dengan mudah dia menghancurkan genteng dari
bawah, lalu keluar dari lubang di genteng itu. Setelah berada di atas genteng, cepat dia melarikan diri,
berlompatan bagaikan seekor garuda putih terbang sehingga Lilani terpaksa meramkan mata saking
ngerinya melihat tubuhnya melayang-layang di atas genteng yang begitu tinggi.
Lie Siong membawa Lilani ke tepi sungai dan melihat perahu-perahu kecil para nelayan ditambatkan di
pinggir sungai, dia cepat melompat ke sebuah perahu kecil yang terbaik, memutuskan talinya dan segera
mendayung perahu itu ke tengah sungai.
“Hai...!” Pemilik perahu itu berteriak. “Hendak kau bawa kemana perahuku itu?”
Sementara itu, Lilani yang sudah berada di dalam perahu itu berkata, “Tidak baik mencuri perahu orang,
siapa tahu kalau-kalau nelayan miskin itu akan kehilangan sumber nafkah bagi keluarganya kalau perahu
ini kita bawa pergi.”
Lie Siong memandang kepada gadis itu dengan heran dan juga kagum. Ia tak menjawab, akan tetapi
merogoh buntalannya dan mengeluarkan sepotong emas murni. Pada waktu berangkat dia mendapat
bekal tiga puluh potong lebih emas murni seperti ini dari ibunya.
“Ini cukup?” tanyanya sambil memperlihatkan emas itu kepada Lilani.
Gadis ini memandang dengan mata terbelalak. Dia tahu akan nilai emas dan sepotong emas di tangan Lie
Siong ini kalau dijual dapat digunakan untuk membeli sedikitnya tiga atau empat buah perahu kecil seperti
ini.
“Terlalu banyak,” jawabnya, “sepertiga juga sudah cukup.”
Akan tetapi setelah mendengar jawaban ini, tanpa banyak cakap lagi dia lalu mengayun tangannya dan
melemparkan potongan emas itu ke arah orang yang berteriak-teriak tadi.
“Perahumu kubeli, inilah uangnya!” seru Lie Siong.
Ketika orang itu memungut potongan emas yang jatuh tepat di depannya, tentu saja dia menjadi girang
sekali. Karena itu berlari-larilah dia pulang sambil berjingkrak-jingkrak dan menari-nari karena merasa
mendapat keuntungan yang besar sekali.
Lie Siong membiarkan perahunya dihanyutkan oleh aliran air yang deras dan dia hanya mempergunakan
dayung untuk mengemudikan jalannya perahu. Sejak mereka duduk di dalam perahu, yaitu pada siang hari
tadi, sampai sekarang sudah hampir senja, mereka tak pernah bicara sepatah kata pun!
Lilani hanya duduk sambil menundukkan kepala, kadang-kadang memandang ke pinggir sungai dan hanya
sewaktu-waktu saja mengerling kepadanya. Gadis itu nampak susah, bingung dan juga malu-malu.
Akhirnya dia tidak dapat menahan lagi. Berada dekat seseorang yang sama sekali tidak pernah bicara,
tidak menengok kepadanya, dan tidak mempedulikannya, jauh lebih sunyi rasanya dari pada kalau dia
berada seorang diri tanpa kawan!
“Kita mau ke mana?” tanyanya sambil mengerling tajam ke arah pemuda yang angkuh dan tinggi hati itu.
“Ke mana saja air ini membawa perahu yang kita tumpangi,” Lie Siong menjawab tanpa memandang.
“Ke mana akan dibawanya?”
“Entahlah!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Lilani menarik napas panjang. Aneh dan sukar benar pemuda ini. Belum pernah selama hidupnya ia
menghadapi seorang pemuda seperti ini. Hampir setiap laki-laki yang pernah ditemuinya, baik pemuda
mau pun sudah tua, selalu akan memandangnya dengan mata bergairah, tersenyum-senyum dan segera
mengeluarkan ucapan-ucapan menggoda atau memuji.
Akan tetapi pemuda ini... menengok pun tidak, bahkan diam saja bagai patung! Sungguh hampir tak dapat
dipercaya bahwa wajah pemuda yang seelok dan setampan itu ternyata didamping oleh watak yang
demikian angkuh dan aneh.
“Kau telah menolongku dari bahaya maut...”
“Hal sekecil itu tak perlu dibicarakan,” Lie Siong memotong.
Lilani berpaling dan menggigit bibir. Alangkah sukarnya menghadapi orang ini, pikirnya.
“Bolehkah aku mengetahui namamu?”
“Aku she Lie dan namaku Siong.”
Lilani menarik napas lega. Sedikitnya pemuda ini tidak merahasiakan namanya. Akan tetapi ia masih
merasa penasaran karena dalam menjawab pertanyaannya, pemuda itu sama sekali belum mau
menengoknya, bahkan duduknya pun membelakanginya!
“Di manakah ayahku? Di mana dia?” tanya Lilani.
Tiba-tiba pemuda itu menarik napas panjang, lalu mendayung perahunya ke pinggir. Dia menghentikan
perahunya di tempat yang dangkal, lalu memutar tubuhnya, menghadapi gadis itu.
Ternyata bahwa Lie Siong bukan karena keangkuhannya semata maka dia tidak mau menengok gadis itu,
akan tetapi sebagian besar karena rasa terharu mengingat akan nasib gadis ini. Sebelum tewas orang tua
berbangsa Haimi itu mengatakan bahwa Lilani sudah menjadi yatim piatu, maka itu berarti bahwa ibu gadis
ini telah meninggal dunia pula.
Melihat sikap pemuda itu, wajah Lilani menjadi pucat kemudian mengulang pertanyaan lagi. “Katakanlah, di
mana dia?”
“Ayahmu telah tewas.”
Gadis itu tidak kelihatan terkejut, juga tidak menangis menjerit-jerit. Ia hanya meramkan kedua matanya
dengan kening berkerut. Akan tetapi, keadaannya ini lebih mengharukan hati Lie Siong yang mungkin tak
akan demikian terharu kalau melihat gadis itu menangis tersedu-sedu.
Lama mereka duduk berhadapan dalam keadaan demikian. Lilani duduk seperti patung, adapun Lie Siong
duduk memandangnya dengan penuh keharuan hati, akan tetapi tidak diperlihatkannya.
“Sudah kuduga...” Akhirnya Lilani dapat juga mengeluarkan kata-kata seperti berbisik.
Ketika ia membuka kembali matanya, selaput matanya menjadi merah, tanda bahwa dia telah
mengerahkan seluruh tenaga untuk menahan membanjirnya air mata. Betapa pun juga masih terlihat
beberapa titik air mata yang mengalir perlahan menuruni pipinya yang pucat.
“Tentu oleh anak buah keparat she Gui itu, bukan?”
Kata-kata ini merupakan pertanyaan dan tuntutan kepada Lie Siong untuk menceritakan semua peristiwa
yang terjadi, maka ia pun lalu menceritakannya tentang pertempurannya membantu Manako dan betapa
orang tua itu terbunuh oleh keroyokan para perwira.
Mendengar penuturan ini, gadis itu memandang ke arah awan yang bergerak perlahan di angkasa,
mengepal kedua tangannya yang kecil, menggigit bibirnya dan membiarkan air matanya mengalir turun
bagaikan sumber air kecil, lalu, berkata,
“Bangsaku dimusnahkan! Ibuku terbunuh, sekarang ayahku terbunuh pula! Terkutuklah manusia-manusia
dunia-kangouw.blogspot.com
berjiwa iblis itu...!”
Mendengar ucapan ini, Lie Siong merasa tertarik dan lalu ia minta gadis itu menuturkan riwayatnya. Dia
mulai merasa kagum melihat ketabahan hati gadis cantik ini, yang dapat menahan perasaannya sehingga
tak menangis menjerit-jerit seperti gadis-gadis lain yang tertimpa bencana sehebat itu.
“Benar-benarkah kau ingin mengetahui riwayat seorang yang rendah dan bodoh seperti aku, Taihiap?”
tanya Lilani sambil memandang melalui air matanya ketika ia mendengar permintaan Lie Siong.
“Tentu saja. Setelah ayahmu minta kepadaku untuk menolongmu, sudah sepatutnya aku mengetahui
keadaanmu supaya nanti aku dapat menetapkan apa yang selanjutnya harus kulakukan dengan kau.”
Lilani menghela napas, menghapus air matanya dengan ujung baju, kemudian dia mulai menuturkan
riwayatnya dengan singkat.
Lilani adalah puteri tunggal dari Manako, kepala suku bangsa Haimi yang terdiri tiga ratus orang suku
bangsa Haimi yang hidup berkelompok dan selalu berpindah-pindah. Manako adalah suami dari Meilani
dan suami-isteri ini hidup dengan rukun dan saling mencintai, memimpin bangsanya dengan penuh
keadilan dan ketenteraman.
Manako dan Meilani pernah tertolong oleh Pendekar Bodoh. Bahkan sebelum menikah dengan Manako,
antara Meilani dan Kwee An pernah terjadi hal yang amat lucu sehingga Kwee An hampir dipaksa menikah
dengan Meilani yang cantik jelita akan tetapi bergigi hitam itu! (Baca cerita Pendekar Bodoh).
Sesudah mereka berkenalan dengan pendekar-pendekar muda yang gagah perkasa ini, maka banyak
kemajuan yang diperoleh Meilani dan Manako, sehingga pada saat mereka memperoleh seorang puteri,
yaitu Lilani, gigi anak ini tidak dihitamkan seperti yang telah menjadi kebiasaan suku bangsa Haimi.
Manako dan Meilani melatih ilmu silat kepada puteri mereka itu dan mereka semua hidup penuh
kebahagiaan.
Akan tetapi, pada waktu Lilani berusia empat belas tahun, mala petaka besar menimpa keluarga suku
bangsa Haimi itu. Kelompok mereka terdesak oleh bangsa Mongol yang hendak menawan mereka untuk
dijadikan pekerja paksa sehingga setelah mengadakan perlawanan sengit dan kehilangan beberapa puluh
jiwa, mereka pun terpaksa melarikan diri ke selatan, keluar dari tapal batas Mongolia,.
Pada waktu itu, golongan yang lemah dan kecil tentu selalu tertindas dan terinjak oleh yang besar.
Sesudah mereka melalui tapal batas, mereka tidak menemui kebahagiaan, bahkan sepasukan tentara
kerajaan yang menjaga tapal batas itu, kemudian menyerbu mereka, membunuh yang laki-laki sambil
menculik yang wanita!
Pertempuran hebat terjadi. Manako dan Meilani melakukan perlawanan sekuat tenaga, bahkan Meilani
yang pernah menerima petunjuk-petunjuk ilmu silat dari Ma Hoa isteri Kwee An dan dari Lin Lin isteri
Pendekar Bodoh, lalu mengamuk bagaikan seekor naga betina. Juga Lilani yang baru berusia empat belas
tahun itu ikut pula memainkan pedang, membantu ibu dan ayahnya.
Akan tetapi kekuatan musuh terlampau besar dan akhirnya terpaksa Manako membawa Lilani melarikan
diri dengan hati hancur setelah melihat Meilani roboh tak bernyawa lagi di bawah tusukan banyak pedang
musuh! Kelompok suku bangsa Haimi hancur dan lari cerai berai. Banyak yang tewas atau tertawan, dan
ada pula yang mampu melarikan diri secara berpencaran.
Manako berhasil melarikan diri bersama puterinya, kemudian selama dua tahun lebih dia merantau
bersama Lilani, pindah dari satu kota ke lain kota. Akhirnya sampailah dia di kota Tatung dan tinggal di situ
bersama puterinya.
Dia tidak khawatir akan biaya hidupnya sehari-hari, karena ketika melarikan diri, ia masih menyimpan
berbagai barang dari emas, bahkan ia pun mempunyai sebatang golok yang seluruhnya terbuat dari pada
emas. Juga keamanannya terjamin, karena pada masa itu, hanya suku-suku bangsa kecil yang
berkelompok saja yang mendapatkan gangguan dan dicurigai. Akan tetapi kalau hanya satu dua orang saja
takkan mendapat gangguan dari siapa pun juga, asalkan taat akan peraturan-peraturan kota setempat.
Manako dan Lilani hidup berdua dengan hati menderita kesedihan, dan selalu mereka teringat akan
keadaan suku bangsanya yang sudah musnah, dan terutama sekali teringat akan Meilani yang gugur
dunia-kangouw.blogspot.com
dalam pertempuran itu. Akan tetapi apakah yang dapat mereka lakukan?
Lilani menjadi dewasa dan semakin cantik jelita seperti mendiang ibunya. Sudah biasa dikatakan orang
bahwa kecantikan dan kepandaian merupakan karunia dan berkah dari Thian Yang Maha Kuasa. Akan
tetapi bagi Manako dan Lilani, ternyata bahwa kecantikan Lilani bukan merupakan berkah bahkan
merupakan sebab bencana besar!
Ketika menyaksikan keindahan bentuk tubuh dan kemanisan wajah Lilani gadis Haimi itu, putera kepala
daerah she Gui menjadi tergerak hatinya. Dia lalu mengajukan pinangan kepada Manako untuk minta gadis
itu sebagai selirnya.
Manako adalah bekas kepala suku bangsa, dan betapa pun juga, dia boleh disebut raja kecil. Tentu saja
dia mempunyai keangkuhan dan mendengar pinangan ini, dia merasa terhina sekali. Mana ia sudi
memberikan puterinya yang tunggal untuk dijadikan selir oleh putera seorang Kepala Daerah?
Demikianlah, ia lalu menolak pinangan itu yang berakhir mala petaka besar baginya. Gui Kongcu merasa
sakit hati dan sebagaimana telah dituturkan di atas, akhirnya pemuda bangsawan jahanam ini lalu
melakukan kekerasan, membunuh Manako serta menculik Lilani!
Sesudah menuturkan riwayatnya, sambil menghela napas Lilani lalu berkata, “Dulu ibuku pernah
menceritakan kepadaku bahwa di antara orang-orang bangsa Han terdapat pula pendekar-pendekar
seperti Kwee An Enghiong dan Pendekar Bodoh, akan tetapi setelah menderita akibat kejahatan
bangsamu yang menjadi perwira-perwira kaisar kukira bahwa sekarang tidak ada lagi pendekar-pendekar
seperti itu! Ternyata sekarang, aku bertemu dengan engkau yang berbudi dan gagah perkasa. Ahhh, Lie
Taihiap, dengan jalan bagai manakah aku dapat membalas budimu yang besar ini?”
Lie Siong merasa kasihan sekali mendengar riwayat gadis ini.
“Apakah kau tidak mempunyai keluarga lain?”
Gadis itu menggeleng kepalanya dengan sedih.
“Tidak mempunyai sahabat-sahabat yang boleh kau tumpangi?”
Kembali Lilani menggelengkan kepalanya yang cantik sambil termenung. Lie Siong tidak dapat berkatakata
lagi, hanya duduk diam dengan hati bingung. Apakah yang harus dia lakukan? Bagaimana ia dapat
menolong gadis ini selanjutnya? Ia sendiri adalah seorang perantau, tidak mempunyai tempat tinggal yang
tetap.
“Dan... ke manakah tujuanmu? Kau hendak pergi ke manakah?” Lie Siong lalu bertanya perlahan.
Lilani yang sejak tadi dapat menahan kesedihan hatinya, ketika mendengar pertanyaan ini, hanya dapat
memandang dengan sinar mata amat mengharukan, lalu dia menangis tersedu-sedu! Ia menggunakan
kedua tangannya untuk menutupi mukanya dan air mata mengalir keluar dari celah-celah jari tangannya
sedangkan tubuhnya terisak-isak.
Lie Siong menjadi bingung, tidak tahu harus berbuat bagaimana. Selama hidupnya, baru kali ini ia merasa
bingung dan menghadapi perkara yang luar biasa sukarnya.
“Lilani, ayahmu berpesan kepadaku untuk menolongmu dari tangan jahanam she Gui itu. Aku sudah
melakukannya dan setelah kau kini bebas dan selamat, aku tidak tahu harus berbuat apa selanjutnya.
Ketahuilah, bahwa aku sendiri tidak mempunyai tempat tinggal, merantau seorang diri, juga tidak
mempunyai tujuan tertentu...”
Tiba-tiba Lilani menghentikan tangisnya, kemudian ia mengangkat mukanya memandang pemuda itu.
Sebelum bicara, beberapa kali dia menelan ludah karena tenggorokannya terasa seakan-akan terganjal
sesuatu.
“Lie Taihiap, aku maklum akan maksudmu. Tak perlu kau menyusahkan keadaanku dan janganlah aku
menjadi penghalang dari kebebasanmu. Aku tahu bahwa dengan adanya aku, kau tidak merasa senang,
tidak dapat bergerak bebas. Pertama karena aku seorang gadis, kedua karena aku lemah. Janganlah kau
menjadi bingung, Taihiap, juga jangan kau memikirkan aku lagi. Pergilah kau melanjutkan perjalananmu,
dunia-kangouw.blogspot.com
biar aku seorang diri di perahu ini sampai... sampai... entah ke mana saja perahu dan air sungai ini
membawa diriku!”
Lie Siong lalu berdiri dan merogoh buntalannya, lalu mengeluarkan sepuluh potong emas murni. Ia
memberikan benda berharga ini kepada Lilani dan berkata, “Kau cukup maklum akan keadaanku dan ini
sedikit bekal untuk biaya perjalananmu.”
Dengan air mata masih menitik turun, Lilani memandang tangan yang mengangsurkan potongan-potongan
emas itu. Ia menggelengkan kepala dan berkata tegas. “Taihiap, kau telah menolongku dan untuk itu saja
aku telah merasa amat berat serta tidak tahu harus membalas budimu dengan cara bagaimana. Oleh
karena itulah maka aku tidak berani memberatkan kau lagi, apa lagi menerima pemberianmu ini. Ahh,
tidak, aku tidak dapat menerima emas ini. Hidupku takkan lama lagi... untuk apakah benda itu...?”
Tertegun hati Lie Siong mendengar ucapan ini, akan tetapi ia pun tak mau banyak cakap, memasukkan
emas itu ke dalam buntalan kembali lalu ia melompat ke darat.
“Kalau begitu, selamat berpisah!” katanya lalu melompat pergi.
Lilani duduk di perahu dan memandang bayangan pemuda itu dengan lemas. Ia merasa seolah-olah
semangatnya telah melayang pergi meninggalkan tubuhnya. Merasa betapa seluruh perasaannya telah
terbawa pergi oleh pemuda yang gagah perkasa, tampan dan juga aneh serta amat pendiam itu.
Ia maklum bahwa hatinya telah terampas oleh kegagahan Lie Siong dan jantungnya telah tertembus oleh
sinar mata pemuda itu. Ia juga maklum bahwa tanpa adanya pemuda itu didekatnya, hidupnya tidak ada
artinya lagi. Bangsanya sudah musnah, ayah bundanya juga telah tewas.
Tadinya ia mempunyai cita-cita untuk membangun suku bangsanya, untuk menggantikan kedudukan
ayahnya kemudian bersama bangsanya, berjuang memperbaiki nasib. Akan tetapi kini semua itu lenyap,
lenyap bersama bayangan Lie Siong. Dengan Lie Siong di sampingnya, ia merasa pasti dan yakin bahwa
cita-citanya itu akan terlaksana.
Tanpa tertahan lagi dia lalu menjatuhkan mukanya di atas kedua telapak tangannya dan menangis dengan
hati terasa disayat-sayat. Dalam kesedihannya yang sangat hebat ini, terbayanglah wajah ibunya yang
cantik jelita dan teringatlah dia betapa ibunya pernah menuturkan kepadanya mengenai perhubungan
ibunya dengan seorang pendekar besar bernama Kwee An yang sekarang bertempat tinggal di Tiang-an.
Ibunya, Meilani, pernah menuturkan kepadanya betapa ibunya itu pun pernah jatuh hati kepada pendekar
itu.
Ahh, mengapa dia harus putus asa? Sahabat-sahabat baik ibunya masih banyak. Kalau saja dia dapat
mencari Kwee An dan Ma Hoa, atau Pendekar Bodoh dan Lin Lin, tentu mereka akan mau menolong,
menolong puteri tunggal Meilani!
Akan tetapi teringat akan kejahatan putera kepala daerah she Gui itu, hatinya menjadi gentar lagi. Banyak
sekali manusia-manusia jahat semacam pemuda she Gui itu di dunia ini! Ah, alangkah jauh bedanya
dengan Lie Siong pemuda yang sopan santun dan gagah perkasa itu. Pemuda yang sedikit pun tak mau
mengganggunya, jangankan mengganggu dirinya, bahkan menengok pun tidak. Agaknya dia bukan
seorang gadis cantik! Mungkin di dalam pandangan Lie Siong, dia hanyalah seorang perempuan yang
buruk rupa dan menjemukan!
Mengingat akan hal ini, kembali hatinya terasa bagai disayat-sayat sehingga air matanya mengucur makin
deras. Tiba-tiba saja ia mendengar suara yang halus datang di sebelah belakangnya.
“Lilani, sudahlah, jangan kau terlalu berduka.”
Seketika itu juga air matanya yang mengucur berhenti mengalir seakan-akan sumbernya tertutup rapat,
kedua matanya dibuka lebar-lebar dan dia cepat memutar lehernya untuk menengok. Ternyata bahwa Lie
Siong telah berdiri di darat sambil bertolak pinggang!
“Lie Taihiap…!” Dalam seruan ini terkandung kegirangan yang luar biasa sekali.
“Aku merasa tidak enak hati meninggalkan kau dalam keadaan begini.” kata pemuda itu sambil
mengerutkan kening seakan-akan tak puas akan kelemahannya sendiri. “Apa bila sampai terjadi sesuatu
dunia-kangouw.blogspot.com
dengan kau, maka akan sia-sialah usahaku membebaskan kau dari cengkeraman orang jahat, dan berarti
aku telah melanggar janji kepada ayahmu.”
“Taihiap... Thian Yang Agung telah mengirimmu kembali padaku...” Lilani berkata dengan bisikan terharu.
“Akan tetapi aku masih tidak tahu harus membawa kau ke mana, Lilani. Sekarang kau carilah tujuan
tertentu supaya aku dapat mengantarkan kau ke tempat yang aman, baru kemudian aku akan melanjutkan
perantauanku.”
“Taihiap, aku sudah mendapat pikiran pada saat kau pergi tadi. Aku teringat akan Kwee Lo-enghiong dan
Pendekar Bodoh. Kalau saja kau sudi mengantarkan aku sampai ke tempat tinggal mereka, aku akan
mendapat perlindungan yang sentosa. Budimu tak akan kulupakan selama hidupku, Taihiap.”
“Sudahlah, jangan bicarakan tentang budi,” kata Lie Siong yang segera masuk ke dalam perahu itu. “Aku
pernah mendengar bahwa Kwee Lo-enghiong tinggal di kota Tiang-an. Baiknya kita mengambil jalan
sungai ini sampai ke kota raja, kemudian kita menuju ke Tiang-an dengan jalan darat.”
Saking girang hatinya, Lilani tak menjawab, hanya mengangguk-angguk sambil menatap pemuda itu
dengan mata berseri. Lenyaplah segala kesedihannya, segala keraguannya. Dengan pemuda ini di
sampingnya, dunia seakan-akan menjadi lebih lebar dan terang, air Sungai Yang-ting pun seolah-olah
merupakan sutera kehijauan yang dibentangkan di depannya, bunyi riak air berdendang merdu dan ia
mendengar hatinya bernyanyi-nyanyi gembira!
Lie Siong tidak banyak bicara, hanya mendayung perahu itu dengan cepat ke tengah dan lajulah perahu itu
terbawa aliran air sungai, ditambah dengan tenaga dayung dari tangan Lie Siong yang kuat…..
********************
Kita tinggalkan dulu Lie Siong dan Lilani yang melakukan pelayaran dalam usaha mereka mencari tempat
tinggal Kwee An atau Pendekar Bodoh agar mendapatkan tempat tinggal dan tempat menumpang bagi
gadis itu. Marilah kita menengok keadaan Pendekar Bodoh Sie Cin Hai dan isterinya, Lin Lin, yang
melakukan perjalanan hingga perbatasan utara, bahkan memasuki daerah Mongol untuk mencari Ang I
Niocu!
Dengan hati dipenuhi keharuan dan kegelisahan Cin Hai dan Lin Lin hendak kembali ke selatan perbatasan
Mongol di mana dahulu Ang I Niocu dan Lin Lin pernah mengadakan perantauan. Mereka mencari
keterangan di sana-sini, mengadakan kunjungan ke banyak tempat dan pegunungan, akan tetapi hasilnya
sia-sia belaka.
Pada suatu hari, ketika dengan putus harapan Cin Hai serta Lin Lin hendak kembali ke selatan dan sampai
di dalam sebuah hutan, mereka mendengar orang bernyanyi dengan suara nyaring.
Ahh, kipas sial, kipas butut!
Apakah jasamu terhadapku?
Hanya mendatangkan nama besar yang kosong.
Menambah musuh menjauhkan sahabat.
Kau tidak mampu merenggut nyawaku.
Yang jemu dan telah lama terkurung.
Kau tetap hanya menghibur badan.
Mengusir hawa panas mendatangkan angin.
Ahh, kipas butut, kipas sial!
Hutan itu liar dan sunyi, maka tentu saja Cin Hai dan Lin Lin terheran-heran mendengar nyanyian ini,
karena selain kata-katanya amat aneh, juga suara itu nyaring sekali hingga menggema di seluruh hutan!
Suami isteri ini saling pandang dan cepat menghampiri arah datangnya suara. Mereka tertegun melihat
seorang kakek tua sekali tengah duduk di bawah sebatang pohon besar sambil memakai sebuah kipas
yang benar-benar sudah butut untuk mengipasi tubuhnya yang gemuk.
Pakaian kakek ini hampir telanjang tidak terurus dan tubuhnya sudah kotor penuh debu dan lumpur. Kalau
saja tidak melihat kipas yang terbuat dari pada kulit harimau itu tentu suami isteri pendekar ini tidak
mengenal orangnya. Cin Hai yang lebih dulu mengenalnya dan segera berseru keras,
dunia-kangouw.blogspot.com
“Swie Kiat Siansu! Locianpwe, mengapa kau berada di sini?” Dia kemudian menghampiri bersama
isterinya, dan menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.
Kakek tua renta yang gemuk itu memandang dengan bermalas-malasan, kemudian dia tertawa bergelak
dan memukul-mukul kepalanya dengan kipasnya.
“Ha-ha-ha! Pendekar Bodoh...! Agaknya Thian masih menaruh kasihan kepadaku maka di saat terakhir
masih dapat bertemu dengan engkau! Alangkah sempitnya dunia ini? Dan alangkah cepatnya sang waktu
berlari.” Ia memandang kepada Lin Lin dan berkata pula, “Agaknya kalian sedang menderita, akan tetapi
jangan ceritakan hal itu kepadaku, aku sudah cukup kenyang mendengar penderitaan manusia sehingga
menjadi bosan. Ehhh, Nyonya muda, coba kau buatkan masakan yang cocok untukku, nanti kuberikan
kipasku yang butut ini kepadamu.”
Lin Lin diam-diam merasa mendongkol bukan main. Untuk apa kipas butut itu baginya? Akan tetapi dengan
muka girang Cin Hai berkata kepadanya,
“Kau tangkaplah seekor kelinci dan panggang itu untuk Locianpwe.”
Lin Lin memandang kepada suaminya, akan tetapi karena ia telah percaya penuh kepada suaminya yang
sesungguhnya tidak bodoh itu, dia pun segera bangkit berdiri dan berlari memasuki hutan.
“Ha-ha-ha, Pendekar Bodoh, kau baik sekali. Berapa orangkah anakmu sekarang?”
“Dua orang, Locianpwe, seorang anak perempuan dan seorang lagi anak laki-laki. Putera teecu itu kini
sedang belajar di bawah asuhan Pok Pok Sianjin.”
Kembali kakek gemuk itu tertawa bergelak-gelak. “Bagus, bagus! Setan tua dari barat itu agaknya tak mau
mampus sambil membawa kepandaiannya yang akan membikin pusing saja di neraka! Baiklah, kalau
begitu, aku pun akan meninggalkan kipas ini untuk anakmu yang perempuan itu. Akan tetapi aku harus
makan dulu, telah dua pekan lebih aku tidak makan sama sekali!” Sambil berkata begitu, kakek gemuk ini
lalu menggunakan tangan kanannya untuk menekan tanah dan berpindah tempat duduk.
Terkejutlah Cin Hai ketika melihat bahwa kakek ini ternyata sedang menderita penyakit yang hebat sekali,
agaknya tangan dan kaki kirinya sudah lumpuh tak dapat digerakkan lagi! Sungguh mengherankan, dalam
keadaan demikian apa lagi ditambah dengan dua pekan tidak makan, kakek ini masih saja nampak gemuk
dan sehat!
“Maafkan, Locianpe. Apakah Locianpwe menderita sakit?”
Swie Kiat Siansu mengangguk-angguk sambil menghela napas. “Agaknya dosaku terlalu besar sehingga
sebelum mampus harus menderita lebih dulu. Setelah tua, darahku jalan terlampau cepat sehingga
memecahkan urat-urat syaraf dan membuat semua urat-urat di setengah tubuhku pecah-pecah. Akan
tetapi tidak apa, dalam keadaan sakit atau tidak, kematian akan datang juga akhirnya!”
Cin Hai lalu teringat akan keadaan orang tua ini pada belasan tahun yang lalu. Swie Kiat Siansu adalah
seorang di antara ‘empat besar’ yang menjagoi seluruh daratan Tiongkok. Pada masa itu, Bu Pun Su (guru
Cin Hai dan Lin Lin) dan Hok Peng Taisu (guru Ma Hoa) merupakan tokoh besar dari selatan dan timur,
ada pun Pok Pok Sianjin adalah tokoh dari barat. Tokoh dari utara yang paling terkenal adalah Swie Kiat
Siansu inilah!
Keempat orang ini, yakni Bu Pun Su, Hok Peng Taisu, Pok Pok Sianjin, dan Swie Kiat Siansu terkenal
sebagai empat besar dan kepandaian mereka sudah mencapai tingkat tertinggi hingga jarang bertemu
tandingan! Hanya sayang sekali bahwa Swie Kiat Siansu telah salah dalam memilih murid. Dua orang
muridnya yang bernama Thai Kek Losu dan Sian Kek Losu menjadi perwira-perwira Mongol dan berwatak
jahat sekali. Dulu Swie Kiat Siansu ini bersama Pok Pok Sianjin pernah mengadakan pibu (adu kepandaian
silat) di puncak Hoa-san menghadapi Hok Peng Taisu dan Bu Pun yang diwakili Pendekar Bodoh (bacalah
cerita Pendekar Bodoh).
Kini melihat keadaan orang tua ini, diam-diam Cin Hai menghela napas dan teringatlah ia bahwa ia sendiri
kelak tak akan terlepas dari pada pengaruh usia tua dan kematian. Akan tetapi, mendengar bahwa kakek
ini hendak menyerahkan kipasnya kepada puterinya, ia menjadi girang sekali. Menyerahkan senjata berarti
dunia-kangouw.blogspot.com
menyerahkan atau menurunkan ilmu silat, dan kipas kakek ini memang merupakan senjatanya yang paling
lihai dan yang telah membuat namanya menjadi terkenal sekali.
Tak lama kemudian, Lin Lin datang sambil membawa dua ekor kelinci putih yang gemuk. Ia tertawa manis
sekali dan berkata,
“Aku sengaja menangkap keduanya supaya pasangan ini tidak terpisah, biar pun sudah berpindah tempat
ke dalam perut!”
Swie Kiat Siansu tertawa bergelak, “Ha-ha-ha! Pantas saja kau dan suamimu Pendekar Bodoh ini dapat
hidup rukun dan damai, tidak tahunya kau dapat menghargai kesetiaan dan kecintaan! Lekas masak...
lekas masak... aku tidak tahan lagi menghadapi cacing-cacing perutku!”
Cin Hai segera membuat api dan setelah kedua kelinci itu disembelih serta dibersihkan, dagingnya
kemudian dipanggang. Tidak lama kemudian sudah tercium bau yang sedap dan menimbulkan selera.
Swie Kiat Siansu menahan air liurnya ketika tercium bau sedap ini olehnya.
“Aduh, cacing perutku makin menggeliat-geliat. Lekas bawa ke sini!”
Lin Lin tersenyum senang, karena ucapan ini secara tidak langsung menyatakan pujian atas pekerjaannya.
Wanita mana pun juga di dunia ini memiliki dua macam kesenangan yang sama, yaitu mendapat pujian
tentang kecantikannya atau kelezatan masakannya. Ia lalu membawa daging yang sudah merah dan
mengebulkan uap dan aroma kesedapan itu kepada Swie Kiat Siansu.
Kakek tua yang hanya dapat menggerakkan tangan kanannya itu cepat menerima daging itu dan makan
dengan amat lahapnya. Cin Hai dan Lin Lin memandang kagum karena biar pun daging itu baru saja keluar
dari api dan amat panas, akan tetapi kakek itu dapat memakannya demikian enak dan sekali-kali tidak
kelihatan kepanasan!
Tanpa menawarkan kepada Cin Hai dan Lin Lin yang terpaksa memandang saja sambil menelan ludah,
kakek itu makan terus dengan enak dan lahap sekali sampai lenyaplah daging dua ekor kelinci itu
berpindah ke dalam perutnya!
Swie Kiat Siansu kemudian menggunakan tangan kanannya yang masih penuh dengan minyak untuk
mengelus-elus perutnya yang gendut, lalu dia tertawa dan berkata,
“Ahh, yang senang saja kalian sepasang ketinci tinggal di dalam perutku!” ia tertawa lagi, kemudian
berkata. “Sayang tidak ada arak...”
“Jangan khawatir, Locianpwe, kebetulan teecu membawa bekal arak,” kata Cin Hai yang cepat
mengeluarkan seguci arak dari buntalannya.
Berserilah wajah kakek itu. “Bagus, bagus! Kau baik sekali! Ahh, benar-benar Thian telah memimpin kalian
suami isteri ke tempat ini untuk menyenangkan hatiku di saat terakhir ini dan untuk menerima warisan
dariku!”
Dia lalu minum arak itu dan nampak senang sekali. Tiap kali habis menenggak arak, dia menjulurkan lidah
dari mulut dan diputarnya lidah itu menghapus kedua bibirnya dengan puas sekali.
Lin Lin juga merasa girang ketika mendengar bahwa kakek itu hendak menurunkan ilmu silat dan
kepandaian memainkan senjata kipas itu kepada puterinya, maka ia pun bersiap sedia untuk memasak apa
saja yang dibutuhkan kakek ini.
Dua pekan lebih Cin Hai dengan tekun mempelajari ilmu silat tinggi dari Swie Kiat Siansu untuk kemudian
dipelajarkan kepada puterinya. Karena Cin Hai telah memiliki dasar ilmu silat tinggi serta mempunyai
pengertian dasar dan pokok segala macam ilmu silat, maka setelah memperhatikan dan mempelajari
selama dua pekan, dia sudah dapat menerima semua kepandaian itu.
Pada malam yang ke lima belas, setelah memberikan keterangan-keterangan terakhir dan memberikan
kipas itu kepada Cin Hai, Swie Kiat Siansu berkata puas, “Nah, kini bebaslah aku dari kipas sial dan butut
itu! Ehh, Nyonya muda, tolong kau panggangkan sepasang kelinci lagi untukku!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Baik, Locianpwe,” jawab Lin Lin yang selama itu selalu mengurus keperluan Swie Kiat Siansu yang
membawa mereka tinggal di sebuah goa di hutan itu.
Sesudah sepasang kelinci didapatkan dan dagingnya dimasak, kembali kakek itu makan dengan enaknya
dan menghabiskan persediaan arak milik Cin Hai yang tinggal seguci lagi. Sesudah makan kenyang, dia
lalu menjatuhkan tubuhnya terlentang di atas tanah, berkata, “Besok kalian boleh pergi!” dan sebentar
kemudian ia tidur mendengkur!
Cin Hai dan Lin Lin teringat akan Bu Pun Su, guru mereka yang juga memiliki adat yang sangat aneh
seperti kakek ini pula. Dengan perlahan mereka lalu keluar dari goa itu dan makan buah-buahan yang
dikumpulkan oleh Lin Lin.
“Besok kita disuruh pergi,” kata Cin Hai. “Karena Ang I Niocu tidak ada kabarnya, lebih baik kita kembali
mencari anak kita dan mampir di Beng-san menengok putera kita.”
Teringat akan puteri mereka, Sie Hong Li atau Lili yang terculik oleh Bouw Hun Ti, Lin Lin tiba-tiba kembali
merasa berduka sekali dan menunda makannya, memandang dengan mata melamun ke tempat jauh.
Nampak dua titik air mata perlahan-lahan mengalir turun membasahi pipinya.
“Isteriku, janganlah kau berduka. Percayalah bahwa Thian pasti akan melindungi Lili,” Cin Hai menghibur
sambil menepuk-nepuk pundak isterinya. Mendengar hiburan ini, Lin Lin merasa semakin terharu dan sedih
sehingga ia lalu menangis terisak sambil menjatuhkan kepalanya di atas pundak suaminya.
Cin Hai membiarkan saja karena untuk melepaskan kedukaan, memang tidak ada yang lebih baik dari
pada tangis dan air mata. Karena besok pagi mereka harus pergi, maka sekali lagi Cin Hai menghafalkan
dan melatih ilmu silat yang diturunkan oleh Swie Kiat Siansu.
Malam itu mereka berada di luar goa dan melatih ilmu silat dengan amat rajinnya. Dasar suami isteri ini
memang gemar sekali akan ilmu silat, maka berlatih semalam penuh di bawah sinar bulan itu merupakan
hiburan yang sangat baik bagi kedukaan hati mereka akibat lenyapnya puteri mereka.
Akan tetapi, alangkah kagetnya sepasang suami isteri ini ketika pada keesokan harinya mereka memasuki
goa tempat tinggal Swie Kiat Siansu, mereka mendapatkan kakek itu telah menggeletak tak bergerak dan
tak bernapas lagi! Ternyata setelah makan kenyang dan tidur, kakek yang usianya sudah seratus lebih dan
yang terserang penyakit berat ini telah menghembuskan napas terakhir, hal yang sudah lama dinantinantinya!
Dengan penuh penghormatan, Cin Hai dan isterinya lalu mengurus jenazah itu, menggali tanah dan
mengubur jenazah itu sebagaimana mestinya. Mereka bersembahyang secara sederhana, menunda
keberangkatan mereka sampai pada keesokan harinya lagi untuk memberi penghormatan terakhir. Kalau
kiranya manusia mati masih mempunyai roh, dan apa bila rohnya ini pandai melihat dan berpikir, maka roh
Swie Kiat Siansu tentu akan merasa berterima kasih sekali melihat sepasang suami isteri ini.
Baru pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Cin Hai dan isterinya meninggalkan tempat itu dan langsung
menuju ke selatan. Di sepanjang jalan tiada hentinya mereka berdua mencari keterangan dan menyelidiki
tentang Ang I Niocu dan juga tentang Bouw Hun Ti.
Tanpa mendengar sesuatu pun keterangan tentang kedua orang yang dicari-carinya itu, akhirnya mereka
sampai di Beng-san dan mendaki gunung itu dengan cepat.
Baru saja mereka berdua tiba di lereng gunung, tiba-tiba terdengar suara yang nyaring memanggil mereka.
“Ayah... lbu...!”
Cin Hai dan Lin Lin cepat menengok dengan wajah berubah, dan alangkah kaget, heran serta girang hati
mereka ketika melihat di atas sebuah puncak berdiri Lili bersama Hong Beng dan seorang anak laki-laki
lain lagi!
Lin Lin berlari seperti terbang cepatnya ke arah anaknya itu sambil menangis. Cin Hai juga berlari mengejar
isterinya, akan tetapi kali ini dia kalah cepat! Kegirangan agaknya sudah membuat nyonya muda itu
seakan-akan terbang saja dan ilmu berlari cepatnya mendadak menjadi makin hebat.
Juga Lili dan Hong Beng berlarian turun dari puncak. Sesudah saling berhadapan, Lin Lin lalu menubruk
dunia-kangouw.blogspot.com
Lili sambil mencium anaknya itu dan menangis tersedu-sedu.
“Lili... Lili... anak nakal... kau selamat, Nak?” dengan megap-megap Lin Lin bertanya.
Lili juga menangis saking girangnya dan mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian dia menengok
kepada ayahnya yang juga sudah datang ke situ lalu tersenyum!
“Ayah dan Ibu tidak marah...?” tanyanya.
“Mengapa marah? Tidak, anakku, tidak!” jawab Cin Hai.
“Mengapa Kongkong tidak ikut datang?” tanya lagi Lili dan mendengar pertanyaan ini, Lin Lin tiba-tiba
menangis lagi.
Hong Beng maju mendekati ibunya dan melihat ibunya menangis sedih sekali ini, dia lalu menyentuh
pundak ibunya yang masih berlutut memeluk Lili. “Ibu, apakah yang terjadi dengan Kongkong?”
Oleh karena Lin Lin tidak dapat menjawab, Cin Hai kemudian maju dan berkata tenang, “Kongkong-mu
sudah ditewaskan oleh orang-orang yang menculik Lili. Karena itu kalian belajarlah baik-baik agar kelak
dapat mencari musuh besar ini.”
Lili yang sangat sayang kepada engkong-nya, menjerit keras ketika mendengar berita ini. “Apa...?!” Ia
memandang kepada ayahnya dengan mata bernyala. “Engkong di... dibunuh oleh bangsat itu...?”
Ketika Cin Hai menganggukkan kepalanya, Lili merangkul ibunya dan menangis keras. Ada pun Hong
Beng yang juga sangat sayang kepada kongkong-nya itu, berdiri dengan muka muram. Pemuda cilik ini
mengepal tinju dan membanting-banting kakinya sambil berkata perlahan,
“Jahanam...! Jahanam...!” Akan tetapi ia tidak mengeluarkan air mata.
Diam-diam Cin Hai menjadi bangga melihat ketenangan dan kekuatan hati puteranya ini, maka dia lalu
menarik tangan Lili, mendekapnya dan berkata halus,
“Lili, lihat kakakmu itu. Kau tidak boleh berhati lemah dan menangis seperti seorang anak cengeng!
Kewajibanmulah untuk kelak membalas sakit hati kongkong-mu.”
Mendengar ucapan ayahnya ini, bangkitlah semangat Lili dan dengan muka masih basah oleh air mata ia
berkata, “Ayah, aku bersumpah untuk mencari keparat Bouw Hun Ti dan menghancurkan kepalanya!”
Lin Lin juga sudah dapat menguasai keharuan hatinya dan nyonya muda ini lalu teringat kepada pemuda
cilik yang tadi bersama kedua anaknya. Ternyata pemuda itu masih berdiri tidak jauh dari mereka dan
hanya berdiam saja sambil memandang dengan mata berduka.
Anak ini adalah Thio Kam Seng, anak yatim piatu yang menjadi murid Sin-kai Lo Sian atau kini menjadi
suheng dari Lili. Melihat betapa Lili dan Hong Beng berjumpa kembali dengan kedua orang tua mereka,
hatinya menjadi perih dan teringatlah ia akan nasibnya sendiri yang sudah ditinggal mati oleh ayah ibunya.
“Ehh, anak itu siapakah?” tanya Lin Lin kepada Lili.
Baru Lili teringat kepada suheng-nya ini dan dia lalu melambaikan tangan kepadanya.
“Lili, siapakah kedua orang gagah ini?”
“Kam Seng, kau kesinilah bertemu dengan ayah bundaku!”
Dengan malu-malu Kam Seng lalu bertindak maju dan memberi hormat sambil menjura kepada Cin Hai
dan Lin Lin.
“Dia bernama Thio Kam Seng, murid dari Suhu,” kata Lili.
“Suhu? Siapakah Suhu-mu?” tanya Cin Hai terheran.
dunia-kangouw.blogspot.com
Lili lalu menceritakan pengalamannya semenjak dia diculik oleh Bouw Hun Ti, kemudian tertolong oleh Sinkai
Lo Sian dan dibawa ke atas Gunung Beng-san ini dan kemudian dilatih oleh Mo-kai Nyo Tiang Le,
suheng dari Lo Sian atau supek mereka.
Cin Hai dan Lin Lin merasa girang sekali mendengar penuturan ini dan mereka sangat berterima kasih
kepada Sin-kai Lo Sian, pengemis sakti yang namanya sudah pernah mereka dengar itu.
“Sekarang di mana dia, penolong dan suhu-mu itu? Kami harus bertemu dengan dia untuk menghaturkan
terima kasih,” kata Lin Lin.
“Dia sudah turun gunung, Ibu. Katanya hendak pergi ke Shaning untuk mencari Ayah dan Ibu, melaporkan
keadaanku yang sudah tertolong.”
Pada waktu itu, dari puncak gunung nampak bayangan orang yang cepat sekali berlari mendatangi.
“Nah, itu dia Supek datang!” kata Kam Seng ketika melihat bayangan itu.
Cin Hai dan Lin Lin cepat-cepat menengok. Mereka melihat seorang yang berpakaian sebagai pengemis
datang berlari cepat sekali dari atas.
Mo-kai Nyo Tiang Le biar pun sudah sering kali mendengar nama Pendekar Bodoh akan tetapi belum
pernah bertemu muka, maka ia tidak mengenal siapa adanya dua orang itu. Dari atas, dia tadi melihat
seorang laki-laki dan seorang wanita bercakap-cakap dengan tiga orang anak itu, maka cepat ia
menghampiri karena ia berkhawatir kalau-kalau kedua orang itu adalah orang-orang jahat. Pada saat
melihat dua orang itu bersikap gagah dan berwajah elok, ia lalu bertanya kepada Lili,
“Lili, siapakah kedua orang gagah ini?”
“Supek, mereka ini adalah ayah bundaku!” kata Lili dengan girang dan tersenyum, sama sekali lenyap rasa
dukanya yang tadi! Memang watak gadis cilik ini benar-benar sama dengan ibunya.
Mo-kai Nyo Tiang Le terkejut sekali mendengar pengakuan ini. Dia memandang dengan penuh perhatian
kepada Cin Hai yang sementara itu bersama isterinya sudah menjura kepadanya untuk memberi hormat.
“Ahh, jadi kau ini adalah Pendekar Bodoh yang bernama Sie Cin Hai? Maaf, maaf! Aku tak mengenal orang
pandai!” Nyo Tiang Le cepat menjura dan membalas penghormatan itu.
“Nyo Loheng (Saudara Tua Nyo) terlalu sungkan!” jawab Cin Hai merendah. “Sebetulnya justru kami
berdua yang harus menghaturkan banyak terima kasih atas kebaikan hatimu, terutama sekali kepada
adikmu yang sudah menolong jiwa puteri kami. Mudah-mudahan saja budi ini akan terbalas oleh Thian apa
bila kami tiada kesempatan untuk membalas semuanya.”
Mo-kai Nyo Tiang Le tertawa terbahak-bahak dengan gembira sekali, sehingga Lili dan Kam Seng
memandang dengan heran karena jarang mereka menyaksikan supek mereka ini sedemikian gembiranya.
“Pendekar Bodoh, kau seperti anak kecil saja!” kata Pengemis Iblis Mo-kai Nyo Tiang Le setelah tertawa
bergelak. “Di antara kita masih perlukah bicara tentang budi? Sekarang Lili telah bertemu dengan kalian,
suami isteri pendekar yang kepandaiannya tinggi sekali, maka sudah cukup lama kiranya aku tinggal di
tempat ini mengganggu Pok Pok Sianjin! Lili, yang baik-baiklah kau belajar ilmu kepandaian supaya kelak
jangan sampai terculik orang lagi. Ha-ha-ha-ha! Kam Seng, kau ikutlah padaku turun gunung!” Setelah
berkata demikian, Mo-kai menyambar lengan tangan Kam Seng dan berlari pergi dari situ dengan cepat.
Lili tertegun menyaksikan sikap ini, akan tetapi Cin Hai hanya tersenyum saja kemudian berkata, “Memang
orang-orang kang-ouw selalu mempunyai watak yang sangat aneh. Kita harus catat nama Mo-kai Nyo
Tiang Le itu sebagai seorang sahabat baik. Marilah kita naik ke puncak untuk menghadap Pok Pok
Sianjin!”
Mereka beramai-ramai lalu pergi ke atas puncak dan menghadap Pok Pok Sianjin yang menerima
kedatangan mereka dengan girang.
“Pendekar Bodoh, kebetulan sekali kau dan isterimu sudah datang! Apakah kalian telah bertemu dengan
Sin-kai Lo Sian?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah memberi hormat, Cin Hai menjawab, “Belum, Locianpwe.” Ia lalu menceritakan perjalanannya
mencari Lili, dan betapa mereka bertemu pula dengan Swie Kiat Siansu yang meninggal dunia karena
penyakit dan usia tua.
Pok Pok Sianjin menarik napas panjang. “Ahh, semua kawan-kawan telah meninggalkan aku! Mereka
sudah bebas dan senang! Tinggal aku seorang tua bangka yang harus mengalami penderitaan entah
berapa tahun lagi.”
Cin Hai dan Lin Lin tidak lama tinggal di tempat itu, hanya tiga hari, ini pun karena Hong Beng selalu
menahan mereka. Akhirnya mereka pun turun gunung bersama Lili, setelah memesan kepada Hong Beng
untuk belajar ilmu dari Pok Pok Sianjin dengan giat dan rajin.
Pemuda cilik ini diam-diam merasa sangat kesepian sesudah adik perempuannya turun gunung mengikuti
ayah ibunya. Akan tetapi Hong Beng memang seorang pemuda yang pendiam dan selain berwatak tenang,
dia juga memiliki kekuatan batin yang cukup tabah. Kesunyiannya ini lalu dia tutup dengan ketekunannya
belajar ilmu silat sehingga Pok Pok Sianjin merasa makin gembira menurunkan ilmu-ilmunya kepada
pemuda yang berbakat ini.
Demikianlah, apa bila Sie Hong Beng dengan rajin mempelajari ilmu silat dari Pok Pok Sianjin, Lili juga
menerima latihan ilmu silat tinggi dari ayahnya, bahkan ia menerima pula Ilmu Silat Kipas Maut yang
diwariskan oleh Swie Kiat Siansu untuknya. Walau pun Lili memiliki watak yang lincah dan tidak dapat
tekun belajar, akan tetapi apa bila dia teringat akan kematian kakeknya, dia lalu mengerahkan
semangatnya dan mempelajari ilmu silat dengan giatnya sehingga ayah bundanya merasa girang juga
melihat perubahan ini…..
********************
Seperti telah dikatakan oleh Swie Kiat Siansu, waktu memang berlari sangat pesatnya. Hari berganti hari,
bulan berganti bulan, tahun terbang berlalu dengan cepatnya sehingga kita sendiri tidak merasakan
sesuatu, tahu-tahu usia selalu bertambah tua!
Memang aneh kalau direnungkan. Apa bila kita memperhatikan jalannya waktu, jangan kata setahun,
sebulan atau pun sehari, baru satu jam saja kalau kita menanti datangnya sesuatu, maka nampaknya amat
lama. Akan tetapi siapakah orangnya yang setiap saat memperhatikan jalannya waktu?
Kita semua tidak merasa dan sungguh pun masa kanak-kanak kadang kala masih suka terbayang di depan
mata, peristiwa yang terjadi belasan tahun yang lalu masih terbayang nyata, namun kalau dihitung-hitung
kita telah menjadi makin tua. Belasan tahun itu kalau tidak kita rasakan, tahu-tahu telah lewat bagaikan
baru kemarin saja!
Siapa bilang kalau hidup ini lama? Memang benarlah kata para pujangga bahwa hidup yang singkat ini
harus kita isi dengan perbuatan-perbuatan yang berguna agar kita tidak menyesal kalau sudah terlambat!
Tak terasa lagi, sepuluh tahun telah berlalu cepat semenjak terjadinya peristiwa di atas. Telah sepuluh
tahun anak-anak itu belajar ilmu silat dengan rajinnya. Lili sudah berusia delapan belas tahun dan dia kini
menjadi seorang gadis yang amat cantik jelita berwatak gembira dan suka tertawa. Matanya kocak dan
selalu berseri, bibirnya selalu tersenyum manis, gerakannya lincah sekali dan pendek kata, ia sama benar
dengan ibunya, Lin Lin, pada waktu muda!
“Kalau aku melihat anak kita, aku teringat kepada dara yang bernama Lin Lin!” kata Cin Hai sambil
menengok kepada isterinya yang duduk di dekatnya.
Lin Lin yang biar pun sudah berusia hampir empat puluh tahun tapi masih nampak cantik itu, mengerling
sambil cemberut manja.
“Ah, kau ini memang tukang memuji! Lili memang hampir sama dengan aku, akan tetapi, siapa bilang dia
cantik? Ibunya buruk rupa, bagaimana anaknya bisa cantik?”
Cin Hai tertawa karena dia sudah maklum sekali bahwa isterinya ini biar pun di mulutnya mengomel akan
tetapi di dalam hatinya merasa girang sekali. Mereka duduk di kebun belakang memandang Lili yang
sedang berlatih ilmu silat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Lin Lin memandang kagum lalu menghela napas. “Betapa pun juga, ada satu hal yang menyusahkan
hatiku. Dia sudah berusia delapan belas tahun, akan tetapi bertunangan pun belum! Sampai usia
berapakah dia kelak menikah?”
“Hal itu tak perlu tergesa-gesa,” jawab suaminya dengan tenang, “ia cantik jelita dan ilmu silatnya tinggi,
harus mendapat jodoh yang sesuai!”
Lin Lin mengangguk-anggukkan kepalanya. “Memang, satu hal sudah pasti bahwa ketika aku masih gadis,
ilmu silatku tidak setinggi tingkat kepandaiannya. Lihat betapa indahnya gerakan Sian-li San-hwa (Bidadari
Menyebar Bunga) yang dia mainkan itu!”
Cin Hai memandang lagi ke arah Lili yang masih bersilat. Memang, gadis itu kini sedang melatih Ilmu Silat
Sianli Utauw (Ilmu Silat Bidadari) yang sangat indah dan cepat, dan gerakan Sian-li San-hwa adalah
sebuah di antara tipu-tipu ilmu silat ini. Melihat gerakan puterinya itu, Cin Hai menjadi kagum dan diamdiam
ia lalu membandingkan puterinya ini dengan Ang I Niocu dan Lin Lin.
Anak gadisnya ini sungguh mengagumkan sekali, dan pikiran Cin Hai mulai mencari-cari pemuda manakah
gerangan yang patut menjadi menantunya. Dia merasa puas dengan ikatan jodoh antara puteranya, Hong
Beng, dengan Goat Lan, puteri dari Kwee An. Akan tetapi untuk Lili, dia belum dapat memilih seorang
calon menantu yang cukup sesuai dan cocok.
Sementara itu, Lili sudah menghentikan permainannya dan seperti merasa bahwa kedua orang tuanya
sedang memandangnya dan membicarakannya. Dia segera menengok dan berlari-lari menghampiri ayah
ibunya. Dengan sikap manja dia lalu duduk di dekat ibunya sambil memeluk pundak Lin Lin yang
menggunakan sapu tangannya untuk menghapus peluh yang membasahi jidat dan leher puterinya dengan
penuh kasih sayang.
“Ibu, sekarang kau dan Ayah harus memberi perkenan padaku untuk pergi mengunjungi Enci Goat Lan,
dan aku ingin sekali melakukan perjalanan seorang diri.”
“Tak baik bagi seorang gadis muda untuk melakukan perjalanan seorang diri,” kata Cin Hai.
Lili merengut. “Ahhh…, Ayah selalu berkata demikian untuk mencegah keinginan hatiku. Bukankah Ayah
dan lbu sering bercerita betapa Ibu dulu juga sering kali pergi merantau menambah pengalaman? Lagi
pula, aku bukan seorang anak kecil lagi, bukan seorang gadis muda yang masih bodoh, usiaku sudah
delapan belas tahun, Ayah!”
Cin Hai memandang dengan muka bersungguh-sungguh. “Lili, dahulu itu lain lagi, karena keadaan negara
tidak sekacau ini. Orang jahat dahulu tidak sebanyak sekarang. Pula, ayah dan ibumu dahulu telah banyak
membasmi penjahat sehingga banyak orang-orang jahat memusuhi kita. Kalau mereka tahu bahwa kau
adalah anakku, mereka pasti akan turun tangan dan mengganggumu.”
Lili berdiri dan dengan sikap menantang berkata keras, “Aku tidak takut! Aku bukan puteri ayah dan ibu,
bukan anak Pendekar Bodoh dan cucu murid Pendekar Sakti Bu Pun Su kalau aku takut! Ayah, apa
perlunya aku semenjak kecil mempelajari segala macam ilmu silat itu tanpa mengenal lelah kalau sekarang
aku takut mendengar tentang orang-orang jahat? Bukankah ayah sendiri sering berkata bahwa kepandaian
yang kupelajari dengan susah payah tidak akan ada artinya apa bila tidak dipergunakan demi kepentingan
orang banyak? Seorang ahli silat yang tidak mengulurkan tangan menggunakan kepandaiannya menolong
orang tertindas, bukanlah pendekar namanya!”
Cin Hai tersenyum. Ia merasa betapa puterinya yang cerdik ini sering kali menggunakan ujar-ujar dan
pelajaran yang ia berikan untuk melawan dia sendiri!
“Sudah, bicara dengan kau takkan ada orang yang bisa menang! Kalau kau hanya rindu kepada calon
Soso-mu (Kakak Iparmu) Goat Lan, tunggulah beberapa hari lagi, nanti kita bertiga dapat melakukan
perjalanan ke sana.”
Lili makin cemberut. “Tidak, aku ingin pergi seorang diri, bebas seperti burung di udara. Aku ingin merantau
menambah pengalaman, ingin menggunakan kepandaian yang telah kupelajari untuk menolong orangorang
lemah yang tertindas. Di samping itu, aku ingin mencari si jahanam Bouw Hun Ti untuk membalas
perhitungan lama! Kalau Ayah tidak boleh, aku... aku akan minggat!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Cin Hai melongo dan Lin Lin segera memegang tangan puterinya.
“Hussh, Lili! Jangan kau berkata begitu!”
Lili memandang pada ibunya dan matanya berseri nakal ketika ia berkata mengingatkan, “Ibu, apakah kau
sudah lupa bahwa kau dulu pernah minggat pada malam hari bersama Ang I Niocu? Ibu sendiri yang
menceritakan hal itu kepadaku!”
Lin Lin tidak dapat menjawab, hanya memandang kepada suaminya dengan bohwat (tak berdaya).
“Lili,” kata Cin Hai menolong isterinya, “Ibumu lain lagi. Ketika itu ibumu bercita-cita untuk menyusulku
dalam usaha untuk membalas dendam terhadap musuh-musuh yang sudah membasmi keluarga ibumu.”
“Apa bedanya? Sekarang pun aku hendak pergi untuk membalas dendam pada keparat Bouw Hun Ti!”
Kemudian, dara yang manja ini lalu membanting kaki dengan muka merah dan berkata, “Ahh, sudahlah!
Ibu dan Ayah tidak sayang kepadaku! Tidak ingin melihat aku senang. Kalau Beng-ko lain lagi, ia anak lakilaki,
dicinta dan dimanja, semenjak kecil ikut berguru di Beng-san dan boleh merantau sesuka hatinya!
Ahh, aku ingin menjadi seorang anak laki-laki saja!”
Cin Hai dan Lin Lin saling pandang dengan bengong. Celaka dua belas, pikir Cin Hai di dalam hatinya.
Anak ini lebih keras kepala dari pada ibunya! Akan tetapi Lin Lin berpikir lain lagi. Hebat, bisik hatinya, anak
ini bahkan lebih gagah dan bersemangat dari pada ayahnya!
“Sudahlah, Lili, kau jangan marah-marah seperti kucing terinjak buntutnya!” kata Cin Hai. “Baiklah, kami
akan merundingkan hal ini.”
Setelah Lili kembali ke dalam kamarnya, suami isteri ini masih duduk di tempat itu.
“Bagaimana baiknya?” bertanya Lin Lin dengan hati gelisah “Bila dia memaksa dan pergi, apakah kiranya
tidak berbahaya?”
“Berbahaya sih tidak,” suaminya menjawab setelah berpikir keras. “Kepandaian Lili sudah lebih dari cukup,
bahkan kiranya tidak di sebelah bawah tingkat kepandaian Ang I Niocu ketika dia merantau dahulu. Tak
mudah anak kita itu dirobohkan lawan. Akan tetapi, kau tahu sendiri akan bahayanya perantauan di dunia
kang-ouw. Tak hanya kepandaian silat tinggi saja yang mampu menjaga keselamatan tubuh. Banyak akalakal
busuk yang jauh lebih berbahaya dari pada kepandaian silat lawan.”
“Kalau begitu, kita harus melarangnya pergi!” kata Lin Lin cepat dan penuh kekuatiran.
Pendekar Bodoh menggelengkan kepalanya. “Melarang pun tidak benar. Anak itu bahkan lebih keras
kepala dari pada engkau!”
“Hmm, jadi aku keras kepala, ya? Kenapa kau dulu suka padaku yang keras kepala ini?”
Cin Hai tertawa. “Justeru kekerasan kepalamu itulah yang membuat aku suka kepadamu. Sudahlah,
jangan kita bercekcok karena urusan ini. Kita berdua sudah cukup tua, bukan anak-anak lagi.”
“Kau yang mulai!”
“Sebaiknya begini saja. Mulai kini kita memberi pelajaran baru kepada Lili, membeberkan semua rahasia
penjahat-penjahat di dunia kang-ouw supaya matanya terbuka terhadap tipu-tipu muslihat yang keji. Kalau
dia sudah tahu akan segala hal itu, barulah kita dapat memberi perkenan kepadanya untuk pergi merantau
dengan dibatasi waktunya. Pergi ke Tiang-an takkan lebih dari dua bulan pulang pergi, dan kalau memberi
waktu tiga atau empat bulan saja, tentu dia tidak akan berani pergi terlalu jauh.”
Karena tidak dapat mencari jalan lain yang lebih baik, terpaksa Lin Lin pun menyatakan persetujuannya. Lili
merasa girang sekali ketika mendengar keputusan orang tuanya ini. Dia segera menyatakan
kesanggupannya untuk mempelajari semua tipu-tipu busuk dari orang-orang golongan hek-to (jalan hitam,
yaitu para penjahat).
Sampai hampir dua pekan dia menerima wejangan dan nasehat, memperhatikan semua cerita dari ayah
dunia-kangouw.blogspot.com
bundanya tentang kekejaman orang-orang jahat. Ia lalu mempelajari pula peta perjalanannya, yaitu dari
Shaning di Propinsi An-hui tempat tinggal mereka, melalui Propinsi Honan kemudian memasuki Propinsi
Hopei menuju ke Tiang-an yang terletak di sebelah utara Sungai Huang-ho.
Lin Lin yang amat sayang pada puterinya itu memberi bekal yang cukup banyak, sambil tiada hentinya
memberi nasehat-nasehat supaya dara itu berlaku hati-hati. Seekor kuda yang sangat kuat dan baik
menjadi tunggangan Lili.
Gadis itu membawa bungkusan besar berisi pakaian, uang, bahkan juga obat-obat untuk menjaga diri.
Pedang Liong-coan-kiam pemberian ayahnya tergantung di pinggangnya. Bajunya berkembang-kembang
merah dengan pinggiran biru, celananya putih bersih dari sutera mahal, sepatunya berkembang hingga dia
nampak cantik jelita dan gagah sekali. Kedua orang tuanya memandang dengan bangga ketika mereka
melihat puteri mereka duduk di atas kuda bulu putih dengan sikap demikian gagahnya.
“Ayah, Ibu, aku berangkat!” katanya sekali lagi setelah duduk di atas kudanya.
“Hati-hatilah di perjalananmu,” kata Cin Hai.
“Sampaikan salam kami kepada Kwee-pekhu sekeluarga,” pesan Lin Lin.
Kemudian berangkatlah Lili. Dia membalapkan kudanya yang kuat itu keluar dari Shaning lalu langsung
menuju ke utara. Ia merasa gembira sekali, wajahnya yang manis tampak berseri-seri, sepasang matanya
bersinar gemilang. Ia benar-benar merasa seperti seekor burung yang terbang bebas merdeka di angkasa
raya.
Apakah ia akan langsung menuju ke Tiang-an sebagaimana yang berkali-kali dipesankan oleh ayah
ibunya? Ah, tidak! Dia bukan Lili yang nakal kalau ia menurut nasehat orang tuanya dan langsung menuju
ke tempat tinggal pekhu-nya (uwaknya) di Tiang-an. Tidak, maksud tujuannya dengan perantauannya ini
sebenarnya adalah untuk mencari musuh besarnya, Bouw Hun Ti! Pergi mengunjungi Goat Lan di Tiang-an
hanya menjadi alasan saja yang dipergunakan di hadapan orang tuanya agar ia diperbolehkan pergi!
Oleh karena inilah maka dia segera membelok ke barat setelah keluar dari kota Shaning! Bukan Tiang-an
yang ditujunya, melainkan Tong-sin-bun, dusun tempat tinggal Ban Sai Cinjin! Ia hendak mencari Bouw
Hun Ti di dalam kelenteng besar dalam hutan, kelenteng milik Ban Sai Cinjin di mana dulu ia dan Sin-kai
Lo Sian menolong Thio Kam Seng!
Dulu ia suka menggigil ngeri kalau teringat akan Ban Sai Cinjin, orang tua yang aneh dan lihai itu. Akan
tetapi sekarang, jangankan baru Ban Sai Cinjin meski pun raja iblis sendiri muncul di depannya, belum
tentu Lili akan merasa takut!
Keadaan Lili yang pakaiannya begitu mewah, cantik jelita, gadis muda yang melakukan perjalanan seorang
diri, tentu saja menarik perhatian banyak orang. Akan tetapi melihat cara dia naik kuda serta melihat
gagang pedangnya yang tergantung pada pinggangnya, membuat orang-orang maklum bahwa nona cantik
ini tentulah seorang perantau yang pandai ilmu silat sehingga tak seorang pun berani mencoba-coba untuk
mengganggunya.
Hanya satu kali terjadi gangguan ketika ia masuk ke kota Lok-yang. Di kota ini terdapat seorang jagoan
muda bermuka kuning yang berjuluk Oei-bin-liong (Naga Muka Kuning) bernama Lok Ceng. Ia adalah
seorang ahli silat dari cabang Bu-tong-pai yang berwatak sombong dan berlagak tinggi.
Kebetulan sekali Lok Ceng sedang duduk di depan restoran terbesar di Lok-yang, ketika Lili menghentikan
kudanya di depan restoran itu, lalu melompat turun dan memanggil seorang pelayan.
Seorang pelayan berlari menghampiri. Lili menyerahkan kendali kudanya sambil berkata,
“Kau urus baik-baik kudaku pada waktu aku makan. Berilah dia makan dan sikat bulunya sampai bersih.
Hati-hati jangan sampai ada orang jahat mengganggu buntalanku di atas kuda itu dan jangan khawatir,
hadiahnya akan besar!”
Pelayan itu tersenyum sambil mengangguk-angguk dengan hormat. “Tentu saja, Siocia. Akan kulakukan
pesanmu baik-baik.” Ia lalu menuntun kuda itu ke pinggir restoran.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kuda yang bagus!” tiba-tiba terdengar suara parau dan keras sehingga Lili menengok ke arah orang yang
memuji kudanya.
Orang ini bukan lain adalah Lok Ceng sendiri. Melihat ada seorang laki-laki muda yang bertubuh tinggi
besar, bermuka kuning dan bermata kurang ajar itu, Lili berlaku hati-hati dan segera membuang
pandangan matanya. Tanpa mempedulikan orang itu, Lili terus saja memasuki restoran itu dan memesan
makanan kepada pelayan yang cepat datang menghampirinya.
Restoran itu besar sekali dan para tamu yang makan di situ tidak kurang dari dua puluh orang banyaknya.
Mereka makan sambil bercakap-cakap gembira. Ketika Lili memasuki restoran itu, hampir semua mata
menengok dan memandang kagum.
Akan tetapi Lili tak mempedulikan semua ini karena semenjak keluar dari rumah, ia telah menjadi biasa
dengan pandangan kagum dari mata laki-laki. Ia telah menganggap hal ini biasa saja. Ibunya telah
menasehatinya untuk bersikap dingin dan jangan mempedulikan hal ini.
“Lili, kau seorang gadis muda yang cantik manis,” kata ibunya memberi nasehat, “banyak sekali gangguan
yang akan kau hadapi di perjalanan. Laki-laki memang bermata minyak, selalu tidak dapat menjaga mata
mereka kalau melihat seorang gadis cantik. Akan tetapi, apa bila mereka itu memandangmu dengan mata
kagum dan kurang ajar, janganlah kau hiraukan mereka. Asal mereka tak mengganggumu dengan ucapan
atau perbuatan yang kurang ajar, anggap saja mereka itu seperti patung-patung hidup yang tak perlu
dilayani.”
Oleh karena itu, maka Lili selalu menganggap sepi mata laki-laki yang memandang dia dengan kagum.
Malah orang-orang yang tersenyum-senyum dengan penuh arti padanya, dianggapnya sebagai lalat saja!
Akan tetapi, ketika dia sedang menikmati hidangan yang telah dikeluarkan oleh pelayan, tiba-tiba
telinganya yang amat tajam dapat menangkap perubahan yang terjadi di dalam warung itu. Suara yang
tadinya riuh gembira, tiba-tiba terhenti dan ketika ia mengerling, ternyata orang muda bermuka kuning yang
tadi memuji kudanya, telah memasuki ruang itu dengan langkah dibuat-buat dan dada diangkat!
Diam-diam Lili merasa heran mengapa semua orang agaknya takut kepada pemuda ini. Apa lagi ketika ia
mendengar betapa setiap meja yang dilalui oleh pemuda itu, selalu ada orang yang menawarkan makan
dengan sikap menghormat sekali.
Akan tetapi pemuda tinggi besar muka kuning itu menolak semua penawaran dengan gerakan tangan, lalu
dia tersenyum-senyum menghampiri meja dekat meja di mana Lili sedang makan! Dia lalu mengambil
tempat duduk dan memandang kepada Lili dengan cara yang sangat menjemukan. Mulutnya menyeringai
bagaikan seekor kuda kelaparan dan terdengarlah dia berkata keras,
“Kudanya besar dan bagus, pemiliknya lebih bagus lagi!”
Semua orang yang duduk di situ maklum siapakah yang dimaksudkan oleh Lok Ceng ini. Lili juga maklum
bahwa pemuda itu sedang berusaha mengganggunya, akan tetapi oleh karena ucapannya itu masih belum
bersifat kurang ajar, ia pura-pura tidak mengerti dan melanjutkan makannya.
Melihat betapa gadis manis itu tidak menengok dan tidak mempedulikan pujiannya, Lok Ceng menjadi
semakin berani. Dengan sikap kurang ajar sekali dan tertawa ha-ha hi-hi ia kemudian menggeser kursinya
dan duduk di dekat meja Lili, menghadapi gadis itu sambil memandang dengan mata kurang ajar dan mulut
menyeringai. Semua orang diam-diam tersenyum, ada yang merasa geli, ada yang merasa gembira, akan
tetapi ada pula yang diam-diam merasa kuatir akan nasib gadis cantik jelita itu.
Semenjak tadi Lili menahan sabarnya, karena ia masih selalu ingat akan nasehat ibunya supaya
menjauhkan diri dari setiap permusuhan. Akan tetapi karena orang itu kini duduk dekat di hadapannya,
tentu saja dia merasa amat terganggu dan masakan yang tadinya nikmat itu, kini tidak enak lagi rasanya.
“Lalat kuning sungguh menjemukan!”
Ia lalu menunda makannya, kemudian dengan perlahan Lili menggebrak mejanya sambil mengerahkan
tenaga lweekang ke arah mangkok masakan yang banyak kuahnya. Air kuah di dalam mangkok itu tibatiba
saja memercik ke arah Lok Ceng dan tanpa dapat terelakkan lagi mengenai bajunya!
dunia-kangouw.blogspot.com
Semua orang terkejut mendengar gadis itu berkata demikian, karena siapa pun tentu akan maklum bahwa
dengan sebutan lalat kuning, gadis itu sudah memaki Lok Ceng! Mana ada lalat yang berwarna kuning?
Yang kuning ialah muka dari Lok Ceng!
Akan tetapi, tak ada seorang pun yang tahu bahwa air kuah yang memercik ke atas dan membasahi baju
Lok Ceng itu adalah perbuatan yang disengaja oleh Lili. Mereka hanya mengira bahwa hal itu kebetulan
saja. Bahkan Lok Ceng sendiri pun tidak menyangka bahwa gadis cantik itu memiliki kepandaian tinggi
sehingga dapat menggerakkan tenaga lweekang untuk membuat air kuah itu muncrat ke arahnya.
Oleh karena itu, pemuda ini hanya tersenyum-senyum saja dan biar pun dia tahu bahwa dirinya dimaki
‘lalat kuning’, dia tidak menjadi marah. Ia lebih suka melihat seorang gadis yang melawan apa bila
diganggunya, dari pada seorang gadis yang bahkan tersenyum-senyum melayani gangguannya.
“Aku ingin sekali menjadi potongan-potongan daging itu, untuk berkenalan dengan bibir dan mulut yang
manis!” katanya lagi tak kenal malu dan orang-orang yang mendengar ucapannya ini lalu tertawa untuk
mengambil hati jagoan muda yang disegani ini.
Mendengar ucapan dan melihat sikap orang muka kuning itu, Lili segera maklum bahwa kegagahan orang
itu hanya pada lagaknya saja, akan tetapi sebetulnya tidak mempunyai kepandaian tinggi. Hal ini mudah
saja diduga. Seorang yang berkepandaian tinggi, tentu akan tahu akan demonstrasi tenaga lweekang yang
diperlihatkannya tadi. Akan tetapi, Si Muka Kuning ini agaknya tidak tahu akan hal ini, bahkan berani
mengeluarkan ucapan yang demikian kurang ajar.
Lili sudah kehabisan kesabarannya. “Lalat kuning, kau lapar dan hendak makan daging? Nah, ini
makanlah!”
Secepat kilat tangannya lalu menyambar mangkok yang berisi masakan penuh kuah dan sebelum Si Muka
Kuning sempat mengelak, isi mangkok itu sudah menyiram mukanya, bahkan sepotong daging mengenai
mulutnya demikian keras sehingga ia merasa sakit!
Suara tertawa dari para tamu tadi tiba-tiba saja tak terdengar lagi dan sekarang mereka memandang
dengan muka pucat. Selama ini belum pernah ada orang berani menghina Oei-bin-liong Lok Ceng
sedemikian hebatnya!
Sementara itu, untuk sesaat Lok Ceng merasa kedua matanya amat pedas dan tak dapat dibuka sehingga
dia menjadi gelagapan kemudian menggunakan kedua tangannya untuk membersihkan mukanya.
Keadaannya sangat lucu dan para penonton menahan suara ketawa mereka karena sungguh pun mereka
merasa geli melihat orang yang ditakuti itu berada dalam keadaan begitu lucunya, akan tetapi mereka tak
berani memperdengarkan suara ketawa.
Kini kegembiraan Lok Ceng lenyap sama sekali. Mukanya yang berwarna kuning menjadi kemerahmerahan
karena marah dan berminyak akibat siraman kuah tadi. Matanya yang sudah bebas dari
kepedasan kuah kini memandang dengan melotot.
“Gadis liar, apakah kau sudah bosan hidup berani menghina Oei-bin-liong Lok Ceng?” Ia membentak dan
melangkah maju.
“Ehh, ehh, cacing muka kuning!” kata Lili mengejek dan sengaja mengganti sebutan naga menjadi cacing.
“Apakah kau masih belum kenyang?”
Sambil berkata demikian, kembali tangannya bergerak dan kini masakan lain yang penuh kecap berwarna
merah dan masih ada setengah mangkok melayang cepat ke arah muka Lok Ceng.
Si Naga Muka Kuning cepat mengelak akan tetapi kurang cepat dan tahu-tahu mukanya telah tersiram oleh
masakan kecap ini! Untung baginya ia cepat-cepat meramkan kedua matanya yang tadi melotot sehingga
kecap itu tidak sempat memasuki kedua matanya. Akan tetapi celaka sekali, ia tidak dapat menutup kedua
lubang hidungnya sehingga dua lubang hidungnya yang lebar itu diserbu oleh kecap yang membuat dia
tersedak dan berbangkis-bangkis beberapa kali seakan-akan hendak copot hidungnya!
Kini para tamu di restoran itu terpaksa mendekap mulut masing-masing untuk menahan ketawa, karena
melihat Lok Ceng berbangkis-bangkis sambil mencak-mencak, sungguh merupakan pemandangan yang
amat lucu dan menggelikan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Lok Ceng memaki-maki dan kemarahannya memuncak. Ia mencabut golok yang terselip pada
pinggangnya dan kini mengamuk hebat. Beberapa kali dia membacok ke kanan kiri dan meja kursi yang
terkena bacokan golok itu menjadi terbelah. Ia masih menggerakkan kedua kakinya menendang ke sana
ke mari sehingga meja kursi beterbangan ke mana mana.
Para tamu yang tadinya menahan ketawa, kini menjadi ketakutan dan segera mereka menyingkirkan diri ke
tempat jauh, mepet pada dinding, berjajar merupakan pagar. Muka mereka menjadi pucat karena sekarang
keadaan bukan main-main lagi. Gadis itu pasti akan menjadi korban golok Lok Ceng yang amat tajam.
Akan tetapi, Lili tak mau membuang banyak waktu untuk melayani Si Muka Kuning yang sombong itu. Biar
pun Lok Ceng mengobat-abitkan golok dengan ganas sekali, ia tidak menjadi gentar dan dengan senyum
mengejek tubuhnya bergerak dan tahu-tahu ia telah berada di depan si pengamuk itu.
“Gadis liar, kupenggal lehermu!” teriak Lok Ceng.
“Manusia tak tahu diri, kau harus diberi rasa sedikit!” Lili balas membentak.
Dengan gerak tipu Sianli-jip-pek-to (Bidadari Memasuki Ratusan Golok) sebuah gerakan dari Ilmu Silat
Sian-li Utauw, dia melompat maju dan dengan tubuh lincah sekali ia dapat masuk di antara kelebatan golok
itu dan langsung menggerakkan tangan kanan ke arah iga lawannya.
“Dukk!” dengan tepat sekali jari tangannya mengirim tiam-hoat (totokan) yang mengenai jalan darah hongtwi-
hiat dengan jitu sekali.
Terdengar Lok Ceng memekik keras dan aneh...! Orang muka kuning yang tinggi besar ini tidak dapat
bergerak lagi. Tubuhnya menjadi kaku dan dalam keadaan masih berdiri dengan golok terpegang erat-erat
di tangan kanannya!
Semua orang memandang dengan mata terbelalak. Mereka masih tidak mengerti kenapa Lok Ceng berdiri
kaku seperti patung. Lili yang semenjak kecil memang telah mempunyai kesukaan berkelahi dan memang
wataknya nakal dan jenaka itu, tersenyum-senyum dan dengan mata berseri-seri dia lalu mengambil
semua mangkok di atas meja yang masih terisi masakan, lalu ia membalikkan mangkok itu ke atas kepala
Lok Ceng, sehingga Lok Ceng sekarang memakai topi mangkok yang isinya tumpah dan mengalir di
sepanjang hidungnya!
Semua orang yang merasa lebih heran dari pada lucu itu, tidak dapat tertawa dan masih memandang
dengan bengong. Bahkan pelayan yang dipanggil oleh Lili seakan-akan tak mendengar panggilan gadis itu
dan masih berdiri bengong sambil memandang ke arah Lok Ceng.
“He, aku mau membayar! Mana pelayan?” teriak Lili.
Barulah pelayan itu berlari menghampiri sambil membungkuk-bungkuk.
“Nah, ini untuk membayar masakan yang telah kumakan. Dan lebihnya untuk mengganti kerugian rumah
makan ini karena barang-barang yang dirusak oleh lalat kuning ini!” Ia melemparkan sepotong uang perak
yang berat ke atas meja, lalu keluar dari restoran itu, sama sekali tidak mempedulikan Lok Ceng yang
masih berdiri seperti patung batu.
Pelayan yang mengurus kudanya mendapat hadiah yang lumayan pula.
“Ehh, Siocia...,” kata pelayan ini, ”bagaimana dengan Oei-bin-liong? Tubuhnya kaku dan dia tidak dapat
menggerakkan kaki pergi dari rumah makan kami.”
Lili tertawa geli. “Biarlah, bukankah dia menjadi sebuah patung yang baik sekali untuk menarik perhatian
langganan sehingga restoran selalu akan penuh dengan tamu?”
“Akan tetapi... tentu dia akan marah dan... bagaimana kalau dia mati?”
Lili berkata dengan sungguh-sungguh, “Janganlah kuatir. Aku sengaja memberi hukuman kepadanya.
Dalam waktu pendek dia akan dalam keadaan demikian, nanti kesehatannya akan pulih kembali.” Setelah
berkata demikian, Lili lalu melompat ke atas kudanya dan melarikan kudanya itu cepat-cepat meninggalkan
dunia-kangouw.blogspot.com
kota Lok-yang…..
********************
Sesudah melakukan perjalanan dengan cepat selama dua pekan, akhirnya sampailah Lili ke tempat yang
menjadi tujuan utamanya, yaitu dusun Tong-sin-bun. Dia segera memilih rumah penginapan dan menyewa
sebuah kamar. Kudanya dia serahkan kepada pelayan untuk dirawat baik-baik.
Tanpa bertanya pada orang lain, Lili dapat mencari rumah Ban Sai Cinjin dengan mudah, oleh karena di
dalam dusun yang tak berapa besar itu, hanya satu-satunya gedung yang besar dan mewah yang menjadi
tempat tinggal Ban Sai Cinjin. Bahkan ketika ia bertanya kepada pelayan, ternyata hotel di mana dia
bermalam juga milik dari Ban Sai Cinjin yang kaya raya dan berpengaruh besar.
“Nona datang dari mana dan apakah hendak bertemu dengan Ban Sai Cinjin Loya?”
Lili tersenyum dan maklum bahwa semua pekerja di dalam hotel ini adalah anak buah Ban Sai Cinjin, maka
ia hanya menjawab, “Ah, tidak. Aku hanya seorang pelancong yang tertarik melihat keadaan di dusun ini
yang amat ramai.”
Pada senja hari itu juga, diam-diam tanpa diketahui oleh seorang pun, Lili mengenakan pakaian yang
ringkas, menggantungkan pedangnya di pinggang, lalu keluar dari rumah penginapan itu untuk mencari
musuh besarnya, Bouw Hun Ti. Ia menduga bahwa musuh besarnya itu tentu berada di kelenteng yang
dahulu pernah dilihatnya dengan Sin-kai Lo Sian, yaitu dalam sebuah hutan tak jauh dari dusun Tong-sinbun
itu.
Akan tetapi sebelum menuju ke hutan itu, dia sengaja menyelidiki dahulu gedung besar tempat tinggal Ban
Sai Cinjin yang nampak sunyi dari luar. Ketika ia hendak melompat ke atas pagar tembok yang tinggi dan
yang mengelilingi gedung itu, tiba-tiba saja dia melihat seorang pemuda yang tampan bersama seorang
setengah tua sedang berjalan keluar dari gedung itu dengan tindakan cepat.
Lili cepat bersembunyi di tempat gelap dan memandang tajam. Bukan main heran dan terkejutnya ketika
dia melihat pemuda itu. Tidak salah lagi, pemuda itu tentulah Thio Kam Seng, anak laki-laki yang dulu
pernah ditolong oleh suhu-nya, Sin-kai Lo Sian, atau yang boleh juga disebut suheng-nya, karena mereka
keduanya pernah menjadi murid Sin-kai Lo Sian.
Lili menjadi girang sekali dan hampir saja ia memanggil pemuda itu. Akan tetapi ia dapat menahan
keinginannya ini sebab teringat bahwa pemuda ini baru saja keluar dari gedung Ban Sai Cinjin. Hal ini
benar-benar aneh sekali.
Dulu Kam Seng pernah hampir dibunuh oleh seorang murid Ban Sai Cinjin, bagaimana sekarang dia dapat
keluar masuk demikian leluasa di gedung Ban Sai Cinjin itu? Hal ini menimbulkan kecurigaannya dan ia
tidak memanggil pemuda itu, bahkan lalu diam-diam mengikuti perjalanan Kam Seng dan orang tua itu
yang berjalan cepat menuju ke hutan di mana terdapat kelenteng besar kepunyaan Ban Sai Cinjin.
Bagaimanakah Kam Seng dapat berada di tempat itu dan keluar dari gedung Ban Sai Cinjin dengan
enaknya? Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, ketika Pendekar Bodoh dan isterinya naik ke
Gunung Beng-san dan bertemu kembali dengan Lili, pemuda ini dibawa pergi oleh Mo-kai Nyo Tiang Le.
Sesungguhnya, Thio Kam Seng tidak mempunyai riwayat hidup yang baik. Dahulu ketika ditolong oleh Sinkai
Lo Sian, dia memang menceritakan riwayatnya bahwa kedua orang tuanya telah meninggal dunia
karena kemiskinan dan kelaparan, akan tetapi sebenarnya tidak demikian halnya.
Thio Kam Seng adalah anak tunggal dari seorang tokoh persilatan tinggi yang bernama Song Kun. Para
pembaca dari cerita Pendekar Bodoh tentu masih ingat bahwa Song Kun merupakan sute (adik
seperguruan) dari Lie Kong Sian, dan bahwa karena kejahatannya hendak mengganggu Lin Lin akhirnya
Song Kun tewas dalam tangan Si Pendekar Bodoh Cin Hai.
Pada waktu hal ini terjadi, Cin Hai belum menikah dengan Lin Lin, akan tetapi Song Kun telah
meninggalkan seorang gadis yang selama itu dipeliharanya sebagai isteri tidak sah, dan isterinya ini sudah
mengandung tiga bulan. Karena Song Kun juga terkenal sebagai seorang pemuda mata keranjang yang
jahat sekali, maka dia mempunyai banyak bini peliharaan di mana-mana, baik yang dia dapatkan karena
ketampanannya mau pun yang dia ambil secara paksa, bahkan yang diculiknya dari rumah orang tua gadis
dunia-kangouw.blogspot.com
itu!
Setelah Song Kun tewas di dalam tangan Pendekar Bodoh, Thio Kui Lin ibu Kam Seng lalu hidup terluntalunta.
Untuk kembali ke rumah orang tuanya ia pun merasa malu, dan hanya untuk kepentingan anak
dalam kandungannya belaka dia masih mempertahankan hidupnya.
Beberapa bulan kemudian, dalam keadaan yang amat sengsara, terlahirlah seorang bayi laki-laki yang dia
beri nama Kam Seng. Karena Thio Kui Lin sesungguhnya amat benci kepada suaminya yang
mengambilnya secara paksa, maka ia memberi nama keturunan Thio kepada puteranya ini.
Betapa pun juga, setelah Kam Seng berusia lima tahun dan sudah pandai berpikir, ketika Kam Seng
bertanyakan ayahnya, Kui Lin lalu menceritakan bahwa ayahnya telah tewas dalam tangan seorang
pendekar besar bernama Pendekar Bodoh!
Kui Lin lalu hidup berdua dengan puteranya dalam keadaan yang sangat miskin. Mereka terlunta-lunta dan
hidup serba kekurangan, sehingga akhirnya Kui Lin jatuh sakit yang membawanya kembali ke alam baka.
Semenjak itu Kam Seng menjadi yatim piatu, hidup merantau terlunta-lunta sebagai seorang pengemis
cilik.
Ternyata Kam Seng memiliki otak yang sangat cerdik, dan agaknya kecerdikan ayahnya menurun
kepadanya. Dia bisa berpura-pura bodoh dan jarang berbicara, padahal segala sesuatu dia perhatikan
betul-betul. Cerita ibunya mengenai ayahnya yang terbunuh oleh Pendekar Bodoh, berkesan di dalam
lubuk hatinya, dan dia tidak dapat melupakan nama Pendekar Bodoh ini dari ingatannya.
Demikianlah, sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, dia tertolong oleh Sin-kai Lo Sian, diangkat
menjadi muridnya dan akhirnya dia diajak pergi oleh Mo-kai Nyo Tiang Le Si Pengemis Iblis yang lihai.
“Kita harus mencari suhu-mu,” kata Mo-kai Nyo Tiang Le. “Sebelum kita bertemu dengan gurumu, kau
harus melatih diri baik-baik. Akan kuajarkan ilmu-ilmu silat tinggi kepadamu agar kelak kau tidak usah kalah
oleh murid Pok Pok Sianjin atau puteri Pendekar Bodoh sekali pun!”
Diam-diam Kam Seng merasa girang sekali. Telah lama dia menahan-nahan dendamnya ketika ia
mengetahui bahwa musuh besarnya, yaitu pembunuh ayahnya, adalah ayah Lili yang menjadi sumoi-nya.
Dapat dibayangkan betapa menggeloranya hatinya ketika dulu ia melihat Pendekar Bodoh di puncak
Gunung Beng-san.
Saking terharu dan sedihnya karena tak berdaya untuk membalas dendam, dulu dia telah menangis sedih.
Tak seorang pun mengetahui apa yang menyebabkan ia menangis. Kini mendengar ucapan Mo-kai Nyo
Tiang Le supek-nya, dia menjadi girang sekali dan mulai hari itu dia belajar dengan tekun dan rajinnya,
membuat girang hati Mo-kai Nyo Tiang Le.
Bertahun-tahun Kam Seng pergi merantau ikut dengan Mo-kai Nyo Tiang Le, menjelajah seluruh propinsi di
daerah Tiongkok, akan tetapi mereka tidak bertemu dengan Sin-kai Lo Sian, bahkan mendengar beritanya
pun tidak. Orang-orang kang-ouw yang mereka telah tanyai, tak seorang pun pernah bertemu dengan
Sinkai Lo Sian yang sudah menghilang untuk bertahun-tahun lamanya.
Terpaksa Mo-kai Nyo Tiang Le mewakili sute-nya mendidik Kam Seng yang sebetulnya menguntungkan
pemuda itu, sebab kepandaian Pengemis Iblis ini masih jauh lebih tinggi dari pada kepandaian Si
Pengemis Sakti. Sembilan tahun lamanya Mo-kai Nyo Tiang Le mengajak Kam Seng merantau, selalu
berpindah-pindah dari barat ke timur, dari utara ke selatan dan sementara itu, kepandaian Kam Seng telah
maju dengan cepat sekali.
Ia telah mewarisi kepandaian Mo-kai Nyo Tiang Le, terutama sekali permainan Ilmu Silat Soan-hong Kunhoat
(Ilmu Silat Kitiran Angin) serta ilmu melepas senjata rahasia yang disebut Thio-tho-ci (biji buah Tho
besi). Ilmu permainan tongkat dari Pengemis Iblis ini pun telah dia warisi dengan baik sekali.
“Supek,” kata Kam Seng pada suatu hari setelah supek-nya itu menyatakan kekesalan hatinya karena
belum juga dapat bertemu dengan Sin-kai Lo Sian, “apakah tidak bisa jadi Suhu terkena celaka di tangan
Bouw Hun Ti dan Ban Sai Cinjin? Bagaimana kalau kita pergi mencari Suhu di sana?”
Supek-nya mengangguk-angguk. “Mungkin dugaanmu ini bisa benar juga. Aku pun telah mempunyai
dugaan demikian.” Dia menghela napas. “Memang Ban Sai Cinjin jahat dan kejam, akan tetapi ilmu
dunia-kangouw.blogspot.com
kepandaiannya sangat tinggi. Jangankan Sute, aku sendiri belum tentu dapat melawannya. Akan tetapi,
kita harus dapat mengetahui bagaimana dengan nasib Sute. Mari kita berangkat ke dusun Tong-sin-bun.”
Mereka lalu menuju kembali ke barat dan tiba di dusun itu pada waktu malam.
“Supek, biarlah teecu menyelidiki ke kuil itu.”
“Kau berhati-hatilah, Kam Seng. Di sana terdapat banyak orang pandai,” kata Mo-kai Nyo Tiang Le yang
duduk di bawah pohon sambil minum arak yang dibelinya di warung arak.
“Jangan kuatir, Supek. Tidak percuma selama ini teecu mempelajari ilmu kepandaian dari Supek.”
Pemuda ini lalu mempergunakan ilmunya berlari cepat menuju ke hutan itu. Dia melihat kelenteng itu
terang sekali, penuh dengan lampu-lampu penerangan yang sangat mewah dan besar. Melihat keadaan
kelenteng itu dan melihat betapa kain-kain sutera yang halus tergantung dijadikan tirai penutup pintu, Kam
Seng menghela napas dan melirik ke arah pakaiannya sendiri.
Semenjak ia pergi ikut dengan supek-nya belum pernah dia berpakaian baik. Pakaiannya tambal-tambalan
dan kotor sekali. Sesungguhnya tidak sukar baginya kalau saja dia mau mengambil pakaian dari para
hartawan, akan tetapi supek-nya tentu melarangnya, dan ia pun merasa malu untuk berpakaian bagus
sedangkan supek-nya berpakaian kotor penuh tambalan. Keadaannya sama seperti seorang pengemis
muda!
Kam Seng menunggu sampai beberapa lama, akan tetapi oleh karena dia tidak melihat seorang pun keluar
dari kelenteng itu, dia kemudian memberanikan diri dan menghampiri kelenteng itu. Dengan ginkang-nya
yang sudah terlatih baik, dia lalu melompat ke atas genteng dengan mudahnya. Dari atas genteng ia
melihat bahwa penerangan yang paling besar keluar dari ruangan belakang, maka dengan amat hati-hati ia
lalu menuju ke ruang itu, mengerahkan ginkang-nya supaya genteng yang diinjaknya tidak menerbitkan
suara berisik.
Ketika dia mengintai ke bawah, dia melihat tiga orang sedang bercakap-cakap di dalam ruangan itu. Dia
mengenal dua orang di antara mereka, yaitu Bouw Hun Ti dan Ban Sai Cinjin. Yang seorang lagi adalah
seorang tosu tua yang rambutnya masih nampak hitam, demikian pula jenggotnya.
Kam Seng merasa heran mendengar bahwa Ban Sai Cinjin yang berambut putih dan tua itu menyebut
suheng (kakak seperguruan) pada tosu ini. Sungguh mengherankan sekali bahwa seorang yang usianya
lebih tua dari pada Ban Sai Cinjin masih nampak segar dan rambutnya masih hitam. Akan tetapi pada saat
itu, percakapan mereka lebih menarik hati Kam Seng, karena ia mendengar nama Pendekar Bodoh
disebut-sebut.
“Memang Pendekar Bodoh lihai sekali,” dia kemudian mendengar tosu itu berkata sambil menganggukkan
kepalanya. “Ia telah mewarisi kepandaian Bu Pun Su. Akan tetapi pinto (aku) tahu bagaimana harus
menghadapi dan melawannya. Ia mengandalkan pengertian tentang pokok dan dasar gerakan ilmu silat
sehingga kalau dia dilawan dengan ilmu silat biasa, ia akan menang di atas angin. Akan tetapi pinto telah
mempelajari ilmu silat dunia barat yang mempunyai gerakan amat berlainan dan dasarnya pun berbeda
sehingga apa bila menghadapi Pendekar Bodoh, belum tentu pinto tak akan dapat merobohkannya!”
“Supek berkata benar,” Bouw Hun Ti tiba-tiba berkata, “bagaimana pun juga, Pendekar Bodoh bukan tak
dapat dilawan! Pernah juga teecu mendengar bahwa Pendekar Bodoh masih belum selihai Hek Pek Mo-ko
(Iblis Hitam dan Iblis Putih, tokoh kang-ouw yang muncul dalam cerita Pendekar Bodoh). Pernah dia terluka
oleh kedua saudara itu. Kalau kepandaian Suhu saja telah setingkat dengan kepandaian Hek Pek Mo-ko
sebab berasal dari satu cabang persilatan, mustahil kalau Supek tidak mampu menundukkan Pendekar
Bodoh!”
Ketika Ban Sai Cinjin menyedot huncwe-nya dan hendak menjawab, tiba-tiba saja tosu itu menengok ke
arah genteng di mana Kam Seng mengadakan pengintaian dan berkata halus, “Sahabat muda yang
mengintai di atas genteng, kau turunlah saja!”
Bukan main kagetnya Kam Seng mendengar ucapan ini. Semenjak tadi ia mendengarkan dengan penuh
perhatian dan hatinya tertarik sekali. Kalau orang-orang di bawah ini yang begitu lihai ternyata memusuhi
Pendekar Bodoh, maka ia tak sekali-kali boleh memusuhi mereka. Alangkah baiknya bila mana dia bisa
berkawan dengan mereka untuk membalas dendamnya kepada Pendekar Bodoh!
dunia-kangouw.blogspot.com
Telah berkali-kali supek-nya, Mo-kai Nyo Tiang Le menyatakan bahwa ilmu kepandaian Pendekar Bodoh
amat tinggi, masih lebih tinggi dari pada kepandaian Pengemis Iblis itu, maka sudah menipislah harapan di
dalam hati Kam Seng mendengar pernyataan ini. Kini mendengar betapa ilmu kepandaian Ban Sai Cinjin
dan tosu yang menjadi suheng kakek ber-huncwe itu demikian tingginya, dia mendapat sebuah pikiran
yang baik sekali.
Mendengar ucapan tosu itu, semakin yakinlah dia bahwa tosu itu benar-benar lihai sekali, maka ia lalu
menjawab, “Maafkan teecu yang muda telah berlaku lancang!”
Sesudah berkata demikian, dia lalu meloncat ke bawah, melayang sambil menggunakan gerakan In-liong
San-hian (Naga Awan Perlihatkan Diri). Gerakan ini cukup indah dan ilmu lompatnya cukup hebat sehingga
tiga orang yang berada di ruangan itu memandang dengan kagum.
Melihat seorang pemuda cakap berbaju tambal-tambalan dan kotor sekali, Ban Sai Cinjin lalu melangkah
maju, dan bertanya,
“Orang muda, siapakah kau dan mengapa kau melakukan pengintaian di kelentengku?”
Kam Seng menjura memberi hormat dan otaknya yang cerdik diputar-putar, kemudian ia berkata dengan
sikap gagah dan suara tenang,
“Tadi teecu mendengar tentang totiang ini yang hendak melawan Pendekar Bodoh. Oleh karena ada
permusuhan pribadi antara teecu dengan Pendekar Bodoh, maka hati teecu tertarik sekali dan ingin teecu
mencoba kepandaian Totiang yang lihai. Teecu maklum bahwa teecu bukanlah lawan Totiang ini, akan
tetapi kalau Totiang mampu mengalahkan teecu dalam sepuluh jurus, maka teecu akan menghambakan
diri menjadi murid dan akan menceritakan sesuatu bahaya yang mengancam ketenteraman di sini. Jika
Totiang tidak dapat mengalahkan teecu dalam sepuluh jurus, jangah harapkan akan dapat menangkan
Pendekar Bodoh!”
Kata-kata ini membuat Bouw Hun Ti menjadi marah sekali dan dia melompat ke depan, cepat mengirim
pukulan keras ke arah kepala Kam Seng sambil berseru,
“Macammu hendak menantang Supek?”
Pukulan tangan kanan Bouw Hun Ti ini keras sekali dan tenaga yang terkandung dalam pukulan itu cukup
untuk dapat menghancurkan batu karang. Sudah diketahui bahwa ilmu kepandaian Bouw Hun Ti sudah
mencapai tingkat tinggi, lebih tinggi dari Sin-kai Lo Sian, maka dapat diduga betapa lihai dan berbahayanya
pukulan ini.
Akan tetapi, Kam Seng bukanlah seorang pemuda yang bodoh. Ia telah mewarisi seluruh kepandaian Mokai
Nyo Tiang Le sehingga kepandaiannya sekarang mungkin telah lebih tinggi dari pada Sin-kai Lo Sian!
Dia maklum bahwa dalam hal tenaga lweekang tidak mungkin ia dapat melawan orang kuat ini, maka ia
lalu mempergunakan kecerdikannya.
Dengan lengan kanan, dia mengerahkan tenaga halus untuk menangkis pukulan lawan, sedangkan tangan
kirinya tidak tinggal diam, akan tetapi digerakkan memukul ke depan dengan ilmu silat Soan-hong-jiu
(Kepalan Kitiran Angin).
Bouw Hun Ti merasa terkejut sekali sebab sebelum pukulannya mengenai sasaran, lebih dulu pukulan
lawan itu mendatangkan angin yang sangat hebat dan berbahaya sehingga terpaksa dia miringkan
tubuhnya dan pukulannya tidak keras lagi. Pada saat pukulannya tertangkis oleh lengan kiri Kam Seng,
keduanya terpental ke belakang!
“Bagus...!” kata tosu itu yang sesungguhnya merupakan suheng dari Ban Sai Cinjin yang bernama Wi Kong
Siansu.
Wi Kong Siansu ini sebagaimana pernah dituturkan pada bagian depan adalah seorang pertapa di Hekkwi-
san dan dijuluki Toat-beng Lo-mo (Iblis Tua Pencabut Nyawa). Oleh karena merasa khawatir
menghadapi musuh-musuh yang sangat tangguh, Ban Sai Cinjin menyuruh Bouw Hun Ti untuk
mengundang dan membujuk suheng-nya itu yang ternyata kemudian berhasil dengan baik.
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat pukulan Soan-hon-jiu yang digerakkan oleh Kam Seng, Wi Kong Siansu menjadi tertarik dan dia
lalu berdiri dari bangkunya.
“Bouw Hun Ti, biarkan anak muda ini memenuhi keinginannya.” Ia lalu melangkah maju untuk menghadapi
Kam Seng. “Anak muda, sebelum pinto menuruti permintaanmu yang kurang ajar tadi, lebih dulu
katakanlah kau siapa, anak siapa dan mengapa kau sampai bermusuhan dengan Pendekar Bodoh?”
Semenjak dulu, Kam Seng tidak pernah menyebut-nyebut nama ayahnya di depan siapa pun juga.
Sekarang karena maklum sepenuhnya bahwa ia berada di antara orang-orang yang menjadi musuh
Pendekar Bodoh pula, ia tak merasa ragu-ragu lagi untuk memberi tahukan nama ayahnya, bahkan dia pun
merubah pula she-nya yang biasanya Thio itu menjadi Song.
“Teecu bernama Kam Seng, she Song, dulu Ayah teecu telah tewas di tangan Pendekar Bodoh, dan ayah
teecu itu bernama Song Kun.”
Mendengar disebutnya nama ini, Wi Kong Siansu dan Ban Sai Cinjin lalu saling pandang dengan terkejut
sekali. “Apa?! Ayahmu adalah Song Kun Si Tubuh Baja yang berjuluk Ang-ho Sian-kiam?” tanya Wi Kong
Siansu dengan heran.
“Entahlah, karena ayah telah tewas sebelum teecu terlahir. Teecu hanya mendengar dari ibuku yang
sekarang sudah meninggal dunia pula. Hanya satu hal yang teecu ketahui, yaitu bahwa ayah teecu yang
bernama Song Kun itu terbunuh oleh Pendekar Bodoh!”
“Benar, benar!” Wi Kong Siansu mengangguk-angguk. “Memang terbunuh oleh Pendekar Bodoh. Marilah,
kau maju dan hendak kulihat sampai di manakah kepandaianmu, anak muda!”
Kam Seng memang sengaja menantang untuk dirobohkan dalam sepuluh jurus karena ia mempunyai
maksud tertentu. Dia telah maklum sampai di mana tingkat kepandaiannya, apa bila diukur dengan
kepandaian supek-nya Nyo Tiang Le. Walau pun ia belum dapat menyamai ilmu kepandaian supek-nya itu,
namun dari latihan-latihan dengan supek-nya dia dapat menaksir bahwa supek-nya itu tidak mungkin akan
sanggup merobohkan dan mengalahkannya dalam tiga puluh jurus! Maka ia sengaja menantang untuk
dirobohkan dalam sepuluh jurus oleh tosu itu, karena kalau hal ini memang dapat terjadi, dia tidak raguragu
lagi dengan kepandaian tosu ini dan tidak ragu-ragu pula untuk mengkhianati supek-nya!
Setelah tosu itu melangkah maju menghadapinya, tanpa sheji (sungkan) lagi Kam Seng segera menyerang
dengan Ilmu Silat Soan-hong Kun-hoat yang paling lihai. Dia hendak mendahului menyerang agar supaya
kakek itu tidak mempunyai kesempatan untuk dapat menyerangnya. Kalau saja dia dapat menyerang
bertubi-tubi sampai sepuluh jurus, biar pun tidak dapat merobohkan tosu itu, berarti ia telah menang karena
dalam sepuluh jurus kakek itu tak dapat mengalahkannya!
Wi Kong Siansu agaknya maklum akan isi pikirannya ini, maka sambil tersenyum kakek yang amat lihai ini
tidak mau memberi kesempatan kepada Kam Seng untuk menyerang dengan susulan lainnya. Begitu
pukulan Kam Seng mendatang dan sudah dekat dengan dadanya yang sama sekali tidak terpengaruh oleh
angin pukulan itu, ia lalu mengebutkan ujung lengan bajunya menangkis dan tangan kanannya lalu
meluncur keluar membarengi pukulan itu menotok ke arah pundak Kam Seng.
Pemuda ini terkejut bukan main karena tangkisan ujung lengan baju itu ketika menimpa lengannya, tulang
lengannya langsung terasa sakit sekali bagaikan beradu dengan baja keras sedangkan totokan itu pun
cepat sekali datangnya sehingga hampir saja ia menjadi korban dalam segebrakan saja!
Dia cepat menjatuhkan diri ke belakang, berjumpalitan ke belakang dua kali, kemudian setelah berdiri ia
lalu menyerang lagi. Serangan dalam jurus ke dua ini dilakukan dengan gerak tipu yang amat lihai.
Ia melakukan serangan dari tiga jurusan, tangan kanan diputar merupakan kepalan yang mengarah kepala,
tangan kiri dengan jari tangan terbuka menyabet lambung, sedangkan kaki kanan menyusul dengan
tendangan maut ke arah pusar! Inilah gerak tipu yang disebut Sam-in Koan-goat (Tiga Awan Menutup
Bulan).
Gerakan tiga macam pukulan ini dilakukan susul menyusul, maka boleh dibilang hampir berbareng
datangnya. Dan karena yang diarah oleh tiga pukulan ini merupakan anggota-anggota tubuh yang
berbahaya, maka dapatlah dibayangkan betapa hebatnya serangan Sam-in Koan goat ini. Satu saja di
antara ketiga pukulan itu mengenai sasaran, sudah cukup untuk mengantar nyawa orang ke tempat asal!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bagus...!” seru Wi Kong Siansu melihat kehebatan serangan ini.
Dengan sangat tenang kakek ini melangkahkan kakinya dalam bentuk segitiga. Pertama- tama ia
melangkah ke kanan sambil menundukkan kepala untuk menghindarkan diri dari pukulan ke arah
kepalanya, lalu melangkah lagi menyerong ke muka sambil menangkis pukulan ke arah lambungnya,
sedangkan tendangan yang mengarah pusarnya itu tidak dielakkan, bahkan dia kemudian mengangkat
kakinya menyambut tendangan itu dengan tendangan pula.
Sungguh mengherankan sekali. Kalau dilihat tendangan Kim Seng amat keras dan cepat datangnya, ada
pun kakek itu hanya mengangkat kakinya sedikit saja untuk menyambut tendangan pemuda itu. Akan tetapi
begitu sepatu mereka bertemu, Kam Seng berseru kaget dan tubuhnya segera terlempar ke belakang tiga
tombak lebih! Masih baik bahwa ia mempunyai ginkang yang sempurna sehingga ia dapat berjungkir balik
dan mengatur keseimbangan tubuhnya sehingga ia dapat turun dengan kaki terlebih dulu!
Bukan main kagumnya hati Kam Seng. Ia maklum bahwa tosu ini benar-benar jauh lebih lihai dari pada
supek-nya, maka tanpa banyak ragu-ragu lagi, dia cepat menjatuhkan diri berlutut di depan tosu itu. “Kalau
Totiang sudi menerima teecu sebagai murid, teecu akan merasa bahagia sekali.”
Wi Kong Siansu tertawa bergelak. “Sayang kau ditinggal mati ayahmu dan tidak bertemu dengan guru yang
baik. Kalau ada ayahmu, tentu kepandaianmu sudah sepuluh kali lipat lebih pandai dari pada sekarang.”
Ban Sai Cinjin lalu maju dan mengebulkan huncwe-nya.
“Song Kam Seng, kau tadi bilang bahwa kau memiliki rahasia yang hendak kau tuturkan. Apakah rahasia
itu? Hayo kau berkata terus terang, karena kalau memang benar kau putera Song Kun, kita adalah orangorang
sendiri. Ketahuilah bahwa antara kami dengan ayahmu dahulu terdapat hubungan yang baik sekali.”
“Sesungguhnya amat malu untuk menuturkan keadaan teecu,” kata Kam Seng sambil menundukkan
kepalanya dan masih berlutut di depan Wi Kong Siansu. “Semenjak kecil teecu telah ditinggal mati ibu, dan
ayah bahkan telah meninggalkan teecu sebelum teecu terlahir. Teecu berkelana dan bersengsara seorang
diri dengan hati yang mengandung dendam pada Pendekar Bodoh, akan tetapi apa daya teecu?
Kemudian, teecu bertemu dengan Mo-kai Nyo Tiang Le yang memberi pelajaran ilmu silat kepada teecu.
Sungguh pun kemudian teecu ketahui bahwa Mo-kai Nyo Tiang Le dan juga Sin-kai Lo Sian adalah kawankawan
segolongan dengan Pendekar Bodoh sehingga hati teecu merasa segan sekali untuk belajar ilmu
silat darinya, namun terpaksa teecu pertahankan juga. Karena, lebih baik menerima pelajaran ilmu silat dari
siapa pun juga dari pada tidak mempunyai kepandaian sama sekali. Nah, kebetulan sekali pada hari ini
teecu dibawa oleh Mo-kai Nyo Tiang Le yang sedang berusaha mencari Sin-kai Lo Sian. Dia menyangka
bahwa sute-nya itu tentu telah mendapat celaka dari Ban Sai Cinjin, karena itu ia lalu menyuruh teecu
mengadakan penyelidikan ke sini!”
Ban Sai Cinjin tertawa bergelak. “Ha-ha-ha! Mo-kai Nyo Tiang Le pengemis kelaparan! Apa yang kutakuti
terhadap orang seperti dia itu?”
“Teecu juga maklum akan hal ini, dan mulai saat ini juga, kalau kiranya Cu-wi Locianpwe sudi menerima,
teecu ingin tinggal di sini mempelajari ilmu silat dan kemudian bersama Cu-wi ikut menyerbu dan
membalas hukuman kepada Pendekar Bodoh.”
Ban Sai Cinjin agaknya masih ragu-ragu dan menaruh hati curiga. Akan tetapi Wi Kong Siansu sambil
berkedip pada sute-nya itu, berkata kepada Kam Seng, “Anak muda, kami percaya bahwa kau memang
putera Song Kun. Akan tetapi, siapa mengetahui keadaan seseorang? Mo-kai Nyo Tiang Le yang menjadi
gurumu itu ternyata hendak memusuhi sute dan menyuruh kau mengadakan penyelidikan ke sini.
Bagaimanakah kalau sikapmu ini hanya sandiwara belaka supaya kau dapat menyelamatkan diri dari
kami? Kalau kau sekarang bisa memancing agar Mo-kai Nyo Tiang Le datang ke sini, tanpa mengatakan
bahwa pinto dan Ban Sai Cinjin berada di tempat ini, dan kemudian di depan kami kau memperlihatkan
sikapmu bermusuh dengan dia, barulah kami akan percaya. Menerima murid bukanlah hal yang amat
mudah, dan sebelum mengetahui betul kesetiaanmu, pinto tidak dapat menerimamu sebagai murid.”
“Baiklah, harap Cu-wi suka menanti sebentar. Malam ini juga teecu pasti akan membawa Mo-kai Nyo Tiang
Le datang ke tempat ini!” Sesudah berkata demikian, Kam Seng lalu memberi hormat dan melompat keluar
dari ruangan itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ban Sai Cinjin hendak menggerakkan tangan mencegah, akan tetapi suheng-nya sudah berkata, “Anak itu
memang betul keturunan Song Kun. Tidak lihatkah kau akan gerakan matanya dan bentuk bibirnya? Sama
benar dengan Song Kun. Dan andai kata sikapnya tadi hanya untuk menyelamatkan diri, apa yang perlu
kita takuti untuk seorang pemuda macam dia?”
Sementara itu, Kam Seng cepat kembali ke tempat supek-nya yang masih menantinya. Hatinya girang
sekali. Tadinya ia telah merasa putus harapan untuk dapat membalaskan dendamnya kepada Pendekar
Bodoh, karena kalau Mo-kai Nyo Tiang Le yang menjadi gurunya masih mengatakan kalah jauh oleh
Pendekar Bodoh, apa lagi dia?
Menurut supek-nya ini, Pendekar Bodoh mempunyai banyak orang-orang pandai. Isteri Pendekar Bodoh
sendiri adalah murid Bu Pun Su dan mempunyai kepandaian yang amat tinggi. Masih ada lagi Ang I Niocu
serta suaminya Lie Kong Sian yang terhitung kakak seperguruan dari Pendekar Bodoh, ada lagi Kwee An
yang menjadi iparnya dan isteri Kwee An yang bernama Ma Hoa dan yang mempunyai kepandaian tinggi
karena nyonya muda ini adalah murid terkasih dari Hok Peng Taisu yang lihai!
Bagaimana ia dapat menghadapi Pendekar Bodoh seorang diri saja? Bahkan supek-nya amat menghormat
Pendekar Bodoh maka tak mungkin supek atau suhu-nya mengijinkan dia berlaku kurang ajar terhadap
Pendekar Bodoh.
Kini, pertemuan dengan Ban Sai Cinjin dan Wi Kong Siansu yang kepandaiannya amat tinggi,
menimbulkan pengharapan baru di dalam hatinya. Dia tadi belum melihat Hok Ti Hwesio, hwesio kecil jahat
murid Ban Sai Cinjin yang dahulu hendak membelek perutnya, akan tetapi dia pun tidak takut. Andai kata
Hok Ti Hwesio mengenalnya, dia rasa masih dapat melayani hwesio itu, dan apa lagi kalau dia sudah
menjadi murid Wi Kong Siansu, tentu Hek Ti Hwesio tidak berani mengganggunya.
“Bagaimana, Kam Seng? Apakah kau melihat suhu-mu berada di sana? Dan apakah Ban Sai Cinjin berada
di sana pula?”
“Teecu rasa Suhu berada di sana, Supek. Mungkin dikurung dalam sebuah kamar. Akan tetapi teecu tidak
berani turun dan berlaku sembrono, karena di sana teecu melihat ada murid-murid Ban Sai Cinjin. Teecu
rasa sekarang lebih baik kalau kita berdua menyerbu ke sana, karena tidak terlihat Ban Sai Cinjin, yang
ada hanya Bouw Hun Ti!”
Girang sekali hati Mo-kai Nyo Tiang Le mendengar kesempatan yang amat baik ini, maka dia cepat berdiri
dan mengajak pemuda itu cepat berlari kembali ke hutan itu.
Kam Seng mengajak supek-nya melompat ke atas genteng dan mengintai di atas ruang tadi. Akan tetapi
baru saja Nyo-kai Tiang Le menginjak genteng, dia mendengar suara Bouw Hun Ti tertawa di bawah
genteng.
“Pengemis kelaparan Nyo Tiang Le! Perlu apa mengintai seperti seorang maling? Kalau kau kelaparan
tidak perlu kau mencuri makanan di sini. Turunlah! Ada makanan anjing tersedia untukmu!”
Bukan main marahnya Mo-kai Nyo Tiang Le mendengar ucapan yang sangat menghina ini. Dia memang
seorang pemarah yang keras hati, maka tanpa mempedulikan sesuatu lagi, ia lalu melayang turun, diikuti
oleh Kam Seng. Akan tetapi, begitu kakinya menginjak lantai ruangan itu, Mo-kai Nyo Tiang Le terkejut
sekali sebab melihat Ban Sai Cinjin dan seorang tosu tua muncul dari balik pintu. Ban Sai Cinjin
mengebulkan asap huncwe-nya dan melihat asap itu berwarna hitam, tahulah Mo-kai Nyo Tiang Le bahwa
dia kini harus melawan mati-matian.
Terdengar tosu yang tidak dikenalnya itu tertawa girang dan berkata kepada Kam Seng, “Bagus, bagus,
Kam Seng! Kau memang boleh dipercaya dan pinto tentu suka menjadi suhu-mu.”
Tentu saja Mo-kai Nyo Tiang Le menjadi melongo melihat dan mendengar ucapan ini.
“Kam Seng! Apakah artinya ini?”
Akan tetapi sebelum pemuda itu menjawab, Ban Sai Cinjin telah menegur Pengemis Iblis itu, “Orang she
Nyo! Kau datang sebagai tamu tak diundang, mengapa lagakmu begini kasar? Sebetulnya, apakah
keperluanmu datang ke tempatku ini?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ban Sai Cinjin, semenjak dahulu kita belum pernah bermusuhan, maka harap kau suka memberi
keterangan tentang sute-ku Lo Sian. Di manakah dia?”
Ban Sai Cinjin mengeluarkan suara menghina. “Apa kau kira aku adalah bujang pengasuh dari Lo Sian?
Kau carilah sendiri, di sini tidak ada sute-mu yang gila itu!”
“Gila...? Sute-ku tidak gila...!” kata Mo-kai Nyo Tiang Le sambil memandang tajam.
Merahlah wajah Ban Sai Cinjin sebab tanpa sengaja ia hampir saja membuka rahasianya. Memang Lo
Sian telah menjadi gila karena ia paksa minum obat beracun.
“Kau dan Sute-mu memang orang-orang tidak waras, kalau sehat kenapa malam-malam datang ke tempat
tinggal orang lain mencari Sute-mu?”
Mo-kai Nyo Tiang Le merasa segan untuk bermusuh melawan Ban Sai Cinjin yang lihai dan di situ masih
ada tosu tua yang nampaknya berkepandaian tinggi itu. Juga ia masih merasa heran mendengar
percakapan antara tosu itu dengan Kam Seng, maka ia pikir lebih baik mengajak pemuda itu pergi dari
tempat berbahaya ini.
“Sudahlah, aku tak mau mengganggu terlebih jauh. Hayo, Kam Seng, kita pergi dari sini!” katanya
mengajak pemuda itu.
Akan tetapi, sungguh di luar dugaannya sama sekali jawaban yang dia dengar dari mulut pemuda itu,
“Tidak, aku tidak pergi dari sini. Di sinilah tempatku bersama suhu-ku yang baru Wi Kong Siansu!”
Barulah kini Mo-kai Nyo Tiang Le tahu bahwa tosu itu adalah Toat-beng Lomo yang amat terkenal. Ia
terkejut sekali, akan tetapi keheranannya lebih besar lagi.
“Apa katamu?! Kam Seng, apa artinya ini? Apakah kau sudah gila?!”
Pemuda itu memandangnya tajam. “Tidak, Mo-kai Nyo Tiang Le, kaulah yang gila kalau kau mengira akan
bisa memaksaku untuk menjadi pengemis, hidup berkeliaran, pakaian tidak karuan, makan tak tentu. Aku
tidak mau mengikuti kau terus. Kau pergilah dari sini!”
Marahlah Mo-kai Nyo Tiang Le mendengar ucapan ini. Tidak pernah disangkanya bahwa pemuda yang
biasanya pendiam dan penurut itu kini berubah menjadi sedemikian kurang ajar.
“Kam Seng...! Kau murid durhaka! Kalau kau tidak mau pergi, maka terpaksa aku harus binasakan kau
lebih dulu agar kelak tidak mencemarkan namaku!”
Tiba-tiba Kam Seng tersenyum. “Hm, Mo-kai Nyo Tiang Le! Ketahuilah siapa sebenarnya aku. Aku adalah
putera dari Ang-ho Sian-kiam Song Kun, dan semenjak dulu aku sudah bersumpah untuk membalas
kematian ayahku pada Pendekar Bodoh! Nah, apakah kau tetap tak mau lekas pergi dari sini? Aku masih
mengingat akan sedikit kebaikanmu yang telah menurunkan sedikit ilmu silat tak berarti kepadaku. Kalau
kau tidak mau lekas pergi, janganlah menganggap aku keterlaluan apa bila aku terpaksa turun tangan
melawan dan mengusirmu!”
Serasa meledak dada Mo-kai Nyo Tiang Le. Sepasang matanya menjadi merah bagaikan terbakar dan
rambutnya yang tidak karuan itu menjadi kaku berdiri.
“Murid durhaka! Manusia berhati rendah!”
Akan tetapi, dengan amat marah Kam Seng telah mengeluarkan beberapa butir Thi-tho-ci dan mengayun
senjata-senjata rahasia itu ke arah Mo-kai Nyo Tiang Le sambil berseru, “Kau pergilah!”
Dengan amarah yang meluap-luap Mo-kai Nyo Tiang Le menyambut datangnya senjata-senjata rahasia itu
dengan gerakan tangan kirinya yang menangkis dan memukul runtuh beberapa senjata-senjata rahasia itu,
kemudian sambil berseru keras ia lalu melancarkan serangannya yang hebat yaitu pukulan Soan-hong-jiu
yang dilakukannya dengan tenaga penuh ke arah bekas muridnya itu!
Kam Seng maklum akan kelihaian pukulan ini, akan tetapi karena dia tahu pula bahwa mengelak dari
pukulan ini selain sia-sia juga amat berbahaya, terpaksa dia pun segera mengerahkan tenaganya dan
dunia-kangouw.blogspot.com
melakukan gerakan pukulan yang sama.
Walau pun jarak di antara mereka ada dua tombak lebih jauhnya, namun angin pukulan Soan-hong-jiu dari
Mo-kai Nyo Tiang Le ini menyambar hebat sekali ke arah Kam Seng. Pemuda ini juga melakukan pukulan
Soan-hong-jiu dengan tenaga khikang sepenuhnya untuk menangkis.
Dua angin pukulan bertemu dan akibatnya, Kam Seng terlempar ke belakang sampai tubuhnya menimpa
dinding di belakangnya! Akan tetapi tangkisannya itu menyelamatkan jiwanya, karena sedikitnya sudah
membentur tenaga pukulan bekas supek-nya sehingga dia hanya terlempar saja tanpa menderita luka.
“Kau harus mampus!” Mo-kai Nyo Tiang Le berseru sambil melompat ke arah bekas muridnya untuk
memberi pukulan maut. Akan tetapi, tiba-tiba dari sebelah kiri berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu Wi
Kong Siansu telah berada di depannya dan tersenyum mengejek.
“Wi Kong Siansu! Jangan kau ikut-ikut! Tidak ada orang kang-ouw yang begitu tidak tahu malu untuk
mencampuri urusan antara guru dengan muridnya sendiri!” teriak Mo-kai Nyo Tiang Le marah sekali.
Wi Kong Siansu tertawa bergelak. “Mo-kai, kau lupa bahwa pemuda ini bukan muridmu lagi! Ia telah
menyatakan tidak sudi menjadi muridmu dan kau harus ingat lagi bahwa dia kini telah menjadi murid pinto!
Apakah kau kira pinto dapat berpeluk tangan saja melihat murid pinto hendak dibinasakan olehmu?”
Saking marahnya Mo-kai Nyo Tiang Le menjadi nekat.
“Bagus!” teriaknya “Hendak kulihat sampai di mana kehebatan Toat-beng Lo-mo!”
“Ha-ha-ha! Majulah, mari kita main-main sebentar!” jawab tosu itu.
Nyo Tiang Le menyerang dengan cepat dan bertubi-tubi. Akan tetapi, tosu yang berilmu tinggi itu dengan
tenangnya dapat mengelak dan membalas dengan serangannya.
Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu melayani Pengemis Iblis dengan kedua ujung lengan bajunya yang
panjang, yang menyambar-nyambar dengan totokan-totokan ke arah jalan darah. Setiap sambaran ujung
lengan baju membawa angin keras dan berat sekali.
Mo-kai Nyo Tiang Le amat kaget saat menyaksikan betapa angin pukulan Soan-hong-jiu yang
dipergunakannya selalu terpental kembali tiap kali terbentur oleh ujung lengan baju itu. Segera maklumlah
ia bahwa dalam hal tenaga lweekang dan khikang, ia masih kalah setingkat!
Oleh karena merasa percuma saja melawan tosu lihai ini, Mo-kai Nyo Tiang Le membuat gerakan
mengalah, yakni melompat mundur beberapa tindak sambil berkata, “Toat-beng Lo-mo, kepandaianmu
sungguh mengagumkan sekali! Perkenankan aku pergi membawa muridku yang murtad!” Sambil berkata
demikian, ia melompat hendak menyambar tubuh Kam Seng yang berdiri di sudut, akan tetapi Wi Kong
Siansu sudah mendahuluinya dan kembali menghadang di depannya.
“Mo-kai! Jangan kau lanjutkan kehendakmu yang salah ini. Kau pergilah dengan aman, dan pinto takkan
mengganggumu. Akan tetapi kalau kau berkeras hendak mencelakakan muridku, terpaksa pinto harus
turun tangan!”
Mo-kai Nyo Tiang Le menjadi makin marah. Ia maklum bahwa ia akan sukar sekali dapat memenangkan
tosu ini, akan tetapi kalau ia mundur, berarti bahwa ia telah menurunkan kehormatannya dengan rendah
sekali. Bagi orang gagah, soal kehormatan lebih penting dan lebih mahal dari pada nyawa. Muridnya
berlaku khianat dan durhaka, sudah menjadi haknya untuk menghukum murid itu. Jika ada orang lain yang
menghalanginya, itu berarti penghinaan yang amat besar.
Sambil berseru keras, Mo-kai Nyo Tiang Le kemudian mencabut tongkatnya yang tadi dia selipkan di ikat
pinggang depan. Kemudian ia lalu menotok ke arah leher tosu itu dengan gerak tipu Sian-jin Tit-lou (Dewa
Menunjukkan Jalan).
“Bagus!” seru Wi Kong Siansu.
Tosu ini segera mengebut dengan ujung lengan bajunya sebelah kiri, kemudian ia lantas mengibaskan
lengan baju kanannya ke arah kepala lawannya dengan gerak tipu Burung Elang Menyambar Ayam. Nyo
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiang Le cepat mengelak dan dia lalu memutar tongkatnya dengan hebat sekali. Tongkat pendek itu
terputar-putar bagaikan kitiran, berubah menjadi gulungan sinar yang amat kuat dan berkelebatan,
ujungnya dapat menotok ke arah jalan darah di tubuh lawan. Inilah ilmu tongkat dari Hoa-san-pai yang lihai
sekali, karena setiap serangan dapat mendatangkan maut!
Akan, tetapi Wi Kong Siansu adalah tokoh persilatan yang telah banyak pengalaman dan kepandaiannya
tinggi sekali. Dia telah tahu akan ilmu tongkat Hoa-san-pai ini, maka biar pun dia tak menggunakan senjata,
tetapi kedua ujung lengan bajunya sudah cukup untuk memunahkan semua serangan Nyo Tiang Le.
Nampaknya dia hanya menggerakkan kedua ujung lengan baju itu perlahan dan lambat saja, akan tetapi
angin gerakannya demikian kuat sehingga tiap kali ujung tongkat Mo-kai menyerang, selalu kena ditolak
oleh ujung lengan baju itu.
Setelah menyerang selama tiga puluh jurus lebih belum juga dapat mendesak lawannya yang tangguh itu,
bahkan gulungan sinar tongkatnya makin lemah, tiba-tiba Mo-kai Nyo Tiang Le berseru keras dan tubuhnya
lantas bergulingan ke atas lantai sambil melakukan serangan hebat dan bertubi-tubi dari bawah! Inilah ilmu
tongkat Hoa-san-pai yang paling lihai dan disebut gerak tipu Naga Sakti Mempermainkan Mustika!
Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu terkejut juga melihat cara penyerangan yang hebat serta berbahaya ini.
Ujung tongkat lawannya menyambar-nyambar dari bawah dibarengi dengan tubuh lawannya yang
bergulung-gulung dan selalu mengejarnya ke mana juga ia melompat. Dia sudah mengenal ilmu silat ini,
akan tetapi oleh karena ilmu meringankan tubuh dari Mo-kai Nyo Tiang Le memang hebat, maka kelihaian
penyerangan ini sungguh mengatasi dugaannya!
Pada saat dia melompat untuk mengelak dari tusukan yang diarahkan kepada pusarnya, tiba-tiba Mo-kai
Nyo Tiang Le berseru keras dan melompat pula, dengan cara yang amat tak terduga mengubah
serangannya dengan gerak tipu Monyet Tua Menyambar Bunga, langsung menusukkan tongkatnya ke
arah ulu hati tosu itu! Serangan ini amat cepat dan tak terduga sehingga sukar untuk dielakkan lagi.
Akan tetapi Wi Kong Siansu benar-benar mengagumkan. Dia sangat tenang dan tidak menjadi gugup.
Dengan ujung lengan baju sebelah kiri ia menyabet ujung tongkat itu dan lengan baju sebelah kanan untuk
menyabet pula hingga kain ini kini melibat tongkat milik lawannya. Sekarang kedua ujung lengan baju itu
sudah membelit tongkat dan tak dapat dilepaskan lagi.
Melihat kesempatan baik ini, dengan girang Nyo Tiang Le segera menggerakkan tangan kirinya, dengan
jari tangan terbuka ia langsung memukul kepala tosu itu dengan pukulan Soan-hong-jiu yang hebat!
Kalau pukulan ini mengenai kepala tosu itu, biar pun dia amat kuat dan lihai, agaknya dia akan mendapat
luka di dalam kepala dan nyawanya tidak akan dapat diselamatkan lagi. Akan tetapi, dengan gerakan yang
amat cepatnya, tosu itu menarik kepalanya ke bawah lalu melakukan serangan dengan kepalanya itu,
diserudukkan ke arah dada Nyo Tiang Le, di bawah lengan kiri yang memukulnya!
Nyo Tiang Le kaget sekali, menahan napas dan mengumpulkan lweekang-nya pada dada untuk
menyambut benturan kepala yang tak dapat dielakkan atau pun ditangkis lagi itu.
“Dukkk...!”
Tubuh Nyo Tiang Le langsung terpental sampal dua tombak lebih, sedangkan Wi Kong Siansu nampak
pucat dan terhuyung-huyung akan tetapi pada saat itu dia bisa mengatur napasnya kembali.
Sedangkan Nyo Tiang Le, sesudah terguling sambil muntahkan darah merah dari mulut, ternyata juga
dapat melompat berdiri lagi! Akan tetapi pada waktu itu pula, dari sebelah kanannya menyambar benda
hitam kekuningan ke arah kepalanya. Ia terkejut dan cepat mengelak, akan tetapi terlambat!
“Takk!”
Terdengar suara ketika kepala huncwe di tangan Ban Sai Cinjin mengenai batok kepala Pengemis Iblis.
Seketika itu juga Nyo Tiang Le merasa kepalanya pening dan matanya gelap. Tiba-tiba dia berbangkis
beberapa kali, lalu tertawa bergelak dan ia lalu melompat keluar di dalam gelap, terus melarikan diri!
Ban Sai Cinjin tertawa terbahak-bahak. “Dia telah terluka di dalam otaknya, sekarang dia hanya kehilangan
ingatannya saja, akan tetapi tak lama lagi ia akan roboh dan mampus!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kam Seng terkejut sekali mendengar ucapan ini dan hatinya merasa ngeri. Sebetulnya ia tak mengira
bahwa supek-nya akan mengalami nasib yang sehebat itu. Tadinya ia hanya bermaksud untuk melepaskan
diri dari Mo-kai Nyo Tiang Le untuk berguru kepada tosu itu dan untuk mendapatkan harapan baru dalam
cita-citanya membalas dendam.
Juga Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu menghela napas panjang dengan rasa sesal.
“Sute, mengapa kau menewaskannya? Permusuhan akan menjadi makin hebat.”
Ban Sai Cinjin tersenyum. “Suheng, pengemis itu terlalu menghina kita, dan orang jahat dan berbahaya
seperti dia sudah sepatutnya dilenyapkan agar kelak tidak menimbulkan kepusingan.”
Kam Seng lalu berlutut di depan Wi Kong Siansu dan berkata, “Suhu, betapa pun juga, Mo-kai Nyo Tiang
Le pernah melepas budi kepada teecu, apakah teecu boleh mengubur jenazahnya?”
Tosu itu nampak girang. “Bagus, Kam Seng. Sikapmu ini menyenangkan hatiku, karena boleh kuharapkan
kesetiaanmu kepadaku kelak. Kau susullah dia, kurasa tidak akan jauh dari sini kau akan dapat
menemukannya.”
Kam Seng segera melompat keluar dan mengejar ke arah Nyo Tiang Le tadi melompat pergi. Dan benar
saja, di tempat yang tak jauh dari kelenteng itu dia mendapatkan tubuh supek-nya itu sudah tak bernyawa
lagi, rebah di atas tanah dalam keadaan terlentang!
Kedua mata pengemis iblis itu terbuka dan di bawah sinar buIan, mata itu seakan-akan memandangnya
dengan penuh penyesalan, mulut yang sudah biru itu pun seakan-akan berbisik, “Murid durhaka!”
Ia bergidik dan cepat menggunakan sapu tangan untuk menutupi muka itu. Kemudian dia menggali lubang
di tanah dekat tempat itu untuk mengubur jenazah supek-nya.
Demikianlah, semenjak saat itu, Kam Seng menjadi murid Wi Kong Siansu. Ia menerima latihan ilmu silat
yang tinggi sehingga kepandaiannya maju pesat sekali. Ketika Hok Ti Hwesio, murid Ban Sai Cinjin yang
kini telah menjadi seorang hwesio muda yang cakap tiba di kelenteng itu, hwesio muda ini memandang
kepada Kam Seng dan berkata,
“Sute, agaknya aku pernah melihat mukamu, entah di mana.”
Kam Seng tersenyum dan menekan debar jantungnya. “Tidak bisa jadi, Suheng. Selama hidupku baru
sekali ini aku bertemu dengan kau.”
Karena Kam Seng pandai membawa diri dan sangat menghormat kepada semua orang sebagai orang
baru, dia amat disuka. Selain Bouw Hun Ti dan Hok Ti Hwesio, Ban Sai Cinjin masih mempunyai seorang
murid lain yang usianya baru empat belas tahun, yaitu putera seorang pangeran dari kota raja. Pangeran
itu maklum akan kelihaian Ban Sai Cinjin, maka ia lalu memberikan puteranya untuk dididik oleh kakek lihai
ini.
Anak muda ini datang dua bulan setelah Kam Seng berada di kelenteng itu dan namanya adalah Ong Tek.
Sebelum berguru kepada Ban Sai Cinjin, Ong Tek pernah mempelajari ilmu silat dari panglima kerajaan,
sehingga ilmu silatnya pun sudah lumayan juga.
Kam Seng memberikan banyak petunjuk kepada sute-nya yang dikasihinya ini, dan sebaliknya Ong Tek
juga memberi pelajaran ilmu surat kepada suheng-nya ini. Hubungan mereka sangat erat karena dengan
lain-lain orang yang berada di sana, terutama dengan Hok Ti Hwesio, kedua anak muda ini kurang merasa
cocok.
Dengan amat tekun dan rajin, Kam Seng berlatih ilmu silat dari Suhu-nya yang baru dan tanpa terasa lagi,
setahun telah lewat dengan amat cepatnya…..
********************
Begitulah riwayat Kam Seng yang terlihat oleh Lili. Tentu saja Lili merasa terheran-beran melihat betapa
Kam Seng dan orang tua yang berjenggot pendek itu ternyata menuju ke kelenteng di mana dulu Kam
dunia-kangouw.blogspot.com
Seng akan dibelek perutnya oleh hwesio cilik murid Ban Sai Cinjin!
Sebenarnya, Kam Seng baru saja datang dari dusun Tong-sin-bun, ke rumah Ban Sai Cinjin untuk
menjemput orang setengah tua itu yang menjadi utusan dari Pangeran Ong. Utusan ini adalah seorang
guru silat yang dahulu pernah pula mengajar Ong Tek di kota raja dan kini dia menerima tugas dari
Pangeran Ong untuk menengok puteranya serta membawa segala macam barang kiriman berupa pakaian,
uang dan lain-lain.
Kedatangan Kam Seng dan guru silat disambut oleh Ong Tek dengan girang sekali. Anak muda ini berlari
menghampiri guru silat itu dan sambil memegang tangannya, dia segera bertanya, “Tan-kauwsu, apakah
Ayah dan Ibu baik-baik saja?”
“Baik, Kongcu, semua baik. Taijin dan Hujin hanya berpesan agar supaya Kong-cu suka belajar dengan
rajin di sini.”
Mereka bertiga lalu masuk ke ruang dalam, di mana terdapat Wi Kong Siansu dan Hok Ti Hwesio. Ban Sai
Cinjin tidak berada di situ, oleh karena kakek mewah ini lebih banyak bermalam di dusun Tong-sin-bun.
Semenjak Wi Kong Siansu tinggal di kelentengnya itu, Ban Sai Cinjin tak merasa leluasa apa bila tinggal
bermalam di situ pula. Dia merasa malu kepada suheng-nya karena dia memiliki kesukaan yang meniadi
pantangan bagi kakak seperguruannya, yaitu misalnya meminum minuman keras, bermain judi dengan
kawan-kawannya, atau bergurau dengan perempuan-perempuan penyanyi.
Mata Lili yang tajam masih dapat mengenal Hok Ti Hwesio sebagai hwesio kecil yang dulu hampir
membelek perut Kam Seng, maka semakin heranlah dia melihat betapa kini Kam Seng dapat bersahabat
dengan hwesio itu! Juga dia heran sekali ketika mendengar Kam Seng menyebut ‘Suhu’ kepada tosu tua
yang duduk di situ!
Di manakah adanya suhu Sin-kai Lo Sian serta supek Mo-kai Nyo Tiang Le? Demikian dara perkasa ini
bertanya seorang diri dengan penuh rasa bingung.
Lili mendengarkan guru silat she Tan itu bercerita mengenai keadaan di kota raja dan hatinya berdebar
keras ketika guru silat itu berkata,
“Agaknya keturunan Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya telah mulai berdatangan dan mengacau pula
di sekitar kota raja.”
Tak hanya Lili yang mengintai dari atas genteng yang tertarik oleh penuturan ini, bahkan semua orang di
bawah genteng juga tertarik sekali.
“Seorang pemuda keturunan Pendekar Bodoh atau entah kawan-kawannya, oleh karena menurut cerita
Kam Thai-ciangkun, penjahat itu pandai ilmu-ilmu silat Pendekar Bodoh, telah mengacau di kota Tatung
dan membunuh putera Kepala Daerah Tatung, yaitu Gui Kongcu. Bahkan pemuda jahat itu sudah
melarikan seorang gadis bangsa Haimi yang tadinya hendak menjadi bini muda Gui Kongcu!”
Kam Seng amat tertarik dan bertanya, “Tan-kauwsu, siapakah namanya? Dan apakah ia benar-benar
putera Pendekar Bodoh? Apakah namanya Hong Beng, Sie Hong Beng?”
Guru silat itu menggeleng kepalanya. “Entahlah, tentang namanya aku tidak tahu. Hanya saja, menurut
penuturan Kam-ciangkun, pemuda jahat itu amat lihai. Kam-ciangkun telah terkenal memiliki kepandaian
yang tinggi sekali, akan tetapi dia mengaku bahwa pemuda pengacau itu ilmu silatnya benar-benar tinggi,
hampir sama dengan Pendekar Bodoh!”
Tentu saja Lili merasa heran dan juga tertegun mendengar cerita ini. Siapakah pemuda itu? Benarkah
Hong Beng kakaknya? Boleh jadi, karena dia mendengar dari ayah ibunya bahwa kakaknya itu pun sudah
meninggalkan perguruan dan kini menuju pulang setelah merantau dulu untuk meluaskan pengalaman.
Tiba-tiba terdengar suara tertawa dan ketika Lili memandang ke bawah, ia melihat bahwa yang tertawa itu
adalah Hok Ti Hwesio, kepala gundul muda itu. Hok Ti Hwesio tertawa menyeringai dengan sikap
menghina dan berkata,
“Ha-ha, kenapa orang selalu menyebut-nyebut nama Pendekar Bodoh dan menganggap dia seakan-akan
dunia-kangouw.blogspot.com
seorang dewata? Kenapa orang agaknya memuji-muji musuh sehingga memperkecil semangat sendiri?
Urusan Pendekar Bodoh, serahkan saja padaku, siapa yang takut kepadanya? Tunggulah sampai aku
bertemu dengan dia!”
Semua orang tahu bahwa Hok Ti Hwesio ini selain sombong seperti gurunya, juga amat lihai. Ia telah
mempelajari tidak saja ilmu silat tinggi, akan tetapi juga ilmu sihir dan ilmu lainnya yang aneh dan mukjijat.
Ia memiliki ilmu kebal yang luar biasa, bukan ilmu kebal yang timbul akibat tenaga lweekang, akan tetapi
ilmu kebal yang dipelajari oleh pengaruh sihir.
Sebagaimana pernah dituturkan pada bagian depan, untuk memperoleh ilmu ini, ia tidak segan-segan
untuk makan jantung manusia. Selain itu, dia sangat terkenal pula dengan kepandaiannya melempar dan
mainkan pedang kecil atau pisau belati yang disebutnya sendiri ‘hui-kiam’ (pedang terbang).
Pedang kecil ini dapat ia lontarkan dengan cepat dan yang aneh, pedang kecil ini dapat mengejar
sasarannya dan dapat pula terbang kembali seakan-akan bersayap. Tentu saja pedang itu tidak dapat
terbang sebagaimana nampaknya, namun karena kepandaiannya melempar yang telah terlatih baik dan
karena bentuk pedang itu agak bengkok, ditambah pula dengan pengerahan tenaga yang tepat, maka
pedang itu seolah-olah dapat terbang kembali.
Ketika Lili mendengar ucapan hwesio muda ini, timbullah kemarahannya. Hampir saja dia melompat turun
untuk mengamuk dan menampar mulut hwesio yang berani menantang-nantang ayahnya itu.
Akan tetapi ia teringat akan nasehat ayahnya yang berkata, “Lili, kelemahan yang paling membahayakan
diri kita sendiri, adalah rasa takut dan nafsu marah. Kalau kau takut dan marah, maka kau tak akan dapat
berlaku tenang dan mutu permainan silat akan menjadi turun serta keadaan menjadi lemah sekali. Karena
itu, baik dalam keadaan bagaimana juga kau harus sanggup menguasai hatimu, dan dapat membebaskan
diri dari rasa takut dan nafsu marah.”
Aku tak boleh marah, pikirnya dan setelah dengan susah payah ia dapat menekan hawa amarah yang
mengalun di dalam dadanya, barulah Lili memandang kembali ke bawah. Ia mendengar Tan-kauwsu masih
banyak menceritakan keadaan kota raja dan saat melihat kepala Hok Ti Hwesio yang gundul plontos dan
mengkilap tertimpa sinar tujuh batang lilin yang dipasang di atas meja, timbullah keinginan di hati Lili untuk
mempermainkan orang ini. Memang gadis ini mempunyai watak yang persis seperti ibunya, jenaka, nakal
dan suka mempermainkan orang yang dibencinya.
Di atas genteng itu terdapat banyak tanah lumpur yang terjadi dari debu dan air hujan. Ia lalu menggaruk
lumpur ini dari celah-celah genteng kemudian membuat beberapa butir pil lumpur sebesar kacang.
Lili bekerja dengan hati-hati sekali hingga sama sekali tak menimbulkan suara, kemudian dia meletakkan
sebutir pil lumpur atau tanah liat itu di atas telapak tangan kirinya, dan menggerakkan jari tengah dan ibu
jari kanan untuk menendang atau menyelentik pil itu ke bawah.
Dia tidak berani menggunakan tangan menyambit karena kalau dia lakukan hal ini, tentu angin tenaga
sambitannya itu akan terdengar dari bawah oleh telinga orang-orang yang berkepandaian tinggi itu. Begitu
pil tanah liat itu terkena tendangan jari tengah, benda kecil ini meluncur turun dengan amat cepat menuju
ke arah kepala Hok Ti Hwesio yang gundul licin dan mengkilap.
“Plokk!”
Pil tanah liat itu dengan jitu sekali mengenai kepala Hok Ti Hwesio dan menjadi gepeng serta melengket
pada kulit kepalanya! Akan tetapi tubuh hwesio muda itu tidak bergerak sedikit pun juga, seakan-akan
serangan ini tidak terasa olehnya.
Hal ini amat mengejutkan hati Lili, oleh karena ia maklum bahwa tenaga selentikannya ini cukup untuk
membuat tanah liat itu melubangi batang pohon! Demikian keraskah batok kepala hwesio itu?
Sebaliknya, Hok Ti Hwesio juga terkejut sekali. Dia tidak merasa terlalu sakit, akan tetapi kulit kepalanya
cukup terasa pedas. Yang membuat dia sangat terkejut adalah kelihaian serangan ini. Mengapa dia tidak
mendengarnya sama sekali? Bagaimana orang dapat menyambit sesuatu tanpa mengeluarkan suara?
Dan lagi, kalau memang betul yang menyambitnya seorang manusia yang berada di atas genteng, kenapa
dia dan yang lain-lainnya tidak mendengarnya? Mungkin pendengaran telinganya kurang tajam, akan tetapi
dunia-kangouw.blogspot.com
Wi Kong Siansu tentu akan mendengarnya!
Maka dia lalu meraba kepalanya dan menyangka bahwa yang jatuh di atas kepalanya itu hanya tahi cecak
yang kebetulan jatuh di atas kepalanya. Juga Kam Seng dan Wi Kong Siansu mendengar suara ‘plok’ tadi,
akan tetapi karena mereka tidak melihat sesuatu apa pun, hanya mengira bahwa itu adalah suara buah
busuk yang jatuh di atas tanah di luar kelenteng.
Benda hitam kecil ke dua meluncur cepat, disusul dengan yang ke tiga dan ke empat. Tiba-tiba saja Hok Ti
Hwesio berseru keras dan mencabut pisau belatinya dengan marah sekali. Kali ini dia merasa sakit sekali
pada hidung dan kedua telinganya. Dengan tepat sekali tiga pil tanah liat kecil itu menghantam hidung dan
kedua daun telinganya.
Tak salah lagi, ini tentu perbuatan seorang manusia. Tidak mungkin binatang cecak bisa melempar tahi
demikian kebetulan!
“Bangsat rendah, kalau kau memang berani, turunlah!” bentaknya sambil mendongakkan kepalanya
memandang ke arah genteng.
Akan tetapi malang baginya, karena ia berseru sambil menengadah, sebutir pil tanah liat yang tidak
kelihatan dan tidak terdengar menyambarnya, dan tahu-tahu telah memasuki mulutnya sehingga tak
tertahan pula terus masuk ke tenggorokan lalu turun ke perut!
“Kurang ajar! Keparat!”
Hok Ti Hwesio menggerakkan tubuhnya dan dengan cepat ia telah melompat keluar dan langsung naik ke
genteng, sedangkan Wi Kong Siansu, Kam Seng, Tan-kauwsu dan Ong Tek memandang kelakuan hwesio
itu dengan heran.
Ketika tiba di atas genteng, Hok Ti Hwesio memandang ke sana ke mari, akan tetapi dia tak melihat
bayangan seekor kucing pun di atas genteng. Dengan mendongkol dan juga heran sekali dia melompat
turun dan kembali ke dalam ruang itu. Ia berpikir bahwa kalau memang benar ada orang mengganggunya,
tentulah orang itu melakukan hal itu karena marah mendengar ia tadi menantang Pendekar Bodoh, karena
itu dengan suara keras ia berkata,
“Apa bila yang datang tadi Pendekar Bodoh atau konco-konconya, maka ternyata bahwa Pendekar Bodoh
dan konco-konconya hanyalah pengecut-pengecut besar yang berani menyerang dengan sembunyi! Kalau
ia berani turun ke sini, dalam beberapa jurus saja tentu pisauku ini akan menembus lehernya!”
Baru saja ucapannya habis, mendadak terdengar bentakan nyaring dari atas, “Bangsat gundul bermulut
besar!” Berbareng dengan bentakan itu, berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di ruangan itu telah
berdiri seorang gadis yang cantik jelita dan gagah sekali.
Semua orang amat terkejut melihat gadis ini, karena bagaimanakah seorang dara muda remaja memiliki
ginkang yang sedemikian tingginya sehingga kedatangannya sampai tak terdengar sama sekali?
Yang lebih terkejut adalah Kam Seng, karena sekali memandang saja ia mengenal gadis ini sebagai Lili!
“Lili...!” ia berseru perlahan dengan mata terbelalak.
Apa bila orang melihat sinar matanya, di sana akan terbayang kasih sayang yang besar, tercampur
kebencian yang mengejutkan. Memang, semenjak dahulu ketika tertolong oleh Sinkai Lo Sian, Kam Seng
merasa kagum dan suka sekali kepada Lili. Ia kagum akan kecantikan dan kejenakaan gadis ini, sehingga
dulu sering kali ia diam-diam memandang kepada gadis itu dengan pikiran melamun. Akan tetapi, di
samping rasa kasih sayangnya ini, ia mengandung kebencian hebat sekali mengingat bahwa dara jelita ini
adalah puteri dari musuh besarnya, Pendekar Bodoh!
Seruan perlahan ini terdengar juga oleh Lili, maka dia menengok dan tersenyum manis. “Kukira tadi bukan
Kam Seng yang berada di sini, akan tetapi ternyata benar-benar kau! Kenapa kau berada di sini? Di
manakah Suhu dan Supek?” tanyanya sambil memandang tajam. Sinar matanya berkelebat seolah-olah
hendak menembus dada Kam Seng hingga pemuda itu merasa tak enak hati sekali dan mukanya berubah
merah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sementara itu, Wi Kong Siansu beserta yang lain-lain juga sudah bangkit dari tempat duduknya, dan Hok
Ti Hwesio bertanya kepada Kam Seng,
“Sute, siapakah perempuan ini?”
Tiba-tiba timbul sebuah pikiran yang baik dalam otak Kam Seng. Ia memang mempunyai perasaan tidak
suka kepada Hok Ti Hwesio yang kini menjadi suheng-nya, dan dia ingin mengadu hwesio ini dengan Lili
agar dengan demikian dia dapat mengadukan dua orang yang termasuk dalam daftar musuhnya.
“Suheng, engkau tadi mencari Pendekar Bodoh. Nah, inilah puterinya yang bernama Sie Hong Li atau Lili!”
Lili makin terheran mendengar ucapan Kam Seng ini. “Dan Si Gundul ini kalau tak salah tentulah si tukang
membelek perut, bukan? Apakah dia sekarang menjadi suheng-mu, Kam Seng?”
Makin merahlah muka Kam Seng mendengar hal ini. “Lili...” katanya perlahan. “Sekarang tidak ada
hubungan antara kau dan aku lagi, aku... aku sudah menjadi murid Wi Kong Siansu, yaitu suhu-ku yang
baru ini!”
Lili tersenyum mengejek. “Siapa bilang bahwa kau dan aku pernah ada hubungan? Dari dulu pun kita tidak
mempunyai hubungan sesuatu!”
Sementara itu, Hok Ti Hwesio tak dapat menahan kemarahannya lagi.
“Bagus, hendak kulihat sampai di mana kelihaian anak dari Pendekar Bodoh!”
Sambil berkata demikian, ia lantas menyerang dengan pisau belatinya, menusuk ke arah dada Lili yang
berdiri dengan tenang. Melihat tusukan ini, Lili lalu tertawa mengejek dan sambil mengelak gesit ia
mentertawakan hwesio itu.
“Tukang sembelih babi! Bagaimana kau berani berlagak di depan nonamu? Apakah kau masih ingin
merasai pil tanah liat lagi? Masih kurang kenyangkah yang tadi itu?” Sambil berkata demikian, tangan Lili
terayun dan dia melemparkan dua butir pil lagi yang masih dipegangnya. Dengan cepat sekali dua butir pil
itu menyambar ke arah sepasang mata Hok Ti Hwesio!
Bukan main kagetnya Si Kepala Gundul ini pada saat melihat dua titik hitam berkelebat menyambar
matanya. Dia cepat menundukkan mukanya, akan tetapi serangan dua butir pil tanah liat itu benar-benar
cepat sekali.
“Tak! Tak!”
Bagaikan dua buah pelor besi, dua butir pil tanah liat itu melesat di atas kepalanya yang gundul, meski pun
tidak dapat melukai kulitnya yang kebal, namun cukup mendatangkan rasa sakit!
“Perempuan liar, kau harus mampus!” serunya marah.
Dia langsung maju lagi menyerang dengan cepat, menggunakan gerak tipu yang disebut Coan-jiu Ciongkiam
(Lonjorkan Lengan Sembunyikan Pedang). Gerakan ini merupakan serangan yang berbahaya sekali,
karena ia melakukan serangan dengan pukulan tangan kanan sambil menyembunyikan pedang kecil itu di
bawah lengannya. Pedang kecil ini siap untuk diputar dan ditusukkan apa bila pukulan itu dapat dielakkan
lawan.
Akan tetapi, Lili yang sudah menerima latihan-latihan ilmu silat tinggi dari ayah ibunya, bahkan sudah
menerima ilmu silat warisan dari Swie Kiat Siansu yang diturunkan melalui ayahnya, tentu saja hanya
mentertawakan serangan ini. Ia maklum bahwa pedang kecil yang tersembunyi di bawah lengan itu akan
melakukan serangan lanjutan, maka dia lalu memutar kedudukan kakinya, mengelak sambil memainkan
Ilmu Silat Sianli Utauw (Tari Bidadari) yang indah sehingga tubuhnya seakan-akan sedang menari-nari
menghadapi serangan lawannya. Mulutnya yang kecil manis itu tiada hentinya tersenyum dan sambil
menggerakkan tubuh mengerling tajam ke arah lawannya, ia menyindir,
“Tikus gundul! Tiada guna kau maju memperlihatkan kebodohanmu! Suruhlah Bouw Hun Ti si keparat itu
keluar untuk kuambil kepalanya!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Hok Ti Hwesio semakin marah, apa lagi ketika dia mendengar Wi Kong Siansu berkata sambil
menudingkan jari telunjuknya ke arah gadis itu,
“Itulah Ilmu Silat Sianli Utauw yang lihai dari Ang I Niocu! Hok Ti, kau mundurlah karena kau tidak akan
menang menghadapi Nona ini!”
Hanya ada seorang saja di dunia ini yang ditakuti serta ditaati oleh Hok Ti Hwesio, yakni gurunya, Ban Sai
Cinjin. Walau pun dia menghormati supek-nya ini, akan tetapi di dalam kemarahan dan rasa penasarannya
terhadap Lili ucapan supek-nya itu bahkan semakin menambah kemarahannya.
“Biarlah, Supek. Masa teecu tidak dapat mengalahkan perempuan liar ini?”
Ia lalu maju lagi dan kini mengirim serangan maut bertubi-tubi. Pisau belati di tangannya menyambarnyambar
cepat sekali dan karena ginkang-nya memang sudah sangat tinggi, sedangkan pisau itu kecil dan
ringan, ditambah tenaga lweekang-nya yang sudah baik, maka tubuhnya lenyap berubah menjadi
segunduk bayangan yang mengurung tubuh Lili dari segenap jurusan.
Lili sudah mempelajari ilmu silat tinggi dari ayahnya, bahkan meski pun belum sempurna seperti ayahnya,
namun dara jelita yang gagah perkasa ini sudah mengerti pula tentang dasar dan pokok pergerakan ilmu
silat, maka dengan enaknya ia menghadapi serangan-serangan Hok Ti Hwesio.
Dia melihat hwesio itu menyerangnya dengan gerak tipu Tiang-ging King-thian (Pelangi Panjang
Melengkung di Langit) dan pedang kecil itu menyambar di atas kepalanya, ada pun kaki kanan hwesio itu
menendang dengan cepatnya sambil mengerahkan tenaga Kim-kong-twi (Tendangan Sinar Emas).
Melihat gerakan pedang dan kaki yang menendang, Lili dapat menduga bahwa lawannya tentu memancing
dirinya untuk mengelakkan tendangan itu dengan gerak lompat Kim-le Coan-po (Ikan Gabus Terjang
Ombak) atau Cian-liong Seng-thian (Naga Sakti Naik ke Langit) agar supaya tubuhnya naik ke atas hingga
pedang kecil yang berkelebat di atas kepalanya itu dapat menyerangnya dengan gerak tipu Liong-ting Thicu
(Ambil Mutiara di Kepala Naga).
Ia pun maklum akan berbahayanya serangan beruntun ini, akan tetapi dasar Lili memang berhati tabah,
berwatak nakal jenaka, dan sudah memiliki perhitungan yang tepat, maka dengan sengaja seakan-akan tak
tahu bahaya, ia segera melompat ke atas mengelakkan serangan tendangan lawan dengan Ilmu Lompat
Cian-liong Seng-thian!
Hok Ti Hwesio menjadi girang sekali melihat pancingannya ternyata berhasil dan benar saja, seperti yang
sudah diduga oleh Lili, pedang kecil di tangannya lalu menyambar dari atas, memapaki kepala Lili dengan
gerakan Liong-ting Thi-cu (Ambil Mutiara di Kepala Naga)! Satu hal yang tidak terduga oleh Lili, yaitu
sambil melakukan serangan berbahaya ini, tangan kiri Hok Ti Hwesio tidak tinggal diam dan maju memukul
ke arah dada gadis itu dengan pukulan yang mengandung tenaga Thiat-ciang-kang (Pukulan Tangan Besi)!
Kam Seng yang melihat bahaya mengancam gadis cantik yang diam-diam menjatuhkan cinta kasihnya itu,
hampir saja berseru ngeri karena tak terbayang olehnya bagaimana orang dapat menghindarkan diri dari
bahaya serangan sehebat itu!
Akan tetapi Lili berlaku tenang. Ia mengangkat tangan kirinya ke atas dan menggerakkan tangannya itu
secara luar biasa sekali ke arah pedang lawan sehingga terdengar suara…
“Cringg...!”
Ternyata dia sudah berhasil menangkis pedang lawannya itu dengan gelang emas yang melingkar di
pergelangan tangan kirinya! Ada pun pukulan ke arah dadanya itu ia sambut dengan tangan kanannya,
dengan telapak tangan dari jari-jari yang dikembangkan!
“Ah... tangan kanan itu sudah terang mainkan Pek-in Hoat-sut akan tetapi tangan kiri itu... apakah itu yang
disebut Kong-ciak Sinna, ilmu-ilmu lihai dari Bu Pun Su?” terdengar Wi Kong Siansu berseru kagum.
Akan tetapi, orang-orang lain tak memperhatikan ucapan ini karena mereka lebih tertarik melihat akibat dari
dua gerakan gadis yang lihai itu. Hok Ti Hwesio tadi merasa terkejut setengah mati ketika menyaksikan
betapa gadis muda itu dapat menangkis pedangnya hanya dengan gelang di tangannya! Akan tetapi
kekagetannya itu tidak berarti apa bila dibandingkan dengan kenyataan yang ia hadapi ketika pukulan
dunia-kangouw.blogspot.com
tangan kirinya bertumbuk dengan telapak tangan gadis itu!
Ia tidak merasa bahwa kepalan tangannya sudah bertemu dengan telapak tangan kanan lawannya, akan
tetapi dari telapak tangan itu mengebul uap putih dan ia merasa lengan kirinya seakan-akan hendak patah!
Rasa sakit menusuk-nusuk tulang lengannya yang kiri, dan dia tahu bahwa itu adalah akibat membaliknya
tenaga pukulannya sendiri!
Sambil berseru keras hwesio ini melompat ke belakang dan cepat menggunakan gagang pedangnya untuk
menotok urat lengan kirinya. Dengan cara demikian dia membuyarkan tenaga sendiri yang membalik
karena tangkisan gadis itu secara istimewa tadi!
“Perempuan liar! Jangan lari!” teriak Hok Ti Hwesio dengan keras dan marah, suatu sikap untuk menutup
rasa malunya dan untuk memperbesar semangatnya.
Ia menubruk maju lagi dan kini ia bersilat lebih hati-hati. Diam-diam ia merasa penasaran dan sedih sekali
sehingga ingin sekali dia menangis berkaok-kaok saking jengkel hatinya. Bagaimanakah dia, Hok Ti
Hwesio, murid Ban Sai Cinjin, yang sejak masih kecil dengan rajin dan tekunnya mempelajari banyak
macam ilmu silat tinggi, bahkan sudah memiliki kekebalan dan ilmu kesaktian yang berdasarkan ilmu
hitam, juga sudah ‘bertapa’ mencari kesaktian dari makhluk halus, bermalam di tanah pekuburan, sekarang
dengan pedang di tangan tidak berdaya menghadapi seorang gadis yang bertangan kosong?
Saking jengkelnya, ia tidak ingat lagi akan pengalamannya yang tadi. Bila Hok Ti Hwesio tidak begitu
jengkel dan penasaran, tentu telah terbuka matanya bahwa dia menghadapi seorang lawan yang tingkat
kepandaiannya jauh lebih tinggi dari padanya.
“Hemm, tikus gundul! Binatang rendah macam kau inikah yang hendak melawan ayah? Ha, kau perlu
diberi rasa sedikit!”
Setelah berkata demikian, Lili mengubah caranya bersilat dan kini dia memainkan Sianli Utauw bagian
yang paling cepat. Tubuhnya seakan-akan lenyap berubah menjadi sinar kemerahan dari bajunya yang
berkembang merah itu sehingga pandangan mata Hok Ti Hwesio menjadi pening.
Sering kali ia menyaksikan gurunya atau supek-nya bersilat dengan hebat, akan tetapi belum pernah
melihat yang secepat ini. Dia lalu mengamuk dan menggunakan pedang kecilnya menyambar ke arah
bayangan tubuh lawannya. Akan tetapi tiap kali pedangnya menyerang, xia merasa hanya mengenai angin
belaka karena lawannya sudah berhasil mengelak lebih dulu. Dan sebagai imbangannya…
“Tokk!” terdengar suara ketika kepalanya telah kena diketok oleh jari tangan Lili.
Beberapa puluh jurus mereka bertempur dan entah sudah beberapa belas kali terdengar suara ‘tak-tok!
tak-tok!’ karena selalu tangan atau pun kaki Lili berkenalan dengan kepala yang gundul klimis itu.
Gadis ini benar-benar merasa kagum dan heran. Ketokan, pukulan, dan tendangannya itu dilakukan
dengan tenaga lweekang yang penuh dan kuat luar biasa. Jangankan baru kepala orang, biar pun kepala
patung batu akan pecah atau retak terkena serangan ini. Bagaimanakah hwesio ini dapat menerima semua
pukulan itu dengan adem-adem saja, seakan-akan yang hinggap di kepalanya hanyalah lalat-lalat belaka?
Sebaliknya, Hok Ti Hwesio menjadi demikian mendongkol, malu, penasaran dan marah sehingga tak
terasa lagi dari kedua matanya keluar dua titik air mata yang besar-besar! Bukan main gemasnya karena
kepalanya dibuat main bola oleh gadis ini, dan biar pun ia dapat menahan pukulan itu, namun tetap saja ia
merasa sedikit puyeng!
Wi Kong Siansu khawatir kalau-kalau murid keponakan ini akan mendapat luka di dalam otaknya akibat
pukulan-pukulan lihai itu, maka dia segera membentak, “Hok Ti! Mundur kau...!”
Kali ini Hok Ti Hwesio tidak membangkang, karena di dalam suara supek-nya terdengar perintah yang
amat keras. Lagi pula, tadinya dia hendak mengadu nyawa karena merasa malu untuk mengundurkan diri
mengaku kalah setelah dia tadi bersumbar, kini ia melihat kesempatan baik karena supek-nya yang
memerintahnya mundur!
Dengan gerak lompatan Naga Hitam Berjungkir Balik ia melompat ke belakang, membuat poksai (salto)
tiga kali dan tiba-tiba ketika tubuhnya masih berjumpalitan itu, pisau belati yang berada di tangannya telah
dunia-kangouw.blogspot.com
ia lontarkan ke arah Lili!
Inilah keistimewaan Hok Ti Hwesio. Pedang kecil atau pisau belati itu lantas menyambar dengan cepatnya,
merupakan sinar putih yang mengkilap menuju ke arah leher Lili yang sama sekali tidak menduganya.
Akan tetapi, dengan tenang sekali dan masih tersenyum, Lili mengangkat tangan kiri ke depan leher dan
dengan gerak tipu Kwan-im-siu-koai-to (Dewi Kwan Im Menyambut Golok Siluman) ia telah dapat
menangkap hui-kiam (pedang terbang) itu dan berbareng pada saat itu juga, dia mengirim pulang pedang
itu dengan melontarkannya ke arah perut Hok Ti Hwesio disusul suara ejekannya,
“Nah, makanlah pisau penyembelih babimu ini!”
Baru saja tubuh Hok Ti Hwesio melompat turun, pisaunya telah terbang dan menyambar perutnya yang
kecil karena jarang makan itu. Dia terkejut sekali sehingga tidak sempat mengelak atau menangkis, maka
dia cepat mengerahkan kekebalannya ke tempat yang terserang itu dan…
“Brett!” hanya pakaiannya sajalah yang terobek oleh pisau itu, akan tetapi kulitnya lecet pun tidak!
“Terlalu enak bagimu!” Lili berseru penasaran dan sambil melangkah maju dua tindak, ia melancarkan
pukulan Pek-in Hoat-sut ke arah hwesio itu dengan kedua lengannya!
“Celaka!” seru Wi Kong Siansu.
Dari tempatnya tosu ini segera menggerakkan ujung kedua lengan bajunya menangkis serangan angin
pukulan yang sudah dilancarkan oleh Lili. Akan tetapi, masih tetap saja sebagian tenaga pukulan ini
menyerang Hok Ti Hwesio sehingga hwesio itu terpental menubruk dinding di belakangnya yang terpisah
tiga tombak lebih dari padanya!
Kalau saja pukulan ini tak tertahan oleh angin tangkisan Wi Kong Siansu, maka tak dapat diharapkan Hok
Ti Hwesio akan dapat bernapas lagi. Walau pun dia kebal, akan tetapi pukulan Pek-in Hoat-sut menembus
semua kekebalan dan merusak tubuh bagian dalam. Kini Hok Ti Hwesio juga terluka, akan tetapi tidak
terlalu parah dan tidak membahayakan jiwanya, hanya cukup membuat dia terduduk mengeluh panjang
pendek sambil berusaha mengerahkan tenaga dalam untuk memulihkan lukanya.
“Ganas, ganas...!” kata Wi Kong Siansu sambil memandang kepada Lili. “Tidak kusangka bahwa Pek-in
Hoat-sut dari Bu Pun Su yang budiman dan penuh hati welas asih itu kini dipergunakan oleh cucu muridnya
secara demikian kejam!”
Lili tersenyum manis dan menjura kepada Wi Kong Siansu, lalu ia pun berkata, “Wi Kong Siansu, aku yang
muda sudah sering kali mendengar namamu yang besar sebagai orang yang berkepandaian tinggi.
Ucapanmu tadi memang kuakui ada benarnya, akan tetapi agaknya kau orang tua sudah menjadi pikun
dan lupa akan ejekan orang-orang jaman dahulu yang berbunyi: peluh orang lain berbau busuk, akan tetapi
kotoran sendiri berbau sedap! Tadi mudah saja kau mencela aku yang muda, bahkan membawa nama
Sucouw Bu Pun Su. Akan tetapi, bukankah tikus gundul itu murid keponakanmu sendiri? Kenapa kau tidak
mencelanya sama sekali? Apakah kau anggap bahwa perbuatannya terhadap aku tadi cukup pantas?”
Merahlah wajah Wi Kong Siansu mendengar ucapan ini. Ia tidak tahu bahwa Lili memang semenjak kecil
gemar berkelahi dan karena sering kali bertengkar, maka ia juga menjadi pandai berdebat! Apa lagi karena
dia sering kali mendengar ayahnya memberi nasehat dengan segala macam ujar-ujar kuno, maka ujar-ujar
yang kiranya dapat dia pergunakan untuk ‘memukul’ lawan, telah hafal di dalam kepalanya.
Dengan kata-katanya yang lantang itu, gadis ini sama sekali tidak memandang muka Wi Kong Siansu
sehingga tosu itu menjadi penasaran sekali. Ia merasa ditantang!
“Hemm, Nona muda, biar pun kau puteri Pendekar Bodoh, tak selayaknya kau bersikap begini sombong di
hadapan Toat-beng Lo-mo! Agaknya ayahmu hanya memberi didikan ilmu silat saja kepadamu, sama
sekali tidak memberi pelajaran mengenai tata susila dan sopan santun!”
Kembali Lili tersenyum lebih manis lagi. Semakin manis senyum gadis ini, maka semakin berbahayalah dia,
karena itu merupakan tanda bahwa ia sedang mengasah otaknya dan berada dalam keadaan yang amat
waspada.
“Totiang, orang-orang dulu yang lebih tua dari padamu telah menyatakan bahwa manusia dihormat oleh
dunia-kangouw.blogspot.com
sesamanya bukan karena keputihan rambutnya (usia tua), melainkan dari keputihan hatinya (budiman).”
Mulai bersinar pandang mata Wi Kong Siansu. “Bocah lancang mulut! Apakah kau mau menyatakan bahwa
kau anggap aku seorang jahat?”
“Tak ada sangka-menyangka dalam hal ini, Totiang,” kata Lili sambil mengerling ke arah Kam Seng dengan
pandangan mengejek. “Ayah pernah berkata bahwa burung gagak hanya akan berkawan dengan mayat,
sedangkan burung Hong hanya berkawan dengan burung sorga! Aku tidak berani menyatakan atau
menyangka bahwa Totiang dan semua orang di sini jahat pula, akan tetapi aku berani menyatakan bahwa
orang-orang yang bernama Bouw Hun Ti dan Hok Ti Hwesio, yang keduanya tinggal di tempat ini juga
adalah binatang-binatang rendah yang harus dimusnakan dari muka bumi ini!”
Ucapan ini terasa bagai tamparan pedas di muka Wi Kong Siansu, akan tetapi terhadap Kam Seng
merupakan ujung pedang yang menikam di ulu hatinya. Mukanya yang tadi merah sekarang berubah
menjadi pucat.
Wi Kong Siansu berkata lagi, “Hemm, kau masih kanak-kanak akan tetapi mulutmu jahat sekali. Sikapmu
menantang kepadaku, akan tetapi aku masih malu untuk menghadapi seorang anak kecil seperti kau. Kam
Seng, kau wakili aku dan coba kau uji kepandaian Nona ini!”
Kam Seng tidak berani membantah. Gurunya sudah tahu bahwa sebelum dia datang di tempat itu, ia
adalah suheng dari gadis ini, maka kalau sekarang ia memperlihatkan sikap ragu-ragu dan membantah,
tentu gurunya akan menaruh hati curiga kepadanya. Pula, Lili adalah anak dari musuh besarnya yang
harus pula ia balas, sungguh pun cara membalas dendam terhadap Lili telah ada rencana lain dalam
otaknya!
Dia amat sayang kalau nona yang begini cantik manis sampai terbinasa. Akan lebih baik kalau dia dapat
mengambil nona ini menjadi isterinya! Bukan karena cinta kasih murni, akan tetapi hanya untuk
mempermainkan anak musuh besarnya!
Sambil menekan debar jantungnya, Kam Seng segera melangkah maju sambil mencabut pedangnya.
“Lili,” katanya dengan suara tenang, “kau sudah berani menghina Suhu. Lekas cabutlah pedangmu itu dan
mari kita main-main sebentar. Hendak kulihat apakah kepandaianmu sesuai dengan kesombonganmu ini!”
Lili tidak menjawab, bahkan dia lalu menatap pemuda itu dan memandang dengan penuh perhatian dari
kepala sampai ke kaki. Ia melihat pemuda ini sekarang nampak tampan dan gagah, mukanya putih
terawat, rambutnya tersisir rapi dan diikat ke atas. Pakaiannya bersih dan terbuat dari sutera mahal, baju
warna merah dengan leher kuning emas dan celana warna biru. Alangkah jauh bedanya dengan Kam Seng
yang dulu itu! Dulu hanya seorang pengemis kelaparan dan kurus kering, berpakaian compang-camping
dan kotor.
“Hemm, Kam Seng, kau benar-benar sudah memperoleh kemajuan hebat! Pakaianmu itu semewah
keadaan dalam ruangan ini! Hanya sayangnya, tidak semua keadaan di luar mencerminkan keadaan di
dalam! Banyak kutemui keindahan luar yang hanya menjadi kedok dari pada kebobrokan di sebelah
dalam!” Suara ini dikeluarkan dengan bibir masih tersenyum simpul, seolah-olah ia adalah seorang dewasa
yang sedang memberi nasehat kepada seorang anak kecil.
“Sudahlah, Lili, jangan banyak cakap lagi,” Kam Seng menjawab dengan muka kemerah-merahan. “Tidak
ada gunanya bertanding kata-kata, cabutlah pedangmu!”
“Lagakmu seperti orang gagah saja!” Lili masih menyindir dan dengan gerakan perlahan dia mengeluarkan
sebuah kipas dari dalam bajunya, membuka kipas itu lalu mengipasi tubuhnya yang tidak gerah!
Bagi pandangan orang lain dan juga Kam Seng, agaknya sikap Lili ini memandang rendah sekali kepada
lawannya. Bahkan Kam Seng tidak mengira bahwa gadis itu akan menghadapinya dengan kipas di tangan!
“Lili, lekas kau keluarkan pedangmu. Aku tak mau menyerang orang bertangan kosong!” Ucapan ini
sengaja dikeluarkan dengan keras untuk memberi tamparan kepada Hok Ti Hwesio yang dibencinya.
Akan tetapi Lili hanya tersenyum saja dan mengipasi tubuhnya makin cepat lagi. “Untuk menghadapi
seekor lalat, cukup dengan sehelai kipas!” katanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tidak seperti Kam Seng dan orang-orang lainnya, Wi Kong Siansu memandang kepada kipas di tangan Lili
itu dengan penuh perhatian. Bukan kipasnya yang menarik perhatian tosu ini, melainkan cara jari tangan
gadis itu memegang kipas itu.
Orang lain apa bila memegang kipas tentu gagangnya digenggam di telapak tangan di antara empat jari
dan ibu jari. Akan tetapi Lili memegang kipas itu dengan gagang dijepit antara ibu jari dan telunjuk,
sedangkan tiga jari tangan yang lain lurus dan tegang!
Berdebarlah dada tosu ini karena pegangan ini mengingatkan ia akan jago tua di utara, yaitu Swie Kiat
Siansu, ahli Kipas Maut! Akan tetapi tidak mungkin, pikirnya. Bagaimana gadis ini bisa menjadi murid Swie
Kiat Siansu?
“Kam Seng, jangan pandang ringan kipas itu, kau seranglah!” katanya kepada muridnya.
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Best Cersil

Pecinta Cersil