Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 15 November 2017

Cerita Silat Kho Ping Hoo Dara Baju Merah 5 Tamat

Baca Cerita Silat Kho Ping Hoo Sebelumnya
Cerita Silat Kho Ping Hoo Dara Baju Merah 5 Tamat
----Merah muka Ang I Niocu mendengar ini. Dengan suara mengejek ia berkata,
“Hemm, sesungguhnya aku hendak menolak undangan ini. Akan tetapi karena khawatir disangka takut
akan jebakan, biarlah aku melihat-lihat sarang kalian.”
Berseri-seri wajah Pek-ciang Kwan Liong. Ia segera memberi perintah kepada para anak buah berandal
untuk menyiapkan segala sesuatu di ‘pesanggrahan’ untuk menyambut datangnya tamu agung, dan
mempersiapkan meja perjamuan!
Sesudah itu, dengan langkah tenang dan gagah Ang I Niocu diiringkan naik ke sebuah puncak tak jauh dari
situ, puncak yang penuh dengan pohon-pohon liar. Di tengah-tengah hutan di puncak bukit ini terdapat
sebuah rumah kayu yang besar. Inilah tempat tinggal dari Min-san Sam-kui, ada pun para anak buah
rampok itu tinggal di sekeliling puncak, di dalam gubuk-gubuk kecil yang dibangun di sana-sini.
Ketika mulai mendaki puncak bukit ini, di kanan kiri lorong berdiri para perampok dengan senjata di tangan,
berdiri tegak seperti barisan memberi hormat kepada seorang jenderal yang lewat. Keadaan amat angker
dan menakutkan sekali, akan tetapi Ang I Niocu tetap tenang-tenang saja, berjalan tanpa menoleh ke
kanan kiri.
Iring-iringan ini masuk ke dalam bangunan besar dan diam-diam Ang I Niocu merasa kagum karena
keadaan di dalam bangunan kayu ini jauh bedanya dengan keadaan di luar. Belasan pemuda dan pemudi
yang nampak di ruangan tamu dan kelihatan sebagai pelayan-pelayan tidak kasar-kasar seperti para
perampok itu, bahkan boleh dibilang para pemudanya rata-rata tampan-tampan dan para gadisnya cantikcantik.
Sama sekali ia tidak mengira bahwa para pemuda ini adalah orang-orang culikan yang dipaksa dan dibawa
ke tempat itu sebagai kekasih Siang-kiam Sian-li Kwan Bi Hoa dan juga gadis-gadis itu adalah orang-orang
culikan yang dipaksa menjadi kekasih Pek-ciang Kwan Liong! Mereka ini selain bertugas menghibur hati
kakak beradik mata keranjang ini, juga bekerja sebagai pelayan dan selalu berada di dalam bangunan,
tidak pernah keluar, apa lagi ikut merampok. Mereka ini pendiam tidak banyak bicara, mukanya pucatpucat,
muka orang-orang yang putus harapan.
Di ruangan tamu yang lebar itu telah disediakan meja panjang penuh dengan hidangan-hidangan lezat.
Kembali Ang I Niocu terheran-heran karena bagaimana di tengah hutan dan di puncak gunung itu orang
bisa mendapatkan hidangan-hidangan seperti di rumah makan di kota saja?
Ia tidak tahu bahwa memang di tempat ini disediakan bahan-bahan masakan yang serba lengkap, juga di
situ terdapat sebuah dapur yang besar dan lengkap, bahkan terdapat pula seorang koki culikan.
Kesenangan Toa-to Ang Kim yang terutama adalah makanan enak, maka untuk memenuhi selera dan
memuaskan hatinya setiap hari diadakan pesta besar memotong ayam dan babi.
“Untuk menghormati kedatangan Lihiap sebelum kembali melanjutkan perjalanan, kami mengadakan
sekedar acara makan minum. Setelah mengaso sebentar baru Lihiap dapat melanjutkan perjalanan,” kata
Ang Kim sambil tertawa ramah.
“Mana bisa begitu sebentar? Kami malah berharap Lihiap suka bermalam di tempat kami yang buruk ini
barang semalam dua malam,” Kwan Liong menyambung cepat-cepat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ada pun Kwan Bi Hoa hanya tersenyum-senyum saja dan kadang-kadang memandang kepada seorang
pelayan tampan dengah mata mendelik kalau pelayan ini mengerling ke arah Ang I Niocu dengan
pandangan mata kagum. Agaknya perempuan ini besar sekali cemburunya!
“Undangan makan dapat kuterima dengan senang hati dan kuucapkan terima kasih. Akan tetapi untuk
bermalam di sini betul-betul tidak mungkin. Aku harus segera melanjutkan perjalanan,” jawab Ang I Niocu
dan tanpa malu-malu ia segera mengambil tempat duduk ketika pihak tuan rumah mempersilakannya.
Mereka lalu mulai makan minum. Ang I Niocu berlaku seolah-olah ia makan dan minum semua hidangan
tanpa ragu-ragu dan tanpa sangsi-sangsi. Padahal sebenarnya dia amat hati-hati dan waspada, hidungnya
bekerja keras, terus mencium bau setiap makanan dan minuman sebelum makanan atau minuman itu
memasuki mulut dan perutnya. Akan tetapi ia sengaja tidak pernah mengeringkan cawan araknya sehingga
setelah pihak tuan rumah menghabiskan tujuh delapan cawan, ia baru menghabiskan tiga cawan saja.
Tiba-tiba Pek-ciang Kwan Liong yang mukanya sudah mulai kemerahan akibat pengaruh arak berdiri dan
tertawa-tawa sambil memegang seguci arak yang baru didatangkan oleh pelayan.
“Lihiap Ang I Niocu mengapa sungkan-sungkan? Arak kami adalah arak simpanan, arak wangi yang sudah
puluhan tahun usianya, amat baik untuk menyehatkan tubuh dan dapat menambah semangat. Harap Lihiap
sudi menerima secawan arak ini untuk menghormati pertemuan yang amat membahagiakan hati ini!”
Tentu saja Ang I Niocu tak dapat menolak dan memberikan cawannya untuk diisi penuh. Arak kali ini
adalah arak berwarna merah yang baunya harum sekali, mengalahkan arak yang tadi-tadi. Ang I Niocu
mengikuti mereka mengangkat cawan arak dan meminumnya.
Sebelum arak itu memasuki mulutnya, hidungnya dapat mencium bau keras di antara bau harum, akan
tetapi tanpa memperlihatkan tanda sesuatu, Ang I Niocu segera menenggak arak itu. Tiba-tiba dia
mengerutkan alisnya, berdiri, kemudian memegang kepala sambil menundukkan mukanya, lalu terhuyunghuyung
seperti orang pusing.
Dia mendengar Ang Kim bertanya, “Eh, ehh, Lihiap kenapakah...?”
Juga dia mendengar suara ketawa Kwan Bi Hoa, kemudian dia mendengar suara yang diharap-harapkan,
yakni suara Kwan Liong yang berkata perlahan penuh kegembiraan, “Aha, sudah kena... roboh... roboh...”
Ang I Niocu terguling miring dan roboh tak bergerak lagi!
“Sute apa yang kau lakukan?” terdengar Ang Kim membentak sute-nya.
Kwan Liong tidak menjawab, akan tetapi Kwan Bi Hoa yang kemudian menjawab sambil tertawa-tawa genit,
“Twa-suheng seperti tidak tahu saja, mana Liong-ko mau melepaskan orang begini cantik?”
“Bi-moi benar, Twa-suheng,” kata Kwan Liong, “selama hidup belum pernah aku melihat seorang gadis
secantik ini. Kalau aku tidak bisa mendapatkan dia, tentu selamanya aku akan terkenang dan tergila-gila.”
Ang Kim menarik napas panjang. “Asal kau berhati-hati saja. Dia itu lihai sekali...”
“Jangan khawatir, Suheng. Aku sudah biasa menundukkan singa-singa betina liar. Kalau sekali dia sudah
menjadi punyaku, tentu dia akan menjadi penurut dan dia akan menjadi pembantu kita yang amat boleh
diandalkan.”
Ang Kim mengomel sambil menghirup araknya. “Sesukamulah, kesukaanmu main-main seperti ini tidak
akan menambah panjangnya usiamu. Aku lebih baik makan dan minum...” lalu terdengar ia mengunyah
daging dengan lahapnya dan mendorongnya ke dalam perut dengan beberapa teguk arak.
Kwan Bi Hoa yang sudah dalam keadaan setengah mabuk, membelai-belai rambut salah seorang pemuda
pelayan yang berlutut di dekatnya, ada pun Kwan Liong sambil tertawa haha-hihi mendekati Ang I Niocu,
kemudian berlutut.
Ang I Niocu yang kelihatan seperti orang pingsan tak berdaya itu, tiba-tiba saja membuka mulutnya dan
arak tadi menyembur keluar dari mulutnya, mengenai muka Kwan Liong.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ayaaa...!” Kwan Liong menjerit sambil melompat mundur dan kedua tangannya menutupi muka yang
terasa pedas sekali terkena semburan arak tadi. Akan tetapi di lain saat, sinar pedang berkelebat dan
kepala Pek-ciang Kwan Liong sudah terpisah dari lehernya yang terbabat putus oleh pedang di tangan Ang
I Niocu!
Dara baju merah ini berdiri dengan mata berapi-api dan pedang di tangan, dan sikapnya mengancam
sekali. Toa-to Ang Kim berdiri di atas kursinya laksana patung, terlampau kaget sehingga untuk beberapa
lama dia tak dapat bergerak. Siang-kiam Sian-li Kwan Bi Hoa juga segera melompat berdiri dengan mata
terbelalak, kaget setengah mati melihat kakaknya sudah menggeletak dengan leher putus.
“Bagus, kalian memang buta, akan tetapi tadinya kukira kalian sudah sembuh dan dapat melihat. Tidak
tahunya kalian ini tikus-tikus busuk yang tidak pandai menggunakan mata. Orang-orang macam kalian ini
apa bila tidak dibasmi, untuk apa lagi aku semenjak kecil mempelajari ilmu?” kata Ang I Niocu.
Sekali kakinya menendang, sebuah meja penuh piring dan mangkok melayang ke arah Kwan Bi Hoa.
Perempuan ini cukup gesit, melompat ke samping dan yang menjerit roboh adalah pelayan yang tadi
dibelainya, terpukul meja.
Para pelayan menjerit dan lari ke sana ke mari mencari tempat sembunyi. Para anak buah perampok yang
menjaga di luar, cepat menyerbu masuk dengan senjata di tangan. Toa-to Ang Kim dan Siang-kiam Sian-li
Kwan Bi Hoa sudah sadar dari kagetnya dan kini Ang Kim memegang goloknya yang besar, ada pun Bi
Hoa memegang sepasang pedang siap menggempur Ang I Niocu.
Ang I Niocu mengeluarkan suara ketawa yang merdu, akan tetapi yang membangkitkan bulu tengkuk para
perampok ketika gadis ini berkata,
“Rakyat Min-san, saksikanlah aku Ang I Niocu akan membebaskan kalian dari gangguan perampokperampok
Bukit Min-san!”
Pada lain saat tubuh Ang I Niocu berkelebat lenyap berubah menjadi sinar merah yang menyambar ke
sana ke mari, dikeroyok oleh Ang Kim, Kwan Bi Hoa, dan puluhan orang perampok yang biasanya berlaku
sewenang-wenang kepada rakyat di sekitar daerah itu. Pedang di tangan Ang I Niocu luar biasa sekali
ganasnya, setiap kali pedang itu meluncur pasti merobohkan seorang perampok yang tewas di saat itu
juga.
Medan pesta berubah menjadi medan pertempuran yang hebat. Meja kursi yang tadinya dipakai pesta, kini
melayang ke sana ke mari terkena terjangan dan tendangan. Mangkok piring yang pecah tertumbuk dinding
kayu atau jatuh ke lantai menerbitkan suara hiruk pikuk. Ini semua masih ditambah oleh orang-orang
berteriak kesakitan. Darah membanjiri ruangan itu.
Akhirnya hanya tersisa lima orang tangan kanan mereka saja yang masih melakukan pengepungan. Yang
lain-lain sudah tak ada lagi. Banyak yang menggeletak tanpa nyawa, akan tetapi lebih banyak pula yang
melarikan diri karena gentar menghadapi pendekar wanita baju merah yang kosen itu.
Golok besar yang dimainkan oleh Ang Kim cukup kuat dan tangguh. Golok ini lalu diputar hingga
mengeluarkan angin dan sinar pedang Ang I Niocu sulit menembus benteng sinar goloknya yang
bergulung-gulung. Juga Kwan Bi Hoa berdaya upaya membalas kematian kakaknya, sepasang pedangnya
diputar cepat, membalas serangan Ang I Niocu dengan serangan maut. Lima orang perampok yang masih
mengeroyok benar-benar merupakan anak buah yang setia, karena sungguh pun mereka ini kewalahan
benar, namun mereka tidak mau melarikan diri meninggalkan dua orang pemimpin mereka itu.
Ang I Niocu tadinya mengharapkan mereka ini melepaskan senjata dan minta ampun. Kalau terjadi hal
demikian, kiranya dia pun tidak tega untuk membunuh mereka. Asal saja mereka mau berjanji untuk
mengubah cara hidup, dia bersedia untuk memberi ampun. Akan tetapi melihat kekerasan kepala mereka,
timbul amarah di dalam hatinya.
“Bangsat-bangsat kecil, kalian tak boleh dikasih hati!” bentaknya dan tiba-tiba permainan pedangnya
berubah.
Jika tadi permainan pedangnya amat cepat menyilaukan mata, adalah sekarang menjadi lambat dan
gerakan tubuhnya menjadi amat indah seperti orang menari-nari. Akan tetapi kini setiap kali pedangnya
digerakkan, tidak hanya sebagai main-main belaka, melainkan merupakan serangan yang tak dapat
dunia-kangouw.blogspot.com
ditangkis lagi.
Sekali pedangnya berkelebat ke arah dua orang perampok. Biar pun dua orang itu sudah menangkis
dengan golok, tetap saja pedang itu menyeleweng dan meneruskan serangan tanpa dapat dielakkan lagi.
Dua orang itu menjerit dan roboh mandi darah! Ang I Niocu melanjutkan serangannya dan dalam beberapa
jurus saja tiga orang perampok yang lain roboh juga.
”Apakah kalian masih belum mau bertobat?!” Ang I Niocu memberi kesempatan terakhir kepada Toa-to Ang
Kim dan Siang-kiam Sian-li Kwan Bi Hoa.
Jawaban yang diterimanya justru berupa sabetan golok besar pada lehernya dan tusukan sepasang
pedang pada dada dan leher!
“Kalian sudah bosan hidup!” bentak Ang I Niocu.
Tiba-tiba tubuhnya lenyap menjadi bayangan merah yang melesat ke sebelah kiri tubuh Kwan Bi Hoa.
Sebelum perempuan cabul ini dapat menangkis, pedang Ang I Niocu sudah memasuki lambungnya,
membuat dia terguling roboh. Sebuah jeritan ngeri merupakan perbuatan terakhir yang dapat dia lakukan.
Melihat sumoi-nya roboh, Toa-to Ang Kim menjadi nekat. Goloknya diputar dalam suatu penyerangan matimatian.
Akan tetapi, seorang lawan seorang, dia ini bukanlah lawan tanding dari Ang I Niocu. Dalam tiga
jurus kemudian, pedang Ang I Niocu telah memasuki rongga dadanya sehingga matilah kepala rampok
yang selama bertahun-tahun ini sudah menumpuk dosa.
Ang I Niocu memandang ke kanan kiri. Tidak kelihatan seorang pun anggota perampok. Ia lalu berjalan
memasuki ruangan dalam. Tiba-tiba belasan orang laki perempuan berlari keluar dan berlutut di
hadapannya sambil menangis. Mereka ini ternyata adalah pelayan-pelayan tadi yang sudah bersembunyi di
belakang dan kini mereka berlutut di depan Ang Niocu dengan ketakutan.
“Mohon ampunkan hamba sekalian, Lihiap. Hamba sekalian hanya orang-orang culikan yang tidak
berdosa...,” mereka meratap.
Ang I Niocu menjadi amat terharu. Diam-diam ia mengutuk kejahatan para perampok dan merasa girang
bahwa yang dibasminya benar-benar gerombolan orang jahat pengganggu rakyat.
“Jangan takut, aku memang akan menolong kalian. Sekarang kumpulkan semua barang-barang berharga,
bagi-bagi di antara kalian, kemudian kalian boleh pulang ke kampung masing-masing.”
Dengan gembira sekali belasan orang laki-perempuan itu lalu berserabutan lari ke dalam kamar-kamar di
mana terdapat barang-barang berharga dan tak lama kemudian mereka sudah berkumpul di luar, masingmasing
membawa bungkusan besar. Ang I Niocu lalu membakar bangunan besar itu yang sebentar saja
menjadi lautan api karena bangunan itu terbuat dari kayu.
“Kalian pulanglah ke rumah masing-masing,” kata pula Ang I Niocu.
Rombongan orang muda itu menjatuhkan diri berlutut untuk menghaturkan terima kasih, kemudian mereka
berlari-lari turun gunung dengan perasaan kegirangan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka, kegirangan
seperti burung-burung yang dilepas dari sangkarnya yang sempit.
Ang I Niocu lalu turun gunung lagi melalui lereng yang tadi, untuk mencari kudanya. Akan tetapi, alangkah
heran dan cemasnya ketika ia tidak dapat menemukan Pek-hong-ma. Ia sudah memanggil-manggil nama
kuda itu dengan suara keras, akan tetapi Pek-hong-ma tetap saja tidak mau muncul.
“Ehh, kemanakah dia?” Ang I Niocu menjadi cemas. “Apakah di sini ada kuda lain yang menariknya?”
Gadis itu lalu mempergunakan kepandaiannya, berlari cepat ke sana ke mari, melompati jurang-jurang kecil
yang kiranya dapat dilompati kudanya. Tiba-tiba ia mendengar suara ringkik Pek-hong-ma di balik gunung
kecil. Cepat ia berlari ke tempat itu dan ketika tiba di belokan gunung ini, dia melihat pemandangan yang
membuat bibir dan pelupuk matanya gemetar saking marahnya.
Kuda Pek-hong-ma telah rebah miring, dalam keadaan berkelojotan hampir mati. Leher dan dadanya
mengucurkan darah. Ketika mata kuda itu melihat Ang I Niocu, binatang ini mengeluarkan suara lagi,
dunia-kangouw.blogspot.com
terdengar menggelogok. Kakinya lalu berkelojotan keras seperti hendak meronta-ronta, kemudian menjadi
lemas. Binatang itu telah menjadi bangkai.
Dengan sinar mata tajam berapi-api, Ang I Niocu memandang kepada orang-orang yang berada di tempat
itu, yang semuanya berdiri seperti patung dan memandang kepadanya dengan sinar mata menantang. Di
dekat kuda itu berdiri tiga orang wanita, yaitu seorang nenek dan dua orang gadis. Sekali pandang saja Ang
I Niocu mengenal mereka.
Nenek itu bukan lain adalah Koai-tung Toanio tokoh besar Kong-thong-pai dan dua orang gadis itu adalah
anak-anaknya yang terkenal dengan sebutan Kim-jiu Siang-eng Kwan Ci-moi! Tiga orang wanita itu dahulu
pernah bertempur dengannya ketika ia melakukan perjalanan bersama Gan Tiauw Ki.
Apakah kehendak tiga orang wanita yang sekarang datang bersama serombongan orang yang berpakaian
seperti pasukan pemerintah? Dulu tiga orang wanita ini sengaja mencari gara-gara dan memusuhinya. Kini,
begitu muncul mereka agaknya sengaja membunuh kudanya Pek-hong-ma, apakah artinya semua ini?
Saking marahnya melihat Pek-hong-ma sudah dibunuh orang, Ang I Niocu membentak sambil
menudingkan pedang yang sudah dicabutnya ke arah tiga orang wanita itu.
“Kalian ini tiga siluman wanita ibu dan anak mengapa selalu memusuhiku? Dahulu kalian sudah menjadi
pecundang, kenapa ada orang-orang begitu tidak tahu malu, menimpakan sakit hati kepada kudaku?
Sungguh keji dan pengecut besar!”
Koai-tung Toanio yang dahulu pendiam sekarang nampak marah sekali. Ia menudingkan tongkatnya ke
arah Ang I Niocu dan berkata marah,
“Manusia keji Ang I Niocu! Baru saja kau telah membunuh anak-anakku Kwan Liong dan Kwan Bi Hoa,
masih saja kau berkata tidak punya kesalahan terhadap kami? Manusia celaka, dulu kau melakukan
penghinaan terhadap kami masih boleh kami lupakan, akan tetapi sekarang, kau berani membunuh mati
kedua orang anakku beserta kawan-kawan mereka. Benar-benar aku tak bisa hidup bersamamu di muka
bumi ini, seorang di antara kita harus mampus sekarang dan di sini juga!”
Ang I Niocu kaget dari baru sekarang ia melihat beberapa di antara pelayan yang tadi ia bubarkan berada
di situ, berlutut dan bajunya robek-robek, agaknya tadi dicambuki dan disuruh mengaku. Tidak tahunya dua
orang Min-san Sam-kui adalah anak dari Koai-tung Toanio atau kakak-kakak dari dua orang gadis yang
sekarang menghadapinya bersama mereka.
Dia menjadi marah. Meski pun tiga orang wanita itu datang bersama pasukan yang terdiri dari tiga puluh
orang lebih, semuanya nampak tegap-tegap dan merupakan tentara yang terlatih, dia sama sekali tidak
menjadi gentar.
“Pantas... pantas...! Hari ini aku bertemu dengan keluarga besar penjahat dan pengecut! Majulah kalian,
biar aku tidak kepalang tanggung dan biar pedangku kenyang dan puas membabat iblis-iblis bermuka
manusia!”
Pada lain saat Ang I Niocu sudah dikeroyok dan sebuah pertempuran yang seru segera terjadi di lapangan
itu. Saking marahnya melihat kuda kesayangannya dibunuh, kini Ang I Niocu mengamuk hebat.
Dia mengeluarkan ilmu pedangnya Sian-li Kiam-sut atau ilmu Pedang Tari Bidadari, yang nampaknya indah
akan tetapi sangat berbahaya bagi lawan. Sukar sekali mata mengikuti gerakan-gerakannya, nampaknya
hanya sebagai seorang dewi cantik menari-nari, tetapi pada sekeliling tubuh dewi ini nampak sinar terang.
Inilah sinar pedang yang menyambar-nyambar tanpa dapat diketahui ke mana gerakan berikutnya sehingga
musuh yang begitu banyaknya itu menjadi bingung dan pengeroyokan menjadi kacau-balau.
Akan tetapi, para pengeroyok sekarang ini jauh bedanya kalau dibandingkan dengan para pengeroyok di
puncak gunung tadi. Tadi para pengeroyok Ang I Niocu hanya terdiri dari kaum perampok yang kasar dan
dalam pertempuran hanya mengandalkan tenaga besar belaka.
Kali ini para pengeroyok yang membantu Koai-tung Toanio dan kedua orang anaknya itu adalah pasukan
terlatih dari Gubernur Lie Kong, yaitu gubernur yang mempunyai cita-cita untuk memberontak di Propinsi
Shansi. Mereka ini terdiri dari prajurit-prajurit pilihan yang sedikit banyak mengerti ilmu silat, maka
pengepungan dan penyerbuan mereka teratur sekali. Mereka dapat bekerja sama, baik dalam penyerangan
dunia-kangouw.blogspot.com
mau pun dalam pertahanan sehingga sebegitu lama Ang I Niocu masih belum berhasil merobohkan
seorang lawan pun, sedangkan pengepungan makin lama semakin rapat.
Baru beberapa jam yang lalu, Ang I Niocu telah melakukan pertempuran hebat, dikeroyok oleh banyak
orang dan di dalam pertempuran membasmi kawanan perampok di Gunung Min-san itu telah
membutuhkan banyak tenaga. Oleh karena itu, ia sudah amat lelah.
Sekarang, dia menghadapi keroyokan musuh yang lebih tangguh, tentu saja keadaannya menjadi
terancam. Akan tetapi Ang I Niocu adalah seorang gadis yang tak mengenal apa artinya takut. Sedikit pun
dia tidak menjadi gentar dan khawatir, bahkan kini pedangnya diputar makin cepat sehingga dalam
beberapa gebrakan saja ia berhasil merobohkan tiga orang anggota pasukan yang mengepungnya.
Hasil ini membuat para pengepungnya terkejut dan kacau-balau, ada pun semangat Ang I Niocu justru
bertambah besar. Biar pun kaki tangannya sudah terasa lemas, ia memaksa diri, memutar-mutar
pedangnya dengan gerakan-gerakan lincah sekali sehingga kembali ia merobohkan dua orang.
“Serbu dan bunuh saja!” Koai-tung Toanio kini berseru keras dengan hati penasaran dan marah sekali.
Tadinya dia memang berpesan kepada anak buah pasukan itu untuk menangkap Ang I Niocu hidup-hidup,
karena ia mempunyai maksud untuk menyerahkan gadis baju merah itu kepada majikan mudanya, yakni
Lie Kian Tek si putera gubernur. Akan tetapi melihat sepak terjang Ang I Niocu yang demikian hebat, dia
lalu merubah niatnya. Orang dengan kepandaian seperti gadis baju merah ini kiranya tidak mungkin
ditawan hidup-hidup.
Benar saja, sesudah dia mengeluarkan aba-aba ini, para anak buah pasukan yang juga khawatir akan
menjadi korban jika berlaku lemah terhadap gadis cantik jelita yang kosen itu, kini mulai mendesak dengan
serangan-serangan maut. Sekarang barulah Ang I Niocu dapat didesak, karena dia betul-betul harus
menjaga diri terhadap desakan dan serangan puluhan batang senjata yang melancarkan serbuan-serbuan
mengancam keselamatan itu. Betapa pun juga, dia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan dan bila
mana saja terdapat lowongan, pasti pedangnya merobohkan seorang dua orang lawan.
Namun, pasukan itu adalah pasukan terlatih dan di dalam ketentaraan Gubernur Shansi, pasukan ini
disebut Pasukan Maut. Mereka itu sudah dilatih, tidak saja latihan jasmani, akan tetapi juga dilatih untuk
bertempur sampai orang terakhir!
Menghadapi pasukan yang semuanya tidak takut mati ini, Ang I Niocu menjadi kewalahan juga. Akan tetapi
ia pun tidak mengenal artinya takut atau mundur. Bagaikan seekor naga betina dia mengamuk, pedangnya
berkelebat-kelebat dan tubuhnya menyambar ke sana ke mari, sepak-terjangnya benar-benar hebat.
Meski pun Ang I Niocu mengerti bahwa kalau pertempuran ini dilanjutkan, tak mungkin ia bisa menewaskan
sekian banyaknya lawan dan akhirnya ia tentu akan kehabisan tenaga dan roboh, namun ia masih belum
mau menyerah dan tidak sudi melarikan diri sebelum tenaganya habis betul-betul!
Tiba-tiba saja terdengar bentakan keras, “Kaum pemberontak hina dina sungguh tak tahu malu
mengandalkan orang banyak mengeroyok seorang dara!”
Muncullah seorang pemuda gagah perkasa yang diiringi oleh belasan orang berpakaian seperti jago-jago
silat. Sikap mereka gagah bukan main dan atas isyarat pemuda gagah itu, mereka lantas menyerbu dengan
pedang mereka. Permainan pedang mereka serupa, menandakan bahwa mereka ini datang dari satu
partai, ilmu pedang yang menyambar-nyambar dari kanan ke kiri dan sebaliknya, dibarengi bentakanbentakan
nyaring.
Ang I Niocu seperti pernah melihat ilmu pedang seperti ini, kalau tidak salah ilmu pedang partai Bu-tongpai.
Sebentar saja pasukan Gubernur Lie menjadi kalang-kabut dan Ang I Niocu kini hanya menghadapi
keroyokan Koai-tung Toanio dan dua orang gadisnya saja. Walau pun kedatangan pemuda tampan gagah
bersama kawan-kawannya itu merupakan pertolongan baginya, namun diam-diam Ang I Niocu merasa
mendongkol sekali.
Gadis ini memang mempunyai watak yang tinggi hati dan tidak mau kalah. Meski pun berada dalam
keadaan bahaya dia tidak mengharapkan pertolongan orang lain, apa lagi pertolongan serombongan orang
laki-laki yang tidak pernah dikenalnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Salah seorang di antara dua gadis puteri Koai-tung Toanio yang melihat datangnya bala bantuan ini,
memaki marah dan kecewa, “Dasar perempuan jalang, di mana-mana ada laki-laki yang membantu. Cih,
tak tahu malu!”
Mendengar makian ini, naiklah darah Ang I Niocu. Tanpa mempedulikan serangan lain, pedangnya
menyambar ke arah orang yang memakinya. Ketika tongkat Koai-tung Toanio menyodok dadanya, ia tidak
mengelak dan juga tidak mau menunda serangannya, hanya menyampok dengan tangan kiri.
Tongkat itu terpental, akan tetapi Ang I Niocu merasa lengannya sakit sekali. Ia menggigit bibir, lantas
melanjutkan serangannya sampai ujung pedangnya mengenai pundak gadis yang memakinya tadi. Gadis
itu memekik dan roboh dengan pundak kanan hampir putus!
Koai-tung Toanio dan puterinya yang seorang lagi cepat mendesak sehingga Ang I Niocu tidak punya
kesempatan untuk mengirim tusukan kedua, namun ia telah puas, wajahnya berseri dan ia melayani para
pengeroyoknya dengan tenang. Ketika ia melihat pemuda gagah yang membantunya mengamuk hebat dan
berada dekat dengan tempat di mana ia bertempur, ia pun berseru kepada pemuda itu, “Aku tidak
membutuhkan bantuan kalian. Pergilah!”
Pemuda itu tertegun dan menengok, mengeluarkan seruan kaget dan menjauhkan diri dari pertempuran,
berdiri seperti patung memandang kepada Ang I Niocu dengan penuh kekaguman. Agaknya baru kini ia
melihat wajah orang yang dibantunya dan penglihatan ini membuat ia tercengang.
Melihat ini, Ang I Niocu makin mendongkol. Gadis ini sudah terlalu sering menyaksikan laki-laki berlaku
seperti itu apa bila memandang kepadanya dan ia menjadi mendongkol sekali, di samping keinginan
hendak mempermainkan laki-laki yang tergila-gila padanya. Senyumnya penuh ejekan dan ia sengaja
memainkan ilmu silatnya dengan gerakan dan gaya yang indah sekali seperti orang menari-nari.
Ada pun Koai-tung Toanio yang melihat betapa pihaknya jadi terdesak dan jatuh banyak korban, segera
memberi aba-aba keras dan ia sendiri menyambar tubuh puterinya yang terluka, lalu melarikan diri dari
tempat itu.
Ang I Niocu yang sudah lelah bukan main tentu saja tidak mau mengejar. Demikian pula orang-orang yang
datang membantunya tidak mau mengejar pula.
Semua orang itu kini menoleh dan memandang kepada Ang I Niocu dengan sinar mata kagum, bukan
hanya kagum melihat ilmu silat gadis ini saja, akan tetapi terutama sekali kagum akan kecantikannya yang
memang jarang bandingnya itu. Melihat ini, Ang I Niocu tersenyum mengejek lalu memutar tubuhnya dan
lari dari tempat itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun kepada mereka!
Melihat ini, pemuda tampan dan gagah tadi segera melompat dan mengejarnya sambil berseru, “Lihiap
yang gagah perkasa, harap kau tunggu dulu, mari kita bicara!”
Akan tetapi Ang I Niocu hanya menoleh sebentar dan berkata, “Aku tidak ada urusan dengan kau!” Dan ia
berlari terus, kini makin cepat.
Pemuda itu penasaran mengerahkan ginkang-nya. Sekali melompat dia sudah maju dua puluh kaki lebih!
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia melihat gadis itu pun melompat, bahkan lebih jauh dari pada
lompatannya.
“Nona yang baik, harap kau berhenti dulu, aku hanya ingin berkenalan!” serunya pula, akan tetapi Ang I
Niocu tidak mempedulikannya, bahkan mempercepat larinya.
Pemuda itu masih hendak mengejar sambil mengerahkan seluruh kepandaiannya berlari cepat, akan tetapi
sia-sia. Gadis itu dapat berlari lebih cepat dan sebentar saja sudah lenyap di balik gunung!
Terpaksa kini Ang I Niocu melanjutkan perjalanannya dengan jalan kaki. Setelah melihat bahwa pemuda
tampan itu tidak mengejarnya lagi, baru terasa olehnya betapa lelahnya setelah dua kali berturut-turut ia
melakukan pertempuran hebat tadi.
Ia berhenti dan duduk beristirahat di bawah sebatang pohon besar. Dengan ujung lengan bajunya,
disusutnya peluh yang membasahi leher dan jidatnya. Matahari telah tenggelam di barat dan keadaan
sudah mulai gelap. Tak terasa pula senja telah lewat dan malam sudah di ambang pintu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Di samping kelelahan yang sangat, baru sekarang Ang I Niocu merasa lapar sekali. Sejak pagi ia belum
makan dan sehari penuh hanya bertempur saja. Lengan kirinya sekarang terasa sakit sekali, akibat
benturan dengan tongkat Koai-tung Toanio tadi. Kemudian ia teringat lagi akan kudanya yang sudah mati.
Celaka sekali! Dengan kehilangan Pek-hong-ma berarti ia pun kehilangan segala-galanya yang menjadi
bekal. Pakaian, uang dan lain-lain semua ada di punggung Pek-hong-ma dan sekarang semua itu hilang.
Ang I Niocu mengerutkan keningnya, wajahnya muram. Semenjak ikut ayahnya, ia selalu dimanja dan
selalu terpenuhi apa yang menjadi kehendaknya, belum pernah kekurangan makan dan pakaian. Sekarang,
dia seorang diri dan lelah serta lapar. Setelah kehilangan segalanya, ia merasa sengsara sekali.
Tak terasa lagi air matanya jatuh bertitik ketika ia tiba-tiba teringat kepada ayahnya dan kepada Gan Tiauw
Ki. Ketika masih tinggal di gedung ayahnya, belum pernah ia merasa selelah dan selapar ini. Pada saat ia
melakukan perjalanan-perjalanan dengan Tiauw Ki, betapa jauh bedanya dengan sekarang. Dengan Gan
Tiauw Ki ia mengalami perjalanan yang penuh madu, penuh kegembiraan dan kebahagiaan.
Tiba-tiba dia bangkit berdiri, “Alangkah bodohku, susiok-couw akan marah kalau melihat aku selemah ini...”
pikirnya.
Ia berjalan lagi, menuju ke sebuah dusun yang atap-atap rumahnya sudah kelihatan dari situ. Sebelum
cuaca menjadi gelap ia harus sudah berada di dusun itu kalau ia tidak mau tidur di tengah hutan.
Alangkah herannya ketika ia tiba di luar dusun, ia disambut oleh semua penduduk dusun, di sana-sini
terdengar seruan!
“Ang I Niocu...! Dia sudah datang... Sambut Ang I Niocu, pendekar kita yang mulia...”
Setelah memandang lebih teliti baru Ang I Niocu tahu bahwa di antara para penyambut itu terdapat bekasbekas
pelayan di pesanggrahan perampok. Tentu mereka inilah yang sudah mengabarkan tentang
pembasmian terhadap para perampok itu. Kepala kampung itu, seorang laki-laki setengah tua yang
berkumis panjang, mengepalai penyambutan dan menjura dengan penuh hormat kepadanya.
“Lihiap yang mulia, telah bertahun-tahun kami hidup dalam ketakutan dan penindasan kaum perampok di
Min-san. Bahkan ada beberapa orang muda dusun kami diculik, selain harta benda kami. Kini muncul
Lihiap yang gagah perkasa, yang telah membasmi mereka dan berarti membebaskan kami dari
cengkeraman perampok jahat. Benar-benar Thian telah mengirimkan Lihiap sebagai seorang dewi untuk
menolong kami yang sudah lama memohon kemurahan dan keadilan Thian.” Setelah berkata demikian,
kepala kampung itu berlutut di depan Ang I Niocu, diturut oleh semua orang kampung.
Akan tetapi, ketika mereka mengangkat kepala, ternyata dara baju merah itu telah lenyap! Tentu saja
mereka heran dan kagum sekali, dan sekali lagi mereka berlutut, mengira bahwa gadis yang cantik luar
biasa dan bisa ‘menghilang’ itu benar-benar seorang dewi kahyangan utusan dari langit! Semenjak hari itu,
orang sekampung sering kali memasang hio, memuja kepada dewi penolong baju merah itu…..
********************
Ada pun Ang I Niocu dengan bersungut-sungut berlari cepat meninggalkan kampung itu. Dasar awak lagi
sial, gerutunya. Ia sama sekali tak mau melayani sambutan orang-orang kampung yang menganggapnya
bagaikan dewi itu, karena ia maklum bahwa apa bila ia melayani mereka, akan berarti ia tidak tidur lagi
semalam suntuk.
Tentu orang-orang kampung akan mengerumuninya, akan memujanya, dan ia pun akan menjadi pusat
perhatian orang belaka. Padahal ia melakukan pekerjaan di puncak bukit tadi, secara mati-matian
membasmi perampok, sama sekali bukan untuk mencari muka atau mencari nama. Disambut secara
demikian oleh kepala kampung dan penduduknya, bukan menjadi girang, sebaliknya Ang I Niocu menjadi
mendongkol kemudian pergi tanpa pamit.
Malam hari itu Ang I Niocu terpaksa tidur di atas pohon di dalam hutan, dan perutnya yang berteriak-teriak
kelaparan itu ia diamkan dengan beberapa butir buah apel. Ia tidak mengira bahwa perbuatannya
membasmi Min-san Sam-kui dan anak buahnya di Gunung Min-san itu telah menggemparkan dunia kangouw
sehingga sekaligus nama Ang I Niocu disebut-sebut orang! Ia dianggap sebagai tokoh hebat yang baru
dunia-kangouw.blogspot.com
muncul ke dalam dunia kang-ouw.
Dengan melakukan perjalanan cepat, dua pekan kemudian Ang I Niocu sudah tiba di kaki Pegunungan
Kim-san. Dari keterangan seorang penduduk dusun di kaki pegunungan ini, ia mendapat tahu bahwa kuil
Kim-san-pai berada di puncak yang sebelah kiri. Ang I Niocu langsung mendaki puncak ini.
Baru saja ia tiba di lereng, ia mendengar suara orang-orang dari bawah dan dilihatnya lima orang tosu
berlari-lari mendaki puncak itu. Dua orang di antara mereka memondong tubuh dua orang tosu tua yang
wajahnya amat pucat dan matanya dipejamkan, agaknya terluka atau sakit payah.
Melihat Ang I Niocu berdiri di pinggir jalan memandang mereka, lima orang tosu itu balas memandang
dengan sinar mata bercuriga. Kemudian dua orang yang memondong kedua tosu terluka tadi berlari terus,
sedangkan yang tiga orang berhenti di depan Ang I Niocu.
Ang I Niocu yang melihat cara lima orang tosu tadi berlari cepat, maklum bahwa dia kini sedang
berhadapan dengan orang-orang berkepandaian tinggi, maka ia lalu menjura dan berkata,
“Mohon, tanya, apakah betul jalan ini menuju ke kuil dari Kim-san-pai? Apakah Sam-wi Totiang juga hendak
ke sana?”
Mendengar pertanyaan Ang I Niocu yang ramah itu, kecurigaan tiga orang tosu tadi jadi berkurang.
Seorang di antara mereka, yang tertua dan berusia kurang lebih empat puluh tahun, memberi hormat dan
menjawab,
“Tak salah dugaan Nona, ini memang jalan menuju ke kuil Kim-san-pai dan pinto bertiga memang betul
sedang menuju ke sana sebab pinto bertiga merupakan tosu-tosu anggota Kim-san-pai. Tidak tahu
siapakah Nona ini dan apakah maksud penghormatan kunjungan Nona ini?”
“Aku adalah... hemm, orang-orang memanggilku Ang I Niocu, dan aku datang ke sini atas perintah susiokcouw-
ku, Bu Pun Su.” Ang I Niocu tidak mau memperkenalkan namanya sendiri karena ia memang lebih
suka namanya tak diketahui orang dan lebih suka dikenal sebagai Ang I Niocu.
Nama Ang I Niocu baru saja terkenal, ada pun para tosu Kim-san-pai itu belum pernah mendengarnya,
maka nama ini tidak mendatangkan apa-apa. Akan tetapi pada saat Ang I Niocu menyebutkan nama Bu
Pun Su, berubah wajah mereka dan berseri pandang mata mereka. Otomatis ketiganya lalu memberi
hormat dengan membungkuk.
“Maafkanlah, pinto bertiga tidak tahu bahwa Niocu adalah utusan Sin-taihiap Bu Pun Su. Marilah kami
antarkan Niocu bertemu dengan Suhu, karena kebetulan sekali pinto bertiga juga mau menghadap Suhu.”
Sesudah berkata demikian, tiga orang tosu itu segera berlari cepat mendaki puncak itu, nampaknya
terburu-buru sekali.
“Maaf, Nona, pinto bertiga jalan di depan!” kata tosu tadi sambil menoleh.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dia sudah tidak dapat melihat lagi nona yang tadi ditinggalkannya.
Hanya bayangan merah berkelebat melewati mereka dan sebentar saja bayangan merah tadi sudah jauh di
atas!
“Hebat... !” tosu itu menarik napas panjang dan berkata kepada dua orang kawannya, “melihat
kepandaiannya, dia betul-betul utusan Sin-taihiap Bu Pun Su dan agaknya nama baik Kim-san-pai akan
dapat tercuci bersih!” Ia lalu mengajak dua orang kawannya untuk cepat-cepat mengejar ke puncak.
Ketika tiga orang tosu itu sudah di puncak dan memasuki kuil besar yang berada di situ, mereka melihat
semua tosu sudah berkumpul di ruangan besar, bahkan guru mereka juga sudah berada di situ. Ada pun
Nona Baju Merah tadi hanya duduk agak jauh tidak berani mengganggu karena guru besar Kim-san-pai
sedang sibuk memeriksa dua orang tosu yang terluka.
Tiga orang tosu yang baru datang mendapat jalan dan segera masuk ke tengah ruangan di mana guru
mereka bersila di lantai sedang memeriksa dua orang anak murid yang tadi dipondong naik.
“Suhu...!” tiga orang tosu ini berlutut.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kakek yang memeriksa tosu-tosu terluka tadi memandang. Ternyata dia adalah seorang tosu tua. Usianya
sudah tujuh puluh tahun lebih akan tetapi dia masih kelihatan sehat dan kuat. Keningnya berkerut dan
pandang matanya suram, tanda bahwa ia sedang menahan ketidak senangan hatinya.
“Siauw Seng Cu, coba kau ceritakan, apa yang sebenarnya terjadi atas diri kedua orang susiok-mu ini,”
kata kakek itu yang ternyata bukan lain adalah Thian Beng Cu, ketua dari Kim-san-pai. Berbeda dengan
partai lain, para tosu di Kim-san-pai menggunakan nama dengan huruf belakang Cu semua, dari ketuanya
sampai tosu pelayan.
Siauw Seng Cu, yakni tosu yang tadi bercakap-cakap dengan Ang I Niocu, lalu bercerita. Untuk mengetahui
lebih jelas tentang pertentangan antara Bu-tong-pai dan Kim-san-pai, baiklah kita meninjau keadaan antara
kedua partai itu dan apa sebabnya kedua partai itu sampai bermusuhan.
Kim-san-pai dan Bu-tong-pai berdekatan, hanya berbeda puncak saja akan tetapi masih satu daerah
pegunungan, yakni pegunungan Bu-tong-san. Bahkan kalau melihat riwayat dahulu, Kim-san-pai masih ada
hubungan dengan Bu-tong-pai, oleh karena pendiri dari Kim-san-pai adalah sute dari pendiri Bu-tong-pai,
jadi ilmu silat mereka masih berasal dari satu sumber. Tentu saja ratusan tahun kemudian, ilmu silat itu lalu
berkembang biak dan mengalami banyak perubahan sehingga akhirnya banyak perbedaannya, masingmasing
mempunyai corak dan kelihaian sendiri.
Asal mulanya kakak beradik seperguruan, yang satu pendiri Bu-tong-pai dan satu lainnya pendiri Kim-sanpai,
hanya terpisah puncak sebagai tempat bertapa. Tapi kemudian para murid mereka setelah
berkembang biak, mempunyai perbedaan dalam kepercayaan atau agama. Kalau pihak si suheng itu anak
muridnya menganut Agama Buddha, adalah anak murid si sute menganut Agama To.
Inilah kiranya yang menjadi jurang pemisah hingga akhirnya timbul dua partai persilatan yang berbeda
sekali, yakni Bu-tong-pai yang menganut Agama Buddha dan Kim-san-pai penganut Agama To. Ratusan
tahun kemudian, di puncak Bu-tong-san berdiri kelenteng besar di mana dipuja patung Buddha dan
penghuni atau pendeta-pendetanya yakni anak murid Bu-tong-pai, terdiri dari hwesio-hwesio gundul. Dan
sebaliknya, di puncak Kim-san berdiri kuil besar dari Agama To dan anak-anak murid Kim-san-pai adalah
tosu-tosu yang mempunyai nama akhir huruf Cu.
Selama ratusan tahun, hubungan antara kedua partai ini baik saja. Sungguh pun berbeda agama, akan
tetapi mereka tak mau saling menyinggung, juga tak mau saling mengejek, walau pun tak boleh dibilang
bahwa hubungan mereka itu erat dan baik pula. Pendeknya, kedua pihak sadar bahwa di antara mereka
masih ada hubungan saudara seperguruan, dan untuk menjaga agar jangan sampai terjadi salah paham,
sengaja kedua pihak saling menjauhi dan hanya ‘saling mendoakan’ saja dari jauh!
Akan tetapi, kurang lebih dua tahun yang lalu, mulailah terjadi permusuhan antara dua partai yang
bersaudara ini. Di kaki pegunungan Bu-tong-san, di sebuah dusun terdapat dua orang pemuda kakak
beradik Lai Tek dan Lai Seng. Semenjak kecil Lai Tek menjadi anak murid Kim-san-pai, sedangkan Lai
Seng pada waktu sedang menggembala kerbau, dibawa oleh seorang hwesio Bu-tong-pai yang melihat
bakat baik di dalam dirinya dan selanjutnya Lai Seng menjadi murid Bu-tong-pai.
Setelah tamat mempelajari ilmu silat di Kim-san-pai, Lai Tek pulang ke dusunnya sambil membawa
kepandaian tinggi dan dia menjadi petani menggantikan pekerjaan ayahnya. Ada pun Lai Seng dibujuk oleh
gurunya untuk masuk menjadi hwesio sebab oleh gurunya dianggap bahwa murid ini hanya akan
memperoleh kebahagiaan hidup abadi apa bila suka menjadi hwesio.
Lai Seng tidak mau menerima bujukan ini, bahkan minggat dari Bu-tong-pai dan pulang ke dusunnya, di
mana dia membantu pekerjaan kakaknya yang tentu saja girang sekali melihat adiknya pulang sudah
menjadi seorang pandai pula.
Sayang sekali bahwa watak Lai Seng jauh bedanya dengan kakaknya. Lai Tek seorang yang amat jujur dan
berbudi baik, menjunjung tinggi kegagahan dan keadilan. Sebaliknya setelah turun gunung, Lai Seng
menjadi ‘binal’ dan mulailah melakukan hal-hal yang tidak patut. Bahkan dia berani mengandalkan
kepandaiannya untuk mengganggu anak gadis orang dan minta harta secara paksa setengah merampok!
Lai Tek yang mendengar akan kejahatan dan penyelewengan adiknya sudah berkali-kali menegur, bahkan
pernah pula terjadi perkelahian antara kakak beradik ini yang berakhir dengan kemenangan Lai Tek.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi, Lai Seng ternyata tidak kapok dan masih sering kali melanggar, sungguh pun kini secara
bersembunyi supaya jangan diketahui kakaknya. Lai Tek maklum di dunia ini dia hanya mempunyai adiknya
itu seorang sebagai anggota keluarganya, maka dia juga tak mau main keras, hanya kadang-kadang
memberi nasehat dengan pengharapan kelak adiknya yang masih muda itu dapat merubah kesalahannya.
Pada suatu hari, pada waktu Lai Tek sedang bekerja di sawahnya, seorang tetangganya datang berlari-lari
dan memberi tahu bahwa adiknya tengah bertempur dengan dua orang hwesio gundul. Lai Tek segera
meninggalkan paculnya di tengah sawah. Dengan kedua kaki tangan masih penuh lumpur, ia berlari
pulang. Alangkah kaget dan marahnya ketika ia melihat Lai Seng roboh, terpukul oleh dua orang hwesio itu
tepat pada saat ia datang.
“Keparat gundul, kau membunuh adikku?” bentaknya sambil menyerang.
Dua orang hwesio itu melompat mundur. “Nanti dulu, Sicu. Pinceng berdua datang untuk menghukum
seorang anak murid Bu-tong-pai yang sudah menyeleweng dan melakukan kejahatan. Harap kau jangan
mencampuri urusan pinceng.”
Lai Tek maklum bahwa dua orang hwesio ini tentu orang-orang Bu-tong-pai yang datang menghukum Lai
Seng. Akan tetapi pada saat itu perasaan kasih sayang terhadap adiknya yang disertai oleh kesedihan
besar melihat adiknya menggeletak mati itu sudah menutup semua pertimbangan Lai Tek.
“Dia itu adik kandungku, bagaimana tidak boleh ikut campur? Hwesio keji, semenjak lahir dia itu sudah
menjadi adikku, sedangkan dia baru menjadi murid Bu-tong-pai setelah dia sudah besar. Kalian
membunuhnya secara keji tanpa minta pertimbanganku terlebih dulu. Hutang nyawa harus dibayar nyawa
pula!”
Sesudah berkata demikian, Lai Tek mengambil pedangnya dan menyerang kedua orang hwesio itu. Tingkat
kepandaian Lai Tek memang sudah tinggi, ada pun serangannya itu dilakukan dalam keadaan nekad dan
marah sekali.
Dalam sebuah pertempuran mati-matian, akhirnya seorang hwesio Bu-tong-pai tewas di tangan Lai Tek dan
hwesio ke dua melarikan diri, memberi laporan kepada para pimpinan Bu-tong-pai.
Lo Beng Hosiang, Bu-tong-san Ciangbunjin adalah seorang kakek yang sabar dan alim. Mendengar
laporan ini, ia menarik napas panjang dan berkata,
“Lai Tek membalas sakit hatinya oleh karena dia melihat adiknya dihukum mati, itu sudah sewajarnya.
Hanya sayang sekali dia sebagai seorang gagah tidak menjunjung keadilan, tidak rela melihat adiknya
dihukum padahal adiknya itu jelas-jelas sudah menjadi seorang penjahat pengganggu rakyat. Akan tetapi,
perbuatannya itu bukan berarti bahwa dia pun jahat, hanya dia tidak dapat melepaskan kasih sayangnya
terhadap adiknya. Apa lagi dia itu masih anak murid Kim-san-pai. Oleh karena itu, biarlah urusan ini
dihabiskan saja, tak perlu diperpanjang.”
Akan tetapi, para hwesio lainnya diam-diam tidak menyetujui pendapat ini dan beberapa orang hwesio yang
merasa penasaran, diam-diam lalu pergi naik ke puncak Kim-san-pai, menjumpai ketuanya dan
menyampaikan protes.
Thian Beng Cu, ketua Kim-san-pai yang sudah tua itu, mendengarkan protes para hwesio Bu-tong-pai
dengan tenang, kemudian ia mengangguk-anggukkan kepala sambil berkata,
“Baiklah, pinto akan memanggil Lai Tek dan akan minta pertanggungan jawabnya. Kalau memang betul dia
bersalah, pasti pinto akan menghukumnya. Harap sampaikan salam pinto kepada Lo Beng Hosiang dan
semoga kelak dia tidak sampai keliru memilih murid.”
Kata-kata ini seakan memperingatkan bahwa gara-gara semua peristiwa itu adalah akibat kesalahan pihak
Bu-tong-pai dalam memilih murid. Inilah kata-kata mengandung sindiran yang memperingatkan bahwa
kesalahan bukan berada di pundak pihak Kim-san-pai dan semua ini sebetulnya adalah sudah sepatutnya.
Para hwesio Bu-tong-pai yang mendengar ini pun dapat mengerti, maka mereka sudah merasa puas
mendengar janji dari Thian Beng Cu ketua Kim-san-pai bahwa Lai Tek akan diadili. Sambil menghaturkan
terima kasih mereka turun dari puncak Kim-san dan pulang ke Bu-tong-san.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi, ketika pada keesokan harinya atas perintah Thian Beng Cu, tiga orang tosu Kim-san-pai
mendatangi dusun tempat tinggal Lai Tek untuk memanggil pemuda ini ke Kim-san-pai, mereka
mendapatkan Lai Tek telah menggeletak di kamarnya dengan tubuh rusak dicacah-cacah senjata tajam
dan pada tembok kamarnya terdapat tulisan dengan huruf darah.
Mampuslah Lai Tek, anak murid partai peniru Bu-tong-pai!
Dapat dibayangkan betapa marahnya hati ketiga orang tosu itu. Tanpa memberi tahukan guru mereka lagi,
mereka segera menyerbu Bu-tong-pai dan di sana mereka menantang. Mereka merasa yakin bahwa yang
membunuh Lai Tek pasti orang-orang Bu-tong-pai.
Terjadi pertempuran di puncak Bu-tong-san. Akan tetapi tiga orang tosu yang tingkatnya hanya ke tiga ini
tentu saja kalah oleh hwesio Bu-tong-pai yang tentu saja mengajukan jago yang lebih tinggi tingkatnya.
Dengan hati sakit dan tubuh luka-luka, tiga orang tosu itu pulang ke Kim-san-pai dan mengadu kepada
Thian Beng Cu.
Ketua Kim-san-pai mengerutkan kening, meraba-raba jenggotnya yang putih, kemudian menggelenggeleng
kepalanya
“Eh, ehh, bagaimana bisa terjadi seperti ini? Mereka membunuh Lai Tek, kalau ini untuk membalaskan
kematian seorang hwesio Bu-tong, itu masih tidak apa. Akan tetapi mereka menghancurkan tubuh Lai Tek,
ini sungguh-sungguh tidak sesuai dengan watak seorang penganut agama! Dan mereka menuliskan katakata
menghina, hemm, dalam hal apakah partai Kim-san-pai meniru Bu-tong-pai?”
“Dan mereka itu tidak mau mengakui bahwa mereka yang membunuh Lai Tek, Suhu,” kata seorang di
antara tiga orang tosu itu.
Thian Beng Tosu mengangguk-angguk. “Bisa dimengerti... bisa dimengerti. Sudah tentu saja Lo Beng
Hosiang dan lain-lain tokoh Bu-tong-pai tak akan mau mengakui perbuatan rendah itu dan mungkin sekali
pekerjaan busuk itu dilakukan secara diam-diam oleh salah seorang murid Bu-tong-pai. Akan tetapi baiklah
kita tunggu, tentu Lo Beng Hosiang akan berusaha menangkap pembunuh Lai Tek itu.”
Demikianlah, ketua kedua pihak sama-sama bersikap sabar dan tidak mau memperbesar urusan itu. Akan
tetapi anak buah kedua pihak makin panas hati dan semenjak hari itu, sering kali terjadi bentrokan di antara
anak-anak murid Bu-tong-pai dan anak-anak murid Kim-san-pai.
Ada pun lima orang tosu yang bertemu di lereng gunung dengan Ang I Niocu itu, mereka adalah tosu-tosu
Kim-san-pai. Dua orang yang terluka adalah Thian Hok Cu dan Thian Lok Cu, yaitu dua orang sute dari
Thian Beng Cu, sedangkan yang tiga orang lagi adalah murid-murid Thian Beng Cu yang sudah tinggi
kepandaiannya.
Tujuh orang tosu ini tadinya diutus oleh Thian Beng Cu untuk mewakilinya, berangkat ke Bu-tong-pai untuk
berunding dengan pihak Bu-tong-pai yang maksudnya mendamaikan urusan pertikaian antara anak-anak
murid kedua pihak itu. Akan tetapi sebelum sampai di kuil para hwesio Bu-tong-pai, baru saja tiba di lereng
bukit, kebetulan mereka bertemu dengan serombongan hwesio Bu-tong-pai yang melarang mereka naik.
Karena kedua pihak memang telah mendendam, lalu diadakan pibu di lereng gunung itu. Masing-masing
pihak lantas mengajukan jagonya. Untuk mencegah pihaknya mengalami kekalahan, maka Thian Hok Cu
dan Thian Lok Cu dua orang tosu tua itu mengajukan diri. Dari pihak Bu-tong-pai maju dua orang hwesio
tua yang kosen pula.
Pertempuran berjalan sengit sekali dan akhirnya Thian Hok Cu dan Thian Lok Cu dapat merobohkan dua
orang lawannya. Kemudian dari pihak Bu-tong-pai muncul seorang jago muda, bukan seorang hwesio.
Pemuda ini lihai sekali dan melihat gerakan-gerakannya, dia itu bukanlah anak murid Bu-tong-pai,
melainkan lebih tepat kalau menjadi anak murid Go-bi-pai karena ilmu pedangnya lihai sekali.
Menghadapi pemuda yang menjadi jago Bu-tong-pai ini, seorang demi seorang kedua tosu tua Kim-san-pai
kena dirobohkan! Setelah dua orang susiok ini roboh, tentu saja lima orang tosu Kim-san-pai yang lainnya
tidak berani maju, tahu bahwa hal itu akan percuma saja dan akan menambah besar rasa malu.
Mereka lalu menggotong tubuh dua orang tosu tua itu untuk dibawa kembali ke puncak Kim-san dan di
tengah jalan mereka bertemu dengan Ang I Niocu. Demikian penuturan Siauw Seng Cu, murid dari Thian
dunia-kangouw.blogspot.com
Beng Cu atau seorang di antara lima orang tosu tadi.
Mendengar ini, ketua Kim-san-pai nampak marah, akan tetapi masih berusaha sedapat mungkin menahan
perasaannya.
“Kembali hal ini tidak ada hubungannya dengan Lo Beng Hosiang. Keributan itu terjadi di lereng Bu-tongsan
dan di luar pengetahuan Lo Beng Hosiang. Pinto tak bisa ikut campur. Hal ini hanya akan
mengeruhkan suasana. Sayang sekali kedua orang sute kurang dapat menyabarkan hati, bahkan sudah
terjun ke dalam pertempuran sebelum bertemu dengan Lo Beng Hosiang sendiri.”
Dia menarik napas panjang, lalu menyuruh murid-muridnya membawa Thian Hok Cu dan Thian Lok Cu ke
dalam kamar untuk dirawat selanjutnya. Walau pun luka-luka mereka parah, akan tetapi tidak
membahayakan jiwa.
Sesudah dua orang tosu yang terluka itu dibawa masuk, pandang mata Thian Beng Cu menyapu para tosu
anak-anak murid Kim-san-pai yang hadir di tempat itu dan jumlahnya empat puluh orang lebih, lalu berkata,
“Kalian harus mampu menjaga diri dan menahan perasaan. Mulai hari ini, sekali-kali tidak boleh mencari
gara-gara dengan pihak Bu-tong-pai. Kalau ada pihak mereka yang datang mencari gara-gara, jangan ada
yang turun tangan akan tetapi cepat memberi tahu supaya pinto sendiri yang dapat membereskan!”
Di dalam kata-kata ini biar pun terkandung nasehat supaya anak murid Kim-san-pai dapat bersabar, namun
bukan sekali-kali memperlihatkan sifat takut, karena kalau ada apa-apa, Thian Beng Cu sendiri hendak
turun tangan. Terang bahwa tosu tua ini mengalah, akan tetapi bukan takut.
Tiba-tiba di antara pakaian para tosu yang berwarna putih, kuning dan abu-abu itu, mata Thian Beng Cu
yang masih tajam melihat warna merah yang menyolok mata. Ketika dia memandang, dia terkejut dan
heran bukan main melihat seorang gadis cantik jelita duduk di bagian belakang para hadirin.
“Ehh, siapakah Nona yang berada di sana?” tegurnya.
Siauw Seng Cu cepat berkata, “Maaf bahwa tadi teecu belum sempat memberi tahukan akan kedatangan
seorang tamu. Dia itu adalah seorang utusan dari Sin-taihiap Bu Pun Su.”
Berseri wajah tosu tua itu dan tangannya memberi isyarat kepada semua anak muridnya supaya bubar dari
ruangan itu. Kemudian ia melambai ke arah Ang I Niocu dan berkata,
“Harap jangan berkecil hati bahwa pinto tidak dari tadi menyambut, karena adanya sedikit keributan tadi.
Mari, Nona, silakan duduk di sini.”
Ang I Niocu menghampiri Ketua Kim-san-pai itu dan memberi hormat. “Locianpwe, harap maafkan jika
kedatanganku mengganggu. Aku diutus oleh Susiok-couw Bu Pun Su untuk bertemu dengan Locianpwe.”
“Aha, jadi Pendekar Sakti Bu Pun Su itu masih ada di dunia ini? Sungguh merupakan kehormatan besar
sekali kalau seorang pendekar besar dan sakti seperti dia itu masih ingat bahwa di dunia ini terdapat
sebuah partai kecil seperti Kim-san-pai. Nona, siapakah namamu dan kau diutus apakah oleh Susiok-couwmu
itu?”
“Maaf, Locianpwe, maaf kalau aku tidak dapat memberi tahukan nama kecilku yang telah kulupakan. Orang
menyebutku Ang I Niocu dan kedatanganku di sini adalah atas perintah Susiok-couw Bu Pun Su. Susiokcouw
mendengar tentang pertikaian yang timbul antara Kim-san-pai dan Bu-tong-pai. Orang tua itu merasa
prihatin sekali mendengar akan hal ini, maka mengutus aku datang ke sini untuk mohon kepada Locianpwe
atau lebih luas lagi kepada pihak Kim-san-pai agar supaya suka menghentikan segala permusuhan di
antara kawan sendiri yang hanya mendatangkan kerugian bersama. Susiok-couw Bu Pun Su minta agar
aku menyampaikan bahwa pada saat ini, negara sedang terancam bahaya perang dari pihak pemberontakpemberontak,
dan rakyat sedang menderita karena timbul kekacauan di mana-mana. Dan oleh karena itu,
perlu bagi kita semua untuk menghimpun tenaga serta memperkuat persatuan, menghapus segala macam
salah paham di antara kita. Demikianlah pesan Susiok-couw dan orang tua itu mengharap supaya
Locianpwe sudi mendamaikan urusan Kim-san-pai dengan Bu-tong-pai.”
Thian Beng Cu tersenyum dan mengangguk-angguk perlahan.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ang I Niocu, kau masih begini muda sudah melupakan nama sendiri, alangkah hebatnya kesengsaraan
yang kau derita. Pinto hanya berharap kau akan kuat menahan ujian hidup ini dan tidak menjadi putus
harapan. Karena kau yang sudah dipilih oleh Bu Pun Su untuk mewakilinya dalam urusan ini, tentu kau
sudah memiliki kekuatan itu. Pandangan Bu Pun Su yang kau kemukakan tadi memang betul, akan tetapi,
apa kau kira pinto sendiri tidak menyadari akan hal itu? Kalau sekiranya pinto tidak menjaga keutuhan
hubungan antara Bu-tong-pai dan Kim-san-pai, apakah sejak siang-siang tidak sudah terjadi pertumpahan
darah besar-besaran? Kau sudah sejak tadi berada di tempat ini, kiranya kau pun sudah mendengar sendiri
peristiwa apa yang baru saja terjadi. Pinto sudah berusaha hendak mendamaikan urusan, akan tetapi
sayangnya, utusan pinto bahkan dihadang di jalan dan dua orang sute-ku dilukai. Nona biar pun masih
muda, akan tetapi kau adalah utusan Bu Pun Su, oleh karena itu, pinto serahkan urusan ini kepadamu
untuk dibereskan. Usaha untuk damai dari pihak kami sudah cukup dan kalau dipaksakan lagi, kiranya
hanya akan mendatangkan keributan saja. Biar sekarang kau yang mencoba untuk membereskan.”
Thian Beng Cu memang cerdik. Dia sama sekali tidak gentar menghadapi Bu-tong-pai, akan tetapi tadi ia
mendengar bahwa kedua orang sute-nya itu dirobohkan oleh seorang anak murid Go-bi-pai. Hal ini bukan
main-main, karena kalau tidak berhati-hati, bisa jadi Kim-san-pai akan bertambah seorang musuh lagi,
yakni Go-bi-pai.
Kalau ini terjadi, sungguh amat berbahaya dan akan semakin membahayakan kedudukan Kim-san-pai.
Oleh karena itu, setelah kini Ang I Niocu muncul sebagai utusan Bu Pun Su, biarlah dia mengoperkan tugas
perdamaian itu kepada gadis ini.
Ang I Niocu menyanggupi. Pada malam hari itu Ang I Niocu mendengar penuturan para tosu Kim-san-pai
tentang asal mula pertikaian itu timbul. Sementara itu, diam-diam Thian Beng Cu menyuruh salah seorang
muridnya untuk pergi ke Propinsi Hokkian dan mencari seorang sute-nya yang sudah lama merantau, yakni
Eng Yang Cu.
Sute-nya ini jauh lebih muda darinya, usianya paling banyak lima puluh tahun. Akan tetapi kalau dibanding
tingkat kepandaiannya, kiranya Eng Yang Cu ini termasuk orang paling tinggi tingkatnya di Kim-san-pai.
Memang Eng Yang Cu adalah murid yang dahulu paling disayang oleh mendiang guru mereka, dan
menerima warisan ilmu yang paling banyak.
Sebetulnya, Eng Yang Cu inilah dahulunya yang dicalonkan menjadi ketua Kim-san-pai. Akan tetapi
ternyata bahwa Eng Yang Cu mempunyai darah perantau dan tidak betah tinggal di puncak gunung. Oleh
karena itu, terpaksa kedudukan ciangbunjin diserahkan kepada Thian Beng Cu, murid tertua dan Eng Yang
Cu melakukan perantauan di Propinsi Hokkian.
Thian Beng Cu memanggil sute-nya yang boleh diandalkan itu untuk menjaga kalau-kalau usaha
perdamaian gagal dan pecah pertempuran di antara kedua pihak. Hanya sute-nya inilah yang boleh ia
andalkan.
Pada esok harinya, pagi-pagi sekali Ang I Niocu sudah bangun dan bersiap-siap hendak ke Bu-tong-pai. Ia
telah memperoleh keterangan dan penjelasan dari Ketua Kim-san-pai, sekarang ia harus menemui Ketua
Bu-tong-pai sehingga sesudah mendengar keterangan dari kedua belah pihak, akan mudah baginya untuk
mendamaikan urusan ini. Ia merasa girang sekali bahwa ternyata pihak Kim-san-pai sangat bijaksana dan
tidak menghendaki dilanjutkannya permusuhan itu.
“Mudah-mudahan saja pihak Bu-tong-pai juga dapat diajak berunding,” pikirnya.
Akan tetapi, sebelum ia berangkat, tiba-tiba ia melihat beberapa orang tosu berlari-larian masuk dengan
muka berubah dan mendengar mereka memberi laporan kepada Thian Beng Cu bahwa ada beberapa
orang hwesio Bu-tong-pai datang menyerbu Kim-san-pai. Mendengar ini, Ang I Niocu berkata,
“Locianpwe, biarkan aku menghadapi mereka!”
Ia merasa penasaran sekali dan melihat gelagat seperti ini, ia hampir menduga bahwa di dalam pertikaian
itu, pihak Bu-tong-pailah yang keterlaluan!
Dengan menggunakan ilmu lari cepat, Ang I Niocu turun dari puncak. Tak lama kemudian benar saja, dia
dapat melihat serombongan orang mendaki puncak itu. Mereka ini terdiri dari tujuh orang hwesio gundul
dan seorang pemuda yang tampan dan gagah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat sikap mereka, makin besar dugaan Ang I Niocu bahwa mereka ini sengaja datang mencari
keributan, maka ia lalu mencabut pedangnya dan memegang pedang itu dengan sikap tenang dan gagah.
Setelah mereka datang dekat, baru ia tahu bahwa mereka ini ialah rombongan orang-orang Bu-tong-pai
yang dulu pernah membantunya menghadapi keroyokan Koai-tung Toanio dan pasukan pemberontak Lie.
Pemuda itu ternyata adalah pemuda tampan yang mengejar-ngejarnya untuk berkenalan!
Ada pun ketika melihat Ang I Niocu berdiri di situ dengan pedang di tangan, pemuda itu serta
rombongannya segera mengenalnya. Pemuda itu melompat cepat menghampirinya.
“Kau di sini, Nona...,” tegurnya dengan wajah berseri.
Akan tetapi Ang I Niocu hanya memandang kepadanya dengan muka dingin dan sinar mata menyelidik.
Kemudian Ang I Niocu menghadapi tujuh orang hwesio itu dan berkata, suaranya nyaring akan tetapi halus,
“Cu-wi Suhu sekalian ini bukankah hwesio-hwesio Bu-tong-pai?”
Seorang di antara tujuh orang hwesio itu, yang tertua, menjawab,
“Betul, Nona, pinceng dan saudara-saudara pinceng ini adalah murid-murid Bu-tong-pai. Kau sendiri
siapakah dan mengapa dahulu dikeroyok oleh pasukan pemberontak?”
“Aku Ang I Niocu dan urusanku dengan mereka itu tidak ada sangkut-pautnya dengan orang lain. Yang
terpenting sekarang, kalian ini datang ke Kim-san mempunyai keperluan apakah?”
Hwesio itu nampaknya tidak senang.
“Ang I Niocu, kau bilang tadi bahwa urusanmu tidak ada sangkut-pautnya dengan kami. Sebaliknya, urusan
kami di Kim-san ini pun kiranya tak ada sangkut-pautnya denganmu!”
Ang I Niocu tersenyum dan jika tadinya di antara para hwesio itu ada yang marah, maka kemarahan itu
sekaligus mencair oleh senyum yang luar biasa manisnya ini. Pemuda tampan itu sampai melongo dan
mukanya sebentar pucat sebentar merah. Begitu hebat wajah Ang I Niocu menarik hatinya.
“Hwesio-hwesio dari Bu-tong-pai, ketahuilah. Aku sudah mendapat tugas dari Locianpwe Thian Beng Cu
untuk menyelesaikan urusan pertikaian antara Kim-san-pai dengan pihak Bu-tong-pai. Sekarang aku justru
hendak pergi ke Bu-tong-pai untuk menghadap Lo Beng Hosiang dan mendamaikan urusan. Akan tetapi,
baru kemarin utusan Kim-san-pai yang datang ke Bu-tong-pai untuk mendamaikan urusan, telah dilukai
orang…” Ang I Niocu lalu menggunakan lirikan matanya yang tajam menyambar ke arah pemuda tampan
itu. “Dan melihat gelagatnya, agaknya kalian inilah yang menyerang mereka. Kini kalian datang ke sini
dengan sikap aneh, membawa-bawa pula seorang jagoan. Mau apakah?”
Pemuda itu menjadi merah mukanya! Cepat ia maju dan menjura kepada Ang I Niocu, lalu bicara dengan
suaranya yang halus dan sikapnya yang sopan,
“Maaf, maaf... harap Niocu sudi memberi maaf. Agaknya dalam urusan ini ada kesalah pahaman, dan
antara kau dan aku kiranya ada persamaan tugas. Ketahuilah, Nona, aku Liem Sun Hauw murid Go-bi-pai
mewakili Susiok Twi Mo Siansu, datang ke Bu-tong-pai juga dengan maksud untuk mendamaikan urusan
perselisihan antara Bu-tong-pai dengan Kim-san-pai.”
Tiba-tiba pemuda itu menunda kata-katanya karena ia melihat betapa sepasang mata yang indah itu
mengeluarkan sinar berapi-api dan wajah gadis itu menjadi merah. Jelas sekali bahwa gadis itu marah luar
biasa kepadanya.
“Ehh, Nona... kau... mengapa kau marah kepadaku?” tanyanya gagap.
Memang, Ang I Niocu marah sekali sehingga ia merasa seluruh tubuhnya tergetar-getar. Tangan yang
memegang pedang menggigil dan jika ia tidak mengerahkan seluruh tenaga batin, tentu sejak tadi ia sudah
menyerang pemuda di depannya ini.
Jadi inilah pemuda yang bernama Liem Sun Hauw, inilah pemuda yang disebut-sebut oleh ayahnya dahulu,
pemuda yang hendak dijodohkan dengan dia! Inilah pemuda yang menjadi gara-gara, menjadi biang keladi
hingga ia kehilangan kekasihnya dan kehilangan ayahnya pula. Kalau tidak ada pemuda ini di muka bumi,
dunia-kangouw.blogspot.com
kiranya ia tidak akan kehilangan ayahnya, dan kiranya ia akan dapat berjodoh dengan Gan Tiauw Ki.
“Kau...?!” Ketika hendak mengeluarkan kata-kata, ternyata lehernya seperti tercekik dan yang keluar hanya
sebuah kata-kata itu saja.
Pemuda itu memandang heran. Ia tidak mengerti mengapa nona cantik ini begitu marah kepadanya. Akan
tetapi Ang I Niocu teringat akan tugasnya, teringat bahwa dia sedang melakukan tugas yang diperintahkan
oleh susiok-couw-nya Bu Pun Su. Kalau ia menuruti nafsu hatinya sehingga urusan itu menjadi kacau, tentu
ia akan mendapat marah besar dari susiok-couw-nya.
Setelah dapat menekan debar jantungnya, ia berkata, melanjutkan kata-katanya tadi.
“Kau bilang hendak mendamaikan, tetapi mengapa kau justru melukai dua orang tosu Kim-san-pai? Dan
mengapa kau menghadang rombongan utusan Kim-san-pai ke puncak Bu-tong-san? Kenapa pula
sekarang kau datang ke sini? Hendak menyerbu Kim-san-pai? Hemm, kau mengandalkan apakah demikian
sombong?”
Menghadapi tuduhan Ang I Niocu ini, Liem Sun Hauw merasa penasaran sekali. Sebagai mana telah
dituturkan di bagian depan, pemuda ini telah dipilih oleh Twi Mo Siansu ketua Go-bi-pai sebagai wakilnya
memenuhi permintaan Bu Pun Su. Tugas Liem Sun Hauw adalah untuk mendamaikan pertikaian yang
timbul antara Bu-tong-pai dan Kim-san-pai.
Dan seperti telah dituturkan di bagian depan, pemuda ini memiliki kepandaian tinggi dan telah
mendatangkan rasa kagum pada Kiang Liat sehingga pendekar itu mempunyai niat untuk memungut
pemuda ini sebagai mantunya!
Setelah Liem Sun Hauw berpisah jaIan dengan Kiang Liat, pemuda ini lalu melanjutkan perjalanannya ke
Bu-tong-pai yang amat jauh itu. Karena perjalanan ini melalui Propinsi Shansi, dan kampungnya hanya
terletak seratus li dari jalan itu, ia hendak singgah dulu di kampungnya, Peng-kan-mui untuk memberi tahu
ayahnya akan segala pengalamannya. Pemuda ini memang seorang anak berbakti dan dia tidak tega
meninggalkan ayahnya seorang diri terlalu lama.
Alangkah sedihnya ketika ia mendapatkan ayahnya yang sudah tua dan duda itu ternyata sedang
menderita sakit panas yang agak berat juga. Terpaksa dia harus menunda dulu perjalanannya. Tugas yang
dia terima dari susiok-nya boleh jadi penting, akan tetapi lebih penting lagi menjaga dan merawat ayahnya.
Oleh karena inilah maka perjalanannya jadi terlambat. Sampai lima bulan lebih ia tinggal di rumahnya untuk
merawat ayahnya.
Ketika dia pergi, yang merawat ayahnya ialah Tang Siok Lan, gadis tetangga yang sudah dikenalnya
semenjak kecil. Gadis ini sangat manis dan terkenal sebagai bunga kampung Peng-kan-mui, dan melihat
gelagatnya, semenjak dahulu gadis itu ‘ada hati’ kepadanya. Akan tetapi, tentu saja tidak pernah
menyatakan hal ini dengan kata-kata atau gerakan, hanya sinar matanya saja yang berkata banyak.
Sebaliknya, Sun Hauw juga amat suka kepada gadis itu, kawan mainnya semenjak kecil. Seperti juga dia,
Siok Lan telah ditinggal mati ibunya dan. hanya hidup bersama ayahnya dan kakaknya yang sudah
menikah dan tinggal satu rumah dengan ayahnya.
Sesudah Sun Hauw datang, Siok Lan mengundurkan diri dan pemuda itu yang kemudian menggantikannya
merawat ayahnya sendiri. Akan tetapi boleh dibilang setiap hari Siok Lan pasti datang untuk membawa iniitu,
untuk menyatakan ini-itu, sehingga diam-diam Sun Hauw makin suka dan merasa berhutang budi
kepada gadis manis itu.
Akhirnya ayahnya sembuh kembali dan Sun Hauw teringat lagi akan tugasnya. Dia lalu menceritakan
semua pengalamannya pada ayahnya, kecuali tentang maksud Kiang Liat menariknya menjadi mantu.
“Berangkatlah, Sun Hauw. Sudah menjadi tugasmu untuk memenuhi perintah susiok-mu itu. Akan tetapi
kau berhati-hatilah dan jangan terlalu lama pergi. Setelah tugasmu selesai kau harus segera pulang, karena
aku bermaksud merayakan pernikahanmu.”
Sun Hauw kaget. “Pernikahan...?!”
Ayahnya mengangguk. “Kau sudah cukup dewasa, Sun Hauw. Dan kau melihat sendiri betapa baiknya Siok
dunia-kangouw.blogspot.com
Lan. Kiranya di atas dunia ini sukar mencari keduanya. Lagi pula, bukankah dia kawan mainmu semenjak
kecil? Dan bukankah kalian sudah saling suka? Aku sudah mengambil keputusan dan berdamai dengan
ayahnya, perjodohan antara kau dan Siok Lan sudah kuikat. Kau kuberi waktu setengah tahun, Anakku.
Ayah sudah tua dan sudah ingin melihat seorang cucu.”
Sun Hauw menundukkan kepalanya saja, tidak berani membantah. Memang harus ia akui bahwa selama
ini, satu-satunya gadis yang menarik hatinya hanyalah Siok Lan seorang. Akan tetapi, mendengar ucapan
ayahnya tentang perjodohannya dengan Siok Lan, ia jadi teringat akan usul Kiang Liat dan ia menjadi raguragu.
Tak dapat disangkalnya bahwa Siok Lan merupakan seorang gadis pilihan. Cukup cantik manis dan ia
sudah tahu dan kenal betul akan watak gadis itu yang lemah-lembut, halus dan berbudi mulia. Akan tetapi,
gadis itu adalah seorang yang lemah, yang tidak pernah belajar ilmu silat sedikit pun juga!
Berbeda dengan puteri dari Kiang Liat, pendekar yang berilmu tinggi itu. Apa lagi menurut penuturan Kiang
Liat sendiri, puterinya yang bernama Kiang Im Giok dan berjuluk Ang I Niocu itu, kepandaiannya bahkan
lebih tinggi dari pada Kiang Liat. Padahal kepandaian Kiang Liat saja sudah tinggi sekali!
Hati Sun Hauw menjadi bimbang. Bingung ia kalau harus memilih. Siok Lan cantik jelita, berbudi baik, akan
tetapi tidak pandai silat. Ang I Niocu Kiang Im Giok lihai ilmu silatnya akan tetapi ia belum pernah
melihatnya, tidak tahu apakah dia itu juga cantik dan bagai mana pula wataknya.
Akan tetapi Sun Hauw tidak berani membantah. Ia tidak mau membikin ayahnya kecewa dan berduka, oleh
karena itu dia tidak menyatakan sesuatu tentang perjodohan ini. Maka berangkatlah Sun Hauw menuju ke
Bu-tong-san.
Ketika tiba di kaki Pegunungan Min-san, di tengah jalan ia bertemu serombongan anak murid Bu-tong-pai.
Sun Hauw bermata tajam dan sekali melihat saja dia dapat menduga bahwa rombongan yang terdiri dari
belasan orang ini adalah orang-orang berkepandaian silat. Maka ia menyapa mereka dan mengajak
berkenalan.
Alangkah girangnya ketika mereka itu terus terang mengaku bahwa mereka adalah para anak-anak murid
Bu-tong-pai yang sedang melakukan tugas meronda. Ternyata bahwa Bu-tong-pai tidak tinggal diam dan
berpeluk tangan saja melihat adanya pemberontakan-pemberontakan di berbagai tempat. Atas perintah Lo
Beng Hosiang ketua Bu-tong-pai, anak-anak murid yang bukan hwesio diberi tugas melakukan penjagaan
dan penyelidikan di beberapa tempat.
Min-san termasuk wilayah perbatasan Secuan-Kansu-Shensi, karena itu di tempat ini pun terdapat pula
murid Bu-tong-pai yang melakukan ronda dan penjagaan. Rombongan yang bertemu dengan Sun Hauw ini
adalah rombongan anak murid Bu-tong-pai yang sedang melakukan penyelidikan.
“Kebetulan sekali,” berkata Sun Hauw. “Siauwte juga sedang menuju ke Bu-tong-pai atas perintah dari
Susiok Twi Mo Siansu ketua Go-bi-pai.” Dengan singkat ia lalu menuturkan tentang tugasnya.
Tentu saja rombongan Bu-tong-pai itu merasa girang. Akan tetapi mereka menyatakan bahwa pada waktu
itu mereka sedang menyelidiki ke puncak Min-san, karena mendengar kabar tentang datangnya pasukan
pemberontak, yakni anak buah pasukan pemberontak Lie di propinsi Shensi.
“Kami harus menyelidiki apa yang mereka lakukan di sini, dan kalau perlu mengusir mereka,” kata seorang
di antara rombongan Bu-tong-pai itu.
Karena Sun Hauw juga termasuk orang yang anti pemberontak, ia segera menyatakan kesediaannya untuk
membantu. Demikianlah, mereka lalu mendaki puncak Min-san dan kebetulan sekali melihat Ang I Niocu
sedang dikeroyok oleh pasukan pemberontak, lalu turun tangan membantunya. Seperti sudah dituturkan di
bagian depan, Ang I Niocu tidak mau menghubungi mereka dan pergi meninggalkan Sun Hauw yang
sangat tertarik oleh kecantikannya.
Memang Sun Hauw benar-benar tertarik sekali. Harus dia akui bahwa selama hidupnya belum pernah dia
melihat seorang dara demikian ayu dan demikian tinggi ilmu silatnya. Tidak mengherankan apa bila ia
terpesona sekali dan merasa seakan-akan semangatnya terbetot keluar mengikuti bayangan nona itu.
Diam-diam ada juga dugaan di dalam hatinya yang berdebar-debar. Nona itu berpakaian serba merah,
dunia-kangouw.blogspot.com
cantik jelita dan lihai sekali. Apakah dia itu yang disebut Ang I Niocu, puteri dari Kiang Liat? Kalau teringat
akan dugaan ini, Sun Hauw menjadi berdebar-debar.
Kalau betul nona itu Ang I Niocu yang hendak dijodohkan dengan dia, aduuuh! Bukan main cantiknya! Dan
bukan main tinggi ilmu silatnya. Akan tetapi, wataknya... mengapa demikian galak?
Bersama rombongan Bu-tong-pai ini, Sun Hauw lalu menuju ke Bu-tong-san. Kebetulan sekali, baru saja ia
naik sampai di lereng puncak Bu-tong-san dan disambut oleh para hwesio penyambut, tiba-tiba seorang
hwesio berlari-larian dari bawah melaporkan bahwa ada orang-orang Kim-san-pai datang menyerbu!
Sementara itu, di sepanjang perjalanan Sun Hauw telah mendengar cerita dari anak-anak murid Bu-tongpai
bahwa Kim-san-pai selalu mencari perkara dan permusuhan, dan biar pun Bu-tong-pai sudah banyak
mengalah, selalu Kim-san-pai mendesak mengandalkan ilmu silatnya yang katanya lebih tinggi dari Butong-
pai!
Hal ini memang sudah wajar. Tiap kali ada dua pihak yang bermusuhan, masing-masing pihak tentu saja
tidak mau mengaku salah, dan selalu menganggap pihak yang lain amat jahat. Siapakah orangnya yang
berani mengaku dia yang salah dan pihak lawan yang benar? Orang demikian inilah betul-betul orang
gagah, akan tetapi di dunia hanya ada satu setiap seribu!
Sun Hauw tidak mau berlaku ceroboh. Meski pun ia sudah mendapat kesan jelek tentang Kim-san-pai dari
para anak murid Bu-tong-pai, akan tetapi ia hendak melihat dahulu dan tidak akan mencampuri kalau tidak
perlu sekali. Maka ia pun ikut dengan para hwesio itu turun lagi dari lereng untuk menyambut datangnya
rombongan Kim-san-pai.
Apa bila dua pihak yang bermusuhan dan di dalam hati sudah mengandung dendam dan benci saling
bertemu, sukarlah untuk mengharapkan kata-kata yang baik. Suasana tentu menjadi panas sekali dan hal
ini dapat dimaklumi. Ketika melihat tujuh orang tosu naik ke puncak Bu-tong-pai sambil menggunakan ilmu
lari cepat, para hwesio Bu-tong-pai sudah menduga salah sehingga menuduh mereka itu sengaja
memamerkan kepandaian mereka dalam ilmu lari cepat!
Kini kedua rombongan itu sudah saling berhadapan.
“Tosu-tosu sombong, mau apa kalian berani naik ke sini?” seorang hwesio Bu-tong-pai menegur.
Sementara itu, semua hwesio Bu-tong-pai telah mencabut pedang dan bersiap sedia. Mereka memandang
kepada para tosu itu dengan penuh curiga.
Melihat sikap bermusuhan dari hwesio-hwesio Bu-tong-pai, para tosu Kim-san-pai itu pun merasa
tersinggung dan tak senang. Apa lagi kalau mereka lihat bahwa hwesio-hwesio yang menyambut mereka
dengan sikap kurang ajar dan bermusuh ini bukanlah hwesio-hwesio tingkat tinggi, melainkan hwesio
tingkat rendah saja.
Yang datang adalah dua orang sute dari Ketua Kim-san-pai bersama lima orang hwesio tingkat tinggi, ini
merupakan rombongan orang-orang terkemuka dari Kim-san-pai. Akan tetapi kedatangan mereka disambut
secara kasar oleh hwesio-hwesio dari tingkat rendah. Benar-benar hal ini merupakan penghinaan bagi Kimsan-
pai.
Thian Hok Cu dan Thian Lok Cu, dua orang sute dari Thian Beng Cu ketua Kim-san-pai mengerutkan
kening. Thian Lok Cu adalah seorang tosu yang berwatak keras. Melihat sikap para hwesio itu ia lalu
melangkah maju dan berkata nyaring,
“Sobat-sobat gundul, ketahuilah bahwa kami datang untuk berbicara dengan Lo Beng Hosiang, bukan
untuk ribut mulut dengan kalian. Lekas kalian laporkan kedatangan kami kepada Lo Beng Hosiang atau
kalian cepat menyingkir supaya kami dapat naik sendiri ke kuil Bu-tong-pai!”
“Tosu sombong! Orang macam kalian ini mau bertemu dengan guru besar kami? Kalau ada keperluan,
lekas beri tahu kepada kami, bila tidak lebih baik kalian lekas-lekas pergi dari sini sebelum kami terpaksa
mendorong kalian menggelundung turun!” kata seorang hwesio yang pernah menjadi pecundang dalam
sebuah pertempuran dengan anak murid Kim-san-pai beberapa hari yang lalu.
Suasana menjadi makin panas ketika serombongan hwesio turun pula dari atas. Mereka ini sebagian besar
adalah hwesio-hwesio tingkatan rendah yang merasa paling ‘dendam’ kepada pihak Kim-san-pai, maka
dunia-kangouw.blogspot.com
ramailah mereka mengeluarkan kata-kata menantang.
Para tosu Kim-san-pai juga sudah mencabut pedang, takut kalau-kalau para hwesio yang amat banyak itu
menyerbu dengan tiba-tiba. Thian Lok Cu menggerak-gerakkan tangan sambil membentak,
“Hwesio-hwesio tidak tahu aturan, apakah kalian hendak mengeroyok kami?”
Seorang hwesio bermuka hitam segera melompat keluar dan melintangkan toya di depan dadanya. Hwesio
ini adalah Twi Kang Hwesio, murid termuda dari Lo Beng Hosiang, sifatnya jujur dan amat berangasan,
tidak mau kalah. Ia sudah marah sekali mendengar kata-kata Thian Lok Cu tadi, maka katanya dengan
suara menggeledek,
“Tosu bau! Masa untuk menghadapi seorang Kim-san-pai saja harus dilakukan dengan keroyokan?
Pinceng sendiri sudah cukup mencegah kau naik dan membikin ribut. Hayo segera turun, atau kau berani
menghadapi toyaku ini?” Diamang-amangkan toyanya di depan muka Thian Lok Cu.
“Keparat gundul, kami datang dengan maksud baik, kalian sengaja mengajak pibu? Baik, baik, jangan kira
Kim-san-pai tidak mempunyai orang lihai. Kalau aku kalah olehmu, aku akan kembali ke Kim-san-pai dan
belajar sepuluh tahun lagi.”
Tak dapat dicegah pula, pertempuran hebat pasti akan terjadi. Melihat hal ini, Thian Hok Cu yang lebih tua
dan lebih sabar dari pada Thian Lok Cu, menggoyang-goyang tangan dan berkata,
“Sahabat-sahabat dari Bu-tong-pai, harap tenang dan sabar. Lebih baik laporkan kepada Lo Beng Hosiang
bahwa kami hendak bertemu bukan mencari keributan di sini.”
Akan tetapi suasana yang sudah panas itu mana dapat dibikin dingin oleh Thian Hok Cu yang tidak pandai
bicara? Seorang hwesio tinggi kurus yang memegang pedang, yakni suheng dari Twi Kang Hwesio yang
bernama Lu Pek Hwesio, lantas melangkah maju menghadapi Thian Hok Cu sambil berkata,
“Tosu, kalau kau tidak berani menerima tantangan pibu, lebih baik kau pulang saja dan jangan berlagak
pula di sini. Ingat bahwa di sini adalah tempat kami!”
Terdengar suara seorang hwesio dari belakang, “'Hah! Satu lawan satu saja dia sudah ketakutan. Lihat
mukanya pucat seperti mayat, ha-ha-ha. Tosu pengecut!”
Memang Thian Hok Cu memiliki muka yang pucat kuning, maka sindiran ini benar-benar menyakitkan
hatinya.
Thian Lok Cu berkata kepada suheng-nya,
“Suheng, apakah kita harus diamkan saja orang-orang hutan ini menghina partai kita? Sedikitnya kita harus
menjaga nama baik Kim-san-pai. Marilah kita layani tantangan pibu mereka.”
Didesak seperti itu, akhirnya Thian Hok Cu kehilangan kesabaran pula. Dia memandang kepada
rombongan hwesio dan berkata,
“Biarlah kami berdua melayani tantangan pibu kalian. Akan tetapi apa bila kami menang, kami harus boleh
naik menemui Lo Beng Hosiang!”
Twi-Kang Hwesio dan Lu Pek Hwesio sudah siap sedia. Twi Kang Hwesio Si muka hitam menghadapi
Thian Lok Cu dan berkata,
“Menang kalah masih belum tentu mengapa ribut-ribut? Kalau kalian mampu menangkan kami, tentu saja
kalian boleh lakukan apa yang kalian suka, siapa berani menghalangi? Siaplah dan lihat senjata!”
Sambil berkata begini, toyanya menyelonong ke depan melakukan serangan pertama. Dengan mudah
Thian Lok Cu menangkis, dan terjadilah pertempuran sengit antara Thian Lok Cu melawan Twi Kang
Hwesio dan Thian Hok Cu yang bertempur melawan Lu Pek Hwesio.
Berbeda dengan sute-nya yang bermain toya, Lu Pek Hwesio bermain pedang sehingga pertempuran ini
lebih ramai. Suara senjata bertemu senjata terdengar sangat nyaring dan menegangkan hati, berkelebatnya
dunia-kangouw.blogspot.com
sinar senjata menambah keseraman pertempuran itu.
Liem Sun Hauw semenjak tadi hanya menonton, bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Dia diberi
tugas untuk mendamaikan pertikaian antara Kim-san-pai dan Bu-tong-pai, dan sekarang ia menjadi saksi
pertempuran antara kedua partai itu!
Kalau ia turun tangan keadaannya tak akan menjadi lebih baik, pikirnya. Suasana sudah terlalu panas dan
kedua pihak sudah marah sekali. Apa bila dia datang memisah, belum tentu mereka suka menurut, bahkan
dia sendiri mungkin akan dimusuhi oleh kedua pihak! Ia telah mendapat kesan baik tentang Bu-tong-pai
dan kesan buruk tentang Kim-san-pai, dan sekarang dia melihat bahwa pertempuran itu adalah sebuah
pibu yang adil, maka ia menjadi serba salah dan hanya menonton di pinggir.
Tak lama kemudian ternyata bahwa tingkat kepandaian dua orang tosu Kim-san-pai itu masih lebih tinggi
dari pada kepandaian Twi Kang Hwesio dan Lu Pek Hwesio. Dalam waktu yang hampir bersamaan, dua
orang hwesio itu roboh dengan menderita luka-luka ringan, terkena tusukan dan babatan pedang dua orang
tokoh Kim-san-pai itu.
Para hwesio Bu-tong-pai menjadi marah sekali. Mereka sudah mencabut senjata masing-masing dan lebih
dari lima puluh orang hwesio ini agaknya akan menyerbu, mengeroyok tujuh orang tosu Kim-san-pai.
Melihat hal ini, Liem Sun liauw cepat melompat ke tengah, mendahului para hwesio itu dan menghadapi
Thian Hok Cu dan Thian Lok Cu.
“Ji-wi totiang harap mundur saja dan jangan lanjutkan maksud naik ke puncak,” katanya nyaring.
Para hwesio yang melihat pemuda utusan Ketua Go-bi-pai itu maju, berhenti bergerak dan menjadi besar
hati. Mereka tahu akan kelihaian utusan Go-bi-pai ini maka diam-diam mereka hanya memperhatikan apa
yang akan terjadi selanjutnya.
Ada pun Thian Hok Cu dan Thian Lok Cu, sesudah mendapat kemenangan, tentu saja tidak mau mundur.
Mereka menganggap amat tidak adil kalau pihak yang menang justru harus mundur! Bukankah tadi sudah
dijanjikan bahwa karena mereka menang, mereka akan diperkenankan menemui Lo Beng Hosiang?
“Kau ini siapakah dan ada hak apakah akan melarang kami?” Thian Lok Cu membentak marah.
Liem Sun Hauw tersenyum. “Totiang, siauwte sekali-kali bukan melarang, hanya siauwte menganggap jauh
lebih baik menghindari pertengkaran yang makin menghebat dari pada berkeras kepala.”
“Kami sudah menang, kau mau apa? Kalau masih ada yang penasaran, boleh coba-coba. Kami selalu
sedia melayani, asal jangan dilakukan pengeroyokan secara pengecut!” kata pula Thian Lok Cu.
Sun Hauw mengerutkan kening. Sikap yang diperlihatkan oleh tosu ini sama sekali tidak baik, pikirnya.
Sikap yang seperti inilah yang memperbesar permusuhan, yakni sikap tak mau mengalah dan keras kepala.
Tosu ini menganggap diri sendiri yang paling pandai, dan kiranya perlu diberi hajaran. Demikian Sun Hauw
berpikir.
Kalau sampai terjadi pertempuran keroyokan, kiranya keselamatan jiwa tujuh orang tosu ini akan
berbahaya sekali. Dari pada pertempuran keroyokan lebih baik dia turun tangan dulu mengusir mereka
turun gunung.
“Totiang, kau memang keras kepala dan mengira di dunia ini kau sendiri yang paling kuat. Aku ingin sekali
mencoba-coba!” Sambil berkata demikian, Sun Hauw lalu mengeluarkan pedangnya dan berdiri dengan
tegak, sikapnya menantang.
Thian Lok Cu mengeluarkan suara ketawa mengejek, kemudian tubuhnya bergerak dan dia sudah mulai
menyerang sambil berseru,
“Bocah lancang, lihat pedang!”
Akan tetapi alangkah kagetnya pada saat pemuda itu menangkis. Thian Lok Cu merasa tangannya tergetar
hebat, tanda bahwa pemuda itu mempunyai tenaga yang amat besar. Kemudian dia menjadi lebih kaget
dan heran lagi menyaksikan ilmu pedang yang cepat dan ganas, jauh bedanya dengan ilmu pedang Butong-
pai!
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi ia tidak sudi mundur dan melawan dengan gerakan cepat dan nekat. Akan tetapi, ternyata
bahwa ilmu pedang dari pemuda tampan ini lihai sekali. Setelah tiga puluh jurus lebih bertempur dengan
sengit dan seru, akhirnya dengan mengeluarkan jurus yang hebat, yakni jurus yang disebut Sin-mo Sam-bu
(Payung Sakti Memutar Tiga Kali), Sun Hauw berhasil merobohkan Thian Lok Cu.
Jurus ini sebetulnya bukan jurus ilmu pedang Go-bi-pai, melainkan ilmu pedang Thian Mo Siansu yang di
samping memiliki ilmu silat Go-bi-pai juga mempunyai ilmu silat lihai dari orang-orang sakti sehingga Thian
Mo Siansu dapat menciptakan ilmu pedang tersebut.
Dengan pedang diputar merupakan bundaran sehingga nampak seperti orang memakai payung, Sun Hauw
berhasil melukai kedua pundak Thian Lok Cu sehingga tosu itu roboh tak dapat bangun lagi. Kawankawannya
menolongnya dan Thian Hok Cu melompat maju dengan pedang di tangan.
“Anak muda, pinto lihat ilmu pedangmu bukan dari Bu-tong-pai, agaknya kau adalah anak murid Go-bi-pai,
mengapa kau mencampuri urusan kami? Apakah Twi Mo Siansu sudah mengajarmu untuk menjadi orang
yang usil dan suka mencampuri urusan orang lain?”
Mendengar ini, Liem Sun Hauw kaget. Ternyata tosu ini dapat mengenal ilmu pedang dan agaknya kenal
pula kepada Ketua Go-bi-pai, susiok-nya Twi Mo Siansu. Cepat ia menjura memberi hormat dan berkata,
“Totiang, harap suka maafkan. Memang siauwte anak murid Go-bi-pai yang datang untuk mendamaikan
urusan antara Bu-tong-pai dengan Kim-san-pai. Akan tetapi sayang sekali Totiang dan kawan-kawan
Totiang datang mengacaukan keadaan dan memperbesar permusuhan. Oleh karena itu, siauwte harap
Totiang sudi pulang saja ke Kim-san-pai dan lain hari siauwte akan datang minta maaf kepada Ketua Kimsan-
pai.”
“Bocah sombong, kau kira pinto takut kepadamu? Kau bilang datang untuk mendamaikan urusan, akan
tetapi kau bahkan melukai sute-ku! Kalau kau mau menjadi jago undangan Bu-tong-pai, mari kita cobacobal”
Sambil berkaia demikian, Thian Hok Cu menyerang dengan pedangnya. Tosu ini tentu saja tidak mau
mengalah karena keadaan sudah seperti itu. Sute-nya terluka dan kalau ia mengundurkan diri begitu saja,
sikapnya ini bersifat pengecut sekali.
Sun Hauw menarik napas panjang dan terpaksa melayani. Sesungguhnya dia tidak suka berkelahi dengan
tosu-tosu Kim-san-pai dan kalau pun bertempur, ia tidak suka melukai mereka.
Akan tetapi kepandaian tosu ini sudah sangat tinggi sehingga sukarlah baginya mencapai kemenangan
tanpa melukainya. Ia hanya menang sedikit saja, menang dalam hal ilmu pedang, maka seperti juga tadi,
terpaksa ia membalas dengan serangan-serangan yang tidak kalah lihainya.
Pertempuran kedua ini lebih hebat dari pada tadi, kedua pihak nampak berimbang dan sama kuatnya. Para
hwesio Bu-tong-pai dan tosu Kim-san-pai menonton pertempuran itu sambil menahan napas. Tentu saja di
dalam hati mereka, masing-masing pihak menjagoi jago sendiri.
Di pihak Bu-tong-pai yang hadir di situ, pemuda Go-bi-pai ini merupakan orang terpandai, demikian pula di
pihak Kim-san-pai yang berada di situ, Thian Hok Cu merupakan jago terlihai. Oleh karena itu, pertempuran
ini adalah pertempuran terakhir yang menentukan. Kalau pihak Kim-san-pai kalah, berarti tidak ada yang
akan berani maju lagi dan mereka harus turun gunung. Sebaliknya, andai kata pemuda itu kalah, tentu
hwesio Bu-tong-pai akan lari naik dan melaporkan hal ini kepada guru besar mereka.
Akan tetapi, akhirnya ternyata pula bahwa Liem Sun Hauw lebih unggul. Pemuda ini telah mewarisi ilmu
silat yang aneh-aneh dari gurunya, yakni Thian Mo Siansu, ada pun Thian Mo Siansu sendiri sudah pernah
menerima latihan oleh kakek sakti Hok Peng Taisu di Hong-lun-san.
Sesudah bertempur lebih dari lima puluh jurus, akhirnya Thian Hok Cu terpaksa harus mengakui
keunggulan Sun Hauw dan tosu ini roboh pula oleh babatan pedang pada paha dan pukulan tangan kiri
pada dadanya. Sun Hauw terpaksa merobohkannya dengan cara ini karena kalau tidak, kiranya dia sendiri
yang akan termakan oleh pedang Thian Hok Cu yang lihai.
Demikianlah, para hwesio Kim-san-pai bersorak-sorak girang dan para tosu yang tinggal lima orang itu lalu
dunia-kangouw.blogspot.com
memondong tubuh susiok mereka dan berlari turun gunung. Ada pun para hwesio Bu-tong-pai lalu
mengantar Sun Hauw naik ke puncak di mana dia disambut oleh Lo Beng Hosiang yang mengerutkan
keningnya ketika mendengar apa yang sudah terjadi.
Hwesio tua ini menggeleng-geleng kepalanya dan berkata penuh sesal,
“Ahh, mengapa terjadi hal seperti itu di lereng sini dan tak seorang pun memberi laporan kepada pinceng?
Kalau pinceng tahu sejak tadi, tentu pinceng akan mencegah terjadinya pertempuran.”
“Mereka terlalu menghina, Suhu,” kata seorang hwesio. “Dua orang Suheng sudah roboh terluka dan
kiranya teecu semua takkan ada yang dapat melawan dan terpaksa menelan hinaan dari orang-orang Kimsan-
pai itu kalau saja Liem-enghiong ini tidak keburu datang menolong dan membersihkan nama kita.”
Lo Beng Hosiang memandang kepada pemuda tampan yang hadir di situ dan tadi telah memberi hormat
kepadanya.
“Sicu dari manakah?” tanyanya singkat.
“Teecu bernama Liem Sun Hauw, anak murid Go-bi-pai. Teecu diutus oleh Susiok Twi Mo Siansu untuk
menghadap Locianpwe dan untuk berusaha mendamaikan pertikaian yang terjadi antara Bu-tong-pai
dengan Kim-san-pai. Susiok berpesan bahwa semua ini adalah atas usul desakan Sin-taihiap Bu Pun Su
yang menghendaki agar pada waktu sekarang ini kita melupakan segala kesalah pahaman dengan
golongan sendiri, dan menghimpun persatuan guna membela negara serta melindungi rakyat dari ancaman
perang. Karena hal itu, Susiok lalu menunjuk teecu untuk datang ke sini. Dan kebetulan sekali tadi teecu
melihat pertempuran antara serombongan tosu Kim-san-pai dengan para hwesio di sini. Teecu sudah
berusaha memisah, memohon kepada tosu-tosu Kim-san-pai untuk pulang, akan tetapi siapa kira, mereka
itu justru berkeras memperlihatkan kepandaian sehingga terpaksa teecu menghadapi mereka. Selanjutnya
mohon petunjuk Locianpwe, bagaimana pendapat Locianpwe dan usaha apa yang kiranya dapat dilakukan
untuk mendamaikan pertikaian ini.”
Lo Beng Hosiang menghela napas lagi.
“Kau datang hendak mendamaikan urusan, akan tetapi kau bahkan melukai dua orang tosu Kim-san-pai.
Bagaimana ini?”
“Teecu bertanggung jawab sepenuhnya akan hal ini,” jawab Sun Hauw gagah. “Teecu akan datang ke Kimsan-
pai dan akan teecu jelaskan kepada Ketua Kim-san-pai disertai permintaan maaf.”
“Bagus, seorang laki-laki harus berani memikul akibat dari perbuatannya sendiri. Sayang kedua orang
muridku Kang Bok Sian dan Kang Ek Sian sudah turun gunung, kalau saja mereka masih ada di sini, biar
pun mereka itu bukan orang-orang yang menggunduli kepala mereka kiranya takkan terjadi keributankeributan
ini.”
Lo Beng Hosiang menulis sepucuk surat kepada Thian Beng Cu, lalu memanggil murid kepalanya, yakni
hwesio gemuk pendek Ki Keng Hosiang dan menyuruh muridnya untuk membawa surat itu dan membawa
semua hwesio yang pernah melakukan pertempuran dengan pihak Kim-san-pai, bersama Liem Sun Hauw
menuju ke Kim-san!
“Serahkan surat pinceng ini kepada Thian Beng Cu, sampaikan salamku dan serahkan pula semua anak
murid Bu-tong-pai yang pernah bertempur. Katakan kepada Thian Beng Cu bahwa dia boleh saja
menghukum anak-anak murid Bu-tong-pai ini sebagai seorang paman guru!”
Liem Sun Hauw memuji kebijaksanaan Guru Besar Bu-tong-pai yang sungguh-sungguh hendak
melenyapkan permusuhan sampai habis dengan jalan menyuruh semua anak muridnya datang ke Kim-sanpai
menerima hukuman. Demikianlah Liem Sun Hauw lalu pergi ke Kim-san-pai bersama anak murid Butong-
pai itu dan seperti telah dituturkan di bagian depan, rombongan ini ketika sampai di lereng Bukit Kimsan,
disambut oleh Ang I Niocu!
Pada saat melihat Ang I Niocu berdiri di situ dengan pedang di tangan, Liem Sun Hauw menjadi terkejut,
heran dan girang sehingga dia menyapanya. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Ang I Niocu
sebaliknya menyindirnya, mengatakan pemuda ini menjadi ‘jago’ pihak Bu-tong-pai dan bermaksud untuk
menghina Kim-san-pai.
dunia-kangouw.blogspot.com
Liem Sun Hauw menolak semua tuduhan itu dan menyatakan bahwa ia pun bertugas sama, yaitu
mendamaikan antara Kim-san-pai dan Bu-tong-pai, tetapi Ang I Niocu marah bukan main. Marah karena
sekarang ia tahu bahwa pemuda tampan ini adalah pemuda yang diusulkan oleh almarhum ayahnya untuk
menjadi calon suaminya! Pemuda yang dicap menjadi penyebab kematian kekasihnya, Gan Tiauw Ki
beserta kematian ayahnya.
Ang I Niocu menahan-nahan nafsu marahnya dan hanya memaki Sun Hauw dengan kata-kata pedas,
“Kau bilang hendak mendamaikan, tetapi mengapa kau justru melukai dua orang tosu Kim-san-pai? Dan
mengapa kau menghadang rombongan utusan Kim-san-pai ke puncak Bu-tong-san? Kenapa pula
sekarang kau datang ke sini? Hendak menyerbu Kim-san-pai? Hemm, kau mengandalkan apakah demikian
sombong?”
Sun Hauw seperti orang tuli. Dia tidak memperhatikan semua kata-kata itu dan sepasang matanya seperti
kena hikmat, tanpa berkedip memandang bibir indah yang berkata-kata. Kecantikan Ang I Niocu yang luar
biasa itu benar-benar membikin Sun Hauw seperti gila. Apa lagi kalau dia ingat betapa ayah dari gadis jelita
ini sudah memilihnya menjadi calon mantu!
“Jawab pertanyaanku!” Ang I Niocu membentak marah, mukanya agak merah karena ia maklum apa
artinya pemuda itu menjadi termenung seperti patung.
Ada pun tujuh orang hwesio Bu-tong-pai yang terpilih sebagai orang-orang bertanggung jawab dalam
pertikaian terhadap Kim-san-pang adalah hwesio-hwesio yang tingkatnya sudah tinggi, yakni anak murid Lo
Beng Hosiang sendiri. Mendengar desakan Ang I Niocu kepada Liem Sun Hauw, seorang di antara mereka
membela Sun Hauw yang kelihatan ‘mati kutunya’ menghadapi nona baju merah itu.
“Ang I Niocu, harap jangan salah sangka terhadap Liem-sicu. Dia ini betul-betul penolong kami dan
bermaksud baik...”
“Siapa menyangkal bahwa dia itu penolong Bu-tong-pai? Akan tetapi sekali-kali aku tak percaya dia ini
menjadi pendamai! Menolong sepihak namun memusuhi pihak lain sama sekali bukan sifat seorang
pendamai, karena dia berat sebelah dan menghina orang lain dengan mengandalkan kepandaiannya yang
dia kira tidak ada keduanya di kolong langit! Aku datang sebagai pendamai antara Kim-san-pai dengan Butong-
pai, sudah pasti sekali aku tidak mau menghina Bu-tong-pai juga tidak mau memusuhi Kim-san-pai.”
Liem Sun Hauw menjadi serba salah dan memang kepandaian kata-katanya telah lenyap entah ke mana
setelah ia berhadapan dengan Ang I Niocu. Dalam pandangannya, segala gerak-gerik Ang I Niocu menarik
hati dan menambah kemanisan dan kecantikannya. Kini dimarahi oleh Ang I Niocu, dia hanya tundukkan
mukanya yang sebentar merah sebentar pucat, seperti seorang anak nakal dimarahi oleh ibunya.
“Lihiap, untuk meredakan permusuhan, sekarang pinceng sekalian datang ke sini hendak menghadap
Locianpwe Thian Beng Cu, dan Liem-sicu yang bertugas sebagai pendamai dari Go-bi-pai, ikut sebagai
perantara,” kembali hwesio itu membela Sun Hauw.
“Jika Losuhu bertujuh datang hendak menghadap Ketua Kim-san-pai untuk menjernihkan suasana, hal itu
amat baik dan patut dipuji, dan memang demikianlah seharusnya kalau orang hendak memperbaiki
hubungan satu sama lain. Aku pun sedang hendak berangkat menemui Lo Beng Hosiang untuk
mendamaikan urusan. Akan tetapi orang she Liem ini biar di sini jangan ikut masuk, dia tidak akan
mendamaikan urusan bahkan mungkin akan mengacau lagi!”
“Niocu harap kau suka maafkan aku...,” akhirnya Sun Hauw dapat bicara kembali setelah menenteramkan
hatinya yang berguncang. “Memang aku telah berlaku terburu nafsu dan melukai dua orang tosu Kim-sanpai
dalam pibu yang terjadi di Bu-tong-san. Oleh karena itu maka kedatanganku ini pun hendak memohon
ampun kepada Locianpwe Thian Beng Cu dan bersama para Suhu ini hendak menyerahkan diri menerima
hukuman. Sekarang baru Niocu saja sudah tidak dapat memaafkan, apa lagi para tosu Kim-san-pai. Biarlah
kalau begitu kau bunuh saja aku untuk menebus dosaku terhadap Locianpwe Sin-taihiap Bu-Pun Su...”
Sambil berkata demikian, Sun Hauw melolos pedangnya dan menyerahkan pedang itu kepada Ang I Niocu.
Gadis itu tak mau menerima pedang, malah agak heran dan terkejut mendengar pemuda itu menyebutnyebut
nama Bu Pun Su.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Mengapa pula kau menyebut-nyebut nama Susiok-couw Bu Pun Su?” tanyanya wajar.
“Sesungguhnya, tugasku ini adalah kehendak Sin-taihiap Bu Pun Su yang menyampaikan pesannya
kepada Susiok Twi Mo Siansu melalui utusannya, yakni Lo-enghiong Kiang Liat yang akhirnya menjadi
sahabat baikku. Aku dipilih oleh Susiok untuk mengerjakan tugas ini, tak tahunya karena kebodohanku aku
bahkan membuat keadaan jadi semakin buruk. Kalau Sin-taihiap Bu Pun Su mendengar akan hal ini,
apakah aku masih dapat diampuni? Kalau Kiang Lo-enghiong yang baik hati dan mulia itu mendengar,
bukankah aku bisa mati saking maluku?”
Tentu saja Sun Hauw sengaja menyebut-nyebut nama Bu Pun Su dan Kiang Liat untuk mengambil hati
gadis yang kecantikannya telah merobohkan hatinya itu. Dia sama sekali tidak tahu bahwa semua katakatanya
itu bahkan merupakan garam yang diulaskan pada luka di dalam hati Ang I Niocu, mendatangkan
rasa perih dan sakit karena mengingatkan ia akan semua peristiwa duka yang dialaminya. Hal ini bahkan
menambah kebenciannya terhadap Sun Hauw sehingga kalau mungkin di saat itu juga ia memenggal leher
pemuda itu.
Akan tetapi pada saat itu, dari puncak bukit datang Thian Beng Cu ketua Kim-san-pai, diiringi oleh tosu-tosu
muridnya, merupakan sebuah rombongan yang kereng dan agung. Para tosu Kim-san-pai yang berada di
situ cepat memberi hormat kepada ketua mereka.
Dengan air muka tenang dan ramah, Thian Beng Cu memandang kepada para hwesio Bu-tong-pai yang
tujuh orang itu, melempar pandang tak acuh kepada Sun Hauw, lalu berkata kepada para hwesio itu,
“Cu-wi Suhu dari Bu-tong-pai, harap tidak berkecil hati kalau pinto terlambat menyambut. Pesan apakah
yang Cu-wi bawa dari sahabat Lo Beng Hosiang?”
Melihat sikap dan mendengar kata-kata Ketua Kim-san-pai ini, para hwesio Bu-tong-pai menjadi merah
mukanya, malu kepada diri sendiri dan heran mengapa Ketua Kim-san-pai yang selama ini disangka
sombong, ternyata seorang kakek yang baik hati dan ramah tamah. Serta merta mereka berlutut memberi
hormat.
Kakek Kim-san-pai itu sudah begitu merendahkan diri, maka kini tanpa ragu-ragu lagi para hwesio Bu-tongpai
maklum bahwa mereka sedang berhadapan dengan seorang tua yang berhati mulia dan tunduklah
mereka.
Ki Keng Hosiang, pendeta gemuk pendek yang memimpin rombongan Bu-tong-pai itu lalu berkata, “Teecu
bertujuh menerima titah Suhu untuk menghadap kepada Susiok, selain untuk menyerahkan surat serta
menyampaikan salam dari Suhu, juga teecu yang sudah melakukan banyak dosa menghina saudarasaudara
dari Kim-san-pai, sengaja datang menyerahkan diri untuk menerima hukuman.”
Thian Beng Cu menarik napas panjang, mengelus-elus jenggotnya. Wajahnya nampak gembira sekali dan
apa bila diperhatikan, orang akan melihat sepasang matanya menjadi basah.
“Gurumu Lo Beng Hosiang adalah seorang bijaksana. Kalian tidak salah apa-apa, bahkan saudara-saudara
mudamu dari Kim-san-pai yang keliru. Kesinikan surat dari suhu-mu supaya pinto dapat segera mengetahui
petunjuk apa yang diberikan kepada pinto yang bodoh.”
Pada saat itu, Liem Sun Hauw yang merasa terharu menyaksikan pertemuan tokoh-tokoh dari kedua pihak
yang saling mengalah, merasa malu terhadap Thian Beng Cu yang ternyata seorang kakek yang begitu
halus dan baik hati. Ia pun lalu, berlutut dan berkata,
“Locianpwe, teecu Liem Sun Hauw utusan dari Go-bi-pai, karena cupat pengetahuan dan lancang, sudah
salah tangan melukai dua orang tosu Kim-san-pai. Sekarang teecu sudah insyaf akan kesalahan sendiri
dan menghadap untuk menerima hukuman.”
Thian Beng Cu menunda niatnya membaca surat dari Lo Beng Hosiang, memandang kepada Liem Sun
Hauw dan mengangguk-angguk.
“Anak murid Go-bi-pai memang amat mengagumkan, masih begini muda sudah memiliki kepandaian tinggi,
dan berani pula bertanggung jawab atas perbuatannya. Liem-sicu, jika kau tidak datang mengakui
kesalahanmu, memang nama baik Go-bi-pai akan tercemar, akan tetapi dengan pengakuanmu ini, segala
apa sudah beres. Di dalam pibu, kalah atau menang sudah lumrah, terluka atau tewas bukan hal aneh.
dunia-kangouw.blogspot.com
Antara kau atau Go-bi-pai dengan kami tidak ada urusan apa-apa, habis sampai di sini saja.”
Sun Hauw menjadi girang sekali, akan tetapi kata-kata itu membuat ia makin tunduk dan malu. Thian Beng
Cu lalu membuka surat dari Lo Beng Hosiang. Selain permintaan maaf bagi murid-muridnya, di dalam surat
itu Lo Beng Hosiang menyatakan bahwa mengenai pembunuhan atas diri Lai Tek, sebenarnya bukanlah
perbuatan anak murid Bu-tong-pai, dan menurut dugaan Lo Beng Hosiang, tentunya dilakukan oleh pihak
ke tiga yang ingin mengadu-dombakan Kim-san-pai dengan Bu-tong-pai. Oleh karena itu, Lo Beng Hosiang
menyatakan bahwa penjahat atau pihak ke tiga inilah yang harus dicari.
Thian Beng Cu menghadapi Ang I Niocu yang masih berdiri di situ. Ketika melihat betapa para hwesio
mengaku salah dan betul-betul datang hendak menerima hukuman, gadis ini juga menjadi girang dan
terharu. Tak disangkanya bahwa tugasnya dapat selesai dengan demikian mudahnya, apa lagi ketika ia
melihat Sun Hauw juga menerima salah dan rela dihukum, kebenciannya terhadap pemuda ini agak
berkurang.
“Ang I Niocu, sebagai utusan Sin-taihiap Bu Pun Su, kau sudah mendengar dan melihat sendiri keadaan
anak-anak murid Bu-tong-pai yang ternyata jauh lebih baik dibandingkan anak-anak murid Kim-san-pai.
Karena kedatangan mereka inilah, maka segala kesalah pahaman telah dapat dibikin beres dan dihabiskan
sampai di sini saja. Di dalam suratnya ini, Lo Beng Hosiang juga menyatakan bahwa pihak Bu-tong-pai
betul-betul tidak pernah melakukan pembunuhan terhadap diri Lai Tek, dan menduga bahwa tentu ada
pihak ke tiga yang melakukan perbuatan itu untuk mengadu domba antara Kim-san-pai dengan Bu-tongpai.
Tidak tahu bagaimanakah baiknya kalau menurut pendapat Niocu?”
“Soalnya sudah jelas bahwa memang tentu ada penjahat yang membunuh Lai Tek dan berbuat seakanakan
yang melakukan hal itu adalah dari pihak Bu-tong-pai. Akan tetapi, perbuatan penjahat itu
mendatangkan kerugian lebih besar kepada pihak Bu-tong-pai dari pada kepada Kim-san-pai. Lai Tek anak
murid Kim-san-pai tewas sebagai orang gagah dan tidak ada kecewanya, sebaliknya dengan perbuatan itu,
nama baik Bu-tong-pai jadi tercemar. Oleh karena itu, menurut pikiranku, sudah menjadi kewajiban Butong-
pai untuk menyelidiki hal ini dan menangkap pembunuhnya. Sungguh pun begitu, demi kembalinya
hubungan baik di antara kedua partai, yang sudah menjadi tugas yang kupikul menurut perintah Susiokcouw,
aku akan turut berusaha pula untuk membongkar rahasia ini dan membekuk penjahatnya.”
Sun Hauw melompat berdiri, menjura kepada Thian Beng Cu, lalu menghadapi Ang I Niocu sambil berkata
cepat,
“Niocu, cocok sekali petunjukmu tadi. Memang sudah seharusnya Bu-tong-pai mencuci bersih namanya
dari perbuatan terkutuk penjahat yang membunuh Lai Tek itu. Dan untuk pekerjaan ini, biarlah aku yang
akan melakukannya. Aku telah berlaku lancang dan biar pun aku diberi tugas menjernihkan suasana antara
Kim-san-pai dan Bu-tong-pai, ternyata aku bahkan mengeruhkan suasana. Sekarang ada pekerjaan ini,
maka biarlah aku yang diwajibkan, hitung-hitung menebus dosaku!”
Ang I Niocu memandang kepada pemuda itu dengan tajam dan diam-diam ia harus akui bahwa Liem Sun
Hauw adalah seorang pemuda yang bersemangat dan gagah. Pantas saja ayah suka kepada pemuda ini
dan hendak menjodohkannya dengan aku, pikirnya. Kebenciannya terhadap pemuda itu makin berkurang
saja.
“Bagaimana, Locianpwe? Apakah Locianpwe dapat menyetujui jika teecu yang mencoba untuk menangkap
penjahat pembunuh Lai Tek-enghiong itu?” tanya Sun Hauw kepada Thian Beng Cu dengan suara
mendesak.
Thian Beng Cu mengangguk-angguk dan tersenyum. “Liem-sicu, kau memang gagah dan kiranya tepat
kalau kau yang mencarinya. Untuk hal ini, sebagaimana dinyatakan oleh Ang I Niocu tadi, pinto serahkan
saja urusan ini kepada pihak Bu-tong-pai. Pinto hanya bisa menyampaikan terima kasih atas maksudmu
yang mulia ini, Liem-sicu.”
“Kalau demikian, perkenankan teecu berangkat sekarang untuk membekuk batang leher pembunuh Lai
Tek-enghiong!” kata Sun Hauw penuh semangat sambil mengerling pada Ang I Niocu.
Tiba-tiba terdengar suara orang, lemah-lembut terdengarnya, “Tidak usah, tidak usah... penjahat itu telah
tertangkap...!”
Tiba-tiba berkelebat bayangan dan tahu-tahu di sana berdiri seorang tosu yang usianya kurang lebih lima
dunia-kangouw.blogspot.com
puluhan tahun, gerak-geriknya halus, akan tetapi sinar matanya tajam berpengaruh.
“Eng Yang Cu-sute... kau baru datang...?” Thian Beng Cu berkata dengan suara girang. “Dan betulkah
penjahat itu telah tertangkap?”
Tosu itu bukan lain adalah Eng Yang Cu, tokoh Kim-san-pai yang menjadi sute termuda dari Thian Beng Cu
dan yang memiliki kepandaian lebih tinggi dari pada semua tokoh Kim-san-pai lainnya, akan tetapi yang
selalu merantau. Tosu itu memberi hormat kepada suheng-nya lalu berkata,
“Memang benar, penjahat itu bukan lain adalah Siang-hek-pian (Sepasang Pian Hitam) Bwee Cat. Seperti
Suheng tentu masih ingat, dahulu Siang-hek-pian Bwee Cat pernah memusuhi Kim-san-pai dan pernah
jatuh oleh siauwte. Agaknya ia mengandung dendam sakit hati dan melihat salah paham yang timbul antara
Kim-san-pai dan Bu-tong-pai, dia lalu turun tangan, menewaskan muridku Lai Tek kemudian menggunakan
nama Bu-tong untuk mengadu domba.”
“Sute yang baik, bagaimana kau bisa mengetahui ini semua dan bagaimana kau bilang bahwa dia itu sudah
tertangkap?” tanya Thian Beng Cu dengan girang, sedangkan wajah Liem Sun Hauw menjadi muram sekali
mendengar bahwa penjahat yang menjadi biang keladi pertikaian itu telah tertangkap.
“Dalam perantauan siauwte mendengar mengenai pertikaian antara Kim-san-pai dengan Bu-tong-pai dan
siauwte sudah mendengar pula sebab-sebab pertikaian itu. Siauwte tidak percaya bahwa Bu-tong-pai akan
dapat berlaku sekeji itu, maka siauwte teringat kepada Siang-hek-pian Bwee Cat. Apa bila ada orang yang
hendak mencelakakan Kim-san-pai, kiranya hanya penjahat itulah yang menaruh dendam dan pernah
menjadi pecundang. Siauwte lalu mencarinya dan sesudah berjumpa, betul saja bahwa dia yang
melakukan pembunuhan terhadap Lai Tek, katanya untuk memancing siauwte supaya mencarinya. Kami
bertempur dan ternyata selama ini ia telah mempertinggi ilmunya sehingga hampir saja siauwte kalah dan
celaka dalam tangannya. Tidak heran bila Lai Tek mudah saja ia tewaskan, tidak tahunya penjahat itu
sudah berguru lagi semenjak kalah di Kim-san-pai. Masih baik nasib siauwte, pada saat itu datang dua
orang bersaudara, yakni Kang Bok Sian dan Kang Eng Sian. Dua orang pendekar muda ini ternyata adalah
anak-anak murid Bu-tong-pai dan mereka pun telah mendengar pula tentang pertikaian antara Bu-tong-pai
dan Kim-san-pai. Dari orang-orang kang-ouw mereka mendengar tentang Siang-hek-pian Bwee Cat yang
menyombongkan perbuatannya, yakni sudah membunuh Lai Tek murid Kim-san-pai. Karena dua orang
saudara Kang yang gagah perkasa itu telah mendengar pula akan sebab pertikaian kedua partai mereka
lalu mengerti bahwa biang keladinya adalah Bwee Cat dan mencarinya. Kebetulan sekali siauwte terdesak
dan mereka berdua turun tangan membantu. Barulah penjahat itu dapat dirobohkan, sayang sekali dalam
keadaan tewas sehingga tidak mungkin siauwte seret ke sini untuk membuat pengakuan.”
Thian Beng Cu menggeleng-geleng kepalanya. Kemudian ia menoleh kepada para anak muridnya dan
kepada tujuh orang hwesio Bu-tong-pai yang berada di situ, lalu berkata dengan suaranya yang halus
berpengaruh,
“Kalian para murid-murid Kim-san-pai dan murid-murid Bu-tong-pai dengarlah baik-baik. Penuturan sute-ku
Eng Yang Cu ini menjadi cermin bagi kalian. Kalian yang berada di sini ribut-ribut saling menuduh dan
saling menyerang menurutkan hati panas. Sebaliknya Eng Yang Cu dan dua orang saudara Kang sebagai
murid-murid Kim-san-pai dan Bu-tong-pai yang jauh dari sini, bahkan sudah bekerja sama untuk
menangkap penjahat. Murid-murid Kim-san-pai, kalian tirulah sikap susiok kalian ini dan murid-murid Butong-
pai harap suka meniru perbuatan kedua saudara Kang yang gagah perkasa.”
Sementara itu, Liem Sun Hauw lalu berkata kepada Thian Beng Cu dengan muka muram,
“Locianpwe, ternyata bahwa teecu seorang yang tidak ada gunanya sama sekali, kalau lebih lama di sini
hanya akan mengotorkan tempat saja. Mohon maaf sebanyaknya dan perkenankan teecu pergi. Cuwi Suhu
dari Bu-tong-pai, tolong sampaikan rasa hormatku kepada Locianpwe Lo Beng Hosiang di Bu-tong-pai.
Nona Ang I Niocu, aku telah banyak melakukan kesalahan terhadapmu, maaf...”
Setelah berkata demikian, dengan cepat sekali Liem Sun Hauw melompat dan pergi dari situ, berlari turun
dari lereng Bukit Kim-san-pai.
Semua orang memandang dengan bengong dan diam-diam merasa kasihan juga kepada pemuda tampan
dan gagah itu yang sebenarnya bukan bertindak salah, hanya kurang teliti dan kurang hati-hati.
“Saudara Liem, tunggu dulu!” Ang I Niocu berseru dan di lain saat dia sudah melompat sambil berkata,
“Totiang, maafkan aku tak dapat lebih lama lagi tinggal di sini!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Sebelum Ketua Kim-san-pai menjawab, tubuhnya sudah lenyap dan yang nampak hanya bayangan merah
berkelebat dan meluncur turun gunung.
“Siapa mereka itu?” tanya Eng Yang Cu kagum sekali melihat kehebatan dua orang muda itu.
“Yang pertama adalah Liem Sun Hauw, murid mendiang Thian Mo Siansu dari Go-bi-pai untuk
mendamaikan urusan Kim-san-pai dengan Bu-tong-pai. Yang ke dua tadi adalah Ang I Niocu, puteri dari
Jeng-jiu-sian Kiang Liat, Bu Pun Su adalah susiok-couw-nya dan dia pun datang atas perintah Bu Pun Su
untuk maksud yang sama, yakni mendamaikan kedua partai.”
Eng Yang Cu menarik napas panjang. “Ahhh, anak-anak muda sekarang memang hebat. Kepandaian
mereka tadi benar lihai, apa lagi nona baju merah tadi, ginkang-nya sudah sampai di tingkat yang melebihi
kita...”
Semua yang ada di situ mengangguk-angguk. Sunyi sepi di tempat itu, hanya beberapa kali terdengar
suara orang menarik napas panjang…..
********************
Liem Sun Hauw merasa amat malu. Ia kecewa sekali karena usahanya melakukan tugas yang diserahkan
kepadanya oleh Twi Mo Siansu selalu menemui kegagalan. Dia bahkan membuat suasana semakin keruh
dan sebelum ia dapat menebus kesalahannya, dengan menangkap biang keladi permusuhan, ia telah
didahului oleh Eng Yang Cu!
Saking malu dan kecewanya dia lalu meninggalkan Kim-san-pai. Yang membuat dia malu sesungguhnya
bukan terhadap orang lain, melainkan terhadap Ang I Niocu. Dia sudah tertarik dan jatuh hati kepada gadis
ini, apa lagi setelah dia tahu bahwa gadis itulah yang dicalonkan menjadi isterinya oleh Kiang Liat. Dan
sekarang di depan gadis itu ia kelihatan sebagai seorang yang bodoh!
Biar pun ia berlari cepat sekali, sebentar saja ia tersusul oleh Ang I Niocu. Tadi Sun Hauw mendengar
suara panggilan Ang I Niocu, akan tetapi ia mengira bahwa gadis yang cantik tapi galak itu akan
menyalahkan dan menyindirnya, maka ia tidak mau berhenti sebelum jauh dari para tokoh Bu-tong-pai dan
Kim-san-pai.
Selain ini dia pun hendak menguji ilmu lari cepat dari gadis itu dan diam-diam dia segera mengerahkan ilmu
lari cepat yang paling diandalkan, yakni Liok-te Hui-teng (Lari Seperti Terbang di Atas Bumi), karena ia tahu
bahwa gadis itu mengejarnya.
Akan tetapi alangkah kagumnya ketika tak lama kemudian gadis itu sudah menyusulnya. Bayangan merah
berkelebat di samping kanannya dan di lain saat gadis itu telah berdiri beberapa tombak jauhnya di sebelah
depan, tersenyum menghadang di jalan.
Ang I Niocu sengaja mengejar Sun Hauw karena gadis ini ingin sekali mendengar dari pemuda ini
mengenai hubungan ayahnya dengan pemuda ini. Ingin dia mengetahui bagai mana pemuda ini bertemu
dengan ayahnya dan bagaimana pula ayahnya sampai punya maksud menjodohkan dia dengan pemuda
itu.
Selain ini, ia pun agak menyesal atas sikapnya yang menghina dan keras terhadap Sun Hauw, dan
sekarang ternyata bahwa sesungguhnya pemuda ini bukanlah seorang yang menyombongkan kepandaian
dan sengaja membantu Bu-tong-pai melakukan penghinaan terhadap Kim-san-pai. Semua pertengkaran
yang terjadi hanya timbul diakibatkan kesalah pahaman.
Sungguh pun pada mukanya terbayang kemuraman, namun di dalam hatinya Sun Hauw merasa girang
sekali melihat gadis itu. “Nona, apakah kau masih merasa penasaran? Aku sudah mengaku salah dan...”
“Saudara Liem, jangan kau salah sangka. Tadi kau menyebut nama ayahku. Di mana kau pernah bertemu
dengan Ayah dan kapankah? Aku ingin sekali mendengar penuturanmu tentang Ayah.”
Seketika wajah Sun Hauw berseri, hatinya berdebar-debar girang dan dia menarik napas lega.
“Aku bertemu kemudian berkenalan dengan ayahmu yang gagah perkasa dan mulia itu di Go-bi-san,” dia
dunia-kangouw.blogspot.com
mulai bercerita, “ketika aku menghadap Susiok Twi Mo Siansu, kebetulan ayahmu datang dan
menyampaikan pesan dari Sin-taihiap Bu Pun Su kepada Susiok-ku. Susiok lalu memilih aku untuk
berusaha mendamaikan pertikaian antara Bu-tong-pai dan Kim-san-pai dan hal ini menimbulkan iri hati dan
tidak senangnya beberapa orang anak murid Go-bi-pai. Aku sendiri biar pun anak murid Go-bi-pai, akan
tetapi suhu-ku adalah seorang perantau dan hampir tidak mempunyai hubungan lagi dengan Go-bi-pai.”
Kemudian Sun Hauw menuturkan bagaimana dia telah diserang oleh tokoh Go-bi-pai Tek Le Tojin dan
hampir celaka kalau saja dia tidak ditolong oleh Kiang Liat. Dan bagaimana perjalanannya ke Bu-tong-pai
tertunda dan terlambat karena dia singgah di kampungnya dan terpaksa menunda perjalanan ke Bu-tongsan
sebab dia harus terlebih dulu merawat ayahnya yang sedang sakit payah. Semua peristiwa ini sudah
dituturkan di bagian depan dan kiranya tak perlu diulang pula.
“Demikianlah, Nona. Apakah ayahmu sudah pulang ke Sian-koan dan apakah kau telah bertemu dengan
orang tua yang mulia itu?” Sun Hauw menutup penuturannya dan balas bertanya.
Ang I Niocu tak dapat menjawab, hanya mengangguk. Hatinya terasa bagai ditusuk-tusuk karena
teringatlah dia akan segala peristiwa antara dia dan ayahnya yang menyebabkan kematian ayahnya.
Sun Hauw makin berdebar. Kalau gadis ini sudah bertemu dengan ayahnya, tentu sudah mendengar pula
mengenai maksud pertalian jodoh itu. Matanya bersinar-sinar, mukanya merah ketika ia menatap wajah
dara cantik jelita yang berdiri sambil menundukkan muka di depannya itu.
“Syukurlah jika ayahmu telah pulang, Nona. Kuharap saja orang tua yang gagah perkasa itu dalam sehatsehat
dan selamat. Ah, alangkah inginku menghadap Kiang-lo-enghiong, alangkah rindu hatiku bertemu
muka dengan dia lagi. Aku amat menghormat dan memuja ayahmu, Nona, selembar nyawaku ini masih
bisa berada di dalam tubuhku hanya berkat pertolongan ayahmu.”
Mendengar kata-kata yang diucapkan dengan sungguh-sungguh ini, Ang I Niocu menjadi sangat terharu. Ia
meramkan kedua matanya dan merasa hatinya perih sekali. Ketika ia membuka lagi kedua matanya, ia tak
dapat menahan air matanya yang mengucur deras. Cepat-cepat ia menggunakan ujung lengan baju untuk
menutupi matanya dan mengusap air matanya.
“Ang I Niocu... kau kenapa…? Maafkan kalau aku kesalahan bicara...” Sun Hauw berkata kaget.
Ang I Niocu dapat menekan perasaannya dan kini menjadi tenang kembali.
“Saudara Liem, harap kau maafkan kelemahanku. Sebenarnya, perlu kiranya kau ketahui bahwa Ayah telah
meninggal dunia tujuh bulan yang lalu.”
Tiba-tiba muka Sun Hauw menjadi pucat dan ia merasa seperti kehilangan semangatnya. Kemudian ia
menjatuhkan diri berlutut di atas tanah, menutupi mukanya dengan kedua tangan dan biar pun ia tidak
mengeluarkan suara, kedua pundaknya bergerak-gerak dan tahulah Ang I Niocu bahwa pemuda ini telah
menangis!
Diam-diam ia menjadi terharu hadap pemuda ini, sekarang perasaan benci lenyap dan ia harus mengakui
bahwa kecuali mendiang Gan Tiauw Ki, pemuda ini merupakan seorang pemuda pilihan dan baik, yang
pernah ditemuinya.
“Gakhu...,” terdengar kata-kata dari mulut pemuda itu, hanya perlahan sekali
Wajah Ang I Niocu menjadi merah sekali ketika mendengar pemuda itu mengeluarkan kata-kata sebutan
gakhu (ayah mertua) itu, akan tetapi kata-kata itu diucapkan perlahan sekali dan agaknya pemuda itu
menahan hatinya supaya tidak mengeluarkan suara. lagi.
Memang di samping keharuan dan kesedihannya, Sun Hauw juga merasa bimbang dan gelisah. Calon
mertuanya sudah meninggal dunia, apakah nona ini sudah tahu tentang perjodohan yang diikat?
Bagaimana kalau Nona ini belum diberi tahu oleh ayahnya.
Ingin sekali ia bertanya kepada Ang I Niocu tentang ini, akan tetapi tentu saja ia merasa malu dan sungkan.
Sebaliknya ia lalu menenangkan hatinya, diam-diam ia mengeringkan air matanya, lalu bangkit berdiri lagi.
Kedua matanya masih basah dan mukanya merah.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Niocu...,” suaranya serak dan pandang matanya kepada Ang I Niocu penuh perasaan kasih dan iba,
“sungguh aku ikut berduka cita dan betapa kaget hatiku mendengar warta yang menyedihkan ini. Niocu,
ayahmu demikian sehat dan gagah perkasa ketika bertemu dengan aku, bagaimana ia bisa meninggal
dengan mendadak? Apa sebabnya?”
Jika saja masih ada kemarahan dan kebencian dalam hati Ang I Niocu terhadap pemuda ini, tentu dia akan
menjawab dengan makian dan tuduhan bahwa pemuda inilah yang menjadi gara-gara kematian ayahnya.
Akan tetapi sikap Sun Hauw mendatangkan kesan baik dalam hati Ang I Niocu dan gadis itu hanya
menjawab singkat,
“Ayah meninggal karena sakit pada bagian jantungnya.”
Keduanya lalu berdiam diri agak lama. Sun Hauw tidak tahu harus berbuat atau berkata apa untuk
menghibur nona itu. Akhirnya ia hanya dapat bertanya dengan perlahan,
“Niocu, apakah... apakah mendiang ayahmu ada meninggalkan sesuatu pesanan untuk aku...?”
Tentu saja Ang I Niocu dapat menangkap maksud dari pertanyaan itu, tentu pemuda ini hendak bertanya
tentang maksud perjodohan yang direncanakan ayahnya. Akan tetapi ia hanya menggeleng kepala dan
tidak berkata apa-apa.
“Niocu, apakah kau tidak mempunyai keluarga lain?”
Kembali Ang I Niocu menggeleng kepalanya.
“Kau sebatang kara di dunia ini?” pertanyaan ini penuh perasaan iba.
Ang I Niocu mengangguk, tidak berani mengeluarkan suara karena tahu bahwa suaranya tentu akan
gemetar. Pertanyaan-pertanyaan ini telah membangkitkan kesedihan hatinya. Sampai lama Sun Hauw
diam saja, penuh bimbang, ragu dan iba.
“Niocu, aku hendak melaporkan urusan Bu-tong-pai dan Kim-san-pai yang sudah selesai itu kepada Susiok
di Go-bi-pai, setelah itu aku akan menghadiri pertemuan yang hendak diadakan oleh Sin-taihiap Bu Pun Su.
Kalau aku boleh bertanya, kau hendak ke mana?”
“Aku juga harus menghadiri pertemuan di puncak Gunung Thai-san, seperti yang dipesan oleh Susiok-couw
Bu Pun Su.”
Wajah Sun Hauw berseri. “Kalau begitu, Niocu, apa bila kau tak menganggap aku terlalu lancang dan
kurang ajar, maukah kau mengijinkan aku mengiringkan perjalananmu? Kita sejalan, dan aku akan merasa
berbahagia sekali kalau dibolehkan melakukan perjalanan bersamamu.”
Karena sikap pemuda itu memang sangat baik dan menyenangkan hatinya, Ang I Niocu tidak merasa
keberatan. Di atas dunia ini ia memang hidup sebatang kara, tiada keluarga tiada teman, sekarang ada
pemuda yang baik hati dan sopan ini, mengapa dia menolak perjalanan bersama? Sedikitnya dia akan
dapat menyelidiki dan mengetahui bagaimana keadaan sebenarnya dari pemuda yang menjadi pilihan
ayahnya ini.
Maka berangkatlah dua orang muda itu menuruni Bukit Kim-san dan dengan kepandaian mereka yang
tinggi, mereka perjalanan cepat sekali. Sikap Sun Hauw benar-benar amat sopan dan baik sehingga Ang I
Niocu makin suka kepadanya, meski pun sukar dikatakan bahwa gadis itu membalas cinta kasihnya.
Sesudah kehilangan ayahnya dan Gan Tiauw Ki, memang amatlah sukar bagi Ang I Niocu untuk dapat
mencinta pemuda lain.
Memang Sun Hauw seorang pemuda yang baik dan gagah. Tidak saja dia telah memiliki kepandaian yang
tinggi, akan tetapi dia juga amat pandai membawa diri. Perjalanan yang selama berbulan-bulan bersama
Ang I Niocu menjadi ujian baginya. Walau pun dia sudah tergila-gila kepada Ang I Niocu, mabuk oleh
kecantikan gadis ini yang memang sungguh luar biasa sehingga dia mencinta gadis ini dengan sepenuh
hati dan perasaannya, tetapi belum pernah dia memperlihatkan sikap yang kurang ajar dan melanggar tata
susila.
Bahkan, biar pun sepasang matanya selalu menyorotkan sinar cinta kasih yang berkobar-kobar, tetapi
dunia-kangouw.blogspot.com
bibirnya tak pernah mengeluarkan sepatah kata pun tentang perasaan yang terkandung dalam hatinya itu.
Tiap malam, kalau Ang I Niocu sudah pulas di dalam kamar lain di penginapan, atau di dalam kamar pada
sebuah kelenteng kosong di mana mereka bermalam, Sun Hauw gelisah tak dapat tidur.
Kadang-kadang dia hanya duduk bersandar pada meja sembahyang di dalam kelenteng dan melamun!
Tentu saja yang terbayang hanyalah Ang I Niocu yang gagah perkasa dan cantik jelita, dan terbayanglah
pula pertemuannya yang pertama kali dengan dara pujaan hatinya itu.
Kadang-kadang pemuda ini menjadi muram wajahnya, penuh kegelisahan dan kedukaan, kalau dia teringat
betapa akan sengsara hidupnya kalau gadis itu kelak menolaknya! Dia pun merasa bingung mencari jalan
bagaimana untuk bicara dengan Ang I Niocu tentang kehendak mendiang Kiang Liat mengenai tali
perjodohan itu.
Oleh karena nama Ang I Niocu sudah mulai terkenal, apa lagi semenjak dia membasmi gerombolan
perampok di Bukit Min-san itu, tidak ada penjahat yang berani sembarangan mengganggunya dalam
perjalanan itu. Lebih-lebih karena di situ ada Liem Sun Hauw dan pemuda ini yang sudah lama merantau di
dunia kang-ouw bersama mendiang suhu-nya, juga merupakan tokoh yang terkenal dan ditakuti penjahat.
Para kaum liok-lim mempunyai mata yang sangat awas dan telinga yang tajam. Mereka tak mau
mengganggu orang-orang gagah yang sekiranya malah akan merugikan mereka sendiri.
Ketika mereka tiba di jalan simpangan yang dekat dengan kampung tempat tinggal Sun Hauw, pemuda itu
berkata,
“Nah, di sinilah jalan yang menuju ke rumah ayahku, Niocu. Kau tentu tidak keberatan apa bila kita singgah
sebentar, bukan? Aku harus menengok keadaan Ayah karena ketika kutinggalkan, dia baru saja sembuh
dari sakit.”
Hal ini memang sering kali dikemukakan oleh Sun Hauw dalam perjalanan, yakni bahwa pemuda itu
hendak singgah di kampung halamannya. Ang I Niocu tidak keberatan dan ia memang ingin sekali melihat
keadaan keluarga pemuda ini.
Mereka membelok dan dengan cepat menuju ke kampung Peng-kan-mui. Akan tetapi, ketika mereka
sampai di luar kampung itu, tiba-tiba Sun Hauw menghentikan kakinya dan mukanya berubah. Ang I Niocu
juga berhenti dan menoleh, memandang heran kepada pemuda itu.
“Mengapa kita berhenti di sini?” tanyanya.
Mendadak Sun Hauw teringat akan sesuatu yang membuat hatinya berdebar cemas dan yang membuatnya
tiba-tiba berhenti. Ia teringat akan Siok Lan, gadis yang oleh ayahnya dicalonkan menjadi isterinya!
Ia mengajak Ang I Niocu ke rumahnya, bahkan bermaksud minta kepada ayahnya agar melamar gadis ini
sebagai calon isterinya. Namun bagaimana dengan Siok Lan? Karena dahulu ayahnya sudah menetapkan
perjodohannya dengan Siok Lan, maka urusan ini menjadi sulit dan harus dipecahkan dengan perlahan.
Kalau ia mengajak Ang I Niocu ke rumah ayahnya, bagaimana kalau terjadi hal-hal yang tak
dikehendakinya? Bagaimana kalau andai kata ayahnya marah-marah dan Ang I Niocu mendengar tentang
pertunangannya dengan Siok Lan? Bisa ribut dan tentu Ang I Niocu akan tersinggung, akan marah!
“Niocu, baru sekarang aku ingat dan betapa pun besar malu dan kecewaku kepadamu, terpaksa hal ini
harus kukemukakan secara terus terang padamu. Kau tahu bahwa Ayah adalah seorang dusun yang kuno
dan pendiriannya masih kolot. Kalau tiba-tiba saja aku datang bersama engkau, tentu ia akan menduga
yang bukan-bukan dan mengira bahwa aku sudah menyeleweng. Hal ini bukan saja tidak baik bagiku, juga
akan menyinggung perasaanmu. Oleh karena itu, aku harap kau sudi memaafkan aku, Niocu. Biarlah nanti
aku yang masuk terlebih dahulu, memberi tahukan tentang perjalananku dan mengenai kunjunganmu, agar
orang tua itu tidak salah paham dan bisa menyambut kunjunganmu.”
Wajah Ang I Niocu menjadi merah. Akan tetapi bagaimana dia bisa marah? Pemuda ini bicara dengan
begitu terus terang dan secara terbuka, sehingga sama sekali tidak dapat disebut menghinanya, bahkan
telah melindunginya dari keadaan yang benar-benar akan dapat menyinggung dan menghinanya, misalnya
kalau tiba-tiba ayah pemuda itu lantas memaki-maki puteranya di depannya, tentu hal ini akan membuat dia
merasa terhina. Oleh karena itu ia pun, tersenyum manis sekali dan berkata,
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aku mengerti, Saudara Liem. Tidak apa, karena memang aku tidak berhak mengganggu orang tua itu. Kau
masuklah ke kampung dan tengok orang tuamu. Biar aku berjalan-jalan di kampung ini melihat-lihat.
Kiranya setengah hari cukup untuk melepas rindu kepada ayahmu, bukan? Nah, sekarang masih pagi.
Nanti lewat tengah hari kita bertemu pula di luar kampung ini untuk melanjutkan perjalanan.”
Sun Hauw tidak berani banyak membantah. Masuklah dua orang muda itu ke kampung Peng-kan-mui
dalam keadaan berpisah. Sun Hauw membelok ke kanan dan Ang I Niocu membelok ke kiri.
Kampung itu besar juga sehingga Ang I Niocu takkan merasa kesepian selama menanti Sun Hauw
menyelesaikan kunjungannya ke rumah. Dia berjalan perlahan di sepanjang jalan kampung itu, tidak
mempedulikan pandangan orang-orang yang terheran-heran dan kagum melihatnya…..
********************
Di bawah sebatang pohon di belakang rumahnya, Tang Siok Lan berdiri dan termenung. Gadis manis ini
kadang-kadang tersenyum dan kadang-kadang membelai-belai batang pohon dengan jari-jari tangannya
yang halus. Baru saja ia mendengar warta girang, warta yang dianggapnya paling baik di antara segala
berita. Warta tentang datangnya Liem Sun Hauw, kekasih dan tunangannya!
Ia sudah ‘jatuh hati’ kepada Liem Sun Hauw semenjak ia masih kecil! Teringat ia ketika dahulu, sama-sama
masih seorang anak berusia sekitar enam atau tujuh tahun, ia selalu bermain-main dengan Sun Hauw di
tempat ini, di kebun rumahnya di mana setiap hari Sun Hauw selalu datang mengajaknya bermain-main.
Semenjak kecilnya, Sun Hauw memang sudah gagah atau setidak-tidaknya bercita-cita menjadi seorang
gagah. Sering kali Sun Hauw membuat kuda-kudaan dari batang pohon, lalu berlari-lari ‘naik kuda’ dengan
lagak seorang pahlawan berangkat ke medan perang! Dan di tengah jalan ia melambai-lambaikan tangan
kepada Siok Lan yang dibalas dengan lambaian tangan pula. Sering kali mereka bermain-main, Sun Hauw
menjadi pangeran dan Siok Lan menjadi puterinya, sang pangeran menolong sang puteri yang ditawan oleh
penjahat!
Siok Lan tersenyum dan kadang-kadang tertawa kecil menutupi mulut dengan tangannya kalau dia teringat
akan semua ini. Sekarang Sun Hauw sudah pulang! Sedangkan ayah Sun Hauw dan ayahnya sendiri
sudah setuju bahwa kalau Sun Hauw pulang, pernikahan antara dua orang muda ini akan segera
dilangsungkan.
Tiba-tiba pintu belakang rumah itu terbuka dan seorang wanita muda yang cantik juga datang berlari-lari
sambil tertawa,
“Siok Lan, kau sedang apa di situ? Mengapa kau tidak lekas-lekas berganti pakaian dan membereskan
rambutmu? Sebentar lagi tentu dia akan datang ke sini...!” kata wanita itu yang ternyata adalah kakak ipar
dari Siok Lan.
“Ahhh... Soso suka menggoda orang...,” jawab Siok Lan dan mukanya yang putih halus menjadi merah,
lesung di atas tahi lalat yang berada di dagu kirinya segera membayang, menambah kemanisannya.
Dua orang wanita ini lalu bersendau-gurau dan Siok Lan digoda terus oleh kakak iparnya. Keduanya
tertawa-tawa gembira tidak tahu bahwa tak jauh dari situ dua orang mengintai dan mendengarkan
percakapan mereka…..
********************
Bila di rumah Siok Lan terjadi hal yang menggembirakan, sebaliknya di rumah Sun Hauw terjadi hal yang
ribut. Terdengar ayah pemuda itu berteriak-teriak marah, diselingi suara Sun Hauw yang tenang dan lemahlembut,
agaknya hendak menghibur ayahnya.
Akhirnya dengan suara yang menyatakan kekecewaan, kemarahan, dan kedukaan, ayah pemuda itu
berkata,
“Sudahlah, Sun Hauw. Kalau kau berkukuh, aku pun tak dapat memaksa, karena kaulah yang akan
menikah. Akan tetapi, untuk membatalkan ikatan jodoh dengan keluarga Tang, harus kau sendiri yang
datang memberi tahukan. Aku tidak sampai hati, aku tidak tega membikin malu dan susah Siok Lan, anak
dunia-kangouw.blogspot.com
yang baik itu... Baru saja dia masih demikian lincah gembira... penuh harapan, sekarang kau hendak
menghancurkan hatinya...”
“Ayah, sesungguhnya anak pun merasa amat kasihan kepada Siok Lan. Akan tetapi apa daya, Ayah. Anak
merasa lebih cocok dan anak mencintai Ang I Niocu, seorang wanita gagah yang lebih sesuai dengan
keadaan anak sendiri. Mengenai Siok Lan, biarlah anak anggap sebagai adik sendiri dan kelak anak yang
akan mencarikan calon suami.”
“Masa bodoh... masa bodoh... anak muda sekarang memang tidak kenal budi!”
Biar pun secara terpaksa sekali harus mendapat persetujuan ayahnya, Sun Hauw girang juga bahwa
akhirnya ayahnya menyerahkan hal perjodohan ini kepadanya. Dia lalu cepat meninggalkan rumahnya dan
menuju ke rumah Siok Lan. Ia harus bertindak cepat karena khawatir kalau membuat Ang I Niocu terlalu
lama menunggu.
Akan tetapi, sesudah dia sampai di dekat rumah Siok Lan, hatinya merasa berdebar juga. Bagaimana dia
harus menyampaikan hal yang amat pahit bagi Siok Lan itu? Lebih baik kusampaikan kepada Siok Lan
sendiri, pikirnya.
Untuk menyampaikan hal ini kepada ayah Siok Lan, atau kakak Siok Lan, ia merasa lebih sukar lagi karena
hubungannya dengan mereka ini kurang erat. Semenjak kecil memang kakak Siok Lan itu bekerja di kota
lain dan pulang-pulang sudah membawa isteri. Akan tetapi kalau dengan Siok Lan, semenjak kecil ia
memang sudah kenal baik sehingga biar pun amat berat rasa hati menyampaikan hal yang menghancurkan
perasaan gadis itu, namun masih lebih mudah apa bila dibandingkan dengan menyampaikan kepada ayah
atau kakaknya.
Ketika Sun Hauw melompati pagar belakang rumah, ternyata dia mendapatkan Siok Lan tengah duduk
seorang diri di bawah pohon. Kebetulan sekali, setelah bergurau dengan kakak iparnya yang barusan
menggodanya, kakak ipar itu kembali ke dalam rumah untuk melanjutkan pekerjaan rumah tangga. Siok
Lan kemudian melamun seorang diri di dalam kebunnya, mengambil keputusan di dalam hatinya, hanya
akan keluar kalau Sun Hauw sudah datang berkunjung ke rumahnya.
Akan tetapi kini ia telah berganti pakaian seperti yang dinasehatkan oleh kakak iparnya tadi, dan rambutnya
yang hitam halus dan panjang sudah disisirnya rapi. Mukanya yang jarang dibedaki, karena ia memang
bukan seorang pesolek, akan tetapi yang putih dan halus, kini bertambah menarik dengan bedak tipis-tipis,
ada pun senyumnya tidak pernah meninggalkan bibirnya. Saat-saat seperti ini, menunggu datangnya
kekasih hati, memang merupakan saat paling bahagia bagi seorang dara.
Ketika melompat turun ke dalam kebun itu, untuk sesaat Sun Hauw berdiri tertegun. Ia terharu. Teringat ia
akan masa kanak-kanak dahulu. Setiap kali dia pun memasuki kebun Siok Lan dengan cara seperti ini.
Hanya bedanya, kalau dulu ia masuk menerobos pagar kebun yang rusak, adalah sekarang dengan
mudahnya dia dapat melompati pagar tanpa mengeluarkan suara.
“Siok Lan...” Ia memanggil dengan nada suara seperti dahulu ketika masih kecil pula.
Gadis itu terkejut, serasa dalam mimpi. Seperti pada waktu dahulu, dia pun tersenyum, menoleh dan
memandang ke Sun Hauw.
“Hauw-ko... kau baru datang...?” Kemudian ia teringat bahwa mereka bukan kanak-kanak lagi, maka
merahlah mukanya dan disambungnya dengan kata. kata itu, “Ehh, mengapa kau datang dari belakang?”
Sun Hauw makin terharu melihat wajah wanita itu tersenyum bahagia, sepasang mata yang sudah
dikenalnya baik semenjak kanak-kanak itu berseri seri, akan tetapi ia tidak bisa membalas senyum dan
wajahnya nampak muram.
“Aku sengaja datang dari belakang untuk bertemu dan bicara dengan kau, Siok Lan.”
Dia lalu menghampiri gadis itu dan mulai mengucapkan kata-kata yang sudah dirangkai dan dihafalkannya
di sepanjang jalan tadi.
“Siok Lan, semenjak kita masih kanak-kanak, kita sudah menjadi sahabat baik, bahkan boleh dibilang
sudah seperti kakak beradik saja. Oleh karena itu, biarlah sekarang kau anggap aku bicara selaku kakakmu
dunia-kangouw.blogspot.com
dan bagi aku, lebih baik aku bicara sendiri denganmu dari pada dengan ayah atau kakakmu. Sebagai
seorang kakak aku hendak bicara terus terang saja, demi kebaikan kita berdua dan demi kebaikan keluarga
kita. Kau tahu bahwa selamanya aku menganggap kau sebagai adikku, karena aku sendiri tidak
mempunyai saudara. Akan tetapi, ketika aku pulang tadi, aku mendengar dari Ayah bahwa antara kita telah
diikat tali perjodohan.”
Mendengar ini Siok Lan menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali sampai ke telinga dan
lehernya. Ia tidak berani bergerak, hanya tersenyum-senyum malu dan ujung kasutnya menggurat-gurat
tanah di bawah kaki, hanya itulah gerakan satu-satunya yang ia berani lakukan. Ia merasa malu, jengah,
dan juga... girang bukan main.
“Siok Lan, kau sendiri tentu tahu bahwa aku selalu akan merasa gembira dan berterima kasih, bahwa aku
tentu akan menerima perjodohan itu dengan tangan dan hati terbuka, karena kau memang seorang yang
kutahu amat bijaksana, amat mulia, dan seorang dara pilihan, kalau saja...”
Mendadak wajah menunduk yang kemerahan itu menjadi pucat dan diangkat, sepasang mata yang bingung
dan kaget, menatap wajah Sun Hauw bagaikan mata seekor kelinci melihat harimau, membuat Sun Hauw
merasa kerongkongannya tersumbat! Akan tetapi pemuda itu mengeraskan hati dan ia harus sanggup
mengakhiri kalimat yang paling sulit diucapkannya itu.
“Kalau saja aku belum mempunyai seorang kekasih, Siok Lan. Memang ini salahku. Aku sudah jatuh cinta
kepada seorang gadis gagah perkasa bernama Ang I Niocu Kiang Im Giok, dan aku... aku bahkan sudah
bertunangan dengan dia, aku pulang untuk meminta Ayah meminangnya, maka tali perjodohan antara kau
dan aku ini tentu saja menjadi tak mungkin...! Kau tahu Siok Lan, aku sayang kepadamu seperti seorang
kakak menyayang adiknya, dan terhadap Ang I Niocu... dia itu pilihan hatiku, tidak mungkin diganti oleh lain
orang...”
Kalau ada geledek yang menyambarnya di saat itu, kiranya Siok Lan takkan begitu kaget seperti ketika
mendengar kata-kata ini. Sepasang matanya terbelalak, mukanya pucat, bibirnya gemetar dan bergerakgerak
tanpa mampu mengeluarkan satu patah kata pun, kakinya menggigil dan akhirnya air mata
membanjir keluar dibarengi keluhan suaranya,
“Hauw-ko...” dan gadis ini berlari dengan limbung, memasuki rumahnya.
Sun Hauw menarik napas panjang dengan perasaan kasihan bercampur lega. Akhirnya kata-kata itu dapat
juga dikeluarkan dan nona itu tentu akan menyampaikannya kepada kakaknya dan ayahnya dan semua
bereslah! Ia lalu membalikkan tubuh dan melompati pagar kebun itu, kembali ke rumah ayahnya, untuk
menyampaikan bahwa hal itu sudah beres.
Walau pun kebun itu sudah ditinggalkan oleh Siok Lan dan Sun Hauw, akan tetapi orang yang semenjak
tadi mengintai di situ masih belum pergi. Ia berdiri bersembunyi, seperti patung, rupa-rupanya terpengaruh
oleh semua yang sudah didengarnya, semenjak Siok Lan bergurau dengan kakak iparnya tentang Sun
Hauw sampai pertemuan antara Siok Lan dan Sun Hauw.
Tiba-tiba terdengar jerit mengerikan dari dalam rumah sederhana, rumah keluarga Tang itu. Orang yang
tadi bersembunyi, cepat sekali berkelebat, berubah menjadi bayangan merah dan di lain saat ia telah naik
ke atas genteng rumah itu. Dilihatnya dari atas betapa Siok Lan berlari dikejar oleh kakak dan iparnya.
Bayangan merah di atas genteng hendak melompat turun mengejar, akan tetapi sudah terlambat. Siok Lan
sudah sampai di dekat dinding dan dengan sekuat tenaga gadis yang malang ini lantas membenturkan
kepalanya pada dinding.
Terdengar suara keras dan gadis itu roboh terkulai, darah mengalir dari pelipisnya, keluar pula dari mulut,
hidung, dan matanya yang terbuka lebar tanpa cahaya, mata seorang yang sudah tewas...!
Kakak Siok Lan menggereng-gereng, isterinya menjerit-jerit dan seorang kakek tua, yakni ayah Siok Lan,
terbungkuk-bungkuk berlari dari dalam, lalu menubruk jenazah puterinya sambil menangis dan berkata-kata
tidak karuan bagaikan orang yang ingatannya sudah berubah, seperti orang gila saking sedihnya.
Bayangan merah itu menggigit bibir dan menghapus dua titik air mata yang membasahi pipinya, kemudian
berkelebat pergi…..
dunia-kangouw.blogspot.com
********************
Sun Hauw menjadi terkejut dan menyesal sekali pada saat mendengar tentang perbuatan Siok Lan yang
nekad. Tak terasa lagi air matanya turun bertitik, karena betapa pun juga, ia sesungguhnya amat sayang
kepada Siok Lan. Kalau di sana tidak ada Ang I Niocu, kiranya ia akan menerima Siok Lan sebagai isteri
dengan perasaan gembira dan bahagia.
Ayahnya juga menangis sesenggukan, membanting diri di atas pembaringan sambil terus memaki-maki
anaknya,
“Sun Hauw, dasar kau manusia tidak kenal budi! Kau sudah melakukan perbuatan yang membikin kotor
nama keluarga kita, kau telah melakukan dosa besar sekali oleh karena sesungguhnya kaulah yang
membunuh Siok Lan...!”
Setelah memaki-maki, ayah ini berkata, “Kau boleh mencari isteri yang mana saja, akan tetapi bagiku, kau
sudah mempunyai isteri Siok Lan! Aku tak akan sudi melamarkan lain orang gadis untuk menjadi isterimu!”
Tentu saja Sun Hauw merasa amat berduka. Akan tetapi, di samping kedukaannya ini, ia pun diam-diam
merasa girang karena sekarang perjodohannya dengan Ang I Niocu tidak terhalang oleh apa pun juga lagi!
Kalau ayahnya tidak mau meminang, dia dapat minta perantaraan susiok-nya. Memang, seorang yang
telah dimabuk cinta kadang kala sampai lupa akan kebajikan, yang diingat hanyalah kesenangan diri sendiri
saja.
Sesudah meninggalkan sebagian besar uangnya untuk disumbangkan kepada keluarga Tang, Sun Hauw
lalu berpamit kepada ayahnya untuk melanjutkan perjalanan. Tak dapat dilukiskan betapa remuk perasaan
hati ayahnya. Ayah ini hanya memiliki seorang putera dan sekarang, putera ini telah mengecewakan
hatinya, bahkan hanya setengah hari saja pulang, dan hendak pergi lagi.
Sebaliknya, setelah keluar dari rumahnya, Sun Hauw merasa seakan-akan seekor burung terlepas dari
sangkar yang sempit. Ia berlari-lari menuju ke luar kampung di mana tadi ia berpisah dari Ang I Niocu.
Kemuraman wajahnya yang tadi telah lenyap dan terganti oleh seri penuh harapan dan kegembiraan. Masa
depannya penuh madu dan kebahagiaan bersama Ang I Niocu, dara perkasa yang cantik seperti bidadari,
mengapa pula ia harus berduka?
Dengan hati gembira ia berlari keluar dari pintu gerbang dusunnya dan dari jauh ia sudah melihat dara baju
merah itu menunggu kedatangannya, berdiri tegak dengan gagah dan cantiknya. Gadis itu tersenyum
manis sekali dan matanya bersinar-sinar menatap wajah Sun Hauw.
“'Kuharap aku tidak terlalu lama pergi sehingga kau tidak menjadi kesal hati,” kata Sun Hauw.
“Tidak sama sekali,” jawab Ang I Niocu dengan suara merdu dan sikap menarik sekali. “Saudara Liem,
mengapa selama ini kau tak pernah bercerita kepadaku tentang maksud-maksud mendiang ayahku?”
Sun Hauw terkejut, hatinya berdebar. “Apa yang kau maksudkan, Niocu?”
Ang I Niocu tersenyum manis. “Sebelum menutup mata, Ayah telah meninggalkan pesan kepadaku tentang
kita.”
Dapat dibayangkan betapa girangnya hati Sun Hauw. Jadi kalau begitu selama ini Ang I Niocu sudah tahu
bahwa dia merupakan pilihan ayahnya? Dan gadis itu mau melakukan perjalanan bersama dia. Ah, kalau
begini dapat diharapkan sembilan dari sepuluh bagian cita-citanya terlaksana!
“Jadi kau... kau sudah tahu, Niocu? Aku diam saja karena tidak ingin membikin kau tak enak hati dan malu.
Memang, mendiang ayahmu dahulu sudah… mengusulkan tentang... ikatan jodoh antara kita...”
“Saudara Liem, apakah kau suka kepadaku?” Ang I Niocu bertanya, sepasang matanya menatap tajam,
mulutnya tetap tersenyum manis.
Diam-diam Sun Hauw terheran-heran juga kenapa gadis ini tidak kelihatan likat atau pun sungkan, dan
bicara tentang ikatan jodoh nampaknya demikian biasa!
“Suka kepadamu, Niocu? Ah, kiranya tak perlu kujelaskan dan Niocu yang berpandangan tajam tentu
dunia-kangouw.blogspot.com
sudah mengetahui akan isi hatiku. Semenjak pertemuan kita yang pertama kali, aku... aku sedetik pun tidak
pernah dapat melupakanmu, Niocu. Aku cinta kepadamu dengan seluruh jiwaku...”
Senyum di mulut Ang I Niocu melebar sehingga nampak sekilas giginya yang putih dan rapi.
“Begitukah? Akan tetapi kau harus tahu bahwa sebelum Ayah menyatakan keinginannya supaya aku
berjodoh denganmu, aku sudah bersumpah bahwa aku hanya akan menikah dengan seorang pria yang
dapat mengalahkan pedangku. Nah, Saudara Liem, kalau kau memang benar-benar cinta kepadaku dan
hendak memperisteri aku, coba kau kalahkan pedangku ini!” Sambil berkata demikian Ang I Niocu
mencabut pedangnya dan menanti dengan sikap garang.
Tentu saja Liem Sun Hauw menjadi terkejut, tertegun dan tidak tahu harus berbuat apa. Akan tetapi,
melihat senyum Ang I Niocu tadi, hatinya menjadi besar. Melihat gelagatnya, nona ini pun membalas cinta
kasihnya. Sudah tentu saja Ang I Niocu memegang harga diri dan mengadakan ‘sayembara’ ini untuk
mempertinggi harga dirinya. Akan tetapi kalau nona ini membalas cintanya, masa Ang I Niocu akan
bertempur sungguh-sungguh?
Dan pula, andai kata Ang I Niocu bersungguh-sungguh, ia pun tidak takut karena biar pun dalam hal
ginkang ia harus mengakui masih kalah oleh nona baju merah ini, akan tetapi dalam ilmu pedang, dia tidak
percaya kalau kalah. Dia telah menerima gemblengan dari mendiang Thian Mo Siansu dan telah
mempelajari ilmu pedang yang lebih lihai dari pada ilmu pedang Go-bi-pai.
“Begitukah kehendakmu, Niocu? Biarlah aku memperlihatkan kebodohanku,” dia berkata sambil mencabut
pedang dan memasang kuda-kuda. Ia sengaja memasang pertahanan untuk memberi kesempatan kepada
Ang I Niocu menyerang lebih dulu.
Ang I Niocu tidak sungkan-sungkan lagi. “Lihat pedang!” serunya
Pada lain saat Sun Hauw harus cepat-cepat membuang diri ke kanan sambil menyampok karena pedang
gadis itu telah lenyap berubah sinar bagaikan kilat menyambarnya, cepat bukan main.
“Hebat...!” tak terasa lagi Sun Hauw mengeluarkan seruan terkejut.
Kembali sinar pedang di tangan Ang I Niocu menyambarnya. Dalam beberapa jurus Sun Hauw terus
terdesak hebat dan serangan-serangan Ang I Niocu benar-benar luar biasa ganasnya. Akan tetapi Sun
Hauw tidak mau membalasnya, hanya sedapat mungkin dia memutar pedang untuk melindungi tubuhnya.
“Balaslah, aku paling tidak suka bila melihat orang berlaku mengalah. Memangnya ilmu pedangmu jauh
lebih menang?” kata Ang I Niocu. Sambil berkata-kata, dia melanjutkan serangan-serangannya dengan
cepat.
Melihat gerakan pedang Ang I Niocu, diam-diam Sun Hauw terkejut sekali dan tahulah ia bahwa gadis itu
benar-benar lihai, ada pun ilmu pedangnya amat tinggi tingkatnya, sukar diduga gerak-gerik dan
perubahannya. Akan tetapi ia masih percaya penuh bahwa tidak nanti Ang I Niocu mau melukainya, maka
sambil tersenyum manis ia berkata,
“Niocu, bagaimana aku berani menyerangmu? Sejak dahulu ayahmu telah memberi tahu bahwa
kepandaianmu tinggi sekali, bahkan lebih tinggi dari pada ayahmu sendiri. Pula, pedang tidak bermata,
bagaimana aku tega menyerangmu? Kalau sampai kulitmu terluka pedang, bukankah aku akan menyesal
setengah mati?”
Ang I Niocu yang tadinya bersikap manis, sekarang mengeluarkan suara ketus. “Orang she Liem, kita
dalam pibu, luka atau mati merupakan soal biasa! Aku akan menyerangmu sungguh-sungguh!”
Sun Hauw masih saja tidak sadar akan perubahan suara ini. Dia masih tersenyum dan berkata manis,
“Niocu, aku tidak percaya kau akan melukaiku. Apakah kau tega melihat tunangan sendiri menjadi korban
ujung pedangmu? Kalau kau tega, silakan, aku rela mati dalam tangan orang yang paling kucinta...“
Ang I Niocu tidak mampu menahan marahnya lagi. Ia menghentikan gerakan pedangnya, berdiri tegak dan
dengan muka merah dia menudingkan pedangnya ke arah muka Sun Hauw.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bangsat rendah! Kau kira kau ini orang macam apakah berani sekali bicara seperti itu di depanku?
Ketahuilah, buka telingamu lebar-lebar, jangankan kau tidak dapat menangkan pedangku, andai kata kau
mampu menangkan juga, belum tentu aku sudi menjadi isteri seorang kejam macam kau!”
Kali ini benar-benar Sun Hauw terkejut. Mukanya berubah pucat ketika ia bertanya,
“Ehh, Niocu, mengapa kau marah kepadaku? Apakah kesalahanku?”
“Manusia rendah, kau pandai berpura-pura! Tentu Ayah dahulu juga sudah tertarik oleh gerak-gerik dan
kata-katamu yang palsu, menyangka kau seorang baik-baik tak tahunya kau menyimpan hati yang palsu.
Apa yang kau sudah lakukan terhadap Siok Lan?”
Sun Hauw merasa semangatnya terbang.
“Siok Lan...? Bagaimana kau bisa tahu...?”
Ang I Niocu tersenyum akan tetapi kini senyumnya mengiris jantung, senyum mengejek dan memandang
rendah.
“Kau sanggup menghancurkan hati seorang gadis suci seperti Siok Lan, dan kau sudah mempermainkan
perasaan cintanya. Kemudian, setelah gadis itu membunuh diri, masih hangat jenazahnya, kau sudah
berani beraksi di depanku seolah-olah aku ini kekasihmu. Cih, laki-laki tak tahu malu!” Setelah berkata
demikian, dengan sikap menghina sekali Ang I Niocu membalikkan tubuh dan meninggalkan pemuda itu.
Dapat dibayangkan betapa hancur perasaan Sun Hauw pada saat itu. Malu dan marah karena terhina,
kecewa dan berduka karena cintanya ditolak mentah-mentah, menyesal sekali atas perbuatannya terhadap
Siok Lan, semua perasaan ini teraduk-aduk menjadi satu dalam hati dan pikirannya.
Kemudian, melihat Ang I Niocu meninggalkannya, ia mengejar sambil rnembentak,
“Ang I Niocu, ayahmu telah menjanjikan aku untuk menjadi suamimu! Apakah kau hendak melanggar janji?
Apakah hendak mencemarkan nama baik ayahmu dengan mengingkari janji?”
Tiba-tiba saja Ang I Niocu membalikkan tubuh dan menantangnya dengan pandang mata berapi-api.
“Kau masih berani menyebut-nyebut ayahku? Bangsat rendah, aku tidak membunuh kau seperti anjing saja
sudah sangat untung bagimu. Kau berani menuduh aku mengingkari janji? Kaulah yang menipu Ayah, kau
sudah bertunangan dengan Siok Lan masih berani menerima uluran tangan Ayah! Kau yang sudah
mengingkari janjimu terhadap keluarga Siok Lan. Ada pun aku, aku sama sekali tidak mengingkari janji.
Sudah kukatakan tadi bahwa orang yang hendak menjadi suamiku harus dapat mengalahkan pedangku.
Nah, sanggupkah kau mengalahkan pedangku?” Kata-kata ini disusul dengan tarikan pedang yang
dilintangkan di depan dada dengan gaya menantang sekali.
Hati Sun Hauw yang telah remuk dan putus asa, yang merasa kebahagiaannya jatuh dan hancur
berantakan, kini menjadi panas dan membuatnya nekad. Dia rela mati kalau tidak bisa mendapatkan Ang I
Niocu sebagai isterinya. Maka cepat dihadapinya Ang I Niocu dengan pedang di tangan dan katanya,
“Baiklah, Niocu. Kalau begitu besar keinginanmu hendak mengadu ilmu, mari kulayani kau!”
Sun Hauw kini menerjang dengan sengitnya dan sebentar kemudian dua orang muda itu sudah bertanding
dengan seru. Ilmu pedang dari Sun Hauw memang lihai sekali, karena di dalam ilmu pedang yang berdasar
pada ilmu pedang Go-bi-pai ini terdapat pukulan-pukulan aneh yang dulu diwarisi oleh Thian Mo Siansu
dari orang sakti Hok Peng Taisu. Pedang di tangannya lenyap berubah menjadi sinar bergulung-gulung,
bagai seekor naga mengejar awan.
Namun kini ia menghadapi Ang I Niocu, dara perkasa ahli pedang yang mewarisi ilmu pedang dari keluarga
Kiang, kemudian yang sudah menerima petunjuk dari orang sakti Bu Pun Su. Dalam menghadapi pemuda
lihai ini, Ang I Nio tidak berani main-main dan cepat memainkan limu pedang Sian-li Kiam-sut yang
gerakan-gerakannya sangat indah akan tetapi di dalamnya mengandung tangan maut yang setiap saat
mengancam nyawa lawannya.
Setelah mendapat kenyataan betapa tangguh ilmu pedang Ang I Niocu dan bahwa gadis itu benar-benar
dunia-kangouw.blogspot.com
hendak merobohkan dirinya, Sun Hauw menjadi marah dan hatinya sakit sekali. Dia merasa dipermainkan
oleh gadis ini yang tadinya dikira ‘ada hati’ kepadanya. Dengan seluruh tenaga dan kepandaian yang ada
padanya, ia tidak sungkan-sungkan lagi dan kini ia benar-benar ingin mengalahkan Ang I Niocu, baik
dengan melukainya mau pun kalau perlu membunuhnya!
Pertempuran di luar kampung Peng-kan-mui menjadi semakin seru dan hebat. Beberapa orang kampung
yang melihat pertempuran ini memberi kabar kepada lain orang sehingga sebentar saja di tempat itu
banyak berkumpul orang kampung. Akan tetapi mereka itu hanya menonton saja, tak ada yang berani
mencampuri. Apa lagi dua orang itu bertempur bagaikan telah saling libat dengan sinar pedang, seperti
menjadi satu.
Kalau bukan seorang ahli, mana bisa mencampuri mereka? Di samping ini, biar pun Sun Hauw orang
kampung itu, akan tetapi ia sudah mendatangkan kesan yang buruk kepada penduduk kampung itu dengan
peristiwa yang terjadi pada diri Siok Lan.
Seratus jurus sudah lewat dan mendadak terdengar Ang I Niocu mengeluarkan bentakan nyaring, disusul
dengan robohnya tubuh Liem Sun Hauw yang dada kirinya telah tertusuk oleh pedang dara baju merah itu.
Aneh sekali, dalam menghadapi maut ini, tiba-tiba Sun Hauw teringat kepada Siok Lan dan seperti dalam
mimpi ia berseru,
“Siok Lan... kau tunggulah aku...!”
Dan tewaslah ia dengan pedang masih di tangan. Melihat ini, Ang I Niocu merasa terharu juga, terharu
karena pemuda ini tewas sebagai akibat mencintainya. Dia menoleh kepada orang-orang kampung yang
masih berdiri memandangnya.
“Yang menewaskan Liem Sun Hauw adalah aku, Ang I Niocu. Aku membalaskan sakit hati Nona Siok Lan.”
Setelah berkata demikian, Ang I Niocu berjalan pergi dengan langkah tenang dan lambat, akan tetapi
anehnya, sebentar saja dia sudah lenyap dari pandangan mata orang-orang kampung.
Ang I Niocu segera menuju ke Thai-san untuk menghadiri pertemuan orang-orang gagah yang diadakan
oleh susiok-couw-nya. Memang sebetulnya dia tidak diharuskan ke sana, akan tetapi setelah sekarang ia
menjadi seorang perantau, peristiwa ini menarik hatinya dan ingin ia melihat dan bertemu dengan tokohtokoh
kang-ouw yang ternama.
Ketika ia tiba di sebuah hutan di kaki Gunung Thai-san, selagi ia berjalan perlahan-lahan, tiba-tiba
terdengar bentakan!
“Perempuan rendah, sudah lama aku menunggu di sini!”
Dengan tenang Ang I Niocu memandang. Dia melihat Koai-tung Toanio muncul bersama seorang kakek tua
yang bermuka hijau. Ang I Niocu maklum bahwa Koai-tung Toanio tentu akan membalas sakit hati karena
telah dua kali ia kalahkan, apa lagi akhir-akhir ini ia telah melukai pundak seorang puterinya, bahkan telah
membunuh dua orang anaknya yang menjadi anggota Min-san Sam-kui, yakni Kwan Liong dan Kwan Bi
Hwa. Karena itu tahulah ia bahwa kali ini ia harus bertempur mati-matian.
Terhadap Koai-tung Toanio dia tidak takut. Akan tetapi dia dapat menduga bahwa kakek yang menyertai
nenek galak itu tentulah seorang berkepandaian tinggi.
“Toanio, kita berjumpa pula di sini. Kali ini apa kehendakmu?” tanya Ang I Niocu tenang akan tetapi siap
sedia.
Sementara itu, kakek muka hijau itu semenjak tadi sudah memandang dengan bengong kepada Ang I
Niocu.
“Ci Im, inikah nona yang bernama Ang I Niocu?” tanya kakek itu kepada Koai-tung Toanio yang sebetulnya
bernama Kwan Ci Im.
“Betul, Susiok. Dia inilah siluman betina yang telah membunuh dua orang anakku,” jawab Koai-tung Toanio
penuh kebencian.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kau keliru, Ci Im. Dia ini tidak seperti siluman, tapi lebih patut menjadi bidadari. Hemm, alangkah cantik
manisnya. Aku telah hidup selama lima puluh tahun lebih, baru sekarang ini melihat seorang wanita
secantik ini...! Bukan main...!”
Dapatlah dibayangkan alangkah mendongkol dan marahnya hati Ang I Niocu mendengar kata-kata bandot
tua itu. Dari kata-katanya itu sudah dapat dinilai orang macam apa yang sekarang dia hadapi.
“Anjing-anjing tua yang tidak tahu malu!” makinya sambil mencabut pedangnya. “Kalian menggonggong di
sini mau apakah?”
“Setan perempuan, kuhancurkan kepalamu!”
Koai-tung Toanio sudah tak dapat menahan marahnya lagi dan tongkatnya menyambar. Ang I Niocu cepat
menangkis sehingga tongkat itu terpental kembali.
“Ci Im, jangan! Biarkan aku menangkapnya. Sayang kalau sampai kulitnya yang putih halus itu lecet oleh
tongkatmu! Aku akan menangkapnya hidup-hidup tanpa melukainya. Nona manis, marilah ikut dengan
aku!”
Kakek tua bermuka hijau itu melompat maju. Kedua tangannya dikembangkan, jari-jari tangannya seperti
cakar setan.
Ang I Niocu marah bukan main. Pedangnya berkelebat membabat dua lengan itu. Kakek itu tertawa
bergelak, tangannya disampokkan ke arah pedang.
“Triiing...!”
Kedua pihak kaget. Ang I Niocu terkejut sekali karena pedangnya sudah ditangkis oleh kuku jari-tangan
kakek itu! Benar-benar kepandaian yang luar biasa dan hebat. Agaknya kakek ini telah melatih jari
tangannya berikut kukunya untuk menghadapi senjata tajam lawan. Di lain pihak, kakek itu pun kaget
setengah mati karena bukan saja ia tidak dapat merampas pedang seperti yang ia duga semula, bahkan
jari tangannya terasa sakit ketika bertemu dengan pedang.
“Ehh, ehhh, kau ternyata berisi juga, Nona manis. Akan tetapi sekarang bertemu dengan Tiat-sim Lo-mo
(Iblis Tua Berhati Besi), jangan harap kau dapat berlagak!” Setelah berkata demikian, ia mencabut keluar
sebatang golok yang memakai gelangan-gelangan kecil pada punggung golok, gelangan yang dapat
mengeluarkan bunyi gemerincing yang gunanya untuk mengacaukan lawan.
Ang I Niocu diam-diam terkejut juga. Ia pernah mendengar nama julukan Tiat-sim Lo-mo ini, yaitu seorang
tokoh besar Kong-thong-pai yang menyeleweng dan sudah tidak diakui di partainya. Tiat-sim Lo-mo
terkenal sebagai seorang penjahat cabul yang kejam sekali. Di samping ini ia pun sering kali merampok
rumah orang dan dalam melakukan semua kejahatan ini, ia bisa berlaku kejam dan membunuh seisi rumah
tanpa berkedip mata, dari yang tua sampai anak-anak kecil. Oleh karena itulah maka dia diberi julukan Iblis
Tua Berhati Besi untuk menggambarkan betapa kejam hatinya.
“Ahh, kiranya kau iblis jahat. Kebetulan sekali, aku ingin membalaskan sakit hati puluhan orang yang
menjadi korbanmu!” kata Ang I Niocu sambil memainkan pedangnya.
“Ha-ha-ha, kau sendiri akan menjadi korban baru, bagaimana kau akan membalas sakit hati? Ha-ha-ha-ha,
lebih baik kau menyerah dengan tenang dari pada harus lecet-lecet kulitmu!”
Ang I Niocu tidak mau melayaninya bicara lagi, pedangnya bergerak hebat dan mengerti bahwa ia
berhadapan dengan orang lihai, Ang I Niocu langsung mengeluarkan jurus-jurus yang paling lihai dari ilmu
pedangnya.
Sebetulnya tingkat dari Tiat-sim Lo-mo ini lebih tinggi dari Ang I Niocu, akan tetapi oleh karena dia seorang
pemogoran sehingga lweekang-nya banyak berkurang, pula karena ilmu pedang dari Ang I Niocu memang
luar biasa, sebentar saja ia terdesak hebat dan goloknya hanya mampu menangkis saja. Baiknya ia masih
mempunyai andalan tangan kirinya yang kadang-kadang melakukan serangan mencengkeram yang
berbahaya sekali sehingga Ang I Niocu harus berlaku hati-hati sekali dan tidak mudah merobohkan iblis tua
ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat Tiat-sim Lo-mo belum juga dapat mendesak, apa lagi mengalahkan Ang I Niocu, Koai-tung Toanio
menjadi kecewa bukan main. Nenek ini kemudian menyerbu dengan tongkatnya, membantu Tiat-sim Lo-mo
dan mengeroyok Ang I Niocu!
Kali ini Ang I Niocu benar-benar terdesak hebat. Kepandaian nenek bertongkat itu sudah tinggi.
Menghadapi kakek muka hijau itu saja sudah amat berat baginya, apa lagi kini nenek itu ikut-ikut
mengeroyok. Terpaksa Ang I Niocu mengerahkan tenaga dan memutar pedangnya melindungi tubuhnya
sehingga jangan kata baru senjata lawan, biar angin dan air pun takkan mampu menembus benteng sinar
pedangnya!
Akan tetapi, pertempuran seperti ini apa bila dilanjutkan tentu ia akan kalah juga, kalah karena kehabisan
tenaga. Ia hanya mampu melindungi diri tanpa mendapat kesempatan membalas sama sekali.
Sudah delapan puluh jurus lebih Ang I Niocu bertahan diri. Dia mulai lelah karena untuk menangkis semua
serangan kedua lawannya, dia harus mengerahkan tenaga lweekang. Ang I Niocu merasa gemas sekali.
Untuk membalas serangan lawan, ia tidak mampu karena dirinya sudah dikurung hebat. Untuk melarikan
diri, memang dapat karena dalam hal ginkang ia masih menang, akan tetapi ia tidak sudi melakukan hal ini.
Ia bertahan terus.
Seratus jurus telah lalu dan kini peluh telah membasahi jidat dan leher gadis itu. Tiat-sim Lo-mo sudah
tertawa-tawa mengejek dan mengeluarkan kata-kata kotor yang menambah kemarahan Ang I Niocu.
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, “Dua orang siluman bangkotan sungguh tidak tahu malu! Ang I
Niocu, jangan khawatir, aku datang membantumu!”
Berkelebat bayangan yang gerakannya cepat dan gesit, sebatang pedang menyerang dan menahan
tongkat Koai-tung Toanio. Serangan ini cukup kuat dan cepat sehingga terpaksa Koai-tung Toanio
meninggalkan Ang I Niocu dan menghadapi lawan baru ini.
Ternyata dia adalah seorang pemuda tampan yang berpakaian sastrawan. Sungguh pun gerak-geriknya
lemah, akan tetapi ternyata ilmu pedangnya ini cukup kuat, apalagi tenaga lweekang-nya cukup hebat.
Ang I Niocu melirik dan melihat pemuda tampan ini, ia menjadi heran. Belum pernah ia bertemu dengan
pemuda ini, mengapa begitu datang langsung membantunya dan sudah mengenal namanya? Akan tetapi
segera nona baju merah ini mengerutkan kening.
Walau pun ia sudah ditinggalkan Koai-tung Toanio sehingga ia kini dapat membalas dan mendesak Tiatsim
Lo-mo, akan tetapi sebaliknya, pemuda itu lalu terdesak oleh tongkat Koai-tung Toanio yang hebat dan
ganas. Sekali pandang saja Ang I Niocu sudah dapat mengenal ilmu pedang pemuda itu, yakni ilmu pedang
dari Bu-tong-pai, dan biar pun ilmu pedang pemuda itu cukup baik, akan tetapi masih belum cukup kuat
untuk mengalahkan Koai-tung Toanio.
Di lain pihak, meski pun dia sendiri mengurung lawan dengan sinar pedangnya, ternyata bahwa Tiat-sim
Lo-mo benar-benar seorang yang luar biasa. Pengalaman bertempur kakek ini sudah banyak sekali, maka
ia tak mudah ditipu oleh gerakan pedang dan dapat menjaga diri dengan baiknya, bahkan kadang-kadang
tangan kirinya masih melakukan serangan yang berbahaya.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa nyaring.
“Ha-ha-ha, iblis tua berani mengganggu Sumoi? Ini artinya kau akan segera mampus!”
Berbareng dengan ucapan itu sinar pedang gemerlapan menyambar leher Tiat-sim Lo-mo yang menjadi
kaget sekali karena serangan ini benar-benar cepat dan ganas.
“Giok Gan Kui-bo (Biang Iblis Bermata Kemala)!” teriak Koai-tung Toanio ketika ia melihat gadis yang baru
datang.
“Enci Kim Lian...!” Ang I Niocu berseru girang dan juga heran.
Dengan majunya Kim Lian mengeroyok Tiat-sim Lo-mo, sebentar saja kakek itu menjadi kewalahan. Walau
pun ilmu pedang Kim Lian tidak sehebat ilmu pedang Ang I Niocu, namun memiliki keganasan sesuai
dunia-kangouw.blogspot.com
dengan wataknya dan dalam lain-lain hal, kepandaian gadis ini hanya kalah sedikit saja oleh sumoi-nya.
Akibat rangsekan dua orang gadis ini, tak lama kemudian pedang Ang I Niocu telah dapat membabat
lehernya, dan pedang Kim Lian membabat putus lengan kirinya. Kakek itu roboh tanpa dapat berteriak lagi
dan tewas pada saat itu juga!
Ang I Niocu tidak cepat menyambut suci-nya, melainkan terus saja menyerang Koai-tung Toanio,
membantu pemuda itu. Mana Koai-tung Toanio dapat menahannya? Dalam lima jurus kemudian, ia pun
roboh binasa oleh pedang Ang I Niocu.
Setelah itu, baru Ang I Niocu menoleh kepada suci-nya. Kim Lian tertawa, akan tetapi sepasang mata yang
indah sekali itu menjadi basah air mata! Ang I Niocu memandang terharu dan di lain saat dua orang gadis
itu saling berpelukan.
“Im Giok... aku bahagia sekali kau sudah pulih kembali, sudah gembira dan bertambah cantik!” kata Song
Kim Lian atau dengan julukan baru Giok Gan Kui-bo sambil menatap wajah sumoi-nya.
Sebaliknya, Ang I Niocu juga memperhatikan suci-nya yang sekarang kelihatan pesolek sekali, jauh
melebihi dulu. Bahkan sepasang pipi dan bibirnya juga diberi merah-merah! Pakaiannya indah dan terbuat
dari sutera mahal.
Ang I Niocu teringat akan pemuda itu, lalu ia menoleh dan menghadapinya.
“Tuan siapakah? Sungguh gegabah sekali berani menyerang Koai-tung Toanio. Bila tidak cepat-cepat Suci
datang membantu, bukankah kau hanya akan mengantarkan nyawamu dengan cuma-cuma?” tegurnya,
akan tetapi suara dan pandang matanya manis.
Pemuda itu menjura dan sepasang matanya yang bening dan menyinarkan watak jujur dan halus itu
berseri.
“Niocu,” katanya tersenyum, “andai kata aku harus tewas dalam membantumu, aku rela! Aku adalah Kang
Ek Sian dan aku mewakili Bu-tong-pai untuk menghadiri pertemuan di Thai-san. Di Bu-tong-pai aku telah
banyak mendengar tentang engkau, Niocu, kau sudah berjasa mengakurkan kembali Bu-tong-pai dengan
Kim-san-pai. Budimu terlalu besar dan nyawaku tidak berharga dibandingkan itu!”
Mendengar ini, diam-diam Ang I Niocu menjadi senang dan memuji pemuda yang pandai bicara ini. Akan
tetapi tiba-tiba Giok Gan Kui-bo membentaknya,
“Bocah lancang! Awas, jangan kau berani main gila. Kau telah jatuh cinta pada sumoi-ku, ya? Jangan kau
main-main, orang seperti kau ini mana ada harganya untuk mencinta Sumoi?”
“Suci!” Ang I Niocu menegur gadis itu. “Jangan kau bicara sembarangan dan menghina orang tanpa alasan.
Kalau Susiok-couw mendengarnya, kau akan menerima hukuman!”
Nama Bu Pun Su sangat ditakuti Kim Lian. Ia menjadi pucat dan menengok ke sana ke mari.
“Apakah Susiok-couw berada di sini?” tanyanya.
“Apa kau masih belum tahu?” Ang I Niocu menjawab. “Susiok-couw sedang mengadakan pertemuan di
puncak Gunung Thai-san ini. Sewaktu-waktu Susiok-couw bisa muncul di sini. Maka jangan kau bicara
sembarangan!”
Song Kim Lian menjadi makin ketakutan. Ia buru-buru pergi sambil berkata, “Aku pergi dulu, Sumoi, ada
urusan penting sekali. Biar lain kali kita bertemu kembali.”
Akan tetapi sesudah agak jauh, dia mengamang-ngamangkan tinjunya ke arah Kang Ek Sian sambil
berkata, “Awas kau, aku tahu kau tergila-gila pada Sumoi!” Dan di lain saat Giok Gan Kui-bo Song Kim Lian
lenyap dari situ.
Kang Ek Sian berdiri seperti patung, mukanya agak pucat. Ang I Niocu merah mukanya dan ia merasa malu
sekali atas sikap suci-nya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Harap kau suka memaafkan Suci, memang wataknya aneh luar biasa,” katanya kepada pemuda itu.
Kang Ek Sian memandangnya dengan tajam. “Tidak ada yang harus dimaafkan, Niocu. Bahkan aku diamdiam
memikirkan apakah kata-katanya itu tidak tepat sekali.”
Kedua mata Ang I Niocu memancarkan api kemarahan, akan tetapi melihat wajah yang jujur dan terbuka
itu, ia menahan kemarahannya. Hanya ia merasa mendongkol sekali.
Pada saat yang sama, dua orang laki-laki telah tergila-gila kepadanya. Tadi si tua bangka bermuka hijau itu
tergila-gila, sekarang pemuda ini! Akan tetapi selain kedongkolannya, timbul perasaan aneh di dalam
hatinya. Perasaan seperti orang gembira dan puas. Puas melihat orang-orang lelaki yang tergila-gila
kepadanya karena dia maklum bahwa mereka akan tergila-gila dengan sia-sia belaka, tak akan menerima
balasan darinya.
Biar mereka itu menjadi korban cinta, pikirnya. Biar laki-laki bodoh itu makan hati, biar sengsara karena
kebodohan sendiri telah mabuk oleh cinta, seperti yang sudah pernah ia alami...!
Kang Ek Sian sadar bahwa ia telah mengucapkan kata-kata yang kurang patut, maka ia lalu berkata cepatcepat,
“Maaf, Niocu. Aku... aku hendak mengurus dua jenazah ini lebih dulu.”
Pemuda itu lalu menggali lubang dan mengubur jenazah Tiat-sim Lo-mo dan Koai-tung Toanio. Ang I Niocu
melihat semuanya ini dengan hati memuji. Pemuda ini benar-benar seorang yang berbudi luhur, meski pun
Tiat-sim Lo-mo dan Koai-tung Toanio merupakan penjahat-penjahat keji, akan tetapi sesudah mereka
tewas, pemuda itu mau mengubur jenazah mereka. Jarang terdapat pemuda yang demikian baik hati,
pikirnya.
“Anak baik, kau siapakah?” tiba-tiba terdengar suara halus.
Belum juga orangnya nampak, Ang I Niocu sudah cepat menjatuhkan diri berlutut dan betul saja tak lama
kemudian, tiba-tiba di situ berdiri Bu Pun Su, pendekar sakti yang kini pakaiannya penuh tambalan seperti
pengemis. Kakek sakti itu memandang kepada Ang I Niocu yang memberi hormat sambil menyebut,
“Susiok-couw!”
Kakek itu mengangguk-angguk senang, lalu menoleh kepada Kang Ek Sian yang sudah selesai dengan
pekerjaannya.
Ketika Kang Ek Sian mendengar bahwa kakek ini adalah Sin-taihiap Bu Pun Su, ia cepat menjatuhkan diri
memberi hormat dan menjawab,
“Boanpwe adalah Kang Ek Sian, murid Bu-tong-pai. Suhu Lo Beng Hosiang menyuruh boanpwe mewakili
Bu-tong-pai untuk menghadiri pertemuan di puncak Thai-san. Harap Locianpwe maafkan kalau boanpwe
tidak melihat kedatangan Locianpwe sehingga tidak sempat menyambut.”
“Tidak apa, tidak apa. Kau mengubur jenazah Tiat-sim Lo-mo dan Koai-tung Toanio, itu amat baik! Terima
kasih, orang muda. Dengarlah, dan kau juga Im Giok, pertemuan di puncak tidak jadi diadakan. Perang
sudah meletus, para pemberontak sudah bergerak di sana-sini. Celakanya, banyak orang-orang gagah di
dunia kang-ouw membantu mereka! Benar-benar dunia kang-ouw telah terpecah dua dengan adanya
pemberontakan ini.” Bu Pun Su menghela napas dan memandang ke angkasa.
“Kehendak Thian, siapakah orangnya dapat membantah? Im Giok, kau jagalah di lereng bukit sebelah
barat, tunggu selama tiga hari. Kalau ada orang datang, sampaikan terima kasih dan salamku, dan katakan
bahwa pertemuan tak mungkin diadakan karena banyak tokoh-tokoh kang-ouw sudah turun tangan, ikut
terjun dalam peperangan. Jadi tidak pertu dirunding-runding lagi. Dan kau, Kang Ek Sian, kau jagalah di
lereng timur, jaga sampai tiga hari dan lakukan seperti yang kukatakan kepada Im Giok tadi. Aku sendiri
hendak meninjau keadaan di mana terjadi perang supaya rakyat jangan terlalu menderita akibat kerusuhan
yang timbul karenanya.”
Dua orang muda yang berlutut itu menyatakan kesanggupan mereka. Pada saat hendak pergi, Bu Pun Su
berkata,
“Im Giok, kelak kau harus mengawasi baik-baik suci-mu Kim Lian itu. Aku sekarang tidak sempat,
sampaikan peringatanku kepadanya supaya dia menjaga langkah hidupnya dan jangan menyeleweng!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Sebelum Ang I Niocu menjawab, kakek itu berkelebat lenyap! Dua orang muda itu bangkit berdiri, saling
pandang dan Kang Ek Sian berkata,
“Alangkah besar untungku, dapat bertemu dengan pendekar sakti itu. Niocu, setelah kita melakukan tugas
ini selama tiga hari, bolehkah aku menemuimu di lereng barat? Aku merasa bahagia dan terhormat sekali
dapat bertemu dan berkenalan denganmu, dan sudikah kau menerimaku berkunjung di lereng barat untuk
bercakap-cakap?”
Permintaan ini cukup pantas, bagaimana ia dapat menolaknya?
”Apa salahnya? Tentu saja aku suka menerima kunjunganmu, asal saja aku masih ada di sana,” jawabnya
menyimpang, kemudian gadis itu berlari cepat menuju ke lereng barat.
Kang Ek Sian memandang ke arah bayangan merah itu dengan bengong, semangat dan hatinya seakanakan
ikut melayang bersama bayangan merah itu…..
********************
Benar seperti dugaan Bu Pun Su, hanya sedikit saja orang yang datang mengunjungi puncak Thai-san
untuk menghadiri pertemuan. Mereka ini segera turun kembali setelah diberi tahu oleh Ang I Niocu atau
Kang Ek Sian. Tak seorang pun di antara mereka berani mengganggu dua orang muda ini karena siapakah
orangnya berani main-main terhadap orang kepercayaan Bu Pun Su?
Tiga hari telah lewat dan pada hari ke empat, ketika masih pagi-pagi sekali, Kang Ek Sian telah berlari-lari
menuju ke lereng sebelah barat untuk bertemu dengan gadis baju merah yang selama tiga hari tiga malam
telah membuat dia tak dapat memejamkan mata barang semenit! Akan tetapi setelah tiba di tempat itu, ia
tidak melihat lagi bayangan Ang I Niocu.
“Niocu...!” ia memanggil. Tidak ada jawaban.
“Ang I Niocu...!” ia memperkeras suaranya. Hanya kumandangnya saja yang menjawab.
Sambil berseru memanggil-manggil nama gadis yang telah merampas hatinya itu, Kang Ek Sian mencari
terus di daerah itu, semakin lama suaranya yang memanggil-manggil nama Ang I Niocu itu makin jauh
sampai akhirnya tidak kedengaran lagi.
Bayangan merah berkelebat dari balik gerombolan pohon dan Ang I Niocu berdiri di situ menarik napas
panjang berkali-kali. Ia tidak mau mendekati Kang Ek Sian. Pemuda ini orang baik-baik dan memiliki watak
yang mulia. Kalau dia dekati, mungkin akan menjadi berubah seperti halnya Liem Sun Hauw.
Bukankah Sun Hauw tadinya juga seorang pemuda gagah perkasa yang berbudi mulia? Akan tetapi
menjadi buta dan tidak kenal pribudi setelah tergoda oleh cinta. Ia tidak mau melihat Kang Ek Sian menjadi
seperti itu.
Setelah berpikir sebentar, Ang I Niocu segera berlari-lari cepat turun gunung. Tujuannya adalah Pek-tiauwsan
(Bukit Rajawali Putih) di mana ia akan mencari telur Rajawali Putih untuk dibuat obat anti tua agar ia
tetap cantik jelita seperti Pek Hoa Pouwsat dahulu! Ang I Niocu tidak mau melayani kasih sayang pria, akan
tetapi ia pun tidak mau menjadi tua, hendak muda selalu, cantik jelita selalu, dan menjatuhkan hati laki-laki.
Setelah dia mendapatkan telur Pek-tiauw dan meminumnya bersama obat sebagaimana yang diajarkan
oleh mendiang Pek Hoa Pouwsat, benar saja Ang I Niocu menjadi makin cantik jelita, mukanya menjadi
semakin halus kemerahan dan bercahaya, dan meski pun tahun demi tahun usianya meningkat, namun
wajah serta bentuk tubuhnya masih tetap seperti seorang remaja berusia tujuh belas tahun!
Tidak terbilang banyaknya pria yang tergila-gila kepadanya, tua muda, ahli silat dan sastrawan, bangsawan
dan petani, hartawan dan miskin. Namun, Ang I Niocu tetap tidak mau menerima seorang di antara mereka,
hanya tersenyum makin manis sambil pergi meninggalkan mereka yang kehilangan semangat dan hati,
pergi meninggalkan mereka yang bertekuk lutut mengharapkan balasan cintanya. Di samping semua ini,
Ang I Niocu tidak lupa melakukan pekerjaan sebagai seorang pendekar wanita menolong orang-orang yang
tertindas, membasmi si jahat dan si penindas.
dunia-kangouw.blogspot.com
Oleh karena itu beberapa tahun kemudian, nama Ang I Niocu terkenal sebagai seorang pendekar wanita
yang gagah perkasa, kadang-kadang ganas sekali dan tidak mengenal ampun menghadapi penjahat.
Seorang pendekar wanita yang cantik jelita seperti bidadari akan tetapi yang berhati batu, dingin membeku
tidak pernah menghiraukan segala bujuk rayu kaum pria…..
>>>>> T A M A T <<<<<

Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Best Cersil

Pecinta Cersil