Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Senin, 20 November 2017

Pendekar Bodoh 7 Cersil Top

baca juga:
-----Pendekar Bodoh 7 Cersil Top
Ma Hoa marah sekali. Ia merenggutkan pita merah itu, membantingnya ke atas tanah dan menginjakinjaknya!
“Bangsat liar! Kau betul-betul sudah bosan hidup!” teriaknya sambil meloloskan sepasang bambu
runcingnya dan dengan gerakan kilat ia melompat ke atas sambil menyerang!
Pemuda itu terkejut juga karena sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa gadis yang digodanya itu
pandai ilmu silat yang luar biasa ini. Maka dia lalu menggerakkan tubuh dan mengelak sambil melayang
turun, lalu berdiri dan bertolak pinggang.
“Ahh, ahhh, tidak tahunya bidadari rambut panjang ini lihai juga! Mari, kau majulah untuk main-main
denganku sebentar!”
Ma Hoa tidak dapat mengeluarkan kata-kata lagi saking marahnya. Dia lalu menyerang dengan gesit dan
sengit sehingga pemuda tampan itu terpaksa harus berlaku waspada. Akan tetapi, begitu ia bergerak, Ma
Hoa merasa kaget. Sambaran angin yang keluar dari kebutan tangan pemuda itu telah berhasil membuat
serangan bambu runcingnya menjadi miring! Alangkah hebatnya tenaga ini. Maka dia lalu menyerang lagi
bertubi-tubi dengan ganas dan penasaran.
Pada saat itu, datanglah Kwee An dan Nelayan Cengeng. Melihat betapa Ma Hoa sedang menggunakan
sepasang bambu runcing menyerang seorang laki-laki yang hebat sekali gerakannya, mereka lalu berlari
cepat menghampiri.
“Tahan...!” kata Nelayan Cengeng hingga Ma Hoa meloncat mundur dengan taat.
Pemuda tampan itu memandang kepada Nelayan Cengeng dan Kwee An, kemudian dia mengernyitkan
hidungnya dengan pandang menghina dan bertanya.
“Tuan besarmu sedang main-main dengan gadis cantik, mengapa kalian ini budak-budak hina berani
mengganggu?”
Merahlah wajah Kwee An mendengar ini, karena itu dia segera mencabut pedang dan membentak, “Dari
mana datangnya bajingan yang kurang ajar?”
Sementara itu, Nelayan Cengeng yang menerima hinaan ini balas mengejek,
“Eh, ehh! Ma Hoa, Kwee An, kalian lihatlah baik-baik. Manusia ini bukan seorang laki-laki asli, juga bukan
seorang wanita.”
Kwee An tidak tahu bahwa kakek ini sedang berolok-olok, karena itu dengan heran ia pun bertanya, “Kalau
bukan laki-laki juga bukan wanita, habis apa?”
“Banci…! Dia seorang banci...! Ha-ha-ha!” dan Nelayan Cengeng tertawa bergelak-gelak sehingga
bercucuranlah air matanya. Juga Ma Hoa dan Kwee An ikut pula tertawa.
Akan tetapi, laki-laki tampan itu dengan masih bertolak pinggang, lalu bertanya, “Kakek gila, dengan alasan
apakah kau menyebutku banci?”
“Tidak ada laki-laki yang membedaki mukanya dan tidak ada perempuan yang berlagak seperti ini, akan
tetapi kau tidak hanya membedaki mukamu, bahkan kulihat memakai yancu dan pemerah bibir! Ha-ha-ha!”
Memang laki-laki itu pesolek bukan main sehingga mukanya sampai dibedaki dan diberi merah-merah.
Akan tetapi ketika mendengar kata-kata ini ia menjadi marah dan berkata,
“Kakek gila, kau belum lagi tahu siapa adanya orang yang kau hina ini, maka kau berani membuka mulut
secara sembrono. Ketahuilah, aku Song Kun yang berjuluk Kwie-eng-cu Si Bayangan Iblis, tidak biasa
memberi ampun kepada orang yang telah menghinaku!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah berkata demikian, secara tiba-tiba pemuda itu lalu menggerakkan tangannya dan memukul kepada
Nelayan Cengeng. Melihat pukulan ini, terkejutlah Nelayan Cengeng karena pukulan itu luar biasa sekali
dan dari tangan yang melakukan pukulan mengepul uap putih! Inilah Pek-in Hoat-sut yang pernah ia
mendengarnya dan yang dimiliki oleh Cin Hai!
Dia cepat melompat jauh untuk menghindarkan diri dari serangan itu dan karena maklum bahwa pemuda ini
tangguh sekali, sambil melompat dia langsung mengayun dayungnya, memukul dengan sekuat tenaga.
Akan tetapi, pemuda itu memang pantas diberi gelar Si Bayangan Iblis, oleh karena gerakan tubuhnya luar
biasa cepatnya dan hampir tak dapat diikuti oleh pandangan mata!
Melihat kelihaian pemuda ini, Kwee An tak mau tinggal diam dan lalu menyerang dengan pedangnya, juga
Ma Hoa maju pula mengerjakan sepasang bambu runcingnya.
Pemuda itu memang benar Song Kun adanya, murid dari Han Le Sianjin yang lihai. Inilah sute dari Lie
Kong Sian yang menjalani kesesatan dan yang telah bertemu dan bertempur dengan Cin Hai!
Tadinya Song Kun memandang rendah tiga lawannya, akan tetapi sesudah menyaksikan gerakan pedang
Kwee An dan gerakan dayung di tangan Nelayan Cengeng, diam-diam ia terperanjat dan mengeluh bahwa
ia ternyata telah ‘salah tangan’ dan mencari perkara dengan orang-orang yang berilmu tinggi!
Akan tetapi, ilmu silatnya memang hebat dan sesudah beberapa lama dia menghadapi mereka dengan
tangan kosong, akhirnya dia mencabut pedang Ang-ho Sian-kiam yang mengeluarkan cahaya merah
berapi-api dan berhawa panas itu!
Nelayan Cengeng terkejut sekali melihat pedang itu dan dia berseru kepada Ma Hoa dan Kwee An, “Hatihati
terhadap pedangnya!”
Song Kun tertawa mengejek dan ia lalu memutar-mutar pedangnya dengan gerakan luar biasa cepat dan
hebatnya sehingga sibuklah ketiga orang itu mengeroyok dari kanan kiri! Biar pun tidak berani mengadu
pedangnya, namun Kwee An yang mempergunakan ilmu silat yang diwarisinya dari Hek Mo-ko, cukup
hebat dan berbahaya.
Sementara itu, Ma Hoa juga merupakan pengeroyok yang berbahaya oleh karena gadis ini selain memiliki
Ilmu Silat Bambu Runcing yang aneh, juga tidak takut untuk mengadu senjata, oleh karena bambu lemas
kecil itu tidak takut terkena pedang tajam.
Di samping kedua orang anak muda yang tangguh ini, masih ada lagi Nelayan Cengeng yang mempunyai
ilmu silat tinggi dan tenaganya luar biasa sehingga Song Kun sendiri merasa ragu-ragu untuk mengadu
pedangnya dengan dayung yang besar serta berat itu, takut kalau-kalau pedangnya akan menjadi rusak!
Oleh karena ini, maka pertempuran berjalan seru dan ramai. Akan tetapi mereka lebih banyak bertempur
dari jarak jauh dan berlaku amat hati-hati sehingga bisa diduga bahwa pertempuran itu akan berjalan lama
sekali.
Song Kun memaklumi hal ini dan karena itu dia lalu mendesak maju. Pada saat dayung Nelayan Cengeng
menyambar, dia memapaki dengan pedangnya yang disabetkan dan putuslah ujung dayung itu! Nelayan
Cengeng terkejut dan hampir saja dia menjadi korban sabetan pedang pada pinggangnya kalau saja Ma
Hoa yang telah menjadi nekat itu tidak melakukan serangan kilat dari belakang, menotok ke arah kedua iga
lawan itu!
Song Kun menarik kembali pedangnya dan kalau ia mau, ia akan dapat menjatuhkan Ma Hoa dengan
serangan pedang. Akan tetapi Song Kun memang mempunyai kelemahan terhadap wanita cantik. Dia tidak
tega melukai Ma Hoa, maka dia hanya menahan kedua bambu runcing itu dengan pedangnya di tangan
kanan, sedangkan tangan kirinya dia ulur ke depan untuk mengusap pipi Ma Hoa!
Gerakannya ini adalah pecahan dari limu Silat Kong-ciak Sin-na, dan kecepatannya luar biasa sehingga
colekan itu pun berhasil! Ma Hoa yang merasa betapa pipinya diusap oleh tangan Song Kun, menjerit
marah dan menyerang lebih seru!
Namun dengan ilmu pedangnya yang luar biasa, Song Kun mampu menjaga diri dan kini bahkan
melancarkan serangan-serangan yang mematikan ke arah Nelayan Cengeng dan Kwee An! Dia mengambil
keputusan untuk membunuh dua orang laki-laki itu untuk dapat melarikan gadis muda berambut panjang
dunia-kangouw.blogspot.com
ini!
Pada saat itu, terdengarlah bentakan keras.
“Song Kun...! Janganlah kau terjerumus ke jurang makin dalam saja!”
Mendengar suara ini, Song Kun terkejut sekali dan melompat jauh ke belakang.
“Suheng...!” katanya.
Nelayan Cengeng, Kwee An, dan Ma Hoa lalu memandang. Ternyata yang datang adalah seorang lelaki
yang berusia tiga puluh lebih, bermuka bundar dan gagah, bersikap tenang dengan kumis kecil menghias di
atas bibirnya. Tubuhnya tegap dan bidang, sedangkan sepasang matanya bercahaya tajam dan
berpengaruh.
“Song Kun, sesudah berpisah bertahun-tahun, setiap hari aku mengharapkan dan berdoa supaya kau dapat
insyaf akan kesesatanmu. Tidak kusangka bahwa kau semakin dalam terjerumus ke dalam jurang
kejahatan!” orang itu yang bukan lain adalah Lie Kong Sian adanya, berkata dengan suara mengandung
penuh penyesalan.
Song Kun mengeluarkan suara ketawa mengandung ejekan. “Lie Kong Sian! Tadi sempat aku menyebut
Suheng kepadamu oleh karena kukira kau hendak berbaik, tidak tahunya datang-datang kau memaki
orang! Apakah kau masih merasa penasaran karena dahulu kalah olehku? Jangan kau kira aku takut akan
kedatanganmu ini, dan segala perbuatanku adalah aku sendiri yang melakukan dan aku sendiri pula yang
menanggung jawabnya! Kau peduli apakah?”
“Dasar batinmu yang amat rendah! Jika begitu, terpaksa sekali lagi aku harus memenuhi perintah mendiang
Suhu dan menghajarmu dengan kekerasan.”
“Ha-ha-ha, majulah! Hendak kulihat sampai di mana kemajuanmu!”
Ucapan ini bagi seorang sute terhadap suheng-nya memang amat kurang ajar, maka Lie Kong Sian lantas
menerjang sambil mencabut pedangnya. Song Kun mengelak dan balas menyerang dan sebentar saja
kedua orang itu bertempur hebat.
Tingkat pelajaran mereka memang berimbang, dan dulu ketika mereka bertempur, Lie Kong Sian dapat
dikalahkan oleh sute-nya yang memang memiliki bakat yang luar biasa sekali. Sekarang, sungguh pun Lie
Kong Sian telah melatih diri dengan keras hingga ilmu kepandaiannya sudah meningkat tinggi, akan tetapi
di lain pihak Song Kun telah memiliki pedang Ang-ho Sian-kiam yang luar biasa sehingga Lie Kong Sian
tidak berani mengadu pedangnya karena takut kalau-kalau pedang pemberian Ang I Niocu itu akan putus.
Karena ini, untuk kedua kalinya dia terdesak hebat oleh serangan adik seperguruannya yang menyerang
sambil tertawa mengejek, walau pun diam-diam dia mengakui kelihaian suheng-nya dan maklum bahwa
biar pun suheng-nya tidak berani beradu pedang, namun agaknya tidak akan mudah baginya untuk
menjatuhkan suheng itu.
Sementara itu, Nelayan Cengeng, Kwee An, dan Ma Hoa menyaksikan pertandingan itu dengan penuh
kekaguman. Tadi mereka sudah merasa terkejut, heran dan kagum sekali menyaksikan kepandaian Song
Kun yang sanggup mendesak mereka, dan kini mereka melihat seorang pemuda lainnya yang seimbang
kepandaiannya dengan pemuda pesolek yang lihai itu. Sesudah Cin Hai dan Bu Pun Su, belum pernah
mereka menyaksikan ilmu kepandaian orang-orang muda selihai itu.
Melihat bahwa Lie Kong Sian datang dan membela mereka, maka mereka bertiga tentu saja tak mau
tinggal diam dan dengan seruan keras, Nelayan Cengeng lalu mengerjakan dayungnya diikuti oleh Ma Hoa
dan Kwee An. Kini Song Kun menjadi sibuk. Karena harus menghadapi keroyokan empat orang yang
tingkat kepandaiannya sudah tinggi itu, tentu saja ia merasa kewalahan sekali. Setelah bertahan sampai
puluhan jurus, terpaksa ia lalu melompat jauh dan berkata,
“Lie Kong Sian! Lain kali bila mana kita bertemu berdua saja dan kau tidak mengandalkan keroyokan, tentu
aku akan menebas batang lehermu!” Kemudian kepada Ma Hoa dia menyeringai dan berkata. “Sayang,
bidadari rambut panjang, kita belum berjodoh!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Keempat orang itu marah sekali, akan tetapi dengan sekali berkelebat saja Song Kun telah lari jauh dan
meninggalkan tempat itu.
“Lihai sekali!” kata Nelayan Cengeng dengan kagum.
“Memang Sute-ku itu lihai sekali dan jahat,” kata Lie Kong Sian menarik napas panjang. “Lo-enghiong,
melihat dayungmu yang hebat itu, apa bila tidak salah dugaanku tentu kau adalah Kong Hwat Lojin si
Nelayan Cengeng. Betulkah?”
Nelayan Cengeng menjura, kemudian ia menjawab, “Benar, Taihiap. Dari mana kau tahu namaku?”
Lie Kong Sian tersenyum. “Dan kalau tidak salah, Saudara yang gagah ini tentulah Kwee An dan Nona ini
Ma Hoa.”
Ketiga orang itu memandangnya dengan heran. “Lie-taihiap, dari mana kau bisa tahu?” tanya Kwee An,
sedangkan Ma Hoa tiba-tiba berkata sambil menuding kepada pedang yang dipegang oleh Lie Kong Sian.
“Ehh, bukankah pedang itu pedang milik Ang I Niocu?”
Kini Lie Kong Sian tersenyum dan mengangguk, “Memang ini pedang Kiang Im Giok, dan aku adalah
tunangan Ang I Niocu!”
Kemudian Lie Kong Sian yang jujur itu lalu mengaku dan menceritakan pengalamannya betapa dia
menolong Ang I Niocu dan akhirnya menjadi calon jodohnya. Lie Kong Sian suka sekali melihat sikap tiga
orang yang telah lama dikenal dari penuturan Ang I Niocu itu dan yang dipuji oleh kekasihnya, maka dia
kemudian mengaku terus terang mengenai pertunangannya itu dan demikianlah maka mereka tahu akan
pertunangan Ang I Niocu dengan Lie Kong Sian yang gagah perkasa. Kemudian mereka melanjutkan
perjalanan dengan terpisah, karena Lie Kong Sian hendak mengejar dan menyusul sute-nya untuk
memenuhi syarat Ang I Niocu, yaitu merobohkan sute-nya yang ternyata bukan insyaf, bahkan semakin
jahat itu.
Setelah Ma Hoa menceritakan semua pengalamannya kepada Ang I Niocu, tahulah Nona Baju Merah itu
bagaimana mereka dapat mengetahui hal pertunangannya hingga mereka tadi menggodanya. Terutama
Ma Hoa menggodanya sehingga muka Ang I Niocu menjadi semerah bajunya. Ia tidak dapat marah karena
maklum bahwa Ma Hoa menggoda karena rasa girangnya.
“Ma Hoa, sudahlah jangan kau menggodaku lebih lanjut. Kalau menggoda terus, aku tak akan
menceritakan kepadamu perihal Lin Lin.”
Ma Hoa memegang lengan tangan Ang I Niocu dan bertanya, “Lin Lin? Apakah kau telah bertemu dengan
dia, Cici yang baik? Bagaimana keadaannya? Selamatkah ia dan bagai mana dengan Cin Hai?” Dihujani
pertanyaan ini, Ang I Niocu tersenyum dan sengaja berlaku lambat-lambatan sehingga tidak saja Ma Hoa
menjadi tidak sabar, bahkan Kwee An dan Nelayan Cengeng juga mendesaknya untuk segera
menceritakan hal Lin Lin.
“Maka jangan suka menggoda orang,” kata Ang I Niocu. “Baikiah, aku akan menceritakan pengalamanku.”
Kemudian tiba giliran Ang I Niocu untuk menuturkan semua pengalamannya, betapa dia bertemu dengan
Cin Hai dan mendapatkan sepasang pedang Liong-cu-kiam serta harta pusaka di dalam Goa Tung-huang
dan pengalaman-pengalaman lainnya. Dan juga dia menceritakan betapa Lin Lin sudah dibawa oleh Bu
Pun Su untuk diberi pelajaran silat sebagaimana yang ia dengar dari Cin Hai.
Mendengar penuturan ini, bertitik air mata dari kedua mata Ma Hoa karena terharu dan girangnya.
Sekarang harapannya sudah terkabul semua. Seluruh kawan-kawannya telah selamat dan terlepas dari
bahaya. Begitu pula Kwee An dan Nelayan Cengeng. Mereka berempat itu sama sekali tidak tahu bahwa
telah terjadi peristiwa hebat di Goa Tengkorak yang membuat Lin Lin terluka dan terancam jiwanya!
“Sekarang tugas kita cari-mencari ini telah selesai karena orang-orang yang dicari telah ditemukan,” kata
Nelayan Cengeng. “Akan tetapi kita harus melindungi Yo Se Pu dari bahaya dan juga, oleh karena menurut
penuturan Ang I Niocu tadi bahwa Cin Hai akan kembali ke sini dan Ang I Niocu sendiri ditugaskan menjaga
goa tempat harta pusaka, kita semua lebih baik untuk sementara waktu tinggal di sini, menanti datangnya
Cin Hai untuk kemudian bersama-sama kembali ke timur.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Semua orang menyetujui usul ini dan sesudah Yousuf selesai mengurus semua kawan dan lawan yang
terluka dan tewas, dia pun lalu datang dan mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing.
Nelayan Cengeng bersama yang lain-lain mencoba sedapat mereka untuk menghibur hati Yousuf yang
masih berduka karena kematian gurunya dan banyak kawan-kawannya.
“Sebenarnya, tentang kematian tak perlu kusedihkan benar karena soal itu bukanlah soal yang aneh dan
harus disesalkan. Yang sekarang membuat hatiku berduka ialah adanya perpecahan dan permusuhan di
antara bangsa sendiri. Baiknya kalian membawa berita bahwa anakku Lin Lin telah diselamatkan dan
bahkan kini memperdalam ilmu kepandaian di bawah pimpinan Bu Pun Su, kalau tidak, tentu aku akan
semakin gelisah dan cemas saja.”
Demikianlah, mereka berempat lalu tinggal di kampung Yousuf dan kawan-kawannya itu sehingga pengikut
Pangeran Muda tidak berani datang untuk bermain gila lagi. Hampir tiga atau empat kali dalam sehari Ang I
Niocu menyelidiki keadaan goa itu, menjaga dan memeriksa kalau-kalau ada orang yang mengetahui
tempat itu. Kadang-kadang ia pergi seorang diri, tapi tidak jarang ditemani oleh Ma Hoa, bahkan beberapa
kali Kwee An dan Nelayan Cengeng juga ikut…..
********************
Sementara itu, Cin Hai dan Lin Lin masih terus melakukan perjalanan menuju ke barat, menyusul Bu Pun
Su yang menjadi ‘tawanan’ Wi Wi Toanio beserta kawan-kawannya.
Ternyata bahwa Balaki semenjak dikalahkan oleh Cin Hai, lalu melarikan diri dari Yagali Khan dan
kemudian ia bergabung dengan Hai Kong Hosiang dan seorang pendeta Sakya Buddha. Ia maklum akan
kelihaian Hai Kong Hosiang maka ia lalu menceritakan tentang harta pusaka di daerah Kansu itu dan
mengusulkan untuk pergi mencari bersama.
Hai Kong Hosiang yang cerdik itu telah mendapat tahu tentang riwayat Bu Pun Su ketika mudanya, maka
mereka lalu mencari dan menjumpai Wi Wi Toanio yang sudah menjadi janda. Melihat bahwa Wi Wi Toanio
ternyata juga lihai sekali ilmu kepandaiannya, maka mereka lalu membujuk nyonya tua itu untuk ikut pula
mencari harta pusaka dan kemudian atas rencana dan siasat Hai Kong Hosiang yang licin, mereka berhasil
menundukkan Bu Pun Su untuk dipergunakan kepandaiannya mencari harta itu!
Cin Hai tidak berani melakukan perjalanan terlalu cepat sehingga ia dan Lin Lin tidak bisa mengejar
rombongan yang menawan Bu Pun Su. Maka beberapa hari kemudian, setelah mereka mendekati batas
Propinsi Kansu dan beristirahat dalam sebuah hutan menikmati hawa yang nyaman dan buah-buahan yang
lezat, tiba-tiba dari jauh mendatangi seorang laki-laki dan ketika orang itu datang mendekat, Cin Hai
merasa terkejut sekali hingga tak terasa lagi ia memegang tangan Lin Lin. Ia mengenal baik muka laki-laki
yang datang itu, laki-laki muda pesolek yang tampan.
“Song Kun...,” katanya dengan dada berdebar karena dia maklum bahwa pertemuan ini tentu akan menjadi
pertempuran hebat!
Sementara itu, Song Kun sudah melihat mereka pula. Mula-mula wajahnya yang tampan melihat dengan
terheran-heran karena dia sendiri tidak pernah menyangka akan bertemu dengan gadis yang membuatnya
tergila-gila itu bersama Cin Hai, pemuda yang sangat dibencinya dan yang hendak dibunuhnya! Ia
memandang ke kanan kiri, kuatir kalau-kalau Bu Pun Su supek-nya itu berada pula di situ, akan tetapi
ketika melihat bahwa tidak ada orang lain di situ, bibirnya tersenyum girang dan ia segera menghampiri.
“Ha-ha-ha! Pendekar Bodoh, Pendekar Tolol dan goblok! Sute-ku yang baik budi, kekasih Supek Bu Pun
Su! Agaknya kau berdua saja dengan bidadari yang telah lama kurindukan ini. Atau, membawa juga anjing
penjagamu yang tua itu?”
Cin Hai dapat menduga bahwa yang dimaki ‘anjing penjaga tua’ itu adalah Bu Pun Su suhu-nya, maka
bukan kepalang marahnya hingga debar hatinya yang tadi agak kuatir itu lenyap, terganti dengar debar
marah.
“Song Kun! Siapakah yang kau maki itu?”
“Siapa lagi kalau bukan Suhu-mu yang tua dan lebih goblok dari padamu itu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kurang ajar! Kau kira aku takut kepadamu?”
“Cin Hai, kau telah merasakan kelihaianku, apakah kau belum kapok? Dengarlah, bocah sombong. Aku
mempunyai hati yang lemah dan suka menaruh kasihan pada anak-anak kecil. Aku masih ingat bahwa kau
adalah Sute-ku sendiri, karena itu aku akan memberi ampun padamu. Pergilah kau dengan aman, dan
tinggalkan kekasih hatiku ini. Aku akan menjaganya dan mencintanya dengan baik, lebih baik dari pada
kalau kau menjaganya. Kelak bila mana kau ingin menikah, katakan saja kepada Seheng-mu ini gadis
mana yang kau sukai, tentu aku membantumu sehingga kau berhasil mendapatkannya!” Ucapan ini
dikeluarkan dengan muka sungguh-sungguh sehingga Cin Hai hanya dapat memandang dengan melongo
dan tak dapat mengeluarkan kata-kata!
Akan tetapi, sementara itu Lin Lin sudah tidak dapat menahan marahnya lagi. Gadis ini mukanya sampai
menjadi pucat karena marahnya hingga dia memandang kepada Song Kun seakan-akan ia hendak
meremukkan kepala pemuda pesolek itu dengan pandangan matanya kalau mungkin.
“Bangsat rendah, keparat jahanam! Aku bersumpah hendak membunuh kau!” seru Lin Lin sambil melompat
dan mencabut pedang Han-le-kiam, terus menyerang dengan hebatnya!
Song Kun mengelak dengan mudah sambil berkata, “Sayang, jangan kau marah-marah, karena dengan
setulus hati aku mencintaimu. Salahkah hatiku kalau tertarik dan runtuh melihat kecantikanmu? Lin Lin,
ahhh, namamu indah sekali. Janganlah kau menurunkan tangan kejam kepadaku, sayang!”
Bukan main marahnya Lin Lin mendengar kata-kata ini hingga ia menjerit dan menyerang semakin hebat
sambil mengucurkan air mata karena marah dan mendongkol tidak dapat membikin mampus orang itu
dengan sekali tusuk! Cin Hai merasa khawatir sekali melihat keadaan Lin Lin, karena dia maklum bahwa
kemarahan dan perkelahian akan membuat keadaan Lin Lin makin memburuk saja.
“Lin-moi, mundurlah. Tak perlu kau mengotorkan tanganmu dengan bedebah itu. Biarkan aku yang
mengadu jiwa dengan bajingan ini!”
Sambil berkata demikian, Cin Hai lalu mencabut sebatang dari pada sepasang pedang Liong-cu-kiam yang
panjang lalu melompat dan menyerang dengan hebat! Sementara itu, dengan hati membakar panas Lin Lin
terpaksa melompat mundur lantas berdiri dengan mata berapi.
Song Kun kaget melihat bahwa pedang di tangan Cin Hai mengeluarkan sinar gemilang, maka tanpa
membuang waktu lagi ia segera mencabut keluar pedang pusakanya Ang-ho Sian-kiam yang
mengeluarkan cahaya merah seperti api itu! Ketika Cin Hai menyerang hebat, Song Kun lalu menyabet
dengan pedangnya dengan maksud hendak membuat pedang Cin Hai terbabat putus sekaligus!
“Tranggg…!”
Kedua pedang beradu dan berpancaranlah bunga-bunga api yang menyilaukan mata. Cin Hai merasa
betapa telapak tangannya tergetar maka menarik pulang pedang cepat-cepat dan memeriksanya. Dia
merasa lega karena pedang Liong-cu-kiam tidak menjadi rusak karena peraduan itu.
Sementara itu, Song Kun yang juga merasa tergetar telapak tangannya, merasa kaget sekali karena
pedangnya ternyata tak dapat memutuskan pedang Cin Hai. Ia memandang dengan mata terbelalak marah
dan kemudian ia menjadi marah sekali.
“Bangsat! Agaknya kau sudah dapat mencuri pedang pusaka! Baik, jangan kira pedang yang baik saja akan
dapat melindungi jiwamu! Hari ini tentu kau akan mampus dalam tanganku!”
Sesudah berkata demikian, Song Kun tiba-tiba menggerakkan pedangnya secara hebat dan ganas sekali
sehingga lenyaplah bayangan tubuhnya, menjadi satu dengan cahaya pedangnya yang bercahaya merah
api bagaikan segulung api yang dahsyat menyambar-nyambar ke arah tubuh Cin Hai dengan gerakan yang
cepat dan luar biasa sekali!
Cin Hai maklum bahwa baru kali ini dia menghadapi lawan yang betul-betul tangguh dan yang
kepandaiannya tak berada di sebelah tingkat kepandaiannya sendiri! Bahkan dasar pelajaran mereka
datang dari satu sumber. Dia kalah pengalaman, kalah lama berlatih dan dalam hal ginkang, mungkin ia
masih kalah cepat oleh Song Kun yang benar-benar memiliki kecepatan yang membuat bayangannya tepat
disebut Bayangan Iblis itu!
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi Cin Hai tidak menjadi gentar. Betapa pun juga, intisari kepandaian silat belum pernah
diturunkan kepada siapa juga oleh Bu Pun Su dan kepandaian itu hanya dimiliki oleh Bu Pun Su sendiri,
bahkan sute dari Bu Pun Su yaitu Han Le Sianjin yang menjadi guru Song Kun, juga tidak mempunyai
pengetahuan ajaib ini. Maka, pengetahuan tentang dasar-dasar dan pokok-pokok pergerakan ilmu silat
inilah yang membuat Cin Hai berhati tenang dan tetap, karena pengetahuan ini dapat menutup kekurangan
dan kekalahannya dalam hal ginkang dan pengalaman tadi.
Song Kun merasa penasaran dan marah melihat betapa Cin Hai dapat menahan semua penyerangannya,
maka sambil berseru gemas ia pun menggerakkan pedangnya laksana halilintar menyambar-nyambar, dan
tangan kirinya juga tidak tinggal diam, akan tetapi ikut mengirim serangan-serangan maut dengan Ilmu Silat
Pek-in Hoat-sut dan lain-lain ilmu pukulan yang mengarah jiwa lawannya.
Akan tetapi Cin Hai tetap berlaku tenang dan mengembalikan setiap pukulan lawannya dengan hati-hati.
Dia cukup maklum akan berbahayanya Song Kun, dan maklum pula bahwa sekali saja serangan lawan ini
mengenai tubuhnya, maka nyawanya berada dalam bahaya besar. Oleh karena itu, ia berlaku hati-hati
sekali dan selain mempertahankan diri, ia juga mengirim serangan balasan yang cukup membuat Song Kun
berlaku hati-hati.
Demikianlah, kedua orang muda itu saling serang dan saling gempur bagaikan dua ekor naga sakti saling
menyerang dengan mati-matian. Tubuh mereka tak tampak lagi, dan hanya cahaya pedang mereka yang
saling gulung dan saling desak dengan hebatnya.
Song Kun memang amat lincah dan cepat, akan tetapi menghadapi Cin Hai yang tenang dan kuat serta
yang telah tahu akan semua gerakannya, ia merasa tak berdaya, sungguh pun untuk mengalahkan Song
Kun, bagi Cin Hai bukanlah merupakan hal yang mudah. Baik Song Kun mau pun Cin Hai merasa betapa
baru sekali itulah selama hidup mereka menghadapi lawan yang benar-benar tangguh dan berimbang, baik
kepandaian mau pun tenaga.
Lin Lin memandang pertempuran itu dengan hati kagum sekali. Bagi matanya yang telah terlatih dan
menjadi tajam sekali penglihatannya, ia masih dapat melihat gerakan-gerakan kedua orang itu dan diamdiam
ia harus mengakui bahwa gerakan Song Kun masih lebih lincah dan cepat, sungguh pun Cin Hai tidak
menjadi terdesak karenanya.
Song Kun yang merasa amat penasaran karena setelah bertempur puluhan jurus belum juga dapat
mendesak Cin Hai, lalu berseru keras dan tangan kirinya bergerak. Sebuah cahaya merah meluncur dari
tangannya itu dan Cin Hai melihat betapa sehelai sabuk merah bergerak bagaikan hidup menyambar ke
arah lehernya. Cin Hai cepat mengelak ke kiri, akan tetapi sabuk merah itu dengan lihainya bergerak juga
ke kiri seakan-akan bernyawa dan kini mengebut ke arah matanya.
Inilah semacam ilmu kepandaian yang istimewa dari Han Le Sianjin dan sudah diturunkan kepada muridnya
itu. Cin Hai belum pernah mempelajari, dan juga karena pergerakan sabuk ini bukan mengandalkan
gerakan lengan, akan tetapi mengandalkan pergerakan pergelangan tangan, maka sukar bagi Cin Hai
untuk dapat melihat dan mengikuti gerakan lawannya ini.
Setiap pukulan selalu berpusat kepada pundak yang menjadi pangkal lengan. Akan tetapi sabuk ini
digerakkan oleh Song Kun dengan cara menggerakkan pergelangan tangannya tanpa mempengaruhi
lengan, sehingga kali ini Cin Hai benar-benar tidak dapat menduga lebih dahulu ke mana sabuk lawan itu
akan meluncur!
Song Kun maklum pula bahwa Cin Hai tentu sudah mewarisi ilmu kepandaian Bu Pun Su yang sakti, yakni
ilmu kepandaian mengenal serta mengetahui segala pokok-pokok dan dasar pergerakan ilmu pukulan,
karena itu dia sengaja mengeluarkan sabuknya itu untuk mencapai kemenangan.
Dulu suhu-nya, Han Le Sianjin pernah berkata kepadanya bahwa ilmu kepandaian Bu Pun Su tak ada
lawannya di dunia ini oleh karena Bu Pun Su telah memiliki pengetahuan tentang pokok dan dasar ilmu
silat, akan tetapi apa bila Bu Pun Su menghadapi senjata yang digerakkan dengan pergelangan tangan
seperti senjata sabuk yang lihai itu, tentu Bu Pun Su sendiri tidak akan dapat menduga sebelumnya ke arah
mana sabuk itu akan diserangkan!
Cin Hai betul-betul terkejut ketika tahu-tahu sabuk itu telah mengejarnya dan mengancam matanya. Ia tidak
mau mengelak lagi, akan tetapi segera mengerjakan Liong-cu-kiam di tangannya untuk membuat putus
dunia-kangouw.blogspot.com
sabuk yang berbahaya itu. Akan tetapi tiba-tiba saja dia berseru terkejut karena bukan saja pedangnya
tidak mampu membabat putus sabuk itu, bahkan sabuk merah itu lalu membelit pedangnya sehingga tak
dapat digerakkan lagi!
Lin Lin melihat pula hal ini dengan jelas, maka bukan main kuatir rasa hatinya melihat keselamatan
kekasihnya terancam bahaya. Ia menjerit keras dan roboh pingsan! Dalam keadaan seperti itu, Lin Lin lupa
akan pantangannya dan menjadi kuatir sehingga racun di dalam tubuhnya menyerang jantung dengah
hebat yang membuatnya roboh pingsan.
Sementara itu, ketika sabuk merahnya telah berhasil membelit pedang Cin Hai, Song Kun sambil tertawa
mengejek segera menyerang dengan pedang Ang-ho Sian-kiam di tangan kanannya ke arah dada Cin Hai!
Sebetulnya bukan karena pedang Liong-cu-kiam kurang tajam maka tak dapat membabat putus sabuk itu,
akan tetapi oleh karena sabuk itu terbuat dari sutera lemas dan sangat ulet hingga tentu saja kalau berada
di tangan seorang ahli yang tinggi ilmu lweekang-nya, pedang yang bagaimana tajam pun akan kehilangan
dayanya dan takkan bisa membabat putus sabuk itu, biar pun pedang Liong-cu-kiam itu akan membabat
putus segala macam senjata besi atau baja.
Biar pun berada dalam keadaan yang amat berbahaya, namun murid Bu Pun Su ini tidak menjadi bingung
atau gentar. Secepat kilat dia mencabut pedang Liong-cu-kiam pendek yang masih terselip di punggungnya
dan dengan pedang ini di tangan kiri dia menangkis tusukan pedang Song Kun pada dadanya, kemudian
dia menggunakan pantulan pedang untuk membabat sabuk yang masih melibat pedang di tangan kanan.
Sekali sabet saja, sabuk itu terputus menjadi dua potong! Ini dapat terjadi oleh karena setelah melibat
pedang maka sabuk itu menjadi tertarik dan tertahan oleh pedang yang dilibatnya dan tangan Song Kun
yang memegangnya, maka dalam keadaan merentang ini tentu saja dengan mudah sabuk itu dapat dibabat
putus!
Song Kun terkejut sekali, akan tetapi, pada saat itu terdengar jeritan Lin Lin yang roboh pingsan. Cin Hai
cepat melompat dan setelah melihat kekasihnya roboh pingsan, ia lalu menyimpan pedangnya dan
menubruk kekasihnya itu dengan bingung dan cemas.
“Lin Lin... Lin-moi... ahhh, mengapa kau berkuatir...?”
Melihat betapa Cin Hai dengan wajah pucat memeluk Lin Lin dan melihat pula muka gadis itu yang menjadi
pucat bagaikan mayat, Song Kun merasa heran dan juga kaget. Ia tadi merasa terkejut sekali melihat
betapa dalam keadaan sesulit itu Cin Hai masih dapat menyelamatkan diri bahkan berhasil pula membabat
putus pedangnya, maka diam-diam ia merasa amat kagum dan juga sedikit jeri. Kini melihat Lin Lin roboh
pingsan bagaikan telah mati, ia merasa kasihan dan berkuatir. Memang di dalam hatinya, ia amat mencinta
gadis itu.
“Dia kenapakah...?” tanyanya terheran.
Tanpa menengok, Cin Hai lalu menjawab, “Dia telah terkena racun jahat dari Hai Kong Hosiang, dan dalam
seratus hari dia akan mati.”
“Apa...?! Dia tidak boleh mati. Apakah tidak ada obatnya?” tanya Song Kun dengan hati berdebar cemas.
Cin Hai mengangguk. “Hanya ada satu macam obat dan obat itu berada di tangan Hai Kong Hosiang.
Untuk itulah maka kami berdua menuju ke barat.”
“Racun apakah itu?”
“Racun Ular Hijau yang jahat dari yang hanya terdapat di daerah Mongol, maka obatnya pun harus dari
sana.”
“Tidak, dia tidak boleh mati! Dia harus menjadi isteriku, karenanya dia tidak boleh mati! Cin Hai, biar aku
titipkan dulu dia kepadamu dan karena itulah maka kau tidak kubunuh sekarang dan kuberi ampun. Aku
hendak mencari obat untuknya dan setelah dapat, aku akan datang menjemput calon isteriku ini!”
Song Kun lalu menyimpan pedangnya dan melompat pergi lalu lari cepat sekali. Cin Hai tidak
mempedulikannya, bahkan menengoknya pun tidak oleh karena dia merasa gelisah sekali melihat betapa
dunia-kangouw.blogspot.com
wajah Lin Lin menjadi agak kebiru-biruan.
Akan tetapi ternyata bahwa serangan racun itu hanya berlangsung sebentar saja dan tak lama kemudian
Lin Lin telah siuman kembali. Cahaya merah kembali ke mukanya dan ia membuka matanya. Ketika dia
melihat bahwa dia berada dalam pelukan Cin Hai, dia lalu merangkul leher pemuda itu dan terisak
menangis.
“Lin-moi, mengapa kau melanggar pantanganmu?”
“Hai-ko, aku tidak ingat akan hal itu, tadi aku terlalu kuatir melihat kau terancam bahaya sehingga aku
terlupa bahwa aku tidak boleh berkuatir.”
Cin Hai tersenyum. “Jangan kuatir, Moi-moi. Walau pun harus kuakui bahwa Song Kun memang lihai, akan
tetapi aku takkan kalah terhadapnya. Lihat sajalah kalau lain kali dia berani mengganggu kita lagi, akan
kuhabiskan nyawanya!”
“Dia di mana, Koko?”
Cin Hai hendak menceritakan apa yang telah terjadi, akan tetapi ia takut kalau-kalau Lin Lin akan merasa
berkuatir mendengar betapa pemuda pesolek itu hendak mencari obat baginya dan hendak kembali
menjemputnya kelak! Maka dia lalu menjawab, “Setelah aku berhasil membabat putus sabuk merahnya,
agaknya dia menjadi jeri dan lalu melarikan diri.”
Lin Lin menarik napas lega dan mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka menuju ke barat dengan
perlahan dan tidak tergesa-gesa…..
********************
Pada suatu hari, seperti biasa, Ang I Niocu berjalan-jalan di depan goa-goa Tung-huang untuk memeriksa
keadaan goa tempat harta pusaka itu tersembunyi, dan sekali ini dia dikawani oleh Ma Hoa.
Tiba-tiba dia merasa terkejut sekali ketika melihat beberapa orang Mongol berkerumun di depan goa itu!
Dia pun berseru,
“Ma Hoa, celaka, agaknya mereka telah menemukan tempat itu.”
Maka berlari-larilah Ang I Niocu dan Ma Hoa ke tempat itu dan ketika mereka tiba di situ, ternyata bahwa
orang-orang itu dipimpin oleh Thai Kek Losu, Sian Kek Losu, Bo Lang Hwesio, dan lain-lain perwira
Mongol!
Melihat pihak lawan yang berat dan cukup banyak ini, Ang I Niocu tidak ingin berlaku sembrono, karena ia
menduga bahwa biar pun goa itu telah mereka temukan, akan tetapi belum tentu mereka dapat mencari
tahu tentang rahasia untuk membuka lubang tempat penyimpanan harta pusaka. Ia lalu menarik tangan Ma
Hoa dan diajaknya bersembunyi di balik sebuah gunung karang yang kecil dan mengintai dari situ.
Tidak lama kemudian, dari jurusan lain datanglah serombongan orang yang bukan lain adalah rombongan
perwira kerajaan yang dipimpin oleh Kam Hong Sin! Selain panglima yang lihai ini, tampak juga Ceng Tek
Hosiang, Ceng To Tosu dan banyak perwira-perwira tinggi lainnya yang jumlahnya tidak kurang dari dua
puluh orang.
Pihak Mongol yang melihat kedatangan para perwira kerajaan itu, segera maju menyerbu sehingga
terjadilah pertempuran hebat di depan goa rahasia itu. Ang I Niocu dan Ma Hoa memandang dengan penuh
kekuatiran sebab dengan adanya dua fihak yang sama-sama menghendaki harta pusaka itu, maka
keadaan lawan makin bertambah berat saja.
“Biar...” bisik Ang I Niocu sambil menggenggam tangan Ma Hoa, “biarkan mereka saling gempur hingga
binasa seluruhnya!”
Pertempuran berjalan ramai sekali, karena kedua fihak sama kuat. Kam Hong Sin yang tangguh itu
mendapat lawan berat, yaitu Thai Kek Losu, sedangkan Ceng To Tosu harus melawan Sian Kek Losu, dan
Ceng Tek Hwesio melawan Bo Lang Hwesio!
dunia-kangouw.blogspot.com
Sesungguhnya, di antara ketiga pasangan ini, fihak Mongol lebih kuat, akan tetapi oleh karena pada fihak
tentara kerajaan masih terdapat beberapa orang perwira yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan
mengeroyoknya, maka keadaan mereka menjadi seimbang.
Pada saat Ang I Niocu dan Ma Hoa sedang menonton dengan hati tegang, tiba-tiba saja datang rombongan
lain dan ketika mereka memandang, mereka menjadi gembira sekali, karena di dalam rombongan orang itu
terdapat Bu Pun Su!
Akan tetapi, kegembiraan mereka segera berubah menjadi keheranan dan kekhawatiran karena ternyata
bahwa yang datang bersama Bu Pun Su adalah seorang nenek yang bertelanjang kaki, seorang pendeta
Mongol, seorang perwira Mongol, dan juga Hai Kong Hosiang! Melihat Hai Kong Hosiang yang jahat dan
yang sangat mereka benci ini berjalan bersama Bu Pun Su, sungguh membuat kedua orang gadis itu
berdiri bengong saking herannya!
Melihat pertempuran hebat itu, Bu Pun Su lalu menghampiri mereka dan berseru keras, “Tahan
pertempuran ini!”
Suaranya amat nyaring dan berpengaruh hingga Ang I Niocu dan Ma Hoa sendiri yang berdiri di tempat
agak jauh juga terkena getaran suara dan terpengaruh oleh gema suara itu. Apa lagi mereka yang sedang
bertempur, mendengar suara ini mereka tak terasa lagi segera melompat mundur sambil menahan senjata
masing-masing. Mereka memandang kepada kakek itu dengan terheran-heran.
Thai Kek Losu beserta kawan-kawannya yang melihat Balaki datang bersama kakek itu menjadi terkejut,
akan tetapi sebelum mereka bertanya, Bu Pun Su telah mendahuluinya dengan ucapan yang halus,
“Kalian ini bertempur bukankah memperebutkan harta pusaka yang tersimpan di dalam goa ini? Bodoh
amat! Untuk apa bertempur mengadu jiwa hanya untuk setumpuk harta yang tidak berharga dan yang
hanya mendatangkan kekacauan belaka?”
Biar pun sikap Bu Pun Su lemah lembut dan kelihatannya seperti seorang lemah, namun menyaksikan
pengaruh yang keluar dari bentakannya tadi, baik pihak Mongol mau pun pihak perwira kerajaan dapat
menduga bahwa kakek ini tentulah seorang berilmu tinggi.
“Kami yang lebih dahulu mendapatkan tempat ini, akan tetapi perwira-perwira kerajaan hendak
merampasnya dari kami!” kata Thai Kek Losu sebagai pembelaan diri.
“Tempat ini termasuk wilayah kerajaan, tidak boleh orang lain memiliki harta pusaka itu selain Kaisar!” kata
Kam Hong Sin dengan suara garang.
Bu Pun Su tersenyum kemudian menjawab, “Semua salah! Yang mendapatkan tempat ini bukan orangorang
Mongol dan yang berhak memiliki harta ini bukanlah Kaisar, karena harta ini berasal dari milik rakyat
yang dulu dirampok! Dari pada bersitegang dan mencari kebenaran sendiri dengan berperang dan
mengorbankan nyawa secara sia-sia, lebih baik diatur begini saja. Kita mengajukan jago-jago untuk
mengadu kepandaian dan siapa yang paling pandai, dialah yang berhak memiliki tempat ini!”
“Boleh, bolehl” kata Thai Kek Losu yang merasa bahwa pihaknya lebih banyak memiliki orang-orang lihai.
“Kita majukan tiga orang jago masing-masing, dan dari pihak kami, aku majukan tiga orang, yaitu aku
sendiri, Sian Kek Losu, dan Bo Lang Hwesio.”
Sambil berkata demikian, Thai Kek Losu menunjuk kepada Sian Kek Losu dan kepada Bo Lang Hwesio,
akan tetapi ia merasa heran sekali melihat betapa Bo Lang Hwesio sedang memandang kepada Bu Pun Su
dengan wajah pucat!
“Dia... dia adalah Bu Pun Su yang lihai...!” kata Bo Lang Hwesio dengan berbisik hingga Thai Kek Losu
yang pernah mendengar nama ini pun menjadi gentar sekali.
“Kam Hong Sin, kau boleh majukan tiga orang jago-jagomu!” Thai Kek Losu menantang kepada perwira itu,
akan tetapi Kam Hong Sin membentak marah.
“Aku tidak mau mentaati perintah siapa juga selain perintah dari Kaisar! Betapa pun juga, tak boleh orangorang
menggunakan aturan sendiri seakan-akan di negara ini tidak ada pemerintah!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba terdengar suara ketawa bergelak dan Hai Kong Hosiang maju ke depan. “Tidak menurut pun tak
apa! Pendeknya masing-masing fihak harus mengajukan paling banyak tiga orang jagonya. Fihakku hanya
cukup mengajukan seorang jago saja! Ha-ha-ha! Yang tidak merasa gembira untuk ikut dalam pertandingan
ini boleh cepat mundur dan jangan mengganggu orang lain!”
Dengan tangannya Thai Kek Losu memberi isyarat kepada Balaki dan memanggil perwira Mongol itu agar
datang mendekat. Akan tetapi Balaki hanya tertawa mengejek saja tanpa mempedulikannya.
“Balaki, kau tidak menurut perintahku'?” teriak Thai Kek Losu dengan marah dan heran.
Balaki tertawa. “Siapa yang sudi menurut perintahmu? Aku tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi
denganmu!”
Thai Kek Losu dan kawan-kawannya tercengang mendengar ini. “Balaki, kau hendak menjadi
pemberontak?”
“Tutup mulutmu!” bentak Hai Kong Hosiang dengan marah.
Pada saat itu, kembali muncul serombongan orang dan ternyata yang kini muncul adalah rombongan
orang-orang Turki pengikut Pangeran Muda dengan dipimpin oleh Siok Kwat Mo-li, Lok Kun Tojin dan
ketiga saudara Kanglam Sam-lojin, diikuti pula oleh beberapa orang perwira lain.
Ternyata bahwa Siok Kwat Mo-li beserta kawan-kawannya masih merasa penasaran dan melanjutkan
usaha mereka mencari harta pusaka itu dengan mengerahkan orang-orang Turki dan membohongi mereka
dengan janji bahwa setelah harta pusaka bisa diperoleh, harta pusaka itu akan diberikan kepada mereka
dan dibagi-bagi. Padahal dalam hatinya, Siok Kwat Mo-li dan juga kawan-kawannya itu sama sekali tidak
mempunyai niat untuk membagi harta pusaka itu kepada orang-orang Turki.
Melihat kedatangan mereka, Hai Kong Hosiang berkata sambil tertawa,
“Nah, sekarang lebih ramai lagi! Siok Kwat Mo-li, kau datang bersama orang-orang Turki ini hendak
melakukan apakah?”
“Suheng, aku bersama Lok Kun Tojin, juga kawan Wai Sauw Pu tadinya sengaja datang memenuhi
undanganmu hendak membantu, akan tetapi karena kami tidak dapat bertemu dengan kau, maka terpaksa
kami mengambil jalan kami sendiri, dan dalam usaha kami itu ternyata bahwa kawan Wai Sauw Pu telah
terbinasa dalam tangan pengikut Pangeran Tua dari Turki dan kawan-kawannya.”
“Dan sekarang, kau membawa orang-orang Turki ini dengan maksud apakah? Apa kalian juga hendak
mencari harta pusaka itu? Kalau memang demikian kehendakmu, lebih baik kau pulang saja dan bawa
kawan-kawanmu itu pergi dari sini, karena harta itu adalah bagianku dan kawan-kawanku, dan kau tidak
boleh mengganggu!”
Mendengar ucapan suheng-nya itu, Siok Kwat Mo-li merasa penasaran sekali sebab dulu suheng-nya minta
pertolongan dan bantuannya untuk menghadapi lawan-lawannya dan juga untuk mencari harta pusaka itu
dengan janji hendak dibagi-bagi, akan tetapi tidak tahunya sekarang suheng-nya itu telah memilih kawankawan
lain.
Akan tetapi, oleh karena maklum akan kelihaian Hai Kong Hosiang, ia diam saja dan tidak berani
membantah. Hanya Lok Kun Tojin yang merasa penasaran dan tentu saja ia tidak mau menerima dengan
demikian saja. Ia segera melompat maju menghadapi Hai Kong Hosiang dan membentak keras,
“Hai Kong! Mengingat akan persahabatan di kalangan kang-ouw aku sudah turut turun gunung dengan
Sumoi-mu ini karena hendak membantumu untuk sama-sama mencari pusaka berharga. Akan tetapi
sekarang kedatangan kami ini tidak kau hargai, bahkan kau hendak mengusir kami. Kau anggap kami ini
orang macam apakah? Apakah tanpa kau kami tak dapat mencari sendiri dengan menggunakan
kepandaian kami?”
“Ha-ha-ha! Lok Kun Tojin, jangan kau menyombong di hadapanku! Apa bila kau hendak mencari harta
pusaka itu, siapakah yang sudi melarangmu? Bahkan kuanjurkan supaya kalian turut pula dalam
pertandingan memperebutkan harta itu. Lihatlah, kini semua telah berkumpul dan kita semua telah
bermufakat untuk mengajukan masing-masing tiga orang jago. Pihak Mongol telah mengajukan jago-jago
dunia-kangouw.blogspot.com
mereka, yaitu Thai Kek Losu, Sian Kek Losu, dan Bo Lang Hwesio. Fihak kami mengajukan seorang jago,
yaitu kakek jembel ini!” Ia menuding ke arah Bu Pun Su yang berdiri sambil menundukkan kepala. “Akan
tetapi sayangnya di fihak perwira kerajaan agaknya tidak berani mengajukan jago-jago mereka. Ha-ha-ha!”
“Hai Kong, jangan kau sombong!“ Kam Hong Sin berteriak dengan muka merah karena marahnya. “Hendak
kulihat kalian ini pemberontak-pemberontak rendah hendak berbuat kurang ajar sampai seberapa jauh. Aku
tidak sudi mengadakan segala macam perjanjian dengan kalian, dan hendak kulihat siapa yang akan
berkeras mengambil harta pusaka itu, pasti akan kuhadapi dengan taruhan jiwaku sebagai seorang petugas
setia dari Kaisar!”
Hai Kong Hosiang tertawa bergelak dan berkata, “Kam Hong Sin, baru menjadi panglima besar Kaisar saja
kau telah berkepala batu! Kalau saja aku tidak teringat bahwa semua orang telah menyetujui untuk
mengajukan jago-jago masing-masing, tentu akan kuhadapi sendiri orang macam kau! Akan tetapi biarlah
aku bersabar dulu, dan kalau tidak mau ikut dalam pertandingan ini, biarlah kau menjadi penonton dan
boleh kami anggap sebagai saksi! Ha-ha-ha!”
Sementara itu, Lok Kun Tojin dan Siok Kwat Mo-li berbisik-bisik sedang mengadakan perundingan,
akhirnya Lok Kun Tojin barkata, “Baik, kami ikut dalam pertandingan ini dan kami mengajukan tiga jago
kami, yaitu Siok Kwat Mo-li, aku sendiri, dan Sahali.” Sambil berkata demikian dia menunjuk ke arah Siok
Kwat Mo-li dan seorang Perwira Turki yang bertubuh pendek kecil dan berkulit hitam.
“Bagus, bagus! Sekarang akan menjadi ramai!” kata Hai Kong Hosiang sambil tertawa terbahak-bahak.
Sementara itu Bu Pun Su berpikir bahwa gara-gara Hai Kong Hosiang, maka bila mana dilanjutkan, tentu
akan terjadi pertandingan hebat dan hal ini tidak dia kehendaki, oleh karena tentu akan banyak terjatuh
korban yang terluka hebat atau bahkan binasa. Maka dia segera berkata kepada semua orang dengan
suara sembarangan,
“Aku tua bangka jembel hendak bicara dan kalian semua jika akan menganggap bicaraku sebagai suatu
kesombongan, apa boleh buat. Dengarkan baik-baik. Untuk menyingkat waktu, kupersilakan semua fihak
maju seorang demi seorang dan menghadapi aku orang tua. Kalau saja aku sampai dirobohkan, terluka
mau pun binasa, maka kuanggap bahwa pihakku kalah, dan tidak berhak lagi untuk mendapatkan harta
benda itu!”
Tentu saja ucapan ini dianggap sombong sekali sehingga semua mata memandangnya dengan penasaran
dan marah, kecuali Bo Lang Hwesio yang sudah cukup maklum akan kelihaian Bu Pun Su.
“Kakek tua! Alangkah sombongmu! Kau seorang diri hendak menghadapi jago-jago dari Mongol dan Turki
sebanyak enam orang. Meski pun kau tangguh dan lihai, patutkah bagi seorang yang berkepandalan tinggi
untuk bersikap sesombong ini?”
Juga Siok Kwat Mo-li yang marah sekali membentak, “Kakek yang mau mampus! Belum pernah selama
hidupku mendengar bual seorang sesombong kau! Kau tidak memandang mata kepada kami sekalian!”
Memang, menurut kebiasaan di kalangan kang-ouw, orang-orang yang kepandaiannya sudah tinggi
biasanya merendahkan diri, oleh karena mereka selalu berhati-hati menjaga kalau-kalau akhirnya dia kena
dijatuhkan orang lain sehingga kesombongannya itu hanya akan menjatuhkan namanya belaka. Makin
tinggi kepandaian seseorang, makin pendiam maka makin merendahlah dia.
Karena ini, ucapan Pun Su tadi tentu saja dianggap keterlaluan sekali sehingga membuat mereka merasa
penasaran dan marah. Akan tetapi mereka belum mengenal adat Bu Pun Su yang kukoai (ganjil), atau yang
sudah pernah mengenalnya juga tak mengetahui betul adatnya itu.
Bu Pun Su tidak biasa menyombongkan kepandaiannya. Baru nama yang dipilihnya saja, yaitu Bu Pun Su
yang berarti Tiada Berkepandaian, sudah menunjukkan bahwa dia tidak suka akan segala macam nama
kosong belaka. Kalau kali ini ia mengucapkan tantangan yang bersifat sombong, bukanlah semata timbul
dari watak sombong, akan tetapi karena ia mengandung semacam maksud, yaitu ingin mencegah
terjadinya pertumpahan darah hanya karena memperebutkan harta pusaka belaka!
Melihat kemarahan orang-orang itu, diam-diam Bu Pun Su menjadi gembira sekali karena bahwa
maksudnya berhasil baik, maka untuk menambah ‘minyak’ supaya api yang mulai membakar hati mereka
itu menjadi makin berkobar dan agar persoalan itu cepat selesai, maka dia lalu menambahkan ucapannya
dunia-kangouw.blogspot.com
tadi sambil tersenyum,
“Kalau kalian menganggap aku sombong, biarlah, kuakui bahwa aku memang sombong. Kesombonganku
barusan itu masih belum seberapa hebat apa bila dibandingkan dengan usulku yang berikut ini. Oleh
karena dari pihak kami hanya maju seorang jago dan dari pihak Mongol mau pun pihak Turki diajukan tiga
orang jago, maka aku menantang kalian untuk maju berbareng, yaitu tiga orang sekaligus!”
Benar saja, ucapan ini membuat semua orang menjadi bengong sehingga untuk sejenak mereka tidak
mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Akhirnya Thai Kei Losu, Sian Kek Losu dan Bo Lang Hwesio maju
berbareng dengan marah dan mereka ini memandang kepada Bu Pun Su dengan muka merah.
“Bu Pun Su! Aku mendengar namamu dari Bo Lang Hwesio dan sudah sejak lama aku mendengar bahwa
Bu Pun Su adalah seorang berilmu tinggi yang sakti dan yang patut disebut Lo-cianpwe (Orang Tua
Gagah). Akan tetapi, tidak tahunya Bu Pun Su hanyalah seorang tua bangka yang sudah pikun dan yang
telah menjadi gila dan sombong sekali! Baiklah, kau sendiri yang menantang untuk dikeroyok tiga, dan
kalau kau tewas di tangan kami, janganlah merasa penasaran karena kau sendiri yang minta mati!”
Dimaki sehebat itu, Bu Pun Su hanya memandang dengan senyum simpul dan dia lalu menjawab,
“Baiklah, Robot. Kalau sampai aku Si Tua Bangka ini terbunuh mati di tangan kalian, tak usah kalian
memasang meja sembahyang!”
Thai Kek Losu marah sekali dan sekali tangannya bergerak, maka ia telah mengeluarkan senjatanya yang
mengerikan, yaitu tengkorak anak-anak yang dipasang tali. Tengkorak itu diputar-putar sehingga dalam
pandangan banyak orang seperti kepala seorang anak kecil yang meringis dan suara angin yang masuk
dan keluar dari lubang-lubang tengkorak itu terdengar bagaikan suara tangis. Semua orang langsung
bergidik dan merasa ngeri melihat kehebatan senjata ini, akan tetapi Bu Pun Su tersenyum dan berkata,
“Losu, mengapa bukan kepalamu sendiri yang kau ikat itu?”
Sementara itu, Sian Kek Losu juga mengeluarkan senjatanya yang tidak kalah lihainya, yaitu sebuah
gendewa bertali, senjata yang jarang sekali dapat dimainkan oleh ahli silat, oleh karena memang amat
sukar untuk mainkan senjata ini. Akan tetapi apa bila orang sudah dapat memainkan, senjata itu
merupakan senjata yang amat sukar dilawan karena lihainya.
Juga Bo Lang Hwesio ikut menarik keluar senjatanya, yaitu sepasang poan-koan-pit yang berbentuk pensil
bulu kecil saja, namun sepasang senjata ini merupakan penyambung tangan untuk melakukan serangan
tiam-hoat (ilmu menotok jalan darah) kepada lawan dan kelihatan sepasang poan-koan-pit ini memang
sudah amat ditakuti orang.
Memang biasanya Bo Lang Hwesio jarang mempergunakan senjata dalam perkelahian, cukup dengan
sepasang tangannya ditambah ujung lengan bajunya saja, karena dengan ilmu pukulan tangan kosong saja
memang sudah sangat sukar mengalahkan dia. Akan tetapi sekarang ia maklum bahwa biar pun
mengeroyok tiga, ia menghadapi seorang sakti yang tingkat kepandaiannya masih jauh lebih tinggi, maka ia
pun sengaja mengeluarkan senjatanya itu.
“Sudah siap?” tanya Bu Pun Su dengan tenang. “Nah, mari kita mulai!”
“Keluarkan senjatamu!” bentak Thai Kek Losu yang sebagai orang berilmu tinggi merasa segan untuk
menyerang seorang yang bertangan kosong.
“Eh, Thai Kek Losu, bukalah matamu baik-baik. Bukankah aku sudah siap dengan empat buah senjataku
ini?” sambil berkata demikian dia menggerak-gerakkan kedua tangan dan dua kakinya. “Thian telah
memberi senjata-senjata yang tiada bandingannya di dunia ini kepada kita, akan tetapi kalian masih saja
menanyakan senjata, bukankah itu kurang berterima kasih kepada Thian namanya?”
Bukan main mendongkolnya hati Thai Kek Losu mendengar ini. Ia anggap kakek jembel ini menghina
sekali.
“Kau mencari mampus sendiri!” teriaknya dan tengkorak kecil di tangannya itu tiba-tiba menyambar ke arah
muka Bu Pun Su dengan cepatnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi baru saja tengkorak itu bergerak, tubuh Bu Pun Su sudah menyingkir terlebih dulu sehingga
serangannya mengenai angin saja. Sian Kek Losu dan Bo Lang Hwesio juga maju menyerbu dan sebentar
saja Bu Pun Su dihujani serangan-serangan kilat yang amat berbahaya dari tiga orang ahli dan tokoh besar
itu.
Bu Pun Su maklum bahwa ketiga orang lawannya ini merupakan orang-orang yang sudah tinggi tingkat
kepandaiannya dan tidak boleh dilawan dengan sembrono, maka dia segera mengerahkan ilmu
kepandaiannya yang luar biasa dan menghadapi mereka dengan Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut yang dimainkan
secara luar biasa sekali.
Kalau Cin Hai yang mainkan ilmu silat ini, maka hanya pada dua lengan tangannya saja yang mengebulkan
uap putih. Akan tetapi ketika Bu Pun Su yang mengerahkan tenaga dalamnya mainkan ilmu silat itu, tidak
hanya kedua lengannya bahkan seluruh tubuhnya mengebulkan uap putih yang melindungi tubuhnya
sehingga setiap kali ada senjata lawan mendekati tubuhnya dalam serangan yang dilakukan oleh lawan itu,
maka senjatanya itu seakan-akan tertahan oleh semacam tenaga yang luar biasa kuatnya!
Ketiga orang pengeroyok itu menjadi terkejut dan kagum sekali oleh karena selama hidup belum pernah
mereka menghadapi seorang lawan yang demikian tangguh, yang dengan bertangan kosong sanggup
menghadapi mereka bertiga dan kini ternyata dapat melawan senjata-senjata mereka dengan baiknya.
Jangankan menghadapi, bahkan menyaksikan kepandaian yang seperti ini pun baru sekali ini mereka
alami.
Akan tetapi, sebagai tokoh-tokoh besar yang berilmu tinggi, mereka merasa malu apa bila memperlihatkan
rasa ketakutan, maka mereka memperhebat serangan dan mengerahkan seluruh kepandaian. Tenaga
lweekang mereka juga sudah sampai di tingkat yang tinggi, karena itu biar pun beberapa kali senjata
mereka kena terbentur dan terpental oleh hawa yang keluar dari gerakan kedua tangan Bu Pun Su, akan
tetapi ada beberapa kali pula senjata mereka berhasil memecahkan pertahanan itu dan hanya berkat
kelincahan serta ginkang-nya yang luar biasa saja maka Bu Pun Su dapat terhindar dari bahaya maut!
Kalau dia menghendaki, dengan sekali pukulan tangannya yang ampuh, Bu Pun Su akan sanggup
menghancurkan tengkorak itu. Akan tetapi oleh karena kakek yang telah banyak pengalaman ini tahu pula
bahwa di dalam tengkorak itu tersimpan senjata-senjata rahasia yang mengandung racun berbahaya
sehingga kalau tengkorak terpecah, biar pun ia tidak kuatir akan keselamatan dirinya sendiri, akan tetapi
takut kalau-kalau senjata rahasia itu akan menewaskan orang-orang lain di sekitar tempat itu, karena itu
maka dia tidak berani memukulnya.
Keraguan ini membuat Thai Kek Losu mendapat hati, bahkan menyangka bahwa kakek jembel itu benarbenar
merasa gentar terhadap senjatanya. Karena itu ia memutar-mutar senjata lihai itu makin cepat
mengarah bagian-bagian berbahaya dari tubuh Bu Pun Su!
Ada pun senjata gendewa di tangan Sian Kek Losu menyambar-nyambar dari atas bagai seekor burung
garuda yang menyerang kepala dan tubuh bagian atas. Gendewa itu berat dan menyambar dengan
dorongan tenaga yang bukan main besarnya sehingga biar pun Bu Pun Su sudah sangat lihai, akan tetapi
sekali saja terkena pukulan gendewa itu pada kepalanya, tentu ia akan mengalami celaka!
Bo Lang Hwesio juga tidak kurang berbahaya. Sepasang poan-koan-pit pada tangannya adalah senjata
kecil yang dapat digerakkan cepat sekali mengarah jalan-jalan darah yang paling berbahaya dari tubuh
kakek jembel itu.
Melihat kelihaian tiga orang lawannya, Bu Pun Su mengambil keputusan untuk bertindak cepat dan
menyingkirkan lawan-lawan ini agar dia tidak membuang waktu terlalu banyak. Tiba-tiba saja dia berseru
keras hingga ketiga orang lawannya itu menjadi terkejut karena jantung mereka tergetar oleh gema suara
yang hebat ini.
Pada saat itu, tengkorak di tangan Thai Kek Losu sedang melayang dan mengarah ke kepala Bu Pun Su,
senjata gendewa Sian Kek Losu dengan gerakan yang hebat sekali menusuk ke arah ulu hatinya, ada pun
kedua poan-koan-pit di tangan Bo Lang Hwesio menotok ke arah iganya! Akan tetapi, perasaan kaget tadi
sudah membuat mereka agak tercengang sehingga gerakan mereka menjadi lambat.
Bu Pun Su lantas memperlihatkan kelihaiannya yang benar-benar hebat dan sukar untuk dipercaya oleh
orang-orang yang menyaksikannya! Kakek jembel itu tidak mengelak dari sambaran tengkorak ke arah
kepalanya, bahkan dia lalu mengulurkan tangan kanan serta menggunakan jari telunjuk dan jari tengah
dunia-kangouw.blogspot.com
untuk menjepit serta menggunting tali pengikat tengkorak itu hingga dengan mengeluarkan suara nyaring
tali itu putus dan tengkorak itu telah berpindah ke dalam tangannya!
Pada waktu itu pula sepasang poan-koan-pit sudah mencapai sasarannya dan menotok tepat di bagian iga
Bu Pun Su. Akan tetapi, alangkah terkejut dan herannya hati Bo Lang Hwesio ketika dia merasa betapa
sepasang poan-koan-pit-nya itu mengenai tempat yang lunak, seakan-akan dia telah menusuk air saja! Dia
cepat menarik kembali poan-koan-pit itu dan dengan mata terbelalak dia melihat betapa kedua poan-koanpit-
nya sudah patah dua!
Gendewa di tangan Sian Kek Losu yang lebih berat itu datang paling akhir dan dengan kekuatan luar biasa
menyambar ke arah ulu hati Bu Pun Su! Kakek jembel ini sudah tidak ada kesempatan lagi untuk
mengelak, dan agaknya ulu hatinya pasti akan tertembus oleh ujung gendewa yang keras dan kuat itu!
Akan tetapi, tiba-tiba kakek itu meniup ke arah muka Sian Kek Losu.
Pada saat angin tiupan yang dikeluarkan dengan pengerahan tenaga khikang hebat luar biasa itu
menyambar mukanya, Sian Kek Losu merasa betapa kulit mukanya menjadi perih dan matanya tak dapat
dibuka lagi ! Terpaksa ia memejamkan matanya dan karena terkejut dan sakit, gerakan tusukannya
mengendur.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Bu Pun Su untuk menjatuhkan diri ke belakang dan berjungkir balik
dengan kaki di atas dan kepala di bawah lalu berdiri lagi dan terlepaslah ia dari ancaman senjata gendewa
itu. Sebelum Sian Kek Losu dapat membuka mata, Bu Pun Su sudah melompat maju dan sekali dia
mengebutkan tangan ke arah tengah-tengah gendewa itu, patahlah gendewa di tangan Sian Kek Losu!
Bu Pun Su tidak berhenti sampai di situ saja dan sekali tubuhnya berkelebat ke arah tiga orang lawannya,
mereka merasa ada tenaga yang besar menyambar ke arah dada, maka mereka terpaksa mengangkat
tangan menangkis. Akan tetapi, dengan hati heran mereka melihat Bu Pun Su melompat mundur lagi
sambil tertawa girang, sedangkan mereka tidak merasa mendapat pukulan.
Selagi tiga orang itu memandang heran, tiba-tiba saja Hai Kong Hosiang yang tadi berdiri bengong dan
bergidik melihat demonstrasi kepandaian yang hebat itu, tertawa bergelak-gelak.
“Ha-ha-ha! Dengan mudah jago kami sudah menjatuhkan ketiga jago dari Mongol! Thai Kek Losu, kau dan
kawan-kawanmu telah kalah, maka kalian harus mundur dan memberi kesempatan kepada jago-jago lain
untuk mencoba kepandaian mereka!”
Thai Kek Losu memandang dengan marah, “Kami memang sudah kehilangan senjata, akan tetapi itu bukan
berarti bahwa kami telah kalah, karena kami belum dirobohkan!”
Hai Kong Hosiang kembali tertawa bergelak. “Manusia goblok dan tidak tahu kebodohan sendiri! Kalian
telah mendapat ampun dari jago kami, akan tetapi masih belum mengakui kebodohan sendiri? Lihatlah
dadamu, Thai Kek Losu dan kalian juga, Sian Kek Losu dan Bo Lang Hwesio!”
Tiga orang pendeta itu melihat ke arah dadanya, dan terkejutlah mereka oleh karena baju mereka pada
bagian dada sebelah kiri ternyata sudah berlubang! Mereka menjadi pucat dan bergidik oleh karena
ternyata bahwa setelah membalas dengan sekali serangan saja, kakek jembel itu telah berhasil membuat
baju mereka berlubang dan kalau saja kakek itu menghendaki, maka untuk membunuh mereka bagi kakek
itu sama mudahnya dengan membalikkan telapak tangan sendiri!
“Hebat, hebat sekali!” Thai Kek Losu menarik napas panjang. “Bu Pun Su, kepandaianmu membuat aku
merasa takluk dan aku mengaku kalah.”
Sesudah berkata demikian, Thai Kek Losu lantas memberi perintah kepada semua anak buahnya untuk
mundur dan dia bersama kawan-kawannya lalu pergi dari situ.
“Thai Kek Losu, kau bawalah senjatamu ini dan jangan gunakan lagi senjata itu karena akhirnya tentu akan
mencelakakan dirimu sendiri!” Bu Pun Su berteriak sambil melempar tengkorak itu ke arah Thai Kek Losu.
Thai Kek Losu mengulurkan tangan menyambut tengkorak kecil itu dan berkata sambil tersenyum, “Biar
pun aku sudah kalah olehmu, akan tetapi kau tak berhak melarang aku mempergunakan senjata buatanku
sendiri!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah berkata demikian, dengan hati penuh dendam, Thai Kek Losu lalu pergi dengan cepat
meninggalkan tempat itu. Dia telah merasa putus harapan oleh karena menghadapi kakek jembel itu dia tak
berdaya dan percuma saja kalau dia hendak melanjutkan usaha mencari harta pusaka. Karena itu dia lalu
memimpin anak buahnya untuk kembali kepada Yagali Khan membuat laporan.
“Sekarang jago-jago Turki dipersilakan untuk memperlihatkan kepandaiannya,” kata Hai Kong Hosiang
yang merasa gembira sekali karena sebagaimana telah dia duga, dengan adanya Bu Pun Su di pihaknya,
maka dengan sangat mudah mereka mengalahkan pihak lawan yang hendak memperebutkan harta pusaka
itu.
Memang, biar pun tanpa bantuan dari Bu Pun Su, belum tentu dia dan kawan-kawannya yang cukup lihai
akan dapat dikalahkan oleh pihak lawan, akan tetapi hal itu merupakan hal yang belum pasti dan juga amat
berbahaya.
Siok Kwat Mo-li, Lo Kun Tojin, dan Perwira Turki yang bernama Sahali itu, turut merasa terkejut sekali
melihat betapa hebat sepak terjang Bu Pun Su tadi. Akan tetapi sebagai orang-orang berilmu tinggi, tentu
saja mereka pun tak sudi menyerah sebelum mencoba.
Sekarang, mendengar ucapan suheng-nya yang telah menipunya, Siok Kwat Mo-li lantas mencabut keluar
senjatanya yang sangat lihai, yakni sebatang tongkat hitam, diikuti oleh Lok Kun Tojin yang mengeluarkan
sepasang rodanya dan Perwira Turki itu mengeluarkan sepasang golok (siang-to) yang tajam mengkilap.
“Bu Pun Su, jagalah serangan kami!” seru Siok Kwat Moli dengan keras sambil memutar-mutarkan tongkat
hitamnya.
“Majulah, majulah!” jawab Bu Pun Su tenang.
Sementara itu, Ang I Niocu dan Ma Hoa yang tadi bersembunyi dan mengintai, ketika menyaksikan
pertandingan antara Bu Pun Su dan tiga orang jago tadi, saking tertariknya mereka sudah keluar dari
tempat persembunyian dan memandang penuh kekaguman, akan juga dengan keheranan besar mengapa
Bu Pun Su bekerja sama, bahkan membela Hai Kong Hosiang yang jahat! Hal ini sungguh-sungguh
membuat Ang I Niocu heran dan juga amat penasaran. Akan tetapi ia memang sudah maklum akan adat
aneh dari susiok-couwnya itu, maka ia hanya menonton dan tidak berani mengganggunya.
Sebenarnya, kalau mau dibuat pertandingan tentang ilmu kepandaian, maka tingkat ilmu kepandaian jagojago
yang berdiri di pihak Turki ini dengan jago-jago Mongol yang telah dikalahkan tadi, mungkin masih
lebih tinggi kepandaian jago-jago Turki ini karena di situ terdapat Siok Kwat Mo-li yang amat lihai, apa lagi
senjata Lok Kun Tojin yang merupakan sepasang roda itu sangat berbahaya sekali. Juga Sahali bukanlah
seorang lemah karena dia adalah jago yang sudah sangat disegani di Turki dan merupakan tangan kanan
yang mendapat kepercayaan penuh dari Pangeran Muda.
Maka mengingat akan kepandaian sendiri, ketiga orang ini tidak menjadi gentar bahkan mempunyai
harapan untuk merobohkan Bu Pun Su dan mendapatkan harta pusaka yang belum pernah mereka lihat
itu. Hasil penyelidikan mata-mata mereka membuat mereka tahu bahwa goa tempat di mana harta pusaka
disembunyikan itu sudah didapatkan oleh orang-orang Mongol, maka mereka lalu menyerbu ke situ hingga
secara kebetulan semua pihak dapat bertemu di depan goa di mana tersembunyi harta pusaka yang
diperebutkan.
Bu Pun Su menghadapi ketiga orang lawannya yang baru ini dengan ketenangan yang amat
mengagumkan. Dari gerakan-gerakan senjata ketiga lawannya yang mewakili pihak Turki ini, dia segera
dapat memaklumi bahwa ilmu silat mereka ini tak kalah lihainya dari kepandaian ketiga lawan yang telah
dikalahkan tadi, maka dia berlaku amat hati-hati.
Siok Kwat Mo-li adalah sumoi dari Hai Kong Hosiang yang jahat dan lihai, maka tongkat hitam di tangannya
pun berbahaya sekali. Ketika dia membuat gerakan menyerang maka tongkat itu seolah-olah berubah
menjadi banyak bagai ular-ular hidup berlenggak-lenggok menyambar ke arah tubuh Bu Pun Su. Ternyata
bahwa seperti halnya Hai Kong Hosiang, ilmu tongkatnya berdasarkan ilmu tongkat Jeng-coa Tung-hoat
atau Ilmu Tongkat Seribu Ular yang mempunyai gerakan-gerakan luar biasa cepatnya.
Lok Kun Tojin memiliki sepasang senjata roda bertali yang jarang dapat dimainkan orang karena memang
amat sukar untuk memainkan senjata macam itu. Akan tetapi di tangan pendeta itu sepasang roda bertali
merupakan senjata yang amat ampuh dan berbahaya, yang menyambar-nyambar bagaikan mustikadunia-
kangouw.blogspot.com
mustika naga bermain-main di udara.
Perwira Turki bernama Sahali itu adalah tangan kanan Pangeran Muda dan ilmu golok sepasang yang
dimainkannya ini hebat dan berbahaya. Dia mempunyai cara bertempur yang aneh dan ilmu silatnya pasti
akan membingungkan lawannya karena di Tiongkok tidak terdapat ilmu golok seperti itu. Akan tetapi kini dia
menghadapi Bu Pun Su yang mengenal ilmu silat bukan berdasarkan permainannya, akan tetapi
berdasarkan gerakan kaki tangan yang bagaimana pun juga mempunyai dasar-dasar yang sama.
Sebagaimana diketahui, rombongan ini tadinya dibantu oleh Wai Sauw Pu yang lihai dan juga Kanglam
Sam-lojin. Akan tetapi Wai Sauw Pu sudah tewas di dalam tangan Ibrahim, sedangkan Kam-lam Sam-lojin
yang merasa gentar menghadapi lawan-lawannya, sudah melarikan diri dan kembali ke timur, lenyap nafsu
mereka untuk ikut mencari harta pusaka itu karena maklum bahwa mereka akan menghadapi lawanlawannya
yang tangguhnya luar biasa. Akan tetapi, Siok Kwat Mo-li dan Lok Kun Tojin yang berilmu tinggi,
tidak putus harapan meski pun ditinggalkan oleh kawan-kawannya ini, apa lagi ketika dari pihak Turki yang
mereka bantu itu datang pula Sahali yang lihai.
Tadi ketika Bu Pun Su dikeroyok bertiga oleh Thai Kek Losu dan kawan-kawannya, Siok Kwat Mo-li sudah
melihat dengan penuh perhatian. Permainan silat Pek-in Hoat-sut yang hebat itu terlihat amat kuat
menghadapi lawan dari depan mau pun dari belakang, karena pergerakan kaki tangan secara otomatis
berpindah-pindah dan setiap kali bahaya datang dari belakang, tubuh kakek itu dengan mudah membalik ke
belakang.
Dalam permainannya, seakan-akan kakek itu mempunyai empat mata, di depan serta di belakang! Dan
Thai Kek Losu serta kawan-kawannya yang mengeroyok dari depan dan belakang menjadi tidak berdaya!
Siok Kwat Mo-li yang cerdik itu dapat melihat hal ini dan kini dia telah mendapat cara untuk mengeroyok
kakek jembel itu maka ia berbisik kepada dua kawannya,
“Kalian menyerang dari sisi kanan dan kirinya, sedangkan aku akan menghadapinya dari depan!”
Kini Bu Pun Su dikeroyok oleh lawan yang mempergunakan bentuk segitiga, yakni dari depan, kanan dan
kiri, tidak menyerang dari belakang! Serangan yang dilakukan dari tiga jurusan ini jauh lebih berbahaya dari
pada serangan yang dilakukan hanya dari depan dan belakang, karena hanya datang dari dua jurusan,
maka diam-diam ia merasa kagum dan memuji kecerdikan nenek bongkok itu. Memang benar, ketika
dikeroyok dengan cara demikian, ia akan menderita lelah sekali karena sekarang ia harus membuat lebih
banyak gerakan untuk menghadapi ketiga orang lawan itu.
Bu Pun Su adalah seorang sakti yang pada masa itu sukar dicari bandingannya, maka tentu saja tipu
muslihat ini tak membuatnya menjadi bingung. Tiba-tiba dia berseru,
“Siok Kwat Mo-li, kau betul-betul cerdik. Akan tetapi aku Si Tua Bangka ini tidak memiliki banyak waktu dan
tenaga untuk melayani kalian bermain-main!”
Sesudah berkata demikian, Bu Pun Su mengambil sepotong gendewa yang sudah patah milik dari Sian
Kek Losu tadi yang kini panjangnya hanya tinggal satu kaki lebih. Biar pun benda itu hanya merupakan
sepotong baja bengkok, akan tetapi setelah berada di tangan Bu Pun Su akan merupakan sebuah senjata
yang luar biasa ampuhnya. Kakek jembel ini berseru keras dan baja bengkok itu lantas menyambar hebat,
merupakan gulungan sinar yang panjang dan dahsyat.
“Lepaskan senjata!” terdengar teriakan nyaring Bu Pun Su dari dalam gulungan sinar itu, sedangkan tubuh
kakek itu sendiri lenyap ditelan gulungan sinar senjatanya yang diputar secara luar biasa itu.
Terdengar suara logam beradu keras sekali dan segera disusul oleh pekik kesakitan dan terkejut oleh tiga
buah mulut pengeroyoknya. Sepasang golok di tangan Sahali terpental dan melayang ke atas sedangkan
dua buah roda dari Lok Kun Tojin juga melayang ke kanan kiri karena talinya telah putus.
Ada pun Siok Kwat Moli yang mempunyai lweekang lebih tinggi dari pada kedua orang kawannya itu, masih
sanggup mempertahankan senjatanya sehingga tidak terlepas dari tangannya walau pun kulit telapak
tangannya serasa akan pecah. Namun ternyata bahwa tongkatnya itu tak sekuat tangannya sehingga pada
saat ia memandang, ternyata bahwa tongkatnya itu sudah putus di tengah-tengah dan kini hanya
merupakan sebatang tongkat yang amat pendek saja.
Ternyata bahwa tadi Bu Pun Su telah mengeluarkan ilmu silat simpanannya yang sangat dahsyat, yang
dunia-kangouw.blogspot.com
disebutnya Gerakan Halilintar Menyambar Bumi. Kehebatan gerakan ini memang luar biasa sehingga
jangankan baru ada tiga orang lawan yang bersenjata, biar pun ada puluhan lawan agaknya takkan ada
yang dapat mempertahankan sambarannya ini yang dilakukan dengan tenaga lweekang sepenuhnya!
Siok Kwat Mo-li dan kedua orang kawannya berdiri bengong karena mereka sendiri tidak tahu bagaimana
cara kakek itu membuat senjata mereka terpental dan patah-patah. Akan tetapi, nenek bongkok itu menjadi
marah sekali dan ketika melihat Bu Pun Su berdiri di depannya dengan tenang, akan tetapi nyata bahwa
kakek itu sedang mengatur kembali pernapasannya yang agak tersengal karena tadi telah menggunakan
tenaga sepenuhnya sedangkan usianya sudah sangat tua, maka sambil memekik keras Siok Kwat Mo-li
lalu mengayun tangannya dan berhamburanlah jarum-jarum hitam ke tubuh Bu Pun Su!
Ang I Niocu dan Ma Hoa terkejut sekali melihat hal ini. Sebagai orang-orang yang sudah mempelajari ilmu
silat tinggi, mereka maklum bahwa pada waktu itu Bu Pun Su sedang mengatur napas dan karenanya
dilarang membuat gerakan-gerakan besar karena hal ini akan membahayakan keselamatannya.
Ma Hoa dan Ang Niocu memang sangat tertarik melihat pertandingan ke dua yang lebih hebat itu, maka tak
terasa pula mereka telah mendekat, dan bahkan Ma Hoa telah berdiri dekat Bu Pun Su, sedangkan Ang I
Niocu yang masih merasa takut-takut kepada Bu Pun Su, berdiri agak jauh.
Melihat keadaan Bu Pun Su yang sangat berbahaya itu, Ma Hoa cepat melompat dengan sepasang bambu
runcingnya di tangan. Dia melompat ke depan Bu Pun Su dan cepat sekali dia memutar-mutar dua batang
bambu runcing itu menangkisi jarum-jarum hitam sehingga semua jarum dapat dipukul runtuh ke atas
tanah.
“Ehh, anak lancang, lekas kau mundur! Im Giok, jangan perbolehkan kawanmu ini maju!” kata Bu Pun Su
dengan suara perlahan, akan tetapi berpengaruh hingga Ma Hoa menjadi terkejut dan segera melompat
kembali ke dekat Ang I Niocu.
Bu Pun Su memandang kepada Siok Kwat Mo-li sambil tersenyum. “Apa bila kau masih merasa penasaran,
kau boleh menyerang lagi dengan jarum-jarummu!”
Akan tetapi, Siok Kwat Mo-li yang melihat betapa Ma Hoa dan Ang I Niocu yang telah ia kenal kelihaiannya
itu berdiri di situ dan agaknya akan membantu pula kepada Bu Pun Su, merasa bahwa perlawanan dari
pihaknya takkan ada gunanya, maka ia memandang dengan mata mengandung penuh kebencian ke arah
Ma Hoa, kemudian tanpa berkata sesuatu ia lalu membalikkan tubuhnya dan berlari pergi, diikuti oleh
kawan-kawannya dan semua anak buah Turki.
Sekarang keadaan di situ makin sunyi dan hanya tinggal Kam Hong Sin seorang bersama anak buahnya
yang masih berdiri di tempat semula. Kam Hong Sin menyaksikan semua pertandingan itu dan diam-diam
dia pun sangat kagum terhadap Bu Pun Su. Dia maklum bahwa kepandaiannya sendiri belum ada
sepersepuluh bagian kepandaian kakek itu.
Akan tetapi Kam Hong Sin juga terkenal sebagai seorang panglima gagah yang pantang mundur dalam
melakukan tugasnya. Sebelum ia dikalahkan, betapa pun juga ia tak mau mengalah begitu saja. Maka ia
segera melangkah maju dan menjura kepada Bu Pun Su.
“Locianpwe, sungguh hebat kepandaianmu dan selama hidupku baru kali ini aku melihat kesaktian yang
sedemikian hebatnya. Akan tetapi, sebagai seorang utusan Kaisar yang berkuasa, aku melarangmu
mengambil harta pusaka yang menjadi hak milik kerajaan itu!”
Bu Pun Su tersenyum dan di dalam hatinya ia mengagumi dan memuji sikap yang gagah berani dari
perwira ini.
“Dan bagaimana kalau aku tetap hendak mengambil harta pusaka itu?” tanyanya dengan tenang.
“Terpaksa aku harus menangkap dan menawanmu untuk dibawa ke kota raja!”
Terdengar suara tertawa riuh rendah. Ternyata bahwa yang tertawa itu adalah Hai Kong Hosiang, Wi Wi
Toanio, perwira serta pendeta Mongol yang menjadi kawan-kawannya. Hai Kong Hosiang berkata kepada
Balaki, perwira Mongol yang kini menjadi kawannya itu.
“Balaki, kaulihat bagaimana sombongnya perwira yang masih kanak-kanak itu, ha-ha-ha!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba Bu Pun Su berpaling kepada mereka dan membentak, “Diam! Perwira ini lebih gagah dan jantan
dari pada kalian semua, mengapa mentertawakannya?”
Hai Kong Hosiang beserta kawan-kawannya tercengang mendengar bentakan ini karena mereka benarbenar
tidak menyangka bahwa Bu Pun Su akan menjadi demikian marah. Mereka tidak tahu bahwa
sebenarnya, di dalam hatinya Bu Pun Su merasa segan untuk melawan perwira yang gagah perkasa dan
yang setia akan tugasnya ini.
“Kam-ciangkun,” kata kakek itu kemudian, “lebih baik Ciangkun kali ini mengalah saja dan kembali ke Kota
Raja. Biarlah lain kali bila mana ada ketika, aku orang tua akan datang menyatakan maaf.”
“Tidak mungkin, Locianpwe. Tugas kewajiban harus dilaksanakan, biar pun aku terpaksa mempertaruhkan
jiwaku. Apa bila Locianpwe hendak melanjutkan usaha mengambil harta pusaka itu, betapa pun juga
terpaksa aku harus turun tangan dan menangkapmu.”
“Hmm, kalau begitu, silakan kau maju dan menangkapku kalau kau sanggup, Ciangkun, dan bukalah
matamu baik-baik supaya kau tidak melewatkan kesempatan baik ini dengan sia-sia!”
Kam Hong Sin tak mengerti akan maksud ucapan ini, akan tetapi ia tidak merasa gentar dan ketika Bu Pun
Su menantangnya untuk menangkap, ia segera mempergunakan ilmu tangkapan tangan yang dulu dia
pernah pelajari dari seorang perantau dari seberang laut timur.
Perantau itu datang dari seberang timur dan dalam perantauannya ke daratan Tiongkok, dia sudah bertemu
dengan Kam Hong Sin dan memberinya pelajaran silat yang sifatnya seperti Sin-na-hoat. Oleh karena itu,
ia memiliki kepandaian yang luar biasa dan sekali ia dapat menangkap kedua lengan orang, maka sukarlah
bagi orang itu untuk melepaskan dirinya lagi!
Ketika Kam Hong Sin melangkah maju hendak menangkapnya, Bu Pun Su hanya berdiri tersenyum dan
bahkan mengulurkan kedua lengannya untuk ditangkap! Kam Hong Sin merasa heran dan segera
menyambar kedua lengan itu untuk terus diputar ke belakang tubuh Bu Pun Su dalam pegangan yang kuat
sekali! Gerakan ini demikian cepat hingga tahu-tahu kedua lengan tangan kakek itu telah ditekuk ke
belakang punggung dan ikatan belenggu besi pun tidak akan lebih kuat dan meyakinkan dari pada
pegangan ini.
“Ciangkun, perhatikan baik-baik!” kata Bu Pun Su.
Kam Hong Sin segera maklum bahwa kakek itu tentu akan menggunakan ilmunya untuk melepaskan diri,
maka cepat-cepat ia lalu mempererat pegangannya dan menekuk kedua lengan kakek itu semakin tinggi di
atas punggungnya!
Bu Pun Su mengangkat sebelah kakinya lalu ditendangkan ke belakang dengan perlahan sehingga Kam
Hong Sin yang berdiri di belakangnya itu tentu saja harus mengelak dari tendangan yang mengarah ke
bagian berbahaya dari tubuhnya. Dia miringkan tubuh dan mengganti kedudukan kakinya dan saat inilah
yang dipergunakan oleh Bu Pun Su untuk melepaskan diri. Saat Kam Hong Sin mengangkat kaki untuk
membuat perobahan posisi kakinya, tiba-tiba Bu Pun Su membungkuk dan sekali Bu Pun Su berseru keras
maka tubuh Kam Hong Sin itu terpelanting melewati kepala Bu Pun Su hingga jatuh tunggang langgang!
Sampai tiga kali Kam Hong Sin mencoba menangkap Bu Pun Su dengan mengeluarkan berbagai ilmu
menangkap, akan tetapi selalu akibatnya terpelanting dan terbanting jatuh di depan kakek itu. Dan
anehnya, ketika terbanting itu, Kam Hong Sin tidak merasa sakit karena tidak terbanting keras dan tiap kali
melakukan gerakan untuk melepaskan diri dari tangkapan, Bu Pun Su sengaja berlaku lambat sehingga
Kam Hong Sin dapat mengikuti gerakannya dan dapat memahami ilmu gerakan itu hingga seakan-akan
mereka bukan sedang bertanding sungguh-sungguh, akan tetapi hanya merupakan latihan saja, yaitu Kam
Hong Sin mendapat latihan tiga macam ilmu gerakan yang hebat dari Bu Pun Su!
“Terima kasih atas pengajaran Locianpwe. Saya mengaku kalah dan biarlah kekalahan ini kulaporkan ke
Kota Raja.”
Setelah berkata demikian, Kam Hong Sin lalu memimpin anak buahnya untuk kembali ke timur, memberi
laporan tentang gagalnya tugas yang dijalankannya! Walau pun ia merasa penasaran dan kecewa, namun
diam-diam dia merasa girang karena menerima pelajaran tipu gerakan yang lihai dari kakek sakti itu!
dunia-kangouw.blogspot.com
Hai Kong Hosiang tertawa dan sambil menuding ke arah Ang I Niocu dan Ma Hoa, ia pun berkata keras,
“Kalian apakah hendak merebut harta pusaka pula? Jika demikian halnya, boleh kalian maju melawan jago
kami. Ha-ha-ha,”
Walau pun merasa gemas dan marah, akan tetapi Ang I Niocu dan Ma Hoa tidak berani berlaku sembrono
di depan Bu Pun Su. Mereka hanya berdiri bingung dan memandang ke arah kakek itu. Pada waktu Bu Pun
Su berpaling kepada mereka, Ang I Niocu segera menjatuhkan diri berlutut.
Akan tetapi sambil mengerutkan keningnya, Bu Pun Su membuat gerakan dengan tangan mengusir mereka
dan berkata, “Pergilah, pergilah...”
Ang I Niocu dan Ma Hoa tidak berani membantah dan terpaksa mereka pergi dari sana tanpa berani
bertanya apa-apa lagi. Mereka cepat-cepat pulang ke rumah Yousuf untuk menceritakan peristiwa
mengherankan ini kepada Nelayan Cengeng dan Yousuf.
Sementara itu, setelah berhasil mengusir semua pihak yang ingin mencari harta pusaka itu, Bu Pun Su lalu
membawa kawan-kawannya masuk ke dalam goa itu.
“Inilah goa penyimpanan harta-pusaka itu.” katanya.
“Bu Pun Su, kau berjanji untuk mendapatkan harta pusaka itu, bukan hanya goanya,” kata Hai Kong
Hosiang dengan senyum menyeringai.
“Kita harus mencari rahasianya,” keluh kakek jembel itu yang segera mencari-cari.
Ia adalah seorang yang sudah memiliki pengalaman luas, maka meski pun tanpa bantuan peta, dia dapat
menduga bahwa patung yang berdiri di dekat dinding itu tentulah bukan sengaja dipasang di sana, karena
biasanya patung Buddha itu selalu dipasang di tengah dan di tempat yang khusus untuk menjadi pujaan.
Maka ia lantas menggerak-gerakkan patung itu dan benar saja, terdengar bunyi di bagian atas dan segera
tampaklah lubang tempat persembunyian harta itu. Bu Pun Su kemudian menggerakkan tubuhnya dan
memasuki lubang kecil itu sebagaimana dilakukan oleh Cin Hai dahulu. Tak lama kemudian, ia turun
kembali dan berkata kepada Hai Kong Hosiang dan Wi Wi Toanio,
“Harta ada di dalam sana, kalian boleh mengambilnya dan sekarang lekas keluarkanlah obat untuk muridku
itu!”
“Obat itu tidak ada padaku,” jawab Hai Kong Hosiang.
Bu Pun Su memandang dengan mata bersinar-sinar sehingga Hai Kong Hosiang menjadi takut dan mundur
dua langkah.
“Aku tidak membohongimu, Bu Pun Su. Obat itu memang ada, yaitu dalam tangan dukun tua dari Mongol
yang juga sudah kami ajak ke tempat ini dan kami sembunyikan di dalam sebuah tempat rahasia di dalam
hutan.”
“Lebih dulu bawa aku ke sana untuk mengambil obat, setelah itu kau serahkan kepadaku, barulah kalian
boleh mengambil semua harta ini!” Sambil berkata demikian, Bu Pun Su lalu menggerakkan kembali patung
itu sehingga lubang tadi tetutup kembali.
“Benarkah harta itu berada di tempat itu?” tanya Wi Wi Toanio kepada Bu Pun Su.
“Wi Wi, aku adalah seorang lelaki sejati. Pernahkah aku membohong?” Bu Pun Su amat mendongkol dan ia
kembali menggerakkan patung untuk membuka. “Kau lihatlah sendiri, perempuan curang!”
Wi Wi Toanio tertawa menjemukan lantas melompat ke atas dan memasuki lubang itu. Sampai lama dia
tidak keluar hingga Hai Kong Hosiang terpaksa berseru memanggilnya. Akhirnya kepala perempuan itu
muncul kembali dan sepasang matanya bersinar-sinar bagaikan seorang yang merasa girang sekali.
“Aduhhh, bukan main hebatnya!” katanya sehingga ucapan yang pendek itu sudah cukup menyakinkan hati
Hai Kong Hosiang, Balaki dan kawan-kawannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Bu Pun Su menutup kembali lubang itu dan berkata, “Hayo cepat antar aku ke dukun itu untuk mengambil
obatnya!”
Mereka lalu membawa Bu Pun Su ke dalam sebuah hutan di luar kota, di mana terdapat sebuah pondok
yang terjaga oleh beberapa orang Mongol kawan-kawan Balaki. Namun ketika mereka datang, para
penjaga lalu menyambut mereka dengan muka pucat.
“Celaka, baru saja ada seorang muda yang mengacau di sini. Kami semua tidak berdaya terhadapnya,
karena ia lihai sekali!”
Hai Kong Hosiang beserta kawan-kawannya, juga Bu Pun Su menjadi terkejut sekali dan mereka segera
memburu ke dalam pondok. Dukun tua yang kurus itu sedang duduk di atas bangku sambil menundukkan
kepala seperti orang yang mengantuk.
“Muhambi, apakah yang terjadi?” teriak Hai Kong Hosiang dengan kuatir.
“Tak ada apa-apa, hanya seorang pemuda yang memaksaku menyerahkan obat penolak racun dari
kembang semut merah itu.”
Hai Kong Hosiang menjadi pucat. “Celaka! Justru obat itulah yang kami butuhkan! Siapa orangnya yang
berani merampasnya?”
“Entahlah,” jawab Mahambi, dukun itu. “Ia adalah seorang pemuda tampan yang mengaku bernama Song
Kun!”
Mendengar ini, Bu Pun Su menjadi pucat dan ia pun segera berkata, “Wi Wi, dan kau Hai Kong! Aku telah
memenuhi janjiku untuk mengusir semua lawan dan mendapatkan tempat disimpannya harta pusaka, akan
tetapi ternyata kalian tidak dapat memenuhi janjimu!”
“Sabar dulu, Bu Pun Su,” kata Hai Kong Hosiang yang segera memegang pundak dukun itu sambil
mengancam, “Buatkan lagi obat itu untuk kami!”
Mahambi menggeleng-gelengkan kepalanya yang sudah penuh uban. “Aku harus menanti berkembangnya
kembang semut merah itu kira-kira setengah tahun lagi.”
“Aku pergi!” kata Bu Pun Su. “Jangan harap kalian akan dapat membawa harta pusaka itu!” Setelah berkata
demikian, kakek itu melompat keluar pondok dan lenyap.
Hai Kong Hosiang dan Wi Wi Toanio sejenak tertegun. Alangkah ingin mereka mengejar dan memaksa Bu
Pun Su agar mengambilkan harta pusaka itu. Akan tetapi, apakah daya mereka terhadap kakek sakti itu…..
********************
Cin Hai dan Lin Lin yang sedang melakukan perjalanan dengan perlahan dan seenaknya, akhirnya sampai
pula di luar batas kota Lan-couw dan di tempat ini mereka lalu berhenti untuk beristirahat dalam sebuah
goa di luar hutan.
“Mudah-mudahan Suhu akan berhasil mendapatkan obat itu secepatnya agar hatiku tidak menjadi gelisah
sekali,” kata Cin Hai.
“Hai-ko, jangan kau gelisah. Suhu pasti akan bisa mendapatkan obat itu dan andai kata Suhu gagal, aku
masih tetap percaya bahwa akhirnya kau akan berhasil menolongku,” kata Lin Lin dengan mata
memandang mesra dan penuh kepercayaan.
Melihat kedua orang itu berhenti di dalam goa, tiga ekor burung sakti, yaitu Sin-kong-ciak, Kim-tiauw dan
Ang-siang-kiam Si burung bangau, lalu melayang turun dan mengeluarkan suara seakan-akan mereka
merasa kecewa, oleh karena bagi mereka tempat itu memang kurang menyenangkan. Tempat itu
merupakan tanah tidak berumput, penuh gunung batu karang dan banyak pula goa-goa besar di situ,
dengan batu-batu karang bergantungan dari atas merupakan pedang tajam dan di dalam goa pun lantainya
dari batu karang yang menyakitkan kaki bila menginjaknya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi oleh karena panas terik matahari sedang membakar tempat yang gundul tak berpohon itu,
maka goa di mana mereka berteduh merupakan tempat yang sangat enak dan melindungi mereka dari
serangan matahari yang panas.
“Lin-moi,” kata Cin Hai sambil membelai kepala Sin-kong-ciak yang mendekatinya, “Kalau kita telah
beristirahat dan menghilangkan lelah, kita harus segera melanjutkan perjalanan memasuki kota Lan-couw.
Betapa pun juga, aku merasa amat gelisah mengingat akan nasib Suhu yang berada dalam pengaruh dan
kekuasaan orang-orang jahat seperti Hai Kong Hosiang dan kawan-kawannya.”
“Tenangkanlah hatimu, Hai-ko. Suhu bukan sembarangan orang yang akan mudah dapat dicelakai oleh
orang-orang macam Hai Kong itu. Aku yakin sepenuh hatiku bahwa Suhu pasti akan tiba dengan segera
membawa obat itu.”
Tiba-tiba Sin-kong-ciak dan kedua burung yang lain itu berteriak keras dan ketiga-tiganya lalu terbang
keluar goa sambil memekik-mekik marah. Cin Hai melompat keluar, diikuti oleh Lin Lin.
Mereka terkejut sekali karena melihat bahwa yang datang itu adalah Song Kun! Ketiga burung itu sudah
mengenal Song Kun dan sudah mengetahui kelihaiannya, maka mereka hanya terbang rendah sambil
mengeluarkan suara teriakan seakan-akan memberi tanda kepada Cin Hai dan Lin Lin agar supaya bersiap
menghadapi lawan.
“Obat sudah kudapatkan!” teriak Song Kun dengan wajah berseri. “Cin Hai, adikku yang baik. Sekarang
akulah yang berhak membawa gadis ini, karena jiwanya berada di dalam tanganku. Aku telah mendapatkan
obat itu dan akulah pula yang berhak mendapatkannya karena hanya aku yang dapat menyembuhkannya!”
Cin Hai menjadi pucat dan dia memandang penuh ketidak percayaan.
“Kau tidak percaya?” kata Song Kun sambil tersenyum dan melirik ke arah Lin Lin. “Inilah obat itu!” Ia
mengeluarkan sebotol obat warna merah dari saku bajunya dan mengangkat tinggi-tinggi.
“Song Kun! Betulkah bicaramu itu?” tanya Cin Hai dengan hati berdebar.
“Kau anggap aku ini orang apakah maka bicaraku harus kau ragukan lagi? Dengar, Sute. Obat untuk
menyembuhkan Lin Lin hanyalah sebotol ini yang berada di tangan dukun Mongol. Obat inilah yang
seharusnya diberikan kepada orang yang berhasil mendapatkan harta pusaka untuk rombongan yang
dikepalai oleh Hai Kong Hosiang, demikian menurut dukun Mongol itu. Akan tetapi dengan bersikeras, aku
berhasil merampas botol ini, dan segera aku mencari kalian untuk mengobati Lin Lin. Akan tetapi, aku baru
memberi obat ini kepada Lin Lin kalau dia mau berjanji untuk menjadi isteriku yang tercinta.” Song Kun
berkata demikian sambil mempermain-mainkan botol itu di tangannya dan mengerling ke arah Lin Lin yang
menjadi merah mukanya.
“Suheng!” teriak Cin Hai yang merasa girang dan juga kaget. Girang karana ada harapan bagi Lin Lin untuk
sembuh kembali akan tetapi, kaget mendengar permintaan dan syarat Song Kun itu.
“Kau tolonglah Lin Lin dan berikan obat itu kepadanya. Kesembuhannya merupakan hal yang terpenting
bagiku dan walau pun kau menghendaki jiwaku, akan kuberikan dengan rela asalkan kau suka
menyembuhkan Lin Lin. Akan tetapi, janganlah kau memaksanya menjadi isterimu kalau dia tidak suka.”
Song Kun tertawa bergelak, “Sute, kau membolak-balik omonganmu sendiri. Kau tak ingin melihat
tunanganmu itu meninggal dan juga tidak ingin melihat ia menjadi isteri orang lain! Cin Hai, apakah kau
benar-benar mencinta kepadanya?”
“Tak perlu kau bertanya lagi. Aku rela mengorbankan nyawa untuknya.”
“Kalau benar cintamu itu murni, kau tentu tidak keberatan untuk mengalah padaku. Pilih saja, membiarkan
ia sembuh sama sekali dan menjadi isteriku, atau akan kubuang obat ini dan membiarkan dia mati.” Sambil
berkata demikian, Song Kun membuat gerakan seolah-olah dia benar-benar hendak melempar botol itu ke
dalam jurang batu karang!
Cin Hai menjadi bingung karena dia maklum bahwa seorang macam Song Kun itu bukan hanya pandai
menggertak saja, akan tetapi dapat melakukan segala perbuatan yang keji.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Jangan kau buang botol itu, Suheng! Tentu saja aku lebih suka melihat Lin Lin sembuh kembali!”
“Dan menjadi isteriku?” tanya Song Kun.
“Soal itu terserah kepadanya,” jawab Cin Hai tanpa berani memandang muka kekasihnya.
Lin Lin semenjak tadi mendengarkan percakapan mereka itu dengan hati panas, akhirnya tak dapat
menahan kemarahan hatinya lagi. Ia melompat berdiri dan mencabut pedang pendeknya.
“Song Kun manusia berbatin rendah! Aku lebih baik seribu kali mati dari pada menjadi isterimu. Buanglah
botol itu! Kau kira aku takut mati?” Sambil berkata demikian, dengan kemarahan besar gadis itu lalu
menerjang Song Kun dengan pedang pendeknya dalam serangan yang hebat.
Song Kun cepat menyimpan botol itu kembali ke dalam saku bajunya, kemudian segera mencabut
pedangnya Ang-ho Sian-kiam untuk menghadapi serangan Lin Lin yang tidak boleh dipandang ringan itu.
Melihat betapa kekasihnya menjadi nekat, Cin Hai cepat-cepat mencabut keluar pedang Liong-cu-kiam dan
ikut menerjang sambil berseru,
“Song Kun, jangan kau lawan dia yang masih lemah. Akulah lawanmu!” Dengan tikaman hebat dia
menyerang yang segera ditangkis oleh Song Kun.
Lin Lin tetap menyerang dan membantu kekasihnya, akan tetapi Cin Hai yang berkuatir melihat kelemahan
Lin Lin segera berkata kepadanya,
“Lin-moi mundurlah dan biarkan aku menghadapi iblis ini! Aku telah yakin akan perasaan hatimu dan
jangan kau kuatir. Kalau perlu, kita akan mati bersama!”
Lin Lin melompat mundur dan membiarkan kekasihnya menghadapi lawan yang baginya terlampau
tangguh itu, apa lagi karena dia memang merasa pening dan lemah. Ia berdiri saja memandang dan
menyaksikan pertempuran yang berjalan hebat itu.
Sekali lagi dua orang muda yang amat lihai itu mengadu kepandaian di antara batu-batu karang yang
menjulang tinggi, disaksikan oleh Lin Lin dan ketiga ekor burung sakti yang hanya beterbangan di atas dan
kadang-kadang saja menyambar turun untuk membantu. Akan tetapi, sinar pedang Ang-ho Sian-kiam yang
hebat dan mengeluarkan hawa panas itu membuat mereka tidak tahan mendekati Song Kun dan terpaksa
hanya beterbangan di atas mereka yang sedang bertempur sambil mengeluarkan pekikan-pekikan nyaring.
Karena hatinya telah bulat untuk merobohkan Song Kun yang dibencinya ini, Cin Hai lalu mengeluarkan
seluruh kepandaian dan mengerahkan seluruh tenaganya, hingga ia dapat mendesak Song Kun setelah
mereka bertempur selama puluhan jurus dengan hebatnya.
Diam-diam Song Kun merasa terkejut sekali karena kini dia mendapat kenyataan bahwa betul-betul
pengertian tentang dasar-dasar ilmu silat membuat Cin Hai menjadi lihai sekali dan dapat mengembalikan
setiap serangannya yang bagaimana lihai pun. Juga pedang Liong-cu-kiam di tangan Cin Hai merupakan
senjata ampuh yang sanggup mengimbangi kehebatan Ang-ho Sian-kiam yang tadinya merupakan pedang
tunggal dan jarang sekali menemukan tandingannya.
Song Kun adalah seorang yang tidak saja pandai dan tinggi ilmu silatnya, akan tetapi dia juga cerdik dan
memiliki sifat curang. Melihat kehebatan sepak terjang Cin Hai, tiba-tiba dia menarik keluar botol obat itu
dan membuat gerakan seakan-akan hendak melempar obat itu ke jurang.
Gerakan ini tentu saja membuat Cin Hai menjadi pucat, karena betapa pun juga, dia tidak ingin melihat obat
tunggal itu dibuang sehingga jiwa Lin Lin tak akan dapat tertolong lagi. Ia menggigil kalau memikirkan
bahwa kekasihnya itu akan mati karena racun tanpa dapat ditolong lagi. Botol obat di tangan Song Kun itu
nampak olehnya seakan-akan nyawa Lin Lin, maka gerakan Song Kun itu tak dapat tiada membuat ia
memekik tanpa terasa lagi,
“Jangan lempar botol itu!”
Tentu saja pikiran yang bingung itu membuat gerakan pedangnya menjadi kacau hingga pada saat yang
tepat, pedang Ang-ho Sian-kiam di tangan Song Kun menyerang seperti kilat dan menusuk ke arah
dunia-kangouw.blogspot.com
matanya! Cin Hai cepat menundukkan kepalanya, akan tetapi gerakan itu terlalu cepat sehingga ujung
pedang masih menggores kulit jidatnya!
Darah mengucur dari kulit itu, terus mengalir turun di sepanjang hidung dan pipinya. Cin Hai menggunakan
lengan baju tangan kiri mengusap mukanya dan pada saat itu kembali pedang Song Kun meluncur dalam
suatu serangan yang dahsyat, yaitu dengan bacokan ke arah lehernya!
Serangan ini datangnya tak tersangka-sangka. Karena rasa perih pada jidatnya membuat Cin Hai kurang
dapat memperhatikan pergerakan lawan, maka cepat ia lalu menjatuhkan diri ke belakang untuk berjungkir
balik sambil menghindarkan diri dari serangan itu, akan tetapi kembali ujung pedang Song Kun masih
berhasil melukai kulit pundak kirinya! Darah mengucur lagi dan kini lebih banyak karena sedikit daging di
bahunya ikut terpapas oleh pedang yang tajam itu!
Melihat hal ini, tanpa tertahankan pula Lin Lin menjerit dan roboh pingsan karena kembali kekuatiran telah
membuat jantungnya terserang racun di tubuhnya!
Melihat keadaan kekasihnya, timbullah kemarahan besar di hati Cin Hai. Ia menjadi nekat dan maklum
bahwa menghadapi seorang yang tangguh dan kejam semacam Song Kun, dia tidak boleh merasa khawatir
karena betapa pun juga, tentu Song Kun tidak akan mau memberikan obat itu kepadanya. Karena itu dia
lalu menggigit bibirnya dan mempererat pegangan tangan pada pedangnya lalu membentak,
“Song Kun, kalau bukan kau, tentu aku yang akan menggeletak tak bernyawa di tempat ini!”
Setelah berkata demikian, Cin Hai lantas mengirim serangan-serangan balasan kilat yang luar biasa
hebatnya, karena ia telah mengerahkan seluruh kepandaian dan kecepatannya dan juga menyerang
dengan maksud merobohkan dan membunuh lawannya ini. Memang gerakan serangan Cin Hai ini terjadi
dengan otomatis.
Dalam keadaan sabar, gerakan Cin Hai menjadi tenang dan kuat. Tetapi kini dia dalam keadaan marah dan
menggelora, maka gerakan pedangnya berubah menjadi amat ganas seolah-olah seorang iblis mengamuk!
Tiap gerakan pedang merupakan tusukan, tikaman, atau sabetan yang dapat membawa maut!
Song Kun terkejut sekali. Ia berseru sambil menangkis serangan Cin Hai, “Mundur, kalau tidak, benar-benar
obat ini hendak kulempar ke jurang,”
Akan tetapi, Cin Hai telah menjadi gelap mata dan tidak mau memikirkan lain hal kecuali merobohkan
lawan yang dibencinya ini. Ia tidak menjawab, bahkan segera memperhebat desakannya. Song Kun
terpaksa melayani dengan sungguh hati, karena benar berbahaya baginya.
“Benar-benar kulemparkan botol ini!” teriaknya mencoba sekali lagi.
Akan tetapi sekarang Cin Hai tidak dapat digertak lagi. Song Kun menjadi gemas dan dia melompat ke
belakang, agak jauh dari Cin Hai. Dengan napas memburu karena menahan marahnya Cin Hai mengejar,
akan tetapi ia melihat Song Kun benar-benar melemparkan botol itu ke dalam jurang!
Melihat hal ini, mau tidak mau Cin Hai merasa betapa hatinya menjadi perih seakan-akan melihat Lin Lin
meninggal dunia pada saat itu! Ia memekik keras dan ngeri sambil melihat arah botol itu dilemparkan.
Akan tetapi, pada saat itu, dari dalam jurang itu, berkelebat sosok bayangan orang dan tahu-tahu Bu Pun
Su telah berdiri di situ dengan botol tadi diangkat tinggi-tinggi.
“Ha, akhirnya obat ini terdapat juga olehku!” katanya girang.
Bukan main girangnya hati Cin Hai melihat ini sehingga tak terasa pula air matanya lalu mengalir turun,
bercampuran dengan darahnya yang tadi mengucur keluar dari luka pada jidatnya.
Sementara itu, Song Kun menjadi marah sekali.
“Tua bangka!” ia memaki supek-nya. “Kau selalu memusuhi aku dan membela muridmu! Majulah dan mari
kita mengadu jiwa di sini!”
Bu Pun Su hanya tersenyum dengan tenang. “Aku tidak sudi mengotorkan tanganku. Cin Hai, kau lawanlah
dunia-kangouw.blogspot.com
dia!”
Cin Hai yang merasa beruntung sekali seakan-akan melihat Lin Lin bangkit kembali dari alam baka itu,
segera memutar pedangnya dan berkata,
“Suhu, teecu mohon ijin dan restu untuk mengakhiri hidup manusia iblis ini!”
“Memang kejahatan harus dibalas dengan keadilan, dan orang macam dia ini sudah amat pantas apa bila
dibasmi. Laksanakanlah tugasmu menjadi wakil mendiang Susiok-mu dan juga wakilku!” kata Bu Pun Su
yang kemudian berdiri dengan tegak dan wajahnya tampak bersungguh-sungguh.
Cin Hai lalu maju menyerang dan terjadilah pertempuran yang lebih hebat dari tadi. Kini keduanya
berusaha keras untuk menjatuhkan lawan, dan semua serangan dimaksudkan untuk menewaskan lawan.
Pedang Ang-ho Sian-kiam berubah menjadi gulungan cahaya merah, sedangkan pedang Liong-cu-kiam
ketika dimainkan, berubah menjadi sinar putih yang terang sekali.
Sinar pedang kedua pihak bergulung-gulung menyelimuti tubuh mereka dan kalau yang menyaksikan
pertandingan ini hanya orang-orang biasa, pasti mereka akan merasa heran sekali melihat sinar putih dan
merah bergulung-gulung tanpa melihat bayangan orang dan pedang, dan tentu mereka menyangka bahwa
dongeng-dongeng tentang para kiam-hiap (pendekar pedang) yang dapat menerbangkan pedangnya yang
disebut hui-kiam (pedang terbang) itu memang benar-benar ada!
Akan tetapi, mata Bu Pun Su dapat melihat dengan nyata betapa Cin Hai mulai berhasil mendesak Song
Kun yang kini hanya dapat menangkis saja. Biar pun Song Kun menang gesit dan menang pengalaman
serta keuletan, tetapi karena pemuda itu selalu menjalani kehidupan sebagai seorang pemogoran yang
terlalu banyak pelesir, maka kesehatannya tidak sedemikian sempurna.
Sesudah terdesak oleh Cin Hai dalam sebuah pertempuran yang memakan waktu lama dan mereka telah
berkelahi seratus jurus lebih, pada akhirnya dia menjadi lelah dan daya tahannya sudah banyak berkurang.
Sebaliknya, Cin Hai yang telah mencurahkan seluruh kepandaian dan tenaganya, biar pun banyak darah
keluar dari dua lukanya, masih tetap segar dan bahkan mendesak makin hebat!
Akhirnya Song Kun terdesak sampai ke pinggir jurang dan ketika kaki kirinya menginjak tempat kosong
sehingga tubuhnya terjengkang, secepat kilat Cin Hai menusuk ke arah dadanya. Dia masih berusaha
memiringkan tubuh, akan tetapi kurang cepat dan pedang Liong-cu-kiam sudah masuk ke dalam dada
kanannya dan tubuhnya lalu terguling masuk ke dalam jurang!
Cin Hai memandang ke dalam jurang yang dalam itu dan melihat betapa tubuh Song Kun itu tergulingguling
dan makin lama makin kecil sehingga akhirnya lenyap dari pandangan matanya!
“Bagus, Cin Hai, kepandaianmu sudah banyak maju!”
Cin Hai bagaikan baru sadar dari lamunan dan ia segera berlutut di depan gurunya tanpa dapat
mengeluarkan sepatah pun kata.
Mereka cepat-cepat menghampiri Lin Lin yang masih pingsan dan Bu Pun Su segera menuangkan isi botol
itu ke dalam mulut Lin Lin yang dibuka oleh Cin Hai.
Pemuda itu lalu memondong tubuh Lin Lin, dibawa masuk ke dalam goa supaya jangan terserang panas
matahari. Bu Pun Su mengikuti dari belakang. Setelah dengan hati-hati sekali dan penuh kasih sayang Cin
Hai meletakkan tubuh kekasihnya di atas batu karang, dia bersama suhu-nya lalu duduk tanpa bergerak
mau pun mengeluarkan suara. Seluruh perhatian mereka menuju kepada keadaan Lin Lin, dengan hati
penuh harap dan cemas!
Makin lama, wajah Lin Lin yang tadinya nampak pucat itu, makin menjadi merah, bahkan terlalu merah
bagaikan orang yang sedang marah! Kemudian Lin Lin membuka kedua matanya dan melihat Bu Pun Su,
dia lalu melompat dan bangun berdiri. Kedua matanya yang indah itu memandang marah kepada Bu Pun
Su dan tiba-tiba dia sudah mencabut Han-le-kiam, terus menyerang kakek itu!
Tentu saja kejadian ini membuat Bu Pun Su dan Cin Hai terkejut dan heran sekali. Bu Pun Su mengelak
dan Cin Hai cepat memburu dan berseru,
dunia-kangouw.blogspot.com
“Lin-moi, mengapa kau menyerang Suhu?”
“Siapa yang menjadi Suhu-ku? Dia orang jahat! Dia harus dibunuh... lekas kau bantu aku, Hai-ko
kekasihku!” Sambil berkata demikian, kembali Lin Lin menyerang Bu Pun Su.
Cin Hai makin terkejut oleh karena selain gadis ini tidak mengenal pula kepada Bu Pun Su gurunya sendiri,
juga di depan orang lain gadis ini menyebutnya ‘kekasihku’, satu hal yang belum pernah terjadi! Dengan
hati berdebar khawatir, timbul persangkaan di dalam hatinya bahwa kekasihnya ini telah terganggu
ingatannya! Maka dia cepat menubruk dari belakang, memeluk pinggang kekasihnya itu dan merampas
pedangnya.
“Lin Lin... dia adalah Suhu kita...!” Lin Lin tak berdaya dalam pelukan Cin Hai yang kuat, akan tetapi dia
masih memandang ke arah Bu Pun Su dengan mata melotot.
“Lin Lin, aku adalah Bu Pun Su!” kakek jembel itu berkata dengan suara mengharukan karena dia merasa
bersedih melihat keadaan muridnya yang terkasih itu.
“Tidak, tidak! Kau laki-laki kurang ajar yang hendak membunuh kekasihku. Pergi... pergi... Kalau tidak, kau
akan kubunuh!”
Setelah memaki-maki lagi, akhirnya tubuh Lin Lin menjadi lemas dan ia jatuh pulas dalam pelukan Cin Hai!
Bu Pun Su serta Cin Hai menjadi cemas sekali dan ketika Cin Hai membaringkan tubuh kekasihnya di atas
lantai goa, ternyata bahwa jalan pernapasan gadis itu normal dan tak nampak tanda-tanda bahwa
kesehatannya terganggu, bahkan ketika dia memeluk Lin Lin yang mengamuk tadi, Cin Hai merasa betapa
tenaga gadis itu telah pulih kembali!
“Bagaimana baiknya, Suhu…?” tanya Cin Hai dengan bingung.
“Sabar dan tunggulah saja perkembangannya lebih jauh. Mungkin sekali mereka sengaja memberi obat
yang bukan semestinya!”
Tak lama kemudian, Lin Lin terbangun dari tidurnya dan dia memandang sekeliling bagai seorang yang
baru saja sadar dari mimpi buruk. Ketika melihat Bu Pun Su, dia lalu maju berlutut dan berseru,
“Suhu...!”
Bu Pun Su dan Cin Hai saling pandang dengan mata terbelalak.
“Lin Lin, mengapa tadi kau mengamuk dan menyerang Suhu?” tanya Cin Hai.
Lin Lin memandangnya dengan heran dan menjawab, “Hai-ko, apakah arti pertanyaanmu itu? Aku
menyerang Suhu dan mengamuk? Ahh, kau mengimpi barang kali!”
Ternyata bahwa Lin Lin tidak ingat sama sekali, bahwa tadi ia telah menyerang suhu-nya sendiri dan
mengamuk bagaikan orang kemasukan setan! Ketika Bu Pun Su memeriksa nadi tangannya, kakek ini
mengangguk puas dan untuk melenyapkan rasa penasaran, dia minta gadis itu mainkan ilmu silat dengan
pedangnya.
Lin Lin segera mencabut keluar Han-le-kiam dan bersilat di depan guru serta kekasihnya. Mereka berdua
merasa kagum karena ternyata gadis ini telah sembuh benar, tenaga dan kegesitannya kembali sedia kala.
Akan tetapi kalau mereka mengingat hal tadi, mereka menjadi gelisah juga.
“Cin Hai, marilah kita datangi mereka itu untuk bertanya kepada dukun Mongol mengapa setelah minum
obat itu, pikiran Lin Lin menjadi terganggu. Lin Lin, kau menantilah saja di sini, dengan kembalinya tenaga
dan kepandaianmu kami tidak perlu kuatir meninggalkan engkau seorang diri di sini. Apa lagi kau dikawani
oleh tiga burung sakti itu.” kata Bu Pun Su yang segera bersuit nyaring memanggil Merak Sakti dan kawankawannya.
Tiga ekor burung besar melayang turun dan masuk ke dalam goa itu.
“Kalian bertiga jagalah baik-baik pada Lin Lin!” kata Bu Pun Su kepada tiga burung itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kemudian ia bersama Cin Hai lalu berjalan cepat meninggalkan tempat itu untuk mencari keterangan
kepada dukun Mongol…..
********************
Setelah menceritakan pengalamannya yang aneh, yaitu tentang pertempuran antara fihak Mongol dengan
Turki serta kerajaan yang melawan Bu Pun Su hingga membuat Nelayan Cengeng dan Yousuf terheranheran,
Ang I Niocu lalu berkata,
“Di balik peristiwa itu tentu ada sesuatu yang hebat, karena kalau tidak demikian, tidak mungkin Susiokcouw
sampai membantu Hai Kong Hosiang dan kawan-kawannya yang jahat itu. Hal ini perlu sekali
diselidiki.”
“Memang hal itu aneh sekali,” kata Kwee An. “Hai Kong terkenal jahat serta banyak tipu muslihatnya
sehingga maut pun seakan-akan jeri mencabut nyawanya. Dia telah menjadi buta dan terguling ke dalam
jurang, akan tetapi kini tiba-tiba saja ia muncul dan sebelah matanya masih bisa digunakan, bahkan dia
telah berhasil menarik Bu Pun Su Lo-cianpwe membantunya, tentu dia mempergunakan akal muslihat yang
keji. Marilah kita menyelidiki mereka!”
“Cin Hai tentu tahu akan hal ini sebab ia sedang pergi mencari suhu-nya itu, maka sudah pasti dia akan
segera kembali ke sini. Baiknya aku dan Ma Hoa menyusulnya sehingga dapat bertemu di jalan, sedangkan
kalian orang-orang lelaki mencari tahu akan rahasia peristiwa yang aneh itu, sekalian melihat apakah harta
pusaka itu telah diambil,” kata Ang I Niocu.
Semua orang setuju dan demikianlah, Ang I Niocu bersama Ma Hoa kemudian keluar dari Lan-couw untuk
menyusul atau mencegat kembalinya Cin Hai.
Ketika mereka tiba di luar kota Lan-couw, tiba-tiba mereka melihat bayangan tiga ekor burung besar
sedang terbang berputaran di atas bukit-bukit batu karang.
“Lihat, bukankah itu Sin-kong-ciak?” teriak Ma Hoa dengan hati girang ketika ia mengenal burung merak
yang indah bulunya itu terbang di atas.
“Betul, marilah kita pergi menyusul ke sana!” Ang I Niocu berseru, akan tetapi ternyata Ma Hoa telah
mendahuluinya berlari ke bukit itu. Ma Hoa merasa gembira sekali karena dengan adanya burung-burung
itu di sana, tentu Lin Lin juga berada di tempat itu.
Melihat kegembiraan Ma Hoa, Ang, I Niocu juga ikut bergembira, akan tetapi dia hanya tersenyum dan ikut
berlari di belakang Ma Hoa. Mereka berlari hingga sampai di tempat yang penuh bukit batu karang itu dan
ketika merak itu melayang turun ke depan goa besar dimana Lin Lin berada, Ma Hoa segera berlari ke situ,
meninggalkan Ang I Niocu yang berdiri memandang dan mengagumi merak yang indah bulunya itu.
Ma Hoa berlari masuk goa dan tiba-tiba saja terdengar bentakan hebat,
“Manusia tidak tahu malu! Kau akan membunuh kekasihku? Rasakan pembalasanku ini!” Dan tiba-tiba saja
melompat seorang wanita yang menyerangnya dengan sebuah pedang pendek.
“Lin Lin!” Ma Hoa berteriak nyaring dan penuh keheranan sambil mengelak dari serangan berbahaya itu.
“Ini aku... Ma Hoa…!”
Akan tetapi Lin Lin yang gilanya kumat kembali itu tidak mempedulikan seruan Ma Hoa, bahkan menyerang
terus sambil memaki-maki! Melihat hebatnya serangan itu, terpaksa Ma Hoa mencabut keluar sepasang
bambu runcingnya untuk digunakan menangkis dan menjaga diri.
Ma Hoa merasa heran, terkejut, dan kuatir melihat keadaan Lin Lin, akan tetapi karena ilmu pedang gadis
itu benar-benar lihai dan semua gerakannya sangat sulit untuk diduga, maka terpaksa Ma Hoa
mengerahkan seluruh ilmu kepandaiannya untuk menjaga diri dan menangkis semua serangan Lin Lin!
Kalau saja Ma Hoa belum memiliki ilmu silat bambu runcingnya yang amat lihai itu, pasti dengan mudah
saja dia sudah dirobohkan oleh Lin Lin, karena setelah mempelajari Ilmu Silat Han-le-kiam yang telah
diperbaiki pula oleh asuhan Bu Pun Su, Lin Lin benar-benar luar biasa dan lihai sekali. Terpaksa Ma Hoa
dunia-kangouw.blogspot.com
mengeluarkan kepandaiannya dan kedua batang bambu runcingnya lantas digerakkan secara hebat untuk
mempertahankan dirinya sehingga di dalam goa itu terjadilah pertandingan yang amat dahsyat.
Berkali-kali Ma Hoa berseru, “Lin Lin...! Aku adalah Ma Hoa, sahabat baikmu...!”
Tiga ekor burung yang melihat pertempuran ini, beterbangan di sekeliling mereka sambil mengeluarkan
suara keluhan bingung karena burung-burung itu, terutama Merak Sakti, tidak tahu harus membela yang
mana! Kedua nona itu sama-sama mereka kenal di Pulau Kim-san-to, dan ketika burung bangau yang
belum mengenal Ma Hoa hendak menyerang gadis berambut panjang itu dan membantu Lin Lin, tiba-tiba
Rajawali Emas dan Merak Sakti menahan dan mencegahnya sehingga ketiga burung itu seakan-akan
bertempur sendiri di udara!
Mendengar ribut-ribut itu, Ang I Niocu segera berlari menghampiri dan ia merasa terkejut sekali melihat
betapa Lin Lin melakukan serangan bertubi-tubi kepada Ma Hoa yang terus mempertahankan diri dengan
sibuknya.
“Enci Im Giok, lekas... lekas tangkap dia, agaknya dia sudah berubah ingatan!” seru Ma Hoa menahan isak.
Ang I Niocu berdiri bagaikan patung dan menjerit,
“Lin Lin...!”
Tiba-tiba suara ini seakan-akan menyadarkan Lin Lin dari keadaan yang tidak sewajarnya itu dan ia
menengok ke arah Ang I Niocu, lalu menjerit,
“Enci Im Giok...!”
Pedangnya terlepas dari pegangan dan tubuhnya terhuyung-huyung karena dia merasa pening sekali. Ang
I Niocu segera melompat memeluknya dan ternyata bahwa Lin Lin jatuh pulas di dalam pelukannya!
Maka melongolah Ang I Niocu dan Ma Hoa, saling berpandangan dengan mata terbelalak dan mulut
celangap. Mereka benar-benar tidak mengerti dan heran melihat Lin Lin. Baru saja mengamuk bagaikan
orang gila dan kini tiba-tiba saja jatuh tertidur pulas! Alangkah anehnya keadaan ini.
Ang I Niocu duduk sambil memangku kepala Lin Lin yang masih tidur pulas, sedangkan Ma Hoa lalu
memeriksa keadaan goa itu kalau-kalau ada orang lain berada di situ. Akan tetapi selain tiga burung besar
yang kini berjalan-jalan di depan goa, di situ tidak terdapat sesuatu lagi.
Beberapa lama kemudian, setelah Ang I Niocu dan Ma Hoa duduk menjaga Lin Lin yang sedang tidur, Lin
Lin menggerakkan tubuhnya dan membuka matanya. Dia bangun dan ketika melihat bahwa dia berada di
atas pangkuan Ang I Niocu, dia menggosok-gosok kedua matanya seakan-akan tidak percaya kepada
kedua matanya sendiri. Kemudian dia bangkit dan menubruk Ang I Niocu sambil menangis.
“Enci Im Giok...”
“Lin Lin, kau kenapakah...?” bisik Ang I Niocu sambil menahan tangisnya.
Kemudian, Lin Lin merasa betapa pundaknya dipeluk orang. Pada saat ia menengok dan melihat Ma Hoa,
ia segera merangkul dan menciumi muka Ma Hoa.
“Enci Hoa... kau juga datang…?”
“Ehh, ehhh, anak nakal! Betul-betulkah baru sekarang kau tahu bahwa aku telah datang?” tegur Ma Hoa.
“Mengapa tadi datang-datang kau menyerangku dengan begitu hebatnya sehingga hampir saja nyawaku
melayang ke alam baka?”
Lin Lin memandangnya dengan hati terheran-heran. “Apakah penyakitku itu sudah datang lagi? Ah,
celaka...” dan ia lalu menangis sedih.
Ma Hoa beserta Ang I Niocu kembali saling pandang dan melongo seperti tadi. Mereka benar-benar tidak
mengerti dan terheran-heran.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Lin Lin,” kata Ang I Niocu sambil memegang tangan gadis itu. “Tadi pada waktu Ma Hoa masuk ke dalam
goa ini, kau terus menyerangnya mati-matian, kemudian mendadak kau jatuh pulas! Apakah sebabnya
semua ini? Ceritakanlah semua pengalamanmu itu karena kami pun sedang merasa bingung melihat
betapa Susiok-couw Bu Pun Su membantu Hai Kong si keparat, dan sekarang melihat kau seperti ini lagi!
Ahhh, apakah gerangan yang telah terjadi sehingga menimbulkan peristiwa yang luar biasa ini?”
Lin Lin segera menuturkan semua pengalamannya, betapa Bu Pun Su terjatuh ke dalam kekuasaan Wi Wi
Toanio dan Hai Kong Hosiang, dan betapa kemudian dia terluka dan melakukan perjalanan bersama Cin
Hai yang akhirnya berhasil membinasakan Song Kun serta mendapatkan obat penawar pengaruh racun di
dalam tubuhnya, akan tetapi yang mengakibatkan datangnya ‘penyakit gila’ yang kadang-kadang
menyerangnya itu.
Ang I Niocu dan Ma Hoa mendengarkan dengan girang, dan juga cemas. Girang karena ternyata bahwa Bu
Pun Su melakukan hal yang aneh itu karena terpaksa dan hendak menolong jiwa Lin Lin, dan girang pula
bahwa Song Kun yang jahat berhasil ditewaskan oleh Cin Hai sehingga sebuah di antara syarat yang
diajukan oleh Ang I Niocu kepada tunangannya yaitu Lie Kong Sian, sudah terpenuhi. Akan tetapi mereka
merasa gelisah dan cemas mendengar akan keadaan Lin Lin yang kini terserang semacam penyakit yang
aneh.
“Dan sekarang kemanakah perginya Hai-ji dan Susiok-couw?” tanya Ang I Niocu kepada Lin Lin.
“Mereka sedang pergi kepada dukun Mongol pembuat obat yang kuminum untuk mencari keterangan
tentang pengaruh obat itu.”
Tiada habisnya mereka bercakap-cakap terutama Lin Lin dan Ang I Niocu. Lin Lin merasa gembira dan
bahagia sekali karena dapat bertemu dengan Dara Baju Merah yang dahulu dianggapnya telah tewas itu,
walau pun dia sudah mendengar dari Cin Hai bahwa Ang I Niocu memang masih hidup. Juga dia merasa
gembira mendengar akan pengalaman Ma Hoa yang juga terluput dari pada bahaya kematian bersama
tunangannya, yaitu Kwee An, kakak Lin Lin.
“Aku ingin sekali bertemu dengan An-ko, mengapa dia tidak ikut bersamamu? Aku telah rindu sekali
kepadanya,” kata Lin Lin yang teringat kepada kakaknya.
“Dia bersama Suhu dan Yo-pekhu sedang pergi menyelidiki keadaan goa rahasia yang sudah ditemukan
itu,” kata Ma Hoa yang lalu menuturkan semua pengalamannya ketika melihat pertempuran Bu Pun Su.
Tiga orang dara yang cantik jelita itu duduk bercakap-cakap dengan gembira sambil menanti kembalinya
Cin Hai dan Bu Pun Su untuk diajak bersama menemui Kwee An, Nelayan Cengeng dan Yousuf. Dan
dalam kesempatan ini, tidak lupa Ma Hoa menggoda Ang I Niocu dan menceritakan kepada Lin Lin bahwa
Dara Baju Merah itu sekarang telah mempunyai calon.
“Adik Hoa, kalau kau tidak mau diam, akan kuberitahukan kepada Kwee An bahwa kau telah berlaku nakal
sekali, supaya kau dihajarnya!” kata Ang I Niocu balas menggoda.
Sementara itu, Lin Lin merasa gembira sekali dan sambil memeluk bahu Ang I Niocu, dia pun berbisik,
“Kionghi (Selamat), Enci Im Giok. Semenjak dulu, di dalam hati aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu
dan ternyata doaku itu kini terkabul! Berita ini benar-benar membuat aku merasa bahagia sekali!” Dan
ucapan ini memang sejujurnya karena dari kedua mata Lin Lin menitik keluar dua titik air mata yang
membuat Ang I Niocu merasa terharu sekali dan dia menggunakan sapu tangannya untuk mengeringkan
pipi Lin Lin.
“Terima kasih, Adikku, terima kasih,” jawabnya sederhana.
********************
Mari kita ikuti perjalanan Bu Pun Su dan Cin Hai yang berlari cepat menuju ke hutan di mana mereka
bertemu dengan dukun Mongol itu. Pada waktu mereka tiba di tempat itu, pondok di mana kemarin mereka
bertemu dengan dukun Mongol, kini hanya terjaga oleh empat orang Mongol saja, sedangkan di dalam
pondok nampak sunyi saja.
Kemudian ternyata bahwa yang berada di dalam pondok hanya Si Dukun Mongol sendiri, maka cepat Bu
dunia-kangouw.blogspot.com
Pun Su bertanya kepadanya.
“Dukun pikun! Jawab pertanyaanku baik-baik dan sejujurnya, kalau tidak, tentu kau akan kulempar ke
neraka!” baru kali ini Cin Hai melihat suhu-nya mengeluarkan ancaman dan marah-marah, dan ia maklum
bahwa hal itu terjadi karena kakek itu merasa gelisah dan kuatir mengingat akan keadaan Lin Lin. “Obatnya
yang kau sebut daun semut merah itu, benar-benarkah obat itu penolak racun ular hijau?”
“Benar, siapa yang meragu-ragukan obat buatan Mahambi si Dukun Dewa?” jawab kakek dukun itu dengan
suara bangga.
“Apakah setelah minum obat itu, orang yang terkena racun ular hijau akan sembuh sama sekali?”
“Pasti sembuh, seketika itu juga akan pulih semua kekuatannya. Akan lenyaplah semua racun yang
menguasai tubuhnya dan tertolonglah nyawanya dari cengkeraman maut!” dia menjawab.
“Apakah tidak ada pengaruh lain yang merusak dari obat itu?”
“Tidak, tidak! Obat itu adalah semacam racun pula yang setelah masuk ke dalam tubuh, merupakan racun
penolak dan pengusir racun ular hijau! Ketahuilah, dulu aku sendiri pun tidak dapat mencarikan obat
sebagai penolak racun ular hijau itu, hingga pada suatu hari, ketika aku mencari daun-daun obat di dalam
hutan, aku melihat seekor ular hijau sedang dikeroyok oleh semut-semut merah itu dan matilah si ular hijau!
Aku lalu menyelidiki dan ternyata bahwa semut-semut merah itu bersarang di bawah sebatang pohon
bunga yang kembangnya kecil berwarna merah pula. Semut-semut itu sudah mendapatkan racunnya dari
sari kembang inilah, dan karena itu pula kembang itu kusebut kembang semut merah yang mengandung
racun berbahaya sekali, akan tetapi menjadi obat satu-satunya untuk mengalahkan racun ular hijau yang
jahat!”
Bu Pun Su memandang dengan tajam dan penuh perhatian dan matanya yang awas itu dapat melihat
bahwa dukun itu tidak membohong.
“Akan tetapi mengapa orang yang kuobati dengan obatmu itu tiba-tiba terserang penyakit lupa ingatan dan
marah-marah bagai orang gila kemudian tertidur setelah marah-marah?” tanyanya.
Dukun itu tersenyum dan mengangguk-angguk. “Memang, memang demikian,” katanya dan sepasang
matanya yang hitam bersinar-sinar, “Tadi aku lupa menceritakan padamu. Racun semut merah itu akan
mengalir pada seluruh urat syaraf dan membersihkan serta menghalau semua racun ular hijau. Pada uraturat
yang besar, peristiwa itu tidak akan mengakibatkan sesuatu, akan tetapi pada waktu kedua macam
racun itu berperang di dalam urat syaraf di bagian otak, maka ada kemungkinan orang akan terpengaruh
dan menjadi marah-marah serta lupa ingatan untuk sementara waktu, yaitu pada saat kedua racun itu
saling gempur!”
Cin Hai tak sabar untuk berdiam diri, “Sampai berapa lamakah orang itu akan terganggu seperti itu? Dapat
sembuh kembali atau tidak?” tanyanya tak sabar.
“Tidak ada bahayanya dan hanya untuk sementara waktu saja tergantung dari lamanya orang terkena
racun ular hijau. Kalau ia terkena racun selama satu bulan, maka kira-kira satu bulan pula dia akan
mengalami hal demikian, kalau baru dua tiga hari, paling lama tiga hari pula dia akan terserang hal itu.”
Bu Pun Su dan Cin Hai menarik napas lega. Lin Lin baru terserang racun kurang lebih sepekan, maka
untuk sepekan lamanya Lin Lin akan terserang penyakit aneh itu.
“Dan di mana perginya Hai Kong dan kawan-kawannya?” tanya pula Bu Pun Su.
“Ke mana lagi kelau tidak mengambil harta pusaka di goa itu?” Dukun Mahambi berkata sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Manusia-manusia semacam mereka itu yang dipikirkan hanya harta
benda belaka dan untuk mendapatkan harta benda, mereka tidak segan-segan melakukan segala macam
kejahatan dan kekejaman.”
Bu Pun Su lalu berkata kepada Cin Hai, “Cin Hai, kau kembalilah kepada Lin Lin dan ajak dia mencari Ang I
Niocu dan kawan-kawan lain yang berada di kota Lan-couw. Aku akan menghalangi mereka mengambil
harta pusaka itu. Kalau harta yang demikian besarnya terjatuh ke dalam tangan orang-orang jahat, maka
harta benda itu akan menimbulkan berbagai kejahatan pula.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Cin Hai mengangguk dan mereka lalu meninggalkan pondok itu. Cin Hai berlari kembali ke goa di mana Lin
Lin berada sedangkan Bu Pun Su berkelebat pergi ke goa Tun-huang!
Bu Pun Su berlari cepat dan sebentar saja ia tiba di goa Tun-huang, di mana ia melihat banyak orang
Mongol menjaga dengan senjata di tangan. Dia tidak melihat adanya Hai Kong dan kawan-kawannya,
karena itu dia dapat menduga bahwa pendeta jahat beserta kawan-kawannya itu tentu berada di dalam
goa, sedang mengambil harta pusaka.
Dengan sekali melompat, Bu Pun Su sudah berada di depan goa, melewati kepala para penjaga sehingga
para penjaga itu menjadi terkejut sekali. Mereka tadinya menyangka bahwa seekor burung besar terbang
melayang dan menyambar turun, tidak tahunya yang turun adalah seorang kakek tua yang mereka kenal
baik, yaitu kakek jembel yang sakti dan yang telah menghalau semua lawan secara luar biasa itu.
“Hai Kong, Wi Wi, dan yang lain-lain! Jangan harap kalian akan dapat mengangkut pergi harta pusaka itu
selama aku masih berada di sini!”
Tiba-tiba, Hai Kong Hosiang, Wi Wi Toanio, Balaki dan kawan-kawan mereka keluar dari goa itu dengan
muka merah karena marah.
“Bu Pun Su, jangan kau berlaku seperti anak kecil! Kau sudah mencuri harta pusaka itu dan membawanya
pergi, sekarang kau masih berani datang dan berpura-pura melarang kami mengambil harta pusaka itu.
Sungguh kurang ajar dan tak tahu malu sakali!”
“Apa katamu?!” bentak Bu Pun Su kepada Hai Kong Hosiang.
“Harta Pusaka itu sudah kau curi dan kau bawa pergi, mau berkata apa lagi?” Hai Kong Hosiang balas
membentak marah dan segera menyerang dengan tongkat ularnya kepada Bu Pun Su. Juga Balaki segera
menyerang dengan senjatanya, diikuti oleh Wi Wi Toanio yang mencabut tusuk konde pemberian Bu Pun
Su dahulu dan menyerang Bu Pun Su dengan tusuk konde itu!
Menghadapi serangan Hai Kong Hosiang dan Balaki, Bu Pun Su tak menaruh hati gentar sedikit pun, akan
tetapi serangan Wi Wi Toanio dengan tusuk konde itu benar-benar membuat ia gentar juga. Ia maklum
bahwa dengan mengandalkan pengaruh tusuk konde itu ia tidak akan mau menurunkan tangan kepada Wi
Wi Toanio, maka ia lalu mengelak cepat dan berkata,
“Aku masih belum mengerti maksud omongan kalian! Biar kuperiksa harta pusaka itu!”
Secepat kilat ia lalu menerobos masuk ke dalam goa dan tidak lama kemudian ia keluar lagi kemudian
berdiri di depan Hai Kong Hosiang dan kawan-kawannya sambil tertawa bergelak,
“Ha-ha-ha! Puluhan anjing kelaparan berebut tulang, namun akhirnya secara diam-diam anjing tua
membawa lari tulang itu dengan enaknya. Ha-ha-ha-ha!” Bu Pun Su nampak demikian gembira dan Hai
Kong Hosiang beserta kawan-kawannya memandang dengan marah.
“Kau maksudkan bahwa yang mengambil harta pusaka itu adalah jago tua Hok Peng Taisu?” tanya Hai
Kong Hosiang sambil memandang tajam.
“Dasar kau yang bodoh,” tegur Bu Pun Su. “Apakah kau tidak membaca tulisan di atas itu? Dengan tongkat
bambunya Hok Pek Taisu membuat syair yang diukir pada dinding tanah, dan memang perbuatannya itu
cocok sekali dengan cita-citaku. Ha, kalian boleh makan angin! Memang sudah menjadi bagian dan
hukuman bagi kalian orang-orang yang serakah dan bodoh!”
“Lu Kwan Cu, kau harus mendapatkan kembali harta pusaka itu untukku!” tiba-tiba Wi Wi Toanio berseru
sambil mengangkat tinggi-tinggi tusuk konde yang dipegangnya.
Akan tetapi kini Bu Pun Su tidak tunduk kepadanya seperti dahulu. “Wi Wi, sekarang kau tidak perlu
menggertak kepadaku lagi! Rahasia kita sudah diketahui orang lain dan bukan merupakan rahasia lagi, Apa
peduliku kalau kau hendak menceritakan rahasia itu kepada orang sedunia lagi? Mulai saat ini, aku Bu Pun
Su tidak bernama Lu Kwan Cu lagi dan kau tak dapat mempengaruhi Bu Pun Su! Selamat tinggal!”
“Lu Kwan Cu, pada suatu hari aku akan membunuhmu!” Wi Wi Toanio menjerit, akan tetapi Bu Pun Su
dunia-kangouw.blogspot.com
telah berkelebat pergi dari situ.
Hai Kong Hosiang dan kawan-kawannya tidak berani menghalangi kepergiannya karena mereka maklum
bahhwa kakek jembel itu bukanlah lawan yang ringan, sedangkan harta pusaka sekarang telah tercuri
orang lain, maka untuk apa mereka harus memusuhi kakek jembel itu?
Ternyata bahwa harta pusaka itu memang benar sudah tercuri orang. Beberapa orang penjaga bangsa
Mongol yang ditugaskan menjaga di situ ketika Hai Kong Hosiang dan kawan-kawannya pergi mengantar
Bu Pun Su ke rumah di mana dukun Mongol ditahan, tiba-tiba diserang oleh seorang tua yang menotok
mereka secara cepat sehingga mereka tak sempat melihat jelas siapa yang menotok roboh mereka itu.
Orang ini lalu masuk ke dalam lubang penyimpanan harta pusaka dan setelah mengambil semua benda
berharga itu, kemudian mempergunakan tongkatnya untuk menuliskan atau mengukir syair di dinding yang
berbunyi seperti berikut:
Harta pusaka di goa rahasia, telah banyak menimbulkan sengketa! Harta kembali kepada rakyat jelata,
sebagai peninggalan nenek moyang mereka!
Tadinya Hai Kong Hosiang bersama kawan-kawannya mengira bahwa yang melakukan perbuatan itu
adalah Bu Pun Su sendiri, akan tetapi mereka masih merasa ragu-ragu oleh karena mereka pun tahu
bahwa tulisan itu dilakukan oleh seorang berilmu tinggi yang menggunakan tongkat bambu untuk dipakai
mengukir, sedangkan Bu Pun Su tak pernah membawa tongkat bambu. Baru sesudah Bu Pun Su
menyebut nama Hok Peng Taisu, mereka teringat akan kakek sakti itu, maka mereka segera mengambil
keputusan untuk mencari kakek itu dan merampas kembali harta pusaka yang telah dicurinya.
Mereka ini tidak tahu bahwa secara diam-diam Bu Pun Su yang tadi berkelebat keluar, sebenarnya belum
pergi dan mendengarkan perundingan mereka mengenai niat mereka mencari Hok Peng Taisu, dan setelah
mendengar dengan jelas, barulah Bu Pun Su pergi dengan cepat ke goa di mana Lin Lin berada…..
********************
Ketika Cin Hai yang disuruh kembali kepada Lin Lin oleh Suhu-nya itu tiba di goa, dengan girang ia bertemu
dengan Ang I Niocu dan Ma Hoa. Dia kemudian menceritakan segala pengalamannya dan bergiranglah
semua orang mendengar bahwa penyakit aneh yang menyerang Lin Lin itu hanya akan berlangsung
selama sepekan.
“Agaknya penyakit Adik Lin hanya timbul pada saat ia melihat wajah baru dan mendapat kekagetan,”
berkata Ang I Niocu setelah mendengarkan semua penuturan mereka. “Pada saat ia terserang kemarahan
pada pertama kalinya, kebetulan ia baru sadar dari pingsan dan melihat Susiok-couw ia lalu menyerangnya.
Yang kedua kalinya ketika tiba-tiba Ma Hoa muncul, dia menjadi terkejut dan lalu menyerangnya pula.
Bukankah kau terkejut ketika melihat Ma Hoa muncul secara tiba-tiba itu, Lin Lin?”
Gadis itu sambil menarik napas panjang menggeleng kepala. “Entahlah, aku tidak ingat sama sekali Enci
Im Giok, seakan-akan aku mimpi.”
“Lebih baik kau dan Cin Hai tinggal saja di tempat ini sampai sepekan lamanya, karena sungguh tak enak
kalau kau pergi ke tempat ramai dan tiba-tiba mengamuk pada orang!” kata Ma Hoa. Semua orang
menyetujui nasehat ini.
Tiba-tiba Cin Hai berkata kepada Lin Lin sambil memegang tangan kekasihnya itu agar tidak
mengagetkannya, “Lin Lin, pusatkan pikiranmu karena Suhu sudah datang. Ingatlah baik-baik bahwa dia
yang datang itu adalah Suhu kita sendiri!”
Lin Lin mengangguk-angguk dan maklum bahwa apa bila tidak memusatkan pikirannya, mungkin melihat
kedatangan kakek itu akan menimbulkan penyakitnya!
Benar saja, Bu Pun Su bertindak masuk dan semua orang memberi hormat kepadanya, Bu Pun Su dengan
tenang lalu menceritakan mengenai perbuatan Hok Peng Taisu yang mendahului semua orang mengambil
harta pusaka itu untuk dikembalikan kepada rakyat, karena memang harta itu dulu telah dirampok dari
rakyat jelata. Ma Hoa merasa girang sekali mendengar tentang suhu-nya ini akan tetapi dia merasa kecewa
juga mengapa suhu-nya itu tidak datang menemuinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Dan satu hal yang amat penting lagi harus kita perhatikan,” kata pula Bu Pun Su. “Hai Kong Hosiang dan
kawan-kawannya kini berusaha merampas kembali harta pusaka itu dan mengejar Hok Peng Taisu. Ma
Hoa, kau sebagai muridnya harus memberi tahu hal ini kepada Suhu-mu supaya dia dapat berjaga-jaga
dan kalau perlu, kita semua harus membantunya. Hai Kong Hosiang beserta kawan-kawannya cukup lihai
dan kecurangan serta kecerdikan Hai Kong Hosiang merupakan hal yang sangat berbahaya. Lin Lin, kau
tinggal dengan Cin Hai di sini sampai sepekan, setelah itu barulah kalian boleh pergi ke Goa Tengkorak
menyusulku. Nah, aku pergi!”
Sehabis berkata demikian, kakek jembel yang sakti itu lalu bertindak keluar. Terdengar suaranya di luar
menggema, “Tiga burung kubawa serta!”
Ketika semua orang keluar untuk melihat, ternyata kakek itu telah tak nampak lagi, hanya kelihatan tiga
ekor burung besar itu terbang tinggi ke timur.
Ang I Niocu berkata kepada Lin Lin dan Cin Hai, “Kami berdua hendak pergi ke rumah Paman Yo lebih dulu
agar mereka tidak menanti-nanti kami. Kami akan berdiam di sana menunggu kalian berdua.”
“Enci Im Giok, janganlah kau dan kawan-kawan pergi dahulu sebelum aku dan Hai-ko menyusul ke sana,”
kata Lin Lin, yang sebetulnya ingin sekali pergi bersama dan bertemu dengan ayah angkatnya.
Ang I Niocu dan Ma Hoa berjanji akan menanti sampai sepekan, lalu mereka juga pergi meninggalkan goa
itu. Tinggallah kini Cin Hai dan Lin Lin berdua di tempat yang sunyi itu.
“Lin-moi, sepekan bukanlah waktu yang lama, akan tetapi tidak baik kalau selama itu kita hanya
menganggur. Lebih baik kita bersemedhi dan membersihkan napas untuk melatih lweekang, sekalian
membantu bekerjanya obat di dalam tubuhmu.”
Lin Lin menyetujui usul ini dan bersama Cin Hai, dia lalu duduk bersila di dalam goa itu, bersemedhi
memperkuat tenaga dalamnya…..
********************
Sementara itu, Ang I Niocu dan Ma Hoa yang kembali ke Lan-couw untuk bertemu dengan Kwee An,
Nelayan Cengeng dan Yousuf, ketika tiba di kampung orang Turki itu, mereka mendengar hal yang baru
dan tak mereka sangka-sangka.
Kwee An, Nelayan Cengeng dan Yousuf, ketika mendengar tentang hal Lin Lin dan Cin Hai, segera
menyatakan keinginan mereka untuk menengok, akan tetapi Ang I Niocu melarangnya.
“Jangan, sebelum lewat sepekan, janganlah mengganggu Lin Lin seban munculnya wajah baru hanya akan
membangkitkan penyakitnya yang aneh. Aku telah berpesan bahwa apa bila sepekan telah lawat dan dia
telah sembuh, dia dan Cin Hai harus menyusul kita ke tempat ini.”
Kemudian, Kwee An segera menuturkan pengalamannya yang cukup menarik dan untuk mengetahui hal ini
lebih baik kita mengikuti perjalanan Kwee An dan Nelayan Cengeng. Sebagaimana diketahui, mereka
berdua ini mendapat tugas untuk menyelidiki peristiwa yang aneh yaitu mengapa Bu Pun Su sampai
membantu dan membela Hai Kong Hosiang kawan-kawannya yang jahat.
Mereka berdua pergi ke goa-goa Tun-huang karena menurut cerita Ang I Niocu, di situlah terjadinya adu
kepandaian yang hebat itu. Akan tetapi di situ hanya sunyi saja dan tidak terlihat orang-orang yang mereka
cari, hanya di depan goa rahasia tempat harta pusaka itu tersimpan, terlihat banyak orang Mongol menjaga
dengan tangan memegang senjata.
Nelayan Cengeng dan Kwee An mengintai dari balik gunung karang dan melihat penjaga-penjaga itu,
Nelayan Cengeng berkata,
“Mungkin sekali harta pusaka itu belum diambil. Mengapa kita tidak mempergunakan kesempatan ini untuk
merobohkan mereka dan mengambil harta pusaka itu sebelum Hai Kong Hosiang dan kawan-kawannya
kembali?”
Kwee An menjawab, ”Aku setuju sekali, akan tetapi, bagaimana apa bila ternyata Bu Pun Su Lo-cianpwe
datang dan mempersalahkan kita?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Jangan kuatir, betapa pun juga, aku tetap tidak pernah percaya bahwa orang sakti itu benar-benar hendak
membantu Hai Kong. Pastilah dia terkena pengaruh jahat. Hai Kong memang terkenal curang dan
mempunyai banyak tipu muslihat. Menurut dugaanku, tentu ada sesuatu yang memaksa Bu Pun Su untuk
menyerah dan kesempatan itu digunakan oleh Hai Kong Hosiang untuk memperalat tenaga Bu Pun Su
mengalahkan semua lawan dan mengambil harta pusaka itu. Kalau sekarang kita mendahului mereka,
berarti bahwa kita menolong Bu Pun Su, karena aku yakin bahwa betapa pun juga, di dalam hatinya, kakek
jembel yang sakti itu tidak suka melihat betapa harta pusaka itu terjatuh ke tangan orang-orang jahat.”
“Apa bila kita berhasil mengambil harta pusaka itu, harus kita apakan benda itu?” tanya Kwee An yang
berhati polos dan jujur.
Nelayan Cengeng tertawa sambil memandang pemuda itu, dan karena dia merasa geli maka dari kedua
matanya keluarlah air mata. “Ha-ha-ha! Bagi orang-orang seperti kita ini, untuk apakah harta benda yang
kotor itu? Aku pernah mendengar Yo Se Pu bercerita bahwa harta itu ialah milik rakyat jelata yang
dirampok, dan sebagian pula terdapat harta pusaka Kerajaan Turki yang juga menjadi korban perampokan.
Tentu sudah sepatutnya pula kalau harta benda itu dikembalikan kepada mereka yang berhak!”
“Yang berhak?” tanya Kwee An dengan heran. “Menurut cerita, harta itu telah terpendam ratusan tahun
lamanya, kalau memang dulunya datang dari rakyat jelata, maka siapakah yang berhak menerimanya
kembali?”
Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa halus dan menjawab pertanyaan itu, “Dari rakyat harus
dikembalikan kepada rakyat!”
Nelayan Cengeng dan Kwee An merasa terkejut sekali dan segera mereka menengok. Ternyata di atas
mereka sudah berdiri seorang kakek tua yang berkepala botak dengan memegang sebatang tongkat
bambu warna kuning. Mereka tercengang sekali karena maklum bahwa kakek ini tentu seorang berilmu
tinggi, kalau tidak, tak mungkin dia bisa datang tanpa terdengar sedikit pun oleh mereka.
“Apakah Ji-wi (Tuan Berdua) masih ada hubungan dengan seorang gadis bernama Ma Hoa?” tiba-tiba
kakek botak itu bertanya.
Nelayan Cengeng lalu tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Hok Peng Taisu, silakan kau turun agar kami
dapat memberi penghormatan yang layak!”
Kakek botak itu tertawa pula dan tubuhnya melayang turun bagaikan sehelai daun kering ringannya.
“Nelayan Cengeng, biar pun matamu mudah mengeluarkan air mata, namun harus dipuji ketajamannya,”
katanya.
Nelayan Cengeng memang cerdik dan melihat seorang kakek lihai menyebut nama Ma Hoa, dia lalu
teringat akan cerita gadis itu tentang suhu-nya yang baru, maka dia sengaja menyebut namanya.
Sedangkan Hok Peng Taisu tadi melihat betapa Nelayan Cengeng itu tertawa sambil mengeluarkan air
mata maka mudah saja baginya untuk menerka siapa adanya kakek aneh ini.
“Bagaimana dengan murid kita itu?” tanya Hok Peng Taisu.
“Baik, baik, dan kuhaturkan terima kasih kepadamu yang sudah memberi bimbingan pada dia. Kepandaian
yang kau berikan padanya dalam beberapa bulan saja itu tidak mungkin dapat kuberikan dalam sepuluh
tahun!” jawab Nelayan Cengeng sejujurnya.
“Ahh, memang kau benar-benar mempunyai sifat betina, mudah menangis dan suka puji memuji. Sudahlah,
Kong Hwat Lojin, sekarang mari kita bicara tentang hal penting. Ehh, siapakah anak muda ini?”
“Dia adalah calon suami murid kita.”
Hok Peng Taisu mengangguk-angguk dan memandang dengan kagum. Baru mendengar pertanyaan Kwee
An mengenai harta itu tadi saja sudah membuat dia dapat menghargai sikap dan kebersihan hati pemuda
itu.
“Sekarang dengarlah kalian. Kedatanganku ke tempat ini bukanlah tanpa maksud. Aku mendengar tentang
dunia-kangouw.blogspot.com
perebutan harta pusaka itu, dan karenanya aku ingin menggunakan kesempatan selagi mereka itu saling
gempur dan berebut, aku hendak mengambil harta pusaka itu!”
Nelayan Cengeng memandangnya tajam, “Untuk apakah harta itu bagimu, Taisu?”
“Ha-ha-ha-ha! Kini kau mengajukan pertanyaan yang bodoh sakali. Kau boleh menjawab sendiri
pertanyaan itu dengan jawaban yang kau berikan kepada pemuda ini tadi!”
Nelayan Cengeng mengangguk-angguk. “Kalau begitu, aku setuju membantumu.”
Kakek botak itu lalu berkata, “Memang aku perlu sekali dengan bantuan kalian. Aku akan mengambil harta
itu dan kalian beserta Ma Hoa dan yang lain-lain berkewajiban untuk menjalankan tugas membagi-bagikan
harta pusaka itu kepada rakyat jelata yang miskin. Bagaimana, sanggupkah kalian?”
Tentu saja Nelayan Cengeng dan Kwee An langsung menyatakan kesanggupan mereka. Kemudian, Hok
Peng Taisu meminta mereka menanti sebentar dan sekali berkelebat saja kakek botak itu telah lenyap dari
pandangan mata.
Nelayan Cengeng menarik napas panjang lantas berkata, “Entah mana yang lebih tinggi kepandaian Kakek
Botak ini dengan Kakek Jembel. Pada dewasa ini, kedua orang itulah yang menduduki tingkat tertinggi
dalam dunia persilatan.”
Kwee An juga merasa kagum melihat kelihaian Hok Peng Taisu dan mereka berdua lalu mengintai ke arah
goa itu. Mereka melihat betapa kakek itu bergerak cepat sekali laksana seekor burung elang menyambarnyambar
dan tahu-tahu semua penjaga sudah tertotok roboh olehnya.
“Bukan main!” seru Kwee An dengan kagum sekali.
Tadi dia melihat dengan baik betapa kakek botak itu mempergunakan tongkat bambunya untuk menotok
dan tiap totokannya ternyata berhasil baik dan gerakannya demikian cepat sehingga serangannya ini tak
memberi kesempatan sama sekali kepada para penjaga itu untuk melawan atau pun melihatnya!
Tidak lama kemudian, kembali kakek botak itu keluar dari goa dan menuju ke tempat mereka dan sekarang
dia telah membawa buntalan besar yang nampaknya berat sekali. Ternyata bahwa kakek botak itu telah
menggunakan mantel luarnya untuk membungkus semua harta pusaka yang banyak itu dan
mengangkutnya keluar dalam waktu yang amat cepatnya.
“Nah, kalian terimalah ini. Memang benar kata-katamu tadi. Kong Hwat Lojin, di antara harta pusaka itu
terdapat mata uang emas yang memakai cap huruf-huruf Turki. Tentang pembagiannya terserah kepada
kalian, aku percaya penuh kepadamu. Tugasku hanyalah mengambil harta itu, dan untuk membagikannya
kepada yang berhak, terserah padamu. Nah, aku pergi dulu!” Dan sebelum Kwee An mau pun Nelayan
Cengeng dapat membuka mulut, kakek botak itu telah lenyap dari situ!
Nelayan Cengeng dan Kwee An lalu membawa pulang buntalan itu ke rumah Yousuf dan menceritakan
semua pengalamannya. Saat mereka memeriksa harta pusaka itu, ternyata memang terdapat banyak mata
uang emas dari Turki jaman dahulu, karena itu Nelayan Cengeng lalu memberikan mata uang yang banyak
sekali itu kepada Yousuf dan berkata,
“Saudara Yo, bangsamulah yang berhak menerima sebagian dari pada harta ini. Bawalah kembali ke Turki,
sedangkan bagian lain akan kubagi-bagikan kepada rakyat yang sangat membutuhkannya.”
Yousuf menerima harta pusaka itu sambil berlinang air mata. “Kedudukan Pangeran Tua yang kini menjadi
Raja amat lemah karena miskinnya dan Pangeran Muda menggunakan kesempatan ini untuk membeli
orang-orang pandai dengan emas. Maka pemberian ini merupakan pertolongan yang datangnya dari Tuhan
Yang Agung, karena harta pusaka ini akan dapat digunakan membiayai pembangunan Kerajaan Turki.”
“Terserah kepadamu, Saudaraku. Aku cukup percaya dan tahu akan kebijaksanaanmu!”
Yousuf lalu menyuruh orang membuat kantung-kantung dari kulit kambing untuk tempat menyimpan
sekalian harta pusaka itu.
Demikianlah pengalaman Nelayan Cengeng dan Kwee An seperti yang mereka tuturkan kepada Ang I
dunia-kangouw.blogspot.com
Niocu dan Ma Hoa.
“Kalau demikian, memang telah ada persesuaian antara Hok Peng Taisu dan Bu Pun Su Susiok-couw,”
kata Ang I Niocu. “Kita harus menjalankan tugas membagi-bagikan harta pusaka itu dengan baik.”
“Harta ini harus cepat dibagikan dan tidak boleh ditunda-tunda lagi, oleh karena Hai Kong Hosiang tentu
takkan tinggal diam saja kalau mengetahui bahwa benda itu berada pada kita,” kata Kwee An. “Maka lebih
baik kita segera melakukan tugas itu tanpa menundanya lagi.”
“Akan tetapi, bagaimana dengan Lin Lin dan Cin Hai? Apakah kita tidak harus menunggu sampai Lin Lin
sembuh?” Ma Hoa berkata ragu-ragu.
“Tak perlu,” jawab Ang I Niocu. “Bukankah Susiok-couw sudah memberi perintah kepada mereka untuk
menyusul ke Goa Tengkorak kalau Lin Lin sudah sembuh? Kita berangkat dulu dan kelak kita dapat
bertemu dengan mereka di timur.”
“Biarlah aku yang menanti mereka di sini dan akan kuberitahukan kepada mereka tentang semua ini,”
Yousuf menyatakan kesanggupannya.
Semua orang telah menyetujui keputusan ini. Harta benda itu lalu dibagi menjadi empat kantung dan
mereka, yaitu Nelayan Cengeng, Ang I Niocu, Ma Hoa, serta Kwee An lalu masing-masing mendapat
sekantung.
Setelah berpamit kepada Yousuf serta kawan-kawannya, empat orang pendekar itu pergi meninggalkan
Lan-couw yang memberi kenang-kenangan hebat kepada mereka. Mereka menuju ke timur dan di
sepanjang jalan mereka membagi-bagikan harta itu kepada rakyat miskin. Pemberian ini dilakukan secara
diam-diam dan tanpa diketahui oleh mereka yang diberi sehingga tentu saja terjadi kegemparan hebat
karena banyak sekali orang miskin tahu-tahu menemukan beberapa potong emas dan permata di dalam
rumah mereka. Maka timbullah desas-desus di sana-sini bahwa Kwan Im Pouwsat (Dewi Kwan Im) telah
turun ke dunia memberi pertolongan kepada orang-orang miskin yang sedang menderita sengsara…..
********************
Setelah tinggal di dalam goa batu karang itu sepekan lamanya, akhirnya kesehatan Lin Lin sudah pulih
kembali seperti sedia kala. Penyakitnya yang aneh, yaitu gangguan pada urat syaraf di otaknya yang
ditimbulkan oleh obat kembang semut merah itu telah lenyap sama sekali.
Hal ini dapat dia rasakan karena kalau biasanya tiap hari dia sering merasakan kepalanya kadang-kadang
berdenyutan keras sekali hingga Cin Hai terpaksa memegang tangannya dan mengalirkan hawa ke dalam
tubuh kekasihnya itu untuk membantu dan memperkuat jalan darah pada otaknya, sekarang denyutan
kepala itu telah hilang sama sekali! Bahkan ketekunannya berlatih dan semedhi membuat dia dan Cin Hai
mendapat kemajuan yang lumayan.
Sepasang teruna remaja itu lalu pergi menuju ke rumah Yousuf dan ketika Lin Lin berlutut di hadapan ayah
angkatnya, Yousuf mengelus-elus rambut gadis itu dengan hati terharu dan mata merah, karena menahan
runtuhnya air matanya,
“Lin Lin, anakku yang baik. Aku mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Adil bahwa kau sudah
terbebas dari keadaan bahaya. Kalau kau bertemu dengan suhu-mu Bu Pun Su, sampaikanlah hormat dan
terima kasihku, karena sesungguhnya dialah yang sudah menolongmu.”
Lin Lin dan Cin Hai terkejut. “Apakah Yo-pekhu tidak ikut dengan kami ke timur?”
Yousuf menggelengkan kepalanya. Lin Lin memegang tangan ayahnya itu dan berkata, “Ayah, kau harus
ikut dengan kami ke timur. Hatiku takkan merasa tenteram kalau harus berpisah lagi dengan kau.”
Yousuf tersenyum dan memandang kepada Lin Lin dengan kasih sayang besar. “Anakku yang baik,
alangkah bahagianya perasaan hatiku mendengar ucapan itu. Ternyata Tuhan sudah memberi berkah yang
berlimpah-limpah kepada aku yang penuh dosa ini sehingga pada waktu usiaku telah tua, aku masih dapat
memperoleh seorang anak seperti engkau! Percayalah, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar bagiku
selain hidup dekat dengan engkau dan melihat kau berbahagia, melihat kau hidup beruntung dengan
suamimu dan bermain-main dengan cucuku kelak!” Mendengar ucapan terakhir ini, baik Lin Lin mau pun
dunia-kangouw.blogspot.com
Cin Hai menjadi merah mukanya.
“Kalau begitu, marilah kau ikut dengan kami ke timur, Ayah,” kata Lin Lin dengan girang.
Kembali Yousuf menggelengkan kepalanya. “Sekarang belum bisa, Anakku. Kau dan Cin Hai berangkatlah
dahulu menyusul Suhu-mu, karena aku masih mempunyai tugas yang amat penting.”
Kemudian orang Turki yang baik hati ini menuturkan tentang harta pusaka itu, dan juga menuturkan bahwa
Ang I Niocu dan yang lain-lain telah berangkat untuk melakukan tugas membagi-bagi harta pusaka kepada
rakyat jelata yang membutuhkannya.
“Sedangkan emas yang menjadi hak milik Kerajaan Turki, harus kuantarkan lebih dahulu ke negeriku
supaya dapat digunakan untuk membangunkan kembali kerajaan yang telah dikacau oleh Pangeran Muda.”
Karena dapat mempertimbangkan bahwa hal itu memang sangat penting dan memang sudah menjadi
kewajiban Yousuf untuk bekerja demi kebaikan negara serta bangsanya, maka terpaksa Lin Lin dan Cin Hai
tak dapat membantah pula.
“Hanya kuminta, Ayah, agar supaya kau jangan terlalu lama tinggal di negeri barat dan segera menyusul
kami ke timur. Kebahagiaanku takkan lengkap kalau kau tidak berada di dekatku.”
Sesudah melihat kekasihnya sembuh, Cin Hai lalu menuturkan mengenai tewasnya Pek I Toanio dan
Biauw Suthai di tangan Hai Kong Hosiang. Mendengar ini, bukan main marah dan terkejutnya Lin Lin, maka
sambil menangis, ia lalu mengajak Cin Hai untuk mampir di kampung itu, di mana jenazah Biauw Suthai
dan Pek I Toanio dimakamkan.
Lin Lin bersembahyang di depan kuburan guru dan suci-nya dan sambil menangis ia pun bersumpah,
“Suci dan Subo, aku bersumpah bahwa sakit hati ini pasti akan kubalaskan dan bangsat gundul Hai Kong
pasti akan mampus di dalam tanganku untuk membalas dendam hati Subo dan Suci.”
Setelah berdiam di makam subo dan suci-nya sampai setengah hari lamanya, Lin Lin lalu melanjutkan
perjalanannya bersama Cin Hai. Kebencian gadis itu terhadap Hai Kong Hosiang bertambah-tambah,
karena memang hwesio itu telah banyak membuat sakit hati kepadanya, bahkan hwesio itu akhir-akhir ini
sudah melukainya dan kalau tidak tertolong oleh obat kembang semut merah, tentu jiwanya akan melayang
pula!
Cin Hai maklum akan perasaan hati kekasihnya, maka dengan lemah lembut dia berkata, “Lin-moi,
janganlah kau berkuatir. Aku pun bersumpah untuk menebus kesalahanku yang dulu telah melepaskan
hwesio itu dan tidak membinasakannya sehingga dia masih hidup dan kini mendatangkan mala petaka
pula.”
Lin Lin memandang kekasihnya dan tersenyum manis menghibur.
“Koko yang baik, semua itu bukan salahmu, sama sekali bukan!”
Melihat senyum manis kembali telah menghias bibir gadis yang sangat dicintanya itu, hati Cin Hai menjadi
gembira sekali karena dia pun tahu bahwa kekasihnya telah melupakan kesedihannya.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan penuh kegembiraannya dan kebahagiaan yang hanya dapat
dirasakan oleh sepasang teruna remaja pada waktu melakukan perjalanan bersama! Dalam
kegembiraannya ini, sering kali mereka berhenti di bawah pohon yang besar dan Cin Hai teringat kembali
untuk meniup sulingnya, memenuhi permintaan Lin Lin. Gadis itu kini dapat pula menarikan Tarian Bidadari
dengan pedangnya dan di dalam pandangan mata Cin Hai, apa bila Lin Lin menari diiringi sulingnya, maka
gadis ini lebih menarik tariannya dari pada tarian Ang I Niocu sendiri!
Untuk membalas kebaikan Cin Hai yang telah meniup suling untuknya, maka ketika Cin Hai minta supaya
dia bernyanyi, Lin Lin tidak menolaknya. Gadis ini memang mempunyai suara yang merdu dan bagus,
maka nyanyiannya terdengar merdu sekali.
Memang, bagi siapa saja yang pernah mengalaminya, tentu akan mengaku bahwa tidak ada kegembiraan
penuh bahagia yang lebih nikmat dari pada berduaan dengan seorang tunangan yang saling mencinta
dunia-kangouw.blogspot.com
mesra, bercakap-cakap, bersendau gurau namun tetap saling menjaga kesusilaan sebagaimana layaknya
dilakukan oleh orang-orang sopan dan berbudi. Sekali saja kesusilaan dilanggar karena dorongan nafsu
yang ditimbulkan oleh iblis maka akan hancur leburlah kebahagiaan murni yang mereka nikmati.
Tetapi, Lin Lin dan Cin Hai adalah orang-orang muda yang sudah sama-sama mendapat gemblengan dan
didikan dari orang-orang bijaksana dan sakti, maka iman mereka telah menjadi kuat dan batin mereka
sudah bersih. Mereka telah menjadi majikan dari pada nafsu sendiri dan menganggap nafsu sebagai
hamba yang menjadi alat, bukan seperti halnya orang-orang lemah iman yang malah dikuasai dan
diperhamba oleh nafsu yang menunggangi mereka.
Pada suatu hari, ketika mereka tiba di sebuah hutan yang besar, mereka melihat dua orang berlari-lari
cepat dengan wajah seakan-akan sedang menderita ketakutan hebat. Dua orang itu terdiri dari seorang
laki-laki setengah tua yang bersikap gagah sekali dan yang memelihara kumis tebal menjungat ke atas di
kanan kiri hidungnya, matanya tajam dan sikapnya agung. Sedangkan orang kedua adalah seorang gadis
yang sangat cantik jelita, bermata jeli dan bermuka manis bukan main, akan tetapi pada waktu itu wajahnya
kemerah-merahan dan matanya mengandung kedukaan besar,
“Mereka seperti orang ketakutan, mari kita tolong!” kata Lin Lin dan Cin Hai mengangguk. Mereka lalu
menghadang di tengah jalan dan Cin Hai berseru,
“Ji-wi harap berhenti dulu!”
Kedua orang yang sedang berlari itu menahan kaki mereka dan dengan napas tersengal-sengal mereka
berhenti, memandang kepada Cin Hai dan Lin Lin dengan heran.
“Mengapa ji-wi berlari-lari seakan-akan ada yang mengejar ji-wi?” Lin Lin bertanya sambil memandang
dengan kagum dan hati suka kepada gadis manis tadi.
“Memang kami sedang dikejar-kejar orang, akan tetapi urusan ini adalah urusan bangsa kami sendiri dan
sedikit pun tidak ada sangkut pautnya dengan Ji-wi,” kata laki-laki tadi dengan suara gagah, menandakan
bahwa dia memiliki keangkuhan serta ketinggian hati, tidak suka minta tolong kepada orang lain.
Cin Hai tersenyum. “Sahabat, ketahuilah bahwa kami bukan bermaksud jahat tetapi kami hanya ingin
menolong kepadamu, yaitu apa bila kau berada dalam bahaya.”
“Memang aku dan anakku ini sedang berada dalam keadaan bahaya. Akan tetapi bagi seorang kepala suku
bangsa Haimi seperti aku, tak pernah aku minta tolong kepada lain orang untuk memusuhi bangsa sendiri!”
“Suku Haimi?” seru Cin Hai yang teringat akan penuturan Kwee An ketika pemuda itu dulu menceritakan
pengalamannya. “Apakah kau bukan Sanoko yang gagah dan nona ini Nona Meilani?”
Kedua orang itu tercengang. “Bagaimana kau dapat mengetahui nama kami?” Sonoko bertanya dengan
muka heran.
Lin Lin yang juga sudah mendengar penuturan itu dari Cin Hai, lalu berkata girang, “Nona Meilani, kau tentu
masih ingat kepada Kwee An, bukan?”
Mendengar nama ini disebut-sebut, Meilani menundukkan kepala dengan muka merah. “Dia... dia adalah
suamiku...”
“Benar,” kata Lin Lin yang sudah tahu pula akan ‘perkawinan’ itu. “Dan aku adalah bekas adik iparmu,
karena Kwee An itu adalah kakakku!”
Mendengar ucapan ini, Meilani mengeluarkan isak tangis, lalu dia maju menubruk Lin Lin. Dua orang gadis
itu berpelukan dengan mesra, dan Lin Lin mencium bau kembang yang luar biasa harumnya keluar dari
tubuh gadis bangsa Haimi yang cantik itu.
Juga Sanoko menjadi girang sekali. Ia cepat menjura kepada Cin Hai dan berkata, “Maaf, maaf! Tidak
tahunya kami bertemu dengan sanak keluarga sendiri. Tidak tahu siapakah nama enghiong yang mulia?”
“Siauwte bernama Sie Cin Hai.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Apakah kau juga masih keluarga Kwee An?” tanya Sanoko.
Cin Hai merasa ragu-ragu untuk menjawab, akan tetapi Lin Lin mendahuluinya.
“Dia itu adalah tunanganku.”
Meilani yang sudah pandai berbahasa Han, membelalakkan matanya yang sangat indah dan sambil
tersenyum manis hingga giginya yang hitam berkilauan itu nampak sedikit, ia bertanya kepada Lin Lin,
“Apakah artinya tunangan?”
“Tunangan adalah... calon suami.”
“Ahh...” Meilani kemudian berlari menghampiri Cin Hai, memeluknya dan mencium kedua pipinya.
Tentu saja Cin Hai menjadi kaget sekali sehingga matanya terbelalak lebar, dan mukanya menjadi merah
bagaikan udang direbus. Juga Lin Lin yang melihat hal ini menjadi heran sekali, akan tetapi sebagai
seorang wanita, dia menjadi cemburu dan wajahnya berubah pucat.
Sanoko agaknya tahu akan hal ini, maka cepat-cepat ia berkata,
“Nona, kebiasaan suku bangsa kami adalah bahwa setiap orang wanita berhak, bahkan diharuskan
memberi selamat kepada seorang mempelai laki-laki dengan cara seperti itu.”
Kini legalah hati Lin Lin, karena dia tadi melihat betapa wajah Cin Hai menjadi kemerah-merahan dan
dengan belaian kasih sayang seperti itu dari seorang gadis yang secantik Meilani, bukanlah hal yang boleh
dianggap ringan bagi pertahanan hati Cin Hai. Dan apa bila dia harus mendapat saingan dari seorang gadis
seperti Meilani, akan berbahayalah! Kecuali giginya yang hitam mengkilap, Meilani adalah gadis yang
jarang terdapat karena cantik jelitanya.
Meilani kembali menghampiri Lin Lin dan memeluknya. “Siapakah namamu, Adikku yang baik?” tanyanya.
“Panggil saja Lin Lin kepadaku,” jawab Lin Lin sambil tersenyum.
Diam-diam ia mengerling ke arah Cin Hai dengan pandangan tajam. Adakah Cin Hai juga mencium bau
kembang yang harum dan sedap itu? Demikian pikirnya.
“Sanoko Lo-enghiong, karena sudah kau ketahui bahwa kita adalah orang sendiri, maka ceritakanlah
mengapa kau bersama Nona Meilani berlari-lari dan siapa pula yang sedang mengejarmu?”
“Amat memalukan kalau diceritakan,” kata orang tua itu sambil menarik napas panjang, “Semua ini adalah
gara-gara keponakanku sendiri. Lenyap sudah sifat-sifat ksatria yang setia, gagah dan jujur, setelah dia
merantau dan memiliki kepandaian dari... orang-orang Han. Maafkan ucapanku ini, Sie-taihiap, aku tak
bermaksud menghina orang-orang Han.”
Cin Hai tersenyum dan mengangguk. “Siauwte juga tidak akan membela bangsa sendiri kalau memang dia
benar-benar jahat dan terus terang saja, di antara bangsa Han juga banyak yang jahat, sebagaimana
terdapat pula pada bangsa lain. Teruskanlah ceritamu, Lo-enghiong.”
Sanoko segera bercerita secara singkat. Ternyata bahwa biar pun sudah menjadi ‘janda’ yaitu setelah
ditinggal pergi oleh Kwee An saat baru saja melangsungkan ‘pernikahannya’ dengan Meilani, Meilani tetap
menjadi pujaan para pemuda bangsa Haimi. Akan tetapi, agaknya gadis itu telah mengalami penyakit patah
hati sehingga ia menolak tiap pinangan pemuda bangsanya. Menurut adat kebiasaan mereka, seorang
janda yang telah ditinggal oleh suaminya lebih dari seratus hari, maka dia berhak untuk menerima pinangan
laki-laki lain dan si suami itu apa bila telah kembali, tidak berhak lagi terhadap bekas isterinya.
Meilani tinggal menjadi janda kembang sampai berbulan-bulan, dan akhirnya ia jatuh hati juga pada
seorang pemuda yang baru saja kembali pulang dari perantauan, yaitu seorang pemuda pemburu yang
gagah berani bernama Manoko. Ketika Manoko mengajukan pinangan, maka pinangan itu diterima.
Akan tetapi, pada saat itu datanglah seorang pemuda keponakan Sanoko sendiri yang semenjak kecil telah
merantau ke daerah selatan dan telah mempelajari silat dari seorang guru bangsa Han. Ketika pemuda
yang bernama Saliban ini datang, maka semua orang mengaguminya karena dia memang benar-benar
dunia-kangouw.blogspot.com
pandai dan berilmu silat tinggi. Semua jago-jago Haimi jatuh dalam tangannya.
Juga orang-orang Haimi banyak yang membencinya, karena tenyata bahwa keponakan dari Sanoko itu
beradat buruk, jahat, dan sombong sekali. Dia bertingkah meniru lagak orang-orang Han, bahkan dia tidak
memelihara kumis dan cambang seperti orang Han, dan berbicara pun dia selalu mempergunakan bahasa
Han!
Semenjak datang dan kembali tinggal bersama bangsa sendiri, telah sering kali Saliban mengganggu anak
bini orang, dan semenjak ia datang, ia menaruh hati kepada Meilani, saudara misannya itu. Dia tidak mau
atau memang dia tidak suka mengikat diri dengan sebuah pernikahan dan niatnya hanya ingin menjadikan
Meilani sebagai kekasihnya saja! Tentu hal ini tidak dapat diterima oleh Meilani yang memang menaruh hati
benci kepada pemuda yang mempunyai lagak menjemukan itu.
Ketika pinangan Manako diterima, Saliban menjadi marah sekali. Dia lalu menggunakan kepandaian dan
pengaruhnya untuk menghasut teman-temannya kemudian mengadakan pemberontakan. Hal ini terjadi
pada hari perkawinan Meilani dengan Manako.
Tiba-tiba saja Saliban menyerang, sehingga terjadi pertempuran hebat di antara bangsa sendiri. Pengikutpengikut
Sanoko tak ada yang kuat melawan Saliban sehingga banyak yang menjadi korban, sedangkan
Manoko sendiri terluka pada pundaknya dan melarikan diri ke dalam hutan. Sanoko dan Meilani setelah
mengadakan perlawanan hebat, ternyata tak kuat menghadapi Saliban yang tangguh itu, maka mereka
melarikan diri, dikejar-kejar oleh Saliban dan kawan-kawannya yang bermaksud membunuh Sanoko,
mengangkat diri sendiri menjadi kepala suku dan memaksa Meilani menjadi kekasihnya!
Bukan main marahnya hati Cin Hai dan Lin Lin mendengar penuturan ini, dan pada saat Sanoko mengakhiri
cerita-ceritanya, tiba-tiba terdengar sorakan ramai dari depan.
“Itulah mereka telah datang, biarlah aku dengan anakku mengadakan perlawanan sampai titik darah
penghabisan!” kata Sanoko sambil bangun berdiri dan memegang pedangnya dengan sikap gagah. Juga
Meilani telah mencabut pedangnya dan bersiap sedia.
“Duduklah, Lo-enghiong, dan kau juga, Meilani. Biarkan aku yang menghadapi bangsat-bangsat itu!” kata
Lin Lin dengan gagahnya.
Meilani dan Sanoko ragu-ragu, akan tetapi Cin Hai berkata, “Benar, Lo-enghiong, biarkan tunanganku itu
menghadapi Saliban. Kau dan Nona Meilani sudah lelah, kini mengasolah sambil menonton!” Mendengar
kata-kata itu, mundurlah kedua orang ini dan membiarkan Lin Lin seorang diri menghadapi Saliban.
Benar saja, yang datang itu adalah serombongan orang Haimi terdiri dari belasan orang yang dipimpin oleh
seorang pemuda Haimi yang berpakaian seperti orang Han dan yang lagaknya sombong sekali. Melihat
betapa orang-orang Haimi yang masih muda-muda itu semuanya memelihara kumis yang melintang di
bawah hidung dan menjungat ke atas, tak dapat ditahan lagi Lin Lin tertawa geli, sedangkan Cin Hai tak
terasa lagi meraba-raba kulit bawah hidungnya yang masih halus dan belum ditumbuhi kumis itu.
Saliban melihat betapa seorang gadis Han yang cantik luar biasa dengan sikap gagah menghadang di
jalan, sedangkan Sanoko bersama Meilani hanya duduk di bawah pohon seakan-akan dilindungi oleh gadis
itu, menjadi terheran-heran dan melihat kecantikan Lin Lin, timbullah sikap kurang ajarnya. Ia tersenyum
dibuat-buat dan berkata,
“Nona cantik, apakah kau sudah mendengar nama Saliban yang gagah perkasa sehingga sengaja kau
datang menyambutku untuk berkenalan?”
“Jadi inikah tikus yang bernama Saliban? Eh, tikus, apa maksudmu mengejar Sanoko dan Meilani?” berkata
Lin Lin dengan suara mengejek.
“Lin-moi, dia itu bukan tikus! Lihat saja dia tidak berkumis, mungkin kumisnya itu telah dia sembunyikan di
belakang menjadi ekor! Dia ini lebih cocok disebut monyet buduk!” kata pula Cin Hai untuk mengejek orang
itu.
Bukan main marahnya Saliban mendengar ejekan-ejekan ini dan lenyaplah maksudnya hendak
mengganggu Lin Lin, berubah menjadi kebencian besar.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Dari mana datangnya dua ekor anjing kurang ajar ini?” dia membalas memaki dan sekali tangan kirinya
bergerak, sebatang piauw menyambar ke arah Cin Hai yang sedang duduk di bawah pohon dan sekali lagi
tangannya bergerak, maka sebatang piauw lain sudah pula menyambar ke leher Lin Lin!
Dengan tenang Cin Hai memungut ranting kayu yang terletak di dekatnya dan pada saat piauw itu
menyambar ke arahnya, dia menggerakkan ranting itu dan sekaligus piauw itu kena dipukul sedemikian
rupa sehingga piauw itu membuat gerakan membalik dan kini meluncur kembali ke arah kaki Saliban!
Sementara itu, piauw yang meluncur ke arah leher Lin Lin, disambut dengan sikap dingin oleh gadis itu.
Ketika piauw menyambar, dia lalu mengulur tangan dan berhasil menjepit piaiuw itu di antara jari-jari
tangannya, lalu melihat betapa piauw yang melayang ke arah Cin Hai telah di’retour’ oleh pemuda itu, dia
menanti sampai piauw itu melayang ke kaki Saliban dan saat melihat Saliban meloncat naik untuk
mengelak dari sambaran piauwnya sendiri, Lin Lin tersenyum dan ia pun lalu menyambitkan piauw yang
ditangkapnya tadi ke arah kaki Saliban lagi yang justru hendak turun. Terpaksa Saliban melompat lagi ke
atas sehingga dia telah berlompat-lompatan dua kali untuk menghindarkan diri dari sambaran piauwnya
sendiri!
“Ha-ha-ha! Lihat, benar-benar ia monyet yang pandai menari-nari!” Cin Hai tertawa sambil menuding ke
arah Saliban, sedangkan Lin Lin juga tertawa mengejek.
Sanoko dan Meilani terpaksa ikut tersenyum melihat kejenakaan dua orang muda yang ternyata dapat
mempermainkan Saliban. Diam-diam Meilani merasa kagum sekali melihat Lin Lin yang mempunyai cara
demikian indah untuk menerima sambitan piauw dari jarak dekat dan mengembalikannya ke arah kaki
lawan hanya untuk mempermainkannya.
Saliban makin marah, maka dia lalu mencabut pedangnya sambil berseru,
“Bangsat-bangsat kurang ajar! Kau mencampuri urusan suku bangsa lain?”
“Saliban, orang rendah! Jangan kau membuka mulut besar! Kami berdua memang selalu mencampuri
urusan semua orang-orang biadab macam kau yang hendak mengandalkan kejahatan untuk mencelakakan
orang. Kau sungguh tidak tahu malu. Meilani tidak suka menjadi permainanmu, mengapa kau hendak
memaksa?”
“Meilani adalah adik misanku. Dia telah menjadi janda dan memalukan sekali kalau dia menerima pinangan
orang lain! Itu berarti merendahkan nama keluarga kami! Kau berhak apakah mencampuri urusan rumah
tangga kami?”
“Dengarlah!” bentak Lin Lin dengan marah. “Meilani adalah kakak iparku karena ia adalah janda dari
kakakku Kwee An. Kakakku dan aku pun sudah setuju kalau dia menikah lagi dengan orang yang dipilihnya
sendiri atas persetujuan Ayahnya, kau ini mempunyai hak apa maka berani menghalanginya?”
“Bagus, kalau begitu biarlah kalian kubinasakan semua!”
Sambil berkata demikian Saliban lalu maju menubruk dan menyerang dengan pedangnya ke arah Lin Lin.
Akan tetapi Lin Lin dengan tenang sekali menghadapinya dengan tangan kosong.
“Adik Lin Lin, kau pergunakan pedangku ini!” kata Meilani karena merasa kuatir melihat betapa gadis itu
menghadapi Saliban yang lihai dengan tangan kosong saja.
Akan tetapi Lin Lin menoleh dan hanya tersenyum kepadanya sambil menjawab, “Untuk menghadapi
seekor tikus… ehh, monyet macam ini perlu apakah harus mempergunakan pedang? Tanganku cukup
untuk merobohkannya!”
Juga Cin Hai yang melihat gerakan Saliban walau pun cukup lihai namun masih belum cukup berbahaya
bagi Lin Lin, berkata kepada Meilani, “Tenanglah, Nona. Lin-moi cukup kuat menghadapinya dengan
tangan kosong.”
Sementara itu, Saliban yang merasa terhina sekali oleh ucapan Lin Lin, dengan nekat lalu menyerang
sambil mencurahkan seluruh kepandaian dan tenaganya. Akan tetapi, sambil menari-nari dan
mempergunakan Ilmu Silat Tarian Bidadari yang sudah dipelajarinya, Lin Lin mempermainkan Saliban
hingga Meilani memandang bengong. Bagaimana mungkin menghadapi seorang tangguh seperti Saliban
dunia-kangouw.blogspot.com
itu dengan menari-nari macam itu?
Kawan-kawan Saliban maju mengeroyok Lin Lin, akan tetapi tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat cepat
dan tahu-tahu beberapa buah senjata di tangan mereka melayang dan terpental ke mana-mana. Ternyata
Cin Hai yang begitu melihat gerakan mereka sudah mendahului dan dengan sekali bergerak saja ia telah
membuat pedang dan golok mereka terlepas dari pegangan!
Orang-orang Haimi itu terkejut sekali dan sebelum mereka tahu apa yang terjadi, tiba-tiba kembali tubuh
Cin Hai berkelebat dan bergerak, dan terdengar jerit kesakitan berkali-kali. Pada waktu mereka semua
meraba ke arah hidung mereka yang terasa sakit dan perih, ternyata bahwa Cin Hai sudah
mempergunakan kecepatan gerakannya untuk mencabuti kumis-kumis mereka itu seorang demi seorang!
Sambil melemparkan rambut-rambut kumis itu ke udara sehingga beterbangan tertiup angin, Cin Hai
tertawa-tawa sehingga Meilani yang melihat hal ini tak kuasa lagi menahan geli hatinya dan ikut tertawa
terkekeh-kekeh. Sanoko yang melihat kehebatan gerakan itu dengan kepala pening, juga tersenyum meski
di dalam hatinya dia merasa kasihan juga kepada anak buahnya yang memberontak itu karena bagi
seorang laki-laki Haimi, dicabut kumisnya sama dengan dicabut kepalanya dari leher!
“Kalian yang memberontak dan mengikuti bangsat Saliban, tidak pantas berkumis lagi!” kata Cin Hai sambil
memandang kepada belasan orang yang sekarang telah kehilangan kumisnya itu. Mereka menundukkan
kepala sambil menutupi hidungnya yang berdarah itu, dan merasa amat malu karena tanpa kumis bagi
mereka hampir sama dengan berdiri telanjang dihadapan orang lain!
“Kalau kalian sayang jiwa, hayo berlutut minta ampun kepada kepala suku yang asli, yaitu Sanoko!” teriak
Cin Hai lagi.
Orang-orang itu telah merasai kelihaian Cin Hai, dan kini mereka tidak berani membantah lagi, lalu berlutut
dan mengangguk-anggukkan kepala kepada Sanoko yang berdiri sambil memandang dengan kagum
kepada Cin Hai. Sementara itu, Saliban telah merasa pening karena dipermainkan oleh Lin Lin, dan pada
waktu gadis itu sudah merasa cukup puas mempermainkan Saliban, tiba-tiba dia mengubah gerakannya
dan kini dia mainkan Ilmu Silat Kong-ciak Sin-na yang lihai, ilmu silat yang diajarkan oleh Bu Pun Su!
Saliban terkejut sekali ketika tubuh gadis itu melompat tinggi dan menyambar-nyambar dari atas bagai
seekor burung besar menyerang marah. Ia menyabet dengan pedangnya, namun lebih dulu sudah ditotok
oleh Lin Lin dan sebelum dia tahu bagaimana hal itu bisa terjadi tahu-tahu pedangnya telah berpindah
tangan!
Saliban merasa amat terkejut dan hendak melompat pergi. Akan tetap kaki Lin Lin telah mendahuluinya
menendang pundaknya dari atas hingga tak ampun lagi ia terguling roboh sambil mengeluh kesakitan
karena sambungan tulang pundaknya telah terlepas.
Melihat keponakannya yang jahat itu sudah roboh, Sanoko lalu menghampiri Cin Hai dan Lin Lin dan
memintakan ampun untuk jiwa Saliban, sehingga Cin Hai dan Lin Lin merasa kagum akan kemurahan hati
kepala Suku ini.
“Saliban,” kata Cin Hai kepada pemuda Haimi itu, “dengarlah betapa pamanmu mintakan ampun untuk kau
yang telah memberontak dan berbuat jahat kepadanya. Tidak malukah kau? Orang seperti engkau ini
seharusnya dibinasakan, karena selain berbuat jahat, kau pun telah merusak nama baik Suhu-mu yang
tentu seorang Han adanya. Kau tidak lekas minta ampun?”
Melihat kelihaian Lin Lin dan Cin Hai, Saliban segera insyaf bahwa ilmu kepandaiannya sebetulnya masih
amat rendah dan ia merasa malu dan menyesal, maka sambil merayap ia berlutut minta ampun kepada
pamannya dan bersumpah bahwa dia takkan mengulang perbuatannya lagi.
Pada saat itu, dari jauh datang serombongan orang Haimi yang dipimpin oleh Manako. Pemuda ini walau
pun sudah terluka pundaknya, namun dengan nekat ia mengumpulkan kawan-kawan dan menyusul untuk
menyerbu Saliban serta menolong calon isteri dan mertuanya. Juga Manako memaafkan Saliban,
sedangkan Cin Hai dan Lin Lin diam-diam memuji ketampanan serta kegagahan Manako, hanya mereka
diam-diam menyayangkan bahwa anak muda ini sebenarnya belum pantas memakai cambang yang
demikian tebal dan panjangnya.
Setelah mereka bercakap-cakap dan beramah tamah dengan orang-orang Haimi serta meninggalkan
dunia-kangouw.blogspot.com
banyak nasehat kepada Saliban, Cin Hai dan Lin Lin kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke timur.
Pada saat mereka berdua tiba di Pegunungan Lian-ko-san yang tidak jauh lagi dari Goa Tengkorak, hanya
tinggal satu hari perjalanan lagi, dan sedang berjalan melalui sebuah padang rumput, tiba-tiba muncul tiga
orang yang membuat mereka terkejut dan bersiap sedia, karena tiga orang itu bukan lain ialah Thai Kek
Losu, Sian Kek Losu, dan Bo Lang Hwesio.
Tiga orang ini yang sudah dikalahkan oleh Bu Pun Su, maklum bahwa anak-anak muda yang menjadi
musuh mereka itu masih berada di daerah barat, maka sengaja mereka menghadang di sana untuk
membalas dendam. Ketika Bu Pun Su lewat di situ, mereka bersembunyi saja tidak berani keluar, akan
tetapi setelah kini melihat kedatangan Cin Hai dan Lin Lin, mereka lalu muncul dan menghadang di jalan
dengan hati penuh dendam, terutama sekali Bo Lang Hwesio yang hendak membalas dendam terhadap Lin
Lin atas kematian muridnya dahulu, yaitu Boan Sip yang menjadi gara gara semua permusuhan.
Cin Hai berlaku tenang-tenang saja, juga Lin Lin dengan tabah dan penuh kepercayaan kepada diri sendiri
berdiri di sebelah kiri kekasihnya sambil memandang tajam kepada musuh-musuh besar itu.
“Eh, kiranya Sam-wi Lo-suhu yang berada di sini. Tidak tahu mempunyai maksud apakah maka
menghadang perjalanan kami?” kata Cin Hai dengan sikap hormat.
“Pendekar Bodoh! Telah berkali-kali kau dengan kawan-kawanmu memusuhi dan menjadi penghalang
kami, bahkan Suhu-mu sendiri sudah menghina kepada kami. Kini kebetulan kita bertemu di sini, masih
hendak bertanya tentang maksud kami? Cabutlah senjatamu dan biarlah saat ini akan menentukan siapa
diantara kita yang lebih kuat!” kata Thai Kek Losu kepada Cin Hai.
Aedangkan Bo Lang Hwesio dengan mata memandang marah membentak kepada Lin Lin. “Dan kau tentu
masih ingat akan dosamu membinasakan muridku, maka sekarang aku hendak membalas dendam. Hutang
jiwa ya harus dibayar jiwa pula!” Sambil berkata demikian, Bo Lang Hwesio mengeluarkan sepasang poankoan-
pit.
Lin Lin sudah mendengar mengenai pertempuran tokoh-tokoh besar ini melawan Bu Pun Su, maka melihat
poan-koan-pit itu, ia menyindir,
“Bo Lang Hwesio, agaknya kau telah mencuri sepasang poan-koan-pit baru, apakah yang dulu telah tak
dapat digunakan lagi?”
Marahlah Bo Lang Hwesio mendengar ini, maka sambil menerjang maju dia membentak lagi, “Perempuan
rendah, bersedialah untuk mampus!”
Dengan tenang Lin Lin kemudian mencabut keluar Han-le-kiam dari pinggangnya, segera menyampok
poan-koan-pit lawan yang menyerangnya, kemudian secepat kilat ia pun lalu balas menyerang dengan
hebat.
Sementara itu, Thai Kek Losu sudah mengeluarkan senjatanya yang sangat hebat, yaitu tengkorak kecil
yang rantai pengikatnya kini telah diperbaikinya dan diganti, ada pun Sian Kek Losu juga mengeluarkan
senjatanya yang istimewa, yakni sebatang gendewa. Juga gendewanya yang dulu telah dipatahkan oleh Bu
Pun Su itu kini telah digantinya dengan sebatang gendewa yang baru, terbuat dari pada besi kuning.
Cin Hai maklum akan kelihaian senjata-senjata lawannya, maka ia pun tidak mau berlaku sungkan lagi,
segera mencabut keluar sepasang pedangnya Liong-cu-kiam yang panjang dan pendek, dipegang pada
kedua tangannya. Kedua Pendeta Sakya Buddha itu terkejut melihat sepasang pedang yang mengeluarkan
sinar gemilang itu, maka mereka maklum bahwa sepasang pedang itu tentu pedang-pedang pusaka yang
ampuh dan tajam sekali. Mereka lalu membentak dan mendahului menyerang dengan hebat.
Cin Hai memperlihatkan kegesitannya dan melawan dengan tenang serta waspada. Dia melihat betapa
gerakan Thai Kek Losu jauh lebih gesit dari pada dulu, agaknya selama ini pendeta itu sudah melatih diri,
sedangkan gerakan Sian Kek Losu juga hebat bukan main. Untung ia mempergunakan sepasang pedang
Liong-cu-kiam yang tajam sehingga kedua lawannya tidak berani menahan pedangnya dengan senjata
mereka sehingga serangan dua orang itu dapat dibalas dengan serangan-serangan kilat yang cukup
membuat kedua lawannya berlaku hati-hati sekali karena maklum bahwa murid Bu Pun Su ini tidak boleh
dibuat gegabah!
dunia-kangouw.blogspot.com
Sementara itu, pertempuran antara Lin Lin dan Bo Lang Hwesio juga berjalan seru sekali. Ilmu Pedang
Han-le-kiam memang luar biasa dan sangat cepat, sedangkan kini Lin Lin telah memperoleh kemajuan
hebat dan bahkan telah melatih diri dengan limu Silat Pek-in Hoat-sut dan Kong-ciak Sin-na.
Akan tetapi menghadapi Bo Lang Hwesio yang sudah jauh lebih berpengalaman dan ulet itu, dia
mendapatkan lawan yang amat kuat dan tangguh. Sepasang poan-koan-pit pada tangan Bo Lang Hwesio
menyambar-nyambar ke arah jalan darah yang berbahaya dan juga setiap kali pedang Han-le-kiam kena
disampok oleh poan-koan-pit, Lin Lin merasa betapa telapak tangannya menggetar sebab ternyata tenaga
hwesio itu masih lebih besar sedangkan ilmu lweekang-nya pun lebih tinggi dari pada Lin Lin.
Maka gadis ini yang tahu akan keadaan itu segera mempergunakan kelincahannya dan ginkang-nya untuk
menghindarkan diri dari desakan poan-koan-pit, sedangkan jurus-jurus berbahaya yang ia keluarkan dari
ilmu pedangnya membuat Bo Lang Hwesio diam-diam merasa terkejut juga.
Alangkah beda tingkat ilmu pedang gadis ini dibandingkan dengan beberapa bulan yang lalu ketika dia
dengan Ke Ce menyerbu ke atas bukit tempat tinggal Yousuf dan berhasil menjatuhkan Kwee An dan Ma
Hoa ke dalam jurang. Ketika dahulu itu, walau pun ilmu pedang gadis ini sudah aneh dan luar biasa, akan
tetapi gerakannya belum sematang ini. Maka hwesio itu cepat mengerahkan seluruh kepandaiannya
sehingga setelah bertempur lama, Lin-Lin merasa terdesak juga!
Ada pun Cin Hai yang dikeroyok dua oleh Thai Kek Losu dan Sian Kek Losu, meski pun belum terdesak,
tetapi sukar pula baginya untuk mendesak kedua lawannya yang berilmu tinggi. Terutama sekali tengkorak
di tangan Thai Kek Losu sangat berbahaya karena Cin Hai tidak berani menangkisnya dengan pedang. Dia
maklum bahwa tengkorak itu amat berbahaya dan bila ditangkis akan menyebarkan jarum-jarum beracun
yang lihai sekali.
Juga gendewa di tangan Sian Kek Losu bukanlah senjata yang mudah dilawan biar pun dia dapat menduga
ke arah mana gerakan gendewa itu akan dilancarkan. Maka untuk menghadapi kedua lawan yang tangguh
ini, Cin Hai memainkan dua macam ilmu pedang dengan kedua tangannya.
Pedang panjang di tangan kanan ia mainkan dengan jurus-jurus dari Ilmu Pedang Daun Bambu, sedangkan
pedang pendek di tangan kiri ia mainkan Ilmu Pedang Ngo-lian-hoan Kiam-hoat, sehingga kedua pendeta
Sakya Buddha itu benar-benar merasa terkejut dan mengadakan perlawanan dengan mati-matian. Mereka
harus mengakui bahwa selain Bu Pun Su, belum pernah mereka menemukan tandingan seorang pemuda
yang sedemikian tinggi ilmu silatnya!
Pada saat pertempuran sedang berjalan dengan seru, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang gerakannya
ringan sekali dan laki-laki ini langsung membentak marah,
“Pendeta-pendeta pada dewasa ini hanya menggunakan pakaian sebagai kedok belaka, akan tetapi di
dalam tubuh mengandung iman yang bobrok dan batin yang amat rendah! Jangan kalian berani
mengganggu murid seorang sakti dan mulia seperti Bu Pun Su!”
Kemudian laki-laki itu menarik keluar pedangnya dan menerjang Bo Lang Hwesio sambil berkata kepada
Lin Lin. “Nona, kau bantulah kawanmu itu dan biarkan Si Gundul ini tewas dalam tanganku.”
Lin Lin mendengar suara ini diucapkan dengan halus dan sopan akan tetapi mengandung pengaruh besar,
karena itu dia lalu meninggalkan Bo Lang Hwesio dan melompat untuk membantu Cin Hai.
Lin Lin maklum bahwa ilmu kepandaian Thai Kek Losu terlampau tinggi baginya, maka ia lalu menyerang
Sian Kek Losu! Memang perhitungannya tepat karena di antara ketiga orang lawan yang paling lihai dan
sangat berbahaya untuk dilawan adalah Thai Kek Losu.
Bo Lang Hwesio memiliki ilmu kepandaian yang hanya sedikit berada di bawah tingkat kepandaian pendeta
Sakya Buddha ini, bahkan di dalam hal lweekang, mungkin Bo Lang Hwesio lebih tinggi tingkatnya! Ada
pun Sian Kek Losu hanya memiliki tenaga besar saja dan ilmu silatnya biar pun tinggi, namun tidak selihai
kedua orang kawannya itu.
Kini pertempuran terpecah menjadi tiga dan keadaan berubah dengan cepatnya. Orang yang baru datang
tadi dengan ilmu pedangnya yang gerakannya luar biasa cepat dan aneh, segera berhasil mendesak Bo
Lang Hwesio. Ketika Lin Lin dan Cin Hai mendapat kesempatan memandang ke arah orang itu, hampir saja
mereka berseru karena heran dan kagum.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ternyata ilmu pedang yang dimainkan oleh orang itu memiliki dasar-dasar gerakan yang sama dengan ilmu
silat mereka! Lin Lin teringat akan penuturan Ma Hoa ketika bertemu dengannya di dalam goa bersama
Ang I Niocu, karena itu sambil menangkis serangan gendewa di tangan Sian Kek Losu ia berseru,
“Enghiong yang gagah bukankah Lie-enghiong tunangan Ang I Niocu?”
Orang itu tersenyum dan sambil menangkis poan-koan-pit di tangan Bo Lang Hwesio, dia pun menjawab,
“Betul, dan Ji-wi tentulah Nona Lin Lin dan Saudara Cin Hai!”
Mendengar percakapan ini, Cin Hai merasa heran sekali. Hal ini merupakan ‘surprise’ baginya, yaitu
merupakan hal yang sama sekali tidak pernah diduga-duganya. Tunangan Ang I Niocu? Dan demikian
gagah perkasa?
Hatinya menjadi girang dan fia ingin sekali cepat-cepat mengakhiri pertempuran ini agar supaya dapat
bercakap-cakap dengan orang yang memiliki ilmu kepandaian yang sama dengan kepandaiannya sendiri.
Ia dulu mendengar bahwa Ang I Niocu ditolong oleh Lie Kong Sian, akan tetapi Dara Baju Merah itu tidak
menceritakan bahwa ia telah menjadi tunangan Lie Kong Sian. Ia maklum bahwa orang ini adalah Suheng
dari Song Kun, maka boleh dibilang masih suheng-nya sendiri pula!
Dengan Ilmu Pedang Han-le Kiam-hoat Lin Lin dapat mendesak Sian Kek Losu dan pada saat gendewa di
tangan Sian Kek Losu menangkis dengan sekuat tenaga untuk membuat pedang pendek di tangan Lin Lin
terpental, gadis itu dengan sangat cerdik dan cepatnya lantas menarik kembali pedangnya dan ketika
melihat ada lowongan yang terbuka segera menggunakan gerak tipu Ang I Memetik Kembang, langsung
pedangnya ditusukkan ke arah iga lawan di bawah lengan yang memegang gendewa.
Sian Kek Losu berusaha mengelak. Akan tetapi gerakan Lin Lin itu luar biasa cepatnya dan juga tidak
diduganya semula, maka tiada ampun lagi pedang Han-le-kiam yang tajam itu dengan jitu menusuk
dadanya dari bawah lengan! Sian Kek Losu menjerit, kemudian gendewanya terlepas, tubuhnya
sempoyongan lalu roboh dan tewas pada saat itu juga!
Juga Bo Lang Hwesio yang sudah tidak tahan menghadapi Lie Kong Sian, dengan nekat lalu memutarmutar
poan-koan-pit di tangannya dan menyerang bagaikan harimau terluka yang sudah nekat hendak
mengadu jiwa. Lie Kong Sian terus mengurung dengan sinar pedangnya sehingga kini Bo Lang Hwesio
terpaksa mempergunakan lweekang-nya untuk mengerahkan tenaga pada kedua senjatanya, menangkis
sambil terdesak mundur.
Ujung pedang Lie Kong Sian berkelebat cepat mengarah tenggorokannya dan Bo Lang Hwesio lantas
membuat gerakan nekat yang hendak memberi pukulan maut tanpa peduli akan keselamatan sendiri. Pada
waktu pedang itu meluncur ke arah lehernya, dia hanya sedikit miringkan kepala dan berbareng dengan itu
mengirim tusukan dengan sepasang poan-koan-pit ke arah dada Lie Kong Sian.
Bila Lie Kong Sian meneruskan serangannya dengan membalikkan pedang, maka ia pun akan termakan
oleh sepasang poan-koan-pit itu dan keduanya pasti akan tewas! Akan tetapi tentu saja Lie Kong Sian tidak
mau diajak mati bersama, maka ia berseru keras dan menggerakkan tangan kirinya yang mengeluarkan
uap putih.
Kiranya Lie Kong Sian telah menggunakan gerakan dari Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut untuk menangkis
tusukan poan-koan-pit itu! Sedangkan pedangnya tetap dia teruskan dengan bacokan ke arah leher lawan!
Bo Lang Hwesio merasa girang melihat ini karena dia telah mengerahkan seluruh tenaga lweekang-nya
yang tinggi ke arah tangan yang memegang senjata, maka ia merasa pasti bahwa tusukannya akan
menewaskan musuh. Tidak tahunya, ketika tangan kiri Lie Kong Sian menyampok, poan-koan-pitnya kena
disampok terpental oleh tenaga yang luar biasa sehingga dia merasa terkejut sekali. Pada waktu itu pedang
Lie Kong Sian telah datang menyambar. Bo Lang Hwesio berusaha mengelak, akan tetapi terlambat. Ia pun
menjerit keras dan roboh mandi darah dengan leher hampir putus oleh pedang Lie Kong Sian!
Kini Lin Lin dan Lie Kong Sian melihat pertempuran yang terjadi antara Cin Hai dan Thai Kek Losu dengan
serunya. Thai Kek Losu yang harus menghadapi Cin Hai seorang diri, merasa jeri sekali karena dia pernah
merasai kelihaian pemuda ini. Melihat betapa Sian Kek Losu dan Bo Lang Hwesio sudah tewas, dia
dunia-kangouw.blogspot.com
menjadi nekat dan menyerang Cin Hai dengan mati-matian. Tengkorak kecil di tangannya lalu diputar-putar
laksana maut sendiri terbang berkeliaran mencari korban.
Ada pun Cin Hai yang pernah menghadapi That Kek Losu, bahkan dahulu hampir saja mendapatkan celaka
karena pengaruh racun jahat yang keluar dari tengkorak itu, bersilat dengan sangat hati-hati. Sebegitu jauh
dia belum berani membacok tengkorak itu, kuatir kalau-kalau racun jahat dan senjata-senjata rahasia yang
ada di dalam tengkorak itu akan menyambar keluar dan biar pun ia akan dapat mengelak namun hawa
beracun yang luar biasa itu masih tetap merupakan bahaya besar. Dulu pun baru lewat dekat mukanya saja
dan dia mencium bau racun, dia telah terkena celaka dan kalau tidak kebetulan bertemu dengan suhu-nya,
tentu dia telah binasa.
Melihat keragu-raguan kekasihnya, Lin Lin hendak maju membantu, akan tetapi Cin Hai melarangnya.
“Mundurlah Lin-moi, sekarang juga aku akan merobohkannya. Lihat!”
Lin Lin melompat mundur kembali dan pada saat itu tengkorak kecil menyambar ke arah Cin Hai dengan
mulut di depan seakan-akan hendak mencium muka pemuda itu. Cin Hai tidak mengelak, hanya
memandang dengan tajam dan kedua pedang di tangannya telah siap sedia.
Ketika tengkorak itu sudah datang dekat, tiba-tiba saja pedang pendek di tangan kirinya menyambar dari
samping dengan miring, yaitu dia tidak menggunakan tajamnya pedang untuk membacok, hanya
mempergunakan permukaan pedang untuk menampar dari arah samping dengan tenaga yang diatur
sedemikian rupa hingga tengkorak itu kena ditampar dan terbalik, kini mukanya menghadap kepada Thai
Kek Losu.
Secepat kilat pedang Cin Hai di tangan kanan lalu membacok tengkorak itu dari belakang sambil
menggunakan tenaga lweekang sekerasnya dan ketika terdengar suara ledakan yang terjadi pada waktu
tengkorak itu kena bacok, Cin Hai segera lompat menjauh dan kebetulan sekali Lin Lin pada saat itu berdiri
dekat, maka Cin Hai segera menyambar lengan kekasihnya dan dibawanya melompat juga!
Memang Cin Hai telah berlaku sangat hati-hati dan hal ini ada baiknya bagi dia dan Lin Lin, karena kalau ia
tidak bertindak cepat, mungkin mereka akan terancam bahaya. Pada waktu tengkorak itu meledak, tidak
hanya dari mulut, hidung serta matanya saja keluar jarum-jarum beracun yang amat jahat dan yang
kesemuanya melayang ke arah Thai Kek Losu, akan tetapi setelah semua jarum habis, tengkorak itu sendiri
meledak dan pecah berhamburan menjadi potongan-potongan kecil yang lantas menyambar ke
sekelilingnya. Potongan ini tidak boleh dipandang rendah, karena setiap potongan kecil ini mengandung
racun jahat dan apa bila melukai kulit, akan membahayakan jiwa yang terluka!
Thai Kek Losu yang tadinya sudah merasa gembira melihat Cin Hai berani membacok tengkorak itu,
menjadi terkejut sekali ketika melihat betapa semua senjata rahasia yang keluar dari tengkorak yang telah
terbalik itu menyambar ke arahnya! Ia hendak mengelak pergi, akan tetapi terlambat. Beberapa batang
jarum telah mengenai tubuhnya dan tanpa berteriak lagi ia roboh dan tewas oleh jarum-jarumnya sendiri!
Lie Kong Sian juga melompat pergi ketika ledakan tengkorak terjadi, dan dia kemudian menghampiri Cin
Hai dan Lin Lin.
“Sute dan Sumoi, kalian benar-benar gagah perkasa. Apakah Supek Bu Pun Su dalam keadaan sehatsehat
saja?” katanya sambil tersenyum tenang.
Melihat sikap orang ini, baik Lin Lin mau pun Cin Hai merasa tertarik dan suka. Sikap Lie Kong Sian polos,
jujur, dan sederhana sekali, hampir sama dengan sikap Bu Pun Su.
Setelah menjura dan memberi hormat, Cin Hai segera memegang tangan Lie Kong Sian dengan girang dan
berkata, “Beliau sehat, Suheng. Sudah lama aku mendengar tentang namamu yang besar. Alangkah
senangnya hatiku dapat bertemu dengan kau, apa lagi karena mendengar tadi bahwa kau telah
bertunangan dengan Ang I Niocu!”
Kembali Lie Kong Sian tersenyum. “Aku memang sedang mencarinya, di manakah dia?”
Cin Hai lalu menceritakan pengalamannya dan menceritakan pula bahwa Ang I Niocu dan yang lain-lainnya
mendapat tugas dari Bu Pun Su untuk membagi-bagikan harta pusaka kepada rakyat miskin.
“Lie-suheng, ada berita girang untukmu,” tiba-tiba saja Lin Lin yang lincah dan jenaka itu berkata kepada
dunia-kangouw.blogspot.com
Lie Kong Sian sambil menatap wajah pemuda yang tenang dan tampan itu.
Lie Kong Sian sudah mendengar dari Ang I Niocu tentang kejenakaan gadis ini dan dia tahu bahwa
tunangannya amat mengasihinya maka sambil tertawa dia berkata, “Sumoi, kau tentu akan menggodaku.
Silakanlah, apakah berita girang yang kau maksudkan?”
“Aku sudah mendengar tentang syarat-syarat yang diajukan oleh Enci Im Giok kepadamu dan...”
“Ehh, ehhh, dari mana kau bisa mengetahui hal itu?” Lie Kong Sian memotong sambil memandang heran,
akan tetapi dia tidak marah karena bibirnya tetap tersenyum.
“Dari Enci Ma Hoa.”
Lie Kong Sian mengangguk-angguk dan Lin Lin melanjutkan bicaranya, “Dan sekarang, dua dari pada tiga
syarat itu telah terpenuhi. Aku dan Engko Hai sudah bertemu kembali sebagaimana yang diharapkan oleh
Enci Im Giok dan syarat ke dua pun telah terlaksana.”
Lie Kong Sian menatap wajah Lin Lin dengan tajam, kini senyumnya menghilang. “Sumoi, apa maksudmu?
Syarat yang mana? Lekas kau ceritakan padaku!”
“Sute-mu yang jahat itu telah tewas dalam tangan Hai-ko!”
“Apa?!” Wajah Lie Kong Sian menjadi pucat sekali dan dua butir air mata menitik turun.
Ia memandang kepada Cin Hai yang berdiri sambil menundukkan kepala karena pemuda ini pun sudah
mendengar betapa besar cinta kasih Lie Kong Sian terhadap Song Kun. Sikap dan wajah Cin Hai ini
membuat hati Lie Kong Sian lemah kembali.
Kalau saja yang membunuh Song Kun bukan pemuda ini, pasti ia akan menjadi marah dan membalas
dendam. Akan tetapi, pemuda ini adalah sute-nya sendiri pula, murid Bu Pun Su yang tidak saja
kepandaiannya lebih tinggi dari pada dirinya sendiri, akan tetapi pemuda ini adalah seorang pemuda yang
sangat dicinta oleh Ang I Niocu.
“Sute, kau benar-benar lihai sekali. Tak sembarang orang dapat merobohkan Song Kun, bahkan terus
terang saja, aku sendiri tidak sanggup mengalahkannya. Coba kau tuturkan bagaimana hal itu terjadi.”
“Maafkan aku banyak-banyak, Lie-suheng. Memang dia lihai sekali dan andai kata dia tak tersesat dan
menjadi seorang jahat, mungkin aku pun tidak akan dapat mengalahkannya. Akan tetapi, kejahatan pasti
akan hancur dan kalah pada akhirnya.”
Kemudian Cin Hai lalu menceritakan mengenai pertempurannya dengan Song Kun yang disaksikan oleh Bu
Pun Su. Juga menuturkan pula betapa Song Kun telah mencuri obat dan menggunakan obat itu untuk
mengancam dan hendak mengganggu Lin Lin.
Mendengar ini semua, Lie Kong Sian menarik napas panjang. “Sayang betapa pun gagah seseorang, apa
bila ia tidak memiliki kesempurnaan budi, ia menjadi orang yang sehina-hinanya dan serendah-rendahnya
dan akhirnya orang itu pasti akan mengalami bencana besar dalam hidupnya.”
“Kau benar, Suheng,” kata Cin Hai dan Lin Lin hampir berbareng.
“Dan sekarang kalian hendak pergi ke manakah?”
“Kami hendak pergi ke Goa Tengkorak, tempat tinggal Suhu Bu Pun Su,” jawab Cin Hai.
“Bagus! Aku pun ingin sekali bertemu dengan orang tua itu,” kata Lie Kong Sian.
“Untuk memenuhi syarat ke tiga, bukan Suheng?” Lin Lin menggoda dan Lie Kong Sian menganggukangguk
sambil tersenyum dan memandangnya.
“Kau benar-benar nakal, Sumoi.” Ketiganya lalu tertawa.
“Sebelum kita pergi, lebih dulu marilah kita mengubur jenazah tiga orang ini.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendengar ucapan Lie Kong Sian ini, Lin Lin dan Cin Hai merasa kagum dan diam-diam memuji keluhuran
budi tunangan Ang I Niocu itu. Cin Hai makin merasa girang bahwa Ang I Niocu mendapat calon suami
yang selain gagah perkasa, juga berbudi tinggi.
Jenazah Thai Kek Losu, Sian Kek Losu dan Bo Lang Hwesio lalu mereka kubur dengan baik-baik, menjadi
tiga gundukan tanah berjajar dan sebagai tandanya, Lie Kong Sian memindahkan tiga batang pohon Siong
yang masih kecil, dan ditanam di depan kuburan-kuburan itu.
Matahari telah menurun ke barat ketika mereka bertiga selesai melakukan pekerjaan itu dan kemudian
melanjutkan perjalanan menuju ke Goa Tengkorak…..
********************
Kini kita ikuti perjalanan Ang I Niocu yang bertugas membagi-bagikan sekantung harta pusaka itu kepada
rakyat jelata yang miskin. Oleh karena Dara Baju Merah ini memang sudah biasa melakukan perjalanan
seorang diri, dan pula untuk membagi-bagikan harta benda itu memang seharusnya berpencar, maka dia
segera memisahkan diri dan berjanji akan saling bertemu dengan kawan-kawannya ini di rumah Lin Lin di
Tiang-an sebagai tempat tujuan terakhir.
Mereka saling berpesan bahwa apa bila ada yang berjumpa dengan Cin Hai dan Lin Lin, harus memberi
tahu bahwa kedua teruna remaja itu pun ditunggu di Tiang-an. Dengan demikian, maka nantinya mereka
tak usah saling mencari dan dapat mengarahkan tujuan perjalanan mereka ke suatu tempat tertentu.
Ang I Niocu lalu melakukan perjalanan seorang diri seperti biasa, bebas bagaikan seekor burung di udara.
Dia membagi-bagi harta benda itu dengan adil dan memilih orang-orang yang benar-benar berada dalam
keadaan yang amat sengsara. Pekerjaan ini dia lakukan dengan hati gembira sebab keharuan dan
kegirangan wajah orang-orang yang menerima pembagian itu membuat hatinya ikut merasa terharu dan
girang sekali.
Pada suatu hari, ketika ia tiba di luar kota Lang-i, tiba-tiba ia melihat bayangan dua orang dari jalan
simpangan. Ang I Niocu cepat bersembunyi di belakang sebatang pohon ketika melihat bahwa dua orang
itu bukan lain ialah Hai Kong Hosiang dan Wi Wi Toanio. Kedua orang itu berlari cepat memasuki kota
Lang-i, maka diam-diam Ang I Niocu mengikuti mereka.
Dara Baju Merah ini merasa benci bukan main terhadap Hai Kong Hosiang yang sudah mencelakakan Lin
Lin, maka dia sudah mengambil keputusan untuk mencari kesempatan membunuh hwesio jahat itu agar
kelak tidak menimbulkan kekacauan pula. Akan tetapi, melihat bahwa hwesio itu bersama Wi Wi Toanio
yang kosen, ia merasa ragu-ragu untuk turun tangan, karena terlalu berat baginya untuk menghadapi dua
orang tangguh itu.
Kedua orang itu menuju ke sebelah barat kota dan secara diam-diam Ang I Niocu terus mengikuti mereka.
Sesudah tiba di ujung kota, mereka masuk ke dalam sebuah gedung yang besar. Ang I Niocu mengambil
jalan dari belakang dan pada saat melihat bahwa di belakang gedung itu sunyi, ia lalu melompati pagar
tembok dan mengintai. Dan apa yang dilihatnya di dalam gedung itu membuat hatinya berdebar karena
terkejut dan heran.
Ternyata bahwa di dalam gedung itu terdapat sebuah ruangan yang amat lebar dan yang dipasangi banyak
meja dan kursi. Ruangan itu telah penuh oleh banyak orang dan justru orang-orang inilah yang membuat
Ang I Niocu terkejut, karena dia melihat wajah-wajah yang telah dikenalnya baik, antara lain Kam Hong Sin
perwira tinggi kerajaan, Ceng Tek Hosiang dan Ceng To Tojin. Si Hwesio yang selalu tertawa dan tosu
yang selalu mewek, Kong-lam Sam-lojin tiga orang tokoh Liong-san, Giok Im Cu, Giok Yang Cu, dan Giok
Keng Cu. Tampak juga Siok Kwat Mo-li, Lok Kun Tojin dan dua orang yang baru masuk, yaitu Hai Kong
Hosiang dan Wi Wi Toanio!
Orang-orang ini adalah sebagian dari pada orang-orang yang tadinya mewakili golongan-golongan yang
bermusuhan, yaitu golongan Turki, Mongol, dan kerajaan yang semuanya telah dikalahkan oleh Bu Pun Su.
Mengapa mereka sekarang mengadakan pertemuan bersama? Apakah mereka hendak mengadu
kepandaian?
Ang I Niocu mengintai dengan hati-hati sekali oleh karena dia maklum bahwa orang yang berada di dalam
itu bukanlah orang-orang lemah dan berbahaya sekali baginya apa bila sampai dapat terlihat oleh mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kebetulan sekali di luar gedung itu terdapat setumpuk rumput kering, maka ia mendapatkan tempat
persembunyian yang baik sekali di belakang rumput itu, sambil mengintai melalui celah-celah jendela yang
berada dekat di situ.
Agaknya Hai Kong Hosiang dan Wi Wi Toanio merupakan orang terakhir yang dinanti-nantikan, karena
setelah mereka berdua datang dan disambut oleh Kam Hong Sin lalu dipersilakan duduk, perwira itu segera
berdiri dari tempat duduknya dan berkata kepada semua orang.
“Cu-wi sekalian. Aku menghaturkan banyak-banyak terima kasih dan selamat datang bagi Cu-wi sekalian
yang telah sudi memenuhi undangan kami untuk berkumpul di sini. Hal ini membuktikan bahwa bagaimana
pun juga, Cu-wi sekalian masih ingat akan kebangsaan sendiri. Sebagaimana yang Cu-wi sekalian ketahui,
harta pusaka yang menjadi hak milik kerajaan bangsa kita itu telah dicuri dan dibawa pergi orang. Kita tak
perlu membongkar-bongkar urusan yang lalu dan sekarang kita merupakan sekumpulan orang yang
hendak berusaha mendapatkan kembali harta pusaka itu dan membasmi para pemberontak yang telah
berani berlancang tangan mencuri harta pusaka dari tangan kita.”
Hai Kong Hosiang berdiri sendiri dan mengangkat tangannya, tanda bahwa ia minta Kam Hong Sin berhenti
bicara karena ia sendiri hendak bicara. Matanya yang tinggal satu itu bersinar-sinar tajam memandang
kepada Kam Hong Sin ketika ia berbicara.


Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Best Cersil

Pecinta Cersil