Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Selasa, 23 Januari 2018

Cersil Pendekar Remaja 6 Tamat

-baca juga

Lie Siong hendak pergi, akan tetapi Ma Hoa yang terheran-heran mendengar ini, segera berkata “Nanti
dulu, Siong-ji (Anak Siong)! Bagaimanakah soalnya? Sudah pastikah jika ayahmu terbunuh oleh Ban Sai
Cinjin?”
“Memang sudah pasti, Ie-ie, dan sekarang juga aku akan mencarinya untuk membalas dendam.”
“Kalau begitu kita bisa mencarinya bersama-sama! Ban Sai Cinjin tidak berada jauh, dia kini telah
menggabungkan diri dengan tentara Mongol dan aku pun sedang mencarinya. Ketahuilah bahwa dia telah
menculik puteraku, Kwee Cin!”
Semua orang terkejut mendengar ini, terutama sekali Lili. Gadis ini kemudian maju dan memeluk Ma Hoa.
“Pek-bo, bagaimana Adik Cin sampai dapat terculik oleh bangsat itu? Mari kita cepat mengejarnya, dan aku
sendiri akan menghancurkan kepalanya. Memang masih ada perhitungan lama antara bangsat itu dengan
aku!”
“Ie-ie, kalau begitu, lebih banyak alasan lagi bagiku untuk segera mencarinya! Aku akan berusaha
merampas kembali puteramu sekalian membinasakan kakek jahanam itu!” kata pula Lie Siong.
“Ehh, ehh, mengapa kau hendak pergi sendiri? Mengapa tidak bersama kami?” tanya Ma Hoa.
“Aku... aku lebih senang bekerja sendiri, Ie-ie!” sesudah berkata demikian, tanpa dapat dicegah lagi Lie
Siong lalu melompat pergi.
“Pemuda aneh...,” Ma Hoa berkata perlahan.
“Jangan pedulikan dia, Pek-bo...,” kata Lili mendongkol.
“Bagaimana aku tidak boleh pedulikan dia, putera Ang I Niocu?”
Sementara itu, Lilani yang semenjak tadi mendengar percakapan itu sambil memandang kepada Ma Hoa,
tiba-tiba menghampiri nyonya ini dan menjatuhkan diri berlutut.
“Kwee-hujin (Nyonya Kwee), hamba Lilani menghaturkan hormat.”
Ma Hoa memandang kepada Lilani dengan rasa heran, kemudian ia memandang kepada orang-orang
Haimi yang semuanya berkumis panjang itu. Kemudian teringatlah dia akan pengalamannya dengan
suaminya dahulu, ketika suaminya masih menjadi tunangannya, dan berkatalah dia, “Jika aku tak salah
duga, orang-orang ini adalah suku bangsa Haimi yang dulu dipimpin oleh Manako dah Meilani. Kau
siapakah, Nona?” (baca cerita Pendekar Bodoh)
“Hamba adalah puteri yang malang dari Manako dan Meilani, mendiang orang tuaku!”
Ma Hoa lalu membungkuk, memeluk Lilani dan ditariknya gadis itu berdiri. “Ah, jadi kau puteri Meilani?
Pantas saja kau cantik jelita seperti ibumu. Jadi kedua orang tuamu telah meninggal semua? Kasihan,
kasihan.”
Melihat nyonya gagah ini begini halus dan baik budi, Lilani tak dapat menahan keharuan hati dan
menangislah dia. Lo Sian yang sejak tadi juga melihat semua ini, cepat maju dan memberi hormat kepada
Ma Hoa.
“Siauwte yang bodoh sudah lama mendengar nama besar dari Kwee-toanio dan sekarang telah mendapat
kehormatan untuk bertemu dan menyaksikan dengan kedua mata sendiri bahwa nama besarmu itu bukan
kosong belaka.”
Lili lalu memperkenalkan Lo Sian dan dengan singkat ia menceritakan riwayat Pengemis Sakti ini. Ma Hoa
mengangguk-angguk maklum, karena ia telah mendengar hal itu dari Lin Lin dan Cin Hai.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kini setelah Lie Siong pergi lenyaplah rasa cemburu yang amat tidak enak dalam hati Lili, maka sambil
memegang tangan Lilani, dia pun berkata, "Lilani, tadi aku hanya bergurau saja. Memang, kau harus
memimpin bangsamu dan jangan kuatir, aku akan mengantar kalian sampai benteng penjagaan pasukan
kerajaan."
Lilani makin terharu, dia memeluk Lili dan berkata, "Nona, aku sudah menduga bahwa hatimu tentu mulia.
Orang secantik kau dan puteri Pendekar Bodoh pula, tidak mungkin berhati kejam. Tadi kau bersikap
galak, akan tetapi aku dapat menangkap sinar matamu yang penuh kebijaksanaan. Akulah yang harus
minta maaf kepadamu, Nona. Kau sudah menolong bangsaku, walau selamanya menjadi pelayanmu, aku
akan rela dan merasa bahagia."
“Jangan kau bilang demikian, Lilani,” kata Lili.
Ma Hoa yang tidak tahu akan urusannya kemudian mendengarkan penuturan Lili tentang pengalaman
menolong orang-orang Haimi yang dibantu pula oleh Ang I Niocu.
“Sayang dia keburu pergi sebelum mendengar penuturanku bahwa ibunya baru tiga hari yang lalu
meninggalkan tempat ini,” kata gadis ini menutup ceritanya. Yang dimaksudkan dengan ‘dia’ tentu saja
adalah Lie Siong, pemuda kurang ajar itu.
“Dia sudah pergi, biarlah,” kata Ma Hoa. “Sekarang mari kita melanjutkan perjalanan, mengantar orangorang
Haimi ini ke benteng di mana kita akan menjumpai Goat Lan dan kakakmu Hong Beng. Di sana pula
kita tentu akan bertemu dengan ayah ibumu, dan juga pek-humu yang sudah berangkat lebih dulu.” Bicara
tentang suaminya, kembali Ma Hoa teringat akan puteranya yang terculik, maka wajahnya menjadi muram.
“Pek-bo, bagaimana Adik Cin sampai dapat terjatuh dalam tangan orang jahat?”
“Bila diceritakan membuat hati menjadi gemas sekali,” kata Ma Hoa. “Mari kita berangkat, nanti di jalan
kuceritakan kepadamu tentang hal itu.”
Setelah rombongan itu berangkat untuk menuju ke benteng pertahanan tentara kerajaan dengan Nurhacu
orang Haimi tua itu sebagai penunjuk jalan, maka berceritalah Ma Hoa tentang penculikan Kwee Cing
puteranya.
Seperti telah diketahui, Ma Hoa pergi bersama Kwee An, Cin Hai dan Lin Lin, oleh karena Kwee Cin masih
terlalu kecil dan tidak baik ditinggalkan seorang diri di rumah dalam saat mereka terancam oleh musuhmusuh
yang jahat. Untuk membawa Kwee Cin dalam perjalanan ke utara juga kurang baik bagi anak itu.
Sejak menjadi isteri Kwee An, Ma Hoa belum pernah berpisah terlalu lama dari suaminya dan mereka
hidup rukun serta saling mencinta. Tidak mengherankan apa bila kepergian Kwee An kali ini membuat Ma
Hoa merasa tidak betah di rumah. Apa lagi dia maklum bahwa perjalanan suaminya itu penuh dengan
bahaya, karena itu hatinya selalu merasa gelisah sekali.
Pada suatu hari menjelang senja, keadaan dirasakan sunyi sekali oleh Ma Hoa. Memang rumahnya amat
besar dan dia hanya mempunyai dua orang pelayan. Biasanya apa bila ada Kwee An, di rumah itu nampak
gembira dan ramai, apa lagi kalau Goat Lan berada di rumah. Akan tetapi sekarang, berdua saja dengan
Kwee Cin, ia benar-benar merasa sunyi.
Tiba-tiba dari pintu pekarangan depan masuk seorang kakek yang berpakaian indah dan mengisap
sebatang huncwe panjang. Dengan tindakan lebar, kakek ini langsung maju dan menghampiri Ma Hoa
yang sedang duduk di ruang depan bersama Kwee Cin. Kakek ini datang-datang segera bertanya dengan
suaranya yang parau dan keras,
“Apakah aku berhadapan dengan Nyonya Kwee An, ibu dari nona Kwee Goat Lan?”
Ma Hoa belum pernah bertemu dengan orang ini, akan tetapi matanya yang tajam dapat menduga bahwa
kakek ini bukanlah orang biasa dan ketika ia teringat akan cerita Lin Lin dan Cin Hai, ia menjadi terkejut
sekali karena kakek ini cocok sekali dengan gambaran Pendekar Bodoh tentang seorang yang bernama
Ban Sai Cinjin Si Huncwe Maut! Maka diam-diam Ma Hoa bersiap sedia dan berlaku waspada. Ia merasa
girang bahwa selama ini ia berlaku hati-hati dan selalu mempersiapkan bambu runcingnya di tempat yang
tak jauh dari situ.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Benar, aku adalah Nyonya Kwee, tidak tahu siapakah Lo-enghiong dan ada keperluan apakah datang di
rumahku yang buruk ini?”
Ban Sai Cinjin tertawa bergelak, lantas dengan tenang akan tetapi mulutnya tersenyum menyeringai ia
membuang abu tembakau dari kepala pipanya, kemudian mengisinya lagi dengan tembakau warna hitam!
Semua ini ia lakukan sambil matanya terus memandang kepada nyonya itu dengan kagum. Biar pun Ma
Hoa telah berusia hampir empat puluh tahun, akan tetapi nyonya ini tiada bedanya dengan seorang gadis
yang cantik jelita saja!
Diam-diam Ma Hoa merasa gelisah, maka dia pun berkata kepada Kwee Cin, “Cin-ji, kau masuklah ke
dalam.”
Kwee Cin memang selamanya amat taat kepada ayah bundanya. Maka sebagai seorang anak kecil yang
belum dapat menduga hal-hal hebat yang akan terjadi, dia menyatakan baik dan anak itu lalu masuk ke
dalam kamarnya.
Kembali Ban Sai Cinjin tertawa dan sekarang suara ketawanya terdengar nyaring sekali hingga terdengar
sampai jauh karena kakek ini memang telah mengerahkan khikang-nya untuk mengirim suara ketawanya
kepada dua orang kawannya yang bersembunyi di luar!
“Kwee-hujin, ketahuilah bahwa aku bernama Ban Sai Cinjin dan kedatanganku ini hendak mencari
puterimu, yaitu Nona Kwee Goat Lan. Puterimu itu telah berkali-kali melakukan penghinaan kepadaku dan
sekarang aku sengaja datang hendak membuat perhitungan!”
Warna merah mulai menjalar pada kedua pipi Ma Hoa. Sekarang dia bangkit dari tempat duduknya dan
Ban Sai Cinjin menjadi makin kagum karena sebenarnya setelah berdiri, nampak betapa langsing potongan
tubuh nyonya yang telah mempunyai dua orang anak ini.
Ma Hoa berjalan tenang menghampiri tamunya setelah dia menyambar sepasang bambu runcing dan
menancapkannya pada ikat pinggangnya. Dengan mata bercahaya dan bibir tersenyum mengejek dia
berkata,
“Ban Sai Cinjin, biar pun baru sekali ini aku bertemu denganmu, akan tetapi telah sering kali aku
mendengar namamu yang buruk dan terkenal. Maka aku tidak merasa heran apa bila Goat Lan bentrok
denganmu, karena memang semenjak kecil dia telah kudidik untuk membasmi orang-orang jahat dan
membela yang benar. Kau datang mencari Goat Lan untuk membuat perhitungan? Sayang, Goat Lan
masih belum pulang. Akan tetapi kalau kau tetap merasa penasaran, untuk obat kecewamu, boleh kiranya
aku sebagai ibunya mewakili Goat Lan untuk membayar hutang.”
“Bagus sekali, sama anak sama ibu! Kau dan anakmu terlalu mengandalkan kepandaian sendiri, tidak
memandang mata kepada orang lain. Baiklah, Kwee-hujin, karena anakmu tidak ada dan aku jauh-jauh
sudah memerlukan datang, biarlah aku menerima pelajaran darimu!” Sambil berkata demikian, Ban Sai
Cinjin cepat menggerakkan huncwe-nya dan tersebarlah uap hitam yang berbau amat memuakkan.
Akan tetapi Ma Hoa akan percuma saja disebut seorang pendekar wanita yang gagah perkasa kalau ia
gentar menghadapi uap hitam beracun ini. Puterinya adalah murid Sin Kong Tianglo Si Raja Obat,
sedangkan dia sendiri adalah murid dan anak angkat dari Kong Hwat Lojin Si Nelayan Cengeng, maka
setidaknya Ma Hoa juga sudah tahu akan jahatnya racun ini dan tahu pula obat penawarnya.
Goat Lan sendiri setelah tamat berlajar dari Sin Kong Lojin, banyak meninggalkan pil-pil obat penawar
racun maka begitu melihat uap hitam ini, Ma Hoa cepat mengeluarkan tiga butir pil merah dan
memasukkan itu ke dalam mulut. Kemudian kedua bambu runcingnya bergerak mengimbangi gerakan
huncwe lawan.
“Bagus, jadi sebenarnya kaukah yang menjadi murid Hok Peng Taisu?” Ban Sai Cinjin membentak dan kini
huncwe-nya menyambar ke arah kepala Ma Hoa.
“Ban Sai Cinjin, kau tidak usah banyak cakap, kalau kau mempunyai kepandaian lekas keluarkan semua
hendak kulihat!”
Kembali Ban Sai Cinjin mengeluarkan suara ketawa yang bahkan lebih nyaring dari pada tadi sambil
menyerang dengan hebatnya, dan sungguh pun Ma Hoa menangkis dengan bambu runcingnya, namun
dunia-kangouw.blogspot.com
telinganya yang tajam masih dapat menangkap suara seruan seperti seekor burung dari luar rumah.
Hatinya tergoncang dan pikirannya bekerja keras.
Ini tentu ada apa-apanya, dan hatinya mulai berdebar. Akan tetapi oleh karena tidak terjadi sesuatu dia lalu
memutar bambu runcing hendak cepat-cepat mengalahkan lawan ini. Aku harus melindungi Cin-ji, pikirnya.
Akan tetapi tidak mudah untuk mengalahkan Ban Sai Cinjin dalam waktu singkat. Setelah mendapat
hajaran dari Pendekar Bodoh, Ban Sai Cinjin selain berlaku hati-hati sekali dan sama sekali tak berani
memandang ringan kepada kawan-kawan Pendekar Bodoh yang ternyata mempunyai kepandaian yang
hebat. Dahulu pun jika dia berlaku hati-hati, tidak mungkin dalam segebrakan saja dia kalah oleh Pendekar
Bodoh.
Akan tetapi harus diakuinya bahwa ilmu silat bambu runcing yang dimainkan oleh nyonya ini benar-benar
luar biasa sekali. Ia pernah menghadapi sepasang bambu runcing yang dimainkan oleh Goat Lan dan
sudah merasa kagum sekali. Akan tetapi sekarang, ketika menghadapi permainan Ma Hoa, dia benarbenar
terdesak hebat sekali. Kalau dulu Goat Lan memainkan sepasang bambu runcing sehingga senjata
istimewa itu seakan-akan berubah menjadi lima, sekarang bambu runcing di tangan nyonya ini seakanakan
telah berganda menjadi delapan!
Selama ini, Ban Sai Cinjin tiada hentinya berlatih serta memajukan ilmunya sehingga kepandaiannya
sudah naik banyak. Dalam menghadapi nyonya pendekar ini, dia masih dapat mempertahankan diri
dengan mainkan huncwe-nya dan kadang ia menyemburkan asap hitam biar pun tidak mempengaruhi Ma
Hoa yang sudah memasukkan tiga butir pil merah di dalam mulutnya, akan tetapi tetap saja Ma Hoa harus
menghindarkan kedua matanya dari serangan asap hitam yang lihai itu.
Pertempuran telah berjalan tiga puluh jurus dan beberapa kali Ban Sai Cinjin hampir saja terkena totokan
bambu runcing hingga keselamatan nyawanya berada di ujung rambut. Ia terdesak hebat sekali dan hati
kakek mewah ini mulai menjadi gelisah sekali.
Tiba-tiba saja terdengar lagi suara burung hantu dan mendadak Ban Sai Cinjin tertawa menyeramkan
sambil melompat jauh ke belakang.
“Kwee-hujin, tidak percuma kau menjadi isteri Kwee An yang terkenal namanya, karena memang ilmu
silatmu hebat sekali. Aku Ban Sai Cinjin kali ini mengaku kalah. Biarlah kelak kita bertemu lagi untuk
melanjutkan pertempuran ini.”
“Pengecut!” Ma Hoa memaki, akan tetapi ia tidak mengejar Ban Sai Cinjin karena kuatir apa bila kakek
pesolek itu menjebaknya dengan tipu ‘memancing harimau meninggalkan sarangnya’. Ia bahkan cepat
melompat ke dalam rumah dan menuju ke kamar Kwee Cin.
Akan tetapi mukanya tiba-tiba menjadi pucat sekali ketika melihat dua orang pelayannya telah rebah
menggeletak dalam keadaan tertotok! Sambil menekan debaran jantungnya yang seakan-akan hendak
memecahkan dada, Ma Hoa cepat berlari ke dalam kamar anaknya. Benar saja seperti yang telah
dikuatirkannya, di dalam kamar itu tidak nampak lagi bayangan anaknya!
Ma Hoa sudah sering sekali menghadapi peristiwa hebat ketika mudanya, akan tetapi mala petaka kali ini
benar-benar hebat sekali dan sangat menusuk perasaannya. Hanya saja ia memang telah memiliki
pandangan yang luas. Ia tidak menjadi putus asa, karena puteranya itu hanya diculik orang dan bukan
dibunuh. Siapa pun yang menculiknya, dia masih mempunyai harapan untuk merampasnya kembali.
Cepat ia berlari keluar kamar dan membebaskan totokan dua orang pelayan itu.
“Lekas ceritakan, apa yang telah terjadi?” tanyanya dengan tenang.
Dua orang pelayan itu menceritakan bahwa dari belakang datang dua orang pengemis tua yang tak
berkata sesuatu lalu menotok mereka dan kemudian mereka melihat betapa kongcu (tuan muda) sudah
dipanggul oleh salah seorang di antara dua pengemis itu dan dibawa lari melalui pintu belakang.
Selesai mendengar penuturan ini, Ma Hoa lalu cepat mengejar melalui pintu belakang. Ia mengejar terus
sampai sejauh sepuluh li lebih, akan tetapi seperti yang telah diduganya, ia tidak melihat bayangan dua
orang pengemis penculik itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hemm, tidak lain ini tentulah perbuatan Ban Sai Cinjin yang sengaja memancing dalam sebuah
pertempuran dan sementara itu kawan-kawannya melakukan penculikan terhadap Kwee Cin,” pikirnya.
Dia cepat mengambil keputusan, menyerahkan penjagaan rumahnya kepada dua orang pelayan karena
hari itu juga dia hendak menyusul suaminya ke utara sekalian mencari jejak Ban Sai Cinjin. Akan tetapi
ketika dia membuka peti di mana dia menyimpan kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip (Kitab Rahasia Selaksa
Pengobatan Bumi Langit) yang dititipkan oleh Goat Lan kepadanya, ternyata kitab itu bersama anaknya
telah lenyap pula! Ma Hoa menjadi gemas sekali, dia mengertakkan giginya dan membanting-bantingkan
kaki kanan di atas lantai.
“Ban Sai Cinjin bangsat tua yang curang! Tunggulah saja kalau sampai aku dapat melihat mukamu lagi,
kau pasti akan kujadikan sate dengan bambu runcingku!”
Demikianlah, Ma Hoa lalu cepat melakukan pengejaran ke utara dan karena daerah utara memang sukar
sekali dilalui serta Pegunungan Alkata-san masih asing baginya, maka ia tersesat jalan dan kebetulan
sekali dapat menghentikan pertempuran hebat yang terjadi antara Lili dan Lie Siong.
Setelah Lili mendengar penuturan Ma Hoa ini, gadis ini pun menjadi marah sekali dan berkata dengan
gemas, “Ban Sai Cinjin memang jahat sekali. Muridnya yang bernama Bouw Hun Ti sudah membunuh
Yousuf kakekku dan menculikku ketika aku masih kecil. Kemudian Ban Sai Cinjin menurut penuturan dan
dugaanku juga sudah meracun Sin-kai Lo Sian guruku, telah meracuni suhu-ku itu hingga Sin-kai Lo Sian
tak dapat mengingat apa pun, dan yang membunuh Supek Lie Kong Sian juga Ban Sai Cinjin! Dan
sekarang, kembali Ban Sai Cinjin menculik Adik Cin! Benar-benar orang yang jahanam dan ingin mampus.”
Ma Hoa menarik napas panjang. “Memang di dunia ini selalu terdapat orang-orang jahat, Lili. Tidak ada
bedanya semenjak dahulu sampai sekarang. Dulu pun ada seorang jahat bernama Hai Kong Hosiang yang
selalu memusuhi orang tua kami dan kami. Akan tetapi, kalau dibandingkan dengan Ban Sai Cinjin, Hai
Kong Hosiang masih tidak begitu curang dan jahat!”
Lili juga pernah mendengar nama Hai Kong Hosiang ini karena sering kali ayah ibunya menceritakannya
tentang pengalaman mereka pada waktu muda (baca cerita Pendekar Bodoh).
Demikianlah, sambil bercakap-cakap Ma Hoa dan Lili, diikuti oleh Lilani dan Lo Sian serta semua orang
Haimi, melanjutkan perjalanan menuju ke lereng Alkata-san di mana telah nampak tembok besar benteng
tentara kerajaan itu.
********************
Marilah kita tinggalkan dulu mereka yang sedang menuju ke benteng itu dan menengok keadaan Goat Lan
dan Hong Beng yang sudah lama kita tinggalkan.
Karena mendapat pertolongan dari Kam Liong yang memberi kuda kepada mereka dan semua pengawal,
perjalanan Hong Beng dan Goat Lan menuju ke Bukit Alkata-san dapat berjalan cepat dan lancar. Dan
sebagaimana yang dituturkan oleh Kam Liong, benteng itu meski pun sudah tua dan banyak yang rusak,
akan tetapi masih baik dan kuat, juga merupakan tempat penjagaan yang sangat baiknya. Hong Beng
bersama semua prajurit yang mengawalnya lalu menggulung lengan baju dan memperbaiki bangunanbangunan
yang berada di dalam benteng itu.
Beberapa hari kemudian, Hong Beng dan Goat Lan mulai mengatur siasat untuk dapat menjalankan tugas
mereka. Dari para penyelidik yang mereka sebar di sekitar daerah itu, mereka mendapat keterangan
bahwa tentara Mongol banyak yang bersembunyi di atas bukit yang berada di sebelah utara Bukit Alkatasan,
dan amatlah sukar untuk menyerang ke sana.
Selain daerah itu tertutup salju dan dingin sekali, juga pertahanan tentara Mongol sangat kuatnya.
Bagaimanakah mereka yang hanya memiliki sedikit pasukan itu dapat melawan tentara Mongol yang
ribuan jumlahnya?
“Lebih baik kita menjaga dan mengatur penjagaan,” kata Hong Beng. “ Kalau kita melihat ada barisan
musuh yang hendak menyeberang ke selatan dan melalui bukit ini, baru kita serang mereka.”
Penjagaan dilakukan siang malam dan benar saja, beberapa hari berturut-turut, mereka berhasil memukul
mundur pasukan-pasukan kecil bangsa Mongol yang hendak menuju ke selatan, seperti biasanya untuk
dunia-kangouw.blogspot.com
melakukan keganasan terhadap penduduk Tiongkok di balik tembok besar. Setiap kali terjadi pertempuran,
selalu Hong Beng dan Goat Lan memperlihatkan kepandaiannya dan tak ada seorang pun perwira Mongol
dapat bertahan menghadapi pendekar-pendekar remaja yang gagah dan sakti ini.
Pasukan-pasukan Mongol yang hendak melakukan penggarongan ke selatan terpaksa mengambil jalan
memutar dan tidak berani lagi melewati Bukit Alkata-san di mana terjaga oleh pasukan yang dipimpin oleh
dua orang muda ini.
Sementara itu, hubungan Hong Beng dan Goat Lan makin erat dan cinta mereka berakar makin mendalam.
Namun, sebagai pemuda dan pemudi yang tidak saja gagah lahirnya akan tetapi juga mulia batinnya,
kedua orang muda ini membatasi hubungan mereka dan sama sekali tidak pernah berani melanggar
kesusilaan.
Baik Hong Beng mau pun Goat Lan bisa menekan cinta kasih mereka dan sudah merasa cukup bahagia
dengan saling berpegang tangan atau saling pandang dengan sinar mata penuh arti, penuh cinta kasih dan
kemesraan. Tentu saja Goat Lan semakin menghargai tunangannya ini.
Beberapa pekan mereka berada di sana dan merasa senang karena daerah Alkata-san boleh dibilang
aman, terutama yang termasuk di dalam lingkungan benteng itu. Tidak ada anggota pasukan yang berani
meninggalkan benteng, karena kuatir kalau-kalau pasukan musuh datang menyerbu.
Maka mereka sama sekali tidak tahu bahwa hanya seratus li dari tempat itu terdapat Lili dan Ma Hoa. Juga
mereka tidak tahu bahwa dari selatan sudah datang serombongan orang terdiri dari Cin Hai, Lin Lin dan
Kwee An. Sementara dari jurusan lain datang pula pasukan besar yang dipimpin sendiri oleh Kamciangkun
atau Kam Liong.
Pada suatu senja kedua teruna remaja ini duduk di bawah pohon di mana mereka sering kali duduk,
bercakap-cakap dengan asyik dan mesranya. Bulan hanya sedikit, bercahaya pudar sebab kalah oleh
cahaya matahari yang masih ada sisanya menerangi permukaan bumi.
“Lan-moi...” terdengar Hong Beng berkata pelan sambil memegang tangan tunangannya.
“Ada apa, Koko?” jawab Goat Lan sambil memandang mesra. Bibirnya tersenyum manis sekali.
“Kalau keadaan sudah aman dan kelak kita kembali ke selatan, mendapat pengampunan dari Hongsiang...”
“Ya...?”
“Aku akan minta pada ayah bundaku agar... pernikahan kita dapat segera dilangsungkan”
Wajah yang manis itu memerah sampai ke telinganya dan jari-jari tangan yang runcing dan halus kulitnya
itu mencubit. “Ahh, Koko, kau ini ada-ada saja. Tergesa-gesa ada apa sih?”
Hong Beng menengok ke kanan di mana Goat Lan duduk. Mereka duduk di atas rumput dan angin bertiup
sepoi-sepoi menambah segar dan gembira perasaan. Pada senja hari itu, Goat Lan mengenakan baju
berkembang-kembang warna emas, leher baju dan ikat pinggang kuning, begitu pula celananya terbuat
dari sutera kuning yang bersih dan halus. Pinggiran bajunya sebelah bawah berwarna merah, sama
merahnya dengan bunga yang terselip di atas telinga kanannya. Rambutnya disusun meniru model gadisgadis
Mongol atau Boan yang pernah dilihatnya di sekitar tempat itu, digelung ke atas dan selebihnya
diurai memanjang di belakang punggungnya. Gadis ini benar-benar nampak cantik jelita, terutama sekali
dalam pandang mata Hong Beng yang mencintanya.
“Lan-moi, aku bukan hendak tergesa-gesa, akan tetapi aku ingin selamanya, tak sedetik pun berpisah lagi
darimu. Kalau kita sudah menikah, barulah harapan itu terkabul!”
Goat Lan tertawa geli sebab merasa lucu mendengar ucapan kekasihnya. Ia memandang dan diam-diam
merasa kagum melihat betapa kekasihnya nampak tampan dan gagah sekali dalam pakaian yang
berwarna biru itu.
“Jika begitu, kita harus menjadi sepasang kupu-kupu atau seperti sepasang burung yang selalu
beterbangan di udara, siang malam tak pernah berpisah lagi.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Mengapa harus menjadi kupu-kupu atau burung? Kalau kita sudah menikah, meski pun kita masih menjadi
manusia, kita dapat selalu berkumpul, takkan berpisah lagi sebentar pun.”
“Mana mungkin?” Goat Lan kembali tertawa. “Aku harus mengatur rumah tangga, harus masak, dan kau
harus bekerja. Bagaimana kita bisa selalu berkumpul?”
Demikianlah, sepasang orang muda yang bahagia ini bersenda gurau, kadang-kadang bersungguhsungguh
membicarakan masa datang yang penuh harapan dan cita-cita. Tak terasa lagi cuaca menjadi
makin gelap dan dua orang muda yang sedang tenggelam dalam alunan kasih asmara ini sama sekali tidak
tahu betapa bayangan sesosok tubuh yang amat gesit laksana burung walet hitam, melompat dari
wuwungan ke wuwungan lain di atas bangunan-bangunan dalam benteng itu!
Para prajurit yang sedang bertugas juga tidak melihat bayangan ini yang menandakan bahwa orang itu
benar-benar berkepandaian tinggi sehingga dapat menyerobot masuk ke dalam benteng tanpa diketahui
orang. Dari atas wuwungan yang terdekat dengan tempat Hong Beng dan tunangannya duduk, orang itu
memandang ke arah mereka. Kemudian, dengan gerak lompat Naga Hitam Naik ke Langit, ia lalu
melompat dari atas wuwungan itu ke atas pohon yang berada belakang Hong Beng.
Ginkang dari orang itu benar-benar mencapai tingkat tinggi karena ketika ia tiba di pohon itu, tak selembar
pun daun pohon bergoyang! Akan tetapi ia salah hitung kalau mengira bahwa Hong Beng tidak mengetahui
kehadirannya. Walau pun delapan puluh bagian dari semangat pemuda ini telah terbang oleh gelombang
asmara, namun yang dua puluh bagian sudah lebih dari cukup untuk mengingatkannya bahwa ada gerakan
sesuatu yang mencurigakan di atas kepalanya!
Di dalam keadaan bahaya, semangat pembelaan dan perlindungan terhadap kekasihnya timbul dan tanpa
sengaja Hong Beng merangkulkan tangan kanannya pada pundak Goat Lan, sedangkan tangan kirinya
sambil mengerahkan tenaga lweekang segera dipukulkan dengan dorongan ke atas pohon dibarengi
bentakan, “Turunlah kau!"
Walau pun hanya dilakukan sambil duduk dan dengan tangan kiri, namun tenaga pukulan Hong Beng ini
mengandung hawa pukulan yang cukup hebat sehingga cabang dan daun pohon itu bagaikan tertiup angin
dari bawah!
“Sie-enghiong, jangan menyerangku!” terdengar seruan dari atas.
Bayangan yang amat gesitnya melompat turun dengan gerak tipu Garuda Menyambar Air dan sebentar
saja di depan Hong Beng dan Goat Lan yang sudah bangun itu berdirilah seorang pemuda yang tampan.
Goat Lan segera mengenal orang ini sebagai Song Kam Seng.
Ia mendengar dari Lili bahwa pemuda ini dahulunya ditolong oleh Lili dan Lo Sian, akan tetapi kemudian
membalik dan menjadi murid Wi Kong Siansu. Ia juga telah mendengar bahwa pemuda ini sesungguhnya
adalah putera Song Kun, sute dari Lie Kong Sian yang lihai dan jahat, dan yang tewas dalam tangan
Pendekar Bodoh! Tentu saja dia menjadi kaget dan bercuriga sekali.
“Siapa kau dan apa maksud kedatanganmu?” Hong Beng membentak sambil menatap tajam dengan sikap
siap sedia.
Sebelum Kam Seng menjawab, Goat Lan mendahuluinya, “Beng-ko, dia ini adalah Song Kam Seng yang
pernah kuceritakan kepadamu. Inilah putera dari Song Kun, orang tak berbudi yang melupakan
pertolongan dan berbalik memusuhi Lili!”
Pemuda itu menjura dengan hormat dan berkata dengan suara dingin, “Memang benar, aku adalah Song
Kam Seng putera Song Kun yang terbunuh oleh Pendekar Bodoh.”
“Apakah kedatanganmu ini ada hubungannya dengan urusan itu?” Hong Beng bertanya dengan sikap
menantang.
“Tidak, Saudara Sie Hong Beng, sekarang belum tiba waktunya bagiku untuk membuat perhitungan.
Semua perhitungan akan kubuat dan kubereskan dengan ayahmu sendiri, kau tidak usah ikut campur.
Sekarang ada urusan pribadi. Aku hendak bicara mengenai urusan negara, tentang pengacauan orang
Mongol, dan yang berhubungan pula dengan persekutuan yang diadakan oleh Ban Sai Cinjin dan orangdunia-
kangouw.blogspot.com
orang lain.”
“Hemm, bukankah Ban Sai Cinjin itu susiok-mu?” Goat Lan bertanya dengan pandangan penuh curiga.
“Betul, Nona Kwee. Akan tetapi di dalam hal ini, paham dia jauh berbeda dengan aku. Betapa pun juga,
aku bukanlah seorang pengkhianat bangsa dan aku merasa tak setuju sekali dengan tindakan yang telah
diambil oleh Susiok. Juga perbuatannya yang terakhir ini, yaitu menculik adikmu, Nona, amat tidak
kusetujui dan untuk itulah maka aku sengaja datang ke tempat ini.”
Bukan main terkejutnya hati Goat Lan mendengar ini, juga Hong Beng merasa kaget dan cepat-cepat dia
mengajak pemuda itu masuk ke dalam bangunan yang menjadi tempat tinggalnya. Mereka bertiga lalu
duduk menghadapi meja.
“Apa maksudmu dengan penculikan adikku yang kau katakan tadi?” Goat Lan langsung bertanya kepada
Song Kam Seng.
Pemuda itu menarik napas panjang. “Sudah bukan rahasia lagi bahwa Pendekar Bodoh bersama kawankawannya,
juga ayahmu yaitu Kwee-lo-enghiong, sedang menuju ke sini untuk membantu menjaga tapal
batas dan mengusir pengacau-pengacau bangsa Mongol dan Tartar. Hal ini sangat menggelisahkan hati
Malangi Khan, karena baru kalian berdua saja berada di sini sudah merupakan halangan besar, apa lagi
kalau orang-orang tuamu datang membantumu di sini. Oleh karena itu, Susiok yang menjadi tangan kanan
Malangi Khan, kemudian turun tangan. Dia tahu bahwa ibumu hanya berada berdua saja dengan adikmu
yang masih kecil, karena itu dengan ditemani oleh Coa-ong Lojin dan seorang pembantunya, Ban Sai
Cinjin lalu datang ke Tiang-an dan akhirnya dapat menculik Kwee Cin adikmu, bahkan sudah berhasil
mencuri kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip dari Sin Kong Tianglo.”
Goat Lan menjadi pucat sekali. Ia memandang tajam dan berkata, “Kau yang memihak musuh, mengapa
kau datang menceritakan hal ini? Apa kehendakmu?”
“Sudah kukatakan tadi, Nona, aku bukan datang dengan niat jahat. Aku terpaksa berada di utara karena
terbawa oleh Susiok dan terpaksa karena suhu-ku malu hati kepada Ban Sai Cinjin, sehingga biar pun
Suhu tidak dapat datang sendiri, namun Suhu menyuruhku mewakilinya. Maksud kedatanganku dan
kenapa aku menceritakan semua ini kepadamu, juga kepada Saudara Sie Hong Beng, tidak lain supaya
kalian bersiap sedia. Ketahulilah bahwa Ban Sai Cinjin hendak menjadikan adikmu sebagai tanggungan.
Tidak lama lagi kalian tentu akan mendengar ancaman dari Ban Sai Cinjin bahwa kalau Pendekar Bodoh
bersama kawan-kawannya membantu tentara kerajaan, maka Kwee Cin adikmu itu akan dibinasakan lebih
dulu!”
“Bangsat keji!” Goat Lan berseru keras sambil melompat bangun dan tanpa terasa pula sepasang bambu
runcingnya sudah berada di kedua tangannya. “Orang she Song, lekas tunjukkan kepadaku di mana adikku
ditahan agar aku dapat pergi menolongnya. Kalau kau tidak mau menunjukkan tempat itu, berarti bahwa
kebaikanmu ini palsu belaka untuk menjebak kami dan untuk itu aku akan membinasakanmu di sini dan
sekarang juga!”
“Nona Kwee, kalau aku mau menunjukkan tempat itu bukan berarti bahwa aku takut akan ancamanmu, aku
lebih takut apa bila aku disangka ikut berjiwa pengkhianat. Akan tetapi biar pun dengan segan, aku harus
memberitahukan padamu bahwa mendatangi tempat itu untuk menolong adikmu sama halnya dengan
membunuh diri! Penjagaan di situ selain kuat sekali, juga Susiok sendiri berada di sana, selalu berdekatan
dengan adikmu. Dan tentang kepandaian Susiok, dia telah memperoleh kemajuan hebat apa lagi dibantu
oleh Coa-ong Lojin dengan anak buahnya!”
“Tidak peduli, aku tidak takut! Lekas tunjukkan di mana tempat adikku ditahan!” Goat Lan mendesak.
Ada pun Hong Beng tidak berkata sesuatu sebab ia maklum bahwa tunangannya sedang gelisah, bingung
dan kuatir sekali. Song Kam Seng lalu minta kertas dan alat tulis, lalu menggambarkan keadaan gunung di
sebelah utara Alkata-san, di mana terdapat markas Malangi Khan dan bala tentaranya. Tempat tahanan
Kwee Cin itu ternyata berada paling belakang sehingga untuk datang ke tempat itu harus lebih dahulu
melalui benteng dari tentara Mongol!
“Nah, kalian lihat sendiri betapa berbahayanya untuk menyerbu tempat ini. Aku memberi tahukan semua ini
agar supaya kalian dapat merundingkan dengan orang-orang tuamu dan mencari siasat yang baik, jangan
sekali-kali berlaku sembrono. Sungguh mati kalau sampai berlaku nekad dan terjadi sesuatu yang
dunia-kangouw.blogspot.com
mengerikan, akulah orang pertama yang akan merasa menyesal sekali. Selamat tinggal!”
“Ucapanmu tidak menakutkan kami, Song Kam Seng! Betapa pun juga aku akan pergi membebaskan
adikku dan merampas kembali Thian-te Ban-yo Pit-kip!”
Mendengar suara nona ini demikian tetap dan nekad, Kam Seng yang sudah melompat sampai di pintu itu
segera menunda kepergiannya. Dia menengok dan berkata, “Jalan satu-satunya yang lebih aman adalah
dari belakang bukit sebab di sana tidak ada tentara Mongol, akan tetapi perjalanan melalui tempat itu amat
berbahaya. Lagi pula setelah kau berhasil memasuki benteng sebelah belakang itu, kau masih harus
berhadapan dengan Susiok, dengan Coa-ong Lojin, dan banyak lagi orang-orang kang-ouw termasuk
empat puluh orang lebih anggota Coa-tung Kai-pang.” Sesudah berkata demikian, tubuh Kam Seng
berkelebat dan lenyap dari situ!
“Ginkang-nya boleh juga!” kata Hong Beng.
“Koko, kita harus menyusul Adik Cin sekarang juga. Siapa tahu kalau-kalau jahanam itu akan
mengganggunya.”
“Lan-moi, kurasa kata-kata Song Kam tadi ada benarnya. Dalam hal ini kita harus berlaku hati-hati. Bukan
sekali-kali aku merasa jeri mendengar penjagaan musuh yang demikian kuatnya, akan tetapi bila memang
benar orang tua kita tak lama lagi akan datang, apakah tidak lebih baik berunding dulu dengan mereka,
dan minta nasehat mereka bagaimana? Kau tahu bahwa Ban Sai Cinjin akan menjaganya dengan luar
biasa kuatnya karena dia maklum bahwa keluarga kita juga tidak akan tinggal diam begitu saja!”
“Justru sekaranglah kita harus bertindak, Koko. Bukankah tadi Song Kam Seng sudah menyatakan bahwa
tak lama lagi tentu Ban Sai Cinjin akan mengancam kita agar jangan membantu tentara kerajaan? Hal ini
berarti bahwa sekarang Ban Sai Cinjin belum tahu bahwa kita telah mendengar mengenai diculiknya
adikku, maka penjagaan di sana tentu belum begitu diperkuat. Kita datang mendadak pula, kalau mungkin
menangkap Ban Sai Cinjin dan memaksanya mengembalikan kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip serta
melepaskan Adik Cin.”
Hong Beng memandang tunangannya. Dia segera tahu bahwa kehendak dan ketetapan hati tunangannya
yang tabah ini tidak mungkin dapat dibantah lagi, dan dia pun maklum bahwa pekerjaan ini sungguhsungguh
amat berbahaya, maka akhirnya dia menyatakan persetujuannya.
Hong Beng lalu memberitahukan kepada para prajurit bahwa dia dan Goat Lan hendak melakukan
penyelidikan pada markas musuh, kemudian pemuda ini membuat sepucuk surat yang dimasukkan di
dalam sampul, diberikan kepada pengawal dengan pesan agar supaya surat itu diberikan kepada
Pendekar Bodoh atau kawan-kawan yang lain kalau ternyata ada yang datang mencari mereka di benteng
ini.
Maka berangkatlah Hong Beng beserta Goat Lan pada malam hari itu juga, membawa tongkat hitamnya
yang menjadi tanda bahwa dia adalah ketua dari Hek-tung Kai-pang, sedangkan Goat Lan tidak lupa
membawa sepasang bambu runcingnya…..
********************
Sie Cin Hai, Lin Lin dan Kwee An yang melakukan perjalanan cepat serta mereka sudah berpengalaman di
daerah ini di waktu mereka masih muda, dapat lebih dulu tiba di kaki Gunung Alkatasan. Beberapa kali
mereka mengobrak-abrik pasukan-pasukan Mongol yang berhasil menerobos ke selatan dari jurusan lain
karena menjauhi Bukit Alkata-san yang dijaga oleh sepasang pendekar remaja yang mereka takuti itu.
Oleh karena melakukan perjalanan sambil membasmi pasukan-pasukan musuh ini, maka mereka agak
terlambat sampai di benteng di mana Hong Beng dan Goat Lan mengatur penjagaan pasukan mereka
yang kecil jumlahnya.
Para penjaga benteng dari jauh sudah melihat tiga bayangan orang yang mendatangi dengan kecepatan
luar biasa sekali. Ketika melihat tiga orang gagah itu berdiri di depan pintu gerbang, seorang penjaga
membentak,
“Siapa diluar?!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kami orang tua dari Sie Hong Beng dan Kwee Goat Lan. Apakah mereka ada di dalam?” seru Kwee An
dengan suaranya yang nyaring.
Semua orang di dalam benteng itu tidak ada yang mengenal Pendekar Bodoh, isterinya, dan Kwee Taihiap,
maka mendengar disebutnya orang-orang tua Hong Beng dan Goat Lan, mereka cepat membuka pintu dan
tiga orang pendekar ternama itu diterima dengan sinar mata kagum dan juga girang. Siapa orangnya yang
tak menjadi girang kedatangan pendekar-pendekar yang boleh diandalkan dalam daerah dan keadaan
yang berbahaya sekali itu?
“Sie-enghiong bersama Kwee-lihiap baru dua hari ini pergi meninggalkan benteng untuk menyelidiki
kedudukan musuh di gunung utara. Sie-enghiong malahan ada meninggalkan sepucuk surat, maka
kebetulan sekali Sam-wi datang hari ini. Kami sendiri sudah merasa amat kuatir.” Kepala pengawal
menyerahkan surat yang ditinggalkan oleh Hong Beng.
Cin Hai segera menerima surat itu dan membacanya,
Ayah, Ibu, Kwee-pekhu atau Lili dan siapa saja yang kebetulan menerima surat ini!
Kami, Sie Hong Beng dan Kwee Goat Lan, hari ini didatangi oleh Song Kam Seng yang menggambarkan
bahwa Kwee Cin sudah diculik oleh Ban Sai Cinjin dan kini ditahan di dalam benteng orang-orang Mongol
di bukit utara. Oleh karena itu kami segera pergi ke sana untuk menolong Adik Cin dan mencoba
merampas kembali kitab obat yang juga dicuri oleh kawan-kawan Ban Sai Cinjin.
Dari sini menuju ke bukit itu melalui belakang benteng, menurut perhitungan Song Kam Seng, dapat
dicapai dalam waktu satu setengah hari, maka jika dalam waktu tiga atau empat hari kami tidak kembali ke
benteng, berarti kami telah tertahan atau terbinasa oleh musuh. Sekian harap menjadikan maklum.
Terima kasih,
Sie Hong Beng.
Tidak saja Cin Hai yang terkejut, tetapi Lin Lin dan Kwee An yang mendengar Cin Hai membacakan surat
itu, menjadi amat kaget. Kwee An sendiri menjadi pucat wajahnya.
“Bagaimana bisa terjadi hal semacam ini?” tanyanya dengan mata mulai menjadi merah karena kemarahan
mulai bernyala di dalam hatinya.
“Kita harus berlaku tenang dan sabar,” kata Cin Hai yang di dalam menghadapi segala macam urusan
bersikap tenang seperti suhu-nya. “Menurut laporan kepala pengawal tadi mereka baru dua hari pergi. Apa
bila sekarang kita menyusul ke sana, belum tentu kita dapat bertemu dengan mereka sehingga bahkan
dapat menyulitkan keadaan. Kita harus percaya penuh kepada Hong Beng dan Goat Lan. Agaknya tak
mungkin mereka berdua akan dapat ditawan musuh. Biarlah kita menanti sampai empat hari, jadi dua hari
lagi, kalau mereka tidak pulang juga, barulah kita mengambil keputusan apa yang harus kita lakukan.”
Kwee An mengangguk menyatakan setuju. Sebetulnya dia merasa amat gelisah karena mendengar bahwa
puteranya telah diculik orang, akan tetapi harus dia akui bahwa kalau sekarang ia nekat menyusul Goat
Lan, amat dikuatirkan ia bahkan akan mempersulit dan mengacaukan usaha Hong Beng dan Goat Lan
yang sedang berusaha menolong Kwee Cin. Lagi pula, ia tidak sangsi lagi akan kelihaian puterinya dan
juga kelihaian Hong Beng yang seperti ucapan Pendekar Bodoh tadi, agaknya tidak mudah ditawan oleh
musuh.
Alangkah girang hati semua orang, termasuk juga para prajurit di dalam benteng itu, ketika pada keesokan
harinya, dari jurusan barat datanglah serombongan orang-orang Haimi yang dipimpin oleh Lili dan Ma Hoa
diikuti pula oleh Sin-kai Lo Sian!
Ma Hoa cepat menceritakan sejelasnya pengalamannya sehingga puteranya, Kwee Cin, sampai diculik
orang, berikut kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip, sebagaimana telah dituturkan dengan jelas pada bagian
depan. Bukan main marahnya Cin Hai, Lin Lin dan Kwee An mendengar penuturan ini.
“Betapa pun juga,” kata Kwee An, “kita harus menanti sampai besok pagi. Kalau Goat Lan dan Hong Beng
belum juga kembali barulah kita beramai akan menyerbu ke sana dan awaslah Ban Sai Cinjin kalau dia
berani mengganggu Cin-ji (Anak Cin)!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Sesudah membaca surat yang ditinggalkan oleh Hong Beng, Ma Hoa juga sependapat dengan suaminya,
yaitu akan menanti sehari lagi. Akan tetapi tidak demikian dengan Lili. Diam-diam hati gadis ini merasa
gemas dan benci sekali kepada Ban Sai Cinjin. Kakek pesolek itu sangat pengecut dan licin, siapa tahu
kalau-kalau Hong Beng dan Goat Lan terjebak ke dalam perangkapnya?
Malam hari itu, Lili lalu bertemu dengan Nurhacu, orang Haimi yang tua dan banyak pengalaman di daerah
utara ini. Dari Nurhacu dia mendapatkan banyak petunjuk tentang keadaan bukit di utara itu.
Benteng itu kini menjadi ramai dan penjagaan diperkuat dengan adanya pasukan Haimi yang juga gagah.
Dan pada malam hari itu pula, Lili keluar dengan diam-diam melalui penjagaan yang dilakukan oleh orangorang
Haimi, dan di bawah cahaya bulan purnama yang muram, gadis ini berlari cepat sekali menuju ke
utara! Dia hendak menyusul Hong Beng dan Goat Lan, dan tentu saja kepergiannya ini tidak diberitahukan
kepada ayah bundanya, karena dia tahu bahwa mereka pasti tidak akan mau meluluskannya.
Ada pun Lilani segera dapat merampas hati Lin Lin yang merasa suka dan amat kasihan melihat nasib
gadis ini. Kwee An dan Cin Hai juga segera menganggap gadis ini seperti keponakan sendiri sehingga
Lilani merasa amat terharu.
Gadis yang lincah dan rajin ini lalu cepat-cepat melayani pendekar-pendekar gagah itu sehingga dua
pasang suami isteri itu semakin menyayanginya. Benar-benar Lilani dapat menyesuaikan diri dengan
keadaan di sekelilingnya, dan inilah yang membuat seseorang selalu disuka.
Tentu saja pada keesokan harinya, semua orang menjadi terkejut dan geger saat melihat betapa Lili telah
tidak ada pula di dalam benteng. Cin Hai dan Lin Lin sudah mencari ke mana-mana, akan tetapi tidak
nampak bayangan Lili. Nurhacu yang mendengar betapa semua orang mencari Lili, lalu menghadap Cin
Hai dan menceritakan bahwa malam tadi Lili mencari keterangan sejelasnya tentang keadaan bukit di utara
itu.
“Tidak salah lagi!” Cin Hai membanting kakinya. “anak bengal itu dengan lancang tentu sudah menyusul
kakaknya ke sana!”
Pada saat semua orang tengah membicarakan urusan perginya Lili ini, tiba-tiba terdengar suara gemuruh
dan tak lama kemudian seorang pengawal dengan wajah berseri memberi laporan akan datangnya sebuah
barisan yang besar sekali, yang dipimpin sendiri oleh Kam-ciangkun dari kota raja!
Semua orang menyambut dan benar saja bahwa yang memimpin barisan adalah Kam Liong. Dengan
penuh hormat, Kam Liong memberi penghormatan kepada Cin Hai suami isteri dan Kwee An serta Ma
Hoa, yang dianggapnya pendekar-pendekar yang tingkatnya lebih tinggi hingga semua orang secara diamdiam
menaruh perhatian dan suka kepada panglima muda ini.
Ketika Kam Liong mendengar bahwa Hong Beng dan Goat Lan sudah empat hari tidak kembali dari
penyelidikan mereka di markas musuh dan bahwa tadi malam Lili juga telah mengejar ke sana, pemuda ini
lalu mengerutkan keningnya sambil berkata, “Berbahaya, berbahaya! Bukit itu penuh dengan tentara
Mongol, bahkan Malangi Khan sendiri berada di tempat itu! Ahh, terlalu berbahaya! Lebih baik kita segera
menyerang dan menyerbu dengan mendadak, barang kali saja masih dapat menolong putera Kwee-loenghiong
dan kedua Saudara Hong Beng dan Goat Lan!”
“Jangan, Kam-ciangkun. Itu terlalu berbahaya. Kita harus mencari daya upaya lain untuk menolong mereka
itu, dan pula belum tentu ketiga orang anak kami akan mudah saja mengalami bencana di tempat itu!” kata
Cin Hai.
Pada saat itu pula terdengar suara kaki kuda dan ternyata seorang Mongol yang berkuda dengan cepat
sekali, datang membawa sesampul surat yang katanya harus disampaikan kepada Pendekar Bodoh!
Melihat orang Mongol itu datang membawa tanda utusan Raja Mongol, para prajurit tidak berani
mengganggunya dan orang itu lalu dihadapkan kepada Cin Hai. Orang Mongol itu bertubuh tinggi kurus,
bermata tajam dan ganas, sedangkan bibirnya menyeringai seperti sikap seorang yang tidak takut mati.
“Aku datang sebagai utusan Malangi Khan yang maha besar!” katanya setelah ia dibawa ke dalam
benteng.
“Mana surat yang kau bawa?” Cin Hai bertanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Harus kuserahkan sendiri kepada Pendekar Bodoh,” jawab utusan itu.
“Akulah orang yang dimaksudkan itu,” jawab Cin Hai.
Orang Mongol itu memandang seperti tak percaya. Orang ini tampaknya demikian lemah, pikirnya, mana
mungkin dia adalah Pendekar Bodoh yang demikian terkenal dan bahkan ditakuti oleh Malangi Khan
sendiri?
Cin Hai dapat menduga pikiran orang. Sambil tersenyum ia berkata, “Kalau kau hendak berlama-lama,
biarlah aku mengambilnya sendiri!”
Tangan kirinya bergerak perlahan ke depan, mengarah ke dada orang Mongol itu. Orang Mongol itu cepat
menangkis sambil mengerahkan tenaganya, akan tetapi ketika lengan tangannya beradu dengan tangan
Cin Hai, ia kesakitan dan sedetik kemudian seruannya terhenti karena ia telah terkena totokan jari tangan
kiri Cin Hai. Orang Mongol itu berdiri seperti patung dengan sikap masih menangkis sehingga nampak lucu
sekali.
Cin Hai kemudian menggeledah saku orang itu dan mendapatkan sesampul surat yang ditujukan kepada
Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya. Ketika ia membuka sampulnya dan membaca, ternyata bahwa
surat itu adalah surat yang ditulis oleh Ban Sai Cinjin dan yang ditujukan kepadanya dan semua kawankawannya,
bahwa kalau Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya ikut maju membantu bala tentara kerajaan,
maka Kwee Cin akan dibunuh dan kepalanya akan dibawa ke medan perang.
Cin Hai dan Kwee An menjadi merah sekali mukanya. Cin Hai kemudian membebaskan totokannya dan
setelah orang Mongol itu dapat bergerak lagi, ia membentak, “Kau bilang diutus oleh Malangi Khan,
mengapa yang kau bawa ini adalah surat dari Ban Sai Cinjin?”
“Apakah bedanya Malangi Khan dan Ban Sai Cinjin?” Orang Mongol itu menjawab. “Ban Sai Cinjin telah
menjadi tangan kanan Malangi Khan, maka setiap perintah Ban Sai Cinjin tentu sudah disetujui oleh
Malangi Khan!”
“Baik, kau kembalilah kemudian sampaikan kepada Ban Sai Cinjin bahwa kami tak akan melanggar
larangannya dan jangan dia sekali-kali berani mengganggu Kwee Cin karena kalau dia mengganggu anak
itu, biar pun ia akan lari sampal ke neraka, pedangku pasti akan mendapatkan lehernya!”
Utusan itu lalu dilepaskan dan dengan kudanya yang luar biasa, utusan Mongol ini lalu membalap hingga
sebentar saja dia hanya nampak sebagai titik hitam dengan debu yang mengebul di belakangnya.
“Nah, Kam-ciangkun, kau lihat dan mendengar sendiri. Kalau kita menyerbu begitu saja, pasti akan terbukti
ancaman Ban Sai Cinjin yang berhati kejam dan curang.”
“Kalau demikian, Sie Taihiap. Biarlah siauwte memimpin sendiri barisan kerajaan untuk menggempur
gunung itu. Ada pun Cu-wi sekalian lebih baik mengambil jalan belakang untuk mencari saudara-saudara
yang sampai sekarang belum kembali.”
“Ini pun kurang sempurna, Kam-ciangkun,” kata Kwee An. “Memang kita semua sudah berpikir bulat untuk
bersama-sama menghalau pengacau negara dan memusuhi barisan Mongol yang membikin kekacauan.
Pihak Mongol selain banyak jumlahnya, juga di sana mereka dibantu oleh orang-orang pandai semacam
Ban Sai Cinjin dan entah siapa lagi. Kalau kau maju dan sampai mengalami kekalahan, bukankah itu
melemahkan semangat para prajurit? Lebih baik kau biarkan kami mencari anakku lebih dahulu dan kalau
sudah berhasil dan selamat barulah kita bersama membikin pembalasan dan menghancurkan barisan
Malangi Khan di bukit itu.”
“Berilah waktu lima hari kepada kami,” Cin Hai menyambung, “sesudah lewat lima hari boleh kau
memimpin barisanmu menggempur musuh.”
Tentu saja Kam Liong tidak berani membantah dan menyatakan baik. Sikap pemuda ini amat
menyenangkan hati dua pasang suami isteri pendekar itu, karena berbeda dengan sikap panglimapanglima
lain yang biasanya amat sombong dan angkuh. Sikap panglima muda ini benar-benar menarik
hati sehingga diam-diam Lin Lin menyampaikan kepada Ma Hoa dan Kwee An tentang lamaran yang
diajukan oleh paman pemuda ini terhadap Lili.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Memang dia orang baik, agaknya cukup pantas untuk menjadi mantumu,” kata Kwee An kepada adiknya
ini, “tetapi betapa pun juga, sekarang belum waktunya bagi kita untuk membicarakan soal ini. Lagi pula
dalam hal perjodohan harus ada persesuaian antara anak, ibu dan ayah. Jika ketiganya cocok barulah
perjodohan itu dianggap baik dan akan berbahagia. Kita tunggu saja bagaimana pendapat Lili sendiri
tentang pinangan itu.”
Mereka berempat lalu berunding mengenai urusan mereka untuk menolong Kwee Cin dan juga mencari
Hong Beng, Goat Lan dan Lili.
“Lebih baik kita bagi-bagi tugas,” kata Kwee An, “biarlah aku dan Cin Hai pergi ke sarang mereka. Ada pun
kau dan Lin Lin tinggallah saja di sini. Siapa tahu kalau-kalau utusan Mongol tadi hanya merupakan
pancingan supaya kita semua pergi mengejar ke sana dan meninggalkan benteng ini. Jika kita semua pergi
dan mereka tiba-tiba datang menyerang, kasihan sekali kalau sampai Kam-ciangkun mengalami kekalahan
hebat! Kurasa aku dan Cin Hai berdua sudah cukup untuk menyelidiki keadaan mereka di gunung itu.”
“Apa yang dikatakan oleh Kwee An memang benar dan aku merasa setuju sekali,” kata Cin Hai yang walau
pun menjadi adik ipar Kwee An namun selalu menyebut namanya begitu saja karena sudah menjadi
kebiasaan semenjak mereka belum menikah.
Biar pun merasa kecewa, namun Lin Lin dan Ma Hoa tidak membantah, karena memang tepat apa yang
diusulkan oleh Kwee An itu. Pula tugas menjaga benteng itu tidak kalah pentingnya, kalau tidak dapat
disebut lebih berbahaya.
Berangkatlah Cin Hai dan Kwee An pada hari itu juga menuju ke bukit utara itu. Seperti juga Lili, sebelum
berangkat mereka meminta keterangan mengenai kedudukan bukit itu kepada Nurhacu, karena biar pun
Cin Hai dan Kwee An pernah mengadakan perantauan di daerah utara pada waktu mereka muda, namun
mereka belum pernah naik ke bukit itu.
(baca cerita Pendekar Bodoh)
Nurhacu yang tadinya dipaksa membantu orang-orang Mongol, tentu saja sudah pernah masuk ke dalam
markas besar Malangi Khan. Sebab itu dengan jelas ia menggambarkan kedudukan markas musuh yang
terjaga kuat itu.
Setelah kedua orang pendekar itu meninggalkan kaki Bukit Alkata-san di sebelah utara dan sedang berlari
cepat menuju ke bukit yang menjulang tinggi di sebelah utara itu, dari sebuah tikungan jalan tiba-tiba saja
keluarlah seorang pemuda tampan yang berlari cepat dengan gerakan gesit sekali. Pemuda itu lalu
berhenti menghadang di tengah jalan ketika dia melihat dua orang laki-laki setengah tua yang berlari cepat
itu.
Cin Hai dan Kwee An merasa curiga dan mereka pun cepat menahan kaki mereka dan berhenti di depan
pemuda itu. Untuk beberapa lama mereka saling pandang, kemudian pemuda itu dengan sikap sopan lalu
menjura dan bertanya,
“Mohon tanya, siapakah Ji-wi Lo-enghiong yang gagah ini? Dalam keadaan seperti saat ini, melihat dua
orang gagah menuju ke utara, sungguh amat mengherankan hati.”
“Anak muda, kau pandai sekali membolak-balik kenyataan. Kami yang menuju ke utara belum dapat
dikatakan aneh, sebaliknya kau seorang pemuda yang gagah akan tetapi dalam waktu seperti ini
berkeliaran di daerah musuh betul-betul menimbulkan kecurigaan besar!”
Merahlah wajah pemuda itu. “Maaf, kau berkata benar, Lo-enghiong. Memang aku Song Kam Seng sudah
salah memilih jalan. Akan tetapi aku sedang berusaha mencari jalan yang benar. Kuulangi lagi, siapakah
gerangan Ji-wi yang terhormat?”
Mendengar disebutnya nama ini, berubah wajah Cin Hai dan juga Kwee An. Kedua orang pendekar ini
telah membaca surat Hong Beng dan tahu bahwa Hong Beng dan Goat Lan pergi meninggalkan benteng
setelah dipancing oleh pemuda ini! Dan pula, Cin Hai sudah mendengar dari Lili bahwa pemuda ini adalah
putera Song Kun dan sudah mengancam hendak membalas dendam kepadanya!
“Hemm, jadi kaukah yang bernama Song Kam Seng putera Song Kun? Ketahuilah, aku yang disebut
Pendekar Bodoh dan ini adalah saudara tuaku bernama Kwee An! Hayo lekas kau ceritakan di mana
dunia-kangouw.blogspot.com
adanya anak-anak kami, Hong Beng, Goat Lan dan Kwee Cin?”
Mendengar bahwa yang kini berhadapan dengannya adalah musuh besarnya, pembunuh ayahnya, tibatiba
Kam Seng menjadi makin marah. Ia lalu memandang kepada Cin Hai dengan mata tajam, lalu
mencabut pedangnya dan berkata,
“Bagus, jadi kaukah yang bernama Sie Cin Hai, orang yang telah membunuh ayahku dan membuat ibu dan
aku hidup menderita selama bertahun-tahun? Manusia kejam, kau telah berhutang nyawa, maka sudah
selayaknya sekarang aku menagihnya!” Sambil berkata demikian, Kam Seng lalu mengayun pedangnya
menusuk dada Cin Hai.
Pendekar Bodoh hanya tersenyum saja dan sama sekali tidak menangkis atau mengelak. Akan tetapi dari
samping mendadak berkelebat bayangan pedang dan dengan kerasnya pedang Kam Seng terpukul oleh
pedang yang digerakkan oleh Kwee An hingga pedang itu terpental kembali dan hampir terlepas dari
pegangan Kam Seng!
“Song Kam Seng, jangan kau berlaku sembrono! Ayahmu Song Kun bukan mati dibunuh oleh Pendekar
Bodoh, akan tetapi dia mati karena kejahatannya sendiri. Seorang gagah membela kebenaran tanpa
memandang kepada hubungan keluarga! Jika kiranya ayahmu itu masih hidup dan menjadi seorang yang
amat jahat, apakah kau juga akan membantu dia dan ikut-ikutan menjadi jahat?”
Dengan pandangan mata liar Kam Seng membalikkan tubuh dan menghadapi Kwee An. “Kau bilang
ayahku jahat? Apa maksudmu?”
“Memang hal yang paling sulit di dunia ini adalah mengakui atau melihat kesalahan pihak sendiri. Ayahmu
dahulu mengancam jiwa Lin Lin yang sudah menjadi tunangan Cin Hai. Adikku itu terkena racun orang
jahat, kemudian obat penawarnya dirampas oleh ayahmu, dan ayahmu mengancam hendak melenyapkan
obat penawar itu kalau adikku tidak mau menjadi isterinya!”
Dengan singkat akan tetapi jelas, Kwee An lalu menceritakan kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh
Song Kun pada waktu mudanya dan bahwa kematian Song Kun terjadi di dalam pertempuran melawan Cin
Hai yang membela diri, jadi sekali-kali bukan Pendekar Bodoh yang sengaja membunuhnya. (baca cerita
Pendekar Bodoh)
Mendengar penuturan ini, pucatlah wajah Kam Seng. Alangkah bedanya dengan cerita yang telah
didengarnya dari Ban Sai Cinjin! Mana yang benar? Akan tetapi suara hatinya membisikkan bahwa dia
harus lebih percaya kepada dua orang pendekar besar ini dari pada kepada Ban Sai Cinjin yang berhati
khianat.
“Biar pun andai kata mendiang ayahku benar jahat, sebagai puteranya aku harus berani menghadapi
kenyataan dan berani pula membalaskan sakit hatinya. Kini aku menantang kepada Pendekar Bodoh untuk
mengadu kepandaian, lepas dari soal siapa salah siapa benar antara dia dan ayahku. Aku hanya hendak
memenuhi kewajiban sebagai seorang anak yang harus berbakti kepada ayahnya. Apa bila aku kalah,
sudahlah, mungkin ayah yang memang bersalah dalam pertempuran dahulu.” Sambil berkata demikian,
kembali pemuda itu menghadapi Cin Hai dengan sikap menantang.
“Bocah lancang!” Kwee An membentak marah. “Kau mengandalkan apakah maka berani menantang
Pendekar Bodoh? Mudah saja menyatakan tentang sakit hati dan dendam. Ketahuilah bahwa aku pun
menaruh dendam kepadamu bila pandanganku sepicik engkau! Kau telah memancing dan mencelakakan
puteriku Goat Lan dan bahkan mungkin kau sudah membantu susiok-mu Ban Sai Cinjin untuk menculik
anakku Cin-ji! Nah, bukankah aku pun boleh berdendam kepadamu? Coba kau hadapi pedangku dulu
kalau memang kau memiliki kepandaian!”
Akan tetapi, sambil tersenyum Cin Hai berkata, “Biarkanlah, Kwee An, biarkan anak ini, memperlihatkan
tanduknya! Sikapnya mengingatkan kepadaku akan ayahnya, Song Kun. Demikian berani dan keras hati.
Ehh, Kam Seng, aku sudah mendengar namamu disebut oleh puteriku, Lili. Kau sudah menyeberang ke
pihak jahat dan menjadi murid dari Wi Kong Siansu? Kau salah, anak muda. Kalau saja kau tetap menjadi
murid Nyo Tiang Le dan kemudian kau datang kepadaku, mengingat hubungan ayahmu dengan aku,
kiranya aku takkan menolak untuk memberi bimbingan kepadamu. Sekarang kau bahkan hendak
menantangku bertempur? Hemm, cobalah maju dan jangan ragu-ragu, seranglah sesuka hatimu.”
Mendengar ucapan yang tenang ini dan melihat sikap yang acuh tak acuh dari Pendekar Bodoh musuh
dunia-kangouw.blogspot.com
besarnya, Kam Seng menjadi ragu-ragu. Tadi ia sudah merasai kelihaian tangkisan pedang Kwee An. Baru
Kwee An saja sudah demikian hebat tenaganya, apa lagi Cin Hai yang kabarnya memiliki kepandaian jauh
lebih tinggi dari pada kepandaian Kwee An!
Akan tetapi Kam Seng tidak takut. Hatinya telah bulat untuk membalas dendam ayahnya sehingga ia
mengorbankan perasaannya dan berpindah ke pihak Ban Sai Cinjin. Bukan karena ia lebih cocok dengan
rombongan ini, tidak, karena sebenarnya ia benci melihat kejahatan kakek pesolek itu. Ia rela berguru
kepada Wi Kong Siansu hanya karena dia ingin tercapai maksudnya membalas dendam kepada musuh
besarnya, yaitu Pendekar Bodoh.
Kalau ia teringat betapa ia dan ibunya terlunta-lunta setelah ayahnya tewas, sakit hatinya terhadap
Pendekar Bodoh makin besar. Dan sekarang setelah ia bertemu dengan musuh besarnya, meski pun dia
ingat musuhnya itu ayah dari Lili, gadis satu-satunya di dunia ini yang dicintainya, meski pun ia telah
mendengar keterangan dari Kwee An betapa dahulu sebenarnya ayahnya yang salah dan jahat, namun
bagaimana ia dapat membatalkan niat hatinya hendak membalas dendam?
Sekarang melihat sikap Cin Hai, amat tidak enak hati Kam Seng. Dia sebenarnya segan melawan
pendekar yang bersikap tenang dan gagah ini, akan tetapi dia malu terhadap bayangannya sendiri kalau
dia tidak melanjutkan niatnya yang telah terpendam di dalam hati sampai bertahun-tahun lamanya. Maka
dia paksakan hatinya dan berseru, “Ayah di alam baka! Lihat bahwa anak telah melakukan usaha sekuat
tenaga!”
Sambil berkata demikian dia lalu maju menyerang dengan hebat sekali kepada Pendekar Bodoh. Akan
tetapi, dengan cara yang amat membingungkan mata Kam Seng, tahu-tahu pendekar besar itu telah dapat
mengelak dari tusukan pedangnya. Ia menjadi penasaran dan melanjutkan serangannya sambil
mengeluarkan ilmu pedang yang ia pelajari dengan susah payah dari Wi Kong Siansu.
Kalau dibandingkan dengan dahulu ketika dia menghadapi Lili, ilmu kepandaian pemuda ini sudah maju
amat pesat dan jauh. Tidak saja ilmu pedangnya yang sudah menjadi kuat dan cepat, juga tenaga
lweekang-nya sudah bertambah dan ginkang-nya pun amat baik mendekati kesempurnaan.
Diam-diam dalam hatinya Cin Hai memuji, akan tetapi dengan amat mudahnya Pendekar Bodoh mengelak
dari setiap serangan. Pendekar Bodoh tidak mencabut pedangnya, dan hanya mempergunakan ujung
lengan bajunya untuk kadang-kadang menyampok pedang kalau ia tidak keburu mengelak.
Dari sampokan ujung lengan baju ini saja Kam Seng sudah merasa terkejut bukan main. Gurunya sendiri,
Wi Kong Siansu, juga ahli dalam hal bersilat dengan ujung lengan baju, akan tetapi kiranya tidak sehebat
ini.
Kam Seng semakin mempercepat gerakan pedangnya sehingga tubuhnya lenyap dalam sinar pedangnya
yang bergulung-gulung. Pemuda ini mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya, mengambil
keputusan untuk bertempur sampai nyawanya melayang! Dia merasa seakan-akan ayahnya juga
menyaksikan pertempuran ini dari alam baka, maka dia tidak mau berlaku mengalah dan mendesak
Pendekar Bodoh dengan nekat.
Pendekar Bodoh maklum bahwa biar pun ia telah mengenal ilmu pedang pemuda ini dan dapat menjaga
diri, akan tetai dia tidak dapat menaksir sampai di mana kehebatan ilmu pedang ini apa bila dimainkan oleh
Wi Kong Siansu. Ia telah mendapat tantangan dari Wi Kong Siansu, karena itu dia merasa kebetulan sekali
kini dapat menghadapi ilmu pedang pendeta itu yang dimainkan oleh seorang muridnya yang pandai.
Menurut taksirannya, ilmu pedang yang dimainkan oleh Kam Seng ini paling banyak baru tujuh puluh
bagian tingkatnya. Maka dia lalu mencabut sulingnya yang selalu terselip di pinggangnya. Pendekar Bodoh
boleh ketinggalan pakaian atau uang, akan tetapi dia tak pernah ketinggalan suling dan pedangnya! Suling
ini merupakan senjatanya yang sangat istimewa, bahkan lebih lihai dari pada pedangnya Liong-cu-kiam!
Setelah mencabut sulingnya, makin serulah pertempuran itu. Sekarang Pendekar Bodoh menggunakan
sulingnya untuk mengimbangi ilmu pedang Kam Seng. Sebenarnya kalau dia mau, dalam dua puluh jurus
saja pasti dia akan dapat merobohkan Kam Seng. Akan tetapi Pendekar Bodoh memang ingin sekali
mengukur sampai di mana kelihaian ilmu pedang ini yang kelak akan dihadapinya pula.
Tubuh Kam Seng sudah penuh keringat. Cin Hai berhasil memancingnya hingga pemuda itu
menghabiskan seluruh jurus dari ilmu pedang yang dipelajarinya dari Wi Kong Siansu! Memang inilah
dunia-kangouw.blogspot.com
maksudnya, dan setelah ilmu pedang itu habis dimainkan, Cin Hai segera mengerahkan tenaga pada
sulingnya sehingga pada saat pedang dan suling menempel, pedang itu tak dapat ditarik kembali!
Betapa pun hebatnya Kam Seng mengeluarkan tenaga untuk membetot pedangnya, tetap saja pedang itu
tidak dapat terlepas dari suling yang menempelnya. Akhirnya Cin Hai menggerakkan tangannya membetot
dan sambil berseru keras Kam Seng pun terpaksa melepaskan gagang pedangnya karena tidak kuat
menghadapi tenaga tarikan luar biasa ini.
“Kam Seng, kau mempunyai bakat yang cukup baik. Sayang sekali kau mempelajari ilmu silat yang keliru.
Kepandaianmu apa bila dibandingkan dengan kepandaian ayahmu, ahh, kau ketinggalan amat jauh! Kalau
saja kau tidak dibikin buta oleh dendam dan sakit hati yang bodoh dan sesat, aku akan suka sekali
memberi bimbingan kepadamu, mengingat hubunganku dengan mendiang ayahmu.”
Kam Seng menjadi malu sekali. “Aku sudah kalah...” katanya dengan muka ditundukkan dan air matanya
hampir menitik turun, wajahnya merah sekali. “Kalau Ji-wi menganggap aku tersesat dan jahat, bunuhlah,
apa gunanya hidup dalam kesesatan dan kehinaan?”
Cin Hai merasa terharu melihat keadaan putera dari Song Kun ini, maka dia kemudian melangkah maju
mengembalikan pedang yang dirampasnya tadi sambil menepuk-nepuk pundaknya. “Anak muda, aku tidak
dapat menyalahkan engkau! Aku sendiri pada waktu muda selalu menjadi korban dari nafsu sendiri,
melakukan perbuatan tanpa dipikir dulu dan menganggap diri sendiri selalu benar! Ketahuilah, bahwa
kebaktian terhadap orang tua bukan asal berbakti saja. Membela nama orang tua bukan asal kau dapat
membasmi musuh-musuh orang tuamu saja. Kau harus dapat mempergunakan akal sehat dan otak yang
jernih. Apa bila orang tuamu melakukan sesuatu kesalahan, sebagaimana sudah menjadi lajimnya setiap
manusia yang kadang-kadang tersesat dari jalan kebenaran, jalan satu-satunya bagimu untuk berbakti
adalah dengan menebus kesalahan orang tuamu itu. Biar pun ayahmu telah dianggap jahat oleh dunia
kang-ouw dan oleh orang-orang gagah, akan tetapi kalau kau sebagai putera tunggalnya dapat melakukan
kebaikan, nama buruk ayahmu itu akan terhapus oleh perbuatan-perbuatanmu yang mulia. Sebaliknya, jika
kau dibutakan oleh dendam tanpa melihat sebab-sebab kematian ayahmu, kau berarti akan menambah
kotor nama ayahmu sehingga kau merupakan seorang anak yang durhaka!”
Kam Seng memandang dengan wajah pucat dan kedua matanya terbelalak. Tak pernah disangkanya
bahwa ia akan menerima wejangan seperti ini dari mulut musuh besarnya! Ia makin ragu-ragu, tak tahu
apa yang harus diucapkan mau pun dilakukannya.
“Ketahuilah bahwa kita semua ini berada di bawah pengaruh hukum alam, yaitu sebab dan akibat. Segala
peristiwa yang terjadi merupakan akibat dan juga menjadi sebab dari peristiwa lain yang akan terjadi.
Kematian ayahmu di dalam tanganku juga merupakan akibat yang kini menyebabkan kau mencari dan
hendak membalas padaku! Maka aku tidak marah kepadamu, karena di dalam segala petistiwa yang
kujumpai, aku menengok dan mencari pada sebabnya. Tak mungkin kau ingin membunuhku tanpa sebab,
seperti juga tidak mungkin tanganku membunuh ayahmu jika tidak ada sebab-sebab yang kuat! Carilah
sebab-sebabnya dan kau tidak akan kaget melihat akibatnya karena kalau semua sebabnya sudah kau
ketahui, akibat-akibatnya akan kau anggap sewajarnya!”
Tunduklah hati Kam Seng mendengar kata-kata yang mengandung filsafat tinggi akan tetapi mudah
ditangkap ini. Dia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Cin Hai dan tak dapat menahan isak tangisnya!
“Susiok (Paman guru), ampunkanlah teecu dan ampunkan pula semua dosa mendiang ayahku...,” katanya
dengan hati terharu.
“Tidak ada salah atau benar dalam hal ini, Kam Seng, dan tidak perlu maaf memaafkan. Di dalam setiap
perbuatan itu terkandung kesalahan dan kebenaran, tergantung siapa yang melihatnya. Aku sudah cukup
girang melihat kau dapat berpikir dengan otak sehat.” Cin Hai mengangkat pemuda itu berdiri lagi.
“Bagus, semua kegelapan sudah menjadi terang sekarang,” kata Kwee An. “Akan tetapi, Kam Seng, kau
masih harus menerangkan tentang keadaan puteraku dan juga tentang keadaan Goat Lan dan Hong Beng.
Kedatanganmu memberitahukan kepada mereka itu bukankah hanya satu pancingan belaka?”
“Tidak, Kwee Taihiap, sama sekali tidak! Biar pun harus kuakui bahwa aku telah salah memilih kawan dan
telah terjerumus ke dalam lembah kejahatan, namun aku tetap tidak menjadi seorang pengkhianat negara
dan bangsa! Aku merasa jijik melihat Susiok Ban Sai Cinjin, dan merasa sayang bahwa aku tak dapat
menegurnya. Sesungguhnya, ketika aku melihat bahwa puteramu yang masih kecil itu datang bersama
dunia-kangouw.blogspot.com
Ban Sai Cinjin dan mendengar bahwa dia hendak menggunakan puteramu itu untuk mencegah orangorang
gagah membantu tentara kerajaan, aku menjadi gelisah sekali. Hendak menolong dan membawa
pergi puteramu, aku tidak berani. Maka aku lalu berlaku nekat dan diam-diam mengunjungi benteng Alkatasan
di mana aku bertemu dengan Nona Goat Lan dan Saudara Hong Beng. Aku menjelaskan maksud
kedatanganku dan bahwa aku memberi gambaran tentang jalan belakang yang akan membawa mereka ke
tempat kediaman Ban Sai Cinjin dan yang lain-lain. Sudah kukatakan bahwa tempat itu berbahaya sekali,
akan tetapi ternyata Nona Goat Lan dan Saudara Hong Beng amat nekat dan datang juga ke sana...”
“Lalu bagaimana? Apa yang terjadi dengan mereka?” tanya Kwee An dengan rasa ingin tahu sekali.
“Kini mereka juga telah tertawan oleh Ban Sai Cinjin!” kata Kam Seng. “Oleh karena itu siauwte sengaja
hendak pergi ke benteng Ji-wi untuk memberitahukan hal ini dan tak terduga sama sekali telah bertemu
dengan Ji-wi di sini.”
“Tak mungkin!” kata Kwee An.
“Sukar dipercaya bahwa Hong Beng bersama Goat Lan akan dapat tertawan sedemikian mudahnya,” kata
Cin Hai.
Kam Seng tersenyum. “Harus diakui bahwa kepandaian Nona Goat Lan dan Saudara Hong Beng sangat
lihai dan memang agaknya akan sukar sekali untuk mengalahkan dan menawan mereka. Akan tetapi
dalam hal kecerdikan, mereka itu masih kalah jauh oleh orang-orang seperti Ban Sai Cinjin! Mereka berdua
bukan tertawan karena kekerasan, akan tetapi mereka terpaksa mengalah dan menurut setelah Ban Sai
Cinjin mengancam hendak membunuh Kwee Cin kalau mereka melawan terus!”
“Pengecut hina dina yang curang!” Kwee An berseru marah. “Akan kuhancurkan kepala manusia itu!”
“Kwee Taihiap, bagaimana jika Ban Sai Cinjin mengancam padamu untuk membinasakan puteramu
sebelum kau turun tangan?” tanya pemuda itu.
Kwee An tak dapat menjawab, hanya mengertak gigi dengan marah dan gemas sekali.
“Kam Seng, kau yang mengetahui keadaan mereka, tidak maukah kau menolong kami? Tidak maukah kau
melawan kejahatan dan membela kebenaran untuk menebus nama buruk mendiang ayahmu?” kata Cin
Hai.
“Susiok, kedatangan teecu seperti telah kuceritakan tadi, sesungguhnya untuk memberi tahu kepada
benteng tentara kerajaan. Sebetulnya tak usah dikuatirkan karena Kwee Cin telah diminta oleh Malangi
Khan dan dijadikan kawan bermain putera Malangi Khan yang bernama Kamangis dan yang usianya
sebaya. Untuk sementara ini, meski pun Ban Sai Cinjin sendiri tidak boleh berlaku sesuka hatinya untuk
membunuh Kwee Cin yang disuka oleh Kamangis putera Malangi Khan! Akan tetapi, untuk merampas
kembali anak itu pun bukan merupakan hal yang mudah.”
Kemudian dengan jelas Kam Seng segera menggambarkan tempat kedudukan Ban Sai Cinjin dan juga
istana Malangi Khan di dalam benteng itu yang berada di tengah-tengah. Sesudah menuturkan semua ini,
Kam Seng segera minta diri untuk kembali ke benteng Mongol itu. Ia berjanji bahwa ia akan memasang
telinga dan mata serta akan berusaha menolong Goat Lan dan Hong Beng.
“Betapa pun juga, kita harus berusaha menolong Cin-ji,” kata Kwee An kepada Cin Hai setelah Kam Seng
pergi.
Cin Hai mengerutkan kening. “Sekarang lebih ruwet lagi. Kalau kita berkeras memasuki istana Malangi
Khan dan andai kata berhasil merampas dan menyelamatkan Cin-ji, lalu bagaimana dengan nasib Goat
Lan dan Hong Beng? Dan di mana pula adanya Lili? Ah, kita harus mencari akal dan berlaku hati-hati.”
Kedua orang pendekar besar itu duduk di bawah pohon dan bertukar pikiran. Kemudian mereka mengambil
keputusan untuk berpisah.
Cin Hai hendak menuju ke tengah benteng, masuk ke dalam istana Malangi Khan, ada pun Kwee An akan
mencari Goat Lan dan Hong Beng di belakang benteng, di tempat tinggal Ban Sai Cinjin dan kaki
tangannya. Kwee An menyetujui hal ini oleh karena ia pun mengakui bahwa Cin Hai mempunyai
kepandaian yang lebih tinggi maka patut menerima tugas yang lebih berbabaya dan berat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan ilmu lari cepat mereka, keduanya lalu melanjutkan perjalanan, mengitari bukit itu untuk masuk
melalui belakang benteng. Dan tepat seperti yang dituturkan oleh Nurhachu orang Haimi itu, juga seperti
yang digambarkan oleh Kam Seng, jalan itu sunyi saja, akan tetapi penuh hutan yang amat liar dan
menyeramkan.
Ketika mereka melintas dengan cepat melalui sebuah hutan, dari jauh nampak bayangan orang yang
berjalan cepat. Cin Hai dan Kwee An merasa curiga, cepat mereka melompat ke arah bayangan itu, akan
tetapi ketika mereka tiba di situ, bayangan itu berkelebat dan lenyap dari pandangan mata mereka! Cin Hai
dan Kwee An saling pandang heran.
“Apakah ada setan di tengah hari?” tanya Kwee An heran. Siapakah orangnya yang dapat menghilang dari
depan mata mereka sedemikian anehnya?
Juga Cin Hai merasa heran sekali. Kalau bayangan tadi benar-benar seorang manusia, maka kepandaian
ginkang-nya agaknya tidak berada di sebelah bawah kepandaiannya sendiri! Gerakan seperti itu menurut
ingatannya hanya dimiliki oleh suhu-nya, yakni Bu Pun Su, atau orang-orang seperti Swi Kiat Sansu, Pok
Pok Sianjin, Hok Peng Taisu dan tokoh-tokoh tinggi lain yang kesemuanya telah meninggal dunial
“Mungkin kita salah lihat,” katanya karena bukan menjadi watak Pendekar Bodoh untuk mengganggu orang
yang tak mau memperlihatkan diri, “kita mempunyai tugas yang lebih penting.”
Mereka melanjutkan perjalanan dan tak lama kemudian tibalah mereka di bawah tembok benteng sebelah
belakang dari benteng tentara Mongol itu. Mereka menggunakan ginkang yang hebat dan melompat ke
atas tembok. Dari sini mereka berpisah.
Cin Hai terus berlari-larian di atas tembok yang tingginya kurang lebih empat tombak dan lebarnya hanya
kurang dari satu kaki itu. Tembok ini memanjang sampai beberapa belas li dan Cin Hai terus berlari
mencari-cari bangungan istana kepala bangsa Mongol.
Beberapa orang penjaga yang mulai banyak terlihat setelah ia berlari kurang lebih dua li, sempat melihat
bayangannya, akan tetapi tak seorang pun di antara mereka yang dapat mengejar. Bahkan sebagian besar
mengira bahwa yang melayang itu bukanlah seorang manusia, melainkan seekor burung besar. Gerakan
Cin Hai sangat cepat sehingga kalau tidak kebetulan, jarang ada penjaga yang dapat melihatnya!
Sementara itu, Kwee An setelah berada di atas tembok dan melihat betapa keadaan di bawah sunyi saja,
lalu melayang turun. Memang benar bahwa di situ tidak terjaga sama sekali dan di bawah dinding ini
hanyalah merupakan belukar yang tidak terurus. Jauh di depan sana tampak tembok-tembok bangunan,
yaitu bagian paling belakang dari benteng Mongol itu.
Kwee An berlaku hati-hati sekali. Waktu itu udara mulai gelap karena matahari sudah bersembunyi di barat.
Dia pikir bahwa kalau dia berlaku sembrono dan menyerbu pada malam hari itu sehingga terlihat oleh
musuh, maka keselamatan Hong Beng dan Goat Lan akan terancam.
Dari Kam Seng dia mendapat keterangan bahwa Goat Lan beserta Hong Beng ditahan di dalam rumah
kecil yang berada di tengah-tengah kampung dalam benteng itu, tidak jauh dari rumah yang ditinggali oleh
Ban Sai Cinjin. Goat Lan ditahan di dalam kamar sebelah kiri dan Hong Beng di kamar ke dua sebelah
kanan.
Di depan dan belakang, atau pendeknya rumah itu dikelilingi oleh penjaga-penjaga yang sebenarnya bukan
menjaga untuk menghalangi dua orang muda ini pergi, hanya untuk melihat saja, kalau mereka pergi akan
segera dilaporkan dan Kwee Cin akan dibunuh!
Dengan perlahan Kwee An bergerak maju di balik belukar dan terus mengintai ke arah kampung itu. Dia
menanti sampai gelap benar barulah dia menggunakan kepandaiannya masuk ke dalam kampung itu dan
melompat naik ke atas wuwungan rumah. Ia melompat dari genteng ke wuwungan lain hingga akhirnya
dapat mendekati rumah kecil di mana puterinya dan Hong Beng ditahan.
Benar saja, di seputar rumah itu dipasang kursi dan meja di mana duduk para penjaga yang nampaknya
enak-enak saja, sebab mereka tidak ditugaskan untuk mencegah kedua orang muda itu melarikan diri. Apa
bila sampai dua orang muda itu memberontak dan melarikan diri, apakah yang dapat mereka lakukan
terhadap dua orang gagah itu?
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwee An memandang ke arah jendela dan dalam cahaya yang remang-remang melalui tirai jendela dia
melihat ada bayangan seorang gadis yang berpinggang langsing. Hatinya berdebar. Itulah Goat Lan, tak
salah lagi!
Ingin dia melompat turun dan mengamuk, membunuh para penjaga yang tidak berarti itu bahkan kalau
perlu mencari dan membunuh Ban Sai Cinjin. Akan tetapi ia tidak berani melakukan ini sebelum Kwee Cin
dapat tertolong oleh Cin Hai.
Lagi pula, sudah jelas bahwa Goat Lan dan Hong Beng tidak mengalami penderitaan dan hanya ditahan
karena dua orang muda itu takut kalau-kalau Kwee Cin dibunuh, maka perlu apa menguatirkan keadaan
dua orang muda ini? Lebih baik aku menyusul Cin Hai dan lebih dahulu menyelamatkan Kwee Cin pikirnya.
Akan tetapi, sebelum dia berangkat meninggalkan tempat itu untuk menuju ke selatan di mana terdapat
istana Malangi Khan yang terpisah cukup jauh, ia mendengar suara orang memaki-maki dan nampaklah
Ban Sai Cinjin yang diikuti oleh lima orang lain berjalan ke arah rumah kecil itu.
Di bawah sinar lampu, Kwee An melihat dengan heran betapa kakek pesolek ini nampak matang biru
mukanya, bahkan pada pipinya sebelah kanan nampak ada tanda goresan-goresan dan sepasang
matanya serta pipinya kelihatan biru seakan-akan mukanya telah berkali-kali ditampar orang! Kakek ini tak
hentinya menyumpah-nyumpah, “Akan kubunuh tujuh turunan... kubunuh tujuh turunan...!”
Kemudian dia memegang pinggangnya sambil membungkuk-bungkuk. “Aduh… aduhh… jahanam benar
Pendekar Bodoh… aduhhh…!”
Setelah tiba di depan rumah itu, para penjaga segera berdiri dan memberi hormat pada Ban Sai Cinjin.
Kwee An melihat bahwa Ban Sai Cinjin berjalan dengan sukar, dibantu Coa-ong Lojin dan di belakangnya
nampak beberapa orang lain. Mereka ini sebetulnya adalah pengurus-pengurus dari Coa-tung Kai-pang
atau pembantu-pembantu Coa-ong Lojin yang dahulu membantu Ban Sai Cinjin melakukan penculikan di
Tiang-an dan selain menculik Kwee Cin juga telah mencuri kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip.
“Apakah dua orang muda itu masih berada di kamar masing-masing?” tanyanya kepada para penjaga.
“Masih ada, mereka tak pernah pergi keluar dari kamar!” jawab para penjaga.
Mendadak terdengar suara Hong Beng dari kamarnya, “Ban Sai Cinjin, kau orang yang berhati curang dan
pengecut! Kalau kau tidak mau disebut seorang rendah yang tidak pantas hidup di dunia kang-ouw, kau
lepaskan Kwee Cin dan mari kita bertempur seribu jurus sampai seorang di antara kita mampus!”
“Tutup mulut! Kau... kau anak Pendekar Bodoh si bangsat kurang ajar! Awas kalau ada kesempatan, akan
kubunuh tujuh turunan. Aku tak hendak bicara dengan kau! Kau mau pergi dari sini, pergilah! Aku hanya
akan membunuh Kwee Cin dan Nona Goat Lan. Pergi dari sini, aku tidak butuh orang macam kau!”
Terdengar Hong Beng tertawa bergelak, mentertawakan Ban Sai Cinjin yang masih terus menyumpahnyumpah
tiada hentinya, kemudian kakek pesolek ini memasuki kamar Goat Lan diikuti oleh Coa-ong Lojin.
Dengan hati berdebar-debar Kwee An memasang telinga mendengarkan percakapan itu. Dengan sangat
pandainya dia dapat mempergunakan kesempatan ketika Ban Sai Cinjin ribut mulut dengan Hong Beng,
untuk melompat ke atas genteng dan kini berada di atas kamar Goat Lan!
“Nona Kwee,” dia mendengar suara parau dari Ban Sai Cinjin, “apakah kau masih belum mau insyaf?
Alangkah keras kepala kau! Kau sudah ditipu oleh kaisar lalim, sudah dihina, akan tetapi masih saja kau
bersetia kepadanya! Kau telah menyelamatkan nyawa Putera Mahkota, akan tetapi apa yang kau dapat?
Hukuman buang! Kau bahkan dihina, hendak dijadikan selir, kemudian kau dibuang ke tempat yang seperti
neraka di utara ini. Apakah kau tidak mempunyai perasaan keangkuhan sama sekali? Sekarang adikmu
berada di tanganku, dan aku tidak minta banyak. Asal kau suka membantu kami, membantu hingga Kaisar
lalim itu terguling jatuh dari kedudukannya, tidak saja adikmu akan selamat, malah banyak kemungkinan
adikmu akan menjadi seorang pangeran!”
“Ban Sai Cinjin, percuma saja kau mengoceh di sini! Aku tetap tidak mau mendengar ocehanmu dan aku
akan menuruti permintaanmu tidak keluar dari tempat ini. Akan tetapi sebaliknya, kau pun jangan sekali-kali
berani mengganggu adikku, sebab jika kau sampai berani mengganggunya, aku akan mempertaruhkan
dunia-kangouw.blogspot.com
jiwaku untuk memukul sampai remuk batok kepalamu!”
Ban Sai Cinjin menyumpah-nyumpah lagi dan tersaruk-saruk keluar dari kamar itu. Masih terdengar
keluhannya ketika ia menuju ke bangunan di mana ia tinggal. Malam itu masih terdengar terus keluhannya
ketika ia mengobati luka-luka di tubuhnya yang membuat ia merasa sakit seluruh tubuhnya, terutama sekali
hatinya yang terasa amat sakit.
Malam hari itu sial sekali baginya. Siang tadi dia menghadap Malangi Khan dan hendak minta Kwee Cin,
akan tetapi Malangi Khan tidak mengijinkan, karena Kwee Cin ternyata telah menjadi sahabat yang karib
sekali dengan puteranya, Pangeran Kamangis. Dengan hati mendongkol Ban Sai Cinjin kembali ke
kampung di belakang istana, akan tetapi di tengah jalan dia bertemu dengan Pendekar Bodoh!
“Bangsat tua bangka, kau sungguh curang dan tak tahu malu!” Pendekar Bodoh memaki. “Orang semacam
kau sepatutnya dibunuh, akan tetapi karena kita ada perjanjian untuk bertemu di puncak Thian-san, kali ini
kau takkan kubunuh, hanya akan kuberi hajaran!”
Setelah berkata demikian, tanpa banyak cakap lagi Cin Hai menyerangnya dengan hebat! Coa-ong Lojin
bersama kawan-kawannya segera membantu, akan tetapi begitu Cin Hai mencabut Liong-cu-kiam, sekali
gerakkan saja senjata mereka terbabat putus! Terpaksa mereka mundur lagi dan Ban Sai Cinjin yang
melawan mati-matian lalu dibuat permainan oleh Cin Hai!
Mukanya ditampar berkali-kali dan pukulan serta tendangan menghujani tubuhnya. Cin Hai sengaja tidak
memukul atau menendang dengan sepenuh tenaga, akan tetapi cukup untuk membuat muka kakek itu
menjadi matang biru dan tubuhnya menjadi sakit semua. Sesudah Ban Sai Cinjin menjadi setengah
pingsan, barulah Cin Hai meninggalkannya!
Tentu saja si Huncwe Maut merasa terhina sekali sehingga dia menyumpah-nyumpah. Kebenciannya
terhadap Pendekar Bodoh semakin meluap, akan tetapi apa yang dapat ia lakukan? Sementara itu,
Pendekar Bodoh sudah menghilang di malam gelap, entah ke mana perginya.
Setelah Ban Sai Cinjin pergi, Goat Lan menengok ke atas dan berkata sambil tersenyum, “Ayah, turunlah
sekarang!”
Kwee An girang sekali melihat ketajaman mata dan telinga puterinya. Ia cepat membuka genteng dan
melompat turun ke dalam kamar anaknya. Goat Lan lalu memegang tangan ayahnya dan berkata, “Ayah,
bagaimana kau bisa datang ke tempat ini?”
Gadis ini mengeluarkan ucapan dengan keras sehingga Kwee An cepat memberi tanda dengan tangannya.
Akan tetapi Goat Lan tertawa.
“Ayah, kita bukan ditawan. Aku berada di sini atas kehendakku sendiri, mengapa mesti takut? Biarlah Ban
Sai Cinjin monyet tua itu mengetahui bahwa kau berada di sini, biar dia makin panas dan jengkel. Dia bisa
berbuat apa terhadap kita?”
Mendengar ucapan ini, Kwee An menarik napas panjang. “Asal saja dia tak mengganggu Cin-ji, aku pun
tidak takut apa-apa.”
Sementara itu, Hong Beng yang mendengar suara Goat Lan, dengan girang lalu datang dan memberi
hormat kepada Kwee An. Mereka bertiga berbincang dengan asyik sekali sehingga melupakan waktu.
Ketika Hong Beng mendengar bahwa ayahnya juga masuk ke dalam benteng ini dan bahkan mendatangi
istana Malangi Khan, dan juga mendengar bahwa sebetulnya Kwee Cin sudah berada di istana dan tidak di
dalam tangan Ban Sai Cinjin, Hong Beng lalu bangkit berdiri.
“Ah, kalau kita tahu akan hal itu, tidak usah lama-lama kita berada di tempat ini,” katanya kepada Goat Lan
yang mengangguk menyatakan persetujuannya. “Kalau begitu, biarlah aku pergi sekarang juga menyusul
ayah. Siapa tahu kalau dia membutuhkan bantuan!” Kwee An dan Goat Lan tidak mencegahnya, maka
Hong Beng lalu melompat keluar dan pergi dari rumah itu dengan cepat!
Ketika Ban Sai Cinjin mendapat laporan bahwa Hong Beng pergi dari kamar tahanan dan Goat Lan
menerima seorang tamu lelaki yang disebut sebagai ayahnya, kakek ini merasa kaget dan juga marah
sekali. Cepat ia mengumpulkan orang-orangnya dan mengerahkan semua prajurit Mongol yang berada di
situ untuk mengurung rumah tahanan itu!
dunia-kangouw.blogspot.com
Kemudian, pada esok harinya setelah ia merasa bahwa tubuhnya tidak begitu sakit-sakit lagi, bersama
Coa-ong Lojin dia menghampiri rumah itu dan sekali dia mendorong, daun pintu pun terbuka. Ia menjadi
marah sekali ketika melihat bahwa Goat Lan telah berdiri di situ dengan seorang laki-laki yang bukan lain
adalah Kwee An, orang yang dulu pernah dijumpainya dan yang sudah memaksa Coa-ong Lojin mengobati
Lie Siong dahulu itu. Kwee An melihat Goat Lan hendak bergerak menyerang Ban Sai Cinjin, maka cepat
dia memegang pundak anaknya.
“Sabar dulu, Lan-ji,” katanya, kemudian sambil tersenyum mengejek dia menatap kepada Ban Sai Cinjin.
“Selamat pagi, Ban Sai Cinjin, dan selamat bertemu kembali. Agaknya kau masih belum puas menerima
gebukan dari Pendekar Bodoh dan sekarang masih hendak minta tambah dari aku!”
Ban Sai Cinjin menjadi marah sekali dan kemarahannya ini membuat dadanya yang kena tendang oleh Cin
Hai terasa sakit lagi. Ia berdiri tidak tetap dan hanya setelah Coa-ong Lojin memegang punggungnya, dia
dapat berdiri teguh. Huncwe-nya terpegang dengan tangan kiri, kosong tak berasap, kemudian dengan
tangan kanannya dia menudingkan telunjuknya ke arah Kwee An.
“Orang she Kwee, jangan kau banyak berlagak di sini! Sudah habis kesabaranku dan sekarang juga aku
hendak menyuruh orang membunuh puteramu yang telah kutawan!”
Akan tetapi, Goat Lan dan Kwee An hanya tertawa, bahkan Kwee An tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, Ban Sai
Cinjin, memang sudah menjadi kebiasaan orang macammu ini selalu menggunakan gertakan, ancaman,
penipuan dan lain-lain perbuatan curang dan licin. Apa kau kira sekarang kau dapat menggertak lagi? Aku
tahu bahwa puteraku setelah kau culik secara curang dan pengecut, sekarang telah berada bersama
putera Malangi Khan dan kau tidak dapat mengganggunya! Sekarang, aku tidak akan berlaku murah
seperti Pendekar Bodoh! Untuk perbuatanmu menculik puteraku saja kau sudah layak kubunuh. Akan
tetapi, aku masih hendak memberi kelonggaran kepadamu. Kembalikanlah Thian-te Ban-yo Pit-kip, baru
aku akan mengampuni nyawa anjingmu!”
“Manusia sombong! Bukalah lebar-lebar matamu dan lihat, rumah ini telah terkurung oleh seratus lebih
tentara, dan kau masih sanggup menyombong? Ha, untuk apa kitab itu bila sebentar lagi kau dan anakmu
akan mampus di bawah hujan senjata?”
“Setan Tua, mampuslah kau!” Goat Lan yang sudah tak dapat menahan sabarnya lagi lalu menyerang
dengan tangan kosong!
Walau pun serangan ini dilakukan dengan tangan kosong, namun Ban Sai Cinjin maklum akan kelihaian
gadis ini. Cepat ia melompat keluar dari pintu, diikuti oleh Coa-ong Lojin. Goat Lan mencabut bambu
runcingnya dan mengejar ke luar, disusul oleh ayahnya yang sudah mencabut pedangnya.
Akan tetapi, benar saja, di luar mereka disambut oleh keroyokan hebat. Tidak saja Ban Sai Cinjin dan Coaong
Lojin yang mengeroyok, bahkan di situ terdapat Can Po Gan dan Can Po Tin, dua orang jago dari
Shantung yang menjadi sahabat Wi Kong Siansu dan yang pernah bertemu dengan Lili dan Lo Sian di
rumah makan. Juga di sana terdapat pengurus-pengurus tingkat satu dari Coa-tung Kai-pang, para perwira
Mongol yang pandai bermain golok hingga jumlahnya semua menjadi empat belas orang!
Kagetlah Goat Lan melihat ini, karena sesungguhnya ia tidak pernah menduga bahwa di tempat itu
terdapat orang-orang demikian banyaknya, yaitu orang-orang pandai. Melihat gerakan-gerakan senjata
mereka, ia maklum bahwa orang-orang ini tak boleh dipandang ringan dan keadaannya bersama ayahnya
bukannya tidak berbahaya. Apa lagi ketika ia menengok, ternyata tempat itu sudah terkurung oleh barisan
yang sangat tebal, barisan orang Mongol yang bersenjata lengkap, jumlahnya tidak kurang dari seratus
orang!
Ban Sai Cinjin biar pun sudah dihajar sampai babak bundas oleh Cin Hai, akan tetapi dia tidak menderita
luka dalam. Kini setelah menghadapi pertempuran besar dan karena dia memang marah sekali, seketika
itu juga tubuhnya terasa segar kembali. Dia menyerang dengan huncwe-nya, dan permainan huncwe-nya
ini tetap saja yang paling berbahaya di antara semua pengeroyok.
Ban Sai Cinjin menyerang Kwee An dan dibantu juga oleh Coa-ong Lojin yang masih merasa sakit hati
terhadap Kwee An. Raja pengemis ini mainkan sebatang tongkat ular yang ujungnya berbisa sehingga
sekali saja ujung tongkatnya mengenai kulit musuhnya, pasti lawannya akan roboh dan tewas! Selain Ban
Sai Cinjin dan Coa-ong Lojin, masih ada lagi lima orang perwira Mongol yang cukup kosen yang
dunia-kangouw.blogspot.com
mengeroyok Kwee An!
Ada pun Goat Lan yang mainkan sepasang bambu runcing, menghadapi keroyokan dua orang jago
Shantung itu. Sebagaimana diketahui, dua orang ini mempunyai kepandaian yang cukup tinggi, barang kali
tidak di bawah tingkat kepandaian Coa-ong Lojin. Apa lagi Po Tin yang bertubuh kecil itu ternyata memiliki
gerakan yang sangat lincah dan tenaga lweekang-nya hebat, berbeda dengan Po Gan yang memiliki
tenaga gwakang seperti seekor gajah! Selain dua orang jago Shantung yang berhasil dibeli oleh Ban Sai
Cinjin ini, Goat Lan masih dikeroyok pula oleh lima orang pengurus kelas satu dari Coa-ong Kai-pang yang
mengeroyok dengan tongkat ular mereka yang berbahaya.
Akan tetapi Goat Lan dan Kwee An tidak menjadi gentar, bahkan dua orang ini merasa gembira. Wajah
mereka berseri-seri dan mereka seakan-akan hendak berlomba untuk merobohkan lawan! Ayah dan anak
ini merasa lega karena berita tentang Kwee Cin yang kini sudah tidak berada dalam cengkeraman Ban Sai
Cinjin lagi.
“Ayah, mari kita berlomba-lomba menghabiskan tujuh ekor tikus ini!” Goat Lan berseru sambil tersenyum.
“Baik, mari kita coba!” kata Kwee An dan berbareng dengan ucapan itu, terdengar jerit kesakitan karena
seorang perwira Mongol telah kena ditendang oleh tendangan berantai dari Kwee An sehingga tubuh lawan
ini terlempar empat tombak lebih!
“Satu...!” seru Kwee An.
Mendengar ini, Goat Lan merasa penasaran sekali. Dengan bambu runcing pada tangan kirinya dia
menyerang Po Gan dengan cepat tak terduga. Ketika Po Gan dengan kaget melempar tubuh ke samping,
Goat Lan lalu menyambarkan bambu runcingnya ke arah dada seorang pengurus Coa-tung Kai-pang yang
berdiri di belakang Po Gan. Orang itu menjerit lalu roboh tak dapat bangun lagi.
“Satu...!” Goat Lan juga berseru keras.
Kwee An tersenyum lebar dan tidak lama kemudian, hampir berbareng ayah dan anak ini berseru, “Dua...!”
dan terlemparlah dua orang pengeroyok!
Seruan ini disusul dan disusul lagi sehingga empat orang lawan masing-masing sudah dirobohkan! Yang
mengeroyok Kwee An kini tinggal Ban Sai Cinjin, Coa-ong Lojin dan seorang perwira Mongol, sedangkan
pengeroyok Goat Lan tinggal Can Po Gan, Can Po Tin, dan seorang pengemis Coa-tung Kai-pang yang
sudah empas-empis napasnya!
Melihat hal ini, bukan main marahnya Ban Sai Cinjin. Ia berseru keras memberi aba-aba, maka puluhan
prajurit segera menyerbu, mengurung rapat-rapat sambil menyerang dan bersorak-sorak!
Tentu saja Goat Lan dan Kwee An menjadi terkejut bukan main. Mereka tak usah takut menghadapi
keroyokan para prajurit yang hanya merupakan orang-orang kasar, memiliki kepandaian biasa saja, akan
tetapi karena jumlah mereka banyak sekali, maka untuk melepaskan diri dari kepungan mereka harus
membunuh banyak sekali orang! Hal inilah yang tidak mereka kehendaki.
Jika saja pertempuran ini adalah sebuah peperangan, tentulah mereka akan mengamuk dan tidak akan
segan-segan lagi untuk menjatuhkan pukulan maut. Akan tetapi sekarang pertempuran ini hanya
merupakan perselisihan mereka dan Ban Sai Cinjin, maka kurang baik kalau harus membunuh banyak
orang sungguh pun mereka itu adalah orang-orang Mongol yang menjadi musuh negara.
Pada saat Goat Lan dan Kwee An dikeroyok oleh prajurit-prajurit Mongol bagaikan ribuan ekor semut
mengeroyok dua ekor burung, tiba-tiba terdengar bentakan keras,
“Mundur semua! Lihat siapa yang berada dalam tawananku!”
Semua orang Mongol menengok dan mereka melihat dua orang laki-laki datang dan di tengah-tengah
mereka terdapat seorang anak laki-laki yang membuat mereka semua segera menjatuhkan diri berlutut!
Ternyata bahwa yang datang itu adalah Cin Hai dan Hong Beng, sedangkan yang mereka tawan adalah
Pangeran Kamangis, yaitu putera dari Malangi Khan!
Melihat betapa semua prajurit Mongol berlutut dan tidak berani pula mengeroyok, dan melihat betapa
dunia-kangouw.blogspot.com
Pangeran Kamangis telah tertawan oleh Pendekar Bodoh, Ban Sai Cinjin menjadi pucat sekali mukanya.
“Pendekar Bodoh, kau curang! Kau menawan Pangeran Kamangis untuk mengalahkan aku!”
Cin Hai tersenyum sindir. “Cacing tua, aku hanya meniru perbuatanmu sendiri. Kau telah menculik Kwee
Cin yang sekarang disimpan oleh Malangi Khan. Kalau Kaisar Mongol itu tak mau melepaskan Kwee Cin,
kami pun akan menahan puteranya. Kau masih bernasib baik tidak mampus dalam tanganku, cacing tua!”
Setelah berkata demikian, Cin Hai lalu mengajak Goat Lan dan Kwee An untuk meninggalkan tempat itu
sambil memondong Pangeran Kamangis!
Ban Sai Cinjin membanting-banting kakinya dengan jengkel sekali dan dia cepat menuju ke istana Kaisar
Malangi Khan untuk mencari keterangan bagaimana sampai pangeran itu dapat tertawan oleh Pendekar
Bodoh.
Setibanya di depan Malangi Khan, di luar dugaannya, ia bahkan mendapat teguran keras dari Malangi
Khan dan mendengar penuturan tentang keberanian Pendekar Bodoh yang membuat darahnya mendidih
saking marahnya.
Malangi Khan, raja orang-orang Mongol menjadi marah sekali karena ada orang berani menculik puteranya
begitu saja dari hadapannya tanpa dapat menangkap orang itu. Ban Sai Cinjin mendengarkan penuturan
Malangi Khan itu dengan wajah sebentar merah dan sebentar pucat, tanda bahwa dia merasa malu dan
juga mendongkol sekali terhadap Pendekar Bodoh.
Ternyata bahwa setelah memberi hajaran pada Ban Sai Cinjin, Cin Hai lalu melanjutkan perjalanan dengan
cepat sekali memasuki istana Malangi Khan. Dengan kepandaiannya yang luar biasa, Pendekar Bodoh
dapat melewati semua penjagaan. Memang penjagaan istana Malangi Khan di tempat itu tak berapa kuat,
oleh karena istana itu memang berada di tengah-tengah benteng pertahanan barisan Mongol, siapakah
yang dapat masuk dan berani mengganggu?
Oleh karena itu, dapat dibayangkan betapa besar keheranan Malangi Khan ketika pada hari itu, selagi dia
duduk dihadapi oleh para panglimanya untuk mengatur siasat perang yang hendak dilakukan terhadap
pedalaman Tiongkok, tiba-tiba dari luar masuk seorang laki-laki setengah tua bangsa Han yang berpakaian
putih sederhana, akan tetapi yang bertindak masuk dengan langkah tegap dan tenang seperti seorang raja
saja!
“Hei...! Siapa kau? Berhenti!” Empat orang penjaga segera melompat dan cepat-cepat menghadangnya.
“Minggirlah, aku hendak bertemu dengan Malangi Khan, Kaisarmu!” Cin Hai menjawab dengan suara
tenang, akan tetapi cukup keras sehingga terdengar oleh Malangi Khan.
Jawaban ini tentu saja menimbulkan kegemparan di antara para panglima yang sedang menghadap Kaisar
itu. Juga para penjaga segera menyerbu dan mengurung Pendekar Bodoh.
“Bunuh saja orang gila ini sebelum dia membikin kacau!” teriak seorang penjaga sambil menyerang dengan
goloknya ke arah leher Cin Hai. Agaknya dengan sekali pancung dia hendak menyembelih orang Han yang
lancang ini! Akan tetapi segera terdengar suara jeritannya dan orang itu bersama goloknya terlempar jauh
menimpa kawan-kawannya sendiri.
“Jangan bunuh dia, tangkap dan bawa dia menghadap di sini!” tiba-tiba terdengar suara Malangi Khan
yang menggeledek. Tentu saja semua penjaga dan panglima yang sudah turun tangan, mentaati perintah
ini.
“Orang gila, lebih baik kau menyerah untuk kami bawa menghadap Kaisar dari pada sakit tubuhmu!” kata
seorang panglima yang diam-diam merasa khawatir akan amukan ‘orang gila’ yang telah disaksikan
kelihaiannya ketika menghadapi serangan golok tadi.
Cin Hai tersenyum. Memang bukan kehendaknya untuk menimbulkan keributan, lagi pula agaknya akan
jauh lebih mudah menghadapi Kaisar Malangi Khan dengan berpura-pura menyerah dari pada dengan
jalan kekerasan.
“Baiklah, kau belenggu kedua tanganku!” katanya sambil tersenyum.
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat sikap orang setengah tua ini, semua penjaga dan panglima menjadi geli. Tentu orang gila, pikir
mereka, mengapa raja ingin menghadapinya? Dengan cekatan, seorang panglima lalu mengambil rantai
besi.
“Klik! Klik!” terdengar suara suara dan dua pergelangan tangan Cin Hai telah terbelenggu erat-erat!
Ada yang menganggap perbuatan panglima itu keterlaluan. Untuk membelenggu seorang gila, mengapa
harus dipergunakan belenggu besi? Belenggu macam itu biasanya hanya dipergunakan untuk
membelenggu pesakitan yang lihai dan berilmu tinggi saja.
Akan tetapi ketika dua orang panglima hendak mencabut dan merampas pedang dan suling yang terselip
di pinggang Cin Hai, mereka lantas terperanjat dan terheran-heran. Dengan hanya melenggang dan
menggerakkan tubuh, Cin Hai telah dapat mengelak dari mereka ini sehingga pedang dan sulingnya tak
sampai tercabut! Sementara itu, beberapa kali melangkah dia telah berdiri di hadapan Kaisar Malangi
Khan!
“Siapakah kau? Melihat sinar mata dan sikapmu, kau bukanlah seorang gila, akan tetapi kenapa kau berani
berlancang masuk ke sini dan bagaimana kau bisa sampai di istana?” Kaisar Malangi Khan menyatakan
keheranannya.
Cin Hai tersenyum dan karena dua tangannya diikat ke belakang ia hanya mengangguk, kemudian berkata
dengan hormat, “Malangi Khan yang besar, maaf kalau aku datang mengganggu. Aku bernama Sie Cin
Hai, seorang yang bodoh sehingga banyak orang menyebutku Pendekar Bodoh, dan aku masuk ke sini
secara biasa saja, hanya agaknya orang-orangmu sedang mengantuk sehingga tidak melihatku.”
Malangi Khan nampak tertegun dan tidak percaya, ada pun semua panglima yang sedang berada di situ
pun terkejut sekali. Akan tetapi siapakah mau percaya bahwa orang yang seperti gila dan yang
menyerahkan diri dibelenggu tangannya ini adalah Pendekar Bodoh yang namanya menggemparkan sekali
dan yang sangat ditakuti oleh Ban Sai Cinjin? Tak mungkin!
Beberapa orang panglima sudah terdengar tertawa kecil menahan geli hatinya karena menyangka bahwa
orang ini tentulah seorang gila yang mengaku-aku sebagai Pendekar Bodoh! Seorang panglima yang
berwatak kasar dan keras segera menuding ke arah Cin Hai dan membentak,
“Orang gila, jangan kurang ajar di hadapan raja yang besar! Orang gila macam engkau ini mana patut
menjadi Pendekar Bodoh?”
Baru saja orang ini menutup mulutnya, semua orang terkejut, termasuk Malangi Khan karena orang itu kini
duduk diam seperti patung dengan mata terbelalak memandang ke arah Cin Hai. Ketika seorang kawan
yang didekatnya menggoyang tubuhnya, orang ini ternyata telah duduk dengan kaku seperti patung!
Tadi orang-orang hanya melihat sinar kecil menyambar ke arah iga panglima ini dan kini nampak nyatalah
sebutir batu kecil menggelinding di bawahnya. Dan karena sinar itu tadi datangnya dari Cin Hai, mereka
cepat memandang dan bukan main kaget hati semua panglima pada waktu melihat bahwa kini kedua
tangan Cin Hai yang tadinya dibelenggu menjadi satu di belakang tubuhnya, kini telah berada di depan
tubuhnya dalam keadaan masih terbelenggu seperti tadi! Bagaimana bisa orang yang kedua tangannya
terbelenggu menjadi satu di belakang bisa pindah ke depan tubuh?
Di antara para panglima itu terdapat tiga orang panglima yang berpangkat jenderal, dan mereka ini memiliki
kepandaian yang sudah cukup tinggi, dikenal sebagai tugu pelindung negara dan menjadi orang-orang
kepercayaan Malangi Khan. Mereka ini masih terhitung murid keponakan dari Thai Kek Losu dan Sian Kek
Losu, jago-jago nomor satu dan dua di Mongol yang menjadi murid-murid Swi Kiat Siansu di jaman belasan
tahun yang lalu. (baca Pendekar Bodoh)
Oleh karena itu, tiga pelindung negara atau yang juga disebut Sam-koksu ini pernah pula mendengar nama
Pendekar Bodoh. Tadinya mereka pun tak percaya ketika mendengar orang ini mengaku sebagai
Pendekar Bodoh, karena mungkinkah orang yang pernah mengalahkan supek-supek (uwa-uwa guru)
mereka Thian Kek Losu dan Sian Kek Losu ternyata hanya begini sederhana saja?
Akan tetapi ketika mereka melihat betapa kini orang yang terbelenggu itu sudah dapat memindahkan
tangan dari belakang ke depan, mereka pun menjadi terkejut sekali. Untuk dapat memindahkan dua tangan
yang terbelenggu dari belakang ke depan tubuh, hanya ada dua jalan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Yang pertama adalah jalan sederhana saja, yaitu melangkahkan kedua kaki ke belakang melewati tengahtengah
antara kedua lengan, dan jalan kedua hanya dapat dilakukan oleh orang berilmu tinggi yang telah
memiliki ilmu kepandaian Sia-kut-hwat (Ilmu Melepas Tulang Melemaskan Tubuh) sehingga kedua tangan
itu sekaligus dapat diputar ke depan melalui atas kepala tanpa merusak sambungan tulang pundak!
Kalau seandainya orang ini melakukan jalan pertama, bagaimana mereka semua tidak dapat melihatnya
dan bagaimana pula ia dapat menyerang panglima yang menghinanya tadi dengan sebutir batu kecil?
Mohopi segera berdiri dan memeriksa panglima yang ternyata benar sudah tertotok jalan darah teng-sinhiat
dengan tepat sekali, lalu dengan beberapa kali tepukan dan urutan tangan Mohopi dapat
menyembuhkan panglima itu yang kini tidak berani banyak tingkah lagi. Ada pun Kaisar yang melihat
peristiwa ini, diam-diam berdebar hatinya. Benar-benar hebat kepandaian Pendekar Bodoh ini, dan apa
maunya datang ke tempat ini?
“Ehh, kalau benar kau yang bernama Pendekar Bodoh, apakah kau berani menghadapi Sam-koksu untuk
saling menguji kepandaian?” tanya Malangi Khan.
Cin Hai tersenyum, “Khan yang besar, sesungguhnya kejadian seperti inilah yang terbaik! Saling menguji
kepandaian, saling memetik pengalaman dan menambah pengertian dari masing-masing pihak! Bukankah
ini jauh lebih sempurna dari pada saling berperang?”
Malangi Khan mengerutkan keningnya, “Kau tahu apa tentang perang? Pendeknya, kau berani atau tidak
menghadapi Sam-koksu kami?”
“Khan yang baik, aku datang dengan maksud baik, tentu saja aku akan menerima segala macam
sambutan dari pihak tuan rumah. Juga telah lama aku mendengar bahwa Mongol memiliki banyak
panglima-panglima yang pilihan dan jagoan maka barisan Mongol berani menyerang ke selatan. Kalau
Tiga Guru Negara (Sam-koksu) sudi membuka mataku dan menambah pengetahuanku, sebelumnya aku
mengucapkan banyak terima kasih!”
“Beri ruangan yang lebar dan buka ikatan tangan tamu kita ini!” Malangi Khan berseru dengan wajah
berseri.
Raja bangsa Mongol ini, seperti juga raja-raja Mongol yang sudah dan yang akan datang, memang terkenal
sebagai orang yang menjunjung tinggi kegagahan serta keperwiraan. Malangi Khan sendiri juga terhitung
seorang yang memiliki kepandaian silat tinggi, maka tentu saja dia merasa amat gembira melihat tamunya
yang mengaku Pendekar Bodoh ini sanggup menghadapi tiga orang koksunya! Kegembiraan Raja ini
kiranya sama dengan kegembiraan seorang penggemar adu ayam melihat dua ekor ayam laga akan
bertarung!
“Tak usah, Khan yang baik!” jawab Cin Hai dengan gembira pula, karena pengalamannya dengan orangorang
Mongol ini mengingatkan dia akan pengalamannya di waktu muda dahulu. “belenggu ini tak usah
dibuka, biarlah aku menghadapi tiga jago-jagomu dengan tangan terbelenggu!” (baca cerita Pendekar
Bodoh)
Tentu saja ucapan ini membuat semua melengak. Malangi Khan memandang ke arah Cin Hai dengan
ragu-ragu dan mulailah dia bersangsi apakah orang yang dikira sebagai Pendekar Bodoh ini bukannya
seorang gila.
Akan tetapi tiga orang koksu itu menjadi marah sekali. Ucapan ini saja sudah merupakan penghinaan yang
tidak boleh diampuni lagi! Bagaimana seorang tamu berani menantang koksu-koksu yang terkenal ini untuk
dilawan dengan tangan kosong yang terbelenggu?
Sementara itu, para penghadap raja sudah mundur dan membuat lingkaran yang cukup lebar sehingga
ruang persidangan itu kini berubah menjadi semacam lian-bu-thia (ruang bermain silat). Cin Hai menjura di
hadapan Raja, kemudian berjalan dengan langkah enak berlenggang kangkung menuju ke tengah ruangan
itu. Dua tangannya masih terbelenggu dan tergantung di depan perutnya.
“Khan yang mulia, hamba merasa malu untuk melawan orang yang berotak miring!” kata Ganisa, orang
tertua dari Sam-koksu itu kepada rajanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tidak apa, Ganisa, biarlah kau coba menyerangnya. Kalau dia Pendekar Bodoh yang sesungguhnya,
boleh kau mengukur sampai di mana tinggi ilmu kepandaiannya sehingga dia sesombong itu. Kalau dia
bukan Pendekar Bodoh melainkan seorang gila, kau boleh membunuhnya karena dia telah berani bermain
gila di tempat ini!”
Mendengar perintah Raja ini, Mohopi yang paling muda lalu maju mewakili kakaknya. Dia lalu mendapat ijin
dari Malangi Khan dan Mohopi lalu melompat cepat berdiri di hadapan Cin Hai.
Melihat gerakan ini, Cin Hai tersenyum lantas berkata dengan beraninya. “Malangi Khan yang baik,
bukankah tadi kau menantang kepadaku untuk menghadapi Sam-koksu (Tiga Guru Negara)? Mengapa
yang maju hanya satu orang saja? Apakah yang dua sudah merasa jeri untuk menghadapi aku, takut
kalah?”
Cin Hai sengaja mengeluarkan ucapan ini bukan tidak ada alasannya. Pertama karena ia ingin sekali
mempengaruhi Raja itu agar supaya tunduk padanya sehingga mudah diajak berunding untuk
membebaskan Kwee Cin. Kedua kalinya karena gerakan melompat dari Mohopi tadi sudah lebih dari cukup
baginya untuk menilai sampai di mana gerakan tingkat kepandaian tiga orang jago Mongol itu.
“Orang gila, kau betul-betul sombong sekali!” Mohopi berseru marah mendengar ucapan ini dan serentak
dia melakukan serangan bertubi-tubi.
Pertama-tama tangan kanannya dikepal menghantam dada Cin Hai dan pukulan ini lalu disusul dengan
tusukan dua jari tangan kiri ke arah mata, lantas disusul pula dengan tendangan kaki kanan yang hebat
sekali ke arah ulu hati! Tiga macam pukulan maut ini bergerak dengan beruntun hampir berbareng dan
satu saja di antara tiga serangan ini mengenai sasaran, dapat dibayangkan bahwa orang yang diserangnya
pasti akan roboh. Baru hawa pukulan dan tendangan itu saja sudah menerbitkan suara bersuitan!
Akan tetapi, sebelum tiga macam serangan itu melayang, lebih dulu Cin Hai telah dapat menduganya.
Pendekar Bodoh ialah seorang pendekar sakti yang memiliki pengetahuan mengenai pokok dasar segala
macam gerakan ilmu silat, semacam pengetahuan yang menjadi raja segala macam ilmu silat. Diserang
dengan gerak tipu dari cabang persilatan mana pun juga, sebelum serangan itu melayang dating ia telah
bisa menduganya hanya dengan melihat gerakan pundak dan paha untuk dapat menduga pukulan dan
tendangan lawan.
Saat semua orang, termasuk Malangi Khan, mengharapkan bahwa segebrakan serangan yang
mengandung tiga macam pukulan ini akan berhasil menjatuhkan tamu itu, tahu-tahu Mohopi sendiri
menjadi kebingungan dan terdengar suara ketawa dari beberapa orang panglima yang merasa geli melihat
pemandangan amat lucu.
Ketika kelihatannya Pendekar Bodoh seperti mau terkena pukulan yang tiga macam itu, tiba-tiba ia
merendahkan tubuhnya dengan kegesitan yang tak terduga-duga dan dengan gerakan cepat sekali dia
kemudian bergerak maju menyusup di bawah kaki lawan yang menendangnya! Dengan demikian, dia telah
berhasil menyelamatkan diri dan kini berada di belakang Mohopi tanpa diketahui oleh lawannya, karena
memang gerakan Pendekar Bodoh tadi cepat sekali.
Ketika melihat betapa Mohopi nampak tercengang mencari-cari lawannya, Malangi Khan sendiri menjadi
terheran-heran, lalu tertawa bergelak. Gerakan dari Pendekar Bodoh tadi bukanlah gerakan ilmu silat, lebih
mirip gerakan seekor monyet yang lucu, akan tetapi buktinya Mohopi dapat ditipu mentah-mentah.
“Majulah, majulah kalian bertiga!” perintah Malangi Khan dengan wajah gembira sekali.
Ganisa dan Citalani atau yang biasanya disebut Thai-koksu (Guru Negara Pertama) dan Ji-koksu (Guru
Negara kedua) jadi marah sekali melihat betapa mereka dipermainkan oleh orang mengaku Pendekar
Bodoh itu. Mereka pun tadi melihat betapa gerakan Cin Hai bukanlah gerakan silat, walau pun harus
mereka akui bahwa gerakan itu selain amat cepat juga tidak terduga.
Mereka masih mengira bahwa hal itu hanya kebetulan saja. Akan tetapi kini mendengar perintah Malangi
Khan, mereka lalu serentak maju berbareng mengirim serangan dengan maksud sekali serang
merobohkan atau menewaskan tamu ini.
Akan tetapi kembali semua orang menjadi tercengang. Sambil tersenyum-senyum, Cin Hai dapat
menghindarkan diri dari semua serangan dengan hanya sedikit menggerakkan tubuhnya, miring ke kanan
dunia-kangouw.blogspot.com
kiri, melompat ke depan belakang bagaikan seekor monyet yang amat gesit dan sukar diserang.
Biar pun penyerangnya ada tiga orang, akan tetapi mana dapat mereka ini melukai Cin Hai? Dahulu pun
ketika supek mereka masih hidup, yaitu Thai Kek Losu dan Sian Kek Losu, kedua orang ini pun tak
berdaya menghadapi Pendekar Bodoh, apa lagi baru murid keponakannya! Tingkat kepandaian Sie Cin Hai
masih beberapa tingkat lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian Sam-koksu ini, karena itu walau pun
mereka menyerang sambil mengerahkan semua kepandaian, tetap saja Pendekar Bodoh dapat
menghadapi mereka dengan kedua tangan terbelenggu tanpa dapat teluka sedikit pun.
“Koksu, serang dia dengan senjatamu!” bentak Malangi Khan yang mukanya menjadi merah karena
merasa malu dan penasaran mengapa tiga orang jagonya yang dijadikan pelindung negara ternyata tidak
bisa berbuat apa-apa terhadap seorang yang demikian sederhana saja.
Mendengar perintah ini, tiga orang itu lalu mencabut senjata masing-masing. Akan tetapi yang paling
menarik perhatian hingga membuat Cin Hai terkejut adalah senjata di tangan Thai-koksu Ganisa, oleh
karena orang tua ini memegang seuntai rantai yang ujungnya diikatkan pada sebuah tengkorak kecil yang
amat mengerikan!
Teringatlah Cin Hai kepada Thian Kek Losu yang dulu juga mempunyai senjata macam ini, maka dia lantas
berlaku hati-hati sekali. Senjata Ji-koksu dan Sam-koksu tidak begitu diperhatikan karena kedua orang
guru negara ke dua dan ke tiga ini hanya bersenjatakan golok besar yang biasa saja.
Kedua golok besar itu menyambar cepat, akan tetapi hanya dielakkan oleh Cin Hai sambil mempergunakan
ginkang-nya yang luar biasa. Namun pada saat tengkorak kecil di ujung rantai yang dipegang oleh Thaikoksu
itu mengarah mukanya, ia cepat mengangkat kedua tangannya yang terbelenggu.
Dia maklum dari pengalamannya dahulu menghadapi Thai Kek Losu, bahwa tengkorak kecil ini
mengandung hawa mukjijat dan kekuatan sihir. Dan di samping ini, juga di dalam tengkorak ini terdapat
senjata-senjata rahasia yang berbisa dan amat berbahaya apa bila ditangkis.
Oleh karena itu, tanpa mempedulikan dua buah golok yang menyambar-nyambar, ia lalu mencurahkan
perhatiannya kepada tengkorak kecil itu. Pada waktu ia melihat tengkorak menyambar cepat ke arah
mukanya seperti hendak menciumnya, ia lalu menggerakkan kedua tangan dan sebelum Thai-koksu tahu,
tengkorak itu sudah kena terpegang oleh kedua tangan Pendekar Bodoh!
Thai-koksu terkejut sekali. Ia hendak membetot dan menggunakan senjata rahasia yang berada di dalam
tengkorak itu, akan tetapi cepat bagaikan kilat, Pendekar Bodoh sudah mengirim tendangan ke arah
pergelangan tangannya. Thai-koksu berseru keras karena dengan tepat sekali tendangan itu sudah
membuat sambungan pergelangan tangannya terlepas!
Sambil membawa tengkorak kecil itu, Cin Hai melanjutkan gerakannya. Sepasang golok dari Ji-koksu dan
Sam-koksu menyambar dari kanan kiri, maka cepat ia lalu melangkah mundur, miring ke kanan,
menggunakan sikunya yang ‘dimasukkan’ lurus ke dalam perut Sam-koksu.
“Ngekk!”
Meski pun Mohopi atau Samkoksu itu mengerahkan lweekang-nya ke arah perut, namun tentu saja dia
tidak dapat menahan pukulan siku ini dan segera dia terhuyung mundur sambil memegangi perutnya yang
tiba-tiba menjadi mulas!
Ada pun Ji-koksu yang menjadi marah sekali lalu kembali menerjang dengan goloknya, membabat secara
bertubi-tubi ke arah pinggang dan leher Pendekar Bodoh. Cin Hai yang kedudukannya masih miring ketika
merobohkan Mohopi tadi, melihat datangnya babatan golok, cepat menotol kedua kakinya dan
mengerahkan tenaga sehingga tubuhnya segera mencelat ke atas bagaikan seekor burung terbang.
Citalani atau Ji-koksu yang memiliki ilmu golok paling lihai di antara saudara-saudaranya, cepat menerjang
terus selagi tubuh Cin Hai masih berada di udara. Akan tetapi, dengan enaknya Cin Hai menggunakan
tendangan menyerong yang kelihatannya ditujukan ke arah kepala lawannya, akan tetapi sesungguhnya
lalu menyerong dan menendang ke arah golok!
Seorang yang tidak memiliki ilmu ginkang yang luar biasa tingginya tidak mungkin dapat melakukan
tendangan selagi tubuhnya masih berada di udara, dan lagi pula, kalau tidak mengandalkan tenaga
dunia-kangouw.blogspot.com
lweekang yang amat hebat juga tidak mungkin orang akan berani menendang sebatang golok yang tajam
sekali.
Akan tetapi, Pendekar Bodoh merupakan kekecualian karena sebagai murid terkasih dari mendiang Bu
Pun Su, guru besar nomor satu dalam dunia persilatan, dia telah memiliki kepandaian yang sukar diukur
sampai di mana tingginya.
Begitu ujung kakinya mengenai golok Ji-koksu, terdengar suara nyaring sekali dan golok itu menjadi rompal
dan terlepas dari tangan lawannya, terus meluncur ke bawah dan menancap di lantai sampai setengahnya.
Ada pun Ji-koksu meringis-ringis karena dua buah jari tangannya ternyata telah patah tulangnya
keserempet tendangan dari Pendekar Bodoh!
Setelah mengalahkan ketiga orang lawannya, Cin Hai lalu melompat ke hadapan Malangi Khan, kemudian
menjura dan berkata, “Harap Malangi Khan yang mulia sudi memaafkan kekasaranku tadi terhadap tiga
Koksu!”
Untuk beberapa lama Malangi Khan tidak dapat mengeluarkan kata-kata saking kagum dan herannya
melihat kelihaian Pendekar Bodoh. Dia turun dari tempat duduknya dan dengan kedua tangan sendiri
hendak membuka belenggu di tangan Cin Hai, akan tetapi sekali lagi ia melengak ketika tiba-tiba saja Cin
Hai menggerakkan kedua tangannya dan belenggu besi itu rontok lantas jatuh terlepas dari tangannya!
Tidak hanya Malangi Khan yang terkejut, bahkan semua panglima yang berada di sana menjadi pucat
mukanya melihat kehebatan demonstrasi tenaga raksasa ini.
“Hebat sekali, Pendekar Bodoh. Sungguh pantas kau disebut pendekar yang terbesar di dunia persilatan.
Aku merasa kagum dan tunduk sekali. Ah, tinggallah bersamaku di sini, kau akan kuangkat menjadi
pelindung negara, menjadi raja muda yang kuberi kekuasaan penuh sebagai wakilku!” Raja Mongol itu
berseru saking kagumnya.
Akan tetapi Cin Hai menggelengkan kepalanya dan dengan suara sungguh-sungguh lalu berkata,
“Malangi Khan yang baik, sejak dahulu aku paling tidak suka menjadi pembesar negara. Banyak cara untuk
menolong rakyat dan cara yang paling tidak kusukai adalah menjadi pembesar negara, karena kedudukan
menjadi sekutu harta benda dan ke dua, hal ini suka meracuni pikiran membutakan mata batin. Terima
kasih atas tawaranmu yang amat ramah ini, Khan yang mulia.”
Malangi Khan mengerutkan keningnya. “Kalau begitu, apakah maksudmu datang ke sini? Apakah kau
datang dengan niat mengacau?”
Cin Hai menggelengkan kepala. “Tidak sama sekali. Kedatanganku ini tidak lain hendak menjemput
keponakanku, Kwee Cin yang kini sedang menjadi tamu di istanamu. Kedua orang tuanya telah amat
mengharapkan kembalinya, maka harap kau suka menyuruh dia keluar agar dapat pulang bersamaku,
Malangi Khan.”
Mendengar ucapan ini, Raja Mongol itu memandang tajam. “Dan di samping itu, apa lagi kehendakmu?”
“Aku mendengar bahwa seorang Turki bernama Bouw Hun Ti berada di tempat ini dan membantumu.
Karena orang jahat itu dulu telah melakukan pembunuhan terhadap ayah mertuaku, maka kuharap Khan
yang mulia suka pula menyerahkan orang itu kepadaku untuk diadili!”
Malangi Khan mengangkat tangan kirinya dan pada saat itu juga pendengaran Cin Hai yang tajam dapat
menangkap derap kaki ratusan orang yang mengurung ruangan itu!
“Apa maksudnya ini, Malangi Khan?” tanya Pendekar Bodoh dan kedua matanya yang lebar dan jujur itu
kini bersinar-sinar dan bergerak-gerak, menunjukkan betapa cerdiknya otak yang berada di belakang mata
itu.
Malangi Khan tertawa bergelak. “Pendekar Bodoh, kau sudah kuberi kesempatan untuk mendapatkan
kedudukan setinggi-tingginya yang mungkin dicapai orang di negaraku, akan tetapi kau berani sekali
menolak, bahkan menuntut dikembalikannya keponakanmu dan kau hendak menangkap seorang
pembantuku pula.”
Ucapan terakhir ini sesungguhnya bohong, karena meski pun tadinya Bouw Hun Ti juga membantu suhudunia-
kangouw.blogspot.com
nya, Ban Sai Cinjin di benteng itu, akan tetapi belum lama ini Bouw Hun Ti telah melakuan perjalanan
untuk mengumpulkan orang-orang yang kelak akan dimintai bantuan dalam menghadapi Pendekar Bodoh
dan kawan-kawannya di puncak Thian-san. Maka sebenarnya Bouw Hun Ti kini bukan merupakan
pembantunya lagi. Malangi Khan sengaja mengatakan demikian agar dapat mencari alasan yang berat
untuk menyalahkan Pendekar Bodoh.
“Selanjutnya apa kehendakmu, Malangi Khan?” tanya Cin Hai, sedikit pun tidak merasa takut.
“Kau akan kutahan di sini dan takkan kulepaskan sebelum kau nyatakan suka menerima pengangkatan
atau sebelum bala tentara Tiong-goan dapat kuhancurkan!”
Cin Hai tersenyum. “Kalau aku melarikan diri?”
Malangi Khan juga tersenyum. “Kau dikurung oleh ribuan orang tentara yang kuat! Dan pula, begitu kau
memberontak, anak itu akan kupenggal lehernya!”
“Malangi Khan, kau benar-benar cerdik dan licik! Akan tetapi siapa percaya omonganmu? Kalau aku tidak
melihat sendiri anak itu, aku takkan percaya bahwa anak itu masih belum kau bunuh!”
“Pendekar Bodoh, kau kira aku Malangi Khan pembunuh anak-anak tanpa alasan?”
“Siapa tahu watak seorang Raja Besar yang licik seperti kau?” Cin Hai sengaja menghina sehingga Raja itu
mendelikkan mata dan segera memberi perintah kepada penjaga untuk membawa datang Kwee Cin.
Teganglah seluruh urat dalam tubuh Cin Hai ketika ia mendengar perintah ini. Dia sudah mengambil
keputusan untuk segera merampas Kwee Cin kemudian membawanya pergi dari situ. Penjagaan ribuan
orang tentara Mongol itu sama sekali tidak ditakutinya, karena sesungguhnya dengan kepandaiannya dia
dapat membobolkan kepungan itu.
Pintu belakang terbuka dan muncullah Kwee Cin bersama seorang anak Mongol yang berpakaian mewah.
Cin Hai dapat menduga bahwa ini tentu putera Raja Mongol itu.
“Kouw-thio (Paman)...!” Kwee Cin berseru girang ketika dia melihat Cin Hai dan hendak berlari
menghampiri.
Akan tetapi sekali sambar saja Malangi Khan sudah menangkap lengan Kwee Cin yang ditariknya dekat.
Tangan kanan Malangi Khan telah menghunus pedangnya dan dengan gerakan mengancam dia
memandang kepada Cin Hai. Pendekar Bodoh merasa sangat lega melihat bahwa Kwee Cin berada dalam
keadaan selamat dan sehat sehingga dapat diduga bahwa anak itu diperlakukan dengan baik di tempat itu.
“Paman Malangi, kenapa kau memegang tanganku?” tanya Kwee Cin sambil memandang heran kepada
Raja itu, yang menjadi bukti bagi Pendekar Bodoh bahwa biasanya Raja ini bersikap baik terhadap Kwee
Cin.
Akan tetapi melihat ancaman Malangi Khan, ia tak dapat berbuat sesuatu. Ia tahu bahwa orang seperti
Malangi Khan akan memegang teguh ancamannya dan kalau ia bergerak merampas Kwee Cin, tentu Raja
itu akan mengerjakan pedangnya dan celakalah nasib keponakannya itu.
“Malangi Khan, janganlah kau mengganggu keponakanku itu. Aku bersumpah tidak akan merampasnya
dengan kekerasan.”
Malangi Khan memandang heran, lalu melepaskan tangan Kwee Cin. Bahkan ia pun lalu duduk bersandar
dengan wajah lega. Pendekar Bodoh merasa kagum sekali betapa Raja ini dapat melihat orang, karena itu
sekali ia mengeluarkan ucapan dan janji, maka Raja itu telah percaya penuh kepadanya! Kalau saja ia mau
mempergunakan kepandaiannya, pada saat itu dia dapat menyambar Kwee Cin, akan tetapi tentu saja Cin
Hai tidak mau melanggar sumpahnya.
Sebetulnya sumpah tadi termasuk rencana dan siasatnya, karena meski pun kelihatan bodoh, Cin Hai
sebetulnya cerdik sekali. Ia tidak melihat harapan untuk mempergunakan kekerasan, maka sengaja ia
bersumpah takkan merampas Kwee Cin dengan kekerasan.
Kini melihat Malangi Khan tidak mengancam lagi kepada Kwee Cin, tiba-tiba saja Cin Hai menubruk maju.
dunia-kangouw.blogspot.com
Malangi Khan terkejut sekali karena tidak disangkanya Pendekar Bodoh mau melanggar sumpahnya. Ia
hendak membentak dan memaki, akan tetapi menahan suaranya ketika melihat bahwa Pendekar Bodoh
bukan merampas Kwee Cin melainkan menangkap Putera Mahkota!
Tak ada seorang pun dapat mengikuti gerakan Pendekar Bodoh yang demikian cepatnya sehingga tahutahu
Pangeran Kamangis, putera tunggal Malangi Khan, sudah berada di dalam pondongan Pendekar
Bodoh! Dan sebelum orang dapat bergerak, Cin Hai sudah melompat keluar sambil berkata,
“Malangi Khan, kau harus kembalikan Kwee Cin secara baik-baik untuk ditukar dengan puteramu. Aku
menanti di benteng Alkata-san!”
Para panglima beserta penjaga serentak maju hendak mencegat Pendekar Bodoh, akan tetapi Malangi
Khan berseru keras,
“Jangan ganggu dia, kalian anjing-anjing bodoh! Jangan serang dia!” Raja ini takut kalau serangan anak
buahnya akan mengenai tubuh puteranya, karena maklum akan kelihaian Pendekar Bodoh.
Demikianlah penuturan yang didengar dengan hati gemas dan mendongkol sekali oleh Ban Sai Cinjin
ketika dia datang menghadap Malangi Khan.
“Dan sekarang bagaimana kehendak Khan yang mulia?” Ban Sai Cinjin bertanya sambil mengepulkan
asap huncwe-nya.
Kedudukan Ban Sai Cinjin sebagai sekutu boleh dikatakan sejajar dengan Malangi Khan dan karena Raja
Mongol ini pun maklum akan kelihaian Si Huncwe Maut, maka ia telah memberi kebebasan kepada Ban
Sai Cinjin untuk bersikap sebagai seorang tamu agung.
“Sayang sekali dengan adanya seorang tokoh seperti kau, Pendekar Bodoh masih berani mengganggu
tempat ini,” kata Raja itu dengan suara menyindir. “Akan tetapi sudahlah, memang amat sukar mencari
seorang yang cukup kuat untuk menghadapi seorang sakti seperti Pendekar Bodoh. Tiada jalan lain,
terpaksa aku harus mengantarkan keponakan Pendekar Bodoh itu ke benteng Alkata-san untuk ditukar
dengan puteraku.”
“Harap Paduka berlaku sangat hati-hati.” Ban Sai Cinjin memperingatkan. “Siapa tahu kalau-kalau mereka
sudah mengatur perangkap untuk mencelakakan Paduka. Biarlah saya saja yang membawa anak she
Kwee itu untuk ditukarkan dengan putera Paduka.”
Beberapa orang panglima membenarkan pendapat Ban Sai Cinjin ini. Memang resikonya terlalu besar bagi
maharaja itu untuk pergi sendiri melakukan penukaran tawanan, sebab kalau Malangi Khan sampai
tertawan musuh, berarti semua gerakan tentara Mongol akan kehilangan kepalanya. Dan selain Ban Sai
Cinjin yang berkepandaian tinggi, tidak ada yang lebih baik untuk melakukan penukaran tawanan penting
ini.
“Kau harus berhati-hati dan perlakukan anak itu baik-baik, karena aku pun menghendaki puteraku
diperlakukan dengan baik oleh mereka!” kata Malangi Khan.
Demikianlah, dengan amat sembrono sekali Malangi Khan mempercayakan penukaran tawanan itu ke
dalam tangan Ban Sai Cinjin! Kalau saja Raja ini sudah kenal betul watak Ban Sai Cinjin, tentu sama sekali
dia tak akan suka mempercayakan keselamatan putera tunggalnya ke dalam tangan Si Huncwe Maut ini!
Kwee Cin lalu dikeluarkan dari kamar di mana ia ditahan dan dijaga keras, kemudian Ban Sai Cinjin
mengempit anak ini yang menjadi pucat sekali ketika melihat Ban Sai Cinjin. Kwee Cin ingat bahwa kakek
mewah inilah yang dulu menculiknya, dan tadinya ia sudah merasa lega karena terlindung oleh Malangi
Khan dan menjadi kawan bermain Putera Mahkota Mongol yang baik. Akan tetapi kini ia diserahkan lagi
kepada kakek ber-huncwe yang ditakuti dan dibencinya itu, maka ia menjadi pucat dan ingin menangis.
Setelah berpamit kepada Malangi Khan, Ban Sai Cinjin lalu melangkah keluar dari istana itu. Akan tetapi
pada saat ia hendak mempergunakan kepandaiannya untuk berlari cepat, tiba-tiba saja dari luar benteng
menyambar bayangan dua orang yang gerakannya cepat sekali.
Ketika dengan terkejut Ban Sai Cinjin memandang, alangkah herannya pada saat melihat bahwa yang
datang adalah Lie Siong, pemuda yang beberapa kali bertempur dengan dia itu, pemuda yang sudah
dunia-kangouw.blogspot.com
berani mengacau di rumahnya dan membakar rumahnya di desa Tong-si-bun. Akan tetapi, pemuda ini kini
dipegang lengannya oleh seorang tua yang bongkok, yang jalannya terpincang-pincang dan kalau saja
tidak berpegang pada lengan pemuda itu agaknya pasti akan roboh terguling!
“Suhu, inilah anak itu yang harus dirampas, dan ini pula orang jahat bernama Ban Sai Cinjin Si Huncwe
Maut!” pemuda itu berkata kepada kakek bongkok terpincang-pincang yang berpegangan pada lengannya.
Kakek itu membuka-buka matanya yang agaknya sukar dibuka, lalu mengeluarkan suara seperti ringkik
kuda, disambung dengan ketawanya yang lemah, “Heh-heh-heh, berikan kepadaku anak itu...” suaranya
perlahan dan lambat seperti suara kakek-kakek yang sudah tua sekali, agak menggetar pula.
Biar pun sudah pernah merasai kelihaian Lie Siong, tentu saja Ban Sai Cinjin tidak takut sama sekali
terhadap anak muda itu, karena selain kepandaiannya memang masih lebih unggul dari pada Lie Siong,
juga di tempat itu dia mempunyai banyak pembantu.
“Apakah kau datang hendak mengantar kematian?” bentaknya kepada Lie Siong sambil menggerakkan
huncwe-nya di tangan kanan dan dibarengi teriakan untuk memberi tahu kawan-kawannya. Sebetulnya
teriakan ini tidak diperlukan karena para panglima Mongol, bahkan Malangi Khan sendiri sudah mendengar
ribut-ribut dan sudah memburu keluar semua.
Lie Siong yang diserang dengan hebatnya oleh Ban Sai Cinjin tidak menangkis mau pun mengelak.
Sebaliknya yang bergerak adalah kakek tua renta itu yang menggerakkan dua tangannya sambil terkekehkekeh.
Biar pun kedua tangannya kurus tinggal kulit dan tulang dan gerakannya lambat sekali, namun Ban Sai
Cinjin terkejut setengah mati. Sekali sambar saja huncwe Ban Sai Cinjin itu telah kena direbut lalu
dibalikkan dan kini huncwe itu menyodok ke arah perut Ban Sai Cinjin, dibarengi dengan tangan kiri
ditamparkan ke arah kepala kakek mewah itu.
Angin pukulan dari kakek tua renta ini terasa oleh Ban Sai Cinjin bagaikan angin puyuh menyambar ke
arahnya, maka tentu saja ia cepat-cepat mengelak. Akan tetapi sebelum dia mengetahui bagaimana kakek
renta ini tadi bergerak, Kwee Cin yang berada di dalam pondongannya telah terbang dan pindah ke dalam
pondongan kakek tua bangka itu!
“Tangkap...! Keroyok...!” Ban Sai Cinjin memekik bingung melihat kelihaian kakek ini dan para panglima
segera maju mengurung, dipimpin sendiri oleh Malangi Khan yang merasa gelisah melihat betapa penukar
puteranya itu telah dirampas orang.
Ban Sai Cinjin sendiri masih berdiri tertegun karena baru satu kali selama hidupnya dia menyaksikan orang
yang tingkat kepandaiannya sama dengan kakek tua renta ini, yaitu Bu Pun Su yang sudah mati. Tadinya
ia mengira bahwa di dunia ini tidak ada orang lain yang memiliki kepandaian seperti Bu Pun Su. Akan
tetapi sekarang, menghadapi kakek tua renta yang sudah mau mati saking tuanya ini, ia menjadi bingung
dan terkejut.
Agaknya kepandaian kakek tua renta ini tidak berada di sebelah bawah dari kepandaian Empat Besar,
yaitu Bu Pun Su, Hok Peng Taisu, Pok Pok Sianjin, dan Swi Kiat Siansu yang semuanya sudah meninggal
dunia. Bagi Ban Sai Cinjin, agaknya tidak ada tokoh besar dunia kang-ouw yang tidak diketahui atau
dikenalnya, akan tetapi selama hidupnya belum pernah ia melihat atau mendengar tentang kakek yang
aneh ini!
Ada pun kakek itu kelihatan enak-enak saja meski pun dikurung oleh panglima-panglima yang bersenjata
tajam. Ia mengisap huncwe rampasan itu yang masih ada tembakaunya mengepul, disedotnya beberapa
kali sambil matanya berkedap-kedip dan memondong Kwee Cin yang memandang dengan ketakutan.
Sementara itu, karena para penglima sudah mulai menyerang, Lie Siong cepat mencabut pedang naganya
dan setelah ia menggerakkan pedangnya, terdengar suara nyaring dan beberapa batang golok atau
tombak langsung menjadi patah. Akan tetapi kurungan tidak mengendur, bahkan makin merapat.
Kakek tua yang menyedot asap huncwe tampak mengernyitkan hidungnya dan wajahnya menjadi makin
buruk.
“Ahh, huncwe tidak enak, tembakaunya apek berbau busuk!” katanya menyengir lalu dia menyodorkan
dunia-kangouw.blogspot.com
huncwe itu kembali kepada Ban Sai Cinjin.
Si Huncwe Maut ini terbelalak matanya memandang penuh keheranan karena tadi dia melihat sendiri
betapa kakek ini telah menyedot sedikitnya lima kali dan melihat nyala api di dalam huncwe, tentu banyak
sekali asap yang tersedot. Akan tetapi dia tidak melihat asap itu keluar lagi seolah-olah lima kali sedotan itu
membuat asapnya terus tersimpan di dalam dada Si Kakek Aneh. Padahal tembakau yang dipasangnya di
dalam huncwe-nya adalah tembakau hitam yang beracun! Oleh karena kaget dan heran, setelah menerima
kembali huncwe-nya, dia hanya berdiri bengong.
Kakek itu memandang ke arah Lie Siong yang terdesak hebat, dan kini Malangi Khan sendiri memimpin
sebagian orangnya untuk menyerang kakek itu dan merampas kembali Kwee Cin. Akan tetapi tiba-tiba
kakek itu terkekeh-kekeh dan dari mulutnya menyambar keluar asap hitam bergulung-gulung bagaikan
naga hitam yang jahat. Inilah asap dari huncwe Ban Sai Cinjin yang tadi disimpan dengan kekuatan
lweekang dan khikang luar biasa sekali dan kini dikeluarkan untuk menyerang para pengeroyok.
“Awas, mundur...! Asap itu berbahaya sekali...!” Ban Sai Cinjin berteriak gagap, karena ia maklum akan
berbahayanya asap huncwe-nya sendiri yang mengandung racun hebat. Akan tetapi beberapa orang
sudah tersambar oleh asap itu dan seketika menjadi roboh pingsan. Yang lain-lain menjadi takut dan
mundur.
Kakek itu mendekati Lie Siong. “Muridku, hayo kita pergi!”
Baru saja ucapan ini habis dikeluarkan, tiba-tiba tubuhnya dan tubuh Lie Siong melayang cepat sekali ke
atas genteng dan lenyap dari pandangan mata!
Kembali Ban Sai Cinjin terkejut. Itu adalah ilmu ginkang yang luar biasa sekali. Bagai mana pemuda itu
tiba-tiba saja sudah memiliki kepandaian ini? Melihat gerakan pedang pemuda tadi, masih tidak jauh
bedanya dengan dulu. Setelah berpikir sebentar, dapatlah ia menduga bahwa tentu pemuda itu dipegang
lengannya oleh kakek yang sakti tadi dan dibawa melompat pergi.
Pada saay dia memandang ke arah Malangi Khan, dari sepasang mata Raja Mongol ini terbayang maut
yang ditujukan kepadanya sehingga dia menjadi kaget. Dia tahu bahwa Raja ini marah sekali kepadanya
dan menganggap dia menjadi biang keladi sehingga Kwee Cin terampas orang.
“Biar hamba mengejar mereka!” seru Ban Sai Cinjin dan cepat ia pun melayang ke atas genteng dan
melarikan diri!
Kakek mewah ini tahu bahwa dia tak akan sanggup mengejar, dan alasannya tadi hanya dipergunakan
supaya dapat melarikan diri dari situ. Ia tahu bahwa setelah kini Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya
datang dan berada di benteng Alkata-san, amat berbahaya baginya berada di tempat itu.
Dia kemudian pergi cepat sekali dengan tujuan menyusul muridnya, Bouw Hun Ti, untuk mengumpulkan
pembantu-pembantu yang pandai guna menghadapi Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya yang amat
ditakutinya…..
********************
Bagaimana Lie Siong bisa datang bersama kakek tua renta itu dan siapa pula kakek yang aneh itu?
Seperti telah diketahui, setelah Lie Siong bertemu dengan Lili dan Ma Hoa dan kemudian meninggalkan
Lilani pada suku bangsanya sendiri yang kemudian diantar oleh Lili dan Ma Hoa ke benteng Alkata-san, Lie
Siong lalu pergi seorang diri untuk mencari Ban Sai Cinjin guna membalas dendam ayahnya dan juga
untuk mencoba menolong Kwee Cin yang diculik oleh kakek mewah ber-huncwe maut itu.
Dia telah mendengar bahwa Ban Sai Cinjin membantu bala tentara Mongol, maka ia lalu melakukan
penyelidikan di sekitar daerah pegunungan yang dijadikan markas besar bala tentara Mongol. Tentu saja
dia tak berani memasuki perbentengan itu karena tahu bahwa perbuatan ini hanya berarti mengantar
nyawa saja. Di dalam benteng itu selain terdapat puluhan ribu, bahkan mungkin ratusan ribu tentara
Mongol juga masih terdapat banyak panglima-panglima kosen dan orang-orang gagah seperti Ban Sai
Cinjin dan lain-lain.
Demikianlah, ia hanya bersembunyi saja sambil menanti-nanti bila mana ada kesempatan baik. Banyak
dunia-kangouw.blogspot.com
akal terlintas dalam otaknya. Ia dapat menangkap seorang prajurit Mongol dan kemudian menyamar
sebagai prajurit itu memasuki benteng. Atau dia bisa menanti sampai Ban Sai Cinjin keluar untuk diserang
dengan tiba-tiba, atau menyelidiki di mana ditahannya Kwee Cin untuk kemudian coba dirampasnya.
Ketika dia sedang berjalan di dalam hutan di kaki bukit itu, tiba-tiba dia mendengar suara orang tertawatawa.
Suara ketawa ini mirip seperti suara ketawa anak kecil yang sedang bermain-main dengan riang
gembira. Heran dan kagetlah Lie Siong mendengar suara ini.
Bagaimana di dalam hutan seperti ini, dekat perbentengan tentara Mongol dan di daerah pertempuran, bisa
terdengar suara ketawa anak-anak yang bermain-main? Dia segera mencari siapa yang ketawa itu dan
ketika ia keluar dari belakang sebatang pohon besar, dia berdiri terpukau saking herannya.
Di bawah pohon itu nampak seorang kakek yang kurus kering dan bongkok, seluruh kulit mukanya
keriputan sehingga sukar sekali dibedakan mana hidung mana mulut. Seorang kakek ompong yang tidak
memiliki daging lagi, tengah bermain-main seorang diri sambil berjongkok di atas tanah!
Pada waktu Lie Siong memandang penuh perhatian, ternyata bahwa kakek tua renta ini sedang bermain
gundu seorang diri dan tiap kali ia menyentil gundunya mengenai gundu yang lain, ia tertawa-tawa puas
seperti seorang anak kecil! Hampir saja Lie Siong tidak dapat menahan kegelian hatinya ketika melihat
kakek yang saking tuanya telah kembali menjadi kekanak-kanakan ini!
Akan tetapi ketika ia memandang cara kakek itu bermain gundu, kegeliannya lenyap dan jangankan
menertawakannya, bahkan kini sepasang mata pemuda itu menjadi terbelalak. Ternyata bahwa cara kakek
itu bermain gundu amat istimewa sekali.
Gundunya terbuat dari tanah liat dikeringkan, jumlahnya sepuluh butir. Yang hebat ialah setiap kali kakek
itu menyentil ‘jagonya’, maka gundunya itu akan meluncur berlenggak-lenggok, kemudian dengan tepat
sekali lalu membentur sembilan butir gundu itu satu per satu, seakan-akan jagonya itu hidup dan memiliki
mata yang dapat mencari-cari sembilan lawannya!
Tentu saja Lie Siong mengerti bahwa hal ini baru mungkin dilakukan kalau orang memiliki tenaga lweekang
yang sempurna. Dia sendiri paling banyak bisa menyentil gundu untuk membentur tiga atau empat gundu
lain sebelum berhenti. Akan tetapi kakek ini biar pun gundu jagonya telah membentur sembilan gundu lain
masih saja gundu jagonya itu dapat berputar kembali ke tangannya yang sudah siap menanti. Dan juga
gundu-gundu yang terbentur itu terlempar pada jarak tertentu sehingga sembilan butir gundu itu
membentuk suatu garis-garis perbintangan yang luar biasa sekali!
“Hebat...,” bisiknya di dalam hati dan saking kagumnya bibirnya ikut bergerak.
Tanpa menoleh kepadanya, kakek tua renta itu lalu berkata, “Hayo, sekarang giliranmu, orang muda. Kau
bidikkan gundumu!”
Ketika Lie Siong diam saja, kakek itu lalu menengok ke arahnya dan kagetlah pemuda itu ketika melihat
sepasang mata bagaikan mata harimau menyambarnya.
“Aku... aku tidak punya gundu,” jawabnya gagap.
Kakek itu tertawa terkekeh-kekeh. “Ha-ha-ha, aku lupa! Kau pasti masih bodoh bermain gundu, tentu saja
gundumu habis, kalah semua olehku. Nah, ini, kuberi hadiah sebuah gundu agar kau dapat ikut bermainmain.”
Tangan kiri kakek itu mencengkeram ke arah batu karang hitam yang berdiri di sebelah kirinya.
“Krakk!” terdengar suara dan gempallah sepotong batu karang!
Kemudian, seolah-olah batu karang itu hanya sepotong tahu saja kakek itu lalu mencuwil-cuwilnya dan
membentuk sebutir gundu yang bundar dan halus dalam sekejap mata.
Dengan hati berdebar kagum, Lie Siong lalu menerima gundu istimewa itu dan ketika dia menekan, gundu
itu memang benar terbuat dari batu karang yang luar biasa kerasnya, akan tetapi yang diperlakukan seperti
tanah liat basah oleh kakek luar biasa ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hayo, bidiklah!” kakek itu berseru girang.
Dengan terpaksa Lie Siong lalu berjongkok dan melayani kakek ini bermain gundu! Dia membidikkan
gundunya sambil berpikir. Gundu yang diberikan kepadanya dan menjadi gundu jagonya adalah terbuat
dari batu karang yang keras sehingga lebih berat dari pada gundu-gundu yang berada di atas tanah,
karena semua gundu itu terbuat dari tanah liat yang kering. Mana bisa gundunya yang berat itu akan
membentur gundu lain ke dua, ke tiga dan seterusnya? Paling-paling yang akan terpental adalah gundu
yang dibentur oleh gundu jagonya!
Setelah berpikir sebentar, Lie Siong segera membidik dan melepaskan gundunya dengan keras. Gundunya
menendang gundu terdekat yang mencelat dan membentur gundu ke dua yang sebaliknya terpental pula
lantas membentur yang ke tiga. Demikianlah, dengan pengerahan tenaga yang besar dan tepat, Lie Siong
berhasil membuat gundu-gundu itu saling bentur hingga gundu ke lima, akan tetapi sampai pada gundu
yang ke lima, tenaga benturan telah habis dan mogok di jalan.
“Kau licik...!” kakek itu bersungut. “Gundu jagomu diam saja, yang membentur adalah gundu sasaran!
Tidak boleh begitu!”
“Tentu saja, sebab gundu jagoku lebih berat dan keras sedangkan gundu-gundu sasaran ringan sekali!” Lie
Siong membantah sehingga mereka ini benar-benar seperti dua orang anak-anak yang sedang bersitegang
dalam permainan mereka.
“Siapa bilang gundu jagomu keras dan berat? Coba lihat, sekarang aku hendak membidik gundumu, lihat
saja mana yang lebih keras!”
Sambil berkata demikian, kakek itu menggunakan gundu jagonya yang kecil dan terbuat dari tanah liat
yang dikeringkan untuk disentil dan membentur gundu jago Lie Siong yang terbuat dari batu karang.
“Prakk!”
Kalau dibicarakan memang sungguh aneh dan mengherankan, bahkan Lie Siong yang sudah mahir dalam
ilmu lweekang dan paham akan kemukjijatannya tenaga lweekang, masih terbelalak memandang karena
belum pernah dia menyaksikan demonstrasi tenaga lweekang yang demikian hebatnya.
Begitu dua butir kelereng atau gundu itu beradu, gundu jagonya yang terbuat dari batu karang itu langsung
hancur berhamburan, sedangkan gundu kakek itu yang terbuat dari tanah liat kering, sama sekali tidak
apa-apa, rontok sedikit pun tidak!
Lie Siong adalah seorang pemuda yang amat cerdik. Melihat sikap kakek ini, kemudian menyaksikan pula
kehebatan tenaga lweekang-nya, dia dapat menduga bahwa kakek ini tentulah seorang sakti yang telah
menjadi pikun atau berubah menjadi anak-anak saking tuanya, atau mungkin juga berubah pikirannya.
Jika saja betul bahwa kakek ini seorang luar biasa yang telah dilupakan orang, alangkah baiknya kalau dia
menjadi muridnya! Maka dia lalu ingin mencoba apakah dalam hal ilmu silat, kakek ini juga lihai. Dia
berpura-pura marah dan membentak,
“Kau sudah merusak gunduku! Kau menghancurkan gunduku!” Sambil berkata demikian Lie Siong maju
menampar pundak kakek itu.
Kelihatannya kakek itu tidak mengelak, akan tetapi sedikit saja ia menggerakkan pundak, tamparan Lie
Siong meleset!
“Kau yang licik, kalah pandai main gundu, mengapa penasaran? Gundumu pecah bukan karena salahku,
salah gundumu mengapa pecah dan mudah hancur, ha-ha-ha!” Kakek itu kelihatan senang sekali karena
tidak saja dia menang dalam bermain gundu, juga gundu lawannya menjadi pecah!
“Kau harus dipukul!” seru Lie Siong pula dan cepat ia mengirim pukulan yang lebih kuat dan cepat ke arah
pundak orang. Sekali lagi pukulan ini meleset.
Lie Siong mulai penasaran dan ketika sekarang kakek itu berdiri dengan tubuhnya yang bongkok, dia
lantas menyerang dengan Ilmu Pukulan Sian-li Utauw (Tari Bidadari) yang kelihatan lembek akan tetapi
mengandung tenaga lweekang dan gerakannya indah dan cepat. Kembali dia tercengang, karena kakek itu
dunia-kangouw.blogspot.com
sambil tertawa haha-hehe selalu dapat menggerakkan tubuh menghindari pukulannya dan mulut kakek itu
tiada hentinya berkata mengejek,
“Kalah main gundu kok mengamuk, sungguh anak yang licik sekali kau ini!”
Yang membuat Lie Siong merasa sangat penasaran sekali adalah sikap kakek itu yang seakan-akan tidak
memandang sedikit pun juga pada ilmu silatnya Sianli Utauw, buktinya kakek itu tak pernah memandang
kepadanya, bahkan sambil mengelak ia lalu mengambil gundu-gundu itu sebutir demi sebutir dan
dimasukkan ke dalam kantongnya. Biar pun matanya ditujukan kepada gundu, tetapi tetap saja setiap
pukulan Lie Siong selalu dapat dihindarkan dengan amat mudah.
“Sudahlah, main gundunya tidak becus, masa mau main pukul? Hai, anak nakal dan licik, lebih baik kau
pulang belajar lagi main gundu yang betul!” kata kakek itu dan sekali saja ia mengangkat tangan
menangkis pukulan Lie Siong, pemuda ini terlempar sampai dua tombak lebih dan merasa betapa
tangannya sakit sekali.
Namun Lie Siong masih belum merasa puas. Ia maju lagi dan kini setelah ia menggerak-gerakkan kedua
tangannya, dari tangan dan lengannya segera mengebul uap tipis putih. Inilah ilmu Silat Pek-in Hoat-sut
yang ia pelajari dari ibunya, ilmu pukulan yang amat lihai dari sucouw-nya, yaitu Bu Pun Su!
Kakek itu nampak tertegun melihat ilmu pukulan ini, kemudian berdiri bengong. Tangan kanannya memijitmijit
pelipis kepalanya seolah-olah dia sedang mengumpulkan ingatan untuk mengingat kembali ilmu silat
yang dia lihat dimainkan oleh anak muda ini.
“Apakah Bu Pun Su hidup lagi?” demikian terdengar dia bertanya kepada diri sendiri.
Lie Siong yang mendengar ucapan ini menjadi terkejut sekali, akan tetapi ia juga merasa bangga karena
agaknya kakek ini bisa mengenal ilmu silatnya dan takut menghadapinya! Maka ia lalu menerjang lagi
dengan ilmu pukulan Pek-in Hoat-sut.
Akan tetapi alangkah heran dan terkejutnya ketika ia melihat kakek itu pun bergerak dan mengebullah uap
putih yang tebal dari kedua lengannya. Lie Siong maklum bahwa kakek ini pun mahir Pek-in Hoat-sut,
bahkan tenaganya jauh lebih besar dari pada tenaganya sendiri.
Akan tetapi ia merasa sudah kepalang dan memang ingin menguji sampai puas betul. Ia menyerang hebat
dan begitu kakek itu mengangkat tangannya, Lie Siong berseru keras karena tubuhnya mencelat ke atas
sampai lebih dari tiga tombak! Baiknya kakek itu tidak berniat jahat sehingga dia terlempar saja tanpa
menderita luka dan dapat turun kembali dengan kedua kaki menginjak tanah.
“Ha-ha, main gundu kalah, main pukulan juga keok!” kakek itu mengejek seperti seorang anak kecil
mengejek lawannya.
Kini Lie Siong tidak ragu-ragu lagi dan serta merta dia menjatuhkan diri berlutut di depan kakek aneh itu.
“Suhu yang mulia, mohon Suhu memberi petunjuk kepada teecu yang bodoh!”
Untuk beberapa lama, kakek itu diam saja, kemudian dia terbahak-bahak, seakan-akan merasa sangat
lucu. “Kau minta belajar apa dari padaku? Aku hanya pandai main gundu. Maukah kau belajar main
gundu?”
“Segala nasehat dan pelajaran dari Suhu, sudah tentu akan teecu terima dan perhatikan dengan sungguhsungguh.”
“Bagus, aku akan mengajarmu bermain gundu hingga kau akan menjadi jago gundu yang paling istimewa.”
Kakek yang pikun itu lalu mulai memberi pelajaran bermain gundu atau kelereng kepada Lie Siong! Akan
tetapi sebagai seorang ahli silat tinggi, Lie Siong sudah mengerti bahwa permainan gundu ini bukanlah
sembarang permainan.
Sentilan pada gundu itu merupakan gerakan melepas am-gi (senjata rahasia) yang hebat sekali,
digerakkan oleh tenaga lweekang yang amat tinggi. Oleh karena itu, mempelajari menyentil gundu seperti
yang diajarkan oleh kakek ini, sama halnya dengan menambah tenaga lweekang dan kepandaian melepas
dunia-kangouw.blogspot.com
am-gi. Oleh karena itu, ia lalu memperhatikan dengan seksama ajaran-ajaran gurunya yang diberikan
sambil bermain-main ini.
Akan tetapi kakek ini ternyata telah menjadi pikun benar-benar sehingga namanya sendiri pun ia tidak tahu
lagi! Juga ia mengerti ilmu-ilmu silat tinggi akan tetapi tidak tahu lagi namanya ilmu-ilmu silat itu sungguh
pun ia masih dapat menggerakkannya dengan amat sempurna. Lie Song menjadi girang sekali, apa lagi
sedikit demi sedikit suhu-nya mulai memperlihatkan ilmu-ilmu silat yang belum pernah dilihat sebelumnya.
Kemudian pemuda ini teringat akan Kwee Cin yang diculik oleh Ban Sai Cinjin, maka dia lalu berkata
kepada suhu-nya beberapa hari kemudian, “Suhu, ada seorang anak kecil she Kwee yang diculik oleh
orang jahat yang bernama Ban Sai Cinjin. Anak itu berada di dalam benteng orang-orang Mongol dan
teecu tidak dapat menolongnya. Sukakah Suhu menolong anak itu? Kasihan, Suhu, kalau tidak ditolong
maka nyawa anak itu terancam bahaya.”
Dalam beberapa hari berkumpul dengan suhu-nya, Lie Song tahu bahwa kakek ini paling suka dengan
anak kecil, maka dia tadi sengaja menceritakan keadaan Kwee Cin dan menyebutnya anak kecil pula.
“Hmm, apakah dia kawanmu bermain?”
Lie Siong hanya menganggukkan kepala dan mendesak agar suhu-nya suka menolong anak kecil itu
sekalian membantunya menangkap atau membunuh musuh besarnya yang bernama Ban Sai Cinjin yang
juga menculik anak kecil ltu.
“Apakah kau kira aku tukang bunuh orang?” mendadak kakek itu berkata dengan muka murka dan marah.
Sampai lama dia diam saja tidak mau bicara dengan Lie Siong, bahkan juga tidak mau mengajak pemuda
itu bermain-main. Lie Siong terkejut dan tahu bahwa suhu-nya marah dan ‘ngambul’, merajuk seperti anak
kecil yang tersinggung hatinya. Maka ia tidak berani bicara tentang pembunuhan lagi. Pada sore harinya
barulah gurunya mau mengajaknya bermain-main lagi dan kembali Lie Siong membujuknya untuk
menolong Kwee Cin.
Akhirnya kakek itu mau juga dan sesudah mereka hendak berangkat, dengan berpegang pada lengan Lie
Siong, kakek itu berjalan terpincang-pincang keluar dari hutan kemudian mendaki bukit di mana terdapat
perbentengan orang Mongol itu.
Betapa girangnya hati Lie Siong ketika mendapat kenyataan bahwa biar pun berpegang kepada lengannya,
akan tetapi gurunya ini bukan merupakan beban, bahkan sebaliknya. Dia seakan-akan didorong oleh
tenaga yang hebat sekali dan ketika dia menggerakkan kedua kaki menggunakan ilmu lari cepatnya, dia
dapat berlari jauh lebih cepat dari pada kalau dia berlari sendiri! Juga pada saat dia melompati jurang, ia
merasa tubuhnya ringan sekali.
Ia tahu bahwa tanpa disengaja, gurunya telah mengeluarkan kelihaiannya dan tentu saja dia menjadi
sangat girang dan kagum sekali. Demikianlah, dengan amat mudahnya Lie Siong membawa suhu-nya
memasuki istana Malangi Khan dan berhasil merampas Kwee Cin. Dia makin girang sekali menyaksikan
kelihaian suhu-nya yang benar-benar di luar persangkaannya itu.
Dia kini makin kenal baik keadaan suhu-nya dan tahu bahwa suhu-nya adalah seorang kakek yang sudah
amat tua, terlalu tua sehingga berubah menjadi seperti kanak-kanak, berkepandaian yang luar biasa
tingginya, tidak suka membunuh, dan paling senang main gundu.
Dari istana Malangi Khan, dia langsung membawa suhu-nya dan Kwee Cin ke benteng tentara kerajaan
yang ada di Pegunungan Alkata-san. Memang Lie Siong berniat hendak mengembalikan Kwee Cin kepada
orang tuanya di benteng Alkata-san, lalu menghilang bersama suhu-nya dari orang banyak untuk
mempelajari ilmu silat yang tinggi. Dia ingin belajar sampai dapat mengimbangi atau melebihi kepandaian
Lili, Hong Beng, Goat Lan, atau kepandaian Pendekar Bodoh sekali pun…..
********************
Kedatangan Cin Hai, Kwee An, Hong Beng, dan Goat Lan di benteng Alkata-san disambut dengan girang
oleh semua orang. Ma Hoa menjadi cemas ketika melihat bahwa puteranya tidak berada di antara mereka,
sebaliknya Pendekar Bodoh bahkan membawa seorang anak laki-laki bangsa Mongol yang berwajah
tampan dan berpakaian indah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi sesudah dia mendengar bahwa anak ini adalah putera Malangi Khan yang sengaja diculik
untuk nantinya ditukarkan dengan Kwee Cin, Ma Hoa menjadi girang dan penuh harapan. Tentu saja ia
merawat Pangeran Kamangis dengan baik, karena ia pun menghendaki agar supaya puteranya
diperlakukan dengan baik oleh ayah anak ini.
Pada hari itu juga, datang rombongan Tiong Kun Tojin dan Sin-houw-enghiong Kam Wi, dua orang tokoh
besar Kun-lun-san itu yang membawa teman-temannya untuk membantu perjuangan negara menghadapi
orang-orang Mongol. Di dalam rombongan ini terdapat pula Ceng To Tosu dan Ceng Tek Hwesio, Si
Cengeng dan Si Gendut yang sudah kita kenal itu. Kemudian kelihatan pula Hailun Thai-lek Sam-kui, tiga
orang kakek aneh yang suka berkelahi, dan masih ada beberapa belas orang gagah dari dunia kang-ouw
lagi.
Sungguh sangat menarik hati kalau melihat sikap orang-orang gagah ini ketika bertemu dengan Pendekar
Bodoh. Rata-rata mereka menyatakan hormatnya terhadap Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya yang
sudah tersohor. Yang amat menggembirakan adalah Sikap Ceng To Tosu dan Ceng Tek Hwesio.
Pada saat melihat Cin Hai dan Lin Ling, dua orang pendeta bersaudara ini segera berlari menghampiri.
Ceng Tek Hwesio tertawa-tawa sampai perutnya yang besar itu bergerak-gerak sedangkan Ceng To Tosu
meweknya semakin menyedihkan. Cin Hai juga sangat gembira bertemu dengan mereka sehingga
Pendekar Bodoh menowel-nowel perut Ceng Tek Hwesio sambil berkelakar.
“Aduh, biar sekarang mati pun aku tidak penasaran lagi sesudah bertemu dengan kalian suami isteri!” kata
Ceng Tek Hwesio kepada Cin Hai dan Lin Lin.
Namun yang paling aneh dan mengesankan adalah sikap dari Hailun Thai-lek Sam-kui, sebab tiga orang
iblis ini sudah lama sekali mendengar nama besar dari Pendekar Bodoh dan semenjak dulu ingin sekali
menguji kepandaiannya. Apa lagi mereka sudah pernah mencoba kelihaian Goat Lan puteri Kwee An dan
juga Lili puteri Pendekar Bodoh, maka begitu berhadapan dan saling diperkenalkan oleh Kam Liong
sebagai tuan rumah, tiga orang kakek aneh ini lalu meloloskan senjata masing-masing!
Thian-he Te-it Siansu si kate menggerak-gerakkan payung mautnya, Lak Mouw Couwsu si hwesio gemuk
itu menarik keluar rantai besarnya, sedangkan Bouw Ki si tinggi kurus mengeluarkan tongkatnya dan
Thian-he Te-it Siansu lalu berkata,
“Pendekar Bodoh, sungguh kebetulan sekali! Tanpa disengaja kita sudah saling bertemu di tempat ini, hal
yang sejak dulu telah sering kali kami impikan. Hayolah kau perlihatkan kelihaianmu dan mari kita mainmain
sebentar agar puas hati kami bertiga!”
Tentu saja Cin Hai menjadi tertegun melihat sikap mereka ini sehingga untuk sesaat tidak mampu
menjawab! Bagaimanakah ada orang-orang yang baru saja dikenalkan kemudian menantang berpibu
(mengadu kepandaian)? Akan tetapi hal ini telah membuat Tiong Kun Tojin menjadi merah mukanya.
Ia melangkah maju dan menjura kepada Cin Hai, “Sie Taihiap, harap suka memaafkan Hailun Thai-lek
Sam-kui yang suka main-main.” Kemudian dia berkata kepada tiga orang aneh itu,
“Sam-wi betul-betul tidak memandang kepadaku! Pinto yang menjadi kepala rombongan ini, apakah
sengaja Sam-wi datang-datang hendak membikin malu kepada pinto?” Suara Tiong Kun Tojin terdengar
tandas sekali. Memang tosu ini amat berdisiplin dan memegang teguh aturan, juga berwatak keras.
Thian-he Te-it Siansu bergelak mendengar dan melihat sikap tokoh Kun-lun-san ini. “Ah, Tiong Kun Totiang
mengapa begitu galak? Apa sih buruknya menambah pengetahuan ilmu silat selagi bertemu dengan orang
gagah? Kesenangan kita satu-satunya hanya ilmu silat, kalau sekarang tidak bergembira, mau tunggu
kapan lagi?”
“Bicaramu memang benar, Siansu. Akan tetapi pibu harus dilakukan dengan aturan dan pada waktu dan
tempat yang tepat, tidak sembarangan seperti kau ini! Kita datang di sini bukan untuk main-main,
melainkan untuk berjuang. Sie Taihiap adalah seorang pendekar gagah yang datang juga untuk membantu
mengusir orang-orang Mongol, apakah datang-datang kau mau menimbulkan kekacauan? Berlakulah
sabar, kalau semua urusan yang besar telah selesai, kau mau mengajak pibu siapa pun juga, pinto tak
akan ambil peduli.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Thian-he Te-it Siansu memandang kepada dua orang adiknya, lalu dia menghela napas berulang-ulang.
Akhirnya sambil tertawa dia berkata kepada Pendekar Bodoh, “Pendekar Bodoh, jika begitu terpaksa kita
harus menunggu sampai nanti tahun depan pada musim chun (musim semi) di puncak Thian-san.”
“Sam-wi Lo-enghiong (Tiga Orang Tua Gagah), siauwte adalah orang yang bodoh, maka kalau ada yang
hendak memberi petunjuk tentu saja siauwte akan merasa berterima kasih sekali,” Cin Hai menjawab
dengan merendah, dan ternyata bahwa pendekar besar ini telah dapat menekan kemarahannya melihat
sikap tiga orang tua ini.
Kam Wi yang mendengar bahwa keponakannya, yaitu Kam-ciangkun atau Kam Liong masih belum
menyerang musuh dan sudah menunggu sampai lima hari, dan mendengar pula tentang usaha Pendekar
Bodoh yang berusaha merampas kembali Kwee Cin dan kini berhasil menawan putera Malangi Khan, lalu
berkata sambil mengerutkan kening,
“Tidak baik, tidak baik! Dengan menunda serangan maka kedudukan lawan akan menjadi makin kuat dan
orang-orang Mongol akan menyangka bahwa kita takut!”
Tokoh Kun-lun-san yang berwatak keras ini berkata dengan sikap seolah-olah ia seorang penglima perang
yang ulung. Hal ini tidak mengherankan oleh karena semua orang juga tahu bahwa dia adalah adik dari
Panglima Besar Kam Hong Sin.
“Lebih baik pukul hancur perkemahan Malangi Khan kalau sudah dekat dengan mereka dan memukul
hancur pasukannya, akhirnya kita akan dapat membebaskan putera Kwee Taihiap juga. Sekarang
kebetulan sekali putera Malangi Khan telah berada di tangan kita, kita pergunakan untuk mengancamnya.
Apa bila dia tidak mau menyerah dengan damai, besok aku akan membawa kepala puteranya di ujung
tombak di luar dari bentengnya!”
Pendekar Bodoh, Kwee An, Ma Hoa dan Lin Lin mengerutkan kening. Mereka ini merasa tak setuju sama
sekali atas usul orang kasar ini. Akan tetapi, dipandang darl sudut siasat kemiliteran, memang usul ini tidak
buruk, maka biar pun Kam Liong menduduki pucuk pimpinan, namun tidak berani berkata sesuatu, hanya
memandang kepada orang-orang tua yang ia hormati itu dengan mata penuh pertanyaan.
Cin Hai lalu menghadapi Kam Wi dan setelah menjura, dia berkata, “Memang apa yang dikatakan oleh
Kam-enghiong betul sekali, akan tetapi jika mengingat akan keselamatan keponakanku, aku beserta
saudara-saudaraku mengharapkan pengertian Kam-ciangkun agar supaya penyerbuan itu ditunda dua hari
lagi. Aku percaya bahwa Malangi Khan tak akan membiarkan puteranya terlalu lama menjadi tawanan dan
akan menyerahkan Kwee Cin untuk ditukar dengan puteranya. Setelah itu, barulah kita rundingkan kembali
tentang penyerbuan.”
Alis mata Kam Wi yang tebal itu dikerutkan, kemudian dia mengangguk-angguk sambil berkata, “Kalau saja
tidak mengingat bahwa Sie Taihiap adalah calon besan dan calon mertua Kam Liong, tentu Kam Liong juga
akan merasa keberatan melakukan penundaan-penundaan ini. Akan tetapi biarlah, biar kita menanti
sampai dua hari lagi...”
“Kam-enghiong, urusan perjodohan itu belum lagi diputuskan, harap kau suka bersabar. Sesudah urusan
ini selesai dan kita kembali ke pedalaman, barulah kita pertimbangkan lagi,” kata Cin Hai tak senang.
Kam Wi tersenyum. “Aku tidak melihat ada halangan lainnya lagi, maka aku sudah berani memastikan,
bukan begitu, Kam Liong?” Kam-ciangkun hanya menundukkan mukanya yang menjadi amat merah akan
tetapi ia tidak berani melayani pamannya yang kasar ini.
Pada malam hari itu, Kam Liong menjamu para orang gagah itu dengan pesta makan yang cukup besar
dan meriah. Di tengah-tengah benteng itu, dalam ruangan yang lebar, dipasang meja-meja besar dan
semua orang duduk mengelilingi beberapa buah meja dan makan minum dengan gembira.
Sebagai seorang panglima perang yang berhati-hati, di waktu berpesta malam itu, Kam Liong sengaja
memesan dengan keras kepada para perwiranya agar supaya penjagaan di luar benteng diperkuat, takut
kalau-kalau ada sesuatu yang tidak diingini terjadi.
Akan tetapi, tetap saja terjadi hal yang luar biasa dan di dalam benteng itu masuk tiga orang tanpa ada
seorang pun penjaga yang mengetahuinya! Tahu-tahu tiga bayangan orang itu sudah berada di atas
genteng ruang pesta itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dan orang pertama yang dapat mendengar suara kaki mereka adalah Pendekar Bodoh. Pada saat itu, Cin
Hai yang duduk menghadapi meja bersama Lin Lin, Kwee An, Ma Hoa, Lo Sian, Lilani, Hong Beng, Goat
Lan dan Kam Liong sendiri, tiba-tiba menaruh sumpitnya di atas meja kemudian berkata dengan suaranya
yang keras karena dikeluarkan dengan pengerahan tenaga khikang.
“Ji-wi (Tuan Berdua) yang berada di atas, silakan turun saja kalau hendak bicara!”
Tentu saja semua orang yang berada di dalam ruangan itu menjadi heran dan terkejut. Rata-rata mereka
memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi, akan tetapi mereka tadi tidak mendengar sesuatu. Kini semua
orang berdiam dan memasang telinga. Benar saja, terdengar suara kaki dua orang di atas genteng.
Sesudah teguran Pendekar Bodoh lenyap, terdengarlah jawaban dari atas genteng, “Sie Taihiap, yang
datang hanyalah siauwte untuk mengantarkan Adik Kwee Cin!”
“Lie Taihiap...!” seru Lilani yang segera mengenal suara Lie Siong.
Ma Hoa, Kwee An, Lin Lin, dan Pendekar Bodoh segera berdiri.
“Siong-ji (Anak Siong), lekas bawa Cin-ji (Anak Cin) turun!” seru Ma Hoa. Akan tetapi biar pun berkata
demikian, ia sudah melompat keluar diikuti oleh suaminya dan juga oleh Cin Hai dan Lin Lin. Juga Hong
Beng dan Goat Lan segera menyusul. Enam bayangan orang yang amat gesit gerakannya melompat ke
atas genteng.
Benar saja, di atas genteng itu mereka melihat Lie Siong bersama Kwee Cin. Anak kecil itu ketika melihat
bundanya segera bergerak menubruk dan Ma Hoa memeluk Kwee Cin dengan mata membasahi pipinya.
“Terima kasih... terima kasih, Siong-ji...,” Ma Hoa berkata sambil memandang ke arah Lie Siong dengan
mata bersyukur.
“Bukan aku yang telah menyelamatkan Adik Cin, Ie-ie (Bibi),” kata Lie Siong merendah.
“Ibu, yang menolongku adalah Engko Siong bersama suhu-nya, kakek pincang yang bisa terbang itu!” tibatiba
saja Kwee Cin berkata sehingga semua orang terheran dan terkejut mendengarnya.
“Lie Siong, mengapa kau tidak mengajak suhu-mu ke sini?”
“Dia sudah berada di sini!” tiba-tiba Kwee Cin berkata pula. “Tadi pun dia yang mengantar kami ke sini,
entah sekarang ke mana dia pergi!”
Kembali semua orang merasa terheran, lebih-lebih Cin Hai. Dia tadi hanya mendengar suara kaki dua
orang, yang ternyata adalah injakan kaki pada genteng dari Lie Siong dan Kwee Cin. Kalau benar ada tiga
orang, mengapa dia tidak mendengar suara kaki yang seorang lagi?
“Siong-ji, manakah gurumu itu? Biar kami bertemu dengan dia dan menghaturkan terima kasih serta belajar
kenal,” Lin Lin berkata kepada pemuda yang tampan dan yang berdiri dengan muka tunduk itu.
“Dia... dia tidak suka bertemu dengan lain orang. Maafkan siauwte... maafkan karena aku juga tidak dapat
lama-lama tinggal di sini.” Ia menengok ke belakang dan berkata, “Suhu, marilah kita pergi.”
Terdengar suara terkekeh dan tiba-tiba berkelebat bayangan yang cepat bagaikan setan ke arah Lie Siong
dan tahu-tahu pemuda itu berkelebat dan lenyap di malam gelap!
Cin Hai, Lin Lin, Kwee An, dan Ma Hoa sudah mempunyai ilmu kepandaian yang hampir sempurna, apa
lagi Cin Hai, maka biar pun gerakan kakek aneh itu cepat sekali, mereka masih saja sempat melihat wajah
dan bentuk tubuh kakek itu dan mereka berempat saling pandang.
Sedangkan Hong Beng dan Goat Lan, karena mereka dapat mengetahui bahwa ilmu ginkang dari kakek itu
masih lebih hebat dari pada kepandaian kedua orang tua mereka, hal ini membikin sepasang anak muda
ini penasaran sekali. Bagi mereka, orang-orang tua mereka memiliki kepandaian yang paling tinggi di
antara orang-orang kang-ouw!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Siapakah dia...?” Pendekar Bodoh mengerutkan kening sambil mengingat-ingat. Kwee An dan Ma Hoa
juga merasa yakin belum pernah melihat orang itu.
“Kepandaiannya mengingatkan kepada suhu Bu Pun Su,” kata Lin Lin.
Tiba-tiba Cin Hai menepuk jidatnya. Ucapan isterinya ini mengingatkan dia akan sesuatu. Pernah dahulu
Bu Pun Su gurunya menyebut-nyebut tentang seorang yang bernama The Kun Beng yang dahulu pernah
menjadi sahabat baik gurunya. Menurut gurunya, orang ini memiliki kepandaian yang tidak berada di
sebelah bawah kepandaian Bu Pun Su sendiri, yaitu ketika keduanya masih muda.
“Hmm, siapa lagi yang dapat memiliki kepandaian setingkat dengan Empat Besar selain dia?” pikir
Pendekar Bodoh.
Dia tidak berkata sesuatu kepada orang lain karena hanya menduga-duga, akan tetapi diam-diam dia
merasa girang bahwa putera Ang I Niocu bertemu dengan seorang guru yang demikian lihainya.
Dengan wajah gembira semua orang lalu membawa Kwee Cin turun ke ruang pesta, di mana Kwee Cin
disambut dengan ucapan selamat dari semua orang yang hadir di sana. Tiba-tiba terdengar suara girang
“Kwee Cin...?”
Anak ini menengok dengan wajah berseri, kemudian berseru, “Kamangis!” Keduanya lalu berlari saling
menghampiri dan saling berpegang lengan dengan wajah girang sekali.
“Kamangis, kau sudah berada di sini?” tanya Kwee Cin.
“Aku suka sekali ikut ayah bundamu, mereka orang-orang baik sekali!” jawab Kamangis.
“Ayahmu juga seorang baik, Kamangis,” kata Kwee Cin.
Ma Hoa dan Kwee An yang mendengar ini menjadi amat terharu dan juga girang.
Akan tetapi tiba-tiba saja Kam Wi berdiri dan berkata dengan suara lantang, “Kebetulan sekali, Kweekongcu
sudah tertolong dan terampas kembali. Besok pagi-pagi kita boleh serbu benteng orang-orang
Mongol dan kita akan pergunakan Putera dari Malangi Khan ini sebagai perisai! Ha-ha-ha! Malangi Khan
kali ini tentu akan dapat dihancurkan segala-galanya.”
“Tidak boleh!” tiba-tiba Ma Hoa menarik Kamangis dalam pelukannya, kemudian sambil memandang ke
depan dengan sepasang matanya yang tajam, nyonya ini berkata. “Siapa pun juga tidak boleh
mengganggu Kamangis! Dia datang di sini karena dibawa Pendekar Bodoh dan kini berada dalam
perlindunganku! Siapa pun juga tidak bisa mengganggunya dan aku akan mengembalikannya kepada ayah
bundanya secara baik-baik, karena orang tuanya pun telah memperlakukan anakku dengan baik pula.
Siapa pun boleh tidak setuju dengan omonganku, akan tetapi kalau ada yang hendak mengganggu
Kamangis, boleh coba-coba mengalahkan sepasang senjataku!”
Sambil berkata demikian dengan sekali gerakan saja Ma Hoa sudah mencabut sepasang bambu
runcingnya yang terkenal lihai. Sikapnya amat gagah dan membuat orang menjadi jeri juga melihatnya!
Kam Wi adalah seorang yang berdarah panas. Mendengar ucapan ini dia sudah melotot dan hendak maju
mendebat. Akan tetapi Kam Liong yang tak menghendaki perpecahan, segera maju dan menjura kepada
Ma Hoa, lalu berkata dengan suara lemah lembut dan sikap sopan santun.
“Mohon Toanio sudi memaafkan, pamanku tadi mengeluarkan kata-kata yang ditujukan hanya karena
kebenciannya kepada Malangi Khan yang sudah menyerang negara kita. Siauwte dapat memaklumi pula
perasaan Toanio terhadap anak ini setelah Kwee-kongcu terbebas dari benteng orang Mongol, dan kiranya
di antara kita juga tidak ada yang ingin mencelakakan Pangeran Kamangis yang masih kecil dan tidak
berdosa sesuatu. Akan tetapi, oleh karena putera Toanio sudah tertolong sedangkan Putera Mahkota
Mongol ini masih tertahan di sini, tentu saja Malangi Khan takkan tinggal diam. Bala tentara Mongol
sewaktu-waktu bisa menyerang pertahanan kita dan hal ini amat berbahaya. Oleh karena itu, sebelum
mereka menyerang, kita harus mendahului menyerang benteng mereka dan sesungguhnya...” ia melirik ke
arah Pangeran Kamangis, “sesungguhnya dengan adanya Pangeran Mongol ini di sini kita sudah
mendapatkan kemenangan perasaan yang amat besar. Sangat boleh jadi bahwa Malangi Khan akan
menyerah dan takluk tanpa perang karena puteranya berada di dalam kekuasaan kita. Maka demi
dunia-kangouw.blogspot.com
kepentingan negara dan demi kemenangan kita, harap Toanio suka menahan dulu anak itu, jangan
dikembalikan kepada Malangi Khan sebelum selesai perang ini.”
Ma Hoa menggeleng-geleng kepalanya. “Aku tidak setuju dengan cara-cara yang licik itu! Aku memang
tidak tahu tentang siasat perang, akan tetapi ayahku dahulu juga seorang panglima perang dan karena
semenjak kecil aku diajarkan kegagahan, maka aku sangat menghargai kegagahan dan keadilan. Di dalam
pertempuran mau pun perang besar, aku lebih mengutamakan kegagahan dan keadilan dan tidak suka
mempergunakan cara-cara yang curang dan licik. Apakah kita takut terhadap bala tentara Mongol maka
kita harus mempergunakan kecurangan? Bagiku, lebih baik kalah dengan cara gagah perkasa dari pada
menang dengan menggunakan akal curang!”
Muka Kam-ciangkun menjadi merah mendengar ucapan ini, akan tetapi karena Pendekar Bodoh melihat
betapa kedua pihak telah bermerah muka, maka ia cepat maju dan sambil tersenyum, Cin Hai berkata,
“Sebetulnya tidak ada urusan sesuatu yang harus diributkan. Biarlah besok pagi-pagi aku pergi ke benteng
Malangi Khan dan mengajak bicara dengan baik. Syukur kalau dia bisa mengakhiri perang ini dengan
damai, karena betapa pun juga kalau terjadi perang tentu akan mengorbankan banyak manusia. Perlukah
kematian dan kehancuran ini kita hadapi kalau di sana terdapat jalan lain ke arah perdamaian?”
Semua orang menyatakan setuju dengan usul ini, maka urusan Pangeran Kamangis itu selanjutnya tidak
disinggung-singgung lagi. Pesta perjamuan berjalan kembali sedangkan Kamangis dan Kwee Cin bicara
dengan amat gembiranya di dalam kamar mereka. Dua orang anak ini memang merasa amat cocok dan
watak mereka sama pula, gembira dan suka akan kegagahan…..
********************
Pada keesokan harinya, baru saja Cin Hai keluar dari benteng untuk melakukan tugasnya, yaitu mencari
Malangi Khan membicarakan tentang Putera Mahkota yang masih tertahan di benteng Alkata-san, tiba-tiba
saja dari depan dia melihat debu mengebul tinggi. Cepat Pendekar Bodoh menyelinap di belakang
sebatang pohon dan memandang ke depan.
Ternyata yang datang adalah sepasukan berkuda yang terdiri dari kurang lebih lima puluh orang. Di depan
sendiri, dengan menunggang seekor kuda berbulu putih yang besar dan kuat, adalah Malangi Khan yang
berwajah muram dan keningnya berkerut.
Melihat bahwa yang datang hanyalah satu pasukan kecil, maka Cin Hai maklum bahwa Malangi Khan
hendak mendatangi benteng bukan dengan maksud menyerang, maka dia lalu melompat keluar dari balik
pohon itu dan menghadang di jalan sambil mengangkat tangannya.
Ketika Malangi Khan melihat Pendekar Bodoh, ia memberi perintah berhenti dan ia cepat melompat turun
dari kudanya, berlari menghampiri Cin Hai. Begitu datang, dengan wajah merah saking marahnya, Raja
Mongol itu menudingkan jari telunjuknya kepada Pendekar Bodoh dan berkata,
“Tak kusangka bahwa Pendekar Bodoh ternyata adalah orang yang tidak bisa dipercaya mulutnya, seorang
yang mudah melanggar janji!”
Cin Hai sudah mengerti kenapa Raja Mongol ini datang-datang begitu marah dan merasa gemas, maka dia
kemudian menjura dan berkata dengan senyum simpul, “Malangi Khan, kebetulan sekali aku pun sedang
menuju ke bentengmu untuk bicara tentang puteramu.”
“Kembalikan puteraku, jika tidak, demi nenek moyangku, aku akan mengerahkan seluruh bangsaku untuk
menerjang ke selatan sampai orang terakhir. Akan aku bumi hanguskan setiap jengkal tanah di selatan!”
“Sabar, sabar, Khan yang baik. Seorang Raja yang besar tidak demikian mudah dikuasai oleh nafsu
marah. Dengarlah dulu, sebenarnya tentang keponakanku Kwee Cin, bukan akulah yang merampasnya,
maka jangan dikira bahwa Pendekar Bodoh tidak memegang janji.”
“Biar pun bukan kau, tentu kawan-kawanmu atas perintahmu!”
Cin Hai menggelengkan kepala. “Sayang sekali bukan, Khan yang mulia. Aku tidak tahu menahu mengenai
perampasan kembali anak itu. Akan tetapi sudahlah, anak itu sudah kembali kepada ayah bundanya, ada
pun puteramu sedang bermain-main dengan anak itu di bawah perlindungan Kwee An dan isterinya yang
dunia-kangouw.blogspot.com
amat mencintainya!”
“Puteraku tidak diganggu? Kamangis tidak apa-apa?” tanya Khan ini dengan muka amat gelisah.
“Siapa yang akan berani mengganggu puteramu itu kalau ibu dari Kwee Cin menantang setiap orang yang
akan mengganggunya? Ketahuilah bahwa ibu dari anak yang tertawan di bentengmu itu, bersedia
mengorbankan nyawanya untuk melindungi puteramu!” Cin Hai dengan sejujurnya lalu menceritakan
tentang pembelaan Ma Hoa terhada Kamangis sehingga Kaisar Mongol ini menjadi terharu sekali.
“Maafkan aku, Pendekar Bodoh. Aku telah meragukan kegagahanmu dan sifat ksatriamu! Di mana
anakku?” kata Malangi Khan dengan terharu sambil memegang lengan tangan Cin Hai.
“Malangi Khan, apakah ini berarti bahwa untuk selanjutnya kau akan mengaku sahabat kepadaku?”
“Tentu, bahkan kau dan saudara-saudaramu kuakui sebagai sanak saudaraku sendiri. Lebih dari itu, aku
menyerahkan Kamangis putera tunggalku itu sebagai muridmu!”
Melihat sikap sungguh-sungguh dari Malangi Khan, Cin Hai merasa gembira sekali dan kembali bertanya,
“Tidak hanya aku dan saudara-saudaraku, akan tetapi rakyat Tiongkok seluruhnya, maukah kau
menganggapnya sebagai saudara? Kau tak akan mengganggu mereka lagi, tidak akan menyerang ke
selatan lagi?”
“Tidak, tidak! Dengan adanya orang-orang seperti engkau, aku merasa malu kalau harus menyerang ke
selatan. Biarlah, aku akan lupakan pembunuhan yang sudah-sudah, yang dilakukan oleh tentara-tentara
selatan di perbatasan utara. Dan aku akan mengunjungi kaisarmu, akan mengirim bulu ternak yang paling
halus sebagai tanda penghargaan.”
Kini Cin Hai yang memegang lengan Malangi Khan dengan kuat sehingga Kaisar itu meringis kesakitan.
Cin Hai yang lupa diri lalu mengendorkan pegangannya dan berkata, “Malangi Khan, kau berjanji untuk
membuktikan omonganmu tadi?”
“Tentu saja! Bagiku berlaku ucapan dari bangsamu: It-gan-ki-jut, su-ma-lam-twi (Sekali perkataan keluar,
empat ekor kuda takkan dapat menarik kembali).”
Bukan main girangnya hati Pendekar Bodoh. Tak disangkanya bahwa tugasnya ini dapat terpenuhi dengan
demikian mudahnya. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk dari arah belakangnya dan tampak
sepasukan besar tentara kerajaan yang dipimpin oleh Kam Liong sendiri, dikawani pula oleh semua orang
gagah yang berkumpul di benteng Alkata-san, datang menuju ke tempat itu! Ini terjadi adalah gara-gara
para penjaga yang melaporkan bahwa Malangi Khan bersama pasukannya yang sangat kuat sudah datang
menyerbu!
“Pendekar Bodoh, apakah artinya ini?” Kembali wajah Malangi Khan menjadi muram dan bercuriga akan
tetapi Cin Hai segera menjawab,
“Jangan kuatir, Khan yang mulia. Akulah yang bertanggung jawab dan akan mencegah mereka bertindak!”
Kemudian, Cin Hai lalu menghadang di tengah jalan sambil mengangkat tangan. Ia lantas mengerahkan
tenaganya berseru dengan amat nyaringnya,
“Kam-ciangkun, jangan menyerang! Malangi Khan datang dengan maksud damai!”
Kam Liong terheran melihat Pendekar Bodoh berada di sana dan sesudah mendengar seruan ini, dia
segera memberi perintah pasukannya berhenti. Dia sendiri lalu turun dari kudanya dan bersama Tiong Kun
Tojin, Kam Wi, dan juga Kwee An dan yang lain-lain, Kam Liong lalu menghampiri Cin Hai dan Malangi
Khan.
Dengan sikap angkuh Malangi Khan berdiri menghadapi mereka dengan dada terangkat, sikapnya agung
sesuai dengan kedudukannya, yaitu sebagai seorang Khan yang besar. Kam Liong adalah seorang
panglima yang tahu diri dan tidak sombong, maka dia lalu memberi hormat terlebih dahulu yang segera
dibalas oleh Malangi Khan.
“Malangi Khan, benarkah kata-kata Sie Taihiap tadi bahwa kau bermaksud damai?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Memandang muka Pendekar Bodoh yang menjadi saudaraku dan juga menjadi guru dari puteraku,
memang benar aku akan mengakhiri permusuhan, melupakan segala kejadian yang lalu dan dalam waktu
dekat aku akan mengadakan kunjungan kehormatan kepada Kaisarmu. Sampaikan kata-kataku ini kepada
Kaisar dan juga kepada semua prajuritmu yang menjaga tapal batas, agar supaya jangan sampai
mengganggu orang-orangku yang hendak memasuki daerah Tiong-goan dalam perjalanannya berdagang.”
Bukan main girangnya hati Kam Liong mendengar ini. Hal ini memang amat diharapkan oleh Kaisar dan
biar pun yang berjasa dalam hal ini adalah Pendekar Bodoh, akan tetapi karena dia adalah pemimpin besar
barisan, tentu saja pahalanya terjatuh kepada dia!
Akan tetapi Kam Wi yang beradat kasar itu merasa curiga. Sambil melangkah maju dia berkata, “Dengan
latar belakang dan alasan apakah maka tiba-tiba Malangi Khan hendak berdamai?”
Malangi Khan memandang dengan mata mendelik, juga Kam Wi melotot sehingga dua orang tinggi besar
itu berlagak bagaikan dua ekor ayam jantan akan bertarung. Akan tetapi Cin Hai cepat berkata,
“Kam-enghiong, Malangi Khan yang mulia telah melihat bahwa orang-orang yang tadinya dianggap
sebagai musuhnya ternyata sama sekali tidak mengganggu puteranya, dan hal ini melembutkan hatinya
dan dia suka sekali berdamai dengan orang-orang yang tidak mengganggu anak kecil, biar pun anak itu
anak musuhnya pula.”
Keterangan ini diterima oleh Kam Wi dengan muka menjadi merah karena dia merasa tersindir. Memang
tadinya ia bermaksud untuk memenggal leher Putera Mahkota Mongol itu untuk melumpuhkan semangat
barisan Mongol.
“Malangi Khan, untuk membuktikan kesungguhan maksud hatimu yang sangat baik, aku mewakili panglima
kerajaan yang menjadi keponakanku sendiri untuk mengundangmu makan dan minum di dalam benteng
Alkata-san, sesuai dengan sikap persaudaraan yang tadi kau kemukakan,” Kam Wi berkata kepada
Malangi Khan.
Dia adalah seorang kang-ouw yang selalu jujur dan kasar, juga amat berhati-hati, maka ia sengaja
melakukan siasat ini untuk mencari tahu sikap sesungguhnya dari Malangi Khan.
“Selain Kaisarmu sendiri, aku tidak mau menerima undangan dari segala orang!” Malangi Khan berkata
dengan angkuh.
“Kalau begitu, bagaimana kami dapat percaya bahwa kau mempunyai maksud damai?” Kam Wi
membentak marah dan suasana menjadi panas lagi. Melihat ini Kam Liong lalu berkata dengan halus,
“Malangi Khan, benar seperti yang diucapkan oleh pamanku tadi. Kami mengundangmu menghadiri
perjamuan sederhana untuk merayakan perdamaian kita.”
Akan tetapi Malangi Khan tetap berkepala batu dan menggelengkan kepalanya. Akhirnya Pendekar Bodoh
turun tangan. Ia menghampiri Malangi Khan dan berkata,
“Khan yang baik, mengapa kau menolak undangan persaudaraan? Marilah, sekalian kau dapat menyambut
puteramu yang tentu telah lama menanti-nantikan kedatanganmu. Kau bawalah semua pengiringmu, sebab
dalam suasana perdamaian ini perlu sekali diadakan malam gembira antara kita sama kita!”
Mendengar ucapan ini, lenyaplah kemuraman pada wajah Kaisar Mongol itu. “Kalau kau yang
mengundang, itu lain lagi, Saudaraku!”
Dan dia lalu memberi tanda dengan tangannya kepada semua pengiringnya yang berada di belakangnya.
Maka, majulah mereka bergerak menuju ke benteng Alkata-san dalam suasana damai!
Diam-diam Kam Wi membisikkan sesuatu kepada Kam Liong, “Suruh para penyelidikmu menyelidiki
keadaan di luar, siapa tahu kalau Malangi Khan diam-diam memerintahkan penyerbuan besar.” Kam Liong
mengangguk-angguk, karena tanpa nasehat ini, dia pun tentu tidak akan melupakan hal ini.
Pertemuan antara Malangi Khan dan Kamangis amat menggembirakan.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ada orang yang mengganggumu di sini?” ayah itu bertanya kaku.
Kamangis menggelengkan kepalanya, lalu menunjuk ke arah Ma Hoa. “Aku mendapatkan perlindungan
dari dia yang kuanggap seperti ibuku sendiri. Dia amat manis budi dan baik sekali, Ayah.”
Malangi Khan memandang kepada Ma Hoa lalu menjura, “Bukankah Toanio ini Ibu dari Kwee Cin?”
Ma Hoa mengangguk, maka Malangi Khan dengan girang dan kagum lalu tertawa besar. “Ehh, Kamangis,
kalau begitu mengapa kau tidak menyebut ibu saja kepadanya? Kau boleh menjadi anak angkatnya. Haha-
ha!”
Dan serta merta Kamangis yang sangat patuh kepada ayahnya itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan
Ma Hoa sambil menyebut, “Ibu...”
Ma Hoa girang dan juga terharu. Dia memeluk Kamangis dan berkata, “Bagus, memang kau baik sekali.
Patut menjadi saudara Cin-ji. Karena kau sudah menjadi anak angkatku, sepatutnya kau kuberi nama
julukan, yaitu Kwee Hong”
Malangi Khan tertawa terbahak-bahak. “Bagus, bagus! Memang burung Hong merupakan lambang
kebesaran dan kemuliaan. Terima kasih, Toanio!” Pendekar Bodoh lalu bertepuk tangan diikuti oleh orangorang
lain sehingga suasana di situ gembira sekali.
“Ehh, aku hampir lupa, Kamangis, hayo kau cepat memberi hormat kepada gurumu!” Ia menuding ke arah
Cin Hai.
Kamangi terheran dan memandang kepada Cin Hai. “Apakah dia lebih lihai dari pada ibu, Ayah? Ibu
memiliki ilmu silat yang luar biasa sekali, juga ayah angkatku, demikian kata Kwee Cin. Apakah dia lebih
lihai dari mereka?”
“Ha-ha-ha-ha, anak bodoh. Dialah orang yang paling hebat di antara kita semua. Dialah Pendekar Bodoh,
dan kau beruntung sekali bisa menjadi muridnya.”
Karena Kamangis memang cerdik, ia lalu berlutut di depan Cin Hai dan memberi hormat sambil menyebut,
‘Suhu’! Kemudian atas perintah ayahnya pula, anak ini pun kemudian memberi hormat kepada ‘ayah
angkatnya’ dan juga kepada Lin Lin yang disebut ‘subo’ (isteri guru).
Perjamuan berjalan dengan lancar dan gembira sampai tengah malam. Karena merasa girang sekali
puteranya selamat dan permusuhan dapat dihabiskan malam itu, Malangi Khan minum arak sebanyakbanyaknya
dan karena arak dari selatan memang jauh lebih keras dari pada arak yang sering kali
diminumnya, maka dia menjadi mabuk.
Hal ini memang disengaja oleh Kam Liong karena panglima muda ini ingin sekali dapat mendengar ocehan
Malangi Khan dalam mabuknya. Seperti biasa, orang tak akan dapat menyimpan rahasianya apa bila
sedang mabuk sehingga jika Malangi Khan mempunyai rencana tertentu dan ‘perdamaian’ yang
diperlihatkannya itu hanya tipuan belaka, tentu di dalam mabuknya Kaisar ini akan membuka rahasia. Akan
tetapi, ternyata Malangi Khan tidak membuka rahasia apa-apa, kecuali menyebutkan nama-nama
beberapa orang selir yang disayanginya!
Dengan bantuan Pendekar Bodoh, Malangi Khan lalu diantar ke dalam sebuah kamar di mana dia lantas
tidur mendengkur keras sekali. Kemudian Kaisar Mongol itu ditinggalkan tidur seorang diri di dalam kamar
itu, karena yang lain-lain masih melanjutkan perjamuan yang amat gembira.
Siapakah orangnya yang tidak gembira menerima berita bahwa perang dihentikan dan perdamaian
membuat mereka mendapat kesempatan untuk pulang dan bertemu kembali dengan keluarga masingmasing?
Dalam perjamuan itu, ikut serta para perwira dan orang gagah yang menemani pemimpinpemimpin
pasukan pengawal Malangi Khan.
Kwee An dan Ma Hoa mengantar Kamangis dan Kwee Cin tidur dan Kwee An berpesan kepada Ma Hoa
agar jangan meninggalkan dua orang anak itu, karena siapa tahu kalau ada orang jahat di antara para
pengikut Malangi Khan. Kemudian dia kembali ke ruang perjamuan, akan tetapi dia mengambil jalan
memutar ke belakang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba saja dia melihat bayangan orang berkelebat, dan gerakan orang ini luar biasa gesitnya. Tubuh
orang itu pendek dan gemuk, mengingatkan dia akan tubuh Thian-he Te-it Siansu, orang pertama dari
Hailun Thai-lek Sam-kui, tapi orang ini tidak berjenggot.
Di antara kawan-kawannya dan orang-orang gagah yang berkumpul di Alkata-san, tidak ada orang yang
tubuhnya berbentuk seperti ini, maka timbullah kecurigaannya. Secara diam-diam dia kemudian mengikuti
bayangan ini, yang dengan hati-hati mempergunakan kesempatan selagi semua orang sedang makan
minum untuk mendatangi jendela kamar di mana Malangi Khan tidur mendengkur dengan pulasnya!
Setibanya di luar jendela, ia lalu mencabut sepasang golok dari punggungnya dan sekali cokel saja,
terbukalah jendela itu yang lalu diganjalnya dengan sebatang ranting kering. Kemudian, dengan gerakan
gesit sekali orang ini lalu melompat ke dalam kamar.
Ternyata bahwa Malangi Khan tidurnya pulas sekali akibat pengaruh arak sehingga dia tidak mendengar
sama sekali akan perbuatan orang yang mencurigakan ini. Orang ini adalah seorang Panglima Mongol
yang bertubuh pendek gemuk, usianya kurang lebih tiga puluh tahun. Ia bernama Khalinga, seorang
panglima Mongol keturunan Tartar yang amat benci kepada orang-orang Han.
Hal ini tidak mengherankan oleh karena ayahnya dahulu tewas oleh orang Han, maka ia telah bermaksud
untuk menumpas setiap bangsa Han yang dijumpainya. Kemudian oleh Malangi Khan dia dipilih menjadi
panglima sebab memang Khalinga memiliki kepandaian yang lumayan, apa lagi permainan siang-to
(sepasang golok) darinya amat lihai.
Ketika Khalinga mendapat kenyataan bahwa Malangi Khan menyatakan damai dengan orang-orang Han,
bahkan hendak mengunjungi Kaisar untuk menyatakan persahabatan, hatinya menjadi panas dan
mendongkol sekali. Timbullah kebenciannya yang amat hebat terhadap Kaisarnya yang dianggapnya
lemah, pengecut dan ingin mengkhianati cita-cita bangsa Mongol. Oleh karena itu, diam-diam dia
mendatangi tempat tidur Malangi Khan dan hendak mempergunakan kesempatan selagi kaisar itu tidur dan
para tamu sedang makan minum, untuk membunuh Kaisar Malangi Khan!
Niat ini bukan semata-mata terdorong oleh kebenciannya yang tiba-tiba terhadap Malangi Khan, melainkan
merupakan siasat yang amat licin dari orang pendek peranakan Tartar Mongol ini.
Kalau ia dapat membunuh Malangi Khan tanpa diketahui oleh siapa pun juga, tentulah peristiwa hebat ini
akan melenyapkan sama sekali maksud damai dari Malangi Khan dan tentu dengan mudah dia akan dapat
menghasut para panglima dan bala tentara Mongol bahwa dengan sengaja Malangi Khan dijebak ke dalam
perangkap kemudian diam-diam dibunuh oleh orang-oran Han! Dengan demikian seluruh bala tentara
Mongol tentu akan serentak bangkit dan memusuhi orang-orang Han, dan siapa tahu kalau-kalau dia akan
dapat memperoleh kedudukan tinggi!
Akan tetapi semua itu hanya mimpi atau lamunan kosong belaka karena tanpa ia ketahui, pada saat itu ia
telah diikuti oleh seorang pendekar besar yang lihai, yaitu Kwee An!
Di dalam kamar Malangi Khan itu masih terang karena lilin yang bernyala di atas ciak-tai (tempat lilin)
masih belum habis dan belum padam. Ketika Kwee An melihat betapa orang pendek itu mengangkat golok
dan hendak membacok Malangi Khan, cepat-cepat tangan kanannya bergerak dan sebutir batu kerikil
tajam melayang ke arah pergelangan tangan kiri orang yang telah mengangkat golok kiri untuk dibacokkan
ke arah leher Malangi Khan itu!
Orang itu menjerit perlahan lantas goloknya terlepas dari pegangan. Dia merasa tangan kirinya menjadi
lumpuh. Bukan main herannya ketika ia tidak mendengar suara goloknya yang terlepas itu berdentang di
atas lantai, malah tiba-tiba api lilin bergoyang.
Alangkah kagetnya ketika ia menengok, ia melihat goloknya yang terlepas tadi sebelum jatuh ke atas
lantai, sudah disambar oleh bayangan yang gagah dan kini berdiri dengan golok rampasan itu di depannya
sambil tersenyum mengejek. Khalinga mengenal orang ini sebagai Kwee An, ayah dari anak yang dulu
ditahan di dalam benteng, maka dengan nekat dia lalu menerjang dengan goloknya.
Akan tetapi tentu saja ia bukan lawan Kwee An, pendekar besar yang berilmu tinggi itu. Setelah belasan
jurus mereka bertempur, bukan Khalinga yang menyerang, bahkan dia menjadi pihak yang diserang
kalang-kabut oleh Kwee An!
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwee An hendak menawannya hidup-hidup, maka agak sukar ia mengalahkan lawannya. Kalau saja dia
mau menurunkan tangan maut, dalam satu dua jurus saja tentu dia akan dapat membuat lawannya roboh
tak bernyawa lagi atau terluka berat.
Suara golok yang beradu menimbulkan suara nyaring dan membangunkan Malangi Khan dari tidurnya.
“Hei! Kalian sedang berbuat apa di sini?” tegurnya heran ketika melihat salah seorang panglimanya sedang
bertempur melawan Kwee An.
“Malangi Khan! Penjahat ini berusaha membunuhmu!” berkata Kwee An.
Malangi Khan bukanlah seorang Kaisar besar apa bila dia tidak tahu akan watak semua panglimanya.
Begitu mendengar hal ini, segera dia maklum bahwa Khalinga tentu akan menimbulkan kekeruhan, hendak
membunuhnya agar memancing permusuhan di antara orang-orang Han dan orang-orang Mongol, karena
Malangi Khan sudah tahu betul akan kebencian Khalinga terhadap orang Han.
“Khalinga, kau berani hendak mengkhianati aku?” bentaknya marah.
Khalinga berdiri dengan muka merah dan dada berombak di depan kaisarnya yang telah duduk di atas
pembaringan, sedangkan Kwee An juga menunda serangannya akan tetapi terus memandang dengan
penuh kewaspadaan.
“Malangi, kau bilang aku mengkhianati engkau? Justru kau orangnya yang mengkhianati bangsa Mongol,
kau Kaisar lemah dan pengecut! Kau sudah menyerah kepada bangsat-bangsat Han tanpa mengeluarkan
setetes darah, alangkah rendah dan hinanya, alangkah pengecut. Orang macam kau harus mampus di
ujung golokku!” Sambil berkata demikian, Khalinga lalu menubruk maju dan menusukkan goloknya ke arah
dada Malangi Khan!
Akan tetapi Kwee An segera membentak marah dan sekali goloknya berkelebat, Khalinga lantas berseru
kesakitan dan goloknya terlempar ke atas lantai, ada pun tangan kanannya berlumur darah terkena ujung
golok Kwee An.
Malangi Khan melompat turun, mengambil golok yang terlepas dari tangan Khalinga, lalu mengangkat
golok itu untuk dibacokkan ke arah kepala Khalinga.
“Ha-ha! Kaisar pengecut, kau hendak membunuhku? Bunuhlah, ini dadaku! Aku Khalinga tidak takut mati,
tidak seperti engkau!”
Melihat sikap Khalinga ini, maka lemaslah tangan Malangi Khan. Kaisar ini paling suka dan kagum akan
kegagahan dan sikap yang berani mati dari Khalinga ini menimbulkan sayangnya.
“Khalinga, lekas pergilah! Aku ampuni jiwamu. Akan tetapi jangan sekali-kali kau berani memperlihatkan
mukamu di hadapanku lagi. Kembalilah kau kepada orang-orang Tartar, kau tidak berhak menyebut diri
menjadi orang Mongol lagi!”
Bagaikan seekor anjing dipukul, Khalinga melompat keluar dari jendela dan melarikan diri. Setelah Kaisar
menyatakan dia bukan orang Mongol lagi, dia tidak berani membuka mulut memaki Malangi Khan, karena
sebagai orang Tartar tentu saja dia tidak berhak ikut mencampuri urusan Negara Mongol!
Sementara itu, ribut-ribut ini telah menarik perhatian orang-orang dan Cin Hai diikuti yang lain-lain telah
memburu ke tempat itu. Mereka masih dapat melihat betapa Malangi Khan mengampuni calon pembunuh
itu, maka makin kagumlah Cin Hai kepada Kaisar Mongol ini.
Juga Kim Wi dan Kam Liong, demikian pula Tiong Kun Tojin, diam-diam memuji Kaisar yang bijaksana ini.
Lebih-lebih Kam Wi mengakui kebenaran sikap Pendekar Bodoh yang berhasil menarik hati Kaisar Mongol
ini, karena menurut hasil penyelidikan para petugas, ternyata bahwa barisan Mongol yang luar biasa besar
jumlahnya telah mengurung sekitar Pegunungan Alkata-san! Kalau saja Malangi Khan mereka ganggu dan
kalau saja pecah pertempuran besar, biar pun orang-orang gagah ini tidak merasa jeri dan belum tentu
mereka kalah, akan tetapi sudah pasti bahwa banyak korban akan roboh di antara kedua pihak.
Ada pun Malangi Khan tentu saja merasa amat berterima kasih kepada Kwee An, karena kalau tidak
kebetulan pendekar ini melihat Khalinga, tentu dia sudah terbunuh oleh orang pendek itu. Dan lebih
dunia-kangouw.blogspot.com
bersyukur lagi hati Kaisar ini bahwa penolongnya ternyata adalah ayah angkat dari Kamangis putera
tunggalnya!
Pada keesokan harinya, Malangi Khan membawa seluruh pasukan serta bala tentaranya untuk kembali ke
utara setelah menerima janji dari Pendekar Bodoh bahwa pendekar ini kelak akan menyusul ke utara
mengunjungi istana Malangi Khan dan untuk menurunkan ilmu kepandaian kepada Pangeran Kamangis.
Sebaliknya, Kam Liong juga membawa kembali seluruh pasukannya ke kota raja setelah mengangkat
seorang komandan untuk bertugas menjaga tapal batas utara dengan pesan agar supaya memperkuat
disiplin agar anak buahnya tidak mencari perselisihan dengan orang-orang Mongol yang berlalu-lintas
membawa barang dagangan mereka.
Semua orang merasa puas dengan kesudahan dari perang besar yang akan meletus itu, hanya Cin Hai
dan sekeluarganya yang merasa amat gelisah karena sampai pada waktu itu, Lili masih juga belum pulang!
Terutama sekali Lin Lin merasa gelisah sekali.
Oleh karena itu, ketika Goat Lan dan Hong Beng dengan disertai oleh Kwee An dan Ma Hoa kembali ke
kota raja untuk membuat laporan kepada Kaisar mengenai hasil tugas hukuman mereka dan minta
dibebaskan serta diampunkan, Cin Hai dan Lin Lin tidak ikut pulang, melainkan hendak pergi mencari Lili.
Dengan diperkuat oleh laporan Kam Liong, Kaisar yang mendengar tentang kesudahan perang itu menjadi
sangat gembira dan memuji Hong Beng serta Goat Lan sebagai dua orang pendekar yang setia dan
gagah.
“Aku telah mendengar bahwa kalian berdua sudah bertunangan,” Kaisar berkata dengan ramah, “biar pun
kalian belum menikah, sudah sepatutnya aku memberi selamat dengan sedikit tanda mata.”
Kaisar lalu memberi hadiah kepada sepasang pendekar ini, yakni sepasang siang-kiam (pedang pasangan)
yang bergagang emas serta sebuah giok-ma (kuda kumala), yaitu sebuah perhiasan berbentuk kuda yang
terbuat dari batu kemala dan diukir indah sekali sehingga nampaknya seperti hidup saja.
Ada pun Pangeran Mahkota yang merasa amat berterima kasih kepada Goat Lan karena sudah menolong
nyawanya dari maut berupa penyakit hebat itu, lalu meloloskan sebuah kancing bajunya yang terbuat dari
pada intan. Kancing baju ini berbentuk bulat dan intan yang luar biasa besarnya ini terukir dengan huruf
Hok (Rejeki) dan di belakangnya terukir pula dengan huruf-huruf yang berarti Putera Pangeran.
Dengan memegang kancing seperti itu berarti Goat Lan juga telah memegang kekuasaan yang besar,
karena ke mana pun juga dia pergi, asalkan dia memperlihatkan kancing ini kepada para pembesar negeri,
maka ia tentu akan diterima dengan penuh penghormatan seperti orang menerima kunjungan Pangeran
sendiri!
Demikianlah, sesudah menghaturkan terima kasih dengan hati terharu, Hong Beng serta Goat Lan lalu
meninggalkan istana dan bersama dengan Kwee An dan Ma Hoa, mereka lalu kembali ke Tiang-an. Di
sepanjang jalan mereka bergembira, apa lagi Kwee Cin yang memang belum pernah menikmati perjalanan
yang demikian jauh.
Ada pun Sin-kai Lo Sian, ketika oleh Cin Hai disuruh kembali terlebih dahulu ke Shaning karena suami
isteri ini hendak mencari Lili, Pengemis Sakti ini menolak dengan halus dan menyatakan bahwa dia sudah
bosan untuk berdiam menganggur di dalam rumah dan darah petualangnya memanggilnya untuk kembali
mengadakan perantauan seperti pada waktu dahulu…..
********************
Ke manakah perginya Lili, gadis remaja yang cantik dan gagah berani itu? Mari kita ikuti perjalanannya
yang penuh bahaya…
Sebagaimana sudah diketahui, ketika mendengar bahwa Goat Lan dan Hong Beng pergi ke benteng orang
Mongol untuk menolong Kwee Cin, Lili yang berani dan bengal menjadi tergerak hatinya sehingga malammalam
dia lalu minggat dari benteng Alkata-san untuk menyusul kakaknya dan calon soso-nya (kakak ipar)
itu.
Ia mempergunakan ilmu lari cepat di malam terang bulan dan ia merasa gembira sekali. Melalui gunungdunia-
kangouw.blogspot.com
gunung dan hutan-hutan liar di malam disinari bulan itu sama sekali tidak membuat hatinya menjadi takut,
sebaliknya ia malah merasa demikian gembira sehingga ia berlari-lari sambil bernyanyi-nyanyi kecil seperti
ketika ia masih kanak-kanak dahulu.
Akan tetapi oleh karena selama hidupnya Lili belum pernah menginjak daerah ini dan ia pun masih belum
berpengalaman dalam hal mencari jalan dengan hanya mengandalkan petunjuk lisan dari seorang Haimi
tua seperti Nurhacu itu, maka tanpa disadarinya kedua kakinya menyeleweng dan makin jauh ia
meninggalkan arah tujuannya! Ia membelok ke barat menuju ke rimba raya di atas sebuah bukit yang gelap
dan menghitam mengerikan.
Setelah malam hampir terganti fajar, kian jauhlah ia tersasar dan makin bingunglah hati Lili. Menurut
Nurhacu, hutan yang dilaluinya ini tidak panjang dan sebelum fajar ia sudah dapat keluar dari hutan ini dan
sampai di padang rumput dari mana benteng orang-orang Mongol akan tampak. Akan tetapi sekarang
sudah menjelang fajar, hutan yang dilalui ini makin lama makin liar dan makin padat oleh pohon-pohon
raksasa.
Ia menjadi mendongkol sekali kepada Nurhacu, disangkanya sengaja memberi petunjuk menyesatkan.
Mulai lenyaplah kegembiraan di wajahnya, terganti oleh kemarahan yang terlihat pada bibirnya yang
cemberut.
Akan tetapi dasar watak Lili amat gembira, setelah fajar terganti pagi dan matahari mulai bersinar,
kegembiraannya timbul lagi bersama dengan datangnya suara burung-burung hutan berkicau dan
munculnya binatang-binatang hutan yang sangat elok. Beberapa ekor binatang kecil seperti kelinci, rusa,
dan lain-lain keluar dari semak-semak, berlari-lari kecil bermandi cahaya matahari sehingga Lili menjadi
gembira sekali.
Ia pun lalu ikut berlari-lari, mengejar ke sana ke mari untuk melihat binatang-binatang itu bermain-main
sambil kadang-kadang terdengar suara tawanya yang merdu dan nyaring. Kalau ada orang melihat
keadaan di dalam hutan liar ini pada waktu itu, dia akan melihat binatang-binatang kecil berlari-larian dan
bermain-main di dalam cahaya matahari pagi, mendengar suara burung-burung berkicau serta melihat
kembang-kembang mekar indah dengan hiasan mutiara-mutiara embun pagi yang bergantungan di
kelopaknya, sehingga pada saat melihat seorang dara juita berbaju kembang berlari ke sana-sini sambil
tertawa merdu, tentu orang itu akan menyangka bahwa Lili adalah seorang bidadari atau seorang peri!
Ketika melihat ada sepasang rusa di bawah pohon sedang berkasih-kasihan, yang jantan membelai-belai
yang betina dengan lehernya yang panjang indah, hati Lili berdebar dan tiba-tiba di depan matanya
terbayang wajah seorang pemuda!
Ia mengerutkan kening dan menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa sangat aneh dan marah kepada diri
sendiri. Mengapa wajah yang terbayang itu wajah... Lie Siong, orang kurang ajar itu? Kalau saja dia
teringat pertama-tama kepada Kam Liong atau bahkan kepada Song Kam Seng sekali pun, dia tak akan
merasa aneh. Akan tetapi… Lie Siong?!
Tanpa terasa lagi dia menjumput pasir dan menyambitkannya ke arah sepasang rusa itu yang menjadi
terkejut dan melarikan diri. Lenyap pulalah bayangan wajah Lie Siong dari depan matanya dan Lili menjadi
gembira kembali.
Tiba-tiba dia melihat seekor kelinci putih yang gemuk dan timbullah seleranya. Dia telah melakukan
perjalanan selama setengah malam tanpa istirahat dan kini dia merasa amat lapar. Dikerjarnya kelinci itu,
akan tetapi walau pun gemuk dan keempat kakinya pendek-pendek, namun ternyata kelinci putih itu dapat
berlari cepat sekali dan sebentar saja dia menghilang di dalam semak-semak.
Lili memang beradat keras dan tidak mudah mengaku kalah. Dia lalu mencabut pedang Liong-coan-kiam
dan membabat semak-semak itu hingga bersih! Sebelum semak-semak itu habis dibabat, kelinci itu telah
melompat pergi lagi dan kembali menyusup ke dalam semak-semak yang lebih lebat lagi. Lili menggigit
bibirnya.
“Kelinci manja! Ke mana kau hendak pergi? Biar pun kau pergi ke neraka, tetap saja aku akan dapat
menangkap dan menikmati dagingmu yang empuk!”
Kembali Lili membabat semak-semak berduri itu. Akan tetapi seperti tadi pula, kelinci itu melompat dan
berpindah-pindah dari sebuah semak ke semak yang lain. Sebentar saja, sudah lebih dari sepuluh rumpun
dunia-kangouw.blogspot.com
semak-semak belukar yang dibabat habis oleh pedang Liang-coan-kiam di tangan Lili.
Dan akhirnya kelinci itu menjadi sangat ketakutan dan berlari terus, dikejar oleh Lili yang menjadi semakin
gemas. Setelah kehabisan jalan, kelinci itu kembali menyusup ke dalam semak-semak yang penuh dengan
tetumbuhan daun hitam yang gelap sekali. Lili tidak peduli dan mulai membabat lagi.
Pedang Liong-coan-kiam adalah pedang pusaka yang amat tajam, maka dengan mudah saja semaksemak
itu dibabat hingga berhamburan ke kanan kiri sampai terlihat tanah di bawahnya. Sesudah semaksemak
ini habis terbabat, tidak seperti tadi, kelinci itu tetap tidak kelihatan.
Lili menjadi penasaran sekali. Sudah terang bahwa kelinci itu tak melompat keluar, akan tetapi mengapa
juga tidak berada di dalam semak-semak ini? Apakah kelinci itu pandai menghilang? Ia mencari terus,
melempar-lemparkan semak-semak yang sudah terbabat itu ke kanan kiri, akan tetapi tetap saja kelinci
tidak nampak.
Akhirnya ia melihat ada sebuah lubang bundar yang lebarnya kurang lebih satu setengah kaki. Ia pun
mengangguk-angguk dan tersenyum. “Kelinci licik, kau kira aku tidak tahu ke mana bersembunyi?
Keluarlah!”
Dia lalu menepuk-nepuk pinggir lobang itu dan menjadi terheran-heran ketika mendengar suara
berdengung dari bawah tanah. Lobang itu ternyata kosong di sebelah dalamnya, pikirnya. Tempat apakah
ini? Goa tertutup?
Dia lalu mempergunakan pedangnya untuk menggali lubang itu dan baru saja satu kaki dalamnya, ternyata
bahwa lobang di bawah luar biasa besarnya, merupakan sumur yang lebar sekali. Jadi lubang tadi
merupakan ‘cerobong’ pada langit-langit ruangan di bawah tanah ini!
Lili menjadi tertarik sekali. Dia segera melebarkan cerobong itu sampai kira-kira tiga kaki segi empat, lalu
mengambil batu dan melemparnya ke bawah. Tidak dalam, pikirnya, dan di bawah tanah lunak biasa saja.
Hal ini diketahui karena dalam waktu singkat batu itu mengenai dasar ruang dan terdengar suara berdebuk.
Ia harus menangkap kelinci itu dan di samping itu, ia pun ingin tahu apakah yang berada di dalam ruang di
bawah tanah ini. Memang ia memiliki nyali yang amat besar. Dengan pedang Liong-coan-kiam di tangan
kanan, gadis ini kemudian melompat ke dalam lubang tadi!
Benar seperti yang disangkanya tadi, kakinya menyentuh tanah dan ternyata lubang itu dalamnya hanya
dua tombak kurang. Sesudah matanya terbiasa dengan pemandangan suram-suram di dalam lubang itu, ia
mulai melakukan penyelidikan. Sinar matahari yang masuk dari lubang atas, cukup untuk melihat keadaan
di sekelilingnya.
Sumur itu ternyata besar juga, kira-kira tiga tombak luasnya dan dikelilingi oleh dinding batu-batu karang
yang kehitaman dan mengkilap. Akan tetapi yang amat mengherankan hatinya, dia tidak melihat kelinci
putih tadi! Ia menjadi penasaran sekali karena sumur itu ternyata kosong melompong tidak ada apa-apanya
yang menarik, sedangkan kelinci itu lenyap begitu saja.
Ia menyelidiki bagian bawah dinding di seputar tempat itu kalau-kalau ada lubangnya dari mana kelinci itu
dapat masuk. Usahanya berhasil karena memang benar di sebelah kiri terdapat lubang kecil di bagian
bawah.
Ia mendongkol sekali, tentu kelinci tadi telah melarikan diri ke lubang ini, dan bagaimana dirinya bisa
masuk? Lubang itu hanya dapat dimasuki kedua tangannya saja. Ia mencoba lalu memasukkan kedua
tangannya ke dalam lubang ini dan mendapat kenyataan yang mengejutkan hatinya bahwa di balik dinding
ini pun merupakan ruang terbuka!
Lili makin tertarik. Ia memeriksa dinding itu dan mendapat kenyataan yang mendebarkan hatinya bahwa di
situ terdapat pecahan yang merupakan sebuah pintu! Akan tetapi pintu ini rapat sekali dan ketika ia
mencoba untuk mendorongnya, ternyata pintu itu kuat sekali.
Ia lalu mencari akal dan memeriksa lagi. Mungkin bukan pintu dorongan, melainkan pintu angkat seperti
penutup lubang jendela, pikirnya. Ia lalu memasukkan kedua tangannya di dalam lubang di bawah pintu ini
kemudian mengerahkan tenaganya mengangkat sambil mendorong ke luar.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dia berhasil! Pintu bundar itu bergerak keluar, akan tetapi Lili harus segera melepaskan kedua tangannya
karena pintu itu itu terlampau berat baginya. Peluhnya membasahi jidat dan ia beristirahat sebentar.
Setelah tenaga terkumpul kembali ia lalu mencoba lagi, akan tetapi tetap saja dia tidak dapat membuka
pintu itu terus sampai dia dapat masuk melalui lubangnya.
Lili adalah seorang yang keras hati dan apa bila sudah mempunyai kehendak, maka akan berusaha matimatian
untuk mencapai kehendak ini. Berkali-kali dia mencoba dan ketika dia mengangkat untuk yang ke
sekian belas kalinya, tiba-tiba pintu itu terbuka terus dan tidak menindih kembali seperti ada sesuatu yang
mengganjalnya!
Cepat dia merayap masuk ke dalam ruang di balik pintu itu dan alangkah herannya ketika melihat bahwa
pintu yang tebal dan berat sekali itu kini tertahan oleh sebatang tongkat bambu yang kecil dan panjang,
sebatang tongkat yang dipegang oleh seorang nenek tua. Atau bukan manusiakah nenek ini? Lili
memandang dengan mata terbelalak.
Dia melihat bentuk tubuh yang kurus kering dan kecil sekali, bongkok dan kulitnya sudah menjadi satu
dengan tulang, melekat sehingga hampir kelihatan seperti sebuah rangka hidup. Rambut nenek ini putih
semua dan awut-awutan menutupi mukanya yang berkulit kehitaman. Bajunya hitam menutupi kedua
pundak terus bawah.
Kalau saja dua lubang yang merupakan matanya itu tidak bergerak-gerak dan tangan kiri yang memegang
tongkat tidak sedang menjaga pintu batu, tentu Lili akan menyangkanya sebuah patung rusak. Tangan
kanan nenek ini memegang kelinci putih yang sejak tadi dikejar-kejar oleh Lili.
Setelah dara itu masuk, nenek ini lalu menggerakkan tangan kanannya dan kelinci putih itu melayang
keluar melalui pintu batu kemudian terdengar suara keras ketika ia menarik kembali tongkatnya dan daun
pintu batu yang berat itu menimpa turun lagi dan menutup tempat itu. Akan tetapi tempat itu tetap terang
karena mendapat cahaya matahari dari atas yang turun melalui lubang-lubang kecil yang tinggi sekali dari
tempat itu.
Lili menjadi terkejut bukan main. Ia cepat memandang ke sekelilingnya dan tidak melihat sebuah pun jalan
keluar. Ketika ia memandang kembali kepada nenek itu, kini nenek itu telah duduk bersila dan diam tak
bergerak bagaikan patung asli dari batu hitam!
Lili mulai merasa takut. Dia seakan-akan berada di dalam kuburan, dikubur hidup-hidup bersama sebuah
patung batu yang mengerikan, karena kelihatannya seperti tengkorak. Cepat dia menghampiri pintu batu
tadi dan berusaha membukanya agar dapat keluar dan melarikan diri.
Akan tetapi seperti tadi, ia tidak mampu membuka pintu itu, tidak mampu membuka lebih lebar dari satu
dim saja! Lalu bagaimanakah nenek tadi dapat menahan pintu itu dengan sebatang tongkat bambu?
Lili lalu menghampiri nenek itu dan dengan suara halus membujuk, “Nenek tua yang baik, maafkanlah
kelancanganku masuk ke sini dan tolonglah aku keluar dari goa ini. Aku tidak dapat membuka pintunya.”
Berkali-kali ia mengucapkan permintaan ini akan tetapi jangankan membuka mata atau mulut, nenek aneh
itu bergerak pun tidak. Mendadak Lili teringat dengan bulu tengkuk berdiri bahwa mungkin sekali nenek ini
bukan manusia, melainkan seorang iblis penjaga bumi! Maka ia lalu menjatuhkan diri berlutut dan berkata,
“Liok-te Pouwsat (Dewi Bumi), mohon ampun atas kekurang ajaran hamba. Hamba Sie Hong Li telah
melakukan dosa karena berlancang masuk ke tempat kediaman Pouwsat tanpa disengaja, mohon ampun
dan tolonglah hamba keluar dari kuburan ini!”
Kembali Lili mengulangi permohonannya ini sampai sepuluh kali, akan tetapi nenek itu tetap saja duduk
bersila tanpa membuka mata atau mulut. Akhirnya Lili menjadi marah sekali. Ia melompat bangun dan
membentak,
“Aha, tak tahunya engkau seorang Iblis Bumi yang jahat, ya? Kau hendak mengurungku sampai mati di sini
atau sampai menjadi tua dan buruk seperti engkau? Lebih baik aku mati! Akan tetapi sebelum aku mati,
kalau kau tidak mau membuka pintu goa ini, kaulah yang akan kubikin mampus lebih dulu!”
Lili mencabut Liong-coan-kiam yang berkilauan di dalam keadaan suram-suram itu. Dia menggerakgerakkan
pedangnya untuk menakut-nakuti nenek itu, dan benar saja, nenek itu sekarang membuka
dunia-kangouw.blogspot.com
sepasang matanya yang mencorong laksana mata kucing. Akan tetapi, bukannya menjadi takut, bahkan
tiba-tiba saja nenek itu tertawa terkekeh-kekeh dengan suara ketawa yang membuat bulu tengkuk Lili
berdiri saking seramnya. Nenek itu ketawa tiada ubahnya seperti mayat atau tengkorak tertawa!
“Kau menertawakan aku? Agaknya kau tak tahu sampai di mana kelihaian pedang Liong-coan-kiam ini!”
Sambil berkata demikian, Lili kemudian mainkan pedangnya dengan hebat, menyerang nenek itu.
Akan tetapi, pedangnya terbentur dengan tongkat bambu dan terpental kembali, diiringi suara ketawa
nenek itu. Lili tahu bahwa nenek ini tentu memiliki kepandaian tinggi, maka ia lalu mainkan jurus-jurus dari
Liong-coan Kiam-sut ciptaan ayahnya. Pedangnya lenyap menjadi segulung sinar yang mengurung tubuh
nenek itu.
Akan tetapi ke mana pun juga pedangnya berkelebat, selalu pedang ini terbentur kembali oleh tongkat
bambu yang luar biasa itu dan tiba-tiba, dibarengi oleh suara ketawanya, nenek itu menggunakan tangan
kanannya merampas pedang Lili! Dengan sangat mudah dia menangkap pedang itu dan membetotnya
tanpa Lili mampu berdaya apa-apa! Dan ketika gadis ini memandang, ia membelalakkan kedua matanya
karena sekali tekuk saja dengan jari-jari tangan kanannya, pedang Liong-coan-kiam telah dipatahkan!
“Nenek gila, kau berani merusak pedangku?!” bentak Lili dengan marah dan sekarang ia mengeluarkan
kipasnya, kemudian tanpa menanti lagi ia lalu mainkan ilmu kipas yang ia pelajari dari Swi Kiat Siansu,
yakni Ilmu Kipas San-sui San-hoat yang lihai.
Kembali ia terperanjat ketika semua jurus dari San-sui San-hoat diperlihatkan, sekali ulur tangannya saja
nenek itu sudah merampas kipasnya dan mematahkannya pula seperti pedang tadi! Lili menjadi makin
gelisah.
Celaka, pikirnya. Sekarang aku harus menemui kematian di tempat ini. Akan tetapi dia tidak menjadi takut,
bahkan mengambil keputusan untuk melawan sampai napas terakhir. Kini ia maju menyerang dengan
tangan kosong, dan memainkan ilmu silat tangan kosong yang dipelajari dari orang tuanya, yaitu Pek-in
Hoat-sut diganti-ganti dengan Kong-ciak Sin-na!
Dua macam ilmu silat tangan kosong ini adalah ilmu yang tangguh dari Bu Pun Su. Akan tetapi ketika
digunakan menghadapi nenek ini agaknya seperti tenaga air sungai bertemu dengan laut karena nenek itu
sambil tertawa-tawa kini juga memainkan Pek-in Hoat-sut untuk melawan Lili! Akhirnya Lili kehabisan
tenaga dan dia pun roboh pingsan di depan nenek itu saking lelah, lapar, marah dan putus harapan!
Pada saat Lili siuman kembali, nenek itu memberinya tiga butir buah hitam dan memberi tanda agar dia
makan buah itu. Lili merasa tubuhnya letih dan lapar, maka karena sudah tidak ada jalan keluar lagi, dia
menjadi seperti seekor harimau betina yang menemui manusia kuat. Ia makan tiga butir buah itu yang
ternyata enak dan wangi dan perutnya terasa penuh dan kenyang!
Kemudian nenek itu menggurat-guratkan ujung tongkatnya di atas lantai. Ternyata bahwa nenek itu telah
menuliskan beberapa huruf yang cukup indah. Lili lalu membacanya,
‘Kau berjodoh untuk menjadi muridku selama dua pekan. Engkau harus mempelajari ilmu silat ciptaanku
yang kuberi nama Hang-liong Cap-it Ciang-hoat (Sebelas Jurus Ilmu Silat Penakluk Naga). Akan tetapi ada
syaratnya, yaitu di waktu kau masih mempelajari dan melatih ilmu silat ini selama satu bulan kau tidak
boleh bicara dan harus bertapa gagu!’
Lili merasa aneh sekali. Akan tetapi sesudah dia maklum bahwa dia tidak akan mati dan bahkan menjadi
murid seorang yang pandai luar biasa, dia pun menjadi girang dan cepat menjatuhkan diri berlutut di depan
nenek itu.
“Teecu akan mentaati semua perintah Suthai.”
Demikianlah, selama dua pekan, dara perkasa ini mempelajari semacam ilmu silat yang baru dan yang luar
biasa lihainya, dan biar pun ilmu silat Hang-liong Cap-it Ciang-hoat hanya terdiri dari sebelas jurus, akan
tetapi setiap jurus memerlukan gerakan yang sukar dan sempurna serta tenaga yang luar biasa.
Setiap hari gurunya menempelkan telapak tangan kiri pada telapak tangan kanannya, sedangkan tangan
kiri Lili lalu disuruh mendorong daun pintu itu untuk membukanya. Pertama kali Lili masih saja tidak kuat,
kecuali setelah gurunya mengerahkan tenaga dan menyalurkannya melalui telapak tangannya. Tetapi
dunia-kangouw.blogspot.com
begitu gurunya melepaskan tempelan telapak tangannya, pintu itu turun kembali tanpa Lili dapat
menahannya!
Akan tetapi lambat laun, setelah sembilan hari, Lili dapat membuka daun pintu itu dengan tenaganya
sendiri! Ternyata bahwa lweekang-nya telah meningkat secara luar biasa dan cepat sekali. Setelah dua
minggu, tamatlah pelajarannya.
Gurunya bertanya kepadanya melalui tulisan di atas lantai,
‘Aku menurunkan ilmu silat ini kepadamu hanya karena kau pernah mempelajari Pek-in Hoat-sut dari Lu
Kwan Cu (Bu Pun Su). Pernah apakah kau dengan dia?’
‘Dia adalah Sucouw-ku (Kakek Guruku),’ jawab Lili, juga dengan tulisan di atas lantai karena dia menepati
janjinya bertapa gagu selama sebulan! Kemudian ia menambahkan. ‘Dan bolehkah teecu bertanya,
siapakah nama Suthai?’
Nenek yang bagai tengkorak itu hanya menuliskan tiga huruf di atas lantal yang berbunyi, ‘Bu-liang-sim’
yang artinya ‘Tiada Pribudi’, kemudian ia menudingkan tongkatnya ke arah pintu goa mengusir Lili pergi
dari situ.
Lili berlutut dan mencium tangan gurunya yang aneh ini sebagai tanda berterima kasih, kemudian dia lalu
membuka batu besar yang menjadi pintu goa dan keluar dari goa itu. Alangkah girangnya ketika ia melihat
kelinci putih yang dulu dilempar keluar oleh gurunya masih berada di situ, akan tetapi kelinci ini telah
menjadi begitu kurus karena selama dua pekan tidak makan!
Kalau dulu Lili ingin sekali makan dagingnya, sekarang gadis ini malah menjadi kasihan melihatnya. Dia
memegang binatang itu pada kedua telinganya, kemudian membawanya melompat ke atas, keluar dari
sumur itu. Setelah sampai di atas, dia lalu memandang ke kanan kiri dan melemparkan kelinci itu ke dalam
semak belukar.
Dia menarik napas panjang dengan penuh kebahagiaan karena merasa bersyukur masih dapat hidup
setelah mengalami pengalaman yang semikian hebat. Kemudian, setelah dia menghafal keadaan di
sekeliling tempat itu untuk mengingat tempat tinggal gurunya, dia lalu menggunakan semak-semak untuk
menutupi lubang itu agar jangan sampai terlihat oleh orang lain.
Kemudian pergilah dia dari sana, sambil tidak lupa untuk melatih Ilmu Silat Hang-liong Cap-it Ciang-hoat
yang masih harus dipelajarinya terus. Meski pun dia sudah kehilangan Liong-coan-kiam serta kipasnya,
dua senjata yang diandalkannya, akan tetapi sekarang karena dia sudah mendapatkan ilmu silat yang luar
biasa ini, dia merasa lebih percaya kepada diri sendiri dari pada dahulu…..
********************
Sesudah Malangi Khan menyatakan damai dengan bala tentara Kaisar, perdagangan di tapal batas utara
menjadi ramai lagi, bahkan lebih ramai dari pada sebelum terjadinya perang. Kota-kota di utara yang
tadinya kosong dan sunyi karena ditinggalkan oleh para penduduknya yang pergi mengungsi, sekarang
menjadi penuh lagi, bahkan bertambah pula oleh orang-orang Han dan orang Mongol yang datang untuk
mencari untung dalam perdagangan di tempat itu.
Kota Kun-lip juga menjadi ramai sekali. Kota ini terletak di sebelah selatan tembok besar dan perdagangan
di situ ternyata maju sekali. Oleh karena itu, tidak heran apa bila kota ini banyak dikunjungi orang dan
karenanya, hotel dan restoran menjadi subur dan maju.
Setelah mendengar bahwa peperangan telah selesai dan semua orang itu telah kembali ke selatan, Lili
tidak segera kembali ke Shaning karena dia masih belum menghabiskan tapa gagunya. Dia merasa amat
tidak enak untuk berhadapan dengan orang-orang yang dikenalnya, terutama keluarganya, dalam keadaan
bertapa gagu dan tidak boleh bicara ini!
Sekarang ia maklum kenapa gurunya yang aneh itu melarangnya bicara selama sebulan dalam waktu ia
masih melatih diri dengan Hang-liong Cap-it Ciang-hoat. Selain tapa gagu ini merupakan ujian yang berat
bagi kekerasan hatinya untuk bertekun mempelajari ilmu silat yang aneh dan sukar itu, juga pada waktu
melatih ilmu silat ini, tenaga lweekang selalu terkumpul di dalam dadanya sehingga dengan mudah
disalurkan ke arah kedua tangannya. Kalau ia membuka mulut bicara, maka itu berarti perhatiannya akan
dunia-kangouw.blogspot.com
terpecah dan hawa yang terkumpul itu bisa buyar atau membocor keluar. Memang, untuk berlatih Hangliong
Cap-it Ciang-hoat dibutuhkan perhatian yang khusus dan pengerahan tenaga dalam yang
sepenuhnya.
Pada pagi hari itu, sudah genap dua puluh hari dia bertapa gagu. Ilmu Silat Hang-liong Cap-it Ciang-hoat
telah hampir sempurna dilatih. Tiga hari lagi dia sudah dapat membuka pantangan bicara, dan hari itu dia
berjalan-jalan di dalam kota Kun-lip. Ketika ia berjalan sampai di depan sebuah restoran besar, tiba-tiba
ada orang memanggilnya,
“Lili...!”
Ia cepat menengok dan melihat Song Kam Seng tengah duduk di belakang sebuah meja di halaman luar
restoran itu sambil menghadapi hidangan.
“Nona Hong Li, kau hendak kemanakah? Silakan duduk dan mari kita bercakap-cakap. Sudah sangat lama
kita tidak bertemu. Bagaimana keadaan kedua orang tuamu?” Kam Seng bertanya dengan ramah dan
nyata sekali kegembiraannya bertemu dengan nona ini.
Akan tetapi, biar pun di dalam hatinya Lili tidak marah lagi kepada Kam Seng yang telah memperlihatkan
jasa-jasanya dalam keadaan perang yang lalu, namun tentu saja ia tidak dapat menjawab pertanyaanpertanyaan
ini karena dia masih sedang berpantang bicara. Maka dia berpura-pura tidak melihat, cepat
membuang muka dan hendak melanjutkan perjalanan meninggalkan pemuda itu.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar bentakan keras, “Gadis liar, baru sekarang aku mendapat kesempatan
melunaskan perhitungan!”
Tiba-tiba dari belakangnya, Lili merasa sambaran angin hebat dan cepat ia lalu miringkan tubuh melompat
ke kanan. Ternyata yang baru menyerangnya itu adalah Ban Sai Cinjin dengan huncwe mautnya!
Kakek ini memang sedang berada di kota itu dan tadi ketika Kam Seng duduk seorang diri, sebetulnya
kakek itu sedang memesan masakan ke meja pengurus restoran, maka Lili tidak melihatnya. Ketika kakek
ini melihat Lili, timbullah marahnya karena dia teringat betapa gadis ini pernah menghina dan
mengganggunya, dan betapa ayah gadis ini juga sudah menghinanya secara luar biasa sekali.
Karena Lili tidak bisa membalas dengan kata-kata, gadis ini hanya berdiri dan menatap ke arah Ban Sai
Cinjin dengan alis berkerut dan mata bernyala. Ia tidak ada nafsu untuk berkelahi oleh karena ia sedang
melatih ilmu silatnya yang sebentar lagi akan sempurna. Kalau ia pergunakan dalam pertempuran, maka
akan banyak hawa dipergunakan dan ini berarti ia menderita rugi sebelum ilmu silatnya tamat. Kalau saja
ia sudah tamat, tentu dengan gembira gadis yang suka berkelahi ini akan melayani dan menghajarnya.
“Bocah, bersedialah untuk mati!” kembali Ban Sai Cinjin membentak sambil sekaligus dia mengirim dua
macam serangan.
Tangan kanannya memukulkan huncwe maut ke arah kepala Lili sedangkan kaki kirinya diangkat untuk
mengirim tendangan yang menjaga kalau-kalau gadis itu akan melompat ke belakang.
Melihat gerakan kakek ini, Lili segera tahu bahwa dibandingkan dengan dahulu, kakek ini telah
memperoleh kemajuan yang pesat sekali. Memang benar, Ban Sai Cinjin yang telah mengalami kekalahan
berkali-kali, dan bahkan telah dihajar setengah mati oleh Pendekar Bodoh, menjadi sakit hati dan dengan
prihatin dia lalu memperdalam ilmu silatnya atas bantuan suheng-nya, yaitu Wi Kong Siansu yang lihai dan
yang berjuluk Toat-beng Lomo (Iblis Tua Pencabut Nyawa ).
Menghadapi serangan Ban Sai Cinjin yang hebat ini, Lili lalu merendahkan tubuhnya dan menekuk lutut,
mengelak dengan gerakan dari Ilmu Silat Sian-li Utauw, karena ia masih belum mau mempergunakan ilmu
silatnya yang baru.
“Susiok, jangan ganggu Nona Sie!” Kam Seng berkali-kali berseru mencegah susiok-nya, sedangkan
orang-orang yang makan di restoran itu terutama yang dekat dengan tempat pertempuran, pada melarikan
diri dengan ketakutan.
Delapan jurus sudah dimainkan oleh Ban Sai Cinjin untuk merobohkan Lili. Akan tetapi setelah melatih Ilmu
Silat Hang-liong Cap-it Ciang-hoat, ternyata gadis ini telah mendapat kemajuan yang sangat luar biasa
dunia-kangouw.blogspot.com
dalam ilmu ginkang sehingga tubuhnya menjadi ringan dan gesit sekali. Sambaran-sambaran huncwe maut
dari Ban Sai Cinjin itu seakan-akan menyerang sehelai bulu yang sedemikan ringan sehingga yang
diserang telah melayang pergi sebelum pukulannya tiba.
“Susiok, jangan berlaku kejam!” tiba-tiba saja Kam Seng yang semenjak tadi memandang dengan penuh
kegelisahan, kini mendadak meloncat maju dan…
“Tranggg…!” terdengar suara nyaring ketika huncwe itu tertangkis oleh pedang di tangan Kam Seng!
Lili menggunakan kesempatan ini untuk melompat jauh dan berdiri memandang kepada kedua orang yang
kini saling berhadapan itu. Sepasang mata Ban Sai Cinjin mendelik dan terputar-putar saking marahnya,
dan karena pipi kanannya masih ada tanda bekas luka-luka goresan yang dihadiahkan oleh Pendekar
Bodoh kepadanya di benteng orang Mongol, maka ia terlihat menyeramkan sekali. Seakan-akan apilah
yang keluar dari mulut dan hidungnya dan ia seolah-olah hendak menelan pemuda yang berdiri di
depannya itu.
“Bangsat terkutuk! Jadi kau hendak membalas budi kami dengan pengkhianatan? Kau hendak membela
orang yang menjadi musuh kami, menjadi musuhku sekaligus musuh gurumu? Kau berani melawan
Susiok-mu, anjing tak kenal budi?”
“Susiok, kalau kau menyerang orang lain, aku masih dapat melihatnya, akan tetapi Nona itu... ? Tidak,
Susiok, biar pun aku harus mati, aku akan membelanya!”
“Bangsat, kau cinta padanya, ya? Kau jatuh cinta kepada anak musuh besarmu ini? Kau benar-benar
anjing pengecut, karena itu kau harus mampus!” Dengan kemarahan yang meluap-luap, Ban Sai Cinjin
menyerang murid keponakannya sendiri.
Song Kam Seng cepat menangkis dengan pedangnya, akan tetapi walau pun dia sudah memperoleh
warisan ilmu silat yang tinggi dari Wi Kong Siansu, bagaimana dia dapat melawan susiok-nya (paman
gurunya)? Sebentar saja ia telah terdesak hebat sekali dan hanya dapat menangkis sambil mundur.
Sementara itu, Lili berdiri dengan sepasang mata menjadi basah. Dia teringat pula akan pengalamannya
dahulu ketika ia tertawan oleh Ban Sai Cinjin. Betapa pemuda itu telah menciumnya dan hampir saja
mencemarkan namanya. Betapa pemuda itu hampir saja membunuhnya dan semua itu hanya dicegah oleh
perasaan cinta kasih dari pemuda itu.
Ia maklum bahwa Kam Seng amat membenci ayahnya dan juga tentu sudah berusaha membencinya
karena ayah Kam Seng tewas dalam tangan Pendekar Bodoh, akan tetapi ternyata pemuda itu tetap tidak
mampu membencinya, bahkan sampai sekarang cintanya terhadap dirinya masih amat besar sehingga
pemuda itu sampai berani melawan paman guru sendiri dan berani pula mengorbankan nyawa. Mengingat
sampai di sini, Lili segera melompat maju hendak membantu Kam Seng, akan tetapi terlambat!
Dengan satu serangan secepat kilat, Ban Sai Cinjin telah berhasil mengemplang kepala pemuda itu yang
terhuyung-huyung ke belakang dan pedangnya terlepas dari tangannya! Ban Sai Cinjin memburu maju
hendak memberi pukulan maut, akan tetapi tiba-tiba dia merasa iganya disambar oleh angin pukulan yang
hebat sekali! Ia cepat-cepat memutar tubuhnya dan mengelak dari pukulan Lili ini, kemudian ia mengayun
huncwe-nya ke arah kepala gadis ini.
Lili menyambutnya dengan gerakan dari Hang-liong Cap-it Ciang-hoat dan dengan amat mudah huncwe itu
terampas olehnya, ditekuk di antara jari tangannya dan…
“Pletak!” patahlah huncwe maut dari Ban Sai Cinjin yang diandal-andalkan itu!
Terbelalak mata Ban Sai Cinjin memandang ke arah Lili karena tidak disangkanya sama sekali bahwa
gadis ini mampu merampas huncwe-nya dengan tangan kosong. Ia segera melompat ke belakang dan
melarikan diri!
Lili hendak mengejarnya akan tetapi dia mendengar keluhan perlahan, maka dia teringat kembali kepada
Kam Seng. Cepat-cepat ia menghampiri pemuda yang merintih-rintih itu. Bukan main mencelos dan
terheran hatinya ketika melihat kepala pemuda itu telah retak dan berlumur darah!
Lili berlutut dan mengangkat kepala pemuda itu, kemudian dipangkunya dan dengan sapu tangannya, dia
dunia-kangouw.blogspot.com
menyusuti darah yang mengalir ke arah mata Kam Seng. Pemuda itu membuka matanya dan tersenyum!
“Lili... akhirnya aku dapat menebus dosaku kepadamu... aku sudah tersesat... aku salah duga... ayahmu
seorang pendekar besar, seorang budiman, ada pun ayahku... ayahku... dia... dia seperti aku... tersesat…”
sampai di sini kedua mata pemuda itu mengalirkan air mata.
Lili tidak dapat menahan keharuan hatinya dan dia mendekap muka Kam Seng dengan kedua tangannya
sambil menangis terisak-isak! Walau pun tidak boleh bicara, gadis ini masih boleh menangis atau tertawa,
demikian pesan gurunya.
“Lili... kau menangis...? Kau menangisi aku? Terima kasih! Kau memang gadis baik... tak pantas menangisi
seorang siauw-jin (orang rendah) seperti Song Kam Seng... Lili, terima kasih... sampaikan hormatku
kepada ayah bundamu..., dan salamku kepada... kepada... semua keluargamu juga kepada Kamciangkun...
tunanganmu...”
Maka habislah napas Kam Seng, pemuda bernasib malang itu yang pada saat terakhir dapat
menghembuskan napas penghabisan dalam pangkuan dara yang dicinta sepenuh hatinya!
Lili menggunakan tulisan untuk menyuruh pengurus restoran membeli peti mati. Gadis ini masih memiliki
banyak potongan uang emas, maka segala urusan penguburan jenazah Kam Seng dapat dilakukan
dengan baik. Orang-orang yang berada di situ menganggap bahwa dia adalah seorang gadis gagu, maka
tak seorang pun merasa heran bahwa dia tidak dapat bicara.
Setelah beres mengurus pemakaman dan bersembahyang di depan makam Song Kam Seng, Lili lalu
melanjutkan perjalanannya. Sekarang kebenciannya kepada Ban Sai Cinjin bertambah lagi, dan dia berjanji
di dalam hati untuk membalaskan sakit hati Song Kam Seng, pemuda yang malang itu.
Hatinya berdebar tidak enak kalau dia teringat akan kata-kata terakhir dari Kam Seng, yang menyebutnyebut
Kam-ciangkun sebagai tunangannya. Sampai di mana kebenaran ucapan ini? Ia tidak merasa
bertunangan dengan Kam Liong, sungguh pun paman dari Kam Liong, yaitu Sin-houw-enghiong Kam Wi
yang kasar dan sembrono itu dulu pernah membikin dia marah karena hendak menjodohkannya dengan
Kam Liong secara begitu saja!
Juga diam-diam ia merasa girang karena di dalam usahanya menolong Kam Seng tadi, ia sudah
mempergunakan sejurus dari Hang-liong Cap-it Ciang-hoat dan yang sejurus itu telah membuat ia berhasil
merampas dan mematahkan huncwe maut dari Ban Sai Cinjin!
Dia maklum bahwa sebelum dia memiliki ilmu silat ini dengan sempurna, meski pun dia memegang pedang
dan kipas, belum tentu ia akan dapat mengalahkan kakek itu secepat dan semudah tadi! Maka ia lalu
melatih diri dengan amat tekun dan rajinnya dan tiga hari kemudian ia telah berani mengakhiri
pantangannya bicara.
Dari kota Kun-lip, Lili kemudian menuju ke selatan dan di dalam perjalanannya pulang ke Shaning, ia
bermaksud untuk singgah terlebih dulu di dusun Tong-sin-bun, untuk mencari kalau-kalau Ban Sai Cinjin
berada di tempat itu. Dia teringat pula bahwa Ang I Niocu juga menuju ke tempat itu dalam usahanya
mencari pembunuh suaminya, maka dia kemudian mempercepat perjalanannya sebab ia pun merasa
kuatir apa bila Ang I Niocu mengalami kecelakaan pula.
Menghadapi orang-orang seperti Ban Sai Cinjin dan kawan-kawannya yang selain lihai juga amat curang
dan licik, sungguh merupakan hal yang amat berbahaya, walau yang menghadapi mereka itu seorang
pendekar wanita hebat seperti Ang I Niocu sekali pun!
Ketika dia tiba di dusun Tong-sin-bun menuju ke rumah Ban Sai Cinjin, sebuah gedung besar dan mewah,
dia terkejut sekali karena gedung itu kini sudah lenyap, rata dengan bumi dan menjadi abu! Ia pernah
mendengar bahwa Lie Siong dahulu pernah membakar bagian dari rumah ini, akan tetapi sekarang rumah
ini betul-betul telah habis dan menjadi abu. Perbuatan siapakah ini?
Agar jangan menarik perhatian orang dan membuat pihak Ban Sai Cinjin bersiap-siap, ia diam-diam lalu
meninggalkan Tong-sin-bun dan masuk ke dalam hutan di mana terdapat kelenteng tempat Ban Sai Cinjin
bersama kawan-kawannya bersembunyi itu. Dia sengaja menunggu sampai hari menjadi gelap, baru ia
menggunakan kepandaiannya jalan malam dan masuk ke dalam hutan dengan cepat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketika dia tiba di sebuah hutan pohon pek di mana di tengahnya terdapat sebuah bukit kecil, tiba-tiba ia
menahan langkah kakinya. Ia mendengar suara orang menangis di atas bukit kecil itu!
Kalau saja Lili bukan seorang yang berhati tabah, tentu ia akan merasa ngeri dan seram mendengar suara
orang menangis di dalam hutan yang gelap, liar, dan sunyi itu. Akan tetapi, puteri Pendekar Bodoh ini tidak
menjadi takut, bahkan cepat menghampiri tempat itu!
Malam hari itu bulan muncul setelah hampir tengah malam, akan tetapi cahayanya masih terang dan
permukaannya masih lebih dari separuhnya. Oleh karena sinar bulan memang mengandung sesuatu yang
romantis akan tetapi sekaligus juga menyeramkan, tergantung dari tempat di mana bulan mematulkan
cahayanya, maka di dalam hutan itu kelihatan benar-benar mengerikan.
Pohon-pohon pek yang besar itu kini di bawah sinar bulan nampak laksana setan-setan raksasa sedang
menjulurkan lengannya yang panjang hendak menangkap orang. Setiap rumpun merupakan binatang
berbentuk aneh yang berwarna hitam, yang bersiap untuk menyeruduk siapa saja yang lewat di hutan itu.
Semua keseraman ini ditambah lagi oleh suara binatang hutan. Sudah sepatutnya kalau orang akan
merasa lebih ketakutan dan bulu tengkuknya berdiri apa bila pada saat dan di tempat seperti itu, tiba-tiba
mendengar pula suara tangis orang!
Akan tetapil Lili yang sangat tabah hatinya, bahkan menjadi penasaran dan ingin sekali tahu siapa
orangnya yang menangis di dalam hutan itu dan mengapa pula ia menangis. Ketika ia menyusup-nyusup di
antara pohon-pohon pek dan tiba di bukit kecil itu, tiba-tiba ia terkejut sekali oleh karena kini orang yang
menangis itu mengeluarkan kata-kata yang amat jelas terdengar dan yang membuat wajahnya menjadi
pucat sekali. Ia masih belum percaya dan memperhatikan baik-baik suara itu sambil menahan tindakan
kakinya.
“Ang I Niocu... tidak kusangka akan begini jadinya nasibmu dan nasib suamimu yang gagah perkasa. Ahh,
kini aku teringat... aku teringat akan semua hal yang mengerikan itu...”
“Suhu...!” Lili berteriak pada saat mengenal suara Sin-kai Lo Sian, Pengemis Sakti yang tadinya berada di
benteng Alkata-san ketika ia meninggalkan benteng itu dahulu.
Gadis ini melompat dan setelah sampai di puncak bukit kecil di mana terdapat tanaman bunga mawar
hutan yang amat lebat, ia melihat Sin-kai Lo Sian itu sedang berlutut dan di depannya menggeletak tubuh
Ang I Niocu yang berlumuran darah dan tubuhnya penuh luka-luka!
“Ie-ie Im Giok...!” jeritan Lili ini terdengar amat nyaring dan sambil tersedu-sedu gadis ini menubruk Ang I
Niocu dan mengangkat kepala wanita itu yang terus dipangkunya.
Ang I Niocu ternyata masih belum mati dan ketika dia memandang kepada Lili, bibirnya tersenyum! Karena
cahaya bulan hanya suram-suram, maka sekarang wajah Ang I Niocu nampak cantik luar biasa dan
senyumnya manis sekali, memlbuat hati Lili menjadi makin terharu.
“Ie-ie Im Giok, mengapa kau sampai menjadi begini? Suhu, apakah yang terjadi dengan Ie-ie Im Giok??”
tanyanya kepada Ang I Niocu dan juga kepada Sin-kai Lo Sian.
“Lili anak manis... tenanglah dan biarkan Sin-kai menceritakan tentang... suamiku…” Ang I Niocu sukar
sekali mengeluarkan kata-kata karena lehernya telah mendapat luka hebat pula. Kemudian wanita itu
memandang kepada Lo Sian memberi tanda supaya Lo Sian menceritakan pengalamannya dahulu.
Karena maklum bahwa nyawa Ang I Niocu tak akan tertolong lagi, maka Lo Sian segera menuturkan
dengan singkat pengalamannya dahulu di tempat ini bersama Lie Kong Sian, peristiwa yang sudah lama
dilupakannya akan tetapi yang sekarang tiba-tiba saja telah kembali dalam ingatannya.
“Aku ingat betul...” ia mulai dengan wajah pucat. “Lie Kong Sian Taihiap mengejar Bouw Hun Ti murid Ban
Sai Cinjin di kuil itu karena Lie Kong Sian Taihiap hendak membalas dendam kepada Bouw Hun Ti yang
sudah menculik Lili dan juga telah membunuh Yo-lo-enghiong (Yousuf). Akan tetapi di kuil, ia dihadapi oleh
Wi Kong Siansu. Pertempuran itu hebat sekali dan agaknya Lie Kong Sian Tai-hiap tidak akan kalah kalau
saja pada saat itu Ban Sai Cinjin tidak berlaku curang. Dengan amat licik kakek mewah itu menyerang
dengan huncwe mautnya, dan Bouw Hun Ti menyerang pula dengan tiga batang panah tangan beracun.
Akhirnya Lie Kong Sian Taihiap terkena pukulan huncwe maut dari Ban Sai Cinjin dan akhirnya tewaslah
dunia-kangouw.blogspot.com
dia!” Lo Sian berhenti sebentar, sedangkan Ang I Niocu yang mendengarkan nampak gemas sekali dan
mengerutkan giginya sehingga berbunyi.
“Kemudian dengan sedikit akal, yaitu menakut-nakuti murid Ban Sai Cinjin si hwesio kecil kepala gundul
Hok Ti Hwesio yang hendak membelek dada Lie-taihiap karena hendak mengambil jantungnya, akhirnya
aku dapat merampas jenazahnya dan menguburkannya di tempat ini.”
Demikianlah, Lo Sian kemudian menuturkan pengalamannya seperti yang telah dituturkan dengan jelas di
dalam jilid terdahulu dari cerita ini.
Berkali-kali Ang I Niocu mengertak gigi saking gemasnya, kemudian ia berkata, “Bangsat terkutuk Ban Sai
Cinjin! Sayang aku tak memiliki kesempatan lagi untuk menghancurkan batok kepalanya! Akan tetapi,
sedikitnya aku sudah membalaskan dendam suamiku dan aku puas telah dapat membunuh Hok Ti Hwesio
serta menghancurkan kuil itu.” Setelah mengeluarkan ucapan ini dengan penuh kegemasan, kembali
napasnya menjadi berat dan keadaannya payah sekali.
“Suhu, mengapa tidak merawat Ie-ie lebih dulu? Keadaannya demikian hebat....”
Lo Sian menggeleng kepalanya, dan terdengar Ang I Niocu berkata lagi dengan kepala masih di pangkuan
Lili, “Percuma, Lili... percuma... luka-lukaku amat berat... aku tak kuat lagi...!”
“Ie-ie Im Giok! Jangan berkata begitu, Ie-ie!” Lili menangis!
“Anak baik, setelah suamiku meninggal dan aku... aku sudah mendapatkan makamnya... apakah yang
lebih baik selain... menyusulnya? Kuburkanlah jenazahku nanti di dekatnya, Hong Li, dan kau... sekali lagi
kutanya... apakah kau membenci Siong-ji...?”
Bukan main terharunya hati Lili. Dia tidak kuasa menjawab dengan mulut, hanya mampu menggelengkan
kepalanya saja. Ia sendirl tak pernah dapat menjawab pertanyaan dalam hatinya sendiri apakah ia
sesungguhnya membenci Lie Siong. Memang kadang-kadang timbul rasa gemasnya terhadap pemuda itu,
akan tetapi kegemasan ini adalah karena ia teringat akan hubungan pemuda itu dengan... Lilani! Lebih
tepat disebut cemburu dari pada gemas.
“Kalau begitu... Hong Li, berjanjilah bahwa kau… kau akan suka menjadi isterinya! Aku... aku akan merasa
gembira sekali, dan juga ayahnya akan... puas melihat kau sebagai... mantunya! Sukakah kau, Hong Li...!”
Lili tentu saja tidak dapat menjawab pertanyaan ini, meski pun ia dapat mengerti bahwa pertanyaan ini
keluar dari mulut seorang yang sudah mendekati maut dan yang harus dijawab.
“Ie-ie Im Giok, kenapa kau tanyakan hal ini kepadaku? Bagaimana aku harus menjawab, Ie-ie? Urusan
pernikahan tentu saja aku hanya menurut kehendak orang tuaku.”
“Cin Hai dan Lin Lin tentu akan setuju…,” kemudian dengan napas makin berat, Ang I Niocu berkata
kepada Lo Sian, “Lo-enghiong, kau... kuserahi kekuasaan untuk... menjadi wakilku... untuk menjadi wali
dari Siong-ji... engkaulah yang akan mengajukan lamaran kepada Pendekar Bodoh...”
“Tentu, Ang I Niocu, tentu aku suka sekali. Aku merasa sangat terhormat untuk menjadi wakilmu dalam hal
ini,” jawab Lo Sian dengan terharu.
Keadaan Ang I Niocu makin lemah dan setelah memanggil-manggil nama Lie Kong Sian serta menyebut
nama Lie Siong, akhirnya wanita pendekar yang gagah perkasa, yang namanya pernah menggemparkan
dunia persilatan ini, menghembuskan napas terakhir di dalam pangkuan Lili, diantar oleh tangis dara itu.
Setelah menangisi kematian Ang I Niocu sampai malam terganti pagi, Lili dan Lo Sian lalu menguburkan
jenazah Ang I Niocu di sebelah kiri makam Lie Kong Sian. Kemudian mereka duduk menghadapi makam
dan dalam kesempatan ini, Lo Sian lalu menuturkan keadaan dan pengalaman Ang I Niocu seperti yang ia
dengar dari penuturan Ang I Niocu sendiri sebelum Lili datang.
Seperti sudah dituturkan pada bagian depan, sesudah berkumpul sebentar dengan Lili, Ang I Niocu dengan
hati marah sekali pergi mencari pembunuh suaminya dan menyusul puteranya. Dari gadis inilah pertama
kali dia mendengar bahwa suaminya telah terbunuh orang, dan bahwa Lie Siong telah melakukan
penyelidikan untuk mencari pembunuh itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sampai beberapa lamanya dia merantau ke selatan, sehingga akhirnya pergilah dia ke Tong-sin-bun,
karena dari Lili dia mendengar Lie Siong pernah ke sana. Juga dia ingin sekali bertemu dan memberi
hajaran kepada Ban Sai Cinjin, juga hendak mendapatkan Bouw Hun Ti yang sudah berani menculik Lili di
waktu kecil.
Ketika ia tiba di luar dusun Tong-sin-bun, tiba-tiba saja ia melihat seorang pengemis yang berpakaian
tambal-tambalan akan tetapi bersih sekali, tengah duduk di pinggir jalan dan memandang kepadanya
dengan mata penuh perhatian. Melihat keadaan pengemis tua ini, Ang I Niocu berpikir-pikir sebentar, dan
teringatlah ia bahwa yang berada di depannya ini tentulah Sin-kai Lo Sian, Si Pengemis Sakti yang
menurut penuturan Lili menjadi guru gadis itu dan juga telah diculik oleh puteranya! Akan tetapi, sebelum
Ang I Niocu sempat menegurnya, Sin-kai Lo Sian telah mendahuluinya menegur sambil berdiri dan
memberi hormat,
“Bukankah Siauwte berhadapan dengan Ang I Niocu yang terhormat?”
“Sin-kai Lo-enghiong, kau mempunyai pandangan mata yang tajam,” jawab Ang I Niocu. “Di manakah
puteraku?”
“Siauwte tidak tahu, Niocu, semenjak kami berpisah di Alkata-san, kami tak pernah saling bertemu lagi.”
Ang I Niocu mengerutkan keningnya, kemudian ia lalu menghampiri Lo Sian dan berkata, “Menurut
penuturan Hong Li, katanya puteraku sudah berlaku kurang ajar dan menculik Lo-enghiong, sebetulnya
apakah kehendak anak itu? Apakah betul kau mengetahui siapa pembunuh suamiku?”
Lo Sian mengangguk. “Tidak salah lagi, Niocu. Yang membunuh Lie Kong Sian Taihiap adalah Ban Sai
Cinjin.”
Kemudian Pengemis Sakti ini lalu menuturkan pengalamannya, ketika dia dan Lie Siong tertangkap oleh
Ban Sai Cinjin dan betapa kakek mewah itu mengaku sudah membunuh Lie Kong Sian.
“Jadi kau sendiri tidak ingat lagi bagaimana suamiku dibunuhnya dan di mana pula dia dikubur?” Ang I
Niocu menahan gelora hatinya yang kembali diserang oleh gelombang kedukaan dan kemarahan.
Lo Sian menggeleng kepalanya dengan sedih. “Itulah, Niocu, sampai sekarang pun aku belum
mendapatkan ingatanku kembali. Aku sengaja datang ke sini untuk menyegarkan ingatanku dan siapa tahu
kalau-kalau aku akan teringat kembali. Akan tetapi, kalau kau datang hendak menuntut balas...”
“Tentu saja aku hendak menuntut balas! Di mana adanya bangsat besar Ban Sai Cinjin?” Ang I Niocu
memotong dengan tak sabar lagi.
“Nanti dulu, Niocu, kau harus berlaku hati-hati di tempat ini, karena Ban Sai Cinjin bukan seorang diri saja.
Dia sendiri mempunyai kepandaian yang luar biasa dan biar pun aku percaya penuh bahwa kau tentu akan
sanggup mengalahkannya, akan tetapi di dalam rumah atau kuilnya berkumpul orang-orang yang pandai.
Di sana ada Wi Kong Siansu yang menjadi suheng-nya dan yang memiliki kepandaian lebih tinggi dari
pada Ban Sai Cinjin sendiri. Ada pula Hok Ti Hwesio yang walau pun hanya menjadi muridnya, akan tetapi
hwesio ini memiliki hoatsut (ilmu sihir) yang mengerikan. Bahkan di situ sekarang telah berkumpul pula
Hailun Thai-lek Sam-kui atas undangan Wi Kong Siansu, dan masih ada beberapa orang tokoh kang-ouw
lagi yang tidak kukenal namanya. Oleh karena itu, kalau toh Niocu hendak menyerbu ke sana, harap suka
berlaku hati-hati.”
“Lekas katakan, di mana letak rumahnya dan di mana pula kuilnya? Aku hendak mencari Ban Sai Cinjin!”
bentak Ang I Niocu dengan muka merah karena ia sudah menjadi marah sekali dan sekian nama-nama
besar tadi sama sekali tidak masuk ke dalam telinganya.
Lo Sian menjadi heran sekali, dan melihat kemarahan orang dia tidak berani membantah lagi. Dia telah
cukup banyak mendengar tentang watak Ang I Niocu yang luar biasa dan keras, dan kalau dia sampai
membuat Ang I Niocu jengkel, salah-salah dia bisa dipukul roboh, maka dia lalu cepat-cepat memberi
petunjuk di mana adanya rumah gedung Ban Sai Cinjin dan di mana pula letak kuil di dalam hutan dekat
dusun Tong-sin-bun itu.
Setelah mendapat keterangan yang jelas dari Lo Sian, Ang I Niocu tanpa mengucapkan terima kasih
dunia-kangouw.blogspot.com
segera menggerakkan tubuhnya dan lenyap dari depan Lo Sian. Pengemis Sakti ini mengerutkan
keningnya.
Ia percaya penuh akan kelihaian Ang I Niocu yang sudah disaksikan pula kesempurnaan ginkang-nya
sehingga dapat melenyapkan diri demikian cepatnya, akan tetapi tetap saja dia merasa sangsi apakah
pendekar wanita itu mampu mengalahkan Ban Sai Cinjin dan kawan-kawannya yang benar-benar
merupakan lawan yang tak mudah untuk dikalahkan. Sedangkan Lie Kong Sian, suami pendekar wanita itu
yang mempunyai kepandaian lebih tinggi dari pada Ang I Niocu, juga roboh oleh Ban Sai Cinjin, apa lagi
Ang I Niocu! Maka dengan hati gelisah dia lalu mengejar ke dalam dusun itu.
Ternyata oleh Ang I Niocu bahwa di dalam gedung yang mewah itu tidak terdapat Ban Sai Cinjin atau pun
tokoh-tokoh lainnya, kecuali hanya beberapa belas orang anak buah dan murid-murid baru, juga beberapa
orang wanita muda yang menjadi selirnya.
Di dalam kemarahan dan kebenciannya, Ang I Niocu membunuh semua orang di dalam rumah ini dan
kemudian membakar gedung mewah itu! Kini kebakaran lebih hebat dari pada perbuatan Lie Siong satu
tahun yang lalu, karena sekarang yang terbakar adalah seluruh gedung sehingga tempat yang tadinya
mewah itu kini menjadi tumpukan puing! Hal ini dapat terjadi karena Ang I Niocu membakar gedung itu lalu
menjaganya di depan, melarang orang-orang yang hendak memadamkannya.
Kemudian pendekar wanita yang marah ini lalu menuju ke kuil di dalam hutan! Hari telah menjadi gelap dan
pada waktu dia tiba di dekat kuil, di dalam rumah kelenteng itu telah dipasang api yang terang.
Ada pun Lo Sian dengan hati merasa ngeri melihat sepak terjang pendekar wanita ini dari jauh, melihat
betapa rumah gedung itu dimakan api dan tak seorang pun penghuninya dapat berlari keluar! Diam-diam
dia menarik napas panjang menyesali perbuatan Ban Sai Cinjin yang mengakibatkan kekejaman yang
demikian luar biasa dari pendekar wanita yang murka itu.
Kemudian, setelah melihat bayangan merah itu berlari cepat sekali menuju ke hutan, dia pun lalu
menggunakan kepandaiannya berlari cepat menyusul. Lo Sian maklum bahwa menghadapi Ang I Niocu,
dia sama sekati tidak berdaya. Hendak menolong, tentu takkan diterima, pula kepandaiannya sendiri
dibandingkan dengan Ang I Niocu, masih kalah jauh sekali. Maka ia hanya menonton saja dari jauh, siap
untuk menolongnya apa bila perlu dan tenaganya mengijinkan.
Sebagaimana telah dikuatirkan oleh Lo Sian, ternyata benar saja kedatangan Ang I Niocu ini sudah diduga
lebih dulu oleh Ban Sai Cinjin, dan ketika pendekar wanita itu sampai di depan kuil yang terang sekali
karena di sana dipasang banyak penerangan, dari dalam muncullah Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu,
Hailun Thai-lek Sam-kui, Coa-ong Lojin ketua dari Coa-tung Kai-pang, kedua saudara Can jago-jago dari
Shan-tung yakni Can Po Gan dan Can Po Tin, dan masih ada tiga orang hwesio gundul pula yang bukan
lain adalah tiga orang tokoh dari Bu-tong-san!
Melihat asap hitam yang mengepul dari huncwe Ban Sai Cinjin, Lo Sian segera maklum bahwa kakek
mewah itu telah bersiap sedia untuk bertempur dan ini membuktikan bahwa dia sudah menanti kedatangan
Ang I Niocu!
Akan tetapi Ang I Niocu tidak merasa takut seujung rambut pun, bahkan kemudian dia menudingkan
pedang yang bersinar-sinar ke arah dada Ban Sai Cinjin.
“Apakah engkau yang bernama Ban Sai Cinjin, orang yang telah membunuh suamiku Lie Kong Sian?”
Mendengar pertanyaan yang sifatnya langsung ini, Ban Sai Cinjin tersenyum mengejek untuk
menghilangkan kegelisahannya melihat wanita yang sangat hebat ini. “Ang I Niocu, suamimu tewas ketika
mengadakan pibu dengan kami, mengapa kau harus penasaran? Sebaliknya kaulah yang sudah
melakukan perbuatan keterlaluan sekali, yaitu membakar gedungku dan membunuh keluargaku. Patutkah
itu dilakukan oleh seorang gagah?”
“Bangsat terkutuk! Mana suamiku bisa kalah olehmu kalau benar-benar bertempur dalam pibu yang adil?
Kau tentu sudah melakukan kecurangan seperti yang biasa kau lakukan. Kau mengira aku belum
mendengar namamu yang buruk dan kotor? Majulah kau, hendak kulihat bagaimana kau sampai mampu
mengalahkan suamiku!” Sambil berkata demikian dengan mata menyala-nyala Ang I Niocu kemudian
melompat mundur dan melambaikan pedangnya pada Ban Sai Cinjin dengan sikap menantang sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
Hati Ban Sai Cinjin menjadi gentar juga melihat pedang Liong-cu-kiam, yakni pedang ke dua dari sepasang
pedang Liong-cu Siang-kiam yang dahulu ditemukan oleh Cin Hai dan Ang I Niocu. Pedang itu mencorong
dan mengeluarkan sinar putih menyilaukan. Cahaya lampu yang banyak itu membuat pedang itu semakin
berkilauan lagi. Oleh karena itu, dia merasa ragu-ragu untuk melayani tantangan Ang I Niocu. (baca cerita
Pendekar Bodoh)
Mendadak terdengar suara ketawa, ternyata yang ketawa itu adalah Hok Ti Hwesio yang baru saja keluar
dari kuil diikuti oleh beberapa orang hwesio muda yang menjadi kawan-kawannya. Memang akhir-akhir ini
di dalam kuil itu telah berkumpul beberapa belas orang hwesio muda yang diaku menjadi murid Hok Ti
Hwesio, akan tetapi yang sesungguhnya merupakan sekumpulan penjahat cabul yang berkedok kepala
gundul dan jubah pendeta!
“Lihat, orang macam itu hendak melawan Suhu!” Hok Ti Hwesio berkata kepada kawan-kawannya atau
boleh juga disebut murid-muridnya yang juga pada tertawa menyeringai.
Melihat rombongan hwesio muda ini, teringatlah Ang I Niocu akan cerita Lo Sian tentang seorang hwesio
yang menjadi murid Ban Sai Cinjin, maka dengan suara dingin sekali dia bertanya sambil memandang ke
arah mereka,
“Aku pernah mendengar nama Hok Ti Hwesio, entah siapakah di antara kalian bernama begitu?”
Hok Ti Hwesio memperkeras suara tawanya, lalu berkata, “Ang I Niocu, kau disohorkan orang sebagai
seorang pendekar wanita baju merah yang cantik bagai bidadari. Sekarang kau datang menanyakan Hok
Ti Hwesio, apakah kau jatuh hati kepadaku? Hemm, akulah yang tidak mau, Niocu, karena biar pun bajumu
masih merah, akan tetapi mukamu sudah amat tua, terlalu tua...”
Belum sempat Hok Ti Hwesio menutup mulutnya, tampaklah berkelebat bayangan merah yang didahului
oleh sinar putih menyambar ke arah Hok Ti Hwesio.
“Awas...!” teriak Wi Kong Siansu dan Ban Sai Cinjin berbareng.
Dengan kaget sekali Hok Ti Hwesio masih sempat menjatuhkan diri ke belakang hingga terhindar dari
sambaran pedang Liong-cu-kiam di tangan Ang I Niocu. Dengan gerak tipu Trenggiling Menggelinding dari
Puncak, Hok Ti Hwesio langsung bergulingan menjauhkan diri. Akan tetapi tanpa dapat mengeluarkan
kata-kata saking marahnya, Ang I Niocu terus mengejarnya!
Dua orang hwesio murid Hok Ti Hwesio mencoba menghadang, akan tetapi begitu Liong-cu-kiam
menyambar, terbabat putuslah leher kedua orang hwesio sial ini! Hwesio-hwesio muda yang lain menjadi
ngeri dan mundur, ada pun Hok Ti Hwesio telah melompat berdiri.
Hwesio ini telah mempunyai kepandaian tinggi, maka dia tidak takut. Dia mencabut pisau terbangnya dan
begitu Ang I Niocu menyerang, dia cepat menyambut dengan pisaunya yang lihai. Akan tetapi terdengar
suara nyaring dan pisaunya telah terbabat putus!
Hok Ti Hwesio membaca mantera dan matanya terbelalak lebar memandang wajah Ang I Niocu, lalu
membentak sambil mendorong dengan kedua tangannya ke arah dada Ang I Niocu. Inilah ilmu hoat-sut
(ilmu sihir) yang dipergunakan untuk mendorong roboh lawan.
Ang I Niocu merasa ada tenaga yang mukjijat menyambarnya dari arah depan. Cepat dia menggerakkan
lengan kirinya, maka mengepullah uap putih menolak pengaruh jahat itu ketika dia mengerahkan Ilmu Silat
Pek-in Hoat-sut yang dia pelajari dari Bu Pun Su.
“Suhu... tolong...!” Akhirnya Hok Ti Hwesio berseru minta tolong karena dia benar-benar telah terdesak
hebat.
Memang semenjak tadi Ban Sai Cinjin sudah hendak menolongnya dan sekarang hwesio mewah ini lalu
mengayun huncwe menghantam kepala Ang I Niocu dari belakang! Ang I Niocu yang sudah menjadi marah
sekali lalu mengayun pedangnya ke belakang kepala tanpa menengok lagi sambil mengirim pukulan Pek-in
Hoat-sut dengan tangan kirinya ke arah Hok Ti Hwesio.
Sungguh gerakan yang sangat luar biasa sekali, karena sambil menangkis serangan dari belakang tanpa
menengok ia masih dapat mengirim pukulan maut ke depan. Kalau orang tidak mempunyai tubuh yang
dunia-kangouw.blogspot.com
lemas lincah serta tidak memiliki Ilmu Silat Sian-li Utauw yang mahir, tidak mungkin dapat melakukan
gerakan ini.
“Traaang…!”
Ujung huncwe itu, yakni pada bagian kepalanya yang mengeluarkan asap hitam, terbabat rompal oleh
pedang Liong-cu-kiam sehingga Ban Sai Cinjin lantas melompat ke belakang dengan kaget.
Ada pun Hok Ti Hwesio yang mengandalkan ilmu kebalnya yang lihai, hanya miringkan tubuhnya sambil
membalas menyerang dengan pukulan tangan kiri. Akan tetapi bukan main kagetnya ketika dia merasa
betapa dadanya yang sudah miring itu tetap terdorong oleh tenaga raksasa dari pukulan lawan ini. Ia tak
dapat mempertahankan kedua kakinya lagi dan terlemparlah dia ke belakang!
Akan tetapi, dengan heran dan makin marah Ang I Niocu melihat betapa hwesio muda itu sama sekali tidak
kelihatan sakit dan telah berdiri kembali. Namun Ang I Niocu tidak mau memberi kesempatan lagi
kepadanya dan cepat pedangnya digerakkan secara luar biasa sekali ke arah tubuh hwesio itu.
Hok Ti Hwesio masih berusaha mengelak dan melompat, akan tetapi sinar pedang itu terus mengurungnya
dari segenap penjuru sehingga tidak ada jalan keluar lagi baginya. Sesudah tiga kali dia berhasil mengelak,
pada kali ke empat Liong-cu-kiam menembus pahanya sehingga dia roboh terguling bermandikan darah
dan berkaok-kaok seperti babi disembelih! Akan tetapi sekejap kemudian, mulutnya tak dapat
mengeluarkan suara lagi karena pedang Liong-cu-kiam secepat kilat telah menembus jantungnya!
Bukan main marahnya Ban Sai Cinjin melihat muridnya yang tersayang sudah binasa di tangan Ang I
Niocu. Maka, sambil berseru bagaikan guntur, dia menyerang lagi dengan huncwe-nya yang ujungnya
telah gompal. Ada pun Wi Kong Siansu juga merasa sangat penasaran melihat sepak terjang Ang I Niocu
yang tidak mengenal ampun.
“Ang I Niocu, sepak terjangmu bukan seperti seorang gagah, tapi lebih pantas seperti iblis wanita!” seru Wi
Kong Siansu sambil melompat maju karena ia maklum bahwa sute-nya, Ban Sai Cinjin, agaknya bukan
lawan wanita gagah ini.
“Wi Kong, tua bangka tak tahu malu! Kau juga sudah mengotorkan tanganmu dan turut membantu sute-mu
membunuh suamiku. Tua bangka sesat, majulah kau untuk menerima hukuman dari Ang I Niocu!” seru Ang
I Niocu dengan marah sekali.
Muka Wi Kong Siansu menjadi merah dan dia cepat mencabut pedangnya Hek-kwi-kiam (Pedang Setan
Hitam) maka sebentar saja Ang I Niocu telah dikeroyok dua oleh Ban Sai Cinjin dan Wi Kong Siansu.
Tingkat kepandaian Wi Kong Siansu memang lebih tinggi dari pada Ban Sai Cinjin dan hal ini diketahui
dengan cepat oleh Ang I Niocu. Gerakan pedang pada tangan Wi Kong Siansu selain sangat cepat dan
berbahaya, juga tenaga lweekang dari tosu ini pun jauh lebih kuat dari pada Ban Sai Cinjin.
Akan tetapi, kalau saja Ang I Niocu hanya menghadapi Wi Kong Siansu seorang, dia tak akan kalah dan
agaknya sulit bagi tosu itu untuk dapat mengimbangi permainan pedang yang luar biasa hebatnya dari
pendekar wanita baju merah itu. Namun, dengan adanya Ban Sai Cinjin yang memainkan huncwe-nya
secara hebat pula, Ang I Niocu menghadapi lawan yang amat tangguh.
Betapa pun juga, Ang I Niocu pun tidak memperlihatkan perasaan jeri, bahkan karena dia sedang marah
dan sakit hati sekali, maka gerakan pedangnya adalah gerakan dari orang yang nekat dan hendak
mengadu jiwa, maka masih kelihatan betapa Wi Kong Siansu dan Ban Sai Cinjin yang masih menyayangi
jiwa sendiri itu selalu terdesak mundur!
Tentu saja hal ini mengagetkan orang-orang gagah yang berada di sana. Orang yang masih mampu
mendesak mundur Wi Kong Siansu beserta Ban Sai Cinjin, sukar dicari keduanya di dunia ini!
Diam-diam Hailun Thai-lek Sam-kui menjadi amat gembira. Tangan mereka telah merasa gatal-gatal
karena makin tangguh lawan, makin besar keinginan mereka untuk mencoba kepandaiannya.
Akhirnya, tiga orang kakek ini tak dapat menahan keinginannya lagi dan sambil berseru keras mereka lalu
menyerbu ke dalam kalangan pertempuran, sehingga kini Ang I Niocu dikeroyok lima!
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat hal ini, Lo Sian menjadi bingung sekali. Kalau ia maju membantu Ang I Niocu, hal itu takkan ada
artinya sama sekali. Ia maklum bahwa kepandaiannya masih kalah jauh dan bantuannya tidak akan
menolong Ang I Niocu, bahkan jangan-jangan malah akan menghancurkan daya tahan dari pendekar
wanita baju merah itu. Akhirnya ia mendapat akal dan larilah Pengemis Sakti ini ke belakang kuil itu.
Karena semua orang telah berlari ke depan, maka keadaan di belakang kuil sunyi sekali. Dengan enaknya
Lo Sian lalu menurunkan lampu dan menggunakah minyak serta api untuk membakar kuil. Ia membakar
bagian yang terisi banyak kertas maka sebentar saja kuil itu menjadi lautan api yang mengamuk dari
bagian belakang!
Ketika itu Ang I Niocu sudah mulai terdesak hebat, sungguh pun pedang Liong-cu-kiam sudah membabat
putus rantai besar milik Lak Mau Couwsu dan sudah melukai pundak Bouw Ki sehingga orang ke tiga dan
ke dua dari Hailun Thai-lek Sam-kui tidak dapat lagi mengeroyok. Sebagai gantinya, kedua saudara Can
kini telah maju mengeroyok.
Ang I Niocu mengertak gigi kemudian memutar pedangnya lebih hebat lagi. Karena dia tidak mudah
merobahkan para pengeroyoknya, kini dia mulai mengincar hwesio-hwesio yang menjadi murid Hok Ti
Hwesio dan yang masih merubung mayat Hok Ti Hwesio dengan muka pucat. Begitu ia mendapat
kesempatan, Ang I Niocu melompat keluar dari kepungan lima orang pengeroyoknya dan menerjang
kawanan hwesio itu yang menjadi geger. Kembali tiga orang hwesio telah roboh mandi darah dalam
keadaan mati!
“Ang I Niocu manusia kejam!” Wi Kong Siansu membentak marah.
Akan tetapi pada saat itu Ang I Niocu telah mengejar dua orang hwesio lain yang lantas dibabatnya
sehingga tubuh kedua orang ini putus menjadi dua! Diam-diam kelima orang pengeroyok ini menjadi ngeri
juga menyaksikan keganasan Ang I Niocu yang betul-betul seperti telah berubah menjadi kejam itu.
Dengan sepenuh tenaga, mereka mengerahkan kepandaian mereka untuk merobohkan Ang I Niocu.
Para pengeroyok Ang I Niocu adalah tokoh-tokoh dunia persilatan yan menduduki tingkat atas. Wi Kong
Siansu mendapat julukan Toat-beng Lo-mo (Iblis Tua Pencabut Nyawa), seorang tokoh dari Hek-kwi-san
yang di samping memegang pedang Hek-kwi-kiam, juga mainkan ilmu pedang Hek-kwi Kiam-hoat. Ilmu
pedangnya sudah mencapai tingkat yang tidak kalah oleh Ang I Niocu sendiri.
Juga Ban Sai Cinjin tadinya sudah amat lihai, dan akhir-akhir ini dia memperdalam ilmu silatnya lagi
sehingga dia memperoleh kemajuan besar. Ilmu tongkatnya yang dimainkan dengan sebatang huncwe itu
benar-benar merupakan tangan maut yang siap menjangkau nyawa lawan.
Pengeroyok ke tiga adalah Thian-he Te-it Siansu, orang pertama dari Tiga Iblis Geledek dari Hailun. Baru
julukannya saja sudah Thian-he Te-it Siansu (Manusia Dewa Nomor Satu di Kolong Langit), maka sudah
dapat dibayangkan betapa lihainya payung yang dia mainkan!
Pengeroyok ke empat dan ke lima adalah Can Po Gan dan Can Po Tin, kakak beradik jago dari Shan-tung
yang memiliki kepandaian tinggi pula. Maka tentu saja setelah dapat mempertahankan diri sampai seratus
jurus lebih, akhirnya Ang I Niocu menjadi repot dan terdesak hebat sekali.
Beberapa kali dia telah menderita luka-luka hebat, akan tetapi berkat latihan-latihan dan pengalamanpengalamannya,
maka pendekar wanita ini masih mampu mempertahankan diri dan pada saat ia
menerima sambaran senjata lawan yang mengenai dekat lehernya, ia telah dapat menancapkan
pedangnya di lambung Can Po Tin hingga orang ini menjerit keras lalu roboh tak bernyawa pula!
Ang I Niocu terhuyung-huyung akan tetapi ia masih dapat melawan dengan nekat. Ketika Can Po Gan
yang menjadi marah menerjangnya, pendekar wanita ini kembali menerima pukulan pada pundaknya, akan
tetapi sekali tangan kirinya melancarkan pukulan Pek-in Hoat-sut ke arah dada Can Po Gan, orang ini
langsung memekik keras dan terlempar ke belakang dengan dada pecah!
Pada saat itu juga nampak cahaya api dan kagetlah para pengeroyok Ang I Niocu ketika melihat betapa
kuil itu kini telah menjadi lautan api! Ban Sai Cinjin adalah orang pertama yang merasa paling kaget dan
marah. Ia sudah mendengar betapa rumah gedungnya di Tong-sin-bun telah menjadi abu, dan sekarang
kembali kuilnya yang indah mentereng ini hendak dimakan api!
Maka dia lalu melompat meniggalkan Ang I Niocu untuk mengusahakan pemadaman api yang membakar
dunia-kangouw.blogspot.com
kuil. Akan tetapi sia-sia belaka karena api telah menjalar dan nyalanya telah terlampau besar untuk dapat
dipadamkan lagi.
Sementara itu, Ang I Niocu yang merasa betapa kepungannya kini agak longgar, lalu melompat ke
belakang. Dia sudah terlalu letih dan merasa bahwa dia tidak kuat untuk melawan lagi. Dia melarikan diri
ke belakang, dikejar oleh Wi Kong Siansu dan Thian-he Te-it Siansu, dua orang yang memiliki kepandaian
paling tinggi. Kedua orang tosu ini hendak menangkap Ang I Niocu yang dianggapnya terlalu ganas dan
kejam itu.
Sungguh pun Ang I Niocu memiliki ginkang yang luar biasa dan kalau sekiranya dia tidak terluka, kedua
orang tokoh besar ini pun belum tentu bisa mengejarnya. Akan tetapi pada saat itu pendekar wanita ini
sudah terluka hebat dan tubuhnya telah mandi darah yang mengucur dari luka-lukanya.
Ia mencoba untuk menguatkan tubuhnya, berdiri tegak menunggu kedatangan dua orang pengejarnya
untuk dilawan mati-matian. Akan tetapi tiba-tiba sepasang matanya menjadi gelap, kepalanya pening dan
robohlah dia tidak sadarkan diri lagi! Dari belakang pohon melompat keluar Lo Sian yang cepat
memondong tubuh Ang I Niocu, lalu dibawa lari ke dalam hutan.
Melihat hal ini, Wi Kong Siansu dan Thian-he Te-it Siansu menjadi marah sekali dan mengejar makin
cepat. Sin-kai Lo Sian menjadi sibuk sekali karena bagaimana ia dapat melepaskan diri dari kejaran dua
orang yang memiliki kepandaian berlari cepat jauh lebih tinggi dari pada kepandaiannya?
Dalam gugupnya, Lo Sian lalu lari sejadi-jadinya sehingga dia menubruk rumpun berduri dan terus saja
jatuh bangun serta bergulingan sambil memondong tubuh Ang I Niocu! Betapa pun juga, tetap saja dia
mendengar suara dua orang pengejarnya yang lihai.
Ketika Wi Kong Siansu dan Thian-he Te-it Siansu sudah hampir dapat menyusul Lo Sian, tiba-tiba dari
sebuah tikungan jalan di dalam hutan itu muncul seorang kakek kate yang memegangi sebuah guci arak
dan sebentar-sebentar menenggak isi ciu-ouw itu sambil melenggang dan kemudian bernyanyi-nyanyi
riang! Kakek kate ini berjalan tepat di tengah lorong menghadang kedua orang tosu yang mengejar Lo Sian
dan ketika mereka sudah berhadapan, kakek kate itu dengan suara masih dinyanyikan lalu menegur,
“Dua orang tua bangka mengejar-ngejar orang dengan senjata di tangan dan hawa maut terbayang di
mata, sungguh mengerikan!”
Wi Kong Siansu dan Thian-he Te-it Siansu cepat memandang dan bukan main kaget hati mereka ketika
melihat bahwa yang menghadang di depan mereka itu adalah Im-yang Giok-cu, tokoh besar di
Pegunungan Kun-lun-san yang jarang sekali memperlihatkan diri di dunia ramai!
Sebagaimana para pembaca tentu masih ingat, Im-yang Giok-cu Si Dewa Arak ini dahulu bersama Sin
Kong Tianglo yang berjuluk Yok-ong (Si Raja Obat) pernah menjadi guru dari Goat Lan. Pada saat itu,
dalam perantauannya Im-yang Giok-cu mendengar bahwa kitab obat Thian-te Ban-yo Pit-kip peninggalan
sahabatnya, Sin Kong Tianglo yang dulu oleh dia sendiri diberikan kepada Goat Lan, telah dicuri oleh Ban
Sai Cinjin, maka malam hari ini ia memang sengaja hendak mencari Ban Sai Cinjin untuk urusan itu.
Kebetulan sekali di dalam hutan ini melihat Wi Kong Siansu dan Thian-te Te-it Siansu sedang mengejarngejar
seorang pengemis yang membawa lari tubuh seorang nenek tua. Ia tidak mengenal Lo Sian, juga
tidak tahu bahwa nenek tua yang dibawa lari oleh Lo Sian itu adalah Ang I Niocu, akan tetapi ia cukup tahu
akan Wi Kong Siansu dan Thian-he Te-it Siansu yang kabarnya memusuhi muridnya, Goat Lan! Oleh
karena inilah maka Im-yang Giok-cu sengaja menghadang mereka untuk menolong orang yang dikejar itu.
Wi Kong Siansu cepat mengangkat dua tangan memberi hormat lalu berkata, “Apa bila tidak salah, kami
sedang berhadapan dengan sahabat dari Kun-lun-san Im-yang Giok-cu. Tidak tahu malam-malam begini
hendak pergi ke manakah, Toyu (sebutan untuk kawan seagama To)?”
Karena Im-yang Giok-cu tidak mengenal Lo Sian dan mengerti bahwa kini orang yang dikejar itu sudah lari
jauh dan di dalam gelap ini tidak mungkin dapat disusul lagi, ia pun tidak mau mencampuri urusan orang,
hanya berkata,
“Wi Kong Siansu, aku hendak mencari sute-mu yang kabarnya sudah mencuri kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip
dari mendiang Sin Kong Tianglo sahabat baikku. Sute-mu harus mengembalikan kitab itu dengan baik-baik
kepadaku untuk kukembalikan kepada muridku Kwee Goat Lan. Harap sute-mu suka memandang mukaku
dunia-kangouw.blogspot.com
dan jangan main-main dengan seorang anak-anak seperti muridku itu.” Setelah berkata demikian, Si Kate
ini kemudian menenggak guci araknya.
Thian-he Te-it Siansu yang memang suka sekali berkelahi dan sekarang sedang marah sekali karena dua
orang sute-nya tadi sudah dikalahkan oleh Ang I Niocu, dengan sikap menantang, kakek yang sama
katenya dengan Im-yang Giok-cu ini lalu melompat maju sambil menggerak-gerakkan payungnya dan
berkata,
“Im-yang Giok-cu, kau minggirlah dulu agar aku dapat menangkap setan wanita tadi! Ada urusan boleh
diurus nanti.”
Akan tetapi Im-yang Giok-cu juga menggerak-gerakkan guci araknya dan berkata, “Tidak bisa, tidak bisa!
Urusanku lebih penting lagi, urusanmu mengejar-ngejar dan mengeroyok orang yang sudah berlari,
sungguh tidak patut dan dapat dihabiskan saja!”
Thian-he Te-it Siansu marah sekali dan cepat payungnya bergerak menyambar ke dada Im-yang Giok-cu.
Akan tetapi Si Dewa Arak ini menggerakkan guci araknya menangkis.
“Krakk!”
Terdengar suara dan patahlah ujung payung orang pertama dari Hailun Thai-lek Sam-kui, sedangkan
beberapa tetes arak melompat keluar dari guci itu dan tepat sekali dua tetes di antaranya menyambar lurus
ke arah kedua mata Thian-he Te-it Siansu! Orang cebol ini terkejut sekali dan cepat ia melompat mundur.
Wi Kong Siansu yang cerdik segera melerai. Dia lebih maklum bahwa tokoh besar dari Pegunungan Kunlun
ini adalah suhu dari Kwee Goat Lan dan tentu saja boleh disebut berpihak kepada Pendekar Bodoh
besertas kawan-kawannya, dan dia maklum pula akan kelihaian kakek ini, maka dia lalu berkata,
“Im-yang Giok-cu, kau tidak tahu bahwa kuil sute-ku telah terbakar, maka marilah kita bersama ke sana
dan tentang kitab obat itu boleh kau tanyakan kepada sute-ku. Di antara kita sendiri, mengapa saling
serang?”
Im-yang Giok-cu tertawa bergelak, lalu menjawab, “Bagus, inilah baru ucapan seorang cerdik! Urusan
harus diselesaikan dahulu, untuk pibu...” dia melirik Thian-he Te-it Siansu, “puncak Thian-san masih cukup
luas, ada pun musim chun memang selalu menimbulkan kegembiraan pada semua orang untuk mainmain!”
Mendengar sindiran ini, Wi Kong Siansu segera maklum bahwa kakek kate yang lihai ini sudah mendengar
pula tentang tantangan pibu antara dia melawan Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya, maka diam-diam
dia mengeluh.
Akan tetapi ketika mereka bertiga mendapatkan Ban Sai Cinjin di depan kuil, ternyata bahwa kuil itu semua
telah dimakan api. Tak sepotong pun barang dapat diselamatkan, termasuk kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip
juga ikut musnah terbakar.
Untuk membuktikan bahwa kitab itu betul-betul terbakar, Ban Sai Cinjin lalu minta kepada Im-yang Giok-cu
untuk menanti sampai api betul-betul padam, kemudian ia membongkar tempat di mana kitab itu tadinya
disimpan yaitu dalam sebuah peti. Peti itu telah menjadi abu dan pada waktu dibongkar, benar saja di
dalamnya terdapat abu sebuah kitab yang samar-samar masih dapat dilihat tulisannya!
Im-yang Giok-cu menarik napas panjang dan berkata, “Kitab ini telah menyusul pemilik dan penulisnya.
Sudahlah, aku tak dapat berkata apa-apa lagi!” Ia lalu melenggang pergi sambil menenggak araknya, tak
seorang pun berani mencegah atau mengganggunya.
Ada pun Lo Sian yang dapat melarikan diri sambil memondong tubuh Ang I Niocu yang berlumur darah,
tanpa disengaja telah lari ke atas bukit di tengah hutan di mana dahulu dia mengubur jenazah Lie Kong
Sian! Bagaikan ada dewa yang menuntunnya, di dalam kebingungannya melarikan diri dari kedua orang
pengejarnya, Lo Sian naik terus dan di antara pohon-pohon pek itu dia melihat ada serumpun bunga
mawar hutan yang sedang berkembang. Maka saking lelahnya, ia lalu meletakkan tubuh Ang I Niocu di
atas rumput.
Kemudian, pemandangan di sekitarnya serta keharuan hatinya melihat keadaan Ang I Niocu yang sudah
dunia-kangouw.blogspot.com
tak mungkin dapat ditolong lagi itu, membuka matanya dan teringatlah ia akan pengalamannya dahulu.
Melihat rumpun bunga mawar hutan itu, Lo Sian tiba-tiba lalu menubruk ke arah rumpun itu dan dibukabukanya
rumpun itu seperti orang mencari sesuatu, dan nampaklah olehnya gundukan tanah di bawah
rumpun itu.
Lo Sian mengeluh dan menangis karena sekarang dia teringat bahwa inilah kuburan Lie Kong Sian!
Teringat pula dia ketika dahulu dia melarikan diri membawa jenazah Lie Kong Sian seperti yang
dilakukannya dengan membawa tubuh Ang I Niocu tadi, dan betapa ia mengubur jenazah Lie Kong Sian di
tempat itu.
Dan pada saat Lo Sian menangisi nasib Ang I Niocu dan suaminya itulah, Lili mendengar suaranya dan
datang ke tempat itu. Dan sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Lo Sian dan Lili akhirnya
mengubur jenazah Ang I Niocu, pendekar wanita yang gagah itu, di sebelah makam suaminya yang telah
meninggal dunia lebih dulu beberapa tahun yang lalu…..
********************
Beberapa kali Ban Sai Cinjin membanting kakinya dan wajahnya menjadi sebentar pucat sebentar merah.
Dia merasa marah dan sakit hati betul. Telah berkali-kali dia menerima penghinaan dan kekalahan hebat
dari pihak Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya, dan kali ini ia menerima hinaan yang paling hebat.
Gedungnya habis, kuilnya musnah, semua barang-barangnya menjadi abu, dan muridnya yang terkasih,
Hok Ti Hwesio tewas bersama beberapa orang hwesio lainnya dan juga kedua saudara Can dari Shantung
itu tewas dalam membelanya. Bagaimana dia tidak menjadi sakit hati dan marah?
Juga Wi Kong Siansu menjadi marah dan penasaran sekali. Dia sudah mendengar dari sute-nya bahwa
muridnya, yaitu Song Kam Seng, juga sudah tewas di dalam tangan Pendekar Bodoh! Tentu saja ia tidak
tahu bahwa Kam Seng terbunuh oleh Ban Sai Cinjin sendiri yang dengan pandainya telah rnemutar balik
duduknya perkara dan menyatakan bahwa Kam Seng terbunuh oleh Pendekar Bodoh ketika membantu
orang-orang Mongol di utara!
Kini melihat sepak terjang Ang I Niocu, Wi Kong Siansu menjadi semakin marah karena menurut
anggapannya, Ang I Niocu telah berlaku kejam dan ganas sekali.
“Orang yang membawa lari Ang I Niocu tentulah pengemis hina dina itu,” kata Wi Kong Siansu, “dan tentu
Lo Sian pula yang membakar kuil ini!”
“Sayang dahulu tidak kuhancurkan kepalanya!” kata Ban Sai Cinjin gemas. “Akan tetapi, sambil membawa
orang luka, dia pasti tidak dapat lari jauh dan tidak mungkin keluar dari hutan sambil membawa-bawa Ang I
Niocu. Mari kita mencari dia!”
Demikianlah, dengan hati penuh geram, Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu, diikuti pula oleh ketiga Hailun
Thai-lek Sam-kui yang juga merasa penasaran, pada pagi hari itu juga lalu melakukan pengejaran.
Maka dapat dibayangkan betapa kaget dan gelisahnya hati Lo Sian ketika tiba-tiba lima orang kakek yang
tangguh itu tahu-tahu telah berdiri di depannya di dekat makam Ang I Niocu dan Lie Kong Sian!
“Ha-ha-ha, pengemis jembel, apa kau kira akan dapat melarikan diri dari sini?” Ban Sai Cinjin tertawa
bergelak karena girang dapat menemukan orang yang dibencinya. Apa lagi ia melihat Lili berada di situ dan
melihat gadis musuh besarnya ini, timbullah harapannya untuk membalas penghinaan yang telah ia derita
dari Pendekar Bodoh. “Di mana Ang I Niocu siluman wanita?”
“Ban Sai Cinjin, harap kau suka mengingat akan peri kemanusiaan. Kau telah membunuh Lie Kong Sian,
dan sekarang kau telah menewaskan Ang I Niocu pula. Apakah hatimu masih belum puas? Mereka sudah
tewas dan sudah kukubur baik-baik, harap kau jangan mencari urusan lagi,” kata Lo Sian yang merasa
kuatir kalau-kalau lima orang kakek yang tangguh ini akan mengganggu Lili.
Akan tetapi Ban Sai Cinjin berseru marah, “Pengemis bangsat! Kau kira aku tidak tahu bahwa kau yang
membakar kuilku? Kau enak saja bicara untuk membujukku agar jangan mengganggumu dan mengganggu
setan perempuan ini. Kau kira aku akan melepaskan anak Pendekar Bodoh begitu saja tanpa membalas
penghinaan-penghinaannya?” Sambil berkata demikian Ban Sai Cinjin melangkah maju dan menggenggam
huncwe-nya lebih erat lagi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi Lili sama sekali tidak merasa jeri, bahkan kini kedua matanya yang bening itu mengeluarkan
cahaya berapi dan wajahnya yang cantik itu sudah menjadi merah sekali. Sungguh pun dia kini tidak
memegang senjata apa-apa karena kipas dan pedang Liong-coan-kiam telah rusak ketika ia bertemu
dengan nenek luar biasa yang menjadi gurunya itu, namun dia tidak merasa jeri sama sekali, bahkan lebih
tabah dari pada dahulu ketika menghadapi Ban Sai Cinjin dan Wi Kong Siansu.
“Ban Sai Cinjin manusia binatang! Kau bilang takkan melepaskan anak Pendekar Bodoh, akan tetapi
apakah kau kira aku Sie Hong Li akan membiarkan kau hidup lebih lama lagi setelah kita bertemu di sini?”
Setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat cepat dan dengan tangan kirinya ia menyerang ke arah
leher Ban Sai Cinjin. Begitu bertemu, gadis ini langsung menyerang dengan tipu dari Hang-liong Cap-it
Ciang-hoat yang lihainya luar biasa!
Saat melihat gadis itu menyerangnya dengan tangan kosong, Ban Sai Cinjin memandang rendah sekali
dan cepat dia mengulur tangan kiri untuk menangkap pergelangan tangan gadis itu, sedang tangan kanan
menggerakkan huncwe untuk mengetok kepala Lili! Akan tetapi dia belum lagi kenal kelihaian ilmu pukulan
Hang-liong Cap-it Ciang-hoat yang baru pertama kali ini dipergunakan oleh orang di dunia ramai!
Pada saat tangan kirinya menyentuh pergelangan tangan kiri Lili, Ban Sai Cinjin berteriak kaget dan cepatcepat
dia menarik kembali tangannya karena merasa betapa telapak tangannya seakan-akan menyentuh
api membara! Dan Lili hanya menundukkan sedikit kepalanya untuk menghindarkan serangan huncwe dari
lawannya, akan tetapi tangan kirinya tetap meluncur ke arah leher Ban Sai Cinjin!
Kakek mewah ini terkejut bukan main dan cepat dia menggulingkan tubuhnya ke atas tanah, akan tetapi
masih saja tangan kanan Lili yang menyambar lagi mengenai kepala huncwe-nya.
“Prakk!” kepala huncwe-nya itu hancur lebur dan api tembakaunya berhamburan!
Ban Sai Cinjin bergulingan menjauh kemudian melompat berdiri dengan muka pucat dan memandang ke
arah gadis itu dengan kedua mata terbelalak! Juga Wi Kong Siansu dan ketiga tokoh dari Hailun itu berdiri
bengong. Mereka belum pernah menyaksikan ilmu silat yang sedemikian hebatnya.
Akan tetapi kekagetan mereka hanya sebentar saja, oleh karena Wi Kong Siansu segera mencabut Hekkwi-
kiam dari punggungnya. Telunjuk kirinya menuding ke arah Lili dan jidatnya berkerut ketika dia berkata
dengan garang,
“Sie Hong Li, hari ini terpaksa pinto akan mengambil nyawamu untuk membalas dendam muridku, Song
Kam Seng!”
Lili mendengar ini menjadi makin marah. Ia melirik ke arah Ban Sai Cinjin dan maklum bahwa kakek
mewah itu telah memutar balikkan kenyataan, maka ia tersenyum sindir. Ia tahu bahwa tiada gunanya
untuk membantah dan ribut mulut membela diri, dan dengan suara lantang ia menjawab,
“Wi Kong Siansu, dahulu kau pernah membantu Ban Sai Cinjin merobohkan aku dengan curang, kemudian
kau berani pula menentang Ayahku. Hemm, pendeta yang bermata buta seperti kau ini mana bisa
membedakan mana salah mana benar, mana baik mana jahat? Majulah, kau kira aku takut kepadamu?”
Wi Kong Siansu lalu menerjang dengan pedangnya yang bercahaya kehitaman, mainkan Ilmu Pedang
Hek-kwi Kiam-hoat dengan sangat marah. Akan tetapi segera dia menjadi terkejut sekali karena benarbenar
gadis itu jauh sekali bedanya dengan dahulu.
Dahulu pun Lili sudah merupakan seorang gadis yang memiliki kepandaian tinggi sekali, seorang gadis
muda yang sudah menerima warisan ilmu-ilmu silat tinggi seperti San-sui San-hoat dari Swi Kiat Siansu,
juga telah mahir sekali mainkan Ilmu Pedang Liong-coan Kiam-sut, juga ilmu-ilmu pukulan yang lihai dari
Bu Pun Su seperti Kong-ciak Sin-na dan Pek-in Hoat-sut.
Kini gadis itu seakan-akan harimau yang tumbuh sayapnya sesudah memiliki ilmu silat yang gerakannya
amat luar biasa dan yang mendatangkan hawa pukulan hebat sekali ini. Bahkan Wi Kong Siansu tiap kali
tergetar tangannya bila mana hawa pukulan dari tangan nona itu menyambar ke arahnya!
Saat melihat Wi Kong Siansu agaknya tidak bisa mendesak Lili, Hailun Thai-lek Sam-kui segera berseru
dan maju mengeroyok. Luka Bouw Ki di pundaknya ketika ia mengeroyok Ang I Niocu telah diobati,
dunia-kangouw.blogspot.com
sedangkan Lak Mau Couwsu sudah membikin betul rantainya, maka kini tiga iblis ini dengan lengkap dapat
mengurung Lili.
Akan tetapi gadis ini benar-benar luar biasa sekali. Tubuhnya berkelebatan bagaikan kilat menyambarnyambar
dan setiap serangan senjata lawan bisa dielakkannya dengan gesit sekali atau ditangkisnya
dengan kedua lengannya yang mengandung tenaga luar biasa. Bahkan serangan gadis ini benar-benar
membuat empat orang pengeroyoknya terkejut dan harus berlaku hati-hati sekali. Ternyata bahwa sebelas
jurus dari Hang-liong Cap-it Ciang-hoat ini luar biasa sekali daya tahan dan daya serangnya.
Ada pun Ban Sai Cinjin setelah melihat Lili dikurung oleh suheng-nya dan Hailun Thai-lek Sam-kui, lalu
mendelik menghampiri Lo Sian dengan huncwe-nya yang sudah terpotong tidak berkepala lagi itu! Sin-kai
Lo Sian melihat nafsu membunuh di mata Ban Sai Cinjin, maka Pengemis Sakti ini lalu bersiap sedia untuk
membela diri mati-matian.
“Lo Sian, dahulu aku sudah berlaku salah karena tidak terus membunuhmu sehingga kau mendatangkan
banyak urusan. Sekarang harus kuhancurkan kepalamu!” Sambil berkata demikian, Ban Sai Cinjin lalu
menyerang dengan gagang huncwe-nya itu.
Biar pun huncwe-nya telah hilang kepalanya, akan tetapi gagang huncwe itu terbuat dari baja tulen yang
keras sehingga kini merupakan tongkat atau toya pendek yang masih cukup berbahaya.
Lo Sian yang selama ini tak pernah terpisah dari tongkatnya, cepat mengangkat tongkat itu untuk
menangkis. Terdengarlah suara keras dan terpaksa Lo Sian melompat mundur dengan telapak tangan
tergetar dan panas!
Ban Sai Cinjin tertawa bergelak. Kakek mewah ini timbul kesombongannya kalau sudah menang, maka
sambil menyeringai ia lalu mendesak Lo Sian yang memang masih kalah jauh tingkat kepandaiannya.
Dengan nekat dan mati-matian Lo Sian berusaha mempertahankan diri sambil membalas serangan Ban
Sai Cinjin, akan tetapi beberapa jurus kemudian terdengar suara keras dan tongkat di tangan Lo Sian
patah menjadi dua oleh gagang huncwe di tangan Ban Sai Cinjin. Ban Sai Cinjin tertawa bergelak lalu
menubruk maju.
Lo Sian mengelak ke kanan, akan tetapi sebuah tendangan dari Ban Sai Cinjin mengenai betisnya
sehingga membuat Lo Sian terjungkal. Ban Sai Cinjin melangkah maju dengan gagang huncwe terangkat
dan dengan sekuat tenaga ia menimpakan gagang huncwe itu ke arah kepala Lo Sian!
“Prakk!” Bunga api berpijar dan gagang huncwe itu untuk kedua kalinya patah dan tinggal sedikit saja.
Ban Sai Cinjin kaget sekali dan cepat melompat ke belakang. Ternyata bahwa pada saat yang amat
berbahaya bagi nyawa Lo Sian itu, sebatang pedang berbentuk ular dengan gerakan cepat sekali telah
menangkis gagang huncwe itu dan menyelamatkan nyawa Lo Sian.
“Lie Siong...!” Lo Sian berseru girang sekali ketika melihat pemuda yang baru datang ini.
“Lo-pek, minggirlah dan biarkan aku membunuh tikus busuk ini!” berkata Lie Siong sambil memutar
pedangnya dan menyerang Ban Sai Cinjin dengan hebatnya.
Seperti ketika ia menghadapi Lili tadi, kini Ban Sai Cinjin juga merasa heran dan terkejut sekali. Hanya
dengan sekali serang saja pemuda ini sudah dapat mematahkan gagang huncwe-nya! Alangkah jauh
bedanya dengan dulu ketika ia bertempur melawan pemuda ini.
Padahal dulu dia sendiri betum semaju ini ilmu kepandaiannya dan akhir-akhir ini ia telah melatih diri dan
memperoleh kemajuan pesat. Namun dibandingkan dengan kedua orang muda ini, dia telah tertinggal jauh!
Tentu saja Ban Sai Cinjin tidak tahu bahwa Lili telah mendapat gemblengan luar blasa dari seorang nenek
di dalam sumur yang mengajarnya Hang-liong Cap-it Ciang-hoat, dan bahwa Lie Siong juga telah bertemu
dengan seorang kakek luar biasa yang mengajarnya bermain gundu!
Karena gagang huncwe-nya kini sudah tak dapat digunakan lagi, Ban Sai Cinjin terpaksa menghadapi Lie
Siong dengan kedua tangannya yang juga tidak boleh dipandang ringan. Dia langsung melancarkan
pukulan-pukulan disertai ilmu hoat-sut (ilmu sihir) yang selain mengandung tenaga luar biasa juga disertai
dunia-kangouw.blogspot.com
bentakan-bentakan yang pengaruhnya dapat melumpuhkan semangat lawannya.
Akan tetapi Lie Siong hanya mengeluarkan suara menyindir. Tangan kirinya mainkan Ilmu Pukulan Pek-in
Hoat-sut yang mengeluarkan uap putih untuk menolak pengaruh ilmu hitam lawannya, sedangkan
pedangnya tetap mengurung Ban Sai Cinjin dengan rapat.
“Ban Sai Cinjin, engkau harus membayar nyawa ayahku!” bentaknya berulang-ulang dan pedangnya yang
berbentuk naga itu menyambar-nyambar dekat sekali dengan dada dan leher Ban Sai Cinjin.
“Suheng, bantulah aku merobohkan setan ini!” terpaksa Ban Sai Cinjin berseru kepada Wi Kong Siansu.
Tubuhnya sampai mandi keringat dingin karena ia merasa bahwa kalau dilanjutkan, sebentar lagi ia pasti
akan roboh binasa oleh pemuda yang luar biasa ini.
Pada waktu mendengar seruan ini, Wi Kong Siansu cepat menengok dan terkejutlah dia melihat betapa
sute-nya berada dalam keadaan amat berbahaya. Cepat ia melompat dan pedangnya Hek-kwi-kiam segera
meluncur dan melakukan serangan kilat ke arah tubuh Lie Kong. Pemuda ini maklum akan kelihaian Wi
Kong Siansu, karena itu dia menangkis sambil mengerahkan tenaga lweekang-nya yang baru diperkuat
dengan latihan yang dia terima dari gurunya yang aneh.
“Traaang…!” Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika dua pedang itu beradu.
Pedang Hek-kwi-kiam juga sebatang pedang pusaka yang ampuh, maka tidak sampai patah. Namun Wi
Kong Siansu diam-diam terkejut sekali karena baru sekali ini dalam beradu pedang dia merasa tangannya
tergetar hebat!
Kedatangan Wi Kong Siansu membuat Ban Sai Cinjin bernapas lega, meski pun mereka berdua juga tidak
berdaya mendesak Lie Siong. Tapi sebaliknya, Hailun Thaitek Sam-kui menjadi sibuk sekali karena setelah
ditinggalkan oleh Wi Kong Siansu, mereka sekarang terdesak hebat oleh Lili.
“Siong-ko (Kakak Siong), hayo kita bikin mampus lima ekor anjing ini. Ie-ie Im Giok telah terbunuh oleh
mereka ini!” seru Lili kepada Lie Siong.
Mendengar seruan ini, serangan Lie Siong bukannya lebih cepat, bahkan tiba-tiba daya serangnya banyak
berkurang. Pemuda ini menerima pukulan batin yang amat hebat saat mendengar warta tentang kematian
ibunya ini. Ia menjadi demikian marah, sedih, gemas, dan menyesal sekali sehingga tubuhnya terasa
lemas dan dia tidak dapat mengerahkan lweekang-nya dengan sempurna lagi.
Hal ini tentu saja menggirangkan hati Wi Kong Siansu dan Ban Sai Cinjin karena tadinya mereka berdua
sudah menjadi gelisah sekali. Hailun Thai-lek Sam-kui terdesak hebat sedangkan mereka juga agaknya tak
akan mampu mengalahkan pemuda ini. Kini melihat kesempatan ini, Ban Sai Cinjin lalu berkata,
“Jangan layani mereka lagi, belum tiba waktunya mengadu kepandaian! Kita telah berjanji musim chun di
puncak Thian-san!”
Ucapan ini hanya untuk menutup rasa malu saja, akan tetapi membuat Hailun Thai-lek Sam-kui ‘ada muka’
untuk mengundurkan diri. Bagaikan sedang berlomba, mereka semua cepat memutar tubuh lalu melarikan
diri dari tempat itu!
“Bangsat rendah, hendak lari kemana kau?” Lili yang menjadi gemas lalu mengejarnya. Juga Lie Siong
mengejar, akan tetapi pemuda ini tak dapat melampaui Lili karena kedua kakinya menggigil.
Tiba-tiba lima orang kakek itu membalikkan tubuh dan ketika tangan mereka bergerak, banyak sekali am-gi
(senjata gelap) menyambar ke arah Lili dan Lie Siong! Lili segera melompat ke atas dan ketika kaki
tangannya bergerak, dia telah dapat menangkap dua batang panah tangan beracun sedangkan kedua
kakinya telah berhasil menendang jauh empat butir peluru besi!
Yang hebat adalah Lie Siong. Pemuda ini baru saja digembleng oleh seorang kakek aneh yang ternyata
seorang ahli lweekeh dan juga seorang ahli senjata rahasia. Melihat datangnya senjata-senjata gelap itu,
biar pun tubuhnya sudah gemetar dan lemah karena luka di dalam batinnya yang terpukul oleh berita
kematian ibunya, dengan tenang Lie Siong lalu berjongkok dan pedangnya disabetkan ke atas hingga
semua senjata rahasia itu terpukul ke atas. Berbareng dengan itu, tangan kirinya sesudah mencengkeram
ke bawah lalu bergerak dan bagaikan kilat menyambar, batu-batu kerikil dari tangan kirinya itu meluncur ke
dunia-kangouw.blogspot.com
arah lima orang kakek itu!
Inilah serangan gelap yang luar biasa dari Lie Siong. Batu-batu kerikil itu dipegangnya seperti kalau ia
bermain gundu dengan gurunya dan kini batu-batu itu meluncur dengan luar biasa cepatnya ke arah tubuh
lima orang lawan itu, tepat ke arah jalan-jalan darah di tubuh mereka!
Lima orang kakek itu sambil berseru kaget lalu bergerak mengelak, akan tetapi Bouw Ki dan Lak Mao
Couwsu kurang cepat gerakannya sehingga biar pun batu-batu kerikil itu tidak tepat mengenai jalan darah
yang dapat mengirim nyawa mereka ke tangan maut, namun tetap saja kulit mereka pecah-pecah terkena
kerikil-kerikil itu! Dengan berlumur darah, kedua orang ini cepat menyeret tubuh mereka mengikuti jejak
tiga orang kawan lainnya yang sudah melarikan diri terlebih dulu!
Lili hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba saja ia melihat Lie Siong terhuyung-huyung ke depan dan roboh!
Gadis ini kaget sekali dan cepat menubruk tubuh Lie Siong, kemudian diangkatnya. Ia mengira bahwa
pemuda itu tentu menderita luka di dalam tubuh, maka ia menjadi amat berkuatir. Ketika ia mengangkat Lie
Siong hendak dibawa lari ke makam Ang I Niocu, Lo Sian yang mengejar sudah sampai di situ dan orang
tua ini dengan kaget lalu minta tubuh Lie Siong itu dan dipondongnya sendiri.
“Terlukakah dia, Lili?”
Gadis itu hanya memandang sedih. “Entahlah, Suhu, aku tidak melihat dia terpukul, juga tidak ada tanda
darah. Akan tetapi tahu-tahu dia hendak roboh.”
Mereka lalu mengangkat tubuh Lie Siong dan meletakkannya di atas rumput di depan makam kedua orang
tua pemuda itu. Lili tanpa diminta lalu pergi mencari air, dan setelah kembali dia lalu menyusuti muka Lie
Siong dengan sapu tangannya yang sudah basah, kemudian dia mengucurkan air di kepala pemuda itu.
Tak lama kemudian Lie Siong membuka kedua matanya dan cepat sekali dia melompat bangun. Kedua
matanya memandang beringas bagaikan seekor harimau lapar mencium darah.
“Mana mereka? Mana pembunuh-pembunuh ibuku? Lili, katakan, mana mereka? Hendak kucekik semua
batang lehernya!” Sambil membelalakkan sepasang matanya Lie Siong memandang ke sana ke mari
dengan mata jelalatan.
Lili melompat bangun dan tanpa ragu-ragu atau malu-malu lagi dia memegang tangan Lie Siong.
“Siong-ko, tenanglah. Di mana kegagahanmu? Atur napasmu dan tenangkan batinmu, baru kita bicara
lagi.”
Bagaikan seekor kambing jinak, Lie Siong menurut saja pada saat dipimpin oleh Lili dan disuruh duduk di
atas tanah. Sambil berpegangan tangan, sepasang orang muda ini lalu duduk meramkan mata dan
mengatur napas mengumpulkan tenaga.
Dengan setia Lili menyalurkan hawa dan tenaga dalam tubuhnya melalui telapak tangan Lie Siong untuk
membantu pemuda ini. Ia sekarang tahu bahwa pemuda ini tadi pingsan karena pukulan batin yang
berduka.
Pikiran Lie Siong kacau tidak karuan. Tadinya dia sudah dapat mengatur napasnya dan menentramkan
pikiran dan batinnya yang tergoncang, akan tetapi, pada waktu ia merasa betapa dari dua telapak tangan
Lili itu mengalir hawa hangat yang membantu peredaran darahnya, dia menjadi demikian terheran-heran,
girang, terharu, sedih, semua tercampur aduk menjadi satu sehingga kembali tubuhnya menjadi panas
dingin. Hawa Im dan Yang mengalir di tubuhnya saling bertentangan dan karena tidak seimbang, sebentar
tubuhnya menjadi panas dan sebentar dingin sekali!
Lili dapat merasakan ini, maka dia lalu menghentikan emposan semangat dan hawa, lalu melepaskan
tangannya dan berkata perlahan,
“Siong-ko, jangan kau kacaukan pikiran sendiri. Tenanglah dan ingat bahwa hidup atau mati bukan berada
di tangan manusia.”
Akhirnya Lie Siong dapat menenangkan batinnya, kemudian dia membuka matanya dan dengan
pandangan sayu dan muka pucat, dia bertanya,
dunia-kangouw.blogspot.com
“Di mana... dia? Mana ibuku?”
Lili menuding ke arah dua gunduk tanah di depan mereka, dan berkata perlahan, “Kami telah menguburnya
baik-baik, di samping kuburan ayahmu.”
Lie Siong menoleh cepat dan melihat dua gundukan tanah. Yang satu sudah lama, akan tetapi yang ke dua
masih baru sekali. Ia lalu menubruk dan menangis terisak-isak di atas kuburan ayah bundanya itu!
Lili tak dapat menahan keharuan hatinya dan ikut pula mengucurkan air mata, sedangkan Sin-kai Lo Sian
berulang-ulang menarik napas panjang. Dia memberi tanda kepada Lili agar supaya mendiamkan saja
pemuda itu, karena sewaktu-waktu air mata sangat baik sekali untuk penawar hati yang duka.
Setelah agak lama Lie Siong menangis sambil memeluk gundukan tanah itu, Lili berkata perlahan, “Tak
baik bagi orang-orang gagah menumpahkan air matanya.”
Lie Siong mendengar ucapan ini dan terbangun semangatnya. Dia menyusut air matanya hingga kering
dan kini matanya menjadi merah. Ia berlutut di depan gundukan-gundulcan tanah itu dan berkata dengan
suara menyeramkan,
“Ayah, Ibu, anakmu bersumpah bahwa sebelum aku berhasil membunuh Ban Sai Cinjin, aku tak akan mau
berhenti berusaha.”
Setelah berkata demikian, ia lalu bangun berdiri dan menoleh kepada Lo Sian, katanya, “Lo-pek,
bagaimanakah terjadinya hal ini?”
Lo Sian kemudian menceritakan sejelasnya tentang sepak terjang Ang I Niocu, juga dia menceritakan pula
tentang Lie Kong Sian yang tewas di tangan Ban Sai Cinjin karena dia sudah dapat mengingat itu semua.
Setelah mendengar penuturan kakek pengemis yang budiman ini, Lie Siong lalu menjatuhkan diri berlutut
di depan Lo Sian.
“Lopek, kau benar-benar telah melakukan pembelaan hebat sekali terhadap kedua orang tuaku. Aku Lie
Siong bersumpah bahwa selama hidup aku akan menganggapmu sebagai orang tuaku sendiri. Lo-pek,
terimalah hormatku dan rasa terima kasihku yang tulus.”
Lo Sian menjadi terharu. “Lie Siong, sudah sepatutnya kau menganggap aku sebagai pengganti orang
tuamu, oleh karena, dengan disaksikan oleh Hong Li, pada saat hendak menutup mata, ibumu berpesan
agar supaya aku suka menjadi walimu. Oleh karena itu, mulai sekarang aku menganggap kau sebagai
puteraku sendiri, Siong-ji.”
“Terima kasih, Lo-pek, terima kasih banyak,” kata Lie Siong dengan hati terharu sekali. “Dan sekarang
maafkanlah, aku akan cepat menyusul dan mencari Ban Sai Cinjin. Kalau tugasku ini telah berhasil,
barulah aku akan mencarimu dan selanjutnya kita hidup seperti ayah dan anak.” Setelah berkata demikian,
Lie Siong hendak pergi.
“Tunggu dulu, aku pun hendak membalas dendamku kepada Ban Sai Cinjin. Marilah kita gempur dia
bersama!” tiba-tiba Lili berkata sambil melangkah maju.
Lie Siong menengok ke arah dara itu. Tadinya ia tidak pernah mempedulikan kepada Lili oleh karena
sebenarnya dia merasa amat jengah dan malu. Tadi gadis ini telah bersikap begitu lembut dan baik
terhadapnya, sedangkan ia pernah melakukan hal-hal yang cukup dapat membuat gadis itu merasa marah
dan sakit hati. Bahkan sepatu gadis itu hingga kini masih berada di saku bajunya!
“Nona, harap kau jangan menyusahkan diri sendiri. Biarlah urusan balas dendam ini aku lakukan sendiri
karena ini sudah menjadi tugasku yang suci.”
“Kau pikir hanya kau saja seorang yang menaruh hati dendam kepada kakek jahanam itu? Dengarlah,
sebelum kau mengetahui nama Ban Sai Cinjin, muridnya sudah pernah menculikku di waktu aku masih
kecil, bahkan telah membunuh mati kakekku! Kemudian aku juga pernah bertempur melawan Ban Sai
Cinjin dan dirobohkan dengan cara curang. Apakah itu bukan perbuatan yang harus dibalas? Belum diingat
lagi betapa dia sudah mengajak kawan-kawannya memusuhi kakakku Hong Beng dan calon iparku Goat
Lan!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aku telah mendengar akan hal itu, Nona. Akan tetapi perjalanan ini jauh dan sukar sekali karena aku
sendiri belum tahu di mana adanya Ban Sai Cinjin. Tadi pun sudah terlihat betapa Ban Sai Cinjin
mempunyai kawan-kawan yang berkepandaian tinggi, maka dapat dibayangkan betapa sukar dan
berbahayanya pekerjaan ini.”
“Kau kira hanya kau sendiri saja yang memiliki keberanian? Kau kira aku takut kepada Ban Sai Cinjin dan
kawan-kawannya?” Dengan wajah merah ia menegakkan kepala dan mengangkat dada, sepasang
matanya bersinar marah. Timbul sifat-sifat keras dari dara yang seperti ibunya ini.
Sebetulnya, tak dapat disangkal lagi Lie Siong akan merasa girang dan suka sekali bila melakukan
perjalanan bersama gadis yang setiap saat menjadi kenangannya ini. Akan tetapi apa yang ia katakan tadi
memang keluar dari hatinya yang tulus. Ia merasa kuatir kalau-kalau gadis yang dicintainya ini akan
menghadapi mala petaka kalau ikut mencari Ban Sa Cinjin dan kawan-kawannya yang berbahaya dan
berkepandaian tinggi.
Ia ingin membereskan musuh besarnya ini seorang diri saja dan kemudian, barulah dia akan mendekati
gadis ini. Baginya sendiri, tidak usah takut karena dia sudah menerima gemblengan hebat dari gurunya
yang baru, akan tetapi Lili...?
Tentu saja dia tidak tahu bahwa Lili juga berpikir sebaliknya! Gadis ini pernah bertempur melawan Lie
Siong dan meski pun dia tahu bahwa kepandaian pemuda ini tidak rendah, akan tetapi apa bila
menghadapi keroyokan Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu dan yang lain-lain, bisa berbahaya.
Dia sendiri sudah membuktikan bahwa walau pun dengan tangan kosong, Ilmu Pukulan Hang-liong Cap-it
Ciang-hoat sudah cukup hebat untuk digunakan menjaga diri. Pendek kata, kedua orang muda ini saling
memandang ringan karena tidak tahu bahwa masing-masing telah menemukan guru baru.
“Harap kau bersabar, Nona...,” Lie Siong berkata pula.
“Sungguh menyebalkan!” Lili berseru marah.
“Apa yang menyebalkan?” Lie Siong mengerutkan kening dan bertanya tak senang pula. Kalau dia
dianggap menyebalkan...
“Sebutanmu dengan nona-nonaan itu! Kau adalah putera dari Ie-ie Im Giok, walau pun bukan keluarga kita
sudah seperti saudara saja, atau tepatnya, kita orang segolongan. Kenapa mesti berpura-pura sheji
(sungkan) seperti orang asing? Tadi kau bisa menyebut namaku, apakah sekarang sudah lupa lagi?
Namaku Sie Hong Li atau seperti sebutanmu tadi cukup dengan Lili saja. Siapa sudi kau panggil nona?”
Merah muka Lie Siong mendengar ini dan untuk sesaat ia hanya menundukkan mukanya saja seperti
seorang anak kecil dimarahi ibunya! Lo Sian hampir tidak dapat menahan gelak tawanya melihat sikap
kedua orang muda yang sama-sama keras hati ini.
“Lili,” kata Lie Siong dengan lidah berat karena sesungguhnya dia merasa sungkan dan malu-malu untuk
menyebut nama ini dengan mulutnya, sungguh pun nama ini setiap saat disebut-sebutnya dengan suara
hatinya, “harap kau jangan main-main dan suka berpikir masak-masak. Tentu saja aku maklum bahwa kau
memiliki keberanian dan tidak takut menghadapi Ban Sai Cinjin. Akan tetapi… urusan membalas dendam
kedua orang tuaku ini biarlah kau serahkan saja kepadaku sendiri. Hanya akulah seorang yang berhak
untuk menuntut pembalasan, karena dua orang tuaku hanya mempunyai aku seorang! Lili... maukah kau
memberi sedikit kelonggaran padaku dan tidak akan merampas harapanku ini? Jangan kau mendahului
aku menewaskan Ban Sai Cinjin!”
Lili tertegun. Hemm, jadi demikiankah gerangan maksud hati pemuda ini? Dia tak dapat menjawab lagi
hanya memandang dengan sepasang matanya yang bening.
“Siong-ji, kau keliru!” tiba-tiba Lo Sian berkata dan kedua orang muda itu terkejut karena tadi keduanya
telah lupa sama sekali akan orang tua ini! “Sebagai calon mantu, Lili juga berhak penuh seperti engkau
pula untuk membalas sakit hati ayah bundamu!” Sesudah ucapan ini keluar, barulah Lo Sian sadar bahwa
dia telah bicara terlalu banyak dan tak terasa lagi dia menutup mulutnya dengan tangan.
Tiba-tiba Lili merasa mukanya panas dan menjadi merah sekali, karena itu dia kemudian menundukkan
dunia-kangouw.blogspot.com
mukanya. Kenapa Lo Sian membuka rahasia ini? Sungguh terlalu, pikirnya dengan gemas, akan tetapi juga
girang.
Ada pun Lie Siong yang mendengar ucapan ini otomatis lalu menengok ke arah Lili dan ketika melihat
gadis itu menundukkan mukanya, ia menjadi makin tak mengerti. Tadinya ia menganggap Lo Sian hanya
bergurau saja untuk menggoda dia dan Lili, akan tetapi mengapa Lili gadis galak itu tidak menjadi marah,
bahkan kelihatan malu-malu?
“Lo-pek, mengapa kau main-main dalam keadaan seperti ini? Mengapa Lo-pek menyebut Lili sebagai calon
mantu ayah bundaku? Apakah artinya ini?”
Lo Sian sudah mengenal watak Lie Siong, pemuda yang tidak suka banyak bicara, akan tetapi yang berhati
keras dan jujur. Setelah terlanjur bicara, dia tidak dapat menutupinya lagi, maka ia lalu menceritakan
dengan jelas betapa Ang I Niocu telah menganggapnya sebagai wali dan telah menetapkan perjodohan
antara Lie Siong dan Lili!
“Nah, setelah sekarang kau mengetahui bahwa menurut pesan ibumu, Lili adalah calon jodohmu biar pun
belum diajukan pinangan resmi kepada Sie Taihiap, apakah kau pikir tidak sepatutnya kalau Lili
memperlihatkan baktinya kepada mendiang calon mertuanya? Ingatlah, Siong-ji, kau mengaku aku sebagai
pengganti orang tuamu dan aku pun sudah menganggap engkau sebagai puteraku sendiri. Kau harus tahu
bahwa lawan-lawan yang akan kau hadapi adalah orang-orang yang selain lihai juga amat cerdik dan
curang. Ban Sai Cinjin kiranya tidak perlu kau takuti kepandalan silatnya, akan tetapi kau benar-benar
harus awas dan waspada menghadapi siasatnya yang licin dan curang. Dengan adanya Lili membantumu,
bukankah kalian akan menjadi lebih kuat dan lebih berhasil membalas dendam? Tidak saja tenagamu akan
menjadi berlipat dua kali sebab kepandaian Lili juga tidak rendah, bahkan kalian bisa saling menjaga dan
saling bela.”
Lili yang mendengarkan semua ucapan ini sekarang tidak berani mengangkat mukanya yang kemerahan.
Setelah kini rahasia itu dibuka kepada Lie Siong, entah mengapa, dia tidak berani memandang pemuda itu
dengan langsung.
Ada pun Lie Siong juga menjadi merah mukanya, sebentar dia menoleh kepada makam ibunya dengan hati
terharu, kemudian kadang-kadang dia mengerling ke arah Lili dengan hati berdebar tidak karuan. Juga
pemuda ini tidak dapat menjawab ucapan Lo Sian tadi sehingga orang tua itu tersenyum, lalu menganggap
bahwa kedua orang muda itu kini sudah setuju untuk melakukan perjalanan bersama.
“Lie Siong, dan kau Lili. Berhati-hatilah kalian melakukan tugas yang berat ini. Aku akan kembali ke rumah
Sie Taihiap untuk melaporkan semua hal ini agar mereka pun segera beramai-ramai menyusulmu untuk
memberi bantuan.”
Setelah berkata demikian, Lo Sian kemudian meninggalkan dua orang muda itu dengan tindakan kaki
cepat.
********************
Sepasang remaja itu berdiri saling berhadapan. Sampai lama sunyi saja, bibir serasa terkunci rapat-rapat
karena malu untuk mengeluarkan suara. Lucu sekali kalau dilihat. Lili menundukkan mukanya yang
kemerahan ada pun Lie Siong memandang ke lain jurusan tanpa bergerak.
Pemuda ini mengerutkan keningnya. Dia seharusnya berterima kasih kepada mendiang ibunya yang
demikian tepatnya memilihkan calon isteri untuknya. Ia mencintai Lili, ini ia tidak ragu-ragu lagi. Bayangan
gadis itu tidak pernah meninggalkan cermin hatinya. Akan tetapi pada saat itu teringatlah dia kepada Lilani.
Lili adalah seorang gadis yang cantik dan pandai, puteri dari Pendekar Bodoh, seorang gadis terhormat
yang pasti akan didatangi oleh peminang-perninang dari kalangan tinggi. Bagaimana ia dapat menjadi
suami Lili padahal ia yang telah melakukan perbuatan amat memalukan dengan Lilani? Dia yang sudah
melanggar kesusilaan, yang menyia-nyiakan cinta Lilani dan yang mencemarkan kepercayaan gadis Haimi
itu padanya? Apakah kelak Lili takkan hancur hatinya kalau mendengar tentang dia dan Lilani?
Dia tahu bahwa tak mungkin selama hidup ia akan merahasiakan hal itu dari Lili, karena dengan
menyimpan rahasia itu berarti bahwa ia akan menyiksa batin sendiri selamanya, akan selalu merasa
sebagai seorang yang berdosa dan tidak bersih terhadap Lili!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Siong-ko, mengapa kau diam saja. Aku merasa seakan-akan telah menjadi patung, kau juga!” tiba-tiba Lili
gadis yang lincah gembira ini lebih dulu memecahkan kesunyian. Tidak kuatlah gadis seperti Lili harus
berdiam seperti itu lebih lama lagi.
Lie Siong terkejut dan terbangun dari lamunannya. Ia mengangkat muka dan bertemulah dua pasang mata.
Lili memandang dengan jujur dan terang, membuat Lie Siong merasa makin kotor dan tak berharga pula.
“Lili... aku... aku merasa tidak pantas...,” dia menghentikan kata-katanya.
“Tidak pantas bagaimana, Siong-ko? Lanjutkanlah!” dengan kening berkerut Lili bertanya, hatinya merasa
tidak enak.
“Tidak pantas seorang pemuda seperti... aku melakukan perjalanan bersama seorang dara seperti...
engkau! Sudahlah, Lili, lebih baik kau pulang saja, biar aku sendiri mencari dan menghancurkan kepala
Ban Sai Cinjin. Kau tunggu saja di rumah dan kelak... kelak mungkin kita akan bertemu lagi, bila aku tidak
roboh di tangan musuh-musuhku. Selamat berpisah!” Tanpa menanti jawaban, Lie Siong lalu melompat
jauh dan pergi meninggalkan tempat itu.
Lili membanting-banting kakinya dengan gemas. Dia merasa tidak dipandang mata dan diremehkan sekali.
Dengan marah dia pun cepat berkelebat mengejar.
Lie Siong heran sekali melihat betapa gadis itu sudah dapat menyusulnya, padahal dia sudah
mempergunakan ilmu ginkang-nya yang paling tinggi dan tadinya dia merasa pasti bahwa gadis itu tidak
mungkin dapat menyusulnya. Saking herannya dia menghentikan larinya dan menengok.
“Orang she Lie! Kalau kau tidak sudi melakukan tugas ini bersamaku, apakah kau kira aku Sie Hong Li tak
dapat melakukannya sendiri? Kita sama-sama lihat saja siapa nanti yang akan lebih cepat berhasil
membasmi Ban Sai Cinjin!” Setelah berkata demikian, Lili lalu mengerahkan ilmu lari cepat dan membelok
ke kiri meninggalkan Lie Siong!
Lie Siong tertegun, tidak hanya melihat kemarahan gadis itu akan tetapi melihat betapa ginkang dari gadis
ini benar-benar telah demikian hebatnya sehingga belum tentu kalah olehnya! Ia ingat betul bahwa dahulu
ketika bertempur dengan dia, kepandaian Lili belum setinggi ini. Bagaimana gadis ini demikian cepat
majunya? Apakah ia khusus dilatih dan digembleng oleh Pendekar Bodoh?
Betapa pun juga, Lie Siong masih belum tahu bahwa gadis ini bahkan sudah mahir Ilmu Pukulan Hangliong
Cap-it Ciang-hoat yang sangat lihai, dan mengira bahwa Lili hanya mendapat kemajuan dalam hal
ginkang saja. Kini melihat kenekatan gadis itu mencari Ban Sai Cinjin dan tidak mau pulang, ia menjadi
terkejut dan gelisah.
Apa bila sampai gadis itu berhasil bertemu dengan Ban Sai Cinjin dan kawan-kawannya, bukankah itu
berbahaya sekali? Tanpa terasa lagi, dia pun lalu mengubah arah tujuannya dan dia berlari cepat mengejar
ke arah kiri.
Lili melakukan perjalanan cepat dengan tujuan Pegunungan Thian-san. Gadis ini teringat bahwa karena
musim chun yang dinanti-nantikan untuk memenuhi tantangan Wi Kong Siansu dan kawan-kawannya tak
lama lagi tiba, paling banyak tiga puluh lima hari lagi, maka tentu Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu, dan yang
lain telah menuju ke sana.
Beberapa hari kemudian dia sampai di kota Kun-lin-an. Gadis ini sama sekali tidak tahu bahwa Ban Sai
Cinjin dan kawan-kawannya juga sudah berada di kota ini, bahkan telah bertemu dengan Bouw Hun Ti di
tempat ini.
Sebagaimana dituturkan pada bagian depan, Bouw Hun Ti pergi mencari jago-jago silat yang suka
membantu mereka untuk menghadapi Pendekar Bodoh sekeluarga. Dan pada waktu itu, Bouw Hun Ti
sudah berada di Kun-lin-an bersama tiga orang tosu tua yang bertubuh kurus kering, akan tetapi tiga orang
tosu ini sesungguhnya adalah tokoh-tokoh persilatan yang berilmu tinggi.
Ketika Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu, dan ketiga Hailun Thai-lek Sam-kui melarikan diri dari kejaran Lili
dan Lie Siong, mereka tiba di kota ini dan bertemu dengan Bouw Hun Ti. Segera mereka membuat
rencana untuk membikin pembalasan. Dengan adanya ketiga orang tosu itu, mereka merasa cukup kuat
dunia-kangouw.blogspot.com
untuk menghadapi Pendekar Bodoh.
Memang, tiga orang tosu itu bukanlah orang-orang sembarangan saja, mereka adalah ketua dari Pek-engkauw
(Perkumpulan Agama Garuda Putih) dari barat, bernama Thai Eng Tosu, Sin Eng Tosu, dan Kim Eng
Tosu. Mendengar bahwa Ban Sai Cinjin hendak menghadapi Pendekar Bodoh, tiga orang ketua Pek-eng
Kauw-hwe ini dengan senang hati sanggup membantu dan ikut pergi bersama Bouw Hun Ti.
Memang tiga orang kakek ini mempunyai dendam terhadap Pendekar Bodoh. Sebetulnya bukan kepada
Cin Hai mereka menaruh dendam, melainkan kepada Bu Pun Su yang telah menewaskan guru mereka.
Akan tetapi oleh karena Bu Pun Su sudah meninggal dunia, maka dendam mereka itu kini hendak mereka
balaskan terhadap murid dari Bu Pun Su! (baca cerita Bu Pun Su Lu Kwan Cu atau Pendekar Sakti)
Oleh karena Lili telah melakukan perjalanan jauh dan merasa lelah sekali, setelah makan dan
membersihkan tubuh serta berganti pakaian, dara perkasa ini lalu masuk ke dalam kamarnya di sebuah
hotel untuk beristirahat. Saking lelahnya maka sebentar saja ia telah pulas dan di dalam tidurnya bermimpi.
Dalam mimpinya ia bertemu dengan Lie Siong dan bertengkar urusan sepatunya yang dirampas dulu,
kemudian mereka saling menyerang dengan hebat!
Lili tertegun dengan hati terkejut karena ia benar-benar mendengar suara senjata beradu nyaring sekali
dan suara orang bertempur hebat! Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika ia hendak melompat turun dari
pembaringan, tubuhnya tidak dapat digerakkan! Ia hendak mengerahkan tenaga, akan tetapi mendapat
kenyataan bahwa dia sudah menjadi korban totokan yang luar biasa sekali sehingga ia menjadi lumpuh
kaki tangannya. Sementara itu, suara pertempuran di atas genteng makin menghebat dan dengan bingung
serta tak berdaya Lili berpikir-pikir apakah yang sesungguhnya telah terjadi.
Sebagaimana diketahui, setelah ditinggalkan oleh Lili di tengah hutan itu, Lie Siong lalu mengejar dan
secara diam-diam dia mengikuti perjalanan gadis yang dikasihinya itu. Dia tak berani memperlihatkan muka
karena dia merasa malu dan kuatir kalau-kalau Lili akan menjadi marah.
Untuk melepaskan gadis itu begitu saja dan mencari jalan sendiri, dia tidak tega karena maklum betapa
lihainya lawan-lawan yang mereka kejar-kejar. Maka secara diam-diam ia hendak melindungi gadis itu dan
bila sampai mereka bertemu dengan musuh, bukankah mereka akan dapat menghadapi dengan lebih
kuat?
Demikianlah, ketika Lili bermalam di hotel di kota Kun-lin-an, secara diam-diam Lie Siong mengintai dan
setelah melihat gadis itu memasuki kamarnya, ia pun kemudian menyewa sebuah kamar di hotel itu juga!
Dia sudah mengambil keputusan untuk besok pagi-pagi menjumpai Lili dan menyatakan terus terang
kehendaknya, yaitu melakukan perjalanan bersama. Dia sudah nekat dan bersedia untuk ditertawakan atau
bahkan dimaki, karena melakukan perjalanan macam ini sungguh tidak enak baginya.
Malam itu Lie Siong tidak dapat pulas. Kalau dia memikirkan hidupnya, dia menjadi amat gelisah. Kedua
orang tuanya telah tewas dalam keadaan amat menyedihkan, yaitu terbunuh oleh orang jahat. Kemudian di
dalam perantauannya dia telah bertemu dengan Lilani yang membuat ia selalu menyesali pertemuan itu,
dan akhirnya ia bertemu dengan Lili yang sudah membetot sukmanya serta menguasai cinta kasihnya,
bahkan mendiang ibunya telah berniat menjodohkan dia dengan Lili.
Akan tetapi kalau dia teringat akan Lilani, hatinya menjadi perih sekali. Memang betul bahwa dia telah
memenuhi kewajibannya seperti yang telah dinasehatkan oleh Thian Kek Hwesio, orang tua bijaksana ahli
pengobatan yang tinggal di kuil Siauw-lim-si di Ki-ciu itu. Yaitu kewajiban untuk mengantar Lilani sampai
dapat bertemu dengan suku bangsanya kembali.
Kini Lilani telah berkumpul dengan suku bangsanya dan urusannya dengan Lilani telah beres. Akan tetapi
betulkah urusan itu telah beres? Kalau sampai Lili mengetahui hal itu bukankah akan terjadi ribut besar?
Benar-benar Lie Siong menjadi pusing memikirkan hal ini. Tiba-tiba dia mendengar suara di atas genteng
dan terheranlah hatinya. Itu bukan suara orang berjalan, pikirnya. Lebih pantas kalau suara seekor burung
besar mengibaskan sayapnya dan turun dengan kaki hampir tak bersuara di atas genteng!
Kalau saja ia melakukan perjalanan seorang diri, tentu pemuda ini akan terus berbaring di atas tempat
tidurnya, menanti saja apa yang akan terjadi. Akan tetapi pada waktu itu, pikirannya penuh dengan
penjagaan terhadap Lili, maka dia lantas cepat-cepat memakai sepatunya dan menyambar Sin-liong-kiam.
Setelah itu, dia lalu membuka daun jendela dan secepat kilat dia melompat keluar, terus melayang naik ke
dunia-kangouw.blogspot.com
atas wuwungan rumah hotel itu.
Alangkah terkejutnya ketika ia melihat tiga orang tosu tinggi kurus berdiri di atas genteng tepat di atas
kamar Lili dan seorang di antara mereka meniupkan asap hijau ke dalam kamar. Pada waktu Lie Siong
menengok, selain tiga orang tosu ini masih nampak pula bayangan seorang gemuk memegang huncwe.
Ban Sai Cinjin! Bukan main marahnya Lie Siong dan tanpa banyak cakap lagi ia segera menerjang dengan
pedangnya, menyerang tiga orang tosu yang sedang mempergunakan obat pulas untuk mencelakai Lili!
Memang yang datang adalah tiga orang ketua Pek-eng Kauw-hwe yang dibawa oleh Ban Sai Cinjin. Kakek
berhuncwe ini telah melihat Lili berada di dalam kota ini pula. Sesudah menyelidiki dan mengetahui bahwa
gadis musuhnya itu bermalam di hotel itu, dia lalu mengajak kawan-kawannya untuk menawan gadis itu.
Wi Kong Siansu mula-mula menyatakan tidak setuju, karena perbuatan ini dianggapnya terlalu memalukan
mereka sebagai orang-orang gagah dan tokoh-tokoh terkemuka. Akan tetapi Ban Sai Cinjin lalu
menyatakan bahwa ia sama sekali tidak hendak mencelakai Lili, hanya hendak menawannya saja sebagai
tanggungan kalau-kalau mereka kelak kalah oleh Pendekar Bodoh! Biar pun kalah, apa bila mereka
menguasal Lili, tentu Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya tidak berani membunuh atau mencelakai
mereka.
Alasan-alasan yang cerdik dari Ban Sai Cinjin membuat Wi Kong Siansu tidak mampu membantah, akan
tetapi tetap saja kakek kosen ini tak mau ikut turun tangan melakukan penangkapan itu. Juga Hailun Thailek
Sam-kui walau pun paling doyan berkelahi tetapi tidak suka untuk turut membantu penangkapan ini.
Oleh karena itu Ban Sai Cinjin lalu minta pertolongan tiga orang ketiga Pek-eng-kauw itu.
Kepandaian tiga orang kakek ini memang sangat hebat, kiranya tidak di sebelah bawah kepandaian Wi
Kong Siansu. Selain Ilmu Silat Garuda Putih yang khusus mereka miliki, juga cara mereka melompat
adalah seperti gerakan burung garuda, dengan dua lengan dipentang dan lengan baju yang lebar seperti
sayap.
Selain ini, Kim Eng Tosu yang termuda di antara mereka, juga merupakan seorang ahli dalam hal
penggunaan obat tidur dan racun-racun yang lihai untuk merobohkan lawan. Memang, Kim Eng Tosu ini
pada waktu mudanya terkenal sebagai seorang jai-hwa-cat (penjahat cabul) yang amat ditakuti orang.
Pada saat tiga orang kakek ini sedang melakukan usaha mereka menangkap Lili dengan menggunakan
asap memabukkan, Lie Siong lantas menerjang mereka dan mengerjakan Sin-liong-kiam dengan
hebatnya. Dia tidak menerima pelajaran khusus dari gurunya yang baru, kecuali permainan gundu. Akan
tetapi, gurunya itu telah banyak memberi perbaikan terhadap ilmu pedangnya dan ilmu silatnya. Setiap kali
ia berlatih silat di depan gurunya, selalu gurunya itu mencela ini dan memperbaiki itu sehingga ilmu pedang
dan ilmu silat pemuda ini mendapat kemajuan yang luar biasa sekali, di samping kemajuan-kemajuan
dalam ginkang dan lweekang-nya.
Akan tetapi ketika dia menyerang tiga orang orang tosu itu dengan marah, ketiga ketua Pek-eng-kauw itu
hanya mengebutkan lengan baju mereka yang lebar dan mereka sudah dapat mengelak dengan cepat
sekali. Bahkan Kim Eng Tosu dan Sin Eng Tosu segera menggerakkan tangan mereka dan meluncurlah
ujung lengan baju yang panjang-panjang itu melakukan serangan pembalasan yang hebat.
Lie Siong kaget sekali melihat kelihaian mereka, akan tetapi ia lalu memutar pedangnya sedemikian rupa
dan melawan mereka dengan sepenuh tenaga. Kim Eng Tosu dan Sin Eng Tosu juga tertegun
menyaksikan seorang pemuda yang memiliki kepandaian selihai ini, maka mereka berlaku hati-hati sekali.
Lie Siong belum pernah menghadapi ilmu sesat seperti yang mereka mainkan itu, yaitu dengan kedua
lengan terbuka dan ujung lengan baju menyambar-nyambar, persis seperti dua ekor burung garuda besar
yang menyabet-nyabet dengan sayap dan kadang-kadang menendang dengan kaki.
Ada pun Ban Sai Cinjin setelah melihat bahwa yang datang adalah Lie Siong, menjadi marah sekali dan
sambil tertawa bergelak dia pun maju mengurung.
“Ji-wi Toyu, pemuda ini jahat seperti serigala, harus dibunuh!”
Sementara itu, Thai Eng Tosu mempergunakan kesempatan itu untuk melompat masuk ke dalam kamar
Lili yang belum terkena pengaruh asap tadi karena keburu datang Lie Siong. Akan tetapi dalam keadaan
masih tidur ia telah ditotok oleh Thai Eng Tosu yang lihai sehingga ketika ia terbangun dengan kaget, ia
dunia-kangouw.blogspot.com
telah tak berdaya lagi.
Thai Eng Tosu memang cerdik sekali. Pada saat tadi dia menyaksikan gerakan seorang pemuda yang
demikian cepat dan lihainya, dia pikir lebih baik membuat gadis di dalam kamar tidak berdaya karena dia
telah mendengar dari Ban Sai Cinjin bahwa gadis itu pun lihai sekali. Bila sampai gadis itu bangun dan
maju berdua dengan pemuda ini, agaknya tidak akan mudah menangkapnya! Maka setelah membuat Lili
tidak berdaya, barulah dia melompat lagi ke atas genteng untuk mengeroyok Lie Siong!
Sebetulnya dalam hal kepandaian, kalau diadakan perbandingan, meski pun dengan Ban Sai Cinjin
seorang saja, Lie Siong sudah tentu kalah latihan serta kalah pengalaman. Pemuda ini dapat mengatasi
Ban Sai Cinjin hanya karena dia menang tenaga, menang semangat, dan juga pemuda ini semenjak
kecilnya mempelajari ilmu silat yang bermutu tinggi.
Terutama sekali karena akhir-akhir ini, biar pun dalam waktu singkat, Lie Siong menerima gemblengan
yang amat hebat dari orang luar biasa, tokoh persilatan tersembunyi seperti kakek tukang main kelereng
itu. Maka, dalam hal ginkang dan lweekang, dia sekarang tidak berada di sebelah bawah tingkat
kepandaian Ban Sai Cinjin!
Namun, tetap saja Ban Sai Cinjin merupakan seorang lawan berat baginya. Apa lagi sekarang di situ
terdapat tiga orang tosu yang kepandaiannya rata-rata lebih tinggi dari pada kepandaian Ban Sai Cinjin.
Lie Siong melakukan perlawanan secara nekad. Dia memutar pedang naganya dengan secepat kilat dan
mengerahkan seluruh tenaga serta kepandaiannya untuk merobohkan empat orang pengeroyoknya.
Akan tetapi, diam-diam Lie Siong harus mengakui bahwa selamanya belum pernah dia menghadapi lawanlawan
yang berat seperti empat orang kakek ini. Terutama sekati Thai Eng Tosu yang bersenjatakan
sebatang suling kecil. Bukan main lihai dan berbahayanya sehingga beberapa kali Lie Siong hampir saja
terkena totokan suling ini kalau dia tidak cepat-cepat membuang diri ke samping.
Melihat betapa Lie Siong sukar sekali dirobohkan, Ban Sai Cinjin menjadi gemas. Maka tiba-tiba sekali, di
luar dugaan ketiga orang tosu kawannya dan juga Lie Siong, Ban Sai Cinjin melepaskan tiga batang jarum
beracun ke arah pemuda itu.
Lie Siong sedang sibuk menahan serangan tiga orang ketua Pek-eng-kauw yang lihai, maka tentu saja dia
tidak bersiap sedia menghadapi serangan gelap ini. Tetapi dia dapat melihat menyambarnya tiga sinar
hitam ke arah tubuhnya. Cepat ia menangkis dengan kebutan tangan kiri yang menggunakan hawa
pukulan Pek-in Hoat-sut, namun sebatang jarum hitam tetap saja menancap pada paha kirinya di atas lutut.
Lie Siong menggigit bibir dan menahan sakit, akan tetapi seketika itu juga dia merasa betapa separuh
tubuhnya seakan-akan mati. Dia terkejut sekali dan maklum bahwa dia telah terkena jarum berbisa, maka
dia kemudian melompat ke bawah dan melarikan diri secepatnya.
Diam-diam Ban Sai Cinjin merasa girang dan juga kagum karena sedikit pun juga tidak terdengar keluhan
sakit dari mulut pemuda itu, padahal dia maklum bahwa jarumnya itu mendatangkan rasa sakit yang luar
biasa dan di dalam waktu tiga hari, pemuda itu tentu akan mati!
Dengan cepat ia lalu melompat turun dan memondong tubuh Lili yang tak berdaya lagi itu keluar dari kamar
dan dibawa pergi bersama tiga orang tosu lihai itu! Kedatangan mereka disambut oleh Wi Kong Siansu dan
Hailun Thai-tek Sam-kui yang diam-diam merasa girang juga bahwa dua orang di antara calon lawan
mereka yang tangguh telah berhasil dikalahkan.
“Bagaimana pun juga harap kau berlaku hati-hati dan jangan sekali-kali mencemarkan namaku dengan
perbuatan hina, Sute!” Wi Kong Siansu berkata kepada Ban Sai Cinjin sambil melirik ke arah tubuh Lili
yang masih setengah pingsan.
Ban Sai Cinjin tersenyum. “Jangan kuatir, Suheng. Maksudku pun hanya untuk mencegah Pendekar Bodoh
berlaku kejam terhadap kita.”
Dia lalu menghampiri Lili, menotok jalan darah Koan-goan-hiat dan Kian-ceng-hiat pada kedua pundak,
kemudian dia membebaskan gadis itu dari keadaannya yang lumpuh. Lili terbebas dari totokan Thai Eng
Tosu tadi, akan tetapi sepasang lengannya tidak dapat dipergunakan karena kedua lengan itu telah
menjadi lemas tidak bertenaga lagi sebagai akibat dari totokan Ban Sai Cinjin tadi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Gadis ini berdiri dengan tegak dan tiba-tiba kedua kakinya menendang ke arah Ban Sai Cinjin dengan
tendangan Soan-hong-lian-hoat-twi, yaitu kedua kakinya secara bertubi-tubi mengirim tendangan berantai
yang amat berbahaya!
Ban Sai Cinjin terkejut sekali dan cepat dia melompat pergi, lalu berkata dengan gemas, “Lihat, Suheng,
betapa jahatnya gadis liar ini. Hmm, ingin aku menghancurkan kepalanya dengan sekali ketuk agar ia tidak
dapat menimbulkan kepusingan lagi!” Ia menggenggam huncwe-nya erat-erat.
Wi Kong Siansu melompat maju dan menghadapi Lili yang memandang dengan mata mendelik. Sedikit
pun gadis ini tidak takut biar pun dengan kedua tangan lumpuh ia telah tak berdaya sama sekali.
“Nona Sie, kenapa kau begitu bodoh? Kami tidak akan mengganggumu, hanya kau harus tahu bahwa di
antara keluargamu dengan kami timbul permusuhan. Dengan menawan kau, Nona, kami berusaha untuk
meredakan permusuhan ini. Bulan depan akan diadakan pertemuan pibu dan dengan kau berada di pihak
kami, pinto akan berusaha agar supaya ayahmu dan kawan-kawannya tidak berlaku kejam. Betapa pun
juga, kita semua masih orang-orang segolongan, maka lebih baik kita menghabisi segala permusuhan
yang telah lewat.”
“Enak saja kau bicara, tosu murah!” bentak Lili dengan marah sekali. Kemudian ketika melihat Bouw Hun Ti
berdiri di dekat Ban Sai Cinjin sambil memandang dirinya dengan senyum sindir, ia lalu mengertak gigi dan
berkata, “Dengarlah, Wi Kong Siansu! Aku tidak tahu mengapa seorang seperti kau membela orang-orang
berhati iblis macam Bouw Hun Ti dan Ban Sai Cinjin! Dengan kau dan yang lain-lainnya boleh saja aku
menghabiskan permusuhan, akan tetapi aku tak akan pernah memberi ampun kepada dua ekor binatang
bermuka manusia ini!”
“Suheng, biar kubunuh gadis liar ini!” Ban Sai Cinjin berseru marah.
“Majulah, binatang! Kedua kakiku pun masih sanggup memecahkan dadamu!” teriak Lili menantang.
“Sabar, Sute, mengapa mengumbar nafsu? Nona Sie, sikapmu ini benar-benar hanya akan menyusahkan
dirimu sendiri saja. Kalau kau menurut saja ikut dengan kami ke Thian-san, kami tak akan mengganggumu.
Akan tetapi kalau kau menimbulkan kesulitan, agaknya terpaksa kau harus dibikin lumpuh dan hal ini tentu
tak kau kehendaki, bukan?”
Biar pun dia merasa amat mendongkol dan ingin memaki-maki semua orang itu, tetapi ia merasa bahwa
ucapan Wi Kong Siansu ini ada benarnya juga. Ia sudah tak berdaya lagi, maka meski pun ia akan
mengamuk dengan kedua kakinya, tetap saja ia takkan sanggup menang. Kalau sampai dia dibikin lumpuh
seperti tadi, lebih tidak enak lagi, maka dia lalu diam saja sambil menundukkan mukanya.
Gadis ini tidak takut sama sekali. Ia diam saja untuk memutar otak mencari jalan bagai mana agar ia dapat
melepaskan diri dari kekuasaan orang-orang ini. Ia telah mendengar pertempuran-pertempuran di atas
genteng dan menduga-duga siapakah orangnya yang bertempur melawan Ban Sai Cinjin. Ia tidak tahu
bahwa tadi Lie Siong sudah berusaha menolongnya, dan bahwa pemuda itu kini sudah melarikan diri
dengan menderita luka hebat oleh panah beracun dari Ban Sai Cinjin…..
********************
Lie Siong melarikan diri dengan hati gelisah sekali. Rasa sakit yang hebat pada kakinya tidak melebihi sakit
hatinya, karena ia selalu berkuatir memikirkan nasib Lili. Kalau saja ia tidak memikirkan Lili, tadi pun dia
tentu akan menerjang mati-matian dan biar pun sudah terluka hebat, dia lebih baik mati dari pada
melarikan diri. Akan tetapi dia harus menolong Lili, oleh karena itu dia harus hidup untuk dapat menyusul
dan menolong Lili.
Ia telah berlari jauh sekali dan perbuatannya ini menghebatkan pengaruh bisa di luka itu. Dia kini merasa
seluruh tubuhnya panas dan pandang matanya berkunang-kunang. Dia memang hendak mempertahankan
diri, akan tetapi pandangan matanya makin gelap dan akhirnya dia terhuyung-huyung dan roboh di atas
rumput tak sadarkan diri lagi.
Ban Sai Cinjin tidak akan sedemikian tersohor namanya apa bila tidak sangat lihai dalam menggunakan
huncwe maut dan kalau saja senjata rahasianya tidak amat ganas. Kakek ini memang seorang ahli dalam
penggunaan racun yang amat ganas dan jahat, maka dia merasa pasti bahwa pemuda putera Ang I Niocu
dunia-kangouw.blogspot.com
yang sudah terkena racun pada panah hitamnya tentu akan mati dalam waktu tiga hari.
Memang keadaan Lie Siong mengerikan sekali. Kaki kirinya dari batas paha ke bawah telah berwarna
kehitam-hitaman dan tubuhnya panas sekali. Ia pingsan dan menggeletak di atas rumput sampai fajar
mendatang.
Tapi Ban Sai Cinjin agaknya lupa bahwa mati hidup seseorang tak dapat ditentukan oleh manusia yang
mana pun juga. Apa bila Thian (Tuhan) menghendaki, seseorang boleh hidup walau pun nampaknya tidak
mungkin bagi pendapat seorang manusia, sebaliknya seorang yang nampak sehat segar boleh mati di saat
itu juga apa bila telah dikehendaki oleh Thian.
Demikianlah, ketika Lie Siong rebah seperti mati di atas rumput dan tubuhnya diselimuti embun pagi,
datanglah dua sosok bayangan orang yang melalui tempat itu. Dua orang ini gerakannya cepat sekali dan
ketika melihat seorang pemuda menggeletak di tempat itu, mereka lalu mendekati dan memeriksa.
“Dia adalah putera Ang I Niocu...!” seru suara seorang laki-laki.
“Betul, Koko, dia adalah Lie Siong penolong dari Adik Cin!” seru yang wanita, seorang gadis yang cantik
jelita. Mereka ini bukan lain adalah Goat Lan dan Hong Beng yang kebetulan sekali lewat di tempat itu dan
mendapatkan Lie Siong menggeletak di jalan.
“Aduh, panas sekali tubuhnya!” Hong Beng berseru ketika dia meraba jidat Lie Siong.
“Lihat, Koko, pahanya terluka dan tentu terkena serangan senjata beracun. Mari, angkat dia ke tempat
yang lebih baik, Koko. Aku harus cepat-cepat mencoba menolongnya!” kata Goat Lan, murid dari mendiang
Yok-ong Sin Kong Tianglo Raja Tabib!
Hong Beng lalu memondong tubuh Lie Siong yang amat panas itu dan mereka membawa pemuda itu
masuk ke dalam sebuah hutan kecil dan meletakkan pemuda itu di bawah pohon besar, di atas tanah yang
bersih dan kering.
Goat Lan menurunkan buntalan pakaiannya, menggulung lengan baju dan mengeluarkan obat-obat
penolak racun yang selalu dibekalnya. Kemudian tanpa sungkan-sungkan lagi dan sangat cekatan,
menjadikan kekaguman Hong Beng yang membantunya, Goat Lan lalu menyingsingkan pakaian Lie Siong
dari bawah sehingga nampak paha yang terluka oleh panah tangan itu. Tanpa ragu-ragu lagi gadis ini lalu
menggunakan bambu runcing itu untuk ditusukkan ke luka yang telah membengkak dan berwarna merah
kehitaman itu.
Darah hitam mengalir keluar dari luka tusukan bambu runcing ini dan Goat Lan segera menggunakan jari
telunjuknya untuk menotok pangkal paha dan beberapa bagian jalan darah di kaki kiri Lie Siong. Kemudian
ia mengurut kaki itu, menghalau darah yang sudah terkena racun supaya keluar dari paha itu hingga Hong
Beng sendiri diam-diam merasa ngeri dan mengutuk orang yang menggunakan panah tangan.
Kemudian Goat Lan lalu menempelkan obat pada luka di paha itu, minta supaya Hong Beng membereskan
pakaian Lie Siong. Setelah kepala Lie Siong dibasahi air dan sedikit arak dimasukkan ke dalam mulutnya,
pemuda ini siuman kembali. Akan tetapi ia masih menutup kedua matanya dan bibirnya bergerak, “Lili...
Lili...!”
Goat Lan dan Hong Beng saling pandang penuh arti dan keduanya tersenyum kecil. Goat Lan lalu
mencairkan tiga butir pil merah ke dalam arak dan menyuruh tunangannya agar meminumkannya.kepada
Lie Siong.
Barulah Lie Siong membuka matanya dan ia memandang kepada mereka dengan mata mengandung
keheranan. Akan tetapi dia segera meramkan kedua matanya kembali dan mengeluh. Kakinya terasa sakit
bukan main.
“Jangan bergerak dulu, Saudara Lie Siong dan minumlah obat ini segera,” Hong Beng berkata dengan
ramah.
Lie Siong kembali membuka mata dan sambil menatap wajah Hong Beng, ia lalu minum obat itu yang
terasa pahit akan tetapi berbau harum itu. Sesudah obat itu memasuki perutnya, ia merasa betapa panas
di dalam dada dan perutnya berangsur-angsur mulai menghilang. Kemudian, tiba-tiba ia tak dapat lagi
dunia-kangouw.blogspot.com
menahan rasa kantuknya dan tubuhnya menjadi lemas, terus dia tertidur nyenyak. Memang ini adalah
akibat khasiat dari obat yang diberikan oleh Goat Lan itu.
“Tidak lama lagi dia akan sembuh,” kata Goat Lan kepada Hong Beng. “Kalau dia terus pulas itu berarti
bahwa racun di dalam tubuhnya telah bersih, kalau dia tidak dapat pulas, agaknya terpaksa aku harus
mengeluarkan banyak darahnya lagi. Sekarang dia hanya memerlukan obat penambah darah saja.” Hong
Beng mengangguk-angguk dan kembali ia memandang pada tunangannya dengan penuh kekaguman
sehingga Goat Lan menjadi merah mukanya.
“Mengapa kau memandangku seperti itu?” tegurnya.
“Lan-moi, kau... hebat sekali!”
“Hushh, aku hanya murid yang bodoh dari Yok-ong guruku,” kata gadis ini.
Dengan kata-kata ini Goat Lan seakan-akan hendak mengingatkan kepada Hong Beng bahwa yang patut
mendapat pujian ialah mendiang gurunya. Memang demikianlah watak yang sangat baik dari Goat Lan.
Tidak suka sombong dan selalu merendahkan diri, biar terhadap tunangan sendiri sekali pun.
Mereka tidak merasa heran pada waktu tadi Lie Siong menyebut-nyebut nama Lili dalam igauannya,
karena kedua orang muda ini belum lama yang lalu telah berjumpa dengan Lo Sian. Dari Sin-kai Lo Sian
mereka telah mendengar tentang kematian Ang I Niocu dan mendengar akan pesan Ang I Niocu untuk
menjodohkan Lie Siong dengan Lili. Kemudian Sin-kai Lo Sian melanjutkan perjalanan menuju ke rumah
Pendekar Bodoh.
Ada pun Goat Lan dan Hong Beng melanjutkan perjalanan untuk mencari Ban Sai Cinjin. Memang, kedua
orang muda ini meninggalkan tempat tinggal mereka dengan dua tujuan. Pertama-tama untuk mencari Lili
yang belum juga pulang, kedua kalinya untuk mencari Ban Sai Cinjin, karena Goat Lan ingin minta kembali
Thian-te Ban-yo Pit-kip yang telah dicuri oleh Ban Sai Cinjin.
Orang tua mereka berpesan agar mereka berhati-hati, kemudian Pendekar Bodoh bahkan berpesan agar
supaya mereka terus saja menuju ke Thian-san, karena tidak lama lagi Pendekar Bodoh sendiri pun akan
menuju ke sana untuk menyambut tantangan pibu dari Wi Kong Siansu dan kawan-kawannya. Oleh karena
itulah, maka Goat Lan dan Hong Beng mengambil jalan ini dan bertemu dengan Lie Siong.
Setelah hari menjadi senja, barulah Lie Siong bangun dari tidurnya. Begitu bangun dia segera bertanya
kepada Hong Beng,
“Siapakah Ji-wi (Saudara berdua) yang telah menolong siauwte yang bodoh?”
Hong Beng dan Goat Lan tersenyum. “Saudara Lie Siong,” kata Hong Beng, “kami bukan orang-orang lain,
aku adalah Sie Hong Beng dan dia ini adalah Kwee Goat Lan.”
Lie Siong benar-benar terkejut. Ketika dia bersama gurunya mengirim kembali Kwee Cin ke benteng
Alkata-san, dia tidak memperhatikan semua orang, maka dia tidak melihat mereka ini.
“Ahh...” katanya dengan tercengang, kemudian wajahnya yang tampan nampak gembira. Akan tetapi
segera dia menjadi pucat ketika teringat kepada Lili, maka dia lalu melompat berdiri. “Celaka... kita harus
cepat kejar mereka!”
“Saudara Lie Siong, tenanglah. Walau pun lukamu sudah sembuh, akan tetapi lukamu masih lemah dan
kegugupanmu itu amat tidak bagi kesehatanmu,” kata Goat Lan sambil memandang tajam penuh perhatian
seperti layaknya seorang tabib memandang kepada pasiennya.
Mendengar omongan ini, Lie Siong baru sadar. Dia pun sudah mendengar bahwa Kwee Goat Lan yang
menjadi tunangan Sie Hong Beng adalah seorang gadis ahli pengobatan, maka dia lalu menjura memberi
hormat sambil berkata,
“Siauwte memang seorang bodoh dan kasar, sampai-sampai lupa untuk menghaturkan banyak terima
kasih atas pertolongan Lihiap. Tanpa pertolonganmu, agaknya nyawaku sudah lenyap dalam tangan Ban
Sai Cinjin.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Lie Siong, jangan main sandiwara! Namaku Goat Lan, panggil saja namaku karena Lili biasanya juga
memanggil namaku begitu saja!” Kegembiraan Goat Lan timbul kembali, akan tetapi segera disusulnya
kelakarnya ini dengan kata-kata sengit, “Di mana Ban Sai Cinjin si keparat? Apakah dia pula yang melukai
pahamu?”
Lie Siong senang sekali melihat sikap Goat Lan ini, seorang gadis yang lincah dan yang mengingatkan dia
akan kejenakaan dan kegalakan Lili. Akan tetapi pada saat itu hatinya penuh oleh kekuatiran terhadap
nasib Lili, maka ia lalu berkata,
“Celaka sekali. Ban Sai Cinjin dan kawan-kawannya yang amat lihai sudah menculik Lili! Ketika aku hendak
menolong, mereka mengeroyokku dan secara curang sekali Ban Sai Cinjin telah melukaiku dengan panah
beracun.”
Lie Siong lalu menuturkan dengan singkat tentang peristiwa itu. Goat Lan dan Hong Beng menjadi marah
sekali.
“Ban Sai Cinjin manusia curang dan pengecut!” terdengar Hong Beng menggeram. “Awas saja kepalamu,
kakek jahanam, akan kuhancurkan kepalamu kalau sampai kau berani mengganggu adikku.”
“Kau baru sehari semalam meninggalkan mereka. Mereka itu tentu takkan lari jauh. Mari kita mengejar
mereka,” kata Goat Lan.
Maka berangkatlah tiga orang muda yang perkasa ini menuju ke Thian-san sambil di jalan mencari
keterangan mengenai Ban Sai Cinjin dan rombongannya. Memang tidak salah, menurut petunjuk dari
penduduk kampung yang mereka lalui, Ban Sai Cinjin mengambil jalan ini dan agaknya rombongan itu pun
sedang menuju ke Thian-san pula.
Sayangnya bahwa Lie Siong belum boleh menggunakan terlalu banyak tenaga sehingga pengejaran itu
tidak dapat dilakukan dengan cepat-cepat. Sedikitnya lima hari Lie Siong harus memulihkan tenaganya
kembali, kata Goat Lan dan pemuda itu tentu saja menurut nasehat nona penolongnya…..
********************
Tiga orang muda itu benar-benar gagah. Melihat mereka berjalan cepat mendaki gunung melompati jurang,
sungguh membuat orang merasa kagum sekali. Hong Beng nampak gagah dengan tubuhnya yang tegap
dan wajahnya tampan. Lie Siong berpakaian kuning, pedang naganya menempel di punggungnya,
tubuhnya lebih kecil dari pada Hong Beng, akan tetapi ia tampan sekali. Ada pun Goat Lan benar-benar
nampak cantik jelita dan gagah. Sepasang bambu runcingnya tergantung di punggung seperti pedang.
Sambil berlari cepat, mereka saling menuturkan riwayat dan pengalaman masing-masing dan makin lama
Lie Siong semakin suka kepada sepasang orang muda ini. Ia diam-diam menyesal kenapa tidak sejak kecil
dia bersahabat dengan orang-orang ini, dan secara diam-diam ia merasa girang bahwa dahulu ibunya
adalah sahabat baik dari orang-orang tua Goat Lan dan Hong Beng. Bahkan ada rasa bangga dalam
hatinya karena mereka membicarakan ibunya dengan kekaguman, apa lagi Goat Lan yang pernah ditolong
oleh ibunya.
Beberapa hari kemudian mereka telah sampai jauh di barat dan tiba di daerah bergunung yang gundul
tiada pohon. Tiba-tiba mereka melihat bayangan seorang kakek melompat-lompat di atas batu yang jika
dilihat dari jauh orang itu seperti seekor garuda putih saja, karena kedua ujung lengan bajunya yang lebar
dan panjang itu berkibar di kanan kirinya seperti sayap dan ujung baju di belakang terbawa angin seperti
ekornya.
“Dia adalah Thai Eng Tosu pembantu Ban Sai Cinjin!” tiba-tiba Lie Siong berseru.
Tahu-tahu dia telah meninggalkan kedua orang kawannya dan mengejar ke atas dengan pedang Sin-liongkiam
di tangan. Melihat gerakan dari Lie Siong yang demikian cepatnya ini, Goat Lan dan Hong Beng
terkejut dan kagum sekali. Memang selama ini Lie Siong belum pernah memperlihatkan kepandaiannya.
“Tosu keparat, ke mana kau hendak pergi?!” Lie Siong membentak sambil mengejar.
Memang tosu itu adalah Thai Eng Tosu, orang tertua dari ketiga ketua Pek-eng-kauw. Mendengar seruan
ini, kakek ini berhenti dan menengok, kemudian dia tersenyum ketika mengenal pemuda ini. “Jadi kau
dunia-kangouw.blogspot.com
sudah sembuh? Baguslah, memang orang yang benar selalu dilindungi oleh Thian.”
“Jangan berpura-pura alim, siapa tidak tahu bahwa kau adalah kawan dari Ban Sai Cinjin yang jahat?”
bentak Lie Siong sambil memutar pedangnya.
“Anak muda, memang sudah sepatutnya aku dimaki. Aku dan adik-adikku sudah terbujuk oleh Ban Sai
Cinjin. Akan tetapi semenjak dia merampas puteri Pendekar Bodoh itu, aku mencuci tangan dan
meninggalkan rombongannya. Hanya dua orang adikku yang masih ikut.” Ia menarik napas panjang tanda
bahwa hatinya kesal.
“Ke mana rombongan itu membawa Lili?” Lie Siong bertanya dengan suara mengancam. “Katakanlah, baru
aku akan mengampuni jiwamu.”
“Kau kira aku demikian busuk hati untuk mengkhianati mereka? Carilah sendiri!”
Lie Siong marah. “Bagus, kalau begitu kau harus mampus!”
Thai Eng Tosu mengeluarkan suling bambunya yang kecil. “Majulah, anak muda, mari kita main-main
sebentar. Apa bila betul-betul kau mampu mengalahkan sulingku ini, aku berjanji akan memberi tahu dirimu
ke mana mereka itu membawa puteri Pendekar Bodoh!”
Lie Siong sudah merasa gemas sekali dan cepat menyerang dengan pedangnya. Tosu itu menangkis dan
segera mereka bertempur dengan serunya di atas tempat yang penuh batu karang itu.
Sementara itu, Goat Lan beserta Hong Beng juga sudah mengejar sampai di tempat itu, akan tetapi melihat
betapa pedang Lie Siong bergerak hebat sekali, Hong Beng berkata, “Biarlah, kita menonton dari dekat
saja dan jangan dibantu bila Lie Siong tidak terdesak. Dia keras hati, kalau kita bantu, jangan-jangan dia
akan merasa tak senang.”
“Seperti Lili...,” kata Goat Lan.
“Memang mereka cocok sekali seperti kita...” kata Hong Beng.
Kerling mata Goat Lan menyambar dan keduanya tersenyum bahagia.
Gerakan ilmu silat tosu itu memang betul-betul lihai sekali dan makin lama ia bertempur, makin nampak
nyata bahwa ilmu silatnya itu mempunyai gerakan-gerakan seperti seekor burung garuda. Akan tetapi kini
ia menghadapi Lie Siong yang di samping berkepandaian tinggi juga sedang marah dan sakit hati sekali
sehingga pedang naganya bergerak cepat bagaikan kilat menyambar-nyambar.
Pada jurus ke lima puluh, setelah Lie Siong mulai mendesak lawannya, tiba-tiba pemuda itu
menyambarkan pedangnya dan membabat ke arah leher Thai Eng Tosu. Pendeta ini membungkuk dan
merendahkan tubuhnya sehingga sambaran pedang itu lewat di atas kepalanya. Akan tetapi ia tahu bahwa
lidah naga yang merah itu tidak tinggal diam dan tahu-tahu sulingnya yang berada di tangan kanannya
telah terlibat dan terbetot oleh lidah naga itu. Sekali Lie Siong membentak sambil menendang, tosu itu
terpaksa mengelakkan diri dan otomatis sulingnya kena dirampas oleh Lie Siong!
“Sudahlah, sudahlah, memang orang yang benar selalu menang!” tosu itu berkata sambil menghela napas
ketika melihat betapa sulingnya hancur dibanting oleh Lie Siong. “Baru tiga hari yang lalu mereka
meninggalkan tempat ini menuju ke Thian-san. Lekaslah kau menyusul ke barat, anak muda yang gagah.”
Lie Siong segera memberi tanda kepada Goat Lan dan Hong Beng dan mereka bertiga berlari cepat sekali
meninggalkan Thai Eng Tosu yang memandang dengan bengong. Ia menggeleng-geleng kepalanya dan
berkata seorang diri, “Keturunan Bu Pun Su memang lihai... lihai sekali...”
Sepekan kemudian, sampailah mereka di kota Hami dan setelah bertanya-tanya mereka dapat mendengar
berita tentang Ban Sai Cinjin dan rombongannya, bahkan mendengar pula cerita tentang Lili yang amat
menarik hati sekali.
Ternyata bahwa rombongan Ban Sai Cinjin yang terdiri dari Lili, Wi Kong Siansu, Bouw Hun Ti, Hailun
Thai-lek Sam-kui dan kedua tosu dari Pek-eng-kauw, setelah tiba di kota Hami, lalu mereka berhenti pada
sebuah kuil di mana Ban Sai Cinjin sudah kenal baik dengan pengurusnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Lili masih tetap dalam keadaan tak berdaya dan biar pun gadis ini selalu berusaha untuk melepaskan diri,
namun tidak ada kesempatan sama sekali baginya. Gadis ini tidak putus harapan, maka dia pun menjaga
kesehatannya dengan baik, tidak pernah menolak untuk makan dan minum, akan tetapi sama sekali tidak
mau bicara dengan mereka.
Ban Sai Cinjin menderita kepusingan pertama saat Thai Eng Tosu ‘mogok’ di pegunungan itu dan tidak
mau melanjutkan perjalanannya karena tidak setuju dengan ditawannya Lili. Kemudian ia menjadi makin
pusing karena nampaknya Kim Eng Tosu dan juga Bouw Ki, orang termuda dari Hailun Thai-tek Sam-kui,
sudah tergila-gila kepada Lili dan beberapa kali mencoba mengganggunya.
Setelah sampai di kuil itu, Bouw Hun Ti lalu mengajukan usulnya kepada Ban Sai Cinjin, yakniu agar
supaya Lili dikawinkan saja kepadanya dengan upacara yang sah! Ban Sai Cinjin melotot dan hendak
memakinya, akan tetapi dengan sungguh-sungguh Bouw Hun Ti berkata,
“Suhu, ada tiga hal penting sekali yang mendorong teecu mengajukan usul ini. Pertama, biar pun teecu
telah berusia empat puluh lebih akan tetapi teecu masih belum menikah, dan seorang isteri Nona Sie itu
sudah cukup memenuhi syarat. Ke dua, kalau Nona Sie sudah menjadi isteri teecu, kiranya Pendekar
Bodoh beserta kawan-kawannya akan suka menghabiskan perkara permusuhannya dengan kita, oleh
karena adanya ikatan keluarga dengan teecu, dan lagi pula kalau Nona Sie sudah menjadi isteri teecu
tentu akan suka mencegah orang tuanya mengganggu kita. Ke tiga, kita semua akan terbebas pula dari
gangguan-gangguan kawan-kawan sendiri yang tergila-gila kepada Nona Sie!”
Mendengar ini Ban Sai Cinjin mengangguk-angguk girang. Memang betul sekali alasan-alasan muridnya
ini, maka dia lalu minta pendapat dari semua orang. Seperti biasanya, Wi Kong Siansu tidak peduli akan
urusan yang dianggapnya remeh ini, ada pun Hailun Thai-lek Sam-kui juga tidak berani mencegahnya.
Demikian juga kedua orang tosu dari Pek-eng-kauw.
“Kalau saja Nona Sie suka, tentu tidak ada orang yang berkeberatan,” kata Bouw Ki, orang ke tiga dari
Hailun Thai-lek Sam-kui untuk menyembunyikan kecewanya.
Ban Sai Cinjin tersenyum. Untuk ini ia sudah pikirkan baik-baik. “Tentu saja ia akan suka. Cu-wi lihat saja
sendiri nanti.”
Dan pada keesokan harinya, kuil itu dihias meriah dan penduduk yang mendengar kabar bahwa di situ
akan dilangsungkan pernikahan antara dua orang-orang pelancong, segera berduyun datang menonton.
Dan benar saja, tidak seperti biasanya, Lili kini menurut saja pada saat dirias seperti pengantin dan
dipertemukan dengan Bouw Hun Ti di depan meja sembahyang!
Tentu saja Hailun Thai-lek Sam-kui dan yang lain-lain merasa heran sekali. Sebenarnya tidak usah dibuat
heran, kalau orang sudah mengenal betul siapa adanya Ban Sai Cinjin. Seperti juga pernah dia lakukan
kepada Sin-kai Lo Siang, kini dia pun mempergunakan pengaruh obat beracun yang dicampur di dalam
makanan yang dimakan oleh Lili malam tadi.
Hanya bedanya, kalau Sin-kai Lo Sian dahulu menjadi gila dan terampas ingatannya, kini Lili hanya
terampas ingatannya dan lumpuh kemauannya saja. Dia seakan-akan menjadi seorang tanpa semangat
dan menurut saja apa yang orang perintahkan kepadanya!
Akan tetapi, selagi hwesio penjaga kelenteng itu akan melakukan upacara sembahyang bagi sepasang
pengantin, tiba-tiba dari antara penonton muncul seorang kate kecil yang bernyanyi sambil menenggak
araknya, kemudian ia melangkah ke depan dan mendorong hwesio itu sehingga terjungkal!
“Enak saja orang mengawinkan anak orang tanpa bertanya kepada orang tuanya!” seru orang tua kate itu
sambil menggandeng tangan Lili. “Lebih baik dikawinkan dengan aku Si Tua Bangka!”
Bouw Hun Ti marah sekali. Akan tetapi ketika ia memandang seperti juga Ban Sai Cinjin dan yang lain-lain,
dia pun menjadi kaget sekali karena kakek kate ini bukan lain adalah Im-yang Giok-cu! Kedua tokoh Pekeng-
kauw yang tidak kenal siapa adanya kakek kate ini, menjadi marah melihat kekurang ajarannya, maka
cepat sekali Sin Eng Tosu dan Kim Eng Tosu menyerang dengan ujung lengan baju mereka.
“Enyahlah kau orang kate!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi bukan main hebatnya akibat dari hinaan dan serangan ini. Orang tidak tahu bagaimana kakek
itu bergerak namun tahu-tahu kedua orang tosu berpakaian putih itu sudah jatuh tersungkur ke kolong meja
dalam keadaan pingsan!
Bouw Hun Ti mencabut goloknya dan sebelum Ban Sai Cinjin sempat mencegah, Bouw Hun Ti telah
melakukan serangan kilat yang hebat sekali ke arah kepala orang kate yang tertawa-tawa itu! Im-yang
Giok-cu mendengar sambaran angin dari belakang dan tanpa menengok lagi lalu mengangkat guci araknya
yang kehijauan itu.
“Traaaaang…!”
Golok yang dipegang oleh Bouw Hun Ti lantas terpental dari pegangan saking kerasnya benturan kedua
macam benda ini. Dan sebelum Bouw Hun Ti sempat mengelak, tangan Im-yang Giok-cu sudah ‘masuk’ ke
dalam iganya. Bouw Hun Ti mengeluh panjang, lalu tubuhnya terkulai ke atas lantai!
Orang-orang yang menonton pengantin menjadi panik dan berserabutan melarikan diri sehingga tempat itu
sebentar saja menjadi sunyi, hanya tersisa Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu, Hailun Thai-lek Sam-kui, Imyang
Giok-cu, beserta Lili saja yang masih berdiri, karena dua orang tosu Pek-eng-kauw dan Bouw Hun Ti
masih belum dapat bangun. Ada pun hwesio yang tadi melakukan upacara sembahyang ternyata sudah lari
bersembunyi entah ke mana.
Ketika melihat orang kate yang datang-datang mengamuk, Hailun Thai-lek Sam-kui yang doyan berkelahi
segera mencabut senjata mereka masing-masing. Akan tetapi Ban Sai Cinjin segera memberi tanda
dengan tangannya, mencegah kawan-kawannya itu turun tangan.
Mata Im-yang Giok-cu yang lihai melihat gerakan mereka ini, karena itu setelah tertawa bergelak ia lalu
berkata menantang, “Ha-ha-ha, Sam-kui (Tiga Setan), mengapa tidak jadi mencabut senjata? Kalau kalian
hendak meramaikan pesta perkawinanku, marilah maju!”
Ban Sai Cinjin buru-buru maju dan menjura di depan Im-yang Giok-cu. “Totiang, belum lama ini kita saling
bertemu dan tidak ada urusan sesuatu di antara kita. Tapi mengapa Totiang hari ini menggagalkan
pernikahan yang sah dan baik-baik?”
Im-yang Giok-cu menjemput cawan arak di atas meja yang masih penuh, kemudian dia menenggaknya.
Akan tetapi dia lalu menyemburkan arak itu ke arah Ban Sai Cinjin yang walau pun sudah cepat mengelak,
masih saja ujung bajunya terkena arak dan baju itu menjadi bolong-bolong! Ia kaget sekali dan pucatlah
mukanya.
“Arak busuk, seperti orangnya!” Im-yang Giok-cu memaki. “Ban Sai Cinjin, kejahatanmu sudah bertumpuktumpuk.
Kau kira aku tidak dapat melihat bahwa nona ini terpengaruh oleh obatmu yang jahat? Hayo kau
lekas memberi obat penawarnya, kalau tidak, jangan bilang Im-yang Giok-cu keterlaluan kalau aku
membunuh muridmu dan juga kau dan kawan-kawanmu di tempat ini juga tanpa menanti sampai di puncak
Thian-san!”
Mendengar ucapan sombong ini, dengan marah Wi Kong Siansu bangun berdiri. Akan tetapi Ban Sai Cinjin
cepat melangkah maju dan berkata dengan hormatnya,
“Totiang, ternyata matamu tajam sekali. Akan tetapi sayang, aku tidak mempunyai obat penawarnya!
Biarlah kau boleh mengamuk, belum tentu kami kalah, akan tetapi Nona ini selamanya akan menjadi
seorang boneka hidup!” Ban Sai Cinjin yang cerdik ini hendak menggunakan keadaan Lili sebagai kunci
mencapai kemenangan!
Im-yang Giok-cu menjadi ragu-ragu, kemudian ia berkata, “Ban Sai Cinjin, buku Thian-te Ban-yo Pit-kip
berada bersamamu, bukalah lembarannya dan carilah di dalamnya, tentu ada obat penawar untuk racunmu
yang keji ini.”
Ban Sai Cinjin menjadi pucat dan melangkah mundur dua tindak. “Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya.
“Kitab itu sudah terbakar...”
“Sudahlah, jangan seperti anak kecil! Dahulu Sin Kong Tianglo pernah memperlihatkan kepadaku bahwa
kitab itu terbuat dari kertas yang tidak dapat terbakar karena sudah direndam dengan obat. Jangan kau
bermain gila di hadapanku. Sekarang begini sajalah, kau kembalikan kitab itu kepadaku agar Nona ini
dunia-kangouw.blogspot.com
dapat ditolong, dan aku melepaskan muridmu dan takkan turun tangan, baik di sini mau pun di Thian-san.
Nah, bagaimana? Apakah kau memilih kekerasan?”
Setelah berpikir-pikir sejenak, Ban Sai Cinjin akhirnya mengalah. Dikeluarkannya kitab Thian-te Ban-yo Pitkip
yang memang disimpannya sebab dahulu yang terbakar adalah kitab tiruannya saja. Bersama-sama
mereka segera mencari obat penawar untuk Lili dan ternyata obat itu mudah saja. Ban Sai Cinjin lalu
menyediakan obat itu.
Setelah Lili disuruh meminumnya yang dilakukan dengan taat, gadis itu lalu jatuh pulas. Setengah hari Lili
tidur, ditunggui oleh Im-yang Giok-cu dan semua orang tidak ada yang berani turun tangan. Kemudian,
menjelang senja Lili sadar dan ternyata dia telah sembuh kembali!
Ia hendak mengamuk, akan tetapi Im-yang Giok-cu mencegahnya dan memperkenalkan diri sebagai guru
Goat Lan. “Kau pergilah dan bawalah kitab ini, kembalikan kepada Goat Lan.”
Lili tidak membantah. Setelah menghaturkan terima kasihnya ia kemudian melompat dan menghilang di
dalam gelap.
Tentu saja Ban Sai Cinjin menjadi marah sekali ketika melihat Lili melarikan diri sambil membawa kitab itu.
Ia hendak mengejar, akan tetapi Im-yang Giok-cu menghadangnya,
“Kitab itu adalah milik Yok-ong, harus dikembalikan kepada muridnya.”
“Im-yang Giok-cu, kau terlalu sekali! Kau sudah berjanji takkan menggunakan kekerasan, akan tetapi tidak
saja kau menghina kami, bahkan kitab itu pun kau suruh bawa pergi.”
“Tenang, Ban Sai Cinjin. Tadi aku hanya berjanji bahwa aku tidak akan menggunakan kekerasan dan tidak
ikut bertempur di sini mau pun di Thian-san. Aku tidak berjanji apa pun tentang kitab itu, dan tentang gadis
itu. Dia puteri Pendekar Bodoh, harus dihormati dan ditolong.”
“Keparat!” seru Ban Sai Cinjin dan dengan gemas dia kemudian memberi isyarat kawan-kawannya untuk
mengeroyok.
Im-yang Giok-cu tertawa bergelak-gelak, lalu cepat memutar guci araknya menghadapi keroyokan banyak
orang. Hebat sekali sepak terjang kakek kate ini, akan tetapi jumlah pengeroyoknya terlalu banyak. Ia
dikepung oleh orang-orang yang berkepandaian tinggi, yaitu oleh Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu, tiga
kakek Hailun Thai-lek Sam-kui, Sin Eng Tosu, Kim Eng Tosu dan juga Bouw Hun Ti!
Betapa pun lihainya Im-yang Giok-cu, tentu saja ia tidak tahan menghadapi lawan yang tak seimbang ini.
Kepandaiannya hanya setingkat lebih tinggi dari pada Wi Kong Siansu, sedangkan para pengeroyoknya,
kecuali Bouw Hun Ti dan Ban Sai Cinjin, mempunyai kepandaian setingkat dengan Wi Kong Siansu.
Beberapa kali kakek kate ini telah menerima pukulan senjata lawan dan biar pun tidak mendatangkan luka
hebat, tetap saja semakin melemahkan tenaganya. Akhirnya, ujung payung yang lihai dari Thian-te Te-it
Siansu telah berhasil menotok iganya dengan telak dan keras sehingga kakek kate ini terhuyung-huyung
sambil tertawa bergelak.
Dia lalu melontarkan guci araknya sedemikian kerasnya dan orang yang sial menerima hantaman guci arak
ini adalah Bouw Hun Ti sendiri! Guci arak itu melayang dengan kecepatan yang tidak dapat dielakkan lagi
dan dengan mengeluarkan suara keras, guci arak dan kepala Bouw Hun Ti menjadi remuk dan orang jahat
itu telah menghembuskan napas terakhir sebelum tubuhnya roboh ke lantai! Ternyata bahwa maut telah
meminjam tangan Im-yang Giok-cu untuk membalaskan dendam orang-orang yang dibikin sakit hati oleh
Bouw Hun Ti.
Melihat muridnya binasa, Ban Sai Cinjin memekik marah dan ia lalu melompat mendekati Im-yang Giok-cu
yang terluka hebat. Sekali huncwe-nya terayun, terdengar suara pletak, dan retaklah kepala Im-yang Giokcu
yang membuat nyawanya melayang meninggalkan raganya.
Ban Sai Cinjin merasa menyesal sekali. Tidak saja ia kehilangan Lili, bahkan juga sudah kehilangan kitab
obat itu. Hanya sedikit keuntungannya, di samping kerugian kehilangan murid, mereka telah berhasil
membunuh Im-yang Giok-cu, karena kalau kakek kate ini ikut membantu Pendekar Bodoh, ia merupakan
tenaga yang amat menguatirkan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketika Goat Lan mendengar berita tentang kematian Im-yang Giok-cu, ia menangis sedih sekali dan
mengajak Lie Siong serta Hong Beng untuk mengunjungi kuburan Im-yang Giok-cu di belakang kelenteng.
Jenazah kakek kate ini telah diurus oleh hwesio-hwesio dan dimakamkan di belakang kelenteng, bersama
dengan jenazah Bouw Hun Ti yang juga dimakamkan di bagian lain di belakang kelenteng.
Goat Lan menangis dan bersembahyang di hadapan kuburan gurunya, bersumpah untuk membalaskan
dendam kepada Ban Sai Cinjin beserta kawan-kawannya. Malam harinya mereka bertiga bermalam di
kelenteng itu dan alangkah girangnya hati mereka ketika Lili tiba-tiba muncul dari dalam gelap!
Goat Lan menubruk dan memeluk Lili, lalu beramai-ramai empat orang muda itu saling menuturkan
pengalaman mereka. Ternyata sesudah ditolong oleh Im-yang Giok-cu, Lili bersembunyi di dalam sebuah
hutan di dekat kota itu. Kemudian, pada keesokan harinya ia mendengar tentang kematian Im-yang Giokcu,
maka menyesallah dia mengapa dia tidak dapat membantu kakek penolongnya itu. Ia pikir bahwa
masanya untuk mengadu kepandaian di Thian-san sudah tiba, maka lebih baik ia menanti di situ untuk
mencari kawan-kawan guna menghadapi Ban Sai Cinjin yang benar-benar amat curang dan lihai.
“Dan bagaimana kalian bertiga bisa bersama-sama?” Lili bertanya sambil mengerling ke arah Lie Siong
yang semenjak tadi hanya diam saja, hanya kadang-kadang memandang kepada Lili dengan hati
bersyukur bahwa gadis yang dicintainya itu telah terhindar dari bahaya hebat.
Pada waktu Lie Siong menceritakan pengalamannya dan betapa ia terluka ketika hendak menolong Lili,
gadis ini melirik dan dengan cemberut dia lantas berkata, “Selama itu kau melakukan perjalanan mengikuti
dan tidak memperlihatkan diri? Mengapa begitu?”
Merahlah wajah Lie Siong dan sambil menundukkan muka ia berkata, “Aku takut kalau ternyata kau... kau
tidak suka berjalan bersamaku.”
“Apa-apaan pula ini, Song-ko?” tegur Lili dengan sepasang mata terbelalak. “Kau sendiri yang tidak mau
melakukan perjalanan bersamaku, dan tahu-tahu kau mengikutiku tanpa memperlihatkan diri... aneh...
aneh...!”
Lie Siong makin merah mukanya dan terdengar Goat Lan tertawa geli. “Sekarang kita berempat sudah
bertemu dan berkumpul, maka yang sudah biarlah lalu, sekarang kita melakukan perjalanan bersama
menuju ke Thian-an. Dengan berempat kita akan lebih kuat menghadapi mereka,” kata Hong Beng.
“Enci Lan,” kata Lili tiba-tiba, “kitabmu masih kusimpan, takkan kuberikan sekarang. Nanti saja kalau kau
dan Beng-ko kawin, akan kuberikan sebagai... hadiah perkawinan!”
Timbul kembali kenakalan Lili, karena itu Goat Lan juga menjadi gembira, terhibur dari kesedihan hatinya
mendengar tentang kematian gurunya. “Eh, katamu betul, Lili. Aku jadi teringat akan Sin-kai Lo Sian yang
berjumpa dengan kami di jalan. Katanya dia hendak mengajukan pinangan kepada orang tuamu,
meminang engkau untuk... untuk siapa, ya?” Sambil berkata demikian, dengan penuh arti Goat Lan
mengerling ke arah Lie Siong.
Lili menjadi jengah dan merah sekali mukanya. Ia mengulurkan tangan hendak mencubit Goat Lan, akan
tetapi Goat Lan cepat mengelak, dan Hong Beng lalu menyela,
“Sudahlah, kalian ini bersenda gurau saja. Urusan itu sudah bukan rahasia lagi bagi kita semua, dan
urusan itu akan dapat terjadi dengan lancar tanpa ada halangan apa-apa lagi.”
Maka berangkatlah dua pasangan muda yang gagah perkasa ini. Di sepanjang jalan, Lili dan Goat Lan
bersenda gurau sehingga Hong Beng dan Lie Siong turut menjadi gembira pula.
Empat orang pendekar remaja ini menuju Thian-san di mana mereka hendak mengukur kepandaian
dengan tokoh-tokoh besar dunia persilatan. Sedikit pun mereka tidak merasa gentar dan takut sesudah
mereka berkumpul menjadi satu. Dengan seorang yang dicinta di sebelahnya siapakah yang akan merasa
takut…..?
********************
Musim chun (semi) sudah tiba. Puncak Thian-san nampak kehijauan dan pemandangan alamnya indah
dunia-kangouw.blogspot.com
sekali. Di puncak itu terdapat sebuah kuil besar yang kuno dengan ukiran-ukiran indah, akan tetapi kuil ini
tidak terurus oleh karena penghuninya telah berpuluh tahun yang lalu mengosongkan tempat ini.
Dahulu, kuil ini adalah pusat dari partai persilatan Thian-san-pai yang besar. Akan tetapi akhir-akhir ini
habislah orang yang tadinya masih suka mengurus kuil ini, karena semua anak murid Thian-san-pai lebih
suka berkelana di dunia bebas.
Akan tetapi pagi hari itu di dalam kuil ini tidak sunyi seperti biasanya. Ban Sai Cinjin dan kawan-kawannya
telah berada di tempat itu sedang berunding dengan kawan-kawannya. Betapa pun juga, setelah Im-yang
Giok-cu tewas, mereka tidak berapa takut menghadapi Pendekar Bodoh. Mereka telah memperhitungkan
bahwa untuk menghadapi teman-teman Pendekar Bodoh, kepandaian mereka masih sanggup
mengimbangi, ada pun Pendekar Bodoh sendiri akan dilawan oleh Wi Kong Siansu.
Tiba-tiba dari luar kuil terdengar suara nyaring yang menantang mereka, “Ban Sai Cinjin dan Wi Kong
Siansu! Kami sudah datang untuk memenuhi tantanganmu!”
Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu, Thian-te Te-it Siansu, Lak Mou Couwsu, Bouw Ki, dan Coa Ong Lojin
serta beberapa orang pemimpin Coa-tung Kai-pang yang sudah datang terlebih dulu di tempat itu, keluar
dari kuil itu dan ketika tiba di luar, dengan tercengang mereka melihat empat orang muda yang bukan lain
adalah Goat Lan, Lili, Lie Siong dan Hong Beng!
Hati Ban Sai Cinjin berdebar. Ia tidak melihat Pendekar Bodoh, orang yang paling ditakuti dan dibencinya,
maka untuk menetapkan hatinya dia bertanya, “Mana Pendekar Bodoh? Apakah dia takut datang ke sini
sehingga mewakilkannya kepada anak-anaknya?”
“Ban Sai Cinjin, jangan membuka mulut sombong!” Lili berseru marah. “Orang macam kau tidak pantas
untuk dilawan oleh ayahku. Kami orang-orang muda sudah cukup untuk membuktikan bahwa kepandaian
kami tidak kalah olehmu.”
“Cu-wi-enghiong,” kata Hong Beng yang lebih tenang dan sabar sambil menjura kepada pihak tuan rumah,
“kedatangan kami berempat mengandung dua maksud. Pertama untuk memenuhi tantangan Wi Kong
Siansu yang telah menantang ayah untuk datang berpibu di sini pada waktu ini. Dan kedua kalinya, kami
harus membalas dendam dan sakit hati kepada Ban Sai Cinjin yang telah membunuh Lie Kong Sian supek,
Ang I Niocu bibi kami dan juga Im-yang Giok-cu suhu dari Nona Kwee. Nah, terserah kepada Wi Kong
Siansu hendak memulai pibu itu atau memberikan kesempatan kepada kami membunuh Ban Sai Cinjin
lebih dulu.”
Wi Kong Siansu tak dapat menjawab dan hanya saling pandang dengan Ban Sai Cinjin. Dibandingkan
dengan yang lain, sebetulnya Wi Kong Siansu lebih gagah, karena dalam beberapa pertempuran
keroyokan sebelumnya, tosu ini sengaja tidak mau mengeluarkan seluruh kepandaiannya, karena ia
merasa malu untuk mendapatkan kemenangan sambil mengeroyok. Kini melihat empat orang muda itu
menantang, tentu saja dia merasa malu pula untuk maju mengeroyok.
"Sute, apakah kau merasa tidak kuat menghadapi seorang di antara mereka?” tanyanya kepada Ban Sai
Cinjin perlahan sekali.
Ban Sai Cinjin sudah mengenal kehebatan empat orang muda itu, akan tetapi akhir-akhir ini dia sudah
memperdalam ilmu silatnya dan kalau bertempur satu lawan satu, agaknya sukar sekali dipercaya kalau
dia akan kalah. Lagi pula, tentu saja dia merasa malu kalau menyatakan takut.
Maka dia kemudian melompat maju dan berkata menantang. “Orang-orang muda yang sombong! Siapa sih
takut padamu? Majulah, mana saja, atau kalian hendak mengeroyok aku?” sambil berkata demikian, dia
mengisi huncwe baru yang berwarna hitam dengan tembakau hitamnya yang terkenal, bahkan lalu
mempersiapkan sepuluh batang panah tangan di saku bajunya.
Kemudian terjadi hal yang lucu. Empat orang muda itu saling berebut untuk menghadapi Ban Sai Cinjin!
“Dia membunuh guruku Im-yang Giok-cu, akulah yang berhak untuk membalasnya!” kata Goat Lan.
“Tidak, Goat Lan. Dia telah menewaskan ayah bundaku, akulah yang lebih berhak pula!” kata Lie Siong
sambil mengeluarkan pedangnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aku yang paling tua, biar aku saja menghancurkan kepalanya!” kata Hong Beng.
“Tidak, tidak! Akulah yang akan membunuh anjing tua ini, Enci Lan, kau mengalah sajalah kepadaku.
Siong-ko, biar aku yang membalaskan sakit hati orang tuamu dan Beng-ko, kau harus mengalah terhadap
adikmu!” kata Lili dan sekali menggerakkan dua kakinya, gadis ini telah melompat menghadapi Ban Sai
Cinjin!
“Lili, kau tidak boleh bertangan kosong saja!” kata Hong Beng yang amat mengkuatirkan keselamatan
adiknya, karena ia maklum bahwa kelihaian Lili tergantung dari kipas dan pedangnya.
“Lili, kau pakailah bambu runcingku!” kata Goat Lan.
Ada pun Lie Siong segera melompat mengejar dan menyerahkan pedangnya kepada Lili. “Kau pakailah ini,
Lili.”
Lili menatap dengan mesra dan berterima kasih. “Tak usah, Siong-ko, jangan membikin kotor pedangmu,
kedua tanganku cukup untuk menghadapinya.”
Lie Siong melompat mundur kembali dan diam-diam tiga orang muda itu merasa gelisah. Bagaimana Lili
demikian sembrono untuk menghadapi Ban Sai Cinjin yang lihai dengan bertangan kosong saja?
Akan tetapi Ban Sai Cinjin tidak mau menyia-nyiakan kesempatan baik ini. Dia berseru keras dan segera
menyerang Lili dengan huncwe-nya. Gadis itu tersenyum mengejek dan begitu dia mengeluarkan Ilmu
Pukulan Hang-liong-cap-it-ciang, tidak saja Ban Sai Cinjin yang menjadi terkejut sekali, bahkan Lie Siong,
Hong Beng, dan Goat Lan juga memandang dengan mata terbelalak. Belum pernah mereka menyaksikan
ilmu pukulan seperti itu dan seingat Hong Beng, ayahnya sendiri pun tidak pernah memberi pelajaran ilmu
silat seperti yang dimainkan oleh Lili ini.
Namun hasilnya luar biasa sekali. Dalam jurus-jurus pertama saja Ban Sai Cinjin sudah amat terdesak.
Huncwe-nya terbentur dengan tenaga pukulan yang lebih berbahaya dari pada senjata tajam. Memang
hebat sekali Hang-liong-cap-it-ciang ini dan kalau Lili mau, setelah menyerang selama tiga puluh jurus
lebih, dia dapat membinasakan lawannya.
Akan tetapi, di samping kegalakan dan kelincahannya, tabiat ayahnya menempel gadis ini. Ia pemurah dan
mudah memberi ampun. Ketika mendapat kesempatan, ia mengirim pukulan dengan kedua tangan bahkan
kaki kirinya juga mendupak ke arah dada lawan.
Terdengar bunyi keras dan kembali untuk kedua kalinya huncwe maut dari Ban Sai Cinjin pecah terkena
hawa pukulan Hang-liong-cap-it-ciang, dan walau pun kakek itu hendak menangkis, tetap saja dadanya
terkena pukulan hingga dia menjerit dan terlempar roboh sambil memuntahkan darah segar! Walau pun Lili
tidak membunuhnya, namun dia telah menderita luka berat dan untuk sementara waktu takkan dapat
bergerak!
Wi Kong Siansu melompat ke depan hendak menantang, akan tetapi pada saat itu pula berkelebat
bayangan tujuh orang dan muncullah Cin Hai, Kwee An, Lin Lin, Ma Hoa, yang dikawani oleh Kam Liong,
Kam Wi, dan Tiong Kun Tojin!
“Kami datang atas perintah Kaisar menangkap pengkhianat dan pemberontak Ban Sai Cinjin, Coa Ong
Lojin dan pengemis-pengemis Coa-tung Kai-pang!” seru Kam Wi sambil mengeluarkan lengki (bendera
titah raja). Melihat bendera ini, Wi Kong Siansu dan ketiga Hailun Thai-lek Sam-kui lalu berlutut.
Coa Ong Lojin hendak melarikan diri, akan tetapi sekali menggerakkan tangannya, Tiong Kun Tojin sudah
berhasil menangkapnya dan menotok punggungnya! Kam Wi tertawa bergelak, lalu berpaling kepada
Pendekar Bodoh sambil berkata,
“Urusan kami sudah beres, beberapa hari lagi kami akan datang ke Shaning mengurus perjodohan!”
Ia lalu menyeret Coa Ong Lojin, Ban Sai Cinjin dan beberapa orang pengemis Coa-tung Kai-pang, lalu
menjura dan meninggalkan tempat itu bersama Kam Liong dan Tiong Kun Tojin sambil membawa
tawanan-tawanan mereka.
Pendekar Bodoh tersenyum, lalu menjura kepada Wi Kong Siansu. “Wi Kong Siansu, sekarang kau melihat
dunia-kangouw.blogspot.com
sendiri betapa jahatnya sute-mu itu. Ia sudah bersekongkol untuk membunuh putera Kaisar dan bahkan ia
membantu pula pergerakan orang-orang Mongol yang lalu. Nah, karena kita berhadapan sebagai musuh
hanya karena gara-gara Ban Sai Cinjin, perlukah permusuhan ini dilanjutkan lagi?”
Wi Kong Siansu dan Hailun Thai-lek Sam-kui saling pandang. Terang bahwa keadaan pihak mereka jauh
kalah kuat. Akan tetapi untuk menutup rasa malu, Wi Kong Siansu lalu berkata. “Pendekar Bodoh, orangorang
seperti kita hanya punya satu macam kesukaan, yaitu memperdalam pengertian ilmu silat. Kini
setelah kita bertemu, mengapa kita tidak main-main sebentar?”
Cin Hai menghela napas. “Baiklah, orang tua. Kau boleh menyerangku tanpa kubalas, dan bila mana
dalam sepuluh jurus kau dapat membuatku menggerakkan kaki selangkah saja, aku mengaku kalah
padamu!” Setelah berkata demikian, Cin Hai lalu berdiri tegak dan menundukkan kepalanya. Dia
memegang sebatang suling dan meramkan matanya seperti tidur!
“Pendekar Bodoh, agaknya kau benar-benar sudah mewarisi kepandaian Bu Pun Su. Biarlah aku
mencobanya!” Sambil berkata demikian, Wi Kong Siansu segera mencabut Hek-kwi-kiam, lalu berseru,
“Lihat pedang!”
Dia membuka serangan dengan sebuah tusukan ke arah dada Cin Hai. Namun Pendekar Bodoh tetap
tidak membuka matanya, hanya pada saat pedang itu sudah dekat dengan dadanya, dia baru mengangkat
sulingnya menangkis. Wi Kong Siansu merasa telapak tangannya tergetar, lalu ia menerjang kembali
sampai tiga kali, namun tetap saja sia-sia, karena selalu suling di tangan Cin Hai dapat menangkis dengan
tepat.
Saat Wi Kong Siansu hendak menyerang untuk yang ketujuh kalinya tiba-tiba berkelebat bayangan putih
dan tahu-tahu Lie Siong telah menangkis dengan Sin-liong-kiam.
“Wi Kong Siansu, sungguh tidak tahu malu sekali kau menyerang seorang lawan yang tidak membalas,
bahkan melihatmu pun tidak. Kalau kau memang orang gagah, lawanlah pedangku!” Tanpa menanti
jawaban, Lie Siong lalu menyerang.
Wi Kong Siansu kaget sekali melihat gerakan pedang pemuda ini benar-benar luar biasa sekali. Semua
orang lalu menonton karena pertempuran ini jauh lebih menarik dan ramai.
“Heran sekali...” Cin Hai yang sudah membuka matanya berkata perlahan. “Dari mana ia memperoleh
gerakan-gerakan ini?”
Memang matanya yang tajam melihat gerakan-gerakan ilmu pedang yang aneh dan lihai, yang membuat
sinar pedang hitam di tangan Wi Kong Siansu makin lama makin kecil.
“Siong-ji, tahan! Jangan mendesak orang tua!” Cin Hai berseru dan sekali ia melompat, ia telah berada di
antara ke dua orang yang bertempur itu.
Wi Kong Siansu menyimpan pedangnya dan menarik napas panjang kemudian berkata, “Hebat, memang
hebat! Keturunanmu memang hebat, Pendekar Bodoh. Pinto mengaku kalah.” Ia hendak pergi setelah
menjura.
Akan tetapi Lili lalu berkata kepadanya, “Totiang, jangan kau salah sangka. Pembunuh muridmu, Song
Kam Seng, adalah Ban Sai Cinjin. Aku sendirilah yang sudah mengurus pemakamannya!”
Wi Kong Siansu amat terkejut dan menoleh. Gadis itu dengan singkat lalu menceritakan peristiwa itu. Wi
Kong Siansu kembali menarik napas panjang lalu pergi dari situ dengan hati terpukul.
Dengan lega dan girang, Pendekar Bodoh lalu mengajak semua orang kembali ke timur. Di sepanjang jalan
tiada hentinya saling menuturkan pengalaman masing-masing…..
********************
Rumah Pendekar Bodoh dihias indah. Tidak heran karena pada hari itu dilangsungkan pernikahan dua
orang anak mereka, Hong Beng dengan Goat Lan dan Hong Li dengan Lie Siong!
Tamu-tamu sudah memenuhi ruangan dan di antara mereka terdapat pula tokoh-tokoh persilatan baik
dunia-kangouw.blogspot.com
kawan mau pun bekas lawan seperti Hailun Thai-lek Sam-kui dan lainnya! Pasangan Hong Beng dan Goat
Lan diperkenalkan kepada tamu-tamu lebih dahulu dan sesudah mendapat sambutan dan pemberian
selamat, mereka lalu mengundurkan diri, diganti oleh pasangan Lie Siong dan Hong Li.
Akan tetapi, ketika sepasang pengantin ini sedang menerima penghormatan dan ucapan selamat dari para
tamu, tiba-tiba seorang tinggi besar bangkit berdiri dari bangkunya dan dengan suara keras berkata, “Cuwi,
sekalian! Sebagai sama-sama orang kang-ouw, biarlah pada saat ini aku menyampaikan perasaan
tidak enak hatiku kepada sepasang pengantin dan juga tuan rumah!”
Semua orang segera memandang dan ternyata yang berbicara itu adalah Kam Wi, tokoh Kun-lun-pai,
paman dari Panglima Kam Liong!
“Sebelum Nona Sie dipinang orang lain, aku telah meminangnya lebih dulu untuk putera keponakanku,
Kam Liong. Biar pun belum resmi, pihak keluarga Sie sudah menyatakan cocok, bahkan keponakanku
sudah mengadakan perjalanan bersama dengan Nona Sie. Akan tetapi siapa kira pada hari ini aku melihat
Nona Sie menjadi isteri Lie Siong yang sesungguhnya telah menjadi suami dari seorang gadis Haimi
bernama Lilani!”
Terdengar teriakan nyaring. Pengantin wanita, yaitu Lili, merenggut hiasan kepala yang menutupi mukanya
dan membanting hiasan itu hingga terdengar suara keras.
“Bangsat tua, apakah kau sengaja datang untuk mengantarkan nyawa?” teriaknya dan ia hendak
menyerang Kam Wi yang telah tertawa bergelak-gelak.
Akan tetapi Lie Siong memegang tangannya sambil berbisik, “Sudahlah, Li-moi, dia itu orang mabuk!”
Mendengar cegahan ini, Lili makin gemas, merenggutkan tangannya dan berkata, “Orang lemah, lebih baik
kau kembali kepada Lilani!” Setelah berkata demikian, dengan isak di tenggorokan ia lalu melompat keluar
dari rumah dan melarikan diri!
Lie Siong menjadi bingung, membanting topi pengantinnya lalu menyusul dan mengejar Lili yang berlari
seperti terbang cepatnya! Gegerlah keadaan di sana dan Kam Wi yang masih tertawa-tawa itu ditarik
tangannya oleh Tiong Kun Tojin yang cepat mintakan maaf kepada Pendekar Bodoh untuk sute-nya yang
kasar.
Lili berlari terus, dan ketika ia tahu bahwa Lie Siong mengejarnya, ia berlari makin cepat. Berhari-hari
mereka kejar mengejar dan akhirnya Lili tiba di dekat sumur rahasia tempat tinggal nenek aneh yang
menjadi gurunya. Ia lalu terjun ke dalam sumur itu.
Lie Siong terkejut sekali, akan tetapi pemuda ini pun ikut pula terjun ke dalam sumur. Di dalam kamar di
goa yang aneh itu, Lili dan Lie Siong melihat nenek yang gagu itu tengah duduk bersila dan di
pangkuannya terbaring kepala seorang kakek.
Alangkah terkejut hati Lie Siong ketika melihat bahwa kakek itu adalah... gurunya yang mengajarnya
bermain gundu! Nenek itu keadaannya sudah sangat lemah, kurus kering dan pucat, ada pun kakek itu
ternyata telah menjadi mayat! Mendengar gerakan Lili dan Lie Siong, nenek yang lihai itu membuka
matanya.
“Suthai, kau kenapakah...?” Lili bertanya sambil berlutut.
Nenek itu mencoret-coret di atas tanah. Lili dan Lie Siong lalu membaca tulisan-tulisan itu yang ternyata
menceritakan riwayat nenek itu bersama kakek yang kini dipangkunya dan yang telah mati. Ternyata
keduanya memiliki riwayat yang ada hubungan dekat dengan penghidupan Bu Pun Su, guru dari Pendekar
Bodoh!
Setelah selesai menuturkan riwayatnya dengan tulisan, nenek itu tak kuat lagi dan ketika kedua orang
muda itu memandang, ternyata bahwa nenek itupun telah menghembuskan napas terakhirnya! Dengan
penuh khidmat, Lie Siong dan Lili lalu meninggalkan goa itu, menutupnya dengan batu besar, kemudian
keluar dari sumur itu dan menimbuni sumur itu dengan pepohonan sehingga tempat itu merupakan sebuah
makam yang luar biasa. Kemudian mereka berjalan sambil bergandengan tangan.
“Li-moi, aku tidak dapat berkata apa-apa lagi. Tergantung dari keputusanmu sekarang, hanya inilah tanda
dunia-kangouw.blogspot.com
bahwa semenjak dahulu aku mencintamu.” Lie Siong mengeluarkan sepatu yang dulu dirampasnya dari
saku bajunya.
Lili menerima sepatu itu dengan terharu. Setelah membaca riwayat nenek yang menjadi gurunya itu,
lenyaplah marah dan cemburunya terhadap Lie Siong.
“Hemm, kalian ini laki-laki di seluruh dunia sama saja!” katanya cemberut akan tetapi kerling matanya
membesarkan hati Lie Siong. “Kalau Sucouw Bu Pun Su sendiri sampai terjerumus, biarlah aku maafkan
kau yang satu kali masuk dalam perangkap nafsu. Akan tetapi, awas, jangan sampai terulang lagi!”
Lie Siong memegang tangan Lili dengan penuh kasih sayang. “Tidak akan terulang lagi sampai aku mati,
Li-moi. Pula, harap kau ingat bahwa peristiwa antara aku dengan Lilani itu terjadi sebelum aku berjumpa
dengan kau! Sejak aku bertemu dengan kau... isteriku, jangankan Lilani, biar ada bidadari dari kahyangan
menggodaku, hatiku tetap tidak akan tergoncang!”
Lili mencibirkan bibirnya sambil merenggutkan tangannya. “Cih, mulut laki-laki memang manis, pandai
membujuk merayu. Siapa dapat percaya?”
Setelah berkata demikian dia segera melarikan diri, dikejar oleh Lie Siong! Akan tetapi mereka kini
berkejar-kejaran sambil tertawa-tawa dan juga mereka mengarahkan tujuan kembali ke Shaning di mana
menanti semua keluarga dengan hati gelisah…..
********************
Bagaimanakah riwayat nenek dan kakek guru-guru yang aneh dari Lili dan Lie Siong itu? Mengapa riwayat
mereka sampai mengharukan hati Lili hingga membuat gadis ini dapat memaafkan kesalahan Lie Siong
yang sudah bertindak salah sebelum bertemu dengan dia?
Untuk mengetahui ini, dipersilakan untuk membaca cerita PENDEKAR SAKTI (Bu Pun Su Lu Kwan Cu), di
mana akan muncul tokoh-tokoh besar seperti Bu Pun Su, Hok Peng Taisu, Swi Kiat Siansu, Pok Pok
Sianjin, di waktu tokoh-tokoh ini masih muda! Bacalah riwayat Bu Pun Su di waktu kanak-kanak sampai
menjadi seorang pendekar muda yang sakti dan luar biasa…..
>>>>> T A M A T <<<<<

Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Best Cersil

Pecinta Cersil