Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Senin, 20 November 2017

Pendekar Bodoh Tamat

baca juga
----Pendekar Bodoh Tamat
“Kam-ciangkun, pencuri harta pusaka itu adalah Hok Peng Taisu, seorang yang berilmu tinggi dan tangguh.
Selain dia, masih ada pula Bu Pun Su yang selalu mengacaukan keadaan, karena kami tahu bahwa dia
pun menghendaki harta pusaka itu! Siapa tahu kalau-kalau kedua orang tua jahat itu telah bersekutu! Hal
ini tak boleh dipandang ringan, karena selain mereka berdua yang lihai, masih banyak terdapat anak
muridnya yang tak boleh dipandang ringan, seperti Pendekar Bodoh, Ang I Niocu, Kwee Lin, Ma Hoa, Kwee
An, dan ada pula Nelayan Cengeng!”
Kam Hong Sin mengangguk-angguk, “Aku maklum, Hai Kong Suhu, dan aku pun telah tahu akan kelihaian
mereka. Akan tetapi dengan kerja sama yang baik dan mengerahkan tenaga kita dibantu dengan para
Perwira Sayap Garuda yang banyak jumlahnya, apakah sukarnya untuk menangkap mereka dan
merampas kembali harta pusaka itu?”
Wi Wi Toanio berdiri dan biar pun suaranya halus, akan tetapi jelas terdengar bahwa ia merasa gemas dan
marah sekali ketika ia berkata,
“Apa artinya berbicara tentang merampas kembali harta pusaka? Harta itu telah mereka sebar dan bagibagikan
kepada rakyat! Ini semua adalah salahnya Bu Pun Su dan kalau perundingan ini dimaksudkan
untuk menghukum dia, aku baru mau turut serta!” Setelah berkata demikian, Wi Wi Toanio duduk kembali di
dekat Hai Kong Hosiang.
Terdengar seruan-seruan marah dari sana sini mendengar bahwa harta pusaka itu sudah dibagi-bagi
kepada rakyat. Ada pun Kam Hong Sin yang sudah mengetahui hal itu, hanya tersenyum dan berkata,
“Cuwi sekalian, memang benar ucapan Wi Wi Toanio tadi. Aku pun sudah mendengar tentang hal itu, dan
rupanya para pemberontak itu hendak menghasut rakyat agar supaya memberontak pula dengan
menyogok harta benda pada mereka. Akan tetapi, kita akan bertindak tegas dan membasmi sebelum
mereka mendapat kesempatan mengumpulkan tenaga bantuan. Aku membawa surat resmi dari Kaisar
sendiri yang ditujukan kepada Cuwi yang gagah perkasa.”
Sambil berkata demikian, Kam Hong Sin mengeluarkan sesampul surat yang dibungkus sutera kuning
bersulamkan burung Hong. Ketika dia membacakan surat itu, semua orang terdiam dengan penuh hormat,
karena bagaimana pun juga, menerima surat dari kaisar sendiri adalah satu penghormatan besar yang
jarang sekali dirasakan orang!
Isi surat itu ternyata adalah satu pengharapan dari Kaisar agar orang-orang gagah suka membantu usaha
Kaisar menangkap atau menghukum para pemberontak yang dipimpin oleh Bu Pun Su dan Hok Peng
Taisu!
Ternyata dalam sakit hatinya untuk dapat membalas kekalahannya, Kam Hong Sin sudah berhasil
membujuk Kaisar untuk mengeluarkan putusan menghukum kedua tokoh besar itu supaya dia dapat
mencari bala bantuan dengan mudah. Selain mengharapkan untuk mendapat pertolongan, di dalam surat
itu Kaisar menjelaskan bahwa orang-orang gagah yang suka mengulurkan tangan menolong kelak akan
dunia-kangouw.blogspot.com
diberi pangkat tinggi, tempat tinggal gedung besar di dalam kota raja, dan sejumlah uang yang banyak
sekali.
Tentu saja semua orang yang hadir di situ merasa mengilar mendengar janji upah yang besar itu. Bukan
semata-mata upahnya yang mereka inginkan, akan tetapi nama besar dan penghormatan. Kini terbukalah
kesempatan untuk membantu Kaisar dan membuat pahala yang akan mendatangkan hasil besar dan nama
baik di samping menebus semua dosa mereka yang lalu!
Memang, hampir semua orang yang hadir di sana, kecuali hamba-hamba Kaisar, dahulu sering kali
melakukan pelanggaran-pelanggaran yang berarti berdosa kepada Kaisar, dan dengan adanya
kesempatan ini, maka dosa-dosa itu tentu akan dilupakan dan bahkan akan mengangkat diri mereka
menjadi orang-orang berkedudukan tinggi!
“Kalau demikian, aku setuju!” kata Wi Wi Toanio dan untuk menutupi keinginannya akan kedudukan dan
kemuliaan yang dijanjikan oleh Kaisar itu, ia berkata lagi, “Bukan, karena aku inginkan semua kemuliaan
itu, akan tetapi karena aku akan mendapat kesempatan membalas dendam kepada Bu Pun Su yang sudah
menghina kita dan kepada Hok Peng Taisu yang telah mencuri harta pusaka itu! Tentang kelihaian mereka,
jangan kuatir, aku memiliki seorang supek yang menjadi tokoh nomor satu di daerah barat, yaitu Pok Pok
Sianjin. Kalau aku berhasil minta bantuannya, jangankan baru Bu Pun Su dan Hok Pek Taisu biar ditambah
seratus orang lagi, dengan mudah mereka akan dapat dihancurkan!”
Semua orang memandang heran karena sepanjang pendengaran mereka, tokoh besar dari barat yang
disebut Pok Pok Sianjin itu kabarnya sudah musnah dan sudah naik ke Sorga menjadi dewa! Demikianlah
dongeng yang dituturkan orang.
Hai Kong Hosiang tertawa. “Memang di atas dunia ini terdapat empat orang tokoh besar yang dapat disebut
menduduki tempat tertinggi di dunia persilatan. Untuk daerah selatan dan timur, nama Bu Pun Su dan Hok
Peng Taisu disebut-sebut sebagai dua tokoh besar tanpa tandingan. Akan tetapi di bagian barat terdapat
Pok Pok Sianjin, ada pun di bagian utara terdapat Swi Kiat Siansu, Suhu dari Thai Kek Losu. Kudengar
bahwa Thai Kek Losu dan Sian Kek Losu sudah tewas oleh Pendekar Bodoh, maka kalau kita pergi ke
utara dan melaporkan hal ini kepada Swi Kiat Siansu, mustahil dia tidak akan turun gunung membantu kita!”
Semua orang merasa girang sekali karena kalau saja dua orang sakti itu benar-benar mau turun gunung
membantu, pekerjaan yang berat dan hebat ini akan jauh lebih ringan lagi. Tiba-tiba Ceng To Tosu sambil
mewek-mewek bangun berdiri dari tempat duduknya dan berkata,
“Cu-wi, sesudah diadakan persetujuan untuk bekerja sama, menurut pendapat pinto yang bodoh, ada
baiknya kalau diangkat seorang ketua atau pemimpin agar segala pekerjaan yang dilakukan berada di
bawah pimpinan seorang yang tepat dan yang terbaik di antara kita semua!”
Mendengar ucapan ini, semua orang saling pandang dan mulailah mereka sama-sama
mempertimbangkan, siapa kiranya yang tepat untuk dijadikan pemimpin.
“Seorang ketua harus mempunyai kepandaian tertinggi, maka untuk menentukan siapa yang patut menjadi
ketua, lebih baik kita mengajukan beberapa orang calon, kemudian calon-calon itu menguji kesaktian untuk
membuktikan bahwa dia memang cukup pandai untuk diangkat menjadi ketua,” kata Hai Kong Hosiang.
Orang-orang lalu saling bercakap-cakap hingga keadaan menjadi riuh, sedangkan Ang I Niocu yang melihat
dan mendengar semua ini, diam-diam merasa terkejut sekali. Kalau mereka semua telah bersatu dan
berhasil memanggil kedua orang tokoh besar yang tadi disebutkan, maka pihaknya akan menghadapi
lawan yang amat tangguh.
Ia pernah mendengar nama Pok Pok Sianjin yang bertapa di Puncak Go-bi-san dan juga sudah mendengar
nama Swi Kiat Siansu yang bertapa di pegunungan daerah Mongolia, dan kabarnya kedua orang itu
memiliki kesaktian yang luar biasa! Sambil menahan napas agar jangan mengeluarkan suara berisik, Ang I
Niocu melanjutkan pengintaiannya.
Sesudah dipilih-pilih, pada akhirnya yang diajukan menjadi calon adalah tiga orang yang dianggap memiliki
ilmu kepandaian cukup tinggi, yaitu Hai Kong Hosiang, Wi Wi Toanio, dan Kam Hong Sin sendiri. Tadinya
Siok Kwat Mo-li Si Nenek Bongkok juga dipilih, akan tetapi ia tidak mau menerimanya dan mengundurkan
diri sambil berkata,
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hai Kong Suheng telah dipilih, kenapa pula aku sebagai Sumoi-nya harus maju? Biarlah dia yang mewakili
aku sekalian!”
Sambil tersenyum Kam Hong Sin berkata kepada Hai Kong Hosiang dan Wi Wi Toanio, “Oleh karena kita
berada di antara kawan-kawan sendiri, maka kuharap adu kepandaian ini dilakukan dalam cara damai
sebagaimana yang biasa dilakukan oleh perwira-perwira kerajaan.”
“Bagus, bagaimanakah cara itu, Kam-ciangkun?” tanya Wi Wi Toanio.
“Di waktu para perwira menguji kepandaian, mereka mempergunakan sepasang sumpit gading yang
dipegang pada tangan kanan seperti orang sedang makan nasi. Kemudian dengan sumpit itu mereka saling
menjepit dan berusaha membetot sumpit pada tangan lawannya dan siapa yang sumpitnya terlepas, dia
dianggap kalah.”
“Baik sekali!” Hai Kong Hosiang memuji. “Memang siapa yang lebih tinggi lweekang-nya akan mendapat
kemenangan. Akan tetapi, tentu saja kita tidak boleh menyerang tangan orang dengan sumpit itu, bukan?”
“Tidak boleh sama sekali! Dalam hal ini tentunya kita harus mengandalkan kejujuran dan kepandaian, sama
sekali tidak boleh melukai tangan lawan!”
Setelah mendapat persetujuan, Kam Hong Sin, Wi Wi Toanio dan Hai Kong Hosiang lalu duduk
mengelilingi sebuah meja dan para pelayan segera mengambil tiga pasang sumpit gading. Untuk menguji
kekuatan sumpitnya itu, Kam Hong Siang lalu berseru keras dan menancapkan sepasang sumpit itu di atas
meja sehingga sumpit itu menancap sampai setengahnya di dalam kayu meja yang keras itu.
Wi Wi Toanio tersenyum. Ia pun ingin menguji kekuatan sumpitnya yang akan digunakan dalam
pertandingan ini, maka dia pun mengetuk-ngetuk ujung meja dengan perlahan dan hancurlah ujung meja itu
berhamburan ke bawah.
Hai Kong Hosiang tidak mau kalah. Dia menggunakan sepasang sumpitnya seperti dua batang pensil dan
menggurat-guratkan ujungnya pada permukaan meja. Maka tampaklah guratan-guratan yang dalam pada
permukaan meja itu, bagaikan tanah lempung yang digurat-gurat dengan pisau tajam saja.
Orang-orang yang melihat demonstrasi lweekang dari tiga orang itu bersorak memuji, dan Ang I Niocu
sendiri diam-diam merasa kagum melihat pengerahan tenaga lweekang yang tidak boleh dianggap ringan
itu.
Menurut kebiasaan seperti dituturkan oleh Kam Hong Sin, karena pengikut pertandingan itu ada tiga orang,
maka segera dilakukan undian untuk menentukan siapa yang harus bertanding lebih dulu. Pemenang
pertandingan pertama ini lalu akan berhadapan dengan orang ke tiga untuk menentukan juara dan jabatan
ketua.
Pada saat undian dilakukan, ternyata bahwa yang mendapat giliran pertama adalah Kam Hong Sin dan Wi
Wi Toanio. Mereka tersenyum dan duduk berhadapan dengan tangan menjepit sumpit masing-masing.
“Ciangkun, silakan kau mulai lebih dulu, oleh karena kau yang lebih tahu mengenai cara pertandingan ini.”
Kam Hong Sin mengangguk dan berseru, “Toanio, jagalah sumpitmu!” Sambil berkata demikian, sepasang
sumpit Kam Hong Sin digerakkan dengan terbuka seperti sepasang patuk burung, hendak menjepit sumpit
di tangan Wi Wi Toanio.
Nenek tua ini tidak mengelak karena dia hendak mengukur sampai di mana kehebatan tenaga lawan. Ia
membiarkan sepasang sumpitnya terjepit dan tenyata bahwa sepasang sumpitnya itu terjepit kuat bagaikan
terjepit oleh catut besi saja. Kini adu tenaga dimulai.
Kam Hong Sin mengerahkan tenaga untuk memutar sumpit lawannya agar terlepas dari pegangan. Akan
tetapi ia merasa betapa sumpit itu dipegang dengan kendur dan tenaga lweekang-nya tidak berdaya
menghadapi tenaga halus yang meruntuhkan gerakannya dengan menyerah, akan tetapi yang
mengandung kekuatan yang luar biasa besarnya hingga ketika ia mencoba untuk memutarnya, sepasang
sumpit lawan itu bergerak sedikit pun tidak.
“Ciangkun, kau sudah terlalu lama menjepit!” kata Wi Wi Toanio sambil tersenyum.
dunia-kangouw.blogspot.com
Hal ini mengherankan Kam Hong Sin oleh karena di dalam pengerahan tenaga khikang, mengucapkan
kata-kata merupakan pantangan. Ia membarengi pada saat Wi Wi Toanio membuka mulut, lalu membetot
keras untuk menarik sumpit lawan supaya terlepas, akan tetapi alangkah terkejutnya ketika tiba-tiba sumpit
lawan itu menjadi demikian licin hingga jepitannya terlepas.
Kini Wi Wi Toanio yang menggerakkan sumpitnya dan ketika sumpitnya sudah terjepit sepasang sumpit
Kam Hong Sin, nenek itu tiba-tiba membuat gerakan mendorong, bukan membetot. Ini adalah gerakan
yang licin dan penuh perhitungan, karena pada waktu itu Kam Hong Sin memang sedang mengerahkan
tenaga untuk menahan sumpitnya, maka tentu saja ketika tiba-tiba didorong, tangannya menjadi terdorong
dan sumpitnya hampir terlepas.
Pada saat dia mempertahankan diri dan mulai merobah tenaganya dari menarik menjadi mendorong untuk
melawan tenaga dorongan lawan, tiba-tiba Wi Wi Toanio secara tidak terduga-duga membetot sekerasnya
sambil berseru,
“Lepas!”
Hal ini betul-betul tak pernah diduganya, maka Kam Hong Sin tak dapat mempertahankan sumpitnya lagi
dan sungguh pun dia masih mampu mempertahankan sebatang, yang lain telah kena dibetot terlepas! Kam
Hong Sin bangun berdiri dan menjura di depan Wi Wi Toanio mengaku kalah, sedangkan para hadirin
bertepuk tangan memuji.
Hai Kong Hosiang tertawa terbahak-bahak. “Permainan yang bagus sekali! Selain tenaga dan keuletan,
dalam permainan ini juga diperlukan kecepatan serta kelincahan, ditambah lagi otak yang cerdik! Aku yang
bodoh mana dapat melawan Toanio?” Akan tetapi sambil berkata demikian, dia lalu duduk menghadapi Wi
Wi Toanio, menggantikan tempat Kam Hong Sin yang sudah kalah.
“Seranglah, Hai Kong!” kata Wi Wi Toanio menantang.
“Tidak, engkau saja yang menyerang, aku hendak mempertahankan diri saja,” jawab Hai Kong Hosiang
yang cerdik.
Hwesio ini terkenal amat cerdik dan banyak tipu muslihatnya, maka Wi Wi Toanio berlaku hati-hati sekali.
Nenek ini benar-benar ingin diangkat menjadi ketua, karena hal ini akan menguntungkannya. Kalau dia
yang menjadi pemimpin, maka dia mendapat kesempatan lebih banyak untuk membalas dendamnya
kepada Bu Pun Su. Ia maklum bahwa dalam hal tenaga lweekang dan ilmu silat, mungkin tingkatnya masih
lebih tinggi dari Hai Kong Hosiang, akan tetapi dalam hal kecerdikan, dia sering mengagumi hwesio ini.
Wi Wi Toanio segera menyergap dengan sumpitnya untuk menjepit kedua sumpit Hai Kong Hosiang, akan
tetapi tiba-tiba hwesio ini membuka mulut sumpitnya dan kini sumpit-sumpit itu menjadi saling jepit!
Sepasang sumpit Wi Wi Toanio menjepit sumpit Hai Kong Hosiang sebelah bawah, sedangkan sepasang
sumpit Hai Kong Hosiang menjepit sumpit Wi Wi Toanio sebelah atas, bagaikan mulut dua ekor jangkerik
sedang saling gigit dalam sebuah perkelahian yang sengit!
Saking tegangnya pertandingan itu, tiada terdengar sedikit pun suara di antara penonton yang
memandangnya. Kini Wi Wi Toanio maklum bahwa Hai Kong Hosiang yang cerdik tidak mau mengadu
kecepatan, karena itu dia sengaja menjepit sebuah sumpit lawan dan membiarkan sumpitnya yang
sebatang terjepit pula sehingga dalam keadaan demikian, terpaksa mereka harus mengandalkan tenaga
belaka.
Mereka masing-masing tidak mau mengalah, dan dua pasang sumpit itu sampai tergetar saking serunya
pertemuan tenaga mereka yang disalurkan melalui sepasang sumpit pada tangan masing-masing!
Sebentar sumpit terputar ke kanan, sebentar ke kiri, akan tetapi keduanya sama kuat hingga empat batang
sumpit itu seakan-akan telah tumbuh menjadi satu!
Dari getaran-getaran yang menyerang ke jari-jari tangannya, Hai Kong Hosiang maklum akan kehebatan
tenaga lweekang Wi Wi Toanio. Akan tetapi, nenek tua itu pun merasa betapa sepasang sumpit di tangan
Hai Kong Hosiang demikian kokoh kuatnya bagaikan dua bukit karang yang sukar dirobohkan!
Lama sekali adu tenaga ini berlangsung dan pada jidat Hai Kong Hosiang sudah nampak keringat keluar
membasahi jidatnya, sedangkan Wi Wi Toanio juga mulai nampak pucat! Kam Hong Sin berdiri dengan
dunia-kangouw.blogspot.com
mata terpentang lebar karena baru kali ini dia menyaksikan pertandingan sumpit yang demikian seru dan
hebatnya.
Tiba-tiba Wi Wi berseru keras sekali dan dia telah mengerahkan seluruh tenaganya. Hai Kong mencoba
untuk bertahan, akan tetapi tiba-tiba…
“Krekkk!”
Terdengar suara keras dan tiga batang sumpit telah patah, yaitu dua batang sumpit Hai Kong Hosiang dan
sebatang sumpit Wi Wi Toanio! Hal ini menunjukkan bahwa lweekang Wi Wi Toanio masih menang
setingkat!
Hai Kong Hosiang menghapus keringatnya sambil tertawa. “Sudah kukatakan bahwa aku tak akan bisa
menang menghadapi Wi Wi Toanio yang tangguh! Akan tetapi, kita semua enak-enak mengadu kepandaian
hingga melupakan orang yang mengintai dari luar!”
Ang I Niocu merasa terkejut bukan main dan serba salah. Terang bahwa mata Hai Kong Hosiang yang
tinggal satu itu awas sekali dan sudah dapat melihatnya. Ang I Niocu tidak kenal arti takut, akan tetapi
dalam keadaan seperti itu dia benar-benar menjadi bingung. Kalau ia melarikan diri dari situ, dia akan
merasa malu kepada diri sendiri, sebaliknya jika dia melompat masuk, dia yakin bahwa dia tidak akan kuat
menghadapi sekian banyaknya orang-orang gagah.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara orang tertawa dari sebelah atasnya yang disusul ucapan mengejek,
“Ha-ha-ha, memang semenjak tadi aku berada di sini. Bagaimana aku bisa masuk sebelum diundang?”
Ang I Niocu terkejut bukan main. Bagaimana ada orang bisa berada di atasnya tanpa dia ketahui sama
sekali? Dia menengok dan melihat seorang kakek botak duduk di atas tiang yang melintang di atas
kepalanya. Kakek itu duduk bagaikan seorang anak-anak sedang menonton pertunjukan indah, sedangkan
pada lengan kirinya terjepit sepasang tongkat bambu warna kuning.
Dia menjadi tercengang karena dapat menduga bahwa orang ini tentulah Hok Peng Taisu yang pernah
diceritakan oleh Ma Hoa kepadanya. Dan, orang inilah agaknya yang sudah mencuri harta pusaka itu.
Sementara itu, kakek botak yang bukan lain adalah Hok Peng Taisu itu, memandang kepadanya dan
mengedipkan mata sambil menyeringai, memberi tanda agar Dara Baju Merah itu jangan mengeluarkan
suara.
Sementara itu, ketika Hai Kong Hosiang dan kawan-kawannya mendengar suara dari luar itu, segera
berjaga-jaga dan Kam Hong Sin sebagai tuan rumah lalu berkata, “Tamu yang berada di luar dipersilakan
masuk!”
Terdengar suara tertawa bergelak dan tiba-tiba ada tubuh seorang kakek botak melayang masuk dengan
gerakan yang ringan sekali. Dengan sepasang matanya yang amat tajam, kakek botak itu menyapa semua
orang yang berada di ruang itu dan berkata,
“Aduh, semua telah berkumpul. Bagus, bagus! Tadi telah kusaksikan pertandingan sumpit yang bagus. Aku
tua bangka pun memiliki semacam permainan sumpit yang sama, akan tetapi apakah ada orang yang
cukup bergembira untuk melayaniku bermain-main atau tidak, entahlah!”
“Biarlah pinceng melayanimu, Kakek Tua!” kata Hai Kong Hosiang.
“Bagus, bagus, akan tetapi sebagai tamu baru, aku belum mendapat jamuan, sedangkan perutmu yang
gendut sudah diisi penuh, tentu saja aku akan kalah tenaga! Biarkan aku makan beberapa mangkok sayur
dahulu!” Sambil berkata demikian, Hok Peng Taisu lalu mengambil semangkok daging kambing dan
sepasang sumpit bambu. Sambil berdiri dia makan daging itu sepotong demi sepotong dan kelihatannya dia
menikmati makanan itu.
“Locianpwe ini siapakah?” Kam Hong Sin bertanya karena merasa penasaran melihat lagak orang yang
tidak tahu akan kesopanan.
“Baru saja namaku kau sebut-sebut, sekarang hendak bertanya pula, bukankah ini aneh namanya? Akan
tetapi, aku jangan kau bandingkan dengan Bu Pun Su yang lihai!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Terkejutlah semua orang, dan ketika mereka melihat ke arah dua batang tongkat bambu yang dikempit di
bawah lengan kiri, Kam Hong Sin menjadi pucat dan bertanya,
“Apakah kau Hok Peng Taisu yang telah mencuri harta pusaka?”
Tiba-tiba Hok Peng Taisu tertawa bergelak-gelak. “Sudah berpuluh tahun aku orang tua menyembunyikan
diri dalam goa dan akibat perbuatan orang-orang yang suka mencurilah yang menyebabkan aku keluar dari
goa. Sekarang aku bahkan dituduh menjadi pencuri. Lucu, lucu!” Kemudian, dengan tangan kiri masih
menyangga mangkok sedang di bawah lengan kiri itu masih terjepit tongkat-tongkat bambunya, tangan
kanan memegang sumpit, ia menuding ke arah Hai Kong Hosiang dengan sumpitnya itu dan bertanya,
“Bagaimana, apakah kau masih mau melayani aku bermain sumpit?”
“Boleh, asal kau orang tua jangan bermain curang!”
Kembali Hok Peng Taisu tertawa bergelak dan dia mengulurkan tangan yang memegang sumpit sambil
berkata, “Nah, kau jepitlah sumpitku ini!”
Hai Kong Hosiang yang melihat bahwa sepasang sumpit kakek itu adalah sumpit bambu biasa saja, lalu
melangkah maju dan dengan sumpit gading yang kuat dia lalu menyerang maju, akan tetapi bukan menjepit
sumpit kakek itu, melainkan menotok dengan sepasang sumpitnya ke arah pergelangan tangan Hok Peng
Taisu!
Akan tetapi, kakek botak ini agaknya tidak tahu akan kecurangan lawan, maka dia hanya menggerakkan
sumpitnya ke bawah, lalu sesudah dapat menangkis sumpit di tangan Hai Kong Hosiang, dia memutar
sumpitnya sedemikian rupa hingga sumpit Hai Kong Hosiang ikut terputar-putar tanpa dapat ditahan pula!
Terpaksa Hai Kong Hosiang lalu mengerahkan seluruh tenaganya untuk membetot, akan tetapi sumpitnya
seolah-olah sudah timbul akar pada sumpit kakek itu sehingga tak dapat dibetot. Ia mengerahkan
tenaganya lagi dan tiba-tiba kakek itu melepaskannya sehingga tubuh Hai Kong Hosiang terhuyung ke
belakang.
“Ha-ha-ha! Kau lucu sekali hwesio!” katanya, lalu dengan sumpitnya ia menjepit sepotong daging yang
dimasukkan ke dalam mulutnya seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu!
Wi Wi Toanio yang dapat memaklumi akan kelihaian kakek botak ini, secara diam-diam menghampirinya
dari belakang dengan sepasang sumpit gading di tangannya.
“Hok Peng Taisu, aku pun ikut bermain-main dengan sumpit!”
Dan belum juga habis kata-kata ini dia ucapkan, dia telah menyerang dengan sepasang sumpitnya,
menotok jalan darah Hok Peng Taisu dari belakangnya! Kakek botak itu tidak bergerak atau pun
membalikkan tubuh, seakan-akan dia tidak mendengar ucapan tadi, hanya tangan kanannya yang
memegang sumpit saja digerakkan ke belakang tubuhnya. Pada saat itu, Hai Kong Hosiang yang merasa
penasaran, lalu menyerang lagi dari depan dengan sepasang sumpitnya digerakkan ke arah kakek botak
itu.
Biar pun diserang dari belakang dan depan, agaknya Hok Peng Taisu masih saja terus enak-enakan
mengunyah daging beberapa potong yang tadi dimasukkan ke dalam mulut. Ketika sumpit Wi Wi Toanio
telah dekat dengan tubuhnya, tiba-tiba saja sumpit di tangan kanannya bergerak dan…
“Krekkk!”
Terdengar suara, diikuti seruan Wi Wi Toanio yang melompat mundur karena merasa telapak tangannya
sakit sekali, dan ternyata bahwa sepasang sumpitnya telah terpotong menjadi dua, setelah tadi terjepit oleh
sumpit bambu Hok Peng Taisu!
Sedangkan dua batang sumpit Hai Kong Hosiang yang menyambar ke arah ulu hatinya, juga tidak
dielakkan oleh kakek botak itu, akan tetapi tiba-tiba dia membuka mulutnya dan dua kali dia meniupkan
daging-daging yang dimakan tadi dari mulut! Daging-daging itu meluncur bagaikan pelor dan tepat sekali
mengenai ujung sepasang sumpit itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Hai Kong Hosiang hanya merasa betapa tusukan sumpitnya tertahan oleh tenaga yang kuat sekali dan
tahu-tahu dia melihat betapa dua batang sumpitnya telah menancap pada dua potong daging bakso yang
besar! Bukan main marahnya Hai Kong Hosiang melihat hal ini dan dia merasa dirinya dipermainkan, maka
dia pun berseru.
“Jangan jual lagak di sini!” Sambil berseru demikian dia mengayunkan tangan sehingga sepasang
sumpitnya yang masih ada baksonya itu meluncur cepat ke arah dua mata Hok Peng Taisu!
Akan tetapi kakek botak itu sambil terkekeh-kekeh lalu berkata. “Hwesio, mengapa kau tidak makan baksobakso
itu?”
Lalu dia mengangkat kedua tongkat bambunya, memukul ke arah sepasang sumpit yang melayang itu.
Heran sekali, ketika tongkat bambu itu beradu dengan sumpit, bakso yang berada di ujung sepasang
sumpit itu melayang kembali ke arah Hai Kong Hosiang, ada pun sumpit-sumpitnya melayang ke samping,
menuju kepada Wi Wi Toanio!
Hai Kong Hosiang mengelak dan sambil menyumpah-nyumpah segera mencabut keluar tongkat ularnya.
Sedangkan Wi Wi Toanio juga menjadi marah dan menyampok kedua batang sumpit yang melayang ke
arah dirinya itu hingga runtuh ke atas lantai! Kemudian, nenek ini pun maju menyerang dengan kedua
tangan merupakan cakar burung garuda. Sebenarnya, Ilmu Silat Eng-jiauw-kang (Kuku Garuda) yang
dimiliki oleh nenek ini bukan Eng-jiauw-kang biasa, maka gerakannya aneh serta lihai sekali.
Melihat dirinya akan dikeroyok, Hok Peng Taisu segera menggerakkan sepasang tongkat bambunya dan
dua kali tubuhnya berkelebat, tahu-tahu tongkat ular di tangan Hai Kong Hosiang sudah kena dibikin
terpental dan Wi Wi Toanio hampir saja terkena sabetan itu pada pipinya! Keduanya merasa terkejut sekali
dan melompat mundur.
Hok Peng Taisu tertawa terbahak-bahak. “Kalian ini benar-benar merupakan tuan rumah yang kurang
sopan! Sekarang lebih baik aku pergi saja lagi!” Sesudah berkata demikian, kakek botak itu menggerakkan
kakinya dan melayang pergi.
“Locianpwe, tunggu dulu!” tiba-tiba Kam Hong Sin berseru dan memburu ke pintu.
“Apa kehendakmu?” terdengar suara kakek botak itu dari atas genteng.
“Kami hendak menantangmu dan juga Bu Pun Su untuk mengadakan pertandingan adu kepandaian di
Puncak Hoa-san pada bulan tiga. Apakah kau berani menerima tantangan kami ini?”
Kembali kakek botak itu tertawa terkekeh-kekeh. “Tak usah kau ceritakan, aku pun sudah maklum akan
maksud kalian yang buruk itu. Baik, baik, memang sudah lama sekali aku ingin bertemu dengan Pok Pok
Sianjin dan Swi Kiat Siansu. Mengenai Bu Pun Su, aku tidak tanggung bahwa dia akan mau melayani
ajakan kalian yang gila itu!”
Hok Peng Taisu lalu melayang ke tempat mana Ang I Niocu bersembunyi dan memberi tanda dengan
tangan agar supaya Dara Baju Merah itu mengikutinya. Ang I Niocu segera melompat ke atas genteng dan
mengikuti kakek itu pergi dari sana. Sesudah berada di tempat jauh, kakek botak itu berkata,
“Bukankah kau yang bernama Ang I Niocu?”
Ang I Niocu menjura dengan sangat hormatnya. “Betul Locianpwe dan sudah lama aku yang bodoh
mendengar tentang nama Locianpwe dari Ma Hoa. Aku merasa beruntung sekali dapat bertemu dengan
seorang sakti seperti Locianpwe.”
“Ahh, jangan terlalu memuji, Nona. Kau tentu sudah mendengar semua kehendak mereka itu, bukan? Nah,
sekarang semua terserah padamu apakah kau hendak menyampaikan undangan mereka terhadap Bu Pun
Su atau tidak. Hanya saja, boleh kau katakan pada Bu Pun Su bahwa aku tua bangka tentu akan
menghadapi tantangan mereka itu pada waktunya di Puncak Hoa-san!”
Setelah berkata demikian, Hok Peng Taisu lalu berkelebat pergi sedangkan Ang I Niocu kemudian
melanjutkan perjalanannya. Memang dia pun ada maksud untuk pergi ke Goa Tengkorak menemui susiokcouw-
nya, sekalian hendak menemui Bu Pun Su untuk minta ijin orang tua itu tentang perjodohannya
dengan Lie Kong Sian…..
dunia-kangouw.blogspot.com
********************
Nelayan Cengeng, Kwee An dan Ma Hoa menjalankan tugas membagi-bagikan harta itu sambil
melanjutkan perjalanan menuju ke timur. Seperti halnya Ang I Niocu, mereka pun mengalami banyak sekali
kebahagiaan dari pekerjaan yang mulia ini.
Pada waktu mereka menyeberang sebatang sungai yang menjadi anak Sungai Huangho, Nelayan
Cengeng melihat ada beberapa perahu nelayan hilir mudik dengan para nelayan bernyanyi-nyanyi sambil
mendayung perahu mereka. Pemandangan dan pendengaran ini membangkitkan hatinya dan menimbulkan
rindunya pada kehidupan nelayan yang sudah dinikmatinya semenjak masih muda, maka dia berkata
kepada Ma Hoa dan Kwee An.
“Ma Hoa dan Kwee An, sudah lama sekali aku merasa rindu untuk hidup kembali sebagai seorang nelayan,
mendayung perahu menjala ikan dan hidup dengan aman dan tenteram di atas air! Terus terang saja
kuakui bahwa hampir setiap malam aku bermimpi duduk di atas perahu seorang diri, dibuai ombak, minum
arak sambil menikmati cahaya bulan di waktu malam. Kini kalian sudah saling berjumpa kembali dan juga
kawan-kawanmu telah dapat kita ketemukan, maka hatiku kini merasa aman dan senang. Oleh karena itu,
aku ingin tinggal dan hidup kembali sebagai nelayan di sungai ini. Kalian teruskan perjalanan kalian dan ini
adalah sisa harta benda yang harus kubagi-bagikan, boleh kalian habiskan dan bagi-bagikan kepada rakyat
miskin. Kelak apa bila sudah tiba saatnya kalian hendak melangsungkan pernikahan, berilah kabar dan aku
pasti akan datang.”
Ma Hoa maklum pula bahwa suhu-nya ini memang suka sekali hidup di atas air sebagai seorang nelayan,
bahkan dulu suhu-nya pernah menyatakan bahwa ia ingin mati di dalam sebuah perahu, maka berkata,
“Suhu, sungguh berat hatiku harus berpisah dengan Suhu. Suhu tentu tahu bahwa teecu menganggap
Suhu sebagai ayah sendiri, maka kelak kalau Suhu telah bosan merantau di atas sungai ini, teecu harap
Suhu suka tinggal bersama teecu supaya teecu mendapat kesempatan merawat Suhu dan membalas
budi.”
Nelayan Cengeng tertawa bergelak sampai air matanya keluar.
“Muridku, anakku yang baik!” katanya sambil menaruhkan tangannya di atas kepala Ma Hoa. “Tidak ada
kegembiraan yang lebih besar bagiku selain melihat kau hidup bahagia dengan Kwee An! Aku berjanji
bahwa kelak apa bila aku sudah bosan di sungai ini, pasti aku akan hidup dekat dengan kau dan suamimu.”
Sesudah banyak mendapat nasehat-nasehat serta petuah-petuah dari Nelayan Cengeng yang baik hati itu,
Kwee An dan Ma Hoa lalu melanjutkan perjalanan mereka.
Ma Hoa mengajak Kwee An mengunjungi suhu-nya ke dua, yaitu Hok Peng Taisu di Bukit Hong-lun-san, di
mana dulu ia diberi pelajaran silat Bambu Runcing. Bukit itu masih indah seperti dahulu, kaya akan
tamasya alam yang mengagumkan hati. Ketika mereka tiba di puncak, mendadak mereka mendengar
suara angin pukulan yang hebat sambil dibarengi bentakan-bentakan seperti orang sedang berkelahi.
Dengan cepat mereka lalu menghampiri tempat itu dan Ma Hoa menahan geli hatinya pada waktu melihat
betapa suhu-nya bersilat seorang diri dengan sepasang tongkatnya. Gerakan kakek botak itu sedemikian
kuatnya sehingga semua daun-daun di sekitarnya bergerak-gerak terkena pukulan angin yang keluar dari
pukulan dan sambaran tongkat itu! Kwee An berdiri bengong dan merasa kagum bukan main melihat
kehebatan kakek luar biasa itu.
“Suhu, kau orang tua benar-benar rajin sekali!” Ma Hoa memuji.
Hok Peng Taisu segera menghentikan latihannya dan berpaling kepada mereka sambil tersenyum. Ma Hoa
kemudian menjatuhkan diri berlutut, diikuti oleh Kwee An yang juga berlutut.
“Bagus, bagus, bagus sekali kalian datang ke sini. Di mana Nelayan Cengeng?”
“Dia rindu kepada perahu dan sungai, Suhu, maka dia tidak melanjutkan perjalanan dan hendak hidup
beberapa lama di atas Sungai Liang-ho,” jawab Ma Hoa.
Hok Peng Taisu menarik napas panjang. “Nelayan Cengeng memang orang beruntung. Tidak seperti aku
dunia-kangouw.blogspot.com
yang sudah tua masih menimbulkan perkara dan mencari permusuhan. Tahukah kau bahwa aku akan
mengadakan pertandingan di Puncak Hoa-san pada bulan tiga? Oleh karena itu aku harus melatih diri dan
melepaskan urat-urat yang sudah kaku!”
Di waktu mudanya kakek botak ini memang gemar sekali mengadu kepandaian dengan orang-orang
pandai, maka kini agaknya kegemaran itu timbul kembali dalam menghadapi tantangan Hai Kong Hosiang.
Kemudian dia segera menceritakan mengenai tantangan itu kepada Ma Hoa dan Kwee An.
“Bu Pun Su adalah seorang tokoh besar, maka tentu saja dia pun akan menyambut tantangan ini. Aku
kenal padanya sebagai seorang yang sabar, akan tetapi menghadapi sebuah tantangan yang keluar dari
mulut hwesio jahat itu, tentu dia akan turun gunung. Oleh karena itu, hendaknya kalian datang kepadanya
dan ceritakanlah tentang tantangan itu kepada Bu Pun Su, sekalian sampaikan salamku kepadanya.
Katakan bahwa selatan dan timur tak seharusnya kalah terhadap barat dan utara!” Dengan ucapan ini, Hok
Peng Taisu hendak menyatakan bahwa dia dan Bu Pun Su takkan kalah menghadapi Pok Pok Sianjin dan
Swi Kiat Siansu, tokoh-tokoh besar dari barat dan utara itu!
Ma Hoa dan Kwee An kemudian turun dari Bukit Hong-lun-san dan karena mereka telah mendengar dari
Cin Hai di mana letak Goa Tengkorak itu, maka mereka langsung menuju ke sana.
Ketika mereka sampai di depan Goa Tengkorak, mereka melihat Lin Lin sedang duduk dengan bengong
bagai orang melamun dengan muka nampak sedih. Melihat kedatangan mereka, gadis ini tidak merasa
girang, bahkan lalu memeluk kakaknya menangis sedih.
Kwee An yang sudah lama sekali tidak bertemu dengan adiknya yang terkasih itu, cepat mengusap-usap
rambut Lin Lin dan bertanya, “Adikku sayang, mengapa kau bersedih? Di manakah Cin Hai dan di mana
pula Suhu-mu?”
Sesudah tangisnya mereda, Lin Lin lalu berkata, “Mereka berada di dalam. Suhu sedang menderita sakit
keras. Hai-ko dan Enci Im Giok yang menjaganya. Aku… aku tak dapat menahan kegelisahan dan
kesedihanku maka aku lalu keluar, karena di depan Suhu aku tidak berani memperlihatkan kesedihanku.”
Bukan main kagetnya hati Ma Hoa dan Kwee An mendengar penjelasan ini. Segera Ma Hoa bertanya,
“Suhu-mu adalah seorang yang sakti, mengapa ia bisa menderita sakit? Dan bilakah Ang I Niocu tiba di
sini?”
Kemudian, dengan suara perlahan supaya suara mereka jangan sampai terdengar dari dalam dan
mengganggu Bu Pun Su, Lin Lin lalu menceritakan bahwa setelah ia dan Cin Hai, juga bersama Lie Kong
Sian, tiba di tempat itu, mereka mendapatkan Bu Pun Su sudah berbaring tak sadarkan diri di dalam goa,
dijaga oleh tiga ekor burung sakti yang diam tak bergerak seperti sedang merasa bingung dan berduka
pula.
Lie Kong Sian yang paham akan ilmu pengobatan, lalu memeriksa nadi kakek jembel itu dan menyatakan
bahwa Bu Pun Su menderita kelemahan karena usia tua, dan agaknya kesedihan hati membuat jantungnya
terserang hebat, juga penderitaan batin membuat kakek itu tidak kuat menahan dan jatuh pingsan. Pemuda
itu lalu mengatakan kepada Cin Hai dan Lin Lin agar supaya menjaga Bu Pun Su dan membantu
kesempurnaan jalan darahnya dengan tenaga lweekang, sedangkan ia sendiri hendak pergi ke pulaunya
untuk mencari semacam rumput darah yang mungkin akan menyembuhkan Bu Pun Su.
Semenjak masuk Goa Tengkorak, Cin Hai lalu memegang tangan kanan suhu-nya dan mengerahkan
tenaganya membantu aliran hawa ke dalam tubuh suhu itu. Telah sepekan lamanya Cin Hai duduk bersila
tak bergerak di dekat suhu-nya dan hanya makan sedikit sekali, itu pun kalau sudah dipaksa-paksa oleh Lin
Lin.
Baru tiga hari yang lalu Ang I Niocu tiba di situ dan gadis ini pun menjaga susiok-couwnya siang malam
bersama mereka.
“Apakah selama ini Suhu-mu tidak pernah siuman?” tanya Kwee An dengan terharu.
“Pernah satu kali, dan sesudah siuman dia hanya mengucapkan tiga kata, yaitu bahwa dia sudah tua, lalu
jatuh pingsan lagi.” Kembali air mata mengalir turun dari kedua mata Lin Lin.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiga orang muda itu lalu masuk ke dalam Goa Tengkorak dengan tindakan kaki perlahan dan hati-hati
sekali. Benar saja, mereka melihat Bu Pun Su berbaring di atas lantai di dalam kamar hio-louw, berbaring
diam tak bergerak seperti sudah mati.
Terlihat Cin Hai duduk di sisi kanannya dan memegang tangan kanan kakek itu sambil bersemedhi
mengerahkan tenaga lweekang-nya untuk membantu aliran hawa ke dalam tubuh suhu-nya, ada pun Ang I
Niocu duduk di sebelah kirinya, juga bersila tak bergerak bagaikan patung. Biar pun ilmu lweekang-nya
belum setinggi Cin Hai, namun kadang kala dia menggantikan Cin Hai dengan memegang tangan kiri kakek
itu untuk membantunya dengan tenaga lweekang-nya agar Cin Hai tidak merasa terlalu lelah.
Melihat hal ini Ma Hoa teringat akan kepandaian suhu-nya, yaitu Hok Peng Taisu, tentang ilmu pengobatan,
maka ia lalu memberi tanda kepada Kwee An dan Lin Lin untuk keluar dari tempat itu. Cin Hai dan Ang I
Niocu agaknya tidak melihat atau tidak mempedulikan kedatangan mereka.
Ketika Kwee An dan Ma Hoa melihat tiga ekor burung sakti berdiri di ruangan tengkorak tanpa bergerak
dan dengan muka seakan-akan sedang berduka sekali, mereka merasa amat terharu. Burung-burung itu
benar-benar luar biasa hingga memiliki perasaan seperti manusia biasa.
Setelah tiba di luar goa, Kwee An bertanya mengapa Ma Hoa memanggil mereka keluar.
“An-ko, harap kau suka secepatnya pergi pada Suhu di Hong-lun-san untuk mengabarkan hal ini kepada
Suhu. Suhu adalah seorang ahli pengobatan dan dia tentu akan sanggup menolong Bu Pun Su
Locianpwe.”
Mendengar hal ini, Lin Lin menyatakan kegirangannya, maka dia pun mendesak kepada kakaknya untuk
segera minta petolongan orang berilmu itu. Kwee An lantas menyatakan persetujuannya dan ia berpesan
kepada kekasihnya dan adiknya supaya mereka berdua menjaga di luar goa, agar jangan sampai ada
musuh yang datang membuat kekacauan pada waktu Bu Pun Su menderita sakit keras. Kwee An kemudian
mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk berlari secepat mungkin ke Hong-lun-san.
Dengan adanya Ma Hoa yang mengawaninya, Lin Lin menjaga di depan goa dan duduk di atas batu karang
sambil bercakap-cakap dan tidak melamun seperti tadi. Mereka saling menuturkan pengalaman masingmasing
dan Ma Hoa merasa girang mendengar tentang ditewaskannya Thai Kek Losu, Sian Kek Losio dan
Bo Lang Hwesio. Sebaliknya, ketika mendengar tentang tantangan Hai Kong Hosiang yang ditujukan
kepada Hok Peng Taisu dan Bu Pun Su, Lin Lin merasa berkuatir sekali. Dalam keadaan seperti itu,
bagaimana suhu-nya akan dapat memenuhi tantangan itu?
Pada waktu mereka sedang duduk bercakap-cakap dengan asyiknya, tiba-tiba berkelebat bayangan orang
yang cepat sekali gerakannya dan tahu-tahu seorang wanita tua sudah berdiri di hadapan mereka. Dengan
hati terkejut Lin Lin dan Ma Hoa bangkit berdiri dan memandang dengan tajam kepada Wi Wi Toanio yang
datang itu!
Melihat nenek ini, Lin Lin menjadi marah sekali karena teringat betapa bekas kekasih Bu Pun Su ini sudah
menjalankan kecurangan untuk mencelakai suhu-nya itu. Maka sambil mencabut Han-le-kiam dari
pinggangnya, ia membentak,
“Mau apa kau datang ke sini?”
Wi Wi Toanio memandang dengan mata mengejek lalu jawabnya, “Aku tidak mempunyai urusan dengan
kalian anak-anak kecil. Minggirlah, dan biarkan aku bertemu dengan Lu Kwan Cu!”
“Tidak! Tak seorang pun boleh masuk ke dalam goa ini mengganggu Suhu! Pergilah kau sebelum
pedangku bicara!”
“Anak kecil kurang ajar! Kau berani menghina dan mengusirku?” Wi Wi Toanio menjadi marah sekali.
Ma Hoa juga sudah mencabut sepasang bambu runcingnya dan berkata, “Nenek jahat, kau pergilah
dengan baik-baik dan jangan mencari mati.”
Makin marahlah Wi Wi Toanio mendengar ini. Dengan seruan keras dia melompat dan menerjang ke arah
Lin Lin dan Ma Hoa dengan limu Silat Cakar Garuda yang lihai dan berbahaya itu. Akan tetapi Lin Lin dan
Ma Hoa sudah siap dan menghadapinya dengan mengirim serangan-serangan mematikan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ternyata Wi Wi Toanio memang lihai sekali. Ilmu kepandaiannya lebih tinggi dari pada kepandaian Hai
Kong Hosiang, maka biar pun Lin Lin dan Ma Hoa mengeroyok dua dan mainkan senjata mereka dengan
cara hebat, namun nenek itu tidak menjadi gentar dan membalas dengan cengkeraman-cengkeraman yang
dahsyat.
Sambil bertempur Wi Wi Toanio mengeluarkan pekik-pekik menyeramkan dan tubuhnya menyambarnyambar
bagai seekor burung garuda. Ginkang-nya ternyata telah mencapai tingkat tinggi sekali hingga
tubuhnya itu melayang-layang seolah-olah dia dapat terbang saja. Namun Lin Lin dan Ma Hoa yang berlaku
hati-hati tidak mau kalah dan bekerja sama dengan mati-matian untuk merobohkan pengacau ini.
Pada saat pertempuran terjadi, Cin Hai sedang membantu suhu-nya dengan mengalirkan hawa melalui
telapak tangan, sedangkan Ang I Niocu hanya bersila sambil bersemedhi untuk mengumpulkan tenaga
yang sudah banyak dikerahkan membantu susiok-couw-nya itu.
Kini dia mendengar suara-suara orang berkelahi di luar, maka tahulah dia bahwa Lin Lin dan Ma Hoa
sedang menghadapi lawan tangguh. Tanpa mengeluarkan suara, dia lantas mengambil sebatang pedang
Liong-cu-kiam yang diletakkan di dekat Cin Hai, kemudian dia bertindak keluar.
Pada saat itu, sambil memekik keras Wi Wi Toanio melompat ke atas dengan kedua tangannya terulur ke
depan dan bermaksud merampas senjata kedua lawannya. Akan tetapi, tiba-tiba berkelebat bayangan
merah dan dua batang pedang yang bercahaya berkilauan langsung menyambutnya dengan serangan
hebat!
Wi Wi Toanio sedang melayang bagaikan seekor burung garuda yang ganas, sedangkan Ang I Niocu pun
melayang menyambutnya dengan pedang Liong-cu-kiam, bagai seekor burung hong yang indah dan gesit!
Wi Wi Toanio terkejut melihat serangan ini, maka dia lalu berseru keras dan tahu-tahu tubuhnya telah
terputar dan berjungkir balik beberapa kali ke belakang!
Melihat Ang I Niocu datang membantu, Lin Lin dan Ma Hoa menjadi gembira dan mereka lalu mainkan
senjata mereka dengan seru dan hebat mendesak Wi Wi Toanio yang kini merasa sibuk juga menghadapi
tiga orang gadis jelita yang mengamuk bagaikan tiga ekor naga betina itu!
Ang I Niocu memang lihai dan dengan sepasang pedang Liong-cu Siang-kiam di kedua tangan, dia
merupakan seekor harimau yang tumbuh sayap. Juga Lin Lin dengan Han-le Kiam-hoat-nya merupakan
lawan yang amat berbahaya karena ilmu pedangnya ini boleh dianggap menduduki tingkat tinggi sekali di
antara segala macam ilmu pedang, ada pun Ma Hoa dengan Ilmu Silat Bambu Runcingnya juga merupakan
lawan yang tidak mudah dilawan!
Tentu saja setelah ketiga orang dara ini maju mengeroyok, biar pun ilmu kepandaian Wi Wi Toanio tinggi
dan pengalamannya banyak, namun tetap saja dia merasa kewalahan sehingga sebentar saja dia terdesak
mundur dan jiwanya berada dalam bahaya!
Wi Wi Toanio mengeluarkan jarum-jarum rahasianya dan kedua tangannya lantas diayun menyebar
puluhan batang jarum ke arah tiga dara itu. Akan tetapi Ma Hoa memutar-mutar sepasang bambu
rucingnya dan Ang I Niocu juga memutar sepasang pedangnya, hingga semua jarum kena terpukul runtuh.
Sementara itu melihat kesempatan baik, Lin Lin maju mengirim serangan hebat ke arah dada lawannya
dengan tusukan cepat.
Wi Wi Toanio mencoba mengelak akan tetapi ketika ia merendahkan diri, Lin Lin merobah gerakannya dan
pedangnya meluncur ke bawah! Wi Wi Toanio ketika itu terancam pula oleh sabetan pedang Ang I Niocu
dari kiri dan tusukan bambu runcing yang menotok ke iganya, maka dengan bingung dia membanting diri ke
belakang!
Meski pun gerakannya sudah cepat sekali, akan tetapi ujung pedang pendek Han-le-kiam di tangan Lin Lin
masih lebih cepat dan ujung pedang ini berhasil melukai pundak Wi Wi Toanio yang lalu berguling ke
belakang untuk menghindarkan diri dari serangan-serangan selanjutnya.
Tiga orang gadis itu hendak mengejar dan mengirim serangan maut, akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara
dari dalam goa,
“Jangan bunuh dia!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Ang I Niocu, Lin Lin, dan Ma Hoa tercengang dan mereka cepat-cepat menahan senjata masing-masing,
sedangkan Wi Wi Toanio yang merasa jeri menghadapi tiga orang gadis kosen itu, lalu melarikan diri turun
dari bukit itu secepatnya!
Ang I Niocu merasa girang sekali mendengar suara tadi, karena suara yang mencegah mereka tadi adalah
suara Bu Pun Su. Juga Lin Lin mengenal suara suhu-nya, maka dia lalu cepat-cepat mengajak Ma Hoa dan
Ang I Niocu untuk masuk ke dalam goa.
Mereka melihat bahwa Bu Pun Su telah siuman kembali akan tetapi masih rebah dengan tubuh lemah, ada
pun Cin Hai duduk bersila di dekatnya dengan wajah muram. Bu Pun Su memang hebat sekali, karena biar
pun dia berada dalam keadaan sedemikian rupa, namun pendengarannya masih sangat tajam sehingga dia
dapat mendengar pertempuran yang terjadi di luar dan seruan-seruan Wi Wi Toanio itu dikenalnya baikbaik,
maka dia lalu mengerahkan khikang-nya dan mencegah ketiga orang gadis itu membunuh Wi Wi
Toanio. Tanpa menyaksikan dengan mata sendiri, dari pendengaran dan dugaan saja dia maklum bahwa
Wi Wi Toanio tak akan dapat menang menghadapi tiga dara yang gagah perkasa itu!
Ang I Niocu, Lin Lin, dan Ma Hoa lalu menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat. Bu Pun Su tersenyum
dengan lemah dan bibirnya bergerak, mengeluarkan bisikan perlahan,
“Kalian lihat, betapa pun tinggi kepandaian orang, ia harus tunduk terhadap usia tua!”
Kemudian Bu Pun Su memandang kepada Ma Hoa dan berkata. “Nona Ma Hoa, kau datang ke sini tentu
mempunyai maksud tertentu. Katakanlah!”
Ma Hoa tadinya segan untuk menceritakan mengenai pesanan suhu-nya, dan tadinya dia berniat untuk
menahan saja pesanan itu karena Bu Pun Su sedang sakit. Tidak tahunya kakek ini bermata awas hingga
tahu bahwa kedatangannya mempunyai maksud tertentu, maka sambil berlutut dia lalu berkata,
“Maafkan teecu, Locianpwe. Sebetulnya teecu tidak berani mengganggu Locianpwe yang sedang
menderita sakit.”
Terdengar suara tertawa Bu Pun Su yang seperti biasa, gembira dan terlepas, hanya kali ini suara
ketawanya tidak sekeras dahulu. “Anak yang baik, tubuhku memang sakit, akan tetapi semangatku masih
seperti biasa. Ceritakanlah.”
“Sebetulnya teecu sudah diperintahkan oleh Suhu Hok Peng Taisu untuk menyampaikan tantangan Hai
Kong Hosiang yang ditujukan kepada Suhu dan Locianpwe.”
“Hemm, Hai Kong menantang aku dan Hok Peng?”
“Benar, Locianpwe. Hwesio itu menantang untuk mengadu kepandaian pada bulan tiga di Puncak Hoa-san,
dan mereka hendak mengajukan Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat sebagai jago untuk menghadapi Locianpwe
dan Suhu. Suhu berpesan agar teecu menyampaikan kepada Locianpwe bahwa selatan dan timur tidak
seharusnya kalah terhadap barat dan utara!”
Bu Pun Su tertawa lagi, akan tetapi suara ketawanya makin lemah.
“Hok Peng ternyata lebih muda semangatnya dari pada aku! Alangkah senangnya kalau bersama Hok
Peng aku dapat menghadapi Pok Pok dan Swi Kiat!” Akan tetapi dia lalu menarik napas panjang dan
berbisik,
“Tak mungkin, bulan tiga masih lama, aku tak akan dapat bertahan selama itu...”
Mendengar ucapan ini, tak dapat dicegah lagi Lin Lin lalu menangis terisak-isak.
“Ehh, ehhh, Lin Lin muridku yang nakal! Mengapa kau menangis? Suhu-mu sebentar lagi terbebas dari
pada kesengsaraan, kenapa kau malah menangis? Seharusnya kau malah bersyukur dan bergembira!”
Akan tetapi, mendengar ini, Lin Lin makin hebat tangisnya, bahkan kini Ang I Niocu dan Ma Hoa juga ikut
menangis. Bu Pun Su menarik napas panjang,
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hm-hmm... perempuan, perempuan... kalau tidak menangis, kau bukan perempuan lagi namanya...”
Setelah tangisnya reda, Lin Lin lalu berkata kepada suhu-nya, “Suhu, perkenankan pada teecu untuk
mengajukan sebuah permohonan.”
“Nah, nah, sesudah menangis lalu mengajukan permohonan, cocok sekali ucapan orang jaman dahulu
bahwa di balik air mata wanita itu tersembunyi maksud-maksud tertentu!”
“Teecu ingin mohon perkenan dari Suhu untuk mengijinkan Enci Im Giok melangsungkan perjodohannya
dengan Lie Kong Sian Suheng!”
Mendengar ucapan Lin Lin ini, Ang I Niocu cepat-cepat menundukkan kepalanya hendak menyembunyikan
mukanya yang menjadi kemerah-merahan.
Bu Pun Su menjawab dan suaranya makin melemah seperti bisikan.
“Aku tahu... semenjak mereka datang aku sudah tahu... Im Giok dan Kong Sian memang cocok, aku
setuju...,” tiba-tiba ia mengeluh panjang dan kembali Bu Pun Su jatuh pingsan, tak sadarkan diri seperti
orang tidur pulas!
Cin Hai cepat menyambar nadi tangan suhu-nya dan berbisik, “Suhu telah terlalu banyak menggunakan
tenaga untuk bercakap-cakap.”
Tiba-tiba saja masuk seorang laki-laki ke dalam Goa Tengkorak dan ketika semua orang memandang,
ternyata yang datang ini adalah Lie Kong Sian. Pemuda ini dengan cepat sekali lalu menghancurkan daun
darah yang dia ambil dari pulaunya, memeras daun itu dan meminumkannya ke dalam mulut Bu Pun Su.
Setelah itu, pemuda ini lalu duduk di sebelah Bu Pun Su untuk menggantikan Cin Hai membantu peredaran
hawa dalam tubuh supek-nya.
Tak lama kemudian, bagaikan api lilin yang hampir padam kini bernyala kembali, Bu Pun Su menggerakkan
tubuhnya dan membuka matanya. Ternyata khasiat daun darah sudah bekerja dan dia merasa tubuhnya
enak sekali. Kakek sakti itu lalu bangun dan duduk.
“Im Giok, kuulangi kata-kataku tadi. Kau memang berjodoh dengan Kong Sian dan aku merasa girang
sekali bahwa kau mendapatkan jodoh dengan murid Han Le sendiri!”
Ang I Niocu dan Lie Kong Sian menundukkan kepala dan tidak berani bergerak karena jengahnya.
Kemudian Bu Pun Su berkata sambil menuding keluar goa,
“Ada orang datang!”
Semua orang memandang karena mereka tak mendengar sesuatu, kecuali Cin Hai yang dapat mendengar
tindakan kaki yang halus sekali. Dan benar saja, tidak lama kemudian, masuklah Kwee An bersama Hok
Peng Taisu yang datang-datang tertawa bergelak lalu menghampiri Bu Pun Su.
Bu Pun Su juga tertawa girang. “Hok Peng, apa kau datang hendak memeriksa tubuhku yang sudah bobrok
ini?”
“Bu Pun Su, benar-benarkah kau hendak mendahului aku? Kau hanya lebih tua beberapa tahun saja
dariku, dan menurut patut, kau harus lebih kuat menolak cengkeraman maut!”
Setelah berkata demikian, Hok Peng Taisu segera duduk di dekat Bu Pun Su kemudian mengulurkan
tangan untuk memeriksa nadi dan detik jantung kakek jembel itu. Sesudah memeriksa sambil memejamkan
mata beberapa lama, kakek jembel itu bertanya,
“Bagaimana, Hok Peng, masih berapa lama lagikah?”
Kakek botak itu memandang wajah Bu Pun Su dengan tajam. “Bu Pun Su, aku tidak ingin mengetahui
urusan pribadimu, akan tetapi orang seperti kau ini tidak layak menerima luka di jantung akibat tekanan
batin! Jantungmu terluka hebat sekali karena kau agaknya telah teringat akan hal-hal yang sudah lampau,
yang membuat kau merasa malu, marah, dan berduka. Melihat keadaanmu, paling lama kau hanya akan
dapat bertahan selama satu pekan saja!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bagus, kalau begitu masih ada waktu beberapa hari lagi,” kata Bu Pun Su.
“Sungguh sayang Bu Pun Su. Benar-benar sayang, karena sebenarnya aku ingin sekali mengajak kau
menikmati adu kepandaian di Puncak Hoa-san dan bermain-main sebentar dengan Pok Pok Sianjin dan
Swi Kiat Siansu sebelum kau pergi! Pergi seorang diri saja ke Hoa-san kurang menggembirakan!”
Bu Pun Su tertawa, “Apa dayaku? Tadi aku pun sudah mendengar dari muridmu tentang tantangan itu,
akan tetapi kepergianku tak dapat ditunda-tunda lagi!”
Mendengar bahwa usia Bu Pun Su tinggal sepekan lagi dan mendengar pula betapa dua orang kakek yang
aneh itu membicarakan kematian Bu Pun Su bagai orang yang hendak pergi melancong saja, Ang I Niocu,
Lin Lin dan Ma Hoa tak dapat menahan keharuan hati lagi sehingga terdengarlah isak tangis mereka. Lin
Lin bahkan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki suhu-nya dan menangis sedih.
“Ehh, ehh, kembali kau memperlihatkan sikapmu yang nakal, Lin Lin!” kata Bu Pun Su. Kemudian, kakek
jembel itu berkata kepada kakek botak,
“Hok Peng, jangan kau kecewa, karena betapa pun juga, tantangan Hai Kong Hosiang itu harus kita hadapi!
Memang aku tidak dapat datang sendiri, tetapi aku hendak mewakilkan kepada Cin Hai untuk menghadapi
mereka.”
“Suhu, teecu masih terlalu lemah untuk menghadapi mereka, terutama Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu
yang sakti itu,” kata Cin Hai.
“Jangan khawatir, mereka itu sudah tua bangka dan tubuh mereka sudah bobrok seperti aku! Kita masih
mempunyai waktu sepekan dan selama itu, aku akan menurunkan semua sisa-sisa kepandaianku
kepadamu. Pula, sesudah aku pergi, kau boleh minta bimbingan Hok Peng untuk memperdalam
kepandaianmu sehingga tidak akan mengecewakan kelak apa bila kau mewakili daerah selatan dan timur
bersama Hok Peng!”
“Bagus!” kata Hok Peng. “Aku setuju sekali kalau anak muda ini mewakilimu, karena dia mempunyai bahan
cukup baik. Nah, aku tidak akan mengganggu lebih jauh, Bu Pun Su. Pergunakanlah sisa waktu yang tak
lama lagi itu dengan sebaiknya dan selamat berpisah sampai berjumpa kembali.”
Bu Pun Su mengangguk-angguk sambil tersenyum. “Terima kasih, paling lama lima tahun lagi kita
bertemu!”
Hok Peng tertawa bergelak-gelak. “Mungkin sekali sebelum lima tahun aku sudah akan menyusulmu!”
Kemudian kakek ini berkelebat keluar dan lenyap dari pandangan mata.
Bu Pun Su menarik napas panjang. “Lie Kong Sian, obatmu itu benar baik sekali karena sekarang aku
merasa sehat kembali. Sekarang kalian dengarkan pesanku yang terakhir. Im Giok telah kuberi persetujuan
menjadi jodoh Lie Kong Sian dan semoga kalian berdua hidup berbahagia. Pedang Liong-cu-kiam
kuberikan kepada Cin Hai dan Im Giok, yang panjang untuk Cin Hai sedang yang pendek untuk Im Giok
karena kalian berdualah yang telah mendapatkannya.”
Cin Hai, Ang I Niocu dan Lie Kong Sian menghaturkan terima kasih.
“Masih ada lagi,” Bu Pun Su berkata, “Kelak, apa bila kalian memperoleh keturunan, juga bagi Nona Ma
Hoa, kuanjurkan supaya menuruti nasehat ini, kalian harus menggunduli putera-puteramu.”
Semua orang memandang heran dan menganggap bahwa kakek itu sudah mulai bicara tidak karuan
seperti biasanya orang-orang tua yang sudah mendekati saat kematiannya.
“Hal ini jangan kalian pandang rendah,” kata Bu Pun Su. “Dan kau, Cin Hai, jangan kau anggap Gurumu
berkelakar dan menyindir kau yang ketika kecil bergundul kepala, karena sesungguhnya bagi seorang anak
laki-laki lebih baik rambutnya digunduli ketika ia masih kecil agar hawa yang sehat dan sejuk tidak tertolak
oleh rambut hingga membuat kepala anak itu menjadi segar dan baik perjalanan darahnya sehingga selain
memperkuat, juga menambah kecerdikan anak itu. Pesanku yang lain ialah kalau aku sudah pergi, tubuhku
yang bobrok ini supaya dibakar di dalam goa ini dan abunya kalian masukkan ke dalam hio-louw besar,
kemudian kalian tinggalkan goa ini dan menutupnya dengan batu besar rapat-rapat, lalu tutuplah goa ini
dunia-kangouw.blogspot.com
dengan pohon-pohon agar tak sampai ditemukan orang lain. Aku ingin mengaso dengan tenteram di tempat
ini.”
Semua orang mendengarkan pesan ini dengan hati terharu sekali.
“Nah, sekarang kalian keluarlah semua, kecuali Cin Hai sebab aku hendak menggunakan sisa waktuku
untuk melatihnya sebagai persiapan untuk menghadapi adu kepandaian di Puncak Hoa-san kelak.”
Dengan hati sedih dan wajah muram, Ang I Niocu, Lie Kong Sian, Lin Lin, Ma Hoa dan Kwee An lalu
mengundurkan diri dan keluar dari goa itu. Mereka menjaga di luar sambil bercakap-cakap menuturkan
pengalaman masing-masing dan tidak berani mengganggu ke dalam di mana Bu Pun Su menggunakan
kesempatan terakhir untuk melatih Cin Hai dengan ilmu-ilmu kepandaian yang belum dipelajarinya.
Tentu saja dalam waktu yang hanya beberapa hari itu, Cin Hai tidak mungkin mempelajari semua ilmu itu
berikut prakteknya, dan hanya dapat mempelajari pokok-pokok teorinya saja, untuk kemudian dipelajari
prakteknya. Akan tetapi ia telah mencatat dalam otaknya segala pelajaran itu dengan teliti sehingga Bu Pun
Su menjadi puas.
Lima hari kemudian, Cin Hai keluar dari dalam goa dengan wajah muram dan ia memberi tanda kepada
kawan-kawannya untuk masuk ke dalam. Lin Lin berlari mendahului dan ketika melihat tubuh suhu-nya
berbaring dengan wajah pucat dan napas lemah, ia segera menubruknya sambil menangis.
Bu Pun Su menggerakkan tangannya yang sudah amat lemah itu untuk membelai rambut Lin Lin.
“Jangan menangis, jangan menangis,” bisiknya, “jangan antarkan kepergianku dengan air mata... aku tidak
suka...!” Lin Lin cepat menahan tangisnya dan terisak-isak dengan hati hancur.
“Anak-anak... pesanku terakhir... sesudah selesai pertandingan pibu di Hoa-san... kalian pulanglah dan
langsungkan perjodohan... hiduplah dengan aman dan tenteram bahagia, jauhi segala permusuhan...!” dia
terengah-engah karena sebenarnya waktu lima hari yang dia pergunakan siang malam untuk memberikan
gemblengan terakhir kepada Cin Hai itu terlampau melelahkannya dan membuatnya cepat lemah.
“Sekarang... antarkan kepergianku dengan cita-cita tinggi dan luhur... selamat... tinggal!” lemaslah lehernya
dan pada saat itu Bu Pun Su, tokoh persilatan yang amat tinggi ilmu kepandaiannya itu, terpaksa menyerah
kalah terhadap maut yang merenggut nyawanya.
Lin Lin, Ang I Niocu, dan Ma Hoa berusaha menahan tangis mereka karena mereka ingin mentaati pesan
terakhir dari Bu Pun Su. Mereka berenam lalu mengadakan persiapan untuk menyempurnakan jenazah
kakek itu kemudian membakarnya di dalam goa dengan penuh khidmat. Setelah selesai dan mayat itu
sudah menjadi abu seluruhnya, abunya lalu disimpan di dalam hiolouw besar yang berdiri di tengah kamar.
Selama beberapa hari mereka mengadakan perkabungan di tempat itu dan mengadakan sembahyangan
untuk memberi penghormatan terakhir, kemudian beramai-ramai mereka lantas menutup pintu Goa
Tengkorak dengan batu-batu besar dan menimbunnya dengan pohon-pohon kecil sehingga goa itu tertutup
sama sekali dan tidak tampak dari luar.
Sesudah itu, atas anjuran Ma Hoa, mereka berenam lalu pergi ke Hong-lun-san untuk memberi kabar
kepada Hok Peng Taisu mengenai kematian Bu Pun Su. Kakek botak itu menerima warta ini sambil
tersenyum dan menarik napas panjang.
“Ahh, dia lebih beruntung dari pada aku. Sekarang dia sudah enak-enak sedangkan aku masih harus
menderita.”
Oleh karena waktu untuk menerima tantangan tinggal sebulan lebih lagi, maka Hok Peng Taisu lalu melatih
Cin Hai dengan berbagai kepandaian yang belum pernah dipelajari oleh anak muda itu sampai hampir
sepuluh hari lamanya. Orang-orang muda yang lain merasa suka sekali tinggal di bukit yang indah itu dan
mereka juga berlatih silat di bawah pengawasan Hok Peng Taisu.
Setelah menganggap bahwa ilmu kepandaian Cin Hai cukup kuat, Hok Peng Taisu lalu mengajak mereka
mulai melakukan perjalanan menuju ke Puncak Hoa-san.
Untuk memperkuat rombongan mereka, Ma Hoa minta perkenan kepada Hok Peng Taisu untuk singgah di
dunia-kangouw.blogspot.com
tempat kediaman Nelayan Cengeng, yaitu di Sungai Liong-ho. Ternyata kakek nelayan itu sedang enakenakan
di atas sebuah perahu kecil, bersenang-senang seorang diri mencari ikan sambil bernyanyi-nyanyi.
Melihat kedatangan mereka, Nelayan Cengeng merasa girang bukan main, dan ia segera menyatakan
keinginannya untuk ikut pergi ke Hoa-san! Tentang kematian Bu Pun Su, ia menyambutnya dengan ucapan
yang hampir sama dengan ucapan Hok Peng Taisu dulu, karena ia berkata,
“Aku harap akan dapat segera menyusulnya!”
Hok Peng Taisu lalu menyerahkan pimpinan rombongan itu kepada Nelayan Cengeng karena dia hendak
melakukan perjalanan dari lain jurusan untuk singgah di tempat tinggal beberapa orang kenalannya.
“Kalau sudah tiba di kaki Bukit Hoa-san, kalian tunggulah kedatanganku, dan kalau aku yang datang lebih
dahulu, aku pun akan menanti kalian,” kata kakek botak itu yang lalu berkelebat pergi.
Seperti juga Bu Pun Su, Kakek aneh ini tidak suka melakukan perjalanan dengan orang lain, dan lebih suka
berjalan seorang diri saja…..
********************
Ternyata bahwa pihak Hai Kong Hosiang telah berkumpul di Puncak Hoa-san menanti kedatangan dua
orang musuh besar, yaitu Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu. Wi Wi Toanio sudah berhasil mengundang
datang Pok Pok Sianjin, supek-nya yang tinggal di Puncak Go-bi-san daerah barat yang telah berpuluh
tahun mengasingkan diri itu.
Wi Wi Toanio tak berani menceritakan tentang hal yang sebenarnya, maka dengan cerdik nenek itu hanya
menceritakan bahwa dia hendak mengadakan pibu dengan Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu dan karena
merasa tidak kuasa menghadapi, mereka minta bantuan supek ini.
Sebenarnya Pok Pok Sianjin tidak mau mempedulikan segala urusan dunia. Akan tetapi mendengar nama
Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu sebagai dua orang tokoh tertinggi dari daerah selatan dan timur, maka
tergeraklah hatinya hingga timbul kegembiraannya untuk mengukur kepandaian mereka. Apakah salahnya
mengukur tenaga di dalam sebuah pibu yang adil dan dilakukan dalam suasana persahabatan? Oleh
karena inilah maka Pok Pok Sianjin menyanggupi dan tepat pada waktunya.
Sementara itu, Swi Kiat Siansu, guru Thai Kek Losu, pada waktu dibujuk oleh Hai Kong Hosiang yang
menceritakan betapa kedua orang muridnya, yaitu Thai Kek Losu dan Sian Kek Losu, tewas dalam tangan
Cin Hai, Lin Lin dan Lie Kong Sian, tergerak pula hatinya ketika mendengar betapa pembunuh-pembunuh
muridnya itu, dibela pula oleh Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu.
Kalau saja kedua tokoh besar itu tidak muncul untuk membela pembunuh-pembunuh dua muridnya, tentu ia
tidak akan sudi turun gunung karena ia pun telah mendengar tentang kesesatan murid-muridnya itu. Akan
tetapi dia tergerak untuk mencoba pula kepandaian Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu yang amat terkenal.
Rombongan Hai Kong Hosiang terdiri dari dua belas orang, yaitu Pok Pok Sianjin, Swi Kiat Siansu, Hai
Kong Hosiang, Wi Wi Toanio, Siok Kwat Mo-li, Lok Kun Tojin, Kam Hong Sin, Ceng Tek Hosiang, Ceng To
Tosu, Giok Im Cu, Giok Keng Cu, dan Giok Yang Cu. Selain dua belas orang-orang yang lihai ini, masih
terdapat ratusan perwira yang sengaja menjaga di sekitar tempat itu.
Melihat keadaan rombongan yang berjumlah banyak ini, terutama melihat para perwira, Pok Pok Sianjin
merasa heran dan bertanya kepada Wi Wi Toanio, “Wi Wi, kenapa begini banyak orang berada di sini?
Apakah kalian hendak mengadakan perang besar?”
“Tidak, Supek. Mereka adalah kawan-kawan teecu, dan perwira-perwira itu hanya untuk penjagaan kalaukalau
pihak lawan membawa pula bantuan besar untuk sengaja mencari permusuhan.”
Juga Swi Kiat Siansu merasa heran melihat banyaknya orang menjaga di situ, maka dia berkata kepada
Hai Kong Hosiang, “Aku tidak menghendaki adanya pertempuran besar. Kalian boleh saja bertempur dan
bermusuhan, akan tetapi jangan harap untuk melibatkan diriku dalam keadaan semacam itu!”
Hai Kong Hosiang segera menyatakan kesanggupannya untuk mencegah para perwira itu membuat kacau
dan hanya minta agar supaya Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu menghadapi Bu Pun Su dan Hok Peng
dunia-kangouw.blogspot.com
Taisu di dalam pibu yang hendak diadakan.
Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu merasa girang dapat saling bertemu dan mereka segera bermain catur
di bawah sebatang pohon dan tidak mempedulikan lagi keadaan di sekitarnya.
Pada saat dua orang kakek yang sudah amat tua itu asyik bermain catur, maka datanglah rombongan Hok
Peng Taisu yang hanya terdiri dari delapan orang, yaitu Hok Peng Taisu sendiri, Cin Hai, Lin Lin, Kwee An,
Ma Hoa, Ang I Niocu, Lie Kong Sian dan Nelayan Cengeng.
Dengan sikap tenang dan gagah Hok Peng Taisu berjalan memimpin semua kawannya naik bukit Hoa-san
dan sama sekali tidak gentar melihat para perwira yang berderet-deret menyambut kedatangan mereka itu.
Pada saat Hai Kong Hosiang dan yang lain-lainnya menyambut, Hok Peng Taisu berlaku seakan-akan tidak
melihat mereka, akan tetapi langsung menghampiri kedua orang kakek yang tengah bermain catur itu
sambil tertawa dan berkata,
“Kalau saja Bu Pun Su belum meninggalkan kita, kalian berdua tentu akan dipukul hancur dalam permainan
catur ini. Sayang aku tidak pandai bermain catur!”
Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu yang sudah melihat kedatangannya, segera berdiri sambil tertawa.
“Hok Peng, kau nyata masih nampak sehat-sehat saja biar pun kepalamu sudah menjadi botak dan hampir
habis semua rambutmu!” kata Pok Pok Sianjin.
Sedangkan Swi Kiat Siansu berkata dengan kecewa. “Kau bilang tadi bahwa Bu Pun Su sudah
meninggalkan kita? Ah, sayang sekali...! Dari tempat jauh, aku datang karena ingin merasakan pula
kelihaiannya, ternyata ia telah mendahuluiku pergi... sungguh sayang.”
Hok Peng Taisu tertawa pula. “Jangan kau kecewa, Swi Kiat Siansu! Sungguh pun Bu Pun Su telah
berpulang ke asalnya, akan tetapi dia telah mengirim salamnya dan bahkan mengirim seorang wakil yang
akan cukup menggembirakan hatimu.”
Swi Kiat Siansu memandang tajam. “Apa? Apakah kau mewakili dia pula?”
Hok Peng Taisu menggeleng-gelengkan kepala. “Apa kau kira aku sedemikian serakah untuk memborong
semua kehormatan? Bukan, bukan aku, akan tetapi muridnya.” Kakek botak ini lalu melambaikan tangan ke
arah Cin Hai yang segera menghampiri mereka.
“Inilah wakil Bu Pun Su, dia disebut Pendekar Bodoh!”
Cin Hai lalu menjura dengan penuh penghormatan kepada Swi Kiat Siansu dan Pok Pok Sianjin sambil
berkata, “Teecu Sie Cin Hai yang bodoh merasa mendapat kehormatan besar dapat bertemu dengan Ji-wi
Locianpwe.”
Pok Pok Sianjin bertubuh tinggi kurus dan agak bongkok. Rambut serta kumisnya sudah putih semua dan
terurai ke bawah tak terawat sama sekali. Tangan kanannya membawa sebatang tongkat panjang yang
bengkok-bengkok dan tangan kirinya selalu mengelus-elus jenggotnya yang panjang.
Dia mengangguk-angguk senang melihat sikap Cin Hai yang sopan santun. Melihat sikap serta pandang
mata pemuda itu, maklumlah dia bahwa pemuda ini adalah seorang yang ‘berisi’.
Swi Kiat Siansu bertubuh gemuk bulat bagai patung Jilaihud, jubahnya kuning dan hanya berupa sehelai
kain yang dibelit-belitkan pada tubuhnya. Tangan kanannya memegang sebatang kipas dan agaknya dia
selalu merasa kepanasan karena kipas itu tiada hentinya digunakan untuk mengipasi tubuhnya.
Ketika mendengar bahwa julukan pemuda itu adalah Pendekar Bodoh, kakek yang juga sudah tua sekali ini
segera menaruh hormat dan tahu bahwa orang yang menggunakan julukan serendah itu pasti memiliki
kepandaian yang berarti.
“Bagus sekali,” kata Swi Kiat Siansu. ”Bu Pun Su, ternyata pandai memilih murid-murid, tidak seperti aku
yang selalu salah memilih. Pendekar Bodoh, tentu kau pula yang telah membantuku memberi hajaran pada
kedua muridku Thai Kek Losu dan Sian Kek Losu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Cin Hai menjawab dengan tenang.
“Locianpwe, mana teecu berani memberi hajaran kepada orang lain? Thai Kek Losu dan Sian Kek Losu
sengaja hendak membunuh teecu dan kawan-kawan, maka terpaksa kami membela diri.”
Swi Kiat Siansu mengangguk-angguk, lalu dia berkata kepada Hai Kong Hosiang, “Hai Kong Bengyu, kau
telah berhasil mengundang aku untuk mengadakan pibu dengan Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu dan kini
mereka berdua telah datang, biar pun Bu Pun Su sendiri hanya diwakili oleh muridnya. Akan tetapi, kau
harus ingat bahwa pibu ini adalah urusan kami sendiri dan kau bersama kawan-kawanmu yang banyak
jumlahnya itu tidak boleh mencampuri urusan kami. Urusan pribadi terhadap para tamu tiada hubungannya
dengan pibu ini!”
Pok Pok Sianjin juga berkata kepada Wi Wi Toanio, “Aku telah bertemu dengan jago-jago dari selatan dan
timur, jangan mengganggu pibu ini.”
Hai Kong Hosiang dan Wi Wi Toanio biar pun merasa kecewa, akan tetapi mereka tidak berani membantah,
hanya mereka mengharap agar dalam pibu ini, Cin Hai dan Hok Peng Taisu kena dikalahkan, karena
dengan begitu akan mudah bagi mereka untuk menyerang Ang I Niocu dan kawan-kawannya. Mereka
memang merasa gentar terhadap Hok Peng Taisu dan Bu Pun Su dan biar pun mereka tahu akan kelihaian
Cin Hai yang mewakili Bu Pun Su, namun mereka tidak begitu jeri terhadap Cin Hai.
Sementara itu, Hok Peng Taisu lalu menghadapi kedua kakek sakti dari barat dan utara itu dan berkata,
“Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu, kita ini seperti anak-anak kecil yang bodoh hingga dapat dibujuk oleh
orang-orang muda untuk datang ke sini sehingga saling berhadapan! Akan tetapi setelah kita bertemu di
sini, maka kita tidak perlu merasa sungkan lagi karena aku juga dapat menduga isi hati kalian yang tentu
tidak jauh bedanya dengan isi hatiku. Bukankah kalian datang ini karena ingin menguji kepandaianku dan
kepandaian Bu Pun Su?”
Swi Kiat Siansu tertawa. “Ha-ha-ha-ha! Benar, benar! Orang-orang yang sudah terlalu tua seperti kita ini
memang kembali menjadi bocah-bocah lagi. Sayang sekali Bu Pun Su tak dapat hadir, kalau dia ada
alangkah senangnya!”
“Locianpwe,” kata Cin Hai dengan masih menghormat, “dahulu mendiang Suhu pernah menyatakan
kekecewaannya karena tak dapat menerima penghormatan ini sendiri, akan tetapi Suhu telah menitahkan
teecu untuk mewakilinya. Oleh karena taat kepada perintah Suhu, maka teecu melupakan kebodohan
sendiri dan berani berlaku lancang menghadapi Ji-wi Locianpwe untuk melayani Locianpwe berdua
bermain-main!”
Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu saling pandang, kemudian tertawa terbahak-bahak. “Pendekar
Bodoh,” kata Pok Pok Sianjin. “Kau terlalu merendahkan diri sendiri dan dapat menyesuaikan dirimu, bagus
sekali!”
“Locianpwe,” Cin Hai berkata, “teecu teringat akan ujar-ujar Nabi Khong Cu yang pernah menyatakan
bahwa jika orang bodoh suka menggunakan cara sendiri dan orang rendah berlaku agung, maka dia akan
selamat. Sedangkan orang yang tak dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya dan
berkukuh memegang aturan kuno yang sudah tidak sesuai lagi, maka orang demikian itu tentu akan
mengalami bencana yang menimpa dirinya!”
“Itulah ujar-ujar dalam kitab Tiong-yong!” seru Pok Pok Sianjin dengan kagum. “Ehh, anak muda, kau
benar-benar mengherankan! Ucapan-ucapanmu tidak pantas keluar dari mulut seorang semuda engkau!
Tahukah engkau bahwa usiamu ini membuat kau lebih pantas menjadi cucuku? Dan kau hendak melayani
kami bermain-main?”
“Locianpwe, para bijak jaman dahulu pernah menyatakan bahwa kepandaian dan pribudi orang tak diukur
dari tinggi rendah usianya, seperti juga kebersihan lahir batin seseorang tidak dapat dilihat dari pakaiannya!
Oleh karena itu, apakah salahnya perbedaan usia di antara kita? Apakah artinya muda dan tua? Buah yang
sudah terlalu tua akan membusuk dan kemudian jatuh ke atas tanah untuk bersemi lagi menjadi pohon
muda, dan akhirnya pun akan menjadi tua kembali! Lagi pula, Locianpwe hanya bermaksud untuk mainmain,
maka biarlah teecu menerima pengajaran dan supaya bertambah pengalaman teecu dari main-main
ini!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ha-ha-ha-ha! Kau memang pandai sekali, Pendekar Bodoh!” kata Pok Pok Sianjin. “Hok Peng Taisu, tak
salah kau membawa anak muda ini! Sekarang biarlah aku bermain-main dengan anak muda ini lebih dulu
sedangkan Swi Kiat Siansu bermain-main dengan kau, dan kemudian kita bertukar lawan!”
Hok Peng Taisu hanya mengangguk sambil tersenyum, “Baiklah Pok Pok Sianjin. Kalian berdua pada saat
ini boleh kuanggap sebagai tuan rumah, sebab itu biarlah ketentuan-ketentuannya terserah kepadamu
saja.”
Pok Pok Sianjin lalu menancapkan tongkatnya di atas tanah, kemudian ia mengambil dua biji catur dan
menyerahkannya sebuah kepada Cin Hai sambil berkata, “Pendekar Bodoh, kita masing-masing
memegang sebuah biji catur dan marilah kita menaruh biji catur ini di kepala. Kemudian kita saling serang
dan berusaha menjatuhkan biji catur itu dari atas kepala. Siapa yang biji caturnya terjatuh, harus berani
mengaku kalah!”
Cin Hai diam-diam merasa terkejut oleh karena biar pun ‘main-main’ ini nampaknya tidak berbahaya,
namun karena biji catur itu ditaruh di atas kepala, maka untuk menjaga agar jangan sampai biji catur itu
terpukul jatuh, sama halnya dengan menjaga kepala sendiri, sebab kepala itu tak akan terluput dari pada
bahaya pukulan! Akan tetapi, dengan tenang dia mengangguk dan lalu menaruh biji catur itu di atas
kepalanya sesudah menyingkap rambutnya sehingga biji catur itu menyentuh kulit kepala.
“Teecu telah siap, Locianpwe!” katanya.
“Bagus, mari kita mulai!”
Kakek tua yang tinggi kurus dan agak bongkok itu lalu melangkah maju dan mengebutkan tangannya ke
arah biji catur di atas kepala Cin Hai dan pemuda ini merasakan betapa sambaran angin yang keluar dari
kibasan tangan ini sungguh dahsyat dan keras hingga ia merasa betapa rambut kepalanya tertiup keras! Ia
segera menggerakkan dua lengannya dan mainkan gerak Pek-in Hoat-sut kemudian menolak sambaran
angin itu dengan angin pukulannya, bahkan lantas membalas dengan pukulan Mega Putih Menutup
Matahari ke arah biji catur di atas kepala Pok Pok Sianjin.
Melihat betapa sampokannya tadi terpental kembali oleh uap putih yang keluar dari kedua lengan Cin Hai,
Pok Pok Sianjin lalu tertawa dan berkata, “Bagus, Pek-in Hoat-sut yang kau mainkan ini mengingatkan aku
kepada Bu Pun Su! Ha-ha-ha-ha, kau benar-benar merupakan Bu Pun muda!”
Kemudian dia menyerang kembali dengan kebutan tangan atau tamparan yang dilakukan dengan cepat
serta mendatangkan angin pukulan yang hebat. Cin Hai berlaku waspada dan hati-hati sekali. Ia cepat
mempergunakan kelincahannya dan mengelak sambil balas menyerang.
Demikianlah, kedua orang itu saling serang dengan hebatnya dan biar pun tubuh mereka berkelebatan ke
sana ke mari, akan tetapi belum pernah kedua lengan tangan mereka beradu karena mereka
mempergunakan lweekang dan ginkang untuk menyerang lawan dengan angin pukulan saja!
Nelayan Cengeng beserta kawan-kawan lainnya yang menonton pertempuran ini hatinya merasa berdebardebar
penuh ketegangan karena sungguh pun mereka berdua itu hanya ‘main-main’ belaka, namun
kehebatan pertandingan itu lebih mendebarkan hati dari pada pertempuran dua ekor naga yang saling
terkam! Juga Hok Peng Taisu memandang tajam dan diam-diam ia mengagumi kelincahan dan ketenangan
Cin Hai.
Harus diketahui bahwa pertandingan adu kepandaian semacam ini lebih berat dari pada pertandingan
dalam pertempuran biasa karena di dalam pertandingan bersyarat ini orang harus membagi dua
perhatiannya, yaitu selain menjaga pukulan lawan juga harus dapat menjaga supaya biji catur di atas
kepala itu jangan tergelincir jatuh di waktu tubuh mereka bergerak. Dengan tenaga khikang tentu dapat
menyedot biji catur itu hingga seakan-akan menempel pada kulit kepala, akan tetapi sebentar saja
perhatian mereka terlepas, maka biji catur itu ada kemungkinan terguling ke bawah yang berarti kekalahan
bagi mereka!
Supaya dapat melakukan hal ini dibutuhkan kepandaian tinggi serta khikang yang sudah sempurna, maka
Pok Pok Sianjin sengaja memilih cara ini karena bila mana anak muda itu tidak sanggup melakukannya
berarti bahwa kepandaiannya belum cukup tinggi untuk melayaninya!
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi, alangkah kagum hatinya ketika melihat bahwa bukan saja Cin Hai sanggup melakukan
permainan ini dengan begitu baik, bahkan dapat juga melancarkan serangan balasan yang cukup
mengejutkannya! Dia tidak tahu bahwa Cin Hai sudah mempelajari pokok-pokok pergerakan silat dengan
sempurna sehingga dapat menduga ke mana arah serangan lawannya, sehingga sungguh pun ia harus
mengakui bahwa lweekang dari Pok Pok Sianjin lebih tinggi dari pada lweekang-nya sendiri, akan tetapi
oleh karena dia telah mengetahui lebih dulu arah serangan lawan, maka dia dapat menjaga diri lebih cepat
dari pada lawannya.
Tipu berganti tipu dan ilmu bertukar ilmu, akan tetapi setelah bertempur lima puluh jurus, belum juga Pok
Pok Sianjin berhasil mengalahkan Cin Hai. Ia makin menjadi kagum dan juga penasaran, dan ketika Cin
Hai mainkan ilmu serangan yang baru-baru ini dia terima dari Bu Pun Su, yakni Ilmu Serangan Halilintar
Menyambar Hujan, pukulan-pukulannya telah berhasil membuat biji catur di atas kepala Pok Pok Sianjin
menjadi miring.
Bukan main kagum dan terkejutnya hati Pok Pok Sianjin saat melihat hebatnya serangan pemuda itu,
hingga dia berseru keras memuji.
“Kau benar-benar murid Bu Pun Su tulen!” katanya sambil menyambar tongkatnya yang tadi ditancapkan di
atas tanah. “Keluarkan senjatamu, Pendekar Bodoh, dan marilah kita bermain-main dengan senjata agar
lebih menyenangkan!”
Cin Hai dengan hati gelisah terpaksa mengeluarkan pedang Liong-cu-kiam. Akan tetapi oleh karena suara
kakek itu diliputi dengan kegembiraan, ia menenteramkan hatinya dan menggerakkan pedang itu dengan
cepat.
“Pedang bagus!” Pok Pok Sianjin memuji pula.
Tongkatnya segera berkelebat dengan hebatnya sehingga Cin Hai merasa amat kagum. Belum pernah dia
menyaksikan ilmu tongkat sehebat ini. Biar pun ilmu pedangnya sudah mencapai tingkat tinggi sekali
hingga tidak mudah orang melawannya, tetapi menghadapi ilmu tongkat Pok Pok Sianjin, ia benar-benar
tidak berdaya.
Tentang kecepatan bergerak dan lihainya perubahan gerakan, mungkin ilmu pedangnya tidak kalah karena
beberapa kali Pok Pok Sianjin mengeluarkan seruan kaget akibat tidak menduga perubahan yang tiba-tiba
terjadi pada pedang Cin Hai, akan tetapi permainan tongkat kakek ini mengandung tenaga-tenaga yang
mukjijat. Tongkat di tangannya itu seolah-olah hidup sehingga dapat digunakan untuk menempel, memutar,
membetot, atau mendorong dengan tenaga yang cocok sekali hingga beberapa kali hampir saja pedang
Cin Hai kena dirampas.
Cin Hai lalu mengerahkan seluruh kepandaiannya dan oleh karena ilmu pedangnya Daun Bambu memang
sungguh hebat dan dapat disesuaikan dengan kepandaian lawan yang bagaimana pun juga, maka dia
dapat melakukan perlawanan cukup seru. Tetapi dia kalah pengalaman dan juga ilmu tongkat Pok Pok
Sianjin itu memang lain dari pada yang lain hingga lagi-lagi ketika dia menusuk, pedangnya kena ditempel
oleh tongkat itu.
Kakek itu memutar-mutar tongkatnya dan ternyata tenaga putaran itu luar biasa kuatnya. Pedang Cin Hai
ikut terputar dan tiba-tiba saja tongkat itu meluncur ke atas kepalanya, menyabet biji catur itu dengan
kecepatan yang tak tersangka-sangka.
Cin Hai terkejut sekali, akan tetapi anak muda ini memang mempunyai ketenangan yang sempurna dan
kecerdikan luar biasa. Melihat bahwa ia tak dapat mengelak lagi, apa lagi menangkis, ia lalu berseru keras
dan mengerahkan khikang-nya hingga tiba-tiba biji catur di atas kepalanya mumbul setengah kaki lebih dan
setelah tongkat kakek itu lewat di atas kepalanya, biji catur itu turun kembali di atas kepalanya seperti tadi.
Hal ini membuat semua orang yang menonton berseru kagum dan juga Pok Pok Sianjin tertawa bergelakgelak
sambil menancapkan tongkatnya di atas tanah lagi.
“Ha-ha-ha-ha! Dasar kau murid Bu Pun Su selain lihai juga cerdik dan licin sekali. Kau pantas sekali disebut
Pendekar Bodoh! Hebat, hebat!” Pok Pok Sianjin berseru dengan gembira sekali sambil menepuk-nepuk
pundak Cin Hai.
Pemuda ini merasa betapa tangan kakek yang menepuk pundaknya seperti orang memuji itu berat sekali,
dunia-kangouw.blogspot.com
maka cepat-cepat dia lalu mengerahkan tenaganya dan tiba-tiba Pok Pok Sianjin merasa betapa pundak
pemuda itu lemas bagaikan kapuk! Ia memperhebat suara ketawanya dan Cin Hai menyimpan pedang
sambil menjura dan berkata,
“Locianpwe kalau teecu bisa mempelajari ilmu tongkatmu, teecu akan merasa berbahagia sekali!”
Bukan main senangnya hati Pok Pok Sianjin mendengar ucapan ini karena ucapan ini saja menunjukkan
betapa pemuda itu menghargainya, maka dia tertawa lagi dan berkata, “Kalau ada jodoh dan usiaku masih
panjang, aku akan senang sekali mewariskan ilmu tongkat ini kepada salah seorang keturunanmu!”
Walau pun ucapan ini dikeluarkan seperti main-main belaka dan sambil lalu, akan tetapi Cin Hai mencatat
di dalam hati dengan baik-baik.
Swi Kiat Siansu dan Hok Peng Taisu juga memuji kepandaian mereka yang baru saja mengadu kepandaian
dan kini kedua orang itu saling pandang. “Sekarang tiba giliran kita, Hok Peng Taisu. Sudah lama aku
mengagumi Ilmu Silat Bambu Runcingmu, marilah kita main-main sebentar.”
Hok Peng Taisu tersenyum dan tidak mau berlaku sungkun-sungkan lagi. Dia langsung memegang
sepasang tongkat bambunya pada kedua tangan dan sesudah menjura lantas berkata, “Mana sepasang
tongkat bambuku dapat dibandingkan dengan kipas mautmu?”
Memang senjata Swi Kiat Siansu ialah kipas yang selalu dipakai untuk mengebut-ngebut tubuhnya itu.
Kipas ini sangat lebar dan gagangnya terbuat dari pada gading gajah yang ujungnya runcing, sedangkan
permukaannya terbuat dari pada kulit harimau yang sudah direndam obat sehingga menjadi kuat dan keras.
Kini dia memegang kipas itu di tangan kanan dan siap menanti datangnya serangan lawan.
“Karena pibu ini harus dilakukan dengan kepala dingin, maka lebih baik kita gunakan pula syarat seperti
yang dilakukan oleh Pok Pok Sianjin tadi,” kata Swi Kiat Siansu.
“Terserah kepadamu, Sahabat, karena seperti telah kukatakan tadi, sebagai tuan rumah kau berhak
mengambil penentuan,” jawab Hok Peng Taisu.
“Baiknya diatur begini saja. Kalau seorang di antara kita sampai kena diserang ujung baju atau ujung
lengan bajunya hingga robek, maka dia dianggap kalah.”
Hok Peng Taisu mengangguk dan tertawa gembira karena mendapat kenyataan bahwa pihak lawan benarbenar
tidak menghendaki pertempuran mati-matian.
“Baik, baik. Mari kita mulai!”
Dua orang kakek tua itu segera bergerak dan sebentar saja mereka berdua lenyap dalam sebuah
pertempuran yang memusingkan pandangan mata orang yang kurang tinggi ilmu kepandaiannya. Gerakan
mereka sama cepat dan gerakan senjata mereka sama lihai, hingga bayangan mereka terkurung oleh
gulungan sinar senjata yang berkelebatan hebat sekali.
Semua orang yang menonton pertempuran ini merasa kagum dan juga khawatir karena agaknya di dalam
pertempuran semacam ini tidak mungkin dapat menang apa bila tidak merobohkan lawan dengan serangan
maut!
Akan tetapi bagi Hok Peng Taisu dan Swi Kiat Siansu yang sedang bertempur, mereka berdua maklum
akan tingkat kepandaian lawan yang seimbang. Akan tetapi betapa pun juga Swi Kiat Siansu secara diamdiam
mengakui bahwa Ilmu silat Bambu Runcing dari Hok Peng Taisu benar-benar lihai sekali dan masih
dapat menekan permainan kipasnya sendiri! Dia terpaksa harus mengerahkan seluruh kepandaiannya
untuk menjaga diri dan demikianlah, mereka bertempur dengan hebat sampai puluhan jurus lamanya.
Tiba-tiba terdengar Swi Kiat Siansu berseru, “Aku mengaku kalah!“
Sedangkan Hok Peng Taisu juga berseru, “Kau lihai sekali!”
Dan kedua-duanya melompat ke belakang sambil menahan senjata masing-masing dan menjura sebagai
penghormatan kepada lawan. Ternyata bahwa sepasang bambu runcing Hok Peng Taisu telah berhasil
melobangi jubah Swi Kiat Siansu di kanan kiri sedangkan ujung lengan baju Hok Peng Taisu pada saat
dunia-kangouw.blogspot.com
yang sama juga kena terobek oleh gagang kipas kakek gemuk itu! Melihat hal ini mudah diputuskan bahwa
Hok Peng Taisu masih menang setingkat.
Swi Kiat Siansu berkata kepada Pok Pok Sianjin sambil tertawa, “Memang orang-orang selatan dan timur
lebih rajin melatih diri dari pada kita.” Kemudian ia menghadapi Cin Hai dan berkata,
“Pendekar Bodoh, marilah kita main-main sebentar, ingin aku merasakan lihainya ilmu pedangmu!”
Cin Hai lalu mencabut Liong-cu-kiam-nya dan bersiap sedia. Suhu-nya pernah berpesan agar supaya
berhati-hati menghadapi kakek gemuk ini oleh karena meski pun tabiatnya jujur dan baik, akan tetapi Swi
Kiat Siansu memiliki dasar watak yang enggan mengaku kalah. Lain halnya dengan Pok Pok Sianjin yang
lebih berani mengaku kalah dan juga berani pula mengaku salah. Kini menghadapi kakek gemuk ini, Cin
Hai berlaku hati-hati sekali.
“Locianpwe, sebelumnya terima kasih atas pengajaranmu ini. Apakah syaratnya masih sama dengan tadi,
yaitu saling berusaha menyerang pakaian?”
“Ya, dan kau berhati-hatilah menjaga kipasku supaya aku jangan sampai salah tangan!” Sambil berkata
demikian, Swi Kiat Siansu lalu maju menyerang kepada Cin Hai.
Kakek gemuk ini biar pun tadi mengakui keunggulan Hok Peng Taisu, namun diam-diam dia merasa
jengkel dan penasaran juga, maka kini menghadapi Cin Hai, dia mengambil keputusan untuk mencari
kemenangan untuk menebus kekalahannya yang tadi. Maka tak heran apa bila kipasnya bergerak dengan
kecepatan yang sukar untuk dapat diikuti oleh pandangan mata, merupakan gulungan sinar kuning yang
menggulung dengan dahsyat ke arah tubuh Cin Hai!
Cin Hai terkejut dan cepat mainkan pedangnya untuk melindungi dirinya dan setiap kali pedangnya bertemu
dengan gagang kipas dia merasa betapa telapak tangannya tergetar! Dari bentrokan ini saja dia dapat
mengukur sampai di mana kehebatan tenaga lawannya, maka dengan penuh ketekunan dan hati-hati sekali
dia segera mainkan ilmu pedangnya, Daun Bambu dengan tangan kanan, sedangkan untuk menjaga diri,
tangan kirinya lantas melakukan gerakan-gerakan Pek-in Hoat-sut.
Sementara itu Pok Pok Sianjin berkata kepada Hok Peng Taisu, “Hok Peng Taisu marilah kita main-main
sebentar agar aku mengenal lebih baik bambu runcingmu!”
“Mari!” Hok Peng Taisu menjawab sambil tersenyum dan bersiap sedia dengan sepasang bambu
runcingnya.
Keduanya lalu menggerakkan senjata masing-masing dan bertempur seru. Sungguh pun di antara
keduanya tidak menggunakan syarat apa-apa, akan tetapi sebagai tokoh-tokoh berilmu tinggi mereka bisa
menjaga diri. Biar pun serangan-serangan mereka merupakan pukulan maut, akan tetapi di dalam hati
sama sekali tidak memiliki niat atau nafsu untuk membunuh atau melukai lawan.
Hai Kong Hosiang beserta kawan-kawannya merasa kecewa sekali melihat betapa empat orang itu
mengadu kepandaian secara persahabatan, oleh karena kini lenyaplah harapan mereka untuk
mengalahkan Hok Peng Taisu mau pun Cin Hai. Biar pun andai kata kalah terhadap Swi Kiat Siansu dan
Pok Pok Sianjin, tetapi kekalahan itu belum tentu membuat Hok Peng Taisu dan Cin Hai mundur untuk
membela kawan-kawan lainnya yang hendak mereka basmi.
Kini melihat betapa keempat orang itu sedang bertempur dengan serunya, diam-diam dia mengeluarkan
jarum-jarumnya yang mengandung racun Ular Hijau yang amat berbahaya itu lalu tiba-tiba saja dia
mengayunkan tangannya menyerang dengan jarum-jarumnya ke arah Cin Hai dan Hok Peng Taisu!
Pada saat itu, pertempuran antara Cin Hai dan Swi Kiat Siansu sedang berjalan dengan ramai-ramainya.
Biar pun Cin Hai sudah mengeluarkan ilmu kepandaiannya, namun pada suatu saat, kipas pada tangan Swi
Kiat Siansu menyambar sedemikian hebatnya sambil mengibas dengan tenaga sepenuhnya hingga pedang
Cin Hai kena disampok dan lepas dari pegangan!
Akan tetapi, dalam kagetnya, Cin Hai lalu menggunakan tangan kiri melancarkan pukulan Halilintar
Menyambar Hujan yang mengandung daya pukulan luar biasa sekali. Pukulan ini ditujukan kepada kipas di
tangan Swi Kiat Siansu dengan tenaga sepenuhnya dan…
dunia-kangouw.blogspot.com
“Brakk!”
Permukaan kipas yang terbuat dari pada kulit harimau itu menjadi robek dan hancur berkeping-keping
sedangkan pedang Liong-cu-kiam yang terpental dari tangan Cin Hai, menancap di atas lantai!
Pada saat itulah datangnya jarum-jarum dari Hai Kong Hosiang secara tiba-tiba. Cin Hai yang masih
tergetar oleh pukulan kipas tadi mendengar datangnya angin senjata rahasia yang lembut itu. Ia cepat
mengelak, akan tetapi tetap saja ada sebatang jarum Ular Hijau menancap pada pundaknya hingga dia
terhuyung-huyung lalu roboh dengan tubuh terasa panas sekali.
Akan tetapi ia cepat dapat mengerahkan lweekang-nya untuk menolak pengaruh racun itu hingga ia masih
dapat menguasai dirinya dan tidak menjadi pingsan. Sambil bersila ia lalu mengatur napas dan memelihara
jalan darahnya.
Sementara itu, Swi Kiat Siansu yang merasa terkejut sekali karena senjata kipasnya kena dipukul hancur
oleh Cin Hai, kini melihat betapa pemuda itu terkena serangan senjata rahasia yang dilepas oleh Hai Kong
Hosiang, menjadi marah sekali.
“Bangsat gundul curang!” bentaknya marah. “Kau membikin malu saja kepadaku!” Sambil berkata demikian,
dia lalu menyambit dengan gagang kipasnya yang masih terpegang di dalam tangannya.
Gagang kipas itu meluncur cepat menuju ke arah tenggorokan Hai Kong Hosiang yang cepat mengelak
hingga mengenai tempat kosong. Swi Kiat Siansu masih penasaran dan cepat tubuhnya berkelebat ke arah
Hai Kong Hosiang kemudian menyerangnya dengan pukulan tangan terbuka.
Hai Kong Hosiang bukanlah orang yang lemah dan ilmu kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi,
maka tentu saja ia dapat mengelak dan membalas dengan pukulan nekat. Ia maklum bahwa ia telah gagal
mengharapkan bantuan kakek ini yang sekarang bahkan menyerangnya karena marah melihat
kecurangannya tadi, maka sambil berseru keras ia melawan sekuat tenaga, berkali-kali ia berjungkir balik,
kepala di bawah dan kaki di atas sambil menggerak-gerakkan dua kakinya untuk menyerang Swi Kiat
Siansu secara hebat sekali.
Tentu saja Swi Kiat Siansu makin marah dan dengan seruan keras ketika kaki Hai Kong Hosiang
menendang ke arah kedua pundaknya, dia lantas menangkap kaki itu dan cepat membanting tubuh Hai
Kong Hosiang yang tinggi besar itu ke atas batu karang! Segera terdengar pekik keras dan kepala hwesio
jahat itu pecah berantakan ketika dibenturkan kepada batu karang!
Sementara itu, Lin Lin lalu berlari menghampiri Cin Hai dan memeluk kekasihnya dengan hati bingung. Ada
pun Hok Peng Taisu yang sedang bertempur mengadu kepandaian dengan Pok Pok Sianjin, cepat
melompat mundur dan menghampiri Swi Kiat Siansu yang masih marah sekali itu.
Melihat kesedihan Lin Lin, Swi Kiat Siansu lalu mengeluarkan sebotol obat warna merah. Sebagai seorang
pertapa di daerah Mongolia ia maklum akan berbahayanya jarum-jarum Ular Hijau dan dia tahu pula
obatnya, karena dia pun adalah seorang ahli pengobatan. Untuk menjaga diri, dia selalu membawa obatobat
anti racun dan obat Semut Merah tersedia pula dalam saku bajunya.
Dengan amat berterima kasih, Lin Lin cepat meminumkan obat itu kepada Cin Hai dan seketika itu juga
sembuhlah Cin Hai. Akan tetapi, seperti Lin Lin dulu, begitu dia sembuh, perang tanding antara Racun Ular
Hijau dan Obat Semut Merah itu lalu mempengaruhi otaknya dan tiba-tiba dia menjadi marah sekali. Hanya
karena kekuatan batinnya sudah jauh lebih kuat dari pada Lin Lin, maka dia masih dapat membedakan
mana kawan mana lawan.
Pada suatu saat, Wi Wi Toanio beserta kawan-kawannya datang menyerbu, diikuti oleh perwira-perwira di
bawah perintah Kam Hong Sin. Cin Hai langsung melompat ke atas, memungut pedangnya yang
menancap di tanah, lalu mengamuk hebat sekali. Juga Lin Lin, Ang I Niocu, Lie Kong Sian, Ma Hoa, Kwee
An, dan Nelayan Cengeng tidak mau tinggal diam dan menyambut serbuan musuh yang besar jumlahnya
itu.
Perang tanding terjadi amat hebatnya, sedangkan Swi Kiat Siansu, Pok Pok Sianjin, dan Hok Peng Taisu
merasa segan untuk ikut mencampuri pertempuran itu, sungguh pun mereka merasa penasaran melihat
betapa Cin Hai dan kawan-kawannya dikeroyok oleh sekian banyak orang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dalam kemarahannya yang bukan sewajarnya, Cin Hai mendesak Wi Wi Toanio, Siok Kwat Mo-li, dan Lok
Kun Tojin yang mengeroyoknya. Pedang Liong-cu-kiam di tangannya menyambar-nyambar dengan amat
dahsyatnya hingga ketiga orang pengeroyoknya yang berilmu tinggi itu merasa kewalahan karena belum
pernah mereka menyaksikan sepak terjang yang demikian hebatnya!
Dalam jurus ke dua puluh lebih, Wi Wi Toanio kena terbabat pinggangnya oleh pedang Liong-cu-kiam
sehingga sambil menjerit wanita itu roboh mandi darah dan tewas seketika itu juga! Siok Kwat Moli dan Lok
Kun Tojin terkejut dan gentar hingga gerakan mereka menjadi lambat karenanya.
Cin Hai tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Dua kali ia membuat gerakan tangan kanan menusuk
dan tangan kirinya melancarkan pukulan Halilintar Menyambar Hujan ke arah Lok Kun Tojin. Terdengar
pekik mengerikan ketika pedang itu menembus dada Siok Kwat Mo-li dan pukulan tangan kirinya yang
dahsyat memecahkan kepala Lok Kun Tojin.
Setelah membunuh tiga orang lawannya, tiba-tiba Cin Hai merasa pening dan mengantuk sekali dan tanpa
dapat dicegah lagi tubuhnya terguling dan telah tidur mendengkur sambil memegang pedang Liong-cu-kiam
yang telah menjadi merah karena darah.
Sementara itu, pertempuran masih berjalan hebat dan Ang I Niocu dan kawan-kawannya mengamuk hebat
serta menjatuhkan banyak korban di pihak lawan. Akan tetapi musuh terlampau banyak hingga mereka
terdesak hebat.
Tiba-tiba berkelebat tiga bayangan orang dan di mana saja tubuh mereka menyambar, senjata-senjata para
perwira terpental ke atas. Mereka ini ternyata adalah tiga orang kakek sakti yang tidak tahan pula melihat
pertempuran itu karena merasa ngeri melihat banyaknya darah berhamburan. Sambil bergerak mereka
berseru,
“Tahan pertempuran, tahan!”
Semua orang merasa jeri juga melihat mereka ikut turun tangan, karena itu semua lalu mengundurkan diri.
Dengan marah Swi Kiat Siansu lalu menghadapi Kam Hong Sin dan kawan-kawannya sambil berkata,
“Kalau aku tidak ingat bahwa kau adalah panglima kerajaan, sekarang juga tentu kuhancurkan kepalamu!
Kau telah bersekutu dengan Hai Kong yang jahat, dan dengan tipu muslihat kalian berhasil mengundang
aku bersama Pok Pok Sianjin sehingga terpaksa kami turun gunung membuat dosa-dosa baru. Tapi, tidak
tahunya kalian hendak menggunakan kami agar memusuhi orang-orang baik dan membela Hai Kong yang
jahat. Lihatlah bukti kekuasaan dan keadilan Tuhan Yang Agung. Mereka yang jahat menemui kematian
mengerikan!” Ia menuding ke arah mayat Hai Kong Hosiang, Wi Wi Toanio, dan Siok Kwat Mo-li. “Biarlah
kali ini menjadi pelajaran bagimu agar supaya lain kali di dalam menjalankan tugas, kau akan berlaku hatihati
dan dapat mempertimbangkan orang yang baik dan yang jahat!”
Kam Hong Sin memberi hormat dan berkata dengan tegas, “Locianpwe, siauwte adalah seorang petugas
yang hanya menjalankan kewajiban siauwte sebagai seorang panglima. Anak murid Bu Pun Su dan Hok
Peng Taisu ini telah merampas harta pusaka dan mereka membagikan harta pusaka kepada mereka yang
tidak berhak. Padahal harta pusaka itu adalah hak milik kerajaan. Bagi siauwte, lebih baik mati sebagai
seorang perwira yang menjalankan tugasnya dari pada mati sebagai seorang pengkhianat.”
Mendengar ucapan yang gagah dan patut dihargai ini, Hok Peng Taisu melangkah maju dan berkata,
“Kam-ciangkun, aku sudah lama mendengar bahwa engkau adalah seorang perwira yang gagah, dan
ternyata bahwa hal ini ada betulnya. Akan tetapi, agaknya kau masih terlampau muda untuk memegang
jabatan tinggi itu hingga pertimbanganmu belum masak benar. Ketahuilah bahwa harta pusaka itu adalah
hasil rampokan di jaman dahulu, dan rakyat yang dirampok. Maka aku dan kawan-kawan lain
mengembalikan harta itu dan membagi-bagikan kepada para rakyat miskin, bukankah ini sudah adil
namanya? Apakah artinya harta sekian banyak itu bagi Kaisar yang sudah kaya? Akan tetapi besar sekali
artinya bagi rakyat yang hampir tak dapat makan karena miskinnya!”
Kam Hong Sin merasa terpukul oleh ucapan ini dan dia lalu menjura dan bertanya, “Kalau betul siauwte
telah salah jalan, habis apakah yang sekarang harus kulakukan?”
“Lekaslah tarik mundur anak buahmu dan bawalah semua orang yang tewas untuk diurus sebaiknya.
Kemudian, setiap langkahmu harus kau perhatikan baik-baik agar kau jangan menanam bibit permusuhan
dengan orang-orang gagah, agar kau dapat memperhatikan dan membedakan antara orang-orang gagah
dunia-kangouw.blogspot.com
dengan penjahat-penjahat seperti Hai Kong Hosiang itu!” kata Hok Peng Taisu.
Kam Hong Sin lalu memerintahkan anak buahnya untuk mengangkat semua korban dan dibawa turun
gunung, sedangkan kawan-kawannya pun ikut turun gunung pula. Ceng To Tosu menghampiri Cin Hai
yang sementara itu telah didekati oleh Lin Lin dan telah sadar kembali, sembuh seperti sedia kala. Bahkan
anak muda ini sudah lupa bahwa dia telah membunuh Siok Kwat Mo-li, Wi Wi Toanio, dan Lok Kun Tojin.
Ceng To Tosu yang selalu mewek itu menjura kepada Cin Hai dan berkata, “Sie-taihiap, kau maafkan pinto
yang sudah lancang tangan sehingga terbawa-bawa dalam urusan ini, karena pinto hanya memenuhi tugas
sebagai pembantu kerajaan Kaisar.”
Cin Hai tersenyum. “Tidak apa, Totiang, dan maaf sama-sama. Kita semua menunaikan tugas masingmasing,
hanya sayangnya dalam bidang lain sehingga timbullah kesalahan paham ini.” Ceng To Tosu
mengangguk-angguk dan mulutnya semakin mewek bagaikan benar-benar hendak menangis.
“Aku juga minta maaf, Taihiap,” berkata Ceng Tek Hwesio sambil tertawa-tawa gembira, seakan-akan baru
saja tadi bukan terjadi perang hebat, akan tetapi pesta minum arak yang menggirangkan hatinya!
“Kau adalah orang yang paling berbahagia, Ceng Tek Hwesio, dan semoga kau masih panjang usia
sehingga kelak kita dapat bertemu kembali,” jawab Cin Hai.
Keduanya lalu mengundurkan diri, berlari-lari menyusul rombongan Kam Hong Sin turun gunung.
Cin Hai dan kawan-kawannya lalu menghampiri Swi Kiat Siansu dan Pok Pok Sianjin dan pemuda itu
menjatuhkan diri berlutut lalu berkata,
“Ji-wi Locianpwe yang mulia, teecu menghaturkan banyak terima kasih atas budi serta kebaikan Locianpwe
berdua yang telah dapat menyelesaikan persoalan ini dengan penuh kebijaksanaan. Terutama sekali
kepada Swi Kiat Siansu Locianpwe, terima kasih atas pertolongan kepada teecu.” Cin Hai tadi telah
mendengar dari Lin Lin akan pertolongan yang diberikan oleh kakek itu kepadanya.
Bukan main kagum dan senangnya hati kedua tokoh dari barat dan utara itu melihat sikap Cin Hai yang
meski pun tingkat ilmu kepandaiannya tidak lebih rendah dari pada mereka, akan tetapi telah berani
bersikap demikian sopan santun dan merendah. Swi Kiat Siansu mengangkat bangun kepadanya dan
berkata,
“Sikapmu ini telah menjatuhkan hati kami, Pendekar Bodoh. Bukan kepandaian saja yang bisa menjatuhkan
seseorang, akan tetapi sikap yang baik jauh lebih berpengaruh. Melihat sikapmu saja, kami dapat
mengetahui bahwa permusuhan antara pihakmu dengan pihak Hai Kong, pihakmu yang berada di pihak
benar. Sekarang maafkan kami. Tentang ilmu kepandaian, terus terang kunyatakan bahwa orang-orang
selatan dan timur benar-benar pandai, tidak seperti kami yang menyembunyikan diri dan lupa untuk berlatih
diri.”
“Kalian jangan terlalu merendah,” jawab Hok Peng Taisu. “Ilmu kipas dari Swi Kiat Siansu sungguh
mengagumkan, sedangkan ilmu tongkat Pok Pok Sianjin benar-benar membuat aku merasa tunduk.”
Setelah mengeluarkan ucapan-ucapan merendah, kedua kakek dari barat dan utara itu lalu berkelebat
pergi, sedangkan Hok Peng Taisu lalu berkata,
“Untung sekali bahwa persoalan ini dapat diselesaikan dengan mudah. Sekarang kalian pulanglah dan
jauhkan diri dari segala persengketaan yang tak perlu. Ma Hoa kalau kelak kau melangsungkan
pernikahanmu, jangan lupa mengundang aku untuk minum arak!” Setelah berkata demikian, kakek botak ini
pun lalu berkelebat pergi dengan cepat sekali.
Nelayan Cengeng tertawa bergelak karena girangnya dan air matanya mengalir keluar. “Ha-ha-ha! Memang
yang benar selalu pasti menang! Sekarang segala hal sudah beres, dan aku pun ingin sekali segera
menyaksikan kalian semua melangsungkan pernikahan dan membangun rumah tangga yang bahagia!”
Cin Hai menyatakan bahwa dia bersama Lin Lin hendak bersembahyang dahulu di depan Goa Tengkorak
sebagai penghormatan terakhir dan sebagai laporan kepada mendiang suhu-nya bahwa tugas sudah
diselesaikan dengan baik. Setelah berjanji akan bertemu di Tiang-an dengan kawan-kawannya, sepasang
teruna remaja ini dengan cepat lalu turun gunung.
dunia-kangouw.blogspot.com
Nelayan Cengeng tertawa girang. “Lebih cepat dilangsungkan pernikahan mereka dan pernikahan Ma Hoa,
lebih baik lagi. Marilah kita langsung menuju ke Tiang-an. Dan Niocu hendak pergi ke manakah?” tanyanya
kepada Ang I Niocu.
Dara Baju Merah itu tak dapat menjawab dan Ma Hoa tersenyum lalu menggoda sambil mengerling ke arah
Lie Kong Sian.
“Syarat-syarat telah dipenuhi semua, mau tunggu apa lagi? Lie-taihiap, kenapa kau diam saja?”
Lie Kong Sian maklum akan maksud kata-kata ini, biar pun ia merasa malu dan mukanya menjadi merah,
akan tetapi karena ia berhati jujur dan polos, ia lalu berkata kepada Ang I Niocu,
“Moi-moi, di depan kawan-kawan baik yang menjadi saksi, biar kuulangi lagi pinanganku yang dulu itu.
Benar sebagaimana kata Nona Ma Hoa tadi, semua syarat-syaratmu telah terpenuhi. Sie-sute dan Nona
Lin Lin telah bertemu kembali, Sute-ku Song Kun juga telah tewas, dan kita telah mendapat persetujuan
dari mendiang Supek Bu Pun Su.”
Merahlah muka Ang I Niocu, melebihi merahnya warna bajunya! Sambil menundukkan kepalanya, ia pun
berkata, “Dulu pernah kukatakan bahwa selain yang tiga itu, masih ada sebuah syarat lagi.”
“Apakah itu? Biarlah kawan-kawan menjadi saksi, aku akan memenuhi syarat ke empat ini, betapa pun
beratnya!”
Ang I Niocu mengerling tajam. “Pantaskah diucapkan di sini?”
Nelayan Cengeng tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Niocu, di antara kawan sendiri, mengapa harus
malu-malu? Atau, haruskah kami bertiga pergi dulu dari sini?”
Makin malulah Ang I Niocu mendengar ini. Ia menjadi serba salah, kemudian dia berkata perlahan, “Syarat
yang ke empat adalah cita-citaku semenjak dulu, yaitu orang yang patut menjadi suamiku harus lebih dulu
dapat menjatuhkan aku dalam sebuah pertandingan!”
Tercenganglah semua orang mendengar syarat ini, tidak terkecuali Lie Kong Sian. Akan tetapi, Lie Kong
Sian dengan tenang-tenang saja lalu berkata, ”Baiklah apa bila demikian kehendakmu, terpaksa aku akan
berusaha menjatuhkanmu!”
Ang I Niocu mencabut Liong-cu-kiamnya dan bersiap menghadapi tunangannya. Ma Hoa, Kwee An, dan
Nelayan Cengeng lalu mengundurkan diri dan berdiri agak jauh dari tempat yang akan dijadikan
gelanggang pertempuran antara kedua orang itu.
“Cobalah kalau bisa!” kata Ang I Niocu dengan mata bersinar gembira dan bibir tersenyum manis. Sikapnya
menantang sekali, karena dia merasa telah dapat mempermainkan Lie Kong Sian dan karena ia merasa
bahwa nilai dirinya telah naik!
“Jagalah!” seru Lie Kong Sian sambil mencabut pedangnya pula lantas maju menyerang dengan hebat.
Sebentar saja kedua orang itu bertempur hebat sekali hingga tubuh mereka seakan-akan menjadi satu
gulungan warna merah dari baju Ang I Niocu dan warna biru dari baju Lie Kong Sian!
Diam-diam Lie Kong Sian menggunakan tangan kirinya melepaskan dua helai tali sutera warna hijau dan
menggenggam tali itu pada tangannya. Kemudian, ketika pedang Ang I Niocu menyambar, dia sengaja
memasang pundaknya untuk menerima tusukan itu!
Ang I Niocu terkejut sekali dan sambil menjerit ngeri ia miringkan pedangnya agar jangan sampai menusuk
pundak Lie Kong Sian, tetapi terlambat! Pedangnya masih menggores bahu kanan Lie Kong Sian hingga
bajunya robek dan mengalirlah darah dari bajunya.
Akan tetapi Lie Kong Sian yang memang sengaja melakukan hal ini, mempergunakan kesempatan selagi
Ang I Niocu terkejut dan menyesal, tangan kirinya bergerak cepat dan tahu-tahu sutera hijau itu telah
melayang dan melibat kedua tangan Ang I Niocu yang terus dibetotnya dan sekali dia menggerakkan
tangan kiri lagi, tali sutera ke dua langsung melayang dan membelit pergelangan kaki gadis itu!
dunia-kangouw.blogspot.com
Beberapa kali dia menggerakkan tangan dan tali-tali itu sudah mengikat kedua kaki dan kedua tangan Ang I
Niocu dengan kencang, sedangkan pedang Liong-cu-kiam juga telah terampas oleh Lie Kong Sian! Tubuh
Ang I Niocu terguling dan kini dia rebah setengah duduk di atas tanah dengan kaki tangan terbelenggu!
Ia menjadi bingung sekali dan berkata, “Lepaskan aku, lepaskan!”
Akan tetapi Lie Kong Sian hanya berdiri bertolak pinggang sambil memandang dengan tersenyum!
“Lepaskan... lepaskan aku...!” Ang I Niocu berkata lagi dan ia hampir saja menangis.
Dia meronta-ronta dan mengerahkan tenaga lweekang-nya untuk dapat melepaskan diri dari pada
belenggu itu. Akan tetapi tali sutera itu terbuat dari pada bahan yang tidak saja kuat dan ulet sekali, akan
tetapi juga mempunyai sifat lunak dan dapat mulur sehingga tenaga lweekang-nya tiada berguna!
Terdengar suara tawa bergelak-gelak dari Nelayan Cengeng yang segera menghampiri Ang I Niocu. Juga
Kwee An dan Ma Hoa menghampirinya sambil tertawa-tawa.
“Lo-enghiong, Kwee An, Ma Hoa! Lekas lepaskan aku...!” kata Ang I Niocu dengan suara memohon karena
Dara Baju Merah ini merasa malu sekali.
“Ha-ha-ha!” Nelayan Cengeng tertawa geli hingga air matanya mengalir keluar di sekujur pipinya.
“Mempelai wanita sudah tertawan...! Ha-ha-ha!” Kakek ini dengan gelinya tertawa gembira dan sama sekali
tak mau menolong Ang I Niocu.
“Kwee An, tolonglah aku!” kata Ang I Niocu.
Sambil mengangkat jari telujuknya, Kwee An berkata, “Niocu, kini kau sudah mendapat bukti akan kelihaian
calon suamimu! Tidak boleh seorang calon isteri menantang suami, inilah jadinya!” Dia menggoda sambil
tersenyum.
“Ma Hoa, benar-benarkah kau tak mau menolongku membuka belenggu ini?” Ang I Niocu menengok
kepada Ma Hoa.
Akan tetapi gadis itu yang kini telah menyanggul rambutnya atas permintaan Kwee An sebagai
‘pembayaran kaul’ karena musuh-musuh telah dapat ditewaskan dan dikalahkan semua, hanya tertawa
saja, bahkan kemudian bertepuk tangan gembira sambil bernyanyi menggoda,
“Mempelai perempuan telah tertawan! Masuk perangkap mempelai pria!”
Berkali-kali Ma Hoa bernyanyi sambil bertepuk tangan hingga Ang I Niocu menjadi makin jengah dan malu.
“Adik Hoa, awas! Bila sampai terbuka ikatan tanganku, akan kucubit bibirmu yang nakal. Hayo lepaskan
aku!” kata Ang I Niocu.
Akan tetapi dengan sikap nakal dan menggoda, Ma Hoa berkata, “Enci Im Giok, yang mengikat kaki
tanganmu bukanlah aku. Mengapa aku yang harus membukanya? Mintalah kepada orang yang
melakukannya!”
Lie Kong Sian menghampiri Ang I Niocu dengan senyum di bibir. “Bagaimana, Moi-moi, sudah takluk kau
kepadaku kini?”
Ang I Niocu tak dapat menjawab, hanya meronta-ronta sambil berkata,
“Lepaskan... lepaskan!”
Lie Kong Sian menjura kepada Nelayan Cengeng, juga kepada Kwee An dan Ma Hoa sambil berkata,
“Maafkan, kami hendak pergi dahulu, kembali ke pulau tempat kediaman kami. Kelak, apa bila
dilangsungkan pernikahan antara Saudara Kwee An dan Nona Ma Hoa, juga antara Sie-sute dan Sumoi Lin
Lin, kami tentu akan hadir!”
Setelah berkata demikian, tanpa melepaskan ikatan kaki tangan Ang I Niocu, pemuda itu lalu membungkuk
dunia-kangouw.blogspot.com
dan memondong tubuh kekasihnya itu dan membawanya berlari cepat bagaikan terbang, menuju ke
pulaunya yang indah yang merupakan sarang bahagia bagi dia dan calon isterinya.
Nelayan Cengeng, Kwee An, serta Ma Hoa merasa girang dan juga terharu sekali dapat menyaksikan
kebahagiaan orang muda itu. Bahkan Ma Hoa sampai menitikkan air mata sambil berkata,
“Syukurlah, kalau Enci Im Giok berbahagia. Dia orang berbudi mulia...”
Kemudian mereka bertiga lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Tiang-an untuk menanti datangnya Cin
Hai dan Lin Lin di Tiang-an.
Tak lama kemudian, datanglah Cin Hai dan Lin Lin membawa tiga ekor burung sakti, dan sebulan kemudian
dilangsungkanlah perkawinan yang meriah antara Kwee An dengan Ma Hoa, dan Cin Hai dengan Lin Lin.
Selain Ang I Niocu dan Lie Kong Sian yang sudah menjadi suami isteri, hadir pula banyak tokoh persilatan
dari seluruh penjuru dunia, dan di antaranya yang hadir adalah Swi Kiat Siansu, Pok Pok Sianjin, Hok Peng
Taisu, Eng Yang Cu, Giok Gan Kui-bo, Sie Lok dan Sie Kiong kedua paman Cin Hai, dan banyak orang
lagi.
Yousuf juga datang dan orang Turki ini selanjutnya tinggal bersama Cin Hai dan Lin Lin, menikmati
kebahagiaan hidup sebagai ayah angkat yang dikasihi dan dihormat.
Perkawinan diberkahi oleh Kwee Tiong sebagai seorang hwesio yang mengucapkan doa sambil
mengalirkan air mata oleh karena merasa bahagia melihat kedua adiknya, Kwee An dan Lin Lin,
melangsungkan upacara pernikahan dengan bahagia.
Yang sangat menggembirakan hati kedua pasang mempelai itu ialah datangnya Sanoko, kepala suku Haimi
itu, bersama Meilani dan suaminya Manoko, dan juga Kam Hong Sin, panglima yang dulu pernah menjadi
lawan, datang menghadiri pesta pernikahan itu dan melupakan segala permusuhan yang telah lalu.
Setelah upacara pernikahan selesai, Ang I Niocu bersama suaminya kembali ke Pulau Pek-le-to di mana
mereka hidup penuh kebahagiaan, jauh dari dunia ramai, dikawani oleh Rajawali Sakti yang diberikan oleh
Lin Lin kepada mereka.
Juga Kwee An bersama isterinya dan Cin Hai dengan Lin Lin, hidup penuh kebahagiaan, masing-masing
didampingi oleh Nelayan Cengeng dan Yousuf yang merupakan ayah angkat bagi Ma Hoa dan Lin Lin…..
>>>>> T A M A T <<<<<

Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Best Cersil

Pecinta Cersil