Senin, 13 November 2017

Dara Baju Merah Kho Ping Hoo

Baca JUga:
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
“ORANG she Kiang! Melihat usiamu yang masih muda, kami masih menaruh hati kasihan kepadamu. Kami
nasehatkan supaya kau pergi dari sini dan jangan mencampuri urusan kami,” terdengar suara yang kecil
dan nyaring.
“Kiang-enghiong, ucapan Hek-tung Beng-yu (Sahabat Tongkat Hitam) tadi memang amat tepat. Menilik
gerak-gerikmu, kau adalah seorang ahli silat yang sudah pandai, mengapa kau tidak tahu akan aturan
kang-ouw? Kami para ketua perkumpulan pengemis sedang mengurus persoalan kami sendiri, kenapa kau
begitu tidak tahu malu untuk mencampuri urusan kami? Lebih baik lekaslah kau pergi sebelum terjadi halhal
yang kurang baik bagi dirimu,” kata pula suara ke dua yang parau dan kasar.
Suara dua orang ini disusul oleh gumaman banyak mulut yang menyatakan persetujuan. Dua orang yang
bicara tadi, juga mereka yang menyatakan persetujuan adalah kumpulan orang tua yang sangat aneh, baik
dilihat dari bentuk tubuh, pakaian, mau pun gerak-gerik mereka.
Mereka ini sudah jelas merupakan sekumpulan pengemis-pengemis, karena baju mereka penuh tambalan
dan di tangan mereka terlihat tongkat dan tempat sedekah, seperti panci butut, batok, kaleng dan lain-lain.
Jumlah mereka ada empat belas orang.
Akan tetapi kalau orang tahu siapakah adanya mereka ini, dia tentu akan terkejut, karena mereka ini bukan
lain adalah ketua-ketua dari seluruh kaipang (perkumpulan pengemis) yang tersebar di seluruh Tiongkok
dan merupakan ketua-ketua dari semua perkumpulan terbesar. Jangan ditanya lagi tentang kepandaian
mereka!
Baru orang pertama yang tadi berbicara dengan suara kecil nyaring saja, yang tubuhnya tinggi kurus dan
matanya buta sebelah kiri, yang dijuluki orang It-gan Sin-kai (Pengemis Sakti Mata Satu), kelihaiannya
hanya di bawah kepandaian raja pengemis puluhan tahun yang lalu, yakni Ang-bin Sin-kai (Pengemis Sakti
Muka Merah) yang menggemparkan dunia kang-ouw (baca Pendekar Sakti).
Seperti halnya Ang-bin Sin-kai yang sudah meninggal dunia, pengemis bermata satu ini juga beberapa kali
pernah menggegerkan istana kaisar karena dia menyerbu dapur dan menyikat habis masakan-masakan
yang paling lezat di dapur istana!
Juga orang ke dua yang suaranya parau dan kasar, yang bertubuh kate dengan perutnya saja yang besar
dan gendut seperti anak cacingan, bukanlah sembarangan orang. Dia ini disebut Pat-jiu Siauw-kai
(Pengemis Kecil Tangan Delapan) dan kelihaiannya dalam ilmu silat tidak kalah oleh It-gan Sin-kai!
Demikian pula dua belas orang pengemis yang lain, masing-masing adalah ketua-ketua pengemis yang
sudah amat terkenal di dunia kang-ouw, dan kesemuanya boleh dibilang merupakan orang-orang yang
menjunjung tinggi Pengemis Sakti Muka Merah, mendiang Ang-bin Sin-kai. Sebab itu pula, maka mereka
terkenal sebagai pemimpin-pemimpin yang menjaga keras semua peraturan sehingga para anggota
perkumpulan mereka berdisiplin.
Biar pun hidup sebagai pengemis-pengemis, akan tetapi mereka merupakan sekumpulan orang-orang
gagah yang selalu siap sedia menolong kaum lemah yang tertindas! Mereka adalah golongan pendekarpendekar
yang menyamar sebagai pengemis-pengemis, atau lebih tepat lagi, yang suka memilih hidup
bebas bagaikan burung di udara. Dan menurut anggapan mereka, hanya pengemis-pengemis saja yang
bisa hidup bebas seperi burung di udara.
Empat belas orang ketua pengemis itu sekarang nampak tidak senang. Mereka sedang menghadapi
seorang laki-laki muda yang umurnya kurang lebih dua puluh lima tahun.
Pemuda ini amat gagah, pakaiannya bersih dan indah, wajahnya tampan sekali dengan alis tebal dan
hidung mancung. Bibirnya merah seperti bibir wanita. Dadanya bidang dan menonjol ke depan, sepasang
dunia-kangouw.blogspot.com
lengannya kekar serta dia nampak lebih tegap dan gagah karena pedang yang tergantung pada
punggungnya. Pemuda itu mempunyai sepasang mata yang tajam dan selalu berseri gembira.
Kini menghadapi empat belas orang kakek pengemis yang marah-marah itu, dia hanya tersenyum-senyum
mengejek, sama sekali tidak merasa takut sungguh pun dia sudah mengenal, atau setidaknya pernah
mendengar nama semua ketua pengemis ini dan telah maklum pula akan kelihaian mereka.
“Hm, Cuwi Lo-kai (Para Tuan Pengemis Tua) bicara tentang pelajaran ilmu silat, tentang peraturan kangouw,
dan tentang tahu malu? Pernah siauwte mendengar ujar-ujar Guru Besar Khong Cu yang berbunyi
seperti berikut: Ho Hak Kin Houw Ti, Lek Heng Houw Jin, Ti Thi Kin Houw Yong! Tahukah Cuwi akan
artinya? Kalau tak salah, maksudnya begini: Suka belajar berarti mendekati pengetahuan, menjalankan
ilmu pengetahuan itu artinya mendekati welas asih dan tahu malu berarti mendekati kegagahan!”
Pat-jiu Siauw-kai yang terkenal paling berangasan, menjadi marah dan ia pun melangkah maju, lalu
menudingkan telunjuknya ke arah hidung pemuda itu, “Kau ini anak kecil bau pupuk, mau berlagak menjadi
guru ilmu batin? Kau kutip-kutip segala isi kitab Tiong-yong (kitab pelajaran Guru Besar Khong Hu Cu)
dengan maksud apakah?”
“Sabarlah, Lo-kai. Kau yang punya terlalu banyak tangan harus bisa bersikap tenang dan sabar,” kata
pemuda itu yang menyindir pengemis kate ini yang berjuluk Pengemis Kecil Berlengan Delapan. “Bukankah
tadi kau yang menyatakan bahwa aku telah mempelajari ilmu silat akan tetapi tidak tahu akan peraturan
dunia kang-ouw dan tidak tahu malu? Nah, jawabku ialah isi ujar-ujar yang tepat itu.”
“Apa maksudmu?” Pat-jiu Siauw-kai membentak.
“Maksudku? Segala tindakanku kusesuaikan dengan ujar-ujar indah itulah. Aku bersusah payah belajar silat
untuk mengejar ilmu. Sesudah ilmu kudapatkan, aku menjalankannya untuk menolong sesama manusia, ini
berarti mendekati pribudi baik atau welas asih. Ada pun hal tahu malu seperti kau singgung-singgung tadi,
Guru Besar berkata bahwa kalau kita tahu malu, itu artinya kita mendekati sifat gagah. Akan tetapi kalian
ini, empat belas orang ketua perkumpulan besar, orang-orang kang-ouw yang memiliki kepandaian tinggi,
mengapa sekarang justru hendak menyiksa dan membunuh seorang kawan tua yang tak berdaya? Apakah
itu namanya tahu malu? Kalianlah orang-orang yang tak tahu malu dan karenanya aku yang muda tidak
dapat menganggap kalian ini orang-orang gagah!”
“Kiang Liat, kau sombong bukan main!” Seorang pengemis gemuk bundar yang berjuluk Tiat-tho Mo-kai
(Pengemis Iblis Kepala Besi) melompat maju dan memaki marah, “Kau ini orang luar tahu apa? Dalam
undang-undang partai pengemis nomor tujuh belas berbunyi begini: Segala keputusan rapat ketua tak
boleh dicampuri oleh orang luar.”
Pemuda yang bernama Kiang Liat itu tersenyum. “Peraturan dan undang-undangmu itu hanya berlaku
untuk kalian sendiri, aku peduli apa? Pendeknya, sebagai seorang yang pernah mempelajari ilmu silat,
yang sudah bersumpah untuk hidup sebagai pendekar dan menolong si lemah yang tertindas, aku Kiang
Liat tidak akan membiarkan kalian begitu saja menyiksa dan membunuh kakek itu. Habis perkara!”
“Kau menghina Cap-si Kaipangcu (Empat Belas Ketua Perkumpulan Pengemis)!” Tiat-tho Mo-kai
membentak marah dan dengan cepat ia lalu menggerakkan tubuh.
Lucu dan mengagumkan sekali gerakannya ini. Walau pun tubuhnya gemuk dan bundar, namun
gerakannya ternyata luar biasa cepatnya dan tahu-tahu tubuh itu telah meluncur seperti dilemparkan,
dengan kepala di depan ia menyeruduk ke arah Kiang Liat!
Serangan ini lihai sekali dan jarang ada ahli silat berani menerima serangan kepala dari Tiat-tho Mo-kai ini.
Sesuai dengan julukannya, yaitu Si Kepala Besi, kepala Si Pengemis yang botak kelimis ini luar biasa keras
dan kuatnya, melebihi besi sehingga apa bila dia menyeruduk, seekor kerbau pun tak akan kuat menahan
dengan kepalanya.
Para tokoh pengemis yang berada di situ menyangka bahwa pemuda itu tentunya akan mengelak dan
kalau dia berbuat demikian, belum tentu dia akan mampu meluputkan diri, karena kedua tangan Tiat-tho
Mo-kai tidak tinggal diam, melainkan dipentang dan siap untuk melakukan serangan dengan tangan apa
bila lawan mengelak dari serudukannya.
Akan tetapi, apa yang mereka lihat? Benar-benar tak dapat dipercaya. Kiang Liat bukan mengelak, akan
dunia-kangouw.blogspot.com
tetapi masih berdiri dengan tegak dan menerima serudukan itu dengan perutnya!
“Cappp!”
Kepala yang botak kelimis itu seakan-akan menancap pada perut pemuda itu, akan tetapi Kiang Liat hanya
mundur selangkah, sama sekali tidak terlihat merasa sakit. Sebaliknya, Tiat-tho Mo-kai nampak lucu sekali,
kepalanya tertanam di dalam perut berikut mulut dan hidung, ada pun kedua kakinya bergerak-gerak!
Dia mencoba untuk melepaskan diri dan mencabut kepalanya, akan tetapi sia-sia belaka sehingga hanya
kedua kakinya saja yang terus bergerak-gerak ke atas dan ke bawah. Ia bermaksud mempergunakan
kedua tangannya untuk menyerang, akan tetapi Kiang Liat sudah mendahuluinya dan secepat kilat dia
menotok kedua lengannya menjadi lemas tak bertenaga lagi.
Setelah merasa cukup mempermainkan pengemis botak itu, tiba-tiba Kiang Liat berseru, “Pergilah!”
Bagaikan dilontarkan saja, tubuh pengemis botak itu terlempar sampai dua tombak lebih. Tiat-tho Mo-kai
jatuh berdebuk, tetapi dia tidak merasa terluka dan setelah mengerahkan lweekang untuk membebaskan
diri dari totokan pada pundaknya, ia lalu maju lagi dengan muka merah. Sikapnya kembali mengancam dan
mulutnya mengeluarkan kata-kata yang tidak begitu jelas bahwa ia hendak mengadu nyawa.
“Tiat-tho Mo-kai, kau sungguh tidak tahu diri. Kalau aku mau berlaku kejam, bukankah kau sudah menjadi
pengemis iblis tak bernyawa lagi?” kata Kiang Liat.
Mendengar ucapan ini, Tiat-tho Mo-kai cepat menghentikan langkahnya dan dia nampak ragu-ragu.
Memang, dia bukan tidak tahu bahwa kalau saja Kiang Liat mau, tadi ketika kepalanya tertanam pada
perut, dengan lweekang-nya yang sangat tinggi itu, pemuda ini tentu akan dapat membunuhnya.
Tadi pun dia sudah merasa terheran mengapa dia dapat keluar dari keadaan itu dengan selamat dan tidak
terluka, dan kini mendengar ucapan Kiang Liat, dia merasa malu untuk maju lagi. Sudah jelas bahwa
kepandaiannya masih kalah jauh bila dibandingkan dengan pemuda luar biasa itu.
It-gan Sin-kai Si Mata Satu melangkah maju. Matanya yang tinggal satu sebelah kanan itu memancarkan
sinar menakutkan.
“Kiang-enghiong, kau benar-benar lihai sekali dan tidak percuma kau berjulukan Jeng-jiu Sianjin (Manusia
Dewa Tangan Seribu)! Akan tetapi kali ini kau menghina dan merusak peraturan dari Cap-si Kaipangcu,
maka sekali lagi aku atas nama semua kawan berharap supaya kau sudi mengalah dan pergi
meninggalkan kami mengurus dan menyelesaikan urusan kami sendiri. Lain kali kami tentu akan
mengunjungimu menghaturkan maaf.”
“Tidak mungkin, It-gan Sin-kai! Bagiku, biar pun aku Kiang Liat masih muda, akan tetapi berlaku kata-kata
It-gan-ki-jut Su-ma-lam-twi (sekali kata-kata dikeluarkan, empat ekor kuda tak dapat menarik kembali)!
Kalau kalian tidak mau melepaskan kakek itu, aku pun tidak akan pergi dari sini dan akan menghalangi
siapa pun juga yang akan membunuh orang yang tak berdaya!” kata Kiang Liat dengan gagah.
“Tetap begitukah pendirianmu, Kiang-enghiong?” tanya It-gan Sin-kai marah.
“Tetap begitu dan tidak akan dapat dirubah oleh siapa pun juga!” kata Kiang Liat dengan suara tetap pula.
Dia sendiri pun sudah marah melihat betapa para tokoh pengemis itu begitu tidak tahu akan peri
kemanusiaan dan akan membunuh seorang kakek yang kelihatan begitu tidak berdaya. Ia telah sering kali
mendengar tentang Cap-si Kaipangcu ini, mendengar bahwa mereka merupakan pendekar-pendekar yang
mempunyai kepandaian tinggi, yang selalu menjunjung tinggi kegagahan dan peri kebajikan, tapi kenapa
sekarang mereka berkeras hendak berlaku kejam terhadap seorang kakek yang tak berdaya?
“Kalau begitu, terpaksa kami akan melakukan kekerasan dengan senjata, dan apa bila sekiranya semua
orang kang-ouw berada di sini, pasti mereka akan membenarkan kami!” kata It-gan Sin-kai.
“Kalau mereka membenarkan kalian, mereka itu tidak pantas menyebut diri orang-orang kang-ouw,
melainkan orang-orang berhati kejam yang tak mengenal peri kemanusiaan!” kata Kiang Liat.
Ketika melihat betapa empat belas orang ketua perkumpulan-perkumpulan pengemis itu mengeluarkan
dunia-kangouw.blogspot.com
senjata mereka masing-masing, ia pun segera mencabut pedangnya yang mengeluarkan sinar gemerlapan.
Kedua pihak sudah bersiap-sedia untuk mempergunakan kekerasan, dan Kiang Liat yang maklum bahwa ia
menghadapi orang-orang lihai, berlaku amat hati-hati. Ia pikir bahwa biar pun ia takkan menang dan sekali
pun ia akan mati dikeroyok oleh Cap-si Kaipangcu ini, ia tidak akan merasa penasaran oleh karena ia
membela kebenaran.
Dan benar saja seperti yang ia duga, empat belas orang pengemis itu bergerak serentak dan menyerang
dari berbagai jurusan. Kiang Liat cepat memutar pedangnya menangkis dan terdengar suara berdentangdenting
ketika pedangnya beradu dengan tongkat milik mereka.
Bukan main kagetnya Kiang Liat karena ternyata bahwa tenaga mereka itu rata-rata amat besar dan
seimbang dengan tenaganya sendiri. Ia bergerak cepat, namun empat belas batang tongkat itu lebih cepat
lagi dan dalam lima gebrakan saja pinggangnya sudah terkena pukulan tongkat!
Bukan main sakitnya, dan baiknya dia mempunyai tenaga lweekang yang sudah tinggi sehingga dia tidak
terluka berat. Namun pukulan ini sudah mengacaukan pikirannya dan untuk menyelamatkan diri, dia
melompat jauh sambil memutar pedangnya yang berubah menjadi segunduk sinar yang menyelimuti
seluruh tubuhnya.
Ketika keadaan Kiang Liat sangat terdesak karena kalau empat belas orang lawannya itu menyerang lagi
pasti ia takkan dapat mempertahankan diri, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan hitam dan terdengar
seruan orang yang suaranya amat berpengaruh,
“Tahan dulu semua senjata! Kawan-kawan yang hidup bebas mengapa mengikatkan diri dengan
pertempuran?”
Kiang Liat dan semua pengemis itu menengok. Mereka melihat seorang pengemis yang bertubuh tegap,
berusia kurang lebih empat puluh tahun tahu-tahu telah berdiri di sana. Pengemis ini berwajah tampan dan
gagah, kulit muka dan tangannya bersih terpelihara, akan tetapi rambutnya awut-awutan ke sana ke mari,
begitu pula jenggot dan kumisnya.
Bajunya penuh tambal-tambalan, akan tetapi juga bersih. Tangan kanannya memegang sebatang tongkat
kecil, hanya sebesar ibu jari kaki, dan di pinggangnya nampak gagang sebatang pedang.
Baik Kiang Liat mau pun para tokoh pengemis itu tak mengenal siapa adanya pengemis ini. Bagi Kiang Liat,
masih tidak mengherankan kalau ia tidak mengenal pengemis yang baru datang ini, akan tetapi empat
belas orang ketua partai pengemis yang terbesar sampai tidak mengenalnya, benar-benar adalah hal yang
amat mengherankan.
“Siapakah kawan yang baru datang?” tanya It-gan Sin-kai.
Suaranya jelas menyatakan betapa hatinya terguncang dan malu karena memang sangat memalukan bagi
seorang ketua perkumpulan pengemis kalau sampai menanyakan siapa adanya seorang pengemis yang
baru datang. Sambil bertanya demikian, ia memandang kepada semua kaipangcu yang berada di situ, akan
tetapi seorang pun tidak ada yang tahu dan mereka ini pun memandang kepada pengemis yang baru tiba
itu dengan mata penuh pertanyaan.
Pengemis itu tersenyum dan wajahnya nampak tampan ketika ia tersenyum.
“Tidak ada artinya siapa adanya aku seorang pengemis hina-dina ini yang tidak terkenal, hanya karena
kebetulan sekali aku lewat di sini, aku merasa tertarik sekali melihat orang hendak mengadu nyawa.
Demikian mengerikan! Kenapa untuk membereskan persoalan harus mempergunakan tongkat dan
pedang? Apakah gerangan yang terjadi di sini?”
Kiang Liat memang masih muda, akan tetapi dia sudah banyak merantau dan namanya sudah amat
terkenal di dunia kang-ouw. Pandangan matanya amat tajam dan tadi ketika pengemis yang baru tiba ini
berkelebat datang, ia dapat menduga bahwa pengemis yang datang ini memiliki kepandaian tinggi. Karena
ia maklum bahwa ia memang takkan dapat menang menghadapi empat belas orang ketua yang lihai itu,
maka ia lalu berkata kepada pengemis yang baru datang itu,
“Sahabat yang baru datang ini tentulah seorang kang-ouw yang mengenal keadilan, oleh karena itu
dunia-kangouw.blogspot.com
kebetulan sekali kau datang bertanya mengenai persoalan ini. Sesungguhnya, aku sendiri pun hanya
seorang perantau yang tak mempunyai sangkut paut dengan para kaipangcu ini, akan tetapi ketika sampai
di sini aku melihat empat belas orang kaipangcu yang berkepandaian tinggi ini hendak menyiksa serta
menghukum mati kepada seorang kakek yang tak berdaya itu. Oleh karena inilah maka terpaksa aku
melupakan kebodohan sendiri dan berusaha mencegah mereka melakukan hal yang amat kejam itu.”
Kiang Liat menunjuk kepada seorang kakek tua yang sejak tadi duduk bersandar pada sebatang pohon.
Kakek ini kelihatan tak berdaya dan semenjak tadi hanya duduk sambil menundukkan mukanya yang pucat.
Di dekatnya terdapat sebuah buntalan yang nampak berat, entah apa isinya.
Mendengar ucapan Kiang Liat ini, It-gan Sin-kai memandang pada kawan-kawannya dan berkata, “Apakah
kami perlu memberi penjelasan kepada sahabat yang baru datang dan tidak mau memperkenalkan
namanya ini?”
“Tentu saja,” kata Pat-jiu Siauw-kai, “kalau dia seorang kang-ouw tulen, tentu dia akan dapat membenarkan
kami.”
It-gan Sin-kai menghadapi pengemis yang baru datang itu, kemudian berkata memberi penjelasan, “Begini,
sobat. Kami empat belas orang ketua perkumpulan pengemis tengah berkumpul di sini untuk memberi
hukuman terhadap seorang bekas ketua pengemis di daerah selatan yang sudah melanggar pantangan
bagi kami semua. Dia sudah berlaku curang, mengumpulkan harta benda dan melepaskan diri dari tugas
memimpin kawan-kawan, hendak hidup sebagai seorang kaya raya. Ini adalah kedosaan besar, melanggar
peraturan kami nomor tujuh dan untuk kedosaan ini, harta bendanya harus disita, begitu pula nyawanya.”
“Bagus! Peraturan macam apakah itu? Merampas harta benda, merampas nyawa orang, benar-benar amat
rendah!” Kiang Liat memotong marah.
“Kiang-enghiong, jangan kau membuka mulut sembarangan!” It-gan Sin-kai membentak marah pula,
“Peraturan ini adalah buatan dari Locianpwe Ang-bin Sin-kai yang mulia, lalu bagaimana kau berani
menyatakan rendah?”
Mendengar disebutnya nama Ang-bin Sin-kai, tiba-tiba saja pengemis yang baru datang itu berubah
mukanya.
“Kawan-kawan sekalian, kalian tahu apakah mengenai Ang-bin Sin-kai?” tanyanya sambil memandang
tajam.
Kini semua mata dari para pengemis itu ditujukan kepadanya dengan marah. “Locianpwe Ang-bin Sin-kai
adalah pendiri dari partai-partai pengemis, mula-mula di selatan. Siapa yang tidak mengenalnya? Apa lagi
orang yang hidup bebas sebagai pengemis, mereka harus mengenalnya. Kami memuliakan namanya,
namun kau menyebut namanya begitu saja. Siapakah kau?”
“Kalian mau tahu? Aku bernama Han Le, dan Ang-bin Sin-kai adalah guruku!”
Kini semua mata memandang dengan terbelalak lebar dan mulut mereka bengong. Tidak hanya para tokoh
pengemis yang menjadi terheran-heran, bahkan Kiang Liat sendiri pun memandang tak percaya. Dia tentu
saja pernah mendengar nama besar Ang-bin Sin-kai, namun dia tidak pernah melihat orang tua sakti itu
yang sudah meninggal dunia lama sekali. Maka kini ia hanya memandang saja.
“Benar-benarkah, kawan? Awas, jangan kau main-main. Sungguh pun kami tidak pernah mendapat
kebahagiaan mengenal Locianpwe Ang-bin Sin-kai dari dekat, tetapi kami tahu betul bahwa muridnya
hanyalah orang sakti yang disebut Bu Pun Su.”
Han Le tertawa lebar, “Bu Pun Su memang muridnya, akan tetapi kepandaiannya jauh lebih tinggi dari
Suhu, dan aku yang rendah merasa mendapat kehormatan besar untuk mengaku bahwa Bu Pun Su adalah
suheng (kakak seperguruan)-ku.”
Kembali semua orang menyatakan ketidak percayaannya. Akan tetapi It-gan Sin-kai lalu berkata, “Tak
peduli apakah kau benar murid Locianpwe Ang-bin Sin-kai atau pun bukan, apakah kau benar-benar sute
dari Bu Pun Su atau bukan, akan tetapi setelah kau tiba di sini, bagaimana anggapanmu tentang urusan
kami dengan Kiang-enghiong ini?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ya, bagaimana keputusanmu, murid dari Ang-bin Sin-kai?” tanya Kiang Liat, suaranya mengejek. Memang
Kiang Liat tidak percaya akan keterangan Han Le tadi, dan memang sifat Kiang Liat amat pemberani dan
jenaka.
“Menurut pemandanganku yang amat bodoh, kalau memang sudah ada peraturan bahwa orang yang
melanggar harus dihukum, hal itu sukar untuk dirubah lagi. Namun, aku tidak setuju jika hukuman itu
hukuman mati, paling baik dia dilepaskan dan tak diakui menjadi anggota lagi. Betapa pun juga, dalam
perselisihan ini, Kiang-enghiong terang berada di pihak yang salah. Tidak baik mencampuri urusan rumah
tangga lain orang.”
Jawaban ini terang sekali bercabang dua, di satu pihak menyalahkan Kiang Liat, di lain pihak tidak
menyetujui hukuman yang akan dijatuhkan kepada kakek itu. Ada pun kakek itu ketika mendengar katakata
ini, lalu berkata seperti kepada diri sendiri,
“Aku orang she Song memang sudah merasa bersalah, namun sekali-kali bukan karena terdorong oleh
keinginanku hidup mewah, hanya demi kebahagiaan cucu perempuanku yang satu-satunya. Jika kalian
mau bunuh boleh bunuh, asal saja kalian suka mengingat akan kehidupan cucuku Bi Li!”
“Tutup mulutmu, jahanam rendah!” It-gan Sin-kai berkata keras, kemudian ia menghadapi Han Le. “Orang
she Han, kau datang-datang mengaku sebagai muridnya Ang-bin Sin-kai Locianpwe, datang-datang kau
berani mencela undang-undang kami yang diturunkan oleh Ang-bin Sin-kai Locianpwe. Buktikanlah bahwa
kau benar-benar murid beliau, baru kami akan suka mendengarkan omonganmu. Apa bila tanpa bukti, lebih
baik kau jangan turut mencampuri urusan kami.”
Semua tokoh pengemis mengangguk-anggukkan kepala, tanda menyatakan persetujuan mereka. Han Le
tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya yang gondrong, sungguh pun kepala itu tidak gatal.
“Bagaimana aku harus membuktikannya?”
It-gan Sin-kai dan kawan-kawannya saling mendekati, lalu mereka bisik-bisik. Kemudian pengemis bermata
satu itu berkata, “Kami pernah mendengar bahwa Locianpwe Ang-bin Sin-kai memiliki sebuah kiam-hoat
(ilmu pedang) yang sangat lihai dan tiada keduanya di dunia ini, yang disebut sebagai Hun-khai Kiam-hoat.
Kalau benar kau adalah muridnya, tentu kau dapat mainkan ilmu pedang itu.”
Han Le tertawa, “Sudahkah kalian melihat ilmu pedang itu?”
Mereka menggelengkan kepala.
“Kalau kalian belum pernah melihat ilmu pedang itu, bagaimana kalian bisa meminta aku memainkannya?”
Para pengemis itu saling pandang, kemudian It-gan Sin-kai berkata dengan suara keras, seakan-akan dia
telah mendapatkan jalan yang terbaik untuk memecahkan hal ini.
“Kau boleh mainkan ilmu pedang itu dan kalau kau bisa menangkan kami seorang demi seorang, barulah
kami akan percaya bahwa kau benar-benar murid Locianpwe Ang-bin Sin-kai.”
Kembali semua pengemis itu menyatakan persetujuannya. Han Le tersenyum lagi dan ia menggerakgerakkan
tongkatnya yang kecil itu.
“Baiklah, tetapi bukan aku yang minta. Nah, kalian majulah seorang demi seorang untuk berkenalan
dengan Hun-khai Kiam-hoat dari Suhu Ang-bin Sin-kai.”
It-gan Sin-kai maju terlebih dulu. Pengemis ini terkenal lihai sekali ilmu ginkang-nya dan juga ilmunya
memainkan ilmu pedang yang dimainkan dengan tongkatnya. Tongkat itu pendek saja dan sekali dia
menekan, ternyata bahwa tongkat itu dapat dilepas dan kini berubah menjadi sepasang!
“Keluarkanlah pedangmu untuk kulihat apakah betul-betul kau dapat mainkan Hun-khai Kiam-hoat!”
katanya menantang.
“Bukankah kau adalah It-gan Sin-kai yang pandai mainkan ilmu pedang pasangan yang disebut Siang-hong
Kiam-hoat (Ilmu Pedang Sepasang Burung Hong)? Kau sendiri akan menggunakan tongkat sebagai
pedang, maka biarlah aku pun menirumu. Memang bagi pengemis-pengemis seperti kita lebih pantas
dunia-kangouw.blogspot.com
bertongkat dari pada berpedang.”
“Sesukamulah!” Jawab It-gan Sin-kai.
Pengemis mata tunggal ini segera menyerang dengan tongkat kirinya, menusuk ke arah leher Han Le,
disusul oleh tongkat kanan yang menyerang ke arah lambung.
Han Le cepat menggerakkan tongkat kecilnya sambil berkata, “Nah, inilah ilmu pedang Hun-khai Kiam-hoat
bagian khai (membuka)!” katanya.
Dan It-gan Sin-kai lantas mengalami hal yang sangat aneh dan baru sekali ini dia alami dalam
pertempuran-pertempuran yang sudah banyak dia lakukan.
Kemana pun juga sepasang tongkatnya menyerang, selalu saja tongkatnya itu bertemu dengan senjata
lawan yang terbuka atau terpalang hingga semua serangannya terpental dan membuka. Kalau lawannya
yang jauh lebih muda itu mau, dengan mudah Han Le tentu akan dapat membalas dengan memasuki
bagian-bagian yang terbuka itu.
Akan tetapi, terang sekali bahwa Han Le tidak mau melukai lawan. Ia bahkan tidak mau membalas dengan
serangan. Kurang lebih dua puluh jurus kemudian, Han Le berkata sambil tertawa,
“Dan inilah bagian hun (memecah)!”
Tongkatnya bergerak semakin cepat, dengan gerakan-gerakan yang amat aneh. Kali ini It-gan Sin-kai
mengeluarkan suara tertahan ketika sepasang tongkatnya menjadi kacau balau gerakannya, dan benarbenar
semua jurus yang ia keluarkan terpecah-belah oleh gerakan tongkat lawan. Sepasang tangannya
menjadi pedas sekali dan apa bila dia tidak lekas-lekas melompat mundur, tentu sepasang tongkatnya akan
terlepas dari pegangan.
“Lihai sekali!” serunya sambil menjura, “Sungguh pun aku tak dapat memastikan apakah yang kau mainkan
itu betul-betul Hun-khai Kiam-hoat, tetapi harus kuakui bahwa selama hidupku belum pernah aku
menghadapi ilmu silat seaneh dan selihai itu.”
Pat-jiu Sin-kai pengemis kate berperut gendut itu kini maju menggantikan It-gan Sin-kai. Senjata pengemis
itu adalah tongkat panjang yang dimainkan sebagai toya. Akan tetapi, seperti halnya It-gan Sin-kai, ia pun
hanya dapat bertahan tidak lebih dari tiga puluh jurus saja, sungguh pun Han Le tidak pernah
menyerangnya sejurus pun.
Menghadapi tangkisan-tangkisan saja dia telah merasa bingung dan kewalahan. Bahkan pada jurus
terakhir, tongkatnya membalik sedemikian rupa sehingga tanpa dapat dicegah lagi, tongkat itu ujungnya
menghantam kepalanya sendiri!
“Lihai benar, aku menyerah kalah!” katanya jujur.
Setelah dua orang ini yang dianggap kepandaiannya tertinggi dengan mudah menyerah kalah, semua
pengemis mulai percaya.
“Kini kami mulai kehilangan keraguan bahwa kau benar-benar murid Locianpwe Ang-bin Sin-kai,” kata Itgan
Sin-kai kepada Han Le. “Sekarang bagaimana menurut pendapatmu, sahabat muda yang lihai?”
Han Le tersenyum senang. “Sudah lama aku mendengar nama Cap-si Kaipangcu yang terkenal adil serta
gagah, dan ternyata memang benar demikian. Perkara kakek yang melanggar larangan perkumpulan
kaipang, memang dia harus dihukum. Harta bendanya boleh dirampas dan dia juga boleh dihukum, akan
tetapi bukan hukuman mati, melainkan hukuman cambuk lima puluh kali.”
“Setuju!” serentak para pengemis itu berseru. It-gan Sin-kai sendiri segera maju dan di tangannya sudah
kelihatan sebatang cambuk.
Akan tetapi tiba-tiba Kiang Liat melompat ke dekat It-gan Sin-kai dan sebelum pengemis mata satu itu
dapat mengelak, cambuk itu sudah dirampas oleh Kiang Liat!
“Aturan apa ini? Kau pengemis yang baru datang, betapa gagah pun kau tetap berjiwa pengemis dan
dunia-kangouw.blogspot.com
berpikir bagai pengemis! Orang tua itu bosan hidup menjadi pengemis lalu menempuh hidup baru yang
lebih pantas demi kebahagiaan cucunya, bukankah itu baik sekali? Kalian seharusnya meniru
perbuatannya itu, benar-benar tak tahu malu! Apakah hukuman ini dilakukan karena kalian iri hati melihat
dia kaya dan hidup bahagia ada pun kalian masih jadi jembel?”
Han Le memandang kepada Kiang Liat dengan mata bersinar-sinar gembira. Dia suka sekali melihat sikap
pemuda itu, dan dia pun merasa kagum melihat caranya.
Kiang Liat merampas cambuk dari tangan It-gan Sin-kai. Gerakan yang dilakukan oleh pemuda itu ketika
merampas cambuk, bukanlah gerakan ilmu silat yang aneh, melainkan gerakan biasa saja. Akan tetapi cara
melakukannya demikian cepat dan hebat, ditambah dengan kembangan sendiri hingga It-gan Sin-kai
sampai tak mengira bahwa cambuknya akan dirampas. Gerakan ini saja sudah membuktikan bahwa Kiang
Liat memang memiliki bakat yang luar biasa sekali dalam ilmu silat.
Sebagian besar ahli silat, gerakan-gerakannya otomatis seperti pelajaran yang dipelajari dari guru masingmasing.
Hanya orang yang berbakat tinggi saja dapat mengembangkan gerakan silat yang dipelajari dari
gurunya menjadi gerakan yang sangat baik, disesuaikan dengan keadaan tubuh sendiri. Hal ini diketahui
benar oleh Han Le, karena itu kini dia memandang dengan mata berseri.
“Orang muda, terhadap peraturan dan kehidupan orang-orang yang dianggap pengemis matamu seperti
buta. Kau tidak tahu apa-apa, kenapa mau ikut campur? Pernahkah kau mendengar nama Ang-bin Sinkai?”
tanya Han Le.
“Tentu saja pernah,” jawab Kiang Liat mengedikkan kepala.
“Seperti apa kau mendengar tentang dia?”
“Ang-bin Sin-kai adalah seorang patriot sejati, seorang gagah yang berani membela si lemah yang tertindas
sehingga ia berani menyerbu ke kota raja kemudian tewas sebagai seorang pahlawan,” jawab Kiang Liat.
Han Le makin gembira. “Apakah kau tidak mendengar bahwa dia juga seorang pengemis seperti telah
disebutkan oleh julukannya?”
“Walau pun kau mengaku muridnya, akan tetapi aku tetap tidak percaya bahwa Ang-bin Sin-kai akan
bersikap seperti kalian. Aku tidak dapat membayangkan bahwa pahlawan besar itu bisa direndengkan
dengan orang-orang seperti kalian yang ingin menggunakan kekuatan dan jumlah banyak untuk menghina
seorang kakek yang tidak berdosa, bahkan yang hendak menempuh jalan benar. Pendeknya kalian tidak
boleh menyiksanya!”
“Kau lancang sekali, orang she Kiang, apakah kau juga berani menentangku?” Han Le menantang, akan
tetapi mulutnya masih tersenyum dan matanya berseri.
“Kenapa tidak berani? Boleh jadi kau murid Ang-bin Sin-kai dan boleh jadi kau lihai, akan tetapi aku akan
menentangmu apa bila kau hendak membantu pengemis-pengemis tua yang kejam ini.”
“Nah, kalau begitu mari kita bertaruh,” kata Han Le dengan wajah berseri. “Kita semua tidak mempunyai
permusuhan sesuatu dan keributan ini pada hakekatnya hanya karena perbedaan paham belaka. Mari kau
dan aku bertanding dan kita bertaruh.”
“Apa taruhannya?!” bentak Kiang Liat. “Untuk membela kaum lemah, aku pertaruhkan kepala dan
nyawaku!”
Han Le menjadi kagum dan suka kepada pemuda tampan ini.
“Tak usah kepala dan nyawa. Mari kita bertanding dan kalau dalam dua puluh jurus aku tidak dapat
merobohkanmu, aku boleh dianggap kalah.”
Semua pengemis terkejut mendengar ini. Betapa pun pandainya pengemis muda itu, tapi bagaimana dia
bisa merobohkan Kiang Liat dalam dua puluh jurus? Mereka tadi sudah merasakan betapa lihainya Kiang
Liat.
Kiang Liat menjadi panas perutnya. Itulah penghinaan namanya!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kau hendak bertaruh apa? Bagaimana kalau tidak mampu mengalahkan aku dalam dua puluh jurus?”
Han Le tersenyum. “Jika tidak mampu, berarti aku kalah dan kau boleh membunuh aku beserta semua
ketua pengemis ini tanpa perlawanan sama sekali!”
Kembali semua pengemis itu terkejut sehingga ada yang pucat mukanya. Mereka tidak tahu bahwa Han Le
memiliki pemandangan tajam dan sudah tahu akan kemuliaan hati Kiang Liat yang keras hati, akan tetapi
dia sengaja memancing untuk melihat sampai di mana pribudi pemuda tampan ini.
“Siapa mau jiwa kalian? Apa bila aku yang menang dalam taruhan ini, cukup kalau kalian membebaskan
kakek itu dan mengembalikan harta bendanya, untuk selanjutnya jangan mengganggunya lagi.” Dia
berhenti sebentar lalu berkata, “Sebaliknya kalau aku kalah, kalau benar-benar dalam dua puluh jurus kau
mampu merobohkanku, kau boleh berbuat sesuka hatimu kepadaku. Mau bunuh boleh bunuh!”
“Aha, enak saja kau bicara. Aku pun tak menghendaki nyawamu, orang muda. Kalau kau yang kalah, kau
harus membiarkan kami menghukum pelanggar itu, ada pun kau sendiri, sebagai hukuman kau mesti
menjalani kehidupan sebagai pengemis selama setahun dan ikut denganku ke mana pun aku pergi,” kata
Han Le.
Merah muka Kiang Liat karena dia marah sekali. Dia membanting-banting kedua kakinya karena merasa
terhina, akan tetapi mulutnya menjawab,
“Boleh, boleh! Aku tidak takut mati, mengapa takut menjadi pengemis? Bersiaplah kau!” Sambil berkata
demikian, dia lalu mencabut pedangnya yang tadi sudah disarungkannya kembali.
Han Le memperlihatkan tongkatnya yang kecil. “Semenjak tadi aku sudah bersiap. Hayo majulah dengan
jurus pertama!”
Melihat Han Le tersenyum-senyum seolah-olah memandang amat rendah, naiklah darah Kiang Liat. Dia
telah dikenal sebagai Jeng-ciang-sian (Manusia Dewa Bertangan Seribu), kepandaiannya sudah amat
tinggi sebab pemuda ini telah mewarisi seluruh ilmu silat dari ayahnya.
Ilmu silat keluarga Kiang merupakan turunan dari ilmu silat yang diciptakan oleh Jenderal Perang Kiang Bu
Siong, yang ratusan tahun yang lampau pernah menggegerkan dunia karena kelihaiannya. Ilmu silat ini
turun temurun dan akhirnya Kiang Liat adalah ahli waris terakhir, karena ayah bunda Kiang Liat telah
meninggal dunia.
Selama beberapa tahun ini, setelah dewasa, Kiang Liat boleh dibilang telah mengangkat nama besar
dengan ilmu silatnya. Tidak saja karena dia memang berkepandaian tinggi, juga orang-orang kang-ouw
memandang tinggi pada keluarga Kiang ini sehingga mereka merasa segan untuk memusuhinya, karena
memang mereka semua tahu belaka akan kelihaian ilmu silat keluarga Kiang.
Akan tetapi hari ini ia bertemu dengan seorang pengemis yang berambut gondrong, yang kelihatannya
begitu lemah, akan tetapi begitu berani menghinanya dan menantang untuk merobohkannya dalam dua
puluh jurus! Dan ini masih belum hebat. Yang lebih membikin hatinya mengkal adalah karena pengemis
gondrong ini hendak menghadapi pedangnya hanya dengan sebatang tongkat kecil saja!
“Orang tua,” katanya sambil menekan hawa ke arah dadanya supaya kemarahannya tak memuncak. “Kau
hendak merobohkan aku hanya dalam dua puluh jurus, itu saja sudah merupakan taruhan yang berat
sebelah dan tidak adil, membikin aku merasa malu saja. Sekarang kau masih hendak menghadapiku
dengan sebatang tongkat kecil, bukankah ini keterlaluan? Aku bukan seorang manusia yang hendak
menang sendiri seperti itu. Kalau kau tidak mau mengeluarkan pedangmu, aku pun tidak akan
menggunakan pedang dan aku melawan tongkatmu itu dengan tangan kosong.”
Han Le membelalakkan kedua matanya, kemudian tertawa terbahak, “Ha-ha-ha, Kiang Liat, kau memang
patut menjadi muridku untuk setahun. Baiklah, kau lihat seranganku pertama dengan pedang!”
Kata-kata ini disusul dengan kejadian yang benar-benar hebat sekali sehingga Kiang Liat hampir berteriak
kaget, dan buru-buru dia memutar pedang menangkis sambil melompat mundur. Ternyata bahwa begitu
kata-katanya habis, tubuh Han Le segera bergerak dan tahu-tahu dia sudah memegang pedang yang
langsung dipergunakan untuk menyerang pundak Kiang Liat. Ada pun tongkatnya yang tadi, entah dengan
dunia-kangouw.blogspot.com
cara bagaimana dan kapan dilakukannya, tahu-tahu telah menancap di atas tanah!
Kiang Liat tidak mau berlaku lambat dan lemah. Begitu melihat bahwa dia sudah dapat mengelak dari
serangan pertama, dia kemudian memasang kuda-kuda dan siap menanti serangan lebih lanjut. Hatinya
mulai yakin bahwa ia kini menghadapi seorang lawan yang benar-benar amat lihai ilmu silatnya.
Han Le yang tidak mau membuang waktu sia-sia, segera maju lagi dan melakukan dua kali serangan
beruntun. Serangannya ini begitu hebatnya serta cepatnya sehingga meski pun Kiang Liat berhasil
menangkis namun dia sampai terhuyung-huyung ke belakang tiga langkah. Namun dengan pertahanan
pedangnya yang amat kokoh kuat dari ilmu pedang keluarga Kiang, dia masih berhasil menggagalkan dua
serangan itu sehingga kini ia telah melewati tiga jurus dengan selamat!
Kalau Kiang Liat amat terkejut melihat dua serangan yang amat aneh dan dahsyat itu, di lain pihak Han Le
diam-diam harus memuji. Ia adalah murid Ang-bin Sin-kai dan ini masih belum hebat. Kepandaiannya
menjadi luar biasa hebatnya karena dia telah mendapatkan Pulau Pek-hio-to (Pulau Daun Putih) ketika ia
mencari suheng-nya, yakni Bu Pun Su Lu Kwan Cu, di mana ia melihat lukisan-lukisan di dinding goa
kemudian melatih diri dengan ilmu-ilmu silat yang terukir di dinding itu (baca cerita Pendekar Sakti). Selain
ini, dalam beberapa belas tahun ini dia selalu merantau dan di dunia kang-ouw dia sudah melihat banyak
sekali ilmu-ilmu silat yang tinggi, maka kepandaiannya makin matang.
Namun, melihat ilmu pedang dari keluarga Kiang yang pertahanannya demikian kokoh kuat, mau tidak mau
dia harus memuji. Dari sifat pertahanan yang kuat sekali itu, secara diam-diam dia menduga bahwa tentu
ilmu pedang keluarga Kiang yang dimainkan oleh pemuda ini masih satu sumber dengan Thian-san Kiamhoat
(Ilmu Pedang dari Gunung Thian-san), yang mendasarkan kepada pertahanan yang amat kuat.
“Orang tua, hayo teruskan seranganmu. Baru tiga jurus, masih kurang tujuh belas jurus lagi, akan kucoba
mempertahankan diri!” Kiang Liat menantang dengan suara gembira.
Menghadapi seorang lawan yang benar-benar lihai ini, timbullah kegembiraan dalam hati pemuda yang
tabah ini. Melihat wajah pengemis itu seperti ragu-ragu, dia menjadi besar hati dan timbul
kesombongannya, maka ia lalu menantang.
Namun Han Le hanya tersenyum. Dalam hal taktik pertempuran, tentu saja ia jauh lebih menang dari pada
Kiang Liat. Baru tiga jurus saja tahulah Han Le bahwa pemuda itu tentu akan mempertahankan diri secara
mati-matian.
Dia sendiri tak bermaksud melukai atau membinasakan Kiang Liat, maka kiranya sampai dua puluh jurus
belum tentu ia akan dapat merobohkan lawannya tanpa membinasakan dia. Jalan satu-satunya adalah
membiarkan pemuda itu yang menyerangnya.
Ketika mempelajari ilmu silat yang aneh dari lukisan-lukisan pada dinding goa di Pulau Pek-hio-to dia
mendapatkan ilmu silat yang sangat aneh gerakannya dan juga amat aneh tipu geraknya. Ilmu silat ini
mendasarkan serangannya pada serangan lawan!
Memang agak aneh terdengarnya, namun memang demikianlah halnya. Ilmu silat yang ia pelajari itu
sebenarnya merupakan pecahan atau sebagian kecil saja dari ilmu silat yang terdapat dalam kitab rahasia
Im-yang Bu-tek Cin-keng. Sari pelajaran dari sedikit bagian ini adalah membuka mata pelajarannya akan
kekosongan atau kelemahan yang terdapat atau terbuka dalam setiap serangan lawan.
Sudah menjadi hukum alam bahwa segala sesuatu itu tentu mempunyai dua sifat yang bertentangan.
Demikian pula dalam gerakan ilmu silat. Dalam penyerangan, walau pun penyerangan itu tentu saja bersifat
kuat dan mengancam lawan, tentu terdapat lowongan yang bersifat lemah dan terancam. Misalnya saja
seorang yang memukul dengan tangan kanan, otomatis kedudukannya akan lemah karena kuda-kudanya
hanya di atas sebelah kaki saja, demikian seterusnya.
Han Le yang amat cerdik itu hendak menggunakan ketabahan dan kekerasan hati Kiang Liat untuk
mengalahkannya. Maka ia tersenyum-senyum ketika ditantang, lalu menjawab, “Anak muda, setelah
melihat tiga gebrakan, aku yakin bahwa tanpa menyerangmu pun aku akan sanggup merobohkanmu. Apa
lagi kalau aku serang, sedangkan dengan hanya mempertahankan diri saja, sebelum tujuh belas jurus lagi
kau pun tentu akan terpelanting sendiri kelelahan!”
Mendengar ini, bukan main marahnya hati Kiang Liat. Dia benar-benar sudah dipandang rendah oleh
dunia-kangouw.blogspot.com
pengemis ini. Kalau saja ia tidak begitu muda dan keras hati, boleh jadi ia tahu akan siasat pengemis yang
lihai itu. Namun kemarahan hatinya membuat dia tidak mau berpikir panjang lagi. Sambil memutar
pedangnya ia berseru,
“Pengemis sombong, rasakan kelihaian ilmu pedangku!”
Ia lalu menyerang bagaikan gelombang ombak. Serangannya datang bergulung-gulung, susul-menyusul
dengan gerak tipu yang paling lihai dari ilmu pedangnya. Pedangnya lalu lenyap dan berubah menjadi
segulung sinar yang berkilauan, bagaikan seekor naga yang berlagak di angkasa.
Para tokoh pengemis yang berada di sana diam-diam kagum sekali, tidak hanya kagum melihat kehebatan
ilmu pedang itu, terutama sekali kagum melihat keindahan gerakan-gerakan dari pemuda tampan itu.
Memang, ilmu pedang keluarga Kiang kuat pertahanannya seperti Thian-san Kiam-hoat, akan tetapi indah
sekali gerak-geriknya, bahkan lebih indah dari pada gerakan-gerakan ilmu pedang Bu-tong-pai. Han Le
sendiri diam-diam memuji dan kalau ia dahulu di waktu muda tidak mewarisi ilmu kepandaian dari lukisan
pada dinding goa di Pulau Pek-hio-to, agaknya dengan Hun-khai Kiam-hoat saja ia tidak mungkin dapat
mengalahkan pemuda ini tanpa melukainya dalam dua puluh jurus!
Sepuluh jurus lewat dan Kiang Liat merasa pening. Matanya kabur dan pedas karena lawan yang
diserangnya itu seolah-olah bukan manusia, melainkan bayang-bayang atau asap saja. Ke mana pun juga
ia menyerang, selalu mengenai angin saja dan bayangan lawannya berpindah tempat. Namun ia mendesak
makin hebat. Sebelas jurus lewat, dua belas, tiga belas, lima belas jurus! Dengan tiga jurus yang pertama,
delapan belas jurus telah lewat!
Para ketua perkumpulan pengemis berdebar-debar hatinya. Apa bila dalam dua jurus lagi pemuda itu tidak
roboh, berarti mereka kalah bertaruh! Dan agaknya tidak mungkin akan roboh, karena Kiang Liat masih
berada di pihak penyerang. Akan tetapi, bagi Kiang Liat sendiri, ia kaget setengah mati ketika kehilangan
lawannya yang lenyap entah berada di mana.
Sebelum ia dapat mencari lawannya kembali, tahu-tahu punggungnya telah tertotok oleh jari tangan yang
amat lunak dan kuat. Seluruh tubuhnya lemas dan sekali renggut saja Han Le dapat merampas pedangnya.
Kiang Liat berusaha hendak mempertahankan diri agar jangan roboh, namun dengan enaknya Han Le
mendorong dadanya dan Kiang Liat tak dapat menahan, roboh terjengkang! Tepat sembilan belas jurus ia
benar-benar kena dirobohkan tanpa terluka sedikit pun.
Cap-si Kaipangcu bersorak sorai, tidak saja karena girang mendapat kemenangan dalam taruhan, akan
tetapi terutama sekali karena merasa terkejut dan kagum. Tanpa ada yang perintah, mereka otomatis
menjatuhkan diri berlutut di depan Han Le, dan It-gan Sin-kai berkata mewakili kawan-kawannya.
“Mohon Han-taihiap sudi memaafkan kami sekalian yang bermata buta sehingga sempat tidak percaya
bahwa Taihiap adalah murid dari Locianpwe Ang-bin Sin-kai.”
Han Le menghadapi mereka dan mukanya bersungguh-sungguh.
“Cuwi Kai-yu yang baik. Suhu dahulu memang seorang pengemis seperti aku pula, dan memang dalam
setiap perkumpulan, orang-orang harus mentaati peraturan. Akan tetapi segala macam hukuman itu harus
disesuaikan dengan kedosaan orang yang melanggar aturan. Menurut yang kudengar tadi, Song-lokai
(Pengemis Tua she Song) itu meski pun telah melakukan pelanggaran terhadap undang-undang
perkumpulan, tetapi pelanggaran itu bukan karena dia jahat. Dia ingin keluar dari keanggotaan pengemis
karena dia ingin mengangkat derajat cucunya perempuan. Dan hal ini harus kita maklumi bersama karena
tidak dapat disangkal lagi bahwa derajat seorang gadis cucu pengemis memang sangat rendah!” Setelah
berkata demikian, Han Le mengerling tajam ke arah Song Lo-kai.
Kakek itu cepat menghampiri Han Le, kemudian berkata, “Bukan demikian, Han-taihiap. Memang aku telah
bersalah, dan untuk kesalahan itu, biar pun dihukum mati, aku Si Tua Bangka takkan penasaran. Hanya
saja, cucuku hidup sebatang kara, tiada orang tuanya lagi dan kepada siapakah dia mengandalkan
hidupnya kalau tidak kepadaku, kakeknya? Karena inilah, maka sebelum mati aku ingin meninggalkan
sedikit kekayaan kepadanya, agar kelak dia tak akan hidup terlantar. Untuk kebenaran omonganku, aku Si
Tua Bangka she Song bersedia bersumpah.”
Han Le mengangguk-angguk, kemudian berkata pada It-gan Sin-kai, “Kalian mendengar sendiri, maka
dunia-kangouw.blogspot.com
bagaimana sekarang keputusan kalian?”
“Terserah kepada Han-taihiap. Dengan adanya Taihiap di sini dan tadi sudah memberi peringatan kepada
kami, kami anggap bahwa Han-taihiap mewakili Locianpwe Ang-bin Sin-kai, dan kami menerima segala
keputusan Taihiap.”
“Keputusanku, dia boleh dihukum cambuk lima puluh kali akan tetapi tidak boleh sampai mati. Hartanya
boleh dia bawa pulang untuk cucunya.”
“Baik, Taihiap, kami akan menjalankan keputusan itu,” kata It-gan Sin-kai.
“Bagus, dan aku percaya bahwa di kemudian hari kalian akan memutuskan sesuatu lebih bijaksana lagi
agar tidak terjadi hal-hal seperti sekarang. Sediakan seperangkat pakaian pengemis untuk muridku ini dan
ganti pakaiannya yang terlalu bagus itu.”
Memang aneh sekali, di antara semua ketua perkumpulan pengemis itu hampir semua membawa
pengganti pakaian, biar pun pakaian itu adalah pakaian tambal-tambalan yang buruk! Tidak heran apa bila
pakaian mereka biar pun buruk dan penuh tambalan, namun selalu kelihatan bersih.
Seorang ketua yang mempunyai potongan tubuh hampir sama dengan Kiang Liat segera memberikan
pakaiannya, lalu beramai-ramai sambil tertawa-tawa mereka menanggalkan semua pakaian Kiang Liat dan
menggantikan pakaian butut itu kepada tubuh pemuda ini.
Kiang Liat tidak bisa berbuat sesuatu, oleh karena dia sudah tertotok dan lemas semua tubuhnya. Andai
kata ia tidak tertotok, ia pun tentu takkan melawan, karena memang ia sudah merasa kalah bertaruh yang
berarti bahwa dia harus menjalankan hidup seperti pengemis setahun lamanya, merantau ikut dengan Han
Le yang sudah menjadi gurunya!
Sesudah Kiang Liat kini memakai pakaian pengemis, Han Le memandang dan tertawa, “Bagus, bagus! Kau
sekarang kelihatan tampan, patut menjadi muridku!” Setelah berkata demikian, ia menyambar tubuh Kiang
Liat dan sekali berkelebat saja ia lenyap bersama muridnya itu.
Cap-si Kaipangcu tidak berani mencegah, tapi pada saat itu kakek tua she Song berseru keras, “Hantaihiap,
tunggu sebentar, lohu ada permohonan penting!”
Dalam sekejap mata saja, Han Le sudah kembali kelihatan di tempat itu dan tangannya masih mengempit
tubuh Kiang Liat.
“Song Lo-kai, kau mau bicara apakah? Apa kau masih penasaran dengan keputusanku tadi?”
Song Lo-kai menjatuhkan diri berlutut di depan Han Le. “Sungguh mati, Han-taihiap, lohu mana berani
penasaran? Keputusan itu bahkan terlampau murah bagi lohu. Hanya ada permohonan lohu mengenai
cucu lohu yang bersama Song Bi Li.”
Han Le memandang heran. “Apa maksudmu? Apa yang dapat kulakukan untuk seorang gadis yang
menjadi cucumu itu?”
Song Lo-kai memandang kepada Kiang Liat yang masih lemas dan sedang dikempit oleh Han Le seperti
seorang anak kecil, lalu berkata, “Nyawa lohu yang tidak berharga sudah diselamatkan oleh Kiangenghiong
dan kiranya sampai mati pun lohu yang sudah tua bangka ini tak akan dapat membalas budinya.
Cucuku Bi Li hidup sebatang kara dan kini usianya sudah delapan belas tahun. Hanya seorang pemuda
gagah perkasa dan berjiwa budiman seperti Kiang-enghiong ini saja yang kiranya akan dapat menjamin
kesentosaan hidup cucuku itu. Oleh karena ini, lohu ingin menyerahkan cucuku yang bodoh itu kepada
Kiang-enghiong.”
Han Le tertawa bergelak dan Kiang Liat biar pun tidak berdaya akan tetapi masih dapat mendengar semua
ucapan ini sehingga mukanya menjadi merah sekali.
“Ha-ha-ha, maksudmu ini baik sekali, Song-lokai. Akan tetapi aku tak berkuasa dalam hal ini, hanya saja
aku berjanji bahwa sesudah Kiang Liat menghabiskan pelajarannya yang setahun lamanya, aku akan
menyuruhnya mencarimu agar kalian berdua bisa berunding sendiri.” Setelah berkata demikian, kembali ia
berkelebat dan kali ini ia tidak kembali lagi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Song-lokai girang sekali, dan sambil tertawa-tawa dia lalu berkata, “Cuwi-pangcu, silakan menjalankan
hukuman cambuk kepadaku.”
Hukuman lantas dilakukan dan disesuaikan dengan keputusan Han Le. Pencambukan itu dilakukan hanya
untuk memenuhi bunyi hukuman saja, dan Song-lokai hanya menderita lecet-lecet pada kulit
punggungnya…..
********************
Kiang Liat sebetulnya adalah seorang pemuda yang kaya raya. Pada waktu orang tuanya meninggal dunia,
mereka mewariskan sebuah rumah gedung yang megah dan dipenuhi dengan perabot rumah yang indah,
selain ini masih banyak sawah ladang dan uang yang ditinggalkan.
Oleh karena Kiang Liat hidup seorang diri, hanya bersama seorang pelayan wanita tua yang menjadi inang
pengasuhnya semenjak dia dilahirkan, maka kebutuhan hidupnya tak seberapa besar dan tentu saja hasil
sawah ladangnya sudah lebih dari cukup baginya.
Hidupnya tidak mewah karena dia memang suka akan kesederhanaan, namun dia tidak sayang
mengeluarkan uang, apa lagi untuk menolong orang dan untuk menjamu kawan-kawannya. Biasanya dia
hidup senang, berpesiar atau merantau ke sana ke mari sampai bekal uangnya habis baru dia ingat untuk
pulang ke rumahnya di kota Siankoan.
Kini sesudah dia bertemu dengan Han Le dan menerima hukuman selama setahun hidup sebagai
pengemis, tentu saja pada mulanya dia merasa terhina dan bisa membayangkan bahwa dia akan sengsara
sekali. Akan tetapi, alangkah girangnya ketika dia mendapat kenyataan bahwa hidup seperti ini benar-benar
bebas seperti burung di udara. Apa lagi ketika gurunya itu mulai menurunkan ilmu silat yang luar biasa
sekali, dia girang bukan main.
Ia merasa amat berbahagia dapat bertemu dengan Han Le, dan tidak saja ia menerima latihan ilmu silat,
tetapi dia juga mendapatkan banyak pelajaran tentang kebatinan yang membuka matanya. Kini dia tidak
berani memandang rendah kepada para pengemis itu, yang sesungguhnya menjadi pengemis bukan
karena malas, akan tetapi sengaja hidup sebagai pengemis untuk menyatakan bela sungkawa akan
keadaan rakyat yang banyak menderita.
Mereka adalah pengemis-pengemis, namun sekali-kali bukan tukang minta-minta belaka. Mereka mintaminta
seolah-olah hanya untuk menguji apakah manusia-manusia di waktu itu masih ingat akan nasib
sesama manusia. Dan di balik semua sandiwara ini, ternyata mereka adalah pendekar-pendekar yang tidak
saja selalu siap sedia dengan tenaga dan kepandaian untuk menolong mereka yang sengsara, bahkan
mereka selalu siap sedia pula untuk mengulurkan tangan menolong dengan sumbangan uang yang
ternyata cukup banyak disimpan di dalam perkumpulan-perkumpulan pengemis itu!
Sesudah menjadi murid Han Le, kepandaian Kiang Liat semakin maju dan matang. Kini seperti gurunya,
jarang sekali ia mau mencabut pedangnya dan cukup dengan sebatang ranting kecil saja ia sudah mampu
menjaga diri dan kalau perlu merobohkan tokoh-tokoh kang-ouw yang lihai.
Kini terbukalah matanya betapa jauh perbedaan hidup antara orang-orang kaya raya dan orang-orang
miskin, laksana bumi dengan langit. Terbuka pula matanya bahwa di dalam kemiskinan, ia bahkan banyak
melihat orang-orang jujur dan berhati mulia.
Han Le adalah seorang yang berilmu tinggi. Melihat gerak-gerik ilmu pedang Kiang Liat, dia tidak ingin
merusak kepandaian pemuda itu dengan memberi pelajaran ilmu pedang lain. Sebaliknya, ia hanya
memberi pelajaran dari lukisan-lukisan pada dinding goa Pulau Pek-hio-to, mengajar gerakan-gerakan yang
disesuaikan dengan ilmu pedang Kiang Liat sehingga kini ilmu pedang pemuda itu menjadi makin indah
dan makin kuat.
Bahkan, dengan bantuan gurunya ini, akhirnya Kiang Liat bisa menciptakan ilmu pedang yang halus gerakgeriknya,
tidak beda bagaikan orang menari-nari saja, akan tetapi di dalamnya terkandung kekuatan yang
maha hebat.
Han Le membawa Kiang Liat merantau jauh dan selama satu tahun itu, banyak hal yang dilakukan oleh
guru dan murid itu sehingga nama mereka makin meningkat tinggi dan menjadi terkenal di dunia kang-ouw.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kini nama Jeng-ciang-sian Kiang Liat amat disegani orang-orang kang-ouw, dan banyak orang tahu bahwa
Kiang Liat sudah menjadi murid Han Le.
Setahun kemudian, Han Le dan muridnya berada di lembah Sungai Huang-ho, di dataran tinggi yang hijau
segar, penuh tetumbuhan.
“Kiang Liat, waktumu telah lewat dan kau kini bebas. Kau boleh pulang dan agaknya kau sekarang sudah
mengerti akan keadaan di dunia sehingga kelak kau tak akan melakukan kesalahan-kesalahan dalam
tindakanmu.”
“Suhu, teecu masih ingin terus belajar kepada Suhu, kalau boleh, biar sepuluh tahun lagi teecu sanggup
hidup seperti sekarang ini asal boleh menjadi murid Suhu,” jawab Kiang Liat.
Han Le tersenyum, “Kiang Liat, ketahuilah bahwa hanya karena aku suka kepadamu dan melihat bakatmu
yang amat baik saja maka kau kuberi pelajaran ilmu silat itu. Namun sesungguhnya aku tidak berhak,
karena ilmu silat yang kuajarkan kepadamu merupakan pecahan kecil dari isi Im-yang Bu-tek Cin-keng
yang menjadi milik suheng-ku. Kau amat beruntung dapat bertemu dengan aku dan kini agaknya ilmu
pedangmu sukar mendapat tandingan di dunia kang-ouw. Seorang laki-laki harus dapat memegang janji.
Dahulu kita berjanji akan berkumpul selama satu tahun dan sekarang waktunya telah habis. Dan kau
ingatlah, dulu aku berjanji kepada Kakek Song agar kau menemuinya untuk bicara soal perjodohan yang
dia usulkan. Aku tidak mau berlaku lancang, soal perjodohan terserah padamu, hanya menurut
pendapatku, Kakek Song itu adalah seorang tua yang memiliki semangat dan pribadi cukup baik. Kiranya
cucunya tak akan mengecewakan. Akan tetapi semua keputusan terserah kepadamu sendiri, hanya
kuminta supaya kau suka bertemu dengan dia agar janjiku terpenuhi.”
“Baiklah, Suhu. Terima kasih banyak atas segala pelajaran dan nasehat yang selama ini teecu terima dari
Suhu. Setahun dekat dengan Suhu bagi teecu lebih berharga dari pada sepuluh tahun yang sudah-sudah.”
Pada saat itu, mendadak wajah Han Le berubah dan tiba-tiba pengemis sakti ini berseru keras sekali.
Wajahnya nampak berseri girang dan juga kedua matanya terheran-heran. “Suheng…! Kau di sini…?”
Kiang Liat memandang ke arah gurunya memandang, namun dia tidak melihat sesuatu. Tiba-tiba dari
jurusan itu, yang tidak kelihatan ada apa-apa, terdengar suara yang halus sekali, akan tetapi menusuk
telinga karena mengandung tenaga luar biasa dan pengaruh besar.
“Sute, siapa anak muda itu?”
“Dia adalah Kiang Liat, muridku!”
Tiba-tiba saja debu mengebul dan tahu-tahu seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, sedikit lebih
tua dari pada Han Le, berpakaian kusut sederhana akan tetapi tidak menyembunyikan kegagahan dan
ketampanannya, telah berdiri di situ.
Kiang Liat memandang dengan mulut ternganga. Dia yang telah mempunyai kepandaian tinggi, bagaimana
sampai tidak mampu melihat dan mengikuti gerakan orang ini? Ibliskah dia?
Ketika laki-laki itu memandangnya, Kiang Liat hampir menundukkan mukanya. Demikian tajam pandangan
mata itu menusuk matanya sendiri.
“Sute, kau kan tidak menurunkan Im-yang Bu-tek Cin-keng?” tanya orang itu.
Muka Han Le berubah dan kelihatan gugup. “Hanya sedikit, Suheng, bagian permainan pedang dan
lweekang untuk memperkuat ilmu pedangnya sendiri, yakni ilmu pedang dari keluarga Kiang yang
tersohor.”
“Hm, sute Han Le, betapa pun juga, kau telah berlaku sembrono sekali. Kau harus tahu bahwa ilmu kita itu
sangat berbahaya kalau digunakan oleh orang yang beriman lemah. Sekarang kau sudah terlanjur
menurunkan padanya, biar pun sedikit hal itu sudah berarti bahwa selamanya engkau dan aku harus selalu
menyelidiki dan menjaga jangan sampai orang mempergunakannya tidak pada tempatnya!”
Han Le memandang kepada suheng-nya dengan mata penuh keheranan, apa lagi ketika ia kini melihat
wajah suheng-nya amat kusut, matanya sayu dan kerut-merut pada wajah suheng-nya itu menunjukkan
dunia-kangouw.blogspot.com
jelas bahwa suheng-nya telah mengalami penderitaan batin hebat selama ini. Sudah belasan tahun ia tidak
bertemu dengan suheng-nya ini dan kini suheng-nya benar-benar telah berubah. Adatnya menjadi keras
dan aneh. Akan tetapi, ia merasakan kebenaran ucapan suheng-nya itu dan ia pun mengangguk-angguk.
Orang itu lalu menghadapi Kiang Liat yang memandang kepadanya dengan perasaan tak senang. Sebelum
orang itu bicara, Kiang Liat mendahului, bertanya kepada Han Le,
“Suhu, mohon memberi penerangan kepada teecu, siapakah adanya Lo-enghiong yang baru datang ini.”
“Bocah bodoh, dia inilah supek-mu. Dia suheng-ku bernama Lu Kwan Cu, berjuluk Bu Pun Su, ahli silat
nomor satu di dunia ini!”
Kiang Liat terkejut bukan main. Tadi ia sudah menduga-duga ketika mendengar suhu-nya menyebut
suheng kepada orang ini, akan tetapi dia masih penasaran dan sangsi, karena melihat orangnya, Bu Pun
Su ini tidak begitu mengesankan sungguh pun kedatangannya tadi seperti siluman saja.
“Kiang Liat, berapa lama kau belajar kepada suhu-mu?”
Kiang Liat sudah menjatuhkan diri berlutut dan kini menjawab,
“Hanya satu tahun, Supek, karena menurut perjanjian memang teecu hanya boleh belajar satu tahun.”
“Perjanjian?” Lu Kwan Cu atau Bu Pun Su menoleh kepada Han Le.
Han Le tertawa dan menceritakan mengenai pertaruhan setahun yang lalu. Bu Pun Su mengerutkan
keningnya yang tebal dan sudah mulai memutih.
“Tidak baik bagi seorang pemuda memiliki kesombongan dan terlalu keras. Orang-orang muda sering kali
mendatangkan keributan di dunia, didorong oleh nafsunya sendiri tanpa mengingat akibat dari perbuatan
yang ditunggangi oleh nafsu. Berdirilah kau!”
Kiang Liat berdiri, hatinya tidak enak.
“Cabut pedangmu!”
Kiang Liat ragu-ragu dan melirik ke arah Han Le, akan tetapi gurunya memberi isyarat dengan matanya
agar pemuda itu menurut saja. Maka ia pun kemudian mencabut keluar pedangnya, pedang pusaka
keturunan keluarga Kiang, memegang pedang itu lurus ke atas menempel jidat, tanda menghormat dan
tidak mempunyai maksud buruk terhadap orang di depannya.
Akan tetapi Bu Pun Su tidak peduli kepadanya dan memerintah terus,
“Serang aku dengan pedangmu!”
Inilah keterlaluan, pikir Kiang Liat. Dia tidak mau berlaku kurang ajar dan lancang, maka bagaimana ia
berani menyerang orang yang baru saja diperkenalkan kepadanya sebagai supek-nya?
“Hayo serang, bodoh!” Bu Pun Su membentak lagi dan bentakannya begitu berpengaruh sehingga di dalam
tubuh Kiang Liat seakan-akan timbul aliran tenaga yang membuat dia otomatis bergerak!
Pedangnya menyambar, menusuk ke arah muka supek-nya itu. Namun dia segera ingat bahwa dia terlalu
kurang ajar jika menyerang dengan sungguh-sungguh. Oleh karena itu selanjutnya ia mengendurkan
gerakannya dan hanya memperlihatkan tipu-tipu serangan yang indah untuk membuktikan kepada supeknya
bahwa gurunya tidak memiliki murid secara sembarangan dan bahwa ia sebetulnya juga ‘berisi’!
Akan tetapi dia melihat Bu Pun Su sama sekali tidak menggerakkan kedua kaki, setapak pun tidak pindah
dari tempat berdirinya semula. Kedua ujung lengan baju orang sakti itu bergerak-gerak ke depan dan bukan
main hebatnya!
Dari sepasang tangan yang bersembunyi di dalam lengan baju itu lantas keluar tenaga luar biasa kuatnya
sehingga angin tangkisannya saja selalu dapat menahan pedangnya. Pedangnya selalu terpental kembali
seakan-akan terbentur pada benda yang amat keras.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Jangan sungkan-sungkan, serang sungguh-sungguh!” Kembali Bu Pun Su membentak.
Kali ini Kiang Liat langsung menyerang dengan sungguh-sungguh. Bukan saja karena dia mendengar
perintah ini, juga karena hatinya merasa penasaran sekali. Bagaimana orang dapat membikin semua
serangan pedangnya tak berdaya hanya dengan hawa tangkisan belaka? Inilah aneh, seperti sihir atau
dalam mimpi saja.
Ia mengerahkan seluruh lweekang-nya dan mengeluarkan tipu-tipu silat yang paling lihai. Ia mainkan
pedangnya dengan ilmu pedang keluarga Kiang, ditambah dengan gerakan-gerakan halus dari ilmu silat
yang ia pelajari dari Han Le.
Betul saja bahwa ilmu pedangnya memang hebat. Buktinya, Bu Pun Su kini tidak dapat menghadapinya
dengan hawa tangkisan belaka, akan tetapi orang sakti itu bergerak ke sana ke mari dengan sangat lambat.
Namun, betapa pun lambatnya gerakan kaki orang sakti itu, pedang di tangan Kiang Liat tak pernah
mengenai sasaran, bahkan menyentuh baju Bu Pun Su saja tidak dapat!
Setelah Kiang Liat menyerang sampai tiga puluh jurus lebih, tiba-tiba pemuda ini merasa telapak tangan
yang memegang pedang sakit sekali sehingga dia terpaksa melepaskan pedangnya. Ketika dia
memandang, pedangnya itu sudah terampas oleh gulungan ujung lengan baju Bu Pun Su!
Bu Pun Su sekarang tersenyum dan mengembalikan pedang yang diterima oleh Kiang Liat dengan muka
merah.
“Harap Supek tidak mentertawakan kebodohan teecu dan mohon petunjuk,” kata Kiang Liat merendah. Kini
dia merasa tunduk dan takut sekali kepada orang sakti ini yang ilmu kepandaiannya benar-benar luar biasa
sekali ini.
Bu Pun Su sekarang tertawa lantas berpaling kepada Han Le, “Ahh, Sute. Benar-benar matamu awas
sekali. Dalam setahun telah dapat menggerakkan pedang seperti itu, ahh, kalau dia mempelajari semua
ilmu dari Im-yang Bu-tek Cin-keng, bahkan aku sendiri tak akan mampu melawannya. Kiang Liat, kulihat
walau pun kau mempergunakan pedang seluruhnya atas dasar ilmu silat pedang dari keluarga Kiang,
namun isinya mengandung tenaga rahasia dari Im-yang Bu-tek Cin-keng. Oleh sebab itu, kau memang
telah menjadi murid kami. Hal ini tidak boleh kau anggap main-main. Sekali saja kau menyeleweng dan
mempergunakan ilmu untuk melakukan kejahatan, meski pun kau berada di tempat yang selaksa li jauhnya,
aku sendiri akan mencarimu dan mencabut nyawamu agar ilmu dari kami tidak dipergunakan untuk
kejahatan. Mengerti?”
“Teecu bersumpah takkan tunduk terhadap godaan iblis dan nafsu jahat!” kata Kiang Liat sambil
mengedikkan kepalanya. Ia benar-benar merasa marah karena ketidak percayaan supek-nya terhadap
dirinya ini.
“Bagus, akan kita lihat bersama. Apa bila benar-benar kau tidak mengecewakan menjadi murid kami, kelak
kalau ada jodoh aku sendiri akan menambah satu dua ilmu pukulan kepadamu. Sute, mari kita pergi dari
sini, aku punya urusan yang penting sekali untuk dibicarakan!” Setelah berkata demikian, dengan sekali
berkelebat Bu Pun Su lenyap dari pemandangan mata Kiang Liat.
“Muridku, berhati-hatilah dan kau cari Song Lo-kai. Sampai bertemu kembali kalau ada jodoh!” Han Le juga
berkata kemudian melompat dan lenyap untuk menyusul suheng-nya yang luar biasa itu.
Seperginya kedua orang sakti itu, Kiang Liat lalu berlutut ke arah mereka menghilang. Kemudian ia berdiri
dan menarik napas berulang-ulang.
“Hebat… tadinya kukira bahwa kepandaian Suhu sudah tidak ada taranya di muka bumi ini. Tidak tahunya
kepandaian Supek Bu Pun Su bahkan jauh lebih tinggi lagi! Ah, sayang sekali aku hanya mendapat
kesempatan satu tahun. Kalau saja aku bisa menjadi murid Supek, alangkah senangnya…”
Kemudian, sesudah menyimpan pedangnya, sambil membawa sebatang ranting seperti suhu-nya, Kiang
Liat pergi meninggalkan tempat itu dan menuju ke dusun Sui-chun di mana tinggal Song Lo-kai. Diam-diam
ia merasa tidak enak dan sungkan-sungkan, sebab kepergiannya ini adalah untuk menghadapi Song Lo-kai
yang mengusulkan pernikahan, padahal ia sama sekali belum memikirkan persoalan pelik ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Namun, ada juga sedikit keinginan tahu melihat macamnya cucu perempuan dari Song Lo-kai! Sedikit
kok…..
********************
Song Lo-kai tinggal di Sui-chun, kini sudah menjadi seorang hartawan yang hidup berdua dengan cucunya,
yakni Song Bi Li. Dahulunya Song Lo-kai sesuai dengan sebutannya, yakni lo-kai atau pengemis tua,
adalah seorang pemimpin perkumpulan pengemis yang menjadi cabang atau anak buah dari Cap-si
Kaipangcu.
Sejak cucunya kehilangan kedua orang tuanya yang meninggal karena penyakit menular, kakek she Song
ini sudah berubah pendiriannya. Tadinya dia memang tidak mempunyai tanggungan, hidup seorang diri dan
senang hidup bebas sebagai pengemis. Akan tetapi, setelah anak dan mantunya meninggal dunia, dan Bi
Li hidup seorang diri, ia memikirkan nasib cucunya itu.
Sungguh kebetulan sekali, Kakek Song mendapatkan sebuah surat wasiat tentang harta terpendam di
sebuah goa rahasia. Dia pergi dan berhasil mendapatkan harta ini, maka ia lalu membeli rumah gedung
dan sawah ladang, hidup sebagai hartawan besar. Kejadian inilah yang membuat dia ditangkap oleh Cap-si
Kaipang dan hampir dibunuh kalau tidak tertolong oleh Kiang Liat.
Song Bi Li ternyata seorang gadis yang sangat cantik, berwajah ayu manis dan bertubuh langsing. Kulitnya
putih halus dan pipinya kemerahan. Selain cantik jelita, juga dia sangat cerdas sehingga dengan mudah dia
dapat menguasai kepandaian tulis dan baca, bahkan pandai sekali membuat sajak-sajak indah.
Di samping ini, dia pun sangat terkenal di kotanya dengan hasil sulamannya yang halus. Pendeknya di
dalam kota Sui-chun, tidak ada gadis melebihi Bi Li cantik atau pandainya sehingga dia pun terkenal
sebagai kembang kota Sui-chun. Lebih lagi sesudah kakeknya menjadi kaya raya, pakaiannya bagusbagus,
menambahkan kecantikannya.
Dua tahun yang lalu, ketika dia dan kakeknya baru pindah ke dalam gedung besar yang dibeli oleh kakek
Song, terjadilah hal yang membuat hati Bi Li terguncang. Untuk pertama kalinya gadis yang pada waktu itu
umurnya baru tujuh belas tahun, mengalami godaan asmara.
Waktu itu masih pagi sekali dan Bi Li berjalan-jalan di dalam kebun di belakang gedung kakeknya. Kebun
ini masih kosong dan belum terpelihara, masih banyak pohon-pohon yang tidak berguna lagi bagi sebuah
kebun yang seharusnya ditanami bunga-bunga yang indah.
Bi Li memang sedang memeriksa kebun ini untuk mengatur sendiri secara bagaimana kebun itu akan
ditanami bunga-bunga, di mana harus membuat kolam dan sebagainya. Kakek Song memang sudah
menyerahkan hal ini kepada cucunya.
Bi Li dikawani oleh Ceng Si, seorang gadis yang menjadi pelayan di rumah gedung itu. Kakek Song
sengaja membeli gadis ini dari keluarga miskin di dusun, tidak saja untuk menolong orang tua gadis ini,
juga karena ia ingin supaya cucunya mempunyai seorang kawan bermain yang sebaya. Ceng Si seorang
gadis yang cantik juga, sederhana dan amat penurut, lagi cinta kepada Bi Li yang semenjak itu menjadi
majikannya.
“Ceng Si, di ujung barat itu harus didirikan satu bangunan kecil untuk dapat beristirahat, di depannya digali
empang yang dipasangi jembatan melengkung. Di ujung timur harus digali empang ikan emas dan juga diisi
tanaman bunga teratai. Kembang botan ditanam di sebelah sini dan kembang cilan di sebelah sana. Kau
nanti jelaskan semua ini kepada tukang kebun yang memborong pekerjaan ini, dan kalau ada yang belum
jelas, biar aku sendiri yang akan menerangkan kepadanya,” kata Bi Li sambil menunjuk ke sana ke mari
dengan telunjuknya yang kecil terpelihara.
“Baik, Siocia. Menurut Lo-ya (Tuan Tua, maksudnya Kakek Song), tukang kebun akan datang siang nanti
dan akan mulai dengan menebangi pohon-pohon yang berada di sini.”
“Jangan ditebang semua. Pohon yang di kanan itu, yang berjajar tiga, tebang tengahnya saja, tetapi biarkan
yang dua tumbuh terus. Dan sekumpulan yang-liu (cemara) itu jangan ditebang, hanya buangi cabangcabang
yang sudah kerig. Yang lain boleh dibuang. Dan jangan lupa, taman ini harus dikelilingi dinding
tembok yang cukup tinggi sehingga tidak kelihatan dari luar. Sekarang ini hanya dikelilingi pagar, malah
banyak yang sudah bobol. Kalau penuh tanaman kembang tentu akan habis dicabuti anak-anak nakal dan
dunia-kangouw.blogspot.com
dimakan ayam dan kerbauku.”
“Memang benar, Siocia (Nona). Belum lagi kalau ada maling masuk,” kata Ceng Si.
Ceng Si menutupi mulutnya dengan ujung lengan baju, tertawa. Akan tetapi ketawanya segera terhenti dan
ia berkata perlahan, agak ketakutan. “Aduh, dia benar-benar datang, Siocia…”
Bi Li terkejut dan bertanya, “Kau bilang ada maling…?” Sambil berkata demikian, ia cepat membalikkan
tubuh menengok ke arah pelayannya itu memandang.
Ternyata benar ada seorang laki-laki yang menerobos masuk ke dalam kebun itu melalui pagar yang telah
rusak. Mula-mula Bi Li terkejut sekali sehingga mukanya berubah, akan tetapi ia segera dapat menetapkan
hatinya setelah melihat bahwa lelaki yang menerobos ke dalam kebun itu tidak kelihatan seperti orang
jahat.
“Dia tidak kelihatan jahat, Ceng Si, apakah bukan tukang kebun yang hendak bekerja di sini?”
“Ssttt, kau terlalu. Mana orang seperti itu dianggap tukang kebun? Dia bukan maling dan bukan pula tukang
kebun, lihat saja pakaiannya seperti seorang kongcu (tuan muda) dan orangnya begitu… begitu tampan!”
“Hush, genit kau…!” Bi Li mencela, akan tetapi diam-diam ia harus mengakui bahwa yang datang itu
memang seorang pemuda yang tampan dan ganteng, yang berpakaian seperti seorang siucai (pelajar),
yang sikapnya halus dan sopan.
Bi Li dahulu tinggal bersama orang tuanya di kampung, maka ia tidak seperti nona-nona hartawan dan
bangsawan yang selalu bersembunyi di dalam gedung dan jarang bertemu dengan laki-laki asing, maka kini
ia tidak merasa terlalu kikuk. Juga ia tidak takut karena waktu itu matahari sudah naik tinggi dan ia berada
di situ dengan pelayannya, sungguh pun mereka merasa curiga ketika memandang kepada pemuda ini. Dia
merasa seperti pernah melihat pemuda ini, hanya dia lupa lagi bila mana dan di mana.
Pemuda itu menghampiri mereka dan memandang kepada Bi Li dengan senyum manis. Dia nampak
ramah-tamah dan matanya berseri-seri ketika dia memandang kepada Bi Li, sungguh pun alisnya berkerut
seakan-akan ada sesuatu yang menyusahkan hatinya.
“Kau siapakah dan mengapa berani lancang memasuki kebun orang?” Bi Li menegur, suaranya ketus dan
matanya bersinar marah.
Pemuda itu nampak kecewa sekali mendengar teguran gadis ini. Ia pun menjura dengan hormat, lalu
berkata, suaranya seperti orang penasaran,
“Song-siocia, benar-benarkah kau sudah lupa padaku? Benar-benarkah, setelah kini kau menjadi kayaraya,
kau lupa akan kampung halamanmu dan sekalian orang miskin yang menjadi penghuninya?”
Bi Li semakin marah. “Aku tidak kenal padamu, lekaslah pergi dari sini, kalau Kongkong (Kakek) tahu kau
menerobos ke sini, kau tentu akan dipukul!”
Pemuda itu berdiri tegak dan tersenyum duka. “Jangankan dipukul, dibunuh pun aku rela. Kongkong-mu
yang kaya-raya, yang merampas kau dari dusun kami, sudah begitu tinggi hati untuk menghinaku, dan
sekarang aku hanya ingin menyaksikan, apakah Nona Song Bi Li juga begitu tinggi hati seperti kongkongnya?”
“Siapakah kau? Mengapa kau begini kurang ajar?” Bi Li memandang pemuda itu dengan alis dikerutkan.
“Nona, lupakah kau kepada orang yang pernah menuliskan sajak di dinding kuil di dusun kita?” pemuda itu
berkata.
Bi Li memandang makin tajam dan kini berubahlah mukanya menjadi kemerahan.
“Ahh, kau... kau Cia-siucai...,” katanya gagap.
Terbayanglah semua pengalamannya pada saat ia masih tinggal di dusunnya. Ketika itu, kedua orang
tuanya secara berturut-turut sudah meninggal dunia karena penyakit yang merajalela di dusun itu. Banyak
dunia-kangouw.blogspot.com
orang dusun datang pada waktu jenazah ayah bundanya dirawat di dalam kuil, yaitu satu-satunya kuil di
dusun itu, tempat di mana sebagian besar orang-orang yang meninggal diurus dan disembahyangi.
Di antara mereka yang datang ini, terdapat seorang pemuda sasterawan yang baru saja pulang kembali ke
dusun setelah bertahun-tahun menempuh pelajaran dan ujian di kota raja. Pemuda ini adalah Cia Sun atau
yang segera terkenal dengan sebutan Cia-siucai.
Bi Li tahu bahwa hampir semua gadis dusun itu merindukan Cia-siucai, memuji-mujinya karena bukan saja
ia merupakan pemuda yang paling tampan di dusun itu, juga ia sangat pandai membuat sajak. Semua
tulisan pada lian yang digantung di kuil, tulisan yang amat indah itu, seluruhnya adalah buatan Cia Sun.
Pada saat itu Cia Sun baru pertama kali melihat Bi Li dan pemuda ini menjadi tergila-gila. Tiada bosannya
ia melirik ke arah gadis itu yang tengah menjalani upacara sembahyang. Seorang gadis yang rambutnya
awut-awutan, mukanya pucat penuh air mata, seorang gadis yang patah hati dan putus harapan karena
ditinggal mati oleh ayah bundanya, yang tentu akan jatuh pingsan dan sakit kala tidak dihibur oleh seorang
kakek tua yakni Song Lo-kai, Kongkong-nya.
Cia Sun demikian tergila-gila sehingga ketika ia sudah terlalu banyak minum arak, tanpa peduli apa-apa ia
lalu mengambil pit dan menuliskan beberapa baris sajak di atas tembok kuil, dilihat dan dikagumi oleh
semua tamu yang datang melayat.
Bi Li sampai sekarang masih ingat bunyi sajak itu, karena pada waktu itu ketika melihat ribut-ribut ia pun
lalu ikut membaca tulisan itu yang berbunyi demikian:
Layu pucat Teratai Putih,
Kehilangan sinar matahari.
Mengembang di empang tanpa kawan
Hati siapa takkan rawan?
Nona suci hidup seorang diri
Hati siapa takkan perih?
Kasihan kumelihatnya.
Hancur pilu hati dibuatnya.
Apakah dayaku, si bodoh hina ini
Untuk menghibur Teratai suci?
Sajak itu tentu saja dengan sangat mudah dapat diterka maksudnya. Semua orang yang berada di situ
memang merasa kasihan kepada Bi Li, gadis yang menjadi yatim piatu dan bunyi sajak itu otomatis
merupakan pengakuan dari Cia Sun bahwa begitu bertemu dengan Bi Li, ia telah jatuh cinta.
Akan tetapi, Song Lo-kai tidak senang membaca sajak itu, dan dengan muka masam ia menarik tangan Bi
Li masuk ke dalam. Semenjak saat itu mereka tidak pernah bertemu muka kembali. Peristiwa yang terjadi
sewaktu Bi Li berada di puncak kesedihan itu tentu saja tidak terlalu membekas pada hatinya dan ia pun
sudah lupa akan peristiwa itu. Akan tetapi siapa kira, sekarang tiba-tiba saja pemuda itu muncul di
hadapannya, dengan jalan menerobos kebun!
Sementara itu, ketika Cia Sun melihat Bi Li mengenalnya, dia menjadi girang sekali dan wajahnya yang
tampan berseri-seri.
“Aduh, terima kasih kepada Kwan Im Pousat, ternyata kau juga memikirkan diriku yang hina ini, Nona
Song...”
“Siapa bilang?” Bi Li membentak marah. “Cia-siucai, kau lancang sekali! Kau masuk ke sini tanpa permisi
dan kau sudah mengeluarkan kata-kata yang tidak pada tempatnya. Apa sebenarnya kehendakmu?”
“Kedatanganku hanya untuk mengulangi pernyataanku dahulu, Nona, yakni bahwa aku cinta kepadamu...”
“Tidak! Kurang ajar, pergi kau dari sini!” Bi Li membelalakkan matanya yang indah dan mukanya berubahubah,
sebentar merah, dadanya berombak menahan gelora hatinya.
Cia Sun menjatuhkan diri berlutut di depan Bi Li.
“Song-siocia, kakekmu telah menghinaku, telah menolak pinanganku, dan kini kau masih mengusirku
dunia-kangouw.blogspot.com
pula?” Suara ini terdengar demikian lemah mengharukan sehingga Ceng Si yang mendengar ini menjadi
pucat dan dua titik air mata membasahi pipinya.
Ada pun Bi Li ketika melihat pemuda itu tiba-tiba berlutut di depannya dan mengeluarkan kata-kata itu,
menjadi makin bingung.
“Cia-siucai, jangan kau begini! Apa sih yang kau kehendaki?”
“Nona, Kongkong-mu dulu menolak pinanganku dengan alasan bahwa kau telah menjadi tunangan dengan
orang lain. Aku bukan seorang yang tidak kenal aturan, aku tidak mau menjadi seorang yang tak kenal
malu dan kurang ajar, katakanlah kepadaku secara terus terang, Nona, apakah betul kau sudah menjadi
tunangan orang lain? Betulkah kau sudah bertunangan?”
“Kau peduli apakah dengan itu? Hal itu bukan urusanmu, Cia-siucai. Sudahlah, lebih baik kau lekas-lekas
pergi dari sini.”
“Jawab dulu, Nona. Benar-benarkah kau sudah bertunangan dengan orang lain? Apa bila benar demikian,
aku Cia Sun bersumpah tidak akan mau mengganggumu lagi.”
Bi Li tidak mampu menjawab. Dia memang belum bertunangan, hal ini dia ketahui benar, karena memang
dahulu orang tuanya belum mengikat perjanjian dengan siapa pun juga. Namun, menjawab pertanyaan
seorang pemuda asing begitu saja tentang pertunangan, bukanlah hal yang patut dilakukan oleh seorang
gadis sopan.
Ceng Si melihat keraguan nonanya, maka ia yang mewakili Bi Li menjawab, “Sebenarnya Siocia belum
bertunangan Cia-siucai. Sudahlah, harap kau sudi meninggalkan tempat ini, kalau diketahui oleh orang lain,
bukankah hal ini buruk sekali bagi Siocia?”
Mendengar ini, Cia Sun lalu membanting-bantingkan jidatnya pada tanah dan dia masih tetap berlutut.
“Penasaran! Penasaran! Nona Song, mengapa kakekmu begitu membenciku? Memang ia membohong dan
menolak pinanganku? Ketahuilah, tanpa kau di sampingku, aku tidak akan dapat hidup lebih lama lagi!
Lebih baik aku mati saja di sini, Song-siocia...”
Mendengar ini, muka Bi Li menjadi pucat sekali dan ia menahan mulutnya yang hendak berteriak.
Kemudian ia membalikkan tubuh dan berlari pergi meninggalkan pemuda yang masih berlutut itu, berlari
kembali ke dalam gedung.
Bi Li tiba di kamarnya dengan terengah-engah, mukanya pucat. Baiknya kongkong-nya tidak ada. Di rumah
gedung itu baru ada dia dan Ceng Si saja, karena memang belum memanggil pelayan-pelayan lain.
Hatinya berdebar, tidak karuan rasanya. Ada rasa takut, bingung dan juga girang. Entah kenapa, mengingat
betapa pemuda tampan dan pandai yang menjadi kebanggaan dusun dan menjadi rebutan serta impian
para gadis dusun itu kini bertekuk lutut kepadanya, menyatakan cinta kasih yang demikian besar, benarbenar
menggirangkan hatinya. Akan tetapi dia sendiri tidak mengerti perasaan apakah ini yang membuat
dia menjadi merasa kebingungan.
Tak lama kemudian, Ceng Si menyusul masuk ke dalam kamar.
“Siocia, bagaimana ini baiknya?” pelayan muda dan cantik itu langsung berkata sambil meremas-remas
tangan. “Dia tidak mau pergi…”
“Dia tidak mau pergi…? Habis bagaimana baiknya…?” Bi Li memandang kepada Ceng Si dengan bingung
dan air matanya sudah mulai memenuhi pelupuk matanya.
“Siocia, dia harus dikasihani. Dia benar-benar mencinta kepada Siocia dengan sepenuh hati dan nyawanya.
Dia bilang bahwa dia akan tetap berlutut di sana sampai mati kalau Siocia tidak mau menyatakan sesuatu
untuk menjawab cintanya. Demikian yang ia bilang kepadaku, Siocia.”
Sekarang air mata menitik turun ke atas pipi Bi Li. Ia menjadi terharu dan juga bingung, ditambah rasa
takut. Kalau sampai kongkong-nya atau ada orang lain tahu akan halnya pemuda itu, bukankah akan terjadi
geger? Bukankah orang lain akan menyangka yang tidak-tidak terhadap dirinya? Sampai lama ia tidak
dunia-kangouw.blogspot.com
menjawab.
Ahh, Bi Li memang seorang gadis yang masih hijau dan bodoh, yang selamanya belum pernah mengalami
perasaan seperti itu. Kalau saja ia tahu apa yang baru saja terjadi ketika ia pergi meninggalkan Cia Sun,
tentu akan lain sikapnya.
Begitu dia pergi, Ceng Si yang begitu melihat Cia Sun menyatakan cinta kasih terhadap nonanya, segera
memegang pundak pemuda itu dengan lemah-lembut, berkata seperti bisikan mesra,
“Siucai, kenapa kau begitu lemah? Bangunlah, urusan ini bisa diatur bagaimana baiknya. Hatiku tidak kuat
melihat kau begini sengsara, Kongcu...”
Mula-mula Cia Sun terheran, ia mengangkat muka dan memandang wajah pelayan yang cantik itu,
kemudian sesudah dua pasang mata bertemu, tahulah pemuda ini akan suara hati Ceng Si. Dia menjadi
sangat girang dan memeluk pundak Nona pelayan itu sambil berkata,
“Nona manis yang baik, benar-benarkah kau menaruh hati kasihan terhadap diriku yang malang ini?”
Ceng Si pura-pura melepaskan diri dan berkata dengan sikap genit,
“Cih, tak tahu malu! Baru saja Siocia pergi, hatinya telah berubah dan hendak membujuk aku, benar-benar
lelaki tidak setia!”
Cia Sun segera menjura dan berkata dengan suara memohon, “Nona yang baik, siapa orangnya tidak akan
mencinta kau yang begini manis? Kasihanilah aku, aku benar-benar lebih baik mati kalau Siocia-mu tidak
mempedulikan aku. Bantulah aku, bujuk siocia-mu supaya dia sudi sedikit menaruh perhatian kepadaku,
dan aku berjanji, kelak kalau aku berhasil menjadi suami siocia-mu, engkaulah orang pertama yang akan
menjadi Ji-hujin (Nyonya Ke Dua)!”
Ceng Si mengerling, tersenyum-senyum dan berkata genit, “Benar-benarkah janjimu ini? Atau hanya
bujukan kosong belaka?”
“Demi langit dan bumi, aku bersumpah bahwa kelak apa bila aku berhasil menjadi suami Nona Song Bi Li,
aku segera akan mengambil Nona... ehh, siapa namamu?”
Ceng Si mengerling, tersenyum-senyum dan berkata genit, “Benarkah itu? Namaku, ehh, Ceng Si,”
jawabnya cepat-cepat.
“Ceng Si nama yang manis.” Kemudian ia berdongak ke arah langit dan melanjutkan lagi sumpahnya, “Aku
akan mengambil Nona Ceng Si yang manis sebagai ji-hujin! Nah, langit dan bumi menjadi saksi atas
sumpahku. Lekaslah kau datangi siocia-mu dan bujuk agar supaya dia suka menaruh sedikit perhatian
kepadaku dan suka memberi sedikit tanda mata.”
“Baiklah, akan tetapi awas, kalau kau membohongiku, jangan kira Ceng Si takkan dapat menuntut balas!”
Pelayan itu segera pergi berjalan-jalan dan menuju ke kamar Bi Li.
Demikianlah, semua ini tentu saja Bi Li tidak tahu sama sekali. la mendengar dari Ceng Si bahwa Cia Sun
masih berlutut dan tidak mau pergi, hatinya menjadi sangat terharu. Demikian besarnya kasih sayangnya
kepadaku sehingga dia rela mengorbankan nyawa, pikir gadis ini.
“Habis, apa yang harus kulakukan, Ceng Si?” kemudian ia bertanya, minta nasehat pada pelayannya yang
ia anggap lebih mengerti dalam urusan seperti ini.
Berbeda dengan Bi Li, di dalam hal ini Ceng Si lebih cerdik dan gadis pelayan ini lebih mengenal watak lakilaki
seperti Cia Sun. Dia sudah dapat menduga ke mana maksud tujuan Cia Sun, bukan karena oleh
kecantikan siocia-nya yang memang amat cantik itu, akan tetapi di samping ini mengandung maksud yang
lebih besar, yakni hendak menjadi suami Bi Li yang menjadi ahli waris tunggal dari Song-loya yang kayaraya!
Aku harus berlaku cerdik, pikir Ceng Si. Kalau kubujuk sehingga siocia menerimanya dan kemudian
sebelum mereka menjadi suami isteri, Cia Sun menyia-nyiakannya, maka akan gagallah semua niatnya.
Aku harus berusaha agar Siocia menjadi isterinya agar Cia Sun bisa diterima menjadi suami Bi Li dan kelak
dunia-kangouw.blogspot.com
akan menjadi nyonya ke dua, akan menjadi Ji-hujin (Nyonya Ke Dua).
Kedudukan nyonya kedua di masa itu memang cukup tinggi, jauh lebih tinggi dari pada kedudukan nyonya
ke tiga, ke empat atau seterusnya. Apa lagi bila dibandingkan dengan kedudukan pelayan biasa, tentu saja
jauh lebih tinggi!
“Siocia, apakah… apakah Siocia juga… suka kepadanya?”
Wajah Bi Li menjadi merah sekali dan ia memandang kepada pelayannya dengan mata terbuka lebar.
Maksudnya hendak marah, namun dia tidak dapat, karena wajah Ceng Si memperlihatkan sikap sungguhsungguh,
ada pun ia sedang bingung dan membutuhkan pertolongan pelayan ini.
“Aku tidak tahu, Ceng Si, aku... tidak tahu...”
“Siocia, Cia-kongcu itu benar-benar cinta kepada Siocia dan kalau ia dibiarkan saja, tentu ia akan berkeras
tidak mau pergi!”
“Aduh, bagaimana kalau Kongkong datang dan melihat dia di sana?” Bi Li ketakutan.
“Apa lagi kalau ada orang luar melihatnya, tentu timbul persangkaan yang bukan-bukan.” Ceng Si
menambah kebingungan siocia-nya dengan maksud agar nona majikannya itu terdesak betul-betut dan
akhirnya akan menurut apa yang ia nasehatkan.
Benar saja, mendengar kata-kata pelayannya ini, Bi Li lalu menangis karena bingung dan cemas. “Ceng Si,
apakah yang harus kulakukan? Tolonglah aku, Ceng Si!”
Pelayan muda yang cantik itu tersenyum di dalam hatinya. Baik Cia Sun mau pun Bi Li sudah minta tolong
kepadanya, sudah dapat dipastikan bahwa kelak cita-citanya pasti tercapai, menjadi Ji-hujin yang kaya dan
terhormat!
“Siocia, tak baik menemui padanya di kebun, akan tetapi tidak baik pula membiarkan dia begitu saja
sehingga dia tidak mau pergi. Lebih baik Siocia menghibur hatinya dengan jalan memberi sesuatu agar ia
puas dan mau pergi!”
“Memberi apa, Ceng Si? Apa yang dapat kuberikan agar ia mau pergi?”
Ceng Si berpikir-pikir. Memang akan lebih sempurna apa bila memberikan barang yang berharga, yang
menjadi tanda atau bukti seperti misalnya hiasan rambut dari batu giok itu yang menghias rambut Bi Li yang
hitam dan halus, akan tetapi hal itu terlalu berbahaya untuk pertama kalinya. Dia masih belum tahu akan isi
hati Cia Sun, belum tahu apakah pemuda itu bersungguh-sungguh atau tidak.
“Lebih baik Siocia memberikan sapu tangan Siocia itu, supaya ia merasa bahwa Siocia menaruh kasihan
kepadanya dan akulah yang akan membujuk-bujuknya agar dia mau pergi dari kebun.”
Bi Li tentu saja ragu-ragu dan mukanya menjadi merah sekali. Ia melihat sapu tangannya yang tersulam
indah dan yang basah dengan air matanya. Akan tetapi tidak ada jalan lain yang lebih baik. Kalau pemuda
itu nekat tidak mau pergi, lebih celaka lagi!
“Baiklah, kau berikan ini dan bujuk agar dia jangan berlaku nekad dan tidak mau pergi.”
Ceng Si dengan girang menerima sapu tangan itu dan membawa benda itu ke kebun, di mana Cia Sun
telah menantinya. Untuk beberapa lama dua orang ini berunding, akhirnya Cia Sun pergi keluar melalui
pagar kebun yang rusak.
Demikianlah. Ceng Si menjalankan siasatnya secara licin sekali. Sampai kebun itu sudah berubah menjadi
taman yang indah dan dikelilingi pagar tembok, selalu pelayan ini yang mengadakan hubungan dengan Cia
Sun.
Dengan amat cerdiknya Ceng Si menjaga sedemikian rupa sehingga Bi Li mau memberi benda-benda
tanda mata, membalas surat-surat dan sajak-sajak pemuda itu, bahkan Bi Li yang bagaikan seekor lalat
terjebak dalam sarang laba-laba berani bersumpah bahwa dia hanya akan bersuamikan Cia Sun!
dunia-kangouw.blogspot.com
Sampai dua tahun perhubungan ini berjalan diam-diam. Memang betul bahwa Bi Li tidak pernah melakukan
sesuatu yang melanggar kesusilaan, karena memang gadis ini teguh menjaga kesopanan, dan ini sesuai
pula dengan rencana Ceng Si, akan tetapi di dalam hatinya, gadis ini sudah membalas cinta kasih Cia Sun.
Tentu saja Cia Sun menjadi besar hati, karena meski pun dia pernah ditolak lamarannya oleh Kakek Song,
namun kalau Bi Li tidak mau dinikahkan dengan orang lain dan kelak kakek itu meninggal dunia, akhirnya
tetap dialah yang akan menjadi suami Bi Li dan bisa menguasai semua harta benda yang besar itu!
Akan tetapi, setelah Bi Li berusia sembilan belas tahun, pada suatu hari tiba-tiba Kakek Song pulang
bersama seorang pemuda yang amat tampan dan gagah, yang berpakaian sebagai seorang pengemis,
tambal-tambalan dan butut. Dan hebatnya, Bi Li dikenalkan kepada pemuda ini sebagai calon suaminya!
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, sesudah berpisah dari suhu-nya, Kiang Liat langsung
menuju ke dusun Sui-chun. Ia sengaja tidak mau pulang dulu ke kotanya di Sian-koan dan sengaja
memakai pakaian seperti pengemis untuk melihat apakah Kakek Song dan cucunya masih tidak berubah
pendiriannya melihat dia sudah menjadi seorang pengemis.
Tidak tahunya, baru saja dia tiba di luar dusun Sui-chun, dia sudah disambut oleh Kakek Song dengan
segala kehormatan! Memang sudah berhari-hari kakek ini menunggu dari pagi sampai petang di luar
kampung, ingat bahwa hari kedatangan pemuda yang pernah menolongnya itu sudah tiba.
Oleh karena itu, begitu melihat Kiang Liat, dia segera berlari menghampiri bersama para pelayannya, dan
menyambut Kiang Liat dengan segala kehormatan.
“Kiang Taihiap, sudah tiga hari ini lohu selalu menanti di sini. Bagus sekali, kau kelihatan sehat-sehat saja
dan lebih gagah!”
“Akan tetapi, aku telah menjadi pengemis yang miskin, Lopek.”
“Ha-ha-ha, dahulu pun aku seorang pengemis yang lebih miskin dari padamu, Taihiap. Sudah lupa lagikah
kau akan hal itu? Marilah, kita bicara di rumah.”
Diam-diam Kiang Liat memuji kakek ini yang ternyata sikapnya tak berubah sama sekali. Memang dia suka
mempunyai seorang mertua atau seorang kakek sebaik ini, akan tetapi dia masih belum melihat bagaimana
macamnya cucu perempuan kakek ini yang hendak dijodohkan dengan dia.
Rumah gedung tempat tinggal kakek itu, sungguh pun untuk di Sui-chun termasuk paling baik, namun
masih tidak sebesar dan sebaik rumah Kiang Liat sendiri di kota Sian-koan, maka pemuda ini sama sekali
tidak merasa kagum atau kikuk ketika memasuki gedung ini.
“Suruh Siocia keluar menyambut tuan penolongku yang mulia!” kata Song Lo-kai dengan girang kepada
seorang pelayan perempuan.
Berdebar hati Kiang Liat ketika ia mendengar suara tindakan kaki yang halus dari dalam, kemudian mulut
pintu tersingkap dan segera muncul seorang bidadari dalam pandangan pemuda ini. Dia cepat bangun dari
bangkunya dan merahlah muka Kiang Liat ketika dia teringat bahwa pakaiannya amat tidak baik.
Dia memandang wajah yang cantik jelita itu, yang mulutnya tersenyum manis dengan ramah tamah, yang
wajah ayunya berseri-seri dengan sepasang matanya bersinar-sinar. Memang Bi Li sudah pernah
diceritakan oleh kongkong-nya bahwa ketika menghadapi bencana maut kongkong-nya telah ditolong oleh
seorang pendekar muda.
Tentu saja kini mendengar bahwa tuan penolong itu datang, sebagai cucu kongkong-nya dia harus
menyatakan terima kasihnya. Hanya tak disangkanya bahwa tuan penolong itu ternyata adalah seorang
yang masih muda dan luar biasa tampan serta gagahnya.
Kiang Liat menjura dan mengangkat kedua tangan di depan dada, memandang bagaikan dalam mimpi, tak
kuasa mengeluarkan kata-kata. Melihat betapa pemuda itu amat kikuk, maka timbullah rasa sungkan dan
malu pada Bi Li sehingga gadis ini pun hanya menjura memberi hormat.
“Bi Li, mengapa kau diam saja terhadap tuan penolongku? Tidak saja Tuan penolong, dia pun calon
suamimu, Nak!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Sesudah berkata demikian, kakek ini mengejap-ngejapkan kedua matanya yang terasa panas hendak
menitikkan air mata saking terharu dan girangnya.
Mendengar ucapan itu, Bi Li merasa seakan-akan dua kakinya terjeblos ke dalam jurang. Kagetnya
setengah mati dan seketika itu wajahnya menjadi pucat sekali. Akan tetapi dia buru-buru menundukkan
muka dan membalikkan tubuh, terus berlari ke dalam kamarnya, diikuti oleh Ceng Si yang tadi juga
mengikuti nona majikannya keluar.
Bagi anggapan Kiang Liat dan kakek Song, nona itu tentu lari karena jengah dan malu, maka kakek Song
tertawa bergelak-gelak saking senang hatinya.
“Lopek, sungguh pun aku sebatang kara dan sudah yatim-piatu, namun aku mempunyai rumah di Siankoan.
Biarlah aku pulang lebih dahulu, baru kemudian aku akan mengirim wakil untuk membicarakan
urusan perjodohan ini.”
Kakek Song mengerutkan keningnya dengan rasa khawatir. “Akan tetapi kau… kau telah setuju, bukan?”
Muka Kiang Liat menjadi merah, tak dapat menjawab, maka dia hanya menganggukkan kepalanya dengan
pasti! Kakek Song tertawa bergelak, kemudian dengan suara keras ia memberi perintah kepada para
pelayannya untuk menyediakan jamuan yang hebat bagi calon mantunya.
Sesudah minum arak serta menikmati hidangan-hidangan yang disuguhkan oleh Kakek Song, Kiang Liat
lalu berpamitan dan sebagai tanda mata, ia meninggalkan pedangnya. Dengan hati gembira pemuda ini lalu
melakukan perjalanan cepat sekali ke kota tempat tinggalnya.
Ia disambut dengan girang oleh inang pengasuhnya, ia memang sudah seperti neneknya sendiri saja.
Kiang Liat gembira karena melihat rumahnya tidak berubah dan tidak terjadi sesuatu atas diri inang
pengasuhnya.
Dia lalu menceritakan pengalamannya secara singkat, dan terutama sekali dia bercerita tentang
maksudnya hendak menikah dengan Nona Song di Sui-chun. Inang pengasuh itu girang bukan main,
sambil berlinang air mata inang pengasuh ini lalu mengurus hal itu, mencarikan seorang wakil untuk
menyampaikan warta ke Sui-chun mengenai ketetapan hari pernikahan…..
********************
Sementara itu, di rumah Kakek Song terjadi keributan. Bi Li menangis dan menyatakan tidak mau menikah.
“Anak bodoh, usiamu sudah sembilan belas tahun mau menunggu apa lagi? Apakah kau mau menunggu
kakekmu mati?” akhirnya Kakek Song berkata lemas.
Bi Li menubruk kakeknya. “Tidak demikian Kongkong, akan tetapi aku… aku belum suka menikah...”
“Bi Li, jangan kau membikin bingung dan susah hati kongkong-mu. Perjodohan ini sudah kujanjikan kepada
Kiang-taihiap setahun yang lalu. Sebentar lagi kalau utusannya datang mewartakan tentang hari
pernikahan, kita harus menerima dengan baik. Kau tidak boleh berkeras kepala lagi, kecuali jika kau suka
melihat kongkong-mu mampus saking jengkel dan susah.”
Bi Li tidak dapat menjawab, hanya menjatuhkan diri di atas pembaringan dan menangis terisak-isak.
Pada saat itu, Ceng Si turun tangan. Gadis pelayan ini memberi isyarat kepada Kakek Song untuk keluar.
Kakek ini heran akan tetapi dia menurut saja. Akhirnya mereka bicara di dalam ruangan belakang dan tak
seorang pun pelayan lain boleh mendekati mereka.
“Ceng Si, ada apakah? Agaknya ada sesuatu yang dirahasiakan kepadaku!” Kakek Song berkata kurang
senang.
Ceng Si berlutut. “Mohon beribu ampun Lo-ya. Sebetulnya saya sudah banyak berusaha untuk mencegah
hal ini terjadi, akan tetapi apa hendak dikata, sebelum saya menjadi pelayan di sini, hal itu sudah terjadi.”
“Hal ini, hal itu, apa maksudmu? Bicaralah yang jelas!” Kakek Song membentak dengan hati kurang enak.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Siocia tidak mau menikah karena sesungguhnya Siocia sudah mempunyai pilihan hati sendiri.”
“Apa? Kau tahu akan hal ini tetapi tidak memberi tahukan kepadaku? Berani benar kau membiarkan Siocia
merusak nama baik keluarganya sendiri? Jahanam benar...” Wajah Kakek Song menjadi pucat sekali.
“Tidak demikian, Loya, harap jangan salah sangka. Walau pun Siocia sudah mempunyai pilihan hati,
namun Siocia tidak pernah bertemu dengan dia, hanya berkirim-kiriman saja dan sebagainya.”
“Bedebah…!”
“Jika Loya benar-benar sayang kepada Siocia, saya harap Loya sudi mempertimbangkan keadaan Siocia
yang patut dikasihani. Dan harap Loya suka mendengar penuturan saya dengan hati sabar. Loya, sebelum
Loya membawa Siocia pindah ke sini, di antara Siocia dan pemuda itu memang telah ada pertalian batin
yang erat. Mereka saling mencinta dan saling bersumpah tidak akan menikah dengan orang lain. Ada pun
menurut penglihatan saya, pemuda itu adalah seorang pemuda terpelajar yang amat sopan-santun dan
baik, tulisannya indah dan juga orangnya tak kalah oleh Kiang-taihiap. Siocia pasti akan hidup bahagia
selama hidupnya kalau Loya membatalkan pertalian jodoh dengan Kiang-taihiap dan sebaliknya
menjodohkan Siocia dengan pilihan hatinya sendiri.”
“Cukup, tutup mulutmu, kau seorang pelayan tahu apa? Siapakah adanya jahanam yang berani menggoda
cucuku itu? Hayo katakan siapa dia?”
“Dia adalah seorang Siucai dan namanya Cia Sun dari dusun Lee-hiang.”
Kakek Song termenung dan mengangguk-angguk sambil mengelus-elus jenggotnya. Dia lalu menyuruh
Ceng Si pergi dan menghibur siocia-nya.
“Katakan kepada Siocia-mu bahwa aku akan memikirkan hal ini baik-baik,” katanya.
Kakek ini teringat akan pemuda she Cia yang dahulu pernah melamar Bi Li, dan menurut penglihatannya,
memang pemuda itu cukup baik dan terpelajar. Akan tetapi, dulu ia telah menolak pinangan itu karena ia
ingin menjodohkan Bi Li kepada seorang gagah supaya kelak dapat melindungi cucunya itu. Kakek Song
sendiri adalah seorang ahli silat dan biar pun kepandaiannya tidak tinggi namun ia cukup tahu akan
manfaat kegagahan pada jaman itu.
Apa lagi sekarang dia sudah menjodohkan cucunya kepada Kiang Liat, seorang pemuda gagah perkasa
yang pernah menolongnya dan yang amat dikaguminya. Apa lagi karena pemuda itu kini menjadi murid dari
seorang sakti.
“Sungguh menjemukan sekali, pinangannya sudah kutolak bagaimana dia masih berani mengganggu Bi Li?
Sebenarnya apakah maksud pemuda she Cia itu?” Demikian Kakek Song berpikir-pikir.
Kemudian dia mendapatkan akal. Dia maklum akan keadaan keluarga Cia yang miskin, maka didatangilah
rumah keluarga Cia di dusun Lee-hiang. Dia disambut oleh Janda Cia, yakni ibu dari Cia Sun dengan
ramah-tamah dan penuh penghormatan, seperti biasanya seorang kaya-raya disambut oleh seorang dusun
yang miskin.
Kakek Song minta kepada nyonya janda itu untuk memanggil puteranya dan Cia Sun lalu menghadap
dengan muka pucat. Pemuda ini takut sekali karena ia telah dapat menduga bahwa kedatangan Kakek
Song tentulah ada hubungannya dengan Bi Li, sedangkan dia selama beberapa hari ini belum mendapat
berita apa pun dari Ceng Si. Hatinya gelisah sekali, akan tetapi dia menghadap Kakek Song dengan sikap
sopan dan memberi hormat sebagaimana mestinya.
“Kedatanganku ini untuk membereskan persoalan yang ada antara Cia Sun dan cucuku,” kata Kakek Song
kepada nyonya janda ibu Cia Sun. Tentu saja Nyonya Cia tidak tahu akan kelakuan puteranya, maka ia
memandang dengan mata penuh pertanyaan.
“Cia-hujin, seperti kau tentu masih ingat, dulu pinangan puteramu terhadap cucuku sudah kutolak karena
memang cucuku itu sudah mempunyai tunangan. Akan tetapi akhir-akhir ini ternyata puteramu selalu
mendesak dan bahkan berani mencoba untuk berhubungan dengan cucuku. Yang sudah lewat sudahlah,
akan tetapi mulai sekarang, kuperingatkan agar puteramu ini jangan sekali-kali berani menghubunginya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ingat bahwa cucuku sudah bertunangan.”
“Hal itu tidak betul,” Cia Sun memotong, “Aku mendengar bahwa Song-siocia sama sekali belum
bertunangan.”
“Hemm, begitukah?” Kakek Song tersenyum, hatinya mendongkol bukan main. “Itu hanya dugaanmu
belaka. Dia sudah tunangan dengan seorang she Kiang di kota Sian-koan dan dalam beberapa pekan ini
pun pernikahannya segera akan dilangsungkan. Oleh karena itu, sekali lagi kuperingatkan bahwa apa bila
kau mencoba untuk berlaku tidak patut dan mendekati rumah kami, aku akan turun tangan dengan jalan
kekerasan atau aku akan menyuruh yang berwajib menangkap dan menahanmu. Sebaliknya, kalau kau
berjanji tak mengganggu dan mendekatinya lagi, orang she Song akan berterima kasih sekali dan tidak
akan melupakan kebaikan ini. Nah, biarlah sedikit bekal ini untuk keperluan kalian sehingga tak perlu keluar
rumah.” Kakek Song meninggalkan sekantong uang perak dan meletakkan itu di atas meja yang reot di
depan Nyonya Cia.
Nyonya janda Cia merasa terkejut dan juga girang. Ia buru-buru berlutut menghaturkan terima kasih dan
berkata kepada Kakek Song,
“Song-loya, harap suka mengampunkan puteraku yang masih belum tahu aturan hingga mengganggu
Loya. Percayalah, aku yang akan melarangnya pergi ke sana. Terima kasih banyak atas kemurahan hati
Song-loya. Sun-ji (Anak Sun), hayo lekas ucapkan terima kasih kepada Song-loya.”
Cia Sun menjadi pucat dan hanya karena takut kepada ibunya maka ia terpaksa menjura dan
mengucapkan terima kasih dengan suara perlahan. Kakek Song menjadi puas dan segera pergi dari situ,
pulang ke gedungnya.
Cia Sun menjatuhkan diri di atas kursi, dua titik air mata turun membasahi pipinya. Kini hancurlah citacitanya
untuk menjadi suami Bi Li, untuk mewarisi seluruh harta benda itu!
“Anakku, bagaimana sih kau ini? Song-siocia tentu saja bukan jodohmu, bagaimana bisa katak mencapai
bulan? Kau betul-betul amat lancang dan sembrono berani mengganggu gadis dari keluarga demikian
hartawan. Masih untung bagi kita bahwa Song-loya berhati pemurah dan sabar sehingga sebaliknya dari
pada marah kepada kita, ia hanya memberi peringatan secara halus dan malah memberi uang begini
banyak.”
Namun Cia Sun masih terbenam di dalam lamunannya yang sedih. Apakah artinya uang sekantung ini bila
dibandingkan dengan diri Bi Li berikut harta benda dan rumah gedung ditambah sawah ladang yang
demikian banyaknya? Ia memutar-mutar otak mencari jalan yang baik, akhirnya ia berkata seorang diri,
“Hanya Ceng Si yang akan dapat memecahkan hal ini! Ceng Si manisku... kekasihku... sebenarnya
engkaulah yang patut menjadi isteriku. Tanpa kau yang cerdik aku merasa tak berdaya...”
Ada pun Kakek Song yang pulang ke rumah gedungnya, diam-diam menyuruh beberapa orang pelayan
untuk mengamat-amati dan menjaga agar jangan sampai ada orang luar yang dapat masuk ke dalam
taman dan agar supaya mengusir setiap orang muda yang mendekati tembok sekitar gedung dan
pekarangannya. Dengan penjagaan ini, maka baik Cia Sun mau pun Ceng Si sama sekali tidak memiliki
kesempatan untuk saling bertemu atau menyampaikan berita.
Sementara itu, sepekan kemudian datanglah utusan dari Sian-koan. Kakek Song terkejut bercampur
gembira bukan main, juga dia merasa heran sekali. Utusan yang datang itu adalah seorang setengah tua
yang berpakaian mewah, datang membawa sebuah kereta yang penuh dengan barang-barang berharga.
Tadinya Kakek Song mengira bahwa yang datang ini tentulah seorang saudagar kaya, akan tetapi dia
menjadi melongo ketika tamu ini memperkenalkan diri sebagai utusan dari keluarga Kiang di Sian-koan!
“Saya datang atas perintah dari Kiang-kongcu sambil membawa sekedar hadiah untuk Song-siocia, dan
juga untuk membicarakan tentang hari pernikahan,” kata utusan itu.
Pada saat barang-barang hadiah itu dibongkar, semua orang terheran-heran dan kagum bukan main. Lima
belas kayu kain sutera yang paling halus dan mahal dan yang jarang sekali dilihat oleh orang-orang seisi
rumah itu, lima buah barang ukiran dari perak yang amat indahnya, untuk hiasan dinding kamar, empat peti
besar terisi kain-kain untuk muili, kelambu, dan lain-lain keperluan rumah tangga, sekantung uang emas
dan sekantung pula uang perak, kemudian yang terakhir, sebuah hiasan rambut terbuat dari emas dan
dunia-kangouw.blogspot.com
dihiasi batu kemala yang amat indahnya, berbentuk seekor kupu-kupu yang hinggap di atas setangkai
bunga Cilan.
Jangankan para pelayan yang memandang semua itu dengan mata terbelalak sambil menahan napas,
bahkan Kakek Song sendiri sampai melongo. Hanya orang yang kaya raya, bahkan jauh lebih kaya dari
pada dirinya sendiri, yang akan sanggup mengirimkan hadiah kepada calon pengantin seroyal ini.
Kakek Song segera menjamu tamu itu dan dari tamu ini ia mendapat keterangan bahwa Kiang-kongcu
merupakan ahli waris satu-satunya dari keluarga Kiang yang amat terkenal kekayaannya. Juga ia
mendengar bahwa nenek moyang Kiang Liat adalah orang-orang ternama belaka, bangsawan-bangsawan
tinggi yang bernama besar. Maka bukan main girangnya hati Kakek Song mendengar ini.
Mereka terus mengobrol sambil minum arak dan makan hidangan yang mahal. Kemudian utusan itu
menyampaikan pesan dari Kiang-kongcu mengenai hari pernikahan yang akan dilangsungkan dalam bulan
itu juga.
Sementara itu, Ceng Si yang cerdik segera mendengar bahwa pemuda she Kiang yang dahulu berpakaian
sebagai seorang pengemis itu, ternyata adalah seorang pemuda yang kaya raya, bahkan lebih kaya dari
pada keluarga Song sendiri! Apa lagi setelah ia melihat barang-barang hadiah yang dibawa oleh utusan
keluarga Kiang, hatinya lantas berdebar dan matanya yang indah itu berseri-seri.
Diam-diam dia meremas-remas tangan sendiri dan mengatur siasat. Kemudian dia berlari menuju ke kamar
Bi Li, diikuti oleh para pelayan yang memanggul barang-barang hadiah itu, sebab Kakek Song memberi
perintah supaya barang-barang itu langsung dibawa ke kamar Bi Li.
“Siocia, kionghi!” Ceng Si berseru sambil memeluk nona majikannya.
“Ceng Si, apakah kau gila? Aku lagi berduka, kau datang-datang memberi selamat.”
“Kionghi, Siocia! Tidak tahunya, pemuda she Kiang yang kelihatan seperti pengemis itu, ternyata adalah
seorang pangeran!”
“Apa katamu? Seorang pangeran?” Bu Li menggerakkan alis karena terheran-heran.
“Lihat saja, lihat saja semua barang-barang hadiahnya!”
Pintu terbuka dan mengalirlah barang-barang itu memasuki kamar.
Bi Li juga merasa kagum sekali melihat benda-benda mahal itu, apa lagi melihat hiasan rambut yang luar
biasa indah itu, dia benar-benar amat suka, hanya merasa malu untuk menjamahnya. Ia hanya duduk dan
melihat satu demi satu semua benda itu yang diambil dari tempatnya oleh Ceng Si. Gadis pelayan ini
sambil memamerkan benda-benda itu, tiada hentinya bercakap-cakap.
“Siocia, sungguh kau gadis yang beruntung sekali. Memang orang baik selalu mendapat perlindungan dari
Thian. Siapa sangka pemuda berpakaian tambalan itu ternyata adalah seorang yang kaya raya, bahkan
jauh lebih kaya dari pada Song-loya sendiri? Lihatlah, begini indah dan mahalnya barang-barang ini.
“Ceng Si, aku bukan seorang yang haus akan benda-benda indah dan mahal.”
“Akan tetapi orangnya pun sangat gagah dan tampan! Siocia, terus terang saja, apa bila diingat-ingat,
Kiang-kongcu itu malah lebih tampan dari pada... pemuda she Cia itu. Dan tentu saja jauh lebih gagah,
ingat saja, ia pernah menolong nyawa Song-loya!”
“Ceng Si!” Bi Li membentak dan mukanya menjadi pucat. “Aku bukan orang yang begitu mudah lupa akan
sumpah sendiri!”
“Siocia, dalam hal ini kita tak boleh menurutkan perasaan dan nafsu sendiri. Ingatlah dan pertimbangkan
masak-masak. Memang betul Siocia sudah bersumpah, namun semua itu dilakukan dalam keadaan
melamun dan tak sadar. Siocia juga tidak bersumpah di depan Cia-kongcu dan hubungan kalian juga hanya
dengan surat-surat sajak saja. Sebaliknya, coba pikir baik-baik. Pemuda hartawan dan gagah perkasa she
Kiang itu, pertama-tama dia telah menolong nyawa kongkong-mu, kedua kalinya dia memang patut menjadi
suami Siocia karena ia memang tampan dan gagah sekali, ketiga kalinya, ia seorang hartawan besar, jadi
dunia-kangouw.blogspot.com
seribu kali lebih cocok dari pada Cia-siucai yang miskin itu.”
“Ceng Si...! Aku... aku kasihan kepadanya, juga karena ia tidak berdaya dan miskin.”
Berseri wajah Ceng Si, memang inilah yang dinanti-nantinya. “Jika begitu, Siocia, mudah saja untuk
menolongnya! Dia miskin, membutuhkan uang. Kalau Siocia selalu memberi sesuatu yang berharga
kepadanya, bukankah itu berarti sudah menolongnya?”
“Ceng Si, bagaimana kau bisa bilang begitu? Kalau aku sudah menjadi isteri orang lain, bagaimana aku
sudi dan berani mengadakan hubungan dengan laki-laki lain?”
“Mudah saja Siocia. Jika aku Ceng Si yang bodoh selalu menjadi pelayan pribadi Siocia, selalu berada di
samping Siocia, apa sih sukarnya? Kalau Siocia masih selalu menolong pemuda she Cia itu, pendeknya
mencukupi kebutuhan hidupnya, bahkan kalau perlu membiayai dia melanjutkan pelajarannya, di kota raja,
bukankah itu berarti bahwa Siocia mempunyai pribudi yang tinggi?”
Bi Li berpikir dan ia berkali-kali menarik napas panjang. “Akan tetapi aku khawatir sekali, Ceng Si. Suratsuratku
banyak yang berada di tangannya! Kalau kelak... orang yang menjadi suamiku mengetahui akan
hal ini, bukankah ini akan mendatangkan mala petaka hebat!”
Dalam hatinya, Ceng Si tersenyum laksana iblis. Akan tetapi pada wajahnya yang manis itu tersungging
senyuman manis yang penuh hiburan. “Jangan khawatir, Siocia. Akulah yang akan minta kembali semua
tulisan-tulisan itu.”
Akhirnya Bi Li dapat dibujuk dan dihibur. Gadis ini mengeluarkan surat-surat dari Cia Sun yang tadinya
disimpannya, lalu menyerahkan semua surat itu kepada Ceng Si dengan perintah agar semua surat ini
dibakar.
Ceng Si memang melakukan perintah ini, akan tetapi tidak semua surat dibakarnya, ada beberapa helai
yang diam-diam ia sembunyikan dan simpan. Dua helai surat dari Cia Sun ini merupakan senjataku yang
paling ampuh terhadap Song-siocia, pikirnya.
Kita tunda dulu dan membiarkan nona Song Bi Li melamun tentang pernikahannya yang dihadapi, dan mari
kita mengikuti peristiwa lain yang amat hebat…..
********************
Di lembah Sungai Huang-ho, nampak dua orang setengah tua berjalan perlahan. Mereka ini adalah Bu Pun
Su dan Han Le, dua kakak beradik seperguruan yang berilmu tinggi. Sebagaimana telah dituturkan di
bagian depan, mereka berdua baru saja meninggalkan Kiang Liat dan kini mereka jalan bersama-sama
sambil bercakap-cakap.
“Lu-suheng, mengapa kau sekarang banyak berubah? Kau kelihatan seperti orang yang menderita
kesedihan besar,” pertama-tama Han Le menegur suheng-nya.
“Sute, sebelum kita berbicara lebih lanjut, kuperingatkan padamu, jangan sekali-kali lagi kau menyebut Lusuheng
kepadaku. Jangan sekali-kali nama Lu Kwan Cu disebut lagi. Nama itu sudah mampus dan
sekarang aku adalah Bu Pun Su, tidak ada sambungannya lagi, mengerti?” Suaranya terdengar keras dan
kaku, tanda bahwa dia benar-benar tidak suka mendengar nama kecilnya disebut-sebut.
Han Le beberapa kali memandang kepada wajah Bu Pun Su penuh perhatian. Biasanya, pandangan mata
Han Le tajam sekali dan dengan melihat wajah orang, dia akan dapat membaca isi hatinya. Akan tetapi
tarikan wajah Bu Pun Su demikian sukar dimengerti, seolah-olah kulit muka orang sakti itu memakai kedok.
Hanya garis-garis yang memenuhi muka dan rambut serta alis yang sudah tidak begitu hitam lagi saja yang
bercerita bahwa selama ini, Bu Pun Su mengalami tekanan dan penderitaan batin yang hebat.
“Suheng, kau sudah banyak mengalami penderitaan. Maafkan Sute, meski Sute seorang yang bodoh dan
lemah, namun Sute menyediakan raga dan nyawa untuk membantu Suheng memecahkan semua kesulitan
itu.”
Bu Pun Su menoleh pada adik seperguruan ini. Untuk beberapa detik sepasang matanya hanya
memandang, seakan-akan hendak mengalirkan air mata. Akan tetapi sepasang mata itu tiba-tiba berseridunia-
kangouw.blogspot.com
seri dan meledaklah suara ketawa Bu Pun Su. Suara ketawanya demikian nyaring dan keras sehingga
kalau di situ terdapat orang lain yang tidak berilmu tinggi, pasti orang ini akan lumpuh terkena daya tenaga
lweekang-nya yang disalurkan dalam suara ketawa ini! Baiknya Han Le sendiri sudah memiliki tenaga
lweekang yang tinggi, namun tetap saja ia merasa jantungnya memukul keras dan terpaksa ia menahan
napasnya agar jangan terkena getaran hebat dan melukai jantungnya.
“Ha-ha-ha, kau masih tidak berubah, Sute! Kau masih dikuasai oleh perasaanmu, kau lemah dan baik hati.
Tidak, Sute. Aku tidak menderita sesuatu. Bagaimana Bu Pun Su bisa menderita? Kalau si lemah Lu Kwan
Cu yang sudah mampus, memang dia itu lemah hati, mudah dikuasai oleh nafsu, dia buta dan tuli, terlalu
mengandalkan kepandaiannya yang tidak berarti, terlalu membanggakan tenaganya yang sebenarnya
lemah. Ha-ha-ha, Lu Kwan Cu sudah mampus, demikian pula orang-orang yang seperti dia. Akan selalu
mengalami suka duka dan hidup bagaikan benda mati yang dipermainkan oleh alam. Akan tetapi aku
sekarang bukan seperti dia, aku sudah menguburkan Lu Kwan Cu. Aku Bu Pun Su hidup bukan sebagai
bujang perasaan, aku hidup bebas, menggunakan akal budi dan pertimbangan, mengeluarkan segala yang
pernah kupelajari untuk membantu pekerjaan alam!”
Han Le dapat mengerti akan kata-kata yang kedengarannya tidak karuan ini. Dia sendiri sudah banyak
mengalami kepahitan hidup, sudah banyak menderita dan kecewa. Maka ia dapat menduga bahwa suhengnya
ini tentu telah mengalami hal-hal yang hebat luar biasa, hal-hal yang menghancurkan hatinya, mungkin
sekali telah melakukan dosa yang dianggapnya terlalu berat dan besar sehingga suheng-nya ini mematikan
dirinya sendiri, mematikan dan menghilangkan semua ingatan mengenai diri Lu Kwan Cu, seakan-akan dia
memulai hidup baru menjadi seorang bernama Bu Pun Su atau Si Tiada Kepandaian, manusia aneh yang
hidupnya hanya untuk membantu pekerjaan alam, yakni tegasnya membantu manusia lain.
Han Le menjura kepada suheng-nya dan berkata girang, “Jika begitu, aku mengucapkan selamat, Suheng.
Dan demi Thian Yang Maha Kuasa, aku pun hendak mencoba sedapat mungkin untuk mencontoh
perbuatanmu yang amat mulia ini. Tadi suheng bilang hendak menyampaikan sesuatu yang amat penting,
apakah gerangan urusan itu?”
Karena dia sudah lupa lagi akan hal-hal dahulu mengenai diri Lu Kwan Cu, Bu Pun Su kembali pula
kegembiraannya.
“Sute, aku perlu sekali bantuanmu, juga bantuan semua orang yang masih berbangsa dan berkebudayaan.”
“Eh, apakah yang terjadi, Suheng?” tanya Han Le terkejut, karena kata-kata suheng-nya ini terdengar
menyeramkan.
Bu Pun Su mengajak sute-nya duduk di dekat pantai Sungai Huang-ho di mana tumbuh sebatang pohon
besar yang akarnya bergantungan dan bermain-main di permukaan air sungai. Tempat itu amat indahnya
dan setiap orang, apa lagi para pemancing ikan, pasti akan suka sekali duduk di situ.
“Sute, di dunia kang-ouw sudah terjadi hal yang hebat sekali dan amat membahayakan kedudukan orangorang
kang-ouw yang termasuk golongan putih. Apa lagi bagi mereka yang menganut sesuatu kepercayaan
atau agama.”
“Kenapa, Suheng? Bukankah golongan Mo-kauw (Agama Sesat) pada hakekatnya tidak begitu kuat dan
selalu dapat dikendalikan oleh golongan Beng-kauw (Agama Asli), ada pun golongan Beng-kauw walau pun
agama dan kepercayaannya berlainan dan banyak sekali macamnya, akan tetapi dapat menjaga kerukunan
dan menghormati kepercayaan masing-masing?”
“Betul kata-katamu itu, akan tetapi hal itu adalah keadaan pada beberapa tahun yang lalu. Memang jarang
ada orang kang-ouw yang mengetahui kejadian ini, karena hal itu mereka sembunyikan dan selalu dijaga
penuh rahasia agar jangan sampai bocor.”
“Eh, apa sih sebetulnya yang terjadi, Suheng? Aku menjadi tertarik dan ingin sekali lekas mendengar
penjelasanmu.”
Bu Pun Su lalu menceritakan apa yang telah ia ketahui. Di dalam dunia kang-ouw terbagi menjadi dua
golongan yang biasanya disebut golongan putih dan hitam. Golongan putih adalah para pendekar atau
mereka yang memiliki kegagahan dan yang sepak terjangnya selalu bersih, sebaliknya golongan hitam
adalah mereka yang selalu disebut pengikut hek-to (jalan hitam) atau lebih tepat lagi orang-orang yang
mempunyai pekerjaan jahat seperti para perampok, bajak-bajak, maling, copet dan lain-lain. Antara kedua
dunia-kangouw.blogspot.com
golongan itu telah dapat diselesaikan dengan kemenangan pihak golongan putih.
Untuk dapat mengendalikan golongan hitam ini banyak tokoh besar dunia kang-ouw yang sengaja menjadi
perampok atau maling, yakni menjadi ketuanya dan selalu mengawasi sepak terjang anak buahnya
sehingga mereka itu tidak menyeleweng, yakni dengan lain kata, tidak merampok atau mengganggu orangorang
yang dianggap tak patut diganggu. Bagi orang-orang gagah di waktu itu, merampok harta orang kaya
yang pelit, membunuh mati orang yang berwatak jahat dan kejam, dianggap sebagai perbuatan yang bersih
dan mulia juga.
Pendeknya, waktu itu golongan penjahat pun terpecah dua, yakni jahat yang dilakukan demi memberantas
kejahatan, dan jahat sebab memang pada hakekatnya jahat dan keji.
Golongan-golongan ini hanya kecil saja, atau boleh disebut golongan perorangan yang meliputi tokoh-tokoh
yang hidup menyendiri.
Tapi ada pula golongan-golongan besar seperti perkumpulan-perkumpulan, dan terutama sekali
perkumpulan agama dan partai-partai besar persilatan yang tak lepas dari agama dan kepercayaan, dan
justru golongan-golongan besar ini menjadi induk dari golongan-golongan kecil. Dan di dalam golongangolongan
besar ini terdapat perpecahan pula!
Perpecahan ini tadinya meluas sehingga antara satu partai dengan partai lainnya terjadi bentrokan dan
permusuhan hebat, hanya dikarenakan kepercayaan atau agama mereka berlainan. Akan tetapi, ratusan
yang lalu, ketika muncul tokoh-tokoh besar seperti Tiat Mouw Couwsu dan lain-lain tokoh dari See-thian
(Dunia Barat), bentrokan-bentrokan ini dapat diselesaikan dengan jalan rukun, sungguh pun kepercayaan
mereka, bahkan ajaran limu silat mereka berlainan. Dan oleh tokoh-tokoh besar itu diletakkan garis yang
memisahkan antara golongan yang disebut penganut Beng-kauw serta mereka yang menganut Mo-kauw.
Golongan Beng-kauw atau agama asli ini tentu saja mempunyai anggota paling banyak. Partai persilatan
seperti Siauw-lim-pai, Go-bi-pai, Kun-lun-pai, Bu-tong-pai, Hoa-san-pai dan lain-lain, semua menyebut diri
sebagai golongan Beng-kauw. Hal ini tentu saja dapat dimengerti karena siapakah yang mau menyebut
dirinya bukan penganut ‘agama asli’? Golongan ini terdiri dari partai-partai besar yang menganut Agama
Buddha, ajaran Locu atau To-kauw, penganut ajaran Khong Hu Cu, penganut Kwan Im Pouwsat, dan lainlain.
Siapakah gerangan yang termasuk agama Mo-kauw? Sebetulnya tak ada golongan yang mau mengaku
sebagai penganut Agama Sesat, akan tetapi golongan-golongan yang tak beragama atau orang-orang
kasar, atau mereka yang pernah melakukan pelanggaran dan dianggap jahat, mereka ini yang oleh
golongan Beng-kauw disebut sebagai golongan Kaum Sesat!
Mereka ini sebagian besar merupakan kelompok orang yang menyembunyikan diri, yang bersakit hati dan
karena mereka didesak ke sudut oleh golongan yang menganggap diri bersih, mereka ini dengan sengaja
kemudian berlaku keaneh-anehan, sengaja mereka membentuk sekumpulan tokoh-tokoh yang lihai ilmu
silatnya, memisahkan diri dan tidak mau peduli lagi dengan urusan agama.
Mereka lalu melakukan apa saja yang mereka suka, dan hidup berkeliaran tidak tentu tempatnya. Akan
tetapi mereka tidak pernah mendengar atau mencari perkara dengan golongan Beng-kauw, karena maklum
bahwa golongan ini memiliki banyak orang pandai.
Akan tetapi, jangan dikira bahwa golongan Mo-kauw ini sedikit jumlahnya anggotanya. Mereka makin lama
makin banyak, sebagian besar terdiri dari orang-orang yang putus asa, sakit hati, dan orang-orang yang
berwatak aneh.
Beberapa tahun yang lalu, muncullah tiga orang aneh dari See-thian (Dunia Barat) yang sebentar saja
sudah dapat merebut kekuasaan di golongan Mo-kauw. Ketiga orang ini mempunyai kepandaian yang amat
tinggi, tidak saja kepandaian ilmu silat mereka amat tinggi, juga mereka adalah ahli-ahli hoatsut (ilmu sihir)
yang aneh. Dalam beberapa bulan saja mereka dapat mengangkat diri di dalam golongan Mo-kauw
sehingga semua orang penganut agama sesat ini menganggap mereka bertiga sebagai ketua atau
pemimpin.
Tiga orang aneh ini tahu akan keadaan orang-orang kang-ouw golongan Mo-kauw yang sangat terdesak
dan dianggap orang-orang jahat oleh orang-orang kang-ouw umumnya. Maka, dengan menggunakan rasa
dendam dan sakit hati ini, mereka sebentar saja dapat membentuk sebuah perserikatan yang amat kuat.
Hal ini terjadi tanpa banyak ribut-ribut, karena memang kehidupan para penganut Mo-kauw ini tersembunyi,
dunia-kangouw.blogspot.com
tidak diketahui oleh masing-masing orang kang-ouw.
Apa bila persoalannya sampai di situ saja, kiranya tidak akan ada perubahan dan tidak akan
menggegerkan. Akan tetapi ternyata bahwa tiga orang aneh ini mempunyai niat dan cita-cita yang lebih
besar. Mereka ingin menguasai seluruh dunia kang-ouw, juga ingin menaklukkan partai-partai besar dan
ingin mengangkat diri menjadi ketua perkumpulan yang paling berpengaruh di Tiongkok!
Setelah orang-orang Mo-kauw ini berada di bawah pimpinan mereka, terjadilah hal-hal yang aneh di dunia
kang-ouw. Kitab pelajaran limu silat yang amat dipuja-puja oleh partai Siauw-lim-pai, yakni kitab
peninggalan dari Tiat Mouw Couwsu, pada suatu hari tiba-tiba telah lenyap tanpa meninggalkan bekas!
Selagi Siauw-lim-pai geger dan semua tokoh Siauw-lim-pai berusaha mencari kitab yang hilang ini, tiba-tiba
saja puncak Kun-lun-pai juga geger karena hilangnya pedang pusaka Pek-kong-kam yang ditaruh di
ruangan suci kelenteng partai besar itu!
Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai merupakan partai-partai besar yang sudah berpuluh tahun terkenal sebagai
partai persilatan yang berpengaruh dan memiliki banyak orang pandai. Oleh karena itu, kehilangan dua
benda pusaka ini tentu saja membuat mereka menjadi amat penasaran dan juga malu.
Mereka menjaga rapat peristiwa ini agar jangan sampai tersiar di luaran, dan di samping itu mereka
mengerahkan orang-orang pandai untuk mencari benda pusaka yang lenyap itu. Akan tetapi, betapa pun
rapat mereka menjaga rahasia, berita itu tetap bocor juga dan sebentar saja seluruh kalangan kang-ouw
mendengar bahwa kitab peninggalan Tiat Mouw Couwsu dari Sauw-lim-pai beserta pedang pusaka Pekliong-
kiam dari Kun-lun-pai telah dicuri orang.
Ini merupakan hal yang menggegerkan pula, karena biasanya tidak seorang pun anggota Siauw-lim-pai
atau Kun-lun-pai yang berani membocorkan hal yang dirahasiakan. Maka timbullah dugaan bahwa kejadian
ini memang sengaja dibocorkan oleh orang-orang atau seseorang yang melakukan pencurian itu. Akan
tetapi apa kehendak mereka?
Tokoh besar di dunia persilatan, yang baru belasan tahun muncul akan tetapi namanya sudah dijunjung
tinggi serta disegani dengan penuh kekaguman dan hormat oleh semua ketua partai besar, yakni Bu Pun
Su mendengar pula akan hal ini. Ia cepat menyelidiki. Dengan kepandaiannya akhirnya Bu Pun Su
menaruh pikiran curiga terhadap golongan Mo-kauw. Bahkan ia mendengar pula akan adanya tiga orang
aneh di golongan Mo-kauw ini yang kabarnya memiliki kepandaian luar biasa tingginya.
“Demikianlah, Sute,” kata Bu Pun Su kepada Han Le sesudah menuturkan itu semua. “Kiranya tidak akan
meleset terlalu jauh dugaanku bahwa tiga orang aneh itu mempunyai hubungan dengan kedua pencurian
ini. Kalau bukan mereka, siapa lagi yang berani dan begitu gegabah mencuri dua barang pusaka keramat
yang dipuja-puja oleh Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai? Dan aku mendengar kabar pula bahwa Hek Mo-ko
dan Pek Mo-ko, itu tokoh Mo-kauw yang berkepandaian tinggi dan bertabiat ganas, telah diambil murid oleh
tiga orang itu. Apa bila Hek Pek Mo-ko dua bersaudara yang berkepandaian begitu tinggi masih menjadi
murid mereka, dapat diduga bahwa kepandaian mereka memang benar tinggi sekali. Selain ini, aku masih
mendengar kabar lagi bahwa kecuali Hek Pek Mo-ko, mereka bertiga masih memiliki seorang murid
perempuan yang jauh lebih jahat, bahkan lebih pandai dari pada Hek Pek Mo-ko. Kalau pihak Mo-kauw
mempunyai begitu banyak orang-orang pandai, sedangkan sepak terjang mereka selalu tersembunyi, aku
merasa kuatir sekali.”
“Suheng, urusan itu sebenarnya tidak amat besar, tetapi kenapa tadi Suheng menyebut-nyebut mengenai
kebangsaan dan kebudayaan? Apa hubungannya kehilangan kitab dari Siauw-lim-pai dan pedang dari Kunlun-
pai itu dengan kebangsaan dan kebudayaan?”
Bu Pun Su menarik napas panjang, “Belum kuceritakan semua keterangan yang dapat kukumpulkan, Sute.
Aku mendengar berita yang tentu saja masih belum dapat dipercaya betul, bahwa tiga orang yang kini
sudah menguasai golongan Mo-kauw itu, bercita-cita untuk menaklukkan semua orang kang-ouw di negeri
ini. Mereka adalah orang-orang dari barat, dan kalau mereka berhasil menaklukkan semua orang kangouw,
dan hal ini bukan tidak mungkin melihat kelihaian mereka yang kudengar memang luar biasa sekali,
tentu saja urusan ini dekat sekali hubungannya dengan kebangsaan dan kebudayaan kita. Apa kau tidak
ingat betapa orang-orang asing selalu mengilar dan ingin mencaplok negara kita? Kalau sampai orangorang
kang-ouw berada di bawah kekuasaan ketiga orang ini sehingga dapat mereka perintah dan
pergunakan, apa sukarnya merampas negara kita? Dan kalau sampai kepandaian mereka itu dapat disebar
dan menggantikan ilmu silat dari bangsa kita, bukankah berarti kebudayaan kita akan terpengaruh oleh
dunia-kangouw.blogspot.com
kebudayaan asing pula? Ini bukanlah soal kecil, Sute, karenanya aku sengaja mencarimu supaya kau suka
membantuku, demikian pula kita harus mendatangi semua ketua partai persilatan itu untuk bersama-sama
menghadapi mereka itu.”
“Siapa sebetulnya mereka itu, Suheng? Dan orang-orang macam apakah mereka itu?”
“Aku sendiri belum pernah bertemu dengan mereka, akan tetapi aku sudah rnendapat keterangan serba
terbatas mengenai mereka. Konon mereka itu adalah saudara-saudara segolongan. Yang pertama
bernama atau berjuluk Hek-te-ong (Raja Tanah Hitam), yang ke dua berjuluk Pek-in-ong (Raja Awan Putih)
dan yang ke tiga berjuluk Cheng-hai-ong (Raja Laut Hijau). Mereka datang dari barat dan begitu datang
mereka lalu merobohkan semua tokoh Mo-kauw sehingga para tokoh Mo-kauw itu takluk dan mengangkat
mereka menjadi ketua serta menyebut mereka Thian-te Sam-kauwcu (Tiga Ketua Agama Bumi dan Langit).
Selain itu, rnereka mengajar agama baru yang berpusat pada penyembahan dan pemujaan terhadap Bumi,
Langit dan Laut. Selanjutnya aku tidak mendengar jelas dan karenanya aku ingin menyelidikinya sendiri.”
“Sekarang apa yang hendak kau lakukan, Suheng?”
“Aku hendak mengajak engkau untuk membantuku membubarkan sarang murid-murid dari Thian-te Samkauwcu.”
“Sarang dari muridnya? Di sini?”
“Ya, di lembah Huang-ho di sebelah selatan itu. Kira-kira lima puluh li dari sini. Thian-te Sam-kauwcu
menyebarkan anak buahnya untuk mendirikan cabang di mana-mana untuk membujuk dan mengadakan
hubungan dengan orang-orang kang-ouw. Dengan secara kebetulan sekali aku mendengar bahwa
muridnya, Hek Pek Mo-ko, bersarang di daerah ini. Aku tidak tahu sampai di mana kelihaian mereka,
namun mendengar akan kehebatan kepandaian Thian-te Sam-kauwcu, aku tak mau berlaku sembrono,
lebih menguntungkan kalau kau ikut serta.”
Han Le merasa agak terheran. Dia percaya akan kepandaian suheng-nya yang sepuluh kali lipat lebih tinggi
dari pada kepandaiannya, tapi mengapa suheng-nya mengajaknya?
“Suheng, bukankah kau mengajak aku hanya untuk menjadi saksi agar sepak terjangmu terhadap mereka
itu tidak akan disalah tafsirkan oleh tokoh-tokoh kang-ouw?”
Bu Pun Su tersenyum. “Kau makin cerdik, Sute. Memang demikianlah. Kita tahu bahwa sejak dulu Hek Pek
Mo-ko biar pun menjadi tokoh Mo-kauw yang amat terkenal, namun belum pernah dua orang itu
mengganggu kita orang-orang kang-ouw, bahkan mereka dapat disebut sebagai tokoh-tokoh Mo-kauw
yang selalu menjauhkan diri dan menjaga supaya jangan sampai timbul bentrokan antara mereka dengan
Beng-kauw. Akan tetapi sekarang aku hendak menyelidiki dan kalau perlu membasmi sarang mereka,
maka amat baik kalau kau ikut menyaksikannya.”
Berangkatlah dua orang sakti ini menuju ke tempat yang dimaksudkan oleh Bu Pun Su. Tempat yang
dimaksudkan itu adalah sebuah dusun di pinggir Sungai Huang-ho, yang dikelilingi oleh hutan-hutan kecil
dan kelihatannya menyeramkan. Begitu kedua orang ini tiba di luar dusun, mereka berjalan biasa saja.
Berturut-turut beberapa orang dusun, ada yang berpakaian seperti petani dan ada pula seperti nelayan,
bertemu dengan mereka. Setiap orang dusun ini melayangkan pandang mata dan mereka ini kelihatan
curiga. Bahkan ada beberapa orang nelayan yang masih muda dan kelihatannya kuat-kuat diam-diam
mengikuti Han Le dan Bu Pun Su. Tentu saja dua orang sakti ini mengetahui hal itu, akan tetapi mereka
pura-pura tidak melihat dan berjalan dengan biasa dan tenang.
Sebuah kelenteng besar yang berada di dusun itu sungguh tidak sesuai dengan keadaan rumah-rumah
penduduk di sekitarnya yang kecil lagi miskin. Kelenteng ini agaknya belum lama diperbarui dan anehnya,
yang kelihatan membersihkan kelenteng itu bukanlah para hwesio seperti pada kelenteng-kelenteng lain,
akan tetapi orang-orang dusun, lelaki dan perempuan yang bekerja di halaman depan, di kanan kiri dan di
dalam kelenteng itu!
Pada waktu melihat Bu Pun Su dan Han Le memasuki pekarangan kelenteng, mereka ini segera melarikan
diri ke dalam kelenteng seperti orang ketakutan.
Bu Pun Su tersenyum dan berbisik kepada Han Le, “Lihat, Sute, betapa besar pengaruh dan kekuasaan
dunia-kangouw.blogspot.com
mereka. Agaknya rakyat dusun juga terkena tipu daya mereka dan sudah mulai memeluk agama baru itu.”
Han Le memandang ke dalam kelenteng. Dari pintu yang terbuka, nampak tiga buah arca sebesar
manusia, berupa tiga orang laki-laki tua yang pakaiannya seperti hwesio-hwesio dari Tibet, bertubuh tinggi
besar dan angker. Yang tengah benar-benar amat tinggi besar seperti raksasa, yang berdiri di kiri agak
kurus sehingga mukanya seperti tengkorak, ada pun yang berdiri di kanan punggungnya bongkok dan
matanya sipit sekali seperti meram.
“Itulah agaknya patung-patung Thian-te Sam-kauwcu yang dipuja-puja oleh pengikutnya,” kata Bu Pun Su
pula kepada Han Le.
Dari pintu dalam muncullah dua orang dan Han Le hampir tertawa geli ketika dia melihat kedua orang itu.
Yang seorang bertubuh pendek dan kate sama sekali, telinganya besar bagai telinga gajah, pakaiannya
serba hitam. Ada pun orang yang ke dua bertubuh tinggi besar, telinganya kecil seperti telinga tikus,
sedangkan pakaiannya serba putih.
Usia mereka kurang lebih empat puluh tahun dan dari mata mereka, mudah bagi Han Le untuk menduga
bahwa mereka adalah ahli-ahli lweekeh yang memiliki kepandaian tinggi. Juga, melihat pakaian mereka
biar pun ia belum pernah bertemu dengan dua orang ini, Han Le dapat menduga bahwa mereka tentulah
Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko.
Hek Mo-ko yang bertubuh kecil pendek itu tertawa bergelak melihat dua orang pendekar itu.
“Ha-ha-ha-ha, selamat datang, Bu Pun Su dan Han Le, Ji-wi Taihiap! Benar-benar kami mendapat
kehormatan besar sekali dengan kunjungan Ji-wi ini, dan ketiga orang guru besar kami tentu akan
berterima kasih sekali!”
Bu Pun Su dan Han Le tertegun. Bagaimana dengan sekali pandang saja iblis hitam kate itu dapat
mengenali mereka? Padahal selamanya mereka belum pernah bertemu muka dengan sepasang iblis hitam
putih ini dan keadaan Bu Pun Su mau pun Han Le tidak sedemikian aneh seperti Hek Mo-ko sehingga
mudah dikenal orang.
Berbeda dengan Hek Mo-ko yang senang tertawa dan mukanya lucu, Pek Mo-ko selalu bersungut-sungut
dan wajahnya murung.
“Kalian ini orang-orang Beng-kauw ada urusan apakah mengunjungi kami yang kalian anggap sebagai
orang-orang busuk dari Mo-kauw?” tanyanya sambil memandang tajam dengan sepasang matanya yang
sipit.
Bu Pun Su tidak biasa memutar-mutar omongan dan dia selalu berbicara dan bertindak secara langsung.
Sambil tersenyum ia berkata terus terang,
“Hek Pek Mo-ko, baru kali ini kita kebetulan saling bertemu dan keadaan kalian ternyata tetap dan sesuai
sekali dengan nama kalian yang terkenal jahat dan aneh. Ketahuilah, aku dan sute-ku ini datang ke sini
karena kami mendengar tentang adanya tiga orang See-thian yang kini mencengkeram Mo-kauw, tiga
orang See-thian yang sombong dan bercita-cita menaklukkan dunia kang-ouw kita. Aku mendengar pula
mengenai hilangnya kitab rahasia dari Siauw-lim-pai dan pedang pusaka dari Kun-lun-pai, dan aku juga
telah mendengar bahwa banyak tokoh Mo-kauw yang tadinya biar pun berbeda paham dengan Beng-kauw
namun tetap menjaga kegagahan, tapi sekarang bersaing dan berebut untuk menikah dengan gadis-gadis
muda, yang tentu saja dipaksanya! Bahkan aku mendengar pula bahwa kalian iblis-iblis tua ini pun telah
menikah.”
Pek Mo-ko mengeluarkan suara gerengan dari tenggorokannya, akan tetapi Hek Mo-ko tertawa geli. Suara
ketawanya mula-mula rendah dan perlahan, akan tetapi makin lama semakin meninggi dan nyaring
sehingga menyakitkan telinga. Mendengar ini saja Han Le maklum bahwa lweekang dari Hek Mo-ko ini
amat tinggi sehingga dia sendiri belum tentu dapat menandinginya.
“Bu Pun Su, baru kali ini aku mendengar kau menaruh perhatian kepada nasib golongan Mo-kauw! Ada
apakah kau mencampuri urusan dunia orang golongan kami? Memang ketiga guru besar kami sudah
datang, mereka sengaja datang dari barat untuk memberi bimbingan kepada kami dan untuk menjaga agar
kami tidak selalu dihina dan dipandang rendah oleh golongan lain. Apakah kau iri hati? Ha-ha-ha, agaknya
kau benar-benar iri hati, apa lagi tentang pernikahan-pernikahan kami dengan gadis-gadis muda yang
dunia-kangouw.blogspot.com
cantik manis, karena kau sendiri sampai tua tidak laku, ha-ha-ha!”
“Ngaco!” Han Le membentak marah. “Bagaimana jawabanmu mengenai hilangnya kitab rahasia Siauw-limpai
dan pedang pusaka Kun-lun-pai?”
Hek Mo-ko memandang kepada Han Le, lalu dia tersenyum sindir. “Hilangnya kitab dan pedang, ada
hubungan apakah dengan kami? Kau dan suheng-mu ini terkenal sebagai orang-orang sakti, masa untuk
mencari benda-benda yang hilang harus bertanya kepada kami? Carilah sendiri kalau memang pandai.”
“Baiklah, Hek Pek Mo-ko, aku akan mencari ke dalam kelenteng ini!” kata Bu Pun Su.
“Jangan kau berani menginjak kotor tempat suci kami...!” kata Pek Mo-ko marah dan dia bergerak untuk
menghalangi.
Akan tetapi ia segera melongo karena gerakan Bu Pun Su luar biasa cepatnya sehingga sebelum Pek Moko
tiba di depan pintu untuk menghadang, Bu Pun Su sudah berkelebat masuk ke dalam kelenteng!
Pek Mo-ko hendak mengejar ke dalam, akan tetapi mendadak tangannya dipegang oleh Hek Mo-ko. “Sute,
tak perlu dikejar, biarkanlah dia melihat-lihat tempat kita!”
Tadinya Han Le sudah bersiap-siap untuk bertempur, akan tetapi melihat mereka tidak jadi mengganggu Bu
Pun Su, ia pun diam saja, berdiri tenang sambil tersenyum.
Dengan cepat sekali Bu Pun Su memasuki kelenteng. Tiga orang yang agaknya menjadi pelayan atau
pembantu Hek Pek Mo-ko, yaitu orang-orang lelaki yang berpakaian seperti pendeta dan gerakannya cepat
dan kuat, lantas maju menubruknya.
Akan tetapi mereka berseru kaget sekali dan bulu tengkuk mereka berdiri ketika tiba-tiba mereka bertiga itu
terjengkang ke belakang sebelum tangan mereka menyentuh pakaian Bu Pun Su, seakan-akan ada tenaga
aneh keluar dari pendekar sakti ini yang mendorong mereka ke belakang!
Bu Pun Su tidak pedulikan mereka lagi, terus ia menyelidiki keadaan di dalam kelenteng dengan mata yang
awas dan tajam sekali. Setiap kamar diselidikinya, akan tetapi ia tidak menemukan sesuatu yang
mencurigakan. Kalau kitab serta pedang itu disembunyikan di dalam kelenteng, kiranya tidak akan terlepas
dari pandang mata pendekar ini.
Di dalam dua kamar, ia melihat dua orang wanita cantik yang masih muda dan bermuka pucat. Mereka ini
tidak menjerit melihat dia datang, hanya memandangnya dengan mata yang terbelalak.
“Apakah kau isteri Hek Mo-ko?” tanyanya kepada wanita di dalam kamar pertama.
Wanita itu menggelengkan kepalanya, “Aku isterinya Pek Mo-ko, engkau siapakah berani berlancang
memasuki kamarku?” Kemudian wanita ini tertawa menyeringai hingga muka yang tadinya cantik ini
berubah seperti muka iblis.
Bu Pun Su berdebar kaget. Ternyata isteri Pek Mo-ko ini agak miring otaknya! Dia tidak bertanya lebih
lanjut dan ketika dia bertemu dengan wanita ke dua di kamar lainnya, dia bertanya pula,
“Hemm, kau agaknya isteri Hek Mo ko.”
“Benar,” wanita itu menjawab, “Kau siapakah dan bagaimana suamiku mengijinkan kau masuk ke sini?”
Bu Pun Su sebetulnya segan untuk bicara dengan isteri orang lain, akan tetapi melihat wanita ini masih
amat muda dan cantik, sedangkan Hek Mo-ko demikian buruk rupa dan setengah tua, ia tak dapat
menahan hatinya untuk tidak bertanya.
“Apakah Hek Mo-ko telah menculik dan memaksamu menjadi isterinya?”
Untuk sejenak wanita itu hanya diam saja, kemudian dia berdiri dan berkata marah, “Kau ini manusia dari
manakah begini kurang ajar? Aku menikah dengan suamiku secara sah dan baik-baik, ada sangkut-paut
apakah dengan kau maka kau bertanya-tanya?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Bu Pun Su merasa seperti ditampar pipinya. Mukanya menjadi merah sekali. Inilah hal yang tidak disangkasangkanya
sama sekali dan baru sekarang ini dia melihat atau dapat menduga bahwa isteri Hek Mo-ko ini
sedang mengandung.
“Maaf, maaf...,” katanya perlahan dan ia lalu keluar lagi dari kamar itu.
Setelah puas menyelidiki di dalam kelenteng dan tidak mendapatkan sesuatu, dia segera keluar lagi.
Setibanya di ruangan luar, dia berdiri menghadapi tiga patung yang sebesar manusia itu.
Buatan patung ini begitu halus hingga benar-benar menyerupai manusia. la memandang kepada wajah
patung yang mewakili Thian-te Sam-kauwcu itu untuk memperhatikan tiga orang ini. Mereka benar-benar
kelihatan angker dan dari sikap mereka ia dapat menduga bahwa tiga orang ini bukanlah orang
sembarangan.
Tiba-tiba saja dia teringat akan sesuatu. Siapa tahu kalau-kalau dua benda yang dicuri dari Siauw-lim-pai
dan Kun-lun-pai itu disembunyikan di dalam patung-patung ini?
Ia pun melangkah maju dan meraba pundak patung Pek-in-ong yang berdiri di kiri, yakni patung yang tinggi
kurus mukanya seperti tengkorak. Tiba-tiba terdengar suara mendesis dan dari mulut patung itu
menyambar keluar sinar hitam yang menyerang ke arah leher dan muka Bu Pun Su!
Pendekar ini bukan sembarangan ahli silat, melainkan seorang sakti yang telah mewarisi ilmu silat dan
ilmu-ilmu aneh dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Seorang ahli silat tinggi lainnya belum tentu dapat
menghindarkan serangan tiba-tiba dari mulut patung itu, akan tetapi Bu Pun Su dengan sangat tenang
miringkan kepalanya sehingga sinar hitam itu menyambar lewat.
Ia mencium bau yang amat amis, maka diam-diam ia bergidik. Tahulah Bu Pun Su bahwa yang menyambar
lewat tadi adalah segenggam jarum-jarum halus berwarna hitam yang mengandung bisa yang amat jahat.
Bu Pun Su tersenyum. Dia maklum bahwa dua patung yang lain tentu mengandung alat rahasia pula, akan
tetapi dia bukan Bu Pun Su kalau merasa gentar. Orang lain mungkin akan merasa khawatir dan tidak
berani mengganggu dua patung yang lain, akan tetapi Bu Pun Su bahkan tertarik dan ingin sekali
mengetahui bagaimana cara dua patung yang lain akan menyerangnya!
Ia mau coba-coba dan ini pun tidak aneh, karena orang seperti Bu Pun Su ini memang sudah biasa
menantang dan bermain-main dengan maut! Dia lalu menghampiri patung di kanan, yakni patung dari
Ceng-hai-ong yang bertubuh kurus bongkok dan matanya sipit itu.
Dengan tenang Bu Pun Su menepuk pundak patung itu. Dan secepat kilat kedua tangan patung itu
bergerak, dengan kukunya yang panjang patung itu mencengkeram ke depan, kedua tangan menyambar
dari kanan kiri!
“Aha, kau ahli gulat kiranya!” Bu Pun Su mengejek sambil bergerak melangkahkan kaki mundur, mengelak
dari cengkeraman itu.
Akan tetapi, tiba-tiba dari jari-jari tangan itu menyambar keluar benda cair berwarna hijau yang baunya
harum! Bu Pun Su kali ini tidak mengelak, melainkan menggerakkan ujung lengan baju sebelah kiri dari
mana keluar tenaga Pek-in Hoat-sut yang mengepulkan uap putih, sehingga benda cair itu terpercik
kembali dan membasahi muka patung.
“Hemm, kiranya semua ahli racun yang berbahaya,” pikir Bu Pun Su.
Ia pikir bahwa patung yang berada di tengah, yang amat menyeramkan dan tinggi besar itu, tentulah yang
paling lihai. Akan tetapi dia tidak merasa gentar, bahkan gembira dan sambil tersenyum dia melangkah
menghampiri patung ini.
“Coba perlihatkan kelihaianmu!” katanya sambil menepuk dada patung tinggi besar ini. Patung ini besar dan
tinggi sekali sehingga Bu Pun Su hanya sampai di leher tingginya.
Begitu tangan kanan Bu Pun Su menepuk dada patung, terdengar suara keras dan dada patung itu tiba-tiba
terbuka, dari mana keluar menyambar uap hitam yang menyerang ke depan. Ini masih disusul pula dengan
bergeraknya kaki kanan patung yang melakukan tendangan kilat ke depan, kemudian dari mata, hidung,
dunia-kangouw.blogspot.com
telinga serta mulut patung itu menyambar keluar asap hitam sedangkan kedua tangan memukul pula ke
depan.
Inilah serangan sekaligus yang sangat luar biasa dan berbahaya sehingga Bu Pun Su sendiri menjadi
terkejut. Pendekar sakti ini tidak berani menangkis, melainkan melompat mundur cepat sekali sambil
menggoyang-goyang kepalanya.
“Kau jahat sekali... jahat sekali...” Setelah berkata demikian, ia lalu melompat keluar dari kelenteng.
Ia sudah merasa puas karena pada saat tangannya menepuk patung-patung tadi, ia telah mengerahkan
lweekang-nya sehingga apa bila di sana tersembunyi benda keras seperti pedang mustika, tentu bunyi
pedang itu akan terdengar. Namun tadi ia hanya mendengar suara mendengung tanda bahwa di dalam
patung itu hanya berisi hawa, maka ia sudah mengerahkan tenaga dan merusak patung itu secara diamdiam.
Dia benci melihat ketiga patung itu, bukan benci kepada orang karena macamnya, akan tetapi benci kalau
mengingat betapa tiga orang dari barat ini sudah menguasai Mo-kauw dan menyebarkan pelajaran atau
agama baru yang sesat. Di mana ada pendeta-pendeta suci yang menganjurkan pemeluk-pemeluk
agamanya memuja dan menyembah mereka sendiri?
Setibanya di luar kelenteng, Bu Pun Su disambut oleh Pek Mo-ko dengan muka merah. “Bu Pun Su kau
sudah menghina kami, kau sudah mengotori kelenteng kami yang suci. Meski pun namamu sudah terkenal
di seluruh kolong langit, jangan kira bahwa aku Pek Mo-ko takut melawanmu!”
“Habis, kau mau apa?” Bu Pun Su bertanya. “Seperti sudah kukatakan tadi, aku datang buat mencari kitab
dan pedang dari Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai yang hilang dan terus terang saja aku mencurigai Thian-te
Sam-kauwcu. Akan tetapi sayang aku tidak dapat menemukannya di dalam kelenteng ini.”
Terdengar Hek Mo-ko tertawa mengejek. “Kau memang gatal tangan dan suka sekali ikut mencampuri
urusan orang lain. Bu Pun Su, setelah kau datang dan mengacau kelenteng kami, sebagai tuan rumah
terpaksa kami harus membela diri dari hinaan ini. Kedatangan kalian mengacau kelenteng ini berarti
sebuah tantangan, kalau saja kami tidak melayani, bukankah kami akan ditertawai orang? Nah, bersiaplah,
kita boleh main-main sebentar.”
Sambil berkata demikian, Hek Mo-ko beserta Pek Mo-ko masing-masing mengeluarkan senjata mereka.
Dua orang Iblis Hitam Putih ini amat lihai dan senjata mereka juga bukan senjata sembarangan.
Tangan kanan mereka memegang sebatang pedang yang ujungnya bercabang. Pedang ini bukan saja
sangat ampuh dan kuat karena terbuat dari bahan yang baik, akan tetapi juga ujungnya yang bercabang itu
dapat digunakan untuk mengait dan merampas serta merusak senjata lawan.
Akan tetapi, betapa pun lihainya pedang di tangan kanan, masih lebih lihai lagi senjata aneh yang berada
pada tangan kiri mereka. Senjata ini berupa seuntai tasbeh dari logam hitam.
Tasbeh ini dapat dimainkan begitu saja, akan tetapi sambungannya dapat pula dilepas sehingga
merupakan sebuah pian atau senjata rantai yang hebat. Senjata ini juga masih bisa digunakan dengan cara
lain, yakni batu-batu tasbeh itu dapat diloloskan keluar dari untaiannya dan dipergunakan sebagai senjata
yang berbahaya!
Melihat sikap Hek Pek Mo-ko yang menantang ini, Han Le mendahului suheng-nya. Dia cepat melompat ke
depan menghadapi mereka sambil mencabut pedangnya yang jarang keluar dari sarung itu.
“Hek Pek Mo-ko, kalian berdua dan kami pun berdua. Biarlah kita mencoba kepandaian masing-masing,
seorang dari pada kalian boleh melawan aku, ada pun yang seorang lagi nanti menghadapi Suheng Bu Pun
Su.”
“Hek Pek Mo-ko dua saudara tidak pernah berpisah,” Hek Mo-ko berkata. “Kami sudah bersumpah hidup
bersama mati berdua, dalam pertempuran kami selalu maju bersama.”
“Itu tidak adil!” kata Han Le. Dia tidak gentar menghadapi seorang di antara mereka akan tetapi kalau
dikeroyok dua, selain berat juga tidak adil.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Suheng, biarlah sekali ini aku menghadapi dia sendiri!” kata Pek Mo-ko yang berwatak berangasan dan
baru saja dia berkata demikian, tasbeh di tangan kirinya sudah bergerak menyambar kepala Han Le.
“Bagus!” seru pengemis sakti ini. Cepat dia mengelak sambil menggerakkan pedangnya yang menusuk ke
arah ulu hati lawannya.
Akan tetapi Pek Mo-ko ternyata memiliki gerakan yang gesit sekali. Tusukan pedang ini segera dia tangkis
dengan pedangnya yang berujung aneh itu. Cabang ujung pedangnya menempel dan diputar demikian
rupa untuk mengait badan pedang Han Le dan hendak mematahkannya.
Akan tetapi Han Le bukanlah murid Ang-bin Sin-kai kalau ia tidak dapat menghindarkan diri dari serangan
lawan ini. Dengan gerakan Sian-jin Khai-in (Dewa Membuka Awan) ia melakukan gerakan ‘membuka’ dari
ilmu pedang Hun-khai Kiam-hoat yang diajarkan oleh Ang-bin Sin-kai.
Pedangnya yang terkait itu secara aneh sudah membuka serangan lawan sehingga Pek Mo-ko bukannya
dapat merampas atau mematahkan pedang lawannya, bahkan telapak tangannya merasa panas sekali
sehingga dia cepat-cepat menarik pulang pedangnya. Sebagai gantinya, kembali tasbeh menyambar ke
lambung Han Le.
Han Le terkejut sekali. Tidak disangkanya bahwa lawan ini mampu bergerak secepat itu, cepat melakukan
serangan lanjutan begitu serangan pertama ditangkis. Dia lalu memutar pedangnya dan mengerahkan
semua tenaga dan kepandaian untuk menghadapi lawan yang amat lihai ini. Di lain pihak, secara diamdiam
Pek Mo-ko harus mengakui kelihaian kiam-hoat lawannya.
Tidak saja sangat lihai, akan tetapi juga aneh sekali dan memiliki gerakan yang otomatis setiap kali
menghadapi desakannya. Ia tentu saja tidak tahu bahwa selain telah mewarisi Hun-khai Kiam-hoat dan
ilmu-ilmu silat tinggi dari gurunya, yakni Ang-bin Sin-kai, juga Han Le secara tekun telah mempelajari
lukisan-lukisan di Pulau Pek-hio-to sehingga biar pun hanya kulitnya, ia telah sedikit-sedikit mempelajari
ilmu-ilmu yang lihai dari Im-yang Bu-tek Cin-keng! Pelajaran ini membuat gerakan Han Le menjadi otomatis
dan matanya amat tajam dapat mengikuti semua arah tujuan serangan lawan.
Pek Mo-ko menggereng keras. Dua senjatanya yang aneh itu diputar cepat, bertubi-tubi dan berganti-ganti
melakukan serangan maut. Namun, dengan pedangnya, Han Le dapat membendung gelombang gerakan
serangan ini sehingga sampai lima puluh jurus lebih mereka bertempur, tidak ada yang terdesak.
Kepandaian mereka jauh berbeda sifatnya, namun tingkat mereka boleh dikatakan seimbang sehingga
pertempuran itu benar-benar merupakan pertempuran yang amat seru.
Saking penasaran menghadapi lawan yang sangat tangguh ini, Pek Mo-ko melepaskan sambungan
tasbehnya sehingga tasbeh ini kini bukan merupakan lingkaran, akan tetapi menjadi seutas pian yang
lemas dan panjang.
Pek Mo-ko beserta suheng-nya telah melakukan ratusan pertempuran dan jarang sekali ada orang yang
sanggup mengalahkan mereka. Di sebelah barat atau selatan dari Tibet, mereka berdua merupakan
sepasang iblis yang ditakuti dan disegani, bahkan golongan-golongan partai persilatan besar di barat
seperti Go-bi-pai dan Kun-lun-pai, semuanya mengakui kelihaian Hek Pek Mo-ko. Akan tetapi kini
menghadapi Han Le, Pek Mo-ko tak berdaya, bahkan tidak dapat mendesak, sungguh pun ia tidak dapat
dikatakan kalah oleh pengemis sakti itu.
Saking marahnya, dalam jurus ke tujuh puluh, Pek Mo-ko berseru keras dan secepat kilat pedangnya
membacok dari kanan ke kiri. Pada saat Han Le mengelak, pedang ini cepat sekali membalik dan
menyambar ke leher. Inilah gerakan yang tidak terduga-duga, apa lagi ketika tasbeh yang sudah menjadi
pian itu menyambar ke lambung!
Han Le maklum bahwa tidak mungkin dia menghindarkan diri dari dua serangan yang dilakukan sekaligus
ini, maka dia lalu mengeluarkan kepandaiannya yang amat lihai dan keberaniannya yang luar biasa.
Pedang yang menyambar lehernya ditangkisnya dengan pedangnya sendiri, sambil mengerahkan tenaga
‘menempel’ sehingga begitu dua pedang itu bertemu lalu tidak dapat terpisah kembali, seakan-akan besi
berani dengan besi! Ada pun tasbeh yang menyambar ke lambung kirinya, cepat ditangkis dengan tangan
kiri, lalu ia mengerahkan tenaga membetot.
Sekarang keadaan dua orang itu benar-benar aneh. Keduanya tidak bergerak, bagaikan patung dalam
kuda-kuda yang amat kuat. Tangan kanan yang memegang pedang saling mendorong akan tetapi tangan
dunia-kangouw.blogspot.com
kiri yang memegang tasbeh saling membetot.
Pertarungan kini beralih kepada pertarungan tenaga lweekang, tapi bukan pertandingan lweekang yang
biasa, karena tenaga pada seluruh tubuh disalurkan menjadi dua bagian, atau terpecah menjadi dua.
Sebagian disalurkan ke tangan kanan yang mendorong, dan sebagian lagi disalurkan ke tangan kiri yang
menarik! Hal ini tidak mampu dilakukan oleh sembarang ahli silat yang tenaga lweekang-nya belum tinggi.
Sampai beberapa puluh detik mereka tak bergerak sama sekali, dan nyata sekali bahwa masing-masing
mengerahkan seluruh tenaga lweekang-nya untuk mencuri kemenangan. Sekarang sudah tidak ada jalan
untuk mundur lagi, karena siapa yang mundur lebih dulu, banyak bahaya akan menderita luka hebat! Tidak
ada jalan lain lagi kecuali mengerahkan tenaga dan mendesak lawan dengan lweekang.
Pertandingan ini berubah menjadi perjuangan mati hidup! Dari kepala dua orang jago ini telah mengepul
uap putih, tanda bahwa mereka telah mengerahkan tenaga yang terakhir!
Tiba-tiba saja Hek Mo-ko tertawa bergelak, “Sute, mengapa kau sekarang begini lemah?” katanya. Dengan
ringan dan cepat sekali ia telah meloncat di belakang Pek Mo-ko sambil menepuk-nepuk punggungnya
seakan-akan orang yang mencela dan menegur.
Akan tetapi Han Le terkejut bukan main, ketika pada saat Hek Mo-ko menepuk punggung sute-nya, ia
merasa tubuhnya bergetar dan kuda-kudanya tergempur!
“Hek Mo-ko, tidak malukah engkau?” tiba-tiba Bu Pun Su menegur.
Pendekar sakti ini berdiri di belakang Han Le dengan jarak satu tombak lebih. Dia tidak menghampiri sutenya
untuk membantu, melainkan menggerakkan kedua tangan ke arah sute-nya itu seperti orang
mendorong, dan dari kedua tangannya keluar uap putih. Inilah ilmu Pek-in Hoat-sut yang tiada taranya di
dunia!
Hek Mo-ko yang masih menempelkan tangan di punggung sute-nya tiba-tiba terdorong oleh tenaga yang
amat hebat, yang keluar dari sepasang tangan Han Le, sebaliknya Han Le merasa betapa punggungnya
kemasukan hawa hangat yang menyegarkan semangat dan tubuh sehingga ia mengerahkan tenaganya
lagi.
Pek Mo-ko dan Hek Mo-ko hendak mempertahankan diri, namun tenaga bantuan dari Bu Pun Su benarbenar
hebat sehingga mereka berteriak keras dan tubuh mereka terlempar ke belakang berjungkir-balik dan
jatuh tumpang tindih sampai dua tombak lebih! Pedang dan tasbeh di tangan Pek Mo-ko tadi terlepas dari
tangan dan jatuh di tanah, menimpa batu sehingga menimbulkan suara berkerontangan!
Baiknya Bu Pun Su tidak berniat mencelakai kedua orang iblis ini sehingga mereka tidak terluka hebat,
hanya Hek Mo-ko yang terkena langsung pembalikan tenaga Pek Mo-ko sehingga wajahnya memucat dan
mulutnya menyemburkan darah. Akan tetapi, sesudah mengatur napas dia pun pulih kembali. Sambil
memandang dengan terheran-heran, Hek Mo-ko menghadapi Bu Pun Su dengan melompat berdiri.
“Bu Pun Su, kau benar-benar lihai sekali. Aku dan sute-ku terima kalah,” katanya sambil menjura.
Akan tetapi Bu Pun Su tidak mempedulikannya, hanya berpaling kepada Han Le. “Sute, kita tidak
mempunyai urusan lagi di sini, mari kita pergi.”
Pada saat kedua orang sakti itu hendak pergi, tiba-tiba saja dari atas genteng kelenteng melayang turun
bayangan tubuh yang ramping dan tercium bau yang harum. Tahu-tahu seorang wanita sudah berdiri
menghadang Bu Pun Su dan Han Le.
Dua orang sakti ini berdiri bengong, tertegun dan takjub, bukan karena kecantikan yang luar biasa dari
gadis itu, melainkan melihat cara gadis itu melompat turun dari genteng seakan-akan melayang atau
terbang! Inilah menandakan bahwa ginkang dari gadis ini telah mencapai puncak kesempurnaan. Bahkan
Bu Pun Su yang menjadi ahli waris dari Im-yang Bu-tek Cin-keng dan memiliki ginkang yang jauh melebihi
kebanyakan ahli silat tinggi, menjadi terheran-heran.
Orang yang melayang turun itu adalah seorang gadis cantik sekali, pakaiannya mewah dan indah,
rambutnya yang panjang dan hitam disanggul dalam cara yang amat menarik. Kulit mukanya putih
kemerahan, nampak halus dan segar, sepasang matanya bagaikan bintang di langit cerah, bibirnya
dunia-kangouw.blogspot.com
tersenyum-senyum manis sekali. Pendek kata, selama hidupnya, baik Han Le mau pun Bu Pun Su sendiri,
belum pernah melihat seorang gadis secantik ini.
Melihat muka dan potongan badannya, orang akan menaksir bahwa paling banyak gadis ini berusia dua
puluh tahun. Akan tetapi orang itu akan terkejut dan tidak mau percaya kalau diberi tahu bahwa gadis ini
adalah seorang wanita yang usianya sudah tiga puluh tahun lebih! Inilah dia murid terpandai sekaligus
terkasih dari Thian-te Sam kauwcu, yang disebut Bi Sian-li (Bidadari Cantik) Pek Hoa Pouwsat!
Tadinya Han Le dan Bu Pun Su sendiri tidak dapat menduga siapa adanya gadis ini. Akan tetapi ketika Bu
Pun Su melihat setangkai bunga yang bentuknya indah dan aneh, berwarna putih seperti salju menghias
rambut yang digelung indah itu, tiba-tiba saja dia teringat. Akan tetapi dia masih ragu-ragu sehingga dia
kemudian bertanya,
“Apakah kami berhadapan dengan Pek Hoa Pouwsat?”
Gadis itu tersenyum lebar. Bibirnya merah bergerak-gerak sehingga nampaklah deretan gigi yang bersih
dan berkilau seperti mutiara.
“Bu Pun Su sungguh-sungguh bermata tajam sekali, sayang kau terlalu ganas dan gatal tangan sehingga
kau berani merusak tiga patung dari guru-guruku. Untuk kedosaan ini kau harus menerima hukuman! Hek
Pek Sute, mari kita gempur dia yang telah merusak patung Sam-wi Suhu!”
Sambil berkata demikian, kedua tangannya bergerak dan tahu-tahu dia telah memegang sepasang siangkiam
(sepasang pedang), kemudian tanpa banyak cakap lagi dia segera menggerakkan kedua pedang itu
yang meluncur dan menyerang leher dan dada Bu Pun Su!
Hek Pek Mo-ko sudah gentar menghadapi Bu Pun Su dan mereka sudah maklum pula akan kelihaian
pendekar sakti ini, akan tetapi ketika mereka mendengar bahwa Bu Pun Su telah merusak patung tiga
orang suhu dan pemimpin mereka, Hek Pek Mo-ko menjadi marah sekali. Apa lagi sekarang mereka
dibantu pula oleh Pek Hoa Pouwsat, maka hati mereka menjadi tabah dan semangat besar. Sambil
mengeluarkan suara mengancam, sepasang iblis hitam putih ini lalu menyerbu dan mengeroyok Bu Pun
Su.
Melihat suheng-nya dikeroyok, Han Le tentu saja tidak mau tinggal diam. Dia mencabut pedangnya.
Namun tiba-tiba Bu Pun Su berkata, “Simpan kembali pedangmu, Sute. Perempuan ini lihai sekali, kau
takkan menang. Biarkan aku menghadapi mereka bertiga, hitung-hitung mengukur kepandaian Thian-te
Sam-kauwcu!”
Han Le percaya akan kata-kata suheng-nya, sebab ia memang melihat betapa sepasang pedang dari Pek
Hoa Pouwsat itu amat lihai. Sepasang pedang ini bergerak terus susul menyusul dalam serangannya,
merupakan serangan berantai yang tiada habisnya. Akan tetapi dia lebih percaya akan kesaktian Bu Pun
Su maka dia cepat melompat ke pinggir dan berdiri menonton pertempuran itu dengan hati tenang.
Pertempuran itu berjalan seru sekali, jauh lebih ramai dari pada pertempuran antara Pek Mo-ko dan Han Le
tadi. Akan tetapi pertandingan ini sebetulnya berat sebelah. Tidak saja Bu Pun Su dikeroyok tiga, juga
ketiga orang lawannya menggunakan senjata pasangan sehingga mereka bertiga menggunakan enam
buah senjata, ada pun Bu Pun Su sendiri bertangan kosong!
Akan tetapi di sinilah terlihat kelihaian Pendekar Sakti ini! Tiga orang pengeroyoknya itu merupakan tokohtokoh
dari tingkat tinggi, bisa dibilang duduk pada tingkatan nomor satu dalam deretan tokoh-tokoh
persilatan di masa itu, akan tetapi ia masih dapat menghadapi mereka dengan mengandalkan sepasang
tangan berikut ujung lengan baju saja!
Di sini terlihat pula kehebatan dari pelajaran Im-yang Bu-tek Cin-keng dan terbukti bahwa ilmu silat Pek-in
Hoat-sut yang diciptakan oleh Bu Pun Su benar-benar hebat luar biasa. Menghadapi keroyokan tiga orang
lawannya, tidak hanya sepasang lengannya saja yang mengeluarkan uap putih, bahkan seluruh tubuhnya
diliputi uap putih yang mengandung tenaga mukjijat.
Patut sekali ilmu silat ini dinamakan Pek-in Hoat-sut (Ilmu Sihir Awan Putih), oleh karena pengaruhnya
seperti ilmu sihir saja. Setiap serangan senjata yang digerakkan oleh lawan dengan pengerahan tenaga
lweekang tinggi, begitu terbentur oleh sambaran uap putih itu langsung terpental membalik kepada
dunia-kangouw.blogspot.com
penyerangnya sendiri.
Ini masih belum hebat. Yang membuat Pek Hoa Pouwsat kadang-kadang berseru kaget adalah ketika Bu
Pun Su membalasnya dengan serangan yang sama seperti gerakannya sendiri!
Bagaimana Bu Pun Su bisa meniru limu silatnya? Ilmu silat pedang kepunyaan Pek Hoa Pouwsat adalah
ilmu asli dari barat, bukan ilmu silat Tiongkok. Sungguh pun sumbernya memang ada hubungan, bahkan
boleh dibilang sama, namun perkembangannya sudah demikian berbeda sehingga jauh bedanya apa bila
dipandang begitu saja.
Semenjak kecil Pek Hoa Pouwsat hidup di Nepal, bahkan belajar ilmu silat di sana pula, dari Thian-te Samkauwcu.
Lalu bagaimanakah sekarang Bu Pun Su bisa menyerangnya dengan ilmu silat yang gerakannya
serupa?
Dia tidak tahu bahwa inilah kehebatan ilmu silat dari Im-yang Bu-tek Cin-keng. Di dalam ilmu silat yang
dipelajarkan oleh kitab rahasia ini, terdapat pelajaran dari pokok gerakan semua ilmu silat dan semua
gerakan kaki tangan, sehingga belum tiba serangan lawan, dari gerakan pundak dan pangkal paha saja Bu
Pun Su telah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh lawan dalam penyerangannya. Ilmu ini ditambah
oleh ketajaman mata dan kecerdikan ingatannya sehingga sekali lihat saja ia sudah dapat pula menangkap
inti sari setiap serangan, kemudian dapat melakukan serangan semacam itu pula dengan sama hebatnya,
kalau tidak boleh dibilang lebih sempurna lagi!
Di lain pihak Bu Pun Su memuji ilmu pedang yang dimainkan oleh Pek Hoa Pouwsat. Ilmu pedang ini
kelihaiannya tak kalah oleh Hun-khai Kiam-hoat ciptaan Ang-bin Sin-kai, dan dia tadi tidak membohong
ketika menyatakan bahwa Han Le tak akan dapat menang dari gadis ini. Juga yang membikin gadis itu
sukar dilawan adalah ginkang-nya yang luar biasa, seakan-akan gadis ini benar-benar seorang bidadari
yang dapat terbang.
Setelah bertempur beberapa puluh jurus dan memperhatikan gerakan Pek Hoa Pouwsat, Bu Pun Su baru
tahu kenapa gadis itu dapat bergerak sedemikian ringan dan cepatnya. Setiap gerakan yang cepat
didahului oleh terbukanya pangkal lengan, dan matanya yang tajam dapat melihat bahwa di punggung
gadis ini, tersembunyi di balik pakaian, terdapat semacam alat yang terisi angin. Agaknya semacam alat
penggerak yang mengandung tenaga yang kerjanya seperti sepasang sayap. Memang harus diakui bahwa
ginkang dari gadis itu lebih tinggi dari pada Han Le, akan tetapi tanpa bantuan alat tak mungkin gadis itu
dapat bergerak seperti terbang!
Dalam menghadapi tiga orang pengeroyoknya ini, Bu Pun Su memang hanya bermaksud menguji
kepandaian mereka saja, sama sekali tidak bermaksud melukai atau membunuh mereka. Biar pun tidak
mudah baginya, akan tetapi kalau dia mau ia mampu merobohkan tiga orang lawannya ini.
Biar pun demikian, tangkisan-tangkisan dari tenaga Pek-in Hoat-sut telah membuat muka Hek Pek Mo-ko
menjadi pucat. Ini adalah akibat dari benturan tenaga Pek-in Hoat-sut yang membuat setiap serangan
tenaga lweekang mental kembali dan balik menghantam penyerangnya sendiri.
Tidak demikian dengan Pek Hoa Pouwsat. Gadis ini maklum bahwa dalam hal lweekang ia tidak mampu
menandingi Bu Pun Su, maka serangannya dia andalkan pada kegesitan tubuhnya. Tiap tusukan atau
sabetan pedangnya hanya dilakukan dengan tenaga lemas sehingga ia tidak terserang oleh tenaganya
sendiri yang membalik.
Dipandang dari sudut ini saja sudah dapat diketahui bahwa gadis ini jauh lebih cerdik dari pada Hek Pek
Mo-ko. Dan juga Bu Pun Su mendapat kenyataan bahwa walau pun kedua iblis itu dalam hal tenaga
lweekang lebih kuat dari pada Pek Hoa Pouwsat, akan tetapi kepandaian gadis ini masih lebih tinggi.
Setelah menyerang sampai enam puluh jurus lebih, tahulah Pek Hoa Pouwsat bahwa dia dan dua orang
kawannya tak akan mungkin menangkan Bu Pun Su. Ia telah berkali-kali mengeluarkan hoat-sutnya,
berkemak-kemik dan berkali-kali menyebarkan hawa beracun yang berbau harum sekali.
Lain orang apa bila terkena serangan ini pasti akan menjadi lemas dan jatuh pingsan. Akan tetapi berkat
hawa Pek-in Hoat-sut, semua serangan ilmu hitam ini buyar tidak ada pengaruhnya terhadap Bu Pun Su!
“Ombak pasang! Buka layar dan mendarati!” tiba-tiba Pek Hoa Pouwsat berseru.
dunia-kangouw.blogspot.com
Inilah bahasa rahasia dari perkumpulan mereka dan tiba-tiba saja gadis ini membanting sesuatu di antara
dia dan Bu Pun Su. Pendekar sakti ini sudah dapat menduga, maka cepat-cepat ia melompat mundur.
Terdengar ledakan keras. Asap hitam memenuhi tempat itu, membuat pandangan mata menjadi gelap.
Setelah asap hitam membuyar, bayangan Pek Hoa Pouwsat dan Hek Pek Mo-ko tidak kelihatan lagi!
Sebagai gantinya, di sekeliling tempat itu, penduduk dusun itu telah mengurung Bu Pun Su dan Han Le.
Mereka ini membawa senjata dan memandang dengan sikap mengancam!
“Sute, kau pergilah ke Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai, beri tahukan supaya mereka dan semua partai
persilatan golongan Beng-kauw agar supaya berhati-hati terhadap Thian-te Sam-kauwcu. Kurasa mereka
mengandung maksud kurang baik. Biar aku mencari kitab dan pedang yang hilang!” Sehabis berkata
demikian, sekali berkelebat Bu Pun Su lenyap dari situ.
Semua petani yang sudah dipengaruhi oleh agama baru itu menjadi terheran-heran. Tapi kini mereka
mengurung dan mendekati Han Le dengan sikap mengancam, seakan-akan hendak mengeroyoknya.
Han Le tertawa pahit. Kemudian dengan sekali melompat saja, dia pun lenyap melalui atas kepala para
pengurungnya sehingga kembali para penduduk dusun itu melongo dan saling pandang!
Bu Pun Su menyelinap ke dalam kelenteng hendak mencari Pek Hoa Pouwsat serta Hek Pek Mo-ko untuk
dipaksa mengaku di mana adanya Thian-te Sam-kauwcu, atau di mana adanya kitab dan pedang. Akan
tetapi setelah tiba di dalam kelenteng, ia tak melihat lagi bayangan mereka, bahkan dua orang isteri Hek
Pek Mo-ko sudah tenyap pula…..
********************
Kita kembali ke dusun Sui-chun yang sungguh pun hanya sebuah dusun namun besar menyerupai kota
yang cukup ramai. Di rumah keluarga Song pada malam hari itu amat sunyi. Song Lo-kai, atau kini lebih
terkenal dengan sebutan Song-lo-wangwe karena dia memang kaya raya, sudah tidur pulas. Para pelayan
juga sudah tidak kelihatan lagi.
Akan tetapi, apa bila orang mau menengok ke dalam taman bunga yang luas di belakang gedung itu, dia
akan melihat bahwa di dalam kebun itu masih ada beberapa orang yang sedang bercakap-cakap. Mereka
ini bukan lain adalah Song Bi Li, Ceng Si pelayannya, dan seorang pemuda yang tampan.
Pemuda ini bukan lain adalah Cia Sun, siucai miskin yang mencinta Bi Li. Atas bantuan Ceng Si pelayan
dari nona itu, Cia Sun pada malam hari ini berhasil memasuki taman.
Tadinya Song Bi Li terkejut, marah dan amat khawatir melihat pemuda itu sangat lancang berani memasuki
tamannya. Akan tetapi Cia Sun segera menjatuhkan diri berlutut sambil menangis tersedu-sedu!
“Song-siocia, kau benar-benar berhati kejam. Ambillah sebatang pedang dan bunuhlah saja Cia Sun yang
miskin dan malang ini. Untuk apa hidup lebih lama lagi di dunia ini?” Demikian Siucai tampan itu menangis.
Song Bi Li yang masih hijau itu tentu saja dapat dikelabuhi dan merasa amat terharu.
“Cia-siucai, kenapa kau begini berduka? Jangan begitu dan kau pergilah, jika Kongkong tahu bahwa kau
masuk ke sini, kau tentu akan mendapat kesukaran.”
“Lebih baik diketahui oleh Kongkong-mu agar aku dibunuh! Song-siocia, kau benar-benar kejam sekali.
Bagaimana kau dapat menerima pinangan orang lain? Kalau kau menjadi isteri orang lain, bagaimana
dengan aku, Cia Sun yang bodoh dan miskin?”
Muka Song Bi Li menjadi merah. Ia bingung dan bibirnya gemetar, tidak tahu bagaimana harus menjawab.
Akhirnya Ceng Si yang mewakili nonanya bicara,
“Cia-kongcu, sudahlah, jangan kau terlalu berduka. Nona terpaksa menerima kehendak kongkong-nya
karena dalam pernikahan, apakah daya seorang gadis terhadap kehendak orang tua? Ada pun tentang
kau, Kongcu, Siocia tentu saja tidak akan melupakan begitu saja. Bahkan Siocia sudah berjanji kepadaku
untuk memberi bekal kepadamu agar kau melanjutkan pelajaranmu di kota raja, agar kelak kau bisa
menjadi seorang berpangkat.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Cia Sun menangis lagi. “Bagaimanakah seorang miskin seperti aku ini dapat melanjutkan pelajaran di kota
raja? Tidak saja biaya perjalanan ke sana amat besar, juga kehidupan di kota raja amat mahal. Apakah kau
ingin aku menjadi seorang pengemis kelaparan di sana?”
“Bukan begitu, Cia-sicu,” kata Bi Li, “Biar pun aku tidak terlalu kaya, akan tetapi kiranya aku akan dapat
membantumu. Aku sudah merencanakan hal ini dengan Ceng Si, dan ini ada sedikit uang untuk bekal di
perjalanan. Kalau kiranya tidak mencukupi, kelak dengan perantaraan Ceng Si, aku akan dapat
membantumu lagi.”
Sambil berkata demikian Bi Li memberi tanda dengan matanya kepada Ceng Si. Pelayan ini kemudian
mengeluarkan sekantung uang emas yang memang sudah disediakan oleh nonanya, lalu memberikan
kantung itu kepada Cia Sun.
Pemuda itu menerimanya kemudian berpura-pura marah dan berduka. Dia melemparkan kantung uang itu
ke atas, lalu menjambak-jambak rambutnya sendiri.
“Apa artinya uang bagiku? Apa artinya kalau aku dapat melanjutkan pelajaran sehingga menerima pangkat
tinggi sekali pun? Apa artinya hidup tanpa adanya kau di sampingku, Song-siocia? Cinta kasihku tidak
semurah ini, tidak akan terbeli oleh harta dunia, takkan dapat ditukar dengan emas segunung Thai-san!”
“Cia-siucai, harap kau dapat berpikir lebih panjang dan jangan membikin susah padaku,” kata Bi Li.
“Memang telah menjadi kehendak Thian bahwa di dunia ini kita tidak berjodoh. Harap kau suka menaruh
kasihan padaku. Terimalah uang itu dan kelak akan kutambah sewaktu-waktu kau memerlukannya.”
Pada saat itu kelihatan sinar lampu di kamar Kakek Song yang tadinya padam gelap.
“Nah, Loya agaknya bangun...,” kata Ceng Si ketakutan.
“Cia-siucai, lekas pergi, Kongkong bangun...,” kata Bi Li.
Ceng Si mengambil kantung uang itu dan langsung menarik tangan Cia Sun menuju ke pintu taman.
Pemuda ini cepat-cepat membawa kantung uang itu dan keluar dari taman.
“Ceng Si, jangan lupa membujuk dia memberikan mainan indah, hiasan rambut berupa kupu-kupu dan
bunga cilan yang dia terima dari calon suaminya itu,” katanya perlahan ketika mereka hendak berpisah.
Ceng Si mengangguk. “Asal kau jangan lupa mengawiniku kelak,” jawabnya.
Kemudian pemuda itu menyelinap di dalam gelap, sedangkan Ceng Si kembali ke dalam taman. Akan
tetapi, baru saja beberapa langkah Cia Sun berjalan dengan hati gembira sambil membawa sekantung
uang emas itu, tiba-tiba menyambar bayangan yang sangat ringan.
Cia Sun terkejut sekali ketika melihat bayangan orang menyambar turun di depannya dan tercium bau yang
amat harum olehnya. Saking kagetnya hampir saja dia berteriak, akan tetapi begitu bayangan itu mengulur
tangan dan jari-jari yang halus menyentuh lehernya, pemuda ini tidak dapat mengeluarkan suara apa-apa.
Jalan darah Ah-tai-hiat di lehernya telah ditotok! Maka ia hanya dapat memandang dengan mata terbelalak.
“Hemm, kau hendak mempermainkan seorang gadis kaya? Bagus sekali, orang macam kau harus
dicongkel kedua matanya!” terdengar bentakan yang halus merdu, “Kau rebah dulu di sini, hendak kulihat
gadis macam apa dia yang hendak kau permainkan itu.”
Kembali jari-jari halus itu bergerak menotok pundak dan robohlah Cia Sun, roboh dengan tubuh lemas tak
dapat bergerak, karena kini jalan darah Thian-hu-hiat yang sudah ditotok secara istimewa sekali.
Cia Sun tidak tahu siapa yang melakukan perbuatan ini, karena keadaan sangat gelap. Dia hanya tahu
bahwa orang itu adalah seorang wanita yang memiliki suara merdu, serta berbau harum sekali.
Perempuan ini tidak lain adalah Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat, murid terkasih dari Thian-te Sam-kauwcu.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, ia telah dikalahkan oleh Bu Pun Su dan berhasil melarikan
diri setelah melepaskan semacam alat peledak yang bisa menimbulkan asap hitam tebal.
Akan tetapi, sesudah melarikan diri beberapa hari kemudian, dia merasa bagaikan selalu dikejar-kejar atau
dunia-kangouw.blogspot.com
diikuti oleh Bu Pun Su! Sungguh pun ia tidak pernah melihat pendekar sakti ini mengikutinya, tetapi
perasaannya selalu tidak enak dan demikianlah, malam hari itu ia terus melanjutkan perjalanannya sampai
di dusun Sui-chun.
Melihat rumah gedung Song Lo-kai, dia tertarik dan ingin mencuri masuk dan beristirahat di situ. Secara
kebetulan ia lalu melihat pertemuan antara Song Bi Li dan Cia Sun dan kemudian ia membikin pemuda itu
tidak berdaya.
Pek Hoa Pouwsat atau lebih singkat disebut Pek Hoa karena memang demikianlah nama asalnya,
melompat ringan dan tiba kembali dalam taman bunga. Keadaan di situ tadinya hanya remang-remang
belaka, maka ia tidak dapat melihat jelas bagaimana wajah Bi Li, Ceng Si dan juga Cia Sun. Kini setelah
Cia Sun pergi, Bi Li berani menyuruh pelayannya menyalakan lampu taman sehingga keadaan di situ
terang.
Melihat wajah Bi Li, Pek Hoa amat kagum. Tanpa terasa ia berseru, “Ayaa, tidak tahunya gadis ini cantik
jelita sekali...”
Suaranya terdengar oleh Bi Li dan Ceng Si sehingga dua orang gadis itu terkejut sekali. Selagi mereka
bingung dan terheran-heran, muncullah Pek Hoa dari balik batang pohon, muncul bagaikan seorang peri,
cantik jelita dan menyiarkan aroma yang harum melebihi bunga-bunga di taman.
Ceng Si buru-buru berlutut. “Ampunkan hamba, Pouwsat yang baik...,” ratapnya.
Pek Hoa tersenyum lalu berkata, “Memang, orang yang mengandung dosa dalam hatinya paling mudah
ketakutan dan paling mudah minta ampun kepada Kwan Im Pouwsat!”
Tadinya Bi Li tertegun dan dia pun amat kagum melihat seorang wanita yang demikian cantiknya. Sekarang
melihat sikap Ceng Si dan mendengar kata-kata Pek Hoa, timbullah dugaannya bahwa memang yang
datang ini tentulah Dewi Welas Asih Kwan Im Pouwsat yang sering muncul di dalam dongeng kuno. Maka
ia pun lalu melanjutkan diri berlutut di depan Pek Hoa.
“Hamba mohon berkah dari Kwan Im Pouwsat yang mulia,” kata gadis ini perlahan.
Pek Hoa melangkah maju dan mengangkat bangun gadis itu. “Song-siocia, bangunlah. Aku memang
seorang dewi, tetapi bukan Kwan-Im Powsat, melainkan Pek Hoa Pouwsat. Kau cantik sekali, Nona.
Siapakah namamu?”
Bi Li mengangkat muka dan memandang dengan terheran. Mengapa sikap seorang dewi kahyangan
seperti ini? Begini biasa, seperti umumnya sikap seorang gadis biasa? Akan tetapi alangkah cantik
jelitanya, alangkah harum baunya.
“Nama hamba Song Bi Li, dan tentang kecantikan... walau pun hamba mendapat berkah Kwan Im Pouwsat,
namun kalau dibandingkan dengan Paduka, hamba kalah jauh...”
Bukan main girangnya hati Pek Hoa Pouwsat. Sejak usia belasan tahun, memang gadis ini amat gila untuk
menjadi cantik dan dia selalu merasa khawatir apa bila kecantikannya sampai berkurang atau hilang. Oleh
karena ini, dengan ilmu kepandaiannya, dia berhasil menemukan cara pengobatan untuk merawat
kecantikannya, bahkan untuk membuat dia kelihatan selalu muda belia.
Oleh karena inilah maka biar pun usianya sudah tiga puluhan, ia masih kelihatan seperti seorang gadis
muda yang demikian ayu, tentu saja dia merasa amat terpuji dan bangga. Dengan hati bangga dan girang
dia menggandeng tangan Bi Li, kemudian dia bergerak cepat dan tahu-tahu Ceng Si telah kena ditotok
sehingga menjadi kaku seperti patung.
Akan tetapi di dalam pandangan mata Bi Li, ia hanya melihat Pek Hoa menunjuk dengan jarinya ke arah
Ceng Si yang masih berlutut dan pelayannya itu lalu menjadi kaku!
“Jangan bergerak dan berlutut di sana sampai kami selesai bercakap-cakap!” kata Pek Hoa.
Peristiwa ini membuat Bi Li semakin percaya bahwa dia sedang bercakap-cakap dengan seorang dewi
tulen! Ia menurut saja ketika Pek Hoa mengajaknya duduk di atas bangku-bangku yang dipasang di dekat
kolam ikan emas, di bawah penerangan lampu minyak yang berwarna merah.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bi Li, biarlah selanjutnya aku menyebut namamu saja, dan kau boleh menyebutku cici,” kata Pek Hoa.
Bi Li terkejut. Bagaimana dia boleh menyebut cici (kakak) kepada seorang bidadari?
“Akan tetapi...”
“Jangan membantah. Ini perintahku, mengerti? Aku lebih tua dari padamu.”
Mendengar kata-kata ini, Bi Li menjadi berani. “Akan tetapi, sesungguhnya kau kelihatan lebih muda dariku,
maka lebih pantas kalau aku menyebut moi-moi.”
Pek Hoa memandang tajam sambil tersenyum girang sekali. “Adikku yang baik! Apakah kata-katamu ini
betul?”
“Bagaimana aku berani berbohong? Begini cantik jelita, seperti bunga baru mekar, paling banyak usiamu
tujuh belas tahun dan aku sudah delapan belas!” jawab Bi Li.
Pek Hoa tertawa geli, akan tetapi hatinya girang luar biasa. Dipuja oleh laki-laki, baginya tidak aneh dan
dianggapnya bahwa semua laki-laki hanya tukang membohong untuk bisa membujuk dan mengambil hati.
Akan tetapi dipuji oleh seorang gadis yang begini cantik, ini soal lain lagi.
“Tidak, Li-moi aku lebih tua. Usiaku sudah... sembilan belas tahun. Li-moi, sesungguhnya kedatanganku ini
hendak memberi berkah dan pertolongan kepadamu dengan Siucai she Cia itu, akan tetapi aku lebih suka
mendengar dari mulutmu sendiri. Sebenarnya, apakah yang terjadi antara kau dan dia?”
Bi Li terkejut sekali. Akan tetapi ketika ia teringat bahwa ia berhadapan dengan seorang bidadari, ia tidak
merasa aneh, bahkan tidak malu-malu untuk membuat pengakuan.
“Aku sudah lama kenal dengan Cia-siucai, Cici Pek Hoa. Dan dia itu... dia menyatakan cinta kepadaku.”
“Apa kau tidak cinta kepadanya?”
Bi Li termenung dan merasa ragu-ragu. “Entahlah, Cici, kau lebih tahu tentunya. Aku tak mengerti tentang
cinta ini.”
“Teruskan, lalu bagaimana?”
“Kemudian, atas kehendak Kongkong-ku, aku harus menikah dengan seorang she Kiang dari kota Siankoan,
yaitu seorang pemuda gagah perkasa yang pernah menolong nyawa Kongkong.”
“Dan kau tidak suka kepadanya?”
Kembali Bi Li termenung bingung. “Ini pun aku tidak bisa memastikan, Cici. Kelihatannya dia gagah dan
baik budi, juga... tampan, bahkan jauh lebih tampan dari pada Cia-siucai. Karena aku tidak mungkin
menolak kehendak Kongkong, tadi Cia-siucai datang dan dia menyatakan kehancuran hatinya, bahkan
hendak nekat membunuh diri. Baiknya aku dan pelayanku Ceng Si dapat membujuknya supaya dia
melanjutkan sekolah di kota raja dan akulah yang akan membiayainya sampai maksudnya tercapai. Calon
suamiku itu orang yang amat kaya, sedangkan Kongkong juga bukan orang miskin, maka kiraku jalan inilah
yang terbaik, yakni untuk menghibur hatinya.”
Pek Hoa mengangguk-angguk. “Kau anak baik, dan kau pun amat cantik jelita. Kau layak hidup bahagia
dan mendapatkan seorang suami yang baik dan tampan. Kau bilang tadi calon suamimu lebih cakap dari
pada Cia-siucai?”
Merah muka Bi Li, akan tetapi dia mengangguk. “Bukan hanya aku yang menganggap demikian, Cici, juga
pelayanku Ceng Si menganggap demikian pula.”
“Dan kau bilang gagah perkasa? Apakah dia itu pandai ilmu silat?”
“Tentunya amat pandai. Kongkong pernah bilang kepadaku bahwa dia adalah murid dari seorang sakti dan
aneh yang bernama Han Le yang menjadi murid dari orang sakti yang dipuja-puja Kongkong, yakni
dunia-kangouw.blogspot.com
mendiang Ang-bin Sin-kai. Akan tetapi aku sendiri tak kenal siapa adanya orang sakti yang bernama Han
Le itu.”
Kalau Pek Hoa tidak tinggi ilmunya dan dapat mengerahkan lweekang serta menyalurkan darah ke
mukanya, tentu Bi Li akan melihat perubahan air mukanya ketika ia mendengar nama Han Le ini.
“Jadi calon suamimu itu she Kiang dan tinggal di kota Sian-koan?” tanya Pek Hoa pula.
Bi Li mengangguk.
Pek Hoa berdiri dan memandang wajah Bi Li sekali lagi lalu berkata, “Adikku yang manis, kelak kalau kau
sudah punya anak, mungkin kita bertemu lagi karena aku ingin sekali melihat wajah anakmu.”
Bi Li hendak menjawab, akan tetapi tiba-tiba dengan sekali menggerakkan kaki, Pek Hoa sudah melompat
di depan Ceng Si, membebaskan totokannya kepada tubuh pelayan ini dan sekali berkelebat ia lenyap dari
pandangan mata!
Ceng Si menjatuhkan diri berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya seperti ayam sedang makan
padi, sambil mengeluh panjang pendek, “Pouwsat yang mulia, ampunkan hamba... jangan mencabut nyawa
hamba...”
Bi Li juga menjatuhkan diri berlutut, bibirnya berkemak-kemik menghaturkan terima kasih kepada bidadari
yang mengaku kakak kepadanya itu. Kemudian terpaksa dia menyeret Ceng Si berdiri oleh karena pelayan
yang ketakutan ini masih saja terus berlutut sambil sesambatan…..
********************
Kita ikuti perjalanan Pek Hoa. Setelah melompat keluar dari taman bunga keluarga Song, ia menghampiri
Cia Sun. Sekali tepuk saja ia sudah membikin pemuda ini sadar kembali. Sebelum Cia Sun sempat
membuka mulut, tahu-tahu ia merasa tubuhnya terapung tinggi dan ternyata ia telah dikempit dan dibawa
lari oleh Pek Hoa.
Setibanya di tempat terang, yakni sudut jalan yang diterangi oleh lampu, Pek Hoa baru menurunkan
pemuda itu, lalu memandangi wajah dan tubuhnya. Agaknya dia puas dan senyumnya manis sekali.
Di lain pihak, Cia Sun menjadi bengong. Ia terpesona oleh kecantikan gadis ini dan bau harum yang luar
biasa mendebarkan jantungnya.
“Hemm... kau tampan juga...,” terdengar gadis itu berkata sambil meraba-raba pipinya.
Dari takut dan kaget, Cia Sun menjadi girang. Tak disangka bahwa orang yang dikiranya setan dan yang
sudah mengganggu dirinya itu ternyata adalah seorang gadis muda yang demikian cantik jelitanya, bahkan
jauh lebih cantik dari pada Ceng Si, juga lebih cantik dan menarik dari pada Bi Li yang pendiam dan malumalu.
Gadis ini sebaliknya kelihatan ‘berani’ sekali, berani memuji ketampanannya, bahkan berani
membelai-belai pipinya.
“Aduh, Nona. Bukankah kau bidadari kahyangan yang turun dari bulan purnama? Apakah hendak
mencabut nyawa hamba...?” katanya setengah bergurau.
Melihat pandangan mata Cia Sun, pandangan mata yang penuh arti, sekonyong-konyong Pek Hoa menjadi
jemu. Semenjak usia belasan tahun wanita ini telah sering kali bertukar kekasih, hidupnya demikian busuk
dan kotor, dan terkenal sebagai seorang wanita yang cabul.
Hubungannya dengan banyak sekali orang laki-laki membuat dia menjadi jemu apa bila melihat sikap lakilaki
yang kurang ajar. Dan melihat laki-laki binal dan ceriwis, ia menjadi bosan dan mual. Apa bila sekiranya
Cia Sun bersikap takut-takut atau malu-malu, atau marah-marah melihatnya, mungkin Pek Hoa akan jatuh
hati pada pemuda yang tampan ini.
Pek Hoa tidak membutuhkan laki-laki yang ceriwis, karena dia telah bosan dengan sikap seperti ini. Dia
membutuhkan laki-laki yang alim, laki-laki yang tidak mudah tergoda oleh kecantikannya. Maka dengan
sebal hati dia melemparkan tubuh Cia Sun ke pinggir jalan, merampas kantung uang pemberian Bi Li tadi,
lantas dengan cepat pergi meninggalkan pemuda itu yang terlampau kaget dan takut untuk dapat
dunia-kangouw.blogspot.com
mengeluarkan suara!
Baru saja bayangan Pek Hoa berkelebat pergi, di belakangnya kira-kira sepuluh tombak jauhnya,
berkelebat bayangan lain yang tidak kalah gesitnya, yang mengikuti perjalanan gadis itu secara diam-diam
tanpa diketahui oleh yang diikutinya…..
********************
Kiang Liat merasa berbahagia sekali. Tidak pernah disangka-sangkanya bahwa nasibnya demikian baik
dan menyenangkan. Tidak saja dia beruntung bertemu dengan pengemis sakti Han Le dan menjadi
muridnya selama satu tahun, mewarisi ilmu kepandaian yang sangat tinggi sehingga kepandaiannya yang
sudah lihai itu menjadi semakin maju, juga terutama sekali ia bertemu dengan Song Lo-kai dan diambil
cucu mantu.
Yang membuat ia benar-benar merasa bahagia adalah ketika ia bertemu dengan Song Bi Li. Siapa pernah
mengira bahwa cucu seorang kakek bekas pengemis demikian cantik jelitanya? Tidak hanya cantik, juga
sikapnya demikian halus lemah-lembut, menimbulkan kasih sayang dan begitu bertemu muka, Kiang Liat
terus saja jatuh cinta!
Ia sudah mempersiapkan segala keperluan untuk menghadapi pernikahannya yang akan dilangsungkan
beberapa hari lagi. Ia telah mengatur rumahnya yang selama ini hanya ia tinggali bersama inang
pengasuhnya, sudah mengatur semua persiapan supaya isterinya kelak suka dan kerasan tinggal di
rumahnya ini.
Kemudian ia menyuruh inang pengasuhnya dan beberapa orang pembantu dari kotanya untuk berangkat
lebih dulu ke Sui-chun, ke rumah keluarga Song untuk membuat segala persiapan. Ia sendiri sibuk
membagi-bagikan undangan kepada sahabat-sahabat baiknya supaya mereka suka datang kemudian ikut
mengantarnya ke Sui-chun untuk menambah kegembiraan.
Persiapan terakhir telah dilakukan dan Kiang Liat merasa gembira sekali. Esok pagi-pagi ia akan berangkat
ke Sui-chun, bersama beberapa belas orang kawan-kawan baik yang akan menjadi pengiringnya.
Seharian itu ia telah pergi jauh ke luar kota, mengunjungi kawan-kawannya yang paling jauh rumahnya. Ia
merasa agak lelah ketika sore hari itu ia pulang, melompat turun dari kudanya yang indah, menuntun kuda
itu dan menghampiri pintu depan.
Karena di rumahnya sudah kosong tidak ada orang lain, maka rumah itu pintunya selalu ditutup. Semua
pelayan telah dikirim ke Sui-chun agar setelah pernikahan dilangsungkan bisa mengiringkan sepasang
pengantin itu pulang ke Sian-koan. Oleh karena itu, selama beberapa hari ini, Kiang Liat tinggal seorang diri
di rumahnya. Akan tetapi, kesepian ini takkan lama lagi, hanya tinggal semalam lagi dan besok pagi-pagi ia
akan berangkat ke rumah calon isterinya!
Berpikir sampai di sini, terutama membayangkan wajah Bi Li yang cantik manis, Kiang Liat menjadi berseri
wajahnya. Sambil tersenyum-senyum ia membuka pintu. Dia tidak tahu bahwa semenjak tadi, sepasang
mata yang bening dan indah selalu mengintainya.
Mata ini bersinar-sinar ketika melihat potongan tubuh pemuda yang sangat ganteng ini. Tubuh yang tegap
dan gagah, wajah yang amat tampan dengan kulit muka putih bersih, sepasang alis yang hitam tebal
berbentuk golok melindungi sepasang mata yang lebar dan bersinar-sinar penuh semangat. Memang Kiang
Liat adalah seorang pemuda yang amat gagah dan tampan.
Setelah meninggalkan kudanya di depan pintu, Kiang Liat masuk ke dalam rumah sambil bernyanyi-nyanyi
kecil. Dia hendak mandi, berganti pakaian, kemudian pergi keluar lagi. Memang sungguh tidak enak duduk
seorang diri di dalam rumah tanpa kawan, apa lagi menghadapi peristiwa yang demikian hebat, yakni
pernikahannya dengan Nona Song Bi Li! Ia hendak pergi ke beberapa orang sahabat baiknya, mengajak
mereka datang ke sini lalu memesan makan minuman dari rumah makan.
Akan tetapi, ia masih belum tahu bahwa pada saat itu, sepasang mata bening dan jeli terus mengintainya!
Mata yang memandangnya penuh kekaguman, penuh nafsu, dan kadang-kadang penuh kebencian!
Kiang Liat melangkah tegap ke arah kamarnya, mendorong daun pintu kamar tidurnya, melangkah masuk
dan...
dunia-kangouw.blogspot.com
“Siapa kau…?!” tanyanya terkejut sekali dan terheran-heran.
Di atas pembaringannya duduk seorang gadis yang berpakaian indah, seorang gadis sebaya dengan Bi Li
yang cantik sekali, yang duduk menggoyang-goyangkan kedua kaki kecil yang tergantung dari
pembaringan sambil miringkan kepala memandang kepadanya dan bibirnya tersenyum-senyum manis
sekali!
Tadinya untuk sesaat Kiang Liat mengira bahwa inilah yang disebut orang siluman wanita, yang sering
muncul dalam dongeng-dongeng. Kalau tidak demikian, bagaimana seorang dara juwita seperti itu tahutahu
dapat memasuki kamar tidur seorang pemuda dan duduk di atas pembaringan dengan kakinya
ongkang-ongkang dan senyum manis menantang?
Akan tetapi, ketika melihat gagang siang-kiam tersembul dari balik punggung gadis itu, Kiang Liat berpikir
lain. Wanita ini tentu seorang gadis kang-ouw dan kedatangannya pasti mengandung maksud tertentu,
entah baik entah buruk, akan tetapi lebih condong kepada maksud yang tidak baik.
“Kau siapakah, Nona? Dan apakah kehendakmu memasuki kamarku?” tanyanya lagi.
Kini suaranya tidak sekeras tadi karena pemuda ini cepat dapat menekan perasaannya. Ia tidak dapat
menyembunyikan kekagumannya melihat gadis yang sedemikian cantiknya dan pandang mata kagum ini
menyenangkan hati gadis itu yang segera memperlebar senyumnya.
“Jawab dulu, senangkah kau melihat aku di kamar tidurmu?” gadis ini bertanya, suaranya merdu merayu
dan pandang matanya mencuri hati dengan kerling tajam menyambar.
Kiang Liat mengerutkan keningnya. “Bagaimana aku bisa menyatakan senang atau tidak kalau aku belum
tahu siapa adanya kau ini dan apa keperluanmu datang ke sini?”
Gadis manis itu tertawa kecil. “Kau betul juga, sekarang jawablah pertanyaan yang lebih mudah. Cukup
cantikkah aku dalam pandanganmu?”
Kini merahlah wajah Kiang Liat. Hatinya berdebar-debar. Selama hidupnya belum pernah dia melihat gadis
secantik ini, kecuali Bi Li, dan gadis yang berani seperti ini. Akan tetapi, sikap genit dan kecabul-cabulan ini
sama sekali tidak menyenangkan hatinya. Kiang Liat bukan sebangsa pemuda pemogoran yang mudah
menjadi gila melihat wajah cantik!
“Nona, omongan apakah ini? Aku bukan orang yang biasa menilai kecantikan orang lain! Sekarang katakan
siapa kau dan apa perlumu masuk ke kamarku?”
Meski pun jawaban ini ketus dan membayangkan kemarahan hati, namun aneh sekali, gadis ini tidak
marah, bahkan sebaliknya ia kelihatan gembira sekali.
“Ha, kau gagah ganteng, tampan dan baik sekali, tidak seperti segala macam hidung belang yang
menjemukan!” gadis itu berseru.
Kemudian, sekali menggerakkan tubuh dia sudah melompat turun. Gerakannya sangat ringan sehingga
mengejutkan hati Kiang Liat.
“Kiang Liat, aku tahu siapa kau. Engkau adalah murid dari Han Le si pengemis hina itu, bukan? Dan kau
akan menikah dengan Nona Song Bi Li yang cantik jelita, bukan?”
Kiang Liat kembali terkejut dan mengerutkan kening.
“Benar semua dugaanmu itu, sungguh pun aku sama sekali tak mengerti bagaimana kau bisa mengetahui
semua itu. Akan tetapi, siapakah kau, Nona?”
“Orang-orang di dunia barat biasa menyebutku Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat, akan tetapi bagimu, kau boleh
memanggil aku Pek Hoa saja, atau Hoa-moi, bukankah itu lebih enak dan manis terdengarnya?”
Kiang Liat belum pernah mendengar nama ini, akan tetapi sikap Pek Hoa yang semakin binal dan genit ini
benar-benar menyebalkan hatinya. Ia tidak dapat menyangkal bahwa gadis ini amat cantik, lagi menyiarkan
dunia-kangouw.blogspot.com
bau yang amat harum memenuhi kamarnya, akan tetapi kegenitan gadis ini melenyapkan kekagumannya.
Alangkah jauh bedanya dengan Bi Li calon isterinya! Walau pun dalam kecantikan, agaknya Bi Li sendiri
pun tidak akan menang dari gadis luar biasa ini yang memiliki kecantikan seperti bidadari.
“Jangan kau mengacau tidak karuan!” Kiang Liat membentak marah. “Aku tidak kenal kau siapa dan tidak
peduli tentang semua panggilan itu. Lekas katakan, apa maksudmu datang ke kamarku?” Pemuda ini
sekarang menjadi curiga dan juga amat marah.
Watak Pek Hoa memang aneh. Kalau sekiranya Kiang Liat bersikap lemah seperti yang diperlihatkan oleh
pemuda Cia Sun, kalau saja Kiang Liat terpesona oleh kecantikannya, memuji-mujinya dan mencoba untuk
bersikap kurang ajar, mungkin sekali Pek Hoa akan menjadi sebal dan mungkin akan segera turun tangan
membunuhnya, karena dia adalah murid Han Le yang amat dibenci oleh Pek Hoa. Di dunia ini hanya dua
orang yang amat dibenci oleh Pek Hoa, yakni Bu Pun Su dan Han Le, terutama sekali Bu Pu Su.
Akan tetapi, oleh karena sikap Kiang Liat amat keras dan sama sekali tidak tunduk oleh kecantikannya, hati
Pek Hoa menjadi runtuh! Baru sekarang gadis ini bertemu dengan seorang pemuda yang begini tampan
dan gagah, yang tidak bertekuk lutut menghadapi kecantikannya.
Inilah pemuda yang diidam-idamkannya, pemuda yang dicari-carinya! Maka, menghadapi bentakan yang
penuh kemarahan dari Kiang Liat, dia menjadi makin tertarik dan semakin gembira.
“Kiang Liat, kau menjadi makin gagah kalau marah-marah. Kau mau tahu mengapa aku datang ke kamar
tidurmu? Karena ketika tiba di rumah ini aku tidak melihat seorang pun manusia, maka aku memilih kamar
tidur ini untuk mengaso.”
“Apa maksudmu mengunjungi aku?” tanya Kiang Liat gemas melihat sikap genit dan mendengar jawaban
melantur itu.
“Kau adalah murid pengemis tua bangka Han Le dan dia itu musuhku, maka tentu saja aku datang untuk
mengambil nyawamu. Akan tetapi, melihat mukamu aku lantas merasa kasihan sekali sehingga aku akan
mengampuni dan takkan mengganggumu, sebaliknya aku ingin sekali membikin kau bahagia. Permusuhan
antara kita akan hilang kalau saja kau mau membatalkan pernikahanmu dengan Song Bi Li dan sebagai
gantinya, kau bisa mengambil aku sebagai isterimu...”
“Tutup mulutmu yang kotor!” Kiang Liat marah sekali dan mencabut pedangnya. “Kau ini perempuan jalang
berani sekali bermain gila di sini...?” Kiang Liat benar-benar marah sehingga ia mendamprat gadis itu.
“Kiang Liat, butakah matamu? Buka matamu baik-baik dan lihatlah, apakah aku tidak lebih muda dan jauh
lebih cantik dari pada Bi Li. Selain lebih cantik, aku pun lebih gagah, lebih kaya! Apa bila kau menjadi
suamiku, apa yang kurang bagimu? Ingin senang? Aku cukup cantik dan aku tahu bagaimana untuk
menyenangkan hatimu. Kau hendak hidup mewah? Kekayaanku jauh lebih besar dari pada kekayaanmu
atau kekayaan Bi Li. Atau kau menghadapi musuh-musuh besar? Tidak usah khawatir, kalau aku Pek Hoa
menjadi isterimu, tanpa aku turun tangan semua musuh-musuhmu akan melarikan diri tunggang-langgang!”
“Jangan ngoceh lagi! Lekas kau minggat dari sini, aku tidak sudi melihat mukamu atau mendengar
suaramu! Pergi...!”
Pek Hoa mulai marah. Pipinya yang halus dan putih itu kini menjadi merah. Ia tidak suka melihat laki-laki
lemah yang mudah jatuh oleh kecantikan, akan tetapi ia pun tidak suka melihat laki-laki yang memandang
rendah kecantikannya. Apa lagi hinaan yang keluar dari mulut Kiang Liat sudah melampaui batas.
Kalau menuruti kemarahannya, ingin dia sekali turun tangan merampas nyawa pemuda ini. Akan tetapi bila
ia memandang muka yang tampan dan gagah itu, hatinya tidak tega. Bagaimana pun juga, ia harus
mendapatkan laki-laki ini sebagai suaminya atau sebagai kekasihnya. Sukar mencari seorang pemuda
seperti Kiang Liat ini.
“Kalau aku tidak mau pergi, kau mau apa sih?” tanyanya sambil tersenyum mengejek.
“Aku akan memaksamu dengan pedangku!” Kiang Liat membentak.
“Aha, kau mau main-main senjata dengan nonamu? Mari-mari, anak manis, mari keluar, kita boleh mainmain
sedikit!” Sambil berkata demikian Pek Hoa melambaikan tangannya dan sekali berkelebat ia telah
dunia-kangouw.blogspot.com
menerobos keluar dari jendela.
Diam-diam Kiang Liat terkejut sekali melihat ginkang yang luar biasa ini, akan tetapi ia bukan seorang
penakut. Cepat ia pun melompat keluar melalui jendela, mengejar wanita aneh itu.
Ternyata Pek Hoa sudah menunggunya di luar rumah, di pekarangan yang lebar dan diterangi oleh lampu
minyak yang tergantung di bawah genteng. Gadis ini memandang ringan sekali kepada Kiang Liat. Karena
kepandaian Han Le saja ia tidak takut dan masih sanggup menangkan, apa lagi kepandaian muridnya,
pikirnya! Ia tidak tahu bahwa Kiang Liat hanya satu tahun menjadi murid Han Le, dan bahwa sebelum
menjadi murid Han Le pemuda ini telah memiliki kepandaian yang tinggi juga.
Melihat Pek Hoa telah berdiri dengan lagak menantang, sambil bertolak pinggang tanpa mengeluarkan
senjata, Kiang Liat membentak, ”Perempuan rendah, keluarkan senjatamu kalau kau hendak mencoba
kelihaianku!”
“Mengapa harus mengeluarkan senjata? Apa kau kira dapat mengalahkan Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat biar
pun aku hanya bertangan kosong? Orang muda, maju dan seranglah, tidak usah ragu-ragu, jangan takut
kalau kulit tubuhku akan lecet terkena pedangmu yang tumpul!”
Kiang Liat marah sekali. “Lihat pedang!” teriaknya dan ia mulai menyerang.
Mula-mula, pemuda ini tidak menyerang dengan sungguh-sungguh, karena betapa pun gemasnya melihat
gadis genit dan cabul ini, ia tidak tahu permusuhan apakah yang ada di antara gadis ini dengan gurunya,
dan ia tidak tega serta merasa malu untuk melukai seorang gadis muda yang melawannya dengan
bertangan kosong saja.
Akan tetapi, segera ia menjadi terheran-heran dan kaget. Tak disangkanya bahwa gadis itu ternyata luar
biasa dan selain gerakannya cepat sekali, juga ilmu silatnya sangat lihai. Hanya beberapa gebrakan saja,
pedangnya sudah hampir kena dirampas oleh gerakan mencengkeram dari Pek Hoa!
Setelah melihat kelihaian lawannya, Kiang Liat tidak mau berlaku sungkan-sungkan lagi. Cepat dia
menggerakkan pedangnya dan kini dia bersilat dengan ilmu pedang keluarga Kiang yang kini sudah
diperkuat dan diperbaiki setelah dia belajar setahun lamanya pada Han Le.
Pek Hoa makin kagum melihat Kiang Liat. Tak disangkanya bahwa ilmu silat pemuda ini benar-benar hebat,
tidak kalah jauh oleh Han Le. Bahkan kalau dilihat-lihat, ilmu pedang yang dimainkan oleh pemuda ini sama
sekali bukan ilmu pedang Han Le.
Ilmu pedang yang dimainkan Kiang Liat sangat indah gerakan-gerakannya. Tentu saja seorang pemuda
yang demikian ganteng dan tampan mainkan ilmu pedang yang indah ini, kelihatan seperti seorang penari
ulung tengah menari, amat menarik hati dan indah dilihat. Makin sayanglah Pek Hoa kepada kepada
pemuda ini, dan ia tahu bahwa kalau ia menghadapi dengan tangan kosong saja, akan sangat berbahaya
baginya.
Timbul kegembiraan di dalam hati Pek Hoa untuk menguji terus sampai di mana tingkat kepandaian
pemuda ini. Ia pun segera mencabut sepasang pedangnya.
“Kau lihai sekali, orang muda. Akan tetapi coba kau tahan siangkiam-ku!” Setelah berkata demikian ia
memutar sepasang pedangnya dengan cepat, melakukan serangan balasan yang sesungguhnya, tapi
bukan serangan benar-benar, hanya untuk menguji saja.
Kiang Liat kaget sekali. Ilmu pedang yang dimainkan oleh gadis itu juga hebat, apa lagi lawannya
mempergunakan sepasang pedang yang tentu saja dapat menyerangnya lebih cepat dari pada sebatang
pedang.
Pemuda ini diam-diam mengeluh dan merasa malu terhadap diri sendiri. Bagaimana dia yang sudah
terkenal sebagai Jeng-ciang-sian (Dewa Bertangan Seribu), kemudian sudah mendapat gemblengan
selama setahun oleh pengemis sakti Han Le, tetapi hanya dalam tenaga lweekang saja ia tidak kalah, akan
tetapi ia kalah jauh dalam kecepatan gerakan, dan dalam hal ilmu silat, agaknya gadis ini memiliki
kepandaian yang luar biasa sekali.
Namun Kiang Liat tidak mau menyerah kalah. Meski pun dia seakan-akan dikurung oleh laksaan ujung
dunia-kangouw.blogspot.com
pedang lawan, dia masih terus mempertahankan diri, memutar pedangnya sedemikian rupa sehingga
tubuhnya seperti dilindungi oleh tembok baja yang kokoh kuat.
Berkali-kali Pek Hoa memuji dan mulutnya mengoceh terus, “Kau gagah, ilmu pedangmu lihai... kau patut
menjadi suamiku...”
Kata-kata seperti ini memperbesar api kemarahan Kiang Liat sehingga kini ia bertanding dengan nekat,
sama sekali tidak takut mati. Ini membuat Pek Hoa kewalahan.
Memang ilmu pedang milik pemuda ini sudah tinggi, sulit baginya untuk merobohkan, apa lagi menawan.
Sekarang ditambah pula oleh kenekatan pemuda itu. Maka Pek Hoa lalu mengeluarkan sapu tangannya
yang berwarna merah, mengeluarkan seruan nyaring dan ketika sapu tangan itu dikebutkan, tiba-tiba Kiang
Liat mencium bau harum yang amat keras dan tidak lama kemudian ia terhuyung-huyung dan roboh tak
sadarkan diri dengan pedang masih di tangannya!
Pek Hoa tertawa girang. Ia cepat membungkuk, merampas pedang, mengelus-elus pipi pemuda itu, tertawa
lagi lalu menotok jalan darah di pundak Kiang Liat untuk menjaga kalau pemuda itu siuman kembali. Biar
pun siuman kembali, setelah ditotok, Kiang Liat takkan berdaya, tubuhnya sudah lemas dan ia tak akan
dapat memberontak lagi.
Sambil kadang-kadang membelai rambut dan muka pemuda itu, Pek Hoa tertawa-tawa dan memanggul
tubuh Kiang Liat dengan mudahnya. Kemudian berlarilah ia menghilang di dalam gelap malam yang mulai
menyelimuti alam.
Akan tetapi, baru saja beberapa li ia lari, setelah ia keluar dari kota Sian-koan dan tiba di tempat sunyi, tibatiba
Pek Hoa merasa pundaknya yang sebelah kanan ditowel orang. Ia memanggul tubuh Kiang Liat di
pundak kirinya, maka merasa towelan ini, mula-mula ia tidak bercuriga dan berlari terus.
Sekonyong-konyong, pundaknya ditowel lagi dan terdengar suara perlahan,
“Siluman cabul, kau masih tidak mau melepaskan Kiang Liat?”
Pek Hoa amat terkejut, melompat ke depan sejauh empat tombak lebih lalu membalikkan tubuhnya. Di
bawah sinar bulan purnama, ia melihat seorang laki-laki setengah tua yang pada saat itu ia harapkan
berada di neraka. Satu-satunya orang yang tak ingin dilihatnya pada saat seperti itu, yakni bukan lain
adalah Bu Pun Su Si Pendekar Sakti!
Karena tahu menghadapi lawan yang amat berat, yang biar pun dikeroyok dengan kedua sute-nya masih
saja dia kalah, Pek Hoa tidak mempunyai nafsu untuk melawan Bu Pun Su. Ia melepaskan tubuh Kiang Liat
yang dipanggulnya itu ke atas tanah, lalu mencabut pedang Kiang Liat yang dirampasnya.
Niatnya ingin menewaskan pemuda ini dengan sekali bacok, sebab kalau ada Bu Pun Su di situ, tak
mungkin kehendaknya menjadikan pemuda itu sebagai permainannya dapat terlaksana. Setelah maksud ini
digagalkan oleh Bu Pun Su, tidak ada jalan lain baginya kecuali membunuh Kiang Liat, sehingga dengan
demikian, dia dapat melakukan sedikit pembalasan atas sakit hatinya terhadap Bu Pun Su dan Han Le.
Akan tetapi, baru saja ia mencabut pedang rampasan itu, tiba-tiba pedang itu terlepas dari tangannya yang
menjadi kaku. Dia mencoba untuk menggerakkan tangan kanannya, akan tetapi alangkah kagetnya ketika
ia merasa bahwa tidak hanya tangan kanan saja, malah setengah bagian tubuhnya sebelah kanan bagai
lumpuh! Terdengar olehnya suara ketawa yang tenang dari Bu Pun Su.
Pek Hoa melompat mundur sambil menjerit. Tahulah ia sekarang. Pundak kanannya tadi sudah kena
ditowel dua kali oleh Bu Pun Su dan ternyata bahwa towelan itu merupakan totokan yang amat lihai, yang
baru terasa pengaruhnya setelah ia menggerakkan tangan dan mengerahkan tenaga.
Sambil berdiri, Pek Hoa cepat-cepat mengerahkan lweekang untuk membebaskan diri dari totokan itu,
tetapi tidak berhasil. Terpaksa gadis ini menekan hawa kemarahan yang naik ke dadanya, lalu bersila di
atas tanah.
Selagi dia berusaha membebaskan diri dari pengaruh tiam-hoat yang dilakukan secara lihai oleh Bu Pun
Su, pendekar sakti ini menghampiri Kiang Liat. Dua kali tepukan pada pundak dan punggung membuat
pemuda itu terbebas, dan Kiang Liat cepat berlutut di hadapan paman gurunya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kiang Liat, aku bangga melihatmu. Kau memang patut menjadi murid Han Le. Sekarang lekas-lekas kau
pulang dan langsungkan pernikahanmu. Kelak aku akan datang memberi hadiah dua tiga pukulan
kepadamu.”
Kiang Liat girang sekali. Sesudah menghaturkan terima kasih, dia mengambil pedangnya dan pergi dari
situ. Ia tidak mau mempedulikan lagi kepada Pek Hoa, karena sebenarnya, betapa pun marahnya terhadap
gadis itu, dia tidak tega melihat kalau-kalau Bu Pun Su akan membunuh Pek Hoa.
Akan tetapi, Bu Pun Su bukanlah seorang yang mudah saja membunuh orang. Dia lalu melangkah maju,
tersenyum melihat gadis itu masih terus berjuang untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan.
“Pek Hoa, totokan itu tak akan dapat dibebaskan kalau tidak dengan suling ini,” katanya sambil mencabut
keluar sebatan suling bambu yang sudah tua.
Tadi ia memang menotok pundak gadis itu dengan sulingnya, karena Bu Pun Su merasa segan untuk
melakukan hal ini dengan tangannya. Pada saat ujung sulingnya menyentuh jalan darah pada pundak Pek
Hoa, seketika gadis ini pulih kembali keadaannya. Dengan berang dia cepat-cepat melompat berdiri
memandang kepada Bu Pun Su seperti seekor harimau betina hendak menubruk mangsanya, lalu berkata,
“Bu Pun Su, aku benci sekali kepadamu!”
“Bagus!” kata Bu Pun Su sambil tersenyum “Seribu kali lebih aman kau benci dari pada kau cinta.
Kecantikan dan kasih sayangmu jauh lebih berbahaya dari pada watak buruk dan kebencianmu, Pek Hoa.”
Setelah berkata begitu, Bu Pun Su termenung. Ia teringat akan semua pengalamannya di waktu muda,
betapa dia pernah menjadi korban dari kecantikan dan kasih sayang palsu dari seorang wanita yang cantik
dan jahat seperti Pek Hoa ini.
Pek Hoa membanting-banting kaki saking gemas. “Jadi kau selalu mengintai aku selama ini? Sungguh tidak
tahu malu! Kalau memang kau gagah berani, mengapa tidak melawan guru-guruku? Mengapa kau
menghina seorang perempuan?”
Pek Hoa hampir menangis. Ingin sekali ia mencabut siangkiam-nya dan mempergunakan senjata rahasia
atau senjata berbisa, namun dia cukup maklum bahwa semua ini takkan ada gunanya terhadap Bu Pun Su.
“Memang aku hendak mencari guru-gurumu, yakni Thian-te Sam-kauwcu yang ternama,” jawab lagi
pendekar sakti itu.
“Jadi kau mengikuti aku untuk mengetahui di mana adanya guru-guruku?”
“Bukan hanya demikian, akan tetapi yang terpenting untuk melihat tingkah-lakumu, untuk menjaga agar
supaya kau jangan sampai mengganggu orang-orang seperti yang tadi kau lakukan. Tentang guru-gurumu,
agaknya mereka itu takut kepadaku maka tidak berani muncul.”
Kata-kata ini sengaja diucapkan oleh Bu Pun Su untuk dapat membakar hati gadis itu. Dan maksudnya ini
berhasil karena Pek Hoa memandangnya dengan marah.
“Bu Pu Sun, kau sombong! Kau menggunakan kepandaian untuk menghinaku, seorang perempuan lemah!
Awas kau, akan datang saatnya aku membalas semua ini, membalas kepadamu dan kepada Han Le! Akan
tiba saatnya aku menghancurkan kau dan semua orang yang ada hubungannya denganmu! Apa bila kau
memang berani, datanglah ke lembah Sungai Yalu-cangpo, tepat di mana sungai suci itu berbalik ke barat.
Di sanalah kau akan kami tunggu dan kalau kau tidak berani datang, ternyata Bu Pun Su hanyalah seorang
pengecut besar yang berani dan berlagak di tempat dan kandang sendiri saja!” Sehabis mengeluarkan
kata-kata ini, Pek Hoa lalu melompat dan menghilang di dalam gelap.
Bu Pun Su tidak mengejar. Ia percaya bahwa keterangan itu tidak bohong. Memang ia pernah mendengar
bahwa tempat tinggal tiga orang aneh dari barat itu adalah di sekitar barat Gunung Heng-tuan-san dan
sebagai seorang perantau besar dia pun sudah pernah mengunjungi daerah ini. Ia pun tahu bahwa daerah
ini amat dekat dengan daerah-daerah asing seperti Nepal, Bhutan dan India, karena itu sudah sepatutnya
kalau tiga orang itu mendirikan markas pusat di sana…..
dunia-kangouw.blogspot.com
********************
Upacara pernikahan antara Kiang Liat dengan Song Bi Li dilangsungkan dengan meriah. Banyak sekali
tamu yang datang memberi selamat, dan di antaranya bahkan terdapat Han Le Si Pengemis Sakti.
Oleh karena Cap-si Kaipangcu, empat belas orang ketua perkumpulan pengemis yang lihai juga hadir,
maka para tamu tentu saja terheran-heran melihat begitu banyak orang tua berpakaian pengemis, akan
tetapi mendapat penghormatan terbesar dari pihak tuan rumah! Tentu saja mereka yang terheran-heran ini
adalah orang-orang biasa, karena orang-orang kang-ouw yang hadir di situ tentu saja mengenal tokohtokoh
besar ini.
Siapakah yang tidak mengenal It-gan Sin-kai pengemis tinggi kurus yang bermata satu itu, yang pernah
membikin geger istana karena mencuri masuk ke dalam dapur istana untuk menikmati hidangan-hidangan
kaisar. Siapa pula tidak mengenal Pat-jiu Siauw-kait pengemis kate berperut gendut seperti orang cacingan
itu, yang kini duduk menghadapi meja sambil minum arak begitu saja dari guci yang besarnya hampir sama
dengan tubuhnya?
Masih banyak sekali tokoh-tokoh besar, seperti Tiat-tho Mo-kai dan terlalu banyak untuk disebutkan di sini.
Pendeknya, empat belas orang pemimpin pengemis yang dinamakan Cap-si Kaipangcu, hadir semua. Juga
masih ada belasan orang tokoh-tokoh kang-ouw yang sudah kenal dengan Kiang Liat, hadir di situ. Mereka
semua ini, termasuk Cap-si Kaipangcu, menghormati Han Le yang merupakan tokoh tertinggi di tempat itu.
Sesudah upacara pernikahan selesai, Han Le mendengar dari muridnya tentang Bu Pun Su, maka dia
segera meninggalkan tempat itu untuk mencari suheng-nya. Han Le sudah menyelesaikan tugasnya, sudah
memberi tahu kepada tokoh-tokoh pimpinan partai besar untuk berhati-hati dan siap siaga menghadapi
pengaruh-pengaruh asing dari barat…..
********************
Semenjak saat pertemuan kedua mempelai, Bi Li yakin bahwa dia sudah mendapatkan seorang suami
yang benar-benar baik. Dan dugaannya ini ternyata tepat sekali, karena memang Kiang Liat amat
mencintanya. Tak mengherankan apa bila suami isteri ini hidup penuh kerukunan dan saling mencinta.
Sangat sedap dipandang mata, betapa sepasang suami isteri yang keduanya sama-sama elok ini setiap
hari berjalan-jalan di taman bunga sambil tersenyum-senyum dan mengeluarkan kata-kata bermadu.
Karena Kiang Liat sudah tidak ada ayah bundanya, maka Kakek Song, dibantu pula oleh Bi Li
membujuknya agar sepasang suami isteri itu jangan buru-buru pindah ke Sian-koan. Kiang Liat tidak
keberatan, karena baginya tidak ada perbedaannya. Hidupnya sekarang hanya untuk isterinya seorang. Di
mana saja dia tinggal, asalkan bersama isterinya, dia sudah puas dan bahagia.
Juga ia tidak keberatan ketika isterinya menyatakan kesayangannya kepada Ceng Si dan hendak
menjadikan gadis ini pelayannya dan juga kawannya bercakap-cakap apa bila Kiang Liat sedang keluar
rumah. Akan tetapi, diam-diam Kiang Liat tidak suka kepada gadis pelayan ini.
Sikap gadis ini mengingatkan dia kepada Pek Hoa, wanita siluman itu. Senyuman dan lirikan mata Ceng Si
yang juga manis sekali itu, apa bila ditujukan kepadanya, bukan lagi merupakan senyum dan kerling sopan
dari seorang pelayan wanita terhadap majikannya, tetapi senyum dan kerling seorang wanita muda yang
berusaha memancing hati seorang pria!
Di bagian depan telah dituturkan betapa lihai dan licin adanya pelayan muda ini. Ceng Si telah melihat
keadaan Kiang Liat, tentu saja memilih majikannya ini dari pada Cia Sun. Ia pikir lebih baik memikat hati
majikannya ini yang terang-terangan sudah menjadi suami nona majikannya.
Kalau dia bisa menarik hati Kiang Liat dan menjadi kekasih atau bini mudanya, hidupnya tentu terjamin dan
dia pun akan menjadi seorang nyonya ke dua yang terhormat. Dengan kecantikannya yang lumayan ia
berdaya upaya untuk menarik hati Kiang Liat.
Akan tetapi betapa kecewa dan mendongkolnya hati gadis pelayan ini ketika pada suatu hari, dalam
pertemuan empat mata dengan Kiang Liat di ruang belakang, majikannya ini membentaknya perlahan,
“Ceng Si, jangan kau main gila! Aku tak suka kau tersenyum dan memandang kepadaku seperti itu.
Nyonyamu akan menjadi salah mengerti dan akan marah kepadamu. Jangan kau berani ulangi lagi,
dunia-kangouw.blogspot.com
mengerti?”
Tentu saja Ceng Si merasa seakan-akan mukanya ditampar. Sambil menangis ia berlari masuk ke dalam
kamarnya, di mana ia membanting diri di atas pembaringan kemudian menangis terisak-isak. Hatinya perih
sekali, apa lagi kalau ia teringat bahwa impiannya buyar seperti asap tertiup angin. Ternyata suami
nonanya itu bukan laki-laki biasa, bukan laki-laki mata keranjang seperti kebanyakan laki-laki di masa itu.
Akan tetapi Ceng Si tidak kehilangan akal. Dia mulai membujuk Bi Li, bahkan akhirnya berani mengancam
dengan menyindir bahwa kalau Bi Li tidak mau membantunya, maka ia akan membuka rahasia tentang
hubungan nonanya ini dengan Cia Sun dulu sebelum menikah!
Akhirnya, Bi Li menjumpai suaminya dan ketika mereka bercakap-cakap gembira, Bi Li berkata perlahan,
“Suamiku, kelak kalau kau mempunyai niat untuk mengambil seorang isteri ke dua, aku baru merasa rela
dan senang hati kalau kau mengambil Ceng Si sebagai bini mudamu.”
Kiang Liat terkejut sekali dan ia membelalakkan matanya. “Ehh, apa yang kau ucapkan ini? Bagaimana kau
bisa bicara seperti ini, isteriku? Bagaimana kau bisa bicara tentang aku mengambil bini muda?”
Bi Li memeluk suaminya dan terseyum. “Kenapa begitu saja kau kaget? Bukankah sudah menjadi
kebiasaan umum di kalangan bangsawan dan hartawan untuk mengambil isteri muda sampai tiga empat
orang? Tentu saja aku lebih bersukur bila kau tidak melakukan ini, akan tetapi kalau terpaksa... ambillah
Ceng Si, pelayanku yang setia itu.”
“Omongan apa ini? Aku takkan menikah lagi dengan siapa pun juga! Aku cinta kepadamu dan kau seorang
bagiku sudah cukup. Mengapa mesti menurut kebiasaan gila itu? Apa lagi harus mengambil Ceng Si? Ah...!
Tidak, seribu kali tidak!” kata-katanya ini diucapkan keras-keras.
Mereka tidak tahu bahwa Ceng Si mendengarkan di luar jendela. Gadis ini menjadi pucat mendengar
ucapan keras dari Kiang Liat sehingga untuk kedua kalinya, dia menangis di kamarnya.
Setelah yakin bahwa usahanya mendekati Kiang Liat tidak berhasil dan harapannya untuk menjadi isteri ke
dua dari Kiang Liat sudah tidak mungkin lagi, Ceng Si mengambil jalan ke dua. Sekarang dia mengalihkan
perhatiannya kepada Cia Sun dan mulailah dia mengadakan hubungan dengan siucai itu. Mulailah pula ia
memeras Bi Li untuk memberi uang dan perhiasan kepada Cia Sun melalui dia. Bahkan ia berani
menyampaikan pesan Cia Sun, minta perhiasan rambut kupu-kupu dan bunga cilan yang amat indahnya
itu.
Bi Li tidak berani menolak. Nyonya muda ini maklum bahwa dia sudah berada dalam kekuasaan Ceng Si
dan Cia Sun. Sekali saja ia menolak permintaan mereka dan mereka menyampaikan rahasianya kepada
suaminya, akan celakalah dia! Bi Li terlalu mencinta suaminya dan baru sekarang terbuka matanya bahwa
dahulu dia tertipu. Bahwa Cia Sun mencintanya karena dia cantik dan terutama sekali karena dia kaya.
Dan ia pun kini tahu pula bahwa antara Cia Sun dan Ceng Si terdapat perhubungan yang kotor. Baru
terbuka matanya betapa rendah dan jahatnya siasat dua orang itu terhadap dirinya, dan dia pun menyesal.
Pernikahannya dengan Kiang Liat membuat Bi Li merasa berbahagia sekali. Akan tetapi dia menjadi
gelisah kalau teringat akan ancaman-ancaman dari Ceng Si dan Cia Sun. Ia tahu bahwa nasibnya terletak
di dalam genggaman tangan Ceng Si. Pelayan ini sudah berhasil mendapatkan surat yang dahulu ia tulis
untuk Cia Sun, dan dengan surat inilah Ceng Si selalu mengancamnya apa bila minta sesuatu.
Bi Li tidak berani membuka semua rahasia ini kepada suaminya. Kalau saja dia berani melakukan hal ini,
kiranya semua akan beres dan takkan timbul urusan besar. Ia belum dapat menyelami jiwa yang gagah dari
suaminya, tak mengenal akan watak orang-orang gagah di dunia kang-ouw yang menjunjung tinggi
kegagahan dan menghargai kejujuran.
Bi Li merasa ngeri untuk menceritakan mengenai urusannya dan kesulitannya itu kepada suaminya. Ia takut
kalau-kalau disangka yang bukan-bukan, disangka telah berlaku tidak senonoh di waktu dahulu. Padahal,
kalau ia bercerita terus terang, Kiang Liat akan dapat mempertimbangkannya dengan bijaksana.
Sayang seribu sayang bahwa Bi Li tidak berani membuka rahasia, bahkan menutupinya dengan penuh rasa
khawatir, dan dia memberikan apa saja yang dikehendaki oleh Ceng Si dan Cia Sun sehingga banyak uang
dunia-kangouw.blogspot.com
dan perhiasan mengalir keluar!
Keadaan ini berlangsung terus tanpa diketahui oleh Kiang Liat sampai beberapa bulan kemudian Kiang Liat
mengajak isterinya pindah ke Sian-koan. Tadinya Kiang Liat segan mengajak Ceng Si, akan tetapi atas
desakan Bi Li, terpaksa Ceng Si ikut juga, menjadi pelayan pribadi Bi Li.
Setahun kemudian, Bi Li melahirkan seorang anak perempuan yang mungil sekali. Suami isteri itu merasa
girang dan Kiang Liat memberi nama puterinya itu Kiang Im Giok. Pada mulanya Bi Li memang khawatir
kalau suaminya kecewa, sebab pada masa itu para ayah ingin melihat anaknya lahir laki-laki.
Namun ternyata Kiang Liat berbeda dengan orang lain. Dia sama sekali tidak kelihatan kecewa dan untuk
ini Bi Li merasa amat berterima kasih. Cinta kasih terhadap suaminya semakin menebal. Hidup nyonya
muda ini tentu akan penuh kebahagiaan kalau saja ia tidak diganggu oleh Ceng Si dan Cia Sun.
Cia Sun sudah mendapatkan banyak uang yang diperasnya dari Bi Li melalui Ceng Si, dan berubah
menjadi seorang pemuda pemogoran dan pemalasan. Uang itu cepat sekali habisnya, dihamburhamburkannya
seperti orang membuang pasir belaka.
Setelah Bi Li dan suaminya pindah ke Sian-koan, ia pun menyusul ke kota itu, menyewa kamar di dalam
sebuah hotel. Ia membeli seekor kuda yang bagus dan kerjanya setiap hari hanya berpesiar! Hubungannya
dengan Ceng Si dilanjutkan tanpa ada halangan.
Pada suatu hari, ketika Bi Li dan suaminya sedang menimang-nimang puteri mereka, Bi Li berkata dengan
nada penuh keheranan,
”Suamiku, Im Giok mempunyai muka yang hampir sama dengan Enci Pek Hoa.”
Kiang Liat terkejut bukan main. “Apa katamu? Pek Hoa siapa...?”
Bi Li juga terkejut sekali, merasa bahwa ia telah kelepasan bicara. Maka dengan muka kemerahan ia
berkata,
“Enci Pek Hoa adalah seorang dewi dari kahyangan. Suamiku, jangan kau tertawakan aku dan mengira aku
tahyul dan bicara yang bukan-bukan. Kejadian itu amat ajaib maka selama ini aku tak pernah mengatakan
kepadamu, takut kalau kau akan mentertawakan aku.”
“Coba ceritakan, isteriku. Aku tidak akan mentertawakanmu. Siapakah dewi itu dan bagai mana kau bisa
bertemu dengan dia?” tanya Kiang Liat dan hatinya berdebar gelisah.
Bi Li lalu menceritakan tentang pertemuannya dengan Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat yang dipuji-pujinya
sebagai seorang dewi yang sangat cantik jelita. Kiang Liat mendengarkan penuturan isterinya itu dengan
sepasang mata terbelalak dan hatinya merasa tidak enak sekali. Tahulah dia sekarang bahwa dahulu Pek
Hoa dapat datang mencarinya ke kota Sian-koan tentu setelah mendengar dari Bi Li bahwa dia adalah
murid dari Han Le!
“Pek Hoa-cici baik sekali, suamiku. Dia bilang bahwa kelak dia akan datang menjenguk kalau aku sudah
mempunyai anak...”
Makin gelisah hati Kiang Liat. Akan tetapi dia diam saja, tidak berani ia menerangkan kepada isterinya yang
lemah itu bahwa sebenarnya orang yang dikira dewi oleh isterinya itu bukan lain adalah seorang iblis wanita
yang amat jahat!
Semenjak mendengar penuturan isterinya itu, Kiang Liat selalu bersikap waspada. Tiap malam secara
diam-diam dia melakukan penjagaan, takut apa bila iblis wanita itu datang mengganggunya. Oleh karena
kewaspadaannya inilah maka dia mulai melihat sesuatu yang amat mencurigakan di waktu malam.
Kadang-kadang ia mendengar suara kaki kuda yang datang dari jauh kemudian berhenti di belakang
rumahnya, sedikit di luar pagar kebun bunga kecil yang berada di belakang rumah. Kadang-kadang dia juga
mendengar ada suara orang bercakap-cakap di tengah malam menjelang pagi!
Hatinya mulai curiga dan pada malam hari itu, ketika mendengar suara kuda berhenti di belakang, secara
diam-diam dia turun dari pembaringan lalu berjalan keluar melalui pintu belakang. Waktu itu sudah
dunia-kangouw.blogspot.com
menjelang fajar dan perlahan-lahan ia membuka pintu, lantas mengintai keluar.
Ia melihat sesosok bayangan keluar dari pintu samping, berlari-lari ke arah taman bunga. Kemudian,
bayangan ini bertemu dengan bayangan lainnya yang memasuki pintu pagar yang agaknya sudah dibuka
dari dalam.
Hati Kiang Liat berdebar gelisah. Melihat gerak-gerik kedua orang itu, mereka hanyalah orang-orang biasa
dan sama sekali tidak seperti gerakan orang yang pandai ilmu silat, apa lagi kalau yang datang Pek Hoa
tentu tidak demikian caranya.
Pada waktu dia menyelinap dan bersembunyi di balik batang pohon kembang, Kiang Liat merasa
mendongkol bukan main karena ia mengenal bahwa bayangan yang keluar dari pintu samping itu adalah
Ceng Si. Pelayan wanita yang muda, genit dan cantik ini telah mengadakan pertemuan dengan seorang
laki-laki muda yang datang menunggang kuda!
“Hemm, benar-benar sial!” pikirnya. “tidak tahunya pelayan kita ini adalah seorang yang tidak tahu malu
sekali. Mengadakan pertemuan dengan laki-laki di waktu tengah malam, mencemarkan nama kehormatan
keluargaku! Dia harus diusir pergi!”
Dua orang itu bicara berbisik-bisik dengan mesra sekali sehingga Kiang Liat malu untuk muncul. Ia menanti
sampai Ceng Si yang kelihatan memberikan sesuatu kepada laki-laki itu kembali ke dalam rumah,
kemudian ia mendengar laki-laki itu menunggang kudanya kembali yang dibalapkan cepat-cepat pergi dari
situ.
Kiang Liat menjadi bingung. Apakah dia harus beri tahukan hal ini kepada Bi Li? Isterinya kelihatan begitu
cinta dan sayang kepada Ceng Si dan kalau saat ini dia beri tahukan, apakah tidak akan membikin isterinya
berduka?
Kemudian ia teringat akan sesuatu. Ada hal yang sangat mengherankan hatinya, yakni persediaan uangnya
cepat sekali berkurang bahkan isterinya yang dia tahu mempunyai banyak uang, cepat sekali kehabisan
uang. Apakah Ceng Si tidak melakukan pencurian? Tadi ia melihat gadis pelayan itu memberi sesuatu
kepada kekasihnya, apakah itu bukan uang atau benda berharga?
Berpikir sampai di sini, kembali Kiang Liat tertegun. Ia sudah lama tidak melihat isterinya memakai
perhiasan! Bahkan perhiasan berupa kupu-kupu dan bunga cilan yang dulu ia berikan kepada Bi Li sebagai
emas kawin, tak pernah lagi menghias rambut isterinya itu!
Ia memang seorang laki-laki yang tidak begitu peduli tentang segala macam perhiasan, maka hal ini
terlewat begitu saja dari perhatiannya. Memang pernah secara iseng-iseng dia bertanya kepada isterinya
mengapa tidak pernah memakai perhiasan, akan tetapi isterinya menjawab,
“Untuk apakah semua perhiasan itu? Aku sudah menikah dengan kau, bahkan sekarang sudah menjadi
ibu, kiranya tak perlu lagi bersolek.”
Jawaban ini menyenangkan hatinya, sebab Kiang Liat sendiri suka akan kesederhanaan, maka ia tak
bertanya lebih lanjut. Sekarang melihat peristiwa yang terjadi di taman bunga timbul berbagai dugaan di
dalam hatinya.
Tak salah lagi, mungkin sekali Ceng Si melakukan pencurian. Siapa tahu kalau isterinya sebenarnya
kehilangan semua perhiasan itu, akan tetapi tidak berani bilang karena takut. Isterinya begitu lemah dan
begitu sayang kepada Ceng Si.
Kiang Liat tidak dapat tidur. Pada keesokan hatinya, ia terbangun dengan kepala pusing. Pagi-pagi sekali
Ceng Si sudah datang membawa segala macam keperluan isterinya, bahkan dengan amat rajin dan telaten
pelayan ini mengurus Im Giok dengan penuh kasih sayang. Isterinya juga kelihatan begitu berterima kasih
kepada Ceng Si sehingga ia tidak tega untuk mengungkit urusan itu.
“Lebih baik kutangkap jahanam itu!” pikir Kiang Liat dengan gemas.
Benar, itulah jalan satu-satunya supaya tidak menyinggung perasaan isterinya. Ia harus menangkap lakilaki
yang sering kali datang menemui Ceng Si, kemudian memaksanya mengaku…..
dunia-kangouw.blogspot.com
********************
Beberapa hari kemudian, pada suatu pagi, Cia Sun melarikan kudanya dengan cepat. Seperti biasa, malam
tadi dia mengadakan pertemuan dengan Ceng Si di taman bunga dan sesudah meninggalkan tempat
pertemuan rahasia itu, ia membawa sekantung uang dan beberapa potong benda berharga.
Sambil membalapkan kudanya, Cia Sun tersenyum-senyum gembira. Betapa ia tak akan merasa girang?
Ceng Si sudah menjadi kekasihnya, dan dengan bantuan kekasihnya ini, dia dapat menggerogoti kekayaan
keluarga Kiang. Song Bi Li atau Nyonya Kiang yang sudah berada di dalam cengkeramannya itu tidak
berdaya dan terpaksa menuruti segala permintaannya.
“Ceng Si memang manis dan cerdik,” Cia Sun berpikir sambil memperlambat larinya kuda karena ia telah
tiba di luar kota dan merasa aman.
“Surat Bi Li kepadaku masih disimpan oleh Ceng Si dan dengan surat itu, dia dapat terus menakut-nakuti Bi
Li. Sekali saja surat itu diperlihatkan kepada suaminya, tentu dia akan celaka.”
Biar pun sudah banyak uang yang diperasnya dari Bi Li, akan tetapi tetap saja Cia Sun merupakan seorang
miskin. Semua uang itu dihabiskan di atas meja perjudian, dipakai foya-foya dengan sahabat-sahabatnya
dan pendeknya, Cia Sun hidup sebagai pemuda kaya-raya yang royal dan mata keranjang.
Tentu saja Ceng Si tidak tahu akan hal ini dan sama sekali tidak pernah menduganya. Pelayan yang cantik
ini mabuk oleh janji-janji Cia Sun yang menuturkan bahwa semua uang dan barang itu disimpannya baikbaik
untuk dipergunakan sebagai modal dan bekal hidup kelak apa bila mereka telah hidup sebagai suami
isteri!
Selagi Cia Sun enak-enak mencongklang kudanya, tiba-tiba dari arah belakang terdengar derap kaki kuda
yang dilarikan cepat sekali. Cia Sun tidak menyangka buruk dan mengira bahwa ada orang berkuda yang
hendak lewat mendahuluinya, maka dia minggirkan kuda tunggangannya.
Benar saja, tampak seorang penunggang kuda tengah membalapkan kudanya menyusul. Akan tetapi,
setelah berada di depan Cia Sun, tiba-tiba saja orang itu menghentikan kuda sambil menarik kendali
sehingga kudanya berputar dan menghadapi kuda Cia Sun.
Melihat orang muda gagah yang menunggang kuda itu, seketika wajah Cia Sun menjadi pucat dan dadanya
berdebar keras. Walau pun belum berkenalan akan tetapi diam-diam dia sering kali melihat dan
memperhatikan suami Bi Li dan orang yang kini mencegatnya bukan lain adalah Kiang Liat, suami Bi Li!
Akan tetapi, sastrawan muda ini dapat cepat menenangkan hati dan memaksa diri tersenyum.
“Tuan siapakah dan ada keperluan apa dengan siauwte?” tanya Cia Sun dengan suara ramah-tamah, sikap
seorang terpelajar yang sopan-santun.
Akan tetapi Kiang Liat tidak dapat tertipu oleh sikap ini. Sudah beberapa kali Kiang Liat mengintai dalam
taman dan tahulah dia bahwa pemuda itu diam-diam telah mengadakan hubungan rahasia dengan Ceng Si
dan gadis pelayan itu selalu memberi barang-barang berharga kepadanya. Tentu saja Kiang Liat merasa
sangat marah dan curiga. Dari mana Ceng Si bisa mendapatkan barang-barang berharga dan uang?
“Bangsat kecil, tidak perlu kau berpura-pura dan bermanis mulut. Aku sudah melihat dan tahu akan semua
perbuatanmu di dalam taman rumahku. Ayo sekarang kau mengaku, siapa namamu dan mengapa kau
begitu berani mampus memasuki taman mengadakan pertemuan dengan pelayan kami?!”
Kiang Liat melompat turun dari kudanya dan memandang kepada Cia Sun dengan sinar mata mengandung
ancaman, sedangkan pecut kudanya dipegang erat-erat pada tangan kanannya.
Dapat dibayangkan betapa kaget hati Cia Sun mendengar ini. Tidak disangkanya sama sekali bahwa suami
Bi Li ini sudah melihatnya mengadakan pertemuan dengan Ceng Si. Sampai di manakah pengetahuan
orang she Kiang ini? Tanpa disadarinya, saking kaget dan gelisahnya, Cia Sun mengerling ke arah kantung
uang yang ada di atas punggung kuda.
“Ya, itu pun kau terima dari Ceng Si! Hendak kulihat, apakah isinya!” kata pula Kiang Liat sambil melangkah
maju.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tentu saja Cia Sun tidak menghendaki hal ini terjadi. Ia tahu bahwa barang-barang dan uang yang kini
dibawanya adalah kepunyaan hartawan muda ini yang diterima oleh Ceng Si dari Bi Li. Maka ia lalu
mengambil sikap seakan-akan ia marah besar.
“Manusia kurang ajar…! Apakah kau hendak merampok?” bentaknya sambil mencambuk kudanya. “Aku
tidak kenal padamu dan aku tidak mempunyai urusan denganmu. Pergi!”
Akan tetapi Kiang Liat mana mau melepaskannya? Sekali mengulur lengan, Kiang Liat sudah menangkap
pergelangan tangan Cia Sun dan sebelum sastrawan bermoral bejat ini tahu apa yang terjadi, ia telah
diseret turun dari atas kuda!
“Keparat busuk, masih saja kau tidak mau lekas-lekas mengaku?” bentak Kiang Liat yang sudah menjadi
marah melihat sikap orang itu.
Cia Sun yang terbanting dari atas kuda merasa pantatnya sakit sekali. Sambil meringis ia merayap bangun.
Ia maklum bahwa pengakuan berarti mencari celaka, oleh karena itu ia memberanikan diri, mengangkat
dada dan berkata,
“Kau ini orang gila atau orang mabuk? Kalau kau hendak merampok, carilah saudagar-saudagar yang
kaya, jangan mengganggu seorang siucai yang miskin seperti aku!”
Hati Kiang Liat semakin mendongkol. Melihat sikap pemuda sastrawan ini, terang sekali baginya bahwa ia
sedang menghadapi seorang yang curang dan palsu.
“Jahanam, jangan berpura-pura lagi. Sudah beberapa kali aku melihat kau mengadakan pertemuan dengan
pelayan kami di taman. Kau tidak mau cepat-cepat mengaku? Atau menanti sampai aku turun tangan
memukulmu?”
“Mengaku apa? Aku tak pernah melakukan hal yang kau sebutkan tadi. Aku tak bersalah apa-apa...”
Kiang Liat marah sekali. Kaki kirinya bergerak menendang dan tersungkurlah Cia Sun. Baiknya Kiang Liat
masih belum tahu akan semua perbuatan Cia Sun yang disangkanya hanya seorang pemuda yang main
gila dengan gadis pelayannya saja. Maka tendangan itu perlahan saja dan hanya cukup membikin Cia Sun
roboh tanpa menderita luka berat. Akan tetapi cukup membikin Cia Sun merintih-rintih karena pahanya
yang tertendang itu terasa sakit bukan main. Beberapa kali ia mencoba untuk bangun, akan tetapi tak dapat
sehingga akhirnya dia menjatuhkan diri duduk di atas tanah sambil memandang kepada Kiang Liat dengan
muka pucat.
“Hayo lekas mengaku! Jangan menanti sampai aku naik darah dan memukul kepalamu sampai hancur!”
Cia Sun mulai ketakutan. Tempat itu sunyi dan waktu itu masih pagi sekali. Melihat sepak terjang Kiang
Liat, dia maklum bahwa dia tidak akan mungkin dapat melawan. Apa lagi, memang dia telah mendengar
bahwa hartawan muda she Kiang ini adalah seorang ahli silat yang amat tinggi kepandaiannya.
“Ampunkah hamba, Wangwe...,” katanya dan tiba-tiba sastrawan muda ini berlutut!
Kiang Liat memandang dengan hati merasa sebal sekali. Benar-benar dia menghadapi seorang pemuda
yang mempunyai martabat rendah sekali.
“Jangan banyak aksi, lekas mengaku!” bentaknya.
“Hamba akan mengaku terus terang. Sebenarnya sudah lama hamba berkenalan dengan Nona Ceng Si.
Hubungan hamba dengan dia sudah berjalan beberapa tahun, sejak dia belum pindah ke Siang-koan.
Hamba tidak melakukan sesuatu yang jahat, dan hubungan hamba dengan Ceng Si berdasarkan suka
sama suka... harap Wangwe sudi memberi maaf.”
“Kau selalu menerima bungkusan dan kantung dari Ceng Si, apakah isinya?”
Cia Sun cepat menyembunyikan rasa takutnya. “Hanya... hanya makanan dan masakan, Wangwe. Ceng Si
sering kali memberi makanan kepada hamba...”
“Dusta!” bentak Kiang Liat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dua kali ia menggerakkan tangan, kantung yang masih di atas sela kuda Cia Sun sudah diambilnya. Ia
membuka kantung itu dan berjatuhanlah isinya ke atas tanah. Uang emas dan perak yang jumlahnya tidak
sedikit.
“Makanan kau bilang? Hayo bilang, dari mana kau mendapatkan ini semua?”
“Dari... dari... Ceng Si, katanya itu uang simpanannya selama dia bekerja... dia berikan kepada hamba
untuk... untuk...”
“Untuk apa?” Kiang Liat tidak sabar lagi.
“Wan-gwe, Ceng Si dan hamba mengambil keputusan untuk menikah dan karena hamba seorang miskin,
Nona Ceng Si yang baik itu memberikan uang simpanannya ini kepada hamba untuk mempersiapkan dan
memilih hari pernikahan.”
Kiang Liat percaya dengan keterangan ini. Memang dia pun sudah menyaksikan sendiri bahwa pemuda ini
tengah mengadakan hubungan asmara dengan Ceng Si, maka semua keterangannya tadi masuk di akal.
Yang mencurigakan hatinya adalah Ceng Si. Dari mana pelayan itu mendapatkan uang begini banyak?
Mungkinkan uang simpanannya?
“Siapa namamu?” tanyanya tiba-tiba.
“Hamba bernama Cia Sun…”
“Sekarang dengarlah. Aku Kiang Liat bukanlah orang yang boleh kau permainkan begitu saja. Kau telah
berani lancang memasuki taman rumah kami tanpa ijin, pada malam hari pula. Hal ini saja sudah menjadi
alasan cukup kuat untuk membunuhmu sebagai seorang maling atau penjahat. Akan tetapi aku memaafkan
kau dengan satu syarat bahwa besok pagi kau harus datang ke rumahku dan dengan resmi kau
mengajukan pinangan untuk diri Ceng Si. Kau boleh menyuruh seorang perantara wanita untuk
mengajukan pinangan itu kepada Hujin (Nyonya). Kalau besok kau tidak melakukan hal ini, awas, aku akan
mencarimu dan mengambil nyawamu!”
“Baik, Wan-gwe... baik...” Cia Sun mengangguk-anggukkan kepala sambil berlutut terus.
Kiang Liat lalu mencemplak kudanya dan membalapkan kuda itu menuju pulang. Hatinya lega. Ia memang
tak suka sama sekali melihat Ceng Si menjadi pelayan isterinya. Gadis pelayan ini terlalu genit dan terlalu
cantik, pula amat berani.
Dengan terang-terangan gadis pelayan itu mencoba untuk menjatuhkan perhatiannya, mencoba untuk
menjatuhkan hatinya dengan pelbagai aksi dan gaya. Lebih celaka lagi, entah mengapa, isterinya nampak
suka sekali pada Ceng Si sehingga bahkan rela kalau Ceng Si menjadi bini mudanya! Sekarang ia dapat
menangkap Cia Sun dan memaksa sastrawan muda itu mengawini Ceng Si. Inilah jalan terbaik.
Kiang Liat sangat cinta kepada isterinya. Dia tidak mau menyinggung perasaan Bi Li dan meski pun dia
merasa curiga dan heran melihat sikap isterinya yang berlebihan terhadap Ceng Si, akan tetapi ia tidak
tega untuk bertanya atau mendesak. Ia telah percaya penuh akan kesetiaan dan kecintaan isterinya
kepadanya, maka dia tidak mau memperlihatkan suatu sikap yang kurang percaya. Oleh karena ini,
setibanya di rumah, ia tidak bercerita sesuatu kepada isterinya tentang pertemuannya dengan Cia Sun.
Pada keesokan harinya, betul saja di rumah gedung keluarga Kiang Liat datang seorang wanita setengah
tua yang di Sian-koan terkenal sebagai seorang perantara perjodohan. Wanita ini datang untuk mengajukan
pinangan atas diri Ceng Si untuk sasterawan Cia Sun!
Mendengar ini, Bi Li nampak terheran-heran, akan tetapi juga girang dan dia tidak tahu bahwa diam-diam
suaminya memandangnya dengan kerling tajam.
“Panggil Ceng Si ke sini...!” berkata Bi Li kepada seorang pelayan lain, suaranya nyaring dan jelas sekali
bahwa ia bergembira.
Ceng Si tergopoh-gopoh. Gadis ini sudah mendengar dari pelayan yang memanggilnya karena pelayan ini
dunia-kangouw.blogspot.com
tadi telah mendengar mengenai peminangan itu. Ceng Si juga merasa terheran-heran dan bingung ketika
Bi Li berkata kepadanya,
“Ceng Si, Bibi ini datang untuk meminangmu atas nama seorang sastrawan muda yang bernama Cia Sun.
Walau pun aku dan suamiku berhak mengambil keputusan karena kau tak memiliki keluarga lagi, akan
tetapi merasa lebih baik kami menanyakan pendapatmu sendiri. Bagaimana?”
Ceng Si kebingungan. Sebentar ia memandang kepada Bi Li dan di lain saat ia menatap wajah pelamar itu.
Semua ini diikuti oleh pandangan mata Kiang Liat yang duduk di sudut dan agaknya tidak mau tahu tentang
persoalan perjodohan ini.
“Akan tetapi...,” kata Ceng Si bingung, “bagaimana ini, Hujin? Saya... saya masih suka melayani Hujin dan
belum ada pikiran untuk menikah...”
Dari tempat duduknya, dengan perasaan heran sekali Kiang Liat melihat betapa pandang mata pelayan itu
amat tajam dan berpengaruh ketika memandang kepada Bi Li!
“Ceng Si, bukankah hal ini sangat baik sekali? Lebih baik dari pada kau bekerja di sini? Ingatlah, usiamu
sudah dua puluh tahun dan pelamar ini bukannya orang sembarangan. Kiranya sudah amat cocok apa bila
kau menjadi isteri seorang siu-cai…”
“Betul sekali kata-kata Kiang-hujin,” perantara itu berkata cepat-cepat. “Cia-siucai adalah seorang pemuda
yang tidak saja tampan sekali, tetapi juga amat terpelajar, sopan-santun dan berbudi mulia. Biar pun dia
bukan dari keluarga kaya, akan tetapi ia pun bukan tidak beruang. Ia menyediakan semua biaya untuk
upacara pernikahan!”
“Akan tetapi... aku… aku belum suka berumah tangga sendiri!” kata Ceng Si dan dalam kata-katanya ini
terkandung suara demikian keras dan menentukan.
Kiang Liat terkejut sekali karena ia melihat betapa isterinya menjadi berubah air rnukanya dan agaknya
isterinya itu tak berani menentang keputusan Ceng Si! Hal ini menimbulkan kemarahan di dalam hatinya
dan berkatalah Kiang Liat,
“Ceng Si, di dalam urusan ini sekali-kali tidak betul kalau kau berkeras kepala! Agaknya memang kau
sudah berjodoh sekali dengan pelamar ini, karena malam tadi aku bermimpi melihat kau bertemu dengan
seorang sastrawan muda di dalam taman bunga. Bukankah ini tanda bahwa kau memang berjodoh
padanya? Maka kau tidak boleh menampik!”
Perantara itu tertawa dan nampaklah giginya yang ompong. Ia menepuk-nepuk tangan dan berkata, “Bagus
sekali! Itulah impian yang amat baik artinya. Nona Ceng Si, setelah Kiang-wangwe sendiri bermimpi seperti
itu, jelas bahwa perjodohan ini adalah kehendak Thian! Kau tidak bisa menolak kehendak Thian.”
Hanya Kiang Liat yang tahu betapa wajah pelayan itu menjadi pucat sekali dan nampak jelas
kegugupannya pada saat mendengar kata-kata Kiang Liat tadi. Hanya untuk sekilas gadis pelayan itu
mengerling kepadanya, akan tetapi di dalam kerlingan ini, Kiang Liat menangkap pandang mata yang
penuh keheranan, kekagetan, dan kebencian. Ada pun Bi Li memandang kepada suminya dengan
berterima kasih.
Ceng Si menundukkan mukanya. “Baiklah. Kalau Wan-gwe dan Hujin mendesak, saya pun tidak dapat
membantah. Nasib hidupku memang berada di tangan kedua majikanku.” Kata-kata yang perlahan ini
diikuti oleh mengalirnya air mata.
Hari pernikahan ditetapkan dan beberapa pekan kemudian, pernikahan antara Cia Sun dan Ceng Si segera
dilangsungkan.
Sesudah pelayan itu dibawa pergi oleh suaminya, Bi Li merasa seakan-akan batu yang selama ini
menggencet hatinya sudah dilenyapkan. Dia merasa lega sekali dan mukanya yang selama ini agak pucat,
kini menjadi agak kemerahan dan bercahaya. Juga sikapnya terhadap suaminya makin manis dan setiap
hari dia nampak gembira sekali.
Meski terheran-heran dan ingin sekali tahu rahasia apakah gerangan yang tersembunyi di dalam hubungan
antara isterinya dan Ceng Si, akan tetapi Kiang Liat tidak tega untuk mendesak isterinya membuka rahasia
dunia-kangouw.blogspot.com
itu. Ia terlalu cinta dan terlalu sayang kepada Bi Li, dan kepercayaannya sudah bulat.
Sesudah Ceng Si meninggalkan rumah gedung itu, Bi Li benar-benar kelihatan seperti hidup baru. Ia
nampak berbahagia sekali, perhatiannya kepada puterinya bertambah, dan kasih sayangnya terhadap
suami pun makin mesra. Tentu saja Kiang Liat merasa amat beruntung, dan sepasang suami isteri ini pun
hidup dalam keadaan tenteram serta penuh kebahagiaan.
Puteri mereka, Kiang Im Giok, nampak semakin mungil dan manis. Memang luar biasa sekali anak ini.
Tubuhnya montok dan sehat, kulitnya halus dan putih kemerahan, bentuk tubuhnya demikian sempurna
sehingga sukarlah mencari cacatnya. Biar pun masih kecil, sudah kelihatan betapa sepasang matanya
bercahaya dan bening, rambutnya hitam dan subur. Tidak mengherankan apa bila ayah bundanya amat
sayang kepadanya.
Beberapa bulan lewat tanpa ada peristiwa yang luar biasa. Pada suatu hari, pada waktu sepasang suami
isteri ini sedang duduk makan angin di ruang depan sambil menimang-nimang Im Giok, dari pekarangan
luar masuk seorang laki-laki setengah tua berpakaian pengemis. Kiang Liat yang berpendengaran tajam
segera menoleh dan begitu melihat pengemis itu, wajahnya berubah girang sekali.
“Suhu Han Le datang...,” bisiknya kepada Bi Li yang juga memandang dengan heran.
Keduanya cepat berdiri dan menyambut dengan penuh kehormatan. Han Le tersenyum-senyum dan
pendekar sakti ini menatap kepada Im Giok dengan pandang mata kagum.
“Aduh, puterimu ini sungguh-sungguh mengagumkan sekali, Kiang Liat!” katanya sambil mengelus-elus
kepala Im Giok yang baru berusia dua tahun.
Setelah dipersilakan duduk dan dikeluarkan hidangan, Han Le lalu makan minum tanpa sungkan-sungkan
lagi, kemudian ia menuturkan maksud kedatangannya.
“Muridku, sekarang ada pekerjaan penting sekali untuk kita. Ketahuilah, dunia kang-ouw sedang
menghadapi ancaman dan bahaya hebat dan pada bulan Lak-gwe (bulan enam) nanti merupakan saat
penentuan apakah dunia kang-ouw akan bisa menyetamatkan diri atau tidak.”
Han Le lantas menuturkan tentang pergerakan dari kaum Mo-kauw yang dipimpin oleh Thian-te Samkauwcu,
tiga orang tokoh besar aneh yang menjadi guru dari Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat dan Hek Pek Moko.
Selain mereka ini, masih banyak sekali tokoh-tokoh Mokauw yang mempunyai ilmu tinggi. Kini pihak
Mo-kauw mulai dengan gerakan mereka untuk memusuhi dunia kang-ouw, dengan jalan mencuri kitab ilmu
silat dari Siauw-lim-pai dan pedang dari Kun-lun-pai.
“Supek-mu Bu Pun Su telah turun tangan dan siap sedia menghadapi mereka. Kita boleh percaya penuh
akan kelihaian Bu Pun Su Suheng. Akan tetapi Thian-te Sam-kauwcu dan teman-temannya juga bukan
orang-orang biasa, melainkan iblis-iblis dan siluman-siluman yang sakti. Oleh karena itu, sudah menjadi
kewajiban kita untuk membantu supek-mu Bu Pun Su.”
“Akan tetapi, Suhu. Mungkin Suhu merupakan bantuan yang amat berharga bagi Supek, sedangkan
teecu...? Baru menghadapi Pek Hoa Pouwsat saja teecu tidak berdaya. Tentu saja teecu sama sekali tidak
merasa takut dan untuk membela Supek, teecu siap untuk mempertaruhkan jiwa raga teecu.”
“Betul sekali kata-katamu itu, Kiang Liat. Aku pun tidak begitu bodoh untuk minta kau menghadapi mereka.
Aku hanya minta kau membantuku mencari beberapa orang yang kiranya akan merupakan tandingan yang
setimpal menghadapi pihak Mo-kauw.”
“Siapakah mereka itu, Suhu? Teecu siap untuk mencari mereka.”
“Orang pertama adalah Swi Kiat Siansu yang kini berada di barat. Orang ke dua Pok Pok Sianjin yang
kabarnya berada di utara. Mereka ini takkan mau turun gunung kalau tidak aku sendiri yang datang dan
membujuk mereka. Kiranya hanya kedua orang inilah yang kepandaiannya sudah setingkat dengan pihak
Mo-kauw. Selain mereka berdua, alangkah baiknya kalau bisa mendatangkan Bun Sui Ceng dan The Kun
Beng.” Han Le menghela napas panjang ketika menyebut nama dua orang ini.
“Siapakah mereka dan di mana tempat tinggal mereka, Suhu?” Kiang Liat tertarik sekali mendengar nama
orang-orang yang sangat dipuji oleh gurunya dan yang belum ia kenal itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Mereka adalah orang-orang luar biasa. Keduanya mempunyai hubungan erat dengan supek-mu Bu Pun
Su. Bun Sui Ceng adalah reorang pendekar wanita gagah perkasa, murid tunggal dari mendiang Kiu-bwe
Coa-li tokoh wanita nomor satu di dunia kang-ouw. Ada pun yang bernama The Kun Beng adalah murid ke
dua dari mendiang Pak-lo-sian Siangkoan Hai, yakni sebenarnya ia adalah sute (adik seperguruan) dari Swi
Kiat Siansu. Namun seperti juga Bun Sui Ceng, dia memiliki watak yang amat aneh dan sukar diajak
berunding. The Kun Beng dahulu menjadi tunangan Bun Sui Ceng, akan tetapi mereka lalu berpisah dan
entah bagaimana keadaan mereka sampai saat ini. Aku tidak sanggup menghadapi mereka, maka kaulah
yang kuminta menemui dua orang aneh itu. Kalau kau berhasil membawa mereka pada bulan Lak-gwe
menghadapi pihak Mo-kauw, kau akan berjasa besar sekali, Kiang Liat.”
“Akan tetapi, murid belum pernah mengenal mereka dan tidak tahu di mana mereka berada, Suhu.
Bagaimana teecu dapat mencari mereka?”
“Mereka memang orang-orang aneh sehingga sukar sekali mencari tahu di mana mereka berada. Baiknya
belum lama ini aku mendengar bahwa Bun Sui Ceng sekarang bertapa di sebuah pulau kosong yang
terletak tidak jauh dari pantai timur, yaitu di mana Sungai Huai-kiang memuntahkan airnya ke laut. Dan aku
percaya bahwa di mana ada Bun Sui Ceng, tentu tak jauh dari situ kau dapat menjumpai The Kun Beng,
karena dia ini selalu membayangi bekas tunangan yang amat dicintanya.”
“Baik, Suhu. Teecu akan berusaha mencari mereka. Akan tetapi kalau sudah bertemu, apakah yang harus
teecu katakan?”
“Katakan tentang munculnya tiga iblis yang sekarang menjadi pucuk pimpinan Mo-kauw, tentang perbuatan
mereka mencuri kitab Siauw-lim-pai dan pedang Kun-lun-pai. Kau beri tahukan pula bahwa nanti pada harihari
pertama dari bulan Lak-gwe, pihak Mo-kauw itu menantang kepada kita untuk menentukan keunggulan
di tikungan Sungai Yalu Cangpo, di mana sungai itu membelok ke barat, yakni di sebelah barat Gunung
Heng-tuang-san.”
“Bagaimana kalau mereka menolak, Suhu?”
“Itulah yang sangat kukhawatirkan. Akan tetapi, coba kau membujuknya. Terutama sekali katakan bahwa
supek-mu Bu Pun Su yang diancam oleh pihak Mo-kauw, dan bahwa pihak Mo-kauw lihai sekali sehingga
Bu Pun Su Suheng tak akan kuat menghadapi lawan kalau mereka berdua tidak mau membantu.”
Sesudah menceritakan semua maksud kedatangannya, Han Le lalu pergi untuk mencari Swi Kiat Siansu
dan Pok Pok Sianjin. Para pembaca cerita Pendekar Sakti tentu masih ingat akan nama-nama ini. Swi Kiat
Siansu merupakan murid pertama dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai, sedangkan Pok Pok Sianjin adalah
murid dari Hek-i Hui-mo.
Kiang Liat sendiri kemudian meninggalkan pesan kepada isterinya agar supaya baik-baik menjaga Im Giok.
Bi Li menangis dan merasa berat sekali ditinggal pergi oleh suaminya.
“Jangan khawatir, isteriku yang baik. Aku pergi bukan untuk melakukan pekerjaan yang berbahaya,
melainkan untuk minta bantuan kepada orang pandai. Walau pun demikian, tugasku ini penting sekali.
Sekarang sudah bulan dua, tinggal empat bulan lagi waktunya, maka aku harus cepat-cepat berangkat
mencari dua orang pandai itu sebagaimana yang diperintahkan oleh Suhu.”
Akhirnya Bi Li melepas suaminya pergi dan Kiang Liat berangkat dengan menunggang seekor kuda yang
baik.
Sebulan kemudian, Kiang Liat sudah menukar kudanya dengan sebuah perahu yang lalu membawanya
terapung-apung di laut sebelah timur. Dari para nelayan dia mendapatkan keterangan bahwa di dekat
pantai di mana air Sungai Huai-kiang mengalir ke laut itu hanya terdapat tiga buah pulau kosong yang tak
ada penghuninya. Hatinya girang karena kalau hanya tiga saja pulau yang berada di sana, kiranya mudah
mencari wanita sakti yang bernama Bun Sui Ceng.
Perahu yang dibeli oleh Kiang Liat itu adalah perahu yang baru dan kuat sekali, layarnya juga masih baru,
terbuat dari kain yang tebal. Dayungnya juga baik sekali, oleh karena itu pelayarannya maju dengan laju.
Belum jauh ia meninggalkan pantai, tiba-tiba ia mendengar suara orang bernyanyi. Kiang Liat merasa heran
sekali karena dari manakah datangnya suara nyanyian di atas lautan yang sunyi itu? Ia menengok dan
dunia-kangouw.blogspot.com
terlihatlah olehnya sebuah perahu butut dengan layar bertambal-tambal sedang berlayar meninggalkan
pantai.
Jarak antara dia dan perahu butut itu masih sangat jauh sehingga orang yang duduk di dalam perahu itu
tidak kelihatan jelas, akan tetapi suara orang yang bernyanyi itu dapat demikian jelas terdengar olehnya. Ia
merasa terkejut sekali. Mungkinkah ada orang yang memiliki lweekang demikian hebatnya? Atau barang
kali kebetulan saja suara itu terbawa oleh angin laut yang meniup kencang?
Karena merasa tertarik, dia lalu memandang penuh perhatian. Setelah perahu butut yang gerakannya
ternyata cepat sekali itu datang mendekat, samar-samar dia melihat bahwa penumpangnya adalah seorang
lelaki setengah tua yang pakaiannya tak karuan, seperti seorang pengemis.
Orang itu mendayung perahunya dan Kiang Liat melihat hal yang amat aneh. Dia tahu bahwa angin bertiup
kencang dan perahunya sendiri pun sangat laju oleh tiupan angin pada layar. Dalam keadaan seperti ini,
dayung tidak perlu digunakan lagi, karena betapa pun kuatnya orang mendayung perahu, tak akan dapat
melawan kekuatan tenaga angin meniup layar.
Akan tetapi anehnya, perahu butut yang sudah digerakkan oleh layar yang melengkung terhembus angin,
juga masih terdorong cepat ke depan tiap kali orang itu menggerakkan dayungnya. Ini menandakan bahwa
tenaga dorongan dayung itu masih lebih hebat dan lebih kuat dari pada tenaga tiupan angin pada layar
tambal-tambalan itu!
Kiang Liat yang sedang memandang terheran-heran itu tiba-tiba mengeluarkan seruan kaget. Betapa ia
tidak akan kaget kalau melihat perahu butut itu tiba-tiba amblas dengan kepala lebih dahulu ke dalam air
dan sekejap mata kemudian, perahu berikut layar dan orangnya lenyap dari permukaan air!
“Celaka...!” serunya. “Perahu itu telah karam...!”
Akan tetapi ia merasa heran sekali. Bagaimana perahu dapat karam seperti itu? Lebih tepat lagi kalau
dikatakan bahwa perahu itu sengaja menyelam dengan kepala di depan. Akan tetapi mungkinkah ini? Mana
mungkin ada orang dapat menyelam berikut perahu dan layarnya?
“Dukkk!”
Kiang Liat tersentak kaget. Tanpa ia ketahui karena sejak tadi ia menoleh ke belakang, tahu-tahu kini
perahunya menumbuk sebuah benda yang keras, besar serta berat. Dia memandang dan melihat bahwa
perahunya sudah bertumbukan dengan sebuah perahu besar dan terdengar suara ketawa terkekeh-kekeh
di atas perahu besar itu.
Baiknya Kiang Liat cepat-cepat menggerakkan dayung untuk mengatur gerak perahunya sehingga
perahunya tak sampai tenggelam. Akan tetapi terdengar suara keras dan tiang layarnya patah.
Bukan main mendongkolnya hati Kiang Liat. Dia segera berdiri di dalam perahunya dan berdongak
memandang ke atas. Dari perahu besar itu ia mendengar suara tertawa lagi, kemudian lapat-lapat ia
mendengar suara khim (alat tetabuhan) yang dimainkan orang, lalu disusul oleh suara nyanyian wanita.
“Kurang ajar! Siapa berani main-main dan sengaja menabrak perahuku?” seru Kiang Liat marah.
Tidak ada jawaban dari petahu besar yang kini tidak bergerak lagi dan masih menempel dengan
perahunya. Saking jengkelnya, Kiang Liat cepat mengayun dayungnya, memukul badan perahu besar
sekuat tenaga.
“Krakkk!”
Perahu besar itu bergoyang keras, akan tetapi badan perahu tidak apa-apa, sebaliknya dayung yang
dipegangnya patah dan ujungnya telah hancur berkeping-keping. Ketika dia meraba dengan tangannya,
ternyata olehnya bahwa badan perahu besar itu berlapiskan besi.
Suara khim berhenti dan sebuah kepala yang besar nongol dari atas pinggiran perahu besar, diikuti oleh
suara makian,
“Demi setan air! Siapakah yang berani mampus memukul perahu?” Suara itu parau dan ketika Kiang Liat
dunia-kangouw.blogspot.com
memandang ke atas, dia melihat muka yang kulitnya kasar dan bopeng, dengan sepasang mata bundar
dan hidung pesek.
“Jahanam!” Kiang Liat balas memaki. “Perahumu yang menabrak perahuku. Apakah kau buta?”
Si Muka Bopeng menyeringai dan Kiang Liat mendengar suara wanita dari atas perahu besar, “Tiat-thouwgu
(Kerbau Kepala Besi), apakah yang berada di bawah itu orang she Kiang?”
Kiang Liat terkejut sekali. Bagaimana ada orang dapat mengenalnya? Siapakah wanita itu?
Si Muka Bopeng yang disebut Tiat-thouw-gu menjawab, “Agaknya memang betul dia, Wi Wi Toanio.
Apakah aku boleh menabrak dan menggulingkan perahunya agar ia mampus di perut ikan?”
“Jangan! Undanglah dia ke atas, aku ingin menyaksikan sampai di mana kehebatan ilmu silatnya,” jawab
suara wanita itu.
Tiat-thouw-gu memandang kepada Kiang Liat, menyeringai, “Ehh, bukankah kau orang she Kiang dari
Sian-koan?”
“Babi muka hitam, memang betul aku Kiang Liat dari Sian-koan! Apakah alasannya maka manusia-manusia
rendah macam engkau berani menghinaku?”
“Ha-ha-ha, suaramu besar sekali, bocah. Kau telah mendengar sendiri tadi, Wi Wi Toanio minta kau naik.
Beranikah kau?”
“Mengapa tidak berani?” Sambil berkata demikian, Kiang Liat menggenjot tubuhnya dan dengan gerakan
ringan sekali ia telah melompat ke atas.
Untuk menjaga diri agar jangan sampai ia dibokong musuh, ia mencabut pedangnya dan memutar pedang
sambil melompat ke atas perahu besar. Ketika ia sudah berdiri di dalam perahu, ia menghadapi banyak
orang yang nampaknya rata-rata mempunyai kepandaian tinggi.
Di tengah rombongan orang yang menumpang di perahu besar itu, dia melihat seorang wanita setengah
tua yang cantik sekali, berdiri dengan sepasang pedang di tangan. Ada pun di sebelahnya berdiri seorang
laki-laki setengah tua berpakaian mewah yang juga tampan dan gagah.
Dan di kepala perahu terdapat tiga patung sebesar manusia, patung tiga orang laki-laki yang aneh. Yang
seorang tinggi kurus seperti tengkorak, yang kedua kurus bongkok dan bermata sipit dan yang ke tiga, di
tengah-tengah, tinggi besar seperti raksasa.
Kiang Liat tidak tahu patung siapakah itu. Akan tetapi melihat wanita serta laki-laki yang gerak-geriknya
nampak halus itu, dia tidak berani sembarangan, bahkan menjura dengan hormat.
“Tidak tahu siapakah Cu-wi sekalian dan mengapa pula hendak mengganggu aku orang she Kiang.”
Wanita itu tersenyum dan nampak ia manis sekali. Kiang Liat dapat menduga bahwa dulu pada waktu
mudanya, wanita ini tentu cantik sekali.
“Kiang-enghiong, bukankah kau adalah murid Han Le dan sekarang kau sedang disuruh oleh gurumu untuk
mencari bala bantuan guna membantu Bu Pun Su?”
Kembali Kiang Liat tertegun. Bagaimana orang ini dapat mengetahui semua urusannya?
“Apa pun yang sedang kukerjakan, sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan Cu-wi sekalian.
Sekarang, apa yang Cuwi kehendaki maka menghadang perjalananku?” Kiang Liat berkata, sedikit pun dia
tidak merasa gentar menghadapi orang yang dua puluh lebih banyaknya itu.
Terdengar suara orang-orang itu tertawa, dan wanita itu berkata,
“Kiang-enghiong, aku adalah Wi Wi Toanio dan gurumu tentu akan mengerti kenapa aku menghadang
pelayaranmu di sini. Sudah lama aku mendengar akan kelihaian Han Le, maka kini bertemu dengan kau
yang menjadi muridnya, aku tidak akan menyia-nyiakan waktu. Sesungguhnya, kewajibanku adalah untuk
dunia-kangouw.blogspot.com
melenyapkan kau di tempat ini, akan letapi aku tidak mau berlaku kejam terhadap seorang muda seperti
kau ini. Marilah kita main-main sebentar sebelum aku mengajak kawan-kawanku berunding tentang apa
yang akan kami lakukan atas dirimu.”
Kiang Liat menjadi marah sekali. Terang bahwa ia dipandang ringan, dan ia maklum pula bahwa orangorang
ini tentulah bukan kawan, dan apa bila bukan musuh besar gurunya, tentu musuh besar Bu Pun Su
atau setidaknya anak buah Mo-kauw yang dipimpin oleh Thian-te Sam-kauwcu. Teringat akan ini tiba-tiba
dia menoleh ke arah tiga buah arca di kepala perahu dan ia berkata,
“Hemm, salahkah dugaanku bahwa tiga buah patung itu adalah arca-arca dari Thian-te Sam-kauwcu?”
“Matamu awas sekali, Kiang-enghiong. Memang, mereka itu adalah arca-arca dari ketiga ketua kami yang
mulia,” kata Wi Wi Toanio.
“Kalau begitu, kalian adalah anggota-anggota Mo-kauw!”
“Benar, bersiaplah kau dengan pedangmu!”
Kiang Liat maklum bahwa tidak ada lain jalan baginya kecuali bertempur mati-matian. Ia sudah banyak
mendengar dari suhu-nya akan kekejaman orang-grang Mo-kauw yang tak akan mau memberi ampun
kepada orang yang mereka musuhi.
Sambil menggereng hebat, Kiang Liat menggerakkan pedang menangkis tusukan Wi Wi Toanio yang
sudah mulai menyerangnya. Segera terjadi pertempuran sengit antara dua orang ini. Yang lain-lain berdiri
mengelilingi dan menonton.
Sepasang pedang di tangan Wi Wi Toanio benar-benar lihai sekali. Gerakannya cepat dan aneh, tenaga
lweekang-nya pun sangat hebat. Bahkan, dengan terus terang Kiang Liat harus mengaku bahwa dalam hal
kecepatan dan tenaga dalam, ia masih kalah oleh lawannya ini. Baiknya ia memiliki ilmu pedang warisan
Kiang yang sudah diperkuat dan diperhebat oleh gurunya, maka ia dapat melakukan penjagaan diri yang
kuat.
Wi Wi Toanio penasaran dan terheran-heran. Sudah tiga puluh jurus mereka bertempur, tetapi belum juga
ia mampu mendesak orang muda itu.
Laki-laki yang tadi berdiri di dekatnya mengeluarkan seruan heran dan berkata dengan suaranya yang
halus,
“Aneh sekali, aku berani bertaruh bahwa ini bukan Hun-khai Kiam-hoat Ang-bin Sin-kai!”
Mendengar seruan ini, diam-diam Kiang Liat mengeluh. Tidak saja wanita yang menjadi lawannya ini
tangguh sekali, juga seruan laki-laki tadi menyatakan bahwa laki-laki itu pun seorang ahli silat yang pandai.
Tidak sembarangan ahli silat mampu mengenal Hun-khai Kiam-hoat, namun laki-laki itu dapat menyatakan
bahwa ilmu pedangnya bukan Hun-khai Kiam-hoat.
Karena tahu bahwa ia dikepung oleh orang-orang Mo-kauw yang tinggi kepandaiannya, Kiang Liat menjadi
nekat. Pedangnya digerakkan dengan cepat dan ia pun mengeluarkan seluruh kepandalan yang ia dapat
dari Han Le selama satu tahun.
Usahanya berhasil baik. Wi Wi Toanio mengeluarkan seruan kaget dan dalam beberapa gebrakan, Wi Wi
Toanio dapat terdesak mundur oleh serangan Kiang Liat, orang muda ini sudah mengeluarkan tiga jurus
ilmu pedang yang disempurnakan oleh Han Le, yakni pertama-tama ia menyerang dengan gerak tipu Pekin
Koan-goat (Awan Putih Menutup Bulan), lalu disambung dengan Sin-eng Liap-in (Garuda Mengejar
Awan), dan akhirnya ia menyerang terus tanpa menghentikan pedangnya dengan gerak tipu Sian-jin Hoaneng
(Dewa Menukar Bayangan).
Tiga serangan berantai ini merupakan puncak dari ilmu pedangnya yang oleh Han Le disebut Lian-cu Samkiam
(Tiga Tikaman Pedang Berantai) dan amat lihai gerakannya. Tiga jurus serangan ini dapat dilakukan
terus-menerus dan ganti-berganti karena dari jurus pertama ke jurus ke dua atau ke tiga mempunyai
hubungan yang amat dekat dan dapat disambung menurut sesuka hatinya.
Wi Wi Toanio adalah seorang ahli silat yang berkepandaian tinggi. Pembaca dari cerita Pendekar Sakti
dunia-kangouw.blogspot.com
tentunya masih ingat bahwa Wi Wi Toanio adalah isteri dari An Kai Seng, keturunan dari An Lu Shan. Juga
Wi Wi Toanio inilah yang dengan kecantikannya yang luar biasa telah menjatuhkan hati Bu Pun Su dan
menyeret Pendekar Sakti itu ke dalam lumpur kehinaan.
Semenjak dikalahkan oleh Bu Pun Su, suami isteri ini mempelajari ilmu silat tinggi hingga akhirnya mereka
bersekutu dengan pihak Mo-kauw, dan menjadi anggota pimpinan yang disegani. Pihak Mo-kauw memang
mempunyai banyak orang pandai dan juga memiliki pengaruh yang luas sekali. Maka tidak begitu
mengherankan apa bila mereka telah dapat mencium bau tentang tugas yang sedang dijalankan oleh Kiang
Liat untuk mengundang dua orang pandai untuk membantu Bu Pun Su. Maka Wi Wi Toanio bersama
suaminya dan beberapa orang Mo-kauw segera ditugaskan untuk mencegat perjalanan Kiang Liat dan
kalau perlu membunuh orang muda ini.
Akan tetapi, kini menghadapi serangan Lian-cu Sam-kiam dari Kiang Liat, Wi Wi Toanio merasa terkejut
bukan main. Ia masih bergerak cepat untuk menangkis serta mengelak, akan tetapi gerakan yang aneh dari
pedang Kiang Liat masih berhasil membabat ujung lengan bajunya dan hampir membabat putus jari tangan
kirinya sehingga sambil berseru kaget wanita ini melompat ke belakang dan melepaskan pedang kirinya!
“Gempur dia!” bentak An Kai Seng marah sambil menyerang dengan pedangnya.
Dan pada lain saat, Kiang Liat sudah dikeroyok oleh dua puluh orang lebih yang rata-rata mempunyai ilmu
silat tinggi. Kiang Liat kewalahan, apa lagi perahu itu bergoyang-goyang karena gerakan banyak orang.
Dalam amukannya Kiang Liat berhasil merobohkan dua orang, akan tetapi ia terdesak sampai ke pinggir
perahu.
Tidak ada lain jalan bagi Kiang Liat. Di atas perahu yang berguncang itu dia tidak dapat bersilat
sebagaimana mestinya, maka untuk mencegah supaya ia jangan terjengkang ke dalam air, ia lalu melirik ke
bawah. Girang hatinya melihat perahunya masih menempel di pinggir perahu besar. Karena itu, sambil
memutar pedang sehingga para pengeroyoknya mundur, ia lalu melompat ke arah perahu kecilnya itu.
Akan tetapi alangkah kaget hatinya ketika dia melihat tiba-tiba perahu kecilnya bergerak, meluncur maju
cepat sekali sehingga tanpa dapat dicegah lagi, Kiang Liat jatuh ke dalam air!
Air muncrat tinggi dan Kiang Liat menelan air asin. Cepat ia menahan napas dan mumbul lagi ke
permukaan air, menggerak-gerakkan kaki dan tangan sehingga ia dapat bertahan mengambang di atas air.
Ia bukan seorang ahli renang, namun kalau hanya menahan diri agar jangan tenggelam saja, ia masih bisa.
Dengan hati dongkol dan juga terheran, Kiang Liat melihat bahwa yang membikin perahu kecilnya
terdorong maju adalah seorang laki-laki setengah tua. Laki-laki ini tiba-tiba saja muncul di permukaan air
bersama perahu kecilnya berikut layar tambal-tambalan dan dia ini bukan lain adalah lelaki yang tadi
bernyanyi-nyanyi dan kemudian tenggelam bersama perahunya!
Dengan enaknya laki-laki itu menggunakan perahu mendorong perahu Kiang Liat. Ketika Kiang Liat melihat
perahunya, dia bergidik. Perahunya sudah penuh dengan anak panah yang menancap di seluruh badan
perahu. Apa bila tadi dia berhasil melompat ke dalam perahu, dia bersangsi apakah dia akan dapat
menangkis hujan anak panah itu.
Kini dia melihat orang tua itu tertawa terkekeh-kekeh kepadanya. Orang setengah tua ini rambutnya awutawutan,
tubuhnya tinggi kurus dan mukanya penuh keriput. Akan tetapi bentuk mukanya masih tampan
serta gagah. Dia hanya satu kali terkekeh kepada Kiang Liat, kemudian tubuhnya tiba-tiba saja melayang
naik ke perahu besar.
Kiang Liat ternganga keheranan. Ia telah sering kali melihat ahli-ahli silat tinggi bergerak, akan tetapi baru
sekali ini ia melihat orang melompat seperti kakek itu. Perahu kecil yang ditinggalkannya sama sekali tak
bergoyang dan tadi pada waktu kakek itu melompat, dia seakan-akan memiliki sayap dan terbang ke atas
begitu saja!
Terdengar suara gaduh di atas perahu, disambung oleh suara ketawa dan jerit kesakitan. Tidak lama
kemudian, sesosok bayangan melayang turun dan tahu-tahu kakek tadi telah berada di atas perahu Kiang
Liat yang penuh anak panah.
“Locianpwe, harap tinggalkan nama!” terdengar suara Wi Wi Toanio dari atas perahu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Orang tua itu tertawa bergelak-gelak. “Wi Wi Toanio, aku datang dan pergi tidak pernah memperkenalkan
nama!”
“Kau sudah menghina dan merusak patung Sam-kauwcu!” terdengar suara lainnya, yaitu suara laki-laki.
Orang itu kembali tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, beri tahukan pada Thian-te Sam-kauwcu supaya mereka
jangan terlalu sombong dengan patung-patungnya!”
Perahu besar itu tadinya tidak bergerak, akan tetapi kini perahu itu mulai bergerak pergi setelah orangorangnya
memasang layar. Agaknya mereka ketakutan sekali menghadapi orang aneh tadi. Orang itu pun
hanya tertawa saja melihat perahu itu pergi dari situ.
Kiang Liat memandang kagum dan heran. Akan tetapi tak lama kemudian ia mendongkol sekali karena
tanpa menoleh kepadanya, laki-laki itu mendayung perahu dan pergi dari situ.
Kiang Liat hendak memperingatkan orang itu bahwa perahu mereka tertukar, akan tetapi dia menahan
niatnya. Agaknya orang itu sengaja menukar perahu yang butut itu dengan perahunya yang masih baik,
akan tetapi mengingat orang itu telah menolongnya, apakah pantas kalau dia ribut-ribut urusan perahu
tertukar? Kekuatan orang itu luar biasa sekali dan sebentar saja perahunya telah lenyap dari pandangan
matanya.
Biar pun mendongkol, Kiang Liat merasa beruntung juga bahwa peristiwa itu lewat tanpa mendatangkan
bencana padanya. Perahu yang ia duduki itu butut, akan tetapi layarnya yang tambal-tambalan masih ada.
Ia benar-benar tidak dapat mengerti bagaimana orang itu tadi dapat menyelam bersama perahunya
termasuk layar-layarnya!
Angin bertiup kencang. Kiang Liat cepat-cepat memegang tali layar untuk mengemudikan perahunya,
menuju ke pulau kecil yang kelihatan samat-samar dari situ.
Tak lama kemudian sampailah ia di sebuah pulau kecil yang penuh dengan pohon-pohon liar. Ketika ia
mendaratkan perahunya dan menurunkan layar, ia melihat sebuah perahu penuh anak panah di tepi pantai.
Hatinya berdebar. Tidak salah lagi, orang setengah tua yang aneh tadi telah mendarat pula di pulau itu!
Baru saja Kiang Liat melompat ke darat, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan putih dan tahu-tahu dia
telah berhadapan dengan seorang wanita baju putih yang kurus. Wanita itu usianya kurang lebih empat
puluh tahun, wajahnya agak pucat akan tetapi masih terlihat cantik. Sepasang alisnya dikerutkan, ada pun
bibirnya ditekuk sedemikian rupa sehingga nampaknya galak dan gagah bukan main. Tangan kanan wanita
itu memegang sebatang cambuk yang ujungnya bercabang-cabang.
“Bocah lancang kurang ajar, berani sekali kau mendarat di pulau ini tanpa ijin!” wanita itu berseru marah
dan cambuknya menyambar ke arah Kiang Liat.
Kiang Liat kaget sekali. Sambaran cambuk itu mendatangkan angin dingin dan dia cepat melompat ke
belakang sambil mencabut pedangnya, karena ia tahu bahwa ia kini sedang berhadapan dengan seorang
yang lihai.
Akan tetapi gerakan cambuk itu aneh sekali. Meski pun sabetan pertama tidak mengenai sasaran, namun
lengan wanita itu seakan-akan bisa terulur panjang dan kembali cambuk itu menyerang lagi. Kini ujung
cambuk yang begitu bercabang-cabang itu bergerak-gerak seperti ular, menyerang ke jalan darah di tujuh
bagian!
Kiang Liat berseru keras dan memutar pedangnya untuk melindungi tubuh. Akan tetapi, tiba-tiba dia merasa
tubuhnya kaku. Pedangnya terlilit oleh sebatang ujung cambuk dan pundaknya kena ditotok, membuat
tubuhnya seketika terasa kaku dan pada lain saat dia sudah rebah lemas dan pedangnya terampas!
Wanita itu tertawa mengejek, memasukkan pedang rampasan ke dalam sarung pedang yang tergantung
pada pinggang Kiang Liat, kemudian menyeret tubuh Kiang Liat dengan menarik lengannya, dibawa naik ke
atas bukit. Di atas bukit itu, seorang lelaki setengah tua sudah menantinya dan Kiang Liat melihat bahwa
laki-laki itu adalah orang aneh yang tadi telah menolongnya di atas laut ketika ia dikeroyok orang-orang Mokauw.
“Sui Ceng, apakah benar-benar kau begitu tega hati dan tetap berkeras membiarkan aku bersengsara dan
dunia-kangouw.blogspot.com
mati dalam keadaan hidup?” terdengar laki-laki itu berkata.
Kiang Liat menjadi kaget bukan main. Tak tahunya bahwa wanita yang ganas dan lihai ini adalah Bun Sui
Ceng, orang yang sedang dicari-carinya dan yang oleh gurunya disebut sebagai wanita yang amat lihai.
Memang ia wanita lihai sekali, akan tetapi jika wataknya demikian ganas, tipis sekali harapan untuk dapat
minta tolong kepada orang macam ini, pikir Kiang Liat.
“Kun Beng, kau sudah tua, akan tetapi mengapa hatimu tetap muda? Cih, benar-benar tidak tahu malu!”
jawab wanita itu.
Kun Beng menghela napas dan menggeleng-geleng kepalanya. “Sui Ceng, jangan kau salah duga. Sudah
lama aku dapat mengalahkan nafsu dan semua kata-kataku padamu sekali-kali bukan didorong oleh nafsu,
akan tetapi didorong oleh hasratku hidup seperti manusia biasa. Apakah kau juga hendak mati dan
meninggalkan dunia begitu saja tanpa meninggalkan keturunan yang akan menyambung riwayat hidupmu?”
Sui Ceng, atau lengkapnya Bun Sui Ceng murid Kiu-bwee Coa-li, membanting-banting kakinya dan
keningnya dikerutkan.
“Menyebalkan, menyebalkan! Kun Beng, engkau seperti tidak tahu saja. Apa sih baiknya hidup ini? Penuh
penderitaan, penuh kepalsuan, penuh penyesalan dan penuh keributan-keributan! Siapa ingin mempunyai
keturunan untuk merasakan semua penderitaan ini? Tidak, cukup diderita oleh kita sendiri, jangan
menurunkan nyawa lain untuk mengalami pahit getir seperti yang kita alami. Sudahlah mari kita habiskan
hidup dengan berlomba, siapa yang lebih cepat maju!”
Kun Beng kelihatan sedih sekali. “Sui Ceng, tidak kusangka bahwa kau berhati batu yang dingin dan keras.
Akan tetapi, aku tetap tidak percaya. Kau sengaja mengeraskan hati, padahal aku yakin bahwa kau masih
mencinta padaku. Sui Ceng, apakah hingga puluhan tahun kau masih saja belum dapat mengampuni
kesalahan-kesalahanku?”
Mendengar percakapan ini, Kiang Liat menjadi terharu dan juga jengah. Tanpa disengaja dia
mendengarkan percakapan dari dua orang tua mengenai cinta kasih, dua orang yang berbicara mengenai
hal demikian gawat secara begitu saja di hadapannya, tanpa tedeng aling-aling!
“Kun Beng,” suara Sui Ceng terdengar lembut, agaknya kata-kata Kun Beng tadi sudah mengharukan
hatinya. “Bukan aku yang keras hati, melainkan engkaulah. Cinta kasihmu sampai puluhan tahun belum
padam, sungguh-sungguh menandakan bahwa kau berhati sekeras baja. Akan tetapi, seperti juga dulu
telah kukatakan kepadamu berkali-kali, kalau tidak salah sudah empat belas kali kau datang menyusul dan
membujukku, aku hanya akan menuruti kehendakmu kalau kau sudah bisa mengalahkan cambukku!”
Kun Beng menundukkan kepalanya, kemudian ia menggeleng-gelengkan kepala itu. “Sui Ceng, ke mana
saja kau pergi, aku selalu mencari dan menyusulmu. Sampai kau lari ke Go-bi-san, ke perbatasan Mongol,
ke rimba raya di lembah Huang-ho, aku menyusulmu. Akan tetapi kau tahu bahwa aku tidak dapat
menurunkan tangan untuk bertanding silat denganmu, aku tidak dapat mengalahkanmu. Andai kata aku
dapat, aku pun tidak akan tega mengalahkanmu. Aku tidak ingin menjadi suamimu karena kekerasan, atau
karena kau terpaksa, aku menghendaki supaya kau suka menerimaku sebagai suamimu dengan cinta
kasih.”
“Jangan ngaco-belo!” Sui Ceng membentak marah, akan tetapi Kiang Liat maklum bahwa wanita sakti itu
terharu sekali, buktinya dua butir air mata menitik turun ke atas pipinya. “Kun Beng, sudah dua tahun kita
tidak bertemu, mari kau melayani cambukku barang seratus jurus!”
Kun Beng menarik napas panjang. “Kau memang sangat doyan berkelahi. Biasanya aku melayanimu
supaya kau gembira. Akan tetapi, kini aku akan berusaha mengalahkanmu. Siapa tahu kalau-kalau dengan
kekalahanmu, akan kalah pula kekerasan kepalamu, Sui Ceng.”
Setelah berkata demikian, Kun Beng membuka baju luarnya dan mengeluarkan sebatang tombak yang
kelihatannya butut dan kotor. Akan tetapi di antara batang yang kotor itu kelihatan kilauan dari logam
aslinya.
Sui Ceng mengeluarkan seruan girang dan dengan kaki kirinya ia lalu menendang tubuh Kiang Liat yang
tadi menggeletak di depannya karena orang muda ini masih tak berdaya dan berada dalam keadaan
tertotok.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tubuh Kiang Liat terguling sampai lima tombak lebih, namun dia dapat melompat bangun karena
tendangan itu ternyata adalah obat untuk membebaskannya dari totokan. Ia tidak berani sembarangan
bergerak, hanya duduk di atas tanah dan memandang dengan hati tertarik dan penuh perhatian.
Hatinya berdebar. Ia telah diutus oleh gurunya untuk mencari dan minta bantuan kepada dua orang aneh
itu, akan tetapi sekarang ia menjumpai mereka dalam keadaan hendak bertarung untuk memperebutkan
kebenaran pendapat masing-masing! Benar-benar aneh sekali dua orang ini.
Sui Ceng adalah murid tunggal terkasih dari Kiu-bwe Coa-li, tentu saja ilmu silatnya tinggi sekali.
Kepandaian tunggal yang istimewa dari Kiu-bwe Coa-li, yakni permainan cambuk, telah diturunkan
kepadanya, maka dalam hal permainan senjata aneh ini, Sui Ceng amat pandai dan tidak kalah lihainya
dari mendiang Kiu-bwe Coa-li.
Cambuknya itu ujungnya bercabang sembilan dan setiap ujung merupakan senjata maut yang mengerikan.
Jangankan sampai kena pukul, baru terkena totokan saja, setiap ujung cabang dapat mencabut nyawa
lawan!
Di lain pihak, kepandaian The Kun Beng sudah disaksikan oleh Kiang Liat. Pendekar ini adalah murid ke
dua dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai, yang sudah mewarisi ilmu tombak dari mendiang suhu-nya. Maka ilmu
tombaknya juga jarang ada yang dapat menandingi pada masa itu.
Pada saat digerakkan ujung tombak itu bergetar sehingga ujung itu seakan-akan berubah menjadi belasan
banyaknya, mengeluarkan suara mendenging yang menyakitkan anak telinga. Setiap tusukan, tangkisan,
atau pukulan dari tombak dan gagangnya disertai oleh tenaga lweekang yang luar biasa kuatnya.
Demikianlah, dua orang itu bertempur dengan amat hebatnya. Kadang-kadang keduanya lenyap dari
pandangan mata, tertutup oleh selimut dari gulungan sinar senjata mereka. Bahkan Kiang Liat sendiri yang
terhitung seorang ahli silat kelas tinggi, menjadi pening dan tidak dapat mengikuti gerakan-gerakan mereka
dengan baik.
Akan tetapi, setelah bertempur dengan cepat sampai puluhan jurus, tiba-tiba saja mereka kelihatan lagi dan
sekarang pertempuran dilangsungkan tanpa mengalihkan kedua kaki. Mereka berdiri berhadapan dengan
jarak dekat dan hanya kedua tangan mereka saja yang bergerak dan senjata mereka yang menyambarnyambar
pergi datang!
Kiang Liat melongo. Selama hidupnya belum pernah ia melihat pertempuran sehebat ini. Memang pernah ia
menyaksikan kepandaian istimewa dari gurunya, Han Le, terutama ia pernah pula mengagumi kehebatan
supek-nya, Bu Pun Su. Pernah pula ia menghadapi orang-orang lihai seperti Pek Hoa Pouwsat dan lainlainnya,
akan tetapi belum pernah ia melihat dua orang sakti bertanding sehebat ini! Padahal pertandingan
mereka itu hanya ‘main-main’ belaka, bukan untuk saling membunuh, hanya sekedar mengadu limu atau
menguji tingkat saja.
Setelah beberapa puluh jurus dilewatkan dengan pertempuran lambat, kembali mereka bertempur cepat.
“Brettt!” tiba-tiba terdengar suara dan melayanglah sehelai robekan kain.
“Sui Ceng, aku mengaku kalah...,” kata Kun Beng yang melompat keluar dari kalangan pertandingan. Yang
melayang tadi adalah robekan ujung bajunya, rupa-rupanya terkena sabetan cambuk Sui Ceng.
Sui Ceng merengut, mukanya yang agak pucat itu menjadi merah.
“Kau memang laki-laki tahu! Selalu menunjukkan sifat lemah dan mengalah. Siapa tidak tahu bahwa kau
tadi sengaja memiringkan gagang tombakmu sehingga ujung cambukku dapat merobek ujung bajumu? Cih,
kau selalu mengecewakan hatiku!”
“Aku memang kalah, Sui Ceng,” kata Kun Beng, wajahnya nampak berduka sekali.
Sui Ceng membanting-banting kedua kakinya. Tiba-tiba ia dan Kun Beng menengok ke arah Kiang Liat
ketika mendengar orang muda itu berkata,
“Ji-wi sudah memperlihatkan kepandaian yang tiada duanya di kolong langit. Kepandaian Ji-wi Locianpwe
dunia-kangouw.blogspot.com
seperti kepandaian dewa saja. Boanpwe Kiang Liat yang bodoh merasa beruntung sekali sempat
menyaksikan kepandaian hebat itu.” Sambil berkata demikian, Kiang Liat menjura dengan penuh
penghormatan.
Sui Ceng tiba-tiba tertawa senang, “Ahh, benar juga, Kun Beng. Kau selalu sungkan dan mengalah kalau
mengadu kepandaian denganku. Sekarang ada orang muda ahli pedang ini, biarlah dia yang menentukan
siapa yang lebih unggul di antara kita. Ehh, orang she Kiang, cabutlah pedangmu!”
Kiang Liat merasa ragu-ragu, akan tetapi melihat sinar mata wanita sakti itu, ia tak berani membantah.
Dicabutnya pedangnya dan ia memandang kepada Sui Ceng dengan mata bertanya.
Kiang Liat tertegun. Selama hidupnya baru satu kali ini dia menghadapi perintah seaneh ini, yaitu ketika ia
bertemu dengan Bu Pun Su, supek-nya. Namun sekarang, lagi-lagi ia menghadapi perintah serupa dari Bun
Sui Ceng!
“Boanseng mana berani berlaku kurang ajar?” katanya perlahan.
“Bodoh! Aku sedang menguji kepandaian dengan Kun Beng. Hendak kami lihat di antara kami, siapa yang
lebih dulu dapat merobohkanmu. Hayo serang!”
Panaslah perut Kiang Liat. Ia merasa dihina sekali, hendak dijadikan permainan oleh dua orang aneh itu.
Oleh sebab itu, tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, ia lalu menggerakkan pedangnya, menyerang dengan
gerakan tipu yang paling lihai dari ilmu pedangnya, yakni Lian-cu Sam-kiam. Serangannya ini hebat dan
ilmu pedang ini adalah petunjuk dari Han Le, maka tingkatnya sudah tinggi sekali.
Kalau tadi Kiang Liat dengan mudah ditawan oleh Bun Sui Ceng dalam segebrakan saja, itu adalah karena
Kiang Liat diserang tiba-tiba dan ia tidak menyangka sama sekali akan kelihaian Sui Ceng. Akan tetapi,
sekarang ia telah maklum bahwa ia tengah menghadapi seorang yang kepandaiannya jauh mengatasinya,
maka begitu menyerang, dia langsung mengeluarkan seluruh kepandaiannya yang istimewa serta
mengerahkan semua tenaga lweekang-nya.
“Ayaaa... bagus sekali ilmu pedang ini!” Bun Sui Ceng berseru gembira.
Sui Ceng melompat, cambuknya terayun dan berkali-kali di tengah udara terdengar suara bergeletar dari
ujung-ujung cambuknya. Dia benar-benar kagum karena ia tidak mengira bahwa orang muda itu
mempunyai kiam-hoat yang demikian lihai.
Akan tetapi, betapa pun hebat ilmu pedang keluarga Kiang yang sudah disempurnakan oleh petunjukpetunjuk
Han Le, tingkat kepandaian Kiang Liat memang jauh lebih rendah. Baik dalam ginkang, lweekang,
mau pun kemahiran gerakan silat, dia kalah banyak. Apa lagi memang senjata di tangan Sui Ceng itu
benar-benar aneh dan hebat.
Dengan mati-matian Kiang Liat membela diri dan membalas dengan jurus-jurus pilihan, namun pada jurus
ke tiga belas ia tidak dapat mempertahankan diri lagi. Sebatang ujung cambuk di tangan Sui Ceng
bagaikan seekor ular telah membelit kaki kanannya sehingga tanpa dapat dicegah lagi, Kiang Liat segera
terpelanting roboh ketika Sui Ceng menarik cambuknya!
Kiang Liat bangkit berdiri dengan muka merah. Ia tidak merasa sakit sama sekali, hanya pakaiannya yang
menjadi kotor. Setelah mengebut-ngebut pakaiannya, dia menjura pada Sui Ceng. “Terima kasih atas
pelajaran dan petunjuk Locianpwe.”
Sebaliknya, Sui Ceng memandang kepadanya dengan tersenyum girang.
“Baru sekarang ini aku bertemu dengan seorang muda yang kepandaian ilmu pedangnya demikian tinggi.
Tak malu aku mengaku bahwa sampai sekarang pun aku masih belum dapat mengenal ilmu pedangmu,”
katanya.
Terdengar The Kun Beng tertawa terkekeh, “Sui Ceng, biar pun ilmu pedang bocah she Kiang ini sangat
lihai, tetap saja dalam tiga belas jurus dia roboh olehmu. Aku mana bisa melakukan hal itu? Sudahlah, aku
pun mengaku kalah dalam pertandingan ini.”
“Kau curang!” Sui Ceng membentak, “Mana bisa pertandingan dianggap kalah jika belum dilakukan? Ehh,
dunia-kangouw.blogspot.com
orang she Kiang, sekarang kau pergunakan pedangmu, seranglah dia si tua bangka itu!”
Diam-diam Kiang Liat merasa kasihan dan terharu mendengar semua percakapan antara dua orang
setengah tua ini. Dia sendiri sudah merasakan kebahagiaan berumah tangga, hidup penuh kasih sayang
dan saling mencinta dengan Bi Li. Mengapa dua orang aneh ini tidak dapat mengecap kebahagiaan itu?
Kalau saja aku dapat menjadi perantara atau jembatan agar supaya mereka saling mendapatkan, pikir
Kiang Liat.
“Baik, Boanpwe akan menyerang. Awaslah, Locianpwe!” katanya dan pedangnya segera bergerak cepat
menyerang Kun Beng.
“Eh, ehh, lihai sekali...” Kun Beng juga memuji dan suaranya gembira.
Ahli silat manakah yang tidak gembira pada saat menghadapi pertandingan ilmu silat? Ia cepat
menggerakkan tombaknya dan terdengar suara berdencing ketika tombak bertemu dengan pedang. Biar
pun Kun Beng menangkis perlahan saja, namun Kiang Liat merasa telapak tangannya pedas dan tergetar
hebat. Ia terkejut sekali dan bersilat lebih hati-hati. Ia tidak membiarkan pedangnya bertemu dengan
tombak.
Akan tetapi setelah bertanding beberapa jurus, tahulah Kiang Liat bahwa lagi-lagi kakek ini mengalah
terhadap Sui Ceng. Bila tadi dengan cambuknya, Sui Ceng menyerangnya secara hebat dan penuh nafsu
untuk cepat-cepat merobohkan, adalah Kun Beng ini lebih banyak bertahan dari pada menyerang.
Kiang Liat tidak mau membiarkan hal ini terjadi. Maka, pada jurus ke sepuluh, dia tidak menarik kakinya
yang kena diserampang oleh tombak sehingga tergulinglah dia!
Kun Beng berdiri terpaku, Sui Ceng tertawa geli, dan Kiang Liat merayap bangun.
“Kun Beng, kali ini kau menang!” kata Sui Ceng.
“Benar, dan Ji-wi Locianpwe sekarang dapat melanjutkan perjodohan itu!” berkata Kiang Liat.
“Bocah lancang, apa maksudmu?” Sui Ceng membentak dan ia telah melompat ke depan Kiang Liat
dengan sinar mata bernyala penuh ancaman.
Kiang Liat kaget sekali, tak disangkanya bahwa wanita sakti ini akan marah. “Bukankah tadi Ji-wi
Locianpwe hendak mempergunakan Boanpwe sebagai ujian? Bukankah tadi Locianpwe menyatakan
bahwa kalau Locianpwe kena dikalahkan, maka perjodohan baru dapat terjadi? Boanpwe hanya
mengatakan apa yang tadi boanpwe dengar, maka mohon banyak maaf apa bila boanpwe tanpa disengaja
berkata lancang.”
“Sui Ceng, orang muda pun merasa kasihan kepada kita, kenapa kau tidak mau kasihan kepada diri
sendiri?” Kun Beng berkata, suaranya gemetar.
Akan tetapi Sui Ceng marah sekali. Cambuknya diayun ke atas kepala, mengeluarkan suara yang nyaring,
“Kau bocah lancang mulut, berani sekali bicara tentang urusan orang lain. Kau harus diberi hajaran!”
Baiknya sebelum cambuk itu meluncur ke tubuh Kiang Liat, Kun Beng sudah melompat dan menahan Sui
Ceng.
“Sabar Sui Ceng. Bocah she Kiang ini datang ke sini karena diutus oleh Lu Kwan Cu!”
“Apa...? Utusan Lu Kwan Cu...?” Sui Ceng menurunkan tangannya yang tiba-tiba terlihat lemas, matanya
terbelalak memandang kepada Kiang Liat.
Kiang Liat tidak tahu bahwa Lu Kwan Cu adalah nama asli dari Bu Pun Su, maka ia tidak mengerti. Hanya
ia ingat akan pesan suhu-nya bahwa di depan dua orang ini, ia harus banyak-banyak menyebut nama Bu
Pun Su, oleh karena itu ia segera menjawab,
“Ji-wi Locianpwe… boanpwe Kiang Liat diutus Suhu Han Le dan Supek Bu Pun Su untuk mencari Ji-wi.”
“Hem, Bu Pun Su menyuruh kau mencariku, ada urusan apakah?” tanya Sui Ceng sambil mengerutkan
dunia-kangouw.blogspot.com
keningnya.
Dengan singkat Kiang Liat lalu menuturkan apa yang ia dengar dari Han Le, yakni bahwa di dunia
persilatan muncul tiga tokoh asing yang lihai dan yang kini menguasai dunia kang-ouw, mengancam semua
orang gagah yang tidak mau menggabungkan diri dengan Mo-kauw. Dan bahwa pada bulan enam yang
akan datang, pihak Mo-kauw menantang Bu Pun Su beserta orang-orang gagah lainnya untuk mengadakan
penentuan siapa yang berhak menguasai dunia kang-ouw, di sebelah barat bukit Heng-tuan-san.
Mendengar ini, Sui Ceng nampaknya tidak tertarik sedikit pun juga.
“Serombongan tikus-tikus busuk macam itu saja, apa artinya bagi Bu Pun Su? Aku berani mempertaruhkan
kepalaku bahwa Bu Pun Su seorang diri pun akan sanggup membasmi mereka sampai ke akar-akarnya.
Mengapa pula orang seperti aku dan Kun Beng harus ikut turun tangan membantu?”
”Akan tetapi sekarang keadaannya lain lagi, Sui Ceng,” kata Kun Beng, menggirangkan hati Kiang Liat yang
tadinya sudah kecewa, “sekali ini musuh-musuh Bu Pun Su agaknya betul-betul hendak berusaha merebut
kekuasaan di dunia kang-ouw. Malah kedatangan Kiang-enghiong ke sini tak terluput dari perhatian mereka
sehingga Kiang-enghiong telah dihadang di tengah samudera. Tahukah engkau siapa yang
menghadangnya dan hendak membunuhnya agar dia jangan minta bantuan kita?”
“Siapa? Anak buah Mo-kauw?” tanya Sui Ceng acuh tak acuh.
“Benar, akan tetapi bukan anak buah sembarangan, melainkan An Kai Seng sendiri dan isterinya, siluman
betina Wi Wi Toanio!”
Mendengar kedua nama ini, mata Sui Ceng bercahaya. “Apa? Dan kau tidak membunuh mampus mereka?”
Kun Beng tersenyum dan menggeleng kepala. “Aku tidak mau membikin kau kecewa, Sui Ceng. Membasmi
mereka adalah tugasmu, bukan?”
“Di mana mereka?” Sui Ceng menggerakkan cambuknya.
“Kau dapat bertemu dengan mereka kelak pada awal bulan enam di Yalu Cangpo, pada tikungan sebelah
barat Gunung Heng-tuan-san,” jawab Kun Beng.
“Bulan enam kurang tiga bulan lagi, Heng-tuan-san tidak dekat, mari kita berangkat!” kata Sui Ceng tibatiba
sambil berlari ke pantai.
Kun Beng memegang lengan Kiang Liat. “Orang muda, mari kita berangkat!”
Kiang Liat tak dapat menahan ketika tiba-tiba ia ditarik dengan cepatnya oleh Kun Beng. Akan tetapi
hatinya merasa girang sekali karena tak disangka-sangkanya, tugasnya bisa dipenuhinya demikian mudah.
Lebih gembira lagi hatinya ketika dalam perjalanan menuju ke Heng-tuan-san itu, Sui Ceng dan Kun Beng
yang suka sekali melihat orang muda ini, berkenan menurunkan beberapa jurus ilmu silat tinggi sehingga
Kiang Liat mendapatkan kemajuan yang luar biasa.
Bahkan ia juga telah menerima pelajaran ilmu lari cepat dari Sui Ceng sehingga ia dapat melakukan
perjalanan dengan leluasa bersama kedua orang tokoh ini, tidak perlu lagi ia digandeng oleh Kun Beng.
Ilmu berlari cepat dari Sui Ceng yang disebut Yan-cu Hui-po (Tindakan Seperti Walet Terbang) memang
luar biasa sekali, dan berkat dari besarnya bakat dasar dalam diri Kiang Liat, pendekar muda ini dapat
mempelajarinya dengan amat cepat…..
********************
Awal bulan Lak-gwe di lembah Sungai Yalu Cangpo!
Lembah ini biasanya sunyi sekali, tak pernah didatangi manusia karena memang daerah ini masih liar dan
sukar didatangi. Binatang-binatang buas yang aneh dan jarang terlihat di hutan-hutan yang sudah dijajah
manusia, masih berkeliaran di tempat ini. Orang tanpa memiliki kepandaian tinggi jangan harap dapat
keluar dari hutan ini dengan selamat.
Akan tetapi, pada pagi hari itu, di lembah sungai, tepat di mana sungai itu membelok dan kembali mengalir
dunia-kangouw.blogspot.com
ke arah barat, keadaannya ramai sekali. Di sebuah tempat terbuka di pinggir sungai, kelihatan banyak
orang yang duduk di atas rumput.
Di depan mereka juga duduk beberapa orang di atas batu karang. Mereka seakan-akan menanti datangnya
orang lain. Bekas-bekas tempat pohon ditebang menunjukkan bahwa tempat ini memang sengaja
disediakan untuk pertemuan ini.
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments