Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Minggu, 13 Agustus 2017

Kho Ping Hoo Kuno Lecit Jodoh Rajawali 3

Kho Ping Hoo Kuno Lecit Jodoh Rajawali 3 Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Kho Ping Hoo Kuno Lecit Jodoh Rajawali 3
kumpulan cerita silat cersil online
-
“Dukkk!” Batu karang besar itu kena disundul kepalanya dan lalu mencelat ke kiri, jauh sekali dan pecah
berhamburan menimpa batu karang lain!
“Huhh, hendak kulihat sampai di mana kerasnya kepalamu!” Gadis itu sudah melangkah maju dan kakek
itu pun dengan marah sudah siap menandinginya.
“Bocah tak tahu aturan!” bentaknya.
Khiu-pangcu cepat-cepat melerai di antara mereka dan segera menjura. “Harap Ji-wi suka menghabiskan
perkara kecil ini di antara orang-orang sendiri. Nona, sahabat ini adalah Tiat-thouw Sin-go (Buaya Sakti
Berkepala Besi), dan bernama Thio Sui Lok, ketua Sin-go-pang (Perkumpulan Buaya Sakti). Dan Saudara
Thio, Nona ini mewakili Locianpwe Hek-tiauw Lo-mo dari Pulau Neraka. Oleh karena itu, harap saudara
suka mengalah.”
Biar pun hatinya masih penasaran, tetapi mendengar nama Hek-tiauw Lo-mo, terkejut juga hati si Kepala
Besi itu dan dia diam saja, namun matanya masih bersinar marah. “Silakan, Nona,” kata Khiu-pangcu.
Sambil mendengus dan mengerling ke arah rombongan perahu itu, tak lupa tersenyum mengejek, nona
cantik jelita itu lalu memasuki pintu terowongan dan menghilang.
“Sombong..., dasar bocah sombong...!” Thio Siu Lok yang selamanya dihormat orang dan baru sekarang
menerima perlakuan yang tidak menghormat, bersungut-sungut akan tetapi akhirnya dia masuk juga
bersama anak buahnya.
Melihat sikap Hwee Li, Kian Lee menggeleng kepalanya dan menghela napas panjang. Masih teringat dia
betapa dahulu, dia terluka oleh senjata rahasia peledak dari Siluman Kucing Mauw Slauw Mo-li yang
menjadi bibi guru gadis itu sendiri, kemudian dia telah diselamatkan, disembunyikan dan diobati oleh
seorang gadis cilik yang jenaka dan cerdik. Gadis cilik itu adalah Hwee Li yang kini telah menjadi seorang
gadis dewasa, akan tetapi masih saja belum hilang sifatnya seperti kanak-kanak yang bengal dan suka
menggoda orang. Namun dia harus mengakui bahwa gadis itu sekarang sangat lihai. Pukulannya yang
menghancurkan batu tadi benar-benar mengejutkan dan mengerikan.
Kini agaknya para tamu telah datang semua, atau demikian persangkaan Khiu-pangcu karena buktinya dia
meninggalkan tempat itu dan masuk melalui terowongan sambil meninggalkan pesan kepada belasan
orang anak buahnya agar suka berjaga di situ kalau-kalau masih ada tamu yang datang terlambat.
“Kalau kalian sudah mendengar tanda dari bawah, barulah kalian semua masuk dan tutup pintu
terowongan,” demikian pesan pangcu kedua dari Huang-ho Kui-liong-pang itu kepada para anak buahnya
yang berjumlah dua belas orang.
“Baik, jangan khawatir, Ji-pangcu!” jawab seorang di antara mereka yang kumisnya kecil panjang berjuntai
ke bawah lucu sekali. Agaknya si kumis panjang ini adalah kepala regu penjaga itu.
Kian Lee melihat kesempatan baik ini, kemudian berbisik kepada Liang Wi Nikouw itu yang menganggukangguk.
Kian Lee lalu mengambil beberapa butir batu kerikil kecil dan menggunakan jari tangannya
menyentil sebutir batu kerikil ke arah siku seorang penjaga yang berdiri dekat kepala regu kumis panjang
itu, pada saat si kumis panjang sedang membetulkan sepatunya. Batu kerikil itu tepat menotok siku si
penjaga dan otomatis lengannya bergerak ke depan.
“Plakkk!” Tanpa dapat dicegah lagi tangannya memukul ke depan dan mengenai kepala si kumis panjang.
“Eh, setan! Kau berani menempiling kepalaku, hehh?” Si penjaga tak dapat menjawab karena dia sendiri
tidak mengerti mengapa tangannya secara tiba-tiba tanpa dapat dikendalikannya lagi tadi bergerak
dunia-kangouw.blogspot.com
menampar kepala si kumis di depannya itu. Si kumis panjang marah dan mengayun tangannya menampar
pipi bawahannya.
“Plokkkkk!”
Pipi yang digablok itu menjadi merah, akan tetapi anehnya, pada saat pipinya digablok, penjaga itu
mengerahkan kaki kanannya ke depan, padahal bukan niatnya demikian. Ternyata Kian Lee telah
menyentil sebutir kerikil lain yang mengenai sambungan lutut penjaga itu sehingga secara otomatis kakinya
menendang ke depan.
“Ngekkkk...!” Kebetulan sekali gerakan kaki itu membuat lutut si penjaga menghantam selangkangan si
kepala penjaga berkumis panjang.
“Aduhhhhh...!” Si kumis panjang menggunakan tangan kiri mendekap selangkangannya dan meringis
kesakitan, marahnya bukan kepalang dan dengan tangan kiri mendekap selangkangan sambil terpincangpincang,
dia menggunakan tangan kanannya secara serabutan memukuli penjaga itu.
Seorang penjaga lain yang menyaksikan perkelahian ini cepat meloncat untuk melerai. Akan tetapi selagi
dia meloncat, sebutir kerikil menyambar dan mengenai punggungnya. Seketika tubuhnya menjadi lemas,
dia kehilangan tenaganya dan tanpa dapat dicegah lagi dia menubruk si kepala penjaga yang sedang
marah.
“Bresssss...!”
“Ehh, keparat...! Kalian mengeroyok! Pemberontakan!” Kepala penjaga itu kini menjadi marah sekali dan
dia mengamuk, setiap ada anak buahnya mendekat tentu dipukulnya karena dia menyangka bahwa
mereka itu hendak mengeroyoknya.
Kacau-balau di depan pintu terowongan itu. Semua penjaga berusaha menenangkan si kepala penjaga
yang mereka sangka kemasukan roh jahat! Dan karena keributan ini, mereka sama sekali tidak melihat
betapa ada dua sosok bayangan yang amat cepat gerakannya telah berkelebat menyelinap masuk ke
dalam lubang terowongan itu tanpa memperlihatkan kartu undangan!
Kian Lee dan Liang Wi Nikouw berjalan memasuki terowongan dengan cepat, namun dengan hati-hati
sekali. Lorong terowongan itu menurun dan agak gelap karena hanya diterangi oleh lampu-lampu minyak
yang dipasang di sepanjang dinding terowongan. Setiap sepuluh meter terdapat seorang penjaga yang
berdiri dengan tombak di tangan. Penjaga pertama yang mendengar ada keributan di luar, lupa akan
tugasnya memeriksa kartu undangan.
“Apakah yang terjadi di luar?” tanyanya.
“Di luar ada pemberontakan. Cepat saudara ke luar!” kata Kian Lee.
Penjaga itu terkejut dan cepat berlari ke luar. Kian Lee dan Liang Wi Nikouw terus saja berjalan masuk.
Kepada penjaga kedua dan ketiga, Kian Lee berhasil menarik perhatian mereka dengan berita
pemberontakan itu sehingga mereka pun bergegas berlari keluar menyeret tombak mereka.
Akan tetapi penjaga keempat yang berada di sebuah tikungan, menghardik, “Harap Ji-wi perlihatkan kartu
undangan Ji-wi!” Penjaga ini agaknya sudah merasa kesal berjaga terus di situ, maka biar pun sikapnya
masih menghormat namun suaranya sudah tidak ramah lagi terhadap para tamu.
Kian Lee pura-pura merogoh saku dan mendekati penjaga itu. Tangannya keluar dari saku bukan untuk
menyerahkan kartu undangan, melainkan untuk bergerak cepat sekali menotok sehingga penjaga itu roboh
sebelum sempat berteriak. Kian Lee dan Liang Wi Nikouw terus masuk makin dalam dan kini para penjaga
makin berkurang, jarak penjaga makin jauh sehingga mudah bagi Kian Lee untuk merobohkan setiap orang
penjaga tanpa ada yang mengetahuinya.
Akhirnya mereka keluar dari terowongan dan tiba di tempat terbuka, di lembah itu yang ternyata penuh
dengan bangunan rumah-rumah yang dibagi menjadi dua kelompok, dipisahkan oleh sebuah lapangan
yang luas yang terletak di tengah-tengah. Kian Lee dan Liang Wi Nikouw menyelinap di antara bangunanbangunan
itu sambil memeriksa keadaan dengan hati-hati sekali. Dengan isyarat tangannya, Kian Lee
mengajak nikouw tua itu untuk meloncat naik ke atas wuwungan sebuah bangunan besar dan dari atas
dunia-kangouw.blogspot.com
wuwungan ini mereka mengintai. Sinar bulan cukup terang sehingga mereka dapat meneliti keadaan di
lembah itu.
Kelompok bangunan di sebelah kiri terdiri dari rumah-rumah biasa dengan kebun-kebun yang rimbun dan
subur, di mana selain terdapat banyak pohon-pohon yang berbuah, juga terdapat sayur-sayuran dan
bunga-bungaan. Akan tetapi kelompok kedua yang berada di sebelah kanan itu sangat aneh bentuknya.
Rumah-rumah di kelompok ini bangunannya seperti tempurung yang tertelungkup dan tidak nampak pintu
atau jendela biasa, hanya kelihatan sebuah lubang yang agaknya merupakan pintu. Anehnya, di sekitar
rumah-rumah luar biasa ini tidak terdapat sebatang pun pohon atau tumbuh tumbuhan. Bahkan tanahnya
kelihatan putih kering ditimpa sinar bulan, retak-retak seperti tanah kapur.
Dari wuwungan itu nampak para tamu berkumpul di lapangan, yaitu lapangan luas di antara dua kelompok
rumah itu. Selain penerangan yang didapat dari sinar bulan, juga di situ dipasangi banyak lampu dan
lentera besar sehingga cuaca cukup terang. Para tamu yang banyak juga jumlahnya telah berkumpul di
situ, duduk di kursi yang diatur menjadi lingkaran besar yang ke semuanya menghadap ke tengah
lapangan di mana terdapat semacam panggung yang menjadi tempat duduk pihak tuan rumah dan para
tamu kehormatan.
Kian Lee mencari-cari dengan pandang matanya, akan tetapi dia tidak menemukan Cui Lan dan Hok-taijin
di antara para tamu. Kembali dia memandang ke arah panggung dan melihat Khiu-pangcu dan beberapa
orang lain yang tidak dikenalnya. Banyak orang aneh di situ, di antaranya terdapat seorang yang bertubuh
tinggi tegap, usianya tidak lebih dari tiga puluh tahun, kulitnya gelap coklat, hidungnya mancung agak
melengkung dan matanya cekung ke dalam, alisnya tebal, dan jelas bahwa dia bukanlah orang Han asli,
melainkan ada miripnya dengan orang India.
Di belakangnya duduk banyak pengawalnya, rata-rata bertubuh tinggi dan lengannya berbulu. Kian Lee
menduga bahwa mereka ini tentu orang-orang Nepal, melihat dari pakaian dan juga sorban mereka. Hanya
orang muda berpakaian indah di depan itulah yang tidak bersorban. Selain mereka, masih banyak terdapat
orang-orang aneh yang dilihatnya tadi memasuki terowongan.
Dengan hati-hati Kian Lee lalu mengajak Liang Wi Nikouw turun dan mempergunakan kesempatan selagi
para tamu masih hilir-mudik karena agaknya pertemuan itu belum dimulai, untuk menyelinap masuk di
antara para tamu dan memilih tempat duduk di bagian para tamu perorangan yang tidak merupakan
rombongan. Dengan demikian, maka mereka bercampur dengan tamu-tamu yang tidak saling mengenal
sehingga mereka pun tidak menarik perhatian, sungguh pun ada beberapa orang di antara mereka yang
memandang ke arah Liang Wi Nikouw dengan curiga.
Namun Liang Wi Nikouw yang sudah berpengalaman itu maklum bahwa dia menghadiri pertemuan orangorang
dari golongan hitam, maka sengaja dia tersenyum-senyum dan ‘memasang’ muka bengis, sehingga
semua orang menduga bahwa dia pun seorang anggota kaum sesat yang bersembunyi di balik kedok
nikouw! Dia dan Kian Lee lalu menanti dengan hati berdebar, tidak tahu apa yang akan terjadi dan
mengapa demikian banyaknya tokoh-tokoh lihai dari golongan hitam berkumpul di situ.
Akan tetapi yang dicari-cari oleh Kian Lee sejak tadi adalah Cui Lan dan Hok-taijin dan selagi dia mendugaduga
di mana kiranya dua orang itu ditahan, tiba-tiba terdengar bunyi canang dipukul di tengah-tengah
lapangan itu. Semua orang memperhatikan ke tengah lapangan karena bunyi canang itu menandakan
bahwa pertemuan mulai dibuka.
Bulan bersinar terang tanpa halangan awan, menimpa muka semua tamu yang diangkat memandang ke
arah panggung untuk menanti siapa yang akan muncul sebagai pembuka acara dan terutama sekali untuk
melihat wajah tuan rumah. Tiada seorang pun di antara para tamu itu yang pernah bertemu dengan ketua
Huang-ho Kui-liong-pang, sungguh pun mereka semua telah mendengar bahwa ketua itu adalah seorang
yang luar biasa lihainya, seorang aneh yang baru kurang lebih dua tahun ini menjadi ketua Kui-liong-pang.
Tadinya, ketua dari Kui-liong-pang adalah Khiu-pangcu itulah. Akan tetapi semenjak munculnya tokoh aneh
yang berilmu tinggi itu bersama belasan orang anak buahnya yang rata-rata juga berilmu tinggi, Khiu Sek
lalu menggabungkan diri dan tokoh luar biasa itu diangkat menjadi ketua pertama sedangkan dia sendiri
cukup puas menjadi ketua kedua saja. Maka kini semua tamu ingin sekali melihat bagaimana macamnya
ketua yang kabarnya merupakan seorang tokoh luar biasa itu.
Tetapi ternyata yang bangkit berdiri dari kursinya dan kini berjalan ke tengah panggung adalah Khiu Sek
atau Khiu-pangcu sendiri. Setelah menjura keempat penjuru, memberi hormat kepada semua tamu
dunia-kangouw.blogspot.com
kehormatan yang duduk di panggung, Khiu-pangcu lalu berkata, “Cu-wi sekalian yang terhormat. Pertamatama
atas nama pangcu kami dan seluruh perkumpulan Kui-liong-pang, kami menghaturkan selamat
datang dan terima kasih atas kehadiran Cu-wi sekalian. Sebelum maksud undangan kami kepada Cu-wi
kami bentangkan secara jelas, lebih dahulu kami ingin memperkenalkan perkumpulan kami kepada Cu-wi.”
Selanjutnya, dengan suara lantang Khiu-pangcu lalu memperkenalkan perkumpulannya, betapa dua tahun
yang lalu perkumpulannya menjadi makin kuat setelah memperoleh seorang ketua baru yang amat sakti.
Betapa kemudian rombongan dari Gunung Cemara, perkumpulan wanita Hek-eng-pang menjadi iri dan
timbul bentrokan di antara mereka sehingga terjadi pertempuran besar.
“Karena munculnya seorang tokoh rahasia yang hanya kami kenal dengan sebutan Siluman Kecil,
pertempuran itu dapat dihentikan dan ketua kami berkenan mengampuni Hek-eng-pang. Akan tetapi akhirakhir
ini mereka kembali mencari gara-gara dengan mencoba untuk merebut mangsa kami, yaitu harta
pusaka dari keluarga Jenderal Kao Liang yang mengundurkan diri.” Kembali Khiu Sek menceritakan lagi
semua peristiwa mengenai perebutan harta pusaka keluarga Jenderal Kao itu.
“Gara-gara ikut campurnya pihak Hek-eng-pang yang hendak merebut mangsa kami, maka semua usaha
menjadi gagal dan baru-baru ini kami telah mengirim pasukan untuk menghukum Hek-eng-pang dan
membakar tempat mereka! Betapa pun juga, mangsa kami itu telah lolos dan harta pusaka itu lenyap tanpa
bekas. Kami dan Hek-eng-pang yang bentrok sendiri tidak ada yang mendapatkannya.”
“Hi-hi-hik!” Suara tertawa merdu seorang wanita itu memecahkan kesunyian sehingga terdengar jelas
sekali.
Semua orang menengok ke arah suara ini, juga Khiu-pangcu dengan alis berkerut menoleh ke arah gadis
cantik jelita yang berpakaian serba merah muda itu, karena yang tertawa adalah gadis cantik ini. Biar pun
dia sudah tidak tertawa lagi, akan tetapi gadis ini masih menutupi mulutnya dengan tangan, dan matanya
berseri menahan kegelian hatinya.
Merah muka Khiu Sek karena dia merasa ditertawakan. Akan tetapi, sebagai seorang tuan rumah, dia
berusaha keras menahan kemarahannya dan dengan suara lantang dia menegur, “Harap Ang-siocia suka
menjelaskan mengapa mentertawakan kami?” Lalu ditambahkannya untuk memperkenalkan nona itu
kepada para tamu, “Cu-wi sekalian, yang baru saja tertawa adalah Ang-siocia, murid yang mewakili
gurunya hadir di sini, yaitu Hek-sin Touw-ong!”
Mendengar nama Hek-sin Touw-ong, semua orang memandang kagum. Raja Maling itu terkenal sekali,
dan baru kini mereka melihat bahwa Raja Maling yang menyeramkan itu mempunyai seorang murid yang
sedemikian cantiknya, yang pakaiannya serba merah muda dan rapi sehingga kelihatan seperti seorang
gadis bangsawan saja!
Melihat dia diperkenalkan dan ditegur, Ang-siocia, gadis she Ang yang hanya dikenal sebagai Nona Ang
(Ang-siocia) itu, bangkit berdiri dan berkata lantang, sama sekali tak kelihatan jeri, “Itulah jadinya kalau dua
ekor anjing memperebutkan tulang! Keduanya babak-bundas akan tetapi tulangnya dibawa kabur orang
lain!”
Tentu saja Khiu-pangcu menjadi makin marah dan penasaran. Tadi dia ditertawakan dan sekarang dirinya
malah disamakan dengan anjing! Akan tetapi dia masih menahan kemarahannya, hanya bertanya dengan
suara yang nadanya kaku dan dingin, “Kalau menurut pendapatmu, bagaimana baiknya, Nona?”
“Menurut pendapatku? Tentu saja lebih baik kalau kedua ekor anjing itu berdamai dan tulang itu dimakan
bersama-sama, dengan demikian berarti menambah persahabatan dan perut keduanya bisa kenyang, hihi-
hik!”
Semua orang tertawa dan Khiu-pangcu sendiri tersenyum, kemarahannya lenyap dan dia menjura kepada
semua orang. “Apa yang diucapkan oleh Ang-siocia tadi memang benar dan tepat sekali. Karena itu pula
maka pangcu kami mengirim undangan kepada Cu-wi sekalian, yaitu untuk menyatukan semua golongan
dari kita para pencari nafkah yang mengandalkan modal kepandaian silat seperti kita semua ini. Dan
dengan adanya persatuan di antara kita, maka diharapkan tidak akan terjadi lagi bentrokan-bentrokan yang
mengakibatkan kelemahan golongan kita sendiri. Kita dianggap golongan hitam, nah, kalau tidak ada
persatuan di antara kita, tentu golongan putih yang menyebut diri mereka sendiri para pendekar itu akan
merasa girang sekali dan mereka akan mudah untuk memusuhi dan mengalahkan kita.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Segera terdengar suara teriakan-teriakan menyatakan persetujuan mereka. Hal ini tidak mengherankan
karena seperti pada umumnya, manusia di dunia ini tidak ada yang dapat melihat keadaan sendiri, tidak
dapat menyadari akan kesalahan dan kejahatan sendiri sehingga kaum itu pun tidak merasa bahwa
mereka adalah penjahat-panjahat! Mereka menganggap bahwa ‘pekerjaan’ mereka itu adalah usaha
mencari nafkah, dan para pendekar yang memusuhi mereka adalah yang sejahat-jahatnya orang karena
merintangi pekerjaan mereka! Tentu saja usul persatuan ini mereka sambut dengan gembira karena
memang sudah terlalu sering mereka ditentang dan di kejar-kejar oleh para pendekar.
“Akan tetapi, siapa yang akan memimpin kita?” terdengar suara lantang bertanya.
Khiu-pangcu mengangkat kedua tangan untuk menenangkan suasana yang menjadi hiruk-pikuk itu.
Setelah semua orang diam dia lalu berkata, “Yang berhak memimpin kita sudah tentu adalah orang yang
memiliki kepandaiannya paling tinggi di antara golongan kita semua.”
“Kalau guruku berada di sini tentu kursi pimpinan jatuh di tangannya!” terdengar gadis cantik berpakaian
merah itu berseru.
Khiu-pangcu tersenyum lebar. “Nona, dan Cu-wi sekalian, hendaknya maklum bahwa kursi pimpinan itu
tidak diperebutkan sekarang. Untuk itu tentu saja harus diadakan undangan khusus sehingga yang hadir
adalah tokoh-tokoh pertama dari golongan kita. Sekarang yang penting bagi kita adalah bahwa semua
pihak setuju untuk berdiri di bawah satu golongan. Dengan demikian, semua hasil karya kita dapat kita
pergunakan bersama dan mereka yang hasilnya besar dapat menolong mereka yang sedang sepi
pasarannya. Dan kalau seorang di antara golongan kita diusik oleh golongan putih, kita harus saling
membantu dan memusnahkan pihak musuh. Dengan demikian, bukankah kedudukan kita menjadi kuat dan
tidak ada sembarang pendekar yang berani untuk mengganggu?”
“Benar...!”
“Setuju...!”
Kembali suasana menjadi berisik sekali. Tiba-tiba, terdengar suara tertawa yang amat nyaring, suara yang
mengatasi semua suara berisik itu, suara ketawa yang menggema dan mengaung menggetarkan jantung.
Terang bahwa itu adalah suara ketawa yang mengandung tenaga khikang amat kuatnya.
Semua orang terkejut dan serentak menoleh ke tengah lapangan karena suara ketawa itu terdengar dari
mulut seorang peranakan Nepal yang muda dan duduk di kursi bagian tamu kehormatan itu. Tentu saja
semua orang terkejut dan marah, karena suara ketawa itu terdengar seperti meremehkan, dan kiranya
yang mentertawakan mereka hanya seorang peranakan Nepal!
Khiu-pangcu juga merasa penasaran, segera menghadapi pemuda peranakan Nepal itu dan dengan suara
hormat karena orang itu merupakan tamu agung, tetapi bernada teguran, dia bertanya, “Apakah Kongcu
(Tuan Muda) tidak menyetujui persatuan ini?”
Pemuda jangkung berkulit coklat itu bangkit berdiri dan menjura, lalu terdengar dia berkata dengan suara
lantang, “Kami sangat menyetujui, harap Khiu-pangcu tidak salah sangka. Hanya saja kami merasa sangat
kecewa dan kasihan melihat cara-cara kalian mencari nafkah yang begitu remeh.”
“Haiiiii!!” Semua orang berseru marah karena tersinggung oleh ucapan itu, bahkan ada yang sudah bangkit
berdiri dengan sikap mengancam.
Hanya tokoh-tokoh besar lainnya, seperti Ang-siocia, lalu gadis cantik jelita yang sama sekali tidak
mengacuhkan semua itu dan bermain-main dengan ularnya, kepala bajak sungai yang tadi ribut dengan
gadis pembawa ular, yaitu Tiat-thouw Sin-go, perampok tunggal Toat-beng Sin-to, raja kaum nelayan
Boan-wangwe, mereka ini tetap duduk diam dan bersikap tenang, sesuai dengan kedudukan mereka yang
tinggi.
“Harap Cu-wi jangan salah paham,” berkata peranakan Nepal itu dengan sikap tenang sekali. Sekarang dia
berdiri di panggung dan menghadapi semua tamu dengan penuh wibawa. “Saya tidak memandang rendah
kepada Cu-wi, hanya ingin menyatakan bahwa apa yang Cu-wi lakukan dan kerjakan itu sungguh tak
sesuai dengan jerih payah Cu-wi sekalian. Cu-wi bersusah payah mencari mangsa, menunggu mereka
lewat dan menanti datangnya kesempatan, menghadapi bahaya maut, dan semua itu Cu-wi lakukan hanya
untuk sejumlah barang yang tidak berarti, bahkan kadang-kadang gagal seperti yang diceritakan oleh Khiudunia-
kangouw.blogspot.com
pangcu ketika memperebutkan harta pusaka keluarga Jenderal Kao itu. Bukankah cara bekerja seperti itu
amat remeh dan tidak memadai?”
Toat-beng Sin-to Can Kok Ma, si perampok tunggal yang tinggi besar itu agak merasa tersinggung juga.
Dia memandang dengan mata melotot, lalu berkata dengan suara yang lantang dan kasar karena memang
dia terkenal seorang yang kasar, jujur tidak mau menggunakan banyak aturan, “Apakah kau mempunyai
usul yang lebih baik?”
Pemuda peranakan Nepal itu menoleh kepada si tinggi besar ini sambil tersenyum, lalu berkata, “Tentu
saja dan usulku amatlah baik, tentu saja kalau Cu-wi sekalian setuju. Akan tetapi usul saya ini usul yang
amat penting dan gawat, maka hanya akan saya terangkan kalau semua pimpinan sudah hadir, tidak
seperti sekarang ini. Baru pihak tuan rumah saja, yang keluar hanyalah wakilnya, yaitu Khiu-pangcu, bukan
ketuanya sendiri, mana bisa disebut lengkap untuk mendengarkan usul kami yang amat penting dan
menyangkut masa depan kita semua ini?”
Khiu-pangcu menjura kepada orang itu. “Maaf, pangcu kami kini sedang menyelesaikan ilmunya yang baru
sehingga selama ini tidak pernah keluar dan mewakilkan segala sesuatu kepada saya. Andai kata pangcu
kami sudah dapat keluar, apakah kiranya perempuan-perempuan dari Gunung Cemara itu masih berani
banyak tingkah? Itulah sebabnya maka pangcu kami tidak dapat hadir.”
Mendadak terdengar suara ledakan keras dan rumah tempurung terdepan meledak. Rumah itu hancur
berantakan dan keluarlah seorang kakek yang berpakaian hitam, agak terhuyung dengan mukanya yang
putih pucat seperti kapur. “Khiu Sek, jangan mengecewakan tamu, ini aku sudah datang!”
Kini dari rumah-rumah tempurung itu bermunculan pula orang-orang yang mukanya putih seperti kapur dan
itulah para pengikut ketua baru ini yang menyeramkan. Mereka itu semua agak terhuyung karena
terlampau lama berdiam di rumah tempurung itu untuk memperdalam ilmu mereka sesuai dengan petunjuk
sang ketua.
Melihat kakek ini, Kian Lee berdebar dan dia memandang dengan mata terbelalak karena tentu saja dia
mengenali kakek ini. Dia itu bukan lain adalah Hek-hwa Lo-kwi, ketua dari Lembah Bunga Hitam, tokoh
sesat yang amat sakti dan yang merupakan ahli racun yang luar biasa itu! Di dalam cerita kisah Sepasang
Rajawali telah diceritakan tentang diri kakek ini yang dahulunya adalah seorang pelayan dari Dewa
Bongkok dan yang kemudian melarikan diri karena tersangkut dalam pencurian kitab pelajaran ilmu yang
mukjijat.
Semua orang memandang dengan mata terbelalak. Baru sekarang mereka dapat menyaksikan ketua dari
Kui-liong-pang yang ternyata amat menyeramkan itu. Ilmu apa gerangan yang dipelajari oleh kakek ini
sehingga tadi rumah tempurung itu meledak dan hancur berantakan?
Khiu-pangcu bersama semua anak buah Kui-liong-pang menjatuhkan diri berlutut untuk memberi hormat
kepada pangcu mereka, sedangkan para tamu juga bangkit berdiri untuk menghormat. Kian Lee yang juga
ikut bangkit berdiri melihat betapa Hwee Li masih enak-enak saja duduk bermain-main dengan ularnya,
seolah-olah kemunculan kakek itu sama sekali tidak diketahuinya! Benar-benar bocah itu masih seperti
dulu, aneh dan bengal!
Hek-hwa Lo-kwi kini menghampiri tempat duduk yang telah disediakan untuknya sambil mengangguk ke
kanan kiri kepada para tamu, kemudian dia menghadapi peranakan Nepal itu sambil berkata, suaranya
menggetar dan mengandung gema yang meraung aneh, “Nah, sebelum Sicu ceritakan apa usul yang amat
penting itu, hendaknya lebih dulu memperkenalkan diri. Maaf kalau kami tidak mengenal Sicu.”
Pemuda peranakan Nepal itu menjura dengan hormat dan berkata, “Sungguh beruntung sekali kami semua
dapat bertemu dengan Pangcu yang telah kami kenal namanya yang besar. Dan kami menghaturkan
selamat atas berhasilnya Pangcu mempelajari ilmu baru. Perkenankan kami memperkenalkan diri kami.”
Dengan suara halus dan lantang sehingga semua orang dapat mendengarnya, orang muda peranakan
Nepal itu lalu memperkenalkan dirinya dan mendengar penuturannya, Kian Lee menjadi tertarik sekali dan
mendengarkan penuh perhatian. Kiranya pemuda itu adalah putera dari mendiang Pangeran Liong Khi
Ong!
dunia-kangouw.blogspot.com
Dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali dituturkan betapa Pangeran Liong Khi Ong dan kakaknya,
Pangeran Liong Bin Ong, telah mengadakan persekutuan untuk mengadakan pemberontakan, namun
akhirnya pemberontakan itu gagal dan kedua orang pangeran tua itu telah tewas.
Liong Khi Ong mempunyai seorang selir berbangsa Nepal, dan sebenarnya selir ini masih seorang puteri
Nepal, anak Raja Nepal yang juga lahir dari seorang selir dan yang dihadiahkan kepada Pangeran Liong
Khi Ong sebagai tanda persahabatan antara Nepal dan Kerajaan Ceng-tiauw yang pada waktu itu luas
sekali daerahnya sehingga merupakan negara besar yang dihormati negara-negara tetangga termasuk
Nepal.
Dan dari selir Nepal inilah Liong Khi Ong mempunyai putera, yaitu pemuda ini yang memakai nama Liong
Bian Cu. Ketika Liong Khi Ong tewas, pemuda ini bersama ibunya melarikan diri ke barat, kembali ke Nepal
di mana dia memperdalam kepandaiannya dengan menjadi murid dari Ban-hwa Sengjin, yaitu koksu (guru
negara) Nepal yang lihai itu.
Setelah memperkenalkan diri dan para tamu memandang dengan kagum karena tidak menyangka bahwa
peranakan Nepal ini ternyata adalah putera dari mendiang Pangeran Liong Khi Ong yang amat terkenal di
kalangan dunia hitam karena dahulu pangeran itu banyak menerima tenaga bantuan kaum sesat, bahkan
ketua Kui-liong-pang ini pun mengenalnya dengan baik, maka pemuda itu lalu menceritakan usulnya
dengan suara lantang.
“Dari pada kita bekerja secara kecil-kecilan dengan resiko besar, lebih baik sekalian kita melakukan
pekerjaan yang besar. Sudah basah kepalang mandi! Dari pada kita dikejar kejar pemerintah dan orangorang
dari golongan putih, kita mendahului mereka! Kita kumpulkan kawan-kawan yang banyak sehingga
menjadi barisan yang kuat, lalu kita serbu kota demi kota, kita sita seluruh kekayaannya, dan kita duduki
kotanya. Bukankah itu lebih cepat dan berhasil dari pada kita menunggu lewatnya mangsa seperti seekor
harimau kelaparan menunggu lewatnya seekor kelinci? Kita taklukkan kota demi kota dan kita paksa
penduduknya yang laki-laki, muda-muda dan kuat-kuat untuk menjadi anggota kita, yang menolak kita
bunuh semua! Wanita-wanitanya yang cantik kita bagi bagi. Dengan demikian, akhirnya kita akan menjadi
suatu kekuatan yang amat besar dan daerah kita akan makin luas. Jika sudah kuat benar, kita hancurkan
para gubernur. Kita kuasai propinsi dan tujuan terakhir adalah kota raja. Kita mendirikan kerajaan sendiri,
kerajaan kaum hitam!”
Sejenak suasana menjadi sunyi karena mereka yang mendengarkan rencana itu terlalu kaget dan heran.
Bahkan Hek-hwa Lo-kwi sendiri kelihatan menunduk, merenung dan mengelus jenggotnya. Kemudian
meledaklah kebisingan di situ karena semua orang bicara sendiri, saling berdebat, ada yang setuju, ada
yang menolak dan ada juga yang ketakutan.
Akhirnya Hek-hwa Lo-kwi mengangkat tangan kanan ke atas dan semua orang diam. Lalu terdengar
ucapan kakek ini, “Usul yang dikemukakan oleh Liong-sicu bukan hal remeh dan main-main, bahkan hal
yang amat baik. Memang pekerjaan kita selalu dibayangi oleh bahaya. Tentu saja makin besar bahayanya,
makin besar pula hasilnya, dan kalau kita bersatu, mengapa takut bahaya? Aku sendiri setuju dengan usul
itu dan akan mendukung pelaksanaannya!”
Ucapan ini disambut oleh tepuk tangan dan sorak-sorai dari mereka yang tadi setuju, sedangkan yang
menolak dan yang ragu-ragu terseret dan hanyut oleh suara setuju ini sehingga mereka pun menjadi besar
hati.
Kini Liong Bian Cu, pemuda peranakan itu mengangkat tangan dan semua orang berhenti membuat
berisik. “Apakah ada di antara Cu-wi yang mengajukan usul lain?”
Terdengar suara merdu nyaring dan gadis berpakaian merah muda, yaitu Ang-siocia, telah berdiri dan
berkata, “Bicara memang mudah saja, akan tetapi pelaksanaannya tidaklah semudah menggoyangkan
lidah dan bibir!” Memang dara ini biasa bicara dengan tajam. “Kota-kota itu tentu dijaga dan dilindungi oleh
pasukan prajurit yang sudah terlatih dan pandai berperang. Mana bisa orang-orang kita yang tidak terdidik
perang seperti mereka itu dapat menyerbu kota dan menang pula? Kepandaian kita hanyalah kepandaian
pribadi untuk dipakai dalam pertempuran perorangan atau paling hebat hanya menghadapi keroyokan
belasan sampai puluhan orang. Mana mungkin dapat berguna dalam perang antara ribuan orang dan pula
pihak pasukan pemerintah tentu diperlengkapl dengan senjata dan perlengkapan yang lebih sempurna?”
Hek-hwa Lo-kwi mengangguk-angguk. “Alasan yang baik dan kuat sekali. Bagaimana jawabanmu, Liongsicu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tidak perlu khawatir!” tiba-tiba seorang kakek berusia enam puluh tahun, bersorban dan jenggotnya
panjang sampai ke perut, tangannya memegang tongkat kayu cendana, berseru.
Dia ini adalah Gitananda, orang Nepal yang pernah menghadiri pesta pernikahan gagal dari Hwa-i-kongcu
Tang Hun di puncak Naga Api. Memang Gitananda adalah seorang di antara utusan-utusan Kerajaan
Nepal yang mencari kemungkinan menghubungi orang-orang yang hendak memberontak terhadap
Kerajaan Ceng-tiauw, dan sekarang Gitananda bertugas untuk mengawal dan menemani Liong Bian Cu.
“Hendaknya Cu-wi sekalian maklum bahwa Kongcu kami ini adalah seorang ahli perang yang tentu akan
mampu mendidik kawan-kawan dan membentuk barisan-barisan yang kuat!”
Liong Bian Cu bangkit dan menjura keempat penjuru. “Saya tidak ingin memamerkan diri, akan tetapi terus
terang saja, sebagai putera mendiang Ayah yang juga ahli dalam siasat perang, tentu saja saya sudah
rnempelajari ilmu perang dan saya pasti dapat membentuk pasukan-pasukan istimewa yang terlatih baik.
Dan tentang perlengkapan, jangan khawatir karena Raja Nepal adalah kakek saya. Cu-wi sekalian tak
perlu gelisah, dan saya berjanji bahwa kalau kelak kita berhasil, Cu-wi sekalian tentu akan menjadi
pembesar-pembesar tinggi yang hidup terhormat dan mulia!”
“Nanti dulu!” Tiba-tiba Hek-hwa Lokwi berkata sambil bangkit berdiri dan memandang ke sekeliling. “Aku
ingin sekali mendengar pendapat sahabat lamaku, Hek-tiauw Lo-mo ketua Pulau Neraka. Ataukah dia tidak
hadir dan tidak mengirim wakilnya?”
Semua orang yang mendengar nama ini terkejut, dan Tiat-thouw Sin-go ketua para pembajak itu
mengerling ke arah gadis cantik jelita berpakaian serba hitam yang masih duduk bermain-main dengan
ularnya tadi.
“Akulah wakilnya!” tiba-tiba gadis itu berkata sambil bangkit berdiri.
Semua orang menoleh dan menahan napas menyaksikan seorang gadis yang demikian cantik moleknya.
Wajahnya putih halus kemerahan, dengan rambut yang disanggul indah sekali, dihias dengan batu-batu
permata mahal, sepasang matanya seperti bintang pagi, jernih dan lebar akan tetapi mengandung sinar
yang tajam menyeramkan. Hidungnya mancung serta mulutnya selalu tersenyum, amat manis dan jelita.
Tubuhnya kelihatan ramping padat dengan lekuk lengkung yang menggairahkan, yang sukar
disembunyikan oleh pakaian sutera serba hitam itu. Akan tetapi yang membuat orang menjadi merasa
ngeri dan kehilangan gairah adalah ketika melihat dua ekor ular yang melingkar-lingkar di kedua lengan
yang halus mulus itu.
“Hemmm!” Hek-hwa Lo-kwi menatap dengan tajam, akan tetapi memandang rendah kepada gadis muda
itu. “Kalau engkau wakilnya, Nona, apa yang akan dikatakan oleh Hek-tiauw Lo-mo tentang usul tadi?”
Gadis itu yang bukan lain adalah Kim Hwee Li itu, puteri Hek-tiauw Lo-mo, tersenyum sehingga
sekelebatan nampak rongga mulutnya yang merah terhias kilatan gigi putih. “Apa yang hendak dikatakan?
Aku tidak tahu. Aku hanya diutus untuk mendengarkan saja tanpa membuka mulut dan akan kusampaikan
semua ini kepadanya.”
Hek-hwa Lo-kwi berkata kepada Liong Bian Cu, “Dahulu Hek-tiauw Lo-mo pernah membantu Ayahmu,
Liong-sicu. Kiranya sekarang pun dia akan setuju dengan usulmu itu.”
“Mudah-mudahan begitu,” Liong Bian Cu berkata dan matanya masih terus memandang kepada Hwee Li,
agaknya peranakan Nepal ini tertarik sekali kepada gadis yang luar biasa cantiknya itu.
“Tentu saja dia mau kalau kelak setelah berhasil dia yang menjadi rajanya!” kata Hwee Li sambil duduk dan
bermain main dengan ularnya.
Kian Lee tidak dapat lagi menahan senyumnya. Bukan main gadis ini. Berani sekali dan sikapnya seolaholah
memandang mereka semua itu seperti semut saja! Akan tetapi, dia sendiri masih gelisah memikirkan
Cui Lan dan Hok-taijin. Sebaiknya kalau dia sekarang mulai menyelidiki di mana adanya dua orang yang
dicarinya itu. Akan tetapi, mengingat bahwa yang hadir di situ adalah orang-orang yang berilmu tinggi
sehingga akan berbahaya bagi dua orang kawannya itu kalau sampai ketahuan, dia terpaksa memberi
isyarat kepada Liang Wi Nikouw untuk bersabar.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mereka ini tentu tidak tahu siapa Hok-taijin, sehingga gadis dan kakek itu hanya merupakan tawanan yang
tidak penting, yang mereka ambil dari Gunung Cemara ketika mereka membasminya. Kalau sampai dia
turun tangan dan ketahuan, tentu mereka akan sadar bahwa dua orang itu merupakan orang-orang penting
dan kalau sampai mereka tahu bahwa kakek itu adalah Gubernur Ho-pei, maka akan berbahayalah!
Hidangan mulai dikeluarkan dan sambil bercakap-cakap membicarakan rencana besar yang diusulkan oleh
Liong Bian Cu, mereka makan minum. Sementara itu, para tokoh yang penting di atas panggung
kehormatan mulai berunding sambil makan minum dan akhirnya diputuskan bahwa sebelum diadakan
pemilihan pemimpin yang harus seorang yang terpandai di antara mereka, yang akan merupakan seorang
bengcu (pemimpin rakyat), untuk sementara dibentuklah panitia pimpinan atau pengawas yang terdiri dari
Hek-hwa Lo-kwi sendiri, Toat-beng Sin-to Can Kok Ma, Boan-wangwe, dan Tiat-thouw Sin-go beserta
Gitananda sebagai wakil pihak orang Nepal. Ketika hal ini diumumkan, semua orang setuju.
Makan minum dilanjutkan dan Liong Bian Cu yang menganggap mereka semua itu sebagai calon-calon
pembantunya untuk melanjutkan ‘perjuangan’ mendiang ayahnya dalam kegembiraannya ingin sekali
melihat kelihaian mereka. Maka setelah minum beberapa cawan arak yang cukup menghangatkan hatinya,
dia bangkit berdiri dan berkata lantang.
“Cuwi sekalian! Kita telah bersepakat untuk bersatu dan kita merupakan kesatuan orang-orang yang gagah
dan memiliki kepandaian! Oleh karena itu, dalam pertemuan ini sudah selayaknya kalau kita
memperlihatkan kepandaian masing-masing, bukan untuk menyombongkan diri melainkan sebagai
perkenalan. Dan pertunjukan ini akan saya mulai lebih dulu dengan memperlihatkan sedikit kemampuan
saya yang saya pelajari dari guru saya yang terhormat, yaitu Ban-hwa Sengjin, koksu dari Nepal!”
Tentu saja ucapan ini disambut dengan gembira oleh semua orang. Mereka adalah orang-orang yang suka
berkelahi, suka akan ilmu silat, maka setiap pertunjukan silat tentu saja menggembirakan hati mereka. Apa
lagi karena mereka maklum bahwa di antara mereka terdapat banyak sekali orang-orang pandai.
Dengan langkah lebar Liong Bian Cu yang oleh orang-orangnya disebut Liong-kongcu itu menghampiri
sebuah batu besar yang berada di tempat itu. Batu itu sebesar kerbau, tentu berat sekali. Akan tetapi
dengan mudah dan ringan Liong-kongcu mengangkatnya dan melontarkannya tinggi ke atas. Dia
menggosok kedua telapak tangannya, kemudian cepat dia menggerakkan kedua lengannya dan kedua
tangannya dengan jari-jari terbuka memukul dan mendorong ke arah batu itu.
Terdengarlah suara bercuitan dari tangan kanannya dan dari tangan kirinya keluar suara mendesis. Di
sekitar tempat dia berdiri menyambar-nyambar hawa yang panas dan dingin. Yang panas keluar dari
tangan kanannya sedangkan yang dingin keluar dari tangan kirinya. Ketika kedua tangan itu bergerak
memukul, batu itu tidak dapat meluncur jatuh, melainkan terapung di udara seperti tertahan oleh tenaga
mukjijat, dan batu itu mulai terputar, semakin lama semakin cepat sehingga mengeluarkan suara
mengaung seperti gasing. Tak lama kemudian nampak debu mengepul, pecahan batu dan pasir
berhamburan ke mana-mana.
Liong-kongcu tersenyum, menghentikan gerakan kedua tangannya dan meloncat ke belakang ketika batu
itu jatuh berdebuk ke atas tanah. Dan semua orang melongo ketika melihat betapa batu yang tadinya kasar
itu kini telah menjadi halus seperti dibubut, bentuknya bulat seperti telur!
Kian Lee yang sejak tadi memandang penuh perhatian, diam-diam memuji. Itulah tenaga Im-yang Sinciang
yang cukup hebat. Sungguh pun tentu saja tidak dapat dibandingkan dengan Hwi-yang Sin-ciang dan
Swat-im Sin-ciang, namun pemuda itu sudah boleh juga dan hal itu tidak mengherankan karena pemuda
itu, menurut pengakuannya tadi adalah murid dari koksu dari Nepal, yaitu Ban-hwa Sengjin yang pernah
dia jumpai di istana Gubernur Ho-nan!
Pemuda ini mulai mengerti apa tugas orang-orang Nepal ini. Dia dapat menghubung-hubungkannya
dengan kehadiran Ban-hwa Sengjin koksu dari Nepal di istana Gubernur Ho-nan, lalu kehadiran mereka ini
di sini, hendak membentuk barisan pemberontak! Apa lagi ketika mendengar bahwa Liong-kongcu ini
adalah putera mendiang Pangeran Liong Khi Ong, maka tentu saja apa yang dilihat dan didengarnya
semua itu tidaklah terlalu mengherankan. Suatu persekutuan pemberontak agaknya hendak bangkit lagi
bertujuan mengacaukan negara.
Para tamu bersorak memuji kelihaian pemuda peranakan itu, dan Liong-kongcu kini memandang ke arah
Hwee Li sambil tersenyum bangga. Akan tetapi senyumnya hilang dan alisnya berkerut ketika dia melihat
gadis berpakaian hitam yang menggoncangkan hatinya itu sama sekali tak ikut bersorak memuji, bahkan
dunia-kangouw.blogspot.com
bibirnya tersenyum mengejek, seolah-olah apa yang dipertunjukkannya tadi tidak ada artinya sama sekali
bagi nona itu.
Selagi Liong-kongcu hendak minta kepada Hwee Li agar memperlihatkan kelihaiannya, tiba-tiba dia
didahului oleh Ang-siocia yang sudah bangkit berdiri dan menghampirinya. “Hik-hik, sungguh lumayan juga
kepandaianmu. Ingin sekali aku bertanding denganmu karena ilmu kita hampir bersamaan. Engkau
memiliki pukulan tajam, aku pun juga. Akan tetapi aku akan mempergunakan pedang, lihatlah!”
Dia mencabut sebatang pedang yang tadi tergantung di punggungnya, pedang yang bersarung dan
bergagang indah, yang dihias ronce merah tua di gagangnya. Kemudian gadis berpakaian merah muda ini
mengeluarkan suara melengking panjang. Pedangnya lalu bergerak dengan cepat, bertubi-tubi ke arah
batu yang bulat halus seperti telur itu.
Cepat sekali gerakan pedangnya, sampai nampak sinar menyilaukan mata dan ketika sinar itu lenyap,
ternyata pedangnya telah kembali memasuki sarungnya di punggung nona itu dan dengan tenang dia
berdiri memandang ke arah batu. Batu itu tiba-tiba roboh terpotong-potong seperti irisan kue keranjang!
Tipis dan lebar. Tentu saja semua orang melongo dan bertepuk tangan memuji.
“Hi-hi-hik, hampir sama bukan?” kata Ang-siocia kepada Liong-kongcu. “Kalau guruku yang melakukannya,
tidak usah memakai bantuan pedang, cukup dengan telapak tangan saja. Itulah pukulan Kiam-to Sin-ciang
(Tangan Sakti Pedang dan Golok).”
Ang-siocia terkekeh lagi dengan bangga, kemudian dia menghampiri batu yang sudah terpotong-potong itu
dan menggunakan kakinya untuk mencukil dan melemparkan batu itu ke arah sungai yang mengalir tak
jauh dari tempat itu, sebuah sungai yang menjadi sambungan dari air terjun. “Lebih baik batu-batu ini
dilempar ke sungai!”
Tentu saja perbuatannya ini tak lain mengandung maksud untuk mendemonstrasikan kekuatan kakinya
dan memang hebat sekali. Potongan-potongan batu itu beterbang ke depan.
“Heiii, jangan dibuang! Sayang...!”
Nampak bayangan berkelebat cepat sekali mendahului batu-batu itu dan ketika dia membalik, dia
menggunakan tangannya menuding dan menangkapi potong-potongan batu yang seperti roda bentuknya
itu lalu menumpuknya kembali di atas tanah. Semua orang memandang tumpukan batu itu dan terdengar
seruan-seruan kagum karena batu batu yang bentuknya seperti roda itu kini telah berlubang tepat di
tengah-tengahnya, sehingga bentuknya seperti gilingan tahu dan ternyata bahwa ketika menangkap batu
batu itu, kakek ini menggunakan jari tangannya melubangi batu-batu itu tepat di tengah tengah. Kakek ini
bukan lain adalah Tiat-thouw Sin-go, yang ternyata bukan hanya kepalanya yang keras melebihi batu,
melainkan juga jari tangannya amat kuat. Tentu saja perbuatannya itu pun dimaksudkan untuk
mendemonstrasikan kepandaiannya dan kembali semua tamu memuji.
Akan tetapi sebelum orang lain mendemonstrasikan kepandaiannya, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan
keras dan disusul suara canang dipukul bertalu-talu tanda bahaya dan nampaklah beberapa orang penjaga
datang berlari-lari dengan muka pucat menghadap pangcu mereka. Ketika melihat bahwa Hek-hwa Lo-kwi
sudah hadir di situ, mereka itu serta merta menjatuhkan diri berlutut.
“Celaka... Pangcu...!”
“Tolol! Pengecut!” Khiu-pangcu memaki. “Hayo lekas lapor, ada apa?!”
“Di luar pintu terowongan... orang-orang Gunung Cemara datang menyerbu...!”
“Huh, begitu saja ribut!” Khiu-pangcu membentak.
“Tapi, Ji-pangcu. Mereka itu dipimpin oleh ketua mereka, Yang-liu Nionio dan dua orang yang luar biasa
lihainya. Tanpa menyentuh orang, mereka berdua telah merobohkan dan membunuh banyak kawan kita!
Mereka adalah seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik yang mengeluarkan suara seperti
kucing... huuuh-huhhh...!” para penjaga itu menggigil ketakutan.
“Hemmm, sungguh orang-orang Hek-eng-pang tak boleh diberi ampun kali ini!” Hek-hwa Lo-kwi
membentak marah sekali dan meloncat turun dari atas panggung, kemudian dengan langkah lebar dia
dunia-kangouw.blogspot.com
pergi menuju ke pintu terowongan, diikuti oleh para tamu yang ingin melihat apa yang selanjutnya akan
diperbuat oleh ketua yang baru saja keluar dari pertapaannya itu. Juga mereka ini mengharapkan akan
menyaksikan pertandingan yang hebat antara Hek-hwa Lo-kwi melawan tokoh-tokoh pimpinan Hek-engpang.
Akan tetapi belum juga mereka memasuki pintu terowongan, tiba-tiba terdengar suara ledakan-ledakan
keras di sebelah luar terowongan itu dan nampak api mengebul di atas tebing arah mulut terowongan di
atas. Semua orang terkejut sekali, apa lagi ketika mendengar gemuruhnya suara air menyaingi suara
gemuruh air terjun. Cepat mereka semua mundur kembali menjauhi pintu terowongan dan tak lama
kemudian, dari pintu terowongan itu menyembur air yang amat kuat dan derasnya. Beberapa orang
penjaga terowongan terlontar seperti daun-daun kering dihanyutkan air bersama dengan semburan air
yang deras itu.
Semua orang menjadi panik karena maklum bahwa entah secara bagaimana, pihak musuh telah berhasil
membobolkan sungai di atas dan mengalirkan airnya memasuki mulut terowongan di atas hingga
menggenangi lembah itu! Tentu saja terjadi kepanikan hebat. Orang-orang cepat mencari perahu-perahu
yang banyak terdapat di situ. Akan tetapi karena banyaknya orang dan kurangnya perahu, mereka banyak
tidak kebagian dan terpaksa mereka menebang pohon-pohon dan bambu-bambu untuk dijadikan
pengapung atau semacam rakit. Air makin meninggi dan keadaan makin kacau. Mereka yang telah berhasil
memperoleh perahu sudah cepat-cepat menyelamatkan diri melalui sungai.
Di dalam suasana yang kacau-balau dan hiruk-pikuk itu, Kian Lee bertindak cepat sekali. Dia melihat Hoagu-
ji, tokoh Kui-liong-pang tinggi kurus yang tadi mengepalai para pelayan yang mengeluarkan hidangan.
Kian Lee menduga bahwa orang ini tentu seorang di antara para anggota pimpinan, maka begitu melihat
kesempatan, secepat kilat dia menubruk dan merobohkan orang tinggi kurus ini dengan totokan, kemudian
menyeretnya ke tempat gelap.
Hoa-gu-ji adalah seorang yang mempunyai kepandaian cukup lihai, maka dapatlah dibayangkan alangkah
kaget dan herannya melihat betapa ada orang yang mampu merobohkannya demikian mudahnya! Dia tadi
hanya melihat seorang pemuda tampan mendekatinya dan tahu-tahu tubuhnya menjadi lemas dan ketika
dia hendak berteriak, pemuda itu menepuk tengkuknya dan lenyaplah suaranya! Kini Hoa-gu-ji benar-benar
merasa ketakutan ketika dia diseret di tempat gelap dan dia melihat bahwa di situ telah menanti seorang
nikouw tua yang tadi dilihatnya menjadi seorang di antara para tamu di situ.
“Hayo cepat katakan, di mana adanya dua orang tawanan yang kalian bawa dari Gunung Cemara!” Kian
Lee membentak sambil menyentuh ubun-ubun kepala orang itu dan dengan tangan kiri membebaskan
totokan pada lehernya sehingga orang itu dapat mengeluarkan suara lagi.
“Ta... tawanan... yang mana...?” Hoa-gu-ji bertanya, jantungnya berdebar tegang karena jari-jari tangan
yang menyentuh ubun-ubunnya itu benar-benar merupakan ‘todongan maut’ baginya, maka dia tidak
berani main-main.
“Seorang gadis dan juga seorang laki-laki tua yang kalian bawa dari tempat tahanan Hek-eng-pang. Cepat
jawab!”
“Ahhh... mereka itu?”
Setelah jelas bahwa orang ini mengetahui tentang dua orang temannya, Kian Lee lalu membebaskan
totokan pada tubuh Hoa-gu-ji dan sambil mencengkeram leher bajunya, dia menghardik, “Hayo antarkan
kami ke sana!”
Hoa-gu-ji mengangguk-angguk. Dia maklum bahwa dia tidak berdaya karena selain pemuda ini luar biasa
lihainya, juga teman-temannya sedang sibuk menyelamatkan diri dari serangan air yang membanjiri
lembah. Akan tetapi, Kian Lee menjadi repot juga karena air sudah mulai naik sampai ke paha.
“Kita membuat rakit dulu!” kata Liang Wi Nikouw.
Nenek ini kemudian mengumpulkan kayu dan bambu yang banyak hanyut di situ, bekas orang-orang tadi
membuat rakit. Dibantu oleh Hoa-gu-ji, mereka membuat rakit dengan cekatan, lalu cepat mereka menuju
ke kelompok bangunan yang sudah digenangi air setinggi perut. Akhirnya tibalah mereka di sebelah kamar
tahanan dan dengan hati lega Kian Lee melihat Cui Lan dan Hok-taijin berpegang kepada ruji-ruji besi
tempat tahanan itu dengan muka pucat dan ketakutan karena air sudah terus naik!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kongcu... syukur engkau cepat datang...!” Cui Lan terisak penuh kegembiraan melihat munculnya pemuda
itu.
Untung lampu di atas tempat tahanan masih belum padam sehingga keadaan di situ cukup terang. Kian
Lee cepat menotok lumpuh Hoa-gu-ji dan membawanya loncat naik ke atas wuwungan rumah dan
melemparkan tubuh itu di atas wuwungan karena dia yakin bahwa air tidak mungkin sampai naik ke
wuwungan. Kemudian bersama Liang Wi Nikouw dia membongkar pintu tahanan dan menolong gadis dan
pembesar itu naik rakit dan mereka lalu mendayung rakit itu keluar dari situ. Di luar air sudah naik sampai
ke dada orang. Bangunan-bangunan kecil roboh terlanda air, akan tetapi bangunan besar di mana tadi
Kian Lee melemparkan Hoa-gu-ji ke atas wuwungan cukup kokoh dan tentu akan dapat bertahan.
“Ahhh... Taihiap... sungguh kami sudah hampir putus asa...” Hok-taijin berkata. “Untung aku bersama
dengan Cui Lan, anakku yang gagah perkasa ini... dialah yang selalu membesarkan hatiku... kalau tidak,
mungkin aku sudah menjadi gila...“
Kian Lee memandang kepada Cui Lan dengan sinar mata kagum, sementara gadis itu menunduk dengan
air mata berlinang.
“Cui Lan, ini adalah Liang Wi Nikouw yang diutus oleh Siluman Kecil untuk menyelidiki keadaanmu dan
menolongmu,” kata Kian Lee sambil memandang gadis itu.
Seketika wajah yang menunduk itu bergerak, diangkat dan biar pun air matanya masih berlinang, namun
bibirnya tersenyum dan wajahnya berseri. “Aihhh...? Suthai yang baik, benarkah itu?”
Nikouw itu mengangguk dan tersenyum.
“Di mana dia? Bagaimana dengan dia? Baik-baik sajakah dia?” tanyanya seperti air hujan.
Nikouw itu mengangguk-angguk lagi. “Dia mengkhawatirkan keadaanmu, Nona, maka mengutus pinni
menyelidiki. Kiranya engkau benar-benar terancam bahaya, untung ada pemuda perkasa ini yang
menolong.”
Karena mereka masih berada dalam bahaya, maka Cui Lan tidak berani banyak bertanya lagi. Juga dia
merasa malu untuk banyak bertanya tentang pendekar luar biasa itu, maka dia kini hanya menunduk
sedangkan Kian Lee yang dibantu oleh nikouw yang biar pun sudah tua namun masih kuat itu untuk
mendayung rakitnya menuju ke sungai, di mana juga terdapat kesibukan dari mereka yang menyelamatkan
dirinya.
Sementara itu, jauh di atas tebing nampak tiga orang berdiri menonton semua keributan di lembah. Tentu
saja tidak kelihatan jelas benar karena hanya dibantu dengan sinar bulan. Akan tetap melihat lampu-lampu
bergerak ke sana sini dengan kacau dan teriakan-teriakan orang di bawah terdengar sampai di atas, tiga
orang itu cukup puas dan menonton sambil tersenyum.
Mereka itu bukan lain adalah Hek-eng-pangcu Yang-liu Nionio, Ang Tek Hoat, dan Mauw Siauw Moli.
Bagaimana mereka bisa berada di sana? Mari kita ikuti perjalanan Tek Hoat yang kita tahu melakukan
usaha menculik Syanti Dewi dari puncak Naga Api, tempat tinggal Hwa-i-kongcu itu…..
********************
Seperti telah diceritakan di bagian depan, setelah Ang Tek Hoat berhasil membantu Yang-liu Nionio ketua
Hek-eng-pang merobohkan Kian Lee, pemuda itu lalu dibantu oleh Yang-liu Nionio dan beberapa orang
anak buahnya untuk pergi ke puncak Naga Api menculik Syanti Dewi yang menjadi tawanan di sana dan
hendak dipaksa menikah dengan Hwai-kongcu Tang Hun, murid dari Durganini yang kaya raya dan lihai
itu.
Dan walau pun Hek-eng-pang mengorbankan beberapa orang anggotanya, akhirnya mereka berhasil
melarikan Syanti Dewi yang oleh Yang-liu Nionio dilemparkan kepada muridnya, Liong-li dan kemudian
dibawa keluar di mana telah menanti Ang Tek Hoat bersama beberapa orang anak buah Hek-eng-pang
yang siap dengan beberapa ekor kuda yang baik.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tentu saja Tek Hoat menjadi girang sekali melihat bahwa kekasihnya telah berhasil diselamatkan. Akan
tetapi dia teringat akan perlakuan Raja Bhutan ayah puteri itu terhadap dirinya dan penghinaan lima tahun
yang lalu itu masih membuat hatinya terasa panas, apa lagi kalau dia teringat betapa sengsaranya hatinya
selama ini yang selalu terkenang dengan penuh kerinduan kepada wanita yang dicintanya itu. Maka,
setelah kini dengan susah payah dia dapat bertemu kembali dengan $yanti Dewi, dia tidak mau lekas-lekas
memperkenalkan diri lebih dulu.
Karena cuaca masih gelap sekali, mudah baginya untuk tidak memperkenalkan diri dan tidak membuka
suara. Dia hanya menerima puteri yang tertotok itu dari tangan Liong-li, kemudian dengan mendudukkan
wanita yang dicintainya itu di atas punggung kuda, dia melompat di belakang Syanti Dewi dan
membalapkan kuda secepatnya, diikuti oleh Yang-liu Nionio, Liong-li dan lain anak buah Hek-eng-pang,
menuju kembali ke Gunung Cemara. Untuk membingungkan para pengejarnya, mereka lalu berpencar
menjadi tiga rombongan dan Tek Hoat masih tetap bersama Yang-liu Nionio dan Liong-li, sedangkan
rombongan lain bertugas untuk menghilangkan jejak ketua dan rombongannya ini.
Tentu saja Hwa-i-kongcu Tang Hun yang dibantu oleh tiga orang sakti Hak Im Cu, Ban-kin-kwi Kwan Ok,
dan Hai-liong-ong Ciok Gu To terus melakukan pengejaran, akan tetapi mereka ini dibikin bingung dan
akhirnya juga berpencar menjadi dua rombongan yang membelok ke kanan kiri, tidak tahu bahwa puteri itu
dilarikan terus ke depan oleh Ang Tek Hoat dan rombongannya. Hal ini adalah karena jejak kaki kuda
mereka telah dihapus oleh anak buah Hek-eng-pang yang cerdik itu.
Hanya ada satu orang yang tidak mudah diakali oleh anak buah Hek-eng-pang. Orang ini adalah Siang In!
Ketika terjadi keributan di tempat pesta, Siang In yang pergi meninggalkan rombongan penari itu cepatcepat
mencari-cari dan ketika jelas bahwa Syanti Dewi diculik orang, dia pun cepat melakukan pengejaran.
Dia amat cerdik, sudah menduga bahwa tentu rombongan penculik itu membawa keluar Syanti Dewi, maka
dia telah mendahului pergi ke kandang kuda, mencuri seekor kuda dan menggunakan kesempatan selagi
ribut-ribut itu menjalankan kudanya keluar dari benteng yang terjaga.
“Aku sri panggung rombongan penari, hendak membantu mencari pengantin puteri yang terculik!” katanya
dan karena penjaga tadi melihat betapa dara cantik jelita ini pandai main sulap, mereka membiarkan Siang
In keluar.
Dara ini mengintai dan melihat ada rombongan orang membawa kuda menanti di luar tembok, maka dia
pun bersembunyi. Saat para penculik wanita rombongan orang-orang Hek-eng-pang itu keluar dan
membawa lari Syanti Dewi, dia pun membalapkan kudanya membayangi dari jauh. Dia cukup hati-hati dan
dapat menduga bahwa orang-orang itu tentu memiliki kepandaian, maka dia tidak berani sembrono turun
tangan di situ, apa lagi dia tahu bahwa tentu pihak Hwa-i-kongcu tidak akan tinggal diam dan melakukan
pengejaran, sehingga andai kata dia berhasil merampas Syanti Dewi dari tangan para penculik, dia pun
tidak akan terlepas dari tangan Hwa-i-kongcu dan para pembantunya yang lihai itu. Untuk menggunakan
sihirnya, dia teringat akan orang Nepal yang lihai tadi, maka sekali ini dia harus bersikap hati-hati sekali.
Sementara itu, tanpa mengeluarkan sepatah kata, Ang Tek Hoat memeluk pinggang Syanti Dewi yang
duduk di depannya. Pelukan yang penuh kemesraan dan seluruh kerinduan hatinya dicurahkan pada
sentuhan mesra itu. Namun dia tetap membisu dan hanya membalapkan kudanya bersama Yang-liu Nionio
dan Liong-li.
Hatinya lega karena tidak terdengar derap kaki banyak kuda mengejarnya. Hanya kadang-kadang
terdengar derap kaki seekor kuda di belakang, akan tetapi tentu saja hal ini dianggap ringan. Andai kata
benar ada satu orang yang mengejar, tentu saja bukan merupakan halangan. Dia sendiri masih belum
berani menggunakan terlalu banyak tenaga sebagai akibat luka dalam ketika bertanding melawan Kian
Lee, akan tetapi Liong-li dan terutama Yang-liu Nionio yang menunggang kuda di dekatnya bukanlah
orang-orang yang lemah.
Karena tidak ada pengejar, hati mereka tenang dan mereka berhenti di dalam sebuah kuil tua yang berada
di tepi jalan untuk membiarkan kuda mereka mengaso. Tanpa banyak cakap Tek Hoat memondong tubuh
Syanti Dewi dan merebahkan dara itu di atas lantai dalam kuil, kemudian dia membebaskan totokannya
dan meninggalkannya pergi.
Syanti Dewi mengeluh dan kemudian menangis terisak-isak. Malam hampir lewat dan waktu itu sudah
menjelang subuh. Sudah terdengar kokok ayam jantan di kejauhan. Udara dingin sekali. Syanti Dewi
menggigil, akan tetapi Tek Hoat hanya berdiri di luar, bermacam perasaan teraduk di hatinya. Dia merasa
rindu, merasa girang, merasa kasihan, akan tetapi juga mendongkol dan marah. Ingin dia memeluk,
dunia-kangouw.blogspot.com
membisikkan kata-kata cinta, menciumi wanita yang selama ini amat dirindukannya itu. Ingin dia
menghiburnya, membuatnya gembira dan tertawa, karena dia yakin bahwa tentu Syanti Dewi akan merasa
girang sekali bertemu dengan dia.
Dia tahu bahwa puteri itu belum dapat menduga siapa adanya orang yang menolongnya bebas dari tangan
Hwa-i-kongcu! Akan tetapi karena rasa sakit di hatinya oleh ayah gadis itu, dia masih ‘menjual mahal’ dan
mengambil keputusan untuk menjumpai Syanti Dewi pagi nanti kalau cuaca sudah terang. Dia akan muncul
begitu saja mengagetkan hati puteri itu. Tersenyum dia membayangkan betapa Syanti Dewi tentu akan
menjerit, dan lari memeluknya kalau puteri itu tiba-tiba melihat dia muncul di dalam kamar kuil rusak itu!
Ada pun Yang-liu Nionio dan Liong-li lalu membuat api unggun di dalam kuil, tidak mau mencampuri urusan
Tek Hoat bersama Syanti Dewi. Mereka membicarakan tentang beberapa orang anggota mereka yang
diduga tewas dalam penyerbuan itu, dan juga membicarakan tentang orang-orang pandai yang muncul di
dalam pesta Hwa-i-kongcu.
Tidak lama kemudian, sinar matahari pagi mulai mengusir kabut dan hawa dingin dan tiba-tiba Hek-engpangcu
bersama muridnya itu mendengar suara teriakan Tek Hoat dari sebelah dalam kuil. Mereka terkejut
dan cepat melompat ke dalam dan mereka melihat Tek Hoat dengan muka pucat berdiri di ambang pintu,
memandang ke arah puteri yang telah mereka culik semalam. Puteri itu duduk bersimpuh di atas lantai
sambil menangis dan Si Jari Maut yang biasanya tenang dan gagah perkasa itu kini berdiri dengan mata
terbelalak memandang puteri itu, mukanya pucat sekali.
“Celaka...!” Tek Hoat berseru marah.
“Kenapa? Apa yang terjadi...?” Yang-liu Nionio bertanya.
“Bodoh! Tolol semua! Dia bukan...“
“Bukan apa?”
“Dia bukan puteri itu!” Ang Tek Hoat mengepal tinju sambil memandang kepada ketua Hek-eng-pang
dengan mata melotot. “Kalian telah tertipu! Ini bukan Puteri Syanti Dewi!”
“Tapi...!” Yang-liu Nionio membantah, terheran-heran. Dia sendiri yang menculik wanita ini dari dalam
kamar pengantin wanita. Tidak bisa salah lagi.
Liong-li cepat meloncat dan menarik pundak wanita yang mengempis itu. ”Diam kau! Hayo ceritakan siapa
engkau dan di mana adanya pengantin puteri!” hardiknya sambil mengguncang-guncang pundak wanita
muda yang cantik itu.
“Ampunkan saya...“ Wanita itu meratap. “Saya adalah seorang pelayan dari Kongcu dan malam tadi...
ada… ada seorang kakek muncul dan menyeret saya, mengancam akan membunuh kalau saya berteriak,
lalu mendadak saya menjadi lumpuh, bahkan untuk mengeluarkan suara pun tidak mampu... dan… kakek
itu melucuti pakaian saya dan memaksa saya memakai pakaian ini... saya tidak tahu apa-apa... dan tibatiba
saja saya dilarikan sampai di sini...“
“Di mana pengantin puteri?” Tek Hoat membentak, tidak sabar.
“Saya tidak tahu... harap ampunkan saya... saya tidak tahu apa-apa...“
“Hemmm, siapa kakek itu? Bagaimana macamnya?”
“Saya hanya tahu dia kakek tua, entah siapa...“
“Sialan!” Yang-liu Nionio meludahi muka wanita itu, tangannya bergerak dan wanita itu roboh tak berkutik
lagi karena kepalanya telah pecah oleh ketukan jari tangan ketua Hek-eng-pang yang merasa
dipermainkan dan menjadi marah sekali. Dia telah bekerja bersusah payah, telah kehilangan beberapa
orang anggota perkumpulannya pula, dan hasilnya adalah puteri palsu!
Pada saat itu terdengar suara dari luar, “Heiii, Ang Tek Hoat! Biarkan aku bertemu dan bicara dengan Enci
Syanti Dewi! Aku belum puas kalau belum mendengar dari mulutnya sendiri bahwa dia suka ikut dengan
orang seperti engkau! Enci Syanti, ini aku, Siang In. Keluarlah dulu dan kita bicara sebentar!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Huh!” Tek Hoat mendengus marah dan dia menyambar punggung baju mayat pelayan yang telah dibunuh
oleh Yang-liu Nionio dan Liong-li yang terkekeh mengejek ke arah Siang In.
Siang In terkejut bukan main melihat tubuh wanita yang disangkanya Syanti Dewi itu terlempar ke arahnya.
Dia mengelak dan tubuh itu terbanting ke atas tanah. Cepat dia memeriksa dan menahan napas lega.
Kiranya bukan Syanti Dewi yang dibawa kabur oleh Tek Hoat!
“Hemmm... kalau begitu, siapa yang menculik Syanti Dewi! Ke mana perginya? Orang lihai macam Tek
Hoat dan nenek cantik itu masih dapat ditipu orang. Dan kalau melihat Hwa-i-kongcu dan orang-orangnya
sudah melakukan pengejaran dan pencarian ke mana-mana, jelas bahwa Enci Syanti Dewi benar-benar
telah lenyap. Akan tetapi siapa yang membawanya dan kemana?”
Dengan hati penasaran Siang In lalu melompat ke atas kudanya dan kembali ke daerah puncak Naga Api
untuk menyelidiki hilangnya Syanti Dewi yang penuh rahasia itu.
Demikianlah, dengan marah dan kecewa Ang Tek Hoat kembali ke Gunung Cemara bersama Yang-liu
Nionio dan Liong-li. Dan ketika mereka tiba di sana, mereka melihat bahwa Gunung Cemara telah dibasmi
dan dibakar oleh musuh, yaitu orang-orang dari lembah perkumpulan Huang-ho Kui-liong-pang! Tentu saja
Yang-liu Nionio menjadi marah dan berduka sekali ketika para anggota Hek-eng-pang yang tadinya
melarikan diri itu berdatangan sambil menangis.
“Orang muda! Kau lihat apa yang terjadi dengan kami karena kami pergi membantumu. Tempat kami
dibasmi musuh. Kalau kau tidak membantu kami melakukan pembalasan, sungguh-sungguh aku harus
menyebutmu seorang yang tidak mengenal budi!” ketua yang sedang marah dan sakit hati itu berkata
kepada Tek Hoat.
Ang Tek Hoat juga merasa sangat tidak senang dengan peristiwa itu. “Jangan khawatir, Pangcu. Aku tentu
akan membantumu.”
“Bagus! Kalau begitu, kelak kami pun akan melakukan penyelidikan, siapa yang telah menculik pengantin
puteri dari puncak Naga Api itu,” Yang-liu Nionio berkata. “Akan tetapi, karena anak buahku banyak yang
tewas, aku harus minta bantuan dari Subo.” Dia lalu menulis sepucuk surat dan menyuruh Liong-li naik
kuda yang kuat untuk cepat minta bantuan gurunya yang dia tahu berada di istana gubernuran di Propinsi
Ho-nan.
Sepekan kemudian muncullah Mauw Siauw Mo-li di tempat itu. Tentu saja Ang Tek Hoat menjadi terkejut
melihat wanita cantik yang genit ini, karena dia sudah mengenalnya dahulu ketika dia membantu
pemberontakan Pangeran Liong Khi Ong. Juga Mauw Siauw Mo-li terkejut dan girang bertemu dengan
pemuda tampan yang gagah ini. (baca cerita Kisah Sepasang Rajawali)
“He-he-heh, bukankah engkau Tek Hoat Si Jari Maut? Aku mendengar bahwa engkau telah menjadi
seorang panglima dan mantu raja di Bhutan! Bagaimana sekarang dapat berkeliaran di sini?”
Tek Hoat cemberut dan tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya berkata, “Hemmm, kiranya engkau guru
dari Yang-liu Nionio? Sungguh tak kusangka!”
“Pangcu, bagaimana engkau dapat bergaul dengan pemuda ini? Ketahuilah, dia pernah menjadi musuhku
beberapa tahun yang lalu, hi-hik-hik!” katanya kepada muridnya yang lebih tua dari pada dia itu, maka dia
menyebutnya pangcu!
Yang-liu Nionio terkejut bukan main. “Ahh... teecu tidak tahu... dia... dia telah membantu teecu dan
sekarang pun hendak membantu teecu lagi menghadapi orang-orang dari Kui-liong-pang.”
Mauw Siauw Mo-li tertawa dan memandang wajah Tek Hoat yang tampan dan muram itu sambil berkata,
“Tidak mengapa. Ada waktunya menjadi musuh, ada waktunya pula menjadi sahabat, bukan? Nah,
ceritakan apa yang telah dilakukan oleh orang-orang Kui-liong-pang yang bosan hidup itu.”
Yang-liu Nionio lalu menceritakan semua pengalamannya, betapa perkumpulannya bermusuhan dengan
Kui-liong-pang dan akhir-akhir ini berebutan pusaka keluarga Jenderal Kao dan betapa ketika dia pergi
membantu Tek Hoat untuk menculik pengantin dari Hwa-i-kongcu, orang-orang Kui-liong-pang lalu datang
membasmi dan membakar tempat itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hemmm, sungguh-sungguh mereka itu harus mampus. Jangan khawatir, aku akan membantumu
membasmi mereka. Akan tetapi, sungguh mati aku merasa heran sekali mengapa engkau pergi menculik
pengantin puteri, Ang-sicu?” tanyanya kepada Tek Hoat, memandang heran.
Tek Hoat sebenarnya tidak suka kepada wanita yang cabul dan genit ini, dan pandang mata wanita itu
kepadanya pun sudah membuat dia merasa muak. Akan tetapi dia tahu pula bahwa Mauw Siauw Mo-li
adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi sekali dan selama Syanti Dewi masih belum dapat
olehnya dan terancam keselamatannya di tangan orang-orang sesat, dia perlu bantuan orang-orang seperti
wanita ini. Maka dengan terus terang dia menjawab, “Pengantin puteri itu adalah Puteri Syanti Dewi.”
“Ehhh...?” Mauw Siauw Mo-li membelalakkan matanya dan wanita yang usianya sudah empat puluh tahun
ini masih belum kehilangan daya tariknya. Dengan rasa bingung dia lalu bertanya, “Bagaimana ini?
Bukankah dia sudah kembali ke istana Bhutan?”
Ang Tek Hoat menggelengkan kepalanya. Dia tidak suka menceritakan riwayatnya yang menyedihkan dan
memalukan itu kepada orang lain, apa lagi kepada seorang wanita seperti Mauw Siauw Mo-li ini. Maka dia
menjawab singkat, “Aku pergi dari Bhutan, dia menyusul dan tertawan oleh Hwa-i-kongcu, akan dipaksa
menjadi isterinya.”
Mauw Siauw Mo-li mengangguk-angguk, akan tetapi di dalam hatinya merasa heran sekali. Dia mendengar
bahwa pemuda ini telah menjadi menantu raja, berarti sudah memperoleh kedudukan yang mulia, akan
tetapi mengapa sekarang berkeliaran lagi ke sini dan wajahnya begitu murung? Sungguh dia tidak mengerti
sama sekali, akan tetapi dia pun tidak berani mendesak karena tahu bahwa pemuda yang tampan dan lihai
ini mempunyai watak yang amat aneh.
Demikianlah, Tek Hoat dan Mauw Siauw Mo-li lalu bersama Yang-liu Nionio dan semua sisa anak buah
Hek-eng-pang pergi ke lembah yang menjadi sarang Kui-liong-pang dan atas usul Tek Hoat yang melihat
keadaan di situ, Mauw Siauw Mo-li lalu menggunakan senjata peledaknya untuk membobol tempat itu
sehingga air sungai menyerbu lembah melalui terowongan yang juga telah diledakkan.
Kini mereka bertiga memandang dengan hati puas ke bawah, ke arah lembah yang kebanjiran itu sehingga
seluruh penghuni dan para tamunya harus bergegas-gegas menyelamatkan diri dengan perahu-perahu
dan rakit-rakit darurat. Setelah itu, tanpa berkata apa-apa lagi Tek Hoat lalu membalikkan tubuh sambil
berkata, “Aku pergi!”
“Terima kasih, dan kami akan menyebar anak buah kami untuk menyelidiki di mana adanya pengantin
puteri itu!” kata Yang-liu Nionio. Tek Hoat tidak menjawab dan terus berkelebat pergi.
“Nanti dulu, Ang-sicu!” Bayangan lain juga berkelebat pergi dan ternyata Mauw Siauw Mo-li mengejarnya.
Tek Hoat mengerutkan alisnya, akan tetapi dia membalik dan memandang tokoh sesat itu sambil bertanya,
“Engkau mau apa?”
“Ang-sicu, tiga hari yang lalu ketika aku meninggalkan Lok-yang menerima undangan muridku, ketika tiba
di dusun Khun-kwa, aku berpapasan dengan seorang gadis yang bertanya-tanya kepada orang-orang di
jalan tentang seorang kakek yang membawa seorang gadis dengan paksa. Aku merasa curiga kepada
gadis itu karena aku merasa seperti pernah melihatnya, maka kemudian aku bersembunyi dan mengintai.
Ketika aku mendengar gadis itu menceritakan ciri-ciri gadis yang dibawa dengan paksa oleh kakek itu, aku
teringat bahwa gadis yang diculik itu tentulah gadismu yang dahulu kau pertahankan mati-matian, yaitu
Syanti Dewi.”
Tentu saja Tek Hoat menjadi tertarik sekali dan wajahnya memancarkan harapan baru. Dia melangkah
dekat dan bertanya, “Mo-li, siapa yang menculik dia?”
Wanita itu tersenyum lebar dan memang dia masih manis sekali. “Mana aku tahu? Akan tetapi, kalau kau
mau pergi bersama aku mencarinya, mungkin saja kita dapat temukan gadis itu dan dari dia kita tentu akan
mendapat tahu siapa yang menculik puterimu itu. Dengan kerja sama antara kita, apa pun akan dapat kita
lakukan dengan berhasil, bukan?”
Tek Hoat yang amat mengkhawatirkan keselamatan kekasihnya tidak dapat menolak dan berkata singkat,
“Baiklah, mari kita pergi!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Mauw Siauw Mo-li tersenyum dan berjalan pergi di samping pemuda tampan itu. Dia menoleh dan berkata
kepada muridnya, “Engkau bawa anak buahmu menyingkir dan bersembunyi dulu sebelum mendapatkan
tempat baru yang baik. Aku pergi dulu!”
Maka berangkatlah wanita cantik yang hatinya sejak dahulu memang sudah tergerak oleh ketampanan dan
kegagahan Tek Hoat ini bersama Tek Hoat yang terpaksa harus menerimanya sebagai teman seperjalanan
dalam usahanya mencari kembali Syanti Dewi yang lenyap…..
********************
Biar pun yang mereka tumpangi hanya sebuah rakit yang terbuat dari kayu dan bambu yang diikat secara
kasar dan tergesa-gesa, namun karena yang memegang dayung adalah Kian Lee dan Liang Wi Nikouw,
maka rakit itu dapat meluncur cepat, memasuki sungai bersama dengan orang-orang lain yang
berserabutan meloloskan diri dari ancaman air yang membanjiri lembah. Banyak perahu dan rakit yang
bermacam-macam terapung di situ. Di depan rakit mereka meluncur perahu besar yang ditumpangi oleh
rombongan Boan-wangwe yang memang menggunakan perahu besar yang oleh anak buahnya sudah
dipersiapkan itu. Tentu saja dengan cara ‘membeli’ dari para anak buah Kui-liong-pang. Dalam keadaan
ribut-ribut itu pun pengaruh dan kekuasaan uang masih nampak sehingga rombongan yang kaya raya ini
masih mampu memperoleh perahu yang terbesar dan terbaik dengan cara menyogok bagian pengurus
perahu-perahu dari Kui-liong-pang.
Tentu saja para tamu yang tidak pernah melihat dan mengenal Cui Lan dan Hok-taijin, tidak
memperhatikan empat orang di atas rakit itu, yang mereka anggap juga tamu-tamu yang sama-sama
melarikan diri.
“Minggir...!” Seruan yang keras sekali ini terdengar dari belakang rakit!
Suma Kian Lee, Liang Wi Nikouw, Cui Lan dan Hok-taijin terkejut dan memandang sebatang balok besar
yang meluncur dengan cepatnya ke arah mereka dari belakang. Di atas balok besar ini duduk Toat-beng
Sin-to Can Kok Ma, si perampok tunggal yang tinggi besar dan tangannya memegang sebatang golok
besar yang menyeramkan oleh karena golok ini di dekat punggungnya mempunyai sembilan buah lubang
sedangkan di gagang golok dipasangi tali panjang yang melibat-libat lengan kakek itu.
Melihat betapa balok yang ditumpanginya itu hampir menabrak rakit di depannya, si Golok Sakti ini cepat
menggunakan kakinya mendorong rakit Kian Lee sehingga rakit itu menjadi miring hampir terbalik! Cui Lan
menjerit dan Hok-taijin cepat memeluk gadis itu dan karena ini maka keduanya terguling-guling di atas
permukaan rakit! Mereka tentu terlempar ke air kalau saja Kian Lee tidak cepat-cepat menggunakan
tangan kanannya menepuk air sambil mengerahkan tenaga Hwi-yang Sin-kang yang sangat hebat. Air
muncrat tinggi sekali dan rakit itu seperti terdorong oleh tenaga raksasa, menjadi tegak kembali sehingga
Hok-taijin dan Cui Lan tidak jadi terlempar ke air karena mereka sudah berhasil berpegang pada bambu
rakit.
Akan tetapi, air yang muncrat tadi mengenai beberapa orang anak buah Boan-wangwe yang mendayung
perahu besar di depan. Mereka berteriak-teriak kaget dan kesakitan ketika air yang muncrat itu mengenai
muka mereka karena terasa seperti jarum-jarum menusuk dan panas sekali! Marahlah beberapa orang itu
dan seorang di antara mereka yang merupakan tukang pukul dari Boan-wangwe dan tentu saja memiliki
kepandaian yang lumayan, memaki dan meloncat ke arah rakit di sebelah.
Akan tetapi pada saat itu nampak sinar hitam meluncur dan sinar seperti tali panjang itu mengenai kaki
orang yang meloncat, terus membelit kaki itu dan ketika benda panjang hitam itu bergerak, tubuh orang itu
terlempar kembali ke atas papan perahu besar di mana dia bengong terlongong memandang gadis
berpakaian hitam yang berada di atas sebuah perahu kecil dan gadis itu menyimpan kembali ular panjang
yang melingkar di lengannya. Orang tadi terlalu kaget, terlalu ngeri karena tahu bahwa dia tadi sudah
dilemparkan kembali oleh gadis itu dengan menggunakan ular panjang yang sangat mengerikan itu!
Sebelum orang-orangnya Boan-wangwe dapat melampiaskan kemarahan mereka, rakit Kian Lee sudah
meluncur melewati perahu besar itu, dan ketika Kian Lee memandang, dia melihat gadis berpakaian hitam
yang dia ingat bukan lain adalah Hwee Li, sedang tersenyum kepadanya. Kian Lee mengangguk untuk
menyatakan terima kasihnya dan mempercepat dayungnya sehingga rakit itu meluncur cepat meninggal
perahu besar di mana orang-orangnya Boan-wangwe masih memandang marah. Akan tetapi tetap saja dia
dunia-kangouw.blogspot.com
tidak dapat menyamai kecepatan perahu Hwee Li yang meluncur seperti terbang di permukaan air sungai
dan sebentar saja sudah lenyap jauh di depan.
Ketika Kian Lee melihat bahwa perahu besar milik Boan-wangwe itu kini juga melaju pesat dengan
menambah barisan pendayung, dia cepat-cepat meminggirkan rakitnya sampai jauh agar perahu besar itu
lewat lebih dulu karena dia tidak ingin ribut-ribut di situ, apa lagi tanpa sebab-sebab yang patut diributkan.
Yang penting baginya adalah menyelamatkan Cui Lan dan Hok-taijin dan kini mereka sudah berhasil
diselamatkan, maka dia tidak boleh mencari perkara lagi sebelum kedua orang ini dapat dia antarkan
sampai ke daerah Ho-pei.
Mereka menumpang di atas rakit sejak semalam sampai pada keesokan harinya dan baru setelah
menjelang sore, Kian Lee menghentikan rakitnya di sebuah dusun nelayan di tepi sungai. Mereka lalu
mendarat dan mencari sebuah warung nasi untuk mengisi perut karena mereka berempat sudah merasa
lapar sekali.
Mereka memasuki sebuah warung yang cukup besar, akan tetapi keadaan di warung itu sunyi sekali,
padahal dusun itu cukup ramai karena merupakan pasar ikan. Setelah mengambil tempat duduk dan
memesan makanan, dan tentu saja masakan sayur tanpa daging untuk Liang Wi Nikouw, Kian Lee
kemudian melepaskan pandang matanya ke sekelilingnya dan baru dia melihat bahwa tempat itu baru saja
mengalami keributan. Masih banyak meja kursi yang patah-patah ditumpuk di pinggir, juga mangkok piring
yang pecah. Teman-temannya juga melihat ini dan mereka menduga-duga apa yang telah terjadi di warung
ini.
Ketika pelayan datang mengantar makanan yang mereka pesan, Kian Lee bertanya, “Ehh, Lopek, apakah
yang sudah terjadi maka banyak meja kursi hancur dan mangkok piring pecah-pecah?” Dia menuding ke
arah tumpukan barang-barang rusak itu.
“Aihhh, kami telah mengalami hari sial kemarin, Kongcu,” kata pelayan itu. “Tidak saja barang-barang
rusak, akan tetapi sejak peristiwa yang terjadi kemarin itu, warung kami menjadi sepi karena tidak ada
orang berani makan di sini. Baru Kongcu berempat saja yang berani makan di sini dan itulah rejeki kami.”
“Ehh, apakah yang terjadi?” Kian Lee makin tertarik.
“Kemarin seperti biasa, orang-orang dari Boan-wangwe yang biasa mengumpulkan hasil ikan di dusun ini,
sebanyak sepuluh orang, makan di sini. Mereka itu memang orang orang kasar, namun Boan-wangwe
selalu membayar apa yang mereka makan, maka kami pun melayani dengan senang hati. Mendadak
masuk pula serombongan tentara yang jumlahnya belasan orang. Tentu saja kami makin sibuk dan
kekurangan tenaga, jadi untuk melayani terlalu lama. Kedua rombongan itu berebut minta didahulukan dan
terjadilah pertempuran di sini antara mereka. Wah, bukan main ramainya sampai meja kursi hancur dan
mangkok piring beterbangan dan pecah-pecah. Akhirnya pihak tentara itu mengundurkan diri dan pergi.
Kami tentu akan mohon kebijaksanaan Boan-wangwe untuk mengganti kerugian kami, akan tetapi ternyata
Boan-wangwe sedang pergi entah ke mana.”
Hok-taijin tentu saja tertarik sekali mendengar adanya sepasukan tentara. Tentara siapakah itu? Kalau
tentara dari Gubernur Ho-nan, berarti dia masih dikejar-kejar dan dicari-cari sampai di sini.
“Tahukah engkau tentara dari propinsi mana mereka itu?” tanyanya kepada si pelayan.
“Mana saya tahu? Tentu saja tentara pemerintah, entah dari propinsi mana.”
“Apakah pihak tentara itu kalah?” Kian Lee bertanya lagi karena dia tahu bahwa orang orang dari Boanwangwe
seperti mereka yang berada di atas perahu besar semalam, adalah orang-orang yang pandai ilmu
silat.
“Sebetulnya sih masih ramai, entah pihak mana yang menang atau kalah karena kami hanya berani
menonton sambil bersembunyi. Tentu akan terjadi hal-hal mengerikan dan tentu akan banyak yang mati
karena mereka mulai mengeluarkan senjata tajam masing masing. Baiknya ketika mereka sudah mulai
menggerakkan senjata, muncul seorang pendekar yang melerai. Bukan main pendekar ini, tubuhnya
terbang seperti burung dan semua senjata itu dirampasnya! Sambil bergerak merampas senjata dia
berseru agar mereka menghentikan pertempuran. Dia hanya datang, bergerak merampas senjata, lalu
pergi lagi, menghilang begitu saja sehingga kami tidak lagi dapat atau sempat melihat mukanya. Yang
tampak hanya rambutnya yang sudah putih semua, padahal dia masih muda dan...”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Siluman Kecil!” Cui Lan menjerit tanpa disadarinya dan dia lalu bangkit berdiri sampai sepasang
sumpitnya terjatuh ke atas lantai.
“Benar...!” kata Liang Wi Nikouw sambil memandang Cui Lan.
Gadis ini segera sadar kembali dan menjadi tersipu-sipu, cepat dia mengambil kembali sepasang
sumpitnya sambil membungkuk dan pada saat dia membersihkan sepasang sumpit itu, mukanya menjadi
merah sekali.
“Munculnya pendekar itu menghentikan pertempuran dan para prajurit itu lalu pergi, demikian pula orangorangnya
Boan-wangwe tidak berani melanjutkan pertempuran setelah melihat betapa senjata-senjata
mereka demikian mudahnya dirampas pendekar itu. Sedangkan para prajurit itu menurut kabar bermalam
di dusun ini dan heiii…, itulah mereka! Mereka datang lagi ke sini...!” Pelayan itu cepat pergi meninggalkan
tamunya untuk masuk ke dalam dan melaporkan kepada majikannya tentang kedatangan para prajurit
yang kemarin itu.
Ia tidak tahu bahwa empat orang tamunya itu pun terkejut sekali dan Kian Lee bersama Liang Wi Nikouw
sudah bersiap-siap untuk melawan kalau pasukan itu ternyata anak buah Gubernur Ho-nan. Akan tetapi
ketika rombongan itu sudah memasuki warung dan dipimpin oleh seorang perwira yang sudah setengah
tua, tiba-tiba Hok-taijin berseru girang.
“Ciangkun, ke sinilah!” teriaknya kepada perwira itu.
Perwira setengah tua itu terkejut, lalu menoleh dan sejenak dia memandang kepada Hok-taijin dengan
melongo. Akan tetapi akhirnya dia pun mengenal gubernurnya dan cepat dia maju berlutut sambil memberi
hormat. “Ah, Taijin! Siapa kira hamba dapat bertemu dengan Taijin di sini!” serunya dengan girang. Semua
anak buahnya ketika mengenal pula bahwa kakek berpakaian petani yang berdiri di depan mereka itu
bukan lain adalah Hok-taijin, segera berlutut pula memberi hormat.
Perwira itu dipersilakan duduk dan dia bercerita bahwa pasukannya mendapat perintah dari atasannya
untuk mencari-cari Gubernur Hok yang kabarnya lenyap saat mengiringi Pangeran Yung Hwa sebagai
utusan kaisar ke Propinsi Ho-nan.
“Semua pasukan disebar, akan tetapi tidak juga berhasil,” perwira itu berkata. “Siapa tahu, di tempat yang
tak kami sangka-sangka sama sekali ini, hamba berjumpa dengan Taijin.” Perwira itu berhenti sebentar
untuk menenangkan jantungnya yang berdebar penuh ketegangan setelah dia bertemu dengan gubernur
yang dicari-carinya dengan susah payah itu. “Marilah Taijin, hamba antar Taijin kembali pulang. Apakah
Taijin ingin naik kereta, ataukah kuda?”
“Cui Lan, apakah engkau biasa menunggang kuda? Kalau tidak biasa, biar kita naik kereta saja,” tanya
Hok-taijin kepada Cui Lan.
Gadis itu tadinya melamun, karena pikirannya masih tertarik oleh berita tentang Siluman Kecil yang muncul
di dusun ini. Betapa inginnya dia berjumpa dengan pendekar yang amat dipujanya itu. Alangkah besar rasa
rindu di hatinya ingin memandang wajahnya, mendengar suaranya, merasakan sinar matanya yang aneh
tapi lembut.
“Ehh... saya... hemmm, saya pun biasa naik kuda...,“ jawabnya gagap.
“Bagaimana pula kabarnya dengan Pangeran Yung Hwa, Ciangkun?” Suma Kian Lee bertanya.
Perwira itu memandang kepada Hok-taijin dan pembesar ini mengangguk.
“Kau boleh menceritakan apa pun juga kepada Suma-taihiap ini,” katanya. “Kalau tidak ada dia dan nona
ini dan juga nikouw ini, kiranya engkau hanya dapat menemukan mayatku.”
Perwira itu terkejut dan cepat memberi hormat kepada mereka bertiga, kemudian menjawab kepada Kian
Lee, “Kami tidak mendengar berita tentang Pangeran Yung Hwa. Tidak ada kabar apa-apa dan kami tidak
ada yang berani melapor ke kota raja sebelum gubernur pulang.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kian Lee kemudian berkata kepada gubernur itu, “Hok-taijin, kalau begitu sungguh mengkhawatirkan sekali
keadaan Pangeran Yung Hwa. Sekarang, Taijin telah bertemu dengan pasukan Taijin, maka kiranya tidak
perlu lagi saya mengantar sampai ke ibu kota. Tentu daerah ini termasuk Propinsi Ho-pei dan Taijin telah
berada di daerah sendiri. Biarlah Taijin dan Nona Phang dikawal oleh pasukan, sedangkan saya sendiri
hendak menyelidiki keadaan Pangeran Yung Hwa...“
Pada saat itu, Kian Lee memandang kepada Cui Lan dan kebetulan sekali gadis ini pun memandang
kepadanya. Dua pasang mata bertemu, bertaut sebentar dan Kian Lee melihat dengan jelas betapa gadis
itu merasa amat berat untuk berpisah, agaknya tidak senang untuk ikut bersama pembesar itu ke istana
gubernur. Mengapa? Dia merasa heran sendiri. Betapa pun juga, dia merasa amat suka dan kagum
kepada gadis ini, dan tentu saja rasa suka ini membuat dia pun merasa tidak senang untuk saling berpisah.
Akan tetapi, tidak mungkin mereka akan terus berkumpul. Tak mungkin! Dia tidak tahu bahwa memang Cui
Lan sebetulnya ingin terus bersama dengan dia untuk mencari Siluman Kecil.
“Benar, dan pinni pun harus kembali,” kata Liang Wi Nikouw.
“Suthai...,“ Cui Lan berkata akan tetapi ditahannya.
Nikouw yang sudah tua dan bijaksana ini dapat menangkap apa yang terkandung dalam hati gadis itu,
maka dengan tenang dia berkata, “Tentunya engkau ingin agar pinni menyampaikan kepada dia bahwa
engkau ikut bersama Hok-taijin ke Ho-pei, Nona?”
Kedua pipi gadis itu menjadi merah dan matanya menjadi basah. Dia mengangguk dan menggumam,
“Terima kasih, Suthai... “
Suma Kian Lee dan Liang Wi Nikouw lalu berpamit dan segera mereka berpisah dan meninggalkan tempat
itu, dlikuti pandang mata Hok-taijin dan Cui Lan.
“Suma-taihiap!” Tiba-tiba kakek itu berseru memanggil.
Kian Lee cepat membalik dan menghampiri kakek itu yang sudah bangkit. “Ada pesan apa yang hendak
disampaikan oleh Taijin?”
Hok-taijin melangkah maju dan memegang tangan pemuda itu. “Suma-taihiap, betapa besar aku hutang
budi kepadamu! Betapa inginku untuk membalas segala kebaikanmu itu. Sudikah engkau datang ke rumah
kami dan menjadi tamuku yang terhormat agar kami dapat menyatakan terima kasih kami kepadamu?”
Kian Lee tersenyum. Dia tahu bahwa pembesar ini, adalah seorang tua yang baik budi. “Baiklah, Taijin.
Kelak, jika sudah tidak terlalu banyak urusan yang harus kuselesaikan, saya pasti akan berkunjung kepada
Taijin.”
Mereka pun berpisah dan Hok-taijin lalu dikawal oleh para prajuritnya, bersama Cui Lan pergi ke rumah
penginapan untuk bermalam di situ semalam sambil membuat segala persiapan. Pembesar yang bijaksana
ini melihat bahwa jumlah prajurit pengawal itu hanya dua puluh orang, maka dia mengambil keputusan
untuk tetap menyamar sebagai seorang petani.
Pada esok harinya, Hok-taijin dan pengawalnya melanjutkan perjalanan. Rombongan ini bergerak perlahan
dan belum lama mereka meninggalkan kota, mereka mendengar derap kaki banyak kuda lari dari arah
belakang. Perwira pengawal memberi aba-aba agar pasukannya berhenti dan menepi, membiarkan
belasan orang berkuda itu lewat.
Cui Lan melihat bahwa belasan orang yang berpakaian sebagai pendekar itu tergesa gesa lewat sehingga
kuda mereka menimbulkan debu yang mengebul tinggi. Cui Lan memandang kagum. Sudah banyak ia
bertemu orang-orang gagah, pendekar-pendekar budiman. Sudah banyak ia menerima pertolongan para
pendekar, terutama sekali dari Kian Lee yang dianggapnya seorang pemuda yang amat baiknya, paling
baik di dunia ini sesudah Siluman Kecil tentunya! Dan karena dia merasa betapa setiap langkah kuda yang
ditungganginya itu makin menjauhkan dia dari dusun di mana Siluman Kecil pernah muncul, hatinya
merasa sedih.
Tak lama kemudian, kembali terdengar derap kaki kuda dari belakang. Ketika mereka menoleh, kelihatan
tiga ekor kuda membalap dari belakang. Perwira itu menyerukan aba-aba agar semua kuda berhenti
karena jalan itu sempit, agar tiga orang yang datang membalapkan kuda itu dapat lewat lebih dulu. Mereka
dunia-kangouw.blogspot.com
berhenti dan memandang tiga orang penunggang kuda yang bertubuh tegap itu. Kuda terdepan
ditunggangi oleh seorang laki-laki tinggi besar yang memboncengkan seorang anak laki-laki di depannya.
“Heiiiii... Enci Lan...!!” Tiba-tiba anak itu berseru.
Tiga orang penunggang kuda itu menoleh dan mereka pun melihat Cui Lan, lalu mereka menahan kuda
mereka.
“Ahhh, kiranya engkau, Hong Bu...!” Cui Lan berseru girang sekali dan cepat dia turun dari kudanya. Tiga
orang laki-laki itu bukan lain adalah Sim Hoat, Sim Tek, dan Sim Kun, tiga orang pemburu di tengah hutan
yang pernah menolong Cui Lan, dan anak itu adalah Sim Hong Bu, putera dari Sim Hoat.
“Sam-wi Twako, kalian baik-baik saja?” Cui Lan menegur dan tiga orang itu menjura kepada Cui Lan, juga
kepada Hok-taijin yang mereka tahu adalah seorang sahabat dari nona ini. Mereka menghormati Cui Lan
yang mereka anggap sebagai sahabat baik dari Siluman Kecil.
“Terima kasih, Nona,” jawab Sim Kun, saudara termuda yang paling ramah dan pandai bicara
dibandingkan dengan dua orang kakaknya yang kasar dan kaku.
“Eh, kalian hendak ke manakah? Kelihatan tergesa-gesa amat. Dan siapa pula mereka yang tadi melewati
kami? Ada belasan orang berkuda yang juga kelihatan tergesa-gesa melewati kami menuju ke depan,” Cui
Lan bertanya.
Mendengar ini, Sim Hoat tertawa girang. “Ha-ha-ha, kiranya saudara-saudara kita pun sudah berangkat!”
katanya kepada dua orang adiknya yang juga kelihatan gembira.
“Sebetulnya ada urusan apakah?” Cui Lan bertanya lagi, penuh perhatian tentu saja karena orang-orang ini
termasuk sahabat-sahabat dari Siluman Kecil dan dia justeru mengharapkan berita dari Siluman Kecil!
Kini Hok-taijin juga sudah turun dari kudanya dan ikut mendengarkan, sedangkan para prajurit tetap
menanti di atas kuda sambil berjaga-jaga karena mereka itu betapa pun juga merasa curiga pada tiga
orang yang kelihatannya kasar-kasar seperti gerombolan perampok itu. Heran sekali mereka melihat
gubernur mereka dan gadis yang cantik itu dan yang diperkenalkan oleh sang gubernur sebagai anak
angkatnya kelihatan begitu bebas bergaul dengan segala macam orang kasar seperti tiga orang
penunggang kuda itu.
“Kami hendak membantu penolong kami, Pendekar Siluman Kecil.”
“Ehhhhh...?” Cui Lan berseri wajahnya dan dia maju selangkah. “Apa yang terjadi?” tanyanya penuh
gairah.
“Kami hanya mengetahui urusan itu sebagai kabar angin saja, akan tetapi bagaimana pun juga, kami ingin
membantu beliau,” kata Sim Kun. “Entah benar entah tidak kabar angin itu, kami pun tidak tahu.”
“Ceritakanlah, kami ingin sekali mendengarnya, bukan Gihu?” Cui Lan menoleh kepada ayah angkatnya
dengan sinar mata penuh permohonan. Kakek itu mengangguk. Betapa pun juga, ketika dikejar oleh
tentara Ho-nan, dia dan Cui Lan telah ditolong oleh para pemburu ini pun berkat nama Siluman Kecil,
pikirnya.
“Menurut kabar angin di antara kawan-kawan yang seperti semacam dongeng tentang diri Siluman Kecil,
kurang lebih lima tahun yang lalu, di dalam pengembaraannya beliau bertemu dengan musuh yang amat
sakti yang tinggal mengasingkan diri di atas bukit di depan sana. Orang sakti itu tinggal bersama muridmuridnya
dan pelayan-pelayannya yang kesemuanya juga lihai-lihai sekali. Dan menurut dongeng itu,
kabarnya orang sakti ini adalah pewaris dari ilmu-ilmu pendekar sakti Suling Emas ratusan tahun yang lalu.
Entah apa sebabnya, lima tahun yang lalu telah terjadi pertandingan antara Pendekar Siluman Kecil dan
orang sakti itu, dan kabarnya beliau terluka parah oleh suling sakti dari lawan itu dan hampir saja beliau
tewas. Akan tetapi beliau dapat diselamatkan dan diobati oleh seorang pendeta wanita, dan biar pun dapat
sembuh, namun luka-luka hebat itu membuat rambut beliau menjadi putih semua! Nah, kabarnya beliau
membuat perjanjian dengan orang sakti itu untuk saling mengadu ilmu lagi lima tahun kemudian dan hari ini
adalah hari perjanjian itu. Kami yang berhutang budi kepada Pendekar Siluman Kecil, tidak dapat berdiam
diri saja dan kami semua beramai-ramai pergi ke tempat itu untuk membantu beliau.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah selesai bercerita, cerita yang seperti dongeng dan yang hanya mereka dengar sepotong-sepotong
itu, mendadak hati Cui Lan ingin sekali ikut bersama mereka untuk menyaksikan pertandingan itu, atau
sesungguhnya lebih tepat lagi kalau dikatakan bahwa ia ingin pergi untuk menjumpai orang yang dipujanya
itu. Akan tetapi tentu saja dia tidak berani dan malu untuk menyatakan hal ini kepada ayah angkatnya.
Maka ketika tiga orang bersama anak laki-laki itu berpamitan untuk melanjutkan perjalanan mereka, Cui
Lan melangkah maju beberapa tindak mengikuti mereka sampai ke tempat mereka menambatkan kuda
mereka. Air matanya membasahi bulu matanya ketika dia mendengar mereka berpamit lagi dan melompat
ke atas kuda mereka.
“Selamat tinggal, Enci Cui Lan!” terdengar Hong Bu berteriak.
Cui Lan yang tadinya menunduk untuk menyembunyikan air matanya, kini berdongak mendengar seruan
suara Hong Bu. Terkejutlah dia ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Sim Kun yang
ternyata masih berada di situ dan memandangnya dengan sinar mata aneh, lembut, hangat dan mesra! Cui
Lan terkejut dan gugup, cepat dia membalikkan tubuhnya dan dia mendengar Sim Kun berkata, “Selamat
berpisah, sampai jumpa kembali!” lalu terdengar derap kaki kuda dilarikan cepat ke depan.
Mereka melanjutkan perjalanan dan Cui Lan kelihatan termenung. Melihat ini, Hok-taijin bertanya, “Anakku,
kenapa kau kelihatan diam? Apakah engkau masih terkesan oleh cerita tadi?”
Memperoleh kesempatan itu Cui Lan lalu berkata, “Benar sekali, Gihu. Gihu tentu tahu mengapa orangorang
kasar itu sampai begitu setia, mereka semua telah berhutang budi kepada Pendekar Siluman Kecil.
Saya pun hutang nyawa kepadanya, bahkan lebih dari itu, dan mendengar dia hendak bertanding melawan
orang sakti, saya… saya ingin sekali menonton, Gihu.”
Hok-taijin mengerutkan alisnya. “Hemmm, berbahaya sekali, Cui Lan. Orang-orang yang tidak mempunyai
kepandaian silat seperti kita ini, apa gunanya bagi dia? Tidak dapat membantu seperti para pemburu itu,
bahkan kita dapat terancam bahaya maut. Jangan kau khawatir, kalau kita sudah tiba di rumah, aku akan
mengirim utusan mengundang Pendekar Siluman Kecil dengan hormat agar sudi berkunjung ke rumah
kita.”
Terhibur juga hati Cui Lan mendengar janji ini, sungguh pun hatinya masih ingin sekali untuk pergi ke bukit
itu. Akan tetapi, selain tidak berani memaksa, juga dia merasa malu terhadap ayah angkatnya dan para
prajurit, maka dia melanjutkan perjalanan itu dengan diam saja dan termenung.
Lewat tengah hari, udara panas sekali dan Hok-taijin mengajak mereka beristirahat di sebuah lapangan
terbuka dekat hutan di kaki bukit yang penuh dengan hutan-hutan besar. Perwira itu lalu mengeluarkan
perbekalan dan Hok-taijin dan Cui Lan lalu makan. Lezat bukan main makan di tempat terbuka itu, sungguh
pun yang dimakan hanya roti kering dan daging panggang dibantu oleh air jernih. Setelah keduanya selesai
makan, Hok-taijin memberi kesempatan kepada para pengawalnya untuk makan pula. Kakek ini duduk
bersandar pohon dan segera terasa kantuk datang menyerangnya ketika tubuh lelah dan perut kenyang itu
dihembus angin sejuk.
Cui Lan berjalan-jalan di sekitar tempat itu mencari kembang. Mendadak dia mendengar suara orang
bersenandung, suara yang amat merdu dan gembira. Ketika dia menuju ke tempat itu, dia melihat seorang
gadis yang cantik sekali, berpakaian serba hitam dan ringkas, pakaian yang ketat sehingga
memperlihatkan bentuk tubuhnya yang padat dan indah, sedang rebah terlentang di antara rumput-rumput
hijau sambil bersenandung.
Cui Lan ingin segera pergi lagi karena dia tidak ingin mengganggu orang yang sedang beristirahat dengan
enaknya itu, akan tetapi tiba-tiba ada sinar hitam menyambar di dekat kakinya. Ketika dia melihat ke
bawah, hampir dia menjerit karena ternyata bahwa sinar hitam itu adalah seekor ular yang hitam panjang
dan yang kini berada di depan kakinya dengan kepala yang terangkat dan bergoyang-goyang seperti
menari-nari, atau seperti memberi isyarat kepadanya agar jangan pergi!
Cui Lan memandang dengan muka pucat, akan tetapi memang pada dasarnya gadis ini seorang yang
tabah. Dia tidak jadi menjerit dan perlahan-lahan dia menggeser kakinya untuk menjauhi.
“Hi-hik, si Hek-coa (Ular Hitam) itu suka kepadamu dan dia ingin agar kau duduk di sini bercakap-cakap
dengan aku!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Cui Lan cepat menoleh dan dia melihat gadis berpakaian hitam tadi sudah duduk dan tersenyum. Bukan
main cantiknya! Baru sekarang dia dapat melihat betapa gadis itu mempunyai kecantikan yang luar biasa,
cantik jelita dan manis sekali, apa lagi kini sedang tersenyum. Dia memandang kagum dan melihat gadis
berpakaian hitam dan ular yang kini melilit lengan gadis itu, teringatlah dia akan gadis di dalam perahu
yang telah melempar kembali orang dari perahu besar yang meloncat ke rakit mereka.
“Kau... bukankah kau gadis dalam perahu...“
Gadis itu memang Hwee Li adanya. Dia mengangguk dan menepuk rumput di dekatnya. “Duduklah di sini,
enak, lunak seperti duduk di kasur saja. Jangan takut, ularku ini tidak jahat. Aku melihat engkau bersama
rombongan prajurit dan si orang tua, akan tetapi mana pemuda yang bersamamu di perahu itu?”
“Ah, dia telah pergi...“ Cui Lan menahan kata-katanya karena dia tidak hendak bercerita tentang urusan
Pangeran Yung Hwa kepada seorang asing. Lalu cepat disambungnya dengan pertanyaan, “Engkau
siapakah? Aneh sekali ada seorang gadis cantik seperti engkau bermain-main dengan seekor ular seperti
itu.”
“Seekor? Ada dua! Lihat di atasmu!”
Cui Lan mengangkat mukanya dan dia menahan jeritnya ketika melihat seekor ular yang amat panjang,
bergantung di cabang pohon dengan ekornya dan kini kepala ular itu dekat sekali di atas kepalanya!
Bahkan lidah yang merah itu hampir saja menjilat-jilat dahinya!
Hwee Li tertawa dan dengan gerakan tangan dia membuat ular itu menarik diri lagi ke atas cabang dan ular
yang di lengannya itu pun dia suruh pergi merayap naik ke atas pohon, berkumpul dengan temannya.
“Namaku Kim Hwee Li. Kau juga cantik manis, siapa namamu, Enci?”
“Namaku Phang Cui Lan.” Cui Lan merasa suka kepada gadis itu dan duduk di atas rumput. Memang enak
sekali duduk di situ, rumputnya tebal dan lunak seperti kasur dan tempat itu sejuk di bawah pohon besar.
“Hwee Li nama yang indah sekali. Mengapa kau berada di sini seorang diri saja, Hwee Li? Seorang gadis
seperti engkau seorang diri saja, sungguh aneh.”
“Apa anehnya? Memang aku hanya sendiri saja di dunia ini, eh, tidak sendiri, melainkan bertiga dengan
sepasang ular hitamku itu. Aku ingin nonton keramaian di bukit sana.”
Cui Lan terkejut dan memandang dengan mata terbelalak. “Apakah kau maksudkan... keramaian...
pertandingan antara Pendekar Siluman Kecil dengan orang sakti...?”
Kini Hwee Li yang terkejut. “Apa? Kau tahu pula tentang itu? Kau kenal Siluman Kecil?”
Cui Lan mengangguk. “Tentu saja aku mengenalnya,” dan pandang matanya sekarang merenung,
membayangkan pendekar itu.
“Benarkah? Hebat! Namanya sudah tersohor di seluruh daerah ini, dan kau seorang gadis yang lemah
telah mengenalnya! Kau lebih aneh dari aku, Cui Lan! Kau seorang lemah akan tetapi kenalanmu pemudapemuda
hebat! Baru yang di perahu itu saja sudah hebat, sekarang kau bilang kenal dengan Siluman Kecil!
Kau benar-benar membuat aku merasa iri.”
Terpaksa Cui Lan tersenyum mendengar ini. Gadis ini sikapnya seperti telah menjadi sahabatnya selama
bertahun-tahun saja, demikian ramah dan akrab. Seketika timbul rasa sayang di dalam hatinya. “Ahh,
Hwee Li, seorang gadis seperti engkau ini, yang cantik seperti Dewi Kwan Im, apa sih sukarnya kalau
hendak berkenalan dengan pemuda-pemuda yang paling hebat di dunia ini?”
“Benarkah? Ehh, orang macam apa sih sebetulnya Siluman Kecil itu?”
“Orang macam apa...?” Cui Lan menengadah dan memejamkan matanya. Terbayang wajah pemuda
pendekar itu dan dia menarik napas. “Orang yang hebat...! Seorang pendekar yang masih amat muda,
akan tetapi rambutnya telah putih semua, seperti benang-benang perak halus mengkilap...“
“Hemmm, kau makin menambah keinginanku untuk nonton pertandingan itu. Kabarnya malam ini Siluman
Kecil akan muncul dan melawan Sin-siauw Sengjin di puncak bukit itu.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Sin-siauw Sengjin? Siapakah dia?”
“Seorang tokoh yang maha sakti. Seorang yang terasing akan tetapi seluruh tokoh dunia kang-ouw tidak
ada yang berani mengganggunya, dan kabarnya dia hidup seperti dewa. Hemmm, aku berani bertaruh
potong leher...“
“Potong leher?” Cui Lan terkejut.
“Nanti dulu, belum habis. Leher ayam maksudku! Siluman Kecil sekali ini tentu akan jatuh namanya. Mana
mungkin dia bisa menang? Hi-hi-hik, kedua ekor ularku ini paling suka minum darah, apa lagi kalau darah
orang sakti seperti Siluman Kecil itu. Hemmm, mereka tentu akan senang sekali.”
Pucat wajah Cui Lan. “Apa... apa... maksudmu...?”
“Hi-hik, pandang matamu begitu ketakutan dan ngeri seperti seekor kelinci. Ah, memang matamu indah
sekali, Cui Lan, seperti mata kelinci! Jangan khawatir, aku tidak akan mencampuri urusan mereka, akan
tetapi aku tahu bahwa pasti Siluman Kecil akan tewas dan ular-ularku akan menikmati darahnya kalau dia
sudah roboh.”
“Ihh... kau... kau kejam sekali!” Cui Lan bangkit berdiri, sepasang matanya menyinarkan api dan kedua
pipinya merah, telunjuknya menuding ke arah muka Hwee Li. “Kau sungguh kejam, dan aku... aku akan
menggunakan batu menghancurkan kepala dua ekor ular-ularmu kalau mereka berani melakukan hal itu!”
“Ehhh...?” Hwee Li memandang dengan mata terbelalak. “Wahh...! Kau cinta padanya, hi-hi-hik! Kau cinta
padanya!”
Lemas lagi rasa tubuh Cui Lan dan dia menjatuhkan diri di atas rumput. Dia kemudian mengangguk. “Aku
memang cinta padanya...“
“Kalau begitu, mengapa tidak nonton bersama aku? Dengan adanya kekasihnya di sana, hal itu akan
membesarkan hatinya!”
“Aku bukan kekasihnya, jangan bicara seperti itu, Hwee Li.”
“Ihhh? Bagaimana sih kau ini? Baru saja kau mengaku cinta padanya dan kau tidak mau kusebut
kekasihnya?”
“Aku cinta padanya, memang, dengan sepenuh jiwa ragaku. Akan tetapi apakah dia cinta padaku...
hemmm, hal itu aku... aku tidak tahu...“
“Hi-hik, jangan khawatir. Laki-laki mana yang tidak akan membalas cinta seorang dara seperti engkau? Dia
pasti cinta padamu. Pasti! Mari kau ikut aku nonton ke sana, Cui Lan.”
Cui Lan menengok ke arah rombongan ayah angkatnya. Agaknya mereka sudah mulai berkemas dan
ayahnya sudah bangkit berdiri.
“Aku... aku tidak bisa, di sana ada ayah angkatku... aku harus pergi bersama mereka.”
“Huh, betapa tidak enaknya hidup seperti engkau ini. Hati ingin nonton ke gunung, akan tetapi
kenyataannya terpaksa harus pergi. Kau seperti burung dalam sangkar saja. Dan kau gadis yang memiliki
keberanian hebat sungguh pun kau lemah.”
“Aku ingin sekali, akan tetapi mereka tentu melarang dan kita tidak bisa memaksa.”
“Siapa bilang? Baru dua puluh orang prajurit macam itu, biar ditambah dua puluh lagi masih belum cukup
untuk melawan aku!”
“Ah, aku tidak ingin kau bertempur dengan mereka. Orang tua itu adalah ayah angkatku yang amat baik.”
“Kalau begitu tidak perlu bertempur. Aku dapat melarikan engkau dari sini tanpa dapat mereka kejar!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Benarkah? Akan tetapi aku harus berpamit! Aku tidak boleh menyusahkan hati ayah angkatku.”
“Nah, berpamitlah!” Hwee Li lalu menggerakkan tangan dan dua ekor ularnya meluncur turun ke arah
kedua lengannya, terus melingkar di situ. Kemudian dia mengiringkan Cui Lan berjalan menghampiri
rombongan itu.
Melihat Cui Lan datang bersama seorang dara cantik berpakaian hitam yang dikenalnya sebagai gadis
yang membantu mereka di atas sungai, Hok-taijin memandang kagum, akan tetapi dia segera mengerutkan
alisnya dan wajahnya berubah pucat ketika melihat dua ekor ular melingkar di kedua lengan yang putih
mulus itu.
“Gihu, ini adalah Kim Hwee Li, seorang sahabat... dan dia... dia mengajak saya pergi nonton adu
kepandaian di bukit. Gihu, perkenankanlah, dan jangan khawatlr, saya pasti akan menyusul Gihu... setelah
selesai nonton...“
“Akan tetapi, Cui Lan...!” Hok-taijin berkata penuh keraguan.
“Mari kita pergi, Cui Lan!”
Tiba-tiba Cui Lan merasa pinggangnya dibelit sesuatu dan tubuhnya terbang ke atas! Ketika dia tidak
melayang lagi, ternyata dia telah berada di atas cabang pohon, dirangkul oleh lengan Hwee Li dan ayah
angkatnya bersama para prajurit berada jauh di bawah pohon besar itu!
“Pejamkan mata, kita pergi sekarang,” bisik Hwee Li.
“Gihu, maafkan, saya pergi dulu...!”
Cui Lan berseru ke bawah dan tiba-tiba tubuhnya melayang ke bawah, jauh dari situ dan selanjutnya dia
seperti terbang di atas tanah bersama Hwee Li, pinggangnya dipeluk oleh gadis yang luar biasa itu. Angin
yang bertiup kencang membuat kedua telinganya mendengar suara gemuruh dan Cui Lan merasa ngeri.
Dia mendengar suara ayahnya lapat-lapat memanggil namanya, lalu tidak mendengar apa-apa lagi kecuali
suara angin bertiup kencang dan pohon-pohon berlarian cepat di kanan kirinya. Dia memejamkan matanya.
Tidak lama kemudian dia mendengar suara Hwee Li, “Kita sudah jauh meninggalkan mereka. Nah, mari
kita mendaki bukit itu.”
Cui Lan membuka mata. Kiranya mereka telah berada di kaki bukit, di antara banyak pohon-pohon liar dan
dia menengok ke sana-sini, namun sama sekali tidak melihat lagi rombongan Gihu-nya, bahkan dia tidak
mendengar suara mereka. Hanya suara burung yang berbondong-bondong terbang datang untuk
berlindung di dalam pohon-pohon besar melewatkan malam, karena matahari telah condong ke barat.
Cui Lan memandang Hwee Li. “Engkau sungguh seorang gadis yang hebat, Hwee Li. Kiranya engkau juga
seorang pendekar sakti.”
“Hi-hi-hik, enak juga dipuji orang seperti engkau. Tahukah engkau, Cui Lan, ketika aku memelukmu dan
meraba tulang-tulangmu, aku mendapat kenyataan bahwa andai kata engkau mempelajari ilmu silat,
agaknya engkau malah dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi dari pada aku. Bakatmu baik dan nyalimu
besar.”
Akan tetapi tentu saja Cui Lan menganggap kata-kata Hwee Li itu sebagai kelakar saja dan dia tidak ambil
peduli. Mereka lalu melanjutkan perjalanan mendaki bukit itu. Cui Lan terheran-heran melihat betapa
tempat ini sangat sunyi. Bukankah tadi terdapat banyak penungang kuda yang katanya juga menuju ke
tempat ini? Akan tetapi mengapa di situ sunyi saja, tak pernah mereka bertemu dengan seorang manusia
pun? Dengan hati-hati Hwee Li mengajaknya mendaki terus, berjalan di antara rumpun ilalang yang tinggitinggi,
ada yang setinggi manusia.
“Hati-hati, Hwee Li...“ bisik Cui Lan.
Gadis ini maklum betapa berbahayanya tempat seperti itu. Jika ada orang atau harimau bersembunyi di
dalam ilalang, tentu tidak kelihatan dan mereka itu dengan mudah dapat menerkam mangsa yang lewat.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hi-hik-hik, jangan khawatir, Cui Lan. Dua ekor ularku ini leblh tajam pendengarannya, penciumannya dan
pandang matanya dari pada seekor anjing.”
Baru saja Hwee Li berkata demikian, salah seekor di antara dua ekor ular yang melilit di kedua lengan dara
itu meluncur ke samping, memasuki rumpun ilalang dengan ekornya masih melilit lengan kiri Hwee Li.
Tampak ilalang di sebelah itu bergerak-gerak keras dan terdengar suara menguik. Tidak lama kemudian,
kepala ular itu sudah kembali dan moncongnya yang lebar telah menggigit seekor anak babi yang telah
tewas.
“Hi-hik-hik, mengagetkan saja kau. Hayo lepas!” Hwee Li menggerakkan lengan kirinya dan ular itu
melepaskan bangkai babi itu, lalu melingkar lagi di lengan Hwee Li.
Cui Lan bergidik ngeri. “Bagaimana kalau yang bersembunyi di situ tadi adalah seorang manusia?”
bisiknya.
“Ularku tahu dengan nalurinya. Kalau manusia itu berniat busuk, tentu akan digigit dan dibunuhnya. Sekali
gigitan saja membuat racun yang mematikan membunuh orang itu, akan tetapi kalau orang itu tidak
mempunyai niat jahat, ular-ularku pun tidak akan mau sembarangan membunuh orang tanpa perintahku.”
Hari telah menjadi gelap ketika mereka tiba di puncak bukit. Akan tetapi bulan segera muncul dari balik
bukit di sebelah timur dan sinarnya cukup menerangi tempat itu. Cui Lan dan Hwee Li duduk di atas batu
dan memandang ke depan. Di puncak itu, di antara batu-batu gunung yang besar-besar, berdiri sebuah
bangunan kuno yang kelihatan megah dan angker. Di sekeliling rumah itu sunyi saja, tidak terdengar apaapa
dan bahkan tak ada sedikit pun lampu penerangan, seolah-olah bangunan itu adalah sebuah rumah
kuno yang kosong tidak dihuni orang.
“Agaknya kosong...,“ Cui Lan berkata.
“Sssttttt... mari kita mendekat dan setelah kita nanti bersembunyi, kau sama sekali tidak boleh
mengeluarkan suara, tidak boleh berisik,” Hwee Li berbisik.
Cui Lan mengangguk, jantungnya berdebar tegang karena sikap Hwee Li yang begitu berhati-hati
mendatangkan ketegangan di dalam hatinya. Sikap gadis perkasa itu seolah membayangkan bahwa
mereka berada di tempat yang aneh dan berbahaya sekali.
Mereka merangkak dan setelah dekat dengan rumah besar itu, mereka bersembunyi di balik batu besar.
Dari tempat itu mereka dapat melihat dengan jelas ke arah pintu depan gedung kuno itu. Bulan makin naik
tinggi dan sinarnya yang keemasan membuat tempat itu indah sekali dan tentu sangat menyenangkan
kalau saja suasananya tidak begitu menyeramkan.
Malam makin larut dan Cui Lan mulai menggigil kedinginan. “Cepat telan ini...,” Hwee Li berbisik dan
menyerahkan sebutir pil kuning.
Cui Lan menelannya dan pil itu terasa manis dan harum. Tak lama kemudian tubuhnya terasa hangat
sekali, seakan-akan dia baru saja minum beberapa cawan arak. Dia menyentuh tangan Hwee Li dengan
rasa terima kasih dan dara berpakaian hitam itu tersenyum. Giginya berkilat putih tertimpa sinar bulan.
Tiba-tiba mereka menyelinap karena kaget melihat sinar-sinar lampu menyala di gedung itu. Keadaan tetap
sunyi dan lampu-lampu penerangan itu seolah-olah dinyalakan oleh tangan setan. Tidak nampak seorang
pun di sekitar gedung besar itu.
Dari jauh sekali, dari arah depan rumah, terdengarlah suara orang, suara yang bening halus, “Locianpwe,
saya datang memenuhi perjanjian kita lima tahun yang lalu!” Suara itu biar pun halus namun mengandung
gema mengaung dan setelah suara itu lenyap, gemanya masih terdengar, lalu sunyi sekali, sunyi yang
mencekam dan menegangkan hati.
Terdengar suara orang berdehem di dalam gedung itu, kemudian terdengar suara seorang laki-laki yang
parau, “Silakan masuk!”
Cui Lan terkejut dan terheran bukan main karena entah dari mana datangnya dan bagaimana serta kapan,
tahu-tahu di depan pintu gedung itu kini telah berdiri seorang kakek membawa tongkat. Agaknya kakek
inilah yang tadi mengeluarkan kata-kata itu. Kakek ini berdiri seperti arca, tidak bergerak-gerak dan
dunia-kangouw.blogspot.com
memandang ke depan gedung, ke arah jalan kecil yang menuju ke bawah bukit. Tentu saja Cui Lan dan
Hwee Li juga memandang ke arah itu, menduga-duga dari mana akan munculnya orang yang tadi
mengeluarkan suara, yang mereka duga tentulah Siluman Kecil adanya.
“Sssttttt...!” Tiba-tiba Hwee Li menyentuh lengan Cui Lan dan menunjuk ke depan.
Cui Lan membelalakkan matanya agar supaya dapat memandang lebih teliti. Dia hanya melihat sebuah titik
putih naik dari bawah, dan melihat sebuah titik putih itu semakin membesar. Akhirnya nampaklah bayangan
putih seorang manusia bergerak dengan amat cepatnya, seakan-akan orang itu terbang di atas pucuk
rumpun ilalang! Kedua kakinya bergerak di antara pucuk ilalang yang bergoyang perlahan. Cepat sekali
dan tahu-tahu orang itu telah berdiri di depan gedung dan menjura ke arah kakek yang memegang tongkat.
Hwee Li mengerahkan kekuatan pandang matanya, dia memperhatikan orang yang namanya begitu
terkenal sebagai seorang pendekar penuh rahasia yang hanya dikenal sebagai Siluman Kecil. Ternyata
orangnya masih muda dan wajahnya sangat tampan, rambutnya dibiarkan terurai dan melambai-lambai
ditiup angin, rambut yang berwarna putih dan yang mengkilap seperti perak tertimpa sinar keemasan dari
bulan purnama. Pakaiannya sederhana dan juga terbuat dari bahan putih semua!
Kakek bertongkat itu sejenak memandang, seolah-olah hendak meneliti apakah benar ini orang yang
sedang ditunggu-tunggunya, kemudian dia balas menjura dan dengan tangannya dia mempersilakan orang
itu masuk. Pintu terbuka sendiri seperti digerakkan oleh tangan yang tak nampak. Laki-laki berambut putih
itu mengangguk dan melangkah hendak memasuki pintu, tetapi tiba-tiba terdengar suara teriakan dari
depan gedung.
“Anakku...!”
Seorang nikouw tua melompat ke luar dari balik sebuah batu besar dan biar pun jarak antara batu dan
depan gedung itu cukup jauh, namun dengan satu kali melompat saja nikouw itu telah berada di situ! Diamdiam
Hwee Li meleletkan lidahnya tanda kaget dan kagum.
“lbu...!” Siluman Kecil menoleh ke arah wanita itu.
Cui Lan dan Hwee Li saling pandang dan sinar mata mereka bicara banyak. Mereka berdua terheran-heran
sekali melihat kenyataan bahwa si pendekar sakti yang berjuluk Siluman Kecil itu adalah putera seorang
nikouw tua!
“Ibu, mengapa kau menyusulku?” tanya Siluman Kecil dengan suara halus dan penuh hormat.
“Hemmm, aku mana bisa tega membiarkan kau menemui sendiri musuhmu? Aku harus ikut, apa pun yang
akan terjadi!”
Siluman Kecil membalik dan memandang kepada kakek pemegang tongkat, seperti hendak bertanya
apakah ibunya diperbolehkan ikut masuk. Kakek itu mengangguk dan mempersilakan dengan tangan. Ibu
dan anak itu lalu melangkah memasuki pintu, diikuti oleh kakek bertongkat dan daun pintu pun tertutup
sendiri tanpa ada yang menutupkan.
“Diakah...?” Hwee Li berbisik.
Cui Lan mengangguk, dadanya bergelombang, air matanya berlinang.
Sementara itu, orang muda berambut putih dan nikouw tua yang masuk bersama kakek bertongkat, tiba di
ruangan dalam dan di situ nampak duduk seorang kakek tua renta yang rambut, jenggot, kumis dan alisnya
telah putih semua. Kakek ini bertubuh tinggi besar dan biar pun mukanya sudah nampak tua, namun
sepasang matanya tetap bercahaya penuh semangat dan mulutnya tersenyum lembut. Di kanan kirinya
nampak beberapa orang laki-laki yang duduk dan ada pula yang berdiri. Mereka itu adalah murid-muridnya
dan kakek bertongkat itu adalah murid pertama. Kakek bertongkat ini menjatuhkan diri berlutut.
“Suhu, dia datang memenuhi janji!” katanya.
Siluman Kecil juga menjura dengan hormat sedangkan nikouw tua itu merangkap kedua tangan di depan
dada tanpa bergerak atau bicara. “Dengan perkenan Locianpwe, saya kembali hendak memperlihatkan
kebodohan saya,” katanya dengan sikap merendah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kakek itu tersenyum, akan tetapi alisnya yang putih itu berkerut. “Orang muda, kami telah mendengar
bahwa selama lima tahun ini engkau telah memperoleh kemajuan pesat sekali, bahkan telah berbuat
banyak sehingga memperoleh julukan Siluman Kecil. Kami merasa girang bahwa kami masih hidup saat ini
sehingga dapat rnengagumi kemajuanmu. Akan tetapi sayang, engkau yang dahulu berjanji akan datang
sendiri kini ternyata membawa kawan-kawan yang banyak sekali jumlahnya. Apakah maksudmu dengan
perbuatan itu?”
Siluman Kecil mengangkat muka memandang hingga mata mereka saling bertemu dan beradu pandang.
“Locianpwe, menyalahi janji dan membawa kawan-kawan merupakan pantangan besar bagi saya. Apakah
Locianpwe menganggap bahwa Ibu saya yang menyusul ini merupakan pelanggaran?”
Kakek itu menggerakkan tangan seperti mencela. “Ahhh, kalau muncul dengan terang terangan masih
tidak apa. Akan tetapi apa artinya banyak kawanmu yang bersembunyi di sekitar tempat ini?”
“Ohhh...! Maksud Locianpwe mereka yang bersembunyi di sekitar luar gedung ini? Ahh, sungguh saya
tidak mengerti. Malah saya kira bahwa mereka itu adalah murid-murid Locianpwe yang sengaja
menyambut dan mengawasi saya!”
“Hemmm, sungguh aneh. Mari kita suruh mereka keluar.” Kakek itu turun dari kursinya, kemudian bersama
dengan Siluman Kecil dan nikouw tua itu mereka semua keluar, diiringkan oleh murid-murid kakek itu yang
dipimpin oleh kakek pemegang tongkat.
Kini mereka berdiri di luar gedung, di halaman yang luas. Hwee Li dan Cui Lan masih sembunyi dan
memandang dengan mata terbelalak. Girang hati Hwee Li melihat mereka keluar karena dia khawatir kalau
pertandingan dilakukan di dalam gedung, berarti dia tidak dapat nonton! Dan kini, mereka berada di
halaman sehingga dia akan dapat nonton dengan enaknya karena tempat sembunyinya itu tidak berapa
jauh.
Akan tetapi, dia merasa heran karena dua orang yang kabarnya akan bertanding itu tidak berdiri
berhadapan, melainkan berjajar dan keduanya menghadap ke luar gedung, menoleh ke kanan kiri.
Kemudian terdengar suara Siluman Kecil yang bening dan halus nyaring, “Cu-wi sekalian yang
bersembunyi di luar gedung, harap suka memperlihatkan diri!”
Mendengar suara Siluman Kecil ini, maka berloncatan keluarlah para pemburu dan beberapa orang lain
yang memang diam-diam datang mengunjungi tempat itu dengan niat untuk membantu Siluman Kecil yang
kabarnya akan bertanding melawan musuhnya yang amat sakti. Jumlah mereka tidak kurang dari tiga
puluh orang yang muncul dari berbagai tempat persembunyian mereka!
Melihat bahwa mereka adalah teman-temannya yang pernah ditolongnya, diam-diam Siluman Kecil
menjadi terkejut sekali dan segera dia menegur, “Mau apa kalian berada di sini? Siapa yang menyuruh
kalian datang ke sini?”
Semua orang itu menjura dengan hormat ke arah Siluman Kecil dan seorang di antara mereka lalu
menjawab, “Kami mendengar bahwa Taihiap hendak bertanding dengan seorang lawan yang tangguh,
maka kami sengaja datang hendak membantu.”
Mendengar jawaban yang terus terang ini, Sin-siauw Sengjin (Kakek Suling Sakti) jadi tersenyum lebar.
“Aku tidak menghendaki bantuan dari siapa pun!” Siluman Kecil berseru dengan muka merah karena
merasa malu kepada pihak tuan rumah. Akan tetapi Sin-siauw Sengjin menggerakkan tangan dan berkata
halus.
“Cu-wi telah terlanjur datang, boleh saja menyaksikan pertandingan.” Kemudian kakek ini memandang ke
kanan kiri dan berkata lagi, suaranya halus akan tetapi menembus sampai jauh seperti hembusan angin,
“Cu-wi sekalian yang masih bersembunyi, silakan keluar saja!”
Kini bermunculanlah dua puluh lebih orang yang tidak dikenal oleh Siluman Kecil. Pendekar ini merasa
heran dan kagum bahwa Kakek Suling Sakti ini ternyata telah mengetahui akan semua orang yang
bersembunyi itu. Dan lebih-lebih heran hatinya ketika mendengar kakek itu berkata sambil memandang
kepada dua orang kakek yang berdiri dengan penuh wibawa, “Hemmm, kiranya saudara-saudara ketua
yang terhormat dari Bu-tong-pai dan Kun-lun-pai juga hadir!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Semua orang menjadi terkejut, termasuk Hwee Li dan juga murid-murid kakek itu sendiri ketika mendengar
si Suling Sakti menyebut dua nama perkumpulan yang besar dan amat terkenal itu. Juga Siluman Kecil
cepat memandang kepada dua orang tua itu, diam-diam merasa heran juga mengapa ketua-ketua
perkumpulan silat yang besar itu datang pula di tempat itu.
Ketua Bu-tong-pai dan ketua Kun-lun-pai menjura ke arah Sin-siauw Sengjin, kemudian ketua Kun-lun-pai
mengelus jenggotnya dan berkata, “Harap Sengjin maafkan atas kehadiran kami tanpa diundang.
Sesungguhnya, tadinya kami hanya ingin menyaksikan ilmu asli dari Pendekar Suling Emas yang terkenal
di seluruh kolong langit ratusan tahun yang lalu, yang menjadi dongeng di dunia persilatan. Akan tetapi
Sengjin telah melihat kehadiran kami, harap maafkan kelancangan kami.”
Mendengar ucapan ini, kakek pemegang tongkat yang menjadi murid pertama dari Sin-siauw Sengjin,
memandang kepada gurunya dan dari pandang mata gurunya dia mendapat perkenan. Maka majulah dia
dan dengan suara halus akan tetapi bernada menantang dia pun berkata, “Apakah Cu-wi sekalian ingin
menguji ilmu-ilmu itu? Kalau benar demikian, silakan maju, tidak perlu Suhu yang turun tangan, cukup
dengan saya yang akan memperlihatkan kepada Cu-wi.”
Dua orang ketua itu adalah orang-orang besar yang memimpin partai persilatan besar, tentu saja mereka
memiliki kedudukan tinggi dalam dunia persilatan. Mereka tentu tidak sudi mencuri lihat ilmu orang lain.
Hanya karena mendengar bahwa Sin-siauw Sengjin sebagai pewaris ilmu-ilmu Suling Emas hendak
bertanding, mereka tak dapat menahan keinginan tahu mereka untuk menonton, biar dengan sembunyisembunyi.
Akan tetapi, kini setelah menerima tantangan, berarti mereka memperoleh kesempatan untuk melihat dan
sekaligus menguji sendiri ilmu-ilmu itu, tentu saja mereka menyambut dengan gembira. Ketua Butong-pai
lalu memberi isyarat kepada sute-nya, seorang tosu berusia enam puluh tahun yang bermuka kuning. Tosu
ini adalah orang kedua dari Bu-tong-pai, tokoh kedua setelah sang ketua sendiri. Namanya Kim Thian Cu
dan sebagai tokoh kedua, tentu saja dia memiliki kepandaian yang tinggi.
Dengan langkah tenang, Kim Thian Cu menggerakkan kedua lengan jubah pendetanya yang lebar dan
tersenyum menghadapi kakek pemegang tongkat itu, lalu dia menjura. “Silakan!”
Kakek itu juga memandang dengan sinar mata penuh selidik, sikapnya tenang halus seperti gurunya. Dia
bertanya, “Kalau boleh saya bertanya, siapakah julukan Totiang?”
“Pinto Kim Thian Cu, tosu yang bodoh dari Bu-tong-pai,” kata tosu itu sambil menjura.
Kakek itu lalu menancapkan tongkatnya di atas tanah, kemudian melangkah maju pula dan menjura. “Kim
Thian Cu totiang, sebagai pihak tuan rumah, saya hanya melayani. Silakan Totiang yang memulai, dan
sebelumnya ketahuilah bahwa saya yang rendah pengetahuan akan mempergunakan ilmu tangan kosong
dari Suhu.”
Sebagai seorang tokoh Bu-tong-pai, Kim Thian Cu tentu saja telah memiliki pengalaman mendalam dan
sekali pandang saja dia mengerti bahwa dia berhadapan dengan lawan tangguh, maka dia tidak bersikap
sungkan lagi. “Pinto mulai, sambutlah!”
Dan begitu dia bergerak, Kim Thian Cu sudah mengeluarkan ilmu silat simpanan dari Bu-tong-pai yang
hanya dikeluarkan kalau menghadapi lawan yang amat tangguh saja. Kedua tangannya membentuk cakar
garuda dan ketika digerakkan, terdengarlah angin bersiutan dan sepuluh jari tangannya itu berubah
menjadi keras seperti baja! Itulah ilmu Kiauw-ta Sin-na yang amat lihai dari Butong-pai, yang ke semuanya
ada seratus dua puluh jurus.
Biar pun dia sendiri sudah menduduki jabatan wakil ketua atau tokoh kedua, Kim Thian Cu sendiri hanya
mengenal delapan puluh jurus saja dari ilmu kuno ini! Dan begitu menyerang, ia telah mengeluarkan salah
satu jurus yang paling ampuh, dengan tangan kiri mencengkeram ke ubun-ubun kepala sedangkan tangan
kanan yang tadinya seperti cakar, ketika ditusukkan ke arah pusar lawan berubah menjadi lurus seperti
pedang! Serangan ini hebatnya bukan kepalang, yang mencengkeram ubun-ubun seperti badai
dahsyatnya, yang menusuk pusar seperti kilat menyambar.
“Bagus...!” Kakek yang tinggi kurus itu berseru dan cepat tubuhnya yang bergerak, dua tangannya
menangkis kedua serangan itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Dukkk!... Dukkkkk!”
Dua pasang lengan bertemu dan keduanya terhuyung ke belakang, akan tetapi kalau murid Sin-siauw
Sengjin itu hanya terhuyung dua langkah, Kim Thian Cu terhuyung sampai lima langkah! Hal ini saja
membuktikan bahwa tenaga wakil ketua Bu-tong-pai itu kalah kuat.
Kim Thian Cu menjadi penasaran. Dia tahu bahwa dalam hal tenaga sinkang dia kalah kuat, maka dia
mengandalkan ginkang-nya dan ilmu Silat Kiauw-ta Sin-na dan mulailah dia menerjang dengan cepat dan
kuatnya. Kakek tinggi kurus itu lalu mengeluarkan seruan keras, menyambut serangan wakil ketua Butong-
pai dengan ilmu silat tangan yang gerakannya aneh sekali akan tetapi dahsyat seperti badai laut
mengamuk! Tubuh kakek tinggi kurus itu berputaran dan kedua lengannya seperti berubah menjadi
belasan buah sehingga hujan serangan dari Kim Thian Cu dapat ditangkisnya semua, bahkan dia
membalas dengan serangan yang tidak kalah hebatnya!
Giok Thian Cu mengerutkan alisnya, maklum bahwa sute-nya tak akan mampu menang. Sayang bahwa
sute-nya belum menguasai jurus-jurus yang paling rumit dari Kiauw-ta Sin-na sehingga menghadapi lawan
yang demikian tangguh menjadi amat sukar untuk mendesaknya. Tetapi tentu saja dia tidak mau
mencampuri, hanya memandang dengan penuh perhatian untuk mempelajari gerakan lawan yang
menggunakan semacam ilmu silat tangan kosong yang aneh. Gerakan tangan kakek tinggi kurus itu
kadang-kadang seperti orang mengebut-ngebutkan kipas dan tangan yang lebar itu dikebut-kebutkan
sedemikian cepatnya sehingga memang menyerupai kipas saja! Akan tetapi, setiap gerakan tangan itu
selain mendatangkan angin seperti kipas, juga mengandung tenaga yang amat kuat menyambar lawan!
Tepat seperti dugaan ketua Bu-tong-pai ini, belum sampai tiga puluh jurus, Kim Thian Cu terhuyung ke
belakang dan kedua lengannya tergantung seperti lumpuh. Ternyata kedua pundaknya telah kena totokan
kakek itu. Ketua Bu-tong-pai cepat meloncat ke depan dan sekali menekan kedua pundak sute-nya, Kim
Thian Cu pulih kembali kedua lengannya. Dia lalu menjura ke arah kakek tadi sambil berkata, “Pinto
mengaku kalah.”
“Hebat... hebat...!” Giok Thian Cu ketua Bu-tong-pai menjura ke arah kakek itu sambil tersenyum.
“Sungguh hebat dan bukan hanya dongeng kosong belaka ilmu keturunan dari Pendekar Suling Emas.
Kalau boleh pinto mengetahui nama Sicu dan nama ilmu pukulan luar biasa tadi...“
Kakek itu tersenyum dan balas menjura. “Saya berjuluk Gin-siauw Lo-jin (Kakek Suling Perak) dan menjadi
murid pertama dari Suhu. Ada pun tentang ilmu-ilmu yang saya mainkan, saya tidak berhak
menyebutkannya kepada siapa juga, yang berhak adalah Suhu.”
Giok Thian Cu mengangguk-angguk. “Bagus, memang ilmu sehebat itu tidak boleh sembarangan diketahui
orang. Pinto kagum sekali. Nama Pendekar Suling Emas yang sudah ratusan tahun merupakan dongeng
dan terpendam itu, hari ini muncul sebagai kenyataan yang mengagumkan dan tentu akan menggegerkan
dunia persilatan. Sute Kim Thian Cu telah mengaku kalah, dan kalau saja boleh, pinto sendiri akan menguji
kehebatan ilmu-ilmu peninggalan Pendengar Suling Emas. Tidak tahu apakah Sin-siauw Sengjin sendiri
yang berkenan maju ataukah mewakilkan kepada muridnya?” Sambil berkata demikian, ketua Bu-tong-pai
ini mengeluarkan sebatang pedang dari dalam jubahnya dan kini berdiri tegak dan memegang pedang di
depan dada dengan kedua tangan dirangkap tanda penghormatan.
Gin-siauw Lo-jin membalas penghormatan itu dengan mencabut sebatang suling perak dari dalam
jubahnya. “Maaf, Totiang. Biarlah saya mencoba-coba mewakili Suhu untuk menyambut penghormatan
Totiang.”
Giok Thian Cu sekali lagi menghormat, kemudian berseru halus, “Lihat pedang!” dan nampak sinar hijau
berkelebat menyambar ke arah lawan.
“Bagus!” Sekali lagi kakek itu berseru memuji dan nampak sinar terang putih berkilauan menyambar ke
depan, menyambut sinar hijau itu.
“Tranggggg...!”
Kedua belah pihak merasakan lengan kanan mereka tergetar hebat dan tahulah mereka bahwa tenaga
sinkang mereka berimbang. Maklum akan kelihaian lawan, Giok Thian Cu juga tidak bersikap sungkan lagi,
langsung saja dia mengeluarkan ilmu pedang simpanannya yang paling lihai, yaitu ilmu Pedang Sin-hong
dunia-kangouw.blogspot.com
Kiam-sut (Ilmu Pedang Burung Hong Sakti) sehingga pedangnya lenyap berubah menjadi gulungan sinar
hijau yang indah sekali.
Mendadak Gin-siauw Lo-jin yang terkesiap dan terdesak oleh gulungan sinar hijau itu mengeluarkan suara
melengking nyaring dan sulingnya juga lenyap, berubah menjadi gulungan sinar perak yang sangat luas
dan aneh sekali gerakannya. Bukan saja hanya bergulung-gulung menjadi sinar perak, juga dari suling
perak itu lalu terdengar suara mengaung yang aneh dan menyakitkan telinga lawan! Gulungan sinar perak
itu kini membuat gerakan coret-moret seperti membentuk huruf-huruf di udara dan setiap coretan
mengandung tenaga dahsyat yang menyerang lawan.
“Hebat...! Liang Sim Tosu, ketua Kun-lun-pai yang sudah tua itu menggeleng-gelengkan kepala saking
kagumnya. “Mungkin inilah Ilmu Hong-in Bun-hoat yang disebut dalam dongeng Suling Emas...“
Memang hebat sekali gerakan Gin-siauw Lo-jin. Dalam waktu, kurang dari tiga puluh jurus, sinar perak itu
telah menggulung dan menekan sinar hijau sehingga sinar hijau dari pedang di tangan ketua Bu-tong-pai
itu menjadi makin sempit. Akhirnya terdengar seruan, “Siancai...!”
Kedua gulungan sinar itu tiba-tiba berhenti. Ketua Bu-tong-pai telah menyimpan kembali pedangnya dan
sambil tersenyum pahit dan dengan muka agak pucat dia memandang ke arah kedua lengan bajunya yang
telah berlubang bekas tusukan suling perak! Tentu saja dalam pertandingan sungguh-sungguh, bukan di
lengan baju jatuhnya serangan tusukan itu, melainkan di tempat yang berbahaya.
“Sungguh hebat, pinto mengaku kalah.”
“Ah, Kim Thian Cu dan Giok Thian Cu toyu terlalu merendah, kepandaian mereka hebat sekali, akan tetapi
harus diakui bahwa ilmu-ilmu peninggalan Pendekar Suling Emas memang amat luar biasa. Pinto juga
menjadi gatal tangan dan ingin sekali menguji, jika dibolehkan.”
Liang Sim Tosu sudah melangkah maju sambil mengeluarkan sepasang poan-koan-pit berwarna putih dan
hitam yang dipegang oleh kedua tangan dan disilangkan di depan dada.
Gin-siauw Lo-jin masih memegang suling peraknya dan dia pun lalu membalas dengan penghormatan dan
menjawab, “Kalau Totiang masih penasaran dan hendak menguji, silakan maju.”
Liang Sim Tosu cepat menggerakkan kedua poan-koan-pit hitam dan putih yang tadi disilangkan, yang
kanan berwarna hitam menuding ke langit, yang kiri berwarna putih menuding ke bumi, kemudian dia
berkata, “Gin-siauw Lojin, harap jaga seranganku!”
Tiba-tiba nampak sinar hitam dan putih berkelebatan dan semakin lama semakin cepat sehingga kemudian
nampak dua sinar hitam dan putih itu saling sambar dan saling belit, kemudian bersatu menjadi segulungan
sinar yang berwarna abu-abu meluncur ke arah kakek yang memegang suling perak.
“Bukan main...!” Gin-siauw Lo-jin berseru kaget dan cepat dia menggerakkan suling peraknya sehingga
nampak sinar berkilauan menangkis.
“Cring-tranggg...!”
Kini Gin-siauw Lo-jin yang terhuyung dan ketua Kun-lun-pai itu sudah menerjang lagi, serangan halus akan
tetapi luar biasa kuatnya dan sepasang poan-koan-pit itu memang amat lihaihya, kadang-kadang seperti
dua sinar berlawanan yang saling menggunting, namun kadang-kadang bersatu menjadi sinar abu-abu
yang amat kuat, yang hitam mengandung tenaga Im lemas dan yang putih mengandung tenaga Yang yang
kuat dan panas. Kiranya kedua buah poan-koan-pit itu mengandung tenaga Im dan Yang, dua unsur yang
berlawanan tetapi kalau bersatu mempunyai daya yang luar biasa kuatnya. Juga kedua poan-koan-pit itu
dapat melakukan totokan-totokan yang bertubi-tubi ke seluruh jalan darah terpenting di tubuh lawan.
Gin-siauw Lo-jin maklum bahwa dia menghadapi lawan yang amat lihai, maka dia cepat mainkan Hong-in
Bun-hoat dengan suling peraknya. Ilmu ini memang mukjijat, karena dahulu Pendekar Suling Emas
menerima ilmu ini langsung dari manusia dewa Bu Kek Siansu, dan biar pun ilmu ini dimainkan dengan
menuliskan huruf-huruf di udara, namun setiap gerakan mengandung daya serang yang amat mukjijat, di
samping juga dapat menjadi daya tahan yang rapat seperti tembok yang kokoh kuat sehingga kini,
gulungan sinar perak itu dapat membendung semua serangan poan-koan-pit yang luar biasa itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pertandingan itu amat cepat dan seru, membuat kedua mata Cui Lan menjadi kabur dan kepalanya pening
sehingga dia mengalihkan pandang matanya ke arah Siluman Kecil yang berdiri dengan tegak, tenang dan
penuh perhatian. Sebaliknya, Hwee Li menonton dengan wajah berseri-seri. Girang sekali hati gadis ini
dapat melihat pertandingan yang demikian hebatnya.
“Ahhhhh...!” Gin-siauw Lo-jin berseru dan terhuyung-huyung sampai lima langkah ke belakang. Meski ilmu
Hongin Bun-hoat yang dimainkannya bisa membendung serangan lawan, namun karena memang kalah
kuat dalam tenaga sinkang, dia sering kali tergetar dan terhuyung.
“Gin-siauw, mundurlah karena engkau sudah kalah.” Tiba-tiba terdengar suara halus.
Gin-siauw Lo-jin cepat meloncat mundur, menyimpan suling peraknya dan menjura ke arah Liang Sim
Tosu. “Saya mengaku kalah.”
Liang Sim Tosu tersenyum lebar. “Bukan main... terus terang saja pinto hanya menang dalam hal tenaga,
akan tetapi tentang ilmu silat, wah, pinto masih bingung menghadapi ilmu tadi.”
Kini Sin-siauw Sengjin melangkah maju. “Ketua dari Kun-lun-pai terlalu merendah. Ilmu Im-yang Poankoan-
pit yang Totiang mainkan tadi memang hebat sekali, akan tetapi betapa pun hebatnya, masih belum
dapat menandingi Hong-in Bun-hoat yang sudah dilatih dengan sempurna. Untuk membuktikan ini, harap
Totiang maju dan mencoba suling kami!”
Tampak sinar emas menyilaukan mata dan ternyata tangan kakek tua renta ini telah memegang sebatang
suling yang terbuat dari pada emas. Semua mata memandang dan jantung mereka berdebar. Itulah suling
emas yang terkenal sekali dalam dongeng dunia persilatan, senjata dari Pendekar Suling Emas yang
terkenal itu!
“Wah-wah-wah... kalau aku bisa mendapatkan suling itu...,“ terdengar Hwee Li berbisik.
“Hemmm, kau begitu murka menginginkan emas?” Cui Lan mencela.
“Aihhh, kau mana tahu...“
Mereka menghentikan bisik-bisik itu ketika sekarang ketua Kun-lun-pai itu telah mulai menyerang dengan
poan-koan-pit di tangannya. Namun kakek tua renta itu kelihatan tidak mengubah kedudukan kakinya,
hanya tampak sinar emas berkelebat dan setiap kali sepasang poan-koan-pit itu kena ditangkisnya, ke
mana pun sepasang sinar hitam putih itu menyambar!
“Sekarang jagalah, Totiang!” Kakek tua renta itu berseru.
Kini nampak sinar emas yang panjang dan luas sekali seperti seekor naga melayang ke atas, kemudian
menyambar turun dengan gerakan coret-coret seperti membentuk huruf. Terdengar suara trang-tring-trangtring
dan nampak bunga api berhamburan. Namun belum sampai dua puluh jurus, terdengar ketua Kunlun-
pai mengeluh dan sepasang poan-koan-pit telah terpukul lepas dari kedua tangannya!
Seorang murid Kun-lun-pai cepat-cepat mengambilkan senjata gurunya itu dan ketua Kun-lun-pai segera
menjura penuh hormat. “Itukah Hong-in Bun-hoat yang terkenal dalam dongeng? Hebat bukan main dan
pinto mengaku kalah.”
Kakek itu tersenyum. “Pukulan tangan kosong yang dimainkan oleh murid kami tadi adalah Lo-hai-kun-hoat
(Ilmu Silat Mengacau Lautan) yang diambil dari ilmu aslinya, yaitu Lo-hai San-hoat (Ilmu Kipas Pengacau
Lautan). Dan yang barusan dimainkan oleh suling kami adalah sebagian dari Hong-in Bun-hoat (Ilmu
Sastra Angin dan Hujan).”
Semua orang memandang kagum sekali. Kakek itu menjura ke empat penjuru dan berkata, “Biar pun kami
mengakui bahwa ilmu-ilmu ini adalah warisan yang kami dapat dari mendiang Pendekar Sakti Suling Emas,
akan tetapi jangan Cu-wi mengira bahwa kami telah menguasai seluruhnya! Hemmm, kami selamanya
menyembunyikan diri karena merasa bahwa kami belum dapat menguasai setengahnya saja dari ilmu-ilmu
itu.” Semua orang makin kagum mendengar ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Locianpwe, saya sudah menunggu!” Tiba-tiba terdengar suara bening yang melengking nyaring dan
ternyata suara ini adalah suara Siluman Kecil yang telah berdiri di tengah halaman itu dengan tegak,
sepasang matanya memandang dengan sinar tajam.
Kakek tua renta itu menghela napas panjang, lalu menghampiri pemuda itu. Sejenak mereka saling
pandang dan kakek itu berkata, “Aahhh, sudah setua ini baru sekarang kami bertemu dengan seorang
pemuda yang benar-benar amat hebat kepandaiannya. Sicu, sekarang kami melihat bahwa engkau benarbenar
tidak membawa teman dan ternyata engkau seorang yang memenuhi janji. Lima tahun yang lalu
engkau mengaku kalah dan dapat sembuh kembali untuk memenuhi janji malam ini. Nah, kami telah siap,
majulah!”
Pemuda berambut putih itu memungut sebatang ranting di atas tanah, kemudian dia menggerakkan ranting
itu di depan dadanya. Terdengar suara mencicit nyaring, lalu dia menghentikan gerakannya dan berkata,
“Locianpwe, saya hanya menuntut yang benar. Kalau Locianpwe suka mengakui kesalahan dan
mengembalikan pusaka kepada yang berhak, saya pun tidak akan mendesak.”
“Hemmmm, orang muda. Puluhan tahun kami memilikinya, mana mungkin mudah saja melepaskannya.
Kami sudah siap, majulah! Kebetulan sekali banyak tokoh kang-ouw yang menjadi saksi pertandingan
antara Sin-siauw Sengjin dan Siluman Kecil.”
“Locianpwe mengerti bahwa saya hanya mempertahankan kebenaran!” kata Siluman Kecil sambil
menggerakkan rantingnya dan memandang suling emas di tangan kakek itu. “Nah, maafkan aku!”
Tiba-tiba saja bagi mata kebanyakan orang yang hadir, tubuh Siluman Kecil itu berubah menjadi bayangan
berkelebat dan lenyap! Sukar sekali mengikuti gerakannya dengan pandang mata, hanya tahu-tahu saja
kakek itu sudah menggerakkan suling emasnya menanggkis.
“Tringgggg...!”
Kini semua orang melihat betapa Siluman Kecil telah berubah menjadi bayangan putih yang berkelebatan,
mencelat ke sana-sini dengan kecepatan yang memusingkan kepala mereka yang memandangnya, dan
kakek itu pun sudah memutar sulingnya sehingga suling itu lenyap berubah menjadii gulungan sinar emas.
Memang hebat sekali kakek renta itu. Gulungan sinar kuning emas itu melingkar-lingkar seperti seekor
naga emas beterbangan di angkasa dan bermain-main di angkasa yang gelap, kadang-kadang
mengeluarkan sinar kilat menyambar-nyambar dan terdengar suara suling itu mengeluarkan suara seperti
ditiup oleh seorang anak kecil yang sedang belajar main suling. Sumbang dan tidak teratur. Padahal,
menurut dongeng tentang Pendekar Suling Emas, kala pendekar itu mainkan suling emas sebagai senjata,
maka akan terdengar suling itu seperti ditiup dengan lagu yang merdu! Hal ini saja sudah membuktikan
bahwa memang Sin-siauw Sengjin belum menguasai ilmu itu secara sempurna seperti yang telah
diakuinya tadi.
Pertandingan itu semakin lama semakin hebat. Terlalu cepat gerakan mereka, apa lagi gerakan Siluman
Kecil yang luar biasa sekali, seolah-olah dia beterbangan kesana-sini sehingga kakek itu harus berputaran
pula untuk menghadapinya karena musuhnya yang serba putih itu seolah-olah telah berubah menjadi
enam orang yang menyerangnya dari empat penjuru!
Sudah hampir dua ratus jurus berlangsung, namun belum juga ada yang roboh. Semua orang yang
menonton pertandingan itu sudah banyak yang tidak kuat, lalu terpaksa memejamkan mata. Hanya orangorang
lihai seperti ketua Bu-tong-pai dan Kun-lun-pai itu saja, termasuk Hwee Li, yang masih mampu
mengikuti terus dengan mata tanpa berkedip saking tertariknya. Cui Lan sudah sejak tadi menunduk dan
bibirnya berkemak kemik karena gadis ini telah berdoa untuk kemenangan Siluman Kecil!
Tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring dan suara ini membuat beberapa orang pemburu jatuh
terjungkal dan pingsan. Untunglah Hwee Li sudah menempelkan telapak tangannya di tengkuk Cui Lan
sehingga pada saat suara itu membuat kepala Cui Lan pening, rasa hangat yang menjalar keluar dari
telapak tangan Hwee Li mencegah gadis itu roboh pingsan pula.
Dan terjadi perubahan pada pertandingan yang sukar diikuti oleh pandangan mata itu. Beberapa kali
terdengar Kakek Sin-siauw Sengjin berseru kaget dan akhirnya gerakan mereka terhenti, kakek itu
melompat jauh ke belakang, mukanya pucat, serta dahinya berkeringat dan napasnya agak terengah ketika
dia memandang kepada Siluman Kecil yang berdiri tegak dan keadaannya masih biasa saja.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aku mengaku kalah... sekali... ini...“
“Kalau begitu Locianpwe harus mengembalikan...“
“Tidak! Menurut perjanjian, kalau kami kalah, kami semurid kami harus meninggalkan tempat ini. Akan
tetapi, kau pernah kalah sekali, dan kami kalah sekali, berarti masih sama. Tunggu setahun lagi, kalau
dalam pertandingan penentuan itu kami kalah, kami akan mengembalikan semua dan menyerahkan nyawa
kami. Dan karena kami yang kalah sekali ini, kelak setahun lagi kami yang akan mencarimu, Siluman Kecil.
Nah, selamat tinggal!”
Kakek tua renta itu lalu melangkah pergi perlahan-lahan dengan muka lesu, diiringkan oleh para muridnya
yang dipimpin oleh Gin-siauw Lojin yang membawa tongkatnya dan membawa bungkusan besar. Tiada
orang yang berani menahan mereka, juga Siluman Kecil diam saja hanya mengikuti mereka dengan
pandang matanya. Dia maklum bahwa kalau dia mengambil kekerasaan, dan dikeroyok oleh mereka, sukar
baginya untuk mencapai kemenangan. Lagi pula, kakek itu memang benar. Dia belum dapat dikatakan
menang karena pernah kalah sekali dan menang sekali. Penentuannya adalah pada pertandingan ketiga
dan yang terakhir, pertandingan sampai mati!
“In-kong (Tuan Penolong)...!” Tiba-tiba terdengar teriakan nyaring dan seorang gadis cantik berlari-lari
menghampiri Siluman Kecil. Gadis itu adalah Cui Lan yang saking girangnya melihat orang yang dipujanya
itu keluar sebagai pemenang dan selamat, telah lupa akan keadaan, meninggalkan Hwee Li dan lari
menghampiri dengan kedua lengan dibentangkan seperti orang hendak memeluk! Seorang gadis lain
berpakaian serba hitam menyusul di belakangnya.
Siluman Kecil menoleh dan ketika dia melihat Cui Lan, dia mengerutkan alisnya dan berkata dengan suara
mengandung teguran, “Ah, kau juga di sini, Nona?”
Melihat sikap Siluman Kecil itu seperti marah dan menegurnya, sungguh jauh bedanya dengan sikapnya
sendiri yang penuh kegembiraan dan kerinduan, Cui Lan tertegun dan merasa seolah-olah pipinya
ditampar sehingga dia sadar akan keadaan dirinya, sadar betapa dia telah memperlihatkan perasaan
hatinya di depan Siluman Kecil dan banyak orang.
Seketika mukanya menjadi merah sekali, kemudian berubah pucat. Dengan gagap dia berbisik, “In-kong...
saya...“
Akan tetapi, dengan dahi berkerut Siluman Kecil seolah-olah tidak mendengarnya dan tidak
mempedulikannya, malah pendekar itu menoleh ke arah gedung yang baru saja ditinggalkan penghuninya
dengan penuh perhatian. Tiba-tiba dia meloncat ke arah pintu gedung itu, akan tetapi pada saat itu sehelai
benda hitam panjang seperti tali meluncur ke arah kakinya.
“Hemmm...!” Siluman Kecil mendengus marah, kakinya bergerak menendang ke arah benda hitam itu.
Akan tetapi benda itu dapat mengelak, dan menyambar ke atas, ujungnya mematuk ke arah pinggang
pendekar itu. Siluman Kecil mengelak, menahan loncatannya tidak jadi memasuki pintu dan ketika
tubuhnya turun, tanpa disangkanya ujung benda yang lain menyambutnya dengan patukan yang amat
cepat.
“Ahhhhh...!” Siluman Kecil menangkis akan tetapi kembali benda panjang itu meliuk dan ketika lengannya
lewat, ujung benda itu mematuk kembali.
“Brettt...!”
Siluman Kecil melangkah ke belakang dan memandang dengan muka memperlihatkan kekagetan karena
ujung lengan bajunya telah berlubang! Kagetlah dia karena tidak disangkanya bahwa benda panjang yang
dia tahu adalah seekor ular hitam panjang itu demikian gesit dan lihainya. Dia lalu mengangkat muka
memandang gadis berpakaian hitam yang memegangi ujung atau ekor ular hitam panjang itu yang kini
telah melingkar kembali ke lengannya.
“Laki-laki tak berperasaan!” Hwee Li memaki marah sambil memandang pada Siluman Kecil dengan
sepasang mata berkilat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Siluman Kecil menjadi bimbang. Tadi ada sesuatu yang menarik perhatiannya dan dia menoleh lagi ke
arah pintu gedung, akan tetapi gadis pembawa ular itu pun menarik perhatiannya pula, maka berkatalah
dia kepada nikouw tua yang sejak tadi hanya menonton saja dengan sikap tenang, ”Ibu, tolong Ibu lihat apa
yang berada di dalam rumah itu, aku melihat ada orang di dalamnya.”
Nikouw tua itu mengangguk, lalu melangkah memasuki pintu gedung yang dapat didorongnya terbuka
dengan mudah.
Sementara itu, Siluman Kecil kini menghadapi Hwee Li, memandang dengan penuh perhatian akan tetapi
karena ada awan tipis menutupi bulan dan lampu penerangan di situ pun tidak berapa terang, maka wajah
Hwee Li tidak begitu tampak jelas. “Nona, aku seperti pernah melihatmu, akan tetapi entah di mana,
siapakah kau?”
Hwee Li mencibirkan bibirnya. “Laki-laki kejam. Sudah jelas bahwa yang kau kenal baik adalah Cui Lan,
akan tetapi kenapa matamu memandang orang lain?”
“Ehhh, bocah sombong! Engkau sungguh kurang ajar sekali!” teriak Sim Kun, orang termuda dari tiga
orang pemburu keluarga Sim itu. Melihat pendekar pujaannya dimaki dan dimarahi oleh gadis ini, tentu saja
hatinya menjadi panas, apa lagi ketika nama Cui Lan dibawa-bawa. Setelah membentak, Sim Kun lalu
menyerangnya dengan golok yang telah dicabutnya.
“Huhh, orang kasar!” Hwee Li mendengus sambil mengelak, akan tetapi kini Sim Hoat dan Sim Tek juga
sudah turun tangan menyerang sehingga Hwee Li dikeroyok tiga orang Saudara Sim itu.
Selagi Siluman Kecil hendak melerai karena dia melihat kelihaian gadis pakaian hitam itu, terdengar suara
teriakan dari dalam gedung. Siluman Kecil mengenal suara nikouw tua, maka tanpa mempedulikan lagi
gadis berpakaian hitam yang sedang bertempur melawan tiga orang Saudara Sim, dia bergegas masuk,
segera diikuti pula oleh ketua Kun-lun-pai dan Bu-tong-pai yang ingin melihat apa yang terjadi di dalam
gedung itu.
Ternyata kamar belakang gedung itu telah porak poranda, meja kursi berserakan dan semua isi lemari
awut-awutan. Nikouw tua itu telah tertawan oleh seorang gadis cantik berpakaian merah muda. Tangan kiri
gadis itu mencengkeram punggung baju nenek itu sedangkan tangan kanan memegang pedang yang
ditempelkan di lehernya.
“Berhenti semua! Jangan mendekat atau... kubunuh nenek ini! Rumah ini sudah kukuras habis... hi-hi, kau
datang terlambat, Siluman Kecil!” Gadis cantik itu memandang kepada Siluman Kecil dan dua orang kakek
ketua dengan mata bersinar-sinar, sikapnya penuh keberanian dan pedang berkilauan yang berada di
tangan kanannya tidak tergetar sedikit pun juga. Gadis ini bukan lain adalah Ang-siocia yang pernah turut
menghadiri undangan Kui-liong-pang mewakili gurunya, yaitu Hek-sin Touw-ong si Raja Maling dari
perbatasan!
“Siancai... di tempat begini ada maling!” Ketua Bu-tong-pai menggerakkan tangannya hendak menerjang,
tetapi lengannya cepat dipegang oleh Siluman Kecil yang khawatir akan keselamatan nikouw tua itu.
“Kau lepaskan dia...!” Siluman Kecil berkata halus kepada Ang-siocia.
Ang-siocia tersenyum, nampak deretan giginya yang putih dan ujung lidahnya yang runcing merah
menyapu bibirnya dengan cepat “Berjanjilah dulu, Siluman Kecil, bahwa jika aku melepaskan nenek ini,
kalian semua tidak akan menyerangku dan membiarkan aku pergi membawa kitab-kitab ini!” Dia menuding
ke arah bungkusan kain kuning yang agaknya berisi kitab-kitab dan diletakkanya di depan kakinya.
“Maling hina yang curang!” Ketua Bu-tong-pai membentak marah. Kalau tidak dicegah oleh Siluman Kecil,
tentu dia sudah menerjang gadis itu.
“Totiang adalah ketua Bu-tong-pai, mengapa tidak bisa bersikap tenang seperti seorang pendeta yang
memiliki kedudukan tinggi?” Nona berpakaian serba merah itu mengejek. “Siluman Kecil, bagaimana?”
“Baiklah, kau boleh pergi membawa barang-barang yang kau curi itu. Akan tetapi aku pasti akan
mencarimu!” ucapannya terdengar halus, akan tetapi mengandung ancaman yang menyeramkan.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hi-hik, tentu saja. Dan agar kau tidak bingung-bingung mencari, aku akan menantimu di ujung Pantai
Pohai, di teluk sebelah utara. Nah, selamat tinggal!”
Gadis cantik berpakaian merah lalu melepaskan nikouw tua, menyambar bungkusan dengan tangan kiri,
dan dengan tangan kanan masih membawa pedang dia kemudian meloncat ke luar melalui jendela kamar
belakang itu, lalu lenyap ke dalam kegelapan malam.
“Aku akan segera ke sana!” Siluman Kecil berseru, tangannya bergerak ke arah jendela dan nampak
benda kecil menyambar ke luar jendela.
“Ihhhhh...!” Terdengar gadis itu menjerit di luar jendela, lalu terdengar suaranya agak gemetar karena
benda itu hanyalah sebuah kancing baju putih yang tahu-tahu telah menyusup ke dalam rambut kepalanya!
Kalau saja sasarannya diubah sedikit saja tentu dia sudah menggeletak tanpa nyawa!
“Siluman Kecil, aku dan Suhu menantimu di sana!”
Keadaan lalu sunyi kembali dan Siluman Kecil menggandeng tangan nikouw tua keluar dari dalam gedung
itu. Di luar masih terjadi pertempuran, akan tetapi sambil tertawa tawa Hwee Li mempermainkan tiga orang
lawannya, melecuti muka dan tubuh mereka dengan ekor dua ularnya sehingga mereka babak belur, dan
terdengar Cui Lan berseru, “Jangan bunuh orang... jangan lukai orang...!”
Melihat ini, Siluman Kecil melompat ke depan. Cepat bukan main gerakannya itu dan nampak
bayangannya yang putih itu berkelebat.
“Aihhhhhh...!” Hwee Li menahan jerltannya ketika melihat Siluman Kecil menerjangnya dengan kecepatan
yang amat hebat.
Tiap orang she Sim itu segera mengudurkan diri melihat Siluman Kecil kini sudah menghadapi gadis
berpakaian hitam yang amat hebat itu. Dan sekarang semua orang menyaksikan pertandingan yang amat
aneh dan juga indah dipandang.
Gadis itu ternyata juga sudah menggunakan ginkang yang luar biasa cepatnya untuk mengimbangi
kecepatan Siluman Kecil dan tubuh mereka lenyap berubah menjadi bayangan hitam dan putih yang saling
serang dan saling terjang, kadang-kadang sukar dibedakan lagi karena dua bayangan itu seperti telah
menjadi satu. Tiba-tiba terdengar Hwee Li menjerit dan nampak bayangan hitam melesat dan lenyap di
telan kegelapan malam.
Siluman Kecil berdiri termangu, memandang ke arah lenyapnya bayangan hitam tadi. Kemudian dia sadar
bahwa banyak orang memandangnya. Dia membalikkan tubuh dan tanpa disengaja tepat sekali dia
bertemu pandang dengan Cui Lan. Sejenak dua sinar mata itu saling pandang, melekat dan akhirnya
Siluman Kecil menundukkan mukanya, jantung berdebar dan merasa tidak enak. Dia lalu berkata kepada
nikouw tua yang berdiri di situ, “Ibu, aku harus pergi mengejar maling tadi. Aku pergi!” Begitu dia berkata
‘pergi’, tubuhnya berkelebat dan nampak bayangan putih meluncur cepat ke depan dan lenyap dari situ.
Semua orang tertegun dan tanpa banyak cakap mereka pun bubar dan meninggalkan tempat yang baru
saja terjadi hal-hal yang sangat menegangkan hati mereka itu. Peristiwa itu tidak akan dapat mereka
lupakan sebagai pengalaman yang menegangkan dan akan menjadi buah bibir di dunia kang-ouw sampai
bertahun-tahun lamanya.
Begitu melihat Siluman Kecil pergi tanpa pamit kepadanya, tanpa sepatah pun kata kepadanya, bahkan
seperti tidak mempedulikannya sama sekali, Cui Lan menunduk, air matanya meleleh tanpa dapat
ditahannya pula. Kini jelaslah baginya bahwa pendekar yang dipuja-pujanya itu, dicintanya, sama sekali
tidak memperhatikan dia. Barulah dia sadar bahwa sesungguhnya tidak mungkin dia mengharapkan yang
bukan-bukan.
Siluman Kecil adalah seorang pendekar besar yang dipuja oleh banyak orang, apa lagi setelah dapat
memenangkan kakek tadi, sampai-sampai ketua partai-partai besar pun menghormatinya. Sedangkan dia?
Dia hanya seorang gadis dusun, seorang bekas pelayan! Seperti kilat memasuki benaknya bahwa dia
adalah puteri angkat seorang gubernur, akan tetapi ingatan ini cepat diusirnya karena dia pun telah
bersalah kepada ayah angkatnya ltu, telah pergi tanpa perkenan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ayah bundanya sudah tiada, tidak ada sanak keluarga, orang satu-satunya yang dia pandang dan
harapkan, malah kiranya sama sekali tidak mempedulikannya, apa lagi mencintanya. Air matanya makin
deras mengucur sampai dia tidak tahu bahwa tampat itu telah sunyi, semua orang telah pergi kecuali dia
sendiri dan nikouw tua tadi, ibu dari Siluman Kecil yang sejak tadi memandangnya dengan sinar mata
penuh rasa iba dan terharu.
Nenek ini saking terharunya mengusap dua butir air mata yang menghias bulu matanya. Dia tahu benar
apa yang terjadi di dalam hati gadis cantik ini. Jelas bahwa dara ini jatuh cinta kepada Siluman Kecil, akan
tetapi anaknya itu agaknya tidak membalas cintanya. Dia lalu menghampiri Cui Lan. Dipegangnya lengan
gadis itu. Cui Lan menoleh dan barulah dia merasa terkejut bahwa di situ telah sunyi, dan bahwa nenek
yang tadi disebut ibu oleh Siluman Kecil itu memegang lengannya.
“Anak yang baik, marilah engkau ikut bersamaku. Mungkin ada kecocokan antara kita karena kulihat
bahwa pengalamanmu agaknya sama dengan peristiwa yang menimpa diriku di waktu aku muda dahulu.
Mari kutunjukkan jalan Tuhan kepadamu.”
Ucapan ini seperti membuka bendungan di hati Cui Lan sehingga tangisnya makin mengguguk ketika dia
membiarkan dirinya digandeng dan dibawa pergi perlahan-lahan meninggalkan puncak itu.
Para pembaca yang pernah mengikuti cerita-cerita terdahulu seperti cerita Suling Emas, Pendekar Super
Sakti, Sepasang Pedang Iblis dan lain-lain tentu telah mengenal siapa adanya Pendekar Sakti Suling Emas
dan apa yang terjadi dengan pusaka-pusaka peninggalannya. Di dalam cerita Pendekar Super Sakti telah
diceritakan bahwa senjata pusaka suling emas peninggalan Pendekar Sakti Suling Emas itu yang terakhir
berada di tangan Puteri Nirahai, dipergunakan oleh Puteri Nirahai untuk bertanding melawan Suma Han
atau Pendekar Super Sakti yang akhirnya menjadi suaminya.
Ada pun mengenai kitab-kitab peninggalan Pendekar Suling Emas yang berisikan pelajaran ilmu-ilmu silat
tingkat tinggi dan mukjijat seperti Kim-kong Sin-hoat, Pat-sian Kiam-hoat, Lo-hai San-hoat, dan Hong-in
Bun-hoat dan kipas pada saat terakhir telah terjatuh ke tangan Lulu dan dibawanya ke Pulau Neraka di
mana dia akhirnya menjadi ketua Pulau Neraka sebelum dia juga menjadi isteri Suma Han si Pendekar
Super Sakti.
Jadi, baik suling emas yang terjatuh ke tangan Puteri Nirahai mau pun kipas dan kitab kitab yang terjatuh
ke tangan Lulu, semua telah menjadi milik keluarga Pulau Es, yaitu Suma Han si Pendekar Super Sakti
dan dua orang isterinya. Akan tetapi mengapa kini tiba-tiba berada di tangan kakek yang mengaku
bernama Sin-siauw Sengjin itu?
Hal ini akan diceritakan kelak kalau sudah tiba waktunya untuk memperlancar jalannya cerita karena di
dalamnya terdapat rahasia-rahasia yang sementara ini belum dapat dibuka atau diceritakan. Sabar ya…..
********************
Bayangan putih yang seperti terbang melayang dengan kecepatan luar biasa berlari dengan ilmu Jouwsang-
hui-teng (Ilmu Terbang di Atas Rumput) itu akhirnya berhenti di suatu lapangan terbuka yang penuh
rumput hijau di bawah sebuah bukit. Bulan masih bersinar terang setelah awan-awan yang menutupnya
tadi lewat. Lapangan rumput itu seperti laut kehijauan, indah bukan main.
Siluman Kecil berdiri di tepi lapangan rumput, menunduk dan melamun. Pikirannya agak kacau oleh karena
pertemuannya dengan Cui Lan tadi. Dia tadi sengaja tidak mau memperhatikan dan bersikap acuh tak
acuh terhadap dara itu, disengajanya agar dara itu dapat terbuka matanya bahwa dia tidak mungkin dapat
membalas cinta kasih dara itu. Tentu saja dia tahu bahwa sejak dahulu ketika dia menolong dara itu, Cui
Lan telah jatuh cinta kepadanya dan selalu memujanya dan merindukannya. Dia merasa suka dan kasihan
sekali kepada Cui Lan, akan tetapi bagaimana pun juga, dia tidak dapat mencinta dara itu. Dia tidak dapat
mencinta siapa-siapa lagi di dunia ini!
Dia mengerti betapa duka dan merananya orang yang tidak dibalas cintanya, dia terlalu mengerti akan
kedukaan ini karena dia sendiri telah mengalaminya! Dia pun pernah mengalami seperti Cui Lan, mencinta
seseorang secara mati-matian, penuh harapan dan bayangan yang muluk-muluk dan mesra-mesra, akan
tetapi kenyataan amat pahit menghantam hatinya, bahwa orang yang dicintanya itu tak membalas
perasaan hatinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Beberapa tahun yang lalu dia hidup merana, bahkan bosan hidup, tidak ingin hidup lagi sampai dia tiba di
pucak bukit itu, bertanding melawan Sin-siauw Sengjin, dan terluka hampir mati. Akan tetapi dia tidak mati,
agaknya dia masih diharuskan hidup lebih lama untuk memperpanjang hukumannya, yaitu penderitaan
batin karena dia tidak dapat melupakan kedukaan hatinya.
“Ihhhh...! Kau lagi...?!”
Bentakan marah ini mengejutkan dan membuyarkan semua lamunannya. Di depannya telah berdiri gadis
berpakaian serba hitam tadi, gadis yang membawa ular yang tadinya menyerangnya!
“Hemmm...“ Dia hanya menggumam.
“Hemmm apa? Kau adalah laki-laki tidak berperasaan, kau laki-laki kejam yang suka menghancurkan hati
wanita! Kau tidak mempedulikan orang yang mencintamu malah mengejar wanita lain!” Dara itu telah
mencak-mencak marah dan menudingkan telunjuk yang berkuku runcing terpelihara ke arah hidung
Siluman Kecil.
Siluman Kecil mengerutkan dahinya dan memandang tajam. “Bocah lancang mulut, apa yang kau
maksudkan itu?”
“Huh, mentang-mentang rambutmu sudah putih semua kau lantas boleh menyebut aku bocah, ya? Kau kira
aku tidak tahu bahwa sebetulnya kau masih muda, tidak berbeda banyak dengan aku?”
Siluman Kecil merasa kewalahan juga menghadapi dara yang begini galak. Dia menarik napas panjang.
“Yaaah, terserah. Sekarang cepat kau katakan, apa maksudmu dengan kata-katamu itu tadi?”
“Maksudnya? Maksudnya sudah jelas masih pakai tanya-tanya segala! Engkau kejam terhadap Cui Lan.
Kau tinggalkan gadis itu begitu saja, tidak tahu bahwa hatinya seperti disayat-sayat rasanya. Engkau…,
setelah kau jatuhkan hatinya dengan pertolonganmu, dengan kegagahanmu, dengan ketampananmu, lalu
kau sia-siakan begitu saja. Lebih celaka lagi, kau malah meninggalkan dia dan mengejar aku! Mau apa kau
mengejarku? Mau pamerkan kepandaianmu? Mau membunuh aku?”
Siluman Kecil beberapa kali membuka mulut akan tetapi terpaksa menutupkannya kembali karena dia
sama sekali tidak diberi kesempatan untuk membela diri. Kata-kata yang keluar dari mulut yang manis itu
seperti memberobotnya anak panah yang dilepas dari busur sakti! Dia kini menghela napas lega setelah
dara itu menghentikan serangan-serangannya dan dia mengangkat muka memandang gadis yang bertolak
pinggang itu, sikapnya sama sekali tidak takut bahkan menantang, padahal sudah jelas bahwa gadis itu
telah dikalahkannya, sungguh pun harus dia akui bahwa tidak mudah mengalahkan dara yang ternyata
memiliki ilmu silat yang amat tinggi dan aneh itu. Baru sekarang Siluman Kecil merasa serba salah dan
canggung.
“Aku tidak mengejarmu, Nona.” Akhirnya dia berkata singkat.
“Dusta kau!” Dan tiba-tiba gadis berpakaian hitam itu telah menyerangnya kalang-kabut.
Siluman Kecil cepat mengelak ke sana ke mari sambil berkata, “Nona, aku tidak ingin berkelahi!”
Akan tetapi Hwee Li tak memberi kesempatan kepadanya dan terus mendesak dengan pukulan-pukulan
yang mendatangkan angin dahsyat dan amat berbahaya. Siluman Kecil menjadi repot juga dan terpaksa
dia meloncat tinggi dan jauh untuk menghindar, lalu dia melarikan diri karena memang dia tidak ingin
berkelahi hanya karena perbedaan pendapat tentang diri Cui Lan dan tentang kejar-mengejar itu.
“Mau lari ke mana kau?” Hwee Li membentak dan mengejar.
Namun pada saat itu muncul bayangan orang di balik pohon dan terdengar bentakan halus menegur dara
berpakaian hitam itu.
“Hwee Li, jangan kurang ajar. Kembalilah!”
“Eh, Subo...!” Gadis berpakaian hitam itu berseru kaget dan girang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Siluman Kecil cepat lari akan tetapi dia masih sempat menengok dan melihat bahwa yang disebut subo
oleh gadis itu adalah seorang wanita yang sangat cantik dan dia seperti pernah melihat wajah itu.
Akan tetapi dia tidak ingin bentrok dengan wanita cantik itu yang tentu memiliki ilmu kepandaian yang lebih
hebat lagi dari pada si dara galak, apa lagi karena memang tidak ada permusuhan apa-apa di antara
mereka. Maka Siluman Kecil lalu mempercepat gerakannya dan tubuh yang berpakaian dan berambut
putih itu kelihatan melayang cepat sekali di atas lapangan rumput, diikuti oleh pandang mata dua orang
wanita guru dan murid itu penuh kekaguman.
Fajar telah menyingsing ketika Siluman Kecil tiba di pintu gerbang kota An-yang, di dekat tapal batas
Propinsi Ho-nan dan Ho-pei sebelah utara. Di depan pintu gerbang telah menanti banyak orang, yaitu
sebagian besar adalah orang-orang luar kota An-yang yang hendak memasuki kota itu, menanti sampai
dibukanya pintu gerbang oleh para penjaga.
Munculnya Siluman Kecil tentu saja mendatangkan rasa heran di antara mereka, karena keadaan
pendekar ini memang aneh. Pakaiannya putih dan rambutnya juga terurai putih, sebagian menutupi
mukanya sehingga menyembunyikan sebagian besar wajah yang tampan. Akan tetapi, di antara semua
orang itu, ada seorang wanita muda yang selalu memandangnya dengan alis berkerut dan sinar mata yang
tajam penuh selidik, kelihatan jelas bahwa wanita ini mencurigai dan memperhatikan semua gerakgeriknya.
Siluman Kecil tentu saja merasa tidak senang dan tidak enak, akan tetapi dia diam saja dan berdiri di sudut
yang agak gelap. Wanita itu berpakaian serba hijau, menuntun seorang anak kecil berusia empat tahun,
dan wanita itu sendiri berusia kurang lebih dua puluh tahun dengan wajah yang cukup cantik dan
membayangkan kegagahan.
Ketika pintu gerbang dibuka tak lama kemudian, Siluman Kecil cepat menyelinap masuk dan mencari
sebuah warung makan untuk sarapan dan menghangatkan badan di pagi hari yang cukup dingin itu.
Sebuah warung baru saja dibuka dan masih kosong belum ada tamunya seorang pun. Cepat dia memasuki
warung ini dan memesan masakan bubur ayam dan air teh panas. Akan tetapi, selagi pelayan menyiapkan
pesanannya, masuklah tiga orang laki-laki muda ke dalam warung dan mereka itu bercakap-cakap dengan
suara lantang.
“Lo-ciang, kenapa engkau tidak ikut memasuki pemilihan jago itu? Siapa tahu, engkau akan terpilih dan
kelak menjadi seorang panglima besar, seorang jenderal sehingga aku yang menjadi sahabatmu tentu
takkan kau lupakan, ha-ha-ha!”
“Enak saja kau bicara, A-seng! Yang dipilih adalah orang-orang yang punya ilmu tinggi untuk menjadi
pengawal gubernur sendiri, dan yang terpandai akan memperoleh kedudukan istimewa. Maka tentu akan
muncul banyak sekali orang sakti. Aku ini apa? Hanya bisa sekedar menggerakkan tangan seperti monyet
menari! Kalau saja aku mempunyai kepandaian seperti pendekar Siluman Kecil yang disohorkan orang itu,
nah...!”
Siluman Kecil memutar duduknya membelakangi mereka, dan ketika pelayan datang mengantarkan bubur
dan air teh yang dipesannya, dia mulai makan bubur yang masih mengebul panas itu. Tiga orang laki-laki
itu masih bercakap-cakap ramai akan tetapi tiba-tiba percakapan mereka terhenti ketika ada rombongan
orang memasuki warung itu. Siluman Kecil melirik dan melihat bahwa wanita muda berpakaian hijau yang
tadi dijumpainya di pintu gerbang menuntun seorang anak kecil, akan tetapi kini tidak lagi menuntun anak
itu, memasuki warung diiringkan oleh lima orang laki-laki yang bersikap hormat seolah-olah mereka adalah
pengawal-pengawal wanita itu.
Begitu mengambil tempat duduk, tak jauh dari tempat Siluman Kecil, dengan suara lantang wanita itu
memanggil pelayan, kemudian berkata setelah melirik ke arah tiga orang laki-laki muda dan Siluman Kecil,
“Pelayan, hidangkan masakan yang paling istimewa dari warungmu ini, dan arak yang hangat dan paling
baik. Suguhkan kepada semua tamu atas namaku, aku yang akan membayar semua yang dimakan para
tamu di pagi hari ini!”
Tiga orang laki-laki muda itu menoleh dan mereka menjadi gembira, lalu bangkit berdiri dan menjura ke
arah wanita itu. Seorang di antara mereka berkata, “Kouwnio, banyak terima kasih atas kebaikanmu!”
Wanita itu hanya membalas penghormatan mereka sambil tersenyum dan tiga orang laki-laki itu kembali
duduk dengan sikap gembira.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi Siluman Kecil tentu saja merasa sungkan dan dia berkata dari tempat duduknya, “Harap
Twanio tidak perlu repot, saya hanya makan bubur dan air teh, dan akan saya bayar sendiri. Terima kasih
atas kebaikanmu.”
“Ahh, tidak mengapa, sobat. Hari ini adalah hari ulang tahunku dan sudah biasa setiap ulang tahun, aku
membayar makanan semua tamu di suatu warung seperti ini,” kata wanita itu dengan sikap gembira.
Melihat sikap dan mendengar kata-kata ini Siluman Kecil dapat menduga bahwa wanita ini sudah biasa
hidup di dunia kang-ouw sehingga tidak canggung lagi berhadapan dengan orang, bahkan laki-laki asing.
Dia tidak mau berbantah dan agar tidak menarik perhatian wanita ini yang sejak di pintu gerbang tadi
memandangnya penuh kecurigaan, maka dia tidak membantah lagi dan ketika hidangan disajikan oleh
pelayan, dia makan dengan diam-diam dan berusaha sedapat mungkin untuk menyembunyikan mukanya.
Wanita itu sendiri pun tidak memperhatikannya lagi dan makan minum bersama lima orang laki-laki yang
mengiringkannya tadi, sedangkan tiga orang laki-laki muda yang merupakan rombongan lain tadi agaknya
mempergunakan kesempatan selagi ada orang yang mau membayar makanan mereka, memesan lagi
masakan-masakan dan minuman arak, agaknya ingin mabuk-mabukan di atas biaya orang lain!
Siluman Kecil cepat menyelesaikan makannya dan selagi dia hendak bangkit, tiba-tiba dia melihat ada
seorang pemuda memasuki warung. Hatinya tertarik sekali melihat pemuda ini yang berkulit putih dan
berambut coklat tua, seorang pemuda berbangsa asing atau sebangsa orang barat yang akhir-akhir ini
banyak dilihatnya di kota-kota besar.
“Sumoi...!” Pemuda asing itu berseru sambil menghampiri meja rombongan wanita berbaju hijau tadi.
“Ahhh, Suheng, kau baru datang?” Wanita itu pun berseru ketika pemuda asing itu menghampiri mejanya.
Lima orang pengiring wanita itu kelihatan bersikap hormat, berdiri dan mempersilakan pemuda asing itu
duduk, mengambilkan bangku kosong dan tidak mengeluarkan kata kata. Pemuda asing itu lalu berbisik
kepada wanita berbaju hijau, “Sumoi, dia kulihat di luar dusun... sedang menuju ke sini... sendirian.”
Wanita muda itu kelihatan terkejut, akan tetapi lalu berkata, “Hemmm, tidak kusangka begitu cepat dia
datang. Akan tetapi kita tidak usah mempedulikan kedatangannya. Betapa pun juga kita belum pernah
mengenal dia. Kita duduk saja di sini merayakan berhasilnya usahaku, Suheng. Oh ya, mari kuperkenalkan
engkau kepada tamu-tamu kita yang kujamu untuk merayakan hari ulang tahunku.”
Dia bangkit berdiri dan menghadap ke arah meja tiga orang pemuda tadi.
“Cu-wi, ini Suheng saya, dan Cu-wi bertiga adalah...“ Wanita itu memperkenalkan.
“Saya Ma Kok Ciang!”
“Saya Kam Seng!”
“Saya Kam Tiong!”
Tiga orang pemuda itu memperkenalkan diri dengan suara lantang. Pemuda asing itu menjura dengan
hormat dan mengikuti sumoi-nya menghadap ke arah Siluman Kecil.
“Sobat, Suheng-ku ingin berkenalan denganmu. Bolehkah kami mengenal namamu yang terhormat?”
Wanita baju hijau itu bertanya kepada Siluman Kecil.
Pendekar ini menundukkan muka, membiarkan rambutnya menutupi mukanya. Sebetulnya dia tidak ingin
berkenalan dengan siapa pun juga. Akan tetapi baru saja dia telah makan hidangan orang, maka tidaklah
enak kalau tidak menjawab. Lebih baik memperkenalkan diri dan cepat pergi dari situ, pikitnya.
“Namaku...? Hemmm, panggil saja aku Siluman Kecil,” jawabnya pendek.
“Ughhh-ukkkhhhhh!” Seorang di antara tiga pemuda itu terbatuk-batuk karena makanan yang sedang
ditelannya itu menyangkut di kerongkongannya ketika dia mendengar ini. Mereka terbelalak menoleh ke
arah Siluman Kecil yang hanya dapat mereka lihat punggungnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sedangkan wanita baju hijau dan suheng-nya itu pun memandang dengan mata terbelalak kaget, akan
tetapi kerut alis mereka menunjukkan bahwa mereka itu masih ragu-ragu. Memang sejak berjumpa di pintu
gerbang, wanita baju hijau itu sudah menaruh curiga kepada Siluman Kecil dan sudah menduganya bahwa
pemuda yang berambut putih dan bersikap aneh itu tentu bukan orang sembarangan. Bahkan di dalam
warung ini si wanita baju hijau sengaja mencari jalan untuk berkenalan dengan pemuda rambut putih itu.
Akan tetapi begitu mendengar bahwa dia itu adalah Siluman Kecil, tentu saja dia meragu dan tidak mudah
percaya begitu saja.
Silumah Kecil sendiri setelah memperkenalkan namanya sudah hendak bangkit dan pergi, akan tetapi pada
saat itu terdengar suara gemuruh dan derap kaki kuda menuju ke depan warung. Seorang pelayan yang
tadi berada di luar tergopoh-gopoh memasuki warung dan langsung menemui pemilik warung yang duduk
di belakang meja. “Celaka, rombongan pembunuh dari perkampungan nelayan itu datang!”
Pemilik warung menjadi pucat mukanya dan semua pelayan juga lari bersembunyi. Melihat ini, Siluman
Kecil tidak jadi pergi dan duduk kembali dengan tenangnya, menunduk dan mereguk arak di dalam cawan
araknya. Wanita baju hijau itu, bersama suheng-nya dan lima orang pengiringnya, juga tiga orang laki-laki
muda yang sudah agak mabuk, semua menengok ke arah pintu warung.
Dengan menimbulkan suara hiruk-pikuk masuklah dua puluh orang lebih yang bersikap gagah dan kasar,
dipimpin oleh seorang kakek yang pakaiannya gemerlapan mewah, pakaian seorang hartawan besar.
Dengan matanya yang kelihatan makin sipit karena teraling sepasang pipi yang gemuk, kakek ini menyapu
ruangan warung dengan pandang matanya, kemudian dengan gerakan kepala dia memberi perintah
kepada tangan kanannya sebagai pemimpin rombongan, yaitu seorang laki-laki bermuka hitam yang
bertubuh tinggi. Laki-laki hitam ini dengan lantang lalu berkata kepada pemilik warung yang masih duduk di
belakang meja dengan muka pucat dan agaknya dia telah lumpuh saking takutnya sehingga tidak sempat
pula menyembunyikan dirinya seperti yang dilakukan oleh para pelayan.
“Haaai! Pemilik warung, sudah berbulan-bulan engkau tidak pernah menyerahkan hasil tangkapan ikan
kepada kami, ya?” kata Si Muka Hitam dengan muka menyeringai dan nada suara menggertak.
Pemilik warung itu menelan ludah beberapa kali untuk mengusir rasa takut yang tiba tiba mencekik
lehernya sebelum dapat menjawab, “Saya... saya adalah pengusaha warung... harap maafkan... saya tidak
lagi menangkap ikan...“
“Bohong!” Si Muka Hitam menghardik, suaranya keras sekali membuat si pemilik warung menjadi makin
ketakutan. “Siapa yang tidak tahu bahwa engkau adalah bekas nelayan yang pandai? Engkau masih
mempunyai lima buah perahu dan engkau menyuruh orang-orangmu mencari ikan-ikan tetapi hasil ikanikan
yang baik dan besar kau suruh bawa ke sini, hanya yang kecil-kecil saja kau suruh menjual kepada
kami. Berani kau menyangkal?”
Gemetar seluruh tubuh pemilik Warung itu. Tidak disangkanya bahwa Boan-wangwe, ‘raja’ kaum nelayan
itu sedemikian cerdiknya, dapat tahu setiap langkah perbuatannya. “Maaf... ampunkan saya... saya
membutuhkan ikan-ikan baik untuk warung saya...“
“Ha-ha-ha!” Sekarang Boan-wangwe, hartawan itu, tertawa. “Sudahlah! Sekarang kau keluarkan hidangan
dari ikan-ikan yang terbaik, keluarkan semua persediaan masakan dan minuman untuk kami dan kami
akan melupakan pelanggaran yang kau lakukan itu. Akan tetapi suruh pergi semua tamu dari sini, kami
tidak ingin diganggu.”
“Heiii, pelayan! Tambah araknya!” Tiba-tiba terdengar suara si pemuda asing, seolah olah dia sama sekali
tidak melihat atau mendengar apa yang terjadi di situ.
Tukang warung itu tergopoh-gopoh mendatangi meja wanita baju hijau itu, lalu berdiri membongkokbongkok
dan berkata gugup, “Harap Cu-wi sudi memaafkan saya... harap sudi meninggalkan saja warung
ini dan... dan Cu-wi tidak usah membayar harga semua makanan dan minuman tadi...“
“Hemmm, apa artinya ini?” Pemuda asing itu membentak, sikapnya marah.
“Maaf, Siauw-ya... warung ini... kini harus melayani Boan-wangwe dan orang-orangnya, saya tidak bisa
menerima tamu lain, semua telah diborong oleh Hartawan Boan...“
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tidak peduli yang memborong itu hartawan atau jembel, raja atau petani, dewa atau setan yang bernama
Boan atau anjing kera, kami sudah datang lebih dulu dan harus dilayani lebih dulu!” Pemuda asing itu
membentak marah. “Hayo tambah lagi araknya!”
“Ba... baik...“ Pemilik warung itu menjadi makin ketakutan dan seperti seekor anjing dipukul dia mundur dan
mengkeret, lalu berdiri di belakang mejanya dengan bingung, tak tahu apa yang harus dilakukannya.
Sementara itu, Si Muka Hitam pimpinan rombongan pengikut Boan-wangwe itu, telah melangkah maju
sambil memberi isyarat kepada orang-orangnya. Meja wanita baju hijau itu dikurung, akan tetapi wanita
baju hijau itu bersama suheng-nya dan lima orang pengiringnya masih tetap duduk mengelilingi meja
dengan sikap tenang.
Boan-wangwe sendiri, kakek berpakaian mewah itu, hanya tersenyum lalu dengan enaknya duduk di atas
bangku di sudut sambil menonton, mengeluarkan huncwe (pipa tembakau) dan mengisinya dengan
tembakau, lalu menyulutnya dengan api, semua ini dilakukan dengan tenang seenaknya seperti orang
yang hendak menikmati tontonan yang menarik. Siapakah kakek ini?
Di bagian depan telah kita ketahui bahwa kakek ini adalah seorang bekas bajak laut yang berkepandaian
tinggi, dan yang sekarang ini telah menjadi seorang hartawan, seorang pedagang ikan yang melakukan
pemerasan terhadap semua nelayan, melepas uang panas, dan juga memaksa semua orang nelayan
untuk menjual hasil tangkapan mereka kepadanya, tentu saja dengan harga murah dan dia mempunyai
banyak anak buah yang disebarnya di belasan buah dusun-dusun di sepanjang Sungai Huangho.
Hartawan she Boan ini dikenal sebagai ‘raja’ kaum nelayan, dan ia merupakan seorang tokoh kaum sesat
yang tidak saja kaya raya dan berani mengeduk saku demi untuk membantu segolongannya, tetapi juga
memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Seperti telah diceritakan di bagian depan, di waktu ketua Huangho
Kui-liong-pang mengundang para kaum sesat untuk mengadakan pertemuan di lembah, Boan-wangwe
juga tidak ketinggalan dan menjadi seorang di antara para tamu kehormatan.
“Orang bule! Agaknya engkau sudah bosan hidup! Hayo lekas engkau dan teman temanmu merangkak
keluar kalau tidak ingin kami seret ke luar sebagai mayat!” bentak Si Muka Hitam.
Akan tetapi pemuda asing itu bersama sumoi-nya masih enak-enak menggunakan sumpit dengan tangan
kanan untuk menyumpit daging ini atau sayur itu, membawa ke mulut dan memakannya dengan tenang.
Mendengar bentakan itu, pemuda asing yang dimaki orang bule itu menoleh, lalu berkata acuh tak acuh,
“Hendak kulihat siapa yang akan mampu menyeret aku keluar!”
“Keparat!” Si Muka Hitam membentak.
Dia merupakan salah seorang di antara pembantu-pembantu Boan-wangwe dan dalam perjalanan ini dia
bahkan memimpin rombongan itu, maka tentu saja dia marah bukan main mendengar tantangan si pemuda
asing. Sambil memaki dia menghantam ke depan, tangan kanan mencengkeram pundak, tangan kiri
menjotos ke arah tengkuk. Serangan maut ini kalau mengenal sasaran tentu akan membuat yang diserang
roboh dan tewas seketika dengan kepala remuk.
“Plak-plakkk... aughhhhh...”
Si Muka Hitam itu terlempar ke belakang dan roboh terbanting keras! Ternyata dengan tangan kanan
masih memegang sumpit dan melanjutkan makannya, pemuda asing itu tanpa menoleh telah
menggerakkan tangan kirinya, menangkis dua tangan lawan dan mendorong, membuat Si Muka Hitam
terjengkang dan roboh!
Tentu saja hal ini membuat semua anak buah Boan-wangwe menjadi marah. Sambil berteriak-teriak
mereka bergantian menerjang pemuda asing itu. Akan tetapi sungguh hebat sekali pemuda ini. Dia terus
melanjutkan makan minum, ditemani sumoi-nya yang seolah-olah tidak mempedulikan suheng-nya
dikeroyok, dan lima orang pengiringnya pun hanya memandang saja dengan sikap siap siaga. Akan tetapi,
sambil melanjutkan makan hidangan di depannya dengan sumpit, pemuda asing itu menggunakan tangan
kirinya, menangkis, menampar, menyodok, merampas senjata dan berturut-turut para pengeroyoknya itu
ada yang terpelanting, ada yang terjengkang dan jatuh tumpang tindih!
dunia-kangouw.blogspot.com
Boan-wangwe yang melihat keadaan anak buahnya ini mengerutkan alisnya dan dia menggigit ujung
huncwenya, matanya memandang marah akan tetapi dia masih duduk karena melihat anak buahnya masih
bangun lagi dan masih mengurung, kini semua mencabut senjata mereka.
Lima orang pengiring wanita baju hijau kelihatan bangkit berdiri, meraba gagang pedang di pinggang, akan
tetapi wanita baju hijau itu menggeleng kepala. Mereka memandang penasaran, akan tetapi ternyata
mereka taat sekali karena mereka sudah duduk kembali sambil memandang pemuda asing yang kini sudah
menghabiskan hidangan di dalam mangkoknya. Setelah hidangannya habis, pemuda asing ini bangkit
berdiri dengan muka kesal, lalu membalikkan tubuhnya menghadapi para pengepungnya.
“Kalian sungguh manusia-manusia yang menjemukan!” katanya perlahan dan pemuda ini menggosokgosokkan
kedua telapak tangannya, kemudian kedua tangan itu diputar putar di depan dada.
“Suheng, jangan...!” Wanita baju hijau berseru kaget.
Akan tetapi kedua tangan pemuda itu sudah terlanjur digerakkan, mendorong ke depan dan biar pun dia
mendengar seruan mencegah dari sumoi-nya dan sudah mengurangi tenaganya, tetap saja terdengar
teriakan-teriakan kaget dan kesakitan dari dua puluh orang lebih itu. Mereka tidak roboh, melainkan
menggigil kedinginan, gigi mereka saling beradu hingga berbunyi berkeretakan, mulut mereka pun
mengeluarkan suara.
“Hu-hu-hu-huuu...,” dan mereka berusaha mengusir rasa dingin dengan memeluk tubuh sendiri. Keadaan
mereka sungguh lucu dan aneh sekali.
Siluman Kecil merasa terkejut bukan main. Dia melihat betapa keringat-keringat yang tadi membasahi
tubuh dua puluh orang lebih itu, kini tampak membeku, berubah seperti tepung-tepung salju menempel di
tubuh mereka. Bukan main, pikirnya. Seperti Swat-im Sin-ciang dari Pulau Es, akan tetapi bahkan lebih
ganas! Juga Boan-wangwe terkejut dan kini dia bangkit berdiri.
“Huh!” Pemuda asing itu mendengus. “Kalau saja Sumoi tidak mengasihani kalian, tentu sekarang kalian
telah menjadi patung-patung beku tak bernyawa lagi.”
Boan-wangwe sekarang mengeluarkan semua abu dan tembakau dari huncwenya dan dengan perlahan
dia mencabut ujung huncwe yang ternyata bersusun dan kini huncwe itu memanjang sampai selengan
panjangnya. Kiranya huncwe itu selain dapat dipakai sebagai penghisap tembakau, juga merupakan
senjata yang aneh dan ampuh! Tangan kirinya merogoh saku dan keluar lagi menggenggam peluru-peluru
kecil yang segera dimasukkan ke dalam mulutnya!
Kemudian, dengan mengeluarkan suara menggeram, Boan-wangwe menggerakkan kakinya. Tubuhnya
yang agak gendut itu ternyata memiliki gerakan ringan dan cepat sekali, melayang melalui atas kepala
orang-orangnya yang masih kedinginan, langsung menyerang pemuda asing itu dengan huncwe-nya yang
panjang!
“Wuuuttttt... singgggg...!”
Sambaran huncwe itu mengejutkan si pemuda asing yang dari suaranya saja maklum bahwa dia
menghadapi senjata ampuh yang digerakkan oleh tenaga sakti yang kuat. Maka dia cepat melompat ke
samping sambil mengelak, sambil mencabut pedangnya, kemudian balas menusuk yang dapat ditangkis
oleh Boan-wangwe.
“Tranggggg!... Cringgggg...!”
Dua kali pedang bertemu huncwe dan nampaklah api berhamburan. Keduanya menarik senjata masingmasing
untuk memeriksa. Lega hati mereka melihat betapa senjata mereka tidak rusak walau pun tadi
mereka merasakan getaran hebat mengiris telapak tangan mereka.
Para anak buah Boan-wangwe kini mundur dan anehnya, mereka semua kini duduk di atas lantai di sudut
ruangan itu, tidak ada seorang pun yang berdiri dan mereka menonton pertandingan hebat antara majikan
mereka dan pemuda asing itu penuh perhatian.
Siluman Kecil juga menonton dengan hati tertarik. Kembali dia merasa kagum karena ternyata bahwa
pemuda yang berkulit putih dan berambut coklat itu selain memiliki pukulan yang mirip Swat-im Sin-ciang,
dunia-kangouw.blogspot.com
juga memiliki ilmu pedang yang amat lihai sehingga biar pun Boan-wangwe juga memiliki gerakan lihai
sekali, cepat kuat dan aneh, namun kakek ini kelihatan terdesak oleh ilmu pedang si pemuda asing.
“Hyaaaaattttt...!”
Tiba-tiba pedang itu meluncur dengan gerakan memutar seperti seekor naga bermain di angkasa,
bergulung-gulung dengan cepat sekali. Boan-wangwe menggerakkan huncwe-nya menangkis dan
memutar huncwe untuk mengimbangi kecepatan pedang, namun tetap saja dia masih kalah cepat.
“Brettttt...!”
Untunglah dia masih sempat menarik lengannya sehingga yang terbabat putus hanya ujung lengan
bajunya saja. Akan tetapi hal ini cukup membuat dia terkejut sampai mukanya berubah dan tiba-tiba dia
meloncat ke belakang dan menempelkan ujung huncwe ke mulutnya.
“Awas, Suheng...!” Wanita baju hijau itu berseru.
Pemuda asing itu sudah waspada ketika dari ujung huncwe itu menyambar sinar-sinar kehitaman yang
mengeluarkan bunyi bersuitan. Melihat benda-benda kecil menyambar ke arahnya, pemuda itu mengelak
dan dengan pedangnya dia menangkis.
“Tringgg... tarrrrr-tarrrrr!”
Dua buah peluru kecil yang kena disampok pedang itu meledak dan pemuda asing itu berteriak kaget lalu
roboh. Ternyata peluru itu mengandung jarum-jarum lembut sekali yang agaknya beracun, yang
berhamburan keluar ketika peluru itu meledak dan ada yang mengenai pemuda bule itu.
“Suheng...!” Wanita baju hijau itu berteriak.
Dengan marah dia lalu meloncat ke arah Boan-wangwe, gerakannya ketika meloncat membuktikan bahwa
dia memiliki ginkang yang amat hebat. Seperti seekor burung walet menyambar saja ketika dia meloncat.
Akan tetapi Boan-wangwe sudah cepat menggerakkan huncwenya menangkis ketika melihat sinar pedang
meluncur cepat.
“Tranggggg...!”
Kembali nampak bunga api berhamburan dan Boan-wangwe harus cepat memutar huncwe-nya karena
wanita baju hijau itu ternyata memiliki ilmu pedang yang bahkan lebih hebat dari pada suheng-nya! Dan
selain itu, lima orang pengiringnya kini sudah mencabut pedang semua dan mengeroyoknya!
Boan-wangwe maklum bahwa kalau dia melanjutkan pertempuran dengan senjata, jangankan dikeroyok
enam, melawan wanita baju hijau itu saja sudah kewalahan, maka dia kembali melompat ke belakang dan
menggunakan huncwe dan peluru-peluru kecil untuk menyerang lawan. Huncwe yang sudah berubah
menjadi senjata sumpitan itu lalu menyemburkan banyak sekali peluru-peluru kecil.
Wanita baju hijau terpaksa harus menangkis, demikian pula lima orang pengiringnya dan terdengar bunyi
ledakan-ledakan kecil. Wanita itu menjerit dan bersama lima orang pengiringnya, juga tiga orang muda
yang sudah mabuk dan yang tadi menonton sambil duduk di atas kursi mereka, roboh semua tak sadarkan
diri. Mereka semua, sejumlah sembilan orang itu, roboh pingsan terkena serangan jarum-jarum halus yang
tak tampak oleh mata, yang berhamburan keluar dari dalam peluru-peluru kecil yang pecah dan meledak.
“Ha-ha-ha, kini baru kalian tahu rasa!” Boan-wangwe tertawa bergelak. “Berani kalian menentang Huncwe
Maut Boan Kwi, ha-ha-ha!” Sekarang pergilah kalian ke neraka!”
Dengan iringan suara ketawa anak buahnya yang baru sekarang berani berdiri dengan tubuh masih ada
yang menggigil kedinginan, Boan-wangwe melangkah lebar sambil membawa huncwe-nya, hendak
membunuh tujuh orang bekas lawannya itu. Kini baru Siluman Kecil mengerti mengapa anak buah Boanwangwe
tadi semua duduk di atas lantai. Kiranya mereka itu tahu bahwa majikan mereka akan
menggunakan huncwe mautnya dan mereka sudah lebih dulu bersembunyi dari sambaran-sambaran
peluru yang berisi jarum-jarum halus itu!
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketika Boan-wangwe sudah mengangkat huncwe untuk memukul kepala si pemuda bule yang masih
pingsan, tiba-tiba ada angin menyambar dari kanan. Dia terkejut sekali, akan tetapi ketika dia
menggerakkan huncwe ke kanan, pukulan itu lenyap dan kini hawa pukulan menyambar dari kiri! Boanwangwe
terkejut dan bingung, mengangkat tangan kirinya menangkis.
“Plakkk...! Nyesssss...!”
Boan-wangwe tertegun dan matanya berkejap-kejap heran, menikmati rasa yang amat nyaman dan enak
yang dirasainya ketika tangannya bertemu dengan tangan orang yang menghantamnya itu. Tadi dia masih
tergetar oleh benturan-benturan tenaga dari si pemuda bule yang mendatangkan rasa dingin sekali, dan
sekarang, benturan tenaga ini mendatangkan rasa hangat dan nyaman, nikmat, seolah-olah dia baru saja
diserang hawa dingin lalu mendapatkan kehangatan dari perapian atau selimut hangat yang halus. Sukar
dilukiskan rasanya, amat enak dan menyenangkan. Akan tetapi ketika dia memandang ke arah lengan
kirinya yang tadi terbentur dengan lengan lawan dan yang mendatangkan rasa nyaman itu, dia terbelalak
dan hampir saja menjerit. Ternyata lengan bajunya hancur lebur dan kulit tangannya rusak seperti habis
disiram minyak mendidih.
“Celaka...!” serunya dan dia cepat menoleh ke kiri.
Di situ telah berdiri seorang pemuda berpakaian putih dan berambut putih pula. Pemuda berambut putih!
Muka Boan-wangwe berubah jadi pucat, jantungnya berdebar penuh ketegangan. Apakah ini orangnya
yang disebut-sebut di dalam pertemuan di lembah itu? Inikah dia si Siluman Kecil? Bulu tengkuknya
meremang. Tak mungkin tokoh yang menggegerkan dunia kang-ouw itu masih begini muda!
Siapa pun adanya orang ini, jelas orang ini memiliki ilmu pukulan yang seperti ilmu iblis! Mengerikan sekali!
Maka Boan-wangwe tidak mau menyia-nyiakan waktu lagi. Cepat dia meloncat ke belakang dan
menggunakan huncwe-nya sebagai sumpitan. Siluman Kecil sudah siap waspada karena dia tadi telah
menyaksikan sendiri betapa lihai dan berbahayanya senjata sumpitan itu. Dia harus mengelak kalau dia
ingin selamat, sama sakali tidak boleh menangkis, karena justeru di situlah letak bahayanya peluru-peluru
kecil itu. Sekali ditangkis, peluru akan meledak dan jarum-jarum halus yang agaknya beracun akan
menyerangnya tanpa dapat dielakkannya lagi karena selain terlalu dekat juga terlalu halus tidak dapat
dilihat nyata.
Maka begitu ada suara bersuitan dan ada sinar-sinar hitam menyambar, Siluman Kecil lalu menggerakkan
tubuhnya dan dia pun sudah berloncatan ke sana-sini dengan kecepatan yang amat luar biasa. Seperti kilat
menyambar-nyambar saja layaknya. Setiap kali berloncatan, dia hanya menggunakan satu kaki saja untuk
mengenjot tubuhnya, seperti seekor burung bangau berdiri dengan satu kaki. Kaki yang sebuah lagi ditekuk
ke belakang. Akan tetapi, loncatannya itu demikian tiba-tiba dan tubuhnya dapat melejit ke sana-sini,
mencelat ke kanan kiri, depan belakang, atas bawah seperti sebuah bola saja melambung ke sana-sini.
Cepatnya bukan main karena tubuhnya seolah-olah tidak lagi berloncatan, melainkan melenting ke sanasini
karena memantul kembali.
Pertunjukkan ginkang yang diperlihatkan oleh Siluman Kecil ini benar-benar amat luar biasa sekali.
Tubuhnya seperti telah menjadi banyak loncat ke sana sini, jungkir balik, melayang ke atas, menyentuh
atap dan menukik turun seolah-olah kepalanya akan menyentuh lantai, lalu membuat salto sampai lima
enam kali berturut-turut, berbalik kembali ke atas, selalu meluncur di antara hujan peluru kecil itu. Kakinya
menotol ke sana-sini, menjejak dinding tembok, hinggap di atas meja, di atas bangku, melayang lagi ke
atas kepala Boan-wangwe, bahkan pernah kaki itu menyentuh pundaknya dan menggunakan pundak
lawan untuk mencelat ke lain bagian, terus mengelak.
Warung itu menjadi sasaran ledakan-ledakan peluru yang mengenai tembok, meja dan bangku sehingga
kini semua pelayan termasuk pemilik warung yang bersembunyi, tidak urung terkena jarum halus dan
semua roboh pingsan di atas lantai di mana mereka bersembunyi!
Pada saat itu pula muncul seorang laki-laki yang masih muda, usianya kurang lebih tiga puluh tahun. Dia
sudah tiba di ambang pintu dan memandang ke dalam dengan mata terbelalak.
“Hebat!” serunya ketika dia melihat tubuh Siluman Kecil yang melayang-layang. “Ahh...!” Dia berteriak
kaget ketika melihat peluru-peluru kecil yang meledak itu pecah dan menyebar jarum-jarum lembut yang
beracun. Dia melihat banyak orang rebah di lantai akibat serangan jarum-jarum halus itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tahan...!” Laki-laki ini berseru, suaranya melengking nyaring dan tubuhnya mendoyong ke depan, hampir
menelungkup, dan mendadak badannya meluncur ke depan, cepat sekali, lengan bajunya yang kiri
berkibar-kibar dan bergerak-gerak ke kanan kiri seperti seekor ular yang hidup. Dan semua peluru yang
kesasar dan menyambar ke arahnya, semua lenyap seperti tertelan atau tergulung oleh lengan baju itu,
kemudian dengan gerakan yang bukan main gesitnya, dia mendekati Boan-wangwe dan ujung lengan baju
yang seperti ekor naga itu bergerak-gerak di depan sumpit dan menggulung semua peluru yang
disemburkan keluar, sampai akhirnya habislah peluru yang berada di mulut Boan-wangwe.
Boan-wangwe terkejut bukan main. Pelurunya sudah habis. Tidak ada lagi yang boleh diandalkannya untuk
menghadapi lawan-lawan yang amat sakti ini. Baru menghadapi pemuda rambut putih yang disangkanya
tentu Siluman Kecil itu saja, dia sudah kewalahan dan tak mungkin bisa menang, sekarang muncul lagi
orang aneh ini yang dengan lengan baju yang kosong dapat membikin peluru-pelurunya yang ampuh dan
berbahaya itu mati kutu sama sekali.
Laki-laki tampan dan gagah perkasa itu ternyata memang hanya berlengan satu. Lengan kirinya buntung,
maka lengan baju kirinya itu kosong. Akan tetapi hebatnya, justeru lengan baju yang kosong inilah yang
amat lihai, yang seolah-olah merupakan ekor naga yang hidup dan mampu menangkap peluru-peluru
berbahaya itu. Dengan sikap tenang, orang itu menggunakan tangan kanannya mengambil peluru-peluru
kecil yang tergantung oleh lengan baju kirinya, memberikannya kepada Boan-wangwe. sambil berkata
dengan suara penuh teguran, “Terimalah kembali peluru-pelurumu! Akan tetapi jangan begltu kejam lagi
untuk menghamburkan barang-barang beracun yang keji ini di tempat umum. Cepat lihatlah orang-orang
itu yang menjadi korban. Engkau harus mengobati mereka.”
Boan-wangwe menerima peluru-pelurunya tanpa berkata-kata, masih terkejut sekali menyaksikan orangorang
yang begini sakti. Si lengan buntung itu melirik ke arah Siluman Kecil yang sedang berjongkok
memeriksa wanita baju hijau dan suheng-nya yang masih pingsan. Dia sudah memeriksa dan maklum
bahwa mereka itu benar saja menjadi korban racun jarum-jarum halus, akan tetapi racunnya amat aneh
dan dia tidak mampu mengobati mereka.
Melihat kekejaman orang yang menyebar jarum halus beracun yang amat keji itu, marahlah Siluman Kecil
dan dia menoleh untuk memandang kepada Boan-wangwe dengan geram. Akan tetapi pandang matanya
bertemu dengan sinar mata yang mencorong seperti mata naga, yaitu mata laki-laki yang buntung lengan
kirinya itu. Keduanya kelihatan terkejut sekali, karena si lengan satu itu pun melihat sinar mata yang amat
tajam berkilat dari mata pemuda berambut putih itu. Dari pandang mata ini saja keduanya maklum bahwa
masing-masing memiliki kesaktian yang hebat, karena hanya mata orang-orang yang telah memiliki tenaga
sakti amat kuat sajalah yang mengeluarkan sinar seperti itu.
Laki-laki berlengan buntung itu bukan hanya terkejut melihat sinar mata berkilat dari Siluman Kecil, juga dia
terkejut dan kagum sekali karena sama sekali tidak mengira bahwa orang berambut putih yang memiliki
kepandaian demikian dahsyatnya, yang memiliki gerakan yang demikian cepat dan mukjijatnya, ternyata
masih amat muda. Hal ini dapat dia lihat dari sebagian muka yang tidak tertutup oleh rambut putih riapriapan
itu. Tadinya melihat kelihaian orang itu dan melihat rambutnya yang putih, dia mengira bahwa tentu
orang itu sudah tua dan merupakan seorang locianpwe yang sakti. Siapa mengira bahwa orang itu ternyata
masih amat muda, hanya rambutnya yang sudah berubah putih semua.
Siluman Kecil sebaliknya terkejut dan kagum karena orang yang lengannya buntung sebelah itu memiliki
sinar mata yang mencorong seperti mata harimau atau naga. Sejenak mereka beradu pandang, akhirnya
keduanya mengangguk, terdorong oleh rasa kagum dan hormat.
“Sungguh hebat sekali ilmu kepandaian saudara, terutama ilmu ginkang tadi. Saya amat kagum
melihatnya,” kata laki-laki berlengan sebelah itu.
“Hemmm... tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan kepandaian saudara!” jawab Siluman Kecil sambil
menggerakkan kepala sehingga makin banyak rambutnya yang menutupi muka, dan dia bangkit berdiri.
“Ah, saudara terlalu merendahkan diri,” kata Si lengan satu.
“Tidak, saya berkata sungguh-sungguh. Caraku menghadapi peluru-peluru tadi hanya dengan mengelak
terus sambil mencari kesempatan untuk membekuknya. Akan tetapi saudara telah langsung menghadapi
peluru-peluru tadi dan merampas semua peluru sebelum meledak. Cara saya tadi menimbulkan korban
kepada orang-orang lain ketika peluru meledak, tentu saja cara saudara lebih tepat dan lebih baik. Ilmu
saudara tadi sungguh mengagumkan!” Kembali Siluman Kecil menjura dengan setulus hatinya sebab harus
dunia-kangouw.blogspot.com
dia akui bahwa selain Sin-siauw Sengjin, yaitu kakek yang mewarisi ilmu-ilmu dari Suling Emas, belum
pernah dia bertemu orang yang kepandaiannya sehebat si lengan satu ini.
“Ahhh, saudara terlalu memuji dan terlalu merendahkan diri, sungguh-sungguh makin mengagumkan hati
saya!” kata Si lengan satu sambil memandang penuh selidik dan benar-benar merasa kagum sekali.
Siluman Kecil tidak mengacuhkannya lagi dan dengan langkah lebar dia menghampiri Boan-wangwe,
berkata dengan nada mengancam, “Manusia kejam! Kalau engkau tidak lekas mengeluarkan obat penawar
racunmu yang jahat, jangan katakan aku kejam kalau terpaksa aku akan melumatkan kepalamu!”
“Dan aku pun tidak akan tinggal diam sebelum kau mengobati mereka sampai sembuh!” kata pula Si
lengan satu sambil menghampiri Boan-wangwe. Bekas bajak sungai yang lihai ini bukan orang bodoh
untuk melawan dua orang sakti ini.
“Baiklah,” katanya dengan suara berat. “Aku pun tidak bermaksud membunuh orang karena pertempuran
ini hanya disebabkan oleh urusan kecil saja!” Ia lalu mengeluarkan sebuah guci arak dan setelah dia
menggunakan saputangan yang dibasahi dengan obat dari dalam guci itu untuk menggosok-gosok bagian
yang terkena jarum halus dan meneteskan sedikit obat di lubang hidung mereka yang menjadi korban,
orang-orang yang tadinya pingsan itu berbangkis beberapa kali dan sadar kembali.
Melihat ini, Siluman Kecil yang tidak ingin dirinya menjadi pusat perhatian, menyelinap pergi dengan cepat.
Pula, dia ingin cepat-cepat memenuhi tantangan Ang-siocia dan mencari pencuri pusaka yang agaknya
ditinggal oleh Sin-siauw Sengjin itu di pantai Po-hai. Dia mendengar suara orang berlengan sebelah
memanggilnya, akan tetapi dia malah mempercepat larinya karena justeru dia tidak ingin dikenal oleh
orang gagah itu.
Setelah semua korban disembuhkan, baru laki-laki berlengan buntung itu membiarkan Boan-wangwe
bersama para anak buahnya pergi meninggalkan warung. Derap kaki kuda mereka terdengar berisik ketika
mereka rneninggalkan warung. Diam-diam Boan-wangwe menyadari betapa pentingnya golongan mereka
untuk bersatu, mengingat demikian banyaknya orang-orang sakti yang menentang mereka.
Sementara itu, rombongkan suheng dan sumoi bersama lima orang pengiringnya itu segera menghaturkan
terima kasih kepada si lengan satu, kemudian juga bergegas pergi meninggalkan warung setelah dengan
royal mengganti semua harga makanan dan mengganti semua harga barang-barang yang rusak akibat
pertempuran itu kepada si pemilik warung.
Tentu saja pemilik warung menjadi girang sekali dan dalam kesempatan itu dia dapat menarik keuntungan
yang tidak sedikit, karena tentu saja dia naikkan semua harga barang yang diganti oleh wanita baju hijau
itu.
Kini warung itu menjadi sunyi kembali. Yang tinggal hanyalah laki-laki tampan berlengan sebelah tadi.
Bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi hal-hal hebat di warung itu, laki laki ini lalu memilih tempat duduk
di sudut, di mana meja dan bangkunya masih utuh dan dia memanggil si pemilik warung. Orang ini
bergegas menghampiri karena maklum bahwa pendekar berlengan satu ini merupakan salah seorang di
antara golongannya, di samping Siluman Kecil yang telah pergi lebih dulu.
“Taihiap hendak memerintah apakah?” tanya si pemilik warung dengan sikap merendah.
“Lopek, harap buatkan masakan untukku. Masakan apa sajakah yang dapat kau sediakan?”
“Wah, untuk Taihiap saya sanggup masak apa saja. Akan tetapi, warung kami ini teristimewa menyediakan
hidangan-hidangan dari ikan sungai.”
“Nah, kalau begitu buatkan goreng udang bumbu tomat lima porsi, ikan lele ditim lima porsi, panggang telur
ikan dua porsi, masak kuah daging kepiting lima porsi, ang-sio-hi dua porsi besar, bakso daging ikan satu
panci, masak sirip ikan campur sarang burung dan telur dua porsi. Jangan lupa bumbu dan acarnya! Dan
bakmi telur lima porsi!”
“Baik... baik...!” Pemilik warung mengangguk-angguk, sungguh pun di dalam hatinya merasa heran sekali
mengapa ada satu orang memesan masakan demikian banyaknya! Tetapi tentu saja ia tak berani
membantah. Bukankah pendekar ini telah mendatangkan keuntungan besar sekali baginya, di samping
juga menyelamatkannya? Andai kata tidak dibayar semua masakan yang dipesan itu sekali pun, dia rela
dunia-kangouw.blogspot.com
memberikannya sebagai tanda terima kasih! Bergegas dia lari ke dapur untuk memimpin sendiri masakan
besar itu.
Karena di situ tidak ada tamu lain sedangkan semua tenaga dikerahkan untuk melayani laki-laki berlengan
buntung itu, maka terdengarlah kesibukan di dalam dapur, suara golok mencacah daging beradu dengan
kayu landasan, suara api bergemuruh, suara minyak mendidih dan alat masak beradu dengan wajan
berkerontangan.
Sementara itu, laki-laki berlengan buntung itu duduk termenung. Siapakah laki-laki ini? Para pembaca
cerita Kisah Sepasang Rajawali tentu sudah dapat menduganya dengan tepat siapa adanya laki-laki
tampan yang berlengan buntung sebelah ini. Dia adalah Kao Kok Cu, putera sulung Jenderal Kao Liang,
murid dari Go-bi Bu Beng Lojin yang terkenal dengan sebutan Si Dewa Bongkok.
Seperti telah diceritakan dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali, Kao Kok Cu berjodoh dengan Ceng Ceng
atau nama lengkapnya Wan Ceng atau Lu Ceng, yaitu puteri dari mendiang Wan Keng In dan Lu Kim
Bwee, adik angkat dari Puteri Syanti Dewi. Setelah bertemu dengan Ceng Ceng, mereka menikah dan Kao
Kok Cu mengajak isterinya kembali ke Istana Gurun Pasir, istana tempat tinggal gurunya di gurun pasir Gobi,
di mana mereka hidup rukun dan damai, penuh kasih sayang dan sudah menjauhkan diri dari urusan
dunia ramai.
Di dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali telah diceritakan bahwa Kao Kok Cu ini sejak kecil hilang karena
tersesat di gurun pasir dan ditolong kemudian dipelihara dan dididik oleh gurunya. Setelah dewasa, barulah
dia kembali ke selatan mencari orang tuanya dan dalam perjalanan ini dia berjumpa dengan Ceng Ceng,
jatuh cinta dan setelah mengalami banyak lika-liku dalam pengalaman hidup yang amat hebat, sehingga
dia terpaksa menyembunyikan mukanya di balik topeng yang membuat dia dikenal sebagai Topeng Setan,
dan dia kehilangan lengan kirinya ketika membantu Ceng Ceng mencari obat, yaitu anak ular naga,
akhirnya dapat juga dia dan Ceng Ceng bersatu sebagai suami isteri yang saling mencinta.
Tetapi, memang segala sesuatu tidak ada yang kekal di dunia ini. Keadaan kehidupan setiap orang
manusia selalu berubah. Yang berada di atas setiap waktu bisa saja tergelincir ke bawah, sebaliknya yang
berada di bawah juga bisa saja sewaktu-waktu naik ke atas. Oleh karena itu, tentu saja keliru kalau orang
menjadi besar kepala dan sombong selagi dia berada di atas, sama kelirunya dengan orang yang menjadi
putus asa selagi dia berada di bawah.
Hanya orang yang wajar dan tidak mengharapkan apa-apa saja yang akan selalu merasa gembira dan
bahagia, kalau dia berada di atas, dia tidak khawatir akan tergelincir ke bawah dan kalau dia berada di
bawah, dia pun tidak membabi buta mengejar-ngejar tempat yang lebih tinggi. Kalau dia berada di atas, dia
tidak menginjak yang berada di bawah, dan kalau dia berada di bawah, dia tidak pula menjilat yang berada
di atas!
Keadaan suami isteri Kao Kok Cu dan Ceng Ceng, yang menjadi majikan dan keluarga Istana Gurun Pasir,
yang hidup selama beberapa tahun dalam keadaan tenteram dan rukun, kemudian mereka dikaruniai
seorang anak laki-laki yang sehat dan mungil, menjadi berubah sama sekali ketika putera mereka itu pada
suatu hari lenyap tanpa meninggalkan jejak!
Peristiwa ini seketika menghancurkan semua ketenangan hidup suami isteri itu, dan mau tidak mau
terpaksa mereka harus meninggalkan Istana Gurun Pasir untuk pergi merantau dan mencari putera mereka
dan lenyap! Itulah sebabnya mengapa pada hari itu majikan Istana Gurun Pasir, Kao Kok Cu yang dikenal
sebagai Si Naga Sakti itu berada di kota An-yang, dan kebetulan sekali dia melihat pertempuran di dalam
warung dan membantu Siluman Kecil menundukkan Boan-wangwe.
Untuk lebih teliti dan mencari jejak putera mereka yang hilang, kemarin dia berpisah dari isterinya, masingmasing
mengambil jalan sendiri dan mereka berjanji akan bertemu hari ini di An-yang. Dia sendiri sejak
kemarin telah menyelidik tanpa hasil dan sekarang semua peristiwa tadi telah dilupakannya karena
pikirannya sudah penuh lagi dengan urusan lenyapnya puteranya yang membuat pendekar ini duduk
termenung. Bahkan ketika semua hidangan yang dipesannya telah diatur di atas meja di depannya,
pendekar ini masih saja duduk termenung, tidak mempedulikan masakan-masakan yang masih
mengepulkan uap dengan baunya yang sedap menyergap hidung dan melayang-layang tercium oleh
mereka yang berada di luar warung.
Melihat betapa pendekar itu mendiamkan saja masakan yang sudah dipersiapkan dengan susah payah itu,
si pemilik warung yang seperti juga pemilik warung mana saja di dunia ini ingin sekali melihat tamunya
dunia-kangouw.blogspot.com
menikmati hidangannya dan sejak tadi menanti dengan pandang mata berseri-seri penuh kebanggaan,
menjadi tidak sabar dan dia menghampiri pendekar itu. “Taihiap, masakan sudah siap semua. Silakan
Taihiap makan dan menikmatinya selagi masih panas, karena kalau keburu dingin tentu kurang sedap.”
Akan tetapi, dengan sikap tak acuh dan kurang bersemangat, Kao Kok Cu menjawab, “Biarlah, aku
memang sedang menanti isteriku. Sebentar lagi dia tentu akan datang. Tidak mengapalah kalau masakanmasakan
itu menjadi sedikit dingin.”
Dengan mengangkat pundak penuh rasa kecewa si pemilik warung terpaksa mundur dan duduk di
belakang menjaga mejanya, tetapi kini berkurang keheranannya mengapa pendekar itu memesan
masakan begitu banyak. Ternyata pendekar itu sedang menanti kedatangan isterinya dan tentu juga
keluarga lainnya.
Seorang pengemis kecil berusia kurang lebih sepuluh tahun memasuki warung itu. Para pelayan dan
pemilik warung itu sudah hampir mengusirnya ketika pendekar itu dengan ramah berkata, “Anak, kau mau
apakah?”
Pengemis itu cengar-cengir, hidungnya kembang kempis karena bau masakan yang sedap itu sungguh
seperti tangan-tangan jahil yang meremas-remas isi perutnya yang kosong. “Saya... saya mohon
dikasihani, minta sedikit uang pembeli nasi...,” katanya.
Si Naga Sakti memandang bengong sejenak, kemudian dia menggeleng kepala. “Aku tidak pernah
membawa uang, dan isteriku yang membawa uang belum datang. Apakah kau lapar?”
Jembel kecil itu mengangguk dan matanya memandang ke arah piring-piring berisi masakan yang masih
mengepulkan uap dan yang berjajar menantang di atas meja itu. Kao Kok Cu lalu berkata sambil melihat
kaleng yang dibawa oleh anak pengemis itu. “Kesinikan kalengmu itu.”
Si pengemis dengan girang menyerahkan kalengnya dan Kao Kok Cu lalu mengisi kaleng itu penuh
dengan beberapa macam masakan dan bakmi, lalu menyerahkannya kembali kepada anak itu.
“Terima kasih... terima kasih...“ Anak itu menyambut kaleng yang telah penuh makanan dan separuh berlari
dia ke luar dari warung itu dengan wajah berseri dan mata bersinar sinar penuh kegembiraan.
Akan tetapi, tidak lama kemudian masuklah seorang anak pengemis lainnya sambil menodongkan kaleng
kosongnya. Sekali lagi Kao Kok Cu menerima kaleng kosong itu, meletakkannya di atas meja dan kembali
mengisinya dengan masakan. Anak itu menghaturkan terima kasih, dan datang pula seorang anak lain.
Kiranya peristiwa itu telah memancing datangnya hampir semua jembel kecil di kota An-yang itu yang
jumlahnya tidak kurang dari dua puluh orang anak! Tentu saja, setelah semua orang pengemis kecil itu
menerima bagiannya, semua masakan di atas meja telah habis sama sekali!
Para pelayan memandang dengan mata terbelalak dan si pemilik warung membanting banting kakinya,
akan tetapi sama sekali dia tidak berani melarang atau mencegah karena melihat pendekar itu membagibagi
makanan dengan wajah terharu, kemudian tersenyum ketika dia memandang anak-anak itu makan
sambil tertawa-tawa di emper warung, dan kadang-kadang mereka menoleh ke dalam, memandangnya
seperti mata anjing-anjing yang baru saja diberi makan dan dibelai oleh majikannya. Pandang mata yang
jelas membayangkan rasa gembira dan terima kasih yang mendalam.
“Terima kasih, Siauw-ya! Terima kasih, Siauw-ya! Terima kasih, Siauw-ya!” Anak-anak itu bersorak-sorak
dan berteriak-teriak dari luar warung, ada yang bertepuk tangan dan ucapan terima kasih itu mereka
nyanyikan dalam paduan suara penuh kegembiraan.
Akan tetapi, Kao Kok Cu hanya tersenyum dan memandang keluar karena dia melihat dua orang wanita
berjalan menuju ke warung itu. Seorang wanita yang cantik jelita dan gagah perkasa, dan yang paling
cantik di antara seluruh wanita di dunia ini bagi Kao Kok Cu yang mencintanya karena wanita itu adalah
Wan Ceng atau Lu Ceng, atau lebih terkenal dengan sebutan Ceng Ceng, isterinya! Dan wanita kedua
adalah seorang dara remaja yang cantik jelita pula, berpakaian serba hitam sehingga menonjolkan kulitnya
yang putih halus itu. Dara jelita itu adalah Kim Hwee Li, murid dari isterinya, atau puteri dari Hek-tiauw Lomo
majikan Pulau Neraka!
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketika Ceng Ceng yang wajahnya agak pucat dan muram karena selalu memikirkan nasib puteranya
dengan hati gelisah itu melihat suaminya menjamu para jembel kecil demikian banyaknya sehingga semua
masakan di atas meja telah ludes, dia menegur, “Hemmm, apa pula yang kau lakukan ini?”
“Wah, kedatanganmu terlambat, isteriku. Makanan yang kupesan telah dihabiskan oleh tamu-tamu kita itu.
Engkau terlambat sekali sih!” Dia membalas teguran isterinya.
Ceng Ceng mengerutkan alisnya dan memandang kepada suaminya dengan gemas. Kelakuan suaminya
memang aneh, akan tetapi kadang-kadang juga membikin hatinya mengkal, seperti sekarang ini. Dia
berjanji akan bertemu dengan suaminya di kota An-yang ini, dan setelah bertemu dan perutnya lapar
sekali, suaminya menyambutnya dengan piring-piring kosong karena semua masakan telah diberikan habis
kepada pengemis-pengemis kecil itu! Hati siapa tidak akan mendongkol?
Melihat gurunya yang cantik itu cemberut dan marah, Hwee Li tertawa dan menutupi mulutnya dengan
tangan seperti menyaksikan hal yang lucu sekali.
“Wah, Suhu telah membikin pusing lagi kepada Subo! Hi-hi-hik, Suhu harus didenda dengan minuman tiga
cawan arak sebagai tambahan minta ampun kepada Subo! Kalau tidak, Subo akan marah terus!”
“Hwee Li, jangan main-main kau!” Ceng Ceng membentak muridnya yang menahan ketawa dan duduk di
dekat meja.
Akan tetapi, Kao Kok Cu memandang ke luar, kepada seorang pengemis muda yang duduk di emper
rumah di seberang jalan. Dia ingat bahwa pengemis yang satu itu belum memperoleh bagian tadi, maka
dia lalu menegur kepada pengemis-pengemis cilik yang berada di dekat pintu warung, “Heiii, kenapa
temanmu yang di seberang jalan itu tidak kalian beri bagian makanan?”
“Ah, Siauw-ya, apakah Siauw-ya maksudkan dia yang duduk di sana itu? Dia adalah Siauw-ong-ya, mana
dia mau? Dia tidak pernah minta-minta, kalau kami beri tentu kami semua akan dihajar. Kami tidak berani!”
Tentu jawaban ini membuat Kao Kok Cu, Ceng Ceng dan Hwee Li merasa heran sekali dan mereka bertiga
lalu memandang ke arah pengemis muda yang disebut Siauw-ong-ya oleh para pengemis kecil itu. Dan
seolah-olah tahu bahwa dirinya menjadi pusat perhatian, pengemis muda itu bangkit berdiri, menghadap ke
arah warung dan mulutnya berkemak-kemik. Tiga orang keluarga sakti itu mendengar dengan jelas
suaranya yang bergema.
“Terima kasih atas perhatian Siauw-ya kepada saya. Akan tetapi tidak perlu Siauw-ya mempedulikan saya.
Saya sudah merasa bersyukur dan berterima kasih sekali bahwa Siauw-ya mau mengasihani kawankawan
saya.” Kemudian dia berteriak kepada para pengemis kecil itu, “Hei, anak-anak, hayo haturkan
terima kasih sekali lagi dan cepat pergi, jangan mengganggu terus.”
Anak pengemis itu ternyata amat mentaati seruan pengemis muda itu. Mereka beramai ramai menyatakan
terima kasih mereka kepada Kao Kok Cu, lalu menjura dan berlari larian pergi dari tempat itu seperti
sekawanan burung yang beterbangan bebas dan gembira. Pengemis muda itu sendiri pun melenggang
seenaknya meninggalkan emper rumah di seberang jalan itu.
“Hemmm, lagaknya! Kaum jembel pun ternyata mempunyai raja segala! Dan bocah itu raja mudanya! Hihik,
jika tidak melihat sendiri siapa percaya?” Hwee Li berkata sambil tertawa geli.
“Husss!” Ceng Ceng menegur muridnya. “Jangan kau bicara sembarangan, Hwee Li. Apakah kau tidak
dapat melihat kenyataan bahwa pengemis muda itu bukanlah orang sembarangan? Semuda itu dia sudah
pandai mengirim suara dari jauh dan khikang-nya cukup kuat.”
Dengan cepat Ceng Ceng kemudian memesan makanan kepada pemilik warung yang melayaninya
dengan penuh perhatian.
“Bagaimana hasil penyelidikanmu? Sudah mencium jejak?” tanya Ceng Ceng kemudian kepada suaminya.
Kok Cu menggeleng kepala. “Belum...,“ jawabnya dengan wajah muram dan sepasang matanya kini
melayang jauh, mengikuti anak-anak pengemis yang pergi dari situ.
dunia-kangouw.blogspot.com
Isterinya juga memandang kepada anak-anak itu, maklum akan isi hati suaminya, dan kini dia mengerti
mengapa suaminya tadi menjamu anak-anak pengemis itu. Tentu suaminya teringat akan anak mereka
yang hilang dan sampai sekarang belum dapat mereka temukan jejaknya, membayangkan betapa anak
mereka itu mungkin juga terlantar dan kelaparan seperti anak-anak pengemis itu! Ceng Ceng merasa
lehernya seperti dicekik dan hanya kekerasan hatinya yang luar biasa sajalah yang mampu membuat dia
menahan jatuhnya air matanya.
Mereka berdua telah bersusah payah mencari-cari di seluruh padang pasir. Dalam penyelidikan mereka,
anak mereka itu bukan hilang diculik orang karena yang nampak dari dalam istana mereka sampai di luar,
hanya tapak kaki anak mereka, tidak nampak tapak kaki orang lain. Tapak kaki anak mereka itu menuju ke
luar dan tentu saja tidak lama kemudian tapak kaki itu lenyap diratakan lagi oleh angin sehingga mereka
tidak mampu menemukan jejak anak mereka. Agaknya anak itu bermain-main di luar, lalu bermain-main
terlalu jauh dan tersesat, tidak mampu pulang kembali.
“Hemmm, sungguh mengherankan sekali. Kenapa anak kita mengalami peristiwa yang sama dengan
pengalamanku ketika masih kecil? Aku dulu juga hilang di gurun pasir ketika masih kecil dan ayahku tidak
berhasil menemukan. Baru setelah aku berusia dua puluh lima tahun aku dapat bertemu lagi dengan ayah
dan keluargaku. Jangan-jangan Liong-ji (Anak Liong) juga...“
“Janganlah engkau bicara demikian, suamiku!” Ceng Ceng cepat memotong kata-kata suaminya yang
menusuk perasaannya dan menimbulkan kekhawatiran besar di dalam hatinya. “Kita harus mencari sampai
dapat dan aku yakin kita akan dapat menemukan kembali Cin Liong!”
“Ucapan Subo benar sekali!” Hwee Li berkata dengan wajahnya yang tetap berseri cerah dan gembira.
“Tidak mungkin ada orang lenyap begitu saja seperti ditelan bumi! Kita pasti akan dapat menemukan
kembali Adik Cin Liong, dan teecu (murid) akan menjelajahi seluruh dunia golongan hitam untuk
menyelidiki, kalau-kalau saja di antara mereka ada yang melihat putera Subo.”
Ucapan dan sikap Hwee Li amat menghibur suami isteri yang sedang kebingungan dan dilanda
kegelisahan itu namun tetap saja hidangan masakan di depan mereka itu hampir tidak dapat tertelan kalau
mereka mengingat betapa anak mereka yang hilang itu usianya baru empat lima tahun dan betapa akan
sengsaranya bagi anak sekecil itu untuk merana seorang diri, apa lagi perginya dari Istana Gurun Pasir itu
melalui padang pasir yang luas, panas dan amat berbahaya…..
********************
Pagi yang cerah. Sinar matahari yang masih menciptakan bayangan-bayangan panjang memuntahkan
cahayanya dengan langsung ke bumi, tanpa halangan awan karena langit nampak biru muda dan bersih
sekali, bersih dan amat tinggi. Sinar matahari di saat itu mengandung daya hidup yang mukjijzat di dalam
kehangatan yang tidak terlalu panas, namun kehangatan yang dapat menembus apa saja dan memberi
daya hidup kepada bumi dan apa saja yang berada di permukaannya.
Awan-awan putih yang agaknya menjauh, tidak berani menghalangi berkah yang berlimpahan itu berarak
di angkasa, bergerak perlahan-lahan seperti bermalas-malasan, namun semua gerakan itu teratur rapi dan
selalu berubah bentuknya, seolah-olah ada tangan gaib yang mengatur awan-awan itu, memilih dan
memisah-misahkannya, mengumpul-ngumpulkannya, untuk digiring ke tempat yang membutuhkan hujan
kelak.
Tidak ada angin berkelisik. Daun-daun yang bermandikan cahaya matahari nampak kekuningan seperti
bermandikan cahaya keemasan, berseri-seri mengelilingi bunga bunga yang mencuat di sana-sini, dan
kupu-kupu bersayap kuning dan putih juga turut menyemarakkan suasana yang penuh dengan suka cita di
pagi hari itu. Berkelompok kelompok kecil burung-burung terbang lewat di udara tanpa suara, menuju ke
sawah ladang di mana terdapat makanan berlimpah bagi mereka.
Orang-orang yang berpakaian seperti penduduk dusun membawa bermacam-macam barang dagangan
hasil kebun mereka, berlalu-lalang di jalan raya itu pergi ke dan pulang dari kota An-yang yang menjadi
pasar bagi barang dagangan hasil bumi mereka. Yang berangkat dan memikul barang dagangan, kelihatan
tergesa-gesa dan berjalan separuh berlari tanpa bicara, akan tetapi yang pulang ke dusun berjalan
seenaknya sambil mengobrol membicarakan hasil penjualan mereka dan belanjaan mereka.
Siluman Kecil yang sudah keluar dari pintu gerbang kota An-yang, kini berdiri di luar tembok kota,
memandang air yang mengalir di tepi tembok. Air itu memasuki kota dari sebelah barat dan keluar dari
dunia-kangouw.blogspot.com
selatan. Ketika memasuki kota, air itu bersih dan jernih, akan tetapi setelah keluar dari kota, air itu menjadi
keruh, penuh dengan sampah sampah dan segala kekotoran kota yang dicampakkan ke dalamnya.
Kekeruhan air ini tidak akan berlangsung lama, karena beberapa mil jauhnya setelah meninggalkan kota,
air sungai itu sudah akan menjadi jernih kembali.
Melihat setangkai daun hijau yang agaknya rontok sebelum waktunya hanyut pula di air itu, Siluman Kecil
mengikutinya dengan pandang matanya dan dia menarik napas panjang. Keadaannya seperti daun itu.
Daun muda yang sudah hanyut seorang diri mengikuti ke mana air mengalir. Tidak tahu akan apa jadinya
dengan dirinya. Seperti juga dia! Hanya mengikuti jalan peristiwa yang dijumpainya di jalan hidupnya.
Siluman Kecil termenung dan tiba-tiba perhatiannya tertarik oleh suara orang wanita yang cukup nyaring.
Kun Cu Souw Ki Wi Ji Heng.
Put Goan Houw Ki Gwee!
Siluman Kecil mengerutkan alisnya. tentu saja dia hafal pula akan ujar-ujar itu karena dia pernah
mempelajari semua pelajaran dari Nabi Khong Cu. Dia masih ingat bahwa ujar-ujar yang dinyanyikan mulut
wanita itu adalah ujar-ujar dalam kitab Tiong Yong, ayat pertama dari bagian ketiga belas, yang berarti,
‘Seorang kuncu (budiman) bertindak sesuai dengan kedudukannya, tidak menginginkan hal-hal di luar dari
kedudukannya.’
Siluman Kecil menarik napas panjang. Dia telah mengalami banyak sekali hal-hal yang amat pahit dalam
kehidupannya.
Kalau direnungkan secara mendalam, memang karena manusia menginginkan hal-hal yang tidak ada
padanya, menginginkan sesuatu yang belum ada, yang tidak dimilikinya, yang berada di luar
jangkauannya, dan KEINGINAN inilah yang menjadi biang keladi segala macam penyakit dan
kesengsaraan hidup.
Dia menarik napas panjang lagi…..
Sesungguhnyalah, bukan hanya seperti yang disadari oleh Siluman Kecil bahwa keinginan menjadi biang
keladi kesengsaraan hidup. Bahkan keinginan itulah yang membuat kita kehilangan kebahagiaan! Betapa
tidak?
Keinginan membuat mata kita buta terhadap segala keindahan yang telah kita miliki. Keinginan membuat
kita meremehkan dan tidak dapat melihat keindahan yang sudah berada pada kita. Contohnya : Biar pun
kita telah memegang sebutir buah apel di dalam tangan, namun kalau kita menginginkan buah anggur yang
belum ada, mata kita seperti buta akan kelezatan buah apel yang sudah berada di tangan,
menganggapnya tidak enak dan tidak memuaskan dan yang paling memuaskan adalah buah anggur yang
kita inginkan, yang belum ada itulah!
Karena itu mari kita mencoba untuk membuka mata dan melihat segala sesuatu yang sudah ada pada kita,
melihat keindahannya, tanpa membanding-bandingkan dengan yang belum ada, tanpa membayangkan
yang lain-lain, maka kita akan dapat melihat keindahan dan akan terbuka mata kita bahwa sesungguhnya
selama ini kita hanya diombang-ambingkan oleh pikiran kita yang selalu haus akan hal-hal yang belum ada
pada kita! Kita selalu beranggapan bahwa kebahagiaan berada di sana, yang harus kita kejar-kejar, sama
sekali kita tidak pernah mau melihat, apa yang berada di sini, yang sudah ada pada kita. Kita seperti
mengejar-ngejar bayangan kita, biar dikejar sampai selama hidup pun tidak akan dapat tersusul, kita tidak
pernah mau berhenti dan menyelidiki apa gerangan bayangan itu, lupa bahwa bayangan itu adalah kita
sendiri, karena kitalah yang menciptakan bayangan yang kita kejar-kejar itu!
Siluman Kecil sadar kembali dari lamunannya ketika dia mendengar suara tadi bernyanyi terus.
Cai Shang Wi, Put Leng He.
Cai He Wi, Put Wan Shang.
Siluman Kecil mengangguk-angguk, dan diam-diam menterjemahkan ujar-ujar itu dalam hatinya. “Dalam
kedudukan tinggi, dia tidak menghina yang di bawah. Dalam kedudukan rendah, dia tidak menjilat yang di
atas.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Betapa sukarnya mencari seorang kuncu (budiman) seperti itu! Sudah lajim di dunia ini, orang selalu
memandang rendah kepada orang-orang yang lebih rendah kedudukannya daripada kita. Kita suka
menginjak dan meremehkan orang-orang yang berada di bawah kita, kita merasa jijik kepada kaum jembel,
kita menjebikan bibir terhadap orang-orang miskin dan papa, kita merendahkan mereka yang bekerja kasar
dan yang mempunyai kedudukan jauh lebih rendah dari pada kita.
Sebalikya, sudah menjadi KESOPANAN masyarakat bahwa kita selalu bersopan santun pada orang-orang
yang tinggi kedudukannya, kita bermanis muka kepada orang-orang kaya, kita menjilat-jilat kepada pejabat
tinggi. Betapa palsunya kita ini! Betapa kejamnya kita ini! Namun kita marah kalau dinyatakan bahwa kita
tidak memiliki perikemanusiaan!
Siluman Kecil makin dalam tenggelam dalam renungannya. Dia mengenal ujar-ujar itu yang merupakan
ayat ketiga dari bagian ketiga belas itu, dan dia masih ingat pula akan bagian selanjutnya, yang berbunyi,
‘Dia memperbaiki diri sendiri dan tidak mencari kesalahan orang lain, maka dia tidak mempunyai
penyesalan apa pun. Ke atas dia tidak menyalahkan Thian dan ke bawah dia tidak menyalahkan manusia
lain.’
Setelah suara itu berhenti bernyanyi, Siluman Kecil menoleh. Timbul keinginan tahunya untuk melihat siapa
gerangan yang di tempat seperti itu menyanyikan ujar-ujar yang mengandung sari pelajaran amat tinggi itu.
Dan dia tertegun. Di bawah sebatang pohon yang rindang nampak seorang nenek tua sedang duduk di
atas tanah berumput, menghadap barang dagangannya yang bertumpuk di atas tikar terhampar. Seorang
nenek tua penjual sepatu rumput rupanya! Dan nenek itulah yang tadi bernyanyi.
Memang harus diakui bahwa ujar-ujar dari Nabi Khong Hu Cu dikenal oleh semua orang yang pernah
bersekolah, sungguh pun sebagian besar orang hanya mengenalnya sebagai ujar-ujar belaka tanpa
menghayati isinya, tanpa meneliti diri sendiri apakah ujar-ujar yang setiap hari keluar dari mulutnya, terusmenerus
diulang-ulanginya itu ada pula terkandung dalam langkah hidupnya sehari-hari.
Akan tetapi, mendengar ujar-ujar itu dinyanyikan oleh seorang nenek penjual sepatu rumput, dinyanyikan di
tempat seperti itu, yaitu di luar kota di bawah pohon, sungguh merupakan hal yang amat janggal didengar.
Biasanya, ujar-ujar Nabi Khong Hu Cu atau ujar-ujar dari Agama Buddha hanya didengar di sekolahsekolah,
di kuil-kuil, atau dibicarakan di antara ‘orang-orang pandai’ sebagai bahan untuk berbantahan dan
mempertahankan pendirian dan pentafsiran masing-masing, dan sebenarnya diperalat untuk
membanggakan kepintarannya!
Melihat nenek itu menghadapi dagangannya dan kelihatan sama sekali tidak laku, terbukti dari
bertumpuknya sepatu rumput itu dan tidak ada seorang pun di antara orang-orang yang lalu-lalang itu
menengok ke arah nenek itu, apa lagi membeli dagangannya, Siluman Kecil merasa kasihan. Nenek itu
kelihatannya miskin, pandang matanya sayu, dan siapa tahu sudah berapa hari nenek itu tidak makan.
Tubuhnya begitu kurus! Siluman Kecil cepat menghampiri dan berjongkok di depan dagangan nenek itu.
“Nenek, apakah ada sepatu yang ukurannya cocok untuk kakiku?” tanyanya, sambil memandang wajah
keriputan itu.
Akan tetapi dari sinar matanya, Siluman Kecil tahu bahwa nenek itu agaknya tidak mengerti atau mungkin
juga tidak mendengar. Ketika nenek itu menaruh tangan di belakang daun telinganya, mengertilah dia
bahwa nenek ini adalah seorang yang sudah berkurang pendengarannya atau agak tuli.
“Apakah ada yang cocok dengan ukuran kakiku?” tanyanya pula dengan suara lebih keras.
“Oh, tentu ada... ada...! Nah, ini agaknya cocok!” Nenek itu menyerahkan sepasang sepatu dan
memandang wajah Siluman Kecil yang sebagian tertutup rambut putih penuh perhatian. “Agaknya Kongcu
akan pergi ke selatan juga! Memang lebih enak pakai sepatu rumput, apa lagi di selatan sana banyak
hujan. Lebih hangat jika memakai sepatu rumput.”
Siluman Kecil mengukur sepatu itu dengan kakinya. Memang cocok. Agaknya pedagang sepatu ini sudah
biasa mengira-ngira ukuran kaki orang yang datang membeli sepatunya. “Berapa harganya?” Dia bertanya.
“Memang banyak yang ke sana. Kemarin banyak orang muda yang membeli sepatu saya pula, mereka
hendak pergi ke selatan,” jawab nenek itu dan Siluman Kecil baru sadar bahwa pertanyaannya yang
kurang keras tadi telah didengar lain oleh Si Nenek, maka jawabannya pun kacau.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dia mengeluarkan uang tembaga dan mengangkat sepatu itu. “Harganya berapa?”
“Ohhh...“ Nenek itu tertawa dan nampak mulut yang ompong!
Setelah nenek itu memberi tahu harga sepatu yang ternyata hanya beberapa potong uang tembaga,
Siluman Kecil membayarnya tanpa menawar. Padahal dia tahu bahwa biasanya pedagang seperti ini
menawarkan dagangannya dengan harga dua kali lipat dan biasanya pihak pembeli pasti juga menawar
harga itu.
Nenek itu kelihatan girang menerima pembayaran Siluman Kecil dan berkata, “Terima kasih. Mudahmudahan
Kongcu akan diterima menjadi prajurit.”
“Apa? Prajurit apa?” Siluman Kecil terheran mendengar itu.
“Eh, apakah Kongcu bukan hendak pergi ke selatan seperti mereka itu untuk memasuki ujian penerimaan
prajurit?”
“Hemmm, ada apakah di selatan sana?”
“Kongcu belum tahu? Kabarnya Gubernur Ho-nan sedang mengadakan ujian untuk menerima calon-calon
prajurit pengawal. Gajinya besar, kedudukannya tinggi, dan mereka yang terpilih akan dijadikan pengawal
gubernur, atau kalau untung malah bisa diangkat menjadi calon pengawal pribadi.”
Tiba-tiba percakapan terhenti karena ada serombongan orang menghampiri nenek itu untuk membeli
sepatu rumput. Yang membeli sepatu hanya dua orang, yaitu seorang kakek bertubuh tinggi tegap dan
seorang setengah tua yang sikapnya pendiam dan matanya bersinar tajam. Sedangkan di belakang dua
orang kakek ini terdapat sepuluh orang lain yang berpakaian ringkas dan sikapnya juga pendiam. Kakek
berusia enam puluhan tahun yang bertubuh tinggi tegap itu melirik ke arah Siluman Kecil dan pandang
matanya tajam penuh selidik. Siluman Kecil menundukkan muka, pura-pura memilih sepatu dan
membiarkan rambutnya yang panjang itu menutupi mukanya seperti tirai.
Setelah memilih sepatu dan membayar harganya, kakek itu bertanya kepada si nenek pedagang sepatu,
“Apakah banyak orang yang lewat ke sini dan menuju ke Ceng-couw, ibu kota Ho-nan?” Suaranya besar,
tegas dan berwibawa.
“Banyak sekali... banyak orang-orang muda yang hendak melamar pekerjaan pengawal. Agaknya Sicu
semua ini juga hendak ke sana?”
Kakek itu hanya menggumam, kemudian bangkit berdiri dan bersama ternan-temannya meninggalkan
tempat itu.
“Wah, sungguh banyak sekali yang ingin melamar sebagai pengawal,” kata Si Nenek. “Tentu ramai sekali
di Ceng-couw sana, wah, kalau aku bisa berdagang sepatu di sana, tentu laris sekali!”
“Kenapa kau tidak membawa sepatumu dan berdagang di sana saja?” kata Siluman Kecil sambil bangkit
berdiri pula.
“Oh, jadi Kongcu juga ingin ke sana?” tanya nenek itu yang kembali salah dengar.
Siluman Kecil mengerutkan alisnya. Repot juga bicara dengan seorang tuli. Dia hanya menganggukangguk
sebagai jawaban, tidak mau lagi berteriak-teriak karena terdengar seperti orang cek-cok saja
sehingga tentu akan banyak menarik perhatian mereka yang lewat di jalan itu. Akan tetapi, jawabannya
dengan anggukan itu membuat si nenek menjadi gembira dan nenek itu pun bangkit berdiri.
“Kalau begitu, sebaiknya Kongcu naik kuda ke sana! Mungkin besok pagi sudah dimulai ujian itu dan
Kongcu tentu akan ketinggalan kalau berjalan kaki. Di sini terdapat seorang pedagang kuda yang bagusbagus
dan harganya pun murah. Dia masih keponakanku sendiri. Saya tinggal bersama dia di sana juga.
Marilah kuantarkan Kongcu ke sana melihat-lihat. Baru kemarin dia pulang membawa dua ekor kuda
peranakan Mongol yang amat baik.”
“Tapi aku sudah biasa berjalan kaki, Nek. Aku tidak ingin membeli kuda.” Siluman Kecil hendak melangkah
pergi, akan tetapi dia melihat seorang pengemis muda duduk tak jauh dari tempat itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Wajah pengemis ini menarik hatinya karena wajah itu terlalu tampan untuk seorang pengemis, dan sinar
mata pengemis ini tidak seperti para pengemis lainnya. Semua pengemis selalu memiliki pandangan mata
sayu, baik dibuat-buat atau tidak, tetapi sinar mata pengemis ini tajam berseri-seri dan sedikit pun tidak
kelihatan duka terbayang di dalamnya! Keadaan ini menimbulkan keharuan di hati Siluman Kecil dan dia
lalu memberikan kelebihan uang pembelian sepatu tadi kepada si pengemis muda tanpa mengeluarkan
kata-kata. Pengemis itu menerima pemberian ini, membungkuk sedikit sebagai tanda terima kasih, akan
tetapi mulutnya diam saja! Bahkan ada bayangan keangkuhan di sinar matanya!
Siluman Kecil merasa makin heran dan tertarik.
“Kongcu akan menyesal setengah mati kalau tidak membeli kuda itu!” Kembali nenek itu mendesak dan
ketika Siluman Kecil menoleh, ternyata nenek itu sudah menggulung tikarnya dan membungkus semua
sepatunya tanda bahwa dia sudah kukut (berkemas untuk pulang).
“Sudahlah, Nek. Aku tidak punya uang...ehh, uangku tidak akan cukup untuk membeli seekor kuda
peranakan Mongol yang bagus.”
“Aaahhhh, Kongcu sungguh merendah! Kongcu mempunyai banyak uang...ehh, maksud saya, seorang
seperti Kongcu yang melakukan perjalanan jauh tentu kaya raya, tentu Kongcu akan mampu membeli
seekor kuda yang baik. Apakah Kongcu tidak rela memberi sedikit keuntungan kepada keluarga kami?”
Siluman Kecil terkejut. Dia memang membawa banyak uang, pemberian seorang hartawan yang pernah
ditolongnya sebagai bekal dan terima kasih atas bantuannya. Bagaimana nenek ini bisa tahu?
Akan tetapi, mungkin juga sebagai seorang pedagang, nenek ini memiliki pandangan tajam tentang hal itu.
Tertarik juga hatinya. Memang selama ini banyak sekali hal-hal yang menarik hatinya. Dia selalu tertarik
oleh urusan orang-orang lain. Apakah hal ini menunjukkan gejala bahwa dia sudah tidak tertarik lagi
kepada diri sendiri?
“Baiklah, Nek. Aku hendak melihat kuda yang kau puji-puji itu. Akan tetapi tidak perlu kau mengemasi
dagangan untuk mengantar aku. Katakan saja di mana adanya tempat keponakanmu itu, dan aku akan
mencarinya sendiri ke sana. Tidak perlu kau harus mengorbankan daganganmu yang menjadi tidak laku
hanya untuk mengantarkan aku.”
“Kongcu, biar saya yang mengantar Kongcu ke sana. Saya juga tahu tempat pedagang kuda itu. Bukankah
yang Nenek maksudkan itu adalah Paman Ciok pedagang kuda di sebelah barat jembatan hijau itu?” tibatiba
pengemis muda itu berkata.
Nenek itu mengangguk dan mengerling ke arah Siluman Kecil. “Benar di sana...“
“Kalau begitu, biar ia ini yang mengantarku, Nek. Terima kasih!” kata Siluman Kecil dan dia lalu pergi
bersama si pengemis muda.
Siluman Kecil makin tertarik kepada pengemis ini. Sungguh tidak seperti pengemis pengemis umumnya.
Memang pakaiannya penuh tambalan, tetapi pakaian itu bersih dan jelas bahwa pakaian itu belumlah
begitu butut sehingga perlu ditambal-tambal. Agaknya seperti pakaian yang masih baru akan tetapi sengaja
ditambal-tambal! Hal ini tentu saja mencurigakan hatinya dan membuat dia menjadi tertarik. Jangan-jangan
bocah pengemis ini mempunyai maksud tertentu dan sengaja mendekatinya, pikirnya. Banyak sekali
orang-orang yang memusuhinya di dunia ini, apa lagi sejak dia dikenal sebagai Siluman Kecil dan banyak
menolong orang-orang yang tertindas sehingga otomatis dia dimusuhi oleh mereka yang ditentangnya.
Akan tetapi, tentu saja dia tidak merasa gentar, hanya tertarik kepada pribadi pengemis cilik ini.
“Siapakah namamu?”
Pengemis itu terkejut, akan tetapi lalu menjawab dengan suara tenang, “Nama saya Hong, dan orangorang
memanggil saya Siauw-hong (Hong Kecil).”
“Kenapa? Engkau tidak begitu kecil tubuhmu.”
“Entahlah, Kongcu. Sejak kecil saya disebut Siauw-hong.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hemmm, di mana tempat tinggalmu?”
“Saya tidak mempunyai tempat tinggal.”
“Dan ayah bundamu?”
Siauw-hong menggeleng kepala. “Tidak punya.”
Siluman Kecil mengerutkan alisnya, kemudian tiba-tiba dia berhenti, memegang pundak pengemis cilik itu
dan menggunakan jari-jarinya untuk menotok jalan darah dekat leher, jalan darah kematian. Pengemis itu
terkejut, cepat-cepat dia miringkan tubuh sehingga pegangan itu meleset dan totokan itu luput.
“Ha, sudah kuduga. Engkau pandai ilmu silat tinggi!” Siluman Kecil berseru.
“Dan Kongcu adalah Siluman Kecil!” pengemis cilik itu berkata.
“Hemmm, ternyata engkau bukan bocah pengemis sewajarnya, seperti pakaianmu yang tambal-tambalan
akan tetapi bersih dan masih baru. Hayo katakan, mau apa engkau membayangi aku?” Siluman Kecil
menghardik.
Pengemis muda itu menjura. “Maafkan saya, Taihiap. Sesungguhnya bukan maksud saya hendak
membayangi, hanya karena sudah lama saya mendengar nama Taihiap dengan penuh kekaguman, maka
begitu melihat Taihiap tadi, saya sudah menduganya dan saya ingin mengenal dan berdekatan dengan
Taihiap. Saya sungguh tidak memiliki maksud buruk dan hendak mengantar Taihiap kepada rumah
pedagang kuda itu.”
“Bagaimana engkau berpakaian pengemis? Apa maksudnya?”
“Maaf, memang saya sengaja dan ini merupakan syarat menjadi murid dari guru saya. Ketahuilah bahwa
sejak kecil saya diserahkan oleh kakek saya yang sekarang entah berada di mana, kepada guru saya itu,
dan setelah saya menjadi muridnya, saya diharuskan berpakaian pengemis untuk memenuhi kebiasaan
nenek moyang dari guru saya.”
“Hemmm, mengapa begitu?” Siluman Kecil makin tertarik.
“Guru saya adalah keturunan pengemis, Taihiap. Oleh karena itu, biar pun sekarang guru saya tidak
menjadi pengemis, akan tetapi semua muridnya diharuskan berpakaian pengemis sebelum tamat belajar
untuk menghormati leluhurnya.”
Siluman Kecil memandang tajam. Dari gerakan anak ini ketika mengelak tadi, dia maklum bahwa anak ini
memiliki dasar ilmu silat tinggi, bukan ilmu silat sembarangan saja, maka guru anak ini tentulah seorang
tokoh besar pula.
“Siapakah gurumu itu, Siauw-hong?”
“Maaf, Taihiap, akan tetapi guru saya tidak pernah mau menyebutkan namanya.”
Siluman Kecil mengangguk-angguk. Dia bisa memaklumi akan hal ini karena memang demikianlah, makin
tinggi pengertian seseorang, makin rendah hati pula wataknya di samping keanehan-keanehan yang tidak
lumrah manusia biasa. Maka dia pun tidak mau mendesak lagi untuk menghormati pendirian guru
pengemis cilik ini.
Akhirnya mereka tiba di tempat si pedagang kuda. Seorang laki-laki berusia empat puluh tahun, bermata
sipit dan berkumis pendek, menyambut kedatangan mereka dan ketika mendengar bahwa Siluman Kecil
datang untuk melihat kuda keturunan Mongol itu setelah diberi tahu oleh nenek penjual sepatu rumput, dia
tersenyum lebar. “Memang benar, Kongcu. Dan kalau bukan bibi saya yang memberi tahu, tidak
sembarangan orang akan saya persilakan melihat dua ekor kuda dagangan saya itu. Kuda simpanan, kuda
tunggangan raja-raja di daerah Mongol!”
Sambil memuji-muji kudanya, orang itu mengantar Siluman Kecil dan Siauw-hong ke kandang kuda. Dan
memang dua ekor kuda itu merupakan kuda-kuda pilihan, tinggi besar dan jelas kelihatan kuat sekali. Yang
seekor berbulu hitam mulus sedangkan yang kedua berbulu putih. Warna bulu mereka begitu mulus dan
dunia-kangouw.blogspot.com
terang sehingga sangat menyolok perbedaan warna bulu mereka. Yang putih adalah kuda betina
sedangkan yang hitam adalah seekor kuda jantan yang kelihatan galak.
“Coba Kongcu lihat tanda di paha kiri mereka ini!” kata si tukang kuda.
Siluman Kecil melihat dan di paha kedua ekor kuda itu, di paha belakang yang kiri, terdapat capnya, yaitu
ukiran kepala naga yang tentu saja kasar karena dibuat dengan menempelkan besi membara yang
bergambarkan kepala naga di bagian paha itu.
“Apa artinya gambar ini?” tanya Siluman Kecil.
“Itu adalah tanda bahwa sepasang kuda ini adalah bekas milik raja Mongol, seorang di antara raja-raja liar
di antara suku bangsa Nomad di Mongol sana dan agaknya raja itu memuja naga. Atau mungkin juga dua
ekor kuda ini adalah keturunan Liong-ma (Kuda Naga) yang terkenal itu. Pendeknya, bukan kuda
sembarangan, Kongcu, dan kalau Kongcu dapat memiliki seekor kuda ini, Kongcu sungguh beruntung.
Akan tetapi, saya anjurkan Kongcu memilih yang putih.”
“Yang betina? Mengapa?”
“Karena dua ekor kuda ini memang mempunyai keanehan. Yang putih ini agaknya hanya mau menjadi
jinak kalau dinaiki oleh seorang pria! Sedangkan yang jantan, yaitu yang hitam ini, hanya mau menjadi
jinak kalau dinaiki oleh seorang wanita!”
“Ah, sungguh luar biasa!” Siluman Kecil berseru dan pengemis kecil itu tertawa.
“Ha-ha-ha, kalau begitu mereka adalah kuda-kuda yang cabul!” seru Siauw-hong.
“Hushhhh, jangan sembarangan saja kau, Siauw-kai (Pengemls Cilik)!” Pedagang kuda itu menghardik.
“Omongannya itu ada benarnya,” kata Siluman Kecil membela Siauw-hong.
“Tidak, Kongcu. Sama sekali tidak benar. Dua ekor kuda ini bukanlah kuda cabul, akan tetapi adalah kuda
yang sudah terlatih matang di tempat asalnya. Dengan wataknya yang aneh itu, kita dapat menarik
kesimpulan bahwa tentu kuda hitam ini dahulu adalah kuda tunggangan seorang permaisuri dan dilatih
sedemikian rupa, sehingga dia tidak mau ditunggangi seorang pria, maka hanya sang permaisuri sajalah
yang dapat menungganginya. Mana boleh kuda tunggangan seorang permaisuri ditunggangi seorang pria?
Dan demikian pula dengan kuda putih ini, tentu dahulunya menjadi kuda tunggangan seorang raja.”
Siluman Kecil mengangguk-angguk. Biar pun cerita itu agaknya terlalu dibuat-buat, akan tetapi masuk akal
juga.
“Saya tidak percaya!” Tiba-tiba Siauw-hong berkata. “Saya yakin bahwa kuda hitam itu lebih baik karena
dia jantan. Lebih baik Kongcu memilih yang jantan saja.”
“Eh, kau berani tidak percaya kepadaku, Siauw-kai? Kau menyuruh Kongcu naik kuda hitam kemudian
dibantingkan?” bentak si tukang kuda.
“Masa dibantingkan! Kuda itu kelihatan begitu jinak!” Siauw-hong membantah.
“Kalau tidak percaya, boleh kau coba naik di punggungnya!” tantang si tukang kuda.
“Baik, akan saya tunggangi dia!” Siauw-hong menerima tantangan itu.
“Siauw-hong, apakah kau bisa menunggang kuda?” Siluman Kecil bertanya khawatir.
Siauw-hong tersenyum dan anak ini kelihatan tampan sekali kalau tersenyum. “Jangan khawatir, Taihiap,
sejak kecil saya sudah biasa menunggang kuda dan entah sudah ada berapa ratus ekor kuda jantan yang
saya tunggangi, maka saya tidak percaya kalau ada kuda jantan tidak mau ditunggangi seorang pria!”
“Kau bocah sungguh bermulut besar. Boleh kau coba si Hitam, akan tetapi Kongcu ini menjadi saksi dan
saya tidak mau dipersalahkan kalau nanti kau dibantingkan dan punggungmu patah,” kata si tukang kuda.
dunia-kangouw.blogspot.com
Siauw-hong tertawa, lalu dia menuntun kuda hitam itu keluar kandang. Kelihatan si Hitam ini memang
cukup jinak dan menurut saja ketika dituntun keluar. Dengan gerakan cekatan tanda bahwa dia memang
biasa menunggang kuda, Siau-whong lalu meloncat ke atas punggung kuda hitam yang tinggi itu. Dan
mulailah si Hitam itu memperlihatkan keliarannya. Dia meringkik keras, mendengus-dengus marah lalu
berloncatan ke atas, berdiri di atas kedua kaki, meloncat lagi dan membuat punggungnya jadi melengkung,
bergerak ke kanan kiri dan membuat gerakan dengan punggung untuk melemparkan Siauw-hong yang
duduk di atas punggungnya.
Siauw-hong ternyata memang seorang ahli menunggang kuda. Kalau lain orang yang menunggangi
punggung kuda hitam yang mengamuk itu, tentu takkan dapat bertahan lama dan sudah terlempar sejak
tadi. Akan tetapi Siauw-hong juga memperlihatkan kelihaiannya. Meski beberapa kali tubuhnya kelihatan
hampir terlempar dari punggung, namun ternyata dia masih dapat turun lagi duduk di atas punggung sambil
memegangi kendali dengan cekatan.
Siluman Kecil menonton dengan hati tegang. Kembali dia dibuat kagum, sekali ini dibuat kagum oleh
Siauw-hong dan juga oleh kuda itu. Benar-benar seekor kuda yang amat aneh, terlatih baik sekali dan
penuturan pedagang kuda ini ternyata tidak bohong. Kuda jantan ini benar-benar tidak sudi ditunggangi
oleh seorang pria! Sekarang kuda itu mengeluarkan suara ringkikan yang rendah mirip gerengan harimau
dan tiba-tiba dia membanting diri ke kanan dan membuat gerakan bergulingan!
“Awas, Siauw-hong...!” Mau tak mau Siluman Kecil memekik. Dia sudah siap menolong karena keadaan
pengemis muda itu benar-benar amat berbahaya.
“Kuda iblis...!” Siauw-hong berteriak dan tubuhnya terlempar, tetapi dengan gerakan pok-sai (salto) dia
berhasil turun ke atas tanah dengan kaki lebih dulu. Dia mengebut ngebutkan pakaiannya dan mengomel,
“Taihiap, kuda iblis itu berbahaya sekali!”
Pedagang kuda tertawa menyeringai, tetapi tidak berani bicara sembarangan karena dia pun sekarang
tahu bahwa pengemis cilik itu bukan orang sembarangan setelah dia melihat betapa pengemis itu tadi
dapat menyelamatkan diri secara luar biasa. Dia menuntun kuda hitam yang sudah jinak kembali begitu
punggungnya tidak ditunggangi orang!
“Kuda yang baik sekali!”
Mereka bertiga menoleh dan melihat seorang pemuda yang berwajah tampan sekali, berpakaian
mentereng dan bersikap lincah memasuki tempat itu dan memuji si kuda hitam yang liar tadi, Siluman Kecil
memandang penuh perhatian. Pemuda itu usianya tentu masih amat muda, mungkin baru belasan tahun,
tetapi sinar matanya memandang penuh perhatian, dan melihat pakaiannya yang indah dan serba baru,
mudah diduga bahwa pemuda ini tentulah putera seorang hartawan besar atau setidaknya putera seorang
bangsawan! Tubuhnya kecil, akan tetapi kelihatan gesit, tanda bahwa pemuda hartawan ini tentu ‘berisi’,
yaitu pernah berlatih silat. Di belakang pemuda ini berjalan seorang anak laki-laki yang membawa
buntalan.
Pedagang kuda itu bermata tajam, tentu saja dia segera mengenal seorang hartawan. Maka sambil
menuntun kuda hitam dia menghampiri dan menjura, “Kuda yang manakah yang Kongcu anggap baik?”
tanyanya.
“Mana lagi kalau bukan kuda yang kau tuntun itu,” jawab si pemuda tampan sambil memandangi kuda
hitam dengan mata bersinar-sinar. “Ini kuda Mongol tuan!” serunya sambil mendekati kuda itu, mengelus
leher kuda itu dengan tangannya.
“Apakah Kongcu ingin membeli kuda?” tanya pula si pedagang kuda.
“Benar, aku membutuhkan dua ekor kuda untuk aku dan pelayanku ini, karena aku hendak pergi ke Cengcouw,
untuk memasuki ujian pengawal gubernur!”
Siluman Kecil merasa tertarik sekali. Benar dugaannya bahwa pemuda ini tentu memiliki kepandaian silat,
kalau tidak tentu tidak akan ikut-ikut memasuki ujian pengawal.
Pedagang kuda itu tersenyum lebar dan matanya berseri girang. Hari baik rupanya hari ini bagi dia. Sepagi
itu sudah banyak orang datang hendak membeli kuda!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kongcu tidak salah kalau mencari kuda di sini!” katanya.
“Aku suka sekali dengan kuda hitam ini, berapa harganya? Akan kubeli dia!” kata si kongcu yang masih
mengelus-ngelus kuda itu.
Si pedagang kuda kelihatan kaget. “Ohhh, jangan yang ini, Kongcu! Apakah Kongcu tadi tidak melihat
betapa liarnya dia? Kuda ini pantang ditunggangi oleh seorang pria. Dia adalah bekas tunggangan seorang
permaisuri suku Nomad di Mongol, sudah terlatih untuk menolak kalau ditunggangi seorang pria.
Sebaliknya, kuda putih itu pantang ditunggangi seorang wanita. Maka, kalau Kongcu membutuhkan kuda,
sebaiknya yang putih itu...ehh, kalau belum jadi dibeli oleh Kongcu itu yang datang lebih dulu.”
Pemuda tampan itu sekarang memandang kepada Siluman Kecil, menghampiri dan tersenyum, lalu
menjura. Tentu saja Siluman Kecil juga cepat membalas penghormatan orang itu. “Apakah engkau juga
hendak membeli kuda putih itu, Sobat?” Pertanyaan ini diajukan dengan sikap ramah sekali sehingga biar
pun Siluman Kecil tidak ingin berkenalan dengan orang itu, terpaksa dia menjawab dengan anggukan
kepala.
“Agaknya engkau hendak melakukan perjalanan cepat dan jauh pula, Sobat.”
“Saya...kami hendak pergi ke selatan...!”
“Ahh! Betapa kebetulan sekali! Tidak dicari-cari, di sini bertemu dengan seorang teman seperjalanan!
Sobat yang baik, kalau begitu mari kita melakukan perjalanan bersama. Sungguh menyenangkan sekali!
Aku bisa mendapatkan seorang teman untuk bercakap cakap di perjalanan!”
Siluman Kecil mengerutkan alisnya. Dia tidak ingin melakukan perjalanan dengan orang lain yang tidak
dikenalnya. Pula, memang selama ini dia selalu menjauhkan diri dari pergaulan umum.
“Terima kasih atas kebaikan saudara,” jawabnya. “Akan tetapi saya masih mempunyai banyak kepentingan
lain.”
Penolakan halus diterima oleh pemuda tampan itu dengan senyum. “Tidak mengapa. Engkau boleh
menyelesaikan semua kepentinganmu lebih dahulu, baru kita berangkat bersama.”
Siluman Kecil tidak menjawab lagi, melainkan menoleh kepada pedagang kuda itu. “Paman, berapakah
harganya kuda putih itu?”
“Tiga ratus tael perak,” jawab si pedagang kuda.
“Wah, masa ada kuda harganya sekian?” Siauw-hong berseru. “Biasanya, seekor kuda tidak akan lebih
dari seratus tael perak harganya!”
Si pedagang kuda menyeringai. “Siauw-kai, walau pun omonganmu itu ada benarnya, akan tetapi dua ekor
kuda ini bukanlah kuda biasa! Coba dibayangkan, berapa biayanya mengambil dua ekor kuda ini dari
tempat asalnya! Kongcu, harganya tiga ratus tael perak, tidak boleh kurang satu tael pun.”
Siluman Kecil tidak tahu akan harga kuda, akan tetapi terdengar pemuda tampan itu berkata, “Tiga ratus
tael tidaklah mahal untuk seekor kuda seperti itu.”
Mendengar ini, Siluman Kecil mengerutkan alisnya. Uang baginya bukan apa-apa, apa lagi uang itu adalah
pemberian orang untuk bekal. Dia tidak membutuhkan banyak uang, justeru hanya memberatkan saja.
Tiba-tiba dia terkejut bukan main dan baru teringat bahwa dia tidak merasakan sesuatu yang berat di
buntalannya! Karena dia tidak pernah memikirkan uang, dan jarang sekali membawa uang banyak, maka
dia tidak merasakan perbedaan itu! Dia mengangkat buntalannya, menimbang-nimbang dan jantungnya
berdebar. Benar saja, buntalannya sudah tidak berat lagi! Padahal seingatnya, uang bekal yang diberikan
oleh hartawan itu kepadanya amat berat! Cepat dia membuka buntalannya dan dia menahan napas. Uang
itu telah lenyap! Dia telah diberi beberapa potong uang emas dan banyak uang perak oleh hartawan itu,
yang rasanya cukup banyak untuk membeli kuda itu. Akan tetapi ternyata uang itu lenyap sama sekali,
tidak ada sisanya barang satu potong pun! Dan dia tidak merasakan kehilangan itu!
“Celaka...!” serunya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Taihiap, ada apakah...?” Siauw-hong bertanya sambil mendekati.
“Uangku lenyap!”
“Ahhh...!” Siauw-hong juga memandang bingung.
Pemuda tampan itu menghampiri Siluman Kecil dan bertanya, “Sobat, apa yang telah terjadi?”
Siluman Kecil menggeleng kepala. “Entah bagaimana, uangku yang berada di dalam buntalan ini lenyap
semua tanpa kusadari. Aku lupa bahwa aku membawa uang, maka ketika lenyap aku tidak tahu...”
“Hemmm...” Si pedagang kuda berkata dan alisnya berkerut, matanya memandang penuh kecurigaan
kepada Siluman Kecil dan Siauw-hong.
“Kalau begitu, biarlah aku yang membayarnya! Hei, pedagang kuda, berikan kuda putih itu kepada sobatku
ini dan kuda hitam itu kubeli, lalu sediakan dua ekor kuda lain untuk pembantu-pembantu kami!” Pemuda
itu cepat mengeluarkan sekantung uang emas dari buntalannya yang tadi dibawa oleh kacungnya.
“Ah, tidak usah, Saudara... biar kami jalan kaki saja...,“ kata Siluman Kecil.
“Sobat yang baik, kita sudah menjadi sahabat dan calon teman seperjalanan, mengapa banyak sungkan?”
“Aku tidak mau menerima pemberian dari orang yang tidak kukenal dan...”
“Kalau begitu perkenankan, aku she Kang, bernama Swi,” katanya.
“Tetapi...”
“Kalau kau segan menerima pemberianku, biarlah kuda itu kau pinjam saja!”
Siluman Kecil tidak dapat menolak lagi, merasa tidak enak kalau harus menolak terus kebaikan orang yang
kelihatannya demikian tulus dan ikhlas.
“Kalau begitu, baiklah, Saudara Kang Swi. Terima kasih atas kebaikanmu,” katanya sambil menjura.
“Akan tetapi saya bukanlah pembantu Taihiap ini, saya hanya mengantarnya sampai ke sini saja,” kata
Siauw-hong.
Pemuda tampan itu menoleh kepadanya. “Aku melihat engkau tadi pandai sekali menunggang kuda, tentu
engkau pandai pula merawat kuda, bukan? Nah, bagaimana kalau kau kuangkat sebagai perawat kuda?
Berapakah gaji yang kau minta, tentu akan kupenuhi.”
Siauw-hong mengangkat dadanya dan menjawab, “Saya menerima permintaan Kongcu, tetapi bukan
karena besarnya gaji, melainkan karena saya memang ingin meluaskan pengalaman ke selatan.”
“Jadi kau terima?” tanya kongcu itu dengan girang, tetapi ada sinar keheranan melihat sikap pengemis
muda itu, yang demikian angkuh sikapnya. “Paman, cepat pilihkan dua ekor kuda lain selain si Putih dan si
Hitam ini, dan hitung berapa yang harus kubayar kepadamu.”
Tentu saja si pedagang kuda menjadi girang bukan main. Sungguh mujur dia. Hari ini bertemu dengan
kongcu yang kaya dan begini royal, membeli kuda tanpa menawar lagi! Tentu saja dia tidak mau
mencelakakan seorang langganan yang begini royal, maka dia berkata, “Akan saya pilihkan seekor kuda
yang terbagus untuk Kongcu...“
“Aku sudah memilih si Hitam ini!” jawab kongcu itu.
“Ahhh, jangan, Kongcu! Baru saja Siauw-kai ini hampir terbanting mati oleh kuda itu!”
Siauw-hong juga berkata, “Sebaiknya Kongcu mengambil lain kuda. Kuda hitam ini adalah kuda iblis, atau
kuda porno...“
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ehh, kuda porno (cabul)...?” Kongcu itu bertanya dan memandang Siauw-hong dengan alis berkerut.
“Habis, kuda jantan ini hanya mau ditunggangi seorang wanita! Cabul dia!” Siauw-hong berkata dan
memandang kepada kuda hitam itu dengan hidung dikernyitkan.
Kongcu itu tertawa. “Kalian semua tidak tahu rahasianya. Aku sudah pernah memiliki seekor kuda seperti
ini dan kalau tidak tahu rahasianya, memang jangan harap dapat menjinakkan dia.”
“Kau hendak mengatakan bahwa kau dapat menundukkan dia?” Siluman Kecil bertanya penuh keheranan.
Dia melihat sendiri tadi betapa Siauw-hong yang merupakan seorang ahli menunggang kuda, hampir
celaka. Apakah pemuda halus yang kaya raya dan royal ini memiliki ilmu menunggang kuda yang lebih
mahir dari pada Siauw-hong? Agaknya tak mungkin. Dia sendiri pun harus mengakui bahwa dalam
menunggang kuda, belum tentu dia mampu menandingi Siauw-hong dan dia akan berpikir dua kali untuk
menunggangi kuda liar macam si Hitam itu.
“Tentu saja,” kata pemuda royal itu tersenyum. “Kalau tidak, untuk apa kubeli?”
“Tapi... tapi dia benar-benar berbahaya sekali,” kata Siluman Kecil.
“Aku mengerti bagaimana harus menguasainya, harap kau jangan khawatir, Sobat.”
Namun ketika pemuda tampan itu hendak memegang kendali kuda hitam dari tangan pedagang kuda, si
pedagang berkata ragu, “Wah, bagaimana kalau sampai Kongcu terbanting jatuh dan... dan celaka? Siapa
akan membayar kuda-kuda saya?”
Kongcu itu tertawa. “Hitunglah dan akan kubayar sekarang juga. Kalau seandainya nanti aku dibanting mati
oleh kuda ini, kau tidak akan rugi apa-apa.”
Wajah pedagang kuda itu menjadi merah. “Bukan... bukan maksudku begitu... tetapi sebaiknya Kongcu
jangan mencoba-coba untuk menunggang ini, dia sungguh tidak mau ditunggangi oleh pria.”
Akan tetapi pemuda itu tidak melayaninya lagi, melainkan mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar
empat ekor kuda. Kemudian dia berkata sambil menuntun si Hitam, “Kalian semua lihatlah bahwa aku tidak
sedang main-main. Aku tahu bagaimana harus menundukkan kuda Mongol yang terlatih ini.”
Setelah berkata demikian, dia lalu mengusap-usap kepala kuda hitam itu, mendekatkan mulutnya pada
telinga kiri kuda itu dan mengeluarkan kata-kata asing dalam bahasa Mongol. Mulutnya komat-kamit dan
terdengar kata-kata aneh seperti mantra.
Siluman Kecil mengerti juga bahasa Mongol, akan tetapi karena bahasa dari suku bangsa Nomad banyak
sekali macamnya, maka dia tidak merasa heran mendengar bahasa yang mirip bahasa Mongol akan tetapi
tidak dimengertinya, yang keluar dari mulut pemuda tampan itu. Akan tetapi dia melihat betapa kuda hitam
itu menggoyang goyangkan ekornya ke kanan kiri dan kelihatan gembira dan jinak! Kemudian, dengan
gerakan ringan sekali tanda bahwa pemuda tampan itu memiliki ginkang yang tinggi, pemuda itu meloncat
ke atas punggung kuda. Semua orang, terutama Siuaw-hong, memandang dengan hati berdebar tegang,
menduga bahwa tentu si Hitam itu akan meloncat-loncat, meringkik dan membungkukkan punggung. Akan
tetapi sungguh aneh! Kuda itu tetap berdiri diam dan tenang-tenang saja, bahkan ekornya masih
bergoyang goyang!
Pemuda tampan itu tertawa. “Nah, masih tidak percayakah kalian kepadaku? Kuda ini memang terlatih
untuk menentang ditunggangi pria, akan tetapi ada rahasianya untuk menjinakkan dia dan aku mengenal
rahasia itu. Sobat, marilah kita berangkat. A-cun, dan kau, Siauw-kai...“
“Nama saya Siauw-hong, Kongcu!” kata Siauw-hong, tidak senang disebut Siauw-kai (Pengemis Cilik).
“Dan saya tidak pernah mengemis.”
“Ahhh, engkau seorang bocah aneh, tidak kalah anehnya dengan kuda ini dan sahabat itu!” Si pemuda
tampan menunjuk ke arah Siluman Kecil yang sudah meloncat naik ke atas punggung si Putih. Dan
memang benar kata-kata si pedagang kuda, Si Putih itu tenang-tenang saja ketika punggungnya
ditunggangi oleh Siluman Kecil, seorang pria!
dunia-kangouw.blogspot.com
Mereka berempat lalu berangkat meninggalkan si tukang penjual kuda yang terus berdiri bengong, masih
terheran-heran menyaksikan mereka. Baru hari itu dia memperoleh keuntungan besar di samping
keheranannya bertemu dengan orang-orang yang begitu aneh. Si pengemis yang pandai menunggang
kuda, si kongcu yang masih muda akan tetapi sudah putih semua rambutnya, dan si kongcu royal yang
ternyata seorang ahli yang luar biasa dalam menaklukkan kuda hitam itu! Akhirnya dia menggeleng-geleng
kepala dan berjalan masuk sambil menggenggam uang emas yang memenuhi saku bajunya.
Sementara itu, Siluman Kecil yang menunggang kuda si Putih menjalankan kudanya berendeng dengan
pemuda tampan bernama Kang Swi yang menunggang kuda si Hitam. Mereka menjalankan kuda secara
perlahan-lahan karena Siluman Kecil sedang melamun dan agaknya Kang Swi juga tidak tergesa-gesa. Acun,
kacung dari Kang Swi, dan Siauw-hong, menjalankan kuda di belakang mereka dan Siauw-hong
kelihatan gembira sekali, sikapnya sama sekali tidak seperti seorang jembel biar pun pakaiannya tambaltambalan,
melainkan seperti seorang jenderal perang menunggang kuda dan memeriksa barisan!
Siluman Kecil mengerutkan alisnya, mengingat-ingat dan memutar otak, mencari-cari ke mana lenyapnya
uangnya yang banyak itu. Sungguh memalukan, juga mengherankan. Dia bukan seorang anak kecil yang
pelupa, bukan pula seorang yang lemah sehingga uang yang berada di dalam buntalan pakaiannya dapat
lenyap begitu saja! Dia adalah seorang pendekar yang amat terkenal, dijuluki orang Siluman Kecil, akan
tetapi pada kenyataannya uangnya dicuri orang dari dalam buntalannya tanpa dia ketahui! Sungguh
menggemaskan!
Dia mengepal tinju. Tanpa disadarinya, mulutnya mengeluarkan suara, “Hemmmm!”
Terdengar suara tertawa ditahan dan ketika dia menoleh, dia melihat Kang Swi melirik ke arahnya sambil
tersenyum-senyum, senyum yang kelihatan seperti orang mengejek.
“Huh, bocah ini sikapnya manja dan sombong bukan main!” pikirnya. Akan tetapi tentu saja dia merasa
tidak enak kalau memperlihatkan rasa gemasnya karena betapa pun juga, hartawan muda ini telah
membelikan kuda untuknya dan Siauw-hong!
“Tidak mungkin uang itu lenyap begitu saja,” bisik hatinya dan kembali dia tenggelam dalam renungan.
Ketika dia membayar sepatu rumput, uang itu masih ada. Dia ingat benar. Dan sesudah itu, dia hanya
berdekatan dengan si nenek penjual sepatu rumput yang agak tuli dan pengemis muda, Siauw-hong itu.
Siau-whong tidak mungkin mengambil uangnya, biar pun dia tahu bahwa Siauw-hong juga bukan anak
biasa, melainkan seorang anak yang memiliki kepandaian. Siauw-hong bukan pencuri uangnya. Anak ini
kelihatan jujur dan tidak membawa apa-apa di dalam bajunya yang penuh tambalan itu, dan semenjak
bertemu di tempat penjual sepatu rumput, anak ini tidak pernah berpisah dari sampingnya. Bukan, bukan
Siauw-hong yang mencuri uang itu.
Kalau begitu, tidak ada orang lain, tentu si nenek itu! Si nenek yang mencurigakan sekali sekarang,
sikapnya yang ramah dan aneh, bicaranya yang membujuk-bujuk, yang sering harus dia dekati karena
tidak mendengar kata-katanya, gerak-geriknya yang aneh dan akhirnya nenek itu tadi menggulung tikarnya
hendak kukut dan mengantar dia ke tempat pedagang kuda. Dan sekarang dia teringat betapa nenek itu
kadang-kadang tidak mendengar omongannya, akan tetapi kadang-kadang seperti tidak tuli, sikapnya aneh
dan penuh rahasia. Menjual sepatu rumput di luar kota, di jalan yang hanya dilalui orang-orang dusun yang
tidak akan pernah mau membeli sepatu seperti itu, seolah-olah memang sengaja menghadangnya!
Teringat akan semua itu, tiba-tiba dia menghentikan kudanya.
“Ehh, ada apakah?”
“Saya harus kembali sebentar!” Siluman Kecil berkata.
“Hemmm, mau mencari uangmu yang hilang?” Kang Swi bertanya sambil tersenyum simpul. “Tak ada
gunanya. Ke mana engkau hendak mencari uangmu itu di dunia yang begini luas?” Dia mengebutkan ujung
bajunya dengan sikap agung-agungan.
“Siauw-hong, nenek itu!” Siluman Kecil menoleh kepada pengemis muda dan Siauw-hong juga
mengangguk, seolah-olah baru ingat bahwa mungkin sekali uang majikannya itu dicuri oleh nenek penjual
sepatu rumput yang aneh itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Mungkin sekali, Taihiap!” kata Siauw-hong.
“Terlambat, Sobat!” kata kongcu tampan itu sambil menggerak-gerakkan cambuknya. “Dia sudah pergi.
Bukankah kau maksudkan nenek si penjual sepatu rumput yang tuli itu? Lihat, sepatu yang dipakai A-cun
itu adalah sepatu terakhir yang saya beli darinya,” katanya menunjuk ke belakang dan Siluman Kecil
melihat sepatu rumput yang dipakai oleh kaki kacung itu.
Siluman Kecil memandang dengan sinar mata penuh selidik kepada Kang Swi. Dia harus berhati-hati.
Pemuda tampan ini tidak kalah anehnya dari pada si nenek penjual sepatu rumput! Seorang pemuda yang
sikapnya begitu baik kepadanya, yang tahu segala!
“Hemmm, Saudara Kang, bagaimana kau tahu bahwa nenek itu yang kumaksudkan?”
Kang Swi tertawa. “Ha-ha, jangan kau memandang kepadaku seperti itu, Kawan! Aku menjadi takut
karenanya! Kau memandang kepadaku seolah-olah akulah si pencuri uangmu itu! Tentu saja aku tahu.
Begitu mudahnya! Jangan engkau memandang ringan kepadaku. Lihat, engkau memakai sepatu rumput
yang baru, dan kau tadi menyebut nenek, maka setiap orang pun tentu akan dapat menduga nenek yang
mana yang kau maksudkan,” jawabnya dengan sikap tenang sekali.
Siluman Kecil mengangguk-angguk. “Engkau sungguh cerdik.”
“Sama sekali tidak. Hanya aku menggunakan otak dan engkau yang terlalu memandang ringan kepadaku.
Bukan hanya itu saja, aku pun dapat menduga siapa adanya engkau, Sahabatku!”
“Eh?” Siluman Kecil kembali menatap wajah tampan itu dengan tajam. “Siapa kiranya?”
“Aku berani bertaruh seribu tael bahwa engkau adalah pendekar yang dijuluki orang Siluman Kecil.”
Siluman Kecil cepat menggerakkan kepalanya sehingga rambutnya yang putih itu sebagian menutupi
mukanya. Dia terkejut dan tercengang. Benar-benar pemuda ini aneh dan cerdik bukan main. Dia harus
berhati-hati!
“Bagaimana kau tahu? Menggunakan otak pula ataukah hanya kira-kira saja?”
“Aku tidak pernah mau bertindak ceroboh. Segalanya harus kupikirkan masak-masak baru aku berani
mengambil kesimpulan. Dengar alasanku, Sobat. Aku sudah sering mendengar tentang Siluman Kecil,
yang kabarnya masih muda akan tetapi rambutnya sudah putih semua. Sekarang, aku bertemu dengan
engkau. Engkau masih muda, rambutmu seperti benang-benang perak, gerak-gerikmu penuh rahasia, dan
Siauw-kai... ehhh, Siauw-hong itu menyebutmu Taihiap. Siapa lagi kau kalau bukan Siluman Kecil yang
tersohor itu?”
“Saudara Kang Swi, engkau memang cerdik sekali,” Siluman Kecil kembali memuji. “Aku harus kembali
dulu untuk mencari nenek itu.”
“Taihiap... hemmm, setelah benar bahwa engkau adalah Siluman Kecil, aku harus menyebutmu Taihiap!
Taihiap, percuma saja kalau kau hendak mencari nenek itu.”
“Mengapa kau berkata demikian?”
“Seorang yang dapat mencuri uangmu tanpa kau ketahui, tentulah bukan orang yang sembarangan, dan
dia tentu tahu bahwa dia telah mencuri uang dari Taihiap, maka setelah berhasil, apakah dia akan menanti
di sana sampai Taihiap kembali ke sana dan menghajarnya? Kurasa dia tidaklah begitu bodoh, Taihiap,
dan sekarang ini tentu dia sudah pergi jauh sekali, jauh dari kota An-yang. Mencari dia di sana sama
dengan membuang-buang waktu, sedangkan kita harus cepat tiba di Ceng-couw karena besok ujian itu
sudah dimulai!”
Siluman Kecil terpaksa membenarkan pendapat ini, tetapi mendengar ucapan terakhir itu dia berkata, “Aku
tidak ingin mengikuti ujian itu.”
“Ahhh, tentu saja tidak. Mana mungkin seorang pendekar sakti seperti Taihiap hendak merendahkan dlri
menjadi seorang pengawal? Akan tetapi, kurasa amat penting bagi Taihiap untuk pergi secepatnya ke
Ceng-couw jika Taihiap hendak menyelidiki tentang lenyapnya uang Taihiap itu.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ehhh?” Siluman Kecil memandang heran dan tidak mengerti.
“Taihiap, setiap orang yang memiliki kepandaian tentu akan tertarik oleh sayembara memasuki ujian
pengawal itu, dan kurasa nenek tuli itu pun tidak terkecuali. Kurasa di Ceng-couw itulah satu-satunya
tempat di mana Taihiap dapat mengharapkan untuk bertemu kembali dengan dia.”
Siluman Kecil mengangguk dan memandang kagum. “Kau benar, mari kita berangkat!”
Dan dia pun membedal kuda putih itu dengan cepat. Kongcu tampan itu tertawa dan membedal si Hitam
untuk mengejar. Keduanya membalapkan dua ekor kuda itu sampai akhirnya mereka terpaksa berhenti dan
menanti dua orang pelayan yang berteriak-teriak karena tertinggal jauh.
Ternyata kemudian oleh Siluman Kecil betapa menyenangkan melakukan perjalanan dengan Kang Swi,
pemuda kaya yang royal itu. Mereka selalu makan di rumah makan besar dan kongcu itu memesan
masakan-masakan yang termahal dan terbaik, bersikap royal sekali dan ternyata dia merupakan seorang
dermawan besar. Setiap orang pengemis yang meminta selalu diberi uang yang tidak tanggung-tanggung
banyaknya. Siauw-hong yang menjadi tukang kuda sampai mengacungkan jempolnya saking girang dan
kagum terhadap Kang Swi.
“Kang-kongcu benar-benar seorang yang dermawan!” ia memuji. “Saya ikut menyatakan terima kasih atas
kebaikan Kongcu terhadap para pengemis itu.”
Akan tetapi Kang Swi tersenyum dan tidak kelihatan bangga, malah menjawab, “Aku dapat mencari uang
dengan mudah sekali. Begini banyak uang untuk aku sendiri apa gunanya? Lebih baik kubagi-bagi kepada
mereka yang membutuhkan!”
Siluman Kecil merasa makin kagum terhadap teman seperjalanan yang amat aneh ini. Memang bocah itu
manja dan agak sombong, pikirnya, tinggi hati dan penuh rahasia, akan tetapi harus diakuinya bahwa Yang
Swi memang berwatak dermawan.
Yang amat kagum dan senang hatinya adalah Siauw-hong. Baru sekarang dia melihat dengan mata kepala
sendiri betapa di dunia ini banyak pula orang-orang yang berbaik hati. Dalam beberapa hari saja dia sudah
bertemu dengan tiga orang yang selain gagah perkasa dan aneh, juga amat baik.
Pertama-tama dia bertemu dengan laki-laki berlengan sebelah yang menjamu para pengemis cilik dengan
royal, kemudian ada Siluman Kecil yang telah tersohor sebagai seorang pendekar budiman, dan kini
pemuda yang sikapnya penuh lagak dan agung-agungan ini ternyata lebih baik hati lagi.
Kota Ceng-couw di Propinsi Ho-nan hari itu kelihatan ramai sekali, jauh lebih ramai dari pada biasanya.
Banyak orang luar kota membanjiri kota ini dan pagi-pagi sekali sudah banyak orang berduyun-duyun
memasuki halaman yang luas di depan istana gubernur. Mereka semua ingin menonton ujian pemilihan
calon pengawal dan prajurit.
Gubernur Ho-nan, yaitu Kui Cu Kam, tinggal di Lok-yang, yaitu kota yang menjadi ibu kota Ho-nan, tetapi
dia mempunyai istana di Ceng-couw dan di kota inilah pemilihan prajurit itu diadakan. Seperti telah
diketahui, Gubernur Ho-nan ini diam-diam memiliki keinginan untuk menanam kekuasaannya di Ho-nan,
lepas dari kedaulatan kaisar.
Untuk keperluan ini, selain bersekongkol dengan semua pihak yang anti kerajaan, juga dia berusaha
mengumpulkan orang-orang gagah yang berkepandaian tinggi sebanyak mungkin. Untuk keperluan itu pula
maka dia lalu memerintahkan untuk mengadakan sayembara pemilihan calon pengawal di Ceng-couw itu
dan untuk urusan ini, dia telah menugaskan kepada Ho-nan Ciu-lo-mo Wan Lok It, jagoannya yang terkenal
lihai itu, untuk membantu pembesar di Ceng-couw dalam mengawasi jalannya sayembara atau ujian
pemasukan pengawal itu.
Karena banyaknya tamu dari luar kota, bukan hanya mereka yang ingin memasuki sayembara akan tetapi
juga mereka yang ingin menonton, maka kota Ceng-couw menjadi sibuk sekali. Semua rumah penginapan,
besar kecil, penuh dengan tamu, juga semua warung makan penuh dengan tamu sehingga banyak
penduduk kota Ceng-couw hari itu benar-benar mengalami panen besar!
dunia-kangouw.blogspot.com
Karena banyaknya orang-orang aneh, jagoan-jagoan kang-ouw, memasuki kota Ceng-couw di hari itu,
maka munculnya Siluman Kecil dan Kang Swi bersama dua orang pembantu mereka, tidak begitu
menyolok dan menarik perhatian banyak orang, meski pun dua ekor kuda mereka, si Hitam dan si Putih,
menimbulkan kekaguman banyak orang, terutama mereka yang mengenal kuda baik.
Akan tetapi, Kang Swi sejak tadi bersungut-sungut dan marah-marah karena semua rumah penginapan
telah penuh. Sukar bagi mereka untuk memperoleh kamar di rumah penginapan. Akhirnya Kang Swi turun
tangan sendiri, tidak mengandalkan dua orang pelayan itu untuk menanyakan kamar di rumah penginapan.
Dia mendatangi sebuah rumah penginapan yang besar dan langsung dia menemui pemilik rumah
penginapan itu.
“Saudara Kang, bukankah tadi A-cun dan Siauw-hong sudah menanyakan dan di situ sudah penuh pula?”
Siluman Kecil menegur temannya itu ketika mereka turun dari atas punggung kuda di depan sebuah rumah
penginapan besar.
“Hemmm, ingin kulihat sendiri apakah benar-benar sudah penuh semua, Taihiap.”
“Sssttttt, harap Saudara Kang jangan menyebut aku Taihiap di tempat ramai ini, hal itu hanya akan menarik
perhatian orang saja,“ Siluman Kecil berkata.
Kang Swi tersenyum, senyum pertama sejak dia merengut dan marah-marah karena belum memperoleh
kamar tadi. Matanya lalu berkedip-kedip menggoda, “Kenapa sih? Bukankah Taihiap memang pendekar
sakti yang terkenal itu?”
“Sudahlah, aku tidak ingin dikenal orang.”
“Kalau begitu, karena engkau lebih tua dari pada aku, aku akan menyebutmu Twako (Kakak), akan tetapi
siapa namamu?”
“Kau boleh menyebutku Twako, dan aku...aku tidak punya nama.”
Kang Swi tertawa lagi. “Engkau sungguh seorang manusia aneh penuh rahasia, Twako. Nah, aku akan
mencari kamar.” Dia lalu berjalan memasuki penginapan besar itu sambil membawa kantung uangnya. Tak
lama kemudian keluarlah dia dengan wajah berseri.
“Aku berhasil mendapatkan sebuah kamar!” teriaknya.
“Ehh! Tadi saya sendiri yang menanyakan dan para pengurus itu bilang kamar telah penuh semua!” Siauwhong
berseru dengan penasaran.
“Tentu saja, memang penuh semua,” kata Kang Swi.
“Ehh, Kang-kongcu... kalau begitu...“ Siauw-hong berkata heran.
“Yang kusewa adalah kamarnya. Kamar pemilik rumah penginapan itu sendiri. Dia mau mengalah dan
bersama isterinya dia rela tidur di gudang malam ini dan menyerahkan kamarnya untukku.” Dia tertawa dan
sikapnya penuh lagak kemenangan.
Diam-diam Siluman Kecil dapat menduga. “Tentu dengan kekuasaan uang,” pikirnya. Entah berapa puluh
kali lipat dari harga biasa pemuda royal ini menyewa kamar itu.
“Akan tetapi sayang, kamarnya hanya satu untukku sendiri, dan untuk kalian bertiga terpaksa aku
menyewakan sebuah kandang kosong karena memang sudah tidak ada kamar kosong lagi. Maaf, Twako.”
“Hemmm...!” Siluman Kecil menggumam. “Di kandang atau di mana pun tidak ada bedanya bagiku.”
Pelayan muncul dan empat ekor kuda itu digiring ke kandang, juga tiga orang laki-laki itu. Kandang yang
disulap menjadi kamar untuk mereka bertiga itu sudah dibersihkan dan lantainya ditutupi rumput kering.
Bau rumput kering dan tahi kuda kering memang tidak begitu busuk, bahkan mempunyai kesedapan yang
khas, akan tetapi tetap saja hati Siluman Kecil merasa mendongkol juga.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kurang ajar, pikirnya. Sungguh sekali ini dia tidak dihargai orang sama sekali! Dia, yang di mana-mana
disambut orang dengan penuh penghormatan, kini tidur di kandang kuda, sedangkan pemuda royal
berpakaian mewah dan banyak uangnya itu tidur sendirian di dalam kamar besar! Kalau dilanjutkan begini,
pada suatu hari aku tentu akan menampar kepala yang sombong itu, pikirnya. Dan hal itu amat tidak baik
karena pemuda itu, betapa pun juga telah bersikap baik kepadanya, tidak sayang membelikan kuda untuk
dia dan Siauw-hong dengan harga mahal.
“Aku harus cepat-cepat pergi menghindarinya,” katanya dalam hati.
Dengan hati mengkal Siluman Kecil meninggalkan A-cun dan Siauw-hong di dalam kandang kuda itu dan
dia keluar. Malam gelap, langit hitam pekat, akan tetapi banyak lampu dipasang di sekitar penginapan itu.
Siluman Kecil melangkah keluar dengan niat hendak mencari warung untuk makan dan minum arak
menghangatkan badan, karena malam itu dingin sekali sehingga perutnya terasa amat lapar.
“Ahhh...“ Tiba-tiba dia mengeluh dalam hati dan merogoh semua saku bajunya untuk mencari kalau-kalau
ada sisa uang di dalam salah saku bajunya. Namun percuma dan dia sudah menduganya. Semua sakunya
kosong. Dia tidak mempunyai uang sepeser pun! Mana mungkin membeli makanan dan minuman?
Mencuri? Mudah saja baginya, akan tetapi hal itu tidak sudi dia melakukannya. Minta? Hemmm,
sedangkan seorang bocah jembel seperti Siauw-hong saja tidak sudi mengemis, apa lagi dia!
“Twako! Kau ada di sini?” Tiba-tiba terdengar teguran orang dan wajah Siluman Kecil bersungut-sungut di
dalam gelap. Pemuda congkak itu sudah berada disampingnya sambil tersenyum-senyum, seolah-olah
mengerti akan kesukarannya, yaitu ingin makan minum akan tetapi tidak mempunyai uang! Dia hanya
mengangguk, tidak ingat bahwa di dalam kegelapan mungkin saja pemuda she Kang itu tidak dapat
melihat jawabannya tanpa kata itu.
“Twako, mari kita mencari minuman!” Kang Swi berkata dengan nada suara gembira. Sebelum Siluman
Kecil sempat menjawab, tangannya sudah digandeng dan ditarik oleh pemuda itu dan diajak memasuki
sebuah warung arak yang berada di sebelah rumah penginapan.
Muka Siluman Kecil terasa panas. Untung bahwa waktu itu malam, maka penerangan lampu warung yang
kemerahan menyembunyikan perubahan mukanya yang menjadi merah. Bagaimana dia dapat menolaknya
biar pun hatinya merasa amat tidak enak? Pemuda ini boleh jadi congkak dan agung-agungan, akan tetapi
harus diakuinya amat ramah dan akrab. Mereka memasuki warung itu dan memilih tempat duduk di sudut.
Seperti biasa, secara royal sekali Kang Swi menanyakan masakan-masakan istimewa dari warung itu dan
memesan macam-macam masakan dan arak yang paling baik!
Siluman Kecil diam-diam menegur diri sendiri, mengapa setelah berhadapan dengan pemuda ini, melihat
sikapnya yang demikian ramah, semua ketidak-senangan hatinya lenyap sama sekali! Malah dia
mendapatkan dirinya makan minum dengan lahapnya, karena selain perutnya lapar, juga hawa yang dingin
dan masakan yang lezat membuat dia menjadi seorang pelahap! Dan seperti biasa, yang diketahuinya
semenjak dia melakukan perjalanan dengan Kang Swi, pemuda tampan ini makan sedikit sekali.
“Kenapa makanmu sedikit amat?” Dia pernah bertanya siang tadi.
“Habis, kalau sebegitu saja sudah kenyang, perlu apa banyak-banyak?” jawab yang ditanya.
“Pantas tubuhmu kecil!”
Dan sekarang, pemuda itu juga makan sedikit saja, biar pun hampir semua masakan dicobanya. Akan
tetapi pemuda itu minum arak dengan lagak seorang jagoan minum.
“Agaknya engkau kuat minum arak, Kang-hiante,” berkata Siluman Kecil melihat wajah yang gembira itu.
Kang Swi tersenyum dan diam-diam Siluman Kecil harus mengakui bahwa pemuda ini memang tampan
sekali. Kalau tersenyum tampak deretan gigi yang putih bersih, kecil dan rata. Mulutnya berbentuk indah.
Seperti mulut wanita saja.
“Ah, kau kira hanya engkau yang kuat minum, Twako? Mari kita bertanding minum arak, agar diketahui
siapa di antara kita yang lebih kuat.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hmmm, engkau bisa mabuk nanti,” Siluman Kecil menjawab sambil tersenyum melihat lagak pemuda
yang seperti anak-anak itu.
“Eh, ehh, engkau memandang rendah. Nah, mari kita coba. Berapa banyak pun engkau minum, akan
kuimbangi, Twako!”
Siluman Kecil telah dapat menduga bahwa pemuda tampan ini memang bukan orang sembarangan, dan
tentu memiliki kepandaian, akan tetapi karena sikapnya yang baik dan ramah, tentu saja dia merasa tidak
enak kalau harus menguji kepandaiannya, biar pun dia ingin sekali tahu sampai di mana kelihaiannya.
Maka sekarang dia memperoleh kesempatan untuk menguji kekuatan minum pemuda itu dan bagi seorang
ahli silat tinggi hal ini sudah dapat dipakai ukuran akan kekuatan tenaga dalam seseorang.
“Baiklah, aku akan minum tiga cawan berturut-turut.” Siluman Kecil lalu minum tiga cawan arak berturutturut.
Sambil tertawa dan dengan sikap memandang ringan, Kang Swi juga minum tiga cawan arak dan cara dia
minum memang menunjukkan dia seorang ahli, sekali teguk saja setiap cawan lenyap memasuki perutnya
yang kecil.
Siluman Kecil tersenyum. “Kau memang ahli minum,” katanya dan sekarang dia minum berturut-turut lima
cawan arak! Lalu dia memandang kepada temannya itu yang juga tersenyum dan tanpa berkata apa-apa
pemuda tampan itu lalu dengan gerakan tangan cepat sekali minum sampai tujuh cawan arak berturutturut!
“Aku melebihi dua cawan, Twako,” katanya sambil tersenyum lebar.
Siluman Kecil terkejut juga. Gerakan tangan pemuda itu demikian cepatnya dan walau pun sudah
menghabiskan tiga dan tujuh cawan arak, akan tetapi sedikit pun jari-jari tangannya tidak pernah kelihatan
gemetar dan jari-jari tangan itu masih tetap tenang ketika meletakkan kembali cawan kosong di atas meja.
Padahal dia yang baru minum delapan cawan sudah merasakan betapa hawa arak yang keras sudah naik
ke dalam kepalanya yang tentu saja dapat ditekannya keluar dengan tenaga sinkang-nya. Dia memandang
wajah yang tersenyum ramah itu. Tidak enak juga kalau sampai Kang Swi diujinya terus sehingga menjadi
mabuk, pikirnya. Sekarang pun sudah jelas bahwa dugaannya tidak salah. Pemuda ini memiliki sinkang
yang cukup kuat. Biarlah dia minum lima cawan lagi.
“Kau memang hebat,” katanya dan kini dia minum lagi lima cawan arak.
Akan tetapi Kang Swi memegang guci araknya. “Mengapa bersikap sungkan, Twako? Kita sama-sama
kuat minum. Mari kita habiskan arak dari guci masing-masing.” Dan pemuda tampan itu lalu mengangkat
guci araknya, menempelkan bibir guci di mulutnya yang dibuka, kepalanya ditengadahkan dan guci itu lalu
dimiringkan, araknya dituang dan seperti pancuran memasuki mulutnya yang ternganga sampai habislah
arak dari dalam guci itu. Ketika dia menaruh kembali guci kosong ke atas meja, jari-jari tangannya masih
tidak gemetar sama sekali sungguh pun mukanya yang putih itu menjadi agak kemerahan dan kepalanya
agak bergoyang-goyang!
Siluman Kecil terkejut. Dia sudah menduga bahwa pemuda tampan itu memang memiliki sinkang yang
kuat, akan tetapi tidak disangkanya sedemikian kuatnya. Maka gembiralah hatinya karena ternyata teman
seperjalanannya ini adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Dia pun lalu minum semua arak dari
gucinya.
Setelah kemasukan arak yang masing-masing tidak kurang dari tiga puluh cawan, Siluman Kecil melihat
betapa wajah yang kemerahan itu makin berseri dan sikap Kang Swi makin gembira! Kiranya ada pula
sedikit hawa arak mempengaruhi pemuda ini dan diam-diam Siluman Kecil merasa girang karena
bagaimana pun juga dialah yang menang dalam pertandingan ini. Pemuda itu biar pun belum dapat
dikatakan mabuk, akan tetapi caranya bicara dan tersenyum sudah lebih ringan dan lebih gembira dari
biasa, tanda bahwa dia telah dipengaruhi hawa arak.
Mendadak pemuda itu tertawa sambil memandang keluar. Siluman Kecil juga lantas memandang dan
ternyata yang ditertawakan oleh Kang Swi itu adalah seorang laki-laki yang jalannya pincang. Orang ini
mukanya penuh dengan kumis dan cambang bauk, amat lebat hampir menyembunyikan semua mukanya
sehingga sukar ditaksir berapa usianya. Begitu masuk, orang ini lantas duduk di sudut bagian depan dan
sama sekali tidak mempedulikan para tamu lainnya yang mulai berdatangan untuk makan malam.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kemudian, dengan gerak tangannya dia memanggil pelayan. Ketika pelayan itu sudah berdiri di depannya,
si pincang itu membuat gerakan-gerakan tangan memesan nasi dan arak. Dari gerakannya dan dari
suaranya yang hanya ah-ah-uh-uh itu tahulah Siluman Kecil bahwa orang itu, selain pincang, juga gagu.
“Heh-heh-heh!” Kang Swi tertawa-tawa melihat tingkah laku si gagu itu ketika memesan makanan dan
minuman, membuat gerakan seperti orang sedang makan dan minum.
Siluman Kecil mengerutkan alisnya. Bocah ini terlalu lancang dan sembrono, pikirnya, mentertawakan
orang begitu saja, apa lagi cara tertawanya begitu terpingkal-pingkal seolah-olah pemuda tampan itu
melihat suatu hal yang luar biasa lucunya. Padahal, apakah lucunya seorang gagu memesan makanan dan
minuman? Tentu saja harus menggunakan gerak tangan!
“Hemmm, Hiante, jangan sembarangan mentertawakan orang!” tegurnya. “Apakah kau tidak melihat
langkahnya tadi biar pun terpincang-pincang? Dan lihat sinar matanya! Hati-hatilah, jangan menghina
orang, kurasa dia bukan orang sembarangan!”
“Ha-ha-ha!” kembali Kang Swi tertawa dan masih terdengar terkekeh biar pun dia sudah mendekap
mulutnya. “Bagaimana tidak akan tertawa melihat yang selucu itu? Hi-hik, Twako... apakah kau tidak tahu,
heh-heh...“ Kang Swi kembali tertawa dan menutupi mulutnya sambil memejamkan mata menahan
kegeliannya.
Tangis dan tawa biasanya amat menular. Melihat Kang Swi tertawa terpingkal-pingkal seperti itu, biar pun
dia sendiri masih belum mengerti apa yang ditertawakannya, tanpa disadarinya Siluman Kecil juga
tersenyum dan ikut gembira. “Apa sih yang lucu?” dia bertanya, kini menjadi ingin sekali untuk
mengetahuinya.
“Twako, hi-hik-hik aku tidak mentertawakan pincangnya atau gagunya, akan tetapi... heh-heh...“
“Ada apa sih?”
“Mungkin orang lain dapatlah dia kelabui, akan tetapi aku!” Kang Swi menepuk dada dengan lagak
sombong. “Di depan hidung seorang ahli seperti aku dia berani main gila, ha-ha-ha! Kumisnya terlalu ke
atas dan agak miring penempelannya, dan cambangnya terlalu penuh di bagian pipi kiri. Ha-ha-ha, kalau
tidak pandai menyamar, permainan itu sungguh berbahaya!”
Pemuda ini terus tertawa ha-ha-hi-hi dan Siluman Kecil maklum bahwa biar pun tidak sampai mabuk,
terlalu banyak arak itu membuat Kang Swi menjadi terlalu gembira sehingga dia khawatir kalau-kalau
sampai menimbulkan persoalan. Betapa pun juga, dia kini memperhatikan orang itu dan setelah
mendengar kata-kata Kang Swi tadi, dia baru dapat melihat hal-hal yang hanya dapat diketahui oleh
seorang ahli itu. Dan agaknya, temannya ini benar! Mencurigakan sekali si pincang itu. Mendengar orang
tertawa, si pincang menengok, akan tetapi karena terhalang oleh pilar dan pot bunga, dia tidak melihat
Siluman Kecil dan Kang Swi.
Siluman Kecil juga terpaksa ikut tertawa, lalu bertanya lirih, “Apakah kau mengenal dia?”
Kang Swi menggeleng kepala sambil tersenyum-senyum, pringas-pringis seperti orang sinting. Melihat
keadaan temannya ini, Siluman Kecil merasa khawatir kalau-kalau ulahnya yang biasanya memang aneh
dan kadang-kadang ugal-ugalan itu kini ditambah oleh pengaruh arak akan menimbulkan keributan, maka
dia lalu bangkit dan mengajak kembali ke rumah penginapan.
Kang Swi tidak membantah, dibayarnya harga makanan dengan royal, dan mengatakan bahwa uang
kembalinya agar dibagi-bagi di antara para pelayan, kemudian dia berjalan bersama Siluman Kecil pergi
meninggalkan warung, setelah sekali lagi tertawa ke arah si pincang, sedangkan Siluman Kecil
menyembunyikan mukanya di balik rambutnya yang putih panjang.
Akan tetapi ketika mereka tiba di depan rumah penginapan, terdengar teriakan tertahan, “Siluman Kecil...!”
Siluman Kecil dan Kang Swi terkejut dan cepat menoleh. Mereka masih sempat melihat dua orang prajurit
dengan mata terbelalak dan muka pucat melarikan diri tergesa-gesa dari situ, menyelinap di antara orang
banyak.
dunia-kangouw.blogspot.com
Siluman Kecil menarik napas panjang dan berbisik, “Sungguh tidak enak sekali. Di sini banyak orang
mengenalku.”
Kang Swi tersenyum. “Twako, agaknya di kota ini banyak terdapat orang-orang yang ketakutan melihat
wajahmu yang tampan dan gagah...“
“Hemmm, tidak perlu mengejek!” Siluman Kecil menegur.
“Ahh, aku salah bicara. Mereka takut mendengar namamu yang tersohor.”
“Sudahlah, aku pun tidak mempunyai keperluan di sini. Malam ini aku akan pergi saja,” kata Siluman Kecil.
“Eh-ehh, apakah kau akan merelakan saja uangmu dibawa lari oleh nenek itu? Kurasa hanya di tempat
keramaian besok sajalah kita dapat menemukan nenek itu.”
“Bukankah ujian sudah dimulai hari ini?”
“Tidak, sudah kuselidiki. Hari ini hanya diadakan pemilihan di antara para pelamar, pemilihan dari mereka
yang berkepandaian tinggi untuk dipertandingkan besok, untuk memperebutkan kedudukan pengawal
pribadi gubernur yang hanya akan dipilih tiga empat orang banyaknya. Selebihnya hanya akan diterima
sebagai prajurit pengawal kalau memenuhi syarat. Jadi besoklah orang-orang kang-ouw akan bermunculan
dan tentu kita akan dapat menemukan nenek itu.”
“Tetapi aku banyak dikenal orang, hanya akan menimbulkan keributan saja.” Siluman Kecil yang biasanya
menyendiri itu merasa tidak enak kalau mengingat akan hal itu.
“Twako, Jangan khawatir. Aku tadi mentertawakan penyamaran konyol si pincang itu bukan karena
sombong, tetapi karena aku benar-benar seorang ahli dalam mendandani orang. Kalau Twako besok
kudandani, agaknya orang tuamu sendiri tidak akan dapat mengenalmu lagi, Twako. Dengan menyamar,
Twako akan dapat menonton dengan leluasa, juga akan dapat mencari nenek penjual rumput itu.”
Siluman Kecil menghela napas. Dia merasa kalah bicara dengan pemuda lincah ini. “Baiklah...,“ katanya.
“Dan maafkan aku, Twako. Bukan sekali-kali maksudku untuk merendahkan Twako dengan menyewakan
kandang kuda, akan tetapi apa boleh buat, kamar telah habis dan aku... sejak kecil aku tidak bisa tidur
sekamar dengan orang lain. Ataukah Twako yang memakai kamarku itu dan biar aku tidur di luar saja?”
“Ahhh, tidak...! Jangan...! Pakailah kamar itu sendiri, aku sudah biasa tidur di alam terbuka. Akan tetapi
sungguh mengherankan. Mengapa sih kau tidak bisa tidur berdua dengan orang lain dalam satu kamar?”
“Sudah sejak kecil... aku tidak bisa tidur kalau ada orang lain dalam kamarku.“
Siluman Kecil terseret oleh sikap dan keanehan temannya itu, maka dia lalu menggoda, “Hemmm, kalau
begitu bagaimana kelak kalau kau kawin?”
“Ihhh! Twako sungguh ceriwis! Siapa yang mau kawin?” Setelah berkata demikian, Kang Swi berkelebat
pergi, memasuki rumah penginapan dengan gerakan cepat.
Siluman Kecil tersenyum dan menggeleng-geleng kepala. Pemuda itu seperti anak kecil saja. Siauw-hong
agaknya lebih dewasa dari pada Kang Swi. Maka dia pun kemudian memasuki kandang kuda dari pintu
pekarangan samping dan ternyata A-cun dan Siauw-hong sudah tidur. Siluman Kecil lalu duduk melakukan
siulian dan ternyata enak mengaso di atas tumpukan rumput kering itu dan mendapatkan hembusan angin
semilir yang lembut dan yang dapat memasuki kandang kuda…..
********************
Pada keesokan harinya, keadaan di kota Ceng-couw menjadi makin ramai. Memang keramaian sayembara
itu terjadi pada hari ini, di mana para pelamar yang mempunyai kepandaian tinggi akan memperebutkan
kedudukan pengawal-pengawal pribadi dari gubernur. Di antara ratusan orang pelamar, setelah diuji
ketangkasan dan tenaganya kemarin, hanya ada belasan orang saja yang dicalonkan, dan tentu saja bagi
mereka yang belum sempat diuji, kalau memiliki kepandaian, diperkenankan juga mengikuti pertandingan
adu kepandaian itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pekarangan yang merupakan alun-alun di depan istana gubernur sudah penuh dengan manusia yang ke
semuanya mengelilingi sebuah panggung yang tinggi dan luas, yang sengaja dibangun untuk keperluan itu.
Karena panggung itu tinggi, maka walau pun mereka yang kebagian tempat agak jauh pun dapat melihat
dengan jelas apa yang terjadi di atas panggung. Dan di tempat duduk kehormatan yang berada di depan
istana, duduklah Gubernur Ho-nan sendiri, yaitu Gubernur Kui Cu Kam, dikelilingi oleh para pengawalnya
dengan ketat untuk menjaga keselamatan gubernur ini.
Sedangkan Cui-lo-mo Wan Lok It yang mengatur sayembara pemilihan pengawal itu, sejak kemarin sudah
sibuk dan kini dia kadang-kadang kelihatan di dekat panggung, kadang-kadang tidak kelihatan karena si
rambut merah dan pemabuk ini terkadang mengadakan perondaan sendiri untuk menjamin kelancaran
pemilihan itu, juga harus menjaga keamanan gubernur yang kebetulan berkenan menyaksikan pula
pemilihan calon pengawal-pengawalnya itu.
Setelah matahari naik tinggi dan Gubernur Kui Cu Kam telah duduk di tempatnya, bersama dengan para
pembesar-pembesar dan para pembantunya, tambur dan canang dipukul bertalu-talu sebagai tanda bahwa
sayembara akan dimulai. Seperti semut-semut yang sibuk, orang-orang yang menonton bergerak
mendekati panggung.
Kang Swi yang sudah siap dengan dandanan ringkas dan dengan pedang di punggung, sejak tadi telah
siap dan kini dia mendatangi kandang kuda bersama seorang kakek keriputan. Kakek tua ini bukan lain
adalah Siluman Kecil yang telah ‘disulap’ menjadi kakek oleh tangan Kang Swi yang ternyata memang
benar-benar pandai sekali merias penyamaran itu, dan ternyata pemuda tampan ini sudah membawa
perlengkapan untuk merias dan membuat penyamaran-penyamaran. Ternyata bahwa dia memang benar
seorang ahli, maka tidak mengherankan kalau dia dapat mengetahui penyamaran si pincang yang gagu itu
dan mencela penyamarannya.
Siluman Kecil menjadi kagum bukan main ketika dia melihat bayangan wajahnya sendiri yang sudah
berubah menjadi seorang kakek itu di dalam cermin. Dia memuji kelihaian Kang Swi akan tetapi pemuda itu
hanya tersenyum saja.
“Sekarang kau tidak khawatir akan dikenal orang lagi, Twako, dan dengan leluasa kau dapat mencari
nenek itu di antara penonton.”
A-cun, pelayan atau kacung pengiring Kang Swi, lama memandang dengan bengong terlongong kepada
kakek tua yang datang bersama majikannya itu. Dia tidak berani bertanya kepada majikannya siapa
adanya kakek itu, hanya dia merasa heran dari mana datangnya kakek itu yang memasuki kandang
bersama majikannya.
“Ehh, A-cun, di mana adanya Siauw-hong?” tanya pemuda tampan itu ketika dia tidak melihat si pengemis
muda di situ.
“Dia? Ahh, sejak tadi dia sudah pergi, Kongcu. Katanya dia hendak nonton keramaian.”
“Hemmm, kalau begitu engkau tinggallah di sini menjaga kuda-kuda kita, A-cun, kami hendak pergi nonton
keramaian juga,” kata Kang Swi yang segera mengajak Siluman Kecil pergi. Kang Swi tidak lupa membawa
pedangnya yang digantung di punggungnya sehingga dia kelihatan gagah sebab pagi hari itu dia
mengenakan pakaian yang ringkas.
Setelah tiba di depan istana gubernur, ternyata di situ telah berkumpul banyak orang dan di atas panggung
itu tengah terjadi pertandingan yang ramai, diikuti oleh sorak-sorai para penonton yang sudah terdengar
dari tempat jauh. Siluman Kecil lalu memisahkan diri untuk mencari nenek pencuri uangnya dan mereka
saling berjanji akan berjumpa kembali nanti di rumah penginapan. Kang Swi sendiri kemudian menyelinap
di antara penonton untuk mendekati panggung.
Ternyata pertandingan di atas panggung telah selesai. Seorang yang bertubuh gemuk pendek dirobohkan
oleh seorang pemuda tinggi kurus. Pemuda tinggi kurus ini memang istimewa sekali. Dia bukan merupakan
seorang di antara para calon yang kemarin terpilih, melainkan seorang yang baru muncul di antara
penonton. Akan tetapi secara berturut-turut dia telah mengalahkan sepuluh orang calon terpilih dan
masing-masing dirobohkan dalam waktu belasan jurus saja!
dunia-kangouw.blogspot.com
Si gemuk pendek yang terakhir itu pun dirobohkannya dalam waktu sepuluh jurus, maka tentu saja
kemenangan-kemenangannya disambut oleh sorak-sorai para penonton yang merasa kagum terhadap
pemuda tinggi kurus berpakaian sederhana itu. Sekarang, atas perintah Ho-nan Ciu-lo-mo yang dapat
menilai kepandaian orang, pemuda kurus itu dipersilakan untuk beristirahat lebih dulu. Pemuda itu
mengangguk dan turun dari atas panggung, lenyap di antara para penonton.
Ketika Kang Swi tiba di dekat panggung, pemuda tinggi kurus itu sudah turun sehingga pemuda tampan
dan royal ini tidak sempat melihat wajah pemuda yang sudah menang sepuluh kali itu. Kini pengatur
pertandingan, seorang perwira tinggi besar dan tua, yaitu bukan lain adalah Su-ciangkun yang bernama Su
Kiat, seorang di antara pengawal Gubernur Ho-nan, setelah menyuruh mundur pemuda tinggi kurus, lalu
memanggil dengan suara nyaring nama seorang calon yang kemarin dipilih. Muncullah seorang laki-laki
berusia tiga puluh tahun lebih yang bertubuh kecil, yang muncul di panggung dengan muka agak pucat dan
sikap yang sungkan dan jeri.
Memang hati si kecil ini sudah jeri ketika menyaksikan betapa selain para calon, ternyata di antara banyak
penonton itu terdapat orang pandai seperti pemuda tinggi kurus tadi. Oleh karena itu, belum juga
bertanding, hatinya sudah merasa jeri dan dia kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri. Dengan
sikap sungkan-sungkan dan merendah dia lalu berdiri menanti di atas panggung, dengan kedua pundak ke
muka sehingga tubuhnya kelihatan makin kecil lagi.
Sebuah nama dipanggil lagi dan muncullah orang kedua, juga seorang calon yang kemarin telah dipilih,
yang mukanya kuning pucat dan mulutnya selalu tersenyum masam. Setelah diberi tanda oleh Perwira Su
Kiat, mereka bergebrak dan bertanding. Akan tetapi, belum sampal dua puluh jurus, si kecil menang dan
orang bermuka kuning pucat itu terlempar ke bawah panggung, disambut sorak-sorai penonton yang
merasa kagum bahwa laki-laki yang pemalu dan bertubuh kecil itu ternyata lihai juga.
Berturut-turut maju sampai lima orang calon, akan tetapi semuanya dikalahkan oleh si kecil yang lihai dan
yang kini mulai menemukan kembali kepercayaannya kepada diri sendiri setelah berturut-turut memperoleh
kemenangan. Habislah semua calon yang terpilih kemarin.
“Kini kesempatan dibuka kembali kepada para orang gagah yang hadir di antara penonton dan yang belum
sempat didaftar kemarin, untuk turut mengikuti sayembara pertandingan dan dipersilakan naik ke atas
panggung!” kata Perwira Su Kiat dengan suaranya yang menggeledek.
“Biar saya mencobanya!” Terdengar jawaban yang tidak kalah nyaringnya dan dari bawah panggung
melayanglah sesosok tubuh yang tinggi besar. Semua penonton tertegun ketika melihat seorang laki-laki
yang usianya kurang lebih empat puluh tahun, tubuhnya tinggi besar seperti raksasa dan kepalanya
gundul, bukan gundul karena dicukur, melainkan memang gundul karena botak!
Dengan mulut menyeringai lebar, raksasa gundul ini menghampiri si kecil, lalu berkata, “Anak yang baik,
lebih baik kau meloncat turun saja dengan tubuh utuh dan mengalah kepadaku.”
Biar pun tadinya si kecil ini merasa jeri, tetapi kini setelah memperoleh kemenangan berturut-turut selama
lima kali, hatinya sudah menjadi besar dan tentu saja dia marah sekali mendengar dirinya disebut ‘anak
yang baik’ oleh raksasa itu. Terdengar suara ketawa di antara para penonton mendengar ucapan itu dan si
kecil menjadi merah mukanya. Maka tanpa banyak cakap lagi, dia lalu menyerang dengan pukulan kedua
tangannya. Gerakannya memang gesit bukan main dan kemenangannya yang berturut turut tadi pun
mengandalkan kegesitannya itulah.
“Buk! Buk! Buk!”
Secara bertubi-tubi dan cepat bukan main, dua tangan jagoan kecil itu telah melakukan pukulan, dan
anehnya si raksasa gundul itu menerima semua pukulan yang tepat mengenai perut dan dadanya itu tanpa
menangkis atau mengelak, seolah-olah semua pukulan itu tidak dirasakannya sama sekali! Dan memang
semua pukulan si kecil itu seperti mengenai karet saja, membalik dan selagi si kecil terkejut setengah mati,
tiba-tiba raksasa itu tertawa, tangannya yang besar dengan lengan yang panjang itu lantas saja
menyambar.
“Plakkk!”
Sebuah tamparan mengenai bawah telinga si kecil dan dia mengeluh kemudian roboh pingsan! Tentu saja
peristiwa mengejutkan ini disambut oleh sorak-sorai para penonton. Si kecil tadi demikian lihainya, akan
dunia-kangouw.blogspot.com
tetapi dengan sekali tamparan saja dia roboh pingsan oleh raksasa gundul itu. Maka dapat dibayangkan
betapa lihainya si raksasa gundul ini! Dan tentu akan ramai sekali kalau raksasa gundul yang kebal ini
diadu dengan pemuda tinggi kurus yang telah menang sepuluh kali tadi.
Agaknya Perwira Su Kiat juga berpendapat demikian. Dia sudah mencari-cari dengan pandang matanya ke
arah menyelinapnya pemuda tinggi kurus tadi. Tetapi tiba-tiba nampak bayangan orang berkelebat dan
seorang pemuda tampan telah melompat dengan gerakan indah dan ringan ke atas panggung,
menghadapi si raksasa gundul.
Pemuda tampan ini tersenyum lebar dan memandang si raksasa dengan sinar mata berkilat. Di punggung
pemuda ini kelihatan tergantung sebatang pedang dan pakaian pemuda ini biar pun ringkas namun amat
perlente dan serba indah. Karena pemuda tampan ini berperawakan kecil ramping, maka berhadapan
dengan raksasa gundul nampak perbedaan yang amat menyolok sekali. Yang satu kecil dan kelihatan
halus lemah, sedangkan yang kedua tinggi besar dan kelihatan kokoh kuat. Sungguh bukan merupakan
lawan yang seimbang!
“Ha-ha, anak kecil mengapa ikut-ikutan dan ingin bertanding?”
“Lebih baik pulang, nanti dicari ibumu!”
“Belajar lagi sepuluh tahun baru datang ke sini!”
Teriakan-teriakan penonton yang dilontarkan kepada pemuda yang kelihatan masih remaja dan tampan itu
disambut oleh pemuda itu dengah senyum simpul. Pemuda ini bukan lain adalah Kang Swi, pemuda
tampan royal yang datang bersama Siluman Kecil. Dengan sikap tenang Kang Swi melangkah maju
menghadapi si raksasa gundul.
“Heh, kau anak kecil yang lebih pantas membaca kitab dari pada berada di sini!” Si gundul berteriak.
“Benar, turun saja!”
“Buat apa mengantar nyawa sia-sia!”
“Mati konyol nanti! Sayang ketampananmu!”
Kang Swi tersenyum. Senang hatinya. Dia merasa yakin akan dapat mengalahkan raksasa gundul ini,
maka makin hebat orang mengkhawatirkan dirinya, makin baiklah karena kemenangannya nanti akan
terasa lebih nikmat. Dia menjura keempat penjuru dengan lagak yang angkuh, sehingga Perwira Su Kiat
yang juga memandang rendah pemuda remaja ini lalu berseru, “Hayo kalian berdua cepat memulai!”
Raksasa gundul itu kemudian melangkah maju. “Bocah sombong, biarlah kau boleh memukulku, tanpa
kulawan pun engkau akan kalah dan kedua tanganmu akan patah patah dipakai memukul tubuhku.”
Banyak orang tertawa menyambut ucapan raksasa ini.
“Benarkah?” Kang Swi bertanya. “Hendak kucoba sampai di mana sih tebalnya kulitmu maka kau berani
berkata demikian. Nah, coba kau terimalah ini!” Tangan kiri Kang Swi menyambar ke depan secara
sembarangan.
“Syuuuttttt, plakkkkk!”
“Aughhh...!” Raksasa gundul itu jatuh berlutut dan kedua tangannya memegangi dada yang terkena
tamparan Kang Swi.
Tangan pemuda halus itu rasanya seperti tusukan pedang tajam yang dapat menembus kekebalannya,
dadanya terasa nyeri bukan main, panas dan perih. Semua penonton tadinya menyangka bahwa raksasa
itu pura-pura saja untuk mempermainkan lawan, akan tetapi ketika mereka melihat wajah itu berkerutmerut
menahan nyeri, kemudian muka raksasa itu menjadi merah dan matanya melotot marah, mereka
terkejut dan terheran-heran. Benarkah tamparan yang perlahan itu membuat si raksasa yang kebal itu
kesakitan?
dunia-kangouw.blogspot.com
Sikap raksasa gundul itu menjawab keraguan mereka ketika si raksasa mengeluarkan suara gerengan
marah dan tiba-tiba tubuhnya yang tadi berlutut itu menerjang ke depan. Gerakannya seperti seekor singa
marah menerkam kambing, kedua lengan yang panjang itu dikembangkan, jari-jari tangan membentuk
cakar hendak menerkam, matanya melotot dan mulutnya terbuka mengerikan!
Dengan gerakan yang indah dan ringan sekali, Kang Swi sudah meloncat ke samping tepat pada saat
kedua tangan lawan sudah hampir dapat mencengkeramnya dan pada detik itu juga, kaki kanannya
menendang ke arah lutut dan tangannya dengan jari terbuka menyambar ke arah lambung.
“Dukkk! Plakkk!”
Tak dapat dicegah lagi, tubuh tinggi besar itu terjelungkup ke depan dengan terpaksa, dan hidungnya
mencium lantai panggung sehingga ketika dia merangkak bangun, hidungnya berdarah dan mulutnya
menyeringai karena selain lututnya terasa nyeri, juga lambungnya mendadak menjadi mulas! Akan tetapi,
dia menjadi makin penasaran dan marah, apa lagi ketika mendengar para penonton bersorak riuh rendah.
Tadi, ketika raksasa itu jatuh berlutut, para penonton masih belum yakin benar akan kelihaian Kang Swi,
akan tetapi robohnya raksasa itu untuk kedua kalinya, kelihatan jelas oleh para penonton sehingga
meledaklah pujian mereka terhadap Kang Swi. Tidak mereka sangka bahwa pemuda tampan yang masih
muda sekali itu demikian hebatnya, dengan mudah saja dalam dua gebrakan telah merobohkan raksasa itu
dua kali!
“Arghhhhh...!” Seperti suara seekor singa menggereng, raksasa gundul itu menyerang dan kini
serangannya itu merupakan serangan maut yang mengerikan karena dia bukan hanya menggunakan
kedua tangannya untuk mencengkeram dari kanan kiri, akan tetapi juga mempergunakan kepalanya yang
gundul botak itu untuk menyeruduk ke arah dada Kang Swi!
“Hemmm...!” Kang Swi berseru mengejek dan tiba-tiba ketika dia menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelat
ke atas dengan gerakan cepat tak terduga sehingga serangan si raksasa itu luput dan tubuhnya terhuyung
ke depan. Kang Swi yang meloncat tinggi ke atas itu kini sudah meluncur turun sambil membalikkan tubuh
dan kakinya menginjak tengkuk lawan sambil mengerahkan tenaganya.
“Hekkk!” Tubuh tinggi besar itu terdorong ke bawah dan karena tadi dia menggunakan tenaga untuk
menyeruduk, maka begitu diinjak tengkuknya, tenaga serudukannya bertambah dan kepalanya kini
menyeruduk ke bawah dengan kekuatan dahsyat.
“Brakkkkk...!”
Kepala itu menancap di lantai papan panggung, masuk sampai ke lehernya dan kedua kakinya bergerakgerak
di atas panggung! Terdengar suara ketawa di sana-sini dari mulut mereka yang suka akan tontonan
yang menyeramkan, akan tetapi banyak pula yang meringis dan merasa ngeri, mengira bahwa kepala
botak itu pecah atau paling tidak tentu akan robek-robek.
Kang Swi mendekati, kakinya menendang.
“Bukkk!”
Tubuh itu tercabut dan terlempar ke luar panggung, jatuh berdebuk di bawah panggung dalam keadaan
pingsan, dirubung banyak orang dan mereka ini terheran-heran karena kepala botak itu sama sekali tidak
terluka, sungguh pun orangnya pingsan. Maka meledaklah sorak dan pujian yang dilontarkan orang kepada
Kang Swi.
Diam-diam Perwira Su Kiat terkejut sekali. Hari ini dia telah banyak sekali melihat orang yang
kepandaiannya jauh melampaui tingkatnya! Apa lagi perwira ini, bahkan Ho-nan Ciu-lo-mo Wan Lok It
sendiri yang merupakan jagoan kepercayaan Gubernur Ho-nan terkejut melihat kepandaian Kang Swi.
Pemuda tampan itu benar-benar hebat, entah mana lebih lihai dibandingkan dengan pemuda tinggi kurus
yang telah menang sepuluh kali pertandingan tadi.
Maka Ciu-lo-mo segera memberi isyarat kepada Su Kiat untuk memanggil pemuda tinggi kurus tadi, dan
dia sendiri lalu duduk dan minum arak dari gucinya dengan hati penuh kegembiraan dan ketegangan
hendak menyaksikan pertempuran yang tentu akan amat menarik antara kedua orang pemuda itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sementara itu, Gubernur Kui Cu Kam sendiri mengangguk-angguk dan memuji, dia merasa senang kalau
mendapatkan seorang pengawal yang lihai dan tampan seperti Kang Swi itu.
“Orang muda tinggi kurus yang telah menang sepuluh kali tadi, kini dipersilakan naik ke panggung!” Su Kiat
berseru dengan suara lantang.
Dia harus mengulang panggilannya sampai tiga kali, barulah kelihatan pemuda tinggi kurus itu naik ke atas
panggung. Sikapnya seperti orang yang amat ragu-ragu sehingga mengherankan hati semua orang.
Apakah pemuda tinggi kurus itu takut melawan pemuda tampan yang telah mengalahkan si raksasa gundul
itu?
Kang Swi sendiri terkejut dan terheran-heran ketika dia memandang wajah pemuda itu karena ternyata
bahwa pemuda kurus itu bukan lain adalah tukang kudanya sendiri! Siauw-hong! Dia memang sudah
menduga bahwa tukang kudanya itu adalah seorang pengemis muda yang memiliki kepandaian, akan
tetapi sungguh sama sekali tidak disangkanya bahwa Siauw-hong yang hanya kebetulan saja bertemu
dengan Siluman Kecil, kini ikut pula memasuki sayembara dan menurut ucapan perwira itu tadi telah
menang sepuluh kali!
“Harap Ji-wi enghiong suka memperkenalkan kepada Taijin dan semua tamu yang terhormat!” terdengar
Perwira Su Kiat yang mendapatkan isyarat dari Ciu-lo-mo berseru dari sudut panggung.
Siauw-hong dan Kang Swi segera menghadap ke arah tempat kehormatan, menjura ke arah para
pembesar di situ dan terdengarlah Kang Swi berkata dengan suara lantang, “Hamba bernama Kang Swi!”
Siauw-hong juga menjura dan berkata, suaranya lirih, tidak selantang suara pemuda royal itu, “Hamba
bernama Siauw-hong!”
Su Kiat lalu memberi isyarat dengan mengangkat tangannya. “Karena calon-calon lain sudah habis, maka
untuk menentukan siapa pemenangnya, harap ji-wi enghiong suka mulai dengan pertandingan ini. Silakan!”
“Kongcu...“ Siauw-hong berkata sambil memandang kepada calon lawannya dengan sinar mata penuh
keraguan.
“Hemmm, kiranya engkau, Siauw-hong?” Kang Swi berkata lirih.
“Benar, Kongcu”.
Kang Swi memandang kepada Siauw-hong dengan penuh perhatian dan diam-diam merasa tertarik sekali.
Wajah itu kini tidak kotor seperti biasa, melainkan bersih dan pakaiannya, biar pun sederhana dan tidak
mewah, namun rapi dan tiada tambalannya seperti kemarin. Wajah itu tampan sekali, biar pun agak kurus.
Dipandang seperti itu, Siauw-hong merasa canggung dan malu.
“Harap maafkan, Kongcu, sebenarnya... saya sudah tamat belajar maka saya berhak menanggalkan
pakaian pengemis itu. Saya… saya ingin mencari pengalaman, maka saya memasuki sayembara ini, tidak
saya sangka akan berhadapan dengan Kongcu sebagai saingan.” Dia tersenyum, hanya sebentar saja
senyumnya karena dia segera memandang dengan wajah serius kembali.
Kang Swi tertawa. “Bagus! Aku senang sekali kalau aku dapat menguji kepandaianmu, Siauw-hong.
Marilah!”
“Silakan Kongcu mulai,” kata Siauw hong yang bersikap hormat dan merendah.
“Nah, jagalah seranganku!”
Kang Swi menerjang maju dengan cepat dan Siauw-hong juga sudah bergerak cepat sekali mengelak dan
balas menyerang. Gerakan pemuda pengemis ini mantap dan cepat, dari lengannya menyambar hawa
pukulan yang membuktikan bahwa dia telah memiliki kekuatan sinkang yang cukup hebat. Kang Swi si
pemuda tampan yang royal itu terkejut bukan main karena baru terbuka matanya bahwa tukang kudanya
itu, yang dianggap sebelumnya hanya pernah belajar silat saja, ternyata merupakan seorang ahli silat kelas
tinggi! Apa lagi ketika Siaw-hong mainkan ilmu silat yang penuh mengandung serangan-serangan totokan
maut amat aneh dan cepat, dia sampai terdesak mundur!
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi, pemuda hartawan she Kang ini mempunyai semacam watak yang buruk, yaitu dia selalu
terlalu mengandalkan kepandaiannya sendiri sehingga sedikit congkak dan memandang remeh
kepandaian orang lain. Kini, biar pun sudah jelas padanya bahwa kepandaian Siauw-hong sama sekali
tidak boleh dipandang ringan, namun dia bersikap sebagai seorang yang tingkatnya lebih tinggi hendak
menguji kepandaian orang yang lebih rendah tingkatnya, maka dia sengaja main mundur dan hendak
‘menguras’ kepandaian orang!
Karena kekurang hati-hatian yang timbul dari kecongkakan inilah, ketika dia menangkis sambil mengelak,
tanpa dapat dicegahnya lagi lengan dekat sikunya kena tertotok dan hampir saja dia berteriak karena untuk
beberapa detik lamanya, lengan yang tertotok itu menjadi lumpuh!
Namun, memang orang she Kang ini lihai bukan main. Tubuhnya sudah mencelat ke atas, tinggi sekali
seperti seekor burung terbang, berjungkir balik sampai empat kali di udara dan ketika dia turun kembali,
lengannya sudah sembuh dan kini baru dia tahu bahwa Siauw-hong benar-benar amat berbahaya kalau
diberi kesempatan. Oleh karena itu, dia lalu menyerang dan mengeluarkan ilmu simpanannya. Dari kedua
tangannya yang terbuka itu menyambar hawa yang mengeluarkan suara bersuitan seperti gerakan
sebatang pedang tajam. Siauw-hong berseru kaget dan cepat mengelak ke sana-sini.
Di bawah panggung, menyelinap di antara banyak orang, Siluman Kecil juga kagum sekali. Dia belum
berhasil menemukan nenek penjual sepatu rumput yang dianggapnya mencuri uangnya itu, maka dia
berkesempatan pula menonton pertandingan antara dua orang yang dikenalnya dengan baik itu, dan
terkejutlah Siluman Kecil.
Tidak disangkanya bahwa mereka, terutama sekali Siauw-hong yang tak mau mengaku siapa gurunya itu,
ternyata adalah orang-orang yang benar-benar amat lihai, bukanlah ahli-ahli silat sembarangan saja! Dan
kini dia memandang dengan penuh perhatian ilmu silat yang mukjijat dari Kang Swi, maklum bahwa
pukulan-pukulan yang mengandung hawa tajam bersuitan itu benar-benar amat berbahaya sekali. Dia telah
dapat menduga bahwa kalau dilanjutkan, selain Siauw-hong tentu kalah, juga pukulan itu mungkin saja
mencelakakan pengemis muda itu. Dia pasti tidak akan mendiamkan saja kalau sampai Kang Swi
mencelakai Siauw-hong dalam pertandingan mengadu ilmu itu, pikirnya.
Perkiraan Siluman Kecil memang tidak salah. Siauw-hong terkejut setengah mati ketika melihat cara lawan
menyerangnya. Hawa pukulan yang mengeluarkan bunyi bersuitan itu dan ketika dia memberanikan diri
menangkis dengan pengerahan sinkang, lengan bajunya robek-robek bagai terbabat pedang dan kulit
lengannya terluka berdarah seperti disayat pisau tajam! Tentu saja dia meloncat ke belakang dan menjura.
“Saya mengaku kalah!”
Ho-nan Ciu-lo-mo Wan Lok It yang tadi pun menonton pertandingan itu, merasa kagum dan juga girang
karena dua orang ini benar-benar patut untuk menjadi rekannya dan menjadi pengawal-pengawal pribadi
Gubernur Ho-nan karena kepandaian mereka boleh diandalkan! Akan tetapi selagi dia ingin memanggil
kedua orang itu untuk menghadap gubernur, kelihatan ada orang meloncat naik ke atas panggung. Melihat
ini, Siauw-hong yang sudah merasa kalah itu segera mundur dan diajak turun oleh Ho-nan Ciu-lo-mo yang
mempersilakan dia menanti di bawah panggung.
Sementara itu, ketika Kang Swi melihat siapa yang meloncat ke atas panggung untuk menghadapinya, dia
tersenyum lebar. “Aihh, kiranya badut sandiwara itu yang muncul!” Dia mengejek, dan orang pincang yang
gagu itu hanya memandang tajam, kemudian dengan gerak tangan dia menantang.
Para penonton yang berada di sekeliling panggung memandang heran, ada pula yang tertawa. Bagaimana
orang bercambang bauk yang baru datang ini demikian berani mati? Mungkin juga pernah belajar ilmu silat,
akan tetapi melihat bahwa dia hanya seorang gagu dan seorang yang kakinya pincang pula, mana
mungkin dapat melawan pemuda tampan yang ternyata amat lihai itu?
Akan tetapi, Kang Swi yang juga ingin sekali tahu sampai di mana kelihaian orang gagu dan pincang yang
dia duga menyamar itu, tanpa membuang waktu segera menyambut tantangan dengan kata-kata nyaring,
“Kau majulah!”
Si gagu sudah menerjang dengan pukulan sembarangan. Akan tetapi, orang-orang yang memiliki
kepandaian tinggi dan yang berada di tempat itu, seperti Siauw-hong, Kang Swi sendiri, Ciu-lo-mo, Siluman
Kecil dan orang-orang lain terkejut karena mereka ini maklum betapa di balik pukulan sembarangan itu
tersembunyi hawa pukulan yang amat kuat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kang Swi yang menangkis pukulan itu segera mengetahuinya karena tangkisannya yang dilakukan dengan
pengerahan tenaga sinkang-nya ternyata bertemu dengan tenaga sakti yang amat dahsyat dan yang
membuat dia terhuyung! Marahlah pemuda tampan ini. Sambil berteriak keras dia menerjang, langsung
saja dia mengeluarkan ilmu pukulan yang mengandung hawa tajam bersuitan tadi.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil