Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Kamis, 03 Agustus 2017

Cersil Baru Sepasang Pedang Iblis 3

Cersil Baru Sepasang Pedang Iblis 3 Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
-
"Bagus! Hebat...! Untuk menggembleng itu biar pun dalam keadaan sehat, tentu baru dapat kuselesaikan
dalam waktu tiga hari. Akan tetapi engkau hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja. Benar-benar
sukar dicari pendekar sakti seperti engkau, Suma-taihiap. Logam itu telah mendingin, bakar lagi sampai
membara dan akulah yang akan menggemblengnya membungkus gagang."
Kembali Suma Han menurut dan sekali ini, karena logam itu sudah pernah membara, panasnya api cukup
membuat logam itu menjadi merah lagi. Akan tetapi kakek itu mengatakan belum cukup. "Dia harus dibakar
selama satu malam sampai melunak agar mudah digembleng membungkus gagang, apa lagi tenagaku
sekarang banyak berkurang."
Pada keesokan harinya, ketika terdengar bunyi martil menghimpit logam di atas besi landasan sampai
berdentang-dentang, dikerjakan sendiri oleh Kakek Nayakavhira yang dibuatkan tempat duduk tinggi oleh
Suma Han dan ditonton oleh pendekar sakti itu. Selama menyaksikan kakek itu bekerja, diam-diam Suma
Han merasa kagum dan barulah dia tahu betapa sulitnya membuat sebatang pedang pusaka! Dalam
menempa dan menggembleng ini, kakek itu bekerja seperti dalam semedhi sehingga setiap tempaan
merupakan gerakan suci seperti seorang bersembahyang. Maka Suma Han menonton penuh perhatian
dan penuh hormat.
"Bun Beng, mengasolah. Lihat, tumpukan kayu di belakang pondok sudah cukup banyak. Dan mendengar
suara berdentang itu, agaknya mereka tidak membutuhkan terlalu banyak kayu lagi. Lihat sepagi ini
tubuhmu sudah berkeringat!" Kwi Hong menegur Bun Beng yang bertelanjang baju dan sejak pagi buta
telah menebangi kayu.
"Benarkah? Ah, kalau begitu aku mau beristirahat sebentar!" Bun Beng lalu duduk di atas batu dan
menyusuti peluhnya.
"Aku akan masak air, tunggu saja. Aku akan membuatkan minuman untukmu!" Kwi Hong lalu berlari-lari
kecil meninggalkan Bun Beng.
Setelah bekerja keras sejak pagi, tubuhnya lelah dan kini duduk bersandar batu disiliri angin pagi, Bun
Beng merasa nyaman sekali sehingga tak terasa lagi ia memejamkan matanya. Sudah hampir setengah
bulan dia berada di situ sejak pertemuannya dengan Pendekar Siluman dan Kakek Nayakavhira, dan
selama itu setiap hari dia bekerja keras dalam usahanya membantu kakek itu membuat pedang pusaka.
Kini ia merasa lelah sekali dan mengantuk.
Entah berapa lama ia tertidur, tiba-tiba ia merasa pundaknya diguncang tangan halus dan terdengar suara
Kwi Hong. "Ihhh, pemalas. Berhenti sebentar saja sudah tertidur pulas! Bun Beng, minumlah ini. Bukan air
teh akan tetapi daun ini lebih sedap dan kata Paman dapat memulihkan tenaga. Minumlah!"
Bun Beng merasa malas untuk bangun, tetapi pundaknya ditarik sehingga ia terduduk dan ketika ia
membuka sedikit matanya, ia melihat Kwi Hong yang membangunkannya bahkan kini anak perempuan itu
menempelkan secawan minuman ke bibirnya!
"Bun Beng, lihat betapa indahnya bunga ini... indah harum kupetik untukmu..." Tiba-tiba Milana
menghentikan kata-kata dan langkah kakinya ketika melihat Kwi Hong sedang memberi minum Bun Beng
dengan sikap mesra.
Milana memandang sejenak, lalu memejamkan mata, membuang muka, melempar kembang di tangannya
kemudian membalikkan tubuh dan pergi dari situ tanpa berkata-kata. Sambil melangkah pergi dia cepatcepat
menghapus dua butir air mata yang bergantung di bulu matanya. Anak perempuan ini sama sekali
tidak mengerti mengapa dia menjadi berduka, dan dia tidak tahu sama sekali bahwa setan cemburu yang
selalu siap menggoda hati manusia, terutama sekali hati wanita, telah mulai menyentuh hatinya.
Dia hanya merasa kecewa karena pagi itu dia sengaja mencari bunga yang paling indah di dalam hutan
untuk dipetiknya dan diberikan kepada Bun Beng yang ia tahu tentu sedang bekerja keras. Dengan hati
dunia-kangouw.blogspot.com
penuh kegembiraan dia membawa bunga itu dan berlari-lari mencari Bun Beng, membayangkan betapa
girangnya Bun Beng menerima pemberiannya, betapa anak laki-laki itu akan tersenyum kepadanya,
memandang dengan matanya yang tajam dan tentu akan terpancing kata-kata pujian dari Bun Beng
kepadanya.
Dia tidak pernah merasa bosan mendengar pujian-pujian dari mulut Bun Beng. "Milana, engkau baik sekali!
Milana engkau manis sekali!" dan sebagainya. Akan tetapi kegembiraannya membuyar seperti awan tipis
ditiup angin ketika tiba di tempat itu, dia melihat Kwi Hong dengan sikap mesra memberi minum Bun Beng!
Milana sendiri tidak mengerti mengapa dia harus kecewa. Dia bersahabat baik dengan Kwi Hong yang
dianggapnya seperti enci-nya sendiri, yang dianggapnya sebagai seorang saudara yang lebih tua darinya,
lebih pandai dan dia pun tahu bahwa sebagai murid Pendekar Siluman, Kwi Hong memiliki kepandaian silat
jauh lebih tinggi dari padanya, bahkan menurut pengakuan Bun Beng, jauh lebih tinggi dari pada
kepandaian Bun Beng! Mengapa kini hatinya menjadi kecewa dan demikian tidak enak menyaksikan sikap
mesra Kwi Hong kepada Bun Beng?
Bun Beng yang masih setengah mengantuk dan tadi menurut saja diberi minum, dengan mata setengah
terpejam, dapat melihat bayangan Milana yang pergi lagi sambil membuang bunga setangkai di atas tanah.
Matanya terbuka lebar memandang bunga itu dan dia lalu sadar akan keadaan dirinya yang seperti anak
kecil diberi minum.
"Terima kasih, Kwi Hong, biar kuminum sendiri," katanya sambil menerima cawan minuman itu. Kwi Hong
memberikan cawannya dan memandang dengan wajah berseri ketika Bun Beng minum dan kelihatan
nikmat. Tentu saja nikmat minum-minuman sedap hangat itu di pagi hari.
"Eh, mana dia tadi?" Kwi Hong bertanya sambil menengok.
"Siapa?" Bun Beng pura-pura bertanya.
"Milana! Aku mendengar dia datang tadi. Mana dia?"
"Ah, aku tidak melihat dia," kata Bun Beng sambil menutupi muka dengan cawan, meneguk habis
minumannya sedangkan matanya melirik ke arah setangkai bunga yang tergeletak sunyi di atas tanah.
"Terima kasih, Kwi Hong. Engkau baik sekali." Bun Beng mengembalikan cawan kosong yang diterima Kwi
Hong dengan wajah girang. Memang itulah yang dinanti-nantinya. Untuk menerima pujian Bun Beng itu, dia
mau melakukan pekerjaan yang lebih berat dari pada membuatkan secawan minuman!
"Bun Beng, mulai sekarang, engkau tidak perlu mencari kayu bakar lagi."
"Ahh, mengapa?"
"Pedang pusaka itu sudah selesai! Paman tadi berpesan agar engkau tidak perlu mengumpulkan kayu
bakar lagi, akan tetapi pedang itu akan ditapai oleh Kakek Nayakavhira beberapa hari lamanya. Paman
telah pergi karena Kakek itu tidak mau diganggu, dan Paman pergi mencari sepasang garuda kami karena
dipanggil-panggil tak kunjung datang."
"Dan kita...?"
"Kita harus menunggu di sini sampai Paman kembali. Eh, Bun Beng, setelah pedang selesai, engkau tentu
akan ikut Paman ke Pulau Es, bukan?"
Bun Beng berpikir sejenak. Alangkah akan senang hatinya kalau dapat pergi ke tempat Pendekar Siluman
dan menjadi muridnya. Akan tetapi ia teringat kepada Milana. Mana mungkin dia meninggalkan Milana di
tempat itu begitu saja? Dia ingin sekali pergi bersama Pendekar Siluman, tetapi dia tidak boleh
meninggalkan anak perempuan itu. Lebih dulu dia harus mengantarkan Milana sampai dapat pulang ke
tempat tinggalnya, yaitu di Kerajaan Mongol.
"Aku harus mengantar Milana lebih dulu pulang ke Mongol," katanya.
Kwi Hong tertawa. "Apa sukarnya? Dengan adanya Paman dan dengan menunggang garuda, sebentar
saja kita akan dapat mengantar Milana. Eh, di mana anak, itu? Milana...! Milana...!"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Aku di sini...! Aku datang...!" terdengar jawaban Milana dan tampaklah anak itu datang berlari
menghampiri mereka. Wajahnya sudah cerah kembali karena panggilan suara Kwi Hong sudah mengusir
rasa kecewa hatinya.
"Milana, pedang telah selesai dibuat dan sekarang Bun Beng tidak perlu mencari kayu bakar lagi. Kita
dapat bermain-main sambil menanti sampai Kakek itu selesai menapai pedang pusaka. Biar kusimpan dulu
cawan ini!" Kwi Hong berlari pergi membawa cawan kosong.
Bun Beng memakai bajunya, kemudian mengambil setangkai bunga dari atas tanah, mencium bunga yang
indah itu sambil berkata, "Milana, terima kasih atas pemberian bunga ini. Engkau sungguh seorang anak
yang baik hati..."
Wajah Milana berseri kemudian berubah merah ketika Bun Beng mendekatinya.
"Kalau sudah selesai, tentu engkau akan diajak pergi oleh Suma-taihiap," kata Milana perlahan. "Engkau
akan sekaligus mendapatkan seorang sahabat yang manis seperti Kwi Hong."
"Ah, mana mungkin! Aku harus mengantarmu lebih dulu pulang ke Mongol," jawab Bun Beng, tiba-tiba
merasa kasihan kepada anak itu dan mendekati.
"Biarkanlah, aku dapat mencari jalan pulang sendiri."
"Tidak Milana. Sebelum mengantarmu pulang, aku tidak mau pergi meninggalkanmu di sini. Pula, kurasa
Suma-taihiap akan suka mengantarmu pulang dengan naik burung garudanya. Setelah kau tiba dengan
selamat di sana, barulah aku akan suka ikut dan belajar ilmu kepadanya."
"Bun Beng, mengapa engkau begini baik kepadaku?" Milana bertanya, mengangkat muka memandang
dengan hati terharu.
Bun Beng tersenyum. "Apa kau kira engkau kalah baik? Engkaulah yang bersikap amat baik terhadapku.
Engkau keluarga istana raja, dan aku hanya seorang anak sebatang kara yang miskin, namun sikapmu
baik sekali. Bagaimana aku tidak akan bersikap baik kepadamu? Lupakah kau akan pelajaran tentang cinta
kasih? Kalau engkau menganjurkan cinta kasih antara manusia, agaknya manusia seperti inilah yang
paling pantas dicinta."
Percakapan mereka adalah percakapan kanak-kanak yang meniru-niru pelajaran filsafat, maka tentu saja
‘cinta’ yang mereka sebut-sebut tidak ada hubungannya dengan cinta antara laki-laki dan perempuan
dewasa. Betapa pun juga, ada sesuatu yang aneh terasa di hati mereka.
"Mengapa begitu, Bun Beng? Apa bedanya aku dengan orang lain?"
"Hemm, entahlah. Mungkin karena engkau... manis sekali."
Milana makin girang dan ia tersenyum, tidak tahu betapa Kwi Hong telah datang dan melihat mereka berdiri
berhadapan demikian akrab dan melihat Bun Beng memegangi setangkai bunga indah, dan mereka tidak
tahu betapa Kwi Hong yang keras hati itu memandang dengan mata bersinar-sinar penuh iri dan cemburu!
Kwi Hong sendiri belum tahu tentang arti cinta antara pria dan wanita, namun tanpa disengaja dia merasa
amat tidak senang menyaksikan keakraban antara Bun Beng dan Milana!
Namun Kwi Hong menyembunyikan rasa tidak senangnya ketika ia berlari menghampiri mereka dan
berkata. "Nah, sekarang tiba waktunya kita bermain-main dan marilah kita memperlihatkan ilmu yang kita
pelajari. Aku ingin sekali melihat ilmu silatmu, Milana. Agaknya engkau tentu telah mempelajari ilmu silat
yang tinggi. Gerakan kakimu amat ringan dan tanganmu cekatan. Marilah kita main-main dan mengukur
kepandaian masing-masing untuk menambah pengalaman dan pengetahuan."
"Ah, mana mungkin aku dapat menandingimu, Kwi Hong? Engkau adalah murid Tocu dari Pulau Es yang
terkenal, Pendekar Super sakti, sedangkan aku hanya seorang yang sebulan sekali saja menerima latihan
dari Ibu. Dalam satu dua jurus saja aku tentu akan roboh!"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Aihhh, mengapa kau merendahkan diri, Milana? Aku yakin kepandaianmu tentu sudah cukup tinggi. Pula,
kita hanya main-main dan hitung-hitung berlatih, tidak bertanding sungguh-sungguh, mana perlu saling
merobohkan?"
"Kwi Hong, ilmu silat adalah ilmu untuk menjaga diri, ada unsur bertahan akan tetapi juga selalu
mengandung unsur menyerang. Kalau dipergunakan dalam pertandingan, mana bisa main-main lagi?
Kepalan tangan dan tendangan kaki tidak mempunyai mata. Pula, selama hidupku, belum pernah aku
menggunakan ilmu yang kupelajari untuk bertanding. Tidak, aku mengaku kalah!"
Kwi Hong menjadi kecewa sekali. Tidak ada seujung rambut dalam hatinya ingin merobohkan atau melukai
Milana, hanya memang dia ingin mengalahkan anak itu di depan Bun Beng untuk mendapat pujian!
"Milana, untuk apa engkau mempelajari ilmu kalau kau takut mempergunakannya?" Ia mendesak.
Bun Beng yang sudah mengenal watak halus Milana merasa kasihan. Dia tidak menyalahkan Kwi Hong,
karena ia maklum bahwa orang yang mempelajari ilmu silat tentu senang bertanding silat dan ia pun tahu
bahwa bukan niat Kwi Hong untuk melukai Milana. Tentu saja Kwi Hong belum mengenal watak Milana
yang sama sekali berlawanan dengan ilmu silat itu, maka ia melangkah maju dan berkata,
"Kwi Hong, Milana tidak mau bertanding mengadu ilmu. Wataknya terlalu halus untuk bertanding. Kalau
engkau ingin berlatih, marilah kulayani, biar terbuka mataku dan bertambah pengetahuanku menerima
pelajaran dari murid Suma-taihiap yang sakti."
Dalam ucapan ini, Bun Beng sama sekali tidak menyalahkan Kwi Hong, hanya ingin menolong Milana yang
kelihatan terpojok. Akan tetapi hati Kwi Hong tersinggung dengan kata-kata bahwa watak Milana terlalu
halus, sama dengan mengatakan bahwa wataknya adalah kasar! Dengan kedua pipi merah ia lalu
menjawab singkat.
"Baiklah. Mari!" Setelah berkata demikian ia lalu menerjang maju dengan serangan ke arah dada Bun
Beng!
Bun Beng cepat mengelak dan melompat ke belakang, akan tetapi gerakan Kwi Hong amat cepatnya dan
anak ini sudah melanjutkan serangannya dengan pukulan lain yang amat cepat. Bun Beng terkejut, tak
sempat mengelak lagi maka ia lalu menggerakkan tangan menangkis.
"Dukkk!"
Kwi Hong merasa lengannya agak nyeri, akan tetapi Bun Beng terhuyung ke belakang. Dalam hal tenaga
sinkang dia kalah kuat oleh Kwi Hong yang menerima latihan sinkang istimewa dari Suma Han di Pulau Es!
Dan Kwi Hong yang merasa lengannya nyeri itu menjadi penasaran, mengira bahwa Bun Beng agaknya
memiliki kepandaian tinggi maka dia lalu menyerang terus dengan gencar.
Bun Beng menggerakkan kaki tangan, mempertahankan diri dengan ilmu silat dari Siauw-lim-pai yang ia
pelajari dari mendiang suhu-nya, Siauw Lam Hwesio. Akan tetapi lewat belasan jurus, dia terdesak hebat
dan setiap kali terpaksa menangkis, dia terpental atau terhuyung.
"Wah, Kwi Hong... aku menyerah kalah!" Bun Beng berseru sambil menangkis lagi.
"Dukkk!"
Kembali Kwi Hong merasa lengannya nyeri. Biar pun sinkang-nya lebih kuat, namun kulit lengannya tidak
sekeras dan sekuat Bun Beng yang selama setengah tahun hidup seperti kera liar dalam keadaan
telanjang bulat. Ia makin penasaran.
"Mengadu ilmu tidak perlu mengalah. Bun Beng, keluarkan kepandaianmu, balaslah menyerang, jangan
mempertahankan saja!" Kwi Hong melanjutkan serangannya lebih cepat lagi sehingga Bun Beng menjadi
repot sekali.
Karena serangan bertubi-tubi itu amat cepat dan dahsyat, terpaksa ia dalam keadaan setengah sadar telah
menggerakkan kaki tangannya menurutkan ilmu dalam tiga kitab Sam-po-cin-keng. Dia menangkis dengan
gerakan membentuk lingkaran dengan kaki tangannya dan dari samping ia mengirim pukulan balasan,
dunia-kangouw.blogspot.com
hanya mendorong ke arah pundak Kwi Hong dan dia berhasil! Pundak Kwi Hong terkena dorongannya
sehingga anak perempuan itu terhuyung.
"Kau hebat juga!" Biar pun mulutnya memuji, namun hati Kwi Hong menjadi panas. Dia menerjang lagi
lebih hebat. Memang watak Kwi Hong keras dan tidak mau kalah. Dia merasa bahwa sebagai murid dan
keponakan Pendekar Super Sakti dia tidak akan terkalahkan oleh anak-anak lain!
Bun Beng menjadi sibuk sekali. Biar pun dia mainkan ilmu silat yang dipelajari dari kitab orang sakti yang ia
temukan di dalam sumber air panas di goa rahasia, namun isi kitab itu lebih ia kuasai teorinya saja,
sedangkan isinya belum ia mengerti benar. Apa lagi kini Kwi Hong benar-benar mengeluarkan
kepandaiannya. Ilmu silat yang dia pelajari dari Suma Han adalah ilmu silat tingkat tinggi dan anak ini
setiap hari berlatih dengan para penghuni Pulau Es maka tentu saja serangan-serangannya amat hebat!
"Plakkk!"
Punggung Bun Beng kena ditampar. Dia terhuyung, tetapi berkat semua penderitaan tubuhnya yang
membuat tubuhnya kuat, dia tidak roboh dan dapat menangkis pukulan susulan. Kembali dia didesak hebat
sampai mundur-mundur dan hanya mampu mengelak menangkis, sedangkan Kwi Hong seperti seekor
harimau betina mempunyai keinginan untuk merobohkan Bun Beng. Kalau sudah kalah, tentu Bun Beng
tidak berani merendahkannya dan akan menghargainya seperti yang ia inginkan!
"Kwi Hong, sudahlah...!" berkali-kali Milana menjerit ketika melihat betapa Bun Beng mulai terkena pukulan
beberapa kali. Biar pun bukan pukulan yang membahayakan, namun cukup membuat Bun Beng beberapa
kali terhuyung dan mengaduh.
Tiba-tiba Bun Beng menerjang dengan nekat! Sudah menjadi watak Bun Beng sebagai seorang anak yang
tidak mengenal takut dan pantang menyerah! Apa lagi baru menerima pukulan-pukulan seperti itu, biar pun
diancam maut sekali pun dia pantang menyerah dan akan melakukan perlawanan. Dia sudah mengalah,
akan tetapi karena Kwi Hong agaknya bersikeras untuk merobohkannya, dia menjadi naik darah dan kini
Bun Beng menerjang hebat dengan ilmu barunya secara sedapat-dapatnya.
Biar pun gerakannya seperti ngawur, namun kakinya berhasil mengenai lutut Kwi Hong sehingga gadis cilik
yang merasa kaki kirinya tiba-tiba lemas itu hampir jatuh! Dia meloncat tinggi kemudian menukik turun dan
menyerang Bun Beng dari atas dengan kedua tangan. Bun Beng terkejut, berusaha menangkis, akan tetapi
hanya berhasil menangkis serangan tangan kanan, sedangkan tangan kiri Kwi Hong dapat menotok
pundak Bun Beng, membuat pemuda cilik itu terguling.
"Kwi Hong, jangan lukai Bun Beng!" Tiba-tiba Milana yang sejak tadi berteriak-teriak mencegah
pertandingan sudah menerjang maju.
"Wuuut...! Plakkk!" Terjangan Milana cepat sekali, akan tetapi Kwi Hong masih sempat menangkis
sehingga keduanya terhuyung mundur.
"Hemm, kiranya engkau boleh juga!" Kwi Hong yang sudah menjadi marah karena menyesal bahwa dia
telah merobohkan Bun Beng dan tentu Bun Beng akan marah kepadanya, sebaliknya suka kepada Milana
yang membelanya, kini menyerang Milana yang cepat mengelak dan balas menyerang!
Kiranya anak yang berwatak halus ini memiliki gerakan yang indah dan ringan sekali sehingga pukulanpukulan
Kwi Hong dapat ia elakkan semua. Betapa pun juga dia segera terdesak hebat karena agaknya
hanya dalam keringanan tubuh saja dia dapat menandingi, sedangkan dalam ilmu silat dan tenaga, dia
kalah banyak. Biar pun Milana bergerak dengan gesit, tidak urung dia terkena dorongan tangan Kwi Hong
yang mengenai pinggangnya sehingga ia terpelanting jatuh.
"Kwi Hong, kau terlalu!" Bun Beng menubruk Kwi Hong, akan tetapi cepat Kwi Hong mengelak
menjatuhkan diri sambil menendang.
"Bukkk!" Paha Bun Beng terkena tendangan sehingga untuk kedua kalinya dia jatuh tersungkur.
"Kwi Hong! Apa yang kau lakukan ini?" Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan Suma Han telah berada
di situ. Melihat pamannya, seketika lenyap kemarahan dari hati Kwi Hong, terganti rasa takut. "Paman,
kami hanya main-main...."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Main-main?" Suma Han memandang Bun Beng yang telah bangun dan mengebut-ngebutkan pakaiannya
yang kotor. Juga Milana telah bangun dan memandang dengan wajah tenang.
"Karena menganggur, kami berlatih silat," kata pula Kwi Hong.
"Hemm..." Suma Han tetap memandang Bun Beng dan Milana penuh selidik.
Melihat sikap pendekar itu dan melihat betapa Kwi Hong ketakutan, Bun Beng lalu cepat berkata. "Kami
hanya berlatih."
Milana juga berkata, "Kwi Hong hanya melatih saya, Suma-taihiap."
Suma Han mengerutkan keningnya, wajahnya yang biasanya sudah muram itu kini tampak seolah-olah
ada sesuatu yang mengesalkan hatinya. Tanpa menjawab ia lalu meloncat dan tubuhnya berkelebat
memasuki pondok.
Kwi Hong memandang kepada Bun Beng dan Milana, kemudian dengan suara penuh penyesalan berkata,
"Maafkan aku, kalian baik sekali."
Tiba-tiba terdengar bunyi lengking keras dari dalam pondok dan tubuh Suma Han meloncat keluar, tahutahu
sudah tiba di dekat mereka bertiga, matanya mengeluarkan sinar marah ketika ia menegur.
"Kalian tidak melihat orang datang ke pondok?"
Tiga orang anak itu memandang Suma Han dengan heran, lalu menggeleng kepala. Suma Han menghela
napas panjang. "Kalian hanya bermain-main saja, sedangkan sepasang garuda dibunuh orang dan pedang
pusaka lenyap dari pondok."
Tiga orang anak itu terkejut bukan main, "Pek-eng dibunuh...?" Kwi Hong bertanya dan suaranya terdengar
bahwa dia menahan tangisnya.
"Mati terpanah. Tidak mudah kedua burung itu dipanah, tentu pemanahnya seorang yang berilmu tinggi.
Dan selagi kalian main-main, pedang pusaka dicuri orang."
"Kakek Nayakavhira...?" tanya Milana.
"Dia telah meninggal dunia."
"Ohh! Dia dibunuh?" Bun Beng berteriak kaget.
Suma Han menggeleng kepala. "Dia mati selagi bersemedhi. Sungguh celaka, ada orang berani
mempermainkan aku secara keterlaluan. Kalian di sini saja, jangan main-main, bantu aku pasang mata,
lihat-lihat kalau ada orang. Aku akan memperabukan jenazah Nayakavhira." Suma Han lalu membakar
pondok itu setelah menumpuk sisa kayu bakar ke dalam pondok dan meletakkan jenazah kakek yang
masih bersila itu di atasnya.
Pondok terbakar oleh api yang bernyala-nyala besar. Suma Han berdiri tegak memandang, dan tiga orang
itu juga memandang dengan hati kecut. Sungguh tidak mereka sangka terjadi hal-hal yang demikian hebat.
Selain dua ekor burung garuda terbunuh orang, juga pedang pusaka yang dibuat sedemikian susah payah
itu dicuri orang dari pondok tanpa mereka ketahui sama sekali.
Timbul penyesalan besar di dalam hati Kwi Hong karena andai kata dia tidak memaksa Bun Beng dan
Milana bertempur, tentu mereka lebih waspada dan dapat melihat orang yang memasuki pondok dan
mencuri pedang pusaka. Andai kata mereka bertiga tidak dapat mencegah pencuri itu melarikan pedang,
sedikitnya mereka dapat menceritakan pamannya bagaimana macamnya orang yang mencuri pedang.
Sekarang pedang tercuri tanpa diketahui siapa pencurinya!
Keadaan di situ menjadi sunyi sekali karena Suma Han dan tiga orang anak itu tidak bergerak,
memandang pondok yang dibakar. Hanya suara api membakar kayu jelas terdengar mengantar asap yang
membubung tinggi ke atas. Tiba-tiba tiga orang anak itu terkejut ketika mendengar suara ketawa
melengking yang menggetarkan isi dada mereka. Pantasnya iblis sendiri yang mengeluarkan suara seperti
itu, yang datang dari timur seperti terbawa angin, bergema di sekitar daerah itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Lebih kaget lagi hati mereka bertiga ketika melihat tubuh Suma Han berkelebat cepat dan lenyap dari situ,
meninggalkan suara perlahan namun jelas terdengar oleh mereka. "Kalian tinggal di sini, jangan pergi!"
Selagi tiga orang itu bengong saling pandang dengan muka khawatir, tiba-tiba terdengar suara tertawa
halus dan berkelebat bayangan orang. Tahu-tahu di situ muncul seorang laki-laki yang berwajah tampan,
berusia kurang lebih tiga puluh tahun, berpakaian seperti siucai dan di punggungnya tampak sebatang
pedang. Melihat munculnya orang yang tertawa-tawa ini, Bun Beng memandang penuh perhatian dan dia
melihat sebatang pedang bersinar putih tanpa gagang terselip di ikat pinggang orang itu. Anak yang cerdik
ini segera dapat menduga bahwa tentu orang ini mencuri pedang, dan pedang bersinar putih yang terselip
dan ditutupi jubah namun masih tampak sedikit itu adalah pedang pusaka yang dicurinya.
"Engkau pencuri pedang!" Bentaknya marah dan tanpa mempedulikan sesuatu, Bun Beng sudah
menubruk ke depan. Akan tetapi sebuah tendangan tepat mendorong dadanya dan ia roboh terjengkang.
"Ha-ha-ha! Memang aku yang mengambil pedang pusaka. Dan siapa di antara kalian berdua yang menjadi
murid perempuan Pendekar Siluman?"
Kwi Hong yang mendengar pengakuan itu telah menjadi marah sekali. Inilah orangnya yang membikin
kacau dan membikin marah gurunya atau pamannya, pikirnya. Ia bergerak maju sambil membentak, "Aku
adalah murid Pendekar Super Sakti! Maling hina, kembalikan pedang!"
Akan tetapi sambil tertawa-tawa, laki-laki tampan itu membiarkan Kwi Hong memukulnya dan ketika
kepalan tangan gadis cilik itu mengenai perutnya, Kwi Hong merasa seperti memukul kapas saja. Ia
terkejut, akan tetapi tiba-tiba lengannya sudah ditangkap, tubuhnya dikempit dan sambil tertawa laki-laki itu
sudah meloncat dan lari pergi.
"Tahan...!" Milana berseru dan meloncat ke depan, tetapi sekali orang itu mengibaskan lengan kirinya,
tubuh Milana terpelanting dan roboh terguling.
Bun Beng sudah bangkit lagi, tak peduli akan kepeningan kepalanya dan dia mengejar secepat mungkin.
Namun laki-laki itu berloncatan cepat sekali dan sudah menghilang. Bun Beng teringat akan suara ketawa
dari arah timur tadi, maka dia lalu mengejar ke timur.
Milana merangkak bangun, menggoyang-goyang kepalanya yang pening. Ia kemudian mengangkat muka
memandang, akan tetapi tidak tampak lagi laki-laki yang menculik Kwi Hong, juga tidak tampak bayangan
Bun Beng. Dia menduga tentu Bun Beng melakukan pengejaran, maka dia pun meloncat bangun dan
mengejar ke timur karena seperti Bun Beng, dia tadi mendengar suara ketawa dari timur.
Tentu saja baik Bun Beng mau pun Milana tertinggal jauh sekali oleh laki-laki yang menculik Kwi Hong
karena orang itu memiliki ilmu kepandaian tinggi sehingga kedua orang anak itu selain tertinggal juga
masing-masing melakukan pengejaran secara ngawur tanpa mengetahui ke mana larinya si penculik dan
pencuri pedang itu.
Penculik berpakaian sastrawan itu bukan lain adalah Tan Ki atau Tan-siucai yang telah miring otaknya!
Setelah berhasil membunuh Im-yang Seng-cu yang dipersalahkan karena Im-yang Seng-cu tidak
membalas dendam dan membunuh Pendekar Siluman, Tan-siucai bersama gurunya yang aneh dan amat
lihai itu lalu melanjutkan perjalanan mencari Pendekar Siluman yang kabarnya menjadi Tocu Pulau Es.
Secara kebetulan sekali, ketika mereka berjalan di sepanjang pesisir lautan utara untuk menyelidiki di
mana adanya Pulau Es, pada suatu hari mereka melihat dua ekor burung garuda putih beterbangan.
"Guru, bukankah burung-burung itu adalah garuda putih yang amat besar-besar. Seperti kita dengar,
tunggangan Suma Han juga burung garuda putih. Siapa tahu burung-burung itu adalah tunggangannya?"
Kata Tan-siucai.
"Hm, burung yang indah dan hebat, sebaiknya ditangkap!" kata Maharya memandang kagum, lalu ia
mengambil sebuah batu sebesar genggaman tangan dan melontarkan batu itu ke arah seekor dari pada
dua burung garuda putih yang terbang rendah.
Dua ekor burung itu memang benar burung-burung peliharaan Suma Han yang ditinggalkan di tempat itu
ketika Kwi Hong hendak menonton kakek menunggang gajah. Karena lama majikan mereka tidak
dunia-kangouw.blogspot.com
memanggil, kedua burung garuda itu menjadi kesal dan beterbangan sambil menyambari ikan yang berani
mengambang di permukaan laut, juga mencari binatang-binatang kecil yang dapat mereka jadikan mangsa.
Lontaran batu dari tangan Maharya amat kuatnya sehingga batu itu meluncur seperti peluru ke arah burung
garuda betina. Burung ini sudah terlatih, melihat ada sinar menyambar ke arahnya, ia lalu menangkis
dengan cakarnya. Akan tetapi, biar pun batu itu hancur oleh cakarnya, burung itu memekik kesakitan
karena tenaga lontaran yang kuat itu membuat kakinya terluka. Dia menjadi marah sekali, mengeluarkan
lengking panjang sebagai tanda marah dan menyambar turun ke bawah dengan kecepatan kilat,
mencengkeram kepala Maharya yang berani mengganggunya!
"Eh, burung jahanam!" Maharya menyumpah ketika terjangan itu membuat ia terkejut dan hampir jatuh,
sungguh pun dia dapat mengelak dengan loncatan ke kiri.
"Tidak salah lagi, tentu tunggangan Pendekar Siluman!" Kata Tan-siucai. "Kalau burung liar mana mungkin
begitu lihai? Guru, kita bunuh saja burung-burung ini!"
Setelah berkata demikian, Tan Ki mengeluarkan sebatang panah, memasang pada sebuah gendewa kecil.
Menjepretlah tali gendewa dan sebatang anak panah meluncur dengan kecepatan kilat menyambar burung
garuda betina yang masih terbang rendah. Burung itu berusaha mengelak dan menangkis dengan
sayapnya, namun anak panah itu dilepas oleh tangan yang kuat sekali, menembus sayap dan menancap
dada! Burung itu memekik dan melayang jatuh, terbanting di atas tanah, berkelojotan dan mati!
Burung garuda jantan menjadi marah sekali, mengeluarkan pekik nyaring dan menyambar ke bawah
hendak menyerang Tan-siucai. Namun sambil tertawa, Tan Ki sudah melepas sebatang anak panah lagi.
Garuda ini pun mencengkeram, namun anak panah itu tetap saja menembus dadanya dan burung ini pun
roboh tewas! Dua ekor burung garuda yang terjatuh kini tewas di tangan seorang berotak miring yang lihai
sekali.
Tan-siucai dan gurunya kini merasa yakin bahwa tentu kedua ekor burung garuda itu adalah binatang
tunggangan Pendekar Siluman seperti yang mereka dengar diceritakan orang-orang kang-ouw. Maka
mereka berlaku hati-hati, menyelidiki daerah itu dan akhirnya dari jauh mereka melihat pondok di mana
mengepul asap dan terdengar bunyi martil berdencing. Mereka tidak berlaku sembrono, hanya mengintip
dengan sabar dan dapat menduga bahwa Pendekar Siluman tentu berada di pondok itu, sedangkan
seorang di antara dua orang anak perempuan yang bermain-main di luar dengan seorang anak laki-laki
tentulah muridnya seperti yang dikabarkan orang.
Tadinya Tan-siucai hendak mengajak gurunya menyerbu dan membunuh musuh yang dibencinya itu, yang
dianggap telah merampas tunangannya. Akan tetapi ketika Maharya mendapatkan bangkai gajah besar tak
jauh dari tempat itu, dia menahan niat ini.
"Kalau tidak salah, gajah ini adalah binatang tunggangan kakakku Nayakavhira! Jangan-jangan tua bangka
itu pun berada di dalam pondok bersama Pendekar Siluman. Aahhh, tidak salah lagi, tentu dia. Dan suara
berdencing itu. Tentu Si Tua Bangka membuatkan pedang pusaka untuk Pendekar Siluman! Huh, dia
selalu menentangku! Kalau aku tidak bisa membunuhnya, tentu dia akan mendahului aku merampas
Sepasang Pedang Iblis! Kita harus berhati-hati. Aku tidak takut menghadapi Pendekar Siluman kaki
buntung yang disohorkan orang itu. Akan tetapi tua bangka Nayakavhira itu lihai sekali dan terhadap dia
kita tidak dapat menggunakan ilmu sihir. Kita menanti saja dan kalau ada kesempatan baik, baru kita
menyerbu."
Ketika melihat Suma Han keluar dari pondok dan meninggalkan tiga orang anak, Maharya lalu mengajak
muridnya diam-diam, menggunakan kesempatan selagi tiga orang anak itu bertempur untuk menyelundup
ke dalam pondok. "Dia tentu sedang semedhi menapai pedang, inilah kesempatan baik karena Pendekar
Siluman sedang keluar. Kau ambil pedangnya, biar aku yang menghadapi Nayakavhira!"
Akan tetapi, ketika mereka memasuki pondok, mereka melihat bahwa Nayakavhira telah mati dalam
keadaan masih duduk bersila di pondok, di depannya menggeletak sebatang pedang bersinar putih yang
belum ada gagangnya. Tentu saja Maharya menjadi girang sekali dan Tan-siucai mengambil pedang
pusaka itu. Diam-diam mereka keluar dari pondok dan mengintai dari tempat persembunyian mereka.
Mereka melihat Suma Han datang lagi, kemudian melihat Suma Han membakar pondok untuk
memperabukan jenazah Nayakavhira.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Bagus! Sekarang biar aku memancing dia pergi, hendak kucoba sampai di mana kepandaiannya. Kau
menjaga di sini, kalau dia sudah pergi, kau culik muridnya. Dengan demikian, akan lebih mudah engkau
membalas dendam."
Demikianlah, dari tempat jauh di sebelah timur Maharya mengeluarkan suara ketawa sehingga memancing
datangnya Suma Han, sedangkan Tan-siucai berhasil menculik Kwi Hong! Pada hakekatnya, Tan-siucai
bukanlah seorang yang jahat atau kejam. Akan tetapi pada waktu itu otaknya sudah miring karena
dendamnya dan karena dia memaksa diri mempelajari ilmu sihir dari Maharya. Maka dia pun tidak
membunuh Bun Beng dan Milana, hal yang akan mudah dan dapat ia lakukan kalau dia berhati kejam. Dia
mengempit tubuh Kwi Hong sambil lari menyusul gurunya dan terkekeh mengerikan.
"Lepaskan aku! Keparat, lepaskan aku! Kalau tidak, Pamanku akan menghancurkan kepalamu!"
"Heh-heh-heh, Pamanmu? Gurumu sekali pun, Si Pendekar Buntung kakinya itu, tidak akan mampu
membunuhku, bahkan dia yang kini akan mampus di tangan Guruku. Siapa Pamanmu, heh?"
"Tolol! Pamanku ialah guruku Suma Han Pendekar Super Sakti, Tocu dari Pulau Es! Lepaskan aku!"
Saking herannya bahwa anak perempuan itu bukan hanya murid, akan tetapi juga keponakan musuh
besarnya, Tan-siucai melepaskan Kwi Hong dan memandang dengan mata terbelalak. "Engkau
keponakannya? Keponakan dari mana, heh?"
Kwi Hong mengira bahwa orang gila ini takut mendengar bahwa dia keponakan gurunya, maka dia berkata,
"Guruku adalah adik kandung mendiang Ibuku."
Tan-siucai tertawa. "Ha-ha-ha-ha! Kebetulan sekali! Dia telah membunuh kekasihku, tunanganku, calon
isteriku. Biar dia lihat bagaimana rasanya melihat keponakannya kubunuh di depan matanya. Heh-hehheh!"
Kwi Hong memandang marah. "Setan keparat! Engkau gila! Diriku tidak membunuh siapa-siapa dan jangan
kira engkau akan dapat terlepas dari tangannya kalau kau berani menggangguku!"
"Engkau mau lari? Heh-heh-heh, larilah kalau mampu. Lihat, api dari tanganku sudah mengurungmu,
bagaimana kau bisa lari?"
Kwi Hong memandang dan ia terpekik kaget melihat betapa kedua tangan yang dikembangkan itu benarbenar
mengeluarkan api yang menyala-nyala dan mengurung di sekelilingnya! "Setan... engkau setan...!" Ia
memaki akan tetapi hatinya merasa takut dan ngeri.
"Ha-ha-ha, hayo ikut bersamaku. Aku tidak mau terlambat melihat musuh besarku mati di tangan Guruku!"
Tan-siucai menubruk hendak menangkap Kwi Hong. Anak ini menjerit dan tanpa mempedulikan api yang
bernyala-nyala di sekelilingnya, ia meloncat menerjang api. Dan terjadilah hal yang mengherankan hatinya.
Ketika menerjang, api itu tidak membakarnya, bahkan tidak ada lagi! Seolah-olah melihat api tadi hanya
terjadi dalam mimpi! Maka ia berbesar hati lari terus.
"Hei-hei... engkau mau lari ke mana, heh?" Tan-siucai mengejar dan agaknya dalam kegilaannya ia
merasa senang mempermainkan Kwi Hong, mengejar sambil menggertak menakut-nakuti, tidak segera
menangkapnya, padahal kalau dia mau, tentu saja dia dapat menangkap dengan mudah dan cepat.
Lagaknya seperti seekor kucing yang hendak mempermainkan seekor tikus. Membiarkannya lari dulu untuk
kemudian ditangkap dan diganyangnya.
Tan-siucai hanya hendak menakut-nakuti saja karena anak itu adalah keponakan dan murid musuh
besarnya, tidak mempunyai maksud sedikit pun juga di hatinya untuk melakukan sesuatu yang tidak baik.
Mungkin dia akan benar-benar membunuh Kwi Hong di depan Suma Han, namun hal itu pun akan
dilakukan semata-mata untuk menyakiti hati musuh besar yang telah merampas dan dianggap membunuh
kekasihnya!
"Heh-heh-heh, mau lari ke mana kau?" Sekali meloncat, tiba-tiba tubuhnya melesat ke depan dan sambil
tertawa-tawa ia telah tiba menghadang di depan Kwi Hong!
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ihhhhh!" Kwi Hong menjerit kaget penuh kengerian, akan tetapi dia tidak takut dan menghantam perut
orang itu.
"Cessss!" Tangannya mengenai perut yang lunak seolah-olah tenaganya amblas ke dalam air, maka Kwi
Hong lalu membalikkan tubuh dan melarikan diri ke lain jurusan.
"Heh-heh-heh, larilah yang cepat, larilah kuda cilik, lari! Ha-ha-ha!" Tan-siucai tertawa-tawa dan mengejar
lagi dari belakang. Berkali-kali ia mempermainkan Kwi Hong dengan loncat menghadang di depan anak itu.
Ketika ia sudah merasa puas mempermainkan sehingga Kwi Hong mulai terengah-engah kelelahan, tibatiba
Tan-siucai tersentak kaget karena tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu di depannya telah
berdiri seorang wanita yang mukanya berkerudung menyeramkan!
Biar pun Tan-siucai kini telah menjadi seorang yang berkepandaian tinggi, namun kemiringan otaknya
membuat dia kadang-kadang seperti kanak-kanak. Begitu melihat munculnya seorang wanita berkerudung,
agaknya ia teringat akan cerita-cerita yang dibacanya tentang setan-setan dan iblis, maka mukanya
berubah pucat dan ia membalikkan tubuhnya melarikan diri sambil menjerit, "Ada setan...!"
"Aduhhh...!" Ia menjerit dan tubuhnya terpental karena pinggulnya telah ditendang dari belakang.
Kini wanita berkerudung itulah yang keheranan. Tendangannya tadi disertai sinkang yang kuat, yang akan
meremukkan batu karang dan orang di dunia kang-ouw jarang ada yang sanggup menerima tendangannya
itu tanpa menderita luka berat atau bahkan mati. Akan tetapi orang gila itu hanya menjerit tanpa menderita
luka sedikit pun. Bahkan kakinya merasakan pinggul yang lunak seperti karet busa!
"Eh, kau... kau bukan setan? Kakimu menginjak tanah, terang bukan setan! Keparat, kau berani
menendang aku? Tunggu ya, aku akan menangkap dulu anak itu!" Tan-siucai melangkah hendak
menangkap lengan Kwi Hong yang masih berdiri terengah-engah dan juga memandang wanita
berkerudung itu dengan mata terbelalak.
"Jangan ganggu dia!" Tiba-tiba wanita itu membentak, suaranya merdu namun dingin dan mengandung
getaran kuat.
Tan-siucai sadar bahwa wanita ini agaknya memang sengaja hendak menentangnya maka ia
membusungkan dada dan menudingkan telunjuknya. "Aihh, kiranya engkau hendak menentangku, ya?
Sungguh berani mati. Engkau tidak tahu aku siapa? Awas, kalau aku sudah marah, tidak peduli lagi apakah
engkau wanita atau pria, berkerudung atau tidak, sekali bergerak aku akan mencabut nyawamu!"
Wanita berkerudung itu mendengus penuh hinaan, "Siapa takut padamu? Tentu saja aku tahu engkau
siapa. Engkau adalah seorang yang tidak waras, berotak miring yang menakut-nakuti seorang anak
perempuan. Kalau aku tidak ingat bahwa engkau adalah seorang gila, apakah kau kira tidak sudah tadi-tadi
kupukul kau sampai mampus? Nah, pergilah. Aku memaafkanmu karena engkau gila dan tinggalkan anak
ini."
Tan-siucai sudah lenyap kegilaannya dan ia marah sekali. "Engkau yang gila! Engkau perempuan lancang,
hendak mencampuri urusan orang lain dan engkau memakai kerudung penutup muka. Hayo buka
kerudungmu dan lekas minta ampun kepadaku!"
"Agaknya selain gila, engkau pun sudah bosan hidup. Nah, mampuslah!" Tiba-tiba wanita berkerudung itu
menerjang maju dengan cepat sekali, tahu-tahu tangannya sudah mengirim totokan maut ke arah ulu hati
Tan-siucai.
Tan-siucai telah memiliki ilmu kepandaian tinggi, namun dia terkejut sekali karena maklum bahwa totokan
itu dapat membunuhnya dan bahwa gerakan wanita itu selain cepat seperti kilat juga mengandung sinkang
yang luar biasa! Dia tidak berani main-main lagi, tahu bahwa lawannya adalah seorang pandai, maka cepat
ia menangkis dengan tangan kanan sambil mengerahkan tenaga.
"Desss!" Tubuh Tan-siucai terguling saking hebatnya benturan tenaga itu dan ia cepat meloncat bangun
sambil mengirim serangan balasan penuh marah.
"Hemm, kiranya engkau memiliki sedikit kepandaian!" Wanita berkerudung itu berseru dan menyambut
pukulan Tan-siucai dengan sambaran tangan ke arah pergelangan lawan. Tan-siucai tidak mau lengannya
dunia-kangouw.blogspot.com
ditangkap maka ia menghentikan pukulannya dan tiba-tiba kakinya menendang, sebuah tendangan yang
mendatangkan angin keras mengarah pusar lawan.
"Wuuuttt!" Wanita itu miringkan tubuh membiarkan tendangan lewat dan secepat kilat kakinya mendorong
belakang kaki yang sedang menendang itu. Gerakan ini amat aneh dan Tan-siucai tak dapat mengelak
lagi. Kakinya yang luput menendang itu terdorong ke atas, membawa tubuhnya sehingga ia terlempar ke
atas seperti dilontarkan.
"Aiiihhh...!" Tan-siucai berteriak.
Akan tetapi wanita itu kagum juga menyaksikan betapa lawannya yang gila itu ternyata memiliki ginkang
yang tinggi sehingga mampu berjungkir balik di udara dan turun ke tanah dengan keadaan kakinya tegak
berdiri.
Ada pun Tan-siucai yang makin terkejut dan terheran menyaksikan gerakan wanita berkerudung itu,
teringat akan sesuatu dan membentak, "Aku mendengar bahwa Ketua Thian-liong-pang adalah..."
"Akulah Ketua Thian-liong-pang!" Wanita itu memotong dan menerjang lagi, dengan gerakan cepat sekali
sehingga sukar diikuti pandang mata dan Tan-siucai terpaksa meloncat mundur dengan kaget.
"Singggggg...!" Tampak sinar hitam berkelebat dan tahu-tahu tangan Tan-siucai telah mencabut pedang
hitamnya, tampak sinar hitam bergulung-gulung dengan dahsyatnya.
Diam-diam Ketua Thian-liong-pang itu kaget dan heran. Bagaimana tiba-tiba muncul seorang siucai gila
seperti ini padahal di dunia kang-ouw tidak pernah terdengar namanya. Namun dia tidak gentar sedikit pun
juga. Dia maklum bahwa tingkat kepandaian siucai tampan yang gila ini amat tinggi, akan tetapi tidak
terlampau tinggi. Maka ia pun menghadapinya dengan kedua tangan kosong saja. Tubuhnya berkelebatan
menyelinap di antara sinar pedang hitam dan mengirim pukulan sinkang bertubi-tubi sehingga hawa
pukulan itu saja cukup membuat Tan-siucai terhuyung mundur dan kacau permainan pedangnya!
Ketika dengan rasa penasaran ia membabat kedua kaki wanita itu, Ketua Thian-liong-pang mencelat ke
atas, ujung kakinya menendang tenggorokan lawan, Tan-siucai miringkan kepala dengan kaget sekali.
"Aduhhhh...!" Ia menjerit dan roboh terguling-guling, tulang pundaknya yang tersentuh ujung sepatu wanita
terasa hendak copot, nyeri sampai menusuk ke jantung rasanya.
"Pangcu dari Thian-liong-pang, lihat baik-baik siapa aku! Engkau takut dan lemas, berlututlah!" tiba-tiba
Tan-siucai menuding dengan pedangnya, melakukan ilmu hitamnya untuk menguasai semangat dan
pikiran lawannya melalui gerakan, suara dan pandang matanya.
Namun Ketua Thian-liong-pang itu memakai kerudung di depan mukanya sehingga tidak dapat dikuasai
oleh pandang matanya, ada pun suaranya yang mengandung getaran khikang hebat itu masih kalah kuat
oleh sinkang lawan. Kini wanita itu tertawa merdu, ketawa yang bukan sembarang ketawa karena suara
ketawanya digerakkan dengan sinkang dari pusar sehingga membawa getaran yang amat kuat.
Gelombang getaran ini menyentuh hati Tan-siucai sehingga dia ikut pula tertawa bergelak di luar
kemauannya. Mendengar suara ketawanya sendiri, Tan-siucai terkejut dan cepat ia menindas rasa ingin
ketawa itu, pedangnya membacok dari atas!
"Manusia berbahaya perlu dibasmi!" Tiba-tiba Ketua Thian-liong-pang itu berkata dan tangan kirinya
bergerak dari atas, ketika pedang itu tiba ia menjepit pedang dari atas dengan jari tangannya yang ditekuk!
Bukan main hebatnya ilmu ini yang tentu saja hanya mampu dilakukan oleh orang yang kepandaiannya
sudah tinggi sekali dan sinkang-nya sudah amat kuat. Tan-siucai terkejut, berusaha menarik pedang
namun pedang itu seperti dijepit oleh tang baja dan sama sekali tidak mampu ia gerakkan. Saat itu Ketua
Thian-liong-pang sudah menyodokkan jari-jari tangan kanannya ke arah perut Tan-siucai yang kalau
mengenai sasaran tentu akan mengoyak kulit perut!
"Aiihhhh...!" Tiba-tiba Ketua Thian-liong-pang itu memekik, pekik seorang wanita yang terkejut dan ngeri,
kemudian tubuhnya meloncat jauh ke belakang, sepasang mata di balik kerudung itu terbelalak.
Tan-siucai yang tadinya sudah hilang harapan dan maklum bahwa dia terancam bahaya maut, menjadi
kaget dan girang sekali melihat wanita sakti itu meloncat mundur, tidak jadi membunuhnya. Saking
dunia-kangouw.blogspot.com
girangnya, gilanya kumat dan ia meloncat pergi sambil tertawa-tawa, "Ha-ha-ha, engkau tidak tega
membunuhku, ha-ha-ha!"
Ketua itu masih bengong dan membiarkan Si Gila pergi. Tentu saja dia tadi meloncat ke belakang bukan
karena tidak tega membunuh Tan-siucai, melainkan ketika tangannya hampir mengenai perut lawan, tibatiba
ada sinar putih yang luar biasa keluar dari balik jubah bagian perut. Sinar putih ini mengandung hawa
mukjizat sehingga mengagetkan Ketua Thian-liong-pang yang maklum bahwa sinar yang mengandung
hawa seperti itu hanyalah dimiliki sebuah pusaka yang maha ampuh!
"Sayang engkau melepaskan Si Gila itu," Kwi Hong berkata ketika melihat Tan-siucai menghilang.
Ketua Thian-liong-pang itu agaknya baru sadar akan kehadiran Kwi Hong. Dia menoleh dan memandang
anak itu, di dalam hatinya merasa suka dan kagum. Anak yang bertulang baik, berhati keras dan penuh
keberanian.
"Sudah cukup kalau engkau terbebas darinya," ia berkata. "Anak, engkau siapakah dan mengapa engkau
ditangkap Si Gila?"
"Aku tidak tahu dengan orang apa aku bicara. Apakah engkau tidak mau membuka kerudungmu sehingga
aku dapat memanggilmu dengan tepat?" Kwi Hong bertanya, memandang muka berkerudung itu dan diamdiam
ia kagum karena dia sudah mendengar akan nama besar Thian-liong-pang dan tadi pun sudah
menyaksikan sendiri kelihatan wanita ini sehingga timbul keinginan untuk melihat bagaimana kalau wanita
ini bertanding melawan pamannya!
Wanita itu menggeleng kepala. "Tidak seorang pun boleh melihat mukaku, kecuali... kecuali... yah, tak
perlu kau tahu. Sebut saja aku Bibi. Engkau siapakah?"
"Bibi yang perkasa, aku adalah Giam Kwi Hong, murid dan juga keponakan dari Tocu Pulau Es."
"Pendekar Siluman...?" Wanita berkerudung itu bertanya, jelas kelihatan terkejut bukan main.
Besar rasa hati Kwi Hong. Semua orang mengenal pamannya, mengenal dan takut. Agaknya wanita
perkasa ini tidak terkecuali, maka ia menjadi bangga, tersenyum dan mengangguk. "Benar, dan Si Gila itu
tadi sengaja menculikku karena dia memusuhi Paman Suma Han. Katanya Pamanku membunuh
kekasihnya, tunangannya. Kurasa dia bohong karena dia gila. Kalau saja Paman tidak dipancing pergi,
mana dia mampu menculikku?"
"Di mana Pamanmu sekarang? Apa yang terjadi?"
"Paman sedang membuat pedang pusaka bersama kakek yang bernama Nayakavhira. Pedang sudah jadi
dan karena Kakek itu hendak menapai pedang, Paman pergi untuk mencari garuda kami. Paman datang
dan mengatakan bahwa sepasang garuda dibunuh orang, kemudian ternyata bahwa pedang pusaka itu
lenyap. Baru tadi kuketahui bahwa pedang yang baru jadi diambil oleh Si Gila. Maka sayang tadi kau
lepaskan dia, seharusnya pedang itu dirampas dulu, Bibi."
"Ahhhh...!" Ketua Thian-liong-pang itu kagum bukan main. Kiranya benar dugaannya. Si Gila itu
menyelipkan sebatang pedang pusaka yang amat ampuh di pinggangnya. Dia menyesal mengapa tadi
tidak mengejar dan merampas pedang itu.
"Ketika Paman membakar pondok untuk memperabukan jenazah Nayakavhira yang kedapatan sudah mati
tua di pondok, ada suara ketawa. Paman cepat pergi mencari dan tiba-tiba muncul Si Gila itu, dan aku
diculik...."
"Hemm... kalau begitu Pamanmu tak jauh dari sini. Mari kuantar engkau menyusulnya."
Tanpa menanti jawaban, wanita itu memegang lengan Kwi Hong dan anak ini kagum bukan main. Kembali
dia membandingkan wanita ini dengan pamannya, karena digandeng dan dibawa lari seperti terbang
seperti sekarang ini hanya pernah ia alami ketika dia dibawa lari pamannya.
Tiba-tiba wanita itu berhenti dan menuding ke depan. Kwi Hong memandang dan terbelalak heran
menyaksikan pamannya itu sedang duduk bersila di atas tanah, tongkatnya melintang di atas kaki tunggal,
dunia-kangouw.blogspot.com
kedua tangannya dengan tangan terbuka dilonjorkan, matanya terpejam dan dari kepalanya keluar uap
putih yang tebal!
Ada pun kira-kira sepuluh meter di depannya tampak seorang kakek bersorban seperti Nayakavhira, hanya
bedanya kalau Kakek Nayakavhira berkulit putih, orang ini berkulit hitam arang, memakai anting-anting di
telinga, hidungnya seperti paruh kakatua, jenggotnya panjang dan dia pun bersila seperti Suma Han
dengan kedua tangan dirangkapkan di depan dada dan matanya melotot lebar, juga dari kepalanya keluar
uap tebal. Baik Suma Han mau pun kakek hitam itu sama sekali tidak bergerak seolah-olah mereka telah
menjadi dua buah arca batu!
"Paman...!" Tiba-tiba mulut Kwi Hong didekap tangan Ketua Thian-liong-pang yang berbisik.
"Anak bodoh, tidak tahukah engkau bahwa Pamanmu sedang bertempur mati-matian melawan kakek sakti
itu? Mereka mengadu sihir dan kalau engkau mengganggu Pamanmu, dia bisa celaka. Kau tunggu saja di
sini sampai pertempuran selesai, baru boleh mendekati Pamanmu. Aku mau pergi!" Setelah berkata
demikian, sekali berkelebat, Ketua Thian-liong-pang itu lenyap dari belakang Kwi Hong yang tidak
mempedulikannya lagi karena perhatiannya tertumpah kepada pamannya.
Kwi Hong sama sekali tidak tahu bahwa sebelum dia tiba di tempat itu, Bun Beng telah lebih dulu melihat
pertandingan yang amat luar biasa itu, bersembunyi di tempat lain dan memandang dengan napas tertahan
dan mata terbelalak. Dibandingkan dengan Kwi Hong, dia jauh lebih terheran karena apa yang dilihatnya
tidaklah sama dengan apa yang dilihat Kwi Hong!
Kalau Kwi Hong hanya melihat pamannya duduk bersila melonjorkan kedua lengan ke depan menghadapi
kakek hitam yang bersila dan merangkapkan tangan depan dada, Bun Beng melihat betapa di antara
kedua orang sakti yang duduk bersila tak bergerak seperti arca itu terdapat seorang Suma Han kedua yang
sedang bertanding dengan hebatnya melawan seorang kakek hitam kedua pula, seolah-olah bayangan
mereka yang sedang bertanding!
Mengapa bisa begitu? Mengapa kalau Kwi Hong tidak melihat ada yang bertanding? Karena dia baru saja
tiba sehingga dia tidak dikuasai pengaruh mukjizat seperti yang dialami Bun Beng. Ketika Bun Beng berlari
secepatnya mengejar Tan-siucai yang menculik Kwi Hong secara ngawur ke timur karena dia sudah
tertinggal jauh sehingga penculik itu tidak tampak bayangannya lagi dan napasnya mulai memburu, dia
melihat Suma Han sedang bertanding melawan seorang kakek hitam.
Pertandingan yang amat hebat dan cepat sekali sehingga pandang mata Bun Beng menjadi kabur dan
kepalanya pening. Dia melihat betapa tubuh Pendekar Siluman itu mencelat ke sana ke mari sedangkan
tubuh kakek hitam itu berputaran seperti sebuah gasing. Begitu cepat pertandingan itu sehingga dia tidak
dapat mengikuti dengan pandang matanya. Dia tidak berani memperlihatkan diri biar pun ketika melihat
Suma Han dia menjadi girang sekali dan ingin menceritakan tentang Kwi Hong yang diculik orang.
Menyaksikan pertandingan yang hebat itu dia lupa segala, lupa akan Kwi Hong yang diculik orang dan ia
menonton sambil bersembunyi dengan mata terbelalak.
Tiba-tiba kakek itu terlempar sampai sepuluh meter jauhnya dan terdengar kakek itu berkata, "Pendekar
Siluman, engkau hebat sekali. Tetapi aku masih belum kalah. Lihat ini!"
Kakek itu kemudian duduk bersila, merangkapkan kedua tangan depan dada sambil mengeluarkan bunyi
menggereng hebat sekali dan... hampir Bun Beng berseru kaget ketika melihat betapa dari kepala kakek itu
mengepul uap kehitaman tebal dan muncul seorang kakek kedua, persis seperti seorang kakek itu sendiri!
"Maharya, engkau hendak mengadu kekuatan batin? Baik, aku sanggup melayanimu!" kata Suma Han
yang segera duduk bersila.
Dari kepala Pendekar Super Sakti juga mengepul uap putih yang tebal dan dari uap ini terbentuklah
seorang Suma Han kedua yang bergerak maju menghadapi ‘bayangan’ kakek hitam, kemudian kedua
bayangan itu bertanding dengan hebat! Suma Han melonjorkan kedua tangan ke depan dan gerakan
bayangannya menjadi makin cepat dan kuat! Bun Beng yang terkena getaran pengaruh mukjizat dapat
melihat kedua bayangan yang bertanding itu, yang tidak dapat tampak oleh Kwi Hong yang baru tiba.
Bun Beng yang dapat menyaksikan pertandingan aneh itu, menonton dengan mata terbelalak dan muka
pucat. Ia melihat gerakan bayangan kakek itu aneh, berloncatan menyerang bayangan Suma Han dengan
jari-jari tangannya. Kedua tangan hanya menggunakan dua buah jari, telunjuk dan tengah, untuk menusukdunia-
kangouw.blogspot.com
nusuk dengan cepat sekali, sedangkan kedua kakinya berloncatan seperti gerakan kaki katak. Terdengar
bunyi angin bercuitan ketika kedua tangannya menusuk-nusuk.
Namun gerakan bayangan Suma Han yang tidak bertongkat itu tetap tenang biar pun cepatnya membuat
mata Bun Beng sukar mengikutinya. Bayangan Pendekar Super Sakti ini mencelat ke sana-sini
menghindarkan semua tusukan jari tangan lawan, bahkan membalas dengan pukulan kedua tangan yang
mendatangkan angin sehingga kain panjang lebar yang menjadi pakaian kakek hitam, hanya dibelitkan,
berkibar oleh angin pukulan itu.
Tubuh kedua bayangan itu seolah-olah tidak menginjak tanah, kadang-kadang keduanya membubung
tinggi dan bertanding di udara, kemudian turun lagi ke atas tanah. Bun Beng yang menonton pertandingan
itu menjadi bingung, sukar mengikuti gerakan kedua bayangan itu sehingga dia tidak tahu siapa yang
mendesak dan siapa yang terdesak. Hanya dia melihat Suma Han yang bersila itu masih duduk tenang tak
bergerak sedikit juga, kedua mata dipejamkan. Sedangkan kakek hitam yang bersila itu matanya makin
melotot mukanya mulai berpeluh dan kedua tangan yang dirangkapkan di depan dada itu bergoyang
menggigil sedikit.
Biar pun ada pertempuran yang demikian hebatnya, tidak terdengar suara sedikit pun juga. Keadaan sunyi
sekali, sama sunyinya seperti yang dirasakan Kwi Hong yang hanya melihat dua orang sakti itu duduk
bersila berhadapan tanpa bergerak. Baik Kwi Hong mau pun Bun Beng yang masing-masing bersembunyi
di tempat terpisah dan tidak saling melihat, merasa khawatir karena saking sunyinya, mereka itu hanya
mendengar suara pernapasan mereka sendiri yang tertahan-tahan!
Sementara itu, mereka yang saling bertanding mengadu kesaktian mengerahkan seluruh kekuatan batin
untuk menghimpit lawan. Diam-diam Maharya terkejut bukan main. Kalau tadi, ketika ia memancing
Pendekar Siluman ke tempat itu kemudian ia tantang dan serang, dalam pertandingan silat dia terdesak
bahkan sampai terdorong dan terlempar jauh, dia tidak menjadi penasaran karena memang dia sudah
mendengar berita bahwa Pendekar Siluman memiliki ilmu silat yang luar biasa dan tenaga sinkang yang
dahsyat. Maka dia lalu mengambil cara lain, yaitu menghadapi lawannya dengan ilmu sihir dan ia merasa
yakin pasti akan dapat menang. Dia terkenal di negaranya sebagai seorang ahli sihir yang tangguh. Akan
tetapi, betapa kagetnya ketika ia melihat Pendekar Siluman menandinginya dengan ilmu yang sama,
bahkan kini ia merasa betapa kekuatan batinnya terdesak hebat!
Kakek ini merasa penasaran sekali. Dalam hal mengadu kekuatan raga, dia tidak pernah menemui tanding,
apa lagi dalam mengadu kekuatan batin. Kini, berhadapan dengan seorang lawan muda yang patut
menjadi cucunya, dia selalu tertindih, kalah lahir batin! Hampir dia tidak mau percaya akan kenyataan itu
dan dengan geram ia menggerakkan mulut yang tertutup kumis itu berkemak-kemik, mengerahkan segala
kekuatannya dan pandang mata yang melotot itu seolah-olah mengeluarkan api!
Bun Beng yang kebetulan memandang kakek yang duduk bersila itu hampir berteriak kaget melihat betapa
sepasang mata kakek itu seperti mengeluarkan api! Dia cepat menengok ke arah Suma Han dan melihat
betapa pendekar itu kelihatan mengerutkan alis, tidak tenang seperti tadi, dan kedua lengannya yang
dilonjorkan itu tergetar seolah-olah hendak menambah tenaga yang keluar dari sepasang telapak
tangannya.
Memang Suma Han juga terkejut sekali ketika tiba-tiba ia merasa betapa kekuatan kakek lawannya itu
menjadi berlipat! Hawa panas menyerangnya sehingga ia cepat mengerahkan inti sari dari Swat-im
Sinkang. Setelah kedua tenaga panas dan dingin itu saling dorong-mendorong, akhirnya dia merasa
betapa hawa panas berkurang. Keningnya tidak berkerut lagi, akan tetapi tampak beberapa tetes keringat
membasahi dahi Suma Han.
Benar-benar hebat lawannya itu, pikirnya. Belum pernah selama hidupnya dia bertemu dengan seorang
lawan sehebat Kakek Maharya ini! Kalau dalam hal ilmu silat dia hanya memang sedikit saja, dalam hal
ilmu yang didasari kekuatan batin, dia tidak berani mengatakan lebih kuat! Hanya yang menguntungkan
dirinya, kekuatan batin yang dimilikinya adalah pembawaan dirinya, dibentuk oleh kekuatan alam dan
dimatangkan dengan ilmu sinkang dan pelajaran yang ia terima menurut petunjuk Koai-lojin. Sedangkan
kekuatan batin kakek lawannya itu dikuasainya oleh latihan-latihan yang puluhan tahun lamanya. Betapa
pun hebat usaha manusia, mana mampu menandingi kekuatan dan kekuasaan alam? Maka dalam
pertandingan ini, Suma Han yang mengandalkan tenaga batin dari kekuasaan alam, sukar untuk
dikalahkan oleh kakek yang telah menjadi datuk dalam ilmu sihir itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba terdengar suara bercuitan dan tampak tiga sinar putih yang menyilaukan mata menyambar ke
arah tubuh kakek hitam itu, menyambar muka di antara mata, ulu hati dan pusar!
"Eigghhhh...!" Kakek itu mengeluarkan suara menggereng seperti harimau, tangannya yang tadinya
dirangkap di depan dada bergerak dan mulutnya terbuka.
Bun Beng terbelalak menyaksikan betapa kakek itu telah menangkap tiga sinar itu yang ternyata adalah
tiga batang pisau, ditangkap dengan kedua tangan, sedangkan yang menyambar muka telah digigitnya!
Bayangan kakek yang bertanding melawan bayangan Suma Han telah lenyap masuk kembali ke kepala
kakek itu, demikian pula bayangan Suma Han telah lenyap. Sekali menggerakkan tubuh, kakek itu sudah
meloncat berdiri dan tampak tiga sinar menyambar ke arah kirinya ketika ia melontarkan tiga batang pisau
itu ke arah dari mana datangnya pisau-pisau tadi. Kemudian ia meloncat jauh dan lenyap, hanya terdengar
suaranya.
"Pendekar Siluman! Lain kali kita lanjutkan!"
Sunyi keadaan di situ setelah kakek itu menghilang. Suma Han bangkit berdiri bersandar kepada
tongkatnya, menoleh ke arah dari mana datangnya pisau-pisau tadi dan berkata, suaranya dingin dan
penuh wibawa seperti orang marah.
"Siapa yang telah berani lancang turun tangan tanpa diminta?"
Daun bunga bergerak dan muncullah seorang wanita amat cantik jelita dari balik rumpun, berdiri di depan
Suma Han tanpa berkata-kata. Keduanya saling pandang dan berseru, suaranya menggetar penuh
perasaan,
"Nirahai...!"
"Han Han...!"
Keduanya berdiri saling pandang dan sungguh pun dalam suara mereka terkandung kerinduan yang
mendalam, namun keduanya hanya saling pandang dan dari kedua mata wanita cantik itu menetes air
mata berlinang-linang.
"Han Han, bertahun-tahun aku menanti akan tetapi engkau tidak kunjung datang menyusulku. Sampai
kapankah aku harus menanti? Sampai dunia kiamat? Han Han, aku isterimu!"
"Nirahai, engkau... telah pergi meninggalkan aku, membuat hatiku merana..."
"Memang aku pergi, akan tetapi engkau tidak melarang!"
"Aku... ah, aku tidak ingin memaksamu... aku... ahh..."
"Han Han, engkau laki-laki lemah! Engkau suami yang hanya tunduk dan mengekor kepada isteri, engkau
pria yang tidak tahu isi hati wanita. Engkau... ahh, sakit hatiku melihatmu...!"
"Nirahai...!" Suma Han melangkah maju dan merangkul wanita itu.
Nirahai tersedu dan menyembunyikan muka di dada suaminya, membiarkan Suma Han mengelus
rambutnya, "Nirahai, aku cinta padamu. Demi Tuhan, aku cinta padamu... akan tetapi karena engkau
mempunyai cita-cita, aku merelakan engkau pergi...."
"Ibuuuu...!" Terdengar teriakan girang dan muncullah Milana berlarian.
Mendengar teriakan ini, Nirahai melepaskan pelukan Suma Han dan menyambut Milana dengan tangan
terbuka, lalu memondong anak itu dan menciuminya penuh kegirangan, "Milana...! Anakku...! Ahhh, sukur
engkau selamat. Betapa gelisah hatiku mendengar laporan Pamanmu tentang mala petaka di laut itu!"
Suma Han memandang dengan wajah pucat sekali.
"Nirahai!" Dia membentak, suaranya mengguntur, mengagetkan Kwi Hong dan Bun Beng di tempat
persembunyian masing-masing di mana kedua orang anak ini tertegun menyaksikan adegan pertemuan
dunia-kangouw.blogspot.com
antara Suma Han dan isterinya yang tidak mereka sangka-sangka itu. "Engkau perempuan rendah, isteri
tidak setia! Kau meninggalkan aku dan tahu-tahu telah mempunyai seorang anak! Ahhh, betapa menyesal
hatiku telah mentaati perintah mendiang Subo...!"
Setelah berkata demikian, dengan pandang mata penuh jijik dan kebencian Suma Han membalikkan
tubuhnya dan pergi berjalan terpincang-pincang meninggalkan Nirahai. Nirahai menjadi pucat, terbelalak
dan menurunkan Milana yang berdiri memeluk pinggang ibunya dan bertanya.
"Ibu...! Dia siapa...? Mengapa Tocu Pulau Es itu marah-marah kepadamu?"
Nirahai menangis mengguguk. "Dia... dia adalah Ayahmu..." Suaranya gemetar dan ia menutupi mukanya
dengan kedua tangan, menangis tersedu-sedu.
Milana cepat menoleh, kemudian lari meninggalkan ibunya dan mengejar Suma Han sambil menjerit.
"Ayaaahhh...! Ayah...!"
Mendengar jeritan anak itu, cepat Suma Han membalik, mengira bahwa dia tentu akan melihat munculnya
laki-laki yang menjadi ayah dari anak Nirahai itu. Akan tetapi, ia menjadi bingung dan terheran-heran ketika
melihat anak itu mengejarnya, kemudian menjatuhkan diri berlutut dan memeluk kakinya sambil menangis
dan memanggil-manggil. "Ayaahh... ayaahku...!"
Suma Han terbelalak memandang bocah yang menangis memeluki kaki tunggalnya, kemudian
mengangkat muka memandang Nirahai yang masih menangis tersedu-sedu menutupi muka dengan kedua
tangan sambil berlutut di atas tanah.
"Heh...! Apa...! Bagaimana...? Engkau... anak siapa...?"
"Ayah... engkau Ayahku... aku anak Ayah dan Ibu....," Milana mengangkat muka.
Tubuh Suma Han menggigil. Ia menyambar tubuh Milana, diangkat dan dipondongnya. "Anakku? Engkau...
anakku...?" Ia menciumi muka bocah itu.
Milana tertawa dengan air mata bercucuran, merangkul leher pendekar yang dikagumi dan yang dirindukan
itu.
Suma Han berpincang melangkah ke depan Nirahai. "Nirahai... benarkah ini? Dia... dia ini... anakku...?"
Nirahai mengangguk, lalu mengusap air matanya. "Ketika kita saling berpisah... aku mengandung dan...
terlahirlah Milana... anak kita..."
"Nirahai, engkau kejam, engkau tidak adil. Diam-diam saja engkau memelihara anak kita sampai begini
besar. Tidak memberitahukan kepadaku, tidak menyusulku. Betapa kejam engkau."
Nirahai meloncat bangun, pandang matanya penuh penasaran. "Siapa yang kejam? Engkaulah yang
kejam, lemah dan canggung! Engkau tidak pernah mencariku, tidak pernah menyusulku ke Mongol!"
Melihat ayah bundanya cekcok, Milana yang berada di pondongan ayahnya itu berkata, "Ayah, marilah
engkau ikut bersama kami..."
"Dan menjadi seorang Pangeran Mongol? Ha-ha, nanti dulu! Aku tidak sudi! Mestinya ibumu yang ikut
bersamaku ke Pulau Es. Nirahai, maukah engkau?"
Akan tetapi Nirahai memandang dengan muka merah dan berapi. "Tidak sudi! Kini aku tidak mau
menyembah-nyembah minta kau bawa. Dan hanya dengan paksaan saja engkau akan dapat membawaku
ke sana. Dengan paksaan, kau dengar? Aku sudah cukup menderita dan sakit hati karena kau biarkan,
seolah-olah aku bukan isterimu. Engkau laki-laki lemah! Milana, mari kita pergi!"
"Tidak boleh, Nirahai. Milana ini anakku. Sudah terlalu lama dia kau pelihara sendiri, terlalu lama kau
pisahkan dari Ayahnya. Aku akan membawa dia, tak peduli engkau suka ikut atau tidak!"
"Ayah...! Aku tidak mau meninggalkan Ibu!" Milana merosot turun dari pondongan dan hendak lari kepada
ibunya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi Suma Han mendengus marah, lengan kanannya menyambar tubuh Milana, dikempitnya dan
dia lalu pergi dengan cepat meninggalkan Nirahai.
"Han Han...!" Nirahai menjerit dan mengejar. Namun Suma Han tidak peduli, wajahnya keruh, matanya
hampir terpejam, kaki tunggalnya melangkah terus ke depan.
"Lepaskan aku! Ayahhhh... aku tidak mau meninggalkan Ibu...!" Milana menjerit-jerit. Akan tetapi Suma Han
terus saja melangkah tanpa mempedulikan jerit anaknya.
Tiba-tiba Bun Beng meloncat dan menghadang di depan Suma Han, berdiri tegak dan suaranya nyaring
penuh rasa penasaran, "Suma-taihiap! Seorang pendekar seperti Taihiap tidak boleh berlaku begini!
Memisahkan anak dari ibunya adalah perbuatan jahat! Kalau Taihiap berkepandaian, mengapa tidak
membawa Ibunya sekalian?"
Suma Han terbelalak, mukanya berubah merah saking marahnya. "Gak Bun Beng! Engkau anak tidak syah
dari datuk kaum sesat Kang-touw-kwi Gak Liat, berani engkau bersikap seperti ini kepadaku! Sebelum
menutup mata, Ibumu berpesan kepadaku untuk menyelamatkanmu, dan sekarang engkau mengatakan
aku jahat?"
Jantung Bun Beng seperti ditusuk-tusuk mendengar ucapan ini. Ayahnya seorang datuk kaum sesat? Dia
anak tidak syah? Tidak ada ucapan yang lebih menyakiti hatinya dari pada ini dan tidak ada kenyataan
yang akan lebih menghancurkan hatinya. Namun kekerasan hati Bun Beng membuat ia tetap berdiri tegak
dan berkata,
"Keturunan orang macam apa adanya aku, Suma-taihiap, tetap saja aku melarang engkau memisahkan
Milana dari Ibunya! Biar akan kau bunuh aku siap!" Sikap Bun Beng gagah sekali biar pun kedua matanya
kini mengalirkan butiran-butiran air mata.
"Han Han...! Kau bunuh aku dulu sebelum melarikan anakku!" Nirahai telah meloncat menghadang pula di
depan Suma Han, mencabut sebatang pedang siap untuk mengadu nyawa! Juga kedua mata wanita cantik
ini bercucuran air mata.
"Paman...!" Kwi Hong yang sejak tadi memandang dengan tubuh gemetar saking tegang hatinya, kini
berani meloncat ke luar dan menghampiri Suma Han, berlutut sambil menangis.
"Ayah... aku tidak mau berpisah dari Ibu...!" Milana yang masih dikempit oleh lengan ayahnya itu pun
meratap sambil menangis.
Suma Han berdiri seperti berubah menjadi arca. Suara isak tangis menusuk-nusuk telinganya terus ke hati,
linangan air mata seperti butiran-butiran mutiara itu mempesonanya. Kekuatan batin dan kekerasan hatinya
mencair, seperti salju tertimpa sinar matahari.
Tidak ada suara bagi manusia di dunia ini melebihi kekuasaan suara tangis! Tangis adalah suara jeritan
hati dan jiwa. Tangis adalah suara pertama yang dikenal dan suara pertama yang keluar dari mulut
manusia. Tangis merupakan suara pertama dari manusia tanpa dipelajarinya. Begitu terlahir, suara
pertama dari manusia adalah tangis. Tangis merupakan suara langsung dari dalam sehingga setiap orang
anak yang terlahir di segenap penjuru dunia mempunyai suara tangis yang sama. Tangis adalah satusatunya
suara yang mampu menembus jantung dan menyentuh batin manusia, juga dengan ratap tangis
orang berusaha menghubungkan diri dengan Tuhan!
Lemas seluruh urat syaraf di tubuh Suma Han mendengar isak tangis empat orang manusia itu. Tubuh
Milana dilepaskan dan anak ini berlari kepada ibunya, merangkul dan menangis. Nirahai lalu memondong
puterinya, memandang kepada Suma Han dan berkata,
"Selama engkau masih menjadi seorang laki-laki yang berwatak lemah, aku tidak akan sudi turut
bersamamu, bahkan aku akan mengimbangi kerajaanmu di Pulau Es!" Setelah berkata demikian, Nirahai
meloncat dan berlari cepat sekali, sebentar saja lenyap dari situ.
Suma Han menundukkan mukanya. Untuk kedua kalinya dia terpukul. Pertama kali ketika bertemu dengan
Lulu yang kini menjadi Majikan Pulau Neraka. Dia dicela dan dimarahi. Kini bertemu dengan isterinya,
Nirahai, kembali dia dicela dan dimusuhi. Benar-benar dia tidak mengerti isi hati wanita!
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kwi Hong, kita pulang!" Dia berkata, menggandeng tangan Kwi Hong dan berlari pergi cepat.
Bun Beng menjadi bengong. Dia tidak menyesal ditinggal seorang diri, akan tetapi dia masih merasa sakit
hatinya mendengar ucapan Suma Han tadi. Masih terngiang di telinga kata-kata pendekar yang tadinya
amat dikaguminya itu, "Engkau anak tidak syah dari datuk kaum sesat Kang-thouw-kwi Gak Liat!"
Bun Beng menunduk, mencari-cari jawaban ke bawah, akan tetapi rumput dan tanah yang diinjaknya tidak
dapat memberi jawaban. Ayahnya seorang datuk kaum sesat? Dan dia anak tidak syah? Apa artinya ini?
"Ah, mengapa aku menjadi lemah begini? Apa peduliku tentang asal-usulku? Aku adalah seorang manusia,
dan aku menjadi mausia bukan atas kehendakku! Aku sudah ada dan aku harus bangga dengan
keadaanku, harus berjuang mempertahankan keadaanku dan menyempurnakan keadaanku! Mereka itu
pun hanya manusia-manusia yang ternyata bukan terbebas dari pada derita, bukan bersih dari pada cacat!
Kekalahanku dari orang-orang sakti seperti Pendekar Siluman, isterinya, pencuri pedang, dan kakek-kakek
sakti seperti mendiang Nayakavhira dan Maharya tadi hanyalah kalah pandai dalam penguasaan ilmu!
Akan tetapi ilmu dapat dipelajari!”
Mereka semua itu, dahulu sebelum mempelajari ilmu pun tidak bisa apa-apa seperti dia! Dan dia masih
muda, apa lagi sedikit-sedikit pernah mempelajari ilmu, dan ada kitab yang telah dihafal namun belum
dilatihnya dengan sempurna, ada sepasang pedang yang disembunyikan di puncak tebing. Sepasang
pedang pusaka! Pedang yang mengeluarkan sinar mengerikan, seperti pedang yang dibuat oleh Suma
Han. Jangan-jangan itu adalah Sepasang Pedang Iblis yang mereka cari-cari bahkan yang khusus
dibuatkan pedang lawannya oleh Nayakavhira. Biarlah. Biar, andai kata sepasang pedang itu adalah
Sepasang Pedang Iblis, kelak dia akan memperlihatkan kepada dunia bahwa di tangannya, sepasang
pedang itu tidak akan menjadi senjata yang dipakai melakukan perbuatan jahat!
Bangkit semangat Bun Beng dan mulailah dia meninggalkan tempat itu untuk kembali ke Siauw-lim-pai. Dia
harus melapor akan kematian suhu-nya kepada pimpinan Siauw-lim-si dan mempelajari ilmu dengan tekun
karena menurut penuturan mendiang suhu-nya, kalau mempelajari benar-benar secara sempurna dan
memang ada jodoh, ilmu silat dari Siauw-lim-pai tidak kalah oleh ilmu silat lain di dunia ini.
Pernah gurunya bercerita tentang tokoh Siauw-lim-pai bernama Kian Ti Hosiang yang memiliki tingkat
kepandaian luar biasa tingginya sehingga saking tinggi ilmu kepandaiannya, sampai tidak mau lagi
melayani orang bertanding, bahkan tidak mau membalas andai kata dia dilukai atau dibunuh sekali pun!
Pernah pula gurunya bercerita tentang manusia dewa Bu Kek Siansu yang selain tidak mau bertempur
melukai apa lagi membunuh orang lain, bahkan sering kali menurunkan ilmunya kepada siapa saja yang
kebetulan bertemu dengannya, yang dianggap sudah jodoh, tanpa memandang apakah orang itu termasuk
golongan baik ataupun jahat, bersih atau pun kotor!
Sikap manusia dewa ini seperti sikap kasih sayang alam, di mana sinar matahari tidak menyembunyikan
sinarnya dari atas kepada orang jahat mau pun orang baik, di mana pohon-pohon tidak menyembunyikan
bunga dan buahnya dari uluran tangan orang jahat mau pun orang baik! Kemudian gurunya bercerita pula
tentang manusia aneh Koai-lojin yang kabarnya malah masih suka muncul biar pun belum tentu ada
seorang di antara sepuluh ribu tokoh kang-ouw yang dijumpai manusia aneh ini, yang kabarnya memiliki
ilmu kepandaian yang seperti dewa pula namun tidak mau bertempur, melukai, apa-lagi membunuh orang.
Dia masih muda. Dunia masih lebar. Masa depannya masih terbentang luas. Mengapa langkah hidupnya
harus terhalang oleh masa lalu mengenai diri orang tuanya! Baik mau pun jahat orang tuanya, biarlah. Hal
itu sudah lalu dan yang ia hadapi adalah masa depan. Masa lalu penuh kejahatan akan tetapi masa depan
penuh kebaikan, bukankah hal itu jauh lebih menang dari pada masa lalu penuh kebaikan namun masa
depan penuh kejahatan? Apa arti bersih masa lalu akan tetapi amat kotor di masa depan, dan biarlah dia
menganggap masa lalu sebagai alam mimpi, sungguh pun dia tidak tahu sama sekali apa yang terjadi di
masa lalu, yang terjadi dengan ayah bundanya. Makin dijalankan pikirannya, makin lapanglah dadanya dan
langkahnya pun tegap, wajahnya berseri dan sepasang matanya bersinar.
Setelah dia berhasil tiba di kuil Siauw-lim-si dan menceritakan tentang kematian suhu-nya, berita ini
diterima dingin oleh para hwesio pimpinan Siauw-lim-pai yang menganggap bahwa kakek itu sudah bukan
seorang anggota Siauw-lim-pai lagi. Akan tetapi mengingat bahwa Gak Bun Beng adalah putera seorang
tokoh wanita Siauw-lim-pai, dan betapa pun juga Siauw Lam Hwesio adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai
yang berilmu tinggi, para pimpinan Siauw-lim-pai tidak berkeberatan menerima Bun Beng. Pemuda cilik itu
dunia-kangouw.blogspot.com
mulai berlatih dengan giat di samping bekerja keras seperti yang pernah dilakukan gurunya, yaitu menjadi
pelayan, tukang kebun, dan pekerjaan apa saja untuk melayani keperluan kuil dan membantu para hwesio.
Nirahai, bekas puteri Raja Mancu yang berwatak keras dan berilmu tinggi itu kini sudah berhenti menangis.
Kekerasan hatinya dapat menindih kedukaan dan diam-diam ia mengambil keputusan untuk menghadapi
orang yang dicintanya namun yang selalu mengalah dan berwatak lemah itu dengan kekerasan. Di tengah
jalan, dia menurunkan puterinya untuk memakai sebuah kerudung menutupi kepalanya. Melihat ini, Milana
terkejut dan heran.
"Ibu, mengapa Ibu memakai itu?"
Dari dalam kerudung itu terdengar jawaban suara dingin seolah-olah ibunya telah berubah tiba-tiba setelah
berkerudung, "Milana, mulai saat ini engkau akan turut bersamaku, tidak akan kembali ke Mongol lagi.
Ketahuilah, ibumu adalah Ketua Thian-liong-pang dan tidak seorang pun boleh melihat mukaku kecuali
engkau."
Milana memandang kepala berkerudung itu dengan mata terbelalak, "Ibu...! Engkau Ketua Thian-liongpang
yang terkenal itu...? Akan tetapi mengapa...?" Hati anak ini ngeri karena Thian-liong-pang disohorkan
sebagai perkumpulan yang tidak segan-segan melakukan segala macam kekejaman sehingga ditakuti
dunia kang-ouw.
"Diamlah. Kalau kita tidak kuat, orang tidak akan memandang kepada kita! Engkau ikut bersamaku dan
belajar ilmu sampai melebihi Ibumu. Hayo!" Dia menggandeng tangan Milana dan lari cepat sekali.
Ada pun Suma Han yang membawa lari murid atau keponakannya, di sepanjang jalan tidak pernah bicara.
Wajahnya muram dan dalam beberapa pekan saja bertambah garis-garis derita pada wajahnya. Karena
sepasang burung garuda sudah tewas, mereka melakukan perjalanan darat dan setelah tiba di pantai,
Suma Han mencari sebuah perahu yang dibelinya dari nelayan, kemudian memperkuat perahu dan
mulailah dia berlayar bersama Kwi Hong menuju ke pulau tempat tinggalnya, yaitu Pulau Es.
Dalam pelayaran ini barulah Suma Han mengajak bicara keponakannya. Dengan penuh perhatian dia
mendengarkan cerita Kwi Hong tentang peristiwa yang terjadi di hutan, betapa pencuri pedang pusaka
adalah seorang siucai gila yang lihai sekali, bahkan siucai itu tadinya menculiknya yang kemudian
dikalahkan oleh Nirahai dan melarikan diri membawa pedang pusaka.
"Aihhhh... kiranya dia...!" Suma Han menghela napas penuh penyesalan karena segala yang dialaminya di
masa dahulu agaknya hanya menimbulkan bencana saja bagi dirinya sendiri dan orang lain. Apakah dia
yang harus menebus dosa yang dilakukan nenek moyangnya, keluarga Suma yang luar biasa jahatnya?
"Apakah Paman mengenal Siucai gila itu?"
"Banyak yang sudah kau ketahui, Kwi Hong. Engkau tentu mengenal siapa Pamanmu sekarang, seorang
yang penuh noda dalam hidupnya. Orang gila itu agaknya tidak salah lagi tentu yang disebut Tan-siucai
dan menjadi muridnya Maharya. Aku belum pernah melihat orangnya, akan tetapi namanya sudah
kudengar."
"Paman, dia bilang bahwa Paman telah membunuh kekasihnya, tunangan atau calon isterinya. Tentu Si
Gila itu bohong!"
Suma Han menggeleng kepala dan menghela napas panjang. Terbayang di depan matanya seorang gadis
yang cantik dan gagah perkasa, yang dalam keadaan hampir tewas karena tubuhnya penuh dengan anak
panah yang menancap di seluruh tubuh, berbisik dalam pelukannya bahwa gadis itu rela mati untuknya
karena gadis itu mencintanya. Hoa-san Kiam-li Lu Soan Li, murid Im-yang Seng-cu yang perkasa, yang
telah berkorban untuk dia, dan sebelum menghembuskan napas terakhir mengaku cinta. Gadis itu adalah
tunangan Tan-siucai! Dia sudah diberi tahu oleh Im-yang Seng-cu, akan tetapi tadinya dia tidak peduli.
Siapa mengira, begitu muncul Tan-siucai telah mencuri pedang pusaka, hampir berhasil menculik Kwi
Hong, dan gurunya demikian saktinya sehingga kalau dia tidak memiliki kekuatan batin yang kuat, agaknya
dia akan tewas di tangan Maharya!
"Dia tidak membohong, Kwi Hong. Biar pun aku tidak membunuh tunangannya, akan tetapi dapat dikatakan
bahwa tunangannya itu tewas karena membela aku. Ahhh, sungguh aku menyesal sekali. Akan tetapi,
dunia-kangouw.blogspot.com
kalau Tan-siucai sudah menjadi gila, dia telah merampas pedang pusaka, dia berbahaya sekali. Pedang itu
sengaja dibuat untuk menundukkan Sepasang Pedang Iblis."
"Kenapa Paman hendak pulang? Bukankah lebih baik mengejar dia sampai berhasil merampas kembali
pedang itu?"
Kembali Suma Han menggeleng kepala. "Semangatku lemah, aku tidak mempunyai nafsu untuk berbuat
apa-apa, kecuali pulang dan beristirahat. Kwi Hong, mulai sekarang engkau harus berlatih diri dengan
tekun dan rajin. Tugasmu di masa mendatang amat berat dengan munculnya banyak orang pandai. Jangan
sekali-kali kau melarikan diri dari pulau lagi karena aku tidak akan mengampunkanmu lagi."
Demikianlah, dengan semangat lemah dan hati remuk akibat pertemuan-pertemuannya dengan Lulu dan
Nirahai, dua orang wanita yang dicintanya, yang pertama karena dicintanya semenjak kecil, yang kedua
karena telah menjadi isterinya, bahkan menjadi ibu dari anaknya, Suma Han mengajak keponakannya
pulang ke Pulau Es. Dia lalu memerintahkan anak buahnya untuk tidak mencampuri urusan luar, hanya
melatih diri dan memperkuat penjagaan di pulau sendiri. Kemudian, mulai hari itu dia melatih ilmu kepada
Kwi Hong dengan penuh ketekunan sehingga anak perempuan ini memperolah kemajuan yang pesat
sekali.
********************
Semenjak jatuhnya pertahanan terakhir dari Bu Sam Kwi di Se-cuan sebagai sisa kekuatan dari Kerajaan
Beng-tiauw yang jatuh beberapa tahun setelah Bu Sam Kwi tewas, yaitu pada tahun 1681, terjadilah
perubahan besar di daratan Tiongkok yang kini dikuasai seluruhnya oleh Kerajaan Ceng, yaitu pemerintah
yang dipimpin oleh Bangsa Mancu. Sebentar saja kekuatan bangsa Mancu makin berakar dan lambat laun
makin berkuranglah rasa kebencian dan permusuhan dari rakyat terhadap pemerintah penjajah ini. Hal ini
adalah terutama sekali disebabkan bangsa Mancu amat pandai menyesuaikan diri dengan keadaan dan
kebudayaan di Tiongkok. Biar pun menjadi penjajah, menyaksikan kenyataan betapa besar dan hebat
kebudayaan daratan yang dijajahnya, mereka menerima kebudayaan itu dan bahkan melebur diri mereka
seperti keadaan para pribumi. Mereka mempelajari bahasa pribumi, bahkan anak isterinya
mempergunakan bahasa ini sehingga dalam satu keturunan saja anak-anak mereka sudah tidak pandai
lagi berbahasa Mancu dan menganggap bahasa Han sebagai bahasa mereka sendiri!
Kerajaan Ceng-tiauw yang dipimpin oleh bangsa Mancu ini makin berkembang dan mencapai puncak
kecemerlangannya di bawah pimpinan Kaisar Kang Hsi yang memerintah dari tahun 1663 sampai 1722.
Kaisar ini adalah seorang ahli negara yang cakap, pandai dan bijaksana. Di samping ini dia pun seorang
ahli perang yang mengagumkan sehingga semua operasinya berhasil dengan baik, juga tidak terdapat rasa
tidak puas di antara petugas-petugas bawahannya. Di samping ini, dia pun penggemar kebudayaan
sehingga berhasil menarik pula hati para sastrawan pribumi yang mendapat penghargaan dalam
bidangnya.
Di bawah pimpinan Kaisar ini, Tiongkok mencapai kekuasaan yang amat besar, jauh lebih besar dari pada
kerajaan-kerajaan sebelumnya dan kiranya malah lebih besar dari pada keadaan Tiongkok di waktu
Kerajaan Tang. Pertama-tama Kaisar Kang Hsi mengerahkan perhatian untuk membasmi gerombolangerombolan
dan pemberontak-pemberotak, menghabiskan semua perlawanan sehingga perang dihentikan
dan keamanan dapat dikembalikan. Dalam keadaan aman, rakyat dapat bekerja dengan tenang dan
pembangunan dapat dilaksanakan sebaiknya.
Namun setelah gerombolan-gerombolan di dalam negeri bisa ditumpas semua, Kaisar Kang Hsi harus
menghadapi perlawanan dari negara-negara tetangga yang tidak mengakui kedaulatan kerajaan baru ini.
Maka dikirimnyalah tentara besar sampai jauh ke selatan dan barat daya sehingga banyak negara di
selatan dan barat daya ditundukkan dan terpaksa mengakui kedaulatan Kerajaan Ceng, bahkan mengaku
takluk dan setiap tahun membayar atau mengirim upeti sebagai tanda takluk. Di antara negara-negara ini
termasuk Afganistan, Kasmir, Birma, Muangthai, Vietnam, Kamboja, bahkan termasuk pula Malaysia!
Akan tetapi, selagi Kaisar Kang Hsi sibuk mengatur kesejahteraan dalam negeri untuk memakmurkan
kehidupan rakyat yang baru saja dilanda perang itu, meningkatkan dan memperkembangkan kesenian
melukis, sastra, dan lain-lain di samping mempergiat pembangunan, datang lagi gangguan yang memaksa
Kaisar ini menggerakkan bala tentara dan mencurahkan sebagian perhatiannya ke utara, di mana bangsa
Mongol mulai bergerak dan memberontak terhadap pemerintah Mancu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Seperti telah diceritakan dan menjadi catatan sejarah, ketika bangsa Mancu mulai bergerak ke selatan,
mereka dibantu dengan gigih oleh bangsa Mongol sebagai bangsa yang pernah lama menjajah Tiongkok
dan masih ingin menguasai kembali bekas tanah jajahan itu. Karena kekuatannya sendiri sudah hancur,
bangsa Mongol tahu diri dan membonceng bangsa Mancu, namun harus diakui bahwa kekuatan bala
tentara menjadi amat besar dan hebat berkat bantuan pasukan-pasukan Mongol ini.
Akan tetapi, setelah bangsa Mancu berkuasa dan membangun Kerajaan Ceng, dengan tidak melupakan
dan memberi kedudukan istimewa kepada bangsa Mongol sebagai bangsa serumpun dan setingkat,
mulailah bangsa Mongol merasa kecewa. Bangsa Mongol melihat kecenderungan bangsa Mancu yang
melebur diri dengan kebiasaan orang-orang Han sehingga makin lama mereka itu menjadi makin erat
hubungannya dengan rakyat, sedangkan rakyat masih tidak dapat melupakan penjajahan bangsa Mongol
yang banyak menyengsarakan rakyat dahulu. Maka bangsa Mongol merasa makin lama makin tersudut,
maka mulailah pemberontakan bangsa ini terhadap bangsa Mancu.
Pemberontakan meletus pada tahun 1680 pada saat Se-cuan sudah tiba di ambang kekalahannya.
Sehingga begitu Secuan sudah dijatuhkan, kembali pemerintah Mancu yang dipimpin oleh Kaisar Kang Hsi
itu harus menghadapi pemberontakan yang besar dan gigih yang dipimpin oleh seorang pangeran Mongol
yang bernama Galdan.
Sepuluh tahun lewat dengan cepatnya semenjak peristiwa pertemuan antara Pendekar Super Sakti Suma
Han dan Nirahai isterinya, pertemuan yang amat menyedihkan dan mengharukan. Sepuluh tahun bukanlah
waktu yang pendek, namun juga tak dapat dikatakan waktu yang lama, tergantung dari pendapat masingmasing
bertalian dengan keadaan dan pengalaman. Dalam waktu selama itu, banyak memang yang telah
terjadi di dunia, khususnya di dunia kang-ouw yang kembali menjadi kacau dan geger berhubung dengan
adanya perang antara pemerintah melawan bangsa Mongol.
Kembali dunia kang-ouw terpecah belah, ada yang membela Pemerintah Ceng, ada pula yang membantu
pemberontak, bukan karena suka kepada bangsa Mongol, melainkan kesempatan itu mereka pergunakan
untuk melawan penjajah. Akan tetapi karena tidak ada peristiwa penting terjadi atas diri para tokoh penting
cerita ini yang berdiam di tempat masing-masing menggembleng murid atau anak masing-masing, maka
biarlah waktu sepuluh tahun itu kita lewati saja.
Pemberontakan bangsa Mongol sudah berjalan belasan tahun. Perang menjadi berlarut-larut karena selain
bangsa Mongol memang memiliki bala tentara yang terlatih dan kuat, mereka dibantu banyak orang pandai
dari dunia kang-ouw. Bahkan banyak pula orang sakti dari negara-negara tetangga yang dipaksa mengirim
upeti kepada Pemerintah Ceng, diam-diam membantu bangsa Mongol dalam usaha mereka membalas
dendam atas kekalahan negaranya.
Di dunia persilatan memang terjadi perubahan akan kekacauan seperti telah diceritakan tadi. Diam-diam di
antara mereka pun mengadakan ‘perang’ sendiri, menggunakan kesempatan selagi pemerintah kurang
memperhatikan keadaan mereka karena pemerintah sendiri sedang sibuk menghadapi musuh kuatnya,
yaitu pasukan-pasukan Mongol. Pula, pemerintah juga mempunyai banyak kaki tangan di antara golongan
kang-ouw ini sehingga mereka menyerahkan penguasaan keadaan kepada kaki tangan mereka yang
dalam hal ini diwakili dan dipimpin oleh Koksu sendiri dengan para pembantunya yang lain!
Namun yang lebih menonjol dan yang menggegerkan dunia persilatan adalah nama besar Thian-liongpang
yang kabarnya makin kuat saja sehingga tidak ada pihak yang berani main-main kalau bertemu
dengan orang Thian-liong-pang. Bahkan banyak yang sudah menjadi jeri kalau mendengar nama Thianliong-
pang yang diketuai seorang wanita aneh berkerudung yang memiliki ilmu silat dahsyat. Banyak sudah
ketua-ketua partai persilatan merasakan kelihaian Thian-liong-pang. Banyak yang dikalahkan oleh tokohtokoh
Thian-liong-pang, padahal ketuanya sendiri belum pernah maju, juga wakilnya dan para pelayan
wanita yang kabarnya memiliki ilmu yang sukar dicari bandingnya!
Terdengar berita bahwa Thian-liong-pang mempunyai niat menggabungkan partai-partai persilatan di
bawah naungan Thian-liong-pang, seolah-olah perkumpulan ini hendak menyaingi gerakan Pemerintah
Ceng yang menaklukkan negara-negara tetangga yang takluk dan mengakui kedaulatannya serta
berlindung di bawah naungannya dengan membayar upeti setiap tahun! Tentu saja niat ini menemukan
banyak tentangan. Terutama partai-partai besar yang sudah berdiri ratusan tahun seperti Siauw-lim-pai,
Kun-lun-pai, Hoa-san-pai dan lain-lain partai persilatan besar, tentu saja mereka ini tidak sudi menjadi
‘anak buah’ Thian-liong-pang!
dunia-kangouw.blogspot.com
Selagi dunia kang-ouw geger karena sepak terjang Thian-liong-pang, tersiar lagi berita yang menimbulkan
heboh dengan munculnya orang-orang Pulau Neraka yang selama bertahun-tahun ini tidak pernah muncul
lagi. Orang-orang Pulau Neraka dengan warna-warni muka mereka yang aneh menimbulkan kegoncangan
di mana-mana karena mereka itu memang sengaja mendarat untuk menguji ilmu-ilmu mereka dengan
tokoh-tokoh kang-ouw!
Yang tetap tidak terdengar hanya Pulau Es. Tidak ada lagi orang kang-ouw melihat munculnya orang dari
Pulau Es, bahkan mendengar berita pun tidak, karena Pulau Es agaknya sudah memutuskan hubungan
mereka dengan dunia luar pulau mereka bertahun-tahun.
Di antara partai-partai persilatan besar yang heboh oleh berita-berita itu, Siauw-lim-pai sendiri tetap
tenang-tenang saja. Memang Siauw-lim-pai adalah sebuah partai persilatan yang amat besar, paling
banyak cabang-cabangnya, paling banyak kuil-kuilnya, tersebar di mana-mana dan memiliki jumlah anak
murid yang amat banyak pula. Belum pernah ada partai lain berani mengganggu Siauw-lim-pai. Bahkan
orang-orang Thian-liong-pang agaknya juga tidak berani sembarangan main gila terhadap Siauw-lim-pai!
Kalau toh terjadi bentrokan, hal itu hanya terjadi antara anak murid saja dan pihak Siauw-lim-pai yang
memegang keras disiplin di antara anak muridnya, dengan bijaksana dapat memadamkan bentrokanbentrokan
kecil itu dengan menghukum anak murid sendiri yang melakukan pelanggaran.
Pada waktu itu yang menjadi Ketua Siauw-lim-pai adalah seorang hwesio tinggi besar berusia lima puluh
lima tahun lebih berjuluk Ceng Jin Hosiang. Biar pun tubuhnya tinggi besar menyeramkan, namun
wataknya halus dan hwesio tua ini memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kitab-kitab rahasia Siauw-lim-pai
banyak sekali, kitab-kitab kuno yang mengandung pelajaran ilmu-ilmu amat tinggi dan sukar sekali
dipelajari sehingga hanya sedikit saja yang mampu menguasai isinya.
Ketika Kian Ti Hosiang masih hidup, dialah satu-satunya hwesio di Siauw-lim-pai yang benar-benar telah
menguasai sebagian besar ilmu yang tinggi-tinggi dan sukar dipelajari itu. Kini, karena bakatnya dan
menurut kepercayaan lingkungan Siauw-lim-pai, karena jodoh, ketua inilah yang dapat menguasai
sebagian dari isi kitab-kitab suci dan rahasia itu. Sungguh pun belum dapat dibandingkan dengan Kian Ti
Hosiang, namun setidaknya tingkat kepandaian Ceng Jin Hosiang jauh melampaui saudara-saudaranya,
bahkan dia memiliki tingkat lebih tinggi dari pada mendiang Ceng San Hwesio Ketua Siauw-lim-pai yang
lalu.
Selain lihai ilmu silatnya dan tinggi ilmu batinnya, Ceng Jin Hosiang mempunyai kewaspadaan. Pada suatu
hari dia datang ke kuil cabang Siauw-lim-pai di mana Bun Beng bekerja sebagai pelayan. Melihat Bun
Beng dia tertarik sekali, apa lagi ketika mendengar bahwa anak itu adalah putera mendiang Siauw-lim Bikiam
Bhok Kim, seorang di antara Kang-lam Sam-eng, segera Ketua Siauw-lim-pai ini menyuruh Bun Beng
untuk ikut bersamanya ke kuil pusat Siauw-lim-pai. Ceng Jin Hosiang melihat bakat yang baik sekali, juga
hati nuraninya membisikkan bahwa anak ini ‘berjodoh’ dengannya, maka dia lalu mengambil Bun Beng
sebagai murid. Selama delapan tahun dia menggembleng Bun Beng yang sebelumnya sudah menerima
gemblengan dasar dari Siauw Lam Hwesio, maka tentu saja anak ini memperoleh kemajuan yang luar
biasa.
"Bun Beng, kini tiba saatnya yang telah lama kau nanti-nanti dan baru sekarang pinceng ijinkan, yaitu
engkau boleh keluar dari kuil untuk meluaskan pengetahuan dan mengambil jalanmu sendiri tanpa
kekangan dari peraturan di sini yang pinceng adakan," kata Ketua Siauw-lim-pai yang duduk bersila di
hadapan muridnya yang ia panggil menghadap.
Dapat dibayangkan betapa girang hati Bun Beng mendengar ini. Sudah lama sekali ia ingin untuk
diperbolehkan keluar dari kuil, namun gurunya selalu melarang dan mengatakan belum tiba saatnya.
Padahal semua ilmu yang diajarkan gurunya telah dipelajarinya semua.
"Terima kasih, Suhu. Sesungguhnya teecu merasa gembira sekali."
Hwesio tua itu mengangguk dan tertawa. "Pinceng tahu dan tidak menyalahkanmu. Usiamu sudah dua
puluh dua tahun dan sebagai seorang pemuda, engkau yang tidak berbakat sebagai pendeta tentu
bernafsu sekali untuk berkelana di dunia ramai. Kepandaianmu telah mencapai tingkat lumayan, bahkan
tidak ada ilmu yang kuketahui belum kuajarkan kepadamu. Engkau hanya kurang pengalaman dan kurang
matang latihan, akan tetapi kalau engkau rajin, dalam beberapa tahun lagi engkau sudah akan melampaui
aku."
"Teecu berhutang budi kepada Suhu, semua kemajuan teecu adalah berkat bimbingan Suhu."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Sudahlah, tidak perlu semua pujian itu. Sekarang kita bicara tentang hal yang amat penting. Setelah
engkau berhasil mempelajari ilmu dari pinceng, sudah menguasai ilmu-ilmu itu, lalu setelah engkau
meninggalkan ini, semua ilmu yang kau kuasai itu hendak kau pergunakan apakah?"
Ditanya secara mendadak seperti itu, Bun Beng gelagapan! Yah, untuk apakah dia mempelajari semua
ilmu itu dengan susah payah selama bertahun-tahun? Tiba-tiba teringat akan kematian Siauw Lam Hwesio,
gurunya yang pertama, yang juga terhitung supek dari Ceng Jin Hosiang, maka dengan hati tetap ia
menjawab,
"Ilmu yang teecu kuasai berkat bimbingan Suhu akan teecu pergunakan untuk mencari musuh-musuh
mendiang Suhu Siauw Lam Hwesio dan membalas dendam kematiannya di tangan mereka!"
"Omitohud..., sudah kuduga engkau akan menjawab seperti itu. Akan tetapi engkau keliru kalau memiliki
niat seperti itu, Bun Beng. Dan pinceng akan melarangmu meninggalkan kuil kalau seperti itu pendapat dan
cita-citamu."
Bun Beng terkejut bukan main, cepat ia membungkuk sampai dahinya menyentuh lantai sambil berkata,
"Mohon maaf sebanyaknya, Suhu. Teecu bodoh dan mohon petunjuk Suhu bagaimana baiknya."
Hwesio itu tertawa. "Kalau pinceng tahu bahwa kepandaian yang pinceng ajarkan kepadamu itu hanya
akan kau pergunakan untuk membunuh orang, hanya untuk membalas dendam, sudah pasti pinceng tidak
akan suka mengajarkannya. Tidak, Bun Beng. Menaruh dendam menimbulkan kebencian, dan kebencian
melahirkan perbuatan-perbuatan kejam dan jahat! Orang gagah tidak boleh dipermainkan oleh perasaan
pribadi, tidak boleh menjadi mata gelap karena dendam. Kalau kau bicara tentang dendam, mengapa kau
tidak mendendam atas kematian Ayahmu dan Ibumu?"
Bun Beng tertegun. Tak pernah terpikirkan hal ini olehnya, apa lagi setelah ia mendengar kata-kata
Pendekar Siluman bahwa ayahnya adalah seorang datuk kaum sesat! "Karena teecu tidak tahu bagaimana
Ayah Bunda teecu tewas dan mengapa."
"Kalau kau tahu bahwa ayahmu dan ibumu mati terbunuh orang, apakah engkau juga akan mendendam
dan akan mencari pembunuh mereka untuk kau balas dan bunuh pula?"
Bun Beng terkejut dan karena kini menyangkut kematian orang tuanya, tanpa ragu-ragu ia menjawab,
"Agaknya begitulah!"
"Baik, sekarang kau balaslah. Pinceng beri tahu siapa pembunuhnya. Ayahmu telah tewas dibunuh Ibumu,
dan Ibumu juga tewas di tangan Ayahmu. Nah, bagaimana?"
Biar pun Bun Beng sudah menerima gemblengan lahir batin dan hatinya sudah kuat sekali, tidak urung
mukanya berubah sedikit mendengar keterangan ini. Dia tidak mampu menjawab dan hanya menunduk,
penuh pemasrahan kepada suhu-nya.
"Omitohud...! Seorang gagah tidak boleh menurutkan nafsu hati, melainkan harus selalu tenang seperti air
telaga yang dalam. Jika pikiran tenang, maka nafsu tidak akan mudah mengganggu dan segala tindakan
kita dapat dilakukan dengan tepat, menurutkan hasil pertimbangan pikiran dan akal budi. Sekarang kau
melihat contoh tidak baiknya orang mendendam karena kematian orang tua atau pun guru. Orang tua mau
pun guru hanyalah manusia-manusia biasa. Bagaimana kalau kematian mereka itu dikarenakan perbuatan
mereka yang jahat? Andai kata orang tuamu menjadi penjahat besar yang terbunuh oleh pendekar
budiman, apakah engkau juga lalu mencari untuk membalas dendam kepada pendekar itu? Kalau
demikian, engkau sama sekali bukan anak berbakti, melainkan sebaliknya, karena engkau makin
mencemarkan nama orang tua yang sudah cemar. Dan engkau bukan orang gagah, karena engkau telah
menyimpang dari hukum tak tertulis dalam jiwa orang gagah yaitu membela kebenaran! Karena itu,
hapuskan dendam dari hatimu, sedikit pun tidak boleh ada sisanya. Jika kelak engkau terpaksa membunuh
orang-orang yang dahulu membunuh Supek Siauw Lam Hwesio karena engkau membela kebenaran dan
karena mereka orang-orang jahat, hal itu lain lagi, bukan membunuh karena balas dendam."
Bun Beng cepat memeluk kaki gurunya. "Ah, ampunkan teecu. Teecu jadi seperti buta, tidak melihat
kenyataan itu, Suhu. Teecu bersumpah untuk mentaati semua perintah Suhu."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Aahhh, pinceng sebetulnya merasa perih di hati kalau bicara tentang bunuh-membunuh. Akan tetapi,
kehidupan seorang gagah di dunia kang-ouw di mana terdapat kekacauan yang disebabkan orang-orang
sesat, agaknya hal itu tidak dapat dicegah lagi. Kalau mungkin, Bun Beng, jauhilah perbuatan membunuh.
Engkau akan lebih berjasa mengingatkan seorang sesat kembali ke jalan benar dari pada membunuhnya.
Nah, kiranya cukup. Hanya satu lagi pesan pinceng. Jangan sekali-kali engkau melibatkan diri dalam
perang, karena Siauw-lim-pai menentang perang. Dan jangan sekali-kali engkau melibatkan nama Siauwlim-
pai dengan permusuhan dengan pihak lain. Mengerti?"
"Baik Suhu, teecu akan mentaati perintah Suhu."
"Hemm..., kalau sampai kau langgar, agaknya pinceng sendiri yang akan turun tangan menghukummu,
Bun Beng. Nah, berangkatlah dan hati-hatilah."
Bun Beng minta diri kepada semua hwesio di kuil, kemudian dia berangkat membawa bungkusan pakaian
dan bekal sedikit perak, tanpa membawa senjata. Dengan memiliki kepandaian seperti tingkatnya
sekarang, dia tidak membutuhkan senjata lagi.
Setelah jauh meninggalkan kuil, Bun Beng teringat akan sepasang pedang yang disimpannya di puncak
tebing tempat tinggal para bekas pejuang penyembah Sun Go Kong. Juga kitab-kitab pelajaran Sam-pocin-
keng yang sudah dihafalnya dan yang sekarang secara diam-diam telah dilatihnya sampai mahir.
Setelah dia menerima gemblengan ilmu-ilmu silat tinggi dari Ceng Jin Hosiang, tidak sukar baginya untuk
menyelami Sam-po- cin-keng dan dia tidak berani berterus terang kepada suhu-nya karena ilmu silat itu
amat ganas dan pantasnya hanya dipelajari kaum sesat! Akan tetapi, hebat bukan main ilmu itu sehingga
di luar pengetahuannya sendiri, kalau dia mempergunakan ilmu itu, agaknya Ceng Jin Hosiang sendiri
belum tentu akan dapat menandinginya!
Di dalam perantauannya ini, Bun Beng membuka telinga dan tiada bosannya dia bertanya-tanya tentang
keadaan dunia kang-ouw. Dia terkejut sekali ketika mendengar akan sepak terjang kaum Thian-liong-pang
yang katanya mulai menculik tokoh-tokoh penting dari partai-partai persilatan! Juga dia mendengar akan
munculnya tokoh-tokoh aneh dari Pulau Neraka yang sudah beberapa kali dahulu ia jumpai, maka diamdiam
ia mengambil keputusan bahwa kalau dia bertemu dengan kaum Thian-liong-pang dan Pulau Neraka,
dia akan menentang mereka! Hatinya bersyukur ketika ia mendengar keterangan bahwa kini tidak ada
terdengar pergerakan dari Pulau Es, tanda bahwa Pendekar Siluman benar-benar tidak mau mencampuri
segala keributan itu. Juga heboh tentang Pedang Iblis dan kitab-kitab peninggalan Bu Kek Siansu yang
lenyap, yang dahulu diperebutkan, kini tidak terdengar lagi.
Yang amat menarik hatinya adalah perbuatan kaum Thian-liong-pang. Mengapa mereka itu menculik
tokoh-tokoh kang-ouw, ketua-ketua partai untuk beberapa hari lamanya kemudian mereka itu dibebaskan
kembali? Apa yang tersembunyi di balik perbuatan aneh ini? Untuk mengambil sepasang pedangnya
terlampau jauh, maka dia akan lebih dulu menyelidiki keadaan Thian-liong-pang dan kalau memang
mereka itu melakukan penculikan-penculikan, hal ini akan ditentangnya. Inilah kewajiban pertama dalam
perjalanannya sebagai seorang pendekar!
Dalam perjalanannya menuju ke Thian-liong-pang dia bermalam dalam sebuah rumah penginapan di kota
kecil Teng-li-bun. Dia telah melakukan perjalanan jauh dan perlu beristirahat. Niatnya akan bermalam di
situ semalam, baru besok pagi akan melanjutkan perjalanan karena malam itu hujan membuat dia segan
untuk bermalam di luar seperti biasanya dia bermalam di hutan atau di gubuk-gubuk sawah. Dia ingin
makan kenyang dan minum sedikit arak, kemudian tidur nyenyak dalam sebuah bilik tanpa gangguan.
Akan tetapi menjelang tengah malam, telinganya yang amat terlatih mendengar suara isak tangis tertahan.
Dia terbangun, memasang telinga dan mendapat kenyataan bahwa tangis itu adalah tangis seorang wanita
yang ditahan-tahan, suaranya seperti tertutup bantal. Dia menjadi bingung. Tentu telah terjadi sesuatu
yang membutuhkan pertolongannya. Akan tetapi yang perlu ditolong adalah seorang wanita, dan hari telah
tengah malam, bagaimana mungkin dia boleh memasuki kamar seorang wanita?
Dia sudah memasang telinga baik-baik dan mendapat kenyataan bahwa tidak ada orang lain dalam kamar
sebelah itu, hanya si wanita yang menangis. Karena suara isak tertahan itu seperti menggelitik hatinya,
Bun Beng tak dapat menahan lagi lalu membuka jendela kamar dan tubuhnya melesat keluar jendela terus
melayang ke atas genteng. Dia berniat untuk mengintai dari atas dan melihat apakah yang terjadi dan
mengapa wanita itu menangis.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan kepandaiannya yang tinggi, tidak ada suara terdengar ketika ia melayang ke atas genteng
sehingga tidak mengganggu para tamu rumah penginapan. Dia membuka genteng di atas kamar sebelah
dengan hati-hati sekali. Akan tetapi baru saja dia menjenguk ke dalam dan melihat seorang wanita muda
rebah di atas pembaringan, tiba-tiba lilin di kamar itu padam dan dia mendengar bersiutnya angin senjata
rahasia dengan cepat dan kuat serta tepat sekali menyambar ke arah lubang genteng!
"Ciut-ciut-ciut!" tiga batang piauw menyambar dan berturut-turut Bun Beng menangkap tiga batang piauw
itu dengan tangan kirinya.
"Bangsat Thian-liong-pang, aku akan mengadu nyawa denganmu!" terdengar suara wanita memaki disusul
menyambarnya sesosok tubuh ke atas dan lubang itu jebol ditabrak seorang gadis yang berpakaian serba
kuning. Gerakan gadis itu cepat dan ringan sekali, kini sudah berdiri di depan Bun Beng dengan pedang di
tangan dan langsung mengirim tusukan ke arah dada Bun Beng.
"Wuuuttt... plakkk!"
Dengan tangan kanannya Bun Beng menampar pedang itu dari samping dan telapak tangannya kini tepat
mengenai pedang yang menempel pada telapak tangannya! Gadis itu berseru kaget, berusaha menarik
kembali pedangnya, akan tetapi sia-sia. Pedangnya melekat di telapak tangan pemuda tampan yang berdiri
tenang sambil memandangnya itu. Juga di bawah sinar bulan yang muncul setelah hujan berhenti tadi,
gadis itu melihat tiga batang piauw-nya berada di tangan kiri pemuda itu. Celaka, pikirnya! Yang datang
adalah seorang tokoh Thian-liong pang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.
"Mau apa lagi? Bunuhlah aku!" tiba-tiba gadis itu berkata penuh kebencian.
"Tenang dan sabarlah, Nona. Aku bukan orang Thian-liong-pang, sama sekali bukan!"
Nona yang usianya kurang lebih delapan belas tahun itu memandang penuh perhatian lalu membentak,
"Siapa mau percaya?"
Bun Beng tersenyum dan menghela napas, melepaskan pedang dan menyerahkan tiga batang piauw yang
diterima oleh gadis itu dengan sambaran cepat seolah-olah ia khawatir kalau-kalau itu hanya siasat. Bun
Beng menggulung lengan bajunya, dan berkata, "Periksalah! Adakah gambar naga di lengan kananku?
Bukankah kata orang, lengan kanan semua anggota Thian-liong-pang dicacah dengan gambar naga
kecil?"
"Huh!" Gadis itu mendengus setelah dia melirik juga ke arah kulit yang halus itu sehingga ia terheran
mengapa pemuda halus itu dapat memiliki sinkang yang demikian hebat, "Kalau bukan anggota Thianliong-
pang, agaknya engkau seorang yang lebih hina lagi, seorang jai-hwa-cat!"
Bun Beng mengangkat kedua alisnya dan dia memandangi pakaiannya. "Aihhh! Jai-hwa-cat? Adakah
tampangku seperti penjahat cabul? Dan pakaianku? Aih, engkau terlalu sekali, Nona. Ataukah engkau
hanya main-main?"
"Kalau bukan jai-hwa-cat atau penjahat, mau apa tengah malam buta membuka genteng kamar orang dan
mengintai ke dalam?" Gadis itu menyerang dengan kata-kata, sungguh pun dia sendiri mulai ragu-ragu
apakah orang muda yang bersikap wajar dan halus ini seorang penjahat.
Bun Beng tertawa. "Salahku... salahku...! Puas kau sekarang?!" Dia menunjuk hidung sendiri. "Inilah
upahnya kalau terlalu ingin memperhatikan orang lain! Terus terang saja, Nona, aku tadi sedang tidur
nyenyak ketika terganggu... eh, maaf, memang telingaku terlalu perasa, terlalu peka sehingga aku
terbangun oleh tangismu. Aku menjadi curiga dan ingin sekali tahu mengapa di tengah malam buta ada
wanita menangis. Aku hendak mengintai untuk melihat apa yang terjadi, sama sekali bukan berniat jahat,
bolehkah aku mengetahui, mengapa kau menangis? Ahhh, tentu ada hubungannya dengan Thian-liongpang.
Buktinya, engkau menyangka aku orang Thian-liong-pang..."
Bun Bang menghentikan kata-katanya karena tiba-tiba wanita itu menangis terisak-isak!
"Eh, eh, bagaimana ini...? Salahkah omonganku sehlngga menyinggung perasaanmu?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Gadis itu masih menangis lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Bun Beng. Tentu saja Bun Beng menjadi
bingung sekali, hendak mengangkat bangun, merasa tidak pantas menyentuh tubuh seorang gadis. "Eh,
eh... Nona. Bangkitlah, jangan begitu...!"
"Mohon maaf atas kesalahanku tadi... dan mohon pertolongan Taihiap yang memiliki kepandaian tinggi
untuk menyelamatkan Ayahku...."
"Aku bukan seorang taihiap (pendekar besar), Nona. Akan tetapi aku berjanji akan menolong. Ayahmu
mengapakah? Harap kau suka berdiri agar enak kita bicara."
Gadis itu bangkit berdiri sambil mengusap air matanya.
"Nah, ceritakanlah apa yang terjadi," kata pula Bun Beng. Kini sinar bulan makin terang dan tampak oleh
pemuda ini betapa gadis itu amat manis wajahnya, wajah manis yang membayangkan kegagahan yang
agak pudar oleh tangis tadi.
"Namaku adalah Ang Siok Bi..."
"Nama yang bagus..." Tiba-tiba Bun Beng melihat sinar mata nona itu memandangnya tajam penuh
kecurigaan dan alis yang hitam itu berkerut, maka teringatlah ia betapa tidak tepatnya ucapan yang tibatiba
saja meluncur dari mulutnya itu karena ia kagum memandang wajah yang manis.
"Eh, maksudku... teruskan ceritamu, Nona Ang..." Sambungnya cepat-cepat dan gugup.
"Ayahku adalah Ang Thian Pa yang lebih dikenal dengan sebutan Ang Lojin, Ketua Bu-tong-pai..."
"Aihh! Kiranya Nona adalah puteri ketua partai besar, maaf kalau aku berlaku kurang hormat...." Bun Beng
memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan depan dada sambil membungkuk.
Siok Bi, gadis itu, biar pun baru berusia delapan belas tahun, namun dia sudah banyak merantau dan
sebagai seorang pendekar wanita yang muda dan cantik, tentu dia banyak mengalami gangguan dan
banyak mengenal sikap laki-laki. Maka kini alisnya berkerut ketika ia menyaksikan sikap Bun Beng yang
agaknya sama sekali tidak mempedulikan ceritanya, melainkan tertarik dan kagum kepadanya! Tadi telah
ia saksikan kelihaian pemuda itu dan timbul harapannya untuk minta pertolongannya, akan tetapi kini
melihat sikap Bun Beng, dia mulai ragu-ragu jangan-jangan pemuda ini adalah seorang jai-hwa-cat yang
bersikap halus dan sedang mempermainkannya!
"Taihiap, harap berterus terang saja. Engkau ini seorang pendekar yang suka mengulur tangan menolong
orang yang sedang tertimpa mala petaka ataukah seorang dari kaum sesat?"
Bun Beng yang tadinya tersenyum dengan hati tertarik memperhatikan gerak-gerik dan terutama sekali
gerakan bibir yang membuat wajah itu kelihatan amat manis, menjadi gelagapan mendengar pertanyaan
itu. Dia tentu saja tidak sadar akan sikapnya sendiri karena memang tidak dibuat-buat. Selama bertahuntahun
dia berada di dalam kuil mempelajari ilmu, tiap hari hanya bergaul dan bertemu dengan para hwesio.
Yang dilihatnya hanyalah muka para hwesio dengan kepala gundul, sama sekali tidak indah dalam
pandangannya. Kini, sekali keluar mengembara bertemu dengan wajah begini manis, hati siapa tidak akan
terpikat?
"Ang-siocia, ada apakah? Mengapa engkau kelihatan marah kepadaku?"
"Pandang matamu itulah!" Mau tidak mau Siok Bi membuang muka dan kedua pipinya menjadi merah.
Betapa pun gagah wataknya sebagai pendekar wanita, namun dia masih seorang gadis remaja sehingga
dia pun tidak terbebas dari pada sifat wanita yang ingin dipuji dan dikagumi, apa lagi oleh seorang pemuda
setampan dan segagah Bun Beng!
"Pandang mataku? Aihhh... apakah aku tidak boleh memandang? Kenapakah? Engkau aneh sekali, Nona.
Baiklah aku akan memejamkan mata. Nah, teruskan ceritamu!" Dan Bun Beng benar-benar memejamkan
kedua matanya.
"Ketika ayahku dan aku melakukan perjalanan menuju ke Siang-tan, sampai di dalam hutan di luar kota ini
kami berhenti dan beristirahat, yaitu pagi hari tadi." Gadis itu berhenti bercerita.
dunia-kangouw.blogspot.com
Bun Beng yang masih memejamkan mata itu menanti sebentar, lalu sebagai komentar dia hanya bisa
mengeluarkan suara, "Hmmm...!" Lalu menanti lagi, akan tetapi lanjutan ceritanya tak kunjung datang.
"Mengapa diam?"
"Agaknya Taihiap tidak menaruh perhatian, perlu apa kulanjutkan? Kalau Taihiap tidak sudi menolong,
aku... aku pun tidak mau memaksa." Suara itu terdengar menjauh dan ketika Bun Beng membuka
matanya, nona itu sudah berlari pergi!
Sekali menggerakkan tubuhnya, Bun Beng sudah menyusul dan menghadang di depan Siok Bi. "Eh-eh,
bagaimana ini? Kau aneh sekali, Nona! Aku cukup memperhatikan ceritamu dan ingin menolong Ayahmu."
Diam-diam Siok Bi terkejut dan kagum. Dia hanya melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu pemuda itu
sudah berada di depannya! Akan tetapi ia cemberut dan berkata, "Aku bicara kepada orang yang
memejamkan mata seolah-olah tidak peduli, mana... enak hatiku?"
Tiba-tiba Bun Beng tertawa saking geli hatinya. Memang pemuda ini memiliki watak periang. Ia
menggaruk-garuk belakang telinganya dan berkata, "Wah, benar-benar aku tidak mengerti, Nona! Kalau
aku memperhatikan ceritamu dengan membuka mata, pandang mataku mengganggumu. Kalau aku
memejamkan mata, kau anggap aku tak peduli, habis bagaimana? Harap kau lanjutkan. Percayalah, aku
tidak mempunyai niat hati yang tidak baik terhadapmu! Ayahmu dan engkau pagi tadi beristirahat dalam
hutan di luar kota ini. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?"
Kini sinar bulan sepenuhnya menimpa wajah Bun Beng sehingga Siok Bi dapat memandang jelas. Wajah
yang tampan dan mulutnya seperti selalu tersenyum. Pada saat itu Bun Beng bicara sungguh-sungguh,
tetapi matanya bersinar-sinar gembira dan bibirnya seperti orang tersenyum. Kini mengertilah Siok Bi
bahwa memang pemuda ini memiliki mata dan bibir yang seolah-olah selalu gembira dan tersenyum,
sehingga tadi ia mengira bahwa mata pemuda itu ‘nakal’ dan bibirnya tersenyum kurang ajar. Maka hatinya
pun lega dan ia melanjutkan.
"Selagi kami beristirahat dan makan di bawah pohon, datang rombongan Thian-liong-pang. Ketika mereka
mengenal ayah sebagai Ketua Bu-tong-pai, mereka lalu memaksa Ayah ikut dengan mereka untuk
menghadap Ketua Thian-liong-pang!"
"Hemmm, sungguh kurang ajar!" Bun Beng membentak dan gadis itu mendapat kenyataan betapa dalam
keadaan marah pun pemuda itu seperti orang tersenyum. "Tentu engkau dan Ayahmu menghajar mereka!"
"Itulah yang menyusahkan hatiku, Taihiap. Mereka lihai sekali. Ayah dikeroyok dan dirobohkan, lalu
ditangkap dan dimasukkan ke kerangkeng."
"Apa? Dikerangkeng dan kau diam saja?"
Kalau belum mulai mengenal cara bicara Bun Beng seperti orang main-main, tentu gadis itu sudah marah
lagi. "Tentu saja aku melawan mati-matian, akan tetapi mereka amat lihai. Aku roboh tertotok, tak mampu
berkutik. Setelah mereka pergi lama sekali, baru aku dapat bergerak. Mengejar sampai sore namun tak
berhasil dan akhirnya aku sampai di sini dengan maksud besok akan melanjutkan perjalanan,
mengumpulkan semua anggota Bu-tong-pai untuk menyerbu ke Thian-liong-pang membebaskan Ayah.
Akan tetapi... ah, akan makan waktu lama, mungkin terlambat... dan aku sangsi apakah aku dapat
melawan Thian-liong-pang yang amat kuat itu."
"Ke mana Ayahmu dibawa lari? Ke jurusan mana?"
"Di luar kota ini di sebelah utara terdapat hutan, dan mereka membawa Ayah terus ke utara..."
"Aku akan mengejar mereka!" Bun Beng berkelebat dan pergi dari depan gadis itu.
Siok Bi bingung dan terkejut, mengira bahwa pemuda itu pandai menghilang. Ia berteriak, "Tunggu,
Taihiap! Aku belum tahu namamu dan aku ikut...!"
Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara Bun Beng dari bawah karena pemuda ini memasuki kamar mengambil
bungkusan pakaian dan bekalnya. "Jangan ikut, kau tunggu saja di sini, Nona. Namaku Gak Bun Beng!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendengar suara dari dalam kamar di sebelah kamarnya, Siok Bi meloncat ke bawah dan memasuki
kamar Bun Beng, akan tetapi pemuda itu sudah tidak ada dan ketika ia melompat lagi ke atas genteng, dia
tidak melihat bayangan pemuda itu! Ia menarik napas panjang. "Hebat dia...!"
Kemudian ia pun mengambil pakaian dari kamarnya dan malam itu juga ia meninggalkan penginapan untuk
mengejar ke utara. Benar juga pemuda itu, pikirnya. Kalau aku ikut, tentu perjalanannya tidak dapat
dilakukan secepat kalau pemuda itu mengejar sendiri. Hatinya menjadi besar dan ia membayangkan wajah
tampan yang bibirnya selalu tersenyum dan berseri wajah dan matanya itu. Kekhawatirannya tentang diri
ayahnya agak berkurang karena ia percaya bahwa pemuda itu amat lihai dan tentu akan dapat menolong
ayahnya. Gak Bun Beng! Dia mengingat-ingat, akan tetapi tidak pernah merasa mendengar nama ini di
dunia kang-ouw. Benar kata ayahnya bahwa sekarang banyak bermunculan orang-orang aneh yang
memiliki ilmu kepandaian luar biasa, tentu termasuk pemuda itu.
Bun Beng merasa penasaran dan marah sekali. Kiranya benar seperti berita yang didengarnya. Thianliong-
pang mengacau dunia kang-ouw, secara kurang ajar berani menculik seorang Ketua Bu-tong-pai di
siang hari. Benar-benar keterlaluan, seolah-olah di dunia ini sudah tidak ada hukum dan seolah-olah hanya
Thian-liong-pang yang paling kuat. Dia harus menentangnya dan menolong Ketua Bu-tong-pai, ayah dari
gadis yang amat manis wajahnya itu.
Dengan kepandaiannya yang tinggi, Bun Beng melakukan pengejaran. Dia gunakan ilmu lari cepat Ciosiang-
hui yang dipelajarinya dari Ceng Jin Hosiang hingga tubuhnya seperti terbang di atas rumput, seolaholah
tidak menginjak tanah dan tubuhnya lenyap, yang tampak hanya berkelebatnya bayangannya yang
meluncur cepat menuju ke utara!
Namun karena ia ketinggalan waktu selama sehari, pada keesokan harinya menjelang senja barulah ia
dapat menyusul rombongan orang Thian-liong-pang yang menawan Ketua Bu-tong-pai. Dari jauh ia sudah
melihat serombongan orang, sebanyak empat orang mendorong sebuah kereta kecil berbentuk
kerangkeng di mana yang tampak hanya sebuah kepala yang bertudung lebar dan kedua tangan yang
terbelenggu. Hanya kepala dan kedua tangan yang tampak keluar dari dalam kerangkeng yang terbuat dari
pada papan tebal dan beroda dua.
Bun Beng mempercepat larinya, sebentar saja dia telah melewati rombongan empat orang itu,
membalikkan tubuh dan menghadang, berdiri dengan tegak dan bertolak pinggang. Melihat sikap pemuda
yang datang dengan cepat sekali itu, rombongan itu berhenti dan empat orang itu memandang kepadanya
dengan penuh perhatian. Juga orang tua bermuka gagah yang berada dalam kerangkeng memandang
kepada Bun Beng.
Saat memperhatikan empat orang itu, diam-diam Bun Beng terkejut. Ternyata memang benarlah berita
yang ia dengar. Orang-orang Thian-liong-pang amat aneh dan sikap mereka menyeramkan. Empat orang
ini saja sudah menunjukkan bahwa mereka tentu orang-orang yang berilmu tinggi, dan sikap mereka itu
rata-rata angkuh.
Seorang di antara mereka adalah seorang kakek yang mukanya pucat seolah-olah tidak berdarah, seperti
muka mayat yang amat kurus sehingga mukanya itu mirip tengkorak, namun sepasang mata yang sipit itu
mengeluarkan sinar tajam, dan di punggungnya tampak tergantung sebatang pedang. Orang kedua masih
muda, paling banyak tiga puluh lima tahun usianya, tampan dan gagah, rambutnya terurai di atas kedua
pundak dan punggungnya, kepalanya diikat sehelai tali yang mengkilap seperti sutera, alisnya selalu
berkerut dan sinar matanya membayangkan keangkuhan dan kekejaman, juga di punggungnya tampak
terselip sebatang pedang. Biar pun kedua orang ini tidak banyak bergerak, namun dapat diduga bahwa
tentu ilmunya tinggi, dan membuat hati mereka tinggi pula.
Akan tetapi dua orang yang lain benar-benar menimbulkan ngeri kepada Bun Beng. Sukar membedakan
kedua orang itu karena baik pakaian, bentuk tubuh dan muka mereka kembar! Dan keduanya pun
memegang sepasang senjata gelang yang dipasangi lima duri meruncing dan mengkilap. Berbeda dengan
sikap kedua orang yang pendiam dan angkuh itu, dua orang kembar yang tinggi besar ini sikapnya kasar,
seperti binatang buas dan merekalah yang langsung meloncat maju menghadapi Bun Beng. Seorang di
antara mereka langsung membentak,
"Bocah sinting, siapa kau berani bersikap kurang ajar?"
"Minggir kau sebelum kupatahkan kedua kakimu!" Orang kedua membentak pula.
dunia-kangouw.blogspot.com
Bun Beng memperlebar senyumnya dan tetap bertolak pinggang. Sambil melirik ke arah kerangkeng, dia
bertanya, "Apakah kalian ini penculik-penculik dari Thian-liong-pang? Dan apakah Locianpwe yang
tertawan itu Ang Lojin Ketua Bu-tong-pai?"
"Benar orang muda. Aku adalah Ang Lojin. Hati-hatilah, jangan mencampuri urusan ini. Lebih baik pergilah
karena aku sudah merasa kalah dan ingin menghadap Ketua Thian-liong-pang!" Kakek di kerangkeng itu
berkata.
"Bocah tak tahu diri! Ketahuilah bahwa kami benar dari Thian-liong-pang. Nah, setelah mendengar nama
perkumpulan kami, engkau tidak lekas menggelinding pergi?"
Bun Beng dengan sikap tenang menggerakkan pundaknya, memandang kedua orang kakek kembar yang
mukanya bengis mengerikan itu sambil berkata, "Sebenarnya aku mau pergi, akan tetapi sayang, empat
orang sahabatku yang berada di sini tidak membolehkan aku pergi sebelum kalian membebaskan Ang
Lojin!"
Mendengar ini, empat orang Thian-liong-pang itu cepat memandang ke sekeliling mereka. Mereka terkejut
sekali mendengar bahwa pemuda kurang ajar ini mempunyai empat orang sahabat. Kalau empat orang itu
hadir di sekitar mereka tanpa mereka ketahui, dapat dibayangkan betapa lihai empat orang itu. Apa lagi
setelah mereka memandang ke sekeliling tidak dapat melihat gerak-gerik orang di situ, mereka menjadi
makin hati-hati karena hal itu hanya menandakan bahwa empat orang sahabat pemuda ini benar-benar
lihai.
"Orang muda, lekas suruh empat orang sahabatmu keluar agar kami dapat bicara dengan mereka!"
Seorang di antara kakek kembar berkata, sedangkan tokoh Thian-liong-pang muda sudah menggeser kaki
mendekati kerangkeng, dan kakek bermuka tengkorak, sekali menggerakkan kaki tubuhnya sudah
melayang ke atas tempat yang agak tinggi, di atas batu-batu. Agaknya si orang muda menjaga kerangkeng
itu dan si kakek bermuka tengkorak menjadi penjaga di tempat tinggi.
Sikap mereka yang tenang dan muka yang angkuh itu menimbulkan dugaan di hati Bun Beng bahwa
tingkat mereka berdua itulah yang sesungguhnya tinggi, lebih tinggi dari pada tingkat sepasang kakek
kembar yang menghadapinya. Hal ini pun menjadi tanda bahwa mereka memandang rendah kepadanya
sehingga untuk menghadapinya cukup oleh kedua kakek kembar yang rendah tingkatnya!
Bun Beng tertawa dan berkata, "Mau berkenalan dengan empat orang sahabatku? Awas, mereka lihai
sekali, kalau kalian berkenalan dengan mereka, tentu kalian akan mereka robohkan dengan mudah!"
"Tak perlu banyak menggertak!" Bentak kakek kembar kedua, akan tetapi tidak urung dia dan saudara
kembarnya diam-diam melirik ke kanan kiri dengan sikap agak gentar. "Lekas suruh mereka keluar!"
"Mereka sudah berada di sini, di depanmu, apakah kalian buta?"
Kini kedua kakek kembar itu terbelalak, dan benar-benar menjadi jeri. Kalau ada empat orang berada di
depan mereka tanpa mereka dapat melihatnya, hal itu hanya berarti bahwa empat orang itu bukanlah
manusia, melainkan iblis-iblis. Teringatlah mereka akan orang-orang Pulau Neraka, musuh utama mereka
yang mereka takuti, akan tetapi pemuda ini kulit mukanya biasa saja, tentu bukan anggota Pulau Neraka.
Ah, tentu hanya gertakan saja, akal bulus, akal kanak-kanak untuk menakut-nakuti mereka!
"Bocah, jangan main-main engkau!" Seorang di antara mereka membentak.
"Inilah mereka!" Bun Beng melonjorkan kaki tangannya bergantian ke depan.
Muka kedua kakek kembar itu menjadi merah, mata mereka melotot dan karena kepala mereka botak, Bun
Beng teringat akan kera-kera baboon yang pernah menjadi kawan-kawannya. Muka kedua orang kakek
kembar ini mirip kera-kera itu!
Akan tetapi sebagai anggota-anggota Thian-liong-pang yang banyak pengalaman, menyaksikan sikap
pemuda yang berani mempermainkan mereka dan yang amat tenang itu, dua orang kakek kembar tidak
mau sembrono. Seorang di antara mereka melangkah maju dan menegur.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Orang muda, engkau siapakah berani mati mempermainkan kami dari Thian-liong-pang? Apa yang telah
kau perbuat ini hanya dapat dicuci dengan darahmu dan ditebus dengan nyawamu. Maka sebelum
mampus, mengakulah siapa engkau!"
Bun Beng menggelengkan kepala. "Terlalu enak untuk kalian! Sudah terang kalian yang akan kalah, dan
andai kata aku sampai mati pun, biarlah namaku menjadi rahasia dan setan penasaran, rohku akan
mengejar-ngejar Thian-liong-pang!"
"Keparat!" Kakek yang berada di depannya sudah menerjang dengan senjatanya yang aneh dan kiranya
senjata gelang berduri itu digenggam dengan duri-durinya di depan, digerakkan secara cepat dan kuat
sekali menghantam ke arah muka Bun Beng yang masih bertolak pinggang.
"Heeitt! Memang orang-orang Thian-liong-pang berhati kejam," kata Bun Beng. Dengan mudah ia
mengelak ke kanan dan biar pun matanya melirik ke arah orang di depannya sambil tersenyum mengejek,
namun telinganya dicurahkan untuk mengikuti gerakan kakek kedua yang telah melompat ke belakangnya.
Ketua Bu-tong-pai yang sudah merasai kelihaian orang-orang itu menjadi gelisah sekali. Ia berterima kasih
dan kagum akan munculnya pemuda tak tekenal yang jelas hendak menolongnya itu, akan tetapi ia merasa
yakin bahwa pemuda itu tentu akan celaka. Pemuda itu akan mengorbankan nyawa dengan sia-sia saja
dan hal inilah yang menggelisahkan hatinya, sama sekali bukan dia tidak mempunyai harapan tertolong.
Sudah banyak tokoh kang-ouw yang ditawan secara paksa oleh orang-orang Thian-liong-pang untuk
dihadapkan Ketua mereka. Belum pernah ada tokoh yang dibunuh, maka dia tidak merasa khawatir akan
keselamatan dirinya sungguh pun ada hal yang lebih hebat lagi dalam peristiwa ini, lebih hebat dan penting
dari pada keselamatan dirinya, yaitu keselamatan nama besar Bu-tong-pai yang terancam dan dihina! Kini
pemuda yang hendak menolong dirinya itu terlalu sembrono dan berani mati mempermainkan orang-orang
Thian-liong-pang, maka dia tidak akan merasa heran kalau nanti melihat pemuda itu roboh dan tewas di
depan matanya.
"Orang muda, awas senjata itu beracun dan berbahaya! Larilah!" teriaknya ketika melihat betapa pemuda
itu diserang dari depan dan belakang dengan dahsyat.
"Jangan khawatir, Locianpwe. Dua ekor kera ini hanya pandai menakut-nakuti anak kecil saja!" Jawab Bun
Beng sambil menggunakan ginkang-nya untuk melesat ke sana ke mari mengelak sambil tersenyum. Dia
sudah melihat bahwa biar pun ilmu silat kedua kakek itu aneh sekali, gerakannya cepat dan bertenaga,
namun tidak terlalu cepat dan kuat baginya dan dia yakin akan dapat mengatasi mereka dengan mudah
walau pun dia bertangan kosong.
Ketua Bu-tong-pai menjadi bengong. Sungguh kagum dia karena pemuda itu benar-benar bukan hanya
pandai mempermainkan orang, melainkan juga memiliki gerakan yang amat kuat dan cepat, dua kakinya
dapat melangkah dengan baik sekali sehingga semua serangan kedua orang itu selalu mengenai angin
kosong.
"Wutttttt! Wah, galak amat!"
Bun Beng miringkan kepala untuk menghindarkan hantaman gelang berduri dari arah belakang, berbareng
ia mengirim tendangan ke depan mengarah sambungan lutut lawan di depan, jari tangannya menyentil
senjata yang melayang di depan hidungnya, menggunakan jari telunjuk menyentil ke arah sebuah di antara
lima dari duri-duri gelang sambil mengerahkan sinkang sekuatnya.
"Cringgg!" Dan kakek itu memekik kaget.
Ternyata duri yang disentil jari itu telah patah dan telapak tangannya terasa panas dan perih sekali. Hampir
ia melepaskan sebuah gelangnya dan ia melompat ke belakang. Juga kakek di depan Bun Beng yang
diserang tendangan tadi cepat melompat ke belakang. Mereka menjadi marah dan penasaran. Kakek yang
di belakangnya lalu mengeluarkan gerengan marah, tangan kirinya bergerak dan gelang berduri yang
kehilangan sebuah durinya itu tiba-tiba meluncur ke arah Bun Beng, berputaran dan mengeluarkan suara
bercuitan.
"Bagus...!" Bun Beng diam-diam kagum juga.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kiranya senjata ini bukan hanya digunakan untuk menyerang dengan dipegangi, tetapi juga dapat menjadi
senjata rahasia yang dilontarkan. Dia mengelak dan lebih kagum lagi hatinya melihat betapa gelang yang
berputaran menyambar kepalanya itu setelah luput dari sasarannya, kini dapat membalik dan kembali ke
tangan pemiliknya!
Dia cepat membalik dan pada saat kakek itu menerima kembali senjatanya, Bun Beng sudah memukul
dengan telapak tangannya, pukulan jarak jauh dengan pengerahan sinkang-nya.
"Wuuutttttt!" Angin pukulan yang kuat membuat kakek itu terhuyung-huyung mundur. Akan tetapi kakek
kedua yang kini berada di belakang Bun Beng sudah melontarkan gelang kanan ke arah punggung
pemuda itu.
"Awasss...!" Ketua Bu-tong-pai berteriak kaget.
Namun tanpa memutar tubuhnya, Bun Beng mengulur tangan dan berhasil menangkap senjata itu, seolaholah
di belakang tubuhnya terdapat mata ketiga!
"Senjata yang buruk!" Bun Beng kini memutar senjata itu dengan gerakan yang mahir seolah-olah sejak
kecil dia memang sudah biasa menggunakan senjata itu! Tentu saja bukan demikian kenyataannya. Hanya
karena dia telah digembleng oleh Ketua Siauw-lim-pai dan telah mempelajari delapan belas macam
senjata, dan pernah pula diajar cara mempergunakan senjata gelang yang jarang dipakai di dunia kangouw,
maka dia tidak asing dengan senjata ini, pula karena memang bakat yang dimiliki pemuda itu luar
biasa sekali.
"Trang-cring-trangg...!" tiga kali gelang berduri di tangan kedua orang kakek itu bertemu dan gelang kiri
kakek yang di belakangnya patah menjadi tiga bertemu dengan gelang di tangan Bun Beng.
"Heh-heh-heh, sekarang kita masing-masing mempunyai sebuah gelang, jadi adil namanya, seorang satu!
Masih mau dilanjutkan?" Dia menantang dan mengejek.
"Tahan dulu!"
Tiba-tiba kakek tua yang bermuka tengkorak melayang datang dan gerakannya membuat Bun Beng
bersikap hati-hati karena melihat cara meloncatnya saja tingkat kepandaian kakek muka tengkorak ini
sama sekali tidak boleh dibandingkan dengan sepasang kakek kembar yang kasar.
Akan tetapi dasar watak Bun Beng suka main-main, dia menyambut kakek itu dengan tertawa, "Apakah
engkau mau mengeroyok pula? Marilah, biar lebih ramai!"
Kakek muka tengkorak itu tidak marah, hanya tetap tenang dan dingin ketika berkata, "Thian-liong-pang
tidak pernah memusuhi Siauw-lim-pai, apakah kini Siauw-lim-pai mendahului langkah mengumumkan
perang terhadap Thian-liong-pang?"
Mendengar ini Bun Beng terkejut. Ah, kiranya kakek ini demikian tajam pandang matanya sehingga
mengenal bahwa dia adalah murid Siauw-lim-pai. Juga kakek Ketua Bu-tong-pai terkejut dan cepat
berkata,
"Orang muda yang gagah. Jika engkau seorang murid Siuw-lim-pai, harap menyingkir. Aku tidak mau
membawa-bawa Siauw-lim-pai terlibat dalam urusan ini."
Bun Beng merasa penasaran. Dia sendiri sudah dipesan oleh gurunya agar jangan melibatkan Siauw-limpai
dengan permusuhan. Akan tetapi haruskah ia mundur dan membiarkan Kakek Bu-tong-pai itu tertawan
dan yang terutama sekali, haruskah dia mengecewakan Siok Bi yang berwajah manis itu? Membayangkan
betapa sinar mata yang indah itu menjadi kecewa, murung dan bahkan mungkin menangis lagi, dia tidak
tahan dan tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, siapa membawa-bawa Siauw-lim-pai? Ilmu silat di dunia ini tidak terhitung banyaknya, akan
tetapi sumbernya hanya satu, yaitu mendasar segala gerakan pada pembelaan diri dan penyerangan.
Kalau ada gerakan yang mirip dengan ilmu silat Siauw-lim-pai, apa anehnya?"
Akan tetapi kakek bermuka tengkorak itu tidak puas. "Orang muda, apakah engkau hendak menyangkal
bahwa engkau adalah murid Siauw-lim-pai?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Aku tidak menyangkal apa-apa."
"Kalau begitu mengakulah, engkau murid partai mana?"
"Aku pun tidak mengaku apa-apa. Guruku banyak sekali, tak terhitung banyaknya sehingga aku lupa satusatunya.
Akan tetapi lihat, apakah ini ilmu silat Siauw-lim-pai?" Setelah berkata demikian, Bun Beng
menggerakkan gelang berduri di tangannya, sekali memutar lengan dia telah menyerang dua orang kakek
kembar sekaligus.
"Trang-cringgg...!" Dua kakek kembar itu menangkis kaget dan... kedua senjata mereka patah-patah.
"Ahhh... ini adalah jurus ilmu silat kami...!" Kakek kembar berseru dan cepat menerjang marah dengan
gelang mereka yang tinggal sepotong di tangan.
Bun Beng tersenyum dan menghadapi mereka dengan gerakan-gerakan aneh seperti yang dilakukan dua
orang kakek itu. Benarkah bahwa Bun Beng pernah mempelajari ilmu silat gelang berduri dua orang kakek
kembar itu? Tentu saja tidak. Melihat pun baru sekali itu. Akan tetapi Bun Beng memiliki daya ingatan yang
kuat sekali sehingga sekali melihat dia sudah mengerti dan dapat mengingat serta menirunya! Dia tadi
ketika menghadapi pengeroyokan kedua orang kakek yang tingkatnya masih jauh lebih rendah darinya,
mendapat banyak kesempatan untuk memperhatikan gerakan mereka sehingga kini ia dapat menirunya
dengan baik, sungguh pun tentu saja hanya kelihatannya saja sama, padahal dasar yang menjadi landasan
jurus-jurus itu lain sama sekali!
Kalau dua orang kakek kembar menjadi terkejut dan marah karena pemuda itu selain merampas senjata
mereka, juga memukul mereka dengan ilmu mereka sendiri, adalah kakek muka tengkorak menjadi heran
sekali. Kalau murid Siauw-lim-pai, yang rata-rata angkuh dan mengandalkan ilmu sendiri, tidak mungkin
mau melakukan jurus-jurus ilmu silat dua orang kakek kembar itu. Dia pun mendapat kenyataan bahwa
kakek kembar bukan lawan pemuda ini, maka dia lalu memberi tanda dengan mata kepada kawankawannya.
Tiba-tiba terdengar suara bercuitan dan tubuh tokoh Thian-liong-pang muda itu sudah menyambar. Dengan
didahului sinar hijau pedangnya, bagaikan bintang jatuh sinar ini menyerbu ke arah Bun Beng.
"Bagus!" Bun Beng memuji, benar-benar memuji karena gerakan orang yang tampan itu tangkas sekali.
Namun dengan mudah ia dapat mengelak.
Kakek muka tengkorak juga menggerakkan pedangnya yang bersinar kuning sehingga dalam sekejap mata
Bun Beng sudah harus melesat ke sana-sini menghindarkan dirinya ditembus dua sinar pedang yang amat
dahsyat. Dia masih sempat memperhatikan dengan hati cemas ketika melihat bahwa kakek kembar sudah
meninggalkannya dan mendorong pergi kerangkeng di mana Ketua Bu-tong-pai tertawan.
"Berhenti!" Bun Beng berteriak dan gelang berduri di tangannya meluncur cepat, berputaran mengeluarkan
suara berdesing menyambar ke arah kerangkeng.
"Krakkkk!" Roda itu patah sehingga kerangkeng tak dapat didorong lagi.
Namun dua orang kakek kembar itu tidak kehilangan akal. Mereka lalu mengangkat kerangkeng,
menggotongnya dan berlari pergi secepatnya. Bun Beng tidak dapat mengejar karena dia didesak oleh dua
sinar pedang yang amat cepat dan berbahaya sehingga dia harus mencurahkan perhatiannya untuk
melawan dua orang pengeroyok baru yang lihai ini.
Dua orang itu menjadi heran dan kagum bukan main. Mereka telah mengerahkan kepandaiannya, dengan
pedangnya mengeroyok pemuda yang bertangan kosong ini. Namun tetap saja pemuda itu tidak dapat
didesak karena selalu dapat mengelak cepat, bahkan balas menyerang mereka dengan pukulan-pukulan
ampuh. Mereka makin memperketat pengepungan dan mempercepat serangan dengan niat agar pemuda
itu mengeluarkan ilmu silat Siauw-lim-pai.
Namun Bun Beng tidak mau dipancing dan tiba-tiba ia berseru keras, tubuhnya berkelebatan di antara
sinar-sinar itu dan ia menyerang dengan ilmu silat yang ganasnya seperti ilmu setan! Dua orang itu
terdesak mundur dan makin terheran. Pemuda ini memiliki ilmu silat yang aneh, pikir mereka. Biar pun
agak ‘berbau’ dasar ilmu silat Siauw-lim-pai, namun jelas bukan ilmu silat Siauw-lim-pai karena melihat
dunia-kangouw.blogspot.com
keganasannya lebih mirip ilmu silat golongan sesat! Tentu dia seorang tokoh yang amat lihai dan tinggi
kedudukannya, pikir mereka.
Memang Bun Beng telah mempergunakan jurus-jurus ilmu silat dari Sam-po-cin-keng yang bernama Kongjiu-
jib-tin (Dengan Tangan Kosong Menyerbu Barisan) sehingga kedua orang itu tentu saja tidak mengenal
ilmu ciptaan pendiri Beng-kauw ini!
Dua orang itu memberi isyarat lalu Si Kakek berkata. "Kami tidak ingin bermusuhan dengan Siauw-lim-pai!"
Setelah berkata demikian, mereka melesat jauh dan lari pergi.
Bun Beng penasaran. Dia tidak bernafsu untuk mengalahkan dua orang itu, apa lagi membunuhnya, akan
tetapi dia harus menolong Ketua Bu-tong-pai. Maka dia pun lalu melompat dan mengejar, akan tetapi
sengaja tidak menyusul mereka, hanya membayangi dari jauh. Agaknya kedua orang itu juga sengaja
memancing Bun Beng karena mereka itu berlari tidak secepat yang mereka dapat lakukan. Hal ini pertama
untuk memberi kesempatan kepada kakek kembar untuk lebih dulu sampai ke sarang mereka, kedua
kalinya karena memancing pemuda lihai itu yang tentu akan menarik perhatian Ketua mereka!
Bun Beng bukan orang bodoh. Dia cerdik sekali dan dapat memperhitungkan keadaan, maka dia pun dapat
menduga bahwa tentu dua orang itu sengaja memancingnya. Namun dia tidak takut. Malah kebetulan,
pikirnya. Aku tidak perlu susah payah mencari sarang mereka. Akan kutemui Ketua mereka, kupaksa agar
membebaskan Ang Lojin dan lain-lain tawanan, dan kalau ada, dan memaksanya berjanji agar
menghentikan perbuatan-perbuatan menculik orang-orang penting itu.
Sebetulnya apakah yang terjadi dengan Thian-liong-pang sehingga kini perkumpulan besar itu melakukan
perbuatan aneh itu, menculiki tokoh-tokoh kang-ouw dan ketua partai persilatan? Sesungguhnya, tidaklah
terjadi perubahan di Thian-liong-pang. Ketuanya masih tetap Si Wanita berkerudung yang makin lama
makin hebat ilmu kepandaiannya itu. Seperti kita ketahui, wanita berkerudung yang aneh dan penuh
rahasia ini, yang mukanya tidak pernah kelihatan oleh siapa pun juga, bahkan para pembantunya yang
bertingkat paling tinggi pun tidak ada yang pernah melihatnya, bukan lain adalah Nirahai, puteri Kaisar
Kang Hsi sendiri yang terlahir dari selir berdarah Khitan campuran Mongol!
Ketika ia dijodohkan oleh kedua orang nenek sakti yang menjadi gurunya dan bibi gurunya, yaitu Nenek
Maya dan Khu Siauw Bwee, menjadi isteri Suma Han, hatinya girang bukan main. Diam-diam ia telah jatuh
cinta kepada Pendekar Super Sakti yang berkaki tunggal itu. Namun betapa kecewanya ketika ia mendapat
kenyataan bahwa suami yang dicintainya itu tidak menyetujui cita-citanya pergi ke Mongol sehingga
mereka berpisah dengan hati hancur (baca cerita Pendekar Super Sakti).
Dengan rasa hati berat karena sesungguhnya wanita ini amat mencinta suaminya, Nirahai berangkat ke
Mongol. Terlambat ia mengetahui bahwa ia telah mengandung! Ingin ia kembali ke selatan mencari
suaminya untuk memberi tahu hal ini, namun keangkuhannya sebagai bekas puteri kaisar mencegahnya.
Dia amat mencinta Suma Han, bahkan telah berkorban dengan kehilangan haknya sebagai puteri kaisar.
Dia telah kecewa karena setelah berjuang untuk kerajaan ayahnya, akhirnya dia menjadi seorang buruan!
Pukulan batin kedua yang lebih kecewa lagi bahwa suami yang dibelanya itu ternyata tidak ikut bersama
dia! Namun masih timbul harapan di hatinya bahwa cinta kasih dalam hati Suma Han akan membuat
suaminya itu kelak menyusulnya ke Mongol.
Namun harapannya ini buyar. Sampai dia melahirkan anak perempuan, sampai bertahun-tahun ia menanti
dan tinggal di istana Kerajaan Mongol, tetap saja tidak ada kabar berita dari suaminya! Betapa pun juga,
wanita yang keras hati ini tetap tidak mau pergi mencari suaminya. Kalau memang suaminya tidak
mencintainya, dengan bukti tidak pernah menyusulnya, biarlah dia akan memperlihatkan bahwa dia tidak
kalah keras hati! Maka dia lalu meninggalkan puterinya kepada Pangeran Jenghan yaitu keponakan yang
berkekuasaan besar dari Pangeran Galdan, dan dia sendiri merantau ke selatan. Karena dia mendengar
bahwa suaminya telah menjadi Majikan Pulau Es, maka dia lalu membuat perkumpulan yang kelak dapat ia
pergunakan untuk menandingi nama besar Pulau Es, dan dipilihlah Perkumpulan Thian-liong-pang.
Puteri Nirahai memiliki watak dan sifat yang gagah perkasa, angkuh dan tidak pernah mau kalah, di
samping kecantikannya yang luar biasa dan ilmu kepandaiannya yang amat tinggi. Mati-matian ia membela
Suma Han yang dicintainya, bahkan ia telah mengorbankan nama, kedudukan dan kehormatannya untuk
pendekar kaki tunggal yang dikaguminya itu. Sebesar itu cintanya, sebesar itu pula sakit hatinya ketika ia
mendapat kenyataan bahwa suaminya itu tidak mempedulikannya, tidak menyusulnya, bahkan tak pernah
mencarinya sampai dia melahirkan seorang puteri! Rasa sakit hati membuat Nirahai ingin memperlihatkan
bahwa dalam hal kepandaian dan kebesaran, dia tidak mau kalah oleh suaminya! Pergilah wanita sakti ini
dunia-kangouw.blogspot.com
meninggalkan Mongol, merantau ke selatan dan ia menjatuhkan pilihannya kepada Perkumpulan Thianliong-
pang!
Perkumpulan Thian-liong-pang adalah sebuah perkumpulan besar yang pernah mengalami jatuh bangun
seperti juga perkumpulan-perkumpulan lain dan merupakan sebuah perkumpulan yang cukup tua usianya.
Usianya sudah lebih dari seratus tahun dan pendirinya dahulu adalah seorang kakek yang berjuluk Sin
Seng Losu (Kakek Bintang Sakti) yang berilmu tinggi karena dia adalah murid keponakan dari Siauw-bin
Lo-mo, seorang di antara datuk kaum sesat yang amat sakti.
Ketika perkumpulan ini terjatuh ke tangan menantu Sin Seng Losu yang bernama Siangkoan Bu,
perkumpulan itu kembali ke jalan lurus dan tergolong perkumpulan bersih yang mengutamakan kegagahan
dan berjiwa pendekar. Akan tetapi, setelah Siangkoan Bu tewas dan perkumpulan itu dipimpin oleh murid
Sin Seng Losu yang bernama Ma Kiu berjuluk Thai-lek-kwi dan dibantu oleh sebelas orang sute-nya, maka
kembali Thian-liong-pang menjadi sebuah partai persilatan yang amat ditakuti karena tidak segan
melakukan kejahatan mengandalkan kekuasaan mereka. Terutama sekali Cap-ji-liong (Dua Belas Ekor
Naga) amat terkenal. Mereka adalah Ma Kiu dan sute-sute-nya yang merajalela di dunia kang-ouw.
Dalam keadaan seperti itu muncullah Siangkoan Li, putera mendiang Siangkoan Bu atau cucu dari Sin
Seng Losu yang dengan bantuan Mutiara Hitam menentang para paman gurunya (baca cerita Mutiara
Hitam). Siangkoan Li ini lihai bukan main karena dia telah diterima menjadi murid dua orang kakek sakti
yang setengah gila, yang berjuluk Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong. Hanya sayang sekali,
Siangkoan Li yang tadinya merupakan seorang pemuda tampan yang gagah perkasa, bahkan menjadi
sahabat baik Mutiara Hitam dan jatuh cinta kepada pendekar wanita perkasa itu, tidak hanya mewarisi
kesaktian kedua orang gurunya, akan tetapi juga mewarisi keganasan dan kegilaannya!
Siangkoan Li mengamuk dan berhasil merampas Thian-liong-pang di mana dia menjadi ketuanya dan
semenjak itu Thian-liong-pang menjadi perkumpulan yang penuh rahasia. Perkumpulan ini tidak pernah
menonjol di dunia kang-ouw, akan tetapi tidak ada yang berani lancang tangan mencari perkara dengan
orang-orang Thian-liong-pang yang hidupnya aneh dan penuh rahasia. Ilmu silat para anggota Thian-liongpang
rata-rata amat tinggi dan dasar ilmu kepandaian mereka bersumber ilmu-ilmu yang aneh dan luar
biasa dari Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, atau lebih tepat dari Siangkoan Li yang menyebarkan
kepandaian itu kepada para anak buah dan murid-muridnya.
Setelah Siangkoan Li meninggal dunia dalam keadaan menderita batin karena cintanya yang gagal
terhadap Mutiara Hitam dan selamanya tidak mau menikah, dalam puluhan tahun terjadilah pergantian
ketua baru beberapa kali dan mulailah terjadi kekacauan di dalam perkumpulan ini karena perebutan kursi
ketua! Dan semenjak itu, selalu ada ketegangan di antara para murid-murid kepala atau dewan pimpinan
mereka yang selalu berusaha memperkuat diri untuk merampas kedudukan ketua.
Keadaan ini menimbulkan peraturan baru yang dipegang teguh oleh mereka, yaitu setiap tahun diadakan
pemilihan ketua baru dengan jalan pibu, mengadu kepandaian dan siapa yang paling pandai di antara
mereka, tidak peduli wanita atau pria, tidak peduli saudara tua atau saudara muda dalam perguruan, dia
yang berhak menjadi ketua sampai lain tahun diadakan pibu lagi di mana dia harus mempertahankan
kedudukannya dengan taruhan nyawa! Ya, dalam pibu antara orang-orang liar ini sering kali terjadi
pembunuhan. Mereka tidak segan saling membunuh di antara saudara sendiri untuk memperebutkan kursi
ketua yang amat mereka rindukan karena kursi itu berarti kemuliaan, kemewahan, kehormatan dan nama
besar!
Ketika Nirahai mendatangi perkumpulan yang hendak dipilihnya sebagai syarat untuk menandingi
kebesaran Pulau Es yang dipimpin oleh Suma Han, suaminya yang dianggapnya menyia-nyiakan dan
menyakitkan hatinya itu tepat terjadi di waktu Thian-liong-pang sedang mengadakan pibu tahunan yang
selalu terjadi di ruangan belakang gedung perkumpulan yang amat luas dan terkurung pagar tembok yang
tinggi dan atasnya dipasangi tombak-tombak runcing sehingga orang yang berkepandaian tinggi sekali pun
jarang ada yang dapat melompat pagar tembok itu. Seperti biasa, pibu diadakan di pekarangan luas yang
dikurung oleh anak buah Thian-liong-pang yang menonton dengan penuh perhatian, ketegangan dan juga
kegembiraan karena mereka itu tentu saja mempunyai pilihan calon ketua masing-masing sehingga
keadaan hampir sama dengan orang-orang yang menonton adu jago. Bahkan di antara anak buah itu ada
yang bertaruh, bukan hanya bertaruh uang dan barang berharga, bahkan ada yang mempertaruhkan
isterinya!
Pada waktu itu, Thian-liong-pang yang tidak hanya berganti-ganti ketua akan tetapi juga berpindah-pindah
tempat itu berpusat di kota kecil Cin-bun yang letaknya di lembah Sungai Huang-ho, di sebelah utara kota
dunia-kangouw.blogspot.com
Cin-bun di Propinsi Shantung. Para penduduk Cin-bun mendengar akan pemilihan ketua, akan tetapi tidak
ada yang berani mencampuri, bahkan mendekati kelompok bangunan besar yang dilingkungi pagar tembok
bertombak itu pun merupakan hal yang berbahaya bagi mereka.
Para pembesar pemerintah Mancu pun tak ada yang berani mencampuri, dan mereka ini sudah menerima
perintah dari atasan bahwa pemerintah tidak ingin menciptakan permusuhan dengan perkumpulan yang
kuat ini, maka pemerintah daerah yang mengawasi gerak-gerik mereka dan selama perkumpulan itu tidak
melakukan perbuatan yang menentang pemerintah, pemerintah pun lebih suka untuk berbaik dengan
mereka. Menentang pun berarti tentu akan menimbulkan pemberontakan baru dan pemerintah tidak
menghendaki hal ini karena setiap pemberontakan merupakan bahaya besar, dapat merupakan api yang
membakar semangat perlawanan rakyat yang dijajah.
Pada waktu itu, Thian-liong-pang mempunyai anak buah yang jumlahnya dua ratus orang lebih, sebagian
besar tinggal di Cin-bun, akan tetapi ada pula yang tinggal di dusun-dusun sekitar Propinsi Shantung dan
membuka cabang-cabang Thian-liong-pang. Akan tetapi pada waktu itu semua pimpinan cabang
berkumpul pula di pusat untuk menyaksikan pemilihan ketua baru melalui pibu, bahkan di antara mereka
ada yang ingin melihat-lihat barangkali tingkat kepandaian mereka sudah cukup untuk dicoba mengadu
untung ikut dalam pibu.
Dua ratus orang lebih anggota Thian-liong-pang sudah berkumpul dan suasana menjadi riang gembira
karena para anggota itu sibuk saling bertaruh memilih jago masing-masing. Para pimpinan rendahan yang
mendapat tempat di bangku rendah yang berjajar di depan anak buah itu hanya mendengarkan tingkah
anak buah mereka sambil tersenyum-senyum. Mereka ini tentu saja tidak berani bertaruh seperti yang
dilakukan anak buah mereka, hanya diam-diam mereka pun mempunyai pilihan masing-masing karena
tingkat kepandaian mereka sendiri masih merasa terlalu rendah untuk coba-coba berpibu yang berarti
mempertaruhkan nyawa.
Ada pun pimpinan yang tingkatnya tinggi sudah pula berkumpul di atas kursi-kursi di tingkat atas ruangan
yang dipisahkan dari pekarangan tempat pibu itu oleh lima buah anak tangga di mana ditaruh kursi gading
untuk Sang Ketua, diapit-apit beberapa buah kursi untuk para pimpinan yang tinggi tingkatnya dan mereka
inilah yang menjadi calon-calon penantang ketua lama.
Pada waktu itu tampak lima orang pemimpin tinggi yang telah duduk dengan tubuh tegak dan sikap
angkuh, sinar mata mereka berseri seolah-olah mereka itu masing-masing telah merasa yakin akan
memperoleh kemenangan dalam pibu yang hendak diadakan. Kursi gading untuk Ketua masih kosong
karena Ketuanya belum keluar, sedangkan seperangkat alat tetabuhan yang dipukul perlahan
menyemarakkan suasana seperti dalam pesta.
Orang pertama dari para pimpinan tinggi adalah seorang kakek yang menyeramkan. Mukanya seperti
muka singa karena rambut di kedua pelipisnya disambung dengan jenggot yang melingkari wajahnya,
kumisnya juga tipis seperti kumis singa. Tubuhnya kekar penuh membayangkan tenaga yang amat kuat
biar pun kakek ini usianya sudah mendekati enam puluh tahun. Rambut dan cambang bauknya sudah
berwarna putih, namun warna ini menambah keangkerannya karena membuat mukanya lebih mirip muka
singa. Sepasang matanya yang lebar menyinarkan cahaya kilat menyeramkan, namun sikapnya pendiam,
pakaiannya sederhana dan dia duduk seperti seekor singa kekenyangan yang mengantuk!
Kakek ini sebenarnya merupakan saudara seperguruan tertua dan bahkan menjadi suheng dari Ketua yang
sekarang, namun karena dia seorang berjiwa perantau dan petualang, maka dia tidak mempunyai nafsu
untuk merebut kedudukan ketua, sungguh pun dalam hal kepandaian, masih sukar ditentukan siapa yang
lebih unggul antara dia dan Sang Ketua. Kakek ini sudah tidak dikenal lagi nama aslinya, lebih dikenal
julukannya yang menyeramkan, yaitu Sai-cu Lo-mo (Iblis Tua Ber-muka Singa)!
Orang kedua juga seorang kakek berusia lima puluh tahun lebih, kepalanya gundul akan tetapi dia
bukanlah seorang hwesio karena dia berjenggot dan berkumis dan pakaiannya seperti seorang pelajar,
bersikap halus namun matanya liar seperti mata orang yang tidak waras pikirannya. Kelihatannya kakek
gundul ini lemah, duduk memegangi lengan kursi dan kadang-kadang kedua tangannya bergerak menggigil
seperti orang buyuten, kepalanya bergerak-gerak sendiri tanpa disadari mengangguk-angguk dan mulutnya
kadang-kadang tersenyum geli seolah-olah ada setan tak tampak membadut di depannya. Namun jangan
dianggap remeh kakek ini karena dia pun merupakan suheng dari Sang Ketua, dan sute dari Sai-cu Lo-mo.
Namanya Chie Kang dan julukannya tidak kalah menyeramkan dari suheng-nya karena di dunia kang-ouw
dia dikenal sebagai Lui-hong Sin-ciang (Tangan Sakti Angin dan Kilat)!
dunia-kangouw.blogspot.com
Orang ketiga adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun, tubuhnya tinggi besar, wajahnya merah
seperti orang sakit darah tinggi, matanya melotot jarang berkedip, hidungnya besar merah tanda sifat gila
perempuan, pakaiannya seperti seorang jago silat dan di punggungnya tampak gagang sebatang golok
besar. Inilah Twa-to Sin-seng (Bintang Sakti Golok Besar) Ma Chun yang amat disegani dan ditakuti
karena wataknya yang kasar, terbuka, dan kurang ajar terhadap wanita tanpa tedeng aling-aling lagi!
Orang ke empat adalah seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih, wajahya tampan sekali, bahkan
begitu halus gerak-geriknya, begitu merah bibirnya dan begitu tajam memikat kerling matanya sehingga dia
lebih mirip seorang wanita! Sepasang pedang tergantung di pinggangnya, pakaiannya biru, dari bahan
sutera halus dan laki-laki tampan ini termasuk seorang yang pesolek. Sayangnya, sinar matanya yang
bagus itu mengandung kekejaman dan juga kesombongan yang memandang rendah semua orang! Dia ini
pun bukan orang biasa dan merupakan salah seorang di antara para pemimpin tinggi yang telah membuat
nama Thian-liong-pang menjadi nama besar dan tenar.
Pedangnya amat ditakuti orang dan dia dijuluki Cui-beng-kiam (Pedang Pengejar Arwah), namanya Liauw
It Ban. Kalau suheng-nya, Ma Chun, terkenal sebagai seorang laki-laki gila perempuan dan suka
mempermainkan wanita, Liauw It Ban ini lebih hebat lagi karena dia seorang mata keranjang yang
berwatak sadis, senang sekali menyiksa wanita yang menjadi korbannya! Betapa pun juga, dia dan
suheng-nya tidak pernah mengumbar hawa nafsu iblis itu di daerah sendiri karena mereka tunduk akan
perintah ketua mereka agar tidak mengotorkan nama Thian-liong-pang di daerah sendiri sehingga tidak
mendapat kesan buruk terhadap pemerintah. Karena itu namanya lebih tersohor di daerah lain di luar
propinsi.
Orang ke lima akan mendatangkan rasa heran bagi orang luar Thian-liong-pang karena dia paling tidak
patut menjadi anggota dewan pimpinan perkumpulan besar itu. Dia adalah seorang wanita yang masih
muda, kurang lebih dua puluh tujuh tahun usianya, cantik manis dengan pakaian sederhana namun tidak
dapat menyembunyikan lekuk lengkung tubuhnya yang sudah matang. Wanita ini merupakan saudara
seperguruan termuda, namun dia memiliki ilmu kepandaian di luar ilmu keturunan para Pimpinan Thianliong-
pang karena dia telah menerima ilmu-ilmu dari mendiang suaminya, seorang murid dari Bu-tong-pai
yang lihai.
Suaminya tewas setahun yang lalu ketika berusaha memasuki pibu memperebutkan kedudukan ketua
sehingga wanita ini yang bernama Tang Wi Siang, adalah seorang janda kembang yang harum dan
membuat banyak pria tertarik dan ingin sekali memetiknya. Terutama sekali kedua orang suheng-nya
sendiri, Ma Chun dan Liauw It Ban yang pada waktu itu pun sering kali melayangkan sinar mata ke
arahnya. Bahkan beberapa kali Ma Chun menelan ludah kalau pandang matanya menyapu tubuh sumoinya
yang penuh gairah. Liauw It Ban juga memandang dengan sinar mata penuh gairah, akan tetapi ia
tersenyum-senyum dan memasang aksi setampan mungkin untuk menundukkan hati sumoi-nya yang
sudah menjadi janda itu.
Tetapi Tang Wi Siang duduk dengan tenang, sikapnya dingin sekali, seperti sebongkah es membeku. Tapi
di luar tahu lain orang, diam-diam ia menyapukan pandang matanya yang tajam itu ke arah Liauw It Ban,
suheng-nya yang tampan. Dulu sebelum suaminya tewas, dia tidak mempedulikan suheng-nya yang
tampan ini, bahkan sebelum menikah, ia tidak pernah melayani rayuan suheng-nya. Akan tetapi sekarang,
setelah setahun lamanya dia menjanda, setelah merasa tersiksa hatinya karena kehilangan rayuan dan
cinta kasih seorang pria yang pernah dinikmatinya hanya beberapa tahun lamanya, diam-diam sering
jantungnya berdebar kalau membayangkan suheng-nya yang tampan itu menggantikan mendiang
suaminya!
Lima orang inilah, bersama Sang Ketua sendiri, yang menjadi tokoh-tokoh utama dari Thian-liong-pang dan
memang mereka berenam memiliki kepandaian yang tinggi, memiliki keistimewaan masing-masing
sehingga sukar untuk dikatakan siapa di antara mereka yang paling lihai. Dan sekarang sudah dapat
dibayangkan bahwa dalam pibu perebutan kedudukan ketua, lima orang inilah yang akan berani maju
untuk berpibu melawan Sang Ketua, karena selain mereka, siapa lagi yang akan berani maju?
Tiba-tiba tetabuhan dipukul keras dan terdengar aba-aba dari komandan upacara, yaitu seorang pemimpin
rendahan yang memberi tahu akan munculnya Sang Ketua. Semua anggota Thian-liong-pang serentak
bangkit memberi hormat, dan lima orang itulah yang berdiri dengan tenang dan biasa menyambut
munculnya Si Ketua yang ditunggu-tunggu sejak tadi. Orang takkan merasa heran setelah melihat
munculnya Ketua Thian-liong-pang karena memang patutlah orang ini menjadi ketua. Tubuhnya tinggi
besar seperti raksasa sehingga Ma Chun yang tinggi besar itu hanya setinggi pundaknya!
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketua Thian-liong-pang ini tingginya seimbang dengan besar tubuhnya. Langkahnya lebar dan berat
seperti langkah seekor gajah, lantai sampai tergetar dibuatnya. Pakaiannya mentereng akan tetapi ketat
dan membayangkan tonjolan otot-otot yang besar. Kedua lengannya sampai ke jari tangannya penuh bulu
hitam kasar, kepalanya yang besar juga berambut hitam kasar seperti kawat-kawat baja. Alisnya tebal
hampir persegi, matanya bulat dengan manik mata hitam amat kecil sehingga kelihatannya mata itu putih
semua, hidungnya kecil akan tetapi mulutnya besar seperti terobek kedua ujungnya. Jenggot dan kumisnya
dipotong pendek, kaku seperti sikat kawat! Kulitnya yang kelihatannya tebal seperti kulit badak itu berkerutkerut,
agak hitam mengingatkan orang akan kulit buaya yang tebal, keras, dan lebat!
Inilah dia Phang Kok Sek, Ketua Thian-liong-pang yang telah mewarisi Hwi-tok-ciang (Tangan Racun Api)
dari leluhur Thian-liong-pang, yaitu Lam-kek Sian-ong! Tahun yang lalu, dalam pibu dia telah menewaskan
ketua lama yang menjadi paman gurunya sendiri, menewaskan pula suami Tan Wi Siang dan beberapa
orang lain lagi, bahkan melukai Ma Chun yang menjadi sute-nya.
Dengan gerakan kedua tangannya yang kaku, Ketua ini mempersilakan saudara-saudara seperguruannya
untuk duduk kembali. Dia sendiri menduduki kursi gading, dan semua anak buah lalu duduk pula, para
pemimpin rendah duduk di bangku dan para anggota duduk di atas lantai yang terbuat dari batu persegi
yang lebar, keras dan berwarna hitam.
Seperti biasa, mereka itu merupakan setengah lingkaran menghadap ke arah tempat para pimpinan duduk,
yaitu di atas anak tangga dan di depan atau sebelah bawah anak tangga yang merupakan ruangan yang
sengaja dikosongkan karena di situlah biasanya diadakan pibu antara pimpinan untuk menentukan siapa
yang berhak menjadi ketua baru karena memiliki ilmu kepandaian tertinggi. Tempat pibu yang berbahaya
karena lantai ubin batu itu amat keras sehingga sekali terbanting, tulang bisa patah, apa lagi kalau kepala
yang terbanting, bisa pecah!
Seperti sudah menjadi kebiasaan setiap diadakan pibu pemilihan ketua baru, Thian-liong-pangcu yang
bertubuh seperti raksasa memberi isyarat dengan kedua tangan ke atas, menyuruh semua orang tidak
mengeluarkan suara berisik. Setelah keadaan menjadi hening, dia bangkit berdiri dan mengucapkan katakata
yang sudah dikenal baik oleh semua anggota.
"Saudara sekalian, hari ini kita berkumpul untuk mengadakan pemilihan ketua baru seperti yang tiap kali
diadakan sesuai dengan kehendak dewan pimpinan. Aku sendiri sebagai ketua, kedua orang Suheng, dua
orang Sute, dan Sumoi-ku sebagai anggota dewan pimpinan telah bersepakat untuk mengadakan
pemilihan ketua baru pada hari ini sesuai dengan kebiasaan dan peraturan perkumpulan kita. Seperti telah
menjadi kebiasaan Thian-liong-pang pula, aku sebagai ketua harus mempertahankan kedudukanku
sebagai ketua dan dia yang dapat mengalahkan aku dan kemudian keluar sebagai orang terkuat, dialah
yang berhak menjadi ketua baru tanpa ada tentangan dari siapa pun juga dan memiliki hak mutlak untuk
menjadi Ketua Thian-liong-pang. Luka atau mati dalam pibu tidak boleh mengakibatkan dendam dan
kebencian di antara saudara seperkumpulan, karena pibu ini diadakan bukan karena urusan pribadi,
melainkan untuk pemilihan ketua dan demi kepentingan dan nama besar Thian-liong-pang. Aku sudah
selesai bicara dan di antara para anggota biasa dan pimpinan yang ingin memasuki pibu, harap berdiri dan
menyatakan pendapatnya."
Setelah berkata demikian, Ketua yang bertubuh seperti raksasa itu duduk kembali, kedua lengannya yang
besar ditaruh di atas lengan kursi gading, tubuhnya memenuhi kursi itu dan pandang matanya menyapu
semua orang yang hadir penuh tantangan. Namun diam-diam ia melirik ke arah dua orang suheng-nya,
yaitu Sai-cu Lo-mo dan Lui-hong Sin-ciang Chie Kang. Ketua ini tidak gentar menghadapi dua orang sutenya
dan seorang sumoi-nya karena merasa yakin bahwa dia akan dapat mengalahkan mereka. Namun dia
mengerti bahwa kalau dua orang suheng-nya itu memasuki pibu, dia harus berhati-hati karena akan
bertemu lawan yang berat.
Sai-cu Lo-mo yang sudah berusia enam puluh tahun itu adalah seorang perantau dan sejak dahulu tidak
pernah memasuki pibu perebutan kursi ketua karena baginya menjadi ketua berarti harus selalu berada di
Thian-liong-pang dan agaknya dia tidak mau mengorbankan kesukaannya merantau dengan menjadi
ketua. Ada pun Lui-hong Sin-ciang Chie Kang adalah seorang yang sama sekali tidak mempunyai ambisi,
belum pernah mengikuti pibu pemilihan ketua. Orang ini lebih senang duduk termenung, atau bersemedhi
atau diam-diam melatih ilmu silatnya, kalau tidak tentu dia tenggelam dalam kitab-kitab kuno karena dia
adalah seorang kutu buku yang karena terlalu suka membaca tanpa mempedulikan waktu, sampai kadangkadang
matanya basah dan merah, sedangkan kedua tangannya menggigil buyuten! Betapa pun juga,
Phang Kok Sek maklum bahwa suheng-nya yang kedua ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan dia
masih belum berani memastikan apakah dia akan menang melawan Ji-suheng-nya ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Karena ada kekhawatiran ini, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ia melihat twa-suheng-nya, Sai-cu
Lo-mo sebagai orang pertama yang bangkit berdiri dari kursi di ujung sebelah kanannya. Para anggota
juga menjadi heran dan tegang karena maklum bahwa kalau yang tua-tua ini sudah ikut pibu, tentu akan
ramai sekali pertandingan antara saudara-saudara seperguruan itu.
Sai-cu Lo-mo mengelus brewoknya yang putih sambil tersenyum sebelum bicara, kemudian ia berkata,
"Harap semua saudara jangan salah menduga. Aku lebih suka merantau di alam bebas dari pada harus
terikat di atas kursi gading sebagai ketua! Sekarang pun aku masih belum mengubah kesenanganku dan
aku tidak akan mengikuti pibu pemilihan ketua, hanya ada sedikit hal yang perlu kukemukakan. Siapa pun
yang akan menjadi ketua baru, mulai sekarang harus dapat mengendalikan Thian-liong-pang dengan baik,
mencegah penyelewengan para anggota yang hanya akan merusak nama besar Thiang-liong-pang.
Hentikan perbuatan-perbuatan maksiat yang rendah dan yang menyeret Thian-liong-pang ke lembah
kehinaan, sebab kita bukanlah anggota-anggota perkumpulan rendah, bukan segerombolan penjahatpenjahat
kecil yang mengandalkan nama perkumpulan untuk melakukan perbuatan menjijikkan seperti
yang sering kudengar yaitu berlaku sewenang-wenang, memperkosa wanita, dan sebagainya. Kalau
perbuatan-perbuatan ini tidak dihentikan, kalau Ketua baru tidak mampu mengendalikan, hmmm... aku
tidak mengancam, akan tetapi terpaksa aku akan turun tangan menentangnya dan mungkin akan timbul
hasratku untuk menjadi ketua!" Setelah berkata demikian, kakek muka singa itu duduk kembali dan
melenggut seperti orang hendak tidur!
Keadaan menjadi sunyi, kemudian terdengar bisik-bisik di antara para anggota yang sebagian besar
merasa tersinggung dan tidak senang dengan ucapan itu. Ada pun Phang Kok Sek, Sang Ketua, menjadi
merah mukanya, terasa panas seperti baru saja menerima tamparan.
"Cocok sekali!" Tiba-tiba Lui-hong Sin-ciang Chie Kang berseru dan bangkit dari kursinya. Suaranya tinggi
nyaring, sungguh tidak sesuai dengan sikapnya yang tenang dan kelihatan lemah. "Jangan membikin malu
nenek moyang kita yang gagah perkasa, Siangkoan Li Su-couw yang pernah menjadi sahabat baik
pendekar wanita sakti Mutiara Hitam!" Setelah berkata demikian, Lui-hong Sin-ciang Chie Kang duduk
kembali.
Biar pun ucapan kedua orang suheng-nya itu merupakan tamparan dan teguran tersembunyi yang
ditujukan kepadanya, tetapi hati Phang Kok Sek menjadi lega karena jelas bahwa kedua orang suheng-nya
itu tidak mau memasuki pibu memperebutkan kursi ketua! Kini tinggal dua orang sute-nya dan seorang
sumoi-nya, karena selain mereka bertiga, siapa lagi yang berani memasuki pibu? Dia melirik ke arah kedua
orang sute-nya dan sumoi-nya.
Hampir berbareng, Twa-to Sin-seng Ma Chun dan Cui-beng-kiam Liauw It Ban bangkit berdiri memandang
ketua mereka juga suheng mereka sambil berkata,
"Aku hendak memasuki pibu!" kata Ma Chun.
"Dan aku juga ingin mencoba-coba, memasuki pibu pemilihan ketua baru!" kata Liauw It Ban.
Setelah kedua orang itu duduk kembali, Tang Wi Siang bangkit berdiri. Janda muda yang cantik jelita ini
berkata tenang, "Aku ingin memasuki pibu, akan tetapi hendaknya Pangcu dan sekalian Suheng dan
saudara sekalian maklum bahwa aku merasa tidak cukup untuk menjadi ketua..."
"Sumoi, aku bersedia membantumu mengatur pekerjaan ketua!" Tiba-tiba Liauw It Ban berseru dan
matanya memandang dengan sinar penuh arti.
Kedua pipi wanita itu berubah merah, jantungnya berdebar karena maklum apa yang tersembunyi di balik
ucapan itu, apa lagi ketika ia melihat banyak mulut tersenyum-senyum maklum, membuat dia merasa lebih
jengah lagi. "Terima kasih, Liauw-suheng. Akan tetapi, aku tidak ingin menjadi ketua, juga jangan disalah
artikan bahwa aku memasuki pibu karena mendendam atas kematian mendiang suamiku. Sama sekali
tidak, aku memasuki pibu setelah selama ini aku melatih diri memperdalam ilmu silat dan semata-mata
hanya untuk mempertebal keyakinan bahwa orang yang menjadi ketua perkumpulan kita memiliki ilmu
kepandaian yang lebih tinggi dariku sehingga boleh dipercaya dan diandaikan utuk menjunjung nama dan
kehormatan Thian-liong-pang!"
Girang sekali hati Phang Kok Sek mendengar ini dan diam-diam ia mengambil keputusan untuk
memaafkan sumoi-nya yang cantik itu dan tidak membunuhnya. Akan tetapi kedua orang sute-nya Ma
dunia-kangouw.blogspot.com
Chun dan Liauw It Ban harus ia tewaskan dalam pibu itu karena kalau sekali ini mereka gagal, pada lain
kesempatan tentu mereka itu akan mencoba lagi dan hal ini merupakan bahaya terus-menerus bagi
kedudukannya. Ia segera bangkit berdiri dan berkata,
"Terima kasih atas wejangan kedua Suheng dan tentu saya akan berusaha memperbaiki keadaan
perkumpulan kita. Seperti saudara sekalian telah mendengar, yang memasuki pibu untuk kedudukan ketua
baru hanyalah Ma-sute dan Liauw-sute, sedangkan Sumoi hanya akan menguji kepandaian Ketua baru
yang berhasil keluar sebagai pemenang dalam pibu ini. Kurasa tidak ada orang lain lagi yang akan
memasuki pibu hari ini!"
"Ada!" Tiba-tiba terdengar suara yang bening merdu, suara wanita! "Akulah yang akan memasuki pibu
memperebutkan kedudukan ketua Thian-liong-pang!"
Semua orang menengok dan memandang dengan penuh keheranan kepada seorang wanita yang
kepalanya berkerudung sutera putih dan tahu-tahu telah berdiri di dalam ruangan itu. Bagaimana mungkin
orang ini masuk? Semua pintu masih tertutup, dan tempat itu dikelilingi tembok yang tinggi dan atasnya
dipasangi tombak-tombak runcing mengandung racun!
"Engkau siapa?" Phang Kok Sek membentak dengan suara menggeledek karena marah.
Terdengar suara ketawa kecil di balik kerudung sutera itu dan dengan langkah tenang wanita berkerudung
itu memasuki ruangan sampai di bagian tengah yang kosong, di bawah anak tangga kemudian berkata,
"Pangcu, siapa aku bukanlah hal penting. Akan tetapi kalau kalian semua ingin tahu juga, akulah calon
Ketua baru dari Thian-liong-pang, calon Ketua kalian. Aku memasuki pibu untuk mendapatkan kedudukkan
Ketua Thian-liong-pang."
Phang Kok Sek bangkit berdiri dan menudingkan telunjuknya ke arah wanita berkerudung itu. "Tidak
mungkin! Engkau telah melakukan dua pelanggaran. Pertama, engkau sebagai orang luar berani
memasuki tempat ini tanpa ijin, kesalahan ini saja sudah patut dihukum dengan kematian. Kedua, pibu
kedudukan Ketua Thian-liong-pang hanya dilakukan di antara anggota sendiri, tidak boleh dicampuri orang
dari luar! Ayo, buka kedokmu dan perkenalkan dirimu. Karena engkau seorang wanita, mungkin sekali kami
dapat memberi ampun."
Kembali wanita itu tertawa, halus merdu dan penuh ejekan namun cukup membuat tulang punggung yang
mendengarnya terasa dingin. "Phang Kok Sek, biar pun engkau telah menjadi Ketua Thian-liong-pang,
ternyata engkau agaknya tidak tahu atau lupa akan sejarah Thian-liong-pang dan riwayat tokoh-tokoh
besarnya di waktu dahulu. Dahulu, pendekar besar Siongkoan Li telah diusir dari Thian-liong-pang, dan
dianggap sebagai orang luar karena perbuatan-perbuatannya yang menentang Thian-liong-pang dan
karena menjadi murid dari kedua Siang-ong Kutub Utara dan Selatan. Akan tetapi kemudian dia kembali
dan merampas Thian-liong-pang menjadi ketuanya! Bukankah itu berarti seorang luar dapat menjadi Ketua
Thian-liong-pang? Dan lupakah engkau kepada Gurumu sendiri, Guru semua anggota dewan pimpinan
Thian-liong-pang ini? Siapakah Guru kalian? Bukankah guru kalian mendiang Kim-sin-to Sai-kong adalah
seorang pertapa dari Kun-lun-san yang sama sekali bukan anggota Thian-liong-pang tadinya?"
Keenam pimpinan Thian-liong-pang terkejut sekali. Bagaimana orang ini dapat mengetahui semua rahasia
itu yang menjadi rahasia moyang para pimpinan Thian-liong-pang?
"Siapakah engkau?" Kembali Phang Kok Sek bertanya.
"Aku adalah calon Thian-liong-pang-cu," wanita berkerudung menjawab.
Tiba-tiba Sai-cu Lo-mo berkata setelah menatap sepasang mata di balik kerudung itu dengan tajam.
"Toanio, siapa pun adanya engkau, tapi caramu masuk dan sikapmu menunjukkan bahwa engkau seorang
pemberani. Akan tetapi ketahuilah bahwa seorang yang ingin menjadi Ketua Thian-liong-pang bukanlah
melalui pibu, melainkan merupakan perampas perkumpulan yang harus lebih dahulu mengalahkan seluruh
pimpinan..."
"Memang aku datang untuk mengalahkan kalian semua atau siapa saja yang menentangku menjadi Ketua
Thian-liong-pang!" Wanita itu menjawab seenaknya. "Nah, aku menyatakan diriku sebagai Ketua Thianliong-
pang yang baru! Siapa yang akan menentang? Boleh maju!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Para anggota Thian-liong-pang memandang dengan hati tegang dan juga gembira karena mereka merasa
yakin bahwa munculnya wanita aneh ini akan mengakibatkan pertandingan yang amat menarik. Tadinya
mereka sudah merasa kecewa ketika mendengar ucapan Sai-cu Lo-mo dan Lui-hong Sin-ciang Chie Kang
karena maklum bahwa dua orang tua itu tidak memasuki pibu sehingga pertandingan yang akan terjadi di
antara Ketua dan dua orang sute-nya dan seorang sumoi-nya tidak akan menarik hati.
Sementara itu, melihat sikap wanita berkerudung, enam orang pimpinan Thian-liong-pang menjadi marah
dan diam-diam Phang Kok Sek memberi tanda dengan matanya kepada Cui-beng-kiam Liauw It Ban.
Mereka berenam adalah orang-orang yang berkedudukan tinggi pula, maka biar pun mereka ditantang,
mereka merasa malu untuk maju mengeroyok. Pula, Phang Kok Sek yang cerdik sengaja menyuruh sutenya
maju, selain untuk menyaksikan dan mengukur kepandaian wanita berkerudung juga andai kata terjadi
sesuatu dengan diri Liauw It Ban hanya berarti bahwa dia kehilangan seorang di antara saingansaingannya!
Akan tetapi betapa kaget hatinya, dan juga para pimpinan lain ketika wanita itu mendahului Liauw It Ban
yang hendak bangun menghadapi Si Pedang Pengejar Roh itu sambil berkata, "Nah, engkau sudah
menerima perintah Suheng-mu untuk melawan aku. Majulah!"
Bukan main tajamnya pandang mata di balik kerudung sutera itu sehingga isyarat Sang Ketua dengan
matanya dapat ia tangkap! Liauw It Ban meloncat bangun dan ketika tangan kanannya bergerak, tampak
sinar berkelebat, pedangnya telah berada di tangan kanan. Ia tersenyum mengejek, melintangkan pedang
depan dada dan menggunakan telunjuk kirinya menuding ke arah muka berkerudung itu.
"Perempuan sombong! Agaknya engkau belum mengenal aku, maka engkau berani membuka mulut besar!
Lebih selamat bagimu kalau engkau membuka kerudungmu agar dapat kulihat wajahmu. Kalau wajahmu
sehebat tubuhmu, hemm... agaknya aku masih dapat mengampunimu asal engkau tahu bagaimana harus
membalas budi, ha-ha-ha!"
Betapa kagetnya ketika laki-laki berusia tiga puluh tahun yang tampan dan pesolek ini mendengar suara
dari balik kerudung, suara yang merdu namun mengandung ejekan, "Cui-beng-kiam Liauw It Ban, siapa
tidak mengenal orang rendah seperti engkau ini? Engkau orang ke lima dari enam Pimpinan Thian-liongpang,
dan sudah cukup engkau mengotorkan Thian-liong-pang dengan perbuatan-perbuatan kotormu,
memperkosa wanita-wanita baik-baik, menyiksa orang. Engkau seorang penjahat cabul yang berhati keji
dan mestinya engkau tidak patut menjadi tokoh Thian-liong-pang. Kedatanganku memang untuk menjadi
Ketua Thian-liong-pang dan sekaligus membersihkan Thian-liong-pang dari monyet-monyet kotor macam
engkau!"
"Singggg...!" Tampak sinar kilat ketika pedang di tangan Liauw It Ban menyambar ke arah leher wanita
berkerudung. Namun, dengan gerakan mudah sekali wanita itu mengelak, bahkan terdengar tertawa
mengejek. Tidak percuma Liauw It Ban mendapat julukan Cui-beng-kiam (Pedang Pengejar Roh) karena
begitu pedangnya luput, sudah membalik lagi dengan serangan kedua yang merupakan sebuah tusukan ke
arah dada wanita berkerudung itu.
Semua pimpinan Thian-liong-pang terbelalak kaget ketika menyaksikan gerakan wanita berkerudung itu.
Wanita itu mengangkat tangan kirinya dan dua buah jari tangannya, telunjuk dan ibu jari, menjepit ujung
pedang yang menusuknya dengan mudah sekali dan... betapa pun Liauw It Ban menarik, pedangnya tidak
dapat terlepas dari jepitan dua buah jari itu!
"Begini sajakah Pedang Pengejar Roh? Tentu roh tikus saja yang dapat dikejarnya. Hi-hik!" Wanita
berkerudung itu mengejek.
"Perempuan siluman!" Liauw It Ban membentak, tangan kanannya menyambar ke depan, menghantam ke
arah muka wanita yang tertutup kerudung sutera itu.
"Plakk! Krekkk... aduuhhh!" Liauw It Ban menjerit kesakitan ketika tangan kanan wanita itu menyambut
pukulannya dengan telapak tangan, terus mencengkeram sehingga tulang-tulang jari tangan Liauw It Ban
yang terkepal itu patah-patah dan remuk!
"Krak... ceppp! Augghhhh..."
Wanita itu tak berhenti sampai di situ saja. Tangan kirinya yang menjepit ujung pedang membuat gerakan,
pedang patah ujungnya dan sekali mengibaskan tangan kiri, ujung pedang itu meluncur dan amblas
dunia-kangouw.blogspot.com
memasuki dada Liauw It Ban sampai tembus ke punggung. Liauw It Ban melepaskan pedang, mendekap
dadanya, dan akhirnya roboh terjengkang, tewas di saat itu juga. Wanita berkerudung menendang dan
mayat itu melayang ke atas anak tangga, ke arah Ketua Thian-liong-pang!
Phang Kok Sek menyambut mayat itu, memeriksa sebentar dan mukanya menjadi merah saking
marahnya. Kalau saja Liauw It Ban tewas dalam sebuah pertandingan yang dapat membuka rahasia
gerakan wanita itu dan yang kiranya dapat ia tandingi tentu ia akan merasa girang kehilangan seorang
saingan. Akan tetapi kematian sute-nya itu demikian aneh, hanya dalam dua gebrakan saja sehingga dia
sama sekali tidak dapat mengukur sampai di mana tingginya kepandaian wanita itu, dan hal ini merupakan
penghinaan bagi Thian-liong-pang yang ditakuti oleh semua tokoh kang-ouw. Biar pun dia belum dapat
mengukur dan mengenal ilmu wanita berkerudung, namun ia tahu bahwa wanita itu amat sakti, kalau tidak
tak mungkin sute-nya yang ilmu kepandaiannya tidak kalah jauh olehnya itu dapat tewas semudah itu.
Maka ia cepat memberi isyarat dan berseru.
"Serbu...!"
Dua ratus orang anak buah Thian-liong-pang, dipimpin oleh komandan masing-masing serentak bangkit.
Tiba-tiba terdengar suara lengking panjang yang menulikan telinga, disusul berkelebatnya bayangan yang
berputar ke arah mereka yang mengurungnya dan... semua orang terbelalak memandang dua belas orang
yang roboh di atas lantai tanpa nyawa lagi! Kiranya wanita itu sudah bergerak cepat dan merobohkan
setiap orang yang berada paling depan dari para pengurung, entah bagaimana caranya karena dua belas
orang yang roboh dan tewas itu tidak terluka sama sekali.
"Para anggota Thian-liong-pang, dengarlah! Aku datang bukan untuk membunuh kalian, melainkan untuk
memimpin kalian. Kalau aku datang akan membasmi, betapa mudahnya! Aku akan menjadikan Thianliong-
pang sebuah perkumpulan terbesar dan terkuat di seluruh dunia, sekuat Pulau Es dengan penghunipenghuninya!"
Mendengar ini, terutama melihat cara wanita itu merobohkan dua belas orang teman mereka, para anggota
itu serentak mundur dan menjadi ragu-ragu. Hal ini menimbulkan kemarahan besar di hati para pimpinan.
"Perempuan rendah, berani engkau membunuh Sute-ku?" Twa-to Sin-seng Ma Chun berteriak dan tangan
kirinya bergerak.
"Cuit-cuit-cuit... cap-cap-cappp!"
Tiga batang senjata rahasia berbentuk bintang menyambar ke arah tubuh wanita berkerudung, namun
semua dapat ditangkap oleh wanita itu dengan jepitan jari-jari tangannya. Wanita itu terkekeh,
mengumpulkan tiga buah senjata rahasia itu di tangan kirinya, mengepal dan terdengar suara keras. Ketika
ia membuka tangannya, tiga buah senjata rahasia bintang yang terbuat dari baja dan diberi racun itu telah
hancur berkeping-keping dan dibuang ke atas lantai!
Twa-to Sin-seng Ma Chun marah sekali, lalu mencabut golok besarnya dan menerjang maju. Tang Wi
Siang yang melihat Liauw It Ban, suheng yang menggerakkan gairahnya itu terbunuh, menjadi marah dan
ia pun sudah mencabut pedang dan membantu Ma Chun mengeroyok wanita itu.
Sinar golok dan pedang menyambar-nyambar seperti kilat, mengurung tubuh wanita berkerudung, akan
tetapi anehnya, tak pernah kedua senjata ini menyentuh ujung baju Si Wanita yang bergerak dengan
mudah dan ringan seolah-olah tubuhnya berubah menjadi uap. Dikeroyok oleh dua orang yang lihai itu
wanita ini malah terkekeh-kekeh dan masih dapat berkata-kata sambil mengelak ke sana ke mari.
"Twa-to Sin-ceng Ma Chun, engkau pun bukan manusia baik-baik. Engkau mata keranjang, sombong,
kasar dan mengandalkan kepandaian yang tidak seberapa..."
"Perempuan rendah! Kalau saja aku berhasil menangkapmu, aku bersumpah akan menelanjangimu dan
memperkosamu di depan mata seluruh anggota Thian-liong-pang... aughhh...!" Tubuh yang tinggi besar itu
terlempar, goloknya terpental dan ketika semua orang memandang, tampak tanda tiga buah jari membiru di
dahi Ma Chun yang sudah tewas itu!
"Engkau... manusia kejam...!" Tang Wi Siang menjerit dan pedangnya menerjang dengan hebatnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kalau dibandingkan dengan Ma Chun dan Liauw It Ban, tingkat kepandaian Tang Wi Siang dapat dikatakan
sama. Namun setelah mempelajari ilmu pedang dari suaminya yang telah tiada, ia dapat memperhebat
ilmu pedangnya dengan gerakan dasar dari Bu-tong-pai. Maka sekali ini dalam keadaan marah, pedangnya
mengeluarkan bunyi berdesing-desing dan menyerang wanita berkerudung itu secara bertubi-tubi.
"Tang Wi Siang, bagus sekali engkau telah mempelajari ilmu dasar dari Bu-tong-pai. Aku tidak akan
membunuhmu karena aku memilih engkau menjadi wakilku dalam memimpin Thian-liong-pang!"
"Tutup mulutmu! Aku baru mengakui orang kalau sudah dapat mengalahkan aku!"
"Wanita bodoh, tak tahukah engkau, betapa mudahnya itu? Kau tadi mengatakan bahwa engkau akan
menguji kepandaian setiap Ketua Thian-liong-pang, nah, sekarang boleh menguji aku yang akan menjadi
junjunganmu dan juga gurumu. Lihat baik-baik, dalam tiga jurus aku akan mengalahkanmu!"
Biar pun pada saat itu juga dia sudah yakin betapa saktinya wanita berkerudung itu, namun di dalam
hatinya Tang Wi Siang menjadi penasaran. Wanita aneh itu telah mengenal baik-baik keadaan Thian-liongpang,
mengenal riwayat perkumpulan ini, bahkan mengenal semua nama dan julukan para pimpinan
Thian-liong-pang berikut watak mereka. Dan kini menantangnya akan mengalahkan dalam tiga jurus!
Apakah dia dianggap seorang anak kecil yang tidak mempunyai kepandaian apa-apa? Rasa penasaran
membuat dia marah dan merasa dianggap rendah dan hina, maka ia berteriak keras.
"Manusia yang bersembunyi di belakang kerudung seperti siluman! Kalau kau dapat mengalahkan aku
dalam tiga jurus, aku tidak patut menjadi wakilmu, lebih patut mampus atau menjadi pelayanmu!"
"Bagus! Engkau sendiri yang memilih menjadi pelayan!" Wanita aneh itu menjawab, akan tetapi pada saat
itu Tang Wi Siang sudah menerjang dengan pedangnya, menggunakan jurus Hui-po-liu-hong (Air Terjun
Terbang Bianglala Melengkung).
Jurus ini adalah jurus ilmu pedang Bu-tong-pai yang amat indah dan berbahaya, menjadi aneh dan lebih
berbahaya lagi karena gerakannya telah dicampur dengan gerakan ilmu asli dari Thian-liong-pang, yaitu
ketika pedang menyambar membacok ke arah muka lawan dilanjutkan dengan gerakan membabat leher
dari kanan ke kiri dengan gerakan melengkung, tangan kiri Tang Wi Siang menyusul dengan pukulan sakti
yang disebut Touw-sim-ciang (Pukulan Menembus Jantung), semacam pukulan yang digerakkan dengan
tenaga sinkang dan dapat menggetarkan isi dada menghancurkan jantung dan paru-paru!
"Siuuuttt... wirr-wirrr-wirrrr...!"
Wi Siang hanya melihat berkelebatnya bayangan wanita berkerudung itu ke kanan, kiri dan serangannya
luput! Dengan kaget dan penasaran ia melanjutkan serangannya secara beruntun, yaitu dengan jurus Sianli-
touw-so (Sang Dewi Menenun) dan terakhir dengan jurus Sian-li-sia-kwi (Sang Dewi Memanah Setan).
Mula-mula pedangnya berubah menjadi gulungan sinar yang melingkar-lingkar mengurung tubuh wanita
berkerudung dan menyerangnya dari arah yang mengelilingi lawan itu.
Wi Siang maklum bahwa lawannya memiliki ginkang yang luar biasa, dapat bergerak cepat seperti terbang,
maka ia berusaha mengurungnya dengan sinar pedang. Seperti yang telah diduganya, wanita itu tiba-tiba
mencelat ke atas untuk menghindarkan diri dari lingkaran sinar pedang. Saat ini sudah dinanti-nanti oleh
Wi Siang, maka ia lalu menyerang dengan jurus ketiga. Jurus terakhir jurus Sian-li-sia-kwi ini hebat sekali,
dilakukan dengan melontarkan pedang ke arah bayangan lawan yang mencelat ke atas.
Wi Siang amat cerdik. Dia dibatasi hanya sampai tiga jurus. Kalau dalam tiga jurus wanita berkerudung itu
tidak mampu mengalahkannya, berarti dia dianggap menang! Inilah yang menyebabkan dia mengambil
keputusan untuk menggunakan jurus Sian-li-sia-kwi dalam jurus terakhir karena selagi mencelat di udara
dan diserang oleh pedangnya yang meluncur seperti anak panah, bagaimana wanita itu dapat
merobohkannya?
Betapa kaget, heran dan juga girangnya ketika ia melihat lawannya itu agaknya berkeinginan keras untuk
mengalahkannya dalam jurus ini malah meluncur turun dan menyambut pedang yang menyambar itu!
Makin girang lagi hati Wi Siang melihat pedangnya tepat mengenai dada Si Wanita berkerudung sehingga
ia tertawa girang penuh kemenangan.
Tiba-tiba suara ketawanya terhenti dan tubuhnya terguling ke atas lantai tanpa dapat bangun lagi karena
seluruh kaki tangannya lemas setelah jalan darah di pundak terkena totokan wanita itu! Ketika pedangnya
dunia-kangouw.blogspot.com
tadi mengenai dada Si Wanita berkerudung, terdengar bunyi keras dan pedangnya telah patah, kemudian
sebelum ia dapat memulihkan kekagetan hatinya, tahu-tahu tangan wanita berkerudung telah menotok
pundaknya dengan tubuh masih meluncur dari atas. Tang Wi Siang bukanlah seorang bodoh. Kini dia
merasa yakin bahwa wanita berkerudung itu benar-benar memiliki kesaktian yang luar biasa, bahkan ia
dapat menduga bahwa biar pun seluruh anggota dan pimpinan Thian-liong-pang maju mengeroyok sekali
pun, mereka tidak akan dapat mengalahkan wanita ini.
"Bangkitlah, Wi Siang!" Wanita berkerudung yang sudah mengenalnya itu menggerakkan tangan.
Tiba-tiba Wi Siang merasa tenaganya sudah pulih kembali. Dia tidak meloncat bangun, melainkan bangkit
berlutut di depan wanita itu sambil berkata, "Saya menyatakan takluk dan siap memenuhi semua perintah
Pangcu!"
Tiba-tiba terdengar suara bercuitan keras dibarengi menyambarnya benda-benda yang mengeluarkan sinar
ke arah Si Wanita berkerudung. Itulah senjata rahasia yang dilepas oleh kedua tangan Phang Kok Sek,
Ketua Thian-liong-pang yang sudah tidak dapat mengendalikan amarahnya lagi. Sekaligus dia telah
menyerang dengan senjata rahasia berbentuk bintang, senjata rahasia yang khas dari Thian-liong-Pang
dan tentu saja dalam mempergunakan senjata rahasia bintang ini, Phang Kok Sek merupakan seorang ahli
yang pandai. Tujuh belas buah senjata rahasia terbang menyambar seperti berlomba menuju ke sasaran
masing-masing yaitu tujuh belas jalan darah terpenting di bagian tubuh depan dari Si Wanita berkerudung.
Namun wanita berkerudung itu memiliki kecepatan yang amat hebat. Betapa pun cepat datangnya senjatasenjata
rahasia yang menyerangnya, gerakannya mengelak lebih cepat lagi. Hanya tampak tubuhnya
berkelebat dan tahu-tahu ia telah lenyap. Ketika orang memandang ke atas, tubuhnya telah menempel di
langit-langit ruangan itu bagai kelelawar besar bergantungan pada pohon.
Phang Kok Sek yang selain marah sekali juga maklum bahwa kalau tidak dapat segera melenyapkan
wanita berkerudung ini kedudukannya terancam, sudah meloncat ke atas dan mengirim pukulan dahsyat
dengan kedua tangan terbuka, didorongkan ke arah tubuh lawan yang masih menempel di langit-langit.
"Braakkk!"
Hebat bukan main pukulan itu. Pukulan Hwi-tok-ciang selain amat dahsyat juga mengandung hawa panas
membakar dan berbisa pula. Langit-langit ruangan itu jebol dilanda hawa pukulan dahsyat ini. Akan tetapi,
bagaikan seekor capung ringannya, tubuh wanita berkerudung sudah mengelak dan melayang turun.
Ketika tubuhnya lewat dekat tubuh Phang Kok Sek, wanita itu mengirim sebuah tendangan ke arah dada
Phang Kok Sek.
Tingkat kepandaian Pang Kok Sek jauh lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian dua orang sute-nya yang
tewas dan seorang sumoi-nya yang telah dikalahkan lawan. Tendangan itu cepat dan tidak terduga-duga,
dilepas selagi tubuh mereka berada di tengah udara. Akan tetapi dengan jalan melempar tubuh ke
belakang dan berjungkir balik, Phang Kok Sek berhasil menyelamatkan nyawanya dan hanya ujung
bajunya saja yang robek kena diserempet ujung kaki lawan. Hal ini membuktikan betapa lihai wanita itu dan
Phang Kok Sek sudah meloncat ke bawah dengan muka berubah.
"Ji-wi Suheng! Siluman ini telah membunuh Ma-sute dan Liauw-sute, dan beberapa orang anak buah,
apakah kalian masih tinggal diam saja?" Sambil menegur kedua orang suheng-nya, Phang Kok Sek sudah
menyambar senjatanya yang hebat, yaitu sebatang tombak cagak bergagang baja yang besar dan berat
dari sudut belakang tempat duduknya.
Karena wanita berkerudung itu adalah orang luar dan yang terang-terangan hendak merampas Thian-liongpang,
semenjak tadi memang Sai-cu Lo-mo dan Lui-hong Sin-ciang Chie Kang menganggapnya sebagai
musuh. Akan tetapi, mengingat akan kedudukan dan tingkat mereka yang sudah tinggi di dunia kang-ouw,
mereka masih merasa ragu-ragu dan malu untuk mengeroyok seorang wanita.
Kini menyaksikan kelihaian wanita itu yang benar-benar amat luar biasa dan mendengar teguran Sang
Ketua, kedua orang kakek ini sudah bangkit dan meloncat ke depan. Mereka tidak memegang senjata dan
memang kedua orang kakek ini lebih mengandalkan kepada kaki tangannya dari pada senjata. Biar pun
bertangan kosong, namun kepandaian mereka hebat dan kaki tangan mereka ini jauh lebih berbahaya dari
pada segala macam senjata yang tajam runcing.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sai-cu Lo-mo yang tertua di antara mereka bertiga dan juga sudah berpengalaman dan memiliki tingkat
yang paling tinggi, kini berhadapan dengan wanita berkerudung, memandang tajam seperti hendak
menembus kerudung itu dengan pandang matanya, lalu berkata, "Nona, engkau masih begini muda telah
memiliki kepandaian yang hebat dan sikap yang aneh sekali. Bukalah kerudungmu, perkenalkan dirimu dan
jelaskan apa sebabnya engkau mengacau di Thian-liong-pang dan membunuh orang-orang yang sama
sekali tidak ada permusuhan denganmu!"
Sepasang mata di belakang dua lubang di kerudung itu bersinar-sinar dan biar pun mulutnya tidak tampak,
jelas dapat diduga bahwa wanita itu tersenyum. Mata itu memandang kepada Sai-cu Lo-mo dan Chie Kang
bergantian, kemudian berkata,
"Sai-cu Lo-mo dan Lui-hong Sin-ciang Chie Kang, aku mengenal siapa kalian berdua dan tadi aku sudah
mendengar kalian mengeluarkan isi hati kalian! Hanya kalian berdualah yang patut menjadi Ketua dan
Pimpinan Thian-liong-pang, akan tetapi mengapa kalian tidak pernah mau menjadi Ketua? Aku tahu,
karena kalian merasa enggan menjadi Ketua dari perkumpulan yang makin rusak oleh sepak terjang anak
buahnya! Thian-liong-pang makin bobrok dan kalian tidak mau nama kalian kelak terseret ke dalam lumpur
kehinaan karena menjadi Ketuanya! Betapa pengecut! Betapa pun juga, aku suka kalian membantuku
kelak, maka aku tidak akan membunuh kalian berdua. Tak perlu aku memperkenalkan diri, cukup kalau
kalian ketahui bahwa akulah Ketua kalian yang baru, karena aku hendak memimpin Thian-liong-pang
menjadi sebuah perkumpulan yang besar dan kuat, lebih besar dan lebih kuat dari pada para penghuni
Pulau Es. Ada pun Phang Kok Sek Si Raksasa tolol yang tidak segan-segan mengorbankan saudarasaudaranya
untuk memperebutkan kursi ketua ini, dia tidak berguna dan akan kulenyapkan..."
"Siluman betina!" Phang Kok Sek sudah menerjang maju, menusukkan tombak cagaknya yang panjang,
besar dan berat ke arah perut wanita berkerudung itu.
"Takkk!" Wanita itu tidak mengelak, tidak berkisar dari tempat dia berdiri hanya mengangkat kaki kirinya
dan ujung kakinya itu menendang ke arah tombak, tepat mengenai belakang mata tombak sehingga
tusukan itu menyeleweng dan Phang Kok Seng merasa tangannya bergetar hebat.
Sai-cu Lo-mo dan Lui-hong Sin-ciang Chie Kang yang menjadi merah mukanya mendengar ucapan wanita
berkerudung itu sudah menerjang maju pula. Mereka merasa berkewajiban untuk menentang wanita ini,
bukan sekali-kali untuk membantu demi keselamatan pribadi Phang Kok Sek, namun demi menjaga nama
Thian-liong-pang dan sebagai tokoh-tokoh Thian-liong-pang melihat orang luar mengacau perkumpulan itu.
"Wussss... ciattt!"
Lui-hong Sin-ciang Chie Kang yang kepalanya gundul dan kelihatan lemah sekali seperti seorang
sastrawan yang menjadi botak karena terlalu banyak berpikir dan menjadi buyuten tangannya karena
terlalu banyak menulis, begitu menyerang telah memperlihatkan kedahsyatannya. Kedua tangannya
bergerak dengan mantap dan mengandung tenaga yang dahsyat sekali sehingga serangannya itu
membuat kedua tangannya seolah-olah berubah menjadi baja tajam yang membelah udara serta
mengeluarkan suara mengerikan. Melihat kelihaian kakek gundul ini, diam-diam wanita berkerudung
menjadi kagum karena ia maklum bahwa orang ini kalau menjadi pembantunya akan merupakan seorang
pembantu yang boleh diandalkan!
Biar pun keadaan wanita berkerudung ini merupakan rahasia bagi semua orang Thian-liong-pang, namun
kita tahu bahwa dia itu bukan lain adalah Nirahai. Nirahai, puteri Kaisar ini memiliki ilmu kepandaian yang
amat tinggi, apa lagi setelah digembleng oleh mendiang Nenek Maya (baca cerita Pendekar Super Sakti ),
tingkat kepandaiannya sudah hebat sekali. Tentu saja serangan Chie Kang itu baginya bukan apa-apa dan
dengan mudah ia dapat mengelak ke kiri di mana dia tahu Sai-cu Lo-mo sudah siap dengan serangannya
yang ia duga tentu tidak kalah hebatnya dengan Si Kakek gundul.
"Wirrr-wirrr-wirrr... plak-plak-plak!"
Nirahai makin girang hatinya. Tiga serangan berantai yang diluncurkan Sai-cu Lo-mo dengan ujung lengan
bajunya itu hebat bukan main. Ujung lengan bajunya itu mengandung tenaga yang lebih kuat dari pada
kedua tangan Chie Kang dan dia maklum bahwa ujung lengan baju itu cukup dahsyat untuk
menghancurkan batu karang yang keras! Akan tetapi, Sai-cu Lo-mo lebih kaget lagi karena tiga kali ujung
lengan bajunya ditangkis oleh ujung jari-jari tangan wanita itu dengan kibasan yang membuat dia merasa
seluruh lengannya tergetar. Tahulah dia bahwa dia telah bertemu dengan lawan yang jauh lebih kuat dari
pada dia dan para sute-nya!
dunia-kangouw.blogspot.com
"Syuuutt... serrr-serrr-serrr!"
Tombak panjang menyambar dari belakang, menusuk lambung Nirahai disusul meluncurnya tiga buah
senjata rahasia bintang. Cara Phan Kok Sek menyerang ini saja sudah membuktikan akan kelicikan
wataknya, menggunakan kesempatan selagi Nirahai menghadapi dua orang suheng-nya yang lihai,
menyerang dari belakang, bukan hanya dengan tombaknya yang dahsyat, juga dengan pelepasan am-gi
(senjata rahasia).
Nirahai menjadi marah. Kedua tangannya bergerak cepat dan tahu-tahu tiga buah senjata rahasia itu telah
ia tangkap dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya menyambar dan berhasil menangkap leher
tombak ketika ia miring ke kiri dan tombak itu meluncur dekat lambungnya. Tangan kirinya diayun dan tiga
buah senjata rahasia itu menyambar ke arah pemiliknya!
Sebagai seorang ahli melepas senjata rahasia Sin-seng-ci tentu saja Phang Kok Sek dapat menghindarkan
diri dan cepat meloncat ke atas dengan kedua kaki di atas dan kepala di bawah, kedua tangan masih
memegangi gagang tombaknya. Gerakannya ini cepat dan indah sekali sehingga tiga batang Sin-seng-ci
menyambar lewat di bawah tubuhnya.
Akan tetapi dia tidak tahu akan kelihaian lawan. Begitu tubuhnya meloncat, Nirahai mengerahkan tenaga
pada tangan kanannya yang memegang gagang tombak itu ke atas. Phang Kok Sek terkejut dan berusaha
menahan dengan kedua tangan, namun dia kalah kuat dan terdengar teriakan mengerikan ketika gagang
tombak itu menerobos dan menusuk perut Phang Kok Sek sampai tembus ke punggungnya.
Sekali menggerakkan tangan, Nirahai melemparkan tombak bersama tubuh Ketua Thian-liong-pang yang
tak bernyawa lagi itu ke samping dan otomatis kedua tangannya sudah menangkis dua serangan dari
kanan kiri yang dilakukan Sai-cu Lo-mo dan Chie Kang.
Dalam melakukan tangkisan ini, Nirahai sudah mengerahkan tenaga pada telapak tangannya, maka begitu
telapak tangannya bertemu dengan tangan kedua lawan, dua orang itu berseru kaget karena tangan
mereka melekat pada telapak tangan yang berkulit halus itu, tak dapat ditarik kembali. Mereka maklum
bahwa wanita berkerudung ini sengaja menantang mereka mengadu sinkang, maka kedua kakek itu
dengan kedua kaki terpentang lebar cepat mengerahkan sinkang melalui tangan mereka untuk
merobohkan lawan.
Terjadilah adu tenaga sinkang yang hebat. Kedua kakek itu berdiri dengan kaki terpentang tubuh agak
membungkuk, sedangkan Nirahai yang berdiri di tengah, kedua tangannya terkembang ke kanan kiri
menahan tangan kedua lawan, kakinya terpentang sedikit dan tubuhnya tegak. Semua orang menonton
dengan hati tegang, mengira bahwa wanita berkerudung itu tentu akan terhimpit di tengah-tengah oleh dua
kekuatan raksasa yang amat dahsyat.
Namun Nirahai yang memiliki tingkatan lebih tinggi bersikap tenang-tenang saja. Dari kedua tangan lawan
di kanan kirinya, menerobos tenaga sinkang yang kuat sekali melalui kedua lengannya yang terkembang.
Wanita cerdik ini tidak melawan sehingga kedua lawannya terkejut dan heran, tiba-tiba mereka tersentak
kaget ketika ada tenaga amat kuat menahan dorongan sinkang mereka. Sejenak kedua orang itu
mengerahkan semangat dan tenaga dalam dan ketika mereka melihat betapa wanita itu kelihatannya enakenak
saja tanpa mengerahkan tenaga, barulah mereka sadar bahwa mereka kena diakali! Kiranya lawan
mereka itu sengaja mempertemukan kedua tenaga sakti dari kanan kiri sehingga Sai-cu Lo-mo dan Chie
Kang bertanding sendiri, saling dorong dengan tenaga sinkang melalui tubuh Si Wanita berkerudung yang
seolah-olah hanya menyediakan dirinya menjadi arena pertandingan sambil menonton seenaknya!
Mereka sadar dan cepat hendak menarik tenaga sakti mereka, namun terlambat karena pada saat itu
Nirahai sudah menggunakan tenaganya sendiri, menggunakan kesempatan selagi kedua orang saling
dorong sehingga tenaga sinkang mereka terpusat kemudian mereka menarik kembali tenaga ketika sadar
bahwa sesungguhnya mereka itu saling gempur antara saudara sendiri. Ketika kedua orang kakek itu
menarik kembali tenaga sinkang, saat itulah Nirahai menyerang mereka dengan tenaga sakti yang amat
dahsyat. "Cukup, rebahlah!"
Sai-cu Lo-mo dan Lui-hong Sin-ciang Chie Kang tak dapat mempertahankan diri lagi, begitu Nirahai
menarik kedua lengannya mereka roboh dan biar pun mereka sudah berusaha sekuatnya untuk tidak
terguling, tetap saja mereka jatuh berlutut dan cepat memejamkan mata sambil mengatur pernapasan.
Tenaga sinkang mereka sendiri yang tadi mereka tarik telah menghantam dada mereka karena didorong
dunia-kangouw.blogspot.com
oleh tenaga wanita berkerudung itu, membuat dada terasa sakit dan pernapasan menjadi sesak. Yang
membuat mereka heran dan bingung adalah keadaan lengan kanan mereka yang menjadi lumpuh seolaholah
tulang pundak lengan dalam keadaan terkunci, sama sekali tidak dapat digerakkan!
"Wi Siang, bantulah kedua orang Suheng-mu itu. Kau totok jalan darah Hong-hu-hiat di pundak kanan
mereka masing-masing dua kali." Nirahai berkata kepada Tang Wi Siang yang berdiri menonton
pertandingan tadi penuh kagum. Ia mengangguk, menghampiri kedua orang suheng-nya dan tanpa raguragu
menotok belakang pundak kanan mereka dua kali seperti yang diperintahkan wanita berkerudung itu.
Begitu terkena totokan dua kali, jalan darah mereka normal kembali dan lengan kanan dapat digerakkan.
Kini kedua orang kakek itu benar-benar tunduk dan merasa yakin bahwa wanita berkerudung itu benarbenar
memiliki ilmu kepandaian yang amat luar biasa. Timbul rasa kagum dan suka di hati mereka untuk
mengangkatnya menjadi ketua, karena dengan ketua sehebat ini, Thian-liong-pang pasti akan menjadi
sebuah perkumpulan yang kuat dan terpandang. Maka mereka lalu berlutut di depan Nirahai sambil
berkata,
"Pangcu!"
Terdengar sorak sorai dari para anggota yang kini sudah pula berlutut menghadap Si Wanita berkerudung
yang tersenyum di balik kerudungnya. Nirahai mengangkat kedua lengan ke atas dan suara sorakan itu
terhenti. Keadaan menjadi sunyi dan semua orang mendengarkan ucapan dari balik kerudung, ucapan
yang halus merdu namun berwibawa,
"Mulai saat ini Thian-liong-pang di bawah pimpinanku harus menjadi perkumpulan yang kuat, dihormati dan
disegani di seluruh dunia kang-ouw. Untuk dapat menjadi kuat, kalian semua harus menggembleng diri dan
mempertinggi tingkat ilmu silat yang akan kuajarkan kepada kalian semua, sesuai dengan tingkat masingmasing.
Untuk menjadi perkumpulan yang disegani, Thian-liong-pang harus menunjukkan kegagahan dan
kekuatannya menundukkan semua pihak yang menentang kita, dan untuk dapat dihormati, Thian-liongpang
harus bersih dari pada segala perbuatan yang jahat. Tidak boleh ada penyelewengan lagi, tidak boleh
ada perampokan, penindasan dan lain perbuatan jahat lagi. Semua perbuatan yang dilakukan oleh
anggota, harus sesuai dengan peraturan-peraturan yang akan kuadakan. Setiap pelanggar akan menerima
hukuman berat!"
Mendengar perintah pertama yang keluar dari mulut wanita berkerudung itu, diam-diam Sai-cu Lo-mo dan
Lui-hong Sin-ciang Chie Kang menjadi girang sekali. Sai-cu Lo-mo demikian kagum dan gembiranya
sehingga ia mengangkat tangan kanan ke atas sambil berteriak, "Hidup Pangcu kita!"
Semua anggota juga tertegun mendengar perintah tadi, tentu saja yang biasanya mengumbar nafsu, diamdiam
menjadi gentar dan khawatir kalau-kalau dia akan mangalami nasib sial dan dihukum seperti para
pimpinan mereka yang kini masih menggeletak di situ menjadi mayat. Maka, mendengar seruan Sai-cu Lomo,
serentak semua anggota berteriak, "Hidup pangcu...!" Bahkan mereka yang tadinya suka
mengandalkan nama besar Thian-liong-pang untuk melakukan penindasan dan perbuatan-perbuatan jahat,
berteriak paling keras!
"Sekarang singkirkan dan urus jenazah mereka ini baik-baik, kuburkan sebagaimana mestinya. Sai-cu Lomo,
Lui-hong Sin-ciang Chie Kang, mulai sekarang kalian berdua kuangkat menjadi pembantupembantuku,
sedangkan Tang Wi Siang, sesuai dengan kehendaknya sendiri menjadi pelayanku yang
paling kupercaya. Mari kita masuk dan merundingkan segala urusan mengenai Thian-liong-pang. Aku ingin
mendengar, hal apa saja yang dihadapi Thian-liong-pang saat ini."
Nirahai diiringkan oleh tiga orang pembantunya memasuki gedung menuju ke ruangan dalam. Tak seorang
pun pelayan diijinkan masuk ketika empat orang ini mengadakan perundingan, sedangkan para anak buah
Thian-liong-pang sibuk mengurus mayat-mayat yang bergelimpangan di ruangan tadi. Mereka, juga para
pelayan, saling berbisik membicarakan Ketua partai yang penuh rahasia itu. Nirahai dengan tenang
mendengarkan pelaporan tiga orang pembantunya mengenai keadaan Thian-liong-pang. Segala macam
urusan mengenai perkumpulan ini diceritakan oleh Sai-cu Lo-mo dan Lui-hong Sin-ciang Chie Kang,
sedangkan Tang Wi Siang yang duduk di dekat Nirahai hanya mendengarkan dan bersikap sebagai
seorang pelayan.
"Tiga perkumpulan yang menentang kita mudah dibereskan. Aku akan mendatangi mereka dan
menundukkan mereka. Hal-hal lain dijalankan seperti biasa, akan tetapi harus disesuaikan dengan
peraturan-peraturan yang akan kuadakan. Hanya satu hal yang mengherankan hatiku. Kau tadi
dunia-kangouw.blogspot.com
menceritakan tentang usaha Thian-liong-pang yang gagal dalam memperebutkan seorang anak bernama
Gak Bun Beng. Benarkah utusan kita itu dikalahkan oleh Pendekar Siluman dan anak itu akhirnya dibawa
oleh Siauw Lam Hwesio tokoh Siauw-lim-pai?"
"Benar, Pangcu," jawab Sai-cu Lo-mo.
Nirahai mengerutkan keningnya. "Anak ini... Gak Bun Beng, ada hubungan apakah dengan Thian-liongpang
sehingga perkumpulan kita harus berusaha merebutnya?"
Sai-cu Lo-mo menarik napas panjang dan mengelus jenggotnya yang seperti jenggot singa itu. "Maaf,
Pangcu. Sesungguhnya, dengan perkumpulan kita tak ada hubungan apa-apa, dan mendiang Ketua kami
hanya memenuhi permintaan saya, karena sesungguhnya sayalah yang mempunyai hubungan dengan
anak itu. Anak itu masih cucu keponakan saya sendiri."
"Hemmm.... begitukah? Coba jelaskan, siapa sebenarnya anak itu, dia anak siapa dan bagaimana
hubugannya denganmu, Lo-mo? Kalau kuanggap penting, percayalah, aku yang akan mendapatkannya
untukmu. Tentang Pendekar Siluman, jangan khawatir, aku akan dapat menghadapinya!"
Bahkan Wi Siang sendiri diam-diam menjadi kaget mendengar ini. Berani menentang Pendekar Siluman?
Benarkah Ketua yang baru ini memiliki kesaktian yang demikian hebat sehingga berani menentang
Pendekar Siluman? Baru mendengar cerita para anggota Thian-liong-pang tentang Pendekar Siluman
yang bisa pian-hoa (merubah diri) menjadi raksasa dan menjadi setan tanpa kepala saja sudah membuat
semua orang gagah di Thian-liong-pang ngeri dan seram!
Sai-cu Lo-mo dan Chie Kang juga kaget dan sambil memandang wajah yang tertutup kerudung itu, Sai-cu
Lo-mo menjawab, "Dia adalah putera dari keponakan saya yang bernama Bhok Khim, murid Siauw-limpai."
"Hemmm... Bhok Kim yang berjuluk Bi-kiam, seorang di antara Kang-lam Sam-eng?"
"Betul, Pangcu," jawab Sai-cu Lo-mo makin kagum dan terheran bagaimana wanita berkerudung ini
agaknya tahu akan segala hal dan mengenal semua orang. Maka dia tidak menyembunyikan dirinya lagi
dan menyambung, "Saya dahulu bernama Bhok Toan Kok, Bhok Kim adalah anak tunggal adikku..."
Akan tetapi agaknya Nirahai tidak mempedulikannya dan seperti orang melamun karena mengingat, lalu
berkata, "Dan bocah itu she Gak? Hem... tentu anak dari Kang-thouw-kwi Gak Liat Si Setan Botak..."
Tiga orang tokoh Thian-liong-pang itu terbelalak, makin heran dan kagum. Sai-cu Lo-mo berteriak,
"Bagaimana Pangcu dapat mengetahuinya...?"
Nirahai memandangnya. "Aku tahu, dan Gak Liat yang memperkosa Bhok Kim hingga wanita itu dihukum
di Siauw-lim-pai, kemudian melahirkan anak dan... mereka berdua kemudian saling bunuh. Hemm... jadi
engkau ingin mengambil cucu keponakanmu itu, Sai-cu Lo-mo? Apa perlunya? Anak itu adalah keturunan
Gak Liat, datuk kaum sesat!"
Sai-cu Lo-mo menarik napas panjang. "Betapa pun juga, dia adalah cucu keponakan saya, Pangcu."
Nirahai mengangguk, "Baiklah, urusan anak itu kita tunda dulu saja. Aku tidak ingin melibatkan Thian-liongpang
hanya karena urusan keturunan Gak Liat. Betapa pun juga, kalau engkau mendengar di mana
adanya bocah itu sekarang dan jika ada kemungkinan merebutnya, aku suka membantumu. Tahukah
engkau di mana dia itu sekarang?"
"Dia menjadi murid di Siauw-lim-si."
Nirahai menggeleng kepala. "Kalau di Siauw-lim-si, kita tidak dapat berbuat sesuatu, Lo-mo. Ibu anak itu
adalah murid Siauw-lim-pai, sudah semestinya kalau anaknya menjadi murid Siauw-lim-pai pula. Jangan
mengira bahwa aku takut menghadapi Siauw-lim-pai, akan tetapi apa perlunya kita menyeret perkumpulan
menjadi musuh Siauw-lim-pai yang amat kuat hanya karena memperebutkan seorang anak, apa lagi anak
keturunan seorang seperti Gak Liat?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Diam-diam Sai-cu Lo-mo harus membenarkan pendapat pangcunya ini. Tiba-tiba ia mengangkat kepala
dan berkata, "Pangcu... maaf... hati saya akan selalu gelisah kalau tidak menyatakannya sekarang. Kalau
tidak keliru menduga... saya dapat mengenal siapa kiranya Pangcu!"
Nirahai menoleh ke arah Chie Kang dan bertanya, "Bagaimana dengan engkau, Lui-hong Sin-ciang Chie
Kang? Apakah engkau pun dapat menduga siapa aku?"
Chie Kang terkejut. Dia pun sedang berpikir-pikir. Kalau wanita berkerudung itu tidak memperlihatkan sikap
mengenal semua orang, bahkan mengetahui segala hal yang bagi banyak tokoh kang-ouw merupakan
rahasia, maka di dunia ini kiranya hanya ada seorang saja wanita seperti itu, akan tetapi diam-diam dia
terkejut dan tidak percaya bahwa pangcunya yang baru adalah orang itu! Kini dia makin gugup mendengar
pertanyaan itu dan menjawab, "Saya... saya hanya menduga-duga akan tetapi tidak berani
memastikannya. Pribadi Pangcu penuh rahasia, sukar untuk diduga..."
Nirahai tersenyum di balik kerudung-nya. "Sai-cu Lo-mo, aku dapat menjenguk isi hatimu. Dugaanmu itu
agaknya tidak keliru. Engkau dan Chie Kang telah kuangkat menjadi pembantu-pembantuku yang setia dan
boleh dipercaya, sedangkan Wi Siang menjadi pelayan dan pengawalku. Hanya kalian bertiga sajalah yang
boleh mengetahui siapa sebenarnya aku. Akan tetapi, kalau sampai seorang di antara kalian berani
membocorkan rahasiaku, tanganku sendiri yang akan membunuhnya! Nah, agar hati kalian tidak ragu-ragu
lagi, kalian boleh mengenalku." Berkata demikian, wanita berkerudung itu membuka kerudungnya, dan
tampaklah wajahnya yang cantik jelita, wajah puteri Kaisar Mancu. Puteri Nirahai yang pernah
menggemparkan seluruh dunia kang-ouw sebagai pemimpin pasukan-pasukan pemerintah yang
membasmi para pemberontak!
Tiga orang tokoh Thian-liong-pang itu belum pernah bertemu muka sendiri dengan Nirahai, akan tetapi
nama besar puteri ini sudah lama mereka dengar. Kini mendapat kenyataan bahwa yang menjadi Ketua
mereka adalah puteri yang terkenal itu, yang berdiri dengan cantik dan agungnya, dengan sepasang mata
yang amat berwibawa memandang kepada mereka dengan mulut yang berbentuk indah itu tersenyum
halus, mereka serta-merta menjatuhkan diri berlutut di depan Nirahai.
"Harap Paduka suka mengampunkan hamba sekalian yang tidak mengenal Puteri yang mulia," kata Sai-cu
Lo-mo mewakili saudara-saudaranya.
"Bangunlah kalian!" tiba-tiba Nirahai membentak. Ketika mereka dengan kaget bangkit berdiri memandang,
Nirahai telah memakai lagi kerudungnya, menutupi mukanya yang cantik, dan kini dari sepasang lubang di
depan kerudung, matanya memandang marah.
"Mulai saat ini, sekali-kali kalian tidak boleh menyebutku Puteri dan jangan bocorkan rahasia ini! Aku
adalah Pangcu (Ketua) Thian-liong-pang dan kalian sebut saja aku Pangcu. Nah, mari duduk dan
melanjutkan perundingan demi kemajuan perkumpulan kita."
Demikianlah, semenjak hari itu, Nirahai menjadi Ketua Thian-liong-pang. Kecuali tiga orang pembantunya
itu, tidak seorang pun di antara para anggota Thian-liong-pang mengetahui bahwa Ketua mereka yang
selalu menyembunyikan muka di belakang kerudung, yang diliputi penuh rahasia, yang memiliki ilmu
kepandaian hebat seperti iblis, sebenarnya adalah Puteri Nirahai yang dahulu amat terkenal itu.
Nirahai menurunkan beberapa macam ilmu silat kepada tiga orang pembantunya sehingga dalam waktu
dua tahun saja, Sai-cu Lo-mo, Lui-hong Sin-ciang Chie Kang, dan Tang Wi Siang telah memperoleh
kemajuan yang amat hebat, tingkat mereka naik jauh lebih tinggi dari pada sebelumnya, akan tetapi watak
mereka pun berubah, penuh rahasia seperti watak Ketua mereka. Para anak buah Thian-liong-pang juga
dilatih ilmu silat oleh tiga orang tokoh ini sehingga pasukan Thian-liong-pang kini menjadi pasukan yang
hebat, setiap orang anggotanya memiliki kepandaian tinggi.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, tadinya Nirahai menitipkan puterinya, Milana, kepada Pangeran
Jenghan di Kerajaan Mongol. Selama membangun dan memperkuat Thian-liong-pang beberapa tahun, dia
meninggalkan puterinya itu dan hanya kira-kira sebulan sekali dia pergi ke Mongol mengunjungi puterinya.
Milana sama sekali tidak tahu bahwa ibunya adalah Ketua Thian-liong-pang yang amat terkenal itu. Setelah
Nirahai mengajaknya ke Thian-liong-pang anak perempuan ini baru tahu bahwa ibunya adalah wanita
berkerudung, Ketua Thian-liong-pang yang menggemparkan dunia kang-ouw. Dengan hati penuh
kebanggaan namun juga kedukaan, kini Milana juga tahu bahwa ayahnya adalah Pendekar Siluman, Tocu
dari Pulau Es yang agaknya berselisih paham dengan ibunya sehingga ayah bundanya itu saling berpisah,
bahkan timbul gejala saling bertentangan!
dunia-kangouw.blogspot.com
Pertemuannya dengan suaminya, Suma Han, mendatangkan rasa duka yang hebat di hati Nirahai. Dia
adalah seorang puteri kaisar, seorang wanita yang mempunyai harga diri tinggi sekali. Betapa pun besar
cinta kasihnya kepada Suma Han, namun sikap suaminya itu membuatnya berduka. Ia tidak mau
menyembah-nyembah minta dibawa, sungguh rasa rindunya kadang-kadang menyesak di dada. Dia ingin
memperlihatkan bahwa kalau Suma Han tidak membutuhkan dia, dia pun tidak akan merangkak-rangkak
mengejar suaminya!
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil