Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Minggu, 13 Agustus 2017

Kho Ping Hoo Jodoh Rajawali 1 Lanjutan Kisah Sepasang Rajawali Pendekar Siluman

Kho Ping Hoo Jodoh Rajawali 1 Lanjutan Kisah Sepasang Rajawali Pendekar Siluman Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Kho Ping Hoo Jodoh Rajawali 1 Lanjutan Kisah Sepasang Rajawali Pendekar Siluman
kumpulan cerita silat cersil online
-
Kaisar pertama yang bertahta di Kerajaan Ceng-tiauw, yaitu kerajaan penjajah Mancu yang menguasai
Tiongkok, merupakan kaisar yang sampai puluhan tahun lamanya bisa mempertahankan kedudukannya,
mengatasi banyak pemberontakan serta perebutan kekuasaan. Kaisar tua ini mulai bertahta dalam tahun
1663 dan dapat mempertahankan kedudukannya ini selama lima puluh sembilan tahun!
Pada awal tahun 1700 terjadilah pemberontakan yang dilakukan dua orang pangeran kakak beradik, yaitu
Pangeran Liong Bin Ong dan Pangeran Liong Khi Ong, adik-adik tiri kaisar pertama itu, yaitu Kaisar Kang
Hsi. Dua orang pangeran yang mencoba untuk berkhianat terhadap kaisar itu melakukan pemberontakan
yang nyaris menggulingkan kedudukan kaisar, atau sedikitnya telah menggegerkan kota raja. Akan tetapi
akhirnya berkat bantuan para menteri dan panglima yang setia, apa lagi karena bantuan Puteri Milana yang
terkenal gagah perkasa dan pandai, pemberontakan itu dapat digagalkan, bahkan dua orang pangeran
pengkhianat itu dapat ditewaskan.
Akan tetapi, pemberontakan ini dengan segala akibatnya menggores hati kaisar yang sudah tua itu, oleh
karena, pertama dia merasa kecewa dan terkejut melihat kenyataan betapa dua orang adik tiri yang
dipercayanya itu betul-betul melakukan pemberontakan terhadapnya. Kedua, melihat bahwa dia terpaksa
membiarkan dua orang adiknya itu tewas. Dan ketiga, perpecahan-perpecahan yang diakibatkan oleh
pemberontakan itu di antara ponggawa dan pembantunya.
Lima tahun telah lewat sejak pemberontakan itu dapat ditumpas. Akan tetapi, walau pun pemberontakan
sudah dapat dipadamkan dan dua orang pangeran tua itu telah tewas, peristiwa itu mengakibatkan
perpecahan di kalangan atas dan mengakibatkan timbulnya sikap curiga-mencurigai di antara mereka,
mempunyai pengaruh besar terhadap para pembesar atasan yang mempengaruhi pula para anak buah
mereka dan terasa pula ketegangan-ketegangan yang timbul di antara kelompok satu dan kelompok
lainnya sehingga rakyat pun merasa gelisah.
Peristiwa itu banyak mengurangi kedaulatan dan wibawa Kaisar Kang Hsi. Kaisar tua itu tidak kuat lagi
mengendalikan kemudi pemerintahannya yang mulai dilanda gelombang perpecahan itu. Beberapa rajaraja
muda, gubernur-gubernur dan panglima-panglima komandan barisan di perbatasan yang menguasai
daerah propinsi yang jauh letaknya dari kota raja, sedikit demi sedikit dan secara halus tidak menyolok
mulai memisahkan diri dari pusat. Mereka itu masing-masing menyusun kekuatan dan berusaha mengatur
daerah kekuasaan masing-masing seperti seorang raja. Semua hasil pemungutan pajak dan lain-lain
mereka simpan sendiri, dan kalau pun sebagai basa-basi mereka masih mengirimkan hasil daerah mereka
ke kota raja, maka yang dikirim itu tidak ada artinya dibandingkan dengan hasil yang masuk.
Tentu saja tidak semua pembesar bersikap demikian. Banyak pula yang sejak semula berpihak kepada
kaisar, masih tetap merupakan pembesar yang setia. Oleh karena itu timbullah pertentangan diam-diam di
antara para pembesar dan pertentangan ini tentu saja menimbulkan keadaan yang kacau dan tidak aman.
Biar pun dari pusat sendiri tidak atau belum ada tindakan apa-apa, tetapi di antara para pembesar yang
setia kepada kaisar dan yang hendak memisahkan diri, kini terdapat pertentangan baik secara sembunyisembunyi
mau pun secara terang-terangan hingga sering terjadi pertempuran-pertempuran kecil antara
pembesar yang mempertahankan daerah kekuasaannya masing-masing hanya karena urusan
perdagangan, perairan, atau urusan lain-lain.
Semua bentuk permusuhan, baik dimulai dari permusuhan perorangan sampai kepada perang dunia,
adalah pencetusan dari sifat mementingkan diri pribadi dari manusia. Sifat mementingkan diri pribadi ini
yang didorong oleh keinginan mengejar kesenangan, menimbulkan ambisi-ambisi pribadi dan dalam
pengejaran ambisi-ambisi pribadi inilah terjadi kekerasan, saling menjegal, saling merobohkan dan saling
membunuh demi mencapai ambisi pribadi.
Kalau hanya begitu saja kiranya masih mending, namun yang lebih celaka lagi adalah kenyataan bahwa di
dalam pengejaran ambisi pribadi itu, dalam menghadapi saingan, mereka tidak segan-segan untuk
mempergunakan tenaga orang lain, bahkan tidak segan-segan mengorbankan orang-orang lain yang tidak
dunia-kangouw.blogspot.com
terhitung banyaknya, dengan menggunakan kedok perjuangan dan sebagainya yang muluk-muluk untuk
menutupi dasar perbuatan mereka yang sesungguhnya, yaitu demi kepentingan diri mereka sendiri!
Hal seperti ini merupakan kenyataan dalam kehidupan manusia, kenyataan yang terjadi berulang-ulang
selama ribuan tahun lamanya, namun sampai kini pun masih ada saja manusia yang berhati serigala
bermuka domba, mengorbankan banyak orang demi tercapainya cita-cita atau ambisi mereka dan
menggunakan slogan-slogan muluk, dan anehnya masih banyak pula orang-orang yang begitu bodohnya,
mudah saja diperalat oleh beberapa gelintir orang dengan umpan slogan muluk-muluk.
Demikianlah, di daerah-daerah perbatasan antara propinsi, bahkan antar karesidenan atau kabupaten,
sering kali terjadi kekacauan dan permusuhan karena perpecahan itu. Dan siapakah yang menderita? Lagilagi
rakyat jelata. Di waktu perang terlanda oleh kejamnya peperangan, dirampok dan dibakar. Di waktu
damai terlanda kejamnya para pembesar atau penguasa yang korup.
Demikianlah nasib rakyat kecil yang tidak berdaya. Akibat pertentangan-pertentangan antara pembesar
yang memperebutkan kebenaran mereka sendiri itu, tentu saja melalaikan penjagaan dan muncullah
segala macam orang yang biasa mempergunakan kekacauan untuk mengail di air keruh, yaitu kaum
maling, perampok, para bajak dan sebagainya. Hal seperti ini tentu saja mendatangkan perasaan prihatin
dalam hati para pembesar yang berjiwa pahlawan, yang berjiwa pemimpin dan yang benar-benar
mementingkan kehidupan rakyat jelata.
Akan tetapi, Kaisar Kang Hsi yang sudah tua itu sama sekali tak menyadarinya. Bahkan kematian dua
orang adlk tirinya itu, pemberontakan mereka itu membuat dia merasa tidak suka kepada orang-orang yang
menentang dua orang adiknya yang memberontak itu, karena dianggapnya bahwa merekalah yang
membuat dua orang pangeran itu tidak suka dan memberontak.
Mulailah kaisar ini menyingkirkan orang-orang yang tidak disukainya ini, orang-orang yang dengan gigih
menentang dua orang pangeran pemberontak. Sikap kaisar seperti ini tentu saja mengakibatkan
terpecahnya para pembantu yang dekat dengannya, yaitu mereka yang prihatin melihat ulah kaisar, dan
mereka yang menggunakan kesempatan ini untuk menjilat. Penjilatan ini pun hanya merupakan
percerminan dari keinginan menyenangkan diri pribadi yang ingin mencari kedudukan, dan penjilatan itu
hanya merupakan ‘cara’ mereka untuk dapat mencapai ambisi mereka. Mulailah bermunculan ‘jari-jari
maut’ dan ‘bibir-bibir berbisa’ yang main tunjuk sana-sini, bisik sana-sini untuk menjatuhkan fitnah kepada
orang-orang yang dibenci.
Melihat keadaan ini, para pembesar yang setia pada negara mulai melakukan gerakan halus, diam-diam
mereka mencalonkan seorang kaisar baru untuk menggantikan kaisar yang lalim itu. Mereka ini tidak rela
melihat pemerintah dan rakyat dirusak oleh ulah kaisar tua yang agaknya sudah pikun.
Namun, orang yang paling merasa sengsara hatinya adalah seorang panglima besar yang merupakan
orang paling tinggi pangkatnya di dalam angkatan perang Kerajaan Ceng-tiauw. Orang ini bukan lain
adalah Jenderal Kao Liang, yang diangkat menjadi panglima besar setelah pemberontakan itu dapat
ditumpasnya. Akan tetapi, melihat sepak terjang kaisar, Jenderal Kao yang jujur itu tidak rela dan tidak
dapat diam saja. Pada suatu hari, dengan terang-terangan dia menghadap kaisar dan memperingatkan
kaisar akan penyelewengannya.
Aklbatnya hebat! Karena marah, terutama karena suara-suara hasutan dari kanan kiri, kaisar yang tidak
berani menghukum panglima terkenal ltu secara berterang, kemudian menggunakan siasat halus. Jenderal
Kao di ‘pensiun’-kan! Jenderal Kao diberhentlkan dengan hormat dan dipersilakan untuk ‘beristirahat’
menikmati hari tua dan diberi bekal banyak harta benda oleh kaisar.
Sungguh kaisar tua itu telah linglung. Dia sama sekali tidak tahu bahwa penghentian Jenderal Kao ini
membuat para panglima dan gubernur yang berkuasa di propinsi-propinsi yang berjauhan, yang
menganggap diri sendiri sebagai raja-raja, bersorak kegirangan dan menjadi lega hati mereka. Betapa
tidak? Jenderal Kao seoranglah yang mereka takuti sehingga mereka masih belum berani memisahkan diri
secara berterang. Mereka merasa ngeri kalau membayangkan betapa Jenderal Kao yang galak dan pandai
itu membawa pasukan menghukum mereka. Akan tetapi kini Jenderal Kao sudah dihentikan dari
jabatannya, sudah dipensiun dan menjadi rakyat biasa! Jenderal Kao tanpa pasukan bukan merupakan
tokoh yang menakutkan lagi.
Malam itu bulan purnama tersenyum cerah di angkasa. Tiada awan yang nampak menghalangi sinar bulan
yang lembut dan bulan yang bundar itu seperti sebuah bola emas tergantung di langit biru. Malam hening
dunia-kangouw.blogspot.com
dan sejuk sungguh pun tiada angin menggerakkan daun-daun pohon yang mengapit lorong di dalam hutan
itu. Dari celah-celah daun, sinar bulan menerobos dan menerangi lorong yang ditilami daun-daun kering
yang lunak dan agak lembab di malam itu.
Malam sudah agak larut, akan tetapi di lorong itu masih ada serombongan orang yang bergegas jalan
tanpa berkata-kata, di tengah-tengah mereka terdapat beberapa orang yang memikul tandu-tandu. Kalau
datang dari jurusan ini, lorong melalui hutan itu merupakan jalan satu-satunya yang terdekat untuk
memasuki daerah Kang-lam. Melihat orang-orang yang berjalan di depan dan di belakang rombongan
tandu itu berpakaian seragam, dan selalu siap memegang golok dan tombak, mudah sekali diduga bahwa
rombongan itu tentulah rombongan pembesar dan mereka itu tentu pasukan pengawal.
Dugaan ini memang tidak keliru karena rombongan itu adalah rombongan Jenderal Kao Liang dan
keluarganya. Setelah dipensiun dan dihentikan dari jabatannya, jenderal ini maklum bahwa dia tidak
berdaya lagi untuk bertindak sebagai jenderal, maka dia lalu mengumpulkan semua harta miliknya, dan
mengajak keluarganya untuk menlnggalkan kota raja, kembali ke tempat kelahirannya atau tempat
kampung halamannya, yaitu di daerah Kang-lam. Dia ingin mendinginkan hati dan pikirannya yang panas,
kemudian baru hendak memutuskan apa yang dapat dia lakukan untuk negara dan bangsanya dalam
keadaan seperti itu.
Tiba-tiba tirai penutup tandu yang paling depan tersingkap dan terdengarlah suara yang berat dan penuh
wibawa, yang ditujukan kepada seorang bertubuh tinggi kurus yang memakai pedang di pinggangnya, yaitu
kepala pengawal yang jumlahnya dua losin orang itu.
“Kepala pengawal! Kita berhenti sebentar di sini agar supaya para pemikul tandu dapat beristirahat.”
Kepala pengawal itu sambil masih berjalan mengiringkan tandu itu membungkuk dan berkata, nada
suaranya sungguh-sungguh, “Yang Mulia, tidakkah lebih baik kalau kita melanjutkan perjalanan sampai kita
keluar dari hutan ini baru beristirahat? Di dalam hutan begini keadaannya amat berbahaya karena bahaya
dapat muncul dari mana-mana tanpa kita ketahui, tersembunyi di balik pohon-pohon dan semak-semak,
berbeda kalau berada di tempat terbuka di mana kita dapat menghadapi ancaman bahaya secara terbuka.
Daerah ini terkenal sebagai daerah yang sering diganggu oleh penyamun-penyamun yang berkepandaian
tinggi.”
“Hemm... siapakah yang kau maksudkan dengan penyamun-penyamun berkepandaian tinggi? Mana ada
penyamun berkepandaian tinggi kalau mereka itu bukan bekas orang-orangnya Tambolon? Ataukah dari
golongan lain? Bukankah kabarnya mereka semua sudah dihalau dan dibasmi oleh Pendekar Super Sakti
dan kedua anak dan mantunya, Puteri Milana dan pendekar sakti Gak Bun Beng?”
“Paduka belum mengetahui perkembangan yang terjadi di dunia hitam selama satu dua tahun ini. Di
daerah ini pernah terjadi bentrokan-bentrokan hebat antara dua golongan hitam, yaitu golongan perampok
Gunung Cemara di sebelah selatan lembah melawan golongan bajak di timur lembah, di sepanjang Sungai
Huang-ho.”
“Hemm, sungguh menarik sekali ceritamu. Lalu bagaimana akhir pertempuran di antara mereka?” tanya
orang tua bersuara berat dan berwibawa itu yang bukan lain adalah Jenderal Kao Liang sendiri.
“Pertempuran itu hebat dan makan banyak korban di antara kedua pihak, akan tetapi setelah muncul
seorang Pendekar berambut putih yang sangat lihai dan melerai di antara mereka, pertempuran segera
berhenti dan berakhir.”
“Pendekar rambut putih? Ho-ho-ho, itulah Pendekar Super Sakti!” Jenderal Kao Liang berseru sambil
tertawa girang.
“Bukan, Yang Mulia. Bukan beliau. Pendekar itu masih sangat muda, dan kakinya utuh, tidak buntung
sebelah seperti kaki Pendekar Siluman.”
“Ehhhhh?! Bukan Pendekar Siluman?” Jenderal Kao makin terheran dan ingin sekali tahu.
“Benar, bukan Pendekar Siluman. Akan tetapi karena kepandaiannya juga hebat luar biasa seperti bukan
manusia, apa lagi rambutnya juga putih terurai bagaikan benang perak seperti rambut Pendekar Siluman,
maka orang-orang menamakan dia Pendekar Siluman Kecil.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hemm... sungguh luar biasa. Bagaimana mukanya, apakah wajahnya tampan ataukah buruk
mengerikan?”
“Itulah yang aneh, Yang Mulia. Orang tidak pernah bisa melihat wajahnya dengan jelas karena sebagian
dari mukanya tertutup oleh rambutnya yang terurai itu, dan gerakannya amat cepat saperti menghilang
saja.”
Jenderal Kao mengangguk-angguk, kemudian menarik napas panjang seperti orang termenung. “Bukan
main! Memang di dunia ini banyak orang-orang muda yang memiliki ilmu kepandaian hebat dan watak
yang aneh-aneh.”
“Benar, Tuanku. Bahkan putera sulung Paduka sendiri memiliki kepandaian yang amat hebat dan kabarnya
tidak kalah dibandingkan dengan Majikan Pulau Es, Pendekar Siluman itu sendiri.”
“Hemmm... agaknya begitulah. Akan tetapi sayang dia tidak berada di sini. Sudahlah, kau hentikan
perjalanan ini. Jangan takut, kita tetap beristirahat di sini. Sejak dahulu aku tidak pernah bermusuhan
dengan golongan sesat secara pribadi, maka perlu apa kita mengkhawatirkan gangguan mereka?”
Kepala pengawal itu tidak berani membantah lagi dan dia pun maklum akan kelihaian jenderal tua ini, apa
lagi di dalam rombongan itu terdapat pula dua orang puteranya yang biar pun tidak sepandai putera sulung
Jenderal itu, namun juga bukanlah orang-orang lemah. Selain itu, dia sendiri pun mempunyai dua losin
anak buah yang cukup kuat, maka perlu apa mereka takut beristirahat di dalam hutan ini? Dia lalu
mengangkat tangan kanan ke atas, mengeluarkan aba-aba yang cukup nyaring sehingga terdengar oleh
semua anak buahnya, “Berhentiiiii...! Kita beristirahat di sini...!”
Rombongan itu berhenti dan para pemikul tandu menjadi lega hatinya karena memang mereka sudah
merasa sangat lelah, membutuhkan peristirahatan yang cukup untuk mengumpulkan kembali tenaga
mereka. Para pengawal kemudian bergerak memenuhi perintah kepala pengawal, ada yang mencari kayukayu
kering dan ada yang membuat api unggun, ada pula yang mulai menyeduh air dan sebagian dari
mereka melakukan tugas menjaga di sekitar tempat itu. Mereka adalah pengawal-pengawal yang terlatih
dan semua bekerja sesuai dengan tugas mereka yang telah dibagi-bagi oleh kepala pengawal.
Jenderal Kao Liang lalu turun dari atas tandunya yang telah diletakkan di atas tanah. Jenderal ini usianya
sudah hampir enam puluh tahun, akan tetapi berdirinya tegak, dengan dadanya yang bidang itu menonjol
ke depan, perutnya besar akan tetapi kokoh, rambutnya sudah setengah putih, dan biar pun dia kini bukan
seorang panglima lagi, namun dari sikapnya jelas dapat dilihat bahwa dia adalah seorang yang biasa
mengatur banyak orang, memiliki wibawa dan ketegasan. Kini jenderal itu duduk di atas sebuah batu
besar. Bulan purnama yang sinarnya gemilang itu sudah berada di atas kepala, sebagian sinarnya
menerobos di antara daun-daun pohon menimpa tempat yang dijadikan peristirahatan rombongan ini.
Dua orang pemuda yang berwajah tampan dan bertubuh tinggi tegap dan bersikap gagah berdiri di
belakang bekas jenderal ini. Yang seorang berusia dua puluh satu tahun, bernama Kao Kok Tiong, putera
kedua dari jenderal itu, sedangkan pemuda yang kedua berusia delapan belas tahun, bernama Kao Kok
Han, putera ketiga atau bungsu dari Jenderal Kao Liang. Agaknya dua orang putera ini maklum pula bahwa
tempat itu mencurigakan dan berbahaya, maka mereka siap di dekat ayah mereka untuk sewaktu-waktu
membantu apa bila tenaga mereka diperlukan.
Sedangkan para keluarga wanita dan anak-anak yang ikut di dalam rombongan itu tetap berada di dalam
tandu-tandu yang dikumpulkan di tempat terbuka, di antara pohon-pohon di tengah-tengah tempat itu dan
terlindung oleh para pengawal yang melakukan penjagaan di sebelah luar tempat peristirahatan itu. Segera
api unggun bernyala besar, menerangi dan menghangatkan tempat itu, juga segera mengusir nyamuk yang
mulai beterbangan menyerang mereka.
Kepala pengawal tinggi itu menghampiri Jenderal Kao, memberi hormat dan berkata, “Karena perbekalan
air habis, saya mohon perkenan Paduka untuk mencari air bersih.”
Jenderal Kao mengangguk. “Pergilah.”
Kepala pengawal bersama lima orang anak buahnya yang membawa guci-guci tempat air segera pergi
meninggalkan tempat itu memasuki hutan untuk mencari air jernih dengan bantuan sinar bulan purnama
yang masih terang tidak terhalang awan sedikit pun. Para pengawal lainnya, sambil berjaga-jaga
dunia-kangouw.blogspot.com
melepaskan lelah dan duduk di tempat penjagaan masing-masing mengelilingi tempat itu sambil membuat
api unggun sendiri.
“Ayah, silakan minum.” Kao Kok Tiong mengeluarkan tempat airnya dan memberikan kepada ayahnya.
“Kok Han, kau lihat apakah ibumu baik-baik saja, dan beri ibumu minum dan tawarkan kalau-kalau dia
lapar dan ingin makan atau ingin sesuatu,” kata Jenderal Kao Liang sambil menerima tempat minum
puteranya yang kedua, minum beberapa teguk dan mengembalikannya kepada Kok Tiong. Sedangkan Kok
Han lalu menghampiri tandu ibunya dan kelihatan dia bicara dengan nyonya tua di dalam tandu, kemudian
pemuda ini pun memeriksa tandu-tandu lain.
Jenderal Kao Liang ditemani dua orang puteranya lalu duduk melepaskan lelah di dekat api unggun, wajah
jenderal itu muram karena dia teringat akan keadaan dirinya. Negara sedang kacau, terjadi perpecahan
dan pertentangan di antara para kaki tangan pemerintah. Dan dia, yang sesungguhnya amat dibutuhkan di
saat negara menghadapi bayangan ancaman pemberontakan, dia malah dihentikan!
Dia mengerti bahwa penghentiannya itu adalah fitnah atau hasil bujukan mulut beracun kepada kaisar.
Akan tetapi kaisar sendiri yang memutuskan itu, tentu saja dia tidak berdaya dan tidak berani atau lebih
tepat, tidak mau membantah. Dia adalah seorang jenderal yang setia, yang selalu rela mempertaruhkan
jiwa raganya demi negara. Maka baginya, kehilangan kedudukan itu bukan apa-apa.
Dia sama sekali tidak mementingkan diri pribadi, akan tetapi dia merasa prihatin melihat betapa kedudukan
kerajaan amat lemah dan bahaya mengancam dari setiap penjuru. Jenderal Kao Liang mengepal tinjunya
yang besar dan keras. Biar pun dia sudah bukan panglima lagi, akan tetapi dia tidak akan membiarkan
para pengkhianat memberontak. Kalau terjadi hal itu, dia pasti akan membantu negara dan akan
membersihkan para pemberontak! Demikian tekad hatinya.
Akan tetapi dia harus menyelamatkan keluarganya dulu, membawa mereka ke kampung halamannya di
mana mereka akan hidup tenteram. Setelah itu, dia akan bebas berbuat apa saja, dan dia akan selalu
mengikuti perkembangan yang terjadi di kota raja.
“Ayah, sungguh mengherankan sekali, mengapa Cio-ciangkun belum juga kembali dari mencari air,” tibatiba
Kok Tiong berkata dan memandang ke kanan kiri dengan alis berkerut karena pemuda ini merasa tidak
enak hati. Sudah hampir setengah jam kepala pengawal she Cio itu pergi mencari air bersama lima orang
anak buahnya, namun belum juga kembali.
“Mungkin sukar mencari air di sini,” kata Jenderal Kao Liang.
“Akan tetapi, belum lama tadi rombongan kita melewati sebuah sumber air, dan untuk pergi mengambil air
ke sana makan waktu sebentar saja,” bantah Kok Tlong.
“Hemmm, kalau begitu suruh wakilnya pergi menyusu!”
Kok Tiong lalu mencari wakil kepala pengawal dan wakil ini segera mengajak dua orang anak buahnya
untuk pergi menyusul atau mencari komandan Cio yang sejak tadi pergi mencari air. Kok Tiong yang sudah
mulai bercuriga itu menanti dengan hati tegang. Sampai setengah jam kemudian, wakil itu pun belum juga
kembali, demikian pula Cio ciangkun belum juga kembali.
“Ayah, saya khawatir terjadi sesuatu dengan mereka,” Kok Tiong berkata dan sekarang Jenderal Kao juga
mulai merasa curiga. “Biar saya pergi membawa pasukan pengawal untuk mencari mereka.”
Jenderal Kao Liang mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala. “Jangan! Kalau benar ada terjadi
sesuatu yang tidak beres, jelas bahwa pihak sana hendak memecah belah kita. Agaknya selagi kita
bersatu mereka tidak berani turun tangan, maka kalau kau pergi membawa pasukan, berarti siasat mereka
untuk memecah kekuatan kita berhasil.”
Kok Tiong mengangguk-angguk, diam-diam kagum akan kecepatan pikiran ayahnya dalam menghadapi
keadaan yang mencurigakan itu. “Lalu bagaimana baiknya, Ayah? Ibu juga sudah menaruh curiga dan tadi
sudah beberapa kali menanyakan mengapa pengawal-pengawal yang pergi mencari air belum juga
kembali.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Sebaiknya kita melanjutkan perjalanan saja, selain untuk keluar dari hutan ini, juga agar ibumu tidak
menjadi gelisah. Siapkan semua pasukan pengawal, dan kau wakili Cio-ciangkun.”
Kok Tiong, dibantu oleh Kok Han adiknya, cepat melakukan perintah ayahnya dan tak lama kemudian
berangkatlah rombongan itu dikawal oleh pasukan pengawal yang kini berkurang dengan sembilan orang
jumlahnya.
Malam sudah agak larut, sudah hampir tengah malam, bulan sudah berada di atas kepala dan tak lama
kemudian rombongan ini sudah mulai tiba di pinggir hutan karena pohon-pohon sudah mulai jarang. Cuaca
semakin terang karena pohon-pohon tidak sebanyak tadi, dan kanan kiri lorong tidak selebat tadi. Akan
tetapi karena peristiwa menghilangnya sembilan orang itu membuat semua orang merasa curiga dan
tegang, mereka melakukan perjalanan dengan diam-diam dan suasana menjadi sunyi bukan main, yang
terdengar hanya daun-daun kering terinjak kaki dan napas pemikul tandu.
Tiba-tiba semua orang terkejut dan Jenderal Kao cepat membuka tirai tandunya dan mengulurkan tangan
ke luar sambli berseru, “Berhenti...!”
Tanpa komando sekali pun, semua orang memang sudah berhenti dengan kaget karena mereka semua
mendengar suara hiruk-pikuk, teriakan-teriakan bising seperti suara banyak orang sedang bertempur di
luar hutan itu. Jenderal Kao Liang sudah meloncat ke luar dari tandunya dan memberi isyarat dengan
tangan agar semua pasukan pengawal berkumpul, mengelilingi tandu-tandu yang dikumpulkan di situ dan
siap siaga.
Semua pengawal mencabut golok masing-masing dan berjaga-jaga dengan hati pe-nuh ketegangan. Akan
tetapi tentu saja mereka tidak merasa takut, karena di situ terdapat Jendera Kao Liang dan dua orang
puteranya. Bagi para pengawal itu, jauh lebih baik langsung menghadapi musuh dari pada keadaan penuh
rahasia seperti lenyapnya sembilan orang kawan mereka tadi.
“Ayah, biar saya pergi menyelidiki.” kata Kok Tiong.
“Saya akan menemani Tiong-ko,” kata pula Kok Han.
Jenderal Kao Liang menggeleng kepalanya. “Jangan, kita tunggu saja di sini. Kita sudah kehilangan
sembilan orang pembantu, sebaiknya kita bersatu menghadapi musuh. Biarkan mereka menyerang, kita
siap saja menyambut, akan tetapi lebih dulu biar aku yang bicara dengan pemimpin musuh.”
Kedua orang pemuda itu tidak membantah, akan tetapi menanti di situ sambil terus mendengarkan. Suara
pertempuran yang tidak kelihatan itu menegangkan hati juga. Di dalam hati Jenderal Kao Liang sendiri,
timbul berbagai pertanyaan. Dia merasa yakin bahwa pertempuran yang terjadi di luar hutan itu tentu ada
hubungannya dengan lenyapnya Cio-ciangkun dan delapan orang anak buahnya, akan tetapi apa yang
terjadi sesungguhnya dia tidak dapat memastikan. Apakah pertempuran di luar hutan itu hanya merupakan
pancingan belaka? Apakah memang ada golongan hitam yang mengincar rombongannya?
Sebagai seorang bekas panglima besar yang pensiun dan kini menuju ke kampung halamannya, tentu saja
rombongannya membawa harta benda yang cukup banyak. Mungkin saja ada golongan hitam yang
memang mengincar dan hendak merampas harta yang dibawa rombongannya. Ataukah Cio ciangkun dan
para anak buahnya yang menghilang itu mungkin berkhianat dan bersekongkol dengan golongan hitam?
Mereka itu telah menjadi korban dan tewas oleh golongan hitam, ataukah malah diam-diam bersekongkol
dengan mereka? Dan siapa yang bertempur di luar hutan itu?
Tiba-tiba saja, seperti ketika terdengar tadi, suara hiruk-pikuk pertempuran itu berhenti. Berhenti sama
sekali dan tidak terdengar suara sedikit pun. Suasana kembali menjadi sunyi. Bahkan terasa jauh lebih
sunyi dari pada tadi sebelum ada suara pertempuran. Kini sunyi yang menyeramkan. Beberapa orang
pengawal menggigil, sebagian karena dingin hawa malam itu, sebagian besar pula karena merasa seram.
Memang amat menyeramkan kesunyian tiba-tiba itu setelah tadi mereka dicekam ketegangan suara
pertempuran di luar hutan.
Jenderal Kao menanti sejenak, khawatir kalau-kalau pihak musuh memang sengaja memancing dan
hendak menjebak. Akan tetapi sampai lama tidak terdengar suara apa pun dan sekarang daun-daun mulai
berkelisik karena mulai tengah malam itu angin menggugah daun-daun pohon yang tadinya tidur.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah ternyata benar-benar tidak terdengar lagi suara, Jenderal Kao lalu memanggil Kok Han, puteranya
yang bungsu, “Kok Han, kau bawalah sepuluh orang prajurit pengawal dan selidiki di luar hutan depan itu.
Akan tetapi jangan melibatkan diri dalam pertempuran. Kalau ada penyerangan, tarik kembali pasukanmu
ke sini.”
“Baik, Ayah.” Kok Han lalu mengajak sepuluh orang pengawal, berindap keluar dari tempat itu menuju ke
tempat dari mana tadi terdengar suara pertempuran, yaitu di sebelah depan. Jenderal Kao Liang tidak
mengutus puteranya yang leblh besar karena penjagaan di situ lebih penting diperkuat dari pada
rombongan penyelidik itu.
Kao Kok Han membawa sepuluh orang pengawal keluar dari hutan dan tidak lama kemudian sampailah dia
di tempat pertempuran tadi, di luar hutan. Akan tetapi tidak kelihatan seorang pun manusia di situ. Yang
ada hanya bekas-bekas pertempuran yang agaknya memang hebat dan seru. Beberapa batang pohon
roboh dan darah berceceran di mana-mana, akan tetapi tidak ada sebuah pun mayat tampak di situ.
Sungguh sangat mengherankan sekali, seolah-olah yang melakukan pertempuran tadi bukan manusia,
melainkan setan-setan dan siluman-siluman penghuni hutan dan yang kini semua telah menghilang
kembali.
Setelah memeriksa dengan teliti, Kok Han lalu mengajak pasukan kecil itu kembali ke dalam hutan
menghadap ayahnya. Jenderal Kao Liang juga merasa terheran-heran mendengar pelaporan puteranya itu.
“Tidak ada mayat sebuah pun? Jangan-jangan itu hanya pancingan dan jebakan,” kata Jenderal Kao Liang
sangsi.
“Akan tetapi jelas ada tanda-tanda bekas pertempuran hebat, Ayah,” Kok Han berkata. “Darah berceceran
di mana-mana dan senjata-senjata golok dan pedang berserakan di sekitar tempat itu, bahkan ada pohonpohon
yang tumbang. Melihat bekas-bekasnya, tentu itu merupakan hasil kerja seorang yang memiliki ilmu
kepandaian hebat.”
Suasana menjadi makin tegang, akan tetapi Jenderal Kao Liang segera menghentikan dugaan-dugaan di
dalam hati semua pengawal itu dengan kata-kata yang nyaring dan tegas, “Apa pun yang terjadi, harap
tenang dan menanti komando. Sekarang kita melanjutkan perjalanan, tidak perlu tergesa-gesa dan semua
pengawal harap waspada dan siap siaga.”
Rombongan bergerak lagi dan sekarang Jenderal Kao Liang sendiri tidak naik tandu melainkan ikut
berjalan kaki, bahkan berada di bagian paling depan bersama Kao Kok Han, sedangkan Kao Kok Tiong
menjaga di bagian belakang melindungi rombongan itu.
Tidak terjadi sesuatu sampai rombongan ini tiba di tempat pertempuran yang tadi telah diselidiki oleh Kok
Han. Jenderal Kao Liang yang mengkhawatirkan adanya jebakan, mengangkat tangannya dan rombongan
itu pun berhenti lagi. Tempat pertempuran ini sudah berada di luar hutan, di tempat terbuka sehingga dapat
menampung sinar bulan sepenuhnya. Semua orang memandang ke kanan kiri ke arah batang-batang
pohon dan semak-semak belukar, semua mata terbelalak mencari-cari sesuatu, semua telinga
memperhatikan setiap suara yang mungkin terdengar.
Tiba-tiba semua orang menengok ke kiri karena mereka mendengar sesuatu. Juga para wanita dan anakanak
yang menyingkap tirai tandu mengintai, menengok ke kiri dan terdengarlah jerit-jerit tertahan dari para
wanita dan anak-anak itu ketika mereka melihat seorang yang berlumuran darah merangkak keluar dari
semak-semak!
“Dia... dia... Hun Kai...!” Tiba-tiba seorang di antara para pengawal berseru ketika dia mengenal wajah
yang berlumuran darah itu.
Jenderal Kao yang kini juga mengenal seorang di antara para pengawal yang lenyap tadi, cepat
memandang penuh selidik ke arah belakang orang itu, kemudian dengan langkah lebar dia menghampiri
orang yang sudah terguling di atas rumput itu, lalu dia berjongkok dan bertanya, “Apa yang telah terjadi?”
“...Yang Mulia... hati-hatilah... ada... seorang akan... membunuh seluruh... rombongan... i... ni...
aughhhh...!” Dia terkulai dan tewas di saat itu juga.
dunia-kangouw.blogspot.com
Semua orang mendengar ucapan itu dan banyak wajah menjadi pucat seketika. Para wanita menjadi panik
dan memeluk anak-anak mereka, para pengawal dengan geram memutar tubuh memandang keempat
penjuru.
Jenderal Kao Liang berdiri dan berkata, suaranya lantang, “Jangan takut dan panik. Tenanglah! Apa pun
yang terjadi, kita masih hidup dan selamat, dan tidak seekor setan pun yang akan dapat dengan mudah
membunuh kita selama aku masih berdiri di sini!”
Jelas bahwa jenderal tua ini menjadi marah sekali dan dia menduga bahwa semua pengawal tadi tentu
tewas. Sayang bahwa pengawal yang bemama Hun Kai itu tewas sebelum dapat menceritakan dengan
jelas apa yang terjadi.
“Paman... Paman Hun Kai... ceritakanlah, di mana adanya teman-teman yang lain?” Kok Han
mengguncang-guncang tubuh pengawal itu, berusaha untuk menyadarkannya agar pengawal itu dapat
menceritakan sejelasnya. Tetapi tubuh yang diguncang-guncang itu terkulai lemas dan tidak dapat
memberi jawaban.
“Sudah, Kok Han, tidak ada gunanya lagi. Dia sudah mati,” kata Jenderal Kao Liang. “Hayo cepat gali
lubang kuburan untuk dia!” perintahnya.
Kini para pengawal cepat menggali lubang kemudian mengubur mayat itu. Setelah itu, Jenderal Kao Liang
memerintahkan agar rombongan cepat melanjutkan perjalanan. Kini jumlah pengawal hanya tinggal enam
belas orang saja, dipimpin sendiri oleh Jenderal Kao Liang dan dua orang puteranya.
Ada pun jumlah tandu semuanya ada enam buah yang memuat isteri dari Jenderal Kao Liang, isteri dari
Kao Kok Tiong, bibinya, yaitu adik perempuan Nyonya Jenderal yang sudah menjadi janda bersama dua
orang anaknya, laki-laki dan perempuan yang sudah remaja, kemudian dua orang anak Kok Tiong sendiri,
dan dua orang inang pengasuh perempuan. Tandu bekas tempat Jenderal Kao Liang dibiarkan kosong dan
masih terus dipikul oleh dua orang pemikul tandu. Jadi bersama dengan enam belas orang pengawal,
masih ada dua puluh empat orang pemikul tandu karena tandu-tandu yang memuat orang dipikul oleh
empat orang.
Setelah malam lewat tanpa terjadi sesuatu kejadian pun, Jenderal Kao memerintahkan rombongannya
berhenti di kaki bukit untuk beristirahat dan menggunakan kesempatan itu untuk tidur secara bergiliran.
Sampai matahari naik tinggi mereka mengaso dan setelah mereka semua makan, perjalanan dilanjutkan
dengan mendaki bukit yang cukup sukar. Lorong kecil pendakian itu diapit-apit tebing tinggi dan batu kapur.
Ketika rombongan membelok di atas lorong yang tertutup tebing tinggi di kedua tepinya itu, merupakan
tempat yang sangat berbahaya, mendadak mereka berhenti lagi dan suasana mulai tegang. Lorong itu
tertutup oleh sebatang balok besar sekali yang melintang di jalan!
Kembali hati mereka menjadi tegang karena jelaslah bahwa balok besar itu tak mungkin bisa berada di situ
tanpa ada yang menaruhnya, dan melihat balok itu melintang menghalang jalan, jelaslah bahwa itu tentu
perbuatan mereka yang hendak menentang rombongan atau setidaknya mempunyai niat buruk. Jelas
bahwa gerombolan orang jahat telah mulai memperlihatkan gerakan dan tentu sebentar lagi akan muncul.
Semua orang siap siaga dan Jenderal Kao Liang sendiri sudah meraba gagang pedangnya. bahkan Kok
Tiong dan Kok Han sudah mencabut pedang masing-masing dan berdri di kanan kiri ayah mereka.
Akan tetapi, semua ketegangan urat syaraf itu temyata sia-sia belaka, karena ditunggu sampai lama sekali,
tidak ada terjadi sesuatu. Sampai capai rasanya mata mereka karena jarang berkedip memandang ke
kanan kiri, depan belakang dan atas bawah, namun tidak terdengar sesuatu dan tidak nampak sesuatu
yang bergerak. Hati mereka menjadi kesal juga, akan tetapi diam-diam mereka bersyukur bahwa tidak ada
musuh datang menyerbu. Karena kalau hal itu terjadi, sungguh amat berbahaya.
Tempat itu sangat berbahaya dan tidak menguntungkan bagi mereka untuk menghadapi musuh. Berada di
lorong yang diapit-apit dinding batu tinggi terjal itu, mereka amat lemah dan andai kata ada beberapa orang
musuh melempar-lemparkan batu dari atas tebing, mereka akan tak berdaya dan akan terkubur hiduphidup.
Setelah jelas ternyata bahwa di sekitar tempat itu tidak ada orang, dan tidak ada tanda-tanda bahwa ada
musuh akan menyerbu, Jenderal Kao Liang segera memerintahkan sepuluh orang pemikul joli yang
bertubuh kuat-kuat untuk menyingkirkan balok besar yang melintang di tengah jalan itu. Pekerjaan itu
dunia-kangouw.blogspot.com
dilakukan tanpa ada kesukaran apa-apa, dan karena tidak ada tempat untuk membuang balok itu, maka
sepuluh orang tukang pikul tandu itu lalu meletakkan balok perintang itu di tepi lorong. Kemudian
rombongan itu melanjutkan perjalanan dengan hati-hati.
Akan tetapi belum ada sepuluh langkah mereka bergerak, tiba-tiba dua orang pemikul tandu kosong
berteriak aneh dan roboh, disusul oleh teriakan-teriakan delapan orang pemikul tandu lain yang juga
terguling roboh dan menyebabkan orang-orang yang naik tandu itu pun berteriak-teriak kaget dan
kesakitan. Jenderal Kao Liang cepat meloncat mendekati dan dengan mata melotot dia melihat betapa
sepuluh orang ini adalah sepuluh orang yang tadi menyingkirkan balok besar. Kini tangan mereka membengkak,
tubuh mereka kejang dan berkelojotan, tak lama kemudian mereka itu terkulai mati dengan tubuh
di jalari warna hitam dari tangan sampai ke muka mereka.
“Jangan pegang...!” Jenderal Kao membentak kepada para pengawal, pemikul tandu, dan dua orang
puteranya ketika mereka ini mendekat. “Mereka keracunan!”
Keadaan menjadi makin panik dan dua orang putera jenderal itu segera menolong dua orang inang
pengasuh yang tandunya terbalik. Kemudian dengan muka merah padam saking marahnya, Jenderal Kao
Liang mengajak dua orang puteranya untuk naik ke atas tebing. Jenderal yang sudah tua itu masih gagah
sekali dan dengan mudahnya dia mendaki tebing yang amat terjal itu, diikuti oleh Kok Tiong dan Kok Han
yang harus mengerahkan ginkang mereka untuk dapat mengikuti ayahnya mendaki tempat yang amat
berbahaya itu. Gerakan mereka cepat dan gesit, dan mereka itu terus mendaki naik, diikuti oleh pandangan
mata mereka yang merasa gelisah dan tegang dari bawah.
Setelah tiba di atas tebing di bukit itu, Jenderal Kao Liang dan putera-puteranya melihat ke kanan kiri dan
tampaklah oleh mereka seorang laki-laki yang kelihatan masih muda sedang duduk di atas sebongkah batu
besar, membelakangi mereka, tidak jauh dari tempat itu dan mereka mendengar betapa laki-laki yang
masih muda itu sedang bersenandung, senandung yang terdengar menyedihkan seperti orang berkeluhkesah,
sambil berdongak memandang awan berarak di angkasa.
Karena di tempat itu sunyi tidak ada orang lain kecuali orang muda yang ber-senandung itu, Jenderal Kao
Liang tidak merasa syak lagi bahwa tentu inilah orangnya yang mengganggu rombongannya, maka dia lalu
cepat menghampiri, diikuti oleh Kok Tiong dan Kok Han. Akan tetapi agaknya orang itu merasa atau
mendengar kedatangan mereka. Dia menoleh sehingga nampak separuh mukanya, kemudian orang itu
bangkit, menghentikan senandungnya dan melangkah perlahan menjauhkan diri. Tentu saja Jenderal Kao
dan dua orang puteranya meloncat dan cepat melakukan pengejaran. Mereka bertiga menggunakan ilmu
berlari cepat untuk mengejar dan menangkap orang itu.
Tetapi, sungguh aneh bukan main! Kelihatannya saja orang itu melangkah perlahan-lahan, akan tetapi
mereka bertiga tidak pernah dapat mendekatinya. Hal ini membuat Jenderal Kao menjadi penasaran sekali,
penasaran dan marah. Tahulah dia bahwa pasti orang itu yang mengganggunya, atau setidaknya tentu
merupakan seorang di antara gerombolan yang mengganggu rombongannya. Maka dia mempercepat
larinya mengejar dengan geram.
Akan tetapi, begitu jarak mereka mulai berdekatan dan mereka mulai dapat menyusul, tiba-tiba orang itu
menggerakkan tubuhnya dan sebuah loncatan yang mentakjubkan hati Jenderal Kao dilakukan orang itu.
Tubuhnya melayang bagaikan seekor burung terbang melayang saja dan sekali melompat sudah
meninggalkan mereka, kemudian berjalan lagi dengan tenangnya.
Orang itu naik turun tebing dan akhirnya lenyap ke dalam hutan di depan. Jenderal Kao Liang terkejut
bukan main. Kalau dikehendaki, orang itu dengan mudah saja dapat melenyapkan diri sejak tadi, akan
tetapi kenapa agaknya sengaja memancing mereka untuk mengikuti sampai jauh? Celaka, tentu ini
pancingan yang dalam ilmu perang disebut ‘memancing harimau meninggalkan sarangnya’. Dia dan dua
orang puteranya sengaja dipancing meninggalkan rombongannya yang kini hanya dilindungi oleh para
pengawal yang sudah kehilangan pemimpinnya.
“Cukup! Tidak perlu mengejar terus. Mari kita cepat-cepat kembali!” Jenderal Kao Liang yang merasa
curiga dan khawatir itu berkata kepada dua orang puteranya.
Mereka bergegas kembali ke tempat tadi, di mana rombongan mereka tadi mereka tinggalkan. Ketika
mereka akhirnya dapat menuruni tebing terjal dan tiba di tempat tadi, dari atas jantung mereka sudah
berdebar keras penuh kekhawatiran dan ketegangan. Setelah tiba di tempat itu, Jenderal Kao Liang
memandang dengan mata terbelalak dan kedua tangannya mengepal tinju, kumis dan jenggotnya seakandunia-
kangouw.blogspot.com
akan berdiri saking marahnya. Kedua orang puteranya juga terbelalak, menoleh ke kanan kiri, kemudian
memandang kepada ayah mereka dengan sinar mata bingung dan gelisah.
Betapa mereka tidak akan bingung dan gelisah? Semua tandu telah lenyap dari situ, tandu-tandu yang
membuat Nyonya Kao Liang, Nyonya Kao Kok Tiong, bibi mereka, anak-anak Kok Tiong, anak-anak bibi
mereka, dan dua inang pengasuh, serta harta benda mereka semua telah lenyap. Dan di tempat itu
menggeletak berserakan mayat-mayat para pengawal mereka, dan para tukang pikul tandu-tandu itu.
Tiada seorang pun di antara mereka itu yang masih hidup, semua telah tewas dalam keadaan mengerikan!
“Keparat...! Bedebah...!” Jenderal Kao Liang memaki-maki, kemudian dia menjambak rambutnya sendiri
penuh penyesalan. “Bodoh kau! Tolol kau!” Dia memaki diri sendiri, kemudian menjatuhkan dirinya di atas
tanah sambil bertopang dagu.
Betapa dia tak akan menyesal? Jenderal Kao Liang telah berpuluh tahun berkecimpung di dalam bidang
kemiliteran, entah sudah berapa ratus kali menghadapi lawan-lawan tangguh dan lihai, sudah biasa
bersiasat dan mengadu kepintaran dengan pihak lawan. Dia merupakan seorang ahli siasat yang biasa
mengatur puluhan, bahkan ratusan ribu prajurit di medan perang. Dia ditakuti dan disegani oleh musuhnya
di medan perang karena kemahirannya bersiasat.
Namun kini menghadapi perjalanan rombongan keluarganya, menghadapi gangguan seperti itu saja, dia
telah dibuat terkecoh dan dipermainkan orang secara habis-habisan sampai seluruh anak buah
pengawalnya tewas dan semua anggota keluarganya diculik orang, semua harta benda yang dibawanya
dicuri orang. Dan dia tidak tahu bagaimana hal itu dilakukan, tidak tahu pula siapa yang melakukannya dan
ke mana keluarganya dibawa pergi. Sungguh memalukan dan menggemaskan sekali!
“Ayah...!” Tiba-tiba terdengar Kok Han memanggilnya.
Jenderal Kao menoleh dan dia melihat puteranya yang bungsu itu sedang jongkok di depan sesosok di
antara mayat-mayat yang berserakan di situ. Melihat sikap puteranya, dan kini Kok Tiong juga lari
menghampiri adiknya, Jenderal Kao kemudian bangkit dan menghampiri tempat itu.
Jenderal Kao Liang juga terheran-heran ketika dia melihat mayat yang ditunjuk oleh puteranya itu. Mayat
seorang wanita! Bukan anggota keluarganya, dan tentu saja bukan seorang di antara para pengawal.
Mayat wanita yang menindih seorang laki-laki, kedua tangan wanita itu mencekik leher laki-laki itu,
sedemikian hebatnya sampai kuku-kuku tangan wanita itu terbenam ke dalam leher! Akan tetapi, tangan
laki-laki itu memegang golok kecil. Agaknya saat wanita itu mencekiknya, laki-laki itu berhasil
menghujamkan golok kecil itu ke lambung si wanita sampai masuk dalam sekali. Terang bahwa mereka
tadi bertempur dan keduanya tewas dalam pertempuran ini.
“Sungguh aneh...” Jenderal Kao Liang berkata. “Aku tidak pernah melihat wanita ini... dan entah siapa pula
laki-laki di bawahnya itu.”
Dengan ujung sepatunya, Jenderal Kao Liang membalikkan tubuh wanita itu sehingga terpisah dari mayat
laki-laki yang ditindihnya. Tampaklah kini seorang laki-laki yang berpakaian seperti seorang petani,
seorang yang usianya sudah lima puluh tahun lebih, gagah perkasa dan bertubuh kokoh kuat, sedangkan
wanita itu berwajah kejam dan usianya sudah tiga puluh tahun lebih.
“Heee! Bukankah dia ini... seperti... seperti Hok-ciangkun!” Tiba-tiba Kok Tiong berseru heran.
Jenderal Kao Liang mengangguk. “Aneh sekali! Dia memang Hok-ciangkun, pengawal istana kepercayaan
Kaisar. Kenapa dia sampai berada di sini? Siapa pula wanita ini? Terang bahwa dia berkelahi dengan Hokciangkun,
akan tetapi kenapa? Dan mengapa pula Hok-ciangkun berpakaian menyamar seperti petani?”
Jenderal Kao dan dua orang puteranya menjadi bingung. Siapakah orang-orang yang telah memusuhi
mereka? Kenapa mereka membunuh para pengawal dan menculik wanita-wanita dan anak-anak? Dan
mengapa pula agaknya terjadi perkelahian antara mereka sendiri? Jenderal Kao dan dua orang puteranya
lalu mulai memeriksa dan makin heranlah mereka bertiga ketika melihat bahwa ternyata di antara mayatmayat
itu terdapat pula mayat-mayat yang tidak mereka kenal di antara tumpukan mayat-mayat pengawal
mereka sendiri dan tukang-tukang pikul tandu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kita harus mencari keluarga kita!” Jenderal Kao mengepal tinju. “Aku harus bisa berhadapan dengan
pengecut-pengecut itu!” Dia marah sekali, akan tetapi ke mana dia harus mencari? Lorong itu berbatu
hingga sukar mencari jejak mereka yang membawa pergi tandu-tandu itu.
“Apa ini...?” Jenderal Kao Liang membungkuk dan dengan hati-hati memeriksa sebuah benda putih
mangkilap yang terletak di dekat mayat si wanita tadi.
Teringat akan racun hebat yang agaknya dilumurkan pada balok, Jenderal Kao Liang memeriksa dengan
teliti sebelum mengambilnya. Setelah yakin bahwa benda itu tidak beracun, dia mengambil dan mengamatamatinya.
Benda itu bentuknya bulat seperti sebuah lencana. Di tengah-tengahnya terlukis seekor burung garuda
berwarna hitam sedang mementang sayap dan di bawah gambaran burung itu terdapat dua buah huruf
yang berbunyi ‘BHOK TIN’ (Pasukan Kayu). Lencana itu sangat indah buatannya, dari perak murni. Milik
siapakah lencana ini? Wanita itukah? Apa artinya lencana ini?
Jenderal Kao tidak dapat memecahkan rahasia ini dan dia mengantongi lencana perak itu, lalu berkata
kepada kedua orang puteranya yang tentu saja merasa bingung dan berduka sekali, “Mari kita berusaha
mencari mereka!”
Dua orang muda itu hanya mengangguk lesu dan mereka segera berjalan cepat untuk ke luar dari jalan
bertebing tinggi itu. Akan tetapi ketika mereka tiba di jalan tikungan dan sudah ke luar dari lorong bertebing,
mereka dikejutkan oleh penglihatan yang mengerikan. Di jalan itu bertebaran mayat-mayat orang yang
memenuhi jalan, banyak sekali jumlahnya, kurang lebih ada seratus buah mayat! Seperti dalam perang
kecil saja.
Jenderal Kao berhenti dan memandang ke sekeliling dan alisnya yang tebal itu berkerut. Dia tidak merasa
ngeri melihat ini. Sudah biasa dia menyaksikan pemandangan seperti ini di medan perang, bahkan pernah
melihat puluhan ribu mayat berserakan. Akan tetapi rasa hatinya tidak seperti sekali ini karena sekarang
keluarganya yang langsung terlibat.
Mereka kemudian memeriksa mayat-mayat itu dan di antara mayat-mayat itu terdapat beberapa mayat
wanita yang memakai seragam hitam dengan gambar cacahan (tatoo) berbentuk burung garuda di telapak
tangan mereka.
“Heiii! Ini seperti penjaga gardu di depan gerbang istana!” teriak Kok Tiong sambil menuding sebuah mayat
yang menggeletak miring dengan kepala pecah. ”Dan ini juga! Itu ada pula pengawal Hok-ciangkun!”
“Jelaslah sudah bahwa ada pasukan pengawal istana bertempur di sini. Akan tetapi mengapa pasukan
pengawal istana berkeliaran di sini? Apakah tugas mereka? Dan sungguh aneh, kenapa mereka tak
memakai pakaian seragam dan menyamar sebagai orang-orang biasa? Peristiwa apakah yang
menyebabkan Kaisar harus mengerahkan pasukan-pasukan pengawal istana ke tempat ini?” Jenderal Kao
berkata perlahan bagai bertanya-tanya pada diri sendiri, sedangkan dua orang puteranya juga ikut
memikirkan pertanyaan ayahnya itu.
Sungguh pun mereka tidak dapat mencari alasan-alasan dan sebab-sebabnya, akan tetapi di dalam hati
mereka timbul dugaan bahwa adanya pasukan-pasukan pengawal istana di tempat itu tentu ada
hubungannya dengan berangkatnya rombongan keluarga mereka meninggalkan kota raja menuju ke
kampung halaman mereka.
Suasana tempat itu sungguh mengerikan. Matahari sudah condong ke barat, beberapa saat lagi senja akan
tiba. Mereka bertiga duduk kecapaian di atas batu di antara mayat-mayat yang berserakan. Mereka merasa
lelah sekali, lelah lahir batin dikarenakan menghadapi misteri yang tak dapat mereka pecahkan. Keanehankeanehan
yang terjadi bertubi-tubi ditambah lenyapnya keluarga mereka membuat pikiran Jenderal Kao
Liang yang biasa tenang dan cerdik itu menjadi keruh.
Jenderal yang gagah perkasa itu tiba-tiba terlihat lebih tua sepuluh tahun dari keadaan biasanya karena
tekanan batin yang hebat, karena kekhawatiran akan keselamatan isteri dan keluarganya. Ingin mereka itu
mengejar dan kalau perlu berkelahi mati-matian untuk melindungi keluarga mereka, akan tetapi mereka
tidak tahu harus mencari ke mana. Mereka tidak tahu siapa penculiknya, di mana tempatnya, bahkan tidak
tahu pula mengapa keluarga mereka diculik. Kalau mereka itu menghendaki harta benda, tentu hanya
harta benda saja yang dirampas, tidak perlu menculik keluarga mereka. Kalau mereka itu musuh yang
dunia-kangouw.blogspot.com
mendendam, tentu keluarga mereka sudah dibunuh seperti halnya para pengawal, dan tidak diculik seperti
sekarang ini.
Mungkinkah pemuda aneh yang lihai dan yang bersenandung sedih itu yang melakukan penculikan? Ahhh,
tidak mungkin. Karena itu mereka bertiga cepat-cepat menghentikan pengejaran dan kembali ke tempat
rombongan. Kalau bukan pemuda itu, lalu siapa?
Apakah wanita-wanita yang bertanda cacahan burung garuda di tangan mereka? Akan tetapi mereka itu
agaknya bertempur mati-matian dengan rombongan Hok-ciangkun, pasukan pengawal istana yang
menyamar itu. Apakah anak buah si pemuda lihai? Mungkin begitu, dan kalau begitu agaknya ada tiga
rombongan bertindak pada waktu itu. Demikianlah Jenderal Kao memutar-mutar otaknya yang sudah
penat. Akan tetapi tetap saja dia tidak dapat menemukan jawaban atas pertanyaan di benaknya yang
bertubi-tubi.
Suasana menjadi sunyi sepi, dan menjadi kebalikan dari pikiran mereka yang ramai dengan pertanyaanpertanyaan
dan dugaan-dugaan yang menggelisahkan. Tiba-tiba terdengar suara suling mengalun
memecah kesunyian dan menghentikan lamunan mereka yang penuh kegelisahan itu.
Suara suling itu menggetar-getar halus, penuh perasaan, dan suara suling seperti itu hanya dapat ditiup
oleh peniup yang mencurahkan seluruh perasaan hatinya terhadap tiupannya. Hawa yang keluar dari
mulutnya agaknya langsung keluar dari hatinya sehingga ketika menyelinap di dalam tabung bambu suling
itu mencipta suara yang mengalun penuh perasaan, melagukan irama lagu sedih, lagu seorang yang patah
hati, gagal dalam asmara, atau seorang yang merasa kerinduan hebat terhadap seorang kekasih yang
pergi meninggalkannya.
Tentu saja jiwa dari lagu ini terasa oleh Jenderal Kao Liang dan kedua orang puteranya yang sedang
merana ditinggalkan oleh keluarga mereka yang tidak mereka ketahui bagaimana nasibnya, ditinggalkan
oleh orang-orang yang mereka kasihi. Terutama sekali Kok Tiong yang teringat kepada isteri dan dua
orang anaknya yang masih kecil sehingga orang muda ini cepat membuang muka membelakangi ayahnya
agar Si Ayah tidak sampai melihat dua titik air mata.
Di antara pengaruh suara suling yang ditiup penuh perasaan itu, Jenderal Kao Liang segera cepat
menyadari keadaan. Lagu yang ditiup suling itu adalah lagu sedih, kiranya mudah diduga siapa peniupnya.
Siapa lagi kalau bukan pemuda yang tadi pun bersenandung lagu sedih? Tentu Si Pemuda lihai tadi. Dan
siapa tahu, boleh jadi pemuda itu yang menjadi biang keladi semua peristiwa ini, atau setidaknya, pemuda
aneh itu tentu tahu-menahu akan peristiwa yang menimpa keluarganya ini.
Dengan muka merah dan mengepal tinjunya, Jenderal Kao Liang bangkit berdiri lalu melangkah pergi
dengan cepat menuju ke arah suara suling diikuti oleh dua orang puteranya yang sudah mencabut pedang
masing-masing. Akan tetapi sungguh aneh, suara suling itu amat luar biasa, begitu didekati seolah-olah
berpindah tempat. Mereka bertiga terus mengejar, akan tetapi mereka berputaran dan belum juga dapat
melihat pemain atau peniupnya. Setelah berputaran sampai beberapa kali, akhirnya Jenderal Kao Liang
menjadi naik darah, sungguh pun dia masih dapat menahan kemarahannya. Akan tetapi Kok Han yang
masih muda belia itu tak dapat menahan kemarahannya dan berteriaklah dia menantang, sungguh pun dia
tahu pula betapa lihai si peniup suling itu.
“Heeeiiiii...! Keluarlah engkau peniup suling sialan! Jangan main sembunyi-sembunyi kalau engkau
memang jantan! Ayo, keluarlah dan lawanlah aku, engkau akan mampus kalau tidak kau kembalikan
keluarga kami!”
“Sssttttt...!” Jenderal Kao mencegah puteranya akan tetapi tantangan telah dikeluarkan dan mereka kini
berdiam, memperhatikan semua penjuru.
Suara suling tiba-tiba berhenti. Keadaan segera menjadi makin sunyi mencekam dan menyeramkan. Lalu
terdengar suara orang menguap panjang dan disusul suara langkah kaki orang tersaruk-saruk.
Selagi tiga orang ayah dan anak itu saling pandang, terdengar suara orang bergumam, “Hahhhhh perutku
lapar dan kakiku capai. Sebentar lagi malam pun tiba dan aku belum beristirahat barang sekejap pun.
Lebih baik mencari warung di depan, makan bubur hangat, mandi air sejuk lalu tidur mendengkur!”
Jenderal Kao dan dua orang puteranya cepat meloncat dan mencari ke arah datangnya suara itu. Dari jauh
kelihatan berkelebatnya seorang dengan cepat. Bajunya yang putih itu tampak menyolok dengan cuaca
dunia-kangouw.blogspot.com
yang sudah mulai suram karena senja telah tiba. Sebentar saja bayangan itu berkelebat dan lenyap,
seperti setan menghilang saja.
“Kejar!” Jenderal Kao Liang berbisik dan ketiganya lalu mengerahkan ginkang, meloncat lalu berlari
mengejar secepat mungkin. Jenderal itu merasa yakin bahwa orang di depan tadi tentu tahu akan segala
peristiwa yang terjadi, maka dia tidak mau kehilangan orang itu.
Akan tetapi, bayangan itu telah lenyap dan mereka mengejar sampai malam tiba, belum juga dapat
menyusul. Tentu saja ketiganya merasa mendongkol dan malam itu berbeda dengan malam tadi. Awan
mendung berkumpul di langit sehingga keadaan menjadi gelap pekat, sedangkan mereka bertiga tidak
mengenal jalan. Maka terpaksa mereka menghentikan pengejaran sia-sia itu dan melewatkan malam di
tepi jalan di kaki bukit yang sunyi, membuat api unggun dan semalam suntuk mereka tak dapat tidur,
menanti datangnya fajar untuk melanjutkan pengejaran dan pencarian mereka.
“Orang itu agaknya sengaja menyebut tentang sebuah warung di depan. Biar dia memancing sekali pun,
kita harus pergi mengejarnya dan mencari warung itu!” demikian Jenderal Kao berkata.
Ketika fajar mulai menyingsing dan cuaca tidak begitu gelap lagi, ketiganya sudah meninggalkan api
unggun yang sudah tidak bernyala, tinggal berasap saja dan mereka bergegas menuju ke depan
melanjutkan perjalanan tadi malam yang terganggu oleh kegelapan malam. Ketika mereka mulai bertemu
dengan para petani yang menuju ke sawah, tiga orang ayah dan anak ini kemudian mempercepat langkah
kaki mereka, tidak mempedulikan pandang mata para petani yang terheran-heran melihat mereka berjalan
cepat itu. Di mana ada petani tentu ada dusun pula, pikir Jenderal Kao Liang dan dia melanjutkan
perjalanan dengan penuh semangat.
Benar saja dugaan mereka. Akhirnya tibalah mereka di sebuah dusun. Matahari pagi dengan cerah dan
riangnya menyinari sebuah warung makan di dusun itu. Dengan hati berdebar Jenderal Kao mengajak
anak-anaknya memasuki warung. Akan tetapi, warung itu masih sunyi dan belum ada pengunjungnya,
maka duduklah mereka dengan hati kecewa. Jenderal Kao memesan bubur hangat tiga mangkok yang
dilayani oleh pemilik warung dengan ramahnya.
“Kami mencari seorang teman, dia masih muda dan berpakaian putih. Apakah dia sudah tiba di sini?
Malam tadi atau tadi? Katanya dia ingin makan bubur panas,” kata Jenderal Kao kepada pemilik warung
secara sambil lalu.
Akan tetapi sungguh tidak disangka, mendengar pertanyaan ini wajah Si pemilik warung menjadi berseri.
“Aih, tentu Tuan maksudkan adalah Suma-kongcu (Tuan Muda Suma)! Memang dia sering makan di sini,
dan baru saja dia pergi, setelah makan bubur panas. Lihat, mangkoknya juga masih di meja itu, belum
saya bersihkan!”
Ketiganya cepat bangkit. “Di mana dia? Ke mana perginya?” Jenderal Kao bertanya, suaranya keras,
mengejutkan pemilik warung.
“Ehh, mana saya tahu? Tadi saya lihat ke jurusan selatan sana.”
Tukang warung itu menjadi bengong ketika tiga orang itu berkelebat dan lari pergi meninggalkan
warungnya.
“Ehh, ini bubur pesanan...!”
Akan tetapi Jenderal Kao dan anak-anaknya sudah pergi jauh dan pemilik warung itu hanya
menggelengkan kepala. “Suma-kongcu orang aneh, teman-temannya pun aneh bukan main!”
Sementara itu, sambil berjalan cepat bersama dua orang puteranya menuju ke selatan, Jenderal Kao Liang
berkata dengan suara desis terheran-heran, “Suma-kongcu!? Tidak banyak orang di dunia ini yang ber-she
Suma dan memiliki kepandaian tinggi! Siapa lagi kalau bukan keluarga Suma, Majikan Pulau Es, Pendekar
Super Sakti? Dan setahuku, ada dua orang Suma-kongcu! Akan tetapi, mengapa menculik keluarga kita?
Bukankah kita bersahabat erat seperti keluarga sendiri dengan mereka?” Jenderal Kao menduga-duga
dengan hati penasaran.
“Itu kan dahulu, Ayah!” berkata Kok Tiong dengan suaranya mengandung kegemasan. “Dahulu ketika Ayah
masih terpakai oleh Kaisar. Akan tetapi sekarang? Keadaan Ayah seperti juga disingkirkan oleh Kaisar,
dunia-kangouw.blogspot.com
sungguh pun sebagai basa-basinya Ayah disuruh istirahat dan dipensiun, diberi harta benda sebagai bekal.
Lihat saja betapa pasukan pengawal istana bermunculan di sini, seolah-olah menghadang perjalanan kita.
Siapa tahu, tidak mustahil kalau Kaisar mengkhawatirkan keadaan Ayah, takut Ayah akan menimbulkan
huru-hara. Menurut pendapat saya, agaknya Kaisar memang berusaha untuk membasmi keluarga kita agar
aman, karena Ayah adalah seorang yang tidak boleh dipandang ringan. Hemmm, tidak salah lagi,
demikianlah keadaannya! Maka, Hok-ciangkun yang memimpin pasukan pengawal menyamar sebagal
petani, tentu diutus oleh Kaisar untuk membasmi kita. Akan tetapi mereka tahu, keluarga kita bukanlah
keluarga sembarangan. Apa lagi ada Kok Cu koko, maka Kaisar tentu telah minta pertolongan keluarga
Pulau Es, keluarga Suma. Bukankah keluarga Suma masih termasuk keluarga Kaisar juga? Bukankah
Pendekar Super Sakti, Paman Suma Han adalah cucu mantu dari Kaisar?”
“Ehhhhh...?” Jenderal Kao Liang berteriak dan menghentikan langkahnya.
Apa bila dalam keadaan biasa, tentu kata-kata Kok Tiong itu akan cukup membuat dia turun tangan
menampar mulut puteranya yang berani berkata demikian, mencela kaisar, menuduh yang bukan-bukan,
bahkan berani mencurigai keluarga Pulau Es. Akan tetapi dia tidak jadi menggerakkan tangan, sebab katakata
itu membangkitkan kecurigaannya pula dan dia termenung.
Suma-kongcu, kata tukang warung itu. Tentu kalau bukan Suma Kian Lee, ya Suma Kian Bu, seorang di
antara dua putera Majikan Pulau Es.
Majikan Pulau Es adalah Suma Han yang terkenal sebagai Pendekar Pulau Super Sakti bagi yang
memujanya dan Pendekar Siluman bagi yang membencinya, dan Suma Han ini menikah dengan Puteri
Nirahai sebagai isteri pertama, Puteri Nirahai cucu kaisar! Ucapan Kok Tiong tadi walau pun agaknya tidak
masuk di akal mengingat akan watak keluarga Pulau Es yang sakti dan budiman, namun beralasan juga.
Jenderal ini tahu pula bahwa di dalam pergolakan politik kerajaan, segala hal dapat saja terjadi. Buktinya,
dua orang Pangeran Liong yang menjadi adik-adik tiri kaisar sendiri, memberontak oleh karena politik,
karena pengejaran ambisi pribadi. Siapa tahu, kaisar benar-benar menganggap dia adalah orang yang
berbahaya dan hendak menumpas keluarganya. Dan siapa tahu, mungkin pandangan putera Pendekar
Super Sakti yang sudah dipengaruhi politik juga berubah terhadap dirlnya!
“Akan tetapi...!” bantahnya dengan suara meragu, bantahan yang timbul langsung dari suara hatinya,
“Andai kata demikian halnya, mengapa mesti mengambil cara berbelit-belit? Andai kata benar Kaisar
menghendaki nyawaku, cukup beliau memerintahkan seorang prajurit untuk menangkap aku dan
menjatuhkan hukuman mati. Mengapa harus memakai cara penuh rahasia ini, dengan berbagai macam
muslihat? Aku siap untuk menyerahkan nyawaku kalau diminta oleh Kaisar, demi negara!”
“Saya kira persoalannya tidaklah semudah itu, Ayah. Kalau Kaisar melakukan hal itu terhadap Ayah, tentu
beliau akan banyak menerima celaan dan tentangan. Tentu beliau tidak ingin perbuatan beliau itu diketahui
oleh umum. Seluruh rakyat jelata dan semua pembesar tahu belaka siapa Ayah, dan betapa besar jasa
Ayah terhadap negara dan bangsa. Agaknya Kaisar ingin agar kita sekeluarga seolah-olah dibasmi oleh
penyamun atau oleh golongan hltam dan hal ini pun bukan tak boleh jadi, mengingat betapa Ayah sudah
banyak melakukan pembersihan terhadap mereka.”
Mendengar ucapan puteranya yang kedua itu, Jenderal Kao Liang mengangguk-angguk dan tiba-tiba
hatinya berduka sekali. Dia mengepal tinjunya, giginya mengeluarkan bunyi berkerotan. “Ini tentu hasil dari
fitnah dan hasutan para pengkhianat yang hendak melemahkan kerajaan! Sri Baginda Kaisar telah tertipu!”
Kok Tiong menarik napas panjang. “Lihat, betapa patriotnya jiwa Ayah, bahkan di waktu keluarga sendiri
terancam bahaya maut, Ayah masih mementingkan kerajaan.”
Jenderal Kao termenung, sadar akan kebenaran ucapan puteranya dan dia teringat lagi akan keadaan
keluarganya. “Akan tetapi kalau memang benar dugaanmu itu, semoga saja, kuminta kepada Thian, Kaisar
tidak sampai tertipu sedalam itu. Andai kata benar demikian, mengapa keluarga kita tidak dibunuh saja?
Kenapa diculik mereka itu? Dan di mana adanya ibumu, isterimu, anak-anakmu?”
“Itulah hal yang sangat membingungkan, Ayah. Menghilangnya kepala pengawal dan mayatnya pun tidak
kita lihat, lalu disusul pertempuran di luar hutan antara orang-orang yang tidak kita kenal, yang kabur
semua ketika kita dekati. Kemudian bentrokan antara tiga kekuatan di dalam celah itu, antara pasukan kita,
wanita-wanita berlencana dan bercacah lukisan garuda serta orang-orangnya Hok-ciangkun. Mereka itu
mati semua, tiga rombongan yang saling bertempur itu, akan tetapi keluarga kita dapat melarikan diri.
dunia-kangouw.blogspot.com
Agaknya tak mungkin pula kalau dibawa oleh sisa orang-orangnya Hok-ciangkun, sebab kalau benar
dugaan kita, Hok-ciangkun tentu bertugas untuk membasmi dan membunuh keluarga kita. Dan kalau harus
diculik dulu, tentu terlalu merepotkan. Lagi pula, kalau dibunuh di tempat itu, malah menimbulkan kesan
seolah-olah dibasmi penyamun. Lalu ke mana mereka itu? Siapa yang menculik mereka, kalau memang
benar diculik? Dan mengapa pula? Benar-benar saya menjadi bingung, Ayah.”
“Agaknya oleh orang-orang yang bercacah lukisan garuda di tangannya itu. Kita belum tahu jumlah dan
kekuatan mereka, belum mengenal pula siapa mereka,” kata Kok Han.
“Kurasa tidak mungkin, Han-te. Seperti kau lihat, Suma-kongcu yang lihai itu masih ada. Kalau dia, seperti
kurasa begitu, ditugaskan oleh Kaisar untuk membantu pasukan Hok-ciangkun, melihat keluarga kita
dibawa oleh wanita-wanita garuda itu, tentu dia akan turun tangan, tidak mungkin dia diam saja tugas
Hokciangkun digagalkan oleh wanita-wanita garuda itu. Kau lihat juga, dialah satu-satunya orang yang
masih hidup di tempat tadi. Agaknya rombongan para wanita garuda itu dibunuhnya pula semua.”
“Akan tetapi, kalau benar begitu ke mana perginya ibu dan lain-lain? Kenapa dia tidak membunuh kita juga
setelah dia melihat kita bertiga tadi? Aihhh, bingung aku setelah mendengar dugaan-dugaanmu Koko.!”
“Sudahlah,” Jenderal Kao menyela. “Tidak peduli itu semua, yang penting, kita harus dapat membekuk
pemuda gila itu dan semuanya akan menjadi terang. Mari kita kejar dan cari dia!”
Kembali tiga orang yang sedang dicekam kegelisahan karena kehilangan keluarga itu melanjutkan
pencarian mereka, keluar dari dusun menuju ke selatan. Mereka tiba di tepi sebatang sungai yang cukup
besar yang menjadl cabang Sungai Huang-ho. Terhalang oleh sungai ini, Jenderal Kao termangu-mangu.
Benarkah pengejaran mereka? Apakah Suma-kongcu lewat ke sini?
Selagi dia bingung dan tidak tahu harus melanjutkan pengejaran ke mana, tiba-tiba mereka melihat sebuah
perahu meluncur di tengah sungai dan dengan cepatnya perahu itu meluncur ke pinggir, ke arah di mana
mereka berdiri. Seorang bertubuh tinggi kurus mendayung perahu itu dan tenaganya terlihat benar-benar
luar biasa karena kekuatan mendayungnya mampu melawan arus sungai yang cukup kencang di bagian
yang menikung itu.
Perahu itu bercat hitam, di ujungnya berkibar sebuah bendera kecil hitam pula. Dengan tangkas, orang
tinggi kurus itu melemparkan sehelai tali yang dengan tepatnya mengait akar pohon di tepi sungai,
kemudian, dalam jarak yang masih ada empat tombak jauhnya, sekali menggerakkan kakinya orang tinggi
kurus itu telah meloncat ke darat. Jenderal Kao Liang terkejut dan diam-diam dia memuji. Ginkang yang
luar biasa!
Namun, sebelum Si Tinggi Kurus itu mengeluarkan suara, dan dia sedang memandang kepada Jenderal
Kao bertiga sambil menyeringai, dari dalam perahu terdengar suara yang tinggi nyaring melengking, “Inikah
ikan-ikan itu, Hoa-gu? Mana yang lain-lain? Kelihatan ikan-ikan ini sudah kehilangan sisik-sisik dan siripsiripnya,
untuk apa lagi? Tidak ada gunanya. Mungkin kita sudah didahului nelayan-nelayan lain!” Ucapan
itu seolah-olah percakapan nelayan, akan tetapi Jenderal Kao Liang yang memliiki banyak pengalaman itu
maklum bahwa maksudnya bukan demikian.
Pembicara itu menganggap mereka bertiga seperti ikan-ikan yang sudah kehilangan sisiknya, artinya
orang-orang yang sudah tidak mempunyai apa-apa yang berharga. Dan sebutan terhadap Si Tinggi Kurus
itu pun aneh. Hoa-gu, berarti Kerbau Belang dan Si Tinggi Kurus itu kulit muka dan lehernya belangbelang,
agaknya menderita penyakit panu yang sudah menahun dan sudah tidak dapat disembuhkan lagi.
Tetapi, biasanya orang-orang yang menggunakan julukan aneh-aneh memiliki kepandaian yang aneh pula,
apa lagi tadi Si Tinggi Kurus sudah mendemonstrasikan ginkang yang amat hebat. Maka dia berhati-hati
dan memberi isyarat kepada dua orang puteranya agar berhati-hati.
“Hemmm, tak salah lagi, agaknya wanita itu yang sudah mendahului kita, Khiu-pangcu!” kata Si Tinggi
Kurus sambil menoleh ke arah perahu. Jenderal Kao semakin waspada. Orang di dalam perahu itu
dipanggil pangcu, tentu dia seorang ketua dari perkumpulan golongan hitam.
“Ahhh, itu salahku sendiri, Hoa-gu-ji! Kenapa aku tidak becus mengalahkan perempuan itu kemarin. Tapi
lebih baik kau tanyakan mereka, ke mana larinya wanita-wanita itu agar kita dapat mengejar dan mencegat
mereka sebelum mereka kembali ke sarang mereka!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba ada bayangan berkelebat. Jenderal Kao Liang menjadi kaget ketika tahu-tahu bayangan yang
mencelat dari dalam perahu itu telah berdiri di depannya dan ternyata orangnya tidak seberapa, hanya
seorang kakek tua yang bertubuh pendek kecil dan kelihatan lemah. Agaknya dengan sekali tamparan
tangannya yang kuat, tubuh si kecil tua itu akan remuk! Akan tetapi tentu saja Jenderal Kao tidak setolol itu
dan dia tahu bahwa si kecil ini malah lebih berbahaya dari pada Si Tinggi Kurus!
Jenderal Kao pura-pura tidak mengerti akan arti percakapan mereka tadi, maka dia pun mengangkat
tangan memberi hormat sambil berkata, “Harap maafkan, kami ingin sekali bertanya kepada Ji-wi, apakah
Ji-wi ada melihat seorang pemuda berpakaian putih lewat di sini? Kami sedang mencarinya.”
Kakek kecil itu tertawa dan melangkah maju. “He-he, kami tidak melihat orang lain di sini, dan bukankah
engkau ini Jenderal Kao Liang yang sudah ditendang keluar dari kota raja? He-he-he!” Kata-kata dan sikap
kakek ini menghina sekali.
Kok Han telah melangkah maju hendak mendamprat, akan tetapi ayahnya melarangnya dan Jenderal Kao
Liang dengan tenang menjawab, “Aku adalah Kao Liang, tepat seperti dugaanmu, sobat. Siapakah engkau,
kudengar kau disebut pangcu. Engkau ketua dari perkumpulan apakah?”
“He-he-he, aku orang she Khiu hanya ketua yang kedua, mewakili Twako (Kakak) untuk mengambil
hartamu yang kau bawa dari kota raja. He-he-he, jenderal bekas, lekas kau katakan, di mana hartamu itu
dan siapa yang membawanya?”
“Iblis hina dan busuk!” Kok Han tidak dapat menahan kemarahannya lagi mendengar ayahnya dihina
seperti itu dan dia sudah menerjang ke depan dengan pedangnya, menusuk kakek kecil itu dengan jurus
maut Tit-ci-thian-lam (Menuding ke Arah Selatan). Pedangnya langsung meluncur ke arah ulu hati kakek itu
dengan kecepatan kilat hingga nampak sinar berkelebat menyilaukan mata.
“He-he-he, bocah, kau boleh juga!” Kakek kecil itu terkekeh, miringkan tubuhnya dan jari tangannya
menyentil.
“Tringgggg...!”
“Ahhhhh!” Kao Kok Han berseru kaget dan cepat dia meloncat ke belakang mengikuti ke mana pedangnya
terpental karena pedang yang kena disentil oleh kuku jari tangan kakek itu hampir saja terlepas dari
pegangannya.
“Iblis tua bangka!” teriak Kok Tiong yang menjadi marah dan orang muda ini pun telah menyerang dengan
pedangnya dengan hebat.
Namun dengan mudahnya kakek kecil itu mengelak, kemudian kakinya yang pendek kecil itu mengelak,
hampir saja mencium lambung Kok Tiong kalau saja dari samping Jenderal Kao Liang tidak cepat
menangkis dengan tangan kirinya.
“Dukkkkk!”
Jenderal Kao Liang merasa betapa lengannya yang bertemu dengan kaki itu merasa nyeri dan kesemutan,
maka dia terkejut sekali, maklum bahwa kakek itu benar-benar amat lihai.
“He-he-he! Kiranya bekas Jenderal Kao masih belum kehilangan kepandaiannya! Akan tetapi seorang
jenderal tanpa pasukan, mau bisa apakah?” Kakek kecil itu mengejek dan kini Jenderal Kao Liang menjadi
marah sekali.
“Engkau tentu seorang pangcu dari golongan perampok busuk!” teriaknya. “Biar pun aku sekarang sudah
tidak memegang jabatan apa-apa, sudah menjadi kewajibanku untuk membebaskan rakyat dari
gangguanmu!”
Jenderal itu sudah meloloskan pedangnya yang panjang, kemudian tanpa banyak cakap lagi dia menerjang
dengan gerakan yang amat kuat dan cepat. Kakek kecil ini pun tidak berani memandang rendah, cepat dia
mengelak dan balas menyerang, akan tetapi dia masih saja terkekeh dan menghadapi jenderal tua ini
dengan tangan kosong belaka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kok Tiong dan Kok Han menerjang maju, akan tetapi mereka lalu dihadang oleh kakek tinggi kurus yang
sudah memegang sebatang dayung. Melihat ini, dua orang muda itu cepat memutar pedang mereka dan
menyerang. Si Tinggi Kurus memutar dayungnya pula menangkis.
“Cringgggg! Tranggggg...!”
Bunga api berpijar dan dua orang muda itu maklum bahwa selain kakek tinggi kurus ini bertenaga besar
sekali, juga dayungnya itu ternyata bukan dayung kayu seperti biasa, melainkan dayung baja yang amat
kuat pula.
Terjadilah pertempuran hebat dan seru di tepi sungai itu. Jenderal Kao Liang memang seorang yang
memiliki tenaga besar sekali, akan tetapi ilmu silatnya biar pun cukup tinggi, masih tidak selihai ilmu
perangnya. Dia memutar pedangnya dengan cepat dan kuat sampai terdengar suara berdesingan dan
pedang itu lenyap bentuknya, berubah menjadi sinar yang bergulung-gulung.
Tapi ternyata kakek kecil itu memiliki ginkang yang luar biasa. Tubuhnya berkelebatan, kadang-kadang
seperti lenyap dari pandangan mata Jenderal Kao sehingga membuat jenderal tua ini kaget dan juga
bingung. Betapa pun juga, kakek kecil yang memandang rendah dan bersikap sombong itu, yang
menghadapi Jenderal Kao Liang hanya dengan tangan kosong belaka, juga tidak mudah merobohkan
Sang Jenderal yang tubuhnya terlindung oleh sinar pedangnya.
Lima puluh jurus telah lewat dan Jenderal Kao Liang masih terus menyerang lawannya dengan kemarahan
yang berkobar-kobar. Ia maklum bahwa lawannya ini sedikit banyak tahu akan semua peristiwa yang
menimpa keluarganya, maka ingin dia merobohkan lawan ini, kalau bisa tidak sampai membunuhnya agar
nantinya dia dapat memaksanya mengaku. Akan tetapi, tubuh lawan ini terlalu cepat bergerak.
“He-he-he, jenderal yang tidak terpakai! Kau masih berani melawan terus?” Kakek kecil itu mengejek dan
kini dia berdiri dekat sekali dengan tepi sungai, membelakangi sungai.
Melihat ini, Jenderal Kao Liang yang menjadi marah sekali melihat kesempatan baik. Lawannya sudah
berada di tepi sungai, tidak ada jalan untuk mengelak lagi, maka dia lalu mengeluarkan gerengan seperti
seekor harimau, pedangnya menusuk dengan kuat sekali ke arah dada lawan itu.
Akan tetapi, mendadak Si Kakek Kecil itu lenyap. Sedemikian cepat gerakannya ketika menjatuhkan diri
sehingga tidak kelihatan oleh Jenderal Kao. Tahu-tahu kakek kecil itu dari bawah menangkap lengan
tangan Jenderal Kao yang memegang pedang dan secepat itu pula kakinya dua kali bergerak menendang
ke arah lutut Jenderal Kao.
Jenderal tua ini berseru kaget, kedua kakinya terasa lumpuh dan sebelum dia tahu apa yang barusan
terjadi, kakek kecil itu telah menyentak tangannya, menariknya ke atas membuatnya terlempar ke atas,
melampaui kepala kakek kecil itu dan terlempar ke tengah sungai!
“Byuuuuurrr...!”
Tubuh yang tinggi besar itu menimpa air yang muncrat tinggi. Jenderal yang kehilangan pedangnya itu
mencoba untuk berenang, tetapi alangkah kagetnya ketika dia mendapat kenyataan betapa dua buah
kakinya belum dapat digerakkan, masih setengah lumpuh oleh totokan ujung sepatu kakek kecil itu.
Terpaksa dia hanya menggunakan kedua tangannya untuk digerakkan menahan agar tubuhnya tidak
tenggelam dan kini tubuhnya dibawa hanyut, terseret oleh arus sungai yang kuat.
“Ayahhhhh...!” Kok Tiong berseru kaget sekali. Akan tetapi dia dan adiknya masih belum mampu
mengalahkan lawan yang memegang dayung, bahkan mereka terancam oleh sinar dayung yang
berkelebatan.
Kiranya orang yang berjulukan Kerbau Belang ini kuat sekali, dan kadang-kadang dari tenggorokannya
keluar suara seperti seekor kerbau marah dan tiap kali terdengar suara ini, tenaga yang menggerakkan
dayungnya menjadi berlipat ganda kuatnya, membuat dua orang saudara Kao ltu kewalahan. Namun
dengan kerja sama yang rapi, mereka berdua masih dapat saling melindungi dan menahan amukan kakek
tinggi kurus yang memutar dayungnya secara istimewa.
“He-he-he, Hoa-gu-ji, engkau benar-benar mengecewakan. Masa menghadapi dua ekor ikan kecil saja
masih belum mampu menangkapnya?” Kakek kecil yang telah berhasil melontarkan tubuh Jenderal Kao
dunia-kangouw.blogspot.com
Liang ke tengah sungai itu tertawa, lantas tubuhnya berkelebat dan dengan cepat sekali, menggunakan
kesempatan selagi dua orang saudara Kao itu menangkis dayung dengan pedang mereka, dia menotok
jalan darah kin-ceng-hiat di pundak kiri mereka sehingga tanpa dapat dihindarkan lagi, Kok Tiong dan Kok
Han mengeluh dan roboh lemas.
Hoa-gu-ji menggerakkan dayungnya ke arah kepala mereka.
“Wuuuuutttttt... plakkk!”
Dayung itu terpental, bertemu dengan telapak tangan Si kakek kecil. “Gilakah kau, Hoa-gu-ji? Kita
membutuhkan mereka, mengapa hendak kau bunuh?”
Hoa-gu-ji cemberut dan dia teringat, maka cepat dia mengambil tali dari perahu dan mengikat kedua
tangan Kok Tiong dan Kok Han. Dia tadi marah sekali karena merasa malu disebabkan dia tidak mampu
merobohkan dua orang musuh itu, sehingga dalam kemarahannya hampir dia membunuh mereka.
“Maafkan, Pangcu, barusan hampir saja saya lupa,” katanya setelah mengikat mereka dan melemparkan
tubuh mereka ke atas perahu.
Tak lama kemudian, perahu yang kini membawa dua orang tawanan itu sudah meluncur lagi ke tengah
sungai mengikuti arus. “Hayo katakan, di mana adanya harta benda Ayah kalian! Kalau tidak mau
mengaku, terpaksa kalian akan kami jadikan makanan ikan di sungai ini!” Kakek kecil itu membentak.
“Persetan dengan kamu, iblis tua bangka!” bentak Kok Han dengan marah, sedikit pun juga tidak takut atau
jeri menghadapi ancaman kakek kecil itu.
Akan tetapi, Kao Kok Tiong yang lebih cerdik tidak ingin mati konyol begitu saja. Tidak, mereka berdua
harus hidup, apa lagi sekarang setelah ayah mereka pun lenyap, hanyut ditelan air sungai. Mereka harus
mencari keluarga mereka lebih dahulu dan tidak boleh mati begitu saja.
“Pangcu, engkau telah keliru menyerang orang,” katanya tenang. “Ayah kami memang membawa harta
benda, akan tetapi kemarin kami telah diserbu orang-orang yang tidak kami ketahui siapa, keluarga kami
ditawan dan harta benda itu pun ikut pula terbawa. Kami bertiga sedang mencari mereka ketika bertemu
dengan engkau di tepi sungai.”
“Wah, celaka, benar-benar ada orang sudah mendahului kita, Hoa-gu-ji. Orang muda, ceritakan semua
dengan jelas.”
Kao Kok Tiong lalu menceritakan semua peristiwa yang menimpanya, tentu saja tanpa menceritakan
dugaannya tentang utusan kaisar dan tentang keluarga Suma. Kakek kecil itu mendengarkan dengan alis
berkerut dan dia menarik napas panjang.
“Celaka, siapa lagi kalau bukan perempuan-perempuan iblis garuda hitam itu? Hoa-gu-ji, hayo cepat kita ke
hilir, kita harus dapat mencari mereka!”
Perahu meluncur makin cepat karena kini selain digerakkan oleh kekuatan arus air, juga dlbantu oleh
kekuatan dayung yang digerakkan oleh Hoa-gu-ji. Dua orang saudara Kao yang rebah di atas perahu
dengan kedua tangan terbelenggu merasa miris juga melihat perahu meluncur demikian cepat, apa lagi
karena mereka memang tidak biasa bermain di air. Diam-diam mereka mengkhawatirkan keadaan ayah
mereka yang tadi mereka lihat terlempar ke air dalam keadaan masih hidup dan berusaha berenang, akan
tetapi terseret oleh arus air.
Khiu-pangcu dan Hoa-gu-jin kini kelihatan bersikap waspada dan siap siaga di atas perahu ketika perahu
itu melewati sebuah hutan yang liar dan lebat. Mendadak tampak sinar berkelebat diikuti suara berdesing
dan tahu-tahu sebatang anak panah menancap di kepala perahu. Anak panah itu ditempeli sebuah lencana
perak bergambar garuda hitam dan di bawahnya terdapat dua buah huruf berbunyi SUI TIN (Pasukan Air).
Melihat ini dari tempat mereka rebah, Kok Tiong dan Kok Han lalu teringat akan len-cana yang mereka
dapatkan di dekat mayat wanita berpakaian hitam karena memang sama gambar dan bentuknya, hanya
saja lencana yang mereka temukan itu memakai huruf Pasukan Kayu, sedangkan yang menempel di anak
panah ini huruf-hurufnya berbunyi Pasukan Air.
dunia-kangouw.blogspot.com
Khiu-pangcu terkekeh, lalu mencabut anak panah itu dan melemparkannya ke sungai.
“Singgggg...!”
Cepat sekali anak panah itu meluncur seperti terlepas dari gendewa dan anak panah itu menancap di batu
karang di tepi sungai, masuk sampai sepertiganya ke dalam batu karang itu. Hal ini saja membuktikan
betapa hebat sinkang dari kakek kecil itu, kekuatan lemparannya tadi jauh lebih kuat dari pada kalau anak
panah itu meluncur dari sebatang gendewa!
Kini kakek kecil ltu bangkit berdiri di atas kepala perahu, kakinya terpentang lebar dan kedua lengannya
bertolak pinggang, lalu terdengar suaranya yang tinggi melengking nyaring, bergema di dalam hutan di
seberang sungai, “Haiiiii...! Kenapa hanya pimpinan Pasukan Air saja yang keluar menyambutku? Mana
keempat pasukan yang lain? Hayo keluarlah kalian menyambut Khiu-pangcu yang sudah datang ke sini!
Malam kemarin kepala Pasukan Kayu telah berani menghina seorang anggota kami, hayo suruh pula dia
keluar kalau berani!”
Siapakah pelempar anak panah yang menancap di perahu itu? Dan siapakah mereka yang memakai
lencana garuda hitam itu? Mereka itu adalah anggota-anggota dari perkumpulan Hek-eng-pang
(Perkumpulan Garuda Hitam) yang berpusat di puncak Gunung Cemara. Perkumpulan ini terdiri dari
wanita-wanita yang rata-rata mempunyai kepandaian silat yang tinggi, dan pada tangan mereka semua
dicacah gambar burung garuda. Di antara mereka dibagi menjadi pasukan-pasukan yang diberi nama
Pasukan Api, Pasukan Air, Pasukan Tanah, Pasukan Besi dan Pasukan Kayu, masing-masing memiliki
keistimewaan sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara nyaring merdu di seberang sungai, “Kakek sombong, jangan takabur, kau!” Dan
muncullah seorang wanita cantik berusia kurang lebih tiga puluh tahun dari balik semak-semak, seorang
wanita yang pakaiannya serba hitam dan yang memegang sepasang pedang. “Tidak perlu saudarasaudara
kami maju, cukup kami saja yang akan melawanmu dan akan membunuhmu, kecuali kalau kau
mau serahkan tawananmu itu kepadaku, kami akan membebaskan engkau!”
“He-he-he-he, perempuan cantik suaranya nyaring!” Kakek kecil itu tertawa dan perahu lalu didayungnya
ke pinggir. Kakek tinggi kurus itu mengikat perahu di tepi, kemudian bersama Khiu-pangcu dia lalu
meloncat ke darat, dengan sikap angkuh dan tersenyum simpul.
“He-heh-heh, Nona cantik. Engkau tentu kepala dari Pasukan Air, bukan? Percuma saja engkau
membahayakan kulitmu yang halus, lebih baik suruhlah semua pasukan maju mengeroyok aku.”
Wanita itu menudingkan pedang kirinya ke arah muka kakek kecil, sedangkan pedang kanannya melintang
di depan dada, kemudian dia berkata, “Khiu-pangcu, jangan kau sombong. Saat ini aku Kim-hi Niocu (Nona
Ikan Emas) yang bertugas dan berjaga di sini, maka cepatlah kau serahkan tawananmu itu kepadaku
sebelum terpaksa aku turun tangan menggunakan kekerasan.”
“Ha-ha-he-heh, sungguh gagah! Mari, mari, Nona manis, mari kita main-main sebentar, hendak kulihat
sampai di mana kehebatanmu!”
Khiu-pangcu lalu meraba pinggangnya. Tampak sinar hitam berkelebat ketika dia telah meloloskan sabuk
atau ikat pinggangnya yang panjang dan ternyata dapat digunakan sebagai senjata cambuk yang ada
gagangnya dan yang ujungnya bercabang-cabang itu.
“Kau bosan hidup!” Wanita cantik yang berjuluk Nona Ikan Emas itu membentak.
Pedangnya berkelebatan dan dalam gebrakan pertama, sepasang pedangnya langsung menyambarnyambar
menjadi dua gulungan sinar yang menyilaukan mata. Gerakan nona ini cepat sekali dan agaknya
dia memiliki ginkang yang amat hebat sehingga dia menjadi lawan yang sama cepatnya dengan kakek
kecil itu. Tetapi Khiu-pangcu tertawa mengejek dan begitu dia menggerakkan cambuknya, terdengar suara
bersiutan yang menyakitkan telinga, diselingi ledakan-ledakan kecil. Setiap ledakan itu mengakibatkan
mengepulnya sedikit asap putih, tanda bahwa gerakan cambuk itu me-mang kuat sekali.
Kim-hi Niocu menyerang dengan ganas, sepasang pedangnya merupakan sepasang cengkeraman maut
yang mengintai nyawa. Akan tetapi dua gulungan sinar pedang itu selalu terbendung dan terpental kalau
bertemu dengan lingkaran hitam dari cambuk di tangan Khiu-pangcu, bahkan sering kali terdengar
dunia-kangouw.blogspot.com
ledakan-ledakan kecil di atas kepala si Nona Ikan Emas, membuat wanita itu kadang-kadang menjerit
kaget dan disusul suara tertawa mengejek dari Khiu-pangcu.
Tiba-tiba Kim-hi Niocu mengeluarkan suara bersuit dan muncullah lima orang wanita anak buahnya yang
semua memegang pedang di tangan. Akan tetapi, kini Hoa-gu-ji tertawa dan menghadang mereka dengan
dayungnya yang panjang, dan begitu lima orang wanita itu maju menyerbu, dayungnya diputar dan lima
orang wanita itu tertahan gerakannya tidak dapat membantu Kim-hi Niocu yang terpaksa melayani
sambaran-sambaran cambuk yang amat lihai dari Khui-pangcu itu.
Tak lama kemudian, ketika Kim-hi Niocu sudah terdesak hebat, demikian pula lima orang anak buahnya,
terdengar suitan dari jauh dan muncullah seorang wanita lain yang usianya juga tiga puluh tahunan, yang
cantik tidak kalah dengan Kim-hi Niocu, bahkan kulitnya lebih putih sehingga pakaian hitam itu membuat
wajahnya putih halus seperti salju. Wanita ini bersenjatakan sebatang golok kecil lebar yang mengeluarkan
sinar gemerlapan. Inilah kepala dari Pasukan Tanah.
“Adik Liong-li, bantulah aku!” teriak kepala Pasukan Air dengan girang.
Tanpa diminta untuk kedua kalinya, wanita cantik yang disebut Liong-li itu segera menerjang maju dengan
goloknya membantu Kim-hi Niocu mengeroyok Khiu-pangcu sambil berkata, “Kiranya Khiu-pangcu, Si tua
bangka keparat!”
“He-he, cantik... cantik...! Gunung Cemara sarang bidadari, sebetulnya menjadi sumber kenikmatan dan
kesenangan, sayang malah menjadi sumber kejahatan dan kekacauan! He-he-he!” Khiu-pangcu masih
sempat tertawa ketika dia mengelak dari sambaran sinar kilat dari golok di tangan Liong-li.
Pertempuran menjadi makin hebat, tetapi ternyata bahwa tingkat kepandaian dua orang wanita itu masih
kalah jauh jika dibandingkan dengan tingkat kepandaian Khiu-pangcu. Lewat lima puluh jurus, sinar hitam
dari cambuknya terus mengurung dan menghimpit, membuat dua orang wanita itu mandi keringat dan tak
lama kemudian, Khiu-pangcu berhasil merobohkan mereka dengan totokan-totokannya yang lihai. Si Tinggi
Kurus Hoa-gu-ji juga berhasil merobohkan lima orang pengeroyoknya yang cepat meloncat ke air,
menyelam dan lenyap.
“He-he-he, percayakah kalian sekarang?” Khiu-pangcu tertawa mengejek, menyimpan sabuknya dan
memandang dua orang wanita yang roboh terlentang dan tidak dapat bergerak karena tubuhnya lumpuh,
hanya mata mereka memandang dengan mendelik marah kepada kakek kecil itu.
“Seharusnya kalian mengajak semua saudara kalian ke sini baru bisa agak seimbang melawan aku. Nah,
sekarang katakan, di mana adanya harta rampokan milik keluarga Jenderal Kao itu? Katakan sebenarnya,
kalau tidak kalian akan aku bunuh, kemudian akan kutantang kembali ketua kalian biar peristiwa dua tahun
yang lalu terulang lagi. Sayang, ketika itu muncul Pendekar Siluman Kecil sehingga pertempuran terhenti
dan nyawa Perkumpulan Hek-eng-pang selamat.”
“Bedebah tua bangka! Siapa takut mati? Mau bunuh lekaslah bunuh, akan ada teman-teman kami yang
membalaskan kematian kami, yang akan melumat perkumpulanmu dan meratakan sarang kalian dengan
bumi. Hayo, bunuhlah!” Kim-hi Niocu menantang.
“Tua bangka gila, namaku bukan lagi Liong-li jika aku takut mampus!” Kepala Pasukan Tanah juga
menantang dengan pandang mata menghina.
Khiu-pangcu menggaruk-garuk kepalanya. “Wah, wah, hebat sekali. Hoa-gu-ji, jikalau anak buah kita tidak
setabah mereka ini, sungguh kita harus merasa malu.”
“Ji-pangcu (Ketua Kedua), boleh jadi mereka tak takut mati, akan tetapi apakah Pangcu lupa bahwa ada
sesuatu yang lebih ditakuti wanita dari pada maut?” Hoa-gu-ji berkata sambil tertawa menyeringai,
memperlihatkan gigi yang sudah keropok dan kuning dekil.
“Hah?! Ohhh... he-he-heh... kau memang amat cerdik!” Khiu-pangcu berkata dan sambil tertawa-tawa.
Dia lalu segera berjongkok mendekati tubuh Kim-hi Niocu, menggunakan kedua tangan menggerayangi
tubuh wanita cantik itu sambil mulai melepas-lepaskan pakaiannya. Sedangkan Hoa-gu-ji dengan lagak
menjemukan juga menggerayangi tubuh Liong-li dan melepaskan kancing-kancing baju wanita cantik itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kim-hi Niocu dan Liong-li menjerit.
“Tua bangka! Apa yang kau lakukan ini? Lepaskan aku!” Kim-hi Niocu berteriak.
“Keparat tak tahu malu, lepaskan aku!” Liong-li juga menjerit-jerit, akan tetapi karena tak dapat bergerak,
maka dia hanya terbelalak penuh kengerian.
“He-he, hendak kulihat, kau lebih suka dicemarkan atau berterus terang!” Khiu-pangcu mengejek dan
sudah mulai menanggalkan pakaian luar Kim-hi Niocu sehingga mulai nampaklah bentuk tubuhnya yang
padat membayang di balik pakaian dalamnya yang tipis, dan nampak pula kulitnya yang putih halus dan
menggairahkan itu.
“Jangan...! Kami... kami akan berterus terang...” Akhirnya Kim-hi Niocu berteriak dengan suara lemah,
tanda bahwa dia tidak punya semangat untuk melawan lagi. Menghadapi kematian dia masih tabah, akan
tetapi kalau harus dihina lebih dulu oleh kakek yang menjijikkan ini, benar-benar hebat dan dia tidak
sanggup menghadapinya. “Akan tetapi terlebih dahulu kau harus berjanji demi kedudukanmu bahwa kalau
kami mengaku terus terang, kau tidak akan mencemarkan kehormatan kami.”
Khiu-pangcu bangkit berdiri. “He-he-heh-heh... siapa sih yang masih haus akan tubuh perempuan muda?
Aku sudah muak!”
“Tapi... dia... dia ini...!” Liong-li menjerit.
Hoa-gu-ji yang agaknya sudah bangkit birahinya itu sudah mulai meraba celana dalam berwarna hitam
yang amat kontras dengan paha yang putih mulus dari Liong-li.
“Hoa-gu-ji, kau benar-benar seperti kerbau! Hayo mundur!” Khiu-pangcu membentak dan kakek tinggi
kurus itu tersentak kaget, lalu bangkit dan mundur dengan muka merah menarik napas menahan nafsu
birahinya yang berkobar dan jelas dia amat kecewa.
“Nah, ceritakanlah!” Khiu-pangcu menghardik kepada Kim-hi Niocu.
“Harap... bebaskan dulu kami... bicara begini tidak enak...”
“Huhhh, dasar perempuan. Cerewet amat!” Khiu-pangcu mengomel, akan tetapi tetap saja tangannya
bergerak dua kali.
Begitu kedua orang wanita muda cantik itu dapat bergerak, mereka lalu cepat-cepat memakai kembali
pakaian luar mereka yang sudah ditanggalkan oleh dua orang kakek itu. Setelah itu barulah Kim-hi Niocu
bercerita dengan suara lirih, karena sesungguhnya dia terpaksa mengalah.
“Kami belum mendapatkan harta Jenderal Kao. Kami telah bertemu dan bentrok dengan pasukan asing
yang lihai, bahkan adik kami kepala Pasukan Kayu telah tewas ketika bertanding dengan pemimpin
pasukan asing itu. Karena kami belum mendapatkan harta itu, maka kami terus mengejar Jenderal Kao
dan dua orang pu-teranya yang kau tawan itu untuk menanyakan di mana adanya harta benda mereka
yang tadinya mereka bawa dalam rombongan mereka dari kota raja.”
“Aih, begitukah? Kalau begitu kita semua telah dipermainkan oleh keluarga Kao itu!” Khiu-pangcu berkata
marah. “Hoa-gu-ji, seret mereka keluar dari perahu dan bawa ke sini!”
Hoa-gu-ji yang masih kecewa itu kini dengan kasar menyeret tubuh Kok Tiong dan Kok Han keluar dari
perahu dan melemparkan tubuh mereka yang terbelenggu itu ke atas tanah di depan kaki Khiu-pangcu.
Dua orang muda itu menggulingkan tubuh agar terlentang dan dapat melihat orang-orang yang
menawannya. Mereka melihat dua orang wanita cantik itu dan menduga-duga siapa adanya mereka.
“Hayo katakanlah yang sebenarnya, di mana kalian menyembunyikan harta Ayah kalian yang tadinya
kalian bawa dalam rombongan itu! Kalau tidak, jangan mengatakan Khiu-pangcu berlaku kejam, kalian
tentu akan kusiksa habis-habisan di sini!” Khiu-pangcu membentak marah karena dia merasa
dipermainkan.
Kok Han memandang dengan mata melotot. “Sudah kukatakan padamu, terserah kamu percaya atau
tidak!” Pemuda ini membentak juga. “Mau siksa, mau bunuh, siapa sih yang takut?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kok Tiong cepat menyambung, “Pangcu, kami adalah putera-putera seorang besar dan keluarga kami
semenjak puluhan tahun sudah terkenal sebagai keluarga pahlawan yang pantang untuk membohong, apa
lagi memberatkan harta benda! Sudah kami katakan bahwa kami tidak tahu siapa yang merampas harta
kami, dan siapa pula yang menculik keluarga kami.”
“Hemmm, agaknya kalian perlu diberi rasa sedikit. Bocah-bocah keras kepala, biar pun kalian puteraputera
bekas Jenderal Kao Liang, tetapi agaknya kalian belum mengenal siapa aku, ya? Dan kalian belum
mendengar tentang senjata rahasiaku Touw-kut-tok-ciam (Jarum Beracun Penembus Tulang)! Apakah
kalian mau merasakannya?”
“Khiu-pangcu, kami kira mereka ini tidak berbohong. Perlu apa kau menggunakan jarum beracunmu yang
mengerikan itu?” Tiba-tiba Kim-hi Niocu mencela kakek itu.
“Ha-ha-he-he, agaknya kau sayang melihat ketampanan mereka, ya? Hoh-ho-ho, biar kalian juga melihat
betapa hebatnya jarum Touw-kut-tok-ciam dari Khiu-pangcu, agar lain kali kalian bocah-bocah tidak berani
kurang ajar melawan aku!”
Akan tetapi tiba-tiba kakek ini tidak melanjutkan tangannya yang hendak merogoh saku untuk
mengeluarkan jarum beracunnya, sebab pada saat itu pula terdengar suara orang bersenandung, Ialu
lewatlah seorang pemuda berpakaian abu-abu di tempat itu. Dua orang putera Jenderal Kao yang
terlentang melihat pemuda ini dan hampir saja mereka mengira bahwa yang lewat itu adalah Suma-kongcu
yang mereka cari-cari, karena suara itu hampir sama dengan suara senandung yang mereka dengar di
atas tebing kemarin dulu. Akan tetapi orang ini pakaiannya abu-abu, tidak putih-putih, dan ketika mereka
berdua memandang wajah itu, mereka tahu bahwa orang ini bukanlah Suma Kian Lee atau Suma Kian Bu
yang pernah mereka lihat dan mereka kenal.
Pemuda berpakaian abu-abu itu menghentikan senandungnya dan bahkan berhenti melangkah, lalu
menghampiri mereka dengan wajah heran. “Ehh, ada terjadi apakah di sini? Mengapa kalian berdua
tiduran di tanah yang kotor? Ehh, bukankah kalian ini putera-putera Jenderal Kao Liang?”
Pemuda itu kemudian menoleh dan memandang bergantian kepada dua orang wanita Garuda Hitam dan
kepada Khiu-pangcu dan Hoa-gu-ji, kemudian dia mengerutkan alis dan menegur. “Heiii, kenapa kalian
menawan dua orang putera Jenderal Kao Liang ini? Ehem, tentu kalian mengincar harta benda mereka,
bukan? Tolol, mereka itu adalah keluarga yang gagah perkasa dan bersih, harta benda mereka bukanlah
hasil korupsi. Sama sekali bukan, melainkan harta yang bersih, hasil dari jerih payah dan keringat mereka
sendiri. Ho-ho-ho, kalian memang tolol, karena kalian sudah terlambat semua, harta itu telah berada pada
Suma-kongcu.”
“Ehh, bocah lancang, kau tahu apa?” Khiu-pangcu membentak marah, dan tangannya segera melayang.
Dalam kemarahannya karena dia tidak dipandang sebelah mata oleh pemuda ini, yang bahkan memakinya
tolol, di dalam tamparan itu Khiu-pangcu mengerahkan sinkang-nya sehingga tamparan itu mengandung
tenaga yang amat kuat, yang bahkan cukup kuat untuk menghancurkan batu karang, apa lagi kepala
pemuda yang kelihatan lemah itu.
“Wuuuuuttt... plakkkkk... aughhh...!”
Sungguh mengherankan sekali. Pemuda itu agaknya dengan acuh tak acuh, dengan gerakan
sembarangan saja, mengangkat tangan menyambut tamparan itu sehingga dua tangan itu bertemu, dan
akibatnya, Khiu-pangcu terhuyung ke belakang memegangi tangannya dan meniup-niupnya karena terasa
panas seperti dibakar!
“Bangsat cilik keparat!” Kakek itu marah sekali dan segera memandang dengan mata terbelalak.
Kemudian dia telah menerjang dengan kedua tangannya digerakkan, yang kiri menotok ke arah tengahtengah
antara mata dan yang kanan mencengkeram ke arah pusar pemuda berpakaian abu-abu itu. Jelas
betapa marahnya Khiu-pangcu karena, serangan yang dilakukannya ini adalah serangan maut yang amat
hebat, yang sukar dihadapi oleh yang tangguh sekali pun, apa lagi oleh orang muda tidak ternama yang
berpakaian sederhana seperti seorang pemuda gunung biasa itu.
“Wuuuttttt, plak-plak, dessss...!” Dan semua orang terbelalak melihat Khiu-pangcu roboh terjengkang.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Blukkkk!” Pantat yang tipis dari Khiu-pangcu terbanting ke atas tanah, debu mengebul dan kakek kecil itu
meringis kesakitan, juga keheranan.
“Siuuuuuttttt...!” Sebatang dayung panjang meluncur dan menghantam ke arah kepala pemuda berpakaian
abu-abu itu.
Itu adalah penyerangan yang dilakukan oleh Hoa-gu-ji, yang menjadi marah melihat betapa ketuanya
sampai dua kali dibikin malu oleh pemuda itu. Hantaman dayungnya itu amat kuat, mengandung tenaga
ratusan kati dan akan menghancurkan batu karang kalau mengenainya. Akan tetapi, tanpa menoleh
pemuda itu mengangkat tangan kirinya menangkis, gerakan tangannya jelas menunjukkan bahwa sekali ini
dia mengerahkan tenaganya.
“Krakkk!” Dayung itu bertemu dengan lengan tangan pemuda itu dan patah!
Hoa-gu-ji melongo, akan tetapi dia terkejut sekali karena pemuda itu sudah menyambar sepotong dayung
yang patah tadi dan memukulkannya ke arah kepalanya. Pukulan sembarangan saja, seperti seorang yang
memukul seekor anjing. Hoa-gu-ji cepat mengangkat sisa potongan dayung, menangkis sambil
mengerahkan tenaganya.
“Bukkk!”
Sungguh aneh sekali, walau pun ditangkis, tetap saja potongan dayung itu mengenai punggungnya dan
robohlah Hoa-gu-ji, mulutnya memuntahkan darah segar dan dia sibuk berusaha untuk mengelus
punggung dengan kedua tangan, melalui atas dan bawah pundak sambil mengerang kesakitan.
Jika saja Khiu-pangcu tidak begitu marah, tentu ia telah dapat mengerti bahwa pemuda itu bukan orang
sembarangan, bahkan memiliki kepandaian yang amat hebatnya. Akan tetapi kemarahannya membuat dia
seolah-olah menjadi buta. Dengan teriakan nyaring tangannya bergerak dan beberapa sinar putih lantas
meluncur ke arah pemuda itu dan menyerang beberapa bagian tubuh yang berbahaya, tenggorokan, ulu
hati, dan pusar. Itulah tiga batang jarum Touw-kut-tok-ciam yang amat berbahaya, yang menyambar dari
jarak dekat.
Serangan tiba-tiba itu sama sekali tidak dapat dihindarkan lagi oleh pemuda itu, kecuali dua, yaitu yang
menyambar ke arah tenggorokan dan pusar. Kedua tangannya bergerak menangkap dua batang jarum itu
dengan menjepitnya antara jari tengah dan telunjuk, sedangkan jarum yang meluncur ke arah dadanya, dia
terima begitu saja.
“Cappp!” Jarum itu menancap di bajunya.
Kedua orang putera Jenderal Kao sudah terbelalak ngeri, apa lagi dua orang wanita Garuda Hitam yang
sudah mengenal kehebatan jarum beracun itu. Tentu pemuda lihai itu akan celaka karena dadanya sudah
termakan oleh sebatang jarum yang sangat berbahaya itu.
Namun sungguh luar biasa sekali. Pemuda berbaju abu-abu itu seperti tidak merasa-kan sama sekali,
malah sambil tersenyum mengejek dia kemudian berkata, “Orang sinting! Kau makanlah sendiri jarumjarummu!”
Dan tangannya yang menjepit jarum--jarum itu meluncur ke bawah, ke arah Khiu-pangcu!
Kakek itu berusaha meloncat dan mengelak, akan tetapi dia roboh kembali karena dua batang jarumnya
telah menancap di kedua betis kakinya, menembus tulang! Dia terkejut sekali, tergopoh-gopoh dia
mengeluarkan sebungkus obat dan cepat-cepat dia menelan empat butir pil hitam, mencabut dua batang
jaram itu dan menggosokkan obat pada bekas luka tertusuk jarumnya sendiri. Dia selamat dari bahaya
maut, akan tetapi tetap saja dia mengaduh-aduh karena rasa yang menusuk-nusuk tulang akibat
bekerjanya racun jarum itu.
Pemuda itu dengan sikap tak peduli kemudian mencabut jarum yang menancap di baju dadanya,
melemparkan jarum itu jauh ke tengah sungai. Kiranya yang tertembus jarum hanya bajunya dan agaknya
kulitnya tidak tertembus, buktinya dia tidak merasakan apa-apa. Sungguh seorang pemuda yang
berkepandaian luar biasa sekali.
“Pergilah kalian!” kata pemuda itu kepada dua orang kakek yang telah dirobohkan itu. “Cepat, kalau tidak
terpaksa aku akan membunuh kalian!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Tergopoh-gopoh Hoa-gu-ji yang punggungnya masih sakit itu memanggul Khiu-pangcu yang tidak dapat
berdiri, lalu dengan susah payah memasuki perahu dan mendayung perahu ke tengah sungai. Mereka
ketakutan dan bahkan tidak berani bertanya siapa adanya pemuda baju abu-abu yang amat lihai itu.
Pemuda berpakaian abu-abu itu lalu membungkuk, kedua tangannya bergerak dan dengan amat
mudahnya seperti memutus benang-benang saja, dia telah menggunakan jari-jari tangannya untuk
mematahkan belenggu kaki tangan dua orang saudara Kao. Mereka itu bangkit berdiri dan menjura untuk
menghaturkan terima kasih. Akan tetapi pemuda baju abu-abu itu menggerakkan tangan, agaknya tidak
senang melihat orang menghaturkan terima kasih, kemudian ia berkata, “Sudahlah, kalau kalian ingin
mencari kembali harta yang hilang, kalian cari saja Suma-kongcu. Yang lain-lainnya aku tidak tahu.”
Dua orang saudara Kao itu mengangguk, mereka masih merasa tegang dan kagum, juga terheran-heran
memandang pemuda yang luar biasa ini. Akan tetapi pemuda itu tidak lagi mempedulikan mereka, malah
menoleh kepada Kim-hi Niocu dan Liong-li sambil berkata, “Kalian pun boleh pergi, jangan mengganggu
dua orang pemuda ini. Cepat laporkan kepada ketua kalian bahwa aku ingin menemuinya.” Setelah berkata
demikian, pemuda baju abu-abu itu lalu membalikkan tubuhnya dan pergi dari situ sambil bersenandung.
“Maaf, Taihiap! Bagaimana kami akan melapor ketua tanpa mengetahui nama Taihiap?” Kim-hi Niocu
berseru dengan sikap hormat.
Pemuda itu menoleh dan tersenyum. Wajahnya tampan sekali bila tersenyum, mengusir kemuraman yang
membayangi wajah itu. “Katakan saja kepada ketuamu bahwa aku biasa membunuh dengan jari-jari
tanganku ini, tentu dia akan mengenalku. Nah, aku pergi!” Baru saja dia berkata demikian, tubuhnya sudah
berkelebat dan lenyap!
Kedua orang wanita yang lihai itu menjulurkan lidah penuh rasa kekaguman dan ngeri, kemudian mereka
pun pergi setelah melirik ke arah dua orang putera Jenderal Kao yang masih berdiri terlongong di tepi
sungai.
“Eh, Nona, harap tunggu dulu!” Tiba-tiba Kok Tiong berseru ketika dia melihat dua orang wanita itu pergi
meninggalkan tempat itu tanpa bicara apa-apa.
Kim-hi Niocu dan Liong-li berhenti, lalu membalikkan tubuh dan tersenyum manis. Dua orang pemuda
putera Jenderal Kao itu amat gagah dan tampan, tentu saja hati mereka tertarik, namun teringat akan
pesan pemuda berbaju abu-abu, mereka berdua merasa ngeri dan tidak berani mengganggu sedikit pun.
“Ada apakah, Kongcu?” Kim-hi Niocu berkata sambil tersenyum manis, matanya yang jernih memandang
tanpa menyembunyikan rasa kagumnya.
“Kami dapat menduga bahwa Nona berdua tentu anggota-anggota perkumpulan yang amat terkenal di
daerah ini. Akan tetapi kami tidak tahu, Nona berdua dari golongan apakah? Kami mendengar bahwa ada
dua golongan di daerah ini, dan Nona ini dari Gunung Cemara ataukah dari seberang lembah?”
Kim-hi Niocu tertawa kecil. “Dua orang tua tadilah yang datang dari lembah,” jawabnya dengan suara
merdu. “Mereka itu adalah tokoh-tokoh Huangho Kui-liong-pang (Partai Naga Setan dari sungai Huang-ho),
sedangkan kami adalah kepala-kepala pasukan dari perkumpulan Hek-eng-pang dari Gunung Cemara.”
“Maafkan jika kami bersikap kurang hormat, Nona. Kiranya Ji-wi (Anda Berdua) adalah kepala-kepala
pasukan dari perkumpulan besar Hek-eng-pang. Akan tetapi, Nona tentu tahu ke mana perginya para
wanita dan anak-anak, yaitu keluarga kami?”
Kim-hi Niocu mainkan matanya, mengerling tajam penuh daya tarik, kemudian sambil meremas-remas jari
tangannya, sikapnya seperti seorang dara tujuh belas tahun saja, dia berkata, “Saya tidak bisa bicara
banyak. Hoa-gu-ji itu bentrok dengan adik kami, yaitu kepala Pasukan Kayu di luar hutan malam kemarin
untuk memperebutkan harta keluarga kalian. Hoa-gu-ji kalah, lalu pergi. Jadi kalian adalah bagian kami.
Akan tetapi muncul pasukan asing di tebing ketika kami hendak turun tangan, lalu terjadi perang dan kami
menang, sungguh pun kepala Pasukan Kayu, adik kami itu tewas. Sa-yangnya, harta itu telah dirampas
oleh seorang pemuda tampan yang luar biasa sekali, demikian menurut keterangan keluarga kalian,
katanya pemuda yang merampas harta itu adalah seorang pemuda berpakaian putih-putih.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kok Tiong bertukar pandang dengan Kok Han, keduanya menduga bahwa tentu itulah Suma-kongcu
seperti yang disebut-sebut oleh tukang warung bubur hangat dan oleh pemuda berpakaian abu-abu yang
lihai tadi. “Kalau begitu, ke manakah perginya keluarga kami?” tanya Kao Kok Han dengan suara
penasaran.
Kembali Kim-hi Niocu memainkan matanya, mengerling tajam dan tersenyum manis penuh daya tarik. “Hihi-
hikkk... Ji-wi Kongcu yang baik, asal Ji-wi (Anda Berdua) dapat menemukan harta benda itu, yang
katanya dibawa oleh pemuda yang bernama Suma-kongcu, dan menyerahkan harta itu kepada kami,
hemmm... selain akan berterima kasih sekali, kami akan menjamu Ji-wi sebagai tamu-tamu kehormatan
dan tamu-tamu agung, juga kami akan mengatakannya di mana mereka itu. Bagaimana? Nah, Ji-wi carilah
pencuri itu sampai dapat, dan kami menanti di puncak Gunung Cemara. Sampai jumpa, Ji-wi Kongcu yang
tampan, kami pergi dulu. Marilah, Adik Liong-li!” Kim-hi Niocu menggandeng tangan Liong-li, kemudian
sambil tertawa-tawa dan dengan lenggang yang memikat, kedua orang wanita cantik yang nyaris diperkosa
oleh dua orang kakek tadi, meninggalkan dua orang putera Jenderal Kao yang berdiri bengong dan
bingung.
Tentu timbul pertanyaan di hati para pembaca budiman. Siapakah pemuda berpakaian abu-abu yang
sederhana, tampan dan amat lihai itu? Bagi para pembaca cerita Kisah Sepasang Rajawali, pemuda ini
bukanlah seorang asing karena dia merupakan seorang di antara tokoh-tokoh besar cerita itu. Dia bernama
Ang Tek Hoat! Pemuda ini adalah putera yang tidak sah dari mendiang Wan Keng In dan Ang Siok Bi.
Ibunya itu, Ang Siok Bi, ketika masih gadis telah diperkosa oleh Wan Keng In dan mengandung. Dialah
anaknya dan karena dia bukan anak sah dari Wan Keng In, maka ibunya memberi she ibunya dan she itu
tetap terus dipakainya.
Setelah melalui perjalanan hidup yang berliku-liku, yang dituturkan secara menarik dan menegangkan
dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali, akhirnya Ang Tek Hoat diakui sebagai seorang pahlawan di negara
Bhutan dan ditunangkan dengan Puteri Syanti Dewi, seorang puteri yang cantik jelita dan berbudi mulia,
yang akhirnya jatuh cinta kepada Ang Tok Hoat, biar pun pemuda ini pernah menjadi seorang yang
sejahat-jahat dan sekejam-kejamnya.
Mengingat bahwa ayah kandung Tek Hoat yang bernama Wan Keng In adalah anak tiri dari Pendekar
Super Sakti Majikan Pulau Es, maka Tek Hoat terhitung keluarga Pulau Es yang terkenal, karena dia masih
cucu tiri dari Pendekar Super Sakti. Di dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali telah diceritakan betapa Ang
Tek Hoat telah mewarisi ilmu-ilmu yang amat hebat dari dua orang datuk Pulau Neraka, dan kini dia
memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat dan sukar memperoleh tandingan.
Akan tetapi mengapa pemuda perkasa yang telah ditunangkan dengan Puteri Syanti Dewi, yang sudah
diakui sebagai pahlawan negara Bhutan karena pembelaannya ketika negara itu diserang oleh musuhmusuh,
kini berkeliaran di lembah Sungai Huang-ho seorang diri? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari
kita mengikutinya sejenak semenjak empat tahun yang lalu, ketika dia terpaksa meninggalkan negara
Bhutan.
Seperti telah dituturkan pada bagian terakhir dari cerita Kisah Sepasang Rajawali, Ang Tek Hoat telah
ditunangkan dengan Puteri Syanti Dewi dan tinggal di Bhutan sebagai seorang pahlawan yang diangkat
menjadi panglima. Ia telah menjadi seorang panglima muda yang terhormat, bahkan terkenal pula sebagai
calon mantu raja, tunangan Puteri Syanti Dewi yang dipuja-puja oleh rakyat Bhutan. Hari pernikahan
mereka hanya tinggal menanti keputusan raja saja, yang masih menangguhkannya mengingat bahwa
Bhutan baru saja mengalami perang dan bahwa baru saja Puteri Syanti Dewi kembali ke istana Bhutan
setelah beberapa tahun lenyap (baca cerita Ki-sah Sepasang Rajawali).
Akan tetapi, tidak ada kesenangan yang kekal bagi manusia yang hidup di dunia ini. Di mana terdapat
kesenangan, di situ pasti terdapat pula kesusahan. Susah dan senang, puas dan kecewa, suka dan duka,
agaknya merupakan pasangan-pasangan yang tidak dapat dipisahkan yang menghias kehidupan manusia.
Kesenangan yang dinikmati oleh Ang Tek Hoat pun ternyata tidak kekal adanya karena terjadi hal yang
sama sekali tidak disangka-sangkanya…..
********************
Beberapa bulan sudah Ang Tek Hoat tinggal di Bhutan, di sebuah gedung kecil yang amat megah dan
indah, sebuah bangunan istana yang tak jauh dari istana raja. Hampir setiap hari dia dapat bertemu dan
bercakap-cakap dengan kekasihnya, yaitu Puteri Syanti Dewi. Dalam beberapa bulan saja tubuh Tek Hoat
kelihatan segar, sehat dan agak gemuk.
dunia-kangouw.blogspot.com
Namun diam-diam dia mulai tidak kerasan sebab kehidupan yang dialaminya sehari-hari terlalu enak,
terlalu menganggur sehingga membuatnya malas. Dia sudah biasa hidup merantau, juga sudah biasa
menghadapi hal-hal yang menegangkan, yang memerlukan kecerdikan dan ketangkasannya untuk
menghadapinya. Kini, dia tinggal di istana indah, tidak ada kerjaan apa-apa kecuali kadang-kadang
menghadiri sidang di dalam istana, membicarakan urusan kenegaraan yang tidak begitu dimengerti dan
dipedulikannya. Jiwa petualangan di dalam dirinya meronta dan membuat dia tidak kerasan. Namun
perasaan ini tentu saja ditahan-tahannya, demi cintanya terhadap Syanti Dewi.
Hari masih pagi sekali dan baru saja Tek Hoat mandi pagi serta bertukar pakaian ketika seorang pengawal
menghadapnya dan melaporkan bahwa terjadi keributan di luar pintu gerbang istana karena ada seorang
wanita yang memaksa hendak bertemu dengan Panglima Ang!
“Siapakah dia?” tanya Tek Hoat dengan alis berkerut, namun hatinya berdebar girang karena baru
sekarang terjadi hal yang menegangkan, berbeda dari biasanya yang lewat dengan aman dan mulus tanpa
peristiwa berarti.
“Dia tidak mau mengaku namanya, hanya tadi mengatakan bahwa dia harus bertemu dengan Panglima
Ang. Ketika dicegah, wanita itu malah merobohkan dua orang prajurit pengawal dan karena dia mengaku
kenal baik dengan Paduka, maka para komandan jaga tidak berani lancang turun tangan dan menyuruh
hamba datang melapor.”
Tek Hoat lalu bergegas meninggalkan gedungnya dan pergi ke pintu gerbang di mana para prajurit sedang
menghadapi seorang wanita yang lagi marah-marah. Jantungnya berdebar keras ketika mendengar suara
wanita itu. Cepat dia berlari menghampiri dan menguak para prajurit, melangkah ke depan wanita itu.
“Tek Hoat !”
“Ibu...!”
Semua orang melongo ketika melihat betapa panglima baru mereka itu berpelukan dengan wanita galak
tadi. Kiranya wanita yang pakaiannya kusut dan kotor, yang galak dan angkuh itu adalah ibu dari panglima
besar mereka, ibu dari calon mantu raja mereka, ibu dari tunangan Puteri Syanti Dewi mereka! Tanpa
banyak cakap lagi karena di situ terdapat banyak orang, Tek Hoat lalu menggandeng ibunya, diajak ke
istananya.
Setelah tiba di istana, kembali wanita itu yang bukan lain adalah Ang Siok Bi, memeluk puteranya sambil
menangis sesenggukan. “Terlalu kau... Tek Hoat, sampai bertahun-tahun kau tiada beritanya. Aku sampai
susah payah, sengsara mencari-carimu, kiranya engkau menjadi seorang besar di negara asing ini hu-huhuuuh...”
“Sudahlah, Ibu. Harap kau suka ampunkan aku. Aku mengalami banyak liku-liku dalam hidup, bahkan
sampai terseret arus hidup ke tempat ini, dan baru saja hidupku teratur maka aku belum sempat menengok
ibu di puncak Bukit Angsa. Sudahlah, ibu harap jangan menangis.”
Setelah rasa penasaran dan keharuan hatinya mereda, Ang Siok Bi lalu men-dengarkan penuturan
puteranya, semenjak Tek Hoat meninggalkan lembah Huangho sampai dia menjadi panglima besar di
Bhutan. Tentu saja semua itu dituturkannya secara singkat dan hanya garis-garis besarnya saja.
“Dan aku memperoleh kenyataan yang pahit, Ibu, yaitu bahwa musuh kita bukanlah Gak Bun Beng “
“Hemmm, aku juga sudah tahu!” tukas ibunya. “Dan sekarang, setelah engkau enak-enak saja di sini
sedangkan musuh ibumu masih enak-enak hidup dan engkau belum membalaskan dendam dan sakit hati
ibumu? Anak macam apa engkau ini? Mau enak-enak saja di sini menjadi panglima?”
Tek Hoat terkejut. “Ibu! Bukankah Ibu sendiri sudah tahu bahwa Paman Gak Bun Beng bukanlah musuh
Ibu? Hampir saja aku berdosa besar dengan memusuhi Paman Gak Bun Beng yang ternyata adalah
seorang pendekar budiman yang berbudi mulia, sama sekali bukanlah musuh kita, dan Ibu tentu sudah
tahu pula bahwa musuh kita itu telah tewas.”
“Maksudmu ?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Wan Keng In itu... Ayah... kandungku... Si keparat jahanam yang memperkosa Ibu..., ahhh, mengapa
dahulu Ibu menceritakan yang bukan-bukan kepadaku? Kiranya Wan Keng In yang memperkosa Ibu, tetapi
dia menggunakan nama Gak Bun Beng sehingga Ibu mengira Gak Bun Beng yang menjadi Ayah
kandungku dan Ibu lalu membohongiku dengan cerita lain agar aku membunuh... Ayah kandungku sendiri.
Sekarang, syukur bukan Paman Gak yang berdosa, dan orang yang berdosa, she Wan itu dia telah mati.
Habislah sudah riwayat busuk itu, Ibu.”
“Siapa bilang habis? Aku, Ibumu, tidak akan merasa puas sebelum dapat membalas dendam yang
kutanggung selama hidupmu ini.”
“Maksud Ibu?”
“Wan Keng In si keparat sudah mati, akan tetapi Ibunya masih ada! lbu kandung keparat itu masih hidup!”
“Ihhhhh...!” Tek Hoat berseru kaget dan membelalakkan matanya. “Ibu tahu siapa Ibu Wan Keng In itu?”
Ang Siok Bi mengangguk. “Dia bernama Lulu, dia adalah isteri kedua dari Majikan Pulau Es.”
“Dan Majikan Pulau Es adalah Pendekar Super Sakti dan isterinya yang kedua itu adalah Nenekku! Ibu,
betapa mungkin kita harus membalas kepada Nenek yang tidak berdosa apa-apa itu!”
“Tidak peduli! Wan Keng ln sudah mampus, maka Ibunya, wanita yang mengandung dan melahirkan
manusia iblis itu harus kita bunuh! Dan engkau sebagai anakku harus membantu Ibumu!”
“Ibu...!” Tek Hoat menutupi muka dengan kedua tangannya, mukanya menjadi pucat sekali.
Ang Siok Bi meloncat berdiri, kemudian menyergap anaknya, memegang pundaknya dan
mengguncangnya keras-keras. “Apa? Kau... kau takut…? Kau jeri menghadapi keluarga Pulau Es? Baik,
Ibumu akan pergi sendiri!”
“Ibu, jangan...! Bukan begitu maksudku. Akan tetapi aku... aku telah menerima kebaikan Sri Baginda di
Bhutan ini, aku...”
“Kau sudah mabuk kemewahan? Tugas hidupmu paling utama ialah membalas dendam Ibumu paling
perlu, setelah itu terserah kau mau hidup bagaimana, aku tidak peduli lagi.”
“Bukan itu, Ibu, akan tetapi aku... aku telah bertunangan dengan puteri Raja Bhutan, dengan Puteri Syanti
Dewi.”
“Huh, lain kemewahan lagi!”
“Jangan Ibu berkata demikian,” Tek Hoat berkata dengan nada agak keras karena dia merasa tersinggung.
“Ketahuilah, Ibu. Biar pun Syanti Dewi itu puteri raja, akan tetapi aku cinta padanya dan dia cinta padaku.
Kami sudah saling mencinta dan dia adalah seorang gadis yang berbudi dan amat baik. Aku akan menikah
dengan dia karena cinta, bukan karena dia puteri raja.”
Ang Siok Bi mengangguk-angguk tak sabar. “Baiklah, baiklah, kau cinta padanya, dan dia cinta padamu.
Karena itu, kau boleh menikah dengan dia sekarang juga, lalu kau bawa dia pulang ke Bukit Angsa. Dia
bukan menjadi halangan bagi kita untuk membalas ibu si keparat Wan Keng In!”
“Akan tetapi tidak mungkin itu, Ibu!” Tek Hoat berkeras menolak.
“Tidak mungkin katamu? Mengapa?”
“Terlalu banyak hal-hal yang membuat aku tidak mungkin melakukan permintaanmu itu.”
“Huh! Begitu? Coba katakan, apa hal-hal itu?”
“Pertama, tidak mungkin Sri Baginda membolehkan puterinya kubawa pergi dari sini karena beliau amat
mencinta puterinya. Kedua, aku sudah diangkat menjadi panglima dan tenagaku dibutuhkan di Kerajaan
Bhutan ini, dan karena aku telah berhutang budi terpaksa harus kulakukan. Ketiga tidak mungkin aku
memusuhi keluarga Pulau Es.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ehhhhh? Kau... kau takut?”
Tek Hoat menggeleng kepala dan menarik napas panjang. “Biar pun mereka itu amat sakti, aku tidak takut.
Aku hanya segan karena mereka itu adalah keluarga pendekar yang sakti dan budiman, dan aku... aku
bahkan amat bangga dapat menyebut Pendekar Super Sakti sebagai Kakek tiriku.”
“Cih! Pengecut!”
“Ibu...!”
“Engkau anakku, engkau harus menurut kepada Ibumu!”
“Maaf, Ibu. Akan tetapi tidak mungkin, aku malah mohon agar Ibu suka tinggal di sini bersamaku, hidup
tenteram dan damai sampai hari akhir. Ibu, mengapa Ibu harus mendendam kepada keluarga Pulau Es,
padahal yang berdosa telah meninggal? Ibu, kumohon padamu jangan...”
“Cukup!” Ang Siok Bi bangkit berdiri.
Pada saat itu, seorang pelayan wanita datang membawa cangkir-cangkir dan poci teh, tetapi sekali
menggerakkan kaki, Ang Siok Bi menendang sehingga baki itu terlempar, cangkir-cangkir dan poci pecah,
air teh berhamburan. Si pelayan menjerit dan kemudian lari masuk.
“Aku tidak sudi minum air tehmu! Kau anak durhaka! Kau anak tidak berbakti, kau anak terkutuk! Baik, aku
akan pergi dari sini, kembali ke Bukit Angsa dan lebih baik aku mati kelaparan di sana dari pada hidup
bermewah di sini bersama anak durhaka!” Ang Siok Bi marah sekali dan dia lari keluar.
“Ibu...!” Tek Hoat berteriak akan tetapi ibunya tidak mempedulikannya sehingga pemuda yang gagah
perkasa ini menjatuhkan diri di atas kursi dengan muka pucat sekali. Tidak disangkanya akan terjadi
peristiwa seperti itu dan dia menyesal, menyesal sekali, akan tetapi apa yang dapat dia lakukan?
Tek Hoat tidak tahu bahwa semenjak dia diangkat menjadi panglima dan menjadi calon mantu Raja
Bhutan, di samping banyak yang menerimanya dengan girang, ada pula yang menerimanya dengan hati
penuh iri dan penasaran. Puteri raja yang mereka puja-puja dan agungkan itu hendak dikawinkan dengan
seorang asing dari timur? Seorang yang bukan keturunan bangsawan pula, bahkan kabarnya seorang
petualang!
Salah seorang di antara yang tak senang ini, terdapat seorang panglima muda bernama Mohinta, yaitu
putera dari panglima pertama Kerajaan Bhutan, panglima tua Sangita. Panglima muda Mohinta ini sudah
lama menaruh harapan akan dapat diambil mantu oleh raja. Dia adalah teman bermain Syanti Dewi di
waktu kecil dan diam-diam dia jatuh cinta kepada puteri itu, apa lagi ketika puteri itu kembali ke Bhutan dan
dia melihat betapa puteri itu kini demikian cantik jelitanya. Diam-diam dia merasa cemburu dan iri hati, akan
tetapi tentu saja dia tidak dapat berbuat apa-apa, hanya menanti saat-saat yang baik untuk
mempertahankan dan memperjuangkan kepentingan dirinya, menanti kesempatan untuk ‘menjatuhkan’
saingannya yang dia tahu amat sakti itu.
Dan pada hari itu, datanglah kesempatan yang dinanti-nantinya itu, yang dianggapnya sebagai anugerah
dewata. Pada saat mata-matanya memberi tahu tentang kemunculan seorang wanita kasar yang mengaku
‘ibunda’ dari Panglima Ang Tek Hoat, Panglima Mohinta segera mendengar tentang perselisihan antara
Tek Hoat dan ibunya, dan dia segera mencegat ketika mendengar bahwa ibu Tek Hoat pergi dengan
marah.
Ang Siok Bi masih marah-marah saat dia dihadang oleh seorang Panglima Bhutan yang muda dan tampan,
yang memberi hormat dengan sikap amat menghormat kepadanya. Panglima muda itu kemudian berkata,
“Harap Toanio suka bersabar dulu. Saya adalah Mohinta, sahabat baik dari putera Toanio dan saya selalu
siap sedia untuk menolong, terutama kepada Toanio sebagai Ibu sahabat saya.”
“Huh, aku tidak mempunyai urusan dengan sahabat-sahabat anakku yang durhaka itu!” Ang Siok Bi
hendak melangkah terus, akan tetapi Mohinta kembali menjura dan berkata dalam bahasa Han yang fasih.
“Toanio, bukankah Toanio menghendaki agar putera Toanio itu dapat kembali ke timur bersama Toanio?
Kalau hanya hal begitu, mengapa repot-repot? Saya dapat menolong Toanio.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Ang Siok Bi yang sudah hampir putus asa itu memandang tajam penuh selidik, lalu bertanya ragu,
“Benarkah? Aku sebagai Ibunya sudah tidak dapat membujuknya, apa lagi engkau yang hanya
sahabatnya.”
“Toanio, ada peribahasa di negeri kami yang menyatakan bahwa apa bila kekuatan tak berhasil menolong
kita, kita harus menggunakan akal, dan bahwa kita dapat mengatasi kekerasan dengan kelunakan. Saya
tahu sekali mengapa Saudara Tek Hoat tidak dapat meninggalkan Bhutan, tidak lain dikarenakan adanya
Puteri Syanti Dewi. Dan ketahuilah bahwa sebenarnya, Sri Baginda tidak begitu berkenan hatinya
mengambil mantu putera Toanio. Maka, apa bila Sri Baginda mendengar sesuatu tentang diri Saudara Tek
Hoat yang tidak berkenan di hatinya, besar harapannya pertunangan itu akan dibatalkan dan tentu Saudara
Tek Hoat akan suka pergi bersama Toanio kalau sudah tidak ada lagi pengikatannya dengan puteri raja.”
“Hemmm, kalau memang Raja Bhutan tidak suka kepada anakku, kenapa akan diambil mantu?” Ang Siok
Bi bertanya marah.
“Sri Baginda hanya memandang pada keluarga Suma, Majikan Pulau Es yang kabarnya masih keluarga
Kaisar. Karena putera Toanio kabarnya masih keluarga Majikan Pulau Es, dengan sendirinya putera
Toanio masih berdarah keluarga Kaisar, maka dari itu Sri Baginda mau menerimanya. Kalau halnya tidak
demikian, tentu pertunangan itu akan dibatalkan.”
Wajah wanita itu berseri dan dia cepat berkata, “Kalau begitu, biar aku bertemu dengan raja!”
Memang cerdik sekali Panglima Mohinta. Tadi ia mendengar dari mata-matanya tentang perselisihan Tek
Hoat dengan ibunya, melalui pelayan dalam istana Tek Hoat, dan dia tahu pula tentang percakapan antara
ibu dan anak mengenai keluarga Pulau Es. Oleh karena itu, dia sengaja mengemukakan hal keluarga itu
kepada Ang Siok Bi. Dan wanita ini memang sama sekali tidak peduli tentang kedudukan puteranya, atau
tentang raja dan puterinya. Yang penting baginya adalah dapat mengajak puteranya untuk kembali ke timur
dan membantunya membalas dendam kepada Wan Keng In, atau lebih tepat, kepada ibu Wan Keng In,
yaitu Nyonya Suma di Pulau Es!
Berkat bantuan dan usaha Mohinta, akhirnya Ang Siok Bi berhasil pula dihadapkan kepada Raja Bhutan.
Raja ini sudah mengerutkan alisnya dan hatinya merasa tidak senang ketika melihat wanita setengah tua
yang biar pun cantik dan gagah, akan tetapi kasar dan tidak menghormat itu, yang gerak-geriknya jelas
membayangkan kekerasan dan kekasaran, sama sekali tidak patut menjadi besannya! Wanita dusun ini
adalah ibu calon mantunya!
Akan tetapai sebagai basa-basi, dia mempersilakan nyonya itu untuk duduk, kemudian berkata, “Kami
mendengar bahwa Nyonya adalah Ibu kandung dari Panglima Ang Tek Hoat, dan mohon menghadap kami.
Benarkah itu dan siapakah nama Nyonya?”
“Nama saya Ang Siok Bi, tinggal di Bukit Angsa, di lembah Sungai Huangho,” jawab Ang Siok Bi.
“Hemmm, kalau Nyonya she Ang, kenapa putera Nyonya she Ang juga. Siapakah Ayah Panglima Ang Tek
Hoat? Bukankah Ayahnya masih keluarga dengan Majikan Pulau Es yang terkenal itu?”
Tiba-tiba Ang Siok Bi berkata dengan suara keras, “Persetan dengan keluarga Pulau Es! Anakku tidak
mempunyai ayah!”
Raja makin terkejut dan makin tidak senang. “Apa maksud Nyonya?”
“Dengarlah, Sri Baginda! Ada seorang anggota luar keluarga Pulau Es yang bernama Wan Keng In, dan
manusia jahanam itu sudah memperkosa saya ketika saya masih gadis, dan saya mengandung lalu
melahirkan Tek Hoat itulah. Maka dia adalah anak saya sendiri, tidak mempunyai ayah yang sah. Saya
mempunyai dendam sakit hati sebesar gunung, sedalam lautan, seluas langit terhadap keluarga Wan Keng
In itu, dan saya tidak rela kalau putera saya dikurung di sini, karena saya harus mengajaknya untuk
membalas dendam. Maka, saya mohon kepada Sri Baginda untuk membebaskan putera saya itu!”
“Cukup...! Pengawal, cepat suruh dia pergi...!” Sri Baginda menjadi marah sekali dan dia memerintahkan
pengawal untuk mengusir Ang Siok Bi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Wanita ini tidak melawan dan dia hanya memandang dengan mata mendelik kepada Panglima Mohinta,
kemudian dia keluar dari istana, bahkan terus digiring oleh pasukan pengawal, keluar dari daerah Kerajaan
Bhutan, kembali ke timur.
Pada hari itu juga, Tek Hoat menerima panggilan dari raja. Ketika pemuda ini keluar dari istananya, dia
terheran-heran melihat banyaknya pengawal di sekitar istananya, dan di istana raja pun terdapat banyak
pasukan, seolah-olah kerajaan menghadapi perang! Tergesa-gesa dia memasuki istana dan tiba di ruang
persidangan, di mana dia melihat raja sudah duduk dihadap oleh para panglima dan pejabat tinggi dan juga
di tempat ini terjaga oleh pasukan-pasukan pengawal dengan ketat. Cepat dia memberi hormat dengan
berlutut dan dengan suara kaku Sri Baginda lalu menyuruh dia duduk.
“Hamba terkejut sekali mendengar panggilan tiba-tiba ini dan melihat adanya per-siapan-persiapan. Ada
terjadi hal penting apakah, hendaknya Paduka memberi tahu kepada hamba dan hamba yang akan
menghalau semua bahaya!” Tek Hoat berkata, namun hatinya merasa tegang karena dia melihat betapa
pandang mata semua panglima dan pejabat ditujukan kepadanya dengan tak senang.
“Ang Tek Hoat, kami memanggilmu untuk mendapatkan keterangan sejelasnya dan sejujurnya darimu,” Sri
Baginda berkata. “Maukah engkau menjawab semua pertanyaan kami dengan jujur?”
“Hamba siap untuk menjawab semua pertanyaan dengan sejujurnya,” jawab Tek Hoat dengan hati tidak
enak.
“Pertama, benarkah engkau masih ada sangkutan keluarga dengan keluarga Pulau Es seperti yang
dikabarkan orang dan bagaimanakah sangkutan keluarga itu?”
Tek Hoat mengerutkan alisnya. Hemmm, apakah artinya pertanyaan aneh ini? Apa hubungannya dengan
keadaan dirinya? Akan tetapi dengan tenang dia lalu men-jawab, “Memang benar demikian, Sri Baginda.
Isteri kedua dari Pendekar Super Sakti adalah Nenek hamba, dan Majikan Pulau Es itu sendiri adalah
Kakek tiri hamba.”
“Siapakah nama Ayah kandungmu?”
Tek Hoat terkejut. Tidak disangkanya dia akan ditanya sampai begini melilit tentang keluarganya. “Ayah
hamba bernama Wan Keng In, putera dari Nenek hamba itu.”
“Kalau Ayahmu she Wan, kenapa engkau she Ang?”
Kembali Tek Hoat terkejut dan merasa tidak enak sekali. Akan tetapi dia sudah berjanji akan menjawab
sejujurnya! Dan andai kata yang bertanya ini bukan raja, calon ayah mertuanya, tentu dia sudah marah
sekali.
“Itu adalah kehendak Ibu hamba yang bernama Ang Siok Bi.”
Kini Raja Bhutan memandang tajam, tubuhnya agak mendekat dan suaranya terdengar lantang, “Ang Tek
Hoat, pernahkah Ibumu menikah dengan Ayahmu ltu? Siapakah Ayahmu yang sah?”
Kalau saja ada petir menyambar, kiranya Tek Hoat tidak akan terkejut seperti pada saat mendengar dua
pertanyaan itu. Tiba-tiba dia marah sekali, mukanya menjadi merah dan matanya mengeluarkan sinar
berapi. Semua petugas dan pengawal yang menjaga di situ menjadi gentar dan siap siaga kalau-kalau
panglima muda yang ditakuti itu akan mengamuk.
Akan tetapi Tek Hoat lalu berkata, suaranya menahan kemarahannya, “Hamba tidak mau menjawab
pertanyaan-pertanyaan ini. Itu adalah urusan hamba pribadi dan siapa pun tidak dapat memaksa hamba
untuk menjawabnya.”
“Brakkk!” Raja Bhutan menggebrak meja di depannya.
“Ang Tek Hoat! Kami tahu bahwa engkau sudah berjasa bagi negara ini, dan kami tahu pula bahwa antara
engkau dan puteri kami terdapat perasaan cinta kasih. Akan tetapi, apakah itu cukup untuk mengangkatmu
sebagai calon mantu kerajaan ini? Riwayatmu tidak terang dan agaknya tidak bersih, maka engkau pun
harus mengerti betapa sulitnya bagi kami untuk mempunyai seorang mantu dan panglima yang tidak jelas
riwayat hidup dan keturunannya. Bagaimana pula kami akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari
dunia-kangouw.blogspot.com
negara-negara tetangga? Hal itu akan menyeret kami dan keharuman nama keluarga kerajaan kami ke
dalam lumpur!”
Makin merah wajah Ang Tek Hoat. Kalau dia tidak ingat kepada Syanti Dewi, tentu dia sudah mengamuk
dan membunuh raja serta semua yang melindunginya. Akan tetapi dia masih ingat dan dapat
membayangkan betapa akan berduka dan hancur rasa hati kekasihnya itu kalau dia melakukan hal itu.
Pula, semua penderitaan hidupnya selama ini membuat dia makin kuat dan tahan menerima pukulanpukulan
batin yang hebat ini, dan dia dapat merasakan pula kebenaran bagi pihak keluarga raja. Maka
perlahan-lahan dia bangkit berdiri dan berkata tenang.
“Sri Baginda, sebagai seorang laki-laki hamba sudah biasa menerima segala sesuatu secara terangterangan.
Harap saja Paduka juga berlaku terang-terangan menyatakan niat hati Paduka pada hamba.
Kalau sudah menjadi kenyataan bahwa hamba bukanlah keturunan ningrat, bukan pula keturunan orang
terpelajar atau pun kaya, lalu bagaimana kehendak Paduka?”
“Ikatan jodoh dengan puteriku harus batal! Kami tidak mungkin mengambil mantu seorang seperti engkau,
Ang Tek Hoat. Dan jasamu terhadap negara Bhutan pun tidak dapat dibalas dengan pengangkatan
sebagai panglima. Engkau bukan bangsa kami dan jasa-jasamu itu akan kami balas dengan anugerah
berupa harta benda yang boleh kau bawa pulang ke negerimu!”
Rasanya seperti hampir meledak dada Ang Tek Hoat. “Sri Baginda! Ini sudah sangat keterlaluan! Siapa
yang menghendaki balas jasa? Siapa yang menghendaki pangkat? Siapa pula yang menghendaki
kedudukan sebagai mantu raja yang terhormat? Hamba mencinta Puteri Syanti Dewi, hal itu sudah jelas,
akan tetapi yang hamba cinta adalah pribadinya sebagai manusia, bukan kedudukannya sebagai puteri
kerajaan! Hamba pun tidak membutuhkan pangkat ini!”
Dengan gemas Tek Hoat merenggut hiasan kepala dan melemparkannya ke atas lantai, lalu mencopotcopoti
semua tanda pangkat dan melemparkannya ke atas lantai. “Mulai saat ini hamba bukan lagi
Panglima Bhutan, bukan lagi hamba Bhutan dan hamba pun tidak mengharapkan balas jasa sejemput batu
sekali pun!”
Setelah berkata demikian, dengan muka merah dan dada panas Tek Hoat melangkah keluar persidangan,
mengangkat dadanya dan siap untuk mengamuk apa bila ada yang turun tangan. Akan tetapi untung, di
antara para panglima dan pengawal, tidak ada yang mau turun tangan sehingga dengan leluasa, Ang Tek
Hoat keluar dari istana itu.
Ketika dia hendak mengunjungi Syanti Dewi, dia melihat betapa Istana di mana puteri itu tinggal terkurung
rapat oleh pasukan yang jumlahnya ada seribu orang! Tahulah dia bahwa raja tak menghendaki dia
berjumpa dengan kekasihnya itu, dia tahu pula bahwa mengamuk seorang diri menghadapi bala tentara
senegara merupakan hal yang bodoh dan tidak mungkin. Lagi pula, kalau keluarganya tidak menghendaki,
apa perlunya dia memaksa-maksa? Ia hanya akan membuat Syanti Dewi menjadi sengsara dan berduka
saja.
“Syanti Dewi, selamat tinggal...!” Dia berbisik, lalu pergilah Ang Tek Hoat dari istana itu, bahkan terus
keluar dari negara Bhutan pada hari itu juga.
Diam-diam dia merasa berduka sekali karena terpaksa harus meninggalkan kekasihnya, meninggalkan
Syanti Dewi yang dicintanya sepenuh jiwa raganya. Dan dia tahu bahwa hal ini terjadi karena gara-gara
ibunya. Siapa lagi kalau bukan ibunya yang menjadi biang keladi semua peristiwa yang menimpanya ini?
Sungguh terlalu! Ibunya sendiri pun agaknya tidak ingin melihat dia hidup bahagia di samping Syanti Dewi!
Dengan hati penasaran Ang Tek Hoat mulai dengan perjalanannya kembali ke timur.
Perjalanan yang amat menyedihkan. Makin jauh dia menuju ke timur, makin merana rasa hatinya yang
direnggutkan dari kekasihnya yang tercinta. Sering kali, di waktu beristirahat, dia termenung seperti arca,
dengan muka pucat dan wajah muram, dengan rambut awut-awutan dan pakaian kusut mengenangkan
wajah Syanti Dewi dan dia merasa betapa hatinya amat perih. Kadang-kadang, jika rasa rindunya terhadap
Syanti Dewi sudah tak tertahankan lagi, dia bersenandung, maksudnya untuk melupakannya, akan tetapi
yang terdengar hanyalah senandung sedih penuh duka, sebagai pengganti tangis yang diharamkannya.
Akhirnya setelah melakukan perjalanan yang jauh dan lama, juga merupakan perjalanan paling pahit dan
paling menyedihkan bagi Tek Hoat, sampailah pemuda itu di puncak Bukit Angsa, di lembah Sungai
Huang-ho. Dari jauh dia sudah melihat pondok ibunya di puncak itu, pondok yang menjadi kampung
dunia-kangouw.blogspot.com
halamannya, tempat dia bermain-main di waktu kecil. Ada rasa hati menyentuh perasaannya, akan tetapi
kembali dia teringat akan kedukaan hatinya akibat terpisah dari Syanti Dewi yang agaknya disebabkan oleh
ibunya, maka lenyaplah perasaan haru itu, terganti rasa penasaran. Dia mempercepat langkahnya. Dia
harus bertemu ibunya, harus menegur ibunya. Ibunya tidak berhak merusak hidupnya, merusak
kebahagiaannya!
“Ma (Ibu)...!” Dia memanggil ketika dia tiba di depan pintu pondok yang tertutup.
Tidak ada jawaban.
“Ibu...!” Dia memanggil lagi, kini dia mendorong pintu pondok.
Bau yang tidak enak menyambutnya, membuatnya terhuyung mundur dan membuatnya waspada. Bau
yang seperti racun, atau bau seperti bangkai busuk! Ditendangnya daun pintu terbuka. Gelap di dalam
karena memang matahari sudah condong ke barat, dan di dalam pondok itu tidak memperoleh sinar lagi.
Dia tidak berani sembarangan masuk dan dengan memutar dia menghampirl jendela kamar di sebelah
barat rumah kecil itu.
Daun jendela juga tertutup. Ditolaknya dari luar. Daun jendela terbuka dan Tek Hoat cepat mengelak
karena begitu daun jendela terbuka, dari dalam menyambar jarum-jarum beracun bewarna hitam. Dia cepat
memandang ke dalam. Kini ada sinar matahari senja menyorot masuk melalui lubang jendela. Jantungnya
berdebar tak karuan karena dari luar tadi dia melihat sesuatu yang membuat jantungnya seperti berhenti
berdenyut, kemudian berdebar-debar.
Setelah dia tiba di depan pembaringan kayu itu, jelas tampak olehnya benda yang telah membuat
jantungnya berhenti berdenyut tadi. Rangka manusia! Rangka manusia yang terbungkus pakaian, pakaian
ibunya seperti ketika datang mengunjunginya di Bhutan! Rambut ibunya yang berada di dekat tengkorak
itu, dengan sanggul yang masih amat dikenalnya dan ada hiasan rambut berupa kembang teratai emas
milik ibunya! Segera dia bergidik.
“Ibuuu...! Mula-mula ia berbisik, lalu disambung dengan teriakan panjang. “lbuuuuuu...!”
Dia tidak syak lagi. Rangka itu adalah rangka ibunya yang telah tewas. Mati sakit? Ataukah mati terbunuh?
Timbul kecurigaan di hati Tek Hoat. Tidak mungkin sakit. Baru saja ibunya bisa melakukan perjalanan ke
Bhutan, perjalanan yang demikian sukar dan jauh. Ibunya sehat ketika itu, sehat dan masih amat kuat.
Teringat dia akan jarum-jarum ibunya. Dia memeriksa jendela dan melihat alat rahasia yang melontarkan
jarum-jarum itu.
Agaknya sebelum mati, ibunya memasang alat itu pada daun jendela, untuk menyerang dan menjebak
lawan yang membuka jendela. Jelas bahwa ibunya telah bersiap-siap menanti kedatangan musuh gelap.
Pedang ibunya juga terhunus dan terletak di atas meja dalam kamar. Akan tetapi ibunya telah tewas,
menjadi rangka yang tidak rebah lurus di atas pembaringan, melainkan miring dan agak melingkar. Bukan
tubuh yang tertidur.
Tek Hoat memeriksa sekali lagi dan pandang matanya tertarik oleh coret-coret di kayu pembaringan, hurufhuruf
kecil. Tulisan ibunya! Dia kenal betul tulisan ibunya, sungguh pun tulisan ltu dilakukan dengan
menggunakan benda runcing, mungkin itu jarum yang digores-goreskan. Dia cepat-cepat memasang lilin
yang masih ada di sudut meja, dan mendekatkan lilin bernyala itu pada pinggir pembaringan, di mana
terdapat tulisan itu.
‘Tiga malam aku tidak tidur, menanti serangan si pengecut laknat. Kalau ada puteraku di sini, engkau akan
mampus...’
Agaknya tulisan itu akan menuliskan lanjutannya, mungkin akan menyebutkan nama musuh yang ditunggutunggu
ibunya, akan tetapi coretan itu hanya merupakan coretan dari atas ke bawah, agaknya pada saat itu
musuh datang menyerang ibunya. Dan melihat jendela masih dipasangi alat rahasia, tentu musuh itu bukan
datang dari jendela, melainkan dari pintu depan, atau boleh jadi juga dari atas genteng! Akan tetapi siapa?
Tek Hoat berlutut, tak dapat ditahan lagi beberapa tetes air mata membasahi pipinya. Baru sekarang ia
dapat menangis, biar pun hanya beberapa tetes air mata. Dia teringat akan ibunya, akan penderitaan
ibunya sejak masih gadis, sejak diperkosa orang! Sejak saat yang laknat itu ibunya hidup menderita
dunia-kangouw.blogspot.com
tekanan batin. Pantas saja kalau ibunya menanggung dendam yang tidak pernah terbalas itu, dan tidak
pernah dapat melupa-kan dendamnya.
Mula-mula kepada Gak Bun Beng karena menyangka orang itu adalah pemerkosanya, kemudian kepada
Wan Keng In dan karena Wan Keng In sudah mati, maka dendamnya beralih kepada keluarga Wan Keng
In, kepada keluarga Pulau Es dan terutama kepada ibu kandung Wan Keng In. Salahkah sikap ibunya itu?
Tidak, tidak! Kehidupan ibunya telah rusak oleh peristiwa pemerkosaan itu dan ibunya hanya mampu
bertahan hidup untuk membalas dendam! Dan setelah tahu bahwa dendamnya sukar dibalas karena dia
berhadapan dengan keluarga Pulau Es yang amat sakti, ibunya jauh-jauh datang ke Bhutan, mencarinya
untuk minta bantuannya. Dan dia telah menolaknya!
“Ibu... ahhh, Ibu, ampunkan anakmu... ini!” Dia meratap dan merasa menyesal sekali. Mengapa justeru
kepada keluarga Pulau Es ibunya menaruh dendam?
Betapa mungkin dia memusuhi keluarga yang bijaksana itu? Teringat dia akan semua pengalamannya.
Mereka semua itu, Gak Bun Beng, Milana, Suma Kian Lee, Suma Kian Bu, Pendekar Super Sakti, mereka
semua adalah orang-orang yang bijaksana, budiman dan sakti. Yang berdosa terhadap ibunya hanyalah
Wan Keng In, putera tiri Pendekar Super Sakti, sedangkan keluarga itu sama sekali tidak tahu apa-apa!
Dan ibunya yang belum berkesempatan membalas dendam itu kini telah terbunuh oleh orang lain! Entah
siapa yang membunuh ibunya. Inilah musuhnya! Inilah orang yang harus dicarinya, bukan keluarga Pulau
Es! Tetapi ke mana dia harus mencari? Kepada siapa dia harus bertanya? Ibunya telah tewas, telah
menjadi rangka yang mengerikan.
Dengan hati penuh duka Tek Hoat lalu menggali lubang di puncak itu dan mengubur sisa-sisa jenazah
ibunya, berikut semua milik ibunya, kecuali pedang dan hiasan rambut teratai emas itu. Setelah dia
mengubur sisa-sisa jenazah ibunya dan berkabung tiga hari lamanya, mulailah dia mencari-cari dan
berkeliaran di sepanjang lembah Sungai Huang-ho, di sekitar daerah itu untuk mencari jejak ibunya,
mencari jejak pembunuh ibunya.
Demikianlah riwayat Ang Tek Hoat semenjak dia berpisah dari Syanti Dewi empat tahun yang lalu! Kini dia
hidup seorang diri di lembah Sungai Huangho sampai pada hari itu dia bertemu dengan dua putera
Jenderal Kao Liang, yaitu Kao Kok Tiong dan Kao Kok Han dan dapat menolong dua orang pemuda itu dari
bencana…..
********************
Kita mengikuti pengalaman Jenderal Kao Liang, jenderal tua yang terlempar ke tengah sungai dan hanyut
terbawa arus sungai yang kuat itu. Sampai lama jenderal itu terseret arus karena kedua kakinya tak dapat
dia gerakkan, dan kalau hanya dengan kekuatan kedua tangan saja dia tidak mampu berenang ke tepi.
Padahal air sungai itu makin lama makin kuat arusnya dan makin melebar, sampai akhirnya air itu tiba di
Sungai Huang-ho yang amat luas.
Akan tetapi, betapa pun nyawa sudah tergantung di sehelai rambut umpamanya, kalau memang belum tiba
saatnya dia mati, orang akan dapat terhindar dari maut. Demikian pula dengan Jenderal Kao Liang. Dia
sudah pasrah karena tak berdaya, pula ditambah dengan himpitan batin yang amat berat karena dia selain
memikirkan keluarganya yang hilang, juga masih mengkhawatirkan keselamatan kedua orang puteranya
yang harus menghadapi musuh sangat lihai itu. Dalam keadaan setengah pingsan itu tiba-tiba ada bintang
penolong berupa seorang nelayan yang sedang mendayung perahunya, hendak berangkat mencari ikan.
Nelayan ini terkejut ketika melihat orang yang hanyut, maka cepat-cepat dia menolong Jenderal Kao yang
hampir pingsan itu, dinaikkan ke dalam perahunya dengan susah payah. Begitu tubuhnya terguling ke
dalam perahu, Jenderal Kao Liang lantas pingsan. Nelayan itu cepat mendayung perahunya ke pinggir,
kemudian dengan bantuan teman-temannya dia membawa jenderal itu pulang ke rumahnya di dalam
sebuah dusun kecil di tepi Sungai Huang-ho.
Jenderal Kao jatuh sakit, menderita demam dan sampai dua hari dia tidak ingat apa-apa, dalam keadaan
tidak sadar. Nelayan itu bersama isterinya merawatnya dengan teliti dan akhirnya, pada hari ketiga jenderal
itu dapat bangun dari pembaringan dan dia menghaturkan terima kasih kepada nelayan itu. Tanpa raguragu
jenderal ini berlutut dan menghormati nelayan serta isterinya yang setengah tua itu sehingga si
nelayan sederhana sibuk membangunkan Jenderal Kao Liang yang disangkanya seorang kota yang celaka
di sungai itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Jenderal Kao Liang diam-diam merasa kagum akan perjalanan hidupnya. Dahulu dia adalah seorang
jenderal besar, seorang panglima perang Kerajaan Ceng yang sangat dihormati orang seluruh negeri. Kini,
dia berlutut menghaturkan terima kasih kepada seorang nelayan melarat dan dirawat di dalam gubuknya
yang miskin! Bahkan kini dia dijamu dengan makanan yang amat sederhana dan barulah dia tahu betapa
miskinnya keadaan hidup seorang nelayan. Hatinya terharu bukan main. Dibandingkan dengan makanan
sehari-hari yang dia berikan kepada anjing peliharaannya dulu saja, makanan nelayan ini masih lebih
sederhana!
Betapa orang-orang besar di atas seperti buta, tidak melihat keadaan rakyat jelata yang begini miskin.
Orang-orang besar itu, para pembesar, para hartawan, orang-orang kota, hidup berlebih-lebihan,
sedangkan mereka itu sama sekali tak pernah tahu atau tak mau tahu bahwa ada manusia-manusia
sebangsa yang hidup begini miskin dan kekurangan. Dan toh orang-orang itu, pembesar-pembesar, para
hartawan dan orang-orang kota itu membanggakan diri sebagai orang-orang yang berkebudayaan, sebagai
orang-orang yang beradab, orang-orang yang ber-Tuhan, yang berperikemanusiaan! Betapa palsu dan
munafiknya semua itu, termasuk dia dahulu!
Setelah sehat benar, pada keesokan harinya Jenderal Kao lalu berpamit, menghaturkan terima kasih dan
meninggalkan dusun itu. Dia kini mengambil keputusan untuk pergi ke utara, untuk mencari putera
sulungnya, yaitu Kao Kok Cu yang memiliki kepandaian hebat, menjadi seorang sakti yang menjauhi
keduniawian, hidup berbahagia di tempat sunyi bersama isterinya yang tercinta.
Putera sulungnya itu terkenal sekali di dunia kang-ouw sebagai Naga Sakti Gurun Pasir, murid dari
manusia dewa Si Dewa Bongkok Bu Beng Lojin dari Gurun Pasir Go-bi! Kiranya hanya puteranya itu saja
yang akan sanggup menolong keluarganya dan dia harus pergi ke sana karena untuk menyelidiki seorang
diri, jenderal tua ini tidak sanggup lagi.
Kembali dia terheran-heran betapa kehidupannya telah berubah sama sekali. Sebelum tahun lalu, sebagai
seorang panglima besar, dia dapat mengerahkan laksaan prajurit untuk mencari keluarganya! Bahkan,
tidak ada hal yang tak dapat dia lakukan. Akan tetapi sekarang dia hanyalah seorang tua yang mulai
lemah, yang menderita tekanan batin dan merasa tidak berdaya!
Akan tetapi baru saja dia keluar dari dusun di tepi Sungai Huang-ho itu, dari jauh dia melihat dua orang
laki-laki berjalan mendatangi dan setelah dekat, dia terkejut dan girang bukan main.
“Kok Tiong! Kok Han...!” Dia berteriak sambil berlari ke depan.
“Ayahhhhh...!” Dua orang muda itu pun sudah mengenal ayah mereka dan mereka pun berlari-lari.
Pertemuan itu sungguh menggirangkan hati mereka bertiga dan mereka segera duduk di tepi jalan sambil
saling menceritakan pengalaman mereka. Ketika Jenderal Kao mendengar penuturan dua orang puteranya
tentang pemuda berpakaian abu-abu yang amat lihai, dan betapa pemuda itu menyatakan kepada dua
orang wanita Garuda Hitam bahwa dia biasa membunuh orang dengan jari tangannya, dia lalu menepuk
pahanya. “Aihhh! Dia itu tentu Si Jari Maut!“
“Siapa, Ayah?” Kok Tiong dan adiknya bertanya.
“Siapa lagi kalau bukan dia! Dia tentu Ang Tek Hoat, pemuda yang memang memiliki kepandaian hebat,
yang telah membunuh Tambolon dan kaki tangannya. Akan tetapi, bukankah dia diangkat menjadi
Panglima Bhutan dan menikah dengan Puteri Syanti Dewi di Bhutan? Mengapa dia muncul di sini?
Sungguh aneh.”
“Menurut dia, yang merampas harta benda kita adalah Suma-kongcu, Ayah. Jelaslah sekarang, tepat
seperti dugaanku bahwa tentu Suma-kongcu dipergunakan oleh Kaisar untuk mencelakakan kita,” kata Kok
Tiong.
“Hemm... si keparat kalau begitu!” Jenderal Kao Liang mulai percaya.
Sungguh pun hal ini amat mengherankan hatinya, namun dia menjadi marah juga, tidak mengira bahwa
putera Pendekar Super Sakti mampu dan sampai hati pula me-lakukan perbuatan yang jahat itu. Jika
hanya merampas harta benda, mengapa harus menculik keluarganya? Kalau memang disuruh merampas,
mengapa tidak terang-terangan saja?
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tidak ada jalan lain, anak-anakku. Kita menghadapi keluarga Pulau Es yang sangat sakti. Keluarga kita
dalam bahaya, kalau tidak sudah terbasmi. Maka satu-satunya jalan hanya pergi minta bantuan kakak
kalian.”
“Cu-twako (Kakak Terbesar Cu)!” kata Kok Tiong dan Kok Han berbareng.
“Benar, hanya dia saja yang akan mampu menghadapi keluarga Pulau Es!” Jenderal itu mengepal tinju dan
bangkit berdiri. “Hayo kita kembali ke utara, mencari Kok Cu.”
Maka berangkatlah ayah beserta anak yang prihatin dan gelisah ini, mengambil jalan kembali ke utara,
jalan yang mereka lalui selama ini karena selain hendak mengunjungi Kao Kok Cu si Naga Sakti Gurun
Pasir, juga mereka hendak menyelidiki kalau-kalau dapat menemukan jejak keluarga mereka. Mereka lalu
menuju ke jalan kecil di bukit, jalan yang diapit-apit tebing tinggi di mana malapetaka itu menimpa mereka.
Ketika mereka tiba dekat jalan yang menuju ke mulut tebing itu, mereka merasa ngeri karena mengira
bahwa tentu mereka akan melihat mayat-mayat yang membusuk dan berbau. Akan tetapi mereka tidak
mau mengambil jalan lain karena mereka hendak menyelidiki kembali. Akhirnya mereka tiba di mulut tebing
di mana tadinya terdapat banyak sekali mayat orang. Akan tetapi, betapa heran hati mereka ketika melihat
tempat itu sudah bersih, tidak nampak sebuah pun mayat manusia dan sebagai gantinya, di situ terdapat
gundukan tanah yang amat besar, yang merupakan sebuah kuburan raksasa! Agaknya semua mayat itu
dikubur menjadi satu. Siapa yang mengubur? Tempat itu jauh dari dusun dan sunyi sekali.
Mereka tidak terlalu mempedulikan hal ini dan melanjutkan perjalanan memasuki lorong yang diapit-apit
tebing tinggi, di mana juga terdapat mayat-mayat ketika mereka pergi, yaitu mayat-mayat dari para
pengawal mereka dan para tukang pikul tandu. Akan tetapi ketika tiba di tempat itu, mereka terkejut melihat
seorang pemuda berpakaian putih-putih sedang mengubur mayat-mayat itu ke dalam sebuah lubang
besar. Mereka terheran-heran, akan tetapi Jenderal Kao Liang segera mengenal pemuda itu dan dengan
marah sekali jenderal ini mencabut sebatang pedang yang diambilnya dari pinggir jalan dekat tempat
pertempuran tadi, kemudian dia menyerang pemuda berpakaian putih itu sambil membentak, “Kiranya
kau... kau keparat, penjahat muda Suma!”
Kini dua orang putera Jenderal Kao Liang juga mengenal pemuda itu yang bukan lain adalah Suma Kian
Lee, salah seorang putera Pendekar Super Sakti. Maka mereka pun cepat mencabut pedang dan
menyerangnya.
Suma Kian Lee terkejut dan terheran-heran bukan main. Tidak disangkanya dia akan bertemu dengan
Jenderal Kao Liang dan dua orang puteranya, apa lagi mereka lantas menyerangnya dengan penuh
kemarahan itu.
“Ehh... ehh... Kao-goanswe (Jenderal Kao) ada apakah?” Dia cepat mengelak ke kanan kiri menghindarkan
diri dari sambaran tiga batang pedang itu. Gerakannya tenang, akan tetapi cepat seperti terbang. “Tahan
dulu, jangan terburu nafsu.”
Akan tetapi, Jenderal Kao Liang dan dua orang puteranya yang sudah menjadi marah sekali karena
mereka merasa yakin bahwa pemuda inilah yang telah melakukan penculikan keluarga mereka, sudah
menyerang lagi, bahkan kini secara berbareng dari tiga jurusan, pedang mereka menusuk ke arah dada
pemuda itu.
Suma Kian Lee mengenjot tubuhnya. Lenyaplah bayangannya dari kurungan tiga orang itu yang menjadl
terkejut, dan ketika itu pedang mereka sudah menusuk, seakan-akan saling bertemu di tempat bekas
Suma Kian Lee berdiri tadi dan tahu-tahu dari atas tubuh Suma Kian Lee sudah turun dan kini kedua kaki
pemuda berpakaian putih itu menginjak tiga batang pedang tadi! Dengan mengerahkan ginkang sehingga
tubuhnya ringan, dan menggunakan sinkang yang disalurkan kepada kedua kakinya sehingga tiga batang
pedang yang diinjaknya itu seakan-akan menempel dan melekat di kakinya, Suma Kian Lee telah berdiri di
atas tiga batang pedang itu dan berkata, “Kao-goanswe, harap sabar dulu dan mari kita bicara.”
“Mau bicara apa lagi, keparat keji?!” Jenderal Kao membentak dan ia lalu menggunakan tangan kiri untuk
mencengkeram.
“Bangsat rendah!” Kok Tiong juga menggunakan tangan kiri mencengkeram karena seperti juga ayahnya
dan adiknya, dia tidak mampu menarik kembali pedangnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Mampuslah kau, setan jahat!” Kok Han membentak sambil memukul dengan tangan kiri ke arah kaki yang
menginjak pedang.
“Ahhhhh...!” Tubuh Suma Kian Lee mencelat dan ternyata dia sudah menghindarkan serangan-serangan
tangan kiri itu dengan lompatan jauh sekali, lalu melarikan diri.
Jenderal Kao Liang dan dua orang puteranya cepat mengejar dengan marah, namun sia-sia belaka karena
pemuda berpakaian putih itu telah menghilang. Jenderal Kao menarik napas panjang. “Ahhh, betapa
saktinya dia! Jelas bahwa kekuatan kita tak akan mampu menghadapinya, hanya Kok Cu yang akan
sanggup menandinginya. Percuma mengejar dia, lebih baik kita melanjutkan perjalanan mencari Kok Cu.”
Siapakah pemuda lihai berpakaian putih yang memiliki kesaktian hebat, dan yang bernama Suma Kian Lee
itu? Para pembaca Kisah Sepasang Rajawali Sakti tentu mengenal baik tokoh ini pula. Suma Kian Lee
adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah, mukanya agak bundar, bermata lebar jernih dan
sinarnya tajam namun halus, sikapnya tenang, teliti dan sabar, namun dia selalu bersikap pendiam dan
serius. Inilah putera pertama dari Pendekar Super Sakti yang lahir dari isterinya yang kedua, yaitu Lulu
bekas ketua Pulau Neraka atau adik angkat sendiri dari Pendekar Super Sakti.
Sebagai putera bekas ketua Pulau Neraka yang memiliki kepandaian yang mengerikan dan putera
Pendekar Siluman yang memiliki kesaktian hebat, tentu saja Suma Kian Lee juga telah mewarisi ilmu-ilmu
dari Pulau Es.
Seperti telah diceritakan di dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali, Suma Kian Lee mengalami patah hati,
mengalami kegagalan kasih tak sampai karena dia jatuh cinta kepada seorang dara cantik jelita dan gagah
perkasa yang bernama Lu Ceng atau Ceng Ceng, yang kemudian ternyata adalah masih keponakannya
sendiri karena Ceng Ceng adalah anak tidak sah dari kakak tirinya seibu, yaitu mendiang Wan Keng In,
seperti halnya pemuda Ang Tek Hoat. Tentu saja tidak mungkin dia dapat berjodoh dengan keponakannya
yang masih sedarah dengan dia, masih keturunan ibunya. Hal ini tentu saja membikin luka perasaan
hatinya yang masih muda. Cinta itu adalah cinta pertama dan dia telah gagal! Akhirnya, seperti telah
dituturkan dalam Kisah Sepasang Rajawali, dia disuruh pulang ke Pulau Es oleh ayahnya.
Akan tetapi, setelah dia sembuh lahir dan batin, dia meninggalkan Pulau Es lagi untuk merantau di daerah
utara, memperdalam kepandaiannya. Beberapa tahun kemudian, dia merasa rindu kepada adiknya, yaitu
Suma Kian Bu, yang masih belum pulang dan telah meninggalkan Pulau Es selama bertahun-tahun. Sudah
lima tahun dia berpisah dari adiknya yang dia cinta itu, maka dia lalu pergi ke selatan untuk mencari
adiknya. Seperti juga dia sendiri, lima tahun yang lalu adiknya itu telah mengalami patah hati karena cinta
kasih yang gagal.
Kini usianya telah cukup dewasa, telah dua puluh dua tahun dan kalau dia mengenang masa lalu dia
menjadi malu sendiri. Mengapa dia begitu bodoh, begitu mudah patah hati? Diam-diam dia malah girang
bahwa dia gagal berjodoh dengan Ceng Ceng yang ternyata adalah keponakannya sendiri itu, dan diamdiam
dia hanya dapat mendoakan agar Ceng Ceng yang kabarnya berjodoh dengan orang yang
dikasihinya, yaitu putera Jenderal Kao, putera sulung yang amat sakti itu, hidup bahagia.
Dia akan mencari adiknya. Membayangkan pertemuannya dengan adiknya saja sudah merupakan
kegembiraan tersendiri. Kini adiknya itu pun tentu sudah dewasa, bukan setengah anak-anak seperti
dahulu lagi. Betapa nakalnya Kian Bu! Tukang menggoda orang, tukang menggoda wanita yang akhirnya
tergoda hatinya oleh seorang wanita cantik jelita, Puteri Syanti Dewi sampai hati adiknya itu menjadi
remuk!
“Bu-te (Adik Bu), kasihan engkau...!” Gerutunya setiap kali dia teringat kepada adiknya.
Ketika dia teringat akan kepatahan hati adiknya, dia lalu menduga bahwa boleh jadi adiknya itu masih
berkeliaran di sekitar daerah yang berdekatan dengan tempat tinggal Syanti Dewi, yaitu di Bhutan. Tidak
ada petunjuk lain baginya, maka dia lalu menuju ke selatan, hendak ke Bhutan mencari Suma Kian Bu.
Ketika tiba di dekat Sungai Huangho, di celah tebing itu dia melihat banyak sekali mayat manusia
berserakan. Hatinya menjadi terharu sekali. Pemuda ini adalah keturunan langsung dari Pendekar Super
Sakti, seorang pendekar yang selain sakti juga bijaksana dan budiman, maka tentu saja melihat begitu
banyak mayat manusia berserakan tidak diurus, hatinya menjadi terharu dan kasihan. Maka ia lalu turun
tangan menggali lubang besar dan menanam semua mayat itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kemudian ketika dia melihat pula mayat-mayat di lorong yang diapit-apit tebing, dia pun cepat menggali
lubang dan mengubur mayat-mayat yang hampir membusuk itu. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa
kagetnya ketika secara mendadak dia diserang oleh Jenderal Kao Liang dan dua orang puteranya!
Diserang mati-matian dengan maki-makian dan agaknya dia dituduh melakukan hal-hal yang amat jahat,
Suma Kian Lee menjadi bingung dan karena mereka itu tidak mau diajak bicara, terpaksa dia melarikan
diri. Memang ada rasa enggan di hatinya untuk bertemu dengan keluarga Kao ini. Bukankah Ceng Ceng
menjadi mantu jenderal itu, berjodoh dengan Kao Kok Cu yang terkenal dengan julukan Si Naga Sakti
Gurun Pasir? Selain enggan bertemu juga dia diserang tanpa diberi kesempatan membela diri, maka lebih
baik dia menyingkir.
Akan tetapi, sejak kecilnya Kian Lee adalah seorang yang memiliki sifat sabar, tenang dan teliti. Dia selalu
berpikiran cermat, maka dia pun tidak menjadi marah melihat sikap Jenderal Kao dan dua orang puteranya
yang telah memaki-makinya dan menyerangnya untuk membunuh, tadi. Di dalam peristiwa ini tentu ada
rahasianya, dia merasa yakin. Tentu ada kesalah pahaman besar. Tentu ada sesuatu yang membuat
keluarga Kao itu membencinya sehingga melakukan perbuatan itu. Dan dia harus menyelidiki hal ini!
Setelah Kian Lee kembali ke tempat tadi dan mengintai dengan cara sembunyi, melihat bahwa Jenderal
Kao Liang dan dua orang puteranya yang mengamuk tadi benar-benar telah pergi, dia kemudian
melanjutkan pekerjaannya yang tadi tertunda, yaitu mengubur mayat-mayat itu dalam sebuah lubang,
kemudian menimbuninya dengan tanah sampai merupakan sebuah kuburan raksasa yang terisi puluhan
mayat orang. Setelah selesai, Kian Lee hendak melanjutkan perjalanannya, akan tetapi betapa kagetnya
ketika tiba-tiba bermunculan pasukan yang jumlahnya kurang lebih seratus orang, yang sudah
mengurungnya dari depan dan belakang diapit-apit tebing tinggi itu!
“Hemmm...!” Geramnya, akan tetapi dia masih belum tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Apakah
Jenderal Kao Liang benar-benar hendak mencelakakan dirinya dan kini mengerahkan pasukannya? Jika
begitu, ia harus berkeras menuntut penjelasan kenapa jenderal itu bersikap seperti itu.
Dia berdiri di tengah-tengah, sikapnya tenang dan ketika dia melihat seorang Kakek tinggi besar yang
berpakaian perwira dan agaknya menjadi pemimpin pasukan itu, Kian Lee melangkah maju menghampiri.
“Apa artinya ini?” tanyanya dengan sikap tenang, menduga bahwa perwira ini tentulah anak buah Jenderal
Kao Liang yang masih belum muncul.
Perwira tinggi besar itu usianya sudah enam puluh tahun, namun kelihatan tubuhnya kokoh kekar penuh
dengan tenaga. Mendengar pertanyaan Kian Lee, dia lalu tertawa. “Ha-ha-ha, kau masih menanyakan
artinya? Artinya, orang muda, bahwa engkau harus menyerah kami tangkap.”
“Hemmm, mudah saja menangkap orang, Ciangkun. Akan tetapi, setiap menangkap orang harus lebih dulu
jelas akan kesalahannya, bukan? Bolehkah aku tahu, apa pula kesalahanku maka engkau memimpin
pasukan hendak menangkap aku?”
“Ho-ho, orang muda yang pandai bicara! Sudah jelas engkau membunuh banyak orang dan hendak
menyembunyikan perbuatanmu dengan mengubur mereka, kini engkau masih pura-pura bertanya apa
salahmu? Hayo menyerah, jangan sampai aku turun tangan dengan kekerasaan!”
Kian Lee mendengar ini dengan perasaan heran. Dia mengubur mayat-mayat yang berserakan itu karena
kasihan, ternyata malah dituduh membunuh mereka itu! Akan tetapi, Jenderal Kao Liang tadi tidak
menyatakan tuduhannya itu? Andai kata Jenderal Kao Liang menuduhnya demikian, mengapa jenderal itu
dan dua orang puteranya serta merta menyerang tanpa bertanya lebih dulu?
“Apakah engkau diutus menangkap aku oleh Jenderal Kao?”
Perwira itu membelalakkan mata, agaknya terheran-heran mendengar ucapan dalam pertanyaan ini.
“Jenderal Kao? Siapa yang kau maksudkan.” Dia sama sekali tak pernah menduga bahwa yang
dimaksudkan dalam pertanyaan pemuda itu adalah Panglima Besar Kao yang telah dipensiun, dan
mengira bahwa pemuda itu maksudkan seorang jenderal lain yang she Kao. “Jangan banyak cakap yang
bukan-bukan, orang muda. Aku adalah Perwira Su Kiat yang bertugas menjaga daerah utara dari Propinsi
Ho-nan ini. Engkau telah melakukan banyak pembunuhan, maka kami harus menangkapmu untuk kami
hadapkan kepada Gubernur di Ho-nan untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Diam-diam Kian Lee menjadi semakin heran. Jelas bahwa perwira ini tidak pernah bertemu atau
berhubungan dengan Jenderal Kao Liang! Dia hendak ditangkap karena semata-mata kelihatan mengubur
mayat-mayat itu dan dituduh membunuh mereka.
“Su-ciangkun, maafkan aku, akan tetapi aku tidak membunuh mereka itu! Ketahuilah, aku adalah seorang
perantau yang kebetulan lewat di sini dan melihat adanya banyak mayat manusia berserakan tidak terurus,
aku menjadi kasihan dan aku lalu mengubur mereka. Jangan kau menuduh aku membunuh.”
“Ha-ha-ha! Ho-ho…! Kalian dengar itu? Betapa lucunya! Mana ada orang begitu gatal tangan mengubur
mayat-mayat yang begitu banyak kalau dia tidak berkepentingan langsung? Tentu kau mengubur mereka
untuk menutupi perbuatanmu yang kejam. Heh, siapa namamu, orang muda?”
“Namaku adalah Suma Kian Lee.”
“Hayo kau berlutut, dan menyerah kami tangkap!”
Kian Lee mengerutkan alisnya dan mengangkat dadanya. “Su-ciangkun, aku tak merasa bersalah
bagaimana mungkin aku harus menyerah?”
“Jadi engkau hendak melawan?!” Suciangkun membentak marah.
“Aku tidak hendak melawan dan bermusuhan dengan siapa pun, Ciangkun. Akan tetapi aku tidak pernah
membunuh orang, maka kalau aku hendak ditangkap dengan tuduhan membunuh orang, tentu saja aku
tidak mau menyerah.”
“Bagus! Kau memang pembunuh besar dan engkau bernyali besar berani menentang perintah Perwira Su
Kiat!” Perwira tinggi besar itu menengok ke kiri di mana terdapat batu menonjol dari dinding tebing. “Lihat,
apakah kepalamu lebih keras dari pada ini?” Dia mengayun tangan kanannya menampar ke arah batu
menonjol itu.
“Prakkk!” Batu itu pecah berhamburan!
Melihat cara perwira itu menampar batu tahulah Kian Lee bahwa perwira itu adalah seorang ahli gwa-kang
(tenaga luar) yang mengandalkan kerasnya kulit dan kuatnya otot. Dia tersenyum dan menganggukangguk.
“Entah berapa tahun lamanya engkau melatih tanganmu sehingga sekuat besi, Su-ciangkun. Akan tetapi
apakah latlhan bertahun itu hanya untuk memukul pecah batu dan menakut-nakuti orang? Kalau aku
memang bersalah, tanpa kau gertak pun aku akan menyerahkan diri dengan suka rela. Akan tetapi aku
tidak berdosa dan tidak takut akan gertakanmu.”
“Keparat, kau menantang?” Su-ciangkun lalu menerjang ke depan, kedua tangannya menyerang dari
kanan kiri sambil mengembangkan kedua lengannya yang panjang dan besar.
Kian Lee tidak mau membuang waktu lagi. Melihat sambaran kedua tangan itu, dia memapaki dengan
tamparan tangannya ke arah pergelangan tangan yang besar itu.
“Plak! Plak! Aduhhhhh...!” Perwira Su Kiat mengaduh-aduh karena kedua lengannya terasa panas dan
lumpuh seketika.
“Hayo tangkap! Bunuh!” teriaknya sambil mengaduh-aduh.
Anak buahnya lalu mengepung dan mulai menyerbu dengan senjata mereka. Melihat ini, Kian Lee
merobohkan beberapa orang dengan tamparan dan tendangannya, tanpa melukai berat, kemudian dia
meloncat, tubuhnya tiba di dinding yang terjal dan di lain saat, semua orang melongo ketika melihat betapa
tubuh pemuda berpakaian putih-putih itu seperti seekor cecak merayap di tembok saja. Demikian cepat
gerakannya seolah-olah dia berjalan di tanah datar padahal tebing itu terjal sekali!
Melihat pemuda itu dengan mudahnya melarikan diri melalui tebing yang terjal sehingga tidak ada
kemungkinan lagi bagi dia dan anak buahnya untuk mengejar, Su-ciangkun lalu memerintahkan anak
dunia-kangouw.blogspot.com
buahnya untuk mengambil alat tiup dari kantung bajunya karena kedua tangannya masih lumpuh dan untuk
meniup alat itu dengan keras.
Terdengar suara bersuitan berkali-kali dari lorong celah tebing itu, akan tetapi Kian Lee tidak peduli dan
merayap terus sampai dia tiba di atas tebing. Akan tetapi baru saja dia melompat beberapa langkah, tibatiba
di depannya berdiri seorang kakek yang usianya tentu sudah enam puluh tahun lebih, rambutnya yang
kemerahan itu awut-awutan dan tangannya memegang sebuah guci arak, mulutnya berbau arak dan
bibirnya masih basah oleh arak yang menetes-netes. Di sebelah kakek aneh ini berdiri dua orang perwira
tinggi yang usianya juga sudah enam puluhan. Kakek berambut kemerahan itu memandang Kian Lee
dengan sikap acuh tak acuh, akan tetapi dua orang perwira tinggi itu memandang dengan mulut
tersenyum, kemudian mereka menjura ke arah Kian Lee dengan sikap hormat.
“Tidak kelirukah pendengaran kami barusan tadi bahwa Sicu bernama Suma Kian Lee?” Seorang di antara
dua perwira tinggi itu bertanya dengan sikap hormat sambil menjura.
Kian Lee yang melihat sikap hormat itu membalas dengan menjura sambil menjawab, “Benar.”
“Ahhh, kalau begitu harap Taihiap sudi memaafkan akan kelancangan Su-ciangkun terhadap Taihiap.
Tentu Suma-taihiap dapat memaklumi kecurigaan Su-ciangkun yang menghadapi pembunuhan besarbesaran
yang sudah terjadi di daerah ini, dan mengira Taihiap yang melakukan pembunuhan itu. Apakah
Taihiap mengerti siapa pula yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu?”
Kian Lee menggelengkan kepalanya. “Saya kebetulan lewat di daerah ini dan melihat tumpukan mayat,
maka saya lalu menguburnya.”
“Heh-heh, bijaksana bijaksana...” Kakek yang berambut kemerahan itu berkata seperti pada diri sendiri,
kemudian menenggak arak dari gucinya sampai mengeluarkan suara menggelogok.
Akan tetapi dua orang perwira tinggi agaknya sudah biasa dengan sikap aneh ini, maka mereka tidak
memperdulikan, melainkan berkata lagi kepada Kian Lee dengan sikap hormat. “Kebetulan sekali Sumataihiap
lewat di daerah kami dan Paduka Gubernur kami memang memesan kepada kami supaya setiap
orang pendekar besar yang lewat agar dipersilakan untuk singgah. Selain Paduka Gubernur hendak
berkenalan dengan orang-orang handal, juga untuk menghadiri pesta yang akan diadakan untuk
menyambut utusan Kaisar dari kota raja. Banyak sekali tamu yang akan hadir, juga dari kalangan kangouw,
maka kami atas nama gubernur mengundang Taihiap untuk singgah pula.”
Kian Lee berpikir cepat. Dia menghadapi rahasia besar, keanehan sikap Jenderal Kao Liang, kematian
banyak orang yang tidak diketahui siapa pembunuhnya, dan undangan Gubernur Ho-nan yang juga aneh.
Kalau Gubernur Ho-nan yang mengadakan pesta, tentu dan pasti Jenderal Kao Liang akan hadir pula,
karena jenderal ini memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Mungkin dia akan mendapat keterangan
tentang semua rahasia ini di rumah gubernur, dan bukan tidak mungkin pula dia akan dapat mendengar
sesuatu tentang adiknya, karena dia akan bertemu dengan banyak tokoh kang-ouw di rumah Gubernur Honan
itu.
“Terima kasih atas undangan Ji-wi Ciangkun, dan tentu saja saya akan suka sekali.”
Dua orang perwira tinggi itu menjadi girang sekali dan seorang di antara mereka segera memperkenalkan
diri, dan memperkenalkan kakek peminum arak berambut kemerahan itu, “Lo-enghiong ini adalah seorang
tokoh pengawal kepercayaan Paduka Gubernur Ho-nan, dia terkenal dengan julukannya Ho-nan Ciu-lo-mo
(Setan Arak Tua dari Ho-nan).“
“Heh-heh, julukan kosong! Namaku adalah Wan Lok it!” Kakek berambut merah itu menyela dan membalas
penghormatan Kian Lee dengan anggukan kepala acuh tak acuh.
Kian Lee tidak menjadi kecil hati melihat sikap tidak pedulian ini karena pemuda ini sudah kenyang akan
pengalaman bertemu dengan orang-orang sakti di dunia kang-ouw yang memang banyak yang berwatak
aneh dan tidak acuh.
Mereka lalu berangkat, diiringkan oleh Su-clangkun yang sudah naik ke tebing dengan jalan memutar, dan
anak buahnya yang seratus orang banyaknya itu, kembali ke kota Lok-yang di mana Gubernur Propinsi Honan
tinggal. Untuk menuju ke Lok-yang, mereka menyeberangi Sungai Kuning dan ternyata di sebuah
dunia-kangouw.blogspot.com
pantainya telah tersedia perahu-perahu pasukan itu sehingga perjalanan itu dapat dilakukan dengan
mudah.
Pada waktu itu, yang menjadi gubernur di Ho-nan, propinsi di sebelah selatan Sungai Kuning itu, adalah
seorang bertubuh kecil kurus, berusia lima puluh tahun bernama Kui Cu Kam. Gubernur Kui ini pun merasa
tidak senang kepada kaisar oleh karena banyak menggeser dan menyingkirkan orang-orang penting yang
tadinya banyak berjasa untuk kerajaan. Timbullah rasa tidak senangnya dan jiwa kepahlawanan gubernur
ini, yang menganggap Kaisar bangsa Mancu yang menjajah tanah airnya itu sudah keterlaluan.
Dia sendiri adalah seorang Han tulen yang kebetulan masih mendapatkan kepercayaan untuk menjadi
gubernur, hal yang sudah mulai langka terjadi. Ketika mendengar betapa Jenderal Kao Liang juga
dipensiunkan, hatinya makin panas dan mulailah gubernur ini berpikir untuk memisahkan diri dari
kedaulatan Kaisar Kang Hsi yang sudah tua dan mulai bertindak sewenang-wenang itu.
Memang pada waktu itu Gubernur Kui sedang menantikan datangnya utusan kaisar dari kota raja. Untuk
menyelimuti dan menyembunyikan niatnya untuk memisahkan diri dan berdiri sendiri, yang akan dilakukan
lambat-laun setelah dia dapat menyusun kekuatan, maka Gubernur Kui mengadakan penyambutan besarbesaran.
Sejak jauh hari sebelum utusan itu tiba, istana Gubernur telah dihias dengan megah. Tamu-tamu
dari seluruh propinsi, yaitu para pembesar sipil dan militer, kaum hartawan dan terkemuka, bahkan tokohtokoh
kang-ouw yang kenamaan, semua menerima undangan.
Dua orang perwira tinggi yang mewakili gubernur yang tentu saja sibuk sekali itu lalu mempersilakan Kian
Lee untuk tinggal di sebuah kamar dekat taman, sebuah di antara kamar-kamar tamu yang banyak
disediakan untuk para tamu yag dihormati. Sedangkan Si Rambut Merah dengan guci araknya yang sudah
kosong itu segera meninggalkan taman untuk bertugas di dalam sebagai pengawal pribadi gubernur.
Ditinggal seorang diri, Kian Lee memeriksa kamarnya yang memang megah dan indah. Tadi dia diberi tahu
bahwa pesta akan diadakan malam nanti di waktu bulan purnama untuk menyambut tamu agung dari kota
raja, dan dia dipersilakan mengaso di dalam kamar ini dan akan dikirim seorang pelayan yang akan
melayani segala keperluannya.
Kamar itu memang menyenangkan, terpisah dari kamar-kamar lain dan ketika Kian Lee ke luar ke depan,
ternyata kamarnya itu menghadap taman dan dari situ tampak banyak kamar-kamar yang sebagian sudah
ditempati orang-orang lain yang agaknya juga tamu-tamu dari tempat jauh yang telah datang lebih dulu.
Terdengar suara nyanyian merdu diiringi yang-kim (alat musik bersenar) dari beberapa buah kamar tamu
itu, diseling suara ketawa.
Kian Lee kemudian masuk lagi ke dalam kamarnya, menutupkan jendela dan daun pintu karena dia ingin
beristirahat sebelum menghadapi pesta itu di mana dia harapkan akan dapat memecahkan rahasia
peristiwa-peristiwa aneh yang dialaminya tadi, dan kalau mungkin mendengar berita tentang adiknya. Hari
telah siang dan dia masih mempunyai waktu setengah hari untuk mengaso.
Akan tetapi belum lama dia merebahkan diri terlentang di atas pembaringan yang lunak dan hampir saja
pulas, tiba-tiba pendengarannya yang tajam dapat menangkap suara ketukan halus pada daun pintu kamar
itu. Dia cepat bangkit duduk lalu melangkah ke pintu dan dengan amat hati-hati dia membuka daun pintu.
Terkejutlah dia ketika melihat seorang wanita muda yang amat cantik, tetapi melihat wanita itu membawa
sebuah baki berisi makanan dan minuman, dia dapat menduga bahwa wanita ini biar pun kelihatan cantik
sekali, adalah seorang pelayan.
“Maaf, Kongcu. Saya bertugas melayani Kongcu dan hendak mengantar makanan dan minuman untuk
Kongcu.”
Kian Lee merasa agak canggung. Belum pernah dia berada di dalam kamar bersama seorang wanita muda
yang cantik seperti itu, sungguh pun wanita itu hanyalah seorang pelayan. Tidak mungkin dia menolak,
maka dia mengangguk dan mundur, memberi jalan kepada wanita itu yang melangkah masuk. Masih
tercengang Kian Lee mengawasi wanita yang membawa baki itu berlenggang dengan halus, seperti
lenggang seorang puteri saja, menghampiri meja, kemudian jari-jari tangan yang halus meruncing itu
menurunkan mangkok piring dan masakan-masakan ke atas meja, mengatur hidangan di atas meja
dengan sikap halus namun cekatan.
“Kongcu, silakan makan dan minum!” katanya lagi, suaranya merdu dan halus, juga sopan teratur, seperti
kata-kata yang keluar dari seorang yang terdidik baik.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Terima kasih,” Kian Lee menjawab lalu menghampiri meja makan yang bundar kecil itu.
Masakan-masakan itu masih mengebul panas, nasinya putih dan di situ terdapat arak dan air teh.
Hidangan yang cukup lengkap dan baunya sedap menimbulkan selera, apa lagi karena perutnya memang
sudah lapar.
Tetapi pemuda itu tidak jadi mengambil mangkok untuk diisi masakan ketika dia melihat wanita muda itu
dengan langkah-langkah gontai menuju ke pintu, kemudian bukannya keluar dari pintu dan pergi,
melainkan menutup daun pintu dengan perlahan, kemudian dia melangkah kembali dan berdiri tak jauh dari
meja dengan sikap menanti!
Kian Lee menelan ludah, merasa kikuk, lalu menoleh. “Eh, kau... kau... tidak pergi?”
Wanita itu memandang dengan sinar matanya yang halus, lalu tersenyum. Bukan main manisnya senyum
itu, senyum yang sopan karena agaknya nona itu geli hatinya melihat pemuda yang gagap gugup ini. Lalu
dia menggeleng kepala dan berkata, “Kongcu, mengapa saya mesti keluar? Saya telah ditugaskan untuk
melayani Kongcu di sini. Silakan Kongcu makan, saya akan menanti di sini untuk melayani segala
keperluan Kongcu. Silakan dan jangan malu-malu!” Kembali dia tersenyum.
Kian Lee mengangguk, kemudian ia mengambil mangkok kosong dan mengisi mangkok dengan nasi putih.
Ketika mengambil sepasang sumpit dan hendak mulai menyumpit, dia mengerling dan melihat wanita itu
berdiri memandangnya, dia kembali menelan ludah.
“Eh, mari kau duduk dan makan bersama!” katanya.
Wanita itu kaget sekali, terbelalak, mukanya yang cantik dan putih halus itu menjadi kemerahan, kelihatan
dia malu sekali. “Aih, Kongcu, mana saya berani? Silakan Kongcu makan.“
“Ahh, mengapa tidak? Tidak enak sekali makan sendiri dan kau... kau hanya menonton. Mari kita makan
bersama.” Kian Lee yang masih belum banyak pengalaman sehingga dia tidak tahu bahwa mengajak
makan bersama seorang wanita muda mempunyai arti yang lain lagi, yang lebih mendalam!
Tentu saja pelayan itu menjadi malu sekali dan mukanya makin merah. “Harap Kongcu tidak mempunyai
maksud yang bukan-bukan,” katanya halus dan suaranya mendadak menjadi demikian menggetar seolaholah
mengandung kedukaan dan kegelisahan yang besar sekali.
Kian Lee terkejut dan meletakkan mangkoknya. “Eh, Nona, harap jangan salah kira. Aku tidak mempunyai
maksud yang bukan-bukan, melainkan sejujurnya mengajak engkau makan. Aku... aku tidak biasa dilayani
seperti ini, dan aku mengajak engkau makan seperti seorang sahabat, apa salahnya?”
Sejenak sepasang mata yang indah jernih memandang dengan bengong dan terheran-heran, seolah-olah
menjelajahi dan menyelidiki wajah Kian Lee. Kemudian wanita muda itu menghela napas panjang dan
menjura. “Maaf, Kongcu, saya memang tadi salah duga. Kongcu baik sekali. Terima kasih. Akan tetapi
saya sudah makan, maka silakan Kongcu makan sendiri. Kalau Kongcu tidak biasa ditunggu seperti ini,
biarlah saya main yang-kim selagi Kongcu makan, agar tidak terganggu.”
Kian Lee mengangguk-angguk dan ketika dia melihat wanlta itu kini mengambil sebuah alat musik yangkim
yang tergantung di dinding, kemudlan menyetel senar-senarnya dan duduk di atas sebuah bangku
kecil di sudut kamar, agak di belakangnya, maka dia pun mulai makan. Biar pun dia makan, akan tetapi
sebagian dari perhatiannya tercurah ke belakang, ke arah suara yang dibuat wanita itu, melalui
pendengarannya. Tadinya dia hanya mendengar suara senar yang-kim disetel, kemudian terdengar senarsenar
itu dimainkan, perlahan-lahan dan merdu suaranya.
Kian Lee tersenyum seorang diri. Sungguh aneh pengalamannya. Pagi tadi mengalami hal yang tak enak,
kini begini enaknya. Makan masakan yang lezat-lezat, diiringi musik yang merdu! Bukan main! Dia merasa
sangat dimanja. Di Pulau Es pun tidak seperti ini hidupnya. Bahkan ketika dia berada di istana Puteri
Milana, kakak tirinya, dia pun tidak dimanja seperti ini!
Akan tetapi tiba-tiba perhatiannya makin banyak tercurah ke belakangnya, ketika dia mendengar suara
nyanyian yang halus merdu, nyanyian yang dilakukan dengan amat perlahan namun cukup jelas oleh
pendengarannya, nyanyian yang diiringi oleh senar-senar yang-kim yang berkentring. Nyanyian itu
dunia-kangouw.blogspot.com
memang indah, suara lirih itu setengah berbisik-bisik amat merdunya, namun yang menarik perhatiannya
adalah kata-kata dari nyanyian itu.
Tiada ayah tiada bunda
tiada sanak keluarga
badan sendiri nyaris binasa!
Apa daya si dara lemah
cintanya bertepuk tangan sebelah
mengubur diri dalam keluh-kesah!
Pendekar sakti penolong nyawa
yang disanjung dan dipuja
telah jauh meninggalkannya!
Nyanyian itu demikian menyedihkan, suara itu menggetar penuh perasaan sehingga Kian Lee tak dapat
menahan diri untuk tidak menoleh. Betapa heran hatinya ketika dia melihat gadis yang masih mainkan
yang-kim akan tetapi sudah tidak bernyanyi lagi itu menunduk dan kedua pipinya terhias butiran-butiran air
mata! Gadis itu kini bernyanyi sambil menangis!
Kian Lee mengakhiri makannya, meneguk secangkir air teh, kemudian dia membalikkan tubuhnya
menghadapi gadis pelayan yang masih bermain yang-kim sambil menunduk itu.
“Nona...!” dia memanggil.
Gadis itu masih terus bermain yang-kim dengan perlahan, tidak menjawab seolah-olah semangatnya
melayang jauh mengikuti alunan suara yang-kim.
“Nona..., hentikan permainan yang-kim itu!” Kian Lee kembali menegur.
Suara yang-kim tiba-tiba berhenti. Nona itu kelihatan terkejut, cepat mengusap pipinya dengan ujung
lengan baju dan bangkit berdiri, menggantungkan yang-kim-nya dan menghampiri meja. “Maaf apakah
Kongcu telah selesai makan?” tanyanya, suaranya masih setengah berbisik dan mengandung isak
tertahan.
Kian Lee mengangguk dan memandang gadis itu membereskan mangkok, piring, dan menumpuknya di
atas baki, kemudian berkata, “Saya menyingkirkan mangkok piring dulu, sebentar saya kembali. Apakah
Kongcu perlu diambilkan sesuatu?”
Kian Lee menggeleng dan hanya memandang ketika wanita itu keluar dari kamarnya. Dia termenung,
masih terngiang di telinganya isi nyanyian kuno tentang seorang wanita ditinggalkan kekasihnya. Akan
tetapi mengapa gadis itu bernyanyi sambil menangis? Dia memandangi yang-kim yang kini tergantung di
dinding, semuanya melayang-layang dan terbayanglah dia kepada wajah Ceng Ceng, keponakannya atau
bekas kekasihnya, gadis yang telah menjatuhkan hatinya, cinta pertamanya yang gagal.
Nyanyian gadis pelayan itu menbangkitkan kenang-kenangan ini dan berulang kali Kian Lee menghela
napas. Di dunia ini mengapa terdapat begitu banyak orang yang harus menderita sengsara karena cinta?
Apakah memang cinta banyak mendatangkan derita? Cintakah yang mendatangkan derita itu? Ataukah
kegagalannya? Lebih tepat lagi, bukankah karena keinginan hati tak tercapai itulah yang mendatangkan
hati sengsara? Sengsara yang timbul karena kecewa, karena harapan hampa.
Daun pintu terbuka halus dan gadis itu melangkah masuk, menutupkan kembali daun pintu.
“Mengapa ditutup?” Kian Lee menegur.
“Agar tidak nampak dari luar. Kalau Kongcu merasa gerah, bagian atas daun jendela dapat dibuka,”
jawabnya halus dan tanpa diperintah gadis itu kemudian membuka daun jendela bagian atas sehingga
pemandangan di luar dapat nampak sebagian.
“Nona, kenapa kau kembali ke sini? Aku sudah selesai makan dan aku tidak butuh apa-apa lagi. Nona
boleh beristirahat di tempat Nona sendiri.”
Gadis itu memandang Kian Lee, lalu dia menjawab sambil menunduk, “Saya bertugas melayani Kongcu
sambil menanti datangnya saat pesta dimulai. Dan saya... saya senang di sini melayani Kongcu...”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hemmm... sesuka hati Nona sajalah. Apakah Nona juga bertugas melayani bercakap-cakap?”
Gadis itu mengangkat muka memandang, merasa betapa lucunya kata-kata itu dan tersenyum, sama
sekali tidak mengandung keriangan hati sungguh pun amat manis. “Tentu saja, Kongcu.”
“Nah, kalau begitu, sekarang aku ingin mengajakmu omong-omong. Pertama, aku ingin membicarakan
tentang isi nyanyianmu tadi.”
“Ehhh...?” Gadis itu memandang heran.
“Maksudku, aku ingin tahu siapakah dara yang merana itu dan siapa pula pendekar yang begitu kejam
meninggalkannya.”
Gadis itu menunduk. “Kongcu... itu hanya... hanya nyanyian... dongeng...”
“Hemmm, perlukah dongeng nyanyian ditangisi? Ada kulihat engkau menangis ketika bernyanyi tadi.”
“Ohhhhh...“ Gadis itu terkejut dan kini menundukkan mukanya.
Kian Lee mengerutkan alisnya dan memandang penuh perhatian. Ternyata gadis itu dengan susah payah
menahan tangisnya, akan tetapi tetap saja dua butir air mata bagai mutiara yang berkilauan menggantung
di bulu matanya dan akhirnya bergerak perlahan menuruni kedua pipinya.
“Nona, aku bisa menduga bahwa engkau sedang mengalami tekanan batin yang hebat. Engkau sedang
menderita sengsara dan kalau kau percaya kepadaku, kau ceritakanlah kesengsaraanmu itu. Siapa tahu
aku akan dapat menolongmu, Nona. Akan tetapi kalau kau tidak percaya kepadaku, sudahlah, kau boleh
pergi meninggalkan aku sendiri dan terima kasih atas semua pelayananmu yang baik.”
“Ahhh... Kongcu...!” Gadis itu mengusap air matanya, dan kemudian mengangkat muka memandang.
“Harap maafkan saya... tentu saja saya percaya kepada Kongcu. Sekali bertemu saja saya tahu bahwa
Kongcu adalah seorang yang amat baik.”
“Kalau begitu, kau katakanlah, siapa dara yang kau nyanyikan tadi?”
Gadis itu kembali menunduk. “Dia... dia... adalah saya sendiri, Kongcu.”
“Hemmm..., sudah kuduga demikian. Dan siapakah Si pendekar yang tak tahu dicinta orang itu?”
“Dia... dia... adalah penolong saya...“ Gadis itu menjawab dengan muka merah sambil menunduk,
kemudian dia menghela napas seperti orang mengambil keputusan dan mengangkat muka, lalu berkata,
“Sebaiknya saya ceritakan sejelasnya kepada Kongcu. Terjadi kira-kira tiga bulan yang lalu, Kongcu. Saya
adalah anak sulung seorang kepala kampung dari dusun Can-li-cung. Pada suatu malam, dusun kami
diserbu perampok-perampok dan seluruh keluarga saya terbunuh.... Ayah, Ibu, dan tiga orang adik-adik
saya...“ Wanita itu memejamkan mata dan dua butir air mata kembali meloncat ke luar.
Kian Lee membiarkan gadis itu berdiam diri sejenak untuk menenteramkan hatinya yang tentu saja dilanda
kedukaan saat mengenangkan itu semua. Dia merasa kasihan sekali kepada gadis ini. Pantas saja tadi dia
bernyanyi “Tiada ayah tiada bunda tiada sanak keluarga”, kiranya semua keluarganya terbasmi habis oleh
perampok jahat!
“Saya sendiri kemudian diculik oleh perampok-perampok itu, dan dibawa lari ke dalam cengkeraman
manusia-manusia iblis dan akan mengalami hal yang lebih mengerikan dari pada kematian sendiri, akan
tetapi saya tidak berdaya, Kongcu. Dalam keadaan seperti itu, muncullah pendekar sakti itu yang dengan
gagah perkasa membasmi semua perampok sampai tidak ada seorang pun yang terlewat! Tentu saja saya
berterima kasih sekali kepadanya, Kongcu. Dia begitu baik, dia begitu gagah, dan kalau tidak ada dia...
ahhh, ngeri saya membayangkan.“
“Hemmm, lalu bagaimana?” Kian Lee bertanya dan di dalam hatinya dia maklum. Pantas saja gadis ini
jatuh cinta kepada penolangnya itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Penolong saya itu tentu saja mendapat penghargaan dari gubernur karena dia telah berhasil membasmi
perampok yang suka mengganas itu. Dan saya... oleh penolong saya itu saya lalu dititipkan kepada
gubernur, karena keluarga saya telah habis... kemudian... dia pergi, meninggalkan saya seorang diri di
sini...“
“Hemmm, dan kau lalu bekerja sebagai pelayan di sini? Apakah engkau mengalami hal-hal yang tidak
menyenangkan di sini?”
“Tidak, tidak, Kongcu.... Paduka gubernur baik sekali... saya menjadi seorang pelayan yang terkasih juga
oleh Nyonya dan semua keluarga. Akan tetapi, Kongcu tahu sendiri... sebagai seorang pelayan... dan saya
kadang-kadang harus melayani tamu-tamu...“
“Aku mengerti, Nona. Ehh, bolehkah saya mengetahui namamu?”
“Nama saya Cui Lan, Phang Cui Lan”
“Nama yang indah sekali, Cui Lan. Tetapi mengapa... mengapa... kau tadi bernyanyi mengenangkan
pendekar penolongmu yang kau cinta itu?”
“Kamar ini, Kongcu. Kamar inilah kamar pendekar itu ketika dulu dia bermalam di sini. Saya yang selalu
membersihkannya dan melayaninya, akan tetapi dia... dia pergi. Dan kamar ini tidak pernah dipakai lagi,
akan tetapi selalu saya rawat dan saya bersihkan, kalau-kalau... dia datang kembali ke sini..., akan tetapi
sekarang kamar ini dibuka oleh karena banyaknya tamu dan kebetulan Kongcu yang dipersilakan
bermalam di sini....“ Suaranya gemetar.
“Siapa nama pendekar penolongmu itu?”
“Itulah yang menyusahkan hati saya, Kongcu. Saya tidak tahu namanya, bahkan di sini pun tidak ada yang
tahu nananya. Dia masih muda, rambutnya panjang terurai akan tetapi berwarna putih seperti perak, dia...
dia tampan dan gagah, pendiam dan penuh rahasia.”
Kian Lee meraba dahinya dan mengerutkan alisnya. “Masih muda, rambutnya putih terurai, dan lihai
sekali? Hemmm... pernah aku mendengar tokoh seperti itu. Bukankah orang-orang menyebutnya Pendekar
Siluman Kecil?”
“Benar!” Dara itu berseru penuh harapan. “Apakah Kongcu sudah mengenalnya?”
“Sayang sekali belum. Apa lagi mengenalnya, bertemu muka pun belum pernah. Aku hanya mendengar
berita orang saja...“
Tiba-tiba Kian Lee segera menghentikan kata-katanya karena dia melihat berkelebatnya seseorang di
depan kamar itu. Hanya kelihatan kepala orang itu yang sekejap menoleh ke dalam, seperti orang
menjenguk dan terdengar suara orang itu mendehem kecil, “Ehmmm...“
Wajah Kian Lee menjadi merah dan cepat dia membuka daun pintu kamarnya. Ketika dia memandang, dia
melihat seorang laki-laki yang tadi lewat di depan pintu kamar itu kini sudah memasuki taman,
menyeberangi sebuah jembatan taman dan orang itu menoleh kepadanya, lalu tersenyum dengan sinis.
Kian Lee menjadi penasaran, akan tetapi orang itu sudah membuang muka dan tidak menoleh lagi, lalu
berjalan pergi dan lenyap di tikungan bangunan. Kian Lee memasuki kamarnya lagi.
“Siapa dia?” tanya Kian Lee kepada gadis itu yang kelihatannya memandang khawatir.
“Yang menjenguk tadi?” Bibir yang merah tipis itu berjebi tanda muak dan tidak senang. “Dia pun seorang
tamu, kabarnya dia pengawal dari Ouw-taijin, seorang pembesar berpangkat Tee-tok dari San-sian.
Rombongan Ouw-teetok itu kepala pengawal she Bu. Orangnya menjemukan sekali, Kongcu, semenjak
kemarin dia selalu berusaha untuk menggoda saya kalau kebetulan bertemu.”
“Hemmmmm...“ Diam-diam Kian Lee mencatat laki-laki berusia empat puluhan tahun bermuka hitam dan
berkumis lebat itu.
Dia masih membuka daun pintu dan ketika dia hendak menutupkan daun pintu, tiba-tiba terdengar suara
berisik dan datanglah lagi beberapa orang tamu yang agaknya juga memperoleh kamar-kamar di dekat
dunia-kangouw.blogspot.com
taman itu. Agaknya mereka itu hanyalah pengawal-pengawal dari pembesar yang baru datang. Akan tetapi
ketika Kian Lee memandang kepada rombongan orang itu, dia terkejut sekali melihat salah seorang di
antara mereka yang dikenalnya.
Seorang wanita yang cantik pesolek, usianya kurang lebih tiga puluh lima tahun, namun tubuhnya masih
ramping dan padat terpelihara. Sinar matanya tajam dan kerlingnya menyambar-nyambar ganas, di
pinggangnya tergantung pedang dengan sarung pedang yang terukir indah. Itulah Mauw Siauw Mo-li Si
Siluman Kucing, wanita yang lihai bukan main, ahli peledak, dan masih sumoi dari Hek-tiauw Lo-mo ketua
Pulau Neraka!
Wanita ini merupakan seorang tokoh yang amat ditakuti, dan ketika terjadi huru-hara pemberontakan dua
orang Pangeran Liong, wanita ini pun mengambil bagian yang penting. Mau apa wanita tokoh sesat yang
amat berbahaya itu berkeliaran di sini, pikir Kian Lee dan hatinya mulai tertarik. Tentu akan terjadi peristiwa
penting di tempat ini pikirnya.
Cepat dia masuk kembali agar tidak kelihatan oleh Siluman Kucing itu. Agaknya akan banyak kaum
persilatan dan tokoh-tokoh golongan hitam yang datang ke tempat ini, pikirnya. Entah siapa gerangan
utusan kaisar dari kota raja itu dan tentu akan terjadi sesuatu yang hebat. Dia harus waspada.
“Sudahlah... Cui Lan. Sekarang lebih baik kau tinggalkan aku sendiri, tidak baik kalau kita berdua berada di
dalam kamar ini terlalu lama. Aku khawatir kalau-kalau orang akan menduga jelek kepadamu.”
“Tetapi, Kongcu…. saya justeru takut untuk pergi meninggalkan Kongcu,“ kata gadis itu mulai basah
dengan air mata. “Harap Kongcu jangan menyuruh saya pergi, saya takut kalau saya harus melayani tamu
lain. Jangan-jangan saya malah akan disuruh melayani pengawal Ouw-teetok itu, dia sudah terus menerus
mengincarku. Kongcu, saya mohon kepadamu, harap Kongcu perbolehkan saya tetap berada di sini
selama orang-orang ini belum pergi. Saya takut...“
Suma Kian Lee memandang dengan kasihan dan tersenyum. “Kenapa kalau di sini bersama aku tidak
takut? Kau pun belum mengenal aku, Cui Lan.”
“Tidak, kalau di sini saya tentu tidak takut. Saya tahu bahwa Kongcu tentu tidak akan mengganggu saya.“
“Hemmm, baiklah... akan tetapi aku hendak mengaso, Cui Lan.”
“Mengasolah, Kongcu, saya akan duduk di sini saja. Apakah saya harus bermain yang-kim untuk Kongcu?”
“Tidak usah. Aku hendak mengaso dan aku tidak ingin melihat engkau menangis lagi karena menyanyikan
lagu yang sedih itu.” Kian Lee lalu merebahkan dirinya di atas pembaringan, sedangkan Cui Lan duduk di
atas bangku seperti orang melamun.
Tentu saja ditunggui orang seperti itu, seorang gadis cantik lagi, Kian Lee tidak dapat tidur. Akhirnya Kian
Lee bangun dan mengajak Cui Lan bermain catur yang memang disediakan di dalam kamar itu. Ternyata
gadis ini pandai bermain catur, sehingga untuk beberapa lamanya Kian Lee asyik bermain catur,
bergembira dan lupa seolah-olah dia sedang bermain catur dengan seorang sahabat lama. Juga gadis itu
kadang-kadang tertawa kecil dan melupakan kedukaannya. Baru sekarang dia bertemu dengan seorang
pemuda yang begitu sopan, halus dan sama sekali tidak pernah kurang ajar sehingga dia merasa terhibur
dan seolah-olah memperoleh seorang sahabat yang amat baik dan boleh diandalkan.
Waktu lewat tak terasa dan selama itu Kian Lee mendengar datangnya rombongan demi rombongan para
tamu. Akhirnya senja tiba dan Kian Lee lalu mencuci muka dengan air hangat yang diambilkan oleh Cui
Lan. Setelah bertukar pakaian dan diberi tahu oleh Cui Lan bahwa bulan telah muncul dan pesta akan
dimulai, bahkan sebagian para tamu sudah memasuki taman, Kian Lee lalu meninggalkan Cui Lan,
memesan kepada Cui Lan untuk menutupi pintu dan jendela dan kalau terjadi sesuatu supaya menjerit
saja. Dia langsung memasuki taman yang telah diatur dan dihias untuk keperluan pesta di malam hari itu
untuk menyambut datangnya tamu agung dari kota raja.
Selain sinar bulan yang belum terlalu tinggi sehingga sinarnya masih belum terang benar, juga banyak
digantung lampu-lampu yang berbentuk lentera-lentera yang beraneka macam, digantung di pohon-pohon
dan di tempat-tempat yang disediakan khusus untuk keperluan itu. Di sudut taman terdapat serombongan
tukang main musik membunyikan alat musiknya sehingga suasana menjadi meriah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tamu-tamu mulai berdatangan, disambut oleh petugas-petugas dan dipersilakan duduk di tempat masingmasing
yang sudah disediakan sesuai dengan tingkat dan kedudukan mereka. Semua bupati dan
pembesar-pembesar di seluruh wilayah Propinsi Ho-nan datang. Mereka ini rata-rata membawa pengawal
masing-masing yang terdiri dari orang-orang yang bertubuh kokoh kekar dan berwajah seram-seram,
kelihatannya lihai dan angkuh gerak-geriknya.
Kian Lee yang kebagian tempat duduk di bagian belakang, yaitu tempat para tamu undangan yang terdiri
dari orang-orang kang-ouw yang tidak memiliki pangkat, sengaja memilih tempat duduk dekat kolam, agak
menyendiri akan tetapi dari tempat itu dapat melihat ke seluruh tempat duduk para tamu sampai tempat
duduk tuan rumah dan tamu agung yang telah dipersiapkan di panggung, agak tinggi dari tempat duduk
lainnya. Sebentar-sebentar Kian Lee menengok apa bila ada tamu baru datang dan dia pun menoleh ke
sana-sini untuk melihat barangkali ada adiknya di antara sekian banyak tamu itu.
Hatinya lega ketika melihat bahwa yang berkumpul adalah tokoh-tokoh baru yang tidak dikenalnya. Tidak
kelihatan tokoh-tokoh lama, dan yang dia kenal hanyalah si wanita genit Siluman Kucing Mauw Siauw Mo-li
yang untung duduknya di seberang cukup jauh dari tempat dia duduk. Suasana makin gembira dengan
suara para tamu yang mulai bercakap-cakap sambil makan kwaci yang telah lebih dulu disediakan di atas
piring di meja masing-masing. Suara kletak-kletik orang makan kwaci bercampur dengan suara orangorang
bicara, dilatar belakangi suara musik yang meriah.
Gubernur Kui Cu Kam, yaitu Gubernur Ho-nan yang umurnya kurang lebih lima puluh tahun, bertubuh
kurus kecil dan berpakaian gemerlapan indah, sejak tadi sudah duduk di tempatnya. Sebagai seorang
gubernur atau pembesar yang kedudukannya tertinggi, dia tidak langsung menyambut tamu sendiri, tetapi
diwakili oleh pembesar-pembesar bawahannya dan ia hanya duduk sambil mengangguk sebagai balasan
salam dari para tamu yang baru berdatangan dan memberi hormat kepadanya. Gubernur ini kelihatan
gembira dan tersenyum-senyum sambil menoleh ke kanan kiri. Di belakangnya berdiri pasukan pengawal
yang dikepalai oleh Si Rambut Merah yang selalu membawa guci arak itu. Ho-nan Ciu-lo-mo Wan Lok It
pada kesempatan itu pun mengenakan pakaian yang baru untuk menghormat tamu, akan tetapi tetap saja
bibirnya berlepotan arak!
Tiba-tiba terdengar teriakan keras dari pasukan pengawal di pintu gerbang depan, sambung-menyambung
memberitahukan bahwa tamu agung, yang mulia utusan kaisar telah tiba! Semua tamu bangkit berdiri dan
pintu kehormatan yang berada di tengah-tengah menghubungkan taman dengan istana gubernur dibuka
oleh para penjaga. Para pemain musik yang sudah dipesan lebih dulu kini memainkan musik yang berbunyi
gagah, seolah-olah hendak mengiringkan datangnya tamu agung.
Maka tampaklah iring-iringan tamu agung itu. Seorang pemuda yang berwajah tampan sekali, berpakaian
indah gemerlapan, melangkah masuk ke dalam taman dengan senyum di bibir dan matanya memandang
ramah ke kanan kiri. Pemuda tampan ini diiringkan oleh tiga losin orang pengawal istana yang juga
berpakaian gagah dan indah. Melihat bulu burung menghias kepala mereka serta pakaian mereka yang
gemerlapan seperti terhias oleh banyak emas, tahulah orang bahwa tiga losin pengawal itu adalah pasukan
pengawal Kim-i-wi (Pengawal Baju Emas) yang terkenal, dan bulu di kepala itu menunjukkan bahwa
mereka termasuk anggota pasukan Kuku Garuda yang terkenal lihai dan berkepandaian tinggi.
Di kanan kiri pemuda tampan itu berjalan pelindungnya, dua orang jagoan pengawal kaisar dari kota raja,
komandan dari pasukan Kuku Garuda yang tersohor, yang dahulu terangkat tinggi-tinggi namanya berkat
pimpinan Puteri Nirahai yang gagah perkasa. Di belakang pemuda tampan itu berjalan sebagai pengiring
atau pengantarnya, seorang kakek tinggi kurus berjenggot putih yang melihat pakaiannya juga bukan
berpangkat rendah. Dia ini adalah Gubernur Hok Thian Ki, gubernur dari Propisi Ho-pei yang berada di
utara Ho-nan dan di mana kota raja terletak.
Di belakang Gubernur Hok ini berjalan para pengawalnya, dikepalai oleh seorang laki-laki bermata sebelah,
akan tetapi mata yang tinggal satu ini bukan main tajam sinarnya. Orang-orang banyak yang mengenal Si
Mata Satu ini yang bukan lain adalah Tok-gan Sin-ciang Liong Bouw (Si Mata Satu Tangan Sakti), jagoan
dari Ho-pei yang menjadi pengawal Gubernur Hok.
Akan tetapi Kian Lee tidak mempedulikan orang lain yang tidak dikenalnya, pandang matanya tertuju
kepada pemuda tampan yang bersikap tenang dan berwajah ramah itu. Kiranya utusan kaisar itu adalah
putera kaisar sendiri, yaitu Pangeran Yung Hwa yang terkenal sebagai pangeran yang suka membantah
dan melawan kehendak kaisar itu, pangeran yang suka minggat dari istana untuk memprotes kehendak
kaisar yang menjadi ayahnya! Juga Kian Lee mendengar bahwa pangeran yang amat tampan ini pernah
dunia-kangouw.blogspot.com
menjadi saingannya, karena pangeran ini kabarnya pernah jatuh cinta kepada Ceng Ceng! Maka, tentu
saja hatinya tertarik dan dia memperhatikan dengan seksama.
Setelah masuk di ruangan itu, tiba di depan Gubernur Kui sebagai tuan rumah, sambil tersenyum Pangeran
Yung Hwa lalu mengeluarkan leng-ki (bendera utusan atau wakil kaisar) dan mengangkatnya tinggi ke atas
kepalanya. Melihat bendera ini, Gubernur Kui lalu menjatuhkan diri berlutut dan hal ini diikuti oleh semua
orang yang hadir di situ karena bendera ini dianggap sebagai kehadiran kaisar sendiri.
“Hamba Kui Cu Kan Gubernur Ho-nan siap menerima perintah Sri Baginda Kaisar,” Kui-taijin berkata
dengan suara merendah dan terdengar nyaring karena semua orang yang berlutut tidak ada yang berani
membuka suara.
Pangeran Yung Hwa mengeluarkan sebuah gulungan kain tertulis, kemudian komandan pasukan pengawal
Kuku Garuda yang dua orang itu lalu membuka gulungan ini di depan Pangeran Yung Hwa agar mudah
bagi pangeran muda itu untuk membacanya. Dengan suara lantang Pangeran Yung Hwa lalu membaca
amanat dari kaisar yang ditujukan kepada seluruh pejabat di Ho-nan sampai kepada rakyatnya.
Diperintahkan oleh kaisar agar semua rakyatnya, terutama gubernur dan para pejabat pemerintahnya,
menjaga tata tertib kerajaan, jangan ada yang menyeleweng dari pada peraturan yang telah diadakan.
Akhirnya diperingatkan bahwa setiap penyelewengan akan dihancurkan sampai ke akar-akarnya.
Baru saja membaca sampai di situ, tiba-tiba terdengar suara mengejek, suara sinis yang keluar dari lubang
hidung, datangnya dari arah sudut di mana banyak terdapat orang-orang yang semua juga sedang berlutut
sehingga sukar untuk diketahui siapa orangnya yang mengeluarkan suara ejekan yang amat jelas
terdengar tadi itu.
Pangeran Yung Hwa menghentikan bacaanya dan bertanya dengan nada suara halus, namun penuh
wibawa, “Siapa yang berani mentertawakan amanat Sri Baginda Kaisar?”
Tentu saja tidak ada seorang pun yang menjawab. Mereka semua masih saja berlutut, bahkan tidak ada
yang berani mengangkat kepala. Semua ini tampak oleh Kian Lee yang biar pun ikut pula berlutut akan
tetapi dia miringkan kepalanya sehingga dia dapat mengintai ke depan.
“Hemmm, tidak ada yang mau mengaku, ya?” Pangeran Yung Hwa menjadi marah juga, merasa diejek dan
dihina sebagai utusan kaisar. Dia menoleh kepada Gubernur Hok dari Ho-pei dan memberi isyarat.
Gubernur ini lalu berbisik kepada jagoannya yaitu Tok-gan Sin-ciang Si Mata Satu.
“Baik, akan hamba tangkap dia!” Orang bermata sebelah ini mengangguk.
Tiba-tiba dia menggerakkan kakinya dan seperti seekor burung garuda saja, tubuhnya sudah mencelat
bagaikan terbang menyambar ke sudut tadi. Tangannya yang kurus itu, dengan lengan yang panjang
mencengkeram ke depan, ke arah seorang laki-laki yang berlutut di dekat pot bunga cemara katai. Orang
itu terkejut bukan main, tidak mengira bahwa Si Mata Satu itu demikian cepat gerakannya. Segera dia
mengangkat lengan menangkis.
“Dukkkkk!” Keduanya terhuyung dan orang itu cepat meloncat berdiri. Maka terjadilah pertandingan antara
Si Mata Satu melawan orang ini.
Kian Lee mengerling, dan terheran-heran ketika mengenal orang yang diserang oleh Si Mata Satu itu,
karena dia itu ternyata adalah laki-laki yang sore tadi lewat di depan kamarnya, berdehem dan kemudian
tersenyum sinis kepadanya, lakl-laki muka hitam yang berkumis lebat, yang menurut Cui Lan bernama Bu
Ok Ti, pengawal dari Ouw-teetok bupati kota San-sian! Dan ternyata orang bermuka hitam yang agaknya
tergila-gila kepada Cui Lan itu juga memiliki kepandaian hebat! Gerakannya cukup lincah dan kuat
sehingga pertandingan antara dia dan Si Mata Satu itu berjalan seru dan dahsyat.
Biar pun di situ terdapat banyak orang, bahkan banyak juga orang pandai, di antaranya terdapat Suma
Kian Lee, akan tetapi tidak ada yang tahu bahwa Si Muka Hitam inilah yang tadi mengejek amanat-amanat
dari kaisar. Hal ini adalah karena mereka semua berlutut. Sebaliknya, sebagai pengawal rombongan
utusan kaisar, Si Mata Satu tadi tidak berlutut maka matanya yang tinggal sebelah dan amat tajam
pandangnya itu dapat melihat siapa yang telah mengejek itu, maka dia dapat langsung turun tangan
hendak menangkap Si Muka Hitam.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pertandingan makin seru, namun para tamu tidak ada yang berani bergerak. Pangeran Yung Hwa masih
berdiri dengan leng-ki, bendera yang berkuasa itu, di tangan dan diangkat tinggi-tinggi. Dan kedua orang
yang bertanding itu berloncatan ke sana-sini, mencari tempat-tempat kosong. Akan tetapi akhirnya Si Muka
Hitam itu terdesak juga, repot dia menghadapi kelihaian Tok-gan Sin-ciang yang memiliki tangan sakti,
pukulan-pukulan keras, dan tenaga sinkang yang membuat pukulannya mendatangkan angin bersuitan itu.
Bu Ok Ti mulai meloncat ke sana-sini berputar-putar menghindarkan diri dari serangan-serangan maut itu.
Akan tetapi, sambil meloncat seperti terbang, yaitu loncatan ginkang istimewa yang dikuasai oleh Si Mata
Satu, Tok-gan Sin-ciang menyerbu dan melewati banyak kepala orang, menubruk dan dengan suatu
totokan kilat akhirnya dia berhasil merobohkan Bu Ok Ti.
Tok-gan Sin-ciang lalu menyeret tawanannya itu, hendak dibawa ke depan Pangeran Yung Hwa. Kian Lee
yang sejak tadi melirik dengan penuh perhatian dapat melihat ini semua. Akan tetapi ketika Tok-gan Sinciang
lewat di dekat si tokoh sesat Siluman Kucing, dia berteriak mengaduh dan terguling roboh!
Gegerlah keadaan saat Tok-gan Sin-ciang roboh itu. Komandan pengawal Kuku Garuda yang lihai tentu
saja dapat melihat bahwa robohnya Tok-gan Sin-ciang adalah ketika lewat di depan Siluman Kucing, maka
sambil berseru keras, seorang di antara mereka meloncat dan menerkam ke arah Mauw Siauw Mo-li.
Wanita ini terkekeh dan bangkit berdiri lalu menangkis dengan tangkisan hebat yang membuat komandan
itu hampir terjengkang karena dia tidak menyangka sama sekali bahwa perempuan cantik itu sedemikian
hebat tenaga sinkang-nya. Maka mereka lalu bertempur, lebih hebat dari pada pertempuran yang tadi.
Tok-gan Sin-ciang dan Bu Ok Ti sudah tak dapat bergerak dan kini pertandingan antara komandan Kuku
Garuda yang bermata sipit melawan Mauw Siauw Mo-li terjadi lebih cepat lagi. Tidak percuma Si Mata Sipit
menjadi komandan Kuku Garuda dan sekarang dipercaya untuk menjadi seorang di antara dua pengawal
pribadi utusan kaisar, karena memang hebat kepandaiannya. Biar pun Mauw Siauw Mo-li adalah seorang
tokoh lalim sesat yang amat lihai, ternyata komandan ini dapat mengimbangi kecepatannya dan para tamu
yang kini berani mengangkat muka, menjadi silau menyaksikan pertempuran di antara mereka yang
demikian cepatnya.
Mauw Siauw Mo-li telah mengeluarkan sebatang pedangnya dan kini pedang itu diputar sedemikian rupa,
lenyap bentuk pedangnya berubah menjadi segulung sinar hijau yang menyilaukan mata. Akan tetapi
komandan itu pun mengeluarkan sebatang pedang yang sinarnya putih, sehingga tampaklah
pemandangan yang amat indah, dua gulungan sinar hijau dan putih, saling belit di antara berkelebatnya
bayangan mereka, seolah-olah dua orang penari yang sedang bergaya dengan menggunakan selendang
hijau dan putih. Akan tetapi semua orang merasa tegang karena maklum bahwa ‘selendang’ hijau dan putih
itu adalah sinar-sinar pedang yang mematikan.
Sambil mengeluarkan suara aneh seperti kucing terinjak ekornya, Mauw Siauw Mo-li mengirim tusukan
kilat dan tangan kirinya juga menghantam dengan pukulan beracun yang mengeluarkan uap hitam.
Komandan itu terkejut sekali dan cepat dia meloncat ke belakang. Namun ketika dia meloncat tiba di dekat
tempat Gubernur Ho-nan atau tuan rumah yang sedang berlutut, tiba-tiba ada angin menyambar ke arah
punggungnya.
“Tranggg...!”
Untung dia cepat menangkis dengan pedangnya yang dikelebatkan ke belakang dan ternyata yang
menyerangnya adalah Ho-nan Ciu-lo-mo yang tadi menggunakan guci araknya sebagai senjata! Kiranya
guci arak itu bukan hanya tempat arak untuk diminum, akan tetapi juga merupakan sebuah senjata yang
aneh dan ampuh! Tanpa banyak cakap, Ho-nan Ciu-lo-mo yang tentu saja sudah mendapat perkenan dan
isyarat dari Gubernur Kui itu, terus menerjang dan mengeroyok komandan bermata sipit dari istana kaisar
itu.
“Penjahat pemberontak!” Komandan kedua dari pasukan Kuku Garuda yang jenggotnya lebat sudah
menerjang maju dan dengan pedangnya yang bersinar putih pula dia telah menerjang Ciu-lo-mo hingga
sekarang pertandingan terpecah menjadi dua. Dua orang komandan itu melawan Mauw Siauw Mo-li dan
Ciu-lo-mo.
Keadaan menjadi makin geger. Semua tamu sudah bangkit berdiri dan kini para jagoan Ho-nan telah
menerima perintah kemudian maju, disambut oleh pasukan pengawal Kuku Garuda yang tiga losin
jumlahnya itu. Terjadilah pertempuran yang kacau-balau dan hebat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kian Lee juga sudah melompat berdiri, bingung karena tidak tahu harus berbuat apa, tidak tahu mengapa
ada pertempuran di antara orang-orang pemerintah sendiri. Dia melihat Pangeran Yung Hwa melarikan diri
dikejar oleh Perwira Su Kiat yang pernah bentrok dengan dia ketika hendak menangkapnya di celah tebing.
Melihat ini dia cepat meloncat dan mengejar secepatnya bagaikan seekor burung terbang karena dia
sangat mengkhawatirkan keselamatan pangeran itu. Dilihatnya betapa Pangeran Yung Hwa lari ke luar dari
taman dan terus dikejar oleh perwira Su Kiat dengan sikap mengancam, maka dia pun membayangi dan
bersiap untuk menolong apa bila pangeran itu terancam bahaya.
********************
Kita tinggalkan dulu keributan yang terjadi di taman istana Gubernur Ho-nan, Kui Cu Kam, yang ternyata
diam-diam telah mempersiapkan pemberontakan itu, dan agar tidak terlalu lama tertinggal, maka sebaiknya
kita menengok keadaan Puteri Syanti Dewi di Istana Raja Bhutan.
Pada suatu senja yang dingin. Musim dingin sudah mulai di Bhutan dan udara amat dinginnya, menyusup
ke tulang sumsum sehingga semua orang yang memberanikan diri ke luar dari rumah tentu memakai baju
yang tebal atau baju bulu, dengan kopiah atau pelindung kepala bulu yang menutup kedua telinga. Hanya
orang-orang yang punya keperluan penting saja mau ke luar dari rumah yang hangat di saat seperti itu. Di
dalam rumah hawanya hangat dan nyaman karena setiap rumah tentu menyalakan api di dalam perapian.
Tidak ada angin berkelisik di dalam taman istana Bhutan. Pohon-pohon berdiri seperti mati, sungguh pun
daun-daunnya masih segar dan berwarna hijau kehitaman karena sinar matahari sudah menyuram. Hanya
di langit barat saja tampak awan-awan seperti terbakar merah yang nampak nyata dan luar biasa di bawah
langit yang biru. Burung-burung sudah sejak tadi bergegas pulang dan berlindung ke sarang masingmasing,
di pohon-pohon atau di batu-batu gunung, mendekam dengan bulu dimekarkan untuk
menghangatkan tubuh. Tiada nampak sesuatu bergerak di dalam taman yang penuh bunga itu dan bungabunga
pun agaknya mulai mengaso, tidak berseri-seri seperti di siang hari. Seluruh dunia, dari langit biru
sampai air empang teratai dalam taman yang tak bergerak sedikit pun, nampak lengang dan hening,
merupakan suatu keseluruhan yang tidak pernah terpisah senapas dan tercakup dalam keiindahan yang
satu.
Akan tetapi di dalam kesunyian senja yang indah itu, tampak ada seorang wanita muda duduk seorang diri
di dalam taman istana, memandang dengan sinar mata kosong dan sayu ke arah bunga-bunga teratai
merah di atas empang. Dia seorang wanita yang sangat cantik jelita, usianya kurang lebih dua puluh tahun,
dan dari pakaiannya saja mudah diduga bahwa dia bukanlah wanita biasa, bukanlah pelayan istana.
Wajahnya cantik sekali, dengan hidung mancung dan mata yang lembut pandangnya, namun mulut yang
bentuknya indah menggairahkan itu membayangkan kekerasan hati.
Dia adalah Puteri Syanti Dewi, puteri Rja Bhutan yang terkasih, disayang oleh raja dan ratu, disayang pula
oleh para punggawa, dan dipuja oleh rakyat Bhutan. Bagi rakyat Bhutan, Puteri Syanti Dewi seolah
merupakan bulan yang menyinarkan keindahan dan kegembiraan. Apa lagi setelah puteri yang tadinya
dianggap sudah hilang atau mati, setelah puteri ltu lenyap bertahun-tahun, kemudian muncul kembali
dalam keadaan selamat, sehat bahkan lebih cantik jelia!
Di dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali telah diceritakan pengalaman Puteri Syanti Dewi ini ketika
bersama Lu Ceng atau Ceng Ceng dia mengalami banyak sekali hal-hal yang hebat sampai akhirnya dia
berhasil kembali ke Bhutan. Di dalam Kisah Sepasang Rajawali telah diceritakan pula betapa Puteri Syanti
Dewi akhirnya menemukan cintanya dalam diri Ang Tek Hoat, pemuda perkasa yang telah berkali-kail
menolongnya, bahkan terakhir sekali pemuda itu membuat banyak jasa terhadap Bhutan sehingga
dianggap sebagai pahlawan Bhutan dan diangkat menjadi panglima oleh Raja Bhutan di samping menjadi
tunangannya secara resmi. Tentu saja Syanti Dewi menjadi berbahagia dan dia hanya menanti saat
datangnya hari pernikahannya dengan pria pilihan dan idaman hatinya itu.
Akan tetapi, segala sesuatu memang tidak kekal di dunia ini. Bahkan kebahagiaan hati Sang Puteri ini pun
tidak kekal adanya. Seperti telah diceritakan di bagian depan cerita ini, muncullah awan gelap yang
menghalangi kecerahan hidup puteri ini ketika seorang wanita yang bernama Ang Siok Bi muncul di
Bhutan.
Wanita yang hidupnya diracuni dendam ini adalah ibu Ang Tek Hoat yang ingin menarik puteranya ke luar
dari Bhutan agar dapat membalaskan dendamnya terhadap keluarga Pulau Es dan akhirnya wanita itu
berhasil membakar hati Raja Bhutan sehingga Ang Tek Hoat dihentikan sebagai panglima, bahkan ikatan
dunia-kangouw.blogspot.com
jodoh antara pendekar itu dan Syanti Dewi dibatalkan. Peristiwa ini membuat pendekar itu merasa
penasaran dan terhina sehingga dia pergi meninggalkan Bhutan tanpa sempat pamit dari kekasihnya.
Demikianlah, Syanti Dewi hanya menerima kabar dari ayahnya bahwa Ang Tek Hoat telah minggat dari
Bhutan karena terbuka rahasianya bahwa pemuda yang tadinya disangka seorang pendekar terhormat,
masih keluarga dari Majikan Pulau Es, yang dianggap pahlawan dan diterima sebagai tunangan Puteri
Syanti Dewi itu, ternyata hanyalah seorang anak haram! Karena malu, pemuda itu lolos dari Bhutan tanpa
pamit, demikian berita yang diterima oleh Syanti Dewi.
Mendengar berita ini, Syanti Dewi jatuh pingsan dan menderita sakit demam karena guncangan batin yang
amat hebat. Sampai tiga bulan puteri ini sakit dan nyaris tewas oleh sakitnya. Akan tetapi, berkat
perawatan penuh ketelitian dari para tabib yang dikumpulkan oleh Raja Bhutan, akhirnya Sang Puteri
sembuh juga. Akan tetapi terjadi perubahan besar dalam diri Sang Puteri. Puteri yang tadinya lincah jenaka
itu kini selalu murung, dia kehilangan gairah hidupnya, tidak mempunyai kegembiraan lagi. Biar pun dia
masih cantik jelita seperti bulan purnama, namun bulan itu selalu tertutup mendung. Tentu saja raja dan
ratu merasa prihatin sekali dengan keadaan puteri mereka itu.
“Syanti Dewi, ingatlah bahwa kau adalah puteri kerajaan! Nasibmu masih baik bahwa engkau belum
terlanjur menjadl isteri anak haram itu. Betapa akan mencemarkan nama keluarga kita kalau hal itu terjadi!
Perlu apa engkau memikirkan lagi manusia tak tahu malu ltu?” berkali-kali raja dan ratu menegur dan
menghibur puteri mereka.
“Kenapa dia pergi tanpa menemui aku?” berkali-kali Syanti Dewi mengeluh dengan suara mengandung
penuh penyesalan.
“Tentu dia malu!” kata Sri Baginda Raja. “Setelah terbuka rahasianya, tentu dia tidak ada muka lagi untuk
bertemu denganmu dan memang sudah semestinya begitu.”
“Tidak, Ayah... tidak...“ Syanti Dewi mengepal tinju dan menggeleng kepala keras-keras. “Dia bukan
manusia seperti itu! Aku cinta padanya, Ayah, Ibu. Aku cinta padanya, tidak mengertikah Ayah dan Ibu?
Aku cinta padanya!”
“Hemmm, Syanti Dewi, ingatlah bahwa dia adalah seorang anak haram, tidak ketahuan siapa Ayahnya!
Dan kau tahu siapa yang memberitahukan kepada kami akan hal itu? Ibunya sendiri!” Sri Baginda berkata
marah.
“Aku tahu, aku pernah melihat Ibunya. Ayah, Ibu... yang kucinta adalah orangnya, bukan silsilah
keturunannya, bukan kedudukannya, bukan nama baik atau buruknya. Tidak mengertikah Ayah dan Ibu?”
Akan tetapi semua bantahan Syanti Dewi, segala pembelaannya percuma saja karena Tek Hoat telah pergi
dan tidak ada seorang pun tahu kemana perginya. Beberapa kali Syanti Dewi hendak minggat dari istana
untuk pergi menyusul dan mencari kekasihnya, tetapi selalu gagal karena Sri Baginda raja telah
memerintahkan kepada para pengawal agar mereka melakukan penjagaan ketat dan tidak
memperbolehkan siapa pun juga memasuki istana puteri. Apa lagi manusia, seekor kucing pun tak akan
mungkin masuk menerobos penjagaan ratusan orang pengawal yang berjaga siang dan malam itu! Syanti
Dewi memprotes ayahnya, menangis, namun semua itu sia-sia belaka. Ayahnya tidak mengijinkan dia
pergi.
Kemudian ayahnya memutuskan untuk mengawinkan puteri itu dengan Mohinta, putera dari Panglima Tua
Sangita yang telah banyak jasanya.
“Mohinta adalah seorang panglima muda yang amat setia, tampan dan gagah, juga ayahnya adalah
seorang yang setia kepada Bhutan,” demikian antara lain Sri Baginda membujuk puterinya. “Selain kita
semua tahu akan riwayat keluarganya, juga sejak kecil engkau telah mengenalnya karena dia adalah
sahabatmu di waktu kecil. Hanya dialah yang dapat menyelamatkan namamu dan nama keluarga kita dari
aib yang didatangkan oleh penjahat asing Ang Tek Hoat itu.”
“Ayah...!” Syanti Dewi hanya dapat menangis.
Akan tetapi setiap kali pernikahan direncanakan, Syanti Dewi selalu minta waktu dan minta mundur.
Karena Sri Baginda juga mengenal watak puterinya yang keras, maka dia tidak berani memaksa, apa lagi
karena Panglima Mohinta yang mencinta puteri itu juga bersabar dan menanti sampai Sang Puteri tidak
dunia-kangouw.blogspot.com
berduka lagi. Dia percaya bahwa kedukaan tak akan berlangsung selamanya, maka panglima muda itu
bersabar menanti. Betapa dia tidak akan bersabar kalau mengingat bahwa selain dia akan dapat memiliki
puteri yang amat cantik jelita itu, juga kelak isterinya itu akan menjadi Ratu Bhutan dan tentu saja hal itu
berarti mengangkat dia menjadi orang yang kedudukannya paling tinggi di kerajaan itu?
Demikianlah, sampai empat tahun lamanya semenjak Tek Hoat meninggalkan Bhutan, Syanti Dewi masih
sering kali termenung seorang diri di dalam taman, di mana dahulu dia sering mengadakan pertemuan
yang asyik dan mesra dengan Tek Hoat. Memang rasa sakit di hatinya sudah tidak begitu terasa lagi, luka
itu sudah hampir kering, namun puteri itu belum dapat memulihkan kegembiraan hidupnya dan lebih suka
menyendiri. Kalau dia sedang melamun seperti itu, dia lupa akan keadaan sekelilingnya, bahkan tidak
merasakan lagi hawa dingin yang menyusup tulang!
Sementara itu, di luar pintu gerbang istana Bhutan juga terjadi hal yang amat menarik. Hawa udara yang
amat dingin membuat orang-orang segan keluar rumah dan lalu lintas di jalan-jalan raya juga sepi. Para
penjaga yang kedinginan sudah mengenakan baju dan topi bulu penutup telinga dan kepala, bahkan
mereka juga membuat api unggun di tempat penjagaan untuk menambah hangat dan mengusir hawa
dingin yang mencoba untuk menyusup dan menyerang kulit mereka melalui lengan baju dan leher baju. Api
unggun bernyala merah, hampir sama dengan warna merah di langit barat yang mulai memudar, targanti
warna kelabu yang gelap.
“Sssttttt, lihat dia itu...!” Tiba-tiba seorang penjaga menyentuh lengan kawannya yang sedang menambah
kayu dalam api unggun, lalu menuding ke luar pintu gerbang.
Kawannya menengok dan mengeluarkan suara suitan tertahan saking kagumnya. Suara ini sudah biasa
bagi para penjaga, suara suitan tertahan sebagai tanda kekaguman jika mereka melihat wanita cantik lewat
di pintu gerbang. Oleh karena itu, para penjaga yang jumlahnya lima belas orang, yang sedang keisengan
di waktu hawa sedingin itu, kini memperhatikan ke luar pintu gerbang. Kepala mereka menjeguk ke luar
dan dengan terbelalak mata mereka memandang menembus kesuraman senja.
“Waduh cantiknya...!” kata seorang.
“Bukan main! Manis sekali...!”
“Tubuhnya... amboiiiii...!”
“Mati aku... lenggangnya...“
“Wah, dia memakai pakaian setipis itu dan tidak kelihatan kedinginan!” Seorang yang lebih teliti berkata
dan barulah teman-temannya juga melihat kenyataan yang memang luar biasa ini.
“Dan tidak hujan tidak panas dia memakai payung!”
“Wah, wah... sepatunya juga kain, bagaimana dia dapat bertahan dalam udara sedingin ini?”
“Cantik jelita, malam-malam tidak hujan pakai payung, sedingin ini berpakaian tipis pula tanpa merasa
dingin, wah-wah, jangan-jangan dia bukan manusia !”
“Hihhh...!”
Semua orang mulai merasa seram dan untuk menabahkan hati, mereka meraba gagang senjata masingmasing
dan kini lima belas orang itu sudah keluar semua dari gardu penjagaan. Komandan mereka, yaitu
seorang pendek gemuk yang terkenal galak dan pemberani, sudah keluar pula dan memandang dengan
alis berkerut, kumisnya yang tipis bergerak-gerak dan ini merupakan tanda bagi anak buahnya bahwa
komandan mereka itu sedang tegang hatinya!
“Hemmm, mencurigakan. Anak-anak, siap!” Sang komandan memberi komando dan dia sendiri lalu
menghadang di tengah pintu gerbang. Kebetulan sekali sangat sunyi saat itu, tidak ada orang lain yang
lewat di pintu gerbang kecuali wanita itu.
Tak salah penjaga yang sambat mata melihat lenggang itu. Memang bukan main! Bagai harimau lapar
lenggangnya, lambat-lambat dan satu-satu kedua kaki itu bergantian melangkah maju dengan gerakan
agak menyilang sehingga dari depan pun nampak jelas pinggang yang ramping itu meliuk-liuk dan sisi
dunia-kangouw.blogspot.com
pinggul yang padat itu miring ke kanan kiri berirama! Lenggang itu seperti lenggang tarian! Wanita itu
berjalan seperti orang menari saja, berirama dan begitu teratur indah! Lengan kirinya terayun manis di sisi
tubuhnya dan siku lengan kanan yang memegang gagang payung itu pun bergerak-gerak mengikuti gerak
tubuh ke kanan kiri. Bukan main! Setiap bagian tubuh itu seperti hidup dalam lenggang maut itu!
Wanita itu kini makin dekat, dan makin jelaslah kelihatan bentuk wajah dan tubuhnya yang tertutup pakaian
tipis dari kain sutera. Wajah yang aduhai! Manis seperti madu. Dagunya meruncing dan bibirnya yang
selalu mengulum senyum itu bergerak-gerak lucu penuh daya pikat. Bibir bawah itu tak pernah diam, selalu
bergerak dan tergetar seolah-olah mengandung penuh perasaan hati, mengandung gejolak perasaan yang
menggerakkan bibir bawah dan cuping hidung yang tipis. Matanya agak lebar, jeli dan tajam pandangnya,
kadang-kadang redup penuh rahasia dan seolah-olah sinar mata itu bersembunyi di balik bulu mata yang
merupakan selubung atau tirai indah. Lesung pipit menghias pipi yang segar kemerahan seperti buah
tomat masak.
Seorang dara yang amat cantik jelita, yang usianya tidak akan lebih dari sembilan belas tahun. Pakaiannya
dari sutera tipis yang lemas sehingga seolah-olah mencetak bentuk tubuhnya, namun potongan
pakaiannya rapi dan dari model terakhir dan terbuat dari sutera mahal. Payungnya juga indah sekali buatan
selatan, dari sutera dan gagangnya berukir. Wajah yang amat cantik itu selalu tersenyum, mata yang
sinarnya jernih itu seolah-olah mengajak semua orang bersendau-gurau tanpa kata.
Kalau saja para penjaga itu terdiri dari orang-orang yang mempunyai pandangan tajam, tentu mereka
sudah dapat menduga bahwa dara yang cantik jelita ini, yang kelihatan begitu ayu dan lemah lembut,
tentulah bukan orang sembarangan. Tanda-tandanya sudah nampak jelas. Dara ini aneh, tidak ada hujan,
tiada panas memakai payung, ini menunjukkan bahwa dia suka bersikap aneh, sikap yang biasanya hanya
dimiliki para kelana yang berilmu tinggi. Dara ini seorang diri saja melakukan perjalanan, padahal di masa
itu bagi seorang wanita muda melakukan perjalanan seorang diri merupakan hal yang langka.
Kalau dara ini kelihatan membawa senjata jelas bahwa dia adalah seorang kang-ouw (kelana persilatan),
akan tetapi tanpa senjata berani melakukan perjalanan seorang diri membayangkan keadaan seorang
yang tentu sudah terlalu percaya kepada diri sendiri, sehingga tidak membutuhkan bantuan senjata! Ini pun
biasanya hanya terdapat pada orang-orang yang berilmu tinggi sekali. Kemudian, lebih jelas lagi, dalam
keadaan hawa udara sedingin itu sehingga para prajurit penjaga yang terlatih dan bertubuh kuat itu pun
masih melindungi tubuh dengan baju tebal dan api unggun, dara itu hanya memakai pakaian sutera tipis
dan berjalan seenak-enaknya saja berlenggang kangkung memakai payung. Ini pun suatu keanehan luar
biasa, ciri seorang yang tidak boleh digolongkan orang-orang biasa.
Akan tetapi, para penjaga itu seperti buta oleh kesombongan mereka sendiri. Terutama terdorong oleh
gairah yang sudah dinyatakan oleh kecantikan wajah dan keindahan bentuk tubuh, apa lagi setelah kini
tercium bau semerbak harum yang datang dari dara itu, memancing sikap ugal-ugalan dari mereka.
Si komandan gendut pendek cepat berjalan menghampiri dan tubuhnya yang pendek itu seolah-olah
menggelundung saking cepatnya gerakan kedua kakinya yang pendek. “Ehmmm, berhenti dulu, Nona!”
katanya sambil mengangkat tangan ke atas dengan gerakan menghentikan dan tangan kirinya bertolak
pinggang dengan aksi sekali.
Wajah di bawah payung itu berseri dan bibir merah itu merekah sedikit sehingga kelihatan benda putih
seperti mutiara berkilau sebentar lalu tertutup lagi oleh bibir yang bergerak-gerak itu. Si Gendut menelan
ludah, sampai berceleguk bunyinya. Matanya seperti bergantung kepada bibir itu seperti seorang kehausan
melihat buah anggur masak yang segar.
Dengan bahasa Bhutan yang tidak kaku, dara yang pakaiannya menunjukkan bahwa dia adalah orang Han
dari timur itu menjawab, “Mengapa aku harus berhenti? Bukankah ini merupakan jalan umum?” Ketika
bicara, bibirnya itu bergerak-gerak manis dan pinggang yang seperti batang pohon yang-liu tertiup angin itu
dengan lemasnya meliuk-liuk.
Komandan gendut itu kembali menelan ludah dan pandang matanya menggerayangi seluruh tubuh orang,
dari rambut yang hitam subur itu sampai ke kaki yang kecil mungil. “Memang jalan umum, tetapi kami
berhak menahan setiap orang yang mencurigakan.”
Senyum manis itu melebar dan menjadi makin manis. “Ehh, apakah kau anggap aku mencurigakan?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Engkau seorang wanita muda berjalan sendirian. Engkau mencurigakan dan engkau juga manis sekali
menggairahkan... ehhh, Nona... kasihan sekali hawa begini dingin engkau jalan sendirian. Marilah, mari
masuk ke dalam gardu penjagaan yang hangat dan kita mengobrol heh-heh...” Si Gendut menyeringai,
nampak gigi yang panjang-panjang dan teman-temannya juga tersenyum menyeringai.
Dara itu tidak menjadi marah. Agaknya semuda itu dia telah pandai menguasai hatinya dan tidak mudah
menjadi marah, sungguh pun pandang matanya tetap tersenyum dan dia lalu berkata, “Aihhh, Paman
pengawal. Jangan begitu! Aku hanyalah seorang gadis perantau yang kebetulan lewat di sini, harap jangan
menggangguku dan biarkan aku lewat.” Dia membujuk.
Melihat gadis itu tidak marah malah tersenyum, Si Gendut merasa mendapat hati dan dia melangkah maju
makin dekat dan tangannya bergerak hendak memegang lengan kiri gadis itu. Akan tetapi gadis itu mundur
selangkah dan menarik tangannya sehingga pegangan itu pun luput.
“Ehemmm, Nona Manis. Engkau berpakaian seperti orang timur, engkau mencurigakan. Kalau engkau mau
menemani aku di dalam gardu, aku masih dapat membiarkan kau lewat nanti. Kalau kau menolak, terpaksa
aku akan menggeledah seluruh tubuhmu, kalau-kalau kau menyembunyikan sesuatu yang rahasia, hehheh!”
“Ho-ho, dia memang menyembunyikan banyak rahasia yang hebat-hebat!”' terdengar seorang penjaga
berkata dan tertawalah mereka semua. Si Gendut sambil menyeringai kembali mendekati gadis itu.
Tak ada yang sadar bahwa kini sepasang mata yang indah itu mengeluarkan sinar yang aneh, sinar mata
yang tidak lumrah manusia, mencorong dan mengandung wibawa yang luar biasa kuatnya, namun mulut
yang manis itu masih saja tersenyum sehingga sepasang lesung pipit nampak mengapit mulut di kanan kiri,
menambah kemanisan wajah itu.
Kembali dara jelita itu menggerakkan tubuh dan tangkapan tangan Si Gendut mengenai tempat kosong.
“Hei, engkau ini manusia ataukah katak? Kulihat engkau gendut bundar mirip katak!” Tiba-tiba dara itu
berseru, suaranya yang halus merdu melengking nyaring, menusuk telinga semua penjaga yang sudah
keluar dari dalam gardu penjagaan. “Heiiiii, kawan-kawan penjaga, dari mana kalian memperoleh katak
gendut sebesar ini?” Dara itu menggerakkan tangan kirinya, dengan jari tangan terbuka tangan kiri itu
seperti melakukan gerakan mendorong ke arah si komandan gendut dan melambai ke arah para penjaga,
senyum manisnya tetap menghias bibirnya.
“Katak...?”
“Katak gendut...?”
“Katak...!
“Heiiiii! Ada katak...!”
“Dari mana datangnya katak raksasa ini?”
“Wah, jangan diserang! Lihat celananya... ehh, dia...!”
Semua penjaga terbelalak dan memandang dengan muka pucat ke arah seekor katak besar gendut yang
mendekam di atas tanah di mana tadi si komandan gendut berdiri. Katak raksasa ini memakai pakaian si
komandan, dan mendekam dengan sepasang mata terbelalak tak pernah berkedip.
Para penjaga menggosok-gosok mata mereka dan memandang lagi. Akan tetapi tetap saja, komandan
mereka telah lenyap dan sebagai gantinya di tempatnya tadi terdapat seekor katak raksasa yang memakai
pakaian si komandan tadi! Tantu saja hal yang mustahil itu membuat mereka tidak percaya dan berulang
kaii menggosok mata, namun mereka tidak mimpi dan memang komandan mereka telah berubah menjadi
seekor katak besar! Dan selagi lima belas orang penjaga itu terlongong keheranan memandang kepada
katak raksasa itu, Si Dara jelita melenggang dengan seenaknya melewati pintu gerbang, masuk ke
halaman istana Raja Bhutan!
“Heiii...!” seorang penjaga yang dapat menekan ketegangan hatinya menengok dan lalu berseru ketika
melihat gadis itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Semua orang juga menengok. Dalam sesaat mereka bengong, mata mereka menjuling ketika dari
belakang melihat pemandangan yang amat mempesonakan. Lenggang lemah gemulai seperti orang
menari itu mengakibatkan dua bukit pinggul yang bulat padat dan terbentuk oleh pakaian sutera ketat itu
bergerak menari-nari naik turun dan dalam gerakan ini terkandung kekuatan yang seolah-olah membetot
semangat lima belas orang itu!
“Hei, tunggu dulu...!” Seorang penjaga yang sadar lebih dulu berteriak dan lari sambil memegang
tombaknya erat-erat.
“Tangkap...!”
“Dia tentu siluman...!”
Lima belas orang itu yang kini teringat bahwa komandan mereka telah dikutuk menjadi katak raksasa oleh
dara jelita yang mereka yakin tentu sebangsa siluman, kini berlari mengejar dengan senjata di tangan.
Dara itu berhenti melenggang, tubuh atasnya masih tertutup payung yang dipanggul di atas pundaknya.
Kini payung itu diputar-putar, kemudian setelah lima belas orang itu mengejar dekat, dia membalikkan
tubuhnya dan berkata, “Kalian ini sebetulnya mau apa sih?”
Lima belas orang itu tersentak kaget dan otomatis menahan kaki mereka sampai ada yang hampir
terjungkal. Semua mata memandang wajah dara itu dan semua menahan napas, mata mereka melotot
sampai hampir meloncat keluar dari pelupuk mata. Muka mereka menjadi pucat dan tubuh mereka
menggigil, dari tenggorokan mereka keluar suara ah-ah-uh-uh seolah-olah mereka semua mendadak telah
menjadi gagu atau gila.
Mereka adalah prajurit-prajurit penjaga Bhutan yang sudah biasa menghadapi bahaya melawan musuh dan
rata-rata memiliki tenaga besar dan kepandaian bertempur, bukan laki-laki lemah dan penakut. Akan tetapi
saat itu mereka menjadi ketakutan, bahkan ada yang saking ngerinya sampai terkencing-kencing, celana
mereka basah tanpa mereka sadari! Siapa orangnya yang tidak akan merasa takut dan seram kalau
melihat wajah wanita itu?
Tadinya wanita itu demikian cantik jelita, bagai bidadari yang murah senyum manis, akan tetapi sekarang?
Kalau berubah buruk saja masih tidak menakutkan, akan tetapi kini wajah itu ‘polos’, hanya merupakan
seraut wajah polos berkulit halus dan rata, tidak ada mata, hidung atau mulut, tidak ada tonjolan atau
lekukan, halus mulus dan polos! Mereka bergidik. Tadi mereka sudah merasa ngeri dan ketakutan melihat
komandan mereka berubah menjadi katak, sekarang lebih lagi ketika melihat wanita yang mereka sangka
siluman itu menghadapi mereka dengan muka polos seperti itu!
“Hihhhhh... hu-hu-huuhhhhh...“ Di antara mereka ada yang menggigil dan mengeluarkan suara seperti itu.
Suara ini tak tertahankan lagi oleh mereka dan larilah mereka tunggang-langgang, jatuh bangun dan saling
tabrak, kembali ke gardu mereka. Apa lagi ketlka mereka melihat ‘katak raksasa’ tadi sudah lenyap dan kini
mereka melihat komandan mereka masih berdiri dengan mata terbelalak dan mulut masih menyeringai,
kaku seperti arca!
Dara itu mengeluarkan suara ketawa ditahan, lalu tubuhnya membalik lagi, payungnya berputaran dan
lenggangnya yang mempesona dilanjutkan menuju ke arah istana.
“Hi-hik, orang-orang tolol...!” bisiknya sambil menggunakan tangan kirinya, melepaskan ‘kedok’ atau topeng
yang terbuat dari bahan semacam karet putih yang tadi dia pakai untuk menutupi mukanya sehingga
membuat para penjaga lari terbirit-birit.
Tiba-tiba komandan jaga yang tadinya diam seperti patung itu bergerak dan berteriak, “Ehh, orang-orang
tolol! Mengapa kalian diam saja membiarkan dia masuk? Hayo kejar dan tangkap dia!” Komandan itu
sendiri sudah mencabut pedangnya dan lari mengejar. Para anak buahnya terbelalak ngeri.
“Tapi... tapi... dia... siluman”
“Siluman atau setan, kalau sampai dia memasuki istana, kita pasti celaka!” Si komandan membentak dan
para anak buahnya sadar.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mereka lalu berteriak-teriak sambil memegang sanjata dan mengejar, termasuk mereka yang celananya
basah. Teringat akan tugas dan tanggung jawab, mereka terbangun semangatnya dan menjadi berani lagi.
“Kejar...!”
“Tangkaaapppp...!”
Berserabutan mereka berlari mengejar. Dara itu mendengar teriakan-teriakan mereka, menengok,
tersenyum mengejek dan tubuhnya mencelat ke depan, jauh sekali seolah-olah dia telah terbang saja!
Terdengar suara ketawa halus merdu dan dengan beberapa lompatan lagi, tubuhnya meloncat ke atas
pagar tembok istana dan lenyap.
“Siluman...!” Semua penjaga kembali bengong dan muka mereka berubah pucat.
“Celaka, dia masuk pagar tembok istana, kita harus melaporkan!” Si komandan yang masih belum sadar
betapa dia tadi telah berubah menjadi katak raksasa, lalu cepat lari ke pintu depan istana untuk
melaporkan peristiwa itu kepada para pengawal istana.
Gegerlah seluruh istana Kerajaan Bhutan dengan berita tentang siluman yang memasuki istana itu. Tentu
saja sebagian besar orang tidak percaya, dan raja sendiri pun tidak percaya. Namun betapa pun juga, para
panglima mengerahkan pengawal-pengawal istana untuk melakukan penjagaan dan perondaan yang ketat
untuk menjaga keselamatan keluarga istana raja. Juga para pendeta Buddha dikerahkan untuk mengusir
‘roh’ jahat atau siluman yang mengganggu istana.
Kalau saja tidak ada pengerahan pendeta-pendeta untuk mengusir roh-roh jahat, kiranya tidak akan terjadi
hal-hal yang menghebohkan. Malam itu juga, seorang pendeta Buddha yang terkenal sebagai seorang ahli
roh-roh jahat dan siluman yang bernama Nalanda, seorang yang bertubuh tinggi besar, berusia lima puluh
tahun berwajah angker dan serius, dengan membawa tempat pedupaan yang terisi dupa wangi mengebul,
berjalan mengelilingi istana. Asap dupa mengebul dari tempat pedupaan, baunya semerbak sampai ke
sudut-sudut, dan Pendeta Nalanda berkemak-kemik membaca mantera untuk mengusir roh jahat.
Pada saat itu, sesosok bayangan menyelinap di antara bayangan-bayangan gedung istana. Bayangan ini
bukan lain adalah dara cantik jelita yang tadi telah menggegerkan luar istana. Sekarang payungnya telah
ditutup dan dikempit di bawah ketiak kirinya, dan dengan gerakan kaki yang ringan dan gesit, tanda bahwa
gadis ‘siluman’ ini memiliki kepandaian tinggi, dan menyelinap ke sana ke mari mencari-cari. Dara itu
sudah mulai kelihatan gelisah dan jengkel karena dia tidak mengenal jalan sehingga selalu tersesat
bertemu dengan lorong buntu di kompleks istana yang luas itu.
“Sialaaan...!” Berulang kali dia mengumpat dan memandang ke kanan kiri, mencari-cari.
Tiba-tiba hidung yang cupingnya tipis itu bergerak-gerak, seperti hidung kelinci mencium bau harimau yang
berbahaya, matanya berkilat dan kepalanya menoleh ke sana-sini mencari-cari sumber bau dupa harum itu
yang makin lama makin keras. Akhirnya dia bergerak menyelinap di antara pot-pot bunga antik yang besar,
bersembuyi di balik pot bunga dan mengintai ke arah Pendeta Nalanda yang melangkah datang perlahanlahan
dengan tangan memegang pedupaan yang mengebulkan asap putih dan bibirnya terus berkemakkemik
membaca mantera pengusir roh jahat.
Dara itu tersenyum geli. Sekelebat mata, giginya yang putih seperti mutiara itu berkilat tertimpa cahaya
lampu yang banyak bergantung di lorong-lorong istana. Dara itu tentu saja mengerti mengapa pendeta ini
membakar dupa dan berdoa mengusir roh jahat. Matanya yang cerdik itu berkilauan dan wajahnya yang
jelita berseri gembira. Dia kini memperoleh seorang petunjuk jalan, pikirnya! Maka dengan gerakan yang
ringan, yang menandakan bahwa dia memiliki ginkang yang tinggi, dara itu lalu menyelinap dan
membayangi pendeta itu dari belakang.
Pendeta Nalanda memasuki taman bunga istana, di istana bagian puteri yang terjaga ketat. Penjagaan di
sekitar taman ini ketat bukan main dan dara cantik itu hanya bersembunyi di luar taman, akan tetapi dia
dapat mengintai dari luar, melihat pendeta itu memasuki taman, tiba di tengah taman yang luas dan dari
jauh dia melihat pendeta itu bicara kepada seorang wanita yang agaknya duduk di dalam taman, lalu
pendeta itu mengelilingi taman dengan pedupaannya dan keluar lagi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Si Dara terus membayanginya dan akhirnya dia melihat pendeta itu memasuki sebuah kamar kosong,
meletakkan pendupaan di atas lantai di tengah kamar, kemudian dia berjalan mengelilingi pendupaan,
kedua tangan dirangkap di depan dada, mulutnya tak hentinya berkemak-kemik membaca mantera.
Kemudian pendeta itu berdiri tegak di tengah kamar, pendupaan mengebul di dekat kakinya, dan terdengar
dia berkata, “Wahai semua roh penasaran yang berkeliaran di sekitar istana Bhutan, dengarkanlah
perintahku! Aku adalah yang terkasih, Pendeta Nalanda, yang telah memperoleh penerangan dan
kekuasaan untuk mengusir kalian! Jangan kalian berani mendekati dan mengganggu istana, atau aku akan
menggunakan kekuasaan untuk menghukum kalian!”
Ucapan itu dilanjutkan dengan doa-doa dan mantera lagi dan pada saat itulah, selagi Pendeta Nalanda
melakukan upacara pengusiran roh jahat, tiba-tiba saja pandang mata pendeta itu terbelalak menatap
bayangan yang muncul dari pintu kamarnya! Bayangan seorang wanita yang cantik jelita, yang mengempit
sebuah payung!
Pendeta yang selama menjadi pengusir roh ini hanya mengusir siluman-siluman dalam khayalnya saja, kini
melihat pemandangan itu, merasa tengkuknya pun dingin dan tebal, semua bulu di tubuhnya, dan banyak
memang bulu ini karena semua tubuhnya berbulu, berdiri satu-satu! Makin diperhebat doa dan
manteranya, kulit di antara alisnya berkerut ketika dia memusatkan kekuatan batinnya. Akan tetapi, ketika
dia melirik ke depan, ‘roh jahat’ itu masih berdiri di situ, malah makin mendekat memasuki kamar dan
tersenyum-senyum!
“Wahai, roh yang keras kepala!” bentaknya menudingkan telunjuknya ke arah hidung mancung ‘roh’ itu.
“Pergilah kau kalau tidak ingin merasakan ampuhnya pusakaku!”
‘Roh’ cantik itu malah tersenyum, manisnya bukan main, membuat tangan pendeta yang mencabut keluar
sebatang pedang kayu itu gemetar. Tersenyum lagi dan mengerling dengan sikap menggoda dan
mempermainkan.
“Sliuman jahat... pedang pusakaku akan menghukummu!” Dengan suara gemetar pula pendeta Nalanda itu
menggerakkan pedang kayu yang berbau harum itu, terbuat dari semacam kayu cendana yang berkhasiat
melumpuhkan siluman, menusuk ke arah dada wanita cantik itu.
“Plakkkk!” Sekali wanita itu menggerakkan tangannya, pedang kayu telah dirampasnya, kemudian pedang
itu bergerak dua kali menotok dan tubuh pendeta yang tinggi besar itu jatuh bertekuk lutut!
Dara jelita itu terkekeh, menutupi mulutnya, kemudian menggunakan pedang kayu yang dia oles-oleskan
abu pendupaan untuk mencoret-coret muka pendeta itu dengan arang hitam! Setelah melakukan
kenakalan ini sambil tertawa, dia lalu merenggut lepas jubah pendeta itu, menyelimutkan di atas tubuhnya
sendiri, menyambar kopiah pendeta dan menaruhnya di atas kepala, lalu diambilnya pendupaan itu dan
keluarlah dia dari kamar itu, mengepit payung dan memegang pendupaan, lalu menuju ke taman istana
yang tadi pernah dikunjungi oleh Pendeta Nalanda!
“Ehh, Losuhu, kenapa kembali lagi?” Penjaga taman itu berseru heran dan menghadang di tengah pintu
taman.
“Minggir, ada siluman di dalam taman!” kata dara itu dengan suara dibesarkan, dan dia cepat membaca
mantera dengan ngawur dan berjalan masuk.
Para penjaga sudah menjadi ketakutan mendengar kata-kata itu, maka mereka tidak begitu memperhatikan
di dalam kegelapan malam yang mulai tiba itu bahwa si pendeta kini tiba-tiba berubah kecil tubuhnya, dan
kini mengempit payung di bawah ketiaknya!
Dara itu terus memasuki taman. Setelah para penjaga sudah tidak kelihatan lagi, dia melemparkan
pendupaan, kopiah dan jubah ke belakang semak-semak dan dia cepat menyelinap ke belakang pohonpohon
dan semak-semak, menuju ke tengah taman.
Seperti telah diceritakan di bagian terdahulu, pada saat itu Puteri Syanti Dewi tengah duduk melamun
seorang diri di dalam taman, termenung memandangi bunga teratai merah di dalam empang.
“Bunga teratai... engkau jauh lebih bahagia dari pada manusia,” demikian keluhan hati Sang Puteri.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dia teringat akan kekasihnya. Betapa sukarnya menjadi manusia. Kotor atau bersihnya manusia ditentukan
oleh keadaan, oleh lingkungan, dan terutama oleh pendapat orang lain atau umum. Sebelum pergi
meninggalkan Bhutan, Ang Tek Hoat dikenal sebagai seorang pahlawan, seorang calon mantu raja,
seorang yang sangat patut dihormati dan dimuliakan. Akan tetapi sekali saja suara orang lain dijatuhkan,
Tek Hoat menjadi orang yang direndahkan.
“Tidak...!” bantah hatinya. “Bagiku, engkau masih bersih, Tek Hoat. Bagai bunga teratai itu, biar direndam
ke dalam lumpur masih tetap bersih dan cemerlang. Dan selamanya aku akan menganggapmu begitu.“
Dia menghela napas panjang dan teringat akan pesan pendeta Nalanda tadi. Pendeta itu memasuki taman
dan menasehati agar dia masuk ke kamarnya karena ada ‘hawa siluman’ mengotori istana dan pendeta itu
tengah berusaha untuk mengusir roh jahat. Tetapi Syanti Dewi tidak merasa takut! Puteri ini telah terlepas
dari ketahyulan semenjak dia terjun di dunia bebas dahulu, setelah dia mengalami banyak sekali hal-hal
hebat hingga membuka matanya bahwa segala macam ketahyulan itu hanyalah kebohongan semata (baca
Kisah Sepasang Rajawali).
Dia telah mengalami hal-hal yang nyata, dan dalam keadaan bagaimana pun juga, dia tidak pernah
mengalami hal-hal aneh seperti yang dipercaya oleh orang-orang yang suka menerima ketahyulan sebagai
sesuatu yang benar. Dan oleh karena itu, nasehat pendeta itu tidak dipedulikannya dan puteri ini masih
saja duduk seorang diri di dalam taman itu.
“Selamat malam, Adinda Syanti Dewi!”
Puteri itu menengok dan hatinya berbisik mencela, “Hemmm, kalau memang di dunia ini ada siluman, dia
inilah siluman bagiku.”
Akan tetapi Syanti Dewi adalah seorang yang berperangai halus, dan biar pun hatinya tidak senang kepada
Panglima Mohinta yang tiba-tiba muncul itu, namun dia memaksa senyum dan menjawab, “Selamat
malam, Panglima Mohinta.”
Mohinta menyeringai dan kumis tipisnya yang membuat wajahnya tampan menarik itu bergerak sedikit. Dia
kecewa karena setiap kali mereka berduaan, puteri ini masih selalu menyebutnya ‘panglima’. Hanya dalam
pertemuan resmi yang disaksikan oleh keluarga istana saja puteri itu mentaati ayahnya dan menyebut
‘kakanda’ kepada tunangannya ini! Sebutan ‘panglima’ sungguh sama sekali tidak mencerminkan
kemesraan, bahkan membayangkan kedudukan puteri itu yang lebih tinggi, seorang puteri yang berbicara
dengan seorang panglima kerajaan, seorang bawahan!
“Mengapa Adinda masih di sini? Hawa udara dingin sekali, Adinda bisa masuk angin.”
“Biarlah, Panglima Mohinta. Aku sedang menikmati malam sunyi di sini. Engkau datang menemuiku di sini
ada urusan apakah?”
Kembali panglima muda itu menyeringai seperti orang sakit gigi. Betapa dingin sikap tunangannya ini,
melebihi dinginnya hawa udara pada waktu itu. “Saya... saya... hanya ingin menjenguk, khawatir kalau
Adinda sakit. Dan kabarnya... hemmm... ada siluman berkeliaran... tadi Pendeta Nalanda memberi tahu...“
“Hemmm, apakah seorang panglima seperti engkau takut siluman? Aku sih tidak takut. Sudahlah,
Panglima, tinggalkan aku sendiri menikmati kesunyian.”
Akan tetapi panglima itu tidak pergi, bahkan kini matanya memandang puteri itu dengan mesra. Alangkah
cantiknya puteri tunanganya itu! Alangkah manis bibir itu, putih halus wajah dan leher itu! Dan Panglima
Mohinta melangkah maju, lalu tanpa diminta dia duduk di atas bangku, di sisi Syanti Dewi.
“Adinda Syanti Dewi...“
“Panglima, aku ingin sendirian!”
“Aduhai, Adinda sayang. Bukankah telah bertahun-tahun kita bertunangan? Kita adalah calon suami isteri.
Apakah aku tak boleh mendekati calon isteriku yang tercinta? Adinda Syanti, apakah engkau tidak kasihan
kepadaku dengan menunda-nunda pernikahan kita?”
“Panglima, aku tidak ingin bicara tentang itu!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Adinda, itu adalah urusan kita berdua, urusan pribadiku dan pribadi...“
“Sudahlah. Kalau engkau mau bicara tentang hal itu, bicara dengan Sri Baginda. Beliau sebagai Ayahku
yang berhak membicarakan soal itu, bukan aku.”
“Adinda... aku... aku cinta padamu, sejak masih kanak-kanak. Sudah berapa ribu kalikah aku menyatakan
ini...?”
“Sudah terlalu sering sampai membosankan!”
“Duhai, Adinda... jangan begitu“
Panglima Mohinta memegang tangan Syanti Dewi dan diciuminya tangan itu sepenuh kasih sayang
hatinya. Syanti Dewi menarik tangannya dan bangkit berdiri, mukanya menjadi merah dan matanya
berkilat, dua titik air mata tergenang di matanya.
“Panglima, bukan aku tidak kasihan kepadamu. Tetapi... aku tidak suka membicarakan hal itu. Pergilah!”
“Adinda... Syanti Dewi, kau kasihanilah aku...!” Panglima itu sekarang menjatuhkan diri berlutut!
Pada saat itu, dara cantik jelita yang sejak tadi mengintai, perlahan-lahan bangkit dan keluar dari tempat
persembunyiannya, melangkah ringan sampai dekat. Syanti Dewi melihatnya, memandang dengan mata
terbelalak, akan tetapi Panglima Mohinta yang sedang mabuk asmara dan berlutut itu tidak melihatnya.
“Siapa kau...?” Syanti Dewi bertanya suaranya halus nyaring.
Panglima Mohinta menengok kaget dan pada saat itu, dara jelita itu melirik ke arah sebuah arca batu
sebesar manusia di dekat empang, lalu tangannya yang agak tergetar bergerak ke arah Panglima Mohinta.
Syanti Dewi terbelalak pucat melihat sesuatu yang amat luar biasa baginya. Dia melihat Panglima Mohinta
memandang seperti orang bingung, kemudian panglima itu bangkit berdiri, menghampiri arca batu dan
mencumbu-rayu arca itu, menyebutnya ‘Adinda Syanti Dewi’! Jelas bahwa Panglima Mohinta menganggap
arca itu adalah dia dan kini panglima itu merayu arca, merangkul dan menciuminya. Wajah Syanti Dewi
yang pucat menjadi merah sekali dan kembali dia memandang dara yang cantik dan aneh itu.
Dara itu melangkah mendekat menghampirinya, lalu mengedip-ngedipkan mata sambil tersenyum manis,
berbisik, “Puteri, lupakah engkau padaku?”
Syanti Dewi memandang penuh selidik dan kini dia merasa pernah bertemu dengan dara cantik yang
bersikap jenaka ini, akan tetapi dia tidak ingat lagi kapan dan di mana.
“Aku Siang In... eh, yang dulu pernah membantumu... guruku adalah See-thian Hoat-su yang pernah
menolongmu.“
Berseri wajah Syanti Dewi. “Aihhh, Si tukang sulap itu...?” teriaknya.
“Sssttttt...!” Dara itu tersenyum dan memberi isyarat ke arah Panglima Mohinta yang masih terus merayu
arca. “Mari kita bicara di dalam saja. Aku sengaja datang untuk menjengukmu, Puteri Syanti Dewi.”
Siang In, dara itu, menggandeng tangan Syanti Dewi dan mereka berdua kemudian melangkah keluar dari
taman. Di pintu gerbang taman itu yang menghubungkan taman dengan gedung istana tempat yang
ditinggali Syanti Dewi, nampak beberapa orang penjaga. Melihat ini, Syanti Dewi agak khawatir, akan tetapi
kembali Siang In memberi isyarat dengan kedipan mata, kemudian dara yang masih menggandeng tangan
Syanti Dewi sambil mengempit payung di bawah ketiak itu memegang ujung rambutnya yang panjang dan
memasang sedikit ujung rambut itu melintang di bawah hidungnya, seolah dia hendak memakai kumis
seperti Panglima Mohinta. Kemudian, dengan lenggang gagah dan lucu sambil menggandeng Syanti Dewi,
dia lewat di pintu.
“Heh, semua penjaga jangan lengah! Jaga yang baik dan teliti, mengerti?” bentaknya dengan suara
dibesarkan dan menurut pendengaran Syanti Dewi, suara dara itu persis suara Panglima Mohinta!
dunia-kangouw.blogspot.com
Tujuh orang penjaga berdiri dalam barisan, tegak dan membusungkan dada. Pemimpin mereka menjawab
‘perintah’ dara itu, “Siap, Panglima!”
Setelah mereka memasuki kamar Syanti Dewi, Siang In tertawa-tawa geli dan Syanti Dewi yang juga
tersenyum geli akan tetapi keheranan itu bertanya, “Eh, apa yang telah kau lakukan tadi? Mengapa
Panglima Mohinta merayu patung dan para penjaga itu menyebut engkau panglima?”
Siang In melempar payungnya ke atas meja, lalu menjatuhkan diri di atas dipan rendah yang penuh bantal
dan meneliti kamar yang amat indah itu. “Aaahhhhh, nyamannya di kamar ini!” Dia mengeluh panjang dan
memejamkan matanya sejenak, dipandang oleh Syanti Dewi yang masih tersenyum karena sikap lucu dara
jelita itu.
“Hi-hik, masih mending merayu arca batu yang dingin dari pada merayu seorang gadis yang bersikap
dingin seperti engkau, Puteri! Dan para penjaga itu tentu saja mengira bahwa aku adalah panglima
perayumu itu, hik-hik. Lucu, ya?”
“Tetapi... tetapi mengapa bisa begitu? Bingung aku... apa sih yang sebetulnya sudah terjadi?”
“Aihhhhh... kau tadi bilang sendiri bahwa guruku tukang sulap! Aku sebagai muridnya tentu saja pandai
main sulap juga.”
Syanti Dewi terbelalak, kemudian tertawa dan merangkul dara cantik itu. Terdengar suara ha-ha-hi-hi
keduanya tertawa dan baru sekarang selama bertahun-tahun ini Syanti Dewi dapat tertawa segembira itu
karena hatinya geli bukan main. “Ah-he-heh-hi-hik, jadi kau... hi-hik, kau tadi menggunakan sihir dan dia itu,
panglima itu... hik-hik, dia menganggap arca tadi…?”
“Disangkanya engkau, maka dipeluk dan diciumnya, ahh, dia tampan dan ganteng juga, ehh!”
Syanti Dewi bersungut-sungut. “Huh, siapa sudi? Kalau aku yang dibegitukan, kutampar dia! Kusuruh
tangkap pengawal dan kusuruh gantung...!”
“Ee-eeeiiiiittt, mengapa begitu? Puteri Syanti Dewi, aku mendengar dari luaran bahwa Panglima Mohinta itu
adalah tunanganmu, bukan?”
Tiba-tiba hati puteri itu menjadi nelangsa lagi, diingatkan akan kenyataan yang tidak disukanya itu. Dia
kemudian menjatuhkan diri di atas pembaringan, menelungkup dan menyembunyikan muka di bantal.
Siang In meloncat dan duduk mendekatinya, merangkul dan menariknya bangun. Pipi yang halus itu
basah. Siang In tersenyum, menghibur dan menghapus air mata itu. Dua orang dara ini memang samasama
cantik jelita, hanya bedanya, bagaikan bunga, Syanti Dewi adalah bunga halus yang terpelihara di
dalam taman, kelihatan lembut dan lunak, sebaliknya Siang In seperti setangkai bunga di hutan, cantik
jelita kuat, bebas, liar dan memiliki daya tarik tersendiri. Melihat kemesraan yang diperlihatkan Siang In,
Syanti Dewi teringat akan adik angkatnya, yaitu Candra Dewi atau Ceng Ceng yang amat dicintanya, maka
dia merangkul leher Siang In.
“Engkau cantik sekali, Puteri,” Siang In berkata.
Syanti Dewi mengambung pipi dara itu. “Terima kasih, Siang In, engkau pun manis sekali dan engkau
mengingatkan aku kepada adik angkatku yang tercinta, Ceng Ceng.”
Sejenak mereka saling pandang, mengagumi kecantikan masing-masing. Di dalam cerita Kisah Sepasang
Rajawali telah diceritakan bahwa puteri itu mempunyai seorang adik angkat yang bernama Lu Ceng atau
Ceng Ceng, atau juga disebut Candra Dewi. Ceng Ceng kini telah menjadi isteri dari pendekar sakti yang
terkenal sebagai Naga Sakti Gurun Pasir, yaitu Kao Kok Cu putera sulung dari Jenderal Kao Liang.
Dan siapakah dara cantik jelita, jenaka dan aneh yang bernama Teng Siang In itu? Di dalam cerita Kisah
Sepasang Rajawali juga diceritakan dengan jelas tentang dara ini yang pada waktu itu baru berusia lima
belas tahun. Teng Siang In adalah seorang dara berasal dari Lembah Pek-thouw-san (Gunung Kepala
Putih), dan dia adalah puteri dari mendiang Yok-sian (Dewa Obat), seorang ahli pengobatan yang amat
terkenal. Dalam keadaan sebatang kara (baca Kisah Sepasang Rajawali), karena orang tuanya telah
meninggal dan juga enci-nya yang merupakan satu-satunya keluarganya juga kemudian mati terbunuh,
dunia-kangouw.blogspot.com
akhirnya dara jelita ini bertemu dengan seorang kakek aneh yang berilmu tinggi dan juga pandai ilmu sihir.
Kakek itu bernama See-thian Hoat-su dan Siang In lalu diambilnya sebagai murid.
Empat tahun lamanya Siang In digembleng oleh gurunya itu, tidak hanya menerima pelajaran ilmu silat
tinggi, melainkan juga menerima pelajaran ilmu sihir sehingga kini Siang In muncul sebagai seorang dara
yang dewasa, cantik jelita, lihai ilmu silatnya dan lebih hebat lagi ilmu sihirnya! Demikianlah sedikit riwayat
Teng Siang In, dara cantik jelita yang menggegerkan Bhutan karena begitu dia muncul, terjadilah geger
dan tersiar berita bahwa Kerajaan Bhutan kemasukan siluman cantik!
Tidak lama setelah Syanti Dewi dan Siang In meninggalkan taman, sedikit demi sedikit buyarlah pengaruh
sihir yang dilakukan oleh dara itu atas diri Panglima Mohinta. Dapat dibayangkan betapa terkejut dan heran
rasa hati panglima muda ini ketika dia sadar dan mendapatkan dirinya memeluk dan menciumi arca batu,
sedangkan ketika ia menengok ke arah bangku, Puteri Syanti Dewi sudah tidak berada di tempat itu lagi!
Dia merasa seram dan ngeri, juga bingung.
Sejenak dia memandang ke kanan kiri, mengingat-ingat dan tengkuknya terasa dingin, bulu tengkuknya
meremang karena dia teringat akan berita tentang siluman! Tadi jelas bahwa Syanti Dewi duduk di bangku
itu, dan dia berusaha untuk merayu tunangannya yang bersikap dingin itu. Entah bagaimana, dia tadi
melihat seolah-olah Syanti Dewi menyambut cumbu rayunya, bahkan membalas pelukannya, dan
membalas pula ciuman-ciumannya penuh gairah. Akan tetapi ternyata bahwa yang dipeluk ciumnya itu
adalah arca batu yang kotor dan Syanti Dewi sudah lenyap!
“Uhhhhh...!” Panglima Mohinta menggigil dan meraba tengkuknya.
Dia adalah seorang panglima muda yang berani, namun sekarang dia merasa ngeri dan takut juga berada
seorang diri di dalam taman yang sepi itu. Penerangan dalam taman itu yang hanya datang dari dua buah
lentera yang tergantung di bawah pohon, tertiup angin bergerak-gerak, menghidupkan bayangan-bayangan
di sekelilingnya, menambah seram keadaan. Suara belalang, jengkerik dan burung malam yang
mengasyikkan bagi mereka, menambah seram suasana dan Panglima Mohinta yang pemberani itu kini
bergegas setengah lari melangkah keluar dari taman.
“Siap...!” Teriakan dan gerakan tujuh orang penjaga taman membuat Panglima Mohinta hampir menjerit
dan panglima muda ini terloncat kaget memandang kepada tujuh orang itu. Akan tetapi sebaliknya, tujuh
orang penjaga itu pun memandang kepadanya dengan mata terbelalak penuh keheranan.
Panglima Mohinta mengerutkan alisnya. Mengapa mereka memandang kepadanya seperti itu? Adakah
sesuatu yang aneh pada mukanya? Dia meraba-raba mukanya dan menghapus-hapus muka itu, kalaukalau
ada coreng-moreng di situ. Akan tetapi tujuh orang itu tetap saja memandang kepadanya dengan
mata aneh dan bingung.
“Heh, kalian lagi melihat apa?” bentaknya marah, hampir memukul kepala penjaga yang menjadi
ketakutan.
“Ah, maaf, Panglima... ehh, kapankah Panglima masuk lagi ke taman? Baru saja kami melihat Panglima
keluar.“
“Heh, apa maksudmu? Bicara yang benar!” Panglima Mohinta membentak.
“Kami bertujuh tadi baru saja melihat Panglima keluar, menggandeng Puteri memasuki istana dan... dan
panglima menggandeng Puteri dengan mesra, dan sambil mengempit payung…“
“Mengempit payung? Apakah kalian gila?” Panglima Mohinta membentak, akan tetapi kembali tengkuknya
terasa dingin karena dia sudah merasa ngeri.
Pada saat itu terdengar teriakan mengerikan dari istana. Panglima Mohinta dan para penjaga terlonjak
kaget, akan tetapi mereka dipimpin oleh panglima segera lari cepat ke arah istana dan di jalan mereka
bertemu dengan para penjaga dan pengawal yang juga sudah berlari-larian menuju ke arah datangnya
teriakan itu.
“Tolong... aduhhh, toloonggg... si... siluman... sssetannnn...!” terdengar teriakan itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketika mereka semua tiba di tempat suara itu, ternyata yang berteriak-teriak itu adalah Pendeta Nalanda,
pendeta tinggi besar yang tidak mengenakan jubah lagi, kopiahnya juga hilang dan sebagai gantinya,
mukanya coreng-coreng hitam. Dia berteriak-teriak ketakutan, matanya terbelalak memandang ke kanan
kiri.
Seorang pengawal cepat mengambil air, dan ketika pendeta yang akan diberi minum itu masih berteriakteriak
dan tidak mau minum, air itu disiramkan ke atas kepalanya yang gundul. Pendeta Nalanda
gelagapan dan sadar.
“Ah... ehh... ya ampun... ada... setan... wanita cantik...” dia lalu menceritakan munculnya siluman cantik
yang membuatnya tidak berdaya, merampas jubah dan kopiahnya, dan mencoreng mukanya dengan
pedang kayu yang dilumuri abu pendupaan. Seorang siluman cantik yang memegang payung.
“Membawa payung?” Panglima Mohinta bertanya dengan mata terbelalak, langsung punggungnya terasa
dingin.
Tak salah lagi, tentu ada siluman yang membawa payung, karena tadi pun para penjaga melihat dia
membawa payung. Tentu siluman itu! Dan siluman itu menyamar sebagai dia menggandeng tangan Syanti
Dewi!
“Celaka, kita harus melapor kepada Sri Baginda!” teriaknya dan dia bergegas memasuki istana.
Sementara itu di dalam kamar Syanti Dewi, puteri itu masih tertawa-tawa bersama Siang In yang
menceritakan betapa dia telah menggoda para penjaga.
“Apakah mereka di pintu gerbang tidak menyerangmu?” tanya Syanti Dewi dengan senyum lebar selalu
menghias bibirnya, senyum yang selama ini hampir dilupakannya. Berdekatan dengan Siang In,
mendengar penuturan dara itu, telah membuat Sang Puteri timbul kembali kegembiraannya dan membawa
dia kembali ke alam bebas, alam liar seperti ketika dia berkelana dahulu.
“Tentu saja mereka lalu mengejarku, dan aku cepat mengenakan sesuatu dan ketika mereka sudah dekat,
aku membalik seperti ini...“
“Ihhhhh...!” Syanti Dewi menjerit, terbelalak menatap wajah yang tadinya begitu cantik manis, akan tetapi
sekarang telah berubah menjadi wajah yang luar biasa mengerikan, wajah yang halus polos tanpa tonjolan,
tanpa mata hidung atau mulut!
“Hik-hik, kau juga ngeri!” Siang In melepaskan kedoknya.
Syanti Dewi terkekeh-kekeh saking geli hatinya, mengambil kedok itu dari tangan Siang In dan
memandanginya. Kedok itu hanya sehelai penutup muka seperti karet yang halus sekali, entah dibuat dari
bahan apa.
“Dan pendeta gundul yang lucu itu, hi-hik.”
“Kau maksudkan Pendeta Nalanda? Kau apakan pula dia?” Syanti Dewi makin tertarik dan bertanya.
“Tidak apa-apa, hanya kucoreng-moreng mukanya.” Siang In kemudian menceritakan pertemuannya
dengan pendeta itu dan berderailah suara ketawa Syanti Dewi.
Dua orang dara yang sedang bergembira itu sama sekali tidak tahu bahwa pada saat itu, Sri Baginda Raja
Bhutan sendiri sedang berdiri di luar kamar Syanti Dewi dengan mata terbelalak, terheran-heran
mendengar suara ketawa puterinya. Tentu saja hati raja ini senang mendengar suara ketawa puterinya,
suara yang beberapa tahun lamanya tidak pernah didengarnya lagi. Akan tetapi karena suara ketawa ini
dilakukan puterinya yang berada sendirian di dalam kamar, tentu saja menimbulkan perasaan bimbang dan
khawatir, juga ngeri. Hanya seorang gila saja yang tertawa-tawa geli seperti itu seorang diri saja di dalam
kamar.
Empat orang pengawal Sri Baginda, dua orang kepala pendeta, dan Panglima Mohinta yang menemani
raja juga terbelalak dan saling pandang penuh kengerian. Jelaslah bagi mereka yang sedang panik oleh
berita siluman, bahwa Sang Puteri tentulah diganggu siluman!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Syanti...! Buka pintu...!”
Ketukan pintu dan suara Sri Baginda ini membuat Syanti Dewi terlonjak kaget. Mukanya menjadi pucat
ketika dia memandang kepada Siang In. Akan tetapi Siang In hanya tenang-tenang saja, malah tersenyum
dan berbisik, “Bukalah pintu dan anggap saja aku tidak ada di kamar ini.”
Syanti Dewi bimbang. Dia khawatir sekali karena tentu Siang In akan ditangkap dan dihukum karena
dianggap mengacau istana. Akan tetapi dengan gerakan kepala dan tangan Siang In mendesaknya untuk
membuka pintu karena ketukan pada pintu makin gencar dan suara Sri Baginda makin mendesak.
Syanti Dewi melangkah, menghampiri pintu dan sekali lagi dia menengok. Dia melihat Siang In sudah
duduk bersila di atas lantai dekat pembaringannya. Gadis itu tersenyum dan kelihatan tenang saja
sehingga mau tak mau Syanti Dewi menjadi kagum dan juga terheran-heran. Dia menurunkan ganjal pintu
dan membuka daun pintu.
Serentak masuklah Sri Baginda yang ditemani oleh Panglima Mohinta, empat orang pengawal dan dua
orang pendeta. Semua mata memandang ke seluruh kamar dan Syanti Dewi sudah menanti dengan hati
berdebar akan seruan mereka melihat Siang In yang duduk bersila di lantai. Akan tetapi, aneh bin ajaib!
Tidak ada seorang pun yang menyinggung-nyinggung kehadiran gadis asing itu di dalam kamarnya.
Padahal dia melihat sendiri betapa semua mata tentu dapat melihat gadis itu yang masih duduk tersenyum
setelah tadi tangan kirinya diangkat dan digerakkan seperti memberi salam kepada mereka yang baru
memasuki kamar!
“Syanti, tadi dengan siapa engkau di kamarmu ini?” Sri Baginda bertanya sedangkan Panglima Mohinta
berjalan hilir mudik dengan mata mencari-cari, bahkan kakinya lewat dekat sekali dengan tubuh Siang In.
“Tidak dengan siapa-siapa, Ayah. Saya sedang tidur, mengapa Ayah dan semua orang ini datang
mengganggu dan membangunkan saya?” Syanti Dewi berkata dengan nada suara tidak senang.
“Hemmm... tidur? Akan tetapi tadi dari luar kami mendengar engkau tertawa-tawa, Syanti. Jangan engkau
membohongi Ayahmu.”
“Sungguh saya sedang tidur dan kalau saya tertawa, agaknya itu terjadi dalam mimpi.”
“Ahh, engkau mimpi? Mimpi apa? Bertemu dengan silum..., dengan siapa?” Sri Baginda yang sudah
dicekam rasa ngeri yang meliputi seluruh istana itu bertanya.
Syanti Dewi menjadi bingung dan melirik ke arah Siang In. Gadis ini menudingkan telunjuknya ke arah
Panglima Mohinta yang masih hilir mudik.
“Saya mimpi bertemu dengan... Panglima Mohinta...“
“Ahh, jadi Adinda mimpi bertemu dengan saya?” Panglima muda itu bertanya dengan wajah berseri.
Syanti Dewi mengangguk. “Di dalam mimpi, saya melihat... Kakanda Mohinta menjadi seorang badut yang
sangat lucu, maka saya tertawa...“
Wajah yang tadinya berseri itu berubah merah, dan Panglima Mohinta lalu menghampiri Siang In yang
sedang duduk bersila, memandang penuh perhatian. Sri Baginda juga menujukan pandang matanya
kepada Siang In sehingga jantung Syanti Dewi berdebar tegang. Agaknya mereka kini telah dapat melihat
gadis itu, pikirnya khawatir.
“Syanti Dewi, sejak kapan ada kursi bagus ini di dalam kamarmu?” Sri Baginda tiba-tiba bertanya sambil
menuding ke arah Siang In yang duduk bersila.
Syanti Dewi terkejut dan terheran, akan tetapi segera dia teringat bahwa dara cantik itu adalah seorang ahli
sulap agaknya, seperti gurunya, maka dia dapat menduga bahwa tentu Siang In menggunakan sihirnya
pula sehingga orang melihatnya seperti sebuah kursi!
“Kursi...? Ehh, inikah, Ayah? Ini adalah kursi hadiah yang saya terima dari seorang pelayan, katanya kursi
antik...“
dunia-kangouw.blogspot.com
“Memang bagus sekali, tentu amat enak diduduki...“ Panglima Mohinta kini menghampiri Siang In, siap
untuk duduk di atas kepala gadis itu! Pantatnya sudah dipasang hendak duduk.
Tentu saja Syanti Dewi menjadi cemas sekali dan Siang In tidak akan sudi membiarkan kepalanya diduduki
orang. Cepat dia gerakkan payungnya yang tadi telah disambarnya dari atas meja ketika rombongan raja
masuk, kemudian ujung payungnya digerakkan menyambut datangnya pantat yang hendak menduduki
kepalanya.
“Cussss... aduhhhh...!” Panglima Mohinta terloncat kaget saat merasa betapa pantatnya ditusuk ujung
payung. “Ehhh, kursimu ada pakunya, Adinda Syanti Dewi!” Akan tetapi diam-diam panglima ini bergidik
ngeri karena dia tidak melihat ada paku di kursi itu!
Setelah melihat jelas bahwa kamar puterinya itu biasa saja dan tidak terdapat siluman di situ, Sri Baginda
kemudian berkata, “Syukurlah kalau tak ada apa-apa, anakku. Tidurlah dengan tenang.” Dia kemudian
keluar lagi dari kamar Puteri Syanti Dewi, diikuti oleh rombongannya setelah dua orang pendeta membaca
doa untuk melindungi puteri dari gangguan siluman.
Setelah menutupkan kembali daun pintu kamarnya, Syanti Dewi dan Siang In tertawa-tawa lagi, akan tetapi
Syanti Dewi menutupi mulutnya dan memberi isyarat kepada nona itu agar jangan tertawa keras.
Kemudian, puteri yang kini sudah menemukan kembali kegembiraan hidupnya itu lalu menggandeng
tangan Siang In, diajak duduk bersanding di atas pembaringan. Dia makin kagum melihat gadis ini yang
masih amat muda akan tetapi sudah cantik sekali, berilmu tinggi dan aneh.
“Siang In, engkau sungguh hebat. Apakah engkau tadi mengubah diri dalam pandangan mereka menjadi
sebuah kursi?” tanya puteri itu, memandang kagum.
Siang In mengangguk dan cemberut. Mulutnya diruncingkan akan tetapi dia masih saja kelihatan manis,
“Hampir sial aku, kepala ini hampir di duduki orang, biar pun orangnya tunanganmu yang tampan dan
ganteng itu, Puteri...“
“Hushhh, jangan berkata demikian, aku... aku benci padanya!”
“Eihhhh? Aku mendengar bahwa Puteri Syanti Dewi kini bertunangan dengan Panglima Mohinta, dan
melihat rayuan maut tadi di taman...“
“Sudahlah, Siang In,” Syanti Dewi menghela napas panjang. “Aku tidak ingin berbicara tentang dia.
Sekarang katakan, apakah kehendakmu maka engkau bersusah payah menggunakan kepandaian
menempuh bahaya mencari aku di sini?”
“Aku sedang mencari seseorang, Puteri. Karena merasa bahwa aku telah mengenalmu, juga mengenal
Panglima Jayin, maka aku lalu mampir. Aku mencari keterangan dulu dan mendengar bahwa engkau
masih belum menikah, Puteri, tetapi sudah bertunangan dengan Panglima Mohinta. Tentu saja aku tadinya
merasa bingung dan heran, karena bukankah... ehhh, pemuda aneh dan lihai bernama Ang Tek Hoat itu
dahulu...“
Siang In tidak melanjutkan kata-katanya karena dia melihat betapa wajah yang cantik dari puteri itu menjadi
pucat, matanya redup dan membayangkan kedukaan hebat saat dia menyebut nama pemuda itu.
“Adik yang baik.” Syanti Dewi kini memandang dara itu. “Apakah yang telah kau dengar tentang Ang Tek
Hoat?”
“Aku dahulu mendengar bahwa Ang Tek Hoat berjasa besar di Bhutan, bahkan diangkat menjadi panglima
dan dijadikan calon suamimu. Di mana dia sekarang dan mengapa engkau sekarang menjadi tunangan
Panglima Mohinta?”
Ditanya begini, tiba-tiba Puteri Syanti Dewi menangis! Sudah terlalu lama dia tak pernah menangis lagi,
seolah-olah air matanya sudah mongering. Namun kegembiraan tadi, tertawa-tawa bersama Siang In tadi,
agaknya juga mengembalikan pula kemampuannya untuk menangis.
Melihat puteri yang keadaan hidupnya dilimpahi kemuliaan itu agaknya kini menderita kesengsaraan batin,
Siang In memegang tangannya dengan sikap menghibur dan berkata lembut, “Puteri, jangan terlalu
membiarkan diri terseret oleh arus kesedihan. Segala kesukaran di dunia ini dapat diatasi dan untuk itu kita
dunia-kangouw.blogspot.com
harus berusaha, tidak hanya cukup untuk ditangisi dan disedihkan belaka. Ceritakanlah kepada adikmu ini,
apakah yang terjadi sehingga engkau terpisah dari Ang Tek Hoat dan menjadi tunangan panglima yang
tidak kau cinta itu?” Dia mengangguk-angguk meyakinkan. “Ceritakanlah dan aku akan menolongmu
sedapat mungkin, Puteri.”
Karena baru sekarang dia bertemu dengan seseorang yang memperhatikan nasibnya, yang selamanya tak
akan mungkin dilupakannya itu, timbul pula semangat Syanti Dewi dan berceritalah dia tentang kepergian
Ang Tek Hoat dari Bhutan. Betapa kemudian dia dipaksa untuk menjadi tunangan Panglima Mohinta dan
betapa sampai saat ini, setelah lewat empat tahun, dia selalu menolak kalau hendak dinikahkan karena
sampai kini dia masih menanti Tek Hoat dan percaya akan cinta kasih pemuda itu.
“Aku tidak percaya kalau dia pergi begitu saja meninggalkan aku. Aku yakin pasti ada sesuatu terjadi.
Kalau saja dia pergi berpamit, kalau saja aku tahu apa yang terjadi, dan andai kata dia memutuskan cinta
secara terus terang, tentu aku takkan menderita dalam keadaan yang serba tidak menentu ini, Adik Siang
In,“ Puteri itu mengakhiri ceritanya.
Siang In mengerutkan alisnya. Dia adalah seorang dara yang sejak kecilnya biasa hidup bebas, tidak
pernah terkekang, seperti seekor burung di udara. Boleh jadi, seperti juga burung yang bebas, kadangkadang
dia harus menderita kekurangan makan, menderita kepanasan dan kehujanan, akan tetapi semua
itu tidak mengurangi kebahagiaan dari keadaan bebas. Tidak seperti Syanti Dewi yang bagaikan seekor
burung hidup di dalam sangkar, biar pun sangkar itu terbuat dari pada emas dan dihias permata, biar pun
di dalam sangkar itu penuh dengan makanan berlimpah.
“Puteri...“
“In-moi (Adik In), setelah semua isi hatiku kuceritakan padamu, engkau sudah kuanggap sebagai adikku
sendiri, sebagai pengganti adik angkatku Ceng Ceng, maka janganlah kau menyebut Puteri lagi padaku.
Sebut saja Enci (Kakak).”
“Baiklah Enci Syanti Dewi,” jawab Siang In sambil tersenyum dan wajahnya berseri. “Aihhhhh, siapa
sangka aku akan mempunyai enci seorang puteri kerajaan! Begini, Enci Syanti Dewi. Terus terang saja,
engkau terlalu lemah dalam hal ini. Mengapa selama bertahun-tahun ini engkau diam saja, malah
menenggelamkan diri dalam air mata dan kedukaan? Mengapa engkau tidak mau bertindak?”
“Bertindak? Tindakan apa yang dapat dilakukan seorang wanita seperti aku? Dan Ayah mengambil
keputusan itu tentu saja demi cintanya kepadaku, bagaimana aku dapat membantah kehendak Ayah?”
“Hemmm... mencintamu? Terus terang saja, Enci, maafkan kata-kataku yang jujur dan mungkin tidak enak
didengar ini. Akan tetapi... jelas bahwa Ayahmu, Sri Baginda Raja itu tidak mencintamu, Enci.”
Dengan wajahnya yang agak pucat dan matanya yang masih basah Syanti Dewi mengangkat mukanya
memandang wajah Siang In penuh selidik. Kerut di keningnya menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak
setuju dengan pendapat nona itu.
“Bagaimana kau bisa mengatakan demikian, In-moi? Ayahku mencintaku karena aku anaknya dan seperti
juga semua ayah di dunia ini, dia pasti melakukan semua itu demi cintanya kepadaku.”
“Hemmm, pendapat yang kolot dan keliru, Enci Syanti. Tidak, Ayahmu, seperti juga kebanyakan ayah di
dunia ini, pada hakekatnya hanya mencinta dirinya akan tetapi cinta pada dirinya sendiri ini tersembunyi
dan ditutup-tutupi oleh dalih mencinta anak-anaknya! Semua tindakannya terhadap dirimu itu sama sekali
bukan karena cintanya kepadamu, melainkan karena cintanya kepada diri sendiri!”
“Ehh, bagaimana kau bisa bilang begitu Siang In?”
“Coba saja kau renungkan. Orang yang mencinta tentu selalu menunjukkan tindakan-tindakannya untuk
membahagiakan dan menyenangkan orang yang dicinta, bukan?”
Syanti Dewi mengangguk.
“Nah, tindakan Ayahmu yang memisahkan engkau dengan Tek Hoat dan memaksamu berjodoh dengan
Mohinta ini, apakah tindakan ini membahagiakan dan menyenangkan hatimu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tidak, akan tetapi dia maksudkan demi kebaikanku.”
“Itulah kepalsuannya, dan itulah tutup-tutupnya untuk menyembunyikan pamrih yang sesungguhnya.
Sebetulnya semua itu dilakukan untuk menyenangkan hatinya sendiri! Betapa banyaknya, bahkan hampir
semua orang-orang tua yang menujukan segala tindakan demi untuk memenuhi kehendaknya sendiri, demi
untuk menyenangkan diri sendiri. Akan tetapi mereka menggunakan dalih membahagiakan anak, padahal
si anak hanya dijadikan alat untuk dia mencapai keinginan hatinya itulah! Si anak tidak penting lagi, yang
penting adalah rencananya untuk membahagiakan anak, sungguh pun pada hakekatnya si anak tidak
bahagia dengan rencananya itu!”
“In-moi...!” Syanti Dewi berseru dengan mata terbelalak. “Apa kau hendak mengatakan bahwa Ayahku
jahat...?”
Dara itu menggeleng kepala, “Siapa pun adanya dia itu, kalau dia masih belum sadar akan kepalsuankepalsuan
yang dilakukan, dia tentu akan menganggap bahwa semua tindakannya itu benar belaka dan
semua tindakan yang dianggap benar itu hanya akan mengakibatkan kesengsaraan dan kedukaan, seperti
yang kau alami sekarang ini. Kau menganggap bahwa Ayahmu penuh cinta kasih terhadapmu. Enci,
apakah tindakan cinta kasih menimbulkan kesengsara dan kedukaan?”
Syanti Dewi memegangi kedua pelipis kepalanya, dan menggeleng-geleng kepalanya. “Ah, aku tidak
tahu... semua kata-katamu membuat aku bingung sekali, Adik In! Habis, apa yang harus kulakukan?”
“Mengapa engkau menyiksa diri seperti ini? Kalau memang Enci mencinta Tek Hoat, dan kalau memang
Enci yakin bahwa dia mencintamu...“
“Aku yakin benar akan cintanya!”
“Kalau begitu, tentu ada sesuatu yang memaksa dia meninggalkan Enci tanpa pamit! Kalau begitu,
mengapa Enci tidak pergi meninggalkan sangkar ini dan mencari kekasih Enci itu, dari pada menerima
nasib dan makan hati karena harus menerima calon jodoh yang tidak Enci cinta?”
“Pergi? Kau maksudkan minggat dari istana?” Syanti Dewi berkata dengan nada suara sedih. “Aihhh, Inmoi,
engkau tidak tahu. Betapa sudah sering kali aku ingin lolos saja dari sini, akan tetapi sungguh tidak
mungkin. Ayah selalu menjagaku dan istana ini siang malam dikepung oleh ratusan orang pengawal.”
“Hal itu tidak penting. Yang penting, maukah engkau meninggalkan tempat ini dan pergi mencari Tek
Hoat?”
“Tentu saja aku mau!”
“Meninggalkan kedudukan Enci sebagai puteri raja, meninggalkan semua kemuliaan dan kemewahan ini,
mungkin menempuh kesukaran dan kesengsaraan di jalan...?”
“Tentu aku mau dan aku berani menghadapi segala kesukaran, demi cintaku kepada Ang Tek Hoat.”
“Bagus!” Siang In berseru girang. “Itulah cinta! Kalau begitu, aku akan membantumu keluar dari sangkar
emas ini, Enci.”
Syanti Dewi girang sekali dan dia merangkul dara itu. Sejenak mereka berangkulan, lalu Siang In berkata,
“Harap engkau berkemas dan karena engkau belum berpengalaman dalam perantauan…“
“Siapa bilang belum berpengalaman? In-moi, agaknya engkau lupa bahwa aku dahulu sudah merantau dan
menghadapi segala macam kesukaran di dunia timur. Dan aku sama sekali tidak takut menghadapi
kesukaran-kesukaran seperti itu.”
“Bagus, akan tetapi betapa pun juga, engkau harus berkemas dan membawa bekal untuk biaya
perjalananmu ke timur. Besok aku akan mencari akal untuk membawamu keluar dari sini dengan aman.”
Syanti Dewi lalu berkemas, hatinya girang sekali, wajahnya yang masih agak pucat itu berseri.
Membayangkan betapa dia akan mengalami kesengsaraan dan kesukaran dalam mencari kekasihnya,
mendatangkan semangat baginya. Ia rela menghadapi apa pun demi pertemuannya kembali dengan Tek
dunia-kangouw.blogspot.com
Hoat! Dan malam itu, tidak seperti malam yang sudah, puteri ini tidur nyenyak dengan mulut tersenyum di
samping Siang In.
Mereka tidak tahu bahwa setelah keluar dari kamar Syanti Dewi, Panglima Mohinta yang merasa curiga
lalu mengerahkan jagoan-jagoan istana untuk mengurung dan menjaga kamar sang puteri. Panglima muda
ini mendapat firasat bahwa ada bahaya mengancam diri tunangannya itu, maka dia mengerahkan
pengawal-pengawal pilihan, bahkan dia sendiri pun melakukan penjagaan di sekitar istana tunangannya.
Oleh karena penjagaan yang diperketat ini, tidaklah mengherankan ketika Siang In yang hendak
memeriksa keadaan, keluar dari kamar dan memasuki taman di waktu pagi sekali pada keesokan harinya,
secara tiba-tiba berkelebat bayangan dua orang yang membentak nyaring, “Siluman jahat! Jangan lari!”
Siang In terkejut. Tidak disangkanya bahwa di taman itu ternyata terdapat penjaga-penjaga yang
bersembunyi dan tahu-tahu dua orang penjaga yang agaknya memiliki kepandaian lumayan dan melihat
pakaiannya berpangkat perwira, telah meloncat keluar dari semak-semak dan kini menodongkan pedang
tajam runcing dari kanan kiri ke arah lambungnya!
Siang In tersenyum manis sekali sambil menoleh ke kanan kiri memandangi dua orang perwira itu yang
menjadi bengong juga ketika mendapat kenyataan bahwa yang mereka todong adalah seorang dara
remaja yang sedemikian cantik jelitanya. Akan tetapi mereka telah mendapat pesan keras dari Mohinta dan
dari Pendeta Nalanda bahwa mereka tak boleh sekali-kali terbujuk dan tertipu oleh seorang dara remaja
yang cantik, karena dia itu adalah siluman!
“Eh-eh, kalian ini mau apakah?” Siang In bertanya sambil tersenyum dan dari sepasang matanya yang
indah jeli itu menyambar keluar sinar yang sangat kuat dan aneh, sedangkan tangannya bergerak-gerak.
“Menyerahlah engkau, siluman, kalau tidak, pedang kami akan menembus tubuhmu!” bentak di sebelah
kirinya.
“Berlututlah kau!” perwira di sebelah kanannya membentak pula sambil menempelkan ujung pedangnya
pada pinggang yang ramping itu.
Siang In tertawa dan berkata dengan suara meyakinkan, “Ihhh, kalian berdua ini apakah sudah gila? Mana
pedang kalian? Dan mengapa pula kalian berdua memegang dan bermain-main dengan ular? Awas, kalian
akan digigit oleh ular-ular itu!”
Dua orang perwira itu terkejut dan memandang pedang mereka. Wajah mereka menjadi pucat sekali, mata
mereka terbelalak ketakutan dan mulut mereka berteriak-teriak ketika mereka melihat bahwa yang mereka
pegang dan dipakai menodong tadi ternyata benar-benar bukanlah sebatang pedang melainkan seekor
ular cobra! Mereka memegang ular itu pada ekornya dan kini ular itu membalik kepada mereka, lehernya
menggembung dan mulutnya mengeluarkan desis yang mengerikan, matanya bersinar-sinar, siap untuk
mematuk.
“Ihhhhh... ularrrrr...!”
“Hiiiiihhhhh... aih, celaka...!”
Mereka berdua berusaha untuk membuang ular-ular itu, akan tetapi celakanya, ekor ular yang mereka
genggam itu agaknya sudah melekat di tangan mereka dan tidak dapat dilepaskan lagi! Tentu saja mereka
menjadi makin ketakutan, apa lagi ketika ular-ular itu makin mendekati muka mereka. Keduanya segera lari
pontang-panting meninggalkan taman itu, diikuti suara ketawa merdu dari Siang In yang cepat kembali ke
dalam istana Syanti Dewi.
“Siapakah yang berteriak-teriak itu dan mengapa engkau tertawa-tawa?” Syanti Dewi menyambut
kedatangan dara itu dengan hati tegang.
“Dua orang pengawal. Wah, benar seperti yang kau ceritakan, Enci, tempat ini penuh dengan penjagaan
pengawal.”
“Habis, bagaimana kita dapat lolos dari sini? Apakah engkau tidak bisa mempergunakan ilmu sihirmu itu,
In-moi?” Syanti Dewi makin gelisah ketika mendengar suara ribut-ribut di luar dan agaknya dua orang
dunia-kangouw.blogspot.com
pengawal yang berteriak-teriak tadi sudah menyebarkan cerita tentang siluman cantik yang
mempermainkan mereka.
Siang In duduk dan menopang dagunya yang manis itu, kedua alis matanya yang hitam kecil dan panjang
melengkung seperti dilukis itu berkerut merut. Dia menggeleng kepala menjawab pertanyaan puteri itu.
“Aku dapat mempengaruhi belasan orang dengan permainan sihir, akan tetapi sukar sekali mempengaruhi
ratusan orang pengawal sekaligus, Enci. Pula di antara mereka terdapat banyak orang-orang yang
berkemauan dan berbatin kuat sehingga belum tentu usahaku akan berhasil. Bagi aku sendiri, tentu saja
dapat lolos dengan mudah. Akan tetapi kalau membawamu, kurasa akan sukar sekali hasilnya. Sebaiknya
diatur begini saja, Enci. Aku akan menimbulkan kegegeran, menggoda dan mempermainkan mereka,
memancing mereka agar seluruh pengawal yang berjaga di sini akan tertarik ke suatu jurusan. Dalam saat
itu, selagi semua pengawal ribut mengurungku, engkau meloloskan diri dari istana ini. Kemudian kita
bertemu di luar istana dan aku selanjutnya akan membawamu melarikan diri. Bagaimana?”
Syanti Dewi mengangguk-angguk, kemudian dua orang dara itu mengatur rencana pelarian itu yang akan
mereka lakukan malam nanti, Syanti Dewi menggambar peta dari istana itu dan memberi tahu di mana
letak pintu rahasia dari mana dia akan meloloskan diri, sedangkan Siang In mengatur rencana untuk
menarik semua pengawal menjauhi pintu rahasia itu.
Sehari itu Siang In tidak lagi pernah keluar dari kamar sang puteri dan memang sudah lama Syanti Dewi
tidak pernah membolehkan pelayan-pelayannya untuk menemaninya di dalam kamar. Semenjak Tek Hoat
lolos dari istana, puteri ini lebih suka menyendiri sehingga pelayan-pelayannya hanya memasuki kamarnya
di waktu perlu saja. Dengan demikian, lebih leluasalah bagi Siang In untuk bersembunyi di dalam
kamarnya.
Malam itu hawanya masih dingin seperti malam-malam yang lewat. Udara yang dingin ditambah cuaca
yang gelap membuat suasana yang sudah seram karena dongeng-dongeng yang tersiar tentang gangguan
siluman, dongeng yang dari mulut ke mulut mengalami perubahan dan penambahan banyak sekali,
menjadi makin menyeramkan. Hampir seluruh penghuni Kota Raja Bhutan yang semuanya telah
mendengar akan gangguan siluman itu, tidak ada yang berani keluar dari rumah masing-masing. Mereka
menerima dengan penuh kepercayaan berita angin yang mengatakan bahwa malam itu iblis, setan dan
siluman-siluman berkeliaran mencari mangsa! Demikian pula dengan para penghuni istana sendiri juga
sejak senja hari sudah menyembunyikan diri di dalam kamar masing-masing.
Tentu saja keadaan para penghuni itu sebaliknya dengan keadaan para pengawal yang bertugas berjaga.
Setelah malam tiba penjagaan diperketat dan mereka lebih waspada lagi menjaga dari pada di waktu
siang, karena mereka semua mempunyai dugaan bahwa di waktu malam tentu siluman akan lebih
mengganas lagi. Kini bahkan Panglima Mohinta sendiri mengatur dan mengepalai penjagaan, seolah-olah
istana menghadapi ancaman serbuan musuh yang besar jumlahnya. Keadaan di sekeliling istana itu
seperti dalam perang saja karena sedikitnya ada tiga ratus orang pengawal dikerahkan oleh Mohinta untuk
menjaga seluruh istana, terutama sekali sekeliling istana kecil yang menjadi tempat tinggal Syanti Dewi.
Keadaan sunyi sekali di sekeliling istana. Suasana yang sunyi dan mencekam hati ini membuat para
penjaga juga merasa ngeri dan mereka bahkan tidak berani membuat suara keras untuk memecahkan
kesunyian malam, seolah-olah suara keras hanya mengundang datangnya siluman! Mereka bicara bisikbisik
dan membuat api unggun sebesarnya, karena selain api unggun itu dipergunakan untuk mengusir
hawa dingin dan menimbulkan kehangatan, juga menurut kata para pendeta, api dapat menjauhkan segala
macam siluman. Juga mereka berusaha untuk membicarakan urusan lain tanpa menyebut-nyebut tentang
siluman, karena ada kepercayaan di antara mereka bahwa setan tidak boleh disebut-sebut, karena kalau
disebut-sebut biasanya suka datang! Demikian hebatnya dongeng tentang gangguan setan dan
kepercayaan tentang tahyul menghimpit hati mereka sehingga para pengawal yang biasanya galak dan
pemberani itu, kini berubah menjadi seperti sekelompok anak kecil yang ketakutan.
Panglima Mohinta sendiri, diiringkan oleh dua orang pendeta, yaitu Pendeta Nalanda dan seorang pendeta
lain yang terus berkemak-kemik membaca doa, dan empat orang perwira pengawal, tiada henti hilir mudik
dari gardu ke gardu untuk memberi semangat kepada para pengawal yang berjaga.
Malam makin larut dan keadaan makin seram. Dari balik pintu kamar, Siang In yang sudah siap melakukan
siasatnya untuk meloloskan Puteri Syanti Dewi dari istana mengintai ke luar. Dilihatnya banyak sekali
pengawal berjaga di luar dalam keadaan terpencar. Dia mengintai dari balik jendela. Sama saja. Taman di
luar kamar itu pun penuh dengan pengawal-pengawal yang menjaga ketat. Tidak mungkin dia dapat keluar
dunia-kangouw.blogspot.com
dari pintu atau jendela tanpa diketahui orang. Dan menggunakan sihirnya pun akan berbahaya karena
tentu ada di antara mereka yang tidak terpengaruh dan akan dapat melihatnya. Dia tidak boleh
memperlihatkan diri di dekat kamar Sang Puteri karena hal itu akan menimbulkan kecurigaan dan akan
mempersulit lolosnya Syanti Dewi karena tentu kamar itu tidak akan ditinggalkan para penjaganya.
“Bagaimana...?” Syanti Dewi mendekati dan berbisik ketika melihat Siang In yang telah mengintai dari
jendela itu berdiri termenung. Puteri ini sudah berpakaian ringkas dan sebuah buntalan terisi bekal
pakaiannya sudah dia siapkan di atas meja.
“Sssttttt,... banyak penjaga di luar. Aku akan keluar melalui genteng,” bisik Siang In.
Dara ini masih mengempit payungnya dan dia lalu menjejakkan kakinya di atas lantai. Tubuhnya mencelat
ke atas, ke arah langit-langit dan dengan payungnya dia menusuk langit-langit dan bergantungan di situ.
Dari bawah, Syanti Dewi memandang penuh kagum dan dia segera teringat kepada Ceng Ceng, adik
angkatnya yang juga memiliki kepandaian hebat seperti Siang In. Sementara itu, Siang In telah berhasil
membobol langit-langit, kemudian setelah dia menoleh ke bawah dan memberi kedipan mata yang lucu
kepada Syanti Dewi, tubuhnya menyelinap ke atas dan lenyap.
Dengan hati-hati sekali Siang In membuka genteng dan menyelinap ke luar. Kemudian dia
mempergunakan ilmunya dan berkelebat cepat sekali di atas genteng.
“Hei... apa itu...?!” terdengar seruan dari bawah. Agaknya ada seorang pengawal yang sempat melihat
bayangan berkelebat cepat.
Siang In segera mendekam di wuwungan yang tinggi, bersembunyi sambil memasang telinga
mendengarkan. Ada gerakan-gerakan kaki orang di bawah.
“Mana? Tidak ada apa-apa!” terdengar orang lain mencela.
“Akan tetapi aku melihat bayangan orang berkelebat di atas genteng. Sungguh, aku berani sumpah!”
“Hemmm, mana ada orang mampu menghilang? Kecuali setan... ihhhhh...!”
“Sssttttt, jangan bicara yang bukan-bukan. Kita harus waspada.”
Siang In terus mendekam. Maklumlah dia bahwa kalau dia muncul begitu saja, betapa pun cepatnya dia
menggunakan ginkang untuk meloncat, para pengawal yang sudah memasang mata penuh perhatian di
atas genteng itu akan dapat melihatnya. Dia mencari akal dan tersenyumlah gadis yang cerdik ini.
Dipatahkannya sepotong genteng dan dia lalu menyambitkan tiga patahan genteng berturut-turut ke arah
belakangnya.
Potongan-potongan genteng itu menimbulkan suara berisik ketika menimpa pot-pot bunga di bagian depan
bangunan itu. Tentu saja semua pengawal terkejut dan semua orang menoleh ke tempat itu sehingga tidak
ada seorang pun yang memperhatikan atau melihat ketika Siang In cepat sekali meloncat dan terus berlari
dan akhirnya melayang turun ke dalam taman.
Dengan hati lega Siang In menyelinap di antara pohon-pohon dan semak-semak di dalam taman itu. Dia
telah berhasil meninggalkan kamar Syanti Dewi tanpa diketahui orang dan kini akan menuju ke kandang
kuda seperti yang telah direncanakan di dalam kamar Sang Puteri. Dari peta yang dibuat oleh Syanti Dewi,
kini dia telah hafal akan keadaan dan lorong-lorong di kompleks istana itu.
“Heiiiii, berhenti...!”
Siang In terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa ada dua orang pengawal yang bersembunyi di
belakang batang pohon besar sehingga hampir saja dia bertumbukan dengan mereka.
“Srat! Srattt!” Dua orang pengawal itu telah mencabut pedang masing-masing.
“Aihhh, mengapa kalian demikian galak? Mengagetkan orang saja!” Siang In tersenyum manis bukan main,
suaranya pun merdu dan genit, matanya bersinar-sinar sehingga kedua orang pengawal itu terpesona dan
dalam waktu beberapa detik tidak mampu bergerak hanya menatap wajah yang cantik jelita itu dengan
bengong.
dunia-kangouw.blogspot.com
Waktu yang hanya beberapa detik ini cukup sudah bagi Siang In. Dua kali payungnya bergerak dan dua
orang itu roboh tanpa dapat mengeluarkan suara atau berkutik lagi karena mereka telah tertotok secara
tepat sekali oleh ujung payung di tangan Siang In yang cepat sudah menyelinap maju. Kini dia berlaku hatihati
sekali sehingga dia tidak sampai ketahuan oleh para penjaga lain.
Akhirnya tibalah dia di bagian kandang kuda dan gudang rumput, di sebelah belakang istana. Dia
menyelinap dan mengintai. Dilihatnya ada empat orang penjaga di dalam gudang rumput, maka dia lalu
menyambar lampu minyak yang tergantung di samping gudang, kemudian dia bersenandung!
Tentu saja empat orang penjaga yang sedang melewatkan malam dingin dengan bermain kartu, karena
mereka ini pun menerima perintah agar malam itu mereka tidak tidur, menjadi terheran-heran mendengar
senandung yang merdu itu. Suara wanita di tempat itu? Sungguh aneh.
“Aihhh, kiranya di antara kalian ada yang mempunyai simpanan wanita di sini, ya?” penjaga yang gendut
tertawa. “Hayo, siapa yang menyimpan wanita yang sekarang bersenandung itu?”
“Aih, suaranya begitu merdu...,” kata penjaga yang kurus.
“Aku tidak mempunyai kenalan wanita di sini,” kata yang ketiga.
“Aku pun tidak...,“ kata yang keempat.
“Kalau begitu... siapa...?“ Mereka saling pandang dan mata mereka terbelalak karena teringatlah mereka
akan dongeng tentang siluman cantik.
“Jangan-jangan dia...?”
“Ahhhhh, mana ada siluman pandai bersenandung semerdu itu. Apa pun adanya dia, mari kita ke luar
menyelidiki. Suaranya terdengar dekat, agaknya di depan gudang,” kata Si Gendut yang menjadi pemimpin
dan keluarlah empat orang itu, berindap-indap keluar dari gudang, tangan mereka memegang tombak
garpu yang biasanya dipakai untuk menumpuk rumput kering.
Akan tetapi baru saja mereka tiba di luar pintu gudang dan celingukan karena tidak melihat sesuatu, dari
jendela gudang itu ada sebuah lentera yang dilemparkan ke dalam gudang. Lentera menimpa tumpukan
rumput kering dan tentu saja dalam sekejap mata rumput kering itu terbakar! Empat orang itu terkejut
mendengar suara api di belakang mereka.
Cepat mereka menengok ke dalam gudang dan melihat api sudah berkobar besar di dalam gudang itu.
Mereka terkejut dan juga merasa ngeri. Kalau saja mereka tadi belum keluar, agaknya kini akan sukar
meloloskan diri dari api yang tentu mudah berkobar memakan rumput kering itu.
“Kebakaran...!”
“Tolonggg... kebakaran...!”
Segera mereka memukul kentongan sambil berteriak-teriak dan sebentar saja suara kentongan dan berita
kebakaran di gudang kandang kuda itu sudah terdengar di seluruh kompleks istana. Apa lagi ketika semua
kuda telah terlepas dari kandangnya dan kini berlarian ke sana-sini oleh karena ketakutan melihat api.
Tentu Siang In pula yang telah melepaskan kuda-kuda itu dengan membuka pintu-pintu kandang dan
mencambuki binatang-binatang itu ke luar kandang mereka.
Panik dan gegerlah seluruh istana! Orang-orang berlari ke sana-sini, berserabutan dan bingung.
“Jangan panik! Dan jangan tinggalkan tempat penjagaan masing-masing!” Panglima Mohinta dibantu oleh
beberapa orang perwira berlari ke sana-sini menenangkan para pengawal.
Akan tetapi tetap saja terjadi kepanikan hebat, bukan hanya karena kebakaran itu, melainkan kepanikan
lain yang terjadi mulai dari taman di belakang kamar Syanti Dewi. Selagi para pengawal di sekitar taman itu
yang jumlahnya paling banyak ada lima puluh orang yang tadinya berada di mana-mana dan kini
berkumpul, menjadi agak bingung mendengar teriakan-teriakan kebakaran dan bunyi kentongan, tiba-tiba
dunia-kangouw.blogspot.com
di tempat gelap muncul seorang wanita muda yang sangat cantik, yang tersenyum-senyum kepada mereka
dari jauh dan melambaikan tangan.
“Itu dia... siluman itu!” teriak seorang di antara mereka yang pernah bertemu dengan Siang In. “Lihat dia
membawa payung!”
Mendengar ini, para pengawal yang merasa tabah karena terdiri dari banyak orang itu berlari menghampiri.
Akan tetapi Siang In tertawa terkekeh lalu membalikkan tubuhnya dan lari menyelinap di antara pohonpohon
dan semak-semak. Gerakannya amat ringan dan cepat, lincah bukan main sehingga untuk
beberapa lamanya dia dapat bermain kucing-kucingan dengan mereka, kadang-kadang menghilang
bersembunyi di balik semak-semak atau di balik pohon-pohon, bahkan kadang-kadang dia meloncat
seperti seekor burung terbang ke dalam pohon dan ketika beberapa orang pengawal yang mencarinya
lewat di bawah pohon, dia melempari mereka dengan buah-buah mentah lalu melompat ke lain pohon dan
berlari lagi.
Dengan gangguan-gangguan ini, Siang In berhasil membikin kacau lima puluh orang itu dan kini mereka
semua tercurah perhatiannya kepada Siang In yang sebentar muncul sebentar lenyap itu. Bahkan Siang In
kini lari tidak begitu cepat meninggalkan taman, tentu saja segera dikejar oleh semua pengawal yang
seolah-olah kini berlumba untuk menangkap siluman yang amat cantik jelita itu. Siang In sengaja
memperlambat larinya dan membiarkan dirinya hampir tersusul.
Setelah dia mendengar suara derap para pengawal itu dekat di belakangnya, tiba-tiba dia berhenti,
membalik sambil mengeluarkan suara melengking nyaring yang tidak menyerupai suara manusia. Begitu
dia membalik, semua pengejarnya terbelalak ngeri melihat wajah yang putih polos, wajah setan tanpa mata
hidung mulut! Dan selagi mereka bengong dengan muka pucat, Siang In menubruk ke depan,
menggerakkan payungnya dan robohlah enam orang sambil mengaduh-aduh karena ujung payung itu
secara nakal sekali telah menusuk pundak dan paha mereka, tidak membahayakan namun cukup
mendatangkan rasa nyeri.
“Hi-hi-hik!” Siang In tertawa lagi sambil membalikkan dan melanjutkan larinya, makin menjauhi taman.
Tentu saja para pengawal segera mengejarnya dengan marah.
Berhasillah Siang In mengacaukan para pengawal dan Syanti Dewi yang sudah siap dan mendengar
keributan kebakaran, maklum bahwa saat baginya sudah tiba. Memang tanda kebakaran itu merupakan
isyarat baginya untuk mulai meloloskan diri. Karena itu puteri ini lalu cepat keluar dari kamarnya melalui
jendela dan hal ini bukan merupakan hal yang sukar baginya karena Syanti Dewi juga bukanlah seorang
puteri yang lemah, melainkan seorang yang telah mempelajari ilmu silat pula sehingga lolos dari jendela
merupakan pekerjaan yang mudah.
Dia mendengar suara ribut-ribut di taman itu, maka tahulah dia bahwa Siang In sedang ‘mengerjakan’ para
pengawal yang berjaga di taman. Maka dia lantas menyelinap di belakang pohon, mengintai dari tempat
gelap dan setelah suara teriakan para pengawal makin menjauhi taman, tanda bahwa Siang In yang cerdik
itu telah berhasil memancing mereka ke luar dari taman, Sang Puteri cepat berlari menyelinap di antara
kegelapan pohon-pohon di taman, membawa buntalannya dan terus menuju ke luar taman melalui jalan
rahasia yang menembus ke pinggir tembok kota raja!
Sementara itu, Siang In dengan lincahnya mempermainkan para pengawal yang kini makin banyak
berdatangan dan mengepungnya. Ketika para pengejarnya belum begitu banyak, dia masih dapat
menggunakan sihirnya yang mempengaruhi para pengejarnya. Kadang-kadang dia berdiri begitu saja di
dekat pohon dan mereka yang mengejarnya tidak dapat melihatnya karena mereka melihat gadis itu seperti
sebatang pohon dan melewatinya begitu saja. Kadang-kadang ketika mereka sudah mengepung gadis itu,
mendadak saja gadis itu lenyap berubah menjadi asap atau ‘terbang’ begitu saja ke angkasa di depan
mata mereka!
Tentu saja semua ini hanyalah pengaruh sihir yang dikerjakan oleh Teng Siang In dan menguasai pikiran
mereka semua. Akan tetapi ketika yang mengejarnya makin banyak, sihir Siang In tidak begitu manjur lagi!
Ada sebagian yang melihat dia ‘terbang’ sehingga menjadi bengong, akan tetapi sebagian lagi yang tidak
terpengaruh, melihat gadis itu sebetulnya hanya menyelinap saja untuk melarikan diri dan mereka ini terus
mengejar, dan tentu saja perbuatan mereka ini sekaligus menyadarkan mereka yang terkena pengaruh
sihir. Mulai sibuklah Siang In berlari ke sana ke mari dan dikejar oleh para pengawal yang dipimpin oleh
Panglima Mohinta sendiri.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kejar! Tangkap dia!” Mohinta berteriak-teriak ketika melihat betapa gadis itu kadang-kadang melawan dan
merobohkan para pengeroyok dengan gerakan silat yang amat hebat.
Mulailah Siang In mencari kesempatan untuk meloloskan diri. Menurut perhitungannya, saat ini Syanti Dewi
tentu telah lolos. Akan tetapi celaka baginya, kini tiga ratus orang pengawal memusatkan kekuatan untuk
mengurungnya dan tidak memberi kesempatan baginya untuk keluar dari dalam lingkungan istana!
Kemana pun lari, tentu dia bertemu dengan pasukan pengawal yang amat banyak jumlahnya! Dan dia tidak
akan mungkin terus bermain kucing-kucingan seperti itu, karena kalau sampai malam berganti pagi dan dia
masih berada di istana, dia akan celaka! Ilmu silatnya dan ilmu sihirnya tidak mungkin dapat dia
pergunakan menghadapi bala tentara Bhutan yang tentu akan dikerahkan untuk menangkapnya!
Kemarin masih ada Syanti Dewi yang melindungi dan menyembunyikannya, akan tetapi sekarang, para
pengawal sudah menduga bahwa dia hanyalah seorang manusia biasa yang pandai ilmu sihir. Bahkan kini
Mohinta telah mengundang jago-jago ilmu sihir yang banyak pula terdapat di Bhutan untuk menandinginya
sehingga ketika dia mencoba menggunakan sihirnya ketika dia bertemu dengan sepasukan pengawal yang
ditemani seorang pendeta, sihirnya melempem dan tidak berhasil sama sekali! Hanya berkat ilmu silatnya
yang cukup tinggi sajalah dia mampu lolos!
Napasnya agak terengah dan keringatnya sudah membasahi seluruh tubuhnya ketika Siang In menyelinap
ke dalam sebuah ruangan kosong untuk beristirahat sejenak serta mengumpulkan kekuatan dan mencari
akal. Akan tetapi baru saja dia masuk dan menghapus peluh dengan saputangan, muncul seorang laki-laki
tinggi besar berpakaian panglima yang gagah sekali. Orang ini sudah setengah tua, usianya kurang lebih
empat puluh lima tahun, tubuhnya tegap dan gagah, tangannya memegang sebatang golok. Melihat lakilaki
ini, Siang In terkejut, akan tetapi juga girang dan wajahnya berseri.
“Paman Jayin...!”
Panglima itu memang Panglima Jayin, seorang panglima yang setia kepada Kerajaan Bhutan dan di dalam
cerita Kisah Sepasang Rajawali telah diceritakan betapa panglima ini yang telah berhasil membawa pulang
Syanti Dewi dari timur, dan panglima ini masih terhitung suheng dari Ceng Ceng karena dia pernah
menerima gemblengan dari kakek pendekar wanita itu.
Panglima Jayin terkejut dan heran mendengar dara muda yang cantik, yang disangka siluman dan dikejarkejar
ratusan orang pengawal itu menyebutnya paman. Panglima ini baru saja tiba dari tugasnya ke luar
kota raja dan begitu mendengar bahwa istana dikacau oleh seorang gadis lihai yang disangka siluman, dia
bergegas pergi ke istana dan ikut pula mencari ‘siluman’ itu.
Panglima ini adalah seorang yang sudah berpengalaman. Tentu saja dia tidak percaya bahwa istana
diganggu siluman. Dia menduga bahwa tentulah yang mengganggu atau mengacau itu seorang tokoh
kang-ouw atau seorang penjahat. Bahkan tadinya dia menduga bahwa yang mengacau adalah Ang Tek
Hoat, tetapi dugaan ini dilenyapkan oleh berita bahwa pengacau atau siluman itu adalah wanita.
Dengan kecerdikannya, Panglima Jayin tidak ikut mengejar-ngejar dengan ribut, tetapi dia menyelinap ke
tempat-tempat sunyi karena dia mempunyai perhitungan bahwa orang jahat yang dikejar-kejar itu tentu
akan mencari tempat-tempat sunyi untuk beristirahat. Perhitungannya itu ternyata cocok sekali, dan
dengan girang dia melihat seorang dara menyelinap masuk ke dalam ruangan kosong itu. Akan tetapi
terkejut dan terheranlah dia ketika dara asing yang dia yakin tentulah si pengacau itu langsung saja
menyebutnya paman!
Sejenak mereka berpandangan dan dara itu tersenyum manls, senyum kekanak-kanakan yang manis akan
tetapi penuh dengan sifat menggoda seperti seorang anak nakal. “Ehhh, Paman Panglima Jayin, sudah
lupa lagikah engkau kepadaku?” kembali dara itu berkata ramah sambil tersenyum.
Kini ada sesuatu pada diri dan sikap lucu serta nakal dari dara itu yang mengingatkan kepada panglima ini
bahwa dia memang pernah bertemu dengan dara ini, akan tetapi dia sudah lupa lagi kapan dan di mana.
“Nona, siapakah engkau?”
“Aku adalah Teng Siang In, murid dari See-thian Hoat-su. Kami dulu pernah membantu kalian ketika
mengawal Syanti Dewi ke Bhutan.”
Jayin teringat dan dia mengangguk-angguk. “Ahhh, kiranya Nona! Akan tetapi apakah Nona pula yang
menggegerkan istana dan dianggap sebagai siluman?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hi-hik-hik, inilah yang disangka siluman!” Siang In mengeluarkan kedok dan sekali tangannya mengusap
muka, mukanya berubah menjadi polos mengerikan.
Jayin terbelalak lalu tersenyum. “Aihh, Nona sungguh nakal sekali! Apa perlunya Nona mempermainkan
kami dan mengacau istana?”
Siang In sudah melepaskan kedoknya lagi dan kini dengan sikap serius, sungguh tidak pantas bagi
wajahnya yang cantik namun jenaka sifatnya itu, dia berkata, “Paman Jayin, apakah engkau tidak merasa
kasihan kepada Puteri Syanti Dewi? Apakah dulu Paman bersusah payah membawanya pulang ke Bhutan
hanya untuk menyiksanya sehingga dia akan mati tenggelam dalam kedukaan seperti seekor burung
dalam sangkar?”
“Ehhh, apa maksudmu berkata seperti itu, Nona?” Jayin bertanya marah dengan alis berkerut.
“Hemmm, jangan kau pura-pura tidak tahu, Paman. Tidak tahukah engkau bahwa Puteri Syanti Dewi setiap
hari berduka, bahwa Sang Puteri masih mencintai Tek Hoat dan sama sekali tidak mencinta Mohinta?
Tidak tahukah Paman akan hal itu?”
Jayin terkejut dan sejenak dia tak dapat menjawab. Akhirnya dia menghela napas dan berkata, “Tentu saja
aku tahu, Nona. Aku tidak buta, akan tetapi apakah yang dapat kulakukan?”
“Paman Jayin, dahulu engkau adalah seorang gagah perkasa yang budiman, yang amat sayang kepada
Syanti Dewi. Apakah sekarang Paman sudah berubah? Apakah Paman tidak ingin melihat dia
berbahagia?”
“Bagaimana saya dapat membuat dia berbahagia?”
“Dengan membiarkan dia lolos dari istana untuk pergi mencari dan berkumpul kembali dengan kekasihnya,
yaitu Ang Tek Hoat.”
“Hemmm... apakah kau menganjurkan aku berkhianat?”
“Siapa yang suruh kau berkhianat? Terus terang saja Paman Jayin, sejak dahulu aku menganggapmu
sebagai teman. Namun sekarang aku sedang berusaha meloloskan Puteri Syanti Dewi dari istana. Bahkan
sekarang pun dia sudah lolos. Kalau engkau hendak menghalangi, hemmm... terpaksa kini aku akan
menganggap engkau sebagai musuh!” Berkata dengan demikian, gadis yang cerdik itu sudah siap dengan
payungnya, akan tetapi sesungguhnya ini hanya aksi belaka, karena dia sama sekali tidak ingin melukai
panglima ini, dan yang dia persiapkan adalah kekuatan sihirnya karena kalau perlu dia akan menguasai
panglima ini dengan sihirnya.
Panglima Jayin tercengang. Tahulah dia sekarang mengapa gadis ini mengacau istana. Dan semenjak Tek
Hoat pergi tanpa pamit dari Kota Raja Bhutan, kemudian melihat keadaan Sang Puteri, memang di dalam
hati panglima yang setia ini sudah timbul penyesalan hebat. Namun tentu saja dia tidak berdaya untuk
membantu Syanti Dewi. Dan sekarang, secara tidak terduga-duga, muncul nona ini yang hendak menolong
Syanti Dewi. Kalau dia menghalangi, sama saja artinya dengan dia hendak memaksa Syanti Dewi hidup
menderita selamanya!
Pada saat itu, terdengar suara hiruk-pikuk dari jauh yang makin lama makin mendekati tempat itu.
“Dia tadi berkelebat ke sini!”
“Cari sampai dapat!”
“Geledah semua tempat, semua tempat kosong!”
Jayin dan Siang In masih saling berpandangan. “Apa kau yakin Puteri telah lolos dari istananya?” tiba-tiba
Jayin bertanya.
“Sudah pasti!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kalau begitu, aku akan memancing mereka menjauhimu menuju ke istana Syanti Dewi di utara dan kau
dapat melarikan diri ke bagian selatan. Cepat kau temani Sang Puteri dan bantulah dia agar bertemu
dengan kekasihnya agar dia hidup berbahagia.”
Siang In tersenyum dan menjura. “Sungguh engkau hebat, Paman! Sudah kusangka bahwa engkau
memang seorang yang gagah perkasa dan budiman.”
“Sudahlah selamat berpisah...!” kata Jayin.
“Mari selidiki di dalam sini!” terdengar suara Mohinta tiba-tiba.
“Heiiiii, siluman! Kau hendak lari ke mana?!” Tiba-tiba Jayin membentak marah. Dengan golok terhunus dia
menyerbu ke luar, mengejutkan Mohinta dan para anak buahnya.
“Ehh, Paman. Panglima!” Mohinta berseru.
“Mohinta! Cepat, siluman itu lari ke sana! Ehh, kenapa kalian mengejar-ngejar di sini? Celaka! Tentu
siluman itu akan menculik Sang Puteri! Dan kalian meninggalkan istana Sang Puteri! Celaka, aku melihat
siluman itu tadi lari ke arah istana Sang puteri!” Jayin mendahului yang lain-lain, melompat dan lari ke arah
istana Syanti Dewi.
Mohinta terkejut dan baru teringat, maka dia pun kemudian berlari cepat mengejar Jayin, diikuti oleh para
pengawal.
“Ini adalah pancingan!” Sambil berlari Panglima Jayin berseru. “Siluman itu memancing kalian
meninggalkan penjagaan di istana Sang Puteri. Betapa bodohnya kalian!”
“Celaka...!” Mohinta menjadi pucat dan mempercepat larinya ke arah istana kecil itu.
Seperti berlomba lari saja mereka menuju ke istana, langsung ke kamar Sang Puteri dan memang semua
pengawal yang menjaga di situ tadi telah lari mengejar Siang In. Mohinta bernapas lega melihat pintu
kamar Sang Puteri masih terkunci dari dalam.
“Ahhh, syukur Adinda Syanti Dewi masih di dalam, tentu masih tidur nyenyak,” katanya sambil tersenyum
lega.
“Bodoh! Coba ketuk, buka! Siapa tahu...!” Jayin melangkah maju dan mengetuk pintu perlahan-lahan
sambil memanggil. Akan tetapi tidak ada jawaban dari dalam. Ketukan diperkeras dan akhirnya pintu itu
digedor-gedor oleh Mohinta yang sudah menjadi pucat sekali mukanya. Namun tetap saja tidak ada
jawaban.
“Bongkar pintunya…!” Jayin yang bersikap seperti orang kebingungan itu memerintah. Pintu kamar
dibongkar, dipaksa terbuka dan mereka menyerbu ke dalam kamar yang ternyata sudah dalam keadaan
kosong!
“Celaka...! Adinda...! Adinda Syanti Dewi...!” Panglima Mohinta mencari-cari di dalam kamar itu, lalu
menjenguk keluar jendela, akan tetapi keadaan di luar jendela pun sunyi.
“Nah, apa kataku tadi!” Panglima Jayin marah-marah. “Sungguh tolol kalian semua yang dapat dipancing
meninggalkan tempat ini oleh penjahat. Jelas bahwa penjahat itu sudah menyamar sebagai siluman,
mengacau dan membakar kandang agar semua pengawal terpancing ke sana, kemudian dia dengan
leluasa telah masuk ke dalam kamar ini dan menculik Sang Puteri.”
“Aduh, Paman Panglima Jayin, bagaimana baiknya sekarang?” Panglima Mohinta yang merasa cemas dan
duka itu mengeluh.
“Agaknya tidak mungkin penjahat dapat melarikan Sang Puteri keluar dari lingkungan istana. Mohinta, kau
perkuatlah penjagaan di sekitar istana, jangan sampai ada orang dapat keluar atau masuk. Aku sendiri
yang akan melaporkan hal ini kepada Sri Baginda sekarang juga!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Mohinta cepat mengerahkan semua pasukan untuk berjaga-jaga dan mencari-cari, akan tetapi tentu saja
tanpa hasil karena pada saat itu, Syanti Dewi dan Siang In telah pergi jauh meninggalkan tembok tebal
yang mengurung Kota Raja Bhutan.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Cersil Keren

Pecinta Cersil