Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Jumat, 09 Juni 2017

Seri Bukeksiansu Mutiara Hitam 1 Lanjutan Cinta Bernoda Darah

Seri Bukeksiansu Mutiara Hitam 1 Lanjutan Cinta Bernoda Darah Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Seri Bukeksiansu Mutiara Hitam 1 Lanjutan Cinta Bernoda Darah
kumpulan cerita silat cersil online
Seri Bukeksiansu Mutiara Hitam 1 Lanjutan Cinta Bernoda Darah
Jalan kecil itu menuju ke kota Tai-goan. Jalan yang buruk dan becek, apa lagi karena waktu itu musim
hujan telah mulai. Udara selalu diliputi awan mendung, kadang-kadang turun hujan rintik-rintik, sambung
menyambung menciptakan hawa dingin. Seperti biasa, segala keadaan di dunia ini selalu mendatangkan
untung dan rugi, dipandang dari sudut kepentingan masing-masing. Para petani menyambut hari-hari hujan
dengan penuh kegembiraan dan harapan, karena banyak air berarti berkah bagi mereka. Akan tetapi di lain
fihak, para pedagang dan pelancong mengomel dan mengeluh karena pekerjaan atau perjalanan mereka
terganggu oleh jatuhnya hujan rintik-rintik yang tak kunjung henti.
Hujan rintik-rintik membuat jalan kecil itu sunyi. Dalam keadaan seperti itu, orang-orang yang melakukan
perjalanan melalui jalan kecil itu lebih suka menunda perjalanan, beristirahat di warung-warung sambil
minum arak hangat, di kuil-kuil atau setidaknya di bawah pohon rindang, pendeknya asal mereka dapat
terlindung dari hujan. Kalau pun ada yang melakukan perjalanan melalui jalan kecil itu di waktu hujan rintikrintik,
mereka tentu bergesa-gesa agar cepat tiba di tempat tujuan.
Beberapa ekor kuda dibalapkan lewat, juga serombongan kereta lewat dengan cepatnya melalui jalan kecil,
sejenak memecahkan kesunyian dengan suara roda kereta, derap kaki kuda dan cambuk, diselingi suara
pengendara yang menyumpahi jalan buruk dan hawa dingin.
Akan tetapi pada pagi hari itu, seekor kuda kurus berjalan perlahan melalui jalan kecil itu. Kuda yang kurus
dan buruk, berjalan seenaknya seakan-akan menikmati air hujan yang berjatuhan jarang di atas kepalanya.
Warna kulit kuda ini agaknya dahulunya merah, kini penuh debu basah sehingga warnanya menjadi coklat
dan kotor. Penunggangnya sama dengan kudanya dalam menghadapi gangguan hujan. Tidak merasa
terganggu sama sekali. Duduk di atas punggung kuda sambil meniup suling! Aneh, mana ada orang lain
berhujan-hujan meniup suling?
Laki-laki itu tinggi tegap, usianya tentu mendekati lima puluh tahun. Raut wajahnya tampan dan gagah,
pandang matanya sayu namun bersinar tajam. Kepalanya terlindung sebuah topi lebar terbuat dari
anyaman rumput dan sudah butut, robek-robek pinggirnya. Pakaiannya longgar dan amat bersih, akan
tetapi sudah terhias tambalan di beberapa tempat.
Biar pun keadaan orang dan kudanya membayangkan kemelaratan dan sama sekali tidak menarik, namun
suara sulingnya luar biasa sekali. Sayang bahwa tiupan suling seindah itu tidak pernah terdengar orang
karena setiap kali bertemu orang, laki-laki di atas kuda kurus ini selalu menghentikan tiupan sulingnya.
Agaknya ia tidak suka kalau tiupan sulingnya didengar orang.
Setelah keluar dari sebuah hutan kecil yang gelap, laki-laki itu menghentikan kudanya. Sepasang mata
yang terlindung topi lebar itu memandang ke kanan kiri. Hutan terganti kebun dan sawah. Beberapa orang
petani sibuk bekerja di ladang, agak jauh dari jalan kecil itu. Laki-laki itu tampak tertarik dan sejenak wajah
yang tampan itu berseri. Kemudian ia menarik perlahan kendali kudanya. Binatang kurus itu berjalan lagi
seenaknya. Hujan gerimis sudah mereda, tinggal kecil dan jarang, sebentar lagi juga berhenti. Di timur
sinar matahari mulai menerobos awan tipis mengusir dingin. Laki-laki itu sejenak memandang ke arah
matahari yang belum menyilaukan mata, lalu mulutnya bernyanyi!
Syarat memimpin negara dan dunia
adalah sembilan kebenaran
memperbaiki diri sendiri
menghargai orang bijak dan pandai
mencinta sanak keluarga
menghormat pembesar tinggi
mengasihi pembesar rendah
mencinta rakyat seperti anak
mengundang ahli-ahli bangunan
menghibur pengunjung dari jauh
mengikat persahabatan dengan negara lain!
dunia-kangouw.blogspot.com
Sambil bernyanyi laki-laki itu melakukan gerakan-gerakan aneh dengan sulingnya. Setiap kata-kata ia
barengi dengan gerakan suling yang kalau diperhatikan merupakan gerakan menulis kata-kata, menulis di
udara dan sungguh aneh, setiap gerakan menulis ini mengakibatkan suara angin melengking yang
berbeda-beda!
Andai kata pada waktu itu terdapat seorang ahli silat tinggi yang menyaksikan gerakan-gerakan ini, tentu
dia akan terheran-heran dan merasa kagum karena selain melihat gerakan luar biasa, juga akan merasa
betapa dari gerakan ini keluar hawa pukulan mukjijat! Akan tetapi kalau gerakan-gerakan sambil bernyanyi
itu terlihat oleh orang biasa, tentu ia akan mengira bahwa laki-laki berkuda itu seorang yang miring
otaknya.
Melihat keadaannya yang melarat, tak seorang pun akan mengira bahwa laki-laki ini sesungguhnya adalah
seorang pendekar besar, seorang pendekar sakti yang pada belasan tahun yang lalu amat terkenal dan
sukar dicari tandingnya. Jarang ada orang yang mengetahui namanya, dan para tokoh dunia persilatan
hanya mengenalnya sebagai Suling Emas.
Telah belasan tahun dunia persilatan kehilangan tokoh ini dan tidak seorang pun tahu ke mana perginya.
Dahulu orang mengenal Kim-siauw-eng (Pendekar Suling Emas) sebagai seorang laki-laki yang tinggi
tegap dan tampan gagah, pakaiannya terbuat dari pada sutera halus berwarna hitam, dengan sulaman
benang emas menggambarkan bulan dan sebatang suling di bagian dadanya. Dahulu, belasan tahun yang
lalu, sepak terjangnya amat mengagumkan kawan mau pun lawan. Mulia seperti malaikat bagi yang
tertolong, hebat mengerikan seperti iblis bagi penjahat yang dibasminya. Itulah dia Suling Emas!
Akan tetapi laki-laki setengah tua yang menunggang kuda kurus itu, yang pakaiannya membuat ia lebih
patut disebut jembel, sama sekali tidak memperlihatkan bekas bahwa dialah sesungguhnya Suling Emas.
Jauh bedanya bagaikan bumi dengan langit. Suling yang tadi ditiupnya kini berselubung tembaga di
luarnya, merupakan suling biasa. Hanya seorang ahli kalau melihat gerakan-gerakannya sambil bernyanyi
tadi, akan mendapat kenyataan bahwa selama belasan tahun bersembunyi ini, kepandaian Suling Emas
tidaklah mundur, bahkan makin hebat.
Gerakan-gerakannya tadi sama sekali bukan gerakan seorang gila hendak menari, melainkan gerakan Ilmu
Silat Hong-in-bun-hoat, yaitu Ilmu Silat Sastra Awan dan Angin yang berdasarkan gerakan penulisan hurufhuruf
dari kitab Tiong-yong! Nyanyiannya tadi adalah ayat-ayat dari kitab Tiong-yong. Jangan dikira bahwa
gerakan-gerakan itu hanyalah gerakan sembarangan, karena setiap huruf yang ditulis, merupakan gerakan
lihai sekali, baik dalam bentuk serangan mau pun dalam bentuk tangkisan.
Kuda kurus itu berjalan terus. Sinar matahari pagi kini mencipta suasana cerah dan indah. Burung-burung
berkicau menambah keindahan suasana. Lalu lintas mulai ramai setelah kini hujan berhenti dan tembok
kota Tai-goan sudah tampak dari jauh. Suling Emas tidak bernyanyi lagi, tidak pula meniup sulingnya,
bahkan sulingnya kini tersembunyi di balik bajunya yang penuh tambalan.
Ia menunduk, tidak memperhatikan orang-orang yang lewat dan bersimpang jalan dengannya. Sudah
terlalu lama ia mengasingkan diri, perhatiannya terhadap manusia dan dunia menipis. Kadang-kadang
ketenangannya terganggu oleh batuk. Apa bila serangkaian batuk menyerangnya, mulutnya
membayangkan rasa nyeri yang ditahan-tahan. Dan rangkaian batuk yang menyesakkan dada ini membuat
ia kecewa.
Suling Emas kecewa akan dirinya sendiri. Percuma saja belasan tahun ia menyembunyikan diri. Ia dapat
bersembunyi dari dunia ramai, namun ia tidak dapat bersembunyi dari pikiran dan hatinya sendiri! Kemana
pun juga ia pergi, ke puncak-puncak gunung yang sunyi, ke dalam goa-goa yang sepi di mana tidak
nampak bayangan manusia lain, pikiran dan perasaan hatinya selalu mengejarnya. Bayangan wajah
wanita-wanita yang pernah merampas hatinya selalu menggodanya. Ia mempergunakan kekuatan dan
kekerasan hati, menekan semua itu, namun hasilnya merusak jantungnya sendiri. Suling Emas selama
belasan tahun hidup bersengsara, hidup nelangsa, hidup menyiksa batin sendiri, korban asmara!
Ketika kudanya berjalan perlahan, bermacam kenangan memenuhi kepalanya, kenangan yang timbul dari
serangkaian batuk yang menyerangnya tadi. Karena serangan batuk ini mengingatkannya kembali akan
keadaan dirinya. Teringatlah ia akan nasib ayah bundanya, nasib gurunya. Mereka itu orang-orang tua
yang tidak sempat ia balas dengan kebaktian itu, yang telah lama meninggalkannya seorang diri di dunia
ini, juga mengalami nasib buruk dalam cinta kasih.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ayah bundanya gagal dalam cinta kasih sehingga bercerai sampai mati. Kemudian gurunya yang tercinta,
gurunya yang menjadi pula pengganti ayah bundanya, mengalami kegagalan asmara yang lebih pahit pula.
Kasihan gurunya Kim-mo Taisu, pendekar sakti yang patah hati!
Suling Emas kembali menarik napas panjang, tangan kirinya membenamkan topinya makin dalam.
Matahari di sebelah kanannya mulai menyilaukan mata dan topinya amat baik untuk melindungi matanya
dari sinar matahari. Ia termenung kembali, tampaknya melenggut (terangguk-angguk karena mengantuk)
ngantuk di atas punggung kudanya. Betapa pun sengsara orang tua dan gurunya menjadi korban asmara
gagal, jika dibandingkan dengan apa yang ia alami, mereka itu masih mendingan!
Terbayang wajah wanita yang menjadi cinta pertamanya, gadis yang terjungkal ke dalam jurang dan tewas
pada saat mereka berdua sedang bertunangan! Kemudian wajah cintanya yang kedua, yang kini menjadi
nyonya pangeran, hidup mewah dan mulia bersama suami dan anak-anaknya! Akhirnya terbayang pula
wajah cintanya yang ketiga, atau yang terakhir, wajah Kam Lin Lin, atau lebih tepat sekarang disebut Ratu
Yalina, ratu suku bangsa Khitan di utara!
“Ahh, bodoh!” Suling Emas menyendal kendali kudanya, merasa gemas kepada dirinya sendiri yang ia
anggap amat lemah. “Engkau sudah tua bangka berpikir yang bukan-bukan!” Di dalam hatinya ia
menyumpahi diri sendiri. Lamunan-lamunan, kenangan-kenangan, dan pikiran macam itulah yang selalu
mengejar dan menggodanya, kemana pun juga ia pergi, sehingga akhirnya timbul batuk yang menggeroti
dadanya.
Kalau sudah terganggu oleh kenang-kenangan seperti itu hatinya serasa diremas, terasa sakit dan perih,
semangatnya melemah dan seluruh tubuhnya lelah, membuat ia malas dan satu-satunya keinginan hanya
tidur, kalau mungkin tidur selamanya tanpa sadar lagi! Sebuah kuil tua di pinggir jalan, di luar kota Tai-goan
menarik hatinya karena ia melihat tempat mengaso yang enak dalam kuil tua itu, di mana ia dapat
mengaso dan tidur memenuhi keinginan hatinya.
Dibelokkannya kuda kurus itu ke kiri memasuki pekarangan kuil tua yang penuh rumput. Seperti juga
kuilnya sendiri yang sudah kosong dan tidak terpelihara, pekarangan itu pun kotor penuh rumput. Akan
tetapi hal ini menguntungkan bagi kuda kurus yang terus saja melahap rumput hijau di depan kuil. Kuda itu
dilepas begitu saja oleh Suling Emas yang memasuki kuil dengan mata setengah tidur! Tanpa menoleh ke
kanan kiri, tanpa mempedulikan beberapa orang pengemis yang duduk di sudut ruangan depan, ia terus
melangkah ke dalam, mengebut-ngebutkan ujung baju dan membersihkan lantai di sudut yang kosong, lalu
duduk bersandar dinding, terus melenggut tidur! Hanya dengan istirahat beginilah batuk yang
menyerangnya menjadi berkurang.
Mengapa pendekar sakti seperti Suling Emas sampai menjadi begini? Padahal kalau ia menghendaki
kedudukan, Kerajaan Sung akan membuka kesempatan sebesarnya kepada Suling Emas, tokoh yang
sudah banyak dikenal. Bahkan Kaisar sendiri memberi penghargaan kepada Suling Emas, memberi izin
istimewa kepada Suling Emas untuk memasuki istana setiap saat sesuka hatinya! Selain ini, juga para
pimpinan Beng-kauw yang menjadi orang-orang paling berpengaruh di samping Kaisar Nan-cao, juga akan
menerimanya dengan tangan terbuka. Betapa tidak? Suling Emas adalah cucu keponakan dari ketua
Beng-kauw! Mengapa ia menolak semua kemuliaan ini dan memilih penghidupan miskin, terlantar, patah
hati dan terserang penyakit?
Para pembaca cerita ‘SULING EMAS’ dan cerita ‘CINTA BERNODA DARAH’ tentu masih ingat betapa
parah cinta kasih yang gagal merobek hati Suling Emas.
Cintanya yang terakhir lebih-lebih lagi menghancurkan hatinya. Ikatan cinta kasih antara dia dan Ratu
Yalina amatlah erat. Masing-masing telah saling mencinta, bahkan Ratu Yalina tadinya rela mengorbankan
kedudukannya untuk menjadi isterinya. Namun Suling Emas terpaksa menolaknya. Menolak karena
pertama, Suling Emas sebagai seorang tokoh besar di dunia kang-ouw tentu saja dimusuhi banyak orang,
apa lagi karena mendiang ibunya sewaktu hidupnya telah mengakibatkan banyak permusuhan dengan
orang-orang dunia persilatan. Ia tidak mau menyeret Yalina dalam hidup penuh bahaya dan permusuhan.
Kedua, Yalina adalah puteri angkat ayahnya, jadi masih adik angkatnya sendiri, sehingga kalau mereka
berdua berjodoh, tentu akan menjadi bahan ejekan dan cemoohan, mencemarkan nama baik keluarganya.
Ketiga, suku bangsa Khitan amat membutuhkan bimbingan Ratu Yalina untuk memperkuat kembali suku
bangsa itu. Inilah sebabnya mengapa ia rela berpisah dari kekasihnya itu, rela hidup merana dan menderita
tekanan batin.
dunia-kangouw.blogspot.com
Hampir dua puluh tahun ia menyembunyikan diri semenjak berpisah dari Ratu Yalina. Musuh-musuh
ibunya akhirnya merasa bosan mencari-carinya untuk dimintai pertanggungan jawab akan sepak terjang
ibunya puluhan tahun yang lalu. Akhirnya ia, Suling Emas, dilupakan orang! Benarkah itu? Benarkah Suling
Emas dilupakan orang?
Mudah-mudahan demikian, pikir Suling Emas sambil melenggut. Mudah-mudahan dunia sudah lupa
kepada Suling Emas! Lebih dilupakan lebih baik! Siapa yang akan mengenal Suling Emas yang sekarang
telah menjadi seorang jembel setengah tua? Gurunya dahulu pernah hidup sebagai seorang jembel. Malah
jembel yang gila! Berpikir sampai di sini, senyum pahit menghias mulutnya dan ia membuka sedikit
matanya.
Kebetulan sekali ia melihat dua orang pengemis tua yang tadi duduk melenggut di sudut luar, kini
keduanya saling berbisik dan menoleh kepadanya. Kemudian, aneh sekali, dua orang pengemis tua itu
menghampirinya dan keduanya membuat gerakan aneh, yaitu tangan kiri menekan dada kiri arah tempat
jantung, dan tangan kanan diangkat ke atas membentuk lingkaran dengan ibu jari dan jari tengah.
Apa artinya itu? Mengapa mereka memberi salam seaneh itu? Suling Emas tidak mengenal siapa mereka,
juga yakin bahwa tidak mungkin mereka mengenalnya. Akan tetapi mereka itu sudah menyalamnya, biar
pun salam yang lucu dan aneh. Agaknya mereka itu memberi salam karena mengira dia pun seorang
pengemis, jadi segolongan. Dan agaknya para pengemis di daerah ini sudah lajim menyalam seorang
‘rekan’ secara itu. Untuk menjaga jangan sampai dua orang itu tersinggung Suling Emas lalu meniru
gerakan mereka, membalas salam itu dengan gerakan yang sama, lalu ia meramkan mata dan melenggut
pula, tidak memperhatikan lagi dua orang itu yang wajahnya sejenak berubah girang sekali ketika melihat
balasan salamnya.
Agaknya seorang di antara dua pengemis tua itu hendak bicara dan Suling Emas diam-diam merasa geli
hatinya, akan tetapi mendadak mereka berdua itu sudah meloncat dan di lain saat sudah mendengkur lagi
sambil duduk bersandar tembok. Gerakan mereka begitu cepat sehingga diam-diam Suling Emas
tercengang, maklum bahwa dua orang pengemis itu bukanlah pengemis sembarangan, melainkan
pengemis kang-ouw yang berilmu tinggi! Selagi ia terheran mengapa mereka tidak jadi bicara dan bersikap
seaneh itu, tiba-tiba di luar terdengar suara langkah kaki orang disusul suara dalam bahasa Khitan yang
dimengerti pula oleh Suling Emas.
“Tidak salah lagi. Dia tentu berada di dalam kuil ini. Lihat itu kudanya, aku mengenal kuda kurus ini!”
Demikian suara itu dan diam-diam Suling Emas terkejut.
Ia teringat bahwa kemarin ia melihat tiga orang laki-laki bangsa Khitan yang berpakaian seperti perwira,
menunggang kuda dengan membalap. Ketika bersimpang jalan mereka memandang penuh perhatian
kepadanya. Melihat perwira-perwira Khitan ini, Suling Emas teringat kepada kekasihnya, Ratu Yalina. Akan
tetapi karena pada masa itu Kerajaan Sung bersahabat dengan Kerajaan Khitan dan adanya orang-orang
Khitan di wilayah Kerajaan Sung bukanlah hal aneh lagi, maka Suling Emas tidak menaruh perhatian lagi.
Siapa kira tiga orang itu agaknya menyusul dan mencarinya sampai di sini!
Sedikit pun Suling Emas tak dapat menduga mengapa ada perwira-perwira Khitan mencarinya dan mulai
timbul dugaan bahwa tentu mereka itu salah lihat, mengira dia orang lain, maka ia tetap saja duduk dengan
sikap tenang. Tiga orang Khitan itu segera muncul di ruangan dalam kuil itu. Seorang di antara mereka
yang menjadi pemimpin bertubuh gemuk dengan kumis melintang tebal. Si Kumis Tebal inilah yang
sekarang berdiri dan menjura kepadanya, memandang tajam, penuh selidik ke arah wajah di bawah topi
sambil berkata,
“Taihiap (Pendekar Besar), kami menjalankan perintah Ratu kami yang minta dengan hormat agar Taihiap
suka pergi berkunjung sekarang juga bersama kami ke Khitan.”
Jantung Suling Emas berdebar keras. Baru sekali ini setelah belasan tahun ia mengalami ketegangan
batin. Ratu Khitan Yalina mengundangnya? Apa yang dikehendaki oleh Lin Lin? Mengapa ingin bertemu?
Pertemuan yang tentu hanya akan membuat luka di hatinya menjadi makin parah saja. Di saat itu juga, ia
sudah mengambil keputusan untuk menolak undangan ini. Akan tetapi ia tidak ingin pula lain orang
mengetahui bahwa dia Suling Emas. Bagaimana perwira Khitan ini dapat mengenalnya?
“Apa... apa yang kau maksudkan? Aku tidak mengerti omonganmu!” Ia menjawab lirih, pura-pura tidak
mengerti kata-kata tadi yang diucapkan dalam bahasa Khitan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Si Kumis Tebal itu saling lirik dengan dua orang temannya, pada wajahnya terbayang keheranan dan
keraguan. Ia segera berkata dalam bahasa Han. “Kami diutus junjungan kami untuk mengundang Taihiap
berkunjung ke Khitan sekarang juga bersama kami.”
Tentu saja Suling Emas maklum bahwa Lin Lin atau Sang Ratu Yalina yang mengundangnya, akan tetapi
ia pura-pura tidak tahu. Diam-diam ia kagum dan heran sekali akan kecerdikan orang-orang Khitan
sehingga berhasil mengenal dan mendapatkannya. “Ah, apa artinya ini? Aku sama sekali bukan Taihiap,
dan aku tidak mengenal siapa itu junjunganmu di Khitan.”
Kembali wajah gemuk itu dibayangi keraguan. “Harap Taihiap jangan berpura-pura lagi. Junjungan kami
adalah Sang Ratu yang mulia di Khitan. Menurut petunjuk yang saya terima, tidak salah lagi Taihiap
orangnya. Kuda kurus itu... dan bentuk tubuh Taihiap. Perintah junjungan kami merupakan perintah besar
yang harus dilaksanakan sampai berhasil, dan kami sudah bertahun-tahun dalam usaha mencari Taihiap!”
Diam-diam Suling Emas merasa terharu. Kembali terbayang wajah Lin Lin, terbayang semua peristiwa
yang lalu. Lin Lin adalah puteri angkat ayahnya yang ternyata kemudian sebagai Puteri Mahkota Khitan.
Mereka saling mencinta, namun tak mungkin menjadi suami isteri. Ia telah memenuhi hasrat hatinya,
memenuhi permohonan Lin Lin, sebelum berpisah sampai kini dari wanita yang tercinta itu.
Ia telah secara diam-diam dan rahasia berkunjung di istana Sang Ratu Yalina, berdiam sampai satu bulan
di dalam kamar Sang Ratu, hidup sebagai suami isteri penuh cinta kasih, penuh kemesraan selama
sebulan, suami isteri di luar pernikahan yang tak mungkin dilakukan! Mereka berdua runtuh oleh gelora
cinta dan nafsu. Namun hal itu tak dapat dipertahankan terus.
Demi menjaga nama baik Yalina sebagai Ratu, dan demi untuk menjaga nama baik keluarga, terpaksa
Suling Emas harus meninggalkan Khitan, meninggalkan dengan keputusan hati takkan kembali lagi, takkan
bertemu lagi dengan wanita yang dikasihinya, hanya dengan hiburan bahwa wanita yang dicintanya itu juga
mencintanya sepenuh jiwa raga. Mereka bersumpah takkan menikah dengan orang lain.
Belasan tahun hal itu terjadi dan telah lalu. Hampir dua puluh tahun. Dan sekarang tiba-tiba Sang Ratu
Yalina mengutus perwira-perwiranya untuk mencarinya sampai dapat, untuk mengundangnya ke Khitan.
Apa perlunya? Bukankah kesemuanya itu sudah musnah habis?
“Aku yakin bahwa kalian tentu salah kira dan menganggap aku orang lain. Kalian mengira aku ini
siapakah?” Suling Emas masih berusaha mempertebal keraguan orang.
“Siapa lagi Taihiap ini kalau bukan Kim-siauw-eng?”
“Aiiihhh...!“ teriakan tertahan ini terdengar dari sudut ruangan di mana dua orang kakek pengemis tadi
duduk bersandar.
Berdebar keras jantung Suling Emas. Celaka, orang-orang Khitan ini benar-benar bermata tajam.
“Ah, apa-apaan ini?” teriaknya. “Kalian benar-benar salah melihat orang! Aku bukan Taihiap, bukan pula
Kim-siauw-eng, kalian lekas pergi saja jangan menggangguku.”
“Taihiap, salah atau tidak, kami harus melakukan kewajiban kami! Petunjuk yang baru kami terima kemarin
dari atasan kami tak salah lagi. Berpakaian sebagai pengemis, bertopi lebar butut, menunggang kuda
kurus. Tidak salah lagi, harap Taihiap tidak membikin repot kami dan suka kami antar ke Khitan sekarang
juga.”
“Hemmm... kalau aku tidak mau?”
“Kami mendapat perintah untuk mengawal Taihiap ke Khitan, mau atau tidak. Karena kami sudah
mendapat wewenang, kalau perlu kami akan memaksa Taihiap.” Sambil berkata demikian, si Kumis Tebal
itu mengepal tinju dan melangkah dekat. Akan tetapi jelas bahwa ia gelisah sehingga dahinya penuh
keringat.
“Waahh..., jangan menghina kaum jembel...!” Kiranya dua orang pengemis tua itu sudah berdiri
menghadang di depan tiga orang perwira Khitan dengan sikap melindungi Suling Emas. Di tangan kanan
mereka tampak tongkat pengemis.
dunia-kangouw.blogspot.com
Perwira Khitan yang gemuk itu memandang dengan mata melotot, lalu membentak, “Jembel-jembel tua
bangka, kalian mau apa mencampuri urusan kami?”
Kakek pengemis yang punggungnya bongkok tersenyum lebar, lalu berkata, “Melihat sekaum dihina orang,
bagaimana kami dapat tinggal diam? Apa lagi kalau yang kalian hina adalah saudara tua kami yang
terhormat.” Kemudian kakek bongkok itu menoleh ke arah Suling Emas lalu menjura. “Tianglo yang mulia
silakan beristirahat yang enak, biarlah kami berdua mewakili Tianglo memberi hajaran kepada anjing-anjing
Khitan ini!”
Setelah berkata demikian, kembali ia menghadapi para perwita Khitan dan berkata mengejek, “Saudara tua
kami tidak suka menerima undangan Ratu Khitan, mengapa memaksa? Sungguh Ratu kalian tak tahu
malu!”
“Keparat, berani menghina...?” Perwira gemuk itu segera menghantam ke arah dada pengemis bongkok.
Hantaman yang amat kuat sehingga mengeluarkan hawa pukulan yang menyambar keras. Si Pengemis
Bongkok maklum akan kekuatan lawan, maka ia cepat mengelak. Dua orang perwira lain yang memegang
toya juga segera menyerbu dan terjadilah perkelahian seru di dalam kuil tua ini.
Ketika menyaksikan sikap kedua orang pengemis tua itu terhadapnya, Suling Emas menjadi makin
terheran-heran. Kalau para perwira Khitan itu dengan tepat dapat mengenal atau setidaknya
menyangkanya Suling Emas, adalah para pengemis ini mengira dia orang lain dan menyebutnya Tianglo!
Tentu dia dianggap seorang tokoh pengemis yang mereka hormati. Tidak beres kalau begini, pikirnya.
Namun, masih mending dianggap seorang tokoh pengemis dari pada dikenal sebagai Suling Emas!
Ia merasa kesal melihat dirinya dijadikan sebab perkelahian. Maka melihat lima orang itu bertanding seru,
ia lalu menggunakan kepandaiannya, sekali berkelebat ia sudah lenyap dari tempat itu, meloncat keluar
kuil dan di lain saat ia sudah menunggang kudanya yang kurus. Akan tetapi sekali ini, kuda kurus itu
memperlihatkan keasliannya ketika Suling Emas menarik kendali dan menendang perutnya, karena kuda
kurus itu berlari amat cepatnya dan melihat gerakan kakinya jelas bahwa kuda kurus itu adalah seekor
kuda pilihan!
Biar pun para perwira Khitan itu tiga orang mengeroyok dua orang pengemis tua yang tubuhnya kurus
kering malah seorang di antaranya bongkok, namun mereka itu segera mendapat kenyataan bahwa dua
orang jembel tua itu benar-benar amat lihai! Untung bagi orang-orang Khitan itu bahwa dua orang jembel
tua itu agaknya memang hanya ingin mempermainkan mereka.
Seperti telah disebutkan tadi, pada masa itu diantara Kerajaan Sung dan Kerajaan Khitan terdapat
persahabatan. Orang-orang Khitan tentu saja masih dianggap bangsa yang ‘liar’. Akan tetapi karena orangorang
Khitan itu selalu membuktikan disiplin yang baik dan tidak pernah melakukan kejahatan di wilayah
Sung, maka rakyat pun tidak membenci mereka. Hal ini terjadi setelah suku bangsa Khitan dipimpin oleh
Ratu Yalina yang mengeluarkan peraturan-peraturan keras untuk rakyatnya. Karena inilah agaknya dua
orang pengemis yang terang bukan orang-orang sembarangan itu juga enggan untuk mencelakai tiga
orang perwira Khitan itu, melainkan hanya ingin mencegah mereka memaksa pengemis aneh yang mereka
sangka seorang ‘saudara tua’ tadi.
“Eh, ke mana perginya Tianglo...?” tiba-tiba Si Bongkok berseru kaget dan keduanya segera menghentikan
pertempuran, bahkan tanpa berkata sesuatu dua orang pengemis itu sudah meloncat ke luar dan sebentar
saja lenyap dari situ.
Perwira gemuk itu mengejar bersama dua orang temannya, namun setiba mereka di luar kuil, keadaan sepi
saja. Tak nampak seorang pun manusia. Juga kuda kurus tidak berada pula di depan kuil. Perwira gemuk
berkumis tebal itu mengerutkan keningnya, meraba-raba dagu lalu berkata,
“Sungguh meragukan apakah benar dia tadi Suling Emas. Terang dia menolak, dan dua orang jembel tua
bangka tadi sungguh menjemukan, membikin sukar pelaksanaan tugas kita yang tidak mudah. Kalian lekas
beri laporan kepada pusat markas penyelidik di Tai-goan, katakan betapa lihainya dua orang pengemis tua
bangka tadi. Kalau dia tadi betul Suling Emas dan sampai lolos, tentu kita semua akan menerima hukuman
berat! Lekas berangkat, aku akan mencoba mengikuti jejaknya...“
Dua orang perwira bawahan itu cepat pergi menunggang kuda mereka menuju ke Tai-goan, sedangkan si
Perwira Gemuk juga membalapkan kuda melakukan pengejaran ke arah timur setelah meneliti jejak kaki
kuda yang ditunggangi Suling Emas. Betapa heran hatinya ketika melihat jejak kaki kuda itu tak pernah
dunia-kangouw.blogspot.com
berhenti biar pun ia mengikutinya sampai matahari condong ke barat. Mungkinkah kuda kurus kering mau
mati itu dapat melakukan perjalanan sebegitu jauhnya dan melihat jejaknya selalu berlari cepat?
Diam-diam Si Perwira Gemuk mengeluh dan mengomel. Sudah lebih dari lima tahun ia ditugaskan mencari
seorang yang bernama Suling Emas! Membawa pasukan, bahkan kemudian akhir-akhir ini pencaharian
dan penyelidikan diperhebat dengan datangnya para pengawal jagoan dari Khitan yang berpusat di Taigoan.
Namun selama ini, penyelidikannya selalu sia-sia belaka. Suling Emas yang dimaksudkan ratunya itu
seakan-akan lenyap ditelan bumi, atau memang orang itu tidak pernah ada!
Kemarin dia menerima berita dari seorang di antara penyelidik yang disebar di mana-mana, bahwa ada
seorang penunggang kuda kurus yang perawakannya sama dengan orang yang selama ini dicari-cari.
Dengan penuh semangat dia bersama dua orang pembantunya melakukan penyelidikan dan akhirnya
bertemu dengan Suling Emas di dalam kuil itu. Aneh sekali caranya orang itu melenyapkan diri, pikir Si
Perwira Gemuk sambil mengepal tinju. Mengapa tidak seorang pun di antara mereka ada yang tahu?
Padahal dua orang pengemis tua itu jelas memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Namun mereka pun tidak
melihat perginya orang yang disangka Suling Emas itu. Hal ini hanya berarti bahwa orang itu memiliki ilmu
kepandaian hebat. Cocok dengan gambaran tentang diri Suling Emas yang oleh para pengawal istana
disohorkan memiliki kepandaian seperti dewa! Sekali ini harus berhasil, pikirnya. Harus berakhir
pengejaran dan penyelidikan yang bertahun-tahun ini!
Suling Emas membalapkan kudanya dan baru ia membiarkan kudanya mengaso dan berjalan perlahan
setelah lewat tengah hari. Ia tidak jadi pergi ke Tai-goan. Ia harus melarikan diri, tak peduli ke mana, asal
jangan sampai bertemu dengan orang-orang Khitan itu. Kembali jatuh hujan rintik-rintik, akan tetapi ia tidak
peduli.
Mengapa Lin Lin berusaha keras untuk mengundangnya ke Khitan? Apakah selama ini Lin Lin juga hidup
menderita batin seperti dia? Kasihan Lin Lin! Ia tahu betapa mendalam cinta kasih Lin Lin kepadanya dan
betapa perpisahan itu akan membuat Lin Lin hidup sebagai Ratu Yalina, terkurung dalam istana, yang
keras dan sunyi!
“Oughhh...!” Kembali serangkaian batuk menyerang Suling Emas.
Selalu ia terserang batuk kalau pikirannya mengenang masa lalu yang menimbulkan duka. Agaknya
serangan batuk kali ini hebat sehingga ia terbatuk-batuk dan tubuhnya berguncang-guncang di atas kuda,
wajahnya menjadi pucat, napasnya terengah-engah. Sudah lama ia terserang penyakit, bertahun-tahun
sudah, akan tetapi ia tidak pernah mempedulikannya, tidak mau mencari obat. Biarlah demikian, pikirnya
setiap kali timbul keinginan mengobati penyakitnya, kalau penyakit ini mengakibatkan kematian alangkah
baiknya. Bebas dari pada duka nestapa dan derita batin!
Betapa besar kekuasaan asmara! Kuasa menciptakan sorga mau pun neraka dalam penghidupan
manusia! Suling Emas yang dahulu terkenal gagah perkasa, tahu akan segala filsafat hidup, menguasai
berbagai ilmu yang tinggi dan pelik-pelik, namun sekali tercengkeram asmara, menjadi lemah seperti
seorang yang bodoh dan tidak mengerti apa-apa. Menjadi begitu lemah sehingga tidak mampu menguasai
dirinya sendiri!
Betapa ingin hatinya bertemu kembali dengan Ratu Yalina! Betapa ingin hatinya dapat memandang wajah
wanita yang dikasihinya itu, dapat memegang tangannya. Ah, akan tetapi bagaimana mungkin? Dia sudah
tua, juga Lin Lin bukanlah orang muda lagi. Dahulu pun di waktu mereka masih muda, hal ini tak mungkin
dilakukan tanpa mengakibatkan noda nama. Apa lagi sekarang, Lin Lin adalah seorang ratu yang
disembah rakyatnya, sedangkan dia... dia seorang sebatang kara dan miskin. Betapa mungkin ia menjerat
Lin Lin ke dalam kehinaan?
“Tidak!” suara hati terucapkan bibirnya. “Aku harus bertahan! Dia tidak boleh merendahkan diri, tidak boleh
bertemu denganku!” Keputusan ini membuat Suling Emas seketika mengeluarkan sebuah sapu tangan
lebar dan ditutupnyalah sebagian mukanya dengan sapu tangan. Jangan sampai orang-orang Khitan itu
mengenalku!
Akan tetapi keputusan yang amat berlawanan dengan hasrat hati ini makin membahayakan keadaannya.
Serasa ditusuk-tusuk jantungnya sehingga tubuhnya makin lemah. Ia terbatuk-batuk lagi dan akhirnya ia
terguling roboh dari atas punggung kudanya, jatuh dan rebah di atas tanah tak sadarkan diri!
dunia-kangouw.blogspot.com
Kudanya mengeluarkan suara meringkik perlahan, berhenti dan membalikkan tubuh. Dengan hidungnya
kuda kurus itu mendengus-dengus menciumi kepala Suling Emas. Biasanya kalau ia melakukan hal ini,
majikannya lalu mengelus-elus kepala dan lehernya. Akan tetapi sekarang, majikannya diam saja tak
bergerak. Hal ini menyusahkan hati si Kuda, yang kembali meringkik dan menjauhkan diri, berlindung di
bawah pohon dari serangan hujan yang makin menderas sambil makan ujung-ujung rumput hijau.
Suling Emas tidak tahu berapa lama ia rebah pingsan di tempat itu. Pakaiannya basah kuyup, topi dan
sapu tangannya masih menutupi mukanya. Ketika ia siuman kembali, ia mendengar suara orang-orang
bergerak di dekatnya. Cepat Suling Emas membuka mata sambil menahan batuk yang mulai
menyerangnya lagi. Kiranya dua orang kakek pengemis yang tadi bertempur melawan orang-orang Khitan
di dalam kuil telah berada di dekatnya! Mereka itu berlutut di kanan kirinya dengan sikap hormat sekali, dan
kakek yang bongkok berkata,
“Tianglo, maafkan kami yang baru sekarang dapat bertemu dengan Tianglo, sehingga Tianglo mengalami
keadaan begini sengsara...”
“Hemmm..., kau kira aku ini...?” Suling Emas bertanya perlahan akan tetapi tidak melanjutkan kata-katanya
karena kembali ia terbatuk-batuk.
“Ahh..., Tianglo, kali ini kami tidak akan salah lihat! Engkau Yu Kang Tianglo yang mengenal baik tanda
rahasia dengan tangan dari perkumpulan kita, Khong-sim Kai-pang! Tianglo...“
“Aku bukan Yu Kang Tianglo...!” Suling Emas memotong dengan suara keras.
Ia sudah mengenal siapa Yu Kang Tianglo. Dahulu tiga puluh tahun yang lalu pernah ia bekerja sama
dengan Yu Kang. Ketika itu Yu Kang adalah seorang tokoh dari Khong-sim Kai-pang berusia tiga puluh
tahun, yang berusaha membalas dendam kematian ayahnya di tangan seorang di antara Enam Iblis Dunia
bernama It-gan Kai-ong. Karena ketika itu It-gan Kai-ong merupakan seorang tokoh jahat, Suling Emas lalu
turun tangan, membantu Yu Kang merobohkan It-gan Kai-ong sehingga Yu Kang dapat membalas dendam
(baca cerita SULING EMAS ).
Aneh sekali, pikirnya. Biar pun Yu Kang dan dia memang memiliki bentuk tubuh yang hampir sama, akan
tetapi seingatnya Yu Kang dahulu lebih tua dari padanya. Sedikitnya lebih tua lima tahun! Agaknya Yu
Kang juga seperti dia, mengasingkan diri sehingga para pengemis ini tidak dapat membedakan antara dia
dan Yu Kang.
“Harap Tianglo mengingat akan perkumpulan kita dan menaruh kasihan kepada kami! Semenjak
merobohkan It-gan Kai-ong tiga puluh tahun yang lalu, Tianglo menghilang. Kami mengira bahwa Tianglo
khawatir akan pembalasan It-gan Kai-ong maka sengaja mengasingkan diri. Akan tetapi setelah belasan
tahun yang lalu It-gan Kai-ong tewas mengapa Tianglo masih juga mengasingkan diri? Apakah Tianglo
tidak kasihan kepada saudara-saudara kita yang sudah terlalu lama kehilangan pemimpin yang bijaksana?”
Selagi pengemis bongkok itu bicara dengan penuh permohonan, diam-diam Suling Emas berpikir. Hemm,
mengapa tidak? Biarlah Yu Kang menyembunyikan diri dan dia yang menggantikannya! Pertama, karena ia
tahu bahwa perkumpulan Khong-sim Kai-pang adalah perkumpulan baik-baik sehingga sudah sepatutnya
kalau ia bela. Kedua, dengan menyamar menjadi Yu Kang, ia dapat menyembunyikan diri dari pada
pengejaran Lin Lin.
Pada saat itu hujan turun lagi dengan derasnya dan pengemis tua yang memegang tongkat berseru, “Ah,
dasar bandel monyet gendut itu! Dia berani muncul lagi!”
Suling Emas kaget dan segera bangun berdiri. “Saudara-saudara, biarkanlah aku sendiri menghadapinya,”
ia berkata ketika melihat dua orang pengemis tua itu dengan marah hendak menerjang maju. Mendengar
ini dua kakek itu menjadi girang dan menanti di kanan kiri.
Perwira Khitan yang gemuk itu melangkah lebar menghampiri tempat itu, menempuh hujan. Ia terkejut
ketika melihat orang yang dicarinya berdiri di depannya dengan muka sebagian tertutup sapu tangan
sedangkan dua orang pengemis tua yang lihai tadi berdiri di kanan kirinya. Akan tetapi segera ia
menyeringai dan berkata. “Terpaksa saya harus mengikuti Taihiap sampai di mana pun juga. Saya
mempertaruhkan nyawa untuk tugas ini!”
Suling Emas bertanya. “Tugasmu adalah mencari orang yang berjuluk Kim-siauw-eng, bukan?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Betul, Taihiap.”
“Dan engkau mengira bahwa akulah orang yang kau cari itu?”
“Tidak bisa salah lagi, beginilah menurut petunjuk.”
“Apakah engkau pernah bertemu dengan Suling Emas?”
“Waah... belum pernah. Akan tetapi petunjuknya cocok, dan akan ada seorang atasanku yang pernah
bertemu dan akan mengenal Taihiap.”
“Kalau begitu jangan membandel. Katakan kepada atasanmu bahwa yang kau sangka Suling Emas itu
sebetulnya adalah Yu Kang Tianglo, ketua dari Khong-sim Kai-pang! Sudah, jangan engkau mengganggu
kami lagi!” Ia menoleh kepada dua orang pengemis tua sambil berkata, suaranya memerintah, “Mari kita
pergi!”
Si Perwira Khitan yang gendut itu terkejut dan meragu. Ia melangkah maju, “...tetapi....”
Baru sampai sekian ucapannya, Suling Emas mengulurkan tangannya dan perwira itu tiba-tiba berdiri kaku
tak bergerak. Ia telah menjadi korban totokan yang luar biasa sekali! Melihat ini, dua orang pengemis tua
yang sudah kegirangan itu menjadi kagum sekali, lalu mereka berdua menjatuhkan diri berlutut di depan
Suling Emas sambil berkata, “Pangcu (Ketua)...!”
Di balik sapu tangan Suling Emas tersenyum masam, lalu mengibaskan tangan baju dan berkata
kereng,”Bangunlah dan mari kita pergi.”
Dengan muka gembira dan taat sekali dua orang pengemis tua itu bangkit dan pergilah mereka bertiga
menempuh hujan, meninggalkan perwira Khitan yang masih berdiri seperti patung. Ketika hujan mulai
berhenti, mereka sudah berteduh di dalam sebuah gubuk petani di tengah ladang. Kuda kurus tunggangan
Suling Emas tadi berjalan mengikuti majikannya yang memanggilnya Siauw-ma, dan kini makan rumput di
pinggir jalan ketika majikannya duduk di dalam gubuk bersama dua orang kakek pengemis.
“Dan sekarang, ceritakanlah siapa kalian, dan apa sebabnya kalian memaksa aku yang sudah puluhan
tahun mengasingkan diri dan tidak mau mencampuri urusan kai-pang (perkumpulan pengemis) atau
mengapa kalian mengganggu ketenanganku hidupku?”
Ketika dua orang kakek pengemis itu secara bergantian mulai bercerita, Suling Emas
mendengarkan penuturan yang amat menarik hatinya sehingga ia menaruh perhatian. Tak disangkanya
bahwa selama ia mengasingkan diri telah terjadi banyak hal hebat di dunia kang-ouw.
Selama puluhan tahun, ketika dunia kang-ouw dikuasai oleh Enam Iblis Bumi Langit, dunia pengemis juga
terlanda mala-petaka karena seorang di antara Enam Iblis, yaitu It-gan Kai-ong merajai dunia pengemis.
Setelah akhirnya It-gan Kai-ong tewas, dunia pengemis yang sudah terbebas dari kekuasaan jahat itu
menjadi kacau, kehilangan pimpinan dan terpecah-pecah karena terjadi perebutan kekuasaan antara
golongan pengemis yang baik dan golongan pengemis yang jahat.
Golongan lain di dunia kang-ouw telah mendapatkan pimpinan-pimpinan baru dan fihak yang jahat dapat
dibersihkan. Akan tetapi hanya golongan pengemis saja yang belum mempunyai pemimpin yang kuat
sehingga fihak yang jahat selalu menimbulkan kekacauan dan terjadilah pertentangan-pertentangan hebat
di antara mereka sendiri. Melihat kelemahan dunia pengemis ini maka orang-orang jahat yang terusir dan
tidak mendapatkan tempat di dalam golongan lain, lalu menyelundup masuk ke dalam dunia pengemis
untuk mencari kedudukan.
Khong-sim Kai-pang adalah sebuah perkumpulan pengemis yang besar dan berpengaruh, berpusat di kota
Kang-hu. Sejak puluhan tahun yang lalu Khong-sim Kai-pang termasuk golongan partai bersih yang
mengutamakan kebenaran dan selalu memusuhi kejahatan. Akan tetapi karena sudah puluhan tahun tidak
mempunyai ketua yang pandai, Khong-sim Kai-pang kehilangan pengaruhnya sebagai perkumpulan besar
sehingga tidak dapat menjadi peranan penting dalam dunia pengemis. Namun karena dahulu pernah
dipimpin oleh orang-orang bijaksana seperti Yu Jin Tianglo, mendiang ayah Yu Kang, para anggotanya
masih setia dan mereka inilah yang merasa prihatin melihat keadaan dunia pengemis yang mulai
dicengkeram oleh golongan hitam.
dunia-kangouw.blogspot.com
Beberapa kali para tokoh Khong-sim Kai-pang berusaha untuk membersihkan dunia pengemis dari
pengaruh oknum-oknum jahat, akan tetapi setiap kali usaha mereka gagal, bahkan banyak di antara
mereka yang tewas dalam bentrokan itu. Akhirnya, dari banyak tokoh Khong-sim Kai-pang hanya tinggal
dua orang tokoh yang termasuk orang-orang tingkat tinggi di perkumpulan itu. Mereka ini adalah Gak-lokai
si kakek jembel bongkok dan Ciam-lokai si kakek jembel bertongkat.
Dua orang kakek ini maklum bahwa kalau Khong-sim Kaipang tidak segera mendapat pimpinan yang tepat
dan bijaksana, akan rusaklah keadaannya, tidak hanya keadaan perkumpulan mereka, juga dunia
pengemis akan terjatuh ke tangan orang jahat. Mereka teringat akan Yu Kang yang puluhan tahun lamanya
tak pernah muncul. Hanya putera mendiang Yu Jin Tianglo itulah kiranya yang akan dapat membangun
kembali Khong-sim Kai-pang. Maka mulailah mereka berdua merantau dan mencari Yu Kang Tianglo
sampai mereka berjumpa dengan Suling Emas dan mengira bahwa pendekar ini adalah orang yang
mereka cari-cari.
“Demikianlah Pangcu. Tanpa mengenal lelah kami berdua mencarimu sampai belasan tahun. Kami
mendengar bahwa Tianglo merantau ke dunia barat. Kami telah menyusulmu ke sana, hampir celaka di
negeri asing itu. Akan tetapi di sana kami mendengar bahwa Tianglo telah kembali ke timur sehingga kami
kembali menyusul ke sini, untung dapat bertemu dengan Tianglo di kuil rusak. Agaknya Tuhan memang
telah memanggil kembali Tianglo untuk memimpin dunia pengemis, karena kalau Tianglo tidak menaruh
kasihan, tentu dunia pengemis akan terjatuh ke tangan iblis-iblis baru dan terseret ke dalam golongan
hitam!” Demikian mereka berdua menutup penuturan mereka.
Suling Emas termenung sejenak. Ia mempertimbangkan keadaannya, kemudian menarik napas panjang
dan berkata, “Apakah kalian hendak menarik aku menduduki kursi ketua Khong-sim Kai-pang? Aku yang
sudah biasa merantau bebas seperti burung di udara, bagaimana bisa terikat dan terkurung? Sungguh tak
mungkin dapat kulakukan!” Ia menggeleng-geleng kepala dan menarik napas panjang.
“Tidak usah sampai begitu, Pangcu!” kata kakek bongkok yang bernama Gak-lokai cepat-cepat. “Cukup
asal pangcu memperkenalkan diri sebagai ketua Khong-sim Kai-pang dan menghadiri pertemuan besar
para ketua perkumpulan-perkumpulan pengemis yang akan diadakan di permulaan musim semi. Pertama
untuk membangun kembali semangat para anggota Khong-sim Kai-pang, kedua untuk mencegah dunia
pengemis terjatuh ke tangan kaum sesat. Mohon kiranya pangcu tidak akan tega membiarkan kehancuran
Khong-sim Kai-pang dan dunia pengemis umumnya.” Setelah berkata demikian kedua orang kakek itu
kembali menjatuhkan diri berlutut di depan Suling Emas.
Diam-diam Suling Emas terkenang kepada Yu Jin Tianglo, seorang tokoh Khong-sim Kai-pang yang
bijaksana dan putera ketua ini, Yu Kang, seorang pengemis yang gagah perkasa. Ayah dan anak ini adalah
orang-orang gagah yang sudah sepatutnya dibela. Memang kasihan dan sayang sekali kalau perkumpulan
pengemis yang sudah terkenal sebagai golongan kaum bersih ini sampai terseret ke dalam lembah
kejahatan. Selain ini, juga ia mendapat kesempatan untuk menyembunyikan diri dari kejaran orang-orang
Khitan! Kalau ia sudah mengaku sebagai ketua Khong-sim Kai-pang, mustahil kalau para petugas yang
diutus Lin Lin itu akan mengejarnya lagi dan menyangkanya Suling Emas!
“Baiklah,” akhirnya ia berkata. “Akan kucoba sekuat tenagaku mencegah kaum sesat menguasai dunia
pengemis. Akan tetapi aku hanya mau menjadi pangcu dari Khong-sim Kai-pang dengan syarat, pertama
apa bila semua sudah beres, aku tidak mau tetap tinggal di satu tempat. Urusan kai-pang boleh kalian urus
sedangkan aku tetap akan melakukan perantauan seperti biasa, tanpa ada yang mengganggu. Kedua, aku
tidak ingin memperkenalkan mukaku kepada orang lain sehingga dalam kedudukan sebagai pangcu, aku
akan selalu menutup mukaku. Kalian pun harus bersumpah bahwa kau tidak pernah melihat mukaku.
Mengerti?”
Dua orang kakek pengemis yang merasa yakin bahwa pendekar ini tentulah Yu Kang Tianglo menjadi
gembira sekali. Dengan bercucuran air mata saking girangnya mereka menyanggupi semua permintaan
Suling Emas.
“Cukup, sekarang pergilah kalian. Tunggu kedatanganku di Kang-hu waktu bulan purnama yang akan
datang. Bukankah pusat Khong-sim Kai-pang masih berada di kuil tua di luar kota Kang-hu?”
Dua orang kakek itu makin girang dan tidak ragu-ragu lagi mereka sekarang bahwa orang ini tentulah Yu
Kang putera mendiang ketua Yu Jin Tianglo yang lenyap ketika berusia tiga belas tahun dan ketika Khongdunia-
kangouw.blogspot.com
sim Kai-pang diserbu penjahat. Mereka mengangguk-angguk dan dengan mata basah air mata saking
terharunya kakek bongkok berkata, “Tentu saja masih di sana, Pangcu. Siapa dapat melupakan kuil itu?”
Suling Emas menarik napas panjang memberi tanda dengan tangan agar kedua orang kakek itu pergi.
Setelah mereka pergi, baru ia melompat ke atas punggung kudanya menepuk-nepuk leher kudanya sambil
berkata lirih, “Siauw-ma, mau tak mau kita harus mengalami hal-hal baru di antara para pengemis itu.
Terpaksa Siauw-ma, terpaksa...! Ataukah... lebih baik ke Khitan...? Ah, tidak...! Jangan! Biarlah untuk
sementara aku menjadi ketua pengemis!”
Berjalanlah kuda itu perlahan-lahan. Hujan telah berhenti dan tak lama kemudian terdengarlah suara suling
ditiup, suaranya mengalun dan mengharukan, menggetarkan jiwa tertekan dan batin menderita.
********************
Pada masa itu Kerajaan Sung dipimpin oleh kaisarnya yang ke dua, yaitu Sung Thai Cung. Sungguh pun
kemajuan di jaman Kerajaan Sung ini tidak dapat menandingi kerajaan-kerajaan yang lalu sebelum jaman
Lima Wangsa, namun jika dibandingkan dengan jaman pemerintahan Sung Thai Cu kaisar pertama
Kerajaan Sung, maka pemerintahan kaisar ke dua ini boleh dibilang mengalami kemajuan. Hasil yang
dicapai lebih besar. Ia telah berhasil menjatuhkan Kerajaan Hou-han di Shan-si, Kerajaan Wu-yue di
selatan, dan kerajaan-kerajaan kecil lainnya, kemudian memasukkan daerah kerajaan-kerajaan yang
ditaklukkan ini ke dalam wilayah Sung.
Namun harus diakui bahwa Kaisar Sung Thai Cung tidak berdaya terhadap dua buah kerajaan, yaitu
kerajaan bangsa Khitan di timur laut yang terutama, dan Kerajaan Nan-cao di daerah Yu-nan. Mula-mula
memang diusahakannya untuk menaklukkan dua buah kerajaan ini, namun selalu gagal. Bahkan berkalikali
bala tentara Sung terpukul mundur sehingga akhirnya kaisar tidak mendesak lagi. Hanya perang dan
bentrokan kecil-kecilan terjadi di perbatasan, namun tidak ada artinya. Bahkan akhirnya, Kerajaan Sung
mengambil sikap dan politik lunak, mendekati dua kerajaan ini dan bahkan mengirim upeti-upeti sebagai
tanda persahabatan!
Tidaklah amat mengherankan apa bila ditinjau keadaan dua kerajaan di sebelah utara dan sebelah selatan
itu. Semenjak dipegang oleh Ratu Yalina, Kerajaan Khitan menjadi sebuah kerajaan yang amat kuat
sehingga sukar dikalahkan, bahkan bangsa Khitan telah menaklukkan bangsa-bangsa nomad lain yang
berkeliaran di daerah utara sehingga kerajaannya menjadi makin besar. Ada pun Kerajaan Nan-cao,
sungguh pun hanya merupakan kerajaan kecil, namun yang berkuasa di situ adalah kaum Agama Bengkauw
yang mempunyai banyak orang pandai, setia dan berdisiplin.
Karena cerita ini banyak menyangkut keadaan Kerajaan Khitan, maka marilah kita menjenguk keadaan
kerajaan di sebelah utara dan timur laut itu. Bangsa Khitan adalah bangsa nomad yang besar, terdiri dari
orang-orang gagah perkasa dan ulet. Keadaan hidup mereka yang selalu berpindah-pindah untuk mencari
tempat yang lebih baik dan untuk menyesuaikan diri dengan iklim yang buruk, kesukaran hidup berjuang
dengan alam, membuat mereka menjadi bangsa yang ulet, tabah dan pantang mundur.
Semenjak bangsa Khitan dipimpin oleh Ratu Yalina, kerajaan ini mengalami kemajuan pesat. Di dalam
cerita CINTA BERNODA DARAH , diceritakan betapa Ratu Yalina ini di waktu kecilnya diangkat sebagai
anak oleh seorang jenderal besar bangsa Han, dan di waktu remaja menerima gemblengan ilmu silat dari
orang-orang pandai. Bahkan sebelum menjadi ratu, secara kebetulan sekali ia telah menemukan sebuah
pusaka peninggalan Pat-jiu Sin-ong Liu Gan ketua Beng-kauw di Nan-cao, yaitu catatan ilmu yang dahsyat
dan dirahasiakan. Setelah mewarisi ilmu yang disebut Cap-sha-sin-kun (Tiga Belas Jurus Ilmu Silat Sakti)
inilah maka ilmu kepandaian Ratu Yalina amat hebat dan sukar dicari tandingannya.
Di waktu masih remaja, Ratu Yalina ini pernah mengalami derita batin yang takkan dapat ia lupakan
selama hidup. Antara dia dan Suling Emas, terjalin kasih asmara yang amat mendalam. Keadaanlah yang
memaksa mereka berpisah, yang tidak memungkinkan perjodohan di antara mereka. Apa sebabnya?
Bukan lain oleh karena kebetulan sekali bahwa Suling Emas adalah ‘kakak angkatnya’ sendiri, putera
kandung ayah angkatnya, Jenderal Kam! Sebetulnya hal ini bukanlah menjadi halangan benar bagi Puteri
Yalina yang ketika itu belum menjadi ratu. Akan tetapi Suling Emas yang berkeras tidak mau, bukan hanya
karena masih saudara angkat, juga terutama sekali karena Yalina amat diperlukan oleh bangsanya untuk
menjadi Ratu sehingga Suling Emas mengalah dan pergi!
Akan tetapi, sebelum mereka saling berpisah untuk puluhan tahun lamanya itu, Suling Emas telah
memenuhi permohonan Ratu Yalina untuk tinggal di dalam istananya selama sebulan. Menjadi suami di
dunia-kangouw.blogspot.com
luar nikah! Biar pun tidak berhasil menjadi suami isteri, namun mereka telah saling menumpahkan cinta
kasih mereka yang mendalam, tak kuasa menahan rindu hati yang tak tercapai karena halangan keadaan
lahir.
Betapa tersiksa dan menderita batin Ratu Yalina ketika kekasihnya sudah pergi, ia mendapat kenyataan
bahwa ia mengandung! Peristiwa yang bagi setiap orang isteri merupakan kebahagiaan mutlak ini, bagi
Ratu Yalina bahkan merupakan derita dan siksa batin! Betapa tidak? Ia seorang ratu! Seorang ratu dan
bukan seorang isteri. Ia tidak bersuami. Ia secara resmi masih seorang gadis! Dan ia mengandung! Kalau
saja Ratu Yalina tidak teringat akan kedudukannya, tidak ingat akan bangsanya yang dikasihinya, tentu ia
sudah melarikan diri dari Khitan, melarikan diri untuk mencari Suling Emas, kekasih dan... suaminya, biar
pun hanya suami tidak sah!
Ratu Yalina merasa tersiksa. Ia berduka dan juga malu. Bagaimana kalau nanti bangsanya mengetahui
bahwa ratunya yang masih belum menikah itu mengandung? Hampir saja Ratu Yalina putus asa. Lebih
baik mati membunuh diri dari pada menanggung aib yang hebat! Akan tetapi, untung baginya bahwa
panglimanya, orang yang paling dipercayanya karena panglima ini diam-diam juga mencintainya tahu akan
rahasianya.
Panglima ini Panglima Kayabu namanya, seorang Khitan yang gagah perkasa, tahu bahwa antara ratunya
dan Suling Emas terjalin cinta kasih yang mendalam. Tahu pula bahwa demi bangsanya, ratunya rela
berkorban perasaan, berpisah dari kekasihnya. Ia tahu pula bahwa Suling Emas ditahan dalam istana
ratunya sampai sebulan sebelum mereka berdua saling berpisah. Kemudian ia tahu pula bahwa ratunya
telah mengandung!
Secara rahasia, dijumpailah Ratu Yalina. Pada saat itulah terbukti kesetiaan Panglima Kayabu. Karena
panglima ini telah dapat menduga kesemuanya, sambil menangis Ratu Yalina membuka rahasianya dan
menyerahkan nasibnya ke tangan panglimanya yang juga menjadi sahabat satu-satunya dalam
menghadapi peristiwa hebat ini.
Kayabu menghiburnya dan memberi usul bahwa Sang Ratu seyogianya memelihara kandungannya dan
secara rahasia kelak melahirkan anak. Sementara itu, dia sendiri secara serentak akan memillh seorang
gadis Khitan dan mengawininya, kemudian kelak kalau Sang Ratu melahirkan anak, anak itu akan
diakuinya sebagai anaknya sendiri! Tentu saja ia akan menyuruh isterinya itu bersikap seolah-olah
mengandung sehingga kelak tidak akan mencurigakan kalau ‘melahirkan’ anak.
Rahasia yang hebat! Akan tetapi, karena tidak ada jalan lain, demi untuk menjaga nama baiknya sebagai
ratu, dan demi menjaga agar bangsanya tidak menjadi kacau, Ratu Yalina melakukan sandiwara ini sesuai
dengan rencana Panglima Kayabu! Panglima ini, yang tentu saja luka dan patah hatinya, memaksa diri
memilih dan mengawini seorang gadis Khitan yang cantik.
Semua berjalan sesuai dengan rencana, yaitu Ratu Yalina dapat menyembunyikan keadaannya yang
mengandung dari mata rakyatnya. Di lain fihak, isteri Panglima Kayabu ‘pura-pura mengandung’. Akan
tetapi, ketika tiba waktunya Sang Ratu melahirkan, di dalam kamar rahasia dan secara rahasia dihadiri oleh
isteri Panglima Kayabu dan seorang dukun beranak, terjadilah hal yang sama sekali di luar dugaan
mereka. Sang Ratu Yalina melahirkan sepasang anak kembar! Pertama seorang bayi laki-laki dan kedua
seorang bayi perempuan!
Kalau saja kelahiran macam ini tidak terjadi di Khitan, tentu tidak akan mendatangkan kebingungan. Akan
tetapi telah menjadi kepercayaan umum di Khitan bahwa kembar laki-laki dan perempuan merupakan
pertanda bahwa kedua anak itu adalah titisan atau penjelmaan suami isteri, dan karenanya, kedua orang
anak itu harus dipisahkan dan kelak harus dijodohkan sebagai suami isteri!
Ketika dukun beranak dan isteri Panglima Kayabu menyatakan hal ini, yang dimengerti pula oleh Ratu
Yalina, ratu yang malang ini menangis sedih dan roboh pingsan. Isteri Panglima Kayabu menjadi sibuk dan
cepat-cepat memberi laporan secara diam-diam kepada suaminya. Panglima Kayabu cepat memasuki
kamar itu dan untung Ratu Yalina sudah siuman dan kini ratu itu menangis terisak-isak di atas
pembaringan.
“Harap Paduka jangan gelisah.” panglima yang setia itu menghibur.
“Aduh... Kayabu... lebih baik mati saja aku kalau begini...!” Yalina menangis. “Kayabu, kau tolonglah aku...
kau carilah dia, suruh datang ke sini, biar dia yang akan memutuskan keadaan ini...”
dunia-kangouw.blogspot.com
Panglima Kayabu mengerutkan keningnya. Ia maklum siapa yang dimaksudkan ratunya itu. Akan tetapi
dalam keadaan seperti itu, kalau mencari dan memanggil Suling Emas, bukan merupakan hal yang baik.
Kalau terpaksa rahasia ini dibuka, tentu akan timbul kegemparan di kalangan rakyat, tentu akan
menimbulkan aib dan hal ini amat merugikan karena pada waktu itu Khitan dikepung musuh dari selatan
dan dari barat.
“Harap Paduka tenang saja. Biarlah hamba mengakui anak laki-laki ini sebagai putera hamba, sedangkan
anak perempuan ini, secara diam-diam kita singkirkan agar dipelihara orang lain dan kelak kalau mereka
berdua sudah besar, mudah saja hamba menariknya sebagai mantu.”
Ucapan ini mengiris jantung Yalina. Dengan sepasang mata penuh air mata dan dengan muka pucat ia
mengulurkan kedua tangan ke depan dan berkata kepada dukun beranak yang sedang mengurus dua
orang anak yang menangis nyaring seperti berlomba itu.
“Ke sinikan anak-anakku... biarlah aku melihat mereka... biarkan aku mencium dan memeluk mereka...
ahhh...!” Ia menangis tersedu-sedu.
Isteri Panglima Kayabu ikut menangis, demikian pula dukun beranak, wanita tua itu yang merasa terharu
sekali. Kayabu sendiri, seorang panglima gagah perkasa yang pantang mengeluarkan air mata, merasa
betapa sepasang matanya panas dan jantungnya serasa diremas. Wanita yang pernah menjatuhkan
hatinya itu kini demikian sengsara, sama sekali tidak seperti seorang ratu yang berwibawa, sama sekali
bukan seperti seorang wanita yang ia tahu amat perkasa dan sakti, melainkan seperti seorang wanita yang
lemah, seorang wanita yang ditinggalkan kekasih, seorang ibu yang rindu akan anak-anaknya!
“Anakku... anakku...! Bagaimana aku dapat berpisah dari mereka ini...“ Ratu Yalina mencium kedua
anaknya. Hampir ia pingsan saking sedihnya ketika melihat bahwa anaknya yang laki-laki memiliki mata
dan hidung kekasihnya!
“Anak-anakku... di mana Ayahmu...? Anak-anakku... bagaimana kalian tega meninggalkan Ibumu...?” Ratu
Yalina mencium lagi, kemudian menjerit lirih dan roboh pingsan sambil memeluk kedua anaknya yang
mulai menangis lagi.
“Cepat...cepat, bawa pulang anak laki-laki itu!” kata Panglima Kayabu kepada isterinya. Untung bahwa
peristiwa kelahiran itu terjadinya pada waktu tengah malam sehingga tidak sampai diketahui orang lain.
“Dan kau, Bibi, dapatkah engkau membantu? Aku harus dapat menyerahkan anak perempuan ini kepada
seorang yang boleh dipercaya!”
“Hamba... hamba sanggup membantu... hamba... mempunyai keponakan. Biarlah puteri ini dipeliharanya,
hamba tanggung takkan bocor rahasia ini...,“ kata Si Dukun Beranak sambil terisak menangis.
“Tentu saja jangan sampai bocor. Kalau bocor, engkau sekeluargamu akan dijatuhi hukuman mati!” kata
Kayabu yang diam-diam merasa girang bahwa anak perempuan itu ada yang megurusnya. Tentu saja tidak
sukar baginya memerintahkan siapa saja memelihara anak itu, akan tetapi justru sukarnya, jangan sampai
ada yang tahu akan rahasia besar ini.
Lewat tengah malam, kamar Ratu Yalina menjadi sunyi kembali. Kedua orang anak yang baru lahir itu
sudah dibawa pergi dari kamar. Yang laki-laki dibawa oleh isteri Panglima Kayabu, sedangkan yang
perempuan dibawa pergi oleh dukun beranak yang keluar dari istana melalui pintu rahasia di sebelah
belakang, lalu nenek tua itu menghilang di dalam gelap.
Akan tetapi pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali para penjaga istana menjadi gempar ketika
menemukan nenek dukun beranak itu menggeletak tak bernyawa lagi di sebelah belakang istana!
Tentu saja Panglima Kayabu yang mendengar laporan ini merasa seakan-akan dicabut jantungnya saking
kaget dan heran. Cepat ia sendiri mendatangi tempat pembunuhan itu sehingga para pengawal menjadi
heran mengapa panglima besar mereka begitu menaruh perhatian atas kematian seorang nenek dukun
beranak.
“Pembunuhan terjadi di dekat istana, hal ini amat gawat demi keselamatan Ratu,” kata panglima yang
cerdik ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Lebih-lebih kaget dan herannya ketika memeriksa keadaan mayat dukun beranak itu. Panglima Kayabu
mendapat kenyataan bahwa tubuh itu tidak terluka sama sekali, akan tetapi tanda-tanda biru di pelipis
menyatakan bahwa nenek ini menderita luka hebat di dalam kepala akibat pukulan yang dahsyat yang
mengandung hawa sakti. Pukulan seorang ahli yang memiliki kepandaian tinggi. Tentang anak perempuan
yang baru dilahirkan semalam, tidak ada tanda-tanda dan bekas-bekasnya sama sekali!
dunia-kangouw.blogspot.com
Kematian nenek ini sebenarnya malah melegakan hati Kayabu karena lenyaplah kekhawatiran akan
bocornya rahasia besar itu. Akan tetapi kalau ia mengingat akan lenyapnya anak perempuan, ia
mengerutkan keningnya dan menjadi bingung! Tak mungkin ia dapat mengumumkan kehilangan anak
perempuan itu dan menyuruh anak buahnya menyelidiki atau mencari.
Maka secara diam-diam ia sendiri melakukan penyelidikan dan mencari, namun sia-sia belaka. Anak
perempuan itu lenyap tak meninggalkan bekas sama sekali, bahkan di seluruh Khitan tidak terdapat
seorang anak bayi perempuan yang baru dilahirkan. Jelas bahwa anak itu dibawa oleh pembunuh nenek
dukun, dibawa ke luar dari Khitan atau dibawa sembunyi di tempat rahasia. Akan tetapi siapakah
pembawanya?
Hal ini menjadi rahasia dan teka-teki yang tak terpecahkan. Dan tentu saja hal ini menambah
kesengsaraan hati Ratu Yalina. Memang agak terhibur hatinya melihat Talibu, yaitu putera kandungnya
yang menjadi putera Panglima Kayabu. Ketika Talibu berusia lima tahun, secara resmi ia diangkat anak
oleh Ratu Yalina! Upacara pengangkatan ini dilakukan secara resmi dan dirayakan oleh semua orang
Khitan.
Gembiralah hati bangsa Khitan yang tadinya merasa prlhatin melihat ratu mereka yang terkasih itu tidak
mau menikah. Akan tetapi setelah melihat Sang Ratu itu mengangkat putera, dan putera itu pun bukan
anak orang biasa melainkan putera Panglima Besar Kayabu, legalah hati mereka. Kini mereka telah
mempunyai seorang Pangeran Mahkota! Tentu saja tak seorang pun di antara mereka tahu betapa hati
Sang Ratu itu jauh lebih lega dan bahagia dari pada mereka. Diam-diam hati Ratu Yalina bahagia sekali
karena pengangkatan Talibu sebagai puteranya itu merupakan pesta pertemuan dan berkumpulnya
kembali secara resmi antara seorang ibu dan anak kandungnya!
Pada waktu itu Panglima Kayabu sendiri telah mempunyai seorang anak perempuan yang terlahir ketika
Talibu berusia dua tahun. Anak perempuan yang cantik ini bernama Puteri Mimi yang menjadi ‘adik
kandung’ dan teman bermain Pangeran Talibu sejak kecil. Kalau melihat keadaan puteranya yang kini
benar-benar telah menjadi puteranya, bahkan menjadi Putera Mahkota, bahagialah hati Ratu Yalina. Akan
tetapi makin besar anak itu, makin gelisah dan prihatin hatinya.
Bagaimana ia tidak akan merasa gelisah dan prihatin kalau mengingat bahwa puteranya ini telah
kehilangan saudara kembarnya, telah kehilangan calon ‘jodohnya’? Bagaimana takkan gelisah dan bingung
hatinya karena menurut kepercayaan bangsanya, anak kembar laki perempuan kalau tidak dijodohkan,
tentu akan hidup menderita dan mengalami mala-petaka? Kalau teringat akan hal ini, Ratu Yalina menjadi
sedih sekali dan teringat kekasihnya, Suling Emas, ayah dari pada kedua orang anaknya itu!
Kekhawatiran akan hilangnya anak perempuannya itulah yang membuat Ratu Yalina akhirnya berkeras
memberi perintah kepada Panglima Kayabu untuk berusaha mencari dan memanggil Suling Emas ke
Khitan. Apa pun yang terjadi, ayah dari anak-anaknya itulah yang harus mengambil keputusan! Ayah
kandung anak-anak itu sendiri yang harus menentukan nasib sepasang anak kembar yang terpisah secara
ajaib itu.
Dan Panglima Kayabu hanya mentaati perintah, mengirim pasukan dan pembantu-pembantunya yang
cukup pandai untuk mencari dan memanggil Suling Emas. Bahkan setelah bertahun-tahun gagal
menjumpai Suling Emas dan Pangeran Talibu sudah makin besar, Ratu Yalina menulis segulung surat
untuk diberikan kepada Suling Emas kalau orang-orangnya berhasil menjumpai pendekar itu.
Sementara itu, Pangeran Talibu makin besar makin gagah dan tampan. Semua rakyat mencinta pangeran
ini. Selain tampan, juga Putera Mahkota ini digembleng ilmu surat dan ilmu silat. Tidak hanya Panglima
Kayabu yang menurunkan kepandaiannya kepada Putera Mahkota, juga Sang Ratu Yalina sendiri
menurunkan ilmu silat saktinya, yaitu Khong-in-ban-kin dan Khong-in-liu-san. Ada pun ilmu silat ajaib Capsha-
sin-kun ia ajarkan pula secara hati-hati dan perlahan-lahan karena ilmu ini bukan ilmu sembarangan
dan kalau belum matang keadaan seorang ahli silat, tak mungkin dapat mempelaiarinya dengan sempurna.
********************
Sebelum kita melanjutkan cerita ini, lebih baik kita menengok keadaan anak perempuan yang lenyap tanpa
bekas itu. Ke manakah menghilangnya anak perempuan, adik kembar Pangeran Talibu itu? Dan apakah
yang terjadi lewat tengah malam itu di belakang istana Ratu Yalina?
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketika itu nenek dukun beranak memondong bayi perempuan yang dibungkusnya dengan selimut. Ia
bergegas keluar dari pintu rahasia yang membawanya ke luar dari istana dan muncul di luar taman bunga.
Nenek ini tersenyum-senyum girang. Peristiwa aneh yang ia alami di dalam istana ini tak dapat tidak akan
mendatangkan untung besar kepadanya. Betapa tidak? Rahasia Sang Ratu berada di tangannya. Yang
dibungkus selimut ini merupakan sebagian rahasia besar itu. Sebagai orang yang mengetahui rahasia itu
tentu hidupnya terjamin. Dan juga keponakannya akan hidup mewah dan mulia kelak, sebagai pengasuh
dan pemelihara puteri Sang Ratu! Nenek ini sama sekali tidak tahu bahwa sejak tadi ada bayangan
berkelebat mengikutinya.
Tiba-tiba nenek itu berhenti melangkah, kaget memandang ke depan. Di depannya telah berdiri sesosok
bayangan orang. Malam itu bulan sepotong menyinarkan cahayanya yang suram, akan tetapi cukup untuk
membuat ia dapat melihat orang yang seperti setan tiba-tiba saja berdiri di depannya.
Seorang perempuan! Seorang perempuan berpakaian serba putih! Tubuhnya ramping padat, dengan
lekuk-lengkung mencolok. Pendeknya tubuh seorang wanita muda yang montok, tubuh yang sedang mekar
dalam usia muda. Akan tetapi muka dan kepala wanita muda ini tertutup anyaman benang sutera hitam
Membuat wajahnya hanya nampak bayangannya saja, bayangan seram sekali karena sepasang matanya
mengeluarkan sinar seperti bukan mata manusia! Lebih tepat kalau mata itu dimiliki iblis, atau setidaknya
sepasang mata harimau liar!
“Apa... eh, siapa...?” nenek ini tergagap dan ketakutan.
“Hi-hik!” Wanita aneh itu terkekeh dan sekali tangannya merenggut, anak dalam buntalan selimut itu telah
berada di tangannya.
Nenek dukun beranak terkejut. Kemarahannya mengatasi takutnya, kedua tangannya diulur hendak
merampas kembali anak itu.
“Huh, macam engkau mana ada harga merawat anak Lin Lin?” Tangan kiri wanita itu menyambar ke
depan.
“Krekkk!” terdengar bunyi dan tubuh nenek itu terguling tak bernyawa lagi!
Sambil tertawa-tawa yang mengatasi tangis anak perempuan itu, wanita aneh itu sekali berkelebat lenyap
ke dalam gelap. Suara ketawanya yang nyaring melengking amat menyeramkan, memecah kesunyian
malam dan pasti akan membuat hati orang yang bagaimana tabahnya pun pasti tergetar.
Siapakah wanita aneh yang menyeramkan ini? Melihat gerak-geriknya ia seorang yang memiliki ilmu
kepandaian luar biasa hebatnya. Larinya amat cepat, seperti terbang saja sehingga ketika fajar
menyingsing keesokan harinya, ia sudah berada di tempat yang ratusan li jauhnya dari kota raja Khitan.
Ketika itu ia masih berlari terus memasuki sebuah hutan lebat, jauh di sebelah selatan. Orang tentu akan
heran sekali melihat bahwa dia adalah seorang wanita yang masih muda, belum tiga puluh tahun usianya!
Wajahnya cantik jelita, tubuhnya ramping padat, pakaiannya serba putih terbuat dari sutera halus yang
membungkus ketat tubuhnya, membayangkan lekuk lengkung tubuhnya yang menggairahkan. Anehnya
muka dan kepalanya tersembunyi di belakang kain penutup atau ‘tirai’ sulaman benang sutera hitam
sehingga garis-garis mukanya yang cantik hanya nampak remang-remang. Akan tetapi, sepasang mata di
balik tirai itu jelas tampak berkilat-kilat menakutkan, mata yang jeli dan indah, namun dengan sinar mata
yang liar dan mengerikan.
Wanita ini sesungguhnya bukan orang asing bagi Ratu Yalina. Dia ini adalah kakak angkatnya sendiri,
puteri ayah angkatnya. Mendiang ayah angkat Ratu Yalina yang bernama Jenderal Kam Si Ek, seorang
jenderal dari Hou-han yang perkasa dan pandai, mula-mula menikah dengan puteri Beng-kauwcu yang
bernama Liu Lu Sian yang berjuluk Tok-siauw-kwi (Iblis Cilik Beracun) dan berputera Suling Emas!
Kemudian Jenderal Kam bercerai dari Liu Lu Sian, menikah lagi dan mempunyai dua orang anak. Pertama
adalah Kam Bu Sin yang kini menjadi mantu dari ketua Beng-kauw yang baru dan bersama istrinya tinggal
di selatan. Ada pun yang kedua adalah Kam Sian Eng, seorang anak perempuan yang cantik. Sayang
sekali bahwa, seperti juga halnya Ratu Yalina, Kam Sian Eng ini gagal dalam asmara dan mengalami
penderitaan batin yang lebih parah lagi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Gadis yang bernasib malang ini telah menjatuhkan cinta kasihnya kepada seorang laki-laki yang jahat,
putera pangeran dan bernama Suma Boan. Dapat dibayangkan betapa hancur hatinya ketika Kam Sian
Eng akhirnya mendapat kenyataan betapa laki-laki yang dicintainya itu membalasnya dengan kekejian,
bahkan memperkosanya. Kehancuran cinta kasih yang diinjak-injak oleh kekasihnya ini membuat Kam
Sian Eng menjadi tertekan batinnya yang membuatnya seperti gila! (Baca cerita CINTA BERNODA
DARAH)
Secara kebetulan Kam Sian Eng menemukan kitab-kitab pusaka peninggalan Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian
(Ibu kandung Suling Emas) dalam istana bawah tanah. Dalam keadaan setengah gila ia mempelajari
semua kitab-kitab itu setelah berhasil membunuh Suma Boan bekas kekasihnya itu. Ia menyembunyikan
diri dan tekun mempelajari kitab-kitab pusaka, yaitu kitab-kitab pusaka yang dahulu dicuri dari partai-partai
persilatan besar oleh Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian.
Tentu saja Kam Sian Eng yang memang tadinya sudah memiliki dasar-dasar ilmu silat tinggi, makin lama
menjadi makin hebat kepandaiannya sehingga sukar untuk di bayangkan lagi. Hebat dan juga mengerikan
karena pikirannya yang setengah gila itu membuat ia kadang-kadang mempelajari ilmu kesaktian secara
keliru yang akibatnya membuatnya menciptakan ilmu-ilmu yang dahsyat seperti ilmu iblis!
Wanita aneh yang muncul di Khitan dan menculik anak perempuan Ratu Yalina itu bukan lain adalah Kam
Sian Eng! Tadinya, selagi pikirannya waras dan ia terkenang kepada adik angkatnya di Khitan, Kam Sian
Eng bermaksud mengunjungi adiknya yang kini menjadi ratu itu. Secara kebetulan sekali ia tiba di Khitan
pada malam hari dan dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi ia memasuki istana. Alangkah herannya
ketika ia melihat betapa dalam kamar rahasia itu adik angkatnya yang menjadi Ratu Khitan sedang
melahirkan!
Bagaikan disambar petir rasa hati Kam Sian Eng. Dengan air mata bercucuran ia melihat keadaan adik
angkatnya dari tempat sembunyinya di atas genteng. Terbayanglah ia akan pengalamannya sendiri.
Seperti adik angkatnya ini, ia pun pernah melahirkan anak tanpa ayah! Perbuatan Suma Boan terhadap
dirinya telah membuatnya mengandung. Inilah sebetulnya yang membuat batinnya tertekan, membuat ia
menjadi makin gila, membuat ia menyembunyikan diri dari dunia ramai, seorang diri di dalam istana bawah
tanah. Di situ pula ia seorang diri melahirkan seorang anak laki-laki!
Hal itu telah terjadi setahun yang lalu. Dan untuk merawat anaknya terpaksa ia pergi menculik seorang
wanita yang mempunyai anak kecil dan memaksa wanita itu untuk selamanya tinggal di dalam istana
bawah tanah untuk menyusui dan merawat anaknya! Sukarlah untuk diceritakan betapa sedih hati ibu
muda yang diculik itu. Ia dipaksa iblis betina itu bercerai dari anaknya yang baru berusia dua bulan, untuk
dikeram dan hidup di bawah tanah! Akan tetapi Kam Sian Eng bersikap baik kepadanya dan anak kecil
yang mungil itu pun sedikit banyak menghibur hatinya, menjadi pengganti anaknya sendiri, seorang anak
laki-laki yang entah kapan dapat ia lihat kembali.
Kenangan yang pahit itu membuat penyakit gila Sian Eng kambuh pada saat ia mengintai di kamar Ratu
Yalina. Ia mendengarkan semua percakapan, kemudian membatalkan pertemuannya dengan Ratu Yalina
dan mengikuti nenek dukun beranak, membunuhnya dan menculik anak perempuan adik angkatnya! Ia
sama sekali tidak peduli bahwa perbuatannya ini tentu akan menghancurkan hati Yalina yang kehilangan
seorang di antara anak kembarnya!
Dapat dibayangkan betapa kaget dan heran hati ibu muda yang merawat anak Kam Sian Eng ketika pada
hari itu wanita yang dianggapnya iblis betina, amat ditakuti akan tetapi diam-diam juga amat dikasihinya itu
tiba-tiba pulang membawa seorang anak perempuan yang masih merah kulitnya!
“Ya Tuhan! Kouwnio (Nona), apa pula yang kau lakukan ini? Anak siapa ini? Mana ibunya...?” wanita itu
berseru sambil membelalakkan matanya. Bahkan Suma Kiat, anak laki-laki berusia setahun yang
digendongnya juga memandang dengan mata terbelalak kepada bayi yang dipondong ibunya.
Kam Sian Eng tertawa. Berhadapan dengan orang luar, wanita ini tidak pernah tertawa, akan tetapi
terhadap wanita yang diculik dan dipaksanya merawat anaknya itu ia bersikap seperti saudara. Hal ini tidak
mengherankan oleh karena memang hanya Phang Bi Li, ibu muda inilah yang menjadi temannya di dalam
tempat rahasia di bawah tanah.
“Hi-hik! Enci Bi Li, kau kubawakan seorang keponakan baru, seorang bayi perempuan yang mungil untuk
menjadi teman bermain Kiat-ji (Anak Kiat) kelak. Kau lihat, lucu dan mungil, bukan? Namanya... hemm,
coba kucarikan yang baik... Kwi Lan, ya... Kwi Lan. Kam Kwi Lan. Hi-hi-hik!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Wanita itu segera menerima anak perempuan tadi dari tangan Sian Eng. Memang benar, anak itu mungil
dan cantik sekali. Phang Bi Li menahan isak teringat akan anaknya sendiri yang ditinggalkan dalam usia
dua bulan! Segera Kwi Lan, anak itu merampas hatinya dan dirawatnya penuh cinta kasih seperti anaknya
sendiri. Juga Kam Sian Eng biar pun kadang-kadang kumat gilanya, tak pernah lupa akan segala
keperluan Kwi Lan sehingga karena Bi Li sudah tidak menyusui Kiat-ji lagi, wanita aneh itu lalu merampas
lembu betina, dibawa masuk ke dalam istana bawah tanah dan dipelihara untuk diambil air susunya.
Karena tempat persembunyian itu merupakan gudang pusaka-pusaka berupa kitab pelajaran pelbagai ilmu
silat yang tinggi dan aneh-aneh, maka kedua anak itu, Kiat-ji dan Kwi Lan, semenjak kecil digembleng oleh
Kam Sian Eng. Bahkan Bi Li, wanita dusun yang tadinya hanya seorang wanita muda yang lemah, karena
setiap hari berkumpul dengan Sian Eng, mulai pula memperhatikan dan belajar ilmu silat!
Setelah dua orang anak itu mulai besar, berusia sepuluh tahun, Phang Bi Li menyatakan kekhawatirannya.
“Sian-kouwnio, aku tidak peduli kalau kau akan mengeram dirimu selama hidup dalam gedung kuburan ini!
Juga aku tidak memikirkan lagi diriku sendiri yang sudah kau paksa tinggal bersamamu di sini. Aku anggap
diriku sudah mati seperti engkau sendiri mati dari dunia luar. Akan tetapi, engkau harus ingat kepada
puteramu! Juga harus ingat kepada Kwi Lan. Dua orang anak itu, anak-anak yang tidak punya dosa, yang
tidak tahu apa-apa, mengapa hendak kau kubur hidup-hidup di tempat ini? Mereka berhak menikmati hidup
di atas tanah di dunia ramai seperti semua anak lain di dunia ini !”
“Hik-hik, engkau salah besar, Enci Bi Li! Tempat ini aman tentram, penuh damai dan di sini kita tidak usah
mengkhawatirkan apa-apa. Sekali kita muncul di atas tanah dan bertemu dengan orang, akan timbullah
keributan dan mala-petaka. Bergaul dengan manusia di dunia ramai berarti terjun ke dalam jurang penuh
keributan dan penderitaan!” Setelah berkata demikian, tiba-tiba Sian Eng menangis tersedu-sedu dan tidak
mau bicara lagi kepada Bi Li!
Akan tetapi, berbulan-bulan lamanya Bi Li tidak pernah bosan untuk membujuk dan membujuk lagi. Apa
yang keluar dari mulut wanita ini memang sesungguhnya suara yang keluar dari hatinya. Ia sudah putus
asa untuk dirinya sendiri. Ia sudah tidak ingin bertemu dengan keluarganya, karena oleh suami
dan keluarganya tentu ia dianggap seorang wanita durjana yang meninggalkan anak yang masih kecil.
Selain itu ia pun, amat mencintai Kwi Lan yang dianggapnya anak sendiri. Ia tidak suka kepada Suma Kiat
sungguh pun ketika masih kecil anak itu menyusu padanya. Anak ini amat nakal.
“Tidak! Aku tidak sudi hidup di atas tanah bergaul dengan dunia ramai yang palsu dan keji!” Sian Eng
berkali-kali menjerit marah kalau dibujuk oleh Bi Li.
“Kalau kau tidak mau aku pun tidak memaksa atau menyuruhmu keluar dari kuburan ini Sian-kouwnio. Aku
hanya menuntut untuk dua orang anak itu. Kenapa engkau begini angkuh? Kalau kita membuat bangunan
sederhana di atas kuburan ini, dan membiarkan dua orang anak ini hidup di udara bebas, dan engkau
sendiri sembunyi di sini, bukankah bagimu sama juga? Kalau kau ingin bertemu dengan kami bertiga
tinggal panggil saja dan kami tentu sewaktu-waktu akan turun ke sini. Sian-kouwnio, biar pun engkau tidak
pernah bercerita aku tahu bahwa engkau adalah seorang wanita sakti keturunan orang gagah yang
berkedudukan tinggi. Aku dapat menduga bahwa dahulu kau telah mengalami tekanan batin dan menderita
patah hati. Akan tetapi, mengapa karena itu engkau lalu hendak menghukum puteramu sendiri dan Kwi Lan
yang tidak dosa?”
Akhirnya dibujuk oleh Bi Li yang diperkuat oleh kedua anak itu yang selalu rewel minta diperbolehkan
melihat keadaan di luar, terpaksa Sian Eng mengalah.
“Akan tetapi aku pesan, tidak boleh kalian meninggalkan hutan di atas istana ini. Kalau melanggar aku
takkan mengampuni nyawa kalian. Biar Kiat Ji sendiri akan kubunuh mampus kalau berani melanggar!”
ancamnya dengan suara bengis dan mata bersinar ganas.
Akan tetapi ancaman yang akan membuat orang lain merasa ngeri ini seperti tidak didengar oleh Phang Bi
Li, Suma Kiat dan Kwi Lan. Mereka bertiga sudah menjadi girang sekali. Segera mereka dibantu pula oleh
Sian Eng yang masih terus mengomel sepanjang hari keluar dari pintu rahasia dan mulai membangun
sebuah pondok sederhana di dalam hutan di atas istana bawah tanah itu.
Cara Kam Sian Eng menggembleng ilmu silat kepada dua orang anak itu amat luar biasa. Mula-mula ia
mengajarkan dasar-dasar ilmu silat di samping mengajar ilmu membaca. Setelah kedua orang anak itu
berusia sepuluh tahun dan pandai membaca, ia menyuruh mereka membaca kitab-kitab pusaka yang berisi
dunia-kangouw.blogspot.com
ilmu-ilmu silat tinggi peninggalan Tok-siauw-kwi. Kitab-kitab ini adalah kitab-kitab rahasia yang berisi dan
mengandung pelajaran pelik dan gawat, bukan ilmu silat biasa.
Tentu saja kedua orang anak itu, terutama sekali Suma Kiat yang otaknya tidak begitu cerdas, amat sukar
menyelami isinya. Dan celakanya, ketika mereka bertanya kepada Sian Eng, mereka mendapat penjelasan
yang sebenarnya menyimpang dari pada pelajaran sesungguhnya. Sian Eng sendiri melatih diri dengan
ilmu-ilmu silat tinggi secara keliru sehingga ilmu silat tinggi yang diciptakan orang-orang sakti itu berubah
menjadi ilmu dahsyat seperti ilmu ciptaan iblis sendiri!
Dengan bekal ilmu pengetahuan yang amat kurang ditambah sukar dan tingginya isi kitab-kitab pusaka,
kemudian digembleng oleh seorang yang sudah sesat ilmunya seperti Kam Sian Eng, tentu saja kedua
orang anak itu pun menjadi pelajar-pelajar ilmu sesat. Namun karena mereka memang berbakat, mereka
berhasil memiliki ilmu-ilmu yang amat hebat dan mengerikan.
Diam-diam Kam Sian Eng merasa kagum kepada Kwi Lan. Anak ini amat cerdas, jauh lebih cerdas dari
pada puteranya sendiri. Kwi Lan mempunyai watak haus akan pelajaran, tidak takut akan kesukaran
sehingga di antara kitab-kitab pusaka itu, Kwi Lan memilih yang sukar-sukar. Justru sifat kitab-kitab pusaka
itu, makin sukar dimengerti, makin sukar dipelajari, makin tinggilah mutunya! Juga Kwi Lan amat tekun
berlatih sehingga Suma Kiat yang usianya setahun lebih tua itu tertinggal olehnya.
Semenjak Kwi Lan pandai bicara, Sian Eng menyuruh anak itu menyebut bibi kepadanya. Karena kurang
pergaulan dengan anak-anak lain, ketika masih kecil Kwi Lan tidak dapat membedakan mengapa Suma
Kiat yang ia sebut suheng (kakak seperguruan) itu menyebut ibu sedangkan ia sendiri menyebut bibi
kepada wanita yang ia anggap sebagai orang paling baik di dunia ini setelah Bibi Bi Li. Memang Phang Bi
Li amat kasih kepada Kwi Lan, menganggap anak itu anak kandungnya sendiri. Akan tetapi Sian Eng juga
amat baik terhadapnya. Biar pun wataknya kadang-kadang aneh, namun terhadap Kwi Lan ia tidak pernah
marah-marah.
Ketika Kwi Lan berusia dua belas tahun dan sudah dua tahun lamanya tinggal di pondok di atas
tanah, mulailah Kwi Lan melihat perbedaan-perbedaan. Mulailah ia bertanya-tanya kepada Bi Li tentang
perbedaan-perbedaan itu.
“Bibi, kenapa Kiat-suheng menyebut Ibu kepada Bibi Sian?” demikian tanyanya pada suatu sore ketika
mereka berdua pergi memetik bunga dalam hutan. Ketika itu Suma Kiat turun ke bawah karena dipanggil
ibunya.
“Kenapa? Ah, Lan Lan, alangkah anehnya pertanyaanmu ini. Tentu saja karena Kiat-ji memang anaknya!”
Karena tidak kuasa menyelami hati dan pikiran Kwi Lan, maka Bi Li menganggap pertanyaan itu wajarwajar
saja tetapi bodoh.
Kwi Lan masih tetap membantu Bi Li memilih dan memetik bunga.
“Kalau aku, kenapa aku harus menyebut Bibi Sian kepadanya?”
Masih tidak sadar akan nada suara aneh dalam pertanyaan ini, Bi Li menjawab, “Anak bodoh, tentu saja
engkau menyebut Bibi karena engkau bukan anaknya.”
Kwi Lan menggigit bibirnya yang tiba-tiba gemetar. Setelah menekan hatinya, ia berkata lagi. “Bibi Bi Li,
kau dulu pernah bilang, ketika Kiat-suheng bertanya padamu tentang ayahnya, dia boleh bertanya sendiri
kepada Bibi Sian. Tapi Bibi Sian marah-marah ketika ditanya dan memaki-maki, bilang bahwa ayah Kiatsuheng
sudah mampus. Kemudian Bibi Sian menangis menggerung-gerung. Semenjak itu, Kiat-suheng
tidak berani bertanya-tanya lagi tentang ayahnya. Bibi, benarkah bahwa ayah Kiat-suheng telah mati?”
Bi Li mengerutkan keningnya, lalu berkata sambil menarik napas panjang, “Bibi Sian-mu itu memang aneh.
Aku sendiri tidak tahu. Akan tetapi kalau dia bilang demikian, agaknya memang benar bahwa ayah Kiat-ji
telah meninggal dunia.”
Hening sejenak dan mereka melanjutkan pekerjaan memetik bunga.
“Bibi Bi Li... kalau... Ayah dan Ibuku... siapakah mereka? Di mana mereka...?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Bi Li tersentak kaget bagaikan disengat lebah. Cepat ia menoleh dan melihat betapa wajah Kwi Lan
menjadi pucat, sepasang matanya memandang tajam kepadanya, bibirnya yang pucat menggigil dan anak
itu hampir menangis! Barulah tahu Bi Li bahwa sejak tadi, terjadi hal-hal yang hebat dalam hati dan pikiran
anak yang amat disayangnya itu. Baru terbuka matanya bahwa anak ini mulai mengerti dan mencari ayah
bundanya. Ia menjadi terharu, mengeluh perlahan lalu merangkul Kwi Lan. Tak tertahan lagi air matanya
menetes-netes ketika ia mencium pipi Kwi Lan dan menariknya duduk di atas rumput.
“Lan Lan, Anakku sayang... kau... kau... adalah anakku, Lan Lan.”
Kwi Lan balas pelukan dan ciuman wanita yang semenjak ia kecil telah merawatnya penuh kasih sayang
itu. Kemudian ia berkata, ada suaranya mendesak. “Bibi Bi Li, kalau engkau ibuku, mengapa selama ini
aku dibohongi? Dan kalau benar aku anak kandungmu, mengapa aku tidak menyebut Ibu, melainkan Bibi
kepadamu? Bibi Bi Li, harap jangan membohongi aku lagi, aku sudah besar dan dapat membedakan
kebohongan atau bukan. Bibi, katakanlah, siapakah ayah bundaku dan di mana mereka sekarang?
Mengapa aku bisa terpisah dari mereka dan berada di sini?”
Tiba-tiba Bi Li menangis sedih. Teringat ia akan keadaannya sendiri. Dia sendiri dipaksa berpisah dari
suaminya dan dari anaknya yang baru berusia dua bulan! Sedangkan Kwi Lan ini dibawa datang oleh Sian
Eng sejak masih bayi, agaknya dipaksa berpisah dari ibu kandungnya!
“Aku tidak tahu, Anakku... Aku sendiri sama sekali tidak tahu tentang dirimu sedangkan aku sendiri pun
dipaksa berpisah dari suami dan anak....”
Kwi Lan tercengang. Ia merangkul wanita itu dan bertanya “Apa yang terjadi, Bibi?”
Setelah mengeringkan air mata dan berkali-kali menghela napas, Bi Li lalu bercerita. “Suamiku seorang
penebang pohon dan kami hidup bahagia di dalam dusun. Ketika itu baru dua bulan aku melahirkan
seorang anak laki-laki. Pagi hari itu, selagi suamiku pergi menebang pohon datang Sian-kouwnio
menangkap dan membawaku pergi meninggalkan anakku dibawa ke sini... sampai sekarang....”
“Apa...?” Kwi Lan membelalakkan matanya yang jeli. “Mengapa...?”
Bi Li tersenyum pahit. “Untuk merawat dan menyusui Kiat-ji.”
“Anak kandungnya sendiri? Mengapa? Mengapa harus engkau yang menyusuinya, Bibi?”
Bi Li menggeleng-geleng kepalanya. “Entahlah. Selamanya Bibimu Sian itu seorang aneh luar biasa. Klat-ji
memang anak kandungnya, akan tetapi ia menyuruh aku menyusui dan merawatnya. Ahhh, nasibku sama
dengan si Belang....“
Kwi Lan makin heran. Si Belang adalah nama lembu betina yang dipelihara di bawah tanah dan sekarang
sudah sangat tua.
“Apa maksudmu, Bibi Bi Li?”
Dengan senyum pahit di bibir, Bi Li menjawab, “Aku dipaksa ke sini untuk menyusui Kiat-ji, sedangkan si
Belang dipaksa ke sini untuk menyusui engkau, Kwi Lan. Setahun setelah aku berada di sini, si Belang
didatangkan oleh Sian-kouwnio untuk diambil air susunya untukmu.”
“Dan... aku... dari manakah aku, Bibi...?” Wajah Kwi Lan pucat dan suaranya mengandung isak.
“Aku tidak tahu, Anakku. Aku tidak tahu apa-apa.”
Tiba-tiba Kwi Lan menjatuhkan semua kembang yang dipegangnya. Kini wajahnya menjadi merah,
matanya mengeluarkan kilat dan kedua tangannya yang kecil dikepal. Wajahnya yang cantik mungil itu kini
nampak beringas mengancam.
“Kalau begitu Bibi Sian jahat sekali! Kau dipaksa berpisah dari suami dan anak, sedangkan aku dipaksa
berpisah dari Ayah dan Ibu! Sekarang juga aku akan bertanya kepadanya, Bibi. Dia harus memberi
keterangan sejelasnya!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ssttt, anak bodoh, apa yang hendak kau lakukan ini?” Bi Li memeluknya erat-erat dengan wajah penuh
kekhawatiran. “Apakah engkau masih belum melihat betapa Bibimu Sian itu seorang yang amat luar biasa
wataknya? Kau tidak boleh bertanya apa-apa kepadanya, tidak boleh membikin susah atau marah
kepadanya.”
“Mengapa tidak boleh, Bibi?” Kwi Lan bertanya kecewa, akan tetapi mulai membayang pula di hatinya kini
rasa takut dan jeri terhadap bibinya yang selalu bersembunyi di bawah tanah itu.
“Kwi Lan, apa pun juga yang telah terjadi dengan kita, namun engkau sendiri tentu telah merasa betapa
baiknya sikap Sian-kouwnio terhadap kita. Segala kebutuhan kita dicukupi, bahkan engkau dianggap
seperti anak sendiri, dirawat dan dididik tiada bedanya dengan Kiat-ji, putera kandungnya. Aku pun telah
mendapat perlakuan yang amat baik sehingga harus kuakui bahwa keadaan hidupku di sini jauh lebih baik
dari pada ketika masih tinggal di dusun yang kadang-kadang menderita kurang makan. Makan pakaian
cukup, aku pun diberi kebebasan, dan bahkan dilatih ilmu silat. Karena kebaikannya yang ia limpahkan
kepada kita inilah maka sekali-kali kita tidak boleh membikin susah hatinya. Aku tahu, dibalik keadaannya
yang serba aneh luar biasa itu, tersembunyi penderitaan batin yang amat hebat pada diri Sian-kouwnio. Ia
patut dikasihani. Agaknya ia menculik kita berdua bukan karena jahat, melainkan terpaksa. Ia menculikku
karena ia membutuhkan air susuku untuk memelihara puteranya. Kemudian ia menculikmu karena...
agaknya, dia ingin puteranya mendapatkan teman bermain-main.”
“Tapi ia tidak peduli betapa anak kandungmu sendiri kehilangan Ibu, dan betapa ayah bundaku kehilangan
anak!” Kwi Lan membantah.
“Benar, akan tetapi memang demikianlah watak sebagian besar manusia. Kepentingan sendiri selalu
menutupi kepentingan lain orang.” Bi Li menarik napas panjang. “Kita pun tidak boleh membikin marah
kepadanya, karena dia seorang aneh luar biasa, kalau sekali ia marah, agaknya ia tidak akan segan-segan
untuk sekali turun tangan membunuh kita berdua!” Bi Li bergidik ngeri.
Akan tetapi Kwi Lan sama sekali tidak merasa takut, bahkan bertanya dengan suara menuntut. “Bibi, kalau
kau melarang aku membikin susah dan membikin marah Bibi Sian, habis apakah aku harus tinggal diam
saja dipaksa berpisah dari Ayah Bunda kandungku?” Kini Kwi Lan tidak menangis lagi karena kemarahan
memenuhi hatinya.
Bi Li memeluknya dan mengelus-elus rambutnya. “Anakku yang baik, sama sekali bukan begitu maksudku.
Kau harus bersabar, Anakku. Kau tahu bahwa yang tahu akan rahasia dirimu hanyalah Sian-kouwnio
seorang. Hanya dari dialah engkau akan dapat mengetahui siapa ayah bundamu. Karena itu, engkau harus
bersabar. Kalau sekarang kau tanyakan hal itu kepadanya dan dia tidak mau mengaku malah marah,
engkau akan bisa berbuat apakah? Jangan-jangan engkau malah akan dibunuhnya! Lebih baik engkau
tekun belajar, memperdalam kepandaianmu karena kepandaian silat itu merupakan bekalmu kelak kalau
Sian-kouwnio tidak mau mengaku, untuk kau pakai mencari sendiri orang tuamu.”
Terbukanya rahasia tentang keadaan dirinya inilah yang membuat Kwi Lan, makin tekun dan giat belajar.
Dia seorang gadis yang keras hati, yang tahan menderita. Biar pun setiap saat pertanyaan tentang ayah
ibunya sudah berada di ujung lidah, namun ia dapat selalu menekan dan menelannya kembali, tidak mau
bertanya akan hal itu kepada Sian Eng yang makin lama menjadi makin kagum saja akan keadaan
keponakan dan muridnya ini.
Semua kitab simpanan ‘dilalap’ habis oleh Kwi Lan, bahkan kitab-kitab yang oleh Sian Eng sendiri kurang
dimengerti. oleh Kwi Lan dihafal di luar kepala! Memang seolah-olah tidak ada gunanya baginya, karena
tidak ada yang menerangkan artinya, juga Sian Eng tidak mengerti. namun Kwi Lan menghafalnya di luar
kepala dengan keyakinan bahwa kelak tentu ada gunanya. Dalam hal kemajuan ilmu silat, Suma Kiat
tertinggal jauh oleh Kwi Lan sehingga kadang-kadang Sian Eng merenung seorang diri.
“Tidak aneh! Kwi Lan keturunan seorang sakti seperti Suling Emas, sedangkan Kiat-ji anak bajingan
macam Suma Boan!” Lalu ia menangis seorang diri, menangisi kematian Suma Boan, putera pangeran
yang amat dikasihinya, juga amat dibencinya sehingga kedua tangannya sendirilah yang membunuh Suma
Boan.
Dua tahun kemudian, ketika Kwi Lan telah berusia empat belas tahun, pada suatu pagi gadis cilik ini
bersama Phang Bi Li mencari kembang seperti dua tahun yang lalu di dalam hutan, tidak jauh dari pondok
mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bagaimana kalau sekarang aku bertanya kepada Bibi Sian tentang orang tuaku, Bibi Bi Li?”
Bi Li menggeleng kepala. “Belum waktunya, Kwi Lan. Sedikitnya lima tahun lagi, kalau engkau sudah betulbetul
kuat, baru kau boleh bertanya.”
Selagi Kwi Lan hendak bicara lagi, tiba-tiba Bi Li memandangnya dan menaruh telunjuk di bibir. “Ssshh,
tidakkah kau mendengar sesuatu?”
Kwi Lan mendengarkan penuh perhatian. “Ada orang bertempur...!” akhirnya ia berkata.
Bi Li mengangguk. “Agaknya tidak jauh dari sini. Mari kita lihat, akan tetapi kita harus bersembunyi.”
Berlari-larianlah mereka ke arah suara beradunya senjata tajam. Tak lama kemudian sampailah mereka ke
tempat bertempur tadi, di pinggir hutan. Mereka bersembunyi di balik pohon-pohon sambil mengintai.
Kiranya yang bertanding itu adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, berpakaian
penuh tambalan dan amat butut seperti seorang jembel yang miskin sekali. Laki-laki ini sedang melawan
pengeroyokan empat orang lain yang pakaiannya juga penuh tambalan. Hanya bedanya, kalau orang
pertama yang dikeroyok itu pakaiannya butut dan kotor, adalah pakaian empat orang yang mengeroyok ini,
biar pun penuh tambalan, namun amat bersih dan tambalannya juga berkembang-kembang.
Ilmu kepandaian pengemis butut itu lumayan, demikian pikir Kwi Lan yang menonton. Senjatanya hanya
sebatang tongkat, akan tetapi gerakannya gesit dan tenaganya besar. Betapa pun juga, menghadapi
pengeroyokan empat orang pengemis bersih ia nampak repot.
Empat orang lawannya itu memegang tongkat yang lebih besar dan panjang. Biar pun gerakan mereka
tidak secepat gerakan si Pengemis butut, namun ilmu silat mereka lihai dan tenaga mereka tidak kalah
besarnya. Selain ini, tempat pertandingan itu dikurung oleh belasan orang pengemis baju bersih yang
bersorak menjagoi empat orang kawan mereka dan mengejek si Pengemis baju butut.
Agaknya pertandingan itu sudah berlangsung cukup lama dan tampak betapa pengemis berpakaian butut
itu sudah payah. Tubuhnya penuh luka-luka, napasnya sudah terengah-engah dan wajahnya pucat. Namun
masih terus melawan penuh semangat.
“Aiihhh...!”
Seruan ini mengagetkan hati Kwi Lan. Ketika menoleh ke kiri, ia melihat betapa Bi Li memandang dengan
mata terbelalak dan muka pucat sekali ke arah pertempuran. Kemudian nyonya itu meloncat ke depan
bagaikan seekor harimau betina, langsung menerjang tempat pertandingan dan begitu kaki tangannya
bergerak, empat orang pengeroyok itu terlempar ke empat jurusan. Phang Bi Li cepat menghadapi
pengemis baju butut itu sambil berseru, suaranya gugup.
“Kau... kau... bukankah engkau Tang Sun...?”
Pengemis baju butut itu terhuyung-huyung saking lelahnya, mengeluh panjang ketika memandang Bi Li,
kemudian berkata lemah. “Bi Li...! Kau... Bi Li...? Ah, tidak mungkin...”
Sepasang mata Bi Li sudah bercucuran air mata. “Aku betul Bi Li isterimu!”
Pengemis itu terbelalak memandang, napasnya serasa terhenti. “Bi Li...? Aduh... Hauw Lam... Hauw Lam...
di manakah engkau...? Ini Ibumu, Nak...!” Pengemis bernama Tang Sun itu terguling dan roboh pingsan!
Untung Bi Li cepat meloncat dan menubruknya sehingga ia tidak sampai terbanting. Akan tetapi alangkah
kaget hati Bi Li ketika melihat dia ternyata telah terluka hebat, bahkan tulang iganya ada yang patah-patah.
Kiranya laki-laki yang ternyata adalah suaminya ini tadi melakukan perlawanan mati-matian dan nekat
dalam keadaan terluka parah mendekati mati! Cepat ia merebahkan suaminya, memanggil-manggil
namanya dan menangis.
Sementara itu, sejenak para pengemis baju bersih yang belasan orang jumlahnya tercengang menyaksikan
betapa sekali bergerak, wanita setengah tua itu telah membuat empat orang kawan mereka terlempar dan
jatuh terbanting tidak mampu bangkit lagi, hanya mengaduh-aduh karena tulang lengan dan kaki mereka
dunia-kangouw.blogspot.com
patah-patah! Kini melihat betapa pengemis baju butut roboh pingsan dan wanita itu berlutut menangis,
timbul kegarangan mereka.
“Perempuan liar dari mana berani mengganggu kami?” bentak seorang di antara mereka yang bermuka
bopeng koban penyakit cacar. “Hayo hajar dia!” perintah Si Muka Bopeng ini dengan suara keras.
Enam orang pengemis yang tubuhnya tinggi besar dan agaknya menjadi jagoan mereka di samping empat
orang pengeroyok yang sudah roboh oleh Bi Li, kini menerjang maju dengan senjata mereka yang sama,
yaitu tongkat sebesar lengan setinggi orang.
Saat itulah Kwi Lan turun tangan. Sekali menggerakkan kakinya, ia telah melompat dan bukan main
kagetnya enam orang pengemis tinggi besar melihat bayangan berkelebat seperti seekor burung terbang
dan tahu-tahu seorang gadis remaja yang cantik jelita telah berdiri di depan mereka sambil bertolak
pinggang! Akan tetapi setelah melihat bahwa yang muncul menghadang hanyalah seorang gadis cilik
belum dewasa dan bertangan kosong pula, mereka memandang rendah dan tertawa.
“Ho-ho-ha-ha! Cucuku yang mungil. Minggirlah, Engkong-mu (Kakekmu) tidak ada waktu untuk
melayanimu,” teriak seorang di antara mereka yang kepalanya gundul.
“Eh, Nona cilik yang manis. Apakah engkau menantang berpacaran? Minggirlah lebih dulu, tunggu kalau
aku selesai membikin mampus anjing betina tua itu, baru aku layani kau, heh-heh-heh!” kata seorang
pengemis tinggi bermuka hitam.
Kwi Lan semenjak kecil berwatak riang gembira, jenaka dan pandai bicara. Hal ini diketahui baik oleh
Phang Bi Li, apa lagi oleh Suma Kiat yang selalu kalah berdebat. Dan hanya di depan Sian Eng saja gadis
ini tunduk dan berubah pendiam. Kini menghadapi orang-orang yang menimbulkan kemarahan di hatinya
itu, muncul pula sikapnya yang ugal-ugalan. Sambil tersenyum mengejek ia berkata.
“Wah, kalian ini sekumpulan monyet tua tidak tahu malu, berhati palsu, curang dan selayaknya dihajar!
Melihat pakaian kalian, jelas bukan orang miskin, akan tetapi sengaja ditambal-tambal biar dianggap
pengemis. Ini tandanya kalian bukan pengemis karena keadaan melainkan orang-orang berjiwa pengemis!
Lalu mengandalkan jumlah banyak mengeroyok orang malah menghina wanita, ini tandanya kalian
berwatak rendah, hina, dan curang! Paling akhir, pandang mata dan ucapan-ucapan kalian tadi
menandakan bahwa kalian bersifat kurang ajar, tak tahu sopan santun, maka kalian sudah sepatutnya
diberi hajaran biar kapok!”
“Mengapa melayani mulut seorang anak nakal? Tangkap dulu dia, kita bawa pulang!” teriak si Muka
Bopeng yang tertarik melihat kelucuan dan kecantikan Kwi Lan, juga berbareng mendongkol karena enam
orang anak buahnya dijadikan bahan mainan gadis cilik itu.
Serentak enam orang pengemis tinggi besar itu menerjang Kwi Lan. Mereka seperti berlomba, hampir
berbareng tangan mereka diulur dan menubruk untuk menangkap Kwi Lan. Karena perintah kepala mereka
bukan membunuh melainkan menangkap, pula karena mereka sendiri pun tidak ingin membunuh gadis cilik
yang cantik ini, maka mereka tidak menggunakan tongkat untuk menerjang. Hal ini amatlah
menguntungkan, bukan bagi Kwi Lan melainkan bagi enam orang pengemis itu sendiri! Karena sedangkan
penyerangan dengan tangan kosong mereka itu saja sudah mendatangkan akibat yang hebat, apa lagi
kalau mereka menggunakan senjata, tak terbayangkan betapa hebat akibatnya.
Penyerangan itu bertubi-tubi datangnya, saling susul. Akan tetapi, begitu ada tangan menjangkau ke
arahnya, Kwi Lan hanya bergerak sedikit, menyambut dengan tangannya sendiri yang kecil dan....
“Plaakk!” tangan yang besar ini membalik dan menghantam muka si Penyerang sendiri.
“Plakk...! Aduhh...!” terdengar suara susul-menyusul dan enam orang itu sudah terhuyung-huyung dan ada
pula yang roboh.
Mereka semua mengerang kesakitan karena yang paling ringan di antara mereka sudah remuk hidungnya,
terkena hantaman tangan sendiri yang secara aneh telah membalik. Lebih hebat adalah si Muka Hitam,
karena tangannya tadi terbuka jari-jarinya hendak mencengkeram dada si Gadis Cilik, ketika membalik
masih dalam keadaan mencengkeram dan tak dapat dicegah lagi, mata kirinya tertusuk jari tangannya
sehingga biji matanya tercongkel ke luar! Ada pun si Kepala Gundul, tepat kena hantaman kepalanya oleh
tangannya sendiri sehingga di kepalanya tumbuh tanduk dan ia roboh pingsan, agaknya mengalami gegar
dunia-kangouw.blogspot.com
otak! Yang lain-lain, sebagian besar kehilangan hidung, atau setidaknya yang hidungnya agak mancung
menjadi pesek karena ujungnya telah remuk berikut tulang muda batang hidungnya!
Semua pengemis baju bersih tertegun, apa lagi ketika mendengar gadis cilik itu berkata mengejek, “Baru
bisa mainkan sedikit ilmu silat Kong-thong-pai yang digerakkan secara ngawur saja kalian sudah sombong!
Benar-benar tak tahu malu!”
Si Muka Bopeng cepat melompat maju dengan tongkat melintang. Wajahnya yang bopeng menjadi merah
sekali dan diam-diam ia pun merasa heran. Tidak dapat disangkal lagi, ilmu silat yang dipelajari anak
buahnya memang ilmu silat Kong-thong-pai, karena dia adalah seorang murid pelarian dari Kong-thongpai.
Akan tetapi ilmu tongkat dan ilmu silatnya sudah terkenal, sukar dicari bandingnya dan karena itu pula
ia dipercaya oleh para pimpinan pengemis baju bersih untuk memimpin pasukan pengemis di daerah itu,
mengepalai pasukan pengemis lima puluh orang banyaknya. Sekarang bocah ini telah mengenal ilmu silat
anak buahnya, tidak hanya mengenal, malah mengejek!
“Eh, bocah bermulut lancang dan sombong! Kau tahu apa tentang Ilmu silat Kong-thong-pai?”
“Mengapa tidak tahu? Apa kau kira ilmu silat Kong-thong-pai yang paling hebat di muka bumi ini? Huh, ilmu
silat Kong-thong-pai tidak banyak ragamnya, tidak menang banyak dengan jumlah bopeng di mukamu.”
Saking marahnya, si Muka Bopeng mencak-mencak dan membanting tongkatnya sampai menancap
setengahnya di atas tanah. “Keparat aku murid Kong-thong-pai yang jagoan, tahu?”
Kwi Lan memang nakal. Ia membusungkan dada dan menghampiri tongkat itu. “Membanting tongkat
seperti itu apa susahnya? Aku pun bisa. Lihat!” Ia menggunakan tangan kanan menangkap sisa tongkat
yang tampak di atas tanah, diam-diam mengerahkan tenaga sakti, lalu mengangkat terus membanting.
“Krakk... cappp!” Tongkat itu ketika ia cabut telah patah di tengah-tengahnya, tepat di permukaan tanah,
kemudian ketika tongkat sepotong itu ia tancapkan, benda itu amblas ke dalam tanah tak tampak lagi!
Si Muka Bopeng melongo, juga anak buahnya berseru kaget. Hal ini membuat si Muka Bopeng marah
sekali. Sambil berseru keras ia menerjang dengan pukulan Serbu Masuk Goa Harimau. Pukulan ini keras
sekali dan mengarah dada Kwi Lan. Sebuah serangan keterlaluan bagi seorang laki-laki berusia empat
puluh tahun terhadap seorang gadis berusia empat belas tahun. Selain serangan maut, juga tidak sopan.
Akan tetapi Kwi Lan berseru sambil mengejek. “Wah, Cim-jip-houw-hiat (Serbu Masuk Goa Harimau) yang
buruk sekali!”
Ia pun cepat melakukan gerakan yang sama. Akan tetapi jurus yang sama ini ia lakukan dengan cara yang
jauh berlainan, hanya gayanya saja yang sama akan tetapi dasar dan isinya sudah berbeda jauh. Akan
tetapi hebat akibatnya, karena ketika kepalan tangan si Muka Bopeng itu bertemu dengan telapak tangan
Kwi Lan, mendadak si Muka Bopeng itu merasa betapa tenaga tangannya membalik dan kepalan
tangannya seakan-akan sudah tak dapat ia kuasai lagi dan menyambar ke arah dadanya sendiri! Persis
seperti yang dialami oleh enam orang anak buahnya tadi.
Akan tetapi ia cukup lihai. Secepat kilat ia menggunakan tangan kirinya menangkis tangan kanannya
sendiri sampai terdengar suara karena beradunya kedua lengan. Ia meringis kesakitan, wajahnya makin
merah. Jelas tadi ia melihat gadis cilik itu bergerak dalam jurus yang sama, akan tetapi mengapa amat
berbeda?
Memang tidak aneh sebetulnya. Seperti kita ketahui dari cerita SULING EMAS, mendiang Tok-siaw-kwi Liu
Lu Sian telah berhasil mencuri banyak sekali kitab-kitab ilmu silat dari pelbagai perguruan silat dan partaipartai
besar. Di antaranya ia telah mencuri pusaka Kong-thong-pai. Kemudian semua kitab pusakanya
terjatuh ke tangan Kam Sian Eng. Maka sebagai muridnya yang amat rajin, tentu saja Kwi Lan telah
mempelajari pula ilmu silat dari kitab Kong-thong-pai ini. Seperti juga dengan ilmu-ilmu silat lain, penjelasan
Sian Eng menyeleweng dari pada ilmunya yang benar, maka menjadi berbeda, bahkan ada yang terbalik
sama sekali!
Mengapa ilmu yang dipelajari terbalik dan menyeleweng ini malah mengatasi ilmu yang asli, yang telah
dipelajari oleh si Muka Bopeng? Hal itu pun tidak aneh. Biar pun telah mewarisi bermacam-macam ilmu
yang dipelajari secara menyeleweng, namun Sian Eng telah berhasil memiliki dan mencipta ilmu-ilmu yang
tinggi dan aneh sehingga menyerupai ilmu ciptaan iblis sendiri.
dunia-kangouw.blogspot.com
Muridnya Kwi Lan, memperoleh kepandaiannya dari Sian Eng, tentu saja juga mendapatkan pelajaran ilmu
menghimpun hawa sakti yang mukjijat. Hanya ketika sudah membaca kitab dan belajar sendiri kitab-kitab
itu, penafsirannya berbeda dengan penafsiran gurunya sehingga dalam ilmu-ilmu yang tinggi terdapat
perbedaan aneh di antara Kwi Lan, Suma Kiat, dan Sian Eng sendiri. Akan tetapi karena dasar-dasar
pelajaran lweekang, khikang dan sinkang diperoleh dari Sian Eng, maka dalam hal ini mereka bertiga
memiliki dasar yang sama. Dibandingkan dengan si Muka Bopeng, Kwi Lan jauh lebih menang tenaga
dalamnya, maka biar pun jurus yang ia mainkan itu tidak asli, namun jauh lebih ampuh!
Si Muka Bopeng kini telah menerjang lagi dengan kedua tangan terbuka jari-jarinya, karena ia bermaksud
menangkap gadis cilik ini untuk ditawan dan kelak dipaksa mengaku dari mana mempelajari ilmu silat
Kong-thong-pai yang berubah aneh itu dan pula, biar pun gadis itu masih terlalu muda setengah kanakkanak,
namun sudah kelihatan cantik manis sehingga hati si Muka Bopeng jadi tertarik.
Bagi Kwi Lan, serangan lawan yang kasar ini bukan apa-apa dan sama sekali ia tidak menjadi gentar,
malah tertawa mengejek. “Hi-hik, kau gunakan jurus Hek-houw-phok-sai (Macan Hitam Menubruk Tahi)?
Busuk dan bau sekali!” Gadis cilik yang nakal ini sengaja merubah nama jurus itu yang sebetulnya adalah
Hek-houw-phok-thouw (Macan Hitam Menubruk Kelinci).
Si Muka Bopeng mengeluarkan gerengan marah sambil menubruk, seperti seekor harimau tulen. Kwi Lan
sama sekali tidak mengelak, malah membarengi gerakan lawan dengan jurus yang sama, akan tetapi
diam-diam ia menyalurkan hawa sakti ke arah kedua telapak tangannya dan terciumlah ganda wangi
karena gadis cilik ini telah mempergunakan Ilmu Siang-tok-ciang (Tangan Racun Wangi).
Ilmu ini adalah ciptaan Sian Eng sendiri yang mempergunakan sari kembang beracun yang amat wangi
dan ketika berlatih ilmu ini, kedua telapak tangan digosok-gosok racun kembang ini sehingga hawa
beracun yang berbau harum masuk ke dalam kedua telapak tangan. Jika dalam keadaan biasa, kedua
telapak tangan tidak berbau harum dan racunnya juga tidak keluar, akan tetapi apa bila dipakai untuk
bertanding dan dari dalam dikerahkan lweekang ke arah kedua tangan, maka hawa yang wangi beracun itu
akan keluar dari telapak tangan.
Si Muka Bopeng menjadi girang melihat gadis cilik itu menyambut serangannya dengan jurus yang sama
dan memapaki kedua tangannya yang menubruk. Diam-diam ia mengerahkan tenaganya dan mukanya
menyeringai. Gadis cilik sombong ini tentu akan mudah ditawan kalau kedua tangannya dapat ia tangkap.
Bau wangi yang menyambar hidungnya tidak membuat si Muka Bopeng sadar, bahkan makin girang
mendapat kenyataan bahwa gadis cilik itu demikian wangi!
“Plak-plak!” kedua pasang tangan bertemu dan beradu telapak tangan.
Si Muka Bopeng mengeluarkan pekik aneh dan tubuhnya terlempar ke belakang, terbanting roboh
telentang dan tidak bergerak lagi. Kedua lengannya masih berkembang seperti akan menubruk, akan tetapi
lengan itu kaku dan telapak tangannya terdapat warna merah dan kebiruan, matanya mendelik napasnya
putus!
Sisa para pengemis baju bersih menjadi kaget dan jeri. Wanita setengah tua yang kini menangisi pengemis
baju butut tadi sudah hebat, kiranya gadis cilik ini lebih hebat lagi, dalam segebrakan mampu menewaskan
pimpinan rombongan mereka! Dengan ketakutan sembilan orang pengemis itu cepat menyeret temanteman
mereka yang luka dan mengangkut mayat si Muka Bopeng, lalu melarikan diri dari tempat itu sambil
sebentar-sebentar menoleh ketakutan melihat ke arah Kwi Lan yang tertawa-tawa sambil bertolak
pinggang!
Setelah semua pengemis pergi, Kwi Lan baru sadar akan suara Bi Li yang menangis terisak-isak. Ia cepat
membalikkan tubuh. Melihat Bi Li berlutut di depan pengemis baju butut yang dikeroyok tadi, ia cepat
menghampiri. Kini pengemis itu sudah bangkit duduk, bersandar pada batang pohon. Napasnya terengahengah,
kedua lengannya memeluk pundak Bi Li yang berlutut di depannya.
Melihat keadaan mereka, Kwi Lan menjadi heran bukan main, akan tetapi ia tidak mau bertanya karena
merasa jengah. Kenapa Bibi Bi Li mau dipeluk laki-laki jembel itu? Sebagai seorang gadis cilik yang belum
pernah menyaksikan orang berpelukan, ia tidak tahan untuk melihat lebih lama lagi, maka ia lalu
membalikkan tubuhnya membelakangi mereka. Akan tetapi ia mendengar suara mereka ketika mereka
bicara.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Suamiku... mana dia? Mana Hauw Lam anak kita...?” terdengar Bi Li berkata menahan isak.
Mendengar ini, Kwi Lan makin kaget. Suami? Jembel itu suami Bibi Bi Li? Rasa heran dan kaget membuat
ia kembali membalik dan memandang pengemis itu lebih teliti. Seorang laki-laki berusia empat puluh tahun
lebih, pakaiannya lapuk dan kotor, pakaian seorang jembel. Akan tetapi mukanya bersih terpelihara, muka
yang pucat karena menderita luka parah, namun masih membayangkan ketampanan laki-laki.
“Bi Li... isteriku, kenapa engkau meninggalkan aku? Kenapa engkau tega pergi meninggalkan kami,
suamimu dan anak kita? Apakah kesalahanku kepadamu sehingga engkau begitu kejam?” Suaranya ini
penuh pertanyaan, penuh tuntutan dan tangis Bi Li makin tersedu-sedu.
Di antara isak tangis, istri yang malang ini lalu bercerita dengan singkat betapa ia diculik dan dipaksa pergi
oleh Kam Sian Eng untuk menyusui dan merawat anaknya yang baru terlahir, menceritakan betapa Kam
Sian Eng adalah seorang yang berilmu tinggi dan betapa dia tidak berdaya.
“Demikianlah, Suamiku. Kuharap engkau suka mengampunkan aku, akan tetapi... sungguh aku tidak
berdaya... sampai sekarang pun aku tidak mungkin bisa pergi meninggalkan Sian-kouwnio...”
Laki-laki itu makin pucat, jelas ia menahan sakit sambil menggigit bibir. “Ah, engkau terluka hebat... mari
kubawa ke pondok kami, biar kuminta Kouwnio memberi obat kepadamu....“
“Tidak perlu lagi!” Laki-laki yang bernama Tang Sun itu, suami dari Phang Bi Li, mencegah sambil
mengangkat tangan, kemudian karena tidak tahan bersandar dan duduk, ia lalu merebahkan diri lagi,
dibantu isterinya. “Lukaku amat parah, kurasa ada perdarahan di dalam dadaku, sakit sekali... ougghh... tak
mungkin dapat diobati. Akan tetapi, terima kasih kepada Thian... mati pun aku tidak penasaran, sudah
dapat bertemu denganmu... tapi sayang... Hauw Lam... di mana engkau, Anakku...?”
Mendengar disebutnya nama anaknya, Bi Li lupa akan penderitaan suaminya yang sudah menghadapi
maut. Sambil memegang lengan suaminya ia berseru keras, “Dimana Hauw Lam? Dimana dia?”
Suara Tang Sun makin lemah, bahkan agak menggigil dan pelo, akan tetapi lancar dan tidak terputusputus
lagi. Perubahan ini tidak diketahui Bi Li yang amat ingin mendengar cerita tentang puteranya.
“Sepeninggalmu, kubawa dia pergi mencarimu dan hidup menderita. Ketika dia berusia lima tahun,
kuserahkan dia kepada ketua kelenteng di puncak gunung Kim-liong-san yang kutahu seorang berilmu
tinggi. Aku sendiri lalu melanjutkan perjalanan mencarimu, Bi Li, menempuh seribu satu macam
kesukaran!”
Cerita ini terputus sebentar oleh tangis Bi Li penuh keharuan sambil memeluk leher suaminya. Kwi Lan
yang berdiri tak jauh dari situ merasa betapa jantungnya seperti disayat-sayat saking terharu, namun ia
dapat menekannya dan tidak sebutir pun air mata menetes turun. Di dalam hatinya ia makin menyesalkan
perbuatan Kam Sian Eng yang telah memisahkan suami isteri ini dan menimbulkan kesengsaraan dalam
kehidupan dua orang, bahkan mungkin tiga orang dengan anak mereka yang agaknya tidak diketahui pula
di mana adanya.
“Akan tetapi sekarang aku tidak menyalahkan engkau, isteriku, setelah aku tahu betapa engkau pun
menderita dan tidak berdaya. Aku lalu hidup sebagai pengemis dan akhirnya aku tertarik akan sepak
terjang Khong-sim Kai-pang yang adil dan gagah, maka aku masuk menjadi anggota Khong-sim Kai-pang.
Khong-sim Kai-pang termasuk perkumpulan pengemis golongan bersih yang ditandai dengan pakaian
kotor, dan pada waktu ini golongan bersih sedang berusaha membasmi pengemis-pengemis golongan
kotor yang ditandai dengan pakaian bersih. Setelah menjadi anggota Khong-sim Kai-pang, banyak temantemanku
membantuku mencarimu. Dan beberapa hari yang lalu, seorang temanku melihat engkau di
depan pondok. Karena dia tidak mengenalmu akan tetapi merasa heran melihat seorang wanita dan dua
orang anak tanggung tinggal bersunyi diri didalam hutan, ia lalu menceritakannya kepadaku. Nah, hari ini
aku datang ke sini menyelidik, siapa kira, di sini aku bertemu dengan belasan orang pengemis golongan
hitam yang mengeroyokku...”
“Dan Hauw Lam, Anakku... dia bagaimana... ?” Bi Li mendesak, tidak sadar bahwa kini wajah suaminya
yang pucat itu sudah mulai agak kebiruan.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Dia... dia...,“ kini napas Tang Sun mulai tersendat-sendat. “Dia... kini tentu sudah dewasa... hampir lima
belas tahun... Akan tetapi ketika aku datang menjenguk ke sana... hwesio tua itu telah meninggal dunia
dan... dan Hauw Lam... dia...” Sukar sekali ia melanjutkan kata-katanya.
Barulah Bi Li sadar akan keadaan suaminya. Ia menjerit dan memeluk. Melihat suaminya meramkan
matanya, ia menciuminya dan memanggil-manggil namanya, kini tidak peduli lagi akan anaknya. Kwi Lan
yang berdiri termangu-mangu cepat menggunakan punggung tangan kirinya menghapus dua butir air mata
yang tak tertahankan lagi menetes turun ke atas pipinya.
Tang Sun membuka matanya, lalu tersenyum dan membelai rambut isterinya. Wajahnya membayangkan
kepuasan, akan tetapi kembali keningnya berkerut ketika ia berkata, “...Hauw Lam... dia... pergi dari sana...
tak seorang pun tahu ke mana. Isteriku, kau... kau carilah dia...” Tangan yang membelai rambut itu lemas
dan terkulai.
Bi Li menjerit dan roboh pingsan sambil memeluk mayat Tang Sun yang masih hangat!
“Bibi Bi Li...! Bibi Bi Li...!” Kwi Lan memanggil-manggil sambil mengguncang-guncang tubuh Bi Li.
Wanita itu akhirnya siuman dan dengan muka merah mata berapi-api ia meloncat bangun, membalikkan
tubuhnya dan mencabut pedang yang tergantung di pinggang. Bi Li memang memiliki kepandaian yang
khusus ia pelajari dari Sian Eng, yaitu bermain pedang, bahkan ia menerima hadiah sebatang pedang
indah dari Sian Eng. Kini dengan pedang di tangan, matanya terbelalak memandang kanan kiri, mulutnya
menantang-nantang.
“Pengemis-pengemis busuk, jembel-jembel terkutuk! Hayo majulah semua, akan kubunuh kalian sampai
habis!”
Kwi Lan maklum bahwa bibinya ini amat marah dan sakit hati karena kematian suaminya. Suami yang
terpisah darinya selama belasan tahun, dan yang kini begitu berjumpa terus meninggal dunia!
“Perempuan setan, berani kau membunuh saudara kami?” tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan
muncullah tiga orang kakek berpakaian pengemis. Mereka adalah tiga orang kakek tinggi kurus yang
memegang tongkat butut, sebutut pakaian mereka.
Begitu melihat tiga orang kakek pengemis ini, sambil berseru marah Bi Li maju menerjang dengan
pedangnya. Gerakannya secepat kilat, pedangnya berkelebat seperti halilintar menyambar.
“Tranggg...!” pedang itu terpental dan hampir terlepas dari pegangan Bi Li ketika tertangkis sebatang
tongkat butut yang dipegang oleh kakek pengemis yang bertahi lalat besar di bawah hidungnya.
Bi Li makin marah. Kakek pengemis ini kiranya lihai sekali, tidak boleh disamakan dengan para pengemis
yang tadi mengeroyok suaminya. Maka ia lalu mengeluarkan seruan keras sambil memutar pedangnya dan
mengerahkan tenaga, menerjang dengan cepat sekali. Menghadapi serangan yang begitu dahsyat, kakek
pengemis itu terkejut dan cepat memutar tongkat melindungi tubuhnya. Kemudian terjadilah pertandingan
hebat di antara Bi Li dan kakek pengemis.
Dua orang kakek pengemis lain segera melangkah maju mendekati mayat Tang Sun. Melihat ini, Kwi Lan
menjadi curiga dan membentak, “Jembel-jembel busuk, mundurlah kalian!” Gadis cilik ini menerjang maju
dengan pukulan kedua tangannya yang mendorong.
Karena melihat bahwa yang menerjang mereka hanyalah seorang gadis cilik berusia empat belas tahun,
dua orang kakek jembel itu tersenyum tenang, bahkan mengulur tangan untuk menangkap pundak Kwi
Lan. Akan tetapi alangkah kaget hati mereka ketika tangan mereka bertemu dengan tangan Kwi Lan, tubuh
mereka terdorong mundur dan hampir saja mereka terbanting roboh! Baiknya keduanya adalah tokohtokoh
lihai, cepat mereka dapat menekan tanah dengan ujung tongkat sehingga dapat menguasai
keseimbangan tubuh lagi.
Sejenak mereka saling pandang dengan muka merah, lalu menatap wajah Kwi Lan dengan sikap terheranheran.
Namun mereka merasa penasaran. Mungkinkah bocah perempuan ini memiliki tenaga yang
sedemikian dahsyatnya? Karena merasa malu untuk menghadapi seorang anak-anak dengan senjata
tongkat mereka, keduanya lalu menyelipkan tongkat di ikat pinggang lalu melangkah maju mengulur
tangan.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bocah setan, mau lari kemana kau?”
Melihat dirinya diserang dengan jangkauan tangan hendak menangkap, Kwi Lan tertawa mengejek, “Lari
ke mana? Untuk apa lari menghadapi dua ekor babi tua macam kalian?” Dan dengan gerakan yang indah
namun gesit bukan main, Kwi Lan sudah dapat mengelak, lolos dari tubrukan mereka, kemudian cepat ia
membalik dan mengirim pukulan ke arah punggung mereka!
“Wuuuttt!”
Dua orang pengemis tua itu berseru kaget dan cepat melompat jauh ke depan sehingga terhindar dari pada
pukulan maut tadi. Wajah mereka menjadi pucat dan keringat dingin memenuhi jidat. Sebagai orang-orang
yang ahli, mereka cukup maklum betapa pukulan kedua tangan bocah ini tadi mengandung tenaga
Iweekang yang hebat dan dapat mematikan! Berubahlah pandangan mereka. Kiranya bocah ini
gerakannya jauh lebih hebat dari pada wanita yang bertanding melawan saudara mereka. Tanpa malumalu
lagi keduanya lalu mencabut tongkat.
“Hi-hik, kalian mau lari ke mana?” Kwi Lan mengejek.
Akan tetapi cepat gadis cilik ini menggerakkan kaki untuk berkelit karena melihat dua sinar tongkat telah
meluncur dengan hebat. Selanjutnya Kwi Lan harus menggunakan kelincahannya untuk menghindarkan
diri dari pada kurungan sinar kedua tongkat itu. Diam-diam anak ini kaget juga. Kiranya dua orang
pengeroyoknya ini benar-benar amat tangguh sehingga tekanan kedua tongkat itu mengurung dirinya,
membuat ia tidak mampu balas menyerang.
Dia tidak tahu bahwa dua orang kakek itu jauh lebih kaget dan heran dari padanya. Selama mereka hidup,
sudah hampir enam puluh tahun, baru kali ini mereka menghadapi peristiwa yang begini aneh dan
memalukan. Mereka terkenal sebagai ahli-ahli silat kelas tinggi, hanya orang-orang pilihan di dunia kangouw
saja yang setanding dengan mereka. Akan tetapi kini, dengan maju berdua dan memegang tongkat
pula, mereka tidak mampu mengalahkan seorang gadis cilik yang bertangan kosong! Sebetulnya tingkat
ilmu silat anak itu belumlah matang dan tidak seberapa tinggi, akan tetapi gerakannya amat aneh luar
biasa sekali dan sukar diduga karena jauh berbeda dengan dasar-dasar ilmu silat yang lazim!
Tiba-tiba terdengar suara yang nyaring sekali, datangnya dari jauh akan tetapi amat jelas seakan-akan
yang berkata berada di belakang mereka, “Enci Bi Li! Kwi Lan! Mundur... !”
Tentu saja Bi Li dan Kwi Lan mengenal baik suara ini dan mereka cepat meloncat mundur tanpa menoleh.
Tiga orang pengemis yang tidak mendengar seruan tadi mendesak maju. Akan tetapi tiba-tiba tampak
bayangan putih berkelebat dan... tiga orang kakek itu berhenti bergerak dan telah menjadi kaku seolaholah
mereka berubah menjadi arca batu! Tanpa dapat mereka lihat, jalan darah mereka telah ditotok oleh
ujung lengan baju Sian Eng yang kini sudah berdiri di depan mereka dengan sikap bengis!
Pada saat itu terdengar bunyi angin menyambar. Belasan buah senjata rahasia berbentuk piauw (pisau)
dan besi bintang menyambar ke arah Bi Li, Kwi Lan, Sian Eng, dan juga ke arah tiga orang pengemis yang
berdiri kaku. Bi Li dan Kwi Lan melihat datangnya senjata rahasia yang membawa angin ini, maklum bahwa
senjata itu digerakkan oleh tangan yang lihai, maka tidak berani menyambut dan cepat mengelak. Akan
tetapi Sian Eng lalu mengebutkan kedua tangannya ke depan dan... belasan batang senjata rahasia yang
menyambar ke arahnya dan ke arah tiga orang pengemis tua runtuh terpukul oleh hawa pukulan kedua
tangannya!
Dari balik pohon meloncat ke luar lima orang kakek pengemis pula, akan tetapi mereka ini berbeda dengan
yang tiga tadi. Kalau tiga orang kakek pertama berpakaian butut kotor, adalah lima orang ini berpakaian
bersih, sungguh pun bertambal-tambalan seperti halnya para pengemis yang mengeroyok Tang Sun.
“Wanita iblis, berani kau....” Hanya sampai sekian saja bentakan seorang di antara mereka karena tiba-tiba
tubuh Sian Eng lenyap berkelebat ke depan.
Lima orang itu menggerakkan kaki tangan hendak melawan bayangan yang tiba-tiba menyambar, namun
sia-sia belaka karena tahu-tahu mereka ini pun sudah berdiri kaku seperti patung, persis seperti keadaan
tiga orang kakek baju butut!
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat munculnya lima orang pengemis baju bersih ini, baru Bi Li sadar akan perbedaan antara lima orang
pengemis ini dan tiga orang pengemis yang tadi datang lebih dulu. Pakaian mereka! Pakaian lima orang
pengemis yang datang belakangan ini serupa dengan pakaian para pengemis yang mengeroyoknya, yang
membunuh suaminya. Ada pun pakaian tiga orang pengemis yang mengeroyoknya, sama butut dengan
pakaian suaminya. Teringatlah ia akan cerita suaminya tentang golongan putih yang berpakaian butut dan
golongan hitam yang berpakaian bersih. Kini melihat Kam Sian Eng memandang kepada tiga orang
pengemis baju butut dengan mata beringas, ia cepat meloncat maju dan berkata.
“Sian-kouwnio...! Jangan... jangan bunuh mereka ini....“
Kam Sian Eng tanpa menoleh bertanya, suaranya dingin dan ketus, “Apa yang terjadi di sini?”
Bi Li yang teringat kembali kepada suaminya, tidak menjawab melainkan berlutut lagi di depan mayat
suaminya sambil menangis. Kwi Lan maklum bahwa bibinya dan juga gurunya itu sedang marah, maka ia
cepat maju mewakili Bi Li dan bercerita singkat.
“Bibi Bi Li dan aku sedang memetik bunga ketika kami mendengar suara orang bertempur di sini. Ternyata
yang bertempur adalah... suami Bibi Bi Li dikeroyok pengemis-pengemis baju bersih sampai terluka dan
tewas. Bibi Bi Li dan aku berhasil mengusir dan membunuh beberapa orang pengemis baju bersih, dan
sebelum mati suami Bibi Bi Li sempat bercerita bahwa dia adalah anggota pengemis baju butut. Kemudian
muncul tiga orang kakek pengemis baju butut ini yang lancang menyerang Bibi Bi Li dan aku. Agaknya
mereka bertiga ini masih segolongan dengan suami Bibi Bi Li. Dan lima orang kakek yang datang
belakangan ini agaknya hendak membalaskan kematian anak buah mereka.”
Sian Eng mendengar ini, melirik kearah Bi Li. Wajah yang tertutup tirai sutera itu sedikit pun tidak berubah,
tetap dingin dan keras. Tiba-tiba tangannya bergerak ke punggung, sinar terang berkelebatan disusul jeritjerit
kesakitan dan... delapan orang pengemis yang masih berdiri kaku itu kini telah buntung semua tangan
kanannya! Entah kapan Sian Eng menggunakan pedang, entah kapan mencabutnya, dan
menyarungkannya kembali, tak dapat diikuti pandang mata para pengemis itu sehingga biar pun mereka
menanggung luka hebat dan nyeri, mereka masih terbelalak kaget dan gentar.
Tiga orang pengemis tua baju butut itu adalah tokoh-tokoh Khong-sim Kai-pang sedangkan lima orang
pengemis baju bersih itu adalah tokoh-tokoh terkemuka pula dari perkumpulan golongan hitam. Di dalam
dunia kang-ouw, terutama dunia para pengemis kang-ouw, mereka delapan orang ini merupakan orangorang
terkenal dengan ilmu silat mereka yang tinggi. Akan tetapi kini, dalam tangan wanita berkerudung
yang cantik dan aneh itu, mereka sama sekali tidak berdaya, dipermainkan seperti tikus-tikus dipermainkan
kucing!
“Ohh, Kouwnio, jangan...!” Bi Li yang mendengar jerit mereka dan mengangkat muka, segera meloncat
bangun. “Tiga orang Lo-kai ini adalah orang-orang segolongan mendiang suami saya....“
Sian Eng mendenguskan suara dari hidung. “Hemmm...!”
Kwi Lan segera berkata, “Bibi Bi Li, tiga orang jembel tua ini biar pun segolongan dengan suamimu, namun
mereka datang-datang menyerang kita. Pasti bukan orang baik-baik! Sudah sepatutnya Bibi Sian memberi
hukuman.”
Kakek pengemis baju butut yang bertahi lalat di bawah hidungnya terdengar menarik napas panjang.
Delapan orang ini biar pun tertotok tak mampu bergerak, akan tetapi yang kaku hanyalah kaki tangan,
sedangkan anggota tubuh yang lain tidak, sehingga mereka masih mampu bicara.
“Kami tiga orang tua bangka memang telah berlaku ceroboh, tidak mengenal orang dan tidak dapat
membedakan mana kawan mana lawan. Kehilangan tangan ini sudah sepantasnya...!”
“Kouwnio, harap sudi mengampuni mereka. Tentu tadi mereka menyangka bahwa sayalah yang
membunuh saudara mereka ini, padahal dia... dia ini... Tang Sun, suamiku....“
“Hemmm...! Kwi Lan bebaskan mereka!” Sian Eng menggerakkan kepalanya ke arah tiga orang pengemis
baju butut.
Sebagai seorang murid yang amat tekun dan amat cerdik, tentu saja Kwi Lan sudah pula membaca dan
mempelajari isi kitab Im-yang-tiam-hoat, sebuah kitab pusaka dari Siauw-lim-pai yang dahulu dicuri oleh
dunia-kangouw.blogspot.com
Tok-siauw-kwi dan terjatuh ke tangan Sian Eng. Dan tentu saja ia dapat pula membebaskan pengaruh
totokan ilmu menotok jalan darah ini.
Dihampirinya tiga orang kakek itu dan dengan sebuah jari telunjuk kanan, ditotoknya punggung belakang
pusar mereka sambil tangan kirinya tidak lupa menampar belakang kepala. Sebetulnya tamparan belakang
kepala ini tidak ada hubungannya dengan pembebasan totokan, akan tetapi dasar anak nakal, ia hendak
melampiaskan kemendongkolan hatinya kepada tiga orang kakek pengemis itu dalam kesempatan ini!
Kembali tiga orang kakek ini terkejut sekali. Mereka adalah ahli-ahli silat tingkat tinggi dan tahu banyak
tentang seluk-beluk Ilmu Tiam-hiat-hoat (Menotok Jalan Darah). Akan tetapi selama hidup mereka, baru
sekali ini mereka tahu ada ilmu menotok jalan darah yang pembebasannya diharuskan menempeleng
kepala segala!
Makin gentarlah mereka terhadap Sian Eng, dan cepat-cepat mereka menggunakan tangan kiri untuk
menotok lengan kanan, menghentikan jalan darah agar darah yang mengalir ke luar dari pergelangan
tangan yang buntung itu berhenti. Kemudian sejenak mereka memandang kepada Sian Eng, dan pengemis
tua bertahi lalat segera menjura, diturut dua orang temannya dan bertanya,
“Kami bertiga dari Khong-sim Kai-pang telah menerima petunjuk Kouwnio (Nona), semoga lain kali kami
akan dapat membalas kebaikan ini. Sudilah Kouwnio memberitahukan nama yang mulia dan tempat
tinggal.”
Sian Eng tersenyum, senyum yang dingin dan mendirikan bulu roma. Suaranya halus merdu akan tetapi
juga mengandung hawa dingin yang menyeramkan ketika ia berkata, “Aku Kam Sian Eng dan tinggal di
hutan ini. Kalau belum puas, boleh suruh ketua Khong-sim Kai-pang datang! Pergilah!”
Tiga orang pengemis tua itu menjura, lalu menghampiri mayat Tang Sun, bermaksud akan mengambilnya.
Bi Li maju hendak mencegah, akan tetapi terdengar suara Sian Eng menghardiknya.
“Enci Bi Li, mundur kau!”
Bi Li terkejut sekali dan segera meloncat mundur. Wajahnya pucat dan air matanya bercucuran ketika ia
melihat mayat suaminya dibawa pergi oleh tiga orang kakek pengemis itu. Tiga orang ini memandang
sebentar kepada Bi Li dengan pandang mata kasihan, lalu menghela napas dan pergi dari tempat itu
dengan langkah lebar sambil membawa mayat Tang Sun.
Lima orang pengemis tua baju bersih itu tadinya terkejut dan khawatir sekali mendengar bahwa anggota
Khong-sim Kai-pang yang terbunuh adalah suami wanita yang tak tertutup mukanya. Akan tetapi, mereka
menjadi lega hati melihat sikap Bi Li dan mendengar bentakan wanita yang berkerudung dan mengaku
bernama Kam Sian Eng itu. Jelas bahwa biar pun wanita yang kedua itu mempunyai suami anggota
Khong-sim Kai-pang, namun si wanita aneh yang sakti itu sama sekali tidak bersahabat dengan Khong-sim
Kai-pang. Biar pun tubuh mereka masih kaku dan tak mampu bergerak, namun pengemis yang tertua di
antara mereka, yang hidungnya bengkok seperti hidung kukuk beluk berkata merendah,
“Mohon maaf sebanyaknya kepada Cianpwe yang mulia. Karena tidak tahu dan belum mengenal, boanpwe
berlima berani amat lancang memasuki wilayah Cianpwe. Hendaknya Cianpwe memaklumi bahwa
boanpwe berlima adalah pimpinan perkumpulan pengemis Hek-peng Kai-pang (Perkumpulan Pengemis
Garuda Hitam) yang masih berada di bawah lindungan yang mulia Bu-tek Siu-lam! Maka boanpwe berlima
mengharap sudilah kiranya Cianpwe melihat muka Ciang-bujin (Pemimpin Besar) Bu-tek Siu-lam untuk
mengampuni dan membebaskan boanpwe berlima!”
Sian Eng mengerutkan keningnya. Diam-diam ia merasa geli mendengar betapa lima orang kakek itu
menyebutnya cianpwe, sebutan bagi tokoh-tokoh tinggi dunia persilatan dan menyebut diri boanpwe, sikap
yang amat merendah sekali. Akan tetapi ia heran mendengar nama Bu-tek Siu-lam (Laki-laki Tampan
Tanpa Tanding). Siapakah itu? Sudah terlalu lama ia mengasingkan diri sehingga tidak melihat perubahan
di dalam dunia kang-ouw, tidak mengenal tokoh-tokoh barunya.
“Siapakah dia yang berjuluk Bu-tek Siu-lam itu?” tanyanya tanpa disengaja karena pertanyaan dalam hati
ini terlontar keluar melalui bibirnya.
Lima orang pengemis tua baju bersih itu saling pandang dengan heran dan juga kecewa. Benarkah ada
orang di dunia kang-ouw ini yang belum mengenal nama Bu-tek Siu-lam? Dan wanita aneh ini demikian
dunia-kangouw.blogspot.com
sakti! Tapi mungkin belum memasuki dunia kang-ouw. Karena ini si Hidung Bengkok segera berkata,
sengaja mengangkat-angkat nama besar Bu-tek Siu-lam untuk menimbulkan kesan mendalam.
“Beliau adalah tokoh tertinggi di dunia kang-ouw yang datang dari dunia barat. Semua perkumpulan
pengemis baju bersih berada di bawah perlindungan beliau, dan boanpwe yakin bahwa kelak beliaulah
yang akan menjadi pemimpin besar semua kai-pang! Juga dalam pemilihan tokoh-tokoh terbesar untuk
memilih jagoan yang Thian-he-te-it (di Seluruh Dunia Nomor Satu) yang akan diadakan di puncak Chengliong-
san pada malam tahun baru nanti, sudah dapat dipastikan bahwa Ciang-bujin Bu-tek Siu-lam yang
akan keluar sebagai juara, jagoan di antara segala datuk! Tapi...eh, kecuali...kalau Cianpwe ikut pula
dalam kejuaraan itu, keadaan akan makin ramai.” Demikian tambah si Hidung Bengkok ketika melihat
wajah di balik kerudung itu kelihatan tak senang.
“Aku tidak peduli segala macam Bu-tek Siu-lam! Kalian berlima sudah lancang berani menyerangku, berani
memandang sebelah mata. Karena itu kalian baru boleh pergi kalau kalian suka mencongkel keluar sebuah
biji mata kalian!”
Lima orang pengemis itu terbelalak dan muka mereka pucat. Keringat dingin mengalir ke luar membasahi
jidat dan leher. Sebuah biji mata disuruh congkel ke luar? Siapa yang sudi? Sebelah tangan sudah
dibuntungkan, kini sebelah mata diminta lagi! Mana ada aturan begini bocengli (kurang ajar)?
Wanita aneh ini tidak takut kepada Bu-tek Siu-lam, berarti belum mengenal. Kalau belum kenal, belum
tentu wanita ini benar-benar sakti. Agaknya hanya memiliki Ilmu Tiam-hiat-hoat yang aneh sehingga
mereka tadi menjadi korban totokan sebelum dapat bergerak banyak dan sebelum melihat sampai di mana
tingkat ilmu kepandaian wanita berkerudung itu. Karena tidak terdapat jalan lain untuk menghindarkan diri
dari ancaman congkel mata, si Hidung Bengkok lalu berkata, nadanya sengaja dikeluarkan untuk
mengejek.
“Sebagai orang-orang kang-ouw kami tahu bahwa hukumnya adalah siapa kuat dia menang dan siapa
kalah harus tunduk. Sayang sekali bahwa kami belum merasa dikalahkan, hanya dibuat tidak berdaya oleh
serangan gelap. Sebagai tokoh-tokoh Hek-peng Kai-pang, kami mengandalkan keselamatan nyawa kami di
ujung pedang. Siapa tahu, sebelum kami sempat mencabut pedang, kami mengalami penghinaan. Kalau
sudah tertotok seperti ini, bicara pun kami tak berhak. Seorang kanak-kanak yang masih ingusan sekali
pun dapat melakukan apa saja yang dikehendakinya terhadap kami!”
Akal si Hidung Bengkok ini berhasil baik sekali. Sian Eng menjadi merah mukanya dan sekali tubuhnya
bergerak, tampak bayangan putih berkelebat. Ujung lengan bajunya menyambar dan lima orang kakek itu
merasa betapa punggung belakang pusar mereka tertotok yang membuat tubuh mereka pulih seperti
biasa. Serentak mereka berlima mencabut pedang dan membuat gerakan keliling, mengurung wanita
berkerudung itu.
Sian Eng yang berdiri di tengah-tengah dalam keadaan terkurung hanya memandang tanpa mengubah
kedudukan badan dan tanpa menoleh. Hanya sepasang matanya di balik kerudung hitam itu yang melirik
ke kanan kiri, kemudian tampak giginya berkilat putih ketika ia berkata, “Kalian telah bebas. Pedang telah
dicabut. Tidak lekas mencongkel mata kanan kalian, tunggu apa lagi?”
Ucapan yang menyakitkan hati ini merupakan komando bagi lima orang kakek pengemis itu untuk
menerjang dengan hebat. Sian Eng dalam keadaan terkepung dan lima orang itu melakukan serangan
berbareng. Lima buah pedang dengan tusukan dan bacokan kilat mengarah tubuhnya.
Tiba-tiba terdengar suara tertawa terkekeh dan lima orang pengemis terkejut ketika melihat bayangan putih
melesat cepat dari tengah kepungan dan benar saja, ketika mereka melihat, ujung pedang mereka hanya
mengenai tempat kosong dan lima buah pedang mereka hampir beradu sendiri dengan kawan. Cepat
mereka menengok dan kiranya Sian Eng telah berdiri sambil bertolak pinggang di sebelah kiri sambil
tersenyum mengejek.
Pengemis hidung bengkok yang berdiri paling dekat cepat menerjangnya dengan pedang, diikuti oleh
teman-temannya yang kini tidak mengurung lagi. Inilah yang dikehendaki Sian Eng, yaitu agar lima orang
pengeroyoknya itu menyerangnya dengan susul menyusul, tidak berbareng seperti tadi. Begitu pedang si
Hidung Bengkok menyambar, ia menggerakkan lengannya secara aneh. Pedang menusuk datang dan
terdengarlah jerit mengerikan disusul robohnya tubuh pengemis hidung bengkok.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sian Eng tidak berhenti sampai di situ saja. Tubuhnya terus bergerak ke depan dan jerit kesakitan susul
menyusul sehingga akhirnya empat orang pengemis yang lain juga roboh. Hanya beberapa puluh detik
saja terjadinya. Lima orang pengemis itu sendiri tidak tahu benar apa yang terjadi. Ketika mereka
menyerang secara mendadak pedang mereka membalik dan mencongkel mata mereka sendiri, mata
kanan!
Kini Sian Eng berdiri tegak, memandang lima orang pengemis itu yang merangkak bangun sambil merintihrintih.
Tangan kanan mereka sebatas pergelangan telah buntung. Tadi mereka menggunakan tangan kiri
untuk bermain pedang. Siapa kira secara aneh sekali wanita sakti itu telah membuat pedang mereka
membalik dan mencongkel ke luar biji mata kanan mereka dengan pedang mereka sendiri. Setelah mereka
mampu berdiri, lima orang pengemis tua yang terluka parah itu berdiri memandang Sian Eng dengan mata
sebelah mereka, memandang penuh kemarahan dan kebencian.
“Pergilah kalau tidak ingin mampus!” Sian Eng berkata dingin.
Lima orang pengemis itu ingin sekali menerjang mengadu nyawa. Akan tetapi kini maklumlah mereka
bahwa terhadap wanita aneh ini mereka tidak berdaya sama sekali. Si Hidung Bengkok sambil meringis
menahan sakit berkata, “Akan kami laporkan bahwa engkau menantang ciang-bujin kami Bu-tek Siu-lam!”
“Boleh! Suruh dia datang ke sini, akan kubuntungi kedua tangannya dan kucongkel ke luar kedua biji
matanya!” bentak Sian Eng.
Lima orang itu terkejut. Benar-benar wanita ini sudah gila, berani mengeluarkan kata-kata seperti itu
terhadap Bu-tek Siu-lam yang sakti seperti dewa. “Tunggulah dan kalau memang berani, datanglah kelak di
puncak Cheng-liong-san!”
Sian Eng hanya tersenyum dan memandang lima orang itu yang pergi sambil meringis kesakitan. Setelah
keadaan menjadi sunyi, barulah Sian Eng menoleh kepada Bi Li dan membentak, “Apakah engkau hendak
pergi pula meninggalkan aku?” Di dalam suaranya terkandung ancaman maut.
Bi Li menggeleng kepala, menyusut air matanya. “Pergi ke mana? Suamiku telah mati...! Tidak, aku tidak
akan pergi dari sini, kecuali pergi ke akhirat. Tidak ada lagi yang kuharapkan.”
Mendengar jawaban ini, Sian Eng mengeluarkan suara tertawa terkekeh-kekeh mendirikan bulu roma. Kwi
Lan mengerutkan keningnya, akan tetapi ketika melirik kearah Bi Li, ia melihat wanita itu memandang
kepadanya dan tahulah ia bahwa Bi Li diam-diam amat mengharapkan agar kelak dapat bertemu dengan
puteranya yang bernama Hauw Lam. Dan gadis ini, biar pun tidak mendengar kata-kata keluar dari mulut
Bi Li, dapat menduga, bahkan berjanji dalam hatinya bahwa kelak ia akan bantu mencari putera yang
hilang itu.
Semenjak terjadi peristiwa itu, Kwi Lan belajar makin tekun dan giat karena ia maklum bahwa ilmu
kepandaian tinggi merupakan modal terutama baginya untuk kelak mencari orang tuanya dan untuk
membantu Bi Li mencari puteranya yang bernama Tang Hauw Lam. Dan semenjak terjadinya peristiwa
itulah nama Kam Sian Eng dikenal di dunia kang-ouw sebagai seorang tokoh yang aneh dan luar biasa,
serta memiliki ilmu kesaktian yang dahsyat pula. Hal ini menyebabkan semua orang menjauhkan diri dari
hutan itu, yang dianggap sebagai hutan iblis dan tak seorang pun berani memasukinya.
********************
Lima tahun kemudian, seorang gadis berusia sembilan belas tahun berjalan seorang diri dikaki gunung Luliang-
san, di sebelah barat kota Tai-goan. Gadis remaja ini cantik sekali dan amat manis. Bentuk mukanya
lonjong, dagunya meruncing, dengan kulit muka yang halus dan putih seperti susu, dihias warna merah
jambu di kedua pipinya, warna merah karena sehat. Mulutnya kecil dengan bibir selalu tersenyum, bibir
merah membasah dan segar.
Rambutnya agak awut-awutan, tidak disisir rapi, namun menambah keluwesan dan keayuannya. Tubuhnya
sedang dan ramping, agak kurus akan tetapi dengan lekuk lengkung tubuh yang menonjolkan
kewanitaannya. Pakaiannya berwarna merah muda dengan ikat pinggang merah tua. Sebatang pedang
tergantung di pinggangnya dan gagang pedang ini dihias sebuah mutiara yang besar, mutiara berwarna
hitam berkilauan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Gadis jelita ini bukan lain adalah Kam Kwi Lan! Sudah setengah tahun ia merantau meninggalkan hutan
iblis. Setengah tahun yang lalu, bibinya, juga gurunya, Kam Sian Eng telah pergi bersama Suma Kiat.
“Aku pergi bersama Suheng-mu. Kau tidak boleh ikut, Kwi Lan. Akan tetapi terserah kalau engkau mau
pergi merantau. Engkau sudah cukup dewasa dan kuat untuk menjaga diri,” demikian pesan Sian Eng
secara singkat.
Ada pun Suma Kiat tersenyum-senyum, agaknya hendak menggoda sumoi-nya itu yang tidak boleh ikut
pergi! Memang, biar pun usianya sudah dua puluh tahun, Suma Kiat yang kini juga memiliki ilmu
kepandaian tinggi itu kadang-kadang sikapnya seperti kanak-kanak saja!
“Bibi, saya hanya minta agar sebelum Bibi pergi, Bibi suka memberi sedikit keterangan kepadaku.”
Sian Eng tersenyum di balik kerudung hitamnya. “Keterangan tentang ayah bundamu, bukan?”
Kwi Lan terkejut dan melirik ke arah Bi Li yang juga berdiri di situ dan yang menjadi kaget pula.
“Hemm, jangan kira bahwa aku tidak tahu akan persekutuan kalian beberapa tahun yang lalu! Enci Bi Li,
suamimu telah mati, anakmu hilang. Kalau dia memang anak berbakti, tentu dia akan datang mencarimu
kelak. Kwi Lan, kalau kau hendak mencari ibumu, pergilah ke Khitan. Ibumu adalah adik angkatku, yaitu
Ratu Yalina di Khitan. Tentang Ayahmu... hi-hik, kau tanya saja kepada ibumu yang manis itu!“
Demikianlah, setelah Sian Eng bersama Suma Kiat pergi, Kwi Lan lalu pergi pula meninggalkan hutan di
mana ia hidup selama delapan belas tahun. Ia menasehati Bi Li agar tinggal di dalam istana bawah tanah
saja, menanti kembalinya mereka dari perantauan. Ia berjanji akan mencari keterangan di dunia luar
tentang Tang Hauw Lam.
Dengan kawan pedang pusaka pemberian bibinya, Kwi Lan melakukan perjalanan seorang diri. Tujuan
perjalanannya tentu saja ke Khitan di sebelah utara. Akan tetapi ia tidak tergesa-gesa, melakukan
perjalanan seenaknya. Hal ini bukan saja karena ia memang hendak menikmati keadaan kota dan dusun
yang dilaluinya, juga terutama sekali karena hatinya merasa amat kecewa ketika mendengar keterangan
gurunya bahwa dia sebetulnya anak Ratu Khitan! Anak ratu! Akan tetapi ratunya bangsa Khitan yang
dianggap sebagai bangsa yang setengah liar di utara.
Dan kalau dia benar anak ratu, mengapa sampai diberikan kepada gurunya? Kalau benar ibunya Ratu
Khitan itu adalah adik angkat gurunya, tentu dia telah diberikan kepada bibi itu untuk dilatih ilmu silat.
Alangkah tega hati ibu kandungnya itu! Berarti tidak sayang kepadanya! Karena pikiran inilah maka Kwi
Lan tidak sangat bernafsu untuk bertemu dengan ibu kandungnya yang menjadi ratu di Khitan.
Pada pagi hari yang cerah itu Kwi Lan berjalan di kaki bukit Lu-liang-san, menikmati keindahan alam yang
mandi cahaya matahari pagi. Tiba-tiba pendengarannya yang tajam dapat menangkap suara orang
bertanding di sebelah depan. Hatinya tertarik dan ia mempercepat langkahnya.
Ketika tiba di sebuah belokan, ia melihat dua orang tengah bertanding hebat. Yang seorang bersenjata
pedang, yang kedua bersenjata tongkat butut. Di sekeliling tempat pertandingan itu berdiri pula beberapa
orang dengan tegak dan penuh perhatian menonton jalannya pertandingan. Melihat betapa dua orang yang
bertanding, juga mereka yang berdiri menonton, semua berpakaian pengemis, teringatlah Kwi Lan akan
peristiwa di hutan iblis pada lima tahun yang lalu.
Yang bersenjata tongkat butut adalah seorang kakek pengemis berpakaian butut dan di situ masih ada tiga
orang temannya yang kurus-kurus dan tua berdiri menonton. Ada pun lawannya, yang berpedang, adalah
seorang pengemis pakaian bersih, sedangkan agaknya empat orang yang berdiri menonton di sebelah kiri
adalah teman-temannya, sungguh pun hanya dua di antara mereka yang berpakaian pengemis baju bersih.
Pertandingan itu cukup seru dan dari gerakan mereka tahulah Kwi Lan bahwa mereka yang bertanding itu
memiliki kepandaian cukup tinggi dan tentu bukan anggota biasa dari perkumpulan mereka, melainkan
tokoh-tokoh yang berkedudukan cukup tinggi. Maka ia memandang penuh perhatian sambil mendekati
dengan langkah perlahan.
“Ssssttt...!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwi Lan terkejut dan berdongak. Ternyata yang berdesis itu adalah seorang pemuda yang duduk ongkangongkang
di atas dahan pohon sambil menghadap ke arah pertandingan. Pemuda itu kini menoleh
kepadanya dan menaruh telunjuk ke depan mulut. Melihat wajah pemuda itu yang berseri, tidak hanya
mulutnya, bahkan hidung dan matanya ikut tersenyum ramah, sekaligus timbul rasa suka dihati Kwi Lan.
Mata pemuda itu bersinar terang dan gembira, jelas tampak bahwa dia seorang periang yang lucu dan juga
nakal.
“Kalau mau nonton, di sini paling enak, jelas aman dan tidak usah bayar!” bisik pemuda itu dan terkejutlah
Kwi Lan.
Pemuda itu hanya berbisik-bisik, akan tetapi suaranya jelas sekali terdengar olehnya, seperti didekat
telinganya. Tahulah ia bahwa pemuda yang periang ini bukan hanya seorang pemuda berandalan biasa,
melainkan seorang pemuda yang memiliki kepandaian tinggi dan sudah menguasai Ilmu Coan-im-pek-li
(Mengirim Suara Seratus Mil).
Kalau saja pemuda itu tidak memiliki wajah tampan yang begitu jenaka seperti wajah seorang anak kecil
yang nakal, tentu Kwi Lan akan ragu-ragu bahkan marah. Namun jelas baginya bahwa pemuda itu nakal
dan polos, tidak bermaksud kurang ajar. Hal ini dapat ia lihat dari sinar matanya. Selama setengah tahun
merantau dan bertemu banyak laki-laki, Kwi Lan sudah dapat membedakan pandang mata laki-laki yang
tertarik akan kecantikan wajah dan bentuk tubuhnya, pandang mata mengandung birahi yang kurang ajar.
Sengaja Kwi Lan mengerahkan ginkang-nya sehingga ketika ujung kedua kakinya menggenjot tanah,
tubuhnya melayang naik seperti seekor burung kenari terbang melayang dan hinggap di atas cabang di
dekat pemuda itu, duduk ongkang-ongkang seperti si pemuda tanpa sedikit pun membuat cabang itu
bergoyang. Akan tetapi Kwi Lan kecelik kalau ia memancing kekaguman pemuda itu, karena si pemuda
menoleh kepadanya seperti tidak ada apa-apa saja, seakan-akan gerakannya yang indah dan ringan itu
tadi sudah sewajarnya!
Setelah menoleh dan memandang wajah Kwi Lan sejenak, pemuda itu tersenyum lebar, merogoh saku
bajunya yang lebar, mengeluarkan bungkusan dan membuka bungkusan itu, lalu menyodorkannya kepada
Kwi Lan. Kiranya tanpa bicara pemuda itu telah menawarkan kacang garing kepada Kwi Lan!
“Enak nonton di sini sambil makan kacang,” katanya dengan mata bersinar-sinar. “Gerakan mereka dapat
nampak jelas. Hayo bertaruh, siapa yang akan menang antara pengemis bertongkat kurus kering dan
pengemis botak berpedang itu? Aku berpegang kepada si Botak!”
Kwi Lan makin suka kepada pemuda yang sebaya dengannya ini, atau mungkin lebih muda melihat
sikapnya yang kekanak-kanakan. Tanpa ragu-ragu lagi ia mengambil segenggam kacang, membuka kulit
dan memakannya sambil menonton ke arah pertandingan.
“Aku bertaruh pengemis baju butut yang menang,” Kwi Lan berkata setelah menonton sebentar. Kacang
garing itu enak sekali, selain gurih dan wangi tanda kacang tua dan baik, juga agaknya diberi bumbu dan
asinnya cukup.
“Belum tentu!” kata si Pemuda gembira dan kedua kakinya yang ongkang-ongkang itu digerak-gerakkan
menendang. “Memang si Kurus Kering itu lebih lihai ginkang-nya, lebih cekatan. Akan tetapi kulihat si
Botak ini banyak tipu muslihatnya. Di gagang pedangnya terdapat alat untuk melepas jarum beracun.”
“Ihhh...! Memang pengemis baju bersih itu golongan hitam dan curang!” Kwi Lan berseru.
“Eh, bagaimana engkau bisa tahu?”
“Tahu saja! Kau kira engkau saja yang tahu kelicikan mereka?”
Mereka saling pandang, cemberut karena dengan pertaruhan itu mereka seperti hendak saling memihak.
Akan tetapi pemuda itu tersenyum, menyodorkan lagi bungkusan kacangnya. “Enak kacang ini, bukan?
Tentu enak, kacang ini khusus dibuat untuk istana kerajaan!” ia tertawa ha-ha-he-he, lalu melanjutkan,
“Akan tetapi, Raja dan para Pangeran belum tentu mempunyai mulut seperti mulutku, maka aku merasa
bahwa mulutku tidak terlalu rendah untuk mencicipi kacang untuk istana ini dan kucuri sebagian. He-heheh!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwi Lan juga tersenyum lebar dan mengambil lagi segenggam. Keduanya kini tidak berkata-kata lagi
karena ikut merasa tegang dengan pertandingan yang makin seru itu. Mereka seperti lupa diri, makan
kacang sambil menonton ke bawah, persis seperti lagak para penonton permainan sepak bola yang ramai.
Mereka seperti dua orang anak nakal yang sudah sejak kecil menjadi kawan bermain.
Memang pertandingan itu makin seru. Tepat seperti yang dikatakan pemuda itu, gerakan pengemis baju
butut yang memegang tongkat amat lincah, tubuhnya sering kali mencelat ke atas dan menyambarnyambar
dengan tongkatnya. Pengemis botak yang berbaju bersih, agaknya kewalahan dan terdesak
sehingga ia hanya mampu mengelak dan menangkis, sukar untuk dapat membalas. Namun harus diakui
bahwa pertahanan pedangnya cukup kuat sehingga semua terjangan si Pengemis kurus kering selalu tidak
mengenai sasaran. Tiba-tiba pengemis baju kotor itu mengeluarkan seruan keras dan ilmu tongkatnya
berubah, membentuk lingkaran-lingkaran yang makin lama makin sempit sehingga mengurung tubuh
lawannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hah, mampus sekarang jagomu!” kata Kwi Lan.
“Heh, belum tentu! Lihat saja...,” jawab si Pemuda.
“Lihat, nah...kena!” Berbareng dengan ucapan Kwi Lan yang tentu saja dapat mengikuti jalannya
pertandingan dengan jelas dan bahkan dapat menduga pula perkembangan setiap gerakan, benar saja
tongkat pengemis pakaian kotor itu dapat menusuk leher pengemis botak.
Akan tetapi, ketika pengemis botak itu berusaha menangkis dengan sia-sia, tiba-tiba dari gagang
pedangnya meluncur sinar hitam dan kakek pengemis kurus kering itu pun berseru kesakitan dan roboh
bersama-sama lawannya. Kalau lawannya dapat ia tusuk dengan tongkat tepat mengenai leher, adalah dia
sendiri menjadi korban tiga batang jarum beracun yang menyambar ke luar dari gagang pedang ketika
lawannya menekan alat rahasia di gagang pedang itu. Tiga batang jarum berbisa memasuki perutnya!
Tiga orang pengemis baju kotor yang bertubuh kurus-kurus itu menjadi marah sekali. Akan tetapi pada saat
itu, empat orang lawannya yang tadinya juga menonton, dengan bersorak telah menyerbu dan menerjang
mereka bertiga. Tiga orang pengemis ini cepat menggerakkan tongkat melawan pengeroyokan empat
orang lawan itu. Akan tetapi ternyata kepandaian empat orang lawan, terutama yang berpakaian seperti
jago silat, bermuka penuh brewok dengan alis tebal, tubuhnya tinggi besar, amatlah lihai.
Si Brewok tinggi besar ini menggunakan sepasang pedang dan gerakannya laksana harimau mengamuk.
Tiga orang pengemis baju kotor itu amat kewalahan dan terdesak sambil mundur. Namun mereka melawan
terus dengan nekat sambil memaki-maki. Tidak lama pertandingan itu karena tiba-tiba tiga orang pengemis
kurus itu berteriak keras dan terjungkal roboh. Kiranya diam-diam empat orang lawannya itu telah
mempergunakan senjata rahasia dan memukul roboh lawannya dengan senjata rahasia ini. Dan agaknya
senjata rahasia mereka itu semua memakai racun, buktinya begitu roboh, seperti halnya pengemis
pertama, tiga orang kakek baju kotor ini pun tak bergerak lagi, mati seketika!
“Hah-ha-ha, kau kalah bertaruh! Bukankah jembel-jembel busuk pesolek yang menang?” pemuda di
samping Kwi Lan bersorak.
Kwi Lan cemberut, lalu berseru keras ke bawah, “Jembel-jembel pesolek dan kaki tangannya memang
curang! Anak buah Bu-tek Siu-lam mana ada yang tidak curang dan pengecut?” Teringat peristiwa lima
tahun yang lalu, sengaja Kwi Lan menyebut nama itu.
Siapa kira, mendengar disebutnya nama ini, si Pemuda di sampingnya terkejut dan berteriak keras lalu
terjungkal ke bawah pohon! Kwi Lan terkejut dan baru ia tahu bahwa pada saat pemuda itu terjungkal, dari
bawah menyambar beberapa macam senjata rahasia itu. Cepat ia menggunakan ujung lengan bajunya
mengebut dan...runtuhlah semua senjata rahasia itu.
Dengan muka merah Kwi Lan meloncat berdiri di atas cabang pohon. Ia melihat empat orang itu terbelalak
kaget, akan tetapi seorang di antara dua pengemis baju bersih, yang bertubuh pendek dan bermuka
bengis, telah mencabut pedang dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya kembali menyambitkan
senjata rahasia gelang besi yang melayang dan berputar-putar menyambar ke arah perut Kwi Lan.
Gadis ini memuncak kemarahannya. Ia meloncat turun sambil menyampok senjata gelang besi itu ke
bawah, dan setengah disengaja ia menyampok gelang besi itu ke arah si Pemuda yang sudah bangun.
“Aduhh!” teriak si Pemuda sambil berloncatan bangun dan mengelus-elus kepalanya, seakan-akan
kepalanya terkena hantaman senjata rahasia itu. Akan tetapi jidatnya yang lebar dan kelimis itu tidak
terluka, lecet pun tidak.
Kwi Lan tidak pedulikan pemuda itu, lalu melayang ke arah pengemis baju bersih yang menyambut
kedatangannya dengan sebuah tusukan pedang! Tampaknya serangan ini tak mungkin dielakkan lagi oleh
Kwi Lan yang tubuhnya sedang melayang di udara dan memang gadis ini pun tidak berusaha untuk
mengelak.
Tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka melakukan gerakan mendorong dan... pedang itu terkena
dorongan hawa pukulan lalu membalik. Kemudian secepat kilat Kwi Lan menyentil dengan telunjuknya ke
arah pergelangan tangan yang memegang pedang dan... pedang itu mencelat sambil membalik sehingga
menusuk pangkal lengan pengemis pendek itu sendiri. Kulit dagingnya terbelah dan tampak tulang
dunia-kangouw.blogspot.com
lengannya! Sementara itu, entah bagaimana pedangnya telah berpindah ke tangan Kwi Lan yang
mempergunakan pedang rampasan untuk menodong!
“Ha-ha-ha-heh-heh!” si Pemuda itu bersorak sambil mempermain-mainkan gelang besi yang tadi
menyambarnya dengan tangan kanan. “Jembel tua bangka pesolek sekarang kehilangan aksinya.
Makanya jangan sok aksi. Sudah tua bangka begitu, pura-pura jadi pengemis tapi pakaiannya bersih dan
baru, biar kelihatan aksi dan tampan. Wah, ini namanya tua-tua keladi!”
Tentu saja pengemis pendek yang dirobohkan Kwi Lan itu melotot ke arah si Pemuda dengan kemarahan
meluap-luap, akan tetapi juga terheran-heran mengapa senjata rahasianya yang biasanya ampuh bahkan
mengandung racun itu kini dipakai main-main oleh si Pemuda ini. Pada saat itu, pengemis kedua yang
tubuhnya kurus kecil seperti kucing kelaparan itu menudingkan telunjuknya kepada Kwi Lan sambil
membentak, suaranya besar dan parau sungguh berlawanan dengan tubuhnya yang serba kecil kurus.
“Eh, iblis betina dari mana berani menentang Hek-coa Kai-pang dan mengeluarkan ucapan menghina
ciangbujin Bu-tek Siu-lam? Apakah sudah bosan hidup?”
Kwi Lan membalikkan tubuhnya, membelakangi pengemis pendek yang terluka untuk menghadapi lawan
baru ini. Ia tersenyum manis ketika berkata, “Kalian ini jembel-jembel busuk, biar pun tidak sama dengan
Hek-peng Kai-pang, kiranya sama busuknya, apa lagi sama-sama di bawah pimpinan Bu-tek Siu-lam yang
biar pun belum pernah kujumpai, tentu busuk pula!”
“Eh, perempuan keparat! Selama hidup kami tidak pernah bertemu denganmu dan tidak pernah
bertentangan, mengapa hari ini kau datang-datang menghina dan memusuhi kami? Apakah kau berpihak
kepada jembel-jembel butut itu?” bentak pula pengemis kurus kecil sambil menuding ke arah mayat empat
orang pengemis baju butut. Kumis kecil di kanan kiri hidung itu bergerak-gerak akan tetapi tidak sama
sehingga kelihatannya seperti sepasang sayap kupu-kupu yang hinggap di bawah hidung, membuat Kwi
Lan menjadi geli dan memperlebar senyumnya.
“Urusan kalian dengan jembel-jembel berpakaian butut sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan
aku. Akan tetapi kebetulan sekali aku adalah orang yang paling tidak suka melihat perbuatan-perbuatan
curang dan pengecut. Dalam pertandingan tadi kalian merobohkan lawan mengandalkan senjata rahasia
secara curang sekali. Kemudian kalian juga menyerangku dengan senjata rahasia. Apakah kau masih mau
bilang di antara kita tidak ada pertentangan?” berkata demikian, Kwi Lan melirik kepada dua orang lain
yang tidak berpakaian pengemis, yaitu yang bermuka brewok dan seorang temannya lagi. Jelas mereka itu
tidak segolongan dengan dua orang pengemis baju bersih ini dan mereka pun tidak mencampuri
perdebatan, hanya memandang dengan mata terbelalak heran dan kening berkerut.
“Bocah sombong! Merampas pedang dan melukai saudaraku masih belum merupakan dosa besar, akan
tetapi menyebut dan menghina nama ciangbujin kami....”
Kwi Lan memegang ujung pedang dengan tangan kirinya dan sekali tekuk, pedang rampasan itu patah
menjadi dua dan ia buang ke atas tanah. “Pedang sudah kupatahkan, kalau aku bunuh saudaramu itu dan
kumaki si Kepala Penjahat busuk Bu-tek Siu-lam, kau mau apa?”
“Iblis betina, rasakan tanganku!” Tiba-tiba pengemis kecil kurus itu sudah mencabut pedang dan
menggerakkan pedangnya membacok, gerakannya selain cepat juga kuat sekali, jauh lebih kuat dari pada
gerakan pengemis yang sudah terluka tadi.
Pada saat yang sama, ketika Kwi Lan memutar tubuhnya untuk menghadapi serangan pengemis kecil
kurus, pengemis kedua yang sudah terluka lengannya itu menggerakkan tangan kirinya menyambitkan
sebuah gelang besi ke arah punggung gadis itu.
Apa yang terjadi selanjutnya sedemikian cepatnya sehingga sukar diikuti pandangan mata, akan tetapi
tahu-tahu dua orang pengemis itu menjerit dan roboh dalam keadaan tak bernyawa lagi dan hebatnya,
tepat di dahi mereka tampak luka berlubang ditembusi gelang besi beracun!
Kiranya ketika tadi diserang pedang pengemis kurus, Kwi Lan juga tahu bahwa dari belakang ia diserang
dengan senjata rahasia, maka secepat kilat ia berkelebat kedepan, menangkap tangan yang berpedang
dari samping lalu membetot tubuh itu dipakai menangkis gelang besi yang menyambar punggungnya
sehingga senjata rahasia itu tepat menyambar dahi pengemis kurus. Ada pun si Pengemis pendek yang
melepas senjata rahasia secara curang itu, sebelum sempat mengelak, telah ‘dimakan’ senjata rahasianya
dunia-kangouw.blogspot.com
sendiri yang dilemparkan oleh pemuda teman Kwi Lan dengan gerakan sembarangan namun yang
membuat senjata itu menyambar cepat sekali dan masuk ke dalam dahi pemiliknya.
Kini tinggal dua orang yang bukan pengemis, teman-teman dari pengemis baju bersih, berdiri memandang
dengan mata terbelalak kaget. Mereka berdua mengerti bahwa dua orang muda itu memiliki kepandaian
yang amat tinggi. Orang pertama yang mukanya penuh brewok segera melangkah maju dan menjura
sambil mengangkat kedua tangan ke dada dan berkata, “Kepandaian Ji-wi (Tuan Berdua) sungguh hebat
dan membuat kami merasa kagum sekali!”
Kwi Lan hanya tersenyum mengejek, akan tetapi pemuda itu tertawa-tawa tanpa membalas penghormatan
orang. “Heh-heh, kulihat kalian berdua bukan pengemis. Tapi tadi membantu dalam pertandingan antar
pengemis! Apakah sekarang hendak menuntut bela atas kematian dua orang sahabatmu ini?”
Si Brewok menggeleng-geleng kepalanya. “Kami tidak tersangkut dalam urusan antara mereka dan Ji-wi.
Telah saya lihat betapa mereka itu mencari mati sendiri dengan keberanian mereka melawan dan
memandang rendah Ji-wi. Sungguh pun menghadapi empat orang anggota Khong-sim Kai-pang pengemis
baju butut tadi kami merupakan sekutu mereka, namun urusan terhadap Ji-wi kami tidak ikut campur.”
“Menggerakkan lidah memang amat mudah!” Kwi Lan berkata mengejek. “Kau bilang tidak ikut campur,
akan tetapi siapa tadi yang ikut menyerangku dengan senjata rahasia ketika aku berada di atas pohon itu?”
Wajah si Brewok menjadi merah. Memang tadi dia ikut menyerang Kwi Lan dengan senjata rahasianya
yang berbentuk peluru bintang. Ia menjura kepada gadisitu dan berkata, “Harap Nona maafkan, tadi saya
menyangka Nona adalah kawan pengemis Khong-sim Kai-pang.”
“Tidak peduli apa yang kau sangka. Hayo serang aku lagi dengan senjata rahasiamu!” bentak Kwi Lan
sambil tersenyum mengejek.
Berubah muka si Brewok. “Saya... saya mana berani?”
“Berani atau tidak masa bodoh, kau harus! Kalau membangkang, jangan bilang aku keterlaluan!” Suara ini
mengandung penuh ancaman sehingga muka yang penuh brewok itu menjadi pucat. Ia berdiri saling
pandang dengan kawannya.
Kawannya itu agaknya lebih berani dari pada si Brewok. Matanya yang agak menjuling itu dipelototkan ke
arah Kwi Lan dan ia berseru, “Nona, engkau sungguh keterlaluan! Kami adalah orang-orang Thian-liongpang,
bukan orang-orang sembarangan! Kalau Suheng-ku ini berlaku mengalah kepadamu, adalah karena
melihat engkau masih muda, masih setengah kanak-kanak. Setelah Ouw-suheng mengalah, mengapa
engkau malah mendesaknya? Sekali dia turun tangan, engkau akan celaka, dan hal itu akan sayang sekali
melihat engkau begini muda dan cantik!”
“Sute, diam...!” si Brewok menegur adik seperguruannya.
Kwi Lan marah sekali, akan tetapi tak seorang pun tahu akan hal ini karena senyumnya makin manis. “Ah,
begitukah? Jadi kalian ini orang-orang Thian-liong-pang yang lihai? Kebetulan sekali, lekas kalian berdua
menyerangku dengan senjata-senjata rahasia kalian!”
Si Brewok ragu-ragu, akan tetapi si Mata Juling berkata, “Suheng, dia yang minta dihajar, tunggu apa lagi?”
Sambil berkata demikian si Juling mengeluarkan dua buah senjata rahasianya, yaitu peluru bintang.
Senjata rahasia ini terbuat dari pada baja, ujungnya runcing-runcing dan karena bentuknya bulat seperti
peluru, maka dapat disambitkan dengan keras. Melihat ini, si Brewok yang didesak-desak juga
mengeluarkan senjata rahasia yang sama, akan tetapi hanya sebuah.
“Hayo lekas serang, tunggu apa lagi?” Kwi Lan berseru, berdiri dengan sikap seenaknya, bahkan sengaja
ia miringkan tubuh dan menoleh membelakangi dua orang itu.
Selagi si Brewok ragu-ragu dan adik seperguruannya yang marah itu menanti gerakan kakaknya, terdengar
pemuda itu tertawa bergelak. “Ha-ha-ha! Aku mendengar nama besar Thian-liong-pang sebagai
perkumpulan yang disegani dan ditakuti, yang mempunyai cabang di seluruh negeri, yang dipimpin oleh
orang-orang sakti. Akan tetapi ternyata kini orang-orangnya hanya pengecut-pengecut yang suka
menyerang seorang gadis dengan curang....”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Eh, manusia berandalan! Diam kau! Ini bukan urusanmu!” Kwi Lan membentak dan melotot kepada
pemuda itu.
Si Pemuda masih tertawa-tawa, akan tetapi tiba-tiba matanya terbelalak dan wajahnya memperlihatkan
sikap kaget ketika pemuda itu melihat betapa dua orang itu menggunakan kesempatan selagi Kwi Lan
menoleh dan bicara kepadanya untuk menyerang dengan senjata rahasia mereka. Pemuda itu menjadi
pucat karena maklum betapa hebatnya serangan itu dan betapa ia sendiri yang berdiri jauh tidak sempat
mencegah serangan ini. Akan tetapi wajah yang kaget itu berubah girang dan sinar matanya menyorotkan
kekaguman ketika ia mendengar pekik kesakitan kedua orang anggota Thian-liong-pang itu.
Si Mata Juling roboh dan tewas seketika karena pelipis dan dadanya dihantam senjata rahasianya sendiri,
sedangkan si Brewok roboh kesakitan akan tetapi segera melompat bangun kembali karena hanya
pahanya yang terluka oleh senjata rahasianya sendiri pula. Ia berdiri dengan mata terbelalak kagum dan
heran.
Memang luar biasa sekali caranya gadis itu menghadapi serangan senjata rahasia tadi. Biar pun sedang
menengok ke belakang, namun Kwi Lan tahu akan serangan senjata rahasia. Bahkan tanpa menoleh lagi
ia menggerakkan kedua tangannya, menyambar senjata rahasia si Juling yang datang lebih dulu ke arah
pelipis dan dada, kemudian secepat kilat ia mengembalikan dua senjata itu ke arah pemiliknya, tepat
mengenai pelipis dan dada! Ada pun peluru bintang yang dilepas si Brewok hanya mengarah pahanya, itu
pun tidak tepat di tengah-tengah, maka Kwi Lan juga membalikkan senjata rahasia itu tepat mengenai
pinggir paha si Brewok yang mendatangkan luka daging!
Sambil meringis menahan sakit, si Brewok menjura kepada Kwi Lan. “Benar hebat dan mengagumkan.
Saya mengaku kalah dan kematian Sute-ku adalah karena tidak hati-hatinya. Mohon tanya, siapakah nama
Nona yang gagah?”
Kwi Lan sudah menggerakkan bibir hendak mengaku, akan tetapi tiba-tiba pemuda itu berkata, “Eh,
apakah matamu sudah buta? Terang Nona ini menggunakan nama Mutiara Hitam, engkau masih bertanyatanya
lagi?” Sambil berkata demikian, pemuda itu sekali menggerakkan kaki tubuhnya sudah melayang
dan hinggap di dekat Kwi Lan seperti gerakan seekor burung ringannya.
Si Brewok memandang kagum dan tersenyum mendengar kata-kata itu. Ia menduga bahwa gadis ini
memakai nama julukan Mutiara Hitam karena gagang pedangnya terhias sebutir mutiara hitam yang besar.
Ia lalu menjura kepada pemuda itu dan bertanya, “Terima kasih atas penjelasan Tuan Muda. Bolehkah
saya mengetahui nama Kongcu?”
“Namanya Si Berandal, apa kalian belum tahu?” Suara ini keluar dari mulut Kwi Lan yang hendak
membalas pemuda itu.
Akan tetapi si Berandal hanya tertawa, lalu berkata kepada anggota Thian-liong-pang itu. “Kau ini manusia
tidak tahu diri berani main-main di depan Mutiara Hitam dan Berandal, sungguh sudah bosan hidup!”
“Mohon Ji-wi (Tuan Berdua) sudi memaafkan. Karena tidak mengenal maka kami telah berlaku kurang
hormat. Harap Ji-wi suka memandang perkumpulan dan ketua kami memberi maaf kepada saya.”
“Kalau kami tidak memaafkan, apa kau kira akan masih tinggal hidup?” si Berandal bersombong. “Hayo
ceritakan siapa engkau dan apa urusan Thian-liong-pang dengan pengemis-pengemis itu serta mengapa
pula terjadi pertandingan dengan pengemis-pengemis Khong-sim Kai-pang? Dan mengapa pula nama Butek
Siu-lan tadi kudengar disebut Ciangbujin oleh pengemis pendek itu?”
“Saya bernama Ouw Kiu. Seperti semua pimpinan dan petugas Thian-liong-pang saya taat dan tunduk
kepada perintah atasan. Saya dan Sute Ouw Lun itu mendapat tugas untuk menyampaikan undangan
kepada para pimpinan Hek-coa Kai-pang untuk menghadiri pengangkatan ketua baru Thian-liong-pang
pertengahan bulan depan. Ketika hendak kembali ke Yen-an, di sini kami bertemu dengan tiga orang
anggota Hek-coa Kai-pang yang berhadapan dengan empat orang Khong-sim Kai-pang. Tentu saja kami
membantu Hek-coa Kai-pang dan salah mengira bahwa Ji-wi adalah teman-teman anggota Khong-sim Kaipang.”
“Dan tentang Bu-tek Siu-lam?” pemuda itu mendesak.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ouw Kiu tidak menjawab, wajahnya pucat.
“Ah, urusan begitu saja mengapa mesti banyak tanya lagi?” Kwi Lan mencela. “Si badut Bu-tek Siu-lam itu
sudah jelas menjadi cukong dunia pengemis golongan hitam! Ingin aku bertemu dengan badut itu untuk
memberi hajaran agar ia kapok dan tidak membiarkan anak buahnya bermain curang!”
Ouw Kiu makin pucat. “Saya... saya tidak mempunyai cukup harga untuk menyebut-nyebut nama besar
beliau, hanya saya mengerti bahwa beliau merupakan seorang tokoh besar yang amat dihormati Thianliong-
pang. Suaranya agak gemetar dan matanya lirak-lirik ke kanan kiri penuh kekhawatiran.
“Sudah, pergilah dan bawa mayat temanmu. Mengingat Thian-liong-pang kami memaafkanmu dan bulan
depan kalau tiada halangan, kami akan datang menonton keramaian di Yen-an.”
Ouw Kiu menjura mengucapkan terima kasih, kemudian menyambar mayat sute-nya dan pergi dari situ
dengan langkah terpincang-pincang. Kwi Lan membalikkan tubuh terus lari pergi pula dari tempat itu. Akan
tetapi belum jauh ia pergi, ia mendengar suara orang berlari di belakangnya. Ketika melirik dan melihat
bahwa yang mengikutinya adalah pemuda itu, Kwi Lan lalu mengerahkan ginkang-nya dan berlari makin
cepat.
Setelah lari agak jauh, ia melirik kebelakang. Kiranya pemuda itu masih saja mengikuti di belakangnya,
hanya terpisah tiga meter! Kwi Lan penasaran dan mengerahkan seluruh tenaganya, lari secepat terbang.
Pemuda itu pun mengerahkan tenaganya. Beberapa lama mereka berlari-larian cepat sampai puluhan li
jauhnya. Akhirnya terdengar pemuda itu berkata dengan napas memburu.
“Waduh... berat nih! Eh, Mutiara Hitam, apakah engkau takut padaku maka melarikan diri?”
Kalau pemuda itu mengeluarkan ucapan lain, agaknya Kwi Lan tidak akan mempedulikannya dan akan
berlari terus. Akan tetapi dikatakan takut merupakan pantangan besar baginya, maka cepat ia mengerem
larinya, berhenti dengan tiba-tiba sehingga pemuda yang membalap di belakangnya itu hampir saja
menubruknya kalau tidak cepat-cepat membuang diri ke samping dan berjungkir balik dua kali. Gerakan
pemuda ini amat lucu, akan tetapi juga indah dan membuktikan kegesitannya yang luar biasa.
“Takut? Siapa bilang aku takut padamu?” Kwi Lan bertanya, memandang tajam dan mengangkat muka
membusungkan dada, sikapnya menantang.
“Tentu saja aku yang bilang...!” Pemuda itu berhenti dan mengatur napasnya yang agak terengah-engah.
“Wah, bisa putus napasku kalau diajak balapan lari gila-gilaan seperti tadi! Aku tidak bilang kau takut, aku
tadi bertanya apakah engkau takut kepadaku.”
“Aku tidak takut! Apamu yang kutakuti?” Kwi Lan membentak.
“Kalau tidak takut kenapa lari seperti dikejar setan? Aku... aku mau bicara denganmu, aku ingin jalan
bersama, kenapa kau melarikan diri?”
“Aku lari, atau jalan, atau tidur, bukan urusanmu. Aku tidak ada urusan denganmu, aku tidak ingin berjalan
bersama, tidak ingin bicara denganmu.”
“Wah-wah-wah, kenapa begini galak? Sungguh tidak berbudi....”
“Aku tidak berhutang budi kepadamu! Kau mau apa?”
Pemuda itu menyeringai dan senyumnya yang lebar itu lucu sekali, seperti senyum orang mengunyah
garam, sehingga diam-diam Kwi Lan menjadi geli.
“Kau memang tidak berhutang budi kepadaku. Akan tetapi engkau hutang kacang! Hayo menyangkallah
kalau mampu! Bukankah kau berhutang kacang asin garing yang gurih dan wangi, tidak satu, tidak pula
dua atau tiga, melainkan tiga genggam yang isinya banyak!”
“Hanya dua genggam!” bentak Kwi Lan.
“Dua genggam banyak juga namanya. Lebih dua puluh! Hayo kau bayar kembali hutangmu itu, baru di
antara kita tidak ada sangkut paut lagi!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwi Lan tertegun dan melengak. Ia menoleh kekanan kekiri, tak berdaya. Dari mana ia bisa mendapatkan
kacang asin di dalam hutan itu? Dan yang sudah masuk perutnya pun tidak mungkin dikeluarkan lagi.
Betapa pun juga, ia kalah benar. Memang tak dapat ia menyangkal bahwa ia tadi telah makan dua
genggam kacang asin pemuda itu. Baru sekarang Kwi Lan merasa kalah debat.
Biasanya menghadapi suheng-nya, Suma Kiat, ia selalu menang berdebat sampai suheng-nya kewalahan.
Akan tetapi sekarang ia benar-benar bingung, tak tahu harus melawan secara bagaimana. Akhirnya Kwi
Lan menggerakkan kepala keras-keras untuk menyingkap gumpalan rambut yang jatuh ke mukanya,
sebuah kebiasaan atau gerakan yang biasa ia lakukan tanpa sadar apa bila ia merasa malu, bingung atau
marah.
“Kau memang manusia berandalan, ugal-ugalan, tidak tahu malu menyebut-nyebut urusan dua genggam
kacang asin yang tidak ada harganya! Cih!”
“Kau yang sombong, galak, tidak menghargai orang. Diajak jalan bersama dan bicara saja tidak sudi,
seperti tidak ingat saja betapa tadi di atas pohon ikut duduk dan makan kacang...,“ pemuda itu merengut.
“Sudahlah! Betul aku telah berhutang dua genggam kacang padamu. Nah, sekarang apa yang hendak kau
bicarakan.”
Wajah pemuda itu sekaligus berseri kembali seperti biasa, sepasang matanya bersinar-sinar penuh
keriangan. Memang wajah yang amat tampan dan melihat wajah ini, sukarlah bagi Kwi Lan untuk
mempertahankan kedongkolan hatinya. Wajah itu amat segar dan riang, tidak hanya mata dan bibir yang
selalu membayangkan senyum gembira, bahkan alis yang tebal itu bergerak-gerak lucu, bulu mata ikut
bergetar seperti menari-nari. Wajah yang tampan, wajah yang lucu dan gembira! Seperti awan tipis disapu
angin, lenyaplah rasa panas di hati Kwi Lan dan gadis ini lalu duduk di atas akar pohon yang menonjol,
membereskan rambutnya dan mengusap peluh di leher dengan ujung lengan baju.
“Gerah, ya? Memang hawanya panas, apa lagi kalau dipakai lari-lari cepat, bisa mandi keringat kita.”
Tangannya merogoh dalam baju dan ketika ditarik ke luar, ternyata ia telah memegang sebuah guci
panjang berisi air jernih dan dingin. Gerakannya cepat dan kelihatannya seperti seorang pelawak main
sulap saja. Dibukanya tutup guci dan dengan tersenyum ia berkata,
“Isinya air, jernih dan bersih. Guci ini bukan sembarang guci, melainkan guci wasiat dan air yang disimpan
di sini, makin lama tidak makin kotor malah makin jernih, berbau harum dan timbul rasa manis, juga
menjadi dingin segar. Minumlah, Nona.” Ia menyodorkan guci itu kepada Kwi Lan.
Air yang tampak jernih berkilau, muka yang tampak riang dan menawarkan dengan penuh kejujuran, hawa
yang panas, semua ini membuat Kwi Lan bernafsu sekali untuk meneguk air segar itu. Tanpa berkata apaapa
ia menerima guci, mendekatkan bibir guci yang halus kepada bibirnya sendiri yang lebih halus lagi,
akan tetapi pada saat itu pandang mata mereka bentrok dan cepat-cepat Kwi Lan menurunkan lagi guci air
itu ke bawah, tidak jadi minum.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kenapa...?”
Kwi Lan mengerling dengan pandang mata tajam. “Apakah air ini juga akan dianggap hutang? Lebih baik
mati kehausan dari pada minum air hutangan!” Ia menyerahkan kembali guci itu kepada pemiliknya.
Pemuda itu tertawa bergelak, memperlihatkan deretan gigi yang terpelihara rapi dan putih. “Apakah benarbenar
engkau begini pemarah dan galak? Ah, aku tidak percaya, kau hanya pura-pura bersikap galak saja!”
“Siapa tidak akan marah kalau kau begini ugal-ugalan? Dua genggam kacang asin saja digugat-gugat,
dijadikan alasan....”
Pemuda itu tiba-tiba berdiri dan menjura sampai jidatnya hampir menyentuh tanah, seperti seorang
melakukan penghormatan kepada ratu. “Hamba mohon beribu ampun atas segala kesalahan hamba
terhadap tuan putri yang mulia....”
“Heiii! Bagaimana engkau tahu bahwa...?” Kwi Lan tiba-tiba menghentikan kata-katanya.
Sikap pemuda ugal-ugalan yang melawak itu sejenak mengingatkan ia akan ibu kandungnya yang menjadi
ratu di Khitan sehingga timbul dugaan dan kecurigaannya bahwa pemuda aneh ini tahu bahwa dia anak
ratu. Akan tetapi melihat wajah pemuda itu berbalik menjadi kaget dan heran, ia menahan kata-katanya,
kemudian melanjutkan, “Sudahlah! Jangan kau main-main seperti badut. Sebetulnya engkau mau apakah?
Mengapa mengejarku dan hendak bicara apa dengan aku?”
Pemuda itu menarik muka sungguh-sungguh, akan tetapi tetap saja mukanya yang kekanak-kanakan itu
berseri ketika ia menyodorkan guci airnya. “Harap nona suka minum dulu air ini agar percaya bahwa Nona
tidak lagi marah kepadaku.”
Kwi Lan menerima guci itu dan meneguk isinya. Memang air yang amat dingin dan segar sehingga
hilanglah hausnya, terasa amat puas dan nikmat. “Enak benar air ini,” katanya memuji sambil
mengembalikan guci.
Pemuda itu pun meneguk air, kemudian menutup guci dan menyimpannya kembali ke balik bajunya.
“Nona, terus terang saja, begitu bertemu denganmu aku sudah menjadi sangat tertarik dan kagum.
Gerakanmu jelas menunjukkan bahwa engkau memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, sikapmu terbuka
dan tegas. Benar-benar hebat sekali. Setelah bertemu dengan seorang seperti Nona, bagaimana aku
dapat berpisah begitu saja tanpa lebih dahulu bicara dan mengikat persahabatan? Apa lagi melihat sikap
Nona yang sama sekali tidak memandang mata kepada Thian-liong-pang dan terutama sekali berani
memaki seorang tokoh besar seperti Bu-tek Siu-lam, benar-benar hebat sekali dan tentulah Nona seorang
yang memiliki kedudukan sejajar dengan tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw pada waktu ini.”
“Ngawur dan ngaco! Selama hidupku belum pernah aku bertemu dengan macamnya Bu-tek Siu-lam dan
aku merasa heran sekali mengapa Ouw Kiu si Brewok tadi kelihatan begitu ketakutan ketika nama Bu-tek
Siu-lam disebut-sebut.”
“Apa lagi dia, aku sendiri pun hampir terjengkang karena kaget mendengar engkau berani memaki-maki
Bu-tek Siu-lam!”
“Huh, orang macam apakah Bu-tek Siu-lam itu? Aku hanya pernah mendengar dari mulut pengemispengemis
Hek-peng Kai-pang bahwa dia yang melindungi semua pengemis golongan hitam yang katanya
datang dari dunia barat. Perlu apa takut terhadap badut macam dia?”
“Aihh...aihh..., agaknya Nona belum banyak tahu akan tokoh-tokoh dunia kang-ouw pada waktu ini!
Sehingga nama besar Bu-tek Siu-lam pun belum dikenalnya betul. Nona, agaknya engkau merupakan
seorang perantau yang baru, belum lama turun gunung...“
Kwi Lan merasa betapa pipinya panas. Hatinya juga panas karena rahasianya diketahui. Dengan lain katakata
pemuda ini hendak mengejeknya, mengatakan bahwa ia masih hijau, masih belum berpengalaman
sehingga tidak mengenal tokoh-tokoh besar!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hemm, kalau engkau..., sudah banyak pengalaman, ya? Sudah puluhan tahun merantau?” Kwi Lan
sengaja mengatakan puluhan tahun padahal usia pemuda itu paling banyak sama dengan usianya sendiri,
sembilan belas tahun!
Akan tetapi pemuda itu tidak merasakan ejekan ini agaknya. Wajahnya serius ketika ia menjawab,
“Semenjak lahir aku sudah merantau, Nona.”
“Dan aku..., sebelum lahir sudah merantau!” potong Kwi Lan, matanya menyinarkan kemarahan, bibirnya
tersenyum manis, senyum marah. Memang ciri khas gadis ini, makin marah ia, makin manis senyumnya!
Pemuda ini menatap wajahnya penuh selidik, tiba-tiba wajahnya yang serius itu kembali berseri seperti
biasa. “Aih, kiranya Nona juga suka berkelakar. Mana bisa sebelum lahir sudah merantau!”
“Mengapa tidak bisa kalau kau pun sudah merantau sejak lahir? Tentu kau akan mendongeng bahwa
begitu lahir engkau sudah pandai tertawa, pandai berlari cepat, dan pandai... membual?”
“Ha-ha-ha-ha! Lucu sekali!” Pemuda itu terpingkal-pingkal dan mau tak mau Kwi Lan tertawa juga
membayangkan betapa begitu lahir pemuda itu pandai membual.
“Aku tidak membohong, Nona. Tentu saja bukan aku yang melakukan perantauan seorang diri, melainkan
ayahku. Aku dibawa merantau dan sejak itu tak pernah berhenti merantau. Akan tetapi sudahlah, tidak ada
yang menarik untuk diceritakan. Lebih baik kuceritakan kepadamu tentang tokoh itu. Bu-tek Siu-lam adalah
seorang tokoh besar yang benar-benar sakti. Tidak ada tokoh kang-ouw yang tidak ngeri mendengar nama
ini sungguh pun baru beberapa tahun saja ia datang dari sebelah barat Pegunungan Himalaya. Selain
sakti, dia pun amat aneh sehingga tak seorang pun dapat menduga apakah dia itu laki-laki tulen ataukah
perempuan.”
“Hee...? Mengapa begitu?” Kwi Lan mulai tertarik. Karena semenjak kecil ia terkurung di istana bawah
tanah kemudian di dalam hutan yang tak pernah ada yang berani memasukinya, tentu saja
pengetahuannya tentang dunia kang-ouw amat sempit. Apa lagi tentang tokoh-tokoh yang demikian
anehnya.
Ada pun pemuda itu ketika melihat sikap Kwi Lan mulai tertarik, menjadi gembira untuk bercerita. “Dia
berperawakan laki-laki tinggi tegap dan gagah, wajahnya tampan sekali, rambutnya terurai dan berombak
indah. Akan tetapi lagak dan bicaranya seperti seorang perempuan yang amat genit, dan senjatanya
adalah sebuah gunting besar yang amat mengerikan. Melihat gerak-gerik dan lagaknya, dia itu seratus
prosen wanita, akan tetapi melihat bentuk tubuh dan wajahnya, dia adalah laki-laki. Hal ini saja sudah
menyeramkan, apa lagi menyaksikan kekejamannya, membikin bulu roma berdiri. Ia pernah membasmi
pengemis golongan putih dalam sebuah rapat besar sebanyak dua ratus orang lebih yang diguntinggunting
dan dipotong-potong tubuhnya! Sejak itu ia menjadi datuknya pengemis golongan hitam. Banyak
sudah tokoh golongan putih dan para pendekar hendak membasminya, namun mereka itu malah menjadi
korban. Karena kesaktiannya inilah maka tak seorang pun berani lagi mengganggunya dan ia merupakan
tokoh besar yang dicalonkan menjadi pemimpin dunia hitam jika ada pemilihan lagi di samping tokoh-tokoh
yang lain.”
Kwi Lan mengerutkan keningnya. Tak pernah disangkanya ada seorang yang sedemikian hebatnya.
Tadinya ia mengira bahwa di dunia ini hanya bibinya, Kam Sian Eng, saja yang paling lihai. Siapa tahu
pemuda ini sendiri sudah lihai sungguh pun ia belum mencobanya, akan tetapi pemuda ini amat jerih ketika
menceritakan kesaktian Bu-tek Siu-lam!
“Hemm, betapa pun juga, aku tidak takut kepadanya!” kata Kwi Lan. “Bagaimana dengan Thian-liongpang?
Apakah ketuanya juga sehebat laki-laki genit itu?”
Pemuda itu tertawa.
“Ihh, mengapa kau tertawa?”
“Mendengar kau menyebut Bu-tek Siu-lam laki-laki genit!”
“Kau sendiri yang bilang dia genit.”
“Mana bisa laki-laki genit? Laki-laki tidak ada yang genit, yang genit hanyalah perempuan.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Belum tentu semua perempuan genit! Laki-laki yang genit banyak, di antaranya... engkau inilah!”
“Wah, wah, menyerang lagi. Kau benar-benar pemarah, Nona. Maafkanlah. Yang kumaksudkan adalah
bahwa Bu-tek Siu-lam itu bersikap genit seperti wanita, jadi dia itu laki-laki bukan wanita bukan. Dia
seorang banci.”
“Banci? Apa banci...?”
“Banci itu wadam!”
“Wadam? Apa itu?”
“Wadam itu wandu.”
“Wandu? Aku tidak mengerti.”
Pemuda itu menarik napas panjang, lalu menggeleng kepala. “Tidak banyak pengertianmu, Nona. Banci,
wadam, atau wandu itu adalah orang yang bukan laki-laki bukan pula wanita, akan tetapi juga bisa laki-laki
bisa disebut wanita.”
Pusing kepala Kwi Lan mendengar ini. Keningnya berkerut, matanya bersinar marah. “Berandal, kalau kau
mempermainkan aku, hemm... aku takkan sudi mendengarmu lag!”
“Eh, eh, nanti dulu! Aku tidak main-main, Nona. Banci adalah seorang yang bertubuh laki-laki akan tetapi
berwatak perempuan, atau sebaliknya. Memang sukar untuk menerangkan, karena aku sendiri tidak tahu
persis mengapa bisa begitu, akan tetapi memang kenyataannya demikian. Kau tadi bertanya tentang
Thian-liong-pang? Ketuanya juga seorang yang terkenal memiliki ilmu kepandaian hebat, dan bukan itu
saja yang membuat Thian-liong-pang disegani, melainkan banyaknya anggota dan banyaknya para
pimpinan yang tinggi-tinggi ilmunya. Kabarnya tidak kurang dari dua belas orang murid kepala Thian-liongpang
amat lihai dan jika tenaga mereka digabungkan menjadi satu, agaknya Bu-tek Siu-lam sendiri tidak
berani main-main dengan mereka. Pusatnya di Yen-an dan entah apa yang dimaksudkan si Brewok tadi
dengan upacara pengangkatan ketua baru. Mungkin ketua lama mengundurkan diri, diganti muridnya yang
paling besar. Peristiwa itu tentu amat menarik dan dikunjungi semua tokoh dunia hitam, karena itu aku
ingin sekali mengunjungi ke Yen-an bersama... Nona, kalau Nona... berani!”
“Tentu saja aku berani!” Kwi Lan meloncat sambil meraba gagang pedangnya.
“Jadi Nona mau...?” Pemuda itu tersenyum lebar dan menjadi girang sekali.
Kwi Lan sadar lalu duduk kembali, “Soal mau atau tidak, nanti, dulu! Akan tetapi pokoknya aku berani!
Sekarang ceritakan, selain laki-laki genit....” Ia berhenti dan melotot, akan tetapi pemuda itu tidak tertawa
sekarang, “selain dia, siapa lagi tokoh besar di dunia ini sekarang?”
“Tokoh-tokoh dunia hitam banyak sekali, akan tetapi mereka itu adalah tokoh-tokoh yang dahulu berada di
bawah Thian-te Liok-koai yang sekarang sudah lenyap dari permukaan bumi. Ada pun tokoh-tokoh yang
sekiranya dapat disejajarkan Bu-tek Siu-lam, sedikit sekali. Aku hanya mendengar bahwa ada tokoh-tokoh
iblis yang berjuluk Thai-lek Kauw-ong, seorang hwesio tua yang kabarnya memiliki kesaktian seperti iblis.
Ada pula yang berjuluk Sin-cam Khoa-ong yang suka membunuh orang tanpa sebab dan tanpa berkedip.
Orang ke empat adalah Siauw-bin Lo-mo. Kabarnya empat tokoh itulah yang kini merajai empat penjuru
dunia hitam. Akan tetapi aku sendiri belum pernah bertemu dengan seorang di antara mereka.”
“Hemm, kalau mereka itu jahat, perlu apa memiliki kepandaian hebat? Apakah tidak ada yang menentang
dan mengalahkan mereka?”
“Aku tidak tahu jelas, hanya kabarnya sudah terlalu banyak orang gagah dan pendekar yang roboh di
tangan mereka.”
“Orang gagah? Pendekar? Orang macam apa mereka ini?”
Pemuda itu membelalakkan matanya. Kalau tadi mendengar gadis ini tidak tahu apa-apa tentang dunia
hitam, ia menyangka gadis ini tentu murid tokoh sakti dunia putih yang baru saja turun gunung. Akan tetapi
dunia-kangouw.blogspot.com
mendengar pertanyaan ini ia benar-benar heran sekali. Kalau tidak mengerti tentang dunia hitam dan dunia
putih, habis gadis ini termasuk golongon apa?
“Bagaimana Nona tidak mengerti akan hal ini? Pendekar adalah orang-orang yang menentang kejahatan,
orang-orang dari dunia putih yang selalu berusaha menumpas dunia hitam. Aku percaya bahwa guru Nona
sendiri tentu seorang tokoh besar, seorang locianpwe dari dunia putih yang amat mulia.”
Kwi Lan menggeleng kepala. “Guruku bukan dari dunia putih, bukan pula dunia hitam. Entah dunia apa aku
tidak tahu! Coba katakan, siapa tokoh-tokoh paling hebat di dunia putih?”
Pemuda itu masih belum hilang keheranannya, akan tetapi ia menahan perasaan ini dan menjawab, “Juga
di antara pendekar-pendekar sakti banyak sekali yang merupakan tokoh puncak, akan tetapi aku yang
muda hanya pernah mendengar beberapa orang saja. Pertama-tama adalah Suling Emas....”
“Suling Emas? Aku tanya nama orangnya, bukan sulingnya. Dari emas, perak, atau kuningan siapa
peduli?”
“Suling Emas adalah nama julukannya. Nama aslinya, seperti tokoh-tokoh besar kang-ouw lainnya, siapa
yang tahu?”
“Siapakah Suling Emas itu? Orang macam apa dan bagaimana kelihaiannya?”
Pemuda itu mengangkat jempol tangannya ke atas. “Aku sendiri belum mempunyai keberuntungan
berjumpa dengan Suling Emas, akan tetapi namanya sudah sering kali kudengar dari para Locianpwe. Ilmu
kepandaiannya setinggi langit, bahkan kabarnya Thian-te Liok-koai, enam datuk persilatan, musnah oleh
sepak terjang Suling Emas. Sulingnya yang terbuat dari emas itu mengalahkan segala macam senjata
yang ada di dunia ini.”
“Dimana dia tinggal?”
“Tak seorang pun tahu. Seperti juga empat tokoh dunia hitam, banyak tokoh dunia putih terdiri dari orangorang
aneh yang sukar diketahui tempatnya, akan tetapi yang sewaktu-waktu dapat muncul di tempattempat
yang sekali tidak terduga-duga. Aku tidak akan merasa heran kalau saat ini di sekeliling kita
terdapat tokoh dunia hitam mau pun dunia putih. Sepak terjang mereka penuh rahasia.”
Mendengar ini, tanpa disadarinya lagi Kwi Lan melirik ke kanan-kiri, akan tetapi keadaan di sekeliling
tempat itu sunyi. “Lalu siapa lagi selain Suling Emas?”
“Di antara para pengemis golongan putih menyebut-nyebut nama Yu Kang Tianglo adalah seorang tokoh
pengemis yang amat lihai ilmu silatnya, senjatanya hanya sebatang tongkat rotan kecil namun
keampuhannya tidak kalah oleh pedang pusaka yang mana pun juga. Tentu saja dua orang itu hanya dua
di antara banyak lagi. Apa lagi kalau kita ingat kepada partai-partai besar seperti Siauw-lim-pai, Bu-tongpai,
Go-bi-pai, Kun-lun-pai yang tentu mempunyai banyak orang pandai. Belum lagi di selatan kabarnya
Agama Beng-kauw di Negara Nan-co dipimpin oleh orang-orang yang amat sakti. Akan tetapi di antara
segala orang sakti, baik di dunia putih mau pun hitam, agaknya tidak akan dapat menyamai tingkat kakek
yang mulia dan terhormat Bu Kek Siansu....”
Berkata sampai di sini, pemuda itu membungkukkan tubuhnya seakan-akan hendak memberi hormat
kepada nama yang disebutnya tadi.
“Bu Kek Siansu? Siapa dia...?” Kwi Lan makin tertarik. Kalau di antara semua tokoh yang hebat-hebat tadi
tidak dapat menyamai tingkat kakek ini, tentu kakek ini benar-benar seorang manusia yang amat luar
biasa.
“Maaf, Nona. Aku tidak berani sembarangan menyebut-nyebut namanya yang terhormat. Akan tetapi aku
mempunyai lagu yang menurut Suhu adalah ciptaan beliau. Kau suka mendengar lagu tiupan suling?”
Sambil berkata demikian, pemuda itu merogoh ke belakang baju dan kembali seperti orang main sulap, ia
telah mengeluarkan sebatang suling bambu.
Diam-diam Kwi Lan terheran dan menduga-duga, apa saja kiranya isi dalam baju pemuda tukang sulap ini.
Kemudian melihat suling itu, ia bertanya, “Jangan-jangan engkau sendiri yang berjuluk Suling Emas!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Pemuda itu tertawa. “Ah, Nona jangan main-main. Apakah aku pantas menjadi seorang laki-laki berusia
lima puluh tahun lebih? Dan pula, sulingku ini bambu biasa, bambu kuning, sama sekali bukan emas, biar
pun sama kuningnya. Kau dengarlah baik-baik, karena lagu ini bukan lagu sembarangan lagu melainkan
lagu agung ciptaan manusia dewa.”
Pemuda itu lalu meniup sulingnya dan terdengar lengking suara suling yang halus merdu, kemudian suara
itu membentuk irama lagu yang amat aneh. Mula-mula amat sukar ditangkap iramanya, sukar dirasakan
kenikmatannya, akan tetapi makin lama suara suling itu makin menggulung semua pikiran dan perasaan
Kwi Lan sehingga gadis ini duduk termenung seperti orang tak sadar, terbuai suara itu yang mendatangkan
rasa tenang dan damai dalam hatinya. Lenyaplah segala kehendak, segala keinginan, segala perasaan,
seperti keadaan orang tidur dalam sadar! Setelah pemuda itu menghentikan tiupan sulingnya, gema suara
tadi masih berdengung dan mempesona jiwa Kwi Lan sehingga ia masih diam terlongong. Akhirnya ia
sadar dan menarik napas panjang, kemudian memandang dengan kagum kepada pemuda itu.
“Aiih, kiranya engkau amat pandai meniup suling. Hebat!”
Wajah pemuda itu makin berseri gembira. Ia menjura dan berkata, “Bukan karena aku pandai meniup
suling Nona, melainkan karena lagu itu memang hebat, sekaligus menembus jantung menguasai jiwa.
Dibandingkan dengan Suling Emas, kepandaianku meniup suling tidak ada seper-sepuluhnya dan lagi...
kabarnya Suling Emas memang menerima ilmu-ilmunya dari Bu Kek Siansu yang terhormat.”
Kwi Lan makin kagum dan terheran-heran. Timbul keinginan hatinya untuk bertemu dengan Suling Emas,
walau pun hanya untuk mendengar tiupan sulingnya yang sepuluh kali lebih hebat dari pada tiupan suling
pemuda ini.
“Wah, alangkah goblok!” Pemuda itu yang sudah menyimpan sulingnya kembali, meloncat bangun sambil
menampar kepalanya.
Kwi Lan ikut terkejut dan ikut meloncat bangun. “Ada apa lagi?”
Pemuda itu tertawa. “Alangkah goblok aku. Lihat, kita bicara sudah setengah hari, banyak nama tokohtokoh
dunia hitam dan putih sudah kuperkenalkan, malah aku sudah meniup suling untukmu dan kau
sudah menaruh kepercayaan penuh kepadaku. Akan tetapi, kita masih belum saling mengenal nama!
Padahal aku merasa seakan-akan sudah mengenal Nona selama bertahun-tahun, seolah-olah kita sudah
saling bersahabat lama sekali. Bolehkah aku mengetahui nama besar Nona yang mulia?”
Kwi Lan tersenyum. Terhadap seorang pemuda seperti ini, tak mungkin ia dapat membencinya. Pemuda ini
berandalan memang, aneh pula, akan tetapi tidak terbayang watak kurang ajar baik dalam kata-kata mau
pun dalam pandang mata kepadanya. Ilmu silatnya agaknya tinggi, banyak pengetahuannya tentang dunia
kang-ouw, budinya baik dan masih ditambah pandai bersuling lagi!
“Mengapa masih bertanya lagi? Bukankah namaku Mutiara Hitam dan engkau Setan Berandalan?”
Pemuda itu tertawa geli kemudian berkata sungguh-sungguh, “Biar pun kita bukan orang lemah, namun
kita belumlah seperti kakek-kakek dan nenek-nenek yang suka memakai nama julukan dan
menyembunyikan nama sendiri! Nona yang baik, sudilah memperkenalkan nama besar dan she (nama
keturunan) yang terhormat.”
“Kau sendiri siapa? Kau yang ingin berkenalan, seharusnya kau yang lebih dulu memperkenalkan nama.”
Pemuda itu mengangguk-angguk. “Nona benar. Maafkan aku yang pelupa. Nah, namaku Hauw Lam, she
Tang. Tang Hauw Lam, nama yang bagus, sesuai dengan orangnya, bukan?” Sambil berkata demikian,
sengaja pemuda itu pasang aksi menggoyang-goyangkan kedua pundak. Segala hal dilakukan sambil
melucu.
Akan tetapi kali ini Kwi Lan tidak merasa lucu, melainkan kaget bukan main. Kalau saja ia tidak memiliki
batin yang kuat, tentu ia akan kelihatan kaget sekali pada mukanya. Namun muka yang cantik jelita itu
tenang saja, hanya jantungnya yang berdebar-debar keras. Jadi inikah putera Bi Li? Putera Tang Sun dan
Phang Bi Li yang disangka lenyap setelah gurunya, ketua kelenteng di Kim-liong-san meninggal dunia?
Inikah yang dicari-cari oleh Bi Li, bahkan yang telah ia janjikan kepada Bibi Bi Li untuk bantu mencari?
dunia-kangouw.blogspot.com
Sungguh tidak disangka-sangka! Akan tetapi, betapa pun juga ia merasa girang bahwa putera Bibi Bi Li
yang amat sayang kepadanya itu ternyata adalah seorang yang berilmu tinggi, yang berbudi baik seperti
Ibunya, dan yang lucu seperti... entah siapa yang menurunkan sifat lucu kepada pemuda ini. Akan tetapi,
untuk sementara Kwi Lan tidak akan membuka rahasia ini.
“Aku sebatang kara,” Hauw Lam melanjutkan, “dan Guruku yang terakhir adalah seorang kakek yang sakti
dan aneh yang dahulu merupakan orang ke dua setelah Bu Kek Siansu. Seorang kakek yang hidup di
dalam kuburan, tidak pernah keluar dari kuburan itu! Kakek itu sudah sangat tua, sukar ditaksir lagi berapa
usianya, akan tetapi sifatnya ugal-ugalan dan seenaknya sendiri....“
“Seperti engkau!” Kwi Lan memotong.
Hauw Lam tertawa dan mengangguk. “Ya, aku banyak meniru sifat-sifatnya itu, sifat yang amat baik.
Manusia hidup satu kali di dunia, kalau tidak bergembira mau apa lagi? Keadaan baik diterima dengan
gembira akan menjadi lebih menyenangkan, sebaliknya keadaan buruk kalau diterima dengan gembira,
akan terasa ringan! Aku hanya menerima petunjuk beliau selama seratus hari, akan tetapi gemblengan
selama tiga bulan itu begitu jauh lebih berharga dari pada ajaran kuterima belasan tahun dari guru-guru
yang lain.”
“Siapa nama gurumu yang aneh. itu?”
“Julukan beliau adalah Bu-tek Lo-jin. Menurut beliau memang aku berjodoh menjadi muridnya.” Hauw Lam
kemudian menuturkan pengalamannya menjadi murid kakek sakti itu yang didengarkan Kwi Lan penuh
perhatian.
Ketika Hauw Lam berusia lima tahun, setelah selama itu ia diajak merantau oleh Tang Sun, ayahnya yang
mencari ibunya, ia dititipkan oleh ayahnya kepada Gwat Kim Hosiang ketua kelenteng di bukit Kim-liongsan.
Karena ketika berpisah dari ayahnya ia baru berusia lima tahun, maka wajah ayahnya pun tidak begitu
teringat olehnya. Apa lagi ibunya meninggalkannya ketika ia berusia tiga bulan! Sepuluh tahun lamanya ia
tinggal di kelenteng bukit Kim-liong-san, menjadi kacung kelenteng membantu pekerjaan para hwesio.
Karena bakatnya memang baik sekali, ketua kelenteng itu, Gwat Kim Hosiang murid Go-bi-pai, telah
menurunkan semua ilmunya kepada Hauw Lam.
Ketika ia berusia lima belas tahun dan telah mewarisi ilmu kepandaian suhu-nya, ketua kelenteng itu
meninggal dunia. Hauw Lam lalu meninggalkan kelenteng dan pergi merantau. Anak muda ini suka akan
ilmu silat, maka dengan bekal pelajaran dari Gwat Kim Hosiang yang membuat ia mencapai dasar-dasar
ilmu silat tinggi, ia dapat memperdalam ilmunya, Hauw Lam pandai merendah sehingga pandai ia
mengambil hati beberapa tokoh kang-ouw yang berilmu tinggi sehingga banyak pula ia menerima petunjuk.
Pada suatu hari, perantauannya membawanya ke selatan. Ia telah berusia tujuh belas tahun dan ketika ia
melewati sebuah hutan, keadaan yang sunyi membuatnya menjadi keisengan dan dikeluarkanlah
sulingnya. Memang semenjak kecil ketika ia tinggal di kelenteng Kim-liong-san, seorang hwesio yang
pandai menyuling mengajarnya menyuling dan Hauw Lam amat suka meniup suling. Kini ia berjalan
perlahan sambil meniup sulingnya. Tiba-tiba, ketika melewati segundukan tanah ia roboh terguling!
Hauw Lam kaget sekali, kedua kakinya adalah anggota badan yang terlatih. Diserang lawan saja tidak
mudah terguling bagaimana sekarang bisa terguling tanpa sebab? Ia tadi merasa ada yang menarik
kakinya dengan tenaga luar biasa. Sambil meloncat bangun ia memutar tubuh mempersiapkan kedua
tangan untuk menangkis atau memukul dan memandang ke sekeliling. Akan tetapi tidak ada apa-apa di
sekeliling tempat itu. Ia memandang ke bawah. Tanah di bawah kakinya menonjol, merupakan gundukan
tanah seperti tempat kuburan orang.
Tiba-tiba bulu tengkuknya meremang. Setankah yang menggodanya tadi? Setan dalam kuburan yang
marah karena kuburan itu tanpa sengaja terinjak olehnya? Hauw Lam boleh jadi gagah perkasa dan tidak
pernah merasa takut menghadapi lawan yang tangguh. Akan tetapi sekali ini, biar pun belum gelap, baru
menjelang senja, berada seorang diri di hutan sunyi dan merasa diserang dari dalam kuburan, ia merasa
ngeri karena seram dan takut.
Tanpa berpikir panjang lagi Hauw Lam menggerakkan kedua kaki hendak lari dari tempat yang
menyeramkan itu, akan tetapi baru selangkah ia lari, kembali tubuhnya roboh terguling! Timbul kemarahan
hatinya yang amat sangat, melebihi ketakutannya. Belum pernah selamanya ia diperhina seperti ini. Kali ini
dunia-kangouw.blogspot.com
ia melompat bangun berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang lebar, memasang kuda-kuda,
membusungkan dada melebarkan mata mengatasi rasa seram sambil memaki-maki.
“Setan atau iblis atau siluman dari mana berani mengganggu Siauw-ya (Tuan Muda) yang sedang lewat?
Kalau manusia, jawablah, kalau siluman muncullah dan mari kita bertanding sepuluh ribu jurus melawan
Tang Hauw Lam!”
Ia petentang-petenteng, memaki-maki sambil menantang-nantang sampai beberapa lama. Namun sunyi
tiada jawaban, juga tiada suara mau pun sesuatu. Hanya angin yang lewat menggerakkan daun-daun
pohon, menimbulkan suara bisik-bisik seperti banyak makhluk yang tak tampak sedang bersendau gurau.
Rasa seram kembali menyelubungi hati Hauw Lam, mengatasi kemarahannya dan semua bulu di tubuhnya
berdiri satu-satu. Tak salah lagi, tentu setan, pikirnya. Ketika ia roboh yang kedua kalinya tadi terasa benar
betapa ada hawa pukulan yang mengait kakinya.
Kini ia memaki-maki lagi, akan tetapi diam-diam ia menggerakkan kedua kakinya. Ia ingin mengikat
perhatian ‘siluman’ yang mengganggunya dengan makiannya kemudian menggunakan saat ‘siluman’ itu
lengah, sekali meloncat jauh pergi dari situ. Setelah siap, sambil memaki-maki, mendadak ia
menggerakkan kakinya meloncat jauh. Girang hatinya karena akalnya ini berhasil, buktinya ketika ia
meloncat, tidak ada yang menjegal kakinya lagi.
Akan tetapi, selagi ia merasa girang dan tubuhnya masih melayang di atas, tiba-tiba tubuhnya itu tanpa
dapat ia kuasai lagi tertarik ke bawah dan terbanting di atas tanah! Ketika ia mendapat kenyataan bahwa ia
terbanting kembali di atas gundukan tanah, ia makin kaget dan berseru, “Celaka... mati aku di tangan
siluman...!”
“Heh-heh, siapa bilang mati itu celaka? Hidup sekedar hidup itulah yang celaka, apa lagi hidup
menghamba nafsu, lebih-lebih celaka!”
Hauw Lam terkejut sekali. Karena suara itu terdengar dari bawah, ia lalu memandang ke bawah dan...
hampir ia terjengkang roboh kembali ketika melihat sebuah kepala di atas tanah! Kepala yang berdiri
sebatas leher di atas tanah yang rambutnya riap-riapan, mukanya penuh cambang bauk, matanya melotot.
Dengan muka pucat Hauw Lam memandang kepala itu, mengucek-ucek kedua matanya, memandang lagi
dan bergidik. Kedua kakinya terasa lemas dan lumpuh, seluruh tubuhnya menggigil.
Sambil menahan kedua kakinya agar tidak roboh saking lemas, Hauw Lam menghadap ke arah kepala di
atas tanah lalu menjura dan berkata, suaranya gemetar, “Saya..., Tang Hauw Lam... selamanya ingin
menjadi orang baik-baik..., harap anda jangan mengganggu saya....”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kepala itu bergerak, menengadah dan matanya yang melotot itu menatap tajam, kemudian terdengar suara
dari balik kumis tebal yang menyembunyikan mulut, “Tidak mengganggu, hah? Kau menginjak-injak dan
melangkahi kepalaku, masih bisa bilang tidak mengganggu?”
Melihat kepala itu bergerak-gerak dan mendengar mulut di balik kumis dapat bicara seperti manusia, mulai
berangsur hilanglah rasa ngeri dan takut dari hati Hauw Lam. Ia memandang lebih teliti lagi. Kepala itu di
atas tanah den lehernya tersembul keluar dari tanah, agaknya tubuhnya terpendam. Kakek tua renta ini
tadi bicara tentang ‘kepalaku’, hal ini hanya berarti bahwa kakek itu masih mempunyai bagian tubuh yang
lain. Andai kata ia seorang siluman dan tubuhnya hanya kepala itu saja, tentu tidak akan menyebut
kepalaku.
Pula, setelah kini ia memandang penuh perhatian, biar pun muka itu buruk penuh cambang bauk dan
tertutup rambut yang riap-riapan, namun jelas bahwa itu kepala manusia, hanya entah bagaimana tubuh
kakek itu terpendam ke dalam tanah kuburan dan entah bagaimana pula kepala itu tiba-tiba muncul
sedangkan tadinya tidak ada apa-apa di situ. Ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kepala itu dan
berkata.
“Locianpwe (Orang Tua Gagah), mohon maaf sebanyaknya apa bila boanpwe (saya yang bodoh) telah
melakukan kesalahan terhadap Locianpwe karena sesungguhnya boanpwe tidak tahu bahwa Locianpwe
berada di sini dan tidak sengaja....”
“Wah-wah, membekuk-bekuk lidah pun tidak ada gunanya! Masa begini caranya orang minta maaf?
Mulutnya bilang minta maaf akan tetapi berlutut di sebelah atas kepalaku? Terlalu... terlalu...!” kepala itu
mengomel panjang pendek.
Hauw Lam membelalakkan matanya. Kakek ini terlalu aneh dan agaknya seorang yang suka berkelakar. Ia
sendiri adalah seorang pemuda yang jenaka dan selalu riang gembira, maka biar pun ia merasa
mendongkol atas sikap kakek yang tidak puas dengan permintaan maafnya itu, ia memutar otak mencari
akal.
“Baiklah, Locianpwe. Saya akan mohon maaf dan memberi hormat sepatutnya.”
Setelah berkata demikian Hauw Lam lalu mencabut goloknya dan dengan senjata ini ia menggali tanah di
depan kepala itu. Dengan pengerahan tenaga dalam, cepat ia dapat menggali sampai dalam, dan ia lalu
masuk ke dalam lubang itu sehingga kini yang tampak di luar tanah hanyalah kepalanya saja yang ia
angguk-anggukkan sambil mengulangi permintaan maafnya.
Mulut kakek itu tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, bagus sekali. Kau cocok untuk menjadi muridku. Kau banyak
akal, tidak mudah putus asa dan menghadapi segala rintangan hidup dengan wajah gembira. Hayo naik!”
Begitu kakek ini mengeluarkan kata-kata tubuh Hauw Lam mencelat ke atas.
Pemuda ini kaget sekali dan mengerahkan tenaga untuk mengatur keseimbangan tubuh. Ketika ia berhasil
turun dengan berdiri di atas tanah, ternyata kakek itu sudah keluar dari dalam tanah, kini duduk bersila di
atas tanah. Sekilas pandang, ia kaget dan heran. Kakek itu kepalanya besar dan seperti kepala orang
dewasa, akan tetapi tubuhnya kecil pendek seperti tubuh seorang anak berusia belasan tahun! Maklum
bahwa kakek yang tubuhnya aneh ini seorang sakti, ia lalu menjatuhkan diri kembali, berlutut di depan
kakek itu.
“Demikianlah, Mutiara Hitam. Semenjak saat itu aku menjadi murid Bu-tek Lo-jin selama seratus hari. Aku
tidak menerima ilmu silat baru dari Guruku yang aneh itu, akan tetapi semua ilmu silat yang pernah
kupelajari ia lihat dan ia beri petunjuk. Semenjak itu, baru terbuka mataku akan ilmu yang sebenarnya,”
Hauw Lam mengakhiri ceritanya.
Kwi Lan mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia tertarik sekali akan semua pengalaman Hauw Lam
dan diam-diam ia merasa girang bahwa putera bibinya ini benar-benar seorang pemuda yang perkasa dan
juga kalau ia tak salah duga, berbudi baik. Perasaan hangat memenuhi dadanya ketika ia menatap wajah
yang tampan dan jenaka itu. Ia sudah merasa tertarik sekali, seakan-akan ia berhadapan dengan kakak
kandungnya sendiri.
Perasaan ini mungkin timbul karena semenjak kecilnya ia sudah menganggap Bibi Bi Li seperti ibu
kandungnya. Betapa tidak? Bibi Bi Li yang memeliharanya semenjak ia belum mengerti apa-apa, yang
dunia-kangouw.blogspot.com
menghiburnya kalau ia menangis, yang memberinya makan kalau ia lapar dan memberinya minum kalau ia
haus. Dan pemuda ini adalah anak kandung Bibi Bi Li! Apa bedanya dengan kakaknya sendiri?
“Wah, kau melamunkan apa?”
Tiba-tiba Kwi Lan terkejut oleh seruan ini, sampai ia tersentak kaget. Ia mendongkol juga akan watak
pemuda ini yang ugal-ugalan dan kadang-kadang kasar. “Kenapa kau membentak-bentak orang?”
Hauw Lam tertawa. “Siapa membentak-bentak? Aku hanya bertanya. Mengapa engkau melamun
sedangkan aku sudah menanti sejak tadi memasang telinga setajam-tajamnya!”
“Menanti apa? Memasang telinga untuk apa?”
“Waduh, bagaimana ini? Sejak tadi sampai letih mulutku bercerita tentang riwayatku, tentang nama dan
pengalamanku. Setelah aku selesai, kini kau bertanya aku menanti apa dan memasang telinga untuk apa?
Tentu saja untuk mendengarkan ceritamu, tentang nama dan keadaanmu, tentang riwayat hidupmu!” jawab
Hauw Lam, penasaran.
Mendengar ini, Kwi Lan menarik napas panjang. Ia tidak ingin menyebut-nyebut tentang Bibi Kam Sian
Eng, tidak mau pula bercerita tentang ibu kandungnya, Ratu Khitan yang belum pernah dilihatnya itu. Ia
mau bercerita tentang Bi Li, akan tetapi merasa belum tiba saatnya. Maka ia lalu berkata, “Perlu apa
banyak cerita? Engkau sudah tahu namaku.”
“Siapa?”
“Mutiara Hitam.”
“Wah, kenapa kau suka sekali mempermainkan aku? Aku sudah menceritakan namaku sendiri, Tang Hauw
Lam...”
“Tapi aku mengenalmu sebagal Berandal saja, cukup. Dan kau mengenalku sebagai Mutiara Hitam. Apa
artinya nama? Nama apa pun, juga apa bedanya? Yang penting mengenal orangnya dan melihat
wataknya. Nama hanya kosong belaka!”
Hauw Lam menggaruk-garuk belakang telinganya dan mulutnya menggumam lirih, “Nama itu kosong
belaka...! Eh, Mutiara Hitam, semuda ini kau sudah sepandai itu berfilsafat? Ataukah... kau pernah patah
hati?”
“Patah hati? Bagaimana hati bisa patah? Apakah hati itu seperti kayu kering... macam ini?” Kwi Lan
mematahkan sebatang ranting kayu. Melihat wajah gadis itu bersungguh-sungguh, mau tidak mau Hauw
Lam tertawa.
“Sudahlah, tidak gampang mengajak kau bicara. Tidak mau menceritakan nama ya sudah, sedikitnya kau
tuturkan riwayatmu yang tentu menarik sekali.”
“Aku tidak punya riwayat. Lebih baik kau lanjutkan ceritamu. Kau tadi bilang bahwa kau sebatang kara.
Mana ayah dan ibumu?”
Untuk sesaat wajah yang jenaka dan lucu itu diselimuti awan kedukaan. Akan tetapi hanya sebentar saja
karena kembali wajah yang tampan itu menjadi cerah ketika menjawab, “Ibuku telah meninggal dunia
dan....”
“Siapa bilang ibumu meninggal dunia?!”
“Lho! Kenapa marah?” Hauw Lam bertanya karena mendengar suara pertanyaan yang membentak itu dan
melihat wajah yang masam.
“Siapa bilang ibumu meninggal dunia?” Kwi Lan mengulang.
Pemuda itu melongo. Dara yang cantik jelita seperti bidadari, yang gagah perkasa, akan tetapi yang
anehnya bukan main, memiliki watak yang sukar sekali dijajaki, sukar diduga. “Yang bilang? Tentu saja
ayahku. Ayahku yang bilang bahwa ibu telah meninggal dunia.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Sudah berada di ujung lidah Kwi Lan untuk menyangkal, untuk menyatakan bahwa ayah pemuda itu
bohong, akan tetapi dapat ditahannya.
“Dan ayahmu di mana dia?”
“Ayah? Ayah tidak sayang kepadaku. Ketika aku berusia lima tahun, ayah meninggalkan aku di kelenteng
bukit Kim-liong-san dan semenjak itu aku tidak pernah bertemu lagi dengan dia. Nah, sudah lengkap kini
riwayatku, sekarang ganti engkau...”
Ucapan Hauw Lam terhenti karena tiba-tiba terdengar derap suara kaki kuda, disusul suara orang. Tak
lama kemudian muncullah tujuh orang penunggang kuda. Pakaian, topi, dan bahasa mereka membuktikan
bahwa mereka adalah orang-orang asing. Kuda yang mereka tunggangi adalah kuda besar dan baik. Akan
tetapi tujuh ekor kuda tunggang mereka itu seperti tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan seekor
kuda yang dituntun oleh seorang di antara mereka. Kuda yang dituntun ini lebih tinggi, tubuhnya ramping
dilingkari otot-otot yang kuat. Keempat kakinya merit kecil dan bulunya hitam mulus dan mengkilap.
Sepasang matanya lebar dan bercahaya.
“Kuda betina yang hebat!” Hauw Lam terdengar memuji dengan suara lantang, matanya memandang ke
arah kuda hitam itu penuh kekaguman.
Akan tetapi Kwi Lan yang tidak mengerti tentang kuda, tidak tahu apanya yang hebat pada kuda hitam itu,
maka ia tidak memperhatikannya. Sebaliknya, ia tertarik kepada tujuh orang laki-laki yang menunggang
kuda. Mereka itu rata-rata berusia sekitar empat puluhan tahun, bertubuh tegap dan tinggi, membayangkan
ketangkasan dan kekuatan. Wajah mereka gagah dan agak hitam oleh sinar matahari.
Sementara itu, tujuh orang ini pun menahan kendali kuda ketika mereka melihat Hauw Lam dan Kwi Lan.
Akan tetapi pandang mata semua orang ini ditujukan kepada Kwi Lan. Agaknya tidak ada perbedaan
antara pandang mata mereka terhadap Kwi Lan dengan pandang mata Hauw Lam terhadap kuda hitam.
Penuh kekaguman!
Pandang mata mereka yang penuh getaran nafsu itu agaknya terasa pula oleh Kwi Lan, membuat dara ini
menjadi jengah dan marah di dalam hati. Akan tetapi karena mereka itu tidak mengeluarkan kata-kata, Kwi
Lan menahan kemarahannya dan mencabuti beberapa helai rumput hijau sambil menundukkan muka,
kadang-kadang saja melirik ke arah mereka. Ia masih tetap duduk di atas akar pohon.
Akan tetapi Hauw Lam sudah meloncat berdiri. Pemuda ini banyak sudah merantau dan banyak pula
pengalamannya. Melihat sikap dan pandang mata tujuh orang itu kepada temannya, ia merasa
mendongkol pula. Akan tetapi wajahnya berseri dan ia tersenyum lebar ketika berkata, “Salam, sobat-sobat
yang bersua di jalan!”
“Salam!” Tujuh orang itu menjawab, suara mereka rata-rata besar parau.
Senyum di mulut Hauw Lam melebar dan ia melangkah mendekati kuda hitam. Setelah kini dekat dan
memandang penuh perhatian, ia menjadi makin kagum. Benar-benar seekor kuda yang hebat, pikirnya.
Ketika ia mencoba untuk menepuk-nepuk leher kuda hitam itu, si Kuda hitam meringkik dan hampir saja
tangan Hauw Lam digigitnya kalau pemuda ini tidak cepat-cepat menarik kembali tangannya.
“Kuda hebat...!” ia memuji pula. “Sobat, apakah kuda hitam ini hendak dijual? Kalau hendak dijual,
berapakah harganya?”
Orang yang menuntun kuda membelalakkan matanya kepada Hauw Lam, kemudian ia tertawa sehingga
tampak betapa dua buah gigi atasnya ompong. Enam orang temannya hanya berdiri memandang.
Kemudian si Ompong berpaling dan menterjemahkan ucapan Hauw Lam tadi dalam bahasa mereka.
Seketika meledaklah ketawa enam orang itu sehingga keadaan hutan yang tadinya sunyi kini menjadi riuh
dengan suara ketawa mereka. Lalu disusul mereka bertujuh saling bicara riuh rendah sambil tertawa-tawa.
“Orang muda, tahukah engkau kuda apakah ini, dari mana dan hendak dibawa ke mana?” Akhirnya si
Ompong yang menjadi juru bicara berkata dengan suara pelo dan kaku. “Kuda ini adalah kuda keturunan
langsung dari Hek-liong-ma milik pribadi Ratu kami!”
“Siapakah Ratu kalian yang mulia?” Hauw Lam bertanya, tertarik karena ia tidak mengerti bahasa mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ratu kami adalah Sang Ratu di Khitan.”
“Ohhh...!” Suara seruan kaget ini keluar dari mulut Kwi Lan. Akan tetapi ketika Hauw Lam menengok, gadis
ini sudah dapat menekan perasaannya kembali dan hanya memandang penuh perhatian.
“Dan tahukah engkau kuda ini hendak kami bawa ke mana? Akan kami antarkan ke Yen-an sebagai
barang sumbangan kepada ketua baru dari Thian-liong-pang!”
Diam-diam Hauw Lam terkejut juga. Kiranya bukan kuda sembarangan dan ia maklum bahwa tujuh orang
ini sengaja menyebut nama Thian-liong-pang untuk membuat ia kaget dan jeri. Akan tetapi ia berpura-pura
tidak mengenal Thian-liong-pang, bahkan ia lalu berkata, “Wah, barang sumbangan saja mengapa kuda
yang begini bagus? Yang kalian tunggangi itu semua juga sudah lebih dari cukup untuk sumbangan. Yang
hitam ini kalau boleh, harap jual kepadaku.”
Tiba-tiba seorang di antara mereka berbicara dengan bahasa mereka, suaranya lantang dan telunjuknya
menuding-nuding ke arah Kwi Lan yang masih duduk di atas akar pohon. Begitu selesai ia berbicara, tujuh
orang itu tertawa bergelak-gelak. Semua kuda mereka kaget dan meringkik-ringkik sambil berdiri di atas
kedua kaki belakang sehingga hampir saja dua orang di antara mereka terlempar ke bawah. Hal ini
membuat mereka tertawa makin riuh rendah.
“Orang muda, mengertikah engkau apa yang dimaksudkan teman-temanku? Ha-ha-ha! Engkau sendiri
sudah memiliki seekor kuda betina yang demikian cantik jelita, mengapa masih ingin membeli kuda hitam
ini? Apakah artinya kuda hitam ini kalau dibandingkan dengan kudamu yang putih kuning dan cantik molek
itu? Ha-ha-ha!” Kembali tujuh orang itu tertawa-tawa karena mereka tahu bahwa temannya si Ompong
sudah menterjemahkan ucapan mereka.
Tentu saja Hauw Lam menjadi marah dan mendongkol sekali. Akan tetapi Kwi Lan lebih marah lagi.
Tadinya ia tidak mengerti apa artinya ucapan mereka, akan tetapi karena mereka bertujuh semua
memandang kepadanya dan menuding-nudingkan telunjuk ke arahnya, tahulah ia bahwa dia
sesungguhnya yang disebut kuda betina putih kuning! Ia disamakan dengan kuda! Keparat! Bagaikan
seekor harimau ia meloncat bangun, kedua tangannya bergerak dan melesatlah sinar hijau dari kedua
tangannya menyambar ke arah muka tujuh orang itu.
Seketika lenyap suara ketawa mereka, terganti suara jeritan dan mereka bertujuh terguling roboh dari atas
kuda! Namun dengan gerakan yang amat cekatan mereka bertujuh sudah meloncat bangun lagi dan
ramailah mereka berkata-kata dalam bahasa yang tidak dimengerti Hauw Lam mau pun Kwi Lan. Kini
Hauw Lam yang melongo dan memandang mereka dengan muka terheran-heran.
Kiranya sinar kehijauan yang melesat dari kedua tangan Mutiara Hitam tadi adalah rumput-rumput yang
tadi dicabutinya sambil duduk di atas akar pohon. Dalam kemarahannya gadis itu telah menyerang tujuh
orang Khitan dengan rumput-rumput itu. Biar pun hanya rumput hijau, namun di tangan dara perkasa ini
berubah menjadi senjata rahasia yang amat ampuh dan menggiriskan hati.
Batang-batang rumput itu meluncur melebihi anak panah cepatnya dan tak terhindarkan lagi oleh tujuh
orang Khitan itu. Tahu-tahu muka mereka telah terkena rumput yang menempel pada kulit muka mereka,
menimbulkan rasa perih dan pedas, sedangkan tadi ketika rumput-rumput itu menyerang, mereka
terdorong oleh angin pukulan yang membuat mereka terjungkal dari atas kuda. Kini mereka berdiri dan
berusaha melepaskan rumput-rumput yang menempel muka mereka.
Aneh bin ajaib! Sampai meringis-ringis mereka berusaha mengambil rumput yang menempel di kulit muka.
Sia-sia belaka! Rumput-rumput itu menempel seakan-akan diberi lem perekat ajaib, seakan-akan telah
tumbuh menjadi satu dengan kulit. Seorang di antara mereka agak menggunakan kekerasan untuk
mengupas rumput, akan tetapi kulit pipinya ikut terkelupas, nyeri dan perih bukan main dan darah menetesnetes!
Mereka terheran-heran dan juga kesakitan, terutama sekali rasa jeri membuat wajah mereka pucat. Bagi
Hauw Lam, penglihatan itu amatlah lucu. Melihat mereka berusaha mengupas rumput dari muka meringisringis
kesakitan, melihat betapa rumput itu merupakan plester-plester hijau ‘menghias’ muka, apa lagi
orang yang tadi menghina Mutiara Hitam, rumput melintang di atas kulit hidungnya sehingga wajahnya
tampak lucu sekali, membuat Hauw Lam tak dapat menahan ketawanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hua-ha-ha-ha! Lucu sekali...! Lucu sekali...! Muka kalian bertujuh ditambal-tambal seperti badut dan
delapan ekor kuda ini begini bagus. Tentu kalian hendak main komidi kuda, ya? Bagus..., bagus...!” Hauw
Lam bertepuk-tepuk tangan dan berjingkrak-jingkrak, membuat tujuh orang itu mendongkol bukan main.
Akan tetapi karena mereka dapat menduga bahwa dua orang muda-mudi itu tentu bukan orang
sembarangan, mereka tidak mau lagi meladeni dengan kata-kata. Serentak tangan mereka bergerak dan
tujuh orang itu sudah mencabut golok masing-masing lalu mengurung dengan sikap mengancam.
“Aih... aih... kalian masih belum kapok? Kalau tadi Nona muda kalian ini menghendaki nyawa kalian,
apakah kalian tidak menjadi bangkai?” Hauw Lam berseru sambil melangkah maju, kemudian menoleh
kepada Kwi Lan. “Biarlah aku yang kini menikmati permainan dengan mereka!”
Kwi Lan diam saja, sikapnya tidak acuh. Ia tidak memandang mata kepada tujuh orang itu, akan tetapi
mengingat bahwa mereka adalah orang-orang Khitan, rakyat dari ibu kandungnya, ia tadi tidak mau
membunuh mereka. Kini ia hendak menyaksikan sampai di mana kepandaian Berandal, karena dari gerakgerik
tujuh orang itu ia dapat menduga bahwa mereka memiliki ilmu silat yang tinggi juga.
“Mengalahkan mereka tanpa membunuh barulah hebat,” Kwi Lan sengaja berkata, nada suaranya
mengejek, padahal di dalam hati ia merasa khawatir kalau-kalau pemuda berandalan itu membunuh rakyat
ibu kandungnya.
“Oho, mudah saja, kau lihatlah!” Hauw Lam berkata sambil tertawa, kemudian membusungkan perutnya ke
depan, menantang.
“Hayo kalian maju, tunggu apa lagi? Bukankah golok kalian sudah terhunus? Di sini tidak ada babi untuk
ditusuk perutnya, tidak ada kambing untuk disembelih lehernya. Nih perutku, boleh kalian tusuk, atau leher
nih, boleh pilih!” Ia menantang dengan cara mengejek sekali, meramkan kedua mata, mengulur leher
membusungkan perut dan menaruh kedua tangan di punggung!
Diam-diam Kwi Lan geli menyaksikan sikap ini, juga merasa betapa sikap ini keterlaluan dan berbahaya.
Coba dia yang ditantang secara itu, tentu sekali bergerak akan dapat merobohkan pemuda ugal-ugalan itu.
Agaknya tujuh orang yang sudah amat marah itu pun berpikir demikian. Mereka tadi sudah marah dan
penasaran sekali, merasa mengalami penghinaan yang luar biasa, maka kini menyaksikan sikap dan
tantangan Hauw Lam, mereka sampai tak dapat mengeluarkan kata-kata saking marahnya. Tujuh orang Ini
bukan orang sembarangan, merupakan jagoan-jagoan yang berkepandaian tinggi, bagaimana sekarang
menghadapi dua orang bocah saja mereka tidak berdaya dan sampai mengalami hinaan? Kini melihat
sikap Hauw Lam, mereka serentak menerjang untuk membalas penghinaan yang mereka alami.
“Cring-cring-trangg-traaanggg...!” Tujuh batang golok yang menerjang dalam detik bersamaan dengan
sebuah saja sasaran, tentu saja tak dapat terhindar lagi saling beradu ketika sasarannya tiba-tiba lenyap
dari tempatnya.
Cepat mereka meloncat dan membalikkan tubuh. Kiranya pemuda ugal-ugalan itu sudah berada di
belakang mereka dan kembali pemuda itu mengulur leher membusungkan perut, akan tetapi sekarang
tangannya memegang sebatang golok pula, golok yang pendek dan lebar seperti golok tukang babi! Akan
tetapi melihat sinar putih bersinar dari mata golok, dapat diduga bahwa golok yang buruk bentuknya itu
ternyata terbuat dari pada logam yang ampuh dan terpilih.
“Hayo tusuk lagi, bacok lagi, kenapa ragu-ragu? Perut dan leherku sudah gatal-gatal nih!” Hauw Lam
mengejek, menggoyang-goyangkan perutnya yang sengaja ia busungkan ke depan.
Kemarahan tujuh orang Khitan itu memuncak. Sambil memaki-maki dalam bahasa sendiri kembali mereka
menerjang maju, melakukan serangan dahsyat penuh kemarahan. Kali ini tampak sinar putih yang amat
lebar menyilaukan mata bergulung-gulung menyambut mereka.
Terdengar suara nyaring beradunya senjata diikuti tujuh batang golok terlempar dalam keadaan patah
menjadi dua, disusul pekik tujuh orang itu dan memberebetnya kain robek. Dalam sekejap mata saja tujuh
orang itu tidak hanya kehilangan golok, akan tetapi juga baju mereka robek dari leher sampai ke perut!
Wajah mereka kini menjadi pucat sekali karena mereka maklum bahwa kalau pemuda itu menghendaki,
dalam segebrakan saja tadi tentu mereka akan terobek perut mereka!
dunia-kangouw.blogspot.com
Si Gigi Ompong lalu menjura dan berkata, “Kami telah kesalahan terhadap Taihiap, mohon maaf,
mengingat bahwa kami jauh dari utara hendak mengunjungi Thian-liong-pang.”
Hauw Lam tertawa akan tetapi sebelum ia menjawab, Kwi Lan melompat maju dan menghardik, “Masih
banyak cakap lagi? Kalian ini orang-orang Khitan yang tidak baik! Lekas pergi dan tinggalkan kuda hitam!”
Si Gigi Ompong kaget bukan main dan dengan suara gemetar ia menterjemahkan ucapan ini. Kawankawannya
juga nampak kaget dan memprotes. Si Gigi Ompong kini menghadapi Kwi Lan dan berkata,
“Tidak mungkin, Nona! Kuda hitam ini adalah persembahan dari kami untuk dihadiahkan kepada ketua
Thian-liong-pang sebagai tanda persahabatan. Bagaimana kami berani meninggalkannya di sini? Hal ini
berarti akan hilangnya nyawa kami sebagai penggantinya!”
“Huh! Siapa peduli nyawa anjing kalian? Katakan saja kepada Ratumu bahwa yang mengambil kuda hitam
adalah Mutiara Hitam. Habis perkara!”
Kini Hauw Lam mendengarkan dengan mulut ternganga. Dara itu terlalu lancang, terlalu berani. Tadi berani
menghina dan memandang rendah Bu-tek Siu-lam, kini malah berani menantang Ratu Khitan yang selain
terkenal sebagai ratu, juga terkenal memiliki ilmu kesaktian hebat dan mempunyai banyak anak buah yang
berilmu tinggi!
Apakah yang diandalkan dara ini maka bersikap sedemikian angkuh dan berani menghina orang-orang
golongan atas? Kepandaiannya memang hebat dan melihat cara melempar rumput yang sampai kini
menempel di muka ketujuh orang Khitan itu, terbukti akan kelihaiannya. Akan tetapi belum tampak ilmu
silatnya dan ia merasa ragu-ragu apakah dara semuda ini akan mampu menandingi tokoh-tokoh besar itu?
Akan tetapi mendengar ucapan gadis yang memandang rendah Ratu Khitan, tujuh orang itu tidak menjadi
marah setelah si Ompbng menterjemahkannya, bahkan nampak heran dan girang. Si Ompong lalu berkata
sambil menjura, “Aha, kiranya masih sepaham! Nona yang gagah perkasa, ketahuilah bahwa kami adalah
anak buah Pak-sin-ong...”
“Tidak peduli siapa itu Pak-sin-ong!” bentak Kwi Lan tidak sabar lagi.
Akan tetapi Hauw Lam sudah menjadi kaget sekali dan bertanya, “Apa? Kalian ini anak buah Jin-cam
Khoa-ong (Raja Algojo Manusia) yang juga disebut Pak-sin-ong (Raja Sakti dari Utara)?”
Si Ompong berseri wajahnya, akan tetapi jadi menyeringai buruk karena wajahnya masih pucat dan masih
tertempel rumput. “Betul..., betul...! Nona, agaknya Nona belum mengenal nama besar Tai-ong kami yang
juga memusuhi Ratu Khitan dan....”
“Bedebah...!” Bentakan ini keluar dari mulut Kwi Lan, disusul berkelebatnya sinar kehijauan dan terciumlah
bau yang harum. Akan tetapi tujuh orang Khitan itu menjerit, darah muncrat dan di lain saat Kwi Lan sudah
berdiri tegak kembali, sikapnya kereng dan mulutnya membentak, “Lekas pergi dari sini!”
Hauw Lam melongo. Sebagai seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, tentu saja ia dapat melihat
gerakan gadis itu yang luar biasa cepatnya. Ia melihat betapa gadis itu mencabut sebatang pedang yang
sinarnya kehijauan dan mengeluarkan ganda harum semerbak, melihat pula betapa dengan gerakan yang
amat aneh, dahsyat dan secepat kilat pedang di tangan gadis berkelebat dan dengan persis membabat
putus telinga kanan ketujuh orang Khitan itu sebelum mereka mampu mengelak atau melawan! Melihat
pula betapa dengan gerakan yang masih sama cepatnya gadis itu telah menyimpan kembali pedangnya
sebelum darah yang muncrat dari pinggir kepala tujuh orang itu menyentuh tanah. Sebuah gerakan yang
luar biasa sekali, yang aneh, dahsyat akan tetapi juga ganas dan kejam!
Tujuh orang Khitan yang tadinya kegirangan karena mengira bahwa mereka itu sefihak dengan nona ini
dalam hal memusuhi Ratu Khitan, tentu saja menjadi kaget dan kesakitan. Sambil menutupi telinga kanan
yang sudah tak berdaun lagi, mereka memandang dengan wajah pucat dan mata terbelalak, sejenak lupa
akan rasa perih dan nyeri pada telinganya.
“Kami telah menerima pengajaran,” kata si Ompong sambil meringis. “Harap Nona suka memberitahukan
nama agar tidak mudah kami melupakannya...“
dunia-kangouw.blogspot.com
“Eh-eh, masih banyak tingkah lagi?” Hauw Lam yang khawatir kalau-kalau nona itu makin marah dan
membunuh mereka, memotong. “Dia ini bernama Mutiara Hitam, apakah kalian buta? Dan aku adalah
Berandal. Hayo pergi dan jangan membuka mulut busuk lagi!”
Tujuh orang Khitan itu melompat ke atas kuda. Sekali lagi mereka menoleh dengan pandang mata penuh
kebencian dan sakit hati, kemudian membalapkan kuda mereka pergi dari tempat itu. Kuda hitam
ditinggalkan begitu saja dan kuda ini kelihatan tenang makan rumput, kendalinya terlepas dan terseret di
atas tanah.
Hauw Lam cepat mengambil kendali itu dan kini kuda itu diam saja ketika ditepuk-tepuk lehernya. Agaknya
kuda itu tahu bahwa siapa yang memegang kendali adalah majikannya. “Kuda bagus, kuda hebat...!” Hauw
Lam menepuk-nepuknya dan membawanya dekat kepada Kwi Lan.
“Pilihanmu tepat, Mutiara Hitam. Julukanmu Hitam maka tepatlah kalau kau menunggang kuda hitam ini.”
“Siapa yang menginginkan kuda? Aku hanya minta kuda ini agar ada alasan mengunjungi Thian-liongpang.”
“Apa? Bagaimana maksudmu?”
Kwi Lan tersenyum mengejek. “Bodoh! Kalau kita datang ke sana dan membawa kuda ini sebagai barang
sumbangan, bukankah namanya sekali tepuk mendapatkan dua ekor lalat? Maksud si Raja Algojo yang
kau sebut-sebut itu mempersembahkan kuda kepada Thian-liong-pang tak berhasil, berarti dia sudah kalah
satu nol melawan kita. Kedua, dengan hadiah ini, masa kita tidak akan diterima sebagai tamu agung oleh
Thian-liong-pang?”
Hauw Lam membelalakkan matanya kemudian berjingkrak dan bertepuk tangan, “Wah, bagus! Kau
ternyata pintar sekali. Tapi sesungguhnya sayang kalau kuda sebaik ini dilepaskan kembali kepada orang
lain.”
“Hal ini dapat diputuskan nanti. Kalau kulihat Thian-liong-pang tidak berharga memiliki kuda ini, bisa saja
kita ambil kembali.”
Diam-diam Hauw Lam merasa khawatir. Gadis ini memang harus diakui memiliki ilmu kepandaian hebat.
Akan tetapi terlalu ceroboh, terlalu sembrono dan terlalu memandang rendah orang lain.
“Ahh, Mutiara Hitam. Engkau benar-benar belum banyak mengenal orang! Engkau tidak tahu siapa dia Jincam
Khoa-ong.”
“Siapa sih Algojo itu?”
“Aku sendiri belum pernah bertemu dengan tokoh menyeramkan itu, akan tetapi sepanjang
pendengaranku, dia tidak kalah terkenalnya dari pada, Bu-tek Siu-lam sendiri! Kabarnya dia datang dari
daerah Mongol, paling suka membunuh orang. Semua orang yang pernah bentrok dengan dia tidak akan
dapat keluar hidup-hidup. Betapa pun gagahnya, semua orang itu tewas di bawah senjatanya yang
mengerikan, yaitu berbentuk gergaji berkait. Dia mengangkat diri dengan sebutan Pak-sin-ong untuk
memperkenalkan asalnya dari utara, akan tetapi karena kekejamannya yang melewati batas, di dunia
kangouw dia dijuluki orang Jin-cam Khoa-ong si Raja Algojo Manusia!”
“Huh, makin besar julukannya, makin kosong melompong! Aku tidak takut!”
“Dan Thian-liong-pang sungguh tidak boleh dibuat permainan! Bahkan kini merupakan perkumpulan yang
paling besar, paling berpengaruh dan paling banyak anggotanya untuk golongan hitam. Karena itulah, para
tokoh golongan hitam yang tidak mempunyai perkumpulan besar masih memandang kepada Thianliongpang...“
"Sudahlah! Kalau engkau takut, tidak perlu kau banyak mengoceh lagi. Aku pun tidak mengajak engkau.
Kau kira aku takut untuk pergi sendiri?” Sambil berkata demikian, Kwi Lan menyambar kendali kuda dari
tangan Hauw Lam, lalu pergi menuntun kuda hitam itu meninggalkan Hauw Lam yang berdiri melongo.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi karena selama hidupnya Kwi Lan belum pernah mempunyai kuda, apa lagi menunggang kuda,
ia canggung sekali dan kuda hitam itu agaknya juga dapat merasakan hal ini. Kuda itu mulai meronta dan
mogok jalan. Kwi Lan menarik-narik kendali kuda sambil membentak,
"Kau juga hendak mogok? Kuda sialan! Kupenggal lehermu nanti, kubawa bangkaimu ke Thian-liong-pang,
hendak kulihat apakah kau berani mogok lagi!"
"Wah-wah-wah..., kenapa kau begini galak, Mutiara Hitam? Apa kau marah kepadaku? Aku sama sekali
tidak takut, hanya aku heran menyaksikan keberanianmu menentang semua tokoh-tokoh besar. Mari,
biarlah kita pergi bersama. Dan kuda itu... kenapa repot-repot amat? Lebih baik kau tunggangi dia, kan
enak?"
Watak Kwi Lan memang aneh, agaknya ia tiru dari Sian Eng. Ia keras sekali kalau perlu, akan tetapi bisa
juga menjadi lunak, bisa gembira dan jenaka, akan tetapi tidak pernah mengenal duka mau pun takut.
Melihat pemuda itu menghampiri dan wajahnya sungguh-sungguh, ia tersenyum. "Aku belum pernah
menunggang kuda!" katanya.
Kembali Hauw Lam terheran. Seorang gadis yang begini tinggi ilmunya, belum pernah menunggang kuda?
Benar-benar luar biasa sekali ini. "Belum pernah? Kalau begitu berbahaya, dong. Kau harus belajar dulu.
Seekor kuda yang baik selalu akan memberontak kalau ditunggangi orang yang takut-takut menunggang
kuda."
"Aku memang belum pernah menunggang kuda, akan tetapi siapa bilang aku takut? Kau lihat saja!" Sekali
menggerakkan tubuhnya, Kwi Lan sudah meloncat dan duduk di atas punggung kuda, dengan kedua kaki
di samping kiri perut kuda itu. Canggung dan kaku sekali. Benar saja, kuda hitam itu tidak memberontak,
karena kuda itu hanya memberontak apa bila yang menunggangnya takut-takut, sedangkan Kwi Lan tidak
takut.
"Ah, keliru kalau begitu menunggangnya. Mana bisa tahan lama kalau kuda itu membalap?"
"Siapa bilang tidak bisa? Kau lihat!" Kwi Lan menarik kendali kuda dan kuda hitam itu meloncat ke depan
lalu lari cepat. Kwi Lan terangkat-angkat dari atas punggung kuda dan karena duduknya miring, maka
hampir saja ia jatuh. Cepat ia berseru keras dan tubuhnya sudah meloncat ke atas kemudian turun di atas
punggung kuda dalam keadaan berdiri!
Hauw Lam sudah mengejar dan memegang kendali kuda, mengeluarkan suara menyuruh berhenti. Setelah
kuda berhenti, ia menggeleng-geleng kepala. "Wah-wah, memang kau hebat sekali, Mutiara Hitam. Akan
tetapi mana ada di dunia ini orang naik kuda dengan berdiri di atas punggungnya? Engkau akan menjadi
tontonan orang di sepanjang jalan, dan juga keadaan itu amat melelahkan. Beginilah cara menunggang
kuda. Lihat, kuberi contohnya!"
Karena memang Kwi Lan seorang yang sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka pelajaran
menunggang kuda ini dapat ia kuasai sebentar saja. Berangkatlah kedua orang muda itu melakukan
perjalanan menuju Yen-an. Kwi Lan menunggang kuda sedangkan Hauw Lam berjalan kaki sambil meniup
sulingnya. Kadang-kadang Kwi Lan yang meloncat turun dan berjalan kaki, menyuruh pemuda itu berganti
menunggang kuda. Kalau Hauw Lam menolak, ia tentu akan marah. Begitu pula, kadang-kadang gadis
yang berhati polos itu menyuruh Hauw Lam duduk di belakangnya di atas punggung kuda. Hauw Lam juga
menuruti kehendaknya sehingga dalam waktu beberapa hari saja melakukan perjalanan, keduanya telah
menjadi sahabat yang amat akrab dan diam-diam Kwi Lan makin merasa cocok dan suka kepada putera
bibi pengasuhnya ini.....
********************
dunia-kangouw.blogspot.com
Kota Yen-an terletak di kaki Pegunungan Lu-liang-san sebelah barat, di Propinsi Shan-si. Kota ini cukup
besar dan ramai, yang dahulu merupakan daerah Kerajaan Hou-han dan kini sudah ditaklukkan oleh
Kerajaan Sung dan menjadi wilayah Kerajaan Sung.
Kerajaan Hou-han dahulu terkenal sebagai kerajaan yang kecil tapi amat kuat. Terutama sekali ketika
seorang di antara panglima perangnya adalah mendiang Jenderal Kam Si Ek yang amat pandai mengatur
siasat perang. Setelah jenderal ini mengundurkan diri, keadaan kerajaan mengalami kemunduran pula.
Akan tetapi keadaannya masih amat kuat karena beberapa tahun kemudian di dalam istana kerajaan
terdapat Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian, seorang wanita sakti yang menjadi ‘tante girang’ di dalam istana,
mengumbar nafsu dengan para pangeran dan para panglima muda yang tampan. Di samping Tok-siauwkwi
(ibu kandung Suling Emas) ini terdapat pula selir raja yang juga amat lihai, yang kemudian berjuluk
Siang-mou Sin-ni Coa Kim Bwee. Akan tetapi semenjak kedua orang wanita sakti ini tidak ada, kerajaan
makin mundur dan akhirnya penyerbuan bala tentara Kerajaan Sung menjatuhkan kerajaan kecil ini.
Tokoh-tokoh yang dikalahkan, biasanya kalau tidak dipakai lagi tenaganya lalu berkumpul dan merupakan
kelompok yang menentang si Pemenang secara diam-diam. Demikian pula keadaan di bekas Kerajaan
Hou-han ini. Orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian lalu mengadakan persatuan dan bersembunyi di
balik papan nama perkumpulan menjadi golongan dunia hitam yang diam-diam mencari kesempatan untuk
melawan atau setidaknya merongrong pemerintahan yang tak disukainya.
Di antara perkumpulan-perkumpulan semacam itu, Thian-liong-pang merupakan perkumpulan terbesar,
bahkan boleh dibilang menjadi semacam induk perkumpulan. Hal ini adalah karena bekas para panglima
dan tokoh Kerajaan Hou-han banyak yang menggabungkan diri dalam perkumpulan ini.
Namun karena kesempatan untuk melawan pemerintahan Sung tidak ada, apa lagi setelah para panglima
yang benar-benar berjiwa patriotik meninggal dunia, jiwa perkumpulan Thian-liong-pang mengalami
perubahan hebat. Dasar yang semula patriotik tadinya terdorong setia kepada kerajaan berubah, berubah
menjadi dasar dunia hitam, dan tujuan yang menyeleweng jauh terdorong oleh nafsu angkara murka untuk
menguasai dunia, harta benda, nama besar dan kemenangan mengandalkan kekuatan.
Melihat ini, sisa para panglima Hou-han banyak yang mengundurkan diri dan hidup bersunyi di dusundusun
dan pegunungan menanti maut datang menjemput. Semenjak itu Thian-liong-pang seluruhnya
dikuasai oleh tokoh-tokoh dunia hitam. Yang menjadi Ketua Thian-liong-pang adalah seorang bekas
pendeta yang berjuluk Sin-seng Losu (Kakek Bintang Sakti).
Pendeta yang berasal dari barat ini selain sakti, juga amat terkenal di dunia hitam. Biar pun jahat, namun
ternyata ia pandai memimpin sehingga di bawah asuhannya, Thian-liong-pang menjadi perkumpulan yang
amat kuat. Semua anggota Thian-liong-pang rata-rata di gembleng ilmu silat tinggi. Apa lagi murid kakek itu
sendiri, benar-benar terdiri dari orang-orang yang gagah perkasa.
Murid-murid kepala sebanyak dua belas orang sedemikian terkenalnya di dunia kang-ouw sehingga tokohtokoh
yang besar sekali pun tidak akan berani memandang rendah Cap-ji-liong (Dua Belas Ekor Naga) dari
Thian-liong-pang! Dua belas orang murid kepala yang menjadi murid kesayangan Kakek Sin-seng Losu ini
telah mewarisi kepandaian kakek itu menurut bakat masing-masing. Dan yang menambah ketenaran
mereka adalah senjata rahasia Sin-seng-ci (Peluru Bintang Sakti).
Oleh karena Kakek Sin-seng Losu sudah terlalu tua dan pikun, juga sudah mulai lemah karena tuanya,
maka sebagai penggantinya ditunjuk muridnya yang paling tua. Murid ini seorang laki-laki tinggi besar
bercambang bauk yang bertenaga besar seperti gajah, dan sesuai dengan tenaganya, ia berjuluk Thai-lekkwi
(Setan Tenaga Besar) bernama Ma Kiu.
Ma Kiu ini dulunya seorang jagal babi, kemudian pernah tinggal di selatan dan menjadi anggota Bengkauw.
Semenjak muda suka belajar ilmu silat, maka ketika menjadi anggota Beng-kauw ia sudah memiliki
ilmu kepandaian yang cukup tinggi. Karena penyelewengan peraturan, ia takut akan bayangan sendiri dan
takut pula akan hukuman dari para pimpinan Beng-kauw yang terkenal keras, maka ia melarikan diri ke
utara.
Di Yen-an ia memasuki Thian-liong-pang, berhasil menarik hati ketuanya dan menjadi muridnya. Karena
memang tingkatnya sudah tinggi, maka ia segera menduduki seorang di antara murid kepala yang lihai,
bahkan kemudian terpilih menjadi murid nomor satu dan kemudian malah ditunjuk sebagai pengganti
gurunya yang sudah tua, yaitu menjadi ketua baru Thian-liong-pang!
dunia-kangouw.blogspot.com
Gedung besar yang menjadi markas Thian-liong-pang terletak megah di ujung kota Yen-an. Agak janggal
nampaknya bahwa jalan besar di mana gedung ini berdiri kelihatan sunyi, bahkan gedung itu jauh dari
tetangga. Namun orang tidak akan merasa heran kalau mendengar bahwa para tetangga yang tadinya
tinggal dekat gedung itu berangsur-angsur melarikan diri sehingga rumah-rumah kosong di sekitar jalan itu
merupakan daerah yang dianggap tidak aman bagi penduduk Yen-an. Hal ini dipergunakan oleh Thianliong-
pang untuk memperluas markas mereka dengan membeli murah secara paksa rumah-rumah dan
pekarangan yang ditinggalkan.
Pada hari pengangkatan ketua baru Thian-liong-pang, keadaan di situ lebih ramai dari pada biasanya.
Banyak tamu hilir mudik mengunjungi Thian-liong-pang dan para penduduk Yen-an hari itu merasa
ketakutan selalu karena di kota Yen-an berkeliaran banyak orang-orang aneh dan sikapnya menyeramkan.
Karena itu biar pun tidak tahu pasti, namun sudah dapat menduga bahwa para tamu luar kota yang hari itu
mengunjungi Yen-an, tentulah tamu dari Thian-liong-pang dan tentulah terdiri dari bukan orang baik-baik.
Memang dugaan ini tepat. Sebagian besar yang datang mengunjungi Thian-liong-pang adalah orang-orang
dari dunia hitam, golongan liok-lim dan kang-ouw (hutan lebat dan sungai telaga), yaitu para perampok,
bajak, gerombolan-gerombolan yang mengabdi kepada hukum rimba mengandalkan kekuatan untuk
melakukan perbuatan apa saja yang mereka kehendaki.
Hari itu semenjak pagi sekali telah banyak orang-orang yang dandanannya aneh-aneh memasuki kota
Yen-an. Menjelang siang hari, orang-orang yang menonton keramaian dan iring-iringan tamu dengan hati
berdebar tidak enak ini, tertarik sekali melihat dua orang muda yang keadaannya tidak kalah anehnya dari
pada orang-orang yang menyeramkan lainnya, akan tetapi dua orang muda ini sama sekali tidak kelihatan
menyeramkan, bahkan sebaliknya.
Dara remaja yang menunggang kuda hitam itu, biar pun pinggangnya digantungi pedang dan gagang
pedang indah, namun harus diakui cantik jelita, menarik hati dan sama sekali tidak menyeramkan,
melainkan amat mengagumkan hati setiap orang pria yang memandangnya. Ada pun temannya, seorang
pemuda remaja pula, juga berwajah tampan dan matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri-seri, mulutnya
tersenyum-senyum. Bahkan ketika memasuki kota Yen-an, pemuda ini dengan wajah berseri lalu meniup
suling sambil berjalan di samping kuda hitam! Sebatang golok besar dengan sarung pedang aneh, tidak
kelihatan menyeramkan sebaliknya malah tampak lucu, seakan-akan pemuda itu sengaja membadut dan
menggantungkan golok untuk main-main saja.
Wajah Kwi Lan, dara yang menunggang kuda hitam, kelihatan gembira pula. Setelah beberapa pekan
lamanya melakukan perjalanan bersama Hauw Lam, ia benar-benar mengenal watak pemuda ini sebagai
seorang pemuda yang selalu gembira, jenaka, ugal-ugalan namun pada dasarnya gagah perkasa, tak
kenal takut, berbudi dan... selalu mengalah kepadanya.
Harus dimengerti bahwa sejak kecil Kwi Lan jarang bergaul dengan orang lain, apa lagi dengan orang
mudanya. Teman satu-satunya hanyalah Suma Kiat, dan ia tidak suka kepada suheng ini, yang kadangkadang
memperlihatkan sikap terlalu manis berlebih-lebihan kepadanya akan tetapi kadang-kadang juga
pemarah dan tak acuh. Tidak mengherankan apa bila Kwi Lan merasa suka sekali kepada Hauw Lam dan
dalam waktu yang tidak lama itu mereka telah menjadi sahabat yang akrab. Sukar bagi seseorang untuk
tidak ikut bergembira apa bila melakukan perjalanan dengan Hauw Lam. Apa lagi seorang seperti Kwi Lan
yang pada dasarnya memang lincah, jenaka dan suka bergembira.
Kwi Lan tersenyum geli melihat betapa temannya memasuki kota Yen-an sambil meniup suling dengan
lenggang dibuat-buat seperti seorang penari atau seperti orang berbaris. Ia maklum bahwa kedatangan
mereka ke Yen-an bukanlah sekedar pelesir, melainkan untuk mencari pengalaman dan lebih mendekati
petualangan karena yang akan mereka masuki adalah sarang penjahat atau dunia hitam yang amat
berbahaya!
Akan tetapi ia menjadi kagum dan juga menjadi gembira melihat pemuda itu sedikit pun tidak
memperlihatkan rasa takut. Banyak penduduk Yen-an, terutama orang-orang mudanya yang tertarik
melihat sepasang muda-mudi yang elok ini, mengikuti dari belakang sambil memandang kagum dan
tersenyum-senyum. Akan tetapi melihat bahwa dua orang itu menuju ke markas Thian-liong-pang di pinggir
kota, sebelum dekat mereka yang mengikuti sudah berhenti dan membalikkan tubuh meninggalkan tempat
itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwi Lan menghentikan kudanya dan Hauw Lam menghentikan tiupan sulingnya setelah tiba di depan
rumah gedung besar yang dihias arca singa batu dan papan nama perkumpulan itu. Dari luar gedung saja
sudah terdengar suara banyak orang di sebelah dalam. Beberapa orang penjaga menyambut mereka
dengan menjura dan di antara mereka terdapat seorang laki-laki yang mukanya penuh cambang bauk dan
yang kelihatan terkejut sekali melihat dua orang muda itu. Akan tetapi wajahnya yang tadinya terkejut itu
berubah merah dan ia segera menjura dan berkata.
“Ah, kiranya Nona Mutiara Hitam dan Tuan... Berandal yang datang berkunjung! Silakan masuk...!” Melihat
sikap si Brewok ini, teman-temannya juga cepat memberi hormat kepada Kwi Lan dan Hauw Lam, dan
mendengar nama julukan pemuda tampan itu, diam-diam mereka merasa geli.
“Ha-ha-ha!” Kiranya si Ouw Kiu! Engkau masih hidup? Syukurlah kalau panjang umur. Kami datang
memenuhi janji hendak menonton keramaian sekalian menyampaikan sumbangan kepada ketua baru
Thian-liong-pang!”
Teman-teman Ouw Kiu tercengang mendengar ucapan dan menyaksikan sikap pemuda ini. Bicaranya
begitu seenaknya seperti kepada seorang sahabat baik saja. Mereka makin heran melihat betapa Ouw Kiu
yang terkenal jagoan di antara mereka begitu menaruh hormat yang berlebihan terhadap seorang pemuda
dan seorang gadis cantik yang masih amat muda. Kalau semua temannya terheran, adalah Ouw Kiu yang
menjadi merah mukanya.
Peristiwa di dalam hutan dua pekan yang lalu hanya ia ceritakan kepada para pimpinan Thian-liong-pang
dan para anak buah tidak ada yang boleh mendengar karena hal itu merendahkan nama besar
perkumpulan. Oleh karena itulah maka ketika tadi ia menyebut nama Mutiara Hitam dan Berandal, temantemannya
tidak tahu bahwa dua orang inilah yang membunuh seorang anak murid Thian-liong-pang.
Dengan menahan kemarahan Ouw Kiu lalu berkata lagi.
“Ah, Ji-wi ternyata memegang janji. Silakan masuk! Nona, biarlah orang-orang kami merawat kuda Nona
itu. Silakan turun dan masuk ke dalam!”
“Mana bisa barang sumbangan ditinggalkan di luar?” Kwi Lan berkata.
“Barang sumbangan...? Apakah maksud Nona...?”
Kwi Lan tersenyum. “Justru kuda inilah barang sumbangannya untuk disampaikan kepada Ketua Thianliong-
pang!”
“Ah... kuda bagus... kuda hebat...!”
Ouw Kiu tiba-tiba memuji setelah tahu bahwa kuda yang besar dan memang hebat ini akan
dipersembahkan kepada ketuanya. Kiranya dua orang muda yang lihai ini telah merendahkan diri dan
hendak menyenangkan hati ketuanya dengan hadiah seekor kuda pilihan, pikirnya. Akan tetapi jangan kira
bahwa kalian akan dapat lolos dari sini biar pun telah menyogok dengan seekor kuda.
Melihat Ouw Kiu memuji-muji sambil menjura, seorang lain memberi isyarat dengan kedua tangan
mempersilakan mereka sehingga yang lain-lain juga menjura.
Kwi Lan lalu berkata, “Hayo, Berandal kita masuk saja. Hek-ma (Kuda Hitam) ini pun tentu suka mencicip
arak wangi Thian-liong-pang!”
“Hayo, tunggu apa lagi?” Hauw Lam berkata sambil tertawa, kemudian ia menempelkan suling pada
mulutnya dan melangkah maju sambil meniup suling.
Ada pun Kwi Lan tanpa mempedulikan gerak protes mulut, mata, dan tangan para penjaga sudah menarik
kendali dan memaksa kuda hitamnya untuk menaiki anak tangga, terus menjalankan kudanya memasuki
ruangan depan menuju ke dalam!
Tentu saja para penjaga kaget dan bergerak hendak mencegah, akan tetapi Ouw Kiu berbisik kepada
teman-temannya dan kagetlah mereka, berdiri dengan wajah sebentar pucat karena gentar dan sebentar
merah karena marah. Baru sekarang mereka tahu bahwa dua orang itulah yang membunuh seorang
kawan mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Jangan sembarangan bergerak, mereka lihai sekali!” bisik Ouw Kiu. “Biarkan Pangcu yang membereskan
mereka!” Setelah berkata demikian, melalui pintu samping Ouw Kiu mendahului masuk dan diam-diam
melaporkan kepada pimpinan Thian-liong-pang.
Pada waktu itu, Kakek Sin-seng Losu masih duduk di kursi ketua sambil melenggut mengantuk. Akhir-akhir
ini, kakek yang sudah tua renta dan pikun ini sering kali melenggut dan banyak mengantuk. Kini ia telah
mengenakan pakaian khusus untuk upacara. Jubahnya baru dan indah, di bagian dadanya terdapat
gambar sebuah timbangan. Inilah tanda bahwa dia sudah meninggalkan kedudukan ketua dan kini menjadi
penasehat yang mempertimbangkan dan memutuskan segala macam perkara yang tak dapat diputuskan
oleh ketua baru.
Di sebelah kanannya duduk Thai-lek-kwi Ma Kiu, murid kepala bekas tukang jagal babi itu. Wajah murid
kepala yang usianya sudah lima puluh tahun ini kereng, apa lagi jenggot dan kumisnya kaku seperti kawat,
matanya melotot lebar seakan-akan selalu mengeluarkan sinar mengancam. Di sebelah kanan Thai-lek-kwi
Ma Kiu calon ketua baru ini duduk atau berdiri sebelas orang adik-adik seperguruannya yang terdiri dari
bermacam-macam orang. Ada hwesio gundul, ada tosu, ada yang seperti petani, ada yang tua dan ada
yang muda. Di belakang kursi kakek Sin-seng Losu berdiri seorang petugas yang membawa bendera
Thian-liong-pang, bergambar naga terbang.
Para tamu yang lebih lima puluh itu semuanya sudah memenuhi ruangan, duduk di bangku-bangku
memutari meja bundar yang sudah disediakan. Pelayan-pelayan sibuk melayani mereka dengan minuman
dan makanan. Saat itu upacara sudah hendak dilakukan, akan tetapi Thai-lek-kwi Ma Kiu mencari-cari
dengan pandang matanya, kelihatan tak senang hatinya. Kemudian ia berbisik kepada suhu-nya yang
masih melenggut, setengah tidur setengah bersemedhi.
“Suhu, tamu sudah lengkap, Apakah tidak lebih baik dilakukan sekarang upacaranya?”
“Hemmm...?” kakek itu membuka mata malas-malasan, kemudian menoleh ke arah kirinya, di mana
terdapat sebuah bangku yang kosong. “Dia belum datang?”
Ma Kiu mengerutkan kening dan menggeleng kepalanya. “Suhu, sudah sejam lebih kita menanti, akan
tetapi Siauw-te (Adik Seperguruan Kecil) masih juga belum muncul. Dia suka pergi berburu binatang, suka
pergi bermain-main, siapa tahu dia tidak akan datang karena lupa akan urusan hari ini.”
“Kita tunggu sebentar lagi,” bantah Si Kakek. “Betapa pun juga Siangkoan Li adalah anak tunggal
mendiang puteraku, dia cucuku satu-satunya. Sebagai wakil ayahnya yang sudah tidak ada, sepatutnya dia
menyaksikan upacara penting hari ini.”
Biar pun di dalam hatinya merasa mendongkol sekali terhadap Siangkoan Li yang memperlambat upacara
pengangkatannya menjadi Ketua Thian-liong-pang, namun Ma Kiu tidak berani membantah kehendak
gurunya. Siangkoan Li adalah cucu Sin-seng Losu. Semenjak kecil anak ini sudah ditinggal mati ayah
bundanya yang tewas dalam pertandingan. Kemudian ia dididik oleh kakeknya dan biar pun ia cucu kakek
ini, namun ia juga murid, maka dua belas orang murid kepala atau lebih terkenal Dua Belas Naga Thianliong-
pang itu memanggil dia sute (adik seperguruan). Padahal Siangkoan Li masih amat muda, baru dua
puluh tahun usianya.
Pada saat itulah Ouw Kiu si Brewok datang melapor. Karena Sin-seng Losu sudah melenggut lagi di atas
kursinya, Ouw Kiu lalu melapor kepada Thai-lek-kwi Ma Kiu tentang kedatangan dua orang muda tadi.
Tentu saja Thai-lek-kwi Ma Kiu marah sekali mendengar bahwa dua orang muda yang mengaku berjuluk
Mutiara Hitam dan Berandal dan telah membunuh seorang anggota Thian-liong-pang berani muncul.
Akan tetapi oleh karena saat pengangkatannya sebagai ketua sudah tiba, ia tidak ingin urusan yang amat
penting artinya bagi dirinya itu terganggu atau terkacau keributan, maka ia menyabarkan hatinya yang
panas. Apa lagi ketika mendengar laporan Ouw Kiu bahwa dua orang itu datang untuk menonton upacara
dan membawa hadiah seekor kuda yang bagus. Maka dia segera berdiri dan menyambut. Melihat kakak
tertua ini bangkit, otomatis sebelas orang adik seperguruan itu bergerak pula dan mengikutinya
menyambut.
Terdengar suara nyaring kaki kuda menginjak-injak lantai dan para tamu serentak menengok, disusul suara
mereka riuh membicarakan tamu yang baru muncul. Tentu saja cara Kwi Lan memasuki ruangan sambil
menunggang seekor kuda yang tinggi besar berbulu hitam amat menarik perhatian dan selain
mendatangkan kaget, juga heran. Akan tetapi di samping ini, sebagian besar mata para tamu terbelalak
dunia-kangouw.blogspot.com
kagum karena tidak saja kuda itu amat indah dan gagah, namun penunggangnya lebih menarik lagi, cantik
jelita dengan mata bersinar-sinar dan pipi kemerahan, bibir manis tersenyum simpul.
Hauw Lam menghentikan tiupan sulingnya, lalu menjura ke arah tuan rumah. Diam-diam ia memperhatikan
Ma Kiu dan sebelas orang adik seperguruannya. Biar pun belum pernah bertemu dengan mereka, namun
jumlah ini menimbulkan dugaan di hati bahwa tentu inilah yang disebut Cap-ji-liong yang ditakuti orang itu.
Ia tersenyum dan berseru dengan suara nyaring.
“Kami, Dewi Mutiara Hitam dan Dewa Berandal....” Sampai di sini Hauw Lam menoleh kepada Kwi Lan
yang tersenyum pula lalu melirik kepada semua tamu yang mengeluarkan seruan heran mendengar
sebutan dewa dan dewi tadi, kemudian melanjutkan setelah keadaan menjadi sunyi senyap karena semua
orang memasang telinga penuh perhatian untuk mendengarkan apa yang ia katakan selanjutnya, “...secara
kebetulan lewat di Yen-an dan mendengar nama besar Thian-liong-pang yang katanya hendak
mengadakan upacara pengangkatan ketua baru, maka kami ingin sekali menonton keramaian dan Sang
Dewi Mutiara Hitam ini berkenan memberi hadiah kuda hitamnya untuk Thian-liong-pang!”
Mendengar dirinya disebut-sebut sebagai Sang Dewi, Kwi Lan mengerutkan alisnya dan cemberut,
melompat turun dari kuda dan berkata, “Harap jangan dengarkan obrolan Berandal ini! Kuda ini memang
hendak kusampaikan kepada Thian-liong-pang, akan tetapi bukan hadiah dariku, melainkan hadiah dari
Khitan untuk Thian-liong-pang!”
Mendengar ucapan Kwi Lan, berubah air muka dua belas orang ‘naga’ dari Thian-liong-pang itu. Ma Kiu
segera berkata, suaranya berubah ramah, “Ah, kiranya Ji-wi adalah utusan dari Pak-sin-ong? Sungguh
merupakan penghormatan besar sekali terhadap Thian-liong-pang dan salah paham yang terjadi beberapa
pekan yang lalu adalah kesalahan anak buah kami, mohon Ji-wi sudi memaafkan.”
“Aku tidak tahu apa yang kau maksudkan,” kata Kwi Lan setelah bertukar pandang dengan Hauw Lam.
“Akan tetapi yang jelas, kuda ini bukan sembarangan kuda, melainkan keturunan kuda pribadi Ratu Khitan.
Harap Thian-liong-pang suka menerima anugerah dari Ratu Khitan ini.”
Kwi Lan bicara sejujurnya, karena di dalam hati ia tetap condong untuk membela Ratu Khitan yang
menurut penuturan guru dan bibinya adalah ibu kandungnya sendiri. Akan tetapi mendengar ini Ma Kiu
mengangguk-angguk dan bertukar pandang dengan sebelas orang saudaranya.
“Kami mengerti... kami mengerti dan terima kasih banyak...,” katanya. Tentu saja Kwi Lan tidak mengerti
apa yang ia maksudkan, akan tetapi melihat Hauw Lam berkedip kepadanya, ia pun diam saja. Ia lalu
melompat turun dari kudanya dan memberikan kendali kuda kepada Ma Kiu. Calon ketua itu menggapai
seorang anggota Thian-liong-pang yang tinggi besar.
“Bawa kuda ini ke kandang dan pelihara baik-baik, beri makan minum secukupnya!”
Orang tinggi besar itu memberi hormat dan menerima kendali. Akan tetapi begitu ia menarik kendali, kuda
hitam itu yang mencium bau orang baru dan merasakan tarikan keras, segera meringkik, membuka mulut
dan menerjang orang tinggi besar itu! Si Tinggi Besar terkejut dan berusaha mengelak, namun terlambat,
pundaknya kena digigit sehingga ia berkaok-kaok kesakitan. Ketika kuda itu melepaskan gigitannya, daging
pundak berikut baju sudah robek dan darah membasahi semua bajunya! Tentu saja anggota ini menjadi
kaget dan melepaskan kendali kudanya.
Hauw Lam tertawa bergelak. “Sudah kuberitahu, kuda ini bukan kuda sembarangan!”
“Hemm, memang kuda pilihan. Twa-suheng, biarlah aku yang membawanya ke kandang.” Seorang laki-laki
berusia hampir empat puluh tahun, bertubuh kecil kurus, melangkah maju. Dia ini adalah seorang di
antara Cap-ji-liong.
Begitu Ma Kiu menganggukkan kepala, si Kurus sudah menyambar kendali kuda, lalu tubuhnya melayang
naik ke punggung kuda hitam. Kuda itu meringkik-ringkik dan meronta-ronta, namun dengan menjepitkan
kedua kaki ke perut kuda, si Kecil Kurus tetap duduk dengan tenang, bahkan lalu membetot-betot kendali
kuda. Kuda hitam makin marah, melonjak-lonjak dan meloncat-loncat tinggi menggerak-gerakkan
punggungnya.
Kalau orang biasa tentu akan terlempar dari punggung kuda, akan tetapi ternyata si Kecil Kurus itu lihai
sekali. Tubuhnya mendoyong ke sana ke mari, namun ia dapat duduk tegak dan tetap. Akhirnya, setelah
dunia-kangouw.blogspot.com
hidung dan bibir kuda mengeluarkan darah karena tertarik kendali, baru kuda hitam itu kelelahan dan
menurut saja disuruh berjalan ke luar dari dalam ruangan tamu!
Ma Kiu lalu mempersilakan dua orang tamu mudanya untuk duduk di bagian depan.
Hauw Lam berbisik. “Mereka mengira bahwa kita ini tokoh-tokoh kepercayaan Jin-cam Khoa-ong dan
memang biasanya orang-orang Pak-sin-ong ini melakukan perjalanan sambil menyamar dan merahasiakan
diri, karena selalu menjadi incaran orang pemerintahan Khitan. Tentu si Brewok tadi mengira kita berpurapura
menghadapi banyak tamu, maka ia bilang mengerti!” Pemuda itu tertawa dan Kwi Lan juga tertawa
geli.
Pelayan datang dengan cepat membawa minuman arak wangi dan masakan-masakan lezat dan mahal.
Karena memang sudah lapar dan sudah lama tidak bertemu makanan lezat, Hauw Lam dan Kwi Lan tidak
sungkan-sungkan lagi. Kiranya pemuda jenaka itu adalah seorang ahli makanan. Sambil mencoba dan
mencicipi belasan macam masakan yang datang membanjiri meja mereka, Hauw Lam tiada hentinya
mengoceh untuk memperkenalkan tiap masakan kepada Kwi Lan.
“Ini kodok goreng istimewa. Kodok macam ini hanya terdapat dalam rawa-rawa di daerah selatan saja.
Dagingnya empuk, gurih dan harum sedap, maka harganya pun amat mahal. Sayang ini yang jantan, kalau
yang betina lebih lezat. Akan tetapi kodok betina jarang disembelih orang karena dibutuhkan telurnya.
Hanya Kaisar yang suka menyuruh buatkan kodok betina goreng!” Memang luar biasa masakan kodok
goreng itu. Berbeda dengan swike biasa, kodok ini digoreng berikut kulitnya yang loreng-loreng, akan tetapi
justru kulitnya itu yang enak, kemripik seperti krupuk udang. Juga berbeda dengan swike biasa, tulangnya
enak pula dimakan, tidak keras.
“Wah, ini sop buntut menjangan namanya! Dimasak sop dengan campuran kacang polong dan jamur
kuning. Hebat! Tapi kalau terlalu banyak membuat badan panas dan darah mengalir cepat. Sedikit cukup
untuk menghangatkan tubuh. Dan ini masak tim kaki burung raja air! Kau tahu apa itu burung raja air?
Bebek! Ini tim kaki bebek. Enak kenyil-kenyil dan gurih. Wah, yang di sana itu panggang ayam angkasa.
Sedap!”
“Apa itu ayam angkasa?” Kwi Lan bertanya, gembira oleh penjelasan yang lucu ini.
“Ayam angkasa? Masa tidak tahu? Burung dara! Enak juga, cobalah.”
Sampai kenyang sekali perut Kwi Lan karena pandainya Hauw Lam memperkenalkan setiap masakan
sehingga tak dapat ia bertahan untuk tidak mencicipinya.
“Eh, ini masakan apa? Mengapa dagingnya bundar-bundar tapi bukan bakso? Licin...!”
Hauw Lam mengulur leher menjenguk, lalu mengorek dengan sumpit untuk memeriksa. “Ini...? Waaahh...
gila amat! Ini... ini bukan makanan wanita! Celaka, yang begini dikeluarkan. Sialan benar!” Ia mengomel
panjang pendek tanpa menjawab pertanyaan Kwi Lan.
Gadis itu tentu saja menjadi tertarik sekali, “Masakan apa sih? Kenapa bukan makanan wanita?”
Heran sekali. Tiba-tiba muka Hauw Lam menjadi merah dan ia tampak gagap-gugup dalam menjawab.
Padahal biasanya pemuda ini paling pandai bicara. “Masakan... waaahhh, bagaimana ini...? Ini masakan...
masakan... hemmmm...!” Karena mereka berdua tadi bicara keras tanpa mempedulikan orang lain, tentu
saja percakapan terakhir ini pun terdengar pula oleh para tamu yang duduk berdekatan. Mereka mulai
tertawa-tawa geli menyaksikan sikap Hauw Lam ini.
“Ih, kenapa kau? Sudah mabokkah? Masa menjawab masakan saja begitu sukar? Kalau tidak mengenal,
bilang saja terus terang, mengapa susah-susah amat?” Kwi Lan menegur.
“Siapa bilang aku tidak mengenal masakan ini? Semua masakan di dunia pernah kumakan. Aku pernah
memasuki dapur kaisar, pernah ikut dalam perjamuan Beng-kauw di selatan! Ini masakan... daging
kambing saus tomat!”
“Uhh, hanya daging kambing saja kenapa tidak dari tadi menyebutnya? Kau bohong agaknya! Kalau benar
hanya daging kambing, mengapa bentuknya bulat seperti ini? Dan mengapa pula tadi kau hilang ini bukan
makanan wanita?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ha-ha-ha-ha! Itu bukan daging kambing, melainkan... peluru kambing. Ha-ha-ha!” Riuh rendah suara
ketawa itu.
Hauw Lam dan Kwi Lan menengok. Sejak tadi mereka sudah tahu bahwa tidak jauh dari meja mereka,
dalam jarak lima meter, terdapat enam orang anggota pengemis baju bersih yang duduk mengelilingi meja
dan sejak tadi memperhatikan mereka berdua. Enam orang pengemis itu rata-rata sudah berusia enam
puluh tahun lebih, hanya mereka berdua inilah yang masih muda dan kini dua orang inilah yang tertawatawa
oleh ucapan seorang di antara mereka tadi.
Pada saat itu Kwi Lan dengan sumpitnya telah menusuk dua potong daging kambing itu yang memang
berbentuk bundar telur sebesar telur ayam.
“Hanya kambing jantan yang memiliki peluru itu, kambing betina tentu saja tidak punya. Akan tetapi keliru
kalau orang bilang wanita tidak boleh memakannya, malah sebetulnya itu makanan wanita, apa lagi wanita
cantik...! Ha-ha-ha-ha!” komentar pengemis muda yang ke dua dan kembali dua orang yang duduknya
menghadap kepada meja Kwi Lan tertawa-tawa sambil terang-terangan memandang kepada gadis itu.
“Ha-haaauupp!” mendadak dua orang pengemis muda yang sedang tertawa berkakakan itu terhenti
ketawanya dan mata mereka mendelik, tangan kiri mencekik leher dan tangan kanan menunjuk-nunjuk
kebingungan ke arah mulut mereka yang ternganga. Tanpa diketahui orang lain saking cepatnya gerakan
tangan Kwi Lan, dua buah daging bulat yang tadi berada di ujung sepasang sumpitnya kini telah menyusup
masuk ke tenggorokan dua orang itu melalui mulut yang tadi terbuka lebar-lebar.
Empat orang pengemis lain yang mengira bahwa dua orang temannya ini tersedak makanan sibuk
menolong, menepuk-nepuk punggung mereka dengan keras sambil bertanya-tanya. Akan tetapi dua orang
itu hanya dapat mengeluarkan suara seperti orang gagu karena kerongkongannya tersumbat. Akhirnya
seorang di antara mereka terbatuk dan meloncat ke luarlah daging bulat seperti telur ayam itu. Sedangkan
seorang lagi, karena daging itu belum keluar dan ia merasa napasnya hampir putus, dengan nekat lalu
memasukkan sumpit ke mulutnya dan mendorong daging di kerongkongannya itu terus masuk! Akal ini
menolong juga dan terhindarlah ia dari pada bahaya maut tercekik.
Kwi Lan yang telah memberi hukuman kepada dua orang pengemis muda yang berani mentertawakannya
itu, kedua pipinya menjadi merah. Tidak hanya karena marah, juga karena jengah setelah ia mendengar
apa sebetulnya daging bulat-bulat itu. Diam-diam ia memaki tuan rumah yang mengeluarkan hidangan
macam itu. Gadis ini memang masih asing dengan segala masakan-masakan kota, apa lagi masakanmasakan
yang begitu mewah. Semenjak kecil ia hanya makan masakan sederhana yang dibuat Bibi Bi Li.
Kini untuk mengalihkan perhatian dari masakan yang dianggapnya tidak pantas itu, lalu bertanya kepada
Hauw Lam yang masih tertawa-tawa, mentertawakan keadaan dua orang pengemis tadi.
“Dan ini, apakah ini? Untuk apa? Kelihatannya seperti darah.”
“Bukan darah. Itu namanya kecap, untuk bumbu menambah asin atau manis masakan.”
Sementara itu, dua orang pengemis muda yang sudah bebas dari pada daging-daging bulat kelihatan
marah-marah, berdiri dan memandang ke arah meja Kwi Lan sambil melotot. Empat orang kawannya yang
lebih tua juga sudah menengok semua dan mereka bicara berbisik-bisik satu kepada yang lain, wajah
mereka mengancam. Agaknya mereka sedang mempertimbangkan apa yang akan mereka lakukan
terhadap dua orang muda itu tanpa mengganggu jalannya pesta. Mereka berenam hanyalah tokoh-tokoh
biasa saja yang datang mewakili pengemis golongan hitam, maka tentu saja mereka segan untuk membuat
gaduh dan kacau dalam pesta perayaan pengangkatan ketua Thian-liong-pang. Akhirnya mereka
mengambil keputusan untuk menanti sampai upacara berakhir, barulah akan memberi hajaran kepada dua
orang muda kurang ajar itu.
Pada saat itu terdengar ribut-ribut di luar, bentakan suara laki-laki mengiringi tangis wanita. Semua tamu
menengok dan muncullah seorang laki-laki tinggi besar berjubah seperti pendeta, akan tetapi rambutnya
panjang riap-riapan dan mukanya seperti seekor singa, matanya lebar dan bersinar liar. Laki-laki berusia
lima puluhan tahun ini memegang sebatang cambuk panjang dan dengan cambuk ini ia menggiring dua
belas orang wanita muda-muda dan cantik-cantik seperti seorang penggembala menggiring ternak
saja.Beberapa orang di antara wanita inilah yang mengeluarkan suara tangisan, dan yang lain berjalan
dengan muka pucat dan mata penuh kecemasan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Begitu memasuki ruangan itu, kakek ini tertawa dan wajahnya menjadi makin menyeramkan. Rambutnya
yang riap-riapan dan terhias bunga-bunga cilan, semacam bunga yang wangi, bergerak-gerak ketika ia
tertawa. Melihat tamu ini, Thai-lek-kwi Ma Kiu berubah air mukanya, menjadi girang dan segera turun
sendiri menyambut dan menjura.
“Wah, kiranya sahabat Ci-lan Sai-kong yang datang berkunjung. Sungguh merupakan kehormatan besar
bagi kami.”
“Huah-ha-ha-ha! Thian-liong-pang terkenal dengan Cap-ji-liong (Dua Belas Ekor Naga) yang sungguh
gagah perkasa. Kini yang tertua di antaranya akan menjadi ketua, benar-benar menambah keangkeran
Thian-liong-pang. Pinceng (aku) datang. untuk memberi hormat kepada Sin-seng Lo-suhu, dan memberi
selamat kepada Thian-liong-pang dengan ketua barunya. Karena pinceng seorang miskin yang hanya suka
mengumpulkan bunga-bunga harum, maka pinceng hanya dapat memberi sumbangan dua belas tangkai
bunga harum ini untuk hiasan kamar Dua Belas Naga dari Thian-liong-pang sehingga kamar mereka
menjadi harum dan membuat mereka enak tidur. Ha-ha-ha!”
Kemudian kakek itu membunyikan cambuknya di atas kepala dua belas orang gadis tawanannya sambil
membentak, “Hayo kalian lekas berlutut di depan majikan-majikan baru kalian!” Karena agaknya sudah
tahu akan kekejaman kakek itu, dua belas orang gadis ini lalu menjatuhkan diri berlutut sambil
menundukkan muka.
Para tamu yang hadir terdiri dari orang-orang golongan hitam, maka peristiwa ini tidaklah mengherankan
hati mereka, malah banyak di antara mereka tertawa-tawa dan terdengar komentar di sana-sini memuji dua
belas orang gadis itu dan menyatakan betapa senangnya menerima sumbangan benda hidup seperti itu.
Juga Thai-lek-kwi Ma Kiu dan adik-adik seperguruannya serta para anggota Thian-liong-pang menganggap
hal ini biasa dan sewajarnya saja.
Akan tetapi karena saat itu adalah saat yang penting dan di situ terdapat banyak tamu, Ma Kiu merasa
malu dan jengah juga. Ia kembali menjura dan berkata, “Ah, Saudara Ci-lan Sai-kong mengapa begitu
sungkan? Kami tidak mengharapkan sumbangan. Kedatanganmu saja sudah cukup menggirangkan hati
kami!” Sungguh pun tidak menolak secara berterang, namun kata-kata ini menyatakan ketidak-senangan
hati dengan sumbangan itu, karena diberikan bukan pada saatnya yang tepat.
“Ha-ha-ha-ha!” Kakek itu tertawa sambil mengelus jenggotnya yang kaku. “Sudah kukatakan tadi, pinceng
orang miskin dan hanya suka mengumpulkan cilan. Karena mendengar bahwa para pimpinan Thian-liongpang
mempunyai kesukaan yang sama dengan pinceng, maka pinceng membawa dua belas tangkai
kembang ini. Jangan Sicu (Tuan yang Gagah) khawatir, bunga-bunga ini masih murni, datang dari keluarga
baik-baik dan sengaja kupilih untuk Sicu sekalian!”
Pada saat itu, si Tua Renta Sin-seng Losu yang tadinya duduk melenggut mengantuk di atas kursi, kini
tiba-tiba nampak segar dan tidak mengantuk lagi. Ia duduk tegak di kursinya, matanya yang setengah
lamur itu dilebar-lebarkan untuk memandangi dua belas orang gadis yang berlutut di atas lantai. Kemudian
seperti seorang mimpi ia berkata, “Sumbangan paling berharga diberikan orang, kenapa banyak rewel?
Kalau tidak suka, boleh giring semua ke kamarku!”
“Huah-ha-ha-ha!” Ci-lan Sai-kong tertawa bergelak sambil berdongak sehingga perutnya yang besar
bergerak-gerak turun naik, “Sin-seng Losu benar-benar mengagumkan sekali. Orang boleh tua tapi hati
harus tetap muda! Kalau Lo-suhu menghendaki, lain kali boleh pinceng kirim beberapa tangkai bunga yang
lebih muda, lebih cantik dan lebih harum!”
“Heh-heh, terima kasih... ini sudah cukup... banyak....”
Biar pun dia sendiri seorang yang tidak pantang melakukan segala macam maksiat, namun sebagai calon
ketua perkumpulan besar, Ma Kiu merasa malu juga mendengar percakapan kasar ini. Maka untuk
mencegah agar suhu-nya yang sudah pikun dan jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) Ci-lan Sai-kong itu
tidak mengeluarkan omongan-omongan yang tidak patut lagi, ia segera menjura.
“Banyak terima kasih atas sumbanganmu, kami persilakan duduk dan menikmati hidangan sekedarnya!”
sambil menyuruh adik-adik seperguruannya membawa para gadis itu ke belakang, ia sendiri lalu
mengantar tamu ini ke tempat duduknya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Hauw Lam mengerutkan alisnya. Mukanya yang tampan dan biasa bergembira itu berubah sama sekali,
sepasang matanya memancarkan sinar kemarahan. Kwi Lan melihat hal ini dan merasa heran. Mengapa
pemuda, ini marah-marah?
“Kau kenapa?” Ia bertanya lirih.
“Kenapa? Hemm, tidakkah kau lihat mereka tadi...?” Hauw Lam menjawab dengan pertanyaan pula. “Ci-lan
Sai-kong itu jai-hwa-cat terkutuk...”
“Apa itu jai-hwa-cat?”
Dalam kemarahannya, Hauw Lam berubah gemas dan mengomel. “Kau ini benar-benar tidak tahu apaapa!
Tidak mengenal masakan masih tidak aneh, akan tetapi seorang dara dengan kepandaian seperti kau
ini yang patut menjagoi dunia kang-ouw, tidak tahu apa itu jai-hwa-cat benar-benar bikin hati mendongkol.
Sekan-akan kau mempermainkan aku dan pura-pura tidak tahu!”
Kwi Lan makin heran melihat pemuda ini bertambah kemarahannya. “Eh, kau kenapa sih? Mabok agaknya,
ya? Aku benar-benar tidak tahu, kau marah-marah. Hayo jelaskan, apa sih yang dinamakan jai-hwa-cat
itu? Kakek itu menjemukan, buruk kasar dan menjijikkan, tapi ia seperti seorang pendeta. Apakah jai-hwacat
itu seorang pendeta? Setahuku, pendeta suka memetik daun-daun dan menggali akar-akar untuk obat.
Memetik bunga (jai-hwa) untuk apa?”
“Kau benar bodoh, Mutiara Hitam! Pendeta itu hanya berkedok pendeta, akan tetapi di balik kedoknya, ia
penjahat yang sejahat-jahatnya. Yang dimaksudkan bunga adalah seorang gadis atau seorang wanita
muda. Dia bukan memetik bunga biasa, melainkan tukang culik dan ganggu gadis-gadis muda, Kau lihat
dua belas gadis itu....”
“Hemm, mereka itu orang-orang tidak punya guna. Mereka mau saja dijadikan barang sumbangan. Perlu
apa dipikirkan boneka-boneka hidup itu?”
“Mereka dipaksa!”
“Ih, aku tidak melihat mereka dipaksa. Mereka berjalan dengan sukarela sama sekali tidak melawan.”
“Mereka orang-orang lemah, bagaimana berani melawan?”
Kwi Lan mengangkat kedua pundak. Ia tetap tidak mengerti dan tidak mempedulikan nasib dua belas orang
wanita tadi. Hauw Lam makin mendongkol. Gadis aneh yang telah merampas hatinya ini agaknya selain
berwatak luar biasa, juga hatinya keras dan tidak mempedulikan nasib orang lain.
Tiba-tiba terjadi keributan kembali dan masuklah dari ruangan depan seorang laki-laki berusia lima puluh
tahun lebih. Tubuhnya tinggi kurus dan wajahnya tampan, sikapnya agung dan pakaiannya biar pun tidak
baru, namun bersih dengan potongan pakaian pelajar. Di pinggang orang ini tergantung sebatang pedang.
Begitu masuk, semua orang tahu bahwa pelajar tua ini sedang marah, sepasang matanya yang tajam
mengeluarkan sinar. Ia langsung melangkah lebar ke dalam ruangan tamu, berhenti di depan Sin-seng
Losu lalu menudingkan telunjuknya dan berteriak.
“Sin-seng Losu! Bagaimana pertanggungan-jawabmu terhadap Thian-liong-pang? Kulihat betapa Thlanliong-
pang berubah menjadi perkumpulan iblis yang jahat dan yang mengotorkan nama kami para patriot
Hou-han! Tadinya melihat muka mantumu, Siangkoan Bu yang gagah perkasa dan dapat membawa Thianliong-
pang ke jalan benar, aku masih bersabar menyaksikan sepak terjangmu. Akan tetapi setelah
Siangkoan Bu meninggal, kau dan murid-muridmu makin merajalela melakukan kejahatan-kejahatan yang
keji, menyeret nama bersih Thian-liong-pang sebagai tempat perkumpulan para patriot Hou-han menjadi
perkumpulan bangsat-bangsat dan penjahat-penjahat!”
Mendengar ucapan ini Ma Kiu melompat bangun diturut sebelas orang adik seperguruannya. “Heh, orang
she Ciam! Engkau dahulu memang tokoh Thian-liong-pang, akan tetapi dengan kehendakmu sendiri kau
pergi mengundurkan diri sehingga kalau tidak ada Suhu kami, tentu Thian-liong-pang sudah bubar dan
hancur diperhina orang lain. Kini Thian-liong-pang menjadi perkumpulan yang besar, dihormati orang di
dunia kangouw, dan kau berani datang bersikap kurang ajar terhadap Suhu? Apakah kau sudah bosan
hidup?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ciam-sicu, mengingat engkau masih bekas pemimpin Thian-liong-pang dan mengingat akan hubungan
kita yang lalu, biarlah kumaafkan kata-katamu yang kasar tadi.” Terdengar Sin-seng Losu berkata tenang.
“Akan tetapi katakanlah mengapa datang-datang kau memaki dan marah-marah? Bukankah anak buahku
sudah pula memberi kabar kepadamu dan memberi undangan?”
“Aku tidak peduli akan upacara pengangkatan ketua baru, asal saja Thian-liong-pang dibawa ke jalan
benar. Akan tetapi aku sedang mengejar Ci-lan Sai-kong si Penjahat Pemetik Bunga yang terkutuk, yang
telah menculik belasan orang gadis. Siapa kira, dua belas orang gadis itu diculiknya untuk diantarkan ke
sini! Hayo menyangkallah kalau bisa! Bukankah Sai-kong keparat itu mengantarkan mereka ke sini sebagai
sumbangan? Beginikah wataknya para pimpinan Thian-liong-pang sekarang? Begini rendah dan bejat?”
“He-heh, Ciam-sicu. Apa pun yang dipersembahkan orang, kalau itu merupakan sumbangan, tidak baik
untuk ditolak. Menolaknya berarti menghina dan tidak menghargai maksud baik orang lain. Memang kami
telah menerima sumbangan Ci-lan Sai-kong. Akan tetapi kalau kau menghendaki mereka, biarlah
kuberikan mereka kepadamu,” kembali Ketua Thian-liong-pang itu berkata penuh kesabaran. Ia sebetulnya
tidak takut terhadap orang she Ciam itu, akan tetapi mengalah karena mengingat akan perhubungan
mereka yang lalu.
Ciam Goan ini dahulu adalah seorang di antara pimpinan Thian-liong-pang dan terkenal aktif serta setia
terhadap perkumpulan. Baru sepuluh tahun yang lalu ia mengundurkan diri dan tidak pernah mencampuri
Thian-liong-pang karena makin tidak suka akan sepak terjang pimpinan baru. Baru sekarang ia tiba-tiba
muncul dan marah-marah karena melihat betapa penjahat pemetik bunga yang dikejar-kejarnya itu
memberikan gadis-gadis culikannya sebagai sumbangan kepada pimpinan Thian-liong-pang!
“Sin-seng Losu! Kau masih mempunyai rasa malu, itu bagus. Lekas bebaskan dua belas orang gadis itu
dan selanjutnya aku tidak akan mencampuri urusan Thian-liong-pang lagi karena semenjak saat ini, aku
bersumpah takkan sudi lagi menginjak lantai ini!”
Mendengar kata-kata ini, Sin-seng Losu menoleh ke arah dua belas orang muridnya. Sikapnya jelas
hendak mengalah dan gerakan mukanya merupakan perintah agar murid-muridnya membebaskan dua
belas orang gadis sumbangan Ci-lan Sai-kong. Di dalam hatinya Ma Kiu dan adik-adiknya merasa
mendongkol dan marah sekali. Mereka memang suka dengan wanita-wanita cantik, akan tetapi bagi
mereka amat mudah mendapatkan wanita cantik, baik dengan mengandalkan uang, kedudukan, mau pun
kepandaian dan tentu saja mereka tidak begitu kukuh, untuk menahan dua belas orang gadis tadi.
Akan tetapi sikap Ciam Goan amat merendahkan mereka dan kalau mereka mengalah, mereka merasa
malu kepada para tamu. Selain itu, mereka pun tahu bahwa gurunya mengalah hanya karena mengingat
bahwa Ciam Goan ini dahulu bekas pemimpin Thian-liong-pang. Soal kepandaian, sungguh pun Ciam
Goan cukup lihai, namun mereka tidak gentar menghadapinya. Karena inilah, Ma Kiu menjadi ragu-ragu
untuk menyetujui sikap gurunya yang mengalah.
Pada saat itu terdengar suara ketawa keras dan Ci-lan Sai-kong sudah melompat bangun menghadapi
Ciam Goan. Sambil bertolak pinggang orang tinggi besar itu tertawa dan berkata. “Huah-ha-ha-ha! Cacing
kurus yang bicara besar dan sombong! Engkau bilang mengejar dan mencari pinceng? Dua belas tangkai
bunga itu adalah pinceng yang menyumbangkan kepada dua belas orang gagah Thian-liong-pang, dan
karena pinceng masih berada di tempat ini, masih menjadi tanggung jawab pinceng!”
“Bagus! Memang aku akan membunuhmu, jai-hwa-cat!” bentak Ciam Goan dengan marah.
Bekas tokoh Hou-han ini tidak peduli akan semua tamu lain karena kemarahannya sudah meluap-luap.
Yang membuat marah sekali bukan hanya melihat penjahat cabul penculik gadis-gadis remaja itu,
melainkan terutama sekali karena melihat betapa Thian-liong-pang yang tadinya menjadi harapan para
patriot Hou-han untuk membangun kembali kerajaan yang sudah runtuh, kini ternyata menyeleweng
menjadi sarang penjahat kejam terkutuk. Maka kini dengan kemarahan meluap ia mencabut pedangnya
dan langsung menerjang Sai-kong itu dengan tusukan kilat ke arah dada.
Harus diketahui bahwa Ciam Goan ini adalah putera tunggal mendiang Ciam-ciangkun, seorang panglima
Kerajaan Hou-han. Dalam hal ilmu pedang, ia telah digembleng oleh seorang pamannya, adik ibunya, juga
seorang panglima, yaitu Panglima Giam Siong yang terkenal jagoan. Ilmu pedangnya bersumber kepada
ilmu pedang Kun-lun-pai, maka mengutamakan kecepatan gerak dan perubahan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendengar suara angin pedang berdesing dan melihat serangan yang cepat ini, Ci-lan Sai-kong tidak
berani memandang rendah. Sambil berseru keras ia sudah meloncat mundur sambil mengibaskan lengan
bajunya yang lebar dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya sudah menghunus ke luar sebatang
golok tipis yang mengkilap saking tajamnya.
Ujung pedang di tangan Ciam Goan sudah datang lagi dengan tusukan ke arah leher. Kini Ci-lan Sai-kong
menggerakkan goloknya menangkis sambil mengerahkan tenaga. Sai-kong ini adalah seorang ahli
gwakang (tenaga luar) sehingga tenaganya amat besar.
Terdengar bunyi nyaring ketika dua senjata beradu. Diam-diam Ciam Goan terkejut sekali. Untung tadi
sudah menduga akan besarnya tenaga lawan, sehingga ia telah mengerahkan Iweekang dan ketika
pedangnya ditangkis, ia dapat menghadapi tenaga keras dengan tenaga lemas. Dengan cara ini, walau
pun tertangkis keras, pedangnya tidak terpental melainkan menempel pada golok sehingga tidak ada
bahaya terlepas atau rusak.
Selagi Sai-kong itu terkejut karena tangkisannya yang keras tidak berhasil membuat pedang lawan terpukul
jatuh, Ciam Goan sudah membuat pedangnya meleset dan langsung dengan gerakan nyerong pedangnya
itu menyambar ke arah lengan kanan lawan. Inilah jurus ilmu pedang Kun-lun yang bernama Hun-in-toansan
(Awan Melintang Putuskan Gunung), amat berbahaya karena yang diserang bukan bagian tubuh lain
melainkan lengan kanan yang memegang golok!
Hebatnya jurus ini adalah karena pedang itu akan terus mengulang gerakannya membabat dari kanan ke
kiri dan sebaliknya tanpa memberi kesempatan kepada lawan untuk balas menyerang. Kecepatannya
mengandalkan kepada gerak pergelangan tangan, maka cepatnya bukan main dan lawan yang diserang
tentu akan menjadi bingung.
Demikian pula dengan Ci-lan Sai-kong. Melihat pedang lawannya membabat ke arah lengan kanannya, ia
kaget sekali dan cepat ia menarik lengan kanannya sambil memutar golok, siap membalas. Akan tetapi
alangkah kagetnya ketika pedang yang lewat ke sebelah kirinya itu kini membalik dengan kecepatan kilat
dan telah membabat lagi ke arah pinggangnya! Tak disangkanya lawan akan dapat mengulangi serangan
sedemikian cepatnya, maka ia pun menggerakkan golok menangkis.
Namun tetap saja Ciam Goan dapat terus menyambung serangannya. Begitu tertangkis, pedangnya
membalik dan meluncur dengan babatan dari samping, demikian pula kalau dielakkan sehingga Sai-kong
itu mengalami penyerangan berantai yang membuat dia repot menyelamatkan diri.
Akan tetapi Ci-lan Sai-kong juga bukan seorang lemah. Selain memiliki dasar ilmu silat tinggi, juga ia sudah
kenyang akan pengalaman bertanding. Inilah sebabnya maka menghadapi serangan Hun-in-toan-san yang
amat lihai ini ia pun tidak kekurangan akal. Melihat betapa pedang lawan selalu membabat dari kanan ke
kiri dan sebaliknya, sedangkan yang diserang adalah pinggang ke atas, tiba-tiba ia mengeluarkan bentakan
keras dan tubuhnya lalu rebah dan menggelinding ke atas tanah. Ia tidak hanya menggelinding untuk
menyelamatkan diri, melainkan juga berguling untuk mendekati lawan dan goloknya menyambar-nyambar
dari bawah, membabat kaki lawan dan juga ada kalanya menusuk ke arah perut.
Inilah Tee-tong-to (Ilmu Golok Bergulingan) yang amat berbahaya. Segera keadaan menjadi berubah.
Kalau tadi Ciam Goan berada di pihak penyerang dan pendesak dengan jurus Hun-in-toan-san, kini si
Penjahat Pemetik Bunga itu yang mendesak dengan Tee-tong-to. Ciam Goan menjadi repot sekali, harus
meloncat ke sana ke mari dan pedangnya melindungi tubuh bagian bawah, bagian yang amat sulit
dilindungi dengan pedang.
“Wah, ramai betul!” Hauw Lam berkata dengan wajah gembira. “Kalau tidak hati-hati orang she Ciam itu
tentu akan celaka.”
“Tidak mungkin!” bantah Kwi Lan.
“Biar pun ilmu pedangnya hanya permainan kanak-kanak, sedikitnya ia lebih baik dari pada brewok itu.”
Hauw Lam melirik ke arah gadis ini. Terlalu sombongkah gadis ini, atau memang betul-betul berkepandaian
begitu tinggi sehingga menganggap ilmu pedang Ciam Goan yang jelas bersumber ilmu pedang Kun-lun itu
dianggap permainan kanak-kanak.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kumaksudkan bukan dalam pertandingan melawan Sai-kong itu. Melawan dia, kiranya takkan kalah
karena kulihat Sai-kong itu hanya luarnya saja kelihatan kuat, akan tetapi dalamnya sudah lapuk seperti
pohon tua, napasnya sudah hampir putus. Yang kukhawatirkan adalah orang-orang Thian-liong-pang. Lihat
saja sikap Dua Belas Naga itu dan kurasa Ciam Goan belum tentu akan dapat meninggalkan tempat ini
dengan selamat.”
Kini Kwi Lan yang merasa heran. Ia tidak berkata apa-apa, akan tetapi hatinya penasaran. Ia belum
berpengalaman seperti Hauw Lam, tidak mengenal watak orang-orang kang-ouw.
Sementara itu, pertandingan antara dua orang itu makin seru. Kini Ci-lan Sai-kong tidak lagi menggunakan
Tee-tong-to karena ia menjadi kelelahan sendiri setelah puluhan jurus ia lakukan tanpa hasil. Memang Teetong-
to sungguh pun lihai dan berbahaya bagi lawan, namun untuk memainkannya membutuhkan tenaga
dan napas panjang. Ada pun Ci-lan Sai-kong, sungguh pun terlatih baik dan banyak pengalaman, namun
tepat seperti dikatakan Hauw Lam tadi, di sebelah dalam tubuhnya ia sudah lemah.
Sai-kong ini adalah seorang abdi nafsu, seorang yang selalu mengumbar nafsu sehingga tentu saja
kekuatan-kekuatan sebelah dalam tubuhnya menjadi lemah dan mana ia mampu bertahan melawan
seorang yang ulet dan kuat seperti Ciam Goan? Kini keringatnya sudah membasahi muka dan leher,
napasnya mulai terengah-engah seperti orang dikejar setan.
Melihat keadaan lawan ini, Ciam Goan lalu mendesak dan menerjang dengan jurus Seng-siok-hut-si
(Musim Panas Kebut Kipas). Jurus ini amat gencar seperti gerakan kipas di tangan, bahkan lebih gencar
serangannya dari pada jurus Hun-in-toan-san tadi. Tiga kali Sai-kong itu mengelak dan menangkis,
keempat kalinya ketika ujung pedang menotok iga kiri, ia cepat melakukan jurus Hwai-tiong-po-gwat (Peluk
Bulan Depan Dada) untuk melindungi iganya dengan golok sambil tangan kirinya bergerak memukul dada
lawan. Namun siapa kira, Ciam Goan sudah merubah gerakan pedangnya, ia tidak jadi menotok iga,
melainkan memutar pedangnya ke kanan dan....
“Crakkkk!” lengan kiri Sai-kong itu terbabat putus sebatas siku!
“Aduhh...!” Sai-kong itu terhuyung dan Ciam Goan sudah menerjang maju untuk mengirim tusukan terakhir.
Akan tetapi pada saat itu tampak sinar putih meluncur cepat dan....
“Traanggg...!” pedang di tangan Ciam Goan terpental dan lepas dari pegangannya. Sebatang sumpit
gading yang tadi menghantam pedang itu jatuh ke atas lantai di depannya.
Pucat wajah Ciam Goan. Kiranya Ma Kiu yang menyambitkan sumpit itu untuk menangkis pedangnya dan
menyelamatkan nyawa Ci-lan Sai-kong. Lemparan sumpit saja sudah dapat meruntuhkan pedangnya. Baru
lemparan sumpit begitu hebat, apa lagi kalau orangnya maju! Ciam Goan menghela napas dan berkata,
“Kepandaian Thai-lek-kwi memang hebat. Seorang saja sudah sehebat itu, apa lagi kalau Cap-ji-liong dari
Thian-liong-pang maju bersama. Akan tetapi aku Ciam Goan seorang laki-laki yang tidak takut mati.
Majulah kalian semua dan mari kita mengadu nyawa di sini!”
Sikap Ciam Goan benar-benar amat gagah sehingga diam-diam Kwi Lan menjadi kagum sekali. Diam-diam
gadis ini sudah siap-siap untuk membela orang gagah itu. Ia mendengar kawannya berbisik, “Kalau dia
dikeroyok, hemmm... akan kucabuti semua rambut dari muka Ma Kiu berikut bulu-bulu hidungnya!”
Mau tidak mau Kwi Lan tertawa geli mendengar ucapan ini. Karena gadis ini wajar dan polos, maka suara
ketawanya tidak ia tahan-tahan. Padahal waktu itu keadaan sudah amat tegang dan amat sunyi. Tidak ada
suara keluar dari para tamu yang menanti perkembangan selanjutnya yang menegangkan. Tentu saja
suara ketawa gadis ini terdengar jelas.
Sin-seng Losu lalu bangkit berdiri. Suara ketawa Kwi Lan tadi seakan-akan menampar mukanya dan ia
berkata, “Sudahlah, kami sedang hendak melakukan upacara penting, tidak perlu pertandingan dilanjutkan
berlarut-larut. Apa lagi kami tidaklah serendah itu untuk melakukan pengeroyokan terhadap seorang yang
tidak berapa pandai seperti Ciam-sicu, kau sudah berhasil mengalahkan Ci-lan Sai-kong, nah, tidak lekas
pergi dari sini mau tunggu apa lagi?”
Ciam Goan menghela napas dan berkata, “Aku harus tahu diri, tak mungkin dapat melawan kalian. Biarlah
dua belas orang gadis ini tersiksa di sini, aku tidak berdaya menolong. Akan tetapi ingat, Ciam Goan bukan
dunia-kangouw.blogspot.com
seorang yang mudah melupakan kejahatan macam ini. Lain kali kita bertemu pula!” Setelah berkata
demikian, Ciam Goan memungut pedangnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Ci-lan Sai-kong sudah ditolong dan diobati lengannya yang buntung, tempat itu sudah dibersihkan oleh
pelayan dan Ci-lan Sai-kong sudah disuruh mengaso di kamar belakang.
“Cu-wi sekalian dipersilakan berdiri, upacara akan dilakukan sekarang juga!” Sin-seng Losu berseru keras
dan semua tamu bangkit berdiri dari tempat duduk masing-masing.
Biar pun merasa tak senang, Kwi Lan yang melihat Hauw Lam berdiri dengan muka melucu terpaksa
bangkit juga. Suasana kembali menjadi sunyi sehingga langkah seorang murid kepala Thian-liong-pang
yang membawa panci, diikuti saudara-saudaranya, terdengar nyata. Sambil berlutut murid itu memberikan
panci kepada Sin-seng Losu yang sudah bangkit berdiri dari kursinya. Dengan kedua tangan ia memegang
panci itu.
Pada saat itu Thai-lek-kwi Ma Kiu maju dan berlutut menghadap para tamu. Seorang murid lain datang
pula dari belakang dan terdengarlah hiruk-pikuk suara anjing menggonggong. Kiranya murid ini datang
menyeret seekor anjing hitam ke depan gurunya. Tanpa berkata sesuatu Sin-seng Losu menggerakkan
tangan kiri dengan dua jari terbuka, menusuk leher anjing hitam itu. Terdengar anjing itu menguik keras
akan tetapi oleh murid tadi ekornya dipegang dan tubuhnya diangkat ke atas. Dari lehernya yang berlubang
bercucuran darah yang ditampung oleh Sin-seng Losu ke dalam panci tadi. Anjing tadi meronta-ronta dan
menguik-nguik, akhirnya darahnya habis dan ia berhenti berkelojotan. Bangkainya lalu dilemparkan ke
sudut oleh si Murid yang lalu mengundurkan diri.
Beberapa orang pelayan lalu mengangkat bangkai itu ke belakang dan Kwi Lan mendengar suara Hauw
Lam berbisik di belakangnya, “Hemm, tentu dimasak daging anjing itu.”
“Ihhh...!” Kwi Lan berseru kaget, akan tetapi mereka lalu mengalihkan perhatian lagi ke tengah ruangan di
mana Sin-seng Losu memegang panci berisi darah anjing hitam.
Kakek ini lalu mengangkat panci tinggi-tinggi dan berkata, “Dengan disaksikan oleh Cu-wi sekalian, dan
dengan syarat sudah ditentukan dalam perkumpulan Thian-liong-pang kami, saat ini aku menyerahkan
kedudukan Pangcu (Ketua) kepada muridku yang pertama, Ma Kiu. Nyawa anjing hitam itu menjadi saksi
dan darahnya menghalau semua iblis yang hendak mengganggu tugasnya!” Setelah berkata demikian,
Sinseng Losu menyiramkan darah anjing hitam itu ke atas kepala Ma Kiu yang botak!
“Ihhh...!” kembali Kwi Lan berseru dan seperti terpesona ia pun menuangkan kecap dari botol ke dalam
cangkirnya sampai penuh! Kecap itu kental dan merah seperti darah.
“Hemmm, benar-benar keji dan kotor,” bisik Hauw Lam di belakangnya. “Mutiara Hitam, aku sudah muak
dan tanganku juga gatal-gatal karena diam saja sejak tadi di sini. Apakah menyaksikan lagak badut-badut
ini kita harus diam saja? Hayo kau ramaikan tontonan di sini, kau tarik perhatian mereka dan aku akan
masuk menolong gadis-gadis tadi. Atau aku yang memancing keributan sedangkan kau yang menolong...?”
“Ah, peduli amat dengan mereka. Kalau kau mau menolong, pergilah. Aku... aku ingin mencoba sampai di
mana kelihaian mereka ini!”
Hauw Lam mengangguk, lalu diam-diam ia menyelinap pergi menggunakan kesempatan selagi semua
orang mencurahkan perhatian kepada upacara pengangkatan ketua baru. Kwi Lan yang memang sejak
tadi mendongkol dan tidak senang mendengar niat Hauw Lam hendak menolong dua belas orang gadisgadis
itu, entah mengapa hatinya makin tidak senang lagi. Dan kini ia ingin menumpahkan kemarahan
hatinya kepada orang-orang Thian-liong-pang. Ia membawa cangkir kecap itu menuju ke depan, lalu
berkata.
“Pangcu yang baru diangkat dengan siraman darah anjing. Kalau dia suka darah biarlah aku mengucapkan
selamat dengan darah naga ini!” Kwi Lan tersenyum manis dan begitu ia menggerakkan tangan kanan,
‘darah’ dalam cangkirnya menyiram ke luar dan dengan kecepatan luar biasa menyambar kepala dan muka
Ma Kiu yang masih berlepotan darah akan tetapi sudah duduk di kursi ketua yang tadi diduduki suhu-nya!
Namun Ma Kiu memang lihai. Tanpa turun dari kursinya, ia mengerahkan tenaga dan... berikut kursi yang
didudukinya ia telah meloncat. Kursinya itu telah pindah ke kiri sejauh satu meter! Akan tetapi karena
sambaran kecap itu luar biasa cepatnya, ia tidak dapat menghindarkan lagi sebagian kecap menyiram
dunia-kangouw.blogspot.com
pipinya dan memasuki mulutnya. Ketika ia tahu bahwa yang menyiram mukanya adalah kecap, mengertilah
Ma Kiu bahwa gadis itu sengaja mencari gara-gara. Akan tetapi karena tadi mengira bahwa gadis itu
adalah utusan Jin-cam Khoa-ong, Ma Kiu masih menahan kemarahannya, lalu berseru dengan nada
marah.
“Nona sebagai tamu yang kami hormati, sebagai utusan Pak-sin-ong yang kami muliakan, apakah arti
perbuatanmu ini?”
Kwi Lan tersenyum mengejek. Sejak tadi ia sudah tidak senang kepada mereka, terutama Ma Kiu. Ia
memang tidak peduli akan nasib dua belas orang wanita muda tadi, akan tetapi mereka itu ia anggap
terlalu sombong, tidak memandang mata kepadanya sehingga melakukan apa saja di depannya seakanakan
ia tidak akan bisa berbuat sesuatu! Memang watak Kwi Lan aneh sekali dan ia hanya selalu
menurutkan perasaan hatinya. Kalau perasaan hatinya suka, seperti terhadap Hauw Lam, ia pun akan
bersikap baik.
“Artinya, Brewok, bahwa aku setuju dengan ucapan orang she Ciam tadi, bahwa Thian-liong-pang dipimpin
oleh orang-orang yang busuk! Bahwa kuanggap engkau seorang yang suka mandi darah anjing hitam, tak
patut menjadi Ketua Thian-liong-pang, patutnya menjadi tukang jagal anjing!”
Semua orang terbelalak kaget mendengar ini dan semua tamu menahan napas. Omongan itu merupakan
penghinaan yang tiada taranya! Apa lagi bagi mereka yang mengenal bahwa dahulunya Ma Kiu adalah
seorang tukang jagal, maka omongan gadis itu yang entah disengaja atau tidak mereka tidak tahu tentu
amat menyakitkan hati ketua baru Thian-liong-pang ini. Dan memang sesungguhnyalah, setelah sesaat
terbelalak seperti arca saking kaget dan herannya, wajah Ma Kiu perlahan-lahan menjadi merah sekali
sampai ke telinganya. Kedua tangannya mencengkeram lengan kursinya dan kalau ia tidak ingat bahwa
kursi itu adalah kursi ketua tentu lengan kursi itu telah diterkamnya hancur untuk melampiaskan
kemarahannya.
“Bocah kurang ajar!” bentaknya, Suaranya menggetar saking marahnya. “Biar pun engkau utusan dari
utara, apa kau kira kau boleh bersembunyi di balik nama Jin-Cam Khoa-ong untuk menghinaku?”
Kwi Lan tertawa, menggunakan tangan kanannya secara main-main meremas cangkir bekas kecap tadi
sehingga cangkir itu hancur lebur menjadi tepung dalam genggaman tangannya yang berkulit halus, lalu
berkata, “Siapa bilang aku kaki tangan Jin-cam Khoa-ong? Biar dia algojo manusia mau pun algojo anjing
seperti engkau, aku sama sekali tidak mengenalnya. Siapa kesudian bersembunyi di belakang namanya?”
Mendengar ini kembali semua orang melengak kaget. Kalau dara remaja itu tadi bersikap ugal-ugalan dan
kurang ajar, mereka semua mengira bahwa gadis itu adalah kepercayaan Jin-cam Khoa-ong dan hal itu
tidaklah begitu aneh. Akah tetapi setelah kini gadis itu sendiri menyangkal menjadi orang Pak-sin-ong dan
berani menghina tokoh besar itu pula di depan orang banyak, benar-benar mereka menjadi kaget dan
heran sekali. Gilakah dara remaja ini? Kalau gila, alangkah sayangnya. Dara remaja ini begitu cantik jelita.
dunia-kangouw.blogspot.com
Lebih-lebih lagi Ma Kiu sendiri. Kemarahannya meluap-luap dan diam-diam ia pun lega bahwa dara ini
bukan utusan Jin-cam Khoa-ong, karena dengan kenyataan ini ia boleh berbuat sesuka hatinya terhadap
gadis ini.
“Bagus!” teriaknya sambil bangkit berdiri. “Kalau begitu, biarlah kau menjadi tawanan kami dan akan kau
rasakan penderitaan yang akan membuat kau merindukan kematian!” Dalam suara ini terkandung
ancaman yang hebat dan mengerikan.
Akan tetapi Kwi Lan tidak mengenal apa itu artinya takut dan ngeri. Ia malah tertawa. “Sudah, jangan
membadut lagi. Sudah sejak tadi aku muak mendengar dan melihat segala yang terjadi di sini. Lekas
keluarkan kuda hitamku, Nonamu hendak pergi!”
Sambil berkata demikian Kwi Lan menggunakan tangan kiri untuk mengebut-ngebutkan bajunya. Karena ia
baru saja melakukan perjalanan jauh bersama Hauw Lam dengan naik kuda, tentu saja pakaiannya banyak
debunya dan begitu ia kebut-kebutkan, debu mengepul ke sekelilingnya dan mengotori meja-meja tamu
lainnya.
“Wanita keparat! Kau belum tahu lihainya tuan besarmu!” Thai-lek-kwi Ma Kiu sudah tak dapat menahan
kemarahannya lagi dan kini hendak melangkah maju.
Akan tetapi terdengar suara Sin-seng Losu di belakangnya. “Seorang ketua tidak sepatutnya melayani
segala anak kecil. Apakah Thian-liong-pang sudah tidak ada orang lain untuk membereskan kuda betina
liar ini? Hayo, siapa berani maju menangkapnya? Tangkap dan bawa ke kamarku, aku butuh yang liar
macam ini untuk menambah semangatku!”
Untung bahwa Kwi Lan masih hijau dan tidak tahu apa yang dimaksudkan kakek ini. Kalau ia tahu tentu ia
takkan dapat menahan kemarahannya lagi.
Tiba-tiba dari golongan tamu melompat ke luar seorang laki-laki muda yang berpakaian tambal-tambalan
namun bersih. Pengemis muda ini menjura ke arah kursi ketua dan berkata, “Betul apa yang dikatakan Losuhu
tadi. Thian-liong-pang tidak perlu repot-repot, di antara tamu-tamu yang hadir masih banyak yang
sanggup menangkap bocah ini. Biarlah saya menangkap siluman cantik ini untuk Thian-liong-pang!”
“Ha-ha-ha, sahabat-sahabat dari Hek-coa Kai-pang memang selalu merupakan sahabat-sahabat baik kami.
Tidak percuma bersahabat dengan Hek-coa Kai-pang. Silakan Siauw-sicu” kata Sin-seng Losu.
Pengemis muda itu dengan lagak sombong, mengangkat muka dan membusungkan dadanya, melangkah
maju menghampiri Kwi Lan. Dia adalah seorang di antara dua pengemis muda yang tadi dipaksa menelan
daging kambing oleh Kwi Lan, maka tentu saja ia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membalas
penghinaan tadi. Akan tetapi karena wataknya memang mata keranjang, begitu melihat wajah jelita,
hatinya sudah berdebar-debar dan timbul niat hatinya untuk mempermainkan Kwi Lan. Ia tersenyum
dibuat-buat, matanya memandang kurang ajar, dan berkata,
“Nona kecil bermulut besar! Kau tidak tahu tingginya langit lebarnya bumi, berani mengacau Thian-liongpang
dan tidak memandang sebelah mata kepada para tamunya. Dosamu besar sekali dan sudah
sepatutnya kau dihukum mati. Akan tetapi tuan mudamu yang melihat bahwa kau masih muda remaja dan
cantik jelita, bersedia memberi ampun asal saja kau suka berlutut dan menganggukkan kepala delapan kali
lalu berjanji akan melayani dengan manis segala kehendak Sin-seng Lo-suhu dan... aduuuhhh....”
Pengemis muda itu tidak melanjutkan kata-katanya karena ia keburu mati dengan gosong dan tulangtulangnya
remuk. Pukulan Kwi Lan yang disertai kemarahan hebat itu membuat ia terlempar sampai
menimpa meja di depan Ma Kiu si ketua baru!
Kagetlah semua yang hadir di situ. Terutama sekali lima orang pengemis anggota Hek-coa Kai-pang yang
melihat seorang saudaranya dalam segebrakan saja terpukul tewas, segera melompat bangun dari tempat
duduk masing-masing. Saudara muda mereka tadi, biar pun bukan anggota pimpinan teratas dari Hek-coa
Kai-pang, namun merupakan seorang tokoh yang memiliki ilmu kepandaian tinggi juga. Bagaimanakah
dapat roboh binasa hanya sekali pukul oleh gadis remaja itu?
Sekali melompat mereka tiba di dekat meja Ketua Thian-liong-pang yang tertimpa tubuh saudara muda
mereka dan begitu melihat dada dan muka pengemis muda itu biru menghitam, mereka mengeluarkan
seruan kaget dan marah. Hek-coa Kai-pang adalah perkumpulan pengemis dunia hitam yang terkenal akan
dunia-kangouw.blogspot.com
kelihaian mereka bermain racun. Kini seorang anggota mereka tewas oleh pukulan yang mengandung
racun hebat!
“Thian-liong-pangcu, maafkan kami yang terpaksa harus turun tangan terhadap siluman betina ini!” berkata
seorang di antara lima orang pengemis itu kepada Ma Kiu.
Setelah berkata demikian lima orang pengemis ini sudah meloncat dan mengurung Kwi Lan yang berdiri
dengan sikap tenang. Di tangan mereka tampak pedang yang sudah siap untuk menerjang dan
mengeroyok. Akan tetapi melihat pukulan beracun yang hebat itu, pula mendengar bahwa gadis itu tadi
menyangkal sebagai utusan Pak-sin-ong, pengemis tertua berlaku hati-hati dan berkata.
“Nona muda, engkau sudah berani lancang tangan membunuh seorang di antara saudara kami. Hayo
mengaku, siapakah engkau dan dari partai mana agar kami dapat mempertimbangkan tindakan kami
selanjutnya terhadap dirimu.” Kata-kata ini mengangkat kedudukan para pengemis itu ke tempat atas dan
memang inilah yang dimaksudkan oleh pengemis itu untuk menutup rasa malu karena mereka berlima
mengurung seorang nona muda.
“Apakah kau tuli? Tadi sudah diperkenalkan namaku Mutiara Hitam, bukan dari partai mana pun juga.
Saudaramu mampus oleh tingkahnya sendiri. Apakah masih ada lagi yang sudah ingin mampus? Kalau
ada, boleh maju biar aku membantunya pergi ke neraka agar dunia ini tidak terlalu kotor. Kalau tidak ada,
hayo keluarkan kuda hitam, Nonamu sudah jemu dan ingin pergi dari sini.”
Pengemis tua itu tak dapat menahan kemarahannya dan berseru. “Saudara-saudara, kalau kita tidak dapat
membalas kematian saudara muda kita, percuma saja menjadi anggota Hek-coa Kai-pang!” Seruan ini
merupakan komando bagi teman-temannya dan serentak mereka menggerakkan pedang mengirim
serangan.
Akan tetapi lima orang pengemis ini hanya melihat si Nona menggerakkan kedua tangannya tanpa
berpindah tempat dan... pedang mereka membalik dan menghantam diri mereka sendiri. Benar-benar amat
luar biasa gerakan kedua tangan Kwi Lan ini. Setiap sambaran pedang ia sambut dengan tangan terbuka
dan dengan gerakan aneh yang mengeluarkan hawa pukulan amat kuatnya. Pedang yang menyambar
dadanya membalik ke dada si Pemegang Pedang, yang menyambar pundak membalik ke pundak si
Penyerang dan demikian seterusnya sehingga terdengar teriakan-teriakan kesakitan ketika lima orang
pengemis ini roboh berturut-turut oleh bacokan-bacokan dan tusukan-tusukan mereka sendiri!
Melihat gerakan luar biasa yang mendatangkan akibat aneh itu, Ma Kiu yang berkepandaian tinggi maklum
bahwa biar pun masih amat muda, gadis itu benar-benar lihai sekali. Kalau tidak lekas turun tangan
membekuk atau membinasakan gadis yang mengacau perkumpulannya ini tentu setidaknya akan
mengurangi keangkeran Thian-liong-pang, demikian pikirnya.
Maka ia lalu berseru. “Tangkap siluman ini!” Ia memberi isyarat dan sebelas orang adik seperguruannya
mengikuti gerakannya menghampiri Kwi Lan.
Gadis ini teringat akan cerita Hauw Lam, akan kehebatan Cap-ji-liong yang katanya disegani oleh tokohtokoh
kang-ouw, maka ia bersikap hati-hati namun wajahnya tetap berseri dan bibirnya tersenyum
mengejek.
“Inikah yang disebut Dua Belas Ekor Naga dari Thian-liong-pang? Hemm, Sungguh gagah!” kata Kwi Lan
sambil tersenyum.
Merah muka Ma Kiu. Sebagai ketua baru Thian-liong-pang, sungguh amat memalukan kalau ia harus maju
bersama sebelas orang sute-nya untuk mengeroyok seorang gadis remaja. Nama Cap-ji-liong sudah
tersohor. Masa kini menghadapi seorang gadis remaja mereka harus maju bersama? Akan tetapi gadis ini
aneh ilmu silatnya, dan kalau sekali turun tangan Cap-ji-liong tidak mampu merobohkannya, hal itu akan
lebih memalukan lagi.
“Bocah, kalau kau sudah mendengar tentang Cap-ji-liong, mengapa banyak tingkah? Cap-ji-liong
selamanya maju bersama. Karena kau menjadi tamu, berarti kami kurang sopan kalau turun tangan di sini.
Jika engkau benar-benar berani kami menantangmu untuk mengadu kepandaian di ruangan silat!”
Ucapan ini sedikit banyak menghapus rasa malu pihak Thian-liong-pang karena berarti bahwa dua belas
orang tokohnya bukan sekali-kali hendak mengeroyok begitu saja, melainkan telah melakukan tantangan
dunia-kangouw.blogspot.com
secara berterang. Kalau gadis ini tahu diri dan menolak tantangan lalu pergi meninggalkan tempat itu tentu
Cap-ji-liong tidak akan menghalanginya. Semua tamu menduga bahwa gadis itu tentu akan
mempergunakan kesempatan ini untuk pergi menyelamatkan diri, karena melawan Cap-ji-liong berarti
mencari mati. Akan tetapi alangkah kaget hati mereka ketika melihat gadis itu tersenyum lebar dan
menjawab,
“Kalian menantangku? Boleh, siapa takut akan pengeroyokan kalian? Hayo, hendak kulihat seperti apa
kepandaian Cap-ji-liong!” Kwi Lan yang tidak mengenal apa artinya takut, tentu saja tidak dapat menolak
tantangan ini, yang diucapkan dengan kata-kata ‘kalau ia berani’! Ia seorang gadis remaja yang baru saja
turun ke dunia ramai, sama sekali belum berpengalaman dan hanya mengandalkan kepandaian luar biasa
serta keberanian saja. Kalau ia berpengalaman, tentu ia akan menaruh curiga mengapa Cap-ji-liong
menantangnya dengan memilih tempat.
“Bagus!” seru Ma Kiu. “Mari ke lian-bu-thia (ruangan silat), biarlah para tamu yang terhormat menjadi saksi
bahwa kau menerima tantangan Cap-ji-liong untuk bertanding di lian-bu-thia!”
Sambil membusungkan dada, sedikit pun tidak gentar, Kwi Lan berjalan mengikuti Ma Kiu ke ruangan
belakang di mana terdapat ruangan silat yang luas dan berbentuk bundar. Sebelas orang adik seperguruan
Ma Kiu berjalan di belakangnya, kemudian berbondong-bondong para tamu yang ingin menyaksikan
pertandingan itu membanjiri ruangan silat pula.
Kini mereka telah berhadapan. Kwi Lan memperhatikan mereka. Ma Kiu yang menjadi pimpinan berdiri di
tengah sedangkan sebelas orang lain berdiri di kanan kirinya. Mereka tampak gagah dan kereng. Melihat
gerak-gerik mereka, memang dapat dibayangkan bahwa Cap-ji-liong rata-rata memiliki kepandaian tinggi.
Juga usia dan pakaian mereka bermacam-macam. Ada yang sudah tua, ada yang masih amat muda. Ada
yang berpakaian seperti tosu, ada yang gundul seperti hwesio, dan ada yang berpakaian seperti pelajar.
Anehnya, kini mereka telah memakai sebuah tali yang mengikat kepala mereka, tali yang dipasangi sebuah
batu permata kuning dan terpasang di atas dahi mereka. Juga Ma Kiu kini memakai tali semacam itu. Ia
tidak tahu bahwa itulah tanda khas tokoh Thian-liong-pang dan batu kuning itu diberi nama mustika naga.
“Majulah!” Kwi Lan menantang, sikapnya acuh tak acuh.
“Set-set-set!” terdengar suara teratur ketika kaki dua belas orang itu mulai bergeser dengan cepat
mengatur barisan mengurung. Mereka tidak melangkah, tidak mengangkat kaki melainkan bergeser
sehingga sepatu mereka menimbulkan suara di atas lantai. Keadaan menjadi hening dan tegang, semua
tamu memandang ke arah Kwi Lan yang menjadi pusat perhatian karena nona ini sudah terkurung di
tengah-tengah!
Dua belas orang itu masih terus bergerak menggeser kaki sehingga tubuh mereka bergerak mengitari Kwi
Lan, suara geseran kaki mereka kini berbunyi susul-menyusul seperti desis ular. Kwi Lan masih berdiri
diam tak bergerak, hanya biji matanya yang bergerak-gerak, mengerling dan mengikuti gerakan mereka di
sebelah depan. Kedua telinganya memperhatikan gerakan di belakangnya dengan seksama, setiap urat
syaraf di tubuhnya menegang, siap sedia, akan tetapi wajahnya masih tenang dengan senyumnya
mengejek
Tiba-tiba saat yang dinanti-nantikan oleh semua orang tiba. Seorang anggota Cap-ji-liong yang muda,
bertubuh tinggi kurus bermuka seperti tikus, dengan teriakan nyaring menerjang Kwi Lan dari sebelah
belakang. Agaknya laki-laki muda ini tertarik oleh kecantikan wajah dan keindahan bentuk tubuh Kwi Lan
sehingga ia menyerang bukan memukul, melainkan memeluk ke arah pinggang dengan kedua lengannya.
Namun gerakannya ini mendatangkan angin hebat dan tak boleh dipandang ringan.
Pada detik berikutnya, anggota lain, seorang tosu, mengulur tangan dari sebelah kiri untuk mencengkeram
pundak, disusul serangan saudaranya dari depan, kanan, dan kemudian dua belas orang itu sudah
bergerak serentak susul-menyusul dengan teratur baik sekali. Gerakan mereka yang teratur itu lebih
merupakan gerakan dalam sebuah barisan dan sekaligus mereka telah menutup semua jalan ke luar bagi
Kwi Lan! Kiranya Ma Kiu dan adik-adiknya tidak mau menyia-nyiakan waktu dan sekali turun tangan
mereka tidak main-main lagi.
Pendengaran Kwi Lan yang tajam mewakili matanya. Ia tahu bahwa penyerang pertama datang dari
belakang. Dengan mudah ia mendoyongkan tubuh mengelak, kemudian secara tiba-tiba kaki kanannya
menendang ke arah tangan tosu yang mencengkeram pundak kirinya, disambut dengan gerakan meloncat
dunia-kangouw.blogspot.com
ke atas dan melihat betapa para pengeroyoknya turun tangan secara bergiliran, tubuhnya yang meloncat
ke atas itu tiba-tiba melakukan gerak berputaran secara cepat sekali. Hebat bukan main gerakan gadis ini,
cepat dan aneh. Karena gerakan memutar di udara ini sukar diikuti gerakan tangan dan kakinya, akan
tetapi tahu-tahu ia telah menangkis semua serangan lawan dengan tangan atau dengan kaki, bahkan
masih berkesempatan membagi pukulan dan tendangan yang mengenai empat orang lawannya.
Mereka mengaduh dan berseru kaget, tak menyangka bahwa selain dapat bergerak secepat itu, bekas
tangan atau kaki gadis itu amat berat menimpa pundak dan dada. Sesaat barisan itu kacau, akan tetapi Ma
Kiu berseru keras dan barisan menjadi rapi kembali pada saat gadis itu sudah menurunkan tubuhnya dan
berdiri di tengah kurungan. Ia tersenyum-senyum karena dalam gebrakan pertama ini ia berhasil
memperlihatkan kelihaiannya!
Kini para tamu menjadi berisik sekali. Mereka kagum dan kaget bukan main. Ketika tadi dua belas orang itu
menyerang secara bertubi-tubi dan setiap serangan merupakan pukulan dan cengkeraman yang lihai,
diam-diam mereka menduga bahwa gadis ini mencari mati. Akan tetapi siapa kira gadis itu dapat bergerak
seperti kilat cepatnya dan hampir sukar dipercaya betapa gadis itu bukan hanya dapat menangkis semua
serangan, juga dapat memukul dan menendang empat orang pengeroyoknya, biar pun hal itu dilakukan
cepat-cepat dan tergesa-gesa sehingga tidak tepat kenanya.
Gerakan pertama ini membuka mata Ma Kiu. Ia maklum bahwa biar pun dalam hal tenaga mereka semua
tidak akan kalah oleh lawan. Akan tetapi dalam hal kecepatan gerak mau pun dalam hal ilmu silat yang luar
biasa, gadis itu benar-benar merupakan lawan tangguh. Dia tadi berlaku sungkan sehingga mengeluarkan
komando untuk bergerak satu-satu secara bergiliran, siapa tahu, karena ia sungkan empat orang adiknya
mengalami pukulan dan tendangan.
Sekali lagi ia berseru keras dan kali ini dua belas orang itu menerjang maju secara berbareng! Hanya lima
orang yang menyerang langsung ke arah tubuh Kwi Lan. Sedangkan yang tujuh orang menghantam ke
tengah, ke atas, ke bawah dan sekitar tempat Kwi Lan berdiri sehingga mereka telah menutup semua jalan
ke luar. Kemana pun gadis ini hendak bergerak, ia akan disambut hantaman yang dilakukan dengan
pengerahan Iweekang!
Hal ini sama sekali tak diduga oleh Kwi Lan. Gadis ini terkejut juga, maklum bahwa keadaannya
berbahaya. Baru ia tahu bahwa Cap-ji-liong benar-benar hebat dan tangguh. Biar pun kalau melawan
mereka satu-satu, ia sanggup merobohkan mereka itu dalam waktu singkat, akan tetapi kalau mereka maju
berbareng amatlah sukar dilawan. Ia berseru keras, tidak bergerak dari tempatnya, melainkan
menggunakan kaki tangan menangkis dan jari tangannya menotok ke arah pergelangan tangan lima orang
yang menyerangnya secara berturut-turut.
Akan tetapi tiba-tiba lima orang penyerang itu menarik kembali penyerangan mereka dan barisan bergeser
terus, disusul lima orang lain yang menyerang secara tiba-tiba, dibantu tujuh orang yang mencegat jalan ke
luar! Setiap menyerang, lima orang itu mengambil kedudukan ngo-heng, dan setiap kali melihat bahwa
serangan itu akan gagal, barisan yang terus bergeser itu menarik kembali serangan untuk di ulang dengan
perubahan-perubahan mendadak yang sukar untuk diduga sebelumnya.
Kwi Lan merasa kewalahan. Dahinya yang putih halus itu mulai berkeringat. Ia bukan takut, akan tetapi
jengkel dan penasaran sekali! Ketika untuk kesekian kalinya lima orang lawan menyerangnya dan
kepalanya sudah mulai pening karena mencurahkan perhatian dan menduga-duga perubahan, ia berseru
keras, mencabut pedangnya dan memutar pedang itu ke sekelilingnya.
Tidak tampak gerakannya ini saking cepatnya. Tahu-tahu dua belas orang itu mencium bau yang wangi
dan tampak oleh mereka sinar hijau bergulung-gulung seperti naga sakti bermain di angkasa, seperti hawa
yang dingin sekali.
“Awas... mundur dan siapkan senjata...!” Ma Kiu berseru keras.
Barisannya melebar dengan cepat, namun masih saja ada dua orang yang terkena serempetan ujung
pedang Siang-bhok-kiam sehingga pangkal lengan mereka terluka mengeluarkan darah. Lagi-lagi kurang
tepat kenanya karena Kwi Lan tidak menggunakan pencurahan perhatian sepenuhnya dan tadi hasilnya ini
pun hanya kebetulan saja. Bagaimana ia dapat mencurahkan perhatiannya dalam sebuah serangan kalau
lawannya yang dua belas orang banyaknya itu selalu bergerak secara membingungkan?
dunia-kangouw.blogspot.com
Kini terdengar suara nyaring dan semua anggota Cap-ji-liong sudah memegang senjata masing-masing.
Ada yang memegang toya, ada yang membawa pedang, golok, thi-pian (pecut besi), siang-kek (sepasang
tombak cagak), poan-koan-pit (senjata penotok jalan darah seperti pena bulu), tombak tiat-kauw (gaetan
besi) dan lain-lain. Ma Kiu sendiri bersenjatakan sepasang pedang panjang yang kelihatan berat.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Cersil Keren

Pecinta Cersil