Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 26 Juli 2017

Cersil KhopingHoo Pendekar Super Sakti 1 (Lanjutan Istana Pulau Es)

Cersil KhopingHoo Pendekar Super Sakti 1 (Lanjutan Istana Pulau Es) Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil KhopingHoo Pendekar Super Sakti 1 (Lanjutan Istana Pulau Es)
kumpulan cerita silat cersil online
-
Anak laki-laki berusia kurang lebih sepuluh tahun itu mengintai dari kaca jendela dengan muka marah, mata
merah dan gigi berkerot saking marah dan sedihnya menyaksikan keadaan di ruangan dalam rumah gedung
ayahnya. Ruangan itu luas dan terang-benderang, suara tetabuhan musik terdengar riuh di samping gelak
tawa tujuh orang pembesar Mancu yang sedang dijamu oleh ayahnya. Dari luar jendela ia tidak dapat
menangkap suara percakapan yang diselingi tawa itu karena amat bising bercampur suara musik, akan tetapi
anak ini menjadi marah dan sedih menyaksikan sikap ayahnya terhadap para tamu pembesar itu.
Ayahnya bicara sambil membungkuk-bungkuk, muka ayahnya yang biasanya bengis terhadap para pelayan
dan angkuh terhadap orang lain, kini menjadi manis berlebih-lebihan, tersenyum-senyum dan menganggukangguk,
bahkan dengan kedua tangan sendiri melayani seorang pembesar yang brewok tinggi besar,
menuangkan arak sambil membungkuk-bungkuk.
Ayahnya yang dipanggil ke kanan kiri oleh para pembesar menjadi gugup dan kakinya tersandung kaki meja.
Guci arak yang dipegangnya miring, isinya tertumpah dan sedikit arak menyiram celana dan sepatu seorang
pembesar lain yang bermuka kuning. Anak itu dari luar jendela melihat betapa pembesar ini memelototkan
mata, mulutnya membentak-bentak dan tangannya menuding-nuding ke arah sepatu dan celananya. Ayahnya
cepat berlutut dan menggunakan ujung bajunya menyusuti sepatu dan celana itu sambil mengangguk-angguk
dan bersoja seperti seekor ayam makan padi! Tak terasa lagi air mata mengalir ke luar dari sepasang mata
anak laki-laki itu, membasahi kedua pipinya dan ia mengepalkan kedua tangannya.
Ia marah dan sedih, dan terutama sekali, ia malu! Ia malu sekali menyaksikan sikap ayahnya. Mengapa
ayahnya sampai begitu merendahkan diri? Bukankah ayahnya terkenal sebagai Sie-wangwe (Hartawan Sie)
yang amat kaya raya dan disegani semua orang, bukan hanya karena kaya rayanya, melainkan juga karena ia
terkenal pula dengan nama Sie-siucai (Orang Terpelajar Sie). Ayahnya hafal akan isi kitab-kitab, bahkan dia
sendiri telah dididik oleh ayahnya itu menghafal dan menelaah isi kitab-kitab kebudayaan dan kitab-kitab
filsafat.
Semenjak berusia lima tahun, dia telah belajar membaca, kemudian membaca kitab-kitab kuno dan oleh
ayahnya diharuskan mempelajari isi kitab-kitab itu yang menuntun orang mempelajari hidup dan kebudayaan
sehingga dapat menjadi seorang manusia yang berguna dan baik. Akan tetapi, setelah kini menghadapi
pembesar-pembesar Mancu, mengapa ayahnya menjadi seorang penjilat yang begitu rendah?
Anak itu bernama Han, lengkapnya Sie Han dan panggilannya sehari-hari adalah Han Han. Dia putera bungsu
Keluarga Sie, karena Sie Bun An yang disebut Hartawan Sie atau Sastrawan Sie hanya mempunyai dua orang
anak. Yang pertama adalah seorang anak perempuan, kini telah berusia tujuh belas tahun, bernama Sie Leng.
Han Han adalah anak ke dua.
Pada saat itu, Han Han yang mengintai dari balik kaca jendela melihat ayahnya sudah bangkit kembali,
agaknya mendapat ampun dari pembesar muka kuning, dan kini menghampiri pembesar brewok yang sudah
setengah mabuk dan memanggilnya. Pembesar brewok itu berkata-kata kepada ayahnya dan ia melihat
betapa ayahnya menjadi pucat sekali dan menggeleng-gelengkan kepala. Akan tetapi pembesar brewokan itu
menggerakkan tangan kiri dan... ayahnya terpelanting roboh.
Han Han hampir menjerit. Ayahnya telah ditampar oleh pembesar brewok itu! Dan semua pelayan yang
membantu melayani tujuh orang pembesar itu berdiri dengan muka pucat dan tubuh menggigil. Tujuh orang
pembesar Mancu kini tertawa-tawa dan riuh-rendahlah mereka bicara, agaknya memaki-maki ayahnya dan
mendesak ayahnya melakukan sesuatu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Si Pembesar Muka Kuning sekarang menggerakkan tangan sambil berdiri dan ia telah mencabut pedangnya.
Dengan gerakan penuh ancaman pembesar muka kuning itu menusukkan pedangnya sehingga ujung pedang
menancap di atas meja, berdiri dengan gagang bergoyang-goyang mengerikan.
Han Han membelalakkan matanya dan ia menyelinap turun dari tempat pengintaiannya. Kini ia menjenguk dari
pintu belakang, terus masuk dan akhirnya ia berhasil masuk tanpa diketahui, berada di ruangan dalam itu,
bersembunyi di balik tirai kayu, di mana ia dapat mengintai dan juga dapat mendengarkan percakapan mereka.
“Sie Bun An!” terdengar pembesar brewok membentak sambil menundingkan telunjuknya kepada sastrawan
itu yang sudah berlutut dengan tubuh menggigil dan muka pucat, “Apakah engkau masih berani membantah
dan tidak memenuhi perintah kami?” Suaranya terdengar lucu karena kaku dan pelo ketika bicara dalam
bahasa Han.
“Kau kira kami ini orang-orang macam apa? Kami bukan serdadu-serdadu biasa, tahu? Apa artinya penyanyipenyanyi
dan pelacur-pelacur ini?” Si Muka Kuning menunjuk ke arah para wanita sewaan yang memang
disediakan di situ untuk melayani dan menghibur mereka. “Kami adalah pembesar-pembesar militer dan sudah
baik kalau kami tidak menghancurkan rumahmu. Hayo keluarkan isteri dan puterimu!”
“Ha-ha-ha! Aku mendengar Nyonya Sie dan puterinya amat cantik manis!” berkata seorang pembesar lain
yang perutnya gendut tapi kepalanya kecil.
“Suruh mereka melayani kami, baru kami percaya bahwa engkau benar-benar tunduk dan taat kepada
pemerintah baru, bangsa Mancu yang jaya!” kata pula seorang pembesar lain yang kurus kering.
“Tapi... tapi...!” Suara ayahnya sukar terdengar karena menggigil dan perlahan, kepalanya digeleng-geleng,
kedua tangannya diangkat ke atas. “Hal itu ti... tidak mungkin... ampunkan kami, Taijin...”
Melihat ayahnya meratap seperti itu, air mata Han Han makin deras ke luar membasahi pipinya. Bukan hanya
sedih karena kasihan, melainkan terutama sekali karena malu dan kecewa. Ia tahu banyak keluarga di kota itu
yang pergi mengungsi sebelum kota itu terjatuh ke tangan bangsa Mancu, mengungsi dan meninggalkan
rumah serta hartanya. Akan tetapi ayahnya tidak mau meninggalkan kota, rupanya sayang kepada hartanya
dan percaya bahwa kalau ia bersikap baik dan suka menyuap kepada bangsa Mancu, ia akan dapat hidup
aman di situ.
“Kau membantah? Kalau begitu kau memberontak terhadap kami, ya? Hukumannya penggal kepala!” Si
Perwira Muka Kuning bangkit dari kursinya, mencabut pedang yang menancap di atas meja dan mengangkat
pedang itu, siap memenggal kepala Sie Bun An yang masih berlutut. Semua pelayan yang hadir, termasuk
penabuh musik dan wanita-wanita sewaan menjadi pucat dan mendekap mulut sendiri agar tidak menjerit. Han
Han dari balik tirai memandang dengan mata melotot.
“Tahan...!” Terdengar jerit dari dalam dan muncullah Sie-hujin (Nyonya Sie) berlari dari dalam. “Mohon para
Taijin yang mulia sudi mengampuni suami hamba...! Biarlah hamba melayani Taijin...”
Tujuh orang perwira Mancu itu menoleh dan berserilah wajah mereka. Perwira muka kuning menyeringai dan
menyarungkan kembali pedangnya, kemudian sekali tangan kirinya bergerak, ia telah menyambar pinggang
Nyonya Sie dan dipeluk, terus dipangkunya sambil tertawa-tawa.
“Benar cantik...! Masih cantik, montok dan harum...! Hemmm...!” Perwira muka kuning itu tidak segan-segan
lalu mencium pipi dan bibir nyonya itu yang saking kaget, takut dan malunya hanya terbelalak pucat.
Memang Nyonya Sie adalah seorang wanita cantik. Biar pun usianya sudah tiga puluh lima tahun, akan tetapi
tubuhnya yang terawat baik itu masih padat, wajahnya yang memang jelita tampak lebih matang
menggairahkan. Para perwira lainnya tertawa bergelak menyaksikan betapa perwira muka kuning itu
mendekap dan mencium sesuka hatinya, seolah-olah di situ tidak ada orang lain lagi, sedangkan para pelayan
yang melihat betapa nyonya majikan mereka yang terhormat diperlakukan seperti itu, menggigil dan
menundukkan muka tidak berani memandang. Sie Bun An sendiri yang masih berlutut memandang dengan
muka pucat seperti kertas dan ia tidak dapat bergerak, seolah-olah telah berubah menjadi arca batu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Taijin... ampun...” Nyonya Sie megap-megap karena sukar ia bicara dengan bibir diciumi secara kasar seperti
itu. “... lepaskan... ohhh, ampun, saya... adalah wanita baik-baik...”
Sebagai jawaban, perwira muka kuning itu tertawa dan mencubit dagunya yang halus. “Karena wanita baikbaik,
aku suka padamu, manis. Hayo kau minum arak ini untuk menyambut aku, ha-ha-ha!” Perwira itu
menyambar cawan araknya yang masih penuh, lalu memaksa nyonya itu minum.
Nyonya Sie hendak menolak, akan tetapi dipaksa sehingga sebagian arak memasuki mulut, sebagian tumpah
mengenai pakaiannya. Arak merah itu membuat pakaiannya yang putih seperti terkena darah.
Han Han menggigil seluruh tubuhnya, jantungnya berdebar dan ia mengepal tinju dengan air mata bercucuran.
Ia hendak melompat maju menolong ibunya, akan tetapi pada saat itu ia tertarik oleh tingkah perwira brewok
yang meloncat berdiri. Gerakannya amat gesit sehingga amat janggal bagi tubuhnya yang tinggi besar dan
perutnya yang seperti gentong gandum.
“Ha-ha-ha, kalau ibunya matang dan denok seperti ini, tentu puterinya ranum dan segar. Cocok untukku! Biar
kujemput dia!” Sambil berkata demikian perwira brewok itu sambil tertawa-tawa melangkah masuk melalui
pintu dalam.
“Ha-ha-ha, baik sekali! Jemput dia, jemput dia...!” sorak perwira lain.
“Ohhh, uuuhhhh...!” Nyonya Sie meronta, akan tetapi perwira muka kuning mempererat pelukannya dan
membungkam mulutnya dengan ciuman kasar.
Han Han menggigil di tempatnya. Kakinya seperti terpaku dan dengan penuh perasaan jijik ia melihat betapa
ayahnya kini bertutut sambil menangis! Alangkah lemahnya ayahnya itu! Mengapa ayahnya diam saja?
Mengapa tidak lari mengejar perwira brewok atau menyerang perwira muka kuning? Mati bukan apa-apa untuk
membela kebenaran.
Bukankah demikian pelajaran dalam kitab? Dalam kitab tentang kegagahan seorang enghiong disebut bahwa
seribu kali lebih berharga mati sebagai seorang terhormat dari pada hidup sebagai seekor anjing penjilat. Dan
ayahnya ternyata memilih hidup seperti anjing penjilat! Bukankah peri-bahasa mengatakan bahwa harimau
mati meninggalkan kulit, manusia mati meninggalkan nama? Kulit harimau berharga, nama pun harus berharga.
Akan tetapi ayahnya memilih hidup sebagai tikus yang tidak ada harganya sama sekali.
Terdengar jerit mengerikan dan tak lama kemudian perwira brewok itu telah muncul kembali sambil
memondong seorang gadis yang meronta-ronta dan merintih-rintih. Gadis yang cantik sekali, tubuhnya seperti
batang pohon yangliu, rambutnya panjang hitam dan kulitnya putih seperti susu baru diperas. Perwira brewok
itu melangkah lebar, kemudian duduk kembali di tempatnya sambil memangku Sie Leng dan menciumi muka
yang halus putih kemerahan itu dengan mukanya sendiri yang kasar dan penuh cambang bauk sehingga
seakan-akan muka yang halus itu disikat oleh sikat yang kasar dan kaku. Sie Leng yang hendak menjerit tak
dapat mengeluarkan suara karena mulutnya tertutup oleh mulut Si Perwira Brewok yang lebar.
Tiba-tiba terdengar teriakan serak dan melompatlah Sie Bun An yang tadinya berlutut. Bangga hati Han Han
melihat betapa ayahnya kini menjadi seekor harimau, meloncat bangun dan sambil berteriak menerjang maju
hendak memukul Si Perwira Brewok. Akan tetapi kebanggaan hati Han Han berubah menjadi kecemasan
ketika Si Brewok itu menyambut tubuh ayahnya dengan sebuah hantaman tangan kiri yang tepat mengenai
dada ayahnya.
“Dukkk...!”
Tubuh Sie Bun An terlempar ke belakang dan mulutnya muntahkan darah segar. Hartawan ini sejak kecilnya
hanya tekun mempelajari sastra, sama sekali tidak pandai ilmu silat, maka tentu saja sekali terkena pukulan
berat perwira brewok itu, ia terluka dalam dan muntah darah. Namun, Sie Bun An benar-benar telah menjadi
seekor harimau marah. Kemarahan dan sakit hati membuat ia seperti tidak merasakan nyeri akibat pukulan itu.
Sambil berteriak, ia maju lagi. Karena ketika dia terlempar, ia jatuh ke dekat tempat duduk perwira muka
kuning yang masih menciumi isterinya dan meremas-remas serta meraba-taba tubuh wanita yang ketakutan itu,
dunia-kangouw.blogspot.com
kini Sie Bun An menyerang perwira muka kuning. Akan tetapi perwira muka kuning itu sudah mencabut
pedangnya, menusuk ke depan dan...
“Blesssss...!” pedang itu menembus perut Sie Bun An sampai ke punggung. Tubuh Sie Bun An menegang
kaku, matanya terbelalak, dan ketika pedang dicabut, ia mendekap perutnya lalu terpelanting roboh,
berkelojotan dan tak bergerak lagi. Lantai di bawahnya merah oleh genangan darahnya yang masih mengucur
ke luar dari perut dan punggung.
Han Han hampir pingsan menyaksikan semua ini. Ia melihat betapa ibunya dan cici-nya menjerit dan merontaronta,
namun perwira brewok dan perwira muka kuning sambil tertawa-tawa telah memondong tubuh mereka,
bangun berdiri dan Si Brewok berkata dengan suara memerintah kepada lima orang perwira lain yang masih
duduk.
“Rumah ini boleh dibersihkan, suruh anak buah masuk membantu!”
Setelah berkata demikian, Si Brewok memondong tubuh Sie Leng masuk ke dalam ruangan belakang, diikuti
oleh Si Muka Kuning yang memondong Nyonya Sie. Dua orang wanita ini menjerit-jerit, akan tetapi segera
dibungkam oleh ciuman-ciuman. Ada pun lima orang perwira itu bersorak dan berpestalah mereka. Pesta yang
amat liar karena sambil berteriak memanggil pasukan yang menjaga di luar, mereka ini meraih para wanita
sewaan dan berpesta mabuk-mabukan. Mayat Sie Bun An masih menggeletak di situ tidak ada yang berani
merawatnya.
Dengan tubuh menggigil saking marah dan dukanya, Han Han menyelinap ke belakang dan memasuki rumah
melalui pintu belakang. Ia sudah mengambil ke-putusan nekat untuk mati bersama ayah dan ibunya. Ia harus
menolong ibunya, menolong cici-nya! Tanpa mengenal takut lagi anak ini berlari-lari menuju ke kamar ibunya.
Akan tetapi sebelum ia memasuki kamar ibunya yang sunyi saja, tiba-tiba ia mendengar jerit cici-nya di kamar
sebelah, yaitu kamar cici-nya. Cepat ia mendorong pintu kamar itu dan apa yang disaksikannya membuat
darahnya mendidih. Cici-nya menjerit-jerit dan berusaha melawan perwira Mancu brewok yang hendak
memperkosanya, akan tetapi kembali jeritnya lenyap ke dalam mulut Si Perwira.
Pakaian gadis yang bernasib malang itu robek semua dan ia sama sekali tidak berdaya menandingi kekuatan
Si Perwira Brewok yang terengah-engah dan terkekeh-kekeh, agaknya makin hebat nona itu meronta dan
melawan, makin senanglah hatinya. Dalam pandangan Han Han, ia seolah-olah melihat seekor kucing besar
yang mempermainkan seekor tikus kecil sebelum ditelannya. Ia sudah melangkah maju dengan tangan
terkepal, hendak nekat menubruk dan memukul punggung Si Brewok ketika tiba-tiba terdengar suara ibunya.
“Leng-ji (Anak Leng)... anakku...!”
Suara ini terdengarnya demikian memilukan sehingga Han Han mengurungkan niatnya menolong cici-nya,
atau terlupa karena seluruh perhatiannya kini tertuju kepada ibunya. Agaknya Nyonya Sie yang sudah hampir
pingsan karena teringat kepada suaminya, dan kini pun tidak berdaya menghadapi rangsangan Si Perwira
Muka Kuning, timbul kekuatannya ketika mendengar jerit Sie Leng, kemudian meronta sambil memanggil
anaknya. Ia berhasil melepaskan diri dari pada cengkeraman kedua tangan perwira muka kuning. Dengan
pakaian hampir telanjang ia lari ke pintu, namun sekali melompat, perwira muka kuning telah menangkapnya
kembali dan melemparkannya ke atas pembaringan sambil tertawa.
“Heh-heh, biarkanlah puterimu sedang bersenang-senang dengan kawanku. Mari kini bersenang-senang di sini,
Manis. Heh-heh-heh!” Kembali ia menubruk nyonya itu.
Pada saat itulah Han Han mendorong pintu kamar ibunya dan meloncat masuk. Melihat keadaan ibunya, ia
berteriak nyaring dan menerjang maju, memukuli punggung perwira muka kuning, menjambak rambutnya,
membetot-betotnya agar melepaskan ibunya.
“Ehhh! Bocah setan...! Mau apa kau...?” Perwira itu menoleh, tanpa menghentikan usahanya menggelut
Nyonya Sie.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Han Han...! Pergilah...! Pergilah jauh-jauh dari sini...!” Nyonya Sie bergerak dan membelalakkan mata melihat
puteranya.
“Ibu...!”
“Hemmm, anakmu, ya? Mengganggu saja!” Si Perwira Muka Kuning meloncat, menjambak rambut Han Han
sehingga tubuh anak itu tergantung. Akan tetapi Han Han tidak takut, malah melotot dan kedua tangannya
berusaha memukul. Perwira itu lalu menampari mukanya.
“Plak-plak-plak!” Berkali-kali sampai muka itu menjadi matang biru dan membengkak, mulutnya mengeluarkan
darah.
Namun anak itu masih memandang dengan mata melotot penuh kebencian kepada perwira muka kuning.
“Han Han...!” Nyonya Sie menjerit.
Perwira itu membanting tubuh Han Han ke atas lantai, suaranya berdebuk dan tubuh anak itu rebah miring.
Akan tetapi Han Han masih bergerak hendak bangun. Sebuah tendangan mengenai tengkuknya, membuat
kepalanya nanar dan berkunang. Lalu kembali kaki perwira itu menendang, keras sekali mengenai dadanya.
Tubuh anak itu terlempar membentur dinding. Kepalanya terbanting pada dinding, napasnya sesak dan anak
itu roboh tak sadarkan diri, mukanya membengkak dan matang biru se-hingga matanya tidak tampak, mulutnya
mengeluarkan darah, demikian pula hi-dungnya.
“Han Han...!” Namun jerit Nyonya Sie ini lenyap dalam suara gaduh di seluruh rumah itu, di mana para serdadu
Mancu mulai merampoki barang-barang berharga, dan la-pat-lapat terdengar jerit tertahan Sie Leng diselingi
suara ketawa yang parau dari perwira brewok dan suara kekeh menjijikkan dari perwira muka kuning.
Malam yang amat mengerikan. Malam terkutuk bagi keluarga Sie. Malam jahanam di mana terjadi perbuatanperbuatan
terkutuk yang sudah terlampau sering terjadi di dalam jaman perang. Pembunuh-pembunuhan,
perkosaan, perampokan! Perbuatan-perbuatan yang tidak sepatutnya dilakukan manusia-manusia beradab.
Malam penuh noda, darah membanjir dan iblis tertawa gembira karena malam-malam jahanam seperti itu
adalah malam-malam kemenangan baginya.
Han Han tersadar di tengah-tengah suara hiruk-pikuk. Ia segera teringat dan cepat bangkit. Akan tetapi ia
mengeluh, kepalanya nyeri bukan main, berdenyut-denyut keras, kiut-miut rasanya seperti akan pecah,
dadanya pun nyeri dan napasnya sesak. Ia tentu akan roboh kembali kalau saja tidak melihat ibunya. Ibunya
menggeletak di lantai tidak berpakaian lagi. Tubuhnya yang berkulit putih itu berlepotan darah dan darah
tergenang di bawahnya, mengalir ke bagian yang rendah dari lantai kamar itu. Leher ibunya terluka besar
sekali, hampir putus sehingga kepala itu letaknya terlalu miring dan tampak aneh.
“Ibu...!” Han Han belum sadar betul akan keadaan ibunya, terhuyung-huyung menghampiri dan hendak
mengangkat tubuh ibunya. Akan tetapi matanya terbelalak memandang leher yang hampir putus, mata yang
terbuka, mata yang tidak bersinar lagi.
“Ohhh... ohhh... Ibuuuuu...!” Han Han menjerit dan tergelimpang roboh di dekat mayat ibunya, pingsan kembali.
Rumah gedung Keluarga Sie yang telah dirampok habis-habisan itu kini dimakan api. Ini adalah siasat para
perwira tadi yang lebih baik membuat rumah itu menjadi lautan api untuk menutupi perbuatan-perbuatan
biadab mereka. Kalau rumah sudah hancur menjadi abu, siapa bisa membuktikan bahwa rumah itu habis
dirampok? Kalau mayat itu sudah menjadu abu, siapa dapat mengatakan bahwa mereka itu diperkosa atau
dibunuh?
Tidak ada seorang pun tetangga yang berani muncul. Mereka sendiri masih merasa untung terlewat oleh
bencana yang ditimbulkan oleh serdadu-serdadu Mancu itu. Pada setiap negara yang dilanda perang,
terbuktilah bahwa segala sesuatu yang tadinya dianggap menguntungkan dan menyenangkan bahkan dapat
menjadi sebab-sebab mala petaka! Aneh akan tetapi nyata bahwa dalam keadaan seperti itu, mereka yang
kaya raya dan mereka yang mempunyai anak-anak perempuan cantik malah menjadi korban, sebaliknya
mereka yang miskin tidak mempunyai apa-apa dan yang tidak mempunyai anak gadis cantik, malah aman dan
dunia-kangouw.blogspot.com
tidak terganggu! Kalau sudah begini, tak seorang pun berani mengatakan bahwa harta benda dan kekayaan
duniawi ini merupakan syarat hidup bahagia!
Di antara sinar api yang membakar rumah gedung Keluarga Sie, yang menerangi kegelapan malam sunyi,
tampak bayangan seorang laki-laki tua dengan nekat menyelinap memasuki rumah bagian yang belum
dimakan api. Asap tebal menyambutnya, membuatnya terbatuk-batuk dan membuat matanya seperti buta,
akan tetapi orang ini terus masuk dan meraba-raba. Biar pun api itu amat terang, namun cahayanya membuat
mata buta karena setiap mata dibuka, hawa panas menusuk-nusuk.
Akan tetapi orang itu agaknya sudah hafal akan keadaan di dalam gedung ini. Buktinya ia dapat terus
menyelinap masuk, menuju ke kamar-kamar di sebelah belakang, dekat ruangan dalam yang tadi dipakai
pesta-pora, di mana kini menggeletak mayat Sie Bun An dan tiga orang pelayan pria yang juga dibunuh oleh
serdadu-serdadu Mancu itu. Laki-laki itu tidak mempedulikan mayat-mayat ini, terus terhuyung-huyung masuk
dan akhirnya ia memasuki kamar Nyonya Sie mendorong pintu yang sudah mulai termakan api.
“Sie-hujin...! Kongcu (Tuan Muda)...!” Ia berseru dan cepat berlutut dekat dua sosok tubuh itu. Tubuh Nyonya
Sie yang telanjang bulat dan mandi darah itu hanya ia lirik sebentar saja, akan tetapi ketika ia meraba tubuh
Sie Han yang belum mati, cepat ia mendukung tubuh anak itu dan hendak dibawanya ke luar kamar. Akan
tetapi pintu kamar itu kini sudah terbakar semua, bahkan mulai runtuh dan atap pun sudah terjilat api!
Laki-laki itu kebingungan lalu menuju ke jendela kamar. Didorongnya jendela itu dengan bahunya, dan asap
bercampur api menjilat masuk. Ia tidak peduli akan hawa panas yang menyesak dada, terus saja ia menerobos
ke luar melalui jendela dan setibanya di luar jendela, sebagian atap yang terbakar menimpanya! Orang itu
mendekap tubuh Han Han dan kayu yang membara menimpa kepala dan pun-daknya. Rasa nyeri dan panas
menyengat tubuhnya, membuatnya hampir roboh. Akan tetapi ia hanya jatuh berlutut saja, cepat bangkit
kembali dan terhuyung-huyung mencari jalan keluar.
Beberapa kali ia menerjang lautan api, rambutnya sudah terbakar habis, juga kumis, jenggot dan alisnya.
Mukanya sudah hangus dan melepuh, pakaiannya setengah telanjang dan hangus, tubuhnya melepuh semua
dan napasnya terengah-engah. Akan tetapi akhirnya ia berhasil keluar dari lautan api dan terhuyung-huyung
memasuki taman yang gelap. Sinar api hanya menyinar melalui celah-celah pohon kembang dan di tempat
inilah laki-laki itu terguling roboh. Tubuh Han Han terlepas dari dukungannya dan terbanting pula ke atas tanah
yang bertilam rumput hijau basah dan segar.
“Ibu...!” Han Han siuman kembali dan pertama-tama yang teringat olehnya adalah ibunya. Akan tetapi sinar
merah dan suara berkerotokan rumah terbakar itu menyadarkannya dan ia cepat bangkit duduk menoleh ke
arah rumah keluarganya yang terbakar. “Ibu...!”
“Aagghhh... Kongcu... Ibumu... sudah tewas...”
Han Han bangkit dan terhuyung-huyung menghampiri orang yang rebah tak jauh dari situ. Ia berlutut dan
hampir tak dapat mengenal wajah yang sudah melepuh, kepala yang gundul dan tubuh yang hangus itu. Akan
tetapi sinar api kadang-kadang menjilat sampai ke situ dan ia dapat mengenal bentuk muka ini.
“A Sam...!” Ia memeluk. Anak ini amat cerdik dan kuat ingatan. Tadi ia berada di kamar ibunya, sekarang
berada di taman dan A Sam luka-luka terbakar. Segera ia dapat menarik kesimpulan bahwa pelayannya yang
setia inilah yang menolongnya keluar dari rumahnya yang terbakar. Ia teringat ayahnya yang sudah tewas pula,
dan teringat cici-nya di kamar sebelah.
“Cici Leng...?”
“...dibawa pergi... anjing-anjing Mancu... kau pergilah, Kongcu... pergilah jauh-jauh... menyamar sebagai
pengemis... jangan berada di kota ini... aku... aku... auugghhh...” A Sam, pelayan tua yang amat setia dari
Keluarga Sie, yang selalu menjadi teman bermain Han Han semenjak ia dapat berjalan, menjadi lemas.
“A Sam...! A Sam...!” Namun orang itu tidak menyahut, dan tidak akan dapat menjawab lagi karena ia telah
mati. Mati sebagai seorang yang setia dan karenanya mati sebagai seekor harimau!
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Han duduk melamun. Ia tidak menangis. Tidak dapat menangis lagi. Dan ia merasa seolah-olah ada
sesuatu yang mendorongnya untuk berpikir, untuk berbuat dan menggunakan akalnya. Matanya melirik ke
kanan kiri seperti mata seekor anjing yang dikurung dan mencari kesempatan untuk keluar. Mata yang cerdik
sekali.
Suatu mukjizat telah terjadi pada diri Han Han yang tidak ia sadari sendiri. Ketika tadi ia dibanting lalu
ditendang, kepalanya terbanting menumbuk dinding dan getaran bantingan inilah yang agaknya mengubah
keadaan pikirannya. Mendatangkan ketabahan luar biasa, kecerdikan yang aneh, dan membuat ia tidak dapat
susah lagi! Biar pun kini menghadapi kematian ayah bundanya, dan kehilangan cici-nya, yang berarti bahwa
seluruh keluarganya hancur, ia sama sekali tidak merasa susah! Yang ada hanya bayangan tujuh orang
perwira, terutama sekali wajah dan bentuk tubuh perwira brewok dan perwira muka kuning, seperti terukir di
benaknya, takkan terlupakan lagi olehnya!
Dari peristiwa terkutuk dan malam jahanam itu, terciptalah seorang yang aneh, dan orang yang melihatnya
tentu akan mengira bahwa Han Han telah menjadi gila oleh peristiwa mengerikan itu. Ketika anak itu akhirnya
membungkuk, mencium dahi gosong bekas pelayannya, kemudian bangkit berdiri dan terhuyung-huyung
meninggalkan taman, memasuki bagian-bagian yang gelap, orang yang melihatnya tentu akan merasa kasihan
sekali. Akan tetapi orang itu akan tercengang kalau saja dapat melihat betapa mata itu berkilat-kilat, betapa
mulut yang masih bengkak itu tersenyum aneh. Bocah ini hanya berhenti sebentar untuk merobek sebagian
dari pakaiannya, mengotori tubuhnya dengan abu, membuang sepatunya kemudian menyelinap sampai keluar
dari kota.
Peristiwa terkutuk itu terjadi di kota Kam-chi ketika pasukan-pasukan Mancu memperluas wilayahnya dan
menyerbu ke jurusan selatan, yaitu pada tahun 1645 dan merampas kota Nan-king. Dan tidak hanya terjadi di
Kam-chi saja, melainkan di setiap kota dan dusun selalu terjadilah pembunuhan-pembunuhan, perkosaanperkosaan,
penculikan dan perampokan yang keji. Memang demikianlah sifat kekejian yang ditimbulkan oleh
perang, di bagian mana saja di dunia ini, semenjak masa dahulu sampai sekarang.
Gelombang bangsa Mancu ini dimulai ketika di antara bangsa dari utara ini muncul seorang tokoh besar yang
menjadi raja mereka, yaitu Raja Nurhacu (tahun 1616) yang menamakan diri sendiri kaisar dan mendirikan
wangsa atau Kerajaan Ceng. Di bawah bimbingan Kaisar Nurhacu yang kebesarannya menyamai Raja Mongol
Jengis Khan yang tersohor itu, mulailah bangsa Mancu membuka dan mengembangkan sayapnya,
menaklukkan gerombolan-gerombolan dan suku-suku bangsa yang dipimpin raja-raja kecil sehingga dalam
beberapa tahun saja berhasil menguasai seluruh Mancuria.
Melihat kekuasaan dan kekuatan bangsa Mancu, bangsa Mongol yang sudah lama kehilangan kekuasaannya
setelah Pemerintahan Goan hancur, menjadi tertarik dan menggabungkan diri dengan bangsa Mancu.
Persekutuan ini amat kuat dan barisan gabungan ini menyerbu dan menundukkan Korea dalam tahun 1637.
Kemudian pasukan Mancu yang diperkuat dengan pasukan Mongol dan pasukan taklukan dari Korea, di
bawah pimpinan Kaisar Abahai yang menggantikan Kaisar Nurhacu (1626-1646), menyerbu terus ke Shantung,
berhasil menundukkan propinsi ini dan menghancurkan bala tentara Beng, lalu terus menyerbu ke arah
ibu kotanya, yaitu Peking. Namun penyerbuan ini tertunda karena Kaisar Abahai meninggal. Karena putera
mahkota masih sangat muda, maka kekuasaan dipegang oleh Pangeran Dorgan, saudara mendiang Kaisar
Abahai.
Pangeran Dorgan adalah seorang ahli perang yang ulung. Ia mengerti bahwa di dalam pemerintah Beng
sendiri terjadi pemberontakan-pemberontakan, dan Peking telah terjatuh ke tangan pemberontak Lie Cu Seng
yang menyerbu dari selatan. Dengan cerdik Pangeran Dorgan menghubungi Bu Sam Kwi, panglima yang
menjaga tapal batas utara, dan bersama Panglima Beng yang berkhianat ini me-nyerbulah bala tentara Mancu
ke Peking dan berhasil mengalahkan barisan pem-berontak Lie Cu Seng. Lie Cu Seng sendiri melarikan dari
Peking setelah merampok kota indah itu habis-habisan.
Akhirnya Bu Sam Kwi sadar bahwa ia telah memasukkan serigala ke tanah airnya, maka ia merasa menyesal
dan membawa bala tentaranya mengungsi ke barat daya yaitu ke Se-cwan di mana ia memperkuat
kedudukannya dan menjadi raja yang berdaulat di situ, jauh dari kekuasaan dan pengaruh pemerintah Mancu
yaitu Kerajaan Ceng-tiauw.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pangeran Dorgan melanjutkan penyerbuannya ke selatan dan di bawah pimpinan pangeran inilah bala tentara
Mancu berhasil terus menduduki Nan-king dan wilayah bagian selatan. Pangeran Dorgan yang amat cerdik itu
pandai mengambil hati para pembesar dan hartawan di selatan, mengumumkan tidak akan mengganggu
mereka asal mereka suka bekerja sama. Tentu saja ada terjadi kekecualian, yaitu mereka yang tidak mau
bekerja sama tentu dirampok habis dan dibasmi keluarganya. Ada pula terjadi hal-hal seperti yang menimpa
Keluarga Sie di Kam-chi itu, dan pelaporan ke atas tentu berbunyi sama, yaitu bahwa keluarga itu tidak mau
bekerja sama sehingga terpaksa dibasmi!
Demikianlah, cerita ini dimulai pada tahun 1645, dimulai dengan lembaran hitam dan sebagai contoh dari
sekian banyaknya peristiwa keji dan terkutuk, diceritakan kemalangan yang menimpa Keluarga Sie....
********************
Beberapa bulan kemudian setelah terjadinya peristiwa terkutuk di Kam-chi itu, tampak seorang anak laki-laki
berpakaian penuh tambalan berjalan seorang diri memasuki kota Tiong-kwan di lembah Sungai Huang-ho.
Kota ini telah lebih dulu ditaklukkan oleh tentara Mancu sehingga kini keadaan di situ sudah tampak aman dan
tenteram. Rakyat sudah mulai bekerja lagi seperti biasa, seolah-olah tidak pernah terjadi perang, seolah-olah
rakyat tidak peduli siapa yang berkuasa, siapa yang menjadi raja dan bangsa apa yang menjajah mereka!
Anak kecil itu berusia sepuluh tahun lebih, berjalan melenggang seenaknya dan di pundaknya tergantung
sebuah keranjang yang terisi beberapa buah roti kering dari gandum.
Dia bukan lain adalah Sie Han, atau Han Han. Kalau ada orang Kam-chi yang bertemu dengannya, tentu tidak
akan dapat mengenalnya sebagai bekas putera sastrawan Sie Bun An. Bukan hanya pakaiannya yang penuh
tambalan dan kakinya yang telanjang serta kulit kaki tangannya yang kotor itu yang membuat orang pangling,
namun memang terjadi perubahan besar pada diri anak ini.
Pandang matanya jauh berbeda, pandang mata yang amat tajam dan manik mata itu seolah-olah
mengeluarkan sinar yang menembus dada orang. Bola mata yang bening itu bergerak-gerak lincah sebagai
pencerminan otaknya yang dapat bekerja cepat. Rambutnya digelung ke atas dan dibungkus dengan
saputangan yang kotor.
Ketika berjalan melalui jalan yang sunyi menuju ke kota Tiong-kwan ini, Han Han bernyanyi dengan suara
nyaring. Orang tentu akan tercengang keheranan kalau mendengar kata-kata nyanyiannya. Orang yang tidak
pernah membaca kitab tentu menganggapnya bernyanyi ngawur saja atau sedikitnya mengira dia tidak waras.
Akan tetapi kaum terpelajar akan lebih tercengang keheranan karena tentu akan mengenal nyanyian dari sajak
ciptaan sastrawan besar Go Pek di jaman Kerajaan Sui, ratusan tahun yang lalu.
Bekerja seenaknya tak tertekan tak diperintah,
mengemis ke mana saja mengetuk hati nurani manusia.
Amboi... betapa bebas dan senangnya!
Mereka yang tidak tahu akan kebahagiaan para pengemis,
tidak tahu pula senangnya kehidupan burung di udara!
Setelah selesai menyanyikan sajak yang ia hafal dari kitab-kitab yang pernah dibacanya, Han Han lalu
mencela sendiri, dengan ucapan bisik-bisik seperti berkata kepada diri sendiri, mencela nyanyian tadi.
“Wah, Go Pek memang pelamun kosong! Kalau ditakdirkan menjadi manusia, kenapa menginginkan
kehidupan burung? Manusia dan burung tidak sama. Orang yang malas dan hanya suka mengemis adalah
orang yang tiada gunanya. Dan apakah artinya hidup di dunia kalau tidak ada gunanya?” Ia menggelenggeleng
kepalanya lalu bernyanyi lagi akan tetapi sekali ini nyanyiannya jauh berbeda de-ngan tadi, karena
nyanyiannya seperti lagu kanak-kanak:
Duk-ceng, duk-ceng!
warna hitam tampak putih,
bau busuk disangka wangi,
suara brengsek terdengar merdu,
rasa pahit katanya manis!
dunia-kangouw.blogspot.com
Duk-ceng, duk-ceng!
Jangan percaya mata dan telinga mulut,
semua itu palsu belaka.
Duk-ceng, duk-ceng, duk-ceng-ceng!
Terdengarnya saja nyanyian ini seperti nyanyian kanak-kanak. Suara duk-ceng itu adalah suaranya tambur
dan gembreng. Akan tetapi sesungguhnya, nyanyian ini adalah nyanyian kaum Agama To dan mempunyai arti
yang amat dalam. Nyanyian yang menyindirkan betapa manusia dikuasai oleh panca inderanya, betapa
manusia selalu menurutkan perasaannya. Betapa tepatnya nyanyian kanak-kanak ini karena setiap hari pun
sampai sekarang dapat kita lihat ‘dagelan’ (lawak) macam itu. Betapa banyaknya orang melihat hal hitam
sebagai putih sehingga yang benar disalahkan, yang salah dibenarkan. Betapa yang busuk-busuk dapat
ditutup dengan harta sehingga tercium wangi, suara-suara yang menyesatkan dianggap merdu kalau suara itu
menguntungkannya, dan masih banyak kenyataan-kenyataan lain.
Semua itu dikenal Han Han dari kitab-kitabnya. Dia meninggalkan rumah dan keluarganya yang terbasmi habis
itu tanpa membawa uang sepeser pun. Akan tetapi Han Han seorang anak yang cerdik dan semenjak peristiwa
itu terjadi, ia menemukan ketabahan dan keuletan yang luar biasa sekali.
Di sepanjang jalan dalam perantauannya yang tiada bertujuan ini, ia selalu mencari pekerjaan, membantu
petani kalau lewat di dusun, membantu mencuci piring di restoran, menggosok kuda dan kereta, mengangkut
barang-barang yang dibongkar dari perahu dan lain-lain. Dengan keuletannya ini, ia tidak pernah kekurangan
makan dan pada saat itu, ia malah masih mempunyai bekal roti kering yang akan cukup menghindarkannya
dari kelaparan selama beberapa hari.
Ketika ia memasuki pintu gerbang kota Tiong-kwan dan memasuki tempat yang mulai ramai, Han Han tidak
bernyanyi lagi, bahkan sikapnya pun tidak acuh seperti sikap seorang pengemis biasa. Ia melihat-lihat keadaan
kota yang cukup ramai itu karena letaknya yang dekat dengan Sungai Huang-ho membuat kota ini mudah
melakukan hubungan dengan kota-kota lain.
Akan tetapi ada hal yang membuat Han Han diam-diam termenung dan prihatin, yaitu banyaknya pengemis di
kota ini. Bukan pengemis-pengemis biasa yang terdiri dari orang-orang tua yang sudah tidak kuat bekerja dan
tidak mempunyai keluarga yang menyokongnya, melainkan pengemis-pengemis cilik yang terdiri dari anakanak
sebaya dengan dia sendiri.
Akibat perang, keluhnya diam-diam dengan perasaan tidak senang. Anak-anak yang sudah kehilangan orang
tua dan keluarga, atau anak-anak yang orang tuanya demikian miskin sehingga mereka ini terlantar dan
mencari makan dengan jalan mengemis. Anak-anak usia belasan tahun yang pakaiannya compang-camping,
ada yang penuh tambalan, ada pula yang hanya memakai celana butut tanpa baju, dengan tubuh kurus akan
tetapi perut gendut tanda perut yang jarang diisi atau diisi secara tidak teratur. Muka yang kurus pucat, sinar
mata yang sayu tidak bercahaya, pencerminan hati yang kehilangan harapan dan pegangan. Akan tetapi ada
pula di antara mereka yang nakal-nakal, dengan sinar mata mencemoohkan dunia, tidak peduli akan segala
perbuatannya, tidak tahu membedakan pula antara baik dan buruk. Pengaruh keadaan!
Tiba-tiba sebatang kayu bercabang menodongnya. Han Han mengangkat muka, sadar dari lamunan dan
melihat bahwa yang menodongnya adalah seorang anak laki-laki sebaya dengan dia, akan tetapi tubuhnya
amat kurus sehingga tulang-tulang iga yang tidak tertutup baju itu tampak nyata. Muka yang cekung kurus itu
membayangkan ketampanan, sedangkan matanya bersinar cerdik menimbulkan rasa suka di hati Han Han.
“Berlutut kamu! Berlutut dan tunduk kepada perwira tinggi atau kupenggal kepalamu! Engkau tentu pencuri,
he? Atau pencopet?” Mata anak itu melirik ke arah keranjang yang terisi roti kering.
Melihat lagak anak ini seperti seorang perwira menodongkan pedang dengan angkuhnya, Han Han tertawa
terbahak dengan hati geli. “Ha-ha-ha-ha! Perwira macam apa ini? Bajunya dari kulit hidup, bukan terhias
bintang melainkan terhias tulang-tulang iga. Dan celananya, bukan terhias baju besi melainkan terhias tambaltambalan!
Apakah kamu ini perwira dari neraka?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat Han Han tidak marah sehingga tidak ada alasan untuk diajak berkelahi, malah tertawa dan
mengeluarkan kata-kata lucu, anak itu pun menyeringai tertawa. Giginya putih dan rata, menambah
ketampanan wajahnya dan menambah rasa suka di hati Han Han.
“Kau orang baru di sini? Bagaimana kau datang? Dan dari mana kau mendapatkan roti kering begitu banyak?”
tanya anak itu, menyelinapkan rantingnya di pinggang seperti seorang perwira menyimpan pedangnya.
“Kau mau? Lapar? Nih sebuah untukmu,” kata Han Han sambil menyerahkan sebuah roti kering.
Anak itu memandang terbelalak, menelan ludah dan bertanya ragu, “Benar-benar kau berikan sebuah
untukku? Tidak main-main?” Ia merasa heran karena belum pernah melihat seorang pengemis lain
memberinya sepotong roti dengan sikap begitu royal dan ramah.
“Mengapa tidak? Kalau kau lapar! Mari kita makan di pinggir jalan,” kata Han Han sambil berjalan ke tepi jalan
lalu duduk di atas tanah.
Anak itu telah menerima roti pemberian Han Han, memandang roti seperti belum percaya, lalu mengikuti Han
Han duduk di tepi jalan. Seketika sikap bocah itu berubah ramah dan akrab dan memang itulah sifat aslinya.
Kalau tadi ia seperti anak yang memancing perkelahian adalah watak yang dibentuk oleh keadaan
sekelilingnya.
“Wah...! Keras...!” Anak itu mengeluh ketika mencoba menggigit rotinya.
Han Han tersenyum. “Memang keras sekali, sengaja dibuat untuk dapat bertahan sampai berbulan-bulan.
Makannya harus dicelup air teh, baru nikmat.”
“Wah, dari mana bisa mendapatkan air teh?”
“Beli, kalau kamu mau pergi membeli sebentar.”
“Hah? Beli? Memang kau kira aku ini kongcu (tuan muda) hartawan?”
Han Han tertawa geli dan merogoh sakunya, mengeluarkan sepotong uang kecil, sisa hasil ia membantu
pedagang membongkar barangnya kemarin dulu.
“Nih, kau belilah air teh, kutunggu di sini. Untuk dapat membeli air teh saja masa memerlukan seorang kongcu
hartawan?”
Kembali anak itu memandang heran, akan tetapi ia lalu menyambar uang itu dan lari pergi dari situ, membawa
roti keringnya. Han Han menghela napas. Kalau dia tidak kembali ke sini, aku tidak akan heran, pikirnya.
Bocah-bocah seperti itu patut dikasihani! Benar-benar sebuah pemikiran yang amat janggal. Dia sendiri yang
tadinya seorang ‘kongcu’ hartawan dan terpelajar, tinggal di rumah gedung dilayani banyak pelayan, sekarang
keadaannya tiada bedanya dengan anak-anak pengemis, namun ia masih menaruh kasihan kepada mereka!
Dugaan Han Han keliru dan ia menjadi makin suka kepada bocah itu ketika melihatnya datang berlari sambil
membawa sebuah kulit waluh kering yang ternyata terisi air teh. Terengah-engah ia duduk di dekat Han Han.
Han Han melirik dan mendapat kenyataan bahwa roti kering di tangan anak itu masih utuh, ia makin suka. Ini
menandakan bahwa anak ini memiliki watak jujur dan setia, tidak mau mendahului makan roti dengan air teh
sebelum tiba di tempat Han Han!
“Nah, mulailah!” ajak Han Han yang mengambil sepotong roti, mencelupkannya di air teh sampai lama,
kemudian mulai makan roti itu.
Anak itu menirunya, dan setelah ia berhasil menggigit sepotong roti, ia mengunyahnya dengan lahap sambil
mulutnya mengomel. “Wah, enak! Harum dan gurih...!”
Tidak ada balas jasa yang lebih nikmat lagi bagi seorang pemberi kecuali kalau pemberiannya itu dipuji dan
menyenangkan hati orang yang diberinya. Wajah Han Han berseri dan teringatlah ia akan ujar-ujar kuno yang
dunia-kangouw.blogspot.com
berbunyi: ‘Bahagiakanlah hati orang yang memberimu dengan menghargai pemberiannya!’ Bocah ini telah
melakukan hal itu. Tak mungkin dia tahu akan ujar-ujar ini, tentu hanya kebetulan saja!
“Siapa namamu?” tanya Han Han.
“Wan Sin Kiat! Ayahku dahulu prajurit, tewas di medan perang melawan anjing... eh, tentara Mancu.” Bocah itu
memandang ke kanan kiri, takut kalau-kalau makiannya terdengar orang. “Ibuku lari bersama seorang perwira
Mancu. Aku tidak sudi ikut ibu, maka merantau dan... beginilah. Engkau siapa?”
“Aku Han Han...”
“Tentu seorang kongcu yang menyamar menjadi pengemis!”
“Eh! Sembarangan saja menuduh. Aku bukan kongcu, juga bukan pengemis!”
“Lagak dan sikapmu seperti kongcu. Kau patut menjadi kongcu. Mungkin juga bukan, akan tetapi bukan
pengemis? Heh, jangan berolok, kawan. Pakaianmu itu!”
Han Han penasaran. “Biar pun pakaianku butut, aku tidak pernah mengemis! Aku makan dari hasil keringatku.
Roti itu pun pemberian pedagang roti yang kubantu membongkar muatan terigu!”
“Ahhh, begitukah?” Sin Kiat menghela napas dan menunduk. “Kalau aku... aku pengemis tulen.”
Han Han merasa menyesal telah menyinggung perasaan orang tanpa disengaja. Ia memegang lengan anak itu
dan berkata, “Engkau sampai menjadi begini akibat perang..., bukan kehendakmu, Sin Kiat.”
Tiba-tiba Sin Kiat berkata penuh semangat. “Kalau sudah besar aku akan menjadi seorang prajurit seperti
mendiang Ayahku! Bahkan aku akan menanjak menjadi Perwira. Kau lihat saja!”
Han Han tersenyum. Melihat semangat bocah ini, kelak dia tidak akan merasa heran kalau benar-benar Wan
Sin Kiat menjadi seorang perwira. “Nih, kau ambil lagi rotinya,” ia menawarkan ketika melihat roti pertama
sudah habis memasuki perut kawan baru itu.
Sin Kiat mengambil sepotong lagi, kemudian tiba-tiba seperti orang teringat akan sesuatu, ia memegang
lengan Han Han dan berkata, “Han Han, apakah engkau suka membagi rotimu kepada anak-anak lain, bukan
hanya kepadaku?”
“Hah? Kalau perlu tentu saja boleh.”
“Bagus! Engkau benar-henar anak jempol! Mari ikut aku!” Sin Kiat bangkit berdiri, menarik tangan Han Han dan
mengajak teman baru yang mempunyai banyak roti itu berlari memasuki kota.
Mereka lewat di pasar, lalu membelok ke sebuah gedung bobrok yang tadinya terbakar, dan kini tinggal sisa
dinding-dinding gosong dan kotor dan sebagian atapnya. Ketika tiba di situ, ternyata di situ terdapat dua orang
anak sebaya dengannya yang juga berpakaian seperti pengemis, bahkan ada pula seorang kakek berpakaian
seperti pengemis, kakek yang kurus kering dan rambutnya riap-riapan.
“Mana teman-teman yang lain? Ada rejeki datang!” Sin Kiat berseru dengan wajah berseri-seri.
“Pergi mengemis ke pasar,” jawab seorang anak pengemis yang kepalanya gundul. “Katanya ada pembesar
meninjau pasar.”
“Huh, bodoh! Belum tentu mendapat sedekah, yang sudah pasti mererima cambukan para pengawal yang
galak,” kata Sin Kiat mengomel.
“Itulah sebabnya mengapa kami berdua tidak ikut pergi,” kata pengemis ke dua. “Aku benci melihat
pembesar...”
dunia-kangouw.blogspot.com
Terdengar batuk-batuk dari kakek pengemis yang melenggut di sudut. “Hmmm..., anak-anak, hati-hatilah
sedikit kalau bicara. Apakah anak-anak sekecil kalian sudah bosan hidup?”
Tiga orang anak pengemis itu menjadi pucat dan celingukan memandang ke kanan kiri. Han Han berpendapat
bahwa anak-anak itu seperti anak-anak burung yang ketakutan selalu, maka ia makin kasihan kepada mereka.
Tanpa diminta ia lalu mengambil roti-roti kering dari keranjangnya, pertama-tama ia memberi kepada kakek itu.
“Lopek, silakan makan roti kering seadanya.”
Kakek itu memandang dengan tajam. Han Han terkejut, tidak menyangka bahwa kakek itu mempunyai
pandang mata yang demikian tajamnya. Lalu kakek itu setelah meneliti Han Han dari kepala sampai ke kaki,
mengangguk-angguk dan menerima roti terus melenggut lagi sambil makan roti kering. Kembali Han Han
tercengang. Kakek itu sudah tua dan kempot, tanda bahwa giginya sudah tidak lengkap lagi, namun roti kering
yang keras itu digigitnya seperti seorang menggigit kerupuk saja! Ia lalu membagi-bagi roti kering kepada dua
orang anak lain yang menerimanya dengan gembira.
Han Han lalu menurunkan keranjang rotinya dan mempersilakan siapa saja yang masih lapar untuk mengambil
lagi, dan ia pun ikut duduk mendeprok di atas lantai rumah gedung yang terbakar itu. Heran sekali, ia merasa
betah di situ, merasa seperti berada di rumah sendiri. Seolah-olah gedung yang bekas terbakar ini adalah
gedung keluarganya.
Sin Kiat mendekati kakek pengemis dan berkata dengan suara mendesak, “Kek, kau ajarilah aku silat agar
kelak aku menjadi orang kuat. Aku ingin menjadi seorang perwira!”
Kakek itu membuka matanya, menjawab malas. “Aku tidak bisa silat...”
“Bohong...! Kakek bohong...!” Sin Kiat dan dua orang temannya berteriak-teriak.
Akan tetapi kakek itu hanya melenggut, mulutnya tersenyum aneh. Han Han memandang penuh perhatian.
Banyak sudah ia membaca tentang pengemis-pengemis yang sakti, bahkan membaca tentang sastrawansastrawan
yang hidupnya seperti pengemis.
“Kemarin dulu kau membubarkan selosin serdadu dengan tongkat bututmu itu. Dengan apakah kalau tidak
dengan ilmu silat? Hayo, Kek, jangan pelit, ah. Ajari kami ilmu silat. Han Han tadi sudah begitu ramah dan
murah hati, membagi-bagikan roti keringnya, apakah kau begini pelit untuk membagi ilmu silat kepada kami?
Ingat, Kek, roti yang dibagi-bagikan menjadi habis, sebaliknya ilmu silatmu kalau dibagi sampai seribu orang
sekali pun takkan menjadi habis!”
Han Han kagum mendengar alasan Sin Kiat ini. Anak cerdik, pikirnya. Akan tetapi ia merasa kasihan dan tidak
enak hati melihat kakek tua itu didesak-desak, maka ia segera berkata, “Aku tidak suka belajar silat!”
“Hehhh??” Tiga orang anak itu berseru heran dan memandang Han Han dengan kecewa.
Sin Kiat memegang lengannya dan bertanya, “Mengapa, Han Han? Semua orang yang tertindas dan terhina
ingin belajar silat, mengapa kau tidak?”
“Kalau pandai silat, kan kita selalu menang kalau berkelahi dan menjadi jagoan!” kata Si Gundul sambil
membusungkan dadanya yang tipis kerempeng.
“Kalau pandai silat, orang-orang akan takut kepada kita dan memberi apa saja yang kita minta!” kata bocah
pengemis yang lain.
“Dan aku akan menjadi orang kuat sehingga kelak dapat menjadi perwira,” kata pula Sin Kiat.
Han Han menghela napas. Dari pernyataan-pernyataan ini sudah dapat dinilai watak dan cita-cita ketiga orang
anak ini. “Aku tetap tidak suka belajar silat. Pandai silat membikin orang menjadi kuat, dan hanya si kuat saja
yang suka menindas si lemah! Orang yang merasa kuat akan selalu mencari permusuhan, suka berkelahi,
dunia-kangouw.blogspot.com
suka pukul orang, bahkan suka membunuh orang. Tidak! Pandai silat amat tidak baik, orang menjadi jahat
karenanya.”
Kakek yang tadinya melenggut dan agaknya lega karena terbebas dari desakan anak-anak itu, kini membuka
matanya dan tertawa. “Ho-ho-ho! Omongan takabur dan menyeleweng jauh, bocah! Omongan sombong! Siapa
bilang ilmu silat menimbulkan kejahatan dan kekejaman? Uh-uh, sombongnya! Ilmu silat tetap ilmu silat, tidak
baik dan tidak jahat. Baik atau jahatnya tergantung si orang yang memilikinya. Kalau digunakan untuk
kejahatan menjadi ilmu jahat, kalau dipergunakan untuk kebaikan menjadi ilmu baik. Betapa banyaknya
kejahatan dilakukan oleh orang-orang yang tidak pandai silat dan yang lemah tubuhnya. Ho-ho-ho-ho, apa kau
kira pedang lebih tajam dari pada pena? Pedang hanya dapat membunuh satu orang sekali sabet, akan tetapi
pena sekali gores dapat menghancurkan keluarga bahkan dapat menggulingkan kerajaan. Ha-ha-ha!”
Han Han tercengang dan berpikir. Alangkah benarnya ucapan kakek jembel itu. Teringat ia akan sejarah
betapa fitnah-fitnah yang amat keji terjadi karena coretan pena. Dan betapa tepatnya pula filsafat tentang baik
buruknya ilmu yang tergantung dari pada si pemilik ilmu. Tak disangkanya ia akan mendengar ucapan
demikian dalam isinya dari mulut seorang kakek jembel. Melihat betapa bantahan kakek itu membuat Han Han
bungkam, Sin Kiat menjadi gembira dan mendapat kesempatan untuk mendesak lagi.
“Hayolah, Kek, ajari kami ilmu silat.”
“Aku tidak bisa ilmu silat.”
“Waaah, Kakek selalu mengelak. Habis, tongkat bututmu kemarin dulu itu dapat mematahkan tombak,
membikin pedang dan golok serdadu-serdadu itu terpelanting, dan membuat mereka roboh,” bantah Sin Kiat.
“Ahhh, itu hanya Ilmu Tongkat Teratai Putih (Pek-lian Tung-hoat).”
“Kalau begitu, ajarkan kami Pek-lian Tung-hoat!” kata Sin Kiat, dibantu oleh dua orang kawannya.
Kakek itu menggeleng kepala. “Tidak mudah, tidak mudah. Kalian tidak berjodoh dengan kami. Yang berjodoh
adalah bocah ini. Siapakah namamu tadi? Han Han? Kau berjodoh dengan kami. Marilah ikut bersamaku.”
Kakek yang kelihatan lesu dan lemas itu, tiba-tiba sudah bangkit berdiri dan ternyata ia jangkung sekali.
Han Han begitu kaget dan herannya sehingga ia tidak dapat menjawab pertanyaan tadi. Kini kakek itu sudah
menyentuhkan ujung tongkat bututnya ke pundak kanan Han Han, kemudian membalikkan tubuh dan
melangkah pergi dari situ. Anehnya, tubuh Han Han tertarik oleh ujung tongkat yang melekat pundaknya
sehingga anak ini pun terhuyung maju dan terpaksa melangkah mengikuti kakek itu!
“Heiiiii...! Ehhh...?” Han Han menggunakan kedua tangannya untuk melepaskan tongkat dari pundaknya,
namun tidak herhasil. Tongkat itu melekat seolah-olah berakar di pundaknya dan ada tenaga membetot yang
amat hebat tak terlawan olehnya, membuat ia terseret terus!
Han Han adalah seorang anak yang memiliki kecerdikan luar biasa. Biar pun ia seorang anak yang asing sama
sekali akan ilmu silat, namun dari kitab bacaan ia sudah banyak mengetahui bahwa di dunia ini selain terdapat
sastrawan-sastrawan luar biasa, orang-orang yang pandai berfilsafat dan pandai membuat sajak-sajak indah,
juga terdapat orang-orang dari golongan ‘bu’ (persilatan) yang disebut pendekar-pendekar sakti.
Maka tahulah ia bahwa kakek jembel ini pun tentulah seorang pendekar sakti yang berilmu tinggi. Maka timbul
keinginan hatinya untuk mengenalnya lebih dekat dan untuk mengetahui ke mana ia akan dibawa. Ia tidak
merasa takut, maka ia lalu berkata, “Locianpwe, kalau memang locianpwe ingin mengajak aku pergi, harap
lepaskan tongkat. Tidak enak sekali diseret-seret seperti seekor anjing.”
Akan tetapi kakek itu tidak mempedulikannya, bahkan kini langkahnya lebar-lebar dan cepat sehingga Han
Han terpaksa harus melangkah cepat pula kalau tidak mau terseret. Sebentar saja mereka telah pergi jauh dan
teriakan-teriakan Sin Kiat yang mengingatkan bahwa keranjang rotinya masih tertinggal, kini tidak terdengar
lagi. Tak lama kemudian mereka sudah keluar dari kota dan terus menuju ke tepi Sungai Huang-ho. Setibanya
di tepi sungai, kakek itu melanjutkan perjalanan ke kanan, jadi ke arah utara.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mereka berjalan sudah lebih tiga jam, akan tetapi kakek itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Han Han
yang juga memiliki kekerasan hati dan pada saat itu di samping keinginan tahunya juga merasa penasaran dan
mengkal, merasa dirinya dipaksa pergi setengah diculik, tidak pernah bertanya apa-apa pula. Ia berjalan terus
di belakang kakek itu. Tentu saja kakek itu yang melangkah lebar dan cepat membuat ia sering kali harus
setengah berlari dan tubuhnya sudah lelah sekali. Jalannya tidak rata, menyusup-nyusup hutan dan naik turun.
Akan tetapi dengan kekerasan hatinya, Han Han mengikuti terus kakek itu yang akhirnya membawanya masuk
ke sebuah hutan di pinggir Sungai Huang-ho.
Di tepi sungai dalam hutan ini, tampaklah oleh Han Han bagian yang sudah dibersihkan, pohon-pohonnya
ditebangi dan terdapat tempat terbuka yang amat luas, bahkan dipagari dengan bambu. Dari jauh sudah
tampak bentuk yang aneh dari tempat ini, agak bundar, akan tetapi Han Han tidak tahu apa maknanya.
Baru setelah mereka memasuki pintu gerbang dan membaca papan yang tergantung di depan pintu, tahulah
Han Han bahwa bentuk bundar dari tempat itu dengan lingkaran-lingkaran aneh adalah bentuk bunga teratai,
sesuai dengan nama tempat itu yang menjadi pusat dari perkumpulan Pek-lian Kai-pang (Persatuan Pengemis
Teratai Putih). Han Han berdebar jantungnya. Sudah banyak ia membaca tentang kai-pang dan ketuanya yang
sakti, dan baru sekali ini memasuki sarang kai-pang. Siapakah pangcunya?
Kakek itu memasuki pintu gerbang dan tampaklah banyak orang-orang berpakaian pengemis berkeliaran di
sekitar tempat itu. Di tengah-tengah terdapat bangunan pondok berbentuk kelenteng dan dari situ mengepul
asap hio yang wangi.
Para jembel itu melihat masuknya kakek bersama Han Han, namun mereka hanya melirik saja dan tak seorang
pun ambil peduli. Kakek itu menghampiri pondok kelenteng, lalu masuk ke ruangan depan di mana terdapat
meja sembahyang. Han Han mengikuti dari belakang dan berdiri memandang heran ketika melihat kakek itu
tiba-tiba duduk bersila dengan kedua kaki saling bertumpangan paha di depan meja sembahyang yang
berbentuk teratai, kemudian kakek ini melakukan upacara sembahyang yang aneh. Kedua lengannya digerakgerakkan,
dilonjorkan ke depan, diangkat ke atas, ditekuk ke belakang sambil mulutnya berkemak-kemik
membaca mantera yang tidak dimengerti Han Han. Kemudian kakek itu berdiri menyalakan hio dan
bersembahyag seperti biasa. Setelah menancapkan hio di tempat dupa, ia melangkah ke luar lagi, memberi
isyarat dengan lambaian tangan kepada Han Han untuk mengikutinya.
Han Han ikut terus dan ternyata mereka menuju ke sungai di mana terdapat sebuah kolam besar yang
mendapatkan airnya dari sungai, dialirkan ke tempat itu. Karena kolam di pinggir sungai itu cukup lebar dan
permukaannya sama dengan permukaan air sungai, maka air di situ tenang. Di atas permukaan air kolam
terdapat beberapa belas benda berbentuk bunga-bunga teratai warna putih, terbuat dari pada kayu,
mengambang dan bergerak-gerak perlahan di permukaan kolam.
Yang membuat Han Han tercengang adalah ketika ia melihat beberapa orang sedang berlatih, berloncatan dari
satu ke lain teratai kayu di permukaan air. Ada tiga orang yang berlatih, sementara itu masih ada tiga puluh
orang lebih menonton di pinggir kolam. Mereka semua itu adalah orang-orang berpakaian tambal-tambalan
terdiri dari laki-laki dan wanita. Akan tetapi lebih banyak lelaki dari pada wanitanya yang hanya ada beberapa
orang.
Han Han tidak mengerti ilmu silat, namun menyaksikan tiga orang itu berloncatan ke atas teratai-teratai kayu
yang mengambang di air, melihat gerakan mereka yang begitu ringan dan gesit, ia kagum. Ternyata mereka itu
sedang berlatih, karena setelah tiga orang itu meloncat ke darat, mereka digantikan oleh tiga orang lain. Ada
pula yang belum mahir meloncat sehingga terpeleset dan teratai yang diinjaknya miring membuat ia terjungkal
ke air. Yang menonton mentertawakannya, ada yang mengejek, ada yang memberi petunjuk, membicarakan
kesalahannya sehingga ia terjatuh.
Ketika kakek yang membawa Han Han muncul, suara tertawa-tawa itu berhenti, akan tetapi tak seorang pun
menegurnya. Yang berlatih masih tetap berlatih, namun kini lebih tekun dan serius. Kemudian terdengar kakek
itu berkata, “Latihan ginkang ini bukan untuk main-main. Tanpa ketekunan kalian takkan mendapat kemajuan.
Panggil Sin Lian!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Han melihat betapa semua pengemis yang berada di situ amat menghormat dan taat kepada kakek ini.
Agaknya kakek inilah ketua mereka! Akan tetapi mengapa mereka itu seperti acuh tak acuh atas kedatangan
kakek itu? Mengapa tidak ada yang memberi hormat? Sungguh mengherankan.
Sementara itu, seorang pengemis tua yang tadi berlari-lari untuk memenuhi perintah kakek ini, datang bersama
seorang anak perempuan yang juga berlarian dan dari jauh sudah memanggil.
“Ayah...!” Anak itu menghampiri ayahnya dan memeluk pinggang kakek itu. Si kakek mengelus-elus rambut
anaknya dengan penuh kasih sayang.
Kembali Han Han tercengang. Kakek ini sudah amat tua, sedikitnya tentu enam puluh tujuh tahun usianya,
akan tetapi anaknya baru berusia paling banyak sembilan tahun! Juga keadaan anak itu amat mencolok, cantik
mungil dan pakaiannya indah bersih, wajahnya berseri-seri matanya kocak gembira. Kehadirannya di antara
para jembel itu benar-benar merupakan seekor burung murai di antara sekumpulan gagak.
“Lian-ji (Anak Lian), mengapa kau tidak ikut latihan ginkang (ilmu meringankan tubuh) dengan para Pamanmu?”
Suara dalam pertanyaan ini halus dan penuh kasih sayang, namun mengandung teguran.
“Aku pergi ke hutan, Ayah. Bunga mawar sedang bersemi, indah sekali.”
“Hemmm, ada waktunya berlatih, ada pula waktunya bersenang. Jangan campur aduk. Coba kau perlihatkan
latihanmu!”
Anak perempuan itu tertawa dengan sikap manja, lalu melepaskan ayahnya dan menghampiri tepi kolam.
Yang berlatih telah mendarat. Mereka semua kelihatan gembira memandang ke arah gadis cilik itu, dan jelas
tampak betapa mereka semua menyayang anak yang bernama Sin Lian ini. Bahkan kini tidak ada lagi yang
berlatih, memberi kesempatan kepada anak itu untuk berlatih seorang diri sehingga tidak mengganggu.
“Heiiittttt...!” Anak itu mengeluarkan seruan keras dan nyaring. Tubuhnya lalu meloncat ke tengah kolam,
melambung agak tinggi kemudian di udara ia berjungkir-balik sampai dua kali, baru tubuhnya turun dan
kakinya hinggap di atas sebuah teratai kayu.
Indah bukan main loncatan tadi dan terdengar seruan-seruan, “Bagus...!”
Han Han melongo. Apa yang disaksikannya itu terlalu aneh dan indah. Kagum ia melihat betapa anak
perempuan itu kini berdiri di atas teratai kayu yang bergerak-gerak timbul tenggelam dan bergoyang-goyang.
Namun tubuh anak itu sedikit pun tidak bergoyang, bahkan terdengar lagi seruannya.
“Heeiiittitt!” dan tubuhnya sudah mencelat ke atas lagi, lalu hinggap di atas teratai kayu yang lainnya.
Demikianlah, bagaikan seekor katak, anak itu berloncatan dari satu teratai ke lain teratai, makin lama makin
cepat sehingga seakan-akan ia terbang di permukaan air. Hanya benda-benda berbentuk teratai itu saja yang
bergerak-gerak timbul tenggelam dan bergoyang-goyang. Seruan-seruan menjerit nyaring itu terdengar susulmenyusul
dan akhirnya tubuh anak itu mumbul ke atas dan berjungkir-balik membuat pok-sai (salto) sampai
tiga kali dan ketika turun ia melayang ke dekat kakek tadi.
Tepuk tangan memuji dari para penonton membuat wajah anak perempuan itu makin berseri. Wajahnya
menjadi merah dan napasnya terengah-engah karena tadi dia telah mengerahkan banyak tenaga. Kakek yang
menjadi ayahnya mengangkat muka dan terhentilah semua tepuk tangan.
“Masih jauh dari pada sempurna, Lian-ji. Teratai-teratai itu masih bergoyang terlalu keras. Lihat baik-baik, juga
kalian semua!”
Tiba-tiba tubuh kakek itu melayang seperti sehelai daun kering ke tengah kolam, hinggap di atas teratai, lalu
meloncat ke lain teratai, terus-menerus dan cepat sekali. Tidak lebih indah dari pada permainan Sin Lian tadi,
akan tetapi hebatnya, teratai-teratai yang diinjaknya itu sama sekali tidak bergoyang, seolah-olah hanya
kejatuhan sehelai daun kering saja!
dunia-kangouw.blogspot.com
Kakek itu kemudian mendarat kembali dan berkata, “Untuk dapat menginjak teratai kayu tanpa
menggerakkannya, membutuhkan latihan sedikitnya lima tahun dengan tekun. Apa lagi dapat meloncat dan
hinggap di atas bunga teratai asli, membutuhkan bakat dan latihan yang amat mendalam.”
Setelah berkata demikian, kakek itu menggandeng tangan Sin Lian, menggapai ke arah Han Han dan
mengajak mereka memasuki sebuah pondok bambu sederhana di sebelah kiri pondok kelenteng. Juga pondok
sederhana ini dihias dengan lukisan-lukisan dan ukir-ukiran teratai putih.
“Bocah ini siapakah, Ayah?” Sin Lian bertanya ketika kakek itu mengajak mereka duduk di atas bangku.
“Namanya Han Han. Siapakah she-mu (nama keturunan), Han Han?”
“Aku she Sie bernama Han, biasa disebut Han Han,” jawab anak itu. “Locianpwe ini siapakah? Apakah ketua
dari Pek-lian Kai-pang?”
Kakek itu memandang kepadanya dengan mata terbelalak. “Engkau tahu bahwa di sini sarang Pek-lian Kaipang?
Dari mana kau mengenal nama Pek-lian Kai-pang?”
Han Han teringat bahwa ucapannya tadi membuka rahasianya bahwa ia pandai membaca. Memang tidak patut
bagi seorang yang keadaannya seperti pengemis macam dia ini pandai membaca. Maka cepat-cepat ia
berkata, “Aku hanya mengira-ngira saja, locianpwe. Kulihat di sini semua berpakaian rombeng, tentu
merupakan sebuah kai-pang. ada pun tentang namanya, di sini kulihat banyak sekali hiasan-hiasan berupa
teratai putih, maka tentu saja aku menduga bahwa nama kai-pang di sini tentulah Pek-lian Kai-pang.”
Kakek itu mengangguk-angguk. “Nah, kau dengar sendiri, Sin Lian. Betapa cerdiknya anak ini. Dia ini adalah
calon muridku, dan agaknya dialah yang boleh diharapkan kelak untuk...”
“Aku tidak ingin menjadi murid locianpwe!” Han Han memotong cepat-cepat dengan suara nyaring.
“Wah, bocah sombong engkau!” Sin Lian mendamprat. “Kau tidak mau menjadi murid Ayah, sedangkan
seluruh bocah di dunia ini mengilar untuk menjadi muridnya. Kau tidak tahu siapa Ayah? Ayah adalah Lauwpangcu
(Ketua Lauw) yang tersohor di seluruh wilayah Sungai Huang-ho! Apakah engkau lebih suka menjadi
jembel busuk yang tiada artinya, mengandalkan hidup dari sisa makanan?”
Merah wajah Han Han. Matanya melotot memandang anak perempuan itu. Ia merasa terhina sekali. “Aku
bukan pengemis! Dan aku tidak suka menjadi murid pengemis! Aku tidak mau menjadi anggota kai-pang!”
“Lagaknya! Engkau pengemis!”
“Bukan!”
“Pengemis!”
“Bukan!”
“Pengemis! Pakaianmu tambal-tambalan, kalau bukan pengemis, apakah kau ini Pangeran?”
“Bukan! Aku bukan pengemis, biar pakaianku tambal-tambalan aku tidak pernah mengemis! Tidak seperti
engkau, biar pakaianmu baik tapi...”
“Kau kurang ajar! Beranikah kau kepadaku?”
“Mengapa tidak berani? Kalau aku benar, biar terhadap kaisar sekali pun aku berani!”
“Phuhhh! Kalau berani hayo kita berkelahi!”
“Aku bukan tukang berkelahi, bukan tukang pukul, tapi aku tidak takut kepadamu.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hayo pukul aku kalau berani!”
“Aku bukan tukang pukul!”
“Kalau kupukul, kau berani membalas?”
“Tentu saja!”
“Plakkk...!”
Pipi Han Han sudah kena ditampar oleh Sin Lian sampai Han Han terpelanting dari bangkunya. Ia bangkit dan
timbul kemarahannya, akan tetapi Han Han sudah membaca kitab tentang sifat seorang gagah, tentu saja ia
malu kalau harus bergelut dengan seorang anak perempuan.
“Tidak sakit!” katanya sambil meraba pipinya yang menjadi merah.
“Balaslah!”
“Membalas anak perempuan? Untuk apa, memalukan saja. Pukulanmu seperti tahu, tidak terasa sama sekali.”
“Sombong kau!” Sin Lian marah sekali, menerjang maju dan gerakannya cepat bukan main.
“Dukkk... plenggggg...!”
Han Han terjengkang roboh. Perutnya menjadi mulas kena ditendang tadi dan kepalanya pening oleh
tempilingan yang cukup keras. Gerakan kaki tangan bocah itu luar biasa cepatnya sehingga Han Han tidak
tahu bagaimana caranya bocah itu menendang dan memukul. Rasa nyeri membuat lantai seperti berputar. Ia
marah dan kini ia melompat bangun.
“Kau... perempuan keji!” katanya lalu ia menerjang maju, hendak menampar.
Namun tamparannya mengenai angin belaka dan sebelum ia sempat melihat, kembali tangan kiri gadis cilik itu
mampir di pipinya, menimbulkan suara nyaring dan terasa amat panas dan pedas. Tonjokan kepalan kanan
yang kecil namun terlatih menyusul, mengenai lehernya, membuat Han Han terhuyung-huyung ke belakang.
Tiba-tiba sebuah kaki yang kecil menyapu kedua kakinya. Tanpa ampun lagi tubuh Han Han kembali
terpelanting, terbanting pada lantai di mana ia hanya duduk sambil memegangi kepalanya yang puyeng
seketika.
“Cukup, Lian-ji.” Terdengar kakek itu berkata, suaranya tenang dan halus.
Kakek ini tadi diam saja melihat puterinya menghajar Han Han, karena memang hal ini ia sengaja, untuk
‘membakar’ hati Han Han dan menimbulkan semangat jantannya. Dia menduga bahwa setelah mengalami
hajaran tentu bocah itu akan merasa terhina dan sadar betapa perlunya mempelajari ilmu untuk memperkuat
diri sehingga kelak tidak akan terhina orang lagi. Ia maju dan mengangkat bangun Han Han, disuruhnya duduk
lagi di bangku.
Han Han masih pening. Ketika ia memandang bocah perempuan itu, wajah yang manis namun
menggemaskan hatinya saat itu kelihatan menjadi dua. Memandang benda lain juga kelihatan dua! Maka ia
meramkan mata sejenak sampai peningnya hilang, baru ia membuka matanya memandang kakek itu dengan
mata penasaran
“Nah, bagaimana pendapatmu sekarang? Kalau kau menjadi muridku, tidak mungkin kau akan mudah dihajar
orang lain begitu saja.”
Akan tetapi jawaban Han Han sungguh di luar dugaan Lauw-pangcu. Anak ini mengangkat muka dan dadanya,
lalu berkata, “Aku tetap tidak mau belajar berkelahi! Apa sih gagahnya mengalahkan lain orang? Mengalahkan
diri sendiri baru patut disebut gagah perkasa!” Dalam kemarahannya, tanpa disadarinya lagi Han Han
mengucapkan ujar-ujar dari kitab.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kembali kakek itu tercengang. “Aihhh! Dari mana kamu mengetahui filsafat itu?”
“Filsafat apa? Itu pendapatku sendiri. Mengalahkan dan memukul orang paling-paling bisa disebut sewenangwenang,
mengandalkan kepandaian dan menjadi tukang pukul!”
“Dan mengalahkan diri sendiri? Apa yang kau maksudkan?” Kakek itu memancing.
Han Han cerdik, ia pandai menutupi rahasianya, maka setelah otaknya bekerja, ia berkata, “Tidak tunduk
kepada kemarahan sehingga tidak memukul orang, tidak merugikan orang lain karena kepingin, tidak
melakukan pekerjaan hina biar pun perut lapar, mengalahkan diri sendiri.” Dengan ucapan ini ia telah
menyindir orang yang telah memukulnya, dan menyindir pekerjaan mengemis yang dianggapnya hina.
“Bocah bermulut lancang! Ayah, biar kuhajar lagi dia sampai setengah mampus!”
Lauw-pangcu menggeleng kepala. “Biarkan dia pergi.”
Han Han memang telah berdiri dan melangkah pergi dari tempat itu. Ia keluar dari pintu gerbang tanpa ada
yang mengganggunya, kemudian dia berlari cepat untuk segera meninggalkan tempat itu. Ia teringat bahwa
tadi ia dibawa ke timur, akan tetapi ia tidak ingin kembali ke barat. Tidak ingin kembali ke kota Tiong-kwan
karena takut kalau-kalau bertemu dengan kakek itu lagi kelak dan menimbulkan hal-hal yang amat tidak enak.
Sekarang saja ia sudah babak-belur, perutnya masih mulas, kepalanya masih berdenyut-denyut. Sambil berlari
ia teringat akan Sin Lian dan diam-diam ia mengomel.
“Bocah perempuan yang keji dan galak!”
Han Han berjalan terus ke timur menyusuri Sungai Huang-ho. Setelah malam tiba, ia mengaso di pinggir
sebuah hutan dan mengisi perutnya yang lapar dengan telur-telur burung yang ia temukan di jalan. Juga ada
beberapa macam buah-buah yang dapat dimakan sehingga malam itu ia dapat tertidur nyenyak di pinggir
hutan.
Pada keesokan harinya, ia melanjutkan perjalanan. Dari jauh tampak sebuah dusun. Uang bekal dan makanan
sudah habis, ia harus mencari pekerjaan di dusun itu sekedar dapat makan. Di mana pun juga pasti ada
pekerjaan. Biar pun di dusun, para petani membutuhkan tenaga bantuan dan tentu ada orang-orang kaya yang
membutuhkan tenaga pula. Asal rajin dan mau bekerja, tak mungkin orang sampai kelaparan. Tidak seperti
pengemis-pengemis itu, hanya bermalas-malasan, ingin makan enak tanpa bekerja, biar pun hanya makanan
sisa. Menjijikkan! Alangkah hinanya! Tentu saja ia tidak sudi menjadi pengemis, biar pun diberi pelajaran ilmu
memukul orang! Apa lagi selalu berdekatan dengan bocah perempuan yang ganas itu. Ia bergidik kalau
teringat akan Sin Lian, sungguh pun harus ia akui bahwa wajah bocah itu manis sekali.
Ketika Han Han berjalan sambil termenung sampai di pintu gerbang dusun itu, tiba-tiba terdengar derap kaki
kuda dari depan. Han Han mengangkat muka dan memandang. Seorang anak laki-laki sebaya dengan dia,
berpakaian indah dan berwajah tampan menunggang seekor kuda yang besar dan membalapkan kuda itu
keluar dari dusun. Han Han cepat minggir, akan tetapi sambil tertawa-tawa anak laki-laki itu sengaja
menyerempetkan kudanya sehingga Han Han yang sudah berusaha melompat masih terlanggar dan jatuh
terguling. Beberapa orang dusun melihat hal ini berseru tertahan, agaknya mereka takut untuk mengeluarkan
seruan keras.
“Bocah sombong, apakah kau sudah gila?” Han Han berteriak marah sambil merangkak bangun.
Kuda itu dihentikan dan diputar. Anak laki-laki yang duduk di atasnya kini tidak tertawa lagi, melainkan
memandang Han Han dengan wajah bengis. Setelah kuda-nya tiba di depan Han Han, ia lalu melompat turun,
gerakannya tangkas sekali, lalu menghadapi Han Han sambil menudingkan telunjuknya. “Jembel busuk! Berani
engkau memaki aku?”
“Setan kepala angin! Mengapa tidak berani? Yang kumaki bukan orangnya, melainkan perbuatannya. Biar kau
kaisar sekali pun, kalau perbuatannya tidak benar, tentu akan dimaki orang!” Han Han membantah berani.
dunia-kangouw.blogspot.com
Anak itu usianya antara sebelas tahun, kini mendengar ucapan seperti itu keluar dari mulut seorang anak
jembel, ia menjadi terheran-heran sehingga lupa kemarahannya. “Engkau siapakah berani berkata seperti itu?”
“Aku Han Han dan siapa takut mengeluarkan kata-kata benar?”
“Wah-wah, agaknya sudah miring otakmu. Tidak tahukah engkau bahwa aku adalah Ouwyang-kongcu (Tuan
Muda Ouwyang)? Orang sekitar daerah ini tidak ada yang berani kepadaku. Apa lagi jembel macam kamu!
Hayo bertutut dan mohon ampun!” Bentakan ini mengandung suara marah.
Seorang di antara para penduduk dusun yang mulai datang berkerumun segera mendekati Han Han dan
berkata, “Kau agaknya bukan anak sini. Lebih baik lekas bertutut mohon ampun kepada Kongcu.”
Mendengar ini Han Han makin marah. Ia berdiri dengan kedua kaki terpentang, kedua tangan bertolak
pinggang, lalu berkata, “Apa perlunya minta ampun? Orang bersalah sekali pun tidak perlu minta ampun dan
harus berani menerima hukumannya! Apa lagi orang tidak bersalah!”
Ucapan ini rupa-rupanya merupakan pendapat yang baru sama sekali dan mengherankan semua orang.
Bahkan pemuda tampan itu sendiri terheran dan berkurang kemarahannya, lalu mengomel.
“Tidak salah katamu? Kau berdiri di jalan, menghalang kudaku!”
“Bukan aku yang menghalang, tapi kau yang menabrak! Berani berbuat tidak berani mengaku, laki-laki macam
apa kau?”
“Berani kau? Apa sudah bosan hidup?” bentak anak yang disebut tuan muda Ouwyang itu.
Setelah berkata demikian, ia menerjang maju. Han Han berusaha melawan, namun ternyata Ouwyang-kongcu
ini tangkas dan kuat sekali. Begitu menerjang, Han Han telah kena digampar kepalanya dan ditonjok dadanya.
Han Han terjengkang, napasnya sesak. Sebuah tendangan mengenai lehernya dan dunia menjadi hitam bagi
Han Han.
“Jembel busuk bosan hidup! Kau belum mengenal kelihaian Kongcu-mu, ya?” Suara Ouwyang-kongcu ini
terdengar sayup-sayup oleh Han Han, dan pemuda tampan itu mengeluarkan sehelai tambang dari saku
pelana kudanya. Diikatnya kaki kiri Han Han, kemudian ia memegangi ujung tali itu dan melompat naik ke atas
kudanya. Ketika kudanya dilarikan, tubuh Han Han tentu saja terseret di atas tanah!
Orang-orang yang berada di situ hanya memandang dengan mata terbelalak, tidak ada seorang pun berani
membela Han Han. Mereka hanya saling pandang dan menggeleng-geleng kepala dengan hati kasihan
kepada anak jembel yang amat pemberani itu.
Han Han memiliki kenekatan dan nyali yang luar biasa sekali. Juga tubuhnya memiliki daya tahan
mengagumkan. Hal ini telah dilihat oleh mata yang awas dari Lauw-pangcu ketua Pek-lian Kai-pang sehingga
kakek itu merasa tertarik dan ingin mengambilnya sebagai murid.
Biar pun ia tadi telah dipukul hebat dan kini tubuhnya diseret seperti itu, ia masih tidak merasa takut. Bahkan ia
marah sekali. Tidak dipedulikan punggung dan pinggulnya lecet-lecet, pakaiannya yang sudah penuh tambalan
itu makin buruk karena compang-camping. Ia tidak mengeluh, tidak pula minta ampun, bahkan ia yang terseret
itu berusaha mengangkat tubuh atasnya dan menudingkan telunjuknya ke depan, ke arah Ouwyang-kongcu
sambil memaki-maki.
“Bocah kejam melebihi iblis! Kelakuanmu ini akan menyeretmu ke lembah kecelakaan!”
Pada saat itu, dari arah kanan berkelebat sinar putih. Ternyata itu adalah sebatang piauw (pisau sambit) yang
disambitkan oleh seorang gadis cilik. Piauw itu tepat sekali mengenal tambang yang menyeret Han Han
sehingga putus seketika dan Han Han terbebas, tidak terseret lagi.
Sambil duduk dan berusaha membuka ikatan kakinya, Han Han memandang dengan mata terbelalak ketika
mengenal bahwa anak perempuan itu bukan lain adalah... Sin Lian! Han Han mengeluh. Dia ditolong dari
dunia-kangouw.blogspot.com
tangan seorang anak laki-laki kejam oleh seorang anak wanita ganas! Kedua orang anak itu setali tiga uang,
sama-sama ganas dan kejam, tiada yang dipilih!
Sin Lian sudah meloncat turun dari atas batu di mana ia tadi berdiri dan menyambitkan piauw-nya. Sikapnya
garang sekali ketika ia memandang Ouwyang-kongcu dan telunjuknya yang kecil runcing itu menuding ke arah
Ouwyang-kongcu sambil memaki.
“Setan alas kau! Monyet pengecut kau! Beraninya hanya menyiksa bocah jembel yang tidak bisa silat! Hayo
lawan aku kalau berani, kalau minta remuk tulang-tulangmu!” Sin Lian memasang kuda-kuda menantang.
Ouwyang-kongcu ini adalah putera seorang bangsawan tinggi, yaitu Pangeran Ouwyang Cin Kok. Dia putera
pangeran, tentu saja selain kaya raya juga angkuh dan sudah biasa menerima penghormatan di mana-mana.
Namanya adalah Ouwyang Seng dan pada waktu itu ia sedang menerima pendidikan ilmu silat dari gurunya,
seorang tokoh yang memiliki kepandaian tinggi dan sakti.
Sebagai putera pangeran, tentu saja dalam perguruannya tersedia segala perlengkapan untuk kebutuhannya
setiap hari, sampai-sampai tersedia seekor kuda untuknya. Dan ia pun belajar sambil main-main, kadangkadang
menunggang kuda pergi ke dusun-dusun dan ke mana pun juga ia pergi, anak nakal ini tentu disambut
penduduk dusun dengan ramah dan hormat, sungguh pun di dalam hati mereka ini membencinya karena
kenakalannya suka menggoda orang. Kini dimaki-maki seperti itu, Ouwyang Seng marah sekali lalu meloncat
turun dari atas kudanya.
“Eh, kau bocah dusun! Berani kau memaki Kongcu-mu? Kau pun sudah bosan hidup agaknya!” Sambil berkata
demikian Ouwyang Seng lalu menggunakan sisa tambang yang berada di tangannya, yang panjangnya ada
dua meter lebih untuk menyerang.
Serangannya hebat, cepat dan keras sekali sehingga mengejutkan Sin Lian yang cepat melompat dan
mengelak. Dari gerakan serangan itu Sin Lian dapat menduga bahwa anak nakal ini pandai silat. Memang
dugaannya tidak keliru. Ouwyang Seng diasuh oleh seorang guru yang amat pandai sehingga biar pun cara ia
belajar kurang tekun, namun jarang ada anak sebaya dengannya yang mampu melawannya, biar pun anak itu
pandai silat sekali pun.
Sebaliknya, melihat betapa anak perempuan yang tadinya hendak ia rangket karena telah berani memakinya
itu dapat mengelak demikian cepat, Ouwyang Seng menjadi penasaran dan menerjang lebih gencar lagi. Sin
Lian tidak diberi kesempatan membalas serangan-serangannya karena tambang itu menyerang terus-menerus,
membuat ia harus menggunakan ginkang dan berloncatan ke sana ke mari.
“Monyet cilik! Monyet curang! Jangan pakai tambang kalau berani!” Sin Lian memaki kalang-kabut karena ia
benar-benar terdesak dan tidak sempat membalas sama sekali, bahkan pahanya telah kena dipecut satu kali
sehingga terasa pedas dan panas.
Ouwyang Seng tertawa bergelak. Ia kini tahu bahwa biar pun memiliki kegesitan luar biasa, anak perempuan
ini masih bukan merupakan lawan berat baginya. Maka ia lalu membuang tambang itu dan berkata, “Majulah
kalau ingin merasakan kaki dan tangan yang sakti!”
Melihat pemuda cilik itu sudah membuang tambangnya, Sin Lian menjadi girang dan cepat ia menerjang maju
dengan kaki tangannya yang gesit. Namun dengan mudah Ouwyang Seng menangkis sambil mengerahkan
tenaga, membuat Sin Lian meringis kesakitan. Ouwyang Seng tertawa lagi, lalu mendesak dengan pukulan
aneh. Sin Lian berseru kaget, terhuyung mundur dan tiba-tiba lututnya kena ditendang Ouwyang Seng
sehingga ia roboh terguling.
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan tahu-tahu Han Han telah melompat dan menubruk Ouwyang Seng
dari belakang. Mulutnya mencela, “Laki-laki apa, menerjang perempuan!” Kedua lengannya merangkul leher
dengan sekuat tenaga, kedua kakinya mengait pinggang!
Ouwyang Seng terkejut, meronta-ronta. Akan tetapi biar pun tidak pandai silat, Han Han pada dasarnya
memang memiliki tenaga besar. Apa lagi ia mempunyai kelebihan, yaitu nyali dan kenekatan. Biar pun
dunia-kangouw.blogspot.com
Ouwyang Seng mengobat-abitkannya, ia tetap tidak mau melepaskan rangkulan lengan dan kempitan kakinya,
seperti seekor lintah yang kelaparan menempel pada daging gemuk.
“Lepaskan...! Lepaskan, kau jembel busuk... lepaskan...!” Akan tetapi Han Han tidak mau melepaskannya,
bahkan menggunakan tangannya untuk mencekik leher!
Penduduk dusun yang menghampiri dan menonton perkelahian ini tidak berani mencampuri, hanya
memandang terheran-heran. Orang-orang tidak ada yang berani melawan Ouwyang-kongcu, kini seorang anak
perempuan dan seorang pengemis cilik berani menghinanya, memakinya, dan melawannya.
Ouwyang Seng yang meronta-ronta akhirnya roboh, membawa tubuh Han Han bersama-sama. Mereka
bergulingan di atas tanah, bergelut, namun tetap Han Han tidak mau melepaskan kaki tangannya. Ouwyang
Seng mendapat akal, ia lalu menangkap tangan Han Han dan menekuk jari telunjuknya. Bukan main nyerinya
rasa telunjuk itu, sampai terasa menusuk di ulu hatinya. Han Han menjadi marah, lalu... menggigit bahu
Ouwyang Seng sekuat tenaga.
“Ouuww... aduh... aduh... mati aku, aduhhh...!” Ouwyang Seng menjerit-jerit, pundaknya berdarah dan akhirnya
ia menangis berkaok-kaok, melolong-lolong sambil meronta-ronta.
Penduduk dusun yang melihat ini menjadi khawatir. Takut kalau terbawa-bawa, maka mereka lalu memburu
dan cepat melerai, menarik Han Han melepaskan rangkulannya, kempitannya dan gigitannya.
“Hi-hi-hik! Pengecut besar! Bisanya hanya menangis! Hi-hi-hik, kau hebat, Han Han...!” Sin Lian bertepuk-tepuk
tangan. Ia masih duduk karena lututnya yang tertendang itu membuatnya tak dapat berdiri, agaknya terlepas
sambungannya. Juga Han Han merasa betapa telunjuk tangan kirinya sakit sekali, seperti patah
sambungannya pula.
Ouwyang Seng tadi menangis bukan hanya karena sakit, melainkan terutama sekali karena ketakutan setelah
usahanya melepaskan rangkulan gagal. Kini setelah bebas ia menjadi marah sekali dan menerjang Han Han
dengan pukulan keras. Han Han terjengkang dan terpaksa menerima hantaman dan tendangan. Sin Lian
memaki-maki, dan untuk ini Ouwyang Seng segera melompat ke dekatnya dan menendang kepalanya. Biar
pun tak dapat bangun, namun Sin Lian yang mengerti ilmu silat mencoba untuk menangkis dengan lengan,
dan akibatnya ia pun roboh terguling-guling.
Ouwyang Seng menjadi mata gelap saking marahnya. Disambarnya sebuah batu sebesar kepalanya dengan
kedua tangan dan ia mengangkat batu itu tinggi-tinggi, kemudian dihantamkan ke arah kepala Han Han. Kalau
hantaman ini kena, tentu kepala Han Han akan remuk.
Akan tetapi tiba-tiba batu itu tertahan dan di situ telah berdiri Lauw-pangcu. Sekali renggut batu itu terampas
dan dibuang ke pinggir. “Anak keji, pergilah!” Lauw-pangcu berkata dan ia menangkap tengkuk Ouwyang Seng
terus dilempar ke depan. Tubuh anak itu melayang dan... jatuh tepat di atas punggung kudanya.
Ouwyang Seng maklum bahwa kakek itu amat lihai, akan tetapi dasar seorang anak yang manja, ia malah
memaki, “Tua bangka jembel busuk! Kalau berani, katakan siapa namamu!”
Lauw-pangcu hanya mengira bahwa anak itu adalah seorang anak bangsawan manja saja, maka sambil
tersenyum ia berkatap “Bocah, aku adalah orang she Lauw.”
Ouwyang Seng menarik kendali kudanya, menendang perut kuda itu yang segera meloncat maju dan
membalap ke depan, meninggalkan debu mengebul tinggi.
Han Han bukan tidak mengerti bahwa nyawanya tertolong oleh kakek itu, dan ia sudah terlalu banyak belajar
tentang kebudayaan dan tentang budi, maka ia segera menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu sambil
berkata, “Saya menghaturkan terima kasih atas pertolongan locianpwe.”
Lauw-pangcu tersenyum. “Bangunlah dan mari ikut bersamaku, Han Han.” Ia lalu memondong tubuh puterinya
dan Han Han terpaksa mengikutinya karena tidak mau dianggap tak mengenal budi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah tiba di sarang Pek-lian Kai-pang, Lauw-pangcu mengobati Sin Lian dan telunjuk tangan Han Han.
Hebat sekali cara kakek ini membenarkan sambungan tulang karena setelah diurut sebentar dan ditempeli
koyok, dalam waktu setengah hari saja telah sembuh kembali.
“Pengalamanmu hari ini tentu telah meyakinkan hatimu, Han Han, betapa pentingnya mempelajari ilmu
menjaga diri. Berkali-kali engkau dapat dipukuli orang, dan hampir saja tewas. Aku tidak berniat buruk
denganmu, bukan hendak mengajarmu menjadi tukang pukul. Aku melihat bakat yang amat luar biasa pada
dirimu yang tak akan dapat ditemukan di antara sepuluh laksa orang anak, maka engkau berjodoh untuk
mewarisi semua ilmuku, Han Han.”
“Akan tetapi, locianpwe, aku tidak ingin belajar silat.”
“Coba sajalah. Dan pepatah mengatakan bahwa tak kenal maka tak sayang. Kalau kau sudah mengenal selukbeluk
ilmu itu, kau tentu akan suka sekali. Sementara ini, biarlah engkau akan menerima menjadi muridku dan
coba belajar, hitung-hitung untuk membalas budi kepadaku. Bagaimana?”
Kakek itu memang cerdik. Ia telah mengenal bahwa bocah ini memiliki watak yang aneh dan keras luar biasa,
memiliki kemauan yang tak terpatahkan, tidak dapat dipaksa dan mengenal budi. Karena itu ia sengaja
mengemukakan tentang balas budi untuk mengikat dan memaksa. Dan memang usahanya berhasil, Han Han
terjebak. Anak ini sudah mempelajari kitab tentang budi pekerti sampai mendarah daging, di mana diajarkan
bahwa setiap budi yang dilepas orang harus dibalas berlipat ganda, sebaliknya budi sendiri yang dicurahkan
kepada orang lain harus dianggap sebagai kewajiban dan segera dilupakan.
“Baik, locianpwe.”
“Bagus, Han Han. Sekarang engkau telah menjadi muridku. Aku adalah gurumu dan Sin Lian ini adalah sucimu
(Kakak Seperguruan), biar pun dia lebih muda darimu.”
“Baik, suhu, teecu (murid) mengerti.”
Makin kagum hati kakek itu dan timbul persangkaannya bahwa anak ini tentu bukan keturunan orang biasa
ketika mendengar Han Han menyebut dia suhu dan diri sendiri teecu, kemudian betapa anak itu berlutut di
depannya dan paikui (menyembah) sampai delapan kali.
Ia mengangkat bangun muridnya itu dan berkata, “Han Han, muridku yang baik. Sebagai seorang murid,
pertama-tama engkau harus mengerti apakah yang menjadi kewajiban utama seorang murid?”
“Teecu mengerti. Harus taat dan berdisiplin. Taat terhadap segala perintah suhu, dan berdisiplin dalam
memegang tugas, kemudian harus setia dan berbakti terhadap guru.”
Kalau tadi Lauw-pangcu hanya kagum saja, kini ia terheran-heran dan tercengang. “Sin Lian, dengar baik-baik
omongan sute-mu (Adik Seperguruan) ini! Engkau dapat belajar banyak dari dia! Han Han, pendapatmu tadi
tepat sekali. Nah, sekarang sebagai perintah pertama dari suhu-mu, kau ceritakanlah pengalamanmu, siapa
orang tuamu dan bagaimana engkau sampai menjadi seorang anak terlunta-lunta dan hidup seorang diri.”
Han Han terkejut mendengar pertanyaan ini. Ia sudah mengambil keputusan ketika ia meninggalkan rumah
orang tuanya yang terbakar, di mana terdapat mayat ayah bundanya, untuk menyimpan rahasia tentang dirinya,
untuk melupakan penglihatan itu dan hanya mengingat wajah tujuh orang perwira Mancu, terutama wajah Si
Brewok dan Si Muka Kuning. Kini orang yang menjadi gurunya secara terpaksa ini pertama kali mengharuskan
dia menceritakan pengalaman dan riwayatnya!
Ia menundukkan mukanya, dan begitu rasa penasaran dan sakit hati timbul karena pertanyaan itu
mengingatkan ia akan semua mala petaka yang menimpa keluarganya, mendadak ada rasa aneh sekali di
kepalanya. Kepalanya sebelah belakang kanan yang dahulu terbanting pada dinding ketika ia dilemparkan
panglima muka kuning, kini berdenyutan keras, seolah-olah kepala bagian itu bergerak-gerak dan kepalanya
menjadi pening. Ia hanya berkata perlahan sambil menunduk.
“Teecu tidak dapat menceritakan itu...”
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba Sin Lian mencela dengan suara keras dan nyaring, “Sute (Adik Seperguruan)! Engkau ini murid
macam apa? Sudah tahu akan kewajiban murid, akan tetapi pada kesempatan pertama kau telah tidak
mentaati perintah guru!”
Han Han makin marah. Bocah ini benar-benar cerewet sekali, dan ia merasa terdesak. Ia mengangkat
mukanya memandang Sin Lian, melihat betapa anak perempuan yang lebih muda dari padanya akan tetapi
telah menjadi kakak seperguruannya itu juga memandang kepadanya dengan sinar mata aneh, seperti orang
terpesona, terbelalak keheranan.
Dengan hati marah Han Han memandang dan di dalam hatinya ia memaki. “Kau bocah cerewet! Kau seperti
seekor monyet yang menari-nari!”
Mendadak terjadi hal yang amat aneh. Sin Lian tiba-tiba meloncat mundur dan menggerakkan kaki tangannya
menari-nari, mulutnya berbisik-bisik, “Aku seekor monyet... menari-nari...! Aku seekor monyet yang menarinari...!”
Dan ia menari-nari dengan gerakan lucu, seolah-olah ia meniru gerakan monyet!
Lauw-pangcu tadinya mengira bahwa Sin Lian yang memang biasanya nakal itu sengaja hendak memperolokolok
dan mempermainkan Han Han, maka dengan bengis ia membentak puterinya yang manja itu, “Sin Lian!
Hentikan itu!”
Akan tetapi, puterinya yang biar pun manja namun selalu mentaati perintahnya itu masih saja berjoget secara
aneh dan lucu sambil terus berbisik, “Aku seekor monyet menari-nari... seekor monyet menari-nari...”
Terkejutlah Lauw-pangcu! Ia menoleh dan memandang kepada Han Han dan mukanya berubah pucat,
matanya terbelalak. Ia melihat betapa sepasang mata anak ini menyinarkan cahaya yang amat aneh, manik
mata yang hitam itu seperti mengeluarkan api, demikian tajamnya seperti menembus otak, membuat ia tidak
mampu menggerakkan bola mata, membuat ia terpaksa memandang sepasang mata itu, seperti melekat,
seperti tertarik besi sembrani!
Ia mengerahkan sinkang, berusaha melawan, namun terdengarlah suara Han Han, padahal anak itu tidak
menggerakkan bibir, terdengar suaranya penuh wibawa, penuh pengaruh luar biasa. “Suhu sudah tua, tidak
perlu merisaukan suci yang nakal. Lebih baik suhu mengaso dan tidur dari pada menjengkelkan kelakuan
suci...”
Terjadi keanehan ke dua. Kakek itu menguap dan mulutnya berkata lirih, “Auhhh, aku sudah tua... ingin
mengaso dan tidur...” Lalu kakek itu pun merebahkan kepala di atas meja, berbantal lengan dan tidur!
Han Han melongo saking herannya. Ia menoleh kepada Sin Lian yang masih terus menari-nari sambil berbisikbisik,
“Aku seekor monyet yang menari-nari... seekor monyet...” Ketika ia menoleh pula memandang gurunya,
kakek itu masih tidur nyenyak!
Melihat ini Han Han makin bingung. Tadi ia mengira bahwa Sin Lian hanya mempermainkannya dan menarinari
untuk mengejeknya, maka ketika memandang gurunya, ia merasa kasihan dan hatinya menghibur gurunya
agar supaya jangan jengkel dan supaya guru yang tua itu mengaso dan tidur dari pada mempedulikan Sin Lian.
Akan tetapi sekarang gurunya benar-benar tidur dan Sin Lian masih terus menari-nari seperti telah menjadi
gila! Dari bingung, Han Han menjadi ketakutan dan diguncang-guncangnya pundak Lauw-pangcu sambil
berteriak-teriak.
“Suhu...!Suhu... Bangunlah, suhu...!”
Lauw-pangcu serentak bangun dan matanya terbelalak ketika meloncat dari bangkunya. “Apa... apa yang
terjadi...?” tanyanya seperti orang habis bangun dari mimpi, padahal ia tertidur belum ada dua menit!
Ketika ia menoleh ke arah puterinya, wajahnya kembali menjadi pucat. Kakek ini sudah mempunyai
pengalaman yang banyak sekali, akan tetapi apa yang ia alami sekarang ini benar-benar membuat ia tidak
mengerti dan terheran-heran. Namun ia sudah dapat menguasai perasaannya. Cepat ia melompat mendekati
Sin Lian yang masih menari-nari berloncat-loncatan seperti seekor monyet nakal itu, menangkap pundak
dunia-kangouw.blogspot.com
puterinya dan menotok punggungnya. Sin Lian mengeluarkan suara merintih perlahan lalu roboh pingsan
dalam pelukan ayahnya.
“Dia... dia kenapakah, Suhu? Suci mengapa tadi...?” tanya Han Han, khawatir juga menyaksikan semua itu
karena kini ia dapat menduga bahwa keadaan Sin Lian tadi tidak wajar, bukan menari-nari untuk mengejeknya.
Kakek itu hanya menghela napas panjang, lalu merebahkan tubuh puterinya di atas dipan, memeriksanya
sebentar lalu berkata lirih, “Tidak apa-apa, sebentar lagi pun sembuh, ia tertidur.” Kemudian ia mengajak Han
Han keluar.
“Han Han, mari kita bicara di luar.”
Dengan hati tidak enak Han Han mengikuti gurunya keluar kamar dan duduk di ruang depan pondok kecil itu.
Mereka duduk berhadapan dan Lauw-pangcu kini memandang wajah muridnya dengan pandang mata tajam
penuh selidik. Makin tidak enak hati Han Han dan ia menunduk.
“Han Han, pandanglah mataku!” perintah kakek itu.
Han Han mengangkat mukanya memandang. Sejenak pandang mata mereka bertemu dan jantung kakek itu
berdebar. Mata yang hebat! Ia merasa betapa sinar mata itu mendesak pandang matanya, menusuk masuk
dan membuat jantungnya tergetar. Seperti mata iblis! Akan tetapi saat itu kosong sehingga yang terasa hanya
ketajamannya yang menggetarkan dan betapa pun kakek ini mengerahkan sinkang-nya, akhirnya ia tidak kuat
menahan dan terpaksa mengalihkan pandang matanya, tidak kuat lebih lama beradu pandang. Padahal ia
telah memiliki sinkang (tenaga sakti) yang amat kuat! Tertipukah ia? Adakah bocah ini murid seorang sakti
yang telah memiliki tenaga mukjizat? Harus kucoba lagi.
Berpikir demikian, Lauw-pangcu menggerakkan tangan kanan cepat sekali, tahu-tahu telah menotok jalan
darah kian-keng-hiat di pundak anak itu. Seketika tubuh Han Han menjadi kaku tak dapat digerakkan, akan
tetapi hanya sebentar saja karena kakek itu telah menotoknya kembali, membebaskannya. Lauw-pangcu
menunduk dan makin heran.
Jelas bahwa anak ini tidak mengerti silat, dan tidak pernah belajar silat. Orang yang mengerti ilmu silat tentu
memiliki gerak otomatis sebagai reaksi atas penyerangan terhadap dirinya. Anak ini sama sekali tidak
mempunyai gerak itu, tidak berusaha mengelak atau menangkis, bahkan urat syaraf di pundaknya tidak
menentang, tanda bahwa urat syarafnya juga belum terlatih, tidak biasa akan serangan cepat lawan. Akan
tetapi pandang mata itu, pengaruhnya yang hebat!
Ada pun Han Han ketika tadi merasa pundaknya disentuh gurunya membuat tubuhnya kaku menegang,
kemudian pulih kembali, menjadi heran dan penasaran. Ia tidak tahu apa yang dilakukan suhu-nya. Akan tetapi
ia menganggap suhu-nya itu penuh rahasia, tidak berterus terang dan seolah-olah tidak mempercayainya.
Tiba-tiba suhu-nya itu memegang kedua pundaknya dengan cekalan erat, mata kakek itu menatapnya penuh
selidik dan terdengarlah pertanyaannya dengan suara keras mendesak dan bengis.
“Han Han! Dari mana kau mempelajari ilmu I-hun-to-hoat (semacam hypnotism)?”
“Apa? I-hun-to-hoat, suhu? Mendengar pun baru sekarang. Sudah teecu katakan bahwa teccu tidak pernah
mempelajari ilmu apa-apa...”
“Hemmm, jangan mencoba untuk menyangkal. Habis, apa yang kau lakukan terhadap suci-mu dan aku tadi
kalau bukan Ilmu I-hun-to-hoat?” Ilmu I-hun-to-hoat adalah semacam ilmu hypnotism, membetot semangat dan
menguasai kemauan orang dengan penggunaan sinkang yang sudah mencapai tingkat tinggi.
Han Han makin tak senang hatinya. Ia sudah menentang perasaan hati dan pendapatnya sendiri dan sudah
suka menjadi murid Lauw-pangcu. Akan tetapi mengapa suhu-nya ini sekarang menuduhnya yang bukanbukan?
“Suhu, mengapa suhu menuduh yang bukan-bukan? Suhu mengambil murid teecu ini hendak diajar ilmu
ataukah untuk dituduh-tuduh saja? Sudah teecu katakan bahwa teecu tidak pernah belajar silat.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tapi... tapi pandang matamu... dan peristiwa tadi! Lian-ji menari-nari di luar kehendaknya, aku pun tertidur di
luar kemauanku. Hal ini hanya mungkin terjadi kalau orang menggunakan Ilmu I-hun-to-hoat yang amat kuat.
Han Han, aku tidak mempunyai niat buruk terhadap dirimu. Kalau kau benar-benar pernah menjadi murid
orang sakti, aku pun malah makin suka kepadamu. Perlu apa kau membohong? Sudah ada buktinya peristiwa
tadi, aku sendiri mengalami, dan pandang matamu juga penuh dengan tenaga mukjizat yang hanya timbul dari
sinkang yang tinggi.”
Han Han menjadi tidak sabar. “Teecu tidak mengerti apa yang suhu katakan itu, tidak pernah mendengar apa
itu I-hun-to-hoat, dan apa itu sinkang! Pendeknya, teecu belum pernah belajar ilmu silat, bahkan sebelum
menjadi murid suhu, teecu membenci ilmu silat. Malah sekarang, karena suhu tuduh yang bukan-bukan, timbul
pula rasa tidak senang itu...”
“Han Han, jangan salah mengerti. Memang ada sesuatu yang amat aneh terjadi, dan kurasa, ada sesuatu yang
ajaib sekali terdapat dalam dirimu. Aku tidak menuduh sedikit pun juga dan kau pun harap suka berterus
terang. Mungkinkah kau pernah membaca kitab kuno tentang ilmu menguasai semangat dan kemauan orang
lain, dan telah mempelajarinya?”
“Tidak, sama sekali tidak.”
“Engkau anak aneh. Datang-datang kau bagi-bagikan roti kering kepada lain jembel. Hal ini saja sudah
membuktikan keanehanmu. Dan cara kau bicara, sungguh tidak seperti seorang anak jembel.”
“Teecu bukan pengemis!”
“Kalau begitu engkau seorang anak keluarga bangsawan yang terlunta-lunta. Bukankah begitu?”
“Tidak, tidak! Teecu sudah katakan bahwa teecu tidak dapat menceritakan asal-usul dan riwayat teecu. Teecu
sendiri hampir lupa. Mengapa suhu memancing-mancing? Apa artinya riwayat teecu? Pendeknya, teecu
seorang yang tiada ayah bunda lagi, tiada saudara, sebatang-kara. Suhu, teecu biar pun hidup melarat dan
seorang bodoh, namun teecu berpegang kepada peri-bahasa It-gan-ki-jut-su-ma-lam-twi (Sepatah kata
dikeluarkan, empat ekor kuda pun tidak kuat menariknya kembali)!”
Lauw-pangcu tercengang. Ucapan muridnya ini jelas membuktikan bahwa bocah itu bukan bocah
sembarangan, dan bukan hanya memiliki watak yang keras, memiliki pribadi yang aneh, tenaga sakti simpanan
yang penuh rahasia, akan tetapi juga memiliki asal-usul yang menarik dan tentu bukan dari keluarga
sembarangan. Ia menjadi girang sekali, akan tetapi juga khawatir. Anak ini selain memiliki kekuatan mukjizat,
juga memiliki watak yang sukar diukur dalamnya, sukar dijenguk isinya sehingga bagi dia yang menjadi
gurunya, akan sukarlah untuk membentuk watak bocah ini kelak. Diam-diam ia heran dan berpikir keras untuk
menduga, ilmu apakah yang telah dimiliki atau yang masuk secara aneh dalam diri bocah ini.
Tentu saja Lauw-pangcu tidak dapat menduganya, tidak mengerti akan keadaan Han Han. Jangankan orang
luar, sedangkan Han Han sendiri pun tidak mengerti, tidak sadar bahwa ada perubahan hebat pada dirinya,
bahwa ada sesuatu yang secara ajaib terjadi di dalam dirinya.
Ketika ia dihajar oleh perwira muka kuning dahulu di dalam kamar karena ia telah ‘mengganggu’ perwira muka
kuning itu yang sedang memperkosa ibunya, ia dilempar dan kepalanya terbanting pada dinding kamar dengan
keras sekali sehingga ia menjadi pingsan. Entah bagaimana hanya Tuhan yang mengatur dan mengetahuinya,
bantingan kepala yang terjadi pada saat hatinya merasa tertusuk-tusuk oleh perasaan duka, marah, sakit hati
dan gelisah itu, bantingan keras yang menggetarkan otaknya, telah merubah dan mengguncangkan otaknya,
merubah susunan syaraf dalam kepala.
Tanpa ia sadari, timbullah semacam kekuatan mukjizat di dalam kepalanya yang menyinar keluar dari matanya.
Kekuatan mukjizat ini terutama sekali timbul apa bila hatinya terganggu dan membuatnya menjadi marah dan
sakit hati. Kekuatan mukjizat yang membuat pandang matanya kuat melebihi pandang mata seorang ahli sihir
yang bagaimana pandai sekali pun, yang membuat daya ciptanya sedemikian kuatnya sehingga dalam
keadaan seperti itu, mudah saja ia ‘merampas’ dan menguasai semangat kemauan orang!
dunia-kangouw.blogspot.com
Kalau ahli-ahli sihir memperoleh kekuatan mereka karena latihan dan ketekunan, adalah Han Han
memperolehnya karena kekuasaan Thian yang tiada batasnya. Susunan otak dan syarafnya, seperti manusiamanusia
lain, adalah sempurna sekali sehingga segala sesuatu dapat dipergunakan secara normal. Akan
tetapi, hantaman kepalanya pada dinding itu menggoyahkan kesempurnaan itu sehingga cara kerja otak dan
syarafnya menjadi terganggu. Justru gangguan ini yang menimbulkan kekuatan hebat itu!
Namun Han Han sendiri tidak sadar akan hal ini. Karenanya ia tidak dapat menguasai kekuatan mukjizat ini
dan kekuatan ini hanya timbul kalau ia sedang marah seperti yang tadi timbul dan tanpa ia sadari sendiri telah
membuat Sin Lian menari-nari seperti monyet dan Lauw-pangcu tertidur pulas di luar kehendaknya!
Lauw-pangcu menghela napas panjang. Sebagai seorang yang sudah berpengalaman luas, ia telah dapat
mengenal sifat-sifat Han Han. Ia tahu bahwa kalau ia mendesak terus, hasilnya malah merugikan karena anak
ini tentu akan kehilangan gairah belajar ilmu silat.
Pada saat itu Sin Lian berlari-lari ke luar dari kamarnya dan berkata, “Ayah... Ayah... aku mimpi aneh...”
Sekejap Lauw-pangcu memandang puterinya, lalu mengerling kepada Han Han yang menundukkan muka.
“Mimpi apa?”
“Aku mimpi menjadi monyet dan menari-nari... eh, sute masih di sini. Bagaimana, Ayah, apakah dia masih
berkepala batu tidak mau menceritakan riwayatnya?”
Mendengar ucapan puterinya itu, Lauw-pangcu kembali melirik kepada Han Han yang masih menunduk, hanya
mukanya menjadi merah karena anak ini pun terkejut dan heran di dalam hatinya. Tadi dia telah memaki di
dalam hatinya, memaki Sin Lian seperti monyet menari-nari dan gadis cilik ini pun lalu menari-nari tanpa sadar.
Kemudian sekarang bocah ini mengatakan mimpi menjadi monyet dan menari. Apa yang telah terjadi? Dia
sendiri tidak mengerti dan bingung. Akan tetapi hatinya lega ketika mendengar gurunya berkata.
“Sute-mu sama sekali tidak kepala batu, Lian-ji. Jangan kau kurang ajar dan terlalu mendesaknya. Han Han
adalah seorang keturunan keluarga Sie, dan karena dia sudah tiada ayah bunda lagi, memang tidak ada
sesuatu yang perlu diceritakan.”
“Aihhhhh..., dia ini jaka lola (yatim piatu)...?” Suara Sin Lian mengandung penuh iba sehingga lunturlah semua
kebencian di hati Han Han. Apa lagi ketika ia memandang kepada ‘suci-nya’ itu dan melihat pandang mata Sin
Lian terhadapnya begitu lembut dan penuh kasihan, ia lalu tersenyum kepada Sin Lian. Dara cilik itu membalas
senyumnya dan mulai detik itu terjalinlah rasa persahabatan antara mereka.
Mulailah Lauw-pangcu mengajarkan dasar-dasar ilmu silat kepada Han Han. Hatinya girang bukan main
karena dugaannya sama sekali tidak meleset. Bocah ini memiliki ingatan yang amat luar biasa, seperti kertas
putih bersih saja, sekali ditulis tidak akan luntur lagi.
Mudah saja bocah ini menerima pelajaran kouw-koat (teori silat) dan sekali mendengar terus mengerti dan
ingat. Sebentar saja ia sudah dapat menghafal semua nama dan kedudukan bhesi (kuda-kuda). Juga ketika
melatih kuda-kuda, sebentar saja ia sudah dapat menguasainya sungguh pun kuda-kudanya itu tentu saja
hanya merupakan kulit yang belum ada isinya. Ketika Sin Lian disuruh mengujinya, sekali serampang dengan
kaki, kuda-kuda yang dilakukan Han Han itu rontok dan ia pun terguling! Maka Lauw-pangcu makin yakin
bahwa anak ini memang belum pernah belajar silat.
Mulai hari itu Han Han disuruh berlatih memasang kuda-kuda dengan tekun dan Sin Lian yang menjadi sucinya
selalu menemaninya dan mengawasinya dengan rajin pula. Dalam keadaan apa pun juga, Han Han
diharuskan memasang kuda-kuda dan dengan demikian, ia mulai memaksa otot-otot kakinya, dan melatih otototot
kakinya itu agar menjadi seperti kaki ahli silat karena sepasang kaki merupakan pilar terpenting bagi
seorang ahli silat. Makin kuat kuda-kudanya, makin sempurnalah ilmu silatnya, demikian pendapat para ahli
silat.
Han Han merupakan seorang anak yang rajin dan tekun. Akan tetapi kerajinannya ini hanya ditujukan untuk
membaca kitab karena memang sejak kecil ia sudah ‘berkecimpung’ dalam lautan kitab-kitab dan huruf-huruf
sastra. Kalau disuruh menghafal, sekali baca ia dapat mengingat seribu huruf di luar kepala. Kini disuruh
dunia-kangouw.blogspot.com
melatih bhesi, ia merasa tersiksa sekali. Menimba air pun harus dengan sepasang kaki memasang bhesi, di
waktu berdiri, di waktu jongkok, bahkan di waktu ia berdiri memasak air dan membantu pekerjaan Sin Lian
mengurus rumah, ia diharuskan oleh gurunya untuk memasang kuda-kuda. Dan semua ini selalu diawasi dan
dikontrol secara keras oleh Sin Lian!
“Sute, memang membosankan belajar bhesi seperti ini. Akan tetapi karena bhesi amat penting, Sute harus
tekun. Aku sendiri semenjak pandai berjalan sudah disuruh belajar bhesi oleh Ayah!”
Han Han menarik napas panjang. Sudah hampir sebulan ia berlatih bhesi seperti ini. Bayangkan saja. Dalam
sebulan itu ia selalu memasang bhesi! Hanya di waktu tidur nyenyak saja kakinya tidak dikakukan karena
dalam tidur ia terlupa. Kedua kakinya terasa kaku sekali, bahkan kalau dilonjorkan menimbulkan rasa sakitsakit.
“Suci, apakah belajar silat begini tidak menjemukan? Jangan-jangan kalau sudah lulus, sekali berdiri
memasang bhesi kedua kakiku lalu berakar di tanah dan tidak dapat dicabut lagi. Berapa lama aku harus
melatih bhesi seperti ini?”
“Tergantung orangnya, Sute. Akan tetapi menurut kata Ayah, engkau memiliki daya tahan dan bakat yang luar
biasa sehingga dalam beberapa hari lagi tentu Ayah akan mengajar lebih lanjut.”
“Mengajar apa?”
“Ilmu silat tentunya. Ilmu pukulan.”
“Wah, aku tidak suka.”
“Mengapa?”
“Ilmu saja kok ilmu memukul orang! Untuk memukul, menyiksa dan membunuh orang saja digunakan ilmu
yang harus dipelajari. Alangkah kejinya!”
“Sute, kau ini bocah aneh sekali. Ilmu silat bukan semata-mata memukul orang. Memukul hanya merupakan
sebuah di antara gerakan silat, di samping gerakan mengelak, menangkis, menendang, menyikut dan lain-lain.
Menurut penjelasan Ayah, ilmu silat adalah ilmu tata gerak menjaga dari serangan lawan, juga ilmu kesehatan
karena dengan latihan ilmu silat, jalan darah kita beredar dengan lancar dan betul, mendatangkan kesehatan.
Selain itu, juga merupakan seni tari yang indah, dan terakhir merupakan latihan batin, meningkatkan harga diri
dan memupuk sifat rendah hati.”
Han Han mendengarkan dengan melongo. Mereka duduk mengaso setelah berlatih kuda-kuda itu di dalam
taman liar yang dipelihara oleh Sin Lian, duduk di atas rumput yang tebal. Tak disangkanya bahwa puteri ketua
pengemis ini dapat bicara seperti itu! Disangkanya bahwa Sin Lian hanya pandai bersilat dan pandai memaki,
galak, ganas, akan tetapi juga ramah sekali.
“Keteranganmu amat menarik,” katanya tersenyum, “dan engkau pandai membela kebaikan ilmu silat. Tentang
yang pertama, aku percaya karena engkau pandai menjaga serangan lawan bahkan pandai menyerang. Juga
bahwa ilmu silat adalah ilmu menyehatkan tubuh, boleh dipercaya melihat betapa engkau sehat dan kuat serta
lincah sekali. Akan tetapi bahwa ilmu silat adalah ilmu yang mengandung seni tari indah, masih kusangsikan.”
“Masih sangsi? Kau lihat dan katakan apakah ini tidak indah,” kata Sin Lian yang sudah melompat bangun dan
dara cilik ini mulai bersilat tangan kosong. Gerakannya cepat, namun terutama sekali amat indah. Gerakan
tangan kaki teratur rapi dan benar-benar membuat Han Han menahan napas. Ia melihat betapa gerakangerakan
itu, biar pun agak terlalu cepat, namun tiada ubahnya seperti seorang dewi yang menari dengan
indahnya, sama sekali tidak kelihatan sebagai ilmu untuk berkelahi. Betapa lemasnya kedua lengan dan tubuh
itu!
“Bagus! Memang indah sekali, Suci!” katanya memuji dengan sejujurnya.
Sin Lian berhenti bersilat, lalu duduk pula di dekat Han Han.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Harus kuakui bahwa ilmu silat tadi seperti orang menari saja. Kini aku percaya bahwa dalam ilmu silat
terkandung seni tari yang indah, sungguh pun aku masih sangsi apakah aku dapat belajar bersilat seindah
yang kau mainkan itu. Tentang meningkatkan harga diri dan memupuk sifat rendah hati, kurasa hal ini bukan
karena ilmu silat, melainkan tergantung dari pada sifat orangnya.”
“Ah, tidak bisa! Seorang guru yang baik seperti Ayah, di samping mengajarkan ilmu silat, juga menekankan
aturan-aturan keras untuk membuat muridnya memiliki harga diri, menjadi pembela kebenaran dan keadilan,
serta tidak sombong.”
“Kalau begitu aku suka belajar ilmu silat. Biar kuminta suhu mengajarku gerakan kaki tangan.”
Sin Lian menggeleng-geleng kepalanya yang bagus bentuknya. “Tidak begitu mudah, Sute. Kuda-kudamu
belum sempurna benar. Lebih baik kita berlatih lagi agar kuda-kudamu cepat sempurna. Setelah kuda-kudamu
kuat benar, baru kau akan diberi pelajaran gerakan kaki tangan.”
“Berapa lama lagi kiranya? Sebulan, dua bulan, tiga bulan?”
“Tergantung dari kemajuanmu, Sute. Mungkin setahun baru diberi pelajaran pukulan.”
Jawaban ini membuat semangat Han Han menjadi lesu kembali. Disuruh belajar bhesi sampai setahun? Wah,
berat sekali! Membosankan. Memang pada dasarnya ia kurang dapat melihat manfaatnya ilmu silat dan
tadinya sama sekali tidak suka. Kini setelah mulai tertarik, ia terbentur pada kesukaran belajar kuda-kuda yang
membosankan itu sampai setahun!
Sin Lian baru berusia sembilan tahun lebih, akan tetapi ternyata dia seorang bocah yang cerdik. Melihat wajah
sute-nya menjadi muram, ia cepat berkata. “Sute, jangan memandang rendah kuda-kuda. Karena
sesungguhnya pokok kekuatan ilmu silat terletak pada kekokohan bhesi inilah. Bagaikan rumah, demikian kata
Ayah, bhesi adalah tiang-tiangnya, pukulan tendangan dan gerakan lain hanya bagian atasnya atau cabangcabangnya
berupa daun-daun jendela dan penghias-penghias lain. Apa artinya rumah itu tampak indah dan
kuat kalau hanya tampaknya saja dan tiang-tiangnya tidak kuat? Tertiup angin keras sedikit saja akan roboh!
Demikian pula orang pandai silat. Kalau hanya kelihatannya saja bagus dan kuat, namun tidak memiliki
sepasang kaki yang dapat berkuda-kuda kuat, sekali bertemu lawan berat akan mudah dirobohkan. Memang
terlalu banyak orang yang hanya ingin pandai memukul, menendang, sehingga kelihatannya pandai. Akan
tetapi kalau demikian halnya, engkau hanya akan menguasai seni tarinya saja tidak akan dapat menguasai inti
sari ilmu silat.”
Kembali Han Han tertegun. Bocah perempuan ini pandai sekali berdebat dan jalan pikirannya seperti orang
dewasa saja. Agaknya memang Lauw-pangcu sudah menggemblengnya sejak kecil, bukan hanya digembleng
ilmu silat, melainkan juga nasehat-nasehat dan wejangan-wejangan.
“Baiklah, Suci, aku akan tekun berlatih bhesi,” kata Han Han sambil menghela napas. Mulailah ia berlatih lagi,
mengulangi berbagai kuda-kuda yang sukar-sukar, diawasi dan diberi petunjuk oleh suci-nya yang lebih muda
darinya itu. Sampai hari menjadi gelap barulah keduanya meninggalkan taman.
Tiga bulan kemudian Han Han masih belum dilatih gerak pukulan, akan tetapi di samping latihan bhesi, ia
mulai dilatih mengatur napas dan bersemedhi oleh gurunya. Pelajaran ini pun membosankan baginya, namun
setidaknya ia cukup mengerti akan manfaat siulian (semedhi) dan mengatur pernapasan, karena dalam kitabkitab
kuno hal ini pun selalu disebut-sebut sebagai kewajiban setiap orang yang hendak menguasai diri pribadi
dan menguasai nafsu-nafsunya. Karena itu, latihan siulian dan mengatur napas ini lebih mudah ia pelajari.
Hanya bedanya, kalau siulian untuk menguasai diri pribadi dan mengendalikan nafsu dilakukan dengan duduk
diam dan belajar mengendalikan pikiran dan menenteramkan hati serta menutup semua perasaan, adalah
siulian yang diajarkan oleh Lauw-pangcu ini ditujukan untuk melancarkan jalan darah, untuk menguasai
pernapasan dan terutama sekali untuk menggunakan hawa dalam tubuh sebagai kekuatan!
Lauw-pangcu kembali tertegun dan terheran-heran ketika pada hari-hari pertama ia mengajar murid barunya ini
bersemedhi. Dalam waktu singkat saja Han Han sudah dapat mematikan semua rasa dan berada dalam
keadaan hening yang hanya akan dapat dicapai oleh orang yang sudah berbulan-bulan belajar semedhi! Ia
dunia-kangouw.blogspot.com
hanya mengira bahwa Han Han memang memiliki bakat luar biasa dan kemauan yang amat keras seperti baja,
tidak tahu bahwa hal ini timbul dari keadaan yang ‘tidak wajar’ dalam diri Han Han akibat terbantingnya
kepalanya pada dinding dahulu.
Lebih-lebih lagi keheranannya ketika ia melatih Han Han untuk mengumpulkan hawa ke pusar dan bertanya
apakah ada terasa hawa di situ, anak itu mengangguk! Ia lalu menyuruh muridnya menggunakan kemauan
untuk mendorong hawa panas itu naik ke dada dan kembali Han Han mengangguk, sebagai tanda bahwa ia
telah melakukan perintah suhu-nya. Lauw-pangcu tidak percaya, lalu meraba dada muridnya. Ia terbelalak.
Dada itu mengeluarkan getaran yang amat kuat sehingga tubuh bocah itu menggigil, mukanya merah seperti
terbakar. Cepat-cepat ia menurunkan lagi hawa panas itu turun ke pusar sehingga keadaan anak itu normal
kembali.
Setelah Han Han dan gurunya duduk mengaso tidak berlatih, gurunya berkata. “Dalam latihan siulian, kau
cepat maju, Han Han. Hati-hatilah, jangan kau sembrono dengan hawa panas di pusar itu. Itu merupakan
kekuatan hebat dan kalau kau sudah dapat mengendalikannya, hawa itu dapat kau dorong ke bagian tubuh
yang mana pun juga, merupakan kekuatan sinkang yang luar biasa. Akan tetapi kalau kau sembrono dan keliru
menggunakannya, dapat merusak bagian dalam tubuhmu sendiri. Sebaiknya secara perlahan kau latih dan
kuasai hawa itu, mendorongnya perlahan-lahan dan maju sedikit demi sedikit, sampai dapat kau perintah dia
maju ke pundak, kemudian turun ke lengan dan sebagainya. Hawa itu dapat diperkuat dengan latihan semedhi
dan pernapasan yang benar seperti yang kuajarkan kepadamu. Kau sudah hafal akan teorinya, tinggal
melaksanakan dalam latihan-latihan yang tekun.”
Demikianlah, hanya dengan setengah hati Han Han melanjutkan latihannya, yakni memperkuat kuda-kuda dan
latihan semedhi. Sebetulnya ia sudah tidak kerasan sama sekali tinggal di sarang Pek-lian Kai-pang ini. Ia
merasa tidak bebas lagi, tidak seperti ketika ia berkeliaran tanpa tujuan. Sekarang ia terikat oleh kewajibankewajiban
berlatih dan membantu pekerjaan rumah tangga yang dilakukan Sin Lian. Ia tidak lagi dapat berlaku
sekehendak hatinya, mau tidur tinggal tidur, mau jalan tidak ada yang melarang, bisa tertawa sesukanya atau
menangis semaunya kalau ia kehendaki.
Di situ ia terpaksa berlaku tidak wajar dan palsu. Ia tidak suka berlatih silat, namun terpaksa ia lakukan. Kalau
hatinya sedang mengkal, ia seharusnya cemberut, menurutkan hatinya, akan tetapi di depan gurunya, Sin Lian
dan para anggota kai-pang, ia memaksa diri tersenyum! Benar-benar hidup tersiksa baginya. Lebih-lebih kalau
ia mengingat akan sikap para suheng-suheng (kakak seperguruan) atau susiok-susiok (paman seperguruan)
terhadap dirinya, membuat ia makin tidak kerasan lagi.
Mereka itu anggota-anggota kai-pang yang taat, memandang rendah dan hina kepadanya karena ia bukan
termasuk golongan pengemis! Kalau tidak mau menjadi pengemis, mengapa belajar ilmu silat di situ dan
memakai pakaian rombeng, demikian mereka sering kali menegurnya.
Han Han sering kali dihina, dipukul dan diejek. Akan tetapi dasar dia memiliki watak keras dan berani, sedikit
pun tidak mempunyai watak pengecut, ia tidak pernah mengeluh di depan gurunya. Bahkan di depan Sin Lian
ia tidak pernah menceritakan perlakuan mereka itu terhadap dirinya. Sikap ini menolongnya karena para
anggota kai-pang yang gagah itu merasa kagum menyaksikan sikap Han Han dan gangguan-gangguan
mereka makin berkurang.
Sudah lima bulan Han Han berada di sarang Pek-lian Kai-pang itu. Pada suatu pagi, datanglah serombongan
pengemis ke tempat itu. Mereka ini terdiri dari belasan orang pengemis, tampak kuat-kuat seperti para anggota
Pek-lian Kai-pang. Hanya bedanya, kalau pakaian para anggota Pek-lian Kai-pang, biar pun bertotol-totol
berkembang atau tambal-tambalan, dasarnya selalu warna putih, adalah rombongan pengemis yang datang ini
pakaiannya serba hitam! Wajah mereka juga bengis-bengis, dan mereka dipimpin seorang pengemis tua
bongkok berpakaian hitam yang matanya hanya satu, yaitu yang kanan karena mata kirinya buta.
Han Han yang sedang berlatih bersama Sin Lian segera berlari-lari menghampiri bersama gadis cilik itu yang
menjadi tegang dan berbisik, “Ah, mereka adalah orang Hek-i Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Hitam).
Tentu mencari keributan!”
Han Han menjadi berdebar tegang hatinya. Benar-benarkah akan terjadi bentrokan antara para pengemis?
Alangkah aneh dan lucunya. Sama-sama pengemis, masih bertengkar! Ia dan Sin Lian menonton dari pinggir
dunia-kangouw.blogspot.com
karena saat itu, Lauw-pangcu sendiri telah menyambut datangnya rombongan pengemis baju hitam ini
bersama anak buahnya yang sudah berbaris rapi. Rata-rata para anggota Pek-lian Kai-pang bersikap kereng.
Lauw-pangcu telah mengangkat kedua tangan ke depan dada sambil berkata, “Biar pun belum pernah jumpa,
namun tidak akan keliru dugaan saya kalau yang datang berkunjung ini adalah Song-pangcu (Ketua Pengemis
Song) dari lembah utara!”
Kakek bongkok itu mengeluarkan suara mendengus seolah-olah sikap sopan dan ramah ini malah tidak
menyenangkan hatinya. “Benar, Lauw-pangcu. Aku orang she Song ketua Hek-i Kai-pang dari seberang
sungai. Tak perlu kiranya kita berpanjang debat, Lauw-pangcu, karena kita sama tahu bahwa di antara anak
buah kita sudah sering kali timbul bentrok, dan...”
“Bentrokan yang sengaja dilakukan oleh anggota-anggotamu, Song-pangcu!” bantah Lauw-pangcu dengan
suara kereng. “Sudah jelas daerah kita dibatasi sungai, namun para anggotamu sengaja menyeberang sungai
dan mendesak daerah kami di selatan!”
“Tidak perlu dibicarakan lagi urusan itu!” Song-pangcu memotong marah. “Kami tidak perlu lagi banyak cakap
dengan segala pemberontak...”
“Song-pangcu! Mengapa kau menuduh yang bukan-bukan?”
“Ha-ha-ha! Menuduh, katamu? Siapa tidak tahu bahwa Pek-lian Kai-pang adalah cabang dan pecahan dari
Pek-lian-kauw yang memberontak dan jahat? Siapa tidak tahu akan kontak antara kalian dengan pemberontak
di barat?”
Lauw-pangcu menjadi pucat mukanya lalu berubah merah sekali. “Song-pangcu, memang tidak perlu banyak
cakap. Antara kita terdapat jurang pemisah dan bibit permusuhan. Sekarang, kalian datang mau apa?”
“Ha-ha, mau apa lagi? Membereskan urusan antara kita dengan senjata!” kata It-gan Hek-houw sambil
terkekeh dan menggerak-gerakkan tongkatnya yang juga berwarna hitam seperti pakaiannya.
Lauw-pangcu memberi isyarat dengan tangan dan melompatlah lima belas orang anggota Pek-lian Kai-pang
tingkat tinggi. Mereka inilah yang oleh Sin Lian dan Han Han disebut susiok (paman guru) dan mereka ini yang
mewakili Lauw-pangcu melatih ilmu silat kepada para murid. Hanya Sin Lian dan Han Han berdua saja yang
menerima pendidikan langsung dari ketua Pek-lian Kai-pang ini. Lima belas orang itu bergerak secara teratur,
berputaran dan terbentuklah sebuah barisan lingkaran tiga lapis. Yang luar terdiri dari delapan orang, sebelah
dalamnya lima orang dan yang paling dalam dua orang. Bentuknya seperti teratai.
“Song-pangcu, bicara tentang mengadu senjata berarti mengadu kepandaian. Seorang pangcu yang
mempunyai banyak anak buah tidak patut kalau turun tangan sendiri sebelum mengajukan anak buahnya.
Cobalah kau pecahkan barisan kami yang bernama Pek-lian-tin (Barisan Teratai Putih) ini!” kata Lauw-pangcu.
Barisan itu hanya bentuknya saja seperti teratai, akan tetapi sebenarnya merupakan gabungan dari pada patkwa-
tin (barisan segi delapan) yang diwakili oleh lingkaran pertama di luar, ngo-heng-tin (barisan lima unsur)
yang diwakili oleh lingkaran ke dua dan im-yang-tin (barisan im-yang) diwakili oleh dua orang, yaitu
sesungguhnya bukan barisan hanya kerja sama antara dua orang yang menggunakan dua jenis tenaga yang
berlawanan dalam gerakan mereka. Dapat diduga betapa hebat dan kuatnya barisan Pek-lian-tin yang terdiri
dari gabungan tiga barisan kuat.
Akan tetapi It-gan Hek-houw yang sudah mendengar akan Pek-lian-tin ini memandang rendah dan tertawa
mengejek. Ia sudah siap dengan anak buahnya yang dipilih atas tokoh-tokoh terpandai dari Hek-i Kai-pang. Ia
pun memberi tanda dengan tongkatnya diangkat ke atas maka majulah lima belas orang pengikutnya yang
rata-rata bertubuh kuat, tidak seperti ketua mereka yang bongkok. Seperti Pek-lian-tin itu, mereka pun masingmasing
memegang sebatang tongkat hitam, yang hanya warnanya saja berbeda dengan tongkat lawan yang
putih.
Lima belas orang pengemis pakaian hitam ini lalu bergerak pula membentuk lingkaran besar, mengelilingi Peklian-
tin. Mereka ini harus terus berlari-larian mengelilingi barisan pengemis Pek-lian Kai-pang yang tetap pada
dunia-kangouw.blogspot.com
kedudukan mereka, tidak bergerak, hanya pandang mata mereka saja tetap memperhatikan lawan yang
berada di depan mereka masing-masing. Dengan lingkaran terdiri dari lima belas orang itu, maka barisan luar
pat-kwa-tin yang terdiri dari delapan orang itu menghadapi jumlah lawan yang hampir dua kali lebih banyak.
Namun mereka tetap tenang, siap dengan tongkat di tangan, demikian pula ngo-heng-tin yang berada di dalam,
dan dua orang yang membentuk im-yang-tin.
Han Han menonton dengan jantung berdebar. Baru sekali ini ia akan menyaksikan pertempuran hebat antara
orang-orang yang pandai ilmu silat dan mulailah rasa tidak senang menggerogoti hatinya. Jadi mereka itu matimatian
berlatih ilmu silat hanya untuk ini? Untuk berkelahi, saling serang dan mungkin saling bunuh? Apakah
kelak kalau dia sudah pandai ilmu silat juga seperti mereka ini?
Ia pun memikirkan tuduhan kakek mata satu itu yang dilontarkan terhadap Pek-lian Kai-pang. Benarkah Peklian
Kai-pang itu sebuah perkumpulan pemberontak? Benarkah Pek-lian Kai-pang adalah cabang dari Pek-liankauw?
Dia sudah pernah membaca tentang Pek-lian-kauw ini, yang merupakan perkumpulan Agama Teratai
Putih, akan tetapi sesungguhnya adalah perkumpulan kaum pemberontak yang gigih terhadap Kerajaan Bengtiauw
yang telah jatuh di tangan bangsa Mancu.
Menurut patut, pemberontak terhadap Kerajaan Beng tentunya bekerja sama dengan bangsa Mancu! Akan
tetapi mengapa sekarang masih disebut pemberontak dan malah tadi dituduh mengadakan kontak dengan
pemberontak di barat? Han Han tidak mengerti dan menjadi bingung, akan tetapi hal itu ia lupakan karena
perhatiannya lebih tertarik kepada pertempuran hebat yang akan berlangsung.
“Anjing-anjing hitam itu tidak mungkin dapat menangkan Pek-lian-tin!” kata Sin Lian dengan suara berbisik.
“Akan tetapi jumlah mereka lebih banyak. Mana bisa lingkaran luar yang terdiri dari delapan orang dapat
bertahan?” bantah Han Han yang mau tidak mau tentu saja berpihak kepada Pek-lian Kai-pang.
“Kau lihat saja, nanti tahu kelihaian Pek-lian-tin, Sute.”
Han Han tidak keburu bertanya lagi karena kini pertandingan sudah dimulai. Perhatiannya tertarik dan ia
menonton dengan hati tegang. Baru pertama kali ini selama hidupnya Han Han menonton pertempuran seperti
ini dan karena ia tahu bahwa dalam pertempuran ini akan banyak orang terluka dan tewas, maka hatinya
tegang sekali.
Pertempuran itu dimulai dengan bentakan-bentakan dan sorakan-sorakan nyaring dari kedua pihak. Mula-mula
lima belas orang pengemis baju hitam itu setelah tadi berlari-larian memutari Pek-lian-tin, bersorak dan
menyerbu secara tiba-tiba. Lima belas orang itu bergerak dengan cepat dan dalam detik yang sama karena
memang mereka itu bergerak menurut aturan barisan yang telah mereka susun dan latih sebelumnya. Tongkat
mereka maju menerjang dan setiap dua orang pengemis baju hitam telah memilih seorang pengemis Teratai
Putih sebagai lawan sehingga penyerangan mereka tidak kacau, mempunyai sasaran yang tertentu.
Kalau diukur tingkat kepandaian perorangan antara anggota kedua ‘tin’ ini, agaknya berimbang dan tidak
banyak selisihnya. Maka jika seorang di antara mereka dikeroyok dua orang lawan, tentu akan kalah. Kalau
lingkaran luar Pek-lian-tin itu menerima serangan lawan begitu saja, tentu mereka akan hancur mengingat
bahwa jumlah mereka hanya delapan orang menghadapi serangan lima belas orang. Akan tetapi, setelah
bertanding, barisan ini memperlihatkan kehebatannya.
Tiba-tiba mereka itulah yang sekarang bergerak memutar sambil menangkis sebuah serangan. Dan karena
mereka bergerak memutar ini maka setiap orang pengemis Pek-lian Kai-pang hanya cukup menangkis
serangan seorang lawan saja, lalu bergerak ke kiri menerima pula serangan tongkat hitam yang lain. Ada pun
orang ke dua pihak lawan yang menyerangnya otomatis telah ‘diterima’ oleh teman yang datang menggeser
dari kanan. Memang gerakan ini membuat mereka menerima serangan secara bertubi-tubi, namun tetap saja
mereka itu masing-masing hanya menghadapi seorang lawan saja.
Kemudian secara tiba-tiba sekali, barisan sebelah dalam yang terdiri dari lima orang, cepat dan tidak terdugaduga
oleh barisan lawan yang sedang gembira mendesak lingkaran luar yang berputaran itu, menerjang dari
celah-celah antara dua orang kawan yang membentuk Pak-kwa-tin. Mereka ini menerjang dengan tongkat
dunia-kangouw.blogspot.com
mereka menuju ke sebuah sasaran saja, yaitu ke arah seorang lawan yang mereka lihat dari dalam tadi berada
dalam posisi lemah.
Terdengar teriakan-teriakan kesakitan dan robohlah tiga orang pengemis baju hitam. Lima orang anggota Ngoheng-
tin itu telah berhasil merobohkan tiga orang lawan dan karena serangan mereka tadi amat tiba-tiba, maka
pihak lawan hanya ada dua orang saja yang mampu menangkis, sedangkan yang tiga orang kena dihantam
kepalanya dan roboh berkelojotan dengan kepala retak!
“Nah, kau lihat kelihaian Pek-lian-tin!” seru Sin Lian dengan suara nyaring, sebetulnya ucapan ini ditujukan
kepada Han Han akan tetapi terdengar oleh semua orang karena keadaan di situ sunyi dan tegang, kecuali
suara beradunya tongkat dan terengahnya napas mereka yang sedang bertempur.
Han Han merasa kagum, akan tetapi juga ketidak-senangannya terhadap ilmu silat bertambah. Ia terbelalak
memandang ke arah tiga orang pengemis baju hitam yang berkelojotan kaki tangannya, mulutnya
mengeluarkan rintihan perlahan, darah mengalir dari mata, telinga, hidung dan mulut. Kemudian mereka
berhenti berkelojotan dan tidak bergerak lagi. Han Han bergidik. Untuk inikah ilmu silat dilatih? Untuk inikah
perkumpulan kai-pang dibentuk?
Ia menyapu wajah mereka yang sedang bertempur seru. Wajah penuh keringat, berkilat-kilat, akan tetapi
masih kalah oleh kilatan mata mereka yang penuh nafsu membunuh, mulut yang menyeringai, seolah-olah
mereka amat gembira menghadapi perjuangan antara mati dan hidup ini! Seolah-olah mereka itu sekumpulan
kanak-kanak tengah bermain-main, tidak ada ketakutan terbayang di wajah mereka, yang ada hanya nafsu
untuk menang, untuk menghancurkan lawan, untuk membunuh!
Setelah kehilangan tiga orang kawan, barisan pengemis baju hitam menjadi hati-hati sekali. Mereka maklum
bahwa kalau dilanjutkan, selain penyerangan mereka akan gagal, juga mereka akan sukar melindungi diri dari
serangan tiba-tiba yang dilakukan oleh lima orang di sebelah dalam barisan lawan itu.
Terdengar It-gan Hek-houw ketua mereka bersuit nyaring dan kini barisan pengemis baju hitam mengubah
gerakan. Mereka berjalan mengitari barisan lawan, mengimbangi gerakan Pat-kwa-tin, kemudian mereka
menyerang lagi, bukan menyerang sambil berhenti di tempat seperti tadi, dan kini mereka menyerang tidak
berbareng, melainkan berganti-ganti sehingga yang tidak menyerang dapat menjaga kawan yang menyerang
dari bahaya.
Keadaan makin seru dan kacau karena pihak pengemis Pek-lian-tin dibikin bingung oleh penyerangan seperti
itu. Mereka melawan sekuat tenaga, kadang-kadang dibantu oleh Ngo-heng-tin dari dalam yang kini bertugas
membela kawan-kawan yang di luar. Perang sampyuh terjadi dan berjatuhanlah korban kedua pihak. Akan
tetapi sekali ini, pihak Pek-lian-tin roboh empat orang sedangkan di pihak Hek-i Kai-pang roboh tiga orang lagi.
Pat-kwa-tin yang kehilangan empat orang itu menjadi ompong dan kehilangan daya keampuhannya. Hal ini
tidak disia-siakan oleh pihak pengemis baju hitam yang langsung menyerang dan menghimpit. Akan tetapi kini
bergeraklah barisan Ngo-heng-tin, menutup bagian-bagian yang lowong dan balas menyerang. Terjadi perang
tanding yang amat seru dan mati-matian antara sembilan orang pengemis Pek-lian-tin melawan delapan orang
pengemis Hek-i Kai-pang.
Akan tetapi terdengar bentakan-bentakan nyaring dan roboh pula empat orang pengemis baju hitam. Kiranya
sekarang im-yang-tin yang terdiri dari dua orang itu telah bergerak. Gerakan mereka sungguh mengagetkan.
Kiranya mereka ini merupakan ‘inti’ dari Pek-lian-tin, dan tingkat kepandaian mereka lebih tinggi dari pada tiga
belas orang teman yang lain. Selain tingkat kepandaian mereka lebih tinggi, juga gerakan mereka sukar diduga
lawan karena mereka itu menyusup di antara dua barisan depan yang sengaja menyembunyikan mereka dan
hanya bergerak memberi jalan setelah mendapat isyarat dari dalam. Maka sekali menerjang ke luar dalam
keadaan tak terduga-duga, tongkat mereka berkelebat dan masing-masing dapat merobohkan dua orang
lawan!
Bersoraklah pihak Pek-lian Kai-pang melihat hasil ini. Kini pihak pengemis baju hitam sudah tewas atau luka
berat sepuluh orang, sisanya hanya lima orang lagi saja! Sedangkan pihak Pek-lian Kai-pang hanya roboh
empat orang, jadi masih sebelas orang. Kini keadaan terbalik, lima orang pengemis baju hitam melawan
sebelas orang pengemis Pek-lian!
dunia-kangouw.blogspot.com
Namun semangat bertempur pengemis-pengemis baju hitam itu harus dipuji. Agaknya mereka ini merasa sakit
hati sekali menyaksikan robohnya teman-teman mereka dan kini mereka bertanding seperti orang-orang
kemasukan setan, dengan nekat dan tidak peduli akan diri sendiri. Karena amukan yang hebat ini, keadaan
makin kacau. Pihak Pek-lian Kai-pang baru dapat merobohkan sisa lima orang lawan ini setelah empat orang
pihak sendiri roboh pula!
Lima belas orang pengemis baju hitam dan delapan orang anggota Pek-lian Kai-pang menggeletak mandi
darah, sebagian besar mati dan sebagian lagi luka-luka berat! Tujuh orang anggota Pek-lian Kai-pang masih
berdiri dalam bentuk barisan biar pun lawannya sudah roboh semua. Wajah mereka membayangkan
kebanggaan karena dalam pertempuran ini merekalah yang berada di pihak menang!
Tapi pada saat itu terdengar bentakan nyaring dan tubuh It-gan Hek-houw yang bongkok itu telah bergerak
maju, tongkat hitamnya diputar-putar cepat sekali. Ia maju menerjang tujuh orang sisa barisan Pek-lian-tin itu
yang tentu saja sudah cepat bergerak menyambut terjangan ketua Hek-i Kai-pang. Namun gerakan Si
Bongkok bermata satu itu memang hebat. Biar pun kecil, tongkatnya yang hitam itu mengandung tenaga luar
biasa sehingga terdengarlah suara pletak-pletok ketika tongkat-tongkat ketujuh orang lawannya itu patah-patah
setelah bertemu dengan tongkatnya dan dalam waktu singkat saja, tongkatnya telah merobohkan tujuh orang
Pek-lian-tin itu!
Lauw-pangcu memekik marah melihat ini, dan tiba-tiba tubuh kakek ini mencelat ke depan, tongkatnya
menyambar ganas.
“Desssss...!” dua tongkat itu bertemu dengan hebat dan akibatnya, keduanya terhuyung mundur. Akan tetapi,
kalau Lauw-pangcu hanya terhuyung dua langkah ke belakang, adalah Si Bongkok itu terhuyung enam tujuh
langkah dan hampir terjengkang roboh.
“It-gan Hek-houw! Engkau tua bangka tak tahu malu! Jangan hanya memperlihatkan kegarangan terhadap
anak buahku, hayo lawanlah aku. Kita tua sama tua, mari kita lihat siapakah di antara kita yang lebih unggul!”
bentak Lauw-pangcu yang menjadi marah sekali menyaksikan musuh ini merobohkan anak buahnya.
“Orang she Lauw, manusia sombong, pemberontak rendah!” It-gan Hek-houw balas memaki sambil lari maju
dan melakukan serangan dengan dahsyat. Lauw-pangcu yang memang sudah siap sedia menyambutnya dan
bertandinglah kedua orang ketua kai-pang ini dengan seru.
Ilmu tongkat Lauw-pangcu, yaitu Ilmu Tongkat Pek-lian-kun-hoat, memang lihai luar biasa. Ilmu ini
diciptakannya sendiri dari gabungan banyak ilmu silat tongkat yang dikenalnya, diambil intinya dan bagianbagian
yang paling lihai,
Memang sesungguhnyalah bahwa Lauw-pangcu ini, yang tadinya bernama Lauw Tai Kim, adalah seorang
tokoh dari Pek-lian-kauw yang telah dihancurkan oleh Kerajaan Beng-tiauw. Pek-lian-kauw sudah hancur dan
tokoh-tokohnya banyak yang tewas, akan tetapi Lauw Tai Kim berhasil menyelamatkan diri. Diam-diam ia lalu
mengumpulkan kawan-kawan lama dan menerima kawan-kawan baru, lalu membentuk perkumpulan
pengemis Pek-lian Kai-pang.
Memang benar bahwa Pek-lian-pai atau Pek-lian-kauw dahulu terkenal sebagai perkumpulan pemberontak
yang merasa tidak puas dengan Kerajaan Beng. Akan tetapi hal ini bukan berarti bahwa jiwa Lauw-pangcu
adalah jiwa pemberontak yang suka bersekutu dengan penjajah asing. Sama sekali tidak. Bahkan ketika
Kerajaan Beng musnah lalu muncul Kerajaan Ceng yang didirikan oleh bangsa Mancu yang menjajah Tionggoan,
Lauw-pangcu ini diam-diam menentang penjajah ini dan mengadakan hubungan dengan Bu Sam Kwi
yang membangun kerajaan kecil di barat dan menentang pemerintah Mancu. Bahkan perkumpulan Pek-lian
Kai-pang ini sekarang dijadikan mata-mata untuk Bu Sam Kwi, dan diam-diam selain mengawasi gerak-gerik
pemerintah Mancu, juga melakukan pengacauan-pengacauan, sabotase-sabotase terhadap pemerintah
penjajah. Inilah sebabnya mengapa Lauw-pangcu sering kali bentrok dengan serdadu-serdadu Mancu.
Akan tetapi pihak pemerintah Mancu juga tidak bodoh dan buta. Pemerintah ini, dengan menggunakan
kekuasaan, pengaruh dan sogokan harta benda, berhasil pula memikat hati golongan-golongan di Tiong-goan
sehingga suka bekerja sama dan membantu pemerintah mereka. Juga perkumpulan Hek-i Kai-pang telah
dunia-kangouw.blogspot.com
menjadi kaki tangan pemerintah baru. Tentu saja lama-kelamaan gerak-gerik Pek-lian Kai-pang ketahuan dan
karena ini pula maka Hek-i Kai-pang memusuhinya dan sampai hari ini terjadi bentrok hebat antara ketua sama
ketua!
It-gan Hek-houw juga bukan seorang lemah. Ilmu tongkatnya adalah gubahan dari ilmu toya Siauw-lim-pai,
maka memiliki gaya yang kokoh kuat dan sukar ditundukkan. Namun dalam hal ilmu kepandaian, ia masih
kalah banyak oleh Lauw-pangcu sehingga setelah lewat lima puluh jurus, Lauw-pangcu berhasil memukul
pundak kirinya.
“Krakkk...!” It-gan Hek-houw mencelat ke belakang, lalu terjatuh berlutut, akan tetapi cepat berdiri lagi. Lengan
kirinya tergantung lumpuh, tulang pundak kirinya remuk. Mukanya pucat dan matanya yang tinggal sebelah itu
mengeluarkan sinar penuh kemarahan dan kebencian. Tidak sedikit pun terdengar keluhan atau rintihan dari
mulutnya dan hal ini saja membuktikan bahwa ketua Hek-i Kai-pang memang gagah.
“Orang she Lauw, hari ini aku mengaku kalah. Akan tetapi kau tunggulah pembalasanku!” Setelah berkata
demikian It-gan Hek-houw lalu membalikkan tubuh dan pergi dari situ, diikuti sisa orang-orangnya yang
memondong teman-teman yang terluka.
Beberapa orang tokoh Pek-lian Kai-pang bergerak maju dan hendak mengejar, akan tetapi Lauw-pangcu
membentak dan melarang mereka.
“Pangcu, anjing macam dia kalau tidak dibunuh sekarang, besok tentu akan menimbulkan keributan saja,”
bantah seorang di antara mereka.
“Jangan gosok-gosok luka yang sudah parah. Kita harus bersiap-siap dan segera pergi dari sini. Tak lama lagi
tentu barisan Mancu datang menyerbu. Kalian sudah mendengar sendiri tadi ucapan-ucapan It-gan Hek-houw.
Rahasia kita telah diketahui dan lebih baik kita kembali ke barat, bergabung dan menyampaikan laporan
kepada Ong-ya (Raja). Sehari ini kita harus dapat membereskan segalanya dan berkemas, paling lambat
besok pagi kita harus sudah berangkat meninggalkan tempat ini.”
Wajah para pengemis itu berubah, sebagian besar merasa tidak suka untuk pergi dari daerah Tiong-goan yang
sudah menjadi tempat mereka mencari rejeki. Akan tetapi tidak seorang pun berani membantah perintah ketua
mereka dan diam-diam mereka itu hanya saling pandang, kemudian mulai mengurus mayat teman-teman
mereka yang roboh dalam pertandingan tadi serta merawat yang luka.
“Han Han, engkau di mana...?” teriakan nyaring dari Sin Lian ini menyadarkan Lauw-pangcu yang sedang
melamun sambil menonton anak buahnya menolong para korban. Ia cepat membalikkan tubuhnya, dan
menghampiri puterinya.
“Ada apakah, Lian-ji? Ke mana Han Han?”
Sin Lian mengerutkan alisnya yang kecil hitam. “Entahlah, Ayah. Tadi dia berada di sini bersamaku menonton
pertandingan. Akan tetapi tiba-tiba ia lenyap entah ke mana. Kupanggil-panggil tidak menyahut.”
Lauw-pangcu membantu puterinya memanggil-manggil dan mencari Han Han, akan tetapi tidak tampak
bayangan anak itu. Bahkan ia lalu memerintahkan beberapa orang anak buah Pek-lian Kai-pang untuk bantu
mencari. Namun sia-sia, Han Han telah lenyap tak meninggalkan bekas.
Ke manakah perginya anak itu? Tadinya Han Han menonton pertandingan, dan ia menjadi kagum sekali
menyaksikan ilmu tongkat gurunya yang amat hebat dan aneh. Akan tetapi di sudut hatinya ia makin tidak
senang. Ia benci melihat bunuh-membunuh itu, melihat sesama pengemis saling bunuh seperti itu. Andai kata
mereka itu merupakan jembel-jembel biasa yang tidak tahu ilmu silat, tidak mungkin mereka itu akan
bertengkar dan bercekcok lalu berkelahi saling bunuh seperti itu.
Apa lagi setelah ia mendengar ucapan gurunya, mengertilah ia bahwa memang betul perkumpulan pengemis
yang dipimpin gurunya itu adalah perkumpulan pemberontak yang bergabung dengan kekuasaan yang
dipimpin ‘ong-ya’ di barat. Ia menjadi makin tidak senang. Bukan ia tidak senang melihat perlawanan terhadap
pemerintah Mancu, hanya ia tidak ingin melibatkan diri ke dalam pertentangan politik yang ia tidak mengerti.
dunia-kangouw.blogspot.com
Semua ini membuat hatinya makin terasa hambar terhadap pelajaran ilmu silat, maka ketika melihat bahwa Sin
Lian sedang tertarik dan tidak memperhatikannya, diam-diam anak ini lalu pergi dari situ dan terus berlari cepat
ke luar dari dalam hutan. Ia takut kalau-kalau gurunya akan mengejar, maka ia berlari terus tak kunjung henti
sehingga ketika Lauw-pangcu dan anak buahnya mencari-cari di sekitar hutan, ia telah berada amat jauh di
luar hutan.
Han Han kembali ke kota Tiong-kwan. Sudah hampir setengah tahun ia belajar di bawah asuhan Lauw-pangcu.
Ketika ia memasuki pintu gerbang kota Tiong-kwan ia merasa betapa cepatnya sang waktu berlalu. Seolaholah
baru kemarin saja ia tiba di Tiong-kwan dan bertemu Lauw-pangcu di bekas rumah terbakar. Masih
terbayang jelas betapa ia bertemu dengan jembel cilik dan membagi-bagi roti. Oh ya, siapa pula nama jembel
cilik yang bercita-cita menjadi seorang perwira itu? Wan Sin Kiat! Berseri wajah Han Han ketika teringat akan
bocah yang telah menjadi sahabatnya itu. Ia harus pergi mencarinya. Akan senang juga berkawan dan
mengobrol dengan Sin Kiat. Pula, ia harus mencari pekerjaan, mencari hasil untuk mengisi perutnya. Maka
pergilah Han Han ke tempat yang dahulu, di dekat pasar, bekas gedung yang terbakar.
Dari jauh sudah terdengar suara ribut-ribut seperti suara anak-anak berkelahi. Han Han lari menghampiri dan
ketika ia tiba di tempat itu, ia melihat seorang anak laki-laki berpakaian mewah memukul dan menendang
roboh dua orang jembel cilik. Gerakan anak berpakaian mewah itu gesit sekali, dan pukulan serta
tendangannya juga antep. Buktinya dua orang anak jembel itu roboh dan mengaduh-aduh.
Ketika Han Han meneliti, kiranya seorang di antara dua anak jembel itu bukan lain adalah Wan Sin Kiat. Dan
ketika ia memperhatikan anak berpakaian mewah itu, kemudian melihat pula seekor kuda tinggi besar berdiri di
belakang anak itu, ia segera teringat dan merahlah mukanya. Bocah berpakaian mewah itu bukan lain adalah
pemuda sombong yang pernah menyiksanya dan menyeretnya dengan kuda lima bulan yang lalu itu! Pemuda
yang disebut Ouwyang-kongcu (Tuan Muda Ouwyang) dan yang ditakuti penduduk kampung! Melihat betapa
kini Ouwyang-kongcu itu memukuli dua orang anak jembel itu, Han Han segera melompat maju dan berdiri
menghadapinya sambil membentak marah.
“Kau bocah sombong dan jahat! Di mana-mana kau suka memukul orang!”
Melihat datangnya seorang bocah jembel lain, Sin Kiat yang sudah lupa lagi kepada Han Han, mengeluh dan
memegangi pantatnya. “Aduhhh... kau main curang, awas kau kalau aku sudah dapat berdiri lagi...!”
Ada pun bocah pengemis ke dua, yang usianya sudah jauh lebih tua, sedikitnya ada empat belas tahun,
agaknya tidak memiliki nyali sebesar Sin Kiat. Buktinya dia yang sudah dapat bangkit kembali itu hanya berdiri
mengaduh-aduh sambil memegangi pundak yang terpukul.
Bocah berpakaian mewah yang membawa kuda itu memang Ouwyang Seng adanya. Berbeda dengan Sin Kiat
yang sudah pangling dan tidak mengenal Han Han, Ouwyang Seng ternyata memiliki ingatan yang lebih kuat.
Apa lagi karena dia pernah digigit pundaknya oleh Han Han yang sampai sekarang pun masih ada bekas
lukanya. Ia berdiri bertolak pinggang, memandang dengan sikap mengejek, kemudian berkata.
“Hemmmmm, kau ini bocah edan yang dulu pernah kuhajar setengah mampus! Dahulu pun setengah tahun
yang lalu, kau bukan lawanku. Apa lagi sekarang setelah aku memperoleh kemajuan pesat dengan ilmu silatku.
Kau petentang-petenteng, apa kau berani melawan kongcu-mu? Ingat, sekali ini kalau aku turun tangan, kau
akan roboh dan tidak akan dapat bangun kembali.”
“Sombong! Mentang-mentang kau ini anak bangsawan dan kaya, pandai silat, apa kau kira aku takut padamu?
Apa artinya kebangsawananmu kalau itu tidak diterapkan dalam tata susila dan kesopanan? Apa artinya kaya
kalau kau tidak suka membantu orang-orang miskin? Apa artinya pandai silat kalau kau tidak mau membela
yang lemah? Semua itu malah akan menyeretmu ke dalam jurang kehinaan, bocah setan!”
Ucapan Han Han ini sungguh tidak patut keluar dari mulut seorang bocah berusia sepuluh tahun seperti dia,
akan tetapi Han Han pun hanya menyebut semua itu dari dalam kitab yang pernah dibacanya!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Wah-wah, yang sombong ini sebenarnya siapa? Engkau ini seorang bocah jembel yang tidak mengerti ilmu
silat, bisanya hanya ngawur dan asal nekat saja. Aku adalah seorang gagah, mana mungkin turun tangan
menghajar orang kalau tidak ada sebabnya?”
“Huh, macam engkau bicara tentang kegagahan. Kalau kau memukuli dua orang miskin dan tak berdosa ini,
apakah itu juga gagah?”
“Kau tidak tahu! Aku dengan baik-baik menanyakan mereka di mana tinggalnya jembel tua yang suka berada
di sini. Aku menanyakan di mana tinggalnya Lauw-pangcu. Akan tetapi mereka pura-pura tidak kenal. Aku
sudah bersedia untuk memberi hadiah kalau mereka mau menunjukkan tempat Lauw-pangcu, akan tetapi
mereka ini selain menyangkal malah memaki. Apakah itu tidak patut dihajar?”
Han Han tertarik, jantungnya berdebar. “Mau apa kau tanya-tanya tentang tempat tinggal Lauw-pangcu?”
“Eh, engkau tahu tempatnya?”
“Tentu saja! Aku muridnya!”
Ouwyang Seng terbelalak memandang. “Kau...? Muridnya...? Ha-ha-ha! Kebetulan sekali. Kau tunjukkan
padaku di mana dia!”
“Mau apa sih?”
Han Han menjadi geli hatinya. Bocah ini amat sombong dan kurang ajar. Memang sebaiknya diberi hajaran.
Akan tetapi dia belum belajar ilmu silat. Apakah segala macam kuda kuda yang pernah dilatihnya itu akan ada
gunanya untuk bertanding? Tak mungkin. Kalau ia hanya memasang kuda-kuda, betapa kuat pun kakinya,
kalau terus dipukuli dan ditendangi lawan, tentu akan celaka. Akan tetapi, kalau bertemu dengan Sin Lian dan
Lauw-pangcu, tentu bocah sombong ini akan dihajar sampai kapok. Juga gurunya tentu bukan orang baik,
biarlah dihajar sekalian oleh Lauw-pangcu yang sudah ia saksikan kelihaiannya.
“Siapa gurumu? Mana dia? Hayo suruh keluar, biar kutunjukkan kalian ke tempat guruku kalau memang kalian
sudah gatal-gatal tubuh kalian minta diberi hajaran!”
“Ha-ha-ha-ha! Aku sudah berada di sini, apakah kau buta tak dapat melihat? Ha-ha-ha!”
Han Han memandang dengan hati terkejut dan terheran-heran. Tadi ia melihat bahwa kuda besar di belakang
Ouwyang Seng itu kosong. Kenapa kini tiba-tiba saia ada orang duduk nongkrong di atas punggung kuda? Dari
mana datangnya? Ia memandang penuh perhatian dan ternyata yang bicara dan tertawa tadi, yang tahu-tahu
telah duduk di punggung kuda, adalah seorang kakek yang lucu sekali mukanya.
Kepalanya botak kelimis. Kulit kepala bagian atas itu sama sekali tidak ada rambutnya, kulitnya halus licin dan
terkena sinar matahari, kepala itu berkilauan seperti batu digosok. Di sekeliling kepala bagian bawah, tumbuh
sedikit rambut yang kasar dan besar-besar, berwarna putih dan terurai di sekitar pundaknya. Kumisnya
panjang, juga putih melintang di bawah hidung, bergerak-gerak seperti dua ekor ular kecil.
Alisnya tebal sekali, dan matanya mengeluarkan sinar aneh seperti mata orang juling, padahal mata kakek ini
tidak juling. Pakaiannya terbuat dari sutera kuning yang halus mahal, sepatunya juga terbuat dari kulit
mengkilap. Sukar sekali menaksir usia orang tua ini. Dagunya halus tak berjenggot sama sekali, seperti orangorang
muda, sikapnya lincah seperti orang muda pula, tubuhnya kurus tinggi. Ia menggendong sebuah
buntalan besar dari kain tebal. Entah apa isinya.
“Suhu, bocah jembel ini adalah murid Lauw-pangcu! Sungguh kebetulan sekali. Kita paksa dia mengantarkan
kita kepada kakek jembel itu.”
Si Botak tertawa lagi. “Memang sebaiknya begitu, ha-ha-ha! Sungguh pun tidaklah sukar untuk mencari sendiri.
Nah, Kongcu, kau bawakan buntalan ini!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Memang aneh kalau seorang guru menyebut ‘kongcu’ atau tuan muda kepada muridnya. Memang demikianlah.
Guru Ouwyang Seng menyebut kongcu karena bocah ini bukan anak biasa, melainkan putera dari Pangeran
Ouwyang Cin Kok yang berpangkat tinggi dalam Kerajaan Mancu. Namun hanya dalam sebutan saja guru itu
menghormat, karena buktinya ia berani memerintah muridnya itu membawakan buntalannya yang besar.
Ouwyang Seng menerima buntalan besar yang dilemparkan gurunya kepadanya. Cara menerimanya cekatan
dan jelas membayangkan tenaga besar pada diri anak yang usianya paling banyak tiga belas atau empat belas
tahun ini.
Sambil tertawa Ouwyang Seng lalu mengambil sebuah cambuk dari sela kuda yang kini ditunggangi gurunya,
lalu menggerakkan cambuknya ke atas. “Tar-tar-tar!”
“Hei, bocah murid Lauw-pangcu! Siapa namamu?”
Ujung cambuk itu melecut-lecut dan meledak-ledak di atas kepala Han Han, namun Han Han sedikit pun tidak
merasa gentar, bahkan berkedip mata pun tidak. “Namaku Han Han, dan biar pun aku orang miskin, hal ini
belum menjadi alasan bagimu untuk bersikap sombong kepadaku!”
“Ha-ha-ha-ha! Kongcu, bocah ini hebat! Lihat matanya... aiiihhhhh, sebaiknya jangan lepaskan dia! Boleh
dijadikan pelayan.”
Kiranya kakek botak itu bermata tajam, dapat melihat keadaan Han Han yang aneh dan luar biasa. Dan
memang kakek botak ini bukan manusia sembarangan! Kakek inilah yang oleh dunia kang-ouw diberi nama
poyokan Si Setan Botak. Namanya Gak Liat, julukannya Kang-thouw-kwi (Setan Kepala Baja). Setiap orang di
dunia persilatan kalau mendengar nama ini menjadi bergidik dan mengkirik, bahkan jarang ada yang berani
mengeluarkan kata-kata keras menyebut nama ini yang lebih ditakuti dari pada setan sendiri!
Kang-thouw-kwi Gak Liat ini adalah seorang sakti yang memiliki tingkat kepandaian tinggi sukar diukur,
seorang datuk hitam, pentolan kaum sesat yang hanya ada beberapa orang saja pada masa itu. Dan dialah
seorang di antara datuk-datuk yang ditakuti. Karena pandainya pemerintah Mancu, datuk hitam ini sampai
terpikat, tidak saja menjadi ‘pelindung’ Pangeran Ouwyang Cin Kok yang mendapat tugas dari pemerintahnya
untuk mempertahankan bagian selatan yang sudah ditaklukkan, juga Kang-thouw-kwi Gak Liat berkenan
mengambil putera pangeran itu sebagai muridnya!
Namun sesungguhnya, Kang-thouw-kwi Si Setan Botak tidaklah begitu menaruh harapan besar terhadap
muridnya, bocah bangsawan ini. Ilmu-ilmunya terlampau tinggi sedangkan bakat yang dimiliki Ouwyang Seng
terlalu rendah. Inilah sebabnya maka mata Si Setan Botak yang amat awas itu sekali melihat Han Han menjadi
tertarik.
Dia bertugas untuk mencari dan menyelidiki Lauw-pangcu dan perkumpulan pengemis yang disebut Pek-lian
Kai-pang. Hal ini ada sangkut-pautnya dengan serdadu-serdadu yang pernah dihajar oleh Lauw-pangcu
sehingga Pangeran Ouwyang Cin Kok yang mendengar akan hal ini, cepat memerintahkan jagoannya untuk
turun tangan karena ‘gengsi’ pasukan Mancu terancam kecemaran. Bagi seorang sakti seperti Setan Botak ini,
tidak akan sukar mencari Lauw-pangcu.
Namun karena muridnya rewel dan hendak ikut menyaksikan gurunya menghancurkan Pek-lian Kai-pang,
maka usaha mencari perkumpulan itu menjadi lebih sukar dan lama. Akhirnya, secara kebetulan Ouwyang
Seng bertemu dengan Han Han dan anak ini yang ingin memberi ‘hajaran’ kepada Ouwyang Seng dan
gurunya yang dipandangnya rendah, bahkan dengan senang hati mengantar mereka ke sarang Pek-lian Kaipang!
Di tengah jalan, Ouwyang Seng membentak, “Heh! Han Han! Enak saja kau berjalan tanpa membawa apa-apa.
Mari kita mengadu tenaga. Siapa yang kalah harus membawakan buntalan suhu-ku ini sampai di tempat yang
kau tunjukkan! Berani tidak kau mengadu tenaga melawan aku?”
Kalau hanya ditantang berkelahi, tentu Han Han tidak sudi melayani. Dibujuk pun ia tidak akan sudi. Akan
tetapi ditanya ‘berani atau tidak’, segera bangkit semangatnya. Kata-kata tidak berani merupakan pantangan
besar baginya, karena di dalam hati bocah ini, semenjak kepalanya terbanting pada dinding setengah tahun
yang lalu, tidak ada lagi rasa takut atau susah.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tentu saja berani. Mengapa tidak? Mengadu tenaga bagaimana? Kalau berkelahi seperti dulu aku tidak sudi.
Aku bukan tukang pukul, bukan tukang berkelahi macam engkau!”
“Tidak usah berkelahi, kau takkan menang dan kalau kau mati, kami rugi. Kita saling dorong saja, siapa yang
terdorong mundur keluar dari lingkaran yang dibuat di atas tanah, dia akan kalah dan harus memanggul
buntalan suhu.”
“Boleh!” Han Han menjawab.
Si Setan Botak hanya tertawa-tawa dan menghentikan kudanya untuk menonton permainan kedua orang anak
itu. Ouwyang Seng menurunkan buntalannya, lalu membuat guratan melingkar di atas tanah. Keduanya lalu
memasuki lingkaran, saling berhadapan.
“Siap?” tanya Ouwyang Seng.
“Siap!” jawab Han Han.
“Mulai!” Ouwyang Seng mengeluarkan kedua lengannya ke depan, diturut oleh Han Han. Mereka mengadu
kedua telapak tangan dan mulailah mereka saling dorong.
Han Han yang merasa betapa kedua lengan lawan itu amat kuatnya, cepat ia mengerahkan tenaganya pada
kedua kaki, memasang bhesi seperti yang pernah ia latih sampai berbulan-bulan di bawah asuhan Lauwpangcu
dan pengawasan Sin Lian. Kedua kakinya seperti telah berakar di tanah dan ia mempertahankan diri
dari dorongan Ouwyang Seng. Untuk balas mendorong, Han Han tidak kuat karena ia segera dapat merasakan
betapa tenaga yang tersalur pada kedua lengan Ouwyang Seng hebat bukan main. Maka ia sendiri harus
menggunakan seluruh tenaganya untuk mempertahankan diri, disalurkan pada kedua kakinya. Kedua
lengannya sudah terdorong, siku-siku lengannya sudah tertekuk dan kedua tangannya terdorong sampai
menempel dadanya.
“Heh-heh, Han Han, kau masih belum menerima kalah?” Ouwyang Seng tertawa mengejek. Masih dapat
bicara dan tertawa dalam adu tenaga ini saja sudah membuktikan bahwa tenaga Ouwyang Seng memang
amat besar dan lebih menang dari pada Han Han.
Namun Han Han menggeleng kepala. Ia tidak mampu bicara karena menahan napas, akan tetapi ia belum
merasa kalah karena dia belum keluar dari garis lingkaran! Ia sudah tertekuk sikunya, sudah mendoyong ke
belakang tubuh atasnya, namun kedua kakinya masih kokoh berakar di tanah, belum terdorong mundur dan
sama sekali belum keluar dari lingkaran.
“Kau kepala batu!” Ouwyang Seng menegur marah dan mulai mengerahkan seluruh tenaganya untuk
menangkan pertandingan lebih cepat.
Akan tetapi daya tahan Han Han memang hebat. Tubuhnya sudah mendoyong, hampir terjengkang, namun ia
enggan mengangkat kakinya dan bertekad untuk bertahan sampai roboh. Bukankah kalau sudah roboh sekali
pun, ia masih belum kalah karena belum keluar dari garis lingkaran?
“Huah-ha-ha-ha, anak luar biasa...!” Terdengar tawa Si Setan Botak dari atas kudanya dan tiba-tiba tubuh Han
Han terdorong, terseret berikut kakinya sampai keluar dari garis lingkaran!
Han Han terkejut dan terheran-heran, mau tidak mau kagum karena mengira bahwa ia terdorong karena
tenaga Ouwyang Seng yang hebat. Dia tidak tahu bahwa ia terdorong keluar karena ilmu kesaktian Si Setan
Botak yang mengerahkan sedikit tenaga mendorongnya dengan hawa pukulan jarak jauh yang amat ampuh!
Dengan bangga Ouwyang Seng lalu menghampiri Han Han yang masih terengah-engah namun sudah bangkit
berdiri memandang heran. Putera pangeran ini menyambar bungkusan milik suhu-nya. “Nah, terang kau kalah
jauh olehku, Han Han. Sekarang berlututlah engkau, agar mudah aku menaruh bungkusan ini di pundakmu!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Han amat cerdik. Biar pun ia tidak tahu apa sebabnya dan bagaimana caranya, namun ia dapat menduga
bahwa kekalahannya tadi tidaklah wajar. Hal ini membuatnya penasaran dan marah sekali. Apa lagi sekarang
mendengar penghinaan Ouwyang Seng yang menyuruh dia berlutut, padahal tadi tidak ada janji apa-apa
tentang yang kalah harus berlutut. Kemarahan membuat jantungnya ber-debar, darahnya panas naik ke kepala
dan pandang matanya berkilat-kilat aneh sekali.
“Aku? Berlutut padamu? Tidak sudi!” Bentaknya dan suaranya makin tegas dan nyaring ketika ia menyambung,
“Ouwyang Seng! Engkaulah yang sepatutnya berlutut di depanku, menyerahkan bungkusan itu dengan hormat!”
Tiba-tiba saja Ouwyang Seng lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Han Han dan mengangkat bungkusan itu,
disodorkan kepada Han Han, sikapnya penuh penghormatan seperti sikap seorang bujang yang takut kepada
majikannya!
Han Han mengira bahwa Ouwyang Seng benar-benar memenuhi permintaannya karena menyesal atas
penghinaan tadi, seketika lenyap kemarahannya. Ia menerima bungkusan itu, mengangkatnya ke pundak
sambil berkata, “Wah, engkau baik sekali. Tidak perlu berlutut sungguh-sungguh. Aku hanya main-main!”
Ouwyang Seng kini tersentak kaget seperti orang bangun tidur. Melihat betapa ia berlutut di depan Han Han, ia
lalu melompat berdiri dan mulutnya mengomel.
“Kenapa...? Kenapa aku berlutut...?”
“Ajaib... ajaib...!” Kang-thouw-kwi Si Setan Botak berulang-ulang mengomel.
Tiba-tiba Han Han merasa betapa tubuhnya melayang ke atas, tahu-tahu ia telah tergantung di atas kuda.
Kakek botak yang memegangi tengkuk bajunya itu mendekatkan mukanya sehingga berhadapan dengan muka
Si Botak. Ia melihat betapa sepasang mata Si Botak itu bersinar kekuningan, aneh sekali dan maniknya tidak
mau berhenti, bergerak-gerak terus menjelajahi wajahnya sendiri. Ia sudah tidak marah lagi, hanya merasa
terheran-heran dan juga kaget.
“Ajaib... bocah ajaib... matamu ini... ah, luar biasa!” Si Setan Botak melontarkan tubuh Han Han yang melayang
turun, akan tetapi ia turun dengan kedua kaki lebih dulu dan dapat berdiri dengan ringan dan seolah-olah
lontaran itu sudah diatur tenaganya, membuat Han Han terhuyung pun tidak! Han Han makin terheran, akan
tetapi ia sama sekali tidak tahu bahwa itulah penggunaan sinkang yang amat luar biasa dari Si Kakek Botak.
Ada pun Ouwyang Seng yang tidak tahu apa yang telah terjadi atas dirinya tadi, tidak tahu betapa ia menurut
dan taat saja ‘diperintah’ oleh Han Han sehingga ia berlutut, kini menjadi uring-uringan.
“Tar-tar-tar!” Cambuk panjang di tangannya dilecutkan ke atas kepala Han Han dan ia membentak, “Han Han,
hayo cepat berjalan, bawa kami ke tempat gurumu Si Jembel Tua!”
Han Han sudah berjalan sambil memanggul bungkusan besar itu. Mendengar ucapan Ouwyang Seng yang
tadinya ia sangka berhati baik dan suka main-main, buktinya suka berlutut kepadanya, Han Han menjadi
gemas. “Ouwyang Seng...!”
“Keparat! Menyebut aku harus Kongcu, mengerti? Jembel macam engkau berani menyebut namaku
sesukanya?”
“Namamu memang Ouwyang Seng, bukan? Kalau tidak mau dipanggil, sudahlah, aku pun tidak butuh
memanggil namamu.”
“Setan pengemis! Apa kau minta dipukul dan diseret-seret lagi?” Ouwyang Seng kembali membentak dan
cambuknya kini menyambar, mengenai punggung dan kaki Han Han.
“Tar-tar...!”
Han Han yang merasa betapa punggungnya dan kakinya sakit-sakit terkena ujung cambuk melepaskan
bungkusan itu yang jatuh berdebuk ke atas tanah. Biar pun hatinya panas dan marah, namun Han Han
dunia-kangouw.blogspot.com
maklum bahwa menghadapi Ouwyang Seng dengan kekerasan ia tidak akan menang, apa lagi di situ masih
ada guru bocah nakal itu, Si Botak yang aneh dan lihai. Maka ia lalu mengambil bungkusan itu lagi dan
memanggulnya di atas pundak.
Hidungnya mencium bau yang busuk dari dalam bungkusan, membuat ia mau muntah seperti bau bangkai
tikus. Akan tetapi ia tidak mau menerima cambukan-cambukan lagi, ia diam saja dan mempercepat
langkahnya menuju ke hutan yang menjadi sarang Pek-lian Kai-pang. Rasakan kalian nanti, bocah setan dan
Si Botak yang sombong. Kalau berada di depan Lauw-pangcu yang banyak anak buahnya, kalian akan
menerima hajaran yang setimpal! Demikian ia berpikir.
Senja hari itu mereka tiba di dalam hutan dan langsung Han Han membawa dua orang guru dan murid itu ke
sarang Pek-lian Kai-pang. Pada saat itu Lauw-pangcu dan para anak buahnya sedang berkemas karena besok
pagi-pagi mereka harus sudah meninggalkan sarang mereka itu. Banyak barang-barang sudah dimuat dalam
beberapa buah kereta dan kuda, dan mereka semua sibuk mengangkati barang-barang. Juga Sin Lian tampak
membantu ayahnya.
“Han Han...!” Tiba-tiba Sin Lian berseru girang ketika melihat sute-nya itu datang memanggul sebuah
bungkusan besar, akan tetapi ia tidak jadi lari menyambut karena melihat bahwa Han Han datang bersama
Ouwyang Seng dan seorang kakek botak yang menunggang kuda dengan sikap tenang sekali.
Semua anggota kai-pang yang sedang sibuk bekerja berhenti, siap-siap menjaga segala kemungkinan dan
semua mata ditujukan kepada penunggang kuda ini dengan kening berkerut. Sungguh pun Si Botak ini sama
sekali tidak mendatangkan kesan yang mengkhawatirkan, namun semenjak peristiwa penyerbuan Hek-i Kaipang,
para anggota Pek-lian Kai-pang selalu berhati-hati.
Lauw-pangcu sendiri pada saat itu sedang berkemas di dalam pondok. Ketika mendengar seruan puterinya, ia
terkejut dan girang. Ketua Pek-lian Kai-pang ini menaruh harapan besar kepada muridnya, karena ia tahu
bahwa ada sesuatu yang hebat dalam diri Han Han, ada semacam kekuatan yang amat mukjizat dan yang ia
sendiri tidak tahu dari mana datangnya. Tadinya ia kecewa ketika mereka tidak berhasil mencari Han Han yang
lenyap dalam pertempuran, maka ia kini girang sekali mendengar Sin Lian memanggil muridnya itu dan
bergegas ia lari keluar pondok.
Akan tetapi begitu ia berada di luar pondok dan melihat penunggang kuda yang datang bersama Han Han,
seketika wajahnya menjadi pucat sekali dan kedua kaki Lauw-pangcu menggigil. Ia mengeluarkan suara
mendengus dari hidungnya untuk menekan perasaannya yang gentar dan berguncang, kemudian memaksa
kakinya melangkah maju menghampiri kakek botak yang masih duduk di atas punggung kuda. Dapat
dibayangkan betapa herannya para anggota Pek-lian Kai-pang ketika melihat ketua mereka yang terhormat
dan yang terkenal lihai itu kini menjura dengan penuh hormat kepada kakek botak penunggang kuda yang
tidak mengesankan itu sambil berkata dengan suara mengandung rasa cemas.
“Sungguh tidak tersangka-sangka dan merupakan penghormatan besar sekali bahwa Gak-locianpwe sudi
mengunjungi tempat kami yang butut dan mohon maaf sebesarnya, karena tidak tahu lebih dahulu kami tidak
dapat menyambut dengan sepatutnya.”
Mendengar ucapan itu, para anggota Pek-lian Kai-pang menjadi makin heran dan di dalam hati mereka
bertanya-tanya, siapa gerangan kakek botak yang disebut Gak-locianpwe (Orang Tua Sakti she Gak) oleh
ketua mereka itu. Akan tetapi sikap Lauw-pangcu yang sangat merendahkan diri ini seolah-olah tidak
dihiraukan oleh Si Setan Bongkok, malah sebaliknya kakek ini menoleh kepada Han Han dan bertanya.
“Bocah, apakah dia ini ketua Pek-lian Kai-pang dan gurumu?”
“Benar,” jawab Han Han.
Si Setan Botak tertawa. “Bagus, kalau begitu, bungkusan itu boleh kau hadiahkan isinya kepada gurumu, haha-
ha!”
Han Han menjadi girang. Memang dia tidak suka perkelahian, apa lagi kalau ia ingat betapa perkumpulan
suhu-nya sudah berkelahi sehingga jatuh banyak korban. Tadinya ia ingin supaya gurunya menghajar
dunia-kangouw.blogspot.com
Ouwyang Seng dan gurunya, akan tetapi siapa kira, Si Botak itu bermaksud baik. Jadi buntalan yang selama
ini ia panggul itu adalah hadiah yang akan diberikan suhu-nya! Karena girang, tanpa berkata apa-apa lagi ia
lalu menurunkan buntalan yang cukup berat itu, menurunkannya di depan kaki suhu-nya dan membuka tali
pengikatnya.
Begitu bungkusan terbuka, tercium bau busuk yang membuat Han Han terpaksa menutup hidung. Matanya
terbelalak memandang isi bungkusan. Lauw-pangcu sendiri pucat wajahnya dan para anggota Pek-lian Kaipang
yang tadi ikut melongok untuk melihat apa isi hadiah itu, berseru marah dan kaget. Kiranya bungkusan itu
berisi lima buah kepala orang yang sudah kering darahnya. Lima kepala orang anggota Pek-lian-pai yang
merupakan tokoh di bawah Lauw-pangcu! Pantas saja tadi baunya menyengat hidung, seperti bau bangkai
tikus!
“Aihhh...!” Banyak mulut mengeluarkan teriakan ini dan terdengar suara ketawa Kang-thouw-kwi Gak Liat Si
Setan Botak.
Lauw-pangcu memandang kepada Han Han dengan mata terbelalak melotot marah sekali. Telunjuk kirinya
menuding ke arah anak itu. “Murid jahanam! Engkau kembali membawa mala petaka! Baiklah sebelum semua
mati, engkau akan mampus di tanganku lebih dulu!”
Setelah berkata demikian, Lauw-pangcu sudah menggerakkan tongkatnya dan tubuhnya melayang maju ke
arah Han Han. Hebat bukan main serangan ini, gerakan tubuhnya seperti seekor naga menyambar, tongkatnya
seperti cengkeraman maut menusuk ke arah dada Han Han. Jangan lagi Han Han yang belum mengerti ilmu
silat, andai kata ia sudah belajar selama sepuluh tahun di bawah asuhan Lauw-pangcu sekali pun, ia tidak
akan mungkin dapat menyelamatkan diri dari pada serangan maut ini.
Gerakan Lauw-pangcu ketika menyerang ini adalah jurus yang disebut Hui-hong-phu-lian (Angin Meniup
Bunga Teratai), sebuah jurus yang paling ampuh dari Ilmu Tongkat Pek-lian-tung-hoat. Lawan yang bagaimana
tangguh pun akan sukar menjaga diri dari tikaman dengan tubuh melayang dan meluncur di udara secepat dan
sekuat itu.
Mengapa Lauw-pangcu menjadi begitu marah dan membenci Han Han, dan mengapa pula menghadapi
seorang bocah yang ia tahu belum pandai ilmu silat itu ia langsung mengeluarkan jurus terampuh untuk
menyerangnya? Padahal diserang dengan jurus sembarangan sekali pun Han Han tak mungkin dapat
menyelamatkan diri!
Sesungguhnya adalah karena salah duga. Lauw-pangcu yang melihat Han Han pulang bersama Kang-thouwkwi
Gak Liat yang sudah ia dengar namanya yang besar, segera dapat menduga bahwa tentu bocah itu yang
menjadi penunjuk jalan dan ia tahu pula bahwa ia dan teman-temannya menghadapi bencana hebat. Apa lagi
melihat Han Han tadi membawakan bungkusan terisi kepala dari lima orang pembantunya, tentu saja ia
menganggap bahwa Han Han sudah mengkhianati Pek-lian Kai-pang dan menjadi pembantu musuh! Ada pun
mengapa ia mengeluarkan jurus mematikan yang paling ampuh, karena di situ terdapat Kang-thouw-kwi Gak
Liat yang ia tahu mempunyai kesaktian luar biasa, maka ia ingin agar sekali turun tangan terhadap Han Han
tidak akan gagal lagi.
Han Han bukan tidak tahu bahwa gurunya marah-marah tanpa sebab dan hendak memukulnya dengan
tongkat, akan tetapi karena dia memang berhati keras dan tidak kenal takut, ia hanya memandang tanpa
berkedip.
“Ayahhhhh...!” Sin Lian menjerit. Anak ini lebih maklum bahwa Han Han berada di bawah ancaman maut
mengerikan. Dia suka dan sayang kepada sute-nya, maka tanpa disadari ia menjerit.
Tiba-tiba tubuh Lauw-pangcu yang melayang dan sudah menggerakkan tongkatnya dekat dengan Han Han,
hanya terpisah satu meter lagi, terpental ke samping dan roboh terguling! Kakek ketua Pek-lian Kai-pang ini
cepat menggulingkan diri dan meloncat bangun, tongkat masih di tangannya dan wajahnya pucat sekali. Ia
menoleh ke arah Si Setan Botak yang masih duduk di atas kuda, kemudian berkata, suaranya masih hormat
namun nyaring dan ketus.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Gak-locianpwe, saya hendak turun tangan membunuh murid sendiri, mengapa locianpwe mencampurinya?
Apakah perbuatan ini sesuai dengan nama besar locianpwe sebagai seorang di antara Lima Datuk Besar?”
Baru sekarang semua yang hadir, termasuk Han Han sendiri, tahu bahwa tadi Lauw-pangcu yang hendak
membunuh Han Han telah dihalangi oleh Si Setan Botak. Semua orang terkejut dan terheran. Kakek di atas
kuda itu tidak kelihatan bergerak, bagaimana tahu-tahu Lauw-pangcu yang lihai luar biasa itu terlempar dan
terbanting ke samping?
Lebih-lebih Han Han memandang dengan penuh perhatian. Kakek botak itu manusia ataukah setan? Dia tadi
sudah menyaksikan keanehannya, yaitu tahu-tahu si kakek itu berada di atas punggung kuda, seperti pandai
menghilang saja. Kini tanpa bergerak atau turun dari kuda sudah merobohkan Lauw-pangcu dan menolong
dia! Terutama sekali ia tertarik ketika mendengar disebutnya kakek botak ini sebagai seorang di antara Lima
Datuk Besar! Apakah artinya Lima Datuk Besar? Dan siapakah mereka ini?
Kang-thouw-kwi Gak Liat tampak melayang turun dari atas punggung kudanya. Kembali semua anggota Peklian
Kai-pang tertegun. Kakek ini turun dari kuda bukan meloncat karena kedua kakinya tidak bergerak sama
sekali. Seolah-olah tubuhnya itu ‘terangkat’ oleh tenaga yang tak tampak dan tahu-tahu tubuhnya sudah
melayang turun dan berdiri tegak di tengah-tengah kepungan para anggota Pek-lian Kai-pang, berhadapan
dengan Lauw-pangcu! Mulutnya menyeringai dan kumisnya yang panjang bergerak-gerak seperti dua ekor ular
kecil hidup.
“Orang she Lauw! Bagus engkau mengenal aku. Engkau berani menegurku mencampuri urusanmu? Huh,
lancang sekali engkau. Mendiang Pek-lian-kauwcu (Ketua Agama Teratai Putih) dahulu pun belum pernah
berani menegurku. Bocah ini mungkin muridmu, akan tetapi sekarang telah menjadi pelayanku. Mana bisa kau
bunuh dia begitu saja? Pula kedatanganku ini memang hendak membasmi Pek-lian Kai-pang, perkumpulan
pemberontak rendah! Nah, kau serahkanlah kepalamu dan kepala semua anggota-anggotamu seperti yang
terjadi pada lima orang pembantu-pembantumu ini.”
Ucapan ini terdengar seperti halilintar di siang hari dan menimbulkan kemarahan semua anggota pengemis
Pek-lian Kai-pang yang berkumpul di situ. Mereka terdiri dari lima puluh orang lebih, tentu saja tidak takut
terhadap kakek itu yang hanya datang seorang diri saja. Demikian pula pikiran Lauw-pangcu. Biar pun ia
sudah mendengar akan kesaktian Kang-thouw-kwi Gak Liat sebagai seorang di antara Lima Datuk Besar,
namun teman-temannya amat banyak dan pula, mereka adalah pejuang-pejuang yang tidak takut mati. Lauwpangcu
mengangkat tongkatnya ke atas, memberi isyarat kepada anak buahnya dan serentak para anak
buahnya itu menerjang maju dengan tongkat mereka. Bagaikan air bah mereka ini menyerbu dan menerjang
kakek botak itu dari segala jurusan.
Melihat ini, hati Han Han sudah berdebar tegang. Tentu Si Botak akan dihajar oleh Pek-lian Kai-pang, pikirnya.
Maka ia berseru kepada Sin Lian. “Suci, mari hajar bocah setan ini!” katanya sambil menuding ke arah
Ouwyang Seng.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika Sin Lian tiba-tiba malah menerjangnya sambil memaki. “Engkau murid
murtad!”
Han Han yang amat kaget itu tidak dapat menghindar dan sebuah tendangan mengenai dadanya, tepat di ulu
hati, membuat ia terjengkang dengan napas sesak dan jatuh terduduk. Setelah merobohkan Han Han, Sin Lian
lalu menerjang Ouwyang Seng yang menyambutnya sambil tertawa-tawa mengejek.
Bertandinglah dua orang anak itu dengan seru. Akan tetapi, ternyata Ouwyang Seng jauh lebih pandai dan Sin
Lian segera terdesak. Hanya karena keberaniannya yang luar biasa ditambah kemarahannya saja yang
membuat anak perempuan itu bergerak dengan ganas dan dahsyat sehingga untuk sementara dapat membuat
Ouwyang Seng repot juga.
Han Han lebih tertarik menonton ke arah Si Setan Botak yang diserbu oleh Lauw-pangcu dan anak buahnya,
karena ia menduga bahwa tentu akan terjadi pertandingan hebat sekali. Jauh lebih hebat dari pada perkelahian
antara dua orang anak itu yang tidak menarik hatinya. Apa lagi karena Sin Lian telah menendangnya, ia
menjadi marah dan tidak sudi membantu anak perempuan itu menghadapi Ouwyang Seng. Dia menganggap
bahwa dua orang anak itu sama saja jahatnya sehingga siapa pun juga yang kalah di antara mereka, ia tidak
dunia-kangouw.blogspot.com
peduli. Dengan pikiran ini, Han Han lalu bangkit, dadanya masih sesak akan tetapi ia memaksa diri berjalan,
lalu memanjat pohon agar dapat menonton lebih jelas lagi.
Apa yang dilihat Han Han membuat ia begitu kaget dan ngeri sehingga hampir saja ia terjungkal dari atas
pohon kalau ia tidak cepat-cepat memeluk cabang pohon. Mula-mula yang maju adalah tujuh Orang pengemis
Pek-lian Kai-pang yang mengurung kakek botak itu sambil menerjang dengan tongkat mereka. Akan tetapi Si
Setan Botak hanya berdiri tegak. Sambil tersenyum ia menangkap tongkat pertama, mencengkeram ujung
tongkat menjadi berkeping-keping dan sekali tangannya bergerak memutar, kepingan kayu itu menyambar
sekelilingnya dan... tujuh orang pengemis Pek-lian Kai-pang itu roboh dan berkelojotan terus mati!
Itulah semacam kejadian yang seperti main sulap saja, sukar untuk dipercaya. Akan tetapi bagi para ahli silat
di situ merupakan kepandaian yang amat hebat. Kepingan-kepingan ujung tongkat kayu itu hanya benda kecil
yang ringan dan tidak terlalu keras, namun di tangan kakek botak ini, dapat menjadi senjata rahasia yang tepat
sekali menancap dan memasuki dahi tujuh orang lawan sehingga menembus otak dan membuat mereka roboh
binasa seketika! Kepandaian yang hebat dan juga kekejaman yang amat menyeramkan.
“Heh-heh-heh...!” Si Setan Botak terkekeh, kelihatannya girang sekali dan matanya memandang para anggota
Pek-lian Kai-pang yang menjadi marah dan mengepungnya ketat itu seperti mata seorang guru memandang
murid-murid kecil yang nakal!
Kembali belasan orang pengemis maju menerjang dengan tongkat, kini secara berbareng sambil berteriak
keras. Harus diketahui bahwa para anggota Pek-lian Kai-pang rata-rata memiliki ilmu silat tinggi sehingga
serangan mereka ini bukanlah serangan ngawur, melainkan dengan jurus-jurus Pek-lian-kun-hoat yang ampuh.
Namun kakek botak itu sama sekali tidak mengelak. Belasan batang tongkat itu dengan tepat mengenai
sasaran, ada yang mengemplang kepala botaknya, ada yang menghantam leher, menusuk dada, menotok
lambung. Pendeknya, seluruh bagian tubuhnya yang berbahaya pada saat yang hampir sama secara bertubitubi
menerima hantaman atau tusukan ujung tongkat. Riuh-rendah teriakan para pengemis, dan ramai pula
suara bak-bik-buk tongkat-tongkat itu mengenai tubuh Si Kakek Botak.
Namun sama sekali kakek itu tidak bergeming, senyumnya masih melebar dan tiba-tiba tangan kirinya
menyambar kaki seorang pengemis dan mulailah ia mengamuk. Tubuh pengemis yang menjadi senjata di
tangannya itu diputar sedemikian rupa dan...
“Prak-prak-prak!” terdengar suara berulang kali ketika kepala orang itu bertemu dengan kepala-kepala para
lawannya. Para pengeroyok itu roboh malang-melintang dengan kepala pecah, sedikitnya ada sepuluh orang
jumlahnya. Mereka itu binasa karena sedikitnya kepala mereka retak-retak bertemu dengan kepala orang yang
dijadikan senjata. Ada pun kepala orang itu sendiri setelah dilempar ke samping, telah hancur dan tidak
menyerupai kepala!
Lauw-pangcu marah bukan main sampai hampir pingsan. Melihat betapa anak buahnya tewas dalam keadaan
mengerikan seperti itu, ia bukannya menjadi takut, sebaliknya ia malah menjadi nekat untuk mengadu nyawa.
Sambil berseru nyaring, Lauw-pangcu menyerbu ke depan, diikuti oleh teman-temannya yang masih ada
kurang lebih tiga puluh orang.
“Heh-heh-heh, bagus! Biar kubasmi habis kalian hari ini!” kata Si Setan Botak.
Tiba-tiba tubuhnya berputar satu kali, kedua lengannya didorongkan ke depan. Han Han yang melihat kakek itu,
terbelalak heran karena melihat betapa telapak kedua tangan kakek itu kemerahan dan mengepulkan asap,
seolah-olah tangan itu telah menjadi besi panas! Dan akibatnya hebat sekali. Dua puluh orang lebih menjerit
ngeri dan roboh bergelimpangan, tak dapat bangun kembali! Hanya Lauw-pangcu dan dua orang pembantunya
yang paling tinggi ilmunya terhuyung ke belakang, akan tetapi tidak roboh. Muka mereka pucat dan napas
mereka terengah-engah, mata mereka terbelalak memandang teman-teman yang roboh. Hampir lima puluh
orang anggota Pek-lian Kai-pang dalam sekejap mata saja, dalam tiga gebrakan, telah tewas menjadi korban
Si Setan Botak yang ternyata lihai bukan main itu!
Han Han kini menjadi ngeri, akan tetapi di dalam hatinya juga timbul rasa kagum terhadap Si Setan Botak.
Bagaimana ada orang sampai bisa begitu sakti? Dan ia mulai khawatir melihat gurunya. Ketika ia mengerling
dunia-kangouw.blogspot.com
ke arah Sin Lian. Ternyata gadis cilik ini pun sudah terdesak hebat, bahkan beberapa kali telah kena ditampar
oleh Ouwyang Seng. Ia melihat betapa Sin Lian menjadi nekat, menerjang maju tanpa perhitungan lagi dan
sebuah sabetan kaki Ouwyang Seng membuat gadis itu terguling roboh. Ouwyang Seng menubruknya dan
menangkap kedua lengannya terus dipuntir ke belakang, ditelikung sehingga Sin Lian tidak mampu bergerak
lagi!
“Kau bocah galak seperti kucing! Kucing tidak berpakaian! Maka akan kutelanjangi kau, biar kapok dan hendak
kulihat apakah kau masih berani banyak lagak!” kata Ouwyang Seng tertawa-tawa dan tangannya mulai
merenggut pakaian gadis cilik itu.
Wajah Han Han menjadi merah. Teringat ia akan peristiwa di dalam rumahnya, teringat akan keadaan kakak
perempuannya dan keadaan ibunya, dan dengan hati panas ia memaki. “Ouwyang Seng, kau bangsat kecil tak
tahu malu! Apa yang akan kau lakukan itu? Tidak tahu sopan, tidak bersusila kau!"
Ouwyang Seng hanya terkekeh dan tangannya sudah mencengkeram leher baju Sin Lian yang meronta-ronta
tanpa hasil. Pada saat itu, tiba-tiba tubuh Ouwyang Seng terlempar dan seorang wanita cantik sudah berdiri di
situ, membangunkan Sin Lian dan berkata halus, “Anak, kau minggirlah.”
Han Han terbelalak. Gerakan wanita itu amat cepat seperti seekor burung walet menyambar, tiba-tiba sudah
ada di situ dan melemparkan tubuh Ouwyang Seng. Dia itu seorang wanita yang usianya antara tiga puluh
tahun, cantik dan gagah sekali, pakaiannya serba hitam sehingga membuat kulit leher dan tangannya tampak
amat putih kemerahan. Rambutnya disanggul tinggi dan di punggungnya tergantung sebatang pedang dalam
sarung pedang indah terukir.
Dan kiranya yang datang secara cepat dan aneh bukan hanya wanita cantik itu, karena entah dari mana Han
Han sendiri tidak tahu, di situ telah berdiri pula dua orang. Yang seorang berusia kurang lebih empat puluh lima
tahun, bertubuh pendek kecil dan tangannya memegang sebatang cambuk besi. Laki-laki ini biar pun pendek
kecil, namun memiliki pandang mata yang kereng berwibawa. Ada pun laki-laki ke dua adalah seorang berusia
empat puluh tahun, bertubuh tinggi besar berwajah gagah, di tangannya memegang sebatang toya kuningan
yang kelihatannya berat sekali.
Laki-laki pendek yang memegang cambuk besi itu menjura ke arah Lauw-pangcu yang masih pucat dan
berkata, “Lauw-pangcu harap jangan khawatir, sekuat tenaga kami akan membantumu menghadapi iblis ini!”
Lauw-pangcu kelihatan lega ketika menyaksikan munculnya tiga orang ini, akan tetapi ia pun merasa tidak
enak dan cepat berkata, “Kang-lam Sam-eng harap tidak mencampuri urusan ini, biarlah kami semua mati
sebagai orang gagah di tangan Kang-thouw-kwi Gak Liat!”
Mendengar disebutnya nama ini, tiga orang gagah yang disebut Kang-lam Sam-eng (Tiga Pendekar Kang-lam)
ini menjadi terkejut sekali. Otomatis mereka itu saling mendekati dan siap dengan senjata masing-masing,
bahkan wanita cantik itu pun telah mencabut pedangnya.
“Hemmm, sudah lama mendengar Kang-thouw-kwi Gak Liat sebagai seorang datuk persilatan tingkat tinggi,
baru sekarang menyaksikan kekejamannya. Lauw-pangcu, kami akan siap membantu mati-matian!” kata pula
laki-laki pendek penuh semangat.
Si Setan Botak memandang penuh perhatian lalu tertawa. “Ha-ha-ha, kalian bocah-bocah kemarin sore! Aku
pernah mendengar bahwa Kang-lam Sam-eng adalah jago-jago cilik murid-murid Siauw-lim-pai. Benarkah?”
“Kami memang anak murid Siauw-lim-pai. Dan sudah menjadi tugas setiap orang murid Siauw-lim-pai untuk
membasmi orang jahat dan pengkhianat bangsa!” kata wanita cantik itu, suaranya nyaring dan merdu.
“Heh-heh, kau cantik dan bersemangat! Apakah kalian bertiga ini murid Ceng San Hwesio?” tanya pula Si
Setan Botak memandang rendah.
“Ceng San Hwesio adalah Sukong (Kakek Guru) kami!” kini Si Tinggi Besar menjawab, suaranya sesuai
dengan tubuhnya, menggeledek!
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiga orang itu bukanlah orang-orang sembarangan, melainkan murid-murid Siauw-lim-pai yang terkenal gagah
perkasa. Karena mereka tinggal di Kang-lam dan selalu melakukan perjuangan bersama, maka mereka
terkenal sebagai Kang-lam Sam-eng atau Tiga Pendekar Kang-lam yang amat disegani kawan ditakuti lawan.
Yang tertua dan bertubuh pendek kecil itu adalah Khu Cen Tiam berjuluk Thi-pian-sian (Dewa Cambuk Besi).
Orang ke dua yang tinggi besar bernama Liem Sian berjuluk Sin-pang (Si Toya Sakti) dan orang ke tiga, wanita
cantik itu adalah seorang wanita yang masih gadis, tidak mau menikah karena belum juga menjumpai pria
yang mencocoki hatinya, bernama Bhok Khim dan berjuluk Bi-kiam (Si Pedang Cantik). Sebagai murid-murid
Siauw-lim-pai, tentu saja mereka berjiwa patriot dan selalu mendukung perjuangan kaum pemberontak yang
menentang masuknya penjajah bangsa Mancu.
Akan tetapi ketika Kang-thouw-kwi Gak Liat mendengar jawaban Liem Sian, ia tertawa bergelak, “Ha-ha-ha-ha!
Kiranya hanya cucu si tua Ceng San Hwesio? Ahhh, bocah-bocah tak tahu diri. Lebih baik kalian lekas pergi
karena aku tidak mau melihat Ceng San Hwesio kehilangan tiga orang cucunya. Kalau Ceng San Hwesio
sendiri yang datang barulah patut melayani aku beberapa jurus.”
Ucapan ini amat takabur dan memang sesungguhnya bukan semata-mata karena sombong, akan tetapi
karena memang tingkat kepandaian Si Setan Botak ini hanya akan dapat dilayani oleh ketua Siauw-lim-pai
yang tua itu. Bagi Kang-lam Sam-eng yang belum pernah mengenal kelihaian Si Setan Botak, ucapan itu
dianggap sombong dan amat menghina, maka mereka lalu membentak nyaring dan maju menerjang, diikuti
pula oleh Lauw-pangcu dan dua orang pembantunya sehingga kini Si Setan Botak dikeroyok oleh enam orang
yang berkepandaian tinggi.
Han Han yang menonton dari atas pohon dan dapat melihat setiap pertempuran itu dengan jelas, merasa tak
senang hatinya. Ia tidak tahu siapa salah siapa benar, siapa jahat siapa baik di antara kedua pihak itu, akan
tetapi terhadap Si Setan Botak ia tidak senang karena menganggapnya amat kejam, membunuhi banyak orang
seperti orang membunuh semut saja. Terhadap Lauw-pangcu dan Kang-lam Sam-eng, ia merasa tidak senang
karena menganggap mereka ini curang, mengeroyok seorang lawan dengan begitu banyak kawan.
Sebagai murid-murid perguruan tinggi Siauw-lim-pai, tentu saja Kang-lam Sam-eng tidak bersikap seperti para
anak buah Pek-lian-pai yang suka ‘main keroyok’ secara kacau-balau. Pertempuran sekacau itu hanya
dilakukan oleh orang-orang yang masih rendah tingkatnya. Memang mereka mengurung dan mengeroyok,
namun mereka melakukan penyerangan secara teratur dan boleh dibilang satu demi satu, hanya saling susul
dan berganti-ganti.
Mula-mula terdengar bentakan nyaring dan tubuh Bhok Khim si wanita cantik sudah melayang ke atas,
pedangnya berubah menjadi sinar terang ketika ia menyerang kakek botak itu. Sebuah serangan yang amat
dahsyat, karena selain tubuh itu meluncur ke depan dengan cepat dan kuat, pedangnya digerak-gerakkan
ujungnya, sukar diduga lawan bagian mana dari tubuhnya yang akan menjadi sasaran. Namun kakek botak itu
hanya tertawa dan masih tetap berdiri tegak seperti tadi, sama sekali tidak mengelak. Ketika sinar pedang
sudah menyentuhnya, ia hanya menggerakkan kedua tangan ke atas.
“Krakkk! Brettttt...! Ha-ha-ha-ha!”
Tubuh Bhok Khim mencelat ke samping dan jatuh bergulingan, lalu gadis itu meloncat bangun, tangan kiri
sibuk berusaha menutupi baju bagian dadanya yang sudah robek lebar memperlihatkan sebagian buah
dadanya, sedangkan pedangnya sudah pindah ke tangan kakek botak dalam keadaan patah menjadi dua!
Pucatlah wajah semua orang. Kakek itu tadi menerima sambaran pedang dengan tangan kosong! Menangkap
pedang dan mematahkannya sambil tangannya yang satu lagi secara nakal merobek baju Bhok Khim.
Sungguh merupakan perbuatan yang amat luar biasa.
“Iblis tua bangka!” Liem Sian menerjang dengan toya kuningannya.
Siauw-lim-pai amat terkenal dengan ilmu toyanya, terkenal kokoh kuat dan sukar dicari bandingnya. Dan kini
Liem Sian membuktikan keunggulannya. Buktinya kakek botak itu tidak berani lagi berdiri diam, melainkan
menggeser kakinya dan begitu ujung toya menyodok perutnya, ia memapaki ujung toya itu dengan tendangan
kaki dari samping.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ayaaa...!” Liem Sian terhuyung. Bukan main kuatnya tendangan itu, membuat ia hampir saja roboh dan
toyanya hampir terlempar.
Saat itu dipergunakan oleh Khu Cen Tiam, orang tertua dari Kang-lam Sam-eng untuk menerjang dengan
cambuk besinya.
“Tar-tar...!” Cambuk besi ini meledak dan menyambar kepala kakek botak. Kang-thouw-kwi Gak Liat tertawa
dan mengangkat pedang rampasan yang tinggal sepotong tadi, membabat ujung cambuk.
“Cringgg...!” Bunga api berpijar dan ujung cambuk itu patah!
Lauw-pangcu dan dua orang kawannya sudah maju pula menubruk dan mulailah Si Kakek Botak dikeroyok.
Bahkan Bhok Khim yang sudah membetulkan bajunya yang robek kini telah menyambar sebatang pedang lain
yang ia temukan di antara mayat-mayat anggota Pek-lian Kai-pang, lalu maju mengeroyok.
Kakek botak itu gerakannya tidak cepat, bahkan kelihatan amat lambat. Namun setiap gerakan mengandung
tenaga sakti yang dahsyat sehingga senjata lawan tidak ada yang dapat menyentuh kulitnya. Sambil tertawatawa
ia menghalau semua serangan dengan dorongan-dorongan hawa pukulan dahsyat ini, kemudian
melanjutkan dengan pukulan. Setiap pukulan atau dorongan yang disertai pengerahan sinkang yang aneh dari
tangannya yang berubah merah dan mengeluarkan asap, tentu merobohkan lawannya!
Akibatnya, dalam waktu singkat saja, dua orang pembantu Lauw-pangcu roboh tewas, Lauw-pangcu sendiri
roboh terluka. Khu Cen Tiam kehilangan cambuk dan lengannya patah tulangnya. Liem Sian patah-patah
toyanya dan sambungan pundaknya patah pula, ada pun Bhok Kim sudah tertotok dan kini pinggang gadis itu
dikempit oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat!
Kakek ini terbahak-bahak tertawa sedangkan muridnya, Ouwyang Seng, kini sudah datang mendekat sambil
menuntun kuda, wajahnya berseri dan pandang matanya penuh kebanggaan. Sin Lian lari menubruk ayahnya
yang terluka dadanya sambil memanggil nama ayahnya yang pingsan.
“Ayah..., Ayahhh...!”
Biar pun lengannya sudah patah tulangnya, Khu Cen Tiam masih berdiri gagah. Demikian pula Liem Sian yang
terlepas sambungan pundak kirinya. Mereka berdiri dengan muka pucat dan memandang kakek botak penuh
kemarahan dan kebencian.
“Locianpwe adalah seorang datuk terkemuka. Kami sudah kalah, hal ini sudah lazim dalam pertandingan,
kalau tidak menang tentu kalah. Akan tetapi mengapa locianpwe menawan sumoi kami? Harap locianpwe
membebaskannya,” kata Khu Cen Tiam yang menyebut ‘locianpwe’ karena memang dalam hatinya ia takluk
dan kagum akan kehebatan ilmu kepandaian kakek yang merupakan seorang di antara Lima Datuk Hitam itu.
Lima Datuk Besar atau Lima Datuk Hitam sama saja karena Lima Datuk itu adalah lima orang berilmu tinggi
yang merupakan orang-orang tingkat pertama di dunia persilatan, akan tetapi karena kelimanya merupakan
tokoh-tokoh yang kejam, maka diam-diam orang menyebut mereka Lima Datuk Hitam!
“Heh-heh-heh, kalau tidak memandang muka Ceng San Hwesio, apakah kalian bertiga masih dapat bernapas
saat ini? Sumoi-mu ini manis, biar dia menemaniku untuk beberapa hari sebagai penebus nyawa kalian!”
Khu Cen Tiam dan Liem Sian membentak marah. Biar pun sudah terluka, kemarahan mereka membuat
mereka menerjang maju, namun dengan hanya dorongan tangan kiri saja keduanya sudah terbanting dan
terjengkang ke belakang!
“Baik, kalau kamu iblis tua bangka memang ada keberanian, datanglah ke kota Tiong-kwan tiga hari lagi. Kami
para anggota Ho-han-hwe (Perkumpulan Para Patriot) menantangmu membuat perhitungan!”
“Sute...!” Khu Cen Tiam menegur, akan tetapi ucapan sudah dikeluarkan dan kakek botak itu tertawa bergelak.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bagus... bagus... kiranya akan diadakan pertemuan di Tiong-kwan? Tentu saja aku datang, sekalian
mengembalikan sumoi-mu yang kupinjam. Ha-ha-ha!”
Setelah berkata demikian, sekali tubuhnya melayang kakek itu sambil mengempit tubuh Bhok Khim yang tak
dapat bergerak itu sudah berada di atas kuda, kemudian menoleh kepada Ouwyang Seng dan berkata, “Mari,
Kongcu. Jangan lupa ajak pelayan itu!” Dengan tangannya kakek itu mendorong ke arah pohon dan...
“Kraaakkkkk!” batang pohon itu patah dan pohonnya tumbang, membawa tubuh Han Han runtuh ke bawah
bersama-sama!
Han Han bergulingan, kulitnya lecet-lecet dan cambuk di tangan Ouwyang Seng sudah meledak di atas
kepalanya. “Hayo tuntun kuda suhu, kau pemalas!” bentak putera pangeran itu.
Han Han menoleh ke arah Sin Lian, melihat Sin Lian melotot kepadanya. Ia menghela napas, mengangkat
pundak, lalu berjalan menghampiri kuda dan menuntun kendali kuda itu, berjalan di depan kuda. Terdengar
olehnya tangis Sin Lian, akan tetapi karena kuda itu jalannya cepat sehingga punggungnya beberapa kali
terdorong moncong kuda, Han Han mempercepat langkahnya dan sebentar saja sudah keluar dari dalam
hutan itu.
********************
Dapat dibayangkan betapa hancur dan sakit hati Lauw-pangcu melihat anak buahnya terbasmi habis oleh Si
Setan Botak yang lihai itu. Kematian kurang lebih lima puluh orang anggota Pek-lian Kai-pang ini hampir
menghabiskan semua anggotanya sehingga mereka yang kebetulan tidak berada di situ dan bebas dari
kematian hanya tinggal beberapa orang saja. Dengan dendam sedalam lautan, Lauw-pangcu mengurus
jenazah semua anak buahnya, dibantu oleh Kang-lam Sam-eng yang kini tinggal dua orang, Khu Cen Tiam
dan Liem Sian saja karena sumoi mereka, Bhok Khim, terculik oleh Si Kakek Sakti. Dua orang anak murid
Siauw-lim-pai ini pun di samping amat menyesal, juga amat marah dan sakit hati.
“Sudah kucegah tadi ji-wi enghiong bersama Bhok-lihiap untuk tidak mencampuri urusan kami,” demikian
Lauw-pangcu berkata penuh penyesalan. “Sekarang terbukti, selain ji-wi terluka, juga Bhok-lihiap terculik. Ahh,
semua ini gara-gara Pek-lian Kai-pang. Lebih celaka lagi, mala petaka ini dibawa datang oleh muridku sendiri,
si jahanam Sie Han!”
Khu Cen Tiam dan Liem Sian menghibur ketua kai-pang yang berduka itu. “Pangcu jangan berkata demikian.
Kita sama-sama anggota Ho-han-hwe, sudah bersumpah sehidup semati menghadapi penjajah dan para
pengkhianat bangsa. Lebih baik kita lekas bereskan pekerjaan di sini dan cepat mengumpulkan saudarasaudara
di Ho-han-hwe untuk merundingkan hal ini dan agar dapat menolong Sumoi dari tangan iblis itu.”
“Ahhhhh, iblis itu terlampau sakti. Di dunia ini hanya ada lima orang datuk besar yang ilmu kepandaiannya
amat luar biasa. Kita di Ho-han-hwe, siapakah kiranya yang akan mampu melawannya?” demikian keluh Lauwpangcu
dengan hati gentar kalau ia teringat akan sepak terjang Si Setan Botak tadi.
“Di antara saudara kita banyak yang lihai, kalau perlu aku akan memberi tahu para susiok dan juga tokohtokoh
besar di dunia kang-ouw. Sute tadi telah menantangnya tiga hari lagi. Dalam waktu tiga hari kita harus
dapat mendatangkan bala bantuan untuk membunuh iblis itu dan menolong sumoi.”
Demikianlah, setelah penguburan sekian banyaknya jenazah itu selesai, tiga orang gagah ini bersama Sin Lian
yang dalam usia sekecil itu sudah mengalami hal-hal yang menegangkan dan pembunuhan-pembunuhan
massal yang mengerikan, pergi meninggalkan tempat itu menuju ke kota Tiong-kwan lalu menghubungi para
pejuang yang bergabung dalam perkumpulan Ho-han-hwe. Sibuklah mereka semua itu mengundang orangorang
pandai dalam persiapan mereka menghadapi Kang-thouw-kwi Gak Liat.
Ada pun Kang-thouw-kwi Gak Liat yang menunggang kuda sambil memangku tubuh Bhok Khim yang tertotok
lemas, diiringkan oleh Ouwyang Seng dan Han Han pergi menuju ke timur menyusuri pantai Sungai Huang-ho.
Setelah melakukan perjalanan setengah hari, mereka tiba di pantai yang berbatu-batu dan kakek itu berkata.
“Berhenti di sini!” Ia meloncat turun, masih memondong tubuh Bhok Khim.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Di sinikah tempatnya batu-batu bintang yang dicari suhu?” tanya Ouwyang Seng.
Si Setan Botak mengangguk. “Kau ajak Han Han mencari di pantai, sebanyak mungkin. Kau sudah tahu
macamnya seperti yang pernah kuperlihatkan dulu, Kongcu. Batu-batu itu penting sekali untuk latihanmu. Nah,
aku mau mengaso bersama Si Manis ini!”
Ouwyang Seng melihat betapa gurunya membungkuk dan mencium leher Bhok Khim yang menggeliat dan
meronta lemah, tertawa bergelak, kemudian menangkap tangan Han Han dan ditarik sambil membentak.
“Bujang malas, hayo bantu aku mencari batu bintang!”
Akan tetapi sekali merenggutkan tangannya, Han Han melepaskan diri. Matanya terbelalak marah memandang
ke arah Gak Liat Si Setan Botak yang sudah duduk di atas batu-batu kecil yang halus sambil memangku tubuh
Bhok Khim dan mempermainkan rambut gadis itu yang hitam panjang.
Han Han dapat menduga apa yang akan dilakukan oleh kakek botak itu terhadap Bhok Khim dan terbayanglah
semua peristiwa jahanam yang menimpa diri kakak perempuannya dan ibunya. Melihat Bhok Khim ia merasa
seperti melihat cici-nya sendiri yang telah lenyap, sungguh pun pandang mata Bhok Khim padanya bukanlah
seperti pandang mata cici-nya yang penuh kasih sayang. Dengan langkah lebar ia menghampiri Gak Liat dan
setelah tiba di depannya, Han Han menudingkan telunjuknya dan berkata, suaranya nyaring.
“Locianpwe adalah seorang yang sakti, dapat mengalahkan pengeroyokan puluhan orang. Akan tetapi
mengapa kini melakukan perbuatan yang amat hina dan rendah?”
“Han Han, tutup mulutmu yang busuk!” Ouwyang Seng membentak marah, akan tetapi Si Setan Botak tertawa
dan memberi isyarat dengan tangannya kepada muridnya untuk mundur. Kemudian ia memandang wajah Han
Han. Sejenak pandang mata mereka bertemu dan kakek botak itu berseru perlahan.
“Demi iblis...! Matamu mata iblis...! Eh, bocah, perbuatan hina dan rendah apa yang telah kulakukan?”
Han Han menuding ke arah Bhok Khim yang menggeliat-geliat di pangkuan kakek botak itu. “Lepaskan cici itu
dan aku baru dapat menganggap locianpwe seorang gagah dan sakti yang tidak melakukan perbuatan hina!”
Si Setan Botak memandang terbelalak, lalu menunduk dan memandang wajah Bhok Khim yang cantik manis,
kemudian tertawa terbahak-bahak. “Ini kau anggap perbuatan hina dan rendah? Ha-ha-ha-ha!” Dengan
sengaja kakek ini lalu mengelus-elus pipi Bhok Khim yang halus, kemudian jari-jari tangannya menjalar ke
bawah, meraba-raba leher dan dada. Gadis itu menggeliat dan meronta lemah, akan tetapi karena ia berada
dalam keadaan tertotok, ia tidak dapat melepaskan diri, kemudian meramkan mata dan merintih perlahan.
Kemarahan Han Han memuncak. Dengan mata berapi ia memandang kakek botak itu dan membentak,
“Locianpwe! Kau tidak akan menghina wanita!”
Kakek itu mengangkat mukanya memandang sambil tertawa, akan tetapi begitu pandang matanya bertemu
dengan sinar mata Han Han, seketika tawanya terhenti, ia terbelalak, mulutnya ternganga dan terdengarlah ia
berkata perlahan, “Aku... aku...”
Tentu saja Ouwyang Seng menjadi bengong menyaksikan keadaan suhu-nya ini, maka ia berseru keras dan
heran, “Suhu...! Apa artinya ini...?”
Sesungguhnya pandang mata dan suara Han Han yang sedang marah itu mengandung tenaga mukjizat yang
tidak sewajarnya. Demikian kuat dan mukjizat tenaga sakti ini sehingga seorang seperti Kang-thouw-kwi Gak
Liat sendiri, seorang di antara Lima Datuk Besar, sampai terpengaruh! Sayangnya, Han Han sendiri tidak
sadar dan tidak tahu akan kekuatan dahsyat yang tersembunyi dalam pandang mata dan kekuatan pikirannya
sehingga tentu saja ia tidak dapat memanfaatkannya.
Selain itu Kang-thouw-kwi Gak Liat adalah seorang kakek yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali dalam
ilmu-ilmunya, maka ia cepat tersadar begitu mendengar seruan muridnya. Ia sadar dengan kaget sekali dan
melempar tubuh Bhok Khim ke samping. Gadis itu terguling dan rebah miring tanpa dapat bangun. Di lain saat
dunia-kangouw.blogspot.com
Gak Liat telah menyambar lengan Han Han dan ditariknya anak itu duduk di atas batu-batu kali, di depannya.
Sejenak kakek itu memandang dengan penuh perhatian sepasang mata Han Han yang masih bersinar-sinar
sungguh pun kini kemarahan anak itu mereda karena melihat Bhok Khim sudah dilepaskan.
“Eh, Han Han, coba katakan, siapakah nama Ayahmu?”
Kalau Han Han ditanya riwayatnya, tentu ia tidak akan sudi menceritakannya karena hal itu akan
mengharuskan ia bercerita tentang mala petaka ngeri yang menimpa ayah bundanya. Akan tetapi kalau hanya
ditanya nama ayahnya saja, ia tidak keberatan untuk menjawab, apa lagi ia memang hendak menyenangkan
hati kakek ini agar selanjutnya tidak akan mengganggu Bhok Khim.
“Ayahku bernama Sie Bun An.”
“Ayahmu ahli silat tinggi dan tokoh kang-ouw?”
“Ah, tidak sama sekali, locianpwe. Ayah seorang sastrawan, dan semenjak kecil Ayah melarang aku belajar
silat, hanya memberi pelajaran tulis dan baca.” Ia berterus terang dengan suara keras.
Kalau dahulu di depan Lauw-pangcu ia tidak mengaku pandai membaca, kini di depan Si Setan Botak ia malah
sengaja mengatakan ayahnya sastrawan. Hal ini pun ada sebabnya, yaitu karena di situ hadir Ouwyang Seng.
Han Han yang sering kali mengalami penghinaan dari Ouwyang Seng putera pangeran, kini mendapat
kesempatan untuk menyatakan bahwa dia adalah putera sastrawan dan pandai membaca kitab, dan dalam hal
ini ia tidak mau kalah oleh Ouwyang Seng!
Mendengar ini, kakek botak itu tampak kecewa dan pandang matanya penuh selidik terheran-heran. “Matamu
itu... hemmm... Han Han, kau katakan, siapa nama Kong-kongmu (Kakekmu)? Barangkali aku mengenalnya.”
“Aku tidak pernah melihat Kong-kong,” jawab Han Han sejujurnya. “Dan Ayahku tidak banyak bercerita tentang
Kong-kong. Hanya mengatakan bahwa Kong-kong adalah seorang perantau dan namanya Sie Hoat...”
Kakek botak itu meloncat bangun dan tertawa terbahak-bahak. “Sie Hoat...? Sie Hoat Si Dewa Pencabut
Bunga? Ha-ha-ha-ha-ha, engkau cucu Jai-hwa-sian (Dewa Pencabut Bunga)? Pantas... pantas...”
Han Han bengong, mengira bahwa Si Botak ini selain lihai juga miring otaknya! Ayahnya adalah seorang
sastrawan yang kaya raya. Biar pun ayahnya belum pernah bercerita tentang kakeknya, namun ia dapat
menduga bahwa kakeknya pun tentu seorang sastrawan. Mengapa kakek botak ini menyebutnya Jai-hwa-sian
(Dewa Pencabut Bunga)? Dengan pandang mata penasaran Han Han menatap wajah kakek botak itu dan
bertanya.
“Kenapa locianpwe tertawa? Apakah locianpwe mengenal Kakekku?”
“Ha-ha-ha! Mengenal Jai-hwa-sian Sie Hoat? Ha-ha, dia sainganku terbesar dahulu! Dia masih hutang
beberapa pukulan dariku. Dan kau... ha-ha-ha, engkau cucunya mencela aku karena aku membelai seorang
gadis cantik? Sungguh lucu, dan ingin aku melihat muka Sie Hoat kalau mendengar dan melihat ini semua haha-
ha-ha!”
“Locianpwe, apa yang locianpwe maksudkan...?” Han Han bertanya dengan suara keras, hatinya penuh rasa
penasaran.
Akan tetapi Kang-thouw-kwi Gak Liat hanya tertawa bergelak, lalu seperti orang gila ia memandang ke atas, ke
arah awan yang berarak di langit. “Dan kini cucumu menjadi pelayanku, Sie Hoat! Kalau engkau masih hidup,
hayo datanglah dan jemputlah cucumu, ha-ha-ha!” Kemudian matanya memandang ke arah tubuh Bhok Khim
yang masih rebah miring di atas tanah dan dengan langkah lebar menghampiri, lalu menyambar tubuh itu yang
diangkatnya.
“Locianpwe tidak boleh...!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi ucapan Han Han ini terhenti karena lengannya telah ditangkap oleh Ouwyang Seng dan tubuhnya
diseret pergi dari tempat itu. “Engkau bocah tak tahu diri, berani sekali mengganggu suhu! Apakah engkau
sudah bosan hidup? Anak kecil mencampuri urusan orang tua, sungguh lancang. Lebih baik kau bantu aku
mencari batu-batu bintang. Kau pemberani, aku suka kepada anak pemberani dan aku tidak senang melihat
kau dibunuh suhu kalau dia sudah marah. Kalau kau baik kepadanya, siapa tahu engkau akan diambil murid
seperti aku!”
Han Han terus diajak pergi sampai di tepi sungai yang banyak batu-batu karangnya. Ia mengerti juga betapa
tak mungkin ia dapat mencegah perbuatan kakek botak yang demikian sakti itu. Sedangkan dalam pegangan
Ouwyang Seng saja ia sudah tidak mampu berkutik. Ia tertarik mendengar tentang batu bintang dan tentang
kemungkinan ia diambil murid.
“Untuk apakah batu bintang? Dan batu bintang macam apa yang dimaksud?” tanyanya sambil memperhatikan
ketika Ouwyang Seng mulai memilih-milih batu di antara batu karang yang banyak terdapat di situ.
“Kau lihat baik-baik batu ini dan bantu mencari sebanyaknya, nanti kuceritakan,” jawab Ouwyang Seng.
Han Han melihat batu yang dipilih bocah itu dan melihat bahwa batu itu kecil-kecil, paling besar sebesar
tangannya dan bentuknya seperti pecahan batu karang, runcing-runcing dan tajam, akan tetapi warnanya
kemerahan. Ia lalu membantu dan mencari batu-batu seperti itu yang tidak banyak terdapat di situ, harus dicari
dan dipilih dengan teliti baru dapat menemukan beberapa potong. Sambil mencari Ouwyang Seng lalu
memberi keterangan.
Seperti yang pernah didengar bocah ini dari gurunya, ratusan tahun yang lalu banyak orang menyaksikan
benda besar seperti bola api melayang turun di daerah lembah Sungai Huang-ho ini. Benda itu menurut
dugaan banyak orang pandai adalah sepotong batu besar pecahan dari bintang. Karena itu, melihat bahwa di
daerah itu kemudian tampak banyak sekali pecahan-pecahan batu berwarna kemerahan, batu-batu ini disebut
batu bintang. Akan tetapi ketika orang berusaha mempergunakannya, batu-batu yang kecil ini tidak ada
gunanya, bahkan untuk bahan bangunan pun tidak sebaik batu kali biasa, maka sampai ratusan tahun
kemudian batu-batu ini tidak diperhatikan orang.
“Akan tetapi suhu yang sakti luar biasa melihat sifat yang mukjizat dari batu-batu ini,” demikian Ouwyang Seng
melanjutkan ceritanya. “Sifat yang cocok sekali untuk memperhebat ilmu kepandaian suhu yang berdasarkan
pada tenaga Yang-kang.”
Sambil memandangi batu-batu kemerahan itu penuh perhatian dengan hati tertarik sekali, Han Han lalu
bertanya. “Sifat mukjizat apakah? Dan apa itu Yang-kang?”
“Ah, dasar kau hijau bodoh tidak tahu apa-apa!” Ouwyang Seng mengomel. “Masa tidak tahu Yang-kang?
Ketahuilah, guruku adalah seorang di antara Lima Datuk Besar, dan ilmu kesaktiannya menjulang setinggi
bintang di langit. Di dunia ini tidak ada seorang pun manusia sanggup menandingi ilmunya yang disebut Hwiyang-
sin-ciang (Tangan Sakti Inti Api). Dengan hawa dari tangannya, guruku dapat membuat kayu terbakar.
Nah, batu-batu bintang ini mengandung tenaga mukjizat dari Yang-kang, dan menurut suhu, ada inti panasnya
matahari tersembunyi di dalamnya. Agaknya bintang yang pecah ini tadinya berada di dekat matahari, aku
tidak tahu jelas. Batu-batu ini dipergunakan oleh suhu untuk melatih kedua lengan.”
“Bagaimana caranya?”
“Kau akan melihat sendiri! Tahukah engkau bahwa kedua lenganku ini dapat bertahan direndam air yang
mendidih?”
“Ah, masa...?” Tentu saja Han Han tidak percaya.
Ouwyang Seng tersenyum bangga dan menyingsingkan kedua lengan bajunya se-hingga tampak kedua
lengannya yang berkulit putih dan halus. “Kedua lenganku ini kelak kalau sudah jadi benar seperti kedua
lengan suhu akan membuat aku dapat menjagoi seluruh jagat! Kalau sudah selesai latihanku, sekali sampok
saja aku dapat membuat hangus tubuh lawan yang bagaimana kuat sekali pun!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Han memandang dengan melongo, setengah tidak percaya, akan tetapi juga ngeri dan kagum. Benarkah
di dunia ada ilmu seperti itu? Ia akan melihat dan membuktikan sendiri. Berkali-kali ia dihina orang karena ia
tidak bisa silat dan tidak memiliki kekuatan yang mukjizat. Kalau dia sampai dapat menjadi seorang pandai,
bukankah dengan mudah ia dapat menentang semua orang yang jahat-jahat itu? Memang ia dapat
membayangkan betapa senangnya memiliki sepasang lengan tangan yang lihai seperti itu, dapat
mengeluarkan hawa panas seperti api!
“Benarkah semua yang kau katakan itu, Ouwyang Seng?”
Tiba-tiba bocah itu melotot dan membentak marah, “Han Han! Di mana kesopananmu? Katamu sendiri kau
keturunan sastrawan, mengapa tidak tahu sopan santun? Kau sekarang menjadi pelayan suhu-ku, berarti kau
pelayanku juga. Dan ketahuilah bahwa Ayahku adalah Pangeran Ouwyang Cin Kok yang berpengaruh besar
sekali di kota raja. Sudah seharusnya kalau kau juga menghormat padaku kalau kau tahu akan sopan santun!”
Wajah Han Han menjadi merah. Tentu saja ia tahu akan semua peraturan ini, peraturan ‘sopan santun’ yang
diciptakan oleh kerajaan, yang mengharuskan si kecil mencium ujung sepatu si bangsawan, si miskin
menyembah-nyembah si kaya! Ia mengerti bahwa dia memang bersalah, maka ia menghela napas dan
mengulangi pertanyaannya.
“Maaf, benarkah semua yang kau ceritakan tadi, Ouwyang-kongcu?”
Berseri wajah Ouwyang Seng. “Bagus! Memang benar dugaanku, kau bukan sembarangan pengemis dan kini
aku percaya bahwa engkau tentu keturunan seorang terpelajar. Guruku sendiri menyebutku Kongcu, tentu saja
engkau pun harus menghormatku. Tentu benar apa yang kuceritakan tadi dan engkau ini memang bernasib
baik sekali, Han Han. Menjadi pelayan guruku berarti menemukan harta yang tak ternilai harganya, karena
sedikit banyak engkau tentu akan dapat memetik ilmunya. Akan tetapi sudah tentu saja jangan harap
mendapatkan sebanyak aku, karena aku muridnya. Mengerti? Hayo cepat kumpulkan batu bintang yang
banyak.”
Han Han mengangguk dan mereka berdua asyik mencari-cari batu bintang sampai terkumpul cukup banyak.
Ouwyang Seng membungkus batu-batu itu dengan kantung kain yang memang sudah dibawanya, lalu
menyuruh Han Han memanggulnya. Mereka berdua lalu kembali ke tempat di mana tadi mereka meninggalkan
Kang-thouw-kwi Gak Liat.
Ketika kedua orang anak itu tiba di situ, Han Han melihat bahwa kakek botak itu duduk di atas batu dengan
mata dipejamkan dan mulut menyeringai, sedangkan tak jauh dari situ ia melihat Bhok Khim sedang
melangkah pergi. Wajah wanita itu pucat dan ia melangkah pergi sambil terisak menangis.
“Ho-ho, Manis, kenapa menangis? Laporkan saja kepada Ceng San Hwesio bahwa akulah yang
mengganggumu, dan dia tentu tidak akan bisa berbuat sesuatu, ho-ho-ha-ha!”
Wanita muda itu tiba-tiba membalikkan tubuhnya dan Han Han melihat betapa mata yang merah itu
memandang penuh kebencian, wajah yang pucat itu basah air mata. Ia bergidik. Belum pernah selama
hidupnya ia menyaksikan wajah yang membayangkan kemarahan, kebencian dan dendam sehebat itu! Bhok
Khim lalu membalikkan tubuhnya lagi dan berlari, meninggalkan isak tangis yang bercampur dengan suara
ketawa bergelak Si Kakek Botak.
“Sudah mendapatkan banyak batu bintang? Bagus, mari kita melanjutkan perjalanan pulang agar dapat cepatcepat
engkau berlatih, Kongcu.”
Tubuh kakek botak yang tadinya duduk tiba-tiba melambung ke atas dan pandang mata Han Han sampai
menjadi berkunang ketika ia berusaha mengikuti gerakan kakek itu. Tahu-tahu Si Kakek Botak sudah duduk di
atas punggung kudanya! Ouwyang Seng agaknya tidak heran menyaksikan demonstrasi kepandaian yang bagi
Han Han seperti orang bermain sulap ini, bahkan lalu menepuk pundaknya. “Hayo kita berangkat, Han Han.
Hari sudah hampir gelap!”
Kembali mereka melakukan perjalanan tanpa banyak cakap. Kuda yang ditunggangi oleh kakek botak yang
duduk melenggut seperti orang mengantuk itu berjalan di depan, diikuti oleh Han Han yang memanggul
dunia-kangouw.blogspot.com
kantung berisi batu-batu bintang, dan paling belakang adalah Ouwyang Seng yang berjalan sambil kadangkadang
mendorong pundak Han Han disuruh cepat agar jangan tertinggal langkah kuda.
Menjelang malam tibalah mereka di tempat yang dijadikan tempat tinggal Kang-thouw-kwi Gak Liat. Han Han
tertegun dan memandang kagum. Rumah itu adalah sebuah gedung yang indah sekali, yang letaknya berada
di sebelah timur kota Tiong-kwan, di dekat Sungai Suang-ho dan mempunyai tanah yang luas, yang dipagari
dengan pagar tembok tinggi. Inilah bukan sembarang rumah, pikirnya. Seperti istana saja!
“Rumah siapa ini...?” tanyanya ketika mereka memasuki rumah itu setelah dua orang pelayan menyambut
kuda tunggangan Si Kakek Botak. Ouwyang Seng mengajak Han Han untuk terus menuju ke belakang melalui
pintu samping, berbeda dengan kakek botak yang langsung memasuki gedung dari pintu tengah.
“Heh-heh, rumah siapa lagi? Ini rumahku!”
“Rumahmu...?” Han Han makin kagum.
“Bodoh, bukankah sudah kukatakan bahwa Ayahku adalah Pangeran Ouwyang Cin Kok? Apa artinya rumah ini
bagi Ayah? Ini hanyalah sebuah rumah pesanggrahan yang biasanya ditinggali keluargaku di waktu musim
panas. Kini dipergunakan oleh suhu untuk mengajar ilmu silat kepadaku. Hayolah! Kau makan dulu, kemudian
tidur. Besok kita bekerja!” Ouwyang Seng lalu memanggil pelayan, menyuruh pelayan memberi makan kepada
Han Han dan memberi sebuah kamar untuk tidur. Kemudian kongcu itu pun melenyapkan diri ke dalam rumah
gedung dan malam pun tiba.
Pada keesokan harinya, Han Han terbangun pagi-pagi sekali. Keadaan di dalam gedung masih sunyi, tanda
bahwa semua penghuninya masih tidur. Ia berindap-indap keluar dari kamarnya, yaitu sebuah kamar kecil di
antara kamar-kamar untuk bujang di bagian belakang gedung, dan dengan hati-hati Han Han mencari jalan
untuk lari minggat dari situ. Betapa pun tertarik hatinya untuk menyaksikan Ouwyang Seng berlatih dan kalau
mungkin dia sendiri menerima pelajaran dari Setan Botak itu, namun ia masih memilih bebas dari pada
tekanan mereka dan dipaksa menjadi pelayan.
Karena kedua kaki Han Han telanjang, ia dapat melangkah secara hati-hati sekali tanpa mengeluarkan suara
dan berhasil melewati kamar-kamar bujang tanpa membangunkan mereka. Akan tetapi alangkah kecewa
hatinya ketika ia mendapat kenyataan bahwa rumah gedung itu terkurung tembok tinggi sekali dan tidak ada
jalan keluar sama sekali kecuali memanjat pintu gerbang atau tembok! Akan tetapi pintu gerbang pun terlalu
tinggi untuknya.
Selagi ia termangu bingung, terdengar suara tertawa. “Ho-ho-ha-ha, kau hendak lari ke mana?”
Han Han terkejut dan cepat menengok, akan tetapi keadaan di sekelilingnya tetap sunyi dan gelap. Tidak
tampak bayangan seorang manusia pun, juga tidak tampak di mana adanya Setan Botak tua yang tadi ia
dengar suaranya. Ia bergidik. Hebat bukan ilmu kesaktian kakek itu. Mungkinkah dapat melihatnya dari dalam
gedung dan dapat mengirim suaranya seperti itu? Karena maklum bahwa usahanya untuk lari sia-sia belaka
dan tak mungkin dapat ia lakukan, Han Han lalu kembali ke dalam kamarnya dan ia duduk bersila dan
bersemedhi seperti yang pernah dilatihnya di bawah bimbingan Lauw-pangcu.
Setelah Ouwyang Seng bangun, Han Han diajak pergi ke tempat latihan. Tempat ini dahulunya dijadikan
sebuah gudang besar, akan tetapi sejak Gak Liat tinggal di situ, oleh kakek ini dijadikan semacam lian-bu-thia
(ruangan bermain silat) lengkap dengan dapurnya di mana ia dan muridnya melatih diri untuk memperkuat
Yang-kang dengan bantuan batu-batu bintang. Masih ada lagi sebuah tempat yang letaknya di belakang
gedung dan tempat ini penuh rahasia.
Kalau para pelayan di gedung itu masih diperbolehkan memasuki lian-bu-thia, maka tidak seorang pun kecuali
kakek botak itu sendiri yang boleh memasuki tempat terlarang di belakang gedung ini. Tempat itu dahulunya
menjadi kebun dari gedung itu, akan tetapi kabarnya sebelum Pangeran Ouwyang membangun gedung di situ,
kebun itu dahulunya sebuah tanah kuburan kuno. Di tempat inilah Gak Liat secara rahasia menggembleng diri
memperdalam kesaktian karena sebagai seorang di antara Lima Datuk Besar ia harus selalu memperdalam
ilmu agar jangan sampai kalah oleh datuk lain.
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Han mendengar semua ini dari Ouwyang Seng. “Engkau harus taat akan perintah suhu kalau kau ingin
hidup,” antara lain putera pangeran itu berkata. “Kalau suhu sudah marah dan menghendaki nyawamu, biar
ada seribu orang dewa sekali pun tidak akan dapat menolongmu. Kau ingat baik-baik, sekali-kali jangan
memasuki daerah terlarang di belakang gedung ini karena siapa saja, termasuk aku sendiri, kalau berani
melanggar larangan ini, akan mati!”
Diam-diam Han Han tidak puas hatinya. Terlalu sekali Setan Botak itu, demikian pikirnya. Karena ketidaksenangan
hatinya ia memberi nama Setan Botak kepada kakek itu. Mudah saja memutuskan mati hidupnya
orang lain! Akan tetapi ia tidak mau banyak cakap. Ia maklum bahwa keadaannya seperti seorang tahanan,
tidak dapat lari dan terpaksa ia harus bekerja di situ. Ia tidak bodoh, tidak mau nekat memperlihatkan ketidaksenangannya
karena berada dalam keadaan tidak berdaya.
“Aku harus dapat memetik keuntungan sebanyaknya dalam keadaan seperti ini,” pikirnya. Maka ia lalu
membantu pekerjaan di dalam lian-bu-thia seperti yang diperintahkan Ouwyang Seng.
Ia harus mengisi air yang diambilnya dari sumur, memenuhi sebuah kuali baja yang amat besar dan yang
ditaruh di atas perapian. Juga ia harus memukuli batu-batu bintang sampai menjadi kecil-kecil,
mempergunakan sebuah palu besi. Pekerjaan ini sukar dan meletihkan karena batu-batu bintang itu cukup
keras. Tiap kali beradu dengan palu besi mengeluarkan titik-titik api dan kalau mengenai kulit lengan, terasa
panas sekali! Pecahan batu-batu bintang ini lalu dituangkan ke dalam kuali besar yang airnya mulai mendidih.
Pada saat itu muncullah Gak Liat dan seperti biasanya, kemunculannya secara tiba-tiba seperti ia pandai
menghilang saja. Padahal ia dapat muncul seperti itu karena menggunakan ginkang yang amat tinggi
tingkatnya sehingga gerakannya selain ringan tak terdengar, juga amat cepat.
“Suhu, apakah teecu (murid) sudah boleh berlatih dengan batu bintang?” Ouwyang Seng bertanya.
“Hemmm... masih jauh! Kedua lenganmu belum cukup kuat, Kongcu. Lebih baik kau tekun melatih kedua
lenganmu dengan air panas beracun itu. Itu pun amat berguna, dan kelak kalau tingkatmu sudah cukup kuat,
baru akan kulatih dengan air panas batu bintang. Mulailah, Kongcu. Dan kau, Han Han, air di kuali besar itu
kurang penuh, hayo ambil lagi dan isi sampai penuh, kemudian besarkan apinya. Batu-batu kecil merah itu
harus digodok sampai hancur!”
Dengan muka keruh karena kecewa Ouwyang Seng menghampiri kuali yang lebih kecil, yang tadi ia
tumpangkan di atas perapian kecil di sudut. Air dalam kuali itu kelihatan menghitam, dan airnya sudah mulai
panas akan tetapi masih belum mendidih. Setelah menggulung kedua lengan bajunya, Ouwyang Seng
memasukkan kedua tangannya ke dalam kuali air hitam, akan tetapi ia menyeringai kesakitan dan menarik
kembali kedua tangannya keluar.
“Aduh, terlalu panas...!” serunya.
“Hemmmmm, Kongcu kurang tekun berlatih!” Setan Botak menegur dan suaranya jelas membayangkan bahwa
hatinya tidak puas. “Yang begini saja tidak kuat, apa lagi berlatih dengan batu bintang. Masukkan lagi tangan
Kongcu ke dalam kuali itu, jangan ragu-ragu, masukkan!”
Ouwyang Seng memandang ke arah suhu-nya dengan muka pucat, kemudian ia menggigit bibirnya dan
dengan nekat memasukkan kedua lengannya ke dalam kuali di depannya. Tubuhnya menggigil dan hampir ia
tidak kuat menahan, akan tetapi tiba-tiba kakek itu mengulur tangan kiri, menyentuh pundaknya dan tubuh
Ouwyang Seng tidak menggigil lagi, bahkan wajahnya kelihatan tenang.
“Bantulah dengan hawa dalam tubuh! Kongcu harus dalam keadaan siulian (semedhi) jika tidak kuat,” suara
kakek itu mengomel. Ouwyang Seng lalu meramkan kedua mata dan mulai mengatur napas mengumpulkan
perasaan, mengerahkan hawa dari dalam pusar dan ketika kakek itu menarik kembali tangannya, Ouwyang
Seng tidak menggigil lagi, wajahnya tenang.
“Berlatih terus sampai dua hari dua malam, jangan hentikan kecuali makan, dan ulangi lagi sampai aku kembali
dari pertemuan Ho-han-hwe,” pesan Si Kakek sambil berdiri dan bertolak pinggang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Han yang sejak tadi berdiri memandang dan mendengarkan, menjadi terheran. Air hitam itu terang amat
panas, bahkan sudah mulai menguap, akan tetapi kini Ouwyang Seng dalam keadaan semedhi mampu
menahan dengan kedua lengannya direndam air panas!
“Hei, mana airnya? Cepat tambah sampai penuh dan godok batu bintang sampai hancur. Kalau airnya
menguap habis dan batunya masih belum hancur betul, tambah terus dan godok terus sampai hancur.
Mengerti?”
Han Han terkejut dan sadar dari keadaan bengong tadi. Cepat-cepat ia menyambar ember kosong dan lari ke
sumur, mengambil air dan menuangkannya ke dalam kuali besar berisi batu bintang. Kakek itu masih berdiri di
situ, kemudian berkata.
“Kerjakan penggodokan batu ini sampai hancur, terus besarkan api sampai aku datang kembali. Awas, kalau
aku datang batu-batu ini belum hancur, kau yang akan kumasukkan ke dalam air ini!”
Setelah mengeluarkan kata-kata ini, tubuh Setan Botak yang tinggi kurus itu berkelebat dan lenyap dari situ.
Han Han sejenak memandang dan mencari-cari dengan matanya, kemudian melirik ke arah Ouwyang Seng
yang masih duduk bersemedhi dengan kedua lengan direndam air hitam yang panas. Han Han mengangkat
pundak dan melanjutkan pekerjaannya, maklum bahwa ia tidak berdaya melarikan diri dan terpaksa harus
melakukan perintah Setan Botak. Akan tetapi betapa mendongkol hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa
batu-batu bintang itu benar-benar amat sukar dicairkan. Sampai berkali-kali ia harus menambah air lagi dalam
kuali dan menambah kayu perapian sehingga hawa panas memenuhi ruangan ‘dapur’ dari lian-bu-thia ini.
Baiknya ia bekerja kepada Ouwyang Seng, putera pangeran yang amat dihormat, dan diperhatikan
keadaannya oleh para pelayan sehingga pada waktu-waktu tertentu tidak pernah pelayan lupa untuk
mengantar minuman dan makanan. Ouwyang Seng kelihatan gembira bahwa ia telah memperoleh kemajuan.
Kini tanpa bantuan gurunya ia sudah dapat bertahan merendam kedua lengannya di air racun yang panas.
Karena kegembiraannya, ia sering bercerita di waktu mengaso sehingga Han Han banyak tahu akan keadaan
yang aneh di tempat itu dan akan keadaan Setan Botak yang amat luar biasa itu. Diam-diam di dalam hatinya
Han Han bergidik. Kalau saja ia tahu sebelumnya, tentu ia tidak akan membawa Setan Botak itu kepada
sarang Pek-lian Kai-pang! Bergidik ia teringat betapa banyaknya manusia menjadi korban kekejaman Si Setan
Botak ini.
Menurut penuturan Ouwyang Seng yang sesungguhnya tidak banyak pengetahuannya tentang keadaan Kangthouw-
kwi Gak Liat, sebagaimana yang ia ceritakan penuh kebanggaan kepada Han Han, kakek itu adalah
tokoh terbesar di antara Lima Datuk Besar yang pada saat itu menguasai dunia kang-ouw golongan hitam.
Merupakan tokoh yang amat terkenal karena ilmunya yang mengerikan, yaitu Hwi-yang-sin-ciang, dan sudah
banyak jasanya terhadap Pemerintah Mancu karena ketika barisan Mancu menyerbu ke selatan, kakek inilah
seorang di antara tokoh-tokoh sakti yang melancarkan jalan dengan merobohkan pejuang-pejuang yang
memiliki kesaktian.
“Menurut kata Ayahku, Pangeran Ouwyang Cin Kok, ilmu kepandaian suhu tidak ada lawannya di kolong langit
ini, maka aku disuruh menjadi muridnya. Kau lihat sendiri, betapa hebat ilmunya. Dan aku... aku sudah mulai
dapat menggembleng kedua lenganku agar kelak menjadi jago nomor satu di dunia, setelah suhu.”
Han Han amat tertarik. Belum pernah ia mendengar tentang ilmu kesaktian yang aneh-aneh, sungguh pun
sudah banyak ia membaca cerita tentang orang-orang sakti di jaman dahulu. Kini ia tidak saja mendengar,
bahkan ia menyaksikan dengan mata sendiri.
“Kongcu, tadi gurumu mengatakan telah mengenal Kakekku dan menyebut Kakekku Jai-hwa-sian, apakah kau
pernah mendengar tentang Kakekku itu?”
Ouwyang Seng menggeleng kepala. “Aku belum pernah mendengar nama itu. Mungkin para suheng (Kakak
Seperguruan Laki-laki) atau suci (Kakak Seperguruan Perempuan) pernah mendengar dan mengetahuinya.
Kelak akan kutanyakan mereka.”
“Ah, jadi Kongcu masih mempunyai suheng dan suci?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Ouwyang Seng mengacungkan jempolnya. “Tentu saja, dan mereka pun hebat! Aku mempunyai dua orang
suheng dan seorang suci, dan kepandaian mereka saja sudah cukup menggegerkan dunia dan tidak ada
lawannya. Akan tetapi menurut suhu, kalau aku tekun belajar, aku akan lebih lihai dari pada mereka!”
Han Han dapat menduga bahwa putera pangeran ini sedang bersombong, maka ia tidak begitu
mengacuhkannya. Pikirannya sendiri bekerja dan ia amat tertarik untuk mempelajari ilmu yang aneh-aneh itu,
bukan sekali-kali karena ingin menggunakannya untuk berkelahi, memukul, apa lagi membunuh orang,
melainkan keanehan ilmu-ilmu itulah yang menarik hatinya. Ingin ia mengetahui rahasianya. Ketika ia
menuangkan air tadi, ada air dari kuali, air yang mendidih dan berwarna agak merah, memercik ke atas dan
setetes air mengenai lengannya. Kulit lengannya terasa panas sekali dan melepuh. Hal ini adalah wajar, akan
tetapi mengapa Ouwyang Seng dapat merendam kedua lengannya di air panas tanpa terluka?
“Kau lanjutkan pekerjaanmu menggodok batu bintang sampai hancur mencair, Han Han. Jangan sampai gagal
dan jangan menggangguku. Ingat lagi, tak boleh sekali-kali kau keluar dari lian-bu-thia ini, apa lagi berkeliaran
di daerah terlarang di belakang gedung. Kalau melanggar, engkau akan mati dalam keadaan mengerikan!”
Sudah menjadi watak Han Han, juga mungkin watak sebagian besar anak-anak, makin terlarang makin ingin
tahu.
“Ada apanya sih di daerah terlarang itu, Kongcu?”
“Hush! Mana aku tahu? Di situ tempat suhu bersemedhi dan melatih ilmu, tidak ada yang boleh masuk. Aku
pun baru tiga kali diperkenankan masuk dan keadaannya mengerikan dan menyeramkan! Ada tengkoraktengkorak
hidup... hihhh... ada setan-setannya di situ. Akan tetapi suhu menguasai semua setan-setan yang
membantunya memperdalam ilmu-ilmunya itu.”
Han Han merasa seram juga, akan tetapi diam-diam ia makin tertarik dan ingin sekali menjenguk daerah
terlarang. Namun tentu saja hai ini hanya ia simpan dalam hati dan karena melihat Ouwyang Seng sudah
tekun bersemedhi dan berlatih, ia pun lalu duduk bersila di depan perapian menjaga godokan batu bintang....
********************
Ho-han-hwe (Perkumpulan Kaum Patriot) adalah sebuah perkumpulan orang-orang gagah yang menentang
pemerintah penjajah Mancu, terdiri dari tokoh-tokoh kang-ouw yang kemudian di dunia kang-ouw sendiri
dikenal dengan golongan putih atau kaum bersih sebagai tandingan dari mereka yang mendukung pemerintah
penjajah yang mereka namai golongan hitam atau kaum sesat! Di mana-mana ada Ho-han-hwe ini, namun
tidak pernah ada tempat atau markasnya yang tertentu karena tentu saja perkumpulan ini merupakan
perkumpulan rahasia yang oleh pemerintah Mancu dicap sebagai pemberontak. Setiap saat dapat saja
diadakan pertemuan rahasia antara tokoh-tokoh patriot ini yang secara diam-diam selalu mengadakan
hubungan satu dengan yang lain.
Kang-lam Sam-eng Si Tiga Pendekar Kang-lam merupakan tokoh-tokoh bersemangat dari Ho-han-hwe. Tiga
orang murid Siauw-lim-pai inilah yang memelopori pertemuan antara orang gagah di Tiong-kwan yang menjadi
pusat dari Pek-lian Kai-pang. Tentu saja Pek-lian Kai-pang merupakan golonga sepaham atau sahabat karena
perkumpulan pengemis di bawah pimpinan Lauw-pangcu ini menjadi anak buah musuh Mancu di barat, yaitu
Raja Muda Bu Sam Kwi.
Akan tetapi, tiga hari sebelum pertemuan penting ini diadakan, terjadilah mala petaka menimpa Pek-lian Kaipang
sehingga hampir seluruh anggota perkumpulan pengemis pejuang ini terbasmi habis oleh datuk hitam
Gak Liat, bahkan Lauw-pangcu sendiri terluka, juga Kang-lam Sam-eng yang tadinya datang mengunjungi
sahabat mereka ikut pula mengalami nasib malang. Khu Cen Tiam dan Liem Sian terluka dan Bhok Khim Si
Pedang Cantik malah tertawan oleh Setan Botak yang lihai luar biasa itu. Semua ini masih ditambah lagi
dengan terpecahnya rahasia pertemuan Ho-han-hwe sehingga kini pertemuan itu terancam oleh hadirnya
Kang-thouw-kwi Gak Liat.
Peristiwa ini yang segera terdengar oleh kaum bersih, membuat mereka sibuk sekali membuat persiapan.
Nama besar Gak Liat sudah dikenal mereka semua, sungguh pun belum pernah ada yang bertemu, apa lagi
dunia-kangouw.blogspot.com
bertanding melawan datuk hitam itu. Mereka sibuk mengundang tokoh-tokoh besar dari golongan putih, namun
tak seorang pun yang merasa akan sanggup menandingi kesaktian Setan Botak. Akhirnya hati mereka lega
ketika Khu Cen Tiam dan Liem Sian berhasil mengundang Siauw-lim Chit-kiam (Tujuh Pendekar Pedang
Siauw-lim-pai) yang masih terhitung paman-paman guru Kang-lam Sam-eng, atau murid-murid dari Ceng San
Hwesio ketua Siauw-lim-pai. Agaknya hanya Siauw-lim Chit-kiam ini sajalah yang akan sanggup menandingi
musuh itu.
Selain Siauw-lim Chit-kiam yang diundang datang oleh Khu Cen Tiam dan Liem Sian, juga ada beberapa
orang tokoh undangan lain sehingga kedudukan Ho-han-hwe yang diadakan di Tiong-kwan itu cukup kuat.
Namun mereka itu telah mengatur siasat dan rencana, karena khawatir kalau-kalau yang muncul bukan hanya
Setan Botak sendiri dan siapa tahu kalau-kalau di belakang Setan Botak ini terdapat pasukan pemerintah
penjajah yang akan membasmi mereka.
Demikianlah, pada hari yang ditetapkan, semua orang gagah berkumpul dengan hati berdebar, dalam suasana
penuh ketegangan. Mereka memilih tempat di sebuah kuil tua, yaitu sebuah kuil di luar kota Tiong-kwan
sebelah barat. Kuil ini selain sudah tua tidak terpakai lagi, juga memiliki pekarangan yang luas dan jauh dari
tetangga, letaknya sunyi dan dari tempat itu akan mudah diketahui kalau ada pihak musuh datang menyerang.
Semenjak pagi, sudah banyak anggota-anggota Ho-han-hwe yang berdatangan. Sambungan pundak Liem
Sian yang terlepas telah dapat disambung kembali, dan lengan Khu Cen Tiam juga sudah diobati dan masih
terbalut. Semua ini dapat dilakukan berkat ilmu pengobatan yang tinggi dari seorang di antara Siauw-lim Chitkiam.
Namun tentu saja kedua orang ini masih harus beristirahat dan tidak mungkin dapat menghadapi dan
ikut dalam pertandingan melawan musuh pandai.
Ada tiga puluh orang lebih yang berkumpul, kesemuanya merupakan tokoh-tokoh yang tinggi ilmu silatnya.
Akan tetapi yang menjadi pusat perhatian, juga menjadi pusat harapan mereka, adalah Siauw-lim Chit-kiam
yang rata-rata berusia lima puluhan tahun dan bersikap tenang sekali, ditambah lagi dua orang tokoh
undangan lain yang namanya tidak kalah tenarnya dari Siauw-lim Chit-kiam. Mereka ini adalah seorang lakilaki
tinggi besar berkulit hitam dan seorang lagi kakek kurus kering bermuka pucat.
Laki-laki tinggi besar itu bernama Giam Ki, akan tetapi lebih terkenal dengan julukan Ban-kin Hek-gu (Kerbau
Hitam Selaksa Kati). Dari julukannya ini saja mudah diduga bahwa laki-laki tinggi besar berusia empat puluhan
tahun ini selain memiliki ilmu silat Bu-tong-pai yang lihai, juga memiliki tenaga yang dahsyat. Ada pun laki-laki
berusia enam puluhan tahun yang kecil tubuhnya dan bermuka pucat itu amat terkenal dengan julukannya It-ci
Sin-mo (Iblis Berjari Sakti) dan bernama Tan Sun. Kalau Giam Ki terkenal dengan tenaga luar yang dahsyat,
adalah Tan Sun ini terkenal sebagai ahli lweekeh (tenaga dalam) yang amat pandai mempergunakan jari
tangan untuk melakukan ilmu tiam-hiat-hoat (menotok jalan darah).
Akan tetapi berbeda dengan sikap Siauw-lim Chit-kiam yang tenang dan diam, kedua orang ini agak sombong
dan berlagak memandang rendah ancaman Kang-thouw-kwi Gak Liat! Sikap ini hanya mendatangkan
perasaan lega dan percaya di antara golongan muda yang hadir di Ho-han-hwe itu, akan tetapi bagi mereka
yang lebih tua, bahkan menimbulkan kekhawatiran dan keraguan.
“Mengapa khawatir menghadapi Si Setan Botak?” Demikian antara lain Ban-kin Hek-gu berkata sambil
mengangkat dadanya yang lebar dan kuat. “Kita sekalian hanya baru mendengar namanya sebagai seorang di
antara Lima Datuk Hitam! Tak perlu gelisah! Macam datuk-datuk hitam yang berkecimpung di dunia
kemaksiatan, mana mungkin bisa memiliki kesaktian tulen? Kalau dia datang, biarlah aku yang maju
menghadapinya!”
Karena semua orang maklum bahwa Si Kulit Hitam tinggi besar ini memang berkepandaian tinggi dan lihai
sekali, mereka tidak mau membantah, apa lagi mereka semua sedang dalam suasana berkabung. Sebuah
meja sembahyang besar dipasang di tengah ruangan dan mereka tadi satu demi satu telah melakukan
sembahyang untuk mengenang dan menghormat kematian teman-teman mereka, yaitu anggota-anggota Peklian
Kai-pang yang telah dibasmi oleh Setan Botak secara mengerikan.
“Kami percaya akan kemampuan Giam-taihiap dan amat mengharapkan bantuan taihiap yang berharga,” kata
pula Khu Cen Tiam tenang. “Akan tetapi kami harap sukalah Giam-taihiap dan semua saudara-saudara yang
lain berhati-hati sekali. Setan Botak itu benar-benar amat lihai dan kesaktiannya dahsyat sekali. Kita telah
dunia-kangouw.blogspot.com
mengatur rencana dan siasat, apa bila dia datang dan tak dapat dilawan, kita harus mengandalkan tenaga
bantuan ke tujuh orang susiok (Paman Guru) kami untuk menghadapinya.” Sambil berkata demikian, Khu Cen
Tiam memandang ke arah tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai yang duduk diam dan sejak tadi tidak berkata-kata,
hanya mendengarkan dengan sikap tenang.
Seorang di antara Siauw-lim Chit-kiam yang tertua, kakek berjenggot putih panjang berpemandangan tajam
dan bernama Song Kai Sin, berkata dengan suara halus dan tenang. “Kami bukanlah anggota-anggota Hohan-
hwe dan kami datang memenuhi undangan murid-murid keponakan kami hanya karena seorang
keponakan perempuan kami ditawan oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat. Memang Gak Liat amat keji dan jahat,
sudah menjadi kewajiban kami untuk menentangnya, apa lagi kalau Bhok Khim dia ganggu. Akan tetapi, dia
amat sakti, sungguh pun kami sendiri belum pernah melawannya, namun menurut perhitungan kami, hanya
kalau kami bertujuh maju bersama mungkin baru dapat menahannya. Kalau sudah terjadi demikian,
hendaknya rencana diteruskan dan jangan pedulikan kami. Kami Siauw-lim Chit-kiam sekali turun tangan
memenuhi kewajiban, sudah rela dan siap untuk mengorbankan nyawa untuk membersihkan dunia dari tangan
kotor seorang di antara Lima Datuk Hitam.”
Setelah bicara demikian, Song Kai Sin kembali menundukkan mukanya dan bersemedhi seperti enam orang
saudara seperguruannya. Ketika orang memperhatikan, kiranya tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai ini sejak tadi
bersemedhi untuk mengumpulkan tenaga dan diam-diam mereka sedang meyakinkan latihan untuk
menyatukan semangat dan sinkang mereka. Untuk menghadapi seorang tokoh besar seperti Setan Botak,
tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai ini yang sudah maklum akan kelihaian lawan, tanpa banyak cakap telah
berlatih dan bersiap-siap.
Lauw-pangcu, ketua Pek-lian Kai-pang yang hadir pula dalam pertemuan ini telah mendapat pengobatan pula
dari lukanya di sebelah dalam tubuh akibat pukulan jarak jauh Setan Botak. Wajah ketua Pek-lian Kai-pang ini
pucat sekali dan tubuhnya masih lemah, namun semangatnya sama sekali tidaklah lemah, bahkan berkobarkobar
karena ia merasa sakit hati terhadap Setan Botak atas kematian hampir seluruh anggota Pek-lian Kaipang.
Setelah membawa puterinya, Sin Lian, ke rumah seorang sahabatnya di Tiong-kwan, menitipkan anak itu dan
memesan kepada Sin Lian agar jangan keluar dari rumah, ia sebagai seorang terpenting dalam Ho-han-hwe itu
lalu mengatur persiapan bersama Khu Cen Tiam dan Liem Sian. Mereka semua telah bersepakat menjalankan
siasat, yaitu dengan cara apa pun harus dapat mereka tewaskan Si Setan Botak, kalau mungkin dalam
pertandingan, kalau tidak mungkin, telah disediakan cara untuk membakar Setan Botak hidup-hidup di dalam
kuil tua!
Setelah semua hadir, pertemuan itu dibuka oleh Lauw-pangcu yang membicarakan tentang usaha perlawanan
Raja Muda Bu Sam Kwi di wilayah barat untuk menentang pemerintah penjajah bangsa Mancu. Kemudian ia
menceritakan pula mala petaka yang menimpa Pek-lian Kai-pang dan dengan suara pilu bercampur sesal
hebat ia menambahkan.
“Kalau saya merenungkan betapa mala petaka ini didatangkan oleh... murid saya sendiri... sungguh perih
sekali perasaan hatiku...” Tak tertahankan lagi, Lauw-pangcu yang sudah tua ini menitikkan air mata.
Ia merasa menyesal bukan main telah bertemu Sie Han dan mengambil anak itu sebagai murid. Lebih-lebih
perih rasa hatinya betapa muridnya itu membawa datang Si Setan Botak, bahkan membawakan buntalan yang
isinya lima buah kepala pembantu-pembantunya! Kenangan ini mendatangkan kemarahan luar biasa dan biar
pun lukanya masih belum sembuh benar, ia menggerakkan tangan menghantam remuk sisa arca batu di
sampingnya sambil berkata, “Selama hidup aku takkan melupakan murid murtad yang bernama Sie Han itu!
Sekali waktu tentu akan kubalas dendam ini!” Napasnya terengah dan ia menyambung, “Mohon bantuan para
saudara untuk kelak menangkap murid ini dan menyerahkannya kepada saya.” Setelah berkata demikian,
Lauw-pangcu muntahkan darah segar.
Song Kai Sin, orang pertama dari Siauw-lim Chit-kiam, berkata tenang, “Lauw-pangcu, seorang gagah dapat
menerima segala keadaan, betapa pun buruknya, dengan penuh kesabaran dan ketenangan. Keluh-kesah dan
kesedihan tiada gunanya, hanya akan melemahkan semangat dan badan.” Kemudian ia bangkit berdiri,
menghampiri Lauw-pangcu dan menggunakan dua jari tangan kirinya menotok jalan darah di punggung ketua
Pek-lian Kai-pang yang akhirnya menjadi tenang kembali.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi ucapan kakek ini telah membangkitkan amarah di hati para orang gagah yang hadir dan diam-diam
mereka ini pun membenci Sie Han, apa lagi Khu Cen Tiam dan Liem Sian dua orang murid Siauw-lim-pai itu
yang menganggap bahwa hilangnya sumoi mereka adalah gara-gara murid murtad itu pula. Kalau murid
murtad Lauw-pangcu tidak berkhianat, tentu Setan Botak tidak akan datang dan sumoi mereka tidak akan
terculik.
Para anggota Ho-han-hwe itu lalu saling menceritakan hasil perjuangan mereka menentang penjajah dan
mengatur siasat untuk melakukan gerakan-gerakan selanjutnya. Ada yang mengusulkan agar mereka itu
menculik anak-anak para pembesar Mancu sehingga selain hal ini merupakan pukulan batin bagi para
pembesar penjajah, juga dapat mereka pergunakan untuk membebaskan teman-teman seperjuangan yang
ditawan.
Usul ini diterima, bahkan It-ci Sin-mo Tan Sun dan Ban-kin Hek-gu Giam Ki masing-masing berjanji untuk
menculik anak pembesar yang paling tinggi kekuasaannya, kalau mungkin malah akan menculik putera Raja
Mancu! Kesanggupan kedua orang sakti ini tentu saja disambut gembira. Di antara mereka yang hadir dan
membicarakan semua rencana perlawanan dengan bermacam cara terhadap penjajah ini, hanya Siauw-lim
Chit-kiam saja yang tidak mencampuri dan mereka tetap bersemedhi sambil melatih diri untuk menghadapi
Setan Botak yang mereka tahu amatlah lihainya.
Akan tetapi, sehari itu mereka menanti-nanti, Setan Botak belum juga tampak muncul. Menjelang senja, tibatiba
dari luar menyambar sebatang piauw beronce merah ke arah Khu Cen Tiam. Pendekar Siauw-lim-pai ini
cepat mengulurkan tangan dan menyambar piauw itu sambil berseru heran karena ia mengenal piauw ini
sebagai senjata rahasia sumoi-nya. Juga Liem Sian mengenalnya, maka pendekar ke dua dari Kang-lam Sameng
ini tubuhnya sudah melesat ke luar dari kuil tua dan terdengar suaranya di luar kuil.
“Sumoi...!”
Akan tetapi, tak lama kemudian Liem Sian kembali ke dalam kuil dengan wajah muram dan pandang mata
heran. “Dia benar sumoi, akan tetapi sudah pergi jauh,” ucapan ini ia tujukan kepada suheng-nya.
Khu Cen Tiam menarik napas panjang. “Biarlah, memang dia tidak ingin datang ke sini, buktinya ini dia
mengirim surat dengan piauw-nya. Betapa pun juga, dia selamat, Sute, dan kita boleh bersyukur karenanya.”
Akan tetapi setelah Khu Cen Tiam membuka surat yang terikat pada piauw tadi, keningnya berkerut dan ia
menoleh ke arah Siauw-lim Chit-kiam yang masih bersemedhi. “Susiok, teecu persilakan membaca surat
sumoi,” bisik Khu Cen Tiam kepada Song Kai Sin.
Kakek ini membuka mata memandang, lalu dengan tenang mengulur tangan menerima surat dan dibacanya.
Wajahnya masih tenang, namun pandang matanya mengandung sinar kilat, lalu menyerahkan surat itu kepada
hwesio gendut di sebelahnya, orang ke dua dari Siauw-lim Chit-kiam. Hwesio ini menerima surat, membaca
dan bibirnya bergerak, “Omitohud...!” lalu menyerahkan surat itu kepada orang ke tiga.
Sebentar saja surat itu beralih tangan dan Siauw-lim Chit-kiam sudah membaca semua. Yang terakhir dari
ketujuh orang tokoh Siaiw-lim-pai ini adalah seorang kakek kurus bermuka merah. Setelah membaca surat itu,
bibirnya mengeluarkan suara mendesis seperti ular dan surat yang dikepalnya itu hancur menjadi bubuk ketika
ia membuka kembali tangannya! Kemarahannya membuat kakek ini lupa diri dan kekuatan yang ia perlihatkan
sungguh dahsyat. Mengepal hancur benda keras bukanlah hal yang amat mengagumkan, akan tetapi
mengepal benda lemas seperti kertas sampai hancur membubuk, benar-benar tidaklah mudah dilakukan oleh
sembarang ahli!
“Chit-te (Adik ke Tujuh), simpan tenagamu untuk menghadapi lawan tangguh, bukan diumbar dan habis
dihisap kemarahan,” kata pula Song Kai Sin dengan nada menegur. Orang ke tujuh yang bernama Liong Ki
Tek ini menghela napas panjang dan segera meramkan mata kembali.
Apakah bunyi surat yang dikirim secara aneh oleh Bhok Khim itu? Bunyinya pendek saja namun isinya
dipahami oleh dua orang suheng-nya dan tujuh orang susiok-nya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kedua Suheng,
Perbuatan keji biadab Kang-thouw-kwi memaksa aku tidak ada muka untuk bertemu dengan orang lain,
memaksa aku pergi mengurung diri ke dalam ‘kamar siksa diri’ di kuil. Kalau Suheng berdua dapat
menewaskannya, syukurlah. Kalau tidak, aku akan memperdalam ilmu dan kelak aku sendiri yang akan
menghancurkan kepalanya.
Bhok Khim.
Tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai itu diam-diam mengeluh dan menangis dalam hati. Mereka tahu bahwa murid
wanita Siauw-lim-pai itu telah diperhina oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat dan mereka tahu bahwa mengurung diri
ke dalam ‘kamar siksa diri’ merupakan perbuatan nekat seperti orang membunuh diri.
“Siauw-lim Chit-kiam akan mengadu nyawa dengan Kang-thouw-kwi...!” Tiba-tiba Song Kai Sin berseru keras
ke arah luar kuil.
Semua orang terkejut dan ketika mereka memandang ke luar, ternyata Kang-thouw-kwi Gak Liat sudah tampak
berdiri di luar kuil bersama dua orang lain yang kelihatan amat menarik karena perbedaan muka mereka. Yang
seorang bertubuh tinggi besar bermuka hitam seperti pantat kuali, ada pun yang seorang lagi bertubuh pendek
kurus bermuka putih seperti kapur!
Akan tetapi mereka yang mengenal dua orang ini maklum bahwa dua orang yang menemani Si Setan Botak ini
bukanlah sembarang orang, melainkan tokoh-tokoh hitam yang amat terkenal, yaitu kakak beradik yang
terkenal dengan julukan Hek-pek Giam-ong (Raja Maut Hitam Putih)! Mereka ini adalah murid-murid Si Setan
Botak. Masih ada seorang lagi murid Si Setan Botak, yaitu seorang murid wanita yang bernama Ma Su Nio,
berjuluk Hiat-ciang Sian-li (Dewi Bertangan Darah) yang kabarnya malah lebih lihai dari pada Hek-pek Giamong
dan lebih kejam dari pada gurunya. Akan tetapi iblis wanita itu tidak nampak hadir.
“Hah-ha-ha-ha-ha!” Terdengar Si Setan Botak tertawa, akan tetapi tidak mengeluarkan kata-kata, hanya
tertawa dengan nada mengejek. Yang membuka mulut bicara adalah Hek-giam-ong, muridnya yang bermuka
hitam. Hek-giam-ong melangkah maju dan berkata, suaranya nyaring sekali.
“Bukankah Siauw-lim Chit-kiam murid-murid Ceng San Hwesio? Sejak kapankah murid-murid Ceng San
Hwesio bersekutu dengan para pemberontak?”
“Sejak iblis-iblis macam kalian membantu penjajah Mancu!” bentak Ban-kin Hek-gu Giam Ki yang suaranya
lebih menggeledek dari suara Si Muka Hitam. “Kalau kalian berani, masuklah ke dalam kuil, di sini lega dan
memang sudah disediakan untuk kita bertanding mengadu ilmu!” Tantangan Ban-kin Hek-gu Giam Ki ini bukan
sekedar karena wataknya yang keras dan kasar, melainkan menurut rencana Ho-han-hwe untuk memancing
musuh yang tangguh ke dalam kuil.
“Hah-ha-ha-ha-ha!” Si Setan Botak makin keras tertawa dan ia melangkah memasuki kuil, diikuti oleh dua
orang muridnya yang kelihatan agak ragu-ragu. Hek-pek Giam-ong maklum betapa berbahaya memasuki
‘sarang’ musuh, akan tetapi karena di situ ada guru mereka, dan melihat guru mereka sudah memasuki kuil,
tentu saja mereka berbesar hati dan melangkah masuk sambil mengangkat dada.
Suara ketawa Si Setan Botak makin nyaring dan biar pun mereka bertiga sudah tiba di ruangan kuil yang luas,
kakek botak ini masih tertawa terus, makin lama makin keras dan terkejutlah mereka semua yang hadir karena
tubuh mereka tergetar hebat oleh suara ketawa yang mengandung tenaga khikang amat luar biasa ini. Hanya
mereka yang sudah tinggi tingkat sinkang-nya saja yang tidak terpengaruh, hanya tergetar dan masih mampu
mengatasi getaran hebat ini. Siauw-lim Chit-kiam, kedua Kang-lam Sam-eng, Lauw-pangcu, Ban-kin Hek-gu
dan It-ci Sin-mo yang masih dapat bertahan, sungguh pun mereka ini diam-diam harus mengerahkan sinkang
untuk melawan suara ketawa itu.
Beberapa orang anggota Ho-han-hwe juga masih mampu melawan sambil cepat duduk bersila, akan tetapi
belasan orang lain yang tingkat tenaga sinkang mereka masih kurang kuat sudah terjungkal dan cepat-cepat
merangkak lalu berlari menjauhi ruangan itu ke sebelah belakang kuil sambil menutupi telinga mereka! Kalau
mereka tidak cepat pergi dan menutupi telinga, mereka akan mati oleh suara ketawa yang mengguncang
jantung itu!
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat ini, Ban-kin Hek-gu Giam Ki yang berwatak keras berangasan menjadi marah sekali. Ia seorang ahli
silat tinggi dan tentu saja maklum bahwa Setan Botak itu memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa, mengerti
bahwa orang yang telah pandai menggunakan khikang dalam suaranya untuk menyerang lawan dengan Ilmu
Ho-kang seperti auman suara harimau adalah seorang sakti yang sukar dikalahkan. Akan tetapi, selain kasar
dan keras, Ban-kin Hek-gu ini juga terkenal tidak pernah takut menghadapi siapa pun juga. Dengan kemarahan
memuncak, keberaniannya bertambah dan ia menerjang maju menyerang Si Setan Botak sambil berseru.
“Setan Botak! Jangan menjual lagak di depan Ban-kin Hek-gu!”
Ban-kin Hek-gu bertenaga besar dan kini menyerang dengan penuh kemarahan, maka pukulan tangan
kanannya yang dikepal mengarah kepala Kang-thouw-kwi Gak Liat amatlah dahsyatnya. Pukulan belum tiba
anginnya sudah menyambar hebat. Akan tetapi kakek botak itu tenang-tenang saja, masih tertawa lebar
sungguh pun sudah tidak mengeluarkan suara lagi. Setelah kepalan tangan yang besar itu menyambar dekat,
hanya tinggal sepuluh sentimeter lagi dari dahinya, kakek ini mengangkat tangan kirinya dan menerima
kepalan tangan Ban-kin Hek-gu dengan telapak tangan.
“Plakkk!”
Si Kerbau Hitam itu terkejut bukan main karena merasa betapa telapak tangan Setan Botak itu lunak dan
panas seperti air mendidih, di mana tenaganya sendiri seperti tenggelam. Cepat ia menarik tangannya, akan
tetapi kepalan itu melekat pada telapak tangan Setan Botak yang tertawa-tawa. Ban-kin Hek-gu Giam Ki
meronta-ronta dan rasa panas dari telapak tangan itu menerobos lengannya, membuat tubuhnya mandi
keringat dan mukanya yang hitam berubah makin hitam.
“Ha-ha-ha, siapa yang berlagak?” Kang-thouw-kwi Gak Liat tertawa. “Pergilah, kau tidak berharga untuk
bertanding melawan aku!” Sekali kakek botak itu mendorongkan lengannya, Ban-kin Hek-gu Giam Ki terlempar
ke belakang dan jatuh bergulingan.
Akan tetapi dia memang bandel dan berani. Cepat ia meloncat bangun lagi dan memaki. “Siluman botak! Hayo
bertanding menggunakan ilmu silat, jangan menggunakan ilmu siluman! Aku masih dapat berdiri, sebelum mati
aku Giam Ki tidak sudi mengaku kalah terhadapmu!”
“Phuahhh, sombongnya!” Hek-giam-ong yang juga bermuka hitam dan sama tinggi besarnya dengan Giam Ki
sudah melompat maju dan bertolak pinggang. “Engkau ini berjuluk Kerbau Hitam, memang otakmu seperti otak
kerbau! Suhu-ku telah berlaku lunak terhadapmu, akan tetapi kau masih banyak lagak. Kerbau macam engkau
ini tidak perlu Suhu yang melayaninya, cukup dengan aku yang akan mencabut nyawa kerbaumu!”
“Bagus! Memang hendak kubasmi sampai ke akar-akarnya, baik guru mau pun murid harus dibasmi agar
jangan mengotori dunia!” Ban-kin Hek-gu Giam Ki sudah menerjang maju dengan kepalannya yang besar.
Akan tetapi sekali ini ia bertemu tanding, sama tinggi besar dan karenanya suka mempergunakan tenaga kasar.
Dengan ilmu Toat-beng Hwi-ciang (Tangan Api Pencabut Nyawa) ditambah tenaganya yang besar, dia benar
amat lihai. Melihat datangnya pukulan Giam Ki, ia tidak mengelak melainkan menangkis dengan lengannya.
“Dukkk!” Dua buah lengan yang besar dan kuat bertumbuk dan keduanya terpental ke belakang.
Tenaga mereka seimbang, akan tetapi Hek-giam-ong menang dalam hal ‘isi’ lengannya yang mengandung
hawa panas. Giam Ki merasa betapa lengannya panas akan tetapi ia maju terus dan ternyata bahwa gerakan
tubuhnya lebih cepat dari pada gerakan Hek-giam-ong. Dengan kemenangan ini ia bisa menutup
kekalahannya dalam hal ilmu pukulan Hwi-ciang.
Segera terdengar suara bak-bik-buk dan dak-duk-dak-duk ketika dua orang raksasa ini saling gebuk. Mereka
ini selain bertenaga besar, juga memiliki kekebalan sehingga pukulan yang tidak tepat kenanya, tidak cukup
merobohkan mereka. Akan tetapi terjadi perubahan aneh pada diri Ban-kin Hek-gu Ciam Ki sehingga membuat
teman-temannya yang tentu saja menjagoinya menjadi heran dan juga gelisah. Kini raksasa tinggi besar hitam
ini sering mempergunakan kedua tangannya bukan untuk menyerang lawan, melainkan untuk menggarukgaruk
seluruh bagian tubuhnya!
dunia-kangouw.blogspot.com
Karena diseling dengan garuk sana garuk sini, pertandingan menjadi kacau karena ternyata gerakan-gerakan
menggaruk ini malah membingungkan Hek-giam-ong. Raja Maut Hitam ini sudah mengirim pukulan Toat-beng
Hwi-ciang ke arah dada lawan. Ketika melihat tangan kiri Giam Ki bergerak menuju ke dada, Hek-giam-ong
menarik kembali pukulannya karena takut lengannya dicengkeram. Akan tetapi ternyata bahwa Giam Ki
menggerakkan tangan itu bukan untuk mencengkeram tangan lawan, melainkan untuk menggaruk-garuk keras
dadanya. Kemudian Giam Ki berseru aneh dan membawa tangan kanannya ke atas seperti hendak
menyerang dari bagian atas.
Melihat ini Hek-giam-ong cepat mengelak, akan tetapi kembali ia kecelik karena tangan kanan yang bergerak
ke atas itu kini menggaruk-garuk kepala! Kejadian-kejadian ini aneh dan lucu sekali, juga menegangkan dan
mendatangkan kekecewaan bagi para teman kedua pihak. Hek-giam-ong menjadi marah, merasa seolah-olah
ia dipermainkan, maka ia menerjang lagi dengan gerakan dahsyat.
Giam Ki yang diam-diam mengeluh di hatinya karena secara tiba-tiba tubuhnya diserang penyakit gatal yang
tak tertahankan, cepat menangkis dan kembali pertemuan dua lengan yang kuat itu membuat mereka terpental
mundur. Giam Ki meloncat maju lagi, kini menggerakkan tangan kiri ke atas. Hek-giam-ong meragu. Tangan itu
hendak memukul ataukah hendak garuk-garuk?
Akan tetapi ia tidak mau menanggung resiko dan cepat menggerakkan kedua tangan ke atas, maksudnya
kalau lawan memukul benar-benar, ia akan menangkap lengan itu dan akan mematahkannya, kalau hanya
garuk-garuk, ia akan mencengkeram kepala lawan. Dan ternyata tangan kiri Giam Ki itu kembali hanya
menggaruk kepala, akan tetapi kepalan kanannya sudah menonjok ke depan. Gerakan ini sama sekali tidak
tersangka oleh Hek-giam-ong sehingga dadanya tertonjok.
“Bukkk!” Tubuh Hek-giam-ong terjengkang dan bergulingan di atas tanah. Dadanya ampek, napasnya sesak
dan setelah terbatuk-batuk, barulah ia meloncat bangun dan menghadapi lawannya dengan mata merah. Akan
tetapi Giam Ki tidak peduli dan masih terus garuk-garuk.
“Kau masih belum mampus?” bentaknya dan kembali ia menerjang. Memang gerakan Giam Ki lebih cekatan
dari pada Hek-giam-ong. Kembali tangan Giam Ki diangkat ke atas.
Hek-giam-ong mengejek dengan dengusan marah. Ia tidak mau ditipu lagi dan tahu bahwa lawannya yang
agaknya mempunyai penyakit kudis ini tentu mengangkat tangan untuk menggaruk kepala yang gatal. Maka ia
pun tidak mau mengelak, bahkan cepat melangkah maju dan menonjok dada Giam Ki.
“Bukkk! Desssss...!”
Dua tubuh yang tinggi besar itu terjengkang dan Ban-kin Hek-gu Giam Ki roboh kelenger (pingsan) karena
tertonjok dadanya sehingga napasnya menjadi sesak, akan tetapi di lain pihak Hek-giam-ong tadi pun kecelik
karena sekali ini Giam Ki mengangkat tangan bukan untuk garuk-garuk lagi melainkan untuk memukul
sehingga dalam saat yang bersamaan, Giam Ki berhasil menghantam pangkal leher Hek-giam-ong dengan
tangan miring. Robohlah Hek-giam-ong dan tidak bergerak-gerak karena ia pun telah semaput (pingsan)!
Pek-giam-ong sudah menyambar tubuh kakaknya dan ia merasa lega bahwa kakaknya tidak terluka parah,
hanya terguncang oleh kerasnya pukulan. Di lain pihak, para anggota Ho-han-hwe telah mengangkat tubuh
Ban-kin Hek-gu, dipimpin oleh Lauw-pangcu. Atas isyarat Song Kai Sin orang pertama Siauw-lim Chit-kiang,
tubuh Giam Ki yang pingsan itu dibawa mendekat. Song Kai Sin cepat memeriksa dan ia menghela napas
panjang.
“Untung...,” kata tokoh Siauw-lim-pai ini. “Tadinya ia keracunan maka ketika bertanding terus diganggu rasa
gatal-gatal di tubuhnya. Tentu ia terkena racun ketika beradu tangan dengan iblis tua itu. Baiknya pukulan Hekgiam-
ong tadi pun mengandung hawa panas dan pukulan ini malah membuyarkan pengaruh racun di tubuhnya
sehingga nyawanya tertolong.”
Pek-giam-ong yang marah menyaksikan saudaranya terluka, kini melangkah maju dengan sikap menantang.
Akan tetapi ia dibentak gurunya, “Mundurlah!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Bagaikan seekor anjing dipecut, Pek-giam-ong mundur dan kembali ia merawat kakaknya. Kini Kang-thouwkwi
Gak Liat melangkah maju, menyapu semua anggota Ho-han-hwe dengan pandang mata yang membuat
mereka itu merasa seram, kemudian sambil tersenyum lebar Si Setan Botak ini berkata.
“Aku sudah datang, siapa di antara anggota Ho-han-hwe yang ternyata hanyalah segerombolan pemberontak
ingin menyusul para anggota Pek-lian Kai-pang?” Suaranya penuh ejekan, akan tetapi matanya menatap ke
arah Siauw-lim Chit-kiam karena hanya tokoh-tokoh Siauw-lim-pai ini sajalah yang dipandang cukup berharga
untuk menjadi lawannya.
It-ci Sin-mo Tan Sun biar pun tubuhnya kecil namun hatinya besar. Ia maklum akan kelihaian kakek botak ini,
namun ia merasa tidak puas kalau ia tidak turun tangan. Kalah atau mati sekali pun bukan apa-apa bagi
seorang patriot, akan tetapi sungguh hina dan rendah kalau dianggap takut bertemu dengan lawan tangguh.
“Kang-thouw-kwi! Engkau bukan saja seorang datuk hitam yang jahat, juga sekarang malah menjadi
pengkhianat bangsa! Aku It-ci Sin-mo Tan Sun tidak takut kepadamu, jagalah seranganku ini!”
Gerakan It-ci Sin-mo Tan Sun cepat sekali, jauh lebih cepat dari pada gerakan Ban-kin Hek-gu Giam Ki.
Tubuhnya melesat ke depan dan kedua tangannya digerakkan untuk menyerang dengan totokan-totokan maut.
Si Setan Botak tertawa-tawa dan hanya tampak ia menggoyang-goyangkan tubuhnya akan tetapi aneh, semua
totokan It-ci Sin-mo tidak ada satu pun yang menyentuh kulitnya.
“Sut-sut-sut-cet-cet...!”
Cepat sekali It-ci Sin-mo Tan Sun melanjutkan totokan-totokannya secara bertubi-tubi, tubuhnya berloncatan
mencari posisi yang baik. Namun, tak pernah ia mampu mengenai tubuh lawan biar pun kecepatan
gerakannya membuat ia berada di belakang tubuh Si Setan Botak. Padahal Kang-thouw-kwi Gak Liat tak
pernah mengubah kedudukan kedua kakinya, hanya tubuhnya saja yang bergoyang-goyang, akan tetapi entah
bagaimana semua serangan lawan tidak ada yang berhasil.
Belasan orang anggota Ho-han-hwe yang melihat betapa It-ci Sin-mo seperti dipermainkan sudah bergerak
mengurung hendak mengeroyok Si Setan Botak. Melihat ini Pek-giam-ong berteriak keras dan tubuhnya
menyambar ke depan, langsung ia menyerbu dan gegerlah tempat itu dengan jerit-jerit kesakitan dan robohnya
beberapa orang anggota Ho-han-hwe karena amukan Pek-giam-ong.
“Krek-krekkk...!” Setan Botak menggerakkan kedua tangan menampar lengan lawan dan tubuh It-ci Sin-mo
Tan Sun terlempar, kedua tangannya tergantung lumpuh karena tulang-tulang lengannya telah patah-patah!
“Huah-ha-ha-ha! Pek-giam-ong, pergilah dan bawa kakakmu pergi!”
Pek-giam-ong yang terkenal berwatak kejam seperti iblis itu kini merupakan seorang murid yang amat taat.
Tanpa berani berlambat sedikit pun ia lalu meninggalkan para lawan yang tadi mengeroyoknya, menyambar
tubuh kakaknya yang masih pingsan lalu sekali melompat ia lenyap dari tempat itu. Lauw-pangcu dan kedua
orang saudara Kang-lam Sam-eng membiarkannya saja lewat, karena yang menjadi sasaran untuk
dibinasakan adalah Si Setan Botak yang kini hanya seorang diri saja di dalam kuil.
“Ha-ha-ha, Siauw-lim Chit-kiam, hanya kalianlah yang patut main-main denganku. Majulah!”
Lima orang anggota Ho-han-hwe yang masih penasaran karena banyaknya kawan mereka yang roboh, masih
mencoba untuk menyerang Si Setan Botak dengan senjata mereka. Akan tetapi kini kakek botak itu berseru
keras, kedua tangannya mendorong ke depan dan... lima orang itu roboh dengan tubuh hangus dan mati
seketika! Itulah kehebatan ilmu pukulan Hwi-yang-sin-ciang yang sengaja diperlihatkan oleh Kang-thouw-kwi
untuk membikin gentar hati lawan.
Memang semua anggota Ho-han-hwe menjadi pucat wajahnya melihat kedahsyatan ilmu kepandaian kakek
botak ini, akan tetapi melihat itu, Siauw-lim Chit-kiam bukannya menjadi gentar, sebaliknya malah menjadi
marah sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kang-thouw-kwi, engkau telah berani menghina seorang murid Siauw-lim-pai. Hari ini kami Siauw-lim Chitkiam
akan mengadu nyawa denganmu! Beranikah engkau menghadapi gabungan Siauw-lim Chit-kiam?” kata
Song Kai Sin dengan suara tenang namun sinar matanya membayangkan kemarahan.
“Huah-ha-ha-ha! Siauw-lim Chit-kiam masih terlalu ringan, boleh ditambah guru kalian. Mana Ceng San
Hwesio ketua Siauw-lim-pai? Walau pun dia datang membantu kalian, aku masih akan kurang puas. Ha-ha!”
“Omitohud... engkau benar-benar tokoh sesat yang sengsara, Gak-locianpwe,” kata Lui Kong Hwesio, orang ke
dua dari Siauw-lim Chit-kiam sambil menggeser duduknya, bersila di sebelah kiri Song Kai Sin.
Kemudian secara berjajar, ketujuh orang tokoh Siauw-lim-pai ini duduk bersila, menurutkan urutan tingkat
mereka. Dari kanan ke kiri mereka ini adalah Song Kai Sin, Lui Kong Hwesio, Ui Swan dan adiknya Ui Kiong,
Lui Pek Hwesio, Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek. Sebetulnya tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai ini merupakan
orang-orang berilmu tinggi yang mempunyai keistimewaan masing-masing. Jika dinilai secara perseorangan,
tingkat masing-masing masih lebih tinggi dari pada tingkat Ban-kin Hek-gu Giam Ki atau bahkan It-ci Sin-mo
Tan Sun.
Akan tetapi, sekali ini, menghadapi seorang di antara Lima Datuk Besar, yaitu Kang-thouw-kwi Gak Liat yang
amat terkenal di antara golongan sesat sebagai seorang yang memiliki kesaktian luar biasa, ketujuh orang
tokoh Siauw-lim-pai ini tidak berani berlaku sembrono, tidak berani memandang rendah dan karenanya mereka
lalu bergabung untuk mengeluarkan ilmu gabungan mereka yang paling ampuh, yaitu Ilmu Pedang Chit-sengsin-
kiam yang secara khusus digubah oleh Ceng San Hwesio ketua Siauw-lim-pai untuk diajarkan kepada tujuh
orang muridnya.
Chit-seng-sin-kiam (Pedang Sakti Tujuh Bintang) ini dapat dimainkan secara perorangan dan sudah
merupakan sebuah ilmu pedang yang ampuh, akan tetapi permainannya tidak akan menjadi lengkap dan utuh
kalau tidak dimainkan secara bergabung oleh tujuh orang itu. Kalau dimainkan secara bergabung, maka Chitseng-
sin-kiam merupakan sebuah kiam-tin (barisan pedang) yang sukar dilawan karena amat kuat.
Kang-thouw-kwi Gak Liat memandang dengan wajah berseri. Sudah lama ia mendengar akan ciptaan ilmu
pedang ketua Siauw-lim-pai ini yang disarikan dari inti ilmu kepandaian Ceng San Hwesio. Kini ia berhadapan
dengan kiam-tin ini, berarti bahwa ia berhadapan dengan Ceng San Hwesio yang sejak dahulu merupakan
lawan seimbang darinya. Kalau ia bisa menangkan kiam-tin ini, berarti ia akan dapat menangkan Ceng San
Hwesio pula! Ia melihat betapa tujuh orang murid Siauw-lim-pai itu sudah duduk bersila dengan pedang di
tangan kanan, pandang mata lurus ke depan menatapnya. Bahkan tujuh pasang mata itu seolah-olah bersatu
ketika memandangnya, menimbulkan wibawa yang kuat sekali.
“Ha-ha-ha, bagus sekali! Memang aku sudah lama ingin melihat sampai di mana lihainya Chit-seng-sin-kiam
dari Ceng San Hwesio!” Sambil tertawa, kakek botak ini lalu duduk bersila pula di depan ketujuh orang tokoh
Siauw-lim-pai.
Jarak di antara Setan Botak dan tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai itu ada tiga meter jauhnya, dan kalau tujuh
orang tokoh Siauw-lim-pai itu semua bersenjatakan pedang pusaka, adalah Setan Botak ini sambil tersenyum
menghadapi mereka dengan kedua tangan kosong! Memang datuk hitam ini sombong, akan tetapi
kesombongannya tidaklah kosong belaka. Ia memang amat sakti dan biar pun kakek botak ini menyimpan
sebatang pedang lemas yang ia belitkan di pinggang sebelah dalam bajunya, namun tidak pernah orang
melihat ia mempergunakan senjata dalam pertempuran. Hal ini berarti bahwa ia masih memandang rendah
Siauw-lim Chit-kiam!
Song Kai Sin dapat menduga sikap lawan, maka ia pun tidak mau banyak sungkan lagi. Kakek botak ini selain
merupakan tokoh sesat yang amat jahat dan sudah sepatutnya dibasmi, juga telah menghina murid keponakan
mereka, telah mencemarkannya dan berarti mencemarkan kehormatan Siauw-lim-pai pula. Oleh karena itu,
Song Kai Sin dan adik-adik seperguruannya maklum bahwa sekali ini mereka akan bertanding mati-matian,
bukan saja untuk melenyapkan seorang tokoh sesat yang jahat, juga untuk mempertahankan nama dan
kehormatan Siauw-lim-pai.
“Sudah siapkah engkau, Kang-thouw-kwi?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ha-ha, sudah, sudah! Lekas keluarkan Chit-seng-sin-kiam itu!” jawab Si Botak sambil menggerak-gerakkan
kedua lengannya yang segera menjadi kemerahan.
“Lihat pedang!” Song Kai Sin berseru dan pedang di tangannya itu ia tusukkan ke depan.
Menurut pendapat dan pandangan umum, biar pun lengan dilonjorkan ditambah panjangnya pedang, masih
belum dapat melewati jarak tiga meter itu. Akan tetapi tanpa dapat dilihat mata, dari ujung pedang itu
menyambar hawa pukulan yang amat kuat sehingga selain tampak sinar pedang yang keemasan juga
terdengar suara mencicit yang aneh.
Kang-thouw-kwi mengangkat lengan kiri-nya dan menggetarkan jari tangannya. Tentu saja tangannya tidak
menyentuh pedang yang dipegang Song Kai Sin, akan tetapi jelas tampak betapa pedang itu terpental dan
lengan tangan orang pertama dari Siauw-lim Chit-kiam itu tergetar!
Melihat kehebatan tenaga sinkang yang amat panas dari tangan Setan Botak, tokoh Siauw-lim-pai yang
lainnya maklum bahwa mereka harus maju bersama. Maka serentak pedang-pedang mereka bergerak, ada
yang membacok, ada yang menusuk, ada pula yang membabat.
Tampak sinar pedang berkelebatan menyilaukan mata, pantulan cahayanya gemerlapan di dinding ruangan
yang luas itu. Apa lagi setelah beberapa orang anggota Ho-han-hwe tadi menyalakan belasan batang lilin dan
menaruh lilin-lilin itu di atas lantai di kanan kiri ruangan, maka sinar-sinar pedang itu menjadi amat indahnya.
Tanpa terasa senja telah berganti malam dan kini para anggota Ho-han-hwe menonton pertandingan yang
amat aneh dan yang belum pernah mereka saksikan selama hidupnya.
Betapa mereka tidak akan terheran-heran dan bengong menyaksikan pertandingan itu? Baik ketujuh orang
tokoh Siauw-lim-pai itu mau pun Setan Botak, hanya duduk berhadapan, bersila di atas lantai dan jarak antara
mereka terlampau jauh sehingga mereka itu tidak dapat saling menyentuh. Akan tetapi kini mereka ‘bertanding’
dan tujuh orang itu mengeroyok Si Setan Botak dengan serangan-serangan pedang yang berubah menjadi
sinar-sinar gemerlapan.
Sebaliknya, Setan Botak menggerak-gerakkan kedua lengannya, kadang menangkis, ada kalanya
mencengkeram dan mendorong, bahkan balas memukul tanpa menyentuh pedang dan tubuh para
pengeroyoknya. Kedua tangannya kini selain berwarna merah seperti api membara, juga mengepulkan uap
putih seperti asap panas!
Kalau dilihat begitu saja, seolah-olah Si Setan Botak dan ketujuh Siauw-lim Chit-kiam sedang bermain-main.
Mereka tidak saling sentuh, namun mereka bergerak dengan sungguh-sungguh dan ruangan itu kini seperti
dihujani sinar-sinar gemerlapan dan udara menjadi sebentar panas sebentar dingin.
Hanya beberapa orang saja di antara mereka, yaitu Lauw-pangcu, kedua Kang-lam Sam-eng, Ban-kin Hek-gu
yang sudah sadar dari pingsannya, dan It-ci Sin-mo yang maklum apa yang sedang terjadi dan mereka
memandang dengan hati penuh ketegangan. Mereka ini mengerti bahwa Siauw-lim Chit-kiam sedang
bertanding melawan Si Setan Botak mengadu ilmu pedang yang digerakkan oleh tenaga sinkang tingkat
tertinggi! Mengerti pula betapa selain sinar-sinar gemerlapan itu mengandung hawa maut, juga gerakan tangan
Setan Botak itu mengandung hawa pukulan jarak jauh yang amat dahsyat.
Akan tetapi mereka yang tidak mengerti cara pertandingan seperti ini menjadi amat penasaran. Si Setan Botak
dan kedua muridnya telah menyebar maut, kini Setan Botak itu hanya duduk bersila dan menggerak-gerakkan
kedua tangan. Bukankah ini membuka kesempatan baik untuk membinasakannya?
Mereka yang merasa amat benci kepada Setan Botak ini yang sudah membasmi Pek-lian Kai-pang dan
menewaskan lima puluh orang lebih anggota perkumpulan itu yang merupakan kawan-kawan seperjuangan
mereka, kini ingin membalas dendam. Tujuh orang anggota Ho-han-hwe setelah saling memberi isyarat
dengan kedipan mata dan diam-diam mengambil jalan memutar, serentak maju menerjang tubuh kakek botak
yang bersila itu dari belakang. Mereka bertujuh menggunakan senjata dan menyerang secara berbareng.
“Celaka...!” It-ci Sin-mo Tan Sun berseru. Juga teman-temannya yang tahu akan bahaya mengancam, berseru
kaget namun sudah tidak keburu mencegah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Segera terdengar jerit-jerit mengerikan disusul robohnya tujuh orang anggota Ho-han-hwe itu yang roboh
tewas dengan tubuh tersayat-sayat dan ada pula yang roboh dengan tubuh hangus! Mereka tadi seperti
sekumpulan nyamuk yang menerjang api, tidak tahu bahwa udara di sekitar arena pertandingan aneh itu
penuh dengan berkelebatnya sinar pedang yang tajam dan hawa pukulan yang mengandung panasnya api.
Sebelum mereka dapat menyentuh tubuh Si Setan Botak, tubuh mereka lebih dulu sudah dihujani sinar pedang
yang menyambar-nyambar dan hawa pukulan yang membakar!
Melihat ini, Song Kai Sin orang pertama Siauw-lim Chit-kiam berseru keras. Mereka bertujuh tadi terdesak
hebat oleh Setan Botak yang benar-benar amat tangguh dan lihai sekali. Karena mereka melakukan
pengeroyokan secara bertubi, maka setiap orang dari mereka mengadu tenaga dengan Kang-thouw-kwi dan
ternyata bahwa mereka kalah kuat jauh sekali. Karena itu gerakan pedang mereka makin lama makin lemah
dan terdesak sehingga ketika tujuh orang anggota Ho-han-hwe tadi maju, biar pun mereka tahu akan
bahayanya, mereka tidak keburu menarik sinar pedang dan sinar pedang mereka itu ada yang mengenai tubuh
para penyerbu.
Maka begitu Song Kai Sin berseru keras, tujuh orang Siauw-lim Chit-kiam lalu menggunakan siasat terakhir.
Dengan tangan kiri mereka menyentuh punggung kawan yang bersila di sebelah kiri, tangan kanan memegang
pedang dan kini mereka telah menyatukan tenaga. Getaran sinkang mereka bersatu dan karenanya gerakan
pedang mereka pun sama, hanya merupakan satu serangan saja, akan tetapi yang mengandung tenaga tujuh
kali lipat kuat dari pada tenaga perorangan.
Ketika Si Setan Botak menangkis dengan dorongan Hwi-yang-sin-ciang, menghalau sinar pedang yang amat
besar dan kuat yang menyambarnya, ia mengeluarkan seruan marah dan kaget. Ia berhasil menghalau sinar
pedang itu, akan tetapi telapak tangan kirinya robek sedikit dan mengeluarkan darah!
“Keparat! Kalian sudah bosan hidup!” bentaknya dan kini Si Setan Botak menggunakan kedua tangannya
menahan.
Hebat bukan main adu tenaga sakti ini. Tujuh orang Siauw-lim Chit-kiam yang saling menyentuh punggung dan
menyalurkan tenaga disatukan dengan teman-teman seperguruan sehingga tenaga mereka menjadi satu, kini
menghadapi dorongan kedua tangan Setan Botak dan terjadilah adu tenaga, keras lawan keras! Mereka tidak
bergerak-gerak lagi, pedang mereka menuding ke satu jurusan, yaitu ke arah Kang-thouw-kwi yang sebaliknya
mengulur kedua lengan ke depan, dengan kedua telapak tangan mendorong ke arah tujuh orang
pengeroyoknya.
Wajah Siauw-lim Chit-kiam pucat dan penuh keringat, di lain pihak, wajah Kang-thouw-kwi menjadi merah
sekali dan kepalanya mengepulkan uap panas! Dorong-mendorong terjadi, akan tetapi sedikit demi sedikit
keadaan Siauw-lim Chit-kiam terdesak!
Lauw-pangcu yang melihat keadaan tidak menguntungkan ini lalu mendekati Khu Cen Tiam dan Liem Sian.
Mereka bertiga ini sudah terluka, tentu saja tidak berani membantu. Andai kata mereka tidak terluka sekali pun,
tingkat kepandaian mereka masih terlalu rendah untuk mencampuri pertandingan tingkat tinggi itu. Mereka
berbisik-bisik dan akhirnya mengambil keputusan untuk menjalankan siasat yang telah mereka atur
sebelumnya, yaitu hendak membakar kuil itu selagi Si Setan Botak terikat dalam pertandingan mati-matian
melawan Siauw-lim Chit-kiam! Memang siasat ini kalau dijalankan berarti akan membahayakan keselamatan
Siauw-lim Chit-kiam sendiri, namun memang telah mereka sepakati sebelumnya bahwa untuk membasmi Si
Setan Botak, Siauw-lim Chit-kiam bersedia untuk mergorbankan nyawa.
Dengan isyarat Lauw-pangcu, mereka semua mengundurkan diri dan mulailah mereka membakar kuil itu dari
luar. Khu Cen Tiam dan Liem Sian yang membantu pekerjaan ini mengucurkan air mata, karena maklum
bahwa nyawa ketujuh orang susiok (paman guru) mereka terancam maut bersama nyawa Setan Botak. Para
anggota Ho-han-hwe demikian sibuknya dengan pekerjaan menuangkan minyak dan membakar kuil sehingga
mereka tidak tahu betapa di antara kegelapan malam itu, sesosok tubuh kecil menyelinap memasuki kuil
melalui bagian yang belum terbakar. Tubuh cilik ini bukan lain adalah Lauw Sin Lian, gadis cilik puteri Lauwpangcu!
dunia-kangouw.blogspot.com
Sin Lian tadinya dititipkan kepada seorang sahabatnya oleh Lauw-pangcu. Akan tetapi, anak perempuan ini
diam-diam merasa tidak senang. Ia tahu bahwa ayahnya dan teman-teman ayahnya sedang berusaha
membalas dendam atas kematian semua anggota Pek-lian Kai-pang. Dia ingin sekali menonton, bahkan kalau
mungkin ingin sekali membantu! Selain itu, juga anak ini amat mengkhawatirkan keselamatan ayahnya, maka
diam-diam ia minggat keluar dari rumah sahabat ayahnya itu dan berlari menyusul ayahnya.
Bocah ini amat cerdik dan ia menduga bahwa Ho-han-hwe pasti diadakan di kuil tua yang sudah tak terpakai di
luar kota. Tanpa ragu-ragu ia langsung lari menuju ke kuil itu dan malam telah tiba ketika ia akhirnya sampai di
tempat tujuan. Karena melihat banyak orang sibuk membakar kuil, hatinya makin gelisah. Ia tidak melihat
ayahnya, dan untuk bertanya ia tidak berani, takut mendapat marah. Maka ia lalu menyelinap dan berhasil
memasuki kuil dari bagian yang gelap dan yang belum dicium api.
Ruangan dalam kuil kosong itu mulai berasap. Di antara asap tipis, Sin Lian melihat musuh besar ayahnya,
Setan Botak, duduk bersila membelakanginya, tak bergerak seperti sebuah arca batu yang menyeramkan.
Kedua lengannya dilonjorkan ke depan dan telapak tangan dibuka ke arah tujuh orang laki-laki yang bersikap
kereng dan yang kesemuanya memegang pedang. Juga tujuh orang itu diam tak bergerak seperti arca, akan
tetapi muka mereka pucat dan penuh peluh, bahkan tubuh mereka, terutama tangan yang memegang pedang,
mulai gemetar.
Melihat musuh besar itu, Sin Lian menjadi marah. Ia tidak tahu apa yang sedang dilakukan tujuh orang
berpedang itu dengan musuhnya. Akan tetapi melihat musuhnya duduk membelakanginya, diam seperti arca,
ia melihat kesempatan baik untuk menyerang! Berindap-indap Sin Lian menghampiri kakek itu, setelah dekat ia
lalu menerjang maju, memukul tengkuk.
“Dukkk...!”
Sin Lian terjengkang dan terbanting keras. Kepalanya menjadi pening, tangannya sakit, akan tetapi ia bandel,
terus melompat bangun dan siap menyerang lagi. Ia tadi merasa betapa tengkuk kakek botak itu keras seperti
baja, dan amat panas seperti baja dibakar. Ia tidak tahu betapa tujuh orang Siauw-lim Chit-kiam memandang
kepadanya dengan heran dan juga khawatir. Memang bocah ini masih baik nasibnya, tidak seperti tujuh orang
anggota Ho-han-hwe tadi yang tewas secara konyol.
Kalau Siauw-lim Chit-kiam dan Setan Botak sedang bertanding seperti tadi, serang-menyerang antar sinar
pedang yang digerakkan sinkang dan pukulan jarak jauh Hwi-yang-sin-ciang yang amat dahsyat, tentu
sebelum menyentuh tubuh Setan Botak, Sin Lian telah roboh tewas, kalau tidak hangus karena Hwi-yang-sinciang,
tentu tersayat-sayat oleh sinar pedang Chit-seng-sin-kiam!
Akan tetapi kebetulan sekali pada saat itu, kedua pihak sedang mengadu tenaga sehingga kedua pihak
seolah-olah saling menempel, saling mendorong dan tidak bergerak ke mana-mana. Inilah sebabnya mengapa
ketika Sin Lian memukul, ia tidak terkena pengaruh Hwi-yang-sin-ciang, melainkan terbanting roboh karena
kekebalan tubuh kakek botak itu.
Betapa pun juga, karena berani memukul Kang-thouw-kwi, tentu saja nyawa anak ini berada dalam
cengkeraman maut. Sekali saja Kang-thouw-kwi bergerak, tentu bocah itu takkan dapat tertolong lagi
nyawanya. Hal inilah yang membuat Siauw-lim Chit-kiam menjadi gelisah. Keadaan mereka sendiri terancam
maut dan sedang terdesak hebat, bagaimana mereka akan dapat menolong bocah ini?
Mereka tadinya tidak mengharapkan dapat keluar sebagai pemenang karena makin lama tenaga Setan Botak
itu makin hebat, hawa di situ makin panas sebagai bukti bahwa Hwi-yang-sin-ciang makin unggul. Akan tetapi
mereka merasa lega bahwa para anggota Ho-han-hwe sudah mulai bergerak membakar kuil. Mereka akan
mati dengan lega karena merasa yakin bahwa Si Setan Botak juga akan mati terbakar hidup-hidup!
Kang-thouw-kwi Gak Liat maklum akan gangguan seorang anak perempuan di belakangnya. Akan tetapi ia
tidak peduli, karena kalau ia membagi perhatian, apa lagi membagi tenaga, ia akan celaka. Menghadapi
persatuan Siauw-lim Chit-kiam ini ia merasa bahwa amat sukar mencapai kemenangan dan hanya dengan
pengerahan tenaga sepenuhnya saja ia akan dapat menang. Akan tetapi kini kuil mulai terbakar dan tahulah ia
bahwa keadaannya berada dalam bahaya pula. Kalau saja tidak ada gangguan ini, tentu ia akan dapat segera
merobohkan Siauw-lim Chit-kiam dan masih ada kesempatan untuk menyelamatkan diri.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dalam usahanya untuk segera dapat merobohkan tujuh orang pengeroyok yang berilmu tinggi itu, Kang-thouwkwi
Gak Liat tidak mempedulikan Sin Lian sama sekali, karena anak itu sama sekali tidak ada arti baginya. Ia
lalu mengerahkan seluruh tenaga, kedua lengannya menggigil dan lengan yang diluruskan ke depan itu
menjadi makin panas. Kekuatan mukjizat yang amat dahsyat kini menerjang maju bagaikan hembusan angin
badai yang panas ke arah Siauw-lim Chit-kiam! Getaran gelombang tenaga sakti ini segera terasa oleh Siauwlim
Chit-kiam dan betapa pun mereka ini menggerakkan tenaga mempertahankan diri, tetap saja tangan
mereka yang menudingkan pedang gemetar keras.
“Werrrrr... cringgg... krak-krak...!”
Pertahanan Siauw-lim Chit-kiam menjadi berantakan ketika dua batang pedang di tangan Ui Swan dan Ui
Kiong, dua orang di antara mereka, patah dan terlepas dari tangan mereka yang menjadi pucat wajahnya.
Melihat betapa orang ke tiga dan ke empat dari Siauw-lim Chit-kiam ini kehilangan pedang yang tadi bergetar
keras lalu patah-patah, lima orang tokoh Siauw-lim itu mengerahkan seluruh tenaga untuk me-nahan
gelombang tenaga hebat yang menekannya, namun kini mereka jauh kalah kuat setelah tenaga mereka
berkurang dua orang. Pedang mereka mulai tergetar hebat, muka mereka pucat dan napas terengah.
Ui Swan dan Ui Kiong yang sudah bertangan kosong tentu saja tidak dapat berdiam diri begitu saja
menyaksikan keadaan saudara-saudaranya terdesak. Mereka ini lalu menggunakan tangan kanan yang
kosong untuk mendorong ke depan dengan pukulan jarak jauh, sedangkan tangan kiri masih menempel
punggung saudara yang berada di sebelahnya seperti tadi. Akan tetapi dengan pedang di tangan saja mereka
tadi tidak dapat bertahan, apa lagi bertangan kosong. Begitu mereka mendorong dengan tangan, telapak
tangan mereka bertemu dengan hawa panas yang menyusup kuat, terus menyerang isi dada. Kedua kakak
beradik Ui ini mengeluh perlahan dan tubuh mereka rebah miring!
Melihat ini, lima orang Siauw-lim Chit-kiam menjadi terkejut. Tahulah mereka bahwa mereka akan roboh
semua, namun mereka berkeras untuk mempertahankan diri sampai api menjilat tempat itu agar musuh
mereka yang amat tangguh itu mati pula terbakar. Pada saat mereka terhimpit dan terancam hebat itu, tiba-tiba
Kang-thouw-kwi Gak Liat berteriak marah dan bajunya sudah termakan api! Bagaimanakah baju Setan Botak
ini dapat terbakar padahal api kebakaran kuil itu belum menjilat ke situ?
Bukan lain adalah hasil perbuatan Sin Lian! Karena tubuhnya terjengkang dan terbanting sendiri ketika
memukul tubuh Setan Botak, Sin Lian menjadi penasaran dan marah sekali. Sebagai puteri Lauw-pangcu yang
tidak asing akan kehebatan ilmu silat, anak ini maklum bahwa tubuh Setan Botak itu kebal dan percuma saja
kalau ia memukul. Maka ia lalu mencari akal dan barulah ia sadar bahwa tempat itu telah terkurung api yang
mulai membakar ruangan! Dalam kaget dan paniknya, timbul akalnya. Ia lalu lari ke tempat kebakaran,
mengambil sepotong kayu yang terbakar dan tanpa ragu-ragu lagi ia menghampiri Setan Botak dan membakar
pakaian musuh ini dengan api itu! Bahkan ia lalu berusaha membakar rambut di kepala botak itu pula!
Kang-thouw-kwi Gak Liat adalah seorang ahli Yang-kang, bahkan kedua lengannya sudah memiliki Ilmu Hwiyang-
sin-ciang yang bersumber pada panasnya api. Boleh jadi kedua lengannya itu sudah kebal terhadap api,
namun tubuhnya tidak, apa lagi rambut di kepalanya. Begitu melihat bahwa bajunya terbakar, bahkan sebagian
rambutnya dimakan api, ia terkejut dan marah sekali.
Sambil berteriak dan menggereng seperti harimau, ia menggulingkan tubuhnya ke kiri. Pertama untuk
memadamkan api yang berkobar pada bajunya, dan ke dua untuk menyingkirkan diri dari pada gelombang
sinar pedang Siauw-lim Chit-kiam. Kemudian, setelah bergulingan dan keluar dari sasaran lawan, ia
membalikkan tubuhnya dan memukul ke arah Sin Lian dari jarak jauh. Saking marahnya, kini ia menumpahkan
semua kemarahan dan kebencian kepada anak perempuan itu.
Kelima orang Siauw-lim Chit-kiam maklum bahwa nyawa bocah itu berada di cengkeraman maut. Mereka juga
maklum bahwa bocah perempuan itulah yang telah menyelamatkan nyawa mereka yang tadi sudah tertekan
hebat. Tentu saja sebagai pendekar-pendekar gagah perkasa, kini mereka tidak mungkin dapat berpeluk
tangan saja menyaksikan penolong mereka terancam.
Tanpa komando, lima orang Siauw-lim Chit-kiam itu kini menodongkan pedang mereka dan mengerahkan
tenaga, menghadang pukulan jarak jauh Setan Botak yang ditujukan kepada Sin Lian. Tenaga serangan itu
dunia-kangouw.blogspot.com
tertangkis oleh sinar pedang, akan tetapi biar pun Sin Lian dapat diselamatkan, sebagian hawa pukulan
menerobos dan sedikit saja sudah cukup membuat Sin Lian terguling roboh dan pingsan dengan muka
gosong!
Karena ruangan itu mulai terbakar, Gak Liat yang tahu akan bahaya lalu tertawa dan tubuhnya sudah melesat
ke luar menerjang api, lalu lenyap di dalam kegelapan malam di luar kuil. Lima orang Siauw-lim Chit-kiam tidak
mengejar, karena selain mereka harus menyelamatkan dua orang saudara yang terluka dan gadis cilik yang
pingsan, juga mengejar keluar kuil apa gunanya? Mereka takkan mampu mengalahkan Setan Botak yang lihai
itu. Diangkutlah Ui Swan dan Ui Kiong, juga tubuh Sin Lian dan mereka pun cepat-cepat menerjang api
menerobos ke luar sebelum ruangan itu ambruk.
Para anggota Ho-han-hwe menjadi kecewa dan berduka. Tidak saja usaha mereka menewaskan Setan Botak
itu gagal sama sekali, juga mereka harus cepat-cepat angkat kaki dari Tiong-kwan karena kini tentu kaki
tangan pemerintah Mancu akan mencari untuk membasmi mereka. Terutama sekali Lauw-pangcu yang
kehilangan lima puluh lebih anggota Pek-lian Kai-pang, menjadi berduka sekali.
Akan tetapi di samping kedukaan ini, ada sinar terang yang membahagiakan hati ketua kai-pang ini, yaitu
bahwa Siauw-lim Chit-kiam berkenan mengambil Sin Lian sebagai murid mereka! Setelah Ui Swan dan Ui
Kiong diobati, dan juga Sin Lian sembuh, anak ini lalu dibawa pergi Siauw-lim Chit-kiam untuk mendapat
gemblengan ilmu di kuil Siauw-lim-si.
Ada pun Lauw-pangcu sendiri lalu pergi ke barat untuk menyampaikan laporan kepada Raja Muda Bu Sam Kwi
dan membantu perjuangan raja muda itu dalam usahanya mengusir penjajah Mancu dari tanah air. Juga
semua anggota Ho-han-hwe yang mengunjungi pertemuan itu cepat-cepat meninggalkan Tiong-kwan, akan
tetapi tak seorang pun di antara mereka menghentikan atau mengurangi semangat perjuangan mereka yang
anti penjajah....
********************
Kurang lebih setengah tahun lamanya Han Han berada di dalam gedung besar di pinggir kota Tiong-kwan,
menjadi pelayan dari Setan Botak bersama muridnya Ouwyang Seng. Mengapa Han Han dapat bertahan
sampai demikian lamanya menjadi pelayan di situ?
Sesungguhnya hatinya amat tidak senang menjadi pelayan Ouwyang Seng, akan tetapi karena anak ini
menemukan hal-hal yang amat menarik hatinya maka ia memaksa diri tidak mau meninggalkan tempat itu. Ia
tertarik melihat cara-cara latihan yang diajarkan Setan Botak kepada Ouwyang Seng. Bahkan diam-diam kalau
tidak dilihat guru dan murid itu, ia pun mulai melatih kedua lengannya dan merendamnya di dalam air panas
bercampur racun!
Mula-mula ia tidak berani. Akan tetapi karena tekadnya memang luar biasa, ketika ia diberi tugas menggodok
air beracun, ia mencelup kedua tangannya. Dengan kemauan yang amat luar biasa, terdorong oleh sifat aneh
yang menguasainya, akhirnya dalam sebulan saja ia sudah mampu menahan kedua lengannya direndam air
panas beracun sampai semalam suntuk!
Apa yang dicapai oleh Ouwyang Seng dalam latihan dua tiga tahun, dapat ia peroleh hanya dengan latihan
sebulan saja! Dan pada bulan-bulan berikutnya, ia bahkan telah jauh melampaui Ouwyang Seng karena ia
sudah dapat bertahan untuk merendam kedua lengannya ke dalam air panas batu bintang! Padahal latihan
merendam lengan di air batu bintang ini hanya dilakukan oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat, sedangkan Ouwyang
Seng hanya baru mulai dengan latihan yang berat ini!
Guru dan murid yang wataknya aneh dan keras itu ternyata merasa suka kepada Han Han yang juga tidak
kalah aneh wataknya. Han Han dapat menjadi seorang anak yang pendiam dan penurut sekali kalau ia
kehendaki, dan ia pandai menyimpan rahasia, sehingga guru dan murid itu merasa suka, bahkan akan merasa
kehilangan kalau tidak ada Han Han yang mengerjakan segala keperluan mereka berdua itu dengan alat-alat
dan keperluan berlatih.
Apa lagi Ouwyang Seng, sama sekali tentu saja tidak pernah menduga bahwa kacung itu telah ikut berlatih,
bahkan telah melampauinya. Sedangkan gurunya, Kang-thouw-kwi Gak Liat sendiri tidak pernah mimpi bahwa
dunia-kangouw.blogspot.com
bocah jembel itu ternyata selain melatih diri dengan dasar-dasar ilmu Hwi-yang-sin-ciang, juga sudah berani
memasuki daerah terlarang, tempat ia berlatih dan yang merupakan tempat terlarang bagi semua orang! Dia
tidak pernah menduga bahwa semua ajaran teori yang ia berikan kepada Ouwyang Seng, diam-diam telah
didengar jelas oleh Han Han, bahkan bocah ini segera mempraktekkan ajaran-ajaran itu.
Apa bila Kang-thouw-kwi Gak Liat sedang bepergian, dan hal ini sering kali ia lakukan tanpa ada yang
mengetahui ke mana perginya, Ouwyang Seng yang pada dasarnya malas berlatih dan lebih suka berkuda
atau berjalan-jalan keluar kota mengumbar kenakalannya. Kesempatan ini dipergunakan sebaiknya oleh Han
Han. Setelah ia dapat bertahan merendam kedua lengannya dalam air cairan batu bintang, mulailah ia diamdiam
memasuki daerah tertarang!
Mula-mula jantungnya berdebar dan ia merasa ngeri. Di kebun yang liar itu terdapat banyak lubang-lubang dan
ketika ia memperhatikan, ia terbelalak memandang ke arah kerangka-kerangka manusia yang berada di dalam
lubang-lubang itu. Tahulah ia bahwa kuburan-kuburan yang berada di situ seperti yang pernah diceritakan
Ouwyang Seng kepadanya, kini telah dibongkar dan tulang-tulang manusia serta tengkorak-tengkorak
berserakan di tempat itu!
Benar-benar bukan merupakan tempat latihan seorang manusia. Lebih tepat dinamakan tempat seekor
siluman atau iblis. Teringat pula ia akan cerita Setan Botak kepada Ouwyang Seng bahwa kalau latihan
merendam lengan dalam cairan batu bintang sudah mencapai puncaknya, maka latihan dilanjutkan dengan
membakar kedua lengan di atas api bernyala!
“Bukan api sembarang api,” demikian ia menangkap pelajaran yang diberikan Setan Botak kepada Ouwyang
Seng. “Melainkan api yang menyala dari tulang-tulang manusia yang dibakar. Api dari tulang-tulang itu
mengandung sari hawa Yang-kang, sudah merupakan racun Hwi-yang. Dengan latihan itu, sari Hwi-yang akan
meresap ke dalam kedua lengan memperkuat tulang lengan. Akan tetapi untuk mencapai tingkat ini, kau harus
berlatih dengan tekun sampai sedikitnya sepuluh tahun, Kongcu.” Demikian antara lain penjelasan Setan Botak.
Entah mengapa ia suka mempelajari semua ini, Han Han sendiri tidak akan dapat menjawab. Ia tidak
bermaksud mendapatkan kekuatan pada kedua lengannya karena ia tidak suka, bahkan benci berkelahi. Akan
tetapi mungkin sifat aneh pada pelajaran inilah yang menarik hatinya dan yang membuatnya ingin mencoba
dan melatih diri! Maka setelah ia mendapat kesempatan memasuki daerah terlarang, ia segera mulai dengan
latihan-latihan yang menegangkan hatinya.
Mula-mula ia memanaskan kuali tua yang terisi cairan tulang-tulang tengkorak manusia, merendam kedua
lengannya dalam cairan yang menjijikkan itu sebagaimana ia dengar dari penjelasan Setan Botak kepada
Ouwyang Seng. Kemudian mulailah ia melatih kedua lengannya di atas api bernyala yang ia buat dengan
bahan bakar kayu-kayu dan tulang-tulang kering manusia yang berserakan di tempat itu.
Sampai setengah tahun lebih Han Han melatih diri di daerah terlarang itu. Tentu saja hal ini dilakukannya
secara sembunyi-sembunyi, karena ia pun tahu bahwa kalau sampai hal ini diketahui Setan Botak, nyawanya
takkan tertolong lagi! Kini sudah lebih dari setahun ia menjadi pelayan Ouwyang Seng dan gurunya, dan
mulailah ia merasa bosan.
Memang ia melatih diri selama ini tanpa pamrih apa-apa, hanya karena tertarik dan kini setelah ia dapat
bertahan menaruh tangannya di dalam api berkobar sampai api itu mati sendiri kehabisan bahan bakar, ia
menjadi bosan dan menganggap bahwa apa yang dicarinya sudah dapat. Ia mulai bosan setelah mengingat
betapa ia telah membuang waktu dengan sia-sia.
Kalau ia renungkan dan bertanya sendiri, apakah yang ia dapatkan selama setahun lebih ini? Ia tidak dapat
menjawab karena harus ia akui bahwa kedua lengannya yang dapat menahan panasnya api itu sesungguhnya
tidak ada guna atau manfaatnya sama sekali! Sungguh ia tidak tahu bahwa sebetulnya ia telah dapat
menguasai dasar-dasar Ilmu Hwi-yang-sin-ciang yang amat hebat! Tidak tahu bahwa bakatnya jauh
melampaui Setan Botak sendiri sehingga kalau ia latih terus dan melatih pula ilmu pukulannya, ia akan menjadi
seorang ahli Hwi-yang-sin-ciang yang tidak ada tandingannya di dunia ini.
Sayang bahwa Han Han sama sekali tidak tertarik kalau ia melihat Ouwyang Seng berlatih silat, juga tidak mau
mendengarkan kalau Setan Botak memberi penjelasan tentang kouw-koat (teori silat) kepada Ouwyang Seng.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sampai saat itu pun Han Han masih belum suka akan ilmu silat. Bukan hanya tidak suka, malah membencinya.
Apa lagi kalau ia terkenang akan pertandingan antara Setan Botak dengan orang-orang Pek-lian Kai-pang, ia
menjadi muak dan makin membenci ilmu silat yang dianggapnya hanya merupakan ilmu membunuh manusia
lain!
Kalau dipikirkan memang lucu sekali. Anak ini membenci ilmu silat yang dianggapnya ilmu yang keji. Akan
tetapi tanpa ia ketahui sama sekali, ia kini telah memiliki dasar Ilmu Hwi-yang-sin-ciang, padahal ilmu ini
adalah ilmu golongan hitam atau ilmu sesat yang amat keji! Ilmu meracuni kedua lengan seperti ini, yang
sebagian menggunakan tulang-tulang dan tengkorak-tengkorak manusia, tidak akan dipelajari oleh orang
gagah di mana pun juga kecuali oleh kaum sesat.
Untuk memperkuat kedua lengan tangan, kaum gagah di rimba persilatan biasanya menggembleng lengan
dengan pasir panas, pasir besi panas, dan lain-lain yang pada dasarnya hanya untuk memperkuat kedua
lengan. Akan tetapi kaum sesat mencampurkan racun dalam latihan ini sehingga tangan mereka menjadi
tangan beracun yang sesuai dengan watak mereka. Han Han sama sekali tidak tahu akan hal ini, maka
amatlah lucu kalau dipikirkan bahwa dia membenci ilmu silat namun diam-diam meniadi calon ahli Hwi-yangsin-
ciang!
Akan tetapi kebosanannya melatih diri ini menolongnya. Kalau ia lanjutkan, tentu akhirnya ia akan ketahuan
dan hal ini berarti mati baginya. Dan kebetulan sekali sebelum kebosanannya membuat ia berlaku nekat dan
minggat dari situ, pada pagi hari itu Setan Botak pulang dan siang harinya ia dipanggil Ouwyang Seng.
“Han Han, lekas berkemas, bungkus pakaian-pakaianku yang terbaik. Kita akan pergi dari sini ke kota raja!”
“Kota raja?” Han Han bengong. Sebutan kota raja hanya ia dapat dalam kitab-kitabnya saja karena selama
hidupnya belum pernah ia melihat kota raja.
“Ya, kota raja di utara! Ha-ha-ha! Engkau akan bengong keheranan kalau melihat kota raja, dan aku sudah
rindu kepada orang tuaku, kepada teman-temanku. Lekas berkemas, kalau terlambat, suhu akan marah.”
“Aku... aku diajak, Kongcu?” Han Han menyembunyikan debar jantungnya.
Kalau ia minggat, ia sendiri tidak tahu akan pergi ke mana. Akan tetapi ia akan bebas dan merasa berbahagia.
Dia tidak suka untuk menjadi pelayan selamanya. Betapa pun juga, kalau diajak ke kota raja, ia akan
mengesampingkan dulu ketidak-sukaannya menjadi pelayan. Kota raja! Ia harus melihatnya!
“Tentu saja kau kuajak. Bukankah kau pelayanku? Habis, kalau tidak diajak, siapa yang akan mengurus
keperluan kami?” bentak Ouwyang Seng marah.
“Siapa saja yang pergi, Kongcu?”
“Siapa lagi kalau bukan suhu, aku dan engkau? Sudahlah, cerewet amat sih! Lekas berkemas dan suruh
tukang kuda menyediakan dua ekor kuda untuk suhu dan aku!”
“Dan aku sendiri jalan kaki? Apakah hal itu tidak akan memperlambat perjalanan, Kongcu?” Han Han
membantah, penasaran.
“Huh, mana ada pelayan menunggang kuda? Akan tetapi kalau suhu menghendaki perjalanan cepat, boleh
membonceng di belakangku. Cuma, jangan lupa. Sebelum berangkat kau mandi yang bersih pula. Nah cukup,
lekas berkemas!”
Han Han berkemas dan diam-diam mengomel. Biar pun menjadi pelayan, namun tidak pernah ia menerima
upah, tidak pernah menerima pakaian, hanya mendapat makan setiap hari. Pakaiannya masih pakaian
setahun yang lalu, penuh tambalan. Namun ia mempunyai satu stel pakaian cadangan, pemberian seorang
pelayan di situ yang menaruh kasihan kepadanya. Pakaian ini pun sudah ia tambal-tambal. Dengan adanya
cadangan pakaian ini, ia selalu berpakaian bersih, yang satu dipakai, yang satu dicuci. Biar pun penuh
tambalan, pakaiannya selalu bersih!
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah selesai berkemas, berangkatlah Kang-thouw-kwi Gak Liat, Ouwyang Seng dan Han Han meninggalkan
gedung di kota Tiong-kwan. Perjalanan itu amat melelahkan bagi Han Han karena, berbeda dengan Kangthouw-
kwi dan muridnya yang masing-masing menunggang kuda, Han Han berjalan kaki.
Akan tetapi biar pun amat melelahkan, perjalanan ini pun mendatangkan kegembiraan di dalam hatinya.
Terlalu lama ia terkurung di dalam gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok di Tiong-kwan dan kini ia selalu berada
di alam terbuka, menyaksikan keindahan alam dan melalui bermacam kota dan dusun. Kadang-kadang kalau
Kang-thouw-kwi menghendaki perjalanan dipercepat, baru Han Han diperbolehkan membonceng Ouwyang
Seng, duduk di punggung kuda di belakang pemuda bangsawan itu. Dan di sepanjang perjalanan ini dia
pulalah yang melayani segala keperluan mereka.
Hanya dengan kemauan keras yang dikendalikan kecerdikannya saja membuat Han Han dapat menekan
perasaaannya yang panas penuh dendam dan kebencian setiap kali ia memasuki kota-kota besar dan melihat
tentara-tentara dan perwira-perwira Mancu berkeliaran dengan lagak sombong. Melihat tentara penjajah ini,
teringatlah ia akan keluarganya yang terbasmi dan terbayang makin jelaslah wajah tujuh orang pembesar
Mancu yang dilayani ayahnya ketika mereka berpesta-pora di dalam rumahnya. Terbayanglah wajah dua
orang di antara ketujuh perwira itu, wajah yang sudah terukir di hatinya dan yang selamanya takkan pernah
dapat ia lupakan, yaitu wajah perwira muka kuning dan perwira muka brewok.
Pada suatu pagi mereka tiba di kaki Pegunungan Tai-hang-san dan Kang-thouw-kwi Gak Liat menyuruh
muridnya berhenti. “Kita berhenti dan mengaso di sini!” kata Setan Botak itu sambil meloncat turun dari
kudanya.
Han Han cepat-cepat meloncat turun dari belakang Ouwyang Seng dan menuntun kuda Setan Botak untuk
diikat kepada sebatang pohon. Kemudian ia merawat kuda tunggangan Ouwyang Seng pula. Sejak pagi-pagi
sekali mereka melarikan kuda dan kini kedua ekor kuda itu berpeluh dan terengah-engah. Han Han cepat
mengeluarkan kain kuning dari buntalannya yang tergantung di sela kuda, dan menyusuti tubuh kuda yang
berpeluh. Dua ekor kuda yang sedang makan rumput itu menggosok-gosokkan telinga dan muka pada Han
Han, seolah-olah mereka menyatakan terima kasih.
“Kongcu, lihatlah, puncak di sana itu menjadi tempat tinggal seorang kenalan baik yang daerahnya sama sekali
tidak boleh diganggu.”
Ouwyang Seng memandang suhu-nya dengan heran. Baru sekali ini suhu-nya memperlihatkan dan
memperdengarkan suara yang sifatnya segan kepada seseorang. “Suhu, siapakah kenalan suhu itu? Dia
orang macam apa?”
Kang-thouw-kwi Gak Liat memandang ke arah puncak gunung yang tertutup awan putih itu dengan kening
berkerut, termenung sejenak lalu berkata, “Namanya Siangkoan Lee, julukannya Ma-bin Lo-mo (Iblis Tua
Bermuka Kuda)! Semenjak muda dia menjadi sainganku, menjadi lawanku yang paling ulet. Hemmm... lebih
lima tahun aku tidak pernah bertemu dengannya. Entah bagaimana sekarang tingkat ilmunya yang paling
diandalkan.”
“Ah, jadi di sanakah tempat tinggal Ma-bin Lo-mo yang amat terkenal itu? Suhu, bukankah dia seorang di
antara tokoh-tokoh yang disebut datuk-datuk besar di samping suhu?”
“Benar dialah orangnya...” Kembali Kang-thouw-kwi tampak melamun. Teringat ia akan masa dahulu di mana
ia bersama Ma-bin Lo-mo malang-melintang di dunia kang-ouw dan hanya Si Muka Kuda itu sajalah yang
merupakan lawan yang paling tangguh. “Dia bekas seorang menteri di Kerajaan Beng lima puluhan tahun yang
lalu, kemudian mengundurkan diri. Entah bagaimana kedudukannya di jalan kerajaan baru ini...”
“Ilmu apakah yang paling ia andalkan, suhu?”
Setan Botak itu menghela napas panjang. “Dia sengaja memperdalam ilmu untuk menandingi Hwi-yang-sinciang!
Ilmunya itu disebut Swat-im-sin-ciang (Tangan Sakti Inti Sari Salju). Ah, betapa inginku mengetahui
sampai di mana sekarang tingkat ilmunya itu...”
“Suhu, kenapa kita tidak naik ke sana saja kalau suhu ingin mencobanya? Teecu yakin suhu tidak akan kalah!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hemmm, Kongcu. Lupakah engkau akan pelajaranku bahwa kalau kita ingin dapat lama bertahan di dunia
kang-ouw, kita harus selalu pandai menilai keadaan lawan? Turun tangan kalau sudah yakin akan menang,
dan berhati-hati apa bila menghadapi keadaan yang akan dapat merugikan. Itulah syarat utama dan syarat
itulah yang kupakai selama puluhan tahun ini sehingga namaku masih menjulang tinggi tak pernah runtuh.”
Ouwyang Seng mengangguk-angguk dan diam-diam ia merasa kagum dan penasaran kepada tokoh yang
julukannya Ma-bin Lo-mo itu. Ia tidak mau percaya dan tidak mau mengerti bahwa ada orang yang akan dapat
menandingi gurunya.
Ada pun Han Han yang menyusuti keringat kuda, ikut mendengarkan semua itu. Tentu saja ia sama sekali
tidak setuju dengan pendapat Setan Botak yang dianggapnya pengecut dan sama sekali tidak tepat menjadi
watak orang gagah. Orang gagah mendasarkan wataknya kepada yang baik dan jahat. Betapa pun kuatnya
lawan, kalau jahat harus ditentang, sebaliknya, biar pun lawan lemah, kalau benar tidak semestinya ditentang,
bahkan harus dibantu. Akan tetapi dia tidak peduli akan watak guru dan murid itu, hanya merasa kagum dan
ingin sekali melihat tokoh yang dijuluki Iblis Tua Muka Kuda itu.
“Han Han, lekas pergi ke dalam hutan di depan itu mencarikan buah-buahan untuk Suhu! Jangan kembali
kalau belum mendapatkan buah-buahan yang cukup banyak!” Ouwyang Seng yang melihat bahwa Han Han
mendengarkan percakapan mereka tadi memerintah karena betapa pun juga ia merasa tidak senang melihat
kacungnya itu mendengar betapa suhu-nya seolah-olah jeri terhadap tokoh yang berjuluk Iblis Tua Muka Kuda
itu.
Han Han yang juga merasa lapar, mengangguk lalu meninggalkan tempat itu, memasuki hutan yang berada di
sebuah lereng dekat kaki gunung itu. Timbul lagi kegembiraan hatinya. Memasuki hutan liar itu seorang diri
saja amat menyenangkan hatinya. Ia merasa seolah-olah menjadi satu dengan hutan itu, bebas lepas seperti
burung yang beterbangan di antara pohon-pohon raksasa, seperti seekor di antara kera-kera yang berloncatan,
kelinci-kelinci yang berlarian.
Ah, betapa ingin hatinya untuk menggunakan kesempatan itu melarikan diri. Akan tetapi ia ingin menyaksikan
kota raja. Ia juga tahu bahwa kalau ia melarikan diri, tentu akan mudah dikejar Setan Botak yang amat sakti itu,
dan dia tentu akan mengalami hukuman di tangan Ouwyang Seng yang kejam dan suka menyiksa orang.
Biarlah kucarikan buah untuk mereka, pikirnya. Belum tiba saatnya bagi dia melarikan diri.
Untung baginya bahwa hutan itu mempunyai banyak pohon berbuah yang sudah matang dan tinggal pilih saja.
Akan tetapi selagi ia menengadah mencari buah-buah apa yang akan dipilihnya, tiba-tiba ia mendengar suara
bentakan-bentakan halus dan nyaring.
“... heiiiiit... siaaat... heiiiiittt!”
Han Han tertarik dan cepat ia menyelinap di antara pohon-pohon itu ke arah datangnya suara. Ternyata bahwa
yang membentak-bentak itu adalah seorang anak perempuan, usianya takkan jauh selisihnya dari usianya
sendiri. Bocah itu sedang berlatih ilmu silat, memukul, menangkis, menendang, berloncatan dan sekali-kali
mengeluarkan jerit membentak untuk memperkuat pukulan atau tendangan.
Anak perempuan berusia sepuluh atau sebelas tahun itu amat cantik dan mungil. Gerakannya gesit bukan
main, mengingatkan Han Han akan Sin Lian, puteri Lauw-pangcu. Akan tetapi gadis cilik ini lebih cantik, dan
mukanya manis sekali, tidak membayangkan kegalakan dan keliaran seperti yang terbayang pada wajah Sin
Lian. Ada pun gerakan-gerakannya jauh lebih cepat dari pada gerakan Sin Lian, hal ini saja menjadi tanda
bahwa tingkat kepandaian ilmu silat anak perempuan ini lebih tinggi dari pada puteri Lauw-pangcu.
Selain cepat, juga ilmu silat yang dimainkan gadis cilik itu bagi Han Han kelihatan amat indahnya, seperti
menari-nari. Tubuh yang semampai itu berkelebatan, berloncatan dan kadang-kadang membuat gerakan kaki
tangan demikian halus dan indah sehingga ia memandang dengan bengong penuh kekaguman. Ada sepuluh
menit anak perempuan itu berlatih, kemudian mengakhiri latihannya dengan tendangan berantai dan tubuhnya
mencelat ke atas, ketika kakinya seperti kitiran membuat gerakan menendang secara bertubi-tubi dengan
kedua kaki bergantian sampai lima kali, baru tubuhnya berjungkir balik melompat ke belakang. Indah sekali
gerakannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bagus sekali...!” Tak terasa lagi pujian ini keluar dari mulut Han Han.
Anak perempuan itu menengok dan memandang. Han Han terkejut dan tahu bahwa dia telah berlaku lancang.
Ia mengira bahwa anak perempuan itu, seperti halnya Sin Lian, tentu akan marah dan memakinya. Setelah ia
bergaul dengan Sin Lian, kesannya terhadap anak perempuan adalah mudah marah, mudah memaki, akan
tetapi mudah pula tertawa.
Akan tetapi ia kecelik! Anak perempuan itu tidak marah melainkan memandang kepadanya dengan sinar mata
penuh selidik, memperhatikannya dari atas sampai ke bawah, kemudian tersenyum dan melangkah maju
menghampirinya. Setelah mereka berdiri saling berhadapan, gadis cilik itu memperhatikan pakaian di tubuh
Han Han, membuat Han Han menjadi merah mukanya karena ia merasa betapa pakaiannya sungguh tidak
boleh dibanggakan. Penuh tambalan dan tidak begitu bersih lagi karena dia belum sempat berganti pakaian.
Gadis cilik itu tiba-tiba merogoh saku bajunya dan mengeluarkan dua potong uang tembaga. Tanpa berkatakata
ia menjulurkan tangan, memberikan dua potong uang tembaga itu kepada Han Han. Tentu saja Han Han
melongo dan tidak mengerti, terpaksa ia bertanya.
“Untuk apa ini...?”
“Sedekah seadanya untukmu. Engkau tersasar jalan, di daerah ini tidak akan kau temui dusun, akan percuma
mencari sumbangan...”
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Cersil Keren

Pecinta Cersil