Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Senin, 31 Juli 2017

Cersil Super : Pendekar Super Sakti 5

Cersil Super : Pendekar Super Sakti 5 Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil Super : Pendekar Super Sakti 5
kumpulan cerita silat cersil online
-
“Tunggu dulu...!”
Perwira hidung bengkok itu menahan serangannya dan melangkah mundur, kemudian berdiri dan terpesona
ketika melihat seorang pemuda remaja yang amat tampan telah berdiri di depannya sambil bertolak pinggang.
Sikapnya angkuh sekali seperti seorang jenderal, namun wajah yang tampan itu agaknya tidak bisa
membayangkan kemarahan maka kelihatannya cerah dan berseri. Sepasang mata yang lebar dan bercahaya
terang seperti sepasang bintang itu seolah-olah menembus dada menjenguk jantung. ‘Pemuda’ ini bukan lain
adalah Lulu yang tak dapat menahan kemarahannya lagi menyaksikan lagak dan perbuatan perwira itu.
“Eh, engkau ini siapakah dan mengapa menahan aku menghajar Kakek tak tahu diri ini?” Si Perwira akhirnya
berkata setelah pandang matanya puas meneliti seluruh tubuh pemuda yang berdiri angkuh di depannya itu.
“Engkau yang tak tahu diri!” Lulu membentak, mengejutkan hati semua orang termasuk kakek yang berdiri di
belakangnya itu. Akan tetapi mereka semua makin terkejut dan khawatir lagi ketika pemuda tampan itu
melanjutkan kata-katanya sambil menudingkan telunjuknya seperti hendak menusuk hidung yang bengkok itu,
“Engkau ini perwira macam apa, heh? Mengandalkan kepandaian untuk menghina wanita dan memukul rakyat,
mengandalkan kedudukan untuk menindas rakyat! Dumeh (mentang-mentang) menjadi perwira, apakah
engkau lantas boleh menggunakan kekuasaanmu untuk bertindak sewenang-wenang? Apakah engkau
dijadikan perwira untuk menginjak-injak rakyat? Seharusnya prajurit menjadi penjaga keamanan, akan tetapi
engkau malah menjadi pengacau keamanan! Seharusnya prajurit menjadi pelindung rakyat! Akan tetapi
engkau malah menjadi pengganggu rakyat! Kalau rekan-rekanmu di bawah itu tahu diri dan mengenal
kewajiban, tentu engkau sudah diseret turun dari panggung ini dan menerima hukuman dari atasanmu!”
Tidak hanya para penonton dan rombongan silat itu yang tercengang keheranan, juga Si Perwira sendiri
berikut teman-temannya memandang dengan melongo. Sikap pemuda ini seperti seorang jenderal memarahi
anak buahnya yang menyeleweng saja! Perwira hidung bengkok menjadi curiga dan wajahnya berubah pucat.
Ia menduga-duga akan tetapi tidak mengenal pemuda ini, maka ia lalu bertanya.
“Eh, pemuda yang lancang mulut. Siapakah engkau sebetulnya?”
“Aku rakyat biasa yang tidak sudi melihat adanya perwira macam engkau ini menghina rakyat yang tidak
berdosa!”
Sejenak perwira itu memandang, kemudian tertawa bergelak. “Ha-ha-ha-ha, pemuda liar macam engkau ini
sungguh menggemaskan! Hemmm, ingin kupukul bibirmu sampai berdarah!” Ia menoleh kepada teman-teman
di bawah panggung. “Bagaimana kalau aku tangkap pemuda liar ini agar malam nanti dia menjadi badut
meramaikan malam gembira kita?”
“Akur! Akur!” teriak dua orang perwira dan para anak buahnya. Perwira hidung bengkok itu kembali
menghadapi Lulu dan berkata mengejek.
“Kalian orang-orang Han memang sombong! Kalau aku menghina orang-orang Han, engkau mau apa?”
Kemarahan Lulu membuat mukanya menjadi merah. Dia muak menyaksikan sikap perwira bangsanya sendiri!
Ayahnya dahulu juga seorang perwira Mancu, akan tetapi ia merasa yakin bahwa ayahnya tidak jahat seperti
orang ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Mau apa? Mau apa kau tanya? Mau apa lagi kalau tidak menghancurkan hidungmu yang bengkok itu!”
bentaknya dan tiba-tiba tubuhnya menerjang maju, kedua tangannya bergerak cepat, yang kiri menyodok perut
yang kanan mencengkeram leher!
“Wah-wah, ganas...!” Perwira yang memandang rendah gadis itu mengejek.
Tangan kanan gadis itu datang lebih dulu ke lehernya. Cepat ia tangkis dan tangan kiri gadis yang menyodok
perutnya hendak ditangkapnya seperti yang ia lakukan pada nyonya tadi. Akan tetapi tiba-tiba ia mengeluarkan
jerit mengerikan karena tangan kanan Lulu yang ditangkis itu tidak membalik, melainkan meluncur ke atas dan
pada detik berikutnya, tangan gadis itu sudah menampar hidungnya yang bengkok!
“Dessss...!”
Perwira itu menjerit dan darah muncrat-muncrat dari hidungnya yang benar-benar telah hancur, bukit
hidungnya lenyap dan remuk bersama tulang mudanya, dan kini hanya tinggal dua buah lubang yang penuh
darah! Lulu mengayun kakinya dan tubuh perwira yang besar itu tertendang, terguling dari atas panggung,
menimpa teman-temannya dalam keadaan pingsan!
“Pembunuh! Pemberontak! Tangkap!” bentak dua orang perwira lainnya.
Bersama sepuluh orang anak buah mereka, dengan marah mereka meloncat ke atas panggung dengan golok
terhunus. Gegerlah tempat itu. Para penonton lari berserabutan saling tabrak, di antara mereka yang tidak
keburu lari menjadi korban hantaman golok anak buah perwira yang seperti biasa dalam keadaan seperti itu
memperlihatkan ‘kegagahannya’ menyerang orang-orang yang tidak mampu membalas.
Kini dua belas orang prajurit itu telah menerjang ke panggung. Melihat betapa ‘pemuda’ yang perkasa itu
terancam, kakek bersama puterinya cepat maju dengan pedang di tangan membantu. Bahkan kakek itu
berseru, “Siauwhiap (Pendekar Muda), pakailah pedang ini!”
“Untuk melawan penjahat-penjahat keji berkedok tentara ini, perlu apa menggunakan pedang, Lopek?” Lulu
menyambut mereka dengan tendangan-tendangan kilat dan dua orang prajurit pengawal roboh kembali ke
bawah panggung.
Karena maklum bahwa pemuda itu lihai, dua orang perwira segera memutar golok dan menyerang Lulu yang
menggunakan kegesitan tubuh untuk berkelebat menghindarkan serangan-serangan golok mereka. Kakek dan
puterinya menghadapi pengeroyokan anak buah mereka, sedangkan anak perempuan kecil, cucu kakek itu,
berdiri di sudut panggung dengan muka pucat.
Biar pun dalam hal ilmu silat Lulu belum dapat dikatakan seorang ahli, namun dia memiliki sinkang yang amat
kuat sehingga gerakannya cepat luar biasa dan tenaga dalamnya juga sukar dicari tandingannya. Hujan
bacokan dua buah golok di tangan dua orang perwira itu selalu dapat ia elakkan dengan mudah. Dua orang
perwira ini sebetulnya memiliki tingkat kepandaian yang tinggi, seperti juga Si Perwira Hidung Bengkok tadi.
Kalau saja Si Hidung Bengkok itu tadi tidak memandang rendah Lulu, kiranya dia tidak akan begitu mudah dan
cepat dirobohkan oleh Lulu dan kehilangan hidungnya.
Kakek dan puterinya bersilat dengan ilmu pedang Hoa-san-pai, gerakan mereka cepat dan indah. Dalam waktu
beberapa menit saja mereka telah merobohkan dua orang pengeroyok. Lulu akhirnya berhasil pula menendang
perut seorang perwira yang segera berjongkok menekan-nekan perutnya yang tiba-tiba menjadi mulas itu.
Karena kini ia hanya menghadapi seorang lawan, Lulu dapat mempermainkannya. Sambil mengelak,
tangannya menampar dan sudah empat kali ia membuat perwira itu terhuyung-huyung. Ketika kelima kalinya ia
mengelak sambil menyodok, jari tangan kirinya berhasil menyodok tulang iga. Terdengar tulang patah dan
tubuh perwira itu terguling, mulutnya berteriak-teriak kesakitan. Lulu kini menyerbu para pengeroyok kakek dan
puterinya.
Akan tetapi pada saat itu terdengar teriakan-teriakan ramai dan datanglah sepasukan prajurit Mancu yang
jumlahnya tiga puluh orang lebih. Kiranya seorang di antara anak buah perwira-perwira itu tadi cepat lari
melapor ke markas ketika menyaksikan betapa pihaknya kewalahan menghadapi pemuda liar dan rombongan
tukang silat itu. Melihat datangnya bala bantuan lawan yang besar jumlahnya, kakek itu berkata.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Siauwhiap, harap melarikan diri saja. Tak perlu engkau mengorbankan keselamatanmu untuk kami...”
“Eh, omongan apa itu? Apa kau kira aku takut mati, Lopek?”
Kakek itu melongo. Pemuda itu lihai sekali, omongannya kasar dan wataknya ganas. Terpaksa ia tidak
membujuk lagi dan kini ia menyambar tubuh cucunya, dikempit dengan lengan kiri sedangkan tangan kanan
yang memegang pedang menyambut datangnya para pengeroyok yang lebih banyak itu. Mereka terkurung
dan panggung yang mereka injak bergoyang-goyang, hampir tidak kuat menahan demikian banyaknya orang
yang bergerak-gerak dalam pertandingan keroyokan kacau-balau itu.
Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan belasan orang berpakaian pengemis menyerbu para prajurit dari luar
sehingga keadaan pasukan pengeroyok menjadi kacau. Para pengemis ini rata-rata memiliki kepandaian tinggi
sehingga ketika menyerbu, banyak pihak tentara Mancu yang roboh.
“Lekas kalian meloncat dan memegang kuda ini!” Seorang di antara para pengemis itu berseru kepada
rombongan tukang silat dan Lulu.
Pada saat itu puteri kakek itu terluka oleh sebuah bacokan di pundaknya dan terhuyung-huyung. Lulu cepat
menyambarnya dan membawanya meloncat ke atas punggung seekor kuda yang sudah disiapkan oleh para
pengemis. Kakek itu memondong cucunya, sedangkan mantunya yang patah tulang pundaknya sudah pula
membonceng kuda bersama seorang pengemis. Sambil memutar-mutar golok dan pedang, rombongan
pengemis ini membuka jalan dan membalapkan kuda meninggalkan kota Tiong-bun ke arah timur dan tak lama
kemudian mereka sudah memasuki sebuah hutan.
Atas isyarat pimpinan rombongan pengemis itu, mereka berhenti dan si kepala rombongan yang bertubuh
tinggi kurus itu berkata, “Pasukan besar tentu akan mengejar kita. Sebaiknya rombongan dibagi menjadi tiga
untuk menyesatkan mereka. Aku sendiri bersama sahabat-sahabat yang perlu ditolong ini akan menemui
pangcu!” Singkat saja ia bicara dan teman-temannya sudah mengerti semua.
Mereka membagi kuda. Lulu duduk di atas seekor kuda bersama anak perempuan kakek itu, kakek itu duduk
bersama pengemis tinggi kurus sedangkan anaknya bersama mantunya sekuda. Para pengemis lainnya
dipecah menjadi dua rombongan, yang serombongan membelok ke kiri, yang serombongan ke kanan,
sedangkan pengemis tinggi kurus bersama keluarga tukang silat dan Lulu melanjutkan perjalanan memasuki
hutan.
Belum lama mereka melanjutkan perjalanan, malam telah tiba dan di dalam hutan itu gelap sekali. “Terpaksa
kita harus berhenti dan bermalam di sini. Aku mengetahui sebuah goa yang tersembunyi dan aman di depan.
Mari!” kata pengemis kurus itu yang sejak tadi tidak pernah membuka mulut.
Goa itu tersembunyi di balik rumpun alang-alang yang tebal dan tinggi. Mereka lalu turun dari kuda, dan
pengemis itu menyembunyikan tiga ekor kuda itu agak jauh dari goa, kemudian mereka semua memasuki goa
dan tanpa banyak cakap pengemis kurus itu membuat api unggun di dalam goa, mengeluarkan roti kering dan
air, mengajak semua orang makan dan minum hidangan yang bersahaja itu.
Setelah makan minum sekedarnya dan melihat betapa suami isteri itu pucat menahan sakit, pengemis tinggi
kurus itu bertanya, “Ji-wi terluka?”
Kakek tukang penjual silat itu menjawab, “Mantuku patah tulang pundaknya dan anakku perempuan terluka
bacokan, tidak berbahaya akan tetapi tentu saja nyeri.”
“Jangan khawatir, Lopek. Aku membawa obat minum untuk tulang patah. Akan tetapi untuk menyambungnya
dengan baik, harus menanti sampai kita bertemu dengan pangcu besok, dia adalah seorang ahli menyambung
tulang patah.”
Pengemis kurus itu mengeluarkan bungkusan obat, sebungkus diberikan kepada nyonya itu dan sebungkus
lagi kepada suaminya. Suami isteri yang berpengalaman itu menghaturkan terima kasih dan merawat sendiri
luka-luka mereka. Melihat sikap pengemis yang pakaiannya compang-camping, tidak banyak bicara akan
dunia-kangouw.blogspot.com
tetapi yang menolong rombongan kakek itu dengan sungguh-sungguh, diam-diam Lulu menjadi kagum sekali
dan timbul rasa suka di hatinya. Akan tetapi karena dia belum mengenal pengemis itu, tidak tahu dari partai
apa, juga sesungguhnya ia sama sekali belum mengenal rombongan kakek yang mengadakan pertunjukan
silat, ia diam saja dan hanya mendengarkan.
“Bagaimana Lopek sampai diserbu gerombolan anjing-anjing Mancu itu?” Tiba-tiba pengemis itu bertanya
tanpa memandang si kakek, dan menambah kayu api unggunnya. Lulu memandang tajam, melihat betapa
wajah pengemis itu keruh dan suaranya penuh kebencian ketika menyebut ‘anjing-anjing Mancu’.
Kakek itu menghela napas panjang dan memangku kepala cucunya yang kelihatan lelah dan mengantuk itu.
“Ahhh, kami dari keluarga yang amat malang. Kami sedang melakukan perjalanan menyelidik, mencari anakku
perempuan ke dua yang dilarikan orang. Karena ada larangan membawa senjata tajam, kami sengaja
menyamar sebagai rombongan pertunjukan silat agar leluasa membawa senjata. Siapa kira di kota Tiong-bun
hampir saja kami celaka kalau tidak ditolong oleh Siauwhiap ini.”
“Lopek salah sangka. Dia ini adalah seorang Lihiap yang mengagumkan,” kata Si Pengemis dengan tenang
tanpa memandang Lulu.
Tentu saja Lulu terkejut sekali dan makin kagum. Pengemis ini benar-benar memiliki mata yang awas! Kakek
itu sendiri juga terkejut.
“Lihiap? Seorang dara remaja? Ahhh, hebat... ah, maafkan mataku yang sudah lamur, Lihiap.”
Tiba-tiba terdengar bisikan nyonya cantik itu kepada suaminya, “Apa kataku? Dan engkau masih cemburu
melihat aku boncengan dengan dia sekuda! Apa kau kira semua laki-laki sejahat perwira Mancu itu?”
“Sssttttt...!” Suaminya menegur dan mukanya menjadi merah sekali.
Lulu menahan hatinya yang geli dan ingin tertawa. Kiranya suami itu menjadi cemburu ketika ia menolong
isterinya dan berboncengan di atas kuda! Betapa lucunya!
“Lokai (Pengemis Tua), pandangan matamu awas sekali, sungguh aku kagum!” kata Lulu yang melepas
penutup kepalanya. Rambutnya yang hitam panjang kini terurai dan ia biarkan saja karena ia merasa tidak
perlu lagi menyamar setelah rahasianya terbuka.
“Tidak percuma aku merantau di dunia kang-ouw sampai puluhan tahun, Nona. Lopek, harap suka melanjutkan
ceritamu. Siapakah yang melarikan puterimu?”
“Siapa lagi kalau bukan anjing Mancu!”
Kembali Lulu terkejut. Hatinya terpukul berkali-kali. Hari ini ia telah menyaksikan kejahatan perwira-perwira
Mancu dan anak buahnya, dan kini ia lagi-lagi mendengar akan kejahatan bangsanya. Hatinya tidak enak dan
ia memandang api unggun, menutup mulut membuka telinga mendengarkan penuturan kakek itu.
Kakek itu bernama Gak Mong, seorang duda yang tinggal di kota Bwee-hian dekat kota besar Cin-an bersama
dua orang puterinya dan seorang mantu serta seorang cucu. Puterinya yang bungsu bernama Gak Siok Ci,
seorang dara remaja berusia delapan belas tahun. Pekerjaan kakek ini adalah piauwsu yaitu pengawal barangbarang
berharga yang dikirim jauh. Dalam pekerjaan ini, ia dibantu oleh kedua orang puterinya dan seorang
mantunya yang kesemuanya memiliki ilmu silat yang lumayan. Gak Kiong adalah seorang murid luar dari Hoasan-
pai dan karena pergaulannya yang luas ditambah ilmu pedangnya yang lihai, maka sampai bertahun-tahun
ia bekerja dengan lancar dan selalu dapat mengawal barang-barang kiriman dengan selamat.
Akan tetapi, mala petaka terjadi ketika pada suatu hari ia mengawal sekereta penuh bahan pakaian menuju ke
utara. Ia ditemani oleh seluruh keluarganya karena selain mengawal barang berharga yang membutuhkan
pengawalan yang kuat, juga sekalian mengajak keluarganya pesiar ke utara, apa lagi pada waktu itu perang
telah selesai di bagian ini dan perjalanan cukup aman.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sekali ini perjalanannya mendapat gangguan, bukan oleh perampok melainkan oleh sepasukan tentara Mancu
yang dipimpin seorang perwira bermata satu (mata kirinya buta). Kereta bahan pakaian itu dijadikan rebutan
oleh anggota pasukan. Tentu saja keluarga Gak ini melakukan perlawanan, namun perwira itu ternyata
merupakan perwira kelas satu yang memiliki ilmu golok yang hebat, apa lagi dibantu oleh puluhan orang anak
buahnya. Maka keluarga Gak itu dikalahkan dan terluka, kecuali Gak Siok Ci dara remaja yang cantik jelita itu,
yang ditawan dan dibawa pergi oleh si perwira mata satu!
Terpaksa keluarga itu pulang dengan hati penuh kedukaan. Untuk mengganti barang kawalan yang habis itu
terpaksa pula Kakek Gak menjual semua rumah, tanah dan barang miliknya, kemudian mereka semua lalu
meninggalkan tempat tinggal mereka dan merantau ke utara dengan maksud mencari anak perempuannya
yang hilang.
“Sampai berbulan-bulan kami merantau, namun tidak dapat menemukan jejak anakku. Perwira mata satu itu
lihai sekali, maka kurasa dia tentu berada di dekat kota raja. Apa pun yang terjadi, kami bertekad untuk
mencari anakku dan membalas dendam kepada perwira keparat itu!” Kakek Gak mengakhiri penuturunannya
sambil mengepal tinju.
“Perwira mata satu? Tinggi besar dan senjatanya golok besar?” Tiba-tiba pengemis itu menepuk pahanya dan
berseru, “Jangan-jangan dia itu Twa-to-kwi (Setan Golok Besar) Liok Bu Tang...!”
“Serrrrr...!”
Sebatang anak panah menyambar dari luar goa dan Lulu yang bermata tajam cepat menggerakkan tangan
menangkap anak panah itu. Pengemis kurus itu memadamkan api unggun dan berbisik, “Bersembunyi mepet
dinding goa...!”
Dari luar goa terdengar suara ketawa bergelak, “Ha-ha-ha! Jembel busuk Kwat Lee, benar sekali ucapanmu.
Twa-to-kwi Liok Bu Tang telah berada di sini. Engkau boleh berjuluk Bu-eng Sin-kai (Pengemis Sakti Tanpa
Bayangan), akan tetapi sekali ini bukan saja bayanganmu, juga orangnya akan menjadi tawananku atau malah
menjadi setan penasaran. Ha-ha-ha-ha! Pemberontak-pemberontak keji, menyerahlah. Goa ini sudah dikepung
puluhan orang bala tentaraku!”
Pengemis tinggi kurus yang bernama Kwat Lee itu berbisik, “Tidak ada pilihan lain. Tinggal di sini berarti mati
konyol. Kalau menyerbu ke luar, dikeroyok, akan tetapi belum tentu kita mati semua. Masing-masing mencari
jalan ke luar sendiri, lebih baik seorang dua orang ada yang selamat dan bebas dari pada semua mati. Lihiap,
kau mengambil jalan kiri. Gak-lopek, engkau dan puteri serta mantumu mengambil jalan kanan, kau pondong
cucumu. Aku akan mengambil jalan depan!”
Kembali Lulu kagum bukan main. Pengemis ini memilih jalan yang paling berbahaya bagi diri sendiri!
Dari luar goa terdengar suara ketawa yang tadi. “Ha-ha-ha! Engkau ketakutan, jembel busuk? Aku tahu bahwa
engkau berada di dalam goa bersama Keluarga Gak. Eh, Gak-piauwsu, engkau dan keluargamu hendak
mencari si manis Siok Ci anakmu? Boleh, kalian boleh berjumpa dengan dia di neraka. Dan pemuda hijau yang
ikut bersama kalian juga akan mampus. Ha-ha-ha!”
“Aahhhhh, adikku Siok Ci... engkau... sudah mati...” Nyonya itu menangis.
Ayahnya membentak. “Dia sudah mati lebih baik! Mengapa engkau menangis? Kita pun menghadapi kematian!
Orang gagah tidak menangis menghadapi kematian di tangan musuh!”
Seketika nyonya itu menghentikan tangisnya, mengepal tinju dan berseru, “Anjing-anjing Mancu, rasakan
pembalasanku!”
Lulu kagum sekali. Orang-orang Mancu itu... ah, ia malu sekali. Mendengar bahwa ia disebut ‘pemuda hijau’,
cepat Lulu menutupi rambut yang digelungnya dengan kain kepalanya, kemudian ia berkata, “Bu-eng Sin-kai,
biarlah aku yang mengambil jalan depan!” Ucapannya tegas dan sedikit pun tidak membayangkan kegentaran.
Pengemis itu di dalam gelap memandang ke arahnya dengan kagum. “Lihiap, engkau tidak bersenjata?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aku bisa merampas senjata dari mereka.”
“Baiklah, engkau mengambil jalan depan. Aku mengambil jalan kiri bersama mantu Gak-piauwsu yang patah
tulang pundaknya. Gak-piauwsu, engkau bersama puterimu dan cucumu mengambil jalan kanan.”
Tiba-tiba keadaan menjadi terang ketika pasukan yang mengepung itu menyalakan banyak sekali obor dan
memegang obor di tangan kiri, diangkat tinggi-tinggi sedangkan tangan kanan memegang senjata tajam. Di
antara sinar obor, tampaklah perwira tinggi besar yang memegang golok besar pula, matanya yang tinggal
sebelah bercahaya mengerikan.
Mereka yang berada di dalam goa sudah siap, Bu-eng Sin-kai sudah memegang senjatanya, yaitu sebatang
tongkat bambu kuning yang kedua ujungnya dipasangi baja runcing. Gak Kiong kakek itu memegang
pedangnya di tangan kanan dan cucunya dipondong di lengan kiri. Puterinya juga sudah memegang pedang.
Mantunya, yang lumpuh lengan kanannya karena tulang pundaknya patah, memegang pedang dengan tangan
kiri, berjongkok dekat dengan Kwat Lee, Si Pengemis Kurus yang berjuluk Bu-eng Sin-kai itu.
“Siap! Kita menyerbu keluar. Satu, dua, tiga...!”
Meloncatlah mereka ke luar. Lulu yang memiliki ginkang istimewa itu melompat paling dulu menerjang ke
depan, di tengah-tengah. Sedangkan Bu-eng Sin-kai didampingi mantu Gak-piauwsu menerjang ke kiri. Kakek
Gak bersama puterinya menerjang ke kanan.
“Tangkap pemberontak! Bunuh...!” Terdengar teriakan riuh-rendah dan sinar obor bergerak-gerak menyilaukan
mata ketika pasukan itu mengepung dan bergerak ke depan.
Karena mendengar cerita Kakek Gak, dan mendengar pula ucapan perwira mata satu, timbul kebencian di hati
Lulu terhadap perwira ini. Maka begitu ia menerjang ke luar dan disambut oleh dua orang tentara Mancu,
dengan mudah ia merobohkan mereka dengan pukulan dan tendangan, berhasil merampas sebatang pedang
kemudian ia meloncat ke depan perwira yang memegang golok besar itu dan terus menusuk dengan pedang
rampasannya ke arah perut yang gendut itu.
“Ha-ha-ha, pemuda hijau berani bertingkah?” Perwira mata satu itu menggerakkan goloknya dengan
pengerahan tenaga dan ia yakin bahwa sekali tangkis, kalau tidak mematahkan pedang lawan sedikitnya ia
tentu akan mampu membuat pedang itu terlepas.
“Heh...? Ahhhhh...!”
Ia meloncat ke belakang sambil mengelebatkan goloknya saking kaget karena pedang yang tadi menusuk dan
ditangkisnya itu tiba-tiba menyeleweng, mengelak tangkisannya dan terus membacok lehernya! Tahulah
perwira ini bahwa ‘pemuda’ itu tidak boleh dipandang ringan.
“Hemmm, Twa-to-kwi Liok Bu Tang, mentang-mentang matamu tinggal satu engkau berani memandang
sebelah mata kepadaku?” ejek Lulu yang menerjang terus dengan hebatnya. Gerakannya memang gesit sekali
dan ilmu pedangnya amat indah. Di bawah sinar api obor, pedang rampasannya berubah menjadi gundukan
sinar bundar seperti payung yang melayang maju ke arah Liok Bu Tang.
“Setan alas! Kau kira aku takut padamu?” Biar pun mulutnya berkata demikian dan goloknya diputar cepat
untuk menangkis dan balas menyerang, namun kenyataannya perwira ini merasa lega ketika empat orang
tangan kanannya, yaitu perwira-perwira rendahan yang menyaksikan pula kelihaian Lulu, maju mengeroyok
gadis itu dan membantunya.
Ada pun Bu-eng Sin-kai Kwat Lee yang menerjang ke kiri bersama mantu Kakek Gak juga menghadapi
pengeroyokan belasan orang tentara. Kwat Lee dengan tongkat bambunya mengamuk hebat, sebentar saja
sudah berhasil merobohkan empat orang pengeroyok. Ada pun mantu Kakek Gak itu biar pun hanya dapat
menggunakan tangan kiri, namun ia masih dapat mempertahankan setiap serangan yang dapat ia elakkan
atau tangkis. Namun hatinya gelisah dan beberapa kali ia menoleh ke kanan di mana ia melihat isterinya dan
ayah mertuanya yang menggendong puterinya juga dikeroyok banyak orang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Lulu marah bukan main menghadapi pengeroyokan para perwira Mancu ini. Lenyap sama sekali perasaan
tidak enak bahwa ia memusuhi bangsa sendiri dan kini yang terasa di hatinya hanyalah bahwa ia menentang
orang-orang yang jahat, membela orang-orang yang benar. Berkat latihan-latihannya di Pulau Es, ginkang-nya
jauh melebihi para pengeroyoknya dan ketika ia mendapat kesempatan, ketika tubuhnya melayang tinggi, dari
atas ia menukik ke bawah, pedangnya berbentuk gulungan sinar seperti payung melindungi tubuhnya dan
tangan kirinya memukul ke arah seorang pengeroyok dengan pengerahan tenaga sinkang-nya.
“Plakkkkk!” Orang itu roboh dengan kepala retak dan tewas di saat itu juga. Lulu merasa kecewa bahwa yang
tewas itu ternyata bukan Si Mata Satu, karena dari atas tadi ia hanya menyerang pengeroyok terdekat.
“Keparat! Kepung, bunuh!” teriak perwira mata satu dengan marah ketika melihat seorang pembantunya tewas.
Diam-diam ia pun merasa gentar karena tidak menyangka bahwa ‘pemuda hijau’ itu ternyata demikian lihainya.
Atas teriakannya ini, dua orang perwira rendahan maju menggantikan seorang yang roboh. Kini Lulu dikeroyok
oleh enam orang termasuk Si Mata Satu! Ia mengertak gigi, memutar pedang dan bergerak seperti halilintar
cepatnya dan kembali dua orang telah kena sabetan pedangnya sehingga yang seorang putus lengannya,
yang seorang lagi pecah perutnya. Begitu roboh dua orang, pengganti mereka sudah cepat muncul dan
kembali Lulu dikeroyok dengan kepungan ketat.
Pengemis kurus Kwat Lee juga mengamuk secara hebat. Empat orang korbannya kini bertambah menjadi
delapan orang, kesemuanya prajurit-prajurit Mancu yang sungguh pun tidak selihai para perwira yang
mengeroyok Lulu kepandaiannya, namun karena jumlahnya amat banyak, maka ia tidak dapat maju dan
akhirnya terhalang oleh tumpukan mayat-mayat lawan yang dirobohkannya.
Pertandingan sudah berjalan hampir dua jam. Mantu Kakek Gak yang menengok lagi ke kanan mengeluarkan
teriakan ngeri ketika ia melihat isterinya roboh oleh tusukan tombak dari belakang. Ia tidak mempedulikan lagi
larangan Kwat Lee, lalu meloncat dan lari menuju ke kanan. Ia melihat isterinya roboh mandi darah dan pada
saat ia hendak menubruk isterinya, Kakek Gak berteriak keras dan ketika mantunya menengok, ternyata ayah
mertuanya itu roboh bersama-sama puterinya, keduanya menjadi sasaran bacokan banyak golok dan pedang!
Dengan buas laki-laki ini meloncat dan mengamuk dengan pedang di tangan kirinya. Kemarahannya,
kesedihan, dan dendam yang meluap-luap membuat kekuatan gerakan pedangnya berlipat ganda dan berhasil
merobohkan tiga orang pengeroyok sebelum ia sendiri roboh dengan tubuh penuh luka. Habislah riwayat
keluarga Gak yang gagah perkasa itu!
Kini tinggal Lulu dan Kwat Lee yang melanjutkan perlawanan. Pengemis ini mengerti bahwa keluarga Gak tak
dapat ditolong lagi, maka ia cepat menggeser kedudukannya dan akhirnya berhasil mendekati Lulu. Setelah
dekat ia berteriak.
“Lihiap! Kita mengadu punggung, saling melindungi!”
Lulu mengerti maksud pengemis itu dan ia pun lalu berdiri membelakangi Kwat Lee dan biar pun punggung
mereka tidak sampai bersentuhan, masih terpisah kira-kira satu meter, namun dengan kedudukan mereka itu
tidak ada pengeroyok yang akan dapat menyerang mereka dari belakang sehingga bagi mereka akan lebih
dapat melakukan pertahanan yang kuat.
Liok Bu Tang si Mata Satu sudah menjadi marah bukan main. Terlalu banyak ia kehilangan anak buah, dan
hasilnya hanya dapat membunuh keluarga Gak yang empat orang jumlahnya, empat orang itu pun yang
seorang anak kecil dan seorang lagi sudah patah tulang pundaknya. Sungguh memalukan! Tidak kurang dari
lima belas orang anak buahnya tewas.
Si Mata Satu dan perwira rendahan yang tinggal empat lagi, dibantu oleh dua puluh lebih anak buahnya, kini
mengurung Lulu dan Kwat Lee. Lebih marah lagi hati Si Mata Satu ketika mendengar pengemis itu menyebut
lihiap kepada ‘pemuda’ itu. Hanya seorang gadis remaja!
Para pengepung mengangkat senjata, mengurung dan mencari kesempatan baik, atau menunggu komando.
Lulu dan Kwat Lee melintangkan senjata di depan dada, siap melawan mati-matian. Keadaan amat
dunia-kangouw.blogspot.com
menegangkan. Mata kedua orang yang dikeroyok ini tidak berkedip, memandang para pengurung di bawah
sinar obor yang kini dipegang oleh puluhan orang tentara yang tidak ikut mengeroyok, karena tidak kebagian
tempat dan hanya berdiri di lingkungan luar dengan obor di tangan kiri dan senjata di tangan kanan.
“Serbu...!” Si Mata Satu memberi aba-aba seperti kalau biasanya ia memberi komando pasukannya menyerbu
barisan musuh.
“Trang-trang-trang-cring-cring...!”
Suara bertemunya senjata nyaring memekakkan telinga dan tampak bunga api muncrat-muncrat disusul
teriakan-teriakan orang dan robohnya beberapa orang pengeroyok. Kembali kedua orang yang gerakannya
amat cepat tadi berdiri diam karena para pengeroyok juga diam dan agak menjauh, namun pengurungan tetap
ketat. Kembali mereka seperti patung, saling pandang dan menanti kesempatan. Keadaan lebih menegangkan
dari pada tadi.
“Lihiap, berapa ekor kau robohkan?”
Lulu hampir tertawa. Benar-benar luar biasa sekali pengemis ini. Dikepung seperti itu, terancam maut, masih
sempat bertanya yang merupakan kelakar yang menyegarkan untuk mengusir ketegangan.
“Lima... ekor!” jawabnya, lupa bahwa yang disebut lima ekor itu adalah lima orang prajurit bangsanya.
“Aku hanya empat ekor, kalah satu ekor. Wah, engkau hebat, Lihiap.”
Melihat sikap tenang dan mendengar percakapan mereka, seperti hampir meledak saking marahnya dada Liok
Bu Tang. Ia marah sekali dan menganggap anak buahnya tidak becus. Mengeroyok dua orang saja sampai
sekali gebrakan roboh sembilan orang!
“Serbu dan serang terus sampai hancur tubuh mereka!” teriaknya sambil memutar golok.
Kembali terdengar suara nyaring bertemunya senjata dan sekali ini pertandingan benar-benar amat hebat.
Pihak pengeroyok terlalu banyak dan biar pun sewaktu-waktu si pengemis kurus masih sempat bertanya
berapa ekor yang dijatuhkan Lulu, namun jumlah korban mereka makin berkurang dan mereka menjadi lelah
sekali. Berjam-jam mereka dikeroyok dan jumlah lawan tidak pernah berkurang karena begitu ada yang roboh,
tentu ada pula yang menggantikannya.
Mereka berdua tidak hanya mandi keringat, juga mandi darah, sebagian besar darah lawan, sebagian kecil
darah mereka sendiri yang keluar dari luka-luka bekas bacokan senjata para pengeroyok.
Paha kiri Bu-eng Sin-kai Kwat Lee telah terbacok golok Si Matu Satu, hampir mengenai tulangnya, juga dada
kanannya somplak dagingnya terkena bacokan pedang. Darah membasahi seluruh dada dan kaki kiri. Akan
tetapi pengemis ini tak pernah mengeluh, terus mengamuk dengan tongkat bambunya. Lulu juga terluka,
pundaknya tertusuk mengeluarkan darah dan pangkal pahanya di belakang, di bawah pinggul, kena
diserempet pedang sehingga kulitnya terkupas dan mengeluarkan darah pula. Seperti pengemis yang sikapnya
amat gagah dan membangkitkan semangat itu, Lulu tidak mau mengeluh dan terus mengamuk.
“Jangan khawatir, Lihiap. Biar pun mati, kita sudah mempunyai banyak pengawal! Kita sudah untung besar!”
demikian pengemis itu berkata gembira.
Lulu kagum bukan main. “Sin-kai, aku akan bangga mati di samping seorang gagah perkasa seperti engkau!”
kata Lulu sambil menusukkan pedangnya sampai tembus di dada seorang prajurit. Akan tetapi ketika ia
mencabut pedangnya, terdengar suara....
“Krekkk!” dan pedangnya patah! Ternyata pedangnya itu terselip di tulang iga lawan dan ketika ia cabut,
tertekuk dan patah.
Pada saat itu, golok Liok Bu Tang menyambar ganas. Lulu terkejut mendengar desing angin golok dari
samping ini. Cepat ia menjatuhkan diri ke atas tanah dan bergulingan sampai jauh, ketika meloncat bangun
dunia-kangouw.blogspot.com
tangan kanannya menghantam kepala seorang lawan sampai pecah dan tangan kirinya merampas pedang
orang itu. Dia telah bersenjata lagi!
“Bukan main! Gerakanmu luar biasa indah dan lihainya, Lihiap!” Bu-eng Sin-kai Kwat Lee memuji akan tetapi ia
tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena kini ia sudah dihujani serangan dari para pengeroyok yang
mengepungnya.
Biar pun napasnya sudah terengah-engah, terpaksa ia mengerahkan tenaga dan memutar tongkatnya untuk
melindungi dirinya. Kini keadaan kedua orang gagah ini menjadi lemah karena gerakan Lulu yang
menggelundung tadi memisahkan dia dengan Kwat Lee sehingga kini para pengeroyok membuat gerakan
mengurung menjadi dua rombongan. Dikurung seperti itu tentu saja lebih berbahaya dan lebih sukar
melindungi tubuh, juga membutuhkan pengerahan tenaga lebih banyak untuk memutar senjata ke belakang
dan untuk berloncatan.
Saking lelahnya ditambah kehilangan darah, Lulu dan Kwat Lee sudah hampir tidak kuat menggerakkan
senjata mereka lagi. Mereka hanya mengandalkan kelincahan mereka yang otomatis, berloncatan ke sana ke
sini untuk menghindarkan diri dari senjata lawan yang datang bagaikan hujan.
Melihat keadaan dua orang yang dikeroyok itu, Liok Bu Tang si Mata Satu yang merasa sakit hati dan
penasaran, ingin menawan dua orang itu. Ia lalu menerjang dengan golok besarnya, menghantam tongkat di
tangan Kwat Lee. Terdengar suara keras dan tongkat pengemis itu mencelat entah ke mana. Tangannya yang
sudah kehabisan tenaga tidak mampu lagi mempertahankan hantaman golok yang amat kuat itu.
Liok Bu Tang kini menyerang Lulu. Seperti juga pengemis itu, dalam pertemuan tenaga, sungguh pun
kekuatan sinkang gadis ini sebetulnya lebih hebat, akan tetapi karena tenaganya habis, pedangnya patah dan
terpaksa ia membuang pedang buntung dari tangannya.
“Jangan bunuh mereka. Tangkap hidup-hidup!” Liok Bu Tang berseru girang. Dia amat marah dan membenci
kedua orang itu dan kalau membunuh mereka, ia anggap terlalu enak bagi mereka. Tidak, mereka harus
disiksa dulu dan gadis remaja yang cantik itu... ah, dia sendiri yang akan ‘menanganinya’.
Perintah Si Mata Satu itu menyelamatkan nyawa Lulu dan Kwat Lee. Andai kata tidak ada perintah itu, dalam
keadaan bertangan kosong dikeroyok begitu banyak tentara bersenjata, dalam keadaan sudah amat lelah,
tentu mereka takkan dapat bertahan lama. Kini para pengeroyok itu menyimpan senjata mereka dan menyerbu
dengan tangan kosong.
Tentu saja Lulu dan Kwat Lee tidak mau menyerah begitu saja dan menyambut mereka dengan hantamanhantaman.
Kembali mereka merobohkan beberapa orang sebelum Kwat Lee terkulai roboh saking lelahnya,
sedangkan Lulu sudah merasa pening kepalanya, pandang matanya berkunang akan tetapi ia masih bertahan
terus.
Pada saat itu terdengar suitan keras sekali dan para pengeroyok tiba-tiba menjadi kacau-balau oleh serbuan
delapan orang berpakaian pengemis. Namun delapan orang itu ternyata lihai bukan main, apa lagi seorang di
antara mereka, seorang kakek jembel yang sudah tua sekali dan tubuhnya kurus kering tinggi, rambut dan
jenggotnya yang sudah putih itu riap-riapan dan kakinya telanjang. Dengan senjata sebatang tongkat butut
pengemis tua ini di samping tujuh orang temannya mengamuk dan setiap orang yang dekat dengannya tentu
roboh.
Ketika Twa-to-kwi Liok Bu Tang melihat kakek tua ini, dia terkejut dan cepat meloncat mendekati Lulu,
menggerakkan goloknya membacok. Lulu yang sudah lelah sekali mengelak ke kiri, akan tetapi sebuah
pukulan dari belakang mengenai punggungnya dan ia roboh menelungkup. Ketika ia menggerakkan kepala
menoleh, ia melihat Si Mata Satu mengangkat golok disabetkan ke arah lehernya. Lulu tidak berdaya lagi, dan
ia membelalakkan mata menanti datangnya maut yang tak terhindarkan lagi itu.
“Tranggggg...!” Golok itu terpental dan Si Mata Satu cepat melompat tinggi dan terus kabur.
Kakek tua renta yang menangkis golok dengan tongkat bututnya itu mengamuk dan menyambar tubuh Lulu
yang sudah pingsan. Gadis ini begitu kaget dan juga bersyukur bahwa pada detik terakhir ia tertolong, maka
dunia-kangouw.blogspot.com
tekanan batin karena kaget dan girang ini membuat tubuhnya yang sudah lelah dan lemah kehilangan banyak
darah tak kuat bertahan dan ia pingsan.
Lulu tidak tahu bahwa dia dan Kwat Lee tertolong, dan akhirnya dibawa lari delapan orang pengemis lihai itu ke
dalam hutan-hutan di kaki Gunung Lu-liang-san. Dalam keadaan pingsan ia bermimpi bertanding dikeroyok
banyak orang di samping kakaknya, dan hatinya girang bukan main karena amukan kakaknya membuat
semua pengeroyok lari tunggang langgang!
********************
Kita tinggalkan dulu Lulu yang ditolong oleh para pengemis dan dibawa pergi untuk dirawat luka-lukanya dan
mari kita mengikuti pengalaman Han Han bersama Kim Cu. Telah diceritakan di bagian depan betapa kedua
orang muda itu diajak pergi oleh Toat-beng Ciu-sian-li menuruni Puncak In-kok-san. Agaknya nenek yang
memiliki watak sadis ini sengaja membawa Han Han dan Kim Cu melalui lereng-lereng gunung yang terjal dan
sukar.
Tentu saja Han Han yang baru saja buntung kakinya dan masih lemah, menderita kurang darah dan nyeri,
sengsara sekali harus mengikuti nenek itu melalui jalan yang sukar. Ia terpincang-pincang dibantu tongkatnya
dan untung di sampingnya ada Kim Cu yang selalu menggandeng dan membantunya apa bila melalui jalan
yang amat sukar. Cinta kasih gadis ini yang jelas tampak dalam sikap dan pembelaannya, benar-benar amat
mengharukan hati Han Han.
Ketika mereka tiba di sebelah hutan, tiba-tiba nenek itu berhenti, menenggak araknya dan menarik napas
panjang. “Aaahhhhh, tidak sangka engkau mati di sini...!”
Han Han dan Kim Cu yang juga berhenti, memandang nenek itu dan mengira bahwa tentu nenek itu akan
turun tangan membunuh mereka di tempat sunyi itu. Mereka hanya menanti nasib, karena maklum bahwa
melawan pun tidak akan ada gunanya. Akan tetapi di dalam hati dua orang muda itu terkandung tekad yang
sama. Han Han mengambil keputusan untuk menggunakan sisa hidupnya ini untuk membela Kim Cu dan
kalau nenek itu turun tangan hendak membunuh Kim Cu, ia akan melawannya, biar pun kakinya tinggal satu.
Demikian pula Kim Cu, dia akan membela Han Han kalau hendak dibunuh gurunya dan ia akan melawan
gurunya!
Tiba-tiba terdengar suara orang bernyanyi! Suara itu halus dan terdengar seperti amat jauh, akan tetapi katakatanya
jelas terdengar oleh mereka bertiga.
Cinta...!
Betapa besar kekuasaanmu
menyelimuti seluruh alam mayapada
menunggang angin menyelam air
terkandung dalam api tanah dan kayu
engkaulah penggerak perputaran ngo-heng
engkaulah imbangan Im-yang!
Cinta bertahta di langit
langit hanya memberi tanpa meminta
nafsu bertahta di bumi
awalnya memberi sedikit
akhirnya minta kembali seluruhnya!
Mendengar kata-kata dalam nyanyian itu, diam-diam Han Han terkejut. Kata-kata yang luar biasa, dan tidak
merupakan pelajaran apa pun juga. Seorang tosukah orang itu? Ataukah seorang hwesio? Agaknya bukan.
Kim Cu yang mendengar suara itu pun terheran dan memandang gurunya, jelas bahwa gadis ini pun tidak
mengenal suara siapa yang bernyanyi itu.
Toat-beng Ciu-sian-li menghentikan langkahnya, memandang ke depan dengan kening berkerut. Sepasang
mata nenek ini berkilat dan ia menenggak arak dari gucinya sebelum berkata dengan suara melengking tinggi.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bukankah Im-yang Seng-cu di depan itu? Kalau benar, lekas keluar jika ada urusan dengan aku, jangan
sembunyi-sembunyi seperti tikus!”
Terdengar suara ketawa dan tiba-tiba muncullah seorang kakek yang wajahnya kelihatan berseri dan bersih
karena tidak ada kumis jenggotnya. Pakaiannya kuning sederhana namun bersih, kakinya telanjang dan
tangan kirinya memegang sebatang tongkat yang gagangnya berbentuk kepala naga. Han Han terkejut dan
girang ketika mendengar disebutnya nama kakek ini, karena ia teringat kepada sahabat-sahabat baik yang
dijumpainya di rumah Pek-eng-piauwkiok di kota Kwan-teng, yaitu Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li. Maka tanpa
disadarinya ia berseru.
“Ah, jadi locianpwe inikah Guru Sin Kiat dan Soan Li?”
Mendengar seruan ini, kakek itu memandang Han Han, kelihatan tercengang dan meneliti Han Han dari atas
sampai ke bawah, pandang matanya berhenti pada kaki buntung itu. Akan tetapi mulutnya tidak berkata
sesuatu kepada Han Han, bahkan dia lalu menghadapi Toat-beng Ciu-sian-li dan berkata.
“Sian-li, apakah selama belasan tahun ini Sian-li baik-baik saja?”
Nenek itu mendengus dan mengerutkan kening, kemudian memandang tajam dan bertanya, “Im-yang Seng-cu,
mau apa engkau berkeliaran di sini?” Nadanya penuh teguran dan jelas bahwa pertemuan ini tidak
menyenangkan hatinya.
Im-yang Seng-cu tertawa dan merogoh bajunya, mengeluarkan sebungkus hioswa sambil berkata, “Kebetulan
saja aku bertemu dengan Sian-li di sini dalam perjalananku hendak menjenguk dan menyembahyangi kuburan
sahabatku Jai-hwa-sian.”
“Jai-hwa-sian...? Dia... dia... Kongkong-ku!” Han Han berseru, terheran-heran. Benarkah kongkong-nya yang
berjuluk Jai-hwa-sian telah mati dan kuburannya berada di tempat ini?
Ucapan Han Han ini sungguh pun tidak ada artinya bagi Kim Cu, namun ternyata mengejutkan Toat-beng Ciusian-
li dan Im-yang Seng-cu. Kakek itu kini memandang Toat-beng Ciu-sian-li dan suaranya tidak ramah lagi
ketika bertanya.
“Sian-li, apa artinya ini? Kulihat pemuda ini baru saja menderita buntung kakinya dan kalau dia cucu Jai-hwasian
engkau hendak apakan dia?”
“Im-yang Seng-cu, berani engkau mencampuri urusanku?” Toat-beng Ciu-sian-li membentak, suara dan
pandang matanya mengancam, rantai panjang di kedua telinganya bergerak-gerak seperti hidup.
“Mana berani aku lancang mencampuri urusanmu, Sian-li? Akan tetapi urusan yang menyangkut diri cucu
sahabatku Jai-hwa-sian, tidak bisa tidak harus kucampuri. Kalau aku diam saja, aku malu bertemu dengan
kuburannya!”
“Im-yang Seng-cu, dengar baik-baik. Aku sama sekali tidak tahu bahwa bocah ini adalah cucunya, dan dia ini
adalah muridku yang murtad, melarikan diri dari perguruan maka telah menerima hukuman. Ada pun gadis ini
juga muridku yang membelanya, maka kini keduanya harus dihukum mati.”
Im-yang Seng-cu memandang Kim Cu dan Han Han bergantian. Pantas saja begitu bertemu dengan Han Han
tadi ia tercengang menyaksikan persamaan pemuda itu dengan sahabatnya yang telah tewas. Kiranya bocah
ini adalah cucu Jai-hwa-sian! Dan mata kakek ini yang awas dapat pula melihat kenekatan di dalam sikap dua
orang muda itu, melihat pula pandang mata penuh cinta kasih. Ia tersenyum dan menjawab.
“Toat-beng Ciu-sian-li, engkau tahu bahwa aku cukup menghormatimu sebagai golongan lebih tua, akan tetapi
engkau pun cukup maklum bahwa tak mungkin aku membiarkanmu mengulangi perbuatanmu dahulu terhadap
cucu sahabatku Jai-hwa-sian. Eh, bocah berkaki buntung! Siapakah namamu?”
Han Han tidak mengharapkan pertolongan siapa pun juga, dia mengaku cucu Jai-hwa-sian tadi pun karena
tanpa disadari dan saking kagetnya mendengar disebutnya nama itu. Kini mendengar pertanyaan itu, diamdunia-
kangouw.blogspot.com
diam ia tersenyum. Ia dapat mengenal orang dan biar pun kakek ini bertanya secara kasar, namun ia dapat
menangkap maksudnya yang baik, maka dengan tenang ia menjawab, “Namaku Sie Han, locianpwe.”
Toat-beng Ciu-sian-li terkekeh mengejek. “Dia she Sie dan mengaku cucu Jai-hwa-sian, hi-hi-hik! Im-yang
Seng-cu, setua ini engkau mudah tertipu seorang bocah!”
Akan tetapi kakek itu tidak mempedulikan ejekan Toat-beng Ciu-sian-li, dan sambil menatap tajam wajah Han
Han, ia bertanya lagi, “Siapakah nama Jai-hwa-sian yang kau sebut Kong-kongmu itu?”
“Namanya Sie Hoat.”
“Hi-hi-hi, he-heh! Kebohongan yang dipaksakan, sungguh menggelikan!” kembali nenek itu mengejek, lalu
menenggak arak dari gucinya.
“Dan siapa nama Ayahmu?” Im-yang Seng-cu bertanya lagi.
Han Han mengerutkan keningnya. Ia merasa seolah-olah seorang pesakitan yang diperiksa untuk kemudian
dijatuhi hukuman, dan seolah-olah ia hendak menggunakan nama Jai-hwa-sian untuk menyelamatkan diri. Biar
pun Jai-hwa-sian itu kakeknya seperti yang diceritakan Sie Leng kepadanya, namun ia tidak suka kepada
kakeknya yang amat jahat itu. Dia tidak sudi mencoba untuk menolong nyawanya dengan menggunakan nama
kakeknya.
“Dengarlah, locianpwe dan juga engkau, Toat-beng Ciu-sian-li. Jangan sekali-kali mengira bahwa aku hendak
menggunakan nama Jai-hwa-sian untuk menyelamatkan diri dengan mengaku sebagai cucunya! Aku hanya
menceritakan keadaan yang sebenarnya yang juga belum lama kudengar dari Enci-ku. Ayahku bernama Sie
Bun An yang dulu tinggal di kota Kam-chi dan menurut Enci-ku, Kakekku bernama Sie Hoat berjuluk Jai-hwasian.
Dan biar pun dia itu Kakekku, aku tidak sudi menyelamatkan diri dengan berlindung di belakang
namanya.”
Im-yang Seng-cu memandang dengan wajah berseri dan mata bersinar, diam-diam ia kagum sekali melihat
sikap dan mendengar ucapan Han Han. Teringatlah ia akan sahabatnya itu dan ia menarik napas panjang.
“Tak salah lagi... tak salah lagi, ia mewarisi kenekatan dan keganasan Keluarga Suma... akan tetapi mewarisi
kekerasan hati dan kegagahan Keluarga Kam...! Sian-li, terpaksa aku menentang kalau engkau hendak
membunuh mereka!”
Toat-beng Ciu-sian-li mendengus. “Hemmm, Im-yang Seng-cu, engkau tidak tahu diri! Andai kata benar Han
Han ini cucu Jai-hwa-sian dan ada alasanmu melindunginya, akan tetapi Kim Cu adalah muridku dan kalau aku
hendak membunuhnya sebagai muridku sendiri, setan manakah yang berhak mencampuri?”
“Bukan setan, melainkan akulah yang akan menentangmu, Ciu-sian-li!” Tiba-tiba Han Han berkata. “Engkau
tidak boleh membunuh Kim Cu. Dia tidak berdosa. Kalau mau bunuh, kau bunuhlah aku dan bebaskan Kim Cu!”
“Jika Subo hendak membunuh Han Han, terpaksa teecu akan menentang dan melawan Subo untuk
membelanya!” Tiba-tiba Kim Cu juga berseru sambil menggandeng pemuda itu.
Toat-beng Ciu-sian-li kelihatan kaget, mukanya merah sekali dan matanya terbelalak. Sejenak keadaan sunyi
dan tegang, kemudian terpecah oleh suara ketawa Im-yang Seng-cu.
“Ha-ha-ha-ha. Cinta, betapa besar kekuasaanmu...!” Tubuhnya bergerak dan ia sudah meloncat di dekat Han
Han menghadapi nenek itu, lalu berkata, “Sian-li, apakah engkau masih berkeras dan hendak mencoba-coba
melawan kami bertiga?”
Kemarahan Toat-beng Ciu-sian-li memuncak, matanya berkilat menyambar-nyambar ke arah tiga orang itu
berganti-ganti. Akan tetapi dia bukanlah seorang bodoh yang hanya menuruti nafsu amarahnya. Tidak, Toatbeng
Ciu-sian-li amat cerdik dan otaknya yang sudah masak itu penuh dengan perhitungan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ia mengenal siapa adanya Im-yang Seng-cu yang biar pun merupakan tokoh murtad dari Hoa-san-pai, namun
memiliki ilmu kepandaian hebat karena tokoh ini memetik banyak sekali ilmu-ilmu silat tinggi dari luar yang ia
gabung dengan ilmu silat Hoa-san-pai, sehingga mungkin tingkat kepandaiannya sekarang tidak berada di
bawah tingkat supek-nya sendiri yaitu Thian Cu Cinjin ketua Hoa-san-pai.
Andai kata ia masih dapat mengatasi Im-yang Seng-cu dan tingkatnya masih menang sedikit, akan tetapi di
situ masih ada Kim Cu yang telah mewarisi sebagian besar kepandaiannya. Belum dihitung lagi Han Han yang
biar pun buntung tapi sesungguhnya memiliki kepandaian yang aneh dan luar biasa.
Masih bergidik nenek ini kalau mengingat betapa ketika ia bertanding melawan Han Han di kota raja. Pemuda
itu dapat ‘memecah diri’ menjadi tiga orang, kepandaian yang hanya ia dengar dalam dongeng saja, seperti
yang dimiliki Sun Go Kong, atau Kauw Cee Thian Si Raja Monyet tokoh dalam dongeng See-yu! Kalau mereka
ini maju dan dirinya sampai kalah, hal ini benar-benar akan amat memalukan. Kemarahannya dapat ia tekan
dengan pertimbangan yang cerdik, dan wajah yang keruh itu tiba-tiba berseri-seri, kemudian terdengar ia
menarik napas panjang dan berkata.
“Im-yang Seng-cu, engkau yang penuh dengan muslihat dan akal bulus! Engkau tahu bahwa aku tidak akan
pernah mau membunuhmu, mengingat betapa engkau dahulu adalah seorang bocah yang menjadi sahabat
dari Suma Hoat, satu-satunya anak yang dikasihi mendiang suamiku. Biarlah mengingat akan suamiku, aku
memaafkanmu. Tentang bocah yang dua orang ini, hi-hi-hik, aku khawatir apakah? Han Han telah buntung,
tiada gunanya dan kalau Kim Cu lebih senang hidup sengsara di sampingnya dari pada mati sebagai murid
yang berbakti, terserah. Kalau aku menghendaki, kelak mereka akan dapat lari ke manakah? Engkau pun tidak
mungkin melindungi mereka selamanya. Hi-hi-hik!” Setelah berkata demikian, Toat-beng Ciu-sian-li melangkah
pergi, rantai panjang di kedua telinganya mengeluarkan bunyi berkerincingan.
Setelah nenek itu pergi, Han Han tidak dapat menahan lagi keinginan tahunya dan ia bertanya, “Locianpwe,
apakah artinya ucapan locianpwe tentang Keluarga Suma dan Keluarga Kam tadi? Dan apakah benar kuburan
Kakekku berada di sini?”
“Engkau mau tahu? Mari ikut bersamaku.” Setelah berkata demikian, Kakek itu membalikkan tubuh melangkah
pergi menuju ke selatan.
Han Han terpincang-pincang dibantu tongkatnya mengikuti kakek itu dan Kim Cu cepat menggandeng lengan
pemuda itu untuk membantunya. Han Han yang merasakan sentuhan tangan Kim Cu menoleh. Mereka
berpandangan sejenak dan Han Han melihat betapa sepasang mata gadis itu basah dengan air mata, air mata
kebahagiaan bahwa mereka telah bebas dari pada bencana! Betapa dengan kasih sayang yang mesra mata
gadis itu memandang kepadanya. Han Han sangat terharu, sejenak jari tangannya menggenggam tangan
gadis itu. Akan tetapi mereka segera melanjutkan langkah agar tidak tertinggal oleh kakek yang berjalan terus
tanpa pernah menengok kepada mereka.
Kakek itu keluar dari hutan, melalui pantai sebuah telaga kecil dan memasuki hutan di sebelah telaga. Hutan
ini amat sunyi dan kecil, pohon-pohon di situ jarang sekali. Tak lama kemudian tibalah kakek itu di depan
sebuah gundukan tanah kuburan, mengeluarkan hio (dupa), menyalakannya dan bersembahyang. Bungkusan
itu hanya terisi tiga batang dupa. Kakek itu mengacungkan dupa menyala di atas tadi, mulutnya berkemakkemik
seolah-olah ia sedang bercakap-cakap dengan bayangan orang yang dikubur di situ, kemudian
menancapkan tiga batang dupa berasap itu di atas tanah, di depan batu nisan yang sederhana.
“Inilah kuburan Jai-hwa-sian,” katanya sambil melangkah mundur dan berdiri sambil termenung seolah-olah ia
hendak merenungkan masa lalu ketika orang yang kini tinggal kuburannya saja itu masih hidup.
Semenjak ia mendengar cerita enci-nya betapa jahatnya orang yang menjadi kakeknya dan berjuluk Jai-hwasian
itu sehingga enci-nya sendiri mengakui bahwa di dalam tubuh mereka mengalir darah orang jahat, Han
Han merasa tidak suka kepada kakeknya. Kini, melihat kuburannya, ia maju menghadapi batu nisan dan
karena ia melihat ukiran-ukiran huruf yang sudah hampir tak terbaca pada batu itu, ia lalu duduk di atas tanah
depan kuburan. Dengan teliti ia memandang ukiran huruf-huruf itu dan membaca: MAKAM JAI-HWA-SIAN
SUMA HOAT.
dunia-kangouw.blogspot.com
Berdebar jantung Han Han membaca nama itu. Suma Hoat? Mengapa she-nya Suma, bukan Sie? Teringat ia
akan arca di In-kok-san yang harus disembah-sembah para murid In-kok-san, arca guru Ma-bin Lo-mo
Siangkoan Lee yang bernama Suma Kiat! Dan teringat pula ia akan dongeng yang dituturkan Kim Cu bahwa
sukong mereka itu mempunyai seorang putera yang bernama Suma Hoat dan yang menghilang entah ke
mana!
Melihat wajah pemuda itu, Kim Cu cepat menghampiri dan ikut membaca tulisan itu. Tiba-tiba gadis itu
meloncat mundur dan menoleh kepada Im-yang Seng-cu sambil berkata, “Ahhh... ini kuburan Supek yang
menjadi putera Sukong Suma Kiat! Kiranya sudah meninggal dan dikubur di sini!”
“Ini bukanlah kuburan Kakekku. Kakekku she Sie, bukan she Suma!” kata Han Han, penasaran.
Im-yang Seng-cu yang berdiri dengan tongkat di tangan kiri tersenyum. Kakek ini lalu menundingkan telunjuk
kanannya kepada Han Han sambil berkata, “Dan memang sesungguhnya engkau bukan she Sie, melainkan
Suma. Engkau bukan Sie Han, akan tetapi Suma Han!”
Wajah Han Han menjadi pucat. Dengan limbung ia bangkit berdiri, dibantu tongkatnya dan memandang kakek
itu dengan mata tajam penuh selidik. Diam-diam Im-yang Seng-cu menaruh hati iba kepada pemuda ini.
“Marilah kita duduk dan dengarkan penuturanku, Suma Han.”
Han Han dapat menekan gelora batinnya dan dengan muka masih pucat ia duduk di depan kuburan itu. Kim
Cu yang memegang lengan Han Han duduk di sebelahnya, sedangkan Im-yang Seng-cu duduk pula di atas
batu, menghadapi mereka. Ia menarik napas panjang, mengangguk-angguk dan berkata.
“Benar, engkau adalah Suma Han. Ini adalah kuburan Kakekmu yang bernama Suma Hoat, putera tunggal
Suma Kiat yang menjadi Guru Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee. Jadi Suma Kiat adalah Kakek Buyutmu,
sedangkan Toat-beng Ciu-sian-li tadi, yang menjadi selir Suma Kiat, adalah Nenek Buyutmu.” Han Han
mendengar kata-kata ini seperti dalam mimpi.
“Akan tetapi, locianpwe. Kalau benar aku keturunan Suma, mengapa Ayahku bernama keturunan Sie?” ia
membantah, ragu-ragu.
“Hal itu tidak mengherankan dan mudah saja diduga. Suma Hoat, Jai-hwa-sian itu, semoga Tuhan
mengampuni sahabatku itu, sungguh pun seorang jantan gagah perkasa, ditakuti lawan, namun memiliki
kelemahan. Ia tidak dapat menahan nafsunya apa bila bertemu wanita sehingga banyaklah ia mengganggu
wanita, perbuatan sesat yang dilakukannya karena kesadarannya menjadi buta oteh nafsu birahi sehingga ia
dijuluki Jai-hwa-sian. Jangankan wanita biasa penduduk desa, biar pun puteri dalam istana kaisar tentu akan
didatanginya kalau hatinya sudah tertarik! Mungkin sekali, dan hal ini aku tidak meragukan, Ayahmu terlahir
dari seorang di antara wanita-wanita yang diganggunya. Karena Kakekmu yang ber-she Suma itu banyak
dimusuhi orang, dan mungkin karena keluarga Nenekmu tidak suka menggunakan she Suma, maka Ayahmu,
putera Suma Hoat, diberi she Sie. Aku yakin akan kebenaran dugaanku ini, melihat betapa wajahmu mirip
sekali dengan sahabatku, terutama pandang matamu. Dia tampan, banyak wanita jatuh hati kepadanya, akan
tetapi dia hanya mengejar wanita yang menarik hatinya.”
Kakek itu lalu bercerita tentang Jai-hwa-sian Suma Hoat. Menurut Im-yang Seng-cu, Suma Hoat adalah
seorang laki-laki yang gagah perkasa dan berilmu tinggi, karena seperti juga Im-yang Seng-cu sendiri, Suma
Hoat merupakan seorang petualang dan perantau yang selalu memperdalam ilmu-ilmunya dan tidak segansegan
untuk mencangkok ilmu dari lain cabang.
Mereka bersahabat ketika keduanya berusaha mencari kakek sakti Koai-lojin. Keduanya berhasil bertemu
kakek sakti seperti dewa itu dan diberi petunjuk sehingga mereka menjadi makin lihai. Juga mereka berdua
sering kali berjuang bahu-membahu menentang kejahatan-kejahatan. Sayang sekali, Suma Hoat tidak dapat
mengendalikan nafsu birahinya seperti nafsu-nafsu lain yang sudah dapat ia kendalikan, bahkan ia menjadi
hamba nafsu birahi ini yang sering kali menggelapkan pikirannya, membuat ia nekat mendapatkan wanita yang
disukanya, baik wanita itu gadis, janda mau pun isteri orang!
“Darah Suma yang mewariskan watak seperti itu,” kata pula Im-yang Seng-cu. “Semenjak nenek moyangnya
dahulu, Keluarga Suma ini selalu dimusuhi orang-orang gagah di dunia kang-ouw karena watak mereka yang
dunia-kangouw.blogspot.com
tidak baik, semenjak Pangeran Suma Kong nenek moyangmu. Akan tetapi, di tubuh Kakekmu ini mengalir pula
darah keluarga pendekar yang turun-temurun menggemparkan dunia, yaitu Keluarga Kam, keturunan dari Kam
Si Ek, seorang Jenderal Kerajaan Hou-han yang gagah perkasa lahir batin dan yang menurunkan pendekar
sakti Suling Emas. Engkau masih mempunyai darah Keluarga Kam ini pula, Han Han. Mudah-mudahan saja
kalau terjadi pertempuran dalam sanubarimu antara kedua darah keturunan ini, watak Keluarga Kam yang
akan menang.”
Han Han tertegun, wajahnya pucat. Cerita ini terlalu hebat baginya. Kini dia tidak merasa heran lagi mengapa
kadang-kadang ada dorongan dan rangsangan liar dalam hatinya, apa lagi kalau dia mengerahkan sinkang,
seolah-olah ia menjadi buas kalau belum melihat musuh menggeletak tak bernyawa di depan kakinya.
Agaknya itulah dorongan watak Suma. Terkutuk!
“Kalau dia begitu jahat, kenapa locianpwe bisa menjadi sahabatnya?”
“Kelemahannya hanya menghadapi wanita, kalau tidak sedang dikuasai nafsu birahinya, dia seorang pendekar
yang gagah. Karena itu, sungguh pun banyak pendekar di dunia kang-ouw yang memusuhi, tidak sedikit pula
yang menjadi sahabatnya, termasuk aku sendiri.”
Han Han penasaran. “Kalau begitu banyak sahabat baiknya seperti locianpwe sendiri, mengapa tidak ada yang
menasehatinya seperti locianpwe sekarang menasehati saya?”
Im-yang Seng-cu mengerutkan alisnya, tergetar jantungnya ketika ia bertemu pandang dengan pemuda itu.
Pandang mata itu! Mata setan! Mata iblis! Belum pernah ia melihat mata orang seperti mata pemuda ini.
Celaka, pikirnya. Kalau sampai pemuda ini menyeleweng, tentu akan menjadi tokoh dunia yang terjahat di
antara semua keturunan Suma yang pernah hidup.
“Siapa berani menasehatinya setelah apa yang ia lakukan terhadap Kian Ti Hosiang yang di waktu itu menjadi
tokoh Siauw-lim-pai?”
Han Han teringat akan hwesio tua di Siauw-lim-pai yang amat mengesankan hatinya itu dan segera bertanya,
“Apakah yang telah dilakukannya terhadap hwesio Siauw-lim-pai itu?”
Im-yang Seng-cu menghela napas. “Waktu itu sungguh ia sedang gelap mata. Kian Ti Hosiang adalah seorang
berilmu tinggi, tidak hanya memiliki ilmu silat yang sukar dicari bandingnya, juga memiliki ilmu batin yang amat
tinggi. Hwesio itu menemui Jai-hwa-sian yang hendak mengganggu puteri seorang pembesar yang terkenal
bijaksana, memberinya wejangan-wejangan. Jai-hwa-sian marah dan menantang hwesio itu. Kian Ti Hosiang
mempersilakan ia menyerang asal Jai-hwa-sian berjanji untuk menghentikan perbuatannya yang sesat. Dan
Jai-hwa-sian menyerangnya, tanpa ada perlawanan sama sekali dari orang berilmu itu! Kian Ti Hosiang
mengorbankan dirinya untuk menyadarkan Jai-hwa-sian dan hwesio itu dipukul sampai lumpuh kedua kakinya!”
“Ahhh...! Keparat! Jahat benar dia!” Han Han memaki dan mengepal tinjunya. Kiranya hwesio tua yang
mengesankan hatinya itu lumpuh kedua kakinya karena dipukul kakeknya sendiri, sengaja mengorbankan diri
untuk menyadarkan kesesatan kakeknya yang jahat!
“Hemmm, dia adalah Kakekmu sendiri!” Im-yang Seng-cu memperingatkan sambil mengerutkan keningnya.
“Dia boleh seribu kali Kakekku, akan tetapi kalau dia melakukan perbuatan-perbuatan sesat seperti itu, aku
tetap akan mengutuknya!” kata Han Han yang marah sekali. Kemudian ia menggerakkan tongkat di tangannya,
memukul ke arah batu nisan.
“Bresssss...!” batu nisan itu hancur berkeping-keping terkena pukulan tongkat Han Han.
Im-yang Seng-cu terbelalak menyaksikan betapa pemuda itu dengan senjata hanya sebatang ranting dapat
menghancurkan batu nisan, padahal ia melihat sendiri bahwa ranting itu hampir tidak menyentuh batu nisan.
Jelas bahwa pemuda itu telah menghancurkan batu nisan dengan tenaga sinkang yang amat luar biasa
kuatnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kenapa engkau merusak nisan Kakekmu sendiri yang kubuat dengan sengaja agar namanya tidak lenyap?”
Im-yang Seng-cu bertanya dengan suara dingin. Jelas terdengar dari suaranya bahwa ia marah.
Dengan bersandar pada tongkatnya, Han Han menoleh kepadanya.
“Saya menghaturkan banyak terima kasih atas segala kebaikan locianpwe, juga terhadap kuburan Kakek saya.
Akan tetapi nama seperti yang dimiliki Kakek saya perlukah dipertahankan? Hanya akan mendatangkan aib
dan noda saja pada keturunannya!” Suara Han Han terdengar penuh kepahitan ketika ia mengucapkan katakata
terakhir ‘keturunannya’ itu, ketika ia teringat betapa sesungguhnya ia adalah keturunan seorang yang
begitu bejat akhlaknya!
Im-yang Seng-cu juga kelihatan marah. “Orang muda, engkau sombong! Biar pun Kakekmu tersesat dalam hal
kelemahannya terhadap wanita, namun aku sebagai sahabat baiknya maklum betapa dengan susah payah ia
melawan pengaruh jahat yang mengalir dalam tubuhnya sebagai darah nenek moyang Suma! Engkau pun
hanya seorang manusia yang tentu memiliki kelemahan-kelemahan. Kalau engkau tak dapat memaafkan
Kakekmu sendiri, bagaimana engkau akan dapat memaafkan orang lain? Hemmm, hendak kulihat engkau
kelak apakah lebih baik dari pada Suma Hoat!” Setelah berkata demikian, Im-yang Seng-cu melesat pergi dan
lenyap dari situ.
Han Han menghela napas panjang dan merasa menyesal bahwa guru Sin Kiat itu pun marah kepadanya.
Melihat Han Han termenung dengan wajah keruh, Kim Cu mendekatinya dan menyentuh lengannya. “Han Han,
biar semua orang marah dan tidak suka kepadamu, ingatlah bahwa di sini masih ada aku yang selamanya
takkan dapat membencimu...”
Hati Han Han seperti dibetot-betot. Ia memeluk gadis itu yang membenamkan mukanya di dadanya yang
masih panas karena kemarahannya tadi. Sampai lama mereka berada dalam keadaan seperti itu, kemudian
Kim Cu dapat menguasai hatinya, melepaskan pelukan Han Han dan berkata.
“Marilah kita cepat pergi dari tempat ini.” Bisikannya mengandung perasaan takut.
“Jangan takut, Kim Cu. Kalau sampai gurumu muncul dan hendak mengganggu kita, kita lawan mati-matian.”
“Aku tidak takut, Han Han, hanya aku merasa ngeri kalau harus berpisah denganmu. Marilah kita pergi.”
Dua orang muda itu melanjutkan perjalanan. Biar pun keduanya tidak takut lagi menghadapi ancaman Toatbeng
Ciu-sian-li, namun mereka juga bukan orang-orang nekat yang ingin mencari mati. Mereka mengambil
jalan melalui hutan-hutan dan mendaki lereng yang tersembunyi agar jangan sampai bertemu dengan nenek
itu.
“Han Han, kesehatanmu belum pulih kembali. Kalau kita melanjutkan perjalanan terlalu lama, tentu engkau
akan jatuh sakit. Maka, kurasa lebih baik kita mencari tempat persembunyian dan tinggal dulu di tempat itu
sampai kesehatanmu pulih. Bagaimana?”
Han Han mengangguk. “Terserah kepadamu, Kim Cu. Akan tetapi di mana kita mencari tempat yang baik?”
Kim Cu tersenyum. Manis sekali wajahnya setelah kini mereka terlepas dari bahaya dan ia dapat tersenyum
dengan hati lapang. “Kau tahu, dahulu ketika kita mendapat waktu libur dan diperbolehkan pergi untuk
beberapa hari, setelah bertemu dengan engkau yang tidak mau kembali, aku lalu pergi mendaki sebuah
puncak di antara puncak-puncak pegunungan ini dan bersembunyi di sebuah goa yang amat tersembunyi.
Tempat itu indah sekali, goa itu merupakan terowongan yang menjurus ke tepi jurang yang tak berdasar saking
tingginya! Tak seorang pun akan datang ke tempat itu.”
“Hemmm, mau apa engkau dahulu bersembunyi di tempat itu?”
Wajah Kim Cu menjadi merah. “Mau... menangis...”
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Han memandang wajah cantik itu dengan mata terbelalak heran. “Menangis? Menangis saja mengapa
mencari tempat yang tersembunyi?”
Kim Cu mengangguk. “Ya, biar tidak ketahuan orang. Aku kecewa sekali melihat engkau pergi tidak mau
kembali, dan aku menangis di sana sampai kedua mataku bengkak-bengkak!”
“Ah... Kim Cu... Kim Cu...” Han Han makin terharu menyaksikan betapa gadis ini sejak dahulu telah jatuh cinta
kepadanya.
Han Han merasa heran bukan main melihat perubahan dirinya. Mengapa kini ia mudah terharu, mudah
berduka? Padahal dahulu ia tidak pernah selemah ini. Dan ketika ia marah-marah tadi, menghancurkan batu
nisan kakeknya tidak timbul kebuasan untuk membinasakan orang. Kemarahannya tadi masih terkendali dan ia
menghancurkan batu nisan dengan sadar. Ia menunduk, memandang kakinya yang buntung. Karena
kebutungan kakinya itulah maka terjadi perubahan pada dirinya? Dia tidak tahu.
Melihat pemuda itu memandang kakinya yang buntung, Kim Cu salah menduga dan berkata, “Jangan khawatir,
Han Han. Jalan ke puncak yang kumaksudkan itu memang sukar. Akan tetapi di bagian yang paling sukar, aku
bisa menggendongmu!”
Han Han tersenyum. “Apa kau kira aku anak kecil? Betapa pun sukarnya, dengan bantuan tongkatku ini dan
dengan bantuanmu, tentu akan dapat kulalui.”
Kim Cu tiba-tiba menari kegirangan mengelilingi Han Han, membuat pemuda itu makin heran. “Eh, eh, apaapaan
engkau ini? Apa kau sudah gila?”
“Hi-hik, memang aku gila. Gila karena girang melihat perubahanmu. Engkau tidak putus asa lagi dan
semangatmu telah bangkit kembali. Bagus! Bagus sekali! Bukankah hal itu amat menggirangkan hati?”
Han Han memegang kedua tangan gadis itu, tongkatnya ia kempit. “Kim Cu...” katanya penuh keharuan.
“Engkau seorang gadis yang baik sekali. Dengan engkau di sampingku, aku merasa seolah-olah mendapatkan
Adikku Lulu yang hilang itu kembali. Memang, aku tidak akan putus asa, Kim Cu. Aku akan membuktikan
kepada dunia, kepada Im-yang Seng-cu, dan tokoh-tokoh kang-ouw lainnya bahwa biar pun aku keturunan
Keluarga Suma yang terkutuk, akan tetapi aku tidak jahat seperti mereka, dan aku akan membuktikan bahwa
seorang buntung, seperti katamu, masih dapat melakukan hal yang berguna bagi manusia dan dunia!”
“Bagus! Dan aku yakin bahwa engkau kelak tentu akan menjadi orang yang amat berguna, jauh melebihi
mereka yang kakinya utuh, dan akan dapat membersihkan nama keturunan Suma yang berlepotan noda yang
diperbuat oleh nenek moyangmu.”
Han Han mengangguk-angguk. “Mudah-mudahan, Kim Cu.”
Berangkatlah kedua orang muda itu mendaki puncak yang dimaksudkan Kim Cu. Menjelang malam mereka
tiba di goa yang dimaksudkan, sebuah goa yang berada di puncak. Kim Cu membuat obor dari kayu kering dan
mereka memasuki goa yang merupakan mulut terowongan itu. Perjalanan itu amat melelahkan, terutama
sekali bagi Han Han yang kesehatannya belum pulih sama sekali.
“Sebelum gelap, aku akan keluar mencari daun-daun obat untuk lukamu. Lukamu perlu dicuci, diobati dan
diganti kain pembalutnya.”
Han Han mengerutkan kening. “Eh, aku membuatmu repot sekali, Kim Cu. Daun obat dan air pencuci bisa
dicari di puncak, akan tetapi kain pembalut...?”
Kim Cu memandang pakaiannya. “Pakaianku masih utuh, diambil sedikit-sedikit untuk pembalut masih lebih
dari pada cukup!”
Han Han hanya menggeleng kepala dan menghela napas melihat gadis itu sambil tertawa sudah berlari ke luar
goa. Dia duduk bersandar pada dinding goa, diam-diam ia merasa gelisah memikirkan Kim Cu. Gadis itu
dengan jelas membuktikan cinta kasihnya yang amat mendalam kepadanya. Ia berhutang budi, dan ia suka
dunia-kangouw.blogspot.com
sekali kepada Kim Cu. Akan tetapi cinta? Ah, bagaimana kalau dia tidak dapat membalas cintanya? Dia
merasa gelisah kalau-kalau harus membuat gadis itu berduka kelak karena tidak mampu membalas cinta
kasihnya yang demikian murni. Pula, dia seorang pemuda buntung, keturunan keluarga jahat. Dia terlalu kotor
dan tidak berharga bagi seorang gadis semulia Kim Cu.
Malam itu Kim Cu datang membawa daun obat, air dan buah-buahan. Dengan tekun di bawah penerangan api
unggun, gadis ini membuka balut kaki buntung Han Han, sedikit pun tidak kelihatan jijik, mencuci paha yang
buntung, menaruh obat, dan membalutnya lagi menggunakan sabuk suteranya. Setelah selesai, mereka
makan buah-buahan lalu mengaso dan Kim Cu tertidur di dekat api unggun.
Sampai jauh malam Han Han tidak dapat tidur. Terlalu banyak hal-hal memenuhi otaknya, dari memikirkan
Lulu sampai pengalamannya di Pulau Es, memikirkan keadaan nenek moyangnya, dan akhirnya memikirkan
Kim Cu. Gadis itu tertidur nyenyak sekali di dekat api unggun, tidur miring dengan muka menghadap ke
arahnya. Wajah yang cantik itu tampak pucat di bawah sinar api unggun, rambutnya kusut karena tidak disisir.
Bibirnya agak terbuka memperlihatkan deretan ujung gigi yang putih. Han Han mendekati api unggun,
menambah kayu kering yang tadi dikumpulkan gadis itu. Sampai hampir pagi barulah Han Han dapat tidur
sambil bersandar pada dinding goa, setelah tadi ia duduk bersila dengan kaki yang tinggal satu untuk
memulihkan tenaga dan mengatur pernapasannya.
Han Han terkejut dan bangun dari tidurnya ketika lengannya diguncang-guncang Kim Cu. “Han Han...! Han
Han... bangunlah...!”
Han Han memandang gadis itu yang mukanya pucat sekali. Segera kewaspadaannya timbul. “Ada apakah,
Kim Cu?”
“Ada orang di luar... kulihat bayangannya berkelebat...”
“Hemmm, mengapa bingung. Biarkan saja.”
“Tidak, siapa tahu dia Subo! Bayangannya berkelebat cepat sekali. Mari kita sembunyi!” Gadis itu menariknarik
tangan Han Han.
Pemuda ini menurut, segera bangkit dan jalan terpincang-pincang dengan tongkatnya. Tangannya ditarik Kim
Cu yang memasuki terowongan. Kiranya matahari telah naik tinggi dan sinarnya menerobos memasuki
terowongan itu sehingga keadaan dalam goa tidak terlalu gelap. Tiba-tiba terdengar suara yang amat mereka
kenal, datangnya dari luar goa.
“Hi-hi-hik! Kalian hendak lari ke mana? Biar ada Im-yang Seng-cu aku harus mengambil nyawamu, murid
murtad!”
“Celaka... dia Subo...!” Kim Cu berbisik dan menarik tangan Han Han sambil melangkah maju lebih cepat lagi.
Tak lama kemudian mereka tiba di ujung terowongan. Han Han melihat bahwa mereka berada di pinggir
sebuah jurang yang amat luas. Ketika menjenguk ke bawah, matanya lantas berkunang. Demikian tinggi dan
curamnya jurang ini sehingga dasarnya tidak tampak, terhalang oleh embun pagi dan awan! Mereka berhenti
dan membalikkan tubuh memandang ke arah terowongan, lalu dengan hati berdebar-debar menanti
munculnya Toat-beng Ciu-sian-li yang tadi mereka dengar suaranya.
Melihat betapa tubuh gadis itu menggigil dan wajahnya pucat sekali, Han Han berkata halus, “Jangan takut,
Kim Cu. Aku akan selalu mendampingimu.”
“Jangan... jangan mencampuri... biarlah aku menghadapi Subo,” bisik Kim Cu sambil menjauhkan diri dari
pemuda itu.
Dalam terowongan itu sunyi dan secara tiba-tiba, seperti munculnya iblis sendiri tampak tubuh Toat-beng Ciusian-
li yang tersenyum-senyum mengerikan. Melihat gurunya ini, Kim Cu maklum bahwa biar pun Han Han
membantunya, mereka tidak akan menang, dan akhirnya mereka berdua tentu akan tewas. Maka ia cepat
berkata.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Subo, teecu merasa berdosa kepada subo. Kalau teecu mau dihukum, hukumlah. Mau bunuh, bunuhlah. Akan
tetapi... teecu mohon, jangan Subo mengganggu Han Han, dia sudah cukup menderita... bunuhlah teecu
saja...”
“Kim Cu...!” Han Han membentak.
“Heh-heh-hi-hik, muridku yang paling kusayang, yang paling banyak kuberi ilmu-ilmuku, kini hendak
menentangku sendiri? Murid murtad engkau!” Toat-beng Ciu-sian-li yang masih tersenyum-senyum
menyeramkan itu memandang kepada Kim Cu dengan sinar mata beringas.
Kim Cu merasa ngeri hatinya, bulu tengkuknya berdiri dan maklum bahwa tangan maut telah menjangkaunya.
“Toat-beng Ciu-sian-li! Tahan dulu! Jangan coba-coba kau berani membunuh Kim Cu!” Han Han membentak
marah sambil maju terpincang-pincang.
“Bocah buntung, kau tunggulah giliranmu!” Bentak Toat-beng Ciu-sian-li sambil terkekeh dan tiba-tiba tangan
kirinya bergerak.
Sinar berkilauan menyambar ke arah Kim Cu dan itu adalah sebuah gelang rantai anting-antingnya yang kini
digunakan sebagai senjata rahasia yang menyambar dengan kecepatan kilat ke arah gadis itu. Kim Cu
memang tidak ingin melawan, maka dia berdiri seperti arca menanti datangnya senjata rahasia yang
menyambar ke arah dahinya untuk merenggut nyawanya.
“Kim Cu...!” Han Han berteriak ketika melihat betapa gadis itu sama sekali tidak berusaha menghindarkan diri
dari sambaran senjata itu. Han Han lupa diri dan lupa bahaya, melepaskan tongkatnya dan langsung meloncat
ke depan menubruk kaki Kim Cu dengan maksud menghindarkan gadis itu dari pada ancaman maut.
“Han Han...!”
“Kim Cu...!”
“Heh-heh-heh, hi-hi-hik!” Toat-beng Ciu-sian-li terkekeh ketika melihat tubuh kedua orang muda itu tergelincir
ke bibir jurang!
Han Han memang berhasil menyelamatkan Kim Cu dari sambaran senjata rahasia, akan tetapi ia membawa
Kim Cu bersama-sama terjerumus ke dalam jurang yang tak tampak dasarnya!
Perlahan-lahan Toat-beng Ciu-sian-li melangkah ke pinggir jurang, menjenguk ke bawah lalu tertawa lagi, akan
tetapi suara ketawanya kecewa. “Sayang..., andai dia bisa membawaku ke Pulau Es....” Nenek ini lalu berjalan
ke luar dari terowongan itu, sedikit pun tidak memikirkan lagi keadaan Han Han dan Kim Cu yang dianggapnya
tentu akan hancur lebur tubuhnya terbanting pada dasar jurang yang sedemikian curamnya.
Biar pun Toat-beng Ciu-sian-li adalah seorang nenek yang amat lihai dan pengalaman hidupnya sudah seratus
tahun, namun ia sungguh lancang kalau berani menentukan mati hidup manusia. Hidup dan matinya manusia
berada sepenuhnya di tangan Tuhan. Kalau Tuhan menentukan seseorang harus hidup, biar dia dihujani
selaksa batang anak panah, ada saja sebabnya yang membuat ia lolos dari bahaya maut. Sebaliknya kalau
Tuhan menghendaki seseorang harus mati, biar dia bersembunyi di lubang semut, tetap saja maut akan
datang menjemput tanpa dapat dihindarkan lagi.
Kim Cu sudah hampir pingsan ketika tubuhnya meluncur ke bawah. Tenaga luncuran itu sedemikian kuatnya
sehingga tidak mungkin mempergunakan ginkang dan kepalanya menjadi pening, napasnya seperti terhenti.
Masih dapat dilihatnya bayangan tubuh Han Han berkelebat mendahuluinya karena tubuh Han Han yang lebih
berat itu lebih cepat lagi tenaga luncurannya, apa lagi Han Han terdorong oleh tenaga loncatannya ketika
menolongnya tadi. Teringat akan Han Han, Kim Cu menjadi sadar kembali dan ia menjerit panjang, “Han
Hannn...!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Seakan-akan tidak akan ada akhirnya tubuhnya meluncur ke bawah dan Kim Cu yang sudah setengah pingsan
itu terheran apakah dia tidak sudah mati dan kini yang melayang-layang turun itu adalah nyawanya?
Terbayang dalam otaknya akan dongeng yang pernah didengarnya bahwa sorga letaknya di atas, sedangkan
neraka di bawah. Kalau begitu, apakah nyawanya sedang melayang menuju ke neraka? Ia merasa ngeri, akan
tetapi ia teringat akan Han Han. Kalau di neraka ia akan bertemu dan berkumpul dengan Han Han, biarlah ia
menuju ke neraka!
“Byurrrrr...!” Kim Cu merasa seolah-olah tubuhnya remuk dan ia tidak ingat apa-apa lagi!
Tiga hari tiga malam kemudian, pada pagi harinya, Kim Cu membuka mata. Tubuhnya masih terasa nyeri
semua, akan tetapi ia dapat menggerakkan kaki tangannya dan membuka matanya.
“Omitohud..., Nona sudah sadar...? Omitohud, syukurlah,” terdengar suara halus.
Kim Cu menoleh ke kiri dan melihat seorang nikouw yang tersenyum memandangnya. Kepalanya gundul
kelimis, sikapnya halus, mukanya menyinarkan kebahagiaan batin. Nikouw ini usianya tidak akan kurang dari
enam puluh tahun, namun wajahnya halus dan merah penuh kesehatan dan ada sesuatu dalam gerak-gerik
nikouw ini yang membuat ia tampak seperti seorang dewi.
“Siankouw... seorang dewi penjaga hukuman di neraka?” tanya Kim Cu yang masih menduga bahwa dia kini
telah berada dalam neraka, sungguh pun ia heran mengapa neraka begini bersih dan enak, dalam sebuah
kamar yang bersih dan dia rebah di atas dipan yang bertilam putih bersih pula.
“Omitohud...! Memang dunia ini neraka bagi yang belum sadar, anakku, akan tetapi sorga bagi yang telah
sadar. Engkau masih hidup, Nona. Thian belum menghendaki engkau mati.”
Serentak Kim Cu bangkit duduk dan tidak memperhatikan tubuhnya yang nyeri semua rasanya. “Jadi aku
masih hidup? Han Han... di mana dia...? Han Han...!” Ia menjerit, memanggil nama itu.
Nikouw itu bangkit berdiri mendekatinya dan menaruhkan tangannya yang halus di pundak Kim Cu.
“Tenangkan hatimu, Nona. Engkau belum sembuh benar, tidak baik banyak bergerak. Berbaringlah kembali.”
Suara itu halus sekali, namun mengandung wibawa yang tak mungkin dapat dibantah sehingga Kim Cu
merebahkan tubuhnya lagi di atas dipan. “Akan tetapi... tolonglah beri tahu, Suthai. Di mana Han Han?”
“Han Han siapakah yang Nona maksudkan?”
“Han Han... temanku. Kami berdua jatuh dari atas, dan kalau aku masih hidup dia tentu hidup pula. Ah, di
mana dia?”
Nikouw itu menggeleng-geleng kepalanya. “Sukar dipercaya ada orang yang jatuh dari atas tebing gunung itu
masih dapat hidup seperti engkau, Nona. Engkau telah berada di sini tiga hari tiga malam, pingsan. Dan pinni
(aku) tidak pernah mendengar tentang temanmu yang bernama Han Han itu...”
“Tiga hari tiga malam? Dan Han Han tidak ada? Ah, mana mungkin? Subo, tolong ceritakan, apakah yang
sesungguhnya telah terjadi?”
“Nona, sebaiknya kau ceritakan dahulu kepada pinni bagaimana engkau tiba-tiba saja jatuh dari atas, seperti
dari langit saja.”
Kalau dia masih hidup, lebih baik dia tidak bercerita tentang dirinya, karena kalau hati ini terdengar oleh Toatbeng
Ciu-sian-li, tentu nenek itu akan mencarinya, demikian pikirnya. “Kami... aku dan temanku itu berjalan di
atas tebing, dan aku tergelincir, dia berusaha menolongku tetapi kami terjerumus ke bawah. Aku tidak ingat
apa-apa lagi. Subo, ceritakanlah, bagaimana aku dapat berada di sini?”
Dengan sabar nikouw itu mengambil sebuah mangkok dari atas meja. “Kau minumlah obat ini dulu, Nona.
Minumlah.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Karena maklum bahwa ia ditolong oleh nikouw ini, maka tanpa membantah Kim Cu minum obat yang pahit
rasanya itu sampai habis, kemudian ia rebah kembali, siap mendengarkan cerita nikouw tua yang ramah dan
amat halus tutur sapanya itu.
“Menurut nalar orang yang jatuh dari tempat setinggi itu tentu mati. Akan tetapi agaknya Thian menghendaki
lain. Engkau jatuh ke dalam Sungai Hek-ho yang mengalir tepat di bawah tebing itu menuju ke timur, masuk ke
saluran besar. Sungai itu di bagian bawah tebing amat deras alirannya, dan banyak mengandung batu-batu
karang menonjol di permukaan dan di bawah permukaan air. Akan tetapi, omitohud... engkau agaknya jatuh di
bagian yang dalam sehingga tidak terluka. Dan lebih kebetulan sekali seperti telah diatur oleh tangan Thian
sendiri ketika tubuhmu yang pingsan itu timbul ke permukaan air, dari jauh kelihatan oleh perahu nelayan yang
sedang mencari ikan. Engkau mereka tolong dan melihat engkau seorang wanita, mereka lalu membawamu ke
sini. Pinni adalah ketua dari Kwan-im-bio di sini bersama tujuh orang nikouw lain, dan karena pinni sedikitsedikit
mengerti ilmu pengobatan, maka pinni cepat mengobatimu. Syukurlah, atas kemurahan Thian, engkau
selamat....”
“Akan tetapi temanku itu bagaimana dia? Di mana dia?”
Nikouw itu menghela napas. “Kalau dia jatuh bersamamu dan masih hidup tentu telah ditolong pula oleh para
nelayan. Akan tetapi tak seorang pun melihatnya dan seperti kukatakan tadi, tempat itu banyak mengandung
batu karang. Kalau jatuhnya menimpa batu karang, atau seperti engkau pingsan lalu hanyut oleh air yang
sedemikian derasnya... hemmm... agaknya tidak ada harapan lagi baginya.”
“Tidak...! Tidaaakkkk...!” Kim Cu menjerit dan bangkit duduk, matanya terbelalak memandang ke kanan kiri.
“Tidak boleh dia mati aku masih hidup! Nikouw tua yang mulia, aku harus mencari dia!”
Dari pintu kamar yang terbuka itu muncul tujuh orang nikouw, yang lima sudah berusia lima puluhan tahun,
yang dua masih muda, kurang lebih tiga puluh tahun. Sikap mereka juga halus-halus dan wajah mereka
membayangkan ketenangan. Melihat Kim Cu hendak turun, para nikouw yang tadi mendengar jeritan gadis itu
mendekati dipan dan hendak mencegahnya, mengira bahwa gadis ini menjadi bingung karena kecelakaan
hebat itu.
Nikouw tua mengangkat tangan mencegah mereka, lalu memegang tangan Kim Cu dan berkata, “Engkau
hendak mencari temanmu itu, Nona? Baiklah, boleh saja dan mari pinni menemanimu ke tepi sungai.”
Kim Cu berjalan dengan tubuh menggigil dan masih lemah sekali. Akan tetapi nikouw tua yang baik hati itu
menggandengnya dan pergilah mereka berdua keluar dari kelenteng kecil itu, diikuti pandang mata tujuh orang
nikouw yang menggerakkan pundak masing-masing, hati mereka penuh iba terhadap Kim Cu.
Dengan hati yang tidak karuan rasanya Kim Cu bersama nikouw tua itu menuju ke pinggir sungai. Ngeri
hatinya melihat sungai yang benar-benar amat deras airnya, lebih ngeri menyaksikan batu-batu yang runcing
tajam menonjol di seluruh permukaan sungai, akan tetapi ia benar-benar mengkirik (meremang bulu
tengkuknya) ketika berdongak ke atas melihat tebing yang amat tinggi yang puncaknya tertutup mega. Dari
tempat setinggi itu dia jatuh! Kim Cu mengeluarkan seruan tertahan dan kedua pundaknya menggigil.
“Percayakah engkau kini bahwa hanya tangan Tuhan saja yang mampu menyelamatkan engkau, Nona? Ada
pun tentang nasib temanmu itu..., benar-benar pinni meragukan keselamatannya.”
“Tidak, kalau aku selamat, dia harus selamat, Suthai! Tolong panggil para nelayan.”
Nikouw itu bertepuk tangan, lalu menggapai ke arah seorang nelayan yang sedang menjemur jala di tepi
sungai. Nelayan itu menengok dan cepat berlari menghampiri. Melihat Kim Cu, ia memandang dengan muka
berseri. “Ah, inikah Nona yang jatuh dari langit itu, Sian-kouw? Sungguh beruntung, dia dapat tertolong dan
kembali terbukti kelihaian Sian-kouw mengobati orang.” Ia membungkuk-bungkuk, sikapnya kasar dan
sederhana.
Kim Cu berkata, “Lopek, aku berterima kasih sekali kepada para nelayan yang telah menolongku. Sekarang
aku mohon kepada kalian untuk mencari temanku.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Temanmu, Nona? Temanmu yang mana?”
Kim Cu menahan mulutnya yang hendak menyebut nama Han Han ketika teringat bahwa nama itu takkan ada
artinya bagi si nelayan. “Temanku, seorang pemuda yang ikut pula terjerumus dari tebing atas bersamaku.”
“Heh...?” Nelayan itu terkejut. “Masih ada lagi yang jatuh dari langit?”
“A-liuk, harap kau panggil berkumpul para nelayan ke sini.”
“Baik, Sian-kouw!”
Nelayan itu lalu berlari menuju ke dusun di mana tinggal para nelayan, tidak jauh dari Kuil Kwan-im-bio yang
terletak di ujung dusun. Tak lama kemudian di situ telah berkumpul dua puluh orang lebih nelayan-nelayan
yang sederhana. Seperti A-liuk, mereka semua merasa girang melihat Kim Cu selamat dan merasa kagum
akan kepandaian nikouw yang mengobati Kim Cu.
“Paman sekalian, selain bersyukur dan amat berterima kasih kepada paman sekalian, saya minta tolong
sukalah paman menceritakan teman saya yang pada hari dan saat itu jatuh pula dari atas.”
“Kami tidak melihat ada orang lain!” terdengar suara mereka riuh rendah bicara sendiri dan saling bertanya
sendiri.
“Mungkin paman semua tidak ada yang melihatnya. Akan tetapi karena aku selamat, kiranya dia pun selamat.
Harap paman suka menggunakan perahu dan mencari di sekeliling pantai dan di seberang kalau-kalau ia
terdampar dan mendarat di suatu tempat dalam keadaan terluka.”
“Kalian penuhi permintaannya. Kasihan temannya itu kalau memang benar dia selamat.”
“Baik, Sian-kouw,” jawab mereka serempak.
“Tunggu dulu, paman-paman yang baik!” Kim Cu berkata ketika melihat mereka hendak pergi melaksanakan
permintaannya. Ia meloloskan delapan buah gelang emas, satu-satunya perhiasan yang berada di tubuhnya,
dan menyerahkan gelang-gelang emas itu kepada mereka. “Aku hanya mempunyai gelang-gelang ini, harap
paman sekalian membaginya sebagai hadiah dariku atas pertolongan kalian mencarikan temanku.”
Akan tetapi tidak ada seorang pun diantara mereka yang menerima pemberian ini. Seorang nelayan tua lalu
berkata, “Nona, hadiah adalah pernyataan hati girang dan untuk membalas jasa. Sedangkan teman Nona
belum diketemukan, bahkan kami belum mencarinya, bagaimana kami dapat menerima hadiah darimu? Kalau
kami begitu loba, tentu Sian-kouw takkan mendoakan rejeki kami dan tentu ikan-ikan pada lari bersembunyi
dari jala dan kail kami.” Setelah berkata demikian, semua nelayan itu bubar, meninggalkan Kim Cu yang masih
memegangi gelang-gelangnya dengan melongo.
Nikouw tua itu tersenyum menyaksikan keheranan Kim Cu. “Mereka adalah nelayan-nelayan desa yang polos,
jujur dan bersih, Nona. Dan jangan sekali-kali menganggap mereka bodoh seperti pendapat orang kota. Orang
kota menilai kepintaran berdasarkan akal, yang banyak akalnya dikatakan pintar, padahal akal itu hanya
mereka gunakan untuk akal-akalan, saling mengakali dan menipu. Orang-orang yang tidak tahu akan akal-akal
macam itu adalah sepintar-pintarnya orang.”
Selama seminggu lebih, setiap hari para nelayan mencari jejak atau tanda-tanda Han Han, namun mereka
selalu kembali dengan tangan hampa, membuat hati Kim Cu yang menanti terus di tepi sungai menjadi makin
hampa. Dua minggu kemudian, para nelayan menyatakan keyakinannya bahwa kalau pemuda itu benar
terjatuh dari atas seperti halnya Kim Cu, tentu tubuh pemuda itu menimpa batu dan hancur lebur, atau
tenggelam dan mungkin juga hanyut oleh air sungai yang amat deras. Mereka tidak mencari lagi.
Kim Cu tidak mau kembali ke kuil. Selama menanti para nelayan yang mencari-cari, dia selalu ditemani oleh
nikouw tua atau kadang-kadang ditemani seorang di antara para nikouw secara bergilir. Makan dan minum pun
hampir dipaksa oleh para nikouw, baru Kim Cu mau makan dan minum. Akan tetapi ia tidak pernah kembali ke
kuil, tidur pun di tepi sungai!
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketika para nelayan menghentikan pencariannya, Kim Cu seperti gila. Tidak lagi ia mau makan atau minum,
tidak tidur, hanya berdiri atau duduk di tepi sungai. Wajahnya makin kurus dan pucat, rambutnya kusut dan
matanya sipit dan bengkak karena terlalu banyak menangis sehingga air matanya kering!
Beberapa hari kemudian, para nikouw terpaksa menggotong tubuhnya yang menggeletak pingsan di tepi
sungai, dibawa kembali ke kuil. Kembali nikouw tua itu yang sibuk mencekokkan obat ke mulutnya sampai ia
siuman kembali dan dipaksa makan bubur atau obat.
“Mengapa engkau menyiksa hatimu sampai sedemikian rupa, Nona? Dicari lagi pun percuma, agaknya
temanmu itu sudah tewas.”
“Kalau dia mati, aku pun akan mati!” kata Kim Cu dan ia menangis sesenggukan. “Suthai, biarkan aku mati...!”
Ia terisak-isak.
“Engkau keliru, Nona. Andai kata temanmu itu mati, matinya adalah karena kehendak Tuhan. Kalau engkau
memaksa ingin mati, matimu adalah mati paksaan dan amatlah tidak baik mati seperti itu, Nona.”
“Suthai, kalau Han Han mati, apa gunanya lagi aku hidup?”
Nikouw itu mengangguk-angguk dan mengelus-elus rambut gadis itu. “Nona, engkau tentu amat mencinta
pemuda itu, bukan?”
Mendengar suara yang masih tenang akan tetapi menggetar penuh rasa iba dan haru ini, Kim Cu memandang
dengan mata basah. “Benar, suthai. Aku mencintanya. Dia satu-satunya orang di dunia ini yang kumiliki.”
“Kalau begitu, engkau harus hidup, Nona. Kalau engkau mati, engkau takkan dapat berguna untuk dia. Akan
tetapi kalau engkau hidup, tidak hanya engkau akan dapat berguna bagi orang yang kau cinta, akan tetapi
engkau malah akan dapat berguna bagi semua orang dan dunia.”
Kim Cu memeluk nikouw itu dan berkata, “Ah, suthai. Benarkah itu? Benarkah aku akan dapat berguna,
berguna bagi Han Han biar pun dia sudah sudah mati?”
Nikouw itu mengusap air mata dari kedua pipi Kim Cu dan di dalam hatinya dia pun mengusap air matanya
sendiri yang mengucur di hatinya. Matanya dikejap-kejapkan untuk menahan panasnya keharuan yang
mendorong air mata, mulutnya tersenyum untuk menekan keharuan hati, dan kepalanya mengangguk-angguk
untuk mengganti kegaguannya untuk sementara. Setelah keharuannya reda dan ia yakin suaranya tidak
menggetar, nikouw itu berkata.
“Tentu saja, anakku yang baik. Kalau engkau menghambakan dirimu kepada kebajikan, menjadi murid Kwan
Im Pouwsat, menjadi seperti pinni, engkau akan dapat berguna sekali bagi temanmu itu.”
“Menjadi... nikouw...?”
Nikouw tua itu mengangguk-angguk. “Tidak langsung sekarang, terserah kepadamu. Kau pelajarilah dahulu
kebajikan-kebajikan dari Kwan Im Pouwsat, kelak engkau boleh menentukan sendiri apakah suka menjadi
nikouw atau tidak. Akan tetapi, setidaknya engkau sudah akan lebih tahu akan arti hidup, dan engkau dapat
berdoa setiap saat untuk temanmu itu sehingga andai kata dia sudah mati, semoga ia akan mendapatkan
tempat yang layak dan damai, sebaliknya kalau masih hidup, semoga dia hidup bahagia. Bukankah dengan
demikian engkau akan berguna baginya? Dan berguna pula bagi orang lain...”
Kim Cu kembali menubruk dam memeluk nikouw itu sambil menangis, kemudian ia melorot turun dan berlutut
di depan nikouw itu. “Teecu, Kim Cu, mohon petunjuk dari Subo...”
Demikianlah, mulai hari itu Kim Cu menjadi murid Thian Sim Nikouw dan mempelajari pelajaran kebatinan
yang berpusat pada penyembahan Kwan Im Pouwsat. Akan tetapi, nasib malang masih mengharuskan Kim Cu
mengelami banyak penderitaan hidup. Enam bulan sejak ia tinggal di situ, pada musim hujan, air Sungai Hekdunia-
kangouw.blogspot.com
ho meluap dan terjadi banjir besar yang menghanyutkan dusun itu, termasuk Kwan-im-bio. Para nikouw dan
Kim Cu terpaksa mengungsi setelah mereka semua memberi pertolongan kepada para korban banjir.
Dalam pekerjaan yang dipimpin Thian Sim Nikouw inilah Kim Cu merasa betapa hidupnya amat berguna bagi
orang lain, yang nyata dan dapat dirasainya. Ia makin tekun belajar dan makin lama ia mendapat ketenangan
batin sehingga ketika semua pindah ke utara, ke sebuah lereng bukit dan mendirikan kuil kecil sederhana di
sana, Kim Cu mengambil keputusan menggunduli rambutnya dan masuk menjadi nikouw! Oleh gurunya ia
diberi nama Kim-sim Nikouw (Pendeta Wanita Berhati Emas). Ia telah mendapat ketenangan dan kebahagiaan
batin, dan rasa rindunya yang kadang-kadang muncul terhadap Han Han, ia tekan dengan doa-doa bagi
keselamatan pemuda itu, baik di dunia mau pun di akherat.....
********************
Di dalam sebuah gubuk di kaki Gunung Lu-liang-san, Lulu sadar dari pingsannya dan mendapatkan dirinya
sedang dirawat oleh kakek pengemis yang mengobati luka-lukanya. Melihat gadis itu bergerak, kakek itu
berkata perlahan.
“Jangan bergerak dulu, Nona. Luka-lukamu bekas bacokan senjata tajam tidak terlalu berbahaya, akan tetapi
pukulan di punggung membuat tulangmu ada yang retak. Kau rebahlah saja dan jangan banyak bergerak.”
Lulu tersenyum, hatinya girang bahwa dia belum mati. Dia mengenal kakek jembel ini yang telah
menyelamatkan nyawanya ketika golok Twa-to-kwi Liok Bu Tang si Mata Satu menyambar lehernya, yaitu
kakek yang telah menangkis golok itu dengan tongkatnya.
“Locianpwe, aku berhutang satu nyawa kepadamu.”
Kakek itu memandangnya dan tersenyum melihat gadis yang berpakaian pria itu tersenyum, kaget dan
kagumlah dia. “Wah, engkau memiliki daya tahan yang hebat. Hal ini membuktikan bahwa engkau telah
mempelajari sinkang yang luar biasa.”
“Eh, jangan pura-pura tidak mendengar omonganku dan mengeluarkan puji-pujian kosong, locianpwe. Aku
telah hutang satu nyawa kepadamu karena aku tentu telah mati kalau locianpwe tidak datang menolong.”
Kakek itu menyelesaikan pekerjaannya membalut luka-luka di tubuh Lulu, kemudian berkata sungguh-sungguh,
“Nona, saling bantu di antara kita segolongan adalah wajar, bahkan saling menolong di antara manusia sudah
semestinya, sama sekali tidak dapat dikatakan hutang-berhutang. Apa lagi kalau kita bersama menghadapi
orang-orang Mancu yang amat jahatnya. Ah, bukan semata-mata orangnya yang jahat, karena orang Mancu
pun manusia seperti kita. Yang jahat adalah pimpinan mereka yang mengatur penjajahan dan menimbulkan
perang. Perang adalah jahat dan kejam, membuat manusia-manusia seperti kita menjadi binatang-binatang
buas! Aku sungguh amat membenci perang, akan tetapi lebih membenci orang-orang Mancu yang
menimbulkan perang!”
Hati Lulu tertarik sekali. Ucapan kakek ini benar-benar memiliki arti yang dalam, apa lagi terdengar oleh
telinganya, telinga seorang gadis Mancu! “Locianpwe, apakah engkau demikian membenci orang Mancu?
Engkau sendiri mengatakan tadi bahwa orang Mancu juga manusia seperti kita, mengapa locianpwe amat
membenci mereka?”
“Mengapa tidak? Karena merekalah maka orang-orang seperti aku menjadi binatang-binatang buas yang
membunuhi manusia lain tanpa berkedip! Dahulu, sebelum ada perang, manusia mengenal peri-kemanusiaan
dan aku akan merasa bangga kalau dapat menyelamatkan nyawa seorang manusia lain dari pada ancaman
bahaya maut. Dahulu, nyawa manusia amat dihargai sehingga sebuah pembunuhan akan menggegetkan dan
pembunuhnya akan dikutuk manusia lain. Akan tetapi sekarang? Ah, dalam keadaan perang, manusia menjadi
makhluk sejahat-jahatnya! Betapa banyaknya nyawa manusia melayang oleh perbuatanku, dan kedua
tanganku yang berlumuran darah ini telah membunuh entah berapa banyak manusia lain!”
Lulu makin tertarik. Kakek itu mengucapkan kata-kata dengan penuh semangat dan kesungguhan, dan wajah
yang keriputan itu tampak berduka sekali. “Akan tetapi yang locianwe lakukan adalah demi perjuangan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Locianpwe berjuang demi negara dan bangsa, dan locianpwe membunuh musuh bangsa. Bukankah hal itu
merupakan perbuatan mulia?”
Tiba-tiba kakek itu tertawa dan suara ketawanya membuat bulu tengkuk Lulu berdiri. Kelihatannya saja tertawa,
akan tetapi nadanya seperti orang menangis! “Ha-ha-ha! Inilah yang menyedihkan! Manusia menganggap
penyembelihan sesama manusia ini sebagai perbuatan mulia! Makin banyak menyembelih manusia, makin
banyak merenggut nyawa sesama manusia, akan gagah perkasa, makin mulia dan disebut pahlawan! Memang
perjuangan membela nusa bangsa, membela tanah air adalah sebuah tugas yang mulia, akan tetapi
penyembelihan sesama manusia, sungguh pun berlainan bangsa, yang dianggap mulia oleh manusia itu,
apakah juga mulia dalam pandangan Thian? Apakah Thian akan bersenang hati menyaksikan manusia
ciptaan-Nya saling bunuh hanya karena memperebutkan kebenaran palsu yang pada hakekatnya adalah
memperebutkan kemenangan dan kemuliaan duniawi! Tidak, Nona. Aku yakin bahwa Thian tidak menghendaki
manusia berbunuh-bunuhan, dan aku yakin bahwa penyembelihan antara manusia yang oleh masing-masing
golongan manusia disebut mulia dan dipuji-puji ini dikutuk Thian!”
Lulu menjadi terharu. Ia dapat mengerti apa yang dimaksudkan oleh kakek itu, dan tentu saja bagi dia, seorang
gadis Mancu, ucapan itu berkesan amat dalam.
“Kata-kata locianpwe benar-benar mengejutkan hatiku. Akan tetapi, aku ingin sekali mendengar maksud
ucapan locianpwe tadi bahwa perang antara manusia hanya memperebutkan kebenaran palsu yang pada
hakekatnya adalah memperebutkan kemenangan dan kemuliaan duniawi. Apakah yang locianpwe
maksudkan?”
Kakek itu menarik napas panjang. “Maksudku, tidak ada bangsa di dunia ini yang tidak menganggap bahwa
perang yang dilakukannya berdasarkan kebenaran! Lihat contohnya perang yang dikobarkan oleh bangsa
Mancu yang menjajah Tiongkok! Bangsa Mancu menyerbu ke selatan dan mereka merasa benar karena
mereka menganggap bahwa mereka semenjak dahulu direndahkan, dan menganggap bahwa mereka itu
datang untuk membebaskan rakyat Tiongkok dari pada cengkeraman pemerintahan yang tidak baik. Mereka
berperang dengan dasar kebenaran mereka, karena hanya kalau mereka berkuasa di sinilah maka rakyat akan
dapat hidup makmur, terbebas dari pada penindasan kaisar dan pembesar-pembesar Kerajaan Beng yang
lemah dan jahat dalam pandangan mereka. Jelaslah bahwa bangsa Mancu berperang dengan dasar
kebenaran mereka, kebenaran palsu! Di lain pihak, Kerajaan Beng berikut semua pejuang yang melawan
mereka, termasuk aku, mendasarkan perjuangan dengan kebenaran kita sendiri, kebenaran orang
mempertahankan tanah airnya, kebenaran negara mempertahankan hak dan kedaulatannya. Padahal, yang
diperebutkan adalah kemenangan, dan sesungguhnyalah bahwa kemenangan yang akan mendatangkan
kemuliaan duniawi kepada mereka yang menang! Kalau perang hanya terbatas kepada mereka yang bercitacita,
baik para pembesar yang memperebutkan kedudukan, mau pun para prajurit yang berperang karena
menerima upah, atau pejuang yang berperang karena dorongan cita-cita, masih tidak mengapa. Mereka sudah
sengaja ingin terjun ke dalam kancah perang yang isinya menang atau kalah, hidup atau mati. Celakanya,
rakyat yang tidak tahu apa-apa menjadi korban keganasan perang.” Kakek itu menarik napas panjang,
kemudian memandang Lulu tajam-tajam dan melanjutkan kata-katanya.
“Perang ini akibatnya jahat sekali. Pertengkaran pribadi hanya menimbulkan kebencian, akan tetapi perang
menimbulkan kebencian antara bangsa! Tidak ada lagi pertimbangan antara baik dan buruk, bangsa yang
dibencinya karena perang, dianggapnya semua jahat dan semua harus dibasmi! Sungguh menyedihkan sekali
karena baru dalam hal inilah ada persamaan pendapat antara orang baik dan orang jahat! Pendeta-pendeta
dan perampok-perampok dapat bekerja sama menghadapi musuh! Dalam perang antar bangsa, biar dia
perampok yang sekejam-kejamnya kalau sebangsa, dianggap sekutu. Biar sama-sama pendeta kalau menjadi
bangsa yang dibenci dianggap lawan yang harus dibunuh! Dan maut yang disebar tidak memandang bulu,
tidak mengenal peri-kemanusiaan lagi. Kebencian melanda dan menguasai hati nurani manusia sehingga
menimbulkan perbuatan-perbuatan yang kejamnya melebihi serigala. Membunuh dan menyiksa dianggap
perbuatan yang baik dan gagah perkasa. Semua karena gara-gara perang dan andai kata bangsa Mancu tidak
mengobarkan perang lebih dulu, tidak akan terjadi segala kekejaman itu. Karena itu, aku membenci orangorang
Mancu yang menimbulkan perang, membenci mereka yang telah membuat aku sekarang menjadi
seorang pembunuh berdarah dingin!” Kembali kakek itu menarik napas panjang, kelihatan berduka sekali.
“Locianpwe, bukan hanya engkau yang menderita, bukan hanya rakyat Tiongkok yang menderita akibat perang.
Juga bangsa Mancu sendiri banyak yang menderita akibat perang ini, perang yang dicetuskan oleh para
dunia-kangouw.blogspot.com
pimpinan dengan mengorbankan banyak rakyat. Rakyat Mancu yang dipaksa menjadi prajurit, mati di sini
tanpa diketahui keluarganya. Betapa banyaknya pula rumah tangga para perwira yang hancur akibat perang,
terbasmi oleh musuh mereka yang oleh mereka disebut dan dianggap para pemberontak.”
Kakek itu mengangguk-angguk, kemudian mengangkat muka memandang. “Eh, Nona, bagaimana Nona bisa
tahu akan keadaan bangsa Mancu?”
Lulu memandang tajam dan menjawab tenang, “Tentu saja aku tahu, locianpwe, karena aku sendiri adalah
seorang Mancu.”
“Ahhh...!” Kakek itu benar-benar kaget mendengar ini dan ia memandang wajah Lulu dengan sikap tegang.
“Aku adalah seorang gadis Mancu yang menjadi korban perang ini, locianpwe. Ayahku seorang perwira yang
terbunuh bersama seluruh keluarganya oleh segerombolan pemberon... eh, pejuang yang dipimpin oleh
seorang bernama Lauw-pangcu. Hanya aku yang dibiarkan hidup, dirampas pakaianku, diberi pakaian jembel
dan aku dilepas sebagai seorang anak jembel yang hidup terlantar...!”
“Ya Tuhan...!” Kakek itu meloncat ke belakang dan berdiri tegak memandang Lulu dengan mata terbelalak.
Teringatlah ia peristiwa tujuh tahun yang lalu dan ia berkata lirih penuh getaran perasaan, “Akulah Lauwpangcu.
Kini teringat olehku akulah yang memimpin teman-teman menyerbu perwira dan membunuh mereka
sekeluarga. Karena engkau mengingatkan aku akan puteriku yang hampir sebaya, aku tidak membolehkan
mereka membunuhmu... Ah, Nona, engkaukah kiranya anak itu? Akan tetapi mengapa engkau sekarang
membantu kaum pejuang memusuhi bangsa Mancu sendiri?”
Berubah wajah Lulu. Hemmm, jadi kakek inikah musuh besarnya yang selama ini ia cari-cari? Sejenak seluruh
tubuhnya menegang dan timbul keinginannya untuk menyerang kakek itu. Akan tetapi teringat akan
pembicaraan mereka tadi Lulu menarik napas panjang dan... menangis! Sejenak Lauw-pangcu hanya
memandang gadis yang menangis itu penuh keheranan dan keharuan, kemudian ia berkata.
“Nona, aku mengerti bahwa di dalam hatimu mengandung sakit hati dan dendam yang besar kepadaku. Andai
kata engkau kini menjadi pembantu pemerintah Mancu, tentu dendammu akan kau hadapi dengan kekerasan
dan engkau akan kuanggap sebagai musuh. Akan tetapi karena terbukti bahwa engkau membantu pihak
pejuang menentang kekejaman pasukan Mancu, hal ini membuat hatiku terasa berat dan penuh oleh dosa
terhadap dirimu. Nona, aku Lauw-pangcu bukan seorang yang tidak mengenal budi dan bukan seorang yang
tidak berani menanggung segala akibat perbuatanku. Aku yang membuat keluarga Nona terbasmi, yang
membuat keluarga Nona terlantar, dan menyaksikan sepak terjangmu, kini aku siap menerima pembalasanmu.
Engkau boleh menbunuhku untuk membalas dendam keluargamu. Silakan, aku tidak akan melawan dan
menyerahkan nyawaku sebagai tebusan dosaku kepadamu.”
Lulu mengangkat mukanya yang basah air mata memandang kakek itu, kemudian ia menangis lagi, lalu
menutupi muka dengan kedua tangan dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tidak... tidak..., setelah aku menyaksikan sepak terjangmu, setelah aku mendengar kata-katamu dan
mengenal watakmu sebagai seorang gagah perkasa, seorang pendekar sejati, bagaimana aku dapat
membunuhmu? Apa lagi setelah menyaksikan keganasan perwira-perwira Mancu... ah, biarlah kuanggap
bahwa Ayah sekeluarga terbasmi oleh perang, bukan oleh tanganmu, Lauw-pangcu. Engkau membasmi
mereka bukan karena benci pribadi, melainkan karena perjuanganmu, karena perang. Biarlah, aku akan
melupakan semua itu...”
Lauw-pangcu terbelalak, menghela napas dan mengeluh, “Aduh, baru sekali ini selama hidupku bertemu
dengan seorang wanita semuda engkau, memiliki kebijaksanaan yang begini besar! Sikapmu merupakan
tusukan pedang yang tiada bandingnya, menembus hatiku. Ah, Nona, tahukah engkau betapa sikapmu ini
membuat aku jauh lebih menderita penuh penyesalan selama hidup dari pada kalau engkau menusuk mati aku
dengan pedangmu? Aku telah membasmi keluargamu... dan engkau tidak mau membalas dendam. Satusatunya
jalan bagiku, biarlah aku menjadi pengganti keluargamu, menjadi Ayah Ibumu, biarlah aku mengambil
engkau sebagai anakku, kalau engkau sudi...”
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendengar ini, Lulu terisak, menurunkan kedua tangan, memandang kakek itu dengan sepasang matanya
yang lebar, kakek yang telah menyelamatkan nyawanya, kakek yang telah membasmi keluarganya, kemudian
ia mengeluarkan jerit lirih menubruk maju dan berlutut di depan kakek Lauw-pancu, “Ayah...!”
Sepasang mata kakek tua itu menitikkan dua butir air mata dan dengan penuh keharuan ia mengangkat
bangun gadis itu, memegang kedua pundaknya dan menatap wajah cantik jelita dengan sepasang mata lebar
yang masih mengucurkan air mata.
“Anakku..., engkau anakku..., siapakah namamu?”
“Lulu...”
“Ah, nama yang bagus! Lulu, aku akan membimbingmu, melatihmu. Engkau memiliki sinkang yang luar biasa
dan gerakanmu cepat sekali, amat menakjubkan, hanya ilmu silatmu yang belum masak. Aku akan
menurunkan semua kepandaianku dan kelak engkau menjadi orang yang lebih lihai dari pada aku sendiri.
Akan tetapi aku heran sekali..., siapa yang mengajarimu berlatih sehinga memiliki sinkang begitu hebat dan...
memiliki kebijaksanaan yang belum tentu dimiliki seorang pendeta sekali pun?”
Lulu yang merasa amat terharu dan juga berbahagia karena kini merasa mendapatkan seorang ayah, sambil
bersandar di dada ‘ayah’ ini menjawab manja, seperti kalau ia bersikap manja kepada Han Han! “Ayah, yang
mengajarku adalah Kakakku sendiri.”
Kembali Lauw-pangcu terkejut, memegang kedua pundak anaknya itu dan memandang wajahnya dengan
tajam. “Kakakmu? Engkau mempunyai Kakak? Bukankah tadi kau katakan bahwa... bahwa yang hidup hanya
tinggal engkau seorang?” Kalimat terakhir ini diucapkannya dengan pahit, mengingatkan dia bahwa dia yang
membunuh semua keluarga gadis yang kini menjadi anaknya itu.
“Kakak angkat, Ayah.”
“Ohhh... jadi engkau mempunyai seorang kakak angkat dan kini mempunyai seorang ayah angkat, anakku?
Agaknya engkau memang seorang yang amat baik budi sehingga banyak orang yang suka kepadamu.
Kakakmu itu tentu lihai sekali.”
“Kakakku adalah orang yang paling hebat dan lihai di seluruh dunia ini...!”
“Ayah, bocah ini adalah teman si keparat Han Han!” Tiba-tiba terdengar seruan nyaring disusul berkelebatnya
bayangan orang dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang gadis cantik gagah yang dikenal Lulu karena gadis
itu bukan lain adalah Lauw Sin Lian, murid Siauw-lim Chit-kiam yang amat lihai dan yang pernah bentrok
dengan Han Han ketika mereka berdua baru keluar dari Pulau Es, ketika dia dan kakaknya membantu para
piauwsu Hoa-san-pai yang diserang orang-orang Siauw-lim-pai yang mereka kira perampok.
Melihat Sin Lian yang bersikap kasar terhadap kakaknya namun yang ia duga mencinta kakaknya itu, Lulu
tersenyum dan memandang dengan matanya yang lebar. Sebaliknya, Sin Lian memandang dengan mata
penuh kebencian, bahkan lalu membentak dan melangkah maju, “Dia dan Han Han membantu penjahatpenjahat
Hoa-san-pai dan matinya dua orang suhu-ku mungkin karena mereka!”
Melihat puterinya maju hendak menerjang Lulu, Lauw-pangcu cepat melompat ke depan Sin Lian,
menghadang dan berseru. “Lian-ji (Anak Lian), tahan dulu! Dia ini adalah Adikmu!”
Mendengar ini, Sin Lian begitu kaget dan heran sehingga ia tiba-tiba menghentikan gerakannya, berdiri seperti
arca dalam keadaan masih memasang kuda-kuda siap menyerang. Matanya memandang kepada ayahnya
penuh pertanyaan.
“Apa... apa artinya ini, Ayah?”
“Aku telah mengangkat Lulu ini sebagai anakku, Sin Lian. Dia telah membantu para pejuang dan hampir
mengorbankan nyawanya untuk perjuangan, selain itu... dia adalah puteri keluarga Perwira Mancu yang
terbasmi di tanganku... dan... satu-satunya jalan bagiku untuk menebus dosaku kepadanya..., yang sama
dunia-kangouw.blogspot.com
sekali tidak mendendam kepadaku, adalah mengambil dia sebagai anakku sendiri, dan aku melarang engkau
mengganggu adikmu sendiri!”
Wajah Sin Lian berubah agak pucat dan ia membantah, “Akan tetapi dia... dia dan Han Han bersekutu dengan
Hoa-san-pai memusuhi Siauw-lim-pai...!”
“Tidak sama sekali, Enci Lian,” Lulu berkata dengan sikap tenang. Pandang matanya yang indah tajam, wajah
cantik jelita yang tersenyum cerah, suara yang bening halus itu mengagumkan hati Sin Lian. “Kami sama
sekali tidak pernah bersekutu dengan Hoa-san-pai, dan tidak pernah pula memusuhi Siauw-lim-pai. Semua
yang dilakukan Kakakku hanyalah karena salah paham belaka.”
“Kakakmu...?” Sin Lian bertanya, bingung.
Lulu tersenyum dan wajahnya berseri. “Benar, dia adalah Kakakku, Kakak angkatku. Apakah engkau kira dia
itu kekasihku, Enci Lian? Memang kekasihku, karena Han-koko adalah orang yang paling kukasihi di seluruh
dunia ini, kemudian tentu saja Ayahku dan engkau Cici-ku!”
Pandang mata penuh kebencian itu melunak dan Sin Lian tak dapat berkata-kata. Ada pun Lauw-pangcu
ketika mendengar bahwa anak angkatnya ini juga adik angkat Han Han, menjadi terkejut dan berseru, “Ah,
sungguh tak kusangka Kakak angkatmu adalah Han Han. Bocah itu! Ceritakanlah, Lulu anakku, tentu menarik
ceritamu. Sin Lian, duduklah dan kita mendengarkan ceritanya agar semua persoalan menjadi terang.”
Setelah mereka bertiga duduk, Lulu menghela napas dan berkata, “Kasihan sekali kakakku Han Han. Karena
mengira murid-murid Siauw-lim-pai hendak merampok dan menghadang para piauwsu Pek-eng-piauwkiok
yang menjadi murid-murid Hoa-san-pai. Kemudian melihat mayat dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam, dia
mengira murid-murid Hoa-san-pai yang melakukannya sehingga dalam marahnya dia membunuh beberapa
orang murid Hoa-san-pai. Akibatnya, dia dimusuhi oleh Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai!”
Sin Lian yang hatinya menjadi lega mendengar bahwa gadis cantik yang kini menjadi adik angkatnya itu
ternyata bukan kekasih Han Han seperti yang tadinya ia sangka, menjadi tertarik sekali dan berkata,
“Ceritakanlah... ceritakan apa yang telah terjadi sesungguhnya.”
Maka berceritalah Lulu tentang peristiwa yang ia alami bersama Han Han itu, mulai dari pertemuan mereka
dengan para piauwsu Pek-eng-piauwkiok, lalu terjadi pertempuran dengan para penghadang dan munculnya
Sin Lian, kemudian betapa Han Han membunuh murid-murid Hoa-san-pai, kemudian betapa dia dan kakaknya
bertemu dengan tokoh-tokoh Hoa-san-pai.
“Ahhh...!” Lauw-pangcu menepuk pahanya setelah mendengar penuturan Lulu bahwa jelas sekali kedua pihak
terpancing dan menjadi korban adu domba yang diatur oleh pihak Mancu. “Han Han menjadi korban fitnah. Hal
ini harus segera dilaporkan kepada para pimpinan Siauw-lim-pai, Lian-ji, agar permusuhan antara kedua partai
dapat dihentikan dan juga fitnah atas diri Han Han dibersihkan.”
“Baik, Ayah. Memang semestinya begitu. Aku pun sedang menjalankan tugas yang diperintahkan ketua Siauwlim-
pai untuk pergi mencari lima orang guruku, akan tetapi sungguh heran, lima orang guruku itu tidak dapat
kutemukan jejaknya. Sebaiknya aku pergi sekarang juga melaporkan hal penting itu kepada ketua Siauw-limpai.”
“Harap engkau tidak usah sibuk-sibuk dan capek-capek, Enci-ku yang baik. Para pimpinan Siauw-lim-pai
sudah tahu akan hal itu karena aku dan Han-koko telah pula datang mengunjungi Siauw-lim-si untuk
menghadap ketuanya.”
“Apa?! Dia yang telah difitnah dan dianggap musuh oleh Siauw-lim-pai malah datang mengunjungi Siauw-limsi?
Begitu beraninya?” Sin Lian terbelalak saking herannya. Sungguh gadis Mancu ini membawa cerita yang
makin aneh saja. Juga Lauw-pangcu menjadi terkejut dan heran.
“Memang Han-ko adalah seorang laki-laki yang paling gagah perkasa dan paling berani di seluruh dunia ini!”
kata Lulu dengan bangga. “Dia tidak akan mundur selangkah pun dalam membela kebenaran. Jangankan
dunia-kangouw.blogspot.com
hanya mendatangi Siauw-lim-si menghadap ketua Siauw-lim-pai, biar pun harus mendatangi neraka
menghadap Giam-lo-ong (Raja Maut), jika dia benar, akan dia lakukan tanpa mengenal takut!”
Berceritalah dara yang lincah dan yang amat mencinta kakaknya ini akan sepak terjang Han Han ketika
mengunjungi Siauw-lim-pai. Diceritakannya pula betapa Han Han dikeroyok oleh para tokoh Siauw-lim-pai,
betapa Han Han masuk bertemu dengan Kian Ti Hosiang. Mendengar penuturan ini, makin lama Sin Lian
menjadi makin terheran-heran dan diam-diam ia menjadi kagum sekali kepada Han Han yang memang amat
menarik hatinya dan yang sudah ia buktikan sendiri kelihaiannya. Setelah Lulu berhenti bercerita, keadaan
sunyi senyap. Lauw-pangcu termangu penuh keheranan, sedangkan Sin Lian termenung mengenangkan
keadaan pemuda itu.
“Wah, ceritamu sungguh hebat!” Akhirnya Lauw-pangcu berkata sambil menarik napas panjang. “Anakku Lulu,
tahukah engkau bahwa dahulu Kakakmu itu adalah muridku? Sungguh tidak nyana dia dapat menjadi seorang
yang berilmu tinggi, juga engkau dapat memiliki sinkang dan ginkang yang amat luar biasa. Siapakah guru
kalian?”
Biar pun Han Han pernah memesan agar dia tidak bicara tentang Pulau Es dengan siapa pun juga, akan tetapi
karena Lauw-pangcu telah menjadi ayahnya sedang Sin Lian menjadi cici-nya, Lulu merasa tidak perlu
merahasiakan hal itu dari mereka. Ia lalu menjawab.
“Guru kami adalah pemilik Pulau Es...”
“Heiii! Pulau Es...?” Lauw-pangcu dan Sin Lian makin terkejut. Benar-benar makin banyak hal tak terduga-duga
dan aneh-aneh mereka dengar dari mulut Lulu!
“Pulau Es yang semenjak puluhan tahun dicari oleh semua tokoh kang-ouw?”
Lulu mengangguk. “Secara kebetulan saja kami dapat sampai di pulau itu dalam keadaan hampir mati setelah
mengalami ancaman maut berkali-kali....”
Ia lalu bercerita tentang pengalamannya bersama Han Han ketika menjadi tawanan Ma-bin Lo-mo sampai
terbawa badai dalam perahu rusak sehingga mereka mendarat di Pulau Es, menemukan peninggalan kitabkitab
pelajaran penghuni Pulau Es dan belajar ilmu selama enam tahun di tempat itu. Betapa kemudian dengan
susah payah mereka dapat meninggalkan tempat itu.
Lauw-pangcu dan Sin Llan mendengarkan penuturan itu dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, merasa
seperti mendengarkan dongeng saja. Cerita itu amat mempesona mereka, bukan hanya karena keanehan
cerita itu sendiri, melainkan juga karena pandainya Lulu bercerita sehingga untuk waktu yang cukup lama
kedua orang ini seperti menggantungkan pandang mata mereka kepada bibir tipis merah yang bergerak-gerak
manis ketika bercerita.
“Yang berilmu tinggi-tinggi dan berusaha mati-matian mencari Pulau Es, tidak pernah berhasil, dua orang
bocah yang tidak mencarinya malah mendapatkan. Ha-ha, inilah yang disebut jodoh yang terjadi atas
kehendak Thian! Pantas saja engkau lihai sekali, anakku, kiranya engkau menjadi ahli waris pusaka-pusaka
mukjizat yang terdapat di Pulau Es. Sungguh engkau beruntung sekali, anakku.”
“Aah, ilmu yang berhasil kumiliki dengan latihan berat tidak ada artinya, Ayah. Aku memang bodoh dan kurang
tekun seperti Han-ko. Dibandingkan dengan Han-koko, ilmuku sama sekali tidak ada artinya, dia sepuluh kali
lebih lihai dari pada aku!”
Sin Lian makin kagum kepada Han Han dan diam-diam jantungnya berdebar. Hatinya makin tertarik.
“Sekarang di manakah... Han Han? Mengapa engkau berpisah darinya?” Pertanyaan ini biasa saja, akan tetapi
begitu menyebut Han Han, muka Sin Lian menjadi merah sekali. Hal ini tidak terlepas dari pandang mata Lulu
yang tajam dan pandang mata Lauw-pangcu yang berpengalaman.
Akan tetapi karena Lulu diingatkan kepada kakaknya dan hatinya menjadi gelisah, dia tidak ingin menggoda
enci angkatnya itu, bahkan lalu menghela napas dan mengerutkan alisnya yang hitam panjang, “Ahh, hal inilah
dunia-kangouw.blogspot.com
yang menyusahkan hatiku. Ketika kami saling berpisah, aku tertawan oleh si keparat Ouwyang Seng murid
Setan Botak, sedangkan kakakku ketika itu dikeroyok dua oleh Setan Botak dan Iblis Muka Kuda!”
“Apa? Kang-thouw-kwi Gak Liat dan Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee mengeroyok Han Han?” Lauw-pangcu
berteriak dan Sin Lian pun menjadi pucat mukanya.
Mereka mengenal siapa dua orang datuk hitam ini, tahu pula akan kehebatan ilmu kepandaian mereka.
Seorang saja di antara mereka sudah merupakan lawan yang amat hebat, bahkan ke tujuh orang sakti Siauwlim
Chit-kiam ketika menghadapi Setan Botak seorang diri saja hampir kalah. Apa lagi kini dua orang datuk
hitam itu sekaligus maju mengeroyok!
“Mana mungkin ia dapat menangkan dua orang datuk hitam itu?” Suara Sin Lian ini terdengar lirih, penuh
kengerian dan kekhawatiran. Sembilan bagian perasaannya mengatakan bahwa tentu Han Han tewas kalau
dikeroyok dua orang datuk hitam itu, betapa pun lihainya Han Han.
“Tidak, kakakku tidak akan kalah!” Lulu berkata. “Tidak mungkin Han-ko sampai kalah! Dia sakti dan cerdik,
tentu dapat mengatasi dua orang kakek iblis itu! Akan tetapi, entah ke mana perginya. Aku sedang mencarinya
sehingga tiba di sini dan bertemu dengan Ayah. Sekarang aku akan pergi mencarinya lagi sampai bertemu.”
“Lulu, anakku yang baik. Jangan engkau pergi dulu. Setelah aku mendapatkan seorang anak seperti engkau,
mana boleh engkau lalu pergi lagi begitu saja? Engkau telah memiliki sinkang yang luar biasa, melebihi aku
sendiri, bahkan mungkin sinkang-mu lebih hebat dari pada Sin Lian. Akan tetapi ilmu silatmu belum matang,
dan sementara ini engkau tinggallah di sini bersamaku agar dapat kau perdalam ilmu silatmu. Aku yang akan
menggemblengmu sehingga kalau ilmu silatmu sudah matang, kiranya aku sendiri sama sekali tidak akan
dapat melawanmu. Engkau tidak membutuhkan waktu lama untuk mematangkan ilmu silatmu, juga Enci-mu
dapat membantumu. Ada pun tentang Han Han, aku akan mengerahkan anak buahku untuk membantumu
mencari kabar tentang Kakakmu itu. Kiranya akan lebih berhasil dari pada kalau engkau pergi mencari sendiri.”
“Ucapan Ayah benar sekali, Adik Lulu. Sebagai murid Siauw-lim-pai, tentu saja aku tidak boleh mengajarkan
ilmu silat Siauw-lim-pai kepada orang lain yang bukan murid Siauw-lim-pai. Akan tetapi agaknya sedikit banyak
aku akan dapat membantumu untuk mematangkan ilmu silatmu sendiri yang hebat.”
Dibujuk oleh ayah dan enci angkat yang amat disukainya itu, akhirnya Lulu menurut dan demikianlah, mulai
hari itu Lulu digembleng ilmu silat oleh Lauw-pangcu dan Sin Lian.
Benar saja, di bawah bimbingan Lauw-pangcu yang sudah berpengalaman, Lulu dapat mematangkan ilmu
silatnya dan Sin Lian sendiri terheran-heran menyaksikan kehebatan sinkang adik angkatnya itu yang benarbenar
lebih kuat dari dia sendiri. Juga ilmu silat yang dimainkan Lulu selain aneh, juga indah dan amat kuat.
Benar pula seperti yang diramalkan Lauw-pangcu. Setelah ilmu silatnya dimatangkan di bawah petunjuk Lauwpangcu
yang berpengalaman dan Sin Lian yang berilmu tinggi, Lulu memperoleh kemajuan hebat sekali
sehingga kalau menghadapi lawan, kiranya dia lebih berbahaya dari pada Lauw-pangcu, bahkan lebih sukar
dilawan dari pada Sin Lian sendiri. Hal ini adalah karena ilmu silatnya tidak dikenal orang, berbeda dengan
ilmu silat Sin Lian yang merupakan ilmu asli dari Siauw-lim-pai.
Semenjak pertemuannya dengan Lulu dan mengangkat Lulu sebagai anak, semangat Lauw-pangcu dalam
perjuangan menentang bangsa Mancu menurun secara menyolok sekali. Biar pun ia tidak pernah melarang
anak buah Pek-lian Kai-pang melanjutkan perjuangan mereka menentang pemerintah Kerajaan Ceng (Mancu),
namun ia sendiri tidak aktif bergerak, bahkan lalu mengundurkan diri kembali ke sarang Pek-lian Kai-pang di
lembah Sungai Huang-ho sebelah selatan, di mana ia bersama Sin Lian setiap hari berlatih silat dengan Lulu.
Hubungan antara Lulu dan Sin Lian makin akrab dan mereka saling mencinta seperti adik dan kakak kandung.
Lulu memang memiliki sifat periang jenaka dan lincah hingga mendatangkan rasa suka kepada siapa saja.
Juga ia jujur, polos terbuka di samping memiliki kecerdikan dan wawasan yang tajam.
Pada suatu hari, beberapa bulan setelah mereka tinggal di lembah Sungai Huang-ho, Lulu ditanggap
(dipancing dengan pertanyaan-pertanyaan) oleh Sin Lian tentang diri Han Han. Diam-diam Lulu
mentertawakan enci-nya ini, akan tetapi secara cerdik dan nakal ia malah bercerita tentang Han Han secara
dunia-kangouw.blogspot.com
berlebihan. Dipuji-pujinya kakaknya itu setinggi langit, kegagahannya, ketampanannya, kepandaiannya, dan
kebaikan budinya.
“Di waktu kecil dahulu, dia adalah sahabatku,” kata Sin Lian perlahan dengan pandang mata melamun,
terkenang akan masa lalu.
“Ya, dia pernah bercerita tentang dirimu, Enci Lian.”
“Betulkah? Apa yang ia katakan tentang aku?” tanya Sin Lian, wajahnya berseri.
Lulu tersenyum. “Ia pernah mengatakan bahwa engkau adalah seorang yang amat baik budi.”
Wajah Sin Lian menjadi merah, akan tetapi matanya bersinar-sinar. “Ah, dahulu aku bersikap galak kepadanya,
mana baik budi?”
“Akan tetapi, dia betul-betul memujimu. Agaknya dia senang akan kegalakanmu, Enci Lian. Kakakku memang
sabar dan suka mengalah. Di samping segala kebaikannya hal ini membuat banyak gadis jatuh hati kepadanya.
Di sepanjang perjalanan kami kulihat banyak wanita jatuh cinta kepadanya.”
Sin Lian menengok dan memandang dengan gerakan cepat. “Hemmm, bagaimana engkau bisa tahu, Adikku?”
“Hi-hik! Bagaimana aku tidak tahu? Pandang mata mereka itu! Pandang mata yang mereka tujukan kepada
Han-ko terlalu jelas, tampak sinar-sinar cinta kasih memancar dari mata mereka dan Dewi Asmara mengintai
dari balik senyum mereka.”
“Ihhh, genit kau!” Sin Lian mencela dan mencubit lengan adiknya.
“Aduh!” Lulu menggosok-gosok kulit lengan yang dicubit enci-nya. “Tanganmu mencubit aku, akan tetapi
pikiranmu mencubit Han-ko, bukankah begitu, Enci Lian?”
“Idiiih! Engkau benar-benar centil, Adik Lulu! Sudah, jangan menggoda orang, ceritakan yang betul.”
“Aku sudah bercerita sebenarnya, masa aku membohong? Bahkan murid Im-yang Seng-cu, Hoa-san Kiam-li
Lu Soan Li yang cantik jelita dan gagah perkasa, juga jatuh cinta kepada Kakak Han Han. Baru berkenalan
beberapa hari saja mereka sudah begitu akrab. Pendekar wanita itu seperti menjadi bayangan tubuh Han-ko,
tidak mau berpisah lagi, setiap gerak-geriknya jelas menunjukkan cinta kasih yang mendalam.” Lulu
menghentikan kata-katanya ketika melihat betapa wajah Sin Lian yang tadinya merah itu kini berubah agak
pucat dan sinar mata yang tadinya berseri itu menjadi agak muram. Ia merasa kasihan dan cepat-cepat ia
menyambung.
“Akan tetapi, Hoa-san Kiam-li itu akan kecelik kalau mengira bahwa Han-koko mudah saja terjebak panah
asmara. Wah, sama sekali tidak! Han-koko terlalu murni dan bersih, tidak pernah mengingat tentang asmara,
apa lagi bicara tentang itu! Han-koko adalah seorang pemuda perkasa yang belum pernah diusik panah
asmara, masih bersih dan mulus seperti mutiara belum digosok!” Senang sekali hati Lulu melihat betapa katakatanya
mengembalikan warna merah di kedua pipi enci angkatnya. “Dan lagi Han-koko tentu akan
merundingkan soal jodohnya dengan aku, kalau sudah tiba saatnya, karena di dunia ini dia tidak punya siapasiapa
kecuali aku yang menjadi adiknya. Dan aku tentu tidak akan menyetujui dia berjodoh dengan Hoa-san
Kiam-li atau gadis mana pun juga, biar puteri kaisar sendiri!”
Dengan wajah heran akan tetapi tidak keruh lagi pandang matanya, Sin Lian memandang Lulu dan bertanya,
“Mengapa tidak setuju, Adikku?”
“Karena aku telah menemukan seorang gadis yang betul-betul mencintanya dengan seluruh jiwa raganya,
yang betul-betul cantik jelita, betul-betul gagah perkasa, dan betul-betul berbudi mulia sehingga cocok sekali
untuk menjadi teman hidup Han-koko selamanya.”
Kembali wajah cantik itu kehilangan sinarnya dan suara Sin Lian agak menggetar ketika bertanya, “Siapa...
siapa dia, Adikku?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Lulu menengadah, seolah-olah hendak minta nasehat dari awan dan perlahan-lahan ia menjawab, “Gadis itu,
yang kuanggap paling cocok untuk menjadi jodoh Han-koko, dikatakan dekat amatlah jauhnya karena dia
sendiri tidak tahu bahwa dialah pilihanku, dikatakan jauh amatlah dekatnya karena saat ini ia duduk di
depanku...”
“Aduuhhhh... Aduuuhhhhh... tobaaat, Enci...!” Lulu menjerit dan meronta-ronta sehingga cubitan pada pahanya
terlepas dan ia meloncat dan lari menjauhkan diri dari Sin Lian yang mukanya menjadi merah seperti udang
direbus. “Wah, engkau terlalu, Enci Lian! Mencubit paha orang sampai lecet! Awas kau, kelak kulaporkan
kepada Han-koko, biar kau dicubit sampai habis! Hi-hik!”
“Lulu...!” Suara Sin Lian terdengar marah, “Engkau yang terlalu! Engkau sudah kelewat batas mempermainkan
aku. Apakah engkau sengaja hendak menghina Enci-mu?”
Melihat Sin Lian marah, Lulu menghampiri dan merangkulnya, mencium pipinya dan merebahkan muka di
dada yang membusung itu. “Enci Lian, Enci-ku yang baik, masa engkau tega marah-marah kepada Adikmu?
Aku sayang kepadamu, Enci, dan biar pun aku tadi main-main, akan tetapi main-main karena ada dasarnya.
Main-main yang bisa menjadi sungguhan! Atau... engkau hendak menyangkal dan membohongi hati sendiri
bahwa... bahwa engkau mencinta Han-koko?”
Terdengar isak tertahan di dada Sin Lian. Ia balas memeluk adiknya tanpa menjawab. Ketika Lulu mengangkat
muka memandang dan melihat Sin Lian menitikkan dua butir air mata, Lulu bertanya lirih.
“Salahkah dugaanku, Enci? Kelirukah aku bahwa engkau mencinta Han-ko?”
Sin Lian menggigit bibir, mengejapkan mata, kemudian... mengangguk! Lulu tersenyum gembira lalu
berloncatan menari-nari mengelilingi Sin Lian. “Bagus... bagus...! Wah, aku girang sekali! Engkau Enci-ku
menjadi Soso-ku (Kakak Iparku) sama saja! Wah, aku bahagia sekali, Enci... eh, calon Soso yang baik!” Lulu
merangkul dan menciumi kedua pipi Sin Lian.
Mau tidak mau Sin Lian tertawa juga, mengusap air matanya dan memegang kedua pundak Lulu. “Lulu, adikku
yang nakal! Hanya kepadamulah aku sudi membuka rahasia hatiku ini. Bahkan di depan Ayahku sekali pun
aku tidak akan suka mengaku. Akan tetapi, hendaknya engkau menutup mulut dan memegang rahasia ini,
Adikku. Biar pun aku mencinta orang, harus diselidiki lebih dahulu apakah orang itu akan membalas cintaku.
Dan... dan... dia masih belum diketahui berada di mana. Karena itu, mulai detik ini kuminta jangan kau bicara
lagi tentang dia.”
Lulu mengangguk. “Tak mungkin aku tidak boleh bicara tentang dia, hanya aku tidak akan menyinggung
perasaanmu, Enci Lian. Dan aku berjanji kelak akan mengusahakan dia membalas cinta kasihmu.”
“Sudahlah, lebih baik mari kita berlatih lagi. Kemajuanmu sudah hebat dan beberapa bulan lagi saja aku takkan
kuat menandingimu.”
Kedua orang dara jelita itu lalu berlatih silat dengan tekun. Sampai setahun lebih Lulu berada di lembah
Huang-ho, berlatih silat di bawah bimbingan ayah dan enci angkatnya sehingga dia memperoleh kemajuan
hebat. Kemudian timbul lagi rasa rindu dan khawatirnya terhadap Han Han, maka ia minta diri dari ayah
angkatnya untuk pergi mencari kakaknya. Lauw-pangcu sebetulnya tidak rela melihat puteri angkatnya yang
amat dikasihinya itu pergi, akan tetapi karena maklum bahwa hati Lulu tidak akan bahagia sebelum dapat
menemukan kembali Han Han terpaksa ia berkata.
“Aku merasa menyesal sekali bahwa usahaku menyebar anak buahku untuk mencari Kakak angkatmu itu
selama ini sama sekali tidak ada hasilnya, Lulu. Tidak ada seorang pun di dunia kang-ouw mendengar atau
melihat adanya Han Han. Oleh karena itu, sungguh pun hatiku tidak akan tenteram melihat engkau pergi
sendiri, namun aku tidak dapat mencegahmu. Engkau hati-hatilah di dalam perjalanan, Lulu, karena sungguh
pun sekarang tingkat kepandaianmu sudah melampaui aku, namun di dunia ini banyak sekali terdapat orang
sakti yang menyeleweng dari pada kebenaran.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Jangan khawatir, Ayah. Kalau aku telah bertemu dengan Han-ko, aku akan mengajak dia datang ke sini,
terutama sekali untuk bertemu dengan Lian-ci...” Lulu melirik ke arah Sin Lian dengan pandang mata dan
senyum menggoda.
Wajah Sin Lian berubah merah sungguh pun hatinya merasa senang mendengar janji Lulu. Cepat-cepat ia
bekata, “Lulu-moi, kita dapat melakukan perjalanan bersama. Aku pun hendak pergi mencari lima orang suhuku
dan mengajak mereka mencari Puteri Nirahai yang menurut dugaanmu menjadi biang keladi semua
permusuhan antara Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai, dan yang tentu mengetahui siapa sebenarnya yang
membunuh Liok-suhu dan Chit-suhu.”
Demikianlah, dua orang dara jelita itu pergi dari lembah Huang-ho yang tersembunyi, meninggalkan Lauwpangcu
yang bersunyi diri dan yang telah mengundurkan diri dari perjuangan, bahkan yang mulai menjauhkan
diri dari urusan duniawi karena merasa sudah terlalu tua, ditambah kesadaran bahwa ikut sertanya dalam
perang sama sekali tidak akan mengubah keadaan menjadi baik, bahkan sebaliknya. Semenjak kedua orang
puterinya pergi, ia kini tekun bersemedhi bahkan menyerahkan urusan Pek-lian Kai-pang kepada para
pembantunya.
Ada pun Sin Lian dan Lulu tidak lama melakukan perjalanan bersama. Sepekan kemudian mereka terpaksa
harus berpisah karena Lulu hendak mencari kakaknya di kota raja, sedangkan Sin Lian hendak pergi ke Siauwlim-
si lebih dulu untuk mendengar apakah lima orang suhu-nya telah kembali ke sana. Kedua orang gadis
remaja ini saling berangkulan ketika hendak berpisah dan berjanji akan segera saling bertemu kembali di
lembah Huang-ho.
“Jangan lupa, Adikku. Bulan tiga tahun depan, jadi kurang enam tujuh bulan lagi adalah ulang tahun ke tujuh
puluh dari Ayah kita, tepatnya jatuh pada pertengahan bulan. Aku bermaksud mengadakan sedikit pesta ulang
tahun, dan engkau harus membantu dan hadir,” demikian pesan Sin Lian.
“Baik, Enci Lian. Aku pasti akan ada di sana bersama kakakku!”
Sin Lian merasa betapa jantungnya berdebar dan pipinya panas, kemudian ia merangkul sekali lagi dan
mencium pipi adik angkatnya, lalu berkata, “Selamat jalan, selamat berpisah sampai jumpa kembali, Lulu.”
Maka berpisahlah kakak dan adik angkat ini. Lulu berdiri memandang enci-nya yang berlari cepat ke selatan itu
sambil tersenyum. Gadis yang amat baik budi, pikirnya, lagi pula gagah perkasa dan cantik jelita. Tepat
menjadi isteri Han-ko. Akan tetapi di mana kakaknya? Teringat akan ini, cepat ia membalikkan tubuhnya dan
lari ke utara, arah yang berlawanan dengan larinya Sin Lian. Ia harus dapat bertemu dengan kakaknya yang
sudah lama dirindukannya itu.....
********************
Telah lama kita meninggalkan Han Han. Apakah yang telah terjadi dengan Han Han setelah dalam usahanya
menyelamatkan Kim Cu dia sendiri terpelanting dan terjerumus ke dalam jurang yang seolah-olah tak berdasar
saking curamnya? Benarkah kekhawatiran para nikouw, Kim Cu, dan para nelayan bahwa pemuda itu tentu
tewas dan hancur sehingga mayatnya pun tak dapat ditemukan? Memang, kalau menurut pengertian dan
perhitungan manusia, selamatnya Kim Cu setelah terjatuh dari tempat tinggi itu merupakan hal yang ajaib dan
kiranya tidak mungkin ada orang lain yang sebaik itu nasibnya. Han Han pasti hancur lebur tubuhnya!
Akan tetapi pengertian manusia sesungguhnya amat tidak berarti, amat kecil dan jauh dari pada cukup untuk
dapat menjangkau dan menjenguk untuk mengukur kekuasaan Tuhan yang terlampau besar untuk dapat
dipertimbangkan dan diukur oleh pengertian manusia. Logika atau nalar manusia amatlah kecil. Apa lagi
tentang hidup dan mati. Jika Tuhan menghendaki kematian seseorang, ke mana pun dia pergi, biar pun dia
bersembunyi ke lubang semut, tidak urung maut akan datang menjemput! Jika menghendaki sebaliknya, biar
selaksa macam mala petaka mengancam, dia akan lolos dari bencana!
Demikianlah pula dengan Han Han. Agaknya Tuhan memang belum menghendaki pemuda ini tamat riwayat
hidupnya, sungguh pun nyawanya sudah berada di ujung rambut, nyaris ia tewas. Ketika ia meluncur turun,
lebih cepat dari pada tubuh Kim Cu yang ringan, ia menimpa air lebih keras dari pada gadis itu. Hal ini adalah
karena selama melayang turun ini, pikiran Han Han penuh dengan kekhawatiran akan diri gadis itu. Dia selalu
dunia-kangouw.blogspot.com
ingat akan menyelamatkan Kim Cu, maka tubuhnya melakukan gerakan melawan sehingga tubuh itu
terbanting keras ke permukaan air. Hebat sekali akibatnya, membuat matanya gelap dan ia tenggelam dalam
keadaan setengah pingsan.
Kebetulan sekali ia jatuh di bagian yang dalam dan airnya amat deras sehingga begitu ia jatuh dan tenggelam,
tubuhnya disambar dan dihanyutkan air amat cepatnya. Dalam keadaan pening dan setengah pingsan itu, Han
Han menggerakkan kaki tangannya, akan tetapi kakinya yang buntung terasa nyeri sekali, hampir tak
tertahankan. Untung baginya bahwa dia memang telah memiliki sinkang yang tinggi dan selama enam tahun
menggembleng diri secara tekun sehingga ia telah memiliki kekuatan menahan napas.
Ia membiarkan dirinya hanyut, menahan napas dan perlahan-lahan menggerakkan kedua lengan sehingga
akhirnya ia dapat juga mengambang setelah terbawa hanyut amat jauh. Aliran sungai itu makin berbelak-belok
dan arusnya kuat sekali. Tubuh Han Han terbanting-banting batu karang menonjol sehingga pakaiannya robekrobek,
berikut kulit tubuhnya. Kakinya terasa makin nyeri, sampai menusuk ke jantung, membuat napasnya
terengah dan pandang matanya gelap. Kalau saja Tuhan tidak menolongnya, tentu Han Han tewas dalam
keadaan seperti itu. Sungguh amat kebetulan bahwa pada saat itu ia tidak sadarkan diri, pingsan benar-benar.
Tangannya meraih dan kebetulan lengannya dapat merangkul sebatang pohon yang hanyut. Kedua tangannya
mencengkeram ranting-ranting dan daun, dan pingsanlah dia setengah bergantung pada cabang pohon,
dibawa hanyut arus air yang makin kuat.
Han Han sama sekali tidak tahu karena dia tidak sadar ketika cabang pohon itu dihanyutkan air yang makin
kuat arusnya dan tiba di tempat yang sempit dan menurun. Kalau saja ia tidak memeluk kuat-kuat cabang itu di
waktu hampir pingsan sehingga tubuhnya kini terbelit-belit ranting, tentu ia sudah terlepas dan tewas ditelan air.
Arus air makin kuat dan tibalah di sebuah tikungan. Cabang pohon itu terhalang batu dan karena cepatnya
cabang itu dihanyutkan, ketika menghantam batu karang terdorong minggir, ditangkap pusaran air dan
dihanyutkan ke pinggir di mana air terpecah memasuki sebuah terowongan.
Kiranya sungai di bagian ini mempunyai banyak cabang-cabang, yaitu lubang-lubang di antara batu gunung
yang merupakan goa-goa atau terowongan. Cabang pohon yang membawa tubuh Han Han hanyut memasuki
terowongan yang amat panjang dan gelap. Lebih dari dua kilometer panjang terowongan ini, di mana air yang
masih deras mengalir di bawah gunung karang!
Sampai setengah hari lamanya Han Han dibawa hanyut air sungai. Ketika siuman dari pingsannya, ia telah
menggeletak di antara batu-batu kali yang halus dan berwarna hitam. Cabang pohon tadi hanyut oleh air
terdampar ke pinggir dan terjepit di antara batu-batu. Untung bagi Han Han bahwa ia rebah terlentang
sehingga hanya tubuhnya saja terendam air dangkal, mukanya terapung di permukaan air.
Ia membuka mata, mengeluh perlahan karena merasa betapa seluruh tubuhnya nyeri. Akan tetapi pikirannya
masih sadar dan segera ia dapat mengingat kembali keadaannya. Tahulah dia bahwa secara gaib sekali
Tuhan telah menolongnya sehingga dia tidak tewas ketika terjatuh dari atas tebing yang curam itu. Sejenak ia
teringat akan nasib Kim Cu dan cepat ia menggerakkan tubuh, menekankan kedua tangan pada batu hitam.
“Kim Cu...” Ia berseru perlahan. Matanya memandang ke arah air sungai yang masih deras mengalir di tengah,
mencari-cari penuh harapan. Kalau dia selamat, kemungkinan besar Kim Cu selamat pula.
“Kim Cu...!” Makin keras ia memanggil. “Aku selamat, tentu engkau pun selamat...!”
“Orang muda yang lancang! Boleh jadi engkau bebas dari cengkeraman air, akan tetapi jangan harap dapat
terbebas dari tanganku!”
Han Han yang kuat menahan dinginnya air karena sinkang-nya, sekarang menggigil mendengar suara itu.
Suara yang merdu dan halus sekali, akan tetapi mengandung hawa dingin yang membeku. Cepat ia memutar
tubuh, berpegang kepada batu dan melihat seorang nenek berdiri tidak jauh di depannya dan ia bengong.
Nenek itu hanya berkaki satu!
Namun, biar kakinya hanya tinggal satu, nenek itu dapat berdiri tegak di atas batu. Kaki tunggalnya itu berada
di tengah-tengah bawah tubuhnya, sukar dikatakan kaki kanan ataukah kaki kiri. Berdiri tegak tak bergerak
dunia-kangouw.blogspot.com
seperti sebuah arca, tangan kiri memegang tongkat sehingga lengan bajunya tersingkap dan tampak sebuah
tangan yang kecil dan berkulit halus putih. Wajah yang keriputan kurus itu masih membayangkan kecantikan
masa muda dan tubuhnya masih kecil ramping. Akan tetapi pandang mata nenek itu membuat Han Han
mengkirik. Pandang mata yang dingin sekali. Setelah kini ia membalikkan tubuh memandang ke darat, tampak
olehnya jauh di belakang wanita tua itu sebuah pondok butut
Penglihatan mata Han Han amat tajam, dia dapat mengenal orang pandai. Akan tetapi pada saat itu ia
bengong dan memeras otak untuk mengingat-ingat karena ia merasa yakin bahwa ia pernah bertemu dengan
wanita ini! Akan tetapi mendengar ucapan wanita tua itu, ia terkejut dan berkata.
“Maaf, locianpwe. Mengapa locianpwe mengatakan saya lancang?”
“Hemmm, aku sudah bersumpah untuk membunuh setiap orang yang berani datang ke tempat pertapaanku ini
dan engkau telah lancang berani datang ke sini!”
“Tapi... saya... tidak sengaja datang ke tempat ini!” Han Han memprotes.
“Tidak peduli. Engkau telah mengotori tempat ini dan engkau harus mati!” Tiba-tiba, sukar diketahui oleh Han
Han bagaimana wanita itu bergerak, tahu-tahu tubuh wanita itu telah menyambar ke arahnya dan tongkat di
tangan kiri itu menyambar ke arah kepalanya.
Han Han masih berdiri di dalam air, sebatas paha. Melihat sambaran yang dahsyat luar biasa ini, Han Han
cepat melempar tubuh ke belakang.
“Byurrr...!” Ia terluput dari maut, akan tetapi ia gelagapan dan cepat memegang batu karang, bangun berdiri
lagi. Wanita itu telah berdiri di atas batu seperti tadi, pandang matanya yang dingin bersinar marah, keningnya
yang tipis berkerut.
“Hemmm, agaknya engkau memiliki sedikit kepandaian? Bagus, coba kau hadapi pukulan ini!”
Sebelum Han Han dapat mencegah atau membantah, Nenek itu telah mendorong dengan tangan kanannya ke
depan. Serangkum hawa yang amat dingin menyambar ke arah Han Han. Cepat pemuda itu membuang diri ke
kanan.
“Pyarrrrr!” Batu hitam besar yang berada di sebelah kiri pemuda itu pecah berantakan terkena hawa pukulan
yang amat dahsyat itu.
“Locianpwe, tahan...!” Han Han berseru, akan tetapi pukulan ke dua sudah datang pula, lebih hebat dari tadi.
Han Han kembali mengelak ke kiri.
“Byurrrr!”
Han Han menengok dengan kaget menyaksikan betapa hawa pukulan itu membuat air di belakangnya menjadi
bongkahan-bongkahan salju membeku! Maklumlah ia bahwa nenek itu memiliki Im-kang yang amat dahsyat
dan kini teringatlah ia di mana ia telah ‘bertemu’ dengan nenek itu.
“Locianpwe...!”
Nenek itu sudah memukul lagi, tidak ada kesempatan lagi bagi Han Han untuk mengelak. Terpaksa ia
menggerakkan tangan menangkis dengan cara mendorongkan tangan kanan ke depan sambil mengerahkan
tenaga sinkang. Gerakan ini tentu saja meniru gerakan yang pernah dia pelajari dari kitab-kitab Ma-bin Lo-mo,
yaitu Swat-im Sin-ciang.
“Desssss...! Aihhhhh...!”
Tubuh nerek itu bergoyang-goyang dan ia mengeluarkan seruan kaget, sedangkan tubuh Han Han terbanting
ke belakang, mulutnya mengeluarkan darah segar! Keadaan pemuda ini masih belum pulih, belum sembuh
dunia-kangouw.blogspot.com
benar dari penderitaan luka di kaki yang dibuntungi, apa lagi baru saja dia dipermainkan arus air sehingga dia
amat lelah dan tenaga yang ia keluarkan tadi hanyalah sisa tenaga yang tinggal separuh.
Pertemuan tenaga Im-kang dahsyat itu membuat Han Han terluka di sebelah dalam tubuhnya dan ia terhuyung,
memegang batu dan jatuh di atas batu hitam.
“Keparat! Engkau pandai Swat-im Sin-ciang? Ada hubungan apa engkau dengan Si Setan Muka Kuda
Siangkoan Lee?”
Akan tetapi pertanyaan yang terdengar merdu dan terlalu dingin itu seperti tak terdengar oleh Han Han yang
kepalanya terasa amat pening. “Locianpwe... saya pernah bertemu dengan locianpwe... di Istana Pulau Es...”
Terdengar wanita tua itu mengeluarkan suara melengking dan tahu-tahu tubuhnya telah berada di atas batu
depan Han Han, tongkatnya telah diangkat ke atas, siap ditusukkan ke ubun-ubuh kepala Han Han.
“Apa kau bilang...? Pulau Es...? Orang muda, sekarang ada tiga alasan bagiku untuk membunuhmu. Pertama,
engkau lancang masuk ke sini, ke dua, engkau ada hubungan dengan Siangkoan Lee dan Swat-im Sin-ciang,
ke tiga, engkau tahu akan Pulau Es...!”
Tongkat diangkat ke atas, ujungnya hendak ditusukkan ke kepala Han Han. Pemuda ini melihat datangnya
bahaya maut, akan tetapi kepalanya terlalu pening dan pikirannya tidak karuan. Entah bagaimana, ia merasa
pasti akan mati dan ia terbayang akan beruang es yang mati di Pulau Es, maka bibirnya mengeluh, “Beruang
Es itu telah mati... mati digigit ular merah...” Dan dia pun roboh pingsan, terkulai lemas.
“Beruang... beruang es...? Mati...?” Tongkat yang sudah siap menghabiskan nyawa Han Han itu perlahanlahan
turun. Nenek itu tertegun dan termenung memandang tubuh Han Han yang terkulai, kemudian
tongkatnya bergerak, mencokel tubuh Han Han dan sekali digerakkan tubuh Han Han terlontar ke atas,
disambut dengan lengan kanan, dikempit kemudian nenek itu meloncat-loncat dengan satu kakinya, cepat
bukan main dari batu ke batu, menuju ke pondok kecil.
“Luar biasa...! Kakinya juga buntung sebelah...!” gumamnya ketika tadi melihat betapa kaki pemuda itu juga
buntung sebelah.
Keadaan pemuda itu menarik perhatiannya, begitu tertarik sehingga ia tidak ingin lagi membunuhnya. Pertama,
pemuda yang keadaannya sudah lemah ini ternyata sanggup menangkis pukulan Im-kang-nya. Hal ini saja
sudah mengejutkannya karena tadi ia merasa betapa tangkisan itu amat kuatnya. Si Muka Kuda sendiri belum
tentu dapat bertahan dan menangkis sekuat itu. Kedua, pemuda itu mengatakan pernah bertemu dengannya.
Ke tiga, pemuda itu menyebut-nyebut beruang es yang mati digigit ular merah, hal ini menguatkan bukti bahwa
pemuda ini berar-benar pernah berada di Pulau Es. Dan kini ke empat, kenyataan bahwa pemuda ini seorang
yang berkaki satu menambah keinginan tahunya.
Ketika Han Han membuka matanya, pertama yang terasa olehnya adalah rasa pahit di mulut dan bau harum di
hidung. Ia mengecap mulutnya dan tahulah ia bahwa dia telah dicekoki obat selagi pingsan. Teringatlah ia
akan semua pengalamannya tadi. Cepat ia bangkit duduk di atas pembaringan itu dan melihat nenek tadi
sedang duduk di atas kursi di sudut bilik, memandangnya penuh perhatian.
Melihat nenek itu Han Han maklum bahwa walau pun tadi ia diserang sampai roboh pingsan, namun akhirnya
nenek itu telah menolongnya. Ia lalu meloncat turun dari atas pembaringan, lupa akan kakinya yang buntung
sehingga akibatnya ia roboh terguling.
“Aduhhh...!” Kakinya terasa nyeri sekali, namun ia memaksa diri merangkak dan berlutut dengan sebelah kaki
di depan nenek itu.
“Huh, canggung benar!” Si Nenek mencela. “Sudah berapa lama kakimu buntung?”
“Baru... baru beberapa hari, locianpwe.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Nenek itu mengangguk-angguk. Kiranya pemuda ini malah masih menderita luka pada kakinya yang buntung!
Ia makin heran dan kagum betapa pemuda yang terluka hebat masih memiliki tenaga sedemikian kuatnya.
“Sekarang lekas ceritakan semua, bagaimana engkau tahu tentang beruang es dan kapan pernah bertemu
denganku? Kalau ada yang kau sembunyikan, aku tidak akan mengampuni nyawamu lagi!”
“Locianpwe, saya bernama Sie Han dan bukanlah seorang yang suka membohong atau menipu, apa lagi
lancang memasuki tempat kediaman orang-orang suci. Saya tiba di tempat ini tanpa saya sengaja, juga saya
dahulu tiba di Pulau Es secara kebetulan, terbawa badai dalam perahu rusak. Sampai enam tahun lamanya,
saya bersama Adik angkat saya berdiam di Pulau Es, melatih diri dengar ilmu yang terdapat di kitab-kitab milik
penghuni istana di Pulau Es. Setelah beruang es mati tergigit ular merah beracun dan melihat betapa pulau itu
sesungguhnya tedapat ular merah yang amat berbahaya, akhirnya saya dan Adik saya berhasil melarikan diri
keluar dari pulau itu. Ketika tadi... ataukah kemarin... saya melihat locianpwe di pinggir sungai, segera saya
mengenal locianpwe. Bukankah locianpwe ini adalah orang yang patungnya berada di Pulau Es? Saya ada
melihat tiga buah patung di sana, patung seorang pria tampan gagah yang ada bekas tusukan pada dahinya,
patung seorang wanita cantik yang pandang matanya menyeramkan, dan ke tiga adalah patung wanita cantik
yang... eh, seperti locianpwe...”
“Buntung kakinya?” Nenek itu bertanya dan suaranya agak menggetar.
Han Han mengangguk sambil menatap wajah nenek itu. Setelah kini sikap dingin nenek itu lenyap oleh
perasaan terharu, tampaklah olehnya sifat lemah lembut seperti yang terdapat pada muka patung. Kiranya
wanita yang pada dasarnya berwatak lembut ini sengaja menutup watak aslinya dengan muka dingin, dan hal
ini hanya terjadi pada orang yang mengalami penderitaan batin yang amat hebat.
Tiba-tiba nenek itu mengangkat muka dan ternyata ia telah dapat menguasai getaran perasaannya, matanya
bersinar dingin kembali dan ia berkata, “Benar, akulah patung wanita kaki buntung itu! Dan karena engkau
telah mengetahui rahasia ini, telah pula menemukan tempat persembunyianku, lebih kuat lagi alasanku untuk
membunuhmu! Bersiaplah, engkau untuk mati!” Wanita kaki buntung itu menggerakkan tangan hendak
menyerang.
Han Han maklum bahwa dia bukanlah lawan wanita ini, namun telah menjadi wataknya untuk tidak menyerah
begitu saja kepada siapa pun juga, apa lagi kalau dia hendak dibunuh. Timbul rasa penasaran di hatinya dan
biar pun tubuhnya lemah dan rasa nyeri di kakinya belum lenyap, ia bersikap nekat hendak melawan dan
membela diri. Timbul pula rasa marah. Telah dengan susah payah ia membawa surat-surat peninggalan pria
penghuni Pulau Es, dan sekarang secara kebetulan ia bertemu dengan seorang di antara tiga patung di Istana
Pulau Es, akan tetapi tanpa dosa apa-apa ia akan dibunuh!
“Nanti dulu, Locianpwe!” Ia berseru, suaranya nyaring sekali karena ia mengerahkan khikang sehingga nenek
itu terkejut dan menahan pukulannya. “Saya tidak merasa mempunyai kesalahan apa-apa, mengapa locianpwe
hendak membunuh saya? Bukankah perbuatan itu kejam dan ganas sekali? Kalau locianpwe memaksa diri
ingin membunuh saya, sebagai seorang manusia terpaksa saya akan melawan locianpwe! Tetapi, karena saya
pasti akan tewas di tangan locianpwe biarlah saya menyerahkan surat-surat peninggalan penghuni Pulau Es
kepada locianpwe agar tugas saya ini ada yang melanjutkan. Apa lagi karena locianpwe adalah seorang
anggota keluarga penghuni Pulau Es, tentu lebih tahu kepada siapa surat-surat itu harus diserahkan!” Sambil
berkata dengan nada keras, Han Han mengeluarkan kantung yang berisi surat-surat yang ia temukan dalam
laci meja di kamar pria penghuni Istana Pulau Es, kemudian dilemparkannya kantung itu kepada Si Nenek
yang cepat menyambar dengan tangannya.
“Plakkk...! Aihhhhh...!”
Tubuh nenek itu tiba-tiba lenyap dan Han Han memandang dengan mata terbelalak. Tadi ketika melontarkan
kantung surat-surat itu ia sengaja mengerahkan seluruh tenaga sinkang-nya. Nenek itu menerima lontaran
kantung dengan mudah dan tubuh Si Nenek seperti sehelai daun kering tertiup angin badai, melayang terbang
keluar pintu dan beberapa detik kemudian sudah meluncur lagi memasuki pondok, berdiri di atas kaki
tunggalnya dan memandangnya dengan terbelalak. Mereka sama-sama terheran karena peristiwa ini
menunjukkan bahwa Si Nenek mengagumi kehebatan tenaga sinkang Han Han, sebaliknya selama hidupnya
dunia-kangouw.blogspot.com
baru sekali ini Han Han menyaksikan ginkang yang sedemikian tingginya sehingga gerakan nenek itu seperti
orang menghilang saja!
Akan tetapi betapa herannya hati Han Han ketika melihat nenek itu berdiri dengan muka pucat memandang
surat-surat dalam kantung yang telah dibukanya, bibir nenek itu gemetar, air mata mengalir turun dari kedua
matanya, tangannya dengan jari-jari menggigil mengambil surat satu demi satu, lalu tiba-tiba ia menciumi
surat-surat itu, mendekap di dadanya dan terdengar jeritnya lirih.
“Aduh... Suheng..., Han Ki Koko... (Kanda Han Ki)...!” Nenek itu menekuk lutut kaki tunggalnya dan mendeprok
lalu menangis tersedu-sedu, amat mengenaskan.
Han Han melongo, apa lagi dalam tangisnya, nenek itu berkali-kali menyebut nama Han-koko (Kakak Han),
mengingatkan ia akan suara tangisan dan panggilan adiknya, Lulu!
“Kakanda Han... kalau memang mencinta mengapa tidak dari dahulu berterus terang...? Kalau benar engkau
mencinta aku seorang... ahhh, kalau aku tahu... masa aku akan mengalah begitu saja, membiarkan suci
membuntungi kakiku...? Aduh, Han-koko... Han-suheng... betapa kejamnya engkau...!”
Han Han tetap berdiri seperti patung memandang nenek itu, jantungnya berdebar penuh ketegangan, juga
penuh keharuan. Nenek itu seperti seorang anak kecil, menangis terisak-isak dan bicara sendiri seperti orang
gila. Satu demi satu surat yang ditulis dengan huruf-huruf indah itu dibacanya, dan tiap kali membaca sebuah
surat ia menangis makin sedih. Akhirnya semua surat habis dibaca nenek itu, surat-surat itu berserakan di atas
tanah lantai pondok dan Han Han melihat betapa air mata nenek itu membuat beberapa huruf hitam menjadi
luntur dan kotor.
Nenek itu sendiri masih terisak-isak, seolah-olah dia telah lupa kepada Han Han dan tenggelam dalam
kedukaan yang amat hebat. Wajah yang kurus itu sepucat mayat, kosong tak ada gairah hidup. Sepuluh jari
tangannya mencengkeram dan membuka, seperti orang sekarat, tanda bahwa jantungnya seperti diremasremas
oleh penderitaan batin.
Han Han merasa kasihan sekali. Setelah menanti lebih dari dua jam dan nenek itu masih saja belum dapat
menguasai kesedihannya, ia lalu menjatuhkan diri berlutut lagi sambil berkata.
“Locianpwe, ampunkanlah saya kalau penyerahan surat-surat itu mendukakan hati locianpwe... kalau saya
tahu... ah, lebih baik saya buang saja surat-surat itu. Saya tidak ingin melihat locianpwe berduka seperti ini...”
Nenek itu menoleh dan memandang Han Han seperti orang bingung, seperti heran mengapa ada seorang
pemuda di situ. Akan tetapi ia segera teringat kembali dan kini pandang matanya menyapu surat-surat yang
berserakan di atas lantai. “Mengapa aku tidak berduka? Delapan puluh tahun lamanya aku berada di sini,
menyiksa diri dan hati, menanam kebencian yang menjangkau langit, menyimpan sakit hati sedalam laut dan
kini, surat-surat itu membuka rahasia, menyatakan bahwa semua penderitaanku selama puluhan tahun ini
sesungguhnya sia-sia belaka, hanya muncul sebagai akibat salah paham! Dia mencintaku seorang...! Ha-haheh-
heh-hi-hik! Ingin aku melihat wajah Maya Suci kalau dia membaca surat ini. Sebuah saja! Hi-hi-hik!” Nenek
itu kini tertawa-tawa dan Han Han merasa amat terharu, seperti ditusuk jantungnya karena nenek itu tertawa
seperti setan menangis!
“Ahhhhh! Apa artinya semua ini?” Tiba tiba Si Nenek mencelat dan seketika Han Han bingung karena kembali
nenek itu lenyap dari pandang matanya.
Ketika ia mencari-cari dengan pandang matanya, bayangan putih berkelebat seperti kilat menyambar dan tahutahu
nenek itu sudah berada kembali di tempat itu, tangannya memegang obor dan dibakarnyalah semua
surat-surat yang berserakan di atas lantai. Ia kini tersenyum-senyum, tertawa-tawa melihat api yang membakar
surat-surat itu menyala-nyala di sekelilingnya, kemudian ia melempar obor itu keluar pondok dan berkata.
“Han-koko, biarlah rahasia ini tetap tersimpan dalam hati kita. Biarlah kelak kita bicarakan cinta kasih antara
kita kalau kita saling berjumpa di akhirat!” Dalam ucapan ini terkandung kasih sayang yang amat besar, suara
nenek itu terdengar merdu dan penuh getaran kasih, membuat Han Han menjadi makin terharu hatinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah surat-surat yang terbakar itu habis menjadi abu, nenek itu mengibaskan tangannya dan abu surat itu
melayang keluar pondok, sehingga lantai itu kini bersih, sedikit pun tidak ada bekas-bekas surat yang dibakar.
Nenek itu lalu memandang Han Han yang masih berlutut, suaranya kembali terdengar dingin.
“Siapa tadi namamu?”
Han Han masih merasa tegang dan heran mendengar betapa nenek itu menyebut nama si penulis surat
sebagai ‘Kanda Han’, nama yang sama benar dengan namanya sungguh pun kemudian sebutan-sebutan lain
membuat ia tahu bahwa laki-laki penulis surat itu tentulah suheng dari nenek ini yang bernama Han Ki. Maka ia
lalu menjawab.
“Nama saya Sie Han, locianpwe.”
“Hmmm, benar namamu itu yang tadi mendatangkan rasa benci di hatiku dan membuat aku ingin
membunuhmu. Akan tetapi sekarang tidak lagi, aku tidak membenci nama Han. Tidak! Eh, orang muda,
sungguh keadaanmu mengherankan hatiku. Engkau telah menemukan Pulau Es, mempelajari ilmu di sana
sehingga tenaga sinkang-mu luar biasa sekali. Kemudian engkau membawa surat-surat itu yang memang
ditujukan kepadaku dan... dan kakimu juga buntung. Siapa yang membuntungi kakimu?”
“Yang membuntungi adalah Toat-beng Ciu-sian-li...”
“Wah-wah! Bu Ci Goat perempuan tak tahu malu itu? Hemmm, mengapa?”
Karena maklum bahwa wanita tua yang menjadi seorang di antara penghuni Pulau Es ini adalah seorang yang
amat sakti, maka Han Han tidak berani berbohong!
“Dahulu, di waktu masih kecil, saya pernah menjadi muridnya dan karena saya tidak senang, lalu melarikan diri
darinya. Setelah berjumpa kembali saya lalu dihukum potong kaki.”
“Bu Ci Goat sungguh tak tahu diri! Tidakkah dia tahu bahwa engkau telah menjadi ahli waris Pulau Es?”
Han Han yang tidak mengerti, apa hubungannya nenek ini dengan Toat-beng Ciu-sian-li yang disebut Bu Ci
Goat itu, mengangguk.
“Sudah tahu bahwa engkau telah menjadi murid kami bertiga, tetapi dia masih berani mengganggu? Apakah
engkau kalah olehnya?!” Nenek itu membentak, agaknya marah karena penasaran.
Mendengar itu, giranglah hati Han Han. Kiranya nenek yang aneh ini telah menganggap dirinya sebagai murid!
Jelas bahwa nenek itu tidak mempunyai niat buruk terhadap dirinya, maka ia cepat berkata.
“Teecu (Murid) melawan sekuatnya, akan tetapi selain Toat-beng Ciu-sian-li amat lihai, juga Kang-thouw-kwi
Gak Liat membantunya sehingga teecu tertawan dan kaki teecu dibuntungi oleh Toat-beng Ciu-sian-li.”
“Biar dikeroyok dengan Si Setan Botak sekali pun, sebagai murid Istana Pulau Es, amat memalukan kalau
engkau sampai kalah!” Nenek itu berkata penasaran.
“Maafkan atas kebodohan teecu, locianpwe. Teecu telah beruntung sekali menemukan kitab-kitab rahasia
Pulau Es dan mempelajarinya, akan tetapi karena teecu tidak menerima petunjuk langsung dari locianpwe
bertiga, bagaimana teecu dapat mewarisi ilmu kepandaian tinggi? Mohon petunjuk locianpwe.”
Sejenak nenek itu memandang Han Han, kemudian menghela napas panjang. “Hemmm, setelah menemukan
Pulau Es dan mempelajari kitab-kitab di sana, berarti engkau telah menjadi murid kami bertiga. Kemudian
engkau dengan setia membawa surat-surat peninggalan suheng-ku dan menyampaikannya kepadaku, berarti
engkau adalah orang sendiri yang patut mendengar riwayat kami. Sekarang kakimu buntung, sama dengan
kakiku, padahal selama delapan puluh tahun aku menciptakan ilmu silat yang khusus untuk seorang yang
sebelah kakinya buntung, kalau tidak kuajarkan kepadamu, habis kepada siapa lagi? Akan tetapi sebelum itu
engkau sebagai murid tunggal harus mengenal siapakah sebetulnya guru-gurumu, siapakah penghunipenghuni
Pulau Es yang selama ini menjadi rahasia dan tidak dikenal, sungguh pun setiap orang kang-ouw
dunia-kangouw.blogspot.com
mengharapkan kemurahan penghuni-penghuni Pulau Es untuk mengulurkan tangan memberi satu dua ilmu
pukulan kepada mereka. Dari manakah tokoh-tokoh macam Setan Botak mendapatkan Hwi-yang Sin-ciang, Si
Muka Kuda mendapatkan Swat-im Sin-ciang kalau tidak dari Pulau Es?”
Han Han terkejut. “Teecu mendengar mereka itu menerima petunjuk dari seorang manusia dewa bernama
Koai-lojin...”
“Dialah suhu-mu yang pertama, Sie Han. Koai-lojin adalah suheng-ku, adalah penulis surat-surat yang kau
sampaikan kepadaku.”
“Ahhhhh...!” Han Han makin terkejut dan terheran-heran.
“Dengarlah baik-baik, muridku. Akan kuceritakan secara singkat kepadamu rahasia besar itu. Guru kami,
manusia dewa Bu Kek Siansu pada akhir kali muncul sebagai manusia, menggembleng kami bertiga di Pulau
Es. Hanya tiga orang murid beliau, pertama adalah Kam Han Ki yang menjadi keponakan pendekar sakti
Suling Emas. Ke dua adalah seorang puteri suku bangsa Khitan yang cantik jelita bernama Maya, masih
keturunan dari Ratu Khitan sendiri. Ada pun orang ketiga yang menjadi murid manusia dewa itu adalah aku
sendiri, Khu Siauw Bwee....”
Sampai di sini nenek itu menghela napas dan pandang matanya merenung jauh. Han Han merasa betapa
jantungnya berdebar-debar. Nama-nama yang disebutkan itu membuat ia kaget, heran, kagum dan mengkirik
karena nama-nama itu pernah ia dengar dari murid-murid Ma-bin Lo-mo, dan dianggap sebagai nama tokohtokoh
dalam dongeng!
“Kami bertiga menerima gemblengan Bu Kek Siansu guru kami, tidak hanya dalam ilmu silat, melainkan juga
ilmu sastra dan ilmu batin. Tentu saja aku tidak dapat menandingi kelihaian suci-ku Maya, apa lagi suheng-ku
Kam Han Ki. Akhirnya tiba saatnya guru kami meninggalkan kami dengan pesan agar kami bertiga
meninggalkan Pulau Es dan hidup berpencar, berpisahan karena kalau kami bertiga berkumpul, akan timbul
bencana di antara kami, bencana yang ditimbulkan oleh nafsu!”
“Ahhhhh, teecu ingat akan bunyi syair yang diukir pada dinding istana Pulau Es...!” Tanpa disadarinya Han Han
berseru karena memang ia teringat akan syair itu, ditimbulkan oleh ucapan nenek buntung tentang mala
petaka yang ditimbulkan nafsu.
“Syair apa? Ketika aku pergi, tidak ada terdapat syair di dinding! Bagaimana bunyinya?”
Betapa ingin mata memandang mesra
betapa ingin jari tangan membelai sayang
betapa ingin hati menjeritkan cinta
Namun Siansu berkata:
Bebaskan dirimu dari ikatan nafsu!
Mungkinkah pria dipisahkan dari wanita?
tanpa adanya perpaduan Im dan Yang,
dunia takkan pernah tercipta!
Betapa pun juga,
cinta segi tiga tidak membahagiakan!
menyenangkan yang satu menyusahkan yang lain
akibatnya hanya perpecahan dan permusuhan
ikatan persaudaraan dilupakan
akhirnya yang ada hanyalah duka dan sengsara!
Kesimpulannya, benarlah pesan Siansu
bahwa sengsaralah buah dari nafsu!
Ketika Han Han mengucapkan syair ini dengan suara lantang dan jelas, nenek itu memandangnya dengan
bengong dan menggantungkan pandang mata pada bibir Han Han yang bergerak-gerak. Kemudian, setelah
Han Han menghabiskan syair, keadaan menjadi sunyi dan nenek itu kembali menarik napas panjang.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ahhh, seolah-olah aku mendengar dia sendiri membacakan tulisan syairnya! Dialah yang menulis itu, Sie Han,
dan dapat kubayangkan betapa dia menulisnya dengan hati bercucuran darah. Kasihan Han Ki Suheng!”
“Apakah yang terjadi di antara Subo (Ibu Guru) bertiga?” Han Han yang makin terseret dan tertarik kini merasa
dirinya dekat dengan nenek itu dan otomatis ia tidak lagi menyebut locianpwe melainkan menyebut Subo!
“Apa yang terjadi? Telah tersurat dalam syair Koai-lojin Kam Han Ki tadi! Engkau tidak perlu tahu, muridku,
urusan itu adalah urusan yang menyangkut kepribadian dan akan tetap menjadi rahasia kami.” (Baca : ISTANA
PULAU ES).
“Ahhhh...!” Han Han tak dapat menahan seruan kecewa ini.
Nenek itu tersenyum dan makin jelaslah kini persamaan antara wajah keriputan ini dengan wajah cantik jelita
dari patung di dalam Istana Pulau Es. “Asmara gagal hanya merupakan cerita sedih. Engkau yang masih
bersih dan hatimu belum disentuh tangan asmara yang jahil perlu apa tahu akan hal itu? Pendeknya, terjadi
kekusutan dalam pertalian saudara kami bertiga, atau lebih tepat, antara Maya Suci dan aku. Dari dua orang
kakak beradik seperguruan yang saling mencinta, kami berubah menjadi dua orang musuh, seperti dua ekor
harimau memperebutkan kelinci. Kami bertanding dan aku lengah, sebelah kakiku buntung...”
“Yang mana, subo? Teecu tidak dapat membedakan, yang kanan ataukah yang kiri?”
Kembali nenek itu tersenyum dan kini Han Han merasa yakin bahwa sesungguhnya nenek buntung yang
mengaku bernama Khu Siauw Bwee ini sesungguhnya merupakan seorang yang amat halus budi dan
peramah, hanya menjadi ‘beku’ di luarnya, mungkin karena penderitaan batin yang hebat.
“Yang kiri, Sie Han. Kelak kalau engkau sudah mempelajari ilmu ciptaanku, engkau pun akan dapat mengubah
kaki buntung menjadi kaki tunggal. Setelah kakiku buntung sebelah, Maya Suci menjadi menyesal seperti gila,
lalu membunuh diri.”
“Membunuh diri?” Han Han terbelalak, teringat ia akan patung wanita yang luar biasa cantiknya, yang telah
mendatangkan perasaan aneh di dadanya ketika memandang patung itu, perasaan cinta dan tergila-gila.
“Begitulah agaknya, dia melempar dirinya ke dalam jurang yang amat curam. Dan demikianlah, kami tiga murid
Bu Kek Siansu yang tadinya rukun dan setia penuh kasih sayang, menjadi terpecah-pecah. Maya suci mungkin
mati mungkin tidak, akan tetapi selama delapan puluh tahun aku tidak lagi mendengar tentang dia. Juga aku
tidak pernah mendengar tentang dia... Ahhh, surat-suratnya...” Sepasang mata itu menjadi basah akan tetapi
mulutnya tersenyum bahagia.
Han Han termenung. Teringat ia akan segala penuturan Im-yang Seng-cu tentang nenek-moyangnya. Dia
adalah cucu Jai-hwa-sian Suma Hoat, Si Dewa Pemerkosa Wanita, manusia cabul dan sesat. Dalam darahnya
mengalir darah Suma yang terkutuk dan jahat. Akan tetapi, juga mengalir darah keturunan keluarga Kam,
keluarga pendekar sakti Suling Emas. Dan kini, penghuni Pulau Es yang merupakan manusia setengah dewa,
manusia rahasia yang disebut oleh orang-orang kang-ouw dengan sebutan Koai-lojin (Orang Tua Aneh),
ternyata bernama Kam Han Ki, keponakan Suling Emas, jadi ada hubungan darah dengan dia sendiri!
Dorongan perasaan membuat Han Han menggerak-gerakkan bibir, hendak berterus terang memperkenalkan
diri. Akan tetapi ia teringat bahwa hal itu adalah urusan pribadi dan tidak ada sangkut pautnya dengan nenek
yang menjadi gurunya ini. Pula, dia sudah mengambil keputusan, untuk selanjutnya menggunakan she Sie
tidak mau memakai she Suma yang amat dibencinya itu. Lebih baik dia tidak mengaku kepada siapa pun juga
bahwa dia masih keturunan keluarga Suma yang sama sekali tak bisa dibanggakan.
Nenek itu kini tersenyum lagi. “Orang-orang di dunia kang-ouw tidak ada lagi yang mengenalku dan tentu
menganggap aku telah tewas karena selama delapan puluh tahun aku bersembunyi di sini. Demikian pula
dengan Maya Suci, mungkin dia sudah mati karena tidak pernah muncul di dunia. Hanya Suheng yang
melanjutkan sepak terjang guru kami. Dahulu, guru kami Bu Kek Siansu selalu merantau dan melakukan halhal
yang luar biasa, melindungi yang benar dan menyadarkan yang salah. Dahulu, nama Bu Kek Siansu
kadang-kadang disebut Koai-lojin, dan sekarang pun Suheng disebut orang Koai-lojin sehingga tidak ada yang
tahu siapa sebenarnya Koai-lojin (Orang Tua Aneh). Mungkin juga Suhu, mungkin juga Suheng!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Subo, apakah... apakah Sukong Bu Kek Siansu itu masih hidup? Teecu pernah mendengar dongeng bahwa
beliau telah menjadi seorang kakek tua renta di jamannya pendekar sakti Suling Emas. Kalau begitu,
berapakah usianya?”
Nenek itu menggeleng-geleng kepala. “Tidak ada manusia yang mengetahuinya. Beliau boleh jadi masih hidup,
boleh jadi sudah tiada. Dan tidak ada perlunya bagi kita untuk mengetahui akan hal itu. Yang penting sekarang,
engkau akan kulatih dengan ilmu silat yang kuciptakan selama puluhan tahun di sini, ilmu yang khusus untuk
seorang yang berkaki satu. Mari, kau ikutlah!”
Han Han tidak berani bertanya-tanya lagi dan segera bangkit lalu berloncatan dibantu tongkatnya keluar dari
pondok mengikuti gurunya. Nenek itu memang buntung seperti dia, namun gerakannya cepat dan lincah sekali,
jauh melebihi gerakan orang yang tidak buntung kakinya. Dia berloncatan dengan payah dibantu tongkatnya,
akan tetapi nenek itu berloncatan tanpa dibantu tongkat, dan kakinya seperti ada per-nya, menotol-notol tanah
tanpa mengeluarkan suara dan tubuhnya begitu ringan seperti terbang saja, makin lama makin jauh dan cepat
loncatannya.
Dengan susah payah Han Han mengikuti nenek itu dan baru sekarang ia mendapat kenyataan bahwa daerah
tempat tinggal nenek itu merupakan daerah yang amat aneh, daerah penuh batu-batu licin hitam, akan tetapi
anehnya, di antara batu-batu itu dapat tumbuh pohon-pohon dan yang jarang terdapat di daerah tanah biasa.
Nenek itu berhenti di sebuah telaga yang mempunyai air jernih kebiruan, akan tetapi juga penuh pula dengan
batu-batu yang licin menghitam, permukaannya mengkilap tertimpa cahaya matahari.
Setelah Han Han dapat menyusulnya dan pemuda ini berdiri di dekatnya, nenek buntung itu lalu berkata,
“Berapa lama engkau berada di Pulau Es?”
“Kurang lebih enam tahun, subo.”
“Apa saja yang kau pelajari selama itu?”
“Maaf, subo. Teecu memang bodoh. Kitab-kitab di sana terlalu tinggi bagi teecu, bahkan setiap kali teecu
berusaha melatih diri dengan petunjuk kitab di sana, teecu jatuh sakit dan peredaran darah teecu menjadi
kacau. Yang cocok hanya kitab-kitab peninggalan Ma-bin Lo-mo dan kitab-kitab Siang-mo-kiam.”
“Eh, Siang-mo-kiam? Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa? Kau ketemu dengan mereka dan menerima warisan kitab
mereka pula? Mereka adalah murid-murid pendekar wanita sakti Mutiara Hitam, kau tahu?” Khu Siauw Bwee,
nenek itu, makin heran dan terkejut saja mendengar pengakuan Han Han tadi.
Secara singkat Han Han lalu menuturkan pengalamannya ketika bertemu dengan Sepasang Pedang Iblis yang
saling bunuh dan yang menyerahkan kitab kepadanya, kemudian menceritakan pula betapa selama enam
tahun di Pulau Es, dia hanya mencurahkan tenaga dan perhatiannya untuk melatih sinkang, sedangkan dalam
hal ilmu silat, biar pun ia membaca banyak kitab-kitab di situ, namun karena tidak ada yang membimbing, dia
tidak dapat memetik hasilnya.
Mendengar ini, nenek itu menggeleng-geleng kepala penuh takjub. “Dan tanpa kepandaian silat, hanya
mengandalkan sinkang saja, engkau berani menentang orang-orang macam Kang-thouw-kwi, Ma-bin Lo-mo
dan Toat-beng Ciu-sian-li? Gila benar! Akan tetapi ada untungnya bagimu, Sie Han. Ilmu ciptaanku ini adalah
khusus untuk orang buntung sehingga orang yang berkaki dua tidak akan mungkin dapat mempelajarinya
dengan sempurna. Andai kata sebelum buntung engkau sudah mempelajari banyak ilmu silat, tentu saja ilmu
silat biasa bukan untuk orang buntung, agaknya tidak akan mudah bagimu untuk mempelajari ilmuku ini,
karena engkau akan terpengaruh oleh ilmu-ilmu silat biasa. Aku sendiri, karena sebelum buntung telah menjadi
seorang ahli silat yang sukar dicari bandingnya, baru setelah delapan puluh tahun dapat menciptakan ilmu ini.
Engkau masih kosong dan telah memiliki dasar sinkang yang kuat. Bagus sekali. Engkau akan cocok sekali
dan dapat jauh lebih mudah mempelajarinya dari siapa pun juga. Nah, sekarang aku hendak mencoba dulu
kekuatan sinkang-mu. Engkau telah kuat menangkis pukulanku, akan tetapi aku masih belum yakin akan
ukuran kekuatanmu, apakah perlu ditambah atau tidak. Masukkan tanganmu di dalam air ini dan kerahkan
sinkang-mu melawanku.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Han meniru gurunya yang duduk di atas batu. Gurunya telah memasukkan tangan kirinya ke dalam air
sebatas siku. Ia pun lalu mengulur tangan kanannya, dimasukkan ke dalam air telaga di dekat batu yang
didudukinya itu. Terkejutlah ia ketika merasa betapa air itu amat dinginnya. Tadinya, ia mengira bahwa
memang air telaga itu dingin, akan tetapi ketika merasa betapa air itu makin lama makin dingin, tahulah dia
bahwa rasa dingin itu adalah akibat pengerahan tenaga sakti Im-kang dari gurunya yang lihai.
“Pertahankan dan lawanlah!” Gurunya berkata dan tiba-tiba air itu menjadi begitu dinginnya sampai membeku
dan berubah menjadi es sehingga tangan Han Han tidak dapat dicabut kembali!
Han Han terkejut dan cepat ia mengerahkan tenaga sinkang-nya. Dia maklum bahwa gurunya
mempergunakan Im-kang dan untuk melawannya. Ia lalu mengerahkan sinkang-nya, menggunakan tenaga
Yang-kang. Seperti telah diketahui, dahulu Han Han melatih Yang-kang menurut ilmu Hwi-yang Sin-ciang dari
Si Kepala Botak Gak Liat dengan merendam tangan di air masakan batu bintang yang mendidih, bahkan di
dalam api, kemudian ia memperdalam dan memperkuat sinkang-nya di Pulau Es.
Biar pun bertahun-tahun melatih diri dengan sinkang, kiranya tingkat Han Han tidak akan mungkin dapat
melawan tingkat Khu Siauw Bwee murid ketiga Bu Kek Siansu ini kalau tidak terjadi ketidak-wajaran dalam
tubuh Han Han sebagai akibat malam terkutuk ketika ibu dan enci-nya diperkosa para perwira Mancu itu.
Karena ia dibenturkan ke dinding pada saat ia dalam keadaan marah, mendendam dan batinnya tertekan,
terjadi kekacauan susunan syaraf dalam tubuhnya yang mendatangkan kekuatan-kekuatan mukjizat.
Air yang tadinya membeku dan amat dingin itu kini makin lama makin mencair dan hawa dingin perlahan-lahan
berubah menjadi hangat, bahkan tak lama kemudian, setelah mengerahkan seluruh tenaga sehingga mukanya
berubah merah, air itu mulai mendidih! Hanya air di sekitar kedua tangan mereka saja, yaitu yang dekat batu,
yang terpengaruh sinkang Han Han yang amat hebat.
Khu Siauw Bwee diam-diam menjadi kaget, heran dan kagum sekali. Akan tetapi nenek ini masih belum puas
dan tiba-tiba ia mengubah sinkang-nya, mengerahkan Yang-kang sehingga air itu menjadi makin panas
mendidih yang takkan tertahankan oleh kulit manusia biasa.
“Lawanlah yang ini!” serunya dengan pandang mata berseri saking girangnya.
Ketika merasa betapa air itu menjadi amat panas dan wajah gurunya yang tadi agak pucat kehijauan ketika
mengerahkan Im-kang kini berubah menjadi merah, tahulah Han Han bahwa gurunya sudah mengubah
sinkang-nya, menjadi Yang-kang. Maka dia pun cepat mengubah sinkang-nya, menjadi tenaga dingin yang
amat kuat untuk melawan tenaga panas gurunya.
Pertandingan adu tenaga sakti ini berjalan amat lama, namun akhirnya nenek itu merasa puas dan harus
mengakui bahwa muridnya ini memiliki dasar kekuatan sinkang yang tidak lumrah! Ia menghentikan ujiannya
lalu berkata.
“Sekarang kau lihatlah baik-baik. Inilah ilmu silat yang kuciptakan semenjak kakiku buntung.” Nenek itu tibatiba
mengeluarkan suara melengking dan... lenyaplah dia dari atas batu di depan Han Han! Pemuda ini terkejut
dan cepat memandang ke depan.
“Aihhhhh...!”
Ia melongo dan matanya terbelalak, mulutnya ternganga ketika akhirnya ia dapat menemukan gurunya dengan
pandang matanya. Akan tetapi tetap saja ia tidak dapat melihat dengan jelas dan hanya melihat sinar dan
bayangan berkelebatan dari batu ke batu, cepatnya bukan main, seperti kilat menyambar.
Bayangan gurunya itu seperti sebuah mainan bola yang dilontarkan kian kemari, dari sebuah batu melayang ke
batu lain, akan tetapi tidak ada sedetik lamanya hinggap di sebuah batu karena begitu menotolkan kaki turun
terus mencelat lagi ke jurusan lain, kadang-kadang ke belakang, ke depan, ke kiri dan ada kalanya ke atas.
Kecepatannya melebihi gerakan seekor burung walet! Makin dipandang, makin pening dan berkunang
pandang mata Han Han. Tiba-tiba sinar berkelabatan itu lenyap dan gurunya telah berdiri kembali di
sampingnya, di atas batu sambil tersenyum, sedikit pun tidak kelihatan lelah.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bagaimana kau lihat?”
Han Han menjatuhkan diri berlutut. “Hebat luar biasa... akan tetapi, bagaimana teecu akan dapat mempelajari
ilmu sehebat itu, Subo?”
“Bisa, tentu saja bisa, apa lagi engkau memiliki kemauan keras dan memiliki sinkang yang lebih dari cukup.”
“Teecu amat bodoh, subo. Dua buah kitab dari Suhu dan Subo Siang-mo-kiam yang sudah teecu hafalkan di
luar kepala saja, hanya dapat teecu petik tentang pelajaran sinkang-nya, sedangkan pelajaran ilmu silat
pedangnya teecu sama sekali tidak dapat melatihnya,” kata Han Han menggeleng kepala.
“Karena engkau belum punya dasar, Han-ji (Anak Han). Akan tetapi setelah engkau berlatih dengan ilmuku,
kelak engkau akan dapat mempelajari ilmu silat yang bagaimana pun juga. Dengar baik-baik. Ilmu ciptaanku ini
kuberi nama Soan-hong-lui-kun (Ilmu Silat Badai dan Kilat). Aku menciptakannya menjadi gerakan-gerakan
kilat yang berdasarkan ilmu gaya yang hanya dimiliki dan dirasakan oleh orang buntung berkaki satu seperti
kita. Karena kaki kita buntung dan hanya sebuah, tiap kali kita bergerak lalu menghentikan gerakan, kita tidak
dapat langsung berdiri tegak seperti orang berkaki utuh. Kita akan terdorong oleh gerakan kita sendiri sehingga
terhuyung ke depan, ke belakang atau ke kanan kiri menurut gerak dorongan dari mana kita datang, selalu
bergoyang-goyang untuk mempertahankan keseimbangan tubuh. Sebuah bola pun akan lama sekali baru
dapat diam, dan begitu bergerak, bola itu akan bergoyang-goyang ke kanan kiri sampai dapat keseimbangan
baru diam. Nah, gaya inilah yang kupakai sebagai landasan sehingga terciptalah Ilmu Silat Soan-hong-lui-kun
ini. Ilmu ini hanya dapat dikuasai dan dirasakan oleh manusia kaki satu, sukar diselami dan dipelajari oleh
orang yang kakinya utuh.”
Han Han mengangguk-angguk. Pemuda ini memang pada dasarnya sudah memiliki kecerdikan yang menonjol,
apa lagi perubahan mukjizat dalam dirinya membuat ia memiliki kekuatan otak yang tidak lumrah manusia,
maka sekali mendengarkan ia telah dapat menangkap inti sari yang dimaksudkan oleh penjelasan Khu Siauw
Bwee.
“Karena ada tenaga mendorong oleh gerakan pertama, maka timbullah daya tolak yang dapat kita pergunakan
untuk bergerak lagi, atau menyambung gerakan pertama kita itu. Gerakan berlandaskan daya tolak ini lebih
hebat karena kita dapat meminjam gerak dorongan ditambah ginkang kita sendiri, maka begitu kita
menggunakan daya tolak untuk melakukan gerakan kedua, gerakan kita akan menjadi lebih cepat. Gerakan
ketiga, keempat dan selanjutnya akan makin cepat. Seperti sebuah bola karet yang kita ketukkan ke atas lantai
dengan tangan, makin lama akan melambung makin cepat, demikian pula gerak silat dari Soan-hong-lui-kun ini
memiliki kecepatan yang tak terbatas. Karena itu, hal yang paling sukar dan paling penting dikuasai adalah
penggunaan jurus-jurus yang akan menahan gerakan daya tolak berantai ini. Karena kalau hal ini tidak kau
kuasai benar-benar, engkau akan menjadi permainan dari kekuatan daya tolak berantai itu sehingga engkau
sendiri takkan dapat menghentikan gerakanmu. Akibatnya tentu saja engkau akan mudah celaka di tangan
lawan! Soan-hong-lui-kun ini kubagi menjadi tujuh puluh dua jurus, dan nanti mulai jurus ke tiga puluh tujuh,
separuh dari ilmu silat ini, engkau akan mulai kulatih dengan penguasaan gerakan yang timbul dari daya tolak
berantai ini.”
Demikianlah, mulai saat itu Han Han digembleng oleh nenek buntung yang luar biasa itu, sedikit demi sedikit,
sejurus demi sejurus. Han Han memiliki kemauan yang hebat dan ketekunan yang menakjubkan. Walau pun
nenek itu sendiri amat bersemangat melatih muridnya, ia masih kadang-kadang menggeleng kepala penuh
kagum menyaksikan ketekunan dan keuletan muridnya.
Seperti juga dalam hal kekuatan sinkang, ia harus mengakui bahwa dalam hal kebulatan tekad dan besarnya
kemauan, ia tidak dapat menandingi muridnya ini! Makin sayanglah ia kepada Han Han, apa lagi ketika ia
minta muridnya itu menceritakan riwayatnya, ia merasa betapa riwayat hidup muridnya itu malah lebih
mengenaskan dari pada riwayatnya sendiri. Ia melihat munculnya seorang manusia yang lebih besar dari pada
dia, dan bertekad untuk menurunkan semua kepandaiannya kepada Han Han.
Makin lama Han Han berlatih di bawah gemblengan Khu Siauw Bwee, makin terbukalah matanya bahwa
sebetulnya, sebelum ia berlatih silat di bawah bimbingan gurunya yang baru, ia telah mempunyai banyak ilmu,
hanya ilmu-ilmu itu terpendam dan hanya diketahui teorinya belaka. Kini ia mulai dapat melatih semua ilmu
yang penah ia pelajari, bahkan permainan pedang dari kitab-kitab peninggalan Sepasang Pedang Iblis yang
dunia-kangouw.blogspot.com
bernama Siang-mo Kiam-sut, yaitu penggabungan dari ilmu Pedang Iblis Jantan dan Iblis Betina, kini dapat ia
mainkan dengan tongkatnya!
Setahun lamanya Han Han tekun melatih diri dengan Ilmu Soan-hong-lui-kun. Ketekunannya sungguh tidak
lumrah manusia. Dia tidak peduli akan siang atau malam, pagi mau pun sore, terus berlatih, hanya makan
kalau perutnya sudah tidak dapat menahan lapar, hanya tidur kalau matanya sudah tak mau dibuka, dan hanya
mengaso kalau tubuhnya sudah tidak dapat digerakkannya lagi saking lelahnya. Dengan semangat dan
ketekunan seperti ini, tidaklah mengherankan kalau dalam waktu setahun saja sudah dapat menguasai ilmu
silat itu.
Pada pagi hari itu tubuhnya sudah tampak berkelebatan dari batu ke batu dan dia sudah berlatih Ilmu Silat
Soan-hong-liu-kun. Tubuhnya yang berkelebatan seperti hampir tidak tampak karena terlalu cepat. Baru saja
tampak di atas batu sini, tahu-tahu sudah lenyap dan berada di batu sebelah sana, terus bergerak dan terus
berpindah. Cara ia meloncat seperti terbang saja, makin lama makin cepat.
Biar pun dia sedung berlatih dengan gerakan-gerakan kilat, pandang matanya yang amat tajam dapat melihat
berkelebatnya bayangan yang telah berdiri di atas batu dan memperhatikan gerakan-gerakannya. Han Han
makin bersemangat dan ia mulai bersilat lagi, mengulang dari jurus pertama sampai jurus terakhir, seluruh
tujuh puluh dua jurus ia mainkan sebaik-baiknya.
Diam-diam Khu Siauw Bwee kagum dan terkejut bukan main. Pemuda yang menjadi muridnya itu benar-benar
amat luar biasa! Ilmu yang ia ciptakan selama puluhan tahun, kini dapat dikuasai muridnya dalam waktu
setahun saja!
“Bagus, muridku Han Han! Bagus sekali! Engkau telah berhasil menguasai Soan-hong-lui-kun hanya dalam
waktu setahun! Dengan ilmu ini, kiranya akan jarang dapat ditemukan orang yang akan mampu menandingimu.
Betapa pun juga, di dunia terdapat banyak orang lihai dan sayanglah kalau semua ilmu yang pernah kau
pelajari teorinya tidak kau latih prakteknya. Karena itu, mulai sekarang kau latihiah semua ilmu yang kau
ketahui, ditambah ilmu silat yang pernah kau pelalari, agar kau menguasai semua silat tinggi sehingga kelak
tidak canggung menghadapi lawan berat.”
Han Han berlutut di depan gurunya. “Terima kasih atas semua petunjuk Subo dan teecu akan mentaati semua
perintah Subo.”
Demikianlah, mulai hari itu Han Han melatih ilmu-ilmu silat tinggi yang pernah ia pelajari dari kitab-kitab di
Pulau Es, juga Ilmu Pedang Siang-mo Kiam-sut ia sempurnakan latihannya di bawah petunjuk gurunya.
---dunia-kangouw.blogspot.com ---
Daerah Mancuria bagian timur laut adalah menjadi pusat suku bangsa Khitan yang pada masa itu telah hampir
musnah dan masuk menjadi bangsa Mancu yang makin berkembang dan berkuasa. Banyak di antara keluarga
bekas Kerajaan Khitan menjadi pembesar-pembesar Mancu, dan karena kaum wanita Khitan banyak yang
cantik jelita, maka sebagian besar di antara mereka ini menikah, sebagian besar secara paksa, dengan para
Pangeran Mancu. Betapa pun juga, diam-diam suku bangsa Khitan, terutama sekali kaum bangsawannya yang
masih berdarah keluarga bekas Kerajaan Khitan, masih memiliki keangkuhan dan mengangkat tinggi derajat
mereka sebagai bangsa Khitan!
Di kaki Pegunungan Cang-kwang-cai-san, di mana mengalir air Sungai Sungari yang bersumber dari gunung
itu, terdapatlah sebidang tanah pekuburan yang berisi kuburan keluarga Kerajaan Khitan. Di sini pula dikubur
jenazah tokoh-tokoh besar, bukan hanya besar bagi bangsa Khitan, melainkan juga tokoh-tokoh besar yang
dikenal di dunia kang-ouw.
Di sinilah terdapat kuburan pendekar-pendekar sakti Suling Emas dan isterinya yang bernama Yalina, Ratu
Khitan. Bahkan di situ pula kuburan pendekar wanita sakti Mutiara Hitam, puteri Suling Emas dan Ratu Yalina,
di samping kuburan keluarga kerajaan dan para tokoh terpenting dari Kerajaan Khitan. Akan tetapi, di antara
semua kuburan kuno, yang paling menyeramkan adalah kuburan ayah ibu dan puteri mereka, yaitu kuburan
Suling Emas, Ratu Yalina dan Mutiara Hitam. Hanya kuburan keluarga Suling Emas inilah yang masih
terpelihara baik-baik, sekali pun kini suku bangsa Khitan telah lenyap dan dilebur menjadi bangsa Mancu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sunyi sekali keadaan di tanah kuburan itu. Tanah dan pohon-pohon di sekelilingnya kelihatan gundul dan di
mana-mana mulai tampak air membeku keputihan karena musim salju hampir tiba. Air Sungai Sungari yang
mengalir tepat di depan tanah kuburan kelihatan malas karena hampir membeku oleh hawa dingin. Keadaan
amat sunyi, tidak ada tampak seekor pun burung, seolah-olah alam di sekeliling kuburan ikut mati seperti
mereka yang dikubur di situ. Salju yang mulai terbentuk mengecat seluruh tempat menjadi keputih-putihan,
putih bersih menambah sunyi.
Dilihat sepintas lalu, semua orang tentu akan mengira bahwa tempat sunyi seperti itu tidak ada penghuninya.
Akan tetapi kadang-kadang tampak asap mengepul dari genteng pondok yang cukup kokoh dan megah, yang
berdiri di antara batu-batu nisan di tanah kuburan itu. Dan melihat dupa yang selalu berkelap-kelip di depan
bongpai (batu nisan) keluarga Suling Emas, dapat ditarik kesimpulan bahwa di situ tidaklah tanpa penghuni
seperti orang kira.
Dan sesungguhnyalah, pondok itu dahulu dibuat oleh keluarga Kerajaan Khitan menjadi tempat para penjaga
tanah kuburan. Bahkan tanah kuburan itu sendiri tidak selalu sunyi ketika Kerajaan Khitan masih jaya. Akan
tetapi, semenjak bangsa Khitan terdesak dan dilebur menjadi bangsa Mancu yang makin berkuasa sehingga
Kerajaan Khitan pun lenyap, di tempat ini tidak dilakukan penjagaan lagi seperti dahulu, tidak pula dikunjungi
keluarga raja yang berziarah. Bahkan kuburan itu tentu akan terlantar dan rusak kalau saja tidak muncul
seorang kakek tua bongkok yang menjaga tanah pekuburan keluarga Suling Emas itu.
Semenjak kakek bongkok ini menjaga di sana, kuburan keluarga Suling Emas menjadi terawat baik dan tidak
pernah sedetik pun kakek itu meninggalkan tanah pekuburan yang dijaganya dengan penuh kesetiaan. Kakek
ini menjadi satu-satunya orang yang tinggal di daerah dingin bersalju ini, dan asap yang kadang-kadang
nampak berkepul adalah asap dari dapur di kala ia memasak makanan.
Semenjak kakek bongkok menjaga tanah kuburan itu, tempat itu menjadi tempat angker dan keramat, ditakuti
orang karena kakek bongkok itu ternyata amat galak dan juga amat lihai sehingga siapa pun yang berani
mendatangi tanah kuburan tentu akan dibunuhnya!
Mula-mula, begitu mendengar akan runtuhnya suku bangsa Khitan dan tanah kuburan keluarga Suling Emas
itu tidak terjaga lagi oleh tentara Khitan, banyak orang-orang kang-ouw mencoba datang ke tanah kuburan itu
karena mereka mendengar bahwa pusaka peninggalan keluarga Suling Emas berupa kitab-kitab dan senjatasenjata,
terutama senjata Suling Emas sendiri berupa sebatang suling terbuat dari pada emas dan sebuah
kitab, berada di tempat itu. Mereka ini berusaha untuk mendapatkan pusaka peninggalan. Akan tetapi banyak
sekali tokoh kang-ouw datang ke tempat itu untuk mengantar nyawa. Banyak yang tewas di tangan kakek
bongkok dan banyak pula yang dipukul mundur dan terpaksa melarikan diri membawa luka-luka berat.
Semenjak itu, tidak ada lagi orang yang berani coba-coba mengganggu kuburan keluarga Suling Emas,
bahkan bangsa Mancu dan suku bangsa lainnya tidak ada yang berani mendekati tempat itu. Selama puluhan
tahun ini, hanya ada dua buah tempat yang selalu menarik perhatian orang-orang kang-ouw, yaitu Pulau Es,
dan kuburan keluarga Suling Emas. Akan tetapi kedua-duanya amat sukar didatangi.
Yang pertama, Pulau Es, sungguh pun kabarnya menjadi tempat tinggal Koai-lojin yang tak mau mengganggu
orang, bahkan suka membagi ilmu kepada siapa saja, namun amat sukar dicari karena tersembunyi di antara
pulau-pulau yang banyak terdapat di utara, di samping sukarnya pelayaran di lautan yang kadang-kadang
penuh es dan salju itu. Yang ke dua adalah tanah kuburan ini yang biar pun lebih mudah dicari, namun dijaga
oleh kakek bongkok yang memiliki kesaktian yang sukar dilawan dan galaknya melebihi harimau menjaga
anak-anaknya!
Akan tetapi, pada suatu pagi yang cerah, tampak sebuah joli (tandu) yang dipikul dua orang laki-laki tinggi
besar berlari cepat menempuh hujan salju rintik-rintik menuju ke tanah kuburan di tepi Sungai Sungari. Dari
jauh sudah tampak tanah pekuburan keluarga Suling Emas yang sunyi. Dua orang pemikul tandu itu adalah
orang-orang Mancu yang bertubuh kuat, namun mereka kelihatan lelah dan napas mereka terengah-engah
ketika mereka tiba di tepi sungai, masih agak jauh dari tanah kuburan.
“Berhenti di sini!” Terdengar suara nyaring merdu dari dalam joli.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dua orang pemanggul joli berhenti dan menurunkan joli. Tirai joli tersingkap dan tampaklah wajah seorang
gadis yang amat cantik jelita, berhidung kecil mancung dengan dagu meruncing dan sepasang mata lebar
terbelalak indah dan bening.
Tubuh yang ramping itu keluar dan ternyata dia seorang dara jelita yang masih amat muda, tubuhnya yang
ramping berpakaian indah, pakaian seorang Mancu dengan baju panjang berlengan pendek sehingga
tampaklah lengannya yang berkulit putih halus sebatas siku. Rambutnya yang hitam panjang dan subur
tertutup sebuah topi putih dari bulu beruang, dan di atas topi terhias sehelai bulu burung, tanda bahwa dia
adalah seorang pemimpin pengawal Kerajaan Mancu. Rambutnya diikat dengan pita kuning di belakang
tengkuk, dan sepasang telinganya terhias anting-anting emas, demikian pula kedua pergelangan tangannya.
Ketika turun, dara ini membawa sebatang payung yang gagangnya melengkung dan ujungnya runcing
mengkilap. Dara ini bukan lain adalah Puteri Nirahai, Puteri Mancu yang amat lihai sehingga dia menjadi
pimpinan para pengawal istana! Kalau melihat mata yang lebar indah, bibir yang tipis merah basah, gerakgeriknya
yang lemah gemulai, takkan ada orang mengira bahwa dia seorang yang memiliki ilmu kepandaian
tinggi.
“Kalian berdua pergilah sembunyi di balik batu gunung itu dan jangan sekali-kali berani menampakkan diri
sebelum kupanggil,” kata pula Nirahai dalam bahasa Mancu kepada dua orang itu.
Dua orang tinggi besar itu adalah ahli-ahli petunjuk jalan yang bertubuh kuat dan memiliki kepandaian tinggi,
kakak beradik yang merupakan tokoh-tokoh terkenal pula di daerah utara ini. Akan tetapi ketika menerima
perintah dari ‘Sang Puteri’ untuk mengantarnya ke pekuburan keluarga Suling Emas, mereka ketakutan
setengah mati dan dengan hati berat mereka terpaksa mengantarkan Nirahai. Kini, pada saat rasa takut
mereka membuat wajah mereka pucat dan napas mereka terengah, mendengar perintah Nirahai agar mereka
bersembunyi, hati mereka lega dan girang sekali. Setelah memberi hormat mereka berdua lalu melompat dan
bersembunyi di belakang sebuah batu besar, meninggalkan joli di dekat sungai.
Nirahai bersikap hati-hati dan dia tidak berani lancang menuju ke tanah kuburan. Dengan bersembunyi di balik
sebuah batu yang menonjol di pinggir sungai, ia mengintai ke arah pondok di tengah kuburan. Keadaan amat
sunyi. Tiba-tiba pandang mata Nirahai yang tajam sekali dapat melihat munculnya sebuah perahu kecil yang
melawan arus air sungai. Karena air sungai yang dingin hampir membeku itu arusnya lambat sekali, maka
perahu itu bergerak cepat, didayung oleh dua pasang tangan yang kuat. Mereka itu adalah dua orang kakek
bertubuh tinggi besar berkulit hitam. Nirahai tidak mengenal mereka, akan tetapi ia dapat menduga bahwa
mereka itu tentu bangsa Mongol Utara, melihat dari pakaian mereka yang tebal terbuat dari bulu binatang dan
cara mereka menggelung rambut mereka.
Diam-diam Puteri Mancu ini memperhatikan dan ia melihat betapa dua orang Mongol itu tiba-tiba melompat ke
darat, seorang di antara mereka memegang sehelai tali panjang yang mengikat ujung perahu. Setelah
keduanya mendarat dengan sebuah loncatan cepat dan jauh yang membuktikan bahwa mereka adalah orangorang
pandai, si pemegang tali menggerakkan tenaganya dan perahu itu seperti dilontarkan oleh angin menuju
ke arah mereka. Kakek kedua mengangkat tangan kiri menyambut perahu itu dengan mudah, lalu meletakkan
perahu ke atas tanah. Melihat gerakan mereka, Nirahai maklum bahwa kedua orang kakek Mongol itu memiliki
tenaga yang besar.
“Haiiiii... Setan Bongkok...! Keluarlah! Kami datang menagih hutangmu sepuluh tahun yang lalu!” Seorang di
antara dua orang kakek itu berseru, suaranya nyaring bergema dan ia menggunakan bahasa Mongol yang
dimengerti baik oleh Nirahai.
Suara yang keras itu menggema sampai lama, kemudian terdengar suara orang batuk-batuk dari dalam
pondok di tengah tanah pekuburan, disusul suara orang yang menggunakan bahasa Mongol yang kaku.
“Hemmm, Sepasang Anjing Hitam padang pasir Go-bi! Pergilah sebelum terlambat. Aku tidak suka
mengotorkan tempat suci ini dengan darah kalian. Pergilah!”
Mendengar suara itu, Nirahai merasa tegang hatinya, jantungnya berdebar. Dia belum pernah melihat kakek
bongkok penjaga tanah kuburan keluarga Suling Emas, akan tetapi sudah mendengar tentang kakek itu yang
kabarnya memiliki kesaktian hebat, galak dan mati-matian menjaga dan membela kuburan itu. Kini, baru
dunia-kangouw.blogspot.com
mendengar suaranya saja sudah menyatakan bahwa kakek itu seorang yang keras, juga tinggi hati, namun
amat menghormati kuburan itu.
Nama Sepasang Anjing Hitam dari padang pasir Go-bi juga amat terkenal. Dua orang jagoan Mongol itu
merupakan datuk-datuk di daerah padang pasir Go-bi yang amat disegani sehingga setiap rombongan kafilah
yang melalui daerah ini tentu akan meninggalkan ‘tanda persahabatan’ di depan goa-goa di kaki bukit kecil
yang disebut Bukit Anjing Hitam untuk menghormati dua orang tokoh itu sehingga rombongan mereka takkan
terganggu. Akan tetapi, sekarang kedua orang datuk padang pasir itu tidak dipandang mata sama sekali oleh
penjaga kuburan keluarga Suling Emas, dan mendengar ucapan kakek dari dalam pondok, jelas bahwa dua
orang Mongol tinggi besar itu pernah dikalahkan sepuluh tahun yang lalu.
“Heh, Si Bongkok setan tua bangka yang sombong! Selain sombong, engkau pun pelit sekali. Untuk apakah
sekalian pusaka dan kitab peninggalan Keluarga Suling Emas untukmu? Engkau sudah hampir mampus!
Berikan kepada kami sebuah dua buah pusaka sebagai pengganti nyawamu. Kalau engkau masih pelit, sekali
ini kami tidak akan memberi ampun kepadamu!” Kakek Mongol yang ada tahi lalatnya di ujung hidung dan
bertubuh tinggi besar berkata dengan suara keras. Sedangkan orang kedua yang lebih tinggi memandang
tajam ke arah pondok, siap menghadapi kakek penjaga kuburan.
Setelah ucapan itu keluar dari mulut orang Mongol penuh tantangan, keadaan sunyi sekali dan kemudian
terdengar suara....
“Kerrriiittttt...!” disusul terbukanya pintu pondok.
Suara pintu terbuka ini memecah kesunyian dan terdengar menyeramkan, seolah-olah yang terbuka adalah
sebuah peti mati. Kemudian muncullah seorang kakek bongkok di ambang pintu. Setibanya di depan pintu
pondok, ia berhenti sebentar dan mengangkat mukanya.
Nirahai bergidik ketika melihat betapa sepasang mata tua itu seolah-olah merupakan sinar yang menerangi
tempat-tempat yang dipandang mata itu, bahkan ia merasa seolah-olah tempat persembunyiannya ketahuan
ketika pandang mata kakek bongkok itu menyapu ke arah batu besar di mana ia bersembunyi. Nirahai cepatcepat
menarik diri untuk bersembunyi lebih baik, akan tetapi ia mengintai terus.
Kakek itu sebetulnya bertubuh tinggi, akan tetapi karena di punggungnya terdapat punuk yang membuat dia
tidak dapat berdiri tegak dan membongkok, maka kelihatan pendek. Pakaiannya serba putih dan sederhana,
juga sepatunya berwarna putih. Pakaian itu potongannya seperti pakaian pelayan, akan tetapi putih dan bersih.
Wajahnya tampak kurus, alisnya tebal, kumisnya melintang ke kanan kiri dan jenggotnya menutupi dagu. Baik
rambutnya, mau pun rambut yang tumbuh di pelipis menjuntai ke bawah, sampai kumis dan jenggotnya, sudah
hampir putih semua. Dia berdiri dengan kedua tangan kosong, dan kini perhatiannya ditujukan kepada dua
orang Mongol yang melangkah datang menghampiri kakek bongkok.
Mereka saling berhadapan, sampai lama tidak mengeluarkan kata-kata, hanya saling memandang. Sikap
kakek bongkok itu tenang, akan tetapi pandang matanya jelas membayangkan kemarahan dan juga
memandang rendah. Sedangkan dua orang Mongol itu biar pun memaksa diri bersikap tenang, masih saja
kelihatan bahwa mereka sebetulnya jeri terhadap kakek bongkok itu.
Nirahai diam-diam merasa heran. Kakek bongkok itu sama sekali tidak kelihatan seperti seorang sakti, bahkan
kelihatan lebih pantas menjadi seorang pelayan tua yang sudah patut dipensiun! Dara Mancu ini tidak ingat
bahwa dia sendiri pun tidak pantas menjadi seorang wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, lebih patut
menjadi seorang puteri yang lemah lembut dan menggairahkan!
“Orang tua, benar-benarkah engkau mempertahankan semua pusaka itu? Engkau telah mendengar nama
Siang-hek-sin-kauw (Sepasang Anjing Hitan Sakti) yang menjadi sahabat seluruh orang gagah di utara dan
barat! Kami mengulangi permintaan kami sepuluh tahun yang lalu, hanya ingin meminjam sebuah dua buah
kitab peninggalan Keluarga Suling Emas, meminjam selama beberapa bulan saja, pasti akan kami kembalikan!”
Orang Mongol yang lebih jangkung berkata. Mendengar nadanya, jelas kini bahwa setelah berhadapan, dua
orang Mongol itu bersikap lebih lunak.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Selagi aku hidup, tak seorang pun manusia boleh menjamah pusaka-pusaka keluarga majikanku. Setelah aku
mati pun, rohku akan tetap menjaga di sini. Pergilah!”
Ngeri hati Nirahai mendengar ucapan itu, dan diam-diam gadis ini mencari akal bagaimana ia dapat berhasil
menghadapi kakek bongkok yang galak itu. Ia mengintai terus dan ingin lebih dulu menyaksikan kelihaian
kakek bongkok seperti yang sudah ia dengar akan tetapi belum pernah ia saksikan.
“Setan Bongkok keparat! Kalau begitu terpaksa kami menggunakan kekerasan!” bentak orang Mongol bertahi
lalat di hidung. Bersama adiknya, dia lalu siap untuk menyerang.
Tubuh yang bongkok itu makin bongkok, mukanya tunduk, matanya terbuka dan melirik ke atas sehingga
dipandang dari depan, sikap kakek itu seperti seekor lembu marah memasang tanduk siap menghadapi lawan
yang bagaimana pun juga.
“Kalian yang akan mati. Sekali ini aku tidak akan membiarkan kalian hidup!” jawab kakek itu.
“Setan Bongkok, sambutlah!” Tiba-tiba orang Mongol yang bertahi lalat di hidungnya berseru.
Tubuhnya merendah sampai hampir berjongkok, dan kedua lengannya didorongkan ke depan ke arah kakek
bongkok. Terdengar bunyi tulang berkerotokan dan angin yang kuat menyambar ke arah kakek bongkok.
Nirahai terkejut sekali. Ia dapat menduga bahwa pukulan atau dorongan kedua lengan orang Mongol itu amat
lihai, merupakan pukulan tenaga sinkang yang kuat sekali. Belum pernah ia melihat atau mendengar pukulan
jarak jauh dengan tenaga sakti sampai mengeluarkan bunyi berkerotokan seperti itu!
Kakek bongkok kelihatan tercengang juga, akan tetapi dengan tenang sekali tubuhnya sudah bergerak ke kiri,
tahu-tahu tubuhnya sudah miring mengelak dan lengannya bergerak menangkis, yaitu dengan sambaran angin
pukulan menangkis serangan lawan.
“Hemmm... bukankah ini Thai-lek-kang...?” Terdengar kakek bongkok berseru heran.
“Setan Bongkok mampuslah!” bentak lawan ke dua yang bertubuh tinggi.
Tubuh orang Mongol kedua ini sudah bergerak ke depan dengan cepat sekali dan tahu-tahu tubuh itu
berpusing, makin lama makin cepat, sambil berpusingan cepat sekali tubuh itu menerjang ke arah kakek
bongkok. Tubuh orang Mongol itu lenyap, yang tampak hanya bayangan yang berpusing dan kadang-kadang
tampak kaki tangannya bergerak keluar dari bayangan yang berputar cepat seperti kitiran angin itu!
“Ayaaaaa, bukankah ini pun ilmu dari Thai-lek Kauw-ong yang disebut Soan-hong-sin-ciang (Tangan Sakti
Angin Badai)?” Kakek bongkok itu berseru kaget dan kembali tubuhnya bergerak, dan kini Nirahai merasa
kagum karena kakek bongkok itu ternyata dapat bergerak amat lincahnya.
“Ha-ha-ha, Setan Bongkok. Apa kau kira kami selama sepuluh tahun ini tinggal diam saja? Ha-ha-ha!” Orang
Mongol bertahi lalat di hidung menerjang lagi dengan pukulan sakti Thai-lek-kang sambil berjongkok,
sedangkan adiknya tetap menyerang dengan ilmu silat yang aneh itu, yaitu sambil memutar-mutar tubuh amat
cepatnya.
Sejenak kakek bongkok itu terdesak dan menghindar ke sana ke mari sambil mengomel, “Hemmm, Thai-lek
Kauw-ong sudah lama mampus, kini ilmu-ilmunya yang jahat muncul lagi! Kim-siauw Locianpwe (Orang Sakti
Suling Emas), maaf, terpaksa boanpwe (aku yang rendah) mengotorkan pusaka locianpwe!”
Dua orang Mongol itu sudah merasa girang karena serangan-serangan mereka yang benar-benar amat luar
biasa dan dahsyat itu berhasil mendesak kakek bongkok. Mereka ingin membunuh penjaga kuburan ini agar
mereka dapat menggeledah dan mencari pusaka-pusaka peninggalan keluarga Suling Emas di tempat itu.
Dengan penuh kepercayaan akan kelihaian ilmu-ilmu mereka yang baru, yaitu ilmu pukulan Thai-lek-kang
(Tenaga Sakti Halilintar) dan ilmu Silat Soan-hong-sin-ciang, mereka mendesak lebih keras lagi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kedua macam ilmu ini sebetulnya memang sudah lama lenyap dari dunia persilatan. Dahulu ilmu-ilmu ini
dimiliki oleh Thai-lek Kauw-ong yang pernah bertanding melawan Suling Emas dan dikalahkan (baca cerita
Mutiara Hitam), dan semenjak Thai-lek Kauw-ong lenyap dari dunia persilatan, ilmu-ilmunya pun turut lenyap.
Akan tetapi ternyata kini ilmu-ilmu yang lihai itu telah terjatuh ke tangan Sepasang Anjing Hitam gurun pasir
Go-bi dan begitu melihat ilmu-ilmu ini terus mengenalnya membuktikan pengetahuan yang luas kakek bongkok
yang lihai itu.
Kedua orang Mongol yang merasa girang karena yakin akan menang itu tiba-tiba mengeluarkan suara kaget
disusul jerit melengking yang keluar dari mulut mereka ketika berkelebat sinar kuning menyilaukan mata.
Tubuh mereka roboh terpelanting dan ternyata kedua orang Mongol itu telah tewas! Nirahai terbelalak
memandang, penuh kagum. Tangan kiri kakek bongkok itu memegang sebatang suling emas, sedangkan
tangan kanannya memegang sebuah kipas. Itulah sepasang senjata dari pendekar sakti Suling Emas seperti ia
dengar dari dongeng-dongeng lama!
Kakek bongkok sejenak berdiri memandang dua sosok mayat bekas lawannya, lalu mencium kipas dan suling
bergantian sambil berkata, “Kim-siauw Locianpwe, sampai sekarang pun senjata-senjata pusaka locianpwe
masih terlalu ampuh bagi orang-orang jahat!”
Setelah berkata demikian kakek bongkok itu menggerakkan kedua tangan dan lenyaplah suling dan kipas itu di
balik baju pelayannya. Kemudian ia mengempit mayat dua orang Mongol itu, membawanya ke dekat perahu
mereka tadi. Tali tambang perahu ia gunakan untuk mengikat dua sosok mayat bersama perahunya erat-erat,
kemudian sekali angkat dan melontarkan, perahu dengan dua sosok mayat itu terlempar jauh ke tengah sungai
dan perlahan-lahan perahu itu terbawa arus sungai yang lamban. Kakek bongkok memandang sejenak,
kemudian ia kembali ke depan pondok tempat pertempuran tadi, menggunakan sepatunya menggosok-gosok
sampai bersih tetesan darah yang mengotori tempat itu.
Melihat kakek itu menggosok-gosok dan membersihkan tanah yang terkena darah dengan teliti dan hati-hati
sekali, Nirahai memperhatikan dan menjenguk dari balik batu. Kakek itu berdiri membelakanginya, maka ia
berani menjenguk ke luar. Ia tidak tahu betapa kakek bongkok itu sejak tadi sudah menduga akan
kehadirannya dan betapa kakek itu kini sambil membelakanginya dan menghapus darah dengan sepatu,
sebenarnya memperhatikan belakang penuh selidik.
Tiba-tiba tubuh kakek bongkok yang membelakanginya itu bergerak melayang ke belakang seperti seekor
burung garuda menyambar kelinci, kakinya menendang dan kedua tangannya mencengkeram. Akan tetapi
ketika ia melihat bahwa yang mengintai itu seorang dara, ia berteriak kaget dan tubuhnya membalik cepat,
membuat gerakan poksai (salto) beberapa kali dan meloncat turun ke atas tanah, memandang dengan mata
terbelalak kepada Nirahai yang berdiri tenang sambil tersenyum. Mata kakek itu menjelajahi muka dan pakaian
Nirahai, kemudian mengerling ke arah joli kosong yang indah akan tetapi tanpa pemanggul itu.
“Nona, mau apakah Nona datang ke tempat terlarang ini?” Kakek itu marah sekali melihat ada orang berani
mendatangi tempat yang baginya suci itu, akan tetapi karena pelanggarnya seorang dara muda, ia menjadi
tidak enak untuk bersikap kasar. Hanya pandang matanya yang bengis.
Nirahai tersenyum manis. “Orang tua, bukankah engkau penjaga kuburan keluarga pendekar besar Suling
Emas? Aku datang untuk berziarah, untuk bersembahyang di depan kuburan para pendekar.”
“Hemmm, sudah bertahun-tahun tempat suci ini menjadi tempat terlarang, mana mungkin tempat suci ini
dikotorkan sembarang orang yang hendak berziarah? Engkau ini gadis muda berani lancang mendatangi
tempat terlarang di sini, siapakah engkau?”
Nirahai masih tersenyum, sikapnya sabar akan tetapi sebetulnya matanya ingin sekali dapat menembus baju
kakek itu untuk melihat suling emas yang tadi ia lihat sekelebatan ketika kakek ini mempergunakannya untuk
merobohkan dua orang Mongol. Suling itulah yang ingin ia dapatkan. Jauh-jauh ia datang dengan susah payah
hanya untuk mendapatkan suling itu. Senjata pusaka dari pendekar sakti Suling Emas! Dengan pusaka itu,
agaknya akan mudah baginya menundukkan tokoh-tokoh kang-ouw yang masih belum mau tunduk, bahkan
yang kini berpusat di barat, di Secuan, membantu Bu Sam Kwi!
“Kakek yang baik, aku adalah Puteri Nirahai.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Puteri? Puteri Mancu? Masih ada hubungan apa dengan mendiang Pangeran Dorgan?” Kakek ini bertanya,
alisnya yang banyak putihnya itu berkerut, matanya memandang tajam.
“Mendiang Pangeran Dorgan adalah masih Kakekku, Paman Kakekku. Aku adalah puteri Kaisar yang
sekarang.”
Makin tidak enak hati kakek itu dan terpaksa ia lalu membungkuk dengan sikap hormat. “Ah, kiranya Paduka
ini puteri Kaisar Kang Hsi? Maaf, saya tidak dapat menyambut Paduka sepantasnya karena tempat ini adalah
kuburan, tempat suci. Akan tetapi, sungguh saya merasa heran, mengapa Paduka hendak berziarah di tanah
kuburan ini? Yang terkubur di sini adalah keluarga Kerajaan Khitan, keluarga pendekar sakti Suling Emas...”
“Engkau benar, orang tua. Ayahku, Kaisar Kang Hsi dari Kerajaan Mancu, memang tidak mempunyai
hubungan dengan tanah pekuburan ini. Akan tetapi ketahuilah, Ibuku adalah seorang puteri Khitan! Ibuku
termasuk seorang di antara puteri-puteri Khitan yang dipersembahkan kepada Kaisar Mancu sehingga biar pun
aku puteri Kaisar Mancu, namun aku pun mempunyai darah keturunan Khitan! Karena itu sudah sepatutnya
kalau aku berziarah dan bersembahyang di depan kuburan suci ini, Kakek yang baik.”
Kakek bongkok itu mengerutkan alisnya makin dalam dan ia menggeleng-geleng kepala. “Kalau Paduka benar
puteri Kaisar Mancu, mengapa Paduka datang sendiri tanpa pengiring? Bagaimana saya dapat membuktikan
bahwa Paduka ini puteri Kaisar Mancu dan keturunan keluarga Kerajaan Khitan?”
Nirahai tersenyum. “Orang tua, andai kata engkau menjadi seorang keluarga raja, apakah engkau juga akan
suka setiap keluar dari pintu dikawal banyak orang sehingga gerakanmu tidak bebas, selalu diawasi?”
Kakek bongkok itu memandang sejenak, tidak menjawab karena ia agaknya bingung dan tidak mengerti apa
yang dimaksudkan gadis itu.
“Orang-orang seperti kita yang sudah biasa bergerak bebas lepas seperti burung di udara dan seperti ikan di
samudera, mana bisa merasa senang kalau selalu dikawal orang? Itulah sebabnya aku tidak pernah membawa
pengawal biar pun aku puteri kaisar. Memang aku tidak bisa membuktikan bahwa aku puteri kaisar, akan tetapi
orang tua yang baik, aku sungguh seorang yang berdarah Khitan, dan lebih dari pada itu, akulah yang
mewarisi ilmu kepandaian pendekar wanita sakti Mutiara Hitam yang kuburannya berada di sini pula.”
Kakek itu mengerutkan keningnya dan memandang tajam. “Harap Paduka tidak main-main. Kalau yang datang
ke sini adalah Sepasang Pedang Iblis, saya tentu tidak akan ragu-ragu menerima sepasang manusia sinting itu
sebagai pewaris ilmu mendiang Mutiara Hitam. Sudahlah, Nona. Lebih baik lekas Nona panggil dua orang
pemanggul joli Nona dan cepat pergi dari tempat ini. Tempat ini bukanlah tempat pesiar bagi seorang puteri
seperti Nona. Kalau orang lain yang berani datang, tentu sudah saya bunuh.”
“Hemmm, seperti yang kau lakukan kepada Sepasang Anjing Hitam dari Go-bi, dua orang Mongol tadi?”
Nirahai mengejek.
“Ahhh, Paduka melihatnya?”
“Tentu saja. Sudah kukatakan bahwa aku pun seorang tokoh kang-ouw, bukan seorang puteri lemah yang
doyan pelesir dan pesiar. Aku mewarisi ilmu-ilmu Mutiara Hitam, dan kedatanganku ke sini untuk
merundingkan sesuatu denganmu.”
“Bagaimana saya dapat yakin bahwa Paduka benar-benar pewaris ilmu mendiang pendekar wanita perkasa
Mutiara Hitam yang mulia?” Kakek itu berkeras tidak mau percaya.
“Crekkk!” Tangan Nirahai bergerak cepat dan tahu-tahu ia telah menyambar sebatang payung berujung
runcing yang tadi ia taruh di dalam joli, kakinya memasang kuda-kuda dan ia berkata sambil tersenyum.
“Bukalah matamu lebar-lebar, orang tua yang keras kepala! Kenalkah engkau dengan senjata ini?”
“Sebuah Tiat-mo-kiam...” kata kakek itu. “Bukan merupakan bukti...”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Memang bukan, akan tetapi lihat gerakan pedang payung ini!” Nirahai menggerakkan tubuh dan payungnya,
bersilat dengan gerakan lincah dan dari ujung payungnya keluar angin yang berbunyi bercuitan ketika
menyambar ke depan, terus mengitari sebatang pohon yang sudah kehabisan daun karena dirontokkan hawa
dingin dan tinggal cabang-cabang dan rantingnya saja. Sinar terang ujung payung yang menyambar-nyambar
mengitari pohon tiga kali dan terdengar suara keras ketika cabang dan ranting pohon itu tumbang semua
sehingga pohon itu kini kelihatan seperti raksasa dibuntungi tangannya.
“Pat-mo Kiam-hoat...!” Kembali kakek itu berkata.
“Dan engkau mengenal ini?” Nirahai melakukan gerakan dengan tangan kirinya. Lengan kirinya bergerak
seperti menari, atau lebih tepat lengan yang kecil penuh berkulit halus itu melenggang-lenggok seperti ular,
kemudian dengan telapak tangan terbuka tiba-tiba ia memukul atau mendorong arah pohon yang sudah
buntung cabang-cabangnya itu.
“Kraaaaakkkkk... bruuuuukkk...!” Pohon itu tumbang terjebol dengan akar-akarnya!
“Sin-coa-kun...!” Si Kakek Bongkok memandang terbelalak.
Nirahai tertawa. “Kakek tua yang keras kepala, engkau tentu tidak akan merasa yakin benar kalau tidak
mengujinya sendiri. Hayo, keluarkan suling emas dan kipas peninggalan pendekar sakti Suling Emas yang kau
pergunakan untuk membunuh Sepasang Anjing Hitam tadi, dan hadapi payungku!”
Setelah berkata demikian, Nirahai sudah menerjang maju dengan payungnya yang berujung runcing. Ujung
payung yang seruncing ujung pedang itu tahu-tahu sudah berubah menjadi sinar menyilaukan yang menusuk
ke arah leher kakek bongkok.
“Hemmm...!” Kakek itu mengeluarkan suara, dan dengan mudahnya miringkan tubuh ke kiri mengelak.
Akan tetapi betapa kagetnya ketika tiba-tiba payung itu terbuka dan jari-jari payung yang terbuat dari pada baja
itu menyerangnya didahului sambaran angin yang meniup ketika payung terbuka tiba-tiba. Inilah serangan
yang hebat! Kakek itu biar pun sudah tua dan bongkok, ternyata masih mampu bergerak cepat dan ia sudah
menggulingkan tubuh ke atas tanah sehingga terbebas dari sambaran jari-jari payung.
“Lihat senjata rahasia...!” Nirahai berseru, tangan kirinya bergerak.
“Wir-wir-wir... ciat-ciat-ciat...!”
Kakek itu terpaksa bergulingan ke kanan kiri untuk mengelak sambaran sinar hijau dari jarum-jarum yang
menyambar susul-menyusul itu. Ketika melihat sinar hijau dan mencium bau harum, ia meloncat bangun
sambil berseru.
“Siang-tok-ciam...!”
Nirahai tersenyum ketika melihat kakek itu sudah meloncat sambil mencabut sepasang senjata pusaka
peninggalan Suling Emas itu, yaitu sebuah kipas dipegang di tangan kanan sedangkan sebatang suling emas
dipegang di tangan kiri. Gadis ini sambil tersenyum memasang kuda-kuda dengan kedua kaki terpentang,
lututnya ditekuk sedikit, tubuhnya miring menghadapi kakek itu, mengerling ke kanan, mulut tersenyum, tangan
kanannya yang memegang gagang payung bengkok itu menodongkan payung ke depan dada, sedangkan
tangan kiri dengan jari-jari terbuka miring berada di depan muka, ibu jarinya hampir menyentuh hidung.
Dilihat begitu saja, kuda-kuda dara ini seperti orang yang sedang mengejek dan mempermainkan lawan, akan
tetapi kakek bongkok itu mengenal kuda-kuda dari Pat-mo Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Iblis) dan diamdiam
ia mengkirik. Ilmu Pedang Delapan Iblis ini adalah ilmu pedang yang amat hebat dan ganas, dan dahulu
menjadi ilmu dari seorang tokoh sakti wanita yang menggemparkan dunia persilatan yang hanya didengar oleh
kakek bongkok itu dari dongeng, yaitu wanita sakti yang berjuluk Tok-siauw-kwi. Setan Cilik Beracun (Toksiauw-
kwi) ini bukan lain adalah ibu kandung Suling Emas (baca cerita Suling Emas) yang amat lihai ilmunya
dan amat ganas sepak terjangnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dan kini ternyata ilmu yang hebat ini telah terjatuh ke tangan gadis puteri Kaisar Mancu yang mengaku masih
berdarah Khitan ini! Memang hatinya sudah mulai percaya, keraguannya menipis, apa lagi ketika ia tadi
menyaksikan ilmu pukulan tangan kosong Sin-coa-kun-hoat (Ilmu Silat Ular Sakti) dan senjata rahasia Siangtok-
ciam (Jarum Beracun Wangi). Betapa pun juga, kalau belum mengujinya, kakek ini masih belum yakin.
“Marilah, Kakek yang keras kepala! Engkau hendak menguji apakah benar-benar ilmu yang kau lihat tadi berisi,
dan aku pun ingin melihat apakah sepasang senjata yang kau keluarkan itu benar-benar asli!” Setelah berkata
demikian, Nirahai sudah menerjang maju dengan payungnya. Gerakannya cepat dan mengandung tenaga
sinkang yang kuat sekali.
“Wuuuttttt, singgggg...!” Pedang yang berbentuk payung itu menusuk.
“Cringgggg...!” Suling di tangan kiri kakek itu menangkis ujung pedang payung dan tampak bunga api berpijar.
Keduanya tergetar ke belakang. Nirahai memeriksa ujung payungnya dan terkejut melihat ujung payung yang
terbuat dari baja pilihan itu agak lecet! Diam-diam ia memuji suling emas itu yang ternyata benar-benar sebuah
senjata pusaka yang amat ampuh, sesuai dengan nama pemiliknya dahulu, yaitu Pendekar Suling Emas.
Sudah menjadi watak kebanyakan ahli silat kalau bertemu lawan tangguh timbul kegembiraannya. Demikian
pula dengan Nirahai. Sudah lama dia tidak bertemu lawan yang tangguh dan kini bertemu kakek penjaga
kuburan keluarga Suling Emas yang lihai, ia menjadi gembira, dan cepat ia melanjutkan serangannya dengan
tusukan bertubi-tubi, mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaiannya.
Kakek bongkok ini dahulunya adalah bekas kacung dari keluarga putera Suling Emas yang bernama Kam
Liong, kakak tiri Mutiara Hitam. Kam Liong inilah yang mewarisi senjata kipas dan suling ayahnya. Kacung
keluarga Kam Liong ini mengabdi sampai tua dan setelah kuburan keluarga Suling Emas tidak dijaga lagi oleh
pengawal-pengawal Kerajaan Khitan yang sudah runtuh, dia lalu turun gunung di mana ia bertapa melewatkan
hari tuanya, dan menjaga tanah kuburan itu dengan penuh kesetiaan.
Nama bekas kacungnya yang kini menjadi kakek bongkok itu adalah Gu Toan. Dia seorang buta huruf akan
tetapi berkat kesetiaannya mengabdi keluarga Suling Emas, keluarga itu menyayanginya dan melatihnya
dengan ilmu-ilmu silat keluarga pendekar besar itu. Gu Toan amat rajin dan tekun. Sungguh pun ia buta huruf
dan terhitung golongan orang yang kurang cerdas otaknya, namun ketekunannya membuat ia dapat
menguasai semua ilmu silat keluarga itu. Akan tetapi tentu saja latihannya tidak sempurna benar.
Betapa pun juga, kalau menghadapi lawan dari luar, kakek ini sukar dicari tandingnya. Kini bertemu dengan
Nirahai yang mewarisi ilmu keluarga Suling Emas dan telah melatihnya dengan sempurna, tentu saja kakek itu
terdesak hebat. Ia mengenal Pat-mo Kiam-hoat yang dimainkan dengan pedang payung, mengenal pula
pukulan Sin-coa-kun yang dilakukan sebagai selingan alam penyerangan Nirahai, akan tetapi karena dia tidak
pernah melatih ilmu-ilmu itu secara mendalam, menghadapi terjangan Nirahai itu ia menjadi repot sekali.
“Nona, hentikanlah...!” Tiba-tiba kakek itu mencelat ke belakang dan memandang kagum. “Paduka benarbenar
puteri Kaisar yang amat lihai, dan saya mengakui bahwa Paduka telah mewarisi ilmu dari Keluarga
Suling Emas. Paduka berhak untuk berziarah dan bersembahyang di kuburan ini. Silakan!”
Nirahai memanggul senjatanya yang kini hanyalah sebuah payung biasa, sama sekali tidak tampak seperti
sebuah senjata yang ampuh. Dia memandang kakek bongkok itu. Mulutnya yang selalu tersenyum itu kini
kelihatan ditarik keras sehingga wajahnya yang manis nampak sungguh-sungguh.
“Sebetulnya, siapakah engkau ini, Kakek yang lihai?”
“Nama saya Gu Toan dan dahulu saya adalah kacung dari putera Suling Emas. Hanya itu yang dapat saya
ceritakan. Silakan kalau hendak bersembahyang, Nona.”
“Begini, Kakek Gu. Selain hendak berziarah dan memberi hormat kepada kuburan keluarga besar ini, aku pun
hendak mengajukan sebuah permintaan kepadamu.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kakek itu masih berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar dan tubuh membungkuk, kedua tangan tergantung
di kanan kiri pinggang setelah menyimpan kembali sepasang senjatanya. Kini ia mengangkat muka
memandang wajah cantik itu penuh selidik dan bertanya.
“Permintaan apakah itu, Nona? Apakah yang dapat saya lakukan untuk Paduka?”
“Engkau tentu telah tahu bahwa Kerajaan Mancu berhasil menguasai semua daratan di selatan. Akan tetapi,
masih ada daerah di barat yang belum mau tunduk, yaitu daerah Se-cuan yang dikuasai oleh Bu Sam Kwi.
Kedudukan musuh ini amat kuat dan hal ini terutama sekali ditimbulkan oleh bantuan orang-orang kang-ouw
yang berilmu tinggi. Kami mengalami kemacetan dan kesulitan untuk menaklukkan daerah itu, yang
merupakan daerah terakhir. Kalau Se-cuan sudah takluk, berarti seluruh daratan Tiongkok berada di
kekuasaan Kerajaan Ceng kita...”
“Bukan kerajaan kita, Nona. Ingat, saya adalah seorang bangsa Han...”
Nirahai mengerutkan keningnya. “Hemmm..., apakah engkau anti Mancu dan memihak kepada Bu Sam Kwi?”
Kakek itu menarik napas panjang dan menggeleng kepala. “Saya tidak mengenal Bu Sam Kwi, dan saya tidak
peduli akan urusan negara, saya hanya bertugas menjaga kuburan suci ini. Dahulu, mendiang pendekar sakti
Suling Emas menghilangan semua bentuk permusuhan antar suku bangsa, bahkan Kerajaan Khitan berdarah
Han pula. Akan tetapi sekarang... ah, saya tidak tahu tentang urusan kerajaan. Teruskan, apakah yang Paduka
kehendaki?”
“Kami ingin menaklukkan Se-cuan tanpa menimbulkan banyak korban di pihak orang-orang gagah di dunia
kang-ouw. Kaisar kami membutuhkan tenaga orang-orang pandai itu, maka kami ingin menaklukkan mereka
tanpa membunuh, bahkan kalau bisa hendak menarik mereka untuk bekerja sama demi negara dan bangsa
seluruhnya. Karena itu, kedatanganku ke sini untuk minta pinjam senjata pusaka dari mendiang Suling Emas.
Dengan suling sakti milik Suling Emas, kiranya aku akan dapat mempengaruhi para orang gagah itu untuk
menakluk dengan damai. Berikanlah suling emas itu padaku, Kakek Gu, untuk kupinjam beberapa lamanya.
Kalau sudah selesai tugasku dengan hasil baik, aku bersumpah untuk mengembalikannya kepadamu.”
“Tidak mungkin!” Kakek itu berseru. “Pusaka-pusaka itu adalah benda keramat, yang tidak boleh dibawa pergi
oleh siapa pun juga dari sini. Nona sudah menyaksikan sendiri, terpaksa saya membunuh Sepasang Anjing
Hitam tadi yang hendak merampas pusaka. Dan entah sudah berapa banyak orang-orang yang tewas di
tangan saya karena menghendaki pusaka-pusaka itu. Harap Nona membuang jauh keinginan itu dan
meninggalkan tempat ini dengan selamat.”
“Kakek yang keras kepala! Apakah kau ingin aku menggunakan kekerasan? Engkau tahu sendiri betapa
lihainya Pat-mo Kiam-hoat-ku yang tidak akan dapat kau lawan!” Nirahai sudah menggerakkan payungnya.
“Srettt!” Payung yang tadi dipanggulnya itu kini telah menodong dari depan dadanya ke arah kakek itu.
“Wuuuttttt... singgggg!” Kipas dan suling emas sudah tercabut keluar oleh kakek itu sambil berkata, “Nona,
memang Pat-mo Kiam-hoat amat hebat. Di dunia ini terdapat dua ilmu mukjizat yang dimiliki mendiang
pendekar sakti Suling Emas, yaitu Lo-hai San-hoat (Ilmu Silat Kipas Pengacau Lautan) dan Pat-sian Kiam-hoat
(Ilmu Pedang Delapan Dewa). Pat-mo Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Iblis) dulu diciptakan untuk mengatasi
Pat-sian Kiam-hoat, akan tetapi betapa pun juga, ilmu yang bersih tak mungkin dapat dikalahkan ilmu yang
sesat. Dewa yang suci takkan dapat dikalahkan Iblis yang jahat. Saya tidak akan dapat menyerahkan suling ini
selama nyawaku masih berada di tubuh ini.”
“Bagus! Engkau memang keras kepala!” Nirahai berseru marah dan payungnya sudah menerjang hebat.
Akan tetapi kini kakek itu mainkan Pat-sian Kiam-hoat dengan suling emasnya, dan kipasnya mainkan ilmu
Silat Lo-hai San-hoat yang dahsyat. Angin keras bertiup dari kebutan kipas, menyambar-nyambar muka
Nirahai dan setiap kali gadis ini terpaksa miringkan muka atau mengelak oleh sambaran kipas, sinar kuning
emas dari suling sudah meluncur, mengarah bagian tubuh berbahaya, disusul dengan totokan-totokan gagang
kipas.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aiiih...!” Nirahai menggunakan ginkang-nya, tubuhnya melesat ke atas dalam usahanya untuk menghindarkan
diri.
Keringat dingin keluar dari jidatnya, dan gadis ini harus mengakui bahwa kakek bongkok itu benar-benar lihai
sekali. Ia bersilat dengan hati-hati, menggunakan payungnya sebagai senjata pedang yang menyerang, juga
sebagai senjata perisai yang melindungi tubuh. Pertandingan berlangsung seru sekali. Kakek itu menang
pengalaman dan juga menang ilmu silat, akan tetapi kalah lincah dan kalah dalam hal perkembangan, taktik
dan kecerdikan.
Pertandingan berlangsung seratus jurus lebih dan diam-diam Nirahai harus mengakui bahwa Ilmu Pedang Patmo
Kiam-hoat memang kalah hebat oleh Ilmu Pedang Pat-sian Kiam-hoat. Kalau saja kakek itu menguasai
ilmunya dengan sempurna, kiranya tadi-tadi ia sudah dirobohkan lawan.
“Ser-ser-serrr...!” Nirahai tiba-tiba menyambit dengan jarum-jarumnya.
Karena jarak di antara mereka dekat, kakek itu terkejut, memutar kipas dan mengebut jarum-jarum runtuh ke
tanah. Kesempatan ini dipergunakan oleh Nirahai untuk mengirim tusukan kilat dengan ujung payungnya.
Kipas itu terbuka, menangkis dan tiba-tiba tertutup, kedua gagang kipas menjepit ujung pedang. Nirahai kaget
sekali karena tiba-tiba payungnya tak dapat digerakkan dan tampak sinar kuning emas berkelebat depan
matanya. Tahulah puteri ini bahwa nyawanya terancam suling yang ampuh itu.
“Plak-plak...!” Tubuh Nirahai dan tubuh kakek bongkok itu terlempar ke belakang oleh dorongan telapak tangan
yang memiliki tenaga hebat tak tertahankan.
Mereka cepat meloncat untuk mematahkan tenaga dorongan yang membuat mereka terhuyung dan
memandang ke depan. Nirahai terbelalak heran melihat bahwa di situ telah berdiri seorang nenek yang masih
memiliki wajah cantik sekali, pakaiannya pun indah dan bersih berdiri dengan sikap agung melebihi keagungan
permaisuri kaisar sendiri.
“Ya Tuhan... be... benarkah Paduka ini...?” Kakek bongkok bergoyang-goyang tubuhnya, matanya terbelalak,
wajahnya pucat seolah-olah ia melihat setan di tengah hari.
“Gu Toan, apakah matamu telah menjadi lamur karena usia tua dan tidak mengenal aku?” Wanita itu berkata,
suaranya dingin melebihi salju.
“Benarkah... benarkah Paduka ini... Maya-siocia (Nona Maya)...?”
Nenek itu tersenyum, bukan dengan mulutnya melainkan dengan matanya. Mata yang amat indah dan sama
sekali tidak membayangkan usia tua. “Gu Toan, biar sudah menjadi kakek tua, engkau masih bodoh. Masa aku
yang sudah jadi nenek-nenek kau sebut siocia? Sungguh pun aku selamanya tidak pernah menikah dan masih
seorang Nona, akan tetapi Nona tua...” Ucapan terakhir ini terdengar bernada duka sehingga Nirahai menjadi
heran.
“Ahhh... ampunkan hamba...” Kakek itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan nenek itu. “Hamba kira... hamba
dengar bahwa Paduka...” Ia tidak berani melanjutkan.
“Kau kira aku sudah mati?” Nenek itu melanjutkan dan melihat kakek bongkok yang berlutut itu mengangguk,
ia menghela napas panjang. “Memang sudah mati..., apakah bedanya dengan mati kalau batin ini sudah
kosong dan semangat ini sudah padam? Hanya tubuh yang tak tahu diri ini yang masih belum juga mau mati...”
Ucapan ini terdengar perlahan kemudian tiba-tiba ia sadar dan melanjutkan dengan suara halus namun amat
dingin dan penuh wibawa, “Eh, Gu Toan, aku melihat engkau sampai menggunakan sepasang pusaka keramat
dan mainkan ilmu simpanan melawan gadis ini. Siapakah dia?” Ia bertanya kepada Gu Toan akan tetapi
menoleh kepada Nirahai dan sejenak ia terpesona melihat wajah Nirahai, karena ia seakan-akan melihat
bayangannya sendiri dalam air yang jernih.
“Kau... kau seorang gadis Khitan...?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Nirahai yang sejak tadi masih memandang dengan hati tegang dan heran menggangguk tanpa mengalihkan
pandang matanya. Ia dapat mengenal orang sakti, yang sekali bergerak dapat membuat dia dan kakek
bongkok terpental ke belakang. “Saya seorang dara Mancu yang berdarah Khitan pula.”
“Dia adalah puteri Kaisar Kang Hsi dari Kerajaan Mancu,” Kakek bongkok itu menerangkan, “akan tetapi
berdarah Khitan dan telah mewarisi Pat-mo Kiam-hoat, Sin-coa-kun-hoat dan Siang-tok-ciam. Datang ke sini
untuk meminjam suling emas guna menaklukkan tokoh-tokoh kang-ouw yang membantu Bu Sam Kwi yang
belum mau takluk kepada Kerajaan Ceng. Terpaksa hamba menolak dan kami bertempur...”
Nenek itu masih memandang Nirahai penuh selidik. Mendadak tangan kanannya bergerak ke depan. Nirahai
tidak tahu bagaimana caranya, akan tetapi ia terkejut sekali karena tahu-tahu tangan itu telah meraih ke arah
payung yang dipegangnya. Tentu saja ia cepat menggerakkan payungnya untuk mengelak, akan tetapi
payungnya itu tiba-tiba saja terlepas dari tangannya, seolah-olah payungnya berubah menjadi seekor burung
yang amat kuat dan yang terbang melepaskan diri dari tangannya. Saat ia memandang, ternyata nenek itu
telah memegang payungnya dan memeriksanya, membuka menutup dan mencobanya dengan beberapa
gerakan menusuk. Nenek itu mengangguk-angguk dan berkata.
“Lumayan juga senjata ini. Sudah memiliki senjata seperti ini, sudah memiliki ilmu-ilmu ampuh peninggalan
Keluarga Suling Emas, mengapa masih ingin meminjam suling emas?” Pertanyaan ini bagaikan ujung pedang
ditodongkan di depan dada Nirahai yang masih belum kehilangan kaget dan herannya menyaksikan betapa
dengan mudahnya nenek itu merampas senjatanya!
Karena maklum bahwa nenek ini amat sakti, dan tahu pula bahwa kalau ia salah jawab dan nenek itu
menghendaki, sekali pukul saja ia akan tewas dan ia tidak akan dapat melindungi dirinya dari tangan nenek
yang luar biasa ini. Maka Nirahai yang cerdik dan juga yang merasa amat kagum segera menjatuhkan diri
berlutut di depan nenek itu, seperti kakek bongkok, dan berkata.
“Mohon maaf sebanyaknya kepada locianpwe kalau teecu bersalah dalam hal ini. Sesungguhnya teecu secara
terpaksa sekali mohon pinjam suling emas itu, karena tugas teecu sebagai pimpinan pasukan pengawal yang
bertugas menandingi tokoh-tokoh kang-ouw yang menentang pemerintah Kerajaan Ceng dan membantu
pemberontak Bu Sam Kwi. Kerajaan Ceng menghendaki agar orang-orang gagah itu ditaklukkan dengan jalan
damai, karena untuk membangun negara yang banyak menderita karena perang, pemerintah membutuhkan
bantuan orang-orang gagah itu...”
“Maka sedapat mungkin, penaklukan Se-cuan akan dilakukan tanpa menimbulkan banyak korban di antara
orang-orang gagah yang membelanya. Untuk keperluan itulah maka teecu terpaksa mohon pinjam suling
keramat, karena senjata pusaka itu amat besar pengaruhnya terhadap para tokoh kang-ouw yang tentu akan
menjunjungi tinggi senjata peninggalan Pendekar Suling Emas dan akan suka berdamai dan menakluk. Bukan
sekali-kali teecu hendak memusuhi Kakek Gu, akan tetapi karena dia kukuh tidak mau memberikan, dan teecu
terpaksa didorong tugas, maka terjadilah bentrokan tadi... baiknya locianpwe melerai, karena kalau tidak tentu
teecu sudah menjadi korban kekerasan Kakek itu.”
“Hemmm... hemmm...” beberapa kali nenek itu menggumam dan memandang lebih teliti, kini matanya yang
indah menyinarkan rasa kagum dan suka, akan tetapi mulutnya yang dulu di waktu mudanya tentu
menggairahkan itu masih saja membayangkan sifat dingin mengejek dan memandang rendah dunia ini.
“Engkau masih muda sekali, cantik jelita dan jelas membayangkan darah Khitan di tubuhmu yang ramping
padat. Ilmu kepandaianmu sudah lumayan dan kiranya di dunia ramai agak sukar mencari tandingan.
Senjatamu pun baik, tanda bahwa engkau dapat menyelami kitab-kitab peninggalan pendekar wanita sakti
Mutiara Hitam dengan sempurna. Bicaramu lancar dan dapat melihat gelagat, tanda bahwa engkau pun
memiliki kecerdikan yang mengagumkan. Eh, Puteri yang manis, siapakah namamu?”
Hati Nirahai girang sekali mendengar suara nenek itu dan besar kemungkinan ia akan berhasil meminjam
suling emas. “Nama teecu Nirahai, locianpwe.”
“Engkau puteri Kaisar Mancu yang sekarang?” Ia berhenti sebentar lalu menyambung, “Pangeran Dorgan itu
apamukah?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Benar, locianpwe, teecu puteri Kaisar yang terlahir dari selir. Ibuku adalah Puteri Khitan, masih gadis telah
menjadi selir Pangeran yang sekarang menjadi kaisar. Mendiang Pangeran Dorgan adalah Paman Kakekku.
Karena itu, biar pun sudah amat jauh, darah Ibuku sedikitnya masih ada keturunan dari Kerajaan Khitan, dan
pendekar sakti Mutiara Hitam masih Nenek Buyutku...”
“Hemmm, semua manusia di dunia ini kalau ditelusur, tentu masih ada hubungan keluarga. Tahukah engkau
bahwa Mutiara Hitam itu adalah Bibiku sendiri, Bibi Luar? Saudara kembarnya yang menjadi Kaisar Khitan
adalah Paman Luarku...”
“Ohhh... harap maafkan, locianpwe, karena teecu tidak tahu maka bersikap kurang hormat.”
“Sudahlah, tak perlu banyak peradatan, kita tidak dapat membanggakan keturunan Khitan yang sudah ambruk!
Engkau masih lebih beruntung karena keturunan Kaisar Mancu yang kini berkembang dan mulai jaya.
Sekarang ceritakan keadaan kerajaan dan gerakannya ke selatan. Aku sudah mendengar hal itu dan karena
tertarik melihat kejayaan Mancu, aku sampai keluar dari tempat pertapanku. Kebetulan bertemu dengan
engkau seorang puteri Kaisar sendiri yang memimpin pasukan pengawal. Nah, ceritakan!”
Nirahai girang bukan main. Dengan gaya bicaranya yang lancar ia lalu menceritakan keadaan pemerintah
Mancu yang dapat menaklukkan daerah selatan dengan mudah, akan tetapi kini menghadapi kesulitan karena
Se-cuan yang dipimpin Bu Sam Kwi masih belum dapat ditaklukkan.
“Akan tetapi teecu percaya,” Nirahai menutup penuturannya, “kalau teecu di-perbolehkan meminjam suling
emas, teecu akan dapat mempengaruhi para tokoh kang-ouw yang membela Bu Sam Kwi. Teecu kira, partaipartai
besar seperti Siauw-lim-pai, Hoa-san-pai, Kun-lun-pai dan yang lain-lain, yang sekarang belum mau
membantu Ceng, tentu akan tunduk kalau melihat bahwa teecu mendapat kehormatan memiliki suling keramat
peninggalan Suling Emas yang mereka junjung tinggi.”
Nenek itu mengangguk-angguk, dan tiba-tiba ia bertanya kepada kakek bongkok, “Eh, Gu Toan, kau lihat baikbaik
bocah ini dan katakan, wajah dan bentuk tubuhnya seperti siapakah enam puluhan tahun yang lalu?”
Kakek itu memandang Nirahai dan berkata, “Tadi pun ketika pertama kali dia muncul, hamba sudah kaget dan
teringat betapa serupa puteri ini dengan Paduka dahulu. Seperti buah pinang dibelah dua!”
Nenek itu menghela napas. “Benar, akan tetapi betapa buruk nasibku. Ahhh, kuharap saja engkau yang
memiliki wajah dan bentuk tubuh seperti aku, tidak akan mengalami nasib seburuk nasibku, Puteri Nirahai!”
Ketika Nirahai memandang, nenek itu sejenak kehilangan sifat dingin yang membayang di wajahnya, terganti
sinar kedukaan yang mendalam. Memang nenek itu sedang mengenangkan semua pengalamannya puluhan
tahun yang lalu, di waktu ia masih muda, semuda Nirahai (baca cerita ISTANA PULAU ES).
“Gu Toan, gadis ini benar. Kau boleh meminjamkan suling itu untuk selama tiga tahun. Akulah yang kelak
bertanggung jawab kalau dia tidak mengembalikannya dalam waktu tiga tahun!”
“Kalau Paduka yang memerintah, hamba tidak akan membantah,” jawab Kakek itu, yang mengeluarkan suling
emas dan menyerahkannya kepada Nirahai.
Puteri ini girang sekali, menerima suling kemudian berlutut di depan nenek itu. “Teecu haturkan terima kasih,
locianpwe. Dan teecu bersumpah untuk mengembalikan pusaka ini selambat-lambatnya tiga tahun. Kakek Gu,
terima kasih dan maafkan kekasaranku tadi.”
Kakek itu hanya mengangguk-angguk tanpa menjawab.
“Teecu mohon diri, hendak kembali ke selatan,” Nirahai berkata.
“Nanti dulu, Nirahai, aku masih sangsi apakah suling itu akan membawa hasil. Orang-orang kang-ouw
mempunyai watak yang aneh. Sekali mereka itu mengambil keputusan untuk berjuang, mereka melupakan apa
saja dan kiranya belum tentu mereka mau memandang suling itu untuk menghentikan perjuangan mereka.
Sebaiknya kalau di samping mencari jalan damai, engkau pun dapat menundukkan mereka dengan
dunia-kangouw.blogspot.com
kepandaian. Apakah engkau akan mampu menggunakan suling itu untuk menundukkan mereka dengan ilmu
silatmu? Dapatkah engkau mainkan suling itu?”
Wajah Nirahai menjadi merah. “Teecu seorang bodoh, dan jika teecu mainkan suling pusaka ini dengan Ilmu
Pedang Pat-mo Kiam-hoat, kiranya tidak lebih hebat dari pada kalau teecu menggunakan pedang payung.”
“Hemmm tidak baik kalau begitu. Eh, Nirahai, bagaimana kalau engkau menjadi muridku?”
Tawaran ini tentu saja diterima dengan hati girang luar biasa oleh Nirahai. “Teecu akan merasa bahagia sekali
dapat menerima petunjuk locianpwe.”
“Bagus! Engkau kuambil murid, Nirahai. Dan tempat di sini cukup baik bagiku untuk menggemblengmu
beberapa lama agar engkau dapat menggunakan suling itu tidak saja untuk mempengaruhi mereka, akan
tetapi kalau perlu untuk mengalahkan dan menaklukkan mereka.”
Kening Nirahai berkerut. “Teecu akan suka sekali tinggal di sini mempelajari ilmu dari locianpwe, berapa lama
pun. Akan tetapi, pada waktu ini teecu mempunyai tugas. Sebagai puteri Kaisar, bagaimana teecu dapat lari
dari tugas? Selama pemerintah masih membutuhkan tenaga teecu, tak mungkin teecu meninggalkan kerajaan
untuk waktu lama. Kalau locianpwe sudi, bagaimana kalau locianpwe saja yang ikut bersama teecu ke kota
raja dan mengajar teecu di sana? Teecu percaya bahwa Ayahanda Kaisar akan menerima locianpwe dengan
segala kehormatan dan rasa bangga di hati.”
Nenek itu mengangguk-angguk dan mempertimbangkan kata-kata muridnya. “Dahulu Pangeran Dorgan
pernah bertemu denganku. Ayahmu tentu hanya mendengar saja namaku, akan tetapi belum pernah bertemu
denganku. Baiklah, aku pun ingin sekali menyaksikan dari dekat kemajuan usaha bangsa Mancu yang
mengagumkan itu, yang tak pernah dicapai oleh bangsa Khitan. Mari kita berangkat, muridku.”
Nirahai girang sekali. “Harap Subo sudi menunggang joli, biar teecu yang mengiringkan.”
Nirahai bertepuk tangan tiga kali dan muncullah dua orang pemikul joli berlarian ke tempat itu.
Tanpa sungkan-sungkan lagi nenek itu yang dahulu terkenal sebagai Puteri Maya itu masuk ke dalam joli yang
segera digotong oleh dua pemikulnya atas perintah Nirahai. Dua orang itu merasa heran bukan main mengapa
nenek itu amat ringan, seolah-olah joli itu kosong saja! Nirahai lalu menjura kepada kakek bongkok sebagai
penghormatan perpisahan, kemudian mengikuti joli yang diduduki gurunya dengan hati girang bukan main.
Suling emas ia selipkan di pinggang, di sebelah dalam bajunya. Sungguh ia amat beruntung, pikirnya. Tidak
saja dapat meminjam suling emas itu, bahkan ia telah bertemu dengan seorang nenek sakti luar biasa yang
menjadi gurunya!
Setelah melalui perbatasan utara dan bertemu dengan dusun, Nirahai membeli seekor kuda. Kini ia mengikuti
joli gurunya yang telah diganti orang lain pemikulnya, yaitu diambil dari dua orang penjaga perbatasan yang
kuat.
Gurunya itu amat pendiam, kalau sudah duduk di dalam joli bersila seperti arca, tidak pernah bicara, tidak
pernah menjenguk keluar sehingga diam-diam Nirahai merasa kasihan. Untuk menyenangkan hati gurunya,
sepanjang jalan Nirahai berusaha untuk menghidangkan masakan-masakan lezat dan menyediakan segala
kebutuhan nenek itu. Akan tetapi nenek itu menerima itu dengan sikap dingin.
Pada suatu pagi mereka tiba di luar kota raja. Tembok kota raja sudah tampak dari tempat yang agak tinggi
sebelah utara itu dan hati menjadi girang sekali. Sudah beberapa lamanya ia meninggalkan kota raja, akan
tetapi perjalanannya yang memakan waktu lama dan amat jauh itu ternyata tidak sia-sia belaka, bahkan
hasilnya boleh dibilang melampaui semua harapannya.
Ketika kudanya berjalan perlahan mengiringkan joli yang dipikul oleh dua orang pemikulnya yang semenjak
meninggalkan kuburan keluarga Suling Emas telah berganti sampai sepuluh kali itu, tiba-tiba ia melihat
seorang wanita muda berjalan tergesa-gesa dari depan, agaknya baru saja wanita itu meninggalkan gerbang
pintu kota raja sebelah utara.
dunia-kangouw.blogspot.com
Gadis itu amat cantik, terutama sekali sepasang matanya yang lebar dan tajam sinarnya, juga wajah yang
lonjong dengan dagu meruncing ini menarik sekali perhatian Nirahai. Sepintas lalu saja ia tahu bahwa gadis itu
tentulah mempunyai darah Mancu dan betapa besar persamaan gadis cantik itu dengan dia sendiri. Mungkin
dia lebih jangkung sedikit, akan tetapi perawakan gadis itu pun ramping, dan wajahnya yang manis itu hampir
sama dengan wajahnya sendiri.
Gadis itu pun berdiri sambil memandangnya dengan sinar mata tajam menyelidik. Agaknya gadis itu heran
melihat dia memanggul sebuah payung, bahkan ketika rombongannya yang terdiri dari dua orang pemikul joli
dan kuda yang ditungganginya lewat, gadis itu menghentikan langkah kakinya dan berdiri di pinggir jalan
memandang bengong.
Nirahai tidak mempedulikannya lagi saking girang hatinya sudah hampir tiba di kota raja. Akan tetapi
mendadak ia mendengar bentakan nyaring, “Heiii, berhenti dulu...!”
Nirahai menahan kudanya dan menoleh. Kiranya gadis manis tadi kini datang berlari-lari dan meloncat ke
depan kudanya, seolah-olah hendak menghadangnya. Nirahai tersenyum, kagum setelah kini dekat melihat
betapa gadis ini benar-benar cantik jelita, dengan kulit muka yang halus dan berwarna putih kemerahan,
sepasang mata yang begitu indah seperti bintang pagi.
“Eh, ada keperluan apakah engkau menghentikan aku?” Nirahai tidak menjadi marah. Biar pun dia seorang
puteri kaisar, namun sama sekali Nirahai tidak gila hormat. Apa lagi ia maklum bahwa gadis ini tentu belum
mengenalnya, maka sikapnya yang kasar itu pun boleh dimaafkan. Sifat ini mungkin terpengaruh oleh
kebiasaannya merantau di dunia kang-ouw sehingga sifatnya terlepas dan ia tidak begitu mementingkan
kedudukan dan kehormatan sebagai seorang puteri bangsawan tinggi.
Gadis itu bukan lain adalah Lulu! Seperti telah diceritakan di bagian depan, Lulu meninggalkan lembah Sungai
Huang-ho di mana selama setahun ia melatih diri dengan ilmu silatnya, di bawah petunjuk Lauw-pangcu dan
terutama sekali Sin Lian yang telah menjadi kakak angkatnya.
Dia pergi menuju ke kota raja dan karena ia maklum bahwa keadaannya di kota raja berbahaya, biar pun di
situ ia menyamar sebagai pria, dan ketika ia tidak berhasil mendapatkan jejak kakaknya, ia lalu keluar dari kota
raja melalui pintu gerbang utara. Dia baru saja datang dari selatan dan tidak pernah mendengar tentang Han
Han, maka sebaiknya kini melanjutkan usahanya mencari jejak Han Han ke hutan. Akan tetapi baru saja keluar
dari pintu gerbang, ia bertemu dengan Nirahai yang menunggang kuda.
Melihat Puteri Mancu yang cantik jelita dan gagah perkasa ini, Lulu tertarik sekali maka ia memandang penuh
perhatian. Akan tetapi ketika ia melihat payung yang dipegang Nirahai, ia teringat akan cerita para tokoh Hoasan-
pai di Pek-eng-piauwkiok tentang seorang Puteri Mancu amat lihai bernama Puteri Nirahai yang bersenjata
payung, teringat akan cerita tentang Teng Lok tokoh Hoa-san-pai yang dalam penyelidikannya bertemu
dengan puteri Kaisar Mancu bersenjata payung yang telah membuntungi lengan orang she Teng itu. Puteri
Mancu bernama Nirahai yang telah mengadu domba tokoh Hoa-san-pai dengan tokoh Siauw-lim-pai sehingga
akibatnya, Han Han yang difitnah dan menjadi korban, dimusuhi kedua pihak.
“Apakah namamu Nirahai?”
Nirahai membelalakkan matanya dan hampir saja ia tertawa bergelak. Pertanyaan itu begitu tiba-tiba, begitu
sederhana dan diajukan tanpa dibuat-buat. Pertanyaan dengan sikap paling kurang ajar yang pernah ia alami
selama hidupnya! Ia tidak marah, bahkan tersenyum memandang gadis yang bermata lebar itu. Ia
mengangguk, ingin mendengar suara gadis itu lebih banyak. Suara gadis itu merdu dan nyaring, dan setiap
gerakannya membayangkan kejujuran dan kepolosan yang mengharukan.
“Jadi engkaukah yang bernama Nirahai puteri kaisar, gadis yang mengadu domba tokoh-tokoh Siauw-lim-pai
dan Hoa-san-pai? Tentu engkau pula yang telah membunuh dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam, bukan?”
Kalau ia menghadapi pertanyaan seperti itu dari seorang tokoh kang-ouw, tentu Nirahai akan menjadi terkejut
dan berhati-hati. Akan tetapi menerima pertanyaan begitu langsung dari mulut yang manis dan mata yang
lebar itu, sukar bagi Nirahai untuk membohong lagi.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bagaimanna engkau bisa tahu?”
“Hemmm, payungmu itu adalah senjatamu yang ampuh, bukan? Kau jahat sekali... jahat sekali dan aku harus
membunuhmu!”
Kembali hati Nirahai merasa geli sekali. Ucapan seperti itu agaknya hanya patut diucapkan oleh seorang tokoh
besar, seperti gurunya. Enak saja gadis ini mengatakan hendak membunuhnya.
“Eh, sabar dulu. Engkau siapakah?”
“Aku Lulu. Perbuatanmu yang curang itu telah membuat Kakakku Han Han banyak menderita. Engkau cantik
sekali, sayang... akan tetapi aku harus membunuhmu karena engkau jahat!”
“Nirahai, siapakah bocah ini?” Nenek itu telah berdiri di luar joli, padahal kedua pemikul joli masih
menggotongnya dan kini kedua orang itu terkejut dan berdiri seperti patung. Mereka tidak merasa joli menjadi
ringan, tidak melihat nenek itu turun, akan tetapi mengapa tahu-tahu telah berada di luar joli? Seorang di
antara mereka menyingkap tirai joli dan memang benar, joli itu kosong. Terpaksa mereka menurunkan joli dan
keduanya berjongkok di dekat joli.
Lulu menengok, memandang nenek itu dan ia terkejut. Cepat ia membalikkan tubuh pula memandang Nirahai
yang kini telah meloncat turun dari kuda. “Ah, aku pernah bertemu denganmu...! Engkau ini penghuni Pulau
Es... ya benar...!” Lulu menudingkan telunjuknya ke arah Nirahai.
“Apa?! Pulau Es...? Kau gila agaknya...!” Nirahai menjawab.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara angin dan Lulu berteriak kaget karena pundaknya sudah dicengkeram
oleh nenek itu yang membalikkan tubuh Lulu menghadapinya sambil membentak.
“Apa maksudmu? Penghuni Pulau Es? Hayo katakan apa yang kau maksudkan!”
“Lepaskan tanganmu! Jangan kau cengkeram pundakku! Nenek jahat engkau...!” Lulu berteriak meronta-ronta,
akan tetapi percuma saja, jari tangan nenek itu seolah-olah telah melekat di pundaknya!
“Lepaskan...! Kalau tidak...”
“Hem, bocah liar. Kalau tidak engkau mau apa?” Nenek itu berkata.
“Kupukul mampus kau!”
Diam-diam nenek itu kagum sekali melihat keberanian Lulu, maka ia menjawab, “Mau pukul? Boleh, pukullah!”
Karena Lulu dapat menduga bahwa nenek ini tentulah kaki tangan Puteri Nirahai dan jahat, terpaksa harus ia
lenyapkan dulu sebelum ia menghadapi Nirahai yang ia tahu amat lihai. Ia lalu menggerakkan kedua
tangannya, memukul secara bertubi ke arah perut dan dada nenek itu. Ia menggunakan jurus pukulan ilmu
silatnya yang sudah ia latih dan sempurnakan di lembah Huang-ho, dan mengerahkan sinkang-nya yang ia
dapat ketika berlatih di Pulau Es.
“Desss! Desssss!”
Lulu menjerit kesakitan karena kedua tangannya yang memukul itu seperti memukul air, akan tetapi akibatnya
kedua tangan itu terasa nyeri seperti ditusuk-tusuk dengan seribu batang jarum! Nenek itu pun kaget dan
melepaskan pundak Lulu, matanya terbelalak memandang Lulu dan mulutnya berkata dengan suara
menggetar.
“Itulah Hong-in-bun-hoat...! Dari mana engkau mempelajarinya? Dan sinkang-mu itu... apakah Swat-im Sinciang?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Lulu masih meringis kesakitan, akan tetapi ia cemberut menghadapi pertanyaan itu. “Ternyata engkau memiliki
ilmu siluman dan pertanyaanmu ngawur tidak karuan. Apa itu Hong-in-bun-hoat? Apa itu Swat-im Sin-ciang?
Kalau Kakakku mungkin tahu ilmu-ilmu itu. Aku hanya belajar sedikit di Pulau Es. Eh, yang manakah di antara
kalian ini yang kulihat patungnya di Pulau Es? Tubuhnya seperti dia...” Ia menuding Nirahai. “Akan tetapi
matanya seperti matamu!” Ia melihat nenek itu. “Akan tetapi yang mana pun juga di antara kalian, semuanya
jahat, memang di antara mereka bertiga di Pulau Es itu, yang satu itu paling jahat...!”
“Apa kau bilang...? Apa kau bilang...?” Nenek itu berkata dengan suara lirih gemetar, tubuhnya terhuyung.
“Subo...!” Nirahai meloncat, mendekati nenek itu.
Akan tetapi dengan tangannya nenek itu menolak Nirahai yang hendak menolongnya, kemudian setelah
menghela napas tiga kali ia dapat menguasai hatinya. Sekali melangkah ia telah menggerakkan tangan
menangkap tangan Lulu tanpa gadis ini dapat mengelak sedikit pun. Gerakan nenek itu cepat luar biasa dan
tidak dapat ia ikuti dengan pandangan matanya. Ia hendak meronta, akan tetapi membatalkan niatnya ketika
nenek itu memijat-mijat kedua tangannya yang membengkak merah.
Lulu juga seorang yang cerdik dan ia mengerti bahwa nenek inilah sebetulnya orang yang patungnya ia lihat di
Pulau Es. Ketika ia tadi melihat wajah dan mata nenek ini, teringatlah ia akan patung itu, hanya karena patung
itu cantik dan muda seperti Nirahai, maka ia mengira bahwa Nirahai-lah orangnya yang patungnya ia lihat di
sana. Kini ia mengerti bahwa biar pun ada persamaan dengan patung itu dan Nirahai, akan tetapi sebetulnya
patung itu adalah patung Si Nenek lihai ini di waktu muda.
Dan ia pun dapat menduga bahwa disebutnya patung itu di Pulau Es mendatangkan keharuan besar di hati
nenek ini. Tentu nenek ini ingin mendengar banyak-banyak tentang Pulau Es dari dia, maka kini nenek itu
bersikap baik, mengobati kedua tangannya yang membengkak karena memukul tubuh Si Nenek. Kalau tidak
mempunyai maksud demikian, kiranya nenek yang seperti iblis ini akan membunuhnya! Ia harus bersikap
cerdik, pikirnya. Lulu membiarkan kedua tangannya ditekan dan ditotok dan memang hebat sekali, dalam
sekejap mata saja sudah sembuh, akan tetapi dia sudah memutar otak mencari akal.
“Siapakah namamu?” Nenek itu bertanya sambil melangkah mundur dua langkah dan memandang tajam.
“Namaku Lulu.”
“Engkau gadis Mancu?” Kini nenek itu bertanya dalam bahasa Mancu.
Lulu menjawab dalam bahasa Han, “Aku memang gadis Mancu, akan tetapi lebih suka berbahasa Han.”
Nenek itu mengerutkan alisnya, “Hmmm, sesukamulah. Sekarang ceritakan bagaimana kau bisa bicara
tentang Pulau Es.”
“Aku tidak mau bicara!”
Nenek itu membelalakkan matanya dan dari mata yang lebar itu memancar -kebengisan yang membuat bulu
tengkuk Lulu bangun satu-satu. Akan tetapi dia seorang gadis yang memiliki keberanian luar biasa, maka ia
menentang pandang mata itu tanpa berkedip. Matanya jauh lebih lebar dari mata nenek itu dan sinar matanya
pun tajam, bening dan polos.
“Kalau aku paksa padamu, kupatahkan satu-satu tangan kakimu, apakah engkau juga tidak mau bercerita?”
Tiba-tiba Lulu tertawa, suara ketawanya yang dimaksudkan agar berbunyi mengejek itu malah terdengar
merdu nyaring dan menular sehingga Si Nenek terpaksa ikut tersenyum, bahkan Nirahai juga tersenyum lebar.
“Heh-heh, kiranya engkau adalah Lulu bocah Mancu yang diambil Adik angkat oleh tokoh muda aneh bernama
Han Han itu. Sudah lama kau kami cari-cari, siapa sangka akan bertemu di sini.”
“Hemmm, jadi Ouwyang Seng manusia tak bermalu itu engkau yang suruh? Pantas, engkau jahat, kaki
tanganmu pun jahat. Tentu iblis-iblis tua yang mengeroyok kakakku, Si Setan Botak dan Si Iblis Muka Kuda itu
dunia-kangouw.blogspot.com
pun kaki tanganmu, bukan? Hemmm... cocok sekali!”
Nirahai terkejut. “Aihhh, engkau tahu...?”
“Tentu tahu! Malah aku telah ditawan dan dibawa ke istana, oleh Kaisar sendiri aku dijadikan pelayan istana.
Akan tetapi aku lari dari istana...”
Nirahai tertawa lagi. Tak dapat ia menahan geli hatinya. Anak ini polos dan nakal, akan tetapi wajahnya begitu
manis dan cerah sehingga sukarlah untuk marah kepadanya.
“Engkau aneh. Bukankah senang sekali menjadi pelayan istana? Engkau gadis Mancu, menjadi pelayan di
istana Kaisar sendiri bukankah amat terhormat? Mengapa engkau melarikan diri?”
“Aku tidak kerasan! Aku akan mencari kakakku, kalau ia belum dibunuh oleh kaki tanganmu yang jahat!”
Nirahai mengerutkan keningnya. Diam-diam timbul rasa ingin sekali bertemu dengan kakak gadis ini yang
bernama Han Han. Kalau adiknya begini aneh, tentu kakaknya lebih aneh lagi.
“Lulu, lekas kau bercerita tentang Pulau Es, kalau engkau tidak mau, kupatah-patahkan seluruh tulang di
tubuhmu!” Kembali Nenek Maya menghardik.
Nirahai maklum akan kebengisan seorang berwatak aneh seperti gurunya. Kalau gurunya mau, sekali turun
tangan tentu ancamannya itu akan dilaksanakan tanpa ada yang mampu menghalanginya. “Lulu, anak baik,
engkau mengakulah saja.”
Akan tetapi Lulu yang sudah mengatur siasat itu menjawab, “Aku tidak peduli apakah tulang-tulangku akan
dipatahkan ataukah tubuhku akan dihancurkan oleh dia itu. Aku tidak takut mati. Memang aku tahu bahwa di
antara ketiga patung itu, wanita cantik bengis itu yang berhati jahat! Aku baru mau bercerita kalau syaratku
dipenuhi.”
Nirahai memang tidak ingin mencelakai bangsa sendiri. Dan begitu bertemu dengan Lulu, ia sudah merasa
suka dan sayang kepada anak yang keras hati dan berwatak kukoai (ganjil) ini. “Apakah syaratnya?”
“Pertama, kalau aku dibawa ke istana, kau harus menjamin agar aku tidak dihukum karena melarikan diri.”
Nirahai tersenyum. “Baiklah. Kaisar adalah Ayahku sendiri, aku dapat mintakan ampun untukmu.”
“Ke dua, kalau kakakku tidak terbunuh, kau harus menyuruh kaki tanganmu mencarikan dia untukku. Akan
tetapi kalau sudah terbunuh, engkau harus membiarkan aku membalas dendam kepada pembunuhnya!” Lulu
mengepal kedua tinjunya, matanya memancarkan kemarahan.
Nirahai mengangguk. “Baik-baik, itu pun sudah adil.” Diam-diam ia merasa bahwa kalau benar Han Han sudah
terbunuh, tentu pembunuhnya itu amat lihai dan bagaimana gadis ini akan dapat membalas dendam?
“Lekas ceritakan tentang Pulau Es!” Nenek itu kini membentak, kehilangan sabar dan sudah melangkah maju
setindak ke dekat Lulu.
Melihat hal ini, Nirahai yang merasa sayang kepada Lulu cepat berkata, “Lulu, syarat-syaratmu telah dipenuhi,
lekas engkau bercerita.”
“Masih ada lagi syaratku, yaitu karena aku sudah tinggal di Pulau Es sampai bertahun-tahun dan locianpwe ini
adalah seorang di antara penghuni Pulau Es, maka kalau locianpwe suka mengambil aku sebagai murid, baru
aku mau menceritakannya!”
“Wirrrrr...!”
Tangan nenek itu bergerak dan biar pun Lulu hendak mengelak, percuma lagi karena rambutnya sudah
disambar dan sekali nenek itu mengangkat tangan, tubuh Lulu tergantung pada rambutnya yang dicengkeram!
dunia-kangouw.blogspot.com
Lulu merasa nyeri, akan tetapi ia tidak mengeluh dan hanya membelalakkan mata, dan dengan matanya yang
lebar itu dia sungguh-sungguh kelihatan seperti seekor kelinci dipegang kedua telinganya.
“Bocah setan! Mengapa harus mengambilmu sebagai murid?” bentak nenek itu.
Diam-diam Lulu ngeri juga. Di tangan nenek ini ia seperti sebuah boneka yang tidak berdaya. Otaknya bekerja
cepat. Tadi ia sengaja minta menjadi murid karena kini ia telah cukup tahu betapa pentingnya memiliki ilmu
kepandalan tinggi. Dengan ilmu kepandaian tinggi dia tidak akan mudah dihina orang seperti berkali-kali ia dan
kakaknya mengalaminya dan ia mengenal orang sakti maka kalau ia bisa menjadi murid nenek ini tentu ia akan
menjadi amat lihai. Ia pun tahu bahwa ia boleh agak ‘menjual mahal’ karena tahu akan kegairahan hati nenek
ini ingin mendengar tentang Pulau Es, akan tetapi kalau ia agak keterlaluan menjual mahal dan menahan
harga, sekali nenek itu turun tangan ia takkan bernyawa lagi. Cepat ia menjawab.
“Locianpwe yang baik, peristiwa di Pulau Es merupakan rahasia pribadi, dan keadaan Pulau Es pun tidak
boleh diceritakan pada lain orang, demikian pesan kakakku yang mentaati pesan tertulis para locianpwe
penghuni pulau itu. Kami berdua telah bersumpah takkan membuka rahasia Pulau Es. Kalau saya tidak
menjadi murid locianpwe, berarti locianpwe saya anggap orang luar. Bagaimana saya akan dapat
menceritakan tentang pulau rahasia itu? Biar dibunuh sekali pun, kalau locianpwe tidak menjadi guru saya,
mana saya berani membuka rahasia?”
Cekalan rambutnya mengendur dan tubuh Lulu dilepaskan kembali. Nenek itu mengangguk. “Engkau sudah
sampai di sana, berarti engkau telah menjadi murid kami bertiga. Baiklah, engkau menjadi muridku bersama
Nirahai.”
“Terima kasih, Subo!” Lulu dengan girang menjatuhkan diri berlutut di depan nenek itu.
Nirahai juga girang sekali, berlutut pula di samping Lulu, merangkul pundaknya dan berkata, “Sumoi yang baik!”
Akan tetapi Lulu melotot kepadanya. “Suci, awas kalau sampai Han-koko kau bunuh. Biar engkau menjadi
suci-ku, engkau akan kubunuh pula!”
“Bocah kurang ajar, lekas ceritakan!” kembali nenek itu membentak.
“Subo, urusan rahasia yang sedemikian gawatnya masa boleh diceritakan di tengah jalan seperti ini? Lebih
baik di dalam kamar, di istana... kalau Subo hendak ke sana.”
Saking inginnya segera mendengar cerita itu, Nenek Maya menyambar tubuh Lulu dan sekali berkelebat ia
lenyap. Hanya terdengar suaranya, “Nirahai, kami menantimu di dalam istana!”
Nirahai memandang bengong dan menghela napas panjang. Ia kagum sekali akan keberanian Lulu dan diamdiam
ia menduga bahwa kelak Lulu akan menjadi seorang yang hebat. Dia tidak akan heran kalau subonya
akan lebih sayang kepada bocah itu. Maka ia lalu memasuki joli dan memerintahkan dua orang pemanggulnya
yang berjongkok dan bengong menyaksikan tingkah orang-orang aneh itu untuk memanggul joli melanjutkan
perjalanan ke kota raja.....
********************
Di luar kota Tai-goan terdapat sebuah dusun yang cukup ramai. Dusun itu bernama Leng-chun, letaknya di
sebelah selatan kota Tai-goan dan di tepi Sungai Fen-ho yang mengalir ke selatan dari kota Tai-goan. Karena
Sungai Fen-ho ini terus mengalir ke selatan sampai bergabung dengan Sungai Huang-ho yang mengalir ke
timur dan sampai ke Terusan Besar, maka sungai ini merupakan sungai yang ‘hidup’, yaitu dimanfaatkan oleh
rakyat sebagai jalan umum untuk mengangkut penumpang dan barang. Selain lebih aman dan murah, juga
tidak melelahkan dari pada kalau melakukan perjalanan melalui daratan yang banyak diganggu rampok dan
melalui gunung-gunung yang sukar dilewati.
Karena ramainya sungai ini, maka dusun Leng-chun merupakan dusun yang makmur pula, banyak dilewati
kaum pedagang dan banyak pula barang-barang hasil bumi diangkut ke timur melalui dusun ini. Banyaknya
kaum pedagang dan pelancong membuat dusun ini ramai dan banyak dibuka rumah-rumah makan dan rumahdunia-
kangouw.blogspot.com
rumah penginapan, yang sungguh pun kecil-kecil dan sederhana namun cukup memenuhi kebutuhan para
saudagar dan pelancong. Dusun kecil ini dengan sendirinya menjadi pusat pertemuan orang-orang dari luar
kota sehingga banyak terdapat orang asing yang bicara dengan bermacam dialek.
Pada suatu hari, seorang laki-laki yang aneh memasuki sebuah rumah makan di dusun Leng-chun. Laki-laki ini
masih muda, wajahya tampan sekali, sinar matanya aneh dan tajam, namun di antara kedua alisnya banyak
guratan yang menjadi tanda bahwa semenjak kecil pemuda ini sudah mengalami banyak penderitaan hidup.
Pakaiannya sederhana, serba putih dengan garis-garis biru tua. Yang amat menarik perhatian orang bukanlah
pakaiannya karena pakaian itu sederhana, bahkan orang-orang kang-ouw yang suka lewat di tempat ini
dengan pakaian mereka yang aneh-aneh pun sudah dianggap biasa oleh penduduk di situ.
Rambut itu hitam panjang dibiarkan terurai ke atas pundak dan punggung, sama sekali tidak diikat atau
digelung seperti biasa. Bahkan semenjak keluar peraturan dari pemerintah Kerajaan Ceng yang
mengharuskan penduduk pribumi menguncir rambut mereka, banyak penduduk menguncir rambut lalu
menyembunyikan kuncir di bawah topi agar tidak tampak. Akan tetapi pemuda ini membiarkan rambutnya
terurai, dikuncir pun tidak!
Juga kakinya amat menarik perhatian karena kaki itu tinggal sebuah. Kaki kirinya buntung. Pemuda itu berjalan
dibantu tongkatnya, sebatang tongkat kayu yang butut, yang dipegang dengan tangan kiri dan dipergunakan
sebagai pengganti kakinya. Pemuda itu berjalan perlahan-lahan dan agaknya dia sudah mahir menggunakan
tongkat, buktinya ia tidak kelihatan pincang, biar pun ia hanya berjalan dengan sebelah kaki.
Pemuda tampan berkaki buntung dan berambut panjang terurai ini bukan lain adalah Han Han. Setelah
gurunya yang baru, Nenek Khu Siauw Bwee yang buntung pula kakinya menggemblengnya secara tekun dan
sudah membolehkah dia keluar dari daerah tersembunyi itu, Han Han lalu muncul pula di dunia ramai dan
pertama-tama yang ia kerjakan adalah mencari adiknya.
Pada pagi hari itu ia tiba di Leng-chun, dalam perjalanannya mencari Lulu yang ia mulai dari tempat di mana
Lulu diculik Ouwyang Seng, yaitu ke kota raja. Ia dapat menduga bahwa Lulu setelah ditawan oleh pemuda
bangsawan itu tentu dibawa ke kota raja, maka ke sanalah ia menuju dan pagi hari itu selagi melewati Lengchun,
perutnya merasa lapar dan ia lalu memasuki sebuah rumah makan. Dia tidak mempunyai uang sekeping
pun, akan tetapi perutnya amat lapar dan ia bersedia menukarkan tenaganya untuk beberapa potong bakpauw
atau sepiring nasi bersama semangkok arak.
“Lopek, maukah lopek memberi aku beberapa potong bakpauw itu? Perutku lapar sekali!”
Ucapan Han Han ini nyaring, tidak malu-malu sungguh pun di situ banyak duduk para tamu menghadapi meja
dan ada beberapa orang tamu sudah menoleh ke arahnya ketika mendengar ini. Beberapa orang terdengar
sudah mengomel.
“Hemmm... di mana-mana ada saja pengemis, seperti lalat saja!”
Han Han mendengar dengan jelas omelan ini, akan tetapi ia tidak peduli, tidak pula marah atau merasa terhina,
bahkan menoleh pun tidak ke arah orang-orang yang mengomel itu. Ia hanya menghadapi koki rumah makan
yang gendut, memakai topi bundar dengan kain lap di pundak dan yang sedang memanaskan bakpauw di
sudut rumah makan. Tiap kali koki ini membuka penutup tumpukan bakpauw yang dimasak, bau sedap
menyengat hidung, membuat Han Han menelan ludah. Sudah lama dia tidak makan masakan enak, apa lagi
bakpauw. Di sepanjang jalan ia hanya makan buah-buah, daun-daun muda, dan minum air gunung.
Koki gemuk itu menoleh dan mengernyitkan hidung ketika melihat Han Han. Akan tetapi ketika bertemu
dengan pandang mata yang halus namun tajam menusuk itu ia menelan kembali makian yang sudah keluar ke
ujung lidah. Sambil menggerakkan kedua tangan untuk menyatakan bahwa ia tidak berdaya dalam hal itu, ia
berkata.
“Wah, mana bisa, orang muda? Aku bekerja di sini untuk menjualkan bakpauw ini, kalau diminta begitu saja
dan kuberi, bisa-bisa gajiku akan dipotong habis oleh majikan. Bakpauw ini bukan untuk disedekahkan kepada
orang yang minta.” Dia tidak berani menyebut pengemis, karena koki ini maklum bahwa banyak orang kangdunia-
kangouw.blogspot.com
ouw berkeliaran di tempat itu dan melihat pandang mata pemuda ini, benar-benar menimbulkan rasa seram di
hati.
Han Han tersenyum ramah. Koki itu makin heran dan curiga. Kalau pengemis, mengapa begini tampan dan
giginya begitu putih bersih dan berderet rapi serta kelihatan kuat.
“Ucapanmu tepat sekali, Lopek. Aku pun bukan sembarangan mengemis atau minta dengan percuma. Tolong
sampaikan kepada majikanmu bahwa karena perutku lapar, aku minta dan setelah kenyang, aku akan
membayar makananku dengan tenaga, boleh disuruh bekerja apa saja untuk membayar makananku.”
Wah, pemuda ini ternyata benar-benar bukan pengemis, pikir si koki dengan hati lega. Ia merasa bangga akan
wawasannya tadi sehingga ia tidak terburu nafsu memaki dan mengusir pemuda ini sebagai pengemis. “Ah,
kalau begitu, tunggulah sebentar!”
Dengan gerak langkah kaki lucu, pantatnya yang membusung kebanyakan daging itu megal-megol seperti
larinya seekor bebek, koki itu lari masuk ke dalam dan bicara kepada seorang laki-laki setengah tua yang
berpakaian sebagai majikan dan yang kepalanya botak. Si botak itu menghentikan pekerjaannya menghitunghitung
dengan swipoa, lalu miringkan kepala untuk memandang ke arah pemuda kaki buntung yang berdiri di
depan pintu. Matanya agak lamur dan juling sehingga kalau melihat orang di tempat agak jauh ia harus
miringkan kepalanya, baru kelihatan agak jelas. Kemudian ia bangkit berdiri malas-malasan, berjalan keluar
diikuti koki yang megal-megol
Sejenak majikan restoran itu memandang Han Han dari kepala sampai ke kaki, terutama pada kaki buntung itu,
lalu bertanya, “Orang muda, engkau bisa bekerja apakah?”
“Apa saja, asal aku mendapat makan,” jawab Han Han sederhana sambil memandang ke arah tumpukan
bakpauw yang ditutup.
“Hemmm... dengan... eh, maaf... kakimu yang buntung sebelah, engkau dapat bekerja apakah?” Majikan
restoran itu mengurut-urut dagunya, berpikir-pikir. Dia mau menolong pemuda ini, akan tetapi dia pun tidak
mau rugi. Segala sesuatu bagi majikan ini harus ia perhitungkan dengan swipoa, jangan sampai rugi!
“Loya, pagi ini kebetulan sekali A-ji mangkir, kabarnya sakit. Bagaimana kalau dia ini membantu melayani
tamu?”
Pandang mata majikannya itu menimbang-nimbang. Biar pun kaki kirinya buntung, akan tetapi pemuda ini
bersih dan menyenangkan, tidak menjijikkan. Apa lagi kakinya yang buntung itu pun tertutup celana buntung
sehingga tidak kelihatan. Juga berdirinya tegak, walau pun hanya dengan kaki satu dibantu tongkat.
“Baiklah, pagi ini engkau boleh makan bakpauw sekenyangmu, siang dan malam nanti makan nasi. Akan tetapi
engkau harus membantu kami menjadi pelayan selama sehari semalam. Bagaimana?”
Sebetulnya Han Han merasa keberatan di dalam hatinya. Dia hanya ingin makan pagi itu kemudian
melanjutkan perjalanannya ke kota raja. Akan tetapi ketika ia melirik ke arah para tamu, ia melihat seorang
laki-laki muda bertubuh tegap berwajah gagah duduk bersama seorang temannya yang juga tegap dan gagah.
Dan di meja lain tampak empat orang mengelilingi meja dan tertawa-tawa sambil mengobrol, akan tetapi sikap
empat orang ini seperti mengejek dua orang itu.
Mereka mengobrol sambil memandang-mandang kedua orang itu, tertawa-tawa dan pandang mata mereka
menantang sekali. Hatinya tertarik. Agaknya di tempat ini banyak orang kang-ouw bertemu dan agaknya ia
akan melihat banyak dan mendengar banyak. Ia lalu mengangguk. Tidak mengapalah perjalanannya terlambat
sehari di tempat ini.
“Baiklah, aku terima syarat itu.”
Setelah majikan itu kembali ke mejanya, melanjutkan pekerjaannya mainkan swipoa sehingga ramai terdengar
ketrokan swipoa, koki itu tersenyum lebar dan berkata, “Aku senang sekali mendapat bantuanmu. Nah,
dunia-kangouw.blogspot.com
makanlah bakpauw ini!” Koki itu mengambil dua butir bakpauw dengan sumpitnya yang panjang dan
meletakkannya di atas piring.
Han Han menyambar bakpauw itu dan makan dengan lahapnya. Ia makan sampai habis lima butir, barulah
perutnya kenyang dan seleranya terpuaskan. Setelah minum air teh panas, tiba-tiba terdengar suara laki-laki
muda bertubuh tegap memanggil.
“Bung pelayan!”
Koki itu memberi isyarat dengan gerakan dagunya kepada Han Han. Han Han lalu meletakkan mangkok
tehnya dan berjalan cepat ke arah meja tamu yang dua orang itu. Si koki memandang langkahnya sejenak,
kemudian menggeleng-geleng kepala sambil menggumam seorang diri, “Kasihan...!”
“Ji-wi memanggil pelayan?” Han Han bertanya dengan sikap hormat kepada dua orang itu.
Si pemuda yang bertubuh tegap memandangnya sejenak, terutama kepada kakinya yang buntung, lalu
bertanya, “Engkau pelayan?”
“Benar, Kongcu, mulai saat ini sampai malam nanti. Kongcu hendak memesan apakah?”
“Tolong ambilkan tambahan sekati bakmi dan seguci arak!”
“Baik, Kongcu!” Han Han memutar tubuh dan atas isyarat koki yang memanaskan bakpauw ia lalu pergi ke
tempat yang ditunjuk, yaitu ke bagian dapur di belakang.
Ternyata rumah makan yang terdiri dari dua ruangan itu penuh tamu. Ketika ia melewati meja di mana duduk
empat orang kasar yang bercambang bauk, seorang di antara mereka melonjorkan kaki, seperti tidak
disengaja akan tetapi sesungguhnya disengaja. Han Han tentu saja dengan mudah dapat melewati kaki itu,
akan tetapi ia ingat akan kedudukannya sebagai pelayan dan berkata, “Maaf, harap suka memberi jalan, saya
hendak lewat.”
Orang itu brewok dan matanya bundar besar yang kini melotot kepada Han Han. “Apa katamu? Kau tidak bisa
menyebut taihiap? Kami adalah pendekar-pendekar besar, tahu?”
Han Han tersenyum. “Maaf, taihiap, karena saya tidak tahu maka....”
Orang itu menarik kakinya. “Sudah, pergilah. Memutari meja kami! Kakimu menjijikkan!”
Han Han membungkuk, lalu terpaksa mengambil jalan mengitari meja itu, berloncatan kecil dibantu tongkatnya,
terus ke dapur melaporkan pesanan dua orang itu. Koki di dapur sudah tahu bahwa ada seorang pelayan baru
yang menggantikan A-ji yang mangkir. Tanpa bertanya koki ini lalu menyediakan pesanan itu dan Han Han
diberi sehelai kain lap yang ia sampirkan di pundak. Kemudian ia membawa baki dengan tangan kanan di atas
pundak, menghampiri dua orang pemesannya sambil mengitari meja empat orang brewok. Sambil mengempit
tongkatnya, dengan kedua tangan Han Han menghidangkan bakmi di meja dua orang itu.
“Kasihan!” kata pemuda tampan bertubuh tegap sambil memandang Han Han. “Kenapa untuk mendapat
makan saja engkau yang buntung harus menjadi pelayan. Sobat, kalau kau perlu makan, makanlah, biar kami
yang bayar. Dan ini sedikit uang untuk bekal...”
Han Han membelalakkan mata dan merasa berterima kasih sekali. Dia mengenal orang baik, akan tetapi dia
juga tidak mengharapkan pertolongan orang. Ia menjura dan berkata.
“Terima kasih, Kongcu. Kongcu seorang yang baik sekali. Akan tetapi maaf, saya hanya menerima bantuan
yang dapat saya balas. Majikan restoran ini memberi saya makan, tentu saja saya harus membalasnya sekuat
kemampuan saya.” Ia menjura lagi untuk mengambil seguci arak yang dipesan, lalu meletakkannya di atas
meja dengan sikap hormat, dipandang oleh dua orang gagah itu dengan kagum. Tamu baru datang dan Han
Han cepat menyambut dan melayani pesanan mereka. Ia mulai merasa senang juga dengan pekerjaan ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Sungguh mengagumkan!” kata pemuda itu kepada temannya yang juga gagah dan usianya sudah ada empat
puluhan tahun. “Biar pun dia pincang kakinya, akan tetapi tidak pincang batinnya, masih mengenal budi!
Alangkah banyaknya orang sekarang yang lupa akan budi, lupa akan nenek moyang, lupa akan bangsa
sehingga tidak segan menjual negara!” kata-kata pemuda itu penuh semangat.
“Memang, Hiantit. Orang yang pincang dan lemah masih mempunyai semangat dan kejujuran, seperti watak
patriot. Sebaliknya, betapa banyaknya orang yang kuat dan gagah akan tetapi sebetulnya lemah dan mabuk
oleh harta dan kedudukan, tidak segan membantu penjajah!” kata orang yang setengah tua.
“Omongan seperti kentut!” Tiba-tiba seorang di antara empat orang kasar di meja sebelah, yang dahinya codet,
menggebrak meja sehingga mangkok-mangkok tergetar dan sebagian isinya tumpah di meja. “Omongan
pemberontak! Di waktu kerajaan baru belum membahagiakan rakyat pura-pura menjadi patriot! Ha-ha-ha,
betapa banyaknya manusia plin-plan seperti itu!”
Keadaan menjadi tegang. Biar pun tidak secara langsung saling memaki, namun omongan kedua pihak sudah
saling mengejek.
“Ciang-lo-enghiong, banyak pendapat yang sesat seperti itu. Orang-orang bijaksana jaman dahulu berkata Wibin-
wi-kok, hiap-ci-tai-cia (membela rakyat membela negara, adalah perbuatan paling mulia). Kalau
membaliknya dari pada membela negara dan memihak penjajah, itu namanya penjilat dan tidak berharga!”
kata pemuda gagah tadi sambil menghirup araknya. Mukanya agak merah, mungkin karena terlalu banyak
minum, mungkin juga karena marah.
“Memang demikianlah, So-hiantit. Akan tetapi bicara kepada orang yang berotak angin, apa artinya? Sama
dengan berteriak di padang pasir, sayang kalau ucapan baik-baik dihamburkan saja. Gentong kosong berbunyi
nyaring akan tetapi tidak ada isinya. Huhhh!” kata yang tua.
“Mulut bau busuk! Asal terbuka saja mengeluarkan bau busuk! Eh, Sam-wi Suheng, akan percumalah kita
dikenal sebagai Kang-thouw Su-liong (Empat Naga Berkepala Besi) kalau tidak membersihkan dusun ini yang
agaknya terdapat banyak lalat hijau dari Se-cuan! Yang jelas di sini bau dua ekor lalat hijau yang agaknya baru
keluar dari kakus. Baunya bukan main!” kata seorang di antara empat laki-laki brewok yang hidungnya besar.
Si Codet dan dua orang temannya tertawa bergelak sambil menuding-nuding ke arah dua orang itu.
Keadaan makin tegang dan banyak tamu tergesa-gesa membayar makanan yang belum habis, bahkan yang
baru masuk sudah keluar lagi tidak jadi memesan makanan. Majikan restoran berjalan ke sana ke mari
membawa swipoanya, wajahnya pucat. Koki gemuk berdiri di dekat tumpukan bakpauw dengan kaki menggigil.
Melihat ini, Han Han segera menghampiri meja empat orang brewok itu dan menjura sambil berkata, “Apakah
Su-wi Taihiap hendak memesan makanan tambahan?”
Si Codet menoleh dan menepuk-nepuk pundak Han Han sambil tertawa. “Inilah dia seorang patriot sejati, haha-
ha!” Tiga orang kawannya juga terbahak.
Orang ke Tiga yang ada tahi lalatnya di ujung hidung berkata mengejek, “Eh, pelayan patriot, apakah engkau
kehilangan kakimu di medan juang? Ha-ha-ha, agaknya engkau dahulu pelayan di Se-cuan dan karena
kekurangan makan lalu lari ke sini!”
Orang ke empat yang matanya sipit sekali menekan perutnya saking menahan ketawa lalu berkata, “Eh,
pelayan patriot. Coba katakan, kami adalah Kang-thouw Su-liong, dan kami membenci para pemberontak di
Se-cuan. Pemerintah baru amat bijaksana, dapat menggunakan orang pandai untuk membikin makmur hidup
rakyat. Akan tetapi para pemberontak di Se-cuan memancing-mancing perang, mengadakan kekacauan dan
membikin sengsara rakyat yang sudah terlalu banyak menderita akibat perang. Katakan, kalau kami memihak
kerajaan baru yang bagaikan sinar matahari sehabis hujan memberi harapan baru, tidakkah pendapat kami
benar?”
“Kalau berani menyalahkan, kupatahkan lagi kakimu yang tinggal sebelah!” kata Si Hidung Besar.
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Han berkata dengan suara tenang, “Menurut pendapat saya yang bodoh, manusia di dunia berhak
memiliki pendapat masing-masing, asal ada dasar kebenarannya. Kalau Su-wi yang gagah perkasa membela
pemerintah baru mengingat kepentingan rakyat, maka pendapat itu adalah benar sekali. Pendapat seseorang
dapat dinilai dari dasarnya, atau pamrihnya. Kalau dasar dan pamrihnya baik, maka pendapat itu adalah baik.”
“Ha-ha-ha-ha! Bagus, bagus! Engkau pincang, akan tetapi pendirianmu jejeg. Untuk pendirian yang bagus itu
engkau harus kami hadiahi secawan arak!” kata Si Codet sambil mengambil secawan arak, lalu diberikan
kepada Han Han.
Untuk tidak menimbulkan keributan, terpaksa Han Han minum arak itu.
“Terima kasih, taihiap.” Ia lalu terpincang-pincang meninggalkan meja dan ketika lewat dekat meja dua orang
gagah itu ia berhenti dan bertanya, “Apakah ji-wi membutuhkan sesuatu?”
Dua orang itu bertukar pandang, dan yang tua menyentuh lengan Han Han sambil berkata, “Orang muda, biar
pun kakimu buntung, agaknya engkau bukanlah seorang yang bodoh dan suka bicara sembarangan. Juga
sikapmu bukan seperti penjilat yang hanya bicara untuk menyenangkan orang karena takut.”
Ia berhenti sebentar, keadaan sunyi sekali. Empat orang di meja sebelah sama sekali tidak mengeluarkan
suara, agaknya mendengarkan penuh perhatian dan siap untuk meledak marah kalau ada omongan yang
terang-terangan mengenai mereka. Para tamu lain yang masih berada di situ sudah pindah meja, para koki
dan pelayan bersembunyi di sudut terjauh.
“Agaknya engkau memiliki pandangan luas dan tidak berat sebelah. Katakanlah, orang muda. Orang yang rela
berkorban jiwa demi rakyat dan negara, yang mempertaruhkan setiap jengkal tanah airnya dari kuku
penjajahan, tanpa pamrih untuk keuntungan diri sendiri dan semata-mata berjuang karena merasa bahwa hal
itu merupakan panggilan tanah air, merupakan tugas kewajiban seorang gagah, bagaimana pendapatmu akan
pendirian orang ini? Salahkah dia? Atau gagah perkasa?”
Dengan suara tetap tenang Han Han yang ingin meredakan api yang mulai membakar di antara dua meja itu,
menjawab, “Pendirian itu pun benar dan tepat sekali, Lo-enghiong. Seorang yang berani membela negara, asal
dengan dasar sebagaimana yang Lo-enghiong sebutkan tadi, bukan dasar mencari jasa dan keuntungan,
dialah seorang patriot sejati yang patut dijadikan teladan selagi hidup dan patut dipuji sebagai pahlawan
setelah gugur.”
“Bagus sekali! Tidak salah wawasanku bahwa engkau memang bukan pemuda sembarangan. Nah, minumlah
arak bersama kami, orang muda!” Orang gagah itu lalu memberi arak secawan penuh kepada Han Han yang
terpaksa menerimanya dan meminumnya.
“Ciang-lo-enghiong, marilah kita pergi dari sini. Tempat ini amat tidak menyenangkan, karena terlalu banyak
penjilat-penjilat dan terlalu banyak anjing. Gonggong anjing biasa masih enak didengarkan, akan tetapi
gonggong empat ekor anjing penjilat sungguh memuakkan. Yang ada di sini hanyalah sahabat buntung ini,
yang ternyata berjiwa patriot dan gagah!”
“Setan!” Si Laki-laki Brewok yang bermata sipit menampar meja di depannya sambil berdiri dan menunding ke
arah pemuda gagah. “Siapa yang kau maki anjing?”
Pemuda gagah itu pun bangkit berdiri, dadanya yang bidang dikembangkan dan ia pun menuding. “Siapa yang
kau maki setan?”
“Aku memaki kalian setan-setan pemberontak!”
“Dan aku memaki kalian anjing-anjing penjilat!”
“Keparat!” Empat orang laki-laki brewok itu menyambar sumpit mereka dan sekali menggerakkan tangan,
delapan batang sumpit menyambar ke arah dua orang gagah itu yang juga sudah bangkit berdiri. Akan tetapi
dengan lincah mereka itu dapat mengelak, bahkan masing-masing telah berhasil menyambar dua batang
sumpit.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Makanlah senjata kalian!” teriak yang tua dan mereka berdua mengembalikan empat batang sumpit itu
dengan sambitan kuat ke arah empat orang penyerang mereka.
Akan tetapi empat orang yang berjuluk Empat Naga Berkepala Raja itu ternyata juga lihai karena dengan
miringkan tubuh sedikit saja empat batang sumpit itu tidak mengenai tubuh mereka.
“Waduhh... aduhh... telingaku...!” Majikan restoran menjerit-jerit dan memegangi telinga kirinya yang ternyata
kena diserempet sebatang sumpit hingga daun telinga itu robek dan berdarah.
Han Han sudah melangkah maju dan berdiri di antara dua meja, di mana enam orang itu sudah saling serang.
Bahkan, empat orang brewok sudah menghunus golok mereka, sedangkan dua orang gagah itu masih tenangtenang
saja, namun sudah siap berdiri menyambut serangan lawan.
“Cu-wi sekalian harap sabar. Ingat, bukankah cu-wi berenam ini tergolong orang-orang gagah? Adakah di
antara cu-wi yang suka disebut orang jahat dan pengecut?”
“Heh? Si Buntung lancang. Siapa yang kau katakan penjahat dan pengecut?” bentak Si Mata Sipit sambil
mengamangkan goloknya.
Han Han menjura. “Syukurlah kalau cu-wi taihiap tidak sudi disebut penjahat atau pengecut, dan memang saya
pun yakin cu-wi adalah orang-orang gagah. Demikian pula dengan ji-wi Enghiong ini. Kalau cu-wi melanjutkan
perkelahian di sini, amatlah disangsikan apakah hal itu merupakan perbuatan orang gagah, karena perkelahian
itu akan merugikan banyak orang. Pertama, pemilik restoran rugi karena barang-barangnya rusak. Kedua, para
tamu rugi karena tidak dapat makan. Ketiga banyak bahayanya akan jatuh korban di antara orang-orang lain
seperti terbukti majikan saya daun telinganya robek. Nah, cu-wi sebagai orang-orang gagah tentu saja tidak
suka main kasar dan merugikan orang lain, bukan? Kalau memang hendak berkelahi, sebagai orang-orang
gagah dapat saja berunding nanti di luar dan menentukan tempat yang sunyi.”
Dua orang itu sudah duduk kembali dan yang tua berkata, ke arah majikan restoran, “Maafkan kami untuk luka
itu, biarlah kami menanggung kerugian untuk biaya berobat!”
Majikan itu dengan kaki gemetar memaksa diri tersenyum. “Tidak usah... tidak usah... asal jangan berkelahi di
sini... saya sudah berterima kasih sekali kepada cu-wi... ehh, tambahkan arak wangi, gratis dariku untuk terima
kasihku kepada enam orang tamu agung!”
Empat orang kasar itu sejenak tercengang, kemudian tertawa bergelak dan duduk kembali di bangku masingmasing.
Han Han cepat mengambilkan arak wangi, dan ia menerima pandang mata kagum dari koki gemuk dan
pelayan lain, dan pandang mata berterima kasih dari majikan restoran. Kalau tidak ada pelayan baru pincang
ini, celakalah, tentu akan hancur restorannya! Ruginya jangan dibicarakan lagi, bisa bangkrut dia!
Ketika Han Han menaruh guci arak wangi di atas meja kedua orang gagah itu, ia berkata, “Ji-wi Enghiong,
saya pernah mendengar kata orang bahwa keberanian tanpa perhitungan bukanlah kegagahan melainkan
ketololan. Benarkah itu? Silakan minum arak!”
Dua orang gagah itu saling pandang dengan mata terbelalak, kemudian minum arak mereka dan bangkit
berdiri. Tanpa banyak cakap mereka menghampiri meja majikan restoran, setelah berhitungan lalu
melemparkan uang perak di atas meja sambil berkata, “Kelebihannya harap perhitungkan untuk membayar
makanan sahabat yang menjadi pelayan itu!” Setelah berkata demikian, dua orang itu segera pergi
meninggalkan restoran tanpa pamit dan tanpa menoleh lagi.
Han Han menjadi lega hatinya. Ketika lewat di bekas meja dua orang itu, tangannya sambil lalu meraba
permukaan meja untuk menghapus huruf-huruf yang berbunyi: ‘Berbahaya, harap pergi!’, yaitu huruf-huruf
yang ia buat dengan guratan jari tangan ketika ia menghidangkan arak tadi. Memang ia melihat bahaya
mengancam kedua orang itu karena ia tadi dengan pendengarannya yang tidak lumrah manusia, dari jauh
mendengar bisik-bisik empat orang brewok yang mengatur siasat untuk melaporkan kepada pasukan penjaga
dunia-kangouw.blogspot.com
di luar dusun untuk menangkap dua orang yang disangka pemberontak. Dengan memperlihatkan sedikit
tenaga sinkang menggores huruf-huruf di atas meja, benar saja kedua orang gagah itu menjadi terkejut,
mengerti bahwa pemuda buntung itu bukan sembarang pelayan, percaya kepadanya lalu pergi.
Semenjak dulu Han Han tidak pernah dipengaruhi persoalan pro atau kontra bangsa Mancu. Hal ini timbul
karena keadaannya sendiri. Keluarganya terbasmi oleh perwira-perwira Mancu, akan tetapi dia mempunyai
adik angkat tersayang seorang anak Mancu yang keluarganya terbasmi oleh para pejuang! Keadaan yang
amat berlawanan inilah yang membuat selama ini Han Han berada di tengah-tengah dan tidak terseret, hanya
ia selalu memilih pihak yang benar.
Karena itu pula, dalam pertikaian yang hampir terjadi di rumah makan itu di antara dua orang pejuang dan
empat orang yang pro Kerajaan Mancu, ia tidak mau berpihak kepada satu pihak, melainkan berusaha untuk
mencegah terjadinya bentrokan antara bangsa sendiri hanya karena perdebatan. Dia sama sekali tidak tahu
bahwa di balik perdebatan itu terdapat hal-hal yang lebih besar lagi. Memang pemuda ini masih belum
mengerti dan belum dapat menyelami tentang persoalan kepatriotan.
Kini hatinya lega melihat dua orang pejuang itu telah meninggalkan restoran. Biar pun dia tidak berpihak dalam
persoalan yang diperdebatkan, namun tentu saja hatinya condong kepada dua orang gagah tadi karena sikap
mereka yang halus dan gagah. Sebaliknya diam-diam ia mencela di hati sikap empat orang yang kasar dan
jelas menyombongkan nama julukan dan kepandaian sendiri.
“Hiiiii, pelayan buntung...!”
Han Han menoleh dan melihat bahwa yang memanggilnya adalah Si Brewok Berhidung Besar. Ia segera
berloncatan menghampiri meja empat orang itu. “Ada yang hendak dipesan lagi, taihiap?”
“Hemmm, jadi engkau hanya mencari upah agar makananmu dibayari maka engkau tadi bersikap manis dan
membela dua orang pemberontak, ya? Kalau hanya uang yang kau cari, apakah kau kira kami tidak mampu
memberimu sepuluh kali lipat dari pada harga makananmu yang dibayar dua orang pemberontak tadi? Dan
tidak perlu dengan membela, asal engkau suka melayani kami akan kami bayar lebih banyak lagi. Hayo kau
bersihkan sepatuku yang penuh debu ini. Kalau engkau menolak, berarti memang kau lebih suka melayani Si
Pemberontak. Dan berarti engkau diam-diam adalah pemberontak atau mungkin mata-mata pemberontak!”
Han Han mengerutkan alisnya. Biar pun mengaku sebagai orang-orang gagah, sikap empat orang ini benarbenar
seperti perampok-perampok kasar. Akan tetapi untuk mencegah terjadinya keributan, ia yang sudah
pandai mengendalikan perasaan sendiri lalu menekuk lutut kakinya yang tinggal sebelah dan menggunakan
lap yang dibawanya untuk mengelap sepatu Si Hidung Besar.
“Bagus! Lain kali kalau engkau bicara manis lagi dan membela pemberontak, akan kupatahkan kakimu yang
tinggal sebelah. Pergilah!” Si Hidung Besar menggerakkan kaki menendang.
“Dukkk... augghhhhh...!” Ia menyeringai dan memegangi tulang keringnya yang bertemu dengan kaki bangku!
Ternyata tendangannya yang tidak keras ke arah Han Han untuk membikin malu pelayan buntung itu bertemu
dengan bangku, tepat pada tulang keringnya. Karena ia menendang tanpa pengerahan sinkang, hanya untuk
mendorong si pelayang terlentang, maka begitu tulang kering kakinya bertemu kaki bangku, tentu saja terasa
nyeri sekali. Saking nyerinya, Si Hidung Besar menggebrak meja dan beberapa mangkok masakan tertumpah
di atas meja dan ia lupa untuk menyelidiki bagaimana tiba-tiba ada bangku yang menghalang di antara dia dan
pelayan itu.
Han Han sudah melangkah mundur terpincang-pincang. Ia mengambil keputusan untuk pergi dari restoran itu.
Biar pun ia tidak minta, akan tetapi dua orang gagah tadi telah membayar makanannya, dan setelah
makanannya dibayar, untuk apa dia lebih lama di tempat itu? Hanya akan mendatangkan penghinaan saja.
Akan tetapi selagi ia hendak pergi, tiba-tiba Si Brewok bertahi lalat di hidung berseru.
“He, buntung! Pelayan macam apa engkau ini? Apakah matamu tidak melihat bahwa meja kami kotor? Hayo
lekas bersihkan!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Han tersenyum, Tadinya ia hendak pergi begitu saja agar tidak menimbulkan banyak keributan. Akan
tetapi menyaksikan sikap empat orang itu makin lama makin kasar dan kurang ajar, ia pikir lebih baik memberi
peringatan mereka untuk membuka mata mereka bahwa memandang rendah orang lain dan menyombongkan
kepandaian sendiri bukanlah watak orang gagah dan hanya akan mendatangkan aib kepada diri sendiri.
“Baikiah, taihiap!” kata Han Han sambil menghampiri meja itu, berdiri dengan satu kaki, mengempit tongkatnya,
kemudian tangan kirinya menekan meja sambil mengerahkan tenaga sinkang menggetarkan meja.
Di atas meja terdapat delapan buah mangkok makanan, panci-panci dan guci besar arak, cawan-cawan dan
sumpit. Tiba-tiba semua benda yang berada di atas meja itu mencelat seperti bernyawa, terbang ke atas! Han
Han dengan tenang mengangkat tangan kirinya dengan telapak menghadap ke atas, kemudian menggunakan
tangan kanan yang memegang lap untuk mengelap meja yang kotor karena tumpahan masakan dan arak!
Empat orang brewok yang masih duduk itu tiba-tiba melongo, matanya terbelalak lebar dengan muka
menengadah memandang mangkok piring sumpit panci yang terputar-putar di atas tidak dapat turun itu! Muka
mereka pucat, mulut mereka ternganga sehingga Si Hidung Besar tidak merasa betapa ada dua ekor lalat
hinggap di giginya yang kuning.
Setelah meja itu bersih disapunya dengan lap, Han Han lalu menggerakkan tangan kirinya. Benda-benda yang
terbang berputaran di atas itu lalu turun dan tanpa menerbitkan suara berisik berjatuhan di atas meja kembali,
persis di tempat semula seperti tadi seolah-olah tidak pernah meninggalkan permukaan meja yang kini telah
menjadi bersih!
Han Han menggantungkan lap di pundaknya, menurunkan tongkatnya dan terpincang mundur dua langkah,
membungkuk dan bertanya, “Su-wi taihiap, masih ada perintah lainkah?”
Empat orang brewok itu tertegun, memandang kepada Han Han, menelan ludah dan Si Hidung Besar tersedak
karena ketika menutup mulutnya tiba-tiba, seekor lalat kurang cepat terbang keluar sehingga terpaksa mencari
jalan ke dalam dan kesasar memasuki terowongan gelap berupa kerongkongan orang itu.
“Ti... tidak...” Si Mata Sipit berhasil mengeluarkan suara dengan mata kedap-kedip.
Han Han lalu meninggalkan meja itu, diikuti pandang mata, bukan hanya pandang mata empat orang
melainkan pandang mata semua orang yang berada di tempat itu dan yang tadi menonton peristiwa yang bagi
mereka amat ajaib. Keadaan sunyi sekali, seolah-olah semua orang masih belum mendapatkan napas mereka
kembali, dan Han Han menyampirkan lap di atas bangku dekat koki gemuk, lalu menjura kepada koki gemuk
sambil berkata.
“Lopek, terima kasih atas kebaikanmu. Karena makananku telah dibayar oleh dua orang Enghiong tadi,
maafkan aku tidak dapat membantu lebih lama lagi.” Ia lalu memutar tubuhnya keluar dari restoran itu.
Empat orang brewok itu dengan muka merah sekali karena malu, segera membayar harga makanan mereka
dan juga keluar tergesa-gesa. Setelah Han Han dan empat orang brewok itu pergi, gegerlah di restoran.
Semua orang bicara seperti sarang tawon diganggu, semua membicarakan peristiwa luar biasa itu. Di tempat
inilah pertama kali lahir julukan “Pendekar Buntung”, ada pula yang menyebutnya “Pendekar Siluman”, dan
ada yang menyebutnya “Pendekar Super Sakti”.
Memang sudah menjadi kelaziman bahwa orang paling suka melebih-lebihkan dalam menceritakan
pengalaman mereka sehingga perbuatan Han Han yang bagi para ahli silat tinggi yang memiliki tenaga
sinkang kuat bukanlah hal yang mengherankan, makin jauh dibawa angin makin dilebihkan dan makin aneh
sehingga sebentar saja dunia kang-ouw juga mendengar berita angin tentang munculnya seorang Pendekar
Super Sakti yang masih muda akan tetapi yang memiliki kepandaian setinggi langit!
Han Han melanjutkan perjalanan menuju ke utara, berjalan menyusuri pantai Sungai Fen-ho yang ia tahu akan
membawanya sampai ke Tai-goan. Karena keadaan di sepanjang sungai ini ramai dan banyak orang, maka
Han Han berjalan seenaknya, tidak mau menggunakan kepandaiannya karena hal ini akan menarik perhatian
orang. Setelah ia keluar dari dusun Leng-chun, ia pun merasa menyesal mengapa di rumah makan tadi dalam
dunia-kangouw.blogspot.com
usahanya memberi peringatan kepada keempat orang brewok ia telah memperlihatkan kepandaiannya
sehingga mengagetkan dan mengherankan banyak orang.
“Ah, betapa mudahnya mengerti pesan subo bahwa senjata ampuh yang terutama adalah menguasai nafsu
dan perasaan sendiri, tetapi betapa sukarnya melaksanakan pelajaran ini,” kata Han Han dalam hati sambil
melanjutkan perjalanannya di sepanjang pantai sungai yang indah pemandangannya.
Kurang lebih sepuluh li dari dusun yang ditinggalkannya itu, Sungai Fen-ho memasuki hutan dan keadaan di
sini sunyi. Han Han dapat melanjutkan perjalanannya dengan ilmunya yang hebat setelah digembleng Nenek
Khu Siauw Bwee, akan tetapi tiba-tiba ia mengurungkan niatnya karena melihat serombongan orang berdiri
menghadang jalan di depannya.
Ketika ia memandang, ternyata mereka itu adalah sepasukan prajurit Mancu terdiri dari dua puluh orang lebih,
dan di depan pasukan berdiri empat orang brewok tadi bersama seorang wanita cantik berusia tiga puluh lima
sampai empat puluh tahun. Dari sikap mereka apa lagi melihat empat orang brewokan itu, mengertilah Han
Han bahwa mereka itu telah mendahuluinya dengan menunggang kuda dan sengaja mencegatnya di tempat
sunyi itu. Pasukan itu mempunyai rombongan kuda yang ditambatkan di bawah pohon-pohon, tak jauh dari situ.
Han Han menarik napas panjang. Sebetulnya dia segan terlibat permusuhan dengan pihak mana pun juga. Dia
hendak mencari Lulu, dan dia tidak ingin usahanya mencari Lulu terhambat oleh segala macam gangguan dan
permusuhan yang tidak ada manfaatnya. Akan tetapi dia juga ingin sekali mengetahui apa yang akan dilakukan
oleh mereka, terutama sekali oleh empat orang brewok yang telah ia beri peringatan di rumah makan tadi.
Ia bersikap tenang, melanjutkan perjalanannya terpincang-pincang dibantu tongkatnya hingga ia tiba di depan
wanita dan empat orang brewok tadi yang memandang dengan mata terbelalak, masih tampak jeri. Akan tetapi
wanita itu memandangnya dengan sikap angkuh memandang rendah. Han Han hanya melihat ini semua dari
sudut matanya dan hendak melanjutkan perjalanan dengan mengambil jalan dekat sungai agar tidak
menerjang jalan yang sudah terpenuhi oleh rombongan pasukan itu.
“Pemuda buntung, berhenti dulu!”
Bentakan halus nyaring dari mulut wanita itu membuat Han Han terpaksa menghentikan langkahnya, berdiri
tegak tanpa menoleh.
Sunyi sejenak, dan terdengar wanita itu bertanya lirih, “Dia itukah orangnya?”
“Benar, Sianli. Hati-hati, dia lihai bukan main,” jawaban Si Brewok Berhidung Besar ini terdengar jelas oleh Han
Han yang masih tidak bergerak, juga tidak menoleh.
“Heh, orang muda pincang! Siapa namamu?”
Han Han yang mendengar betapa wanita itu disebut Sianli (Dewi), dapat menduga bahwa wanita itu tentulah
seorang tokoh kang-ouw dan tentu memiliki kepandaian tinggi. Jika tidak, mana berani memakai julukan Dewi?
Baru satu orang yang ia tahu memakai Dewi, yaitu Toat-beng Ciu-sian-li, bekas gurunya. Ia dapat menduga
bahwa karena empat orang brewok itu adalah orang-orang yang berpihak kepada pemerintah Mancu, maka
wanita cantik yang angkuh ini tentulah juga seorang tokoh yang membantu Kerajaan Ceng.
Tanpa menoleh Han Han menjawab, “Aku adalah seorang perantau miskin yang tidak ingin bermusuh dengan
siapa juga, tidak mempunyai hubungan pula dengan perang, harap kalian membiarkan aku lewat.”
“Aihhh, orang muda sombong! Agaknya engkau memiliki sedikit kepandaian maka sikapmu sesombong ini.
Ketahuilah, kami tidak berniat jahat terhadapmu, sebaliknya, kalau benar engkau memiliki kepandaian, kami
akan membawamu menghadap atasan kami karena pemerintah yang bijaksana membutuhkan bantuan orangorang
yang memiliki kepandaian. Kalau engkau berkepandaian, percayalah, hidupmu akan terjamin dan
engkau tidak usah berkeliaran merantau, menderita kekurangan dan kelaparan!”
Diam-diam Han Han tersenyum. Pemerintah Kerajaan Ceng dan bangsa Mancu memang cerdik sekall. Kalau
bangsa Mancu menggunakan kekerasan untuk membasmi orang-orang pribumi yang berkepandaian, tentu
dunia-kangouw.blogspot.com
perlawanan rakyat takkan kunjung berhenti karena rakyat akan menjadi makin benci kepada pemerintah
penjajah itu. Akan tetapi, dengan jalan membujuk orang-orang pandai membantu pemerintah, memberi mereka
kedudukan yang takkan mereka peroleh pada waktu pemerintah dipegang oleh bangsa sendiri, maka
kedudukan Pemerintah Ceng akan menjadi makin kuat, mendapatkan simpati orang-orang kang-ouw dan
dapat menarik hati rakyat.
“Terima kasih, aku tidak mungkin dapat menerimanya karena aku seorang yang tidak memiliki kepandaian
apa-apa.” Sambil berkata demikian, tanpa menoleh Han Han lalu melanjutkan langkahnya.
Wanita itu memperhatikan langkah Han Han yang terpincang-pincang, sejenak ragu-ragu akan kebenaran
laporan empat orang brewok. Tiba-tiba tangan kirinya bergerak dan....
“Cuiiittttt!” terdengar bunyi ketika sinar hitam menyambar ke arah punggung Han Han.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Cersil Keren

Pecinta Cersil