Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Minggu, 28 Januari 2018

Serial KPH Kisah Si Pedang Kilat 1

--Serial KPH Kisah Si Pedang Kilat 1
baca juga:

KISAH SI PEDANG KILAT
Karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo
Jilid 01
MALAM yang gelap dan dingin Hawa yang amat dingin
menyusup tulang membuat semua orang lebih suka tinggal di
dalam rumah, menghangatkan diri dengan api di perapian.
Jalan raya di depan rumah-rumah besar itu amat sepi, tak
nampak seorang pun di sana. Angin bertiup lembut, membawa
hawa yang amat dingin sehingga lampu-lampu gantung yang
bergoyang perlahan. itu seperti ikut kedinginan, cahayanya
lembut dan redup. Belum juga tengah malam, namun kota itu
seperti kota mati, tidak ada kesibukan di luar rumah.
Akan tetapi, di atas sebuah rumah yang besar dan tinggi karena berloteng, ada kesibukan yang aneh.
Lima bayangan hitam berkelebatan di atas wuwungan rumah itu dan dari gerakan mereka yang cepat
bagaikan lima ekor burung rajawali, mudah diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki
gin-kang (Ilmu meringankan tubuh) yang cukup tinggi. Angin yang berdesah di antara daun-daun pohon
membantu mereka, menghilangkan sedikit suara yang ditimbulkan kaki mereka ketika mereka bengerak
di atas wuwungan dan genteng.
Biarpun mereka memiliki ilmu silat yang tinggi, namun mereka bersikap hati-hati sekali. Hal ini tidaklah
mengherankan kalau diketahui bahwa pemilik rumah itu adalah seorang ahli silat kenamaan yang di
kota Nan-ping dikenal sebagai Kwa-enghiong (Pendekar Kwa). Dia bernama Kwa Tin, seorang akil silat
murid Siauw-lim-pai yang dihormati semua orang karena wataknya yang gagah perkasa, selalu
menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadilan. Kwa Tin memiliki perusahaan toko kain
yang cukup besar dan maju sehingga keadaan keluarganya tergolong mampu. Rumahnya besar, di
bagian depan dibuka sebagai toko kain, di belakang sebagai rumah tinggal di mana dia tinggal bersama
isterinya dan anak tunggalnya, seorang anak laki-laki bernama Kwa Bun Houw yang pada waktu itu
sudah berusia limabelas tahun.
Nama Kwa-enghiong dihormati di kota Nan-ping karena sudah beberapa kali pendekar ini berhasil
membasmi para penjahat yang mengganggu keamanan penduduk Nan-ping. Beberapa kali para
penjahat yang menganggap Kwa Tin sebagai pengganggu dan penghalang pekerjaan mereka, mencoba
untuk membalas dendam.
Akan tetapi Setelah mereka selalu dikalahkan Kwa Tin yang lihai, kota Nan-ping menjadi aman dan tidak
ada penjahat berani beraksi di kota itu atau di dusun-dusun sekitarnya. Apalagi setelah puteranya mulai
menjadi pemuda remaja, keluarga Kwa semakin ditakuti penjahat. Sejak kecil, Kwa Bun Houw
digembleng oleh ayahnya sendiri. Ternyata dia memiliki bakat yang amat baik, bahkan lebih baik dari
pada ayahnya sehingga setelah dia berusia limabelas tahun, ilmu silat ayahnya telah dipelajarinya semua
dan tingkat kepandaiannya hanya sedikit saja di bawah tingkat ayahnya karena dia kalah pengalaman
dan kalah matang. Akan tetapi, dalam hal tenaga dan kecepatan gerakan, Bun Houw tidak kalah oleh
ayahnya!
Lima sosok bayangan orang itu berkelompok di sudut wuwungan yang gelap, agaknya mereka
mengadakan perundingan. Kemudian mereka berpencar. Tak lama kemudian, nampak api berkobar di
bagian belakang bangunan itu. Gudang barang telah terbakar! A Piauw, tukang kebun yang tidur di
dekat gudang yang terbakar, terkejut dan berteriak-teriak.
"Kebakaran ! Kebakaran ... !"
Ketika dia masih berteriak-teriak, nampak api berkobar di sebelah kanan bangunan, lalu sebelah kiri dan
terdengar jeritan dua orang pelayan wanita.
Kwa Tin keluar dari kamarnya bersama isterinya. Dia melihat api berkobar di belakang, kanan dan kiri
rumahnya. Selagi dia hendak lari untuk memadamkan api, tiba-tiba nampak lima bayangan hitam
berloncatan turun dari atas dan Kwa Tin telah dikepung oleh lima orang berpakaian hitam yang
menutupi muka mereka dengan kedok hitam pula, masing-masing memegang sebatang pedang. Tanpa
banyak cakap lagi, mereka berlima sudah menyerang Kwa Tin!
Pendekar ini tidak memegang senjata, karena baru keluar dari kamarnya. Melihat munculnya lima orang
itu, tahulah dia bahwa rumahnya diserbu penjahat. Dia mendorong tubuh isterinya sehingga isterinya
terhuyung dan masuk lagi ke dalam kamar. Wanita itu menutup daun pintu dan menguncinya dari
dalam.
Lega melihat isterinya sudah bersembunyi, Kwa Tin lalu menghadapi pengeroyokan lima orang itu. Dia
menggunakan kelincahan gerakan tubuhnya untuk mengelak ke sana sini, berloncatan di antara
sambaran sinar pedang. Sementara itu, api terus mengamuk dan di luar rumah sudah terdengar para
tetangga yang mencoba untuk menyiramkan air dari luar rumah, berusaha memadamkan api yang
mengamuk di bagian belakang dan kanan kiri rumah.
Kwa Tin segera mendapat kenyataan bahwa lima orang berkedok yang mengeroyoknya itu adalah
orang-orang yang berilmu tinggi! Permainan pedang mereka amat cepat, kuat dan berbahaya sekali. Dia
merasa menyesal bahwa dia tidak memegang senjata. Kalau saja dia membawa pedangnya! Akan tetapi
penyesalan tiada gunanya dan dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan menguras semua kepandaian
dan kemampuannya untuk membela diri.
Lima batang pedang itu menyerangnya dengan ganas, menjadi lima gulung sinar yang berkelebatan
sehingga amat repot bagi Kwa Tin untuk mengelak dari sambaran lima batang pedang yang bertubi-tubi
datangnya itu. Biarpun dia memiliki gerakan lincah, berloncatan ke sana sini dan kadang-kadang
menyampok dengan tangannya ke arah tangan yang memegang pedang, namun lewat belasan jurus,
pundak kirinya tercium ujung sebatang pedang. Bajunya robek dan pundaknya tengores luka. Dia
menyambar sebuah bangku panjang dan mengamuk dengan bangku itu. Namun, sebentar saja dia
terpaksa melemparkan bangku yang beberapa kali bertemu pedang dan terpotong-potong. D'sambarnja
sebuah meja dan dan g n benda itu dia membela diri, menggunakan meja sebagai perisai dan kakinya
kadang-kadang menyambar dengan tendangannya yang kuat. Seorang pengeroyok termakan kakinya,
tepat mengenai pahanya dan orang itu terpelanting. Melihat kesempatan ini, Kwa Tin menubruk,
menghantamkan mejanya ke arah orang yang sudah roboh itu.
Orang itu menangkis dengan pedangnya.
"Brakkk!"
Meja menghantam lengan itu sehingga pedang itu terpental. Kwa Tin melompat dan menyambar
pedang itu sambil melemparkan mejanya ke arah pemilik pedang. Pada saat itu, disamping ada pedang
meluncur seperti anak panah.
“Cappp ...!” Pedang memasuki rongga dada Kwa Tin, dari bawah ketiak.
Kwa Tin mengeluarkan suara gerengan dan dia masih berhasil menangkap pedang yang terlepas tadi,
lalu membalik dan membabat.
"Crokkk!"
Orang yang menusuknya tadi menjerit, tangan kanannya sebatas pergelangan buntung oleh babatan
pedang Kwa Tin! Akan tetapi Kwa Tin sendiri roboh dengan pedang masih menancap di dadanya. Sambil
roboh, Kwa Tin masih mampu melemparkan pedang ke depan dan seorang pengeroyok lagi berteriak
kesakitan ketika paha kakinya tertusuk pedang yang dilontarkan itu. Para pengeroyok yang melihat Kwa
Tin sudah roboh dengan luka parah dan suara tetangga semakin ramai, mereka membawa teman yang
terluka dan berlompatan ke atas genteng, menghilang dari atap ke atap. Mereka juga merasa jerih
melihat betapa Kwa Tin demikian gagahnya, masih mampu melukai dua orang teman mereka, bahwa
yang seorang mengalami cedera buntung lengan tangan sebatas pergelangan! Akan tetapi seorang di
antara mereka menendang daun pintu sehingga jebol, lalu keluar lagi sambil memondong tubuh seorang
wanita yang kelihatan lemas karena tertotok. itulah isteri Kwa Tin yang mereka culik.
Kwa Tin masih belum tewas, bahkan juga tidak pingsan. Dia melihat betapa Isterinya diculik oleh
seorang di antara para penjahat bertopeng itu, akan tetapi ketika dia hendak bangkit untuk menolong
isterinya, dia roboh lagi dan mengeluh, dadanya terasa nyeri dan pendekar inipun maklum bahwa
ajalnya sudah dekat!
Pada saat itu, di antara para tetangga yang sedang sibuk berusaha memadamkan api, tanpa mengetahui
apa yang terjadi di dalam, nampak seorang pemuda menerobos di antara banyak orang dan diapun
menendang pintu depan yang sudah terbakar separuh itu sampai jebol lalu dia melompat masuk
menerjang api sambil berteriak.
"Ayaaaahhh ... ! Ibuuu ... !"
Semua orang memandang tegang, tidak berani mengikuti pemuda yang menerjang api itu. Pemuda itu
adalah Kwa Bun Houw yang tadi tidak berada di rumah karena dia sedang berada di rumah keluarga Cia,
yaitu keluarga calon isterinya! Calon ayah mertuanya yang menjadi sahabat baik ayahnya, mengajak dia
bercakap-cakap sampai jauh malam. Ketika akhirnya dia mendapat kesempatan berpamit dari calon
mertuanya dan tiba di dekat rumah, dia terkejut melihat rumah orang tuanya terbakar dan banyak
tetangga sedang berusaha memadamkan api. Dia segera mencari ayah ibunya, akan tetapi para
tetangga mengatakan bahwa ayah ibunya tidak nampak keluar dari rumah yang terbakar itu!
Mendengar ini, dengan nekat Bun Houw lalu menerjang daun pintu dan melompat ke dalam.
"Ayaahhhh ... !" Dia menubruk orang tua itu yang menggeletak bermandikan darah sendiri dengan
sebatang pedang masih menancap di dadanya.
“Ayah, apa yang terjadi? Siapa melakukan semua ini?" Bun Houw memangku kepala ayahnya yang
sudah terkulai lemas. Pendekar itu mendengar teriakan anaknya dan dia mengerahkan seluruh tenaga
terakhir untuk membuka mata dan mulutnya. "Bun Houw ... mereka ... lima orang ... berkedok ... yang
seorang ... buntung tangan kanannya ... " Dia terkulai dan napasnya berhenti.
"Ayah ...!” Bun Houw mengguncang tubuh ayahnya dan sungguh aneh, pendekar itu membuka matanya
lagi. Seolah-olah teriakan anaknya tadi menarik kembali nyawanya yang sudah melayang, “Ibumu ...
diculik mereka ... " Sukar benar dia mengeluarkan kata-kata ini dan kembali dia terkulai, sekali ini benarbenar
menghembuskan napas terakhir.
"Ayah ...! Ibuuuu ... !" Bun Houw teringat Ibunya dan dengan cepat bangkit berdiri, meloncat ke dalam
kamar. Ketika tidak melihat ibunya, teringat akan kata-kata terakhir ayahnya. Bun Houw meloncat ke
atas genteng dan diapun mencari dan memandang ke kanan kiri. Namun, tidak nampak sesuatu kecuali
para tetangga yang masih sibuk mencoba memadamkan api yang makin membesar. Bun Houw lalu
meloncat keluar dan seolah-olah ada yang mendorongnya, dia lalu berlari keluar kota menuju ke
selatan. Dia teringat bahwa di Selatan kota terdapat sebuah hutan, dan entah mengapa, seperti ada
bisikan di hatinya bahwa para penjahat itu membawa ibunya ke sana!
Tanpa memperdulikan lagi rumah orang tuanya yang terbakar dan ayahnya yang sudah tewas, Bun
Houw mencari-cari di dalam hutan. Sampai pagi dia masih mencari-cari dan akhirnya usahanya berhasil.
Di sebuah sudut hutan, di atas rumput tebal, di bawah pohon besar, dia menemukan Ibunya. Sudah mati
dan dalam keadaan telanjang bulat!
"Ibuuuu ... !" Dia menjerit dan menubruk mayat yang masih hangat itu. Agaknya belum lama ibunya
tewas Bun Houw hampir pingsan, akan tetapi dia menguatkan hatinya, lalu meloncat dan berlari-lari
mencari di sekitar tempat itu kalau-kalau akan dapat menemukan para penjahat itu.
Akan tetapi dia tidak menemukan jejak mereka dan akhirnya dengan hati penuh duka, dia menghampiri
mayat ibunya, mengenakan kembali pakaian ibunya yang cerai berai di tempat itu, lalu memondong
tubuh yang sudah tak bernyawa itu, menuju pulang! Wajahnya pucat dan muram, matanya seperti
lampu kehabisan minyak, akan tetapi kadang-kadang mata itu mengeluarkan sinar penuh kebencian dan
kemarahan yang membuat orang bengidik ngeri melihatnya.
Rumah keluarga Kwa itu habis terbakar. Rumah tinggal dan tokonya. Seluruh harta kekayaan keluarga
itu musnah dan kini Bun Houw tidak memiliki apa-Apalagi kecuali pakaian yang menempel di tubuhnya!
Dia kehilangan ayahnya, ibunya, harta bendanya, rumah tinggalnya.
Para tetangga membantunya sehingga jenazah ayah-ibunya dapat dimakamkan sepantasnya. Setelah
semua orang pulang. Bun Houw tinggal di tanah kuburan itu seorang diri, bersila di depan dua buah
makam yang masih baru itu. Bau dupa masih mengharumkan sekitar kuburan, dan bagi Bun Houw yang
bersila di situ, bau tanah juga menyengat hidungnya, mengingatkan dia bahwa ayah dan ibunya kini
berada di dalam tanah itu!
Dia tidak menangis lagi. Sudah habis air matanya sebelum kedua Jenazah itu dikebumikan. Kini dia
bersila, termenung. Bayangan mengerikan itu selalu menghantui mata hatinya. Bayangan ayahnya
dikeroyok lima orang berkedok, lalu ayahnya roboh dengan dada tertusuk pedang. Lalu bayangan yang
lebih menyakitkan hati lagi. Ibunya diperkosa dan dihina lima orang itu sampai mati! Dia mengepal tinju!
Mengapa ayahnya dan ibunya dibunuh orang?
Bun Houw membiarkan pikirannya bekerja sendiri. Dibongkarnya semua isi pikirannya yang bertumpuktumpuk.
Teringatlah dia akan keadaan ayahnya. Ayahnya seorang pendekar yang selalu menentang
kejahatan. Entah sudah berapa banyak penjahat dibasminya, dibunuhnya atau ditangkapnya, atau
dihajarnya. Dia merasa yakin bahwa apa yang menimpa keluarganya itu adalah akibat dari pada dendam
para penjahat. Ayahnya telah mengalahkan banyak penjahat, dengan kekerasan, dan hal ini tentu saja
mendatangkan dendam. Akhirnya, para penjahat yang menaruh dendam itu berhasil membalas,
Ayahnya dibunuh. Ibunya diperkosa dan dibunuh. Apakah dia harus mendendam pula? mendendam
kepada siapa ?
Teringat dia akan nasihat-nasihat ayahnya ketika ayahnya menggemblengnya dengan ilmu silat. Satu di
antaranya tentang dendam. "Anakku, seorang pendekar tidak akan bertindak karena benci! Biarpun
ayahmu ini menentang kejahatan, menentang para penjahat, namun tidak ada rasa benci di dalam
hatiku. Yang ada hanyalah rasa tanggung jawab dan tugas seorang pendekar, melindungi yang lemah
tertindas dan menentang yang kuat namun jahat. Jangan biarkan dirimu menjadi hamba dari nafsu
kebencian. Jangan biarkan hatimu menjadi taman, di mana pohon dendam tumbuh dan membesar
karena dendam adalah kebencian juga. Kalau kebencian menjadi dasar, maka setiap perbuatan adalah
kejahatan, apapun alasannya!"
Teringat akan nasihat ini, Bun Houw menghela napas panjang. Ayahnya dibunuh orang dan ibunya juga
dibunuh setelah diperkosa, apakah dia tidak boleh mendendam? Dendam kebencian merupakan racun
bagi batin sendiri, demikian ayahnya pernah berkata. Tidak, dia tidak boleh mendendam, akan tetapi dia
akan melanjutkan perjuangan ayahnya sebagai seorang pendekar. Dia akan menentang kejahatan dalam
bentuk apapun juga, tanpa dendam kebencian. Dia akan membasmi mereka yang membunuh orang
tuanya, kalau dia berhasil menemukan mereka, bukan karena dendam kebencian melainkan karena
mereka itu penjahat yang harus ditentang.
Tadi keluarga Cia juga datang melayat. Bahkan calon ayah mertuanya membujuknya untuk pulang ke
rumah keluarga Cia, akan tetapi dia tidak mau. Akhirnya merekapun pergi. Sejak kecil, oleh ayahnya dia
ditunangkan dengan Cia Ling Ay, puteri tunggal Cia Kun Ti, sahabat baik ayahnya. Karena ikatan
persahabatan antara ayahnya dan Cia Kun Ti amat erat maka dia dijodohkan dengan gadis itu, sejak
mereka berdua masih kanak-kanak. Mereka bahkan diberi kesempatan untuk bergaul dan berteman,
dan setelah mereka mulai dewasa, mereka juga saling tertarik dan saling mencintai. Walaupun Bun
Houw dan Ling Ay tidak pernah saling menyatakan perasaan cinta kasih mereka melalui kata-kata, dan
bergaul seperti dua orang sahabat biasa, namun masing-masing dapat merasakan akan cinta mereka.
Ling Ay juga ikut bersembahyang di depan peti mati calon ayah dan ibu mertuanya, bahkan Ia menangis
sesenggukan ketika melihat keadaan tunangannya yang demikian berduka. Di depan makam tadi, Ling
Ay juga menangis dan ikut membujuknya agar mau pulang ke rumahnya dan meninggalkan kuburan,
akan tetapi Bun Houw menolak dengan halus.
"Ay-moi, engkau pulanglah dulu. Biar aku sejenak menemani ayah dan Ibu di sini." jawabnya.
"Akan tetapi, Houw-koko, ayah ibumu sudah tiada. Tidak ada gunanya kalau engkau menyiksa diri dalam
kedukaan di tempat ini.” Gadis itu membujuk dan mencoba untuk menarik lengan pemuda yang
menjadi tunangannya, juga sahabat baiknya dan orang yang diam-diam dikasihinya.
"Moi-moi, kau pulanglah dulu, aku masih belum dapat meninggalkan tempat ini. Pengilah dan jangan
ganggu aku ... "
Setelah menarik napas dan menghapus air matanya, gadis itu pun pergi meninggalkannya untuk pulang
bersama ayah ibunya.
Kembali Bau Houw melamun. Kini baru dia mengerti benar apa yang dimaksudkan dalam kitab-kitab suci
bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak abadi. Hidup penuh duka yang timbul dari ikatan. Begitu
banyaknya ikatan selama ini membelenggu dirinya, bahkan ikatan itu telah mengakar di dalam batinnya.
Ikatan kepada ayah Ibunya, kepada harta kekayaan milik keluarganya. Sekarang, dalam sekejap mata
saja, semua itu direnggut musnah darinya. Habislah segala-galanya, semua miliknya. Hati siapa takkan
berdarah, batin siapa takkan menderita duka? Kini dia mengerti apa artinya itu, setelah merasakannya
sendiri. Hidupnya terasa kosong dan sunyi. Dia tidak mempunyai siapa-siApalagi.
Tidak mempunyai siapa-siApalagi? Ah, tidak begitu! Bukankah di sana masih ada Cia Ling Ay? Orang yang
dicintanya.” Bagaikan orang yang tadinya tenggelam ke dalam kegelapan tiba-tiba melihat setitik sinar
terang, Bun Houw bangkit berdiri. Bayangan Ling Ay memberi harapan. Dia memberi hormat kepada
kedua makam itu, lalu perlahan-lahan melangkah pergi, menuju ke rumah keluarga Cia. Ke mana lagi dia
dapat pergi? Rumahnya sendiri telah menjadi debu. Sedikitpun dia tidak memiliki apa-Apalagi, bahkan
pakaianpun hanya yang melekat pada tubuhnya.
Malapetaka dapat menimpa siapapun juga di dalam kehidupan di dunia ini. Tidak pandang bulu!
Seorang manusia yang paling berkuasa sekalipun, tidak kebal terhadap malapetaka dan maut, kalau
memang Tuhan sudah menghendaki. Tiada kekuatan apapun di dunia dan akhirat yang mampu
mengubah kehendak Tuhan. Kehendak Tuhanpun terjadilah. Manusia hanya dapat menerima, tawakal,
dengan penuh keikhlasan menyerahkan diri lahir batin sepenuhnya kepada kekuasaan Tuhan. Hanya
inilah satu-satunya jalan. Hanya Tuhan yang dapat menentukan jalan hidup ini, seperti Tuhan pula yang
menentukan dan mengatur segala sesuatu yang hidup dan mati, yang nampak dan tidak nampak. Tuhan
mendahului yang paling dulu, mengakhiri yang paling akhir, di sebelah dalam yang paling dalam dan di
sebelah luar yang paling luar! Tak terjangkau oleh akal pikiran. Kalau segala gerakan badan dan batin
diatur oleh kekuasaan Tuhan, barulah sempurna dan benar dan hal ini mungkin saja dapat dicapai
dengan penyerahan diri penuh keikhlasan dan kerendahan hati. Sebaliknya, segala gerakan badan dan
batin yang diatur oleh akal pikiran selalu ditunggangi nafsu-nafsu dan akibatnya seperti yang kita lihat di
sekeliling kita. Konflik dan pertentangan, perebutan, masing-masing menonjolkan kepentingan aku
sendiri dan tak dapat dihindarkan lagi, bentrokan-bentrokan dan kekerasanpun terjadilah, di manamana!
Akal pikiran dan segala macam nafsu memang sungguh amat kita perlukan dalam kehidupan ini. Akal
pikiran dan nafsu adalah alat-alat yang sangat benguna bagi kita untuk mempertahankan hidup di dunia
ini. Karena mereka itu hanya alat, maka haruslah dapat kita manfaatkan, kita peralat demi kepentingan
dan kebutuhan diri dalam kehidupan di dunia. Akan tetapi apa kenyataannya? Kita malah yang diperalat
oleh mereka! Kita diperalat, diperhamba oleh akal pikiran dan nafsu, maka rusaklah ketenteraman
hidup, lenyaplah kebahagiaan hidup. Akal pikiran dan nafsu hanya ingin ini, ingin itu. ingin lebih, ingin
enak dan segala macam keinginan. Dan untuk mengejar terlaksananya keinginan itu, kita diperalat untuk
mendapatkannya sehingga timbullah segala macam perbuatan kekerasan dan kemaksiatan. Kalaupun
rasa kemanusiaan kita, hati nurani kita sewaktu-waktu menyadari akan hal ini, hati nurani kita itu
sedemikian lemahnya sehingga tidak mampu menanggulangi kekuatan daya rendah dari nafsu-nafsu
dan akal pikir, dan kita tetap dicengkeram dan dikuasai, dipengaruhi. Hanya kekuasaan Tuhan sajalah
yang akan mampu menalukkan kegarangan daya-daya rendah itu, menjinakkannya dan mengembalikan
fungsinya sebagai alat, sebagai harta, bukan lagi sebagai majikan.
‘Tidak, aku tidak setuju! Pertunangan itu harus dibatalkan! Harus ! Ikatan perjodohan yang tidak
seimbang ini harus putus!” Nyonya Cia Kun Ti berkata dengan penuh ketegasan kepada suaminya yang
menundukkan mukanya dan duduk di kursi. Cia Kun Ti memang kalah wibawa dan selalu merasa rendah
diri terhadap isterinya. Hal ini timbul sejak dia menikah dengan isterinya ini, yang dulu merupakan
puteri dari majikannya! Dia hanya seorang karyawan dari toko besar ayah isterinya kemudian dia
menjadi mantu. Kini dia dan isterinya membuka sebuah toko kain, juga semua itu milik Isterinya. Oleh
karena itu, dalam segala hal isterinyalah yang mengemudikan dan menentukan dan hampir segala
keputusan yang diambil isterinya, dia terpaksa meng’amin’kan dan tidak berani membantah.
"Tapi, ketika mendiang ayahnya mengajukan usul pengikatan jodoh, kita sudah menyetujuinya.
Bukankah engkau sendiri juga setuju kalau anak kita Ling Ay dijodohkan dengan Bun Houw?" Nada
suaranya bukan membantah melainkan mengingatkan isterinya akan janji mereka terhadap mendiang
keluarga Kwa.
"Benar, tidak kupungkiri hal itu! Akan tetapi kita berjanji kepada Kwa Tin dan isterinya. Dan sekarang
mereka telah meninggal dunia. Dengan demikian, janji antara kita dengan merekapun sudah lenyap dan
putus!”
"Akan tetapi, isieriku, Bun Houw sendiri masih hidup dan dia sudah kita terima sebagai calon mantu ... "
“Tidak, sekarang tidak lagi. Janji kita hanya kepada orang tuanya dan kini telah batal! Bagaimana
mungkin aku mau menyerahkan anakku yang hanya satu-satunya itu kepada seorang pemuda yang
yatim-piatu, dan tidak mempunyai apa-Apalagi? Kita menyerahkan anak kita dan semua harta benda
kita kepadanya? Tidak! Aku tidak mau membikin anak sendiri sengsara!"
"Ah, begitukah maksudmu?” Cia Kun Ti yang merasa tidak enak sekali terhadap arwah sahabatnya,
mengangguk. "Kiranya karena Bun Houw sudah kehilangan segalanya, harta miliknya musnah dimakan
api, maka engkau lalu hendak menolaknya sebagai calon mantu?"
"Tentu saja! Mengapa tidak? Dulu, kita menerima Ikatan jodoh itu karena melihat ayahnya, bukan
melihat dia, dan kuanggap memang keadaan mereka seimbang dengan keadaan kita. Sekarang? Anak itu
yatim piatu dan miskin tidak memiliki apa-apa. Bagaimana mungkin akan menjadi suami Ling Ay? Tidak,
harus putus!”
Cia Kun Ti menghela napas panjang. Harus diakuinya bahwa bagaimanapun juga ada kebenaran dalam
ucapan isterinya. Dan diapun kasihan kepada Bun Houw. Anak itu baik sekali. Biarlah, biar Ikatan ini
diputuskan. Agaknya malah lebih baik bagi Bun Houw dan juga bagi anaknya. Kalau dilanjutkan, tentu
pernikahan itu sama keadaannya dengan dirinya sekarang ini! Yang memiliki harta isterinya dan yang
berkuasa isterinya! Dia tidak menginginkan puterinya menjadi kuasa atas diri suaminya, dan dia kasihan
membayangkan Bun Houw menjadi seperti dia!
Sementara dia termenung, Isterinya sudah berteriak memanggil puterinya, "Ling Ay ... ke sinilah!”
Gadis itu muncul dan duduk menghadapi ayah ibunya, pandang matanya penuh pertanyaan dan
khawatir melihat sikap ayah dan ibunya yang begitu serius.
"Ada apakah, Ibu ?" tanya gadis itu.
Cia Kun Ti tidak dapat mengatakan apapun. Dia tahu bahwa puteri tunggalnya itu sudah menganggap
Bun Houw sebagai calon suaminya. Sudah sejak kecil mereka ditunangkan dan puterinya sudah
menerimanya sebagai suatu kepastian. Mungkin puterinya sudah terlanjur mencinta pemuda itu. Dia
tidak tega untuk menyampaikan pemutusan Ikatan jodoh itu.
"Ling Ay. duduklah dekat Ibu. Aku hendak membicarakan urusan penting sekali, menyangkut
kehidupanmu, masa depanmu."
Gadis itu semakin khawatir dan dengan gelisah ia mendekati ibunya.
"Apa yang ibu maksudkan?"
"Engkau tahu apa yang telah terjadi dengan Bun Houw. Dia kematian ayah ibunya, kini dia menjadi
seorang yatim piatu yang hidup sebatang kara, bahkan seluruh harta milik orang tuanyapun musnah
dimakan api."
"Aku tahu, ibu, dan kasihan sekali Houw-koko." kata gadis remaja itu dan ia menunduk, kedua matanya
basah. Ia masih terlalu muda, baru berusia empatbelas tahun untuk mengetahui benar apakah ia
mencinta tunangannya itu. Namun, sudah jelas bahwa ia menyayangnya karena memang mereka telah
bersahabat sejak kecil, dan Bun Houw adalah seorang sahabat yang selalu bersikap sopan, ramah dan
baik kepadanya. Ia merasa pemuda itu seperti saudaranya sendiri, seperti seorang kakak.
"Memang, kita kasihan sekali kepadanya. Akan tetapi, tidak boleh rasa kasihan itu mengharuskan
engkau mengorbankan diri."
Gadis remaja itu mengangkat mukanya yang manis, memandang ibunya dengan heran. "Apa maksudmu,
ibu?"
"Ling Ay, ayah ibumu sudah mengambil keputusan bahwa pertunanganmu dengan Bun Houw harus
putus! Engkau tidak mungkin dapat berjodoh dengan seorang yatim piatu karena hal itu kelak hanya
akan menyengsarakan kalian berdua."
Gadis remaja itu terkejut sekali. Matanya terbelalak memandang ibunya. Baginya, menjadi isteri Bun
Houw atau bukan tidak menjadi soal yang terlalu besar baginya. Ia masih belum dewasa dan masih
terlalu muda untuk memikirkan soal pernikahan. Akan tetapi ia merasa kasihan sekali kepada Bun Houw.
"Akan tetapi, ibu! Houw-koko baru saja tertimpa kemalangan. Dia sedang berada dalam keadaan duka,
kehilangan ayah ibu dan seluruh harta bendanya. Bagaimana sekarang kita bahkan tidak menghiburnya,
melainkan menambah beban dukanya dengan memutuskan pertunangan itu?" Gadis itu memandang
kepada ibunya dan air matanya mengalir turun karena ia merasa iba sekali kepada Bun Houw.
"Tidak, anakku. Biarlah engkau tidak perlu mencampuri urusan ini, kami yang akan bicara dengan dia.
Aku percaya dia cukup bijaksana untuk menerima pemutusan pertunangan itu."
Ling Ay tidak membantah dan meninggalkan ayah ibunya, masuk ke dalam kamarnya dan menangis.
Bukan menangis sedih karena pertunangan itu diputuskan, melainkan menangis karena kasihan kepada
Bun Houw.
Sore itu. menjelang senja, dengan pakaian lusuh, rambut awut-awutan dan wajah kusut muram, Bun
Houw datang berkunjung ke rumah calon mertuanya. Dia tidak tahu ke mana lagi harus pergi. Tidak
mungkin dia tinggal terus di tanah kuburan. dia tidak memiliki rumah, dan tidak memilili keluarga lain di
kota Nan-ping kecuali keluarga calon isterinya. Biarpun hatinya terasa berat dan malu, terpaksa dia kini
berkunjung ke rumah calon mertuanya yang besar.
Sambutan calon ayah dan ibu mertuanya sungguh di luar dugaannya. Ketika mereka datang berlayat dan
ikut mengantar pemakaman, sikap mereka amat baik, menghibur dan juga ikut berduka. Akan tetapi
setelah kini dia berhadapan dengan kedua orang calon mertua itu yang menyambut kedatangannya di
ruangan depan, wajah mereka nampak dingin dan sama sekali tidak ramah, Apalagi ikut berduka.
"Duduklah di dalam, Bun Houw. Kebetulan engkau datang karena kami ingin membicarakan urusan
penting denganmu." kata Cia Kun Ti dengan suara kering.
Bun Houw masih belum menyangka buruk, mengira bahwa calon mertuanya tentu akan membicarakan
urusan perjodohannya demi kebaikannya. Dia pun ikut masuk dan mereka bertiga duduk saling
berhadapan, terhalang meja, di ruangan dalam. Akan tetapi calon ayah mertuanya kini tidak bicara,
hanya lebih banyak menundukkan mukanya yang tidak seramah biasanya. Kini calon ibu mertuanya yang
bicara.
"Bun Houw, kami sekeluarga merasa kasihan kepadamu atas malapetaka yang menimpa keluargamu.
Akan tetapi, kami terpaksa bicara denganmu mengenai ikatan jodoh antara engkau dan anak kami, lebih
cepat kita bicarakan lebih baik agar tidak menjadi ganjalan di hati."
Pemuda itu mengangkat mukanya yang muram dan diliputi kedukaan yang mendalam. "Apakah yang ibu
maksudkan ?"
Wanita itu menelan ludah dulu sebelum bicara, menenteramkan hatinya yang berdebar. "Begini, Bun
Houw. Kami percaya bahwa engkau sebagai seorang laki-laki, cukup bijaksana untuk dapat memaklumi
bahwa ikatan jodoh antara engkau dengan puteri kami itu tidak mungkin dilanjutkan dan terpaksa harus
kami putuskan atau batalkan."
Tentu saja Bun Houw terkejut bukan main mendengar ini. Matanya memandang kosong dan bengong
seolah-olah dia khawatir salah dengar, wajahnya menjadi semakin pucat dan dia memandang kepada
kedua orang tua itu bengantian dengan sinar mata bodoh dan tidak mengerti. Berbeda dengan keadaan
hati Ling Ay yang masih kekanak-kanakan, Bun Houw yang baru berusia limabelas tahun itu merasa telah
jatuh cinta kepada tunangannya. Dia sudah mencinta Ling Ay dan kini pertalian jodoh itu dibikin putus
secara sepihak dan secara tiba-tiba!
"Di ... dibatalkan ... ? Akan tetapi ... saya tidak mengerti ... mengapa? Apa kesalahan saya ... ?"
Melihat pemuda itu kelihatan amat terpukul, Cia Kun Ti merasa kasihan sekali. ‘Engkau tidak mempunyai
kesalahan apa-apa, Bun Houw ... " katanya, akan tetapi dia tidak dapat melanjutkan, isterinya sudah
menoleh kepadanya dengan pandang mata tajam penuh teguran.
"Engkau memang tidak bersalah, Bun Houw,” kata Nyonya Cia Kun Ti, "Yang bersalah adalah
keadaanmu. Engkau telah menjadi seorang anak yatim piatu. Karena Ling Ay masih mempunyai ayah
dan ibu, maka tidak mungkin ia menjadi isteri seorang yang yatim piatu. Nah, itulah sebabnya mengapa
kami terpaksa, dengan berat hati, memutuskan tali perjodohan itu, Bun Houw."
Pemuda itu mengerutkan alisnya, tidak dapat menerima begitu saja alasan yang dikemukakan calon ibu
mertuanya. “Akan tetapi, ibu. Kalau saya telah menjadi seorang yatim piatu, lalu mengapa? Kematian
seseorang adalah tak dari Tuhan, dan seseorang, cepat atau lambat, sudah pasti akan menjadi yatim
piatu, ditinggal mati ayah dan ibunya. Apa bedanya kalau saya sekarang menjadi yatim piatu atau kelak
kalau sudah anak lebih tua? Sungguh alasan ini bagi saya tidak masuk di akal!"
Nyonya Cia Kun Ti merasa tersudut oleh bantahan Bun Houw itu dan ia mengerutkan alisnya. Sinar
matanya membayangkan kemarahan dan ia lalu berkata, suaranya lantang. "Kwa Bun Houw, aku telah
mengemukakan alasan yang paling halus agar tidak menyinggungmu, akan tetapi engkau malah
membantah. Nah, dengarlah baik-baik. Bukan hanya karena engkau yatim piatu saja persoalannya.
Engkau sudah yatim piatu, tidak ada lagi ayahmu yang akan mengurus pernikahanmu, dan memberimu
warisan. Bahkan seluruh harta milik orang tuamu juga sudah habis terbakar. Engkau tidak mempunyai
apa-apalagi, tidak mempunyai orang tua yang boleh kausandari. Lalu apa akan jadinya kalau engkau
menjadi suami anak kami? Engkau tidak memiliki apa-apa, rumah pun tidak, lalu apakah kelak anak kami
akan kau beri makan tanah dan batu ? Nah itulah yang memaksa kami membatalkan perjodohan ini!
Engkau memaksaku untuk berterus terang!”
Sepasang mata Bun Houw terbelalak, wajahnya kini menjadi merah sekali. Setiap kata yang keluar dari
mulut wanita yang pernah dianggapnya sebagai calon ibu mertua, yang biasanya amat ramah
kepadanya itu, bagaikan ujung pedang yang menikam ulu hatinya. dia ditolak menjadi calon mantu
karena dia sudah yatim piatu dan miskin! Miskin itulah sebab utamanya dan diapun mengerti.
Betapapun pahitnya kenyataan itu, harus ditelannya karena memang benar demikian. Dia sendiri sudah
tidak memiliki apa-apa, tidak ada makanan untuk dimakan, pakaian untuk dipakai, bahkan tidak ada
tempat untuk berteduh. Bagaimana dia dapat memenuhi kebutuhan seorang Isteri ?
Perlahan-lahan dia bangkit berdiri. Kedua kakinya menggigil, akan tetapi dia menguatkan hatinya yang
terguncang. Kedua matanya terasa panas, matanya kabur oleh air mata yang dipertahankannya agar
jangan jatuh, bibirnya gemetar ketika dia hendak bicara. Dia akhirnya dapat menekan semua perasaan
terhina itu, dan dia berkata tersendat-seadat.
"Saya mengerti ... saya telah menjadi yatim piatu dan miskin ... saya tidak pantas menjadi calon suami
Ay-moi ... saya ... saya mohon pamit ... dia membalikkan tubuhnya dan melangkah perlahan
meninggalkan ruangan dalam itu menuju ke luar, tidak tahu betapa suami Isteri itu memanjang
kepadanya dengan sinar mata penuh iba. Bagaimanapun juga. Nyonya Cia Kun Ti memang terpaksa
melakukan keputusan itu, demi puterinya.
"Houw-koko ... !" Tiba-tiba Ling Ay lari keluar dari dalam dan mengejar Bun Houw yang baru tiba di
ambang pintu antara kamar ruangan dalam dan beranda depan.
Mendengar seruan ini, Bun Houw menahan langkahnya dan membalikkan tubuhnya, terpaksa
menggunakan punggung tangan menghapus beberapa tilik air mata yang tadi sempat turun dari pelupuk
mata dan jatuh ke atas pipinya.
"Houw-koko, engkau hendak pergi ke mana ... ?" Ling Ay bertanya sambil lari menghampiri dan
memegang kedua tangan pemuda itu.
Melihat wajah pemuda itu, dan pipi yang masih basah bekas usapan air mata, gadis remaja itu pun
merintih, "Ah, Houw-koko ...!” dan iapun menangis.
Bun Houw merasa jartungnya seperti disayat-sayat. Dia mengusap rambut kepala yang menunduk dan
menangis itu. "Sudahlah, Ay moi ... jangan berduka, Kupujikan agar kelak engkau memperoleh jodoh
yang sesuai denganmu, semoga engkau berbahagia, Ay moi ... " dan Bun Houw membalikkan tubuhnya,
cepat berlari keluar.
"Houw-koko ...!” Ling Ay hendak mengejar.
"Ling Ay ...!" Terdengar Ibunya membentak dan gadis itu menahan langkahnya, membalik lalu berlari
menubruk kaki ibunya.
"Ibuu ...!” Iapun menangis sesenggukan.
Ibunya merangkulnya dan mengusap-usap rambut kepala anaknya.
Bun Houw berjalan seorang diri. Tubuhnya terasa lemas sekali karena semenjak ayah ibunya tewas dan
sampai sekarang, sudah tiga hari tiga malam, dia tidak pernah makan tidak pernah tidur! Ditambah pula
pukulan batin bertubi-tubi, ayah ibunya dibunuh orang, rumahnya habis terbakar, musibah pemutusan
pertunangannya dengan Ling Ay, merasa dihina dan dipandang rendah, kehilangan segalanya.
Langkahnya gontai, bahkan sesekali kakinya tersandung akar atau batu sehingga terhuyung,
semangatnya menipis, mendekati keputusasaan.
Semenjak meninggalkan rumah kediaman keluarga Cia, dia berjalan terus meninggalkan kota Nan-ping,
tak pernah berhenti dan semalam suntuk dia berjalan. Tanpa tujuan? Kemana? Dia tidak mempunyai
siapapun di dunia ini yang dapat dikunjunginya. Tidak ada tujuan tidak ada rencana. dia melangkah asal
pergi saja dari keluarga Cia, dari kota Nan-ping, membiarkan kakinya bergerak dan membawa ke mana
saja kaki itu melangkah. Seperti sesosok mayat berjalan!
Matahari telah naik tinggi dan dia masih terseok-seok berjalan mendaki bukit itu, jalan yang sunyi. Tak
nampak seorangpun manusia. Makin menanjak jalan itu, makin tertatih-tatih dia melangkah karena
tubuhnya sudah lelah sekali. Di depan nampak sebuah hutan yang lebat. Kakinya menuju ke hutan itu,
tanpa dituntun lagi suatu kehendak atau pikiran.
Begitu dia tiba di tepi hutan, tiba tiba nampak lima bayangan manusia berlari-lari dengan cepatnya dari
bawah bukit. Lima orang ini dapat berlari cepat biarpun jalannya menanjak dan ini saja menunjukkan
bahwa mereka bukanlah orang orang sembarangan. Ketika tiba di tereng bukit itu, mereka berhenti dan
memandang ke kanan kiri. Tiba-tiba seorang di antara mereka menuding ke atas, ke arah tubuh Bun
Houw yang sudah tiba di dekat hutan.
"Itukah orangnya!”
"Mungkin saja! Tidak ada orang lain di sini."
"Kalau begitu mari kita cepat kejar."
"Benar, membasmi rumput harus bersama akar-akarnya!”
Mereka berlima, kelimanya mengenakan kedok hitam, kini berlari lagi ke arah puncak bukit.
Bun Houw tidak mengetahui semua itu. dia kini seperti orang yang ditinggalkan semangatnya. Dia lelah
lahir batin. Semalam tadi dia terhimpit perasaan duka yang amat berat. Pikirannya mengenang segala
peristiwa yang menimpa dirinya. Makin dikenang, semakin pahit dan semakin menghimpit perasaannya.
Timbullah perasaan iba diri yang amat besar dan hal ini menimbulkan duka. Demikian tertekan batinnya
sehingga dia lelah, lelah sekali. Dia tidak memperdulikan apa-Apalagi.
"Berhenti ...!” terdengar teriakan dari arah belakang. Bun Houw melangkah terus, tidak mendengar
karena tidak memperhatikan.
"Heii, orang yang berjalan di depan! Berhenti ...!” teriakan itu diulang, lebih nyaring.
Bun Houw melangkah terus, sudah mendengar akan tetapi tidak perduli, tidak mengira dia yang disuruh
berhenti.
Tiba-tiba Bun Houw melihat ada beberapa bayangan orang berkelebat di kanan kirinya, datang dari
belakang dan melewatinya. Ketika dia mengangkat muka, ternyata ada lima orang laki-laki yang
kesemuanya memakai kedok hitam telah berdiri menghadang di depannya. Sikap mereka itu garang
sekali. seorang di antara mereka, yang berperut gendut dan dagunya terhias bekas luka yang besar,
kedok bitam itu hanya menutupi mata dan hidung, berkata dengan suara lantang.
"Hei, berhenti dulu, orang muda! Apakah engkau putera Kwa Tin di Nan-ping?"
Tadinya Bun Houw memandang kepada mereka dengan sikap acuh, akan tetapi tiba-tiba dia teringat
akan pesan terakhir ayahnya. "Bun Houw, mereka lima orang berkedok, yang seorang buntung tangan
kanannya ... " demikian pesan ayahnya. Suara ayahnya itu selalu terngiang di telinganya. Dan lima orang
di depannya itu berkedok, dan seorang di antaranya memang buntung lengan kanannya!”
"Ah, kalian ... kalian lima orang yang membasmi keluarga Kwa?" tanyanya, wajahnya berubah pucat
kemudian merah dan suaranya gemetar.
"Tidak kami sangkal!” kata si perut gendut. "Dan engkau, siapakah engkau ? Apa hubunganmu dengan
keluarga Kwa?"
Bun Houw telah memandang dengan kemarahan memuncak sehingga dia lupa akan tubuhnya yang
lemah dan lemas, lupa akan kenyataan bahwa lima orang ini amat lihai sehingga ayahnya sendiripun
tewas di tangan mereka.
"Aku Kwa Bun Houw, putera mereka!” teriaknya.
"Ha-ha-ha, bagus sekali! Memang engkau kami cari karena engkau harus menyusul ayah ibumu!”
Bun Houw terkenang akan ayahnya, dan Ibunya yang tewas secara menyedihkan, maka matanya
mencorong seperti berapi-api. "Keparat jahanam, kalian ini Iblis-iblis jahat sekali. Kenapa kalian
demikian kejam membunuh ayah dan bahkan menghina dan membunuh ibuku? Apa dosa mereka?
Jawab dulu pertanyaanku agar aku tidak penasaran!”
SI gendut itu tertawa. "Tidak berdosa! Ayahmu tidak berdosa ? Hemm, berapa banyak sudah saudara
kami dibunuhnya, dan kami sendiri sampai kehilangan mata pencaharian karena ayahmu! Kami datang
membalas dendam atas kematian saudara saudara kami, dan ayahmu selalu merupakan ancaman bagi
pekerjaan kami! Ibumu kami bunuh karena ia adalah isteri ayahmu, seperti juga engkau harus kami
bunuh karena engkau adalah anak ayahmu!”
"Tapi ... ayah menentang kalian karena kejahatan kalian! Ayah selalu menentang orang ... orang jahat
dan itu sudah menjadi tugas seorang pendekar!”
"Huh ! Kami tidak perduli. Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa."
"Sudahlah, toako. Kenapa melayani obrolan bocah ini? Bunuh saja dia, habis perkara!” bentak penjahat
yang tangan kanannya buntung ketika mereka mengeroyok Kwa Tin.
Berkata demikian, dia sudah melangkah maju dan menyerang dengan tendangan kaki kanannya. Bun
Houw cepat mengelak akan tetapi empat orang penjahat lainnya sudah pula menerjang dan
mengeroyoknya. Agaknya, lima orang penjahat itu memandang rendah pemuda remaja berusia
limabelas tahun itu, maka mereka hanya mempengunakan kaki tangan untuk menyerang, tidak
mencabut senjata mereka.
Bun Houw mengamuk! Dia tahu bahwa perkelahian ini adalah prkelahian mati hidup. Dia harus dapat
merobohkan lima orang itu kalau dia ingin agar dapat hidup terus, karena kalau dia kalah berarti dia
akan mati. Dan dia bertekat untuk melawan sampai mati! Kenekatan inilah yang membuat dia menjadi
lebih kuat dari pada biasanya. dia tidak lagi memperdulikan bahaya yang mengancam dirinya. Yang ada
dalam hatinya hanyalah keinginan mengalahkan para pmgeroyoknya, maka dia pun menyerang seperti
seekor harimau kelaparan.
Akan tetapi, Bun Houw menghadapi pengeroyokan lima orang lawan yang pandai pula, biarpun sejak
kecil dia digembleng ayahnya dan telah mewarisi ilmu kepandaian ayahnya, namun dia kurang
pengalaman berkelahi, berbeda dengan lima orang lawannya yang merupakan tokoh tokoh kang-ouw
yang sudah biasa berkelahi melawan musuh yang tangguh. Oleh karena itu, sukar bagi Bun Houw untuk
dapat mengalahkan lima orang itu walaupun dia sudah mengamuk dengan nekat. Dia dihajar jatuh
bangun, dihujani pukulan dan tendangan sampai babak belur. Akan tetapi, Bun Houw tidak pernah
mengeluh, Apalagi menyerah. Begitu terkena pukulan atau tendangan yang membuat dia jatuh
tersungkur, dia bangkit lagi dan melawan dengan penuh semangat, seolah-olah tubuhnya yang sudah
babak belur dan matang biru itu sama sekali tidak dirasakan nyeri!
Namun, tubuh tidaklah sekuat hati yang sudah nekat. Kekuatan tubuh ada batasnya, Apalagi tubuh Bun
Houw yang sedang lemah karena kelaparan, kurang tidur dan dilanda duka nestapa itu. Ketika tangan si
gendut yang memimpin lima orang itu menghantam dadanya, amat kerasnya sehingga mengeluarkan
suara berdebuk, tubuh Bun Houw terjengkang dan dia muntahkan darah segar dari mulutnya. Dia
mencoba untuk merangkak bangun, tidak lagi secepat tadi. akan tetapi pada saat itu, sebuah kaki
dengan kerasnya menendang, mengenai punggungnya. Kembali dia terpelanting. dia berusaha bangkit
kembali namun gagal dan roboh tenguling.
Pada saat itu terdengar bunyi tak-tok-tak-tok dan seorang laki laki berusia limapuluhan tahun datang
menghampiri tempat itu. Dia memegang sebatang tongkat yang panjangnya kurang lebih tiga kaki.
Tongkat inilah yang mengeluarkan bunyi tak-tok-tak tok itu karena dia pengunakan untuk memukulmukul
batang pohon di kanan kiri dan batu-batu di depan kakinya. Dari tongkat ini mudah diduga bahwa
dia adalah seorang buta. Namun, dia dapat berjalan dengan cepat, dibantu tongkatnya yang merabaraba
dan memukul-mukul.
"Hei!, berhenti! Jangan pukuli orang seperti itu!” teriak si buta ini dan kini dia berdiri di depan Bun
Houw yang masih menggeletak dan tidak mampu melawan lagi, sikapnya melindungi pemuda itu dan
dia menghadapi lima orang sambil mengangkat muka ke atas. Matanya terbuka akan tetapi hanya
nampak biji mata yang putih!
Lima orang berkedok itu saling pandang, Tadinya mereka sudah merasa lega melihat pemuda yang
bandel dan kuat itu roboh, dan ingin memukulinya sampai mati. Munculnya orang ini mengejutkan
mereka, akan tetapi setelah melihat bahwa dia hanya seorang laki-laki buta, merekapun tidak merasa
khawatir.
"Heii, orang buta! Minggirlah dan jangan mencampuri urusan kami!” bentak si gendut marah.
"Hemm, selamanya aku tidak mau mencampuri urusan orang lain. Akan tetapi bagaimana mungkin aku
tinggal diam saja melihat orang dipukul dan dikeroyok untuk dibunuh? Tidak, kalian tidak boleh
memukuli orang ini tanpa sebab!”
"Orang buta tak tahu diri! Apakah engkau sudah bosan hidup? Pemuda ini adalah musuh kami. apakah
engkau sudah gila hendak melindungi musuh kami?" bentak pula si gendut.
"Lopek mereka ini penjahat-penjahat yang telah membunuh ayahku dan ibuku, dan sekarang mereka
hendak membunuh pula aku." kata Bun Houw membela diri walaupun dia tidak dapat mengharapkan
pertlongan seorang buta. dia hanya ingin mengulur waktu agar kekuatannya pulih kembali sehingga dia
dapat membela diri dan melawan sampai titik darah terakhir!”
Mendengar ucapan Bun Houw, orang buta itu menggerakkan tongkatnya dengan tidak sabar. "Wah,
wah! Kalau begitu lebih tidak boleh lagi kalian membunuh pemuda ini. Pergilah kalian dan jangan
ganggu pemuda ini!” kata si buta.
"Toako, untuk apa mendengarkan ocehan orang buta ini? Kalau dia tidak mau minggir, pukul saja atau
bunuh sekalian!” teriak seorang di antara mereka dan tanpa menanti jawaban pemimpinnya, dia sudah
melangkah maju lalu menendangkan kakinya ke arah perut orang buta itu.
"Tukkkl Aduhhh ...!” Si penendang itu berloncatan dengan kaki kirinya sedangkan kedua tangan
memegangi kaki kanan yang diangkat dan ditekuk lututnya ke belakang. Tulang keringnya seperti patah
rasanya karena bertemu dengan tongkat tadi. Ketika dia merabanya, tulang kering betisnya itu
menjendol besar, dan masih untung tidak patah.
Melihat ini, empat orang lainnya maju dan menyerang si buta dengan pukulan dan tendangan seperti
yang mereka lakukan kepada Bun Houw tadi. Bukan tendangan dan pukulan ngawur melainkan gerakan
silat yang teratur dan setiap serangan amat cepat dan kuat datangnya. Akan tetapi segera terdengar
suara tak-tuk-tak-tuk dan empat orang itu semua terhuyung ke belakang sambil mengaduh aduh, ada
yang memegangi kaki ada pula yang memegangi lengan yang tadi tertangkis oleh tongkat. Sungguh aneh
sekali orang itu jelas buta. akan tetapi mengapa setiap pukulan dan tendangan para pengeroyoknya itu
dapat ditangkisnya dengan amat tepatnya, menggunakan tongkat yang digerakkan secara aneh dan
cepat bukan main itu? Bun Houw yang melihat peristiwa ini, melongo penuh keheranan. Kalau saja lakilaki
itu tidak buta, tentu hal itu tidak mengherankan dan jelas bahwa orang itu merupakan seorang yang
berilmu. Akan tetapi kalau kenyataannya dia buta, sungguh luar biasa sekali! Mungkinkah seorang buta
memiliki ilmu kepandaian yang membuat dia sedemikian lihainya seolah olah pandai melihat saja?
Kini lima orang berkedok hitam itu sudah mencabut senjata mereka, yaitu masing masing memegang
sebatang pedang. Bun Houw terkejut bukan main. Baru bertangan kosong saja, lima orang itu sudah
begitu ganas dan kuat, apalagi bersenjata pedang. Diapun khawatir sekali akan nasib orang buta itu.
Akan matilah orang itu disayat-sayat pedang dan dia tidak rela membiarkan orang tak berdosa ini harus
tewas karena membelanya. Maka, sambil mengerahkan seluruh sisa tenaganya, Bun Houw melompat
dan memegang lengan orang buta itu.
"Lopek, engkau cepat pergilah dari sini, jangan mencampuri urusanku agar engkau tidak tertimpa
celaka!" Berkata demikian, Bun Houw mendorong orang itu ke samping dengan sekuat tenaga. Namun.
bukan orang buta itu yang terlempar, sebaliknya dia sendirilah yang roboh terpelanting seperti dilanda
angin keras, disusul suara orang buta itu.
“Orang muda, engkau minggirlah dan biarkan aku menghadapi mereka yang jahat ini."
Kini Bun Houw merasa semakin yakin bahwa orang buta ini memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka
biarpun jantungnya masih berdebar penuh ketegangan dan kekhawatiran, dia tidak bengerak lagi dan
tetap mendekam di atas tanah di mana dia terpelanting dan melihat dengan mata terbelalak dan tidak
berdaya.
Lima orang itu mengepung si buta dengan pedang di tangan. Seorang di antara mereka, yang buntung
lengan kanannya itupun memegang pedang dengan tangan kiri, dan sikap mereka buas sekali karena
mereka sudah marah bukan main. Orang buta itu berdiri di tengah, berdiri agak membungkuk, dengan
muka tunduk dan tongkat ditangannya menyentuh tanah. Kepalanya agak miring dan nampaknya dia
tidak berdaya sama sekali.
Lima orang sudah merasa pasti bahwa mereka akan dapat menyayat-nyayat tubuh si buta itu dalam
waktu singkat, dan mereka sudah merasa penasaran dan sakit hati karena tadi dihajar sehingga
menderita sakit sakit. Tiba-tiba si gendut yang menjadi pemimpin, melakukan gerakan pertama sambil
mengeluarkan bentakan nyaring.
"Mampuslah kau, orang buta!" Dan mereka berlima sudah menggerakkan pedang dalam saat yang
hampir berbareng. Lima sinar pedang menyambar dari lima jurusan dengan cepat sekali dan Bun Houw
sudah hampir memejamkan matanya karena tidak tahan dia melihat betapa tubuh itu akan hancur dan
darah akan bertebaran. Akan tetapi, dia terbelalak. Terdengar suara melengking tinggi dan tiba-tiba saja
nampaklah sinar kilat yang menyilaukan mata. Sinar kilat itu keluar dari tongkat si orang buta, dan kilat
itu menyambar dahsyat, membuat lingkaran sinar yang melindungi tubuh si buta dan membabat lima
gulungan sinar pedang yang menyerang tadi. Hanya terdengar suara berkerontangan nyaring disusul
teriakan-teriakan kaget dan lima batang pedang itu telah patah patah dan lima orang penyerang itu
sudah terhuyung ke belakang dengan muka pucat, memandang gagang pedang yang teranggat di tangan
mereka, lalu terbelalak memandang si orang buta yang kini masih berdiri tegak dengan sebatang pedang
yang berkilauan di tangan kanan! Kiranya tongkat tadi sudah dicabut dan di dalamnya terdapat pedang
itu! Dari balik topeng hitam, lima orang itu saling pandang kemudian seperti menerima komando tanpa
suara, mereka segera berloncatan melarikan diri dari tempat itu!
Kini baru Bun Houw yakin benar bahwa dia berhadapan dengan seorang sakti, walaupun kedua matanya
buta. Maka, tanpa ragu lagi dia pun menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki orang
buta itu. Dia sudah mengambil keputusan bulat untuk menghambakan diri sebagai murid kepada orang
itu dengan penuh hormat dan harapan, diapun memberi hormat dan membentur-benturkan dahinya di
atas tanah depan kaki si orang buta.
"Siancai (damai) ... apa yang kaulakukan ini, orang muda ? Bangkitlah dan jangan berlutut seperti itu!”
Dengan sekali menggerakkan tangan, nampak sinar terang berkilat lalu lenyap dan tahu-tahu pedang itu
telah menyusup kembali ke dalam tongkat dan kini dia menggunakan tongkatnya mencokel tubuh Bun
Houw. Pemuda ini merasa tubuhnya terangkat yang memaksanya untuk bangkit berdiri, akan tetapi
begitu tenaga yang dahsyat itu meninggalkannya, diapun cepat menjatuhkan diri berlutut lagi.
"Lo-cian-pwe, harap sudi mengampuni dan mengasihani saya. Lo-cian-pwelah menyelamatkan nyawa
saya, untuk itu saya menrhaturkan terima kasih, Akan tetapi juga kesaktian lo-cian-pwe membuat saya
mengambil keputusan untuk mohon menjadi murid lo-cian-pwe. Saya sudah yatim piatu dan sedang
putus harapan dan seakan-akan Tuhan yang mengirim lo-cian pwe kepada saya, untuk membimbing
saya ... "
"Hemmm, aku hanya seorang buta. Apakah yang dapat kuajarkan kepada seorang yang tidak buta?
Apakah engkau hendak belajar berjalan dibantu tongkat dan meraba-raba ke kanan kiri ?" Dia menarik
napas panjang.
Bun Houw yang sudah berlutut lagi itu berkata sungguh-sungguh, "Lo-cian-pwe memiliki kesaktian dan
dengan mudah telah mengalahkan lima orang penjahat itu. Lo-cian-pwe pandai memainkan pedang
yang disembunyikan di dalam tongkat. Teecu (murid) mohon diberi pelajaran ilmu pedang itu."
Si buta kembali menarik napas panjang. “Aih, ilmu pedang ? Apakah engkau ingin merajalela dengan
pedang, membunuhi orang dan terutama sekali mencari lima orang itu untuk membalas dendam ? Siaicai
... aku tidak mau mengajar orang menjadi pembunuh kejam dan menjadi hamba dari nafsu dendam
kebenciannya sendiri, orang muda."
"Tidak sama sekali, lo-cian-pwe. Mengenai kematian ayah-ibu, sudah teecu pikirkan dengan panjang
lebar dan mendalam. Teecu tidak akan menaruh dendam karena sejak dahulu ayah melarang teecu
dilanda dendam. Teecu maklum bahwa ayah dimusuhi banyak orang karena ayah selalu menentang
perbuatan jahat, sudah menakinkkan banyak sekali penjahat yang mengganggu orang lain di sekitar
Nan-ping, bahkan dalam perkelahian menentang para penjahat, entah sudah berapa banyak penjahat
dibunuhnya. Tidak, teecu maklum bahwa memang ayah tewas sebagai seorang pendekar melaksanakan
tugas. Teecu ingin mengikuti jejaknya, ingin menjadi pendekar pembasmi kejahatan dan untuk itu, teecu
membutuhkan kepandaian tinggi yang kiranya bisa teecu dapatkan karena kemurahan lo-cian-pwe."
Kini si orang buta itu tersenyum lebar, tangan kirinya dijulurkan dan jari-jari tangan kirinya menyentuh
kepala pemuda itu. Jari-jari tangan itu kini meraba-raba muka Bun Houw, menyentuh seluruh
permukaan wajahnya dan dia merasa betapa kulit jari-jari tangan itu amat halusnya dan mengandung
getaran halus. Kiranya si buta itu hendak "mengenalnya" dan mengetahui bentuk wajahnya dengan cara
meraba-raba. Kemudian, sekali tangan kiri itu memegang pundaknya dan menarik, Bun Houw tidak
mampu bertahan dan diapun tertarik berdiri. Kini tangan itu terus menggerayangi tubuhnya, pundak,
dada, pinggang, paha dan terus ke kaki.
"Bagus, engkau seorang pemuda yang tegap dan kuat. Berapa usiamu?"
"Saya berusia limabelas tahun, lo-cian-pwe."
"Hemm, masih remaja. Dan siapa namamu? Ceritakan tantang keluargamu, dan tentang peristiwa
terbunuhnya ayah bundamu."
"Nama saya Kwa Bun Houw dan orang tua saya bernama Kwa Tin, dikenal sebagai Kwa-enghiong di kota
Nan-ping, berdagang dan memiliki sebuah toko kain. Ayah adalah seorang murid Siauw-lim-pai.
Beberapa hari yang lalu, pada malam hari ketika saya tidak berada di rumah, agaknya rumah kami
kedatangan lima orang penjahat itu yang menuntut balas. Mereka membakar rumah, mengeroyok dan
membunuh ayah, kemudian menculik ibu dan akhirnya membunuh pula ibu setelah mereka
menghinanya di sebuah hutan." dengan singkat namun jelas Bun Houw menceritakan betapa dia sudah
tidak memiliki apa-Apalagi, bahkan dia menceritakan tentang sikap calon mertuanya yang begitu saja
tanpa alasan memutuskan ikatan pertunangannya dengan Cia Ling Ay. Betapa kemudian dia pergi
meninggalkan Nan-ping tanpa tujuan dan dengan hati merana sampai tiba di tempat itu dan dihadang
lima orang penjahat itu.
Si buta mendengarkan penuh perhatian beberapa kali mengangguk-angguk.
"Bagaimana engkau bisa mengetahui hahwa lima orang tadi adalah mereka yang telah membunuh
orang tuamu dan membakar rumahmu?" tanyanya. "Bukankah ketika peristiwa itu terjadi engkau tidak
berada di rumah?"
"Benar, lo-cian-pwe. Akan tetapi dari jauh teecu melihat kebakaran itu. Teecu cepat pulang dan masih
sempat teecu menerima pesan terakhir dari ayah sebelum dia meninggal. Dia hanya sempat berkata
bahwa yang melakukan pembunuhan itu adalah lima orang berkedok hitam dan seorang di antara
mereka buntung tangan kanannya, agaknya buntung ketika berkelahi mengeroyok ayah. Kelima orang
tadi tepat seperti yang dikatakan ayah, bahkan mereka tadi sudah mengaku bahwa merekalah
pembunuhnya, dan mereka hendak membunuh saya untuk membasmi rumput berikut akar-akarnya."
Si buta itu kembali mengangguk. "Jadi kalau begitu, engkau sudah tidak memiliki keluarga ataupun
tempat tinggal lagi ?"
"Begitulah, lo-cian-pwe. Oleh karena itu, mohon kemurahan hati lo-cian-pwe ... "
"Hemm, sebetulnya aku tak pernah ingin mempunyai murid agar tidak harus mewariskan ilmu yang
hanya dapat dipakai untuk membunuh orang. Akan tetapi agaknya memang sudah ditentukan oleh
Tuhan bahwa aku, Tiauw Sun Ong, terpaksa harus meninggalkan Ilmu kepada seorang murid, yaitu
engkau, Bun Houw."
Bun Houw segera menjatuhkan diri lagi berlutut dan mencium ujung sepatu orang buta itu. "Terima
kasih, suhu! Teecu bersumpah bahwa teecu akan mempergunakan ilmu-ilmu dari suhu hanya untuk
menentang kejahatan, seperti yang pernah dilakukan mendiang ayah teecu!”
"Hemmm ? Menjadi pendekar? Ingat bahwa ayahmu yang menjadi pendekar itupun akhirnya tewas di
tangan orang-orang jahat!”
"Lebih baik tewas sebagai pendekar dari pada mati sebagai seorang jahat, demikian ayah selalu
memesan kepada teecu. Matinya seorang pendekar di tangan penjahat berarti mati dalam menunaikan
tugas yang amat gagah dan mulia bagi seorang manusia."
Si buta yang bernama Tiauw Sun Ong itu tersenyum dan mengangguk-angguk. "Ayahmu memang hebat
dan aku kagum padanya. Adapun aku ... aku hanya seorang bangsawan yang terbuang ... "
"Suhu! Ketika mendengar nama suhu, teecu mengira bahwa suhu memiliki nama seperti seorang
bangsawan tinggi, seorang pangeran ... jadi benarkah itu ?"
Si buta itu kembali menarik napas panjang dan diapun berkata lembut, "Bawalah aku kepada batu-batu
yang enak diduduki. Bun Houw, agar kita dapat bicara dengan santai."
Bun Houw cepat memegang tongkat gurunya dan menuntun gurunya menuju ke kiri di mana terdapat
batu-batu yang halus dan rata. Di situ mereka duduk berhadapan.
"Sudah sepatutnya engkau mengenal siapa orang buta yang menjadi gurumu ini, Bun Houw. Dahulu
sekali, kurang lebih tigapuluh tahun yang lalu, aku adalah seorang pangeran yang hidup mewah dan
mulia di istana kaisar. Kaisar adalah kakak tiriku, dia putera permaisuri sedangkan aku hanyalah putera
selir. Akan tetapi kaisar amat sayang kepadaku, maka aku diberi kedudukan tinggi dan selalu dekat
dengannya, membantu tugasnya di dalam Istana. Lalu godaan yang mendatangkan malapetaka itupun
muncul dalam bentuk tubuh seorang selir kakakku, yaitu kaisar. Selir terkasih yang amat cantik jelita.
Kami saling jatuh cinta dan terjadilah hubungan gelap yang mesra di antara kami. Aku seperti mabok,
lupa bahwa wanita itu adalah selir terkasih dari kakakku. Kami berdua meneguk anggur larangan itu
sepuasnya sampai mabok dan akhirnya akibat buruk itupun terjadilah. Kami tertangkap basah. Aku
merasa menyesal dan malu. Kubutakan sendiri kedua mataku di depan kakakku, kemudian aku lolos dari
istana. Entah apa yang terjadi dengan selir kakakku itu."
Bun Houw memandang wajah orang buta itu dengan hati penuh perasaan iba. Sungguh menyedihkan
sekali riwayat gurunya ini.
"Akan tetapi, suhu. Mengapa suhu melakukan penghukuman atas diri sendiri yang demikian hebatnya?”
Tiauw Sun Ong atau yang di dunia kang-ouw terkenal dengan sebutan Si Buta Dari Utara itu menarik
napas panjang. "Begitulah orang muda seperti aku dahulu. Mudah tertarik, mudah jatuh cinta, mudah
membenci, mudah gembira, mudah marah. Pendeknya mudah diombang-ambingkan perasaan
dikemudikan napsu. Namun, penyesalan di belakang tiada gunanya. Aku hidup terlunta-lunta, bahkan
ingin mati saja. Namun akhirnya aku bertemu dengan seorang tosu yang memberi banyak nasihat. Aku
sadar, timbul pula gairah hidupku dan aku bahkan mempelajari ilmu silat sampai mendalam.
Demikianlah riwayat gurumu ini, Bun Houw."
Kemudian, guru dan murid itu pergi meninggalkan tempat itu, dan mulai hari itu. Bun Houw menerima
gemblengan ilmu-Ilmu silat yang amat hebat dari Si Buta, terutama sekali ilmu lotok jalan darah. Ilmu
tongkat dan Ilmu pedang yang amat dahsyat.
"Bun Houw, Ilmu pedangku ini memang merupakan ilmu pedang yang khas untuk orang buta. Oleh
karena itu, untuk dapat menguasainya dengan sempurna, pada saat mempelajari dan melatih dirimu
dalam ilmu silat pedang itu, engkau harus berlaku seperti orang buta, yaitu engkau sama sekali tidak
mempengunakan daya penglihatanmu dan harus memejamkan kedua matamu!”
Biar pun di dalam hatinya Bun Houw merasa heran mengapa dia yang pandai melihat harus tidak
mempengunakan penglihatannya, namun sebagai seorang murid yang patuh, dia selalu mentaati pesan
gurunya itu. Setiap kali berlatih silat yang diajarkan gurunya, dia menutup kedua matanya, dan hanya
mengandalkan ketajaman pendengaran dan indera lainnya. Bahkan di waktu tidak berlatih silatpun
gurunya menganjurkan agar dia seringkali menutupkan kedua matanya dan mencoba untuk melakukan
pekerjaan tanpa bantuan penglihatannya.
"Terutama untuk melatih ketajaman pendengaranmu," demikian gurunya memberi nasihat.
Dan akibatnya memang hebat. Hasilnya memang di luar dugaan. Setelah lewat beberapa tahun saja,
panca indera yang lain dari pemuda itu menjadi tajam bukan main. Terutama sekali pendengarannya.
Kalau dia berlatih bersama gurunya, dengan pendengarannya saja dia mampu mengikuti semua gerakan
tubuh gurunya. Pendengarannya menjadi amat tajam, dan kepekaan tumbuh dengan amat suburnya di
ujung Jari-jari tangan dan kakinya karena seringkah dipakainya untuk meraba-raba, penciumannya juga
menjadi amat tajam. Bahkan perasaannya bertambah peka seolah-olah Indra ke tujuh bangkit dengan
cepat karena kekurangan satu indera, yaitu mata.
Enam tahun lewat dengan cepatnya. Kini Bun Houw telah menjadi seorang pemuda berusia duapuluh
satu tahun, dan biarpun usianya itu masih amat muda, namun berkat gemblengan kepahitan hidup dia
telah menjadi seorang dewasa yang telah matang. Selama enam tahun, hampir tak henti-hentinya dia
menggembleng diri dengan latihan-latihan berat sehingga suhunya merasa amat gembira dan kagum.
Dan dalam waktu enam tahun, Bun Houw telah dapat menguasai ilmu-ilmu suhunya dengan baik,
bahkan hampir sempurna dan hampir dia dapat menandingi tingkat gurunya. Dan dia mampu hidup
dalam dua macam dunia. Dunia terang, yaitu dengan membuka mata seperti orang biasa, dan dunia
gelap, dunianya orang buta. Dia sanggup berhari hari lamanya terus menutupkan kedua matanya seperti
orang yang benar-benar buta, tanpa merasa canggung ataupun sengsara karena inderanya yang lain
sudah demikian tajam mampu menggantikan pekerjaan mata. Mungkin karena latihan tidak
mempengunakan kedua matanya inilah maka Bun Houw kini memiliki mata yang seperti sayu dan
dibuka sedikit saja, seperti mata orang yang menanggung duka nestapa, akan tetapi dari balik kelopak
mata yang hanya dibuka sedikit itu nampak mata yang mencorong bagaikan kilat menyambar. Apalagi
kalau sewaktu-waktu dia membuka kedua matanya agak lebar, nampaklah sepasang mata yang amat
tajam!
Selain berlatih silat, setiap harinya Bun Houw bekerja di sawah ladang milik suhunya yang berada di
belakang rumah. Mereka tinggal di tereng sebuah bukit. Bukit itu tanahnya subur sekali dan semua
penghuni dusun-dusun di kaki bukit bersawah ladang di tereng bukit itu. Guru Bun Houw membeli
sebidang tanah di tereng dan dengan bantuan muridnya mendirikan sebuah pondok untuk mereka
berdua. Para penghuni dusun yang kesemuanya petani, mengenal mereka sebagai guru dan murid yang
baik budi dan ramah, namun diliputi penuh rahasia.
Hasil sawah ladang yang dikerjakan Bun Houw dan gurunya sudah lebih dari cukup untuk keperluan
hidup mereka berdua, untuk makan dan membeli pakaian. Bun Houw semakin kagum dan mencinta
gurunya. Biarpun gurunya itu dahulunya seorang pangeran, hidup di istana indah dan dimuliakan orang,
namun kini gurunya tak pernah mau ketinggalan menggarap sawah ladang, mencangkul, menanam
bahkan memelihara dan ikut pula menuai hasilnya. Gurunya seperti seorang petani tulen! Karena setiap
hari bekerja di ladang, maka Bun Houw memiliki kebiasaan seperti para petani lainnya di daerah itu,
iyalah memakai sebuah caping lebar dan ringan terbuat dari pada bambu yang amat tipis. Caping lebar
seperti itu, dengan tali melibat bawah dagunya, dapat melindunginya dari panas dan hujan, semacam
payung kecil. Dan dia selalu mengecat capingnya dengan warna hitam.
Pada pagi hari itu, ketika matahari mulai terbit, Bun Houw sudah memakai capingnya dan memanggul
sebuah cangkul, bertelanjang kaki dan dada. Nampak dadanya yang bidang, dengan kulit yang
kecoklatan karena sering terbakar sinar matahari. Dia baru saja mandi di air sumber tak jauh dari
pondok setelah pagi tadi, pagi sekali, dia sudah bangun, berlatih silat, memikul air dari sumber ke
pondok memenuhi bak air, baru kemudian dia mandi.
Kini dia sudah siap pergi ke ladang.
"Bun Houw ... !"
Gurunya sudah duduk di belakang pondok, di atas sebuah bangku lebar buatan Bun Houw yang menjadi
tempat kesayangan gurunya untuk duduk menghirup udara segar.
Bun Houw terheran. Biasanya, pagi-pagi sekali suhunya sudah bangun akan tetapi duduk bersamadhi di
dalam kamarnya, baru keluar setelah sinar matahari menerangi bumi. Akan tetapi kini gurunya sudah
duduk di situ.
"Suhu!” Bun Houw menghampiri dan berlutut di depan gurunya. "Sepagi ini suhu sudah keluar?"
"Mulai pagi hari ini, aku yang akan bekerja di sawah ladang, Bun Houw."
"Akan tetapi, setiap hari suhu juga bekerja di sawah ladang!”
"Hanya membantumu. Akan tetapi mulai hari ini, aku sendiri yang akan mengolah tanah karena engkau
harus pergi dari sini."
"Akhh ... ?" Bun Houw terkejut bukan main mendengar ucapan gurunya itu. "Apa ... maksud suhu?
Apakah suhu hendak mengutus teecu (murid) pergi turun bukit ke dusun?"
Orang buta itu menggeleng kepala. "Memang turun bukit, akan tetapi bukan ke dusun di kaki bukit itu,
melainkan jauh dan tidak kembali lagi ke sini."
"Suhu ...!” Baru dia tahu bahwa suhunya bermaksud mengusirnya! "Teecu ingin tinggal bersama suhu di
sini!"
"Ha-ha-ha, orang muda! Apakah engkau ingin selamanya di sini dan menjadi karatan di bukit ini? Kalau
begitu, apa artinya engkau bersusah payah mempelajari Ilmu selama enam tahun ini? Sebatang cangkul
diasah setiap hari sampai menjadi tajam sekali, apa artinya kalau tidak dipengunakan? Lupakah engkau
akan cita-citamu untuk melanjutkan perjuangan ayahmu sebagal seorang pendekar yang melindungi
kaum lemah tertindas, menentang penjahat yang jahat ?"
Bun Houw teringat dan wajahnya berubah merah. Memang, dia telah menjadi seorang yang
berkepandaian cukup, akan tetapi bagaikan seekor jago, dia adalah seperti seekor jago yang selalu
dikurung dan diberi makan enak-enak sehingga dia menjadi keenakan dan gemuk. Dan kini, suhunya
mengingatkan dia akan cita-citanya yang seperti telah dilupakannya karena dia ingin hidup tenang dan
tenteram, enak-enakan terus di tempat sunyi itu.
"Maaf, suhu. Teecu tidak bermaksud melupakan cita-cita itu, hanya saja ... bagaimana teecu tega
meninggalkan suhu hidup seorang diri saja di tempat ini ? Siapa yang akan melayani suhu, siapa yang
akan mengerjakan sawah ladang suhu?"
"Bun Houw, kaukira aku ingin menjadi seorang tua yang dimanjakan? Bukankah setiap hari aku juga
bekerja? Apa sih sukarnya mencukupi kebutuhan badanku ini ? Jangan khawatir, aku akan tetap dapat
hidup di sini, biarpun tidak ada engkau. Aku mengambilmu sebagai murid bukan untuk mendapatkan
seorang pembantu dan pelayan!”
"Maafkan kelancangan teecu, suhu!” Bun Houw berkata, terkejut karena suhunya seperti orang yang
tersinggung.
Tiauw Sun Ong menghela napas dan mengelus jenggotnya. "Sudahlah, kini pelajaranmu sudah tamat
dan sudah tiba saatnya engkau harus merantau dan mempengunakan segala Ilmu yang kaupelajari di
sini. Bawalah semua pakaianmu dan aku tidak dapat memberi bekal apa-apa kecuali ini." Dia
menyerahkan sebuah kantung kain kuning kepada Bun Houw.
Ketika pemuda itu menerimanya, dia terkejut melihat isi kantung itu karena ternyata berisi uang emas,
sedikitnya ada sepuluh tail banyaknya!”
"Ah, untuk apa emas ini, suhu? Begini banyak ... "
"Aku masih mempunyai yang lain. Bun Houw. itu milikku yang kubawa dari Istana dahulu. kausimpanlah,
dapat kaupengunakan untuk biaya hidup. Ketahuilah, dalam perantauan engkau amat membutuhkan
uang, tidak seperti di sini engkau dapat hidup dari hasil tanah. Dan engkau terimalah pusakaku ini,
pergunakan sepatutnya karena selama berada di tanganku, Lui-kong-kiam (Pedang Kilai) ini tak pernah
kupengunakan untuk melakukan kejahatan, bahkan tidak pernah membunuh orang!” Dia menyerahkan
tongkatnya yang kelihatan butut itu, akan tetapi yang di sebelah dalamnya tersembunyi sebatang
pedang pusaka yang ampuh.
"Terima kasih, suhu!” Sekali ini Bun Houw girang bukan main. Tentu saja pedang itu tidak asing baginya.
Ketika dia digembleng ilmu pedang oleh gurunya, pedang Lui-kong-kiam itulah yang dia pengunakan
untuk berlatih. Setelah menerima uang dan pedang dari suhunya, dan diberi wejangan agar dia berhati
hati dalam perantauannya, dan juga diberi tahu tentang tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw yang
diketahui suaranya, maka Bun Houw berangkat meninggalkan tereng bukit itu, memanggul buntalan
pakaian dan menyelipkan tongkat butut berisi pedang itu di pinggangnya. Caping lebar hitam itu tidak
ketinggalan, akan tetapi karena hari masih pagi dan matahari belum panas, caping itu tengantung di
punggung menutupi buntalannya.
***
Cia Kun Ti juga seorang pedagang yang cukup berhasil di kota Nan-ping. Akan tetapi dia bekerja terlalu
keras. Hal ini mungkin karena dia merasa rendah diri terhadap isterinya. Cia Kun Ti dahulunya adalah
seorang karyawan dari ayah isterinya dan dia diambil mantu oleh majikannya itu. Setelah dia membuka
toko sendiri, tentu saja modalnya adalah milik isterinya dan dia hanya mengerjakannya saja. Maka
diapun bekerja keras sehingga makin lama tokonya menjadi semakin maju. Akan tetapi, tetap saja dia
merasa rendah diri dan selalu tunduk di bawah kemauan isterinya yang menguasai segalanya. Urusan
apapun yang timbul dalam rumah tangga dan keluarga mereka, selalu keputusan terakhir berada di
tangan isterinya! Mereka hanya mempunyai seorang anak saja, yaitu Cia Ling Ay, yang seperti kita
ketahui, ketika terjadi malapetaka menimpa keluarga Kwa, usianya empa belas tahun, Isteri Cia Kun Ti
pulalah yang memaksa suaminya agar pertunangan antara Ling Ay dan Bun Houw diputus, dibatalkan!
Hal ini amat menyedihkan hati Ling Ay yang merasa kasihan kepada Bun Houw, juga diam-diam Cia Kun
Ti menderita tekanan batin karena dia merasa berdosa kepada mendiang Kwa Tin, sahabat baiknya.
Mereka telah saling mengikat perjodohan antara anak mereka itu, dengan sumpah, akan tetapi ketika
keluarga Kwa dilanda malapetaka dan Kwa Bun Houw menjadi yatim piatu dan kehilangan segalanya, dia
tidak dapat mengulurkan tangan menolong calon mantu itu, bahkan memutuskan ikatan perjodohan!”
Ketika datang pinangan dari Cun-taijin, kepala daerah yang meminang Ling Ay untuk dijodohkan seorang
puteranya, isteri Cia Kun Ti pula yang mendesak agar suaminya menerima pinangan itu tanpa banyak
pikir lagi, "Perlu apa kita bersangsi lagi? Kita seolah-olah kejatuhan bulan purnama! Sungguh, Tuhan
telah memberkahi kita, memberkahi anak kita. Cun Tai-jin (Pembesar Cun) adalah orang nomor satu di
Nan-ping! Dia bagaikan seorang raja saja di kota ini, orang yang paling berkuasa. Bukan hanya itu. Juga
keluarga Cun selain berpangkat tinggi, mereka kaya raya pula. Kalau kita menjadi besan mereka, berarti
nama keluarga kita akan terangkat tinggi, kita dihormati orang, dan anak kitapun hidup dalam kemuliaan
dan kemewahan!” demikian antara lain isteri Cia Kun Ti mendesak suaminya.
"Akan tetapi, yang akan menikah adalah Ling Ay. Sudah sepatutnya kalan kila mendengar dulu
pendapatnya, ia adalah anak tunggal kita, senangkah hatimu kalau kelak melihat Ia hidup menderita ?"
"Menderita? Menderita bagaimana maksudmu? Engkau tentu sudah mengenal siapa itu Cun Kongcu
(Tuan Muda Cun). Dia masih muda, dia pun ganteng dan tampan, pandai, bangsawan, kaya raya. Mau
Apalagi ? Semua orang tua ingin mempunyai mantu dia, semua gadis ingin mempunyai suami seperti
dia! Dan engkau masih banyak rewel ? Kita harus bersembahyang ke semua kuil, mengucap syukur dan
terima kasih kepada Thian bahwa anak kita yang dipilih oleh Cun Kongcu!”
(Bersambung jilid ke 02)
Jilid 02
-OUCAPAN isteri Cia Kun Ti itu memang tidak keliru. Cun Kongcu, atau nama lengkapnya Cun Hok Seng,
adalah seorang pemuda berusia duapuluh lima tahun yang tampan. Ayahnya, kepala daerah Cun yang
menjadi orang paling berkuasa di kota Nan-ping dan yang mencalonkan putera dan anak tunggal itu
menjadi pembesar kelak, telah memberinya pendidikan sastra sehingga Cun Hok Seng menjadi seorang
terpelajar yang dikagumi banyak gadis dan orang tua mereka.
Pertemuan antara Cun Hok Seng dan Cia Ling Ay terjadi secara kebetulan saja. Ketika itu, Cia Ling Ay ikut
dengan ayah dan ibunya pergi ke kuil untuk bersembahyang. Hal ini terjadi atas permintaan Ling Ay yang
diam-diam bermaksud untuk sembahyang memintakan berkah dan perlindungan untuk Kwa Bun Houw
yang telah pergi selama empat tahun lebih dan tidak ada beritanya. Biarpun ia tahu bahwa tidak
mungkin tali perjodohan antara mereka disambung lagi, namun ia merasa kasihan kepada bekas
tunangan itu dan akan merasa ikut gembira kalau pemuda itu berada dalam keadaan selamat.
Ling Ay telah berubah menjadi seorang gadis dewasa yang amat cantik manis, berusia delapanbelas
tahun, bagaikan setangkai bunga sedang mekar semerbak mengharum. Ketika ia dan ibunya memasuki
kuil, banyak pasang mata memandangnya penuh kagum, terutama sekali mata pria muda yang
kebetulan berada di tempat itu. Sudah menjadi kebiasaan buruk para pemuda, kalau mereka sedang
bergerombol dan melihat seorang wanita cantik, tentu timbul keinginan mereka untuk menggoda.
Demikian pula dengan enam orang pemuda yang kebetulan berada di halaman kuil itu. Begitu melihat
Ling Ay dan ibunya, mereka sejak tadi sudah memandangi gadis itu penuh kagum, saling bisik dan
tersenyum-senyum. Kemudian, merekapun menghampiri Ling Ay dan ibunya, sengaja mereka
menghadang.
"Nona, bolehkah kami menemani nona bersembahyang!”
"Apakan nona hendak bersembahyang mencari joioh?”
"Tak usah mencari jauh-jauh, nona. Pilihlah seorang di antara kami!”
Mereka itu menggoda sambil menyeringai. Wajah Ling Ay berubah merah, kemudian pucat karena
merasa jerih dan khawatir kalau kalau para pemuda itu akan mengganggunya, Nyonya Cia Kun Ti
memandang dengan mata melotot dan wajah berubah merah padam. Ia marah sekali.
"Kalian ini orang-orang muda sungguh tidak sopan dan kurang ajar! Belum saling mengenal kalian sudah
berani mengajak anakku bicara." bentaknya marah.
"Aduh, bibi! Galak amat kepada calon mantumu."
"Bibi, sekarangpun berkenalan kan belum terlambat,"
"Anak bibi sungguh manis sekali!”
Pada saat itu, muncullah Cun Hok Seng. Dengan alis berkerut pemuda yang juga hendak bersembahyang
ini melihat dan mendengar sikap lima orang pemuda berandalan itu dan dia cepat menghampiri, lalu
menegur dengan suara garang.
"Sungguh tidak tahu malu sekali! Kalian ini orang-orang tidak tahu susila, hendak mencemarkan
kesucian kuil ini?"
Melihat seorang pemuda tampan berpakaian sastrawan berani mencampuri lima orang berandalan itu
hendak marah. Akan tetapi mereka meiihat dua orang pengawal berpakaian perajurit yang bertubuh
tinggi besar dan kokoh kuat, berwajah keren berada di belakang pemuda itu dan mereka melotot
marah. Melihat ini, mereka menjadi jerih, Apalagi ketika seorang di antara mereka mengenal Cun Hok
Seng. Dia cepat memberi hormat dan berkata dengan suara merendah.
"Kiranya Cun Kongcu! Maafkan kami, kami hanya ingin berkenalan dan bersendau gurau.”
"Bukan begitu caranya orang yang ingin berkenalan. Hayo kalian pergi dari sini, atau ingin kusuruh
tangkap dan seret ke pengadilan?"
Lima orang itu kini ketakutan karena yang lain kini mengenal pula pemuda itu sebagai putera kepala
daerah! Mereka cepat memberi hormat lalu pergi meninggalkan kuil tanpa berkata apapun.
Itulah awal perjumpaan Cun Hok Seng dan Ling Ay. Ibu Ling Ay cepat menghaturkan terima kasih dan
bersama puterinya memasuki kuil untuk bersembahyang. Sedangkan Cun Hok Seng terpesona dan
sampai lama dia berdiri bengong saja. Akhirnya, dua orang pengawalnya yang menyadarkannya dan dari
pengawal itulah Hok Seng tahu bahwa gadis yang membetot sukmanya tadi adalah puteri dari Cia Ku Ti,
seorang pedagang di Nan-ping. Dan kemudian, kepala daerah mengutus seorang perantara untuk
mengajukan pinangan setelah beberapa kali puteranya minta agar dijodohkan dengan puleri Cía Kun Ti
itu.
Ketika pinangan itu diajukan, Cia Kun Ti tidak segera menerimanya melainkan minta waktu untuk
berpikir-pikir dan hal inilah yang membuat isterinya marah-marah setelah perantara itu pulang. Watak
Cía Kun Ti berbeda dengan isterinya. Dia lama sekali tidak memikirkan kepentingan diri sendiri
menghadapi perjodohan puterinya, melainkan dia mementingkan kebahagiaan puterinya. Bagaimana
dia dapat menerima pinangan begitu saja tanpa lebih dulu mengetahui bagaimana pendapat puterinya,
orang yang akan melaksanakan atau menjalaninya? Namun, keraguannya ini membuat isterinya marahmarah
sehingga ia mengomel dan memaksa agar suaminya menerima pinangan itu.
"Baiklah ... aku segera akan memberi kabar kepada Cun Tai jin dan menerima pinangannya itu dengan
hormat. Akan tetapi, bagaimanapun juga kita harus memberitahu kepada anak kita." Tanpa menanti
ucapan isterinya lebih lanjut, Cia Kun Ti lalu memanggil puterinya.
Cia Ling Ay yang sedang sibuk di dapur bersama seorang pembantu rumah tangga, segera keluar dan
menuju ke ruangan duduk di mana ayahnya dan ibunya sudah duduk menantinya. Melihat wajah kedua
orang tuanya; itu nampak bersungguh-sungguh, ia lalu duduk di dekat Ibunya.
"Ada urusan apakah ayah memanggilku,” tanyanya.
"Ling Ay, kami memanggilmu untuk minta pertimbanganmu tentang ... "
"Bukan minta pertimbangan, melainkan untuk menyampaikan berita yang amat membanggakan hati
kepadamu, Ling Ay." isteri Cia Kun Ti memotong ucapan suaminya. "Kita telah kedatangan seorang
utusan dari keluarga Cun Taijin, anakku. Engkau tahu, yang kumaksudkan dengan Cun Taijin adalah
kepala daerah di kota ini. Orang nomor satu di sini, paling berkuasa, paling kaya, paling terhormat ... "
"Ada urusan apakah dengan kita, ibu ?"' Ling Ay memotong Ibunya agar rangkaian kata ‘yang paling’ itu
tidak berkepanjangan.
"Urusannya ? Engkau tentu tidak pernah dapat menduganya, atau mungkin engkau sudah bermimpi
kejatuhan bulan ? Aih, anakku yang manis, sungguh hati ibumu penuh dengan kebanggaan dan suka
cita. Tahukah engkau mengapa Cun Taijin mengirim utusan ke sini ? Untuk meminangmu!" Ibu itu sambil
tersenyum bangga memandang wajah puterinya.
Akan tetapi Ling Ay mengerutkan alisnya dan ia nampak kaget sekali. "Meminang aku ...?”
"Ya, engkaulah yang dipilih, anakku! Dan engkau tentu masih ingat. Pemuda yang ganteng itu, yang
sopan santun dan menolongmu, di kuil itu. Dialah yang akan menjadi suamimu. Dia itu Cun Kongcu,
putera tunggal Cun Taijin. Wah, engkau akan menjadi wanita yang paling mulia di kota ini!”
Akan tetapi, wajah gadis itu sama sekali tidak memperlihatkan perasaan seperti ibunya. Bahkan ia
mengerutkan alisnya karena pada saat itu terbayanglah wajah Kwa Bun Houw, terbayang ketika pemuda
itu meninggalkan rumahnya dengan muka pucat dan kepala menunduk. Empat tahun yang lalu. ia masih
seorang gadis remaja berusia empat-belas tahun. Sampai sekarang pun ia tidakk pernah dapat
melupakan Bun Houw. pemuda yang pernah menjadi tuuangannya itu. Ia tidak pernah tahu apakah ia
mencinta Bun Houw, karena ketika mereka ditunangkan, ia masih kecil dan ia masih belum mengerti
benar apa artinya cinta. Akan tetapi buktinya, sampai sekarang ia tidak pernah dapat melupakan Bun
Houw, walaupun setiap kali teringat, yang terasa olehnya hanyalah perasaan iba yang mendalam.
Ia selalu membayangkan betapa sakit perasaan hati pemuda itu ketika meninggalkan rumahnya, dan ia
tidak tahu apa yang terjadi dengan pemuda itu yang telah kehilangan segala-galanya. Orang tuanya,
harta miliknya bahkan tunangannya!
"Ling Ay, bagaimana pendapatmu dengan pinangan itu?" pertanyaan ayahnya ini menyadarkan Ling Ay
dari lamunan. Lenyaplah bayangan wajah Bun Houw dan kini samar-samar ia teringat kepada pemuda
yang pernah menegur para pemuda berandalan di kuil itu. Seorang pemuda yang memang tampan dan
sopan, pikirnya, akan tetapi sama sekali ia tidak pernah merasa tertarik. Bahkan kini berita bahwa
pemuda itu adalah putera tunggal Cun Taijin, dan telah meminangnya, tidak membuat hatinya merasa
tertarik sama sekali.
"Ling Ay, kami telah menerima pinangan itu dengan hati gembira dan bangga sekali. Kami yakin
engkaupun temu akan menjadi gembira. Bayangkan saja. Engkau akan hidup di dalam gedung seperti
istana, dilayani banyak pelayan, dijaga pasukan pengawal, dihormati orang seluruh kota, hidup
bermewah-mewahan dan mulia, naik turun kereta, mengenakan perhiasan lengkap dari emas
permata ..."
"Sudahlah, ibu. Kalau memang ayah dan ibu sudah menerima pinangan itu, untuk apa ditanyakan lagi
kepadaku?"
"Aih, anakku, jadi engkau setuju?" Ibunya merangkulnya dengan gembira.
Akan tetapi, Cia Kun Ti memandang puterinya dengan penuh perhatian. "Anakku, mengapa engkau tidak
gembira mendengar bahwa engkau akan menjadi mantu kepala daerah? Apakah engkau tidak setuju?
Nyalakanlah pendapatmu agar hati ayah ibumu menjadi lega."
"Aih, Ingin pernyataan Apalagi? Anak kita tidak menolak, itu berarti ia sudah setuju. Ia tidak begitu
bodoh untuk menolaknya! Menolak pinangan kepala daerah? Wah, hanya orang-orang gila yang akan
menolak keberuntungan seperti itu!" kata isterinya.
Ling Ay melepaskan dirinya dari rangkulan ibnnya, lalu ia mundur selangkah, memandang wajah ayah
dan ibunya dan betapa heran rasa hati orang tua gadis itu melihat bahwa kedua mata gadis itu basah.
Ayahnya makin ragu, mengira bahwa anaknya tidak setuju maka menangis, sebaliknya ibunya mengira
gadisnya menangis saking bahagianya!”
"Ayah dan ibu, apa yang harus kukatakan lagi? Apa artinya pendapat pribadiku dalam saat ini? Kalau
ayah dan ibu sudah menerima pinangan itu, sudah menyetujui, dapatkah aku menolaknya? Maka,
terserah saja kepada ayah! dan ibu ... "
"Tapi kau ... kau menangis? Ling Ay, mengapa engkau berduka?" tanya ayahnya.
"Engkau ini sungguh bodoh! Anak kita menangis saking gembiranya, bukan karena bersedih!”
Ling Ay memejamkan kedua matanya karena air matanya kini turun semakin deras.
"Ayah dan ibu ... " Ia mengusap air mata dengan saputangan. "Aku ... aku ... teringat! kepada koko Kwa
Bun Houw dan merasa kasihan sekali kepadanya ... " Dan iapun lari meninggalkan ruangan itu,
memasuki kamar sendiri.
Suami isteri itu saling pandang. "Ah, kiranya ia masih teringat kepada anak yatim piatu miskin itu?" kata
isteri Cia Kun Ti, lalu ia menyerang suaminya. "Ini semua salahmu! Engkau bertanya yang macam-macam
saja!” Wanita itu lalu lari ke kamar anaknya dan mengetuk-ngetuk pintu kamar itu yang dikunci dari
dalam. Akan tetapi ia mendengar suara Ling Ay.
"Ibu, biarkan aku sendiri. Aku sudah menerima kehendak ibu, jangan ganggu aku lagi. aku ingin
beristirahat ... " Ibunya terpaksa pergi dan mematuki kamarnya sendiri sambil bersungut-sungut.
Cia Kun Ti yang ditinggal seorang diri di ruangan duduk, lalu menghela napas panjang. Dia ikut merasa
sedih kalau-kalau anaknya itu berduka dan hanya menerima perjodohan itu karena terpaksa saja. Akan
tetapi, diam-diam dia merasa girang bahwa puterinya itu ternyata seorang yang berbudi baik, tidak
pernah melupakan bekas tunangan yang diperlakukan dengan tidak adil dan semena-mena itu. Akan
tetapi, dia tidak dapat berbuat sesuatu dan pertunangan dengan Kwa Bun Houw itu sudah putus,
pemuda itu sudah bertahun-tahun tidak pernah ada beritanya, Apalagi sekarang dia harus menerima
pinangan putera kepala daerah. Teringat ini, diapun cepat berkemas untuk mengenakan pakaian yang
pantas karena dia harus berkunjung ke rumah keluarga kepala daerah untuk menyampaikan
persetujuannya atas pinangan itu.
***
Tanah kuburan yang biasanya sunyi itu kini penuh orang. Sejak pagi banyak orang datang berkunjung
karena hari itu adalah hari Ceng-beng, yaitu hari yang merupakan hari besar bagi para keluarga untuk
mengunjungi tanah kuburan nenek moyang mereka. Para keluarga ini melakukan sembahyang di depan
makam orang tua atau kakek nenek mereka, membersihkan makam-makam keluarga itu.
Makam-makam yang sunyi itu nampak biasa saja. Sukar dibayangkan bagaimana perataan para
penghuni makam itu andaikata masih memiliki perasaan seperti ketika masih hidup. Mereka yang telah
mati itu hanyi setahun sekali menerima kunjungan sanak saudara, anak cucu. Setahun sekali, dalam
waktu sejam dua jam saja, para keluarga itu datang berkunjung dan bersembahyang. Setelah itu, anak
cucu itu segera pergi lagi, dan makam kembali menjadi sunyi. Penghuni makam dibiarkan sunyi sendiri,
menanti sampai kunjungan berikutnya yang akan mereka terima setahun kemudian! Selama
"menunggu" itu, tak seorangpun di antara para anak cucu yang ingat akan makam itu, dan makam
dibiarkan terlantar, hanya menjadi tempat mainan para penggembala kambing.
Akan tetapi pada hari Ceng-beng itu, para anak cucu datang dengan pakaian yang baru, membawa
hidangan untuk sembahyang dan ramailah keadaan di tanah kuburan yang biasanya amat sunyi itu.
Serombongan keluarga yang memasuki tanah kuburan itu tentu merupakan keluarga yang penting dan
terpandang. Buktinya, hampir semua pengunjung tanah kuburan yang berpapasan dengan keluarga ini,
segera memberi hormat, dan yang berada agak jauh, segera saling bisik membicarakan keluarga itu.
Keluarga itu terdiri dari sepasang suami Isteri yang masih muda. Juga sepasang suami isteri setengah tua
dan diiringkan oleh enam orang pelayan dan lima orang pengawal yang berpakaian seragam. Keluarga
pembesar!
Memang demikianlah. Suami-isteri muda itu adalah Cun Hok Seng dan isterinya, yaitu Cia Ling Ay! Sudah
setahun mereka menikah dan kini Cun Hok Seng berusia duapuluh enam tahun, sedangkan Cia Ling Ay
berusia duapuluh tahun. Mereka menikah setelah setahun bertunangan. Adapun suami Isteri setengah
tua itu adalah Cia Kun Ti dan isierinya. Jelaslah bahwa yang menerima penghormatan semua orang itu
adalah Cun Hok Seng, putera kepala daerah itu. Akan tetapi, yang merasa amat bangga sekali adalah
nyonya Cia Kun Ti, Ibu Ling Ay. Padahal ia hanya membonceng saja, membonceng kehormatan dan
kemuliaan mantunya, akan tetapi karena semua orang itu menghormat ke arah rombongan mantunya,
maka iapun merasa terhormat dan seolah-olah ialah yang dihormati mereka!”
Semua orang mengejar kehormatan ini! Semua orang bertingkah dan berharap agar mereka mendapat
penghormatan dari orang lain.
Semakin dihormat, semakin banggalah rasa hati ini, semakin merasa betapa dirinya ini ‘besar’.
Pengejaran kehormatan ini sesungguhnya bukan lain hanyalah ketinggian hati, keinginan nafsu yang
hendak mengangkat diri sendiri setinggi mungkin, yang menilai diri sendiri yang paling besar dan paling
tinggi, paling hebat. Karena itu setiap, kali rasa diri besar ini terlanggar, akan marahlah si-aku. Sama juga
dengan pengejaran harta benda yang dianggap akan merdatangkan kebahagiaan, demikian pula
pengejaran terhadap kehormatan di dasari anggapan bahwa kehormatan akan mendatangkan
kebahagiaan melalui kebanggaan. Padahal, kebahagiaan tidak mungkin dicapai melalui kesenangan
berharta besar atau melalui kebanggaan berkedudukan tinggi. Segala macam bentuk kesenangan
bukanlah makanan jiwa. melainkan sekedar permainan nafsu belaka dan biasanya, nafsu selalu
mengejar yang lebih sehingga kesenangan yang dinikmati itu dalam waktu singkat saja sudah terasa
hambar karena keinginan mengejar yang lebih. Dan akibatnya maka muncullah kekecewaan dan
penyesalan kalau yang dikejar itu tidak tercapai, atau kebosanan kalaupun tercapai karena kenyataan
tidaklah sesenang yang dibayangkan selagi dalam pengejaran. Kesenangan jelas bukan kebahagiaan.
Dan semua orang mengejar kebahagitan. Apakah sesungguhnya kebahagiaan? Demikian timbul
pertanyaan abadi sejak dahulu. Semua orang mengejar kebahagiaan! Dan makin dikejar semakin tak
nampak! Maka penting sekali mempelajari apa sesungguhnya kebahagiaan yang dikejar oleh setiap
orang manusia ini. Apakah hanya sebuah kata? Kata kosong belaka ?
Kebahagiaan jelas bukan kedukaan karena justeru di dalam penderitaan dukalah manusia merindukan
kebahagiaan kebahagian bukan pula kesenangan karena semua orang yang merasakan kesenangan
akhirnya mengakui bahwa kesenangan hanyalah sekelumit dan sementara saja sifatnya. Kalau kedukaan
bukan kebahagiaan, dan kesenangan juga bukan kebahagiaan, lalu apa? Apakah kebahagiaan yang
didambakan seluruh manusia di dunia ini? Tidak mungkinkah dirasakan orang selagi dia masih hidup?
Apakah kebahagiaan hanya bagian orang yang sudah mati dan hanya terdapat di akhirat? Semua
pertanyaan ini timbul dan tak seorangpun yang mampu menggambarkan bagaimana sesungguhnya
kebahagiaan itu. Bagaimana rasanya dan bagaimana keadaan seseorang yang benar-benar berbahagia!
Agaknya pertanyaan yang sudah diajukan manusia sejak ribuan tahun yang lalu ini takkan pernah dapat
dijawab. Bagaimana mungkin menjawabnya kalau bahagia merupakan suatu keadaan yang tak
tengambarkan? Suatu keadaan tabir batin yang hanya dapat dirasakan oleh yang bersingkutan ? Sekali
dibicarakan atau diceritakan, maka cerita atau penggambaran itu tidak mungkin sama dengan yang
digambarkan!
Bahagia bukan duka bukan suka. Kalau ada duka, tidak ada bahagia, kalau ada suka tidak ada bahagia.
Jelas bahwa bahagia berada di atas suka duka. Merupakan anugerah Tuhan, dan hanya Tuban yang akan
dapat menjadikan seseorang berbahagia. Tak mungkin dicapai melalui usaha akal pikiran karena
kebagiaan berada di atas akal pikiran yang menjadi sumber suka dan duka. Dan karena itu merupakan
ciptaan Tuhan, pekerjaan Tuhan, maka manusia tak mungkin dapat mencampuri. Seperti halnya
kelahiran dan kematian. Kita hanya dapat PASRAH, menyerah kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha
Bijaksana, yang akan mengatur segalanya ! Hanya pasrah, penuh keiklasan dan ketawakalan. Betapapun
juga, manusia hanyalah ciptaan, dan kekuasaan berada di tangan Sang Pencipta!
Sebelum Cun Hok Seng dan isterinya, ayah dan ibu mertuanya, tiba di tanah kuburan itu, lebih dulu
serombongan orang yang menjadi pembantu mereka telah datang dan mempersiapkan segala
keperluan sembahyang untuk putra kepala daerah Nan-ping dan keluarganya itu. Dan tentu saja
persiapan sembahyang itu yang termewah di antara peralatan sembahyang semua pengunjung tanah
atau taman kuburan itu.
Mereka berkunjung ke taman kuburan itu untuk menyembahyangi kakek dan nenek, juga nenek moyang
mereka. Nenek moyang kedua pihak, keluarga Cun dan keluarga Cia. Tentu saja yang didahulukan
adalah kuburan keluarga Cun, dan peralatan sembahyangan telah diatur lengkap oleh para pembantu di
tanah kuburan keluarga Cun. Makam makam keluarga ini paling besar dan megah, bukan hanya liongpai
(batu nisan) yang besar dengan ukiran ukiran indah, bahkan dibangun seperti kuil dengan atap
bergenting tebal dan dihias ukiran-ukiran naga.
Sebagian besar orang berani mengorbankan harta benda mereka untuk pembuatan bong-pai dan
bangunan makam yang seindahnya. Indah dan mewah. Tentu saja dengan dalih bahwa mereka
menghormati dan mencinta nenek moyang dan orang tua yang sudah meninggal dunia. Bahkan
keroyalan mereka membuang uang untuk membuat makam yang megah ini jauh melebihi kerelaan
mereka memberikan harta benda kepada orang tua mereka ketika orang tua itu masih hidup!
Sungguh sayang sekali, di balik perbuatan menghamburkan harta benda untuk membuat makam yang
amat indah dan mewah ini tersembunyi pamrih rendah. Pertama, pamrih agar mereka dipuji orang lain
dan dianggap sebagai anak-anak yang u-houw (berbakti) kepada orang tua dan nenek moyang, di
samping pamrih menyombongkan dan memamerkan harta kekayaan mereka. Ke dua, pamrih agar
mereka itu, dengan cara "berkorban" seperti itu, akan memperoleh doa restu dari arwah orang tua dan
nenek moyang sehingga rejeki yang mereka terima akan berlimpahan, jauh melampaui segala biaya
yang mereka keluarkan untuk pembuatan makam yang megah itu. Dan pamrih kedua ini mereka
percaya benar. Bahkan mereka itu dalam ketahyulan mereka, mengirim bongkahan bongkahan emas,
kereta, rumah gedung, yang mereka lakukan dengan cara membuat semua itu dari kertas dan bambu,
kemudian membakar semua benda palsu ini dengan kepercayaan bahwa semua benda itu di akhirat
akan benar benar menjadi benda-benda aseli dan dapat dipengunakan untuk kesejahteraan arwah
nenek moyang. Hal ini tentu saja akan membuat arwah nenek moyang merasa senang dan melimpahkan
berkah kepada anak cucu atau buyut yang u-houw (berbakti) itu. Sungguh merupakan suatu ketahyulan
yang bodoh sekali, karena yang jelas sekali, perbuatan itu hanya mendatangkan keuntungan besar
kepada orang orang yang pekerjaannya membuat benda benda palsu dan kertas itu dan yang mengatur
persembahyangan karena mereka akan menerima upah yang amat besar.
Padahal, houw atau kebaktian memang merupakan suatu kebajikan, suatu kewajiban dan keharusan
bagi setiap orang manusia beradab. Bakti kepada orang tua merupakan kasih sayang yang besar,
terdorong oleh budi yang telah kita terima dari orang tua, semenjak kita dilahirkan, dibesarkan oleh
orang tua. Kasih sayang ini tentu saja hanya dapat dibuktikan dengan sikap dan perbuatan kita terhadap
orang tua selagi mereka masih hidup dan sesudah mereka meninggal dunia, kebaktian itu masih dapat
dilanjutkan dengan menjaga semua perbuatan kita agar jangan sampai kita mengotori atau menodai
nama baik orang tua kita dengan perbuatan yang jahat. Inilah houw atau kebaktian dalam arti yang
sedalam-dalamnya. Houw atau kebaktian sesungguhnya hanyalah pelaksanaan dari perasaan cinta atau
kasih sayang terhadap orang tua!”
Setelah persembahyangan terhadap makam-makam nenek moyang keluarga Cun selesai dilakukan,
barulah rombongan Cun Hok Seng, isterinya dan kedua mertuanya itu melakukan sembahyang di depan
kuburan nenek moyang keluarga Cia.
Cia Ling Ay atau Nyonya Cun Hok Seng yang sudah selesai bersembahyang di depan makam nenek
moyang keluarga orang tuanya, tiba-tiba teringat akan kuburan Kwa Tin dan nyonya Kwa Tin, yaitu ayah
dan Ibu Kwa Bun Houw. Ia merasa kasihan sekali kepada Bun Houw dan walaupun ia telah menjadi isteri
orang lain, sering kali ia termenung membayangkan wajah bekas tunangan itu. Kini, setelah selesai
melakukan sembahyang kepada nenek moyang keluarganya, ia teringat kepada makam ayah dan ibu
Kwa Bun Houw. Ia melihat suaminya sedang bercakap. cakap dengan beberapa orang pria yang agaknya
juga orang-orang berpangkat yang datang ke tanah kuburan dengan maksud yang sama, dan ayah
ibunya juga sedang sibuk dengan peralatan sembahyangan, iapun merasa iseng dan melangkahlah
nyonya muda ini menuju ke makam ayah dan ibu bekas tunangannya itu yang letaknya tidak berapa
jauh dari kuburan nenek moyang keluarga orang tuanya, ia membawa segenggam hio swa (dupa biting)
yang sudah disulutnya dan dengan hati terharu ia melihat sepasang kuburan sederhana yang batu
nisannya berlumut dan kotor, depan batu nisan ditumbuhi rumput tebal. Makam yang sama sekali tidak
terawat.
Ling Ay segera menghampiri kedua makam yang berdampingan itu, lalu ia bersembahyang di depan
keduanya, ia sama sekali tidak tahu batwa sejak tadi sepasang mata memandangnya, sepasang mata
yang mula-mula terbelalak lebar dan memandangnya dengan heran, akan tetepi kini sepasang mata itu
berlinang air mata. Setelah bersembahyang sejenak, di dalam hatinya ia mohon ampun kepada bekas
calon ayah dan ibu mertuanya itu karena kegagalan perjodohannya dengan putera mereka, Ling Ay
menancapkan hio-swa di depan kedua makam. Akan tetapi, ia masih berdiri termenung di depan dua
buah makam itu ketika pemilik mata yang sejak tadi mengikuti gerak-geriknya itu menghampirinya dari
belakang.
"Maaf ... " suara itu agak gemetar, ‘kenapa engkau bersembahyang di depan makam ayah ibuku ... ?"
Ling Ay mendengar ucapan itu, terkejut dan cepat membalikkan tubuhnya. Kedua matanya terbelalak
memandan g kepada pria muda yang berdiri di depannya. Keduanya saling berpandangan, Ling Ay
terkejut akan tetapi juga ada perasaan gembira menyelinap di dalam hatinya, bercampur keharuan
melihat betapa kedua mata pemuda itu basah.
"Houw-koko ...!” Ling Ay berbisik, merasa seperti dalam mimpi setelah kini ia berdri berhadapan dengan
orang yang selama ini seringkali muncul dalam mimpinya.
"Ay-moi , eh, maaf Nyonya ... Cia Ling Ay,” Bun Houw pemuda itu tengagap. “Maaf, aku belum
mengetahui nama suamimu ... "
Ling Ay mengerutkan alisnya. Harus diakuinya bahwa biarpun ia selalu merasa rendah diri dalam
keluarga suaminya, juga suaminya jelas bersikap agak tinggi hati dan memandang rendah kepadanya,
namun suaminya kelihatan sayang kepadanya, iapun selama setahun ini sudah berusaha untuk bersikap
manis kepada suaminya, melayaninya dengan usaha untuk menyenangkan hati suaminya. Namun, harus
diakuinya bahwa di lubuk hatinya, ia tidak mempunyai perasaan cinta kepada suaminya! Dan sekarang,
berhadapan kembali dengan Bun Houw, setelah perpisahan selama enam tahun, setelah ia menjadi
seorang wanita dewasa dan Bun Houw juga menjadi seorang pria dewasa, baru ia merasa bahwa
sesungguhnya ia mencinta bekas tunangannya ini! Dan kenyataan ini mendatangkan perasaan nyeri
dalam hatinya, seolah-olah jantungnya tertusuk-tusuk dari dalam.
"Houw-ko ... kau ... kau sudah tahu ... ?" pertanyaan ini masih dilakukan dalam bisik-bisik sehingga ia
khawatir pemuda itu tidak dapat mendengarnya. Ia tidak tahu bahwa kini pendengaran pemuda itu luar
biasa ketajamannya. Bahkan suara-suara halus yang tidak mungkin dapat ditangkap oleh pendengaran
orang biasa, dia mampu mendengarnya, maka tentu saja bisikan Ling Ay itu sudah cukup jelas baginya.
Bun Houw mengangguk dan dia meletakkan butalan kain yang dibawanya ke atas tanah berumput, di
depan makam ayah ibunya. "Sejak tadi aku sudah melihat engkau, ayah ibumu, dan ... suamimu. Ah,
benar, aku belum menghaturkan selamat kepadamu." Pemuda itu lalu bangkit lagi dan mengangkat
kedua tangan ke depan dada memberi hormat sambil berkata, "Kiong hi (selamat), engkau telah
mendapatkan seorang suami yang tampan, berwibawa dan kaya raya. Agaknya dia seorang pembesar
tinggi, bukan?”
Ada perasaan bangga menyelinap di hati Ling Ay, perasaan bangga yang diikuti perasaan nyeri dan juga
iba kepada pemuda di depannya itu. Ia mengangguk dan berkata lirih, "Dia putera kepala daerah Cun di
Nan-ping."
"Ah! Kiranya engkau menjadi mantu kepala daerah? Sungguh, aku harus menghaturkan selamat untuk
kedua kalinya. Bun Houw mengeraskan hatinya yang tadi menjadi lemah dan terharu ketika bertemu
dengan Ling Ay, dan dia berusaha untuk bersikap bijaksana. "Toanio, sungguh aku merasa ikut
berbahagia melihat keadaanmu dan ... terus terang saja, walaupun pertemuan ini menggembirakan hati,
namun sebaiknya kalau toanio kembali ke sana, tidak baik dilihat orang kita bicara berdua saja di sini ... "
"Tapi ... tapi kita adalah sahabat lama ...!” Ling Ay membantah dan pada saat itu terdengar seruan suara
seorang wanita.
"Ling Ay ... ! Mau apa engkau berada di sini ... “ Muncullah seorang wanita yang menurut penglihatan
Bun Houw berpakaian terlalu menyolok, terlalu mewah sehingga hampir dia tidak mengenal lagi ibu Ling
Ay atau Nyonya Cia Kun Ti! Akan tetapi ketika nyonya setengah tua itu menoleh kepadanya, dia segera
mengenalnya dan cepat Bun Houw bersoja (dirangkap kedua tangan depan dada) sambil membungkuk.
"Bibi Cia, selamat berjumpa ...!” katanya sopan.
Wanita itu memandang kepadanya dengan penuh perhatian. Memang terjadi perubahan besar pada diri
Bun Houw. Dia bukan lagi seorang pemuda remaja seperti enam tahun yang lalu. Kini dia telah menjadi
seorang pemuda dewasa berusia duapuluh satu tahun yang bertubuh tegap, pakaiannya sederhana
sekali. Akhirnya, wanita itu mengenalnya, hal yang mudah saja karena ia tadi melihat pemuda itu berada
di depan makam keluarga Kwi, dan puterinya bicara dengan pemuda itu. SiApalagi kalau bukan Kwa Bun
Houw.
"Huh, engkaukah ... ?” katanya dengan sikap angkuh karena memang hati nyonya ini merasa tidak enak
dan marah melihat puterinya bicara dengan bekas tunangannya itu. Ia lalu memegang lengan Ling Ay
dan menariknya pergi diri situ.
"Ling Ay, hayo kita kembali. Suamimu mencarimu!” Ia sengaja menekankan kata "suamimu" seolah olah
hendak memperdengarkannya kepada Bun Houw. Ling Ay tidak membantah dan membiarkan dirinya
ditarik ibunya pergi dari situ. Akan tetapi ia masih menoleh satu kali dan memandang kepada Bun Houw
yang cepat berkata sambil tersenyum.
"Terima kasih bahwa engkan sudi bersembahyang di depan makam ini!”
Cia Kun Ti yang muncul di belakang isterinya, kini berdiri berhadapan dengan Bun Houw. Melihat ayah
Ling Ay. Bun Houw segera memberi hormat.
"Paman Cia. selamat berjumpa."
"Aih, Bun Houw, kiranya engkau ? Engkau telah menjadi seorang pemuda dewasa. Kemana saja engkau
selama bertahun-tahun ini ?” seru Cia Kun Ti dengan kegembiraan yang wajar dan tidak dibuat-buat.
Melihat ini, senang rasa hati Bun Houw. Sikap ayah kandung Ling Ay ini sungguh berbeda jauh dengan
sikap ibunya.
"Ah, hanya merantau saja kesana sini meluaskan pengetahuan, paman. Kebetulan hari Ceng Beng ini
saya kembali ke Nan-ping, untuk bersembahyang di sini."
Sejenak Cia Kun Ti melihat pemuda itu mengatur peralatan sembahyang di depan kedua makam itu.
Pemuda itu hanya membawa beberapa macam buah dan kembang sebagai korban.
"Dan selanjutnya, apakah engkau akan kembali tinggal di Nan-ping? Kalau engkau hendak mulai lagi
berdagang seperti mendiang ayahmu, aku suka menbantumu. Bun Houw. Aku dapat menanggung
sehingga engkau akan memperoleh dagangan dengan pembayaran cicilan, aku suka membantumu
karena aku adalah sahabat baik mendiang ayahmu.”
Bun Houw tersenyum dan memandang dengan hati terharu. dia memberi hormat lagi. "Terima kasih
banyak atas kebaikanmu, paman Cia. Di Nan-ping saya sudah tidak mempunyai apa-Apalagi, bagaimana
dapat berdagang ? Pula, saya tidak suka berdagang, saya lebih suka merantau."
Cia Kun Ti menghela napas panjang. Bagaimanapun juga, kegagalannya berbesan dengan sahabat
baiknya, mendiang Kwa Tin, sampai sekarang kadang-kadang membuat dia merasa menyesal bukan
main dia mengenal benar sababat baiknya itu. dan tahu bahwa Kwa Tin seorang yang gagah perkasa dan
berhati mulia, dan diapun suka sekali kepada Bun Houw ini. Hanya karena pengaruh isterinya, terpaksa
dia membiarkan anaknya tidak menjadi isteri Bun Houw, dan menjadi isteri putera kepala daerah. dia
mencoba-coba untuk menghibur hatinya, dan mengatakan kepada diri sendiri betapa bahagia hidupnya
karena kini dia menjadi ayah mertua seorang mantu bangsawan yang membuat dia seorang terhormat.
Namun, usahanya ini selalu gagal. Dia melihat kenyataan betapa kehormatan yang diperolehnya sebagai
besan kepala daerah adalah kehormatan semu, atau kehormatan yang diperlihatkan orang-orang secara
palsu dan pura-pura belaka. Bahkan dia merasa yakin babwa banyak penduduk Nan-ping yang diamdiam
mentertawakan dia dan isterinya, Apalagi kalau isterinya berlagak seperti nyonya bangsawan! Dan
yang lebih menyakitkan hatinya lagi adalah sikap keluarga besannya. Bukan hanya kedua orang
besannya, juga mantunya sendiri seringkali bahkan memandang rendah kepada mereka. Sebagai
contohnya, kalau mantunya membutuhkan sesuatu untuk dibicarakan, mantunya itu bukan datang ke
rumah mertuanya, melainkan mengutus seorang petugas untuk memanggil mertuanya. Cia Kun Ti
merasa seolah olah menjadi semacam bawahan saja dari mantunya.
"Heii, mau apa engkau di situ terus? Kita mau pulang sekarang! Terdengar teguran dan ternyata Nyonya
Cia Kun Ti yang menegur suaminya itu dari tempat agak jauh. Baru teriakannya itu saja sudah sama
sekali tidak mencerminkan sikap seorang nyonya bangsawan yang halus budi pekertinya Cia Kun Ti
menarik napas panjang, kembali merasa betapa dia kini sebagai seorang pelayan saja. Dia dan isterinya.
Pelayan dari mantunya, putera bangsawan! Dia dan Isterinya, bahkan puteri mereka, seolah hanya
menjadi pelengkap hidup Cun Hok Seng putera kepala daerah.
“'Bun Houw, aku pergi dulu. Kuharap engkau suka singgah di rumahku. Jangan sungkan, Ling Ay kini
telah tinggal di rumah suaminya. Aku kadang merasa kesepian. Engkau singgahlah, Bun Houw. Biarpun
engkau tidak menjadi mantuku, engkau tetap putera seorang sahabatku terbaik.”
Bun Houw merasa terharu dan cepat memberi hormat. "Entahlah, paman, akan tetapi sikap dan ucapan
paman ini akan selalu teringat olehku dan kuanggap paman seorang sahabat ayahku yang amat baik.
Terima kasih, paman.” Cia Kun Ti lalu pergi meninggalkan Bun Houw, bergabung dengan isteri dan
anaknya dan kembali dia merasa sebagai pelengkap ketika mengikuti rombongan itu melangkah keluar
dari tanah kuburan. Dia merasa muak kalau menoleh dan memandang kepada isierinya yang melangkah
perlahan seperti seorang permaisuri saja, mengangguk ke kanan kiri kepada orang orang yang memberi
hormat kepada rombongan mereka. Dia tahu bahwa bukan isterinya yang menerima penghormatan itu,
melainkan putera kepala daerah yang menjadi mantunya. Akan tetapi yang repot menyambut
penghormatan itu malah isterinya, mengangguk ke kanan kiri sambil mengatur senyum "bangsawan"!
Satelah Cia Kun Ti pergi, Bun Houw lalu melanjutkan niatnya untuk bersembahyang kepada mendiang
ayah dan ibu kandungnya. Selain bersembahyang sebagai tanda penghormatan terhadap ayah ibunya
melalui kenangan, juga diam-diam dia memintakan ampun kepada ayah Ibunya atas perbatalan ikatan
perjodohannya dengan Ling Ay. Dia minta agar ayah dan ibunya suka mengampuni Ling Ay, dan orang
tuanya, terutama ayahnya, dan dalam sembahyang itu dia menjalakan bahwa dia telah rela melihat Ling
Ay digandeng pria lain sebagai isttri pria itu.
Setelah tanah kuburan itu menjadi sunyi karena para pengunjungnya sudah pulang semua. Bun Houw
tinggal seorang diri. Dia masih duduk di atas tanah berumput tebal di depan makam ayah ibunya,
termenung. Pertemuannya dengan Ling Ay menggugah kenangan lama. Pada hal ketika dia berkunjung
ke Nan-ping, satu satunya niat di hatinya hanyalah bersembahyang di kuburan ayah ibunya. Sedikit pun
dia tidak berniat untuk bertemu dengan Ling Ay dan keluarganya. Dia menganggap bahwa bubungannya
dengan keluarga Cia sudah putus dan sudah tidak ada sangkut paut apapun juga antara dia dan wanita
itu.
Bun Houw menarik napas panjang, lalu bangkit dan mulai membersihkan tumput dan semak-semak
yang mengotori makam kedua orang tuanya. Dia tidak perlu mengenangkan Ling Ay lagi. Ia sudah
menjadi iateri orang, Isteri putera kepala daerah pula! Dia tersenyum. Ling Ay menjadi mantu kepala
daerah! Sungguh tidak pernah disangkanya. Sukurlah, katanya dalam hati. Sukur bahwa kini Ling Ay
menjadi isteri seorang bangsawan yang kaya, dan suaminya itupun seorang laki-laki muda yang tampan.
Tentu Ling Ay hidup berbahagia. Diapun sudah rela, dia ikut berbahagia kalau melihat bekas
tunangannya itu hidup berbahagia. Akan tetapi, benarkah ini?
Benarlah dia rela? Bun Houw tiba-tiba menghentikan pekerjaannya dan kembali duduk termenung.
Kenapa bayangan wajah Ling Ay yang semakin cantik jelita itu selalu nampak olehnya? Kenapa bukan
perasaan senang yang terasa di hatinya, walaupun hatinya memaksa agar dia mengaku senang,
melainkan rasa perih kalau dia membayangkan Ling Ay digandeng pria lain ? Kenapa ada perasaan iri
dan cemburu?
”Kau gilai" Dia memaki diri sendiri dan seperti orang marah dia mengamuk terhadap rumput dan semaksemak,
dicabutinya dengan kasar seolah-olah rumput dan semak itu yang membuat dia sengsara.
Karena dia mempengunakan kekuatan tubuhnya, maka dia dapat bekerja dengan cepat dan dalam
waktu sebentar saja, semua rumput dan semak yang mengotori makam itu telah dibersihkannya,
sehingga dua gundukan tanah itu kini kelihatan seperti baru saja. Hanya batu nisan sederhana yang
masih nampak kotor, dengan ukiran kasar dari nama kedua ayah Ibunya. Bun Houw lalu menggosokgosokkan
kedua telapak tangannya dan batu-batu nisan itu menjadi bersih mengkilap.
Pada saat itu, tiba-tiba dia menghentikan pekerjaannya, lalu mengambil buntalan pakaiannya dan
mengikatnya di punggung, dan mengambil pula tongkatnya, menyelipkan tongkat butut itu di ikat
pinggangnya. Dia melihat dan mendergar datangnya tiga orang menghampiri tempat itu, akan tetapi
mengira bahwa mereka tentu juga pengunjung taman kuburan itu untuk bersembahyang.
Akan tetapi, langkah tiga orang itu berhenti di dekatnya dan terdengar seorang di antara
mereka bertanya, "Hemm, inikah orangnya ?”
Dijawab suara lain, "Benar, inilah anjing tak tahu diri itu!”
Suara orang ke tiga menyusul. "Bocah gelandangan ini berani menghina nyonya muda kita? Dia patut
dihajar sampai mampus!”
Karena kini merasa yakin bahwa di tempat itu tidak ada orang lain kecuali dia dan tiga orang pendatang
itu, maka Bun Houw baru tahu bahwa dialah orangnya yang mereka bicarakan dan mereka maki sebagai
anjing dan bocah gelandangan. diapun membalikkan tubuhnya memandang kepada mereka dengan alis
berkerut.
Mereka itu tiga orang laki-laki yang melihat pakaiannya saja jelas bahwa mereka adalah orang-orang
yang biasa mempergunakan kekerasan, atau yang biasa dipakai oleh para tukang pukul. Pakaian ringkas
dan di pinggang mereka terselip golok. Mereka itu berusia antara tigapuluh sampai empatpuluh tahun,
sikap mereka bengis dan ketiganya menyeringai dengan senyum mengejek dan memandang rendah
kepada Bun Houw. Tubuh mereka yang kokoh itu menunjukkan bahwa mereka memiliki tenaga badan
yang kuat dan terlatih dan senyum mereka mengandung kesadisan, membayangkan bahwa mereka
adalah orang-orang yang dapat merasakan kesenangan dari penyiksaan terhadap orang lain.
Bun Houw mendahului mereka bertanya, suaranya halus dan sikapnya tenang, "Sam-wi (kalian bertiga)
bicara tentang seseorang, siapakah yang sam-wi bicarakan itu?"
Orang yang dahinya codet bekas luka memanjang dan yang agaknya memimpin mereka, menjawab,
"Anjing geladak, siApalagi kalau bukan kamu yang kami bicarakan!”
Bun Houw mesih menahan kesabarannya. Tidak perlu bersitegang urat leher dengan orang-orang
macam ini, pikirnya. "Aku tak pernah mengenal kalian bertiga, kenapa kalian datang-datang memaki dan
menghina aku ? Apakah kekalahanku terhadap kalian?”
Orang ke dua yang mukanya hitam tertawa bergelak dan memandang kepada kedua temannya, "Ha ha
ha, lihat, anjing ini masih berani menggonggong! Sungguh tak tahu diri!”
Kini orang ke tiga yang kumisnya berjuntai ke bawah dan jarang seperti kumis tikus, melangkah maju
dan bertolak pinggang dengan tangan kiri, sedangkan telunjuk kanannya ditudingkan ke arah hidung
Bun Houw.
"Keparat, engkau sungguh tak tahu diri. Perbuatanmu sudah cukup bagi kami untuk menyiksamu dan
bahkan membunuhmu. Akan tetapi agar jangan engkau mampus penasaran, buka telingamu baik baik.
Engkau telah lancang sekali dan berani menghina nyonya muda kami. Engkau berani mengajaknya bicara
di depan umum! Perbuatan tak pantas Liu Sungguh merupakan dosa besar!"
Bun Houw mengerutkan alisnya. Hatinya merasa penasaran sekali. Dia tahu bahwa yang dimaksudkan
tentulah Ling Ay! Tentu Ling Ay nyonya muda itu, akan tetapi walaupun dia tadi sudah mengkhawatirkan
bahwa percakapan antara mereka berdua saja di tempat umum akan dapat merugikan kehormatan Ling
Ay, dia tidak mengira bahwa akan begini berat akibatnya terhadap dirinya. Karena merasa penasaran,
dia pura-pura tidak mengerti.
"Nanti dulu, sobat. Harap jangan menuduh membuta tuli! Nyonya muda siapakah yang kau maksudkan?
Dan penghinaan bagaimana yang kulakukan kepadanya? Aku sungguh tidak mengerti."
Kini si condet melangkah maju. "Engkau masih bertanya lagi? Jahanam busuk memang! Nyonya muda
kami adalah isteri putera kepala daerah kami, dan engkau ini, engkau jembel gelandangan busuk, tadi di
tempat ini berani menegur dan mengajak beliau bercakap cakap, itu merupakan penghinaan besar bagi
keluarga kepala daerah kami! Karena itu, engkau akan kami hajar!”
"Ah, itukah yang kalian maksudkan? Dan siapa yang mengutus kalian untuk menghajar aku? Apakah
kepala daerah? Atau puteranya? Atau nyonya muda itu sendiri?"
"Kami adalah pengawal mereka yang tadi mengawal dan mengawasi tempat ini untuk menjaga
keamanan mereka. Kami melihat sendiri dan tidak usah majikan kami memerintah, kami berkewajiban
untuk turun tangan sendiri. Nih, bersiaplah engkau untuk mampus, atau kau akan kami ampuni asalkan
kau mampu menebus nyawamu."
Bun Houw memandang dengan sikap masih tenang, akan tetapi senyumnya dibarengi kerut di antara
alisaya makin mendalam, Dia cukup maklum apa yang mereka maksudkan, Juga dia tahu bahwa tiga
orang ini sungguh merupakan tiga orang yang biasa mempengunakan kekerasan untuk melakukan
penekanan dan pemerasan. Entah sudah berapa banyak orang yang tidak berdosa menjadi korban
kekerasan dan pemerasan mereka.
"Hemm, menebus nyawa bagaimana maksud kalian?" Dia bertanya, suaranya kini tidak sehalus tadi,
diam-diam memperhitungkan apa yang akan dilakukannya terhadap tiga orang jahat ini, Mereka ini
sudah sepatutnya dihajar, pikirnya, agar mereka jera dan tidak berani lagi mengganggu orang lain.
Si codet menyeringai lebar dan mendekati Bun Houw. "Engkau bukan kanak-kanak lagi, masih bertanya?
Kau keluarkan semua milikmu. ingin kami melihatnya apakah sudah cukup untuk menebus nyawamu.
Makin besar tebusannya, makin ringanlah hukumanmu. Kalau kamu sanggup cukup, kau kami bebaskan
dan boleh cepat-cepat melarikan diri keluar kota. Kalau hanya kami anggap setengah harga, kau akan
kami siksa sampai setengah mati, akan tetapi tidak sampai mati. Lihat saja berapa engkau mampu
bayar."
Bun Houw mengeluarkan kantung kecil dari buntatannya dan membuka kantung itu, memperlihatkan
emas yang dia dapat dari gurunya, "Apakah sebegini sudah cukup!”
Melihat emas berkilatan dalam buntalan kantung kecil itu, mata tiga orang itu terbelalak lebar seperti
seekor srigala melihat darah. Seperti di komando saja, tiga buah tangan menyambar untuk merampas
kantung di tangan Bun Houw itu. Akan tetapi mereka bertiga terkejut karena tiba-tiba saja kantung itu
lenyap dan ternyata pemuda itu telah mengelak dan menyimpan kembali kantung kecil itu dalam
buntalan pakaiannya ...
"Hei, serahkan kantung itu kepada kami!” bentak si codet.
Bun Houw tersenyum. "Bagaimana? Sudah cukupkah itu untuk menebus nyawaku ?"
"Cukup, cukup ... kauberikan seluruh buntalan di punggungmu itu, dan kau boleh pergi dari sini, cepat
keluar kota dan tidak akan kami sakiti lagi."
"Kalau tidak kuberikan?" tantang Bun Houw sambil memegang tongkatnya
Tiga orang itu melongo, akan tetapi akhirnya mereka saling pandang dan tertawa bergelak. "Tidak kau
berikan? Akan kuhajar engkau sampai mampus, dan semua milikmu itu tetap menjadi milik kami."
"Kalau begitu, kalian yang mengaku petugas kepala daerah ini, tiada lain hanyalah pemeras pemeras dan
perampok-perampok busuk!"
Tentu saja tiga orang jagoan itu menjadi terkejut karena tidak pernah mereka sangka bahwa pemuda
sederhana itu berani marah-marah dan memaki mereka!
"Jahanam busuk, engkau memang pantas dihajar sampai mampus!” bentak si kumis tikus dan dia sudah
menyerang dengan tonjokan kepalan kanan ke arah muka Bun Houw. Akan tetapi, dengan sedikit
menarik kepala ke belakang, tonjokan itu hanya lewat saja, mengenai angin kosong. Akan tetapi dua
orang yang lain juga sudah menyerang, si codet mencengkeram ke arah leher, sedangkan si muka hitam
menampar ke arah kepala Bun Houw dengan kuat sekali. Bahkan si kumis tikus yang tonjokannya luput
juga sudah menyambung dengan tonjokan kepalan kiri ke arah perut.
"Hemm!" Bun Houw hanya mendengus dan begitu kedua tangannya bergerak dikembangkan, tiga orang
itu terpelanting dan terjengkang, bahkan terbanting keras!
Mereka bertiga menjadi terkejut, akan tetapi juga marah sekali. Tak mereka sangka bahwa pemuda itu
berani melawan, bahkan tadi mereka merasakan dorongan kedua tangan yang dikembangkan itu
mengandung tenaga yang amat kuat sehingga mereka terjengkang. Mereka berloncatan bangun berdiri
lagi dan tanpa dikomando lagi, mereka sudah mencabut golok dari pinggang masing-masing.
"Anjing busuk kucincang kau ...!” bentak si codet yang kemarahannya meluap-luap karena ketika
terbanting ke belakang tadi, kepalanya bertemu dengan batu sehingga mengucurkan darah.
"Siuuuut ...!” Goloknya menyambar ganas dari depan, mengarah kepala Bun Houw yang agaknya akan
dibelah menjadi dua. Namun, tubuh Bun Houw mendorong ke kiri dan sambaran golok itu luput. Bun
Houw menarik kaki kanannya sambil memutar tubuh dan pada saat itu, kembali ada golok menyambar
dari sebelah depan dan belakang. Dia mengelak lagi dan menyelinap di antara sinar kedua batang golok
yang menyambar itu. Tiga orang lawannya menjadi semakin panas hati mereka dan semakin marah.
Sambil menyumpah-nyumpah, mereka menggerakkan golok mereka, menyerang seperti berlomba saja
untuk lebih dulu membacok roboh pemuda bandel itu. Akan tetapi, sampai tiga empat kali serangan,
Bun Houw selalu mengelak. Dia hendak memberi kesempatan kepada tiga orang itu untuk membuka
mata dan melihat bahwa sebenarnya mereka itu bukanlah lawannya yang seimbang. Namun, orang
orang yang biasa mengandalkan kekerasan untuk menindas orang lain itu mana mau menyadari
kelemahan sendiri. Makin banyak gagal, makin penasaran rasa hati mereka dan serangan mereka
menjadi semakin gencar.
"Kalian memang manusia tak tahu diri!” tiba-tiba di antara sambaran tiga batang golok itu, Bun Houw
mengeluarkan suara bentakan dan begitu dia menggerakkan tongkat bututnya menangkis, disambung
dengan tamparan-tamparan tangan kanan karena tongkat itu dipegangnya dengan tangan kiri, maka
tiga batang golok itu terpental dan disusul oleh tubuh mereka bertiga yang juga terpelanting roboh.
Akan tetapi dasar orang orang tak tahu diri yang bagaikan katak dalam tempurung mereka selalu merasa
diri sendiri yang paling kuat dan hebat, tiga orang itu belum menyadari dan mengakui kekalahan
mereka. Biarpun sekali ini mereka terbanting keras sehingga kepala terasa pening, namun mereka
bangkit lagi, mengambil golok masing-masing dan menyerang semakin nekat bagaikan tiga ekor srigala
yang pantang menyerah.
Bun Houw mengerutkan alisnya. Melihat datangnya tiga golok yang menyambar ganas, dengan tujuan
membunuh, dia lalu menggerakkan tongkatnya dengan tangan kiri, mengerahkan tenaganya dan
tongkat itu bukan menyambut golok, melainkan menyambar pergelangan lengan yang memegang golok.
Terdengar teriakan susul menyusul, dan tiga golok beterbangan, disusul tiga orang yang kini
memhungkuk-bungkuk, tangan kiri memegangi lengan kanan karena lengan itu tadi bertemu tongkat
dengan kerasnya, terdengar suara berkeretek dan tulang tiga buah lengan kanan itu telah patah!”
Melihat mereka kini tidak mampu melawan lagi, Bun Houw tidak tagi memperdulikan mereka. dia lalu
menyelipkan tongkat di ikat pinggang, lalu bersoa ke arah kedua makam orang tuanya dan
meninggalkan taman kuburan itu tanpa menengok satu kalipun kepada tiga orang itu. Mereka itu masih
mengaduh-aduh sambil memegangi lengan kanan dengan tangan kiri, hampir menangis saking nyerinya
dan baru sekarang mereka melihat kenyataan bahwa pemuda itu memiliki ilmu kepandaian tinggi!
Namun, tetap saja mereka tidak menyadari bahwa pemuda itu masih mengampuni mereka dan tidak
membunuh bahkan tidak melukai secara berat, hanya menangkis dan membuat lengan kanan mereka
patah tulang saja. Setelah pemuda itu tidak nampak lagi, baru mereka meninggalkan tempat itu,
mengambil golok mereka dan kini mereka kehilangan segala kegirangan mereka, menekuk lengan kanan
dan menahan lengan itu dengan tangan kiri, kemudian merekapun kembali ke kota untuk melapor
kepada atasan mereka, gelisah karena mereka tentu akan mendapat kemarahan dari atasan mereka.
***
"Sungguh engkau seorang perempuan yang tidak tahu malu!" Mungkin sudah lima kali Cun Hok Seng
meneriakkan kata-kata itu kepada Cia Ling Ay, isterinya yang hanya duduk di atas kursi dengan muka
menunduk, muka yang kemerahan namun pandang mata yang ditundukkan itu penuh dengan perasaan
marah dan penasaran. Suaminya telah menuduhnya secara keji! Begitu tiba di rumah, sepulang mereka
dari taman kuburan, suaminya memanggilnya, juga memanggil ibunya dan mereka berdua kini berada di
dalam kamar itu, menjadi bulan bulanan kemarahan putera kepala daerah itu.
"Sudah kukatakan bahwa aku tidak melakukan sesuatu yang hina!” Akhirnya ia membantah sambil
membalikkan tubuh, menghadapi suaminya dan memandang dengan sinar mata penasaran. Suaminya
tadinya mondar mandir di dalam kamar itu, memarahi isterinya dan ibu mertuanya bengantian.
Cun Hok Seng menahan langkahnya dan berdiri di depan isterinya. mukanya merah sekali, matanya
bersinar penuh kemarahan. "Apa kau bilang? Engkau mengadakan pertemuan dan bercakap cakap
berdua saja dengan seorang laki-laki asing, dan kau masih berani bilang tidak melakukan sesuatu yang
hina? Perbuatan itu sudah cukup hina, merendahkan martabatku, menodai kehormatanku. Apakah
engkau maksudkan bahwa baru disebut hina kalau engkau sudah tidur bersama dia di satu ranjang ?"
"Kau tidak berhak menuduh sekeji itu!” Kini Ling Ay bangkit berdiri dan memandang suaminya dengan
kemarahan meluap. "Sudah kuceritakan bahwa dia itu bukan orang asing, namanya Kwa Bun Houw dan
dahulu orang tuanya adalah sahabat baik orang tuaku."
"Bagus! Kalau begitu memang engkau sudah kenal baik dengan dia, maka berjanji mengadakan
pertemuan di taman kuburan, ya ?”
"Itu tidak benar! Ketika selesai bersembahyang di makam keluarga Cun dan keluarga Cia, dan melihat
engkau bercakap-cakap dengan para temanmu, aku keisengan dan ingin bersembahyang di depan
kuburan mendiang paman Kwa Tin dan isterinya. Dan selagi bersembahyang itulah dia muncul! Kami
tidak pernah saling jumpa sejak enam tahun yang lalu, maka kemunculannya itu suatu hal yang
kebetulan saja dan karena berjumpa setelah berpisah bertahun-tahun, anehkah kalau kami bercakapcakap
sedikit dan hanya sebentar?”
"Bohong! Aku tidak percaya! Kalian tentu mempunyai hubungan kotor! Ibu, bayo kau akui saja,
bukankah antara Ling Ay dan pemuda itu ada hubungan yang amat akrab?"
Sejak tadi, nyonya Cia Kun Ti hanya mendengarkan saja dengan hati kecut dan muka pucat. Ia merasa
menyesal sekali mengapa puterinya masih mau bercakap-cakap dengan Bun Houw sehingga hal itu
dilihat para pengawal mantunya dan dilaporkan. Kini mantunya marah-marah, ia pikir bahwa urusan
dahulu dengan Bun Houw tidak perlu disembunyikan, karena kalau kelak mantunya mengetahui dari
orang lain, hal itu bahkan akan membuat putera kepala daerah itu semakin marah, mengira bahwa ia
memang sengaja menyembunyikan kenyataan itu.
"Sesungguhnya begini, mantuku yang baik. Benar seperti yang diceritakan Ling Ay, pemuda itu bukan
orang asing. Bahkan dahulu, ketika masih sama-sama kecil, oleh ayah kedua pihak diadakan perjanjian
ikatan perjodohan antara Ling Ay dan Bun Houw ..."
"Ahhh, begitukah?" Cun Hok Seng berseru sambil tersenyum mengejek.
Ling Ay mengerutkan alisnya, diam-diam ia mencela ibunya yang menceritakan hal-hal lampau yang
sebenarnya tidak perlu disebut-sebut.
"Akan tetapi, sejak kematian keluarga Kwa suami isteri, sejak Bun Houw menjadi yatim piatu, ikatan
perjodohan itu dibikin putus. Hal itu sudah terjadi enam tahun yang lalu."
"Hemm, bagus sekali! Tentu pertemuan di taman kubuian itu untuk melepas rindu antara dua orang
yang dulu saling bertunangan! Memalukan!"
"Sama sekali tidak! Semua itu fitnah, hanya dugaan, tidak benar!" Ling Ay membantah marah.
"Ibu, bawa ia ke kamar dan tidak boleh keluar sebelum kuperintahkan! Orang itu, siapa namanya tadi?
Kwa Bun Houw? Ya. dia harus dibunuh."
"Ihhh ...!” Mendengar ini, Ling Ay mengeluarkan jeritan kaget.
"Benar, memang dia harus dibunuh, anak kurang ajar dan tidak tahu sopan itu!” Nyonya Cia Kun Ti
berkata karena memang ia menyesal sekali bahwa Bun Houw berani menemui Ling Ay di taman kuburan
sehingga kini akibatnya, ia dan puterinya mendapat kemarahan besar dari mantunya.
Mendengar jerit Ling Ay dan melihat betapa wajah isterinya itu menjadi pucat mendengar dia akan
membunuh Bun Houw, hati Cun Hok Seng menjadi semakin panas.
"Kalian saling mencintai. Keparat. Panggil Ibu, bawa ia pergi ke kamarnya!"
Nyonya Cia Kun Ti cepat menggandeng tangan puterinya dan menariknya pergi meninggalkan kamar
Cun Hok Seng yang sedang marah-marah itu. Setelah tiba di dalam kamar. ia menutupkan daun pintu
dan memarahi anaknya yang segera melempar tubuh ke atas pembaringan sambil menangis.
"Kau memang anak yang bodoh! Tadipun aku sudah marah dan merasa khawatir melihat engkau bicara
dengan jahanam itu di taman kuburan!" Nyonya itu mengomel panjang pendek.
Ling Ay tidak memperdulikan, hanya menangis sambil menutupi mukanya dengan bantal. Ia masih
merasa ngeri mendengar ancaman suaminya hendak membunuh Bun Houw. Teringat akan itu, ia
membuka bantalnya dan berkata kepada ibunya yang masih mengomel itu.
"Ibu, kenapa dia hendak membunuh Houw-ko? Dia sama sekali tidak bersalah! Dia sama sekali tidak
berdosa!”
"Huh, engkau malah memikirkan keselamatan jahanam itu? Pikirkan keselamatan kita sendiri! Dia
memang harus dibunuh, biar kita cepat menjadi bersih dan tidak lagi mendapat marah."
"Tapi, dia sama sekali tidak bersalah, ibu. Dia datang untuk menyembahyangi makam ayah ibunya. Dia
tidak tahu bahwa aku berada di sana. Kami saling jumpa hanya karena kebetulan saja, tidak kami
sengaja. Dan karena sudah berjumpa di depan makam orang tuanya, kami hanya saling sapa dan saling
tegur. Bukankah itu wajar dan jamak? Dia sopan, bahkan memberi selamat kepadaku atas pernikahan ku
dengan pria lain. Dan sekarang, dia akan dibunuh ...! Aih, ibu, apa yang harus kulakukan ... ?
Pembunuhan itu harus dicegah! Houw-ko tidak bersalah apa-apa ...!”
Akan tetapi, lbjnya marah-marah. "Kau anak tolol! Biar seribu orang Bun Houw dibunuh, asal kita
selamat, tidak mengapa. Kenapa engkau ribut-ribut? Sudahlah, kalau suamimu mendengar omonganmu
ini, dia akan menjadi semakin marah!"
Ling Ay hanya dapit menangis semakin sedih dengan hati gelisah memikirkan Bun Houw yang akan
dibunuh tanpa kesalahan apapun.
***
"Kalian ini gentong gentong nasi yang tiada guna! Menghajar seorang pemuda gelandangan saja tidak
mampu! Huh, malah patah tulang lengan. Sungguh memalukan sekali dan kami ikut merasa malu!"
bentak kakek berusia enam-puluhan tahun itu.
Dia seorang kakek yang biarpun usianya sudah enampuluh tahun, namun wajahnya masih nampak segar
dan tubuhnya juga masih nampak kokoh kekar walaupun tidak terlalu tinggi besar melainkan sedang
sedang saja. Sepasang matanya mencorong tajam dan rambutnya yang sudah bercampur banyak uban
itu disisir rapi dan diikat dengan pita sutera biru. Akan tetapi pakaiannya serba putih, dari sutera mahal
dan di pinggangnya tengantung sebatang pedang. Dia ini bukan orang sembarangan dan di dunia kangouw
namanya sudah amat terkenal sebagal Pek-i Mo-ko (Iblis Baju Putih). Akan tetapi, di kota Nan-ping
dia lebih dikenal sebagai Ciong Tai-hiap (Pendekar Besar Ciong)! Sungguh seorang yang memiliki pribadi
aneh. Di dunia kang-ouw dikenal sebagai Iblis, akan tetapi masyarakat menyebutnya pendekar! Sebutan
pendekar ini setelah dia menjadi pembantu utama dari kepala daerah Nan-ping, dan biarpun tidak resmi
menjadi komandan pasukan pengawal, namun sesungguhnya Ciong Kui Le inilah yang menjadi kepala
pengawal dan kepala semua tukang pukul dan jagoan yang menghambakan diri kepada kepala daerah!
Karena dia dikenal sebagai kepala penjaga keamanan seburuh keluarga kepala daerah Cun, tidak aneh
kalau dia disebut Tai-hiap (Pendekar Besar), Apalagi karena memang semua orang tahu betapa lihai Ilmu
silat dan ilmu pedang orang she Ciong ini.
Dia duduk dalam sebuah ruangan dari bangunan yang berada di sebelah gedung tempat tinggal kepala
daerah Cun. Bangunan ini cukup besar dan memiliki banyak kamar. Di tempat inilah berkumpul semua
jagoan yang bekerja untuk kepala daerah. Merekalah yang bertugas mengamankan kota Nan-ping dari
rongrongan orang jahat. Karena mereka adalah tokoh-tokoh dunia kang-ouw, bahkan Pek-I Mo-ko amat
ditakuti dan menjadi datuk sesat, maka setelah dia dan anak buahnya yang menjamin keamanan kota
Nan-ping, maka tidak ada penjahat berani berkutik. Kota Nan-ping menjadi aman dari kejahatan karena
dilindungi oleh penjahat-penjahat besar! Akan tetapi, kalau pemerasan dari penjahat tidak pernah
terjadi, maka pemerasan satu-satunya datang dari kepala daerah melalui peraturan-peraturan yang
mencekik leher rakyat dan penduduk Nan-ping pada umumnya! Sudah bukan rahasia lagi betapa para
hartawan mengalirkan sebagaian besar kekayaan dan penghasilannya ke dalam rumah gedung kepala
daerah Cun! Semua ini mereka lakukan demi keamanan diri dan usaha dagang mereka. Kalau tidak,
maka banyak sudah terjadi pembunuhan dan penyiksaan yang dilakukan secara sembunyi, tentu saja
oleh para jagoan yang dipimpin oleh Ciong Tai-hiap! Dan kalau ada penjahat dari luar daerah yang
belum tahu berani mengacau, tampillah sang pendekar berpakaian putih ini untuk menghajarnya,
bahkan ada pula yang dibunuhnya dan digantungnya di depan umum sehingga pada umumnya,
penduduk mengagumi kakek baju putih yang di tempat umum tidak pernah melakukan kekerasan itu!
Kekerasan yang dilakukan di depan umum hanya terhadap para penjahat dan sikapnya terhadap rakyat
melindungi! Hanya mereka yang pernah menentang kehendak kepala daerah saja yang tahu betapa
sadisnya "pendekar" ini menyiksa orang untuk mematahkan semangat perlawanan mereka terhadap
kepala daerah Cun.
Ciong Tai-hiap ini pula yang menyuruh tiga orang anak buahnya untuk menghajar Bun Houw, setelah dia
mendapat perintah dari Cun Hok Seng yang mendengar laporan dari seorang pengawalnya bahwa
isterinya tadi bercakap-cakap dengan seorang pemuda asing.
"Hajar pemuda itu sampai cacat dan usir dia pergi dari Nan-ping," demikian perintah Cun Hok Seng pada
Ciong Tai-hiap yang melanjutkan perintah itu kepada tiga orang pembantunya yang terkenal dengan
ketajaman golok dan kekerasan tangan mereka. Akan tetapi apa yang terjadi? Tiga orang jagoan yang
disuruhnya menghajar Bun Houw itu pulang dengan lengan kanan mereka patah tulang! Maka, tidak
mengherankan kalau dia marah-marah. Biarpun yang dikalahkan orang lain itu bukan dia, hanya anak
buahnya, itu pun bukan anak buah yang pilihan, namun hal itu sama saja dengan menampar pipinya,
merendahkan dan menghinanya.
Yang hadir dalam ruangan itu ada belasan orang. Seorang di antara mereka, melihat pemimpinnya
marah dan mendengar bahwa tiga otang rekannya itu patah tulang lengan kanan mereka oleh lawan,
segera berkata, "Ciong toako (kakak tua Ciong), agaknya orang itu berisi, maka biarlah aku yang akan
mewakili mu untuk menghajarnya."
Semua orang memandang kepada pembicara itu dan mereka semua merasa yakin bahwa kalau yang
turun tangan orang ini, maka segalanya tentu akan beres. Dia seorang pria berusia empatpuluh lima
tahun, bertubuh tinggi kurus sekali sehingga kedua pipinya sampai peyot dan cekung seperti orang
berpenyakitan. Akan tetapi, semua orang tahu belaka siapa adanya tokoh yang dijuluki Bu-tek Kiam-mo
(Setan Pedang Tanpa Tanding) ini! Bahkan kakek pakaian putih itu sendiri mengangguk-angguk, akan
tetapi dia berkata.
"Bukan engkau, Kiam-mo. Engkau sudah memiliki tugas sendiri yang lebih penting sebentar malam,
bukan Engkau barus membantu Ngo-kwi (Lima Iblis) yang menerima tugas dari Loya (Tuan Tua, yaitu
Kepala Daerah), dan tugas itu harus kalian berenam selesaikan dengan baik karena amat penting sekali.
Menghajar seorang bocah kurang ajar bukan hal yang terlalu penting. Yang lain saja!”
"Ha-ha-ha. benar sekali!” Tiba-tiba seorang di antara mereka, laki-laki yang tubuhnya bulat seperti bola,
usianya empatpuluhan, tertawa bengelak. Orang ini memang aneh. Pakaiannya kedodoran dan bajunya
tidak mempunyai kancing lagi bagian depan sehingga perutnya yang buncit nampak bagian atas,
dadanya juga telanjang, nampak kulit dada putih, dan sepasang bukit dada yang besar seperti
kepunyaan wanita. Saking gendutnya, dia nampak, seperti bola memiliki kaki dan tangan. Anehnya,
kepalanya kecil, seperti kepala kanak-kanak, matanya sipit dan mulutnya lebar separuh kepala yang
selalu tertawa dan selalu dijejali makanan dan minuman.
"Untuk menyembelih, seekor kelenci. perlu apa menggunakan golok besar? Kalau hanya menghadapi
seorang bocah ingusan, serahkan saja kepadaku, toa-ko. Katakan siapa namanya, di mana aku dapat
menangkapnya, lalu aku harus apakan dia. Dihajar setengah mati, diseret ke sini, atau dibunuh sekaligus.
Katakan dan perintahkan saja. Cukup aku, tidak perlu merepotkan Bu-tek toako Bu-tek Kiam-mo! Ha-haha!”
Sehabis bicara dan tertawa lebar, si gendut ini menyambar guci arak di atas meja, lalu menuangkan isi
guci ke dalam mulutnya yang lebar sehingga terdengar suara menggelogok masuknya arak ke dalam
perutnya yang seperti gentong besar itu.
Sekali ini, Pek-I Mo-ko mengangguk-angguk dan tersenyum lega. "Memang tepat sekali kalau engkau
yang maju, Gu-siauwte (adik Gu). karena kalau yang maju kurang dapat diandalkan, kukhawatir akan
gagal lagi. Dan kalian bertiga, cepat obati luka di lengan, kalian, kemudian temani Gu-siauwte ini dan
ajak dia mencari bocah itu sampai dapat! Gu-siauwte, sebaiknya kalau bertemu dengan dia, habisi saja
dan usahakan agar mayatnya tidak dilihat orang."
"Ha-ha-ha, itu perkara mudah, toako. Tanggung sebelum hari gelap, bocah itu sudah tidak ada lagi, baik
nyawanya maupun badannya, ha-ha-ha!” Dia lalu bangkit dan memberi isarat kepada tiga orang jagoan
yang tadi dikalahkan Bun Houw, lagaknya seperti memberi isarat kepada tiga ekor anjingnya saja.
Memang dalam hal tingkatan, si gendut ini jauh lebih tinggi dari pada tiga jagoan yang patah tulang
lengannya itu. Dia bernama Gu Mouw, berjuluk Siauw-bin Pek-ti (Babi Putih Muka Senyum) sesuai
dengan kulitnya yang putih mulus dan mukanya yang selalu tersenyum, dan dalam urutan
kedudukannya di dalam kelompok jagoan yang dipelihara Kepala Oaerah Cun di kota Nan-ping, dia
menduduki tingkat ke tiga! Orang partama tentu saja Pek-i Mo-ko Ciong Kui Le, orang ke dua adalah si
kurus kering Bu-tek Kiam-mo Bouw Swe dan orang ke tiga adulan si gendut ini. Masih ada orang ke
empat yang merupakan sekelompok dari lima orang bersaudara yang dikenal dengan sebutan Ngo-kwi
(Lima Iblis) yang tadi disebnt-sebut oleb Pek-I Mo-ko. Tiga orang jagoan yang patah tulang lengan
kanannya itu dengan girang lalu meninggalkan ruangan mengikuti Siauw-bin Pek-ti Gu Mouw. Mereka
merasa lega tidak menerima hukuman, dan merekapun merasa yakin bahwa kalau sampai orang ke tiga
ini maju, tentu pemuda itu akan dapat dikalahkan. Mereka masih memiliki lengan kiri yang sehat, dan
kalau pemuda sudah roboh, mereka akan dapat dengan sepuas hati membalas dendam sakit hati
mereka, mereka akan mematah-matahkan seluruh tulang di tubuh pemuda itu! Bagi orang yang sudah
terbiasa menjadi hamba nafsu dendam, perasaan dendam memang manis dan mendatangkan
semangat! Karena nafsu dendam ini, mereka segera mengobati lengan yang patah tulangnya, membalut
kuat dan menggantungnya, kemudian mereka bertiga tidak ketinggalan membawa golok mereka,
mengikuti si gendut Gu Mouw yang masih terus tertawa-tawa gembira dan nampaknya dia tenang saja,
seolah-olah tugasnya itu merupakan pekerjaan sepele yang akan dapat dirampungkan dengan amat
mudahnya.
Nan-ping bukan sebuah kota yang terlalu luas, Apalagi bagi para jagoan yang sudah mengenal seluruh
seluk beluk kota itu, dan di mana-mana mereka disambut orang dengan ketakutan dan patuh sehingga
untuk mencari Bun Houw bukan pekerjaan sukar bagi mereka. Sebelum lewat lengah hari, mereka sudah
mendapat keterangan bahwa pemuda yang mereka cari itu baru saja keluar dari kota Nan-ping. melalui
pintu gerbang barat. Mereka segera melakukan pengejaran dengan menunggang kuda dan benar saja,
kurang lebih dua li di luar kota Nan-ping, mereka dapat menyusul pemuda yang sedang berlenggang
seenaknya itu.
Pemuda itu memang Bun Houw. Dia meninggalkan kota Nan-ping, tanah tumpah darahnya, kampung
halamannya, kota di mana dia dilahirkan dan dibesarkan selama lima belas tahun, kota di mana terdapat
segala macam kenangan dari yang paling manis sampai yang paling pahit. Terpaksa dia meninggalkan
kota itu. Untuk apa berlama-lama kalau hanya akan mendatangkan perasaan pahit dan juga ancamanancaman
kedamaian hidupnya? Di sana ada Ling Ay yang sudah menjadi mantu kepala daerah! Dan
suaminya agaknya memusuhinya, mungkin karena cemburu melihat dia bercakap-cakap sebentar
dengan Ling Ay di depan makam ayah ibunya. Dia harus pergi, secepatnya. Bukan karena dia takut
menghadapi ancaman itu. Sama sekali bukan, melainkan dia harus cepat pergi demi ketenteraman
rumah tangga Ling Ay!
Ketika mendengar derap kaki beberapa akor kuda dari arah belakang, dia masih belum menyangka
buruk, hanya mengira bahwa tentu ada rombongan orang berkuda meninggalkan kota Nan-ping pula.
Akan tetapi tiba-tiba setelah empat ekor kuda datang dekat di belakangnya dia mendengar bentakan
orang.
"Orang muda yang sombong, berhenti dulu!"
Bun Houw menahan langkahnya, memutar tubuhnya dan dia melihat tiga orang penjahat yang dia
patahkan tulang lengannya tadi, berada di atas punggung kuda masing-masing dengan sikap angkuh dan
marah, dengan lengan kanan dibalut dan digantung di depan dada. Orang ke empat adalah seorang yang
tubuhnya gendut bukan main, dan agaknya amat berat sehingga kuda yang ditungganginya berpeluh
dan terengah-engah, tidak seperti tiga ekor kuda lainnya. Akan tetapi si gendut itu tidak kelihatan jahat,
bahkan mukanya yang kecil kekanak-kanakan itu dipenuhi senyum mulutnya yang lebar.
"Hemm, kiranya kalian bertiga yang datang mengejarku. Ada Apalagi?" Bun Houw bertanya dengan
sikap tenang.
"Ha-ha-ha-ha!” Laki-laki gendut itu tertawa bergelak, ketika dia tertawa itu, perutnya yang bagian
atasnya nampak karena bajunya tidak ada kancingnya, bergelombang dan kuda yang ditungganginya
gemetar keempat kakinya. Melihat ini, diam-diam Bun Houw mengerti bahwa si gendut ini bukan orang
sembarangan dan memiliki tenaga yang dahsyat.
"Bagus, bagus! Jadi engkau inikah pemuda yang telah mematahkan tulang tiga orang jagoan kalahan ini?
Heh-heh-heh!"
Diapun merosot turun dari atas punggung kuda. melalui belakang kuda! Bun Houw merasa geli dan dia
tersenyum, akan tetapi tiga orang tukang pukul itu cemberut karena diejek sebagai jagoan kalahan!
Namun, tentu saja mereka tidak berani berkutik atau mengeluarkan bantahan terhadap si gendut yang
merupakan seorang atasan bagi mereka.
Karena Bun Houw belum tahu siapa si gendut itu yang sikapnya terhadap dirinya tidak memusuhi, maka
diapun bersikap ramah, mengangkat kedua tangan ke depan dada sebagai penghormatan lalu
menjawab, "Sesungguhnya aku tidak pernah mempunyai pikiran hendak mematahkan tulang lengan
mereka. Aka tetapi mereka itu keliru mempergunakan tangan, tidak untuk bekerja dengan baik
melainkan hendak membunuhku, sehingga mereka kesalahan tangan dan akibatnya tulang mereka
patah. Sungguh, mereka sendiri yang mencari penyakit dan mereka yang bersalah sedangkan aku tidak
pernah mengganggu mereka, mengenal merekapun tidak.”
Bun Houw mengira bahwa si gendut yang kelihatan ramah itu tentu akan dapat menerima, alasannya
dan mempertimbangkan keadaannya dengan bijaksana. Oleh karena itu, alangkah terkejutnya
mendengar si gendut itu. sambil mulutnya masih tersenyum lebar, berkata dengan lantang.
"Orang muda, aku datang untuk membunuhmu! Terserah kepadamu apakah engkau akan mengambil
nyawamu sendiri atau harus kupaksa nyawamu meninggalkan tubuhmu, ha-ha-ha !”
Berkerut sepasang alis Bun Houw dan kini matanya berkilat ketika dia memandang wajah si gendut yang
seperti anak kecil itu. Kiranya si gendut ini hanya nampaknya saja baik hati namun sesungguhnya
memiliki kekejaman yang tidak kalah dibandingkan tiga orang jagoan yang patah tulang lenpan mereka
itu.
"Ah, kiranya begitu? Sobat yang gendut, coba katakan, mengapa engkau datang hendak mengambil
nyawaku?" tanyanya, sikapnya masih tenang sekali dan hal ini saja sudah membuat Siauw bin Pek-ti Gu
Mouw penasaran. Orang mau diambil nyawanya kok masih enak-enak saja. sungguh tak tahu diri benar
pemuda ini!
"Bocah sombong," katanya dan karena mulutnya masih menyeringai tersenyum, tahulah Bun Houw
bahwa senyum itu bukan senyum ramah atau buatan, memang mulutnya terlalu lebar sehingga selalu
nampak tersenyum dan terbuka.
"Engkau berhadapan dengan tuan besarmu Gu Mouw yang hendak mengambil nyawamu! Apakah
engkau tidak cepat berlutut minta ampun?"
"Sobat gendut she Gu, engkau bukan malaikat maut pencabut nyawa, dan akupun bukan orang yang
mudah saja menyerahkan nyawa! berhati-hatilah, jangan sampai kesalahan tangan seperti tiga orang
temanmu itu dan engkau sendiri yang akan menderita." Dalam ucapan itu, walaupun halus. Bun Houw
telah memperingatkan dan mengejek calon lawannya.
"Ha-ha-ha, bagus! Aku lebih senang kalau engkau melawan, menggembirakan sekali! Nah, coba kau ia
sambut ini, orang muda!" Tiba-tiba saja si gendut sudah menerjang ke depan dan kedua tangannya
dengan cepat sekali telah mengirim pukulan dari kanan kiri, yang kanan menghantam ke arah pelipis kiri
Bun Houw yang kiri menyambar dahsyat untuk menghantam lambung.
Namun, Bun Houw, yang sudah bersiap siaga itu dengan mudah melangkah mundur dua langkah dan
dua pukulan itupun. hanya mengenai angin saja. Namun, si gendut yang bundar itu memang hebat.
Biarpun tubuhnya bulat dan berat, dia mampu bengerak cepat dan begitu kedua pukulannya tidak
mengenai sasaran, tubuhnya sudah menggelundung dengan cepat. Nampaknya saja menggelinding
saking besarnya perut itu namun sesungguhnya, dia melangkah cepat ke depan dan kembali dia sudah
memukul dengan kedua tangannya didorong ke depan, telapak tangannya terbuka.
(Bersambung jilid ke 03)
Jilid 03
-OANGIN pukulan yang kuat menyambar. Bun Houw yang ingin mengetahui sampai di mana kekuatan
orang gendut itu, sengaja menggerakkan kedua tangannya menyambut kedua tangan lawan yang
dikembangkan.
"Dessss!” Dua pasang telapak tangan itu bertemu dan saling melekat! Dan dalam adu tenaga ini, si
gendut terkejut bukan main karena dia merasa betapa seluruh tubuhnya tengetar bebat, tanda bahwa
tenaga sakti dari lawannya yang masih muda itu sudah amat kuatnya! Akan tetapi, dengan gerakan yang
sama sekali tidak tersangka-sangka, si gendut itu menggerakkan kepalanya yang kecil ke depan dan
menghantamkan kepalanya ke arah muka Bun Houw!
Pemuda itu terkejut bukan main, karena tidak menyangka sama sekali, dia hanya mampu miringkan
kepalanya saja.
"Pukkkk!” Pipinya dihantam dengan kerasnya oleh kepala yang kecil namun keraseperti baja!
Bun Houw melepaskan kedua tangannya yang menempel pada tangan lawan, dan dia agak terhuyung ke
belakang, kepalanya terasa pening. Dia menggoyang-goyang kepala dan terasa betapa pipinya panas
dan nyeri. Dia mengusap pipinya, memandang ke depan dan si gendut masih tertawa. Kiranya si gendut
ini memiliki ilmu menyerang dengan kepalanya yang kecil! Karena terkejut, Bun Houw kurang cepat dan
tahu-tahu Gu Mouw sudah menyerang lagi, kini kaki kanannya menendang dengan kekuatan dahsyat,
disusul kaki kiri. Bun Houw terpaksa kembali melompat ke belakang untuk menghindarkan diri. Akan
tetapi ternyata tendangan si gendut itu merupakan Ilmu tendangan semacam Soan-kong-twi
(Tendangan Angin Puyuh) yaitu tendangan berantai yang sambung-menyambung. Kadang-kadang tubuh
yang bundar itu seperti menggelinding dan dari bola menggelinding itu mencuat kedua kaki yang
bergantian melakukan tendangan bertubi-tubi.
Karena repot juga menghadapi tendangan-tendangan berantai yang amat cepat, kuat dan berbahaya
itu, terpaksa Bun Houw mencabut tongkat butut dari pinggangnya dan menangkis tendangan itu dengan
tongkatnya. Dia tidak mungkin harus mengelak terus.
"Tak! Tak! Tak!” Berulang kali kedua kaki si gendut itu bertemu tongkat dan dia marasa betapa bagian
kaki yang tertangkis tongkat itu nyeri, maka terpaksa dia menghentikan tendangan-tendangannya. Kini
barulah senyum lebar di mukanya itu mulai menyempit. Baru dia tahu bahwa pemuda ini memang sama
sekali tidak boleh dipandang ringan. Sejak tadi, belum pernah dia mampu mengenai tubuh pemuda itu
dengan pukulan atau tendangan, dan hasil benturan kepalanya tadipun tidak ada artinya. Bahan kini
kedua kakinya terasa nyeri, Apalagi kalau yang tertangkis itu tulang kering kakinya. Marahlah Siauw-bin
Pek-ti Gu Mouw. Akan-tetapi, dasar mulutnya sudah terlanjur lebar, biarpun dalam keadaan marah,
tetap saja dia kelihatan seperti tersenyum!
"Rrrtttt ...!” Nampak sinar terang ketika tangannya melolos sebatang rantai yang panjangnya ada satu
setengah meter, terbuat dari pada besi dan berwarna putih seperti perak. itulah senjata yang ampuh
dari Siauw-bin Pek-ti Gu Mouw, yaitu sehelai rantai yang berat. Tanpa banyak cakap lagi, si gendut
sudah memutar rantai itu dan melakukan penyerangan. Rantai besi itu menyambar-nyambar dahsyat,
mengeluarkan suara bersuitan.
Bun Houw kembali mempengunakan kelincahan tubuhnya, mengelak dengan loncatan-loncatan.
Namun, gulungan sinar putih itu terus mengejarnya. Pada suatu saat, nampak seolah-olah Bun Houw
seperti seorang kanak-kanak sedang bermain loncat tali! Dia berloncatan menghindar dan rantai itu
menyambar-nyambar lewat bawah kakinya dan atas kepalanya !
"Trang-trang ... !" Kini Bun Houw mulai menangkis dengan tongkatnya.
Kembali si gendut terkejut. Tangkisan tongkat itu mengeluarkan bunyi seolah-olah rantai di tangannya
bertemu dengan benda logam yang keras! Jelas bahwa tongkat yang nampaknya butut itu
menyembunyikan senjata logam kerasnya. Juga pertemuan dengan tongkat itu membuat rantai di
tangannya terpental dan telapak tangannya terasa panas sekali. Diapun menjadi semakin penasaran dan
dia memutar rantainya lebih gencar lagi. Akan tetapi, kini Bun Hou tidak hanya mengelak dan
menangkis, melainkan mulai membalas dengan tamparan tangan dan tendangan kaki, dan juga totokantotokan
yang dilakukan dengan tongkatnya. Dari suhunya, Bun Houw menerima banyak macam ilmu
silat, akan tetapi yang paling hebat merupakan keistimewaan gurunya, yaitu ilmu menotok jalan darah,
lalu ilmu tongkat dan yang terakhir ilmu pedang. Melihat tingkat kepandaian lawan, Bun Houw masih
belum mau menghunus pedang dari dalam tongkat bututnya. Gurunya tidak menghendaki dia
sembarangan menghunus pedang, karena ilmu Pedang Kilat amat berbahaya. Sekali pedang itu tercabut
sukar dicegah robohnya lawan dalam keadaan terluka parah atau tewas! Karena itulah, Bun Houw masih
tidak mau mencabut pedangnya. Dia tidak mengenal si gendut ini, tidak mempunyai permusuhan
pribadi. Si gendut hanyalah seorang utusan, seorang anak buah, maka tidak semestinya kalau dia
melukainya dengan berat, Apalagi membunuhnya!”
Ilmu tongkat yang dimainkan Bun Houw memang merupakan ilmu tongkat yang amat hebat.
Gerakannya cepat dan sukar diduga. Kalaupun tongkat itu hanya merupakan sebatang tongkat butut,
namun sambarannya mendatangkan angin pukulan yang dahsyat, dan si gendut Gu Mouw maklum
bahwa tongkat di tangan lawan itu sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Buktinya ketika tongkat itu
menangkis rantainya, dia merasa betapa rantainya terpental dan telapak tangan yang memegang ujung
rantai menjadi panas, itu saja sudah membuktikan bahwa selain pemuda itu memiliki tenaga kuat, juga
tongkat itu bukan benda lunak dan lemah !
Melihat betapa sejak tadi si gendut tidak mampu merobohkan Bun Houw, sebaliknya kini malah
terdesak hebat dan terus main mundur, tiga orang jagoan bawahannya menjadi penasaran, khawatir
dan tidak sabar lagi. Diawali aba-aba si codet yang menjadi pemimpin, mereka lalu menerjang maju
untuk mengeroyok Bun Houw, mempengunakan golok mereka yang dipegang di tangan kiri. Tentu saja
mereka bertiga tidak akan gila berani maju lagi kalau di situ tidak ada Siauw-bin Pek-ti Gu Mouw.
Mereka mengharap bahwa dengan adanya Gu Mouw, mereka bertiga akan mampu membuat Bun Houw
roboh!”
Melihat majunya tiga orang yang sudah patah tulang lengan kanan mereka itu, Bun Houw sama sekali
tidak menjadi gentar, bahkan dia menjadi marah. Tiga orang Liu Sungguh tidak tahu diri! Maka, dia lalu
menambah tenaganya dan pada saat rantai besi di tangan Gu Mouw menyambar ke arah kepalanya, dia
menangkis dengan tongkat dan sengaja memutar tongkat itu dengan menggetarkan ujungnya sehingga
ujung rantai melibat tongkatnya Dengan tenaga sentakan atau kejutan, dia menarik. Tubuh gendut itu
tertarik mendekat dan Bun Houw menyambung tarikannya itu dengan tendangan kilat ke arah tangan
kanan di ujung rantai.
"Dukk!” Tendangan dengan ujung kaki itu tepat mengenai tangan yang memegang gagang rantai, keras
dan tepat. Gu Mouw mengeluh dan tak dapat dipertahankannya lagi, rantai itu dan terlepas dari
tangannya!
Bun Houw mengayun tongkatnya dan rantai itupun terputar-putar, membentuk lingkaran sinar putih
menyambut tiga orang jagoan yang mengepungnya dengan serangan golok.
Demikian kuat dan cepatnya rantai terputar. Begitu tiga batang golok menyambut dan menangkis, tiga
batang golok itu terlepas dan terlempar jauh dan rantai masih terus berputar menghantam ke arah tiga
orang itu. Mereka berteriak kesakitan dan roboh terjungkal dengan kepala berdarah! Mereka bertiga
tidak tewas, juga luka mereka tidak membahayakan nyawa, namun kulit muka mereka pecah terkena
hantaman rantai dan mengeluarkan banyak darah.
Melihat kehebatan pemuda itu, Gu Mouw maklum bahwa dia tidak akan mampu mengalahkannya,
maka diapun menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Akan tetapi, Bun Houw berseru,
"Sobat she Gu, terimalah kembali senjatamu ini! Dan tongkatnya diputar, rantai itu ikut terputar
kencang, lalu ketika tongkat dipantulkan kuat, rantai yang masih berputar itu terbang ke arah Gu Mouw
yang melarikan diri!
Mendengar teriakan lawannya, Gu Mouw menahan langkahnya, lalu. membalik dan menggunakan
kedua tangan untuk menerima rantainya yang berputar-putar itu. Rantai itu dapat ditangkapnya, akan
tetapi saking kerasnya rantai berputar, kedua ujungnya menghantam perut dan pundaknya. Dia
mengaduh-aduh seperti seekor babi disembelih, bergantian dia mendekap perut dan pundak yang luka
berdarah. Kemudian, terhuyung-huyung dia melarikan diri dengan rantai masih melibat tubuhnya,
diikuti tiga orang temannya.
Dengan susah payah mereka meloncat ke atas punggung kuda mereka yang tadi dibiarkan lepas tak jauh
dari situ, Bun Houw tidak mengejar dan baru setelah empat orang itu melarikan diri, dia merasa tertarik
sekali untuk melakukan penyelidikan. Mengapa mereka itu demikian bernafsu untuk membunuhnya?
Pertama mengirimkan tiga orang jagoan itu, kemudian mengirim si gendut yang memang jauh lebih lihai
dibandingkan mereka. Melihat betapa mereka itu bersungguh-sungguh dalam usaha mereka untuk
membunuhnya, bukan tidak mungkin kalau mereka akan mengirim lagi orang-orang yang lebih lihai atau
lebih banyak untuk mengejarnya. Dia harus mengetahui mengapa mereka demikian membencinya.
Benarkah hanya karena dia bercakap-cakap dengan Ling Ay di taman kuburan? Rasanya tidak mungkin.
Dan benarkah suami Ling Ay yang berada di belakang semua usaha untuk membunuhnya itu ?
Karena terlarik, maka diapun menggerakkan tubuhnya, berlari cepat membayangi empat ekor kuda yang
sudah berlari jauh ke arah kota Nan-ping itu.
***
Cia Kun Ti meninggalkan gedung besar tempat tinggal puterinya dengan wajah muram. Baru saja dia
berkunjung untuk menyusul isterinya yang belum juga pulang. Sehabis bersembahyang di taman
kuburan, dia segera pulang, ke rumahnya sendiri, akan tetapi isterinya ikut dengan puteri mereka.
Sampai hari menjadi sore, isterinya belum juga pulang, maka dia lalu menyusul ke rumah mantunya.
Dan di rumah itu, dia mendengar dari isterinya betapa mantu mereka, Cun Hok Seng, marah-marah
kepada Ling Ay dan ibunya. Mantunya itu marah karena menuduh Ling Ay mengadakan pertemuan
dengan bekas tunangannya atau bekas kekasihnya! Dan mantunya mengharuskan Ling Ay tinggal saja di
dalam kamar, tidak boleh keluar sebelum ada perintah darinya. Dan isterinya harus menunggui puteri
mereka itu!”
Tentu saja hati Cia Kun Ti merasa tidak enak sekali dan diam-diam dia menyesali ke tamakan isterinya
yang memaksanya dahulu untuk menerima pinangan Cun Hok Seng. Apa yang dikhawatirkanpun kini
terjadi. Mantunya itu bukan orang baik-baik. Bahkan keluarga mantunya, yang kepala daerah, juga
bukan orang baik-baik. Hal ini sudah diduganya semula, melihat adanya banyak peristiwa aneh terjadi di
kota Nan-ping. Namun, semua telah terlambat, puterinya, anak tunggalnya, telah menjadi isteri Cun Hok
Seng dan dia tahu betapa isterinya merasa berbahagia karena memperoleh percikan kehormatan dan
kemuliaan yang sesungguhnya semu saja. Bagi dia sendiri, diam-diam dia merasa malu, bukan hanya
melihat ketamakan isterinya akan kehormatan dan kemuliaan, melainkan malu karena sebagai seorang
suami dia tidak berdaya mempergunakan kekuasaannya mengatur isteri dan anak sendiri! Dan kini,
terjadilah hal itu! Sungguh menjengkelkan. Dia tahu benar bahwa puterinya sama sekali tidak
melakukan kesalahan! Pertemuannya dengan Bun Houw hanya kebetulan saja, dan di antara mereka
tidak terdapat hal-hal yang kotor atau melanggar tata susila. Akan tetapi, akibat pertemuan itu telah
makin menonjolkan watak dari mantunya !
Ketika Cia Kun Ti dengan wajah muram memasuki pekarangan rumahnya, tiba-tiba ada suara orang
memanggilnya, "Paman Cia ...!”
Cia Kun Ti terkejut, cepat membalikkan tubuhnya dan kiranya Bun Houw sudah berada di situ, di dalam
pekarangan rumahnya. "Aih, engkau ini, Bun Houw? Mari, silakan masuk!"
Bun Houw menghaturkan terima kasih dan merekapun memasuki rumah itu, Rumah yang sudah amat
dikenal oleh Bun Houw. Dahulu, beberapa tahun yang lalu, dia masih sering kali datang berkunjung ke
rumah ini, rumah tunangannya, calon isterinya, rumah calon ayah dan ibu mertuanya! Rumah itu masih
sama, hanya catnya yang baru dan ketika dia masuk, ternyata perabot rumah juga diganti dengan
perabot baru yang lebih mahal. Tentu keluarga itu hendak menyesuaikan diri, pikirnya, sebagai mertua
putera kepala daerah, tentu rumahnya harus lebih mewah.
Cia Kun Ti mengajak Bun Houw duduk di ruangan dalam dan setelah pelayan menghidangkan minuman
dan makanan sekadarnya, Cia Kun Ti lalu menutupkan daun pintu ruangan itu dan sikapnya berubah
sungguh-sunguh.
"Bun Houw, engkau masih berada di Nan-ping? Ah, aku girang sekali tidak terjadi sesuatu atas dirimu ...
"
Bun Houw memang sengaja datang ke rumah bekas calon mertua ini. Tadi dia membayangi empat
penunggang kuda dan mereka itu masuk ke dalam sebuah rumah besar yang bersambung dengan
rumah kepala daerah. Dia ingin mencari keterangan, dan satu-satunya orang yang akan dapat memberi
penjelasan kepadanya hanyalah Cia Kun Ti, bekas calon mertuanya ini. Dia tahu bahwa Cia Kun Ti adalah
sahabat yang sangat baik dan akrab-dengan mendiang ayahnya, dan tadi, di taman kuburan, Cia Kun Ti
juga memperlihatkan sikap, yang amat baik kepadanya. Sebetulnya dia meragu untuk datang
berkunjung, mengingat akan sikap Nyonya Cia yang agaknya tidak suka kepadanya. Maka, giranglah
hatinya bahwa dia dapat berbicara empat mata dengan Cia Kun Ti. Kini, begitu tiba tuan rumah
mengkhawatirkan keadaan dirinya!
"Ada apakah, paman ? Mengapa paman menduga bahwa akan terjadi sesuatu atas diriku,” dia
memancing.
Cia Kun Ti menarik napas panjang. Tadi dia mendengar dari isterinya yang menyumpah Bun Houw.
Isterinya berkata bahwa kini Bun Houw dicari oleh orang-orangnya Cun Hok Seng dan akan dibunuh.
Isterinya memujikan agar pemuda itu cepat dapat tertangkap dan dibunuh!
"Aku mendengar bahwa engkau dicari oleh para jagoan dari Cun-taijin, aku ... aku khawatir sekali."
Bun Houw mengangguk-angguk, girang bahwa dia mencari keterangan ke sini. "Memang benar, paman.
Empat orang mencari aku, dan bahkan mengejar aku yang sudah meninggalkan kota ini. Mereka hendak
membunuhku, dengan-tuduhan bahwa aku menghina keluarga Cun karena aku berani bercakap-cakap
dengan Ay... ah, dengan mantu kepala daerah, yaitu-puteri paman. Aku dapat mengalahkan mereka.
Aku merasa penasaran dan aku berkunjung ini untuk mendapatkan penjelasan paman, apa yang
sesungguhnya terjadi? Mengapa pertemuan dan percakapan bersih antara aku dan puterimu. di taman
kuburan itu saja membuat suaminya marah-marah dan hendak membunuhku. Siapakah mereka itu yang
demikian kejam, paman ?"
Cia Kun Ti menarik napas panjang. "Ah, ya sudah untungku ... sungguh kasihan nasib anakku. Ini semua
kesalahan isteriku, bibimu yang tamak dan gila hormat itu! Sejak dulu aku sudah mendengar hal-hal
yang tidak baik tentang keluarga kepala daerah. Akan tetapi bibimu memaksaku sehingga kami
menerima pinangannya. Dan sekarang ... "
"Paman, apa yang sebenarnya terjadi?"
“Semua telah menimbulkan kecurigaanku, juga kecurigaan mendiang ayahmu. Sejak Cun-taijin menjadi
kepala daerah di Nan-ping, kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, nampak gejala gejala tidak benar. Cun
taijin mempengunakan orang-orang kang-ouw yang menurut penilaian ayahmu adalah penjahatpenjahat
besar."
"Benarkah itu, paman ? Apakah paman maksudkan bahwa kepala daerah itu mempengunakan penjahatpenjahat
untuk melakukan, kejahatan?”
Yang ditanya menggeleng kepala. "Sama sekali tidak. Bahkan semenjak dia menjadi kepala daerah di
sini, kota Nan-ping menjadi tenteram, tidak pernah terjadi kejahatan di kota ini. Tidak ada penjahat yang
berani melakukan kejahatan, karena para tokoh sesat yang mereka takuti berada di sini menjadi kaki
tangan kepala daerah!"
Bun Houw merata heran bukan main. Bagaimana mungkin seorang kepala daerah, seorang pejabat
pemerintah mempengunakan tokoh-tokoh sesat untuk menjadi kaki tangannya ?
"Lalu, untuk apa dia memelihara para tokoh sesat itu, paman ?"
Cia Kun Ti mengangkat pundak. "Hal itu tidak ada yang tahu. Akan tetapi sejak dia menjadi kepala
daerah, terjadi banyak hal aneh, seperti kematian ayahmu ... “
"Maksud paman ...?”
"Aku tidak menduga yang bukan-bukan. Ayahmu memang seorang pendekar penentang kejahatan,
karena itu lima orang berkedok yang kauceritakan telah membunuh ayahmu itu tentu saja para penjahat
yang membalas dendam. Akan tetapi, banyak terjadi pembunuhan yang penuh rahasia. Banyak tokoh
dan pejabat tewas tanpa diketahui siapa yang membunuhnya. Dan selain itu, sebagai seorang pedagang
aku tahu bahwa kami para pedagang diperas oleh kepala daerah, dengan pungutan pajak-pajak
tambahan yang tidak wajar. Dan tidak ada orang berani membantahnya. Bayangkan saja, sekarang Ling
Ay menjadi anggauta keluarga Cun yang penuh rahasia itu! Dan ternyata sikap Cun Hok Seng juga aneh
dan keterlaluan. Masa karena isterinya yang menjadi sahabat baikmu, kebetulan bertemu denganmu di
taman kuburan lalu bicara di depan umum, bicara sopan, membuat dia marah seperti gila dan hendak
membunuhmu? Aih, sungguh penuh rahasia ... dan aku, nasib yang buruk ini, makin tua aku semakin
menderita, dan aku kasihan kepada puteriku ... "
Bun Houw mengangguk-angguk. "Memang kedengarannya aneh, paman. Empat orang itu hendak
membunuhku, dan ketika mereka melarikan diri, mereka menuju ke rumah kepala daerah. Ada sebuah
bangunan besar yang bersambung dengan gedung kepala daerah, dan mereka memasuki pekarangan
rumah besar itu. Justeru kepadamu aku ingin mendengar keterangan tentang rumah besar itu, paman."
"Di sanalah mereka berkumpul. Penduduk tahu belaka bahwa mereka adalah kaki tangan kepala daerah,
akan tetapi karena mereka tidak pernah mengganggu rakyat di depan umum, maka tidak ada yang
perduli. Dahulu, di situ menjadi markas pasukan pengawal. Akan tetapi, kepala daerah agaknya lebih
suka dikawal oleh kaki tangannya, dari pada oleh pasukan. Dan menurut kabar angin, kaki tangan kepala
daerah itu merupakan orang-orang yang memiliki kepandaian amat tinggi."
"Akan tetapi, paman. Apakah keadaan yang aneh itu tidak diselidiki oleh para pembesar dan pejabat
lainnya? Bukankah kota Nan-ping ini mempunyai pula pejabat lain?"
Semua pejabat sipil adalah bawahan kepala daerah, dan satu-satunya pejabat militer adalah komandan
pasukan keamanan yang markasnya berada di ujung kota sebelah selatan. Dengan Kim-ciangkun yang
tua, Cun Taijin mempunyai hubungan yang amat baik. Entah dengan komandan yang sekarang ini, yang
baru beberapa bulan menggantikan Kim-ciangkun. Komandan yang sekarang ini kabarnya dari kota raja,
disebut Souw-ciangkun, entah bagaimana hubungannya dengan Cun Taijin, aku tidak tahu. Akan tetapi,
ketika Kim-ciangkun masih menjadi komandan, beberapa orang perwira bawahannya juga kabarnya ada
yang mati mendadak, ada pula yang lenyap tanpa meninggalkan jejak, dan kabarnya mereka yang mati
atau lenyap itu adalah para perwira yang memperlihatkan sikap tidak senang kepada Cun Taijin."
Bun Houw mengangguk-angguk. "Ah, semakin menarik saja, paman. Kalau aku tidak hendak
dibunuhnya, tentu aku sudah pergi dari Nan-ping dan tidak tahu akan hal itu. Sekarang, hatiku tertarik
sekali dan aku mengambil keputusan untuk melakukan penyelidikan.”
Cia Kun Ti mengerutkan alisnya, "Berhati-hatilah engkau, Bun Houw. Engkau sudah menjadi buruan
mereka, bagaimana engkau malah hendak melakukan penyelidikan dan seolah-olah memasuki gua
harimau? Mereka itu banyak dan kuat sekali, dan Cun Taijin amat berkuasa di sini, menjadi orang nomor
satu di sini!”
"Harap paman Jangan khawatir. Aku hanya melanjutkan perjuangan ayah. Aku yakin bahwa kalau ayah
masih hidup, tentu ayah akan melakukan penyelidikan terhadap keluarga Cun yang penuh rahasia itu!"
"Ayahmu dahulu pernah mengatakan kecurigaan hatinya, akan tetapi setahuku belum pernah
melakukan penyelidikan. Akan tetapi Bun Houw, apakah tidak lebih baik engkau mulai berdagang lagi
saja? Aku suka membantumu dan ... "
"Terima kasih, paman. Aku tidak berani menyusahkan paman. Bahkan sekarangpun aku harus pergi.
Tidak baik kalau ada orang melihat aku berkunjung ke sini, tentu hanya akan mendatangkan kesusahan
bagimu saja. Nah, selamat tinggal, paman. Sampaikan terima kasihku kepada ... adik Ling Ay bahwa ia
mau bersembahyang di depan batu nisan ayah ibuku, dan aku selalu memujikan agar ia hidup
berbahagia."
Setelah berkata demikian Bun Houw keluar dari rumah itu, berindap-indap dan menyelinap keluar tanpa
diketahui orang lain. Dia kini tahu betapa besar bahayanya bagi Cia Kun Ti kalau sampai ada kaki-tangan
kepala daerah melihat dia baru saja berkunjung ke rumah itu.
***
Bun Houw meninggalkan rumah Cia Kun Ti dan dia maklum bahwa dia tidak boleh memperlihatkan diri
di tempat umum karena dia pada saat itu adalah seorang buruan. Kalau kaki tangan kepala daerah
melihatnya, tentu akan terjadi keributan dan dia akan diserang. Bukan dia takut, melainkan karena dia
harus menyelidiki apa yang berada di balik segala rahasia keluarga kepala daerah Cun. Dia harus
menyelidikinya, dan kalau perlu menentangnya, demi kehidupan rakyat penghuni kota Nan-ping, demi
keluarga Cia Kun Ti, demi ... Ling Ay. Bukankah menurut keterangan Cia Kun Ti tadi, ayahnya dahulupun
pernah menyatakan kecurigaannya terhadap kepala daerah Cun? Namun, ayahnya tidak sempat
melakukan penyelidikan, maka biarlah kini dia yang melanjutkan kecurigaan ayahnya itu.
Sejak hari mulai gelap, dia sudah melakukan pengintaian terhadap rumah besar di dekat gedung kepala
daerah. Gedung itu nampak sunyi, tidak ada yang keluar masuk. Akan tetapi, dia sudah mendengar dari
Cia Kun Ti bahwa gedung atau rumah berar itu merupakan markas dari para kaki tangan Cun Taijin.
Maka, setelah hari menjadi gelap benar, dia-pun mempengunakan kepandaiannya untuk menyelinap ke
dekat rumah itu. kemudian meloncat ke atas genteng dan mendekam di wuwungan rumah.
Dengan hati-hatl Bun Houw merangkak di atas wuwungan rumah dan akhirnya dia menemukan apa
yang dicarinya dan mendekam di atas sebuah ruangan besar di mana berkumpul banyak orang yang
duduk mengelilingi sebuah meja besar. Mereka terdiri dari delapan orang. Di ujung meja duduk seorang
laki-laki berusia sekitar enampuluh tahun, namun wajah dan tubuhnya masih seperti orang muda,
rambutnya sudah ubanan dan orang ini mengenakan pakaian serba putih yang bersih, terbuat dari
sutera balus. Hanya tali atau pita rambutnya saja yang berwarna biru. Sikapnya berwibawa dan mudah
diduga bahwa dia tentu merupakan pimpinan dari kelompok itu. Bun Houw melihat pula pria gendut
yang tadi dikalahkannya, duduk di antara tujuh orang lain. Tiba-tiba dia mengerutkan alisnya dan
merasa betapa jantungnya berdebar penuh ketegangan. Tidak kelirukah penglihatannya?
Yang menarik perhatiannya dan membuat jantungnya berdebar adalah seorang yang duduk pula di situ.
Dia tidak pernah melihat orang itu dan setelah dia pandang dengan teliti, dia merasa yakin bahwa orang
itu adalah seorang di antara lima orang penjahat bertopeng yang dulu membunuh ayahnya! Yang
membuat dia merasa yakin adalah tangan kanan orang itu. Lengan itu buntung sebatas pergelangan
tangan! Tangan kanan itu sudah hilang, diganti dengan sebuah cakar baja yang mengerikan! Memang
dia tidak mengenal wajah orang itu, akan tetapi tangan itu! Dan bentuk tubuhnya. Betapapun juga dia
merasa ragu pula.
Kalau benar orang itu adalah seorang di antara lima penjahat yang membunuh ayahnya, mengapa dia
berada di sini? Apakah yang empat orang juga berada di situ?
"Sungguh menyebalkan sekali." terdengar orang yang bertubuh tinggi kurus berkata sambil memandang
kepada Siauw-bin Pek-ti Gu Mouw. "Menghadapi seorang bocah ingusan saja sampai gagal, pada hal
sudah dibantu tiga orang monyet tolol itu !”
Yang menegur itu adalah Bu-tek Kiam-mo, orang ke dua dari kelompok kaki tangan Cun Tai-jin.
Mendengar ini, si gendut Gu Mouw mengerutkan alisnya dan memandang kepada rekannya itu dengan
alis berkerut.
"Hemm, andaikata engkau sendiri yang maju, belum tentu engkau akan mampu mengalahkannya !"
Bu-tek Kiam-mo bangkit berdiri dari kursinya dan membentak, "Aku tidak seperti engkau! Kalau
pedangku tidak mampu membunuhnya, aku tidak akan kembali ke sini dan tentu sudah menjadi mayat.
Tidak sudi aku membawa pulang kekalahan!”
Melihat suasana menjadi panas, Pek I Mo-ko segera bangkit berdiri dan bertepuk tangan, memberi
isarat kepada dua orang yang bersitegang itu untuk menjadi tenang. "Sudahlah, tidak perlu diributkan
lagi. Kalau pemuda itu berani muncul lagi. kita usahakan agar dia itu dilenyapkan! Sebaliknya kalau dia
sudah pergi sudahlah. Urusan dengan dia hanya kecil saja dan perintah atasan banya untuk menghajar
dia, bukan membunuhnya. Kita menghadapi urusan yang lebih besar, tidak perlu meributkan urusan
kecil!"
Mendengar ucapan itu. Bu-tek Kiam-mo dan Gu Mouw tidak banyak cakap lagi. Pek I Mo-ko lalu berkata
lagi, "Malam ini, sesuai dengan perintah atasan kita, kita harus dapat membunuh perwira tinggi itu. Ngokwi,
kalian yang bertugas membantu Bu-tek Kiam-mo, dan kalian telah melakukan penyelidikan dan
memilih saat yang baik. Bagaimana hasilnya penyelidikan terakhir?"
Mendengar disebutnya Ngo-kwi ini, jantung Bun Houw berdebar semakin kencang. Lima Iblis? Kebetulan
pembunuh ayahnya juga lima orang banyaknya, dan seorang di antaran menurut keyakinannya, adalah
orang yang lengannya buntung dan tangan kanannya diganti cakar besi itu! Seorang di antara mereka
yang bertubuh pendek besar segera menjawab dengan suara lantang.
"Sudah siap semua! Menurut penyelidikan kami, memang malam ini saat paling baik. Perwira tinggi itu
tidak berada di markas, dan sedang berlibur dengan keluarganya di gedung musim panas mereka, dekat
telaga di luar kota. Kesempatan yang teramat baik bagi kita."
Buo Houw mengamati pembicara ini degan mata yang tak pernah berkedip, lalu dia mengingat-ingat.
Memang, di antara lima orang bertopeng pembunuh ayahnya yang pernah mengeroyoknya itu, terdapat
yang bertubuh pendek! Dan ada pula yang kulitnya hitam dan bertubuh tinggi besar seperti raksasa.
Disapunya orang-orang di bawah itu dengan pandang matanya dan dia mengangguk-angguk ketika
melihat seorang di antara mereka yang duduk di sebelah si lengan buntung. Orang itu tinggi besar dan
kulitnya menghitam. Tak salah lagi, pikirnya. Si pakaian putih itu adalah pemimpin kelompok kaki tangan
Cun Taijin ini. kemudian ada si gendut yang sudah dikalahkannya, dan orang yang tadi disebut Bu-tek
Kiam-mo, si kurus tinggi itu, dan sisanya, yang lima orang tentulah Ngo-kwi, termasuk si lengan buntung
dan sitinggil besar, juga si pendek. Kini keraguannya lenyap. Jelas bahwa lima orang Ngo-kwi inilah
pembunuh ayahnya!
Akan tetapi kalau begitu ... mereka membunuh ayahnya bukan sebagai balas dendam para penjahat ?
Apakah ada hubungannya pula dengan Cun Tai-jin? Apakah pembunuhan atas diri ayahnya itu dilakukan
Ngo kwi sebagai pelaksanaan perintah dari Cun Taijin? Kalau benar demikian, kenapa? Lalu
tunangannya, Ling Ay, diambil mantu. Apa artinya semua itu! Semangatnya untuk menyelidiki mereka
itu menjadi semakin bernyala.
"Bukanlah di sana juga keluarga panglima itu dikawal pasukan?" tanya Pek I Mo-ko,
"Memang selalu ada pengawalan, akan tetapi karena panglima dan keluarganya sedang berlibur, maka
yang bertugas jaga hanyalah pasukan pengawal terdiri dari duabelas orang saja. Tempat itu aman dan
tidak jauh dari kota, tentu panglima tidak berprasangka buruk." jawab si pendek yang agaknya
merupakan wakil pembicara dari Ngo-kwi.
"Bagus sekali kalan begitu! Kiam-mo, apakah engkau sudah mengatur siasat untuk gerakan malam ini ?
Apakah engkau membutuhkan bantuan ?"
Dengan hati masih panas karena bantahan Gu Mouw yang merupakan orang yang setingkat lebih
rendah kedudukannya. Bu-tek Kiam-mo menjawab dengan suara kaku, "Aku tidak membutuhkan
bantuan lagi! Sudah kami atur siasat sebaiknya dan pukulan kami malam itu sudah pasti tidak akan
gagal. Ngo-kwi bersama belasan orang anak buah dengan menggunakan topeng akan menyerbu
sehingga para perajurit pengawal yang hanya belasan orang jumlahnya itu tentu akan menghadapi para
penyerbu. Kesempatan itu kupergunakan untuk menyusup ke dalam dan membunuh panglima. Setelah
berhasil, kami akan segera meninggalkan tempat itu dan takkan ada seorang-pun anak buah yang
dikenal oleh para perajurit pengawal. Untuk mengelabui pendapat umum. kami akan merampas
perhiasan dan merampok barang-barang berharga yang berada di sana agar semua gerakan itu dianggap
sebagai perampokan biasa."
Pek-i Mo-ko mengangguk-angguk. "Bagus, aku percaya kalian berenam akan berhasil baik. Aku hanya
memperingatkan kalian agar tidak melupakan dua hal yang amat penting. Pertama, kuperingatkan
kepada Ngo-kwi agar kali ini tidak melakukan kebiasaan mereka yang bercahaya. Yaitu, jangan sekali-kali
mengganggu para wanita di sana! Atasan kita memperingatkan hal ini. Kalian sekali ini dilarang untuk
mengganggu wanita!"
"Wah, apa salahnya dengan itu ...?” Seorang di antara Ngo-kwi, yang bertubuh tinggi besar, mencela
kecewa.
Mendengar ini, Bun Houw menggigit bibir mengepal tinju karena terbayanglah dia akan keadaan ibu
kandungnya yang didapatkannya telah tewas dalam keadaan menyedihkan, menjadi korban perkosaan!”
"Tidak perlu banyak membantah!" bentak Pek-I Mo-ko kepada si tinggi besar. "Atasan kita
mengharuskau demikian. Mengerti? Awas-kalau ada yang melanggar. Kuulangi, pertama, tidak boleh
mengganggu wanita di sana. Ke dua, semua barang yang dirampok harus cepat disingkirkan dan jangan
sampai kelihatan di kota ini. Mengerti semua?"
Bu-tek Kiam-mo dan Ngo-kwi mengangguk walaupun nampak Ngo-kwi bersungut-sungut. Agaknya,
kelima orang Ngo-kwi ini semua adalah penjahat-penjahat cabul yang suka mengganggu wanita! Mereka
tidak mungkin dapat memuaskan nafsu mereka di Nan-ping, karen si atasan mereka melarang keras
mereka semua melakukan perbuatan tercela di Nan-ping dan sekitarnya. Dan sekarang, dalam tugas
membunuh seorang panglima, mereka memperoleh kesempatan untuk memuaskan nafsu mereka, akan
tetapi ada perintah bahwa mereka dilarang keras mengganggu wanita dalam rombongan panglima!
Tak lama kemudian. Bu-tek Kiam-mo dan Ngo-kwi keluar dari ruangan itu, dan bersama belasan orang
anak buah yang berada di luar ruangan, mereka itu, semua berjumlah duapuluh satu orang, lalu
meninggalkau rumah besar dengan berpencar. Mereka semua sudah siap dengan pakaian serba hitam.
Bahkan Bu-tek Kiam-mo dan Ngo-kwi, setelah keluar dari situ, juga mengenakan jubah hitam dan
pakaian serba gelap. Mereka semua tidak tahu bahwa tak jauh di belakang mereka, ada sesosok
bayangan yang gerakannya amat cepat selalu membayangi mereka. Bayangan itu tentu saja Bun Houw.
Dia tahu bahwa pemimpin, kelompok yang kini hendak membunuh seorang panglima itu dipimpin oleh
Bu-tek Kiam-mo oleh karena itu, orang tinggi yang kurus sekali inilah yang selalu dia bayangi. Bukankah
orang ini yang bertugas membunuh sang panglima? Dia tidak tahu mengapa panglima akan dibunuh
akan tetapi bagaimanapun juga, dia harus mencegah terjadinya kejahatan ini lebih dulu, baru kemudian
membongkar rahasia yang menyelimuti keluarga kepala daerah Cun.
Malam itu gelap dan sunyi. Gerombolan jahat itu berkumpul di luar kota dan mereka menuju ke utara.
Bun Houw tadi sudah mendengar percakapan mereka dan dia tahu rumah apa yang mereka maksudkan
tadi sebagai gedung musim panas dekat telaga. Memang banyak pejabat yang kaya mempunyai rumah
peristirahatan di dekat telaga, dan di antaranya tentu terdapat rumah peristirahatan keluarga panglima.
Diapun tidak tahu siapa panglima, komandan pasukan keamanan yang baru di Nan-ping, yang oleh Cia
Kun Ti disebut Souw-ciangkun itu. Lebih tidak mengerti lagi mengapa komandan baru yang katanya baru
beberapa lama menjadi panglima di Nan-ping, kini-hendak dibunuh oleh komplotan jahat ini.
Menurut keinginan hatinya, Bun Houw bermaksud mendahului gerombolan jahat itu dan memberitahu
kepada Souw ciangkun di rumah peristirahatannya dekat telaga, agar panglima itu dapat
menyelamatkan diri. Akan tetapi, gerombolan itu melakukan perjalanan cepat dan tidak sempat lagi
baginya untuk mendahului. Apalagi, dia belum tahu benar di mana letak rumah itu, dan pula, belum
tentu sang panglima mau percaya kepadanya, jangan-jangan malah dia yang dicurigai! Terpaksa, dia
terus membayangi dan karena dia tahu bahwa Bu-tek Kiam-mo yang hendak melaksanakan
pembunuhan, maka orang inilah yang selalu dibayanginya. Biarlah Ngo kwi dan anak buahnya
berhadapan dengan pasukan pengawal. Yang penting dia harus menyelamatkan panglima dan
keluarganya, mencegah terjadinya pembunuhan itu.
Tak lama kemudian tibalah gerombolan itu di tepi telaga dan mereka segera menuju ke sebuah rumah
mungil yang terpencil jauh dari rumah-rumah peristirahatan lain. Akan tetapi, pada waktu itu, musim
panas belum tiba dan sebagian besar rumah-rumah itupun kosong, hanya dihuni oleh satu dua orang
penjaga gedung saja sehingga suasana di tempat itu gelap dan sunyi. Setelah melihat dengan jelas
rumah mana yang dimaksudkan oleh gerombolan itu. Bun Houw mendahului mereka dan dia melihat
bahwa rumah peristirahatan itu memang dijaga oleh pasukan pengawal yang jumlahnya belasan orang.
Mereka itu berjaga di gardu penjagaan depan rumah, sebagian ada yang berjalan-jalan, dan ada pula
yang bermain kartu di gardu yang diterangi lampu gantung yang cukup terang. Rumah itu sendiri sudah
nampak sunyi walaupun masih ada lampu dinyalakan di dalam. Dia lalu menyelinap melalui belakang
dan tak lama kemndian dia sudah berada di atas genteng rumah, mendekam di wuwungan sambil
mengamati ke arah depan rumah.
Mereka memang melakukan siasat yang telah didengar oleh Bun Houw di sarang gerombolan itu.
Belasan orang dipimpin oleh Ngo-kwi, muncul dari tempat gelap dan menyerbu gardu penjagaan. Para
penjaga itu. tentu saja tetkejut bukan main melihat ada belasan orang menyerbu. Segera mereka
berteriak, "Perampok!” dan terjadilah pertempuran antara mereka dengan para penyerbu.
Selagi Bun Houw memandang dan siap siaga melindungi penghuni rumah, tiba-tiba ada bentakan di
belakangnya. "Pembunuh terkutuk!”
Untung Bun Houw cepat menggulingkan diri dari wuwungan, lalu meloncat dan membuat pok-sai (salto)
beberapa kali ketika tubuhnya melayang turun ke atas tanah. Kalau tidak tentu dia sudah menjadi
korban serangan sepasang pedang yang amat cepat gerakannya. Kini, penyerangnya itu sudah melayang
turun pula dan langsung, tanpa banyak cakap lagi, sudah menyerangnya dengan gerakan sepasang
pedangnya.
"Trang-trang ... !" Bun Houw menangkis. dengan tongkatnya, diam-diam merasa heran melihat bahwa
penyerangnya itu sama sekali bukanlah Bu-tek Kiam-mo. Di dalam kegelapan, malam yang hanya
diterangi lampu yang menyorot dari dalam sehingga cuaca menjadi remang-remang, dia tidak dapat
melihat jelas. Namun penyerangnya ini biarpun tidak gemuk dan ramping, namun tidaklah setinggi Butek
Kiam-mo.
"Engkaulah penjahat terkutuk!” teriak Buo Houw dan diapun balas menyerang dengan tongkatnya.
Gerakan tongkatnya cepat dan dahsyat sehingga orang itu mengeluarkan suara kaget lalu meloncat ke
belakang. Akan tetapi, segera dia maju lagi dan sepasang pedangnya kini menyambar-nyambar ganas
bagaikan dua ekor naga bermain-main di angkasa, menyambar-nyambar ke arah Bun Houw,
mengeluarkan suara berdesingan mengerikan. Dan sepasang pedang itu mengeluarkan angin yang
dahsyat. Tahulah Bun Houw bahwa lawannya ini lihai sekali ilmu pedangnya, akan tetapi jelas bukanlah
Bu-tek Kiam-mo! Timbul perasaan khawatirnya. Kalau seorang saja sudah begini lihai, kemudian muncul
Bu-tek Kiam-mo, bagaimana dia akan dapat melindungi penglima Souw dan keluarganya ?
Dia lalu teringat. Orang ini tadi langsung menyerangnya dan memakinya pembunuh! Dia Pembunuh? Dia
tidak pernah membunuh siapa pun juga. Mengapa dia dimaki pembunuh !
“Tranngg ... !" Tongkatnya membuat gerakan panjang, sekaligus menangkis sepasang pedang itu dan dia
meloncat ke belakang. Pada saat itu, dia melihat berkelebatnya bayangan hitam meloncat ke atas
genteng rumah itu. Bayangan yang tinggi kurus. Tentu Bu-tek Kiam-mo, pikirnya dengan hati gelisah.
"Nanti dulu ...!” Dia berseru kepada penyerangnya.
"Tak perlu banyak cakap! Engkau datang hendak membunuh Siauw-ciangkun, bukan?" Sepasang pedang
itu sudah bengerak lagi. akan tetapi Bun Houw cepat meloncat ke belakang. Kiranya penyerangnya itu
seorang wanita! Tadi ketika membentaknya, dia tidak begitu jelas. Kini setelah orang itu bicara, segera
dapat diketahuinya bahwa ia seorang wanita. Seorang wanita yang lihai bukan main.
"Nanti dulu! Aku bukan pembunuh, aku datang justeru untuk melindunginya, melindungi Souw ciangkun
dan keluarganya. Dan pembunuhnya sudah menyelundup, lihat itu dia di atas genteng! Kau cegah dia,
aku akan membantu para pengawal menghadapi serbuan penjahat. Cepat ... !"
Wanita itu agaknya baru sadar. "Baik. kalau engkau berbohong, nanti masih ada kesempatan bagiku
untuk memenggal lehermu,” berkata demikian bagaikan seekor burung saja ia sudah melayang ke atas
genteng mengejar bayangan hitam tinggi kurus itu.
Bun Houw tersenyum. Ia tidak dapat melihat jelas wajah wanita itu, tidak tahu ia muda atau tua, cantik
atau buruk. Akan tetapi yang jelas, wanita itu cukup lihai dan cukup galak. Akan tetapi dalam keadaan
segawat itu, dia tidak sempat menduga-duga siapa gerangan wanita yang lihai dan galak itu. Belasan
orang perajurit pengawal itu sudah nampak terdesak, bahkan ada beberapa orang di antara mereka
telah terluka. Bun Houw meloncat dan terjun ke dalam pertempuran itu sambil membentak nyaring,
"Ngo-kwi. pembunuh jahat yang pantas dibasmi!”
Lima orang yang memimpin para anak buahnya mendesak para penjaga itu terkejut ketika melihat
bayangan orang berkelebat disusul robohnya dua orang anak buah mereka. Cepat mereka berlima itu
menyambut pemuda yang baru saja menerjang masuk sambil memutar tongkatnya itu. Mereka terkejut
ketika mengenal pemuda itu. Masih teringat oleh mereka wajah Bun Houw, dan biarpun mereka diam
saja untuk tidak membuka rahasia mereka bahwa merekalah pembunuh Kwa Tin dan Ibunya, orang tua
pemuda ini, mereka segera mengeroyok dengan maksud membunuh pemuda yang akan dapat
membahayakan mereka di masa mendatang itu. Mereka berlima adalah orang-orang yang sudah biasa
melakukan kekerasan. Membunuh orang merupakan pekerjaan biasa bagi mereka dan memang mereka
berlima itu lihai, Apalagi kalau maju berlima karena mereka dapat bekerja sama dengan baik. Tidak
kosong saja julukan mereka sebagai Ngo-kwi (Lima Setan) dan menjadi tokoh-tokoh ke empat dalam
urutan tingkat kepandaian para pembantu rahasia kepala daerah Nan-ping, yaitu Cun Tai-jin. Begitu lima
orang itu mengepung dan mengeroyoknya dengan pedang mereka. Bun Houw menggerakkan tongkat
bututnya melindungi diri. Akan tetapi lima orang lawan itu tidak menyerang secara membabi buta saja.
Mereka membentuk sebuah Kiam-tin (pasukan pedang) dan gerakan mereka teratur rapi, seolah-olah
lima orang itu digerakkan oleh satu hati saja.
Hal ini tidak aneh karena memang mereka berlima itu ahli dalam gerakan yang dinamakan Ngo-hengkiam-
tin (Pasukan Pedang Lima Unsur), Gerakan mereka susul menyusul dan bantu membantu, seperti
lima orang yang sedang memainkan tarian ular naga, semua sudah diperhitungkan dan pedang mereka
susul-menyusul ketika menyerang Bun Houw, juga mereka itu saling melindungi kalau pihak lawan
menyerang seorang dari mereka. Juga mereka berputar-putar, mengelilingi Bun Houw, lalu tiba-tiba
menyerang bertubi-tubi, kalau serangkan mereka itu gagal, tiba-tiba mereka menghentikan serangan
dan berlari-lari mengelilingi lawan lagi.
Bun Houw memang telah menerima gemblengan yang hebat dari gurunya, dan dia telah menguasai
ilmu-ilmu yang tinggi. Namun, baru saja dia meninggalkan gurunya, bagaikan seekor burung baru saja
meninggalkan sarang. Dia belum berpengalaman, oleh karena itu, dia juga bersikap hati hati sekali.
Kalau dia menghendaki, pedang pusaka di tangannya, yaitu Lui-kong-kiam (Pedang Kilat) tentu akan
dapat merobohkan lima orang pengeroyoknya itu dalam waktu yang tidak terlalu lama. Akan tetapi dia
bukan hanya menerima gemblengan ilmu-silat dari Si Buta Sakti Tiauw Sun Ong. melainkan terutama
sekali menerima gamblengan batin yang membuat pemuda ini sudah mampu menguasai nafsunya. Dia
tidak ingin membunuh Ngo-kwi begitu saja, melainkan hanya ingin menghajar mereka, agar mereka itu
tidak jahat lagi. Maka, diapun tetap menggunakan tongkat butut yang menyembunyikan pedang pusaka
ampuh. Gurunya pernah berpesan agar dia tidak sembarangan mencabut Pedang Kilat dari dalam
tongkat butut, cukup mempengunakan tongkat itu saja untuk membela dan melindungi dirinya.
Karena Bun Houw menghadapi Ngo-kwi dengan hati-hati, menangkis dengan tougkat butut dan kadangkadang
membalas dengan pukulan-pukulan tongkat, maka lima orang pengeroyok itu tidak dapat segera
dia kalahkan, bahkan mereka itu berusaha mendesak dengan serangan-serangan maut yang kejam dan
curang. Akan tetapi belasan orang anak buah penjahat itu kini terdesak. Setelah lima orang pemimpin
mereka terlibat dalam pertandingan melawan pemuda bertongkat yang baru muncul, mereka
kehilangan pimpinan dan para perajurit pengawal yang gagah itu segera membuat mereka kewalahan.
Sementara itu, di sebelah dalam gedung terjadi pula perkelahian yang amat seru. Wanita yang tadi
saling serang dengan Bun Houw, kemudian dapat disadarkan oleh pemuda itu dan loncat mengejar Butek
Kiam-mo, dengan sepasang pedang di tangan berhasil memasuki ruangan dalam di mana ia melihat
Souw ciangkun dengan mati-matian membela diri dengan sebatang pedang terhadap serangan Bu-tek
Kiam-mo (Setan Pedang Tanpa Tanding) Bouw Swe, Sesuai dengan julukannya, Bouw Swe yang bertubuh
tinggi kurus itu lihai bukan main dalam ilmu silat pedangnya. Jelas nampak betapa Souw Ciangkun
terdesak hebat dan hanya mampu menangkis saja tanpa dapat membalas kembali. Souw-ciangkun juga
bukan orang lemah, namun dia lebih pandai mengatur pasukan dari pada Ilmu silat, Apalagi yang
dilawan sekarang adalah seorang tokoh sesat yang lihai sekali seperti Bu-tek Kiam-mo. Jelas bahwa
kalau tidak segera mendapat bantuan, dalam waktu belasan jurus lagi saja keselamatan nyawa Souwciangkun
terancam oleh pedang Bu-tek Kiam-mo Bouw Swe yang lihai itu.
Akan tetapi pada saat itu, tiba-tiba terdengar bentakan yang halus dan nyaring, "Pembunuh keji, siaplah
untuk menerima hukuman!” Dan gadis itu sudah melayang turun dan sepasang pedangnya diputar
menjadi dua gulungan sinar yang melayang dan menyambar ke arah kepala Bu-tek Kiam-mo Bouw Swe!
"Ehhhhh,” Setan Pedang itu terkejut bukan main dan terpaksa dia melempar tubuh ke belakang lalu
bergulingan. Ketika dia meloncat bangun, Souw-ciangkun sudah mundur dan mepet di sudut ruangan
sambil melintangkan pedang di depan dada, siap membela diri, dan seorang gadis yang bertubuh
ramping sudah berdiri di situ dengan sepasang pedang di tangan. Biarpun ruangan itu hanya diterangi
oleh sebuah lampu gantung, namun cukup terang menyinari sebuah wajah yang cantik jelita namun
gagah dengan sinar mata mencorong dan sikap yang agung. Gadis itu usianya sekitar delapanbelas
tahun, tubuhnya ramping akan tetapi penuh mendekati montok dengan lekuk lengkung yang indah
sempurna membayang di balik pakaiannya yang ketat, pakaian yang biasa dipakai seorang wanita yang
biasa melakukan perjalanan jauh, seorang wanita kang-ouw (sungai telaga atau rimba persilatan).
Pakaiannya, bersih dan rapi, namun sederhana. Rambutnya digelung dan diikat ke belakang, sederhana
pula, seperti juga wajahnya yang hanya dilapisi bedak tipis tanpa pemerah bibir atau pipi. Memang tidak
perlu menggunakan pemerah lagi karena bibirnya itu sudah merah segar membasah, pipinya juga
kemerahan sebagai, bukti bahwa gadis ini memang sehat sekali. Warna bajunya kehitaman, membuat
kulit pada leher dan mukanya nampak semakin putih mulus.
"Ciangkun, harap mundur dan biarkan aku yang menghajar kepada pembunuh laknat ini!” kata gadis itu
dengan sikap tenang sekali.
"Awas, nona, ...!” Souw Ciangkun berseru ketika melihat betapa si tinggi kurus itu tiba-tiba saja sudah
menggerakkan pedangnya, secara curang menyerang gadis itu tanpa memberi peringatan lagi seperti
lajimnya sikap seorang gagah dalam dunia persilatan.
"Singgg ... wuuuttt!” Gadis itu dengan tenangnya melangkah mundur selangkah dan menarik tubuh atas
ke belakang. Serangan pedang itu luput dan lewat dengan cepat, akan tetapi tidak percuma Bouw Swe
berjuluk Setan Pedang. Pedangnya yang meluncur luput dari sambaran itu tiba tiba saja membalik dan
kini menyambar ke arah leher lawan!”
Namun, gadis itu tetap tenang saja. Tanpa menggerakkau kaki, dan berdiri dengan tegak saja, kedua
tangannya menggerakkan sepasang pedangnya dan ke manapun pedang di tangan Bouw Swe
menyambar, selalu pedang itu bertemu dengan pedang gadis itu yang menangkisnya.
"Trangg, tringg, traangg, trangg ...!” berkali-kali pedang Bu-tek Kiam-mo bertemu dengan pedang gadis
itu, dan nampak api berpijar menyilaukan mata dan setiap kali pedangnya bertemu pedang lawan, Butek
Kiam-mo merasa betapa tangannya tergetar hebat, tanda bahwa gadis itu memiliki sin-kang yang
kuat pula.
Terjadilah perkelahian yang hebat di dalam gedung itu, hanya ditonton oleh Souw ciang-kun yang tidak
berani membantu gadis itu. dia tahu bahwa ilmu silatnya terlampau rendah untuk membantu gadis itu,
dan bantuannya bahkan hanya akan menjadi penghalang karena dia dapat melihat betapa hebatnya
ilmu pedang gadis itu.
Memang, baru sekali itu Ba-tek Kiam-mo bertemu tanding sebebat itu. Sekali ini, julukan yang biasanya
dia banggakan dan sombongkan itu terancam bahaya. Dia berani menggunakan julukau Bu-tek Kiam-mo
(Setan Pedang Tanpa Tanding), akan tetapi sekarang dia bertemu dengan seorang gadis muda remaja
yang memiliki ilmu pedang pasangan yang amat hebat. Gerakan kedua pedang itu cepat dan aneh,
memiliki perubahan gerakan yang tidak tersangka-sangka sehingga beberapa kali dia terkecoh dan
hampir saja dia menjadi korban sambaran pedang. Selain memiliki ilmu pedang pasangan yang amat
tangguh, juga pedang-pedang di tangan gadis itu bukan siang-kiam (pedang pasangan) biasa saja karena
mampu menahan pedangnya sendiri tanpa rusak, bahkan gadis itu memiliki pula sin-kang (tenaga sakti)
yang mampu mengimbanginya! Sekali ini, benar-benar dia bertemu tanding yang kuat, pada hal
lawannya itu hanyalah seorang gadis remaja. Betapa akan malunya kalau sampai hal ini dikelahui oleh
dunia kang-ouw. Apalagi kalau sampai dia kalah. Baru tak mampu merobohkan gadis itu saja sudah akan
membuat namanya menjadi buah tertawaan para tokoh kang-ouw dan tentu dia akan diejek dan akan
merasa malu untuk menyandang julukan Tanpa Tanding lagi. Maka, diapun mengeluarkan bentakan
keras dan mengeluarkan jurus Ilmu pedangnya yang paling ampuh.
"Hyaaaaatit ... sinnggg ...!” Pedang itu membuat lingkaran sehingga sinarnya bergulung-gulung,
kemudian gulungan sinar pedang itu mencuat dan meluncur ke arah perut lawan! .
Gadis itu agaknya maklum akan hebat dan dahsyatnya serangan ini, maka Iapun menggeser kaki ke
belakang, pedang kirinya menangkis dan pedang kanannya membabat ke arah leher lawan. Namun,
sekali ini agaknya Bouw Swe sudah memperhitungkan. Begitu pedangnya tertangkis, pedang ini
membalik tiba-tiba, dari bawah menyambar ke atas menjadi tusukan ke arah tenggorokan lawan
sedangkan tubuhnya merendah untuk menghindarkan sambaran pedang ke arah lehernya.
"Ihhk? Gadis itu terkejut juga hebat memang jurus serangan lawan itu. Kedua pedangnya tidak nampak
lagi menangkis pada saat pedang lawan dari bawah meluncur ke atas menusuk tenggorokannya.
Terpaksa Ia melempar tubuh ke belakang, akan tetapi pada saat itu, Bouw Swe sudah mengirim
tendangan kaki kirinya ke arah selangkangan lawan!
Ahhh!” Gadis itu kembali berseru kaget, cepat ia menarik diri ke belakang, namun tetap saja ujung
sepatu Bouw Swe menyentuh pahanya dan iapun terguling. Bouw Swe girang sekali dan menubruk, akan
tetapi pedangnya bertemu dengan sepasang pedang yang disilangkan, dan perutnya dihantam sepatu
kaki gadis! itu.
"Dukkk!" Tubuh Bu-tek Kiam-mo Bouw Swe terjengkang. Kiranya serangan tendangannya tadi dibayar
kontan oleh lawan bahkan berikut bunganya karena kalau gadis itu hanya kena serempet pahanya saja,
dia terkena tendangan yang dengan keras dan tepatnya mengenai perutnya, membuat perutnya
tergoncang dan seketika terasa mulas. Maklum bahwa lawannya memang tangguh sekali. Bu-tek Kiammo
mulai meragukan keselamalannya kalau dia lanjutkan perkelahian itu. Pada saat itu, dia mendengar
teriakan-teriakan di luar rumah dan mendengar itu, wajahnya berubah gelisah. itulah suara teriakan dari
Ngo-kwi dan anak buahnya, bukan teriakan kemenangan. melainkan teriakan kesakitan dan ketakutan.
Mengertilah dia bahwa pelaksanaan tugas mereka telah berentakan dan gagal, bahkan dia sendiri
terancam bahaya. Gadis yang menjadi lawannya sudah demikian lihainya. Kalau sampai gadis itu dibantu
orang lain, dia pasti celaka. Maka, pedangnya bengerak ke belakang, menyambar ke arah lampu gantung
yang menerangi ruangan itu dan terdengar suara nyaring. lampu pecah dan ruangan itu menjadi gelap
gulita!
Gadis itu sama sekali tidak menyangka hal ini. Ia terkejut sekali dan sekali meloncat ia telah berada di
dekat Souw Ciangkun, berbisik. "Ciangkun, harap diam saja jangan bergerak!" dan iapun berjaga di situ,
siap untuk melindungi perwira tinggi itu kalau sampai ada musuh yang melakukan penyerangan di dalam
gelap. Terpaksa Ia tidak melakukan pengejaran ketika bekas lawannya meloncat keluar, karena ia tidak
berani meninggalkan perwira yang jelas diincar nyawanya oleh para penjahat itu. Memang ini yang
diharapkan Bouw Swe. Dia meloncat keluar dan benar saja. Di luar dia melihat betapa dua orang di
antara Ngo-kwi sudah roboh mengaduh-aduh, sedangkan belasan orang anak buah terdesak hebat,
bahkan ada hampir separuh dari mereka telah menderita luka-luka. Dia lalu terjun membantu para anak
buah yang didesak sambil berseru keras memberi aba-aba kepada mereka dan kepada Ngo-kwi untuk
melarikan diri.
Bun Houw memang telah berhasil merobohkan dua orang di antara Ngo-kwi, merobohkan tanpa
membunuh mereka, bahkan tidak melukai berat, hanya membuat orang pertama patah tulang
pundaknya dengan hantaman tongkat butut, dan orang ke dua patah tulang lengan dengan tangkisan
lengan kirinya yang mengandung tenaga siu-kang kuat. Tiga orang lainnya sudah ketakutan dan
melindungi diri mati-matian terhadap pemuda yang kini di luar dugaan mereka, telah menjadi seorang
yang demikian lihainya.
Begitu mendengar aba-aba dari Bu-tek Kiam-mo Bouw Swe, mereka segera berloncatan melarikan diri.
Dua orang yang tadinya hanya mengaduh-aduh, dapat berloncatab dan melarikan diri pula. Yang nyeri
hanyalah pundak dan lengan, kaki mereka tidak terluka. Pula, dalam keadaan panik, orang dapat
melakukan hal-hal yang luar biasa, jauh lebih besar dari pada kekuatan serta kemampuan biasa mereka,
juga dapat melupakan semua rasa nyeri yang mengganggu. Jangankan baru patah tulang pundak atau
lengan, andaikata yang patah itu tulang kaki mereka sekalipun, dalam keadaan panik ketakutan seperti
itu, kiranya mereka masih akan mampu melarikan diri.
Bun Houw tidak melakukan pengejaran, karena dia sudah tahu siapa mereka. Dia bersikap tenang saja,
menyimpan kembali tongkat bututnya yang diselipkan di pinggang, dan hendak meninggalkan tempat
itu. Akan tetapi terdengar suara dari dalam.
"Tai-hiap, tunggu dulu ...!”
Bun Houw menahan langkahnya lalu berbalik dan dia sudah berhadapan dengan seorang pria berusia
lima puluh tahun yang gagah dan dari sikap dan pakaiannya dia dapat menduga bahwa tentu orang ini
yang disebut Souw-ciangkun dan tadi hendak dibunuh oleh kawanan penjahat. Di samping perwira ini
berdiri seorang gadis yang membuatnya kagum bukan main karena dia masih mengenal pakaian baju
hitam dan celana kuning yang dipakai gadis itu. Ternyata wanita yang lihai dan galak tadi adalah seorang
gadis remaja, pikirnya penuh kagum. Seorang gadis yang usianya tentu belum ada duapuluh tahun!
Gadis itupun memandang kepadanya dengan penuh perhatian, kemudian ia menoleh kepada perwira
itu dan berkata.
"Souw-ciangkun, apakah ciangkun sudah mengenal dia ini?" suara gadis itu halus, akan tetapi tegas.
Perwira itu mengamati wajah Bun Houw dan menggeleng kepala.
"Kalau ciangkun belum pernah mengenalnya, sebaiknya orang ini ditahan dan ditanyai dengan jelas. Aku
tadi melihat dia bersembunyi di atas wuwungan rumah ini. Siapa tahu dia seorang di antara para
penjahat yang hendak membunuh ciangkun!”
Mendengar ini, Bun Houw mengerutkan alisnya dan hendak membantah, akau tetapi dia menekan
perasaannya. Nona ini lihai dan galak, dia tidak perlu menanggapi, karena kalau demikian, berarti
mereka berdua sama galaknya. Diapun tersenyum saja dan menyerahkan kepada perwira itu untuk
melakukan penilaian. Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara para petugas jaga atau para pengawal,
membantah ucapan gadis itu.
"Ciangkun, kami melapor!" kata kepala jaga dengan suara tegas dan sikap seorang perajurit sejati, "Kami
tadi telah diserbu oleh belasan orang penjahat yang dipimpin oleh lima orang yang lihai. Kemudian
muncullah pendekar ini dan tanpa bantuan dia, mungkin kami semua telah roboh menjadi korban
kejahatan gerombolan itu. Pendekar ini telah menyelamatkan kita, ciangkun, dia sama sekali bukan
penjahat, bahkan dia yang mengusir para penjahat tadi!”
Mereka semua mengangguk-angguk dan mereka memandang kepada gadis ini dengan sinar mata
penasaran dan marah mendengar betapa penolong mereka bahkan dituduh menjadi penjahat!”
Perwira itu mengangguk-angguk dan tersenyum. "Akupun sudah menduga demikian. Ketahuilah, aku
sendiri mungkin telah tewas kalau saja tidak ada li-hiap (pendekar wanita) ini yang menyelamatkan aku.
Kalian semua lakukanlah penjagaan dengan ketat dan rawat teman yang terluka. Tai-hiap (pendekar
besar) dan li-hiap (pendekar wanita), mari silakan masuk ke ruangan dalam. Kami ingin bercakap-cakap
dengan ji-wi (anda berdua)."
Sejenak Bun Houw saling pandang dengan gadis itu. Bun Houw tersenyum, senyum yang mengandung
godaan karena baru saja gadis itu menuduhnya sebagai penjahat, dan gadis itu agaknya dapat mengenal
senyum yang mengandung godaan itu. Ia cemberut dan membuang muka. Demikian manisnya gerakan
ini, manis dan manja sehingga senyum di bibir Bun Houw melebar. Bukan main gadis ini, pikirnya. Bukan
saja cantik dan gagah perkasa, akan tetapi setiap gerakannya mengandung daya tarik yang demikian
kuat. Bahkan menarik muka cemberutpun tampak makin manis!
Mereka berdua tanpa bicara mengikuti perwira itu masuk ke ruangan sebelah dalam, disambut oleh
Nyonya Souw yang masih nampak pucat ketakutan. Ketika terjadi keributan, ketika suaminya keluar dari
kamar membawa pedang, ia hanya bersembunyi saja di dalam kamar sambil mengintai dari celah-celah
jendela kamar.
"Nona pendekar inilah yang tadi telah menyelamatkan aku ketika diserang penjahat dan tai-hiap ini yang
mengusir para penjahat yang menyerbu ke sini. Li-hiap dan tai-hiap ini adalah isteriku." Nyonya rumah
memberi hormat, dibalas oleh Bun Houw dan gadis pendekar itu. Kemudian nyonya Souw masuk ke
dalam lagi untuk mempersiapkan minuman, dan meninggalkan suaminya bercakap-cakap dengan dua
orang penolongnya.
Setelah Isterinya masuk, Souw Ciangkun lalu bangkit berdiri dan memberi hormat kepada dua orang
muda itu. "Pertama-tama, aku mengucapkan terima kasih kepada ji-wi (kalian berdua) yang telah
menyelamatkan kami dari sergapan gerombolan penjahat."
Bun Houw segera bangkit berdiri pula dan membalas penghormatan itu sambil berkata. "Tidak perlu
berterima kasih, ciangkun. Sudah menjadi kewajiban setiap orang untuk menentang orang jahat."
Gadis itupun tidak mau kalah. Ia membalas penghormatan perwira itu dan berkata, "Sebagai seorang
pendekar, aku selalu akan membela yang benar dan membinasakan yang jahat. Tidak perlu berterima
kasih, Souw Ciangkun!”
Bun Houw memandang kepadanya dan kebetulan gadis itupun melirik sehingga kembali pandang mata
mereka bertemu dalam suasana seperti dua orang bersaing!
"Silakan ji-wi duduk," kata pembesar militer itu. "Setelah mengucapkan terima kasih, aku ingin sekali
mengetahui bagaimana ji-wi dapat mencegah terjadinya kejahatan ini dan bagaimana dapat mengetahui
bahwa mereka malam ini menyergap kami yang sedang berlibur di sini. Mari kita mulai dari
keteranganmu. tai-hiap "
Bun Houw melirik ke arah gadis itu yang memandangnya penuh perhatian dan penuh selidik sehingga
dia merasa seolah-olah dia sedang diperiksa sebagai seorang pesakitan di depan seorang hakim! Sinar
mata gadis itu seolah-olah mengandung suatu ketidak percayaan atau kecurigaan terhadap dirinya!”
Dia menarik napas panjang dan menekan perasaannya yang sebenarnya sedang gelisah. Dia sejak tadi
teringat akan Cia Ling Ay dan hatinya gelisah bukan main, penuh kekhawatiran terhadap wanita yang
pernah menjadi tunangannya itu. Jelas bahwa keluarga Cia akan tersangkut dalam urusan ini, karena
menurut penuturan paman Cia Kun Ti, keadaan Cun Tai-jin amat mencurigakan. Kalau sumpai kemudian
ternyata bahwa keluarga Cun mempergunakan orang-orang dari dunia hitam untuk melakukan
kejahatan, tentu diri Ling Ay sebagai mantu pembesar itu akan terlibat, dan tentu ayah bundanya pula!
Tentu saja hatinya gelisah sekali memikirkan Ling Ay dan ayahnya.
"Nama saya Kwa Bun Houw. Kalau ciang-kun sudah sejak enam tahun yang lalu tinggal di Nan-ping,
tentu mengenal keluarga mendiang ayahku. Dahulu ayah dikenal di kota ini sebagai Kwa-enghiong. Akan
tetapi enam tahun yang lalu, ayah dan ibu tewas di tangan gerombolan penjahat. Saya sendiri nyaris
tewas kalau tidak tertolong seorang pendekar sakti. Saya lalu mempelajari dan memperdalam ilmu silat
dan baru beberapa hari ini, pada hari raya Ceng beng, saya berkunjung ke makam orang tua saya.
Karena itu saya kebetulan berada di Nan-ping. Kebetulan saja saya bentrok dengan kaki tangan penjahat
dan saya melakukan penyelidikan di sarang mereka. Dari penyelidikan itulah saya mendengar akan
rencana mereka untuk membunuh keluarga ciangkun di sini. maka saya membayangi mereka dan bisa
sampai ke sini."
"Kwa-tai-hiap (pendekar besar Kwa), di manakah sarang mereka itu?" Souw ciangkun bertanya.
Kembali Bun Houw merasa betapa jantungnya berdebar tegang, penuh kekhawatiran terhadap diri Ling
Ay. Dia mengambil keputusan untuk menyelamatkan Ling Ay dari bencana, apapun yang terjadi. Dia
tahu bahwa Ling Ay menjadi mantu kepala daerah Cun karena terpaksa, dipaksa ibunya sedangkan
ayahnya terlalu lemah menghadapi ibunya. Ling Ay menjadi korban kawin paksa. Bukan kesalahan Ling
Ay kalau ia menjadi mantu kepala daerah Cun yang ternyata merupakan seorang yang amat jahat, yang
mempergunakan tokoh-tokoh sesat melakukan pembunuhan-pembunuhan. Tentu ada niat jahat di balik
semua itu. Dan sekarang, kalau sampai keluarga Cun disergap oleh Souw Ciangkun dan pasukannya,
tentu Ling Ay akan terbawa-bawa, tersangkut, dan akan ditawan pula, atau mungkin juga akan tewas
dalam penyerbuan itu! Tidak, dia harus mencegah terjadinya hal ini!”
"Ciangkun, maafkan kalau saya tidak dapat mengatakan sekarang. Akan tetapi, kalau Ciangkun percaya
kepada saya, maka biarlah saya yang akan menjadi petunjuk jalan, apa bila ciangkun hendak mengambil
tindakan." Jawabnya.
"Hemmm, aneh sekali! Kenapa tidak langsung saja melaporkan kepada Souw Ciangkun di mana letak
sarang penjahat itu? Mengapa engkau seperti hendak menyembunyikan tempat itu? Apakah engkau
ingin melindungi para penjahat itu !”
"Itu adalah urusan pribadi yang tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain." kata Bun Houw, panas
juga perutnya didesak dan dituduh seperti itu.
Souw Ciangkun merasa heran mengapa dua orang pendekar yang agaknya baru sekarang saling bertemu
itu, dan yang keduanya telah berjasa menolongnya dari ancaman penjahat, kini agaknya saling bersikap
tidak manis, terutama sekali pendekar wanita itu.
"Tentang mengambil tindakan itu akan kami pertimbangkan setelah kami mendengar keterangan ji-wi.
Sekarang harap li-hiap suka menerangkan apa yang li-hiap ketahui dan bagaimana li-hiap dapat pula
datang ke sini untuk menyelamatkan kami."
"Aku datang ke Nan-ping untuk urusan pribadi," kata gadis itu sambil mengerling ke arah Bun Houw,
seolah hendak memperlihatkan bahwa iapun tidak mau kalah dan iapun mempunyai "urusan pribadi"!
"Namaku Ouwyang Hui Hong dan aku memang bendak mencari seorang yang bernama Ciong Kui Le,
berjuluk Pek I Mo-ko untuk urusau pribadi itu. Jejaknya menuju ke Nan-ping dan akhirnya aku
mendengar bahwa dia memang berada di kota ini. Malam tadi aku melakukan penyelidikan dan aku
melihat rombongan orang-orang yang mencurigakan tadi. Aku membayangi mereka dan dari
percakapan mereka di perjalanan, tahulah, aku bahwa mereka bermaksud untuk membunuh Souw
Ciangkun. Maka, setelah tiba di sini aku segera turun tangan."
"Dan tahukah engkau di mana sarang para penjahat itu, li-hiap!” tanya perwira itu.
Gadis itu melirik ke arah Bun Houw. "Aku tahu, ciangkun. Kalau ciangkun hendak menggerakkan
pasukan menyerbu, biarlah aku yang menjadi penunjuk jalan. Biarpun belum yakin benar, aku menduga
bahwa tentu ada hubungan antara gerombolan penjahat tadi dengan Pek I Mo-ko yang kucari-cari."
"Teutu saja ada hubungan!” kata Bun Houw, suaranya juga tidak ramah karena sikap gadis itu seolaholah
memusuhi atau menyainginya. "Pek I Mo-ko adalah pemimpin mereka! Yang hendak membunuh
Souw Ciangkun tadi adalah Bu-tek Kiam-mo, dan lima orang yang memimpin para gerombolan di luar
tadi berjuluk Ngo kwi.”
Gadis itu segera berubah sikapnya. Kalau tadi ketus dan dingin, kini ia memandang kepada Bun Houw
dengan wajah berseri dan suaranya sama sekali kehilangan dingin dan ketusnya ketika ia bertanya,
"Benarkah itu? Yakin benarkah engkau bahwa pemimpin mereka adalah Pek I Mo-ko?"
Diam-diam Bun Houw merasa heran bukan main dan kembali lagi kekagumannya. Gadis ini dapat
berubah seperti angin, sebentar murung sebentar gembira, sebentar dingin sebentar panas. Diapun
yang memiliki watak dasar lembut dan ramah, tidak dapat mempertahankan sikapnya yang tadi purapura
acuh dan dingin.
"Tentu saja aku yakin. Ketika mereka mengadakan rapat, aku melakukan pengintaian dan aku melihat
sendiri Pek I Mo-ko ... "
"Coba kau gambarkan bagaimana orangnya, kalau memang benar engkau telah melihatnya. Bagaimana
wajahnya, bagaimaua penampilannya, dan berapa usianya. Aku ingin pasti, bahwa memang benar dia
Pek I Mo-ko!" Gadis itu kini bicara penuh gairah, penuh keinginan tahu dan sama sekali tidak
mengandung nada tidak percaya lagi, maka Bun Houw terseuyum. Dia merasa seperti menghadapi
seorang kanak-kanak nakal dan manja.
"Usianya sukar ditaksir, mungkin sudah enampuluh tahun mungkin juga baru empat puluh tahun.
Wajahnya dan tubuhnya masih nampak muda, wajahnya belum berkeriput dan tubuhnya masih tegap,
akan tetapi rambutnya sudah penuh uban. Pakaiannya serba putih dengan sabuk biru dan pita
rambutnya dari sutera biru pula. Wajahnya bulat, dengan sepasang mata yang mencorong, suaranya
lembut namun nadanya ketus. Oya, kalau aku tidak salah lihat, ada setitik tahi lalat di dagunya ... "
"Ah, benar itu dia Pek I Mo-ko, si keparat!” gadis itu berseru penuh semangat dan kegembiraan.
"Akhirnya dapat juga engkau olehku, jauh-jauh kukejar dari Lembah Bukit Siluman!” Lalu ia menoleh
kepada perwira tinggi itu dan berkata, "Souw Ciangkun, maafkan aku. Hendaknya jangan ciangkun
tergesa menyerbu ke sana, karena tentu Pek I Mo-ko itu akan sempat melarikan diri! Biar aku lebih
dahulu menyelidiki ke sana besok, dan kalau pasukan ciangkun menyergap, aku akan dapat menjaga
agar Pek I Mo-ko tidak sempat melarikan diri!”
Mendengar usul ini, Bun Houw melihat kesempatan baik untuk menyelamatkan Ling Ay, "Usul nona
Ouwyang ini tepat, ciangkun," dia cepat menambahkan, "kalau ciangkun tengesa-gesa, berarti akan
mengejutkan ular dalam rumput dan mereka itu mendapat kesempatan uatuk melarikan diri. Dan
serbuan itu tentu menggegerkan karena menyangkut orang yang berkedudukan tinggi."
Souw Ciangkun mengerutkan alisnya dan nampak terkejut. "Ah, jadi benarkan dia tersangkut! Memang
sudah ada kecurigaan dalam hatiku. Mati-matian dia mencoba untuk mempengaruhiku, membujuk dan
mencoba untuk menguasai dengan sogokan, Aih, benarkah! Sudah ada buktinya, tai-hiap? Perkara ini
sama sekali tidak boleh main-main!”
'Saya sudah yakin, dan sudah saya saksikan sendiri !” kata pula Bun Houw.
"Akan tetapi, kalau aku tidak segera turun tangan, mereka tentu mendapat kesempatan untuk
menghilangkan semua jejak, bahkan mungkin melarikan diri, atau bengerak lebih dahulu. Tentu
kegagalan membunuhku tadi membuat mereka berhati-hati dan khawatir."
"Jangan khawatir, ciangkun. Mereka tadi semua mengenakan topeng dan mereka tentu merasa yakin
bahwa wajah mereka tidak dikenal. Apalagi kalau malam ini tidak ada gerakan dari ciangkun, tentu
mereka merasa lega dan menduga bahwa ciangkun tidak tahu siapa gerombalan yang mencoba untuk
membunuh ciangkun. Biarlah nona Ouwyang dan saya akan lebih dahulu melakukan penyelidikan,
setelah itu baru kami memberi tanda dan ciangkun menggerakkan pasukan untuk menyergap dan
menangkap semua penjahat.”
Tentu saja Souw Ciangkun menyetujui karena bagaimanapun juga, dua orang ini sudah berjasa besar
dan dia memang mengharapkan pula bantuan mereka untuk membasmi para penjahat yang lihai itu.
"Nona, engkau tentu tidak berkeberatan untuk melakukan penyelidikan bersamaku, bukan?" Bun Houw
bertanya ramah.
Gadis itu menggeleng kepala. "Tentu saja tidak, bahkan sebaiknya kalau kita bekerja sama. Tak kusangka
bahwa Pek I Mo-ko memimpin gerombolan penjahat yang mempunyai banyak anak buah yang pandai."
"Kalau begitu, mari kita berangkat." Keduanya lalu berpamit meninggalkan gedung Souw Ciangkun.
Ketika tiba di luar, mereka melihat sedikitnya lima puluh orang perajurit yang baru tiba. Mereka adalah
pasukan bantuan dari benteng yang datang atas laporan kepala pengawal. Legalah hati mereka karena
dengan adanya penjagaan yang kuat, malam ini mereka tidak perlu mengkawatirkan keselamatan
perwira tinggi itu.
Mereka berdua membeli sarapan di warung bubur ayam tanpa bicara. Kemudian mereka meninggalkan
warung bubur ayam dan pagi itu jalan sudah mulai ramai dengan orang-orang yang mulai bekerja. Bun
Houw dan Hui Hong bercakap-cakap di sudut kota yang sunyi.
"Mengapa kita berhenti di sini?" Hui Hong menegur. "Aku ingin kita segera mendatangi sarang mereka,
karena aku ingin segera berhadapan dengan si jahanam Pek I Mo-ko!”
Melihat ketidaksabaran gadis itu, Bun Houw tersenyum. "Pek I Mo-ko bukan sendiri saja, nona. Selain
teman-temannya banyak, juga dia berada dalam perlindungan kepala daerah Nan-ping ini. Kalau kita
langsung mendatangi mereka, kita akan berhadapan dengan banyak kaki tangannya, juga dengan kepala
daerah yang mempunyai banyak pengawal."
"Kepala daerah? Ihh, kenapa kepala daerah melindungi seorang jahat seperti Pek I Mo-ko dan bahkan
mereka itu hampir saja membunuh Souw Ciangkun?" Gadis itu memandang heran.
"Itulah anehnya! Gerombolan penjahat itu adalah kaki tangan Cun Tai-jin, kepala daerah Nan-ping."
"Jadi kalau begitu ... yang menyuruh bunuh Souw Ciangkun adalah kepala daerah sendiri? Aneh dan tak
masuk akal!"
Bun Houw mengangguk-angguk. Memang kelihatan aneh dan tak masuk akal, karena itu kita perlu
menyelidiki. Bukan hanya Souw Ciangkun hendak dibunuh, akan tetapi bahkan banyak sudah pejabat
yang telah dibunuh secara rahasia. Ini hanya berarti bahwa ada rahasia tersembunyi di balik kedudukan
kepala daerah. Dan menaruh perkiraanku, tentu dia membunuhi pejabat yang menolak ajakannya untuk
bersekutu!”
"Bersekutu? Untuk apa?"
"Kalau seorang kepala daerah mengadakan persekutuan, untuk apalagi kalau tidak dengan maksud
untuk memberontak terhadap pemerintah?"
"Ihhh!” Gadis itu berseru kaget, "Aku tidak mau mencampuri urusan pemberontakan, aku hanya ingin
bertemu Pek I Mo-ko untuk urusan pribadi!”
"Kebetulan sekali akupun mempunyai urusan pribadi dengan keluarga kepala daerah Nan-ping."
"Engkau sungguh mencurigakan! Engkau sendiri mengatakan bahwa kepala daerah Nan-ping
mempengunakan orang-orang jahat sebagai kaki tangannya, bahkan dia yang menyuruh para
gerombolan penjahat itu untuk membunuhi banyak pejabat, bahkan mencoba membunuh Souw
Ciangkun. Dan engkau mempunyai urusan pribadi dengan keluarganya?”
"Urusan pribadiku ini bukan untuk bekerja sama dengan keluarga kepala daerah Cun, melainkan ... aku
akan melakukan sesuatu yang tentu akan membuat mereka marah sekali. Bukan bekerja sama dengan
mereka, melainkan menentang ... " Tentu saja sukar bagi Bun Houw untuk menjelaskan karena
rencananya itu mengenai diri Ling Ay. Hal itu agaknya membikin Hui Hong menjadi tidak sabar lagi.
"Hemm, kalau engkau mengajak aku bekerja sama menentang mereka, mengapa engkau masih
menyembunyikan dan merahasiakan urusan pribadimu itu ? Bagaimana kita akan dapat bekerja sama
kalau kita tidak saling mengenal dan mengetahui urusan masing-masing ? Sudahlah, kalau engkau tidak
mau memberi penjelasan, lebih baik kita bekerja sendiri-sendiri saja!" Gadis itu hendak melangkah
pergi.
"Eh, nanti dulu, nona!” Bun Houw cepat meloncat ke depan gadis yang kelihatan marah itu, dan dia
mengangkat kedua tangan ke depan dada sebagai penghormatan. "Maafkan aku, nona. Bukan
maksudku untuk menyembunyikan urusan atau tidak percaya kepadamu. Memang engkau benar,
sebaiknya kalau kita saling menceritakan keadaan dan urusan pribadi agar kita dapat bekerja sama
dengan baik."
"Hemm, baru menyadari, ya ? Akan tetapi aku tidak akan menceritakan keadaan diriku kepadamu,”
katanya dengan sikap masih marah.
Bun Houw tersenyum, "Tidak kauceritakan juga tidak mengapa, karena aku sudah dapat menduga siapa
adanya engkau, nona."
Gadis itu menatap wajah Bun Houw dengan pandang mata tajam penuh selidik. "Aku tidak percaya,
engkau membual saja!”
"Nona, bukankah engkau ini puteri dari Bu-eng-kiam Ouwyang Sek, lo-cian-pwe (orang tua gagah
perkasa) yang amat terkenal itu ?"
(Bersambung jilid 04)
Jilid 04
SEPASANG mata yang indah jelita itu terbelalak. "Eh? Bagaimana engkau bisa tahu?"
Bun Houw tersenyum. Gurunya, Si Buta Sakti Tiauw Sun Ong, pernah bercerita tentang para datuk atau
tokoh besar dunia persilatan kepadanya dan di antara para datuk besar yang terkenal adalah Bu-engkiam
Ouwyang sek, majikan Lembab Bukit Siluman.
"Mudah saja. Engkau she (nama keturunan) Ouwyang, dan tadi menyebut Lembah Bukit Siluman.
Siapalagi ayahmu kalau bukan Bu-eng-kiam Ouwyang Sek, majikan Lembah Bukit Siluman? Ilmu silatmu
demikian tinggi, maka mudahlah menduganya."
Hui Hong mengangguk. "Pantas! Anak ke cilpun bisa menduga kalau begitu. Memang aku puteri Bu-engkiam
Ouwyang Sek. Nah, sekarang ceritakan apa urusan pribadimu dengan keluarga kepala daerah Cun
itu, baru nanti kuceritakan mengapa aku mencari Pek I Mo-ko. Engkau sudah mengetahui keluargaku,
engkaupun sepantasnya menceritakan tentang keluargamu."
Bun Houw mengajaknya duduk di antas batu di tepi jalan yang sunyi di sudut kota itu. Dia menarik napas
panjang, bersikap hati-hati karena apa yang hendak diceritakan tentang Ling Ay sungguh tidak enak bagi
dirinya.
"Seperti telah kuperkenalkan diri kepada Souw Ciangkun, namaku Kwa Bun Houw dan ayahku tadinya
tinggal di kota ini. Ayahku seorang pedagang cita, dan di samping berdagang, ayahku juga terkenal
sebagal seorang yang suka menentang kejahatan dan di sini dikenal sebagai Kwa-eng-hiong."
"Hemm, katakan saja ayahmu seorang pendekar." Hui Hong memotong.
"Kalaupun belum pantas dinamakan pendekar, setidaknya ayah selalu menentang kejahatan dan
membela mereka yang lemah tertindas. Karena itu dia dimusuhi banyak penjahat dan akhirnya ayah dan
ibu tewas di tangan orang-orang jahat pula." Bun Houw lalu menceritakan peristiwa yang terjadi enam
tahun yang lalu itu. Betapa ketika dia sedang tidak berada di rumah, ayahnya dibunuh gerombolan
penjahat, dan ibunya juga dibunuh setelah diculik dan diperkosa di dalam hutan.
"Keparat jahanam!” Hui Hong bangkit dan mengepal tinju, mukanya merah dan matanya mencorong.
"Siapakah para penjahat itu ? Mengapa engkau tidak membalas dendam dan membasmi mereka?
Sungguh keji dan jahat sekali perbuatan mereka terhadap ibumu!”
Bun Houw menatap wajah itu sejenak dengan penuh kagum. Sedang marahpun tetap manis! Dia
menghela napas panjang dan menggeleng kepalanya.
"Tidak, nona ... "
"Namaku Hui Hong dan setelah kita akan bekerja sama, tidak perlu lagi nona-nonaan. Panggil saja
namaku!” gadis itu memotong lagi dengan cepat.
"Baiklah, Hui Hong. Hemm, namamu indah sekali!"
"Tidak perlu memuji dan merayu! Katakan mengapa engkau mengatakan tidak! Apa kaumaksudkan
engkau tidak mendendam?" tanyanya heran.
"Memang aku tidak menaruh dendam. Menurut pesan mendiang ayahku, juga menurut nasihat guruku,
dendam merupakan racun bagi diri sendiri. Tidak, aku tidak mendendam kepada mereka. Ayahku
memang seorang yang hidup dalam kekerasan, dia selalu menentang nara penjahat, maka tidak
mengherankan kalau para penjahat membencinya. Aku tidak boleh mendendam.”
“Apa?” Mata itu terbelalak lagi membuat Bun Houw cepat menundukkan pandang matanya agar jangan
beradu pandang. Terlalu indah mata itu kalau terbelalak. Dia khawatir kalau kekagumannya akan
membayang di matanya.
“Kau maksudkan bahwa engkau akan membiarkan mereka mendapatkan korban wanita-wanita lain?
Membiarkan mereka melakukan pembunuhan sewenang-wenang? Pendekar macam apa engkau ini?
Ayahmu tentu malu, juga gurumu tentu kecewa!”
Bun Houw tersenyum. Makin suka dan kagum dia kepada gadis ini. Biarpun galak, namun gadis ini jujur
dan terbuka, tidak berpura-pura.
“Tentu saja aku selalu menentang kejahatan, non ... eh, adik Hong. Aku akan membela yang benar dan
menetang yang jahat. Akan tetapi kalau aku menentang para pembunuh ayah, hal itu kulakukan karena
hendak menentang kejahatan mereka, bukan untuk membalas dendam atas kematian ayah dan ibuku.”
“Sudahlah, sesukamu! Engkau belum bercerita tentang urusan pribadimu dengan keluarga Cun, kepala
daerah Nan-ping itu.”
Bagian inilah yang terasa sukar oleh Bun Houw untuk menceritakannya. Akan tetapi gadis ini demikian
jujur terbuka, sungguh tidak adil dan tidak enak kalau dia tidak bersikap jujur pula.
“Urusan pribadiku ini menyangkut diri seorang yang berada di dalam keluarga Cun itu, Hong-moi (adik
Hong).” Enak saja sebutan Hong-moi meluncur keluar dari mulutnya. Seolah-olah gadis itu telah menjadi
seorang sahabat lamanya, dan gadis itupun menerima sebutan itu dengan sikap biasa saja. Memang
sudah sewajarnya kalau pemuda itu menyebutnya adik, karena pemuda itu tentu beberapa tahun lebih
tua darinya.
“Ada urusan apa engkau dengan seorang di antara keluarga Cun?”
“Sebelum Souw-ciangkun menyerbu dan menangkapi keluarga keluarga Cun, aku harus lebih dahulu
membebaskan seorang anggauta keluarga agar jangan sampai ikut tertangkap, karena ia sama sekali
tidak berdosa bahkan ia terpaksa saja menjadi anggauta keluarga Cun.”
“Hemm, siapakah orang itu? Dan mengapa terpaksa menjadi anggauta keluarga Cun?” tanyanya pula
Hui Hong, tertarik.
"Ia adalah mantu perempuan kepala daerah Cun.”
Kembali mata yang indah itu bengerak melebar dan pandang mata itu menatap wajah Bun Houw penih
selidik. "Houw-ko (kakak Houw), enak pula sebutan ini meluncur dari mulutnya, seperti dengan
sendirinya, “Siapakah mantu perempuan kepala daerah itu?"
"Namanya Cia Ling Ay ...”
"Maksudku, apamukah wanita itu ? Masih keluargamukah?”
Bun Houw menggeleng kepala dan menelan ludah. Dia tiba di bagian paling sulit untuk diceritakan, "Ia ...
ia adalah bekas tunanganku."
"Ahhbh ... ?” Kini sepasang mata itu menyipit namun dari balik bulu mata yang lentik itu mengintai
sepasang mata yang amat tajam pandangannya, bersinar dan penuh selidik. Sepasang alis itu berkerut.
"Hemmm ..., hemm ... bekas tunangan yang kini telah menjadi isteri putera kepala daerah Nan-ping!
Dan engkau menghendaki agar wanita bekas tunanganmu itu tidak sampai ikut terlibat kalau keluarga
Cun ditangkap? Hemmmm, bagus ...! Agaknya engkau masih ... eh, masih teringat terus kepada bekas
tunanganmu itu, eh, Houw-ko? Tentu ia amat cantik maka sampai menjadi isteri orang lainpun engkan
masih saja memperhatikannya!”
"Bukan begitu, Hong-moi!. Harap jangan salah sangka. Aku bukan orang yang sebodoh dan sejahat itu,
masih memikirkan bekas tunangan yang telah menjadi isteri orang lain! Sama sekali tidak. Kalau aku
menghendaki agar ia tidak ikut ditangkap adalah karena ia sama sekali tidak berdosa, bahkan ia berada
di dalam keluarga itu secara terpaksa. Ia dipaksa menjadi isteri putra Cun-taijin kepala daerah Nan-ping
itu." Dengan singkat Bun Houw lalu bercerita betapa dia dan Ling Ay telah ditunangkan sejak mereka
masih kecil. Ketika dia berusia limabelas tahun, ayah Ibunya tewas oleh gerombolan penjahat dan tibatiba
saja orang tua Ling Ay, terutama Ibunya, menyatakan bahwa ikatan jodoh antara mereka putus!”
"Karena aku tidak mempunyai keluarga lagi, akupun pergi dari Nan-ping, dan ketika enam tahun
kemudian aku kembali ke sini. Ling Ay telah menikah dengan putera Cun Tai-jin kepala daerah Nanping."
Mendengar semua keterangan itu, Hui Hong tersenyum mengejek, walaupun di sudut hatinya diamdiam
ia merasa kasihan kepada pemuda ini dan merasa terharu akan nasibnya. "Dan bagaimana engkau
tahu bahwa ia merasa terpaksa berada di sana? Siapa tahu ia telah menjadi seorang Isteri yang setia dan
mencinta suaminya?"
"Aku ... ketika hari Ceng beng aku bersembahyang di depan makam ayah Ibuku, aku telah bertemu
dengannya. Ia menyembahyangi kuburan ayah ibuku dan kemudian aku bertemu dengan ayahnya. Dari
ayahnyalah aku mendengar segalanya. Juga tentang Cun Tai-jin yang memelihara banyak tokoh sesat
dan para penjahat."
"Hemm, terserah kepadamu kalau engkau menganggap amat penting untuk membebaskan dulu Ling Ay
itu dari gedung Cun Tai-jin. Akan tetapi bagaimana caranya? Apakah engkan hendak memasuki gedung
itu dan menculik isteri orang?”
Ucapan yang bernada mengejek ini menusuk perasaan Bun Houw, akan tetapi dia tidak membantah,
maklum bahwa memang urusannya dengan Ling Ay itu dapat menimbulkan prasangka butuk bagi orang
yang tidak mengetahui duduk perkara yang sebenarnya.
"Tidak, aku hanya akan memberitahu ayahnya agar dia yang mengusahakan kepergian wanita itu dari
dalam gedung sebelum Souw-ciangkun menyerbu. Nah, sekarang giliranmu untuk menceritakan urusan
pribadimu, tentu saja kalau engkau tidak berkeberatan, Hong-moi."
"Urnsan pribadiku bukan menyangkut pribadiku sendiri, melainkan aku diutus oleh ayahku untuk
mencari Pek I Mo-ko, merampas kembali sebuah benda mustika yang dicurinya dari ayahku. Kalau dia
tidak mau menyerahkan kembali benda itu aku harus membunuhnya, karena benda itu sama sekali tidak
boleh terjatuh ke dalam tangan orang lain!"
"Hemmm, cuma sekian itukah ceritamu tentang dirimu?"
"Ya, habis apalagi? Memang hanya itu urusanku dengan Pek I Mo-ko."
"Akan tetapi, ceritaku tadi amat panjang. Kalau boleh aku mengetahui, bagaimana benda mustika itu
dapat dicuri Pek I Mo-ko?"
"Pek I Mo-ko pernah menjadi pembantu ayahku. Dia pandai memasak, pandai pula mengurus kebun.
Belasan tahun dia ikut ayah, semenjak aku masih kecil, dan untuk membalas jasanya, ayahpun
menurunkan ilmu kepadanya. Akan tetapi siapa sangka, manusia memang lebih jahat dari pada
binatang, tidak mengenal budi. Pada suatu hari dia pergi dan melarikan benda mustika itu."
"Hong-moi, maukah engkau mengatakan kepadaku, apa sebenarnya benda mustika itu? Nampaknya
amat penting bagi ayahmu."
"Benda mustika itu adalah akar bunga gurun pasir."
"Ahhhh ...!” Bun Houw terkejut sekali.
Pernah gurunya bercerita tentang benda mustika ajaib itu. Sebuah benda langka yang menurut dongeng
merupakan tanaman ciptaan seorang manusia dewa di daerah Gurun Gobi di utara. Akar bunga gurun
pasir itu kabarnya mempunyai khasiat yang luar biasa, sebagal obat kuat, sebagai penolak racun, sebagai
obat yang seolah-olah dapat menarik kembali nyawa orang yang sudah mulai melayang! Tentu saja
dongeng ini berlebihan, namun benda itu sudah jelas merupakan mustika yang langka dan banyak
khasiatnya, karena telah diperebutkan oleh seluruh datuk dan tokoh besar di dunia kang-ouw. Demikian
cerita gurunya yang tidak ikut memperebutkan. Bahkan menurut gurunya, benda itu dicari pula oleh
kaisar yang mengutus pasukan dan para jagoan istana untuk mendapatkannya!”
"Engkau sudah tahu akan mustika itu?" Hui Hong mulai kagum kepada pemuda ini yang biarpun di dunia
kang-ouw tidak mempunyai nama dan sama sekali tidak terkenal, namun agaknya mengenal orang
orang kang-ouw dan tahu akan peristiwa penting di dunia kang-ouw.
"Bukankah akar bunga gurun pasir yang pernah diperebutkan oleh semua tokoh kang-onw, bahkan juga
dicari oleh kaisar? Yang kabarnya mempunyai khasiat yang luar biasa?"
Gadis itu mengangguk-angguk. "Memang banar apa yang kaudengar itu, dan karena satu di antara
khasiatnya adalah bahwa akar bunga itu dapat menjadi obat panjang umur, maka Kaisar Cang Bu dari
Dinasti Liu-sung di Nan-king maupun Kaisar Wei Ta Ong dari Dinasti Wei di Lok-yang seperti berlumba
untuk mendapatkannya. Akan tetapi, benda mustika itu tadinya berada di tangan ayah sejak dahulu dan
menjadi hak milik kami. Karena itu, bagaimanapun juga, aku harus merampasnya kembali."
"Hong-moi, urusan ini ternyata banyak kaitannya. Urusanmu dan urusanku memang berbeda, juga
berbeda pula dengan tugas Souw Ciang-kun, akan tetapi ketiganya kait mengait. Engkau mencari Pek I
Mo-ko yang menjadi kaki tangan kepala daerah Cun Tai-jin. Souw Ciang-kun harus membasmi usaha
pemberontakan Cun Tai-jin, sedangkan aku harus menyelamatkan Cia Ling Ay yang tidak berdosa itu
sebelum keluarga Cun dibasmi. Oleh karena itu, aku mengharapkan persetujuanmu agar aku lebih dulu
berusaha supaya Ling Ay dapat keluar dulu dari dalam rumah keluanga Cun, baru kita turun tangan
melakukan penyelidikan mencari Pek I Mo-ko. Bagaimana pendapatmu, setujukah engkau, Hong-moi ?"
Gadis itu mengangguk lagi. "Terserah kepadamu karena engkau yang lebih tahu akan urusannya. Bagiku
yang penting hanyalah bertemu dengan Pek I Mo-ko dan minta kembali akar bunga itu."
"Kalau begitu, mari kita lanjutkan perjalanan, Hong-moi. Kita pergi mengunjungi rumah paman Cia Kun
Ti."
"Nanti dulu, toako. Ada satu hal yang ingin kuketahui walaupun hal itu sama sekali tidak ada sangkutpautnya
dengan aku, hanya aku ingin tahu sekali. Apakah ... engkau masih mencinta bekas tunanganmu
yang telah menjadi Isteri putera kepala daerah itu ?"
Bun Houw terkejut mendengar pertanyaan itu. Betapa terbuka dan beraninya gadis ini pertanyaan yang
begitu pribadi sifatnya. Akan tetapi dia segera teringat dengan siapa dia berhadapan. Puteri Bu-engkiam,
seorang "datuk" persilatan aneh dari Lembah Bukit Siluman yang ditakuti orang. Tentu saja puteri
seorang datuk seperti itu juga bukan seorang gadis biasa, tentu mempunyai watak yang aneh pula.
Bun Houw menarik napai panjang lalu menggeleng kepalanya. "Hong-moi, engkau kira aku ini laki-laki
macam apa? Antara aku dan Cia Ling Ay sudah tidak ada bubungan apapun, baik lahir maupun batin.
Dahulu, kami memang ditunangkan oleh orang tua kami, akan tetapi sejak pertunangan itu diputuskan
oleh pihak keluarga Cia, aku sudah menganggap ia bukan apa-apalagi, tidak ada hubungan apapun.
Kalau sekarang ia telah menjadi isteri orang, apalagi. Andaikata ia hidup berbahagia, aku hanya akan ikut
merasa bersukur. Bahkan sekarangpun, kalau aku tidak mengingat akan kebaikan paman Cia Kun Ti,
bekas sababat mendiang ayahku, kiranya akupun tidak akan berani mencampuri urusan Cia Ling Ay
walaupun keluarga suaminya terancam bahaya. Namun, ia telah begitu baik sikapnya. mau
menyembahyangi kuburan orang tuaku, apakah sekarang melihat ia terancam bahaya hebat, aku harus
tinggal diam saja? Tidak, Hong-moi, bukan karena cinta kalau aku sekarang berniat untuk
menyelamatkannya.”
Hui Hong tersenyum dan senyumnya kini bukan senyum mengandung ejekan lagi, "Aku percaya
padamu, toako. Oya, ada sebuah pertanyaan lagi."
"Apa itu? Tanyakanlah, aku tidak pernah menyimpan rahasia,” jawab Bun Houw untuk menyindir gadis
itu yang sebaliknya diliputi banyak rahasia.
"Aku kagum melihat ilmu tongkatmu. Tongkatmu itu nampak butut, akan tetapi bagaimana dapat
menyambut senjata tajam lawan demikian kuatnya ? Tentu di dalamnya dilapisi baja yang kuat, ya ?”
Bun Houw tersenyum, kagum akan ketajaman mata dan kecerdikan gadis itu. "Engkau benar, Hong-moi.
Memang tongkat ini hanya merupakan selubung saja, kalau diselubungi dapat kumainkan sebagai
tongkat, dan kalau perlu, dapat dirobah menjadi pedang. Seperti ini!”
Dia menggerakkan tongkatnya, mencabut dan nampaklah sinar terang seperti kilat menyambar dan
otomatis gadis itu meloncat ke belakang dengan kaget dan siap menjaga diri. Akan tetapi, Bun Houw
hanya memegang pedang itu di depan dada dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya memegang
tongkat butut yang berfungsi pula sebagai sarung-pedang itu.
"Lui-kong-kiam ... !" seru Hui Hong sambil membelalakkan mata dengan kagum. "Benarkah itu yang
disebut Pedang Kilat ?"
Dengan gerakan yang amat cepat, pedang itu berkelebat dan telah menyusup kembali ke dalam tongkat
butut.
Kini Bun Houw yang memandang kagum. "Agaknya engkau adalah seorang yang telah berpengalaman
dan berpengetahuan luas. Hong-moi. Sekali pandang saja engkau mengenal Lui-kong-kiam (Pedang
Kilat)."
"Siapapun akan dapat mengenalnya kalan melihat sinarnya tadi, toako. Aku belum pernah melihatnya,
akan tetapi pernah mendengar dari ayah tentang Lui-kong-kiam. Kabarnya, puluhan tahun yang lalu
Pedang Kilat itu lenyap dari gedung pusaka di istana, dan bahkan dicari dan dijadikan rebutan oleh
orang-orang di dunia kang-onw. Sungguh mengherankan bagaimana kini tahu-tahu telah berada di
tanganmu, toako,"
"Aku menerimanya dari guruku, Hong-moi,” kata Bun Houw singkat untuk menghilangkan dugaan orang
bahwa dia ikut pula memperebutkan pedang pusaka itu.
"Ah ? Kalau begitu gurumu tentu seorang tokoh besar yang hebat, Houw-ko ! Kalau sampai dia dapat
mencurinya dari gudang pusaka Istana, dan mempertahankannya terhadap incaran orang-orang dunia
kang-ouw, tentu dia hebat. Siapakah gurumu yang sakti itu toako ?"
Bun Houw menghela napas panjang. "Maafkan aku, Hong-moi. Aku harus mentaati perintah guruku,
yaitu bahwa beliau tidak mau kalau kusebut namanya. Aku tidak berani melanggarnya."
Gadis itu mengangguk-angguk. "Hebat! Dia guru yang hebat, dan engkau murid yang hebat dan
berbakti. Tidak apa, kalau sekali ayahku melihat gerakan silatmu, dia pasti akan tahu siapa gurumu.
Sudahlah, Houw-ko, mari kita melanjutkan perjalanan."
Ketika Cia Kun Ti yang masih tetap memiliki toko cita itu melihat kunjungan Bun Houw bersama seorang
gadis yang cantik dan bersikap gagah, dia menyambut dengan ramah dan segera mempersilakan mereka
masuk ke dalam. Dia menyerahkan penjagaan tokonya kepada pembantu dan dia juga ikut masuk,
mengajak dua orang itu bicara di ruangan belakang.
"Ada berita penting apakah. Bun Houw? Begitu engkau datang, aku merasa bahwa telah terjadi sesuatu
yang hebat. Dan siapakah nona yang gagah ini?"
"Ini adalah Nona Ouwyang Hui Hong, seorang pendekar wanita yang bersama dengan saya hendak
menghadapi para penjahat yang mengacau keamauan di Nan-ping ini, paman. Hong-moi, inilah Paman
Cia Kun Ti seperti yang pernah kuceritakan kepadamu."
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Best Cersil

Pecinta Cersil