Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Minggu, 28 Januari 2018

Kho Ping Hoo Full Tamat Kisah Si Pedang Kilat 6

Kho Ping Hoo Full Tamat Kisah Si Pedang Kilat 6

baca juga

Mendengar itu, sahabatnya, ketua Thian-beng-pang, mengangguk-angguk, Bun Houw juga kagum.
Kiranya Kam Cu, biarpun hanya pemimpin para pengemis, mempunyai hubungan yang luas sampai
dapat mengetahui keadaan dalam istana kaisar Siauw Bian Ong. Tak lama kemudian, masuklah seorang
laki-laki tua yang pakaiannya seperti seorang buruh kecil, sederhana dan bahkan butut. Dia memberi
hormat kepada tiga orang itu.
"Harap memaafkan kalau saya mengganggu sam-wi. Saya perlu bertemu dengan Hek-tung Lo-kai ... "
"A-sin, ada kepentingan apakah sampai engkau menyusulku ke sini?" tanya Hek-tung Lo-kai yang sudah
mengenal orang itu.
"Maaf, pang-cu. Tadi aku pergi ke markas Hek-tung-kaipang, di sana kosong dan aku, mendengar bahwa
pangcu berada di sini, maka aku langsung menyusul ke sini karena Koan-thaikam memesan agar
suratnya dapat secepat mungkin kuserahkan kepada pang-cu.” Dia mengeluarkan segulung surat dari
dalam saku bajunya dan menyerahkannya kepada ketua Hek-tung Kai-pang itu. Ketua itu menerimanya
dan membuka gulungan, lalu membacanya. Alisnya berkerut dan matanya terbelalak lalu tanpa banyak
cakap dia menyerahkan surat itu kepada Ciu Tek.
Ketua Thian-beng-pang inipun membacanya dan wajahnya berubah pucat.
"Tai-hiap, silakan baca surat ini. Penting sekali!" katanya dan Kam Cu mengangguk menyetujui.
Bun Houw yang tadinya tidak memperhatikan karena mengira bahwa surat itu merupakan urusan
pribadi, menyambut dan membaca surat itu. Dalam surat itu, secara ringkas dikabarkan bahwa Kwan
Hwe Li dan Ouwyang Toan telah mengundang Bu-eng-kiam Ouwyang Sek ke istana dan bahkan diterima
oleh Kaisar Siauw Bian Ong. Akan tetapi bukan itu yang terpenting, melainkan bahwa mereka bertiga itu
membentuk persekutuan dengan orang-orang dari kerajaan Wei. mengadakan persekongkolan untuk
membunuh Kaisar Siauw Bian Ong sekeluarga berikut para pembantu yang setia kepada kaisar baru ini!
Dan bahwa Koan-thaikam mengharapkan bantuan sahabatnya, Hek-tung Lo-kai untuk membantu dan
menyelamatkan kaisar dari ancaman bahaya itu.
"Hemm, kiranya keluarga Ouwyang telah dapat pula menyelundup ke istana?" kata Bun Houw,
mengerutkan alisnya karena kalau ayah dan anak itu di sana, berarti memang ancaman bahaya bagi
keselamatan kaisar.
"Bukan mereka saja, akan tetapi juga Kwan Hwe Li bekerja di sana sebagai pengawal permaisuri," kata
Hek-tung Lo-kai. "Memang di istana terdapat banyak jagoan istana yang tangguh, akan tetapi kalau
mereka itu terlalu dekat dengan kaisar, tentu akan sulit untuk menjamin keselamatan kaisar. Jalan satusatunya
adalah mengharapkan bantuanmu Kwa-taihiap!"
"Hemm, aku siap menghadapi kejahatan mereka. Akan tetapi bagaimana aku dapat melindungi kaisar?"
tanya pemuda ini ragu.
"Kalau tai-hiap muncul seperti biasa dan persekutuan itu mengetahui, tentu mereka akan menjadi
waspada dan keadaan menjadi semakin berbahaya. Sebaiknya thai-hiap menyamar dan biar oleh Koanthaikam
dihadapkan sribaginda agar thai-hiap dapat diterima menjadi pengawal pribadi. Tentang
penyamaran, harap jangan khawatir karena kami mempunyai ahli-ahli penyamaran yang akan dapat
menyulap tai-hiap menjadi orang lain." kata-Hek-tung Lo-kai.
Demikianlah, pada hari itu juga Hek-tung Lo-kai memberi kabar kepada Koan-thaikam melalui A-sin agar
thaikam itu dapat membuat persiapan menyambut Bun Houw di istana. Setelah semua siap, Bun Houw
dipertemukan dengan Koan thaikam dan diajak masuk istana. Kini tak seorangpun akan dapat mengenal
Bun Houw karena wajahnya telah berubah sama sekali. Muka yang biasanya halus tampan itu berubah
menjadi muka yang ternoda bopeng (bekas cacar), juga bentuk hidung dan matanya berubah. Orang
yang terdekat sekalipun dengan Bun Houw, akan sukar dapat mengenalnya.
Sebelumnya. Koan-thaikam telah memberi tahu kepada Kaisar bahwa dia mempunyai seorang
keponakan yang memiliki ilmu silat tinggi dan dapat diandalkan untuk menjadi pengawal pribadi kaisar,
atau menambah lagi pasukan pengawal pribadi. Kaisar amat percaya kepada Koan-thaikam yang
memang amat setia kepadanya itu, maka pada hari itu, kaisar berjanji akan menerima keponakan Koanthaikam
yang bernama Koan Jin itu.
Ketika pada pagi hari itu Koan-thaikam menghadapkan seorang pemuda yang wajahnya bopeng dan
tidak mengesankan, kaisar menerimanya dengan alis berkerut dan nampak kecewa. Keponakan Thaikam
kepercayaannya itu sungguh tidak mengesankan, selain mukanya tidak menarik juga
penampilannya tidak dapat membayangkan seorang yang kuat. Bahkan pasukan pengawal yang berjaga
di ruangan itu, yang dipimpin Ouwyang Toan sebagai perwira pasukan pengawal, melirik dengan
senyum mengejek. Mereka sudah mendengar dari para thai-kam bahwa Koan-thaikam akan
memasukkan keponakannya sebagai calon anggauta pengawal pribadi kaisar! Pada hal selama Ouwyang
Toan berada di situ, dialah yang sudah memasukkan enam orang pengawal baru yang telah diuji
kepandaiannya dan kini menjadi anak buah pasukan pengawal istana. Biarpun hatinya merasa panas
karena ada thaikam berani mengajukan keponakannya sendiri sebagai calon pengawal, akan tetapi
Ouwyang Toan tidak berani memperlihatkan ketidaksenangan hatinya. Dia tahu bahwa Koan-thaikam
adalah seorang thaikam kepercayaan kaisar, sedangkan dia sendiri adalah seorang perwira pengawal
yang masih baru. Akan tetapi dia sudah bersepakat dengan anak buahnya untuk menggagalkan
keponakan thaikam itu menjadi pengawal, dan dalam ujian ilmu silat, mereka dapat membuat
keponakan thaikam itu dan Koan-thaikam sendiri mendapat malu. Apalagi ketika melihat calon
pengawal itu masuk dengan sikap takut-takut dari dusun, mereka saling pandang dan tersenyum
mengejek.
Setelah mengamati sejenak pemuda yang nampak tidak mengesankan itu, Sribaginda Kaisar Siauw Bian
Ong, yang juga merupakan seorang ahli silat yang cukup tangguh, karena ketika dia masih bernama
Souw Hui! Kong, dia adalah seorang petualang yang telah mempelajari banyak ilmu sehingga akhirnya
dia berhasil menumbangkan kerajaan Liu-sung yang telah menjadi lemah dan mendirikan kerajaan Chi,
berkata kepada thaikam kepercayaannya dengan nada menegur, "Koan thaikam, tidak kelirukah
permohonanmu untuk memasukkan keponakanmu ini sebagai seorang pengawal istana? Engkau tentu
tahu bahwa seorang pengawal istana harus memiliki ilmu kepandaian tinggi, apalagi sebagai pengawal
pribadi kami yang melindungi keselamatan kami, haruslah seorang yang benar-benar tangguh dan
sakti."
"Ampun, Yang Mulia. Hamba tidak keliru, karena keponakan hamba ini, Koan Ji, sejak kecil telah berguru
kepada ratusan orang guru silat yang pandai dan kini dia telah memiliki ilmu kepandaian silat yang
ampuh."
Kembali para anggauta pasukan pengawal tersenyum simpul dan kebetulan Kaisar memandang kepada
mereka sehingga tanpa disengaja kaisar melihat mereka bersenyum simpul mengejek. Hal ini membuat
kaisar merasa tidak senang kepada mereka.
"Koen-thaikam, apakah keponakanmu ini siap untuk diuji kepandaiannya?"
"Tentu saja, Yang Mulia. Dia sudah siap untuk menghadapi ujian."
Kembali kaisar memandang kepada Bun Houw. Wajah yang tidak meyakinkan dan tidak menarik. Akan
tetapi, hal ini malah menguntungkan. Sebaiknya memang pasukan pengawal istana terdiri dari laki-laki
yang wajahnya buruk dan tidak menarik bagi wanita untuk mencegah terjadinya hal-hal yang akan
menodai nama dan kehormatan istana kalau sampai ada wanita istana jatuh cinta kepada seorang
anggauta pasukan pengawal. Untuk mencegah perjinaan seperti itulah maka semua petugas istana yang
pria diharuskan menjadi sida-sida, karena seorang thai-kam sudah bukan pria normal lagi, tidak dapat
lagi berjina dengan wanita.
"Koan Ji, beranikah engkau kami suruh melawan seorang di antara para perajurit pengawal itu?" Dia
menuding ke arah para pengawal yang berdiri tegak dalam barisan di, bagian luar ruangan itu.
Koan Ji yang berlutut itu memberi hormat. "Siapa saja yang mengancam keamanan paduka dan seisi
istana, pasti akan hamba lawan mati-matian, Yang Mulia!” kata Kwa-Bun Houw dengan sikap seperti
seorang dusun.
Kaisar Siauw Bian Ong tertawa. "Ha-ha. maksud kami bukan melawan sebagai musuh. Mereka adalah
anggauta pasukan pengawal dan mereka semua sudah lulus ujian ketangkasan. Engkau akan kami uji
dengan bertanding ilmu silat melawan seorang di antara mereka. Yang mana kaupilih?"
Bun Houw menoleh ke arah selusin perajurit pengawal yang dikepalai Ouwyang Toan, lalu dia memberi
hormat lagi, "Yang mana pun akan hamba hadapi, Yang Mulia."
"Bagus! Ouwyang-ciangkun pilihkan seorang di antara anak buahmu untuk menguji apakah keponakan
Koan-thaikam ini pantas menjadi pengawal pribadi kami."
"Maaf, Yang Mulia. Untuk menjadi anggauta pasukan pengawal istana, memang cukup dapat
menandingi seorang di antara anak buah hamba. Akan tetapi untuk menjadi pengawal pribadi paduka,
dia haruslah seorang yang benar-benar tangguh dan sedikitnya memiliki tingkat kepandaian dua kali
lipat dari tingkat seorang perajurit pengawal istana. Karena itu, sebaiknya kalau calon ini dapat
menghadapi dan menandingi pengeroyokan dua atau tiga orang perajurit pengawal." kata Ouwyang
Toan.
Kaisar itu mengangguk-angguk dan kembali berkata kepada Bun Houw yang maklum bahwa Ouwyang
Toan jelas tidak menghendaki ada pengawal pribadi kaisar yang baru. "Bagaimana, Koan Ji. Beranikah
engkau melawan dua atau tiga orang perajuril pengawal istana? Kalau engkau merasa tidak sanggup,
katakan saja. Kami tidak ingin bersikap sewenang-wenang, hanya ingin menguji kemampuanmu."
"Kalau paduka memerintahkan, biar menghadapi berapa saja lawan, hamba siap untuk menandinginya,
Yang Mulia." kata Bun Houw dengan sikap bersahaja.
Kaisar Siauw Bian Ong kembali tertawa gembira.
"Ha-ha ha, baru semangatmu saja sudah menyenangkan hati kami, Koan Ji. Nah, Ouwyang-ciangkun,
engkau sudah mendengar sendiri. Calon pengawal pribadi ini berani menghadapi pengeroyokan tiga
orang anak buahmu.”
"Baik, Yang Mulia. Hamba akan memilih tiga orang di antara mereka."
Ouwyang Toan memilih tiga orang anak buahnya yang paling jagoan. Tiga orang ini bukan sembarangan
orang. Mereka adalah jagoan-jagoan dari Thian-te Kui pang dan tingkat kepandaian masing-masing
hanya sedikit di bawah tingkat Ouwyang Toan! Biar Ouwyang Toan sendiri, agaknya tidak akan mungkin
menang menghadapi pengeroyokan tiga orang anak buahnya ini dan kini dia mengajukan mereka untuk
mengeroyok seorang calon, perajurit pengawal!
Tiga orang pengawal itu setelah memberi hormat kepada Kaisar, lalu siap dan mengepung Bun Houw
yang juga sudah memberi hormat dan bangkit berdiri, membiarkan dirinya dikepung oleh tiga orang
lawan yang membentuk segi tiga. Seorang di depannya, seorang di kanan dan seorang di kiri. Diam-diam
dia mengamati mereka dan gerak-gerik mereka. Seorang yang menghadapinya adalah seorang laki-laki
bertubuh tinggi besar seperti raksasa yang mukanya penuh brewok tebal dan nampak menyeramkan.
Yang berada di kirinya seorang laki-laki tinggi kurus muka hitam arang, sedangkan yang berada di
sebelah kanannya seorang laki-laki bertubuh sedang dan didahinya terdapat codet bekas bacokan
senjata tajam. Sikap mereka ketika memegang kuda-kuda saja memperlihatkan bahwa mereka adalah
orang-orang yang kuat dan usia mereka rata-rata tiga puluh tahun.
Bun Houw memutar tubuhnya membelakangi mereka, memberi hormat lagi kepada kaisar dan diapun
berkata, "Hamba telah siap, Yang Mulia. Mereka itu boleh mulai menyerang sekarang."
"Heii, Koan Ji, kenapa engkau membelakangi tiga orang lawanmu?" tiba-tiba Koan-thaikam berseru
karena merasa cemas melihat betapa pemuda itu membelakangi tiga orang pengeroyoknya.
"Ha-ha, kenapa engkau melakukan itu, Koan Ji? Bagaimana engkau dapat melawan tiga orang itu kalau
engkau berdiri membelakangi mereka?" Kaisar juga bertanya heran dan geli.
"Ampun, Yang Mulia. Hamba tidak berani sedemikian kurang sopan untuk berdiri membelakangi
paduka."
"Ha-ha-ha-ha-ha!" Sribaginda Kaisar tertawa bergelak. Pemuda ini memang lucu dan aneh. Pikirnya
"Kalau begitu, kalian saling berhadapan di sebelah kiri dan kanan, jadi tidak adanya membelakangiku."
katanya.
Kini tiga orang itu sudah siap, ketiganya menghadapi Bun Houw yang berdiri seenaknya, namun
waspada dan siap siaga. "Aku sudah siap, kalian boleh mulai!” katanya tenang.
Tiga orang anggauta Thian-te Kui pang itu sebetulnya menanti agar Bun How menyerang lebih dulu.
Mereka merasa diri mereka tangguh, dan bagaimanapun mereka agak malu karena harus mengeroyok
seorang calon pengawal yang kelihatannya lemah. Akan tetapi karena pemuda itu tidak mau
menyerangnya dan mempersilakan mereka yang maju lebih dulu, merekapun mulai menyerang.
Serangan mereka merupakan pukulan yang kuat dan berat, juga cepat. Bun Houw menggerakkan tubuh,
dia menangkisi semua pukulan itu. Begitu kedua lengan bertemu, seorang penyerang mengeluh karena
merasa seolah-olah lengannya bertemu dengan besi panas yang amat keras! Demikian pula orang ke
dua dan ke tiga. Si raksasa brewok yang merasa paling kuat dan besar tenaganya, mengirim pukulan
dengan pengerahan tenaga dari atas ke arah kepala Bun Houw. Pemuda ini mengangkat lengan kiri
menangkis.
"Dukk ...! suhhh ...!" Si raksasa brewok berteriak kesakitan, dan terhuyung ke belakang.
Bun Houw hanya mengandalkan tanaga sinkangnya, karena dia tidak ingin memperlihatkan
kepandaiannya sehingga akan mencurigakan hati Ouwyang Toan. Dia tidak mau memperkenalkan diri
dan dengan tenaga sin-kang dia menangkis, juga mengelak sehingga dia sama sekali tidak mengeluarkan
ilmu silat yang akan dikenal Ouwyang Toan.
Karena merasa malu, tiga orang itu menahan rasa nyeri dan mereka menyerang semakin kuat dan
gencar. Bahkan si raksasa brewok mengandalkan kakinya yang besar, kokoh dan panjang, mengayun
kaki kirinya menendang. Tendangan itu kuat bukan main dan sekiranya mengenai tubuh Bun Houw,
agaknya tubuh yang tidak berapa besar itu akan terlempar sampai beberapa meter jauhnya. Akan tetapi,
Bun Houw tidak mengelak, bahkan menggerakkan pula kaki kanannya menyambut atau menangkis
tendangan itu.
"Dukkk!" Kini si brewok raksasa itu menggigit bibir. Kiut-miut rasa kakinya, seperti patah-patah
tulangnya, rasa nyeri sampai menyengat seluruh tubuh sampai ke ubun-ubun dan karena dia menahan
rasa nyeri sambil menggigit bibir, kakinya yang tidak tahan dan diapun mengangkat kaki kiri ke belakang,
memeganginya dap berloncat-loncatan dengan kaki kanan!
Sribaginda Kaisar tertawa bergelak-gelak karena memang pemandangan itu lucu bukan main. Akan
tetapi Ouwyang Toan dan anak buahnya terbelalak, hampir tidak percaya betapa pemuda yang agaknya
tidak pandai silat itu karena tidak pernah mengeluarkan jurus silat, ternyata memiliki kaki tangan yang
agaknya kebal dan kuat sekali.
Dua orang yang lain menjadi marah dan menyerang sekuat tenaga, hanya untuk meringis karena ketika
lengan mereka ditangkis, mereka merasa lengan mereka semakin nyeri seperti patah-patah. Lengan
mereka, kanan dan kiri, sudah matang biru dan bengkak-bengkak! Pada hal, lengan dan kaki mereka itu
terlatih baik, sekali hantam saja lengan mereka dapat memecahkan bambu. Akan tetapi sekarang,
lengan mereka seperti diadu dengan baja!
Biarpun mereka bertiga menahan nyeri, akhirnya lengan mereka yang tidak tahan. Kedua lengan mereka
itu akhirnya tergantung lemah, terkulai dan tak dapat diangkat, juga kaki mereka hampir tak kuat untuk
berdiri dan dengan sendirinya perlawanan merekapun terhenti!
"Ha-ha-ha, bagaimana ini? Mengapa kalian bertiga tidak menyerang lagi?" tanya Kaisar Siauw Bian Ong
gembira, pada hal dia sebagai seorang ahli silat tahu bahwa tiga orang itu sudah kalah, walaupun Koan Ji
belum pernah memukul mereka!
"Kenapa kalian bertiga? Hayo jawab pertanyaan Yang Mulia!" bentak Ouwyang Toan marah dan merasa
malu, juga terheran-heran melihat ulah tiga orang anak buahnya itu.
Dua orang berlutut, dan si raksasa brewok akhirnya juga berlutut menghadap kaisar dan mewakili dua
orang temannya. "Mohon paduka mengampuni hamba bertiga. Yang Mulia. Hamba bertiga tidak
mampu melanjutkan pertandingan, agaknya lawan hamba itu memasang baja pada kaki tangannya ... "
"Yang mulia, hamba mohon ijin untuk memeriksa kaki dan tangan calon perajurit pengawal ini." kata
Ouwyang Toan dan kaisar mengangguk.
"Periksalah, apakah benar di dalam lengan baju dan kaki celananya terdapat potongan baja." kata kaisar
sambil tersenyum geli.
Sebetulnya Ouwyang Toan bukanlah seorang yang demikian bodohnya. Sebagai seorang ahli silat tingkat
tinggi, iapun maklum bahwa orang yang sin-kangnya sudah amat kuat, dapat saja membuat kaki
tangannya keras seperti baja. Akan tetapi, dia tidak percaya Koan Ji memiliki sin-kang sedemikian
kuatnya, maka mendengar keluhan tiga orang anak buahnya tadi, diapun merasa curiga. Setelah
mendapat ijin kaisar, Ouwyang Toan lalu menghampiri Bun Houw dan menyingkap lalu menggulung ke
atas kedua lengan baju dan pipa celananya. Akan tetapi tentu saja dia tidak menemukan apa-apa kecuali
kaki dan tangan biasa yang bertulang, berotot dan berkulit!
Tentu saja Ouwyang Toan tidak dapat berkata apa-apalagi, lalu mundur sambil menundukkan mukanya.
Seorang tokoh pengawal pribadi kaisar yang sejak tadi hanya menjadi penonton bersama para pengawal
pribadi lainnya, kini berkata dengan hormat, '”mpun, Yang Mulia. Menurut pendapat hamba, saudara
Koan Ji ini cukup pantas untuk menjadi pengawal pribadi paduka, menambah kekuatan pasukan
pengawal pribadi paduka."
Kaisar Siauw Bian Ong menoleh ke arah lima orang pengawal pribadinya dan mereka semua
mengangguk menyetujui. Kaisar tersenyum girang. Dia menemukan seorang pengawal lain yang lihai
dan tentu saja dapat dipercaya karena pemuda itu adalah keponakan Koan-thaikam, seorang yang
sudah dipercayanya penuh sebagai seorang hamba yang setia.
Demikianlah, mulai saat itu, Bun Houw diterima sebagai seorang pengawal pribadi kaisar sehingga kini
pengawal pribadi kaisar berjumlah sebelas orang yang melakukan penjagaan terhadap keselamatan
Kaisar Siauw Bian Ong pribadi, Bun Houw juga berjumpa dengan Kwan Hwe Li yang menjadi pengawal
permaisuri, akan tetapi datuk wanita itu tidak mengenalnya.
Koan-thaikam yang cerdik tidak memberitahu kepada kaisar tentang siapa sebenarnya Koan Ji, akan
tetapi, dia diam-diam mengumpulkan sepuluh orang pengawal pribadi kaisar yang lain. Dia percaya
sepenuhnya kepada sepuluh orang itu sebagai orang-orang yang setia kepada kaisar dan merupakan
pengawal lama, sejak Kaisar Siauw Bian Ong menduduki singasana kerajaan Chi yang baru. Tentu saja
sepuluh orang itu tidak dapat dia kumpulkan sekaligus, hal itu tidak mungkin karena setiap saat harus
ada sedikitnya dua orang pengawal yang mengawal kaisar. Bahkan kalau kaisar sedang berada di dalam
kamar tidurnya, dua atau tiga orang pengawal berjaga di luar kamar itu, walaupun sudah ada pasukan
istana yang melakukan penjagaan di seluruh istana. Koan-thaikam dengan cerdik dapat mengajak
sepuluh orang pengawal pribadi kaisar itu untuk mengadakan pertemuan, setiap kali hanya dengan lima
orang. Dalam dua kali pertemuan saja dia sudah dapat mengadakan perundingan dengan mereka.
Sepuluh orang pengawal pribadi itu terkejut bukan main mendengar laporan Koan-thaikam yang telah
mendengar rahasia Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan yang mengadakan persekutuan dengan kaki tangan
kerajaan Wei untuk melakukan pembunuhan terhadap Kaisar Siauw Bian Ong.
"Koan-taijin, kalau begitu, kenapa kita tidak langsung saja menangkap para pengkhianat itu!" kata para
pengawal atau jagoan istana itu dengan penasaran.
"'Atau kita langsung laporkan kepada Sri-baginda biar mereka itu ditangkap?” kata yang lain.
Akan tetapi Koan Thai-kam menggeleng kepalanya. "Hal itu tidak mungkin kita lakukan, walaupun
persekongkolan mereka sudah jelas karena aku telah mendengarnya sendiri. Akan tetapi apa buktinya?
Tanpa bukti, apa yang dapat kita lakukan terhadap mereka? Ingat, selain mereka itu merupakan dua
orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga mereka telah berhasil memperoleh kedudukan yang
tinggi pula, dan mendapat kepercayaan Sribaginda, Kwan Hwe Li telah menjadi pengawal permaisuri,
sedangkan Ouwyang Toan telah menjadi perwira pasukan pengawal istana. Tanpa bukti, kalau kita
melaporkan kepada Sribaginda, kemudian mereka berbalik menuduh kita melakukan fitnah, kita tidak
akan menang. Demikian pula, melakukan kekerasan tanpa bukti, tentu akan membuat Sribaginda marah
kepada kita."
"Habis, bagaimana baiknya? Kalau kita melihat Sribaginda terancam keselamatannya, apakah kita harus
tinggal diam saja?" mereka mencela.
"Tidak begitu," kata Koan-thaikam, "tentu saja kita harus bertindak dan karena itulah cu-wi (anda
sekalian) saya undang untuk berunding. Kita sekarang, para pengawal pribadi Sribaginda, telah tahu
akan rencana jahat mereka dan dapat melakukan penjagaan yang lebih ketat tanpa menimbulkan
kecurigaan mereka. Selain itu, kita mengadakan hubungan rahasia dengan para panglima pasukan
pengawal dan pasukan keamanan, agar mereka mempersiapkan pasukan untuk bergerak sewaktuwaktu
diperlukan. Kita mau tidak mau harus membiarkan para pengkhianat itu bergerak, agar kita dapat
menindak mereka dengan bukti."
"Akan tetapi, hal itu berarti membiarkan Sribaginda terancam bahaya! Bagaimana kalau mereka turun
tangan secara tiba-tiba sehingga kita terlambat dan Sribaginda dan keluarganya tertimpa bencana?"
kembali para pengawal pribadi itu membantah dan mencela dengan hati khawatir sekali, "Kami lebih
condong melapor kepada Sribaginda!"
"Jangan! Cu-wi tentu telah mengenal watak Sribaginda. Beliau amat bijaksana menghargai kegagahan,
juga beliau selalu bersikap adil. Kalau kita melapor, akan tetapi beliau tidak menemukan bukti,
bagaimana mungkin beliau akan menangkap dan menghukum para pengkhianat itu? Kitalah yang akan
mendapat kemarahan, atau bukan mustahil kita yang akan ditangkap dan dihukum karena dianggap
malakukan fitnah dan membuat kekacauan. Tentang keselamatan Sribaginda dan keluarganya, kenapa
khawatir? Bukankah ada cu-wi yang selalu menjaga dan mengawal Sribaginda? Dan hendaknya cu-wi
tahu bahwa pemuda yang baru saja diterima sebagai pengawal pribadi itu ... "
"Koan Ji, keponakan Koan-aijin itu?”
“Ya, dialah yang akan menjamin keselamatan Sribaginda!"
"Ah, maaf, taijin. Memang Koan Ji memiliki tubuh yang kebal dan kuat, akan tetapi apa artinya itu?
Ingat, Ouwyang-ciangkun amat lihai dan Kwan Hwe Li jauh lebih lihai lagi. Kami semua sudah
membuktikannya sendiri ketika mereka diuji. Bahkan kami akan kewalahan melawan mereka berdua.
Biarpun ditambah Koan Ji itu ... maaf. bukan kami hendak memandang rendah keponakan tai-jin,”
“Ketahuilah, Koan Ji itu bukan keponakanku! Saya memang sengaja mencari bantuan dari luar dan dia
adalah orang yang dipilih oleh Hek-tung Lo-kai untuk tugas penting melindungi Sribaginda. Hanya dialah
yang akan mampu menandingi Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan. Karena saya tidak ingin membuat
persekutuan itu curiga, maka saya mengakuinya sebagai keponakan dan juga agar Sri baginda percaya
kepadanya."
Sepuluh orang pengawal pribadi itu merasa kagum. Kalau benar pemuda itu pilihan Hek-tung Lo-kai
yang mereka kenal sebagai seorang tokoh kang-ouw yang gagah perkasa dan juga mendukung
pemerintah baru, tentu pemuda itu bukan orang sembarangan.
"Akan tetapi, siapa dia sesungguhnya, taijin? Kami merasa tidak pernah mengenal seorang tokoh dunia
persilatan yang wajahnya seperti dia itu."
"Tentu saja, karena itu adalah wajah penyamaran, bukan wajah aselinya. Dia seorang pemuda yang
tampan dan gagah, dan dia berjuluk Si Pedang Kilat! Bahkan oleh Hek-tung Kai-pangcu dan Thian-bengpangcu
dia dicalonkan menjadi beng-cu dunia persilatan.”
“Bukan main! Siapa namanya, taijin?”
“Namanya Kwa Bun Houw, memang belum begitu terkenal di dunia persilatan, akan tetapi dia
merupakan seorang bintang baru yang hebat. Kalian tahu, Kui-siauw Giam-ong Suma Koan ... "
"Datuk sesat majikan Bukit Bayangan Iblis itu?"
"Benar, Suma Koan dan puteranya, Suma Hok, dibantu oleh Pek-thian-kui, orang pertama dari Bu-tek
Sam-kwi kaki tangan kerajaan Wei, hendak memaksa Hek-tung Kai-pang dan Thian-beng-pang untuk
bekerja sama. Ketika mereka hendak membunuh kedua pang-cu itu, muncullah Si Pedang Kilat ini dan
dia yang mengalahkan para tokoh sesat itu.”
Tentu saja para pangawal pribadi kaisar itu terbelalak dan sukar dapat percaya berita ini. Bagaimana
mungkin pemuda itu mampu mengalahkan Kui-siauw Giam-ong Suma Koam yang mereka tahu amat
sakti itu?
Para jagoan istana ini masih belum yakin benar kalau belum mengerti kepandaian Bun Houw. Mereka
mempunyai sebuah tempat tersendiri untuk berlatih silat dan tidak ada orang lain yang boleh menonton
mereka berlatih. Sebagai pengawal-pengawal pribadi kaisar, tentu saja mereka memiliki pengaruh dan
wibawa. Kesempatan inilah mereka pergunakan untuk menguji sendiri kepandaian Bun Houw. Kwa Bun
Houw sudah mendengar dari Koan-thaikam bahwa keadaan dirinya sudah bukan rahasia lagi bagi
sepuluh orang pengawal pribadi kaisar, maka diapun tidak berpura-pura terhadap mereka. Dalam
kesempatan berlatih, dia membiarkan dirinya dikeroyok oleh lima orang pengawal yang paling tangguh
dan tanpa banyak kesukaran dia dapat mengalahkan mereka semua, baik dalam pertandingan tangan
kosong maupum mempergunakan pedang kilatnya.
Setelah sepuluh orang pengawal pribadi itu membuktikan sendiri kemampuan Bu Houw, barulah
mereka merasa tenang dan kini Bun Houw merupakan pengawal pribadi kaisar yang paling depan, selalu
paling dekat dengan kaisar, terutama kalau di ruangan terbuka di mana terdapat para anggauta pasukan
pengawal istana yang dipimpin oleh Ouwyang Toan. Sementara itu, Koan-thaikam juga sudah
menghubungi para pimpinan pasukan pengawal, bahkan panglimanya dan merekapun mempersiapkan
pasukan untuk turun tangan sewaktu-waktu para pengkhianat itu mengadakan gerakan.
Bi Moli Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan memang telah terbujuk dan mau mengadakan persekutuan
dengan kerajan Wei. Hal ini terjadi ketika Ouwyang Toan bertemu dengan ayahnya, Ouwyang Sek di luar
kota raja, ketika Ouwyang Sek sengaja datang untuk bertemu dengan puteranya. Datuk sesat ini
mendengar bahwa puteranya kini menjadi seorang perwira pasukan pengawal di istana kerajaan Chi
yang baru. Hal ini membuat Ouwyang Sek marah sekali. Puteranya, putera majikan Lembah Bukit
Siluman, yang terkenal sebagai datuk besar dunia persilatan, kini merendahkan diri menjadi seorang
perwira pasukan pengawal saja! Kalau menjadi pembesar yang tinggi kedudukannya, tentu akan lain
pendapatnya.
Dalam keadaan marah dan murung ini, Ouwyang Sek menerima kunjungan Bu-tek Sam-kui yang telah
dikenalnya. Dia mendapat uluran tangan utusan kerajaan Wei ini yang mengajak dia untuk bersekongkol
membantu bekas kaisar Cang Bu untuk merebut kembali kerajaan dari tangan kaisar Chi, dan adanya
Ouwyang Toan di istana kaisar Siauw Bian Ong sungguh merupakan keuntungan besar dan kesempatan
yang baik sekali. Ouwyang Sek mendengar bahwa bekas Kaisar Cang Bu telah menghimpun pasukan,
bahkan kini dibantu oleh Suma Koan dan Suma Hok yang telah menjadi adik iparnya, menikah dengan
adik bekas kaisar itu, dan bahwa bekas Kaisar Cang Bu kini telah bekerja sama dengan kerajaan Wei di
utara. Dengan janji bahwa kalau gerakan itu berhasil. Ouwyang Sek dan puteranya akan mendapatkan
kedudukan tinggi sebagai menteri dan panglima. Ouwyang Sek menjadi bersemangat. Lenyaplah
kemarahannya terhadap puteranya dan diapun mencari puteranya, mengirim orang untuk memanggil
puteranya itu menemuinya di luar kota raja.
Ouwyang Sek yang menceritakan semua penawaran Bu-tek Sam-kui sebagai utusan ke puteranya, dan
dia menuntut agar Ouwyang Toan dapat membujuk Bi-moli untuk bekerja sama.
Bi-moli Kwan Hwe Li adalah seorang wanita yang haus cinta. Setelah ia mengalami kekecewaan karena
cintanya terhadap Tiauw Sun Ong putus, kemudian setelah mereka menjadi tua, Tiauw Sun Ong tetap
tidak mau hidup bersamanya, maka kini bertemu dengan Ouwyang Toan yang muda dan pandai
mengambil hati, tentu saja membuat ia takluk. Ketika Ouwyang Toan membujuknya untuk menerima
uluran tangan kerajaan Wei, iapun tanpa berpikir panjang lagi menerimanya. Ia rela hidup dan mati
bersama kekasihnya yang masih muda itu.
Demikianlah, kedua orang yang mendapatkan kepercayaan Kaisar Siauw Bian Ong ini mulai siap-siap
melaksanakan perintah dari persekutuan itu. Ouwyang Toan yang telah mendapat kepercayaan itu
berhasil menyelundupkan beberapa orang anggauta Thian-te Kui-pang reka menanti saatnya yang
matang, bukan hanya mempersiapkan para anggauta Thian-te Kui-pang yang diselundupkan sebagai
anggauta pasukan pengawal, akan tetapi juga menyebar para anggauta perkumpulan Iblis itu di kota
raja agar pada saat yang ditentukan, para anggauta itu, dipimpin oleh Bu-tek Sam-kui sendiri, dapat
menyerbu ke istana. Kalau penyerbuan dan pembunuhan terhtdap kaisar dan keluarganya dilaksanakan,
maka pasukan bekas Kaisar Cang Bu dan pasukan bantuan dari kerajaan Wei yang sudah
mempersiapkan diri akan menyerbu masuk ke daerah kerajaan Chi, dimulai dari sarang pasukan yang
dihimpun bekas Kaisar Cang Bu.
Persiapan pertempuran! Persiapan perang! Persiapan bunuh membunuh. Kapankah keadaan seperti ini
akan berakhir? Dunia dilanda perang, permusuhan, kebencian sejak sejarah tercatat sampai kini. Tak
pernah ada henti-hentinya. Perang saling bunuh, demi kemenangan, demi kedudukan, demi
keuntungan, demi nama baik, demi pemuasan dendam.. Perang senjata, perang ekonomi, perang sosiaL
perang ideologi, bahkan ada perang agama dan yang disebut perang suci! Ada yang menganggap perang
satu-satunya jalan untuk mencapai perdamaian! Betapa palsunya omong kosong semua itu. Perang
adalah pencetusan dari kebencian, dendam, permusuhan, perebutan kekuasaan atau harta. Perang
antara bangsa hanya peluasan dari pada perang antara dua manusia yang juga menjadi akibat dari pada
perang yang terjadi di dalam batin kita sendiri! Konflik batin berkembang menjadi konflik dengan
manusia lain. Kemelut yang berkecamuk di dalam mencuat keluar.
Manusia yang sudah tidak memiliki lagi kasih sayang, menjadi mahluk yang lebih buas dari pada
binatang yang paling buas. Kebuasan binatang hanya mengandalkan kekuatan tubuhnya, dan kebuasan
itu dituntut oleh kebutuhan untuk hidup. Akan tetapi manusia memiliki hati akal pikiran yang membuat
dia menjadi lebih buas dan lebih berbahaya. Dalam perang, manusia menjadi haus darah yang ada
hanyalah membunuh atau dibunuh, cara menyelamatkan diri dengan jalan membunuh dan membunuh
lagi. Kalau sudah begini, segala kepalsuan manusiapun nampak . Bahkan Tuhan dibawa-bawa ke dalam
perang saling bantai itu. Kedua pihak yang berperang memohon kepada Tuhan untuk diberi bantuan
agar menang. Tuhan dimintai bantuan untuk membunuh manusia lain sebanyak-banyaknya!
Dan yang menyedihkan sekali, setiap peperangan selalu menjadikan rakyat sebagai korban. Mereka
yang tidak tahu apa-apa, yang tidak ikut berperang, bahkan yang paling parah menderita karena perang.
Melarikan diri mengungsi ke sana ini, menjadi korban perampokan, pembunuhan, perkosaan dan
penghinaan. Mereka yang sama sekali tidak berdosa kehilangan harta milik, kehilangan rumah tinggal,
kehilangan kehormatan, bahkan kehilangan nyawa.
Melihat betapa ketatnya panjagaan terhadap istana dan seluruh penghuninya, Bi Moli dan Ouwyang
Toan tidak berani melakukan gerakan dan mereka seringkali mengadakan perundingan rahasia di luar
istana dengan Bu-eng-kiam Ouwyang Sek dan Bu-tek Sam-kui.
"Lalu kapan rencana kita dapat dilaksanakan? Kami sudah mempersiapkan anak-buah di kota raja dan
hal ini tidak dapat dilakukan terlalu lama. Kalau sampai ketahuan, tentu sebelum kita bergerak, pasukan
keamanan sudah akan melakukan penggerebekan dan, semua usaha akan gagal. Bahkan dari Kaisar
Cang Bu kami sudah mendapat berita bahwa selain beliau sudah mampersiapkan pasukannya, juga Kuisiauw
Giam-ong sudah berhasil mengerahkan para tokoh kang-ouw berikut anak buah mereka yang
berhasil diajak bergabung, untuk membantu kalau terjadi keributan di kota raja." kata Pak-thian-kui
yang sudah kehilangan kesabaran.
"Pak-thian-kui, semua pekerjaan harus dilaksanakan sebaik mungkin. Kalau tanya serampangan saja lalu
gagal, apa artinya?" Bu-eng-kiam Ouwyang Sek menegur orang pertama dari Bu-tek Sam-kwi itu yang
tadi nadanya menegur puterinya yang dianggap bekerja lambat dan belum juga siap.
Melihat Bu-eng-kiam marah, Bi Moli cepat berkata, "Sebaiknya kita tidak meributkan persoalan ini.
Ouwyang Kongcu benar. Memang penjagaan di istana amatlah ketatnya sehingga menyulitkan kami
untuk bergerak. Kalau kami nekat, tentu akan gagal. Akan tetapi, Pak-thian-kui juga benar. Persiapan
sudah dilakukan, kalau tidak cepat cepat gerakan dilakukan dan ketahuan, tentu semua akan gagal.
Sebaiknya kita mencari jalan terbaik bagaimana agar kita dapat cepat bergerak dan tidak sampai gagal."
Sejenak dalam ruangan itu menjadi hening.
Semua orang tenggelam dalam pikiran masing-masing, mencari jalan terbaik agar semua rencana
mereka dapat dilaksanakan. Bu-tek Sam-kui bertanggung jawab terhadap kaisar mereka yang tentu saja
menghendaki agar semua rencana berhasil baik, sedangkan bekas Kaisar Cang Bu juga tentu saja sudah
menanti saat terbaik yang sudah lama dinanti-nanti itu.
"Ada satu jalan yang kurasa paling baik untuk dilaksanakan," kata Kwan Hwe Li dan semua orang
memandang kepadanya penuh harap.
"Jalan apa itu, Mo-li? Cepat ceritakan!" kata Bu-eng-kiam Ouwyang Sek.
"Sudah kuperhitungkan baik-baik, kalau kami yang bertugas di istana harus menyerang Kaisar
sekeluarganya, hal itu amatlah sulitnya. Penjagaan amat ketat, bahkan kurasa, pengawal pribadi yang
baru dan kelihatan tidak meyakinkan itu, bukan merupakan lawan yang boleh dipandang ringan. Karena
itu sulit rasanya kalau sekaligus kita harus menyerang seluruh keluarga."
"Akan tetapi, Mo-li. Menurut Kaisar kami, kalau hanya membunuh kaisar kerajaan Chi saja tidak ada
gunanya, karena tentu akan segera diganti oleh seorang pangeran. itulah sebabnya mengapa kami
ditugaskan untuk membasmi seluruh keluarga. Dengan demikian, tentu pemerintahannya akan menjadi
kacau seolah ular tanpa kepala, dan dalam keadaan kacau tanpa adanya raja itulah pasukan akan mulai
menyerbu masuk.”
Kwan Hwe Li mengangguk-angguk. "Aku mengerti, dan kiranya hanya ada satu jalan, yaitu menawan
kaisar. Sebetulnya, menawan permaisuri jauh lebih mudah, akan tetapi kurang berguna. Sebaliknya,
kalau kita dapat menawan kaisar, kita tentu dapat melumpuhkan semua kekuatan di istana. Dengan
kaisar sebagai sandera, kita dapat memaksa semua menteri, panglima dan pangeran untuk menyerah.
Sandera itu dapat kita pergunakan untuk menangkapi seluruh keluarga kaisar!”
“Hebat! Engkau memang lihai dan pintar sekali, Bi Moli. Akan kami laporkan jasamu ini kepada kaisar
kami dan juga kepada Kaisar Ceng Bu agar kelak mereka tidak melupakan jasamu, Nah, kita laksanakan
saja seperti yang direncanakan Moli tadi."
Mereka lalu mangadakan perundingan, Bi Moli dan Ouwyang Toan akan melaksanakan penawanan
terhadap kaisar itu, dengan bantuan enam orang anggauta Thian-te Kui-pang yang menjadi pengawal.
Kalau mereka berdua telah berhasil menawan kaisar, maka mereka akan menggunakan kaisar sebagai
sandera untuk memasukkan semua anggauta Thian-te Kui-pang yang sudah berada di kota raja untuk
menguasai istana. Kesempatan itu pula akan dipergunakan oleh Bu-tek Sam-kui dan Bu-eng-kiam untuk
memasuki istana, memim pin pasukan Thian-te Kui-pang untuk menangkapi semua keluarga kaisar dan
sekutunya. Bahkan mereka telah menentukan harinya, yaitu tiga hari lagi ketika Kaisar Siauw Bian Ong
pergi ke kuil istana dan melakukan sembahyang bersama permaisuri. Saat itu memang tepat karena
kaisar dan permaisuri berada di satu tempat sehingga tentu saja Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan dapat
pula berada di sana dan bersama-sama mereka dapat melaksanakan penawanan itu. Kalau mungkin,
mereka bahkan dapat menawan kaisar dan permaisurinya, sedangkan anak buah Ouwyang Toan yang
enam orang dapat membantu melumpuhkan para pengawal lain yang hendak menghalangi gerakan
mereka. Mereka sudah memperhitungkan bahwa paling banyak akan ada tiga atau empat orang
pengawal pribadi kaisar dan Kwan Hwe Li yakin akan mampu mengatasi mereka, sedangkan Ouwyang
Toan akan menawan kaisar dilindungi anak buahnya yang penting, asal kaisar sudah jatuh ke tangan
mereka, tentu semua perlawanan akan dapat dihentikan dengan menjadikan kaisar itu seorang sandera
yang amat penting dan berharga.
Kuil istana pagi itu nampak meriah dan sibuk sekali. Para hwesionya mengenakan jubah bersih dan
wajah merekapun nampak segar berseri. Semua orang menyambut pagi itu dengan hati gembira karena
hari itu Kaisar Siauw Bian Ong dan permaisuri akan melakukan sembahyang leluhur di kuil istana. Jarang
sekali kaisar sendiri melakukan sembahyang di kuil dan setiap kali hal ini terjadi, para hwesio di kuil itu
merasa mendapat kehormatan besar. Kaisar Siauw Bian Ong memang pandai sekali mengambil hati
rakyat dari semua golongan. Dia bijaksana pula terhadap para hwesio di kuil ini sehingga para pendeta
itu juga kagum dan memujinya, tak pernah melalaikan menyebut nama sribaginda dalam sembahyangan
mereka mendoakan yang baik-baik bagi kaisar yang bijaksana itu.
Sejak pagi tadi, sebelum kaisar dan permaisuri pergi ke kuil itu, Ouwyang Toan telah sibuk bersama dua
belas orang anak buahnya, melakukan pembersihan, di kuil itu.
Hanya para hwesio saja yang diperkenankan berada di kuil. Para hwesio dipesan agar dalam sehari itu,
tidak seorangpun boleh berkunjung ke kuil, demi keamanan kaisar dan permaisuri. Para hwesio menaati
perintah perwira pasukan pengawal ini dan mereka sibuk mempersiapkan semua keperluan
sembahyang itu. Semua perlengkapan telah dipersiapkan, meja diberi tilam baru yang indah, bahkan
seluruh ruangan sembahyang telah dibersihkan dan dicat baru sejak beberapa hari yang lalu.
Lantainyapun mengkilap karena dipel sampai beberapa kali oleh para hwesio. Pendeknya, ruangan
sembahyang itu menjadi tempat yang bersih dan menyenangkan. Pot-pot bunga dengan yang mekar
semerbak menghiasi semua sudut ruangan. Sejak pagi, dupa harum dibakar sehingga ruangan itu berbau
harum dan terasa nyaman. Ouwyang Toan sengaja mengatur agar penjagaan di sebelah dalam ruangan
sembahyang dilakukan oleh enam orang anak buahnya sedangkan perajurit pasukan pengawal yang lain
berjaga di ruangan depan dan belakang. Setelah semua persiapan selesai, dia lalu melapor kepada Kaisar
Siauw Bian Ong yang sudah bersiap dengan permaisurinya.
Matahari sudah naik tinggi dan hawa udara tidak begitu dingin lagi katika Kaisar Siauw Bian Ong dan
permaisurinya berjalan melalui lorong di taman istana, menuju ke istana, yang berada di ujung taman, di
atas sebuah bukit buatan yang kecil. Kaisar dan permaisuri tidak mau duduk di joli, hanya terjalan kaki
karena pagi itu cerah dan sinar matahari hangat. Juga pemandangan di taman itu amat indahnya. Musim
bunga membuat taman itu nampak indah bukan main, juga jarak ke kuil tua itu tidaklah terlalu jauh.
(Bersambung jilid 17)
JILID 17
Karena kaisar dan permaisuri hanya pergi ke kuil istana, ke dalam lingkungan istana, maka penjagaan
tidaklah luar biasa ketatnya. Rombongan itu hanya terdiri dari kaisar, permaisuri, dua orang selir
terdekat dan tujuh orang gadis dayang saja. Tentu saja Bi Moli Kwan Hwe Li sebagai pengawal pribadi
permaisuri, tidak ketinggalan dan wanita cantik ini berjalan di belakang rombongan. Di belakang kaisar
dan permaisuri berjalan tiga orang pengawal pribadi, yaitu Koan Ji atau Kwa Bun Houw dan dua orang
pengawal lain. Koan Thai-kam sebagai kepala thai-kam, ikut pula dalam rombongan itu karena dia yang
akan mengatur sembahyangan itu bersama para hwesio kuil. Di depan, kanan kiri dan belakang nampak
pasukan pengawal terdiri dari duabelas orang, dipimpin oleh Ouwyang Toan.
Baik Bi Moli Kwan Hwe Li maupun Ouwyang Toan sama sekali tidak pernah menduga sedikit pun juga
bahwa semua rencana mereka dan yang mereka atur bersama Bu-tek Sam-kui, telah diketahui oleh Kwa
Bun Houw! Bersama Koan-thaikam, Bun Houw sudah mengatur siasat untuk menghadapi usaha
pemberontakan yang membahayakan keselamatan keluarga kaisar itu. Memang Bun Houw belum
mengetahui dengan tepat, tindakan apa yang akan dilakukan oleh Bi Moli dan Ouwyang Toan, akan
tetapi dia dan Koan Thai-kam telah menduga bahwa hari itu, saat Kaisar dan permaisuri bersembahyang,
merupakan saat yang amat gawat, dan mereka menduga bahwa tentu para pemberontak akan bergerak
pada saat itu. Koan Thai-kam sudah mengadakan kontak dengan panglima pasukan pengawal dan
keamanan, dan mata-mata telah disebar. Mata-mata ini yang melaporkan bahwa ada kurang lebih
seratus orang asing bukan penduduk kota raja yang nampak bersembunyi di sekitar pintu gerbang
istana, ada yang menyamar sebagai pedagang keliling, menjadi pengemis dan ada yang seperti
pelancong biasa. Keterangan tentang gerakan orang-orang asing ini didapatkan oleh komandan pasukan
dari para anggauta Hek-tung Kai-pang yang seperti biasa berkeliaran di kota raja. Karena mereka adalah
anggauta kai-pang, maka kehadiran mereka tidak mencurigakan orang, juga para anggauta Thian-te Kuipang
tak mencurigai mereka. Pada hal, para anggauta pengemis ini adalah orang-orang yang mengamati
gerak-gerik mereka!
Juga Bun Houw telah dapat menduga bahwa di antara dua belas orang perajurit pengawal, termasuk
yang pernah disuruh mengujinya, adalah kaki tangan komplotan itu, maka diapun sudah bersikap
waspada. Agar jangan sampai mencurigakan Ouwyang Toan dan Bi Moli, maka penjagaan terhadap
kaisar dan permaisuri hanya dilakukan oleh dia dan dua orang pengawal pribadi kaisar. Akan tetapi,
telah diatur dengan rapi agar banyak pengawal yang setia terhadap kaisar, mengatur barisan pendam di
sekitar tempat sembahyang itu.
Setelah tiba di kuil, para hwesio menyambut kaisar dan permaisuri dengan sikap hormat. Semua
berlangsung seperti biasa, tidak ada perubahan sedikitpun dan ini memang dikehendaki Koan-thaikam
agar tidak mencurigakan komplotan pemberontak. Dia bersama lima orang hwesio melayani kaisar dan
permaisuri, menemani mereka memasuki ruangan sembahyang, ditemani pula oleh dua orang selir dan
tujuh orang gadis dayang yang setelah masuk ke ruangan sembahyang lalu duduk bersimpuh di
pinggiran. Kwa Bun Houw dan dua orang rekannya ikut pula masuk, akan tetapi merekapun berdiri di
pinggiran. Demikian pula Ouwyang Toan dan enam orang pengawal ikut masuk dan berjaga di pintu
ruangan.
Bi Moli ikut pula masuk dan ia yang paling dekat dengan kaisar dan permaisuri dan dua orang selir yang
kini sudah berlutut di depan meja sembahyang, dilayani oleh lima orang hwesio yang menyerahkan hioswa
(dupa biting) untuk sembahyang, dan menyerahkan alat penyulut lilin yang akan dinyalakan Kaisar.
Saat yang dinanti-nanti itu tiba. Saat ini memang yang sudah ditentukan oleh Bi Moli dan Ouwyang Toan
untuk bertindak. Pada saat kaisar hendak menyalakan lilin dan permaisuri beserta dua orang selir
berlutut dan menerima hio-swa dari para hwesio. Saat itu memang amat baik karena tiga orang
pengawal pribadi kaisar tidak berani mendekat, dan juga para pengawal yang bukan kaki tangan mereka
berada di luar. Sudah mereka rencanakan bahwa Ouwyang Toan akan menangkap kaisar dan Bi Moli
menangkap permaisuri, sedangkan enam orang kaki tangan mereka menjaga agar tidak ada yang berani
menghalangi perbuatan kedua orang itu menawan kaisar dan permaisuri. Kalau kaisar dan permaisuri
sudah ditawan, maka segalanya akan menjadi mudah!
Dan memang perhitungan itu tepat sekali. Ketika tiba-tiba sekali Ouwyang Toan dan Bi Moli meloncat ke
depan sambil mencabut pedang, Bun Houw sempat dibuat tertegun.
Tak disangkanya sama sekali bahwa kedua orang itu akan bergerak pada saat yang khidmat itu, di mana
kaisar dan permaisuri baru mulai melakukan sembahyang. Juga kedua orang rekannya terbelalak.
Ouwyang Toan dengan pedang di tangan meloncat ke dekat kaisar, dan Bi Moli juga meloncat ke dekat
permaisuri sambil menendang seorang selir yang menghalang di samping sehingga selir itu terguling
sambil menjerit.
"Semua diam! Kaisar dan Permasuri kami tawan!” kata Ouwyang Toan dengan suara nyaring. Enam
orang pengawal yang menjadi kaki tangannya juga tiba-tiba mencabut pedang dan hendak melindungi
dua orang itu. Akan tetapi, terjadilah hal yang sama sekali di luar perhitungan Ouwyang Toan dan Bi
Moli. Lima orang hwesio yang tadinya melayani kaisar, permaisuri dan dua orang selir, yang nampaknya
adalah hwesio-hwesio yang lemah dan lembut, tiba-tiba saja mereka itu menerjang ke arah Bi Moli dan
Ouwyang Toan!
Mereka yang lebih dekat dengan kaisar dan permaisuri sehingga mereka dapat menyerang sambil
membelakangi kaisar dan permaisuri. Terkejutlah Ouwyang Toan ketika hwesio yang tadi menyerahkan
alat penyulut lilin kepada kaisar tiba-tiba menyambutnya dengan serangan tusukan alat penyulut lilin
itu. Dan Bi Moli juga terkejut ketika dua orang hwesio sudah menyerangnya dari depan. Karena para
hwesio itu menyerang Ouwyang Toan dan Bi Moli dari depan dan sekaligus menghalangi mereka
menawan kaisar dan permaisuri, terpaksa kedua orang pengkhianat itu lalu menggerakkan pedang
mereka menyerang para hwesio itu! Dan mereka semakin terkejut. Kiranya mereka bukanlah hwesiohwesio
lemah, karena mereka mampu melakukan perlawanan dengan gerakan yang cukup gesit dan
tangkas.
Biarpun akhirnya lima orang hwesio itu roboh mandi darah oleh pedang Ouwyang Toan dan Bi Moli
Kwan Hwe Li, namun telah memberi waktu yang cukup bagi Kwa Bun Houw untuk turun tangan. Dia dan
dua orang rekannya berloncatan.
"Amankan Sribaginda!" teriak Bun Houw kepada dua orang rekannya. Dua orang pengawal pribadi kaisar
itu lalu menggandeng kaisar dan permaisuri, menarik mereka keluar dari ruangan sembahyang itu,
sedangkan dua orang selir itu menangis dan lari ke sudut ruangan bersama para dayang. Kini tinggal Bun
Houw seorang yang berdiri di pintu samping dari mana kaisar tadi menyelamatkan diri dan dia sudah
berdiri tegak dengan pedang di tangan.
"Si Pedang Kilat ... !" Ouwyang Toan berseru kaget bukan main melihat pedang yang berkilauan di
tangan Bun Houw itu. Juga Bi Moli yang telah merobohkan tiga orang hwesio itu terkejut mendengar
teriakan yang mengandung rasa gentar yang amat sangat dari kekasihnya itu.
"Siapa ...?!?" tanyanya.
"Kwa Bun Houw ... murid Tiauw Sun Ong ...!" kata Ouwyang Toan dan diapun sudah memberi isarat
kepada enam orang anggauta Thian-te Kui-pang untuk menerjang dan mengeroyok Bun Houw. Enam
orang itu-pun maklum bahwa usaha mereka gagal, maka dengan nekat mereka lalu menggerakkan
senjata dan menerjang pemuda yang memegang sebatang pedang yang berkilauan itu.
"Moli, kita lari!" teriak Ouwyang Toan kepada kekasihnya dan mereka berloncatan keluar pintu ruangan
sembahyang. Akan tetapi, betapa kaget hati mereka melihat bahwa tempat itu telah terkepung ratusan
orang pasukan keamanan istana yang entah bagaimana tahu-tahu telah berada di situ. Tahulah mereka
bahwa kesemuanya telah gagal sama sekali. Kekecewaan membuat mereka menjadi marah, ditambah
lagi dengan rasa takut. Mereka menumpahkan semua kesalahannya kepada Bun Houw dan seperti ada
persetujuan tanpa kata, keduanya membalik dan meloncat masuk lagi untuk membuat perhitungan
dengan Kwa Bun Houw! Ouwyang Toan memang membenci pemuda itu, dan Bi Moli mengingat bahwa
pemuda itu adalah murid Tiauw Sun Ong, maka iapun amat membencinya!
Sementara itu, melihat dia diserang oleh enam orang kaki tangan Ouwyang Toan, Bun Houw tidak mau
membuang banyak waktu melayani mereka. Dia tahu bahwa kaisar dan permaisuri sudah selamat, dan
dua orang pengkhianat itu tidak akan mungkin dapat lolos dari tempat itu, maka diapun menggerakkan
pedang di tangannya. Enam orang itu rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi karena mereka
merupakan para anggauta di-lihan dari Thian-tc Kui-pang. Akan tetapi, berhadapan dengan. Si Pedang
Kilat, enam orang itu seperti berhadapan kakek guru mereka! Nampak gulungan sinar pedang
berkelebatan menyilaukan mata dan satu demi satu, enam orang itu roboh dan tewas seketika.
Nampaknya saja mereka tidak terluka, saking tajamnya pedang pusaka itu sehingga ketika menembus
dada atau leher lawan, hampir tidak meninggalkan bekas dan hanya diketahui orang itu terluka setelah
darah mengalir keluar dan orang itu tewas seketika!
Ketika Ouwyang Toan dan Bi Moli meloncat kembali memasuki ruangan sembahyang, mereka
terbelalak. Di samping mayat lima orang hwesio yang sebenarnya merupakan pengawal-pengawal yang
menyamar, nampak mayat enam orang anggauta Thian-te Kui-pang itu rebah malang melintang dalam
keadaan tewas. Begitu cepatnya enam orang itu tewas dan hal ini saja sudah membuktikan betapa
lihainya pemuda yang masih berdiri dengan pedang berkilauan di tangan itu.
"Kwa Bun Houw! Engkau selalu menjadi penghalang bagiku dan selalu memusuhiku!” bentak Ouwyang
Toan marah.
"Engkau keliru, Ouwyang Toan. Engkau tentu tahu bahwa aku menentang siapa saja yang melakukan
kejahatan, tak terkecuali engkau. Adalah engkau dan Bi Moli yang sungguh tidak tahu diri, tak mengenal
budi. Sribaginda telah memberikan kedudukan yang baik bagi kalian, akan tetapi kalian bahkan
mengkhianati dan bersekutu dengan pemberontak dan dengan kerajaan Wei."
'Bocah she Kwa, hari ini engkau harus menebus dosa gurumu kepadaku!" Bi Moli membentak dan ia
sudah menggerakkan pedangnya. Ouwyang Toan juga membantu kekasihnya itu dan dia sudah
menerjang ke depan dengan pedangnya pula. Akan tetapi, Bun Houw memutar Lui-kong-kiam dan
nampak gulungan sinar yang menyilaukan mata dan dua orang itu terpaksa meloncat keluar dari
ruangan itu karena tempat itu terlalu sempit dengan adanya sebelas sosok mayat yang bergelimpangan.
Bun Houw juga menerjang keluar karena diapun menghendaki agar dapat melawan kedua orang
musuhnya itu di tempat yang lebih luas.
Melihat dua orang pengkhianat itu berloncatan keluar, disusul oleh pengawal pribadi yang baru, para
pengawal siap untuk mengepung dan mengeroyok.
"Tahan, jangan keroyok, biarkan Si Pedang Kilat sendiri menghadapi dua orang itu." kata Kaisar Siauw
Bian Ong.
Kaisar ini tadi telah mendapat laporan yang singkat dan jelas dari Koan Thai-kam tentang diri Kwa Bun
Houw yang dijuluki Si Pedang Kilat, mendengar pula bahwa dia dan Hek-tung Kai-pang mengatur agar
pendekar itu melindungi kaisar, kemudian tentang persekutuan pemberontak dan betapa dia sudah
mengadakan kontak dengan para panglima untuk menanggulangi pengkhianatan itu. Juga dia
beritahukan mengapa dia tidak melapor lebih dahulu kepada kaisar, yaitu karena kedua orang
pengkhianat itu telah mendapatkan kedudukan, maka dia khawatir kalau-kalau kaisar tidak percaya
begitu saja tanpa adanya bukti. Kaisar dapat memaklumi dan mendengar bahwa Kwan Bun Houw yang
berjuluk Si Pedang Kilat adalah seorang pendekar yang memiliki ilmu silat tinggi, maka melihat kedua
orang pengkhianat itu kini bertanding melawan Si Pedang Kilat, kaisar ini yang juga suka ilmu silat ingin
sekali menontonnya.
"Kalau dia terdesak, barulah kalian boleh membantunya," pesannya kepada para pengawal pribadi dan
para pengawal yang mengerti apa yang dikehendaki junjungan mereka, mengangguk dan mereka siap
dengan senjata di tangan untuk membantu kalau-kalau Si Pedang Kilat terdesak.
Kaisar lalu memberi isarat kepada panglima pasukan keamanan untuk mendesak, lalu berkata,
"Panglima, cepat kerahkan pasukan dan tangkapi semua anggauta gerombolan Thian-te Kui-pang yang
berkeliaran di kota raja."
Panglima itu memberi hormat lalu mengundurkan diri untuk melaksanakan perintah itu, berkat latihan
yang diterimanya dari Tiauw Sun Ong, gurunya yang buta, Kwa Bun Houw telah dapat melatih
pendengarannya menjadi amat tajam, pengganti kedua mata bagi gurunya dan bagi dia, membantu
pekerjaan mata, pendengarannya menjadi amat peka dan dengan kepekaan inilah dia dapat pula
mendengar perintah kaisar kepada para pengawalnya tadi, walaupun dia menghadapi dua lawan yang
tangguh. Bun Houw maklum bahwa tentu kaisar telah mendengar dari Koan Thai-kam siapa dia, maka
kini kaisar ingin menyaksikan pertandingan yang seru, maka dia-pun segera mengerahkan tenaganya
dan memutar Lui-kong-kiam dengan dahsyat sekali.
Bi Moli Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan sudah maklum bahwa mereka telah terkepung ratusan orang
pasukan pengawal. Dengan gagalnya mereka menawan kaisar dan permaisuri, mereka tidak dapat
mengandalkan apapun untuk melindungi diri, maka mereka menjadi gelisah, kecewa dan akhirnya
membuat mereka menjadi nekat. Semua kemarahan mereka tumpahkan kepada Kwa Bun Houw yang
mereke anggap sebagai penghalang dan penghancur semua rencana mereka yang sudah tersusun rapi.
Bi Moli Kwan Hwe Li mengeluarkan suara melengking nyaring dan ia menggerakkan pedangnya secara
dahsyat karena selain didorong oleh tenaga sin-kang, juga ada kekuatan sihir dalam gerakannya itu.
Karena maklum akan kelihaian murid bekas pacarnya ini, Bi Moli mengerahkan seluruh tenaga sin-kang
dan sihirnya untuk membunuh lawan. Biarpun ia tahu bahwa ia tidak akan lolos dari hukuman, namun
setidaknya ia harus dapat melampiaskan kemarahannya dengan membunuh Kwa Bun Houw. Demikian
pula dengan Ouwyang Toan. Pemuda inipun sudah putus asa, maklum bahwa dia tidak akan mungkin
bebas dari hukuman mati, maka dia ingin lebih dulu membunuh Bun Houw sebelum mengamuk sampai
titik darah terakhir.
Si Pedang Kilat Kwa Bun Houw juga maklum bahwa dia menghadapi dua orang lawan yang tangguh,
tidak berani memandang ringan. Dia tahu bahwa Bi Moli Kwan Hwe Li adalah seorang datuk sesat yang
tingkat kepandaiannya sudah amat tinggi, setingkat dengan kepandaian para datuk seperti Suma Koan,
Ouwyang Sek, Kwan Im Sianli, bahkan tidak begitu jauh selisihnya dengan tingkat gurunya, Tiauw Sun
Ong. Kalau saja dia tidak secara kebetulan minum sari Akar Bunga Gurun Pasir sehingga tubuhnya
menjadi kokoh kuat dan tenaga sin-kangnya meningkat secara luar biasa, dan kemudian tidak
menemukan ilmu Im-yan Bu-tek Cin-keng secara kebetulan pula, kiranya akan sukar baginya untuk
dapat menandingi Bi Moli. Apalagi di situ terdapat pula Ouwyang Toan yang mengeroyoknya dan putera
datuk Bu-eng-kiam Ouwyang Sek majikan. Lembah Bukit Siluman inipun termasuk seorang yang
tangguh.
Kwa Bun Houw mengandalkan pedang pemberian suhunya. Didorong oleh kekuatan sin-kangnya yang
ampuh, diapun menyambut kedua orang lawannya dan sinar pedangnya bergulung-gulung menyilaukan
mata, membuat kagum Kaisar Siauw Bian Ong dan pari pengawal dan penonton lainnya.
"Roboh kau ... !" Bi Moli Kwan Hwe Li menjerit dengan suara melengking dan di antara para perajuiit
keamanan yang mendengar lengking suara yang mengandung tenaga sihir yang berpengaruh dan
berwibawa itu. ada yang merasa kedua lutut mereka lemas dan kalau tidak saling berpegangan, tentu
mereka itu akan roboh terguling!
Demikian hebatnya pengaruh yang terkandung dalam lengking itu. Apalagi terhadap Bun Houw yang
dijadikan sasaran, dan bentakan itu diikuti pula oleh tusukan pedang yang meluncur bagaikan anak
panah lepas dari busurnya. Sungguh merupakan serangan dahsyat yang amat berbahaya, diperhebat
oleh kecepatan gerakan, kekuatan sin-kang, dan kekuatan sihir!
Namun, kekuatan sihir itu tidak ada artinya bagi Bun Houw. Lewat begitu saja seperti angin kencang
meniup batu karang. Pemuda ini maklum bahwa di antara kedua orang lawannya, yang paling tangguh
adalah Bi Moli, maka kepada Iblis Wanita Cantik inilah dia harus mencurahkan perhatian dan
perlawanannya. Pada saat itu, Ouwyang Toan juga sudah membacokkan pedangnya dari samping ke
arah kepalanya. Dengan gerakan ringan dia memutar tubuh sehingga terlepas dari bacokan pedang, dan
pedangnya sendiri dengan cepat menyambar ke arah pergelangan tangan Bi Moli yang menusuknya,
gerakan itu memutar dari samping. Bi Moli terkejut, sama sekali tidak mengira bahwa tusukannya akan
disambut oleh bacokan dari samping yang mengancam pergelangan tangannya. Kalau ia melanjutkan
serangan, maka sebelum ujung pedangnya mengenai dada lawan, lebih dulu pergelangan tangannya
akan terbabat pedang yang mengeluarkan sinar kilat itu. Terpaksa ia menarik kembali tusukannya.
Ouwyang Toan yang serangannya mengenai tempat kosong, menjadi penasaran sekali karena serangan
itu dapat dihindarkan sedemikian mudahnya. Dia menyerang lagi, diikuti oleh Bi Moli dan kedua orang
ini agaknya hendak berlumba untuk dapat lebih dulu merobohkan Bun Houw.
Bun Houw memperlihatkan keringanan tubuhnya dan tubuh itu seperti dibungkus gulungan sinar kilat
pedangnya dan menyusup di antara sambaran kedua pedang lawan, dan dari gulungan sinar pedangnya
kadang mencuat sinar bagaikan kilat menyambar ke arah lawan. Terjadilah serang menyerang yang
amat seru dan menyilaukan mata. Kaisar Siauw Bian Ong tersenyum, mengangguk-angguk dan mengelus
jen gotnya. Diam-diam dia amat mengagumi Kwa Bun Houw, walapun ada pula perasaan menyesal
mengapa dua orang seperti Ouwyang Toan dan Bi Moli, yang memiliki kepandaian demikian hebat pula,
telah mengkhianatinya. Sungguh patut disayangkan ilmu kepandaian seperti itu dikuasai orang-orang
yang menjadi hamba nafsu angkara murka.
Pertandingan itu memang amat hebat. Jarang mereka semua yang hadir di situ menyaksikan
pertandingan sehebat itu, bukan sekedar pengujian ilmu seperti yang sering terjadi di istana, melainkan
suatu pertandingan yang merupakan perkelahian sungguh-sungguh! Setiap kali sinar pedang
menyambar berarti tangan maut yang haus darah mencari korban.
Diam-diam Kwa Bun Houw mengeluh. Sudah lewat dari tiga puluh jurus, belum juga dia mampu
merobohkan dua orang lawannya walaupun mereka sendiri juga tidak pernah dapat mendesaknya. Dia
maklum bahwa kalau mengadu ilmu pedang, akan sukarlah baginya untuk dapat merobohkan mereka.
Dengan mengeroyok, mereka benar-benar merupakan lawan yang amat tangguh dan sukar dirobohkan.
Ilmu pedangnya hanyalah ilmu pedang Lui-kong-kiamsut (Ilmu Pedang Kilat) yang dia pelajari dari
gurunya, dan hanya karena dia memiliki kelebihan sin-kang dari pengaruh Akar Bunga Gurun Pasir
sajalah maka dia mampu mengimbangi kedua orang pengeroyoknya. Akan tetapi dia merasa yakin
bahwa kalau mereka mengadu ilmu tangan kosong, dengan Im-yang Bu-tek Cin-keng, dia pasti akan
lebih unggul. Dia sejak tadi tidak berani mengadu pedangnya secara langsung sambil mengerahkan sinkang.
Dengan cara itu, tentu pedang kedua orang pengeroyoknya akan patah-patah, seperti yang sudah
sering dia lakukan dengan Lui-kong-kiam itu. Akan tetapi, sekali ini dia merasa khawatir kalau-kalau
pedang pusaka pemberian gurunya itu akan menjadi rusak karena dia menduga bahwa kedua orang
lawan ini tentu juga memegang pedang pusaka yang ampuh.
Kemudian dia teringat akan persiapan persekutuan pemberontak untuk menyerbu kota raja seperti yang
didengarnya dari Koan Thai-kam. Hal ini membuat dia terpaksa harus cepat mengakhiri pertandingan itu
agar perhatian dapat dialihkan untuk menghadapi persiapan para pemberontak di luar kota raja. Maka,
secara tiba-tiba saja Bun Houw mengubah gerakannya. Kini dia mengerahkan seluruh tenaganya dan
menggunakan pedangnya untuk langsung menyambut pedang lawan, sengaja mengadukan pedangnya
dengan pedang lawan.
Terdengar bunyi nyaring berdentang dua kali dan kedua orang lawannya itu mengeluarkan teriakan
kaget. Bi Moh meloncat ke belakang, demikian pula Ouwyang Toan dan mereka memandang ke arah
tangan kanan masing-masing yang kini hanya memegang sebatang pedang buntung! Ternyata pedang
mereka telah patah oleh Lui-kong-kiam yang ampuh. Hal ini sesungguhnya bukan terjadi hanya karena
keampuhan pedang di tangan Bun Houw karena sesungguhnya, pedang kedua orang lawan itupun
terbuat dari bahan yang kuat dan ampuh. Akan tetapi, pedang Bun Houw itu disaluri tenaga sin-kang
yang jauh lebih kuat, maka getarannya tak tertahan oleh kedua pedang lawan sehingga menjadi patah.
Bun Houw menyimpan pedangnya setelah dengan lega melihat bahwa pedang pusakanya tidak rusak
dan kini dia menghadapi kedua orang lawan dengan tangan kosong. Mereka berdua juga melemparkan
sisa pedang ke atas tanah dan mereka siap melanjutkan perkelahian itu dengan tangan kosong. Kembali
Kaisar Siauw Bian Ong memandang kagum dan memberi isarat kepada para pengawalnya agar jangan
mencampuri. Dia sedang menikmati pertandingan yang jarang dilihatnya itu.
Bi Moli dan Ouwyang Toan lega melihat Bun Houw menyimpan pedangnya yang ampuh itu, Hal itu
mereka anggap sebagai suatu kesombongan dari Bun Houw, maka keduanya mempergunakan
kesempatan setelah Bun Houw menyarungkan kembali pedangnya untuk cepat menerjang dengan
pukulan-pukulan mereka.
Akan tetapi sekali ini Bun Houw sudah siap dengan ilmunya yang amat hebat yaitu Im-yang Bun-tek Cinkeng.
Bahkan gurunya sendiri tidak mampu menandingi ilmu ini! Begitu melihat kedua orang lawan
sudah menyerang, Bun Houw segera menggerakkan kaki tangannya secara aneh dan akibatnya hebat.
Kedua orang lawan itu seperti terdorong badai yang amat kuat, membuat mereka terjengkang dan
terguling-guling. Keduanya tentu saja terkejut bukan main, akan tetapi karena tidak melihat lain jalan,
keduanya sudah mengeluarkan hentakan nyaring dan menerjang lagi. Untuk kedua kalinya, mereka
seperti menyerang gelombang dahsyat yang membuat mereka kembali terjengkang dan terbanting.
Mereka bangkit lagi, menyerang lagi roboh lagi dan hal ini berulang sampai liga kali dan Ouwyang Toan
tidak mampu bangkit kembali karena kehabisan tenaga dan sudah terluka dalam. Bi Moli masih terus
menyerang mati-matian akan tetepi dengan menggunakan It-sin-ci (Satu Jari Sakti) Bun Houw berhasil
merobohkannya dalam keadaan tertotok dan tidak mampu bergerak lagi. Sorak-sorai menyambut
kemenangan Kwa Bun Houw, Kaisar Siauw Bian Ong kagum bukan main karena ternyata pemuda itu
tidak membunuh kedua orang lawannya, hanya membuat mereka tak berdaya! Kini maklumlah kaisar
itu bahwa kalau dia menghendaki agaknya pemuda itu sudah sejak tadi dapat membunuh kedua orang
lawannya. Karena tidak ingin membunuh itulah yang membuat pertandingan berlangsung lebih lama.
Kaisar itupun memerintahkan petugas untuk menangkap kedua orang itu dan menjebloskan mereka
kepenjara untuk menanti diadili kelak.
Kwa Bun Houw kini menghadap kaisar dan berlutut. Kaisar Siauw Bian Ong tersenyum, “Orang muda
yang gagah, kami sungguh bersukur bahwa negara kita mempunyai seorang pendekar seperti engkau
yang gagah perkasa dan bijaksana. Kami ingin melihat wajahmu yang aseli."
Bun Houw terpaksa melepaskan penyamarannya, mencabut alis palsu dan juga kedok tipis seperti kulit
yang menutupi mukanya, monggosok-gosok cat dan nampaklah wajah aselinya. Oleh perintah kaisar, dia
mengangkat mukanya dan kaisar beserta permaisurinya melihat wajah seorang pemuda yang cukup
tampan dan gagah.
"Kwa Bun Houw, kami berterima kasih kepadamu dan kami ingin memberi hadiah yang sesuai dengan
kehendak hatimu. Katakanlah, apa yang kau kehendaki? Kedudukan? Atau harta benda?"
"Ampun, Yang Mulia. Hamba sama sekali tidak mengharapkan hadiah dan imbalan, karena apa yang
hamba lakukan ini hanya merupakan suatu kewajiban hamba menentang segala bentuk kejahatan.
Hamba hanya dimintai bantuan oleh Hek-tung Lo-kai dan Koan Thai-kam." dan maklumlah dia bahwa
pemuda itu memang seorang pendekar sejati yang tidak mempunyai keinginan demi kesenangan atau
kepentingan diri sendiri. Apa yang diajukan oleh seorang pendekar sejati semata-mata membela
kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan, tanpa pamrih sedikitpun.
"Hemm, biarlah kita bicarakan lagi hal ini setelah segalanya selesai. Kita masih harus membasmi para
pemberontak yang berkeliaran di kota raja, kaki tangan kerajaan Wei, dan juga memadamkan
pemberontakan yang dikobarkan oleh bekas kaisar Cang Bu."
Pada saat itu, komandan pasukan keamanan yang bertugas membasmi para anggauta Thian-te Kui-pang
yang berkeliaran di luar pintu gerbang istana, datang menghadap dan melapor kepada Kaisar bahwa
usahanya gagal karena semua anggauta Thian-te Kui-pang telah melarikan diri dan pasukannya hanya
berhasil menangkap tiga orang saja!
"Bawa mereka ke sini! Kami ingin mendengar keterangan mereka tentang ikut campurnya kerajaan Wei
dalam pemberontakan ini!" perintah kaisar penasaran.
"Ampun, Yang Mulia. Begitu tertawan, tiga orang anggauta Thian-te Kui-pang itu membunuh diri dengan
menelan sebutir racun.”
Kaisar mengepal tinju, "Kirim pasukan dan tundukkan pemberontak bekas kaisar yang tak tahu diri itu.
Kami sengaja mengalah dan tidak mengejarnya, akan tetapi dia malah menghimpun pasukan dan
hendak memberontak!"
"Yang Mulia, biar hamba yang melakukan pengejaran terhadap Bu-tek Sam-kui yang memimpin Thian-te
Kui-pang." kata Bun Houw.
Setelah kaisar menyatakan persetujuannya, Bun Houw meninggalkan istana dan diapun melakukan
pengejaran ke sarang Thia-te Kui-pang, di daerah tak bertuan, yaitu di dusun Tai-bun. Dia sudah
mendengar tentang dusun ini yang dikuasai oleh Thian-te Kui-pang, sesuai dengan petunjuk yang
diperolehnya dari Koan Thai-kam.
***
Setelah tiba di luar kota raja, Bun Houw bukan langsung pergi ke sarang Thian-te Kui-pang, melainkan
menuju ke Kui-cu, ke lembah sungai untuk mengunjungi bekas kaisar Cang Bu! Bagaimanapun juga,
kaisar itu adalah bekas kaisar yang kalah perang dan Bun Houw sama sekali tidak dapat menyalahkan
kaisar ini kalau hendak berusaha merebut kembali tahta kerajaan yang telah direbut oleh Kaisar Siauw
Bian Ong yang mendirikan kerajaan Chi. Dia tidak hendak mecampuri urusan perebutan kekuasaan itu.
Akan tetapi, dia merasa tidak enak mendengar bahwa bekas Kaisar Cang Bu bersekutu dengan kerajaan
Wei di utara. Ini berbahaya sekali karena mungkin saja kelak kerajaan Wei akan menguasai kerajaan di
selatan. itulah sebabnya mengapa dia kini melakukan perjalanan cepat ke pusat gerakan yang dilakukan
bekas kaisar itu, mendahului pasukan yang dikirim Kaisar Siauw Bian Ong untuk membasmi
pemberontakan ini. Kalau teringat kepada Liu Kiok Lan, puteri adik bekas kaisar itu, dia merasa kasihan
karena kalau tempat itu diserbu, tentu gadis bangsawan itu akan menjadi korban pula. Dia ingin
menyadarkan bekas Kaisar Cang Bu agar tidak bersekutu dengan kerajaan Wei, dan agar cepat
melarikan diri sebelum terlambat.
Pada saat itu, bekas kaisar Cang Bu sudah mendengar laporan dari seorang mata-matanya yang
ditugaskan mengamati keadaan di kota raja bahwa usaha membunuh atau menawan kaisar telah gagal!
Bahkan mata-mata itu mengabarkan betapa orang-orang Thian-te Kui-pang yang tadinya siap di kota
raja, telah pula melarikan diri setelah mendengar kegagalan itu. Juga Suma Koan dan puteranya, Suma
Hok, yang tadinya memimpin orang orang kang-ouw dan anak buah mereka sendiri, bersiap-siap untuk
membantu gerakan di kota raja kalau penawanan terhadap kaisar berhasil, terpaksa mengundurkan diri
dan ayah beserta puteranya itu kini telah kembali ke Kui-cu. Melihat Suma Koan dan Suma Hok kembali
dengan wajah lesu, bekas kaisar Cang Bu mengepal tinju dan membanting-banting kaki. "Celaka, kenapa
sampai gagal? Dan kenapa pula paman Suma pulang dengan tangan hampa? Semestinya paman
membantu usaha di dalam istana itu sampai berhasil! Ah, aku telah mempercayakan urusan penting
kepada orang-orang yang tak dapat diandalkan.”
Kaisar Cang Bu benar-benar merasa menyesal sekali karena kegagalan ini memusnakan harapannya
untuk dapat menguasi kembali kerajaan yang telah dirampas oleh Siauw Bian Ong.
Kui-siauw Giam-ong mengerutkan alisnya. Dia memang tadinya tidak begitu ingin mencampuri urusan
pemberontakan. Hanya karena puteranya telah menjadi adik ipar bekas kaisar itu maka dia mendapat
semangat untuk ikut meraih kedudukan yang tinggi. Kini semua telah gagal dan dia kehilangan
semangat. Dia menghela napas panjang.
"Sudahlah, Liu-kongcu. Saya tidak mempunyai semangat lagi dan akan pulang ke tempat tinggalku.
Selamat tinggal!" Sebelum bekas kaisar itu sempat menjawab, kakek kurus itu telah berkelebat dan
pergi dari tempat itu. Puteranya, Suma Hok, maklum bahwa ayahnya tidak pulang karena mereka tadi
telah bersepakat untuk bergabung dengan Bu-tek Sam-kui dan mencari kedudukan di kerajaan Wei, di
utara sana! Suma Hok sendiri lalu memasuki perkemahan di mana isterinya, Liu Kiok Lan, telah
menantinya.
Seolah tidak melihat isterinya yang cantik, Suma Hok langsung saja mengumpulkan pakaian dan barang
berharga, berkemas seperti orang yang hendak melakukan perjalanan jauh. Melihat ini, Liu Kiok Lan
mengerutkan alisnya dan menghampiri suaminya yang sedang berkemas.
"Aku mendengar bahwa usaha di kota raja itu gagal. Benarkah itu, suamiku?"
Tanpa menoleh Suma Hok menjawab, "Benar. Sialan! Hancurlah semua cita-citaku."
Hening sejenak. Suma Hok tetap saja mengumpulkan semua barang berharga, emas permata, sisa
kekayaan yang dibawa dari istana oleh Liu Kiok Lan ketika lari mengungsi, memasukkan semua itu ke
dalam buntalan pakaian.
"Engkau hendak mengajak aku pergi ke manakah?" tanya isterinya.
"Siapa yang hendak mengajak engkau pergi? Aku akan pergi sendiri!" jawab Suma Hok.
Liu Kiok Lan terkejut dan kerut di keningnya semakin dalam. "Apa maksudmu? Engkau mengemasi
semua barang, termasuk perhiasan dan barang berharga milikku, dan engkau akan meninggalkan aku?"
Kini Suma Hok membalik dan isterinya terkejut melihat wajah yang tampan itu kini berubah seperti iblis,
begitu bengis dan kasar. “Sialan! Setelah semua yang kulakukan, hanya barang-barang ini yang
kudapatkan! Sungguh rugi besar selama berbulan-bulan ini aku memaksa diri tinggal di sini dan
menghambakan diri kepada bekas kaisar yang ternyata kini gagal segala-galanya. Huh!"
Wajah Liu Kiok Lan menjadi pucat.
'"Kau ... kau ...! Bukankah engkau telah menjadi suamiku dan aku ini isterimu? Dan kau mengatakan
semua cita-citamu sia-sia? Dan aku ini kau anggap apa? Kalau memang hendak pergi, tinggalkan semua
barangku!"
"Ha-ha-ha, barang-barang ini untuk imbalan semua jasaku! Kalau bukan karena aku, engkau akan
menjadi seorang gadis yang ternoda aib, gadis yang bukan perawan lagi. Tadinya, aku mengharapkan
untuk menjadi seorang yang berkedudukan, akan tetapi melihat keadaannya sekarang, kakakmu sudah
tidak ada harapan. Untuk apa aku harus merendahkan diri lebih lama lagi di sisimu?”
“Suma Hok!" Liu Kiok Lan membentak marah dan menudingkan telunjuknya ke arah muka suaminya.
"Setelah semua apa yang kaulakukan terhadap diriku, dan semua itu kuterima dengan perasaan hancur
namun terpaksa kudiamkan saja demi menjaga nama baik keluarga kami, dan engkau sekarang hendak
meninggalkanku begitu saja? Setelah engkau membunuh Paman Pouw Cin yang setia, kemudian
melakukan fitnah pula kepadanya, kemudian engkau membohongi kakakku dan aku, engkau kini tidak
mau bertanggung jawab? "
Suma Hok terbelalak. "Apa ...? Apa yang kaumaksudkan ...?"
Sebelum Kiok Lan menjawab, terdengar langkah kaki dan muncul seorang pengawal sehingga suami
isteri yang sedang bertengkar itu menahan kemarahan mereka dan menghentikan pertengkaran.
"Ada keperluan apa engkau datang ke sini tanpa dipanggil?" bentak Suma Hok marah.
"Maaf, tai-hiap. Saya hanya ingin mengabarkan bahwa pemuda yang dulu pernah menjadi buronan,
yang bernama Kwa Bun Houw itu sekarang datang dan bercakap-cakap dengan Sribaginda."
Diam-diam Suma Hok terkejut bukan main, sebaliknya Kiok Lan yang mendengar disebutnya nama
pendekar itu, nampak girang.
"Pergilah kami tidak ingin diganggu!”' kata Suma Hok dan pengawal itu lalu pergi. Setelah dia pergi,
Suma Hok menutupkan kembali daun pintu kamarnya dan menghadapi isterinya.
"Sekarang katakan, apa maksudmu dengan mengatakan semua tadi? Engkau bilang aku melakukan
fitnah kepada Paman Pouw Cin? Apa maksudmu?"
"Kaukira aku dapat percaya begitu saja ketika dahulu itu engkau mengatakan bahwa engkau membunuh
Paman Pouw Cin karena dia memperkosaku? Aku tidak pernah percaya seujung rambutpun! Paman
Pouw Cin adalah orang yang paling setia kepada kakakku dan aku, sudah kukenal sejak aku kecil. Aku
tahu dan mengenal betul orang macam apa dia. Bagaimana mungkin dia mendadak saja berubah
menjadi demikian keji? Akan tetapi karena engkau bersedia mencuci aib pada diriku dengan menikahiku,
akupun hanya menyimpan semua keraguan itu di dalam hatiku. Kemudian, setelah aku mengenal benar
watakmu. aku semakin yakin bahwa dahulu engkaulah yang memperkosaku. Engkau membuat aku tidak
sadar, kemudian engkau memperkosaku. Ketika Paman Pouw Cin memergoki perbuatanmu, dia kau
bunuh, lalu engkau memutar balik kenyataan dan mengatakan bahwa engkau melihat Paman Pouw Cin
memperkosaku dan engkau membunuhnya. Kemudian, engkau memperlihatkan kebaikanmu dengan
bersedia mencuci aib dan menikahiku. Semua itu kaulakukan dengan pamrih mendapatkan kedudukan!
Dan sekarang, setelah usaha kakakku gagal, engkau hendak meninggalkan aku begitu saja? Suma Hok,
aku tidak akan tinggal diam, akan ku-laporkan perbuatanmu itu kepada kakakku!”
Wajah Suma Hok berubah pucat ketika dia mendengar kata-kata itu. Kalau bekas kaisar Cang Bu
mendengar laporan adiknya ini, tentu dia akan ditangkap dan dihukum berat. Maka, dia lalu pura-pura
terkejut setengah mati dan dengan muka dibuat sedih dia mendekati isterinya.
"Isteriku, bagaimana engkau dapat mengeluarkan kata-kata sekeji itu? Tidak kusangkal bahwa aku
memang ingin mendapatkan kedudukan, akan tetapi siapakah orangnya yang tidak mempunyai cita-cita
tinggi? Akan tetapi, aku sama sekali tidak memperkosamu aku bahkan menikahimu karena aku kasihan
padamu, aku cinta padamu. Paman Pouw Cin yang melakukannya, aku berani bersumpah Isteriku, kalau
engkau tidak ingin aku pergi akupun tidak akan pergi, akan tetapi jangan menuduhku yang bukanbukan!
Aku yang sudah mengorbankan segalanya untukmu, kini masih menerima tuduhan keji ... " dan
pemuda itu menangis sambil menjatuhkan diri berlutut di depan isterinya.
Kiok Lan terkejut juga melihat suaminya menangis dan berlutut di depan kakinya. Bagaimanapun juga,
pria ini telah menjadi suaminya dan iapun sudah pernah berusaha memaksa hatinya untuk
mencintainya. Sikap suaminya yang menangis sedih dan berlutut di depan kakinya itu membuat ia
sejenak meragukan dugaannya sendiri dan iapun membungkuk untuk membangunkan Suma Hok. Akan
tetapi pada saat ia membungkuk untuk membangunkan suaminya, Suma Hok menggerakkan tangan
memukul dada istrinya. Pukulan itu datangnya sama sekali tidak terduga-duga oleh Kiok Lan.
"Dukkk!!" Dadanya kena hantaman tangan Suma Hok dan seketika ia muntah darah. Akan tetapi
matanya melotot dan wanita itu masih mampu melakukan serangan totokan dengan ilmu totok It-sin-ci,
yaitu totokan satu jari. Namun, Suma Hok dapat menangkisnya sehingga jari tangan Kiok Lan hanya
mengenai lengan baju dan lengan baju itu berlubang, akan tetapi tubuh wanita muda itu terkulai dan
roboh, tewas seketika dengan mulut mengalirkan darah.
Suma Hok berteriak-teriak setelah mendorong jendela kamar itu terbuka dan diapun menangis.
Beberapa orang pengawal datang dan melihat adik majikan mereka tewas ditangisi Suma Hok, mereka
segera melapor kepada bekas kaisar Cang Bu.
Pada saat itu, Liu Tek atau bekas kaisar Cang Bu sedang menerima kunjungan Kwa Bun Houw. Mulamula,
bekas kaisar itu terkejut bukan main melihat munculnya Kwa Bun Houw di depannya. Akan tetapi
karena sikap Bun Houw baik, tidak seperti musuh, diapun mempersilakan tamu itu duduk dan diamdiam
dia memberi isarat agar para pengawalnya melakukan penjagaan.
"Kwa Bun Houw, apakah maksud kedatanganmu sekarang ini? Sebagai kawan atau sebagai lawan?"
tanya bekas kaisar itu sambil menatap tajam.
"Kongcu, saya datang bukan sebagai kawan maupun lawan karena sesungguhnya saya tidak mempunyai
urusan pribadi apapun dengan kongcu. Akan tetapi mengingat akan kebaikan kongcu dan terutama
sekali Nona Liu Kiok Lan, saya datang untuk memberi nasihat kepada kongcu. Pertama, sebaiknya kalau
kongcu menghentikan hubungan kongcu dengan kerajaan Wei di utara. Dan ke dua sebaiknya kongcu
cepat meningalkan tempat ini karena pasukan kerajaan Chi akan melakukan penyerbuan setelah usaha
pembunuhan terhadap Kaisar Siauw Bian Ong dapat digagalkan."
Pada saat itulah pengawal datang berlari-larian dan melaporkan dengan napas memburu bahwa adik
bekas kaisar itu telah tewas di kamarnya. Mendengar ini, Liu Tek terbelalak dan segera lari ke dalam,
diikuti oleh Bun Houw yang juga terkejut bukan main mendengar laporan itu. Dia belum tahu bahwa
adik bekas kaisar itu telah menikah dengan Suma Hok.
Ketika mereka tiba di kamar itu, mereka melihat Kiok Lan telah diangkat ke pembaringan dan Suma Hok
duduk di tepi pembaringan sambil menangisi kematian isterinya.
"Suma Hok, apa yang telah terjadi?" Liu Tek berteriak ketika memasuki kamar. Bun Houw juga berdiri
tertegun memandang ke arah mayat Kiok Lan yang masih nampak mengalirkan darah dari mulutnya.
Suma Hok menoleh dan begitu melihat Kwa Bun Houw, diapun meloncat dan menyerang Bun Houw
dengan marah sambil membentak, "Engkau pembunuh! Engkau telah membunuh isteriku!"
Bun Houw cepat mengelak ketika tangan Suma Hok menyambar ke arah mukanya. Suma Hok yang
serangannya luput itu membalik dan sudah menyerang lagi dengan pengerahan tenaga sekuatnya.
Namun, Bun Houw menangkis dan Suma Hok terhuyung.
"Suma Hok, hentikan ini! Engkau menuduhku yang bukan-bukan!" kata Bun Houw.
Suma Hok sudah menyambar sulingnya yang tadinya terletak di atas meja. "Jahanam Kwa Bun Houw,
engkau telah membunuh isteriku, aku harus membalas kematian isteriku!"
Mendengar ini, Liu Tek menengahi. "Nanti dulu, apa artinya ini, Suma Hok? Saudara Kwa Bun Houw ini
baru saja datang dan menghadap padaku, bagaimana engkau dapat mengatakan bahwa dia telah
membunuh Kiok Lan?"
"Ah, paduka tidak tahu. Jahanam ini memang licik sekali. Sebelum menghadap paduka dia telah
menyelinap ke kamar ini dan membunuh dinda Kiok Lan. Saya melihat sendiri ketika saya memasuki
kamar, jahanam ini melarikan diri melalui jendela!" Dia menunjuk ke arah daun jendela yang terbuka.
Bekas kaisar ini kini menghadapi Bun Houw dan memandang penuh perhatian dan keraguan. Bun Houw
segera berkata, "Kongcu, harap diteliti dulu peristiwa ini. Mungkinkah saya akan masih berada di sini,
mengingatkan kongcu akan datangnya bahaya, kalau benar saya membunuh nona Kiok Lan? Kalau
boleh, saya ingin memeriksa jenazah nona Kiok Lan untuk meneliti apa yang menyebabkan
kematiannya."
Bekas kaisar itu mengangguk dan bersama Bun Houw dia mendekati jenazah adiknya. Bun Houw
memeriksa dan membuka baju di bagian dada. Nampak tanda pukulan membiru di dada itu, pukulan
yang amat kuat dan mengandung hawa panas! Akan tetapi bekas pangeran itu lebih tertarik melihat
tangan kanan adiknya seperti menekan atau mencengkeram ke arah perut. Ketika dia menarik tangan
itu, Bun Houw melihat betapa jari telunjuk tangan kanan itu bengkak dan ketika dirabanya, maka tulang
telunjuk itu patah pada buku jarinya. Bekas kaisar Cang Bu melihat ujung lipatan kertas menyembul dari
balik baju di pinggang adiknya. Diambilnya benda itu yang ternyata sehelai kertas berlipat yang agaknya
disembunyikan di ikat pinggang. Dia membuka dan merabanya. Wajahnya berubah pucat sekali, dan
tanpa bicara dia menyerahkan kertas itu kepada komandan pengawalnya. Panglima itu membaca pula
dan cepat dia berlari keluar entah apa yang dilakukannya, hanya dia dan bekas kaisar itu yang
mengetahuinya.
Sementara itu, Bun Houw yang memeriksa telunjuk, kini memandang kepada Suma Hok yang masih
berdiri tegak. Dan diapun menemukan apa yang dicarinya. Lengan baju Suma. Hok berlubang dan
tahulah dia bahwa agaknya tangkisan Suma Hok membuat jari telunjuk wanita itu patah buku jarinya
dan lubang pada lengan baju itu akibat ilmu totokan It-sin-ci dari mendiang Liu Kiok Lan Suma Hok,
“Engkaulah yang telah membunuh Nona Liu Kiok Lan dengan pukulan Lui-kong-ciang (Tangan Halilintar),
dan agaknya Nona Liu menyerangmu dengan totokan It-sin-ci yang mengenai lenganmu ketika kau
tangkis. Buktinya, lengan bajumu itu berlubang. Dan engkau masih berani menuduh, aku yang
membunuhnya!" kata Bun Houw.
"Ha-ha-ha, Kwa Bun Houw, engkau murid Tiauw Sun Ong, tentu tidak jauh berbeda dari gurunya! Tidak
perlu menyangkal atau memutarbalikkan kenyataan. Kenapa aku membunuh isteriku sendiri yang
tercinta? Engkaulah yang membunuhnya dan ketika aku memasuki kamar ini, aku masih melihat
bayanganmu meloncat keluar melalui jendela!"
Pada saat itu, komandan pengawal tadi muncul lagi bersama tujuh orang perwira, termasuk pengawal
yang tadi mengabarkan kepada Suma Hok tentang kedatangan Kwa Bun Houw.
"Yang Mulia." kata panglima itu kepada Liu Tek. "Pengawal ini menjadi saksi bahwa ketika dia melapor
tentang kedatangan tamu, dia melihat Nona itu dan suaminya berada di kamar ini dan agaknya sedang
bertengkar."
"Suma Hok, engkau hendak berkata apalagi?" bekas kaisar itu menegur marah. "Bukan itu saja, bukan
hanya engkau membunuh adikku, juga dahulu engkaulah yang berbuat keji terhadap adikku, lalu
mengatakan bahwa Jenderal Pouw Cin yang melakukannya!"
Wajah Suma Hok menjadi pucat. "Sribaginda, semua itu bohong!" katanya membantah.
"Hemm, bohongkah surat yang ditulis sendiri oleh adikku ini? Agaknya adikku telah mendapatkan firasat
tidak enak dan membuat pengakuan ini di atas kertas. Sayang sebelum melapor kepadaku, engkau
sudah membunuhnya. Engkau manusia iblis!"
"Sudahlah, kalau engkau tidak percaya lagi kepadaku, aku mau pergi!” Suma Hok mencabut sulingnya
dan hendak menerjang keluar.
"Nanti dulu, engkau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu yang jahat dan kejam!" kata Kwa
Bun Houw dan diapun menghadang di pintu.
"Kwa Bun Houw, pengecut busuk. Engkau, hendak mengandalkan pengeroyokan?" teriak Suma Hok
yang tidak melihat jalan keluar lagi dan bersikap gagah untuk menyembunyikan rasa takutnya.
"Siapa hendak mengeroyokmu? Hayo kita bertanding satu lawan satu di luar. Harap Kongcu tidak
memerintahkan orang mengeroyoknya, biar saya sendiri melawanuya."
Mendengar ucapan Kwa Bun Houw itu, Li Tek mengangguk, hanya memerintahkan para perwiranya
untuk mengatur pasukan mengepung agar Suma Hok tidak sampai lolos. Melihat bahwa tidak mungkin
lagi baginya untuk mololoskan diri, maka Suma Hok menjadi nekat. Semuanya sudah gagal dan tidak ada
jalan lain kecuali menunjukkan kegagahannya. Maka, melihat Kwa Bun Houw sudah melangkah keluar,
diapun dengan mengangkat dada, membawa sulingnya, mengikuti keluar. Mereka saling berhadapan di
ruangan terbuka sebelah luar kamar. Maklum bahwa lawannya adalah putera seorang datuk besar dan
sama sekali tidak boleh dipandang ringan, Bun-Houw sudah mencabut pula senjatanya, yaitu Lui-kongkiani
(Pedang Kilat)! dan semua orang terkesiap karena pedang itu seperti mengeluarkan sinar kilat
ketika dicabut.
"Kwa Bun Houw, sejak dahulu engkau menentangku dan menjadi penghalang bagiku! Sekali ini, engkau
atau aku yang mati!" bentak Suma Hok.
"Yang kutentang kejahatanmu, bukan dirimu!" bentak pula Bun Houw akan tetapi dia sudah harus cepat
menghindar karena selagi dia bicara, Suma Hok telah menyerang dengan suling mautnya. Suling
digerakkan dan ada sinar hitam menyambar dari ujung suling Bun Houw miringkan tubuhnya dan
menggerakkan pedang. Beberapa batang jarum beracun halus dapat dipukul runtuh oleh pedangnya
dan diapun memutar pedang membalas serangan lawan.
Tok-siauw-kwi (Iblis Suling Beracun) Suma Hok adalah seorang pemuda gemblengan yang sukar dicari
tandingannya. Dia telah mewarisi sebagian besar ilmu dari ayahnya dan bahkan dia amat keji
mempergunakan racun sehingga dijuluki Suling Beracun. Sulingnya yang disepuh perak itu bukan saja
mampu mengeluarkan jarum beracun, juga permukaan suling itu mengandung racun yang amat jahat.
Ketika dia mengamuk dan menerjang Bun
Houw, bentuk suling itu lenyap dan yang nampak hanyalah gulungan sinar putih dibarengi suara
mendengung-dengung.
Akan tetapi, yang dilawannya adalah Kwa Bun Houw, Si Pedang Kilat yang dalam segala hal jauh lebih
tinggi tingkatnya. Bahkan ayahnya sendiri, Kui-siauw Giam-ong Suma Koan, tidak akan mampu
menandingi Si Pedang Kilat, apalagi dia! Ketika Bun Houw memainkan pedangnya, nampak sinar kilat
bergulung-gulung dan menggulung sinar perak dari suling di tangan Suma Hok. Pemuda ini terkejut
bukan main karena ke manapun sulingnya bergerak, selalu bertemu sinar pedang yang bagaikan
benteng yang kokoh. Sebaliknya, dari gulungan sinar pedang itu kadang mencuat sinar yang menyambar
bagaikan kilat, membuat Suma Hok berulang kali harus melempar tubuh ke belakang dengan muka
pucat karena nyaris dia disambar sinar pedang kilat.
Mulailah rasa takut dan panik mencengkeram hati Suma Hok. Dia maklum bahwa dia tidak akan menang
bertanding melawan Kwa Bun Houw, maka dari pada melanjutkan perkelahian yang tidak memberi
harapan itu. lebih baik dia mencoba menerobos kepungan dan melarikan diri ...
Tiba-tiba dia mengeluarkan bentakan nyaring dan tubuhnya sudah meloncat ke sebelah kiri. Dia
disambut todongan golok dan tombak pasukan, akan tetapi Suma Hok menggerakkan sulingnya dan
sinar hitam dari jarum-jarum halusnya merobohkan lima orang! Dan diapun mengamuk dengan
sulingnya dan berhasil merobohkan lagi lima orang! Dalam sekejap mata saja dia sudah merobohkan
sepuluh orang lawan yang tidak mungkin dapat ditolong lagi karena keracunan. Melihat ini, sekali
melompat Bun Houw sudah berada di depannya dan menggerakkan pedangnya.
"Trangg ...!!” Nampak bunga api berpijar ketika suling di tangan Suma Hok menangkis dan patah
menjadi dua potong! Iblis Suling Beracun ini terkejut dan marah, lalu dengan nekat dia menubruk ke
depan dengan sulingnya yang buntung, akan tetapi kaki Bun Houw menyambutnya dengan tendangan.
"Desss ...!!" Dada Suma Hok tertendang dan diapun terjengkang pingsan.
"Tangkap dia hidup-hidup!” bentak bekas kaisar Cang Bu yang sudah marah sekali terhadap bekas adik
iparnya itu. Banyak tangan membelenggu Suma Hok yang sudah pingsan itu sehingga kaki tangannya
terikat kuat-kuat, membuat dia setelah siuman tak mampu bergerak lagi.
Bun Houw segera menghadapi bekas kaisar itu dan berkata, "Kongcu, seperti pernah saya katakan
dahulu, saya tidak ingin mencampuri urusan perebutan kekuasaan. Kedatangan saya ini hanya untuk
memberi tahu agar kongcu suka cepat menyelamatkan diri. Saya ikut bersedih dengan peristiwa
terbunuhnya Nona Liu Kiok Lan. Sekarang, perkenankan saya untuk berparait."
Bekas kaisar itu merasa kecewa sekali bahwa seorang yang lihai seperti Si Pedang Kilat itu tidak mau
bekerja sama dengan dia. Biarpun dia berterima kasih dengan peringatan dan pemberitahuan bahwa
pasukan kerajaan Chi akan menyerbu, namun dia tidak ingin mundur lagi. Dia sudah bersusah payah
mengumpulkan tenaga untuk melakukan perang merebut kembali tahta kerajaan, maka dia tidak mau
melarikan diri lagi.
"Terima kasih, Kwa-taihiap. Mudah-mudahan kita akan dapat saling bertemu lagi dalam keadaan yang
lebih baik. Aku merasa menyesal sekali telah terkena bujukan dan tipuan penjahat macam Suma Hok
sehingga pernah memusuhimu."
Bun Houw meninggalkan tempat itu dan benar seperti yang dia peringatkan kepada bekas kaisar itu, dua
hari kemudian, tempat itu diserbu pasukan yang amat besar jumlahnya. Terjadi perang karena bekas
Kaisar Cang Bu melakukan perlawanan mati-matian. Namun semua usahanya itu sia-sia. Kerajaan Wei di
utara juga tidak mengirim bantuan melihat sekutunya diserang itu, hanya memperkuat penjagaan di
perbatasan. Pasukan dari bekas kaisar Cang Bu itu dapat dihancurkan setelah pertempuran selama
sehari semalam. Kaisar Cang Bu sendiri tidak mau ditawan dan membunuh diri, setelah dia dengan
pedangnya sendiri membunuh Suma Hok yang menjadi tawanan.
Perang merupakan puncak merajalelanya nafsu, karena perang memperebutkan kemenangan tanpa
menghiraukan pengorbanan banyak nyawa manusia. Mengapa di seluruh dunia ini, kehidupan manusia
tidak terbebas dari pada perang, baik perang antara bangsa, antara kelompok, antar keluarga, maupun
antar perorangan? Perang terjadi setiap hari, dimulai dari perang atau konflik dalam batin pribadi,
mencetus keluar menjadi konflik antar perorangan, membengkak menjadi perang antar kelompok,
sampai antar bangsa. Sumbernya terletak kepada si aku yang mengejar kesenangan dengan cara apapun
juga. Si aku adalah pikiran yang bergelimang nafsu, dan nafsu selalu memang mengejar kesenangan dan
kepuasan.
Memperebutkan kemenangan karena yang menang itu berkuasa, dan yang berkuasa tentu saja selalu
benar, selalu berada di atas, karenanya menginjak yang di bawah dan tidak mungkin terinjak karena
yang di bawah tidak mungkin dapat menginjak yang berada di atas. Menang, berkuasa, duduk di atas,
selalu benar, selalu baik, selalu dapat menentukan apa saja, karenanya, tentu saja senang! Jadi, semua
pencarian itu menuju ke arah satu, yaitu kesenangan! Kedudukan diperebutkan karena kedudukan
merupakan sarang kesenangan. Segala macam kebutuhan terpenuhi, segala macam keinginan tercapai,
dan di dalam kekuasaan itu terdapat segalanya. Kekayaan, identitas, dan kemuliaan.
Betapa kita mudah melupakan kenyataan: yang dapat kita lihat dati sejarah, bahwa makin besar
kesenangan yang kita raih dan dapatkan, makin besar pula kesusahan menanti di ambang pintu.
Seseorang yang disambut dengan tepuk tangan dan sorak-sorai pendukungan, pada lain keadaan
mungkin akan disambut dengan cemooh dan binaan, sebagai korban dari kedudukannya. Seorang yang
kaya raya dan menikmati kekayaannya di satu saat, di lain saat mangkin saja akan dicekam ketakutan
hebat akan kehilangan kekayaannya, atau disiksa kedukaan besar karena kehilangan kekayaannya.
Seorang yang berada di puncak kemashuran dan dipuja-puja, sekali waktu dapat saja jatuh ke bawah
dan pujaan itu berubah menjadi ejekan dan kutukan. Bagaikan sebuah biduk kecil dipermainkan
gelombang samudera. kitapun dipermainkan oleh hasil dan gagal, kepuasan dan kekecewaan,
kesenangan, dan kesusahan, kebosanan, iri hati, iba diri, dan segala macam permainan pikiran yang
dicengkeram nafsu daya rendah.
***
Sekelompok orang yang berada di dalam ruangan besar itu nampak muram, bahkan ada beberapa orang
di antara mereka yang marah-marah. Mereka duduk mengelilingi meja besar dan yang duduk di kepala
meja adalah tiga orang yang kelihatan berwibawa. Mereka merupakan pimpinan dari pasukan Kerajaan
Wei yang kini menduduki dusun Thai-bun dan yang membentuk sebuah perkumpulan bernama Thian-te
Kui-pang. Tiga orang pimpinan itu merupakan saudara-saudara seperguruan, yaitu yang pertama
berjuluk Pek-thian-kui (Iblis Putih dari Utara) berusia lima puluh tahun dengan tubuh gendut bundar dan
mukanya halus. Orang ke dua berjuluk Huang-ho Kui (Iblis Sungai Ku ning) berusia empat puluh sembilan
tahun, bertubuh tinggi kurus dengan jenggot dan kumis jarang. Yang ke tiga berjuluk Toar beng-kui (Iblis
Pencabut Nyawa) bertubuh sedang, berusia empat puluh tahun dan wajahnya tampan, matanya liar.
Mereka inilah yang dikenal sebagai Bu-tek Sam kui (Tiga Iblis Tanpa Tanding) yang menjadi jagoanjagoan
istana kaisar kerajaan Wei dan nama mereka amat terkenal di utara. Kini mereka menerima
tugas dari kaisar mereka untuk membawa seratus orang anak buah, menyusup ke selatan untuk
membikin kacau kerajaan baru Chi yang nampak semakin berkembang. Di dusun Thai-bun, pasukan itu
membunuhi penduduk, menjadikan dusun itu sebagai markas mereka dan mereka tidak lagi memakai
seragam pasukan kerajaan Wei, melainkan berpakaian hitam-hitam sebagai anggauta. Thian-te Kuipang.
Di sisi lain dari meja panjang itu, menghadap tiga orang Bu-tek Sam-kui, duduk tokoh-tokoh persilatan
yang dikenal sebaga datuk-datuk persilatan yang lihai. Kui-siauw Giam-ong (Raja Maut Suling Iblis) Suma
Koan, datuk besar majikan bukit Bayangan Iblis berada di situ. Juga nampak Bu-eng-kiam (Pedang Tanpa
Bayangan) Ouwyang Sek, datuk besar majikan Lembah Bukit Siluman yang berusia lima puluh tiga tahun,
beberapa tahun lebih muda dibandingkan Suma Koan.
Di samping Ouwyang Sek duduk pula Kwan Im Sian-li (Dewi Kwan Im) Bwe Si Ni yang biarpun sudah
berusia hampir lima puluh tahun akan tetapi masih nampak cantik manis seperti baru berusia tiga puluh
tahun saja. Seperti kita ketahui, wanita yang dahulunya merupakan seorang dayang istana ini, yang
pernah jatuh cinta dan tergila-gila kepada bekas Pangeran Tiauw Sun Ong, dalam usahanya membalas
dendam karena ditolak cintanya oleh bekas pangeran itu, kalah oleh Tiauw Sun Ong dan ia dibantu oleh
Ouwyang Sek. Semenjak waktu itu, ia bersahabat dengan Ouwyang Sek dan memang keduanya memiliki
watak yang sama, apalagi Ouwyang Sek telah menjadi seorang duda, maka keduanya menjadi akrab.
Oleh karena itu, ketika Ouwyang Sek dibujuk oleh Bu-tek Sam kui untuk bekerja sama, dia mengajak
pula Kwan Im Sian-li sehingga keduanya sekarang berada di markas Thian-te Kui-pang itu.
Selain tiga pimpinan Thian-te Kui-pang dan tiga orang datuk ini, masih ada lagi lima orang pembantu Butek
Sam-kui yang merupakan perwira atau pimpinan pasukan Thian-te Kui-pang. Mereka agaknya
nampak murung dan marah, membicarakan sesuatu yang penting dengan penuh semangat.
"Brakk!” Tangan kiri Kui-siauw Giam-ong menggebrak meja di depannya sehingga tergetar. "Puteraku
Suma Hok mati terbunuh! Akan tetapi aku tidak mau melakukan balas dendam karena pembunuhnya,
bekas Kaisar Cang Bu, juga sudah mampus. Sungguh membuat hati merasa penasaran sekali!” Kakek
yang kecil kurus namun amat lihai ini menyambar cawan araknya dan sekali tuang, arak dalam cawan
sudah memasuki perutnya. Agaknya dia masih belum puas dan menyambar guci arak lalu menuangkan
isinya, menggelogoknya, seolah arak itu akan dapat mengusir ke marahannya.
"Giam-ong, kenapa penasaran kepada bekas kaisar itu? Yang menjadi biang keladi kematian puteramu
bukanlah dia, melainkan orang yang juga menjadi biang keladi puteraku Ouwyang Toan tertangkap dan
dihikum mati. Orang itulah yang telah membunuh anakmu dan anakku!"
"Siapakah dia !” Suma Koan bertanya dan memandang kepada rekannya dengan mata merah.
"Siapalagi kalau bukan si jahanam Kwa Bun Houw? Menurut para penyelidik yang berhasil lolos ketika
markas bekas Kaisar Cang Bu diserbu pasukan pemerintah, sebelum pasukan pemerintah menyerbu,
Kwa Bun Houw datang berkunjung untuk memperingatkan bekas kaisar itu agar tidak bergabung dengan
kerajaan Wei dan agar melarikan diri karena akan diserbu pasukan pemerintah. dan dalam pertemuan
itulah Kwa Bun Houw menyerang dan merobohkan puteramu. Dia ditangkap dengan tuduhan
membunuh isterinya serdiri, adik bekas Kaisar Cang Bu. Kemudian, setelah terjadi penyerbuan dan
Kaisar Cang Bu kalah, dia membunuh anakmu yang telah tertawan sebelum membunuh diri. Nah.
bukankah kematian anakmu itu gara-gara Kwa Bun Houw? Karena Kaisar Cang Bu sudah mati, engkau
harus membalas kematian anakmu kepada Kwa Bun Houw, seperti juga aku akan menuntut balas atas
kematian anakku."
"Bukankah Ouwyang Toan, anakmu itu mati karena dihukum mati oleh pemerintah kerajaan Chi?" tanya
Suma Koan.
Bu-eng kiam Ouwyang Sek menghela napas panjang sebelum menjawab dengan suara sedih. “Memang
benar, akan tetapi kegagalan Ouwyang Toan dan Bi Moli Kwan Hwe Li juga gara-gara campur tangannya
Kwa Bun Houw yang menyamar dan menjadi pengawal pribadi kaisar. Karena dialah maka penyerangan
itu gagal dan anakku bersama Bi Moli tertawan dan dijatuhi hukuman mati." Dia mengepal tinju dan
berteriak. "Kwa Bun Houw, aku pasti akan menghancurkan kepalamu untuk membalas kematian
anakku!"
Dua orang datuk yang biasanya tidak pernah saling mengacuhkan itu, kini bersatu hati untuk menentang
dan membalaskan kematian putera mereka kepada Kwa Bun Houw.
Melihat kedua orang datuk itu marah-marah, Pek-thian-kui, orang pertama dari Bu-tek Sam-kwi,
berkata, "ji wi (kalian berdua) suka bersabar. Kami mengetahui akan dendam kemarahan hati ji-wi, akan
tetapi kita harus mengingat bahwa selain Kwa Bun Houw itu memiliki ilmu silat yang amat tangguh, juga
agaknya dia memiliki pula kawan-kawan dari golongan kang-ouw yang menentang kita, seperti terbukti
ketika dia membantu Thian-beng-pai dan Hek-tung Kai-pang yang tidak mau tunduk kepada kita. Oleh
karena itu, harap ji-wi suka bersabar dan bergabung dengan kami. Kalau kita bersatu, dengan kekuatan
anak buah kita, kiranya tidak akan sukar untuk membalas dendam kita terhadap Kwa Bun Houw.”
"Akupun harus menghajar pemuda sombong itu!" Kwan Im Sian li Bwe Si Ni berkata. "Beberapa kali
diapun berani menentangku!”
"Kalau begitu, bagus sekali! Pek-thian-kui, kami rasa, kami bertiga saja sudah cukup untuk menemukan
Kwa Bun Houw dan memenggal lehernya! Tidak perlu kalian Bu-tek Sam-kui ikut-ikut!" kata Ouwyang
Sek.
"Apa yang dikatakan Bu-eng-kiam itu benar, Bu-tek Sam-kui." kata pula Kui-siauw Giam-ong Suma Koan.
"Setelah usaha kita bersama gagal, bahkan kami berdua telah mengorbankan putera kami, maka tidak
ada gunanya lagi kerja sama ini. Kaisar Cang Bu telah tewas, pasukannya telah hancur, untuk apalagi kita
bekerja sama? Kalian adalah petugas dari kerajaan Wei, akan tetapi kami bertiga tidak mempunyai
urusan dengan perebutan kekuasaan antara kerajaan di utara dan kerajaan di selatan. Kami bertiga
hendak mencari dan menghukum Kwa Bun Houw karena urusan pribadi, tidak ada lagi sangkut-pautnya
dengan kerajaan Wei."
"Akupun setuju," kata Kwan Im Sian-li. “Yang jelas, kerja sama itu ternyata tidak menguntungkan,
bahkan merugikan kami. Giam-ong dan Bu-eng-kiam, mari kita bertiga mencari Kwa Bun Houw dan
kalau Tiauw Sun Ong membela muridnya, kita bunuh sekalian manusia sombong itu!"
Tiga orang datuk itu lalu bangkit dan meninggalkan tempat itu tanpa ada yang berani mencegah. Bu-tek
Sam-kui hanya dapat saling pandang saja. Mereka mendapat tugas memimpin anak buah mereka untuk
mengacau dan melemahkan kerajaan Chi, dan untuk melaksanakan tugas itu mereka berhasil menarik
banyak tokoh kang-ouw golongan sesat untuk membantu mereka dengan janji yang muluk. Bahkan
mereka berhasil mengikat kerja sama dengan bekas Kaisar Cang Bu dan bersama-sama mengatur siasat
untuk membunuh Kaisar kerajaan Chi dan menguasai dunia kang-ouw. Akan tetapi, ternyata usaha
membunuh Kaisar Siauw Bian Ong itu gagal, juga mereka tidak berhasil menguasai dunia kang-ouw
sepenuhnya. Tadinya, mereka mengharapkan para datuk seperti Ouwyang Sek dan Suma Koan untuk
mereka jadikan jago dan beng-cu dalam pemilihan beng-cu dunia kang-ouw. Hal inipun gagal karena
sekarang, dua orang datuk itu bersama Kwan Im Sian-li meninggalkan mereka dalam usaha mereka
untuk mencari musuh pribadi mereka.
'Tidak ada jalan lain, kita harus mulai dari pertama, yaitu mengadakan pengacauan di sepanjang tapal
batas selatan sambil mengirim laporan tentang kegagalan itu kepada Sribaginda dan menanti perintah
selanjutnya," kata Pek-thian-kui. Dua orang sutenya setuju dan segera mereka membuat laporan untuk
dikirim kepada kaisar mereka di utara.
Mulailah para anggauta Thian-te Kui-pang itu mengganas lagi di perbatasan, mengganggu dusun-dusun,
merampok dan membunuh dan mereka dikenal sebagai gerombolan iblis Hitam karena pakaian mereka
serba hitam dan kebuasan mereka seperti iblis. Gegerlah perbatasan dan banyak penduduk mengungsi
ke pedalaman. Kalau ada pendekar atau petugas keamanan berani menentang, mereka semua dibunuh.
Sementara itu, Ouwyang Sek, Bwe Si Ni dan Suma Koan melakukan perjalanan bersama menuju Hoasan.
Bwe Si Ni yang menjadi penunjuk jalan karena wanita itu pernah mendatangi tempat bekas
pangeran itu mengasingkan diri, yaitu di sebuah di antara puncak-puncak pegunungan Hoa-san. Mereka
bertiga sudah bertekad untuk mencari Bun Houw di sana dan kalau pemuda yang menjadi musuh besar
mereka itu tidak berada di sana, mereka akan menawan Tiauw Sun Ong untuk memancing datangnya
pemuda itu yang mereka yakin pasti akan membela gurunya.
"Si Buta itu lihai bukan main," Ouwyang Sek memperingatkan rekannya, Suma Koan. "Babkan aku dan
Sian-li pernah mengeroyoknya dan biarpun kami dapat melukainya, dia masih mampu memaksa kami
pergi membawa luka."
"Akan tetapi aku yakin bahwa dengan adanya Giam-ong membantu, kita akan dapat menundukkan
jahanam buta itu," kata Kwa Im Sian-li gemas karena kini ia amat membenci pria yang pernah dicintanya
setengah mati itu.
Cintakah itu kalau dapat berubah menjadi benci? Cinta yang mengandung cemburu, ingin memiliki,
kemudian berubah menjadi kebencian sesungguhnya hayalah gairah nafsu belaka Cinta seperti itu tentu
saja menimbulkan berbagai masalah, mendatangkan konflik-konflik-Sudah menjadi sifat nafsu untuk
selalu mengejar kesenangan. Aku cinta padamu, karena kamu mendatangkan kesenangan padaku,
demikianlah isi cinta gairah nafsu itu, baik itu cinta antara pria dan wanita, kitara orang tua dan anaknya,
antara sahabat, bah kan cinta seseorang terhadap apa saja. Selama terkandung pamrih demi
kesenangan diri pribadi, walaupun pamrih ini seringkali bersembunyi di balik siogan dan gagasan agung
maka cinta seperti itu pasti menimbulkan konflik, dan dapat berubah meojadi benci, karena cinta gairah
dan kebencian bersumber satu, yaitu nafsu. Aku cinta kamu selama kamu menyenangkan. Begitu kamu
tidak menyenangkan, maka aku benci kamu! Karena itu, cinta seperti ini selalu memilih, yang paling
menyenangkan, itulah yang dicinta.
Demikian pula "cinta" yang pernah mengusik hati Kwan Im Sian-li Bwe Si Ni. Ia pernah jatuh cinta
kepada seorang pangeran yang tampan dan menyenangkan, yaitu Pangeran Tiauw Sun Ong. Biarpun
cintanya tidak mendapat balasan, namun ia tetap mencinta karena ia kagum dan suka kepada pangeran
itu, bahkan setelah dia tidak lagi menjadi pangeran dan menjadi seorang buta, ia tetap mengharapkan
menjadi pasangan hidupnya. Namun, penolakan-penolakan Tiauw Sun Ong, bahkan yang
mengakibatkan perkelahian, mengubah cintanya menjadi benci. Kalau ia masih mengharapkan diterima
sebagai pasangan hidup, adalah karena biarpun sudah tua dan buta, Tiauw Sun Ong masih amat menarik
hatinya sebagai seorang yang amat lihai ilmu silatnya. Penolakan itu menyakitkan hatinya dan sekaligus
mengubah cintanya menjadi benci dan kini ia hanya mempunyai satu keinginan terhadap Tiauw Sun
Ong, yaitu membunuhnya!
Pada waktu itu, Tiauw Sun Ong tidak tinggal sendirian lagi di pondoknya. Kini dia ditemani puterinya,
Tiauw Hui Hong, anak kandung yang baru ditemukannya setelah anak itu berusia dua puluh satu tahun!
Bahkan baru saja dia mengetahui bahwa dia mempunyai seorang keturunan dari selir kaisar yaitu
kakaknya, yang menjadi kekasihnya. Ternyata kekasihnya itu telah mengandung keturunannya ketika
mereka tertangkap dan dipisahkan. Tentu saja ayah dan anak ini merasa berbahagia sekali dan Tiauw
Sun Ong yang menemukan anaknya sebagai seorang gadis yang memiliki ilmu silat tinggi sebagai anak
tiri Bu-eng-kiam Ouwyang Sek. segera menggembleng puterinya itu dan mengajarkan ilmu-ilmu
simpanannya. Karena gadis itu memang telah memiliki dasar yang kuat sebagai anak angkat dan murid
datuk majikan Lembah Bukit Siluman itu, maka tidaklah terlalu sukar baginya untuk melatih ilmu-ilmu
yang kini diajarkan ayah kandungnya kepadanya. Selama beberapa bulan tinggal bersama ayahnya di
Hoa-san. Hui Hong telah memperoleh kemajuan pesat sekali dan ia kini menjadi jauh lebih lihai
dibandingkan beberapa bulan sebelumnya, Karena puterinya itu memiliki ilmu Siang-kiam (Sepasang
Pedang) yang cukup lihai, maka Tiauw Sun Ong lalu mengajarkan ilmu totok dengan tongkat yang
dimainkan oleh tangan kiri Hui Hong, sedangkan tangan kanannya tetap memainkan pedangnya. Kalau
tadinya Hui Hong bersenjatakan sepasang pedang, kini ia mengganti pedang kirinya dengan sebatang
tongkat yang dapat diambilnya di mana saja, sebatang rantingpun jadi. Dan ternyata ranting itu jauh
lebih berbahaya. bagi lawan dibandingkan kalau tangan kirinya memegang pedang! Juga pedang di
tangan kanannya mendapatkan banyak kemajuan setelah Tiauw Sun Ong menambahkan jurus-jurus
baru. Juga bekas pangeran ini mengajarkan cara menghimpun hawa sakti kepada puterinya sehingga
dalam hal tenaga sakti, Hui Hong juga menjadi semakin kuat.
Gadis itu merasa berbahagia sekali. Bukan hanya karena kini ia hidup dekat ayahnya, dapat mencucikan
pakaian ayahnya, dapat memasakkan makanan untuk ayahnya dan menerima pelajaran ilmu dari
ayahnya. Akan tetapi juga karena ayahnya menjodohkan ia dengan Bun Houw! Kini ia tinggal menanti
datangnya pemuda yang memang sebelum ayahnya menjodohkannya, telah menjadi pujaan hatinya itu.
Kebahagiaan membuat Hui Hong nampak semakin cantik jelita karena wajahnya selalu cerah. Kalau
dahulu, sebagai puteri datuk Ouwyang Sek, ia bersikap dingin, keras dan galak, kini di bibirnya yang
mungil itu selalu nampak senyum manis, matanya yang tajam bersinar-sinar itu mengandung
kelembutan, dan wajahnya selalu berseri.
Pada sore hari itu, Hui Hong berlatih silat pedang dan tongkatnya di belakang pondok ayahnya. Kini ia
duduk mengaso dan menghapus keringat yang membasahi leher dan dahinya, dengan sehelai kain. Ia
harus mengeringkan dulu keringatnya sebelum mandi! Dalam udara dingin puncak dapat berkeringat
seperti itu, menunjukkan bahwa dalam latihan tadi Hui Hong mengerahkan banyak tenaga. Namun ia
merasa puas dan tersenyum-senyum. Jurus paling sulit yang diajarkan ayahnya, setelah diulang-ulang
selama beberapa hari, akhirnya hari ini dapat ia lakukan dengan baik. Ayahnya tentu akan girang sekali.
Melihat Hui Hong duduk di atas batu, rambutnya awut-awutan, mukanya basah oleh keringatnya, dan
kemerahan karena mengerahkan tenaga, kedua pipinya segar kemerahan dan bibirnya lebih merah lagi,
membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa kagum. Ia memang cantik jelita, seperti ibunya, selir
kaisar yang memadu kasih dengan ayahnya.
Hui Hong sama sekali tidak tahu bahwa pada saat itu, tiga orang bersembunyi di balik batu-batu gunung
yang besar dan mengintai ke arah pondok ayahnya. Tentu saja tiga orang itu tidak dapat melihat Tiauw
Sun Ong yang berada di dalam pondok, sebaliknya melihat jelas Hui Hong yang duduk di atas batu.
"Bu-eng-kiam, bukankah gadis itu anakmu Hui Hong?” Suma Koan berbisik.
"Ia bukan anakku lagi,” jawab Ouwyang Sek gemas.
"Ahhh, kiranya begitu? Jadi gadis itu telah bertemu dan berkumpul dengan ayah kandungnya?" kata
pula Suma Koan.
"Ssttt, kebetulan sekali ia berada di sini," kata Kwan Im Sian-li, "Ia merupakan umpan yang lebih baik
untuk memancing datangnya Kwa Bun Houw."
"Benar sekali, bocah itu saling mencinta dengan Bun Houw. Kalau kita tawan, pasti Bun Houw akan
muncul dan mencoba untuk membebaskannya." kata Ouwyang Sek, "Hemm, kalau begitu, kalian berdua
siap menghadapi Tiauw Sun Ong, biar aku sendiri yang menangkap gadis itu." kata Raja Maut Suling
Setan itu, akan tetapi Kwan Im Sian-li menyentuh lengannya ketika datuk itu hendak keluar dari tempat
sembunyinya.
“Giam-ong, kalau engkau sembrono, engkau akan menggagalkan semuanya. Jangan pandang ringan
bekas murid Bu-eng-kiam itu. Kalau kita menghadapi Tiauw Sun Ong bertiga, tentu kita akan mampu
menang, akan tetapi kalau Tiauw Sun Ong dibantu gadis itu, akan lebih sulit bagi kita. Sebaikya kita
bertiga bersama-sama menangkap gadis itu sehingga kalau Tiauw Sun Ong keluar, kita dapat
menundukkannya tanpa membuang tenaga, hanya dengan menyandera puterinya saja. Dan dengan
mereka berdua sebagai umpan pancingan, aku yakin Kwa Bun Houw akan segera datang dan terjatuh ke
tangan kita."
Dua orang datuk itu mengangguk-angguk mendengar ucapan Kwan Im Sian-li. Mereka lalu berbisik-bisik
mengatur siasat dan tak lama kemudian ketiganya berindap-indap menghampiri Hui Hong yang masih
duduk menyeka keringat dan menikmati kenyamanan hawa udara sejuk yang mengipasi tubuhnya yang
masih panas oleh pengerahan tenaga-dalam latihan tadi. Tiga orang itu adalah datuk-datuk persilatan
yang telah memiliki kepandaian tinggi sekali sehingga mereka mampu bergerak tanpa menimbulkan
suara. Akan tetapi, selama beberapa bulan menerima gemblengan ayahnya yang buta, Hui Hong telah
diajar pula mempertajam pendengarannya, seperti ayahnya yang seolah menggantikan tugas matanya
yang tidak dapat melihat itu dengan telinganya. Maka, setelah tiga orang itu agak dekat,
pendengarannya dapat menangkap pernapasan mereka dan cepat ia meloncat turun dari atas batu.
Namun terlambat. Tiga orang itu sudah terlampau dekat dan kini mereka telah mengepung Hui Hong
dari tiga jurusan.
Andaikata ia tidak dikepung sekalipun, Hui Hong tidak akan melarikan diri. Gadis ini memiliki keberanian
luar biasa, apalagi setelah ia mendapat gemblengan dari ayahnya dan sepasang senjata itu masih di
tangannya. Ia tidak akan gentar menghadapi lawan yang bagaimanapun juga. Akan tetapi, ketika ia
melihat siapa yang mengepungnya, ia mengerutkan alisnya dan maklum bahwa ia berhadapan dengan
lawan-lawan yang amat tangguh. Tentu saja ia mengenal Ouwyang Sek, orang yang selama ini dianggap
sebagai ayahnya sendiri, juga gurunya yang mengajarkan ilmu silat kepadanya sejak ia kecil. Dan ia
mengenal pula Suma Koan, datuk majikan Bukit Bayangan Iblis yang amat tangguh itu, orang yang
pernah melamarnya untuk dijadikan mantunya. Dan iapun mengenal pula Kwan Im Sian-li, datuk wanita
yang pernah membohonginya dan berusaha mengadu ia dengan ayah kandungnya sendiri. Tiga orang
datuk kaum sesat maju sekaligus menghadapinya! Sungguh merupakan lawan yang amat tangguh dan
berbahaya. Namun, ia siap dengan pedang dan tongkatnya, menghadapi mereka dengan sikap gagah
sekali.
"Kalian ...! Mau apa kalian bertiga datang ke sini?" ia bertanya dan sedikitpun ia tidak memperlihatkan
sikap takut.
"Tangkap ...!!" Ouwyang Sek berseru dan iapun sudah menyerang dengan kedua tangannya terjulur ke
depan dan dari kedua tangan itu menyambar angin pukulan dahsyat ketika dia berusaha untuk
merobohkan bekas murid atau anak tirinya itu dengan totokan dan cengkeraman. Akan tetapi Hui Hong
sama sekali tidak mengelak, bahkan tongkat di tangan kirinya menyambut cengkeraman tangan
Ouwyang Sek dengan totokan ke arah telapak tangan itu, dan pedangnya menyambar ke arah
pergelangan tangan yang menotoknya!
(Bersambung jilid 18)
JILID 18
"AHHH ...!!" Ouwyang Sek berseru kaget, tidak menyangka bekas murid ini akan menyambutnya seperti
itu, dengan jurus yang sama sekali tidak disangka dan tidak dikenalnya, bahkan menggantikan pedang
kiri dengan tongkat yang lihai bukan main. Terpaksa dia meloncat ke belakang dan pada saat itu Kwan
Im Sian-li dan Suma Koan sudah bergerak maju membantu rekan mereka. Suma Koan menggunakan
suling mautnya untuk melakukan serangan totokan, sedangkan Bwe Si Ni menerkam dari samping
dengan kedua tangannya yang membentuk cakar harimau. Serangan kedua orang ini hebat sekali
sehingga Hui Hong terdesak hebat, biarpun ia sudah memutar pedang dan tongkatnya. Tenaga sin-kang
dari kedua orang inipun amat kuat.
Selagi ia berlompatan mengelak dari desakan kedua orang lawan itu, tiba-tiha belakang lutut kirinya
terkena tendangan kaki Ouwyang Sek dan Hui Hong jatuh berlutut dengan sebelah kaki dan pada saat
itu, pedang di tangan Kwan Im Sian-li Bwe Si Ni telah menempel di lehernya.
"Jangan berserak, bergerak berarti mati!" bentak Bwe Si Ni dengan suara mengejek.
Suma Koan merampas tongkat dan pedang dari tangan Hui Hong yang terpaksa melepaskannya karena
ia sudah tidak berdaya ditempeli pedang lehernya. Ia bukan seorang nekat yang bodoh untuk melawan
dalam keadaan seperti itu yang akan sama saja dengan membunuh diri atau mati konyol. Akan tetapi ia
masih sempat berseru nyaring, "Ayaaaahhh ...!!”
Terdengar jendela pondok itu jebol dan tubuh Tiauw Sun Ong melesat di luar bagaikan seekor burung
garuda menyambar ke arah tempat itu! Tiga orang itu sudah siap dan pedang yang menempel di leher
Hui Hong semakin kuat. Tanpa mengeluarkan suara tubuh Tiauw Sun Ong sudah berdiri di depan tiga
orang itu, tongkatnya melintang di depan, mukanya agak miring karena dia menggunakan tenaga yang
dikerahkan kepada kedua telinganya untuk mendengarkan gerakan tiga orang itu. Biarpun kedua
matanya tidak dapat melihat lagi, namun perasaan dan pendengaran, juga penciumannya, seolah dapat
menggantikan kekurangan itu dan dia dapat mengetahui apa yang sedang terjadi di depannya!
"Hui Hong, tak dapatkah engkau melepaskan dirimu?" tanya Tiauw Sun Ong dan suaranya mengandung
wibawa yang kuat sehingga tiga orang itu mau tidak mau merasa jerih juga.
“Ayah, mereka mengeroyok dan menangkapku secara curang." kata Hui Hong, namun ia tidak berani
bergerak karena sekali ia bergerak, pedang itu dapat memenggal lehernya.
"Hemm, siapa kalian bertiga dan apa maksud kalian menangkap puteriku?"
"Tiga orang datuk itu menutupi perasaan jerih mereka dengan suara tawa mereka. Mereka sengaja
menertawakan Tiauw Sun Ong karena sudah merasa menang dengan tertawannya puteri bekas
pangeran itu.
Mendengar suara tawa mereka, Tiauw Sun Ong mengerutkan alisnya, "Bwe Si Ni! dan tentu seorang di
antara kalian adalah Bu-eng-kiam Ouwyang Sek. Dan siapa yang seorang lagi?"
"Tiauw Sun Ong, aku adalah orang yang suka bermain musik," jawab Suma Koan dan tiba-tiba terdengar
suara suling ditiup ketika datuk ini meniup suling mautnya.
"Hemm, kiranya Kui-siauw Giam-ong? Kalian tiga orang datuk sesat telah bertindak seperti penjahatpenjahat
kecil yang curang. Bebaskan puteriku, dan kalau kalian menghendaki, mari hadapi aku, tua
sama tua, bukan tiga orang tua mengeroyok dan menawan seorang muda!"
"Hemm, Tiauw Sun Ong manusia berhati kejam!" teriak Kwan Im Sian-ii marah. “Engkau tidak dapat
melihat akan tetapi ketahuilah bahwa pedangku sudah menempel di leher puterimu. Sekali saja engkau
membuat gerakan, pedangku akan lebih dulu memenggal batang leher puterimu yang putih mulus ini!"
Kedua tangan Tiauw Sun Ong gemetar karena dia menahan kemarahannya, "Bwe Si Ni, apa kehendak
kalian bertiga? Katakan!” Dia tahu bahwa tiga orang manusia curang itu sengaja menyandera Hui Hong
untuk memaksa dia.
"Tiauw Sun Ong, buang tongkatmu dan menyerahlah menjadi tawanan kami atau puterimu akan
kupenggal batang lehernya di depan hidungmu!" kata pula Kwan Im Sian-li dengan suara mengejek,
hatinya girang dapat membuat orang yang kini amat dibencinya itu gelisah.
"Ayah, jangan dengarkan omongannya! Jangan perdulikan aku, hajar saja mereka. Aku tidak takut mati!"
teriak Hui Hong.
"Bwe Si Ni, aku selamannya tidak pernah mengganggumu, dan tidak pernah ada urusan dengan Bu-engkiam
maupun Kui-siauw Giam-ong. Akan tetapi kalau kalian sampai berani mengganggu puteriku, demi
Tuhan, aku tidak akan berhenti sampai dapat membunuh kalian bertiga!" Suara bekas pangeran itu
mengandung wibawa yang menggetarkan perasaan tiga orang itu.
Suma Koan dan Ouwyang Sek sudah siap dengan senjata mereka, menghadang di depan Tiauw Sun Ong
agar bekas pangeran itu tidak mempergunakan kekerasan untuk menolong puterinya.
"Tiauw Sun Ong, menyerahlah, atau kubunuh puterimu!" teriak Bwe Si Ni dan dari suara wanita ini,
tahulah Tiauw Sun Ong bahwa ia bersungguh-sungguh dan keselamatan nyawa puterinya tergantung
kepada sikapnya.
"Ayah, serang saja mereka!" kembali Hui Hong berseru.
"Hui Hong, tenang dan sabarlah," kata Tiauw Sun Ong yang kemudian bertanya kepada Bwe Si Ni, "Si Ni,
lihat aku sudah menyerah, lalu apa kehendak kalian bertiga?" Dia melepaskan tongkatnya yang jatuh ke
depan kedua kakinya.
Pada saat itu, terdengar suara wanita yang nyaring dan amat berpengaruh, "Kwan Im Sian-li, lepaskan
pedangmu! Cepat!"
Suara itu mengandung getaran yang amat kuat sehingga mengejutkan semua orang, terutama sekali
Kwan Im Sian-li dan tanpa disadarinya, iapun melepaskan pedangnya yang tadi dipergunakan untuk
mengancam Hu Hong.
"Hui Hong, cepat!” teriak Tiauw Sun Ong kepada puterinya, akan tetapi sebetulnya Hui Hong tidak
memerlukan peringatan ini lagi. Begitu merasa betapa pedang itu meninggalkan lehernya, iapun
menggunakan kedua tangannya mendorong ke arah dada Kwan Im Sian-li yang terpaksa melangkah
mundur menghindarkan diri dan kesempatan itu dipergunakan oleh Hui Hong untuk bergerak cepat ke
kiri dan menyambar tongkat dan pedangnya yang tadi dirampas oleh Suma Koan dan dilemparkan ke
atas tanah.
"Haiiiittt ...!!" Tiauw Sun Ong juga sudah menggerakkan kedua tangannya menerjang ke arah Ouwyang
Sek dan Suma Koan. Demikian hebat serangannya sehingga kedua orang datuk ini mundur, dan
kesempatan itu dia pergunakan untuk memungut kembali tongkatnya.
Hui Hong menoleh ke arah suara wanita tadi dan muncullah seorang wanita muda yang cantik. Hui Hong
memandang penuh perhatian. "Kau ...? Bukankah engkau ... Cia Ling Ay ... “ Nama ini tak pernah ia
lupakan karena Cia Ling Ay, seperti yang didengarnya dari Bun Houw, adalah bekas tunangan pemuda
yang dicintanya itu.
Ling Ay tersenyum dan mengangguk. "Adik Hui Hong, mari kita hajar iblis betina yang jahat ini!" katanya.
Tanpa diminta untuk ke dua kalinya, Hui Hong sudah memutar pedang dan tongkatnya menyerang Kwan
Im Sian-li. Cia Ling Ay juga menggerakkan pedangnya membantu. Dalam hal ilmu silat, sebagai murid
mendiang Bi Moli Kwan Hwe Li, tentu saja Ling Ay bukan tandingan Kwan Im Sian-li yang mempunyai
tingkat sebanding gurunya, akan tetapi wanita muda ini memiliki kelebihan, yaitu ilmu sihir! Biarpun
dalam ilmu ini ia tidak sekuat mendiang gurunya, namun sudah cukup untuk dapat mempengaruhi
seorang datuk wanita seperti Kwan Im Sian-li sehingga ia dapat menyelamatkan Hui Hong. Sejak tadi ia
memang menyaksikan peristiwa di belakang pondok itu. Ia datang ke Hoa-san dengan niat mencari Kwa
Bun Houw. Ia merasa menyesal sekali telah memperlihatkan perasaan duka dan putus asa meninggalkan
Bun Houw seperti seorang yang merasa cemburu. Ia hendak menemui dan minta kepada bekas
tunangannya itu dan ia mengira bahwa Bun Houw dapat ia temukan di tempat kediaman guru pemuda
itu. Ia pernah bersama gurunya datang ke tempat ini. maka ia dapat mengunjungi pondok dari arah
belakang dan kebetulan melihat betapa Hui Hong ditangkap oleh tiga orang datuk. Tadinya, ia tidak ingin
mencampuri, akan tetapi melihat betapa bekas pangeran itu dan Hui Hong diancam secara curang oleh
tiga orang itu. ia merasa penasaran dan segera berusaha untuk membantu. Ia tidak begitu bodoh
mengandalkan ilmu silatnya terhadap tiga orang datuk yang ia tahu amat lihai, maka satu-satunya jalan
baginya untuk menolong Hui Hong adalah dengan ilmu sihirnya, menyerang dengan tiba-tiba
mengejutkan Kwan Im Sian-li sehingga datuk wanita itu terkejut dan melepaskan pedangnya dan Hui
Hong dapat terbebas dari ancaman maut.
Sementara itu, Tiauw Sun Ong sudah menggerakkan tongkatnya menghadapi pengeroyokan Suma Koan
dan Ouwyang Sek. Diam-diam dia merasa gembira bahwa puterinya terbebas dari ancaman maut, dan
dia belum tahu siapa wanita yang menyelamatkan puterinya dengan sihir tadi. Akan tetapi dia merasa
lega bahwa puterinya dan penolong itu yang kini menghadapi Kwan Im Sian-li, karena kalau dia yang
harus melawannya, bagaimanapun juga dia masih merasa kasihan dan tidak tega untuk membunuh
bekas dayang itu.
Betapapun lihainya Tiauw Sun Ong, kini dia menghadapi pengeroyokan dua orang datuk yang berilmu
tinggi. Terpaksa dia harus mengerahkan seluruh tenaganya dan masih untunglah bahwa berkat
kebutaannya, dia memiliki kepekaan melebihi orang biasa, dan pendengarannya menjadi amat tajam
sehingga dia dapat mengetahui setiap gerakan lawan walaupun gerakan itu dilakukan dari arah
belakangnya. Bagaimanapun juga, karena kedua orang lawannya merupakan datuk-datuk yang berilmu
tinggi, Tiauw Sun Ong lebih banyak menangkis dan mengelak dari pada menyerang. Dia terdesak
sungguhpun kedua orang lawannya tidak mudah untuk dapat merobohkannya.
Di lain pihak, Kwan Im Sian-li repot sekali menghadapi pengeroyokan dua orang wanita muda itu.
Apalagi kini Hui Hong telah memperoleh kemajuan pesat di bawah bimbingan ayahnya. Kalau ia harus
melawan sendiri bekas dayang itu, agaknya Hui Hong masih akan merasa kewalahan. Akan tetapi di situ
ada Ling Ay yang juga lelah mewarisi sebagian besar ilmu mendiang Bi Moli Kwan Hwe Li. Dengan kerja
sama yang baik, dua orang wanita muda ini perlahan-lahan mulai mendesak Kwan Im Sian-li, membuat
datuk wanita itu repot membela diri dan jarang ia dapat membalas serangan mereka.
Diam-diam Hui Hong merasa kagum kepada Ling Ay. Bekas tunangan Kwa Bun Houw ini, pada kurang
lebih empat tahun yang lalu, masih dikenalnya sebagai seorang wanita yang lemah. Akan tetapi
sekarang mendadak muncul sebagai seorang wanita yang lihai dalam ilmu silatnya, bahkan juga memiliki
kekuatan sihir yang tadi dipergunakannya dan berhasil menyelamatkan ia dan ayahnya!
Bukan main! Dan iapun melihat betapa bekas tunangan Bun Houw itu kini bersungguh-sungguh
mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menyerang Kwan Im Sian-li. Melihat ini, timbul
semangatnya dan iapun menggerakkan pedang dan tongkatnya lebih cepat lagi.
Tentu saja Kwan Im Sian-li menjadi semakin repot setelah dua orang wanita muda itu memperhebat
serangan mereka. Apalagi ketika ia mengerling ke arah kedua orang rekan mereka, dari dua orang datuk
itu iapun tidak dapat mengharapkan bantuan karena mereka berdua itu masih bertanding seru
mengeroyok Tiauw Sun Ong dan nampaknya belum ada tanda-tanda akan menang dalam waktu pendek,
Hui Hong juga mengerling ke arah ayahnya dan ia maklum bahwa kalau dilanjutkan pertandingan itu,
lambat laun ayahnya tentu akan terancam bahaya karena dua orang datuk itu memang lihai bukan
main. Ia harus dapat merobohkan Kwan Im Sian-li lebih dahulu sebelum dapat membantu ayahnya,
karena kalau ia tinggalkan Ling Ay seorang diri menghadapi bekas dayang itu, sama saja dengan
membunuh wanita yang kemunculannya telah menyelamatkan ia dan ayahnya itu.
Maka ia mengerahkan semua tenaga dan kepandaiannya untuk mencoba merobohkan wanita itu
secepatnya, namun harapannya itu agaknya tidak akan mudah dapat menjadi kenyataan. Kwan Im Sianli
adalah seorang datuk wanita yang tingkat kepandaiannya sudah tinggi, bahkan tidak banyak selisihnya
dibandingkan tingkat kepandaian Ouwyang Sek ataupun Suma Koan. Dan melihat betapa ayahnya mulai
terdesak, timbul kegelisahan di hati Hui Hong, khawatir kalau ayahnya akan celaka di tangan dua orang
datuk itu. Dan kegelisahannya ini justeru membuat gerakannya menjadi kacau dan hal ini membuat
Kwan Im Sian-li nampak semakin kuat dan sukar dikalahkan.
Tiauw Sun Ong memang mulai terdesak oleh kedua orang pengeroyoknya. Keadaan di dua gelanggang
pertempuran itu membuat keadaan kedua pihak seimbang. Tiauw Sun Ong terdesak oleh dua orang
pengeroyoknya, sebaliknya, puterinya dan Ling Ay juga mendesak Kwan Im Sian-li. Mereka semua
maklum bahwa pihak yang kalah lebih dulu berarti akan kalah semua karena pihak yang menang tentu
akan dapat membantu perkelahian yang lain.
"Enci Ling Ay, cepat kaubantu ayahku!” tiba-tiba Hui Hong memutar pedangnya dengan sepenuh
tenaganya menyerang Kwan Im Sian Li karena ia sudah mengambil keputusan untuk membiarkan ia
seorang diri yang terdesak oleh lawan, akan tetapi ayahnya harus dibantu dan itulah sebabnya ia minta
kepada Ling Ay untuk membantu ayahnya. Ling Ay menjadi agak bingung mendengar permintaan itu
karena ia pun tahu bahwa menghadapi Kwan Im Sian-li sendiri saja merupakan bahaya besar bagi gadis
itu. Akan tetapi Ling Ay adalah seorang yang cukup cerdik, iapun tahu bahwa Hui Hong sengaja
membiarkan dirinya terancam asal ayahnya terbebas dari desakan dua orang pengeroyoknya. Dan iapun
percaya bahwa bagaimanapun juga Kwan Im Sian-li tidak akan mudah saja mengalahkan atau
merobohkan Hui Hong. walaupun gadis itupun tidak akan mungkin menang kalau melawan datuk wanita
itu seorang diri saja. Maka, iapun meloncat dan memutar pedangnya, terjun ke dalam gelanggang
pertandingan membantu Tiauw Sun Ong.
Bekas pangeran itu terkejut sekali ketika dengan pendengarannya ia dapat mengetahui bahwa wanita
yang tadi membantu puterinya, kini datang membantunya. Hal ini berarti bahwa puterinya itu seorang
diri saja menghadapi Kwan Im Sian-li! Dan diapun segera tahu bahwa puterinya sengaja mengorbankan
diri demi keselamatannya, sengaja menyuruh wanita penolong tadi membantunya agar dia terbebas
dari desakan dan ancaman dua orang datuk yang mengeroyoknya.
"Nona bantulah Hui Hong saja!" teriaknya berulang kali.
"Enci Ling Ay. kau bantu ayah!” teriak pula Hui Hong.
Tentu saja terikan ayah dan anak ini membuat Ling Ay menjadi bingung. Juga membuat Tiauw Sun Ong
dan Hui Hong kehilangan pencurahan perhatiannya sehingga membuyar atau terpecah dan tiba-tiba Hui
Hong mengaduh karena ujung pedang Kwan Im Sian-li yang tadinya menyambar ke arah lehernya, agak
lambat ia mengelak dan pundak kirinya disambar ujung pedang sehingga berdarah
Melihat ini, Ling Ay meloncat dan menangkis pedang Kwan Im Sian-Ii yang sudah menyambar lagi ke
arah tubuh Hui Hong yang terhuyung sehingga gadis itu terbebas dari maut dan mereka berdua sudah
mengeroyok lagi Kwan Im Sian-li. Teriakan Hui Hong yang tertahan ketika pundaknya terluka, dapat
tertangkap telinga Tiauw Sun Ong dan bekas pangeran itu menjadi sedemikian kaget dan gelisahnya
sehingga ujung suling di tangan Suma Koan berhasil menghantam paha kaki kirinya.
"Dukk_ ...!" Dan tubuh bekas pangeran itu terhuyung ke belakang. Untung dia masih sempat
mengerahkan sin-kang sehingga tulang pahanya tidak patah, akan tetapi dalam keadaan terhuyung itu.
tentu saja dia membuka kesempatan bagi kedua orang pengeroyoknya untuk mendesak maju. Melihat
ini, Ling Ay mengeluarkan teriakan melengking nyaring dan pedangnya menyambar cepat untuk
melindungi bekas pengeran itu. Teriakannya yang mengandung wibawa karena dikerahkan dengan
kekuatan sihir, membuat kedua orang datuk itu agak tertahan gerakan mereka, akan tetapi ketika suling
di tangan Suma Koan bertemu pedang di tangan Ling Ay, tetap saja Ling Ay terhuyung dan pedang itu
hampir terlepas dari tangannya. Bagaimanapun juga, bantuan Ling Ay ini telah membebaskan Tiauw Sun
Ong dari ancaman maut. Ketika kedua orang datuk itu mendesak lagi, Tiauw Sun Ong sudah dapat
memutar tongkatnya membela diri, juga Ling Ay membantunya dengan putaran pedangnya. Namun,
bantuan Ling Ay ini tidak membuat keadaan Tiauw Sun Ong lebih baik. Apalagi, pahanya telah terluka
terasa nyeri.
Keadaan ayah dan anak itu sungguh gawat. Bantuan Ling Ay memang telah dua kali menyelamatkan
Tiauw Sun Ong dan Hui Hong akan tetapi tidak meloloskan mereka dari desakan tiga orang datuk itu.
Keadaan Hui Hong yang paling repot. Pundaknya telah terluka dan biarpun luka itu tidak terlalu parah,
namun gerakannya membuat luka itu terus mengucurkan darah! Beberapa kali hampir saja ia menjadi
korban tusukan pedang Kwan Im Sian-li dan ketika ia berhasil menangkis sebuah tusukan, tiba-iiba kaki
Kwan Im Sian-li berhasil menendang kakinya di bawah lutut dan Hui Hong terpelanting! Kwan Im Sian-li
mengeluarkan suara tawa dan pedangnya berkelebat.
"Tranggg ...!"
"Aihhh ...!!" Kwan Im Sian-li terkejut bukan main dan terbelalak memandang kepada pedang yang
dipegangnya karena pedang itu telah patah ujungnya. Ia tadi hanya melihat kilat menyambar dan tahutahu
pedangnya telah tertangkis dan menjadi buntung! Ketika ia memandang, kiranya di depannya telah
berdiri orang yang dicari-cari tiga erang datuk itu, yaitu Kwa Bun Houw yang sudah memegang sebatang
pedang yang berkilauan di tangannya, dan dengan tangan kirinya dia menarik tangan Hui Hong dan
membantu gadis itu bangkit berdiri.
"Houw-koko, kau bantu ayah ...!" kata Hui Hong, gembira bukan main melihat munculnya Bun Houw.
Bun Houw menoleh dan melihat betapa gurunya, Tiauw Sun Ong, didesak hebat oleh Ouwyang Sek dan
Suma Koan dan gurunya itu dibantu oleh Cia Ling Ay dengan mati-matian, hal yang membuat ia
terheran-heran bukan main. Akan tetapi dia mengerti bahwa Ling Ay membantu Hui Hong dan ayahnya,
maka diapun cepat berseru, "Adik Ling Ay, kau bantu Hong-moi."
Ling Ay juga gembira melihat munculnya Bun Houw. "Baik!" katanya dan dengan penuh semangat, janda
muda ini lalu meloncat dan menyerang Kwan Im Sian-li dengan pedangnya. Hui Hong menggerakkan
pedang dan tongkatnya mengeroyok. Hui Hong sedemikian gembiranya melihat kedatangan Bun Houw
sehingga ia melupakan luka di pundaknya dan gerakannya kini bagaikan seekor harimau betina
mengamuk. Tentu saja Kwan Im Sian-li yang sudah buntung pedangnya, menjadi semakin panik dan
menurun semangatnya.
Sementara itu, sekali melompat saja Bun Houw sudah terjun ke gelanggang perkelahian. Dua orang
datuk itu pun terkejut setengah mati melihat munculnya pemuda itu. Tadinya mereka memang ingin
bertemu Bun Houw untuk membalas dendam, akan tetapi bukan sekarang, di mana terdapat Tiauw Sun
Ong, Tiauw Hui Hong, dan Cia Ling Ay yang dapat membantunya. Menghadapi bekas pangeran dan dua
orang wanita muda itu saja, sampai sekian lamanya mereka belum mampu menundukkan mereka,
apalagi kini muncul Kwa Bun Houw! Akan tetapi, dua orang datuk yang merasa dirinya besar dan tinggi
kedudukannya itu, menutupi kegelisahan mereka.
"Bagus, engkau muncul sendiri, Kwa Bun Houw! Bersiaplah untuk mampus di tanganku sebagai
pembalasan kematian puteraku!" kata Ouwyang Sek marah.
"Puteramu sendiri yang bersalah hendak membunuh kaisar dan dia tertangkap, dihukum mati. Kenapa
salahkan aku?" Bun Houw menjawab.
"Engkau yang menyebabkan dia tertawan!" bentak Ouwyang Sek dan diapun sudah menggerakkan
pedangnya menyerang Kwa Bun Houw.
Datuk ini berjuluk Bu-eng-kiam (Pedang Tanpa Bayangan), tentu saja dia memiliki ilmu pedang yang
ampuh. Namun, sekali ini dia berhadapan dengan Kwa Bun Houw yang bukan saja telah menguasai
hampir seluruh kepandaian Tiauw Sun Ong, namun bahkan kini dia lebih lihai dari gurunya karena dia
telah menguasai pula ilmu rahasia Im-yang Bu-tek Cin-keng dan tubuhnya amat kuat, mengandung
tenaga sakti yang hebat berkat khasiat Akar Bunga Gurun Pasir yang secara kebetulan diminumnya.
Maka, begitu Bun Houw menggerakkan pedangnya untuk melawan, terjadi pertandingan seru dan
hebat, namun yang membuat Ouwyang Sek segera terdesak hebat!
Tiauw Sun Ong juga kini dapat mendesak Suma Koan. Biarpun pahanya terasa nyeri, akan tetapi bekas
pangeran itu dapat mendesak lawan yang hanya tinggal seorang itu, dan perlahan-lahan, sinar dari
suling di tangan Suma Koan semakin mengendur dan menyempit.
Yang paling payah keadaannya adalah Kwan Iin Sian-li. Kembali Ling Ay membantu Hui Hong dan kedua
orang wanita muda itu dengan penuh semangat menghimpit dan menekan datuk wanita yang
pedangnya sudah buntung, tidak memberi kesempatan kepadanya untuk balas menyerang, apalagi
melarikan diri. Kwan Im Sian-li hanya dapat berusaha sekuat tenaga untuk mengelak atau menangkis
dengan pedang buntungnya. Namun, usaha ini hanya dapat membuat ia bertahan selama belasan jurus
saja karena ketika mendapat kesempatan baik, ranting di tangan kiri Hui Hong berhasil menotok
dadanya, membuat datuk wanita itu terhuyung lemas dan kesempatan itu dipergunakan oleh Cia Ling Ay
untuk menusukkan pedangnya ke lambung Kwan Im Sian-li. Bekas dayang istana itu menjerit, akan
tetapi jeritnya tertahan karena saat itu, pedang di tangan kanan Hui Hong menyambar dan menusuk
tembus lehernya. Wanita itu terkulai dan tewas seketika, mandi darah.
Pada saat yang hampir bersamaan, tangan kiri Bun Houw dengan pengerahan tenaga dahsyat Im-yang
Bu-tek Cin-keng, telah menyambar dan menampar ke arah dada lawan. Pada saat itu pedang Ouwyang
Sek bertemu dengan Lui-kong-kiam (Pedang Kilat) dan biarpun pedang datuk itu tidak patah karena
terbuat dari baja pilihan, namun dia tidak dapat menariknya kembali. Pedang itu melekat dengan
pedang di tangan Bun Houw dan selagi dia mengerahkan tenaga untuk melepaskan pedangnya, tiba-tiba
saja Bun Houw menampar dengan tangan kirinya. Ouwyang Sek tidak dapat mengelak dan mengerahkan
sin-kang untuk membuat dadanya dilindungi kekebalan. Dia tidak tahu betapa hebatnya tenaga dari Imyang
Bu-tek Cin-keng itu.
"Plakkk!" Mata Ouwyang Sek terbelalak dan ketika tubuhnya terjengkang roboh, nyawanya sudah
melayang. Tamparan itu telah menghancurkan semua isi dadanya.
Melihat gurunya belum juga merobohkan Suma Koan, Bun Houw maklum bahwa agaknya gurunya tidak
ingin membunuh lawan. Gurunya sudah mendesak hebat dan kalau gurunya menghendaki, tentu
tongkat di tangan gurunya itu sudah dapat membunuh lawan. Diapun melompat ke depan dan berseru,
"Suhu, biar teecu menghadapinya!"
Mendengar ucapan muridnya ini. Tiauw Sun Ong melompat ke belakang dan Suma Koan menjadi lega
bukan main. Tadi dia sudah repot dan tinggal menanti robohnya saja dan sekarang, lawan yang amat
tangguh itu meninggalkannya dan digantikan muridnya. Bagaimanapun juga, sang murid tidak mungkin
selihai sang guru. Diapun cepat menyerang Bun Houw dengan sulingnya, mengerahkan semua
tenaganya. Bun Houw menyambut dan mengerahkan tenaga pula.
"Tranggg ...!!" Bunga api berpijar dan hampir saja Suma Koan melepaskan sulingnya karena telapak
tangan yang memegang suling merasa panas tergetar hebat. Dia terkejut dan nekat, namun matanya
silau oleh gulungan sinar pedang yang seperti kilat menyambar-nyambar itu. Dia berusaha untuk
membela diri, namun baru dia tahu bahwa pemuda ini bahkan jauh lebih berbahaya dibandingkan bekas
pangeran itu. Sebelum dia dapat membalas hujan serangan itu, tiba-tiba kilat menyambar berkelebat di
depan matanya dan di lain saat iapun sudah roboh terjengkang dengan dada ditembusi pedang. Raja
Maut Suling Iblis itu pun roboh dan tewas seketika.
"Ya Tuhan ... terima kasih bahwa aku tidak dapat melihat semua kengerian ini ...!" terdengar Tiauw Sun
Ong berkata, alisnya berkerut dan wajahnya nampak muram.!
"Harap suhu memaafkan teecu, terpaksa teecu membunuh mereka karena mereka memang amat jahat
dan mereka tadi berusaha mati-matian untuk mencelakai suhu." kata Bun Houw.
Hui Hong cepat menghampiri ayahnya dan memegang lengan ayahnya. “Ayah. Houw-ko tidak bersalah.
Memang benar, yang jahat adalah tiga orang sesat itu. Mereka mencari kematian sendiri. Kalau tadi
tidak ada enci Cia Ling Ay yang datang menolong, tentu ayah dan aku sudah tewas di tangan mereka.”
“Hemm, nona yang pandai menggunakan sihir ... engkau seperti Kwan Hwe Li, bagaimana tiba-liba dapat
menolong kami? Siapakah engkau?" Bekas pangeran itu bertanya dan diapun memalingkan mukanya ke
arah Ling Ay.
"Lo-cian-pwe mungkin lupa kepada saya. Saya pernah datang ke sini bersama subo Bi Moli."
"Ahhh ... !” Tiauw Sun Ong berseru kaget. "Jadi engkau murid Kwan Hwe Li itu. Akan tetapi ... kenapa
engkau sekarang malah membantu kami?"
"Ayah, enci Ling Ay bukanlah orang jahat walaupun ia menjadi murid Bi Moli.” kata Hui Hong. "Bahkan ia
dahulu adalah ... sahabat baik dan sekampung dengan Houw ko.”
Mendengar ucapan Hui Hong itu, wajah. Ling Ay berubah kemerahan dan ia tersipu. Tentu Bun Houw
sudah bercerita kepada gadis itu tentang hubungan mereka dahulu. Seorang gadis yang hebat, pikirnya.
Pantas menjadi kekasih dan tunangan Bun Houw.
"Aih, sudahlah, adik Hui Hong, aku bukan seorang yang patut dipuji puji. Sekarang aku mohon diri. Locianpwe,
saya mohon pamit ... akan melanjutkan perjalanan ... "
"Ling Ay, nanti dulu!" kata Bun Houw dengan perasaan tidak enak sekali. Dia tahu betapa dia telah
melukai dan mengecewakan hati wanita ini, dan sekarang wanita ini muncul sebagai penyelamat
gurunya dan kekasihnya. "Engkau tiba-tiba saja muncul di sini dan menyelamatkan suhu dan Hong-moi,
bagaimana engkau akan pergi begitu saja? Kami ingin mendengar bagaimana engkau dapat muncul di
sini dan ... "
"Benar, enci. Engkau tidak boleh pergi begitu saja! Aku ingin sekali berkenalan lebih akrab denganmu."
kata Hui Hong sambil memegang tangan wanita itu.
“Nona, kami mengundangmu untuk singgah di pondok kami dan bicara, kecuali kalau nona tidak sudi
menerima undangan kami ... “ kata pula Tiauw Sun Ong.
Tentu saja Ling Ay merasa tidak enak sekali untuk menolak. "Kalau itu yang kalian inginkan, baiklah saya
akan singgah sebentar ... "
"Bun Houw, lebih dahulu kita harus kubur tiga jenazah ini baik-baik dan dengan penuh penghormatan.”
kata Tiauw Sun Ong.
"Ayah, mereka adalah orang-orang jahat, datuk-datuk sesat!" Hui Hong memprotes.
"Hui Hong, yang kita tentang adalah kejahatan mereka, bukanlah orangnya. Mereka itu sama saja
dengan kita, manusia-manusia yang senasib sependeritaan dengan kita yang patut dikasihani. Setelah
mereka tewas, tidak ada lagi kejahatan pada diri mereka."
Mereka berempat lalu menggali lubang di permukaan puncak yang agak jauh dari pondok itu karena
mereka harus memilih tempat yang tidak mengandung banyak batu sehingga mudah menggali lubang.
Kemudian, dengan sederhana namun cukup khidmat, mereka mengubur jenazah tiga orang datuk itu di
dalam tiga buah lubang. Tidak urung Hui Hong yang pada dasarnya berhati lembut itu menangis di
depan makam Ouwyang Sek karena ia teringat akan segala kebaikan yang telah dilimpahkan datuk itu
kepadanya sejak ia kecil sampai dewasa. Harus diakuinya bahwa sebelum ia menjadi dewasa dan
hendak dijodohkan dengan Suma Hok datuk ini bersikap amat baik kepadanya, seperti kepada anak
sendiri.
Setelah pemakaman itu selesai, mereka semua memasuki pondok dan bercakap-cakap. Terpaksa Ling Ay
menceritakan bagaimana secara kebetulan sekali ia dapat berada di situ dan membantu Tiauw Sun Ong
dan Hui Hong menghadapi tiga orang datuk yang lihai itu. Akan tetapi ceritanya itupun merupakan
karangannya saja, karena bagaimana mungkin ia mengaku kepada mereka, terutama Hui Hong, bahwa
ia datang untuk mencari Bun Houw dan menyampaikan permintaan maafkan atas sikapnya kepada Bun
Houw tempo hari ketika pemuda itu menolak harapannya untuk menyambung tali pertunangan mereka
yang putus?
Dengan terus terang ia menceritakan bahwa tadinya ia mengikuti subonya ke kota raja, bahkan
mendapatkan pekerjaan di kota raja. Akan tetapi melihat subonya bekerja sama dengan Ouwyang Toan,
iapun merasa tidak setuju dan mendengar niat mereka untuk memaksanya menjadi isteri Ouwyang
Toan, ia lalu melarikan diri. Mereka mengejarnya sehingga tersusul dan hampir saja ia celaka di tangan
mereka.
"Untung sekali muncul kakak Kwa Bun Houw yang kebetulan sekali melihat aku dikeroyok mereka, dan
telah menolongku lepas dari tangan mereka. Setelah aku berpisah dari guruku, aku lalu merantau
seorang diri tanpa tujuan tertentu dan kebetulan sekali aku lewat di bawah pegunungan Hoa-san. Aku
teringat ketika diajak oleh subo naik ke puncak ini, maka iseng-iseng saja aku mendaki puncak dan
melihat tiga orang itu juga naik puncak di depanku. Aku lalu membayangi mereka dan melihat apa yang
terjadi tadi, maka aku lalu berusaha membantu kalian."
"Dan engkau telah berhasil, enci Ling Ay. Kalau tidak ada engkau, entah bagaimana jadinya dengan ayah
dan aku. Houw-ko, engkau datang terlambat!"
"Aih, adik Hui Hong, jangan berkata begitu. Kalau tidak ada kakak Bun Houw tadi datang, apa kaukira
kita juga akan mampu bertahan? Mereka amat lihai." kata Ling Ay, tidak sengaja seperti membela Bun
Houw.
Ketika tiba giliran Bun Houw menceritakan pergalamaanya, Bun Houw bercerita tentang penyerangan
yang dilakukan Bi Moli dan Ouwyang Toan di istana terhadap kaisar dan betapa dengan perantaraan
Hek-tung Lo-kui dia ditugaskan untuk menjaga keselamatan kaisar dengan menyamar sebagai seorang
pengawal baru.
"Suhu, teecu berhasil menangkap Bi Moli dan Ouwyang Toan, Sribaginda Kaisar berhasil diselamatkan.
Setelah meninggalkan istana teecu segera pergi mengunjungi bekas Kaisar Cang Bu untuk menyadarkan
beliau agar tidak bersekutu dengan kerajaan Wei di utara, dan mengingatkan beliau bahwa gerakan
beliau untuk memberontak itu tidak akan benar dan hanya akan mendatangkan perang yang
menyengsarakan rakyat. Teecu di sana bentrok dengan Suma Hok yang mengkhianati bekas kaisar itu,
dan teecu berhasil pula menundukkannya sehingga dia ditawan bekas kaisar itu. Akan tetapi teecu tidak
berhasil membujuk Kaisar Cang Bu. Dia tidak mau mundur sehingga diserbu pasukan pemerintah. Teecu
tidak mencampuri pertempuran itu dan teecu pulang ke sini sebelum teecu melanjutkan pengejaran
terhadap Bu-tek Sam-kwi dan membasmi Thian-te Kui-pang, gerombolan yang telah mengacau di
perbatasan dan membunuh banyak rakyat dan tokoh kang-ouw itu." Bun Houw lalu menceritakan
kepada gurunya tentang Thian-te Kui-pang, gerombolan seratus orang yang dikirim oleh Kerajaan Wei
untuk mengacau daerah perbatasan.
Mendengar penuturan muridnya itu Tiauw Sun Ong menghela napas panjang. "Semua orang tiada hentihentinya
saling memperebutkan kekuasaan. Agaknya manusia telah lupa bahwa kekuasaan mutlak
berada di Tangan Tuhan Yang Maha Kuasa, dan kehadiran manusia di bumi bukan untuk saling
memperebutkan kekuasaan, melainkan untuk melakukan suatu manfaat bagi manusia pada umumnya,
berguna pula bagi dunia. Manusia bertugas menjadi alat dari kekuasaan Tuhan. Akan tetapi nafsu
mempermainkan manusia sehingga mereka lupa diri, mereka memegang kekuasaan bukan demi
kesejahteraan rakyat melainkan demi kesenangan diri pribadi. Karena itu timbullah perang dan
pertempuran tak kunjung hentinya yang hanya mendatangkan kesengsaraan bagi rakyat jelata. Kalian
semua memang benar. Sebagai orang-orang muda yang pernah dengan susah payah mempelajari
kepandaian, setelah menguasai ilmu harus dipergunakan demi menolong manusia yang sengsara, demi
menegakkan kebenaran, dan keadilan, menentang kejahatan, bukan ikut-ikutan memperebutkan
kekuasaan. Sayang aku sudah tua, kalau aku masih kuat, aku pun tidak dapat membiarkan saja
gerombolan seperti Thian-te Kui-pang itu mengganggu kehidupan rakyat di pedusunan sepanjang
perbatasan."
"Harap suhu tenangkan hati. Teecu adalah, murid suhu dan teecu sanggup mewakili suhu untuk
menghancurkan perkumpulan iblis itu.” kata Bun Houw.
"Houw-koko benar, ayah. Di sini ada Houw ko dan aku, untuk apa ayah harus turun tangan sendiri? Biar
aku yang akan membantu Houw-ko menghancurkan perkumpulan, iblis itu!” kata pula Hui Hong dengan
penuh semangat.
"Lo-cian-pwe, tugas ini memang untuk yang muda-muda. Sayapun siap membantu membasmi
perkumpulan iblis itu, tentu saja kalau kakak Bun Houw dan adik Hui Hong suka menerima saya untuk
membantu mereka."
"Heii, enci Ling Ay, kenapa engkau berkata demikian? Tentu saja kami senang sekali kalau engkau suka
membantu, bahkan kalau engkau tidak menawarkan bantuan sekalipun, tentu aku akan memintamu!"
kata Hui Hong sambil memegang tangan gadis itu.
Akan tetapi sambil menggandeng tangan-Hui Hong, Ling Ay masih menoleh kepada Bun Houw untuk
melihat bagaimana tanggapan pemuda itu. Ia tahu diri dan tidak ingin mengganggu kalau memang
pemuda itu tidak menghendaki bantuannya. Akan tetapi Bun Houw juga mengangguk dan berkata
dengan sungguh-sungguh. "Kawanan gerombolan iblis itu lihai, dan semakin banyak tenaga yang
dipersatukan untuk membasmi mereka, semakin baik lagi. Tentu saja kami merasa senang mendapat
bantuanmu, adik Ling Ay."
Setelah memberi nasihat agar mereka berhati-hati menghadapi gerombolan iblis itu, Tiauw Sun Ong
memperkenankan mereka turun gunung untuk menunaikan tugas sebagai pendekar-pendekar muda
yang perkasa.
***
Tiga orang muda itu melakukan perjalanan cepat karena mereka mempergunakan ilmu berlari cepat
menuruni pegunungan Hwa san. Tadinya, Hui Hong berada di tengah. Bun Houw berada di samping
kanannya sedangkan Ling Ay berada di samping kirinya. Akan tetapi di dalam perjalanan, secara halus
dan tidak kentara, Hui Hong sengaja pindah dan berada di sebelah kanan Bun Houw sehingga dengan
sendirinya Bun Houw kini berada di tengah-tengah, Hui Hong di kanannya dan Ling Ay di kirinya! Karena
hal ini dilakukan Hui Hong dengan sikap seolah tidak sengaja, maka biarpun merasa canggung Ling Ay
terpaksa menahan guncangan hatinya dan berjalan terus di sebelah kiri Bun Houw seolah tidak pernah
terjadi sesuatu antara ia dan pemuda itu.
Setiap mereka terpaksa harus bermalam di sebuah kota, mereka menyewa dua buah kamar di rumah
penginapan, sebuah kamar untuk Bun Houw dan sebuah kamar lagi untuk dua orang wanita itu. Dan
hubungan antara kedua orang wanita itu menjadi semakin akrab saja. Mereka merasa cocok sekali. Hui
Hong merasa iba kepada Ling Ay yang hidupnya penuh dengan kepahitan, sebaliknya Ling Ay diam diam
merasa bersukur bahwa bekas tunangannya itu telah mendapatkan seorang isteri yang benar-benar
gagah perkasa dan baik budi, di samping kecantikannya.
Beberapa hari kemudian, mereka tiba di sebuah dusun di dekat perbatasan. Karena dusun ini menjadi
tempat pemberhentian orang-orang yang melakukan perjalanan menyeberangi daerah tak bertuan,
untuk berdagang, maka dusun itu berkembang menjadi tempat yang ramai. Rumah rumah penginapan
didirikan orang karena banyak pedagang dan rombongan piauw-kiok (perusahaan pengawal barang)
berhenti di situ. Banyak pula rumah makan yang cukup lengkap berada di tempat itu.
Bun Houw, Hui Hong dan Ling Ay pada pagi hari itu memasuki sebuah rumah makan untuk sarapan.
Malam tadi mereka bermalam di dusun itu dan mereka mendengar keterangan bahwa dusun Tai-bun
yang dijadikan sarang gerombolan Thian-te Kui-pang berada sekitar lima puluh li dari dusun itu, di
sebelah barat. Mereka bermaksud melanjutkan perjalanan ke sana dan sebelum itu hendak sarapan
dulu dan membeli bekal makanan karena perjalanan di daerah tak bertuan itu kakang-kadang tidak akan
bertemu penjual makanan lagi. Memang banyak dusun yang sudah ditinggalkan penduduknya yang lari
mengungsi semenjak Thian-te Kui-pang berkuasa di dusun Tai-bun dan sekitarnya.
Selagi tiga orang itu makan minum, tiba-tiba terdengar suara tuk-tuk-tuk menghampiri mereka.
Ketiganya menengok dan nampaklah seorang pengemis yang usianya sekitar lima puluh tahun, berjalan
menghampiri meja mereka yang berada di sulut luar. Suara berketuk itu adalah suara tongkat yang
dibawanya, dan dia berjalan bertopang kepada tongkat itu yang mengeluarkan bunyi yang berat.
Pengemis tua itu tidak mendatangkan kesan sesuatu, akan tetapi ketika Bun Houw memandang kearah
tongkatnya, dia mengerutkan alisnya. Tongkat itu terbuat dari logam berat, mungkin besi dan tidak jelas
karena dicat hitam.
"Kalau tidak salah, orang ini tentu anggauta Hek-tung Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat
Hitam),” bisik Bun Houw kepada dua orang wanita itu. Mereka melirik dan melihat pengemis itu sudah
tiba di dekat meja mereka. Tentu saja dua orang wanita itu mengerutkan alis merasa tidak senang
sedang makan di dekati seseorang pengemis yang bajunya nampak kotor. Akan tetapi Bun Houw yang
tidak ingin mencari keributan, segera mengambil sepotong uang dan memberikan kepada pengemis itu
sambil berkata dengan suara lembut.
"Paman, ambilah uang ini dan sampaikan salam hormatku kepada Hek-tung Kai-pangcu (Ketua
Perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam) Kam Cu."
Pengemis itu menerima kepingan uang dan menjura dengang sikap hormat sekali. "Ah, kiranya saya
dapat menemukan taihiap dengan mudah. Tentu taihiap yang oleh pangcu kami disebut Perdekar
Pedang Kilat. Pangcu kami mengundang taihiap bertiga untuk bertemu dengannya."
Bun Houw tercengang. Setahunya, Hek-tung Lo-kai (Pengemis Tua Tongkat Hitam) Kam Cu berada di
sebelah selatan Nan-king. Bagaimana dapat mengundangnya?"
'"Di mana Kam-pangcu?" tanyanya cepat.
"Hal ini harus dirahasiakan," bisik pengemis itu. "Nanti kalau sam-wi (anda bertiga) sudah selesai makan,
saya menanti di luar dan akan menjadi penunjuk jalan. Sam-wi ikuti saja aku keluar dusun." Setelah
berkata demikian, tanpa banyak bicara lagi sehingga tidak menarik peihatian orang, pengemis itu
menghampiri meja lain untuk minta sedekah. Kemudian, diapun keluar dari rumah makan itu.
Sambil melanjutkan makan, dengan lirih Bun Houw menceritakan tentang Hek-tung Kai-pang,
perkumpulan pengemis yang tidak sudi diajak bekerja-sama dengan Thian-te Kui-pang.
"Tentu ada hal penting sekali maka dia berada di sini, dan agaknya dia mengetahui bahwa kita berada di
dusun ini." Bun Houw berkata dan setelah mereka selesai makan, mereka membayar harga makanan
lalu melangkah keluar dari rumah makan itu dengan sikap santai sehingga tidak akan menarik perhatian
orang.
Benar saja, mereka melihat pengemis yang tadi berada dalam jarak serarus meter dari tempat itu dan
kini pengemis itu berjalan santai pula menuju ke timur dan keluar diri dusun itu. Dari jauh Bun Houw
dan dua orang wanita itu mengikutinya. Setelah tiba di tempat yang sunyi, pengemis itu lalu berjalan
dengan cepat, Bun Houw dan dua orang temannya membayanginya dengan cepat pula dan dia
menghilang di dalam sebuah hutan.
Setelah Bun Houw, Hui Hong dan Ling Ay berlari memasuki hutan itu, agak ke tengah, mereka telah
ditunggu oleh belasan orang yang berpakaian pengemis dan kesemuanya memegang tongkat hitam,
yang berada di depan sendiri adalah seorang pengemis berusia lima puluhan tahun yang bertubuh
kurus. Bun Houw segera mengenal orang ini sebagai Hek-tung Lo-kai Kam Cu, ketua dari Hek-tung Kaipang
dan di sebelahnya lagi nampak seorang pria berusia lima puluh tahun yang bertubuh tinggi besar,
bermuka brewok dan dia tidak mengenakan pakaian pengemis. Sebatang golok besar tergantung di
pinggangnya.
Bun Houw juga mengenal si golok besar ini yang bukan lain adalah ketua diri Thian-beng-pang yang
bernama Ciu Tek. Dua orang inilah yang pernah dibantu Bun Houw ketika mereka hendak dipaksa oleh
Pek-thian-kui orang pertama dari Bu-tek Sam-kui yang dibantu oleh Suma Hok dan Suma Koan.
"Ha ha-ha, sungguh beruntung sekali kami bertemu dengan Si Pedang Kilat Kwa Thai hiap di sini!" kata si
brewok Ciu Tek, ketua Thian-beng pang itu.
Bun Houw membalas penghormatan mereka dan memperkenalkan nama Hui Hong dan Ling Ay. Dua
orang ketua itu memberi hormat kepada dua orang wanita itu dan Hek-tung Lo-kai berkata, "Kami
sungguh kagum sekali, karena melihat cara ji wi li hiap (kedua pendekar wanita) berlari cepat tadi saja
kami sudah dapat menduga bahwa ji-wi li-hiap memiliki ilmu kepandaian yang tinggi."
"Ji-wi pang cu (kedua ketua) mengundang kami ke sini, sebenarnya ada kepentingan apakah?”
"Mari kita duduk di sana, ada urusan penting sekali, taihiap," kata dua orang ketua itu. Mereka lalu
duduk di atas batu-batu yang berada di tengah hutan.
"Kwa taihiap, kami lelah lama sekali menanti tai-hiap di dusun ini, dan begitu tai-hiap bertiga dengan jiwi
li hiap ini memasuki dusun, kami sudah mengetahuinya, akan tetapi kami membiarkan sam-wi
beristirahat semalam baru pagi ini kami hubungi. Kami yakin bahwa tai-hiap tentu akan membasmi
gerombolan Thian-te Kui pang, maka kami sudah siap di tempat ini menanti tai-hiap dan kami telah
mengerahkan anak buah kami berdua, sebanyak tiga ratus orang. Tentu tai hiap bertiga datang ke sini
hendak menyerang sarang Thian-te Kui pang, bukan?"
"Benar sekali, pangcu. Dan kami juga gembira sekali mendapat bantuan ji-wi pangcu dan anak buah ji wi.
Kalau begitu, mari kita segera berangkat ke sarang gerombolan iblis itu."
"Harap tai-hiap berhati-hati dan tidak memandang rendah pihak lawan. Anak buah mereka memang
hanya kurang lebih seratus orang, akan tetapi rata-rata memiliki kepandaian tinggi. Dan lebih dari itu,
kami berhasil mengetahui bahwa Bu-tek Sam kui kini menjadi lebih kuat dari pada dahulu." kata Thian
beng-pangcu Ciu Tek.
Bun Houw tersenyum dan menggeleng kepala. "Pangcu salah kira. Dahulu mereka dibantu oleh para
datuk sesat seperti Kui-siauw Giam-ong Suma Koan dan puteranya, Suma Hok, Bu-eng-kiam Ouwyang
Sek dan puteranya, Ouwyang Toan. Akan tetapi kini mereka semua itu telah tewas. Mereka hanya
tinggal bertiga, bagaimana pangcu mengatakan bahwa Bu-tek Sam-kui kini menjadi lebih kuat?”
"Ah, engkau tidak mengerti. Lui-kong Kiam hiap (Pendekar Pedang Kilat)," kata Hek-tung Lo kai. "Biarpun
para datuk itu sudah tidak ada, akan tetapi kini Bu-tek Sam kui dibantu sendiri oleh guru mereka, yaitu
Thian-te Seng-jin yang menjadi Koksu (Guru Negara) Kerajaan Wei. Kabarnya, Thian-te Seng-jin memiliki
ilmu silat yang amat tinggi, juga ilmu sihirnya amat berbahaya.”
"Hemm, betapapun lihainya pihak lawan, kita harus tetap menentang kejahatan, pang-cu." kata Bun
Houw tenang.
"Akupun tidak takut!" kata Hui Hong penuh semangat.
"Kalau mereka menggunakan kekuatan sihir, biar aku yang menghadapi mereka!" kata Ling Ay yang
selain ilmu silat, juga pernah mempelajari ilmu sihir dari mendiang gurunya, yaitu Bi Moli Kwan Hwe Li.
Melihat semangat tiga orang muda itu. kedua orang pangcu menjadi kagum bukan main. "Kami juga
sama sekali tidak menjadi gentar taihiap, hanya amat baik kalau kita berhati-hati dan mempergunakan
siasat dalam penyerbuan kita."
"Memang begitulah sebaiknya, dan kami serahkan saja kepada ji-wi pangcu untuk mengatur siasat
penyerbuan itu." kata Bun Houw karena dia sendiri belum pernah mengatur pasukan sehingga tidak
tahu bigaimana harus mengatur anak buah untuk menyerbu sarang gerombolan iblis itu.
Kedua orang pangcu itu lalu mengutarakan siasat yang memang sudah mereka persiapkan sebelumnya.
Tiga ratus orang anak buah mereka akan dibagi empat, masing-masing tujuh puluh lima orang dan setiap
pasukan dipimpin oleh mereka berdua dan tiga orang pendekar muda itu. "Kami berdua akan memimpin
sebuah pasukan dari tujuh puluh lima orang dan akan menyerbu dari pintu depan," kata Hek-tung Lokai.
“Kedua lihiap memimpin masing-masing sebuah pasukan menyerbu dari kanan dan kiri, sedangkan
tai-hiap memimpin sebuah pasukan menyerang dari belakang. Dengan cara demikian, mereka tidak
akan mendapat kesempatan untuk kabur atau membokong kita. Juga diserang dari empat penjuru,
tentu mereka akan menjadi kacau dan di dalam sarang mereka, empat pasukan kita dapat saling bantu.
Bagaimana pendapat tathiap dan ji-wi lihiap dengan yaiasat kami itu?"
Bun Houw, Hui Hong dan Ling Ay merasa kagum. "Bagus sekali, pangcu!" kata Bun Houw. Setelah terjadi
pertempuran nanti, biar aku yang menghadapi Thian-te Seng-jin, sedangkan Hong-moi, adik Ling Ay dan
ji-wi pangcu mengeroyok Bu-tek Sam-kui, dibantu pula oleh anak buah yang memiliki kepandaian
tinggi."
Mereka juga merencanakan bahwa gerakan itu akan dilakukan malam hari itu karena kalau dilakukan
shang hari, tentu gerak gerik tiga ratus orang akan menarik perhatian dan sebelum mereka tiba di
sarang gerombolan, pihak Thian-te Kai-pang akan lebih dulu mengetahui dan dapat membuat persiapan
yang akan menjebak mereka.
***
Berita yang didapat oleh kedua orang ketua itu memang benar. Kaisar Thai Wu dari kerajaan Wei
merasa penasaran dan marah sekali mendengar laporan akan gagalnya usaha Bu-tek Sam kui untuk
membunuh Kaisar Siauw Bian Ong dari kerajaan Chi, bahkan gerakan bekas Kaisar Cang Bu yang menjadi
sekutu mereka juga dapat dihancurkan oleh pasukan kerajaan Chi. Mendengar betapa kerja-sama yang
sudah amat baik, kemajuan yang mendatangkan harapan itu akhirnya, hancur karena ulah seorang
pendekar muda yang dijuluki Si Pedang Kilat, Kaisar Thai Wu segera memanggil penasihatnya, juga
gurunya, Thian-te Seng-jin untuk dimintai pendapatnya, juga setengah ditegur mengapa tugas yang
dipikul saudara-saudara seperguruannya yaitu Bu-tek Sam-kui, menjadi gagal.
Thian-te Seng-jin sendiri juga merasa penasaran. "Biarlah hamba sendiri yang akan datang membantu
Bu-tek Sam-kui, Yang Mulia. Hamba akan menangkap dan menyeret bocah bernama Kwa Bun Houw itu
ke depan kaki paduka!”
Demikianlah, tosu yang berusia empat puluh lima tahun itu segera menyusul tiga orang muridnya itu ke
Tai-bun, tinggal di sarang gerombolan itu untuk menyusun rencana baru setelah rencana yang pertama
itu mengalami kegagalan.
Malam itu gelap. Tidak ada sebuahpun bintang nampak di langit yang tertutup mendung. Suasana di
dusun Tai-bun yang kini menjadi sarang gerombolan itupun nampak sunyi. Hanya di sana-sini di antara
rumah-rumah penduduk yang kini menjadi rumah-rumah anggauta gerombolan, terdengar isak tangis
wanita. Mereka adalah para wanita yang diculik oleh gerombolan Thian-te Kui-pang dan menjadi korban
kebuasan mereka, dipaksa untuk melayani mereka. Tentu saja gerombolan ini tidak membutuhkan harta
kekayaan karena para penduduk dusun mana ada yang kaya? Pula, mereka sudah mendapatkan upah
cukup dari kerajaan Wei. Yang mereka butuhkan dalam tugas mereka mengacau di daerah wilayah
kerajaan Chi adalah wanita-wanita, dan kadang mereka juga merampok, akan tetapi bukan harta yang
mereka rampok, melainkan bahan makanan seperti ternak, gandum dan lain-lain. Tentu saja banyak
wanita yang mereka culik dan mereka paksa tinggal di sarang mereka.
Sore tadi Thian-te Seng-jin sudah merencanakan siasat baru dengan para muridnya. Mereka mengambil
keputusan untuk menguasai dunia kang-ouw dengan merebut kedudukan beng-cu, dan Thian-te Sengjin
sendiri akan muncul sebagai calon beng-cu, mengalahkan para tokoh kang-ouw. Tentu saja dia akan
menggunakan penyamaran dan menggunakan nama lain. Kalau mereka sudah dapat menguasai dunia
kang-ouw, akan mudah menimbulkan kekacauan di wilayah kerajaan Chi, sehingga kerajaan itu akan
menjadi lemah sehingga akan membuka kesempatan bagi kerajaan Wei untuk meluaskan wilayah
kekuasaan mereka ke selatan.
Tanpa ada yang mengetahui, dari kegelapan malam muncullah pasukan yang bergerak perlahan-lahan,
datang dari empat jurusan dan kini mereka, menjelang tengah malam, telah mengepung sarang
gerombolan iblis itu dari empat penjuru. Mereka semua masih bersembunyi di luar dusun Tai bun,
menanti datangnya isarat seperti yang telah mereka rencanakan, isarat itu tak lama kemudian nampak
oleh mereka semua, yaitu hujan anak panah berapi yang mula-mula dilepaskan oleh pasukan dari depan
yang dipimpin oleh Hek-tung Lo-kai dan Thian-beng Pang-cu. Begitu melihat anak panah api menghujani
sarang itu dan mulai nampak kebakaran pada atap beberapa buah rumah, pasukan dari empat penjuru
itu lalu menyerbu, baik melalui pintu gerbang dusun maupun merobohkan pagar dusun, sambil
berteriak-teriak.
Anak buah Thian-te Kui-pang memang merupakan perajurit pilihan di kerajaan Wei, akan tetapi sekali
ini, mereka menjadi panik juga karena sebagian besar di antara mereka sudah tidur nyenyak dan tibatiba
saja terdengar suara gaduh dan terjadi kebakaran di mana-mana, kemudian sarang mereka diserbu
banyak orang. Mereka sendiri ada yang masih belum bersepatu, bahkan banyak yang dalam keadaan
setengah telanjang! Mereka mengira bahwa pasukan pemerintah yang menyerbu, maka mereka
menjadi semakin panik.
Bu-tek Sam kui sendiri berlompatan keluar dan mereka berteriak-teriak kepada anak buah mereka agar
tidak panik dan melakukan perlawanan. Juga Thian-te Seng-jin keluar dari pondoknya, sebatang pedang
tergantung di punggungnya.
Sebagai orang-orang berpengalaman. Bu-tek Sam kui dan guru mereka itu sekali melihat saja maklum
bahwa yang menyerbu sarang mereka bukanlah pasukan pemerintah, melainkan orang-orang bergolok
dan orang-orang berpakaian pengemis dan bertongkat hitam.
“Lawan, jangan panik!" Mereka berteriak-teriak sambil mengamuk dan menyambut para penyerbu.
"Mereka hanya jembel-jembel busuk! Hajar mereka!!”
Akan tetapi, dibawah sinar api dari rumah-rumah yang terbakar, Bu-tek Sam-kui terkejut ketika melihat
dua orang wanita muda yang cantik dan gagah menerjang mereka, dibantu pula oleh dua orang
setengah tua gagah yang mereka kenal sebagai Hek-tung Lo-kai Kam Cu ketua Hek-tung Kai-pang dan
Thian-beng-pangcu Ciu Tek. Hui Hong yang sudah diberi tahu oleh Bun Houw segera menerjang Pekthian-
kui, orang pertama dari Bu-tek Sam-kui yang bersenjata pedang. Dengan pedang di tangan kanan
dan sebatang ranting di tangan kiri, Hui Hong menyerang Pek-thian-kui. Orang pertama dari Bu-tek Samkui
ini terkejut bukan main karena dari gerakan pedang meluncur bagaikan kilat itu dia maklum bahwa
dia sama sekali tidak boleh memandang rendah lawannya. Dia menggerakkan pedangnya menangkis,
akan tetapi sebelum dia sempat membalas, ranting di tangan kiri Hui Hong sudah menotok ke arah
dadanya dan yang membuat Pek-thian-kui terkejut adalah bahwa serangan ranting di tangan kiri ini
bahkan lebih lihai dibandingkan serangan pedang di tangan kanan. Terpaksa dia membuang diri ke
belakang dan membuat salto sampai empat kali, baru dapat terbebas dari susulan serangan Hui Hong
yang bertubi-tubi. Kini mereka berhadapan dengan penasaran, dan diam-diam mereka mengerahkan
seluruh tenaga karena maklum menghadapi lawan tangguh.
Huang-ho-kui, orang ke dua dari Bu-tek Sam kui, juga menghadapi lawan berat ketika Ciu Tek, ketua
Thian-beng-pang dibantu oleh tujuh orang murid kepala mengeroyoknya. Dia mengamuk dengan
senjatanya yang istimewa, yaitu sebatang dayung dari besi yang dimainkan seperti sebuah toya.
Andaikata Ciu Tek hanya maju seorang diri, tentu ketua ini akan payah menandingi Huang-ho-kui yang
tingkat kepandaiannya sedikit lebih tinggi. Akan tetapi karena ada tujuh orang muridnya membantu kini
Huang-ho-kui yang terdesak hebat dan dia harus memutar dayungnya secepatnya untuk melindungi
tubuhnya dari hujan serangan para pengeroyoknya.
Adapun Toat beng-kui, orang ke tiga dari Bu-tek Sam-kui yang bersenjata golok, segera diterjang oleh
Ling Ay yang dibantu oleh Hek-tung lo-kai seperti yang telah mereka atur sebelumnya. Orang ke tiga dari
Bu-tek Sam-kui inipun segera terdesak hebat karena tingkat kepandaian kedua orang itu masing-masing
hanya terpaut sedikit di bawah tingkatnya. Karena mereka maju bersama, maka dialah yang terdesak.
Bu-tek Sam-kui yang kewalahan ini mengharapkan bantuan guru mereka, namun ketika mereka
menengok, mereka terkejut melihat guru merekapun sedang didesak hebat oleh seorang pemuda yang
bukan lain adalah Si Pedang Kilat Kwa Bun Houw! Thian-te Seng-jin yang seperti juga tiga orang
muridnya terkejut melihat penyerbuan tiba-tiba di tengah malam itu, tadinya tidak merasa khawatir
karena mengira bahwa yang menyerbu hanya orang-orang biasa saja yang pasti akan mampu dihadapi
tiga orang muridnya dan anak buahnya. Akan tetapi, melihat betapa tiga orang muridnya itu
menghadapi lawan berat, diapun terkejut dan melolos pedang dari punggungnya. Dia bermaksud
hendak menggunakan ilmu sihir untuk membantu para muridnya, akan tetapi pada saat itu, Bun Houw
sudah melompat di depannya.
"Hemm, agaknya engkau yang bernama Thian-te Seng-jin, guru Bu-tek Sam-kui yang mendirikan Thiante
Kui-pang dan mengacau di daerah ini? Sebagai guru mereka, engkau harus bertanggung jawab atas
kejahatan mereka, Thian-te Seng-jin!"
Melihat seorang pemuda berani bersikap seperti itu di depannya, Thian-te Seng-jin menjadi marah.
Matanya mencorong dan diam-diam dia mengerahkan kekuatan sihirnya dan menudingkan pedangnya
ke arah muka pemuda itu dan membentak, suaranya lantang berpengaruh. "Orang muda, siapakah
engkau berani bicara seperti itu di depan pinto?"
"Aku bernama Kwa Bun Houw, dan aku tahu bahwa engkau adalah Thian-te Seng-jin. Koksu Kerajaan
Wei yang bertugas mengacau di daerah kerajaan Chi!"
Diam-diam Thian-te Seng-jin terkejut. Tugas tiga orang muridnya adalah tugas rahasia yang tidak boleh
diketahui orang, karena Kaisar Thai Wu yang juga muridnya tidak menghendaki perang terbuka dengan
kerajaan Chi. Tugas mereka hanya mengacau dan melemahkan kerajaan Chi yang semakin kuat dan kini
ternyata rahasia itu telah diketahui oleh pemuda yang bernama Kwa Bun Houw ini.
"Kwa Bun Houw, lihat baik-baik, aku adalah Naga Merah dari Utara yang akan menghukum kamu atas
kelancanganmu. Berlututlah kamu! !” Suara itu melengking nyaring menggetarkan siapa saja yang
berada di dekatnya.
Terutama sekali Bun Houw yang langsung menerima serangan yang ditujukan kepadanya. Dia terbelalak
karena benar-benar lawannya telah berubah menjadi seekor naga bersisik merah! Mata naga itu
mencorong dan moncongnya terbuka lebar mengeluarkan api. Sungguh merupakan penglihatan yang
menyeramkan sekali. Seandainya Bun Houw tidak memiliki keberanian yang amat kuat, tentu dia sudah
menjatuhkan diri berlutut. Akan tetapi dia seorang pemberani dan tabah, apalagi ada tekad di hatinya
bahwa dia akan melawan kejahatan tanpa mengenal rasa takut dan siap mengorbankan dirinya demi
membela kebenaran dan keadilan. Oleh karena itu, biarpun dia terkejut sekali, dia tetap tabah dan tidak
mau berlutut.
Akan tetapi apa yang dilihatnya memang menggiriskan hati. Naga itu siap untuk menerkamnya, dan
biarpun Bun Houw sudah siap dengan pedang Lui kong kiam (Pedang Kilat) di tangan, namun wajahnya
tetap saja berubah agak pucat karena memang penglihatan itu cukup untuk membuat jerih hati orang
yang paling tabah sekalipun. Bun Houw menerjang dengan pedang kilatnya membacok ke arah kepala
naga merah itu.
"Singg ... wuuuttt ... plakkk!" Tubuh Bun Houw terpelanting. Ketika pedangnya bertemu kepala naga
merah, pedang itu tembus seperti membacok bayang-bayang saja dan ekor naga itu menghantamnya
dari samping, sedemikian kerasnya sehingga dia terpelanting!
Pada saat yang gawat itu, Ling Ay muncul di depan naga merah itu. Wanita ini tadi merasakan getaran
hebat dari pengaruh sihir yang dikerahkan Thian-te Seng-jin, maka ia lalu berteriak kepada Hek-tung Lokai
untuk menghadapi Toat-beng-kui sendiri bersama anak buahnya karena ia akan membantu Bun
Houw. Hek-tung Lo-kai berteriak memanggil para murid kepala dan lima orang murid Hek-tung Lo-kai
membantu ketua mereka mengeroyok Toat-beng-kui sedangkan Ling Ay sudah meloncat ke depan Naga
Merah buatan itu. Ia meraih tanah dan setelah berkemak-kemik membaca mantera dan mengerahkan
segenap tenaga sihir seperti yang pernah ia pelajari dari mendiang Bi Moli Kwan Hwe Li, iapun
menyambitkan tanah itu ke arah naga sambil berteriak dengan suara melengking, suara yang
berpengaruh karena mengandung tenaga sakti.
"Asal dari tanah kembali kepada tanah!!"
Tanah yang disambitkan itu meluncur mengenai naga merah. Terdengar suara letupan keras dan naga
jadi-jadian itupun lenyap berubah menjadi asap! Bun Houw merasa girang sekali dan kini dia melihat lagi
tosu siluman itu, maka diapun menggerakkan pedangnya untuk menyerang dengan dahsyat.
"Trang-trang-trang ...!!" Bunga api berpijar-pijar ketika pedang di tangan Thian-te Seng-jin bertemu
dengan pedang Lui-kong-kiam di tangan Bun Houw-Pedang tosu itu juga merupakan sebatang pedang
pusaka yang terbuat dari logam pilihan, maka tidak menjadi rusak ketika beradu dengan Lui kong-kiam.
Akan tetapi, tosu itu merasa betapa telapak tangan kanannya yang memegang pedang menjadi panas
dan nyeri. Hal ini menunjukkan bahwa lawannya itu, biarpun masih muda, memiliki teaaga sakti yang
amat kuat. Juga tosu ini merasa penasaran sekali betapa ilmu sihirnya tadi dapat dipunahkan oleh
seorang wanita muda yang kini hanya menjadi penonton dan siap untuk menandingi ilmu sihirnya.
Mulailah dia merasa jerih, apalagi ketika melihat betapa tiga orang muridnya menghadapi lawan-lawan
berat, dan anak buah Thian-te Kui-pang juga mulai kocar kacir menghadapi pengeroyokan jumlah musuh
yang jauh lebih banyak.
Tiba-tiba Thian-te Seng-jin mengeluarkan gerengan aneh dan Ling Ay sudah siap untuk menghadapi ilmu
sihirnya. Akan tetapi ternyata kakek tinggi kurus bermuka pucat itu tidak menggunakan sihir, melainkan
mengeluarkan ilmu silat yang amat aneh. Tubuhnya tiba-tiba saja ditekuk seperti seekor binatang
menggiling dan dia menjatuhkan diri di atas tanah, bagaikan seekor menggiling atau sebuah bola dia lalu
menggelundung ke arah Bun Houw. Pemuda ini terkejut dan cepat menggerakkan pedangnya untuk
menangkis ketika bola menggelundung itu tiba dekat dan dari gulungan itu mencuat sinar pedang yang
menyerang kakinya.
"Trangg ... !” Kembali bunga api berpijar akan tetapi kini Bun Houw yang terhuyung ke belakang. Kiranya
pedang yang diserangkan sambil bergulingan itu kini menjadi amat kuat, seolah memperoleh tenaga
aneh dari dalam bumi, dan tangan kiri tosu itupun ikut pula menyerang dengan dorongan yang kuat
sekali.
Kembali tubuh tosu yang seperti menggiling melingkar itu sudah bergulingan dengan cepat menyerang
Bun Houw lagi. Bun Houw menyambutnya dengan tangkisan yang akan dilanjutkan tusukan balasan,
namun dia tidak sempat membalas karena begitu pedangnya bertemu pedang lawan ada kekuatan
dahsyat yang membuat dia terhuyung, bahkan semakin keras sampai lima langkah ke belakang. Banyak
sudah dia melihat ilmu silat yang dimainkan dengan bergulingan, terutama sekali bagi orang yang
bersenjatakan golok dan perisai, dan permainan silat dengan bergulingan itu memang berbahaya bagi
lawan. Akan tetapi, belum pernah melihat cara bergulingan seperti ini, tosu itu benar-benar mirip seekor
trenggiling. Tubuhnya melingkar menjadi bulat dan tenaganya menjadi berlipat ganda ketika menyerang
dari atas tanah seperti itu.
Berulang kali Bun Houw diserang dan dia sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk membalas, dan
setiap kali serangan lawan itu menjadi semakin kuat saja. Pemuda ini maklum bahwa kalau dilanjutkan
seperti itu mungkin akhirnya dia akan terluka, baik oleh pedang lawan maupun oleh dorongan tangan
kiri atau tendangan kaki yang tiba-tiba mencuat. Setelah memperhatikan gerakan lawan yang
menyerangnya berulang kali, begitu tubuh lawan menggelundung ke arahnya, sebelum Thian-te Seng-jin
menyerang, dia menghindar dengan loncatan. Tubuh yang seperti bola itu cepat mengejarnya dan kini
Bun Houw sudah siap siaga. Dia bahkan menyimpan pedangnya dan mengerahkan tenaga dari ilmunya
yang dahsyat, yaitu Im-yang Bu-tek Cin-keng. Ketika bola manusia itu menggelundung dekat, dia
menyambut dengan dorongan kedua tangannya, pada saat lawan menyerang.
Satu di antara keanehan ilmu Im-yang Bu-tek Cin-keng adalah daya tolak yang membuat seorang
penyerang akan diserang oleh tenaganya sendiri yang membalik!”
"Desas ... !!" Bertemu dengan tenaga dahsyat Im-yang Bu-tek Cin-keng, tosu itu mengeluarkan teriakan
kaget dan tubuhnya seperti sebuah bola yang ditendang, terlempar dan menggelundung jauh. Beberapa
orang yang sedang bertempur, ketika terlanda bola ini, terlempar dan tak mampu bangkit kembali.
Bun Houw berloncatan mengejar, diikuti oleh Ling Ay.
"Houw-ko, hati-hati!" teriak Ling Ay dan pada saat itu terdengar ledakan kecil dan nampak asap hitam
mengepul tebal. Tosu itu menghilang di balik asap dan mendengar peringatan Ling Ay, Bun Houw tidak
mengejar melainkan meloncat jauh ke belakang. Hal ini menguntungkan karena asap hitam yang keluar
dari bahan peledak itu adalah asap beracun. Tidak kurang dari lima orang, baik dari pihak penyerbu
maupun anak buah Thian-te Kui-pang sendiri, roboh dan tewas ketika terlanda asan hitam itu. Dan tentu
saja Thian-te Seng-jin sendiri sudah lenyap dari tempat itu. Bun Houw menengok dan melihat betapa
Bu-tek Sam kui masih terdesak hebat, namun belum juga dapat dirobohkan. Hanya Pek-thian-kui yang
benar-benar payah melawan Hui Hong. Pundak kirinya sudah terluka pedang di tangan Hui Hong dan
kini dia yang tidak mampu melarikan diri kerena tempat itu sudah dikepung anak buah Hek-tung
Kaipang dan Thian-beng-pang, mengamuk mati-matian sehingga membuat Hui Hong harus berlaku hatihati.
Melawan seorang yang sudah nekat untuk mengadu nyawa memang berbahaya sekali, sama
dengan melawan seorang gila. Tongkat di tangan kiri Hui Hong membuat orang pertama dari Bu-tek
Sam-kui itu benar-benar repot. Biarpun dia berusaha untuk mengamuk dan membalas dengan
pedangnya, namun selalu pedangnya bertemu dengan periasi sinar pedang yang dibuat oleh putaran
pedang Hui Hong, sedangkan luncuran tengkat di tangan kiri Hui Hong mengirim totokan-totokan yang
benar-benar amat dahsyat karena sekali saja totokan itu mengenai tubuhnya, tentu dia akan roboh!
Melihat ini, Bun Houw lalu berkata kepada Ling Ay, "Adik Ling Ay, kau bantulah Hong-moi, dan aku akan
menghadapi dua orang iblis yang lain."
Ling Ay mengangguk dan ia lalu menerjang maju dengan pedang di tangan, membantu Hui Hong. "Adik
Hong, mari kita basmi iblis busuk ini!" bentaknya sambil menggerakkan pedang menusuk ke arah
lambung Pek-thian-kui.
Menghadapi Hui Hong seorang saja, Pek-thian-kui sudah kewalahan, apalagi kini ditambah dengan
seorang wanita selihai Ling Ay. Nyaris tusukan itu mengenai lambungnya dan diapun melempar tubuh ke
belakang dan begitu dia meloncat bangun, tangan kirinya bergerak dan sinar hitam menyambar ke arah
Hui Hong dan Ling Ay. Namun, dengan mudah kedua orang wanita itu menangkis dan paku-paku hitam
beracun yang menyambar ke arah mereka tadi dipukul runtuh semua dan kini kedua orang wanita
perkasa itu sudah menghujani lawan dengan serangan pula, Hek-tung Lo-kai Kam Cu dan anak buahnya
mengepung dan mengeroyok Toat-beng-kui, demikian pula Thian-beng Pang-cu Ciu Tek dibantu anak
buahnya mengeroyok Huang-ho-kui. Namun, kedua orang lawan itu memang lihai bukan main dan
mereka dapat mengamuk sehingga beberapa orang anak buah kedua orang ketua itu roboh terkena
senjata mereka.
Melihat betapa dayung di tangan Huang-ho-kui memang dahsyat sekali sehingga orang-orang Thianbeng-
pang nampaknya menjadi jerih, Bun Houw yang sudah kehilangan lawan, lalu meloncat dan tangan
kirinya menyambar dengan pengerahan tenaga dari ilmu Im-yang Bu-tek Cin-keng.
"Wuuuuttt ... dessas ... !" Huang-ho-kui mengeluarkan teriakan kaget dan tubuhnya seperti dilanda
badai, terlempar sampai sejauh beberapa meter dan sebelum dia sempat bangun lagi karena masih
merasa nanar, orang-orang Thian-beng-pang, dipimpin oleh Ciu Tek, telah menghujaninya dengan
senjata mereka sehingga tewaslah orang ke dua dari Cu-tek Sam-kui ini dengan tubuh yang tidak utuh
lagi.
Bun Houw kini meloncat dan melihat Hek-tung Lo-kai dan anak buahnya masih belum mampu
merobohkan Toat-beng-kui, diapun menyerang Toat-beng-kui dengan dorongan tangan yang
mengandung kekuatan dahsyat itu. Seperti juga rekannya, tubuh Toat-beng-kui terlempar dan diapun
tewas di bawah hujan senjata Hek-tung Lo-kai dan para anak buahnya.
Bun Houw kini melihat ke arah dua orang wanita yang mengeroyok Pek-thian kui. Tepat pada saai dia
memandang, Pek-thian-kui mengeluarkan teriakan nyaring dan tubuhnya terjungkal dengan dada
ditembusi dua batang pedang!
Anak buah Hek-tung Kai-pang dan Thian-beng-pang bersorak gembira melihat Bu-tek Sam-kui tewas dan
mereka menjadi lebih bersemangat. Sebaliknya, anak buah Thian-te Kui-pang yang sudah kehilangan
pimpinan dan banyak pula di antara mereka yang sudah tewas, menjadi panik dan mereka berusaha
untuk melarikan diri. Namun, kedua orang ketua itu bersama anak buah mereka mengejar dan
menganuk dan akhirnya hanya belasan orang saja di antara para anak buah Thian-te Kui-pang yang
berhasil lolos. Juga Thian-te Seng-jin sendiri sudah lebih dulu melarikan diri dan kembali ke utara untuk
melapor kepada kaisarnya tentang kegagalan gerakan Thian-te Kui pang.
Bun Houw sendiri bersama Hui long dan Ling Ay segera berpamit dari dua orang ketua itu setelah Bun
Houw terpaksa menyanggupi untuk kelak dicalonkan menjadi beng-cu (pemimpin) kalau tiba saatnya
diadakan pemilihan beng-cu atau pemimpin dunia persilatan. Bagi dia, siapa saja yang menjadi beng-cu
baik atau bukan tokoh dunia sesat yang akan menyeret dunia persilatan ke arah kejahatan.
***
Mereka bertiga sudah jauh meninggalkan dusun Tai-bun yang berada diperbatasan daerah tak bertuan
itu. Setelah melewati sebuah bukit terakhir, mereka tiba di persimpangan jalan. Sejak tadi Ling Ay tidak
banyak bicara dan hanya menjawab dengan ya atau tidak kalau Hui Hong mengajaknya bicara.
Wajahnya yang cantik manis itu nampak muram, sinar matanya suram seperti lampu kehabisan minyak
atau seperti bintang terselaput kabut.
Setelah tiba di persimpangan jalan, Ling Ay menahan langkahnya dan berkata, "Sudah, sampai di sini
saja ... " suaranya lirih. Bun Houw dan Hui Hong juga berhenti dan mereka memandang kepada janda
muda itu.
"Enci Ling Ay, kenapa berhenti?" tanya Hui Hong.
Ling Ay memaksa senyum, namun wajahnya agak pucat dan layu sehingga senyumnya nampak
menyedihkan, "Adik Hong, dan Houw ko, aku tidak ingin mengganggu kalian lebih lama lagi. Kita harus
berpisah, aku akan pergi ... entah ke mana, mungkin merantau ke mana saja kaki ini membawa diriku
dan ... aku hanya memujikan semoga kalian diberkahi Tuhan ... selamat berpisah ... " tanpa menanti
jawaban, Ling Ay cepat membalikkan tubuhnya dan berjalan cepat meninggalkan mereka.
"Enci Ling Ay, berhenti dulu?” Hui Hong berseru karena ia melihat betapa Ling Ay cepat membalik untuk
tidak memperlihatkan mukanya. Ketika Ling Ay tetap berjalan tanpa menoleh, Hui Hong melompat dan
tiba di belakang Ling Ay terus ia memegang kedua pundak wanita itu dan memutarnya menghadapinya.
Tepat seperti diduganya, Ling Ay menangis tanpa suara. Air matanya bercucuran.
"Enci, kau kenapa? Engkau ... menangis?" Hui Hong bertanya heran.
"Adik Hong ...!" Ling Ay menjadi semakin bersedih dan mereka berangkulan.
“Adik Hong, lepaskan aku, kuharap engkau dapat membahagiakan Houw-koko. Kalian berhak menikmati
kebahagiaan hidup, kalian orang-orang baik, dan aku ... ahh, biarkan aku pergi ... "
Hui Hong mengerti. Ia merasa iba sekali kepada janda yang kini menjadi sahabat baiknya itu. Sudah
berulang kali Ling Ay membantu dan menolongnya, memperlihatkan kebaikan hati dan kesungguhannya
dalam persahabatan. Memang jauh sebelum hari ini ia telah mengambil suatu keputusan dalam hatinya
dan apa yang hendak diputuskannya sekarang ini bukan sekedar dorongan keharuan belaka.
"Tidak, enci Ay, engkau tidak boleh pergi. Aku ingin bicara berdua denganmu. Mari ...!" Hui Hong masih
merangkul pundak janda itu dan diajaknya menjauh.
"Heiii ... ! Kalian hendak pergi ke mana?" teriak Bun Houw melihat betapa kedua orang wanita pergi
menjauh.
Hui Hong menengok dan berteriak kembali. "Houw-ko, engkau tunggu saja di situ sebentar jangan
mendekati kami!"
Bun Houw membelalakkan matanya, menggerakkan kedua pundaknya lalu mencari tempat duduk di
bawah sebatang pohon, tidak mengerti akan ulah kedua orang wanita itu. Setelah berada agak jauh
sehingga suara mereka tidak akan dapat didengar oleh Bun Houw, Hui Hong menoleh. Ia melihat Bun
Houw duduk di atas batu besar seperti arca dan iapun tersenyum.
"Adik Hong, apa yang ingin kaubicarakan dengan aku?”" Ling Ay telah dapat menguasai keharuan
hatinya dan bertanya sambil memandang heran. Mereka sendiri saling berhadapan, dua orang wanita
muda yang cantik jelita dan sebaya. Hui Hong berusia dua puluh satu tahun dan Ling Ay berusia dua
puluh tiga tahun.
"Enci Ling Ay, sebelum aku bertanya, lebih dulu aku mengharapkan kejujuranmu. Dapatkah dan maukah
engkau menjawab semua pertanyaanku dengan jujur, sejujur-jujurnya?"
Ling Ay mengerutkan alisnya, tidak mengerti ke mana maksud tujuan ucapan itu, akan tetapi selama ini
ia memang bersikap jujur maka ia mengangguk, bahkan dapat tersenyum kini, senyum seorang yang
merasa lebih dewasa menghadapi seorang gadis yang masih kekanak-kanakan. "Tanyalah dan aku akan
menjawab sejujurnya.”
Sambil menatap tajam wajah Ling Ay, Hui Hong bertanya, "Enci Ling Ay, apakah engkau masih mencinta
Houw-koko?"
Mata itu terbelalak, mulut itu ternganga dan wajah itu menjadi agak pucat, lalu kemerahan. "Adik Hong,
apa artinya pertanyaanmu ini? Mengapa engkau bertanya begini?” Mata yang terbelalak itu
memandang penuh selidik untuk menjenguk isi hati dari penanyanya.
"Enci Ling Ay, engkau berjanji akan menjawab sejujurnya!”
"Adik Hong, aku sudah tidak berhak lagi bicara tentang itu. Hubungan antara kami sudah lama putus,
dan aku ... aku tidak berhak menjawab." Ling Ay menundukkan mukanya, dan sekilas matanya
mengerling ke arah Bun Houw duduk.
"Enci Ling Ay, itu bukan jawaban. Yang kutanyakan, apakah engkau masih mencinta Houw-koko?"
Didesak begitu, Ling Ay berkata, "Adik Hong, cinta adalah cinta, sekali ada akan tetap ada, tidak
berkurang tidak berlebih, bagaimana bisa ditanyakan masih ada atau sudah tidak ada lagi? Akan tetapi,
aku sudah tidak berhak mengenang tentang itu.'“
“Kenapa tidak berhak?"
"Kenapa? Engkau tentu sudah mengetahui. Aku telah mengkhianati cinta kasih Houw-koko. Ketika kami
masih bertunangan, pihak keluargaku yang memutuskan pertunangan itu dan aku menikah dengan pria
lain. Aku ... aku malu untuk bicara tentang cintaku itu.”
"Tidak, engkau tidak mengkhianatinya” enci. Aku sudah mendengar semuanya. Engkau dipaksa ayah
ibumu untuk menikah dengan pemuda bangsawan. Engkau tidak berdaya karena ketika itu engkau
bukanlah enci Ling Ay yang sekarang, engkau hanya seorang gadis lemah. Engkau sama sekali tidak
mengkhianati cintanya, enci."
"Adik Hong, apa perlunya engkau mengorek-ngorek hal yang telah lampau? Semua itu hanya
menyakitkan hatiku. Apakah engkau merasa cemburu kepadaku karena urusan yang lampau itu?"
"Sama sekali tidak. enci. Bahkan aku merasa iba kepadamu, aku merasa suka kepadamu dan aku ingin
menolongmu, aku ingin melihat engkau berbahagia pula. Karena itu aku ingin melihat engkau
menyambung kembali pertalian jodoh yang dirusak orang tua mu dengan paksa. Aku ingin engkau
menjadi isteri Houw-koko."
"Gila ...!!" Saking kagetnya Ling Ay meloncat ke belakang. "Hong-moi, apa maksudmu ini? Jangan engkau
memperolok dan menggodaku!" Wajah itu berubah kemerahan karena marah, mengira bahwa Hui Hong
sengaja hendak mempermainkannya.
"Siapa menggodamu, enci? Aku bicara sungguh-sungguh!" jawab Hui Hong serius pula.
"Tapi ... Houw-koko sendiri pernah mengaku kepadaku bahwa dia telah bertunangan denganmu, bahwa
dia saling mencinta dengan mu!”
"Memang benar, enci Ay, dan kami memang akan menikah, menjadi suami isteri ... “
"Nah, kalau begitu kenapa engkau mengusulkan hal yang gila itu kepadaku?"
"Bukan usul gila, enci. Aku ingin agar engkaupun menikmati kebahagiaan keluarga bersama kami,
menjadi keluarga kita. Perjodohanku dengan Houw-koko tidak akan menghalangi engkau menjadi isteri
pula dari Houw-koko ... "
"Gila. Kaumaksudkan ... aku ... engkau ... kita berdua menjadi isterinya ... ?"
"Kenapa tidak, enci? Aku telah mengenalmu dan tahu bahwa engkau seorang wanita yang berbudi baik,
gagah perkasa dan aku tahu pula bahwa engkau masih mencinta Houw-koko. Aku akan suka sekali
menjadi saudaramu dan kita bersama menjadi isteri Houw-koko yang sama-sama kita cinta.”
Wajah itu berubah merah sekali dan kedua mata itu menjadi basah kembali. Ling Ay meraba betapa
jantungnya seperti diremas-remas. "Tapi ... bagaimana ini, adik Hong? Aku ... aku pernah memusuhimu,
bahkan hampir membunuh ayah kandungmu dan sekarang ... kau ... " Ia menutupi muka dengan kedua
tangannya.
Hui Hong merangkulnya. “Semua itu kaulakukan karena hendak menaati guru, bukan salahmu, enci.
Akan tetapi, yang lalu biarkan lalu, tidak perlu dibicarakan lagi. Yang penting sekarang ini, aku ingin
engkau menjadi saudaraku, bersama-sama membahagiakan Houw-koko. Nah, bagaimana jawabanmu?"
"Adik Hui Hong, bagaimana aku harus menjawab? Aku tidak memiliki apa-apalagi, tidak berhak apaapalagi
untuk memilih atau memutuskan. Semua terserah kepada ... Houw-ko dan kepadamu ... "
"Jadi, kalau aku setuju dan Houw-koko setuju, engkau mau menjadi isteri Houw-koko, hidup sekeluarga
dengan aku?"
Dengan salah tingkah dan merasa malu dan sungkan, terpaksa Ling Ay mengangguk. Habis, apalagi yang
dapat ia lakukan? Menolak tawaran itu? Berarti ia gila! Ia memang tak pernah kehilangan cintanya
terhadap Bun Houw, dan kini ia melihat betapa Hui Hong adalah seorang gadis yang baik sekali.
"Nah, kau tunggu sebentar di sini, enci. Aku mau bicara dengan Houw-ko."
"Tapi ... tapi ... jangan membikin malu padaku, adik Hong. Jangan sekali-kali memaksa dia ... "
Hui Hong hanya tersenyum dan iapun ber lari-lari menghampiri kekasihnya yang masih duduk melamun
karena tidak dapat menduga apa yang dibicarakan oleh kedua orang wanita itu.
"Houw-koko, aku ingin bertanya kepadamu, akan tetapi aku minta engkau menjawab sejujurnya!" Hui
Hong berkata. Pemuda itu bangkit dari duduknya dan menatap wajah kekasihnya dengan heran. Belum
pernah dia melihat Hui Hong seserius sekarang ini.
"Tentu saja, Hong-moi. Pernahkah aku tidak jujur kepadamu?"
"Nah, sekarang jawablah sejujurnya. Apakah engkau masih mencinta enci Ling Ay?"
Bun Houw terbelalak, lalu mengerutkan alisnya. "Aih, Hong-moi, setelah engkau kini bersahabat baik
dengannya, kenapa engkau mengorek peristiwa dahulu yang hanya akan menimbulkan perasaan tidak
enak? Apakah engkau merasa cemburu !”
“Jangan berlika-liku, Houw ko. Aku hanya bertanya apakah engkau masih cinta kepada enci Ling Ay itu
saja dan jawablah sejujurnya.”
"Bagaimana aku dapat menjawabnya? Engkau sudah kuberitahu bahwa dahulu memang Ling Ay adalah
tunanganku, akan tetapi sejak ia dipisahkan dariku dan menikah dengan orang lain, lalu aku bertemu
denganmu dan kita saling mencinta. Aku tidak lagi berhak untuk memikirkan dirinya, Hong-moi! Engkau
tidak adil kalau mengajukan pertanyaan seperti itu kepadaku."
"Sudahlah, jangan bertele-tele. Sekarang jawab, apakah engkau cinta padaku?"
"Ehh? Tentu saja!"
"Dan engkau akan memenuhi semua keinginanku? Engkau mau memenuhi syaratku untuk menjadi
isterimu?"
"Wah? Engkau mengajukan syarat lagi?" Bun Houw tersenyum. "Syarat apakah itu, calon isteriku yang
manis?"
"Syaratku bukan harta bukan kedudukan, syaratku hanya satu. Aku mau menjadi isterimu hanya kalau ...
engkau juga memperisteri enci Ling Ay."
Mata itu terbelalak, memandang penuh selidik, tidak percaya.
"Apa kata-katamu tadi? Aku belum mengerti!" kata Bun Houw, bingung dan menduga-duga apakah
ucapan tadi hanya untuk menguji kesetiaannya!
"Kukatakan bahwa aku mengajukan syarat agar engkau juga mengambil enci Ling Ay sebagai isterimu,
hidup bersamaku dalam satu keluarga."
"Heii! Kenapa begini? Apa alasanmu mengambil keputusan yang aneh ini?"
"Aku sayang kepada enci Ling Ay, aku kasihan kepadanya dan aku tahu ia masih mencintamu.
Perpisahan kalian bukan kehendaknya. Kalau kita membiarkan ia pergi, ia akan hidup merana dan aku
akan selalu terkenang kepadanya dengan hati duka. Karena itu, aku ingin ia hidup berbahagia bersama
kita."
Sampai lama Bun Houw termenung. Harus diakuinya bahwa di samping keheranan dan kekejutan,
jantungnya berdebar tegang dan girang. Dia memang tak pernah dapat melupakan Ling Ay, dan dia
merasa kasihan kepada bekas tunangannya itu. Akan tetapi tak pernah terbayangkan olehnya akan
dapat hidup bersama dengan wanita itu, Apalagi, menjadi isterinya atas kehendak Hui Hong! Bagaikan
mimpi saja!
"Bagaimana, Houw-ko? Jawablah. Maukah engkau memenuhi syaratku itu?"
Bun Houw menghela napas panjang dan melirik ke arah di mana Ling Ay berdiri dengan kepala
ditundukkan. Baru sekarang dia teringat betapa dalam perjalanan mereka bertiga, Hui Hong berpindah
tempat ke sebelah kanannya sehingga dia berada di tengah diapit kedua orang wanita itu. Agaknya
memang sudah lama Hui Hong mempunyai gagasan aneh itu.
"Apa yang harus kujawab, Hong-moi?" katanya, sikapnya seperti seorang kanak-kanak yang ditawari
kembang gula, sebetulnya hatinya senang dan ingin sekali menerimanya, akan tetapi karena malu-malu
maka sukar melaksanakan. "Hal ini tentu terserah kepadamu sajalah."
Hui Hong tertawa. "Hi-hik, seperti diatur saja. Enci Ling Ay menjawab terserah kepadaku, dan engkau
juga menjawab begitu. Kalau terserah kepadaku, maka jadilah! Engkau akan memiliki dua isteri
sekaligus, koko, aku dan enci Ling Ay! Tunggu di sini!” Gadis itu lalu berlari cepat menghampiri Ling Ay
dan Bun Houw hanya melihat betapa kekasihnya itu menarik-narik tangan Ling Ay dibawa mendekat.
Dia berdiri dan ketika menatap wajah itu, kebetulan Ling Ay juga memandang kepadanya dan keduanya
menunduk dengan muka kemerahan dan jantung berdebar keras.
"Hong-moi, bagaimana aku dapat menghadapi suhu dalam urusan ini?"
"Benar, Hong-moi. Akupun malu berhadapan dengan ayahmu." kata Ling Ay lirih.
"Aih, ayahku adalah seorang yang bijaksana. Akulah yang akan menghadapinya dan aku yakin dia akan
menyetujuinya. Aku yang akan bicara kepadanya dan memberi penjelasan."
"Kalau begitu, terserah kepadamu, Hong-moi."
"Akupun hanya menyerahkan kepadamu, adik Hong."
Hui Hong memandang mereka bergantian lalu tertawa, membuat keduanya tersipu malu. "Hik-hik,
jawaban kalian selalu sama, seolah kalian telah bersekutu!"
"Ihh, engkau nakal, adik Hong. Siapa yang bersekutu?" Ling Ay mencubit.
Hui Hong lalu menggandeng tangan kanan Bun Houw dan memaksa kekasihnya itu untuk menggandeng
Ling Ay di sebelah kirinya, kemudian mereka meninggalkan tempat itu, berjalan bergandeng tangan
dengan wajah penuh seri bahagia, menyosong masa depan yang cerah.
Sampai di sini, selesailah sudah KISAH SI PEDANG KILAT ini, dengan harapan semoga ada manfaatnya
bagi kita semua.
TAMAT
Solo, akhir April 1986
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Best Cersil

Pecinta Cersil